Updates from Maret, 2020 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:32 am on 17 March 2020 Permalink | Balas  

    Syarat Maksiat 

    Syarat Maksiat

    Suatu hari seorang lelaki menemui Ibrahim bin Adham. Dia berkata, ‘Wahai Aba Ishak! Saya selalu melakukan maksiat, tolong berikan aku nasihat’.

    Ibrahim berkata, ‘Jika kamu mau menerima lima syarat dan mampu melaksanakannya, maka kamu boleh teruskan melakukan maksiat.’

    1. Jika kamu maksiat kepada Allah, jangan makan rezekiNya.” Lelaki itu seraya berkata, ‘Aku mau makan dari mana? Bukankah semua yang ada di bumi ini rezeki Allah? “Ya,” tegas Ibrahim bin Adham. “Kalau kamu sudah memahaminya, masih pantaskah memakan rezekinya, sementara kamu selalu berkeinginan melanggar larangan-Nya? “
    2. “Yang kedua,” kata Ibrahim, “kalau mau bermaksiat, jangan tinggal dibumi-Nya! Syarat ini membuat lelaki itu kaget setengah mati. Ibrahim kembali berkata kepadanya, “Wahai Abdullah, pikirkanlah, apakah kau layak memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sementara kamu melanggar segala larangan-Nya? ‘“’Ya, Anda benar,” kata lelaki itu.
    3. Dia kemudian menanyakan syarat yang ketiga. Ibrahim menjawab,”Kalau kamu masih mau bermaksiat, carilah tempat tersembunyi yang tidak dapat terlihat oleh-Nya!” Lelaki itu kembali terperanjat dan berkata, “Wahai Ibrahim, ini nasihat macam apa? Mana mungkin Allah tidak melihat kita? “Nah, kalau memang yakin demikian, apakah kamu masih berkeinginan berlaku maksiat?” kata Ibrahim. Lelaki itu mengangguk dan meminta syarat yang keempat.
    4. Ibrahim melanjutkan, “Kalau malaikat maut datang hendak mencabut rohmu,katakanlah kepadanya, ‘Mundurkan kematianku dulu. Aku masih mau bertobat dan melakukan amal saleh’.” Kembali lelaki itu menggelengkan kepala dan segera tersadar, “Wahai Ibrahim, mana mungkin malaikat maut akan memenuhi permohonanku? “Wahai Abdullah, kalau kamu sudah meyakini bahwa kamu tidak bisa menunda dan mengundurkan datangnya kematianmu, lalu bagaimana engkau bisa lari dari murka Allah?“Baiklah, apa syarat yang kelima?”
    5. Ibrahim pun menjawab, “Wahai Abdullah kalau malaikat Zabaniyah datang hendak menggiringmu ke api neraka di hari kiamat nanti, jangan engkau mau ikut bersamanya. ”Perkataan tersebut membuat lelaki itu tersadar. Dia berkata, “Wahai Aba Ishak, sudah pasti malaikat itu tidak membiarkan aku menolak kehendaknya. “ Dia tidak tahan lagi mendengar perkataan Ibrahim. Air matanya bercucuran. “Mulai saat ini aku bertobat kepada Allah,” katanya sambil terisak.
     
  • erva kurniawan 1:29 am on 16 March 2020 Permalink | Balas  

    Potensi Diri 

    Potensi Diri

    By: agussyafii

    Setiap Manusia memiliki potensi diri. Dalam bentuk fisik, intelektual, emosional dan spiritual yang berbeda-beda kapasitasnya. Ada orang yang sangat intelek, tetapi emosinya tidak stabil. Yang lain emosinya sangat terkendali tetapi intelektualitasnya kurang. Ada juga orang yang menonjol justeru potensi spiritualitasnya . Perilaku manusia dalam keseharian mencerminkan aktualitas dari potensi itu.

    Ada orang yang berwajah garang tetapi hatinya lembut, ada orang yang fisiknya kecil dan nampak lemah tetapi hatinya bergejolak penuh dengan kebencian dan dendam. Demikian juga halnya dengan corak cinta, ada seorang lelaki yang jika jatuh cinta kepada seorang wanita, ia merasa harus menguasai dan memonopoli secara total lahir batin, tidak boleh sedikitpun si wanita memiliki perhatian kepada selain dirinya. Ia sangat pecemburu, dan jika ia gagal memiliki wanita yang dicintainya itu maka ia memilih menghancurkan sang kekasih daripada harus melihat ia dimiliki oleh orang lain. Di sisi lain, ada seorang lelaki pecinta yang sangat penuh pengertian, ia sangat memaklumi dan sangat memaafkan atas kekurangan sang kekasih.

    Ia bukan saja tidak bermaksud menguasai tetapi justeru selalu ingin memberi kepada kekasihnya apa yang menjadi keinginannya, . Ia sangat berbahagia jika bisa memberikan kesenangan kepada kekasihnya, meski untuk itu ia menderita. Nah cinta itu ada di dalam hati. Hadis Nabi menyebutkan bahwa di dalam tubuh setiap manusia ada qalbu (hati) yang

    menjadi penentu kualitas manusia, jika qalbu nya baik maka seluruh ekpressinya baik, sebaliknya jika qalbu nya buruk maka buruk pula ekpressi orang itu. Orang suka berkata; dalamnya laut dapat di duga, dalamnya hati siapa yang tahu ?

    Isi hati manusia sungguh sangat sangat banyak dan beragam, diantaranaya adalah cinta. Dapat dipastikan bahwa tidak ada satupun keterangan yang obyektip tentang hati manusia yang berasal dari manusia, karena semua manusia bersifat subyektif, oleh karena itu keterangan yang paling obyektif tentang hati manusia hanya yang berasal dari sang Pencipta hati itu sendiri, yaitu Alloh SWT, dan keterangan itu ada di dalam kitab suci Al Quran.

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 15 March 2020 Permalink | Balas  

    Jangan Memanfaatkan Mereka 

    Jangan Memanfaatkan Mereka

    by: Meidy

    Kasus-kasus “memanfaatkan” anak yatim kadang terjadi, bila niatan pengurusnya telah bergeser. Sekilas ini wajar, mengingat mengurus anak-anak yg begitu banyak juga membutuhkan tenaga dan pikiran ekstra. Fenomena seperti ini sudah lazim terjadi di masyarakat kita. Kalau hal ini sudah terjadi tentu si pengurus tidak lagi bisa menjadi tempat bergantung bagi mereka.

    Apabila hal ini yang terjadi, maka berarti ada kegagalan dalam diri sipengurus, sekaligus lampu kuning dari Allah, bahwa ambang bencana bagi si pengurus yang bersangkutan sudah dekat. Ini musibah yang semestinya segera dikembalikan kepada niat semula. Adakah musibah kemanusiaan yang melebihi orang-orang yang melepaskan tanggung jawabnya terhadap anak-anak yatim??? Anak-anak yatim sudah nestapa, apakah harus ditambah lagi dengan derita pula? Bukankah Allah telah berfirman dalam surat adh-Dhuha : ” Dan terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang? ”

    “Sungguh orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu telah memakan api neraka sepenuh perutnya” (QS. an-Nisa:10)

    Kesewenang-wenangan terhadap alam dan lingkungan adalah dengan merusak kelangsungan ekosistemnya, sedangkan kesewenang -wenangan terhadap anak yatim berarti menelantarkan mereka dengan memperlakukan secara tidak adil.

    Sungguh keliru kalau ada pergeseran anggapan bahwa mengurus anak yatim adalah suatu kerugian karena tidak bisa melakukan aktivitas produktif lainnya.

    Coba tengok Halimah as-Sa’diyah, beliau adalah contoh “Ibu Panti” yang pertama. Berkat ketulusannya memelihara Si Yatim Muhammad, Halimah yang semula hidup serba pas-pasan, justru kemudian serba berkecukupan. Rezeki si yatim memang Allah sendiri yang menitipkannya kepada siapa yang memeliharanya dengan ketulusan hati. Adakah perlu bukti lain selain yang telah dicontohkan oleh manusia Agung Rasulullah ini untuk kita….???

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 14 March 2020 Permalink | Balas  

    Pemimpin 

    Pemimpin

    By: Prof. Dr. AChmad Mubarok MA

    Manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan antara yang satu dengan yang lain. Arti Masyarakat itu sendiri yang berasal dari bahasa Arab musyarakah adalah saling bersekutu. Jadi masyarakat adalah wujud dari kesepakatan umum bagaimana setiap warganya dijamin peluangnya untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam sistem masyarakat, diatur yang kecil tidak dizalimi oleh yang besar, yang lemah dijamin memperoleh keadilan, yang memiliki kelebihan dijamin penghargaannya. Masyarakat juga sepakat untuk memberikan perlindungan kepada hak-hak azazi manusia, fisiknya, hartanya, fikirannya, jiwanya dan keyakinannya. Untuk itulah maka masyarakat membangun tradisi, membangun kebudayaan, membangun institusi seperti negara dan bahkan membangun badan dunia seperti Persatuan Bangsa Bangsa (PBB).

    Cita-cita bangsa Indonesia dengan mendirikan negara Republik Indonesia misalnya, seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD 45 adalah untuk: (1) melindungi segenap warga negara, (2) hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh warganya, (3) menghargai kedaulatan rakyat, dan (4) berketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

    Manusia secara pribadi adalah makhluk yang di satu sisi berfikir positif dan menyukai kebaikan, tetapi di sisi lain terkadang berfikir negatif dan kemudian melakukan perbuatan yang bukan saja merusak dirinya tetapi juga merusak atau mengganggu orang lain. Perilaku manusia juga ada yang bersifat individual dan terkadang bersifat sosial. Ada orang yang secara pribadi adalah pendiam, penakut dan cenderung patuh, tetapi ketika ia menjadi bagian dari perilaku sosial yang bringas maka ia bisa berubah menjadi pemberani, nekad dan agresif, satu perilaku yang sangat berbeda dengan perilaku individualnya.

    Untuk menjamin terlaksananya kesepakatan sosial, maka masyarakat mengenal struktur pemimpin dan yang dipimpin. Pemimpin diberi kewenangan oleh orang banyak untuk mengorganisir dan mengatur strategi pencapaian tujuan, dan orang banyak harus membantu dan mentaati pemimpin yang telah disepakati. Manusia mengenal sistem kepemimpinan (leadership) pada setiap lapisan. Setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya (kullukum ra‘in). Kemudian suami adalah pemimpin dalam rumah tangga, lurah adalah pemimpin satu desa dan seterusnya Presiden adalah pemimpin dari satu negara. Tipologi pemimpin itu bermacam-macam, tetapi kontrak pemimpin dan yang dipimpin bersifat “universal”. Kepemimpinan akan efektif jika rakyat yang dipimpin merasa memperoleh sesuatu dari pemimpinnya; memperoleh rasa keadilan, rasa aman, dan bimbingan menuju masa depan yang menjanjikan. Oleh karena itu seorang pemimpin haruslah orang yang memiliki banyak kelebihan dibanding yang

    dipimpin, karena seorang pemimpin harus bisa memberi. Jika tiga hal itu tidak bisa diberikan oleh seorang pemimpin, maka kepemimpinannya tidak akan efektif. Jika kepemimpinan tidak efektif maka kesepakatan umum bermasyarakat akan rusak, tatanan kehidupan menjadi tidak tertib, dan masyarakat manusia yang semestinya berbudaya tinggi akan berubah menjadi kerumunan binatang yang saling menyerang, apa yang sekarang disebut sebagai anarki.

    Sebab-sebab terjadinya anarki

    Al Mawardi merumuskan sebab-sebab terjadinya anarki pada suatu masyarakat dengan kalimat yang sangat pendek tetapi jelas; La yashluhu al qaumu faudla la surata lahum, wala surata idza juhhaluluhum sadu. Artinya; Suatu bangsa tidak akan eksis jika masyarakatnya anarkis. Anarkisme terjadi karena mereka tidak memiliki tokoh teladan yang dapat dijadikan panutan dalam hidup sehari-hari. Dan masyarakat akan kehilangan panutan jika orang-orang yang menjadi pemimpin terdiri dari orang-orang bodoh. Kata juhhal tidak mesti berarti bodoh dengan IQ rendah, tetapi juga bermakna, orang pandai yang melakukan perbuatan bodoh, bisa karena egois, karena buruk akhlaknya atau karena keliru cara berfikirnya.

    Kekeliruan yang dilakukan oleh rakyat biasa, paling-paling hanya dicibirkan orang lain, tetapi kekeliruan dari seorang pemimpin (apalagi jika berulang kali dilakukan, karena kebodohannya) akan berdampak pada rusaknya tatanan sosial. Oleh karena itu periksalah seteliti mungkin sebelum mengangkat seseorang menjadi pemimpin. Wallahu a‘lam.

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 13 March 2020 Permalink | Balas  

    Air Mata Singa Padang Pasir 

    Air Mata Singa Padang Pasir

    Pernahkah anda membaca dalam riwayat akan Umar bin Khatab menangis? Umar bin Khatab terkenal gagah perkasa sehingga disegani lawan maupun kawan. Bahkan konon, dalam satu riwayat, Nabi menyebutkan kalau Syeitan pun amat segan dengan Umar sehingga kalau Umar lewat di suatu jalan, maka Syeitan pun menghindar lewat jalan yang lain. Terlepas dari kebenaran riwayat terakhir ini, yang jelas keperkasaan Umar sudah menjadi buah bibir di kalangan umat Islam. Karena itu kalau Umar sampai menangis tentulah itu menjadi peristiwa yang menakjubkan.

    Mengapa “singa padang pasir” ini sampai menangis?

    Umar pernah meminta izin menemui rasulullah. Ia mendapatkan beliau sedang berbaring di atas tikar yang sangat kasar. Sebagian tubuh beliau berada di atas tanah. Beliau hanya berbantal pelepah kurma yang keras. Aku ucapkan salam kepadanya dan duduk di dekatnya. Aku tidak sanggup menahan tangisku.

    Rasul yang mulia bertanya, “mengapa engkau menangis ya Umar?” Umar menjawab, “bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau, padahal Engkau ini Nabi Allah dan kekasih-Nya. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Sedangkan Kisra dan kaisar duduk di singgasana emas dan berbantalkan sutera”.

    Nabi berkata, “mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga; sebuah kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang yang bepergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya. ”

    Indah nian perumpamaan Nabi akan hubungan beliau dengan dunia ini. Dunia ini hanyalah tempat pemberhentian sementara, hanyalah tempat berteduh sejenak, untuk kemudian kita meneruskan perjalanan yang sesungguhnya.

    Ketika anda pergi ke Belanda, biasanya pesawat akan transit di Singapura. Atau anda pulang dari Saudi Arabia, biasanya pesawat anda mampir sejenak di Abu Dhabi. Anggap saja tempat transit itu, Singapura dan Abu Dhabi, merupakan dunia ini. Apakah ketika transit anda akan habiskan segala perbekalan anda? Apakah anda akan selamanya tinggal di tempat transit itu?

    Ketika anda sibuk shopping ternyata pesawat telah memanggil anda untuk segera meneruskan perjalanan anda. Ketika anda sedang terlena dan sibuk dengan dunia ini, tiba-tiba Allah memanggil anda pulang kembali ke sisi-Nya. Perbekalan anda sudah habis, tangan anda penuh dengan bungkusan dosa anda, lalu apa yang akan anda bawa nanti di padang Mahsyar. Sisakan kesenangan anda di dunia ini untuk bekal anda di akherat. Dalam tujuh hari seminggu, mengapa tak anda tahan segala nafsu, rasa lapar dan rasa haus paling tidak dua hari dalam seminggu. Lakukan ibadah puasa senin-kamis. Dalam dua puluh empat jam sehari, mengapa tak anda sisakan waktu barang satu-dua jam untuk sholat dan membaca al-Qur’an. Delapan jam waktu tidur kita….mengapa tak kita buang 15 menit saja untuk sholat tahajud.

    “Celupkan tanganmu ke dalam lautan,” saran Nabi ketika ada sahabat yang bertanya tentang perbedaan dunia dan akherat, “air yang ada di jarimu itulah dunia, sedangkan sisanya adalah akherat”

    Bersiaplah, untuk menyelam di “lautan akherat”. Siapa tahu Allah sebentar lagi akan memanggil kita,dan bila saat panggilan itu tiba, jangankan untuk beribadah, menangis pun kita tak akan punya waktu lagi.

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 12 March 2020 Permalink | Balas  

    Kapasitas Kejiwaan Pada Anak 

    Kapasitas Kejiwaan Pada Anak

    By: agussyafii

    Dalam konsep pendidikan Amalia, yang paling penting adalah memberikan tanggungjawab. Anak haruslah diberikan kesempatan untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawab untuk mengurus dirinya sendiri sebab itu bentuk pelatihan yang perlu pembiasaan agar kelak mereka menjadi manusia yang bertanggungjawab. Tentunya tugas dan tanggungjawab anak disesuaikan dengan kapasitas dirinya.

    Menurut Alquran, Allah menciptakan manusia baik individu maupun sosial, dari keadaan lemah, kemudian berproses menjadi kuat, dan kemudian lemah kembali (Q / 30:54). Kelemahan itu berupa keterbatasan fisik, psikis, intelektual, dan spiritual.

    Tiap orang memiliki kapasitas fisik, psikis, intelektual dan spiritual yang berbeda-beda. Deskripsinya sebagai berikut:

    1. Kelemahan fisik mewujud pada ketergantungan dengan unsur lain seperti makanan, minuman, istirahat, pengobatan dan lainnya, dan berujung pada kematian. Proses dari lemah menjadi kuat dan kembali menjadi lemah adalah hukum kehidupan yang juga dialami oleh tumbuh-tumbuhan, dari biji, bersemi, menjadi pohon, merindang, berbuah, kembali layu dan kering (Q / al Waqi’ah:63-70).
    2. Kelemahan dan keterbatasan psikis manusia mewujud dalam bentuk tidak mampu mengendalikan diri (tidak sabar), emosi, takut, terkejut, dan sedih. Alquran menyebutkan bahwa manusia diciptakan dengan memiliki keluh kesah dan kikir; jika ditimpa kesusahan ia mengeluh, jika ia memperoleh keberuntungan ia malah kikir (Q / 70:19-21). Jika sedang senang ia berpaling dan sombong, tetapi ketika sedang susah ia putus asa (Q / 17:83).
    3. Kelemahan intelektual mewujud pada keterbatasan pengetahuan manusia atas realitas. Ada manusia yang mampu memilah-milah banyak masalah, tetapi ada yang sangat terbatas; ada yang mampu melihat masalah untuk tiga-empat dimensi, tetapi ada yang hanya mampu melihat satu dimensi. Dalam surat Luqman disebutkan bahwa ada lima hal yang tidak bisa diketahui oleh intelektual manusia, yaitu:

    (1) Kapan terjadi hari kiamat;

    (2) Kapasitas hujan;

    (3) Masa depan janin manusia yang masih dalam kandungan; dan

    (4) Apa yang akan diperoleh di hari esok, dan (5) dimana manusia akan mati (Q / 31:34).

    Alquran juga menyebutkan bahwa manusia tidak akan mampu mengetahui ruh, karena ruh itu urusan Allah SWT dan manusia hanya diberi sedikit pengetahuan tentangnya, misalnya fenomena (Q / 17:85).

    1. Keterbatasan kekuatan spiritual mewujud dalam ketidak mampuan manusia memandang dimensi gaib, apa yang akan terjadi di masa depan, apa yang ada pada ilmu Allah (Q / Yunus:49) dan Q / al An’am:50). Dalam perspektif spiritualitas, seseorang bisa mencapai tingkat dekat dengan Allah hingga ia bisa melihat dengan “penglihatan” Allah, bisa mendengar dengan “telinga” Allah. Akan tetapi, spiritual adalah olah rasa. Oleh karena itu, hal ini merupakan pengalaman subjektif spiritual seorang muslim, kendati mereka justru merasakan sebagai hal yang paling objektif.

    Sebagaimana tersebut di atas, kapasitas setiap manusia, (fisik, psikis, intelektual, dan spiritual) kenyataannya berbeda-beda. Perbedaan kapasitas ini membawa implikasi kepada perbedaaan tanggung jawab dan bobot kewajiban. Sudah barang tentu tidak adil jika kewajiban manusia disamakan sementara kapasitas mereka berbeda-beda. Oleh karena itu, Alquran menyebutkan bahwa Allah tidak membebani kewajiban kepada seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya, la yukallifa Allah nafsan ila wus’aha (Q / 2:286). Allah tidak membebani kewajiban kepada seseorang kecuali sekadar apa yang telah Allah berikan kepadanya, la yukallifa Allah nafsan illa ma ataha (Q / 65:7). Orang juga tidak akan memikul dosa yang diperbuat orang lain, wala taziru waziratun wizra ukhra (Q / 6:164).

    Prinsip hubungan ini kemudian mewujud dalam hukum fiqh; dalam hal ini, orang yang sakit dibedakan keharusannya dengan orang sehat; orang miskin dibedakan kewajibannya dengan orang kaya; orang gila dibedakan dengan tanggung jawabnya dengan orang waras; anak kecil dibedakan tanggung jawabnya dengan orang dewasa; orang tidur dan orang lupa dibedakan tanggung jawabnya dengan orang jaga atau orang yang sadar; dan orang yang berbuat secara sengaja dibedakan dengan yang tidak sengaja.

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 11 March 2020 Permalink | Balas  

    Hubungan antara Taqwa dan Kemudahan Rezeki 

    Hubungan antara Taqwa dan Kemudahan Rezeki

    By: agussyafii

    Insan Mulia ketika menghadapi kesulitan dalam hidupnya niscaya berusaha mencari jalan pemecahannya (problem solving). Dalam hal ini ada yang tetap memperhatikan nilai-nilai moral, tetapi ada juga yang menghalalkan segala cara. Menurut Alquran, sesulit apapun keadaan, jika dalam pemecahan masalah itu mengikuti jalan takwa, niscaya Alloh SWT akan memberikan jalan keluar yang aman, dan bahkan ditanggung akan memperoleh rezeki dari jalan yang tidak diperhitungkan; wa man yattaqillah yaj’al lahu makhraja wa yarzuqhu min haytsu la yahtasib (Q / 65:2).

    Ayat ini berhubungan dengan problem keluarga. Dalam problem bangsa atau masyarakat luas, sumberdaya alam menjadi tidak relevan dengan kemakmuran, jumlah senjata menjadi tidak relevan dengan kelancaran pekerjaan. Menurut Alquran hal ini disebabkan dicabutnya keberkahan dari masyarakat atau bangsa itu.

    Berkah adalah terkumpulnya kebaikan ilahiyyah pada sesuatu, pada seseorang, pada suatu waktu, pada suatu tempat, sehinggga nikmat Alloh SWT terdayaguna secara optimal. Menurut Alquran, hilangnya keberkahan itu berkaitan dengan perilaku masyarakat yang tidak lagi mencerminkan iman dan taqwa adalah kejujuran, tanggung jawab, amanah dan keadilan. Jika nilai-nilai tersebut diabaikan oleh masyarakat maka sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan sumberdaya lainnya tidak akan fungsional bagi kesejahteraan hidup manusia.

    Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi; tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu; maka, kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 10 March 2020 Permalink | Balas  

    Halaqah dan Ilmu pengetahuan 

    Halaqah dan Ilmu pengetahuan

    By: agussyafii

    Istilah halaqah bukanlah sesuatu yang asing. Dalam bahasa Arab, halaqah artinya lingkaran, tetapi sebagai istilah, halaqah  digunakan untuk menyebut  sebuah forum atau majlis. Pada zaman klassik Islam, majlis pengajian Imam Ghazali misalnya juga disebut halaqah Imam Ghazali, dinisbahkan kepada bentuk dimana guru duduk di tengah dan murid-muridnya duduk melingkar di sekelilingnya.

    Bentuk halaqah juga diberlakukan di pesantren-pesantren salafi Jawa sebelum dikenal sistem kelas pada pengajian bandungan, dimana kyai duduk di tengah dan para santri duduk melingkari guru. Dalam konsep pendidikan salafi, belajar itu bukan transfer pengetahuan dari guru ke murid, tetapi lebih merupakan proses mencari berkah guru (tabarrukan) . Oleh karena itu masa belajar tidak dibatasi oleh jenjang-jenjang kelas hingga tammat, tetapi sepuas-puas murid hingga merasa memperoleh berkah ilmu dari sang guru.  tidaklah heran jika di pesantren ada murid yang menammatkan ngaji satu kitab hingga mengulang tiga kali, karena pada kali tammat pertama dan kedua rasanya belum memperoleh berkah kyai.

    Berkah itu sendiri artinya terdayagunanya anugerah Tuhan  secara optimal (al barakatu tajammu` al khair al ilahiy katajammu` al ma’ fi al birkati). Menurut paradigma pendidikan Islam klassik, ilmu itu bukan sekedar pengetahuan, tetapi juga bermakna cahaya ketuhanan, oleh karena itu, cahaya ketuhanan (ilmu yang membawa berkah) tidak mungkin dicapai oleh orang yang durhaka kepada Tuhan, seperti yang tertulis dalam kitab Ta`lim al Muta`alim; wa akhbarani bi anna al `ilma nurun- wa nurullahi la yuhda li`ashi.  Selanjutnya bagi santri yang dipandang sudah layak mengajarkan ilmu dari guru, diberi ijazah atau diijazahi oleh kyai. Ijazahnya bukan berujud selembar kertas, tetapi berupa  akad dimana dengan bersalaman guru membolehkan murid untuk mengajar. Kata ijazah itu sendiri berasal dari kata ajaza-yujizu- ijazatan artinya membolehkan atau perkenan, sama seperti konsep magister (guru) dalam tradisi keilmuan Eropa.

    Sejalan dengan perkembangan zaman, forum halaqah juga berkembang, bukan saja lingkaran dalam satu ruang, tetapi juga lingkaran pembaca (koran), lingkaran pemirsa (TV), lingkaran pendengar (radio) dan lingkaran pengunjung (internet).

    Al Qur’an banyak sekali mengingatkan manusia agar menggunakan akalnya untuk berfikir dan bertafakkur; afala tatafakkarun, afala ta`qilun, awala yatadabbarun. Manusia memang adalah hewan yang berfikir ( al insanu hayawanun nathiqun). Pada manusia, berfikir merupakan proses keempat setelah sensasi, persepsi dan memori yang mempengaruhi penafsiran terhadap suatu stimulus. Dalam berfikir orang melibatkan sensasi, persepsi dan memori sekaligus (istilah psikologi). Dalam kehidupan, berfikir diperlukan untuk (a) memecahkan masalah atau problem solving, (2) untuk mengambil keputusan, decision making, dan (3) untuk melahirkan sesuatu yang baru (creatifity) .

    Semakin tinggi ilmu seseorang maka semakin rumit cara berfikirnya. Ada orang yang hanya bisa melamun, ada yang berfikir tetapi tidak realistis, dan ada yang berfikir realistis, ada yang berfikir ngawur, ada yang berfikir nalar (dari kata Arab nadzara). Ada orang yang selalu berfikir (failasuf), ada orang yang hanya mau berfikir jika merasa perlu (tehnokrat), dan ada yang kadang-kadang saja berfikir (penganggur) .

    Orang pandai berfikir secara bersistem, misalnya berfikir deduktif (mengambil kesimpulan khusus dari pernyataan umum), atau sebaliknya berfikir induktip (mengambil kesimpulan  umum dari pernyataan khusus. Tetapi terkadang ada masalah yang tidak bisa dipecahkan dengan berfikir, maka bagi orang yang sangat pintar ia memakai metode yang disebut berfikir kreatip (creatip thinking).

    Berfikir kreatif adalah berfikir dengan menggunakan metode baru, konsep baru, penemuan baru, paradigma baru dan seni yang baru pula. Urgensi pemikiran kreatip bukan pada kebaruannya tetapi pada relefansinya dengan pemecahan masalah. Karena kebaruan dan tidak konvensional, maka orang yang kreatip sering tidak difahami oleh orang kebanyakan, tak jarang dianggap aneh atau bahkan dianggap gila (berfikir gila). Orang besar sering mengemukakan ide-ide gila karena jarak orang besar dengan orang gila memang sangat tipis. Proses berfikir kreatip itu melalui lima tahapan : (1) orienstasi, yakni merumuskan dan mengidentifikasi masalah.(2) preparasi, yakni mengumpulkan sebanyak mungkin informasi, (3) inkubasi, yaitu berhenti dulu, tidur dulu, cooling dawn dulu.(4) iluminasi, yakni mencari ilham, dan (5) verifikasi, yakni menguji dan menilai secara kritis.

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 9 March 2020 Permalink | Balas  

    Nasib Manusia 

    Nasib Manusia

    By: Prof. Dr. Achmad Mubarok MA

    Nasib manusia sering disebut dengan kalimat suratan nasib atau suratan tangan, atau suratan takdir, yang menggambarkan bahwa nasib manusia telah tertulis di lauh mahfudz sebagai takdir, dan manusia tak berdaya mengubahnya. Jika kita menengok al Qur’an maka kita jumpai bahwa penjelasan tentang takdir dan nasib itu tidaklah hitam putih, karena di satu sisi diungkapkan bahwa setiap peristiwa yang terjadi di alam raya hingga selembar daun yang jatuh pasti bertitik tolak dari kehendak Allah (qudrat iradat Allah) dan tidak terlepas dari kendali pengawasan Allah serta tersurat dalam ketetapan yang jelas (fi kitabin mubin).

    Sementara di sisi lain diungkapkan bahwa manusia memiliki daya pilih dan daya upaya, bebas menentukan perbuatannya dan mampu mempengaruhi masa depan dan nasibnya dan dapat pula mengubahnya sendiri. Al Qur’an surat al Kahfi ayat 29 misalnya memberi kebebasan memilih kepada manusia untuk beriman atau kafir, faman sya’a fal yu’min, waman sya’a fal yakfur.

    Dua pola ungkapan al Qur’an itu kemudian melahirkan pola-pola pemikiran yang berlainan. Pertama pola kepercayaan “Jabbbariah” yang mengata-kan bahwa nasib manusia telah ditentukan secara pasti dan tetap oleh Allah Yang Maha Pencipta dimana manusia tinggal menjalani ketentuan-ketentuan itu sepenuhnya tanpa daya pilih dan tanpa daya upaya.

    Pola kedua adalah kepercayaan “Qadariyah” yang mengatakan bahwa manusialah yang menentukan segala-galanya, nasibnya tergantung pada pilihan dan usahanya karena manusia memiliki kebebasan untuk menentukan kebebasannya. Pola ketiga disebut kepercayaan “Ahlussunnah wal Jamaah”, yang mengata-kan bahwa ada keterbatasan dalam diri manusia, sehingga daya pilih dan daya upaya yang dimilikinya menjadi tidak mutlak, sekalipun keduanya sangat penting artinya sebagai landasan taklif (penunaian tugas yang diamanatkan Allah kepada manusia).

    Kepercayaan yang benar tentang takdir itu adalah bagian dari ilmu yang utuh, yang mendorong manusia untuk bekerja keras, cermat dan tertib dengan segala daya dan dana yang ada padanya berdasarkan pilihannya yang timbul dari kesadaran akan amanah taklif yang diembannya untuk meningkatkan kualitas dirinya dalam menggapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Wallohu a‘lam.

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 8 March 2020 Permalink | Balas  

    Fitrah Kesucian Nafs 

    Fitrah Kesucian Nafs

    By: Prof. Dr. Achmad Mubarok MA

    Telah disebutkan dalam uraian sebelumnya bahwa pada dasarnya nafsu itu diciptakan Tuhan dalam keadaan sempurna (Q/91 : 7-8). Akan tetapi, ia dapat tercemar menjadi kotor jika tidak dijaga (Q/91: 9-10). Tentang Nafs yang masih suci disebutkan dalam surat Alkahfi/18 : 74, dalam rangkaian kisah Nabi Khidir yang teks ayatnya telah ditulis di bagian depan.

    Istilah zakiyyah pada ayat tersebut di atas (nafsan zakiyyatan) merupakan sifat dari nafs sehingga nafs zakiyyah artinya jiwa yang suci. Dalam konteks ayat tersebut, pemiliki nafs yang suci itu adalah anak kecil sebagaimana juga disebut dalam surat Maryam : 19 ghulâman zakiyyan. Jadi, nafs yang secara fitri masih suci adalah nafs dari anak yang belum mukallaf, yang dalam hhal ini belum berdosa.

    Fakhr ar Razi mengutip perbedaan makna dari kalimat zakiyyah dan zâkiyah. Sebagian Mufasir memandang sama arti kedua kalimat itu. Akan tetapi sebagian membedakannya, seperti Abu ‘Amr Ibn al ‘Ala. Menurutnya, nafs zâkiyyah (dengan alif) adalah jiwa yang suci secara fitri, yakni belum pernah melakukan dosa, sedang nafs zakiyyah adalah jiwa yang suci setelah melalui proses tazkiyyatan nafs dengan bertobat dari perbuatan dosa.

    Kesucian nafs bersifat manusiawi, maka kotornya pun bersifat maknawi. Seseorang dapat memelihara kesucian nafs-nya manakala ia konsisten dalam ketakwaan. Sebaliknya, nafs berubah menjadi kotor jika pemiliknya menempuh jalan dosa atau fujur. Surat Assyams/91 : 7-10 menyebutkan bahwa sungguh rugi orang yang telah mengotori jiwanya (wa qod khôba man dassâhâ) kata dassa berasal dari kata dassa-yadussu yang arti lughowinya menyembunyikan sesuatu di dalam sesuatu. Dalam konteks ayat ini, orang mengotori jiwanya dengan perbuatan

    dosa yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Oleh karena itu, sebagain mufasir berpendapat bahwa ayat Alquran ini (Q/91 : 10) berkenaan dengan nafs orang saleh yang melakukan kefasikan, bukan jiwa orang kafir. Pasalnya, orang saleh, meski ia melakukan dosa, tetapi ia malu dengan perbuatannya itu sehingga ia lakukan dengan cara sembunyi-sembunyi. Berbeda dengan orang kafir yang melakukannya dengan terang-terangan.

    Alquran mengisyaratkan bahwa jiwa yang tercemar masih dapat diusahakan untuk menjadi suci kembali, baik dengan usaha sendiri, memalui pendidikan atau karena anugerah dan rahmat Allah seperti yang diisyaratkan oleh surat Q/9 : 103, Q/3: 164.

    Artinya : Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Alkitab dan Alhikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan nabi) itu mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata (Q/3 : 164).

    Ayat Alquran tersebut mengisyaratkan bahwa orang yang sesat masih dimungkinkan untuk dibersihkan jiwanya. Usaha atau proses penyucian jiwa itu disebut tazkiyyat an nafs.

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 7 March 2020 Permalink | Balas  

    Waktu Shalat Adalah Mukjizat 

    Waktu Shalat Adalah Mukjizat

    Pernahkan Anda bertanya mengapa shalat lima waktu itu harus dikerjakan pada waktunya? Ternyata ada kaitannya dengan siklus energi tubuh kita.

    Siklus Enegi Tubuh Kita

    Sebuah penelitian yang dilakukan oleh para ilmuan, terutama di Jepang, Eropa, dan Amerika. Penelitian itu menyimpulkan bahwa energi tubuh manusia mengalami rotasi yang sangat teratur; naik dan turun, kemudian naik lagi, begitu seterusnya. Para ilmuan itu membagi siklus energi tubuh menjadi beberapa fase:

    • Fase peningkatan. Fase ini ditandai dengan bertambahnya semangat dan energi tubuh, sehingga tubuh terasa lebih energik, dan rasa percaya diri pun meningkat.
    • Fase penurunan. Pada fase ini seseorang akan merasa badan atau jiwanya penat. Karena itu, ia membutuhkan istirahat yang cukup.
    • Fase transisi. Fase ini merupakan masa negatif bagi energi tubuh manusia. Keadaan pada fase mirip dengan fase transisi dalam tidur ke jaga.

    Banyak studi akademis dan bukti yang ditunjukkan oleh pakar biologi di Cina, Eropa, dan Amerika membuktikan bahwa ritme energi tubuh manusia mencapai puncaknya dua kali dalam 24 jam, masing-masing terjadi setiap 12 jam. Derajat energi dan kebugaran tubuh manusia mencapai puncaknya secara bertahap sejak pukul 04.00. dan peningkatan energi tubuh juga terjadi pada pukul 16.00. Para ilmuan menegaskan bahwa energi tubuh manusia pada pukul 02.00 sama dengan energi tubuh pada pukul 14.00., tetapi kadarnya lebih rendah dari energi pada fase yang pertama. Maksudnya, puncak kekuatan dan kebugaran tubuh terjadi antara pukul 04.00 dan pukul 11.00. Peningkatan energi kembali berlangsung tubuh yang terjadi antara pukul 16.00 hingga pukul 18.00.

    Derajat terendah energi tubuh terjadi sekitar pukul 14.00 dan sekitar pukul 02.00, untuk kemudian Dan proses itu mulai pada pukul 04.00 hingga derajat energi tubuh mencapai puncak keseimbangannya pada sekitar pukul 10.00 atau 11.00., rentang waktu kurang lebih enam hingga tujuh jam. Tempo tersebut sudah sangat cukup untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup dengan berbagai jenis tugas dan pekerjaan. Selanjutnya derajat energi tubuh menurun secara bertahap sekitar pukul 14.00, saat tubuh kita sangat membutuhkan suplay energi dari makanan dan istirahat selama tidak kurang dari dua jam.

    Setelah itu energi dan kebugaran tubuh manusia akan kembali naik secara bertahap dan bisa menopang aktivitas selama tiga hingga empat jam. Namun energi tubuh pada pada fase yang kedua ini lebih rendak daripada energi tubuh pada pagi hari. Kemudian energi mulai menurun kembali secara bertahap sekitar pukul 20.00 atau pukul 21.00, untuk kemudian benar-benar menurun sekitar pukul 23.00 atau 24.00, yang mana tubuh sangat membutuhkan tidur dan istirahat, hingga kekuatan energi tubuh mencapai keseimbangan terendahnya pada pukul 01.00 atau 02.00, -saat tubuh membutuhkan pemenuhan kekuatan dan pembaruan sel-sel- kemudian kekuatan tubuh memulai siklus baru untuk hari berikutnya. Demikian seterusnya.

    Korelasinya dengan waktu shalat?

    • Waktu Shalat Subuh

    Pada masa ini energi tubuh manusia mulai meningkat secara bertahap. Ketika seorang muslim melaksanakan shalat subuh, berarti ia telah memulai hari itu dengan semangat yang tentu berpengaruh terhadap tubuh secara menyeluruh. Pengaruh itu nampak jelas setelah 1,5 atau 2 jam shalat subuh. Masa tersebut merupakan waktu yang telah ditentukan untuk memulai rutinitas harian. Dengan demikian, kondisi kita berada dalam kondisi yang fit, baik dari segi fisik, pikiran, maupun psikologis, yang tentu saja sangat berpengaruh terhadap kemampuan kita menunaikan tugas dan meningkatkan produktivitas perkerjaan kita.

    • Waktu Shalat Zuhur

    Pada pukul 10.00 atau 11.00 grafik energi tubuh akan mencapai puncak keseimbangannya, artinya tubuh berada dalam kondisi terbaik untuk menyelesaikan pekerjaan. Aktivitas selama seharian tentu saja melelahkan, sehingga tubuh perlu diistirahatkan agar setelah itu tubuh dapat kembali melaksanakan tugasnya secara maksimal. Waktu shalat Zuhur masuk ketika matahari sudah bergeser dari garis lurus dengan bumi. Di sinilah shalat Zuhur memainkan perannya untuk memenuhi kebutuhan istirahat itu dengan cara yang paling baik, pemenuhan dan memperbarui energi tubuh.

    • Waktu Shalat Ashar

    Setelah shalat Zuhur, energi tubuh mulai menurun secara bertahap, selama kurang lebih dua atau tiga jam. kemudian energi tubuh mulai meningkat secara bertahap ketika waktu shalat Ashar tiba. Ketika bayangan suatu benda separuh dari bayangannya. Alhasil melaksanakan shalat pada waktu ini bisa dikatakan sebagai warming up yang ideal untuk mendukung energi tubuh serta menjaga keseimbangannya untuk menyelsaikan tugas-tugas harian dengan baik dan maksimal.

    • Waktu Shalat Maghrib

    Setelah kurang lebih tiga jam setelah shalat Ashar, secara biologis pada masa ini grafik energi tubuh meningkat, tetapi peningkatannya lebih rendah daripada peningkatan yang dicapai pada pagi harinya. Oleh karena itu, masa ini khusus untuk menyelesaikan tugas yang belum rampung atau untuk melaksanakan aktivitas yang beragam. Sehingga, shalat Maghrib dilaksanakan, agar tubuh dapat beristirahat secara positif dan baik untuk memenuhi kekuatan dan menyuplai energi tubuh. Hal itu agar tubuh dapat melangsungkan aktivitas dengan energik dan menyenangkan.

    • Waktu Shalat Isya

    Pada waktu ini biasanya rutinitas harian sudah berakhir, dibarengi dengan menurunnya grafik energi tubuh. Dari sini kita bisa mengetahui urgensi shalat isya. Atau bisa diibaratkan sebagai cooling down dari seluruh kesibukan harian untuk kemudian menyudahi kepenatan fisik dan hati, reaksi serta tekanan psikologis agar seluruh tubuh betul-betul siap untuk menongsumsi hidangan makan malam dengan tenang, dan menyenangkan. Dengan demikian tubuh berada dalam kondisi terbaik dan bisa beristirahat/ tidur nyenyak samapai pagi hari untuk melaksanakan shalat subuh, sehingga tubuh berada dalam kondisi yang ideal untuk memulai rutinitas dengan energik dan mnyenangkan.

    ***

    (Dikutip dan diterjemahkan dari “ash-Shalah Riyadhatun Nafs wal Jasad”).

     
  • erva kurniawan 1:46 pm on 6 March 2020 Permalink | Balas  

    Larangan Makan dan Minum Sambil Berdiri 

    Larangan Makan dan Minum Sambil Berdiri

    Dari Anas dan Qatadah, Rasulullah saw bersabda:

    Sesungguhnya beliau melarang seseorang minum sambil berdiri, Qotadah berkata:”Bagaimana dengan makan?” beliau menjawab: “Itu lebih buruk lagi”. (HR. Muslim dan Turmidzi)

    bersabda Nabi dari Abu Hurairah,“Jangan kalian minum sambil berdiri ! Apabila kalian lupa, maka hendaknya ia muntahkan !” (HR. Muslim)

    Rahasia Medis

    Dr. Abdurrazzaq Al-Kailani berkata: “Minum dan makan sambil duduk, lebih sehat, lebih selamat, dan lebih sopan, karena apa yang diminum atau dimakan oleh seseorang akan berjalan pada dinding usus dengan perlahan dan lembut. Adapun minum sambil berdiri, maka ia akan menyebabkan jatuhnya cairan dengan keras ke dasar usus, menabraknya dengan keras, jika hal ini terjadi berulang-ulang dalam waktu lama maka akan menyebabkan melar dan jatuhnya usus, yang kemudian menyebabkan pernah sekali minum sambil disfungsi pencernaan. Adapun Rasulullah berdiri, maka itu dikarenakan ada sesuatu yang menghalangi beliau untuk duduk, seperti penuh sesaknya manusia pada tempat-tempat suci, bukan merupakan kebiasaan. Ingat hanya sekali karena darurat!

    Begitu pula makan sambil berjalan, sama sekali tidak sehat, tidak sopan, tidak etis dan tidak pernah dikenal dalam Islam dan kaum muslimin.

    Dr. brahim Al-Rawi melihat bahwa manusia pada saat berdiri, ia dalam keadaan tegang, organ keseimbangan dalam pusat saraf sedang bekerja keras, supaya mampu mempertahankan semua otot pada tubuhnya, sehingga bisa berdiri stabil dan dengan sempurna. Ini merupkan kerja yang sangat teliti yang melibatkan semua susunan syaraf dan otot secara bersamaan, yang menjadikan manusia tidak bisa mencapai ketenangan yang merupakan syarat tepenting pada saat makan dan minum. Ketenangan ini bisa dihasilkan pada saat duduk, dimana syaraf berada dalam keadaan tenang dan tidak tegang, sehingga sistem pencernaan dalam keadaan siap untuk menerima makanan dan minum dengan cara cepat.

    Dr. Al-rawi menekankan bahwa makanan dan minuman yang disantap pada saat berdiri, bisa berdampak pada refleksi saraf yang dilakukan oleh reaksi saraf kelana (saraf otak kesepuluh) yang banyak tersebar pada lapisan endotel yang mengelilingi usus.

    Refleksi ini apabila terjadi secara keras dan tiba-tiba, bisa menyebabkan tidak berfungsinya saraf (Vagal Inhibition) yang parah, untuk menghantarkan detak mematikan bagi jantung, sehingga menyebabkan pingsan atau mati mendadak.

    Begitu pula makan dan minum berdiri secara terus –menerus terbilang membahayakan dinding usus dan memungkinkan terjadinya luka pada lambung. Para dokter melihat bahwa luka pada lambung 95% terjadi pada tempat-tempat yang biasa bebenturan dengan makanan atau minuman yang masuk.

    Air yang masuk dengan cara duduk akan disaring oleh sfringer. Sfringer adalah suatu struktur maskuler (berotot) yang bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup. Setiap air yang kita minum akan disalurkan pada ‘pos-pos’ penyaringan yang berada di ginjal. Nah, jika kita minum berdiri air yang kita minum tanpa disaring lagi. Langsung menuju kandung kemih. Ketika langsung menuju kandung kemih, maka terjadi pengendapan disaluran ureter. Karena banyak limbah-limbah yang menyisa di ureter. Inilah yang bisa menyebabkan penyakit kristal ginjal. Salah satu penyakit ginjal yang berbahaya. Susah kencing itu penyebabnya.

    Sebagaimana kondisi keseimbangan pada saat berdiri disertai pengerutan otot pada tenggorokan yang menghalangi jalannya makanan ke usus secara mudah, dan terkadang menyebabkan rasa sakit yang sangat yang mengganggu fungsi pencernaan, dan seseorang bisa kehilangan rasa nyaman saat makan dan minum.

    Oleh karena itu marilah kita kembali hidup sehat dan sopan dengan kembali ke pada adab dan akhlak Islam, jauh dari sikap meniru-niru gaya orang-orang yang tidak mendapat hidayah Islam.

    Sumber: Qiblati edisi 04 tahun II. Judul: Larangan Minum sambil berdiri, Hal 16

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 1 March 2020 Permalink | Balas  

    Sayangnya ALLAH pada Wanita 

    Masya ALLAH ! Demikian sayangnya ALLAH pada wanita

    Kaum feminis bilang susah jadi wanita (baca: muslimah), lihat saja peraturan dibawah ini:

    1. Wanita auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak) dibanding lelaki
    2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya..
    3. Wanita saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding lelaki
    4. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki
    5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak
    6. Wanita wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat pada isterinya
    7. Talak terletak di tangan suami dan bukan isteri
    8. Wanita kurang dalam beribadat karena adanya masalah haid dan nifas yang tak ada pada lelaki

    Itu sebabnya mereka tidak henti-hentinya berpromosi untuk”MEMERDEKAKAN WANITA”

    Pernahkah kita lihat sebaliknya (kenyataannya) ?

    1. Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan di tempat teraman dan terbaik.Sudah pasti intan permata tidak akan dibiarkan terserak bukan? Itulah perbandingannya dengan seorang wanita
    2. Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada bapaknya?
    3. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi tahukah harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, sementara apabila lelaki menerima warisan, Ia perlu/wajib juga menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anak
    4. Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi tahukah bahwa setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini, dan tahukah jika ia mati karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya
    5. Di akhirat kelak, seorang lelaki akan mempertanggungjawab -kan terhadap 4 wanita, yaitu : isterinya,ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya. Artinya, bagi seorang wanita tanggung-jawabterha dapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki, yaitu : suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya
    6. Seorang wanita boleh memasuki pintu syurga melalui pintu surga yang mana saja yang disukainya, cukup dengan 4 syarat saja, yaitu : shalat 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat kepada suaminya dan menjaga kehormatannya
    7. Seorang lelaki wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi wanita jika taat akan suaminya, serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH, maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata

    Masya ALLAH ! Demikian sayangnya ALLAH pada wanita

    Ingat firman-Nya, bahwa mereka tidak akan berhenti melakukan segala upaya, sampai kita ikut / tunduk kepada cara-cara / peraturan buatan mereka (emansipasi Ala western)

    Yakinlah, bahwa sebagai dzat yang Maha Pencipta, yang menciptakan kita, maka sudah pasti Ia yang Maha Tahu akan manusia, sehingga segala hukumNya / peraturanNya, adalah YANG TERBAIK bagi manusia dibandingkan dengan segala peraturan/hukum buatan manusia

    Jagalah isterimu karena dia perhiasan, pakaian dan ladangmu, sebagaimana Rasulullah pernah mengajarkan agar kita (kaum lelaki) berbuat baik selalu (gently) terhadap isterimu

    Adalah sabda Rasulullah bahwa ketika kita memiliki dua atau lebih anak perempuan, mampu menjaga dan mengantarkannya menjadi muslimah Yang baik, maka surga adalah jaminannya (untuk anak laki2 berlaku kaidah yang berbeda)

    Berbahagialah wahai para muslimah. Jangan risau hanya untuk apresiasi absurd dan semu di dunia ini Tunaikan dan tegakkan kewajiban agamamu, niscaya surga menantimu..! !

     
    • LM Taufiqurrahman 2:01 am on 3 Maret 2020 Permalink

      Ass wr wb. Mas Erva, penulis artikel ini siapa ya. Kok tidak ditampilkan ??

    • LM Taufiqurrahman 2:45 am on 3 Maret 2020 Permalink

      Kami sudah tayangkan melalui laman https://www.timurmerdeka.com harap di koreksi. Terima kasih.

    • erva kurniawan 9:28 am on 3 Maret 2020 Permalink

      Waalaikum salam wr.wb
      Tulisan ini kami dapatkan dari grup eramuslim, kiriman Saudara Yayan Suryana kepada Saudari Lina Tusofiah, sedangkan siapa penulisnya tidak disampaikan, silahkan ditayangkan

  • erva kurniawan 1:34 am on 29 February 2020 Permalink | Balas  

    Syahid di Hari Pernikahan 

    Syahid di Hari Pernikahan

    *** Syahdan, di Madinah, tinggallah seorang pemuda bernama Zulebid. Dikenal sebagai pemuda yang baik di kalangan para sahabat. Juga dalam hal ibadahnya termasuk orang yang rajin dan taat. Dari sudut ekonomi dan finansial, ia pun tergolong berkecukupan. Sebagai seorang yang telah dianggap mampu, ia hendak melaksanakan sunnah Rasul yaitu menikah. Beberapa kali ia meminang gadis di kota itu, namun selalu ditolak oleh pihak orang tua ataupun sang gadis dengan berbagai alasan.

    Akhirnya pada suatu pagi, ia menumpahkan kegalauan tersebut kepada sahabat yang dekat dengan Rasulullah. “Coba engkau temui langsung Baginda Nabi, semoga engkau mendapatkan jalan keluar yang terbaik bagimu”, nasihat mereka.

    Zulebid kemudian mengutarakan isi hatinya kepada Baginda Nabi. Sambil tersenyum beliau berkata: “Maukah engkau saya nikahkan dengan putri si Fulan?”

    “Seandainya itu adalah saran darimu, saya terima. Ya Rasulullah, putri si Fulan itu terkenal akan kecantikan dan kesholihannya, dan hingga kini ayahnya selalu menolak lamaran dari siapapun.

    “Katakanlah aku yang mengutusmu”, sahut Baginda Nabi.

    “Baiklah ya Rasul”, dan Zulebid segera bergegas bersiap dan pergi ke rumah si Fulan.

    Sesampai di rumah Fulan, Zulebid disambut sendiri oleh Fulan

    “Ada keperluan apakah hingga saudara datang ke rumah saya?” Tanya Fulan.

    “Rasulullah saw yang mengutus saya ke sini, saya hendak meminang putrimu si A.” Jawab Zulebid sedikit gugup.

    “Wahai anak muda, tunggulah sebentar, akan saya tanyakan dulu kepada putriku.” Fulan menemui putrinya dan bertanya, “bagaimana pendapatmu wahai putriku?”

    Jawab putrinya, “Ayah, jika memang ia datang karena diutus oleh Rasulullah saw, maka terimalah lamarannya, dan aku akan ikhlas menjadi istrinya.”

    Akhirnya pagi itu juga, pernikahan diselenggarakan dengan sederhana. Zulebid kemudian memboyong istrinya ke rumahnya. Sambil memandangi wajah istrinya, ia berkata,” duhai Anda yang di wajahnya terlukiskan kecantikan bidadari, apakah ini yang engkau idamkan selama ini? Bahagiakah engkau dengan memilihku menjadi suamimu?”

    Jawab istrinya, ” Engkau adalah lelaki pilihan rasul yang datang meminangku. Tentu Allah telah menakdirkan yang terbaik darimu untukku. Tak ada kebahagiaan selain menanti tibanya malam yang dinantikan para pengantin.”

    Zulebid tersenyum. Dipandanginya wajah indah itu ketika kemudian terdengar pintu rumah diketuk. Segera ia bangkit dan membuka pintu. Seorang laki-laki mengabarkan bahwa ada panggilan untuk berkumpul di masjid, panggilan berjihad dalam perang.

    Zulebid masuk kembali ke rumah dan menemui istrinya. “Duhai istriku yang senyumannya menancap hingga ke relung batinku, demikian besar tumbuhnya cintaku kepadamu, namun panggilan Allah untuk berjihad melebihi semua kecintaanku itu. Aku mohon keridhoanmu sebelum keberangkatanku ke medan perang. Kiranya Allah mengetahui semua arah jalan hidup kita ini.”

    Istrinya menyahut, “Pergilah suamiku, betapa besar pula bertumbuhnya kecintaanku kepadamu, namun hak Yang Maha Adil lebih besar kepemilikannya terhadapmu. Doa dan ridhoku menyertaimu”

    ***

    Zulebid lalu bersiap dan bergabung bersama tentara muslim menuju ke medan perang. Gagah berani ia mengayunkan pedangnya, berkelebat dan berdesing hingga beberapa orang musuh pun tewas ditangannya. Ia bertarung merangsek terus maju sambil senantiasa mengumandangkan kalimat Tauhi…ketika sebuah anak panah dari arah depan tak sempat dihindarinya. Menancap tepat di dadanya.

    Zulebid terjatuh, berusaha menghindari anak panah lainnya yang berseliweran di udara. Ia merasa dadanya mulai sesak, nafasnya tak beraturan, pedangnya pun mulai terkulai terlepas dari tangannya. Sambil bersandar di antara tumpukan korban, ia merasa panggilan Allah sudah begitu dekat. Terbayang wajah kedua orangtuanya yang begitu dikasihinya. Teringat akan masa kecilnya bersama-sama saudaranya. Berlari-larian bersama teman sepermainannya. Berganti bayangan wajah Rasulullah yang begitu dihormati, dijunjung dan dikaguminya. Hingga akhirnya bayangan rupawan istrinya.

    Istrinya yang baru dinikahinya pagi tadi. Senyum yang begitu manis menyertainya tatkala ia berpamitan. Wajah cantik itu demikian sejuk memandangnya sambil mendoakannya. Detik demi detik, syahadat pun terucapkan dari bibir Zulebid. Perlahan-lahan matanya mulai memejam, senyum menghiasinya….Zulebid pergi menghadap Ilahi, gugur sebagai syuhada.

    ***

    Senja datang Angin mendesau, sepi… Pasir-pasir beterbangan… Berputar-putar…

    Rasulullah dan para sahabat mengumpulkan syuhada yang gugur dalam perang. Di antara para mujahid tersebut terdapatlah tubuh Zulebid yang tengah bersandar di tumpukan mayat musuh. Akhirnya dikuburkanlah jenazah zulebid di suatu tempat. Berdampingan dengan para syuhada lain. Tanpa dimandikan… Tanpa dikafankan…

    Tanah terakhir ditutupkan ke atas makam Zulebid. Rasulullah terpekur di samping pusara tersebut. Para sahabat terdiam membisu. Sejenak kemudian terdengar suara Rasulullah seperti menahan isak tangis. Air mata berlinang di dari pelupuk mata beliau Lalu beberapa waktu kemudian beliau seolah-olah menengadah ke atas sambil tersenyum. Wajah beliau berubah menjadi cerah. Belum hilang keheranan shahabat, tiba-tiba Rasulullah menolehkan pandangannya ke samping seraya menutupkan tangan menghalangi arah pandangan mata beliau.

    Akhirnya keadaan kembali seperti semula. Para shahabat lalu bertanya-tanya, ada apa dengan Rasulullah. “Wahai Rasulullah, mengapa di pusara Zulebid engkau menangis?” Jawab Rasul, “Aku menangis karena mengingat Zulebid. Oo..Zulebid, pagi tadi engaku datang kepadaku minta restuku untuk menikah dan engkau pun menikah hari ini juga. Ini hari bahagia. Seharusnya saat ini Engkau sedang menantikan malam Zafaf, malam yang ditunggu oleh para pengantin.”

    “Lalu mengapa kemudian Engkau menengadah dan tersenyum?” Tanya sahabat lagi. ” Aku menengadah karena kulihat beberapa bidadari turun dari langit dan udara menjadi wangi semerbak dan aku tersenyum karena mereka datang hendak menjemput Zulebid,” Jawab Rasulullah.

    “Dan lalu mengapa kemudian Engkau memalingkan pandangannya dan menoleh ke samping?” Tanya mereka lagi.

    “Aku mengalihkan pandangan menghindar karena sebelumnya kulihat, saking banyaknya bidadari yang menjemput Zulebid, beberapa diantaranya berebut memegangi tangan dan kaki Zulebid. Hingga dari salah satu gaun dari bidadari tersebut ada yang sedikit tersingkap betisnya….”

    ***

    Di rumah, istri Zulebid menanti sang suami yang tak kunjung kembali. Ketika terdengar kabar suaminya telah menghadap sang ilahi Rabbi, Pencipta segala Maha Karya.

    Malam menjelang… Terlelap ia, sejenak berada dalam keadaan setengah mimpi dan dan nyata. Lamat-lamat ia seperti melihat Zulebid datang dari kejauhan. Tersenyum, namun wajahnya menyiratkan kesedihan pula. Terdengar Zulebid berkata, “Istriku, aku baik-baik saja. Aku menunggumu disini. Engkaulah bidadari sejatiku. Semua bidadari disini apabila aku menyebut namamu akan menggumamkan cemburu padamu…. “Dan kan kubiarkan engkau yang tercantik di hatiku.

    Istri Zulebid, terdiam. Matanya basah… Ada sesuatu yang menggenang disana.. Seperti tak lepas ia mengingat acara pernikahan tadi pagi.. Dan bayangan suaminya yang baru saja hadir.. Ia menggerakkan bibirnya.. “Suamiku, aku mencintaimu… Dan dengan semua ketentuan Allah ini bagi kita.. Aku ikhlas….”

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 28 February 2020 Permalink | Balas  

    Bencana Banjir 

    Berhati hatilah wahai saudaraku dengan Bencana Banjir

    Allah SWT menciptakan semua bencana dimuka bumi ini sudah pasti sebagai “peringatan” bagi kita semua, karena kesalahan dan ketidak pedulian kita diantaranya terhadap sampah dan limbah rumah tanggal.

    Allah SWT Maha Agung dengan kekuasaan Nya yang tiada terbatas dan Maha Menguasai segala sesuatunya.

    Allah SWT berfirman dalam  Al-Qur’an surat Al An’aam (6) ayat: 65

    “Dia-lah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas atau dari bawah kakimu,……”

    Dengan berbagai bencana, yang kita lihat kita alami dan kita dengar serta kita rasakan hanya dalam hitungan detik, Allah SWT dapat mengambil kembali apa saja yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita.

    Malapetaka dapat menyerang di mana saja, kapan saja. Ini merupakan sebuah petunjuk jelas bahwa tidak ada tempat di dunia yang dapat menjamin keamanan seseorang, sebagaimana yang telah Allah SWT katakan dalam Al-Qur’an :

    “Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?

    “Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?

    “Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. (QS. Al A’raaf, 7: 97-99)

    Air, yang dikaruniakan Nya kepada kita, dapat saja suatu waktu menjadi bencana dengan kehendak Allah, maka dari itu mari biasakan tidak membuang sampai di aliran sungai karena sama sama kita tahu bahwa sungai bukan untuk menghantarkan sampah dari satu titik ketitik lain melainkan untuk menghantarkan air jernih agar semua merasakan betapa nikmatnya serta betapa indahnya dengan pembagian pemerataan air dari hulu sampai ilir sungai dan betapa indahnya bila kita dapat sama sama merasakan keindahan , kejernihan serta melihat sungai dengan ikan ikan segar yang tidak tercemar dengan berbagai kotoran akibat proses pembusukan sampah yang dibuang dialiran sungai.

     
  • erva kurniawan 2:18 pm on 27 February 2020 Permalink | Balas  

    7 Keajaiban dalam Islam 

    7 Keajaiban dalam Islam

    Menara Pisa, Tembok Cina, Candi Borobudur, Taaj Mahal, Ka’bah, Menara Eiffel, dan Piramida di mesir, inilah semua keajaiban dunia yang kita kenal. Namun sebenarnya semua itu belum terlalu ajaib, karena di sana masih ada tujuh keajaiban dunia yang lebih ajaib lagi. Mungkin para pembaca bertanya-tanya, keajaiban apakah itu?

    Memang tujuh keajaiban lain yang kami akan sajikan di hadapan pembaca sekalian belum pernah ditayangkan di TV, tidak pernah disiarkan di radio-radio dan belum pernah dimuat di media cetak. Tujuh keajaiban dunia itu adalah:

    • Hewan Berbicara di Akhir Zaman

    Maha suci Allah yang telah membuat segala sesuatunya berbicara sesuai dengan yang Ia kehendaki. Termasuk dari tanda-tanda kekuasaanya adalah ketika terjadi hari kiamat akan muncul hewan melata yang akan berbicara kepada manusia sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an, surah An-Naml ayat 82,

    “Dan apabila perkataan Telah jatuh atas mereka, kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa Sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami”.

    Mufassir Negeri Syam, Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy berkomentar tentang ayat di atas, “Hewan ini akan keluar diakhir zaman ketika rusaknya manusia, dan mulai meninggalkan perintah-perintah Allah, dan ketika mereka telah mengganti agama Allah. Maka Allah mengeluarkan ke hadapan mereka hewan bumi. Konon kabarnya, dari Makkah, atau yang lainnya sebagaimana akan datang perinciannya. Hewan ini akan berbicara dengan manusia tentang hal itu”.[Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/498)]

    Hewan aneh yang berbicara ini akan keluar di akhir zaman sebagai tanda akan datangnya kiamat dalam waktu yang dekat. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Sesungguhnya tak akan tegak hari kiamat, sehingga kalian akan melihat sebelumnya 10 tanda-tanda kiamat: Gempa di Timur, gempa di barat, gempa di Jazirah Arab, Asap, Dajjal, hewan bumi, Ya’juj & Ma’juj, terbitnya matahari dari arah barat, dan api yang keluar dari jurang Aden, akan menggiring manusia”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2901), Abu Dawud dalam Sunan-nya (4311), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2183), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (4041)]

    • Pohon Kurma yang Menangis

    Adanya pohon kurma yang menangis ini terjadi di zaman Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , mengapa sampai pohon ini menangis? Kisahnya, Jabir bin Abdillah-radhiyallahu ‘anhu- bertutur, “Jabir bin Abdillah -radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Adalah dahulu Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- berdiri (berkhutbah) di atas sebatang kurma, maka tatkala diletakkan mimbar baginya, kami mendengar sebuah suara seperti suara unta dari pohon kurma tersebut hingga Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- turun kemudian beliau meletakkan tangannya di atas batang pohon kurma tersebut” .[HR.Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (876)]

    Ibnu Umar-radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Dulu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkhuthbah pada batang kurma. Tatkala beliau telah membuat mimbar, maka beliau berpindah ke mimbar itu. Batang korma itu pun merintih. Maka Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mendatanginya sambil mengeluskan tangannya pada batang korma itu (untuk menenangkannya)”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (3390), dan At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (505)]

    • Untaian Salam Batu Aneh

    Mungkin kalau seekor burung yang pandai mengucapkan salam adalah perkara yang sering kita jumpai. Tapi bagaimana jika sebuah batu yang mengucapkan salam. Sebagai seorang hamba Allah yang mengimani Rasul-Nya, tentunya dia akan membenarkan seluruh apa yang disampaikan oleh Rasul-Nya, seperti pemberitahuan beliau kepada para sahabatnya bahwa ada sebuah batu di Mekah yang pernah mengucapkan salam kepada beliau sebagaimana dalam sabdanya, Dari Jabir bin Samurah dia berkata, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Mekah yang mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diutus, sesungguhnya aku mengetahuinya sekarang”.[HR.Muslim dalam Shohih-nya (1782)].

    • Pengaduan Seekor Onta

    Manusia adalah makhluk yang memiliki perasaan. Dari perasaan itu timbullah rasa cinta dan kasih sayang di antara mereka. Akan tetapi ketahuilah, bukan hanya manusia saja yang memiliki perasaan, bahkan hewan pun memilikinya. Oleh karena itu sangat disesalkan jika ada manusia yang tidak memiliki perasaan yang membuat dirinya lebih rendah daripada hewan. Pernah ada seekor unta yang mengadu kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mengungkapkan perasaannya. Abdullah bin Ja’far-radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Pada suatu hari Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah memboncengku dibelakangnya, kemudian beliau membisikkan tentang sesuatu yang tidak akan kuceritakan kepada seseorang di antara manusia. Sesuatu yang paling beliau senangi untuk dijadikan pelindung untuk buang hajatnya adalah gundukan tanah atau kumpulan batang kurma. lalu beliau masuk kedalam kebun laki-laki Anshar. Tiba tiba ada seekor onta. Tatkala Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melihatnya, maka onta itu merintih dan bercucuran air matanya. Lalu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mendatanginya seraya mengusap dari perutnya sampai ke punuknya dan tulang telinganya, maka tenanglah onta itu. Kemudian beliau bersabda, “Siapakah pemilik onta ini, Onta ini milik siapa?” Lalu datanglah seorang pemuda Anshar seraya berkata, “Onta itu milikku, wahai Rasulullah”.

    Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dalam binatang ini, yang telah dijadikan sebagai milikmu oleh Allah, karena ia (binatang ini) telah mengadu kepadaku bahwa engkau telah membuatnya letih dan lapar”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (1/400), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (2/99-100), Ahmad dalam Al-Musnad (1/204-205), Abu Ya’la dalam Al-Musnad (3/8/1), Al-Baihaqiy dalam Ad-Dala’il (6/26), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqa (9/28/1). Lihat Ash-Shahihah (20)]

    • Kesaksian Kambing Panggang

    Kalau binatang yang masih hidup bisa berbicara adalah perkara yang ajaib, maka tentunya lebih ajaib lagi kalau ada seekor kambing panggang yang berbicara. Ini memang aneh, akan tetapi nyata. Kisah kambing panggang yang berbicara ini terdapat dalam hadits berikut:

    Abu Hurairah-radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menerima hadiah, dan tak mau makan shodaqoh. Maka ada seorang wanita Yahudi di Khoibar yang menghadiahkan kepada beliau kambing panggang yang telah diberi racun. Lalu Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun memakan sebagian kambing itu, dan kaum (sahabat) juga makan. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Angkatlah tangan kalian, karena kambing panggang ini mengabarkan kepadaku bahwa dia beracun”. Lalu meninggallah Bisyr bin Al-Baro’ bin MA’rur Al-Anshoriy. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengirim (utusan membawa surat), “Apa yang mendorongmu untuk melakukan hal itu?” Wanita itu menjawab, “Jika engkau adalah seorang nabi, maka apa yang aku telah lakukan tak akan membahayakan dirimu. Jika engkau adalah seorang raja, maka aku telah melepaskan manusia darimu”. Kemudian Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan untuk membunuh wanita itu, maka ia pun dibunuh. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda ketika beliau sakit yang menyebabkan kematian beliau,”Senantiasa aku merasakan sakit akibat makanan yang telah aku makan ketika di Khoibar. Inilah saatnya urat nadi leherku terputus”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4512). Di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Shohih Sunan Abi Dawud (hal.813), dengan tahqiq Masyhur Hasan Salman]

    • Batu yang Berbicara

    Setelah kita mengetahu adanya batu yang mengucapkan salam, maka keajaiban selanjutnya adalah adanya batu yang berbicara di akhir zaman. Jika kita pikirkan, maka terasa aneh, tapi demikianlah seorang muslim harus mengimani seluruh berita yang disampaikan oleh Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, baik yang masuk akal, atau tidak. Karena Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidaklah pernah berbicara sesuai hawa nafsunya, bahkan beliau berbicara sesuai tuntunan wahyu dari Allah Yang Mengetahui segala perkara ghaib.

    Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Kalian akan memerangi orang-orang Yahudi sehingga seorang diantara mereka bersembunyi di balik batu. Maka batu itu berkata, “Wahai hamba Allah, Inilah si Yahudi di belakangku, maka bunuhlah ia”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (2767), dan Muslim dalam Shohih-nya (2922)]

    Al-Hafizh Ibnu Hajar-rahimahullah- berkata, “Dalam hadits ini terdapat tanda-tanda dekatnya hari kiamat, berupa berbicaranya benda-benda mati, pohon, dan batu. Lahiriahnya hadits ini (menunjukkan) bahwa benda-benda itu berbicara secara hakikat”.[Lihat Fathul Bari (6/610)]

    • Semut Memberi Komando

    Mungkin kita pernah mendengar cerita fiktif tentang hewan-hewan yang berbicara dengan hewan yang lain. Semua itu hanyalah cerita fiktif belaka alias omong kosong. Tapi ketahuilah wahai para pembaca, sesungguhnya adanya hewan yang berbicara kepada hewan yang lain, bahkan memberi komando, layaknya seorang komandan pasukan yang memberikan perintah. Hewan yang memberi komando tersebut adalah semut. Kisah ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Qur’an,

    “Dan Sulaiman Telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai manusia, kami Telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) Ini benar-benar suatu kurnia yang nyata”.Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.Maka dia (Sulaiman) tersenyum dengan tertawa Karena (mendengar) perkataan semut itu. dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah Aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang Telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah Aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (QS.An-Naml: 16-19).

    Inilah beberapa perkara yang lebih layak dijadikan “Tujuh Keajaiban Dunia” yang menghebohkan, dan mencengangkan seluruh manusia. Orang-orang beriman telah lama meyakini dan mengimani perkara-perkara ini sejak zaman Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sampai sekarang. Namun memang kebanyakan manusia tidak mengetahui perkara-perkara itu. Oleh karena itu, kami mengangkat hal itu untuk mengingatkan kembali, dan menanamkan aqidah yang kokoh di hati kaum muslimin

    Diambil dari http://www.almakassari.com

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 15 February 2020 Permalink | Balas  

    Nasihat Untuk Wanita 

    Nasihat Untuk Wanita

    Untuk membentuk bibir yang menawan, ucapkan kata-kata kebaikan. Untuk mendapatkan mata yang indah, carilah kebaikan pada setiap orang yang anda jumpai. Untuk mendapatkan bentuk badan yang langsing, berbagilah makanan dengan mereka yang kelaparan.

    Untuk mendapatkan sikap tubuh yang indah, berjalanlah dengan segala ilmu pengetahuan dan anda tidak akan pernah berjalan sendirian. Manusia, jauh melebihi segala ciptaan lain, perlu senantiasa berubah, diperbaharui, dibentuk kembali, dan diampuni. Jadi, jangan pernah kucilkan seseorang dari hati anda.

    Apabila anda sudah melakukan semuanya itu, ingatlah senantiasa, jika suatu ketika anda membutuhkan pertolongan, akan senantiasa ada tangan terulur. Dan dengan bertambahnya usia anda, anda akan semakin mensyukuri telah diberi dua tangan, satu untuk menolong diri anda sendiri dan satu lagi untuk menolong orang lain.

    Kecantikan wanita bukan terletak pada pakaian yang dikenakannya, bukan pada bentuk tubuhnya, atau cara dia menyisir rambutnya. Kecantikan wanita terdapat pada matanya, cara dia memandang dunia. Karena di matanyalah terletak gerbang menuju ke setiap hati manusia, di mana cinta dapat berkembang.

    Kecantikan wanita, bukan pada kehalusan wajahnya, Tetapi kecantikan yang murni, terpancar pada jiwanya, Yang dengan penuh kasih memberikan perhatian dan cinta yang dia berikan. Dan kecantikan itu akan tumbuh sepanjang waktu.

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 14 February 2020 Permalink | Balas  

    4 Konsep Dakwah 

    4 Konsep Dakwah

    Berbicara tentang hakikat adalah berbicara sesuatu secara mendasar. Seorang penyanyi dangdut dengan lenggak lenggok erotik  di atas panggung menyanyikan lagu ajakan berbakti kepada Alloh SWT, adakah ia seorang da’i ? Jawabannya jelas, yaitu bahwa penyanyi itu membawakan lirik-lirik dakwah, tetapi pada hakikatnya ia tidak sedang berdakwah.  Dakwah bukan hanya bunyi kata-kata, tetapi ajakan psikologis yang  bersumber dari jiwa da’i. Gebyar-gebyar aktifitas dakwah banyak kita jumpai, tetapi hakikinya, itu belum tentu suatu dakwah, sebaliknya boleh jadi justeru kontra dakwah. Lalu dakwah itu apa? Hakikat dakwah bisa dilihat dari sang da’i, bisa juga dari makna yang dipersepsi oleh masyarakat yang menerima dakwah.

    1. Dakwah sebagai tabligh. Tabligh artinya menyampaikan, orangnya disebut muballigh. Dakwah sebagai tabligh wujudnya adalah muballigh menyampaikan materi dakwah (ceramah) kepada masyarakat. Materi dakwah bisa berupa keterangan, informasi, ajaran, seruan atau gagasan. Tabligh biasanya dilakukan dari atas mimbar, baik di masjid, di majlis taklim atau di tempat lain. Pusat perhatian tabligh adalah pada menyampaikan, illa al balagh, setelah itu bagaimana respond masyarakat sudah tidak lagi menjadi tanggungjawab muballigh. Bagi masyarakat, tabligh yang tidak jelas hanya bermakna bunyi-bunyian, tabligh berupa informasi akan menghasilkan pengertian, tabligh berupa renungan bisa menjadi penghayatan, dan dakwah berupa gagasan bisa menggelitik masyarakat untuk terus berfikir.

    Bagi muballigh, menyampaikan materi pesan Islam yang ia sendiri tidak faham, pada hakikatnya ia adalah kaset yang tak berjiwa. Kekuatan tabligh adalah jika sang muballigh benar-benar menjadi fa‘il (subyek), menjadi pelaku yang merasa ter¬panggil tanggung jawabnya untuk melakukan tabligh. Banyak muballigh yang tidak menjadi fa‘il, tetapi menjadi maf‘ul (obyek), Ia tidak memiliki program tetapi diprogram oleh orang lain. Ia hanya bekerja memenuhi pesanan pasar, yakni menunggu undangan tabligh. Fa‘il jelas prestasinya, tetapi maf‘ul susah diukur prestasinya.

    1. Dakwah Sebagai Ajakan. Orang akan tertarik kepada ajakan jika tujuannya menarik. Oleh karena itu da’i harus bisa merumuskan tujuan kemana masyarakat akan diajak. Ada dua tujuan, makro dan mikro. Tujuan makro cukup jelas yaitu mengajak manusia kepada kebahagiaan dunia akhirat. Da’i dan muballigh pada umumnya tidak pandai merumuskan tujuan mikro, tujuan jangka pendek yang mudah terjangkau, yang menarik hati masyarakatnya.
    2. Dakwah sebagai pekerjaan menanam. Berdakwah juga mengandung arti mendidik manusia agar mereka bertingkahlaku sesuai dengan nilai-nilai Islam. Mendidik adalah pekerjaan menanamkan nilai-nilai ke dalam jiwa manusia. Nilai-nilai yang ditanam dalam dakwah adalah keimanan, kejujuran, keadilan, kedisiplinan, kasih sayang, rendah hati dan nilai-akhlak mulia lainnya. Laiknya pekerjaan menanam, benihnya harus unggul, tanahnya harus subur, disiram dan dijauhkan dari hama serta butuh waktu lama hingga benih itu tumbuh berkembang menjadi rumput hijau yang indah atau menjadi pohon tinggi yang rindang dan berbuah.

    Guru di sekolah (dan lembaga pendidikkannya)  adalah da’i yang berdakwah berupa menanam. Sudah barang tentu tidak semua guru menjadi da’i. Guru yang da’i adalah guru yang sudah bisa menjadi pendidik, bukan guru yang sekedar menjadi pengajar. Pengajar hanya mentransfer pengetahuan, sedangkan pendidik mentranfer pola tingkah laku atau kebudayaan.

    1. Dakwah berupa akulturasi budaya. Dakwahnya Wali Songo di Pulau Jawa merupakan contoh konkrit dakwah akulturasi budaya. Para Wali tidak mengubah bentuk-bentuk tradisi masyarakat Jawa, tetapi mengganti isinya. Tradisi selamatan tiga hari, tujuh hari, seratus hari, dulunya adalah tradisi masyarakat Jawa jika ada keluarganya yang meninggal dunia. Dalam acara itu diisi dengan begadang, makan, judi dan minuman keras.

    Oleh para wali, bentuknya dipertahankan, makannya dipertahankan tetapi yang maksiat diganti dengan hal-hal yang Islami, yakni membaca kalimah-kalimah tahlil. Makananyapun diganti berupa nasi tumpeng yang melambangkan tauhid, dan setiap orang pulang dari tahlilan dengan membawa brekat (berkah). Dengan akulturasi budaya, orang Jawa tanpa disadari kemudian telah menjadi Islam. Kelemahannya, sinkretisme tidak bisa dihindar.

    1. Dakwah berupa pekerjaan membangun. Secara makro dakwah juga bermakna membangun, membangun apa? Sebagaimana dicontohkan dalam sejarah, dakwah juga bisa dimaksud untuk membangun tata dunia Islam (daulah Islamiyah), lebih kecil lagi membangun negara Islam (nasional), lebih kecil lagi membangun masyarakat Islam atau Islami, dan lebih kecil lagi membangun komunitas Islam.

    Dalam membangun sering tak bisa menghindar dari membongkar bangunan lama, dan ini sering bermakna konflik. Laiknya pekerjaan mendirikan bangunan, dakwah dalam bentuk membangun harus melalui tahapannya. Pertama ada desain atau maket dari bangunan yang akan didirikan. Kedua, harus dilakukan uji tata guna tanah (land use), dalam hal ini budaya setempat, yang akan menjadi pijakan berdirinya sebuah bangunan.

    Pekerjaan pertama dan kedua bisa bertukar tempat urutannya, artinya ada konsep dulu baru mencari tempat atau konsep dibangun sesuai dengan keadaan tanah. Ketiga, harus ada tenaga ahli, dari arsitek hingga kenet tukang batu, dan keempat tersedianya bahan bangunan. Membangun negara Islam tanpa konsep yang telah diuji sahih hanya akan melahirkan madlarrat, sebagaimana juga membangun tanpa tenaga ahli dan biaya. Bagi kaum muslimin Indonesia, yang paling relevan adalah membangun komunitas Islam dan masyarakat Islam atau masyarakat Islami, karena Indonesia tanahnya (budayanya) kondusif, konsepnya tinggal menyempurnakan, tenaga SDM nya relatif ada dan biaya tidak terlalu mahal. Wallohu a‘lam.

    ***

    By: agussyafii

     

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 13 February 2020 Permalink | Balas  

    Pengertian Ukhuwah 

    Pengertian Ukhuwah

    By: Prof. Dr. Achmad Mubarok MA

    Sungguh bahwa Allah telah menempatkan manusia secara keseluruhan sebagai Bani Adam dalam kedudukan yang mulia, walaqad karramna bani Adam (Q/17:70). Manusia diciptakan Allah SWT dengan  identitas yang berbeda-beda agar mereka saling mengenal dan saling memberi manfaat antara yang satu dengan yang lain (Q/49:13). Tiap-tiap ummat diberi aturan dan jalan (yang berbeda), padahal seandainya Allah mau, seluruh manusia bisa disatukan dalam kesatuan ummat.

    Allah SWT menciptakan perbedaan itu untuk memberi peluang berkompetisi secara sehat dalam menggapai kebajikan, fastabiqul khairat (Q/5;48). Oleh karena itu sebagaimana dikatakan oleh Rasul, agar seluruh manusia itu menjadi saudara antara yang satu dengan yang lain, wakunu ‘ibadallahi ikhwana. (Hadis Bukhari)

    Dalam bahasa Arab, ada kalimat ukhuwwah (persaudaraan) , ikhwah (saudara seketurunan) dan ikhwan (saudara tidak seketurunan) .  Dalam al Qur’an  kata akhu (saudara) digunakan untuk menyebut saudara kandung atau seketurunan (Q/4:23), saudara sebangsa (Q/7:65),  saudara semasyarakat walau berselisih faham (Q/38;23) dan saudara seiman (Q/49;10). Al Qur’an bukan hanya menyebut persaudaraan kemanusiaan (ukhuwwah insaniyyah), tetapi bahkan menyebut binatang dan burung sebagai ummat seperti ummat manusia (Q/6;38) sebagai saudara semakhluk (ukhuwwah makhluqiyyah) .

    Istilah ukhuwwah Islamiyyah bukan bermakna persaudaraan  antara orang-orang Islam, tetapi persaudaraan yang didasarkan pada ajaran Islam atau persaudaraan yang bersifat Islami. Oleh karena cakupan ukhuwwah Islamiyyah bukan hanya menyangkut sesama orang Islam tetapi juga menyangkut persaudaraan dengan non muslim, bahkan dengan makhluk yang lain. Seorang pemilik kuda misalnya, tidak boleh membebani kudanya dengan beban yang melampaui batas kewajaran. Ajaran ini termasuk dalam ajaran ukhuwwah Islamiyyah bagaimana seorang muslim bergaul dengan hewan kuda yang dimilikinya.

    Dari ayat-ayat tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa Al Qur’an (dan Hadis) sekurang-kurangnya memperkenalkan empat macam ukhuwwah; yaitu;

    1. Ukhuwwah ‘ubudiyyah; persaudaraan karena sama-sama makhluk yang tunduk kepada Allah.
    2. Ukhuwwah insaniyyah atau basyariyyah, persau¬daraan karena sama-sama sebagai manusia secara keseluruhan.
    3. Ukhuwwah wathaniyyah wa an nasab. Persaudaraan karena keterikatan keturunan dan kebangsaan.
    4. Ukhuwwah diniyyah, persaudaraan karena seagama.

    Bagaimana  ukhuwwah berlangsung, tak lepas dari faktor penunjang. Faktor penunjang yang signifi¬kan membentuk persaudaraan adalah persamaan. Semakin banyak persamaannya, baik persamaan rasa maupun persamaan cita-cita maka semakin kokoh ukhuwwahnya. Ukhuwwah biasanya melahirkan aksi solidaritas. Contohnya, di antara kelompok masyarakat yang sedang berselisih, segera terjalin persaudaraan ketika semuanya menjadi korban banjir, karena banjir menyatukan  perasaan, yakni sama-sama merasa menderita.Kesamaan perasaan itu kemudian memunculkan kesadaran untuk saling membantu.

    Petunjuk Al Qur’an Tentang Ukhuwwah

    1. Tetaplah berkompetisi secara sehat dalam mela¬kukan kebajikan, meski mereka berbeda-beda agama, ideologi, status; fastabiqul khairat (Q/5;48). Jangan berfikir menjadikan manusia dalam keseragaman, memaksa orang lain untuk ber¬pendirian seperti kita misalnya, karena Tuhan menciptakan perbedaan itu sebagai rahmat, untuk menguji mereka siapa diantara mereka yang mmberikan kontribusi terbesar dalam kebajikan.
    2. Memelihara amanah ( tanggung jawab) sebagai khalifah Allah di bumi, di mana manusia dibebani keharusan menegakkan kebenaran dan keadilan (Q/38;26), serta memelihara keseimbangan lingkungan alam (Q/30:41).
    3. Kuat pendirian tetapi menghargai pendirian orang lain. Lakum dinukum waliya din (Q/112;4), tidak perlu bertengkar dengan asumsi bahwa kebenaran akan terbuka nanti di hadapan Tuhan (Q/42:15).
    4. Meski berbeda ideologi dan pandangan, tetapi harus berusaha mencari titik temu, kalimatin sawa, tidak bermusuhan, seraya mengakui eksistensi masing-masing (Q;3;64).
    5. Tidak mengapa bekerjasama dengan pihak yang berbeda pendirian, dalam hal kemaslahatan umum, atas dasar saling menghargai eksistensi, berkeadilan dan tidak saling menimbulkan kerugian (Q/60;8). Dalam hal kebutuhan pokok, (mengatasi kelaparan, bencana alam, wabah penyakit dsb) solidaritas sosial dilaksanakan tanpa memandang agama, etnik atau identitas lainya (Q/2:272).
    6. Tidak memandang rendah (mengolok-olok) kelompok lain, tidak pula meledek atau membenci mereka (Q/49:11).
    7. Jika ada perselisihan diantara kaum beriman, maka islahnya haruslah merujuk kepada petunjuk Al Qur’an dan Sunnah Nabi (Q/4;59).

    Al Qur’an menyebut bahwa sanya pada hakekat¬nya orang mu’min itu bersaudara (seperti saudara sekandung), innamal mu’minuna ikhwah (Q/49;10). Hadis Nabi bahkan memisalkan hubungan antara mukmin itu bagaikan hubungan anggauta badan dalam satu tubuh dimana jika ada satu anggauta badan menderita sakit, maka seluruh anggauta badan lainnya solider ikut merasakan sakitnya dengan gejala demam dan tidak bisa tidur. Nabi juga mengingatkan bahwa  hendaknya diantara sesama manusia tidak mengem¬bangkan fikiran negatif (buruk sangka), tidak mencari-cari kesalahan orang lain, tidak saling mendengki, tidak saling membenci, tidak saling membelakangi, tetapi kembangkanlah persaudaraan. (H R Abu Hurairah).

    Meski demikian, persaudaraan dan solidaritasnya harus berpijak kepada kebenaran, bukan mentang-mentang saudara lalu buta terhadap masalah. Al Qur’an mengingatkan kepada orang mu’min; agar tidak tergoda untuk melakukan perbuatan melampaui batas ketika orang lain melakukan hal yang sama kepada mereka. Sesama mukmin diperintakan untuk bekerjasama dalam hal kebajikan dan taqwa dan dilarang bekerjasama dalam membela perbuatan dosa dan permusuhan, Ta‘awanu ‘alal birri wat taqwa wala ta‘awanu ‘alal itsmi wal ‘udwan. (Q/5;2). Wallohu a‘lamu bissawab.

     
  • erva kurniawan 9:48 am on 12 February 2020 Permalink | Balas  

    Manfaat Shalawat 

    Manfaat Shalawat

    Shalat dan shalawat terjemahan harfiahnya sebenarnya sama yaitu doa, tetapi shalat dalam arti ritual ibadah (shalat maghrib misalnya) adalah ritual ibadah yang terdiri dari gerak, bacaan dan doa. Sedangkan shalawat Nabi adalah doa yang secara khusus diperuntukkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan keluarganya.

    Mengapa Nabi Muhammad yang sudah dibebaskan dari dosa (ma`shum) masih harus didoakan segala oleh kita, bukankah itu sudah tidak perlu ?  Konsep shalawat adalah konsep syafa`at. Dalam teologi Islam dikatakan bahwa Nabi Muhammad memiliki  “otoritas” syafa`at, yakni perlindungan kepada ummatnya kelak nanti di hari kiamat, ketika tidak ada lagi yang bisa memberikan perlindungan.

    Orang yang berpeluang memperoleh syafa’at Nabi adalah orang yang mencintainya. Wujud dari cinta Rasul dibuktikan dengan  membaca salawat itu. Nabi sendiri secara konsepsional sudah tidak memerlukan doa dari ummatnya, jadi shalawat itu bukan untuk kepentingan Nabi, tetapi kepentingan kita. Jika Nabi diibaratkan sebuah gelas, ia sudah penuh dengan air putih bersih, nah orang yang membaca shalawat Nabi ibarat menambahkan air ke dalam gelas yang sudah penuh itu dengan harapan memperoleh luberannya, yakni luberan syafa`atnya. Jangankan kita manusia, menurut al Qur’an, Allah dan malaikatpun membaca salawat kepada Nabi sehingga orang beriman juga diperintahkan untuk bersalawat dan salam kepadanya; Innalloha wa mala’ikatahu yushalluna `alan nabiy, ya ayyuhalladzina amanu shallu `alaihi wa sallimu taslima (Q/33:56).

    Pembacaan shalawat Nabi sebagai ekpressi cinta kepada Rasul kemudian melahirkan kreatifitas seni. Bukan saja dalam teks-teks doa shalawat dibaca, tetapi juga dalam nasyid, dalam syair, dalam lagu.  Dalam teks doa, banyak sekali format salawat dibuat, misalnya ada shalawat Nariyah, shalawat tunjina, shalawat anti kezaliman.

    Dalam seni ada sebuah karya epik sejarah Nabi , terkenal dengan Barzanji atau orang Betawi menyebutnya Rawi. Di dalam kitab Barzanzi, riwayat Nabi dikisahkan dalam kalimat yang sangat indah, enak dibaca dan enak di dengar. Demikian juga kasidah Barzanji yang berisi shalawat dan pujian kepada Nabi disusun dalam karya seni yang sangat tinggi kualitasnya.

    Buku kasidah Barzanji atau Rawi adalah karya seni yang   terbanyak pembacanya dan karya seni yang tidak pernah basi hingga hari ini, hingga pada segmen masyarakat tertentu, kitab Barzanji bagaikan kitab suci kedua… Barzanji dibaca oleh bangsa-bangsa muslim di Asia dan Afrika, ritmenya bisa didendangkan dengan berbagai lagu. Mari bersalawat dan bersalam kepada Nabi:

    Ya Nabi salam `alaika –ya Rasul salam `alaika –

    ya habib salam `alaika—shalawaatulllah `alaikaaaaaa……….

    ***

    Kiriman: Sahabat Agus Syafii

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 11 February 2020 Permalink | Balas  

    Makna Imam 

    Makna Imam

    By: Prof. Dr. Achmad Mubarok MA

    Imam berarti orang yang diikuti, baik sebagai kepala, jalan, atau sesuatu yang membuat lurus dan memperbaiki perkara. Selain itu, ia juga bisa berarti Al-Qur’an, Nabi Muhammad, khalifah, panglima tentara, dan sebagainya. Dengan demikian, jelaslah bahwa kata imam memiliki banyak makna. Yaitu, bisa bermakna: maju ke depan, petunjuk dan bimbingan, kepantasan seseorang menjadi uswah hasanah, dan kepemimpinan.

    Kata imam banyak disebutkan dalam Al-Qur’an. Misalnya; “(Ingatlah) pada suatu hari (yang pada hari itu) kami memanggil setiap umat dengan pemimpinnya ….” (Al-Isra’: 71); “… dan sebelum Al-Qur’an itu telah ada Kitab Musa sebagai imam (pedoman) dan rahmat …?” (Hud: 17); “… dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

    (Al-Furqan: 74); “Dan (ingatlah) tatkala Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya.

    Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku ingin menjadikan kami imam (pemimpin) bagi seluruh manusia ….” (Al-Baqarah: 124); “Dan kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishaq dan Ya’qub sebagai suatu anugerah (dari Kami) dan masing-masing Kami jadikan orang-orang saleh. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan Kami telah wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan salat, menunaikan zakat ….” (Al-Anbiya’: 72-73); “Dan Kami ingin memberikan karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang yang mewarisi (bumi)” (Al-Qashash: 5); “dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka, dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.” (Al-Qashash: 41); dan “…, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang kafir, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar mereka berhenti.” (Al-Tawbah: 12)

    Menurut Dhiauddin Rais, dari ayat-ayat Al-Qur’an di atas, kita bisa memetik dua pengertian dari makna imam, yaitu: (1) Kata imam tersebut yang sebagian besar digunakan dalam Al-Qur’an membuktikan adanya indikasi yang bermakna “kebaikan”. Pada sisi lain—pada dua ayat terakhir di atas, bahwa kata imam menunjukkan makna jahat. Karena itu, imam berarti seorang pemimpin yang diangkat oleh beberapa orang dalam suatu kaum. Pengangkatan imam tersebut mengabaikan dan tidak memperdulikan, apakah ia akhirnya akan berjalan ke arah yang lurus atau arah yang sesat. (2) Kata imam dalam ayat-ayat Al-Qur’an itu bisa mengandung makna penyifatan kepada nabi-nabi: Ibrahim, Ishaq, Ya’qub, dan Musa—sebagaimana juga menunjukkan kepada orang-orang yang bertakwa.

    Kedua, Al-Khalifah. Gelar ini sangat berkaitan dengan sejarah pertumbuhan dan perkembangan Islam. Setelah Nabi Muhammad wafat, para sahabat berkumpul untuk memilih dan memutuskan seorang yang akan menjadi pengganti kepemimpinannya. Dan, Abu Bakar terpilih untuk menggantikan Rasulullah dalam memimpin dan memelihara kemaslahatan umat Islam pada masa-masa berikutnya. Abu Bakar diangkat menjadi khalifah, yang berarti penerus atau pengganti untuk mengurus masalah umat Islam.

    Para ulama berbeda pendapat mengenai penamaan khalifah: apakah khalifah saja (tanpa embel-embel) , atau khalifah Rasulullah dan khalifah Allah? Sebagian ulama membolehkan penggunaan gelar khalifah Allah, dengan merujuk kepada ayat Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa “Dia menjadikanmu khalifah-khalifah atau pewaris bumi.” Namun, jumhur ulama tidak membolehkan penanaman gelar khalifah Allah—karena ayat Al-Qur’an tidak berkaitan dengan pengangkatan Abu Bakar. Bahkan, Abu Bakar sendiri telah melarang pemanggilan dirinya dengan khalifah Allah. Abu Bakar menegaskan, “Aku bukan khalifah Allah, melainkan khalifah Rasulullah.” Jadi, Abu Bakar diangkat oleh para sahabat sebagai pengganti dan penerus kepemimpinan Rasulullah. Menurut Dhiauddin, gelar khalifah setelah Rasulullah digunakan untuk menjadi antitesis dari sistem kekisraan dan kekaisaran—sebuah pemerintahan individu yang otoriter, zalim dan keji, yang berkembang pada saat itu.

    Ketiga, Amir Al-Mu’minin. Gelar ini diberikan kepada khalifah kedua: Umar ibn Khathtab—setelah menggantikan Khalifah Abu Bakar yang wafat. Dalam bukunya, Al-Muqaddimah, Ibnu Khaldun menjelaskan sebab pemberian nama ini. Ia menulis, “Itu adalah bagian dari ciri khas kekhalifahan dan itu diciptakan sejak masa para khalifah. Mereka telah menamakan para pemimpin delegasi dengan nama amir; yaitu wazan (bentuk kata) fa’il dari imarah. Para sahabat pun memanggil Sa’ad ibn Abi Waqqash dengan Amir Al-Mu’minin karena ia memimpin tentara Islam dalam Perang Qadisiyyah. Pada waktu itu, sebagian sahabat memanggil Umar ibn Khathtab dengan sebutan yang sama juga: Amir Al-Mu’minin.

    Secara umum, ketiga gelar di atas menunjukkan keharusan adanya kepemimpinan dalam Islam. Bagi suatu kaum atau ummat, keberadaan seorang pemimpin merupakan suatu keharusan yang tak mungkin dipungkiri. Menurut Imam Al-Mawardi dalam karyanya Al-Ahkam Al-Sulthaniyyah wa Al-Wilayat Al-Diniyyah, dalam lembaga negara dan pemerintahan, seorang kepala atau pemimpin wajib hukumnya menurut ijma’. Alasannya, karena kepala lembaga dan pemerintah dijadikan sebagai pengganti fungsi kenabian dan menjaga agama serta mengatur urusan dunia.

    Al-Mawardi menyebut tujuh syarat yang harus dipenuhi calon kepala negara (seorang pemimpin). Syarat-syarat itu, antara lain: keseimbangan atau keadilan (al-‘adalah); punya ilmu pengetahuan untuk berijtihad; punya panca indera lengkap dan sehat; anggota tubuhnya tidak kurang untuk menghalangi gerak dan cepat bangun; punya visi pemikiran yang baik untuk mendapatkan kebijakan yang baik; punya keberanian dan sifat menjaga rakyat; dan punya nasab dari suku Quraisy.

    Secara umum Al-Qur’an tidak menentukan corak kepemimpinan politik tertentu yang harus diambil oleh ummat Islam, oleh karena itu pada era modern, Pemerintahan negeri-negeri Islam mengambil bentuk yang berbeda-beda sesuai dengan keadaan dan probabilitasnya. Negeri-negeri Sunni kebanyakan memilih bentuk Republik seperti negeri kita, sebagian memilih bentuk kerajaan, baik dalam bentuk mamlakah yang dipimpin oleh malik, atau kesultanan di bawah seorang sulthan, atau emirat di bawah seorang amir. Sedangkan Iran sebagai satu-satunya negeri kaum Syi’ah, memiliki sistem politik yang didasarkan atas konsep wilayat al faqih dimana ayatollah ‘uzma memiliki otoritas keagamaan dan politik sekaligus.

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 10 February 2020 Permalink | Balas  

    Cukupkah Anda? 

    Cukupkah Anda?

    Beberapa kali memperhatikan seorang bayi kecil menyusu, bayi kecil itu meminum susu sesuai dengan takaran yang ada entah itu asi atau susu formula, ketika kita berusaha memberi lebih jumlah susu kepada bayi tersebut ternyata dia akan terbuang secara alami melalui muntahan yang keluar dari mulutnya. Dalam hal ini kita belajar kita manusia sebenarnya harus merasa cukup dengan apa yang kita miliki, tidak berlebihan dalam kehidupan, apapun yang berlebihan akan terbuang percuma.

    Pada dasarnya manusia selalu merasa tidak pernah cukup akan apa yang dimilikinya, Rasa tidak puas atas apa yang diterima dalam kehidupan seringkali menjadikan manusia melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai dan norma yang di anut. Terkadang, ukuran kecukupan dalam perolehan apapun di dunia ini dipandang begitu relatif, kecuali bagi orang-orang yang sadar dan mencukupkan dirinya dengan segala hal yang telah ia terima.

    Ada suatu hukum yang namanya kenikmatan yang berkurang, Coba anda bayangkan ketika anda suatu hari sehabis perjalanan jauh dan anda sangat haus dan anda membeli kelapa muda, ketika tegukan pertama, rasa puas yang anda dapatkan sangatlah luar biasa bila diberi nilai akan mendapat nilai 7 (sekala 1-10), dan anda mencoba menambah 1 gelas kelapa muda lagi, apa yang akan anda rasakan kenikmatan yang anda rasakan tidak senikmat kelapa muda yang pertama dan kepuasan tersebut akan mendapat nilai 6, bila anda teruskan untuk menambah gelas kelapa berkali-kali maka nilai kenikmatan air kelapa muda itu akan semakin berkurang, sehingga pada akhirnya akan melewati angka 0, atau tidak nikmat sama sekali, bahkan menjadi minus dan anda akan memuntahkan kembali air kelapa tersebut.

    Orang yang merasa cukup hidupnya senantiasa bersyukur. orang yang merasa cukup Makan dengan apa adanya akan terasa nikmat tiada terhingga jika dilandasi dengan rasa syukur. Sebab, pada saat seperti itu ia tidak pernah memikirkan apa yang tidak ada di hadapannya. Justru, ia akan berusaha membagi kenikmatan yang diterimanya itu dengan keluarga, kerabat, teman atau pun tetangganya, dan semangat cukup serta keinginan untuk berbagi inilah yang akan menuntun anda mencapai sebuah kenikmatan atau kebahagian hidup.

    Kenapa manusia itu tidak merasa cukup karena kurangnya kemampuan kita mensyukuri apa yang kita miliki, kurangnya kemampuan mengendalikan keinginan, kemampuan menepatkan logika di atas ego. Mungkin perasaan itu tersemat dalam diri manusia sebagai pendorong untuk berjuang menggapai impian namun kadang menjadi tak terkendali ketika penepatannya kurang tepat. rasa tidak puas atau tidak cukup terkadang bersalah dari kebiasaan kita membanding-bandingk an sesuatu yang kita peroleh dengan apa yang telah diperoleh oleh orang lain. Bak di halaman rumah kita terbentang rumput yang hijau, namun kita masih saja memandang bahwa rumput tetangga jauh lebih hijau.

    Berbeda jika kita mampu melihat segala kelebihan yang terdapat pada diri seseorang sebagai sebuah hal yang menjadikan diri kita terpacu dalam semangat berbuat yang terbaik dalam rangka peningkatan kualitas diri dalam hal-hal yang positif serta sesuai kebutuhan, dengan berjalan dalam kerangka ikhtiar berupa usaha yang nyata, tanpa harus kecewa dikarenakan akhirnya tidak mampu berbuat dan mendapatkan hasil semaksimal apa yang diperoleh oleh orang lain tersebut.

    Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya. Cukup adalah persoalan kepuasan hati. Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa mensyukuri. Tak perlu takut berkata cukup. Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya. “Cukup” jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandeg dan berpuas diri. Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan.. Jangan biarkan kerakusan manusia membuat kita sulit berkata cukup. Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia.

    Maka mulailah berani untuk “membuat diri anda cukup” Kita sederhanakan sebagai prinsip hidupyang “sederhana”. Kian sederhana, maka kian cukup kian sejahteralah kita. Ukurannya? Yang paling sederhana, usul: semakin tinggi senjang jumlah konsumsi dibanding jumlah produksi kita sehari-hari, makin sederhana, makin cukup dan sejahteralah kita. apakah anda orang yang cukup…

    “Karena Didalam perasaan Cukup terdapat Kebahagiaan”

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 9 February 2020 Permalink | Balas  

    Pengertian Adab 

    Pengertian Adab

    Adab adalah satu istilah bahasa Arab yang berarti adat kebiasaan. Kata ini menunjuk pada suatu kebiasaan, etiket, pola tingkah laku yang dianggap sebagai model.

    Selama dua abad petama setelah kemunculan Islam, istilah adab membawa implikasi makna etika dan sosial. Kata dasar Ad mempunyai arti sesuatu yang mentakjubkan, atau persiapan atau pesta. Adab dalam pengertian ini sama dengan kata latin urbanitas, kesopanan, keramahan, kehalusan budi pekerti masyarakat kota sebagai kebalikan dari sikap kasar orang badui.

    Dengan demikian adab sesuatu berarti sikap yang baik dari sesuatu tersebut. Bentuk jamaknya adalah Âdâb al-Islam, dengan begitu, berarti pola perilaku yang baik yang ditetapkan oleh Islam berdasarkan pada ajaran-ajarannya. Dalam pengertian seperti inilah kata adab.

    Sumber Adab

    Adat kebiasaan di dalam banyak kebudayaan selain kebudayaan Islam sangat ditentukan oleh kondisi-kondisi lokal dan oleh karena itu tunduk pada perubahan-perubahan yang terjadi di dalam kondisi-kondisi tersebut. Menurut W.G. Summer, dari berbagai kebutuhan yang timbul secara berulang-ulang pada satu waktu tertentu tumbuh kebiasaan-kebiasaan individual dan adat kebiasaan kelompok. Tetapi kebiasaan-kebiasaan yang muncul ini adalah konsekuensi-konsekuensi yang timbul secara tidak disadari, dan tidak diperkirakan lebih dulu atau tidak direncanakan.

    Ahlak dan adab Islam tidaklah bersifat “tanpa sadar” seperti dalam pengertian di atas. Adab dan kebiasaan-kebiasaan Islam itu berasal dari dua sumber utama Islam, yaitu al-Qur’an dan Sunnah, perbuatan-perbuatan dan kata-kata Nabi serta perintah-perintahnya yang tidak langsung. Oleh karena itu akhlak Islam itu jelas berdasarkan pada wahyu Alloh SWT.

    ***

    By: agussyafii

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 8 February 2020 Permalink | Balas  

    Keadaan Batin Pada Setiap Tahapan Sholat 

    Keadaan Batin Pada Setiap Tahapan Sholat

    Adzan

    Ketika anda mendengar panggilan sholat oleh muadzin, maka berusahalah membayangkan hingar bingar teriakan di hari kiamat. Persiapkan diri, lahir dan batin untuk menjawabnya. Mereka yang segera menjawab ajakan tersebut, niscaya akan menjadikan dirinya orang yang mendapat perlakuan lemah lembut di hari pembalasan nanti. Untuk itu ingatlah sekarang: Jika Anda menjawab seruan dengan rasa senang dan gembira, didorong oleh keinginan memenuhi panggilan adzan, percayalah di hari pengadilan kelak Anda akan bersuka ria dengan kabar gembira dan kemenangan. Itulah mengapa Rasulullah saw. Sering berkata, “Gembirakanlah kami wahai Bilal!” demikianlah karena Bilal seorang muadzin, dan shoalt itu sendiri merupakan kegembiraan dan kesenangan bagi Rasulullah saw.

    Bersuci Diri

    Ketika hendak menyucikan sesuatu yang ada disekitar anda secara cepat ruangan, pakaian, hingga akhirnya kulit anda maka jangan sampai mengabaikan keadaan batin, ayng merupakan tempat bersemayamnya hati, tempat bersemayamnya segala sesuatu. Bersungguh-sungguhl ah untuk menyucikan dengan bertobat dan menyesali diri, serta janji untuk meninggalkannya di masa mendatang. Bersihkanlah batin anda dengan cara ini, karena batin merupakan tempat yang diawasi oleh Dzat yang anda sembah.

    Menutup Aurat

    Menutup aurat berarti anda menutup bagian-bagian tubuh dari pandangan manusia. Tetapi bagaimana mengenai aurat batin dan rahasia pribadi anda yang keji, dimana hanya Allah swt. Sajalah yang menyaksikannya? Sadarilah kesalahan-kesalah ini. Tutupilah semuanya, tetapi ingat bahwa tiada sesuatupun yang dapat disembunyikan dari penglihatanNya. Hanya dengan tobat, malu serta takut, niscaya Allah akan memaafkannya.

    Menghadap Kiblat

    Menghadap kiblat berarti anda memalingkan wajah lahiriyah dari segala arah selain ke arah Rumah Allah swt. (Ka’bah). Apakah anda mengira bahwa tidak akan diminta untuk memalingkan hati dari segala sesuatu, lalu hanya menghadapkan diri kepada Allah swt. Semata? Tentu saja tidak benar, karena Ka’bah ini merupakan tujuan dan seluruh gerak sholat! Nabi Muhammad pernah bersabda, “Ketika seseorang sholat, dimana keinginan, wajah dan hatinya hanya tertuju kepada Allah Azza wa jalla, maka seusai sholat akan menjadikan dirinya bagaikan bayi yang baru dilahirkan ibunya.”

    Berdiri Tegak

    Berdiri tegak, maksudnya beridir lurus lahir dan batin di hadapan Allah Azza wa jalla. Kepala anda, yang merupakan bagian tertinggi dari tubuh, supaya sedikit membungkuk sebagai tanda kerendahan hati serta melepaskan diri dari keangkuhan dan kesombongan.

    Niat

    Ketika bernia, bayangkan bahwa diri anda tengah memenuhi pangilanNya, dengan melaksanakan sholat dalam rangka kepatuhan terhadap perintahNya, dengan cara melaksanakan sholat secara tepat serta menghindarkan dan meniadakan segala sesuatu yang akan mengganggu dan merusakkannya. Dan dengan melakukan semuanya secara tulusdan ikhlas semata-mata karena Allah Azza wa jalla, demi mengharap ganjaran dari Nya dan dijauhkan dari siksaNya, mencari kasih dan sayangNya

    Takbir

    Ketika mengucapkan takbir, hati anda tidak boleh menyangkal apa yang tengah diucapkan oleh bibir anda. Bila di dalam hati anda merasa bahwa ada sesuatu yang lebih dari Allah swt, walau apa yang anda ucapkan benar, maka Allah swt, akan menggolongkan anda seorang penipu.

    Doa Iftitah

    Ketika mengucapkan doa iftitah (pembuka), anda tengah mewaspadai kemusyrikan yang ada di dalam diri. Ini berkenaan dengan mereka yang beribadah demi mansuia, ataupun yang mengharapkan rahmat Allah Azza wa jalla semata. DifirmankanNya “maka barangsiapa mengharapkan pertemuan denagn Tuhannya, hendaklah mengerjakan amal kebaikan. Dan dalam beribadah kepadaNya, jangan mempersekutukan Dia dengan sesuatupun.” (QS.18:110)

    Ketika anda mengucapkan “Auszu billahi minasy syaithanirrajim” (Aku berlindung kepada Allah swt dari godaan setan ayng terkutuk), maka sesungguhnya harus disadari bahwa setan adalah musuh sejati, dan ia selalu mencari celah dan kesempatan untuk memisahkan anda dan Allah Azza wa jalla. Setan akan selalu menghalangi anda dalam melakukan munajat kepada Allah swt. Dan untuk bersujud kepadaNya

    Membaca Ayat Al-Qur’an

    Mengenai membaca Al-Qur’an, maka dapat dibedakan dalam tiga kategori, yaitu: 1. Mereka yang menggerakkan lidahnya tanpa kesadaran (artinya tidak memahami apa yang dilafalkan oleh lidah) 2. Mereka yang secara sadar memahami apa yang dilafalkan oleh lidah, memahami maknanya dan seolah mendengarkannya sebagai ucapan orang lain, inilah derajat yang dicapai “golongan kanan” 3. Mereka yang bermula dari menyadari makna, menjadikan lidah sebagai juru bahasa bagi kesadaran batin. Lidah memang dapat berperan sebagai penerjemah batin dan sekaligus guru sejati bagi hati. Bagi mereka yang sangat dekat dengan Tuhan, maka lidah berperan sebagai penerjemah

    Rukuk

    Allah swt. Menyaksikan hambaNya yang tengah berdiri, rukuk dan sujud. Sebagaimana Dia berfirman, “Yang melihatmu ketika berdiri dan melihat gerak gerikmu di tengah orang-orang yang bersujud” (QS 26:218) Rukuk dan sujud yang disertai pengakuan akan keagungan Allah Azza wa jalla. Di dalam rukuk, Anda memperbarui penyerahan diri dan rasa rendah hati, serta selalu menyebarkan kesadaran betapa ketidak mampuan dan ketidak bermaknaan kita dihadapan Dzat Yang Maha Agung. Untuk menegaskan hal ini, anda memerlukan (mencari) bantuan lidah, dengan mengagungkan asma Tuhan serta berulang kali mengakui keagungan kekuasaanNya, baik secara lahirah ataupun batiniah.

    Kemudian anda bangkit dari rukuk, berharap bahwa Dia (Allah) akan mencurahkan rahmatNya kepada anda. Untuk mempertegas harapan ini dalam diri anda mengucapkan, “”Sami’allahu liman hamidah” (Allah mendengar siapa saja yang memujiNya). Untuk menyatakan syukur, anda segera menambah, “Rabbana lakal hamdu” (Wahai Tuhan, hanya bagiMu lah segala pujian). Untuk menunjukkan banyaknya atau memperbanyak pujian, anda juga mengucapkan, “mil as samawati wa milal ardhi” (yang memenuhi seluruh langit dan bumi).

    Sujud

    Selanjutnya anda bersujud. Ini adalah tingkatan pengungkapan penyerahan diri tertinggi, yang mana anda menyentuhkan bagian termulia dari badan, wajah ke wujud yang rendah, tanah. Apabila mungkin, akan lebih baik bersujud tanpa alas, yang tentu saja hal ini lebih menggambarkan sikap kerendahan hati dan berserah diri.

    Apabila anda meletakkan diri dalam posisi yang sedemikian rendah, maka akan lebih menyadari dengan siapa anda berhadapan. Anda telah mengembalikan cabang pada akarnya, karena anda berasal dari tanah dan kelak akan kembali ke tanah pula. Pada saat yang sama anda juga memperbarui kesadaran batin akan keagungan Tuhan, seraya berkata, “Subhana rabbiyal a’la” (Mahasuci Tuhan Yang Mahatinggi). Pengulangan ucapan ini hanya akan lebih memperkuat pengakuan anda, karena mengucapkannya hanya sekali saja dirasa tidak memadai.

    Ketika batin anda merasa terpuaskan dalam mengharapkan kasih sayang Ilahi, yakinlah bahwa Tuhan akan selalu mengaruniakan kasih dan sayang Nya. Bahwa kasih dan sayangNya selalu mengalir kepada mereka yang lemah dan rendah, tidak bagi yang sombong dan congkak.

    Selanjutnya anda mulai mengangkat kepala kemudian bertakbir, “Allahu Akbar” (Allah Maha Agung) dan mintalah apa yang anda perlukan, mohonlah hajat anda, seperti, “Rabbigh fir war ham wa tajaa waz’ amma ta’lam” (Ya Allah, ampuni dan kasihanilah aku! dan lepaskanlah dari dosa yang Engkau ketahui). Selanjutnya anda sujud untuk yang kedua kalinya, yang memperkuat penyerahan diri kepada Allah swt.

    Duduk dan Tasyahud

    Ketika anda duduk untuk mengucapkan pengakuan (tasyahud), duduklah dengan sopan. Ungkapkan bahwa sholat dan seluruh amal sholeh yang anda lakukan itu semua semata-mata demi mengharap kasih sayangNya, dan segala sesuatu hanyalah milikNya. Itulah ayng dimaksudkan bahwa segala kehormatan (at tahiyyat) adalah milik Allah swt. “Assalamu’alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh”. (Salam sejahtera semoga selalu terlimpah bagi Rasul saw. Serta rahmat dan berkah Allah atasnya).

    Yakin bahwa salam yang anda ucapkan akan sampai kepada beliau. Dan beliau juga akan menjawab, bahkan dengan salam yang lebih sempurna bagi anda. Kemudian ucapkan pula salam bagi diri anda serta seluruh hamba Allah yang sholeh. Kemudian persaksikan bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusanNya. Dengan mengulang dua kali kesaksian tersebut, anda telah mengulang kembali pengakuan atas kasih sayang Allah Azza wa jalla, dan meyakinkan diri akan perlindunganNya.

    Doa Penutup

    Pada akhir sholat, hendaknya anda berdoa memohon kepadaNya penuh harap secara santun dan disertai kerendahan hati, dengan yakin bahwa permohonan itu didengar. Tunjukkan doa anda termasuk kepada orang tua serta orang-orang beriman lainnya.

    Salam

    Akhirnya, dengan maksud mengakhiri sholat anda, ucapkan salam kepada para malaikat dan mereka yang hadir. Rasakan semua itu sebagai ungkapan syukur kepada Allah swt. Atas segala karuniaNya karena anda dapat menyelesaikan sholat. Bayangkan bahwa anda tengah mengatakan selamat berpisah pada ibadah sholat, dan bahwa mungkin anda meninggal hingga tidak bisa lagi melakukan seperti ini.

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 22 January 2020 Permalink | Balas  

    Sunnah Wudhu’ 

    Sunnah Wudhu’

    Berikut sunnah-sunnah wudhu’:

    1. Bersiwak

    Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

    “Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya kuperintahkan mereka bersiwak tiap kali berwudhu” (HR. Abu Dawud no. 46, At Tirmidzi no. 22 dan lainnya, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih At Tirmidzi no. 21)

    1. Membasuh kedua telapak tangan tiga kali pada awal wudhu’ dan menyela-nyela jari jemarinya.

    Dasarnya adalah hadits Utsman bin Affan ra. tentang tata cara wudhu’ Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam, “Utsman bin Affan minta diambilkan air wudhu lalu berwudhu. Dia basuh kedua telapak tangannya tiga kali“. (HR. Muslim no. 226 dan lainnya)

    1. Mengabungkan berkumur dan menghirup air ke dalam hidung dengan segenggam air sebanyak tiga kali.

    Abdullah bin Zaid berkata, “Beliau ShallallaHu alaiHi wa sallam berkumur dan menghirup air ke dalam hidung dari satu genggam tangan. Dan beliau melakukannya sebanyak tiga kali” (HR. Muslim no. 235)

    1. Mendahulukan yang kanan dari pada yang kiri.

    Aisyah ra. berkata, “Rasulullah suka mendahulukan bagian kanan saat memakai sandal, menyisir rambut, bersuci dan dalam semua hal” (HR. Al Bukhari, Muslim no. 4122 dan An Nasa-i I/78)

    1. Menggosok

    Abdullah bin Zaid berkata, “Nabi diberi tiga mudd air, beliau lalu berwudhu dan menggosok kedua tangannya” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Ibni Khuzaimah no. 118)

    1. Membasuh 3 kali.

    Membasuh tiga kali merupakan sunnah. Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam juga pernah berwudhu satu kali-satu kali (HR. Al Bukhari no. 157, dari Ibnu Abbas ra.) dan dua kali-dua kali (HR. Abu Dawud no. 136, At Tirmidzi no. 430 dan lainnya, dari Abu Hurairah ra.)

    1. Berdoa setelah selesai.

    Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang diantara kalian berwudhu, lalu menyempurnakan wudhunya, kemudian berdoa,

    ‘AsyHadu al-laa ilaaHa illallaHu wahdaHu laa syariikalaH wa asyHadu anna muhammadan ‘abduHu wa rasullluHu’

    Melainkan dibukakan baginya delapan pintu surga, dia memasukinya dari arah mana saja yang ia kehendaki” (HR. Muslim no. 234)

    1. Shalat dua raka’at setelah wudhu

    Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam berkata kepada Bilal ra. ketika hendak shalat shubuh,

    “Wahai Bilal beritahukanlah kepadaku, amalan apa yang paling engkau harapkan yang engkau kerjakan di dalam Islam, karena sesungguhnya aku mendengar suara kedua sandalmu di hadapanku di Surga”

    Dia (Bilal ra.) menjawab,

    “Tidaklah aku melakukan amalan yang paling aku harapkan (pahalanya), hanya saja aku tidaklah bersuci, baik saat petang maupun siang, melainkan aku shalat (sunnah) dengan apa-apa yang sudah dituliskan tentang shalatku” (HR. Al Bukhari no. 1149 dan Muslim no. 2458)

    Maraji’:

    Panduan Fiqh Lengkap Jilid 1, Abdul ‘Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 21 January 2020 Permalink | Balas  

    Rukun Wudhu’ 

    Rukun Wudhu’

    Allah Ta’ala berfirman,

    “Hai orang-orang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki” (QS Al Maa-idah : 6)

    Berikut Rukun-rukun wudhu,

    1. Berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung.

    Berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung termasuk bagian dari muka atau wajah hingga wajiblah keduanya. (As Sa-iluul Jarraar I/81)

    Tentang berkumur kumur dalam berwudhu Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam telah memerintahkan,

    “Idzaa tawadhdha’ famadhmidh” yang artinya “Jika engkau berwudhu, maka berkumurlah” (HR. Abu Dawud no. 142, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan Abi Dawud no. 129)

    Begitu pula dengan menghirup air ke dalam hidung, Beliau ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Jika salah seorang diantara kalian berwudhu, jadikanlah (hiruplah) air ke dalam hidungnya, lalu semburkanlah” (HR. Abu Dawud no. 140 dan An Nasa-i I/66, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih al Jaami’ush Shaghiir)

    1. Membasuh muka.
    2. Menyela-nyela jenggot.

    Dari Anas bin Malik ra., ia berkata, “Jika Rasulullah berwudhu, beliau ambil segenggam air lalu memasukkannya ke bawah dagunya, dengan air itu belia menyela-nyelai jenggotnya. Beliau lantas bersabda, ‘Begitulah Rabbku memerintahkanku’” (HR. Abu Dawud no. 145 dan lainnya, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Irwaa’ al Ghaliil no. 92)

    1. Membasuh kedua tangan hingga siku

    Imam Asy Syafi’i berkata dalam kitabnya Al Umm I/25, “Membasuh kedua tangan tidaklah cukup kecuali dengan membasuh antara ujung-ujung jemari hingga siku. Dan tidaklah cukup kecuali dengan membasuh sisi luar, dalam dan samping kedua tangan, hingga sempurnalah membasuh keduanya. Jika meninggalkan sedikit saja dari bagian ini, maka tidak boleh”

    1. Mengusap kepala, termasuk mengusap kedua telinga.

    Wajib mengusap kepala secara merata, karena perintah mengusap kepala dalam Al Qur’an masih global maka penjelasannya dikembalikan ke sunnah. Disebutkan dalam Kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dan yang lainnya bahwa Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam mengusap kepala beliau secara merata. Disini terdapat dalil atas wajibnya mengusap kepala secara sempurna.

    [Imam Al Bukhari memberikan bab tentang mengusap kepala secara keseluruhan atau sempurna pada Kitab Shahihnya yaitu bab mashir ra’si kulliHi liqaulillaHi ta’alaa wamsahuu biru-uusikum (bab mengusap kepala seluruhnya karena firman Allah Ta’ala, “Dan usaplah kepalamu”)]

    Lalu bagaimana dengan hadits dari Al Mughirah bin Syu’bah ra. yang menyebutkan bahwa Nabi ShallallaHu alaiHi wa sallam mengusap bagian ubun-ubun dan bagian atas sorban beliau ?

    [Berkata Al Mughirah bin Syu’bah ra., “Bahwa Nabi berwudhu’, maka disapunya ubun-ubun serta serbannya, begitu pun kedua sepatunya” (HR. Muslim)]

    Jawabannya, “Beliau ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam mencukupkan mengusap ubun-ubun saja karena telah membasuh sisa kepala dengan sempurna, yaitu dengan cara mengusap bagian atas sorban. Inilah pendapat kami. Bukan berarti ini adalah dalil atas bolehnya mencukupkan mengusap ubun-ubun atau sebagian kepala tanpa menyempurnakannya dengan mengusap bagian atas sorban” (Kitab Tafsiir Ibni Katsiir II/24, dengan pengubahan)

    Begitu pula dengan kedua telinga, karena ia merupakan bagian dari kepala maka wajiblah untuk mengusapnya. Dasarnya adalah sabda Beliau ShallallaHu alaiHi wa sallam,

    “Al udzunaani minar ra’si” yang artinya “Kedua telinga adalah bagian dari kepala” (HR. Ibnu Majah no. 443, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan Ibni Majah no. 357)

    1. Membasuh kedua kaki dari jari kaki hingga ke mata kaki dan menyela-nyela jari jemarinya, berdasarkan sabda Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam,

    “Wa khallil baynal ashaabi’” yang artinya “Dan sela-selailah jari-jemari” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan Abi Dawud no. 629)

    Maraji’:

    Panduan Fiqh Lengkap Jilid 1, Abdul ‘Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 20 January 2020 Permalink | Balas  

    Syarat Sah Wudhu 

    Syarat Sah Wudhu

    Ada 3 syarat sah Wudhu, yaitu :

    1. Niat

    Berdasarkan sabda Beliau ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam, “Innamal a’maalu binniyyaat” yang artinya “Sesungguhnya perbuatan itu tergantung niat” (HR. Al Bukhari no. 1, Muslim no. 1907, Abu Dawud no. 2186, At Tirmidzi no. 1698, Ibnu Majah no. 4227 dan An Nasa-i I/59)

    Tidak disyari’atkan mengucapkannya, karena Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam tidak pernah mengerjakannya.

    1. Mengucap basmalah

    Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

    “Laa shalaata liman laa wudhuu-a laHu wa laa wudhuu-a liman lam yadzkurismallaHu ‘alaiHi” yang artinya “Tidak sah shalat seseorang tanpa wudhu. Dan tidak ada wudhu untuk seseorang yang tidak menyebut nama Allah” (HR. Abu Dawud no. 101 dan Ibnu Majah no. 399, dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan Ibni Majah no. 320)

    1. Berkesinambungan (tidak terputus)

    Berdasarkan hadits Khalid bin Ma’dan,

    “Nabi melihat seorang laki-laki sedang melakukan shalat, sedangkan pada punggung telapak kakinya ada bagian sebesar uang dirham yang tidak terkena air. Nabi lantas menyuruhnya mengulang wudhu dan shalatnya” (HR. Abu Dawud no. 173, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan Abi Dawud no. 161)

    Maraji’ :

    Panduan Fiqh Lengkap Jilid 1, Abdul ‘Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 19 January 2020 Permalink | Balas  

    Tidak Berbuat Adil di Antara Para Istri 

    Tidak Berbuat Adil di Antara Para Istri

    Oleh : Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Di antara yang diwasiatkan Allah kepada kita dalam kitabNya yang mulia adalah berbuat adil di antara para istri. Allah Tabaroka wata’ala berfirman:

    “Dan kamu sekali–kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian. Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai) sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecenderungan) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (An Nisa’: 129).

    Keadilan yang dituntut adalah dalam membagi giliran menginap di masing –masing istri, dalam memberikan hak nafkah, pakaian, dan tempat tinggal.

    Jadi keadilan yang dituntut bukanlah dalam soal perasaan cinta yang ada di hati, sebab seorang hamba tidak akan mampu menguasai perasaan hatinya.

    Sebagian orang yang berpoligami ada yang lebih cenderung dan berat kepada salah seorang istrinya, sehingga tak mengacuhkan yang lain. Seperti memberinya giliran menginap atau nafkah lebih banyak dari pada istrinya yang lain. Ini jelas suatu perbuatan haram. Pada hari kiamat orang tersebut akan mendapati dirinya sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam :

    “barangsiapa memiliki dua istri dan ia cenderung kepada salah seorang dari keduanya, niscaya ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan sisi badannya condong” (HR Abu Dawud, 2/601; shahihul jami’ hadits No : 6491)

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 18 January 2020 Permalink | Balas  

    Mengauli Istri Lewat Dubur (Anal Seks) 

    Mengauli Istri Lewat Dubur (Anal Seks)

    Oleh : Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Sebagian orang yang memiliki kelainan (abnormal) dari kalangan orang-orang yang lemah iman tidak segan-segan menggauli istrinya lewat dubur (tempat keluarnya kotoran).

    Perbuatan tersebut termasuk dosa besar. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melaknat para pelaku perbuatan keji tersebut.

    Dalam hadits marfu’ dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu disebutkan:

    “(Sungguh) terlaknat orang yang menggauli istrinya lewat duburnya” (HR Ahmad,2/479; dalam shahihul jam’ hadits no: 5865)

    Bahkan lebih dari itu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

    “Barangsiapa yang menggauli istri (yang sedang haid) atau menggauli diduburnya atau mendatangi dukun maka ia telah kufur (mengingkari) dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad” (HR At Tirmmidzi, dari Abu Hurairah dalam shahihul jami’, hadits No:5918)

    Meskipun wanita normal enggan melayani kelainan suaminya, tapi pada akhirnya banyak yang tak berdaya, sebab tak jarang suami mengancam akan menceraikannya jika ia menolak.

    Sebagian lain menipu istrinya yang malu bertanya tentang hukum masalah tersebut dengan mengatakan, hal itu halal dan dibolehkan. Mereka berdalil:

    “Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu ini bagaimana saja kamu kehendaki” (Al Baqarah: 223).

    Padahal kita tidak boleh menafsirkan maksud ayat di atas sesuai dengan keinginan kita, tetapi kita harus merujuk kepada sunnah. Sebab sebagaimana telah dimaklumi bersama, sunnah adalah penjelas Al Qur’an. Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan, suami beleh sekehendaknya menggauli istri, dari arah depan atau belakang selama di tempat jalan kelahiran anak (vagina). Dan tak diragukan lagi dubur atau anus bukanlah jalan kelahiran anak tetapi jalan keluarnya kotoran manusia.

    Di antara sebab tejadinya perbuatan dosa ini adalah saat memasuki kehidupan rumah tangga yang suci, mereka masih membawa warisan jahiliyah yang kotor berupa berbagai adegan menyimpang yang diharamkan. Atau masih membawa ingatan dan imajinasi adegan film-film porno tanpa taubat kepada Allah.

    Perbuatan ini tetap haram, meskipun dilakukan atas dasar suka sama suka oleh suami istri. Karena saling merelakan untuk mengerjakan perbuatan haram tidak menjadikannya sebagai berbuatan halal.

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 17 January 2020 Permalink | Balas  

    Menggauli Istri Saat Haid 

    Menggauli Istri Saat Haid

    Oleh: Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

    “Mereka bertanya kepadamu tentang haid, katakanlah: haid itu adalah kotoran. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka, sehingga mereka suci” (Al Baqarah: 222).

    Karena itu seorang suami tidak halal menggauli istrinya sehingga ia mandi setelah darah haidnya berhenti. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

    “Apabila mereka telah suci, maka gaulilah mereka di tempat yang diperintahkan oleh Allah kepadamu, sesungguhnya Allah senang kepada orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang berbuat suci” (Al Baqarah: 222).

    Mengenai kotornya perbuatan menggauli istri saat haid itu disebutkan dalam sabda nabi Shallallahu’alaihi wasallam:

    “Barangsiapa menggauli istri (yang sedang) haid atau menggauli di duburnya atau mendatangi dukun maka ia telah kufur (mengingkari) dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad” (HR Al Tirmidzi dari Abu Hurairah:1/243; dalam shahihul jami’ hadits No: 5918)

    Tetapi orang yang melakukannya dengan tanpa disengaja serta tidak mengetahui kondisi sang istri maka ia tidak berdosa. Berbeda jika ia melakukannya dengan sengaja serta mengetahui kondisi sang istri maka wajib baginya membayar kaffarat, menurut sebagian ulama yang menganggap shahih hadits tentang kaffarat. Yakni dengan membayar satu dinar atau setengahnya.

    Dalam penerapan kafarat ini, para ulama juga berbeda pendapat, sebagian berkata, ia boleh memilih antara keduanya (satu atau setengah dinar). Sebagian lain berpendapat, jika ia menggauli di awal haid (ketika darah haid masih banyak keluar) maka ia membayar satu dinar, dan jika ia menggaulinya di akhir haid saat darah haid tinggal sedikit atau sebelum mandi dari haid maka ia membayar setengah dinar.

    Menurut ukuran umum, satu dinar adalah 4,25 gram emas, orang yang bersangkutan boleh bersedekah dengannya atau dengan uang yang senilai dengannya.

    Berkata Syaikh Ibn Baz: Yang benar adalah dia boleh memilih antara membayar kaffarat satu dinar atau setengahnya. Baik di awal haid atau di akhirnya. Adapun dinar adalah senilai 4/6 junaih Saudi, sebab satu junaih Saudi sama dendan 1, ¾ dinar.

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 16 January 2020 Permalink | Balas  

    Dhihar 

    Dhihar

    Oleh: Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Di antara ungkapan jahiliyah yang masih tersebar di kalangan umat ini adalah ungkapan yang menjerumuskan kepada persoalan zhihar. Seperti ucapan seorang suami kepada istrinya:

    “Bagiku, engkau seperti punggung ibuku; atau engkau haram bagiku sebagaimana haramnya saudara perempuanku”. Atau ucapan-ucapan kotor lain yang dibenci syariat, karena di dalamnya mengandung penganiayaan terhadap wanita.

    Dalam hal ini Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Orang-orang yang menzhihar istrinya di antara kamu (menganggap istrinya seperti ibunya, padahal) tiadalah istri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun” (Al Mujadilah: 2)

    Syariat Islam menjadikan Kaffarat zhihar demikian berat, yakni hampir menyerupai kaffarat pembunuhan yang tidak disengaja demikian pula menyerupai kaffarat senggama pada siang hari di bulan Ramadhan.

    Seorang yang telah menzhihar istrinya, tidak boleh ia mendekati istrinya kecuali setelah membayar kaffarat tersebut.

    Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Orang-orang yang menzhihar istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Barang siapa yang tidak mendapatkan (budak) maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajib atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan RasulNya. Dan itulah hukum-hukum Allah. Dan bagi orang yang kafir ada siksaan yang sangat pedih (Al Mujadilah: 3-4).

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 15 January 2020 Permalink | Balas  

    Orang – orang yang Didoakan oleh Malaikat 

    Orang – orang yang Didoakan oleh Malaikat

    Oleh : Syaikh Dr. Fadhl Ilahi

    Allah SWT berfirman, “Sebenarnya (malaikat – malaikat itu) adalah hamba – hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah – perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafa’at melainkan kepada orang – orang yang diridhai Allah, dan mereka selalu berhati – hati karena takut kepada-Nya” (QS Al Anbiyaa’ 26-28)

    Inilah orang – orang yang didoakan oleh para malaikat :

    1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci. Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci'” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)
    2. Orang yang duduk menunggu shalat. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia'” (Shahih Muslim no. 469)
    3. Orang – orang yang berada di shaf bagian depan di dalam shalat. Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin ‘Azib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)
    4. Orang – orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalm shaf). Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang – orang yang menyambung shaf – shaf” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)
    5. Para malaikat mengucapkan ‘Amin’ ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu” (Shahih Bukhari no. 782)
    6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia'” (Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)
    7. Orang – orang yang melakukan shalat shubuh dan ‘ashar secara berjama’ah. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat'” (Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)
    8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan'” (Shahih Muslim no. 2733)
    9. Orang – orang yang berinfak. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit'” (Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)
    10. Orang yang makan sahur. Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang – orang yang makan sahur” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)
    11. Orang yang menjenguk orang sakit. Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh” (Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, “Sanadnya shahih”)
    12. Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain” (dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

    Maraji’ :

    Disarikan dari Buku Orang – orang yang Didoakan Malaikat, Syaikh Fadhl Ilahi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 14 January 2020 Permalink | Balas  

    Penolakan Istri Terhadap Ajakan Suami. 

    Penolakan Istri Terhadap Ajakan Suami.

    Oleh : Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Dari Abi Hurairah Radhiallahu’anhu bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

    “Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur (untuk melakukan senggama) ia menolak, sehingga suami marah atasnya maka Malaikat malaknat perempuan itu hingga datang pagi” (HR Al Bukhari, lihat fathul bari : 6/314).

    Manakala terjadi perselisian dengan suami banyak perempuan yang menghukum suaminya (menurut dugaannya) dengan menolak melakukan hubungan suami istri. Padahal perbuatan semacam itu bisa mendatangkan masalah yang lebih besar. Misalnya terperosoknya suami pada perbuatan yang haram. Bahkan masalahnya bisa menjadi berbalik sehingga bisa lebih menyusahkan istri; misalnya suami berusaha menikahi perempuan lain.

    Karena itu manakala suami memanggil, hendaknya sang istri memenuhi ajakannya. Realisasi dari sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam:

    “Jika seorang laki-laki mengajak istrinya ke tempat tidur hendaknya ia memenuhi panggilannya, meskipun itu berada di atas sekedup (sesuatu yang diletakkan di atas punggung onta. Digunakan oleh penunggangnya sebagai tempat duduk, berlindung diri dan berteduh) (lihat zawaidul Bazzar, 2/181, dalam shahihul jami’, hadits no: 547.

    Meski begitu, hendaknya sang suami memperhatikan kondisi istrinya. Misalnya apakah sang istri dalam keadaan sakit, hamil, atau dirundung kesedihan, sehingga tak terjadi perpecahan dan keharmonisan rumah tangga tetap terjaga.

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 13 January 2020 Permalink | Balas  

    Permintaan Agar Ditalak Suami Tanpa Sebab yang Dibolehkan Syara’. 

    Permintaan Agar Ditalak Suami Tanpa Sebab yang Dibolehkan Syara’.

    Oleh : Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Ketika terjadi percekcokan dengan suami, banyak di antara para istri yang langsung mengambil jalan pintas, yaitu minta cerai. Ada juga perceraian itu disebabkan sang suami tak mampu memberi nafkah seperti yang diinginkan istri.

    Padahal, terkadang keputusan itu di ambil hanya pengaruh dari sebagian keluarganya atau tetangga yang memang hendak merusak keluarga orang lain. Bahkan tak jarang yang menantang sang suami dengan kata-kata yang menegangkan urat leher. Misalnya, “kalau kamu memang laki-laki, ceraikan saya!!”

    Semua mengetahui, talak melahirkan banyak kerugian besar antara lain terputusnya tali keluarga, lepasnya kendali anak dan terkadang disudahi dengan menyesal pada saat penyesalan tak lagi berguna dan sebagainya.

    Dengan akibat-akibat seperti disebutkan di atas, menjadi nyatalah hikmat syariat mengharamkan perbuatan tersebut, dalam sebuah hadits marfu, riwayat Tsauban Radhiallahu’anhu disebutkan :

    “Siapa saja wanita yang minta diceraikan suaminya tanpa alasan yang dibolehkan maka haram baginya bau surga” (HR Ahmad: 5/277, dalam shahihul jami’ :2703)

    Hadits marfu’ lain riwayat Uqbah bin Amir Radhiallahu’anhu menyebutkan :

    “Sesungguhnya wanita-wanita yang melepaskan dirinya dan memberikan harta kepada suaminya agar diceraikan, mereka adalah orang-orang munafik” (HR Thabrani dalam Al Kabir : 17/339, dalam shahihul jami’ hadits No : 1934)

    Adapun jika memang ada sebab-sebab yang dibolehkan menurut syara’, seperti suaminya suka meninggalkan shalat, suka minum-minuman keras dan narkotika, atau memaksa istrinya berbuat haram, suka menyiksanya dan menolak memberikan hak-hak istri, tidak mau lagi mendengar nasihat dan tak berguna lagi upaya ishlah (perbaikan) maka tidak mengapa bagi sang istri meminta cerai sehingga ia tetap dapat memelihara diri dan agamanya.

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 12 January 2020 Permalink | Balas  

    Mimbar Jumat: Puncak Kesuksesan 

    Mimbar Jumat: Puncak Kesuksesan

    Assalamu’alaikum wr.wb.

    Allah berfirman, bismillahirrahmaanirrahiim,

    “Barangsiapa yang menghendaki keuntungan /sukses di dunia saja (maka sesungguhnya dia merugi) karena di sisi Allah ada keuntungan dunia dan akhirat. Dan Allah maha mendengar lagi maha melihat. Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah meskipun terhadap dirimu sendiri atau ibu-bapak dan kerabatmu. Jika ia kaya atau miskin, maka Allah lebih mengetahui kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsumu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar-balikkan (fakta) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan” (QS An Nisaa’ 134-135).

    “Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang (banyak) memberi (di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya keuntungan yang terbaik, maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan kemudahan. Dan bagi orang-orang yang pelit dan merasa diri cukup (sombong) serta mendustakan keuntungan yang terbaik, maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan kesukaran. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya ketika ia telah binasa” (QS Al Lail 4-11).

    Maha benar segala firman Allah, tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah yang maha esa dan maha kuasa atas segala sesuatu, Rab pencipta, pemilik dan penguasa seluruh alam jagat raya, yang tidak terbatas kekuasaanNya, yang mengatur dan menguasai seluruh isi alam, termasuk manusia penghuni bumi. Dia yang telah menciptakan luasnya langit dan dan kecilnya bumi beserta segala apa yang ada di antaranya, dan semuanya itu tidak ada yang sia-sia. Atas perkenaan Allah pula kita masih diberi kesempatan untuk mengarungi kehidupan dunia dengan berbagai kenikmatan dan anugerahNya, yang tidak pernah kita ketahui sampai batas waktu kapan kita dipanggil untuk kembali kepadaNya. Bersyukur kita masih dipertemukan melalui mimbar yang hadir pada pagi hari Jum’at 24 Shafar 1427 H, bertepatan dengan tanggal 24 Maret 2006 ini, yang akan membahas masih tentang kesuksesan melanjutkan bahasan beberapa mimbar sebelumnya, dan pada seri terakhir ini, kita akan membicarakan tentang “Puncak Kesuksesan” dalam kehidupan dunia, yang dapat terus berlanjut pada kesuksesan berikutnya di alam barzah dan akhirat kelak. Namun sebelumnya, selaku umat Nabi Muhammad salallahu alaihi wassalam, kita bermohon semoga shalawat dan salam senentiasa tercurah kepada beliau, seluruh keluarga dan para sahabatnya, juga semua pengikutnya yang selalu setia melanjutkan perjuangannya untuk tegaknya Islam di muka bumi, dari jaman ke jaman hingga dunia ini berakhir nanti.

    Muslimin dan muslimat dimana saja berada,

    Pada usia 20 tahunan, Steve Jobs bersama temannya Steven Wozniac membangun cikal bakal komputer Macintosh di garasi rumah orang tuanya. Pada tahun 1976, mereka berhasil mempopulerkan konsep personnal computer (PC) pada dunia. Dan dalam kurun waktu 10 tahun, dua sekawan ini berhasil membangun Apple menjadi perusahaan beraset dua milyar dolar dan memiliki lebih dari 4000 karyawan. Tetapi disaat Steve Jobs berusia 30 tahun, ia harus menerima kenyataan pahit, karena dipecat oleh board of director dari perusahaan yang dirintisnya itu disebabkan oleh kegagalan visinya dan kejatuhan Apple pada saat itu. Ketika itu, Steve Jobs merasa hancur, malu, impiannya hilang dan tidak mampu melakukan apa-apa selama berbulan-bulan. Sampai suatu saat ia bertemu David Packard dan Bob Noyce yang mau memaafkan kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya. Jobs kemudian bekerja sama dengan mereka. Karena ia sangat mencintai pekerjaannya, maka ia berusaha bangkit dan memulai sesuatunya dari awal. Lima tahun kemudian, Steve Jobs mendirikan perusahaan Pixar Animation Studios yang membuat film animasi komputer pertama di dunia “Toy Story” dan berhasil memenangkan penghargaan Oscar sebagai film animasi terbaik. Beberapa tahun kemudian, Apple membeli Pixar dan Steve Jobs pun kembali menduduki jabatannya kembali pada perusahaan yang dulu pernah ia dirikan. Sedangkan teknologi yang ia bangun di Pixar menjadi jantung kebangkitan Apple di masa kini. Dan Apple menjadi pemimpin inovasi dalam dunia desktop dan notebook, operating system, musik digital, toko musik online. Sedangkan Pixar menjadi penghasil film-film animasi box office dan pemenang Oscar seperti Toy Story, A Bug’s Life, Monsters Inc. Finding Nemo dan the Incredibles.

    Seperti halnya keberhasilan Steve Jobs, kita juga bisa menyebutkan keberhasilan Bill Gates pendiri Microsoft Inc., Jerry Yang pendiri Yahoo, Gordon Moore pendiri Intel. Atau Walt Disney penggagas Disneyland, meskipun dia sendiri tidak melihat keberhasilan gagasannya itu karena keburu dipanggil Tuhan. Mereka adalah orang-orang sukses dalam bisnis. Mereka mencapai kesuksesannya karena memilki visi ke masa depan yang jelas dan memiliki motivasi kerja yang tinggi untuk mencapai visinya itu. Itulah kunci kesuksesannya. Begitu juga mereka yang dapat mencapai puncak kekuasaan, sebagai pemimpin umat, sebagai pemimpin bangsa atau negara, jalan yang ditempuh untuk mencapai kesuksesan juga penuh liku, bahkan penuh intrik politik. Namun mereka juga memiliki visi yang jelas dan usaha keras untuk mencapainya. Kita bisa membaca autobiografi para pemimpin bagaimana mereka bisa sampai pada puncak kekuasaan tersebut. Atau juga para selebritis yang mencapai puncak kepopulerannya, seperti yang pernah dijelaskan pada mimbar yang lalu tentang Gito Rolis. Betapa mereka yang merupakan sosok-sosok yang sangat populer, dipuja dan dielu-elukan, dan berlimpah dengan kekayaan materi, namun akhirnya tidak menemukan kebahagiaan. Pada saat mereka berada di puncak kesuksesan karirnya itu, mereka didera rasa takut melihat ke depan ketika mereka tidak lagi populer atau ketika mereka tidak lagi mempunyai kekuasaan atau mengalami kebangkrutan. Mereka membayangkan ketidakberdayaan dan hidup tanpa arti. Karena kesuksesan yang menjadi visinya adalah duniawi belaka. Dan biasanya ketika mereka berada di puncak kesuksesan, mereka cenderung arogan. Hal ini dicirikan bahwa kebanyakan dari mereka ambisius untuk mencapai visinya, agresif dan cenderung menafikan hak orang lain atau menghalalkan segala cara, senang melihat lawannya atau saingannya kalah tapi tidak senang melihat lawan atau saingannya itu dapat mengunggulinya. Ketika berada di puncak kesuksesan, mereka cenderung mempertahankan statusquo, anti kritik, mudah tersinggung, gampang emosi dan jiwanya mudah terguncang.

    Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah,

    Ketika kita hendak mendaki sebuah gunung, maka untuk bisa mencapai puncaknya tentu harus memiliki informasi tentang gunung tersebut dan mempersiapkan diri segala keperluannya yang disesuaikan dengan kondisi gunung tersebut agar bisa selamat sampai di puncak dan kembali ke tempat asal dengan selamat pula. Untuk mencapai puncak gunung tersebut tentunya diperlukan usaha gigih karena medan yang akan di lalui berat dengan jalan yang mendaki, belum lagi adanya rintangan alam berupa kabut atau jalan licin karena hujan atau bersalju. Oleh karenanya, diperlukan perhitungan waktu yang tepat dan perlengkapan dan bekal yang memadai agar bisa mencapai puncak. Ketika sampai di puncak gunung yang kita daki, akan merasakan begitu puas dan bahagianya saat itu, dan rasa capai karena tenaga yang terkuras untuk mendaki pun hilang. Maka pada saat kita berada di puncak tersebut, lihatlah ke bawah, betapa kecilnya diri kita dan betapa maha besarnya Pencipta alam ini. Jika cuaca bagus, kita bisa melihat kota atau dusun yang berada di kaki gunung tersebut. Gedung yang tinggi menjulang ke langit pun akan tampak kecil, sehingga manusia yang menjadi penghuni gedung itu tak akan terlihat karena sangat kecilnya. Kita juga bisa melihat sungai yang mengalir berasal dari gunung itu menuju muara, memanjang meliuk-liuk seperti ular, dari ujung yang kecil pada sumbernya, menjadi besar menuju muara. Fenomena alam tersebut sebenarnya merupakan gambaran kehidupan kita di alam dunia ini, jika saja kita mau memahaminya. Namun kebanyakan manusia tidak mengerti tentang visi hidupnya sehingga mudah tergiur oleh pesona gemerlapnya keindahan kenikmatan dunia yang bersifat sementara. Dan itulah kelemahan manusia, cenderung mencintai dunia, sehingga Allah pun memperingatkan manusia agar tidak terpedaya bahwa semua itu merupakan ujian atau cobaan, dan kesenangan hidup yang sering melalikan, seperti pada firmanNya : “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada dunia, wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari emas dan perak, kuda (kendaraan) pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik” (QS Ali Imran 34).

    Dengan mengibaratkan pendakian sebuah gunung seperti pada uraian di atas, begitu pula untuk mencapai kesuksesan hidup kita. Maka untuk mencapai puncak kesuksesan hidup tersebut, yang pertama adalah harus mengetahui apa visi hidup kita, apakah hanya sekedar untuk sukses kehidupan dunia saja atau sukses dunia-akhirat. Untuk mencapai visi tersebut, tentu diperlukan persiapan sarana dan bekal yang memadai agar bisa mencapai puncak kesuksesan hidup tersebut. Jika visi hidupnya hanya untuk sukses dunia saja, maka sarana dan bekal yang harus dipersipakan hanya materi belaka tanpa bersangkutan dengan aspek ukhrawi. Tetapi jika visi hidup kita adalah dunia dan akhirat, maka sarana dan bekal yang harus dipersiapkan bukan hanya materi saja, namun yang paling penting adalah iman dan amal saleh yang benar di sisi Tuhan, dalam menjalani kehidupan dunia dari awal menapaki hidup sampai saat terakhir kehidupan kita untuk meninggalkan dunia ini dan berpindah ke alam barzah untuk selanjutnya menuju akhirat. Visi yang kedua inilah yang seharusnya menjadi visi setiap manusia, meskipun dalam pelaksanaannya menyimpang, sehingga seolah-olah visi yang pertama yang dipilihnya. Oleh karena itu, untuk mencapai sukses dunia dan akhirat diperlukan sarana-sarana pencapaiannya, seperti yang telah diuraikan pada Mimbar Jum’at 247 : “Sarana Mraih Kesuksesan” dua pekan lalu. Sedangkan bekal yang harus dibawa untuk bisa sampai sukses di akhirat adalah iman dan amal saleh sesuai yang telah ditetapkan sesuai aturan Allah, yang dilaksanakan secara ikhlas dan kuncinya adalah sabar dan syukur, seperti yang telah diuraikan pada mimbar pekan lalu. Untuk sampai pada kesuksesan di akhirat, maka puncak kesuksesannya adalah mempertahankan kesuksesan dunia sampai pada titik akhir perjalanan dunia, dengan akhir kehidupan yang baik (husnul khatimah). Itulah puncak kesuksesan, yang setiap orang akan berbeda.

    Firman Allah QS An Nisaa’ 134-135 yang terjemahannya dikutipkan pada awal mukadimah mimbar ini, mengingatkan kita bahwa jika kita menginginkan keuntungan atau kesuksesan dunia dan akhirat, wajib bersikap adil, dalam artian kita menempatkan segala sesuatu itu pada tempatnya atau sesuai porsinya. Dan untuk bisa bersikap adil, maka harus mampu mengendalikan diri atau tidak mengikuti hawa nafsunya. Jalan setiap orang untuk mencapai kesusesan itu berbeda karena memang usaha setiap orang itu berbeda, seperti yang ditegaskan oleh Allah pada QS Al Lail yang terjemahannya dikutipkan pada mimbar ini. Bagi orang yang bertakwa dan memahami visi hidupnya serta yakin akan adanya kesuksesan di akhirat yang ditentukan dari segala usahanya di dunia, maka puncak keusksesan itu adalah pada saat akan meninggalkan kehidupan dunia, dengan akhir hidupnya yang benar-benar baik dan dalam keadaan pasrah kepada Allah, sehingga Allah memudahkan jalan baginya dan tercermin pada wajah atau senyuman bahagia ketika ruh meninggalkan jasadnya. Sebaliknya bagi orang yang mendustakan akan keusksesan di akhirat, yang dicirikan dengan sikap arogan dan kikir ketika menjalani kehidupan dunia, meskipun telah merintis kesuksesan dengan modal iman dan amal saleh yang dianggapnya benar, maka pada saat akhir hidupnya akan mendapat kesulitan untuk mencapai puncak kesuksesan, sehingga kegagalanlah yang ia dapatkan atau su’ul khatimah. Dan akan gagal pula di akhirat kelak. Oleh karena itu, mari kita berusaha merintis kesuksesan dunia sesaui dengan aturan Allah dan mempertahankannya sampai akhir hidup kita, sehingga kita dapat mencapai puncak kesuksesan dunia pada saat ruh meninggalkan jasad kita dengan husnul khatimah, dan Allah memudahkan kita untuk meretas jalan mencapai sukses di akhirat. Semoga kita termasuk orang-orang yang sukses di dunia dengan puncaknya pada akhir hayat kita, dan akan sukses pula di akhirat kelak, amien. Kita akhiri mimbar ini, alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin.

    Wassalamu’alaikum wr.wb.

    Nana Djumhana

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 11 January 2020 Permalink | Balas  

    Mendapatkan Ruku’ berarti Mendapat 1 Raka’at 

    Mendapatkan Ruku’ berarti Mendapat 1 Raka’at

    Membaca Al Faatihah merupakan rukun di dalam shalat, dari Ubadah bin ash Shamit ra., Nabi ShalallaHu alaiHi wa sallam bersabda, “Laa Shalaata liman lam yaqra’ bifaatihatil kitaab” yang artinya “Tidak (sah) shalat orang yang tidak membaca fatihatul kitab (al faatihah)” (HR. Bukhari no. 756, Muslim no. 394, At Tirmidzi no. 247, An Nasa’I II/137, Ibnu Majah no. 837 dan Abi Dawud no. 807)

    Namun dalil di atas adalah dalil yang sifatnya umum, dan jika terdapat dalil khusus yang berkaitan dengan dalil umum maka kaidahnya adalah dalil khusus yang didahulukan.

    Berkaitan dengan terlambatnya makmum untuk mengikuti shalat berjama’ah, maka Rasulullah ShalallaHu alaiHi wa sallam memberikan beberapa tuntunannya yaitu:

    Mengikuti imam shalat dalam keadaan apa pun.

    Dari Ali bin Abi Thalib ra. dan Mu’adz bin Jabal ra., mereka mengatakan bahwa Nabi ShalallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Jika salah seorang diantara kalian mendatangi shalat jama’ah pada saat imam sedang berada pada suatu keadaan, maka hendaklah ia melakukan gerakan sebagaimana yang dilakukan imam” (HR. At Tirmidzi no. 588, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan At Tirmidzi no. 484)

    Mendapatkan ruku’ berarti mendapatkan 1 raka’at.

    Dari Abu Hurairah ra., ia mengatakan bahwa Nabi ShalallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Jika kalian mendatangi shalat jama’ah pada saat kami sedang sujud, maka sujudlah dan itu jangan dihitung (satu raka’at). Dan barangsiapa mendapati (imam) sedang ruku’, maka dia mendapatkan satu raka’at shalat” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiihul Jaami’ush Shaghiir no. 468)

    Maraji’:

    Panduan Fiqih Lengkap Jilid 1, Syaikh Abdul Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 10 January 2020 Permalink | Balas  

    Penyelenggaraan Jenazah & Pembagian Harta Warisan (2-Tamat) 

    Penyelenggaraan Jenazah & Pembagian Harta Warisan (2-Tamat)

    Wasiat Allah

    Apabila si wafat tidak meninggalkan suatu wasiat, maka pembagian harta warisan dilakukan menurut wasiat Allah. Demikian pula apabila ada sisa harta yang tidak diatur pembagiannya di dalam wasiat, maka ia dibagi menurut ketentuan wasiat Allah.

    Terdapat tiga ayat yang mengatur ketentuan tentang wasiat Allah ini yaitu:

    “Allah mewasiatkan kamu mengenai anak-anak kamu; bagian anak laki- laki sama dengan bagian dua perempuan, dan jika mereka semuanya perempuan yang lebih dari dua, maka bagi mereka dua per tiga dari harta yang ditinggalkan; tapi jika anak perempuan itu seorang saja, maka baginya separuh harta. Dan untuk ibu dan bapak, kepada masing- masing satu per enam dari harta yang ditinggalkan, jika dia ada anak; tetapi jika dia tidak ada anak, dan waris-warisnya ialah ibu dan bapaknya, maka satu per tiga bagi ibunya, atau jika dia ada saudara-saudara laki-laki, maka bagi ibunya satu per enam, sesudah dipenuhi wasiat yang dia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya…” [Q.S. 4:11]

    “Dan bagi kamu (suami), separuh dari apa yang isteri-isteri kamu tinggalkan, jika mereka tidak mempunyai anak. Tapi jika mereka mempunyai anak, maka bagi kamu satu per empat dari yang ditinggalkannya, sesudah dipenuhi wasiat mereka, atau (dan) dibayar hutangnya. Dan bagi mereka (istri-istri), satu per empat dari apa yang kamu tinggalkan jika kamu mempunyai anak. Tapi jika kamu mempunyai anak, maka bagi mereka satu per delapan dari apa yang kamu tinggalkan, sesudah dipenuhi wasiat atau (dan) dibayar hutangnya. Jika seorang laki-laki atau seorang perempuan tidak mempunyai pewaris langsung (ibu bapak dan anak), tapi mempunyai saudara laki- laki atau saudara perempuan, maka bagi masing-masing dari keduanya, satu per enam harta. Tapi jika mereka lebih banyak dari itu, maka mereka bersekutu dalam satu per tiga, sesudah dipenuhi wasiatnya, atau (dan) dibayar hutang yang tidak memudaratkan. (Yang demikian) wasiat dari Allah, dan Allah Mengetahui, Penyantun”. [Q.S. 4:12]

    “Mereka meminta satu keputusan kepada kamu. Katakanlah, “Allah memutuskan kepada kamu mengenai waris yang tidak langsung (selain ibu bapak dan anak). Jika seorang laki-laki mati tanpa seorang anak, tetapi dia mempunyai saudara perempuan, maka dia (saudara perempuan) menerima separuh dari apa yang dia tinggalkan; dan dia (saudara laki- laki) adalah pewaris harta saudara perempuannya jika dia (perempuan) tidak mempunyai anak. Jika ada dua saudara perempuan, mereka menerima dua per tiga dari harta yang dia (saudara laki-laki) tinggalkan. Dan jika ada beberapa orang saudara, laki-laki dan perempuan, yang laki-laki menerima sama dengan dua bagian perempuan. Allah menjelaskan kepada kamu supaya kamu tidak sesat; Allah mengetahui segala sesuatu”. [Q.S. 4:176]

    Sebagai catatan, umumnya Al-Qur’an terjemahan bahasa Indonesia menggunakan frasa “Allah syariatkan…” pada awal ayat 4:11 yang dikutip di atas. Namun apabila kita konsisten dengan terjemahan kata dalam bahasa aslinya (Arab), maka yang lebih tepat adalah frasa “Allah wasiatkan…”.

    Ayat-ayat tentang wasiat Allah di atas dapat diuraikan sebagai berikut:

    Bagian anak-anak – Pada dasarnya, bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan. – Jika anak perempuan berjumlah lebih dari dua, maka mereka mendapatkan 2/3, dan berarti anak laki-laki mendapat 1/3. – Jika anak perempuan hanya satu orang, dan anak laki-laki juga satu orang, maka masing-masing mereka mendapatkan separuh (1/2). – Jika anak laki-laki lebih dari 1 orang, dan anak perempuan hanya 1 orang, maka perhitungannya kembali ke prinsip awal bahwa bagian satu orang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. – Pendapat kami, apabila orang yang wafat hanya meninggalkan anak laki-laki saja (tidak ada anak perempuan), maka warisan yang diperuntukkan bagi anak diserahkan semuanya kepada anak laki-laki tersebut, demikian pula sebaliknya.

    Bagian Istri/ Suami

    • Jika tidak ada anak, istri mendapatkan 1/4 bagian.
    • Jika ada anak, istri mendapatkan 1/8 bagian.
    • Jika tidak ada anak, suami mendapatkan 1/2 bagian.
    • Jika ada anak, suami mendapatkan 1/4 bagian.

    Bagian Orang Tua

    • Jika ada anak, ibu dan bapak masing-masing mendapatkan 1/6 bagian.
    • Jika tidak ada anak, ibu mendapatkan 1/3 bagian.
    • Jika tidak anak tapi ada saudara-saudara laki-laki, ibu kembali mendapatkan 1/6 bagian.

    Bagian Saudara (pewaris tidak langsung)

    • Jika tidak ada pewaris langsung (ibu, bapak, anak), saudara- saudara laki-laki dan perempuan mendapat masing-masing 1/6. Apabila jumlah mereka lebih dari 6 orang, mereka semua berbagi dalam 1/3 bagian. Bagian saudara laki-laki sama dengan dua bagian saudara perempuan.
    • Jika orang yang meninggal adalah laki-laki yang tidak mempunyai pewaris langsung (ibu, bapak, anak), maka saudara perempuannya mendapatkan 1/2 bagian.
    • Jika orang yang meninggal adalah laki-laki yang tidak mempunyai pewaris langsung (ibu, bapak, anak), namun mempunyai dua orang saudara perempuan, maka mereka mendapatkan 2/3 bagian.
    • Jika orang yang meninggal adalah perempuan yang tidak mempunyai pewaris langsung (ibu, bapak, anak), maka saudara laki- laki mewarisi seluruh harta.

    Contoh ilustrasi, seorang laki-laki wafat dan meninggalkan seorang istri, ibu, dan anak-anak. Prosentase pembagiannya:

    Istri => 1/8 (3/24) = 12,50%

    Ibu => 1/6 (4/24) = 16,66%

    Anak-anak => Sisa (17/24) = 70,83%

    Pada kasus tertentu, harta yang dibagi dengan rumus di atas ternyata masih bersisa. Hemat kami, sisa harta tersebut dibagikan kepada orang-orang yang terikat sumpah dengan si meninggal sebagaimana telah disinggung sebelumnya (anak asuh, anak tiri, kerabat yang miskin, pembantu, anak yatim, dll).

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 9 January 2020 Permalink | Balas  

    Liwath (Homoseksual) 

    Liwath (Homoseksual)

    Oleh: Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Kemungkaran yang dilakukan oleh kaum nabi Luth pada zaman dahulu adalah menggauli laki-laki (homoseksual).

    Allah Tabaroka wata’ala berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seseorangpun dari umat-umat sebelum kamu. Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuan?” (Al Ankabut: 28-29)

    Karena keji, buruk dan amat berbahayanya kemungkaran tersebut, sehingga Allah Subhanahu wata’ala menghukum pelaku homoseksual tersebut dengan empat macam siksaan sekaligus. Suatu bentuk siksa yang belum pernah ditimpakan kepada kaum lain. Keempat siksaan tersebut adalah: kebutaan, menjungkir balikkan mereka, menghujani mereka dengan batu-batu kerikil dari neraka serta mengirim kepada mereka halilintar.

    Adapun dalam syariat Islam, hukuman pelaku homoseksual dan teman kencannya jika atas dasar suka sama suka -menurut pendapat yang kuat- adalah dipenggal lehernya dengan pedang.

    Dalam sebuah hadits marfu’ dari ibnu Abbas Radhiallahu’anhu disebutkan: “Barangsiapa yang kalian dapati sedang melakukan perbuatan kaum Luth (hamoseksual) maka bunuhlah pelaku dan teman kencannya” (HR Ahmad, 1/ 300 dalam shahihul jami’ no: 6565)

    Timbulnya berbagai penyakit -yang pada zaman nenek moyang tak dikenal, sebagai hukuman atas merajalelanya kemaksiatan- sebagaimana kita saksikan sekarang seperti tha’un (sejenis penyakit pes yang menjadikan kelenjar-kelenjar bengkak dan lebih banyak menghantar penderitanya kepada kematian) dan macam-macam penyakit yang sulit disembuhkan bahkan belum ditemukan penawarnya, seperti penyakit AIDS yang mematikan, ini semuanya menunjukkan salah satu hikmah; mengapa begitu keras hukuman yang diberikan Allah untuk pelaku homoseksual.

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 8 January 2020 Permalink | Balas  

    Zina 

    Zina

    Oleh : Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Di antara tujuan syariat adalah menjaga kehormatan dan keturunan, karena itu syariat Islam mengharamkan zina, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

    “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu sesuatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (Al Isra’: 32)

    Bahkan syariat menutup segala pintu dan sarana yang mengundang perbuatan zina. Yakni dengan mewajibkan hijab, menundukkan pandangan, juga dengan melarang khalwat (berduaan di tempat yang sepi) dengan lawan jenis bukan mahram dan sebagainya.

    Pezina muhshan (yang telah beristri) dihukum dengan hukuman yang paling berat dan menghinakan. Yaitu dengan merajam (melemparnya dengan batu hingga mati). hukuman ini ditimpakan agar merasakan akibat dari perbuatannya yang keji, juga agar setiap anggota tubuhnya kesakitan, sebagaiman dengannya ia menikmati yang haram.

    Adapun pezina yang belum pernah melakukan senggama melalui nikah yang sah, maka ia dicambuk sebanyak seratus kali. Suatu bilangan yang paling banyak dalam hukuman cambuk yang dikenal dalam Islam. Hukuman ini harus disaksikan sekelompok kaum mukminin. Suatu bukti betapa hukuman ini amat dihinakan dan dipermalukan. Tidak hanya itu, pezina tersebut selanjutnya harus dibuang dan diasingkan dari tempat ia melakukan perzinaan, selama satu tahun penuh.

    Adapun siksaan para pezina -baik laki-laki maupun perempuan- di alam barzakh adalah ditempatkan di dapur api yang atasnya sempit dan bawahnya luas. Dari bawah tempat tersebut, api dinyalakan. Sedang mereka berada didalamnya dalam keadaan talanjang. Jika dinyalakan mereka teriak, malolong-lolong dan memanjat keatas hingga hampir-hampir saja mereka bisa keluar, tapi bila api dipadamkan, mereka kembali lagi ke tempatnya semula (di bawah) lalu api kembali lagi dinyalakan. Demikian terus berlangsung hingga datangnya hari kiamat.

    Keadaannya akan lebih buruk lagi jika laki-laki tersebut sudah tua tapi terus saja berbuat zina, padahal kematian hampir menjemputnya, tetapi Allah Tabaroka wata’ala masih memberinya tenggang waktu.

    Dalam hadits marfu’ dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu disebutkan:

    “Tiga (jenis manusia) yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, juga Allah tidak akan menyucikan mereka dan tidak pula memandang kepada mereka, sedang bagi mereka siksa yang pedih, yaitu laki-laki tua yang suka berzina, seorang raja pendusta, dan orang miskin yang sombong”. (HR Muslim: 1/102-103).

    Di antara cara mencari rizki yang terburuk adalah mahrul baghyi. yaitu upah yang diberikan kepada wanita pezina oleh laki-laki yang menzinainya.

    Pezina yang mencari rizki dengan dengan menjajakan kemaluannya tidak diterima doanya. Walaupun do’a itu dipanjatkan ditengah malam, saat pintu-pintu langit dibuka. (Hadits masalah ini terdapat dalam shahihul jami’: 2971)

    Kebutuhan dan kemiskinan bukanlah suatu alasan yang dibenarkan syara’ sehingga seseorang boleh melanggar ketentuan dan hukum-hukum Allah. Orang Arab dulu berkata: seorang wanita merdeka kelaparan, tetapi tidak makan dengan menjajakan kedua buah dadanya, bagaimana mungkin dengan menjajakan kemaluannya.

    Di zaman kita sekarang, segala pintu kemaksiatan di buka lebar-lebar. Setan mempermudah jalan (menuju kemaksiatan) dengan tipu dayanya dan tipu daya pengikutnya. Para tukang maksiat dan ahli kemungkaran membeo setan. Maka bertebarlah para wanita yang pamer aurat dan keluar rumah tanpa mengenakan pakaian yang diperintahkan agama. Tatapan yang berlebihan dan pandangan yang diharamkan menjadi fenomena umum. Pergaulan bebas antara laki-laki dengan perempuan merajalela. Rumah-rumah mesum semua laku. Demikian pula dengan film-film yang membangkitkan nafsu hewani. Banyak orang-orang melancong ke negeri-negeri yang menjanjikan kebebasan maksiat. Disana-sini berdiri bursa sex. Pemerkosaan terjadi di mana-mana. Jumlah anak haram meningkat tajam. Demikian halnya dengan aborsi (pengguguran kandungan) akibat kumpul kebo dan sebagainya.

    Ya Allah, kami mohon padaMu, bersihkanlah segenap hati kami dan pelihara serta bentengilah kemaluan dan kehormatan kami. Jadikanlah antara kami dengan hal-hal yang diharamkan dinding pembatas. Hanya kepadamulah kami mengadu…..Laa khawla wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adhim.

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 7 January 2020 Permalink | Balas  

    Bab Perkara Fithrah 

    Bab Perkara Fithrah

    Dari Aisyah ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Sepuluh (perilaku fithrah), mencukur kumis, memanjangkan jenggot, bersiwak, menghirup air ke hidung (istinsyaq), memotong kuku, membasuh sela-sela jari, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, bersuci dengan air (al istinjaa’) [Zakaria bin Abi Za-idah, salah seorang perawi hadits ini, berkata kepada Mush’ab bin Syaibah, “Aku lupa yang kesepuluh, mungkin berkumur-kumur’]” (HR. Muslim no. 261, Abu Dawud no. 52, At Tirmidzi no. 2906, An Nasa’i VIII/126 dan Ibnu Majah no. 293)

    Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Lima (perilaku) fithrah, mencukur bulu kemaluan, khitan, mencukur kumis, mencabut bulu ketiak dan memotong kuku” (HR. Al Bukhari no. 5889, Muslim no. 257, Abu Dawud no. 4180, At Tirmidzi no. 2905, An Nasa’i I/14 dan Ibnu Majah no. 292)

    Berikut penjelasan beberapa perilaku fithrah :

    1. Khitan

    Khitan wajib bagi pria dan wanita karena ia merupakan ciri ke-Islaman. Nabi ShallallaHu alaiHi wa sallam berkata kepada seorang laki-laki yang baru memeluk Islam,

    “Alqi “anka sya’ral kufri wakhtatin” yang artinya “Campakkanlah rambut kekufuran darimu dan berkhitanlah” (HR. Abu Dawud no. 352, dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih al Jaami’ush Shaghiir no. 1251)

    Perbuatan khitan ini termasuk ajaran Nabi Ibrahim alaiHis sallam. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Ibrahim, khalilurrahman berkhitan setelah berumur delapan puluh tahun” (HR. Al Bukhari no. 6298 dan Muslim no. 370)

    1. Memanjangkan Jenggot

    Memanjangkan Jenggot hukumnya wajib dan mencukurnya termasuk perbuatan yang haram karena Nabi ShallallaHu alaiHi wa sallam memerintahkannya. Sedangkan perintah menunjukkan kewajiban. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Juzzusy syawaariba wa akhulliha khaaliful majuusa” yang artinya “Pangkaslah kumis dan panjangkan jenggot. Selisihilah orang-orang majusi” (HR. Muslim no. 260)

    Dari Ibnu Umar ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Selisihilah orang-orang musyrik, panjangkan jenggot dan potonglah kumis” (HR. Al Bukhari no. 5892 dan Muslim no. 259)

    1. Siwak

    Bersiwak disukai pada semua keadaan namun lebih disukai ketika wudhu, shalat, membaca Al Qur’an, memasuki rumah dan ketika shalat malam berikut beberapa dalil yang menjelaskan hal tersebut,

    Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku suruh mereka bersiwak setiap wudhu” (HR. Ahmad dalam al Fathur Rabbaani no. 171, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih al Jaami’ush Shaghiir no. 5316)

    Dari Hudzaifah ra., ia berkata,

    “Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam apabila hendak shalat tahajud, beliau membersihkan mulutnya dengan siwak” (HR. Al Bukhari no. 245, ini lafazhnya, Muslim no. 255, Abu Dawud no 54 dan An Nasa’i I/8)

    1. Dimakruhkan mencabut uban

    Dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya. Dia mengatakan bahwa Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Janganlah kalian mencabut uban, karena tidaklah seorang muslim beruban dalam Islam walaupun sehelai, melainkan ia akan menjadi cahaya baginya di hari kiamat” (HR. Abu Dawud no. 4184 dan An Nasa’i VIII/136, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Al Jaami’ush Shaghiir no. 7463)

    1. Menyemir rambut kecuali dengan warna hitam

    Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak menyemir rambut mereka, maka selisihilah mereka” (HR. Al Bukhari no. 5899, Muslim no. 2103, Abu Dawud no. 4185 dan An Nasa’i VIII/137)

    Dari Jabir ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Rubahlah (rambut) ini dengan sesuatu, tetapi hindarilah warna hitam” (HR. Muslim no. 2102, Abu Dawud no. 4186, An Nasa’i VIII/138 dan Ibnu Majah no. 3624)

    Maraji’

    Panduan Fiqh Lengkap Jilid 1, Syaikh Abdul “Azhim bin Badawi al Khalfi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H-Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 6 January 2020 Permalink | Balas  

    An Najaasaat 

    An Najaasaat

    An Najasaat adalah bentuk plural dari najasah, yaitu semua yang dianggap menjijikan oleh orang yang bertabiat normal. Mereka menjaga diri darinya dan mencuci pakaian mereka jika terkena olehnya seperti kotoran dan air seni (Ar Raudhah An Nadiyyah I/12 oleh Syaikh Shidiq Hasan Khan)

    Hukum asal segala sesuatu adalah boleh dan suci. Barangsiapa menyatakan nasjisnya suatu materi, maka ia harus mendatangkan dalil. Namun bila ia tidak bisa membawakan suatu hujjah maka wajib mengikuti hukum asal, yaitu segala sesuatu boleh dan suci.

    Maka tidak boleh mengatakan tentang najisnya sesuatu kecuali dengan dalil (Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan Abu Dawud no. 834 dan Syaikh Shidiq Hasan Khan dalam Ar Raudhah An Nadiyyah I/15).

    Hal-hal yang terdapat dalil tentang kenajisan serta cara menyucikannya adalah:

    Air seni.

    Dari Anas ra., “Seorang Arab Badui buang air di Mesjid, lalu segolongan orang menghampirinya. Rasulullah ShallallaHu alaihi wa sallam lantas bersabda, “Biarkanlah ia jangan kalian hentikan kencingnya”. Lalu Anas ra. melanjutkan, “Tatkala ia sudah menyelesaikan kencingnya, beliau ShallallaHu alaiHi wa sallam memerintahkan agar dibawakan setimba air lalu diguyurkan di atasnya” (HR. Al Bukhari no. 6025 dan Muslim no. 284)

    [Secara umum, zat untuk membersihkan diri dari najis adalah dengan menggunakan air, kecuali syariat membolehkan membersihkannya dengan selain air, seperti menggunakan tanah]

    Adapun cara menyucikan pakaian yang terkena kencing bayi yang masih menyusu adalah sebagaimana sabda Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam, “Air kencing bayi perempuan dicuci, sedangkan air kencing bayi diperciki” (HR. An Nasa’i I/158 dan Abu Dawud no. 372, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan an Nasa’i no. 293)

    Kotoran manusia.

    Dari Hudzaifah ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang diantara kalian menginjak al adzaa dengan sandalnya, maka tanah adalah penyucinya” (HR. Abu Dawud no. 381, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 834)

    Al Adzaa adalah segala sesuatu yang engkau merasa tersakiti olehnya, seperti najis, kotoran dan sebagainya (“Aunul Ma’buud II/44).

    Madzi.

    Madzi adalah cairan bening, encer dan lengket yang keluar ketika naiknya syahwat. Dialami pria maupun wanita.

    Ali ra. berkata, “Aku adalah laki-laki yang sering keluar madzi. Aku malu menanyakannya pada Nabi ShallallaHu alaiHi wa sallam karena kedudukan putri beliau. Lalu kusuruh al Miqdad bin al Aswad untuk menanyakannya. Beliau ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda, “Dia harus membasuh kemaluannya dan berwudhu” (HR Al Bukhari no. 132 dan Muslim no. 303)

    Untuk pakaian yang terkena madzi Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam memberikan panduannya,

    “Cukup ambil segenggam air lalu guyurkan pada pakaianmu yang terkena olehnya” (HR. Abu Dawud no. 207, At Tirmidzi no. 115 dan Ibnu Majah no. 506, dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan Ibni Majah no. 409)

    Wadi

    Wadi adalah cairan bening dan kental yang keluar setelah buang air. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata, “Mani, wadi dan madzi. Adapun mani maka wajib mandi. Sedangkan untuk wadi dan madzi beliau ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Basulah dzakar atau kemaluanmu dan wudhulah sebagaimana engkau berwudhu untuk shalat” (HR. Abu Dawud dan Al Baihaqi I/115, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 190)

    Kotoran hewan yang tidak halal dimakan dagingnya.

    Dari Abdullah ra., ia berkata, “Ketika Nabi ShallallaHu alaiHi wa sallam hendak buang hajat, beliau berkata, “Bawakan aku 3 batu’. Aku menemukan dua batu dan sebuah kotoran keledai. Lalu beliau mengambil kedua batu itu dan membuang kotoran tadi lalu berkata, “(Kotoran) itu najis” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah no. 2530)

    Darah haidh

    Dari Asma’ binti Abi Bakar ra. ra, ia berkata, “Seorang wanita datang kepada kepada Nabi ShallallaHu alaiHi wa sallam lalu berkata, “Baju seorang diantara kami terkena darah haidh, apa yang ia lakukan ?’

    Beliau ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda, “Keriklah, kucek dengan air, lalu guyurlah. Kemudian shalatlah dengan (baju) itu” (HR. Al Bukhari no. 307 dan Muslim no. 291)

    Air liur anjing.

    Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda, “(Cara) menyucikan bejana salah seorang diantara kalian jika dijilat anjing adalah membasuhnya tujuh kali. Yang pertama dengan tanah” (HR. Muslim no. 276)

    Bangkai

    Yaitu segala sesuatu yang mati tanpa disembelih secara syar’i. Dasarnya adalah sabda Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam, “Kulit bangkai apa saja jika disamak, maka ia suci” (HR. Ibnu Majah, Ahmad dalam Al Fathur Rabbani no. 49, At Tirmidzi no. 1782, Ibnu Majah no. 3609 dan An Nasa’iVII/173, dari Ibnu Abbas ra., dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah no. 2907)

    Maraji:

    Panduan Fiqh Lengkap Jilid 1, Abdul “Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 5 January 2020 Permalink | Balas  

    Air 

    Air

    Thaharah secara bahasa berarti suci dan bersih dari hadats. Sedangkan menurut istilah bermakna menghilangkan hadats dan najis (Al Majmuu’ Syarhul Muhadzdzab I/79).

    Semua air yang turun dari langit dan keluar dari Bumi adalah suci dan menyucikan. Dasarnya adalah firman Allah Ta’ala,

    “Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira yang dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan) dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih” (QS Al Furqaan : 48)

    Sabda Nabi ShallallaHu alaiHi wa sallam tentang air laut, “Huwath thaHuuru maa-uHu al hillu maytatuHu” yang artinya “Air laut itu suci dan menyucikan serta halal bangkainya” (HR. Abu Dawud no. 83, At Tirmidzi no. 69, Ibnu Majah no. 386 dan An Nasa’i I/176, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan Ibnu Majah no. 309)

    Air tetap dalam kesuciannya meskipun bercampur dengan sesuatu yang suci selama tidak keluar dari keasliannya. Dasarnya adalah sabda beliau shallallaHu alaiHi wa sallam kepada wanita yang memandikan jenasah putri beliau, “Mandikanlah ia tiga kali, lima kali atau lebih dengan air dan bidara jika menurut kalian perlu. Dan jadikanlah basuhan terakhir dengan kapur barus atau sedikit dengannya” (HR. Al Bukhari no. 1253 dan Muslim no. 939)

    Maraji’:

    Panduan Fiqh Lengkap Jilid 1, Syaikh Abdul ‘Azhim bin Badawi al Khalfi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H-Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 4 January 2020 Permalink | Balas  

    Penyelenggaraan Jenazah dan Pembagian Warisan (1) 

    Penyelenggaraan Jenazah dan Pembagian Warisan (1)

    Demi kebersihan dan kepantasan maka umumnya jenazah dimandikan dan diberi wewangian. Setelah itu terhadapnya dikenakan pakaian yang baik sehingga tidak menjatuhkan kehormatannya meskipun yang bersangkutan telah wafat.

    Sebagaimana petunjuk Allah, selain berfungsi sebagai penutup aurat pakaian juga diturunkan-Nya kepada manusia untuk membawa keindahan.

    “Wahai Bani Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi bagian-bagian aib kamu, dan (pakaian indah sebagai) perhiasan…” [Q.S. 7:26]

    Bagaimana pakaian yang baik untuk jenazah tidak berbeda dengan pakaian yang baik untuk orang hidup. Mungkin ia berupa setelan kemeja, atau batik, atau jas, atau baju kurung, dan sebagainya.

    Penulis tidak berpikir bahwa pembungkusan jenazah dengan kain kafan sebagaimana tradisi selama ini bisa dikatakan sebagai “baik” apalagi “memuliakan” bagi si wafat.

    Setelah jenazah dipakaikan dengan pakaian yang baik, selanjutnya dari ayat-ayat Allah kita mendapati petunjuk bahwa jenazah dikuburkan, bukan diperlakukan dengan cara lain seperti misalnya dikremasi (dibakar).

    “Kemudian Allah kirimkan seekor burung gagak mencakar-cakar di atas bumi, untuk memperlihatkan kepada dia bagaimana dia akan menyembunyikan mayat saudaranya yang menimbulkan aib. Dia berkata: `Celakalah aku! Tidakkah aku mampu untuk menjadi seperti burung gagak ini, untuk menyembunyikan mayat saudaraku yang menimbulkan aib?’ Dan dia menjadi diantara orang-orang yang menyesal”. [Q.S. 5:31]

    “Kemudian mematikannya, dan menguburkannya”. [Q.S. 80:21]

    Sesaat setelah jenazah dikuburkan, pada sebagian masyarakat ada kebiasaan untuk melakukan “talqin”, yaitu suatu pengajaran kepada jenazah tentang apa yang harus dijawabnya atas pertanyaan malaikat di alam kubur. Padahal ayat Allah dalam hal ini sangat jelas:

    “…kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang di dalam kubur untuk mendengar”. [Q.S. 35:22]

    Karena talqin adalah pekerjaan yang sia-sia belaka, maka tidak usah kita ikut-ikutan melakukannya. Sebagai gantinya, kita bisa mendoakan kebaikan untuk si wafat. Ayat di bawah ini mengisyaratkan kepada kita bahwa mendoakan maupun menziarahi jenazah (kubur) orang beriman adalah perbuatan yang dibenarkan oleh Allah.

    “Dan janganlah kamu mendoakan seorang yang mati antara mereka, dan jangan juga berdiri di kuburnya. Sesungguhnya mereka tidak beriman kepada Allah dan rasul-Nya, dan mereka mati dalam keadaan fasik”. [Q.S. 9:84]

    Satu pesan lagi dari ayat di atas adalah, sebagai bentuk penghormatan atas si wafat maka ketika melakukan ziarah kubur hendaknya kita berdiri, bukan duduk atau jongkok.

    Pembagian Harta Warisan

    Wasiat Allah memerintahkan kepada kita membuat wasiat untuk ibu, bapak, dan sanak saudara. Saking pentingnya membuat wasiat ini, Allah mengaitkannya dengan ketakwaan.

    “Dikitabkan bagi kamu, apabila seseorang antara kamu didatangi kematian, dan dia meninggalkan kebaikan (harta), supaya membuat wasiat untuk ibu bapaknya, dan sanak saudara dengan baik – sebagai suatu kewajiban atas orang-orang yang bertakwa”. [Q.S. 2:180]

    Apabila ternyata isi wasiat dirasakan tidak adil atau berdosa apabila dilaksanakan, maka para pihak yang terlibat dapat memperbaikinya agar adil.

    “Jika seseorang takut akan penyimpangan dari jalan yang benar, atau dosa dari orang yang berwasiat itu, lalu dia mengadakan perbaikan antara mereka, maka tidaklah ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Pengampun, Pengasih”. [Q.S. 2:182]

    Allah tetapkan pula agar di dalam wasiat itu dicantumkan pemberian uang belanja dan hak untuk tetap mendiami rumah bagi istri selama satu tahun. Apabila rumah yang dimaksud adalah rumah sewaan, maka pembayaran sewa rumahnya selama satu tahun harus diwasiatkan.

    “Dan orang-orang antara kamu yang mati dan meninggalkan isteri- isteri, hendaklah mereka membuat wasiat untuk isteri-isteri mereka nafkah untuk setahun tanpa mengeluarkannya (dari rumah)…”. [Q.S. 2:240]

    Turut dimasukkan sebagai pewaris di dalam wasiat adalah orang-orang yang terikat sumpah dengan si wafat. “Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu, bapak dan sanak saudara Kami jadikan pewaris-pewarisnya. Dan orang- orang yang terikat sumpah dengan kamu, berilah mereka bagiannya…” [Q.S. 4:33] Hemat penulis, yang dimaksud dengan orang-orang yang terikat sumpah ini adalah orang-orang kepada siapa si wafat ketika hidupnya berkomitmen untuk memberi nafkah. Masuk ke dalam kategori ini adalah: anak asuh, anak tiri, pembantu, kerabat yang miskin, anak yatim, dll. Wasiat hendaknya disaksikan oleh dua orang saksi yang adil. Saksi dapat merupakan orang yang dipercayai atau orang lain jika kebetulan maut mendatangi sedang kita dalam perjalanan. “Wahai orang-orang yang beriman, kesaksian antara kamu apabila salah seorang daripada kamu ditimpa maut, apabila dia berwasiat, ialah dua orang yang adil antara kamu, atau dua orang selain kamu jika kamu berpergian di bumi dan bencana maut menimpa kamu…” [Q.S. 5:106]

    Apabila ragu terhadap kejujuran saksi-saksi, kita minta agar mereka melafazkan sumpah dengan menyebut nama Allah setelah shalat dengan bunyi sebagaimana disebutkan oleh ayat berikut.

    “…Kemudian kamu tahan mereka sesudah shalat, dan mereka akan bersumpah dengan nama Allah, jika kamu ragu-ragu: ‘Kami tidak akan menjualnya untuk suatu harga, walaupun ia sanak saudara yang dekat, dan kami tidak juga akan menyembunyikan kesaksian Allah, karena jika demikian, tentu kami termasuk orang-orang yang berdosa'”. [Q.S. 5:106]

    Pada zaman sekarang kita dapat menggunakan jasa notaris untuk penyaksian wasiat ini.

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 3 January 2020 Permalink | Balas  

    Diam Itu Emas 

    Diam Itu Emas

    Aa. Gym.

    Dalam upaya mendewasakan diri kita, salah satu langkah awal yang harus kita pelajari adalah bagaimana menjadi pribadi yang berkemampuan dalam menjaga juga memelihara lisan dengan baik dan benar. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata benar atau diam.”, hadits diriwayatkan oleh Bukhari.

    1. Jenis-jenis Diam

    Sesungguhnya diam itu sangat bermacam-macam penyebab dan dampaknya. Ada yang dengan diam jadi emas, tapi ada pula dengan diam malah menjadi masalah. Semuanya bergantung kepada niat, cara, situasi, juga kondisi pada diri dan lingkungannya. Berikut ini bisa kita lihat jenis-jenis diam:

    • Diam Bodoh

    Yaitu diam karena memang tidak tahu apa yang harus dikatakan. Hal ini bisa karena kekurangan ilmu pengetahuan dan ketidakmengertiannya, atau kelemahan pemahaman dan alasan ketidakmampuan lainnya. Namun diam ini jauh lebih baik dan aman daripada memaksakan diri bicara sok tahu.

    • Diam Malas

    Diam jenis merupakan keburukan, karena diam pada saat orang memerlukan perkataannya, dia enggan berbicara karena merasa sedang tidak mood, tidak berselera atau malas.

    • Diam Sombong

    Ini pun termasuk diam negatif karena dia bersikap diam berdasarkan anggapan bahwa orang yang diajak bicara tidak selevel dengannya.

    • Diam Khianat

    Ini diamnya orang jahat karena dia diam untuk mencelakakan orang lain. Diam pada saat dibutuhkan kesaksian yang menyelamatkan adalah diam yang keji.

    • Diam Marah

    Diam seperti ini ada baiknya dan adapula buruknya, baiknya adalah jauh lebih terpelihara dari perkataan keji yang akan lebih memperkeruh suasana. Namun, buruknya adalah dia berniat bukan untuk mencari solusi tapi untuk memperlihatkan kemurkaannya, sehingga boleh jadi diamnya ini juga menambah masalah.

    • Diam Utama (Diam Aktif)

    Yang dimaksud diam keutamaan adalah bersikap diam hasil dari pemikiran dan perenungan niat yang membuahkan keyakinan bahwa engan bersikap menahan diri (diam) maka akan menjadi maslahat lebih besardibanding dengan berbicara.

    1. Keutamaan Diam Aktif
    • Hemat Masalah

    Dengan memilih diam aktif, kita akan menghemat kata-kata yang berpeluang menimbulkan masalah.

    • Hemat dari Dosa

    Dengan diam aktif maka peluang tergelincir kata menjadi dosapun menipis, terhindar dari kesalahan kata yang menimbulkan kemurkaan Allah.

    • Hati Selalu Terjaga dan Tenang

    Dengan diam aktif berarti hati akan terjaga dari riya, ujub, takabbur atau aneka penyakit hati lainnya yang akan mengeraskan dan mematikan hati kita.

    • Lebih Bijak

    Dengan diam aktif berarti kita menjadi pesdengar dan pemerhati yang baik, diharapkan dalam menghadapi sesuatu persoalan, pemahamannya jauh lebih mendaam sehingga pengambilan keputusan pun jauh lebih bijak dan arif.

    • Hikmah Akan Muncul

    Yang tak kalah pentingnya, orang yang mampu menahan diri dengan diam aktif adalah bercahayanya qolbu, memberikan ide dan gagasan yang cemerlang, hikmah tuntunan dari Allah swtakan menyelimuti hati, lisan, serta sikap dan perilakunya.

    • Lebih Berwibawa

    Tanpa disadari, sikap dan penampilan orang yang diam aktif akan menimbulkan wibawa tersendiri. Orang akan menjadi lebih segan untuk mempermainkan atau meremehkan.

    Selain itu, diam aktif merupakan upaya menahan diri dari beberapa hal, seperti:

    1. Diam dari perkataan dusta
    2. Diamdari perkataan sia-sia
    3. Diam dari komentar spontan dan celetukan
    4. Diam dari kata yang berlebihan
    5. Diam dari keluh kesah
    6. Diam dari niat riya dan ujub
    7. Diam dari kata yang menyakiti
    8. Diam dari sok tahu dan sok pintar

    Mudah-mudahan kita menjadi terbiasa berkata benar atau diam. Semoga pula Allah ridha hingga akhir hayat nanti, saat ajal menjemput, lisan ini diperkenankan untuk mengantar kepergian ruh kita dengan sebaik-baik perkataan yaitu kalimat tauhiid “laa ilaha illallah” puncak perkataan yang menghantarkan ke surga. Aamiin

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 2 January 2020 Permalink | Balas  

    Bunga Rampai Nasihat 

    Bunga Rampai Nasihat

    Aa. Gym.

    Mudah-mudahan Allah yang Maha Menguasai segala-galanya selalu membukakan hati kita agar bisa melihat hikmah dibalik setiap kejadian apapun yang terjadi. Yakinlah tidak ada satu kejadian pun yang sia-sia, tidak ada suatu kejadian pun yang tanpa makna, sangat rugi kalau kita menghadapi hidup ini sampai tidak mendapat pelajaran dari apa yang sedang kita jalani. Hidup ini adalah samudera hikmah tiada terputus. Seharusnya apapun yang kita hadapi, efektif bisa menambah ilmu, wawasan, khususnya lagi bisa menambah kematangan, kedewasaan, kearifan diri kita sehingga kalau kita mati besok lusa atau kapan saja, maka warisan terbesar kita adalah kehormatan pribadi kita, bukan hanya harta semata. Rindukanlah dan selalu berharap agar saat kepulangan kita nanti, saat kematian kita adalah saat yang paling indah.

    Harusnya saat malaikat maut menjemput, kita benar-benar dalam keadaan siap, benar-benar dalam keadaan khusnul khatimah. Harus sering dibayangkan kalau saat meninggal nanti kita sedang bagus niat, sedang bersih hati, keringat sedang bercucuran di jalan Allah SWT. Syukur-syukur kalau nanti kita meninggal, kita sedang bersujud atau sedang berjuang di jalan Allah. Jangan sampai kita mati sia-sia, seperti yang diberitakan koran-koran tentang seorang yang meninggal sedang nonton di bioskop. Terang saja buruk sekali orang yang meninggal di bioskop, apalagi misalnya film yang ditontonnya film (maaf) “Gairah Membara”, film maksiat, na’ udzubillah. Dia akan “membara” betulan di neraka nanti. Ingat maut adalah hal yang sangat penting.

    Tiada kehormatan dan kemuliaan kecuali dari Engkau wahai Allah pemilik alam semesta, yang mengangkat derajat siapa pun yang Engkau kehendaki dan menghinakan siapa pun yang Engkau kehendaki, segala puji hanyalah bagi-Mu dan milik-Mu. Shalawat semoga senantiasa terlimpah bagi kekasih Allah, panutan kita semua Rasulullah SAW.

    Sahabat, percayalah sehebat apapun harta, gelar, pangkat, kedudukan, atau atribut duniawi lainnya tak akan pernah berharga jikalau kita tidak memiliki harga diri. Apalah artinya harta, gelar, dan pangkat, kalau pemiliknya tidak punya harga diri.

    Hidup di dunia hanya satu kali dan sebentar saja. Kita harus bersungguh-sungguh meniti karier kehidupan kita ini menjadi orang yang memiliki harga diri dan terhormat dalam pandangan Allah SWT juga terhormat dalam pandangan orang-orang beriman. Dan kematian kita pun harus kita rindukan menjadi sebaik-baik kematian yang penuh kehormatan dan kemuliaan dengan warisan terpenting kehidupan kita adalah nama baik dan kehormatan kita yang tanpa cela, kehinaan.

    Langkah awal yang harus kita bangun dalam karier kehidupan ini adalah tekad untuk menjadi seorang muslim yang sangat jujur dan terpercaya sampai mati. Seperti halnya Rasulullah SAW memulai karier kehidupannya dengan gelar kehormatan Al Amin (seorang yang sangat terpercaya).

    Kita harus berjuang mati-matian untuk memelihara harga diri kehormatan kita menjadi seorang muslim yang terpercaya, sehingga tidak ada keraguan sama sekali bagi siapapun yang bergaul dengan kita, baik muslim maupun non muslim, baik kawan atau lawan, tidak boleh ada keraguan terhadap ucapan, janji, maupun amanah yang kita pikul.

    Oleh karena itu, pertama, jaga lisan kita. Jangan pernah berbohong dalam hal apapun. Sekecil dan sesederhana apapun, bahkan betapa pun terhadap anak kecil atau dalam senda gurau sekalipun. Harus benar-benar bersih dan meyakinkan, tidak ada dusta, pastikan tidak pernah ada dusta! Lebih baik kita disisihkan karena kita tampil apa adanya, daripada kita diterima karena berdusta. Sungguh tidak akan pernah bahagia dan terhormat menjadi seorang pendusta. (Tentu saja bukan berarti harus membeberkan aib-aib diri yang telah ditutupi Allah, ada kekuasaan tersendiri, ada kekhususan tersendiri. Jujur bukan berarti bebas membeberkan aib sendiri).

    Kedua, jaga lisan, jangan pernah menambah-nambah, mereka-reka, mendramatisir berita, informasi, atau sebaliknya meniadakan apa yang harus disampaikan. Sampaikanlah berita atau informasi yang mesti disampaikan seakurat mungkin sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Kita terkadang suka ingin menambah-nambah sesuatu atau bahkan merekayasa kata-kata atau cerita. Jangan lakukan! Sama sekali tidak akan menolong kita, nanti ketika orang tahu informasi yang sebenarnya, akan runtuhlah kepercayaan mereka kepada kita.

    Ketiga, jangan sok tahu atau sok pintar dengan menjawab setiap dan segala pertanyaan. Nah, orang yang selalu menjawab setiap pertanyaan bila tanpa ilmu akan menunjukkan kebodohan saja. Yakinlah kalau kita sok tahu tanpa ilmu itulah tanda kebodohan kita. Yang lebih baik adalah kita harus berani mengatakan “tidak tahu” kalau memang kita tidak mengetahuinya, atau jauh lebih baik disebut bodoh karena jujur apa adanya, daripada kita berdusta dalam pandangan Allah.

    Keempat, jangan pernah membocorkan rahasia atau amanat, terlebih lagi membeberkan aib orang lain. Jangan sekali-kali melakukannya. Ingat setiap kali kita ngobrol dengan orang lain, maka obrolan itu jadi amanah buat kita. Bagi orang yang suka membocorkan rahasia akan jatuhlah harga dirinya. Padahal justru kita harus jadi kuburan bagi rahasia dan aib orang lain. Yang namanya kuburan tidak usah digali-gali lagi kecuali pembeberan yang sah menurut syariat dan membawa kebaikan bagi semua pihak. Ingat, bila ada seseorang datang dengan menceritakan aib dan kejelekan orang lain kepada kita, maka jangan pernah percayai dia, karena ketika berpisah dengan kita, maka dia pun akan menceritakan aib dan kejelekan kita kepada yang lain lagi.

    Kelima, jangan pernah mengingkari janji dan jangan mudah mengobral janji. Pastikan setiap janji tercatat dengan baik dan selalu ada saksi untuk mengingatkan dan berjuanglah sekuat tenaga dan semaksimal mungkin untuk menepati janji walaupun dengan pengorbanan lahir batin yang sangat besar dan berat. Ingat, semua pengorbanan menjadi sangat kecil dibandingkan dengan kehilangan harga diri sebagai seorang pengingkar janji, seorang munafik, na’udzubillah. Tidak artinya. Semua pengorbanan itu kecil dibanding jika kita bernama si pengingkar janji. Rasulullah SAW pernah sampai tiga hari menunggu orang yang menjanjikannya untuk bertemu, beliau menunggu karena kehormatan bagi beliau adalah menepati janji.

    ***

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 1 January 2020 Permalink | Balas  

    Etika Berwirausaha 

    Etika Berwirausaha

    Aa. Gym

    Hikam: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya.” (QS. Al-Maidah: 2)

    Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT suka kepada hamba yang berkarya dan terampil. Barang siapa bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya, maka dia serupa dengan seorang mujahid fisabilillah.” (HR.Imam Ahmad)

    Rasul Adalah seorang entrepreunership atau wirausahawan. Mulai usia 8 tahun 2 bulan sudah mulai menggembalakan kambing. Pada usia 12 tahun berdagang sebagai kafilah ke negeri Syiria dan pada usia 25 tahun Rasul menikahi Khadijah dengan mahar 20 ekor unta muda. Ini menunjukan bahwa Rasul merupakan seorang wirausahawan yang sukses.

    Jiwa wirausaha harus benar-benar ditanamkan dari kecil, karena kalau tidak maka potensi apapun tidak bisa dibuat menjadi manfaat. Prinsip dari wirausahawan adalah memanfaatkan segala macam benda menjadi bermanfaat. Tidak ada kegagalan dalam berusaha, yang gagal yaitu yang tidak pernah mencoba berusaha.

    Gagal merupakan informasi menuju sukses, keuntungan bukan hanya untung untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain. Kredibilitas diri kita adalah modal utama dalam berwira usaha, dengan menahan diri untuk tidak menikmati kebahagiaan orang lain sebagai keberuntungan kita. Jual beli bukan hanya transaksi uang dan barang, tapi jual beli harus dijadikan amal soleh yaitu dengan niat dan cara yang benar.

    Uang yang tidak barokah tidak akan dapat memberi ketenangan, walau sebanyak apapun akan tetap kekurangan dan akan membuat kita hina. Berjualan dengan akhlak yang mulia, pembeli tidak hanya mendapat fasilitas dan tidak hanya mendapatkan barang tapi juga melihat kemuliaan akhlak seorang penjual.

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 31 December 2019 Permalink | Balas  

    Bersandar Hanya Kepada Allah 

    Bersandar Hanya Kepada Allah

    Aa. Gym

    Tiada keberuntungan yang sangat besar dalam hidup ini, kecuali orang yang tidak memiliki sandaran, selain bersandar kepada Allah. Dengan meyakini bahwa memang Allah-lah yang menguasai segala-galanya; mutlak, tidak ada satu celah pun yang luput dari kekuasaan Allah, tidak ada satu noktah sekecil apapun yang luput dari genggaman Allah. Total, sempurna, segala-galanya Allah yang membuat, Allah yang mengurus, Allah yang menguasai.

    Adapun kita, manusia, diberi kebebasan untuk memilih, “Faalhamaha fujuraha wataqwaaha”, “Dan sudah diilhamkan di hati manusia untuk memilih mana kebaikan dan mana keburukan”. Potensi baik dan potensi buruk telah diberikan, kita tinggal memilih mana yang akan kita kembangkan dalam hidup ini. Oleh karena itu, jangan salahkan siapapun andaikata kita termasuk berkelakuan buruk dan terpuruk, kecuali dirinyalah yang memilih menjadi buruk, naudzubillah.

    Sedangkan keberuntungan bagi orang-orang yang bersandarnya kepada Allah mengakibatkan dunia ini, atau siapapun, terlampau kecil untuk menjadi sandaran baginya. Sebab, seseorang yang bersandar pada sebuah tiang akan sangat takut tiangnya diambil, karena dia akan terguling, akan terjatuh. Bersandar kepada sebuah kursi, takut kursinya diambil. Begitulah orang-orang yang panik dalam kehidupan ini karena dia bersandar kepada kedudukannya, bersandar kepada hartanya, bersandar kepada penghasilannya, bersandar kepada kekuatan fisiknya, bersandar kepada depositonya, atau sandaran-sandaran yang lainnya.

    Padahal, semua yang kita sandari sangat mudah bagi Allah (mengatakan ‘

    sangat mudah’ juga ini terlalu kurang etis), atau akan ‘sangat mudah sekali’ bagi Allah mengambil apa saja yang kita sandari. Namun, andaikata kita hanya bersandar kepada Allah yang menguasai setiap kejadian, “laa khaufun alaihim walahum yahjanun’, kita tidak pernah akan panik, Insya Allah.

    Jabatan diambil, tak masalah, karena jaminan dari Allah tidak tergantung jabatan, kedudukan di kantor, di kampus, tapi kedudukan itu malah memperbudak diri kita, bahkan tidak jarang menjerumuskan dan menghinakan kita. kita lihat banyak orang terpuruk hina karena jabatannya. Maka, kalau kita bergantung pada kedudukan atau jabatan, kita akan takut kehilangannya. Akibatnya, kita akan berusaha mati-matian untuk mengamankannya dan terkadang sikap kita jadi jauh dari kearifan.

    Tapi bagi orang yang bersandar kepada Allah dengan ikhlas, ‘ya silahkan … Buat apa bagi saya jabatan, kalau jabatan itu tidak mendekatkan kepada Allah, tidak membuat saya terhormat dalam pandangan Allah?’ tidak apa-apa jabatan kita kecil dalam pandangan manusia, tapi besar dalam pandangan Allah karena kita dapat mempertanggungjawabkannya. Tidak apa-apa kita tidak mendapatkan pujian, penghormatan dari makhluk, tapi mendapat penghormatan yang besar dari Allah SWT. Percayalah walaupun kita punya gaji 10 juta, tidak sulit bagi Allah sehingga kita punya kebutuhan 12 juta. Kita punya gaji 15 juta, tapi oleh Allah diberi penyakit seharga 16 juta, sudah tekor itu.

    Oleh karena itu, jangan bersandar kepada gaji atau pula bersandar kepada tabungan. Punya tabungan uang, mudah bagi Allah untuk mengambilnya. Cukup saja dibuat urusan sehingga kita harus mengganti dan lebih besar dari tabungan kita. Demi Allah, tidak ada yang harus kita gantungi selain hanya Allah saja. Punya bapak seorang pejabat, punya kekuasaan, mudah bagi Allah untuk memberikan penyakit yang membuat bapak kita tidak bisa melakukan apapun, sehingga jabatannya harus segera digantikan.

    Punya suami gagah perkasa. Begitu kokohnya, lalu kita merasa aman dengan bersandar kepadanya, apa sulitnya bagi Allah membuat sang suami muntaber, akan sangat sulit berkelahi atau beladiri dalam keadaan muntaber. Atau Allah mengirimkan nyamuk Aides Aigepty betina, lalu menggigitnya sehingga terjangkit demam berdarah, maka lemahlah dirinya. Jangankan untuk membela orang lain, membela dirinya sendiri juga sudah sulit, walaupun ia seorang jago beladiri karate.

    Otak cerdas, tidak layak membuat kita bergantung pada otak kita. Cukup dengan kepleset menginjak kulit pisang kemudian terjatuh dengan kepala bagian belakang membentur tembok, bisa geger otak, koma, bahkan mati.

    Semakin kita bergantung pada sesuatu, semakin diperbudak. Oleh karena itu, para istri jangan terlalu bergantung pada suami. Karena suami bukanlah pemberi rizki, suami hanya salah satu jalan rizki dari Allah, suami setiap saat bisa tidak berdaya. Suami pergi ke kanotr, maka hendaknya istri menitipkannya kepada Allah.

    “Wahai Allah, Engkaulah penguasa suami saya. Titip matanya agar terkendali, titip hartanya andai ada jatah rizki yang halal berkah bagi kami, tuntun supaya ia bisa ikhtiar di jalan-Mu, hingga berjumpa dengan keadaan jatah rizkinya yang barokah, tapi kalau tidak ada jatah rizkinya, tolong diadakan ya Allah, karena Engkaulah yang Maha Pembuka dan Penutup rizki, jadikan pekerjaannya menjadi amal shaleh.”

    Insya Allah suami pergei bekerja di back up oleh do’a sang istri, subhanallah. Sebuah keluarga yang sungguh-sungguh menyandarkan dirinya hanya kepada Allah. “Wamayatawakkalalallah fahuwa hasbu”, (QS. At Thalaq [65] : 3). Yang hatinya bulat tanpa ada celah, tanpa ada retak, tanpa ada lubang sedikit pun ; Bulat, total, penuh, hatinya hanya kepada Allah, maka bakal dicukupi segala kebutuhannya. Allah Maha Pencemburu pada hambanya yang bergantung kepada makhluk, apalagi bergantung pada benda-benda mati. Mana mungkin? Sedangkan setiap makhluk ada dalam kekuasaan Allah. “Innallaaha ala kulli sai in kadir”.

    Oleh karena itu, harus bagi kita untuk terus menerus meminimalkan penggantungan. Karena makin banyak bergantung, siap-siap saja makin banyak kecewa. Sebab yang kita gantungi, “Lahaula wala quwata illa billaah” (tiada daya dan kekuatan yang dimilikinya kecuali atas kehendak Allah). Maka, sudah seharusnya hanya kepada Allah sajalah kita menggantungkan, kita menyandarkan segala sesuatu, dan sekali-kali tidak kepada yang lain, Insya Allah.

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 30 December 2019 Permalink | Balas  

    Belajar Dari Wajah 

    Belajar Dari Wajah

    Aa. Gym

    Menarik sekali jikalau kita terus menerus belajar tentang fenomena apapun yang terjadi dalam hiruk-pikuk kehidupan ini. Tidak ada salahnya kalau kita buat semacam target. Misalnya : hari ini kita belajar tentang wajah. Wajah? Ya, wajah. Karena masalah wajah bukan hanya masalah bentuknya, tapi yang utama adalah pancaran yang tersemburat dari si pemilik wajah tersebut.

    Ketika pagi menyingsing, misalnya, tekadkan dalam diri : “Saya ingin tahu wajah yang paling menenteramkan hati itu seperti apa? Wajah yang paling menggelisahkan itu seperti bagaimana?” karena pastilah hari ini kita akan banyak bertemu dengan wajah orang per orang. Ya, karena setiap orang pastilah punya wajah. Wajah irtri, suami, anak, tetangga, teman sekantor, orang di perjalanan, dan lain sebagainya. Nah, ketika kita berjumpa dengan siapapun hari ini, marilah kita belajar ilmu tentang wajah.

    Subhanallaah, pastilah kita akan bertemu dengan beraneka macam bentuk wajah. Dan, tiap wajah ternyata dampaknya berbeda-beda kepada kita. Ada yang menenteramkan, ada yang menyejukkan, ada yang menggelikan, ada yang menggelisahkan, dan ada pula yang menakutkan. Lho, kok menakutkan? Kenapa? Apa yang menakutkan karena bentuk hidungnya? Tentu saja tidak! Sebab ada yang hidungnya mungil tapi menenteramkan. Ada yang sorot matanya tajam menghunjam, tapi menyejukkan. Ada yang kulitnya hitam, tapi penuh wibawa.

    Pernah suatu ketika berjumpa dengan seorang ulama dari Afrika di Masjidil Haram, subhanallaah, walaupun kulitnya tidak putih, tidak kuning, tetapi ketika memandang wajahnya… sejuk sekali! Senyumnya begitu tulus meresap ke relung qolbu yang paling dalam. Sungguh bagai disiram air sejuk menyegarkan di pagi hari. Ada pula seorang ulama yang tubuhnya mungil, dan diberi karunia kelumpuhan sejak kecil. Namanya Syekh Ahmad Yassin, pemimpin spiritual gerakan Intifadah, Palestina. Ia tidak punya daya, duduknya saja di atas kursi roda. Hanya kepalanya saja yang bergerak. Tapi, saat menatap wajahnya, terpancar kesejukan yang luar biasa. Padahal, beliau jauh dari ketampanan wajah sebagaimana yang dianggap rupawan dalam versi manusia. Tapi, ternyata dibalik kelumpuhannya itu beliau memendam ketenteraman batin yang begitu dahsyat, tergambar saat kita memandang sejuknya pancaran rona wajahnya.

    Nah, saudaraku, kalau hari ini kita berhasil menemukan struktur wajah seseorang yang menenteramkan, maka caru tahulah kenapa dia sampai memiliki wajah yang menenteramkan seperti itu. Tentulah, benar-benar kita akan menaruh hormat. Betapa senyumannya yang tulus; pancaran wajahnya, nampak ingin sekali ia membahagiakan siapapun yang menatapnya. Dan sebaliknya, bagaimana kalau kita menatap wajah lain dengan sifat yang berlawanan; (maaf, bukan bermaksud meremehkan) ada pula yang wajahnya bengis, struktur katanya ketus, sorot matanya kejam, senyumannya sinis, dan sikapnya pun tidak ramah. Begitulah, wajah-wajah dari saudara-saudara kita yang lain, yang belum mendapat ilmu; bengis dan ketus. Dan ini pun perlu kita pelajari.

    Ambillah kelebihan dari wajah yang menenteramkan, yang menyejukkan tadi menjadi bagian dari wajah kita, dan buang jauh-jauh raut wajah yang tidak ramah, tidak menenteramkan, dan yang tidak menyejukkan.

    Tidak ada salahnya jika kita evalusi diri di depan cermin. Tanyalah; raut seperti apakah yang ada di wajah kita ini? Memang ada diantara hamba-hamba Allah yang bibirnya di desain agak berat ke bawah. Kadang-kadang menyangkanya dia kurang senyum, sinis, atau kurang ramah. Subhanallaah, bentuk seperti ini pun karunia Allah yang patut disyukuri dan bisa jadi ladang amal bagi siapapun yang memilikinya untuk berusaha senyum ramah lebih maksimal lagi.

    Sedangkan bagi wajah yang untuk seulas senyum itu sudah ada, maka tinggal meningkatkan lagi kualitas senyum tersebut, yaitu untuk lebih ikhlas lagi. Karena senyum di wajah, bukan hanya persoalan menyangkut ujung bibir saja, tapi yang utama adalah, ingin tidak kita membahagiakan orang lain? Ingin tidak kita membuat di sekitar kita tercahayai? Nabi Muhammad SAW, memberikan perhatian yang luar biasa kepada setiap orang yang bertemu dengan beliau sehingga orang itu merasa puas. Kenapa puas? Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW – bila ada orang yang menyapanya – menganggap orang tersebut adalah orang yang paling utama di hadapan beliau. Sesuai kadar kemampuannya.

    Walhasil, ketika Nabi SAW berbincang dengan siapapun, maka orang yang diajak berbincang ini senantiasa menjadi curahan perhatian. Tak heran bila cara memandang, cara bersikap, ternyata menjadi atribut kemuliaan yang beliau contohkan. Dan itu ternyata berpengaruh besar terhadap sikap dan perasaan orang yang diajak bicara.

    Adapun kemuramdurjaan, ketidakenakkan, kegelisahan itu muncul ternyata diantara akibta kita belum menganggap orang yang ada dihadapan kita orang yang paling utama. Makanya, terkadang kita melihat seseorang itu hanya separuh mata, berbicara hanya separuh perhatian. Misalnya, ketika ada seseorang yang datang menghampiri, kita sapa orang itu sambil baca koran. Padahal, kalau kita sudah tidak mengutamakan orang lain, maka curahan kata-kata, cara memandang, cara bersikap, itu tidak akan punya daya sentuh. Tidak punya daya pancar yang kuat.

    Orang karena itu, marilah kita berlatih diri meneliti wajah, tentu saja bukan maksud untuk meremehkan. Tapi, mengambil tauladan wajah yang baik, menghindari yang tidak baiknya, dan cari kuncinya kenapa sampai seperti itu? Lalu praktekkan dalam perilaku kita sehari-hari. Selain itu belajarlah untuk mengutamakan orang lain!

    Mudah-mudahan kita dapat mengutamakan orang lain di hadapan kita, walaupun hanya beberapa menit, walaupun hanya beberapa detik, subhanallaah.

    ***

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 29 December 2019 Permalink | Balas  

    Dasyatnya Sedekah 

    Dasyatnya Sedekah

    AA.Gym

    Dimanakah letak kedahsyatan hamba-hamba Allah yang bersedekah? Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut :

    Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? “Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?”

    Allah menjawab, “Ada, yaitu besi” (Kita mafhum bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi).

    Para malaikat pun kembali bertanya, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?”

    Allah yang Mahasuci menjawab, “Ada, yaitu api” (Besi, bahkan baja bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api).

    Bertanya kembali para malaikat, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?”

    Allah yang Mahaagung menjawab, “Ada, yaitu air” (Api membara sedahsyat apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air).

    “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?” Kembali bertanya para malaikta.

    Allah yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab, “Ada, yaitu angin” (Air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat).

    Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, “Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?”

    Allah yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya menjawab, “Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya.”

    Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.

    Inilah gambaran yang Allah berikan kepada kita bagaimana seorang hamba yang ternyata mempunyai kekuatan dahsyat adalah hamba yang bersedekah, tetapi tetap dalam kondisi ikhlas. Karena naluri dasar kita sebenarnya selalu rindu akan pujian, penghormatan, penghargaan, ucapan terima kasih, dan sebagainya. Kita pun selalu tergelitik untuk memamerkan segala apa yang ada pada diri kita ataupun segala apa yang bisa kita lakukan. Apalagi kalau yang ada pada diri kita atau yang tengah kita lakukan itu berupa kebaikan.

    Karenanya, tidak usah heran, seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas adalah orang-orang yang mempunyai kekuatan dahsyat. Sungguh ia tidak akan kalah oleh aneka macam selera rendah, yaitu rindu pujian dan penghargaan.

    Apalagi kedahsyatan seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas?

    Pada suatu hari datang kepada seorang ulama dua orang akhwat yang mengaku baru kembali dari kampung halamannya di kawasan Jawa Tengah. Keduanya kemudian bercerita mengenai sebuah kejadian luar biasa yang dialaminya ketika pulang kampung dengan naik bis antar kota beberapa hari sebelumnya. Di tengah perjalanan bis yang ditumpanginya terkena musibah, bertabrakan dengan dahsyatnya. Seluruh penumpang mengalami luka berat. Bahkan para penumpang yang duduk di kurs-kursi di dekatnya meninggal seketika dengan bersimbah darah. Dari seluruh penumpang tersebut hanya dua orang yang selamat, bahkan tidak terluka sedikit pun. Mereka itu, ya kedua akhwat itulah. Keduanya mengisahkan kejadian tersebut dengan menangis tersedu-sedu penuh syukur.

    Mengapa mereka ditakdirkan Allah selamat tidak kurang suatu apa? Menurut pengakuan keduanya, ada dua amalan yang dikerjakan keduanya ketika itu, yakni ketika hendak berangkat mereka sempat bersedekah terlebih dahulu dan selama dalam perjalanan selalu melafazkan zikir.

    Sahabat, tidaklah kita ragukan lagi, bahwa inilah sebagian dari fadhilah (keutamaan) bersedekah. Allah pasti menurunkan balasannya disaat-saat sangat dibutuhkan dengan jalan yang tidak pernah disangka-sangka.

    Allah Azza wa Jalla adalah Zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada semua hamba-Nya. Bahkan kepada kita yang pada hampir setiap desah nafas selalu membangkang terhadap perintah-Nya pada hampir setiap gerak-gerik kita tercermin amalan yang dilarang-Nya, toh Dia tetap saja mengucurkan rahmat-Nya yang tiada terkira.

    Segala amalan yang kita perbuat, amal baik ataupun amal buruk, semuanya akan terpulang kepada kita. Demikian juga jika kita berbicara soal harta yang kini ada dalam genggaman kita dan kerapkali membuat kita lalai dan alpa. Demi Allah, semua ini datangnya dari Allah yang Maha Pemberi Rizki dan Mahakaya. Dititipkan-Nya kepada kita tiada lain supaya kita bisa beramal dan bersedekah dengan sepenuh ke-ikhlas-an semata-mata karena Allah. Kemudian pastilah kita akan mendapatkan balasan pahala dari pada-Nya, baik ketika di dunia ini maupun saat menghadap-Nya kelak.

    Dari pengalaman kongkrit kedua akhwat ataupun kutipan hadits seperti diuraikan di atas, dengan penuh kayakinan kita dapat menangkap bukti yang dijanjikan Allah SWT dan Rasul-Nya, bahwa sekecil apapun harta yang disedekahkan dengan ikhlas, niscaya akan tampak betapa dahsyat balasan dari-Nya.

    Inilah barangkali kenapa Rasulullah menyerukan kepada para sahabatnya yang tengah bersiap pergi menuju medan perang Tabuk, agar mengeluarkan infaq dan sedekah. Apalagi pada saat itu Allah menurunkan ayat tentang sedekah kepada Rasulullah SAW, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir; seratus biji Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui,” demikian firman-Nya (QS. Al-Baqarah [2] : 261).

    Seruan Rasulullah itu disambut seketika oleh Abdurrahman bin Auf dengan menyerahkan empat ribu dirham seraya berkata, “Ya, Rasulullah. Harta milikku hanya delapan ribu dirham. Empat ribu dirham aku tahan untuk diri dan keluargaku, sedangkan empat ribu dirham lagi aku serahkan di jalan Allah.”

    “Allah memberkahi apa yang engkau tahan dan apa yang engkau berikan,” jawab Rasulullah.

    Kemudian datang sahabat lainnya, Usman bin Affan. “Ya, Rasulullah. Saya akan melengkapi peralatan dan pakaian bagi mereka yang belum mempunyainya,” ujarnya.

    Adapun Ali bin Abi Thalib ketika itu hanya memiliki empat dirham. Ia pun segera menyedekahkan satu dirham waktu malam, satu dirham saat siang hari, satu dirham secara terang-terangan, dan satu dirham lagi secara diam-diam.

    Mengapa para sahabat begitu antusias dan spontan menyambut seruan Rasulullah tersebut? Ini tiada lain karena yakin akan balasan yang berlipat ganda sebagaimana telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Medan perang adalah medan pertaruhan antara hidup dan mati. Kendati begitu para sahabat tidak ada yang mendambakan mati syahid di medan perang, karena mereka yakin apapun yang terjadi pasti akan sangat menguntungkan mereka. Sekiranya gugur di tangan musuh, surga Jannatu na’im telah siap menanti para hamba Allah yang selalu siap berjihad fii sabilillaah. Sedangkan andaikata selamat dapat kembali kepada keluarga pun, pastilah dengan membawa kemenangan bagi Islam, agama yang haq!

    Lalu, apa kaitannya dengan memenuhi seruan untuk bersedekah? Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala dan pelipat ganda rizki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. Masya Allah!

    Sahabat, betapa dahsyatnya sedekah yang dikeluarkan di jalan Allah yang disertai dengan hati ikhlas, sampai-sampai Allah sendiri membuat perbandingan, sebagaimana tersurat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, seperti yang dikemukakan di awal tulisan ini.

    ***

    Bundel by UGLY — Jan ’02

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 28 December 2019 Permalink | Balas  

    Budaya Bersahaja 

    Budaya Bersahaja

    Oleh: AA. Gym

    Kecenderungan manusia berperilaku boros terhadap harta memang sudah ada di dalam dirinya. Ditambah lagi perilaku boros adalah salah satu tipu daya setan terkutuk yang membuat harta yang kita miliki tidak efektif mengangkat derajat kita. Harta yang dimiliki justru efektif menjerumuskan, membelenggu, dan menjebak kita dalam kubangan tipu daya harta karena kita salah dalam menyikapinya.

    Hal ini dapat kita perhatikan dalam hidup keseharian kita. Orang yang punya harta, kecenderungan untuk menjadi pecinta harta cenderung lebih besar. Makin bagus, makin mahal, makin senang, maka makin cintalah ia kepada harta yang dimilikinya. Lebih dari itu, maka ingin pulalah ia untuk memamerkannya. Terkadang apa saja ingin dipamer-pamerkan. Ada yang pamer kendaraan, pamer rumah, pamer mebel, pamer pakaian, dan lain-lain. Sifat ini muncul karena salah satunya kita ini ingin tampil lebih wah, lebih bermerek, atau lebih keren dari orang lain. Padahal, makin bermerek barang yang dimiliki justru akan menyiksa diri.

    Suatu pengalaman ketika seseorang memberi sebuah ballpoint. Dari tampangnya ballpoint ini saya pikir sangat bagus, mengkilat, dan ketika dipakai untuk menulis pun enak. Tapi tiba-tiba ballpoint ini menjadi barang yang menyengsarakan ketika ada yang memberi tahu bahwa ballpoint yang mereknya “MP” itu adalah sebuah merek terkenal untuk ukuran sebuah benda bernama ballpoint. Mulanya tidak mengerti sama sekali. Tadinya saya kira harganya paling cuma ribuan rupiah saja. Nah, gara-gara tahu itu ballpoint mahal, sikap pun jadi berubah. Tiba-tiba jadi takut hilang, ketika dibawa takut jatuh, ketika dipinjam takut cepat habis tintanya karena tintanya pun mahal, mau disimpan takut jadi mubazir, mau dikasihkan ke orang lain sayang, ditambah lagi saat dipakai pun malu, mungkin nanti ada yang komentar “Wah, Aa ballpoint-nya ballpoint mahal!”. Begitulah, nasib punya barang bermerek, tersiksa!

    Sebaliknya, kalau kita terbiasa dengan barang yang biasa-biasa, dapat dipastikan hidup pun akan lebih ringan. Karenanya, hati-hatilah saudaraku. Apalagi dalam kondisi ekonomi bangsa kita yang sedang terpuruk seperti saat ini. Kita harus benar-benar mengendalikan penuh keinginan-keinginan kita jikalau ingin membeli suatu barang. Ingat, yang paling penting adalah bertanya pada diri apa yang paling bermamfaat dari barang yang kita beli tersebut. Buat pula skala prioritas, misalnya, haruskah membeli sepatu seharga 1 juta rupiah padahal keperluan kita hanya sebentuk sepatu olahraga. Apalagi dihadapan tersedia aneka pilihan harga, mulai dari yang 700 ribu, 400 ribu, 200 ribu, sampai yang 50 ribu rupiah. Mereknya pun beragam, tinggal dipilih mana kira-kira yang paling sesuai. Nah, kalau kita ada dalam posisi seperti ini, maka carilah sepatu yang paling tidak membuat kita sombong ketika memakainya, yang paling tidak menyikasa diri dalam merawatnya, dan yang paling bisa bermamfaat

    sesuai tujuan utama dari pembelian sepatu tersebut. Hati-hatilah, sebab yang biasa kita beli adalah mereknya, bukan awetnya, karena kalau terlalu awet pun akan bosan pula memakainya. Jangan pula tergesa-gesa, dan ketahuilah bahwa pemboros-pemboros itu adalah saudaranya setan.

    Dalam hal ini Allah SWT berfirman, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu saudaranya setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhan-Nya” (QS. Al Israa [17] : 26-27). Dalam ayat lain Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak pula mereka kikir. Dan adalah pembelanjaan itu ditengah-tengah yang demikian itu”. (QS. Al Furqan [25] : 67)

    Jelaslah kiranya bahwa sikap boros lebih dekat kepada perilaku setan, naudzubillaah. Karenanya, budaya bersahajalah salah satu budaya yang harus kita tanamkan kuat-kuat dalam diri. Memilih hidup dengan budaya bersahaja bukan berarti tidak boleh membeli barang-barang yang bagus, mahal, dan bermerek. Silahkan saja! Tapi ternyata kalau kita berlaku boros, sama sekali tidak akan menjadi amal kebaikan bagi kita. Saya kira hikmah dari krisis ekonomi yang menimpa bangsa kita, salah satunya kita harus benar-benar mengendalikan keinginan kita. Tidak setiap keinginan harus dipenuhi. Karena jikalau kita ingin membeli sesuatu karena ingin dan senang, ketahuilah bahwa keinginan itu cepat berubah. Kalau kita membeli sesuatu karena suka, maka ketika melihat yang lebih bagus, akan hilanglah selera kita pada barang yang awalnya lebih bagus tadi. Belilah sesuatu hanya karena perlu dan mampu saja. Sekali lagi, hanya karena perlu! Perlukah saya beli barang ini? Matikah saya kalau tidak ada

    barang ini? Kalau tidak ada barang ini saya hancur tidak? Itulah yang harus selalu kita tanyakan ketika akan membeli suatu barang. Kalau saja kita masih bisa bertahan dengan barang lain yang lebih bersahaja, maka lebih bijak jika kita tidak melakukan pembelian.

    Misalnya, ketika tersirat ingin membeli motor baru, tanyakan; perlukah kita membeli motor baru? Sudah wajibkah kita membelinya? Nah, ketika alasan pertanyaan tadi sudah logis dan dapat diterima akal sehat, maka kalau pun jadi membeli pilihlah yang skalanya paling irit, paling hemat, dan paling mudah perawatannya. Jangan berpikir dulu tentang keren atau mereknya. Cobalah renungkan; mending keren tapi menderita atau irit tapi lancar? Tahanlah keinginan untuk berlaku boros dengan sekuat tenaga, yakinlah makin kita bisa mengendalikan keinginan kita, Insya Allah kita akan makin terpelihara dari sikap boros. Sebaliknya, jika tidak dapat kita kendalikan, maka pastilah kita akan disiksa oleh barang-barang kita sendiri. Kita akan disiksa oleh kendaraan kita dan disiksa oleh harta kita yang kita miliki. Rugi, sangat rugi orang yang memperturutkan hidupnya karena sesuatu yang dianggap keren atau bermerek. Apalagi, keren menurut kita belum tentu keren menurut orang lain, bahkan

    sebaliknya bisa jadi malah dicurigai. Karena ada pula orang yang ketika memakai sesuatu yang bermerek, justru disangka barang temuan.

    Seperti kisah santri di sebuah pesantren. Saat ada santri yang memakai sepatu yang sangat bagus dengan merek terkenal, justru disangka sepatu jamaah yang ketika berkunjung ke pesantren tersebut tertinggal di mesjid. Lain waktu, ada juga yang memakai arloji sangat bagus dengan merek terkenal buatan dari negeri Swiss sana, tapi orang lain justru malah berprasangka kalau arloji itu barang temuan dari tempat wudhu. Begitulah, bagi orang yang maqam-nya murah meriah, ketika memakai barang mahal justru malah dicurigai.

    Karenanya, biasakanlah untuk senantiasa bersahaja dalam setiap yang kita lakukan. Dan mudah-mudahan dalam kondisi ekonomi sulit seperti ini Allah mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk menjadi orang yang terpelihara dari perbuatan sia-sia dan pemborosan.

    ***

    Bundel by UGLY — Jan ’02

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 27 December 2019 Permalink | Balas  

    Masuk Masjid Sehabis Makan Bawang Merah, Bawang Putih Atau Sesuatu Yang Berbahu Tak Sedap. 

    Masuk Masjid Sehabis Makan Bawang Merah, Bawang Putih Atau Sesuatu Yang Berbahu Tak Sedap.

    Oleh : Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

    “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki Masjid (Al A’raf: 31)

    Jabir Radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

    “Barangsiapa makan bawang putih atau bawang merah hendaknya ia menjauhi kami, atau beliau bersabda: hendaknya ia menjauhui mesjid kami dan diam di rumahnya” (HR Al Bukhari, lihat Fathul Bari: 2/339)

    Dalam riwayat Muslim disebutkan:

    “Barangsiapa makan bawang merah dan bawang putih dan bawang bakung maka janganlah mendekati masjid kami, sesungguhnya malaikat merasa terganggu dengan sesuatu yang anak Adam merasa terganggu dengannya” (HR Muslim:1/395)

    Suatu ketika Umar bin Khathab Radhiallahu’anhu berkhutbah Jum’at, dalam khutbahnya ia berkata:

    “kemudian kalian wahai manusia, memakan dua pohon yang aku tidak memandangnya kecuali dua hal yang buruk (baunya) yakni bawang merah dan bawang putih. Sungguh aku melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam apabila mendapatkan bau keduanya dari seseorang dalam masjid, beliau memerintah orang tersebut keluar ke padang luas. Karena itu barangsiapa memakannya hendaknya mematikan (bau) keduanya dengan memasaknya” (HR Muslim: 1/396)

    Termasuk dalam hal ini adalah mereka yang langsung masuk masjid usai bekerja, lalu ketiak dan kaos kaki mereka menyebarkan bau tak sedap.

    Lebih buruk lagi adalah orang-orang yang membiasakan diri merokok yang hukumnya adalah haram. Kemudian mereka masuk masjid dan menebarkan bau yang mengganggu hamba-hamba Allah, para malaikat dan mereka yang shalat.

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 26 December 2019 Permalink | Balas  

    Mendahului Imam Secara Sengaja Dalam Shalat 

    Mendahului Imam Secara Sengaja Dalam Shalat

    Oleh: Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Di antara tabiat manusia adalah tergesa-gesa dalam tindakannya, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

    “Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (Al Isra’: 11)

    Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

    Pelan-pelan adalah dari Allah, dan tergesa-gesa adalah dari syaitan” [Hadits riwayat Baihaqi dalam As Sunanul kubra: 10/ 104; dalam As Silsilah As Shahihah hadits no: 1795]

    Dalam shalat jamaah, sering orang menyaksikan di kanan kirinya banyak orang yang mendahului imam dalam ruku’ dan sujud takbir perpindahan bahkan hingga mendahului salam imam. Mungkin dengan tak disadari, hal itu juga tarjadi pada dirinya sendiri.

    Perbuatan yang barangkali dianggap persoalan remeh oleh sebagian besar umat Islam itu oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam diperingatkan dan diancam secara keras, dalam sabdanya:

    “Tidakkah takut orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, bahwa Allah akan mengubah kepalanya menjadi kapala keledai” (HR Muslim: 1/320-321)

    Jika saja orang yang hendak melakukan shalat dituntut untuk mendatanginya dengan tenang, apalagi dengan shalat itu sendiri.

    Tetapi terkadang orang memahami larangan mendahului imam itu dengan harus terlambat dari gerakan imam. Hendaknya dipahami, para fuqaha telah menyebutkan kaidah yang baik dalam masalah ini, yaitu hendaknya makmum segera bergerak ketika imam telah selesai mengucapkan takbir. Ketika imam selesai melafadzkan huruf (ra’)dari kalimat Allahu Akbar, saat itulah makmum harus segera mengikuti gerak imam, tidak mendahului dari batasan tersebut atau mengakhirkannya. Jika demikian maka batasan itu menjadi jelas.

    Dahulu para sahabat Nabi Radhiallahu Anhum sangat berhati–hati sekali untuk tidak mendahului Nabi Shallallahu’alaihi wasallam. Salah seorang sahabat bernama Al Barra’ Bin Azib Radhiallahu’anhu berkata:

    “Sungguh mereka (para shahabat) shalat di belakang Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. Maka, jika beliau mengangkat kepalanya dari ruku’, saya tak melihat seorangpun yang membungkukkan punggungnya sehingga Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam meletakkan keningnya di atas bumi, lalu orang yang ada di belakangnya bersimpuh sujud (bersamanya)” (HR Muslim, hadits No: 474)

    Ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mulai udzur, dan geraknya tampak pelan, beliau mengingatkan orang-orang yang shalat di belakangnya:

    Wahai sekalian manusia, sungguh aku telah gemuk [lanjut usia], maka janganlah kalian mendahuluiku dalam ruku’ dan sujud “ (HR Baihaqi 2/93 dan hadits tersebut dihasankan di Irwa’ul ghalil: 2/290)

    Dalam shalatnya, Imam hendaknya melakukan sunahnya takbir. Yakni sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah Radhiallahu’anhu:

    “Bila Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam berdiri untuk shalat, beliau bertakbir ketika berdiri, kemudian bertakbir ketika ruku’ kemudian bertakbir ketika turun (hendak sujud) kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya, kemudian bertakbir ketika sujud, kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya, demikian beliau lakukan dalam semua shalatnya sampai selesai dan bertakbir ketika bangkit dari dua (rakaat) setelah duduk (tasyahhud pertama)”

    Jika imam menjadikan takbirnya bersamaan dan beriringan dengan gerakannya, sedang makmum memperhatikan ketentuan dan cara mengikuti imam sebagaimana disebutkan di muka maka jamaah shalat tersebut menjadi sempurna.

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 12 December 2019 Permalink | Balas  

    Banyak Melakukan Gerakan Sia-Sia Dalam Shalat 

    Banyak Melakukan Gerakan Sia-Sia Dalam Shalat

    Oleh : Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Sebagian umat Islam hampir tak terelakkan dari bencana ini, yakni melakukan gerakan yang tak ada gunanya dalam shalat. Mereka tidak mematuhi perintah Allah dalam firmanNya :

    “Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’ (Al baqarah : 238)

    juga tidak memahami firman Allah Ta’ala:

    “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya” (Al Mu’minuun : 1-2)

    Suatu saat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam ditanya tentang hukum meratakan tanah ketika sujud. Beliau Shallallahu’alaihi wasallam menjawab :

    “Jangan engkau mengusap sedang engkau dalam keadaan shalat, jika (terpaksa) harus melakukannya maka (cukup) sekali meratakan kerikil [Hadits riwayat Abu Dawud 1/ 581; dalam shahihil jami’ hadist no : 7452 (Imam Muslim meriwayatkan hadits senada dari Muaiqib, ket : Syaikh Bin Baz)]

    Para ulama menyebutkan, banyak gerakan secara berturut-turut tanpa dibutuhkan dapat membatalkan shalat. Apa lagi jika yang dilakukan tidak ada gunanya dalam shalat. Berdiri di hadapan Allah Subhanahu wata’ala sambil melihat jam tangan, membetulkan pakaian, memasukkan jari ke dalam hidung, melempar pandangan ke kiri, kanan, atau ke atas langit. Ia tidak takut kalau-kalau Allah mencabut penglihatannya, atau syaitan melalaikannya dari ibadah shalat.

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 11 December 2019 Permalink | Balas  

    Hanya Allah Ta’ala yang Mengetahui Hal yang Ghaib 

    Hanya Allah Ta’ala yang Mengetahui Hal yang Ghaib

    Allah Ta’ala berfirman,

    “Katakanlah, ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah’” (QS. An Naml : 65)

    “(Dia adalah Allah) Yang Mengetahui yang ghaib, maka dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya” (QS Al Jin : 26-27)

    Dari 2 ayat di atas maka dapat dijelaskan bahwa hanya Allah Ta’ala sajalah yang mengetahui hal-hal yang ghaib, dan Dia memberitahukan hal-hal yang ghaib itu kepada Rasul-Nya yang Ia ridhai. Bahkan bangsa jin pun tidak mengetahui hal-hal yang ghaib tersebut sebagaimana firman-Nya,

    “Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan” (QS Saba’ : 14)

    Jadi jika ada manusia selain Rasulullah yang telah diridhai-Nya yang mengaku hal-hal ghaib maka dapat disimpulkan :

    Pertama, bahwa manusia itu berdusta karena hanya Allah Ta’ala saja yang mengetahui hal yang ghaib.

    Yang Kedua, dia telah menyekutukan Allah Ta’ala, karena ia menanggap dirinya sama dengan Allah Ta’ala, na’udzubillahi min dzalik, bahwa dia mengetahui yang ghaib padahal hanya Allah Ta’ala saja yang mengetahui hal yang ghaib.

    Maka dari itu Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam dengan tegas melarang umatnya untuk mendatangi kaahiin (dukun, peramal) sebagaimana sabdanya,

    “Man ataa ‘arraafan fasa-alaHu ‘an syai-in lam tuqbal laHu shalaatun arba’iina laylatan” yang artinya “Barang siapa mendatangi dukun/peramal, lalu ia bertanya kepadanya tentang sesuatu, niscaya tidak diterima shalatnya selama 40 malam” (HR. Muslim no. 2230)

    “Man ataa kaaHinan fashaddaqaHu bimaa yaquulu faqad kafara bimaa unzila ‘alaa muhammadin” yang artinya “Barangsiapa mendatangi dukun/peramal lalu ia membenarkan ucapannya, berarti ia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad” (HR. Ahmad no. 9252 dan Abu Dawud no. 3904, hadits ini jayyid)

    Para shahabat pernah bertanya kepada Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam, “Yaa Rasulullah, sesungguhnya mereka (kaahiin) itu kadang-kadang menceritakan sesuatu yang ternyata benar !?”

    Jawab Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam,

    “Itu adalah kalimat yang haq yang dicuri oleh bangsa Jin, lalu dipatukkan (dibisikkan)nya ke telinga pembantunya (yaitu para kaahiin) seperti patukan ayam betina, kemudian mereka (para jin) mencampurkan kalimat yang haq itu dengan lebih dari seratus (kalimat dusta)” (HR. Al Bukhari 7/28 dan Muslim 7/36, dari Aisyah ra.)

    Maraji’ :

    Al Masaa-il Jilid 6, Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, Darrus Sunnah Press, Jakarta, Cetakan Pertama, April 2006.

    Fatwa-fatwa Terkini Jilid 3, Darul Haq, Jakarta, Cetakan Pertama, September 2004 M. hal. 217.

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 10 December 2019 Permalink | Balas  

    Tidak Thuma’ninah Dalam Shalat 

    Tidak Thuma’ninah dalam Shalat

    Oleh : Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Di antara kejahatan pencurian terbesar adalah pencurian dalam shalat. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :.

    “Sejahat-jahat pencuri adalah orang yang mencuri dalam shalatnya, mereka bertanya : “ bagaimana ia mencuri dalam shalatnya? Beliau menjawab : (Ia) tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya [Hadits riwayat Imam Ahmad, 5 / 310 dan dalam Shahihul jami’ hadits no : 997]

    Thuma’ninah adalah diam beberapa saat setelah tenangnya anggota-anggota badan. Para Ulama memberi batasan minimal dengan lama waktu yang diperlukan ketika membaca tasbih. Lihat fiqhus sunnah, sayyid sabiq : 1/ 124 (pent)

    Meninggalkan Thuma’ninah, tidak meluruskan dan mendiamkan punggung sesaat ketika ruku’ dan sujud, tidak tegak ketika bangkit dari ruku’ serta ketika duduk antara dua sujud, semuanya merupakan kebiasaan yang sering dilakukan oleh sebagian besar kaum muslimin. Bahkan hampir bisa dikatakan, tak ada satu masjid pun kecuali di dalamnya terdapat orang-orang yang tidak thuma’ninah dalam shalatnya.

    Thuma’ninah adalah rukun shalat, tanpa melakukannya shalat menjadi tidak sah. Ini sungguh persoalan yang sangat serius. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

    “Tidak sah shalat seseorang, sehingga ia menegakkan (meluruskan) punggungnya ketika ruku’ dan sujud “ (HR. Abu Dawud : 1/ 533, dalam shahih jami’ hadits No :7224)

    Tak diragukan lagi, ini suatu kemungkaran, pelakunya harus dicegah dan diperingatkan akan ancamannya.

    Abu Abdillah Al Asy’ari berkata : “ (suatu ketika) Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam shalat bersama shahabatnya kemudian Beliau duduk bersama sekelompok dari mereka. Tiba-tiba seorang laki-laki masuk dan berdiri menunaikan shalat. Orang itu ruku’ lalu sujud dengan cara mematuk, maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam barsabda :

    “Apakah kalian menyaksikan orang ini ? barang siapa meninggal dalam keadaan seperti ini (shalatnya) maka dia meninggal dalam keadaan di luar agama Muhammad. Ia mematuk dalam shalatnya sebagaiman burung gagak mematuk darah. Sesungguhnya perumpamaan orang yang shalat dan mematuk dalam sujudnya bagaikan orang lapar yang tidak makan kecuali sebutir atau dua butir kurma, bagaimana ia bisa merasa cukup (kenyang) dengannya. [Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahihnya : 1/ 332, lihat pula shifatus shalatin Nabi, Oleh Al Albani hal : 131]

    Sujud dengan cara mematuk maksudnya : sujud dengan cara tidak menempelkan hidung dengan lantai, dengan kata lain, sujud itu tidak sempurna, sujud yang sempurna adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas bahwasanya ia mendengar Nabi Shallallahu’alaihi wasallam besabda : “jika seseorang hamba sujud maka ia sujud denga tujuh anggota badan (nya), wajah, dua telapak tangan, dua lutut dan dua telapak kakinya”. [HR Jamaah, kecuali Bukhari, lihat fiqhus sunnah, sayyid sabiq : 1/ 124]

    Zaid bin wahb berkata : Hudzaifah pernah melihat seorang laki-laki tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, ia lalu berkata : kamu belum shalat, seandainya engkau mati (dengan membawa shalat seperti ini) niscaya engkau mati di luar fitrah (Islam) yang sesuai dengan fitrah diciptakannya Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam.

    Orang yang tidak thuma’ninah dalam shalat, sedang ia mengetahui hukumnya, maka wajib baginya mengulangi shalatnya seketika dan bertaubat atas shalat-shalat yang dia lakukan tanpa thuma’ninah pada masa-masa lalu. Ia tidak wajib mengulangi shalat-shalatnya di masa lalu, berdasarkan hadits :

    “Kembalilah, dan shalatlah, sesungguhnya engkau belum shalat.”

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 9 December 2019 Permalink | Balas  

    Duduk Bersama Orang-Orang Munafik Atau Fasik Untuk Beramah Tamah. 

    Duduk Bersama Orang-Orang Munafik atau Fasik untuk Beramah Tamah.

    Oleh : Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Banyak orang lemah iman bergaul dengan sebagian orang fasik dan ahli maksiat, bahkan mungkin bergaul pula dengan sebagian orang yang menghina syariat Islam, melecehkan Islam dan para penganutnya.

    Tidak diragukan lagi, perbuatan semacam itu adalah haram dan membuat cacat akidah, Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

    “Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain, dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka jangnlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah teringat (akan larangan itu)” (Al An’am : 68).

    Karenanya, jika keadaan mereka sebagaimana yang disebutkan oleh ayat di muka, betapapun hubungan kekerabatan, keramahan dan manisnya mulut mereka, kita dilarang duduk bersama mereka, kecuali bagi orang yang ingin berdakwah kepada mereka, membantah kebatilan atau mengingkari mereka, maka hal itu dibolehkan. Adapun bila hanya dengan diam, atau malah rela dengan keadaan mereka maka hukumnya haram. Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

    “Jika sekiranya kamu ridha kepada mereka maka sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik” (At Taubah : 96)

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 8 December 2019 Permalink | Balas  

    Bersumpah dengan nama selain Allah. 

    Bersumpah Dengan Nama Selain Allah.

    Allah bersumpah dengan nama apa saja yang Ia kehendaki dari segenap makhlukNya. Sedangkan makhluk, mereka tidak di bolehkan bersumpah dengan nama selain Allah. Namun bila kita saksikan kenyataan sehari-hari, betapa banyak orang yang bersumpah dengan nama selain Allah.

    Sumpah salah satu bentuk pengagungan. Karenanya ia tidak layak diberikan kecuali kepada Allah Tabaroka wata’ala. Dalam sebuah hadits marfu’ dari Ibnu Umar diriwayatkan :

    “Ketahuilah, sesungguhnya Allah melarang kalian bersumpah dengan nama nenek moyangmu. Barang siapa bersumpah hendaknya ia bersumpah dengan nama Allah atau diam [Hadits riwayat Al Bukhari, lihat Fathul Bari : 11/ 530]

    Dan dalam hadits Ibnu Umar yang lain :

    “Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah maka dia telah berbuat syirik” (HR Imam Ahmad:2/ 125, lihat pula shahihil jami’:6204)

    Dalam hadits lain Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

    “barang siapa bersumpah demi amanat maka dia tidak termasuk golonganku” (HR abu Dawud :no: 3253 dan silsilah Ash Shahihah :94)

    Karena itu tidak boleh sumpah demi Ka’bah, demi amanat, demi kemuliaan, dan demi pertolongan. Juga tidak boleh bersumpah dengan berkah atau hidup seseorang. Tidak pula dengan kemuliaan Nabi, para wali, nenek moyang, atau anak tertua. Semua hal tersebut adalah haram.

    Barangsiapa terjerumus melakukan sumpah tersebut maka kaffaratnya (tebusannya) adalah membaca : Laa Ilaaha Illallah sebagaimana tersebut dalam hadits shahih :

    “barangsiapa bersumpah, kemudian dalam sumpahnya ia berkata: demi latta dan ‘uzza maka hendanya ia mengucapkan: Laa Ilaaha Illallaah” (HR Bukhari, fathul Bari :11/546)

    Termasuk dalam bab ini adalah beberapa lafadz syirik dan lafadz yang diharamkan, yang biasa diucapkan oleh sebagian kaum muslimin. Di antaranya adalah : Aku berlindung kepada Allah dan kepadamu, saya bertawakkal kepada Allah dan kepadamu, ini adalah dari Allah dan darimu, tak ada yang lain bagiku selain Allah dan kamu, di langit cukup bagiku Allah dan di bumi cukup bagiku kamu, kalau bukan karena Allah dan fulan, saya terlepas diri dari Islam, wahai waktu yang sial, alam berkehendak lain, dan lain sebagainya.

    [Yang benar hendaknya diucapkan dengan kata kemudian. Misalnya, saya berhasil karena Allah kemudian karena kamu. Dan dalam lafadz-lafadz yang lain. Syaikh Bin Baz]

    [Demikian pula dengan setiap kalimat yang mengandumg pencelaan terhadap waktu seperti, ini zaman edan, ini saat yang penuh kesialan, zaman yang memperdaya, dll. Sebab pencelaan kepada masa akan kembali kepada Allah, karena Dialah yang menciptakan masa tersebut. Syaikh Bin Baz]

    Termasuk dalam bab ini pula adalah menamakan seseorang dengan nama-nama yang dihambakan kepada selain Allah seperti Abdul Masih, Abdun Nabi, Abdur Rasul, Abdul Husain.

    Di Antara istilah dan semboyan modern yang bertentangan dengan tauhid adalah : Islam sosialis, demokrasi Islam, kehendak rakyat adalah kehendak Tuhan, agama untuk Allah dan tanah air untuk semua, atas nama arabisme, atau nama revolusi dsb.

    Termasuk hal yang diharamkan adalah memberikan gelar raja diraja, hakim para hakim atau gelar sejenisnya kepada seseorang. Memanggil dengan nama sayyid (tuan) atau yang semakna kepada orang munafik atau kafir, dengan bahasa arab atau bahasa lainnya.

    Termasuk di dalamnya menggunakan kata “andaikata” yang menunjukkan penyesalan dan kebencian sehingga membuka pintu bagi syaitan.

    Termasuk juga yang dilarang adalah ucapan “Ya Allah ampunilah aku jika Engkau menghendaki” [Untuk pembahasan yang lebih luas, lihat mu’jamul manahi Al Lafdziyyah, syaikh Bakr Abu Zaid]

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 7 December 2019 Permalink | Balas  

    Siapakah Ahlus Sunnah wal Jama’ah? 

    Siapakah Ahlus Sunnah wal Jama’ah?

    Oleh : Abu Tauam

    Istilah ahlus sunnah wal jama’ah ada dalam Kitab Tafsir Al Qur’an Al Azhim yang disusun oleh Al Hafizh Ibnu Katsir yaitu ketika sahabat Abdullah bin Abbas ra. mengomentari ayat,

    “Pada Hari Perhitungan ada orang-orang yang wajahnya putih berseri-seri dan yang berwajah hitam suram” (QS Ali Imran 106).

    Lalu Abdullah bin Abbas ra. berkata, “Orang-orang yang wajahnya putih berseri-seri adalah ahlus sunnah wal jama’ah dan orang-orang yang berwajah hitam suram adalah ahlul bid’ah wal firqah”. Jadi istilah ahlus sunnah wal jama’ah sudah ada semenjak zaman sahabat ridwanullahu ‘alaihim.

    Jika kita cermati perkataan Ibnu Abbas ra. tersebut maka lawan dari ahlus sunnah adalah ahlul bid’ah dan lawan dari al jama’ah adalah al firqah.

    Kita bahas yang pertama dulu. Ahlus Sunnah adalah orang yang mengikuti sunnah Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam dan ahlul bid’ah adalah orang yang secara sengaja mengerjakan bid’ah, dan apakah bid’ah itu? Mari kita lihat definisi bid’ah menurut Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam,

    “Dan seburuk-buruknya urusan adalah yang muhdats (yang baru) dan setiap yang muhdats adalah bid’ah” (HR. Ahmad 3/371, Muslim 3/11, An Nasa’i no. 1578, dan Ibnu Majah no.45, lafazh ini milik Ahmad, dari Jabir ra.)

    Jadi orang-orang yang secara sengaja mengamalkan sesuatu yang baru dalam Dinul Islam yang tidak disandarkan kepada Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam maka orang tersebut mengamalkan bid’ah.

    Shalat shubuh adalah sunnah bukan bid’ah dan hukumnya wajib, shalat tahiyyatul mesjid adalah sunnah bukan bid’ah dan hukumnya sunnah mu’akkad, berbakti kepada kedua orang tua adalah sunnah bukan bid’ah dan hukumnya wajib Tapi shalat menggunakan dua bahasa bukanlah sunnah maka ia bid’ah dan setiap yang bid’ah hukumnya haram untuk dikerjakan.

    Maka di dalam Islam antara sunnah dan bid’ah tidak akan pernah bersatu selamanya.

    Lalu apakah definisi al jama’ah, dan mengapa sahabat Ibnu Abbas ra. menyebut al firqah sebagai lawan dari al jama’ah?

    Saya mengangkat 2 definisi al jama’ah yang rajih berdasarkan pemahaman salafush shalih, kita lihat definisi yang pertama dahulu, bahwa Al Jama’ah adalah kelompok asal, yaitu jama’ahnya Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam beserta para sahabat yang semoga Allah Ta’ala meridhai mereka semua.

    Namun ketika sepeninggal Nabi ShallallaHu alaiHi wa sallam, maka ada sebagian kaum muslimin memisahkan diri dari al jama’ah dan melepas ikatan kesetiaannya terhadap Imam kaum muslimin. Kelompok yang memisahkan diri itulah yang disebut al firqah.

    Al Firqah yang pertama kali memisahkan diri dari jama’ah muslimin dan melepas ketaatan terhadap Imam kaum muslimin adalah Khawarij yang kemudian disusul firqah-firqah yang lain seperti Syi’ah Rafidhah, Qadariyyah, Jahmiyah dan lain sebagainya yang jumlahnya cukup banyak.

    Sepeninggal Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam tongkat estafet Al Jama’ah berikutnya dipegang oleh Khulafa’ur Rasyidin, lalu oleh raja-raja Bani Umayyah, kemudian oleh raja-raja Bani Abbasiyyah dan terakhir dipegang oleh dinasti Turki Utsmani, wallahu a’lam. Dan diantara Imam kaum muslimin atau yang disebut Amirul Mukminin, ada yang baik dan ada yang tidak sebagaimana sabda Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam,

    “Sesungguhnya akan diangkat untuk kalian beberapa penguasa dan kalian akan mengetahui kemunkarannya. Maka siapa saja yang benci bebaslah ia, dan siapa saja yang mengingkarinya, maka selamatlah ia, tetapi orang yang senang dan mengikutinya maka tersesatlah ia” Para sahabat bertanya, “Apakah tidak sebaiknya kita memerangi mereka?” Beliau bersabda, “Jangan ! Selama mereka masih mengerjakan shalat bersamamu” (HR. Muslim, dari Ummu Salamah ra.)

    Dan di hadits lain Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Patuh dan taatilah pemimpinmu walaupun dia memukul punggungmu dan mengambil hartamu, patuhilah dan taatilah” (HR. Muslim 12/236-237)

    Artinya, walaupun amirul mukminin berlaku zhalim terhadap rakyatnya maka haram hukumnya untuk memberontak, memerangi ataupun memisahkan diri karena mereka itulah al jama’ah. Dan barangsiapa memerangi, memberontak ataupun memisahkan diri amirul mukminin tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat (seperti amirul mukminin tidak lagi melakukan shalat yang wajib) maka mereka itulah yang disebut sebagai al firqah.

    Lalu saat ini apakah ada yang disebut al jama’ah semenjak keruntuhan Al Khilafah Al Islamiyyah Turki Utsmani tahun 1924. Masya Allah, Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam telah menduga bahwa kaum muslimin pada suatu saat akan mengalami masa ketiadaan Al Jama’ah (definisi yang pertama), sebagaimana hadits dari Hudzaifah ra.,

    “…Saya (Hudzaifah ra.) bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah yang harus kulakukan jika aku mendapatkan situasi seperti itu?’, Beliau ShallallaHu alaiHi wa sallam menjawab, ‘Kamu wajib melazimi jamaah umat Islam dan pemimpin mereka’. Saya bertanya lagi, ‘Bagaimana jika tidak ada jama’ah umat Islam dan juga tidak ada pemimpinnya?’, Beliau menjawab, ‘Menjauhlah kamu dari semua golongan itu walaupun kamu menggigit akar batang pohon sampai maut menemuimu dan kamu (tetap) dalam kondisi seperti itu” (HR. Imam Muslim, hadits pada Kitab Shahih Muslim 6/20 atau no. 1231 pada Kitab Ringkasan Shahih Muslim oleh Al Mundziri)

    Dari hadits di atas sangat jelas bahwa ketika terjadi masa dimana tidak ada al jama’ah yaitu umat Islam yang dipimpin oleh seorang Amirul Mukminin, maka seorang muslim harus menjauh dan meninggalkan seluruh firqah dan golongan apapun karena demikianlah Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam memberikan panduannya. (Betapa benar Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam, bahwa semenjak ketiadaan al jama’ah-definisi pertama maka yang ada hanyalah firqah-firqah yang jumlahnya cukup banyak dan berbilang)

    Dan apakah ketika masa itu terjadi (yaitu masa tanpa kepemimpinan amirul mukminin) istilah al jama’ah tidak ada lagi !? Tidak, istilah itu tetap ada, namun disini kita menggunakan definisi yang kedua yaitu definisi yang diberikan oleh sahabat Abdullah bin Mas’ud ra. bahwa al jama’ah adalah,

    “Kamu bersama kebenaran walaupun kamu sendirian” (Ibnul Qayyim dalam Kitab Ighatsatul Lahfan min Mashayid Asy Syaithan I/70, lihat juga Syarh Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah Wal Jama’ah 160 oleh Al Lalikaa-i dan Tarikh Dimasyqi 13/322 oleh Ibnu Asaakir). Artinya walaupun kita seorang diri sekalipun tetapi jika kita berada di atas kebenaran maka kita yang sendirian itu dapat disebut sebagai al jama’ah.

    (Perhatikan, bahwa tidak ada kontradiksi antara definisi al jama’ah yang pertama dengan yang kedua)

    Akhirnya dari penjelasan ringkas di atas maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud ahlus sunnah wal jama’ah pada saat ini adalah orang-orang yang mengerjakan sunnah dan menjauhi bid’ah walaupun mereka hanya sendirian saja mengamalkannya.

    Dan salah satu bagian dari ahlus sunnah wal jama’ah itu adalah al ghuraba’ atau orang yang dianggap asing, orang yang dianggap aneh, orang yang dianggap menyendiri, namun sebenarnya merekalah orang-orang yang beruntung, sebagaimana sabda Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam,

    “Islam mulai (muncul) dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah bagi orang-orang yang dianggap asing itu” (HR. Muslim)

    Demikian juga perkataan seorang tabi’in besar Sufyan Ats Tsauri rhm. yang menjelaskan tentang ahlus sunnah wal jama’ah, “Jagalah ahlus sunnah wal jama’ah dengan baik karena mereka Al Ghurabaa’” (Al Laalikai, Kitab Ushul Al I’tiqaadi jilid 1 hlm. 64)

     

    Telah ada hadits tentang keterasingan Islam

    Maka hendaknya para pencinta menangis

    Karena terasing dan orang-orang yang dicintainya

    Allahlah yang melindungi kita

    Yang menjaga agama kita

    “Pada Hari Perhitungan ada orang-orang yang wajahnya putih berseri-seri …” (QS Ali Imran 106)

    Semoga Allah Ta’ala memasukan kita semua ke dalam barisan ahlus sunnah wal jama’ah.

    Maraji’

    Dari berbagai sumber, silahkan kepada kaum muslimin untuk merujuk kepada Kitab Tafsir Al Qur’an Al Azhim Ibnu Katsir dan Kitab Hadits Shahih Muslim.

    Semoga Bermanfaat.

     

     

    Dari Abu Dzar ra., Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Jibril berkata kepadaku, ‘Barangsiapa diantara umatmu yang meninggal dunia dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka pasti dia masuk surga'” (HR. Bukhari) [Hadits ini terdapat pada Kitab Shahih Bukhari]

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 6 December 2019 Permalink | Balas  

    Banjir Nabi Nuh 

    Banjir Nabi Nuh

    Agama dan Kebudayaan yang Menceritakan Banjir Nabi Nuh

    Peristiwa Banjir Nuh tersebut disebarluaskan ke hampir semua manusia (kaum) lewat lesan para Nabi yang menyampaikan Agama yang Benar, tetapi akhirnya cerita itu menjadi legenda-legenda berbagai kaum-kaum itu, dan kisah itu mengalami penambahan-penambahan dan juga pengurangan-pengurangan dalam periwayatannya.

    Allah telah menyampaikan kisah tentang Banjir Nuh kepada manusia melalui para rasul dan kitab-kitab yang Dia turunkan kepada berbagai masyarakat agar hal itu menjadi peringatan atau permisalan. Dalam setiap masa teks atau kitab-kitab tersebut telah dirubah dari aslinya, dan penuturan tentang banjir Nuh itu juga telah ditambah-tambahai dengan unsur-unsur yang mistis. Hanyalah al-Qur’an lah sumber yang masih memiliki kesamaan yang mendasar dengan temuan-temuan dan observasi empiris. Hal ini hanya tidak lain karena Allah menjaga al-Qur’an dari perubahan, meski hanya sebuah perubahan kecil sekalipun, dan Dia tidak mengizinkan al-Qur’an itu terkurangi. Menurut padangan al-Qur’an berikut ini “Kami telah dengan tanpa keraguan menurunkan risalah, dan Kami dengan pasti akan menjaganya (dari pengurangan)”( QS.Al-Hijr: 9), al-Qur’an berada di bawah pengawasan khusus Allah.

    Dalam bagian terakhir dari bab ini yang berkaitan dengan banjir, kita akan melihat, bagaimana insiden banjir itu diilustrasikan -meski telah terjadi manipulasi/pengurangan – dalam berbagai kebudayaan dan di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

    Banjir Nabi Nuh dalam Perjanjian Lama

    Kitab yang sebenarnya diwahyukan kepada nabi Musa adalah Taurat. Hampir semua sisa-sisa wahyu dan buku-buku yang berkaitan dengan Injil “Pentateuch (lima buku pertama dari Kitab perjanjian Lama)”, seiring dengan berjalannya waktu, telah lama kehilangan hubungannya dengan wahyu yang asli. Bahkan, kemudian bagian yang paling meragukan tersebut telah diubah oleh para rabi (pendeta) dari masyarakat Yahudi. Sama halnya dengan wahyu-wahyu yang dikirimkan kepada nabi-nabi lain yang diutus kepada Bani Israel setelah nabi Musa, juga mendapat perlakuan yang sama dan mengalami perubahan yang luar biasa. Inilah sebab yang menjadikan kita untuk menyebut buku-buku itu sebagai “Pentateuch yang telah dirubah (Altered Pentateuch)” dikarenakan telah kehilangan hubungannya dengan aslinya, membawa kita untuk menganggapnya lebih hanya sebagai bikinan manusia semata yang berupaya untuk mencatat sejarah suku bangsanya daripada menganggapnya sebagai sebuah kitab suci. Tidaklah mengherankan jika ciri-ciri dari Pentateuch yang telah dirubah itu dan berbagai kontradiksi yang terkandung didalamnya bisa dengan mudah terungkap dalam pemaparannya terhadap cerita tentang nabi Nuh meskipun mempunyai berbagai kesaman dalam sebagian yang diceritakan dengan al-Qur’an.

    Menurut Perjanjian Lama, Tuhan memerintahkan kepada Nuh bahwa semua orang kecuali para pengikutnya akan dihancurkan karena bumi telah penuh dengan berbagai macam tindak kekerasan. Dan akhirnya Tuhan memerintahkan mereka untuk membuat sebuah Perahu dan menyebutkan secara detail bagaimana cara mengerjakannya. Tuhan juga mengatakan kepadanya (Musa) untuk membawa keluarganya, tiga orang anaknya, istri-istri anaknya, dua (sepasang) dari setiap mahkluk hidup dan berbagai persedian bahan pangan.

    Tujuh hari kemudian, ketika waktu banjir telah tiba, semua sumber yang ada di dalam tanah mendadak terbuka lebar, pintu-pintu surga terbuka dan sebuah banjir besar menenggelamkan semuanya. Hal ini berlangsung selama empat puluh hari dan empat puluh malam. Kapal yang dtumpangi Nuh beserta pengikutnya berlayar diatas air yang menutupi semua pegunungan dan dataran tinggi. Mereka yang berada di dalam kapal bersama Nuh diselamatkan dan mereka yang tidak ikut ke dalam kapal dan terbawa oleh air bah tersebut ditenggelamkan hingga mati. Hujan berhenti setelah banjir terjadi, yang terjadi selama 40 hari 40 malam, dan airpun mulai surut 150 hari kemudian.

    Setelah berada pada hari ke tujuh belas dari bulan ke tujuh, kapal tersebut berhenti di gunung Ararat (Agri). Nuh memerintahkan seekor merpati untuk melihat apakah air telah benar-benar surut atau tidak, dan ketika akhirnya merpati tersebut tidak kembali lagi, ia menyadari bahwa air telah benar-benar surut. Tuhan memerintahkannya untuk keluar dari kapal dan menyebar ke seluruh penjuru bumi.

    Salah satu kontradiksi yang terdapat dalam kisah yang terdapat dalam perjanjian Lama ini adalah; berdasarkan ringkasan ini, dalam versi tulisan yang “berbau Yahudi”, dikatakan bahwa Tuhan memerintahkan kepda Nuh untuk membawaa tujuh dari binatang-binatang tersebut, jantan dan betina, Ia (Tuhan) menyebut-Nya “clean(halal)” dan hanya pasangan-pasangan binaang-binaang tersebut Ia sebut “unclean(haram)”. Hal ini bertentangan dengan teks dibawah ini. Disamping itu dalam Perjanjian Lama, jangka waktu terjadinya banjir juga berbeda. Menurut versi yang berbau Yahudi itu, peristiwa naiknya air akibat banjir terjadi selama 40 hari, sedangkan berdasarkan pendapat orang-orang awam, dikatakan terjadinya selama 150.

    Sebagian dari Perjanjian Lama yang menceritakan tentang banjir Nuh mengatakan ; Dan Tuhan berkata kepada Nuh, akhir dari semua jasad manusia adalah menghadap kepadaKu; dan karena bumi telah penuh dengan kekerasan; maka lihatlah Aku akan menghancurkan mereka bersama dengan bumi. Maka kamu buatlah perahu dari kayu gopher;”..

    ..Dan, lihatlah meskipun Aku memberikan banjir yang membanjiri seluruh bumi untuk menghancurkan semua manusia, dimana semua yang bernafas, dari bawah surga; (dan)setiap yang ada dibumi akan mati. Namun bersamamu Aku akan menetapkan janjiKu; dan kamu akan masuk ke dalam perahu, kau dan anakmu, dan istrimu, dan istri-istri anak-anak mu. Dan semua mahkluk hidup, dua (sepasang) dari setiap mahkluk kamu bawa ke dalam perahu, untuk tetap menjaga mereka hidup bersamamu; mereka haruslah jantan dan betina”

    “demikianlah yang dilakukan Nuh; berdasrkan semua yang Tuhan perintahkan kepadanya. (Genesis 6:13-22).

    Dan perahupun berhenti pada bulan ke tujuh, pada hari ke tujuhbelas dari bulan tersebut di atas gunung Ararat. (Genesis 8:4).

    Setiap binatang yang halal kamu bawa sebanyak tujuh ke dalam perahu jantan dan betinanya, dan biatang yang tidak halal kamu bawa sebanyak dua jantan dan betinanya, unggas juga kamu ambil dari udara sebanyak tujuh, jantan dan betinanya, untuk menjaga agar bebih tetap hidup diseluuh penjuru bumi (Genesia 7:2-3).

    Dan Aku akn menepati janjiKu terhadapmu, dan semua orang-orang yang lain akan ditenggelamkan oleh air banjir, dan banjir akan lebih banyak lagi yang akan menghancurkan dunia (Genesis, 9:11).

    Berdasarkan kepada Perjanjian Lama, berkenaan dengan keputusan yang menyatakan bahwa “semua mahkluk hidup yang ada di dunia akan mati” dalam sebuah banjir yang menggenagi seluruh permukaan bumi, maka semua orang dihukum, dan yang selamat hanyalah mereka yang berlayar dengan perahu bersama Nuh.

    Banjir Nuh dalam Perjanjian Baru

    Perjanjian Baru yang kita miliki saat ini adalah bukan sebuah Kitab Suci dalam arti kata yang sebenarnya. Terdiri dari perkataan dan perbuatan dari ‘Isa (jesus), Pernanjian Baru dimulai dengan empat “Gospels (ajaran)” yang ditulis satu abad setelah kematian ‘Isa oleh orang-orang yang belum pernah melihatnya atau berteman dengan Isa; mereka (para penulis) ini bernama Matius, Markus, Lukas dan Johanes . Terdapat berbagai kontradiksi yang sangat gamblang diantara keempat gospel (ajaran) ini. Khususnya Gospel of John (Johanes) yang sangat memiliki banyak perbedaan dengan dari ketiga yang lain (Synoptic Gospel), meski dalam beberapa tingkat tertentu memiliki kesamaan. Buku-buku lain dari Perjanjian Baru terdiri dari surat-surat yang ditulis oleh Apostle (utusan/rasul) dan Saul dari Tarsus ( yang kemudian disebut dengan Saint Paul) menyebutkan perbuataan setelah kematian Isa.

    Namun demikian Perjanjian Baru yang terdapat saat ini bukan lagi merupakan sebuah naskah suci namun lebih merupakan sebuah buku semi-sejarah semata.

    Dalam Perjanjian Baru, banjir Nuh disebutkan secara singkat sebagai berikut; Nuh diutus sebagai seorang pembawa pesan kepada sebuah masyarakat yang tidak patuh dan tersesat, namun kaumnya tidak mau mengikutinya dn meneruskan penyimpangan mereka, kemudian Allah menimpakan kepada mereka yang menolak keimanan dengan sebuah peristiwa banjir dan menyelamatkan Nuh dan para pengikutnya dengan menempatkan mereka ke dalam perahu. Beberapa bab dri perjanjian Baru yang berkaitan dengan hal ini adalah sebagai berikut;

    Tetapi, pada masa Nabi Nuh, dan juga kedatangan seorang anak laki-laki. Dan pada hari-hari di mana mereka sebelum datangnya banjir, mereka makan dan minum, mereka menikah dan saling memberi dalam pernikahan itu, hingga datanglah suatu waktu ketika Nuh masuk ke dalam perahu, dan mengertilah dia tidak lebih hingga datangnya banjir, dan dia membawa mereka semua menjauh, demikian juga dengan datangnya seorang anak lelaki itu. (Matius, 24:37-39).

    Dan terpisah, bukan di bumi yang telah tua, tetapi selamatlah Nuh sebagai orang yang ke delapan, seorang penyeru kesalehan, membawa dalam banjir ke atas dunia yang tidak taat pada Tuhan. (Peter kedua,2: 5)

    Dan sebagaimana pada hari-hari masa Nuh, dan seharusnya juga juga pada masa seorang anak laki-laki. Mereka makan, minum, menikahi isteri, mereka saling diberi dalam perkawinan, hingga datanglah suatu hari ketika Nuh memasuki perahu, dan banjir datang, dan menghancurkan mereka semua. (Lukas, 17: 26-27).

    Di saat mereka itu ingkar (tidak mentaati), ketika suatu masa Tuhan lama menderita menunggu di masa Nuh, sembari perahu dipersiapkan, dalam jumlah beberapa, delapan jiwa diselamatkan oleh air. (Peter pertama, 3:20).

    Dikarenakan mereka mengabaikan, bahwa dengan kata Tuhan surga-surga menjadi tua, dan bumi mempertahankan air dan berada di dalam air: Di mana bumi kemudian, diluapi dengan banjir, dibinasakan. (Peter kedua,3:5-6).

    Peristiwa Terjadinya Banjir dalam Kebudayaan Lain Dalam Kebudayaan Sumeria

    Tuhan/ Dewa yang bernama Enlil berkata kepada suatu kaum bahwa tuhan yang lain ingin menghancurkan umat manusia, namun ia sendiri berkenan untuk meyelamatkan mereka. Pahlawan dalam kisah ini adalah Ziusudra, raja yang taat kepada raja negeri Sippur. Tuhan Enlil menyuruh Ziusudra apa yang harus dilakukan untuk bisa selamat dari banjir. Naskah yang berkaitan dengan pembuatan kapal tersebut telah hilang, namun fakta bahwa bagian ini pernah ada, diungkapkan dalam bagian yang menyebutkan bagaimana Ziusudra diselamatkan. Berdasarkan versi bangsa Babylonia tentang banjir, bisa disimpulkan bahwa dalam versi bangsa Sumeria pun, tentulah terdapat perincian yang lebih luas secara utuh tentang kejadian tersebut, tentang sebab-sebab terjadinya banjir dan bagaimana perahu tersebut dibuat.

    Dalam Kebudayaan Babilonia

    Ut-Napishtim adalah persamaan tokoh bangsa Babilonia terhadap pahlawan dalam peristiwa banjir dalam kisah bangsa Sumeria yaitu Ziusudra. Tokoh penting yang lain adalah Gilgamesh. Menurut legenda, Gilgamesh memutuskan untuk mencari dan menemukan para leluhurnya untuk mengupayakan rahasia kehidupan yang abadi. Ia melakukan sebuah perjalanan yang menentang bahaya dan pebuh dengan kesulitan. Ia diperintahkan supaya melakukan sebuah perjalan dimana ia harus melewati “Gunung Mashu dan air kematian” dan sebuah perjalanan yang hanya dapat diselesaikan oleh seorang anak tuhan bernama Shamash. Namun Gilgamesh tetap dengan gagah berani melawan semua bahaya selama perjalanan dan akhirnya berhasil mencapai Ut-Napishtim.

    Naskah ini dipotong/selesai pada titik dimana terjadi pertemuan antara Guilgamesh dan Ut-Napishtim, dan ketika akhirnya menjadi jelas, Ut-Napishtim bekata kepada Gilgamesh bahwa “para tuhan hanya menyimpan rahsia kematiandan kehidupam untuk diri mereka sendiri” (yang mereka tidak akan memberikannya kepada manusia). Atas jawaban ini Gilgamesh bertanya kepada Ut-Napishtim bagaimana ia dapat memperoleh keabadian; dan Ut-Napishtim menceritakan kepadanya kisah tentang banjir sebagai jawaban atas pertanyaannya. Banjir tersebut juga diceritakan dalam kisah “duabelas meja (twelve tables) ” yang terkenal dalam epik tentang Gilgamesh.

    Ut-Napishtim memulainya dengan mengatakan bahwa kisah yang akan diceritakan kepada Gilgamesh adalah merupakan”sesuatu yang rahasia, sebuah rahasia dari tuhan”. Ia berkata bahwa ia dari kora Shuruppak, kota tertua diantara kota-kota di daratan Akkad. Berdasarkan ceritanya, tuhan “Ea” telah menyerukan kepaanya melalui tembok gubuknya dan mengumumkan bahwa tuhan-tuhan telah memutuskan untuk menghancurkan semua benih kehidupan dengan perantaraan sebuah banjir; namun alasan tentang keputusan mereka tidaklah diterangkan dalam cerita banjir bangsa Babylonia sebagaimana telah diterangkan dalam kisah banjir bangsa Sumeria. Ut-Napishtim berkata bahwa Ea telah menyuruhnya untuk membuat sebuah perahu dimana ia harus membawa serta dan membwa “benih-benih dari semua makhluk hidup”. Ea memberitahukan kepadanya tentang ukuran dan bentuk dari kapal tersebut, berdasarkan hal ini, lebar, panjng dan ketinggian dari kapal sama satu sama dengan yang lain. Badai besar menjungkirbalikan semuanya dalam waktu enam hari dan enam malam. Pada hari yang ke tujuh, badai mulai reda. Ut-Napishtim melihat bahwa diluar kapal, “telah berubah menjadi Lumpur yang lengket’. Dan sang kapalpun berhenti di gunung Nisir.

    Menurut catatan bangsa Sumeria dan Babylonia, Xisuthros atau Khasisatra diselamatkan dari banjir oleh sebuah kapal dengan panjang 925 meter, bersama dengan keluarga dan teman-temannya dan bersama burung-burung dan berbagai jenis binatang. Hal ini dikatkan bahwa “air terbentang menuju ke surga, lautan menutupi pantai dan sungai meluap dari dasar sungai”. Dan kapalpun akhirnya berhenti di gunung Corydaean.

    Menurut cattan bangsa Babilonia-Syria, Ubar Tutu atau Khasisatra diselamatkan bersama dengan keluarga dan pembantunya, umatnya dan binatang-binatang dalam sebuah kapal dengan lebar 600 cubits (ukuran panjang), tinggi dan lebarnya 60 cubit. Banjir tersebut berlangsung selama 6 hari dan 6 malam. Ketika kapal tersebut menapai gunung Nizar, merpati yang dilepaskan kembali ke kapal sedangkan burung gagak yang sama-sama dilepaskan tidak kembali.

    Berdasarkan beberapa catatan bangsa Sumeria, Asyiria dan Babylonia, Ut-Napishtim bersama dengan keluarganya selamat dari banjir yang terjadi selama 6 hari dan 6 malam. Hal ini dikatakan ” Pada hari ke tujuh Ut-napishtim melihat keluar. Ternyata sangatlah sepi. Orang telah berubah menjadi Lumpur”. Ketika kapal berhenti di gunung Nizar, Ut-napishtim menerbangkan seekor burung merpati, seekor ggak dan seekor buurng pipit. Burung gagak tinggal untuk memakan bangkai, sedangkan dua burung yang lain tidak kembali.

    Dalam Kebudayaan India

    Dalam epic dari India berjudul Shatapata Brahmana dan Mahabharata, seseorang yang disebut dengan Manu diselamatkan dari banjir bersama dengan Rishiz. Menurut legenda , seekor ikan yang ditangkap oleh Manu dan ikan tersebut diselamatkannya, tiba-tiba berubah menjadi besar dan mengatakan kepadanya untuk membuat sebuah perahu dan mengikatkan ke tanduknya. Ikan ini dilambangkan sebagai pengejawantahan dari dewa Wisnu. Ikan tersebut menuntun kapal mengarungi ombak yang besar dan membawanya ke utara ke gunung Hismavat.

    Dalam Kebudayaan Wales

    Menurut legenda Welsh (dari Wales, dari Celtic di Inggris), dikatakan bahwa Dwynwen dan Dwfach selamat dari bencana yang besar dengan sebuah kapal. Ketika banjir yang amat mengerikan yang terjadi dari meluapnya Llynllion yang disebut dengan Danau Gelombang. Setelah selamat akhirnya mereka berdua mulai menghuni kembali daratan Inggris.

    Dalam Kebudayaan Scandinavia

    Legenda Nordic Edda melaporkan tentang Bergalmir dan istriya selamat dari banjir dengan sebuah kapal yang besar.

    Dalam Kebudayaan Lithuania

    Dalam legenda Lithuania, diceritakan bahwa beberapa pasang manusia dan binatang diselamatkan dengan berlindung di puncak permukaan gunung yang tinggi. Ketika angin dan banjir yang berlangsung sela dua hari dan dua belas malam tersebut mulai mencapai ketinggian gunung yang hampir akan menenggelamkan yang ada diatas puncak gunung tersebut, sang Pencipta melemparkan sebuah kulit kacang raksasa kepada mereka. Sehingga mereka yang ada di gunung tersebut diselamatkan dari bencana dengan berlayar didalam kulit kacang raksasa ini.

    Dalam Kebudayaan China

    Sumber di bangsa China menghubungkan cerita ini dengan seseorang yang dipanngil denangan nama Yao bersama dengan tujuh orang lain atau Fa li bersama dengan istri dan anak-anaknya, diselamatkan dari bencana banjir dan gempa bumi dalam sebuah perahu layar. Disini dikatakan “dunia semuanya berada dalam kehancuran. Air menyembur dan menutupi semua tempat”. Akhirnya, airpun surut.

    Banjir Nuh dalam Mitologi Yunani

    Dewa Zeus memutuskan untuk menghancurkan orang-orang yang telah menjadi semakin bertindak sesat setiap saat, dengan sebuah banjir. Hanya Deucalion dan istrinya Pyrrha yang diselamatkan dari banjir, karena ayah Deucalion sebelumnya telah menyarankan anaknya untuk membuat sebuah kapal. Pasangan ini turun ke gunung Parnassis pada hari ke sembilan setelah turun dari kapal.

    Semua legenda ini mengindikasikan sebuah realitas sejarah yang konkret. Dalam sejarah setiap masyarakat/kaum menerima pesan dan risalah, setiap insan menerima wahyu Suci, sehinga banyak kaum yang telah belajar tentang Banjir. Sayangnya, sebagaimana kaum-kaum yang berpaling dari inti wahyu Suci, peristiwa banjir besar itupun mengalami banyak perubahan dan menjadi bermacam legenda dan mitos.

    Satu-satunya sumber dimana kita dapat menemukan kisah sejati tentang Nuh dan kaum yang menolaknya adalah di dalam Al Qur’an, yang merupakan satu-satunya sumber yang belum (dan tidak akan) mengalami perubahan sebahai Wahyu suci.

    Al Qur’an menyediakan bagi kita keterangan yang benar tidak hanya tentang banjir Nuh namun juga tentang kaum dan peristiwa sejarah lainnya, dalam bab-bab berikut kita akan melihat kembali kisah-kisah sejati ini.

     
  • erva kurniawan 1:02 am on 5 December 2019 Permalink | Balas  

    Bolehkah Mempelajari ilmu ghaib ? 

    Bolehkah Mempelajari ilmu ghaib ?

    Oleh : Armansyah

    Mempelajari ilmu apa saja pada dasarnya adalah kewajiban atas setiap muslim dan hal inipun berulang-ulang ditekankan oleh al-Qur’an dan Hadis. Dengan ilmu orang bisa selamat dalam beramal, dengan ilmu juga orang bisa mendapatkan kebahagiaan dan dengan ilmu juga seorang muslim tidak bisa dipermainkan, dibodohi ataupun direndahkan oleh orang lain.

    Rasulullah Saw bersabda : ‘ Wahai Abu Dzar, hendaklah engkau pergi mempelajari satu ayat dari kitab Allah adalah lebih baik bagimu daripada engkau Sholat seratus rakaat; dan hendaklah engkau pergi mempelajari suatu bab ilmu yang dapat diamalkan ataupun belum dapat diamalkan maka adalah hal tersebut lebih baik untukmu daripada engkau Sholat seribu rakaat’ – Hadis Riwayat Ibnu Majah

    Berbicara mengenai ilmu ghaib merupakan ilmu yang berhubungan dengan hal-hal yang tidak secara langsung tampak oleh panca indera dan memerlukan alat diluarnya untuk membantu memahami dan melihatnya ; Karenanya seorang ilmuwan yang mempelajari ilmu tentang mikroba atau virus bisa juga disebut sedang mempelajari ilmu ghaib karena mikroba atau virus tidak dapat terlihat secara kasat mata dan hanya bisa dilihat melalui alat bantu bernama mikroskop atau sejenisnya; begitu pula orang-orang yang mendalami ilmu tentang ketuhanan pada hakekatnya juga bisa dikatakan mempelajari ilmu ghaib, sebab mereka tengah mempelajari zat yang tidak bisa dijangkau oleh penglihatan lahir namun mampu dilihat dengan mata batin.

    Memang secara umum orang akan mengkaitkan ilmu ghaib dengan suatu ilmu yang mempelajari hal-hal supranatural bahkan berhubungan erat dengan makhluk-makhluk halus lengkap dengan segala pernak-pernik mistikismenya seperti berpuasa, berpantang makan-makanan tertentu, melafaskan asma atau dzikir dari ayat-ayat al-Qur’an sekian ratus kali, tidak boleh memakai pakaian berwarna serta berbagai ragam hal yang bersifat klenik lainnya. Menarik bila kita melihat pendapat Dr. Scott Peck [1] sehubungan dengan hal ini :

    Bahwa dalam berpikir tentang keajaiban, biasanya manusia selalu membayangkan hal-hal yang terlalu dramatis. Ibarat kita mencari semak yang terbakar, terbelahnya lautan dan suara-suara dari syurga. Padahal kita dapat melihat kejadian sehari-hari didalam hidup kita sebagai bukti adanya keajaiban tersebut, sekaligus mempertahankan orientasi ilmiah kita .

    Mungkin pernyataan tersebut bagi sebagian orang dianggap berlawanan dengan pandangan segala macam aliran kepercayaan, filsafat, kebudayaan maupun ajaran-ajaran agama. Mereka akan menolak dengan gigih seraya mengatakan bahwa hal ghaib tidak bisa diuraikan melalui metode ilmiah atau ada juga yang berseru bahwa hal ghaib mutlak milik Allah sehingga tidak perlu diadakan eksperimental dan penelitian. Namun sekalipun demikian menurut pandangan saya, kita semua harus mengakui bahwa hasil-hasil pengkajian dunia barat atas beragam fenomena keghaiban yang ada sebagian besar telah membebaskan kita dari belenggu khayalan yang berlebihan dan sering berbau tahayul.

    Selama ini kita telah terlalu berlebihan dalam memanfaatkan otak kanan yang mengurusi hal-hal yang bersifat intuitif dan mistik serta cenderung mengabaikan fungsi otak kiri yang bersifat analistis dan rasional. Melalui hasil penelitian dan pengkajian secara ilmiah juga kita tidak lagi mudah percaya terhadap apa yang disebut gejala-gejala paranormal. Kita mulai bisa membedakan antara yang palsu dan yang benar atau bisa jadi fenomena ghaib tersebut berasal dari halusinasi, histerisme maupun hipnotisme.

    Oleh karena itu, mempelajari ilmu ghaib dalam perspektif ilmiah dapat dibenarkan dan tidak bertentangan dengan norma-norma agama manapun. Kita jangan mudah mempolitisir ayat, hadis apalagi argumentatif dari orang-orang yang memang sebenarnya belum mampu berpikiran terbuka dan universal. Orang-orang seperti ini mungkin sedikit banyak terpengaruh oleh adanya pengaburan makna antara ghaib yang rasionalis dengan ajaran kebatinan yang non rasional seperti Theosophie, Yoga, Tantrisme maupun hal-hal lain seperti yang ada pada ajaran kitab Gatoloco dan Darmagandul [2].

    Sesuai kajian ilmu pengetahuan alam modern bahwa semua benda terdiri dari atom ataupun sekelompok atom, bahkan tubuh manusia sendiripun terdiri dari atom juga. Memang atom-atom itu berbeda-beda (kurang lebih seratus macam) tetapi setiap atom mempunyai inti atom yang disebut nukleus yang dikelilingi oleh butiran-butiran kecil bernama elektron. Setiap bagian dari atom berisi sejumlah kecil listrik, inti atom bermuatan listrik positip sedangkan elektron bermuatan listrik negatip. Melalui suatu metode pelatihan tertentu, manusia dapat mengembangkan listrik yang ada pada dirinya sehingga mampu mendayagunakan listrik tersebut sesuai yang dikehendakinya.

    Kita sering menyaksikan ada orang yang bisa menghidupkan lampu pijar dengan tangannya, bagaimana pula misalnya seorang Romi Rafael atau Deddy Corbudzier dapat memberi sugesti pada seseorang untuk mengikuti perintah yang mereka berikan melalui kekuatan pikiran (hipnotisme dan magnetisme), lalu kesaksian beberapa orang yang bisa melakukan levitasi (melayang diatas tanah), proyeksi astral (merogo sukmo) sampai pada melakukan suatu proses penyembuhan jarak jauh dengan kekuatan tenaga dalamnya, ini bukan sebuah khayalan semata namun memang terjadi dihadapan kita; adalah sangat tidak bijaksana apabila kita berusaha menutup mata dengan berbagai fenomena tersebut dan memberi vonis perbuatan tersebut sebagai ulah Jin atau hal yang sesat.

    Mempelajari hal yang bersifat ghaib rasionalis semacam ini, pada prinsipnya tidak berkaitan dengan doktrin agama atau kepercayaan manapun, dia bisa dipelajari secara universal. Entah kepercayaannya Kristen, Budha, Kejawen, Komunis ataupun Islam. Jika ada satu perguruan atau organisasi yang menggabungkan doa-doa atau amalan tertentu dalam proses pembelajarannya maka menurut saya hanya sebagai metode dakwah dari sang guru agar para muridnya mau menjalankan perintah agama dan menggunakan ilmu tersebut pada jalan kebenaran.

    Ilmu (apapun disiplinnya) adalah ibarat pisau, bisa dipergunakan untuk berbuat kebatilan dan bisa juga dipergunakan untuk hal yang baik, ilmu dan pisau hanyalah alat, kemana alat ini akan difungsikan dikembalikan lagi pada diri si-manusianya sebagai subyek yang menggunakan. Kitab suci al-Qur’an sama sekali tidak memberikan batasan kepada manusia untuk berpikir (belajar), selama pemikiran itu tidak menimbulkan ketergelinciran masyarakat pada suatu perbuatan yang batil maka al-Qur’an membuka diri terhadap fitrah kemanusiawian tersebut.

    Kami akan menunjukkan kepada mereka tanda-tanda Kami disekitar alam semesta termasuk pada diri mereka sendiri, sehingga terbuktilah bagi mereka kebenaran itu – Qs. 41 Fushilat : 53

    Surah al-Israa 17 ayat 85 yang disebut-sebut sejumlah orang sebagai dasar larangan Allah untuk manusia mempelajari hal yang ghaib sebenarnya tidak sesuai dengan maksud ayat itu sendiri yang berbicara tentang ruh.; Malah pada ayat tersebut didapati suatu pernyataan Allah sendiri betapapun sedikitnya pengetahuan yang ada pada manusia tentang ruh namun Allah tetap membuka rahasianya dalam kadar yang tertentu.

    Dan mereka akan bertanya kepadamu tentang ruh. Jawablah : ‘Ruh itu masalah Tuhanku; dan kamu tidak diberi ilmu mengenainya kecuali sedikit saja’ – Qs. 17 al-Israa : 85

    Penafsiran yang sama juga terhadap surah al-an’aam 6 ayat 59 yang menyatakan bahwa kunci semua hal ghaib mutlak berada ditangan Allah. ; Ayat tersebut memiliki keterkaitan yang erat dengan ayat-ayat sebelumnya yang menceritakan perihal rahmat yang akan diterima oleh orang-orang yang mempercayai kenabian Muhammad dan perihal azab bagi mereka yang mengingkarinya.

    Katakanlah : ‘Kalau ada pada diriku apa yang sangat kamu harapkan kedatangannya, niscaya berlakulah urusan antara aku dan kamu [3], namun Allah lebih tahu terhadap orang-orang yang zhalim; Disisi-Nyalah kunci-kunci hal yang ghaib, tidak akan mengetahuinya kecuali Dia, dan Dia mengetahui apa yang ada didarat dan dilaut. – Qs. 6 al-an’aam : 58-59

    Tidak ada larangan bagi manusia untuk mempelajari ilmu telepati yang memungkinkan terjadinya kontak pikiran jarak jauh, sebab telepati terjadi akibat adanya proses getaran listrik yang terjadi dibagian dalam otak yang keluar dan meluncur dari pikiran seseorang kepada otak orang lainnya. Dia dapat bergerak cepat merambat diudara ataupun sebaliknya menjadi lambat dan mungkin akan tetap tinggal diudara tanpa pernah sampai kepada obyek tujuannya. Berlatih konsentrasi adalah kunci utama dari kekuatan gelombang pikiran manusia agar bisa menjalin komunikasi dengan obyeknya.

    Karena itulah didalam Islam, Sholat harus dilakukan dengan konsentrasi ataupun pemusatan pikiran sebagai upaya menjalin komunikasi dengan Allah sang Pencipta. Semakin bagus tingkat konsentrasi yang dilakukan maka akan semakin cepat pula terjadinya komunikasi dua arah antara seorang muslim dengan Tuhannya.

    Luruskan mukamu di setiap sholat; dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan keta’atanmu kepada-Nya

    • Qs. 7 al-a’raaf 29

    Dengan demikian, melalui ilmu telepati juga kita bisa menjawab kenapa banyak orang yang dalam sholatnya selalu berdoa namun sedikit sekali doanya tersebut yang diterima oleh Allah. Kita tidak sungguh-sungguh berkonsentrasi mengalirkan pikiran kepada-Nya, dalam sholat kita bahkan masih terikat dengan lingkungan, ingat sendal yang hilang, pekerjaan menumpuk dan sebagainya; semua ini menimbulkan banyaknya getaran yang menuju dirinya sendiri dan menghalangi keluarnya getaran pikiran yang seharusnya terpancar keluar menuju Allah.

    Jikapun ada yang masih bisa menerobos keluar maka gelombangnya sudah lebih lemah dan tidak memungkinkan sampai pada tujuan.; analogi telepon seluler merupakan permisalan yang sangat mudah untuk dijabarkan dalam hal ini, dimana agar bisa terjadi hubungan komunikasi dua arah maka baik sipenelepon maupun sipenerima harus berada dalam coverage area dimana sinyal-sinyal yang diberikan bisa saling menangkap. Satu saja dari keduanya memiliki pancaran lemah maka hubungan komunikasi bisa dipastikan tidak dapat berjalan lancar.

    Mempelajari tenaga dalampun demikian, tidak jauh berbeda dengan belajar telepati. Hanya bedanya kalau telepati menggunakan kekuatan konsentrasi pikiran sedangkan tenaga dalam memanfaatkan kesempurnaan latihan pernapasan sehingga listrik yang ada didalam tubuh mengembang dan menghasilkan kekuatan yang luar biasa. Dengan melatih pernapasan yang teratur maka atom-atom tubuh akan dapat berfungsi sebagai sinar X sehingga bisa menyembuhkan penyakit tertentu dan bisa juga membuat sipelaku dapat melihat tembus tanpa dihalangi oleh tembok pemisah (kasyaf).

    Albert Einstein membuktikan secara matematik bahwa semua dialam semesta ini terbentuk dari energi dengan persamaannya yang terkenal E= MC2, yang menyatakan bahwa semua benda, dari sebuah atom sampai seekor gajah, terbentuk dari energi. Bahkan stres, penyakit dan trauma emosional merupakan bentuk atau pola dari energi [4].

    Pada tahun 1930-an, seorang ilmuwan Rusia bernama Semyon Davidich Kirlian bersama istrinya Valentina Kirlian berhasil menangkap gambar dari aura atau bentuk energi listrik yang ada disekeliling tubuh manusia melalui suatu proses fotografi. Dalam eksperimennya, kedua orang ini berhasil mengembangkan sebuah metode yang dapat memindahkan wujud medan sinar keatas lembaran kertas fotografis dengan perantaraan sebuah alat generator percik, dimana melalui alat ini Kirlian dan istrinya dapat membangkitkan getaran frekuensi tinggi, yakni rata-rata 150.000 getaran perdetiknya, sehingga apabila ada obyek misalnya berupa selembar daun, sebuah tangan manusia berikut aura (listrik) yang mengelilinginya akan dapat digetarkan perwujudannya keatas lembaran kertas fotografis [5].

    Dengan demikian, perihal keberadaan listrik, energi atau biasa juga disebut orang dengan aura dan prana didalam diri manusia sudah bukan hal yang tidak masuk akal lagi. Mungkin pada masa yang akan datang setelah peradaban manusia semakin tinggi seiring dengan perkembangan tekhnologi yang lebih maju dan semakin dapat membuka sisi ilmiah ilmu ghaib dari hal-hal yang sebelumnya selalu bercampur dengan mitos dan campur tangan makhluk halus, ilmu-ilmu ghaib bisa saja dimasukkan dalam kurikulum pelajaran sekolah sebagai suatu ilmu yang berguna bagi kemaslahatan manusia.

    Dan melihatlah orang-orang yang diberi ilmu itu bahwa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu adalah hal-hal yang benar (logis) serta memberi petunjuk kepada tuntunan yang Maha Kuasa dan Maha Terpuji. – Qs. 34 Saba’ : 6

    Dan akan kamu ketahui kenyataan kabarnya sesudah waktunya tiba – Qs. 38 Shad : 88

    Dalam satu perdiskusian agama disalah satu mailing list, pernah ada yang menanyakan kepada saya akan persamaan dari mempelajari ilmu-ilmu ghaib dengan mempelajari ilmu sihir, lebih jauh lagi mereka mempertanyakan alasan kenapa bila memang kita diperbolehkan belajar hal yang ghaib tidak ada ketentuan yang jelas dari al-Qur’an maupun Sunnah Nabi-Nya; sehingga mereka masih meragu untuk mempelajarinya.

    Sebenarnya kita bisa mengembalikan penafsiran ayat-ayat al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi mengenai kewajiban manusia didalam menuntut ilmu secara luas dan universal. Sebelum kita jawab adakah persamaan antara mempelajari ilmu-ilmu ghaib seperti telepati, hipnotis, proyeksi astral atau tenaga dalam dengan mempelajari ilmu sihir, terlebih dahulu perlu dipahami apa itu sihir.

    Sihir berasal dari kata as-Sahar, artinya pertemuan akhir malam dengan awal siang, jadi ada pergeseran dua situasi yaitu gelap dan terang namun suasana masih samar, dikatakan gelap sudah ada sinar dikatakan terang masih gelap sehingga sihir dimaksudkan sebagai sebuah perbuatan yang tidak jelas benar salahnya. Lebih jauh, seorang ulama bernama Ibnu Qudamah menyimpulkan sihir sebagai bundelan (buhul), mantera-mantera dan ucapan yang diucapkan atau ditulis atau mengerjakan sesuatu yang menimbulkan pengaruh pada badan, hati atau akal orang yang terkena sihir tanpa menyentuhnya [6].

    Namun al-Qur’an sendiri memberikan gambaran mengenai sihir sebagai berikut :

    • . Identik dengan perbuatan setan dan dapat membuat seseorang bercerai (Surah 2 al-Baqarah : 102)
    • . Bisa membuat mata manusia membayangkan sesuatu yang hakekatnya tidak ada, seperti pertempuran Nabi Musa dengan para tukang sihir Fir’aun (Surah 20 Thaha : 66 dan Surah. 7 al-A’raaf : 116)
    • . Bisa berupa kata-kata yang memukau atau memikat (Surah. 10 Yunus : 2)
    • . Bisa berupa sesuatu yang menakjubkan (Surah 15 al-Hijr : 15)
    • . Ejekan terhadap kebenaran (Surah 37 as-Shaffat : 15 dan Surah 46 al-Ahqaaf : 7)
    • . Ejekan terhadap mukjizat (Surah 54 al-Qamar : 2)
    • . Bisa dilakukan dengan meniup-niup tali simpulan, semacam santet, guna-guna dan sebagainya (Surah 113 al-Falaq : 4)

    Dengan demikian, berdasarkan kriteria al-Qur’an diatas bisa kita tarik kesimpulan bahwa sihir ternyata bisa juga mencakup pidato atau ceramah memukau yang digunakan untuk menggaet massa, sihir bisa pula berupa pertunjukan hasil kemajuan teknologi modern yang menakjubkan dalam berbagai disiplin ilmunya dan sihirpun dapat berupa perbuatan yang dilakukan untuk merugikan orang lain, baik dengan atau tanpa persekutuan dengan setan yang terdiri dari Jin dan manusia.

    Sejumlah ulama masih berbeda pendapat apakah mempelajari sihir untuk kebaikan dibolehkan atau justru dilarang, sementara jika kita kembalikan pengertian sihir sebagaimana tersebut diatas maka secara tidak langsung dapat kita pastikan bahwa sihir bisa dibagi atas dua bagian, yaitu sihir dalam arti positip dan sihir dalam arti negatip.

    Sihir dalam arti negatip yang bertujuan menyimpangkan manusia dari jalan kebenaran serta membuat orang lain celaka jelas sangat terlarang, baik oleh norma agama maupun norma hukum kenegaraan. Sebaliknya sihir dalam arti positip justru sangat wajib untuk dipelajari.

    Sebagai tambahan, bahkan seorang A. Hassan, salah seorang ulama besar yang terkenal berpandangan tegas dalam beragama dari organisasi Persatuan Islam (Persis) berpendapat bahwa mempelajari ilmu magnetisme (kekuatan gaib) sama sekali tidak bisa dipersamakan dengan mempelajari ilmu sihir, karena menurut beliau dalam tiap-tiap urat halus yang ada diotak maupun diseluruh tubuh manusia tersimpan magnetisme yang justru menjadi salah satu unsur pokok dari kehidupan yang bilamana unsur ini tidak ada maka akan matilah manusia tersebut [7].

    Untuk menyikapi bentuk-bentuk sihir yang ada ini, mungkin kita bisa menjadikan hadis berikut sebagai parameter:

    Auf bin Malik bertanya : Adalah kami bermantera pada masa jahiliah ya Rasulullah ! Bagaimana pendapat anda tentang hal ini ? Maka beliau bersabda : Hadapkan mantera-mantera kamu itu kepadaku, tidak apa-apa mantera-mantera itu selama tidak ada syirik didalamnya – Hadis Riwayat Muslim

    Memang hadis ini tidak berbicara mengenai sihir melainkan mantera, namun kita bisa mengambil keumuman dari hadis Nabi tersebut yang intinya menyatakan bahwa semua hal yang tidak ada unsur syirik maka boleh dikerjakan. Memukau orang lain terhadap kecanggihan teknologi modern, mengajak massa agar mau melakukan apa yang kita katakan melalui pidato, ceramah, mempelajari ilmu fisika, kimia, tenaga dalam, hipnotis dan sebagainya adalah salah satu bentuk sihir yang tentu saja tidak bisa dikatakan terlarang.;

    Apa yang disampaikan oleh Nabi kepada orang-orang dimasanya sebagian besar berupa ayat-ayat yang bersifat muhkamat atau yang sangat jelas arti dan maknanya (misalnya mengenai larangan judi, zinah, membunuh, makanan haram dan sebagainya) sementara ada lagi yang disampaikan oleh beliau dengan pola mutasyabihat (ayat yang memerlukan pemahaman dan pengkajian secara khusus dan ilmiah) yang tidak bisa disampaikannya secara langsung mengingat tingkat pemikiran masyarakat dijamannya belum mampu memahaminya.

    Contoh nyata saja saat beliau bercerita mengenai perjalanan Isra’ dan Mi’raj sejumlah orang malah berbalik murtad dan menuduhnya berbohong dengan cerita yang tidak logis menurut ukuran pemikiran manusia dijaman itu.; Sebab bagaimana mungkin manusia bisa bolak-balik bepergian dari Mekkah ke Yerusalem hanya dalam waktu setengah malam saja dan esoknya sudah ada lagi berkumpul dengan mereka dalam keadaan bugar. Ditambah lagi Nabi meneruskan ceritanya tentang perjalanannya menuju luar angkasa; sungguh ini cerita yang irrasional dan tidak dapat mereka pahami.

    Namun saat waktu membawa kita keabad 20 sekarang, semua cerita Nabi tersebut menjadi sangat masuk akal, bepergian dari Mekkah ke Yerusalem atau malah lebih jauh lagi dari sana dalam tempo yang singkat bukan suatu isapan jempol atau dongeng sebelum tidur, karena peradaban diabad 20 telah mengenal pesawat terbang, mengenal jet, mengenal roket dan seterusnya yang mampu membawa manusia pergi dari satu daerah kedaerah lain yang berjauhan dalam waktu yang relatif singkat. Oleh sebab itulah, dalam rangka memahami ayat mutasyabihat diperlukan metode dan teknologi yang menuntut pola pikir luas.

    Dia yang telah menurunkan Kitab kepadamu, sebagian isinya berupa ayat-ayat yang muhkamat yaitu inti sari dari Kitab; dan sebagian lainnya berupa ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang yang didalam hatinya ada kesesatan, mencari-cari apa yang bersifat mutasyabihat untuk membuat fitnah dan memberi penafsiran terhadapnya. Padahal tidaklah mengetahui pemahamannya kecuali Allah dan orang-orang yang berilmu.; Katakanlah : ‘Kami beriman kepada-Nya, semua ayat-ayat itu berasal dari Tuhan kami, dan tidaklah memahaminya kecuali orang-orang yang memiliki pemikiran.’ – Qs. 3 Ali Imron : 7

    Demikianlah kiranya ayat tersebut memberi penjabaran kepada kita, bagaimana Allah sendiri menyatakan ayat-ayat Muhkamat sebagai inti dari wahyu yang Dia turunkan kepada Nabi Muhammad, bagaimana secara jelas, tegas dan lugas bercerita mengenai prinsip Tauhid, bagaimana mengatur kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara secara umum sehingga Nabi Muhammad mampu dijadikan barometer (teladan) dalam kehidupan.

    Sementara disisi lain, Allah juga menurunkan wahyu yang bersifat samar, metafora yang sekali lagi masih memerlukan penganalisaan lebih lanjut yang tidak bisa ditafsirkan secara sembarangan karena hanya akan menimbulkan fitnah dan mengacaukan kehidupan bermasyarakat.

    Surah Ali Imron ayat 7 ini menegaskan bahwa pemahaman ayat-ayat mutasyabihat hanya diketahui oleh Allah sendiri dan orang-orang yang berilmu, yaitu sebagaimana dipertegas-Nya kembali diakhir ayat tersebut yaitu bagi mereka yang memiliki pemikiran.; Sudahkah kita memanfaatkan akal kita untuk berpikir logis ?

    Mengenai hal-hal yang tidak pernah ada bimbingan atau pengarahan langsung oleh Nabi maupun para keluarga dan sahabatnya yang terpimpin bukan berarti sesuatu itu tidak dibenarkan untuk dipelajari. Sebab jika pemikiran yang demikian tidak kita luruskan maka akan membuat banyak manusia meninggalkan ajaran Islam dengan menganggapnya sebagai agama yang sempit, penuh kebodohan dan jauh dari nilai-nilai universal (rahmatan lil ‘alamin). Tidak perlu kita mengulangi sejarah masa lalu dari orang-orang yang pernah mengingkari perlunya belajar ilmu kalam, ilmu biologi maupun ilmu-ilmu lainnya bahkan mengecapnya sebagai perilaku bid’ah [8].

    Umat Islam harus bangkit, melepaskan pikirannya dari semua kesempitan berpikir yang dogmatis. Islam pernah melahirkan tokoh besar bernama Umar bin Khatab yang dibalik keteguhan keimanannya juga seorang intelektual yang dengan intelektualitasnya itu berani mengemukakan ide-ide dan melaksanakan tindakan-tindakan inovatif yang sebelumnya tidak pernah dicontohkan oleh Nabi bahkan sepintas lalu justru bisa dipandang tidak sejalan dan cenderung bertentangan dengan pengertian tekstual al-Qur’an dan sunnah padahal apa yang dilakukan oleh Umar hanyalah sebuah tindakan dalam rangka mengaktualisasikan ajaran Islam ditengah jaman yang sama sekali berbeda dengan jaman kehidupan Nabi sebelumnya.

    Dan janganlah kamu jadikan nama Allah sebagai penghalang untuk berbuat kebaikan, ibadah dan menjalin perdamaian antar manusia

    Qs. 2 al-Baqarah : 224

    Contoh kisah Khalifah Umar bin Khatab yang mengembalikan harta rampasan perang berupa tanah pertanian di Siria dan Irak kepada penduduk setempat memang sempat mengundang perdebatan diantara beberapa sahabat Nabi seperti Bilal (orang yang diangkat oleh Nabi sebagai muadzin pertama) dengan merujuk pada surah al-anfal ayat 41 dan menyatakan bahwa Umar sudah menyimpang dari al-Qur’an dan Sunnah :

    Ketahuilah, bahwa apa yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan Ibnussabil (para pengembara), jika memang kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad). – Qs. 8 al-anfal : 41

    Pendapat Bilal memang memiliki dasar kuat apalagi Nabi sendiri pernah membagi-bagikan tanah pertanian Khaibar setelah dibebaskan dari kekuasaan orang Yahudi. Namun Umar menganggap bahwa umat Muslim tidak perlu terlalu kaku didalam memperlakukan ayat-ayat Qur’an dan perlu juga mempertimbangkan kondisi jaman yang dijalani.

    Ali bin Abu Thalib yang merupakan keluarga paling dekat dengan Nabi, orang yang diamanahkan untuk mengurus jenasah beliau saat wafat dan sekaligus satu-satunya orang yang pernah diangkat Nabi sebagai saudara bagaikan persaudaraan Harun terhadap Musa dalam perang Tabuk mengatakan dihari meninggalnya Umar bin Khatab :

    Alangkah bahagianya ! Dia telah meluruskan yang bengkok, mengobati sumber penyakit, menghindar dari masa kekacauan dan menegakkan sunnah. Dia pergi dalam keadaan bersih; jarang bercela, meraih kebaikan dunia dan selamat dari keburukannya.

    Memenuhi ketaatan kepada Tuhannya dan mencegah diri dari kemurkaan-Nya. Ia berangkat meninggalkan umat pada saat mereka berada dijalan-jalan yang saling bersimpangan tak menentu arahnya, sedemikian sehingga yang tersesat sulit beroleh petunjuk, yang sadarpun tak mampu meyakinkan diri [9].

    Mungkinkah penilaian Ali bin Abu Thalib terhadap kepribadian Umar bin Khatab tersebut keliru? Tidakkah pola pikir dari Umar bin Khatab juga mampu kita warisi untuk mengaktualisasikan ajaran Islam dijaman penuh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ini ? Jika nama Umar bin Khatab yang hidup ditengah jaman padang pasir berhasil tercantum dalam buku seratus tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah karangan Michael H. Hart [10] yang notabene bukan beragama Islam, bagaimana mungkin kita-kita yang hampir setiap harinya bergelut dengan telepon seluler dan Internet masih mengembangkan cara berpikir yang sempit ?

    Ayat-ayat mutasyabihat masih menanti orang-orang seperti Umar bin Khatab untuk membuka rahasia yang terkandung didalamnya, semua ayat al-Qur’an sudah diperuntukkan oleh Allah bagi kemaslahatan hidup manusia tanpa ada pengecualian. Tidak inginkah kita memanfaatkannya ?

    Referensi :

    [1] Dr. Scott Peck, The Road Less Travelled, dikutip dari Lillian Too, dalam Explore The Frontiers Of Your Mind, Elex Media Komputindo, 1997, hal. 40

    [2] Mengenai ini bisa dilihat pada buku tulisan Dr. H.M. Rasjidi, Islam dan Kebatinan, Penerbit Jajasan Islam Studi Club Indonesia, Jakarta

    [3] Ayat ini menggambarkan bahwa Nabi Muhammad tidak berkuasa menurunkan azab terhadap orang-orang yang mengingkarinya karena hal menurunkan azab adalah urusan Allah, terserah kepada-Nya kapan dan bagaimana azab tersebut akan terjadi, Allah maha mengetahui apa hikmah dari semuanya, karena Dia yang memegang kunci dari urusan yang belum tampak secara lahiriah saat itu.

    [4] Ric A. Weinman,Tangan Anda dapat menyembuhkan Panduan Penyaluran Tenaga, Penerbit Elex Media Komputindo, Jakarta, 1990, hal. xi

    [5] Willem Hogendoorn, Paranormal, kenyataan dan gejala dalam kehidupan, Penerbit Dahara Prize, Semarang, 1991, hal.27

    [6] Wahid Abdussalam Baly, Ilmu Sihir dan Penangkalnya, Tinjauan al-Qur’an, Hadits dan Ulama, dengan pengantar DR. H. Komaruddin Hidayat, Penerbit Logos Publishing House, 1995, Hal. 2.

    [7] A. Hassan, Soal Jawab Masalah Agama 3-4, Penerbit Persatuan Bangil, hal. 1686 – 1688

    [8] Nurcholis Madjid, Khazanah Intelektual Islam, Penerbit PT. Bulan Bintang, Jakarta, 1984, hal. 102

    [9] Mutiara Nahjul Balaghah : Wacana dan surat-surat Imam Ali r.a., Dengan pengantar Syaikh Muhammad Abduh untuk buku Syarh Nahjul Balaghah, Terj. Muhammad al-Baqir, Penerbit Mizan, 1999, hal. 66.

    [10] Michael H. Hart, Seratus Tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah, terj. H. Mahbub Djunaidi, Penerbit PT. Dunia Pustaka Jaya, 1982, hal. 264-266

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 4 December 2019 Permalink | Balas  

    Pertemuan Dua lautan 

    Pertemuan Dua Lautan

    Assalamualaikum warahmatullah wa barrokatuhu

    [Al Furqan.53] Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.

    [Ar Rahman.19] Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, [Ar Rahman.20] antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.

    Dari ayat diatas merupakan ayat yang turun di sekitar abad ke tujuh kepada seorang manusia mulia yang tidak mengenal membaca dan menulis, tahukah anda pembuktian secara teknologi apa yang terjadi dan pembuktian al qur’an tersebut ?

    Apabila dua samudra bertemu dan memiliki suhu yang berbeda maka akan menimbulkan suatu tempat yang kondusif bagi pertumbuhan planton yang merupakan makanan utama bagi ikan – ikan laut, sehingga pertemuan tersebut menjadi tempat berkembang biaknya ikan dikarenakan sumber plankton yang berlimpah ruah, salah satunya diindonesia adalah: di perairan utara Maluku dan Papua yang merupakan pertemuan arus Samudera Pasifik dan Laut Maluku, ada yang terbawa arus ke laut di sekitar Propinsi Maluku dan Papua. Potensi ikan tuna di Indonesia timur ini paling tinggi di dunia, yang diperkirakan mencapai 65 persen potensi ikan tuna dunia.

    Ini merupakan sumber daya alam Indonesia yang kaya sekali dan sering menjadi tempat pencurian kapal-kapal asing. Ikan-ikan tuna itu menyenangi temperatur yang berada di sekitar kawasan Biak, sebab merupakan pertemuan dua samudera yang berbeda.

    Tahukah anda Mr.Jacques Yves Costeau? dia adalah pakar kelautan yang masuk islam karena penemuanya dalam bidang kelautan berhubungan langsung dengan keajaiban Al qur’an, Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemukan beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya karena tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang asin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya. Fenomena ganjil itu membuat penasaran Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari tahu penyebab terpisahnya air tawar dari air asin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berpikir, jangan-jangan itu hanya halusinasi atau khayalan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.

    Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al-Qur’an tentang bertemunya dua lautan (surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez. Ayat itu berbunyi “Marajal bahrayni yaltaqiyaan, baynahumaa barzakhun laa yabghiyaan…” artinya “Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak bisa ditembus.” Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas. Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tidak bercampur airnya diartikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air asin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi “Yakhruju minhumaa lu’lu`u wal marjaan” artinya “Keluar dari keduanya mutiara dan marjan.” Padahal di muara sungai tidak ditemukan mutiara.

    Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al-Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera.

    Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahwa Al-Qur’an memang sungguh-sungguh kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Dengan seketika ia pun memeluk Islam. Allahu Akbar…! Mr. Costeau mendapat hidayah melalui fenomena teknologi kelautan. Maha Benar Allah yang Maha Agung.

    Tahukah anda bahwa penyulingan air laut menjadi air tawar adalah sesuatu yang membutuhkan biaya sangat mahal, khususnya kota Jeddah, yang memiliki sumber mata air khusus dan juga proyek penyulingan air, fasilitas yang sangat mahal ini tentu saja akan sangat riskan apabila terjadi pengeboman dan terorisme

    Akan tetapi beberapa orang ilmuwan yang bersandarkan kepada ayat-ayat tadi sedang berusaha menciptakan sistim supply minuman air tawar tersebut dengan mencari sumber mata air dari dasar laut yang keluar ,sehingga prosessnya tidaklah serumit dan semahal sistim yang ada sekarang, dimana air tawar bisa langsung didapat dan diambil dari sumbernya langsung.

    Tahukah anda pertemuan dua lautan dalam pemahaman sisi keagamaan lainnya? [Al Kahfi ,60] Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun”. [Al kahfi.61] Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.

    Secara garis besar pertemuan dua lautan ini berada dalam cerita pertemuan nabi khidir As dan nabi musa As dan berada didalam surah al kahfi, makna dari masing-masing aliran yang coba mengejawantahkan ayat ini bisa jadi berbeda akan pengertian sesungguhnya dari ayat ini akan tetapi sebagian orang berpendapat bahwa inilah yang dimaksud dengan pertemuan antara lautan kebenaran dan lautan kejahatan yang tidak saling bertemu antara keduanya dan manusia akan selalu berada diantara keduanya

    Makna lain dalam arti ayat ini adalah mengatakan pertemuan antara sisi hakikat dan sisi syariat,dimana air laut bertemu akan tetapi tidak saling menyatu , dan perlambang ikan adalah perlambang manusia yang berenang didalamnya ,akan tetapi makna sesungguhnya kita kembalikan kepada gusti Alloh yang maha besar dan maha mengetahui yang ghab dan yang nyata

    Maha benar Alloh dengan segala FirmanNya, hanya kita manusia yang belum mampu menggali ribuan bahkan jutaan rahasia didalam Al qur’an yang masih tersimpan.

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 3 December 2019 Permalink | Balas  

    Keajaiban Dalam Besi 

    Keajaiban Dalam Besi

    Besi adalah satu unsur yang disebutkan dalam Al-Qur’an dalam surah al-Hadid, yang bermaksud besi, kita dikhabarkan;

    ….Dan Kami telah menurunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia….Surah al-Hadid;25.

    Perkataan ‘diturunkan’ khususnya digunakan untuk besi dalam ayat di atas difikirkan mempunyai satu pengertian metaforik untuk menerangkan bahawa besi diberikan untuk faedah kegunaan umat manusia. Tetapi apabila kita mempertimbangkan pengertian literalnya, perkataan ini akan bermaksud ‘secara fizikal diturunkan dari luar angkasa’, kita menyadari bahwa ayat ini menggambarkan satu keajaiban saintifik yang sangat-sangat signifikan.

    Ini adalah kerana penemuan astronomi moden telah menyingkap bahawa besi yang wujud dalam dunia ini berasal dari bintang-bintang gergasi di luar angkasa.

    Unsur-unsur berat dalam alam semesta adalah dihasilkan di dalam nuklid bintang besar. Sistem solar kita, bagaimanapun, tidak mempunyai struktur sesuai untuk menghasilkan besi baginya. Besi hanya dapat dihasilkan dalam bintang yang lebih besar daripada matahari, di mana suhu mencecah beratus juta darjah. Apabila amaun besi melebihi peringkat tertentu dalam sebuah bintang, bintang ini tidak dapat lagi menampungnya, dan akhirnya ia meletup dalam satu letupan yang dipanggil ‘nova’ atau ‘supernova’. Sebagai satu hasil dari letupan ini, meteor yang mengandungi besi berserakan ke seluruh alam semesta, dan mereka bergerak melalui ruang di angkasa sehingga ditarik oleh daya graviti sesuatu jasad di cakrawala.

    Fenomena ini menunjukkan bahawa besi tidak dihasilkan di dalam bumi, tetapi dibawa dari bintang-bintang yang meletup dalam angkasa melalui meteor, dan telah ‘diturunkan ke dalam bumi’. Dalam cara yang persis dengan apa yang dinyatakan dalam ayat; ianya jelas bahawa fakta ini tidak dapat diketahui secara saintifik dalam abad ke, ketika Al-Qur’an diwahyukan.

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 2 December 2019 Permalink | Balas  

    IPTEK – Warna-Warni tanah 

    IPTEK – Warna-Warni tanah

    Assalamualaikum wa rahmatullah wa barrokatuh

    [Al Fathir.27] Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.

    Gunung

    Sebuah kata yang tidak asing, bahkan pembuktian lain tentang fungsi gunung yang merupakan “tiang pancang/ pasak ” bagi bumi telah sering mendapatkan uraian dari berbagai orang , sehingga sesuai dan dapat dibuktikan secara ilmiah dari salah satu ayat di surah An naba:7 ” dan gunung-gunung sebagai pasak” dan memang diyakini oleh para ilmuwan bahwa salah satu fungsi gunung adalah untuk menghindari pergeseran antara lempengan yang berlebih,sehingga menimbulkan bencana lebih besar ,,,Subhanalloh

    Tetapi ada satu lagi ayat yang menerangkan mengenai warna – warna di antara gunung-gunung yang saya yakini sebagai salah satu pembuktian keajaiban Al qur’an yaitu sesuai dengan ayat diatas,

    “,,,,Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.”

    Kita tahu bahwa gunung merupakan bentukan dari pertemuan lempengan bumi dan menghasilkan tumbukan yang menaik keatas, sehingga terbentuklah gunung yang menjulang , dan apabila pertemuan itu panjang maka akan terbentuklah barisan pegunungan ,

    Dalam ilmu geologi maka diyakini bahwa bumi terdiri dari berbagai lapisan tanah yang secara umum terbagi dari Lithosphere yang merupakan lapisan paling luar, adapun kata lithosfer berasal dari bahasa yunani yaitu lithos artinya batuan, dan sphera artinya lapisan lithosfer yaitu lapisan kerak bumi yang paling luar dan terdiri atas batuan dengan ketebalan rata-rata 1200 km.

    Perlu anda pahami bahwa yang dimaksud batuan bukanlah benda yang keras saja berupa batu dalam kehidupan sehari hari, namun juga dalam bentuk tanah liat, abu gunung api, pasir, kerikil dan sebagainya.

    adapun bahan – bahan pembentuk dari lapisan kerak bumi yang paling luar adalah SiO2, Al2O3, Fe2O3+FeO, CaO, N2O, K2O, MgO, H2O berbentuk oksida , Dan O,Si,Al , Fe, Ca, Na , K, Mg yang merupakan unsur dasar.

    Sedangkan untuk besi kita ketahui dan diyakini bahwa didalam Alqur’an ada yang meyakini diturunkan dari luar angkasa, dan telah dibahas dalam tulisan lain

    Pembahasan kali ini kemasalah warna – warna tanah tadi, ilmu geologi akhirnya membuktikan dengan sendirinya bahwa tanah / lapisan yang membentuk suatu tanah gunung terdiri dari berbagai macam warna

    Misalnya tanah lempung /tanah liat yang digunakan sebagai salah satu bahan Dasar dalam membuat tembikar yang digunakan disalah satu kawasan Cempaka, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, selain dikenal sebagai daerah pendulangan intan, ternyata masih memiliki potensi sumberdaya alam lain yang belum diketahui masyarakat luas, yaitu lempung putih. Di perbukitan yang terletak antara Cempaka dan Desa Kiram, Kabupaten Banjar, kita dapat menemukan sejumlah orang laki-laki dan perempuan pengelola lempung putih tersebut.

    Beberapa laki-laki menggali sebidang tanah hingga kedalaman kurang lebih satu meter dari permukaan tanah sampai menemukan lapisan tanah berwarna putih keabu-abuan. Lapisan tanah inilah yang mereka cari dan yang disebut lempung putih, karena tanah tersebut merupakan jenis tanah liat yang berwarna cenderung putih. Sedangkan yang lainnya mengemas bongkahan tanah liat tersebut dengan memasukkannya kedalam karung. Kata lempung berasal Bahasa Jawa yang berarti tanah liat.

    Apabila kita amati struktur tanah di kawasan itu, lapisan atas adalah humus atau top soil atau tanah yang berwarna hitam dan umumnya tanah hitam adalah tanah yang subur dan baik untuk bercocok tanam, persis dengan apa yang dikatakan oleh Al Qur’an

    “,,,,dan ada (pula) yang hitam pekat.”

    . Di bawah humus terdapat lapisan tanah warna merah mengandung pasir dan batu kerikil,

    “,,,Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah”

    di bawah lapisan inilah tanah liat warna putih ditemukan. Sedangkan lapisan di bawah tanah liat warna putih ini merupakan tanah keras didominasi bebatuan, mengapa garis ? Karena kalau kita memotong sebuah lapisan tanah secara melintang akan terlihat garis-garis tanah yang melapisi bagian tersebut sehingga dapat dilihat dan dibedakan unsur-unsur apa saja yang terdapat disana dan lapisan apa saja yang membentuknya.

    Bagaimana dengan bagian ayat ini

    “,,,,beraneka macam warnanya,,”

    Maka dalam pemetaan suatu daerah di jawa tengah didapat suatu pemetaan dan warna – warna tanah yang lebih spesifik lagi untuk menentukan sifat fisik dan keteknikan tanah,

    ” Lempung Aluvium , terdiri dari lempung, pasir lempungan dan pasir. Lempung, mengandung pasir endapan limpah banjir, tersebar secara dominan di permukaan, berwarna coklat tua – abu-abu kecoklatan, ”

    “Lava Gunung api Dieng, terdiri dari lava dan breksi gunung api. Lava, bersifat andesit, pada umumnya melapuk ringan, berwarna abu-abu tua, padu, keras, bertekstur kasar dan porfiritik,”

    “Batuan Gunung api Tua Jembangan , terdiri dari breksi vulkanik , breksi tufa , breksi andesit , lava dan tufa . Breksi vulkanik, melapuk ringan – menengah, berwama abu-abu, berkomponen batuan andesitik berukuran 2 – 50 cm, agak segar, menyudut tanggung, tertanam dalam masa dasar pasir tufa, berwarna abu-abu kecoklatan, berbutir kasar, agak padat,

    Belum lagi kekayaan lain adalah jenis tanah di Indonesia ini juga membuktikan berbagai warna tadi misalnya Organosol atau Tanah Gambut atau Tanah Organik yang berasal dari bahan induk organik seperti dari hutan rawa atau rumput rawa, dengan ciri dan sifat: warna coklat hingga kehitaman,

    atau misalnya Latosol Jenis tanah ini telah berkembang atau terjadi diferensiasi horizon, kedalaman dalam, tekstur lempung, struktur remah hingga gumpal, konsistensi gembur hingga agak teguh, warna coklat merah hingga kuning.

    Ada juga Podsolik Merah Kuning, tanah mineral yang telah berkembang, solum (kedalaman) dalam, tekstur lempung hingga berpasir, struktur gumpal, konsistensi lekat, bersifat agak asam (pH kurang dari 5.5), kesuburan rendah hingga sedang, warna merah hingga kuning,

    Andosol,Jenis tanah mineral yang telah mengalami perkembangan profil, solum agak tebal, warna agak coklat kekelabuan hingga hitam, kandungan organik tinggi, tekstur geluh berdebu,

    Pembuktian – pembuktian didalam alam nyata yang dihubungkan dengan Al qur’an ini jelas menambah keteguhan dan eksistensi Al qur’an terhadap argument bahwa Qur’an bukanlah firman Gusti Alloh, atau buatan tangan Kanjeng Rasululloh, betapa orang-orang tersebut semakin jauh dari melihat kebenaran, bagaimana mungkin 14 abad yang lalu ilmu mengenai lapisan tanah sudah diketahui dan dituliskan didalam kitab Al Qur’an sementara pembuktian nya baru di awal abad 19 bisa terjadi.

    Ada jutaan rahasia didalam al Qur’an yang menunggu untuk dibuktikan dan diungkapkan oleh kita ummat islam yang mau berfikir dan mengambil petunjuk dari padanya,,,

    ” Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,”

    ***

    Diambil dari berbagai sumber

     
  • erva kurniawan 1:32 am on 1 December 2019 Permalink | Balas  

    Buah Kebeningan Hati 

    Buah Kebeningan Hati

    Saudara-saudaraku, sungguh beruntung bagi siapapun yang mampu menata qolbunya menjadi bening, jernih, bersih, dan selamat. Sungguh berbahagia dan mengesankan bagi siapapun sekiranya memiliki qolbu yang tertata, terpelihara, dan terawat dengan sebaik-baiknya. Karena selain senantiasa merasakan kelapangan, ketenangan, ketenteraman, kesejukan, dan indahnya hidup di dunia ini, pancaran kebeningan hati pun akan tersemburat pula dari indahnya setiap aktivitas yang dilakukan.

    Betapa tidak, orang yang hatinya tertata dengan baik, wajahnya akan jauh lebih jernih. Bagai embun menggelayut di ujung dedaunan di pagi hari yang cerah lalu terpancari sejuknya sinar mentari pagi; jernih, bersinar, sejuk, dan menyegarkan. Tidak berlebihan jika setiap orang akan merasa nikmat menatap pemilik wajah yang cerah, ceria, penuh sungging senyuman tulus seperti ini.

    Begitu pula ketika berkata, kata-katanya akan bersih dari melukai, jauh dari kata-kata yang menyombongkan diri, terlebih lagi ia terpelihara dari kata-kata riya, subhanallah. Setiap butir kata yang keluar dari lisannya yang telah tertata dengan baik ini, akan terasa sarat dengan hikmah, sarat dengan makna, dan sarat akan mamfaat. Tutur katanya bernas dan berharga. Inilah buah dari gelegak keinginan di lubuk hatinya yang paling dalam untuk senantiasa membahagiakan orang lain.

    Kesehatan tubuh pun terpancari pula oleh kebeningan hati, buah dari kemampuannya menata qolbu. Detak jantung menjadi terpelihara, tekanan darah terjaga, ketegangan berkurang,dan kondisi diri yang senantiasa diliputi kedamaian. Tak berlebihan jika tubuh pun menjadi lebih sehat, lebih segar, dan lebih fit. Tentu saja tubuh yang sehat dan segar seperti ini akan jauh lebih memungkinkan untuk berbuat banyak kepada umat.

    Orang yang bening hati, akal pikirannya pun akan jauh lebih jernih. Baginya tidak ada waktu untuk berpikir jelek sedetik pun jua. Apalagi berpikir untuk menzhalimi orang lain, sama sekali tidak terlintas dibenaknya. Waktu baginya sangat berharga. Mana mungkin sesuatu yang berharga digunakan untuk hal-hal yang tidak berharga? Sungguh suatu kebodohan yang tidak terkira. Karenanya dalam menjalani setiap detik yang dilaluinya ia pusatkan segala kemampuannya untuk menyelesaikan setiap tugas hidupnya. Tak berlebihan jika orang yang berbening hati seperti ini akan lebih mudah memahami setiap permasalahan, lebih mudah menyerap aneka ilmu pengetahuan, dan lebih cerdas dalam melakukan beragam kreativitas pemikiran. Subhanallah, bening hati ternyata telah membuahkan aneka solusi optimal dari kemampuan akal pikirannya.

    Walhasil, orang yang telah tertata hatinya adalah orang yang telah berhasil merintis tapak demi tapak jalan ke arah kebaikan tidak mengherankan ketika ia menjalin hubungan dengan sesama manusia pun menjadi sesuatu yang teramat mengesankan. Hatinya yang bersih membuat terpancar darinya akhlak yang indah mempesona, rendah hati, dan penuh dengan kesantunan. Siapapun yang berjumpa akan merasa kesan yang mendalam, siapapun yang bertemu akan memperoleh aneka mamfaat kebaikan, bahkan ketika berpisah sekalipun, orang seperti ini menjadi buah kenangan yang tak mudah dilupakan.

    Dan, Subhanallah, lebih dari semua itu, kebeningan hatipun ternyata dapat membuat hubungan dengan Allah menjadi luar biasa mamfaatnya. Dengan berbekal keyakinan yang mendalam, mengingat dan menyebut-Nya setiap saat, meyakini dan mengamalkan ayat-ayat-Nya, membuat hatinya menjadi tenang dan tenteram. Konsekuensinya, dia pun menjadi lebih akrab dengan Allah, ibadahnya lebih terasa nikmat dan lezat. Begitu pula do’a-do’anya menjadi luar biasa mustajabnya. Mustajabnya do’a tentu akan menjadi solusi bagi persoalan-persoalan hidup yang dihadapinya. Dan yang paling luar biasa adalah karunia perjumpaan dengan Allah Azza wa Jalla di akhirat kelak, Allahu Akbar.

    Pendek kata orang yang bersih hati itu, luar biasa nikmatnya, luar biasa bahagianya, dan luar biasa mulianya. Tidak hanya di dunia ini, tapi juga di akhirat kelak. Tidak rindukah kita memiliki hati yang bersih?

    Silahkan bandingkan dengan orang yang berperilaku sebaliknya; berhati busuk, semrawut, dan kusut masai. Wajahnya bermuram durja, kusam, dan senantiasa tampak resah dan gelisah. Kata-katanya bengis, kasar, dan ketus. Hatinya pun senantiasa dikotori buruk sangka, dendam kesumat, licik, tak mau kompromi, mudah tersinggung, tidak senang melihat orang lain bahagia, kikir, dan lain-lain penyakit hati yang terus menerus menumpuk, hingga sulit untuk dihilangkan. Tak berlebihan bila perilakunya pun menjadi hina dan nista, jauh dari perilaku terhormat, lebih dari itu, badannya pun menjadi mudah terserang penyakit. Penyakit buah dari kebusukan hati, buah dari ketegangan jiwa, dan buah dari letihnya pikiran diterpa aneka rona masalah kehidupan. Selain itu, akal pikirannya pun menjadi sempit dan bahkan lebih banyak berpikir tentang kezhaliman.

    Oleh karenanya, bagi orang yang busuk hati sama sekali tidak ada waktu untuk bertambah ilmu. Segenap waktunya habis hanya digunakan untuk memuntahkan ketidaksukaannya kepada orang lain. Tidak mengherankan bila hubungan dengan Allah SWT pun menjadi hancur berantakan, ibadah tidak lagi menjadi nikmat dan bahkan menjadi rusak dan kering. Lebih rugi lagi, ia menjadi jauh dari rahmat Allah. Akibatnya pun jelas, do’a menjadi tidak ijabah (terkabul), dan aneka masalah pun segera datang menghampiri, naudzubillaah (kita berlindung kepada Allah).

    Ternyata hanya kerugian dan kerugian saja yang didapati orang berhati busuk. Betapa malangnya. Pantaslah Allah SWT dalam hal ini telah mengingatkan kita dalam sebuah Firman-Nya : “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Q.S. Asy-Syam [91] : 9 – 10).

    Ingatlah saudaraku, hidup hanya satu kali dan siapa tahu tidak lama lagi kita akan mati. Marilah kita bersama-sama bergabung dalam barisan orang-orang yang terus memperbaiki diri, dan mudah-mudahan kita menjadi contoh awal bagaimana menjadikan hidup indah dan prestatif dengan bening hati, Insya Allah.

    ***

    Tausyiah AA.Gym.

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 30 November 2019 Permalink | Balas  

    Bila Hati Bercahaya 

    Bila Hati Bercahaya

    Adakah diantara kita yang merasa mencapai sukses hidup karena telah berhasil meraih segalanya : harta, gelar, pangkat, jabatan, dan kedudukan yang telah menggenggam seluruh isi dunia ini? Marilah kita kaji ulang, seberapa besar sebenarnya nilai dari apa-apa yang telah kita raih selama ini.

    Di sebuah harian pernah diberitakan tentang penemuan baru berupa teropong yang diberi nama telescope Hubble. Dengan teropong ini berhasil ditemukan sebanyak lima milyar gugusan galaksi. Padahal yang telah kita ketahui selama ini adalah suatu gugusan bernama galaksi bimasakti, yang di dalamnya terdapat planet-planet yang membuat takjub siapa pun yang mencoba bersungguh-sungguh mempelajarinya. Matahari saja merupakan salah satu planet yang sangat kecil, yang berada dalam gugusan galaksi di dalam tata surya kita. Nah, apalagi planet bumi ini sendiri yang besarnya hanya satu noktah. Sungguh tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan lima milyar gugusan galaksi tersebut. Sungguh alangkah dahsyatnya.

    Sayangnya, seringkali orang yang merasa telah berhasil meraih segala apapun yang dirindukannya di bumi ini – dan dengan demikian merasa telah sukses – suka tergelincir hanya mempergauli dunianya saja. Akibatnya, keberadaannya membuat ia bangga dan pongah, tetapi ketiadaannya serta merta membuat lahir batinnya sengsara dan tersiksa. Manakala berhasil mencapai apa yang diinginkannya, ia merasa semua itu hasil usaha dan kerja kerasnya semata, sedangkan ketika gagal mendapatkannya, ia pun serta merta merasa diri sial. Bahkan tidak jarang kesialannya itu ditimpakan atau dicarikan kambing hitamnya pada orang lain.

    Orang semacam ini tentu telah lupa bahwa apapun yang diinginkannya dan diusahakan oleh manusia sangat tergantung pada izin Allah Azza wa Jalla. Mati-matian ia berjuang mengejar apa-apa yang dinginkannya, pasti tidak akan dapat dicapai tanpa izin-Nya. Laa haula walaa quwwata illaabillaah! Begitulah kalau orang hanya bergaul, dengan dunia yang ternyata tidak ada apa-apanya ini.

    Padahal, seharusnya kita bergaul hanya dengan Allah Azza wa Jalla, Zat yang Maha Menguasai jagat raya, sehingga hati kita tidak akan pernah galau oleh dunia yang kecil mungil ini. Laa khaufun alaihim walaa hum yahjanuun! Samasekali tidak ada kecemasan dalam menghadapi urusan apapun di dunia ini. Semua ini tidak lain karena hatinya selalu sibuk dengan Dia, Zat Pemilik Alam Semesta yang begitu hebat dan dahsyat.

    Sikap inilah sesungguhnya yang harus senantiasa kita latih dalam mempergauli kehidupan di dunia ini. Tubuh lekat dengan dunia, tetapi jangan biarkan hati turut lekat dengannya. Ada dan tiadanya segala perkara dunia ini di sisi kita jangan sekali-kali membuat hati goyah karena toh sama pahalanya di sisi Allah. Sekali hati ini lekat dengan dunia, maka adanya akan membuat bangga, sedangkan tiadanya akan membuat kita terluka. Ini berarti kita akan sengsara karenanya, karena ada dan tiada itu akan terus menerus terjadi.

    Betapa tidak! Tabiat dunia itu senantisa dipergilirkan. Datang, tertahan, diambil. Mudah, susah. Sehat, sakit. Dipuji, dicaci. Dihormati, direndahkan. Semuanya terjadi silih berganti. Nah, kalau hati kita hanya akrab dengan kejadian-kejadian seperti itu tanpa krab dengan Zat pemilik kejadiannya, maka letihlah hidup kita.

    Lain halnya kalau hati kita selalu bersama Allah. Perubahan apa saja dalam episode kehidupan dunia tidak akan ada satu pun yang merugikan kita. Artinya, memang kita harus terus menerus meningkatkan mutu pengenalan kita kepada Allah Azza wa Jalla.

    Di antara yang penting yang kita perhatikan sekiranya ingin dicintai Allah adalah bahwa kita harus zuhud terhadap dunia ini. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Barangsiapa yang zuhud terhadap dunia, niscaya Allah mencintainya, dan barangsiapa yang zuhud terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya manusia mencintainya.”

    Zuhud terhadap dunia bukan berarti tidak mempunyai hal-hal yang bersifat duniawi, melainkan kita lebih yakin dengan apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tangan kita. Bagi orang-orang yang zuhud terhadap dunia, sebanyak apapun yang dimiliki sama sekali tidak akan membuat hati merasa tentram karena ketentraman itu hanyalah apa-apa yang ada di sisi Allah.

    Rasulullah SAW bersabda, “Melakukan zuhud dalam kehidupan di dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan bukan pula memboroskan kekayaan. Zuhud terhadap kehidupan dunia itu ialah tidak menganggap apa yang ada pada dirimu lebih pasti daripada apa yang ada pada Allah.” (HR. Ahmad, Mauqufan)

    Andaikata kita merasa lebih tentram dengan sejumlah tabungan di bank, maka berarti kita belum zuhud. Seberapa besar pun uang tabungan kita, seharusnya kita lebih merasa tentram dengan jaminan Allah. Ini dikarenakan apapun yang kita miliki belum tentu menjadi rizki kita kalau tidak ada izin Allah.

    Sekiranya kita memiliki orang tua atau sahabat yang memiliki kedudukan tertentu, hendaknya kita tidak sampai merasa tentram dengan jaminan mereka atau siapa pun. Karena, semua itu tidak akan datang kepada kita, kecuali dengan izin Allah.

    Orang yang zuhud terhadap dunia melihat apapun yang dimilikinya tidak menjadi jaminan. Ia lebih suka dengan jaminan Allah karena walaupun tidak tampak dan tidak tertulis, tetapi Dia Mahatahu akan segala kebutuhan kita.jangan ukur kemuliaan seseorang dengan adanya dunia di genggamannya. Sebaliknya jangan pula meremehkan seseorang karena ia tidak memiliki apa-apa. Kalau kita tidak menghormati seseorang karena ia tidak memiliki apa-apa. Kalau kita menghormati seseorang karena kedudukan dan kekayaannya, kalau meremehkan seseorang karena ia papa dan jelata, maka ini berarti kita sudah mulai cinta dunia. Akibatnya akan susah hati ini bercahaya disisi Allah.

    Mengapa demikian? Karena, hati kita akan dihinggapi sifat sombong dan takabur dengan selalu mudah membeda-bedakan teman atau seseorang yang datang kepada kita. Padahal siapa tahu Allah mendatangkan seseorang yang sederhana itu sebagai isyarat bahwa Dia akan menurunkan pertolongan-Nya kepada kita.

    Hendaknya dari sekarang mulai diubah sistem kalkulasi kita atas keuntungan-keuntungan. Ketika hendak membeli suatu barang dan kita tahu harga barang tersebut di supermarket lebih murah ketimbang membelinya pada seorang ibu tua yang berjualan dengan bakul sederhananya, sehingga kita mersa perlu untuk menawarnya dengan harga serendah mungkin, maka mulailah merasa beruntung jikalau kita menguntungkan ibu tua berimbang kita mendapatkan untung darinya. Artinya, pilihan membeli tentu akan lebih baik jatuh padanya dan dengan harga yang ditawarkannya daripada membelinya ke supermarket. Walhasil, keuntungan bagi kita justru ketika kita bisa memberikan sesuatu kepada orang lain.

    Lain halnya dengan keuntungan diuniawi. Keuntungan semacam ini baru terasa ketika mendapatkan sesuatu dari orang lain. Sedangkan arti keuntungan bagi kita adalah ketika bisa memberi lebih daripada yang diberikan oleh orang lain. Jelas, akan sangat lain nilai kepuasan batinnya juga.

    Bagi orang-orang yang cinta dunia, tampak sekali bahwa keuntungan bagi dirinya adalah ketika ia dihormati, disegani, dipuji, dan dimuliakan. Akan tetapi, bagi orang-orang yang sangat merindukan kedudukan di sisi Allah, justru kelezatan menikmati keuntungan itu ketika berhasil dengan ikhlas menghargai, memuliakan, dan menolong orang lain. Cukup ini saja! Perkara berterima kasih atau tidak, itu samasekali bukan urusan kita. Dapatnya kita menghargai, memuliakan, dan menolong orang lain pun sudah merupakan keberuntungan yang sangat luar biasa.

    Sungguh sangat lain bagi ahli dunia, yang segalanya serba kalkulasi, balas membalas, serta ada imbalan atau tidak ada imbalan. Karenanya, tidak usah heran kalau para ahli dunia itu akan banyak letih karena hari-harinya selalu penuh dengan tuntutan dan penghargaan, pujian, dan lain sebagainya, dari orang lain. Terkadang untuk mendapatkan semua itu ia merekayasa perkataan, penampilan, dan banyak hal demi untuk meraih penghargaan.

    Bagi ahli zuhud tidaklah demikian. Yang penting kita buat tatanan kehidupan ini seproporsional mungkin, dengan menghargai, memuliakan, dan membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun. Inilah keuntungan-keuntungan bagi ahli-ahli zuhud. Lebih merasa aman dan menyukai apa-apa yang terbaik di sisi Allah daripada apa yang didapatkan dari selain Dia.

    Walhasil, siapapun yang merindukan hatinya bercahaya karena senantiasa dicahayai oleh nuur dari sisi Allah, hendaknya ia berjuang sekuat-kuatnya untuk mengubah diri, mengubah sikap hidup, menjadi orang yang tidak cinta dunia, sehingga jadilah ia ahli zuhud.

    “Adakalanya nuur Illahi itu turun kepadamu,” tulis Syaikh Ibnu Atho’illah dalam kitabnya, Al Hikam, “tetapi ternyata hatimu penuh dengan keduniaan, sehingga kembalilah nuur itu ke tempatnya semula. Oleh sebab itu, kosongkanlah hatimu dari segala sesuatu selain Allah, niscaya Allah akan memenuhinya dengan ma’rifat dan rahasia-rahasia.”

    Subhanallaah, sungguh akan merasakan hakikat kelezatan hidup di dunia ini, yang sangat luar biasa, siapapun yang hatinya telah dipenuhi dengan cahaya dari sisi Allah Azza wa Jalla. “Cahaya di atas cahaya. Allah membimbing (seorang hamba) kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki …” (QS. An Nuur [24] : 35).

    ***

    Tausyiah AA.Gym.

     
    • Rissaid 4:58 am on 30 November 2019 Permalink

      Saat baca jd teringat Aa Gym, materi beliau ttg Zuhud bbrp waktu lalu, Masyallah ternyata kajian beliau.

  • erva kurniawan 1:28 am on 29 November 2019 Permalink | Balas  

    Mimbar Jum’at: Jangan Lupakan Bagianmu di Dunia 

    Mimbar Jum’at: Jangan Lupakan Bagianmu di Dunia

    Assalamu’alaikum wr.wb.

    Allah berfirman, bismillahirrahmaanirrahiim,

    “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (untuk) negri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu pada dunia, dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS Al Qashash 77).

    “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung” (QS Al Jumu’ah 10).

    Maha benar segala firman Allah. Dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, bagiNya-lah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagiNya-lah segala penentuan dan hanya kepadaNya-lah kamu dikembalikan (QS Al Qashash 70). Segala ungkapan syukur hanya bagi Allah atas seluruh karuniaNya yang sangat banyak yang telah dianugerahkan kepada kita semua, yang jika dihitung satu persatu tidak mungkin dapat mengkalkulasikannya, karena terlalu banyaknya. Atas perkenaanNya pula kita masih dipertemukan kembali pada pagi ini, di hari Jum’at pertama bulan Shafar 1427 H ataupun bulan Maret 2006 M (tanggal 3 Shafar yang bertepatan juga dengan 3 Maret), melalui mimbar yang hadir dengan bahasan tentang anjuran tidak melupakan kehidupan duniawi untuk mencapai kesuksesan, baik selama hidup di dunia maupun kelak di akhirat nanti, sebagaimana telah dibahas pada mimbar yang lalu. Karena bagaimanapun juga kesuksesan di akhirat itu sangat tergantung dari bagaimana kita menapaki kehidupan duniawi. Namun sebelumnya, mari kita bermohon semoga curahan shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad salallahu alaihi wassalam, beserta seluruh keluarga dan para sahabatnya, juga semua pengikutnya yang tetap konsisten melanjutkan perjuangannya mendakwahkan Islam dimana dan kapan saja.

    Muslimin dan muslimat dimana saja berada,

    Sahabat Anas bin Malik mengisahkan, bahwa ada sekumpulan orang datang ke rumah istri-istri Nabi saw., menanyakan tentang ibadah yang dilakukan Rasulullah. Ketika disampaikan kepada mereka tentang ibadah Rasulullah, seakan-akan mereka saling mengatakan :’Manakah bagian yang bisa kita laksanakan dari apa yang telah dilakukan Rasulullah, padahal beliau telah mendapatkan jaminan ampunan (Allah) dari dosa yang telah lalu maupun yang akan datang ?’. Di antara mereka ada yang berkata : ‘Aku akan melakukan shalat malam sepanjang malam (tanpa tidur)’. Ada pula yang berkata : ‘Aku akan berpuasa sepanjang tahun, tidak akan berbuka di siang hari’. Ada lagi yang berkata : ‘Aku akan menjauhi wanita, tidak akan menikah selamanya’. Kemudian Rasulullah mendengar tentang hal itu, dan mendatangi mereka seraya bersabda : “Apakah kalian orang-orang yang mengatakan begini dan begitu ? Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut dan paling takwa kepada Allah di antara kalian. Tetapi aku masih juga berpuasa dan berbuka, shalat malam dan tidur, serta menikahi wanita. Barangsiapa benci kepada sunnahku, maka dia tidak termasuk golongan umatku” (HR Bukhari). Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah mendengar kabar bahwa Abdillah bin Amr bin Ash mengatakan akan melakukan puasa di siang hari dan shalat sunnah di malam hari sepanjang hidupnya. Maka kemudian Rasulullah bersabda : “Wahai Abdallah, telah sampai berita kepadaku bahwa engkau selalu melakukan puasa di siang hari dan shalat sunnah di malam hari (sepanjang hayat). Maka janganlah kamu melakukan yang demikian. Sebab bagi badan dan matamu ada hak. Demikian pula bagi istrimu, ada hak. Sekali tempo berpuasa dan sekali tempo berbukalah. Puasalah di setiap bulan tiga hari. Yang demikian adalah sama dengan puasa setahun penuh”.

    ‘Aisyah istri Nabi saw telah meriwayatkan, bahwa pada suatu malam Rasulullah datang dan langsung mendekat kepadanya hingga bersentuhan, kemudian beliau bersabda :”Tinggalkanlah diriku karena (pada malam ini) aku hendak beribadah kepada Allah”. Kemudian Rasulullah mengambil air wudhu’, dan melaksanakan shalat sambil menangis berlinang air mata sehingga membasahi jenggotnya. Lalu beliau sujud hingga tempat sujudnya basah. Setelah selesai melaksanakan shalat, lalu beliau tiduran hingga Bilal mengumandangkan adzan subuh. (Karena Rasulullah tidak juga muncul setelah adzan subuh tersebut dan Bilal tahu bahwa pada malam itu merupakan giliran di rumah ‘Aisyah, kemudian Bilal mendatangi Rasulullah karena dia merasa khawatir terjadi sesuatu pada diri Rasulullah).

    Bilal bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah yang menyebabkan engkau menangis, padahal Allah telah mengampuni segala dosamu yang terdahulu maupun yang akan datang ?” Rasulullah menjawab : :”Waihaka (celakalah), wahai Bilal, tidak sesuatupun yang dapat mencegahku dari menangis, sebab semalam Allah telah menurunkan ayat : Inna fii khalqis samaawaati wal ardhi wahtilaafil laili wan nahaari laa aayatil li uulil albaab (sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang adalah ayat-ayat / tanda kebesaran Allah bagi uulil albab / orang-orang yang menggunakan akalnya)(QS Ali Imran 100)” Kemudian beliau bersabda : “Celakalah bagi orang yang mebaca ayat ini, namun dia tidak mau memikirkan makna dan maksudnya”. (HR Ibnu Abi Dun-ya dalam kitab tafakur).

    Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah,

    Apabila kita memperhatikan sejarah umat Islam ini dari jaman ke jaman, terutama setelah era pertengahan atau setelah jaman keemasan dalam bidang ilmu dan teknologi yang dikuasai umat Islam, tampaknya sebagian umat lebih menekuni dunia sufi dan zuhud dengan meninggalkan atau melupakan kehidupan duniawi, dan berjalan tidak seirama dengan syariat karena mungkin kurangnya pengetahuan mereka tentang syariat, ataupun karena rasa bangga yang berlebihan dengan kekuatan akalnya.

    Mereka berdalil dengan ayat-ayat Qur’an namun mereka tidak memahami makna yang sebenarnya. Misalnya, “Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kenikmatan yang menipu” (QS Ali Imran 185), atau pada ayat yang lain : “Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau” (QS Muhammad 36). Mereka kemudian tidak mau mendekati dunia dan memperlakukannya secara berlebihan tanpa berusaha mencari hakekat firman Allah tersebut. Padahal Allah telah memperingatkan untuk tidak melupakan bagian hidupnya di dunia, seperti pada firman Allah QS Al Qashash 77 yang terjemahannya dikutipkan pada mukadimah mimbar ini. Jabir bin Abdillah meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah menyampaikan khutbah Jum’at : “Wahai manusia, sesungguhnya untuk kalian telah ada petunjuk-petunjuk, maka berpeganglah pada petunjuk-petunjuk itu, dan kalian jangan membatasi, maka berpeganglah pada apa yang telah ditentukan bagi kalian itu.

    Sesungguhnya seorang hamba yang beriman berada di antara dua ketakutan, antara batas masa lalu yang ia tidak mengetahui bagaimana Allah akan berbuat kepadanya, dan masa yang akan datang juga ia tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada dirinya. Karena itu, setiap orang harus berbekal untuk kepentingan dirinya, dari masa hidupnya sampai kematiannya, dari masa mudanya untuk masa tuanya, dan dari (kehidupan) dunia untuk (kehidupan) akhiratnya. Maka dunia ini dijadikan untuk kalian, untuk di akhirat kelak. Demi Allah yang jiwaku ada dalam genggamanNya, sesudah kematian tidak ada lagi taubat, dan sesudah dunia tidak ada lagi tempat kecuali surga dan neraka. Aku katakan hal ini dan aku memohon ampunan kepada Allah untukku dan untuk kalian”.

    Dari kekeliruan dalam memahami petunjuk Allah dan RasulNya inilah yang menyebabkan umat Islam saat ini mengalami stagnasi atau bahkan kemunduran dalam bidang ilmu dan teknologi, jika dibandingkan dengan kemajuan umat bukan Islam. Fakta menunjukkan bahwa hampir mayoritas umat Islam di muka bumi ini adalah kaum fakir dan miskin, umumnya berpendidikan rendah dan gagap teknologi. Bahkan saat ini umat Islam terkotak-kotak oleh golongan atau aliran, yang seringkali antar golongan atau aliran tersebut terjadi pertikaian, berperang antar umat Islam untuk berebut kedudukan, seperti yang terjadi beberapa hari belakangan ini di Irak. Dengan kata lain, kefakiran, kemalasan dan kebodohan serta perpecahan umat Islam merupakan penyebab atau musuh dari dalam yang dapat menghancurkan bangunan Islam.

    Oleh karena itu, kita bisa memahami mengapa Rasulullah menangis ketika turunnya QS Ali Imran 190, seperti dalam hadits yang disampaikan oleh ‘Aisyah di atas. Karena Allah sebenarnya telah menginformasikan kepada Rasulullah tentang kejadian umat beliau di masa yang akan datang, seperti apa yang sedang terjadi pada saat ini. Ada sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dimana umat Islam seringkali salah dalam memahami arti miskin dan kaya. Rasulullah pernah bersabda : “Bukan dikatakan miskin orang yang mendapatkan kecukupan hidup, tetapi dikatakan miskin adalah orang yang tidak mampu menopang hidupnya.

    Demikian pula tidak dikatakan miskin orang yang memiliki ketrampilan kerja yang dapat mencukupi kebutuhan hidupnya, dan orang yang berjalan meminta-minta kepada sesama manusia. Bukanlah seseorang dikatakan kaya karena banyaknya harta benda, tetapi yang dikatakan kaya adalah yang kaya ilmu pengetahuan”.

    Maka sesuai judul mimbar ini : “Jangan Lupakan Bagianmu di Dunia”, mari kita berusaha meningkatkan ilmu kita dan berusaha mencerdaskan untuk mensejahterakan umat, sehingga kita bisa bangkit untuk mengejar ketertinggalan kita dalam ilmu dan teknologi, sehingga umat Islam nantinya bukan hanya sekedar menjadi obyek, tetapi mampu menjadi subyek. Kita mulai dari diri kita masing-masing, lingkungan yang ada di sekitar kita, insya Allah bisa terus sampai seluruh umat. Kita jangan terlarut dalam ritual ibadah untuk kehidupan akhirat, sehingga melupakan karya atau kiprah kita dalam kehidupan dunia sebagai khalifah Allah di muka bumi. Ataupun sebaliknya, kita hanya memikirkan dunia terus menerus, namun lupa terhadap bekal yang harus dibawa untuk kehidupan akhirat.

    Allah telah memerintahkan kepada kita agar begitu selesai melakukan suatu ibadah, segeralah kita bertebaran di muka bumi untuk meraih karuniaNya, sebagaimana firmanNya QS Al Jumu’ah 10 yang terjemahannya dikutipkan pada mukadimah mimbar ini. Ingat bahwa kesuksesan yang akan kita raih di akhirat kelak, sangat tergantung kepada segala apa yang kita lakukan di dunia.

    Semoga kita termasuk orang yang sukses dunia dan akhirat, amien. Kita akhiri mimbar ini, alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin.

    Wassalamu’alaikum wr.wb.

    Nana Djumhana

     
  • erva kurniawan 1:31 am on 28 November 2019 Permalink | Balas  

    Bersandar hanya Kepada Allah 

    Bersandar hanya Kepada Allah

    Tiada keberuntungan yang sangat besar dalam hidup ini, kecuali orang yang tidak memiliki sandaran, selain bersandar kepada Allah. Dengan meyakini bahwa memang Allah-lah yang menguasai segala-galanya; mutlak, tidak ada satu celah pun yang luput dari kekuasaan Allah, tidak ada satu noktah sekecil apapun yang luput dari genggaman Allah. Total, sempurna, segala-galanya Allah yang membuat, Allah yang mengurus, Allah yang menguasai.

    Adapun kita, manusia, diberi kebebasan untuk memilih, “Faalhamaha fujuraha wataqwaaha”, “Dan sudah diilhamkan di hati manusia untuk memilih mana kebaikan dan mana keburukan”. Potensi baik dan potensi buruk telah diberikan, kita tinggal memilih mana yang akan kita kembangkan dalam hidup ini. Oleh karena itu, jangan salahkan siapapun andaikata kita termasuk berkelakuan buruk dan terpuruk, kecuali dirinyalah yang memilih menjadi buruk, naudzubillah.

    Sedangkan keberuntungan bagi orang-orang yang bersandarnya kepada Allah mengakibatkan dunia ini, atau siapapun, terlampau kecil untuk menjadi sandaran baginya. Sebab, seseorang yang bersandar pada sebuah tiang akan sangat takut tiangnya diambil, karena dia akan terguling, akan terjatuh. Bersandar kepada sebuah kursi, takut kursinya diambil. Begitulah orang-orang yang panik dalam kehidupan ini karena dia bersandar kepada kedudukannya, bersandar kepada hartanya, bersandar kepada penghasilannya, bersandar kepada kekuatan fisiknya, bersandar kepada depositonya, atau sandaran-sandaran yang lainnya.

    Padahal, semua yang kita sandari sangat mudah bagi Allah (mengatakan ‘sangat mudah’ juga ini terlalu kurang etis), atau akan ‘sangat mudah sekali’ bagi Allah mengambil apa saja yang kita sandari. Namun, andaikata kita hanya bersandar kepada Allah yang menguasai setiap kejadian, “laa khaufun alaihim walahum yahjanun’, kita tidak pernah akan panik, Insya Allah.

    Jabatan diambil, tak masalah, karena jaminan dari Allah tidak tergantung jabatan, kedudukan di kantor, di kampus, tapi kedudukan itu malah memperbudak diri kita, bahkan tidak jarang menjerumuskan dan menghinakan kita. kita lihat banyak orang terpuruk hina karena jabatannya. Maka, kalau kita bergantung pada kedudukan atau jabatan, kita akan takut kehilangannya. Akibatnya, kita akan berusaha mati-matian untuk mengamankannya dan terkadang sikap kita jadi jauh dari kearifan.

    Tapi bagi orang yang bersandar kepada Allah dengan ikhlas, ‘ya silahkan … Buat apa bagi saya jabatan, kalau jabatan itu tidak mendekatkan kepada Allah, tidak membuat saya terhormat dalam pandangan Allah?’ tidak apa-apa jabatan kita kecil dalam pandangan manusia, tapi besar dalam pandangan Allah karena kita dapat mempertanggungjawabkannya. Tidak apa-apa kita tidak mendapatkan pujian, penghormatan dari makhluk, tapi mendapat penghormatan yang besar dari Allah SWT. Percayalah walaupun kita punya gaji 10 juta, tidak sulit bagi Allah sehingga kita punya kebutuhan 12 juta. Kita punya gaji 15 juta, tapi oleh Allah diberi penyakit seharga 16 juta, sudah tekor itu.

    Oleh karena itu, jangan bersandar kepada gaji atau pula bersandar kepada tabungan. Punya tabungan uang, mudah bagi Allah untuk mengambilnya. Cukup saja dibuat urusan sehingga kita harus mengganti dan lebih besar dari tabungan kita. Demi Allah, tidak ada yang harus kita gantungi selain hanya Allah saja. Punya bapak seorang pejabat, punya kekuasaan, mudah bagi Allah untuk memberikan penyakit yang membuat bapak kita tidak bisa melakukan apapun, sehingga jabatannya harus segera digantikan.

    Punya suami gagah perkasa. Begitu kokohnya, lalu kita merasa aman dengan bersandar kepadanya, apa sulitnya bagi Allah membuat sang suami muntaber, akan sangat sulit berkelahi atau beladiri dalam keadaan muntaber. Atau Allah mengirimkan nyamuk Aides Aigepty betina, lalu menggigitnya sehingga terjangkit demam berdarah, maka lemahlah dirinya. Jangankan untuk membela orang lain, membela dirinya sendiri juga sudah sulit, walaupun ia seorang jago beladiri karate.

    Otak cerdas, tidak layak membuat kita bergantung pada otak kita. Cukup dengan kepleset menginjak kulit pisang kemudian terjatuh dengan kepala bagian belakang membentur tembok, bisa geger otak, koma, bahkan mati.

    Semakin kita bergantung pada sesuatu, semakin diperbudak. Oleh karena itu, para istri jangan terlalu bergantung pada suami. Karena suami bukanlah pemberi rizki, suami hanya salah satu jalan rizki dari Allah, suami setiap saat bisa tidak berdaya. Suami pergi ke kanotr, maka hendaknya istri menitipkannya kepada Allah.

    “Wahai Allah, Engkaulah penguasa suami saya. Titip matanya agar terkendali, titip hartanya andai ada jatah rizki yang halal berkah bagi kami, tuntun supaya ia bisa ikhtiar di jalan-Mu, hingga berjumpa dengan keadaan jatah rizkinya yang barokah, tapi kalau tidak ada jatah rizkinya, tolong diadakan ya Allah, karena Engkaulah yang Maha Pembuka dan Penutup rizki, jadikan pekerjaannya menjadi amal shaleh.”

    Insya Allah suami pergei bekerja di back up oleh do’a sang istri, subhanallah. Sebuah keluarga yang sungguh-sungguh menyandarkan dirinya hanya kepada Allah. “Wamayatawakkalalallah fahuwa hasbu”, (QS. At Thalaq [65] : 3). Yang hatinya bulat tanpa ada celah, tanpa ada retak, tanpa ada lubang sedikit pun ; Bulat, total, penuh, hatinya hanya kepada Allah, maka bakal dicukupi segala kebutuhannya. Allah Maha Pencemburu pada hambanya yang bergantung kepada makhluk, apalagi bergantung pada benda-benda mati. Mana mungkin? Sedangkan setiap makhluk ada dalam kekuasaan Allah. “Innallaaha ala kulli sai in kadir”.

    Oleh karena itu, harus bagi kita untuk terus menerus meminimalkan penggantungan. Karena makin banyak bergantung, siap-siap saja makin banyak kecewa. Sebab yang kita gantungi, “Lahaula wala quwata illa billaah” (tiada daya dan kekuatan yang dimilikinya kecuali atas kehendak Allah). Maka, sudah seharusnya hanya kepada Allah sajalah kita menggantungkan, kita menyandarkan segala sesuatu, dan sekali-kali tidak kepada yang lain, Insya Allah.

    ***

    Tausyiah AA.Gym.

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 27 November 2019 Permalink | Balas  

    Mimbar Jum’at: Sarana Meraih Kesuksesan 

    Mimbar Jum’at: Sarana Meraih Kesuksesan

    Assalamu’alaikum wr.wb.

    Allah berfirman, bismillahirrahmaanirrahiim,

    “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shaleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahKu dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang ingkar sesudah itu, mereka itulah orang-orang yang fasik. Dan dirikanlah shalat, tunaikan zakat, dan taatlah kepada Rasul agar kamu mendapat rahmat” (QS An Nuur 55-56).

    “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar maha kuat lagi maha perkasa.(Allah pasti menolong) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang munkar, dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS Al Hajj 40-41).

    Maha benar segala firman Allah.TiadaTuhan kecuali Allah yang maha esa lagi maha kuasa. Allah yang telah menciptakan seluruh alam jagat raya dan segala isinya, termasuk manusia yang menghuni bumi, sebuah planet yang teramat sangat kecil keberadaannya di tengah maha luasnya jagat raya ini. Jika bumi secara fisik begitu amat kecil, apalagi manusia sebagai penghuninya. Jadi apa yang pantas dibanggakan manusia di hadapan Allah yang maha besar. Oleh karena itu, kita selaku hamba Allah yang sekaligus khalifahNya di muka bumi ini, tiada yang pantas dipanjatkan kepadaNya kecuali segala puji dan ungkapan syukur atas berbagai karuniaNya yang berlimpah ruah tak terhitung banyaknya itu yang diberikan kepada kita semua. Dan atas seizin Allah pula kita masih dipertemukan melalui mimbar yang hadir di pagi hari Jum’at, 10 Shafar 1427 H yang bertepatan dengan tanggal 10 Maret 2006, yang akan membahas masih berkaitan dengan mimbar-mimbar sebelumnya, yaitu tentang kesuksesan. Namun sebelumnya, selaku umat Nabi Muhammad salallahu alaihi wassalam seyogyanya kita bermohon semoga curahan shalawat dan salam senantiasa melimpah kepada beliau beserta seluruh keluarga dan para sahabatnya, dan juga semua pengikutnya dari jaman ke jaman yang tetap konsisten melanjutkan perjuangannya sehingga Islam tetap tegak di muka bumi sampai kiamat nanti.

    Muslimin dan muslimat dimana saja berada,

    Plato pernah berkata : “Kesuksesan awal dan yang terbaik adalah menundukkan diri sendiri (hawa nafsunya). Dan sebaliknya, ditundukkan oleh diri sendiri (hawa nafsunya) adalah yang paling memalukan dan paling hina dari segala-galanya”. Hawa nafsu adalah fitrah manusia sehingga tidak mungkin dibuang atau dipungkiri keberadaannya, sekaligus merupakan anugerah Allah sebagai daya pendorong untuk mewujudkan kemauan yang melahirkan gerak dan kekuatan. Potensi hawa nafsu pada dasarnya adalah positif. Dia merupakan dorongan atau energi mental untuk meraih apa yang ingin dicapai. Hanya saja, dorongan, motivasi dan ambisi-ambisi tersebut harus dikendalikan sedemikian rupa sehingga tidak berubah menjadi ambisius yang menjerumuskan pada sifat-sifat arogansi dan tindakan yang di luar kendali. Hawa nafsu yang tidak terkendali, bukan saja akan membakar orang lain, tetapi juga akan membumi-hanguskan dirinya sendiri. Jiwanya akan menjadi buta dan arah tindakannya sangat mekanistik hanya satu arah, ibarat robot yang dikendalikan kekuatan listrik yang melebihi kapasitas geraknya yang normal. Itulah sebabnya pengendalian terhadap ambisi atau dorongan hawa nafsu merupakan salah satu kunci kesuksesan. Dan kunci pengendalian diri terletak pada pikiran, keyakinan dan kebiasaan-kebiasaan kita sendiri. Peranan fuad atau hati nurani dan kesadaran diri sangat dibutuhkan untuk mengendalikan dan mengarahkan potensi hawa nafsu, sehingga hawa nafsu tersebut tidak mampu mengembangkan potensi negatifnya yang akan mengarahkan perjalanan hidup kita kepada duniawi semata, yang gemerlap dalam gelap penuh dengan sifat keburukan dan fana. Kemampuan fuad dan kesadaran dalam mengendalikan hawa nafsu kita merupakan kesuksesan besar untuk melangkah menuju harapan masa depan yang lebih baik, bukan hanya dalam kehidupan dunia saja, tetapi juga untuk kehidupan akhirat kelak. Kemuliaan manusia justru berada dalam dinamika potensi hawa nafsu yang mampu dikendalikannya. Ibarat seorang penggembala yang menggiring domba gembalaannya, meskipun ada domba yang bandel atau binal, tercecer berlari kesana kemari, namun tugas penggembala bukanlah untuk membunuhnya, tetapi menggiringnya menuju kandang yang membatasi ruang gerak domba tersebut dan sekaligus menyelamatkannya dari terkaman srigala atau predator lainnya.

    Dengan demikian, selama kita mengetahui tabiat hawa nafsu, mengetahui arah dan gerakannya, niscaya lebih mudah mengendalikannya, bahkan diarahkan untuk menggapai tujuan hidup yang hakiki, sehingga kesuksesan dapat di raih bukan hanya ketika dalam menjalani kehidupan di dunia yang sementara saja, tetapi juga kesuksesan di akhirat yang abadi. Kita menyadari bahwa tabiat hawa nafsu itu cenderung mengarah ke bumi (duniawi) atau potensi hawa nafsu itu merupakan api pembakar, sehingga bila tidak dikendalikan akan merusak dan menghanguskan ruhani kita, sehingga akan menyimpang dari kebenaran. Oleh karena itu Allah mengingatkan manusia : ” …..Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsumu karena ingin menyimpang dari kebenaran …” (QS An Nisaa’ 135). Bahkan dengan tabiat hawa nafsu yang mengarah pada penyimpangan dari kebenaran itu, dapat menjebak dan menyebabkan manusia menjadi sesat dan jauh dari cahaya Ilahi, seperti yang diingatkan Allah melalui firmanNya : ” …..dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsumu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat karena mereka melupakan hari perhitungan” (QS Shaad 26). Dari kedua peringatan Allah tersebut, jelaslah bagi kita bahwa jika ingin sukses dunia dan akhirat, maka syaratnya kita harus mampu mengendalikan hawa nafsu sendiri. Apa sarananya agar kita selalu mampu mengendalikan hawa nafsu tersebut sehingga kita dapat meraih kesuksesan ? Salah satu sarana yang paling efektif dalam melatih pengendalian hawa nafsu kita adalah dengan banyak mengosongkan perut atau melaparkan diri alias berpuasa. Namun puasa saja belum cukup untuk meraih kesuksesan, masih harus ditunjang dengan sarana-sarana lainnya, sesuai ketentuan yang telah ditetapkan Allah kepada manusia.

    Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah,

    Dengan mengacu pada firman Allah QS An Nuur 55-56 dan Al Hajj 40-41 yang terjemahannya dikutipkan pada mukadimah mimbar ini, paling tidak, ada lima (5) sarana untuk mencapai kesuksesan menurut perspektif Islam.

    Pertama, adalah mendirikan shalat, yaitu menunaikan shalat sebagaimana yang dikehendaki oleh syariat, dengan memenuhi persyaratannya, rukun-rukunnya, dan memahami hakekat shalat dan makna waktu dan gerakannya yang mendidik pelakunya berdisiplin dan rendah hati. Dengan demikian, melakukan shalat bukan hanya sekedar memenuhi kewajiban atau menggugurkan fardhu ‘ain saja, tetapi shalat yang berdampak luas dan positif terhadap pelakunya, yaitu berakhlak mulia, selalu mengingat Allah dan mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar : “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS Al Ankabuut 45). Dengan menegakkan shalat secara baik dan benar, akan mampu mengendalikan diri, membuat hati tentram, tidak banyak mengeluh dan jauh dari sifat kikir, seperti yang diinformasikan oleh Allah : “Sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang melaksanakan shalat, yang (dalam keadaan bagaimanapun) mereka tetap melaksanakan shalatnya” (QS Al Ma’aarij 19-23).

    Kedua, menunaikan zakat, yaitu kewajiban memberikan sebagian harta kita kepada yang berhak menerimanya, untuk membersihkan harta dan jiwa kita dalam rangka mencari ridha Allah. Dengan demikian, agar kita mampu berzakat, tentu kita berusaha menjadi orang yang mampu atau berkelebihan harta. Karena bagaimana mungkin kita bisa berzakat jika masuk dalam kategori kaum dhuafa/ fakir-miskin. Oleh karena itu, seseorang dianggap sukses di dunia dengan banyak harta adalah orang yang banyak menginfakan hartanya di jalan Allah, salah satunya dengan menunaikan zakat, sehingga dengan harta yang diinfakan/dizakatkan itu akan memberikan banyak manfaat bagi orang lain. Namun pada kenyataannya, masih ada atau mungkin masih banyak di antara kita yang masih berfikir duniawi dan matematis bahwa dengan mengeluarkan hartanya untuk diberikan kepada orang lain, dianggap rugi karena akan mengurangi jumlah kekayaannya, sehingga akan cenderung menjadi pelit/kikir. Hal ini sebenarnya Allah telah menginformasikan kepada kita : “Di antara orang-orang Arab badui itu, ada orang yang memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu sebagai kerugian dan ia menunggu-nunggu marabahaya menimpamu, (padahal) dialah yang akan ditimpa marabahaya. Dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui” (QS At Taubah 98).

    Ketiga, amar ma’ruf nahi munkar, yaitu mengajak atau menyuruh orang lain untuk berbuat kebaikan dan berusaha mencegah orang lain untuk berbuat kejahatan. Tentunya sebelum melakukan hal itu terhadap orang lain, diri kita harus sudah melaksanakannya terlebih dahulu. Karena jika tidak demikian, Allah akan membenci kita seperti yang ditegaskan melalui firmanNya : “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat ? Amat besar kebencian di sisi Allah terhadap kamu yang mengatakan apa yang tidak kamu perbuat”. (QS Ash Shaff 2-3). Untuk bisa beramar ma’ruf nahi munkar tentunya harus memiliki ilmu dan wawasan. Dan untuk itu tentunya harus terus belajar agar ilmu dan wawasan kita terus meningkat. Belajar memahami ayat-ayat Allah baik yang terulis berupa Al-Qur’an maupun yang tidak tertulis berupa alam dan lingkungan hidup di sekitar kita. Belajar untuk menambah ilmu pengetahuan dan juga belajar dari pengalaman, baik dari kesuksesan maupun dari kegagalan. Tentunya semua itu akan menjadi kunci kesuksesan kita.

    Keempat, mentaati Rasul, karena taat kepada Rasul berarti taat kepada Allah, seperti yang dinyatakan dalam firman Allah : “Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah.” (QS An Nisaa’ 80). Untuk bisa mentaati Rasul, seyogyanya kita harus mengetahui siapa sesungguhnya Rasul itu, bagaimana kehidupannya, bagaimana karakter atau akhlaknya, bagaimana perjuangannya, dan sebagainya. Dengan mengetahui riwayat kehidupan Rasul, maka kita akan berusaha untuk dapat meneladaninya, seperti yang dipesankan oleh Allah kepada kita : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir dan dia banyak menyebut Allah” (QS Al Ahzab 21). Seperti yang kita ketahui bahwa Nabi Muhammad Rasulullah adalah manusia yang mencapai kesuksesan luar biasa, baik sebagai pemimpin, sebagai pendakwah, sebagai enterpreuner, sebagai bisnismen, sebagai kepala keluarga, dan yang mencakup berbagai aspek kehidupan lainnya. Oleh karena itu, untuk mencapai kesuksesan kita selayaknya menjadikan beliau sebagai referensi utama.

    Kelima, mengembalikan segala urusan kepada Allah. Maknanya bahwa kita sebagai manusia hanyalah wajib berusaha, tetapi ketentuan akan keberhasilan usaha kita itu ada di tangan Allah. Terkadang apa yang kita dapatkan dari usaha itu tidak seperti yang kita harapkan atau rencanakan. Atau bahkan hasilnya di luar dugaan, melebihi apa yang ditargetkan. Oleh karena itu, ketika kita mendapat kegagalan dalam suatu usaha, bersabar dan tidak perlu putus asa, dan ketika kita mendapat keberuntungan, banyak bersyukur. Atau dengan kata lain kembalikan semuanya kepada Allah, karena Dia-lah yang mengatur segalanya. Ketika mendapat kegagalan, mungkin Allah menghendaki kebaikan yang lain kepada kita, sesuatu yang tidak kita ketahui. Dengan demikian kita berusaha tidak akan dan jangan pernah berburuk sangka kepada Allah, jika mendapat kegagalan atau musibah.

    Semoga dengan memahami sarana Qur’ani untuk meraih kesuksesan, akan memotivasi kita untuk berusaha dapat melaksanakannya sesuai kemampuan kita masing-masing. Dimulai dari usaha selalu mengedalikan hawa nafsu kita dengan sarana berpuasa, kemudian mengikuti lima sarana yang mengacu kepada firman Allah QS An Nuur 55-56 dan Al Hajj 40-41 di atas, insya Allah, derajat kemuliaan kita akan meningkat dan kesuksesan dunia akhirat akan kita raih. Hal itu merupakan sunnatullah yang tidak pernah berubah selamanya. “Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tidak akan pernah menemukan perubahan bagi sunnatullah itu” (QS Al Fath 23). Masalahnya kembali kepada kita, apakah kita mau melaksanakannya dengan benar dan sungguh-sungguh atau tidak. Maka, jika memang kita ingin sukses dunia akhirat, kita harus berusaha dapat melaksanakannya dan tentu tidak lupa dibarengi dengan do’a. Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita do’a memohon kesuksesan : “Allahumma innii as-aluka shihhatan fii iimaanin wa iimaanan fii husni khuluqin wa najaahan yathba’uhu falaahun wa rahmatan minka wa ‘aafiyatan wa maghfiratan minka wa ridhwana (Ya Allah sungguh aku mohon kepadaMu kemurnian iman dan akhlak terpuji serta kesuksesan yang disertai keberuntungan, dan aku mohon rahmat, kesehatan, pengampunan dan keridhaanMu)” (HR Hakim). Semoga kita menjadi orang yang sukses, amien. Dan kita akhiri mimbar ini, alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin.

    Wassalamu’alaikum wr.wb.

    Nana Djumhana

     
  • erva kurniawan 1:23 am on 26 November 2019 Permalink | Balas  

    Para Penghuni Gua 

    Para Penghuni Gua

    Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) prasasti itu mereka, termasuk tanda-tanda Kami yang mengherankan. (QS Al Kahfi 9)

    Surat ke 18 Al Qur’an dinamakan dengan “Al-Khaf” yang berarti “gua”, menceritakan tentang sekelompok pemuda yang berlindung di sebuah gua untuk bersembunyi dari penguasa yang mengingkari Allah dan melakukan penindasan dan perbutan tidak adil atas mereka yang beriman. Ayat-ayat yang menerangkan tentang hal ini adalah sebagai berikut :

    Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunya) prasasti itu mereka, termasuk tanda-tanda Kami yang mengherankan?. (ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu encari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”.

    Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu, kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tingal (di dalam gua itu). Kami menceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesunguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk; dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka). Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orrang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?. Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu . Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka dalam tempat yang yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari anda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.

    Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka.

    Dan demikianlah Kami bangunkan merka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Sudah berapalamakah kamu berada (disini)?”. Mereka menjawab” “Kita berada (disini) sehari atau etengah hari”. Berkata (yang lain lagi) “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (disini). Maka suruhlah salah satu orang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun.

    Sesungguhnya jika mereka dapat mengatahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu atau memaksamu kembali kepada agama mereka dan jika demikian nisaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya:

    Dan demikianlah (kami) mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: “dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka”. Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan diatasnya”. Nanti (ada orang yang akan ) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya dan (yang lain) mengatakan: “(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjingnya”, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib: dan (yang lain lagi) mengatakan: “(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya” Katakanlah : “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Muhammmad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun diantara mereka.

    Dan janganlah sekali-kali kamu mengatakan terhadap seuatu ; “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah; “Mudah-mudahan Tuhanku memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini”. Dan mereka tinggal di dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).

    Katakanlah: ” Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nyalah semua yang tersembunyi di langit dan bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain daripada-Nya’ dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan”. (QS Al Kahfi 9-26).

    Menurut kepercayaan yang berkembang luas di kalangan pengikut agama Islam dan Kristen, yang dimaksudkan dengan para Penghuni Gua adalah warga negara dari tiran yang kejam dari kekaisaran Romawi bernama Decius. Dikarenakan menemui penindasan dan tindakan sewenang-wenang, sekelompok orang muda ini memperingatkan kaumnya berkali-kali untuk tidak meninggalkan agama Allah. Ketidakacuhan dari kaumnya terhadap pesan-pesan tersebut dijawab dengan peningkatan penindasan oleh pihak kekaisaran dan mereka diancam untuk dibunuh, hal ini mengakibatkan mereka untuk meninggalkan rumah mereka (berlilndung).

    Sebagaimana dikabarkan oleh catatan sejarah, pada saat itu, banyak kekaisaran yang melaksanakan kebijakan teror secara meluas, penindasan dan tindakan sewenang-wenang terhadap mereka yang percaya kepada agama Kristen dalam bentuk dan asalnya yang murni.

    Dalam sebuah surat yang ditulis oleh Gubernur Romawi Pilinius (69-113 M) yang berada di Barat Laut Anatolia kepada Kaisar Trayanus, ia menghubungkannya dengan “orang-orang Messiah (Kristen) yang dihukum karena mereka menolak untuk menyembah patung dari sang kaisar”. Surat ini adalah salah satu dokumen terpenting yang berkaitan dengan penindasan yang menimpa orang-orang Kristen pada masa awalnya. Berada dalam situasi seperti ini, maka orang-orang muda ini yang diperintahkan untuk tunduk kepada system yang non-agama dan untuk menyembah seorang kaisar sebagai tuhan selain Allah, merekapun tidak menerima hal ini dan mengatakan :

    dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalu demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka). Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?. (QS Al Kahfi 14-15).

    Dengan memperhatikan daerah dimana Para Penghuni Gua hidup, terdapat beberapa pandangan yang berbeda. Yang paling bisa diterima dengan akal daerah ini adalah Ephesus dan Tarsus.

    Hampir semua sumber dari agama Kristen menunjukkan Ephesus adalah tempat dari Gua dimana orang-orang muda yang beriman ini berlindung. Beberapa peneliti Muslim dan pengamat Al Qur’an setuju dengan pendapat kaum Kristen tentang Ephesus. Beberapa yang lainnya menerangkan dengan terperinci bahwa tempat tersebut bukanlah Ephesus, dan kemudian berusaha untuk membuktikan bahwa kejadian tersebut terjadi di Tarsus. Dalam penelitian ini, kedua alternatif ini akan dibahas. Lagipula, semua peneliti dan pengamat – termasuk kalangan Kristen – mengatkan bahwa kejadian tersebut terjadi pada masa Kekaisaan Romawi Decius ( yang juga disebut dengan Decianus) sekitar 250 M.

    Decius bersama dengan Nero dikenal sebagai Kaisar Romawi yang sangatlah sering menyiksa kaum Kristen. Dalam masa pemerintahannya yang singkat, ia mengesahkan sebuah hukum yang memaksa semua orang yang berada di bawah kekuasaannya untuk melakukan sebuah pengorbanan terhadap dewa-dewa Roawi. Seiap orang diwajibkan untuk melakukan pengorbanan terhadap dewa-dewa ini dan mereka harus mampu menunjukkan surat sertifikat yang menyatakan bahwa mereka telah melakukan pengorbanan tersebut yang harus mereka tunjukkan kepada petugas pemerintahan. Bagi mereka yang tidak mematuhinya akan dibunuh. Dalam sumber-sumber Kristen hal ini dikatakan bahwa sebagian besar dari kaum Kristen menolak perilaku musyrik ini dan melarikan diri dari “satu kota ke kota lain” atau bersembunyi di tempat rahasia. Para Penghuni gua kemungkinan besar adalah salah satu kelompok diantara para kaum Kristen awal ini.

    Namun demikian ada satu hal yang harus ditekankan disini; topik ini telah diceritakan dalam sebuah cerita (perilaku) oleh banyak ahli sejarah dan pengamat Islam dan Kristen, dan akhirnya berubah menjdi sebuah legenda sebagai hasil dari penambahan-penambahan yang penuh dengan kepalsuan dan cerita mulut ke mulut. Namun demikian, kejadian ini adalah benar-benar merupakan kenyataan sejarah yang tidak apat diingkari.

    Adakah Para Penghuni Gua berada di Ephesus

    Sebagaimana diketahui kota dimana orang-orang muda ini hidup dan gua dimana mereka berlindung, beberapa tempat diindikasikan dalam berbagai sumber yang berbeda. Alasan utama untuk alasan ini adalah : orang-orang ingin percaya bahwa sebuah keteguhan hati dan keberanian dari orang-orag yang hidup dikotanya dan banyaknya kesamaan antara gua-gua yang ada di daerah tersebut. Sebagai contoh, hampir di semua tempat ini terdapat tempat untuk menyembah dikatakan dibangun diatas gua-gua.

    Sebagaimana dikenal luas, Ephesus diterima sebagai sebuah tempat suci bagi orang Kristen, karena dikota tersebut terdapat sebuah rumah yang dikatakan menjadi milik Perawan Maria dan yang kemudian berubah menjadi sebuah gereja. Jadi sangatlah mungkin bahwa Para Penghuni Gua pernah hidup disalah datu diantara tempat-tempat suci tersebut. Beberapa sumber Kristen bahkan menegaskan bahwa tempatnya adalah disini.

    Sumber tertua yang berkaitan dengan hal ini adalah dari seorang pendeta Syria bernama James dari Saruc ( lahir 452 M). Ahli sejarah terkemuka Gibbon telah banyak mengutip dari penelitian James dalam bukunya yang berjudul The Decline and Fall of the Roman Empire (Kemunduran dan runtuhnya Kekaisaan Romawi). Berdasarkan buku ini, Kaisar yang melakukan penyiksaan tujuh pemuda pemeluk agama Kristen dan memamksa mereka untuk bersembunyi di dalam gua adalah kaisar Decius. Decius berkuasa di Kekaisaan Romawi antara 249-251 M dan masa pemerinahannya dikenal luas terhadap penyiksaan yang dilakukan terhadap para pengikut Nabi Isa (Jesus). Menurut para pengamat Islam, daerah dimana kejadian tersebut terjadi adalah “Aphesus” atau juga “Aphesos”. Menurut Gibbon nama dari tempat ini adalah Ephesus. Terletak di pantai Barat Anatolia, kota ini adalah salah satu pelabuhan dan kota terbesar dari kekaisaran Romawi. Saat ini reruntuhan dari kota ini dikenal sebagai “Kota Antik Ephesus”.

    Bagian dalam dari gua di Ephesus yang dianggap sebagai gua yang ditempati Para Penghuni Gua.

    Nama dari kaisar yang memerintah dalam masa ketika para Penghuni Gua dibangunkan dari tidur mereka yang panjang adalah Tezusius menurut para peneliti Muslim, dan menurut Gibon adalah Theodosius II menurut Gibbons. Kekaisaran ini berkuasa antra 408-450 M, setelah kekaisaran Romawi berubah memeluk agama Kristen.

    Menurut ayat dibawah ini, dalam beberapa komentarnya dikatakan bahwa pintu masuk dari gua mengarah ke Utara sehingga sinar matahari tidak bisa menembus ke alam gua. Dengan demikian seseorang yang melewati gua tersebut tidak dapat melihat sama sekali apa yang ada didalamnya. Ayat Al Qur’an yang berkaian dengan hal ini mengatakan :

    Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka dalam tempat yang yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari anda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.( QS Al Kahfi: 17)

    Gua di Ephesus tampak dari luar. Ahli Arkeologis Dr. Musa Baran menunjuk Ephesus sebagai tempat dimana sekelompok orang muda yang beriman ini hidup, dalam bukunya yang berjudul “Ephesus” dia menambahkan :

    **Di tahun 250 SM, tujuh orang pemuda yang idup di Ephesus memilih untuk memeluk agama Kristen dan menolak penyembahan terhadap berhala . Mencoba untuk mencari jalan keluar, sekelompok pemuda ini menemukan sebuah gua yang berada di sebelah Timur lereng gunung Pion. Tentara Romawi yang melihat ini dan merekapun membangun dinding di pintu gua tersebut .

    Saat ini, telah diketahi bahwa diatas reruntuhan tua dan kuburan ini banyak didirikan bangunan religius. Penggalian yang dilakukan oleh Institut Arkrologi Austria di ahun 1926 mengungkapkan bahwa reruntuhan yang ditemukan di lereng Timur dari gunung Pion merupakan sebuah bangunan yang didirikan untuk kepentingan Para Penghuni Gua di pertengahan abad 7 (selama masa kepemimpinan Theodosius II) .

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 25 November 2019 Permalink | Balas  

    Barokah Sholat Khusu 

    Barokah Sholat Khusu’

    Hikam : Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman yaitu orang-orang yang khusyu dalam sholatnya dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna (Al-Quran: Surat Al-Mu`minun )

    Rasulullah SAW bersabda : Ilmu yang pertama kali di angkat dari muka bumi ialah kekhusyuan. (HR. At-Tabrani )

    Nabi Muhammad SAW dalam sholatnya benar-benar dijadikan keindahan dan terjadi komunikasi yang penuh kerinduan dan keakraban dengan Allah. Ruku, sujudnya panjang, terutama ketika sholat sendiri dimalam hari, terkadang sampai kakinya bengkak tapi bukannya berlebihan, karena ingin memberikan yang terbaik sebagai rasa syukur terhadap Tuhannya. Sholatnya tepat pada waktunya dan yang paling penting, sholatnya itu teraflikasi dalam kehidupan sehari-hari.

    Ciri-ciri orang-orang yang sholatnya khusyu:

    1. Sangat menjaga waktunya, dia terpelihara dari perbuatan dan perkataan sia-sia apa lagi maksiat. Jadi orang-orang yang menyia-nyiakan waktu suka berbuat maksiat berarti sholatnya belum berkualitas atau belum khusyu.
    2. Niatnya ikhlas, jarang kecewa terhadap pujian atau penghargaan, dipuji atau tidak dipuji, dicaci atau tidak dicaci sama saja.
    3. Cinta kebersihan karena sebelum sholat, orang harus wudhu terlebih dahulu untuk mensucikan diri dari kotoran atau hadast.
    4. Tertib dan disiplin, karena sholat sudah diatur waktunya.
    5. Selalu tenang dan tuma`ninah, tuma`ninah merupakan kombinasi antara tenang dan konsentrasi.
    6. Tawadhu dan rendah hati, tawadhu merupakan akhlaknya Rasulullah.
    7. Tercegah dari perbuatan keji dan munkar, orang lain aman dari keburukan dan kejelekannya.

    Orang yang sholatnya khusyu dan suka beramal baik tapi masih suka melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah, mudah-mudahan orang tersebut tidak hanya ritualnya saja yang dikerjakan tetapi ilmunya bertambah sehingga membangkitkan kesadaran dalam dirinya.

    Jika kita merasa sholat kita sudah khusyu dan kita ingin menjaga dari keriaan yaitu dengan menambah pemahaman dan mengerti bacaan yang ada didalam sholat dan dalam beribadah jangan terhalang karena takut ria.

    Inti dalam sholat yang khusyu yaitu akhlak menjadi baik, sebagaimana Rosulullah menerima perintah sholat dari Allah, agar menjadikan akhlak yang baik. Itulah ciri ibadah yang disukai Allah.

    Semoga di bulan ramadhan ini kita meningkatkan kualitas sholat kita.

    ***

    Tausyiah AA. Gym.

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 24 November 2019 Permalink | Balas  

    Belajar Dari Wajah 

    Belajar Dari Wajah

    Menarik sekali jikalau kita terus menerus belajar tentang fenomena apapun yang terjadi dalam hiruk-pikuk kehidupan ini. Tidak ada salahnya kalau kita buat semacam target. Misalnya : hari ini kita belajar tentang wajah. Wajah? Ya, wajah. Karena masalah wajah bukan hanya masalah bentuknya, tapi yang utama adalah pancaran yang tersemburat dari si pemilik wajah tersebut.

    Ketika pagi menyingsing, misalnya, tekadkan dalam diri : “Saya ingin tahu wajah yang paling menenteramkan hati itu seperti apa? Wajah yang paling menggelisahkan itu seperti bagaimana?” karena pastilah hari ini kita akan banyak bertemu dengan wajah orang per orang. Ya, karena setiap orang pastilah punya wajah. Wajah irtri, suami, anak, tetangga, teman sekantor, orang di perjalanan, dan lain sebagainya. Nah, ketika kita berjumpa dengan siapapun hari ini, marilah kita belajar ilmu tentang wajah.

    Subhanallaah, pastilah kita akan bertemu dengan beraneka macam bentuk wajah. Dan, tiap wajah ternyata dampaknya berbeda-beda kepada kita. Ada yang menenteramkan, ada yang menyejukkan, ada yang menggelikan, ada yang menggelisahkan, dan ada pula yang menakutkan. Lho, kok menakutkan? Kenapa? Apa yang menakutkan karena bentuk hidungnya? Tentu saja tidak! Sebab ada yang hidungnya mungil tapi menenteramkan. Ada yang sorot matanya tajam menghunjam, tapi menyejukkan. Ada yang kulitnya hitam, tapi penuh wibawa.

    Pernah suatu ketika berjumpa dengan seorang ulama dari Afrika di Masjidil Haram, subhanallaah, walaupun kulitnya tidak putih, tidak kuning, tetapi ketika memandang wajahnya… sejuk sekali! Senyumnya begitu tulus meresap ke relung qolbu yang paling dalam. Sungguh bagai disiram air sejuk menyegarkan di pagi hari. Ada pula seorang ulama yang tubuhnya mungil, dan diberi karunia kelumpuhan sejak kecil. Namanya Syekh Ahmad Yassin, pemimpin spiritual gerakan Intifadah, Palestina. Ia tidak punya daya, duduknya saja di atas kursi roda. Hanya kepalanya saja yang bergerak. Tapi, saat menatap wajahnya, terpancar kesejukan yang luar biasa. Padahal, beliau jauh dari ketampanan wajah sebagaimana yang dianggap rupawan dalam versi manusia. Tapi, ternyata dibalik kelumpuhannya itu beliau memendam ketenteraman batin yang begitu dahsyat, tergambar saat kita memandang sejuknya pancaran rona wajahnya.

    Nah, saudaraku, kalau hari ini kita berhasil menemukan struktur wajah seseorang yang menenteramkan, maka caru tahulah kenapa dia sampai memiliki wajah yang menenteramkan seperti itu. Tentulah, benar-benar kita akan menaruh hormat. Betapa senyumannya yang tulus; pancaran wajahnya, nampak ingin sekali ia membahagiakan siapapun yang menatapnya. Dan sebaliknya, bagaimana kalau kita menatap wajah lain dengan sifat yang berlawanan; (maaf, bukan bermaksud meremehkan) ada pula yang wajahnya bengis, struktur katanya ketus, sorot matanya kejam, senyumannya sinis, dan sikapnya pun tidak ramah. Begitulah, wajah-wajah dari saudara-saudara kita yang lain, yang belum mendapat ilmu; bengis dan ketus. Dan ini pun perlu kita pelajari.

    Ambillah kelebihan dari wajah yang menenteramkan, yang menyejukkan tadi menjadi bagian dari wajah kita, dan buang jauh-jauh raut wajah yang tidak ramah, tidak menenteramkan, dan yang tidak menyejukkan.

    Tidak ada salahnya jika kita evalusi diri di depan cermin. Tanyalah; raut seperti apakah yang ada di wajah kita ini? Memang ada diantara hamba-hamba Allah yang bibirnya di desain agak berat ke bawah. Kadang-kadang menyangkanya dia kurang senyum, sinis, atau kurang ramah. Subhanallaah, bentuk seperti ini pun karunia Allah yang patut disyukuri dan bisa jadi ladang amal bagi siapapun yang memilikinya untuk berusaha senyum ramah lebih maksimal lagi.

    Sedangkan bagi wajah yang untuk seulas senyum itu sudah ada, maka tinggal meningkatkan lagi kualitas senyum tersebut, yaitu untuk lebih ikhlas lagi. Karena senyum di wajah, bukan hanya persoalan menyangkut ujung bibir saja, tapi yang utama adalah, ingin tidak kita membahagiakan orang lain? Ingin tidak kita membuat di sekitar kita tercahayai? Nabi Muhammad SAW, memberikan perhatian yang luar biasa kepada setiap orang yang bertemu dengan beliau sehingga orang itu merasa puas. Kenapa puas? Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW – bila ada orang yang menyapanya – menganggap orang tersebut adalah orang yang paling utama di hadapan beliau. Sesuai kadar kemampuannya.

    Walhasil, ketika Nabi SAW berbincang dengan siapapun, maka orang yang diajak berbincang ini senantiasa menjadi curahan perhatian. Tak heran bila cara memandang, cara bersikap, ternyata menjadi atribut kemuliaan yang beliau contohkan. Dan itu ternyata berpengaruh besar terhadap sikap dan perasaan orang yang diajak bicara.

    Adapun kemuramdurjaan, ketidakenakkan, kegelisahan itu muncul ternyata diantara akibta kita belum menganggap orang yang ada dihadapan kita orang yang paling utama. Makanya, terkadang kita melihat seseorang itu hanya separuh mata, berbicara hanya separuh perhatian. Misalnya, ketika ada seseorang yang datang menghampiri, kita sapa orang itu sambil baca koran. Padahal, kalau kita sudah tidak mengutamakan orang lain, maka curahan kata-kata, cara memandang, cara bersikap, itu tidak akan punya daya sentuh. Tidak punya daya pancar yang kuat.

    Orang karena itu, marilah kita berlatih diri meneliti wajah, tentu saja bukan maksud untuk meremehkan. Tapi, mengambil tauladan wajah yang baik, menghindari yang tidak baiknya, dan cari kuncinya kenapa sampai seperti itu? Lalu praktekkan dalam perilaku kita sehari-hari. Selain itu belajarlah untuk mengutamakan orang lain!

    Mudah-mudahan kita dapat mengutamakan orang lain di hadapan kita, walaupun hanya beberapa menit, walaupun hanya beberapa detik, subhanallaah.

    ***

    Tausyiah AA. Gym.

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 23 November 2019 Permalink | Balas  

    Al Waliyyu 

    Al Waliyyu

    Bismillahhirrahmaanirrahiim,

    Semoga Allah yang Maha Menatap, mengkaruniakan kepada kita nikmatnya berlindung hanya kepada Allah, amannya berlindung hanya kepada Allah, karena yang membuat kita gelisah adalah ketika kita berlindung selain kepada Allah.

    Al-Walliyyu makna dasarnya menurut Prof. Dr. Quraish Syihab yaitu dekat, kemudian muncul makna-makna baru yaitu pendukung, pembela, pelindung, yang mencintai, yang lebih utama, dll.

    Seperti tertera dalam Al-Qur’an “Allah pelindung orang yang beriman yang mengeluarkan dari kegelapan kepada cahaya iman”.

    Perlindungan Allah yang paling penting adalah diberi keteguhan iman. Perlindungan Allah yang paling besar adalah diberi kekuatan iman. Makin kuat iman, kita mau diapa-apakan tidak masalah. Jadi kalau ingin diberi perlindungan Allah yang paling kokoh adalah minta diberi kekuatan iman dan minta diteguhkan. Akal kita dicerdaskan juga dapat merupakan perlindungan Allah sehingga kita bisa bertemu dengan perlindungan Allah.

    Perlindungan Allah itu bermacam-macam, contohnya pada Perang Badar, bukan hanya pasukan malaikat saja yang turun tetapi musuh juga jadi terlihat sedikit dimata kaum muslimin.

    Musuh terbesar bagi kita adalah bukan makhluk, karena itu hanya alat, musuh besar kita adalah setan dan kawan-kawannya. Hal yang paling berbahaya bagi kita adalah bukan orang lain tetapi sikap kita sendiri. Sedangkan kalau tidak ada musuh tidak akan seru. Maka orang-orang yang berlindung kepada Allah pasti memuaskan dan nikmat, karena perlindungan Allah itu spektrumnya sangat luas, bisa terdeteksi bisa juga tidak terdeteksi oleh akal kita. Tidak ada yang tidak masuk akal, tetapi akal kita yang tidak sampai. Titipkan istri atau suami masing-masing kepada Allah. Dengan mengamalkan doa “Hasbunallah wani’malwakil Ni’malmaula wani’mal nashir”. Dengan mengamalkan doa ini dan meyakini bahwa semua makhluk itu milik Allah. Dengan Allah-lah urusan kita serahkan. Berdiri, duduk dan berbaring ingat kepada Allah karena semuanya milik Allah. Sesuai dengan kisah Nabi Muhammad SAW ketika diancam untuk dibunuh dengan pedang terhunus, kata yang keluar dari mulut Beliau adalah “Aku berlindung kepada Allah”.

    Ini adalah ilmu hati, berbeda lagi dengan ilmu akal dan ilmu fisik, karena nanti kita tidak bisa mati konyol karena hanya yakin. Ini adalah jalan syariat untuk tidak konyol.

    Tidak boleh keyakinan melemahkan ikhtiar, tidak boleh kegigihan ikhtiar memperlemah keyakinan. Jadi lakukanlah ikhtiar; tubuh 100% bersimbah keringat terus berbuat all out, otak peras sesuai teknologi yang paling mutakhir saat ini. Kita tidak bisa konyol dengan hanya membawa panah melawan peluru. Ilmu hatinya sudah benar dengan keyakinan tetapi sunnatullahnya adalah kecepatan peluru lebih daripada panah, hal ini harus diakali. Berbeda dengan zaman Rasul atau sudah tidak ada peluang.

    Sebuah kisah meriwayatkan ketika Rasulullah hijrah dan berdoa di goa Tur, sahabat Abu Bakar merasa gentar, jawaban Rasul adalah “Jangan sedih sesungguhnya Allah bersama kita”.

    Jadi kita sempurnakan syariat, tubuh harus dimaksimalkan, otak juga. Dua-duanya akan menjadi ibadah. Tidak masalah jika kita mati terbunuh. Tidak ada yang kalah kecuali orang yang kurang iman. Kemenangan dan kekalahan hanya dipergilirkan. Mudah-mudahan kejadian di Palestina dan Amerika membuat kita semakin mantap untuk meyakini kebenaran.

    Walhamdulillahirobbil’alamiin.

     
  • erva kurniawan 1:23 am on 29 August 2019 Permalink | Balas  

    Jumlah Minimal Jama’ah Shalat Jum’at 

    Jumlah Minimal Jama’ah Shalat Jum’at

    Shalat Jum’at dilakukan secara berjama’ah dan tidak sah bila dilakukan secara sendirian. Namun para ulama berselisih tentang jumlah minimal orang yang menghadiri shalat Jum’at. Berikut beberapa pendapat tentang jumlah minimal jama’ah Shalat Jum’at :

    Pertama,

    Tidak diadakan kecuali minimal 40 orang yang diwajibkan shalat Jum’at. Ini adalah pendapat madzhab Maliki, Syafi’i dan yang masyhur dalam madzhab Ahmad. Dalilnya adalah Hadits Ka’ab bin Malik,

    “As’ad bin Zararah adalah orang pertama yang mengadakan shalat Jum’at bagi kami di daerah Hazmi dari harrah Bani Bayadhah di daerah Naqi’ yang terkenal dengan Naqi’ Al Khadhamat. Saya bertanya kepadanya, Waktu itu berapa jumlah kalian ?”, dia menjawab, ‘Empat puluh’” (HR. Abu Dawud no.1069, Ibnu Majah no. 1082 dan lainnya, hadits ini dihasankan oleh Abu Ishaq Al Huwaini dalam Ghauts Al Makdud bi Takhrij Muntaqa Ibni Al Jarud)

    Kedua,

    Harus ada 12 orang dari yang diwajibkan Jum’at, mereka berdalil dengan hadits Jabir, “Rasulullah berdiri berkhutbah pada hari Jum’at, lalu datanglah rombongan dari Syam, lalu orang-orang pergi menemuinya sehingga tidak tersisa kecuali dua belas orang” (HR. Muslim no. 863)

    Ketiga

    Disyaratkan paling sedikit tiga orang; seorang Khatib dan 2 orang pendengarnya. Demikian riwayat dari Imam Ahmad, Al Hasan Al Bashri, Abu Yusuf dan salah satu pendapat Sufyan Ats Tsauri.

    Adapun dalilnya adalah hadits Abu Ad Darda’ sebagai berikut, “Tidak ada dari 3 orang di satu perkampungan atau pedalaman, (lalu) tidak ditegakkan padanya shalat, kecuali setan akan menguasai mereka” (HR. Abu Dawud no. 537 dan An Nasa’i 2/106, hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

    Keempat

    Sah diadakan oleh 2 orang atau lebih. Mereka menyatakan, telah dimaklumi bahwa shalat Jama’ah selain Jum’at sah dilakukan dua orang saja secara ijma’ dan shalat Jum’at sama dengan shalat Jama’ah lainnya. Barangsiapa yang mengeluarkan dari shalat jama’ah lainnya harus mendatangkan dalil dan tidak ada dalil yang tegas dalam masalah ini. Pendapat ini dirajihkan oleh Imam Ibnu Hazm (Al Muhalla 5/45), Asy Syaukani (Nailul Authar), Shidiq Hasan Khan dan Al Albani (Al Ajwiba An Anfi’ah hal. 44). Demikian inilah pendapat yang rajih insya Allah.

    Maraji’ :

    Diringkas dari tulisan Ustadz Abu Asma Khalid bin Syamhudi pada Majalah As Sunnah Edisi 02/VIII/1425H/2004M, Penerbit : Yayasan Lajnah Istiqamah Surakarta.

     
  • erva kurniawan 9:26 am on 28 August 2019 Permalink | Balas  

    Syirik (Bagian 2) 

    Syirik (2)

    Sihir, Perdukunan dan Ramalan

    Temasuk syirik yang banyak terjadi adalah sihir, perdukunan dan ramalan. Adapun sihir, ia termasuk perbuatan kufur dan di antara tujuh dosa besar yang menyebabkan kebinasaan. Sihir hanya mendatangkan bahaya dan sama sekali tidak bermanfaat bagi manusia. Allah Ta’ala berfirman:

    “Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi madharat kepadanya dan tidak memberi manfaat (Al Baqarah : 102).

    “Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang” (Thaha : 69)

    Orang yang mengajarkan sihir adalah kafir. Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

    “Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir) hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu kepada seseorangpun) sebelum mengatakan, “sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. (Al Baqarah : 102).

    Hukuman bagi tukang sihir adalah dibunuh, pekerjaannya haram dan jahat. Orang-orang bodoh, sesat dan lemah iman pergi kepada para tukang sihir untuk berbuat jahat kepada orang lain atau untuk membalas dendam kepada mereka. Di antara manusia ada yang melakukan perbuatan haram, dengan mendatangi tukang sihir dan memohon pertolongan padanya agar terbebas dari pengaruh sihir yang menimpanya. Padahal seharusnya ia mengadu dan kembali kepada Allah, memohon kesembuhan dengan KalamNya, seperti dengan Mu’awwidzat (surat Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas) dan sebagainya.

    Dukun dan tukang ramal itu memanfaatkan kelengahan orang-orang awam (yang minta pertolongan padanya) untuk mengeruk uang mereka sebanyak-banyaknya. Mereka menggunakan banyak sarana untuk perbuatannya tersebut. Di antaranya dengan membuat garis di pasir, memukul rumah siput, membaca (garis) telapak tangan,cangkir, bola kaca, cermin, dsb.

    Jika sekali waktu mereka benar, maka sembilan puluh sembilan kalinya hanyalah dusta belaka. Tetapi tetap saja orang-orang dungu tidak mengingat, kecuali waktu yang sekali itu saja. Maka mereka pergi kepada para dukun dan tukang ramal untuk mengetahui nasib mereka di masa depan, apakah akan bahagia, atau sengsara, baik dalam soal pernikahan, perdagangan, mencari barang-barang yang hilang atau yang semisalnya.

    Hukum orang yang mendatangi tukang ramal atau dukun, jika mempercayai terhadap apa yang dikatakannya adalah kafir, keluar dari agama Islam. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

    “Barang siapa mendatangi dukun dan tukang ramal, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, sungguh dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad”. (HR Ahmad: 2/ 429, dalam shahih jami’ hadits, no : 5939)

    Adapun jika orang yang datang tersebut tidak mempercayai bahwa mereka mengetahui hal-hal ghaib, tetapi misalnya pergi untuk sekedar ingin tahu, coba-coba atau sejenisnya, maka ia tidak tergolong orang kafir, tetapi shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

    “Barang siapa mendatangi tukang ramal, lalu ia menanyakan padanya tentang sesuatu, maka tidak di terima shalatnya selama empat puluh malam” (Shahih Muslim : 4 / 1751).

    Ini masih pula harus dibarengi dengan tetap mendirikan shalat (wajib) dan bertaubat atasnya.

    Kepercayaan adanya pengaruh bintang dan planet terhadap berbagai kejadian dan kehidupan manusia.

    Dari Zaid bin Khalid Al Juhani, Ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam shalat bersama kami, shalat subuh di Hudaibiyah – Di mana masih ada bekas hujan yang turun di malam harinya- setelah beranjak beliau menghadap para sahabatnya seraya berkata:

    “Apakah kalian mengetahui apa yang difirmankan oleh Robb kalian? Mereka menjawab : “ Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui”. Allah berfirman : Pagi ini di antara hambaKu ada yang beriman kepadaKu dan ada pula yang kafir. Adapun orang yang berkata: kami diberi hujan denagn karunia Allah dan rahmatNya maka dia beriman kepadaKu dan kafir terhadap bintang. Adapun orang yang berkata: (hujan ini turun) karena bintang ini dan bintang itu maka dia telah kufur kepadaKu dan beriman kepada bintang” (HR Al Bukhari, lihat Fathul Baari : 2/ 333).

    Termasuk dalam hal ini adalah mempercayai Astrologi (ramalan bintang) seperti yang banyak kita temui di Koran dan majalah. Jika ia mempercayai adanya pengaruh bintang dan planet-planet tersebut maka dia telah musyrik. Jika ia membacanya sekedar untuk hiburan maka ia telah melakukan perbuatan maksiat dan berdosa. Sebab tidak dibolehkan mencari hiburan dengan membaca hal-hal syirik. Di samping syaitan terkadang berhasil menggoda jiwa manusia sehingga ia percaya kepada hal-hal syirik tersebut, maka membacanya termasuk sarana dan jalan menuju kemusyrikan.

    Termasuk syirik, mempercayai adanya manfaat pada sesuatu yang tidak dijadikan demikian oleh Allah Tabaroka wata’ala. Seperti kepercayaan sebagian orang terhadap jimat, mantera-mantera berbahu syirik, kalung dari tulang, gelang logam dan sebagainya, yang penggunaannya sesuai dengan perintah dukun, tukang sihir, atau memang merupakan kepercayaan turun menurun.

    Mereka mengalungkan barang-barang tersebut di leher, atau pada anak-anak mereka untuk menolak ‘ain (pengaruh jahat yang disebabkan oleh rasa dengki seseorang dengan pandangan matanya; kena mata). Demikian anggapan mereka. Terkadang mereka mengikatkan barang-barang tersebut pada badan, manggantungkannya di mobil atau rumah, atau mereka mengenakan cincin dengan berbagai macam batu permata, disertai kepercayaan tertentu, seperti untuk tolak bala’ atau untuk menghilangkannya.

    Hal semacam ini, tak diragukan lagi sangat bertentangan dengan (perintah) tawakkal kepada Allah. Dan tidaklah hal itu menambah kepada manusia, selain kelemahan. Belum lagi ia termasuk berobat dengan sesuatu yang diharamkan.

    Berbagai jimat yang digantungkan, sebagian besar dari padanya termasuk syirik jaly (yang nyata). Demikian pula dengan minta pertolongan kepada sebagian jin atau setan, gambar-gambar yang tak bermakna, tulisan-tulisan yang tak berarti dan sebagainya. Sebagian tukang tenung (sulap) menulis ayat-ayat Al Qur’an dan mencampur-adukkannya dengan hal lain yang termasuk syirik. Bahkan sebagian mereka menulis ayat-ayat Al Qur’an dengan barang yang najis atau dengan darah haid. Menggantungkan atau mengikatkan segala yang disebutkan di atas adalah haram. Ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi wasallam :

    “Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka dia telah berbuat syirik [HR Imam Ahmad :4/ 156 dan dalam silsilah hadits shahihah hadits No : 492].

    Orang yang melakukan perbuatan tersebut, jika ia mempercayai bahwa berbagai hal itu bisa mendatangkan manfaat atau madharat (dengan sendirinya) selain Allah maka dia telah masuk dalam golongan pelaku syirik besar. Dan jika ia mempercayai bahwa berbagai hal itu merupakan sebab bagi datangnya manfaat, padahal Allah tidak menjadikannya sebagai sebab, maka dia telah terjerumus pada perbutan syirik kecil, dan ini masuk dalam kategori syirkul asbab.

     
  • erva kurniawan 9:17 am on 27 August 2019 Permalink | Balas  

    Syirik (Bagian 1) 

    SYIRIK

    Syirik atau menyekutukan Allah adalah sesuatu yang amat diharamkan dan secara mutlak ia merupakan dosa yang paling besar. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abi Bakrah bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

    “Maukah aku kabarkan kepada kalian dosa yang paling besar (tiga kali) ? mereka menjawab : ya, wahai Rasulullah ! beliau bersabda : menyekutukan Allah” (muttafaq ‘alaih, Al Bukhari hadits nomer : 2511)

    Setiap dosa kemungkinan diampuni oleh Allah Subhanahu wata’ala, kecuali dosa syirik, ia memerlukan taubat secara khusus, Allah berfirman : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya (An Nisa : 48)

    Di antara macam syirik adalah syirik besar. Syirik ini menjadi penyebab keluarnya seseorang dari agama Islam, dan orang yang bersangkutan, jika meninggal dalam keadaan demikian, akan kekal di dalam neraka.

    Di antara kenyataan syirik yang umum terjadi di sebagian besar negara-negara Islam adalah:

    Menyembah Kuburan

    Yakni kepercayaan bahwa para wali yang telah meninggal dunia bisa memenuhi hajat, serta bisa membebaskan manusia dari berbagai kesulitan. Karena kepercayaan ini. mereka lalu meminta pertolongan dan bantuan kepada para wali yang telah meninggal dunia, padahal Allah Subhanahu wata’ala berfirman : “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia (Al Isra’ :23)

    Termasuk dalam kategori menyembah kuburan adalah memohon kepada orang-orang yang telah meninggal, baik para nabi, orang-orang shaleh, atau lainnya untuk mendapatkan syafaat atau melepaskan diri dari berbagai kesukaran hidup. Padahal Allah Subhanahu wata’ala berfirman : “Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepadaNya dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? (An Naml : 62)

    Sebagian mereka, bahkan membiasakan dan mentradisikan menyebut nama syaikh atau wali tertentu, baik dalam keadaan berdiri, duduk, ketika melakukan sesuatu kesalahan, dalam setiap situasi sulit, ketika di timpa petaka, musibah atau kesukaran hidup.

    Di antaranya ada yang menyeru : “Wahai Muhammad.” Ada lagi yang menyebut :”Wahai Ali”. Yang lain lagi menyebut : “Wahai Jailani”. Kemudian ada yang menyebut : “Wahai Syadzali”. Dan yang lain menyebut : “Wahai Rifai. Yang lain lagi : “Al Idrus sayyidah Zainab, ada pula yang menyeru : “Ibnu ‘Ulwan dan masih banyak lagi. Padahal Allah telah menegaskan: “Sesungguhnya orang-orang yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu” (Al A’raaf : 194)

    Sebagian penyembah kuburan ada yang berthawaf (mengelilingi) kuburan tersebut, mencium setiap sudutnya, lalu mengusapkannya ke bagian-bagian tubuhnya. Mereka juga menciumi pintu kuburan tersebut dan melumuri wajahnya dengan tanah dan debu kuburan. Sebagian bahkan ada yang sujud ketika melihatnya, berdiri di depannya dengan penuh khusyu’, merendahkan dan menghinakan diri seraya mengajukan permintaan dan memohon hajat mereka. Ada yang meminta sembuh dari sakit, mendapatkan keturunan, digampangkan urusannya dan tak jarang di antara mereka yang menyeru : Ya sayyidi aku datang kepadamu dari negeri yang jauh maka janganlah engkau kecewakan aku. Padahal Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

    “Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tidak dapat memperkenankan (do’anya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do’a mereka”. (Al Ahqaaf : 5)

    Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

    “Barang siapa mati dalam keadaan menyembah sesembahan selain Allah niscaya akan masuk neraka (HR Bukhari, fathul bari : 8/176)

    Sebagian mereka, mencukur rambutnya di pekuburan, sebagian lagi membawa buku yang berjudul : Manasikul hajjil masyahid (tata cara ibadah haji di kuburan keramat). Yang mereka maksudkan dengan masyahid adalah kuburan kuburan para wali. Sebagian mereka mempercayai bahwa para wali itu mempunyai kewenangan mengatur alam semesta, dan mereka bisa memberi madharat dan manfaat. Padahal Allah Tabaroka wata’ala berfirman :

    “Jika Allah menimpakan sesuatu kemadharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu maka tidak ada yang dapat menolak karuniaNya” (Yunus : 107)

    Bernadzar Untuk Selain Allah

    Termasuk syirik adalah bernadzar untuk selain Allah seperti yang dilakukan oleh sebagian orang yang bernadzar memberi lilin dan lampu untuk para ahli kubur.

    Menyembelih Binatang Untuk Selain Allah

    Termasuk syirik besar adalah menyembelih binatang untuk selain Allah.padahal Allah Tabaroka wata’ala berfirman :

    “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah” ( Al Kutsar : 2)

    Maksudnya berkurbanlah hanya untuk Allah dan atas namaNya. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

    “Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah” (HR Muslim, shahih Muslim No : 1978)

    Pada binatang sembelihan itu terdapat dua hal yang diharamkan.

    Pertama : penyembelihannya untuk selain Allah, dan kedua : penyembelihannya dengan atas nama selain Allah. Keduanya menjadikan daging binatang sembelihan itu tidak boleh dimakan. Dan termasuk penyembelihan jahiliyah -yang terkenal di zaman kita saat ini- adalah menyembelih untuk jin. Yaitu manakala mereka membeli rumah atau membangunnya, atau ketika menggali sumur mereka menyembelih di tempat tersebut atau di depan pintu gerbangnya sebagai sembelihan (sesajen) karena takut dari gangguan jin [lihat Taisirul Azizil Hamid, hal : 158]

    Menghalalkan Apa Yang Diharamkan Oleh Allah Atau Sebaliknya

    Di antara contoh syirik besar -dan hal ini umum dilakukan– adalah menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah atau sebaliknya. Atau kepercayaan bahwa seseorang memiliki hak dalam masalah tersebut selain Allah Subhanahuwa ta’ala. Atau berhukum kepada perundang-undangan jahiliyah secara sukarela dan atas kemauannya. Seraya menghalalkannya dan kepercayaan bahwa hal itu dibolehkan . Allah menyebutkan kufur besar ini dalam firmanNya :

    “Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah”. (At Taubah : 31)

    Ketika Adi bin hatim mendengar ayat tersebut yang sedang dibaca oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam ia berkata : “ orang-orang itu tidak menyembah mereka. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dengan tegas bersabda : “Benar, tetapi meraka (orang-orang alim dan para rahib itu) menghalalkan untuk mereka apa yang diharamkan oleh Allah, sehingga mereka menganggapnya halal. Dan mengharamkan atas mereka apa yang dihalalkan oleh Allah, sehingga mereka menganggapnya sebagai barang haram, itulah bentuk ibadah mereka kepada orang-orang alim dan rahib [Hadits riwayat Al Baihaqi, As sunanul Kubra : 10/ 116, Sunan At Turmudzi no : 3095, Al Albani menggolongkannya dalam hadits hasan. lihat ghayatul muram: 19].

    Allah menjelaskan, di antara sifat orang-orang musyrik adalah sebagaimana dalam firmanNya :

    “Dan meraka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah)”. (At Taubah : 29).

    “Katakanlah : Terangkanlah kepadaku tentang rizki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal. Katakanlah : Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan kedustaan atas Allah? (Yunus : 59).

     
  • erva kurniawan 1:35 pm on 26 August 2019 Permalink | Balas  

    Kesalehan Pribadi Saja Tak Cukup 

    Kesalehan Pribadi Saja Tak Cukup

    Menilik situasi dan kondisi yang melingkupi masyarakat Indonesia pada dewasa ini, terutama yang menyangkut masalah moral dan akhlaknya. Maka masih relevan dengan yang pernah dikatakan oleh M. Natsir -salah satu tokoh Negarawan Indonesia pada masa lalu- yang dalam salah satu bukunya yang berjudul “Menyelamatkan Ummat’, telah menuliskan : “ …Umat Muhammad SAW tidak cukup hanya menjadi orang yang baik untuk pribadinya saja. Tetapi, ia harus pula berbuat baik terhadap orang lain, dan mengajak orang lain berbuat baik. Juga tidak cukup sekedar menjadi orang yang baik saja. Tetapi harus pula mencegah kerusakan, memberantas kemungkaran dan kemaksiatan. Sebab, bila kemungkaran itu tidak diberantas, maka kebaikan yang telah dibina dan dibangun dengan susah payah akan berantakan kembali… ‘.

    Moral dan akhlak masyarakat pada dasarnya ditentukan oleh moral dan akhlak dari masing-masing pribadi insan manusia yang menjadi anggota masyarakat itu. Sehingga untuk memperbaiki hal ihwal dari keadaan suatu masyarakat, yang pertama-tama harus dilakukan adalah memperbaiki moral dan akhlak dari masing-masing individu yang menjadi anggota dari masyarakat itu. Langkah selanjutnya, adalah mengajak kepada setiap individu anggota dalam masyarakat itu untuk melakukan upaya amar ma’ruf nahi mungkar. Sebab, menjalankan amar ma’ruf nahi munkar itu merupakan kewajiban dan tanggungjawab dari seluruh umat Muslim untuk menyelamatkan keseluruhan masyarakat itu.

    Imam Al-Ghazali meriwayatkan suatu hadits yang menyiratkan pesan bahwa seorang Muslim itu juga dituntut untuk mempunyai kewajiban dan tanggungjawab dalam dimensi kesalehan masyarakatnya, tak hanya sebatas pada satu dimensi kewajiban dan tanggungjawab kesalehan individual saja. Sebab, membiarkan suatu kejahatan dan kemungkaran berlangsung di masyarakat tanpa adanya reaksi dan upaya untuk mencegahnya, itu akan berarti mengundang datangnya siksa Allah SWT bagi keseluruhan masyarakat itu.

    Siti Aisyah ra berkata bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda : “ Allah menyiksa suatu negeri berpenduduk delapan belas ribu orang, padahal mereka beribadah sebagaimana ibadah nabi-nabi “. Kemudian para sahabat bertanya sebabnya. Rasulullah SAW menjawabnya dan bersabda : “ Karena mereka tidak marah ketika ada orang merusak nama Allah, tidak menegakkan amar ma’ruf, dan tidak mencegah orang-orang berbuat munkar “.

    Didalam kitab suci Al-Qur’an juga telah dijelaskan bahwa hakikat kemaksiatan diri pribadi itu -walaupun mungkin menurut pelakunya secara kasat mata sepertinya tidak berhubungan dengan diri orang lain dan sepertinya tidak merugikan orang lain- akan tetapi sesungguhnya hal itu akan juga membahayakan diri orang lain. Hal itu akan mendatangkan bencana dan akan berarti pula mengundang datangnya murka Allah SWT.

    Allah SWT berfirman : “ Dan jagalah dirimu dari bencana yang tidak khusus menimpa orang-orang zalim saja diantaramu “ (QS. Al-Anfaal : 25).

    Pada tahap selanjutnya, tidak cukup hanya dengan hal itu saja. Tidaklah cukup jika hanya berhenti dengan membangun dan membina kesalehan pribadi dari masing-masing individu anggota masyarakat itu saja. Tidaklah cukup hanya jika hanya berhenti dengan sekedar himbauan kepada individu anggota masyarakat untuk melakukan upaya amar ma’ruf nahi mungkar saja. Tentunya agar tercapai keefektifan upaya maupun keoptimalan hasil dari amar ma’ruf nahi mungkar, diperlukan adanya suatu sistem yang melekat di sistem sosial masyarakat itu. Suatu sistem yang sistematis dan berkelanjutan untuk mengatur tata kemasyarakatannya, agar terbangun kebaikan dalam masyarakat, dan kebaikan yang telah terbangun dalam masyarakat itu akan tetap terjaga dan selalu terbina, serta kebaikan dalam masyarakat senantiasa berkesinambungan. Sehingga kebaikan dalam masyarakat dari hari ke hari semakin bertambah dan semakin meningkat.

    Hal itu sangat relevan jika kita menyimak salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Dalam hadits tersebut Rasulullah SAW mengibaratkan kehidupan bermasyarakat itu dengan bahtera yang berlayar di lautan, sedangkan kemaksiatan diri pribadi itu diibaratkan sebagai tindakan melubangi kapal yang akan membahayakan keseluruhan penumpang bahtera itu.

    Perumpamaan keadaan suatu masyarakat yang menjaga batasan hukum-hukum Allah adalah ibarat suatu rombongan yang naik sebuah kapal. Lalu mereka membagi tempat, tiap orang mendapat tempat tertentu. Salah seorang dari penumpang itu kemudian ada yang berfikir : “Seandainya aku melubangi tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan air) tentu aku tidak akan mengganggu orang yang lain’. Kemudian secara tiba-tiba orang itu melubangi tempat yang didudukinya. Mereka yang lainnya lalu bertanya : “ Apa yang kamu perbuat ? “. Orang itu menjawabnya : “ Bukankah ini tempatku sendiri dan aku bebas berbuat apa saja “. Jika mereka terus mencegah, orang itu akan selamat dan semua penumpang kapal juga akan selamat. Tetapi kalau mereka membiarkannya, orang itu sendiri akan celaka dan semua penumpang yang naik kapal itu juga akan binasa.

    Relevansi dari semua hal yang tersebut diatas -merupakan suatu keniscayaan yang mau tak mau dan suka tidak suka- tak akan dapat dilepaskan dari sistem hukum dan penegakan hukum yang diberlakukan di keseluruhan relasi sosial kemasyarakatan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat itu. Jika tak demikian halnya, maka kebaikan yang telah dibina dan dibangun dengan susah payah itu akan mubazir, pada akhirnya akan berantakan kembali.

    Sementara itu, kita -sebagai Muslim dan umat Nabi Muhammad SAW- seharusnya haqqul yaqin bahwa kebenaran yang hakiki secara kebenaran duniawi dan ukhrowi hanya kebenaran Allah SWT saja. Dan, seharusnya haqqul yaqin pula bahwa hukum dan aturan yang memiliki kebenaran hakiki secara kebenaran duniawi dan ukhrowi tentu hanya aturan Allah SWT yang disampaikan lewat utusan-Nya, Nabi Muhammad SAW.

    Akhirul kalam, Sudahkah kita sebagai masing-masing pribadi telah memahami dan menyadari semua hal itu ?. Sejatinya, jika kita -sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Ukhuwah Islamiyah- kemudian dapat saling bersepakat dan selanjutnya saling mengulurkan tangan agar dapat saling menggandengkan tangan untuk bersama dengan sepenuh hati dan segenap jiwa raga mengupayakan terwujudnya hal yang tersebut diatas. Maka, dengan izin dan ridho-Nya, tak ada halangan yang akan mampu merintanginya dan tiada aral melintang yang akan mampu menghentikannya !!!. Insya Allah, bersama kita bisa !!!.

    Wallahu’alambishawab.

    si-pandir,

    ***

    Dicuplik dan disadur dari : “Mencegah Kemungkaran’ tulisan karya M Fuad Nasar, dan “Melubangi Kapal’ tulisan karya Evi Susanti, yang dimuat di kolom Hikmah SKHU Republika. Dan ditambah serba sedikit dari beberapa sumber lainnya.

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 9 August 2019 Permalink | Balas  

    Mengejar Mabrur dengan Bekal ”Kurma” 

    Mengejar Mabrur dengan Bekal ”Kurma”

    Setiap orang yang melaksanakan ibadah haji pasti ingin meraih gelar haji mabrur. Sebab, seperti dijanjikan Rasulullah, ”Orang yang mendapatkan haji mabrur, tiada balasan yang lebih baik baginya, kecuali surga”. Tidak mudah untuk mencapai mabrur, yang merupakan puncak prestasi ibadah haji seseorang. Namun, ada ikhtiar yang bisa dilakukan untuk merengkuhnya.

    Menurut Mardjoto Fahruri, sekretaris Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Boyolali, Jawa Tengah, menunaikan ibadah haji perlu membawa bekal ”kurma” (bahasa Jawa: dibaca ”kurmo”). Apa maksudnya? ”Kalau mendapatkan kenikmatan kita harus selalu bersyukur, kalau menghadapi kesulitan atau cobaan kita harus nrimo atau ikhlas. Dengan modal ‘kurma’ itu, insya Allah kita akan mendapatkan gelar mabrur,” katanya. Fahruri menjelaskan, orang yang menunaikan ibadah haji itu adalah orang yang dipanggil Allah atau tamu Allah. ”Sebagai tamu Allah, ia harus mempunyai bekal yang disebut ‘kurma’, yakni syukur dan nrimo,” kata Pimpinan Kelompok Pengajian Bani Adam Boyolali.

    Lebih jauh, Fahruri mengatakan, syukur dan nrimo itu merupakan modal hidup yang utama. ”Kalau seorang jamaah haji selalu syukur dan nrimo selama menunaikan ibadah haji di Tanah Suci maupun setelah berada kembali di Tanah Air, insya Allah hidupnya akan selamat dan penuh berkah. Apa pun yang terjadi, ia mampu menerimanya dengan ikhlas. Sebab ia yakin, semua itu merupakan kehendak Allah SWT,” tandasnya.

    Meskipun demikian, Fahruri menegaskan, syariah harus tetap ditempuh dengan sebaik mungkin sesuai dengan prosedur dan manajemen yang benar. ”Dari segi jamaah haji maupun umrah, penting untuk selalu syukur dan nrimo. Namun dari segi penyelenggara, pemerintah maupun travel haji/umrah dan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH), harus melaksanakan segala sesuatunya dengan sebaik-baiknya. Hal yang perlu diingat, jamaah haji itu merupakan tamu Allah. Karena itu harus diperlakukan dengan sebaik mungkin sebagaimana layaknya tamu Allah,” ujarnya.

    Hal yang sama juga diungkapkan oleh Drs H Ahmad Anas MAg, ketua Yayasan Riyadhul Jannah, Semarang. Menurut Anas, selain mengetahui dan memahami tentang tata cara dan makna ibadah haji, hendaknya calon jamaah haji menanamkan nilai-nilai keikhlasan dan kesabaran sejak dini. Sebab, kata dia, banyak peristiwa yang terjadi di Tanah Suci berada di luar jangkauan akal manusia.”Jika kita ikhlas dalam melaksanakan ibadah, niscaya Allah akan memberikan kemudahan bagi kita dalam menunaikan perintah-Nya,” jelas Pembimbing jamaah haji Travel Razek ini. Suami Hj Siti Alfiaturohmaniah ini menambahkan, keikhlasan dan kesabaran menjadi kunci sukses untuk menggapai predikat haji mabrur. Mampu

    H Ma’mun Efendi Nur, Lc, MA, PhD, staf pengajar IAIN Walisongo Semarang mengatakan, salah satu syarat mutlak yang harus dimiliki seorang calon jamaah haji untuk menunaikan ibadah haji adalah istitho’ah (mampu). Artinya, seorang calon jamaah haji harus memiliki kemampuan, baik kemampuan akan harta benda untuk menunaikan ibadah haji dan untuk keluarga yang ditinggalkan, maupun kemampuan fisik (sehat jasmani dan rohani).

    Di samping dua kemampuan di atas, kemampuan lainnya yang juga memiliki peranan penting dalam melaksanakan ibadah haji adalah kesiapan ilmu pengetahuan akan ibadah haji, misalnya makna dan spiritualitas haji, tata cara (manasik) dan lainnya. Faktor kemampuan ilmu pengetahuan tentang ibadah haji ini, sangat penting artinya untuk kesempurnaan ibadah haji (sesuai syarat dan rukunnya) dalam menggapai haji mabrur. Tentu saja, pengetahuan tersebut meliputi banyak hal, sejak proses pendaftaran, pembayaran ONH, perlengkapan dokumen, pengetahuan sejarah haji, serta proses perjalanan dan makna ritual yang terkandung dalam ibadah haji. Proses pembimbingan dan pembinaan haji itulah yang disebut dengan bimbingan manasik haji.

    Untuk mempersiapkan itu semua, tidaklah cukup waktu satu hingga tiga bulan sejak dari proses pendaftaran hingga pemberangkatan calon haji ke Tanah Suci. Maka untuk mempersiapkan pengetahuan yang mendalam, setidaknya seorang calon haji bisa mempersiapkan jauh sebelum dirinya berangkat menunaikan rukun Islam yang kelima ini. Ma’mun mengatakan, waktu manasik yang diberikan selama tiga bulan itu terlalu singkat. ”Minimal seorang calon haji harus mempersiapkan diri setahun sebelum ia berangkat ibadah haji,” kata alumnus Universitas Ummul Qura Madinah kepada Republika.

    Ia menambahkan, pengetahuan dan pemahaman akan makna dan tata cara ibadah haji sangat penting artinya bagi calon haji dalam menunaikan rukun Islam yang kelima. Sebab, tanpa pengetahuan dan pemahaman tentang itu, maka ibadah haji tersebut hanya menjadi ibadah rutinitas yang jauh dari nilai-nilai kesempurnaan. ”Jangan sampai, ketika menjadi tamu, tidak mengetahui apa yang akan disampaikan kepada tuan rumah,” ujar Ma’mun berfilsafat. Pria yang lama bermukim di Tanah Suci itu mengungkapkan, jamaah haji dari Malaysia rata-rata mendapatkan pembekalan dan pengetahuan ibadah haji, jauh hari sebelum melaksanakan ibadah haji. ”Ada yang berguru khusus kepada para ustadz, ada pula yang mempelajari buku-buku tentang haji. Jadi, mereka tidak mendadak mendapatkan pengetahuan tentang tata cara beribadah haji tersebut,” tutur Ma’mun.

    Presiden Direktur PT Nur Rima Al-Waali, Hj Irmawati Asrul SE mengatakan, kemampuan (istithoah) yang dimaksudkan oleh Alquran dalam ibadah haji adalah kemampuan harta benda, ilmu pengetahuan, dan kemampuan fisik. ‘”Dengan memiliki kemampuan seperti ini, Insya Allah ibadah haji akan diterima Allah SWt,” kata Hj Irma. Pengurus Pusat Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) itu menambahkan, selain kemampuan di atas, sebaiknya seorang calon haji juga dibekali dengan niat yang tulus dan ikhlas dalam menjalani segala sesuatu. Sebab, ungkapnya, perjalanan haji untuk menggapai predikat haji mabrur, membutuhkan perjuangan yang maksimal. ”Apalagi, jalannya begitu terjal dan banyak godaan yang siap menghalangi upaya kita untuk beribadah,” jelasnya.

    Ia menyebutkan, godaan dan halangan yang biasa dialami oleh jamaah haji saat melaksanakan haji adalah berkata-kata yang kasar, ketus, suka iri dengan urusan orang dan senang menggunjingkan orang lain. Padahal, kata dia, Allah telah menegaskan, bahwa seorang jamaah haji dilarang berkata-kata rafats (berkata jorok/porno), fusuq (fasik, berkata kasar), dan jidaal (menggunjing) selama melaksanakan ibadah haji. ”Tanpa keikhlasan dan kesabaran, niscaya kita akan sering terpeleset untuk berbuat yang dilarang Allah,” tegasnya.

    Tips Haji Mabrur

    Apa saja langkah-langkah praktis yang perlu dilakukan oleh seorang calon jamaah haji agar bisa meraih mabrur saat berhaji? Berikut ini tips yang diberikan oleh Ustad Mardjoto Fahruri, sekretaris Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), Boyolali, yang juga Pengasuh Kelompok Pengajian Bani Adam, Boyolali, Jawa Tengah.

    • Tobat kepada Allah sebelum pergi berhaji maupun selama menunaikan ibadah haji.
    • Gemar berinfak, dalam keadaaan lapang maupun sempit. Baik dengan tenaga, ilmu maupun harta.
    • Menahan marah
    • Memaafkan kesalahan orang lain, sebelum orang tersebut memohon maaf
    • Senang berbuat baik. Perbuatan kita tidak boleh merugikan orang lain. Bahkan kalau bisa menguntungkan orang lain alias muhsin.

    ***

    Republika

    Kunjungi http://www.direktorihaji.com

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 27 June 2019 Permalink | Balas  

    Benarkah jumlah asma-ul-Husna adalah 99 ? 

    Benarkah jumlah asma-ul-Husna adalah 99 ?

    Al-Qur’an tidak berbicara apa-apa menyangkut jumlah nama-nama Tuhan yang dikenal dengan istilah asmaul-husna, adapun keterangan yang menyebutkan jumlahnya sebanyak sembilan puluh sembilan hanya bisa didapati dari sejumlah Hadis Nabi, seperti :

    Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama,

    barangsiapa hafal mencakup keseluruhannya, dia masuk syurga. – Hadis riwayat Bukhari

    Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, barangsiapa memeliharanya, dia masuk syurga. – Hadis riwayat Turmudzi dari Abu hurairah

    Selain kedua riwayat diatas, Ibnu Majah yang juga salah seorang periwayat hadis terkenal telah meriwayatkan jumlah asmaul-husna sampai 114 nama (jadi ada 15 nama lebih banyak dari riwayat Turmudzi dan Bukhari yang hanya berjumlah 99). Begitu juga dengan Imam Thabrani yang meriwayatkan sampai 130 nama, sementara al-Qurtubhy menyebutkan hanya sampai 117 nama saja.

    Mengomentari adanya perbedaan dalam jumlah asmaul-husna itu menurut Imam Baihaqi lebih disebabkan adanya campur tangan dari perawi hadist itu sendiri, baik berupa pendapat pribadi, penambahan ataupun pengurangannya.

    Dengan demikian, secara global bisa kita katakan bahwa Tuhan memiliki asma-ulhusna yang tidak akan bisa tergenggam dalam suatu cakupan dan tidak terbatas dalam hitungan, karena secara alamiah, kesemua sifat-Nya telah terbentang didalam setiap bentuk ciptaan-Nya diseluruh semesta raya.

    Katakanlah : Jika laut menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, pasti akan habis laut itu sebelum usai kalimat-kalimat Tuhanku (tertulis), meskipun (lalu) kita datangkan tambahan (laut) sebanyak itu juga ! – Qs. 18 al-kahf : 109

    Nama-nama Tuhan berfungsi sebagai perantara Tuhan dengan alam ciptaan-Nya agar semua ciptaan-Nya tersebut kenal dengan diri-Nya dan bisa memanggil-Nya jadi dalam hal ini setiap nama-nama-Nya haruslah dipahami sebagai cara Tuhan menjalin hubungan dengan hasil kreasi-Nya (yaitu para makhluk-Nya).

    Didalam salah satu do’anya, Nabi Muhammad berkata :

    Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang Engkau miliki, Engkau menamakannya untuk diri-Mu, atau nama yang telah Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau yang telah Engkau ajarkan kepada seorang diantara makhluk-Mu, atau yang Engkau punyai dalam ilmu ghaib disisi-Mu. – Hadis riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban

    Berikut variasi asma-ul-husna dari versi orang yang meriwayatkannya :

    99 ASMA-UL-HUSNA MENURUT VERSI BUKHARI & TURMUDZI

    1. ar-Rohman Maha Pengasih
    2. ar-Rohim Maha Penyayang
    3. al-Malik Maha Merajai
    4. al-Quddus Maha Suci
    5. as-Salam Maha Penyelamat
    6. al-Mukmin Maha Mengamankan
    7. al-Muhaimin Maha Pembela
    8. al-Aziz Maha Mulia
    9. al-Jabbar Maha Pemaksa
    10. al-Mutakabbir Maha Besar
    11. al-Khaliq Maha Pencipta
    12. al-Mushawwir Maha Pembentuk
    13. al-Ghaffar Maha Pengampun
    14. al-Qahir Maha Keras
    15. al-Wahhab Maha Pemberi
    16. ar-Razzaq Maha Penganugerah
    17. al-Fattah Maha Pembuka
    18. al-Alim Maha Mengetahui
    19. al-Qabidh Maha Memegang
    20. al-Basith Maha Menghamparkan
    21. al-Khafidh Maha Memudahkan
    22. ar-Rafi’ Maha Mengangkat
    23. al-Mu’iz Maha Memuliakan
    24. al-Muzil Maha Merendahkan
    25. as-Sami’ Maha Mendengar
    26. al-Bashir Maha Melihat
    27. al-Hakam Maha Bijaksana
    28. al-Adlu Maha Adil
    29. al-Latif Maha Halus
    30. al-Khabir Maha Selidik
    31. al-Halim Maha Penyantun
    32. al-Azhim Maha Agung
    33. al-Ghafur Maha Pengampun
    34. as-Syakur Maha Mensyukuri
    35. al-Aliyya Maha Tinggi
    36. al-Kabir Maha Besar
    37. al-Hafizh Maha Melindungi
    38. al-Muqith Maha Menentukan
    39. al-Hasib Maha Memperhitungkan
    40. al-Jalil Maha Utama
    41. al-Karim Maha Mulia
    42. al-Raqib Maha Pengawas
    43. al-Mujib Maha Memperkenankan
    44. al-Wasi’ Maha Luas
    45. al-Hakim Maha Bijaksana
    46. al-Wadud Maha Cinta
    47. al-Majid Maha Jaya
    48. al-Ba’its Maha Pembangkit
    49. as-Syahid Maha Menyaksikan
    50. al-Haq Maha Hak
    51. al-Wakil Maha Mengatasi
    52. al-Qawiyyu Maha Kuat
    53. al-Matin Maha Teguh
    54. al-Waliyyu Maha Setia
    55. al-Hamid Maha Terpuji
    56. al-Muhshi Maha Menghitung
    57. al-Mubdi’u Maha Memulai
    58. al-Mu’id Maha Mengembalikan
    59. al-Muhyi Maha Menghidupkan
    60. al-Mumit Maha Mematikan
    61. al-Hayyu Maha Hidup
    62. al-Qayyim Maha Tegak
    63. al-Wajid Maha Mengadakan
    64. al-Maajid Maha Mulia
    65. al-Wahid Maha Esa
    66. al-Ahad Maha Esa
    67. as-Shamad Maha Pergantungan
    68. al-Qadir Maha Kuasa
    69. al-Muqtadir Maha Pemberi Kuasa
    70. al-Muqaddim Maha Mendahulukan
    71. al-Muakhir Maha Mengakhirkan
    72. al-Awwal Maha Permulaan
    73. al-Akhir Maha Kemudian
    74. az-Zhahir Maha Zhahir
    75. al-Bathin Maha Bathin
    76. al-Wali Maha Melindungi
    77. al-Muta’alli Maha Meninggikan
    78. al-Barr Maha Penyantun
    79. at-Tawwabu Maha Penerima Tobat
    80. al-Muna’am Maha Pemberi nikmat
    81. al-Muntiqam Maha Pembela
    82. al-Afuwwu Maha Pemaaf
    83. ar-Ra’uf Maha Belas Kasih
    84. Malikul-Muluk Maha Raja di raja
    85. Zul Jalali Wal Ikram Maha Luhur dan Mulia
    86. al-Muqsith Maha Menimbang
    87. al-Jami’ Maha Mengumpulkan
    88. al-Ghani Maha Kaya
    89. al-Mughni Maha Mengkayakan
    90. al-Mani Maha Menghalangi
    91. ad-Dharr Maha Memudharatkan
    92. an-Nafi’ Maha Pemaaf
    93. an-Nur Maha Cahaya
    94. al-Hadi Maha Menunjuki
    95. al-Badi Maha Pencipta yang baru
    96. al-Baqi Maha Kekal
    97. al-Warits Maha Pewaris
    98. ar-Rasyid Maha Cendikiawan
    99. as-Shabur Maha Penyabar

    NAMA-NAMA TAMBAHAN DAN URUTAN ASMA-UL-HUSNA MENURUT VERSI IBNU MAJAH DARI AL-ARAJ:

    1. al-Bari’ Maha Pemelihara
    2. al-Rasyid Maha Cendikiawan
    3. al-Burhan Maha Pembukti
    4. as-Syadid Maha Keras
    5. al-Waqi Maha Pemelihara
    6. al-Qaim Maha Berdidi
    7. al-Hafiz Maha Menjaga
    8. an-Nazhir Maha Melihat
    9. as-Sami’ Maha Mendengar
    10. al-Mu’thi Maha Pemberi
    11. al-Abad Maha Abadi
    12. al-Munir Maha Menerangi
    13. at-Taam Maha Sempurna
    14. al-Qadim Maha Kekal
    15. al-Witru Maha Esa

    NAMA-NAMA TAMBAHAN DAN URUTAN ASMA-UL-HUSNA MENURUT VERSI THABRANI:

    1. ar-Raab Maha Memelihara
    2. al-Ilah ilahi
    3. al-Hanan Maha Kasih
    4. al-Manan Maha Pemberi Anugerah
    5. al-Bari’ Maha Menjadikan
    6. al-Qaimul Fard Maha Berdiri Sendiri
    7. al-Qadir Maha Menentukan
    8. al-Farad Maha Sendiri
    9. al-Mughits Maha Membantu
    10. ad-Da’im Maha Kekal
    11. al-Hamid Maha Terpuji
    12. al-Jamil Maha Indah
    13. as-Shadiq Maha Benar
    14. al-Muwalli Maha Memimpin
    15. an-Nashir Maha Penolong
    16. al-Qadim Maha Dahulu
    17. al-Witru Maha Esa
    18. al-Fathir Maha Pencipta
    19. al-Allam Maha Mengetahui
    20. al-Malik Maha Raja
    21. al-Ikram Maha Mulia
    22. al-Mudabbir Maha Mengatur
    23. al-Maalik Maha Memiliki
    24. as-Syakur Maha Mensyukuri
    25. ar-Rafi’ Maha Tinggi
    26. Zul Thawil Maha Mempunyai Kekuasaan
    27. Zul Ma’arij Maha Mempunyai Jenjang/ tahapan
    28. Zul Fadhlil Khalaq Maha Mempunyai Kelebihan Makhluk
    29. al-Mun’im Maha Pemberi Nikmat
    30. al-Mutafadhal Maha Utama
    31. as-Sari’ Maha Cepat

    NAMA-NAMA TAMBAHAN ASMA-UL-HUSNA MENURUT VERSI IBNU HAZMI :

    1. al-Khafi Maha Tersembunyi
    2. al-Ghallab Maha Menang
    3. al-Musta’an Maha Penolong

    ————-

    Sumber utama :

    Syaikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin abdul wahhab, Ketuhanan Yang Maha Esa menurut Islam, Terj. Drs. Dja’far Soedjarwo, Penerbit Al Ikhlas, Surabaya, hal. 845

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 26 June 2019 Permalink | Balas  

    Indahnya Hidup Bersahaja 

    Indahnya Hidup Bersahaja

    Oleh: Aa Gym

    Bismillahirrohmaanirrohiim,

    Saudara-saudaraku Sekalian,

    Kita tidak perlu bercita-cita membangun kota Jakarta, lebih baik kita bercita-cita tiap orang bisa membangun dirinya sendiri. Paling minimal punya daya tahan pribadi terlebih dahulu. Karenanya sebelum ia memperbaiki keluarga dan lingkungannya minimal dia mengetahui kekurangan dirinya. Jangan sampai kita tidak mengetahui kekurangan sendiri. Jangan sampai kita bersembunyi dibalik jas, dasi dan merk. Jangan sampai kita tidak mempunyai diri kita sendiri. Jadi target awal dari pertemuan kita adalah membuat kita berani jujur kepada diri sendiri. Mengapa demikian? Sebab seorang bapak tidak bisa memperbaiki keluarganya, kalau ia tidak bisa memperbaiki dirinya sendiri. Jangan mengharap memperbaiki keluarga kalau memperbaiki diri sendiri saja tidak bisa. Bagaimana berani memperbaiki diri, jika tidak mengetahui apa yang mesti diperbaiki.

    Kita harus mengawali segalanya dengan egois dahulu, sebab kita tidak bisa memperbaiki orang lain kalau diri sendiri saja tidak terperbaiki. Seorang ustad akan terkesan omong kosong, jika ia berbicara tentang orang lain agar memperbaiki diri sedang ia sendiri tidak benar. Dalam bahasa Al-Qur”an, “Sangat besar kemurkaan Allah terhadap orang berkata yang tidak diperbuatnya”.

    Mudah-mudahan seorang ibu yang tersentuh mulai mengajak suaminya. Seorang anak mengajak orang tuanya, di kantor seorang bos yang berusaha memperbaiki diri diperhatikan oleh bawahannya dan membuat mereka tersentuh. Seorang kakek dilihat oleh cucunya kemudian tersentuh.

    Mudah-mudahan dengan kegigihan memperbaiki diri nantinya daya tahan rumah mulai membaik. Kalau sudah daya tahan rumah membaik insyaAllah, kita bisa berbuat banyak untuk bangsa kita ini. Mudah-mudahan nanti setiap rumah tangga visinya tentang hidup ini menjadi baik.

    Tahap selanjutnya adalah mau dibawa kemana rumah tangga kita ini, apakah mau bermewah-mewahan, mau pamer bangunan dan kendaraan atau rumah tangga kita ini adalah rumah tangga yang punya kepribadian yang nantinya akan menjadi nyaman. Jangan sampai rumah tangga kita ini menjadi rumah tangga yang hubuddunya, karena semua penyakit akarnya dari cinta dunia ini. Orang sekarang menyebutnya materialistis.

    Bangsa ini roboh karena pecinta dunianya terlalu banyak. Acara tv membuat kita menjadi yakin bahwa dunia ini alat ukurnya adalah materi. Pelan tapi pasti kita harus mulai mengatakan dunia ini tidak ada apa-apanya. Di dunia ini kita hanya mampir. Dengan konsep yang kita kenal yaitu rumus “tukang parkir”. Yang tadinya bangga dengan merk menjadi malu dengan topeng yang dikenakannya. Nanti pelan-pelan akan menjadi begitu.

    Bukannya kita harus hidup miskin. Nanti akan terjadi suasana di rumah tidak goyah, lebih sabar, melihat dunia menjadi tidak ada apa-apanya dan tidak sombong. Lihat kembali rumus “tukang parkir”, ia punya mobil tidak sombong, mobilnya ganti-ganti tidak takabur, diambil satu persatu sampai habis tidak sakit hati. Mengapa ? karena tukang parkir tidak merasa memiliki hanya tertitipi.

    Ketika melihat orang kaya biasa saja karena sama saja cuma menumpang di dunia ini jadi tidak menjilat, kepada atasan tidak minder, suasana kantor yang iri dan dengki jadi minimal.

    Saudara-saudaraku Sekalian,

    Jadi visi kita terhadap dunia ini akan berbeda. Kita tidak bergantung lagi kepada dunia, tidak tamak, tidak licik, tidak serakah. Hidup akan bersahaja dan proporsional.

    Sekarang kita sedang krisis, masa ini dapat menjadi momentum karena dengan krisis harga-harga naik, kecemasan orang meningkat, ini kesempatan kita buat berdakwah.

    Mau naik berapa saja harganya tidak apa-apa yang penting terbeli. Jika tidak terjangkau jangan beli, yang penting adalah kebutuhan standar tercukupi. Orang yang sengsara bukan tidak cukup tetapi karena kebutuhannya melampaui batas. Padahal Allah menciptakan kita lengkap dengan rezekinya.

    Mulai dari buyut kita yang lahir ke dunia tidak punya apa-apa sampai akhir hayatnya masih makan dan dapat tempat berteduh terus. Orang tua kita lahir tidak membawa apa-apa sampai saat ini masih makan terus, berpakaian, dan berteduh. Begitu pula kita sampai hari ini. Hanya saja disaat krisis begini kita harus lebih kreatif. Mustahil Allah menciptakan manusia tanpa rezekinya kita akan bingung menghadapi hidup. Semua orang sudah ada rezekinya.

    Dan barangsiapa yang hatinya akrab dengan Allah dan yakin segala sesuatu milik Allah, tiada yang punya selain Allah, kita milik Allah. Kita hanya mahluk dan yang membagi, menahan dan mengambil rezeki adalah Allah. Orang yang yakin seperti itu akan dicukupi oleh Allah.

    Jadi kecukupan kita bukan banyak uang, tetapi kecukupan kita itu bergantung dengan keyakinan kita terhadap Allah dan berbanding lurus dengan tingkat tawakal. Allah berjanji “Aku adalah sesuai dengan prasangka hamba-Ku”. Jadi jangan panik. Allah penguasa semesta alam.

    Ini kesempatan buat kita untuk mengevaluasi pola hidup kita. Yang membuat kita terjamin adalah ketawakalan. Jadi yang namanya musibah bukan kehilangan uang, bukan kena penyakit, musibah itu adalah hilangnya iman. Dan orang yang cacat adalah yang tidak punya iman, ia gagal dalam hidup karena tidak mengerti mau kemana.

    Jadi kita tidak punya alasan untuk panik. Krisis seperti ini ada diman-mana, kita harus kemas agar berguna bagi kita. Kita tidak bisa mengharapkan yang terbaik terjadi pada diri kita, tapi kita bisa kemas agar menjadi yang terbaik bagi diri kita. Kita tidak bisa mengharapkan orang menghormati kita, tapi kita bisa membuat penghinaan orang menjadi yang terbaik bagi diri kita.

    Hal pertama yang harus kita jadikan rahasia kecukupan kita adalah ketawakalan kita dan kedua adalah prasangka baik kepada Allah, yang ketiga adalah Lainsakartum laadziddanakum,”Barangsiapa yang pandai mensyukuri nikmat yang ada, Allah akan membuka nikmat lainnya. Jadi jangan takut dengan belum ada, karena yang belum ada itu mesti ada kalau pandai mensyukuri yang telah ada.

    Jadi dari pada kita sibuk memikirkan harga barang yang naik lebih baik memikirkan bagaimana mensyukuri yang ada. Karena dengan mensyukuri nikmat yang ada akan menarik nikmat yang lainnya. Jadi nikmat itu sudah tersedia. Jangan berpikir nikmat itu uang. Uang bisa jadi fitnah. Ada orang yang dititipi uang oleh Allah malah bisa sengsara, karena ia jadi mudah berbuat maksiat. Yang namanya nikmat itu adalah sesuatu yang dapat membuat kita dekat dengan Allah. Jadi jangan takut soal besok/lusa, takutlah jika yang ada tidak kita syukuri.

    Satu contoh hal yang disebut kurang syukur dalam hidup itu adalah kalau hidup kita itu Ishro yaitu berlebihan, boros, dan bermewah-mewahan. Hati-hati yang suka hidup mewah, yang senang kepada merk itu adalah kufur nikmat. Mengapa? Karena setiap Allah memberi uang itu ada hitungannya. Mereka yang terbiasa glamour, hidup mewah, yang senang kepada merk termasuk yang akan menderita karena hidupnya akan biaya tinggi. Pasti merk itu akan berubah-ubah tidak akan terus sama dalam dua puluh tahun. Harus siap-siap menderita karena akan mengeluarkan uang banyak utnuk mengejar kemewahannya, untuk menjaganya dan untuk perawatannya.

    Dia juga akan disiksa oleh kotor hati yaitu riya’. Makin mahal tingkat pamernya makin tinggi. Dan pamer itu membutuhkan pikiran lebih, lelah dan tegang karena rampok akan berminat. Inginnya diperlihatkan tapi takut dirampok jadinya pening. Makin tinggi keinginan pamer makin orang lain menjadi iri/dengki. Pokoknya kalau kita terbiasa hidup mewah resikonya tinggi. Ketentraman tidak terasa. Hal yang bagus itu adalah yang disebut syukur yaitu hidup bersahaja atau proporsional. Kalau Amirul Mukminin hidupnya sangat sederhana, kalau seperti kita ini hidup bersahaja saja, biaya dan perawatan akan murah.

    Kalau kita terbiasa hidup bersahaja peluang riyanya kecil. Tidak ada yang perlu dipamerkan. Bersahaja tidak membuat orang iri. Dan anehnya orang yang bersahaja itu punya daya pikat tersendiri. Pejabat yang bersahaja akan menjadi pembicaraan yang baik. Artis yang sholeh dan bersahaja selalu bikin decak kagum. Ulama yang bersahaja itu juga membuat simpati.

    Juga harus hati-hati kita sudah capai-capai hidup glamor belum tentu dipuji bahkan saat sekarang ini akan dicurigai.Yang paling penting sekarang ini kita nikmati budaya syukur dengan hidup proporsional.

    Jangan capai dengan gengsi, hal itu akan membuat kita binasa. Miliki kekayaan pada pribadi kita bukan pada topeng kita. Percayalah rekan-rekan sekalian kita akan menikmati hidup ini jika kita hidup proporsional.

    Nabi Muhammad SAW tidak memiliki singgasana, istana bahkan tanda jasa sekalipun hanya memakai surban Tetapi tidak berkurang kemuliaanya sedikitpun sampai sekarang. Ada orang kaya dapat mempergunakan kekayaannya. Dia bisa beruntung jika ia rendah hati dan dermawan. Tapi ia bisa menjadi hina gara-gara pelit dan sombong. Ada orang sederhana ingin kelihatan kaya inilah yang akan menderita. Segala sesuatu dikenakan, segalanya dicicil, dikredit. Ada juga orang sederhana tapi dia menjadi mulai karena tidak meminta-minta, jadi terjaga harga dirinya. Dan ada orang yang mampu dan ia menahan dirinya ini akan menjadi mulia.

    Mulai sekarang tidak perlu tergiur untuk membeli yang mahal-mahal, yang bermerk. Supermarket, mal dan sebagainya itu sebenarnya tidak menjual barang-barang primer. Allah Maha Menyaksikan.

    Apa yang dianjurkan Islam adalah jangan sampai mubadzir. Rasul SAW itu kalau makan sampai nasi yang terakhir juga dimakan, karena siapa tahu disitulah barokahnya. Kalau kita ke undangan pesta jangan mengambil makanan berlebihan. Ini sangat tidak islami. Memang kita enak saja rasanya tapi demi Allah itu pasti dituntut oleh Allah. Dan itu mempengaruhi struktur rezeki kita, karena kita sudah kufur nikmat. Kita harus bisa mempertanggungjawabkan setiap perbuatan kita karena tidak ada yang kecil dimata Allah. Tidak ada pemborosan karena semua dihitung oleh Allah.

    Contohnya mandi, kalau bisa bersih dengan lima sampai tujuh gayung tapi mengapa harus dua puluh gayung. Kita mampu beli air tetapi bukan untuk boros. Ini penting kalau ingin barokah rezekinya, hematlah kuncinya.

    Kalau merokok biaya yang kita keluarkan adalah besar hanya untuk membuang asap dari mulut kita. Jangan cari alasan. Seharusnya sudah saatnya berhenti merokok. Cobalah ingat ini uang milik Allah.

    Kemudian sabun mandi, jangan memakai sesuka kita, takarlah atau kalau perlu pakai sabun batangan. Kenapa kalau kita bisa hemat tidak kita lakukan. Uang penghematan kita bisa gunakan untuk sedekah atau menolong orang yang lebih membutuhkan. Sedekah itu tidak akan mengurangi harta kita kecuali bertambah dan bertambah.

    Ini pelajaran supaya hidup kita dijamin oleh Allah. Kita tidak bisa terjamin oleh harta/tabungan, kalau Allah ingin membuat penyakit seharga dua kali tabungan kita sangat gampang bagi Allah. Tidak ada yang dapat menjamin kita kecuali Allah oleh karena itu jangan merasa aman dengan punya tabungan, tanah, dan warisan. Dengan gampang Allah dapat mengambil itu semua tanpa terhalang. Aman itu justru kalau kita bisa dekat dengan Allah. Mati-matian kita jaga kesehatan, kalau Allah inginkan lain gampang saja. Semua harta tidak bisa kita nikmati, tetapi kalau Allah melindungi kita Insya Allah.

    Marilah hidup hemat, tetapi hemat bukan berarti pelit. Proporsional atau adil adalah puncak dari ahlak Contohnya HP, kalau tidak terlalu perlu jual saja lagi. Janganlah dimiliki kalau hanya untuk gaya saja. Penghematan akan mengundang barokah inilah yang disebut syukur nikmat. Tujuan bukan mencari uangnya tetapi mempertanggung jawabkan setiap rupiah yang Allah titipkan.

    Hal lain yang membuat barokah adalah jika kita dapat mendayagunakan semua barang-barang kita. Di gudang kita pasti banyak barang yang tidak kita pakai tetapi sayang untuk dibuang. Coba lihat lemari pakaian kita banyak baju-baju lama, begitu juga sepatu-sepatu lama kita. Keluarkanlah barang-barang yang tidak berharga tersebut.

    Misalkan dirumah kita ada panci yang sudah rongsokan, jika kita keluarkan ternyata merupakan panci idaman bagi orang lain. Di rumah kita tidak terpakai tetapi jika dipakai orang lain dengan kelapangannya dan mengeluarkan doa bisa jadi itulah yang membuat kita terjamin.

    Kalau kita ikhlas, demi Allah itu lebih menjamin rezeki kita daripada tidak terpakai di rumah. Setiap barang-barang yang tidak bermanfaat tetapi bermanfaat bagi orang lain itulah pengundang rezeki kita. Bersihkan rumah kita dari barang-barang yang tidak berguna. Lebih baik rusak digunakan orang lain daripada rusak dibiarkan di rumah, itu akan barokah rezekinya.

    Ini kalau kita ingin terjamin, namanya teori barokah. Kita tidak akan terjamin dengan teori ekonomi manapun. Sudah berapa banyak sarjana ekonomi yang dihasilkan oleh universitas di negeri ini tetapi Indonesia masih saja babak belur.

    Rumusnya pertama adalah bersahaja, kedua adalah total hemat, ketiga adalah keluarkan yang tidak bermanfaat, yang keempat adalah setiap kita mengeluarkan uang harus menolong orang lain atau manfaat.

    Kalau mau belanja niatkan jangan hanya mencari barang tetapi juga menolong orang. Belilah barang di warung pengusaha kecil yang dapat menolong omzetnya. Hati-hati dengan menawar, pilihannya kalau itu merupakan hal yang adil. Jangan bangga kalau kita berhasil menawar. Nabi Muhammad SAW bahkan kalau beli barang dilebihkan uangnya dari harga barang yang sebenarnya. Tidak akan berkurang harta dengan menolong orang. Jangan memilih barang-barang yang bagus semua pilihlah yang jeleknya sebagian. Kita itu untung jika membuat sebanyak mungkin orang lain untung. Jangan jadi bangga ketika kita sendiri untung orang lain tidak.

    Jika kita jadi pengusaha, kita jadi kaya ketika karyawannya diperas tenaganya, gajinya hanya pas buat makan, sedang kita berfoya-foya, demi Allah kita akan rugi. Pengusaha Islam sejati tidak akan berfoya-foya, ia akan menikmati karyawannya sejahtera. Sehingga tidak timbul iri, yang ada adalah cinta. Cinta membuat kinerja lebih bagus, perusahaan lebih sehat. Kalau kapitalis, pengusahanya bermewah-mewah ketika bawahannya menderita. Jadi timbul dendam dan iri setiap ada kesempatan akan marah seperti yang terjadi di Bandung kemarin. Tetapi kalau kita senang mensejahterakan mereka, anaknya kita sekolahkan. Dia merasa puas dan itulah namanya keuntungan.

    Jadi mulai sekarang setiap membelanjakan uang harus menolong orang, membangun ekonomi umat. Jadi setiap keluar harus multi manfaat bukan hanya dapat barang. Dengan membeli barang di warung kecil mungkin uangnya untuk menyekolahkan anaknya, membeli sejadah, membeli mukena, Subhanallah.

    Saudara-saudaraku Sekalian,

    Jadi krisis seperti ini akan berdampak positif kalau kita bisa mengemasnya dengan baik. Nantinya ketika strategi rumah kita sudah bersahaja, kehidupan kita jadi efisien, anak-anak terbiasa hidup hemat, kita di rumah tidak mempunyai beban dengan banyaknya barang.

    Barang yang ada di rumah harus ada nilai tambahnya, bukan biaya tambah. Setiap blender harus ada nilai produktifnya misalnya untuk membuat jus kemudian dijual, pasti barokah. Bukannya membuat biaya tambah karena harus diurus, dirawat dan membutuhkan pengamanan, barang yang seperti ini tidak boleh ada di rumah kita. Rezeki kita pasti ada tinggal kita kreatif saja. Tidak perlu panik Allah Maha Kaya.

    Sebagai amalan lainnya, dalam situasi sesulit apapun tetaplah menolong orang lain karena setiap kita menolong orang lain kita pasti ditolong oleh Allah. Jika makin pahit, makin getir harus makin produktif bagi orang lain. Baik sukses maupun tidak tetap lakukan dimanapun kita berada. Ketika kita sedang berjalan kaki, kemudian ada mobil yang hendak parkir bisa kita beri aba-aba. Ketika kita menyetir mobil ada yang mau menyebrang, dahulukan saja, kita tidak tahu apa yang akan menimpa kita esok hari. Ketika kita sedang mengantri ada orang yang memotong, berhentilah sebentar, dengan mengalah berhenti barang lima menit tetapi membuat banyak orang bahagia.

    Jadi insya Allah kalau hati kita sudah berbenah baik, krisis ini akan lebih membuat hidup kita lurus. Hidup ini tidak akan kemana-mana kecuali menunggu mati. Latihlah supaya kita sadar bahwa kita pasti mati tidak membawa apa-apa. Kita hanya mampir sebentar di dunia ini.

    Alhamdulilahirobil”alamin

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 17 June 2019 Permalink | Balas  

    Teguh Saat Menghadapi Kematian. 

    Teguh Saat Menghadapi Kematian.

    Orang-orang kafir dan ahli maksiat tidak akan mendapatkan keteguhan pada saat yang paling kritis, sehingga mereka tidak dapat mengucapkan kalimat syahadat saat kematiannya, hal tersebut pertanda Suu’ul khotimah (akhir kehidupan yang buruk), sebagaimana ada kisah bahwa seseorang yang sedang menghadapi sakratul maut dikatakan kepadanya : Bacalah Laa ilaaha illallah, akan tetapi kepalanya digelengkan kekiri dan kekanan sebagai tanda penolakan darinya.

    Ada juga yang lain saat sakratul maut berucap: ‘Ini potongannya bagus, yang ini harganya murah”, ada juga yang menyebut-nyebut bidak-bidak catur, atau ada juga yang melantunkan bait-bait lagu atau menyebut-nyebut kekasihnya.

    Hal tersebut terjadi karena semua itulah yang menyita perhatiannya semasa hidupnya. Bahkan dikisahkan bahwa diantara mereka ada yang bermuka hitam dan berbau busuk dan membelakangi kiblat saat ruh mereka keluar. La haula wala quwwata illah billah.

    Adapun orang baik dan pengikut sunnah, maka Allah akan memberikan keteguhan pada mereka saat-saat kematiannya sehingga mereka dapat mengucapkan syahadatain. Dan wajah mereka tampak berseri-seri serta berbau harum dan menampakkan kegembiraan saat ruhnya keluar.

    Terdapat sebuah contoh bagi orang yang Allah berikan keteguhan saat menghadapi kematiannya. Dia adalah Abu Zur’ah Arrozi, salah seorang pemimpin dari ulama hadits. Berikut uraian ceritanya:

    Berkata Abu Ja’far Muhammad bin Ali, pencatat Abu Zur’ah: “Kami mendatangi Abu Zur’ah di Ma’ Syahran (sebuah nama tempat) saat dia menghadapi sakratul maut, sementara disisinya terdapat Abu Hatim, Ibnu Warih dan Munzir bin Syazan serta yang lainnya. Lalu mereka menyebut-nyebut hadits tentang talqin :

    “Talqinlah (tuntunlan) orang yang sedang menghadapi kematiannya dengan bacaan Laa ilaaha illallah “

    Akan tetapi mereka agak sungkan untuk mentalqinkan Abu Zur’ah. Akhirnya mereka sepakat untuk meriwayatkan hadits tersebut. Maka berkatalah Ibnu Warih: “ telah meriwayatkan kepada kami Abu ‘Ashim, dari Abdul Hamid bin Ja’far dari Shalih’. dan tatkala menyebut Ibnu Abi’.., dia tidak dapat meneruskannya-, maka berkatalah Abu Hatim: “telah meriwayatkan kepada kami Bundaar dari Abu ‘Ashim dari Abdul Hamid bin Ja’far dari Shalih, kemudian dia tidak dapat meneruskannya juga, sementara yang lainnya terdiam saja, maka berkatalah Abu Zur’ah yang sedang dalam sakaratul maut seraya membuka matanya, : Telah meriwayatkan kepada kami Bundaar, dari Abu ‘Ashim, dari Abdul Hamid, dari Shalih Ibnu Abi Uraib dari Katsir bin Murroh dari Mu’az bin Jabal dia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Siapa yang akhir perkataannya La ilaaha illallah, maka dia akan masuk syurga’ setelah itu ruhnya keluar dari dirinya. Semoga Allah merahmatinya.

    Terhadap orang seperti merekalah Allah ta’ala berfirman:

    “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan) : “Jangannlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (Fushshilat : 30)

    ***

    Ya Allah jadikan kami termasuk diantara mereka, kami mohon kepada-Mu keteguhan dalam setiap urusan dan tekad untuk mendapatkan petunjuk.

     
  • erva kurniawan 1:59 am on 16 June 2019 Permalink | Balas  

    Taubat 

    Taubat

    Oleh: Syaikh Ibn Utsaimin

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu, Taubat adalah kembali dari bermaksiat kepada Allah menuju ketaatan kepadaNya. Taubat itu disukai oleh Allah -subhanahu wata’ala-, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (Al-Baqarah: 222).

    Taubat itu wajib atas setiap mukmin, “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.” (At-Tahrim: 8).

    Taubat itu salah satu faktor keberuntungan, “Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An-Nur: 31).

    Keberuntungan ialah mendapatkan apa yang dicarinya dan selamat dari apa yang dikhawatirkannya.

    Dengan taubat yang semurni-murninya Allah akan menghapuskan dosa-dosa meskipun besar dan meskipun banyak, “Katakanlah, ‘Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (Az-Zumar: 53).

    Jangan berputus asa, wahai saudaraku yang berdosa, dari rahmat Tuhanmu. Sebab pintu taubat masih terbuka hingga matahari terbit dari tempat tenggelamnya. Nabi -shollallaahu’alaihi wasallam- bersabda,

    “Allah membentangkan tanganNya pada malam hari agar pelaku dosa pada siang hari bertaubat, dan membentangkan tanganNya pada siang hari agar pelaku dosa pada malam hari bertaubat hingga matahari terbit dari tempat tenggelamnya.” (HR. Muslim dalam at-Taubah, no. 2759).

    Betapa banyak orang yang bertaubat dari dosa-dosa yang banyak dan besar, lalu Allah menerima taubatnya. Allah -subhanahu wata’ala- berfirman,

    “Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membu-nuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, ber-iman dan mengerjakan amal shalih; maka mereka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Furqan: 68-70).

    Taubat yang murni ialah taubat yang terhimpun padanya lima syarat:

    Pertama, Ikhlas karena Allah, dengan meniatkan taubat itu karena mengharapkan wajah Allah dan pahalanya serta selamat dari adzabnya.

    Kedua, menyesal atas perbuatan maksiat itu, dengan bersedih karena melakukannya dan berangan-angan bahwa dia tidak pernah melakukannya.

    Ketiga, meninggalkan kemaksiatan dengan segera. Jika kemaksiatan itu berkaitan dengan hak Allah -subhanahu wata’ala-, maka ia meninggalkannya, jika itu berupa perbuatan haram; dan ia segera mengerjakannya, jika kemaksiatan tersebut adalah meninggalkan kewajiban. Jika kemaksiatan itu berkaitan dengan hak makhluk, maka ia segera membebaskan diri darinya, baik dengan mengembalikannya kepada yang berhak maupun meminta maaf kepadanya.

    Keempat, bertekad untuk tidak kembali kepada kemaksiatan tersebut di masa yang akan datang.

    Kelima, taubat tersebut dilakukan sebelum habis masa penerimaannya, baik ketika ajal datang maupun ketika matahari terbit dari tempat terbenamnya. Allah -subhanahu wata’ala- berfirman,

    “Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, ‘Sesungguhnya saya bertaubat sekarang’.” (An-Nisa’: 18).

    Nabi -shollallaahu’alaihi wasallam- bersabda,

    “Barangsiapa bertaubat sebelum matahari terbit dari tempat tenggelamnya, maka Allah menerima taubatnya.” (HR. Muslim dalam adz-Dzikr wa ad-Du’a’, no. 2703)

    Ya Allah, berilah kami taufik untuk bertaubat semurni-murninya dan terimalah amalan kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

    Sumber:

    Risalah fi Shifati Shalatin Nabi a, hal. 44-45, Syaikh Ibn Utsaimin.

    Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 15 June 2019 Permalink | Balas  

    Mengingat nikmat surga dan azab neraka serta mengingat mati. 

    Mengingat nikmat surga dan azab neraka serta mengingat mati.

    Surga adalah tempat kegembiraan dan pelipur lara serta terminal dari perjalanan seorang mu’min, dan jiwa secara fitrah tidak akan bersedia untuk berkorban, beramal dan teguh pendirian kecuali jika dia mengetahui akan adanya balasan yang akan meringankan segala kesulitan serta memudahkan jalan yang penuh dengan kesulitan dan rintangan.

    Siapa yang mengetahui akan adanya imbalan ini tentu akan merasakannya ringannya tugas yang berat, sebab dia mengetahui jika dirinya tidak teguh maka dia akan kehilangan syurga yang luasnya sebesar langit dan bumi, sementara itu disisi lain jiwa manusia membutuhkan sesuatu yang dapat mengangkatnya dari unsur bumi ke alam yang tinggi.

    Dan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menjadikan mengingat syurga sebagai sarana untuk memperkokoh keteguhan para sahabatnya, dalam hadits hasan shahih, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menemui Yasir, Ammar dan Ummu Ammar yang sedang disiksa di jalan Allah Subhanahu wata’ala, maka beliau Bersabda kepada mereka:

    “Sabarlah wahai keluarga Yasir, sabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya janji untuk kalian adalah syurga” [Riwayat Hakim 3/383, haditsnya Hasan Shahih, lihat takhrijnya dalam Fiqhusshirah tahqiq Albani hal 103

    Demikian juga halnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengucapkan kepada orang-orang Anshor:

    “Sesungguhnya kalian setelahku akan menemukan sifat-sifat egoisme, maka bersabarlah kalian sampai kalian menemukanku di Haudh (telaga/hari kiamat)” [Muttafaq Alaih]

    Begitu juga dengan mempelajari dua kelompok (yang bahagia dan celaka) dialam kubur, dalam Mahsyar, Hisab, Mizan, Shiroth, dan semua tempat di akhirat.

    Demikian juga halnya dengan mengingat mati, akan melindungi seorang muslim dari kejatuhan, dan menahannya manakala berhadapan dengan larangan-larangan Allah sehingga dia tidak melampauinya. Karena jika seseorang mengetahui bahwa kematian lebih dekat kepadanya dari tali sendalnya, dan waktunya mungkin tinggal beberapa saat saja, dia tidak akan membiarkan dirinya tergelincir atau melakukan perbuatan yang menyimpang. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

    “Perbanyaklah kalian mengingat sesuatu yang akan menghancurkan segala kelezatan (kematian)” [Riwayat Turmuzi, 2/50 dan di shahihkan dalam Irwa’ul Ghalil, 3/145]

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 14 June 2019 Permalink | Balas  

    Riwayat Tahun Hijriah. 

    Riwayat Tahun Hijriah.

    Tahun Hijriah adalah sistim penanggalan Islam yang didasarkan atas peredaran bulan [qomariyah]. Maka disebut juga Tahun Qomariyah. Penamaan yang lebih populer adalah ‘Tahun Hijriah’. Karena awal tarikh hijriah dihitung dari hijrahnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, dari Mekah ke Madinah.

    Sedangkan sistim penanggalan yang didasarkan pada waktu perputaran bumi mengelilingi matahari disebut sistim penanggalan Syamsiah atau disebut juga kelender Masehi. Karena didasarkan pada awal kelahiran Isa Almasih.

    Hijrah berasal dari kata yang artinya : memalingkan muka dari seseorang dan tidak memperdulikan lagi. Seorang muslim yang terpaksa meninggalkan kampung halaman atau tanah airnya karena agama disebut Muhajir. Yang dianggap hari hijrah ialah hari tanggal 8 Rabi’ul Awwal – 20 September 622M. Penetapan tahun Hijriah dilakukan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Tepatnya pada tahun ke-empat ia berkuasa, yakni hari Kamis, 8 Rabi’ul Awwal 17 H.

    Tarikh Islam mulai dihitung dari tanggal 1 Muharram, yaitu 15 Juli 622 M. Menurut perhitungan, tarikh islam kira-kira 11 hari lebih singkat dari tahun menurut perhitungan peredaran matahari. Sedikit informasi untuk menghitung bagaimana tahun hijriah (H) bertepatan atau sebaliknya dengan tahun masehi (M) maka dapat dipakai rumus M = 32/33 ( H+622 ) atau sebaliknya H = 33/32 (M-622).

    Sebelum penetapan tahun Hijriah, dari masa ke masa, orang Arab menandai tahun berdasarkan peristiwa-peristiwa penting. Seperti penamaan ‘Tahun Azan’ sebagai tahun pertama, karena pada saat itulah di syari’atkan azan. Atau penamaan ‘Tahun Wada’ yang artinya ‘perpisahan’ sebagai tahun kesepuluh. Sebab pada masa itulah, Nabi melaksanakan ‘haji wada’ yang merupakan haji terakhir sebagai perpisahan dengan kaum muslimin. Ketika Rasulullah lahir, tahunnya dinamakan Tahun Gajah, karena pada tahun tersebut bersamaan dengan terjadinya serangan tentara bergajah yang hendak menurunkan Ka’bah.

    Perhitungan tahun kamariah sendiri sudah dikenal jauh sebelum Islam. Satu tahun kamariah lamanya 354 hari, 8 jam, 47 menit dan 46 detik. Terdiri dari 12 bulan, masing-masing lamanya 29 hari, 12 jam, 44 menit dan 3 detik. Perhitungan waktu berdasarkan matahari dan bulan disebut dalam Al Qur’an [ QS Yuunus; 10:5]

    “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dia tentukan perjalanannya, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan hisab. Allah menjadikan tidak lain kecuali dengan benar……………….”

    Tahun Hijriah terdiri dari 12 [dua belas] bulan dengan jumlah hari 30 dan 29 yang silih berganti setiap bulan. Yakni : Muharram, Shafar, Rabi’ul Awwal, Rabi’ul Akhir, Jumadil Awwal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulqaidah, Dzulhijjah. Penetapan bulan sebanyak 12 ini, sesuai dengan firman Allah SWT [At Taubah; 9:36]

    “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan; dalam ketetapan Allah, sejak hari Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya empat bulan yang dihormati [ Muharram, Rajab, Dzulqaidah dan Dzulhijjah]. Demikian itulah ketetapan agama yang lurus, ……………. ”

    ***

    Kiriman Sahabat Meilany

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 13 June 2019 Permalink |