Updates from Agustus, 2017 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:07 am on 30 August 2017 Permalink | Balas  

    Nafsiyyah Fikriyyah : Buah Syariat Qurban 

    kambing-kurban-300x225Nafsiyyah Fikriyyah : Buah Syariat Qurban

    Musim haji akan segera mencapai puncaknya. Kita akan menyambut datangnya hari raya haji atau hari raya kurban atau Iedul Adha pada tanggal 10 Dzul Hijjah, yakni sehari setelah para jamaah haji wuquf di padang Arafah (9 Dzul Hijjah).

    Pada hari raya ini kaum muslimin disunnahkan menyembelih hewan qurban pada tanggal 10 (hari nahar) maupun pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzul Hijjah atau dikenal dengan hari tasyriq.

    Apa makna qurban, bagaimana hakikat syariat ini, dan apa pelajaran yang mesti dipetik oleh kaum muslimin dalam ajaran ini? Tulisan ini mencoba menguraikannya.

    Syariat Qurban

    Syariat qurban terkait dengan syariat ibadah haji. Dalam surat Al Hajj Allah SWT menyebut hikmah ibadah haji sebagai mendapatkan berbagai manfaat perdagangan maupun saling mengenal antara kaum muslimin yang datang dari berbagai penjuru dunia di dalam haji disamping untuk mengingat Allah dalam memenuhi syiar-syiar haji. Allah SWT berfirman:

    “Supaya mereka menyaksikan berbagai manfa`at bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir”. (QS. Al Haj 28).

    Hari-hari yang ditentukan (ayyam ma’luumaat) dalam ayat di atas maksudnya adalah tanggal 10, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, yaitu hari nahar dan hari tasyriq (lihat Al Quran dan Terjemahannya hal 516). Hari nahar adalah hari penyembelihan qurban, demikian juga hari tasyriq selama tiga hari berikutnya. Diriwayatkan dari Jabir r.a. yang mengatakan:

    Rasulullah saw. melempar jumrah (aqabah) pada hari raya qurban (yaumun nahr) pada waktu dluha, sedangkan sesudahnya, dilakukannya bila matahari tergelincir (HR. Al Khamsah).

    Diriwayatkan bahwa sahabat Anas r.a. menyatakan:

    “Bahwa Nabi saw. tiba di Mina dan mendatangi jumrah lalu melemparinya, kemudian kembali ke tempat tinggalnya di Mina dan menyembelih kurbannya” (HR. Al Khamsah).

    Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda:

    “Segala hari tasyriq (11,12,13 Dzul hijjah) adalah hari menyembelih” (HR. Ahmad).

    Dari perbuatan (fiil) Rasulullah saw. maupun ucapan (qaul) beliau saw. dalam riwayat-riwayat hadits di atas jelas bahwa qurban merupakan salah satu dari ajaran syariat Islam. Perbuatan maupun pernyataan Rasulullah saw. itu adalah jawaban atas perintah Allah SWT dalam firman-Nya:

    “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni`mat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.” (QS. Al Kautsar 1-2).

    Juga firman-Nya:

    “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)”, (QS. Al Hajj 34).

    Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan bahwa dalam ayat tersebut Allah SWT mengabarkan bahwa menyembelih korban dan menumpahkan darah dengan nama Allah adalah disyariatkan pada semua agama. As Shobuni dalam Shafwatut Tafaasir Juz II/265 mengatakan bahwa Allah memerintahkan penyembelihan korban sebagai rasa syukur kepada Allah atas rezki yang dikaruniakan Allah, berupa ternak seperti unta, sapi, dan kambing dan agar mereka menyebut asma-Nya dan menyembelih korban untuk mencari keridloan-Nya karena Dialah Sang Pencipta dan Pemberi rizki, bukan seperti orang-orang musyrik yang berkorban demi patung-patung berhala.

    Hakikat Berkurban

    “Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”.(QS. Al Maidah 27).

    “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al Hajj 37).

    Korban dilakukan dengan memberikan yang terbaik dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT dan untuk mendapatkan keridloan-Nya. Ash Shobuni (idem) mengatakan bahwa prinsip korban ini adalah sikap taqwa dari kaum muslimin dengan tunduknya kaum muslimin mengikuti perintah-perintah Allah dan sikap mencari ridlo Allah dalam pelaksanaan perintah-perintah itu.

    Sikap Jiwa ber-Qurban

    Seorang muslim yang telah terbudaya dengan melaksanakan syariat Qurban akan terbentuk dalam dirinya untuk senantiasa mendekatkan dirinya kepada Allah SWT dan menggapai keridloan-Nya, dengan melaksanakan segala perintah-perintah-Nya yang wajib-wajib maupun yang sunnah-sunnah, sekalipun untuk itu dia harus mengorbankan apa saja yang dimilikinya, baik harta maupun nyawanya.

    Dia memahami bahwa segala aktivitasnya, adalah didasari kesadaran bahwa itu adalah perintah agama-Nya, perintah Allah dan rasul-Nya. Ia sadar betul bahwa bilamana dia mengerjakan suatu kebajikan, tanpa didasari oleh motivasi agama, maka akan percuma baginya. Dia paham, jika suatu perbuatan dilakukan tanpa motivasi agama, hanya sekedar kemanusiaan, mungkin saja orang akan membanggakan dan memujinya, mungkin negara memberikan piagam penghargaan kepadanya, tapi kalau di hadapan Allah, semua perbuatan yang tidak dilakukan dengan ikhlas lilahi ta’ala dan tidak dilakukan dengan cara-cara yang disunnah Rasul-Nya tidak akan Dia SWT terima. Jadi kalau dia menyembelih korban, dia laksanakan sesuai tuntunan Rasulullah saw, yakni menyembelih onta, sapi, atau kambing. Tidak dia ganti dengan ayam, bebek, atau hewan lainnya yang tidak disyariatkan. Sebab, dia sadar bahwa yang diterima oleh Allah SWT adalah aktivitas yang disyariatkan oleh-Nya.

    Oleh karena itu, buah dari syariat Qurban adalah tercetaknya jiwa-jiwa muslim yang rela berkorban dan mengorbankan segala yang dimilikinya untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan menjalankan perintah-perintah-Nya sebagaimana yang dijelaskan dan dicontohkan oleh rasul-Nya.

    Maka, jika dia menyembelih hewan qurban dan dengan-Nya memberi maka orang-orang fakir, yang meminta maupun yang tidak meminta, bukanlah agar dia mendapat predikat dermawan. Atau kalau dia kirim hewan korban-Nya ke daerah bencana dan dia membantu orang-orang yang terkena musibah, bukanlah untuk mendapatkan sebutan orang bermoral dan berperikemanusiaan. Tapi semua itu dia lakukan dalam rangka ketaqwaan-Nya kepada Allah Sang Pencipta dan kesukaannya mendapatkan Ridlo-Nya.

    ***

    Kiriman Syabab Muslim

    Iklan
     
    • dietdietsihat 7:26 am on 30 Agustus 2017 Permalink

      bukannya berapa banyak lembu, bukannya daging, bukannya darah, tapi pahala qurban itu. semoga keikhlasan kita itu diterima dan diredhai Allah

  • erva kurniawan 1:26 am on 29 August 2017 Permalink | Balas  

    Syariat Dan Kazaliman Dalam Penyembelihan (2/2) 

    menyembelih sapiSyariat Dan Kazaliman Dalam Penyembelihan (2/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Penggunaan cara bius, stunning atau kejutan elektrik itu hendaklah disahkan dan diperakui oleh orang Islam yang adil yang pakar atau yang ahli dalam hal ini, bahwa binatang-binatang yang hendak di sembelih itu masih dalam keadaan hayah mustaqirrah, dan tidak menyebabkan penyeksaan terhadap binatang tersebut.

    Jika perkara melemahkan atau memengsankan binatang itu akan menyeksa binatang tersebut, maka perbuatan yang sedemikian itu adalah haram, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam melaknat kepada sesiapa yang melakukan penyeksaan kepada binatang sama ada untuk tujuan menyembelihnya atau pun bukan. Pernah pada satu masa Ibnu ‘Umar Radhiallahu ‘anhuma melihat sekumpulan orang melontar seekor ayam yang sengaja ditambatkan lalu ia berkata:

    Maksudnya: “Sesiapa yang melakukan perkara ini (menyeksa binatang), sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam melaknat sesiapa melakukan perkara ini.” (Hadits riwayat Muslim)

    Adapun hukum daging binatang yang diseksa itu, jika ia mati disebabkan oleh seksaan tersebut atau disembelih ketika nyawanya diperingkat harakah mazbuh, maka ia dihukumkan bangkai, manakala jika ia tidak mati karena seksaan dan ada (zhan) sangkaan padanya hayah mustaqirrah melalui salah satu tandanya seperti pergerakan yang kuat, pancutan darah dan sebagainya selepas disembelih maka dagingnya itu halal dimakan.

    Begitulah sikap agama Islam terhadap binatang yang hendak disembelih, dilakukan dengan penuh ihsan sebagaimana hadis yang tersebut di atas yang bermaksud:

    “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat ihsan ke atas tiap-tiap sesuatu, maka apabila kamu membunuh maka elokkanlah pembunuhan itu, dan apabila kamu menyembelih maka elokkanlah penyembelihan itu, dan hendaklah salah seorang kamu menajamkan pisaunya dan hendaklah dia menyelesakan kepada binatang sembelihannya”. (Hadits riwayat Muslim)

    Bahkan ada lagi etika penyembelihan yang amat elok diikuti (disunatkan melakukannya) yang termasuk dalam pengertian ihsan yang disebutkan di dalam hadis tersebut:

    (i) Memalingkan binatang sembelihannya dan orang yang menyembelih ke kiblat, serta membaca Bismillah serta selawat dan salam kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam ketika menyembelih.

    (ii) Mempercepatkan pemotongan halqum dan mari` ketika menyembelih.

    (iii) Mengiringi binatang sembelihan ke tempat penyembelihan dengan lembut (selayaknya).

    (iv) Memberi minum binatang sembelihan itu sebelum disembelih.

    (v) Menajamkan pisau tidak diperlihatkan di hadapannya, dan ianya tidak disembelih di hadapan binatang-binatang yang lain.

    (vi) Memotong wadajan (dua urat darah yang di leher), karena ia cepat membawa kepada kematian binatang itu.

    (vii) Jika sudah disembelih binatang itu, tidak segera dilapah dagingnya kecuali setelah ia sampai benar-benar mati dan sejuk tubuhnya.

    Pada dasarnya agama Islam mengecam segala bentuk kezaliman, sekalipun terhadap binatang. Sebagai contoh seorang perempuan dimasukkan ke dalam neraka semata-mata menyeksa seekor kucing sepertimana yang terdapat diceritakan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abdullah Radhiallahu ‘anhu katanya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Seorang wanita diseksa pada hari kiamat lantaran dia mengurung seekor kucing sehingga kucing itu mati, karena itu Allah memasukkannya ke neraka, oleh sebab kucing itu dikurungnya tanpa diberi makan dan minum dan tidak pula dilepaskannya supaya ia dapat menangkap serangga-serangga yang terdapat di bumi.” (Hadits riwayat Muslim)

    Sebaliknya seorang itu telah diberi ganjaran pengampunan karena memberi minum seekor anjing yang kehausan sebagaimana hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu katanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Pada suatu ketika, ada seorang laki-laki sedang berjalan melalui sebatang jalan, lalu dia merasa sangat kehausan, kebetulan dia menemukan sebuah telaga, maka dia turun ke telaga itu untuk minum. Setelah keluar dari telaga, dia melihat seekor anjing menjulurkan lidahnya menjilat-jilat tanah karena kehausan. Orang itu berkata dalam hatinya: “Alangkah hausnya anjing ini, seperti yang baru kualami” lalu dia turun kembali ke telaga, diceduknya air dengan sepatunya, dibawanya ke atas dan diminumkannya kepada anjing itu. Maka Allah berterima kasih kepada orang itu (diterimaNya amalnya) dan diampuniNya dosanya. Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah! Dapat pahalakah kami menyayangi haiwan-haiwan ini?” Jawab (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam): “Menyayangi setiap makhluk hidup itu berpahala.”  Hadits riwayat Muslim)

    Lain-lain kezaliman yang dicela oleh Islam sebagaimana yang ditunjukkan oleh sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Seekor semut menggigit seorang Nabi di antara para nabi-nabi, lalu Nabi tersebut menyuruh membakar sarang semut itu, lalu dibakarlah. Maka Allah mewahyukan kepadanya: “Hanya seekor semut yang menggigitmu, lalu engkau musnahkan umat yang selalu membaca tasbih.” (Hadits riwayat Muslim)

    Demikian sikap Islam terhadap penyembelihan binatang dan kezaliman. Kedua-duanya sangat berbeza.

    Jika kita mengikuti penyembelihan yang disyariatkan oleh Islam dan mengikut adab-adab yang telah dianjurkannya terhadap binatang sembelihan, maka itu sudah jelas bahwa ia menepati akan maksud berbuat ihsan kepada binatang. Adalah belum pasti bahwa melemahkan binatang dengan menggunakan bius atau lain-lain cara yang diamalkan oleh Barat itu lebih menepati apa yang dikehendaki oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

    Tidak terdapat sebarang arahan syara’ menyuruh binatang-binatang itu dilemahkan atau dipengsankan terlebih dahulu dan kemudian barulah menyembelihnya. Sekiranya melemahkan atau memengsankan itu ialah cara yang dibuat atau dikehendaki oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, nescaya sudah barang tentu ada hadis Baginda menyebut begitu, atau setidak-tidaknya perkhabaran daripada para sahabat yang telah menyaksikannya daripada Baginda.

    Sebenarnya perbuatan menyembelih ini adalah bukan perkara akal semata-mata. Jika ianya telah mengikut kehendak syara’, maka kezaliman tidak lagi berbangkit. Inilah bahaya jika akal digunakan tanpa timbangan syara’, karena berpandukan akal semata-mata itulah orang-orang jahil dan musuh-musuh Islam telah menohmah hudud undang-undang Islam sebagai kejam, ganas dan tidak sesuai dengan masa. Mereka mempertikaikan hukum potong tangan karena mencuri, rejam dan sebat karena zina, hukum bunuh balas bunuh (qishash) dan lain-lain tohmah yang diasaskan semata-mata kepada akal yang dangkal.

    Orang-orang seperti itu langsung tidak memahami apa itu syara’, apatah lagi untuk memikirkan disebalik hukum syara’ itu ada hikmah atau rahsia yang tidak boleh dikesan dan dianalisa oleh akal seratus peratus. Firman Allah Ta’ala:

    Tafsirnya: “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Surah Al-Isrâ’: 85)

    Umat Islam hendaklah berwaspada terhadap segala tohmahan-tohmahan yang dilemparkan kepada umat Islam yang kebanyakannya bukan sahaja bertujuan memberi keraguan dan gambaran yang buruk kepada penganut selain Islam, malah memberi keraguan kepada umat Islam sendiri, lebih-lebih lagi jika tohmahan itu datang daripada musuh-musuh Islam yang berselindung di bawah pertubuhan-pertubuhan yang kononnya berdasarkan kepada memperjuangan hak-hak asasi manusia atau hak asasi binatang.

    Sebenarnya apabila musuh-musuh Islam itu membuat kecaman terhadap Islam dan umat Islam atas nama hak-hak, maka yang sebenarnya kecaman itu adalah sebagai merealisasikan permusuhan mereka yang panjang dan lama terhadap Islam, karena itu Allah telah memperingatkan awal-awal lagi akan bahaya orang-orang kafir itu melalui firmanNya:

    Tafsirnya: “Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemahuan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Surah Al-Baqarah: 120)

    FirmanNya lagi:

    Tafsirnya: “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (Surah Al-Mâ’idah: 82)

    Walau bagaimanapun, orang-orang Islam hendaklah mencerminkan dan menggambarkan sesuatu yang terbaik kepada penganut-penganut agama yang lain, karena dengan penampilan yang baik itu adalah merupakan salah satu cara dakwah yang akan menjinakkan hati orang-orang yang benar-benar mahu mencari kebenaran, semoga Allah akan memberi hidayat kepada mereka, sesuai dengan firmanNya:

    Tafsirnya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab itu beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasiq.”

    (Surah Ali ‘Imrân: 110)

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:23 am on 28 August 2017 Permalink | Balas  

    Syariat Dan Kazaliman Dalam Penyembelihan (1/2) 

    kambing-kurban-300x225Syariat Dan Kazaliman Dalam Penyembelihan (1/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Kedatangan agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah rahmat kepada manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan bahkan rahmat kepada sekalian yang wujud di alam ini. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    Tafsirnya: “Dan tiadalah Kami mengutuskan engkau (wahai Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi sekalian alam.”

    (Surah Al-Anbiyâ’: 107)

    Cara Islam mengatur hubungan manusia sesama manusia, malah juga hubungan manusia dengan binatang dan seluruh alam ini, adalah bukti kerahmatan itu. Ini termasuklah cara melakukan penyembelihan binatang. Islam telah memberi garis pandu yang lengkap bagaimana untuk melakukannya. Di antaranya sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dari Abu Ya’la Syaddad Ibnu Aus Radhiallahu ‘anhu :

    “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat ihsan ke atas tiap-tiap sesuatu, maka apabila kamu membunuh elokkanlah pembunuhan itu, dan apabila kamu menyembelih maka elokkanlah penyembelihan itu, dan hendaklah salah seorang kamu menajamkan pisaunya dan hendaklah dia menyelesakan binatang sembelihannya.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Menyembelih binatang dengan aturan yang telah ditetapkan oleh hukum syara’ adalah satu jalan yang boleh menghalalkan daging binatang itu halal dimakan di samping memenuhi syarat-syarat yang lain. Hal ini digambarkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    Tafsirnya: “Diharamkan kepada kamu (memakan) bangkai (binatang yang tidak disembelih), dan darah (yang keluar mengalir), dan daging babi (termasuk semuanya), dan binatang-binatang yang disembelih karena yang lain dari Allah, dan yang mati tercekik, dan yang mati dipukul, dan yang mati jatuh dari tempat yang tinggi, dan yang mati ditanduk, dan yang mati dimakan binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih (sebelum habis nyawanya), dan yang disembelih atas berhala; dan (diharamkan juga) kamu menengok nasib dengan undi batang-batang anak panah. Yang demikian itu adalah perbuatan fasiq.”

    (Surah Al-Ma’idah: 3)

    Sekalipun disyariatkan demikian, namun ada juga suara-suara yang coba mempertikaikan ketentuan hukum tersebut untuk meragukan keyakinan dan kefahaman kita dalam hal penyembelihan ini. Antaranya mereka mengatakan penyembelihan yang biasa dilakukan oleh orang Islam adalah suatu kezaliman terhadap binatang. Mereka berpendapat binatang tersebut perlu dipengsankan terlebih dahulu sebelum disembelih. Benarkah cara yang biasa kita lakukan iaitu tanpa memingsankan binatang sembelihan itu suatu kezaliman?

    Islam telah menentukan rukun-rukun dan syarat-syarat sembelihan itu sebagaimana huraiannya yang berikut:

    Rukun menyembelih itu ada empat:

    1. Penyembelih
    2. Binatang yang disembelih
    3. Alat untuk meyembelih
    4. Penyembelihan (perbuatan menyembelih)

    Setiap rukun-rukun ini, mempunyai syarat-syaratnya yang tertentu.

    1. Penyembelih

    Syarat penyembelih itu hendaklah seorang Islam atau ahli kitab (yang memenuhi syarat hakiki orang ahli kitab sebagaimana yang disebutkan oleh ulama-ulama Asy-Syafi’eyah).

    Tiada halal sembelihan orang Majusi (penyembah api), penyembah berhala, orang murtad dan lain-lain daripada orang kafir yang tiada mempunyai kitab agama Allah.

    1. Binatang yang disembelih

    Syarat binatang yang disembelih itu ialah:

    (i) Binatang darat yang halal dimakan.

    (ii) Zhan (sangkaan) terhadap binatang, bahwa ada padanya hayah mustaqirrah pada permulaan penyembelihan kecuali binatang yang sakit.

    Adapun binatang yang sakit atau kehausan tidak disyaratkan ada padanya hayah mustaqirrah ketika menyembelihnya, memadai sahaja padanya harakah mazbuh ketika menyembelihnya. Tetapi tidak halal jika binatang yang hendak disembelih yang nyawanya pada ketika itu di peringkat harakah mazbuh disebabkan oleh memakan tumbuh-tumbuhan yang membawa kepada maut, pukulan, hentakan dan seumpamanya daripada sebab-sebab yang boleh membawa kepada maut. Demikian yang dijelaskan dalam kitab-kitab Al-Majmu’, Fath Al-‘Alam dan I’anat At-Thalibin.

    Adapun yang dimaksudkan dengan hayah mustaqirrah itu ialah keadaan binatang yang masih bernyawa dan melihat dan bersuara serta bergerak dengan kehendaknya, dan di antara tanda-tandanya ialah pergerakan yang kuat, pancutan darah, suara rengekan kerongkong dan yang seumpamanya selepas disembelih. Manakala yang dimaksudkan dengan harakah mazbuh ialah keadaan binatang yang tiada lagi ada padanya penglihatan, pergerakan, suara dengan kehendaknya atau keadaan binatang yang apabila dibiarkan dengan keadaannya yang sedemikian itu, ia akan mati dengan serta merta.

    1. Alat untuk menyembelih

    Disyaratkan alat untuk menyembelih itu sesuatu yang boleh memotong dengan ketajamannya selain kuku, gigi dan semua jenis tulang. Maka tidak halal binatang yang disembelih menggunakan tiga jenis alat. Ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dari Rafi’ ibnu khadij Radhiallahu ‘anhu:

    Maksudnya: “Apa-apa yang dapat mengalirkan darah serta disebut nama Allah padanya (waktu menyembelih), maka boleh kamu makan, kecuali gigi dan kuku, dan aku akan khabarkan kepada kamu sedemikian itu, (karena) gigi adalah tulang dan kuku adalah pisau orang Habsyah.”

    (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

    1. Penyembelihan

    Disyaratkan penyembelihan itu:

    (i) Memotong seluruh halqum (saluran nafas) dan seluruh mari` (saluran makanan dan minuman).

    (ii) Niat untuk menyembelih ketika melakukan penyembelihan. Jika seseorang memegang pisau di tangannya dan terlepas pisau itu daripada tangannya, lalu terkena leher binatang dan terputus seluruh halqum dan mari`nya, tidaklah dikira sebagai penyembelihan, karena tidak ada niat untuk melakukan penyembelihan, maka tidak halal memakan daging binatang tersebut.

    (iii) Hendaklah binatang itu mati semata-mata disebabkan oleh penyembelihan (tidak dilakukan satu perbuatan lain yang boleh membawa maut kepada binatang itu ketika disembelih).

    Apabila telah cukup segala rukun-rukun dan syarat-syarat penyembelihan yang tersebut, maka halal binatang itu kecuali sembelihan yang dimaksudkan kepada selain Allah atau disebutkan sewaktu menyembelihnya selain nama Allah, walaupun sembelihan itu mencukupi segala rukun-rukun dan syarat-syarat yang telah disebutkan.

    Dasar perintah ini ialah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    Tafsirnya: “Sesungguhnya Allah mengharamkan ke atas kamu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan apa yang disembelih dengan menyebut selain nama Allah.” (Surah Al-Nahl: 115)

    Berdasarkan kepada rukun yang kedua (binatang yang disembelih) dan syarat-syaratnya, maka melemahkan atau memingsankan binatang yang hendak disembelih dengan cara seperti bius, stunning, kejutan elektrik yang tidak membawa kepada maut dan ada padanya hayah mustaqirrah ketika disembelih, adalah harus pada hukum syara’.

    Bersambung

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 10:59 am on 2 July 2017 Permalink | Balas  

    Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam Dengan Para Tetangga 

    Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam Dengan Para Tetangga

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat memuliakan para tetangga. Tetangga memiliki kedudukan yang agung dalam kehidupan beliau. Beliau pernah berkata:

    “Malaikat Jibril alaihissalam senatiasa mewasiatkan agar aku berbuat baik kepada tetangga, sehingga aku mengira ia (Jibril) akan memberikan hak waris (bagi mereka).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

    Beliau mewasiatkan Abu Dzar radhiallaahu anhu:

    “Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak makanan, perbanyaklah kuahnya, janganlah engkau lupa membagikannya kepada tetanggamu.” (HR. Muslim)

    Beliau juga memperingatkan dari bahaya mengganggu tetangga. Beliau bersabda:

    “Tidak akan masuk Surga orang yang tidak merasa aman tetangganya dari kejahatannya.” (HR. Muslim)

    Oleh sebab itu, hendaklah kita senantiasa berlaku baik kepada para tetangga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, hendaklah ia berlaku baik kepada tetangganya.” (HR. Muslim)

    ***

    [taken from kitab : Sehari Di Kediaman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, By : Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim]

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 1 July 2017 Permalink | Balas  

    Dzikir Rasulullah Nabi umat ini sekaligus murabbi pembimbing… 

    Dzikir Rasulullah

    Nabi umat ini sekaligus murabbi (pembimbing) yang handal dan terdepan memiliki komitmen yang sangat besar dalam beribadah. Beliau selalu menghubungkan hatinya dengan Allah Ta’ala. Tidak sedikitpun waktu yang terlewat tanpa dzikrullah, tahmid, syukur, istighfar dan taubat. Padahal telah diampuni dosa-dosa beliau yang lalu maupun yang akan datang. Namun beliau senantiasa menjadi hamba yang bersyukur, nabi yang mensyukuri karunia Allah dan rasul yang selalu memuji keagungan-Nya. Beliau mengenal kebesaran Allah , dengan itu beliau senantiasa memuji-Nya, memohon kepada-Nya dan kembali menuju ampunan-Nya. Beliau mengetahui betapa berharga waktu yang diberikan, beliau pergunakan sebaik-baiknya dengan selalu mengisi waktu dalam ketaatan dan ibadah.

    ‘Aisyahradhiyallahu ‘anhaberkata:

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa berdzikir kepada Allah setiap waktu.” (HR. Muslim)

    Ibnu Abbas radhiallaahu anhu mengungkapkan: “Kami pernah menghitung dzikir yang diucapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam satu majlis sebanyak seratus kali:

    “Ya Allah, ampunilah aku, dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha menerima taubat lagi Maha Pengampun.” (HR. Abu Daud)

    Abu Hurairah radhiallaahu anhu menuturkan: “Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    “Demi Allah, sesungguhya aku beristighfar dan bertaubat kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR. Al-Bukhari)

    Ibnu Umar radhiallaahu anhuberkata: “Kami pernah menghitung dzikir yang diucapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam satu majlis sebanyak seratus kali:

    “Ya Allah, ampunilah aku, dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha menerima taubat lagi Maha Pengampun.” (HR. At-Tirmidzi)

    Ummul Mukminin Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengungkapkan kepada kita sebuah doa yang sering diucapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila berada di sisinya, sebagai berikut:

    “Ya Allah, Yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi)

    ***

    [taken from kitab : Sehari Di Kediaman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, By : Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim]

     
  • erva kurniawan 2:20 am on 30 June 2017 Permalink | Balas  

    Puasa 6 Hari Di Bulan Syawal Boleh Disatukan Dengan Puasa Qada 

    puasa 4Puasa 6 Hari Di Bulan Syawal Boleh Disatukan Dengan Puasa Qada

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    MATLAMAT puasa jika dikerjakan dengan penuh penghayatan akan dapat membentuk manusia menjadi orang yang bertakwa sebagaimana perkara ini dijelaskan oleh Al-Quran.

    Di samping itu puasa juga merupakan ibadat yang istimewa di sisi Allah Subhanahu Wataala kerana setiap ganjaran atau balasan kepada orang yang berpuasa diberikan dan dinilai oleh Allah Subhanahu Wataala sendiri sebagaimana yang disebut oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, Baginda bersabda yang maksudnya :

    “Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda : “Allah Subhanahu Wataala berfirman : “Setiap amalan anak Adam (manusia) adalah untuknya (dapat diperiksa sendiri dan dinilai baik buruknya), melainkan amalan puasa, maka sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku (Aku sendiri yang dapat memeriksa dan menilainya) dan oleh sebab itu Aku sendirilah yang akan menentukan berapa banyak balasan yang perlu diberikan kepada mereka yang berpuasa.” (Hadis riwayat Bukhari).

    Puasa Ramadan adalah diwajibkan kepada umat Islam pada setiap tahun berdasarkan ayat Al-Quran dan hadis Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Begitu juga disunatkan ke atas orang Islam berpuasa sunat atau tathawwu’ di hari atau bulan yang lain seperti melakukan puasa ‘Asyura, hari ‘Arafah, puasa di bulan Syaaban, puasa mingguan pada hari Isnin dan Khamis, puasa enam hari pada bulan Syawal yang biasanya disebut sebagai puasa enam.

    Pada siri Irsyad Hukum kali ini kita akan membicarakan mengenai beberapa perkara yang berhubung dengan puasa enam.

    Puasa enam ialah puasa yang dikerjakan dengan berturut-turut atau berselang-selang sebanyak enam hari pada bulan Syawal selepas Hari Raya Fitrah.Puasa enam itu sunat dikerjakan oleh orang yang telah mengerjakan puasa Ramadan sebulan penuh dan juga sunat dikerjakan oleh orang yang tidak berpuasa Ramadan sebulan penuh disebabkan keuzuran yang diharuskan oleh syarak seperti haid dan nifas, musafir atau orang sakit. Manakala bagi orang yang meninggalkan puasa Ramadan dengan sengaja adalah haram melakukan puasa enam kecuali setelah selesai mengqada puasanya. Namun ganjaran pahala puasa enam bagi orang yang tidak berpuasa penuh bulan Ramadan tidak sama dengan ganjaran pahala bagi orang yang mengerjakan puasa enam selepas mengerjakan puasa Ramadan sebulan penuh.

    Sunat puasa enam ini berdasarkan sabda Baginda yang maksudnya :

    “Sesiapa yang berpuasa Ramadan kemudian diikuti dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, seolah-olah dia berpuasa sepanjang tahun.” (Hadis riwayat Muslim).

    Para ulama berselisih pendapat mengenai waktu atau masa mengerjakan puasa enam itu. Sebahagian besar ulama berpendapat puasa enam itu dilakukan dengan berturut-turut selepas Hari Raya mulai Hari Raya kedua dan seterusnya. Manakala ulama muta’akhirin pula berpendapat puasa enam itu harus dilakukan secara tidak berturut-turut seperti berselang-seling dan sebagainya selama dalam bulan Syawal. Walau bagaimanapun mengerjakannya dengan berturut-turut selepas Hari Raya adalah lebih afdal.

    Mengerjakan puasa sunat sebanyak enam hari dalam bulan Syawal setelah berpuasa Ramadan sebulan penuh diibaratkan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam sebagai berpuasa sepanjang tahun kerana sebulan puasa Ramadan itu menyamai puasa sepuluh bulan dan puasa enam pula menyamai dengan 60 hari atau dua bulan. Jika dicampurkan sepuluh bulan dengan dua bulan, maka genaplah ia setahun, itulah yang dimaksudkan dengan puasa sepanjang tahun. Perkara ini dijelaskan lagi dalam sebuah hadis, sabda Baginda yang maksudnya :

    “Berpuasa sebulan (disamakan) dengan sepuluh bulan puasa, dan berpuasa enam hari selepasnya (disamakan) dengan dua bulan puasa, maka kedua-duanya itu (jika dicampurkan) genap setahun.” (Hadis riwayat Al-Darimi).

    Berdasarkan hadis di atas juga, sebahagian ulama menjelaskan bahawa puasa enam hari dalam bulan Syawal diberikan ganjaran yang sama dengan ganjaran puasa di bulan Ramadan, kerana setiap kebajikan itu dibalas atau diberikan dengan sepuluh kali ganda. Sebagaimana juga mereka mengatakan : “Membaca Surah Al-Ikhlas itu sama dengan membaca sepertiga Al-Quran.

    Kewajiban Mengqada Puasa

    Puasa Ramadan yang ditinggalkan adalah wajib diqada sebanyak hari yang ditinggalkan itu sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah dalam firman-Nya yang tafsirnya :

    “Maka wajiblah dia berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (Surah Al-Baqarah : 184).

    Kewajipan mengqada puasa itu tidak kira sama ada puasa itu ditinggalkan dengan sengaja atau kerana keuzuran kecuali orang-orang yang benar-benar tidak berdaya mengerjakannya seperti orang sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh. Mereka tidak diwajibkan mengqada puasa yang ditinggalkan itu tetapi wajib membayar fidyah sebagai ganti puasa yang ditinggalkan. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu Wataala yang tafsirnya :

    “Dan wajib atas orang-orang yang tidak berdaya berpuasa (kerana tua dan sebagainya) membayar fidyah iaitu memberi makan orang miskin.” (Surah Al-Baqarah : 184).

    Dalam mengerjakan qada puasa ini, para ulama berpendapat bahawa orang-orang yang meninggalkan puasa tanpa uzur adalah wajib menyegerakan qada puasa tersebut. Dan mereka tidak diharuskan bahkan haram melakukan puasa-puasa sunat termasuk puasa enam hari di bulan Syawal.

    Puasa qada boleh dilakukan pada bila-bila masa kecuali pada hari-hari yang diharamkan berpuasa seperti Hari Raya Fitrah, Hari Raya Haji atau pada hari-hari Tasyriq dan sebagainya dan ia wajib disegerakan sebelum masuk Ramadan yang baru.

    Jika qada puasa hendak dikerjakan pada bulan Syawal ia boleh dilakukan bermula pada Hari Raya Kedua (2 hari bulan Syawal). Bagi mereka yang diharuskan meninggalkan puasa kerana keuzuran yang dibenarkan oleh syarak seperti orang perempuan yang haid atau nifas, orang sakit atau orang musafir (dalam perjalanan) dan lain-lain, sunat bagi mereka mengerjakan puasa enam sekalipun mereka masih mempunyai qada. Walau bagaimanapun menurut para ulama ganjaran yang bakal diterimanya tidaklah sama dengan ganjaran pahala yang diterima oleh mereka yang berpuasa enam setelah berpuasa penuh satu bulan Ramadan.

    Berbanding dengan orang-orang yang meninggalkan puasa Ramadan tanpa keuzuran atau dengan sengaja, diharamkan ke atas mereka mengerjakan puasa enam pada bulan Syawal itu kerana mereka diwajibkan menyegerakan qada tersebut.

    Manakala bagi orang yang luput keseluruhan puasa Ramadan (selama satu bulan) kerana keuzuran yang diharuskan oleh syarak, jika dia mengerjakan puasa qadanya pada bulan Syawal, disunatkan (mustahab) ke atasnya mengqada puasa enam itu dalam bulan Zulkaedah. Walau bagaimanapun, menurut ulama dia hanya mendapat ganjaran sebagaimana yang disebutkan oleh hadis Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam iaitu orang yang berpuasa Ramadan dan diikuti dengan puasa enam pada bulan Syawal diibaratkan berpuasa selama satu tahun.

    Menyatukan Puasa Qada Dengan Puasa Enam

    Bagi orang yang hendak melakukan qada puasa Ramadan (meninggalkannya kerana keuzuran yang dibolehkan oleh syarak), ia boleh dilakukan sekaligus dengan puasa enam dalam bulan Syawal. Caranya ialah orang tersebut hendaklah berniat bagi kedua-duanya iaitu puasa qada dan puasa sunat tersebut dengan tujuan bagi mendapatkan ganjaran kedua-dua sekali (iaitu ganjaran puasa qada dan ganjaran puasa sunat).

    Hal ini sama seperti orang yang berniat puasa wajib sama ada puasa qada atau puasa nazar atau puasa kafarah, pada hari-hari yang disunatkan berpuasa seperti hari Arafah atau pada hari Isnin dan Khamis atau pada hari ‘Ayura dan puasa-puasa sunat yang lain seumpamanya.

    Dalam menunaikan puasa tersebut, jika dia berniat kedua-duanya sekali iaitu puasa qada dan puasa sunat seperti puasa hari Arafah atau puasa-puasa sunat yang lain, maka dia akan mendapat ganjaran bagi puasa sunat dan puasa wajib tersebut. Tetapi jika dia berniat hanya bagi puasa sunat sahaja atau puasa wajib sahaja, maka dia hanya akan mendapat gambaran bagi puasa yang diniatkannya sekalipun ia dilakukan pada hari yang bertepatan antara puasa wajib dan puasa sunat itu.

    Ibnu Hajar Al-Haitami dalam fatwanya menjelaskan, mengenai orang yang berniat puasa sunat bersama puasa wajib seperti di atas dengan katanya maksudnya :

    “Jika diniatkan keduanya (puasa sunat dan pusat wajib) dia mendapat ganjaran bagi kedua-duanya atau diniatkan salah satu maka gugur tuntutan yang satu lagi dan tidak mendapat ganjarannya.” (Al-Fatwa Al-Kubra : 2/75).

    Walaupun menyatukan puasa qada dengan puasa enam itu diharuskan dan mendapat ganjaran pahala kedua-duanya, namun ganjaran tersebut tidaklah menyamai ganjaran pahala seperti yang disebut dalam hadis di atas. Walau bagaimanapun sikap menyegarakan qada puasa itu sikap yang terpuji dan dituntut oleh syarak kerana ganjaran dan pahala ibadat puasa itu hanya Allah Subhanahu Wataala sahaja yang menilai dan menentukan berapa banyak balasan yang perlu diberikan kepada mereka yang berpuasa.

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 10:49 am on 29 June 2017 Permalink | Balas  

    Membela Kehormatan Orang Lain 

    Membela Kehormatan Orang Lain

    Majlis yang paling mulia adalah majlis dzikir dan ilmu. Sekarang, bagaimana menurutmu bila seorang manusia terpilih dan pembimbing umat maju mengetengahkan pembicaraan dan pengarahan dan bimbingan-nya!

    Beliau selalu mengoreksi orang yang keliru, meluruskan kesalahan orang yang jahil, memperingatkan orang yang lalai, sama sekali tidak di dapatkan dalam majlis beliau kecuali kebaikan-kebaikan. Hal itu adalah salah satu bukti kesucian majlis dan ketulusan hati beliau .

    Beliau selalu menyimak dengan baik dan mendengarkan dengan saksama orang yang berbicara kepada-nya. Akan tetapi beliau tidak mau mendengarkan ghibah (gunjingan) dan tidak rela mendengarkan namimah (hasutan) dan buhtan (tuduhan palsu dan ucapan bohong). Beliau selalu membela kehormatan orang lain.

    Dari ‘Itban bin Malik Radhiallahu’anhu ia berkata: “Pada sebuah kunjungan, beliau mengerjakan shalat rumah kami. Seusai shalat beliau bertanya: “Di mana gerangan Malik bin Ad-Dukhsyum?” Ada seseorang yang menyahut: “Dia adalah seorang munafik, dia tidak mencintai Allah dan Rasul-Nya!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam segera menegur seraya berkata: “Jangan ucapkan demikian, bukankah kamu mengetahui dia telah mengucapkan kalimat syahadat Laa ilaaha illallaahu semata-mata mengharapkan pahala melihat wajah Allah?” Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala telah mengharamkan atas neraka setiap orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallaahu semata-mata mengharapkan pahala melihat wajah Allah ! Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas Neraka setiap orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallaahu semata-mata mengharapkan pahala melihat wajah Allah ! (Muttafaq ‘alaih)

    Beliau sangat memperingatkan dari persaksian palsu dan perampasan hak!

    Dari Abu Bakar radhillaahu anhu ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

    “Inginkah aku kabarkan kepadamu tentang dosa-dosa yang paling besar?” Kami menjawab: “Tentu saja wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam!” Beliau berkata: “Mempersekutukan Allah , mendurhakai kedua orang tua, lalu beliau bangkit dari sandarannya sambil berkata: “Ketahuilah, berikutnya adalah persaksian palsu!” beliau terus mengulangi ucapan itu sehingga kami berharap beliau menghentikannya.” (Muttafaq ‘alaih)

    Meskipun beliau mencintai ‘Aisyah radhiallaahu anha, beliau tetap menyanggah ghibah yang diucapkan istri beliau tercinta itu. beliau jelaskan kepadanya betapa besar bahaya ghibah.

    ‘Aisyahradhiyallahu ‘anha pernah berkata: “Cukuplah bagimu tentang kekurangan Shafiyyah radhiyallahu ‘anha bahwa dia begini dan begini.” Perawi menjelaskan: Yaitu pendek tubuhnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam langsung menegur:

    “Engkau telah mengucapkan sebuah kalimat yang seandainya dicampur dengan air lautan niscaya akan mengotorinya.” (HR. Abu Daud)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan kabar gembira bagi orang yang membela kehormatan saudaranya (seagama). Beliau bersabda:

    “Barangsiapa yang membela kehormatan saudara-nya dari perkataan ghibah, niscaya Allah Subhanahu wata’ala akan membebaskannya dari api Neraka.” (HR. Ahmad)

    ***

    [taken from kitab : Sehari Di Kediaman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, By : Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim]

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 28 June 2017 Permalink | Balas  

    Makanan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam 

    Makanan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam

    Meja makan dan piring silih berganti dipajang di rumah para pembesar kaum dan para penguasa. Lain halnya dengan Nabi umat ini, padahal negara beserta rakyatnya di bawah kekuasaan beliau. Unta yang penuh dengan muatan tiada henti-hentinya datang kepada beliau. Emas dan perak selalu terhampar di hadapan beliau. Tahukah kamu makanan dan minuman beliau? Apakah seperti hidangan para raja? Atau lebih mewah dari itu? Ataukah seperti hidangan orang-orang kaya dan bergelimang harta? atau lebih lengkap dan lebih komplit? janganlah terkejut melihat hidangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sederhana lagi memprihatinkan. Anas bin Malik mengungkapkan kepada kita sebagai berikut: “Rasulullah tidak pernah makan siang dan makan malam dengan daging beserta roti kecuali bila menjamu para tamu.” (HR. At-Tirmidzi)

    Karena sedikitnya jamuan yang tersaji dan banyaknya peserta hidangan, beliau tidak dapat makan kenyang kecuali dengan susah payah. Tidak pernah sekalipun beliau dapat makan sampai kenyang kecuali ketika menjamu para tamu. Beliau dapat kenyang bersama para tamu yang mesti beliau layani.

    ‘Aisyahradhiyallahu ‘anha mengungkapkan:

    “Keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah makan roti gandum sampai kenyang dua hari berturut-turut hingga beliau wafat.” (HR. Muslim)

    Dalam riwayat lain disebutkan:

    “Keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah makan roti gandum sampai kenyang tiga hari berturut-turut semenjak tiba di kota Madinah sampai beliau wafat.” (Muttafaq ‘alaih)

    Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah tidak mendapatkan sesuatu untuk dimakan. Hingga beliau tidur dalam keadaan lapar, tidak ada sesuap makanan pun yang mengganjal perut beliau. Ibnu Abbas menuturkan sebagai berikut:

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan keluarga beliau tidur dalam keadaan lapar selama beberapa malam berturut-turut. Mereka tidak mendapatkan hidangan untuk makan malam. Sedangkan jenis makanan yang sering mereka makan adalah roti yang terbuat dari gandum.” (HR. At-Tirmidzi)

    Keadaan seperti itu bukan karena beliau tidak punya atau kekurangan harta. Justru harta melimpah ruah berada dalam genggaman beliau dan harta-harta pilihan diusung ke hadapan beliau. Akan tetapi, Allah Subhanahu wata’ala memilih keadaan yang paling benar dan sempurna bagi Nabi-Nya Subhannahu wa Ta’ala.

    ‘Uqbah bin Al-Harits berkata:

    “Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami kami shalat Ashar. Seusai shalat, beliau segera memasuki rumah, tidak lama kemudian beliau keluar kembali. Aku bertanya kepada beliau, atau ada yang bertanya kepada beliau tentang perbuatan beliau itu. Beliau menjawab:

    “Aku tadi meninggalkan sebatang emas dari harta sedekah di rumah. Aku tidak ingin emas itu berada di tanganku sampai malam nanti. Karena itulah aku segera membagikannya.” (HR. Muslim)

    Kedermawanan yang menakjubkan dan pemberian yang tiada bandingannya hanya dapat dijumpai pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam .

    Anas bin Malik radhiallahu anhu mengungkapkan: “Setiap kali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dimintai sesuatu karena Islam, beliau pasti memberinya. Pernah datang menemui beliau seorang laki-laki, lantas beliau memberinya seekor kambing yang digembala di antara dua gunung (kambing yang gemuk). Lelaki itu kembali menemui kaumnya seraya berseru: “Wahai kaumku, masuklah kamu ke dalam Islam! Sesungguhnya Muhammad selalu memenuhi segala permintaan seakan-akan ia tidak takut jatuh miskin.” (HR. Muslim)

    Meski dengan kedermawaan dan pemberian yang demikian menakjubkan itu, namun cobalah lihat keadaan diri beliau , Anas bin Malik menuturkannya kepada kita. Ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah makan hidangan di meja makan hingga beliau wafat, beliau juga tidak pernah makan roti yang terbuat dari gandum halus hingga beliau wafat.” (HR. Al-Bukhari)

    ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan: “Pada suatu hari, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam datang menemuiku. Beliau bertanya: “Apakah kamu masih menyimpan makanan?” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab: “Tidak ada!” Beliau berkata: “Kalau begitu aku berpuasa.” (HR. Muslim)

    Dalam sebuah riwayat yang shahih disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan keluarganya pernah selama sebulan atau dua bulan hanya memakan Aswadaan, yaitu kurma dan air. (HR. Bukhari & Muslim)

    Dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu ia berkata:

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sama sekali tidak pernah mencela makanan. Beliau akan memakannya bila suka, bila tidak, beliau akan membiarkannya.” (Muttafaq ‘alaih)

    Wahai saudaraku tercinta lagi mulia, bagi yang belum puas dan belum merasa cukup, akan saya bawakan secara ringkas ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah sebagai berikut:

    “Adapun mengenai masalah makanan dan pakaian, sebaik-baik petunjuk di dalam masalah ini adalah petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam . Etika beliau terhadap makanan ialah memakan apa yang disajikan bila beliau menyukai-nya. Beliau tidak menolak makanan yang dihidangkan, dan tidak mencari-cari apa yang tidak tersedia. Jika disajikan roti dan daging, beliau akan memakannya. Bila dihidangkan buah-buahan, roti dan daging, beliau akan memakannya. Jika dihidangkan kurma saja atau roti saja, beliau pun memakannya juga. Bila dihidangkan dua jenis makanan, beliau tidak lantas berkata: “Aku tidak mau menyantap dua jenis makanan!” Beliau tidak pernah menolak makanan yang lezat dan manis. Dalam hadits beliau menyebutkan:

    “Akan tetapi aku berpuasa dan berbuka. Aku shalat malam dan juga tidur. Aku juga menikahi wanita dan juga memakan daging. Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka ia bukan termasuk golongan-ku.”

    Allah telah memerintahkan kita supaya memakan makanan yang baik-baik dan memerintahkan supaya banyak-banyak bersyukur kepada-Nya. Barang siapa yang mengharamkan makanan yang baik-baik, ia tentu termasuk orang yang melampaui batas. Barang siapa yang tidak bersyukur, maka ia telah menyia-nyiakan hak Allah . Petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah petunjuk yang paling tepat dan lurus. Ada dua jenis orang yang menyimpang dari petunjuk beliau:

    Kaum yang berlebih-lebihan, mereka memuaskan nafsu syahwat dan melarikan diri dari kewajiban.

    Kaum yang mengharamkan perkara yang baik-baik dan mengada-adakan perbuatan bid’ah, seperti bid’ah rahbaniyyah yang tidak disyariatkan Allah . Sebab, tidak ada rahbaniyyah di dalam agama Islam.”

    Kemudian Syaikhul Islam melanjutkan:

    “Setiap yang halal pasti baik, dan setiap yang baik pasti halal. Karena Allah telah menghalalkan seluruh perkara yang baik-baik bagi kita dan mengharamkan seluruh perkara yang jelek. Dan termasuk makanan yang baik ialah yang berguna lagi lezat. Dan Allah telah mengharamkan seluruh perkara yang memudharat-kan kita serta menghalalkan seluruh perkara yang bermanfaat bagi kita.

    Kemudian beliau rahimahullah melanjutkan:

    “Umat manusia memiliki selera yang beraneka ragam dalam hal makanan dan pakaian. Kondisi mereka berbeda-beda pada saat lapar dan kenyang. Keadaan seorang insan juga selalu berubah-ubah. Akan tetapi, amal yang terbaik adalah yang paling mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wata’ala dan yang paling bermanfaat bagi pelakunya.” (Majmu’ Fatawa II / 310)

    ***

    [taken from kitab : Sehari Di Kediaman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, By : Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim]

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 27 June 2017 Permalink | Balas  

    Makna Idul Fithri/Adha 

    selamat-idul-fitriMakna Idul Fithri/Adha

    Oleh Abdul Hakim bin Amir Abdat

    Pada setiap kali menjelang Idul Fithri seperti sekarang ini (Ramadhan 1412H)[1] atau tepat pada hari rayanya, seringkali kita mendengar dari para Khatib (penceramah/muballigh) di mimbar menerangkan, bahwa Idul Fithri itu maknanya -menurut persangkaan mereka- ialah kembali kepada FITRAH, yakni kita kembali kepada fitrah kita semula (suci) disebabkan telah terhapusnya dosa-dosa kita ..?

    Penjelasan mereka di atas, adalah BATHIL baik ditinjau dari lughoh/bahasa ataupun Syara’/Agama. Kesalahan tersebut dapat kami maklumi -meskipun umat tertipu- karena sebagian dari para khatib tersebut tidak punya keahlian dalam bahasan-bahasan ilmiyah. Oleh karena itu wajiblah bagi kami untuk menjelaskan yang haq dan yang haq itulah yang wajib dituruti Insya Allahu Ta’ala.

    Pertama : “Adapun kesalahan mereka menurut lughoh/bahasa, ialah bahwa lafadz FITHRU/ IFTHAAR artinya menurut bahasa = BERBUKA (yakni berbuka puasa jika terkait dengan puasa). Jadi IDUL FITHRI artinya HARI RAYA BERBUKA PUASA. Yakni kita kembali berbuka (tidak puasa lagi) setelah sebulan kita berpuasa. Sedangkan FITHRAH tulisannya sebagai berikut [ (FA-THAA-RA-) dan ( TA marbuthoh) ] bukan [FA-THAA-RA]”.

    Kedua : “Adapun kesalahan mereka menurut Syara’ telah datang hadits yang menerangkan bahwa IDUL FITHRI itu ialah HARI RAYA KITA KEMBALI BERBUKA PUASA.

    “Artinya :Dari Abi Hurairah (ia berkata), sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda. “Shaum/puasa itu ialah pada hari kamu berpuasa, dan (Idul) Fithri itu ialah pada hari KAMU BERBUKA. Dan (Idul) Adha (yakni hari raya menyembelih hewan-hewan kurban) itu ialah pada hari kamu menyembelih hewan”. SHAHIH. Dikeluarkan oleh Imam-imam : Tirmidzi No. 693, Abu Dawud No. 2324, Ibnu Majah No. 1660, Ad-Daruquthni jalan dari Abi Hurarirah sebagaimana telah saya terangkan sanadnya di kitab saya “Riyadlul Jannah” No. 721. Dan lafadz ini dari riwayat Imam Tirmidzi.

    Dan dalam salah satu lafadz Imam Daruquthni : “Artinya : Puasa kamu ialah pada hari kamu (semuanya) berpuasa, dan (Idul) Fithri kamu ialah pada hari kamu (semuanya) berbuka”.

    Dan dalam lafadz Imam Ibnu Majah : “Artinya : (Idul) Fithri itu ialah pada hari kamu berbuka, dan (Idul) Adha pada hari kamu menyembelih hewan”.

    Dan dalam lafadz Imam Abu Dawud: “Artinya : Dan (Idul) Fithri kamu itu ialah pada hari kamu (semuanya) berbuka, sedangkan (Idul) Adha ialah pada hari kamu (semuanya) menyembelih hewan”.

    Hadits di atas dengan beberapa lafadznya tegas-tegas menyatakan bahwa Idul Fithri ialah hari raya kita kembali berbuka puasa (tidak berpuasa lagi setelah selama sebulan berpuasa). Oleh karena itu disunatkan makan terlebih dahulu pada pagi harinya, sebelum kita pergi ke tanah lapang untuk mendirikan shalat I’ed. Supaya umat mengetahui bahwa Ramadhan telah selesai dan hari ini adalah hari kita berbuka bersama-sama. Itulah arti Idul Fithri…! Demikian pemahaman dan keterangan ahli-ahli ilmu dan tidak ada khilaf diantara mereka. Jadi artinya bukan “kembali kepada fithrah”, karena kalau demikian niscaya terjemahan hadits menjadi : “Al-Fithru/suci itu ialah pada hari kamu bersuci !!!.

    Tidak ada yang menterjemahkan dan memahami demikian kecuali orang-orang yang benar-benar jahil tentang dalil-dalil sunnah dan lughoh/bahasa.

    Adapun makna sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa puasa itu ialah pada hari kamu semuanya berpuasa, demikian juga Idul Fithri dan Idul Adha, maksudnya : Waktu puasa kamu, Idul Fithri dan Idul Adha bersama-sama kaum muslimin (berjama’ah), tidak sendiri-sendiri atau berkelompok-kelompok sehingga berpecah belah sesama kaum muslimin seperti kejadian pada tahun ini (1412H/1992M).

    Imam Tirmidzi mengatakan -dalam menafsirkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas- sebagian ahli ilmu telah menafsirkan hadits ini yang maknanya : “Artinya : Bahwa shaum/puasa dan (Idul) Fithri itu bersama jama’ah dan bersama-sama orang banyak”.

    Semoga kaum muslimin kembali bersatu menjadi satu shaf yang kuat.

    Aamiin ..!!!

    ***

    Foote Note.

    Makalah/artikel ini dibuat pada tahun 14112 H/1992 M

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 26 June 2017 Permalink | Balas  

    Halal-bihalal dan Toleransi Beragama 

    selamat-idul-fitriHalal-bihalal dan Toleransi Beragama

    Oleh: Rizqon Khamami

    Idul Fitri memiliki arti kembali kepada kesucian, atau kembali ke asal kejadian. Idul Fitri diambil dari bahasa Arab, yaitu fithrah, berarti suci. Kelahiran seorang manusia, dalam kaca Islam, tidak dibebani dosa apapun. Kelahiran seorang anak, masih dalam pandangan Islam, diibaratkan secarik kertas putih. Kelak, orang tuanya lah yang akan mengarahkan kertas putih itu membentuk dirinya. Dan dalam kenyataannya, perjalanan hidup manusia senantiasa tidak bisa luput dari dosa. Karena itu, perlu upaya mengembalikan kembali pada kondisi sebagaimana asalnya. Itulah makna Idul Fitri.

    Dosa yang paling sering dilakukan manusia adalah kesalahan terhadap sesamanya. Seorang manusia dapat memiliki rasa permusuhan, pertikaian, dan saling menyakiti. Idul Fitri merupakan momen penting untuk saling memaafkan, baik secara individu maupun kelompok. Budaya saling memaafkan ini lebih populer disebut halal-bihalal. Fenomena ini adalah fenomena yang terjadi di Tanah Air, dan telah menjadi tradisi di negara-negara rumpun Melayu. Ini adalah refleksi ajaran Islam yang menekankan sikap persaudaraan, persatuan, dan saling memberi kasih sayang.

    Dalam pengertian yang lebih luas, halal-bihalal adalah acara maaf-memaafkan pada hari Lebaran. Keberadaan Lebaran adalah suatu pesta kemenangan umat Islam yang selama bulan Ramadhan telah berhasil melawan berbagai nafsu hewani. Dalam konteks sempit, pesta kemenangan Lebaran ini diperuntukkan bagi umat Islam yang telah berpuasa, dan mereka yang dengan dilandasi iman.

    Menurut Dr. Quraish Shihab, halal-bihalal merupakan kata majemuk dari dua kata bahasa Arab ‘halal’ yang diapit dengan satu kata penghubung ‘ba’ (dibaca: bi) (Shihab, 1992: 317). Meskipun kata ini berasal dari bahasa Arab, sejauh yang saya ketahui, masyarakat Arab sendiri tidak akan memahami arti halal-bihalal yang merupakan hasil kreativitas bangsa Melayu. Halal-bihalal, tidak lain, adalah hasil pribumisasi ajaran Islam di tengah masyarakat Asia Tenggara. Halal-bihalal merupakan tradisi khas dan unik bangsa ini.

    Kata ‘halal’ memiliki dua makna. Pertama, memiliki arti ‘diperkenankan’. Dalam pengertian pertama ini, kata ‘halal’ adalah lawan dari kata ‘haram’. Kedua, berarti ‘baik’. Dalam pengertian kedua, kata ‘halal’ terkait dengan status kelayakan sebuah makanan. Dalam pengertian terakhir selalu dikaitkan dengan kata thayyib (baik). Akan tetapi, tidak semua yang halal selalu berarti baik. Ambil contoh, misalnya talak (Arab: Thalaq; arti: cerai), seperti ditegaskan Rasulullah SAW: Talak adalah halal, namun sangat dibenci (berarti tidak baik). Jadi, dalam hal ini, ukuran halal yang patut dijadikan pedoman, selain makna ‘diperkenankan’, adalah yang baik dan yang menyenangkan.

    Sebagai sebuah tradisi khas masyarakat Melayu, apakah halal-bihalal memiliki landasan teologis? Dalam Al Qur’an, (Ali ‘Imron: 134-135) diperintahkan, bagi seorang Muslim yang bertakwa bila melakukan kesalahan, paling tidak harus menyadari perbuatannya lalu memohon ampun atas kesalahannya dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi, mampu menahan amarah dan memaafkan dan berbuat kebajikan terhadap orang lain.

    Dari ayat ini, selain berisi ajakan untuk saling maaf-memaafkan, halal-bihalal juga dapat diartikan sebagai hubungan antar manusia untuk saling berinteraksi melalui aktivitas yang tidak dilarang serta mengandung sesuatu yang baik dan menyenangkan. Atau bisa dikatakan, bahwa setiap orang dituntut untuk tidak melakukan sesuatu apa pun kecuali yang baik dan menyenangkan. Lebih luas lagi, berhalal-bihalal, semestinya tidak semata-mata dengan memaafkan yang biasanya hanya melalui lisan atau kartu ucapan selamat, tetapi harus diikuti perbuatan yang baik dan menyenangkan bagi orang lain.

    Dan perintah untuk saling memaafkan dan berbuat baik kepada orang lain seharusnya tidak semata-mata dilakukan saat Lebaran. Akan tetapi, harus berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.

    Halal-bihalal yang merupakan tradisi khas rumpun bangsa tersebut merefleksikan bahwa Islam di negara-negara tersebut sejak awal adalah agama toleran, yang mengedepankan pendekatan hidup rukun dengan semua agama. Perbedaan agama bukanlah tanda untuk saling memusuhi dan mencurigai, tetapi hanyalah sebagai sarana untuk saling berlomba-lomba dalam kebajikan. Ini sesuai dengan Firman Allah, “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam) berbuat kebaikan”. (Q.S. 2:148). Titik tekan ayat di atas adalah pada berbuat kebaikan dan perilaku berorientasi nilai. Perilaku semacam ini akan mentransformasi dunia menjadi sebuah surga. Firman Allah (SWT), “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang yang meminta-minta ; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat ; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila dia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, benar (imannya) ; dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa”. (Q.S. 2:177) Berangkat dari makna halal-bihalal seperti tersebut di atas, pesan universal Islam untuk selalu berbuat baik, memaafkan orang lain dan saling berbagi kasih sayang hendaknya tetap menjadi warna masyarakat Muslim Indonesia dan di negara-negara rumpun Melayu lainnya. Akhirnya, Islam di wilayah ini adalah Islam rahmatan lil ‘alamiin. Wallau a’lam.

    Rizqon Khamami, Mahasiswa Pasca Sarjana Jamia Millia Islamia (JMI) New Delhi, India.

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 25 June 2017 Permalink | Balas  

    Adab Menyambut Hari Raya ‘Aidilfitri 

    Kumpulan-kartu-ucapan-lebaranAdab Menyambut Hari Raya ‘Aidilfitri

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    ‘Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Sebagai hadiah kemenangan orang-orang Islam dalam perjuangan mengengkang hawa nafsu di bulan Ramadhan Allah Subhanahu wa Ta’ala membalasnya dengan satu hari yang dinamakan ‘Idulfitri atau Hari Raya Fitrah, di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala menghalalkan mereka berbuka puasa dan mengharamkan berpuasa pada hari tersebut.

    Dalam keghairahan menyambut Hari Raya yang mulia adalah wajar ianya disambut mengikut lunas- lunas yang digariskan oleh Syara’ dan tidak dicampurbaurkan dengan perkara-perkara yang dilarang atau yang diharamkan. Hari Raya memang tidak boleh disamakan dengan sambutan perayaan- perayaan yang lain, kerana ianya merupakan kurniaan Allah Subhanahu wa Ta’ala khusus kepada hamba- hamba yang beribadat dan berjuang melawan hawa nafsu sepanjang bulan Ramadhan.

    Apakah adab-adab dan perkara-perkara sunat yang dilakukan ketika menyambut kedatangan Hari Raya?

    Banyak fadilat atau kelebihan yang terdapat pada malam Hari Raya. Oleh sebab itu, di antara adab-adab dan perkara-perkara sunat yang telah digariskan oleh Syara’ untuk kita melakukannya ialah menghidupkan malam Hari Raya itu dengan melakukan amal-amal ibadat seperti mendirikan sembahyang fardhu secara berjemaah, melakukan sembahyang sunat, bertakbir, memanjatkan doa ke hadrat Ilahi dan melakukan apa- apa jua bentuk perkara yang berkebajikan.

    Al-Imam Al-Syafie Rahimahullahu Ta’ala telah menegaskan bahawa malam Hari Raya itu adalah di antara malam-malam yang mudah diperkenankan doa, sebagaimana beliau berkata di dalam kitabnya Al-Umm: “Telah sampai kepada kami bahawasanya pernah dikatakan, sesungguhnya doa itu sungguh mustajab pada lima malam; malam Jumaat, malam Hari Raya Adha, malam Hari Raya Fitrah, awal malam Rajab dan malam Nisfu Sya’ban.

    Perlu diingat juga, kelebihan menghidupkan malam Hari Raya itu tidak akan diperolehi melainkan dengan mengisi dan menghidupkan sebahagian besar malam tersebut, sebagaimana mengikut pendapat yang shahih.

    Kemeriahan Hari Raya lebih dirasai apabila laungan takbir bergema. Namun begitu, tidak bermakna takbir itu semata-mata untuk memeriahkan suasana tetapi lebih dari itu, ianya lebih bersifat untuk melahirkan rasa kesyukuran dan mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah memerintahkan kepada kita mengakui akan kebesaran dan keagunganNya dengan mengucapkan takbir.

    Ucapan takbir pada malam Hari Raya itu merupakan ibadah yang kita lakukan untuk melepaskan Ramadhan dan untuk menyambut kedatangan ‘Idulfitri. Oleh sebab itu, disunatkan kepada kita mengucapkan takbir dengan mengangkat suara, bermula waktunya dari terbenam matahari malam Hari Raya sehingga imam mengangkat takbiratul ihram sembahyang Hari Raya. Firman Allah Ta’ala:

    Tafsirnya: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (Surah Al-Baqarah : 185)

    Di pagi Hari Raya pula disunatkan mandi kerana Hari Raya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas dan Al-Fakih bin Sa’d Radhiallahu ‘anhum bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan mandi pada Hari Raya Fitrah dan Hari Raya Adha. Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Majah.

    Di samping itu disunatkan juga memakai pakaian yang sebagus-bagusnya, memakai harum-haruman dan menghilangkan segala bau-bau yang tidak elok. Tidak kira sama ada orang itu hendak keluar pergi ke masjid untuk menunaikan sembahyang Hari Raya ataupun duduk sahaja di rumah, kerana hari tersebut merupakan hari untuk berhias-hias dan berelok-elok. Diriwayatkan daripada Ja’far bin Muhammad daripada bapanya daripada datuknya:

    Maksudnya: “Bahawasanya Shallallahu ‘alaihi wasallam memakai kain yang bergaris-garis (untuk diperselimutkan pada badan) pada setiap kali Hari Raya.”

    (Hadits riwayat Al-Syafi’e dan Al-Baghawi)

    Sebelum keluar pergi ke masjid untuk menunaikan sembahyang sunat Hari Raya Fitrah disunatkan makan dan minum terlebih dahulu kerana mengikut apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana yang diriwayatkan daripada Anas Radhiallahu ‘anhu, beliau berkata:

    Maksudnya: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak keluar pada waktu pagi Hari Raya Fitrah sehingga Baginda makan (terlebih dahulu) beberapa biji tamar dan Baginda memakannya dalam bilangan ganjil.”

    (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Ahmad)

    Selain itu, Hari Raya merupakan hari kemenangan dan kegembiraan, maka sebab itu disunatkan bagi sesama muslim saling mengucapkan tahniah antara satu sama lain dengan mengucapkan:

    artinya: “Semoga Allah menerima daripada kita dan menerimaNya daripada awak.”

    Daripada Jubair bin Nufair, di mana beliau merupakan salah seorang Tabi’en (orang-orang yang datang setelah Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam) telah berkata (maksudnya): “Sahabat- sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila mereka berjumpa di Hari Raya, setengahnya mengucapkan kepada setengah yang lain:

    Ertinya: “Semoga Allah menerima daripada kami dan menerimaNya daripada awak.”

    Menurut pandangan jumhur ulama bahawa mengucapkan tahniah di Hari Raya merupakan sesuatu perkara yang disyari’atkan di dalam Islam.

    Al-Imam Al-Qalyubi menaqalkan daripada Al-Imam Ibnu Hajar bahawa memberi atau mengucapkan tahniah pada hari-hari raya, bulan-bulan dan tahun- tahun (kerana ketibaannya) merupakan perkara yang disunatkan. Al-Imam Al-Baijuri mengatakan: Inilah yang yang dii’timadkan.(Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, Juz 14, m.s. 100)

    Manakala itu pula, amalan saling ziarah menziarahi rumah terutama sekali saudara mara terdekat dan sahabat handai merupakan suatu tradisi yang sentiasa diamalkan ketika menyambut Hari Raya. Amalan ini juga sebenarnya termasuk di dalam perkara yang digemari dan disyariatkan di dalam Islam.

    Dalil yang menunjukkan pensyariatannya sebagaimana yang diriwayatkan daripada Aisyah Radhiallahu ‘anha, beliau berkata:

    Maksudnya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam masuk kepadaku, dan di sisiku ada dua orang anak perempuan yang menyanyi dengan nyanyian Bu’ats. Lalu Baginda baring di atas hamparan dan memalingkan mukanya, dan kemudian Abu Bakar masuk, lalu mengherdikku dengan berkata: “Seruling syaitan di sisi (di tempat) Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam!” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap kepada Abu Bakar lalu berkata: “Biarkan mereka berdua itu.” Melalui riwayat Hisyam Baginda menambah: “Wahai Abu Bakar, masing-masing kaum ada hari rayanya, dan hari ini adalah Hari Raya kita.”

    (Hadits riwayat Al-Bukhari)

    Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani menerangkan di dalam kitabnya Fath Al-Baari bahawa kedatangan atau masuknya Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu ke dalam rumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan seolah-olah Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu datang sebagai pengunjung atau penziarah selepas masuknya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ke dalam rumah Baginda.

    (Al-Fath Al-Baari, Juz 3, m.s. 116 & Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, Juz 31, m.s. 117)

    Sehubungan dengan perkara ziarah menziarahi ini, adalah ditekankan kepada orang yang pergi berziarah supaya sentiasa komited terhadap etika ziarah yang ditetapkan oleh Islam. Umpamanya hendaklah meminta izin atau memberi salam sebelum masuk, tidak menghadapkan muka langsung ke arah pintu, menjaga adab kesopanan ketika berada di dalam rumah orang yang diziarahi, memilih waktu yang sesuai untuk berziarah dan sebagainya.

    Dalam keghairahan menyambut Hari Raya, perlu diingat jangan sekali-kali sampai lupa kewajipan kita kepada Allah Ta’ala iaitu mendirikan sembahyang fardhu, dan kerana terlalu seronok jangan pula adanya berlaku perlanggaran batasan-batasan agama.

    Apa yang di harapkan daripada sambutan Hari Raya sebenarnya bukannya semata-mata kegembiraan atau keseronokan tetapi yang lebih penting dan lebih utama lagi ialah mendapatkan keberkatan dan keredhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga kita semuanya mendapat keberkatan dan keredhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala kerana menghidupkan, membesarkan dan mengagungkan Hari Raya Idulfiri.

    —–Wallohu a’lam bish-shawab—–

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 3:05 pm on 20 June 2017 Permalink | Balas  

    Bingkisan dan Tamu Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam 

    Bingkisan dan Tamu Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam

    Sentuhan perasaan dan gejolak emosional adalah sesuatu yang selalu hadir dan dibutuhkan dalam kehidupan seorang insan, baik di tengah masyarakat, keluarga maupun di dalam rumahnya. Bingkisan hadiah adalah salah satu sarana untuk merekatkan hati dan meluluhkan dendam serta amarah.

    ‘Aisyah Radhiallaahu anhu menuturkan: “Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam biasa menerima bingkisan hadiah dan membalas bingkisan itu.” (HR. Bukhari)

    Pemberian hadiah dan ucapan terima kasih sebagai ungkapan rasa syukur ini hanya muncul dari jiwa yang mulia dan hati yang tulus. Akhlak yang mulia merupakan akhlak para nabi dan sunnah para rasul. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam adalah teladan yang terdepan dan panutan yang luhur dalam masalah tersebut. Bukankah beliau telah menegaskan:

    “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, hendaklah ia memuliakan tamu. Hak tamu ialah sehari semalam. Kewajiban melayani tamu adalah tiga hari, lebih dari itu merupakan sedekah. Seorang tamu tidaklah boleh berlama-lama sehingga memberatkan tuan rumah.” (HR. Al-Bukhari)

    Demi Allah, tidak pernah disaksikan sebelumnya oleh siapapun juga, baik di gunung maupun di lembah, baik penduduk Hijaz maupun penduduk semenanjung Arab, akhlak dan budi pekerti seagung dan semulia Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Bahkan oleh penduduk Timur dan Barat sekalipun. Perhatikanlah baik-baik dan lihatlah perilaku Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam .

    Dari Sahal bin Sa’ad Radhiallaahu anhu ia berkata: “Seorang wanita datang menemui Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dengan membawa kain bersulam (berhias). Ia berkata: “Aku menenun dan menyulamnya sendiri dengan tanganku supaya engkau mengenakannya.” Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam pun mengambilnya, tam-paknya beliau sangat membutuhkan. Kemudian beliau keluar menemui kami dengan mengenakan kain itu sebagai sarung. Ada yang berkata: “Alangkah indahnya kain itu, hadiahkanlah kain itu kepadaku!” “Boleh!” jawab beliau. Lalu Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam duduk di dalam majlis kemudian kembali. Beliau segera melipat kain itu dan mengirimkannya kepada orang tersebut. Orang-orang berkata: “Alangkah bagusnya engkau ini, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam lebih membutuhkan kain itu tetapi engkau malah memintanya, padahal engkau tahu bahwa Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam tidak pernah menolak permintaan!” orang itu menjawab: “Demi Allah, sesungguhnya aku meminta kain

    itu kepada beliau bukan untuk kukenakan, akan tetapi aku ingin menjadikannya sebagai kain kafan.” Sahal berkata: “Dengan kain itulah ia dikafani.” (HR. Bukhari)

    Tidaklah mengherankan jika demikian luhur budi pekerti hamba pilihan Allah Ta’ala ini. Karena beliau dibimbing langsung dibawah pengawasan-Nya dan menjadikannya sebagai teladan. Beliau telah memberikan contoh yang agung dalam hal kemurahan hati dan kedermawanan.

    Hakim bin Hizam Radhiallaahu anhu menuturkan: “Aku pernah meminta sesuatu kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , beliau lantas memberikannya. Kemudian aku meminta lagi, beliau pun memberikanya. Kemudian aku meminta lagi, beliau pun memberikannya seraya berkata: “Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini manis dan indah. Barang siapa yang mengambilnya dengan kemurahan hati, ia akan mendapat keberkatan padanya. Barangsiapa yang mengambilnya dengan ketamakan, ia tidak akan mendapat keberkatan padanya. Bagaikan orang yang makan tapi tidak pernah kenyang. Dan tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah.” (Muttafaq ‘alaih)

    Benarlah ucapan seorang penyair:

    Beliau adalah seorang yang paling sempurna ketaatannya disamping memiliki semangat yang begitu tinggi. Demikian agung dan luhur kedudukan beliau hingga sulit dibandingkan dengan siapapun. Bila cahaya beliau menyinari umat manusia niscaya akan mengelokkan dan menaungi mereka. Ternyata cahaya itu adalah Al-Qur’an dan Sunnah beliau. Kutemukan para pemburu tercengang keheranan. Kutemukan semua kebaikan terkumpul pada seorang insan (Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam )

    Jabir Radhiallaahu anhu berkata: “Tidak pernah sama sekali Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam mengatakan “tidak” (menolak) setiap kali diminta.” (HR. Al-Bukhari)

    Kedermawanan dan kemurahan hati beliau sulit untuk dicari tandingannya. Ditambah lagi dengan kebaikan hati, keelokan dalam bergaul dan kesetiaan beliau yang tiada taranya. Di antara kebiasaan beliau adalah menebar senyum kepada orang yang berada di dalam majlis. Sehingga orang-orang akan menyangka bahwa orang itulah yang paling beliau kasihi.

    Jabir bin Abdullah Radhiallaahu anhu mengungkapkan: “Sejak aku masuk Islam, setiap kali Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam berpapasan denganku atau melihatku, beliau pasti tersenyum.” (HR. Al-Bukhari)

    Cukuplah pengakuan dari orang yang melihat langsung menjadi pelajaran bagi kita.

    Abdullah bin Al-Harits Radhiallaahu anhu menuturkan: “Tidak pernah aku melihat seseorang yang lebih banyak tersenyum daripada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam .” (HR. At-Tirmidzi)

    Mengapa harus heran wahai saudaraku tercinta, beliaulah yang menegaskan:

    “Senyumanmu di hadapan saudaramu (seiman) adalah sedekah.” (HR. At-Tirmidzi)

    Anas bin Malik Radhiallaahu anhu yang pernah menjadi pelayan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam telah mengungkapkan kepada kita beberapa sifat yang agung pada diri beliau. Yang sulit ditemukan pada diri seseorang, bahkan pada diri orang banyak. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam adalah seorang yang sangat lembut, beliau pasti memperhatikan setiap orang yang bertanya kepadanya, beliau tidak akan berpaling sehingga sipenanyalah yang berpaling. Beliau pasti menyambut setiap orang yang mengulurkan tangannya kepada beliau, beliau tidak akan melepas jabatan tangannya sehingga orang itulah yang melepaskan.” (HR. Abu Nu’aim dalam kitab Dalaail)

    Selain sangat memuliakan tamu dan berlaku lembut kepada mereka, beliau juga sangat penyantun terhadap umatnya. Oleh sebab itu, beliau tidak rela melihat kemungkaran bahkan beliau pasti segera membasminya.

    Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu menuturkan bahwa suatu ketika Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam melihat cincin emas di tangan seorang lelaki. Beliau segera mencabut cincin itu lalu membuangnya seraya berkata: “Apakah salah seorang di antara kamu suka memakai bara api dari Neraka di tangannya?” (HR. Muslim)

    ***

    [taken from kitab : Sehari Di Kediaman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, By : Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim]

     
  • erva kurniawan 1:02 am on 19 June 2017 Permalink | Balas  

    Pelayan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam 

    Pelayan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam

    Seorang pelayan yang miskin papa lagi lemah, namun oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam ditempatkan pada kedudukan yang layak. Beliau mengukurnya dari sisi agama dan ketakwaannya, bukan dari sisi status sosial dan keduduk-annya yang lemah. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam telah memberikan pengarahan dalam memperlakukan pelayan dan pekerja, beliau bersabda:

    “Mereka (para pelayan dan pekerja) adalah saudara kamu (seiman). Allah Ta’ala menempatkan mereka di bawah kekuasaan kamu. Berilah mereka makanan yang biasa kamu makan, berikanlah mereka pakaian yang biasa kamu pakai. Janganlah memberatkan mereka di luar batas kemampuan. Jika kamu memberikan sebuah tugas, bantulah mereka dalam melaksanakannya.” (HR. Muslim)

    Simaklah penuturan seorang pelayan tentang majikannya. Sebuah penuturan yang sangat mengagumkan dan pengakuan yang mengesankan serta pujian nan agung. Pernahkah Anda melihat seorang pelayan memuji majikannya sebagaimana pujian yang diberikan pelayan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam kepadanya!?”

    Anas bin Malik Radhiallaahu anhu mengungkapkan: “Aku pernah menjadi pelayan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam selama sepuluh tahun. Tidak pernah sama sekali beliau mengucapkan “hus” kepadaku. Beliau tidak pernah membentakku terhadap sesuatu yang kukerjakan (dengan ucapan): “Mengapa engkau kerjakan begini!” Dan tidak pula terhadap sesuatu yang tidak kukerjakan (dengan ucapan): “Mengapa tidak engkau kerjakan!” (HR. Muslim)

    Bukan hitungan hari atau bulan, tetapi genap sepuluh tahun! Jangka waktu yang sangat panjang. Yang penuh dengan suka dan lara, tangis dan tawa. Penuh dengan emosi jiwa dan pasang surut kehidupan. Ayah ibuku menjadi tebusannya, meskipun demikian beliau Shalallaahu alaihi wasalam tidak pernah membentak atau memerintahnya. Justru sebaliknya, beliau memberikan balasan yang setimpal, membuat bahagia perasaan pelayannya, menutupi kebutuhan mereka beserta keluarga serta mendoakan mereka.

    Anas Radhiallaahu anhu mengungkapkan: “Ibuku pernah berkata: “Wahai Rasulullah, anak ini akan menjadi pelayanmu, doakanlah ia.” Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam kemudian berdoa:

    “Ya Allah, anugrahkanlah kepadanya harta dan keturunan yang banyak dan berkahilah rizki yang Engkau curahkan kepadanya.” (HR. Al-Bukhari)

    Beliau Shalallaahu alaihi wasalam adalah seorang pemberani. Hanya saja keberanian itu cuma beliau pergunakan untuk membela kebenaran semata. Beliau tidak pernah mengebiri hak kaum lemah yang berada di bawah tanggung jawab beliau, baik itu sang istri maupun si pelayan.

    ‘Aisyah Radhiallaahu anha menuturkan:

    “Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam tidak pernah sama sekali memukul seorangpun kecuali dalam rangka berjihad di jalan Allah Ta’ala. Beliau tidak pernah memukul pelayan dan kaum wanita.” (HR. Muslim).

    Itulah ‘Aisyah Radhiallaahu anha, yang telah berulang kali mengungkapkan keluhuran budi sebaik-baik hamba yang terpilih. Telah banyak sekali riwayat yang bercerita tentang keagungan pribadi dan keelokan pergaulan beliau. Sampai-sampai kaum kafir Quraisy juga mengakuinya.

    ‘Aisyah Radhiallaahu anha kembali mengungkapkan: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam membalas suatu aniaya yang ditimpakan orang atas dirinya. Selama orang itu tidak melanggar kehormatan Allah Ta’ala. Namun, bila sedikit saja kehormatan Allah Ta’ala dilanggar orang, maka beliau adalah orang yang paling marah karenanya. Dan sekiranya beliau diminta untuk memilih di antara dua perkara, pastilah beliau memilih yang paling ringan, selama perkara itu tidak menyangkut dosa.” (HR. Al-Bukhari)

    Beliau Shalallaahu alaihi wasalam menyeru umatnya untuk berlaku lemah lembut dan sabar. Beliau Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:

    “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu Maha Lembut, dan menyukai kelembutan dalam segala perkara.” (Muttafaq ‘alaih)

    ***

    [taken from kitab : Sehari Di Kediaman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, By : Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim]

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 18 June 2017 Permalink | Balas  

    Tangis Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam 

    Tangis Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam

    Setiap orang pasti pernah menangis, baik kaum pria maupun wanita. Akan tetapi tahukah kamu, mengapa dan karena siapa mereka menangis? Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam juga menangis, padahal dunia berada dalam genggamannya jika beliau menghendaki. Dan Surga ada di hadapan beliau, sementara beliau berada di tempat yang paling tinggi di dalamnya. Benar, beliau memang sering menangis, sebagaimana tangisan seorang hamba ahli ibadah. Beliau menangis di dalam shalat tatkala bermunajat kepada Rabb Subhannahu wa Ta’ala . Beliau juga menangis ketika mendengarkan tilawah Al-Quran. Tangisan yang bersumber dari kelembutan hati dan ketulusan nurani serta dari ma’rifat keagungan Allah Subhannahu wa Ta’ala .

    Dari Mutharrif -yakni bin Abdillah bin Asy Syikhkhir- dari bapaknya -yakni Abdullah bin Asy Syikhkhir Radhiallaahu anhu – ia berkata:

    Aku datang menemui Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam ketika beliau sedang shalat. Dari rongga dada beliau keluar suara seperti bunyi air yang tengah mendidih di dalam kuali, disebabkan tangis beliau.” (HR. Abu Daud)

    Abdullah bin Mas’ud Radhiallaahu anhu menuturkan: “Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam pernah berkata kepadaku: “Bacalah Al-Qur’an untukku” aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah aku yang harus membacanya, sedangkan Al-Qur’an itu diturunkan kepadamu?” beliau menimpali: “Aku lebih suka mendengarkannya dari orang lain.” Akupun membacakan surat An-Nisaa’ untuk beliau. Hingga telah sampai pada ayat: “Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (QS. An-Nisa: 41) Aku lihat air mata beliau menetes.” (HR. Al-Bukhari)

    Cobalah perhatikan uban yang menghiasi rambut beliau. Jumlahnya lebih kurang delapan belas helai di kepala dan janggut beliau. Camkanlah dengan mata hatimu, dengarkanlah kisah uban putih tersebut dari penuturan beliau. Abu Bakar Radhiallaahu anhu pernah bertanya: “Wahai Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , sungguh Anda telah beruban.” Beliau menjawab:

    “Surat Hud, surat Al-Waqi’ah, surat Al-Mursalat, surat ‘Amma yatasaa`aluun dan surat Idzasy Syamsu kuwwirat telah menyebabkan aku beruban.” (HR. At-Tirmdzi)

    Tawadhu’ Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam

    Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam adalah seorang yang sangat elok akhlaknya dan sangat agung wibawanya. Akhlak beliau adalah Al-Qur’an sebagaimana yang dituturkan ‘Aisyah Radhiallahu’anha, ia berkata: “Akhlak Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam adalah Al-Qur’an.” (HR. Muslim).

    Beliau juga pernah bersabda:

    “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

    Salah satu bentuk ketawadhu’an Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam adalah; beliau tidak suka dipuji dan disanjung secara berlebihan. Dari Umar bin Kaththab Radhiallaahu anhu ia berkata: Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam pernah bersabda:

    “Janganlah kamu sanjung aku (secara berlebihan) sebagaimana kaum Nasrani menyanjung ‘Isa bin Maryam alaihisSalam secara berlebihan. Aku hanyalah seorang hamba Allah, maka panggillah aku dengan sebutan: hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Abu Daud)

    Dari Anas bin Malik Radhiallaahu anhu ia berkata: “Ada beberapa orang memanggil Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam sambil berkata: “Wahai Rasulullah, wahai orang yang terbaik dan anak orang yang terbaik di antara kami, wahai junjungan kami dan anak dari junjungan kami.” Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam segera menyanggah seraya berkata:

    “Wahai sekalian manusia, katakanlah sewajarnya saja! Jangan sampai kamu digelincirkan setan. Aku adalah Muhammad hamba Allah dan rasul-Nya. Aku tidak sudi kamu angkat di atas kedudukan yang dianugrahkan Allah Subhannahu wa Ta’ala kepadaku.” (HR. An-Nasai)

    Sebagian orang ada yang menyanjung Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam secara berlebihan. Sampai-sampai ia meyakini bahwa Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam mengetahui ilmu ghaib atau meyakini bahwa beliau memiliki hak untuk memberikan manfaat dan menurunkan mudharat, bahwa beliau dapat mengabulkan segala permintaan dan menyembuhkan segala penyakit. Padahal Allah Subhannahu wa Ta’ala telah menyanggah keyakinan seperti itu. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:

    “Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik keman-fa’atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan.” (Al-Araf: 188)

    Demikianlah akhlak Nabi yang mulia, seorang utusan Allah Subhannahu wa Ta’ala , sebaik-baik manusia di muka bumi dan seutama-utama makhluk di kolong langit. Beliau senan-tiasa tunduk patuh dan bertaubat kepada Rabbnya. Beliau tidak menyukai kesombongan, bahkan beliau adalah pemimpin kaum yang tawadhu’ dan penghulu kaum yang tunduk patuh kepada Rabb Subhannahu wa Ta’ala . Anas bin Malik Radhiallaahu anhu mengungkapkan:

    “Tidak ada seorangpun yang lebih mereka cintai daripada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Walaupun begitu, apabila mereka melihat beliau, mereka tidak berdiri untuk menyambut beliau. karena mereka mengetahui bahwa beliau Shalallaahu alaihi wasalam tidak menyukai cara seperti itu.” (HR. Ahmad)

    Layangkanlah pandanganmu kepada Nabi umat ini Shalallaahu alaihi wasalam . Saksikan sikap tawadhu’ beliau yang sangat menga-gumkan dan keelokan akhlak yang langka ditemukan. Beliau tetap bersikap tawadhu’ terhadap seorang wanita miskin. Beliau luangkan waktu untuk melayaninya, padahal waktu beliau penuh dengan amal ibadah!

    Dari Anas bin Malik Radhiallaahu anhu ia berkata: “Suatu hari seorang wanita datang menemui Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam ia mengadu kepada beliau sambil berkata: “Wahai Rasulullah, saya membutuhkan sesuatu dari Anda.” Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam berkata kepadanya: “Pilihlah di jalan mana yang kamu kehendaki di kota Madinah ini, tunggulah aku di sana, niscaya aku akan menemuimu (melayani keperluan-mu).” (HR. Abu Daud)

    Beliau hadir dengan segenap jiwa yang terpuji lagi elok. Menjulang tinggi ke tempat yang terpuji dengannya. Bila disingkap kesturi dari cincinnya kepada jagad raya niscaya setiap orang akan merasakan harumnya baik yang di gunung maupun di lembah. Sungguh, beliau adalah pemimpin segenap ahli tawadhu’ baik dalam ilmu ataupun amal.

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu dari Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam beliau bersabda:

    “Andaikata aku diundang makan paha atau kaki binatang, niscaya aku kabulkan undangannya. Andaikata kepadaku hanya dihadiahkan kaki atau paha binatang, tentu akan aku terima hadiah itu.” (HR. Al-Bukhari)

    Semoga hadits Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam tadi menjadi pelajaran sekaligus peringatan bagi orang-orang yang takabbur dari sifat sombong dan angkuh.

    Abdullah bin Mas’ud Radhiallaahu anhu meriwayatkan bahwa beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

    “Tidak akan masuk Surga orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar biji zarrah kesombongan.” (HR. Muslim)

    Sifat sombong merupakan jalan menuju Neraka, wal ‘iyaadzubillah, meskipun hanya sebesar biji zarrah. Cobalah lihat hukuman yang ditimpakan terhadap orang yang sombong dan angkuh cara berjalannya. Betapa besar kemurkaan dan kemarahan yang diturunkan Allah Ta’ala atasnya. Dan betapa pedih siksa yang dideritanya.

    Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu dari Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam beliau bersabda:

    “Ketika seorang lelaki berjalan dengan mengenakan pakaiannya, takjub dengan kehebatan dirinya sendiri, rambutnya tersisir rapi, berjalan dengan angkuh. Namun tiba-tiba Allah Ta’ala menenggelamkannya. Dia terus terbenam ke dasar bumi sampai hari Kiamat.” (Muttafaq ‘alaih)

    ***

    [taken from kitab : Sehari Di Kediaman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, By : Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim]

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 17 June 2017 Permalink | Balas  

    Shalat Malam Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam 

    Shalat Malam Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam

    Malam telah datang menjelang di langit kota Madinah, suasana gelap menyelimuti jagad raya. Namun Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam menerangi sudut-sudut kota dan menghidupkan malamnya. Beliau bermunajat kepada Allah Ta’ala Rabb alam semesta. Beliau memohon kepada Dzat yang mengurus segala perkara guna melaksanakan perintah Sang Pencipta:

    “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu, Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.” (Al-Muzzammil: 1-4)

    Abu Hurairah Radhiallahu anhu menceritakan:

    Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam biasa mengerjakan shalat malam hingga membengkak kedua telapak kakinya. Ada yang bertanya kepada beliau: “Wahai Rasulullah, mengapa Anda melakukan sedemikian itu, bukankah Allah telah mengampuni segala dosa Anda yang lalu maupun yang akan datang?” beliau menjawab: “Bukankah selayaknya aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?” (HR. Ibnu Majah).

    Al-Aswad bin Yazid berkata: “Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah Radhiallaahu anha tentang shalat malam Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . ‘Aisyah menjawab: “Biasanya beliau tidur di awal malam, kemudian tengah malamnya beliau bangun mengerjakan shalat malam. Bila merasa ada keperluan beliau segera menemui istri. Beliau segera bangkit begitu mendengar seruan azan. Beliau segera mandi bila dalam keadaan junub. Jika tidak, maka beliau segera berwudhu’ lalu berangkat (ke masjid untuk) shalat.” (HR. Al-Bukhari)

    Shalat malam beliau sangat mengagumkan, ada baiknya kita ketahui panjang ayat yang dibacanya. Semoga dapat kita jadikan contoh dan teladan.

    Abu Abdillah Hudzaifah ibnul Yaman Radhiallaahu anhu mengisahkan:

    Pada suatu malam, aku pernah shalat tahajjud bersama Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Beliau mengawali shalat dengan membaca surat Al-Baqarah, saya berkata di dalam hati, “Mungkin setelah membaca kira-kira seratus ayat, ternyata beliau terus tidak berhenti, saya berkata lagi di dalam hati, “Mungkin, beliau selesaikan pembacaan surat Al-Baqarah. Dalam satu raka’at ternyata beliau terus memulai surat Ali Imron kemudian terus mem-bacanya saya berbicara di dalam hati: (mungkin) beliau mau ruku setelah selesai Ali-Imron, ternyata beliau terus membaca surat An Nisa sampai habis. Beliau membaca surat-surat tersebut dengan bacaan tartil. Setiap kali membaca ayat yang menyebutkan kemahasucian Allah Ta’ala beliau selalu bertasbih (mengucapkan subhanallah). Setiap kali membaca ayat yang berisikan permohonan, beliau pasti berdoa. Setiap kali membaca ayat yang menyebutkan permintaan berlindung diri kepada Allah Ta’ala, beliau segera mengucapkan ta’awwudz. Ketika ruku’ beliau membaca:

    Subhaana Rabbiyal ‘Adzhiim ( “Maha Suci Rabbku Yang Maha Agung.” )

    Lama ruku’ beliau hampir sama dengan lama ber-diri. Kemudian beliau mengucapkan:

    Sami’allahuliman hamidah, Rabbana lakal hamdu

    “Allah Maha mendengar terhadap hamba yang memuji-Nya. Ya Rabb kami, segala puji bagi-Mu.”

    Kemudian beliau tegak berdiri (i’tidal), hampir sama lamanya dengan ruku’. Kemudian beliau sujud dan membaca:

    Subhaana Rabbiyal ‘A’la ( “Maha Suci Rabbku Yang Maha Luhur.” )

    Lama sujud beliau hampir sama dengan lama i’tidal.” (HR. Muslim)

    Ketika Fajar Menyingsing

    Setelah keheningan malam mulai memecah, seiring dengan fajar yang mulai merekah, saat kewajiban shalat shubuh selesai ditunaikan, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam tetap duduk di tempat selepas shalat shubuh untuk berdzikir menyebut asma Allah Subhannahu wa Ta’ala sampai terbit matahari. Kemudian beliau mengerjakan shalat dua rakaat. Jabir bin Samurah Radhiallaahu anhu menceritakan kepada kita:

    Biasanya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam selalu duduk di tempat shalat seusai menunaikan shalat subuh sampai matahari benar-benar meninggi.” (HR. Muslim)

    Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam menganjurkan umatnya agar meng-amalkan sunnah yang agung tersebut. Beliau menyebutkan pahala dan balasan yang besar bagi orang yang meng-amalkannya.

    Dari Anas bin Malik Radhiallaahu anhu ia berkata: Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam pernah bersabda:

    “Barang siapa yang ikut shalat fajar berjamaah di masjid, lalu duduk berdzikir mengingat Allah Subhannahu wa Ta’ala sampai matahari terbit, kemudian mengerjakan shalat dua rakaat, maka baginya pahala bagaikan orang yang menunaikan ibadah haji dan umrah dengan sempurna, sempurna dan sempurna.” (HR. At-Tirmidzi)

    Shalat Dhuha Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam

    Matahari telah meninggi, terik cahayanya pun mulai menyengat. jilatan panasnya seakan membakar wajah. Waktu dhuha telah tiba. Waktu untuk bekerja dan menunaikan kebutuhan. Meskipun beban risalah begitu berat seperti, menjamu duta-duta yang datang berkunjung, memberikan ta’lim (pengarahan) kepada para sahabat Radhiallaahu anhum serta menunaikan hak keluarga, namun beliau tidak pernah lupa beribadah kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala .

    Mu’adzah berkata: “Aku bertanya kepada ‘Aisyah Radhiallaahu anha: “Apakah Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam sering mengerjakan shalat Dhuha?” ia menjawab: “Tentu, beliau sering mengerjakan shalat Dhuha empat rakaat bahkan lebih dari itu seluang waktu yang diberikan Allah Subhannahu wa Ta’ala .” (HR. Muslim)

    Bahkan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam juga mewasiatkan hal itu. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu ia berkata:

    Kekasihku (Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam ) telah mewasiatkan kepadaku agar berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, agar mengerjakan shalat duha dan agar aku mengerjakan shalat witir sebelum tidur.” (Muttafaq ‘alaih)

    Shalat Sunnah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam di Rumah

    Rumah yang tegak di atas pilar-pilar keimanan, penuh dengan ibadah dan dzikir, itulah rumah idaman. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam mewasiatkan agar rumah kita seperti itu. Beliau Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:

    “Lakukanlah beberapa shalat-shalat sunnah di rumahmu. Jangan jadikan rumahmu bagaikan kuburan.” (HR. Al-Bukhari)

    Ibnul Qayyim ‘rahimahullah- berkata: “Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam mengerjakan seluruh shalat-shalat sunnat di rumah. Demikian pula shalat sunnah yang tidak berkaitan dengan tempat tertentu, beliau lebih suka mengerjakannya di rumah. Terutama shalat sunnat ba’diyah maghrib, tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau pernah mengerjakannya di masjid. Ada beberapa faidah mengerjakan shalat sunnah di rumah, di antaranya:

    1. Meneladani sunnah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam .
    2. Mengajarkan tata cara shalat kepada istri dan anak-anak.
    3. Mengusir setan-setan dari rumah disebabkan dzikir dan tilawah Al-Quran.
    4. Lebih membantu dalam mencapai ibadah yang ikhlas dan jauh dari penyakit riya’

    ***

    [taken from kitab : Sehari Di Kediaman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, By : Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim]

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 16 June 2017 Permalink | Balas  

    Tidur Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam 

    Tidur Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam

    Ubay bin Ka’Ab Radhiallaahu anhu menuturkan kepada kita bahwa Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam pernah bersabda:

    “Jika salah seorang di antara kamu mendatangi pembaringannya, hendaklah mengibaskan kasurnya dengan ujung kain (untuk membersihkannya) serta sebutlah asma Allah Subhanahu wa Ta’ala Sebab ia tidak tahu kotoran apa yang melekat pada kasurnya itu sepening-galnya. Jika hendak berbaring, hendaklah berbaring dengan bertelekan pada rusuk kanan. Dan hendaklah mengucapkan:

    “Maha suci Engkau Ya Allah Ya Rabbi, dengan menyebut nama-Mu aku meletakkan tubuhku, dan dengan nama-Mu jua aku mengangkatnya kembali. Jika Engkau mengambil ruhku (jiwaku), maka berilah rahmat padanya. Tetapi, bila Engaku melepas-kannya, maka peliharalah, sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang shalih.” (HR. Muslim)

    Di antara bimbingan yang beliau ajarkan kepada setiap muslim dan muslimah adalah:

    “Jika kamu mendatangi pembaringanmu, hendaklah berwudhu’ sebagaimana engkau berwudhu ketika hendak shalat. Kemudian berbaringlah dengan bertelekan pada rusuk kananmu.”

    Diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiallaahu anha ia berkata:

    Setiap kali Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam hendak tidur di pembaring-annya pada tiap malam, beliau merapatkan kedua telapak tangannya. Lalu meniupnya dan membaca surat Al-Ikhlas (Qul Huwallaahu Ahad), surat Al-Falaq (Qul A’uudzu birabbil Falaq) dan surat An-Naas (Qul A’uudzu birabbin Naas). Kemudian beliau mengusap tubuh yang dapat dijangkau dengan kedua telapak tangannya itu. Dimulai dari kepala, wajah dan tubuh bagian depan. Beliau melakukannya sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari)

    Anas bin Malik Radhiallaahu anhu meriwayatkan: “Setiap kali Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam hendak tidur di pembaringannya beliau selalu berdoa:

    “Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan, memberi kami minum dan memberi kami kecukupan dan tempat berteduh. Betapa banyak orang yang tidak mempunyai Tuhan yang mem-berikan kecukupan dan tempat berteduh.” (HR. Muslim)

    Dari Abu Qatadah Radhiallaahu anhu ia berkata:

    “Sesungguhnya bila Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam beristirahat dalam perjalanannya di malam hari, beliau berbaring dengan bertelekan pada rusuk kanan. Dan apabila beliau beristirahat pada waktu menjelang subuh, beliau tegakkan lengan dan beliau letakkan kepala di atas telapak tangan.” (HR. Muslim)

    Meskipun anugrah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala curahkan kepada kita begitu banyak, namun cobalah lihat wahai saudaraku, kasur yang dipakai penghulu para Nabi, penutup para rasul, makhluk yang paling utama, sebaik-baik bani adam di atas muka bumi. Diriwayatkan oleh ‘Aisyah Radhiallaahu anhu ia berkata:

    “Sesungguhnya kasur yang dipakai oleh Rasulullah r hanyalah terbuat dari kulit binatang (yang telah disamak) yang diisi dengan sabut kurma.” (HR. Muslim)

    Pada suatu ketika, beberapa orang sahabat Radhiallaahu anhum datang menemui beliau, berikut juga Umar Radhiallaahu anhu. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam lantas bangkit merubah posisinya, Umar Radhiallaahu anhu melihat tidak ada kain yang melindungi tubuh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dari tikar yang dipakainya berbaring. Ternyata tikar tersebut membekas pada tubuh beliau Shalallaahu alaihi wasalam . Melihat pemandangan itu Umar Radhiallaahu anhu pun menangis. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bertanya kepadanya: “Apakah gerangan yang membuatmu menangis wahai Umar?” ia menjawab: “Demi Allah, karena saya tahu bahwa engkau tentu lebih mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala daripada raja Kisra maupun Kaisar. Mereka dapat berpesta pora di dunia sesuka hatinya. Sedangkan Engkau adalah seorang Utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala namun keadaan engkau sungguh sangat memprihatinkan sebagaimana yang aku saksikan sekarang,” Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:

    “Tidakkah engkau ridha wahai Umar, kemegahan dunia ini diberikan bagi mereka, sedangkan pahala akhirat bagi kita!” Umar Radhiallaahu anhu menjawab: “Tentu saja!” “Demikianlah adanya!” jawab Nabi.” (HR. Ahmad)

    ***

    [taken from kitab : Sehari Di Kediaman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, By : Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim]

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 15 June 2017 Permalink | Balas  

    Penghujung Ramadhan 

    ramadanPenghujung Ramadhan

    haris.satriawan@ifs.co.id

    Ya Allah, kaki ini meniti lemah anak tangga diantara gelap Masjid-Mu. Malam ini sudah masuk 10 malam terakhir Ramadhan, malam ke 23 dari untaian malam berkah. Hati berseru takbir dengan kepalan jari-jari lemas terurai lagi. Allah, ijinkanlah aku menjumpaimu pada malam-malam terakhir ini, setelah sekian malam aku hanya bergulat dengan dunia. Seharian aku dikejar amanah pekerjaan dan mengurusi keluarga, yang semakin menghabiskan waktuku. Malam ini, aku ingin bercumbu penuh khusyu dengan-Mu, dengan tubuh diselimuti gigil ngilu.

    Tilawahku tertinggal waktu. Malu pada jam yang tetap istiqomah berputar, tapi amalanku tak pernah mau untuk istiqomah berjalan. Tarawih dan Qiyamullail semau gue-ku, apakah Engkau terima ? Hanya Engkau yang Maha Menentukan hasil dari semua usaha, aku tak sanggup mendengarkan hasil perhitungan-Mu saat ini. Amalanku yang dijejali riya semoga Engkau ampuni. Berapa kali shadaqahku ? Ah, lagi lagi malu pada kotak shadaqah, pada tangan kanan dan kiri yang selalu saling melihat ketika kurogoh sisa uang saku. Yang kumasukkan hanya secarik uang kertas yang paling kecil dan lusuh.

    Ramadhan kali ini menyisakan sayatan pilu diruhaniku. Aku tak mampu menghisab diri dari kebaikan dan keburukan, dari amalan dan dosa, apalagi dari ikhlas dan riya. Bukan terlalu banyak, tapi terlalu kecil dan tak terindera. Semuanya aku kembalikan pada-Mu. 22 hari kulewati tanpa makna secuilpun yang tergores di kalbu. Bukan ini mauku. Bukan ini tujuanku. Tapi inilah yang sudah kudapat sampai saat ini. Sebuah keterlambatan.

    Allah, terangkanlah padaku tentang makna keterlambatan. Semuanya sudah berjalan jauh tapi aku masih berlari kecil di tempat. Lelah ini kulahap sendiri. Ingin rasanya berlari sekencang mungkin untuk menyusul mereka yang telah jauh. Ya Allah, berikanlah hamba keluangan dan kesempatan untuk menangis di pangkuan-Mu, untuk mengejar ketelambatan ini. Ya Allah, ijinkanlah hamba-Mu ini memulai lagi. Merangkai malam-malam sunyi menjadi parade dzikir untuk-Mu. Mencuci diri dari noda, yang entah dari mana harus kumulai membersihkannya. Merangak menggapai uluran maghfirah-Mu.

    Ramadhan masih tersisa beberapa hari lagi. Dan masih ada Lailatul Qadar yang setia menunggu jelmaan manusia-manusia yang Dia ridloi. Aku sangat menyadari betapa tidak pantasnya diri ini menerima anugerah-Mu itu. Tapi, apakah salah jika manusia dungu ini menginginkan syurga-Mu?

    Ya Allah, ijinkanlah aku menapaki keterlambatan dengan beribu semangat juang. Agar aku bisa sampai kehadirat-Mu seperti juga mereka yang telah sampai mendahuluiku. Ijinkanlah aku mendapatkan anugerah Lailatul Qadar-Mu, mungkin untuk yang pertama kali, dan mungkin sekali-kalinya dalam hidup ini. Karena aku tidak tahu apakah tahun depan bisa berjumpa Ramadhan lagi, dan berjuang bersama mendapatkan anugerah-Mu itu.

    ***

    (Dari yang tertatih di putaran terakhir Ramadhan, http://www.eramuslim.com)

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 14 June 2017 Permalink | Balas  

    Canda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam 

    Canda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam

    Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam adalah seorang pemimpin yang sangat memperhatikan urusan umat dan seluruh pasukannya. Beliau juga sangat perhatian terhadap bawahan serta anggota keluarga. Disamping itu beliau juga tetap menjaga amal ibadah serta wahyu yang diturunkan. Dan banyak lagi urusan lain yang beliau perhatikan. Sungguh merupakan amal yang sangat agung dalam rangka memenuhi tuntutan kehidupan dan membangkitkan motivasi, yang tidak akan mampu dilaksanakan oleh sembarang orang. Namun Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam meletakkan setiap hak pada tempatnya. Beliau tidak akan mengurangi hak orang lain atau meletakkan hak tersebut tidak pada tempatnya. Meskipun sangat banyak beban dan pekerjaan, namun beliau tetap memberikan tempat bagi anak-anak kecil dihatinya. Beliau sering mengajak mereka bercanda dan bersenda gurau, mengambil hati mereka dan membuat mereka senang.

    Abu Hurairah Radhiallaahu anhu menceritakan: “Para sahabat bertanya kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam : “Wahai Rasulullah, apakah engkau juga bersenda gurau bersama kami?” Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam menjawab: “Tentu, hanya saja aku selalu berkata benar.” (HR. Ahmad).

    Anas Radhiallaahu anhu menceritakan kepada kita salah satu bentuk canda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam pernah memanggilnya dengan sebutan: “Wahai pemilik dua telinga!” (maksudnya bergurau dengannya) (HR. Abu Dawud)

    Anas Radhiallaahu anhu mengisahkan: “Ummu Sulaim Radhiallaahu anha mempunyai seorang putra yang bernama Abu ‘Umair. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam sering bercanda dengannya setiap kali beliau datang. Pada suatu hari Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam datang mengunjunginya untuk bercanda, namun tampaknya anak itu sedang sedih.

    Mereka berkata:

    Wahai Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , burung yang biasa diajaknya bermain sudah mati.” Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam lantas bercanda dengannya, beliau berkata:

    “Wahai Abu ‘Umair, apakah gerangan yang sedang dikerjakan oleh burung kecil itu?” (HR. Abu Daud)

    Demikian pula dengan para sahabat Radhiallaahu anhum, salah satu di antaranya adalah yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik Radhiallaahu anhu ia berkata: “Ada seorang pria dusun bernama Zahir bin Haram. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam sangat menyukainya. Hanya saja tampangnya jelek. Pada suatu hari, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam menemuinya sewaktu ia menjual barang dagangan. Tiba-tiba Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam memeluknya dari belakang sehingga ia tidak dapat melihat beliau. Ia pun berkata: “Lepaskan aku! Siapakah ini?” Setelah menoleh ia pun mengetahui ternyata yang memeluknya adalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. Ia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk merapatkan punggungnya ke dada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam lantas berkata: “Siapakah yang sudi membeli hamba sahaya ini?” Iapun berkata: “Demi Allah wahai Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , kalau demikian aku tidak akan laku dijual!”

    Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam membalas: “Justru engkau di sisi Allah sangat mahal harganya!” (HR. Ahmad)

    Sungguh merupakan akhlak yang terpuji dari baginda Nabi yang mulia dan luhur budi pekertinya Shalallaahu alaihi wasalam .

    Meskipun beliau bersikap luwes terhadap keluarga dan kaumnya, namun tetap ada batasannya. Beliau tidaklah melampaui batas bila tertawa, beliau hanya tersenyum. Sebagaimana yang dituturkan ‘Aisyah Radhiallaahu anha :

    “Belum pernah aku melihat Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan anak lidah beliau. Namun beliau hanya tersenyum.” (Muttafaq ‘alaih)

    Meskipun beliau selalu bermuka manis dan elok dalam perrgaulan, namun bila peraturan-peraturan Allah dilanggar, wajah beliau akan memerah karena marah. ‘Aisyah Radhiallaahu anha menuturkan kepada kita: “Pada suatu ketika, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam baru kembali dari sebuah lawatan. Sebelumnya aku telah menirai pintu rumahku dengan korden tipis yang bergambar. Ketika melihat gambar itu Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam langsung merobeknya hingga berubah rona wajah beliau seraya berkata:

    “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya orang yang paling keras siksanya di sisi Allah pada Hari Kiamat adalah orang-orang yang meniru-niru ciptaan Allah.” (Muttafaq ‘alaih)

    ***

    [taken from kitab : Sehari Di Kediaman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, By : Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim]

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 13 June 2017 Permalink | Balas  

    Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dan Syariat Poligami 

    Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dan Syariat Poligami

    Sebagaimana yang sudah dimaklumi bahwa Rasulullah r menikahi sembilan wanita yang kemudian dikenal dengan sebutan Ummahatul Mukminin Radhiallahu’anhum. Alangkah mulia dan tinggi kedudukan tersebut! Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menikahi seorang wanita yang berusia senja, berstatus janda, wanita yang lemah, hanya ‘Aisyah Radhiallaaha saja yang bertatus gadis di antara seluruh istri-istri beliau.

    Beliau adalah contoh terbaik dalam hal berlaku adil kepada para istri, dalam hal pembagian giliran ataupun urusan lainnya. ‘Aisyah Radhiallahu’anha mengungkapkan:

    Setiap kali Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam hendak melakukan lawatan, beliau selalu mengundi para istri. Bagi yang terpilih akan menyertai beliau dalam lawatan tersebut. Beliau Shalallaahu alaihi wasalam membagi giliran bagi setiap istri masing-masing sehari semalam.” (HR. Muslim)

    Riwayat Anas Radhiallaahu anhu berikut ini memaparkan kepada kita salah satu bentuk keadilan beliau kepada para istri. Anas Radhiallaahu anhu menceritakan:

    Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam mempunyai sembilan orang istri. Apabila beliau telah membagi giliran bagi para istri, beliau hanya bermalam di rumah istri yang tiba masa gilirannya. Biasanya para Ummahaatul Mukminin berkumpul setiap malam di rumah tempat beliau bermalam. Pada suatu malam, mereka berkumpul di rumah ‘Aiysah Radhiallahu’anha yang sedang tiba masa gilirannya. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam mengulurkan tangannya kepada Zaenab Radhiallaahu anha yang hadir ketika itu. ‘Aisyah Radhiallaahu anha berkata: “Itu Zaenab!” Beliau segera menarik tangannya kembali.” (Muttafaq ‘alaih)

    Demikianlah suasana rumah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam yang agung. Suasana harmonis seperti itu hanya dapat terwujud dengan bimbingan taufik dan hidayah dari Allah Subhannahu wa Ta’ala. Beliau Shalallaahu alaihi wasalam senantiasa bersyukur kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala yang teraplikasi dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Beliau senantiasa menganjurkan istri-istri beliau untuk giat beribadah serta membantu mereka dalam melak-sanakan ibadah, sesuai dengan perintah Allah Subhannahu wa Ta’ala

    “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerja-kannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, Kamilah yang memberi rizki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa.” (Thaha: 132)

    Aisyah Radhiallaahu anha menceritakan:

    Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam biasa mengerjakan shalat malam sementara aku tidur melintang di hadapan beliau. Beliau akan membangunkanku bila hendak mengerjakan shalat witir.” (Muttafaq ‘alaih).

    Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menghimbau umatnya untuk mengerjakan shalat malam dan menganjurkan agar suami istri hendaknya saling membantu dalam mengerjakannya. Sampai-sampai sang istri boleh menggunakan cara terbaik untuk itu, yaitu dengan memercikkan air ke wajah suaminya! demikian pula sebaliknya. Abu Hurairah Radhiallaahu anhu meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bahwa beliau bersabda:

    “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati seorang suami yang bangun pada malam hari untuk mengerjakan shalat malam lalu membangunkan istrinya untuk shalat bersama. Bila si istri enggan, ia memercikkan air ke wajah istrinya (supaya bangun). “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati seorang istri yang bangun pada malam hari untuk mengerjakan shalat malam lalu membangunkan suaminya untuk shalat bersama. Bila si suami enggan, ia memercikkan air ke wajah suaminya (supaya bangun).” (HR. Ahmad)

    Perhatian seorang muslim terhadap penampilan luar sebagai pelengkap bagi kemurnian dan kesucian batinnya termasuk kesempurnaan pribadi dan ketaatan dalam beragama. Beliau Shalallaahu alaihi wasalam adalah seorang yang suci lahir maupun batin, beliau menyenangi wangi-wangian dan siwak dan beliau menganjurkan umatnya untuk itu. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:

    “Seandainya tidak menyusahkan umatku, niscaya akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali hendak shalat.” (HR. Muslim)

    Dari Hudzaifah Radhiallaahu anhu ia berkata:

    Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam biasa menggosok giginya dengan siwak setiap kali bangun dari tidur.” (HR. Muslim)

    Syuraih bin Hani’ berkata: “Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah Radhiallaahu anha : ‘Apa yang pertama sekali dilakukan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam setiap kali memasuki rumahnya?” ‘Aisyah Radhiallaahu anh menjawab: “Beliau Shalallaahu alaihi wasalam memulainya dengan bersiwak.” (HR. Muslim).

    Betapa besar perhatian beliau terhadap kebersihan! beliau mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk bertemu dengan keluarga.

    Beliau selalu membaca doa setiap kali memasuki rumah, sebagai berikut:

    “Dengan menyebut nama Allah kami masuk (ke rumah), dan dengan menyebut nama Allah kami keluar (darinya), dan kepada Rabb kami, kami bertawakkal. Kemudian beliau mengucapkan salam kepada keluarganya.” (HR. Abu Daud)

    Wahai saudaraku, bahagiakanlah keluargamu dengan penampilan yang bersih dan ucapan salam ketika menemui mereka. Janganlah engkau ganti dengan cacian, makian dan bentakan.

    Tutur Kata Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam

    Telah kita ketahui bersama beberapa sifat Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Sekarang kita ingin mengetahui tutur kata dan cara berbicara beliau. Sebelumnya, marilah kita simak penuturan ‘Aisyah radhiyallahu anha:

    “Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam tidaklah berbicara seperti yang biasa kamu lakukan (yaitu berbicara dengan nada cepat). Namun beliau Shalallaahu alaihi wasalam berbicara dengan nada perlahan dan dengan perkataan yang jelas dan terang lagi mudah dihafal oleh orang yang mendengarnya.” (HR. Abu Daud)

    Beliau adalah seorang yang rendah hati lagi lemah lembut, sangat senang jika perkataannya dapat dipahami. Di antara bentuk kepedulian beliau terhadap umat ialah dengan memperhatikan tingkatan-tingkatan intelek-tualitas dan pemahaman mereka di dalam berkomunikasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa beliau adalah seorang yang sangat penyantun lagi sabar. Diriwayatkan dari ‘Aiysah radhiyallahu ‘anha bahwa ia berkata:

    “Tutur kata Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam sangat teratur, untaian demi untaian kalimat tersusun dengan rapi, sehingga mudah dipahami oleh orang yang mendengarkannya.” (HR. Abu Daud)

    Cobalah perhatikan kelemah lembutan dan keluasan hati Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , beliau sudi mengulangi perkataan agar dapat dipahami!

    Anas bin Malik Radhiyallahu anhu mengungkapkan kepada kita:

    “Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam sering mengulangi perkataannya tiga kali agar dapat dipahami.” (HR. Al-Bukhari)

    Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam selalu berlaku lemah lembut kepada orang lain. Dengan sikap seperti itulah orang-orang menjadi takut, segan serta hormat kepada beliau!

    Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu ia berkata:

    Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Beliau mengajak laki-laki itu berbicara sehingga membuatnya menggigil ketakutan. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam berkata kepadanya:

    “Tenangkanlah dirimu! Sesungguhnya aku bukanlah seorang raja. Aku hanyalah putra seorang wanita yang biasa memakan dendeng.” (HR. Ibnu Majah)

    ***

    [taken from kitab : Sehari Di Kediaman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, By : Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim]

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 12 June 2017 Permalink | Balas  

    Aktifitas Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam di Dalam Rumah 

    Aktifitas Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam di Dalam Rumah

    Rumah seseorang ibarat cermin yang menggambarkan keluhuran akhlak, kesempurnaan budi pekerti, keelokan pergaulan dan ketulusan nuraninya. Tidak ada seorang pun yang melihat apa yang diperbuatnya di balik kamar dan dinding. Saat ia bersama hamba sahaya, bersama pembantu atau bersama istrinya. Ia bebas berbuat tanpa ada rasa sungkan dan berpura-pura. Sebab ia adalah raja yang memerintah dan melarang di dalam rumahnya. Semua anggota keluarga yang berada di bawah tanggungannya adalah lemah. Marilah kita lihat bersama aktifitas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam rumah, selaku pemimpin dan panutan umat yang memiliki kedudukan yang mulia dan derajat yang tinggi. Bagaimanakah keadaan beliau di dalam rumah?

    Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah ditanya: “Apakah yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam rumah?” Ia radhiyallahu ‘anha menjawab: “Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang manusia biasa. Beliau menambal pakaian sendiri, memerah susu dan melayani diri beliau sendiri.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

    Demikianlah contoh sebuah ketawadhu’an dan sikap rendah hati (tidak takabur) serta tidak memberatkan orang lain. Beliau turut mengerjakan dan membantu pekerjaan rumah tangga. Seorang hamba Allah yang terpilih tidaklah segan mengerjakan hal itu semua.

    Dari rumah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam yang penuh berkah itulah memancar cahaya Islam, sedangkan beliau sendiri tidak mendapatkan makanan yang dapat mengganjal perut beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. An-Nu’man bin Basyir menuturkan kepada kita keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

    “Aku telah menyaksikan sendiri keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sampai-sampai beliau tidak mendapatkan kurma yang jelek sekalipun untuk mengganjal perut.” (HR. Muslim)

    Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan:

    “Kami, keluarga Muhammad, tidak pernah menya-lakan tungku masak selama sebulan penuh, makanan kami hanyalah kurma dan air.” (HR. Al-Bukhari)

    Tidak ada satu perkara pun yang melalaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari beribadah dan berbuat ketaatan. Apabila sang muadzin telah mengumandangkan azan; “Marilah tegakkan shalat! Marilah menggapai kemenangan!” beliau segera menyambut seruan tersebut dan meninggalkan segala aktifitas duniawi.

    Diriwayatkan dari Al-Aswad bin Yazid ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: ‘Apakah yang biasa dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di rumah?’ ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab: “Beliau biasa membantu keluarga, apabila mendengar seruan azan, beliau segera keluar (untuk menunaikan shalat).” (HR. Muslim)

    Tidak satupun riwayat yang menyebutkan bahwa beliau mengerjakan shalat fardhu di rumah, kecuali ketika sedang sakit. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam pernah terserang demam yang sangat parah. Sehingga sulit baginya untuk keluar rumah, yakni sakit yang mengantar beliau menemui Allah shallallahu ‘alaihi wasallam.

    Disamping beliau lemah lembut dan penuh kasih sayang terhadap umatnya, namun beliau juga sangat marah terhadap orang yang meninggalkan shalat fardhu berjamaah (di masjid). Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    “Sungguh betapa ingin aku memerintahkan muazdin mengumandangkan azan lalu iqamat, kemudian aku memerintahkan seseorang untuk mengimami shalat, lalu aku berangkat bersama beberapa orang yang membawa kayu bakar menuju kaum yang tidak menghadiri shalat jamaah, untuk membakar rumah-rumah mereka.” (Muttafaq ‘alaih)

    Sanksi yang sangat berat tersebut menunjukkan betapa penting dan utamanya shalat berjamaah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    “Barangsiapa yang mendengar seruan azan, lalu ia tidak menyambutnya (mendatangi shalat berjamaah), maka tidak ada shalat baginya kecuali karena uzur.” (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).

    Uzur di sini adalah perasaan takut (tidak aman) atau sakit.

    Apa dalih orang-orang yang mengerjakan shalat fardhu di rumahnya (di samping istrinya)? Mereka tinggalkan masjid! Apakah ada uzur sakit atau perasaan takut bagi mereka?

    Akhlak dan Budi Pekerti Shalallaahu alaihi wasalam

    Perilaku seseorang merupakan barometer akal dan kunci untuk mengenal hati nuraninya. ‘Aisyah Ummul Mukminin putri Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhuma seorang hamba terbaik yang mengenal akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan yang dapat menceritakan secara detail keadaan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha adalah orang yang paling dekat dengan beliau baik saat tidur maupun terjaga, pada saat sakit maupun sehat, pada saat marah maupun ridha.

    Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan:

    Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bukanlah seorang yang keji dan tidak suka berkata keji, beliau bukan seorang yang suka berteriak-teriak di pasar dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Bahkan sebaliknya, beliau suka memaafkan dan merelakan. (HR. Ahmad)

    Demikianlah akhlak beliau shallallahu ‘alaihi wasallam selaku nabi umat ini yang penuh kasih sayang dan selalu memberi petunjuk, yang penuh anugrah serta selalu memberi nasihat. Semoga shalawat dan salam tercurah atas beliau.

    Al-Husein cucu beliau menuturkan keluhuran budi pekerti beliau. Ia berkata: “Aku bertanya kepada ayahku tentang adab dan etika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap orang-orang yang bergaul dengan beliau, ayahku menuturkan: “Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa tersenyum, luhur budi pekerti lagi rendah hati, beliau bukanlah seorang yang kasar, tidak suka berteriak-teriak, bukan tukang cela, tidak suka mencela makanan yang tidak disukainya. Siapa saja yang mengharapkanya pasti tidak akan kecewa dan siapa saja yang memenuhi undangannya pasti akan senantiasa puas. Beliau meninggalkan tiga perkara: “riya’, berbangga-bangga diri dan hal yang tidak bermanfaat.” Dan beliau menghindarkan diri dari manusia karena tiga perkara: “beliau tidak suka mencela atau memaki orang lain, beliau tidak suka mencari-cari aib orang lain, dan beliau hanya berbicara untuk suatu maslahat yang bernilai pahala.” Jika beliau berbicara, pembicaraan beliau membuat teman-teman duduknya tertegun, seakan-akan kepala mereka dihinggapi burung (karena khusyuknya). Jika beliau diam, barulah mereka berbicara. Mereka tidak pernah membantah sabda beliau. Bila ada yang berbicara di hadapan beliau, mereka diam memperhatikannya sampai ia selesai bicara.

    Pembicaraan mereka disisi beliau hanyalah pembicaraan yang bermanfaat saja. Beliau tertawa bila mereka tertawa. Beliau takjub bila mereka takjub, dan beliau bersabar menghadapi orang asing yang kasar ketika berbicara atau ketika bertanya sesuatu kepada beliau, sehingga para sahabat shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mengharapkan kedatangan orang asing seperti itu guna memetik faedah. Beliau bersabda: “Bila engkau melihat seseorang yang sedang mencari kebutuhannya, maka bantulah dia.” Beliau tidak mau menerima pujian orang kecuali menurut yang selayaknya. Beliau juga tidak mau memutuskan pembicaraan seeorang kecuali orang itu melanggar batas, beliau segera menghentikan pembicaraan tersebut dengan melarangnya atau berdiri meninggalkan majlis.” (HR. At-Tirmidzi)

    Cobalah perhatikan satu persatu akhlak dan budi pekerti nabi umat ini shallallahu ‘alaihi wasallam. Pegang teguh akhlak tersebut dan bersungguh-sungguhlah dalam meneladaninya, sebab ia adalah kunci seluruh kebaikan.

    Di antara petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah mengajarkan perkara agama kepada teman-teman duduknya, di antara yang beliau ajarkan adalah:

    “Barangsiapa yang wafat sedangkan ia memohon kepada selain Allah, ia pasti masuk Neraka.” (HR. Al-Bukhari)

    Di antaranya juga:

    “Seorang muslim adalah yang kaum muslimin dapat terhindar dari gangguan lisan dan tangan-nya, seorang muhajir (yang berhijrah) adalah yang meninggalkan segala yang dilarang Allah Subhanahu wata’ala” (Muttafaq ‘alaih).

    Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam:

    “Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan ke masjid di malam kelam, berupa cahaya yang sempurna pada Hari Kiamat.” (HR. At-Tirmidzi dan Abu Daud)

    Demikian pula sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam :

    “Perangilah kaum musyrikin dengan harta, jiwa dan lisan kamu.” (HR. Abu Daud)

    Diriwayatkan juga dari beliau:

    “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan sebuah perkataaan yang belum jelas bermanfaat baginya sehingga membuat ia terperosok ke dalam api Neraka lebih jauh daripada jarak timur dan barat.” (Muttafaq ‘alaih)

    [taken from kitab : Sehari Di Kediaman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, By : Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim]

     
  • erva kurniawan 2:36 am on 11 June 2017 Permalink | Balas  

    Keharmonisan Rumah Tangga Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam 

    Keharmonisan Rumah Tangga Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam

    Di bawah naungan rumah tangga yang bersahaja di situlah tinggal sang istri, pahlawan di balik layar pembawa ketenangan dan kesejukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    “Dunia itu penuh dengan kenikmatan. Dan sebaik-baik kenikmatan dunia adalah istri yang shalihah.” (Lihat Shahih Jami’ Shaghir karya Al-Albani)

    Di antara keelokan budi pekerti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan keharmonisan rumah tangga beliau ialah memanggil ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dengan nama kesayangan dan mengabarkan kepadanya berita yang membuat jiwa serasa melayang-layang.

    Aisyah radhiyallah ‘anha menuturkan: “Pada suatu hari Rasu-lullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya:

    “Wahai ‘Aisy (panggilan kesayangan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ), Malaikat Jibril ‘alaihissalam tadi menyampaikan salam buatmu.” (Muttafaq ‘alaih)

    Bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam selaku Nabi umat ini yang paling sempurna akhlaknya dan paling tinggi derajatnya telah memberikan sebuah contoh yang berharga dalam hal berlaku baik kepada sang istri dan dalam hal kerendahan hati, serta dalam hal mengetahui keinginan dan kecemburuan wanita. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menempatkan mereka pada kedudukan yang diidam-idamkan oleh seluruh kaum hawa. Yaitu menjadi seorang istri yang memiliki kedudukan terhormat di samping suaminya.

    Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan:

    Suatu ketika aku minum, dan aku sedang haidh, lantas aku memberikan gelasku kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau meminumnya dari mulut gelas tempat aku minum. Dalam kesempatan lain aku memakan sepotong daging, lantas beliau mengambil potongan daging itu dan memakannya tepat di tempat aku memakannya.” (HR. Muslim)

    Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah seperti yang diduga oleh kaum munafikin atau seperti yang dituduhkan kaum orientalis dengan tuduhan-tuduhan palsu dan pengakuan-pengakuan bathil. Bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam lebih memilih etika berumah tangga yang paling elok dan sederhana.

    Diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa ia berkata:

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mencium salah seorang istri beliau kemudian berangkat menunaikan shalat tanpa memperbaharui wudhu’.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

    Dalam berbagai kesempatan, beliau selalu menjelaskan dengan gamblang tingginya kedudukan kaum wanita di sisi beliau. Mereka kaum hawa memiliki kedudukan yang agung dan derajat yang tinggi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjawab pertanyaan ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallah ‘anhu seputar masalah ini, beliau jelaskan kepadanya bahwa mencintai istri bukanlah suatu hal yang tabu bagi seorang lelaki yang normal.

    Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “Siapakah orang yang paling engkau cintai?” beliau menjawab: “‘Aisyah!” (Muttafaq ‘alaih)

    Barangsiapa yang mengidamkan kebahagiaan rumah tangga, hendaklah ia memperhatikan kisah- kisah ‘Aisyah radhiyallah ‘anha bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bagaimana kiat-kiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membahagiakan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

    Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata:

    “Aku biasa mandi berdua bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari satu bejana.” (HR. Al-Bukhari)

    Rasulullah tidak melewatkan kesempatan sedikit pun kecuali beliau manfaatkan untuk membahagiakan dan menyenangkan istri melalui hal-hal yang dibolehkan.

    Aisyah radhiyallah ‘anha mengisahkan:

    Pada suatu ketika aku ikut bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah lawatan. Pada waktu itu aku masih seorang gadis yang ramping. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan rombongan agar bergerak terlebih dahulu. Mereka pun berangkat mendahului kami. Kemudian beliau berkata kepadaku: “Kemarilah! sekarang kita berlomba lari.” Aku pun meladeninya dan akhirnya aku dapat mengungguli beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam hanya diam saja atas keunggulanku tadi. Hingga pada kesempatan lain, ketika aku sudah agak gemuk, aku ikut bersama beliau dalam sebuah lawatan. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan rombongan agar bergerak terlebih dahulu. Kemudian beliau menantangku berlomba kembali. Dan akhirnya beliau dapat mengungguliku. Beliau tertawa seraya berkata: “Inilah penebus kekalahan yang lalu!” (HR. Ahmad)

    Sungguh! merupakan sebuah bentuk permainan yang sangat lembut dan sebuah perhatian yang sangat besar. Beliau perintahkan rombongan untuk berangkat terlebih dahulu agar beliau dapat menghibur hati sang istri dengan mengajaknya berlomba lari. Kemudian beliau memadukan permainan yang lalu dengan yang baru, beliau berkata: “Inilah penebus kekalahan yang lalu!”

    Bagi mereka yang sering bepergian melanglang buana serta memperhatikan keadaan orang-orang yang terpandang pada tiap-tiap kaum, pasti akan takjub terhadap perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau adalah seorang Nabi yang mulia, pemimpin yang selalu berjaya, keturunan terhormat suku Quraisy dan Bani Hasyim. Pada saat-saat kejayaan, beliau kembali dari sebuah peperangan dengan membawa kemenangan bersama rombongan pasukan besar. Meskipun demikian, beliau tetap seorang yang penuh kasih sayang dan rendah hati terhadap istri-istri beliau para Ummahaatul Mukiminin radhiyallah ‘anhu. Kedudukan beliau sebagai pemimpin pasukan, perjalanan panjang yang ditempuh, serta kemenangan demi kemenangan yang diraih di medan pertempuran, tidak membuat beliau lupa bahwa beliau didampingi para istri-istri kaum hawa yang lemah yang sangat membutuhkan sentuhan lembut dan bisikan manja. Agar dapat menghapus beban berat perjalanan yang sangat meletihkan.

    Diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali dari peperangan Khaibar, beliau menikahi Shafiyyah binti Huyaiy radhiyallahu ‘anha. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengulurkan tirai di dekat unta yang akan ditunggangi untuk melindungi Shafiyyah radhiyallah ‘anha dari pandangan orang. Kemudian beliau duduk bertumpu pada lutut di sisi unta tersebut, beliau persilakan Shafiyyah radhiyallah ‘anha untuk naik ke atas unta dengan bertumpu pada lutut beliau.

    Pemandangan seperti ini memberikan kesan begitu mendalam yang menunjukkan ketawadhu’an beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selaku pemimpin yang berjaya dan seorang Nabi yang diutus- memberikan teladan kepada umatnya bahwa bersikap tawadhu’ kepada istri, mempersilakan lutut beliau sebagai tumpuan, membantu pekerjaan rumah, membahagiakan istri, sama sekali tidak mengurangi derajat dan kedudukan beliau.

    ***

    taken from kitab : Sehari Di Kediaman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, By : Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim

     
  • erva kurniawan 2:00 am on 9 June 2017 Permalink | Balas  

    Malam Lailatulqadar 

    malam lailatul qodrMalam Lailatulqadar

    Di dalam khutbah nabi S.A.W yang panjang, sewaktu menyambut bulan Ramadhan, diantaranya nabi S.A.W bersabda : “Sesungguhnya telah sampai kepada kamu bulan mulia bulan mubarak bulan yang berkat yang padanya ada satu malam beribadat padanya lebih baik dari seribu bulan yakni malam Lailatulqadar, seribu bulan lebih kurang 83 tahun 4 bulan. Begitulah istimewanya malam Lailatulqadar”.

    Kebesaran malam itu sebenarnya disebabkan dua perkara :

    1. Turunnya Al-Quran Al-Karim yang menjadi panduan dan pertunjuk di dalam kehidupan manusia; serta
    2. Turunnya para malaikat pada suatu angkatan besar yang penuh bercahaya gilang-gemilang yang disertai oleh Jibrail untuk memberi penghormatan kepada orang yang berpuasa ikhlas, dan untuk menyaksikan amal ibadah mereka itu untuk membawa kesentosaan dan rahmat di kalangan penduduk bumi.

    Timbul beberapa pendapat dari para ulama mengenai malam Lailatulqadar, antara pendapat mengenai kebesaran Lailatulqadar ialah malam-malam sepuluh yang akhir dalam bulan Ramadhan dan malam-malam yang ganjil, lebih-lebih lagi malam yang kedua puluh tujuh.

    Sabda nabi S.A.W dari hadis riwayat Bukhari yang bermakna, “Carilah dengan segala daya upaya kamu malam Lailatulqadar di malam-malam ganjil dari sepuluh yang akhir dari bulan Ramadhan”.

    Di dalam riwayat yang lain pula sabda nabi S.A.W yang bermaksud : “Barangsiapa yang ingin mencari malam Lailatulqadar, maka hendaklah ia mencari pada malam dua puluh tujuh”.

    Dari kenyataan hadis yang telah disebutkan dapatlah kita membuat ketetapan bahawa Lailatulqadar adalah satu malam saja dalam setahun, ia terletak pada sepuluh akhir Ramadhan. Kita sangat dituntut beribadat kepadanya karena ibadat pada malam itu mendapat pahala yang lebih banyak dari seribu bulan tanpa malam Lailatulqadar.

    Para ulama menerangkan bahwa ada hikmah yang tersembunyi pada malam Lailatulqadar, yakni ditentukan malamnya ialah supaya kita berusaha mencari dan meningkatkan ibadat di setiap malam di bulan Ramadhan. Memperbanyakan berdoa semoga memperolehinya, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh ulama-ulama yang soleh.

    Tanda-tanda malam Lailatulqadar yang diterangkan di dalam hadis ialah, terbit matahari pada pagi hari dengan bentuk putih bersih, tidak mempunyai sinar yang kuat yakni lembut dan siangnya tidak terus kepanasan, pada hal matahari sangat cerah terang benderang, pada malam itu udaranya sangat nyaman, tidak panas dan tidak sejuk.

    Walau bagaimanapun pahala ibadat pada malam Lailatulqadar akan berhasil juga walaupun tanda-tanda tidak dapat dilihat, karena barang siapa beribadat pada malam di seluruh bulan Ramadhan atau di sepuluh yang akhir karena iman dan ikhlas untuk memperolehi malam Lailatulqadar, maka mereka akan mendapat pahala malam Lailatulqadar itu.

    Sesungguhnya Allah Subhanahua ta’ala telah menurunkan Al-Quran pada malam Lailatulqadar maka carilah kehebatan dan kebesaran malam Lailatulqadar. Malam Lailatulqadar lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat serta Jibrail dengan izin Allah Subhanahua ta’ala karena ia membawa bermacam-macam perkara.

    Sejahteralah malam Lailatulqadar yang berkat itu hingga terbit fajar.

     
    • Faiz 6:24 am on 9 Juni 2017 Permalink

      Alhamdulillah, gandakan amalan dibulan ramadan

  • erva kurniawan 1:52 am on 8 June 2017 Permalink | Balas  

    Lelaki Kecil di Balik Jendela 

    PemulungLelaki Kecil di Balik Jendela

    Ramadhan datang lagi, berarti akan banyak para dermawan yang datang ke perkampungan kumuh tempat aku tinggal. Minggu lalu suasana di perkampungan kumuh kami dipenuhi oleh hiruk pikuk ibu-ibu pengajian yang datang untuk mengadakan bakti sosial menjual sembako murah, baju-baju bekas yang masih layak pakai. Ibu-ibu yang berpakaian bagus-bagus itu sepertinya tidak kuat menahan bau sampah dan lalat yang menyambut kedatangan mereka. Sesekali mereka menutup hidung dan menepis lalat-lalat yang menggerumuti. Inilah kehidupan kami. Tentu saja berbeda dengan rumah ibu-ibu yang besar dan rapi.

    Rumah kami adalah rumah-rumah dari seng-seng bekas yang disusun menjadi dinding, pintu dan atap di pinggiran kota Jakarta. Di depan perkampungan kami dipenuhi gerobak-gerobak sampah sehingga lalat- lalat yang gemuk berterbangan di mana-mana.

    Ramadhan kali ini aku tidak bisa ikut antrian karena telapak kakiku terkena pecahan kaca yang sudah berkarat saat memulung bersama bapak, hingga kakiku bengkak. Tapi aku tetap berpuasa, aku hanya bisa duduk di balik jendela seng tanpa kaca yang sengaja dibuat bapak agar ada udara masuk. Ini adalah satu-satunya jendela di rumahku. Aku suka sekali duduk disini. Aku perhatikan ibu-ibu itu ramah-ramah dan semangat sekali melayani pembeli. Aku perhatikan juga adik-adikku yang sibuk ikut-ikutan memilih baju-baju yang dijual dengan harga Rp.500 – Rp.1000, baju untuk lebaran, kata emak.

    Tadi aku beri adik-adikku uang Rp. 3000 agar mereka bisa memilih baju- baju yang disukainya. Adik-adikku tertawa bahagia. “horeee … aku punya baju lebaran,” begitu riangnya.

    Di perkampungan kami semuanya adalah pemulung, tidak ada yang mengemis. Kata bapakku, tangan diatas lebih baik daripada tangan di bawah, jadi kami kerja apa saja asal halal. Walaupun sebetulnya bapak tidak ingin aku ikut-ikutan memulung, tapi aku tidak tega melihat bapak yang semakin hari semakin kurus karena sakit batuknya yang tak kunjung sembuh.

    Sewaktu aku harus putus sekolah hanya sampai kelas 4 SD, bapak menangis meminta maaf dan memelukku, bapak tidak mampu membiayai sekolahku, tidak apa, aku akan belajar sendiri, walapun aku merasa sangat sedih sekali. Umurku sekarang 13 tahun, aku suka membaca dan Alhamdulillah, bang Hasan, yang punya kios majalah di depan gang sering berbaik hati membolehkan aku membaca majalah dan buku-buku di kiosnya. Kata bang hasan, kalau banyak membaca buku yang isinya bagus, nanti bisa cepat pintar. “Aku mauuu sekali jadi orang pintar …!!”

    Bila aku bisa sekolah tinggi dan punya rezeki banyak aku ingin seperti Rasulullah yang sangat dermawan, yang kata bapakku, Rasulullah bersedekah di bulan ramadhan seperti angin yang berhembus, terus menerus tiada henti. Bapak sering bercerita tentang Rasulullah dan bapak amat penolong. Itulah yang membuat bapak disegani oleh tetangga-tetangga disini, karena bapak suka bersedekah dengan tenaganya. Bapak bilang, walaupun tidak punya uang bukan berarti kita tidak bisa bersedekah. Kita bisa Bantu-bantu apa saja walau sama-sama kesusahan.

    Ah bapak, aku suka menangis diam-diam dalam shalatku dan berdoa selalu untuk bapak dan emak agar mereka diberi kesabaran.

    Minggu pagi ini ada lagi yang datang, kakak-kakak yang masih muda dan ramah-ramah juga. Menurut bapak, mereka dari kelompok sosial yang beberapa diantaranya adalah dokter-dokter yang baru lulus, kali ini mereka memberi kami bingkisan lebaran, buku-buku bacaan, pembagian makanan bergizi dan kami pun semua diperiksa kesehatan oleh kakak- kakak dokter yang amat baik hati. Aku tetap hanya bisa melihatnya dari jendela rumahku, tiba-tiba ada dua orang kakak dokter yang berbaju putih masuk ke rumahku, katanya dia diberitahu adikku bahwa ada yang sakit di dalam, dan aku diperiksa, diberi obat, diajak mengobrol dan diberi buku-buku. Banyak sekali.

    Terimakasih ya Allah, setelah itu mereka mengumpulkan anak-anak dan bercerita tentang kasih sayang Allah, Rasulullah dan banyak lagi, ada juga yang mengajari membaca dan mengaji. Dan akhirnya acara selesai, mereka pamit pulang. Ah, seandainya ini bisa berlanjut tidak saja di bulan ramadhan, ingin rasanya aku teriakan ke kakak-kakak di luar bahwa kami ingin belajar. Apakah kakak punya waktu untuk mengajari kami membaca, menulis, mengaji, berhitung dan sebagainya? Kami tidak mengharap untuk diberi bingkisan atau apa pun. Tapi kami ingin belajar. Sekolah terlalu mahal untuk kami. Tapi lidahku kelu, tidak bicara apa pun sampai rombongan mereka pergi.

    Selalu saja mereka datang untuk kemudian pergi, dan entah kapan lagi datang kembali, ramadhan tahun depankah? Kenapa harus menunggu ramadhan tahun depan? Kami khawatir, ramadhan tahun depan perkampungan kami sudah digusur dan dibuldozer. Dan kami khawatir, di bulan-bulan lainnya, akan datang kembali kakak-kakak yang memberikan makanan, uang, mengajar kami membaca tapi setelah itu kami harus ikut mereka bernyanyi-nyanyi di gereja. Bapak marah besar dengan orang- orang itu. Sehingga sekarang mereka tidak berani lagi ke rumah-rumah seng kami.

    Dari aku, kami, anak-anak pemulung yang punya semangat belajar. Tapi hanya bisa memandangi gedung-gedung sekolah tanpa bisa memasuki kelas- kelasnya. Adakah yang peduli untuk berbagi?.

    eramuslim – Dini Auliya

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 7 June 2017 Permalink | Balas  

    Memulai dari Nol 

    normal_berbuka-puasa-021Memulai dari Nol

    eramuslim – Sikap menentukan sukses atau tidaknya kita. Menurut manajemen IBM kualitas manusia ditentukan oleh 90 persen sikapnya (attitude) dalam menghadapi masalah. Sedangkan sisanya 10 persen ditentukan oleh kemampuan ilmunya (knowledge). Artinya, kesuksesan itu seringkali diawali dari sikap hidup yang benar dan tepat dalam menghadapi suatu peristiwa.

    Bukan bagaimana sesuatu itu terjadi, tetapi bagaimana menyikapi apa yang terjadi. Bukan karena kita ditakdirkan bernasib jelek, tapi bagaimana kita menggunakan segala potensi terbaik yang dimiliki untuk merespon suatu kondisi yang buruk menjadi lebih baik.

    Jadi jika saat ini kita masih dalam keadaan kekurangan harta, ilmu, atau apapun, maka tidak cukup dengan hanya meratapi dan menyesalinya, selamanya hal itu tidak akan mengubah nasib. Namun, ketika kita menyikapinya dengan terus menerus memikirkan peluang yang bisa dikerjakan dan terus menerus sekuat tenaga memperbaiki diri, maka kita akan mampu mengubah keadaannya. Jika nasi sudah jadi bubur, ya kita tambahkan kacang, kerupuk, bawang goreng dan ayam goreng. Maka bubur nasi bisa kita ubah menjadi bubur ayam yang nikmat. Jika terlanjur basah, ya sudah ambil sabun, sampo lalu kita mandi, biar bersih sekalian. Jadi sekali lagi bukan keadaan yang buruk yang harus disesali, tetapi bagaimana mengubah keadaan buruk menjadi keadaan yang baik.

    Lantas timbul pertanyaan bagaimana seharusnya mulai membangun attitude? Kebanyakan orang adalah produk zaman alias cuma jadi pengekor apa yang sudah dilakukan oleh orang-orang sebelumnya. Mereka memilih menjadi orang yang tidak melahirkan sikap yang asli. Apapun yang mereka pilih, pakaian, pekerjaan, makanan, pikiran, semuanya hanya mengikuti apa yang sudah lebih dahulu ada. Jadi mereka kehilangan diri yang sebenarnya.

    Handphone yang dipakai, sepatu yang dibeli, gaya hidup yang dipilih bahkan sampai agama yang dianut bukan merupakan pilihan yang kontemplatif, tapi lebih dikarenakan orang lain telah memakainya terlebih dahulu. Singkatnya mereka menjadi orang-orang yang dipenjara oleh masa lalu, dan memilih menjadi manusia-manusia pengekor.

    Akibatnya jika ada penilaian dengan kacamata lain terhadap nilai- nilai yang sudah dianut maka yang terjadi adalah penolakan. Pada saat seorang direktur eksekutif mengajukan suatu langkah yang tidak populer dalam menentukan kebijakan perusahaan, maka yang terjadi adalah penolakan bukan apresiasi terhadap langkahnya. Ini akibat mereka terbiasa membenarkan sesuatu yang sudah lazim.

    Sikap penolakan yang timbul disebabkan orang tidak memandang sesuatu itu dengan bersih dan jernih. Sikap memandang sesuatu dengan bersih dan jernih hanya dimiliki oleh orang yang berhati bersih dan berpikiran jernih. Atau dengan kata lain dirinya terbebas dari nilai yang sudah umum dan dia memiliki cara pandang, berpikir, bertindak dan membuat pilihan dengan melihatnya dari akar dan dasar permasalahan. Dia memulainya dengan menempatkan dirinya pada titik nol sehingga pikiran menjadi lebih jernih dan baginya segala sesuatu menjadi mungkin.

    Dan Ramadhan adalah bulan yang dipersiapkan oleh sang Khalik untuk membina kita umat-Nya agar bisa kembali ke titik nol. Nol bisa juga berarti kosong. Bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah milik-Nya. We have nothing, zero, nol, kosong, nggak ada apa-apanya. Perut kita diperintahkan untuk dikosongkan selama bulan ini, maksudnya agar kita jadi lebih mampu mengosongkan juga otak kita dari pikiran-pikiran kotor dan menahan keinginan duniawi kita sehingga makin mendekatkan diri kepada Allah. Kosong juga berarti khusyu, terbebas dari ikatan materi keduniaan, yang ada hanya Allah sang Maha.

    Allah telah mempersiapkan kita semua umat Islam yang beriman untuk menjadi sukses melalui puasa Ramadhan sehingga dengannya kita menjadi bersih hati, jernih pikiran dan mampu mengubah keadaan kita menjadi lebih baik. Mari kita manfaatkan momentum Ramadhan sebagai media kontemplatif kita dan meraih kesuksesan dunia akhirat.

    ***

    Kiriman Sahabar MZ Omar

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 6 June 2017 Permalink | Balas  

    Benarkah Syetan Dibelenggu di Bulan Ramadhan? 

    belengguBenarkah Syetan Dibelenggu di Bulan Ramadhan?

    Dr. Salim Segaf Al-Jufri, MA – Direktur Pusat Konsultasi Syariah / syariahonline.com

    Tanya:

    Konon Syetan itu di belenggu di bulan Ramadhan, tetapi mengapa masih banyak kemaksiatan? juga ada orang kesurupan di bulan ramadhan? Apakah memang ada dalilnya bahwa syetan dibelenggu di bulan ramadhan?

    Jawab:

    Hadits-hadits yang menyatakan bahwa syetan-syetan akan dibelenggu pada bulan ramadhan adalah hadits shohih yang diriwayatkan oleh sejumlah ulama hadis, antara lain: Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Ahmad, Ibnu Huzaimah, dan lain-lain.

    Dari Abu Hurairah Ra. Sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda:”apabila bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu surga akan dibukakan dan pintu0pintu neraka ditutup serta syetan-syetan akan dibelenggu” (HR. Bukhori No. 1898 dan Muslim 1079).

    Ada beberapa penjelasan dari para ulama mengenai maksud dari perkataan Rasulullah SAW bahwasanya syetan-syetan “dibelenggu” pada bulan suci Ramadhan:

    Pertama, Al-Hulaimi berpendapat bahwa yang dimaksud dengan syetan-syetan disini adalah syetan-syetan yang suka mencuri berita dari langit saja yang terjadi di waktu malam bulan Ramadhan. Pada zaman turunnya Al-Quraan, merekapun terhalangi untuk melakukan hal tersebut. Dan dengan adanya belenggu tersebut maka akan menambah penjagaan (sehingga syetan-syetan tersebut tidak mampu melakukannya lagi).

    Kedua, syetan tidak bisa leluasa untuk mengganggu dan mencelekakan manusia. Semua jadi tidak seperti biasanya bagi setan, karena manusia sibuk dengan shaum, membaca Al-Quraan dan Berdzikir.

    Ketiga, yang dibelenggu tidak semua jenis setan melainkan hanya sebagiannya saja, yaitu syetan-syetan yang membangkang. Hal ini sebagaiman dijelaskan oleh hadits berikut ini:

    Dari Abu Hurairah Ra, Rasyulullah SAW bersabda:”pada malam pertama bulan Ramadhan syetan-syetan dibelenggu. Yaitu syetan-syetan yang membangkang” (Ibnu Huzaimah, Nasa’I, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim).

    Keempat, yang dimaksud dengan dibelenggu merupakan suatu ungkapan atas ketidakmampuan syetan untuk menggoda dan menyesatkan manusia.

    Jika ada pertanyaan, mengapa masih banyak terjadi kemaksiatan pada bulan Ramadhan? Bukankah syetan-syetan yang biasa menggoda manusia telah dibelenggu?

    Berdasarkan pengertian di atas, para ulama menjawab pertanyaan tersebut dengan empat jawaban:

    1. dibelenggunya syetan hanya berlaku bagi mereka yang melakukan ibadah shaum dengan penuh keikhlasan.
    2. yang dibelenggu hanya sebagian syetan saja, yaitu syetan yang membangkang sebagaimana dijelaskan di atas.
    3. Yang dimaksud adalah berkurangnya tindak kejahatan atau perilaku maksiat. Dan hal tersebut dapat kita rasakan meskipun masih terjadi tindak kejahatan atau kemaksiatan tapi biasanya tidak sebanyak di bulan-bulan lainnya.
    4. tidak mesti dengan dibelenggunya syetan maka kemaksiatan akan hilang atau terhenti, karena masih ada sebab-sebab lainnya selain setan. Bisa jadi kemaksiatan tersebut timbul karena sifat jelek manusianya, adat istiadat yang rusak, lingkungan masyarakat yang sudah bobrok, serta kemaksiatan tersebut bisa juga disebabkan oleh syetan-syetan dari golongan manusia.

    Untuk lebih jelasnya Anda bisa melihat kitab Fathul Bari IV/114-115 serta kitab ‘Umdatul Qari X/386 dan Ikmalul Mu’lim IV/6.

    ***

    Di tulis ulang dari: FIQIH Ramadhan, DR. Salim Segaf Al-Jufri, MA, Crescent Press

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 2 June 2017 Permalink | Balas  

    Keutamaan Ramadhan 

    ramadhan 2

    Bismillahir rahmanir rahiem,

    Dari Salman (ra), dia berkata bahwa pada hari terakhir bulan Sya’ban, Rasulullah (saw) berkhutbah pada kami.

    Wahai manusia, kini telah dekat kepadamu satu bulan yang agung, bulan yang sarat dengan berkah, yang didalamnya terdapat satu malam yang lebih baik (nilainya) daripada seribu bulan.

    Inilah bulan yang Allah tetapkan puasa di siang harinya sebagai fadhu dan sholat malam (tarawih) di malam harinya sebagai sunnah. Barang siapa ingin mendekatkan dirinya kepada Allah (swt) di bulan ini dengan suatu amalan sunnah, maka pahalanya setara dengan ganjaran apabila dia melakukan amalan fardhu pada bulan2 yang lain. Dan barang siapa yang melakukan amal fardhu pada bulan ini, maka dia akan dibalas dengan pahala yang setara dengan ganjaran apabila dia melakukan tujuh puluh amalan fardhu pada bulan2 yang lain.

    Inilah bulan kesabaran dan ganjaran bagi kesabaran adalah surga. Bulan ini juga bulan simpati terhadap sesama. Pada bulan ini rezeki orang2 beriman ditambah. Barang siapa yang memberi makan (untuk berbuka puasa) kepada orang yang berpuasa, maka kepadanya dibalas dengan keampunan terhadap dosa2-nya dan dibebaskan dari api neraka jahannam dan diberikan ganjaran yang sama sebagaimana orang yang berpuasa tadi tanpa sedikitpun mengurangi pahala orang yang berpuasa itu.

    Kami pun berkata, “Ya Rasulullah (saw), tidak semua orang diantara kami memiliki sesuatu yang dapat diberikan kepada orang yang berpuasa untuk berbuka.”

    Rasulullah (saw) menjawab, Allah (swt) akan mengaruniakan balasan kepada seseorang yang memberi (untuk berbuka puasa) walaupun hanya dengan sebiji kurma atau seteguk air atau seisap susu.

    Inilah bulan yang pada sepuluh hari pertamanya Allah (swt) menurunkan rahmat, sepuluh hari pertengahannya Allah (swt) memberikan keampunan, dan pada sepuluh hari yang terakhir Allah (swt) membebaskan hamba-Nya dari api nerka jahannam.

    Barang siapa yang meringankan beban hamba sahayanya (atau pekerja2-nya) pada bulan ini, maka Allah (swt) akan mengampuninya dan membebaskannya dari api neraka.

    Perbanyaklah di bulan ini empat perkara. Dua perkara dapat mendatangkan keridhaan Tuhanmu dan yang dua lagi pasti kamu memerlukannya. Dua perkara yang mendatangkan keridaan Tuhanmu adalah (dakwah & dzikir) la ilaha illallah dan istighfar. Dan dua perkara yang kamu pasti memerlukannya adalah masuk ke surga dan bebas dari neraka.

    Dan barang siapa memberi minum kepada orang yang berpuasa (untuk berbuka puasa), niscaya Allah (swt) memberinya minum dari air telagaku (Haudh) yang sekali minum saja dia tidak akan merasakan dahaga lagi sesudahnya sehingga dia memasuki surga. (HR Ibnu Khuzaimah) [1]

    Atau perkataan Rasulullah saw yang maknanya serupa dengan itu. Subhanallah.

    Catatan kaki:

    [1] Sebagaimana dalam Fadhilah Amal oleh Maulana Muhammad Zakariyya, edisi Bahasa Indonesia, Pustaka Ramadhan hal. 449-450.

    http://www.imanyakin.modblog.com/

     
  • erva kurniawan 1:22 am on 1 June 2017 Permalink | Balas  

    Fadhilat Dan Kelebihan Sholat Tarawih 

    salat_tarawihFadhilat Dan Kelebihan Sholat Tarawih

    (Patut diketahui : Untuk menambah semangat dalam beribadah di bulan Ramdhan)

    Malam ke-1:

    Diampuni dosa-dosa orang yang beriman sebagaimana baru dilahirkan.

    Malam ke-2:

    Diampunkan dosa orang-orang yang beriman yang mengerjakan sholat Tarawih, serta dosa-dosa kedua orang tuanya.

    Malam ke-3:

    Para malaikat di bawah ‘Arasy menyeru kepada manusia yang mengerjakan sholat tarawih itu agar meneruskan sholatnya pada malam-malam yang lain, semoga Allah mengampunkan dosa-dosa mereka.

    Malam ke-4:

    Memperoleh pahala sebagaimana pahala orang-orang yang membaca kitab-kitab Taurat, Zabur, Injil dan Al-Qur’an.

    Malam ke-5:

    Allah SWT akan mengkaruniakan pahala seumpama pahala orang-orang yang mengerjakan sembahyang di Masjidil Haram, Masjidil Madinah dan Masjidil Aqsa.

    Malam ke-6:

    Allah SWT akan mengkaruniakan kepadanya pahala seumpama pahala para malaikat yang bertawaf di Baitul Makmur serta setiap batu dan tanah berdoa untuk keampunan orang yang mengerjakan sholat tarawih pada malam ini.

    Malam ke-7:

    Seolah-olah ia dapat bertemu dengan Nabi Musa a.s. serta menolong Nabi itu untuk menentang musuhnya Fir’aun dan Hamman.

    Malam ke-8:

    Allah SWT mengkaruniakan pahala sebagaimana pahala yang dikaruniakan kepada Nabi Ibrahim a.s.

    Malam ke-9:

    Allah SWT akan mengkaruniakan pahala dan dinaikan mutu ibadah hamba-Nya seperti Nabi Muhammad saw.

    Malam ke-10:

    Allah SWT mengkaruniakan kebaikan di dunia dan di akhirat.

    Malam ke-11:

    Ia meninggal dunia dalam keadaan bersih dari dosa seperti baru dilahirkan.

    Malam ke-12:

    Ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan muka yang bercahaya.

    Malam ke-13:

    Ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan aman sentosa dari tiap-tiap kejahatan dan keburukan.

    Malam ke-14:

    Para malaikat akan datang menyaksikan mereka bersholat Tarawih serta Allah SWT tidak akan menyesatkan mereka.

    Malam ke-15:

    Semua malaikat yang memikul ‘Arasy, Kursi akan bershalawat dan mendoakan supaya Allah SWT mengampuni kita.

    Malam ke-16:

    Allah SWT menuliskan baginya terlepas dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga.

    Malam ke-17:

    Allah SWT menuliskan baginya pahala pada malam ini sebanyak pahala Nabi-Nabi.

    Malam ke-18:

    Malaikat akan menyeru “Wahai hamba Allah sesungguhnya Allah telah ridha kepada engkau dan ibu bapak engkau (baik yang masih hidup atau yang sudah wafat)”.

    Malam ke-19:

    Allah akan meninggikan derajatnya di dalam syurga Firdaus.

    Malam ke-20:

    Allah SWT mengkaruniakan kepadanya pahala semua orang yang mati syahid dan orang-orang sholeh.

    Malam ke-21:

    Allah SWT akan membina untuknya sebuah mahligai di dalam syurga yang dibuat dari Nur.

    Malam ke-22:

    Ia akan datang pada hari kiamat di dalam keadaan aman daripada duka cita dan kerisauan (di Padang Mahsyar).

    Malam ke-23:

    Allah SWT akan membina untuknya sebuah bandar di dalam syurga yang terbuat dari Nur.

    Malam ke-24:

    Allah bukakan perluang 24 doa yang mustajab bagi orang yang bertarawih pada walam ini (lebih elok dikerjakan ketika sujud).

    Malam ke-25:

    Allah akan mengangkat siksa kubur darinya.

    Malam ke-26:

    Allah akan mengkaruniakan pahala 40 tahun ibadah.

    Malam ke-27:

    Allah akan mengkaruniakan kepadanya kemudahan untuk melintasi titian Shiratalmustaqim seperti kilat yang menyambar.

    Malam ke-28:

    Allah akan menaikkan kedudukannya 1000 derajat di akhirat.

    Malam ke-29:

    Allah akan mengkaruniakan pahala 1000 kali haji yang mabrur.

    Malam ke-30:

    Allah akan memberi penghormatan kepada orang yang bertarawih pada malam terakhir dengan firman-Nya: “Wahai hamba-Ku, makanlah segala jenis buah-buahan yang engkau ingini untuk dimakan di dalam syurga dan mandilah kamu di dalam sungai yang bernama Salsabila, serta minumlah air dari telaga yang dikaruniakan kepada Nabi Muhammad saw yang bernama Al-Kautsar.”

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 31 May 2017 Permalink | Balas  

    Meninggalkan Puasa Ramadan (3/3) 

    ramadhan 2Meninggalkan Puasa Ramadan (3/3)

    Bilakah diwajibkan qada, fidyah dan kaffarah

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Orang-Orang Yang Diwajibkan Kaffarah

    ULAMA sepakat mengenai kewajipan kaffarah bagi orang-orang yang berbuka puasa dengan melakukan persetubuhan (jimak) sama ada dengan perempuan atau binatang dengan sengaja tanpa dipaksa atau dengan maksud melanggar kehormatan dalam bulan puasa, atau bukan kerana yang diharuskan berbuka puasa. Kaffarah kerana persetubuhan tersebut ialah memerdekakan seorang hamba. Jika dia tidak mendapatkannya, maka hendaklah dia puasa dua bulan berturut-turut dan jika dia tidak berdaya maka dia memberi makan enam puluh orang miskin.

    Dalil kaffarah ini telah diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radiallahuanhu yang bermaksud, “Ketika kami duduk bersama Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam telah datang seorang lelaki kepada Baginda lalu berkata : “Binasalah aku!” Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda : “Kenapa dengan engkau?” Lelaki itu menjawab : “Aku telah menyetubuhi isteriku sedang aku berpuasa (Ramadan).” Lalu Nabi bersabda : “Adakah engkau berdaya memerdekakan seorang hamba?” Lelaki itu menjawab : “Tidak”. Lalu bersabda Nabi: “Adakah engkau berupaya menunaikan puasa dua bulan berturut? Lelaki itu menjawab : “Tidak.” Bersabda Nabi : “Adakah engkau berdaya memberi makan enam puluh orang miskin?” Lelaki itu menjawab : “Tidak.” (Abu Hurairah) berkata : “Ketika kami duduk telah dibawakan kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dengan serumpun tamar. “Lalu Baginda bersabda: Amil (tamar) ini dan sedekahkan ….” (Hadis riwayat Al-Bukhari).

    Membatalkan puasa dengan jimak atau persetubuhan yang berlaku pada siang hari bulan Ramadan adalah haram. Akan tetapi tidak wajib kaffarah jika berlaku jimak pada bulan-bulan yang lain selain bulan Ramadan seperti ketika melakukan puasa sunat, nazar, qada atau puasa kaffarah. Perkara ini telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu Wataala yang tafsirnya :

    “Dihalalkan bagi kamu, pada malam hari puasa, bercampur (bersetubuh) dengan isteri-isteri kamu. Isteri-isteri kamu itu adalah sebagai pakaian bagi kamu dan kamu pula sebagai pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahasanya kamu mengkhianati diri sendiri, lalu Dia menerima taubat kamu dan memaafkan kamu. Maka sekarang setubuhilah isteri-isteri kamu dan carilah apa-apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kamu; dan makanlah serta minumlah sehingga nyata kepada kamu benang putih (cahaya siang) daripada benang hitam (kegelapan malam), iaitu waktu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sehingga waktu malam (Maghrib); dan janganlah kamu setubuhi isteri-isteri kamu ketika kamu sedang beriktikaf di masjid. Itulah batas-batas larangan Allah, maka janganlah kamu menghampirinya. Demikian Allah menerangkan ayat-ayat hukum-Nya kepada sekalian manusia supaya mereka bertakwa.” (Al-Baqarah : 187).

    Apabila seorang lelaki atau perempuan berbuka dengan melakukan jimak dengan sengaja, maka batal puasa dan berdosa. Begitu juga ke atasnya wajib qada puasa dan kaffarah bersama ta’zir. Jika keadaan ini berlaku kepada suami dan isteri, siapakah yang dikenakan kaffarah? Ulama berbeza pendapat tentang siapakah yang dikenakan kaffarah sama ada suami atau isteri atau kedua-duanya sekali. Menurut pendapat yang ashah di kalangan ulama Syafi’e, kaffarah hanya wajib ke atas suami sahaja.

    Jika berlaku jimak itu dua hari atau lebih dalam bulan Ramadan, ulama sepakat bagi setiap hari dikenakan kaffarah. Manakala bagi yang melakukan jimak beberapa kalli dalam satu hari atau pada hari yang sama, dia hanya dikenakan satu kaffarah.

    Jika berlaku jimak dalam keadaan musafir yang diharuskan, puasa terbatal dan tidak wajib kaffarah dengan jimak tersebut. Begitu juga jika dia menyangka (dzann) matahari telah masuk dan berlaku jimak, sedangkan hari masih siang (belum masuk matahari), dihukumkan tiada kaffarah kerana dia tidak bermaksud untuk melakukan yang dilarang. Manakala jika dia syak di siang hari, sama ada berniat puasa di malam hari atau sebaliknya, kemudian berlaku jimak dalam keadaan syak itu, lalu dia teringat bahawa dia telah berniat, maka batal puasanya dan tidak wajib kaffarah. Begitu juga tidak wajib kaffarah jika jimak itu berlaku setelah terbatal puasa oleh perkara-perkara lain seperti makan, minum dan sebagainya.

    Berdasarkan kepada penjelasan di atas, bahawa ibadat puasa itu wajib ditunaikan kecuali bagi orang-orang yang ditentukan oleh syarak mempunyai kelonggaran-kelonggaran tertentu. Kelonggaran-kelonggaran tersebut bertujuan supaya tidak membebankan umat Islam melaksanakan tanggungjawab dan kewajipan.

    Namun ibadat puasa yang ditinggalkan sama ada dengan sebab keuzuran syari atau tanpa sebab munasabah, Islam telah mewajibkan ke atas mereka qada atau fidyah ataupun kaffarah.

    Oleh yang demikian mana-mana orang yang wajib ke atasnya kaffarah atau fidyah hendaklah mengambil perhatian tentang perkara ini. Sementara yang wajib qada pula tidak akan melengah-lengahkan atau menunda-nunda qadanya sehingga masuk Ramadan yang akan datang.

    —–wallohu a’lam bis-shawab —-

     
  • erva kurniawan 2:01 am on 30 May 2017 Permalink | Balas  

    Meninggalkan Puasa Ramadan (2/3) 

    ramadan1Meninggalkan Puasa Ramadan (2/3)

    Bilakah diwajibkan qada, fidyah dan kaffarah

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    iii) ORANG perempuan yang dalam keadaan haid dan nifas tidak wajib dan tidak sah menunaikan puasa Ramadan. Walau bagaimanapun adalah wajib ke atas mereka qada puasa yang tertinggal itu apabila perempuan tersebut suci daripada haid dan nifas. Hal ini berdasarkan riwayat Aisyah Radiallahuanha berkata yang maksudnya:

    “Kami diperintahkan mengqada puasa dan tidak diperintahkan mengqada sembahyang.” (Hadis riwayat Muslim).

    Bagi orang yang meninggalkan puasa dengan sengaja tanpa uzur syar’i adalah wajib ke atasnya mengqada puasa yang ditinggalkan itu dan dikira sebagai menderhaka kepada Allah Subhanahu Wataala kerana meninggalkannya dan pemerintah berhak menghukum (ta’zir) ke atas mereka. Perbuatan meninggalkan puasa Ramadan itu sangat merugikan dirinya. Perkara ini telah dijelaskan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, Baginda bersabda yang maksudnya:

    “Sesiapa yang berbuka puasa sehari daripada bulan Ramadan dengan tiada keuzuran dan tidak sakit, dia tidak akan dapat menggantikannya dengan puasa sepanjang tahun.” (Hadis riwayat Bukhari).

    Para ulama berselisih pendapat tentang fidyah terhadap orang yang meninggalkan puasa dengan sengaja tanpa uzur. Menurut pendapat yang ashah di kalangan ulama-ulama Syafi’e orang sedemikian wajib ke atasnya fidyah. Mereka beralasan jika orang yang mempunyai keuzuran seperti perempuan yang menyusukan anak diwajibkan ke atasnya fidyah, bagaimana pula tidak wajib bagi orang yang sengaja meninggalkannya tanpa uzur?

    Wanita hamil atau wanita yang menyusukan anak juga diharuskan berbuka puasa. Jika dia takut akan mudarat ke atas dirinya maka wajib ke atasnya qada puasa yang ditinggalkannya itu. Jika dia takut akan mudarat kepada diri dan kandungannya maka hukumnya sama juga sebagaimana dikenakan ke atas orang yang sakit dan musafir.

    Orang Yang Diwajibkan Qada Dan Fidyah

    Adalah menjadi kewajipan mengqada puasa bagi orang-orang yang meninggalkannya dengan sengaja atau dengan sebab keuzuran syar’i. Di samping itu ada juga orang-orang yang meninggalkannya ditentukan ke atasnya membayar fidyah.

    Fidyah ialah memberi makan orang miskin sebanyak satu mudd (cupak) beras atau apa-apa jua bijirin yang menjadi makanan asasi sesebuah negeri itu. Satu mudd itu adalah sebagai gantian bagi satu hari puasa yang ditinggalkan dan satu mudd itu bersamaan 15 tahil (566.85 gram).

    Bagi wanita hamil atau yang menyusukan anak, jika dia takut akan mudarat kepada anaknya disebabkan dia berpuasa, maka dia diharuskan berbuka dan wajib mengqada puasa tersebut. Selain itu dia juga wajib fidyah kerana dia berbuka untuk menyelamatkan nyawa dan tidak berupaya menunaikan puasa.

    Perkara ini berdasarkan satu riwayat yang menyebutkan bahawa Abdullah bin Umar Radiallahuanhuma telah ditanya mengenai seorang perempuan hamil yang takut mudarat kepada anaknya, adakah ke atasnya berpuasa? Lalu beliau berkata yang maksudnya:

    “Berbuka dan berilah satu cupak makanan (hinthah) kepada orang miskin setiap hari.” (Hadis riwayat Malik).

    Manakala perempuan hamil dan yang menyusukan itu apabila berbuka kerana niat rukhshah sakit atau musafir, maka wajib ke atasnya qada sahaja dan tidak wajib fidyah.

    Hukum yang sama juga (fidyah) terkena kepada orang-orang yang meninggalkan puasa dan melengah-lengah atau melambatkan qada, sedangkan dia berdaya sehingga datang bulan Ramadan yang baru. Dengan demikian dia berdosa kerana melambatkannya dan wajib qada serta fidyah bagi setiap hari yang ditinggalkannya itu.

    Kecuali bagi orang-orang yang uzurnya berterusan sehingga tidak berdaya melakukan qada seperti sakit atau musafir yang berterusan, perempuan hamil atau perempuan yang menyusukan sehingga datang Ramadan yang lain maka tidak wajib ke atasnya fidyah kerana melambatkan qada itu kerana keuzuran sedemikian itu diharuskan.

    Begitu juga orang-orang yang sengaja meninggalkan puasa tanpa uzur syar’i, dia berdosa dan wajib qada serta dikenakan membayar fidyah.

    Orang Yang Diwajibkan Membayar Fidyah Sahaja

    Islam sebagai agama yang mudah tidak akan memberatkan umatnya dalam segala perkara yang disyariatkannya seperti puasa Ramadan yang diwajibkan ke atas setiap orang Islam.

    Bagi orang-orang yang tidak berdaya menunaikan puasa Ramadan, Islam memberikan jalan kelonggaran tertentu kepada mereka sama ada dengan mengqada puasa yang ditinggalkannya itu atau dengan mengeluarkan fidyah, atau keduanya sekali.

    Bagi orang yang sangat tua (yang tidak berdaya melakukannya) dan orang yang sangat sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh, tidak wajib ke atasnya berpuasa, tetapi diwajibkan ke atasnya membayar fidyah.

    Dalam hal ini Allah Subhanahu Wataala berfirman yang tafsirnya:

    “Dan Ia (Allah) tidak menjadikan kamu menanggung sesuatu keberatan dan susah payah dalam perkara agama.” (Al-Hajj ayat 78).

    Firman-Nya lagi yang tafsirnya:

    “Dan wajib atas orang-orang yang tidak terdaya berpuasa (kerana tua dan sebagainya) membayar fidyah iaitu memberi makan orang miskin.” (Al-Baqarah ayat 184).

    Ibnu Abbas Radiallahuanhu telah meriwayatkan mengenai orang yang sangat tua yang diwajibkan ke atasnya fidyah, beliau berkata yang maksudnya:

    “Orang yang sangat tua di kalangan lelaki atau perempuan yang keduanya tidak mampu berpuasa hendaklah memberi makan orang miskin bagi setiap hari sebagai ganti.” (Hadis riwayat Al-Bukhari).

    Hukum yang sama juga terkena kepada orang yang sangat sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh dia boleh berbuka dan wajib membayar fidyah sebagai ganti puasa yang ditinggalkannya itu.

    Mengenai qada orang yang sangat tua dan orang yang sangat sakit tidak ada harapan untuk sembuh jika dia merasa mampu dan berdaya untuk berpuasa, apakah dia wajib mengqada puasa yang ditinggalkannya itu? Dalam hal ini, ulama menyatakan bahawa jika dia berdaya sebelum membayar fidyah, maka dibolehkan dia mengqada sahaja tetapi jika dia berdaya setelah membayar fidyah, dia tidak perlu mengqadanya. Ulama juga bersepakat adalah harus bagi orang yang sangat tua itu membayar fidyah selepas masuk fajar setiap hari.

    Manakala bagi orang yang luput menunaikan puasa Ramadan dan meninggal dunia sebelum dia mengqadanya sama ada disebabkan meninggal dunia pada bulan Ramadan, meninggal sebelum fajar 2 Syawal, sakit yang berpanjangan atau kerana musafir yang diharuskan sehingga dia meninggal, maka dia tidak berdosa dan tidak wajib qada dan tidak dikenakan membayar fidyah.

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 29 May 2017 Permalink | Balas  

    Meninggalkan Puasa Ramadan (1/3) 

    Selamat-Berpuasa-Puasa-Ramadhan-1431-HMeninggalkan Puasa Ramadan (1/3)

    Bilakah diwajibkan qada, fidyah dan kaffarah

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    ISLAM tidak membebankan umatnya dalam membuat perkara ibadat. Islam memberikan kelonggaran-kelonggaran tertentu kepada umatnya yang tidak mampu dan berdaya melakukannya. Sebagai contoh sembahyang yang tidak berupaya dilakukan dengan berdiri, dibolehkan melakukannya dengan duduk. Sembahyang berbaring atau menelantang juga diharuskan jika tidak boleh dengan cara berdiri atau duduk.

    Begitu juga dengan kewajipan puasa Ramadan, jika seseorang yang tidak mampu berpuasa dengan sebab-sebab uzur yang dibenarkan seperti sakit, dalam musafir, orang-orang tua, perempuan-perempuan mengandung atau hamil dan seumpamanya adalah di antara orang-orang yang diharuskan berbuka dengan masing-masing diwajibkan qada sejumlah hari-hari yang tertinggal atau dengan membayar fidyah atau kedua-duanya. Perkara-perkara ini dijelaskan oleh Al-Quran dan hadis Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam dan pendapat ulama mengenainya.

    Berdasarkan penjelasan-penjelasan tersebut, ulama dengan ijmak berpendapat bahawa orang-orang yang meninggalkan puasa dengan uzur syari diwajibkan qada. Di samping itu ada juga orang-orang yang meninggalkannya ditentukan ke atasnya membayar fidyah. Perkara ini termasuklah orang-orang yang meninggalkan puasa tanpa uzur.

    Secara umumnya, qada puasa diwajibkan ke atas mereka yang meninggalkan puasa Ramadan, sama ada dengan keuzuran syari atau sebaliknya. Ini berdasarkan ayat Al-Quran di mana Allah Subhanahu Wataala berfirman yang maksudnya:

    “(Puasa yang diwajibkan itu ialah) beberapa hari yang tertentu; maka sesiapa di antara kamu yang sakit atau dalam musafir, (bolehlah dia berbuka) kemudian wajiblah dia berpuasa sebanyak (hari yang dibuka) itu pada hari-hari yang lain dan wajib atas orang-orang yang tidak terdaya berpuasa (kerana tua dan sebagainya) membayar fidyah iaitu memberi makan orang miskin. Maka sesiapa yang dengan sukarela memberikan (bayaran fidyah) lebih daripada yang ditentukan itu, maka itu adalah suatu kebaikan baginya dan (walaupun demikian) berpuasa itu lebih baik bagi kamu (daripada memberi fidyah) kalau kamu mengetahui. (Masa yang diwajibkan kamu berpuasa itu ialah) bulan Ramadan yang padanya diturunkan Al-Quran, menjadi petunjuk bagi sekalian manusia dan menjadi keterangan-keterangan yang menjelaskan petunjuk dan (menjelaskan) perbezaan antara yang benar dengan yang salah. Oleh itu, sesiapa di antara kamu yang menyaksikan anak bulan Ramadan (atau mengetahuinya), maka hendaklah dia berpuasa bulan itu dan sesiapa yang sakit atau dalam perjalanan maka (bolehlah dia berbuka, kemudian wajiblah dia berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (Dengan ketetapan yang demikian itu) Allah menghendaki kamu beroleh kemudahan, dan Dia tidak menghendaki kamu menanggung kesukaran. Dan juga supaya kamu membesarkan Allah kerana mendapat petunjuk-Nya dan supaya kamu bersyukur.’’ (Surah Al-Baqarah ayat 184-185).

    Berdasarkan ayat di atas, keuzuran syari yang mewajibkan qada puasa itu ialah seperti sakit, musafir, haid dan nifas. Bagaimanapun mereka yang sengaja tidak berpuasa pada bulan Ramadan tanpa keuzuran syari adalah melakukan dosa besar kerana melanggar perintah kewajipan berpuasa dan mereka tetap wajib mengqada puasa yang ditinggalkan itu.Menurut hukum syarak orang yang meninggalkan puasa itu ada beberapa golongan:

    1. Orang yang diwajibkan qada sahaja.
    2. Orang yang diwajibkan qada dan fidyah.
    3. Orang yang tidak wajib qada tetapi wajib fidyah.
    4. Orang yang diwajibkan kaffarah.

    Orang Yang Diwajibkan Qada Sahaja

    Qada puasa hanya diwajibkan kepada mereka yang berbuka puasa di bulan Ramadan, sama ada dengan keuzuran syari atau tidak. Di antara orang-orang yang diwajibkan qada puasa itu ialah:

    1. Orang yang sakit yang ada harapan sembuh. Jika puasa itu boleh mendatangkan mudarat ke atas dirinya sama ada menambahkan sakitnya, melambatkan sembuh sakitnya atau puasa itu mengelakkan sakitnya, maka adalah harus bagi orang yang sakit itu berbuka puasa Ramadan tetapi wajib ke atasnya mengqada puasa sebanyak hari yang ditinggalkannya setelah sembuh.
    2. Orang yang musafir (dalam pelayaran) juga di antara orang yang diberi kelonggaran dalam menunaikan puasa. Keharusan berbuka puasa Ramadan kerana musafir hanya diberikan kepada mereka yang memenuhi syarat-syarat musafir sebagaimana yang ditentukan oleh syarak seperti:
    3. Hendaklah jarak perjalanan pergi belayar itu tidak kurang dari dua marhalah iaitu 89-91 kilometer atau 56 batu.
    4. Hendaklah pada permulaan perjalanan itu berniat (qasad) hendak membuat pelayaran menuju ke destinasi yang diketahui serta menetapkan azam tanpa ragu-ragu untuk berjalan dalam jarak jauh tidak kurang daripada dua marhalah.
    5. Perjalanan itu hendaklah atas tujuan yang diharuskan oleh syarak dan bukan atas tujuan untuk mengerjakan perkara-perkara yang diharamkan atau maksiat.
    6. Pelayaran itu hendaklah sebelum masuk waktu diwajibkan puasa seperti selepas Maghrib dan sebelum fajar.

    Bagi orang musafir yang diharuskan berbuka itu adalah wajib mengqada puasa sebanyak hari yang telah ditinggalkannya.

    Orang yang sakit dan orang musafir yang diharuskan berbuka puasa di bulan Ramadan telah dijelaskan oleh Al-Quran sebagaimana Allah Subhanahu Wataala berfirman yang tafsirnya:

    “Maka sesiapa di antara kamu yang sakit atau dalam musafir, (bolehlah dia berbuka), kemudian wajiblah dia berpuasa sebanyak (hari yang dibuka) itu pada hari-hari yang lain.”‘ (Surah Al-Baqarah ayat 184).

    Hukum orang yang sakit dan musafir di atas adalah sama dengan orang yang sangat lapar dan sangat dahaga. Orang seperti ini juga diharuskan berbuka dan wajib qada. Kelonggaran tersebut berdasarkan firman Allah Subhanahu Wataala yang tafsirnya:”

    Dan janganlah kamu membunuh diri kamu. Sesungguhnya Allah sentiasa Mengasihani kamu.’’ (Surah An-Nisaa’ ayat 29).

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 28 May 2017 Permalink | Balas  

    Khutbah Rasulullah Menyambut Bulan Ramadhan 

    ramadhan8Khutbah Rasulullah Menyambut Bulan Ramadhan

    Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah, rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam paling utama. Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan-Nya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu adalah ibadah, amal-amalmu diterima, dan doa-doamu diijabah.

    Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan syiyam dan membaca kitab-Nya. Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fukara dan masakin. Muliakanlah orang-orang tuamu, sayangilah yang muda, sambunglah tali persudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya, dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarkannya.

    Kasihanilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu. Bertobatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hambanya dengan penuh kasih;Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya, dan mengabulkan mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

    Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-pungmu berat karena beban (dosa)-mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.

    Ketahuilah! Allah Ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri dihadapan Rabb Al-‘Alamin.

    Wahai manusia! Barangsiapa diantaramu memberi buka kepada orang-orang Mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka disisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan ia diberi ampunan atas dosa-dosanya yang lalu.

    (Sahabat-sahabat bertanya:” Ya Rasulullah!Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.” Rasulullah meneruskan:)

    Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.

    Wahai manusia! Siapa yang membaguskan ahlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirath pada hari ketika kaki-kaki tergelincir.

    Barang siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari Kiamat. Barang siapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakannya pada hari ia berjumpa dengan-nya.

    Barangsiapa menyambungkan tali persudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

    Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan , Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardhu baginya adalah ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardhu dibulan yang lain.

    Barang siapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa pada bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Qur’an pada bulan-bulan yang lain.

    Wahai manusia! sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak akan pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu.

    Amirul Mukminin k.w. berkata,:Aku berdiri dan berkata,”Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama dibulan ini?” Jawab Nabi: Ya abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah”.

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 27 May 2017 Permalink | Balas  

    Sholat Taraweh 

    salat_tarawihSholat Taraweh

    Sayyid Ali Fikri dalam bukunya “Khulashatul Kalam fii Arkaanil Islam” halaman 114 menuturkan tentang shalat tarawih sebagai berikut:

    Shalat tarawih itu hukumnya sunnat mu’akkad (sunnat yang hukumnya mendekati wajib) menurut para Imam Madzhab pada malam-malam bulan Ramadlan. Waktunya adalah setelah shalat Isyak sampai terbit fajar; dan disunnatkan shalat witir sesudahnya.

    Shalat tarawih itu disunnatkan beristirahat sesudah tiap adalah dua puluh raka’at dan setiap dua raka’at satu kali salam; dan empat raka’at selama cukup untuk melakukan shalat empat raka’at. Shalat tarawih ini disunnatkan bagi orang laki-laki dan perempuan.

    Cara melakukan shalat tarawih adalah seperti shalat shubuh, artinya setiap dua raka’at satu salam; dan shalat tarawih ini tidak sah tanpa membaca Fatihah dan disunnatkan membaca ayat atau surat pada setiap raka’at.

    Hikmah dari shalat tarawih ini adalah untuk menguatkan jiwa, mengistirahatkan dan menyegarkannya guna melakukan keta’atan; dan juga untuk memudahkan mencernak makanan sesudah makan malam. Karena apabila ada orang sesudah berbuka puasa lalu tidur, maka makanan yang ada dalam perut besarnya tidak tercernak, sehingga dapat mengganggu kesehatannya; kesegaran jasmaninya menjadi lesu dan rusak.

    Adapun orang yang pertama kali mengumpulkan orang-orang muslim untuk melakukan shalat tarawih dengan berjama’ah dengan hitungan dua puluh raka’at adalah Khalifah Umar bin Khattab ra. dan para shahabat Nabi pada waktu itu menyetujuinya. Dan pekerjaan tersebut berlangsung pada masa pemerintahan Khalifah Usman dan Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. Dalam hal ini Rasulullah saw. telah  bersabda:

    “Wajib atas kamu sekalian mengikuti sunnahku dan sunnah dari Al Khulafa’ur Rasyidin”.

    Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra. telah menambah jumlah raka’atnya dan menjadikannya 36 (tiga puluh enam raka’at). Tambahan ini beliau maksudkan untuk menyamakan dengan keutamaan dan pahala penduduk Makkah. Karena penduduk Makkah setiap kali selesai melakukan shalat empat raka’at, mereka melakukan thawaf di Ka’bah. Jadi Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra. melakukan shalat empat raka’at sebagai ganti dari satu kali thawaf agar dapat memperoleh pahala dan ganjaran.

    Berdasarkan sunnah dari Khalifah Umar bin Khattab tersebut di atas, maka :

    Menurut madzhab Hanafi, Syafi’i dan Hambali, jumlah shalat tarawih itu adalah duapuluh raka’at selain shalat witir.

    Menurut madzhab Maliki, jumlah shalat tarawih itu adalah 36 (tigapuluh enam) raka’at, karena mengikuti sunnah dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

    Adapun orang yang melakukan shalat tarawih 8 (delapan) raka’at dengan witir 3 (tiga) raka’at, adalah mengikuti hadits yang diriwayatkan dari Sayyidah A’isyah yang berbunyi sebagai berikut:

    “Tiadalah Rasulullah saw. menambah pada bulan Ramadlan dan tidak pula pada bulan lainnya atas sebelas raka’at . Beliau shalat empat raka’at dan jangan anda bertanya tentang kebagusan dan panjangnya. Kemudian beliau shalat empat raka’at dan jangan anda bertanya tentang kebagusan dan panjangnya. Kemudian beliau shalat tiga raka’at. Kemudian aku (A’isyah) berkata: “Wahai Rasulullah, adakah tuan tidur sebelum shalat witir ?” Kemudian beliau bersabda: “Wahai A’isyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, sedang hatiku tidak tidur !”

    Syekh Muhammad bin ‘Allan dalam kitab “Daliilul Faalihiin” jilid III halaman 659 menerangkan bahwa hadits di atas adalah hadits tentang shalat witir, karena shalat witir itu paling banyak hanya sebelas raka’at, tidak boleh lebih. Hal itu terlihat dari ucapan A’isyah bahwa Nabi saw. tidak menambah shalat, baik pada bulan Ramadlan atau lainnya melebihi sebelas raka’at. Sedang shalat tarawih atau “qiyamu Ramadlan” hanya ada pada bulan Ramadlan saja.

    Adapun ucapan A’isyah “beliau shalat empat raka’at dan anda jangan bertanya tentang kebagusan dan panjangnya”, tidaklah berarti bahwa beliau melakukan shalat empat raka’at dengan satu kali salam. Sebab dalam hadits yang disepakati keshahihannya oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar ra. Nabi bersabda:

    “Shalat malam itu dua raka’at, dua raka’at, maka jika kamu khawatir akan shubuh, shalatlah witir satu raka’at”.

    Dalam hadits lain yang disepakati keshahihannya oleh Bukhari dan Muslim, Ibnu Umar juga berkata :

    “Adalah Nabi saw. melakukan shalat dari waktu malam dua raka’at dua raka’at, dan melakukan witir dengan satu rakaat”.

    Pada masa Rasulullah saw. dan masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar As Shiddiq, shalat tarawih itu dilaksanakan pada waktu tengah malam, dan namanya bukan shalat tarawih, melainkan “qiyaamu Ramadlaan” (Shalat pada malam bulan Ramadlan). Karena nama “tarawih” itu diambil dari arti “istirahat” yang dilakukan setelah melakukan shalat empat raka’at. Disamping itu perlu kita ketahui, bahwa pelaksanaan shalat tarawih itu di Masjid al Haram di Kota Makkah sekarang ini adalah 20 raka’at dengan dua raka’at satu salam.

    Almarhum KH. Ali Ma’sum Krapyak Jogyakarta, dalam bukunya yang berjudul “Hujjatu Ahlis Sunnah Wal Jama’ah” halaman 24 dan 40 menerangkan tentang shalat “SHALAT TARAWIH” yang artinya kurang lebih sebagai berikut:

    Shalat tarawih itu, meskipun dalam hal ini terdapat perbedaan, namun sepatutnya tidak boleh ada saling mengingkari terhadap kepentingannya. Shalat tarawih itu menurut kami, orang-orang yang bermadzhab Syafi’i, bahkan dalam madzhab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah duapuluh raka’at. Shalat tarawih ini hukumnya adalah sunnat mu’akkad bagi setiap laki-laki dan wanita, menurut madzhab Hanafi, Syafi’i, Hambali dan Maliki.

    Shalat tarawih ini disunnatkan untuk dilakukan dengan berjama’ah bagi setiap muslim, menurut madzhab Syafi’i dan Hambali. Madzhab Maliki berpendapat bahwa berjama’ah dalam shalat tarawih itu hukumnya mandub (derajatnya di bawah sunnat), sedang madzhab Hanafi berpendapat bahwa berjama’ah dalam shalat tarawih itu hukumnya sunnat kifayah bagi penduduk kampung, sehingga apabila ada sebagian dari penduduk kampung tersebut telah melaksanakan dengan berja ma’ah, maka lainnya gugur dari tuntutan.

    Para imam madzhab telah menetapkan kesunnatan shalat tarawih berdasarkan perbuatan Nabi Muhammad saw. Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan hadits sebagai berikut:

    “Adalah Nabi saw. keluar pada waktu tengah malam pada malam-malam Ramadlan, yaitu pada tiga malam yang  terpisah: malam tanggal 23, 25 dan 27. Beliau shalat di masjid dan orang-orang  shalat seperti shalat beliau di masjid. Beliau shalat dengan mereka  delapan raka’at, artinya dengan empat kali salam sebagaimana keterangan mendatang, dan mereka menyempurnakan shalat tersebut di rumah-rumah mereka, artinya sehingga shalat tersebut sempurna 20 raka’at menurut keterangan mendatang. Dari mereka itu terdengar suara seperti suara lebah”.

    Dari hadits ini jelaslah bahwa Nabi Muhammad saw. telah mensunnatkan bagi ummat Islam shalat tarawih dan berjama’ah pada shalat tarawih tersebut, akan tetapi beliau tidak melakukan shalat dengan para sahabat sebanyak 20 raka’at sebagaimana amalan yang berlaku sejak zaman shahabat dan orang-orang sesudah mereka sampai sekarang.

    Telah diriwayatkan dari Sayyidah A’isyah ra. bahwa Nabi  Muhammad saw. keluar sesudah tengah malam pada bulan Ramadlan dan beliau melakukan shalat di masjid, maka para shahabat melakukan shalat dengan shalat beliau. Lalu pada pagi harinya para shahabat tersebut memperbincangkan shalat mereka dengan Rasulullah saw., sehingga pada malam kedua orang bertambah banyak. Kemudian Nabi saw. melakukan shalat dan orang-orang melakukan shalat dengan shalat beliau. Pada malam ketiga tatkala orang-orang bertambah banyak sehingga masjid tidak mampu menapung para jama’ah, Rasulullah saw. tidak keluar pada para jama’ah sehingga beliau keluar untuk melakukan shalat shubuh. Dan setelah beliau shalat shubuh,beliau menghadap kepada para jama’ah dan bersabda: “Sesungguhnya tidaklah dikhawatirkan atas kepentingan kalian tadi malam; akan tetapi aku takut apabila shalat malam itu diwajibkan atas kamu sekalian, sehingga kalian tidak mampu melaksanaknnya !”.

    Kemudian Rasulullah saw. wafat dan keadaan berjalan demikian pada zaman kekhalifahan Abu Bakar dan permulaan kekhalifahan Umar bin Khattab ra. Kemudian Khalifah Umar bin Khattab ra.  mengumpulkan orang-orang laki-laki untuk berjama’ah shalat tarawih dengan diimami oleh Ubai bin Ka’ab dan orang-orang perempuan berjama’ah dengan diimami oleh Usman bin Khatsamah. Oleh karena itu Khalifah Usman bin Affan berkata pada masa pemerintahan beliau: “Semoga Allah menerangi kubur Umar sebagaimana Umar telah menerangi masjid-masjid kita”. Yang dikehendaki oleh hadits ini adalah bahwa Nabi saw. keluar dalam dua malam saja.

    Menurut pendapat yang masyhur adalah bahwa Rasulullah saw. keluar pada para shahabat untuk melakukan shalat tarawih bersama mereka tiga malam, yaitu tanggal 23, 25 dan 27, dan beliau tidak keluar pada mereka pada malam 29. Sesungguhnya Rasulullah saw tidak tiga malam berturut-turut adalah karena kasihan kepada para shahabat. Dan beliau shalat bersama para shahabat delapan raka’at; tetapi beliau menyempurnakan shalat 20 raka’at di rumah beliau dan para shahabat menyempurnakan shalat di rumah mereka 20 raka’at, dengan bukti bahwa dari mereka itu didengar suara seperti suara lebah. Sesungguhnya Nabi saw. tidak menyempurnakan bersama para shahabat 20 raka’at di masjid adalah karena kasihan kepada mereka.

    Dari hadits ini menjadi jelas, bahwa jumlah shalat tarawih yang mereka lakukan itu tidak terbatas hanya delapan raka’at, dengan bukti bahwa mereka menyempurnakannya di rumah-rumah mereka.  Sedang pekerjaan Khalifah Umar ra. telah menjelaskan bahwa jumlah raka’atnya adalah duapuluh, pada sa’at Umar ra. mengumpulkan orang-orang di masjid dan para shahabat menyetujuinya serta tidak didapati seorangpun dari orang-orang sesudah beliau dari para Khulafa’ur Rasyidun yang berbeda dengan Umar. Dan mereka terus menerus melakukan shalat tarawih dengan berjama’ah 20 raka’at. Dalam hal ini Nabi Muhammad saw. telah bersabda:

    “Wajib atas kamu sekalian mengikuti sunnahku dan sunnah dari Al Khulafa’ur Rasyidun yang telah mendapat petunjuk; dan gigitlah sunnah-sunnah tersebut dengan gigi geraham (berpegang  teguhlah kamu sekalian pada sunnah-sunnah tersebut). HR Abu Dawud

    Nabi Muhammad saw. juga pernah bersabda sebagai berikut:

    “Ikutlah kamu sekalian dengan kedua orang ini sesudah aku mangkat, yaitu Abu Bakar dan Umar”. HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah.

    Telah diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab telah memerintahkan Ubai dan Tamim Ad Daari melakukan shalat tarawih bersama orang-orang sebanyak 20 raka’at. Dan Imam Al Baihaqi telah meriwayatkan dengan isnad yang shahih, bahwa mereka melakukan shalat tarawih pada masa pemerintahan Umar bin Khattab 20 raka’at, dan menurut satu riwayat 23 raka’at. Dan pada masa pemerintahan Usman bin Affan juga seperti itu, sehingga menjadi ijma’. Dalam satu riwayat, Ali bin Abi Talib ra. mengimami orang-orang dengan 20 raka’at dan shalat witir dengan tiga raka’at.

    Imam Abu Hanifah telah ditanya tentang apa yang telah dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab ra., maka beliau berkata:”Shalat tarawih itu adalah sunnat mu’akkadah. Dan Umar ra. tidaklah  menentukan bilangan 20 raka’at tersebut dari kehendaknya sendiri.  Dalam hal ini beliau bukanlah orang yang berbuat bid’ah. Dan beliau tidak memerintahkan shalat 20 raka’at, kecuali berasal dari sumber  pokoknya yaitu dari Rasulullah saw.”

    Khalifah Umar bin Khattab ra. telah membuat sunnah dalam hal shalat tarawih ini dan telah mengumpulkan orang-orang dengan diimami oleh Ubai bin Ka’ab, sehinggaUbai bin Ka’ab melakukan shalat tarawih dengan berjama’ah, sedangkan para shahabat mengikutinya. Di antara para shahabat yang mengikuti pada waktu itu terdapat: Usman bin ‘Affan, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud, ‘Abbas dan puteranya, Thalhah, Az Zubair, Mu’adz, Ubai dan para shahabat Muhajirin dan shahabat Ansor lainnya ra. Dan pada waktu itu tidak ada seorangpun dari para shahabat yang menolak atau menentangnya, bahkan mereka membantu dan menyetujuinya serta memerintahkan hal tersebut. Dalam hal ini Nabi Muhammad saw. pernah bersabda:

    “Para shahabatku adalah bagaikan bintang-bintang di langit. Dengan yang mana saja dari mereka kamu sekalian mengikuti, maka kamu sekalian akan mendapatkan petunjuk”.

    Memang, pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz ra. yang pada waktu itu beliau mengikuti orang Madinah, bilangan shalat tarawih itu ditambah dan dijadikan 36 raka’at. Akan tetapi tambahan tersebut dimaksudkan untuk menyamakan keutamaan dengan penduduk Makkah; karena penduduk Makkah melakukan thawaf di Baitullah satu kali sesudah shalat empat raka’at, artinya dua kali salam. Maka Umar bin Abdul Aziz ra. yang pada waktu itu mengimami para jama’ah berpendapat untuk melakukan shalat empat raka’at dengan dua kali salam sebagai ganti dari thawaf.

    Ini adalah dalil dari kebenaran ijtihad dari para ulama’ dalam menambahi apa yang telah datang dari ibadah yang telah disyari’atkan, karena sama sekali tidak perlu diragukan, bahwa setiap orang diperbolehkan untuk melakukan shalat sunnat semampu mungkin pada waktu malam atau siang hari, kecuali pada waktu-waktu yang dilarang untuk melakukan shalat.

    Pengarang dari kitab “Al Fiqhu ‘Ala al Madzaahibil Arba’ah” menyatakan bahwa shalat tarawih itu adalah 20 raka’at menurut semua imam madzhab kecuali witir.

    Dalam kitab “Mizan” karangan Imam Asy-Sya’rani halaman 148 dinyatakan bahwa termasuk pendapat Imam Abu Hanifah, Asy-Syafi’i dan Ahmad, shalat tarawih itu adalah 20 raka’at. Imam Asy-Syafi’i  berkata: “20 raka’at bagi mereka itu adalah lebih saya sukai!”.  Dan sesungguhnya shalat tarawih dengan berjama’ah itu adalah lebih utama beserta pendapat Imam Malik dalam salah satu riwayat dari beliau, bahwa shalat tarawih itu adalah 36  raka’at.

    Dalam kitab “Bidaayatul Mujtahid” karangan Imam Qurthubi juz I halaman 21 diterangkan bahwa shalat tarawih yang Umar bin Khattab mengumpulkan orang-orang untuk melakukannya dengan berjama’ah adalah disukai; dan mereka berbeda pendapat mengenai jumlah raka’at yang dilakukan orang-orang pada bulan Ramadlan. Imam Malik dalam salah satu dari kedua pendapat beliau, Imam Abu Hanifah, Imam As Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal memilih 20 raka’at selain shalat witir.

    Pada pokoknya Imam Madzhab Empat tersebut di atas memilih bahwa shalat tarawih itu adalah 20 raka’at selain shalat witir. Sedang orang yang berpendapat bahwa shalat tarawih itu adalah 8 (delapan) raka’at adalah menyalahi dan menentang terhadap apa yang telah mereka pilih. Dan sebaiknya pendapat orang ini dibuang dan tidak usah diperhatikan, karena tidak termasuk golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, yaitu golongan yang selamat, yang mengikuti  sunnah Rasulullah saw. dan para shahabat beliau.

    Akan tetapi ada yang berpendapat bahwa shalat tarawih delapan raka’at itu adalah berdasarkan hadits ‘A’isyah ra. sebagaimana disebutkan di muka.

    Hadits tersebut tidak sah untuk dijadikan dasar shalat tarawih, karena maudlu’ dari hadits tersebut apa yang nampak jelas adalah shalat witir. Dan sebagaimana kita ketahui, shalat witir itu paling sedikit adalah satu raka’at dan paling banyak adalah sebelas raka’at. Dan Rasulullah saw. pada waktu itu melakukan shalat sesudah tidur empat raka’at dengan dua salam tanpa disela, lalu melakukan shalat empat raka’at dengan dua salam tanpa disela, kemudian melakukan shalat tiga raka’at dengan dua salam juga tanpa disela. Yang menunjukkan bahwa hadits ‘A’isyah ra. ini adalah shalat witir:

    Ucapan ‘A’isyah:”Apakah engkau tidur sebelum engkau melakukan witir?” Sesungguhnya shalat tarawih itu dikerjakan sesudah shalat isyak dan sebelum tidur.

    Sesungguhnya shalat tarawih itu tidak didapati pada selain bulan Ramadlan.

    Dengan demikian, maka sudah tidak ada dalil yang menentang  kebenaran shalat tarawih 20 raka’at.  Imam Al-Qasthalani dalam kitab “Irsyadus Saarii” syarah dari Shahih Bukhari berkata: “Apa yang sudah diketahui, yaitu apa yang dipakai oleh “jumhur ulama'” adalah bahwa bilangan / jumlah raka’at shalat tarawih itu 20 raka’at dengan sepuluh kali salam, sama dengan lima kali tarawih yang setiap tarawih empat raka’at dengan dua kali salam selain witir, yaitu tiga raka’at.

    Dalam Sunan Baihaqiy dengan isnad yang shahih sebagaimana ucapan Zainuddin Al Iraqi dalam kitab “Syarah Taqrib”, dari As-Sa’ib bin Yazid ra. katanya: “Mereka (para shahabat) adalah melakukan shalat pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab ra. pada bulan Ramadlan dengan 20 raka’at.

    Imam Malik dalam kitab “Al Muwaththa” meriwayatkan dari Yazid bin Rauman katanya: “Adalah orang-orang pada zaman Khalifah Umar bin Khattab ra. melakukan shalat dengan 23 raka’at. Dan Imam Al Baihaqi telah mengumpulkan kedua riwayat tersebut dengan  menyebutkan bahwa mereka melakukan witir tiga raka’at. Dan para ulama’ telah menghitung apa yang terjadi pada zaman Umar bin Khattab sebagai ijma’.

    Perlu kita ketahui bahwa shalat tarawih itu adalah dua raka’at satu salam, menurut madzhab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Dalam hal ini madzhab Syafi’i berpendapat: “Wajib dari setiap dua raka’at; sehingga jika seseorang melakukan shalat tarawih 20 raka’at dengan satu salam, maka hukumnya tidak sah”.

    Madzhab Hanafi, Maliki dan Hambali berpendapat: “Disunnatkan melakukan salam pada akhir setiap dua raka’at. Sehingga jika ada orang yang melakukan shalat tarawih 20 raka’at dengan satu salam, dan dia duduk pada permulaan setiap dua raka’at, maka hukumnya sah tetapi makruh. Dan jika tidak duduk pada permulaan setiap dua raka’at maka dalam hal ini ada perbedaan pendapat dari para imam madzhab”.

    Adapun madzhab Syafi’i berpendapat: “Wajib melakukan salam pada setiap dua raka’at. Maka jika orang melakukan shalat tarawih 20 raka’at dengan satu salam, hukumnya tidak sah; baik dia duduk atau tidak pada permulaan setiap dua raka’at”. Jadi menurut para ulama’ Syafi’iyyah, shalat tarawih itu harus dilakukan dua raka’at dua raka’at dan salam pada permulaan setiap dua raka’at.

    Adapun ulama’ madzhab Hanafi berpendapat: “Jika seseorang melakukan shalat empat raka’at dengan satu salam, maka empat raka’at tersebut adalah sebagai ganti dari dua raka’at menurut kesepakatan mereka. Adapun jika seseorang melakukan shalat lebih dari empat raka’at dengan satu salam, maka ke absahannya diperselisihkan. Ada yang berpendapat sebagai ganti dari raka’at yang genap dari shalat tarawih, dan ada yang berpendapat tidak sah”.

    Para ulama’ dari madzhab Hambali berpendapat bahwa shalat seperti tersebut sah tetapi makruh dan dihitung duapuluh raka’at. Sedang para ulama madzhab Maliki berpendapat:”Shalat yang demkian itu sah dan dihitung duapuluh raka’at. Dan orang yang melakukan shalat demikian itu adalah orang yang meninggalkan kesunnatan tasyahhud dan kesunnatan salam pada setiap dua raka’at; dan yang demikian itu adalah makruh”.

    Rasulullah saw. bersabda:

    “Shalat malam itu dua raka’at, dua raka’at. Maka jika salah seorang dari kamu sekalian khawatir akan shubuh, maka dia shalat satu raka’at yang menjadi witir baginya dari shalat yang telah dia lakukan”.

    Dan yang menunjukkan bahwa bilangan shalat tarawih 20 raka’at selain dari dalil-dalil tersebut di atas, adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Humaid dan At Thabrani dari jalan Abu Syaibah bin Usman dari Al Hakam dari Muqassim dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah saw. telah melakukan shalat pada bulan Ramadlan 20 raka’at dan witir.

     
  • erva kurniawan 2:47 pm on 26 May 2017 Permalink | Balas  

    Menjelang Bulan Ramadhan 

    ramadan1Menjelang Bulan Ramadhan

    Oleh: Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid

    Shifati Shaumin Nabiyii Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Fii Ramadhan

    1. Menghitung Hari Bulan Sya’ban

    Umat Islam seyogyanya menghitung bulan Sya’ban sebagai persiapan memasuki Ramadhan. Karena satu bulan itu terkadang dua puluh sembilan hari dan terkadang tiga puluh hari, maka berpuasa (itu dimulai) ketika melihat hilal bulan Ramdhan. Jika terhalang awan hendaknya menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari. Karena Allah menciptakan langit-langit dan bumi serta menjadikan tempat-tempat tertentu agar manusia mengetahui jumlah tahun dan hisab. Satu bulan tidak akan lebih dari tiga puluh hari.

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Puasalah kalian karena melihat hilal, dan berbukalah karena melihat hilal. Jika kalian terhalangi awan, sempurnakanlah bulan Sya’ban tiga puluh hari” [Hadits Riwayat Bukhari 4/106 dan Muslim 1081]

    Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, (bahwasanya) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Janganlah kalian puasa hingga melihat hilal, jangan pula kalian berbuka hingga melihatnya (hilal). Jika kalian terhalangi awan, hitunglah bulan Sya’ban” [Hadits Riwayat Bukhari 4/106 dan Muslim 1080]

    Dari Adi bin Hatim Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Jika datang bulan Ramadhan puasalah tiga puluh hari, kecuali kalian melihat hilal sebelum hari ke tiga puluh” [1]

    1. Barang siapa yang Berpuasa Hari Syak[2], Berarti (ia) Telah Durhaka Kepada Abul Qasim Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Oleh karena itu, seorang muslim tidak seyogyanya mendahului bulan puasa dengan melakukan puasa satu atau dua hari sebelumnya dengan alasan hati-hati, kecuali kalau bertepatan dengan puasa sunnah yang biasa ia lakukan. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan melakukan puasa satu atau dua hari sebelumnya kecuali seorang yang telah rutin berpuasa maka berpuasalah” [Hadits Riwayat Muslim (573 -Mukhtashar dengan Muallaqnya)]

    Ketahuilah wahai saudaraku, di dalam Islam barangsiapa yang puasa pada hari yang diragukan, (berarti ia) telah durhaka kepada Abul Qasim Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Shillah bin Zyfar dari Ammar membawakan perkataan Ammar bin Yasir.

    “Artinya : Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukan berarti telah durhaka kepada Abul Qasim Shallallahu ‘alaihi wa sallam” [3]

    1. Jika Seorang Muslim Telah Melihat Hilal Hendaknya Kaum Muslimin Berpuasa atau Berbuka

    Melihat hilal teranggap kalau ada dua orang saksi yang adil, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Artinya : Berpuasalah kalian karena melihat hilal, berbukalah kalian karena melihatnya, berhajilah kalian karena melihat hilal, jika kalian tertutup awan, maka sempurnakanlah (bilangan bulan Sya’ban menjadi) tiga puluh hari, jika ada dua saksi berpuasalah kalian dan berbukalah” [4]

    Tidak diragukan lagi, bahwa diterimanya persaksian dua orang dalam satu kejadian tidak menunjukkan persaksian seorang diri itu ditolak, oleh karena itu persaksian seorang saksi dalam melihat hilal tetap teranggap (sebagai landasan untuk memulai puasa), dalam suatu riwayat yang shahih dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata : “Manusia mencari-cari hilal, maka aku khabarkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa aku melihatnya, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam-pun menyuruh manusia berpuasa. [5]

    Disalin dari Kitab Sifat Shaum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, edisi Indonesia Sipat Puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, terbitan Pustaka Al-Haura, penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata.

    **

    Foot Note.

    1. Hadits Riwayat At-Thahawi dalam Musykilul Atsar No. 501, Ahmad 4/377, At-Thabrani dalam Al-Kabir 17/171. Dalam sanadnya ada Musalin bin Sa’id, beliau dhaif sebagaiamana dikatakan oleh Al-Haitsami dalam Majma Az-Zawaid 3/146, akan tetapi hadits ini mempunyai banyak syawahid, lihat Al-Irwaul Ghalil 901, karya Syaikhuna Al-Albany Hafidhahullah
    2. Yaitu hari yang masih diragukan, apakah sudah masuk bulan Ramadhan atau belum -ed
    3. Dibawakan oleh Bukhari 4/119, dimaushulkan oleh Abu Daud 3334, Tirmidzi 686, Ibnu Majah 3334, An-Nasa’i 2199 dari jalan Amr bin Qais Al-Mala’i dari Abu Ishaq dari Shilah bin Zufar, dari Ammar. Dalam sanadnya ada Abu Ishaq, yakni As-Sabi’in mudallis dan dia telah ‘an-anah dalam hadits ini, dia juga telah bercampur hafalannya, akan tetapi hadits ini mempunyai banyak jalan dan mempunyai syawahid (pendukungnya) dibawakan oleh Al-Hafizd Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Ta’liqu Ta’liq 3/141-142 sehingga beliau menghasankan hadits ini.
    4. Hadits Riwayat An-Nasa’i 4/133, Ahmad 4/321, Ad-Daruquthni 2/167 dari jalan Husain bin Al-Harist Al-jadal dari Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khaththab dari para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sanadnya hasan. Lafadz di atas aadalah pada riwayat An-Nasa’i, Ahmad menambahkan : “Dua orang muslim”.
    5. Hadits Riwayat Abu Dawud 2342, Ad-Darimi 2/4, Ibnu Hibban 871, Al-Hakim 1/423, Al-Baihaqi 4/212 dari dua jalan, yakni dari jalan Ibnu Wahb dari Yahya bin Abdullah bin Salim dari Abu Bakar bin Nafi’ dari bapaknya dari Ibnu Umar, sanadnya Hasan, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam At-Talkhisul Habir 2/187

    Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=16&bagian=0

     
  • erva kurniawan 7:21 pm on 25 May 2017 Permalink | Balas  

    Putra-putri Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam 

    Putra-putri Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam

    Pada zaman jahiliyah, kelahiran seorang bayi perempuan adalah lembaran hitam dalam kehidupan sepasang suami istri. Bahkan merupakan lembaran hitam bagi keluarga dan kabilahnya. Kepercayaan masyarakat jahiliyah seperti itu mendorong mereka mengubur anak perempuan hidup-hidup karena takut cela dan aib. Penguburan anak perempuan tersebut dilakukan dengan cara yang sangat sadis tanpa ada rasa sayang dan belas kasih sama sekali. Anak perempuan tersebut dikubur hidup-hidup. Mereka melakukan perbuatan terkutuk itu dengan berbagai macam cara. Di antaranya, jika lahir seorang bayi perempuan, mereka sengaja membiarkan bayi itu hidup sampai berusia 6 tahun, kemudian si bapak berkata kepada ibu anak yang malang tersebut: “Dandanilah anak ini, sebab aku akan membawanya menemui paman-pamannya.” Sementara si bapak telah menyiapkan lubang di tengah padang pasir yang sepi. Lalu dibawalah anak perempuannya itu menuju lubang tersebut. Sesampainya di sana si bapak berkata kepadanya: “Lihatlah lubang itu!” lalu sekonyong-konyong ia dorong anak itu ke dalamnya dan menimbunnya dengan tanah secara sadis dan keji.

    Di tengah-tengah masyarakat jahiliyah seperti itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam muncul dengan membawa agama yang agung ini, agama yang menghormati hak-hak perempuan, baik statusnya sebagai ibu, istri, anak, kakak ataupun bibi.

    Putri-putri beliau begitu banyak mendapat curahan kasih sayang dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Apabila Fathimah radhiyallahu ‘anha datang, beliau akan segera bangkit menyambutnya sambil memegang tangannya, lalu menempatkannya di tempat duduk beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikian pula bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang mengunjungi Fathimah radhiyallahu ‘anhu, ia segera bangkit menyambut beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sambil menuntun tangan beliau dan menciumnya serta menempatkan beliau di tempat duduknya. (Sebagaimana tertera dalam HR. Abu Daud, Tirmidzi dan An-Nasaai)

    Meskipun beliau begitu sayang kepada putri-putrinya dan begitu memuliakan mereka, namun beliau rela menerima talaq (perceraian) kedua putri beliau Ruqaiyyah dan Ummu Kaltsum radhiyallahu ‘anhuma dari suami mereka, yaitu ‘Utbah dan ‘Utaibah putra Abu Lahab setelah turun surat Al-Lahab (“Binasalah kedua tangan Abu Lahab”). Beliau tetap sabar serta mengharap pahala dari Allah Ta’ala. Beliau tidak berkenan menghentikan dakwah atau surut ke belakang. Pasalnya kaum Quraisy mengancam, bila beliau tidak menghentikan dakwah, maka kedua putri beliau akan dicerai. Namun beliau tetap teguh dan sabar serta tidak goyah dalam mendakwahkan agama Islam.

    Di antara bentuk sambutan hangat beliau terhadap putri beliau adalah sebagaimana yang dituturkan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata: “Pada suatu hari kami, para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, berada di sisi beliau. Lalu datanglah Fathimah radhiyallahu ‘anha kepada beliau dengan berjalan kaki. Gaya berjalannya sangat mirip dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihatnya, beliau memberikan ucapan selamat untuknya, beliau berkata:

    “Selamat datang wahai putriku.” Kemudian beliau tempatkan ia di sebelah kanan atau kiri beliau.” (HR. Muslim)

    Di antara bentuk kasih sayang dan cinta beliau kepada putri-putri beliau ialah dengan mengunjungi mereka dan menanyakan kabar dan problem yang mereka hadapi. Fathimah radhiyallahu ‘anha pernah datang menemui beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengadukan tangannya yang lecet karena mengadon tepung, ia meminta seorang pelayan kepada beliau. Namun Fatihmah radhiyallahu ‘anha tidak bertemu dengan beliau. Fathimah radhiyallahu ‘anha melaporkan kedatangannya kepada ‘Aisyah radhiyallah ‘anha. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan perihal kedatangan Fathimah radhiyallahu ‘anha. ‘Ali radhiyallahu ‘anhu menuturkannya kepada kita:

    Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam lalu datang menemui kami berdua saat kami sudah berbaring di atas dipan. Ketika beliau datang, kamipun segera bangkit. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Tetaplah di tempat kamu!” beliaupun mendekat lalu duduk di antara kami berdua hingga aku dapat merasa-kan sejuk kedua telapak kaki beliau di dadaku. Beliau bersabda:

    “Maukah kamu aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik bagi kamu berdua daripada seorang pelayan?” Apabila kamu hendak tidur, bacalah takbir (Allahu Akbar) tiga puluh empat kali, tasbih (Subhaa-nallaah) tiga puluh tiga kali, dan tahmid (Alham-dulillahi) tiga puluh tiga kali. Sesungguhnya bacaan tersebut lebih baik bagimu daripada seorang pelayan.” (HR. Al-Bukhari)

    Sungguh, pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terdapat teladan yang baik bagi kita, teladan dalam kesabaran dan ketabahan. Seluruh putra-putri beliau wafat sewaktu beliau masih hidup -kecuali Fathimah radhiyallah ‘anha, namun meskipun demikian beliau tidak menampar-nampar wa-jah, merobek-robek pakaian dan tidak mengadakan kenduri kematian (sebagaimana yang dilakukan mayoritas manusia sebagai ungkapan kesedihan dan belasungkawa). Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tetap sabar dan tabah dengan mengharap pahala dari Allah Ta’ala serta ridha atas takdir dan ketentuan Allah Ta’ala.

    ***

    taken from kitab : Sehari Di Kediaman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, By : Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim

     
  • erva kurniawan 1:32 am on 25 May 2017 Permalink | Balas  

    Penentuan Awal Ramadhan dan Idul Fitri: Antara Hisab dan Ru’yat 

    hilalPenentuan Awal Ramadhan dan Idul Fitri: Antara Hisab dan Ru’yat

    Dr. Salim Segaf Al-Jufri, MA – Direktur Pusat Konsultasi Syariah / syariahonline.com

    Tanya:

    Bagaimana penentuan Awal Ramadhan dan Idul Fitri. Apakah cukup dengan hisab apa harus Ru’yatul Hilal. Tolong dijelaskan dengan gamblang. Wassalamu’alaikum

    Jawab:

    Awal Ramadhan ditetapkan dengan melihat bulan sebagaimana Idul Fithri ditetapkan juga dengan melihat bulan. Allah telah menjadikan bulan sebagai tanda untuk mengetahui waktu bagi dan untuk menentukan jadwal ibadah tertentu, seperti puasa, Idul Fitri dan Idul Adha. Maka tidak diperbolehkan menentukan waktu dengan selain yang telah di tetapkan Allah SWT. Hal itu berdasarkan dalil-dalil berikut:

    “Maka barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu” (QS. 2:185)

    “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji” (QS.2:189)

    Rasulullah SAW bersabda;

    “Berpuasalah setelah melihat bulan dan berhari rayalah sesudah melihat bulan; kalau bulan terhalang awan maka sempurnakanlah bulan Sya’ban tiga puluh hari”

    Oleh karena itu bagi orang yang belum meliaht hilal dari tempat tinggalnya dan juga tempat lain baik dalam keadaan terang maupun terhalangi awan, hendaknya menyempurnakan hitungan bulan Sya’ban 30 hari. Sementara jika di tempat lain telah melihat hilal maka dalam urusan puasa atau hari raya ia harus mengikuti keputusan pemerintah setempat.

    Sedangkan hisab bisa digunakan untuk membantu rukyat itu sendiri seperti untuk mengetahui perkiraan posisi bulan dan data-datanya. Jadi hisab ini bersifat membantu namun yang menentukan adalah rukyat.

    *Di tulis ulang dari buku: FIQIH Ramadhan, DR. Salim Segaf Al-Jufri, MA, Crescent Press, hal. 55-56.

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 1 May 2017 Permalink | Balas  

    Puasa Itu Ibadah Pribadi 

    ramadhan 3Puasa Itu Ibadah Pribadi

    Ada peribahasa “sambil menyelam minum air”. Waktu saya kecil, masih belajar puasa, peribahasa itu dipelesetkan menjadi “sambil berwudu minum air” ….:-) Lama-lama ayah curiga, melihat anak-anaknya setelah wudu dan salat, jadi lebih segar dan bibirnya tidak kering lagi. Atau mungkin ayah juga waktu kecil melakukan hal yang sama, berarti ini penyakit keturunan ….:-D

    Satu hari ketika saya memijat ayah dengan cara menginjak-injak kaki ayah yang menelungkup, ayah bertanya apakah saya minum ketika berwudu. Saya mengaku dan ayah tidak marah tapi memberi tahu bahwa puasa ini ibadah pribadi, sangat pribadi karena yang mengetahui apakah seseorang berpuasa hanya dirinya sendiri dan Allah. Ayah juga mengingatkan bahwa minum air mentah itu tidak sehat, di beberapa negara memang air sudah dalam keadaan bersih dan siap minum, tapi di Indonesia walaupun jernih, air ledeng itu masih tidak siap minum.

    Dalam Surat Al Baqarah 183, dijelaskan bahwa tujuan puasa itu untuk lebih bertakwa. Dalam ayat-ayat awal surat Al Baqarah dijelaskan 5 ciri-ciri orang yang bertakwa. Dari ciri-ciri ketakwaan itu, keyakinan kepada yang gaib, mendapatkan penanaman dan peneguhan yang utama melalui ibadah puasa. Prof.Dr. Nurcholish Madjid (semoga Allah SWT memberi kesembuhan kepada Cak Nur yang masih terbaring sakit di National University Hospital, Singapura), berpendapat bahwa dari semua bentuk ibadah, puasa adalah ibadah yang paling pribadi, personal atau private, tanpa kemungkinan bagi orang lain untuk dapat sepenuhnya melihat, mengetahui, dan – apalagi – menilainya. Sebuah hadis qudsi menuturkan firman Allah, “Puasa adalah untuk-Ku semata, dan Akulah yang menanggung pahalanya.” Artinya, pada dasarnya tidak ada yang tahu bahwa seseorang berpuasa, selain Allah (dan dirinya sendiri).

    Pertanyaannya kemudian, mengapa orang berpuasa, padahal dia dapat membatalkannya kapan saja dia mau, pada saat dia sendirian. Mengapa orang bersedia menahan lapar dan dahaga serta pemenuhan kebutuhan biologis lainnya, padahal dia bisa melakukan semua itu kapan saja secara pribadi dan rahasia atau sembunyi-sembunyi, tanpa diketahui orang lain. Jawabannya adalah karena dia mempunyai keyakinan bahwa Allah selalu menyertai, melihat dan mengawasinya. Dia tidak akan melanggar suatu larangan sekalipun dia dalam keadaan sendirian tanpa ada sesama manusia yang tahu, karena Dia yang secara gaib selalu hadir bersamanya, yaitu Allah subhan-a Allah-u wa ta’ala. Kesadaran bahwa apapun yang dilakukan, baik ataupun buruk, sebesar dzarah (atom)-pun, Allah akan mengetahui dan memperhitungkannya (Al Zalzalah 7-8). Allah juga beserta manusia di manapun dia berada, dan Allah mengetahui segala sesuatu yang dia kerjakan (Al Hadiid 4). Allah juga mengetahui apapun yang ada di langit dan bumi. Allah selalu bersama mereka di manapun mereka berada. Pada hari kiamat, Dia akan beberkan kepada mereka segala hal yang dikerjakan mereka.

    Sesungguhnya Allah Mahatahu atas segala sesuatu (Al Mujaadilah 7).

    Dengan puasa yang dijalankan dengan kesadaran yang mendalam akan kehadiran Allah dalam hidup ini, seseorang dilatih untuk mampu menahan diri, menahan diri dari dorongan dan desakan memenuhi kebutuhan biologis yang menjelma menjadi dorongan “hawa nafsu”.

    Seperti yang dijelaskan dalam satu hadis, “Barang siapa tidak meninggalkan perkataan palsu dan pengamalannya, dan (tidak meninggalkan) kebodohan (kejahatan)-nya, maka Allah tidak peduli bahwa orang itu tidak makan dan tidak minum (puasa).” Artinya bila seseorang berpuasa tidak makan minum tapi tetap melakukan amal buruk seperti berbohong, menyebarkan fitnah, menyakiti orang lain, dan lain-lain, maka Allah tidak peduli kepada puasanya. Sia-sia saja ibadah puasanya.

    Semoga kita semua bisa berpuasa dengan benar, melakukannya dengan kesadaran kehadiran Allah.

     
  • erva kurniawan 3:19 pm on 24 February 2017 Permalink | Balas  

    Kecerdikan pendamping Amanah 

    cerdikKecerdikan pendamping Amanah

    Tak cukup hanya berbekal Amanah saja, namun diperlukan pula Kecerdikan. Kecerdikan -salah satu keniscayaan penting yang diperlukan- ketika kebohongan sudah menjadi mewabah dan mentradisi, ketika kebenaran seringkali dikaburkan sehingga tak bisa dilihat secara kasat mata. Kala kebenaran prinsip ideologi Islam harus membentur tembok ideologi-ideologi sekuler yang membungkus dirinya seolah berdasarkan realita –bagaikan srigala berbulu domba- kebenaran kadang tak cukup hanya dijelaskan dengan ungkapan halal-haram saja. Saat dakwah merambah parlemen –dimana lidah para penjahat terlalu mudah berkata bohong menyembunyikan kebenaran- ketelitian dan kecerdikan amat dibutuhkan, maka dalam hal-hal tertentu kebenaran kadang harus dipaparkan dengan logika dan bahasa yang mudah difahami oleh awam. Begitu juga saat para penegak keadilan harus memutuskan perkara -dimana merajalela siasat berkelit mengingkari kesalahan yang disertai sumpah palsu ditambah bukti tak pula mencukupi- maka amat dibutuhkan ketelitian dan kecerdikan untuk mengungkapkan kebenaran untuk memutuskan perkara dan hukuman dengan benar serta adil.

    **

    Alkisah, suatu ketika seorang Hakim didatangi dua orang laki-laki, salah satu diantaranya sebagai pendakwa sedangkan yang satunya lagi sebagai yang didakwa. Si laki-laki pendakwa mengatakan bahwa ia telah menitipkan sejumlah uang kepada laki-laki yang didakwa. Ketika dia meminta kembali titipannya itu, laki-laki itu tidak mau mengakui bahwa ia menerima titipan uang.

    Laki-laki yang didakwa telah mengingkari titipan uang tersebut membela diri dengan berkata : “Kalau memang ia mempunyai bukti, silahkan tunjukkan. Jika tidak, berarti aku tinggal bersumpah bahwa aku tak pernah menerima titipan itu”.

    Sejenak hakim itu termenung. Ia khawatir kalau ucapan laki-laki itu tidak benar, berarti ia membiarkannya memakan uang haram dengan sumpah palsu. Tapi sulitnya, sang pendakwa tak memiliki bukti bahwa ia pernah menitipkan hartanya pada laki-laki tersebut.

    “Dimana anda menitipkan uang itu kepadanya?”, tanya Hakim.

    “Di tempat anu”, kata laki-laki pendakwa itu menyebutkan suatu tempat.

    “Benda apa yang paling dekat dengan tempat itu?”, Tanya Hakim lagi.

    “Sebuah pohon besar yang rimbung lagi rindang. Dulu kami berdua memang suka berteduh dibawah naungan pohon yang rindang itu. Waktu itu kami sedang duduk-duduk dibawah pohon yang besar itu, ketika kami ingin pulang, aku menyerahkan uang titipan itu kepadanya”, papar laki-laki pendakwa itu.

    “Kalau begitu, pergilah kembali ke tempat pohon besar itu. Barangkali ketika tiba disana engkau akan teringat dimana kamu menaruh uang itu. Kemudian temui aku lagi untuk menyampaikan apa yang kamu lihat”, kata Hakim memerintahkan kepada laki-laki yang mendakwa itu. Kemudian, Orang yang mendakwa tersebut pergi menuju tempat pohon besar yang dimaksudkannya itu.

    Sedangkan kepada orang yang didakwa, Hakim memerintahkannya untuk menunggu di dekat hakim itu, “Duduklah menunggu disini saja, sampai temanmu yang mendakwamu itu datang kembali kesini”.

    Sembari menunggu datangnya kembali si pendakwa, Hakim mengadili perkara-perkara lain, sambil sesekali melirik diam-diam kearah laki-laki yang didakwa itu.

    Ketika kondisi persidangan perkara-perkara lain mulai tenang, secara tiba-tiba Hakim menoleh kepada laki-laki yang didakwa itu sembari bertanya, “Menurut perkiraanmu, apakah temanmu yang mendakwamu tadi telah sampai ke tempat pohon besar dimana dia menyerahkan uang itu kepadamu?”.

    Tanpa berfikir panjang, laki-laki yang didakwa itu menjawab, “Belum, tempat itu cukup jauh dari sini”.

    Kini Hakim pun tahu kebenaran dari perkara ini, ia kemudian berkata, “Wahai musuh Allah, engkau mengingkari telah menerima titipan uang itu padahal engkau tahu dimana tempatnya?, demi Allah, sungguh engkau seorang pengkhianat”.

    Laki-laki itu menjadi terkejut, bungkam multnya, sejurus kemudian ia pun mengakui perbuatannya. Hakim pun selanjutnya menahannya sampai laki-laki pendakwa itu datang kembali dan menyuruh laki-laki yang didakwa itu mengembalikan sejumlah uang yang pernah dititipkan kepadanya.

    Kecerdikan, itulah kuncinya. Meski tanpa bukti yang cukup, Hakim itu berhasil memutuskan perkara dengan adil dan bisa membuktikan siapa yang salah dan siapa yang benar.

    **

    Pada kisah lain, seorang pejabat datang kepada seorang alim yang terkenal cerdik pandai, lalu pejabat tadi berkata, “Wahai alim yang cerdik pandai, apa pendapatmu tentang minuman keras?”.

    “Haram!”, jawab alim tadi dengan tegas.

    Pejabat tadi berkata lagi, “Apa alasan keharamannya, padahal ia hanyalah berupa buah-buahan dan air yang dimasak di atas api, bukankah semua bahannya itu halal?”.

    Orang alim tadi menjawab dengan balik bertanya, “Seandainya aku mengambil segayung air lalu aku siramkan ke tubuhmu, apakah engkau akan merasa sakit?”.

    “Tidak”, jawab pejabat itu.

    “Seandainya aku mengambil segenggam pasir kemudian aku lemparkan ke tubuhmu, apakah engkau akan merasa sakit?”, tanya orang alim itu.

    “Tidak”, jawab pejabat itu.

    “Seandainya aku mengambil segenggam lumpur lalu aku lempar lemparkan ke tubuhmu, apakah engkau akan merasa sakit?”, tanya orang alim itu.

    “Tidak”, jawab pejabat itu.

    Selanjutnya alim tadi melanjutkan berkata, “Seandainya aku mengambil pasir, lalu dicampur dengan lumpur, kemudian aku aduk dengan air, kemudian kujemur hingga kering, selanjutnya kulemparkan ketubuhmu, apakah engkau akan merasa sakit?”.

    “Kalau itu, ya!, tentu saja aku akan merasakan sakit, bahkan jika besar ukurannya aku pun bisa jadi dapat terbunuh karena lemparan itu”, jawab pejabat itu.

    “Begitulah khamar, ketika bahan-bahan halal itu disatukan dan diragikan, maka hukumnya menjadi haram”, kata orang alim tadi.

    **

    Kecerdikan seperti kisah-kisah itu sangat penting, apalagi bagi Hakim yang harus mengetahui kebenaran sebelum memutuskan perkara. Permasalahan kadang tak bisa dilihat dari kasat mata. Ia membutuhkan ketelitian dan kecerdikan.

    Kecerdikan ini semakin dibutuhkan saat kebohongan sudah menjadi tradisi. Saat lidah para penjahat terlalu mudah berkata-kata, ketika itulah kemampuan para pemutus perkara amat dibutuhkan.

    Bagi dakwah, kecerdikan ini tak kalah pentingnya. Era keterbukaan yang membuat medan dakwah harus merambah beragam kalangan, mengharuskan para dai bertindak cerdik.

    Apalagi saat dakwah mulai merambah panggung parlemen. Ketika ideology harus berhadapan dengan realita, kala prinsip harus dipegang teguh saat membentur ideology-ideologi sekuler, ketika itulah kecerdikan amat dibutuhkan.

    Kebenaran kadang tak cukup dijelaskan dengan ungkapan “hala dan haram” saja. Dalam hal-hal tertentu ia harus dipaparkan dengan logika umum.

    Cukup menarik menyimak jawaban Hidayat Nurwahid ketika diminta untuk mencukur jenggotnya dengan alasan bahwa orang Amerika tak suka dengan orang-orang berjenggot.

    “Beberapa waktu yang lalu, saya pernah bertemu dengan Paul Wolfowitz, mantan Duta Besar Amerika untuk Indonesia (sekarang Deputi Menteri Pertahanan AS). Dia mempunyai jenggot yang lebih lebat dari saya”, jawab Hidayat Nurwahid.

    Sang ketua MPR telah memberikan jawaban memuaskan, tanpa harus menjelaskan bahwa memelihara jenggot itu adalah sunnah, yang mungkin akan membuat si penanya jengkel.

    Ia hanya menjelaskan bahwa orang di jajaran penting Departemen Pertahanan AS pun berjenggot. Lalu mengapa kita kok harus mencukur jenggot untuk bertemu dengannya?.

    ***

    Disadur dari : Bertindak Cerdik. Hepi Andi. Sabili, No.17 TH.XII.

     
    • Sonya Cahayu 5:55 pm on 21 Mei 2017 Permalink

      Izin Share ya min :)
      Sudah Mau Bulan Ramadhan :)
      Minta maaf sebelumnya ya teman teman :)
      sebagai umat manusia ayo kita saling membantu untuk anda yang sedang mencari rezeki untuk kebutuhan hidup.
      PINBBM-7-B-3-1-3-0-B-F
      3o3

  • erva kurniawan 1:54 am on 18 February 2017 Permalink | Balas  

    ASAL USUL NAMA SURAH DALAM AL-QUR’AN 

    quran_tasbih_01Asal Usul Nama Surah Dalam Al-Qur’an

    Bismillah, Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…

    Para ulama berbeda pendapat tentang tertib surah-surah Qur’an. Sebagian mengatakan bahwa urutan itu berdasarkan wahyu semata (tauqifi), sebagian lagi mengatakan ijma’ atau ijtihad para shahabat (taufiqi). Dan pendapat ketiga merupakan perpaduan antara kedua pendapat sebelumnya.

    Sedangkan masalah juz-juznya memang ditetapkan kemudian, termasuk masalah ada huruf ‘ainnya. Semua itu ditulis setelah Islam mulai melebarkan sayap ke negeri-negeri yang tidak mengerti bahasa Arab, sehingga dibutuhkan teknik penulisan arab (Al-Qur’an) yang lebih dari apa yang ada sebelumnya.

    Sedangkan tentang perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang apakah urutan surat itu berdasarkan wahyu atau bukan, silahkan simak rincian berikut ini:

    1. Pendapat yang Mengatakan bahwa Urutan Surat Berdasarkan Ketetapan Rasulullah SAW

    Dikatakan bahwa tertib surah itu tauqifi dan ditangani langsung oleh Nabi SAW sebagaimana diberitahukan Jibril kepadanya atas perintah Tuhan. Dengan demikian, Al-Qur’an pada masa Nabi SAW telah tersusun surah-surahnya secara tertib sebagaimana tertib ayat-ayatnya. Seperti yang ada di tangan kita sekarang ini. Yaitu tertib mushaf Usman yang tak ada seorang sahabat pun menentangnya. Ini menunjukkan telah terjadi kesepakatan (ijma’) atas tertib surah, tanpa suatu perselisihan apa pun.

    Yang mendukung pendapat ini ialah, bahwa Rasulullah telah membaca beberapa surah secara tertib di dalam salatnya. Ibn Abi Syaibah meriwayatkan bahwa Nabi pernah membaca beberapa surah aufassal (surah-surah pendek) dalam satu rakaat.

    Bukhari meriwayatkan dari Ibn Mas’ud, bahwa ia mengatakan tentang surah Bani Isra’il, Kahfi, Maryam, Taha dan Anbiya’, “Surah-surah itu termasuk yang diturunkan di Mekkah dan yang pertama-tama aku pelajari.” Kemudian ia menyebutkan surah-surah itu secara berurutan sebagaimana tertib susunan seperti sekarang ini.

    Telah diriwayatkan melalui Ibn wahhab, dari Sulaiman bin Bilal, ia berkata, “Aku mendengar Rabbi’ah ditanya orang, ‘ Mengapa surah Al-Baqarah dan Ali Imran didahulukan, padahal sebelum kedua surah itu telah diturunkan delapan puluh sekian surah makki, sedang keduanya di turunkan di Madinah?’. Dia menjawab, ‘Kedua surah itu memang didahulukan dan Al-Qur’an dikumpulkan menurut pengetahuan dari orang yang mengumpulkannya.’ Kemudian katanya, ‘Ini adalah sesatu yang mesti terjadi dan tidak perlu dipertanyakan.”

    Ibn Hisyar mengatakan, ‘”Tertib surah dan letak ayat-ayat pada tempat-tampatnya itu berdasarkan wahyu. Rasulullah mengatakan, “Letakkanlah ayat ini ditempat ini.” Hal tersebut telah diperkuat oleh nukilan atau riwayat yang mutawatir dengan tertib seperti ini, dari bacaan Rasulullah dan ijma’ para sahabat untuk meletakkan atau menyusunnya seperti ini didalam mushaf.”

    1. Pendapat yang Mengatakab bahwa Urutan Surat Berdasarkan Ijma’ Shahabat

    Dikatakan bahwa tertib surah itu berdasarkan ijtihad para sahabat. Dasar dari pendapat itu adalah kenyataan bahwa para shahabat punya koleksi mushaf yang awalnya berbeda-beda urutan.

    Misalnya mushaf Ali disusun menurut tertib nuzul, yakni dimulai dengan Iqra’, kemudian Muddassir, lalu Nun, Qalam, kemudian Muzammil, dan seterusnya hingga akhir surah makki dan madani. Dalam mushaf Ibn Masu’d yang pertama ditulis adalah surah Al-Baqarah, Nisa’ dan Ali-‘Imran. Dalam mushaf Ubai yang pertama ditulis ialah Fatihah, Baqarah, Niasa’ dan Ali-Imran.

    Diriwayatkan Ibn Abbas berkata, “Aku bertanya kepada Usman, “Apakah yang mendorongmu mengambil Anfal yang termasuk kategori masani dan Al-Bar’ah yang termasuk Mi’in untuk kamu gabungkan keduanya menjadi satu tanpa kamu tuliskan di antara keduanya Bismillahirrahmanirrahim, dan kamu pun meletakkannnya pada as-Sab’ut Tiwal (tujuh surah panjang)? Usman menjawab, ‘Telah turun kepada Rasulullah surah-surah yang mempunyai bilangan ayat. Apabila ada ayat turun kepadanya, ia panggil beberapa orang penulis wahyu dan mengatakan, ‘ Letakkanlah ayat ini pada surah yang di dalamnya terdapat ayat anu dan anu.” “Surah Anfal termasuk surah pertama yang turun di madinah. Sedang surah Bara’ah termasuk yang terakhir diturunkan. Surah Anfal serupa dengan surah yang turun dalam surah Bara’ah, sehingga aku mengira bahwa surah adalah bagian dari surah Anfal. Dan sampai wafatnya Rasulullah tidak menjelaskan kepada kami bahwa surah Bara’ah adalah sebagian dari surah Anfal. Oleh karena itu, kedua surah tersebut aku gabungkan dan diantara keduanya tidak aku tuliskan Bismillahirrahmanirrahim serta aku meletakkannya pula pada as-Sab’ut Tiwal.”

    1. Pendapat yang Memadukan bahwa Sebagian Ayat Ditetapkan dan Sebagian lagi Ijtihad

    Pendapat lain adalah perpaduan antara keduanya. Mereka mengatakan bahwa sebagian surah itu tertibnya tauqifi dan sebagian lainnya berdasarkan ijtihad para sahabat, hal ini karena terdapat dalil yang menunjukkan tertib sebagian surah pada masa Nabi. Misalnya keterangan yang menunjukkan tertib as-‘abut Tiwal, al hawamin dan al mufassal pada masa hidup Rasulullah.

    Diriwayatkan, “Bahwa Rasulullah berkata: bacalah olehmu dua surah yang bercahaya, baqarah dan ali Imran”. Diriwayatkan pula, bahwa jika hendak pergi ketempat tidur, Rasululah mengumpulkan kedua telapak tangannya kemudian meniupnya lalu membaca Qul huwallahu ahad dan mu’awwizatain.”

    Ibn Hajar mengatakan, “Tertib sebagain surah-surah atau sebagian besarnya itu tidak dapat ditolak sebagai bersifat Tauqifi.” Untuk mendukung pendapatnya ia kemukakan hadis Huzaifah as-Saqafi yang didalamnya antara lain termuat: Rasulullah berkata kepada kami, “Telah datang kepadaku waktu untuk membaca hizb (bagian) dari Qur’an, maka aku tidak ingin keluar sebelum selesai.’ Lalu kami tanyakan kepada sahabat-sahabat Rasulullah, “Bagaimana kalian membuat pembagian Qur’an? Mereka menjawab, “Kami membaginya menjadi tiga surah, lima surah, tujuh surah, sembilan, sebelas, tiga belas surah dan bagian al Mufassal dari Qaf sampai kami khatam.”

    Kata Ibn Hajaar, ” Ini menunjukkan bahwa tertib surah-surah seperti terdapat dalam mushaf sekarang adalah tertib surah pada masa Rasulullah.” Dan katanya, “Namun mungkin juga bahwa yang telah tertib pada waktu itu hanyalah bagian mufassal, bukan yang lain.”

    Apabila membicarakan ketiga pendapat ini, jelaslah bagi kita bahwa pendapat kedua, yang menyatakan tertib surah-surah itu berdasarkan ijtihad para sahabat, tidak bersandar dan berdasar pada suatu dalil. Sebab, ijtihad sebagian sahabat mengenai terib mushaf mereka yang khusus, merupakan ihtiyar mereka sebelum Qur’an dikumpulkan secara terib. Ketika pada masa Usman Qur’an dikumpulkan , ditertibkan ayat-ayat dan surah-surahnya pada suatu huruf (logat) dan umatpun menyepakatinya, maka mushaf-mushaf yang ada pada mereka ditinggalkan. Seandainya tertib itu merupakan hasil ijtihad, tentu mereka tetap berpegang pada mushafnya masing-masing.

    Mengenai hadis tentang surah al-Anfal dan Taubah yang diriwayatkan dari Ibn Abbas di atas, isnadnya dalam setiap riwayat berkisar pada Yazid al Farsi yang oleh Bukhari dikategorikan dalam kelompok du’afa’. Di samping itu dalam hadis inipun tedapat kerancuan mengenai penempatan basmalah pada permulaan surah, yang mengesankan seakan-akan Usman menetapkannya menurut pendapatnya sendiri dan meniadakannya juga menurut pendapatnya sendiri. Oleh karena itu dalam komentarnya terdapat hadis tersebut dalam musnad Imam Ahmad. Syaikh Ahmad Syakir, menyebutkan, “Hadis itu tak ada asal mulanya” paling jauh hadis itu hanya menunjukan ketidaktertiban kedua surah tersebut.

    Sementara itu, pendapat ketiga yang menyatakan sebagian surah itu tertibnya tauqifi dan sebagian lainnya bersifat ijtihadi, dalil-dalilnya hanya berpusat pada nas-nas yang menunjukkan tertib tauqifi. Adapun bagian yang ijtihadi tidak bersandar pada dalil yang menunjukkan tertib ijtihadi. Sebab, ketetapan yang tauqifi dengan dalil-dalilnya tidak berarti bahwa selain itu adalah hasil ijtihad. Disamping itu pula yang bersifat demikian hanya sedikit sekali.

    Dengan demikian bahwa tertib surah itu bersifat tauqifi seperti halnya tertib ayat-ayat. Abu Bakar Ibnul Anbari menyebutkan, “Alah telah menurunkan Qur’an seluruhnya ke langit dunia. Kemudian ia menurunkannya secara berangsur-angsur selama dua puluh sekian tahun. Sebuah surah turun karena suatu urusan yang terjadi dan ayatpun turun sebagai jawaban bagi orang yang bertanya, sedangkan Jibril senantiasa memberitahukan kepada Nabi di mana surah dan ayat tersebut harus ditempatkan. Dengan demikian susunan surah-surah, seperti halnya susunan ayat-ayat dan logat-logat Al-Qur’an, seluruhnya berasal dari Nabi. Oleh karena itu, barang siapa mendahulukan sesuatu surah atau mengakhirinya, ia telah merusak tatanan Al-Qur’an.”

    Al-Kirmani dalam al-Burhan mengatakan, “Tertib surah seperti kita kenal sekarang ini adalah menurut Allah pada lauh mahfuz, Qur’an sudah menurut tertib ini. Dan menurut tertib ini pula Nabi membacakan di hadapan Jibril setiap tahun apa yang dikumpulkannya dari Jibril itu. Nabi membacakan dihadapan Jibril menurut tertib ini pada tahun kewafatannya sebanyak dua kali.

    Dan ayat yang terakhir kali turun ialah, “Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah.” (Al-Baqarah: 28). Lalu jibril memerintahkan kepadanya untuk meletakkan ayat ini diantara ayat riba dan ayat tentang utang piutang.

    As-Suyuti cenderung pada pendapat Baihaqi yang mengatakan, “Al-Qur’an pada masa Nabi surah dan ayat-ayatnya telah tersusun menurut tertib ini kecuali anfal dan bara’ah, karena hadis Usman.”

    Wallahu A’lam Bish-shawab

    Ulasan Ustad Ahmad Sarwat, Lc

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 17 February 2017 Permalink | Balas  

    Adab Membaca Al Qur’an 

    Reciting-QuranAdab Membaca Al Qur’an

    Bismillah, Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…

    Adab atau sopan santun dalam membaca Al-Qur’an sbb :

    1. Membersihkan mulut dengan bersiwak sebelum membaca Al Qur’an.
    2. Membaca Al Qur’an di tempat yang bersih seperti masjid, dsb.
    3. Menghadap kiblat.
    4. Membaca ta’awudz (A’udzu billahi minas-syaithonirrajiim) ketika mulai membaca Al Qur’an.

    Firman Allah Ta’ala: “Apabila engkau membaca Al Qur’an maka mohonlah perlindungan Allah dari godaan setan yang terkutuk”

    1. Membaca basmalah (Bismillahirrahmaanirrahiim) di permulaan tiap surat kecuali surat At Taubah.
    2. Khusyu’ dan teliti pada setiap ayat yang dibaca.

    Firman Allah Ta’ala: “Apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci” ( Surat Muhammad: ayat 24 )

    Firman Allah Ta’ala: “Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan keberkahan supaya mereka memerhatikan ayat-ayatnya ….” ( Surat Shaad: ayat 29 )

    1. Memperindah, melagukan dan memerdukan suara dalam membaca Al Qur’an.

    Firman Allah Ta’ala: “…..dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan” ( Surat Al Muzzammil: ayat 4 )

    Dari Abu Hurairah ra. berkata; Rasulullah saw. bersabda,”Bukan dari golongan kita orang-orang yang tidak memperindah suaranya ketika membaca Al Qur’an.” ( Riwayat Bukhari )

    Dari Abu Hurairah ra. juga, bahawa beliau berkata; Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Allah tidak mengizinkan sesuatu seperti yang Dia izinkan kepada seorang nabi yang bagus suaranya, di mana beliau melagukan Al Qur’an dengan keras.” ( Riwayat Bukhari & Muslim )

    1. Pelan dan tidak tergesa-gesa dalam membaca Al Qur’an.

    Dari Abi Wail dari Abdullah berkata: Pada waktu pagi kami pergi kepada Abdullah, dia berkata; Seseorang telah berkata: “Aku telah membaca satu mufasshal (seperempat Al Qur’an) tadi malam”, Abdullah berkata: “Secepat itukah seperti orang membaca syair?, sesungguhnya aku mendengar bacaan dan aku menghafal beberapa pasang ayat yang dibaca Rasulullah saw. yaitu sebanyak delapan belas dari mufasshal dan ada dua dari Alif Laam Haa Miim.” ( Riwayat Bukhari )

    1. Memperhatikan bacaan (yang panjang dipanjangkan dan yang pendek dipendekkan).

    Dari Qatadah ra. berkata; Aku bertanya kepada Anas bin Malik ra. tentang bacaan Rasulullah saw. Anas menjawab: Beliau memanjangkan yang panjang (Mad).” Pada riwayat lain: Anas membaca ‘Bismillaahirrahmaanirrahiim’ dia memanjangkan ‘Bismillaah’, dan memanjangkan ‘ar-rahmaan’ dan memanjangkan ‘ar-rahiim’ Dari Ummu Salamah ra. bahwa dia menggambarkan bacaan Rasulullah saw. seperti membaca sambil menafsirkan; satu huruf, satu huruf. (Riwayat Abu Daud, Tirmizi, Nasai’e. Tirmizi berkata: hadits ini hasan  sahih)

    1. Berhenti untuk berdoa ketika membaca ayat rahmat dan ayat azab.

    Dari Huzaifah ra. ia berkata; Pada suatu malam aku shalat bersama Nabi Muhammad saw., beliau membaca surat Al Baqarah kemudian An Nisaa’ kemudian Ali ‘Imran. Beliau membaca perlahan-lahan, apabila sampai pada ayat tasbih beliau bertasbih, dan apabila sampai pada ayat permohonan beliau memohon, dan apabila sampai pada ayat ta’awudz (mohon perlindungan) beliau mohon perlindungan. ( Riwayat Muslim )

    1. Menangis, sedih dan terharu ketika membaca Al Qur’an.

    Allah berfirman: “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan  kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan kenabian Muhammad saw.)” ( surah Al Maidah – ayat 83 )

    Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah, “Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur sambil bersujud”,

    dan mereka berkata: “Maha suci Tuhan kami;sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi”

    Dan mereka menyungkur sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk

    ( Surat Al Israa’: ayat 107 – 109 )

    1. Sujud tilawah, bila bertemu ayat sajdah.

    Disahkan dari Umar ra. bahawa ia membaca surat An Nahl di atas mimbar pada hari Jum’at sampai ketika membaca ayat sujud beliau turun dan sujud, begitu juga orang-orang yang lain ikut sujud bersama beliau. Dan ketika datang Jum’at berikutnya ia membaca surat tersebut dan ketika sampai pada ayat sujud ia berkata, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kita melalui ayat sujud barangsiapa yang sujud, maka ia telah mendapat pahala, dan barangsiapa yang tidak sujud, maka tiada dosa baginya.” dan Umar ra. tidak sujud. ( Riwayat Bukhari )

    1. Suara tidak terlalu keras dan tidak terlalu pelan.

    Allah berfirman: “….dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam  shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara keduanya” ( surah Al Isra’ – ayat 110 )

    Dari ‘Uqbah bin Amir ra. berakata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang membaca Al Qur’an dengan suara keras seperti orang yang bersedekah secara terang-terangan dan orang yang membaca Al Qur’an secara perlahan seperti orang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi. ( Riawayat Abu Daud dan Tirmizi dan An Nasa’i ) ( Tirmizi berkata: Hadis ini hasan )

    1. Menghindari tawa, canda dan bicara saat membaca.

    Allah berfirman: “Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” ( Surah Al A’raaf – ayat 204 )

    1. Apabila Al Qur’an sudah dibacakan dengan bacaan (qiraat) tertentu, maka etisnya supaya megikuti bacaan tersebut selama masih dalam satu majlis.
    2. Memperbanyak membaca Al Qur’an dan mengkhatamkannya (menamatkannya)

    Dari Abdullah bin ‘Amr berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Bacalah  Al Qur’an dalam waktu satu bulan”, Aku menjawab, “Saya mampu,” Rasulullah saw. bersabda, “Bacalah ia dalam waktu sepuluh hari”, Aku menjawab, “Saya mampu.” Rasulullah saw. bersabda lagi, “Bacalah ia dalam waktu tujuh hari dan jangan lebih dari itu.” ( Riwayat Bukhari dan Muslim )

     
  • erva kurniawan 1:49 am on 16 February 2017 Permalink | Balas  

    Keutamaan Beberapa Surat Dan Ayat Al Qur’an 

    Keutamaan Beberapa Surat dan Ayat Al Qur’an

    Bismillah, Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…

    1. Surat Al Faatihah.

    Dari Abi Said Rafi’ bin Al Mu’alla ra. berkata: Rasulullah saw. berkata kepadaku, “Mahukah aku ajarkan kepadamu surat yang paling agung dalam Al Qur’an, sebelum kamu keluar dari masjid?” Lalu beliau memegang tanganku, dan ketika kami hendak keluar aku bertanya, “Ya Rasulullah, engkau berkata bahwa engkau akan mengajarkanku surat yang palin agung dalam Al Qur’an?” beliau menjawab, “Alhamdulillahirabbil’alamiin (Al Faatihah), ia adalah tujuh ayat yang dibaca pada setiap shalat, ia adalah Al Qur’an yang agung yang diberikan kepadaku.” (Diriwayatkan oleh Bukhari)

    1. Surat Al Faatihah dan beberapa ayat terakhir surat Al Baqarah.

    Dari Ibnu Abbas ra. berkata: Ketika Jibril a.s. sedang duduk di sisi Nabi saw. baginda mendengar suara dari atas, lalu beliau mendongakkan kepala dan bersabda, “Ini adalah pintu langit yang dibuka pada hari ini dan yang dibuka pada hari ini dan tidak pernah dibuka kecuali hari ini.” Lalu turun malaikat dari pintu tersebut, kemudian beliau bersabda, “Ini adalah malaikat yang turun ke bumi dan dia tidak pernah turun kecuali hari ini.” Lalu dia (malaikat) memberi salam seraya berkata, “Aku membawa berita gembira dengan dua cahaya yang diturunkan kepada engkau dan tidak pernah diberikan kepada nabi sebelummu, yaitu: Surat Al Faatihah dan beberapa ayat terakhir Surat Al Baqarah, tidaklah kamu membaca satu huruf daripadanya kecuali kamu medapat karunia.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

    1. Surat Al Baqarah.

    Dari Abi Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kau jadikan rumah-rumahmu seperti kuburan, sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang di dalamnya dibaca surat Al Baqarah.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

    1. Ayat Kursi.

    Dari Ubai bin Ka’ab ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Wahai Abu Munzir, tahukah engkau ayat manakah dalam  Al Qur’an yang paling agung menurutmu?” Aku menjawab,  “Allahu laailaaha illa huwalhayyul qoyyuum (ayat kursi)”, Lalu beliau menepuk dadaku dan bersabda, “Semoga Allah memudahkan ilmu bagimu wahai Abu Munzir.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

    1. Dua ayat terakhir surat Al Baqarah.

    Dari Abi Mas’ud Al Badri ra. dari Rasulullah saw. beliau bersabda, “Barangsiapa membaca dua ayat terakhir surat Al Baqarah pada waktu malam niscaya ia akan mencukupinya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

    1. Al Baqarah dan Ali ‘Imran.

    Dari Abi Umamah Al Bahili berkata: Aku mendengar Rasulullah saw.  bersabda, “Bacalah Al Qur’an karena di hari kiamat kelak ia akan memberikan syafaat bagi pembacanya, bacalah zahrawaen, yaitu: surat Al Baqarah dan surat Ali ‘Imran. Sesungguhnya pada hari kiamat nanti keduanya akan datang bagaikan dua awan atau dua kawanan burung yang berbaris yang siap membantu orang-orang yang pernah membacanya. Dan bacalah surah Al Baqarah kerana membacanya adalah suatu barakah dan meninggalkannya adalah suatu kerugian. Dan tukang sihir tak akan sanggup menghasilkannya.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

    1. Sepuluh ayat dari surat Al Kahfi.

    Dari Abi Darda’ ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al Kahfi, maka akan terjaga dari dajal.”  Dalam riwayat yang lain: “…sepuluh ayat terakhir…”  (Diriwayatkan oleh Muslim)

    1. Membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at.

    Dari Abi Said Al Khudri ra. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at akan diterangi cahaya antara dua Jum’at.” (Diriwayatkan oleh Hakim dan Baihaqi, Hadis di atas sahih)

    1. Surat Tabaarak (Al Mulk).

    Dari Ibnu Mas’ud ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Surat Tabarak (Al Mulk) adalah penjaga dari azab kubur.” (Diriwayatkan oleh Hakim dan Abu Na’im, Hadis di atas sahih)

    1. Surat At-Takwiir, Al Infithaar dan Al Insyiqaaq.

    Dari Ibnu Umar ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang suka untuk melihat aku di hari kiamat dengan sebenar-benar penglihatan, maka bacalah surat At-Takwiir, Al Infithaar dan Al insyiqaq.”  (Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmizi dan Hakim)

    1. Surat Al Ikhlash.

    Dari Abi Said Al Khudri ra. bahawa Rasulullah saw. bersabda tentang Qul Huwallahu ahad; “Demi Allah –Yang diriku berada di dalam genggaman-Nya–, sesungguhnya ia (Al Ikhlash) menyamai sepertiga Al Qur’an.” Pada riwayat lain Rasulullah saw. bersabda kepada para sahabatnya, “Adakah di antara kamu yang tidak sanggup membaca sepertiga Al Qur’an dalam satu malam?” Hal ini memang berat bagi mereka, lalu mereka bertanya, “Siapakah di antara kami yang mampu ya… Rasulullah?” Beliau bersabda, “Qul Huwallahu ahad Allahush-Shamad, adalah sepertiga Al Qur’an.” (Diriwayatkan oleh Bukhari)

    1. Membaca sepuluh kali surat Al Ikhlash.

    Dari Mu’az bin Anas ra. Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa membaca Qul huwallahu ahad sebanyak sepuluh kali niscaya Allah akan membangun rumah baginya di surga.” (Diriwayatkan oleh Ahmad)

    1. Surat Al Falaq dan An-Naas.

    Dari ‘Uqbah bin ‘Amir ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, Adakah kau lihat ayat-ayat yang diturunkan pada malam ini dan selainnya tidak dapat dilihat sepertinya?, dialah: Qul a’udzu birabbil falaq’ dan ‘Qul a’udzu birabbin-naas.”  (Diriwayatkan oleh Muslim)

    1. Surat Al Ikhlash, Al Falaq dan An-Naas.

    Dari Aisyah ra. bahwa Rasulullah saw. apabila akan berangkat tidur tiap-tiap malam beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya kemudian meniupkannya seraya membaca surat Al Ikhlash, Al Falaq dan An-Naas. Kemudian beliau mengusapkannya ke seluruh tubuhnya (sebatas yang bisa) dimulai dari kepala lalu muka kemudian bagian depan dari badan. Beliau melakukannya sebanyak tiga kali. (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

    1. Membaca surat Al Ikhlash, Al Falaq dan An-Naas ketika sakit.

    Abdullah bin Yusuf bercerita kepada kami, Malik bercerita kepada kami dari Ibnu Syihab, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah ra.: Bahwa Rasulullah saw. bila merasa sakit beliau membaca sendiri ‘Al Mu’awwizaat'(Al Ikhlash, Al Falaq dan An-Naas) kemudian meniupkannya. Dan apabila rasa sakitnya bertambah aku yang membacanya kemudian aku usapkan ke tangannya mengharap keberkahan darinya. (Diriwayatkan oleh Bukhari)

     

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 15 February 2017 Permalink | Balas  

    Sejarah Penulisan Al Qur’an 

    quran34Sejarah Penulisan Al Qur’an

    Bismillah, Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…

    Pertama: Penulisan Al Qur’an di masa Rasulullah saw.

    Atas perintah Nabi saw., Al Qur’an ditulis oleh penulis-penulis wahyu di atas pelepah kurma, kulit binatang, tulang dan batu. Semuanya ditulis teratur seperti yang Allah wahyukan dan belum terhimpun dalam satu mushaf. Di samping itu ada beberapa sahabat yang menulis sendiri beberapa juz dan surat yang mereka hafal dari Rasulullah saw.

    Kedua: Penulisan Al Qur’an di masa Abu Bakar As Shiddiq.

    Atas anjuran Umar ra., Abu Bakar ra. memerintahkan kepada Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan ayat-ayat Al Qur’an dari para penulis wahyu menjadi satu mushaf.

    Ketiga: Penulisan Al Qur’an di masa Usman bin ‘Affan.

    Untuk pertama kali Al Qur’an ditulis dalam satu mushaf. Penulisan ini disesuaikan dengan tulisan aslinya yang terdapat pada Hafshah bt. Umar. (hasil usaha pengumpulan di masa Abu Bakar ra.). Dalam penulisan ini sangat diperhatikan sekali perbedaan bacaan (untuk menghindari perselisihan di antara ummat). Usman ra. memberikan tanggung jawab penulisan ini kepada Zaid Bin Tsabit, Abdullah Bin Zubair, Sa’id bin ‘Ash dan Abdur-Rahman bin Al Haris bin Hisyam. Mushaf tersebut ditulis tanpa titik dan baris. Hasil penulisan tersebut satu disimpan Usman ra. dan sisanya disebar ke berbagai penjuru negara Islam.

    Keempat: Pemberian titik dan baris, terdiri dari tiga pase;

    Pertama: Mu’awiyah bin Abi Sofyan menugaskan Abul Asad Ad-dualy untuk meletakkan tanda bacaan (i’rab) pada tiap kalimat dalam bentuk titik untuk menghindari kesalahan dalm membaca.

    Kedua: Abdul Malik bin Marwan menugaskan Al Hajjaj bin Yusuf untuk memberikan titik sebagai pembeda antara satu huruf dengan lainnya (Baa’; dengan satu titik di bawah, Ta; dengan dua titik di atas, Tsa; dengan tiga titik di atas). Pada masa itu Al Hajjaj minta bantuan kepada Nashr bin ‘Ashim dan Hay bin Ya’mar.

    Ketiga: Peletakan baris atau tanda baca (i’rab) seperti: Dhammah, Fathah, Kasrah dan Sukun, mengikuti cara pemberian baris yang telah dilakukan oleh Khalil bin Ahmad Al Farahidy.

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 14 February 2017 Permalink | Balas  

    Keutamaan Alquran Yang Disebut Dalam Al Qur’an 

    quranKeutamaan Alquran Yang Disebut Dalam Al Qur’an

    Bismillah, Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…

    1. Allah befirman: Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat shubuh). Sesungguhnya shalat shubuh itu disaksikan (oleh Malaikat). Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.

    (Surat Al Israa’: ayat 78 – 79)

    1. Allah berfirman: Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.

    (Surat Al Baqarah: ayat 2)

    1. Allah berfirman: (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).

    (Surat Al Baqarah: ayat 185)

    1. Allah berfirman: Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhan-mu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur’an).

    (Surat An Nisaa’: ayat 174)

    1. Allah berfirman: Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah memberi perunjuk orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari kegelapan kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan memberi petunjuk mereka ke jalan yang lurus.

    (Surat Al Maa-idah: ayat 15 – 16)

    1. Allah berfirman: Dan ini (Al Qur’an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberikan peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Qur’an), dan mereka selalu memelihara shalatnya.

    (Surat Al An’aam: ayat 9)

    1. Allah berfirman: Dan Al Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.

    (Surat Al An’aam: ayat 155)

    1. Allah berfirman: Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Qur’an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

    (Surat Al A’raaf: ayat 52)

    1. Allah berfirman: Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al Kitab (Taurat) serta mendirikan shalat, (akan diberi pahala) karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan.

    (Surat Al A’raf: ayat 170)

    1. Allah berfirman: Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.

    (Surat Al A’raaf: ayat 204)

    1. Allah berfirman: Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaan dari Tuhan-mu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah, “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

    (Surat Yunus: ayat 57 – 58)

    1. Allah berfirman: Alif, Laam, Raa. (ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Terpuji.

    (Surat Ibrahim: ayat 1)

    1. Allah berfirman: Dan apabila kamu membaca Al Qur’an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup, dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhan-mu saja dalam Al Qur’an, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya.

    (Surat Al Israa’: ayat 45 – 46)

    1. Allah berfirman: Dan kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim kecuali kerugian.

    (Surat Al Israa’: ayat 82)

    1. Allah berfirman: Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhan-nya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.

    (Surat Az Zumar: ayat 23)

    1. Allah berfirman: Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelummnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.

    (Surat Asy Syuura: ayat 52)

    1. Allah berfirman: Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.

    (Surat Al Hasyr: ayat 21)

    1. Allah berfirman: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan (lailatul-qadr). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.

    (Surat Al Qadr: ayat 1 – 3)

    1. Allah berfirman: (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Qur’an), di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus.

    (Surat Al Bayyinah: ayat 2 – 3)

    1. Allah berfirman: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesunggguhnya Kami benar-benar memeliharanya.

    (Surat Al Hijr: ayat 9)

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 13 February 2017 Permalink | Balas  

    Keutamaan Al Qur’an Yang Disebut Dalam Hadits 

    quran_tasbih_01Keutamaan Al Qur’an Yang Disebut Dalam Hadits

    Bismillah, Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…

    1. Dari Abu Umamah ra. dia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Bacalah Al Qur’an sesungguhnya ia akan datang di hari Kiamat menjadi syafaat (penolong) bagi pembacanya.”  (Riwayat Muslim)
    2. Dari Nawwas bin Sam’an ra. telah berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Di hari Akhirat kelak akan didatangkan Al Qur’an dan orang yang membaca dan mengamalkannya, didahului dengan surat Al Baqarah dan Surah Ali ‘Imran, kedua-duanya menjadi hujjah (pembela) orang yang membaca dan mengamalkannya.” (Riwayat Muslim)
    3. Dari Usman bin ‘Affan ra. telah berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik manusia di antara kamu adalah orang yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.” (Riwayat Bukhari)
    4. Dari Aisyah ra. telah berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang membaca Al Qur’an dengan terbata-bata karena susah, akan mendapat dua pahala.” (Riwayat Bukhari & Muslim)
    5. Dari Abu Musa Al Asy’ari ra. telah berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al Qur’an seperti buah Utrujjah (sejenis limau), baunya harum dan rasanya sedap. Dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an seperti buah kurma, tidak ada baunya tapi rasanya manis. Dan perumpamaan orang munafik yang membaca Al Qur’an seperti Raihanah (jenis tumbuhan), baunya wangi tapi rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al Qur’an seperti buah hanzhal (seperti buah pare), tidak berbau dan rasanya pahit. (Riwayat Bukhari & Muslim)
    6. Dari Umar bin al Khatthab ra. bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah mengangkat (martabat) sebagian orang dan merendahkan sebagian lainnya dengan sebab Al Qur’an.” (Riwayat Muslim)
    7. Dari Ibnu Umar ra. dari Nabi Muhammad saw. telah bersabda, “Tidak boleh iri kecuali pada dua perkara: Laki-laki yang dianugerahi (kefahaman yang sahih tentang) Al Qur’an sedang dia membaca dan mengamalkannya siang dan malam, dan laki-laki yang dianugerahi harta sedang dia menginfakkannya siang dan malam.” (Riwayat Bukhari & Muslim)
    8. Dari Barra’ bin ‘Azib ra. telah berkata: Seorang laki-laki membaca surat Al Kahfi dan di sisinya ada seekor kuda yang diikat dengan dua tali panjang, tiba-tiba ada awan melindunginya dan semakin mendekat dan kudanya menjauhinya. Pagi-paginya laki-laki itu mendatangi Nabi Muhammad saw. dan menceritakan peristiwa tersebut, maka beliau bersabda, “Itu adalah ketenangan yang turun karena Al Qur’an.” (Riwayat Bukhari & Muslim)
    9. Dari Ibnu ‘Abbas ra. beliau berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya orang yang tidak ada dalam dirinya sesuatu pun dari Al Qur’an laksana sebuah rumah yang runtuh.” (Riwayat Tirmizi, beliau berkata: Hadits ini hasan sahih)
    10. Dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash ra. dari Nabi Muhammad saw. beliau bersabda, “Akan dikatakan kepada orang yang membaca Al Qur’an: Baca, tingkatkan dan perindah bacaanmu sebagaimana kamu memperindah urusan di dunia, sesungguhnya kedudukanmu pada akhir ayat yang engkau baca.” (Riwayat Abu Daud dan Tirmizi, beliau berkata: Hadits ini hasan sahih)
    11. Dari ‘Uqbah Bin ‘Amir ra. berkata; Rasulullah saw. keluar dan kami berada di beranda masjid. Beliau bersabda: “Siapakah di antara kalian yang tiap hari ingin pergi ke Buthan atau ‘Aqiq dan kembali dengan membawa dua ekor unta yang gemuk sedang dia tidak melakukan dosa dan tidak memutuskan hubungan silaturahmi?” Kami menjawab, “Kami ingin ya Rasulullah” Lantas beliau bersabda, “Mengapa tidak pergi saja ke masjid; belajar atau membaca dua ayat Al Qur’an akan lebih baik baginya dari dua ekor unta, dan tiga ayat lebih baik dari tiga ekor unta, dan empat ayat lebih baik dari empat ekor unta, demikianlah seterusnya mengikuti hitungan unta.” (Riwayat Muslim)
    12. Dari Ibnu Mas’ud ra. bahawasanya Nabi Muhammad saw. bersabda, “Yang paling layak mengimami kaum dalam shalat adalah mereka yang paling fasih membaca Al Qur’an.” (Riwayat Muslim)
    13. Dari Jabir bin Abdullah ra. bahawasnya; Ketika Nabi Muhammad saw. mengumpulkan dua mayat laki-laki diantara korban perang Uhud kemudian beliau bersabda, “Siapa diantara keduanya yang lebih banyak menghafal Al Qur’an?” dan ketika ditunjuk salah satunya beliau mendahulukannya untuk dimasukkan kedalam liang lahad. (Riwayat Bukhari, Tirmizi, Nasa’i & Ibnu Majah)
    14. Dari Imran bin Hushoin bahawa beliau melewati seseorang yang sedang membaca Al Qur’an kemudian dia berdoa kepada Allah lalu ia kembali membaca, lantas dia berkata aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang membaca Al Qur’an maka berdoalah kepada Allah dengan Al Qur’an karena sesungguhnya akan datang beberapa kaum yang membaca Al Qur’an dan orang-orang berdo’a dengannya.” (Riwayat Tirmizi, beliau berkata : Hadits ini hasan)
    15. Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: Barangsiapa membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan sama dengan sepuluh pahala, aku tidak bermaksud ‘Alif, Laam, Miim’ satu huruf, melainkan Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf. (Riwayat Ad Darami dan Tirmizi, beliau berkata hadits ini hasan sahih)
     
  • erva kurniawan 1:12 am on 12 February 2017 Permalink | Balas  

    Memelihara, Menulis Dan Menyentuh Ayat-Ayat Al-Quran (2/2) 

    quran-tasbihMemelihara, Menulis Dan Menyentuh Ayat-Ayat Al-Quran (2/2)

    Menyentuh Dan Mengangkat Al-Quran

    MENGENAI hukum yang berbangkit di antara orang yang berhadas (yang tidak suci) dengan mushaf telah disebutkan oleh ulama. Mereka menyebutkan bahwa menanggung mushaf ketika berhadas (tidak ada wuduk atau sebab haid) adalah haram berdasarkan firman Allah Subhanahu Wataala yang tafsirnya:

    “Tidak menyentuhnya (Al-Quran) melainkan orang-orang yang suci.” (Surah Al-Waaqiah: 79).

    Mengangkat Al-Quran Untuk Tujuan Belajar

    Selain larangan menyentuh (tanpa berwudhu) , haram juga mengangkat sesuatu yang ditulis padanya hanya ayat-ayat Al-Quran untuk tujuan belajar walaupun yang ditulis itu hanya setengah ayat, kecuali jika tujuannya bukan untuk belajar seperti untuk azimat (tamimah). Ini bermaksud jika diqasadkan sebagai pelajaran adalah haram dan tidak pula menjadi haram jika diqasadkan sebagai mengambil berkat. Jika tidak ada tujuan tertentu, maka yang perlu diperhatikan ialah qarinah atau alamat-alamat tertentu untuk apa tujuan menulisnya (I’anah Al-Thalibin: 1:81)

    Kanak-Kanak Mumayyiz Menyentuh Al-Quran

    Bagi guru dan penjaga, tidak mengapa membiarkan kanak-kanak mumayiz sekalipun berhadas menanggung dan menyentuh mushaf karena keperluan mempelajarinya, seperti membawanya ke sekolah dan membawanya ke tempat guru untuk mempelajarinya. Selain mushaf lengkap, termasuklah papan tulis (buku tulis) yang mengandungi ayat-ayat Al-Quran. Perkara ini dibenarkan karena membebani kanak-kanak itu supaya terus berwuduk adalah suatu perkara yang amat berat bagi mereka dan pada lazimnya masa mempelajari Al-Quran itu memakan masa yang lama.

    Menurut fatwa Ibn Hajar, guru kanak-kanak itu juga dimaafkan terutama bagi mereka yang tidak berupaya terus-menerus dalam keadaan suci (berwuduk) untuk menyentuh papan tulis yang ada padanya ayat Al-Quran, karena berwuduk itu mungkin susah dilakukan. Akan tetapi seeloknya ia bertayamum karena tayamum itu lebih mudah. Walau bagaimanapun bagi guru yang tidak mempunyai masyaqqah (susah) adalah wajib berwuduk ketika menyentuh dan menanggung Al-Quran. (I’anah Al-Thalibin: 1.82-83).

    Hukum Mengangkat Al-Quran Bersama Barang Lain

    Mengangkat mushaf (tanpa berwudhu) bersama barang lain tidak haram sekiranya tujuan sebenarnya bukan menanggung mushaf saja. Menurut kitab Al-Tuhfah, sekiranya maksudnya hanya : (1) menanggung mushaf, atau (2) menanggung mushaf bersama barang, atau (3) menanggungnya secara mutlak, ketiga-tiga cara ini adalah haram. Yang tidak haram itu hanyalah satu cara iaitu jika diqasadkan hanya menanggung barang. Ulama lain pula berpendapat yang dihukumkan itu hanya satu cara iaitu sekiranya diqasadkan menanggung mushaf sahaja, manakala qasad menanggung mushaf bersama barang itu atau menanggung barang itu saja atau menanggungnya secara mutlak, tidak menjadikan haram. (I’anah Al-Thalibin : 1:81).

    Menyentuh Kertas,Kulit Atau Sarung Al-Quran

    Menyentuh lambaran mushaf (tanpa berwudhu) adalah haram sekalipun bagian yang tiada tulisan dan haram menyentuh bungkusan atau sarung mushaf yang khusus disediakan untuk menyimpan mushaf dengan syarat pada ketika itu mushaf ada di dalam bungkusan atau sarung berkenaan.

    Selain sarung Al-Quran, adalah haram menyentuh (tanpa berwudhu) benda lain seperti kantung atau peti yang disediakan khusus untuk menyimpan mushaf semata-mata, dan ketika itu mushaf ada di dalamnya. Akan tetapi jika mushaf berkenaan sudah keluarkan dari sarung atau peti tersebut, maka bolehlah mengangkat dan menyentuhnya.

    Adapun kulit mushaf haram menyentuhnya (tanpa berwudhu) sama ada kulit itu bersambung dengan mushaf ataupun tidak dengan syarat kulitnya itu masih tetap dinisbahkan kepada mushaf. Jika kulit mushaf itu diganti baru, maka kulit lama tetap haram disentuh.

    Jika kertas mushaf itu hilang atau terbakar, yang tinggal hanya kulit, maka kulit itu tidak haram disentuh(tanpa berwudhu) . Begitu juga tidak haram (tanpa berwudhu) membalik kertas mushaf dengan kayu karena cara itu tidak disebutkan sebagai menanggung.

    Al-Quran Dan Tafsirnya

    Menanggung dan menyentuh mushaf bersama tafsirnya (tanpa berwudhu) tidak menjadi haram sekiranya tafsirnya itu lebih banyak. Jika tafsir itu sama banyak, atau tafsirnya sedikit atau diragukan mana yang lebih banyak, maka adalah haram menyentuhnya (tanpa berwudhu) . Ulama juga menggariskan kedudukan antara mushaf dan tafsir dalam mengukur banyak sedikitnya. Ketika menanggungnya yang diambil kira ialah jumlah Al-Quran dan tafsirnya. Manakala dalam perkara menyentuh, yang perlu diperhatikan ialah tempat di mana ia meletakkan tangannya. Jika pada tempat itu tafsirnya lebih banyak, tidak haram menyentuhnya(tanpa berwudhu) , tetapi jika Al-Quran lebih banyak, haram menyentuhnya. (I’anah Al-Thalibin : 1:82).

    Menulis Ayat-Ayat Al-Quran

    Ulama sepakat dalam mengharuskan penulisan Al-Quran dengan jelas, indah dan cantik supaya tidak menyusahkan orang-orang yang membacanya. Hal ini berdasarkan kepada pengumpulan dan penulisan mushaf Al-Quran pada zaman Nabi Muhamad Sallallahu Alaihi wasallam dan zaman khulafa ‘Al-Rasyidin.

    Bagi menghormati dan menjaga kemuliaan Al-Quran menulis ayat-ayat Al-Quran dengan benda-benda najis adalah haram. Begitu juga haram menuliskan huruf-huruf Al-Quran dengan huruf selain huruf Arab. Ibnu Hajar dalam fatwanya ketika ditanya, adakah haram menulis Al-Quran Al-Karim dengan huruf Arab begitu juga membacanya, beliau menjawab : “Berdasarkan apa yang dijelaskan dalam kitab Al-Majmu’ yang diriwayatkan oleh ulama Syafie bahwa perkara sedemikian adalah haram.” (I’anah Al-Thalibin : 1:83).

    Apabila menulis Al-Quran pada papan atau selainnya sama ada banyak atau sedikit, maka berlakulah hukum mushaf iaitu haram bagi orang yang dewasa yang baligh menyentuh dan menanggung papan tersebut (tanpa berwudhu) (berdasarkan pendapat mazhab yang sahih). (Al-Majmu : 2:83)

    Manakala mata wang yang diukir padanya Al-Quran, ulama membahagikannya kepada dua perkara iaitu mata wang yang tidak diperlakukan atau digunakan oleh kebanyakan orang dan di dalamnya tertulis ayat Al-Quran seperti Surah Al-Ikhlas tidak harus menanggungnya, sedangkan mata wang yang digunakan oleh orang ramai adalah diharuskan sebagaimana juga menyentuh dan menanggung cincin yang diukir padanya ayat Al-Quran. (Al-Majmu’ : 2:81)

    Tulisan-tulisan ayat Al-Quran pada kitab-kitab hadis, fiqh, dirham (mata wang), baju, serban atau kayu adalah harus (tidak haram) menanggung dan mengangkatnya. (Al-Majmu’ : 2:81)

    Menulis Ayat Al-Quran Pada Surat, Kad Jemputan Dan Lain-Lain

    Berdasarkan kepada pandangan ulama mengenai penulisan Al-Quran pada dinding, kayu dan mata wang dirham, tidaklah menjadi kesalahan jika ditulis ayat-ayat Al-Quran atau kalimah-kalimah lain yang dihormati oleh Islam pada surat, kad jemputan atau bahan-bahan cetak yang lain. Walaupun demikian jika tulisan-tulisan itu dibuat daripada bahan-bahan najis serta terdedah kepada pencemaran dan penghinaan, maka ia adalah haram.

    Dasar dan dalil hukum harus ini ialah berdasarkan pada surat-surat Nabi Sallallahu alaihi wasallam yang dikirimkan Baginda kepada raja dan pemimpin-pemimpin asing yang mengandungi Basmalah dan petikan ayat Al-Quran seperti ayat 64 Surah Ali ‘Imran. tetapi hukum harus ini hanyalah berlaku jika diyakini tulisan ayat berkenaan tidak terdedah kepada penghinaan dan pencemaran kesucian dan kehormatannya. Jika jelas dan pasti akan terhina dan tercemar, maka tidak harus menulisnya.

    Implikasi Menghina Ayat Al-Quran

    Para ulama telah menyebutkan tentang hukum orang Islam yang menghina dan merendah-rendahkan perkara yang dihormati dalam Islam. Al-Imam Al-Ramli menyebutkan bahwa seseorang itu akan menjadi murtad atau keluar daripada agama Islam apabila dia meletakkan mushaf Al-Quran atau benda-benda yang ditulis dengan nama-nama yang mulia dan dihormati dalam Islam atau benda-benda yang ditulis padanya daripada hadis-hadis Nabi Sallallahu alaihi wasallam pada tempat-tempat kotor dan jijik. (Al-Nihayah : 7:416).

    Al-Imam Al-Rauyani pula menyatakan bahwa antara perkara yang boleh menyebabkan seseorang itu terkeluar daripada agama Islam (murtad) ialah apabila benda-benda yang ditulis padanya ilmu-ilmu syariah atau ilmu Islam diletakkan di tempat yang kotor dan jijik, karena perbuatan-perbuatan sedemikian dengan terang telah menghina dan merendah-rendahkan agama Islam. (Al-Nihayah : 7:416).

    Seterusnya Al-Ramli telah menjelaskan bahwa perbuatan-perbuatan seperti meletak Al-Quran di tempat kotor dan jijik dan menyentuh Al-Quran ketika berhadas adalah menjadi tanda atau qarinah yang menunjukkan kepada menghina Al-Quran dan merendah-rendahkan agama.

    Berdasaran kepada keterangan-keterangan di atas, demi menjaga kesucian agama, kita wajib berwaspada dan bersungguh-sungguh dalam menghormati ayat-ayat Al-Quran yang ditulis pada suratkhabar-suratkhabar, kad-kad jemputan atau seumpamanya. Begitu juga dengan ayat-ayat Al-Quran yang diukir di papan-papan atau umpamanya agar tidak dibuang atau dicampakkan di merata tempat seperti longkang, jalan raya, tong sampah dan tandas. Helai-helai kertas, akhbar, surat-surat dan kad jemputan tersebut janganlah hendaknya dijadikan pembungkus barangan, alas kaki, alas duduk, barang mainan kepada kanak-kanak kecil atau apa-apa juga keperluan yang boleh dikategorikan sebagai menghina ayat Al-Quran.

    Cara Memusnahkan Mushaf Atau Kertas Yang Mengandungi Ayat-Ayat Al-Quran

    Mushaf atau kertas yang mengandungi ayat-ayat Al-Quran tidak boleh dikoyakkan atau dicarik-carik karena cara itu bererti memutus huruf-huruf dan kalimahnya dan mempersia-siakan apa yang termaktub itu.

    Jika mushaf atau tulisan-tulisan ayat Al-Quran itu tidak boleh dibaca atau tidak boleh digunakan lagi, ia boleh dimusnahkan di antara caranya ialah dengan membasuh tulisannya sehingga tidak kelihatan lagi atau membakarnya atau menanamnya.

    Sebagian ulama berpendapat membakarnya adalah lebih utama karena Sayidina Uthman Al-Affan pernah membakar mushaf-mushaf tertentu dan tidak ada sahabat yang membantahnya. Sebagian ulama pula menetapkan ia tidak boleh dibakar karena cara itu tidak menghormati namanya sehingga menghukumkannya sebagai makruh.

    Selain itu ada yang berpendapat bahwa membasuhnya lebih utama. Sebagiannya pula mengatakan mushaf itu tidak dibakar, bahkan ia hendaklah ditanam dalam tanah dan dengan cara ini ia tidak akan terkena pijakan. (Al-Itqan: 4:165).

    Dalam pada itu, setengah ulama mutakhir berpendapat bahwa cara membakar itu adalah cara yang paling ringan dilakukan. Disertakan dengan niat yang baik, maka cara ini dilakukan hanya semata-mata untuk menjaga kesucian dan kemuliaan Al-Quran, bukan merendahkan, apa lagi menghinanya dan tidak mendedahkannya kepada pencemaran dan penghinaan. (Ahsan Al-Kalam: 2:210).

    Disimpulkan bahwa mushaf Al-Quran yang menjadi kitab suci umat Islam adalah wajib dihormati, seperti tidak meletakkan sesuatu di atasnya, menyentuh atau mengangkatnya hanya ketika dalam keadaan berwuduk dan tidak menuliskannya pada kertas, kad, poster atau bahan-bahan cetak yang lain yang terdedah kepada pencemaran kesucian dan kehormatannya itu.

    wallohu a’lam bish-shawab,-

     
    • EKT 11:40 am on 12 Februari 2017 Permalink

      Banyak haramnya ya…

  • erva kurniawan 1:08 am on 11 February 2017 Permalink | Balas  

    Memelihara, Menulis Dan Menyentuh Ayat-Ayat Al-Quran (1/2) 

    quranMemelihara, Menulis Dan Menyentuh Ayat-Ayat Al-Quran (1/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    AL-QURAN adalah semulia kitab dan tidak diragukan bahwa Al-Quran itu adalah Kalamullah, ia mengatasi segala kalam. Mushaf yang dituliskan padanya Kalamullah wajib dihormati, dimuliakan dan tidak merendah-rendahkan dan mendedahkannya kepada penghinaan dan pencemaran.

    Al-Quran diturunkan kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dengan membawa kebenaran dan petunjuk kepada umat manusia sekaligus mengesahkan benarnya kitab-kitab suci yang telah diturunkan sebelumnya. (Ibn Katsir. Kitab Fadail Al-Quran : 9-10).

    Hal ini telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu Wataala dalam firman-Nya dalam tafsirnya:

    “Dan Kami turunkan kepadamu (wahai Muhammad) kitab (Al-Quran) dengan membawa kebenaran, untuk mengesahkan benarnya kitab-kitab suci yang telah diturunkan sebelumnya dan untuk memelihara serta mengawasinya.”

    Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam juga menjelaskan tentang kemuliaan dan kebesaran Al-Quran di dalam banyak hadis. Di antaranya ialah hadis yang disebut oleh Ali bin Abu Thalib yang diberitakan oleh Harits Al-A’war, katanya: “Aku berlalu di masjid, lalu aku melihat ada orang ramai yang mengarung (yakni mabuk bercakap tentang perkara-perkara yang boleh membawa fitnah, pembunuhan dan permusuhan). Kemudian aku menemui Ali bin Abu Thalib dan berkata kepadanya: “Wahai Amirul mukminin, adakah tuan melihat bahwa orang ramai telah mengarung di dalam percakapan mereka?” Ali bertanya: “Adakah mereka telah melakukannya?” Aku menjawab: “Ya”. Maka Ali pun berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah Sallalahu Alaihi Wasallam bersabda yang maksudnya:

    “Ingat, sesungguhnya itu akan menyebabkan fitnah”. Saya bertanya: “Bagaimana jalan keluar daripadanya wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda: “(Berpegang) kepada kitab Allah yang telah menceritakan orang-orang sebelummu dan berita orang-orang sesudahmu, dan sebagai penghukum apa yang terjadi antara sesamamu. Kitab Allah adalah firman yang memisahkan antara yang hak dan yang bathil dan ia adalah bukan sebagai senda gurau, orang yang meninggalkan kitab Allah daripada orang yang sombong, Allah akan membinasakannya, orang yang mencari petunjuk daripada selain kitab Allah, maka Allah akan menyesatkannya, kitab Allah adalah (tali) Allah yang kuat, ia adalah juga kitab yang penuh hikmah, ia adalah jalan yang lurus, ia adalah yang tidak condong pada hawa nafsu, ia tidak berat pada setiap lisan, para ulama tidak akan kenyang padanya, ia tidak usang oleh banyaknya diulang-ulang (bacaannya), ia tidak habis-habis keajaibannya, ia adalah yang tidak henti-hentinya Jin tatkala mendengarnya, mereka berkata: (Sesungguhnya kami telah mendengar Al-Quran yang menakjubkan yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya). Barangsiapa berkata dengan Al-Quran, maka benarlah ia, barangsiapa yang mengamalkannya, ia diberi pahala, orang yang menetapkan hukum dengannya maka ia adil dan barangsiapa mengajak-ajak kepada Al-Quran, ia mendapat petunjuk pada jalan yang lurus.” Ambillah (kata-kata yang baik) hai A’war.” (Riwayat Al-Tirmidzi dalam Tuhfah At-Ahwazi: 8/183-186, Al-Darimi: 2/294).

    Wajib Menjaga Kemuliaan Al-Quran

    Menurut ulama membaca Al-Quran itu lebih utama (afdal) daripada membaca tasbih, tahlil dan zikir-zikir yang lain selain Al-Quran. (Al-Tibyan: 17).

    Perkara ini dapat difahami karena ia adalah kitabullah, kitab suci umat Islam yang diwahyukan oleh Allah kepada Nabi-Nya yang terakhir dalam tempoh masa lebih kurang 23 tahun.

    Berdasarkan catatan sejarah Al-Quran sejak dari awal turunnya, ia telah mula dihafal dan ditulis sehinggalah turun ayatnya yang terakhir.

    Penghafalan dan penulisan ini berlaku adalah bagi memenuhi sebahagian tuntutan pemeliharaan, penyucian dan penghormatan kepada kitab suci ini.

    Oleh itu, sesuai dengan fungsinya sebagai kitab yang paling suci, maka semua umat Islam sepakat (ijmak) tentang wajibnya ke atas orang Islam menjaga dan menghormati Al-Quran.

    Di antara cara menghormatinya, ia tidak boleh dicampakkan dan ditindih dengan sesuatu di atasnya. Dalam hal ini Imam Nawawi menjelaskan bahwa apabila seseorang Islam itu melempar atau mencampakkan mushaf (Al-Quran) ke tempat-tempat yang kotor dan jijik, maka dia dihukumkan kafir. Begitu juga haram meletakkan sesuatu di atasnya sekalipun dengan kitab-kitab agama. (Al-Tibyan: 150, Al-Majmu’ 2:85).

    Menurut beliau lagi, sebagaimana yang telah diriwayatkan di dalam musnad Al-Darimi bahwa Ikrimah bin Abu Jahal meletakkan mushaf di mukanya (separasnya muka) seraya berkata: “Kitab Tuhanku, kitab Tuhanku.” Berdasarkan riwayat ini adalah wajar meletakkan Al-Quran itu di tempat yang sesuai seperti di atas kepala dan tidak di tempat yang hina dan tercemar.

    Termasuk dalam kategori menjaga kemuliaan Al-Quran itu ialah menjaganya daripada jatuh ke tangan orang-orang kafir. Larangan ini telah dijelaskan oleh Rasullullah Sallallahu Alaihi Wasallam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari yang maksudnya:

    “Sesungguhnya Rasullullah Sallallahu Alaihi Wasallam melarang membawa Al-Quran ketika musafir (belayar) ke negeri musuh (kafir).” (Riwayat Al-Bukhari).

    Berdasarkan pengkajian dan pembahasan ulama tentang betapa perlunya menghormati kitab suci ini, mereka telah membuat beberapa disiplin dan adab terhadapnya.

    Berikut ini disebutkan beberapa adab yang berkaitan dengan Al-Quran dan mushaf bagi tujuan memuliakan dan menghormatinya sebagaimana disebut dalam kitab Nawadir Al-Ushul Fi Ma’rifah Ahadits Al-Rasul (2.391-396):

    1. Menyentuh, memegang atau membawa (mengangkat mushaf (Al-Quran) hendaklah dalam keadaan suci (berwuduk), sama ada ayat-ayat Al-Quran itu ditulis pada kertas, papan, besi, kain dan sebagainya. Dalam kaitan ini termasuklah poster atau sepanduk yang sepenuhnya bertuliskan ayat Al-Quran.
    2. Tidak meletakkan mushaf pada tempat yang mudah terdedah kepada pencemaran seperti di tempat yang sering jatuh padanya najis burung, cicak dan lain-lain dan tidak membiarkan bertaburan dan berselerak di tempat yang tidak sepatutnya.
    3. Tidak meletakkan sesuatu di atas mushaf, sama ada buku atau yang lainnya. Mushaf itu pula hendaklah diletakkan di atas segala buku dan di tempat yang lebih terhormat.
    4. Ketika membaca mushaf eloklah dipangku atau diletakkan di atas sesuatu di hadapan seperti rehal dan tidak meletakkannya secara langsung di atas lantai.
    5. Jika ia ditulis, jangan dihapus atau dipadam dengan air liur tetapi boleh memadamkan tulisannya dengan air yang bersih. Bekas larutan basuhannya hendaklah tidak jatuh ke tempat yang bernajis karena larutan basuhan itu perlu dihormati.
    6. Adalah elok dan wajar memandang Al-Quran, paling tidak sekali pada setiap hari. Diriwayatkan daripada Abu Sa’id Al-Khudri Radiallahuanhu katanya, Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda yang maksudnya:

    “Kamu berikanlah peruntukkan ibadat untuk mata kamu. Sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apa dia peruntukkan ibadat mata?” Baginda menjawab: “Peruntukkan ibadat mata ialah memandang mushaf, memikirkan kandungannya dan mengambil iktibar daripada keajaibannya.”

    1. Mencantikkan tulisan apabila menulisnya. Diriwayatkan daripada Abu Halimah bahwa semasa ia menulis mushaf di Kufah, Ali bin Abu Thalib berlalu dan melihat tulisannya seraya berkata kepada Abu Halimah: “Runcingkan penamu”. (Abu Halimah berkata) saya pun mengambil pena, lalu meruncingkan hujungnya, kemudian saya menuliskannya semula, dan Ali Radiallahuanhu berdiri memerhatikan tulisanku, kemudian beliau (Ali) berkata: “Beginilah sepatutnya cara kamu menyinari mushaf sebagaimana Allah Subhanahu Wataala menyinarinya.”
    2. Tidak menjadikan mushaf sebagai bantal dan alat bersandar dan jangan melemparkannya kepada kawan apabila kawan itu hendak mengambilnya.
    3. Jangan memperkecilkan (saiz) mushaf sebagaimana telah diriwayatkan bahwa Ali Radiallahuanhu pernah berkata: “Jangan engkau perkecil mushaf.”
    4. Hendaklah mushaf itu diasingkan dan tidak mencampur- adukkan dengan benda lain yang bukan daripada mushaf, yakni tidak meletakkan apa-apa benda di dalamnya.
    5. Tidak menghiasi mushaf dengan emas dan tidak ditulis dengan emas supaya tidak bercampur dengan perhiasan dunia.
    6. Tidak menuliskannya di tanah karena Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melarang berbuat demikian. Daripada Umar bin Abd. Aziz Rahimahullah telah berkata: Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam pernah melintasi (tempat) yang ada tulisan di tanah lalu Baginda bertanya kepada seorang muda daripada suku Huzail: “Apa ini?” Pemuda itu menjawab: “Sebahagian tulisan dari Kitab Allah Subhanahu Wataala yang ditulis oleh seorang Yahudi.” Kemudian Baginda bersabda: “Allah Subhanahu Wataala melaknat orang yang melakukan (perkara) ini, janganlah kamu letakkan Kitab Allah Subhanahu Wataala melainkan pada tempatnya.” Bertolak daripada peristiwa ini segolongan besar ulama berpendapat makruh hukumnya menulis Al-Quran dan nama-nama Allah pada mata wang dirham, mihrab dan dinding. (Ahsan Al-Kalam: 2:114).
    7. Apabila tulisan Al-Quran dijadikan bahan mandian karena berubat daripada penyakit yang dialaminya, maka janganlah ianya jatuh ke tempat yang kotor dan bernajis, atau ke tempat yang dipijak. Adalah elok jika ia jatuh ke tanah yang tidak menjadi pijakan orang ramai atau ke lubang yang digali di tempat yang bersih supaya airnya jatuh ke dalam lubang itu, kemudian barulah lubang itu ditutup. Selain daripada cara itu, air tersebut boleh juga dialirkan ke sungai supaya larutan itu akan mengalir bersama.
    8. Ayat-ayat pelindung daripada Al-Quran tidak dibawa masuk ke dalam tandas kecuali ianya dimasukkan dalam sarung kulit atau perak atau sebagainya karena berbuat yang demikian itu ianya seperti berada di dalam dada.
    9. Apabila ianya ditulis dan airnya diminum hendaklah membaca basmalah setiap kali minum dan membetulkan niat, karena Allah Subhanahu Wataala akan memberi mengikut kadar niatnya. Daripada Mujahid katanya: “Tidak mengapa menulis ayat-ayat Al-Quran kemudian melarut atau melunturkan ayat-ayat yang ditulis itu lalu meminumkannya kepada pesakit.”

    Bersambung

     
  • erva kurniawan 3:58 pm on 10 February 2017 Permalink | Balas  

    Islam Memuliakan Wanita 

    wanitaIslam Memuliakan Wanita

    Oleh: O. Solihin

    hayatulislam.net – Rasulullah SAW membuat empat garis seraya berkata: “Tahukah kalian apakah ini?” Mereka berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Nabi Saw lalu bersabda: “Sesungguhnya wanita ahli surga yang paling utama adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad Saw, Maryam binti ‘Imron, dan Asiyah binti Mazahi.” (Mustadrak Ash Shahihain, jld. 2, hal. 497).

    Sabda Rasulullah Saw yang lain:

    “Takutlah kepada Allah dan hormatilah kaum wanita.” [HR. Muslim].

    Itulah sebagai tanda cinta Islam kepada wanita. Islam memuliakan wanita, dan menempatkannya dalam kedudukan yang terhormat. Kita tahu, bahwa wanita itu makhluk yang lemah dan rentan terhadap tindak kejahatan.

    Pelecehan seksual kerap mendera kaum wanita. Namun kita juga sering dibuat aneh dengan sikap wanita di jaman sekarang ini. Berlindung di balik kedok emansipasi, kaum wanita malah membuat peluang untuk dilecehkan. Karena menginginkan peran ganda dalam kehidupannya dan ingin bersaing dengan laki-laki, akhirnya mereka sendiri yang kedodoran menahan gempuran pelecehan seksual yang jelas membahayakan kesucian dan kehormatan dirinya.

    Dalam masyarakat kapitalis, wanita sudah dijadikan komoditas yang diperjual-belikan. Mereka dijadikan sumber tenaga kerja yang murah dan dieksploitasi untuk menjual barang. Dan ini telah banyak memakan korban dan merendahkan martabat wanita yang dalam Islam sangat dihormati. Wal hasil, emansipasi yang sebenarnya mengangkat wanita dari perbudakan dan dominasi kaum pria, malah membuatnya semakin amburadul.

    Islam sangat menjunjung kehormatan dan kesucian kaum wanita. Terbukti, suatu ketika seorang muslimah di kota Amuria -terletak antara wilayah Irak dan Syam- berteriak meminta pertolongan karena kehormatannya dinodai oleh seorang pembesar Romawi. Teriakan itu ternyata “terdengar” oleh Khalifah Mu’tashim, pemimpin umat Islam saat itu. Kontan saja ia mengerahkan tentaranya untuk membalas pelecehan tersebut. Dan bukan saja sang pejabat nekat itu, tapi kerajaan Romawi langsung digempur. Sedemikian besarnya tentara kaum muslimin hingga diriwiyatkan, “kepala” pasukan sudah berada di Amuria sedangkan “ekornya” berakhir di Baghdad, bahkan masih banyak tentara yang ingin berperang. Fantastis! Dan untuk membayar penghinaan tersebut 30.000 tentara musuh tewas dan 30.000 lainnya menjadi pesakitan.

    Kondisi itu sangat berbeda dengan sekarang, selain memang sistemnya tidak mendukung untuk memuliakan wanita, wanitanya sendiri malah memberi peluang pria untuk mengotori kesucian dan meruntuhkan kehormatannya. Jutaan wanita yang masih betah mengumbar auratnya ketika keluar rumah. Yang secara fakta memang menjadi faktor pemicu terjadinya pelecehan seksual.

    Kita bisa mengambil hikmah dari perlakuan Islam terhadap kaum wanita ini. Lapangan pekerjaan wanita yang banyak di rumah, bukan berarti Islam mengucilkan dan merendahkan wanita, tapi justru memuliakannya. Bekerja di luar rumah bukan berarti tidak boleh. Mubah saja selama jenis pekerjaannya sesuai kodrat dan tidak membahayakan kesucian dan kehormatan dirinya. Namun, bila jenis pekerjaannya kemudian menuntut perannya yang besar hingga melupakan kewajiban rumah tangganya, maka tentu saja tidak dibenarkan. Apalagi sampai mengancam kesucian dan merendahkan kehormatannya sebagai wanita.

    Dengan demikian, memang hanya dengan bercermin kepada Islam semuanya akan beres, dan kaum wanita bisa meneladani pribadi-pribadi wanita terhormat dalam hadits di atas. Dan tentu saja hanya dengan penerapan Islam sebagai aqidah dan syariat dalam mengatur kehidupan yang bakal menuntaskan berbagai problem masyarakat saat ini.

    ***

    hayatulislam.net

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 7 February 2017 Permalink | Balas  

    Subuh Berjamaah Penentu Nasib Di Akherat 

    azan-shalat-subuhSubuh Berjamaah Penentu Nasib Di Akherat

    Suatu ketika seorang bocah yang baru duduk di kelas 3 sekolah dasar mendapat motivasi dari gurunya untuk melaksanakan shalat subuh berjama’ah. Baginya hal tersebut adalah hal yang sulit karena keluargaya tidak biasa shalat subuh berjama’ah, namun anak ini mempunyai tekad yang kuat untuk bisa berjama’ah subuh di masjid.

    Anak tersebut tidak biasa bangun di pagi buta saat fajar, karena takut kesiangan ia tidak meminta ayahnya untuk membangunkan atau memasang alarm, namun ia memilih untuk tidak tidur di malam hari dan menunggu hingga adzan subuh berkumandang.

    Begitu adzan subuh berkumandang ia segera keluar menuju masjid. Ada satu masalah muncul ketika itu, suasana di luar rumahnya yang gelap dan sunyi membuat nyalinya menciut. Ia tidak berani pergi ke masjid sendiri. Pada saat itu juga ia mendengar langkah kaki yang berat, alih-alih setelah diamati, ternyata ada seorang kakek berjalan dengan tongkatnya. Anak tadi yakin bahwa sang kakek akan pergi ke masjid dan mengikuti dari belakang tanpa sepengetahuan sang kakek.

    Prediksinya benar, Allah benar-benar membukakan jalan bagi hambanya yangmemiliki tekad. Ia pun menjadikan hal tersebut sebagai rutinitasnya, begadang sepanjang malam hingga adzan subuh menggema, lalu berjalan menuju masjid di belakang sang kakek, shalat subuh berjama’ah dan kembali ke rumah dengan cara yang serupa saat dia berangkat.

    Keluarganya tidak ada yang mengetahuinya, mereka hanya tahu bahwa bocah tersebut menjadi jarang bermain dan lebih banyak tidur sepulang sekolah. Kemudian taqdir Allah terjadi. Ia mendengar kabar bahwa kakek tersebut meninggal dunia, inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kita akan kembali.

    Bocah itu menangis sesenggukan, ia begitu sedih. Sang pemandu jalan telah meninggal. Ia mencintainya karena dengannya ia bisa menghadiri sholat subuh berjama’ah, dengannya ia bisa bertaqwa kepada Allah.

    Ayahnya heran melihat anaknya yang menangis dan bertanya, “Kenapa kamu menangis ? ia kan bukan kakekmu ? bukan siapa-siapamu ?”

    Spontan anaknya menjawab, “ Kenapa bukan ayah saja yang meninggal ?”

    Ayahnya kaget. “ Astahfirulloh, kenapa kamu bicara seperti itu nak ?”. ujarnya dengan keheranan.

    “Lebih baik ayah saja yang meninggal, ayah tidak pernah membangunkanku untuk sholat subuh. Tidak pernah mengajakku ke masjid, sedangkan kakek itu ….. setiap pagi aku berjalan dibelakangnya untuk shalat subuh di masjid”.

    Ayahnya sontak terdiam, lidahnya kelu, matanya menganak sungai, selama ini ia begitu lalai, meninggalkan kewajiban sebagai hamba Allah dan lalai dalam mendidik anaknya. Ia pun akhirnya rajin mengikuti shalat jama’ah di masjid karena dakwah anaknya, terutama shalat subuh.

    Dikutip dari buku “Dasyatnya Bangun Pagi” semoga bisa memetik hikmahnya.

     
  • erva kurniawan 2:58 pm on 6 February 2017 Permalink | Balas  

    Khilafah & Khalifah 

    khalifahKhilafah & Khalifah

    Oleh : Yahya Abdurrahman

    Makna al-Khilafah Menurut Bahasa

    Al-Khilafah adalah mashdar dari khalafa. Menurut Ibn al-Manzhur,1 Istakhlafa fulan min fulan (Seseorang mengangkat si fulan), artinya ja’alahu makanahu (Ia menetapkan Fulan menduduki posisinya). Khalafa fulan[un] fulan[an] idza kana khalifatuhu (Fulan menggantikan si fulan jika dia adalah khalifah (pengganti)-nya). Dikatakan, Khalaftu fulan[an] (Aku menggantikan fulan); akhlufuhu takhlifan (Aku menggantikannya sebagai pergantian); Istakhlaftuhu ana ja’altuhu khalifati wa astakhlifuhu (Aku mengangkatnya, aku menetapkan sebagai penggantiku dan aku mengangkatnya).

    Jadi, menurut bahasa, khalifah adalah orang yang mengantikan orang sebelumnya. Jamaknya, khala’if. Sedangkan Imam Sibawaih mengatakan, khalifah jamaknya adalah khulafa’.

    Dalam masalah kepemimpinan, orang Arab berkata: Khalafahu fi qawmihi, yakhlufuhu, khilafat[an] fahuwa khalifah (Ia telah menggantikan kaumnya, ia memanggul kepemimpinan, maka ia adalah pengganti/khalifah). Arti inilah makna firman Allah Swt.:

    Berkata Musa kepada saudaranya, Harun, “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku.” (QS al-A’raf [7]: 142).2

    Al-Quran menyebut kata khalifah dalam surat al-Baqarah: 30 dan Shad: 26), khulafa’ (3 kali: al-A’raf: 69, 74; an-Naml: 62), khala’if (4 kali: al-An’am: 145; Yunus: 14, 73; Fathir: 39) dan masih banyak ayat lain yang menyatakan kata bentukannya. Semuanya dinyatakan dalam arti bahasa, yakni pengganti yang menggantikan umat atau pemimpin terdahulu; menggantikan malaikat untuk mengurus bumi atau mendapat amanah dari Allah untuk mengelola bumi.

    Khalifah dan Khilafah Menurut Syariat

    Kata khilafah banyak dinyatakan dalam hadis, misalnya:

    Sesungguhnya (urusan) agama kalian berawal dengan kenabian dan rahmat, lalu akan ada khilafah dan rahmat, kemudian akan ada kekuasaan yang tiranik. (HR al-Bazzar).

    Kata khilafah dalam hadis ini memiliki pengertian sistem pemerintahan, pewaris pemerintahan kenabian. Ini dikuatkan oleh sabda Rasul saw.:

    Dulu Bani Israel dipimpin dan diurus oleh para nabi. Jika para nabi itu telah wafat, mereka digantikan oleh nabi yang baru. Akan tetapi, setelahku tidak ada lagi seorang nabi, dan akan ada khalifah yang banyak. (HR al-Bukhari dan Muslim).3

    Pernyataan Rasul, “Akan tetapi, setelahku tidak ada lagi seorang nabi,” mengisyaratkan bahwa tugas dan jabatan kenabian tidak akan ada yang menggantikan beliau. Khalifah hanya menggantikan beliau dalam tugas dan jabatan politik, yaitu memimpin dan mengurusi umat.

    Dari kedua hadis di atas dapat kita pahami bahwa bentuk pemerintahan yang diwariskan Nabi saw. adalah Khilafah. Orang yang mengepalai pemerintahan atau yang memimpin dan mengurusi kaum Muslim itu disebut Khalifah.

    Sistem pemerintahan Khilafah ini yang diwajibkan Rasul saw. sebagai sistem pemerintahan bagi kaum Muslim. Sebab, dalam hadis riwayat al-Bazzar di atas, Khilafah dikaitkan dengan rahmat sebagaimana kenabian. Hal itu menjadi indikasi yang tegas (qarinah jazimah). Di samping itu, Rasul saw. juga bersabda:

    Siapa saja yang mati dalam keadaan tidak ada baiat (kepada Khalifah) di atas pundaknya, maka matinya mati Jahiliah. (HR Muslim).

    Hadis ini mengandung perintah untuk mewujudkan Khalifah yang dibaiat oleh kaum Muslim. Sebab, hanya dengan adanya Khalifah, akan terdapat baiat di atas pundak kaum Muslim. Adanya sifat jahiliah menunjukkan bahwa tuntutan perintah itu sifatnya tegas. Dengan demikian, mewujudkan Khalifah yang menduduki Khilafah hukumnya wajib.

    Ijma Sahabat juga menegaskan kewajiban tersebut. Para sahabat (termasuk keluarga Rasul: Ali, Ibn Abbas, Salman. dll) semuanya sepakat untuk menunda pelaksanaan kewajiban memakamkan jenazah Rasul saw. Mereka lebih menyibukkan diri untuk mengangkat pengganti Rasul dalam urusan kekuasaan dan pemerintahan. Lalu Abu Bakar terpilih dan dibaiat oleh kaum Muslim.

    Secara syar’i, pelaksanaan kewajiban hanya boleh ditunda jika berbenturan dengan pelaksanaan kewajiban yang menurut syariat lebih utama. Ini artinya para sahabat telah berijma bahwa mengangkat Khalifah adalah wajib dan lebih utama daripada memakamkan jenazah Rasul saw.

    Selanjutnya, mereka juga telah berijma’ untuk menyebut pengganti Rasul itu, yakni Abu Bakar, sebagai khalifah. Begitu juga para pengganti beliau setelah Abu Bakar ra.

    Dari semua itu dapat kita pahami bahwa Khilafah adalah bentuk sistem pemerintahan yang ditetapkan syariat sekaligus bentuk Daulah Islamiyah.

    Dengan demikian, Khilafah dapat kita definisikan sebagai kepemimpinan umum atas seluruh kaum Muslim di dunia untuk menerapkan hukum-hukum syariat dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Definisi inilah yang tepat.4

    Wallah a’lam bi ash-shawab. [Yahya A.]

    Catatan Kaki

    1 Lisan al-’Arab, Ibn al-Manzhur, I/882, 883, pasal Khalafa.

    2 Ma’atsir al-Inafah fi Ma’alam al-Khilafah, Qalqasyandi, I/8.

    3 Imam Muslim, Shahih, bab Imarah, hadis no. 3429; al-Bukhari, Shahih, bab Ahadits al-Anbiya’, hadis no. 3196. Keduanya bersumber dari Abû Hurayrah.

    4 Definisi inilah yang diadopsi oleh Hizbut Tahrir. Lihat: Nizham al-Hukm fi al-Islam, Qadhi an-Nabhani dan diperluas oleh Syaikh Abdul Qadim Zallum, Hizbut Tahrir, cet. VI (muktamadah). 2002 M/1422 H; Definisi ini juga yang diadopsi oleh Dr. Mahmud al-Khalidi dalam desertasinya setelah mendiskusikan berbagai pendapat para ulama dalam masalah ini, lihat, Qawa’id Nizham al-Hukm fi al-Islam, hlm. 226-230, Maktabah al-Muhtashib, cet II (mazidah wa munaqqahah). 1983

    ***

    hizbut-tahrir.or.id

     
    • cintakamuaa 1:06 am on 11 Februari 2017 Permalink

      asalamualaikum..
      tulisan nya bagus mb,izin save ya untuk di pelajari sistem pemerintahan zaman Khilafah & Khalifah ny ..terima kasih

  • erva kurniawan 1:33 am on 5 February 2017 Permalink | Balas  

    Memberi Nafkah Anak Dengan Nafkah Yang Baik 

    kerjaMemberi Nafkah Anak Dengan Nafkah Yang Baik

    Soal: Bagaimana hukum seorang anak yang tinggal bersama ortunya, makan, biaya pendidikan, dan semua biaya kehidupannyapun masih ditanggung oleh ortunya, padahal ortunya ini ada terlibat hutang di sebuah bank konvensional. Namun semua itu dilakukan oleh ortunya karena mereka tidak ingin anak mereka tertinggal, sedangkan untuk hutang ke yang lain, tidak memungkinkan, karena hutangnya lumayan besar.

    Jawab: Pada dasarnya, orang tua berkewajiban menafkahi orang-orang yang berada di bawah tanggungjawabnya, termasuk di dalamnya isteri dan anak-anak. Kewajiban orang tua menafkahi anak ditetapkan berdasarkan firman Allah SWT:

    “Dan kewajiban ayah memberikan makanan dan pakaian kepada ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak akan dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.” (Qs. al-Baqarah [2]: 233).

    Imam Ibnu al-’Arabi menyatakan, “Ayat ini merupakan dalil wajibnya seorang ayah menafkahi anak-anaknya. Sebab, mereka masih belum mampu dan lemah.” (Imam Ibnu al-’Arabi, Ahkâm al-Qur’an, juz I, hal. 274).

    Dalam kitab Shafâwt at-Tafâsîr, Ali ash-Shabuni menyatakan, “Makna ayat ini adalah, seorang ayah wajib memberikan nafkah dan pakaian kepada isterinya yang telah dicerai jika ia menyusui anak-anaknya.” (Ali ash-Shabuni, Shafâwt at-Tafâsîr, juz 1, hal. 150).

    Di dalam sunnah juga dituturkan mengenai kewajiban seorang ayah untuk menafkahi isteri dan anak-anaknya. Rasulullah Saw bersabda:

    “Ketahuilah bahwa, hak mereka atas kalian adalah supaya kalian berbuat baik kepada mereka dalam hal memberikan pakaian dan makanannya.” [HR. Tirmidzi].

    Dalam riwayat lain dituturkan, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:

    “Sedinar yang engkau infakkan di jalan Allah, sedinar yang engkau infakkan dalam pembebasan hamba, sedinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin dan sedinar yang engkau infakkan kepada keluargamu, maka yang lebih besar pahalanya adalah yang engkau infakkan kepada keluargamu.” [HR. Ahmad dan Muslim].

    Jika seorang anak (anak laki-laki) telah berusia baligh, maka ia diwajibkan menghidupi dan mengurusi dirinya sendiri. Sebab, ia telah menjadi seorang mukallaf yang diberi beban untuk melaksanakan seluruh perintah Allah secara mandiri, termasuk menafkahi dirinya sendiri. Akan tetapi, jika ia tidak mampu dan miskin, maka orang tua wajib memberi nafkah kepadanya.

    Adapun jika ia adalah anak perempuan; maka kewajiban memberi nafkah orang tua gugur, jika anak wanita tersebut telah menikah.

    Memberi Nafkah Yang Baik

    Namun demikian, seorang ayah wajib memberikan nafkah kepada anaknya dengan nafkah yang halal; yakni nafkah yang diperoleh dari jalan yang sesuai dengan tuntunan Allah SWT. Allah SWT telah berfirman:

    “Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah ni`mat Allah jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (Qs. al-Nahl [16]: 114).

    Imam al-Baghawi, dalam tafsir al-Baghawiy, menyatakan, “Menurut ‘Abdullah ibn al-Mubarak, yang dimaksud halal adalah semua rejeki yang diperoleh berdasarkan tuntunan Allah SWT.” (al-Baghawi, Tafsír al-Baghawiy, juz 2, hal. 59; lihat juga Imam asy-Syaukani, Fath al-Qadír, juz 2, hal. 70).

    Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:

    “Wahai manusia, sesungguhnya Allah tidak akan menerima sesuatu kecuali yang baik (thayyib), dan sesungguhnya Allah memerintahkan kaum mukmin sebagaimana halnya Ia memerintah para Rasul. Kemudian, Ia berfirman, ‘Wahai para Rasul, makanlah dari rejeki yang baik-baik, dan berbuat baiklah kalian. Sesungguhnya Aku Mengetahui apa yang engkau ketahui.’ Selanjutnya, beliau bercerita tentang seorang laki-laki yang berada di dalam perjalanan yang sangat panjang, hingga pakaiannya lusuh dan berdebu. Laki-laki itu lantas menengadahkan dua tangannya ke atas langit dan berdoa, ‘Ya Tuhanku, Ya Tuhanku…’, sementara itu makanan yang dimakannya adalah haram, minuman yang diminumnya adalah haram, dan pakaian yang dikenakannya adalah haram; dan ia diberi makanan dengan makanan-makanan yang haram. Lantas, bagaimana mungkin doanya dikabulkan?” [HR. Muslim].

    Al-Qadli berkata, “Hadits ini merupakan salah satu pilar agama Islam dan tonggak dari hukum-hukum Islam. Ada 40 hadits yang menjadi bagian tak terpisahkan dari hadits ini. Di dalam hadits ini ada perintah kepada kaum muslim untuk berinfak dengan yang rejeki halal, serta larangan untuk berinfak dengan rejeki yang haram. Hadits ini juga menerangkan, bahwa minuman, makanan, pakaian, dan lain-lain harus halal dan terjauh dari syubhat; dan siapa saja yang hendak berdoa hendaknya ia memenuhi syarat-syarat tersebut, dan menjauhi minuman, makanan, dan pakaian yang haram.”

    Imam al-Hafidz Abu al-’Ala al-Mubarakfuri, dalam Tuhfat al-Ahwadziy, menyatakan bahwa makna hadits ini adalah, Allah SWT suci dari noda, dan tidak akan menerima dan tidak boleh mendekatkan diri kepadaNya, kecuali sejalan dengan makna hadits tersebut.

    Dari seluruh uraian di atas, kita bisa menyimpulkan, bahwasanya seseorang tidak boleh memberi nafkah keluarganya dengan nafkah yang haram. Sebaliknya, seorang muslim dilarang menerima dan mengkonsumsi sesuatu yang diharamkan oleh Allah swt. Atas dasar itu, seorang anak yang sudah akil baligh mesti menolak nafkah dari orang tua jika ia tahu bahwa nafkah tersebut berasal dari jalan yang haram; misalnya hasil hutang yang mengandung riba. Ia harus berusaha dengan dirinya sendiri, dan menjauhi mengkonsumsi barang-barang yang diharamkan oleh Allah SWT. Sebab, keberkahan hidup seseorang sangat tergantung dari makanan yang dimakannya. Namun jika ia tidak tahu bahwa nafkah yang diberikan orang tua tersebut berasal dari usaha haram, maka hukumnya dimaafkan.

    Pada dasarnya, orang tua tidak boleh melibatkan diri dengan riba dengan alasan; kalau tidak pinjam di bank maka pendidikan anaknya akan ketinggalan, dan sebagainya. Jika ia tidak mampu menyekolahkan anaknya di pendidikan-pendidikan formal, ia bisa menempuh jalan lain dengan cara menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah yang murah dengan kualitas yang tidak rendah. Bisa juga ia mendidik anaknya untuk mandiri sejak kecil, hingga anak bisa menafkahi dirinya sendiri, dan berfikir secara mandiri. Masih banyak jalan yang bisa dilakukan agar anak tidak ketinggalan dalam pendidikannya. Yang jelas, orang tua tidak boleh menceburkan atau melibatkan dirinya dalam perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh syariat Islam. Jika orang tua menafkahi anaknya dengan jalan haram, sesungguhnya ia tidak sedang mencintai anaknya, akan tetapi justru menjerumuskan anaknya ke lembah ketidakberkahan.

    Wallahu A’lam bi al-Shawab.

    ***

    Syamsuddin – Ramadhan hayatulislam.net

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 4 February 2017 Permalink | Balas  

    Bila Maut Menjemput. 

    jenazah (1)Bila Maut Menjemput.

    “Kalau sekiranya kamu dapat melihat malaikat-malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka serta berkata, “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”. (niscaya kamu akan merasa sangat ngeri). (QS. Al-Anfal {8} : 50).

    “Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata), “Keluarkanlah nyawamu !” Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Alloh (perkataan) yang tidak benar dan kerena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya”. (Qs. Al- An’am : 93).

    “Sakitnya sakaratul maut itu, kira-kira tiga ratus kali sakitnya dipukul pedang”. (H.R. Ibnu Abu Dunya).

    Cara Malaikat Izrail mencabut nyawa tergantung dari amal perbuatan orang yang bersangkutan, bila orang yang akan meninggal dunia itu durhaka kepada Alloh, maka Malaikat Izrail mencabut nyawa secara kasar. Sebaliknya, bila terhadap orang yang soleh, cara mencabutnya dengan lemah lembut dan dengan hati-hati. Namun demikian peristiwa terpisahnya nyawa dengan raga tetap teramat menyakitkan.

    Di dalam kisah Nabi Idris a.s, beliau adalah seorang ahli ibadah, kuat mengerjakan sholat sampai puluhan raka’at dalam sehari semalam dan selalu berzikir di dalam kesibukannya sehari-hari. Catatan amal Nabi Idris a.s yang sedemikian banyak, setiap malam naik ke langit. Hal itulah yang sangat menarik perhatian Malaikat Maut, Izrail. Maka bermohonlah ia kepada Alloh Swt agar di perkenankan mengunjungi Nabi Idris a.s. di dunia. Alloh Swt, mengabulkan permohonan Malaikat Izrail, maka turunlah ia ke dunia dengan menjelma sebagai seorang lelaki tampan, dan bertamu kerumah Nabi Idris.

    “Assalamu’alaikum, yaa Nabi Alloh” . Salam Malaikat Izrail,  “Wa’alaikum salam wa rahmatulloh”. Jawab Nabi Idris a.s.

    Beliau sama sekali tidak mengetahui, bahwa lelaki yang bertamu ke rumahnya itu adalah Malaikat Izrail.

    Seperti tamu yang lain, Nabi Idris a.s. melayani Malaikat Izrail, dan ketika tiba saat berbuka puasa, Nabi Idris a.s. mengajaknya makan bersama, namun di tolak oleh Malaikat Izrail. Selesai berbuka puasa, seperti biasanya, Nabi Idris a.s mengkhususkan waktunya “menghadap”. Alloh sampai keesokan harinya. Semua itu tidak lepas dari perhatian Malaikat Izrail. Juga ketika Nabi Idris terus-menerus berzikir dalam melakukan kesibukan sehari-harinya, dan hanya berbicara yang baik-baik saja.

    Pada suatu hari yang cerah, Nabi Idris a.s mengajak jalan-jalan “tamunya” itu ke sebuah perkebunan di mana pohon-pohonnya sedang berbuah, ranum dan menggiurkan.

    “Izinkanlah saya memetik buah-buahan ini untuk kita”, pinta Malaikat Izrail (menguji Nabi Idris a.s).

    “Subhanalloh, (Maha Suci Alloh)”, kata Nabi Idris a.s.

    “Kenapa ?”, Malaikat Izrail pura-pura terkejut.

    “Buah-buahan ini bukan milik kita”. Ungkap Nabi Idris a.s.

    Kemudian Beliau berkata: “Semalam anda menolak makanan yang halal, kini anda menginginkan makanan yang haram”.

    Malaikat Izrail tidak menjawab.  Nabi Idris a.s perhatikan wajah tamunya yang tidak merasa bersalah.  Diam-diam beliau penasaran tentang tamu yang belum dikenalnya itu.  Siapakah gerangan?, pikir Nabi Idris a.s.

    “Siapakah engkau sebenarnya ?”, tanya Nabi Idris a.s. ”

    “Aku Malaikat Izrail”. Jawab Malaikat Izrail.

    Nabi Idris a.s terkejut, hampir tak percaya,  Seketika tubuhnya bergetar tak berdaya.

    “Apakah kedatanganmu untuk mencabut nyawaku ?”, selidik Nabi Idris a.s serius.

    “Tidak”, Senyum Malaikat Izrail penuh hormat.

    “Atas izin Alloh, aku sekedar berziarah kepadamu”. Jawab Malaikat Izrail.

    Nabi Idris manggut-manggut, beberapa lama kemudian beliau hanya terdiam.

    “Aku punya keinginan kepadamu”. Tutur Nabi Idris a.s

    “Apa itu ?, katakanlah !”. Jawab Malaikat Izrail.

    “Kumohon engkau bersedia mencabut nyawaku sekarang. Lalu mintalah kepada Alloh SWT untuk menghidupkanku kembali, agar bertambah rasa takutku kepada-Nya dan meningkatkan amal ibadahku”. Pinta Nabi Idris a.s.

    “Tanpa seizin Alloh, aku tak dapat melakukannya”, tolak Malaikat Izrail.

    Pada saat itu pula Alloh SWT memerintahkan Malaikat Izrail agar mengabulkan permintaan Nabi Idris a.s.  Dengan izin Alloh Malaikat Izrail segera mencabut nyawa Nabi Idris a.s. sesudah itu beliau wafat.

    Malaikat Izrail menangis, memohonlah ia kepada Alloh SWT agar menghidupkan Nabi Idris a.s. kembali.  Alloh mengabulkan permohonannya. Setelah dikabulkan Allah Nabi Idris a.s. hidup kembali.

    “Bagaimanakah rasa mati itu, sahabatku ?”, Tanya Malaikat Izrail.

    “Seribu kali lebih sakit dari binatang hidup dikuliti”. Jawab Nabi Idris a.s.

    “Caraku yang lemah lembut itu, baru kulakukan terhadapmu”. Kata Malaikat Izrail.

    Masya Alloh, lemah-lembutnya Malaikat Maut (Izrail) itu terhadap Nabi Idris a.s.  Bagaimanakah jika sakaratul maut itu, datang kepada kita ?. Siapkah kita untuk menghadapinya ?.

    ***

    Hikmah, Dahsyatnya Sakaratul Maut, Siapkah Kita Untuk Menghadapinya ?.

    Swaramuslim.net

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 3 February 2017 Permalink | Balas  

    Ada Sajadah Panjang Terbentang 

    sajadahAda Sajadah Panjang Terbentang

    Nadirsyah Hosen

    Lagu Bimbo dengan judul tersebut membuat saya merenung akan hubungan saya dengan Allah swt. Saya ingin tahu bagaimana sebenarnya posisi saya di sisi Tuhan. Seorang sufi berkata, “jika anda ingin tahu bagaimana posisi anda di sisi Tuhan, lihatlah di mana posisi Tuhan di hati anda!”

    Saya pun mencoba melihat ke dalam hati saya. Bisakah saya merasakan Tuhan hadir di hati saya? Entahlah,.. Saya memang bukan seorang sufi. Tapi saya percaya bahwa Tuhan semestinya hadir dalam semua perbuatan saya. Ketika saya sholat dan puasa, saya tahu Tuhan hadir dalam hati saya. Namun ketika saya berangkat kerja, ke luar dari rumah, saya tak bisa memastikan apakah masih saya bawa Tuhan dalam aktivitas saya.

    Apakah Tuhan hadir ketika saya disodori uang komisi oleh rekan sekantor? Apakah Tuhan hadir ketika saya selipkan selembar amplop agar urusan saya menjadi lancar? Apakah Tuhan juga hadir ketika saya ombang-ambingkan mereka yang datang ke kantor saya, terlempar dari satu meja ke meja yang lain.

    Lagu Bimbo tersebut mengingatkan saya bahwa hidup ini bagaikan sajadah panjang yang terbentang,dari buaian bunda sampai ke liang lahat. Seharusnya semua aktivitas yang saya lakukan di sajadah panjang ini membawa saya untuk selalu mengingat kehadiran-Nya.

    Mengapa Tuhan hanya saya bawa dan saya resapi kehadiran-Nya ketika saya berada di masjid, dan tiba-tiba Tuhan hilang ketika saya berada di luar masjid. Kalau saja lagu Bimbo tersebut saya terjemahkan ke dalam bahasa para khatib Jum’at: “Apapun aktivitas kita, seharusnya kita selalu ingat keberadaan Allah. Itulah makna dzikrullah; mengingat Allah; itu jugalah makna ibadah.”

    Kalau saya diperbolehkan menerjemahkan lagu Bimbo itu dengan bahasa al-Qur’an, saya teringat satu ayat suci, “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” Sayang, penafsiran saya akan kata ibadah masih terbatas pada ibadah ritual. Sayang sekali, sajadah saya tak panjang terbentang. Sajadah saya tak mampu masuk ke gedung-gedung pencakar langit, ke pusat perbelanjaan, ke tempat hiburan dan ke gedung sekolah.

    “Tak kulihat suatu benda, kecuali di ujungnya kulihat ada Tuhan!” Ah, ucapan sufi ini lagi-lagi

    membuat saya malu…Saya tahu bahwa bukan maksud sufi tersebut untuk mengatakan dia telah melihat Tuhan, tapi yang ingin dia ceritakan adalah Tuhan selalu hadir di sekelilingnya.

    Ada sajadah panjang terbentang….

     
  • erva kurniawan 1:02 am on 2 February 2017 Permalink | Balas  

    Aku Cermin, Engkaulah “Mentari” 

    cermin1Aku Cermin, Engkaulah “Mentari”

    Oleh : Nadirsyah Hosen

    Suhrawardi, sufi yang dikenal sebagai Syaikh al-Isyraq dan mati terbunuh oleh penguasa zalim, pernah membuat perumpamaan tentang cermin dan matahari. Ketika cermin dihadapkan kepada matahari maka sinar matahari akan diserap oleh cermin itu dan dipantulkannya kembali. Andaikan cermin mampu melihat ke dalam dirinya, ia akan terkejut dan mengira bahwa dirinya-lah matahari itu karena betapa kuatnya cahaya mentari tersebut.

    Manusia dalam cerita Suhrawardi di atas digambarkan sebagai cermin sedangkan Allah diumpamakan sebagai matahari. Ketika manusia mampu mensucikan dirinya dan membersihkannya sedemikian rupa, maka ia layak diserupakan dengan cermin. Ketika ia menjumpai “tanda-tanda kekuasaan ilahi”, ia menerima cahaya ilahi yang dipancarkan sedemikian kuatnya ke dalam dirinya. Ia serap cahaya ilahi itu lalu ia pantulkan kembali.

    Manakala kita mampu menyerap dan memantulkan kembali cahaya ilahi itu, hidup kita akan terus diterangi oleh cahaya ilahi. Orang yang sudah mencapai tahap itu akan menebarkan berkah pada setiap sudut yang menerima pantulan cahaya ilahi dari “cermin”-nya. Ia mampu sebarkan rahmat disekelilingnya.

    Nabi Muhammad adalah contoh terbaik dari perumpamaan di atas. Cahaya ilahi yang diserap Nabi Muhammad SAW dipantulkannya ke seluruh alam semesta. Oleh karena itu, kehadiran Nabi Muhammad mampu menebarkan rahmat ke seluruh alam semesta (rahmatan lil ‘alamin).

    Perhatikan orang disekeliling kita. Bukankah ada orang yang bila kita pandang wajahnya, keteduhan dan kedamaian-lah yang kita peroleh. Ketika kita mendegar suaranya, kita bagaikan mendengar “nyanyian dari surga”; indah dan menyejukkan. Ketika ia memandang kita, sorot matanya mampu memecahkan kegalauan di hati kita.Ketika ia tersenyum seakan dunia ini begitu indah untuk didiami. Pendek kata, kehadiran orang tersebut telah membawa berkah untuk lingkungan sekitarnya.

    Sebaliknya, pernahkah kita menjumpai seseorang yang meskipun tampan ataupun cantik, namun mata enggan berlama-lama menatapnya. Ketika ia bicara, meskipun dengan retorika yang luar biasa memikatnya, kita bisa merasakan bahwa ia sebenarnya sedang membual. Ketika ia tersenyum, kita melihat ada seberkas kepalsuan dibalik senyum itu. Setiap ia datang di suatu tempat, ia sebarkan kerusakan dan kekacauan. Ia masuk organisasi, tak lama kemudian organisasi itu mengalami konflik. Ia bertamu ke satu rumah, tak lama setelah ia pergi, rumah tangga itu menjadi berantakan. Ia menjadi pengurus masjid, namun alih-alih masjid menjadi tempat beribadah, berkat kehadirannya, masjid menjadi tempat bergossip ria. Pendek kata, kemana ia melangkah, berkah dan rahmat menjauh darinya.

    Orang pertama adalah mereka yang mampu membersihkan cermin hatinya sehingga mampu menyerap cahaya ilahi. Sebaliknya, orang yang kedua tak pernah mensucikan cermin hatinya. Cerminnya kusam dan gelap; tertutup oleh debu dan kotoran. Walaupun ia menjumpai banyak tanda-tanda kekuasaan Allah di bumi ini, cermin hatinya tetap tak mampu menyerap cahaya ilahi apalagi memantulkannya.

    Abu Sa’id Abu al-Khair, sufi besar abad 10 dan 11 dari Maihana, menasehati muridnya: “Selama egomu menyertaimu, engkau tak akan mengenal Allah, sebab, ego tidak menyukai manusia sempurna (insan al-kamil)”

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 1 February 2017 Permalink | Balas  

    Hikmah Pengharaman Babi 

    haram babiHikmah Pengharaman Babi

    Oleh: Fauzi Muhammad Abu Zaid

    Hal ini penting untuk diketahui, terutama oleh pemuda-pemuda kita yang sering pergi ke negara-negara Eropa dan Amerika, yang menjadikan daging babi sebagai makanan pokok dalam hidangan mereka.

    Dalam kesempatan ini, saya sitir kembali kejadian yang berlangsung ketika Imam Muhammad Abduh mengunjungi Perancis. Mereka bertanya kepadanya mengenai rahasia diharamkannya babi dalam Islam. Mereka bertanya kepada Imam, “Kalian (umat Islam) mengatakan bahwa babi haram. Antara lain karena ia memakan sampah yang mengandung cacing pita, mikroba-mikroba dan bakteri-bakteri lainnya. Hal itu sekarang ini sudah tidak ada. Babi diternak dalam peternakan modern, dengan kebersihan terjamin, dan proses sterilisasi yang mencukupi. Bagaimana mungkin babi-babi itu terjangkit cacing pita atau bakteri dan mikroba lainnya.?”

    Imam Muhammad Abduh tidak langsung menjawab pertanyaan itu, dan dengan kecerdikannya beliau meminta mereka untuk menghadirkan dua ekor ayam jantan beserta satu ayam betina, dan dua ekor babi jantan beserta satu babi betina.

    Mengetahui hal itu, mereka bertanya, “Untuk apa semua ini?” Beliau menjawab, “Penuhi apa yang saya pinta, maka akan saya perlihatkan suatu rahasia.”

    Mereka memenuhi apa yang beliau pinta. Kemudian beliau memerintahkan agar melepas dua ekor ayam jantan bersama satu ekor ayam betina dalam satu kandang. Kedua ayam jantan itu berkelahi dan saling membunuh, untuk mendapatkan ayam betina bagi dirinya sendiri, hingga salah satu dari keduanya hampir tewas. Beliau lalu memerintahkan agar mengurung kedua ayam tersebut.

    Kemudian beliau memerintahkan mereka untuk melepas dua ekor babi jantan bersama dengan satu babi betina. Kali ini mereka menyaksikan keanehan. Babi jantan yang satu membantu temannya sesama jantan untuk melaksanakan hajat seksualnya, tanpa rasa cemburu, tanpa harga diri atau keinginan untuk menjaga babi betina dari temannya.

    Selanjutnya beliau berkata, “Saudara-saudara, daging babi membunuh ‘ghirah’ orang yang memakannya. Itulah yang terjadi pada kalian. Seorang lelaki dari kalian melihat isterinya bersama lelaki lain, dan membiarkannya tanpa rasa cemburu, dan seorang bapak di antara kalian melihat anak perempuannya bersama lelaki asing, dan kalian membiarkannya tanpa rasa cemburu, dan was-was, karena daging babi itu menularkan sifat-sifatnya pada orang yang memakannya.”

    Kemudian beliau memberikan contoh yang baik sekali dalam syariat Islam. Yaitu Islam mengharamkan beberapa jenis ternak dan unggas yang berkeliaran di sekitar kita, yang memakan kotorannya sendiri. Syariah memerintahkan bagi orang yang ingin menyembelih ayam, bebek atau angsa yang memakan kotorannya sendiri agar mengurungnya selama tiga hari, memberinya makan dan memperhatikan apa yang dikonsumsi oleh hewan itu. Hingga perutnya bersih dari kotoran-kotoran yang mengandung bakteri dan mikroba. Karena penyakit ini akan berpindah kepada manusia, tanpa diketahui dan dirasakan oleh orang yang memakannya.

    Itulah hukum Allah, seperti itulah hikmah Allah. Ilmu pengetahuan modern telah mengungkapkan banyak penyakit yang disebabkan mengkonsumsi daging babi. Sebagian darinya disebutkan oleh Dr. Murad Hoffman, seorang Muslim Jerman, dalam bukunya: “Pergolakan Pemikiran: Catatan Harian Muslim Jerman”, halaman 130-131:

    “Memakan daging babi yang terjangkit cacing babi tidak hanya berbahaya, tetapi juga dapat menyebabkan meningkatnya kandungan kolestrol dan memperlambat proses penguraian protein dalam tubuh, yang mengakibatkan kemungkinan terserang kanker usus, iritasi kulit, eksim, dan rematik. Bukankah sudah kita ketahui, virus-virus influenza yang berbahaya hidup dan berkembang pada musim panas karena medium babi?”

    Dr. Muhammad Abdul Khair, dalam bukunya Ijtihdt fi at Tafsr al Qur’an al Karm, halaman 112, menyebutkan beberapa penyakit yang disebabkan oleh daging babi: “Daging babi mengandung benih-benih cacing pita dan cacing trachenea lolipia. Cacing-cacing ini akan berpindah kepada manusia yang mengkonsumsi daging babi tersebut. Patut dicatat, hingga saat ini, generasi babi belum terbebaskan dari cacing-cacing ini. Penyakit lain yang ditularkan oleh daging babi banyak sekali, di antaranya:

    1. Kolera babi. Yaitu penyakit berbahaya yang disebabkan oleh virus;
    2. Keguguran anak, yang disebabkan oleh bakteri prosillia babi.
    3. Kulit kemerahan, yang ganas dan menahun. Yang pertama bisa menyebabkan kematian dalam beberapa kasus, dan yang kedua menyebabkan gangguan persendian.
    4. Penyakit pengelupasan kulit. Benalu eskares, yang berbahaya bagi manusia.

    Fakta-fakta berikut cukup membuat seseorang untuk segera menjauhi babi.

    Babi adalah hewan yang kerakusannya dalam makan tidak tertandingi hewan lain. Ia makan semua makanan di depannya. Jika perutnya telah penuh atau makanannya telah habis, ia akan memuntahkan isi perutnya dan memakannya lagi, untuk memuaskan kerakusannya. Ia tidak akan berhenti makan, bahkan memakan muntahannya. Ia memakan semua yang bisa dimakan di hadapannya. Memakan kotoran apa pun di depannya, entah kotoran manusia, hewan atau tumbuhan, bahkan memakan kotorannya sendiri, hingga tidak ada lagi yang bisa dimakan di hadapannya.

    Ia mengencingi kotoranya dan memakannya jika berada di hadapannya, kemudian memakannya kembali. Ia memakan sampah, busuk-busukan, dan kotoran hewan. Ia adalah hewan mamalia satu-satunya yang memakan tanah, memakannya dalam jumlah besar dan dalam waktu lama, jika dibiarkan. Kulit orang yang memakan babi akan mengeluarkan bau yang tidak sedap. Penelitian ilmiah modern di dua negara Timur dan Barat, yaitu Cina dan Swedia – Cina mayoritas penduduknya penyembah berhala, sedangkan Swedia mayoritas penduduknya sekular-menyatakan: daging babi merupakan penyebab utama kanker anus dan kolon.

    Persentase penderita penyakit ini di negara-negara yang penduduknya memakan babi, meningkat secara drastis. Terutama di negara-negara Eropa, dan Amerika, serta di negara-negara Asia (seperti Cina dan India). Sementara di negara-negara Islam, persentasenya amat rendah, sekitar 1/1000. Hasil penelitian ini dipublikasikan pada 1986, dalam Konferensi Tahunan Sedunia tentang Penyakit Alat Pencernaan, yang diadakan di Sao Paulo.

    Kini kita tahu betapa besar hikmah Allah mengharamkan daging dan lemak babi. Untuk diketahui bersama, pengharaman tersebut tidak hanya daging babi saja, namun juga semua makanan yang diproses dengan lemak babi, seperti beberapa jenis permen dan coklat, juga beberapa jenis roti yang bagian atasnya disiram dengan lemak babi. Kesimpulannya, semua hal yang menggunakan lemak hewan hendaknya diperhatikan sebelum disantap. Kita tidak memakannya kecuali setelah yakin bahwa makanan itu tidak

    mengandung lemak atau minyak babi, sehingga kita tidak terjatuh ke dalam kemaksiatan terhadap Allah SWT, dan tidak terkena bahaya-bahaya yang melatar belakangi Allah SWT mengharamkan daging dan lemak babi.

    • * *

    Dari buku, Hidangan Islami: Ulasan Komprehensif Berdasarkan Syari`at dan Sains Modern

    Penulis: Syeikh Fauzi Muhammad Abu Zaid

    Penerjemah: Abdul Hayyie al Kattani, Cet : I/1997

    Penerbit: Gema Insani Press

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 31 January 2017 Permalink | Balas  

    Meneladani Rasulullah saw. 

    nabi-muhammad-rasulullah-sawMeneladani Rasulullah saw.

    Oleh : Yahya Abdurrahman

    Pengantar Redaksi:

    Mengikuti (al-ittiba’) dan meneladani (at-ta’asi) Rasul saw. sangat penting agar umat tidak tersesat. Maknanya, umat harus mengikuti dan meneladani perkataan, perbuatan dan persetujuan Rasul saw. Agar bisa meneladani Rasul saw. secara sempurna dan tidak terpelanting menyalahi syariat, kaidah-kaidahnya perlu dipahami. Kaidah—terutama untuk perbuatan Rasul saw.—secara singkat dibahas dalam buku pertama rangkaian pembinaan Hizbut Tahrir, yakni Nizham al-Islam, halaman. 80-81 (edisi mu’tamadah). Pembahasan ini termasuk pembahasan ushul. Penjelasan lebih detail dapat kita jumpai dalam buku as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, jilid III halaman. 84-96. Pembahasan masalah ini juga banyak bertebaran dalam buku-buku Ushûl al-Fiqh karya para ulama salaf maupun khalaf. Berikut paparannya.

    Seluruh elemen umat sepakat bahwa as-Sunnah merupakan dalil syariat. As-Sunnah diartikan sebagai semua yang bersumber dari Nabi saw.—selain al-Quran—baik berupa perkataan, perbuatan maupun taqrir (diam/ persetujuan) beliau.

    As-Sunah merupakan hujah yang harus diikuti sesuai dengan ketentuan yang diberikan. Allah Swt. berfirman;

    Katakanlah, “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Ali ‘Imran [3]: 31).

    Wajibnya Ittiba’ kepada Rasul saw. ini dinyatakan secara umum, artinya mencakup semua yang keluar dari beliau baik berupa perkataan, perbuatan, maupun diam (persetujuan)-nya beliau.

    Seruan beliau berupa takhyir (pilihan) antara melakukan atau meninggalkan jelas status hukumnya mubah. Seruan berupa perintah (tuntutan untuk melaksanakan) atau larangan (tuntutan untuk meninggalkan) harus dikaitkan dengan qarinah-nya untuk mengetahui tegas dan tidaknya tuntutan itu, yakni apakah perintah itu bersifat tegas sehingga wajib dilaksanakan atau tidak tegas sehingga hukumnya sunah saja; juga apakah larangan beliau itu bersifat tegas sehingga hukumnya haram atau tidak tegas sehingga hukumnya makruh.

    Persetujuan (taqrir) beliau adalah terjadi ketika sahabat melakukan sesuatu di hadapan beliau atau tidak di hadapan beliau tetapi diketahui/sepengetahuan beliau, lalu beliau diam saja. Itu berarti, apa yang dilakukan sahabat itu hukumnya mubah.

    Meneladani Perbuatan Rasul saw.

    Para ulama lebih sering menyebut ittiba’ kepada Rasul saw. dengan istilah meneladani perbuatan Rasul saw. (at-ta’asi bi af’al ar-Rasûl).

    Meneladani Rasul saw. adalah wajib, tentu sesuai dengan ketentuan hukumnya; apakah wajib, sunnah, haram, makruh, atau mubah. Shalat lima waktu, misalnya, wajib, ya kita ikuti sebagai sebuah kewajiban; shalat malam (tahajud) sunnah, ya kita laksanakan sebagai sunnah; meminum khamar haram, ya kita teladani sebagai sebuah keharaman; dst.

    Jadi, meneladani perbuatan Rasul saw. berarti melakukan perbuatan persis dengan perbuatan beliau (bi mitsli fi’lihi, di atas niat atau maksudnya (‘ala wajhihi), dan karena perbuatan beliau (min ajli fi’lihi).1 Meneladani perbuatan Rasul saw. harus memenuhi tiga batasan ini. Jika tidak maka tidak terkategori sebagai peneladanan.2

    1. Bi mitsli fi’lihi (persis dengan perbuatan Nabi saw.)

    Maksudnya, perbuatan itu harus sama persis dengan potret perbuatan Nabi saw.; jika berbeda maka itu bukan peneladanan. Misal, membasuh muka sebanyak tiga kali dalam berwudhu. ‘Amru bin Syu’aib menceritakan, bahwa seorang Arab baduwi datang kepada Nabi saw. dan bertanya mengenai berwudhu, lalu ia melihat Rasul saw. berwudhu dengan tiga kali, tiga kali; kemudian Rasul saw. bersabda:

    Inilah tatacara berwudhu. Siapa saja yang menambah ini maka ia telah berbuat buruk, melampaui batas, dan zalim (HR Ahmad, an-Nasa’i, dan Ibn Majah).

    Contoh lainnya adalah ketidakbolehan memungut zakat profesi, zakat atas rumah, zakat atas mobil, dll. Sebab, al-Hasan berkata:

    Nabi saw. tidak mewajibkan zakat kecuali pada sepuluh (jenis harta): gandum, jewawut, kurma, kismis, sorghum, unta, sapi, kambing, emas, dan perak. (HR al-Baihaqi).

    1. ‘Ala Wajhihi.

    Maknanya, melaksanakan perbuatan sesuai dengan maksud, tujuan, atau niat Rasul melakukan perbuatan itu. Artinya, meneladani perbuatan Rasul saw. dari sisi apakah perbuatan itu wajib, sunnah atau mubah. Sebab, suatu perbuatan yang dilakukan persis seperti perbuatan Nabi saw., namun berbeda niatnya, tidak bisa disebut peneladanan. Misal, Rasul shalat dengan niat sunnah, lalu kita melakukan persis seperti shalat Rasul itu dengan niat wajib, maka itu bukan meneladani, tetapi menyalahi beliau.

    1. Min ajli fi’li-hi.

    Artinya, perbuatan itu dilaksanakan karena Rasul melakukan perbuatan tersebut. Dengan kata lain, perbuatan itu dilakukan dengan alasan mencontoh Rasul saw. Jika dua perbuatan dilakukan persis sama dan dengan niat yang sama pula, namun bukan dimaksudkan untuk mencontoh satu sama lain, maka hal itu bukan peneladanan.

    Waktu dan tempat Rasul melakukan suatu perbuatan secara umum tidak masuk dalam bagian yang harus diteladani, sekalipun berulang-ulang; kecuali jika terdapat nash yang menunjukkan pengkhususan suatu aktivitas ibadah pada tempat dan atau waktu tertentu—jika demikian maka tempat dan waktu itu menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas yang harus kita teladani. Hal ini seperti dikhususkannya shalat dan puasa pada waktu-waktunya, haji dengan segala manasiknya di Makkah dan pada waktu tertentu, dsb.

    Ketentuan ini dilihat dari sisi kewajiban mengikuti dan meneladani (al-ittiba’ wa at-ta’asi) Rasul saw. Sedangkan dari sisi melakukan perbuatan yang dilakukan Rasul saw. (al-qiyam bi al-fi’li), ketentuannya adalah sebagai berikut:3

    Pertama, perbuatan Jibiliyyah, yakni perbuatan Rasul yang beliau lakukan sebagaimana biasanya manusia. Perbuatan itu merupakan karakter alamiah manusia, baik Rasul maupun bukan; seperti berdiri, duduk, makan, minum, berjalan, tidur, dan sebagainya. Perbuatan seperti ini mubah, baik bagi Rasul maupun bagi umatnya.

    Kedua, perbuatan yang ditetapkan nash sebagai kekhususan bagi Rasul (khawwash ar-Rasûl). Contohnya seperti puasa wishal (puasa terus-menerus), menikahi wanita lebih dari empat orang, dsb. Perbuatan itu hanya khusus bagi Rasul dan kita haram melakukannya.

    Ketiga, perbuatan Rasul yang merupakan penjelasan (bayan) atas seruan terdahulu. Perbuatan ini tanpa diperselisihkan menjadi dalil yang harus kita ikuti. Status hukum perbuatan ini mengikuti status seruan yang dijelaskan (al-mubayyan). Jika yang dijelaskan wajib, maka hukum perbuatan itu wajib. Jika yang dijelaskan sunnah maka sunnah melakukannya. Jika yang dijelaskan mubah maka mubah pula melakukannya.

    Penjelasan (bayan) itu bisa dengan perkataan secara jelas (sharih al-maqal). Bayan seruan wajib contohnya sabda Rasul saw.:

    Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat (HR al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

    Contohlahlah dariku tatacara haji kalian. (HR Muslim dan an-Nasa’i).

    Bayan seruan sunnah adalah seperti penjelasan Rasul tentang berkurban. Abu Bardah bercerita, Rasul saw. pernah berkhutbah kepada kami:

    Siapa yang shalat dengan shalat kami, menghadapkan wajahnya ke kiblat kami, dan berhaji dengan ibadah haji kami, maka hendaknya ia tidak menyembelih (kurban) hingga ia shalat (‘Id Adha) (HR Muslim).

    Jabir bin Abdullah berkata:

    Kami berkurban bersama Nabi pada tahun Perjanjian Hudaibiyah seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang. (HR Muslim, Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

    Bayan atas seruan sunnah, misalnya, penjelasan tentang memakai cincin. Sesungguhnya Nabi saw. memakai cincin yang terbuat dari perak yang diukir di atasnya. (HR al-Bukhari dan Abu Dawud). Rasulullah saw. memakai cincin di tangan kanannya. (HR al-Bukhari, Ahmad, an-Nasa’i, at-Tirmidzi, dan Ibn Majah).

    Bisa juga bayan itu disampaikan sebagai qara’in ahwal (indikasi dalam bentuk perbuatan tertentu). Misal, ketika ada ungkapan mujmal atau umum yang hendak di-takhshish (dikhususkan) atau ungkapan mutlaq yang hendak di-taqyid (dibatasi), namun belum di-takhsis atau di-taqyid oleh Rasul, lalu saat dibutuhkan, Rasul saw. melakukan suatu perbuatan yang layak dijadikan bayan. Contoh, Rasul memotong tangan pencuri sampai pergelangan tangan sebagai penjelasan QS al-Maidah (5) ayat 38; pelaksanaan hukuman rajam merupakan bayan atas had zina; tayamum dengan mengusap muka dan tangan sampai siku sebagai penjelasan QS an-Nisa’ (4) ayat 43.

    Keempat, selain ketiga jenis di atas (bukan jibiliyyah, bukan khawwash ar-rasûl, dan bukan bayan seruan terdahulu), maka kemungkinan hukumnya bisa wajib, sunnah, atau mubah. Perbuatan Rasul itu semata-mata menunjukkan adanya thalab al-fi’li (tuntutan agar dilaksanakan). Ia membutuhkan qarinah (indikator) yang akan menentukan apakah tuntutan itu bersifat pasti (wajib), tidak pasti (sunnah) ataukah berupa pilihan (mubah). Berikut contoh untuk ketiga hukum tersebut:

    Pertama, jika dalam perbuatan itu tampak adanya maksud taqarrub kepada Allah maka hukumnya sunah. Sebab, adanya maksud taqarrub jelas menunjukkan bahwa melaksanakan lebih dikuatkan dari meninggalkan. Hanya saja, penguatan itu tidak bersifat pasti. Jadi, hukumnya sunnah. Contohnya membaca doa qunut pada shalat subuh. Beliau melakukannya selama sebulan lalu meninggalkannya. Karena mengandung maksud taqarrub kepada Allah, maka itu menunjukkan bahwa melakukannya lebih dikuatkan, sehingga hukumnya sunnah.4

    Kedua, jika Rasul melakukan suatu perbuatan, lalu dalam kesempatan lain meninggalkannya, dan di dalamnya tidak terdapat maksud taqarrub, maka perbuatan itu hukumnya mubah. Contohnya berdiri ketika ada jenazah lewat. Diriwayatkan bahwa jenazah lewat di depan Ibn ‘Abbas dan al-Hasan, lalu salah satu berdiri dan yang lain tetap duduk. Yang berdiri berkata kepada yang duduk, “Bukankah Rasul saw. telah berdiri (ketika jenazah lewat)?” Yang duduk menjawab, “Benar, tetapi beliau juga pernah tetap duduk.”5

    Rasul saw. mengadakan jamuan makan dan mengundang kerabat beliau sebagai cara untuk mengumpulkan dan mendakwahi mereka. Lalu beliau tidak melakukannya lagi. Karena itu, mengundang jamuan makan itu sebagai cara dakwah hukumnya mubah, yang dalam istilah fiqh ad-da’wah disebut uslûb.

    Ketiga, jika Rasul saw. melakukan perbuatan secara kontinu, dan beliau tetap melakukannya meskipun mendapat kesulitan, maka hukum perbuatan itu adalah wajib. Misalnya, tatsqif (pembinaan) bagi sebuah jamaah dakwah. Sebab, Rasul saw. melaksanakan tatsqif sepanjang hidup dan tidak pernah meninggalkannya. Contoh lain, aktivitas shira’ al-fikr (pergolakan pemikiran) adalah wajib, karena Rasul saw. mencela akidah kafir Quraisy; mencela sesembahan mereka; mencela, memburukkan, dan membatilkan sistem kehidupan mereka. Beliau (juga para sahabat) tetap melakukan semua itu meski mendapatkan kesulitan bahkan siksaan fisik. Begitu juga kifah as-siyasiy (perjuangan politik) membongkar kezaliman penguasa dan strategi musuh-musuh Islam. Thalab an-nushrah juga hukumnya wajib, karena Rasul terus melakukannya dengan mendatangi sekitar 19 kabilah. Semua menolak bahkan secara buruk seperti Bani Tsaqif di Thaif, Bani Hamdan dan Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah; dan hanya kaum Anshar yang menjawabnya. Wallah

    a’lam bi ash-shawab. d

    Catatan Kaki

    1 Qadhi Taqiyyuddin an-Nabhani, as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, III/93.

    2 Lihat, Pernyataan Al-Kamal bin al-Humam (790 –861 H/1388 – 1457 M), di antara ulama mazhab Hanafi, dalam at-Taqrir wa at-tahbir, 2/404, Dar al-Fikr, Beirut, cet. I. 1996; Muhammad bin ali bin at-Thayib al-Bashri, Abu al-Husayn (w 436 H), Al-Mu’tamad fi Ushûl al-Fiqh, I/343-345, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, cet. I. 1403 H; Imam al-Amidi (551-631 H), di antara ulama mazhab Syafi’i, Al-Ihkam fi Ushûl al-Ahkam, juz I hal. 226, Dar al-Kitab al-’Arabi, Beirut. Cet. I. 1404 H.

    3 Lihat: al-Qadhi an-Nabhani, as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, III/84-88; Imam al-Amidi, al-Ihkam, I/226-seterusnya; Syaikh ‘Atha’ ibn Khalil, Taysir al-Wushûl ila al-Ushûl, hlm. 75-76, Dar al-Umamh, cet. III (mazid wa munaqqahah), Beirut. 2000; Hafizh Abdurrahman, Ushul Fih Membangun Paradigma Berpikir Tasyri’iy, hlm. 87-89; al-Azhar Press. 2003.

    4 Lihat: HR. Bukhari, hadis no. 3781; Muslim, hadis no. 1087, 1088; Abu Dawud, hadis no. 1233; dll.

    5 HR at-Thabrani dalam Mu’jam al-Awsath. Hadis no. 2490.

    hizbut-tahrir.or.id

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 30 January 2017 Permalink | Balas  

    Bolehkah Menghadiri Upacara Pemakaman Mayat Orang Non-Islam ? (2/2) 

    takziahBolehkah Menghadiri Upacara Pemakaman Mayat Orang Non-Islam ? (2/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaa

    Memasuki Gereja

    Gereja ialah sebuah bangunan tempat beribadat penganut Kristian. Gereja disebut pelbagai nama mengikut saiz dan penggunaannya. Jikalau gereja kecil dan penggunaannya dikhaskan ia disebut chapel. Tetapi terdapat juga istilah umum yang digunakan untuk gereja yaitu disebut church. Abbey pada asalnya bermakna asrama paderi-paderi tetapi kini telah diperluaskan penggunaannya hingga lebih membawa arti gereja besar. Biasanya bahagian utama gereja berbentuk salib. Gerbang gereja pada mulanya berbentuk bulat, tetapi kemudiannya tirus ke atas bagi melambangkan keteguhan dan keagungan. (Ensiklopedia Malaysiana: 5/109-110)

    Jika berlaku kematian, biasanya mayat orang kafir (Kristian) dibawa ke dalam gereja bagi menjalankan upacara khas keagamaan dan ia adalah menjadi salah satu syi’ar atau tanda khusus bagi agama mereka. Cara seperti ini tidak ada di dalam Islam dan bagi orang Islam sendiri tidak dibenarkan turut bersama mengikuti atau menyertai acara keagamaan mereka itu.

    Menurut sesetengah kitab yang menghuraikan hukum-hukum yang berkaitan dengan orang kafir zimmi ada menyebutkan bahwa gereja-gereja mereka itu adalah tempat-tempat laknat, kemarahan dan kemurkaan turun kepada mereka di dalamnya sebagaimana dikatakan oleh sebahagaian sahabat: “Jauhi oleh kamu akan orang-orang Yahudi dan Nashrani di hari-hari kebesaran mereka karena kemurkaan turun kepada mereka pada hari-hari itu”. Selain daripada itu, gereja itu termasuk di antara rumah (tempat) musuh-musuh Allah, rumah musuhNya pula adalah tidak layak dijadikan tempat beribadat kepadaNya. (Ibn Qayyim Al-Jauziah, Ahklam Ahl Zimmah, 3:1230-1231)

    Apabila demikian halnya gereja itu, maka tidak elok bagi seseorang Muslim memasukinya tanpa sebab-sebab tertentu, sebagaimana dicatatkan dalam sejarah pembukaan Bait Al-Muqaddas bahwa Sayyidina Umar Radhiallahu ‘anhu pernah memasuki gereja Al-Qummamah (Al-Qiyamah) dan sempat duduk di dalamnya dan apabila tiba waktu sembahyang beliau keluar. Tindakan Sayyidina Umar ini lebih banyak bermotifkan politik Islamiyah yang pada masa itu di mana agama Islam baru mula bertapak di kawasan Bait Al-Muqaddas dan Umar sendiri memasukinya bukan karena sukakan atau cenderung kepada gereja atau ajaran mereka. (Muhammad Redha, Al-Faruq: Umar bin Al-Khattab: 208)

    Syarat-Syarat Memasuki Gereja

    Menurut ulama Syafi’e hukum memasuki gereja itu dibolehkan dengan beberapa syarat. Antara syarat-syarat itu ada kebenaran daripada pihak gereja dan di dalam gereja itu pula tidak terdapat gambar atau patung-patung yang dimuliakan seperti gambar atau patung yang disangkakan orang Nashrani sebagai gambar atau patung Nabi Isa ‘Alaihishshalatu wasallam, atau Sayyidatina Maryam dan lain-lain.

    Jika syarat-syarat ini tidak terpenuhi, maka tidak harus memasukinya (haram) masuk gereja disebabkan ada gambar-gambar atau patung yang dihormati oleh mereka yang diletakkan dalam gereja itu.

    Dalam hal ini Ibnu Hajar dan Imam Ali Al-Syibramalisi Rahimahullah menyebutkan bahwa tidak harus memasuki gereja kecuali dengan ada izin kebenaran daripada mereka dan di dalamnya tidak terdapat gambar-gambar yang dimuliakan. (Tuhfah Al-Muhtaj: 9/295 & Hasyiah Nihayah Al-Muhtaj: 8/99)

    Termasuk juga syarat itu hendaklah masuknya itu tidak membawa kesan cenderung atau mengiktiraf kepada ajaran gereja atau akan membawa dia mempersendakan Islam bersama-sama orang kafir sehingga boleh merusakkan aqidahnya. (Fatwa Abdul Halim Mahmud: 198)

    Berasaskan kepada huraian di atas, adalah dibolehkan mengikuti serta menyertai jenazah orang kafir dari tempat kediaman asalnya sehingga sampai ke tempat pengkebumiaannya, termasuk ke gereja yang sunyi daripada gambar-gambar dan patung yang disebutkan.

    Walau bagaimanapun perlu diingat bahwa orang Islam adalah haram menghadiri atau menyertai mana-mana acara peribadatan atau acara khas keagamaan agama yang lain, sama ada ia dilakukan di gereja, di kuil, rumah atau di mana-mana tempat sekalipun.

    Dengan demikian perkara orang Islam datang ke gereja untuk hanya sekadar memberi takziah dan simpati kepada keluarga terdekat atau teman rapat adalah harus, yaitu selama tidak menyertai acara khusus keagamaan mereka dan di tempat itu tidak ada gambar-gambar atau patung yang mereka muliakan.

    wallohu a’lam bis-showab

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 29 January 2017 Permalink | Balas  

    Bolehkah Menghadiri Upacara Pemakaman Mayat Orang Non Islam (1/2) 

    takziahBolehkah Menghadiri Upacara Pemakaman Mayat Orang Non Islam (1/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaa

    Agama Islam sangat tegas dan keras dalam soal mempertahankan akidah Islamiyah, namun ia juga amat berlembut dan toleran dalam perkara-perkara tertentu seperti soal sosial dan kemasyarakatan yang melibatkan bagaimana mengatur di antara orang Islam dengan orang yang bukan Islam selama mana hubungan itu tidak menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal, lebih-lebih lagi tidak ada yang boleh menjejaskan atau merusakkan akidah orang Islam.

    Berbuat baik dan berlaku adil kepada semua orang adalah salah satu prinsip Islam. Karena Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam itu diutus oleh Allah Ta’ala bagi seluruh alam sebagai rahmat dan nikmat yang besar. Sesiapa yang beriman dan menurut syari’at Islam yang disampaikannya, selamatlah dia, dan sesiapa yang kufur ingkar, celakalah dia di dunia dan di akhirat, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    Tafsirnya: “Dan tiadalah kami mengutus engkau (wahai Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam”. (Surah Al-Anbiya’: 107)

    Begitu juga berbuat baik kepada orang yang bukan Islam tidak dilarang oleh Islam. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firmanNya:

    Tafsirnya: “Allah tidak melarang kamu daripada berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama (kamu), dan tidak mengeluarkan kamu daripada kampung halaman kamu; sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berlaku adil”. (Surah Al-Mumtahinah: 8)

    Islam juga tidak melarang bermu’amalah seperti berjual beli, saling berkunjung, menghormati mereka sebagai individu dalam batas pergaulan dan hubungan mengikut sukatan mujamalah asalkan bukan karena memenuhi tuntutan acara keagamaan mereka atau lainnya yang bertentangan dengan syara’.

    Pendeknya Islam juga tidak melarang menjalin hubungan silaturahim dengan orang bukan Islam dalam batas yang diizinkan oleh syara’, apa lagi mereka itu keluarga terdekat seperti ibu bapa, adik, abang dan sebagainya. Hal ini telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadis, Baginda bersabda:

    Maksudnya: “Daripada Asma’ binti Abu Bakar Radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Telah datang ibuku kepadaku di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sedangkan (ketika itu) dia masih musyrik (belum Islam). Maka aku meminta fatwa kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu aku berkata: “Dia (ibuku) menginginkan sesuatu daripadaku, adakah aku menghubungkan silaturahim kepadanya? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ya, hubungkanlah silaturahim dengannya”.

    (Hadis riwayat Al-Bukhari)

    Dalam hubungan ini jika berlaku kematian di kalangan mereka yang kafir zimmi, bagaimana sikap orang Islam mengenainya?

    Perlu diketahui bahwa pada dasarnya apabila berlaku kematian ke atas orang kafir zimmi adalah dituntut supaya mereka tidak menzahirkan penanaman mayat dan kematian mereka secara terang-terangan. (Al-Raudhah: 10/333)

    Mengiringi Mayat Orang Kafir Ke Kubur

    Islam tidak melarang perkara takziah dengan menghadiri atau mengikuti mayat orang kafir ke tempat pengkebumian, jika mayat itu terdiri daripada keluarga terdekat seperti isteri, jiran, teman rapat, maula dan hambanya. Keharusan menghadiri atau mengikuti mayat orang bukan Islam ini berdasarkan riwayat daripada Ali Karramallahu wajhah di mana beliau memberitahu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa saudara Baginda yang sesat (belum menganut Islam) telah mati, lalu Baginda mengarahkan Ali untuk menghadirinya. (Qalyubi wa ‘Umairah: 1/406 & Fath Al-‘Allam: 3/280)

    Menurut Kitab Fath Al-‘Allam, jika mayat itu orang lain seperti bukan ahli keluarganya maka hukumnya adalah haram. (Fath Al-‘Allam: 3/280)

    Adab Ketika Menziarahi Mayat Orang Kafir

    Islam tidak melarang menghadiri pengkebumian mayat orang kafir bahkan memberikan etika dan cara ketika menghadiri mayat tersebut.

    Etika dan cara menghadiri mayat orang kafir dicatatkan dalam beberapa riwayat yang ada kaitan mengenainya, di antaranya:

    Maksudnya: “Muhammad bin Al-Hassan bin Harun berkata: “Abu Abdullah ditanya: “Dan adakah dia boleh menghadiri mayatnya? “Beliau menjawab: “Ya, boleh sebagaimana yang dilakukan oleh Al-Harith bin Abu Rubai’ah di mana dia menghadiri mayat ibunya dan dia hanya berada di tepi dan tidak berada di dekat mayat karena mayat itu dilaknat”.

    Dalam sebuah riwayat yang lain:

    Maksudnya: “Daripada Abdullah bin Ka’ab bin Malik daripada bapanya: “Qais bin Syammas datang menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, katanya lagi: “Ibunya kebetulan mati sebagai seorang Kristian dan dia ingin menghadiri mayatnya”, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Naiki kenderaanmu dan berjalanlah di hadapan mayatnya, karena apabila engkau menunggang dan engkau berada di hadapannya maka engkau tidak dikira bersamanya”.

    (Hadis riwayat Ad-Daruqutni: 2/75-76)

    Berdasarkan riwayat di atas, keharusan menghadiri dan mengucapkan takziah di dalam majlis yang ada padanya mayat orang kafir hanyalah sekadar menunjukkan simpati saja dan tidak terlalu dekat dengan mayat, manakala ketika membawanya ke tempat pengkebumian pula, maka beradalah di hadapan mayat, bukan di arah belakang.

    Simpati (takziah) yang ditunjukkan itu hanya sekadar muamalah saja dan kehadiran itu pula tidak sekali-kali dikaitkan dengan agama dan akidah. Dengan lain perkataan kehadiran itu bukan karena mengikut acara keagamaan mereka.

    Dengan yang demikian bertakziah dengan menghadiri mayat orang kafir daripada kalangan keluarga atau teman rapat dalam batas-batas yang tidak termasuk dalam acara keagamaan mereka adalah diharuskan.

    Bersambung

     
  • erva kurniawan 1:12 am on 28 January 2017 Permalink | Balas  

    Rahasia Lautan 

    masjid_2_utuh_tsunami_acehRahasia Lautan

    Jauh sebelum sejumlah pakar menemukan teori gelombang tsunami dan gempa di dasar laut, al-Qur’an sudah menjelaskan teori gelombang yang bergulung-gulung, dan api yang keluar dari dasar lautan itu.

    Selain keyakinan kita bahwa musibah adalah peringatan dari Allah SWT, makna apa yang bisa menjelaskan pada kita akan hadirnya badai dasyat bernama ‘tsunami’ yang menerjang hampir seluruh pantai di pesisir Asia tanggal 26 Desember 2004?

    Sebuah air bah dasyat, menjulang tinggi, setinggi gunung kelapa. Laksana makluk raksasa, dia bisa menghajar dan menghancurkan gedung-gedung. Dia juga bisa menggulung manusia dan mencampurnya dengan urapan sampah rumah dan bangkai-bangkai mobil. Lalu melemparkan kapal berbobot 200 ton jauh ke kota. Seolah memiliki tangan kekar, dia juga mampu menjebol beton besi, menyeretnya dengan jarak berkilo-kilo dan menariknya kembali ke dasar laut lepas dan kemudian hilang tanpa bekas. Dia bukan layaknya monster raksasa dalam film fiksi animasi kesukaan anak-anak buatan Jepang. Bahkan, dia hanyalah air biasa.

    Siapa menyangka, air, –yang tadinya– indah dan tenang, di mana semilir angin dan suara deburan ombaknya menjadi tempat banyak orang melepas penat. Kejernihan air yang di dalamnya ada banyak rizki yang menjadi satu-satunya tempat masyarakat bergantung hidup. Tiba-tiba, kini, benda cair itu dianggap makluk menakutkan yang bisa berlari cepat memburu dan menyeret kaki-kaki manusia.

    Kecuali, sedikit dari orang-orang yang hanya mau berfikir, tak banyak orang begitu paham. Sekalipun dia ilmuwan dan pakar yang telah menekuni ilmu selama puluhan tahun. Bahkan untuk membaca tanda-tandanya saja, mereka masih kalah dengan hewan.

    Kandungan Lautan

    Kenyataannya, laut yang -kini dianggap mengerikan-itu bukanlah semata tempat ghaib. Dia adalah tempat nyata dan paling menakjubkan yang telah diberikan Allah hanya untuk manusia. Laut berserta airnya, adalah tempat mengais rizki yang tak pernah habis-habisnya. Kandungannya menjanjikan kemakmuran dan kesejahteraan manusia. Dan permukannya bisa memudahkan kita melakukan perjalanan jauh melintas benua. Hanya karena kebodohan kitalah, air dan lautan itu tak ubahnya seonggok barang yang tak berarti.

    Sudah menjadi rahasia umum, semenjak ilmu pengetahuan mencapai kejayaannya, tak banyak orang yang memalingkan wajahnya ke lautan. Bahkan sejak industri dikenal luas, banyak sainstis -dengan dukungan penguasa-terus-terusan menghabisan miliaran dollar untuk meneliti luar angkasa dan bintang-bintang.

    Karenanya, penelitian luar angkasa terlihat lebih glamour dibanding meneliti lautan beserta kandungannya. Sebutan Rocket Scientist mungkin kelihatan lebih trendy dibanding Marine Geophysict atau Marine Biologist.

    Tapi banyak orang lupa. Justru di lautanlah masa lalu dan masa depan kebergantuan umat manusia berada. Negara-negara besar dan kuat hanyalah negara-negara yang memiliki angkatan laut yang besar dan kuat. Negeri-negeri kaya masa depan adalah negeri-negeri yang memiliki laut atau kepulauan dengan kandungan yang kaya. Sedangkan negeri-negeri yang hanya dikeliling daratan (lanlock) akan lebih susah berkembang.

    Beberapa negara, seperti; Jepang, Inggris, Irlandia, Singapura, Hong Kong, Taiwan, Selandia Baru, Bahrain adalah negara pulau. Juga negara-negara pesisir yang kuat ekonominya karena ditopang industri maritim, seperti; Norwegia. Korea Selatan, Belanda dan Jerman.

    Faktanya, memiliki tak pernah bisa menguasai. Karena ketidakmampuan mengelola laut, negara-negara yang seharusnya kaya-raya karena memiliki sumber daya alam, mereka justru miskin dan hidupnya susah. Mereka memiliki tapi tak mampu menguasai. Di Sierra Leone, Afrika Barat, dikenal lautnya kaya intan. Namun, kekayaan itu justu dikeruk bangsa Eropa dan Amerika Serikat (AS). Di Papua dan Riau, dikenal memiliki kandungan emas dan minyaknya. Namun, pengelolanya bukan orang-orang pribumi. Mereka tak lain adalah bangsa Amerika, bukan kita.

    Ayat-ayat Allah

    Al-Qur’an telah 1400 tahun lalu memberikan rahasia kekayaan yang ada dilautan. Prof. Zaghoul dari Universitas of Petroleom, Dahran, Saudi Arabia, pernah mengamati kandungan al-Qur’an yang mengungkap misteri lautan. Menurutnya, ada sekitar 460 ayat yang mengungkap kandungan bumi dengan sangat rinci. Menyangkut bentuk, gerakan, dan asal-usulnya. Gunung-gunung, asal muasal atmosfer dan hidrosfer, kegelapan dilautan. Juga termasuk berbagai fenomena ilmu bumi (earthscience) dengan sangat rinci. Menyangkut geologi, geofisika, geokimia, geografi dan geodesi.

    Jauh sebelum lahirnya pakar-pakar tsunami dan gelombang laut, al-Qur’an secara detil dan menjelaskan akan keganasan gelombang laut. Akibat ketakjuban kandungan al-Qur’an ini, bahkan pernah mengantarkan seorang pelaut ulung asal Amerika memeluk Islam.

    Garry Miller, pernah bercerita, di Toronto, Kanada, ada seorang pelaut ulung yang menghabiskan waktunya di atas kapal dan seluruh hidupnya di atas lautan. Suatu ketika, seorang Muslim meminjamkannya al-Qur’an. Pria ini kemudian terkaget-kaget setelah membaca isi al-Qur’an Surat An-Nur: 40, yang mengunggap teori gelombang laut.

    “Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang bertindih-tindih, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa oleh Allah tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitnya.” (QS. An-Nur: 40)

    Sebuah perumpamaan yang luar biasa, “..diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak, dan di atasnya awan; gelap gulita yang bertindih-tindih” , tentu bukanlah sebuah gelombang biasa. Dia sebuah badai laut besar yang bertumpuk-tumpuk dan mengulung-gulung. Dialah gelombang maha dasyat itu.

    Menurut Garry Miller, karena kekaguman isi kandungan Al-Qur’an itu, sang pelaut lantas bertanya kepada si pemilik al-Qur’an. “Apakah Muhammad itu seorang pelaut?. Bukan, bahkan sesungguhnya Muhammad tinggal di tengah gurun pasir.” Jawaban itu kontan membuat sang pelaut mengimani al-Qur’an dan segera memeluk Islam. Bagaimana mungkin, ada sebuah kitab mampu menjelaskan teori ombak besar bertindih-tindih sedang penyampai risalah itu (Nabi Muhammad) justru tinggal di sebuah padang pasir cadas Mekah dan Madinah, yang jauh lebih dari 100 KM dari pesisir Laut Merah jika bukan sebuah kitab suci?

    Al-Qur’an tak hanya mengulas rahasia gelombang dasyat semata. Apa yang akan Anda pikirkan dengan isi kandungan QS. Al-Thur ayat 6 yang isinya berbunyi, “Dan lautan yang di dalam tanahnya ada api.” Bagi orang-orang yang tak mau merenung dan berfikir, akan sulit memahami isi al-Qur’an apalagi kemudian menyatakan segera berserah diri bahwa Allah adalah Tuhan yang maha benar.

    Istilah gelombang yang bergulung-gulung, dan api yang keluar dari dasar lautan itu sudah ada 1400 tahun lalu, sebelum pakar-pakar tsunami mampu menjelaskan ada ombak berbahaya dan menakutkan atau gempa di dasar lautan.

    Ketika baru beberapa taun ini para ilmuwan mampu membuktikan bahwa bola bumi tidak statis alias bergerak, melalui pengukuran geomagnetik, mereke gembira luar-biasa karena bisa menjelaskan bahwa kulit bola bumi bisa berpindah-pindah dan bergerak. Tapi rupanya mereka kecele, sebab jauh sebelumnya, ribuan tahun lalu, al-Qur’an telah mengungkapnya secara gamblang.

    Dalam Surat an-Naml ayat 88 dan al-Thur ayat 10, al-Qur’an mengatakan dengan sangat jelas, “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sanga ia tetap ditempatnya, padahal dia berjalan sebagaimana jalan awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kukuh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Naml:88).

    Masih banyak penjelasan dari rahasia laut yang ditunjukkan Allah SWT dalam al-Qur’an -yang juga ditulis dalam buku ini – yang tentu tak bisa diungkap semuanya di sini. Jika kemudian banyak orang mengatakan semua agama sama, bisakah kita meletakkan kesamaannya dan membandingkan kitab suci mereka dengan al-Qur’an ? yang juga sama bisa menjelaskan gelombang yang bergulung-gulung, api yang keluar dari dasar lautan dan gunung yang bisa berjalan? Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu sembunyikan?

    Buku ini tebal -yang terdiri dari 5 bab- yang ditulis dengan menggunakan sentuan spiritual dan intelektual ini banyak mengungkap rahasia dan misteri lautan sebagaimana diungkap oleh al-Qur’an yang belum diungkap banyak orang.

    Buku yang ditulis saudara Agus Djamil, seorang geosaintis Islam Indonesia, banyak mengupas ayat-ayat qauliyyah dan ayat qauniyyah (al-Qur’an) mengenai lautan lengkap dengan teori-teori bumi beserta penjelasan tafsirnya. Kandungan rahasia lautan yang ada dalam al-Qur’an ini seharusnya semakin menambah iman orang akan kebenaran al-Qur’an. Kecuali orang-orang yang mendustakan agama.

    ***

    Resensi dari Buku: Judul: Al-Qur’an dan Lautan. Pengantar: Dr. Abdurahman R.A. Haqqi. Penulis: Agus S. Djamil. Penerbit: Arasy (Kelompok Mizan). Tahun: Cetakan I, Desember 2004. Tebal: 552 halaman.

    Artikel dari: Mengungkap Rahasia Allah dalam Lautan.

    Hidayatullah.com.

     
  • erva kurniawan 2:49 am on 27 January 2017 Permalink | Balas  

    Ucapan Takziah (2/2) 

    takziahUcapan Takziah (2/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Lafaz Ta’ziah

    Sebagaimana penjelasan di atas, sunat ke atas orang Islam mengucapkan ta’ziah kepada orang yang ditimpa musibah.

    Adapun ucapan ta’ziah itu jika ditujukan kepada ahli keluarga yang Islam dan bagi si mati yang Islam, lafaznya adalah seperti berikut yang artinya :

    “Semoga Allah membesarkan pahalamu dan membaikkan kesabaranmu dan mengampunkan bagi si matimu.”

    Persoalan yang timbul, bolehkah mengucapkan ta’ziah kepada orang orang bukan Islam dan bagaimanakah lafaznya?

    Ucapan Ta’ziah Bagi Orang Bukan Islam

    Harus (boleh) bagi orang Islam memberi ucapan ta’ziah kepada orang kafir zimmi bahkan sunat hukumnya jika mengharapkan Islamnya.

    Apabila si mati orang bukan Islam dan ucapan ta’ziah itu ditujukan kepada keluarganya yang Islam, lafaznya ialah seperti berikut :

    Artinya:”Semoga Allah membesarkan pahalamu dan kesabaranmu dan semoga Allah memberimu penggantinya.”

    Akan tetapi haram didoakan bagi mayat orang bukan Islam itu dengan memohon keampunan baginya, walaupun ucapan ta’ziah itu ditujukan kepada keluarga si mati yang Islam. Contoh lafaz mendoakan keampunan yang diharamkan bagi mayat orang bukan Islam itu seperti berikut :

    Artinya :”Semoga Allah mengampuni si matimu.”

    Berbeda halnya jika si mati itu orang Islam. Maka harus didoakan si mati itu dengan memohonkan keampunan, walaupun ucapan ta’ziah itu kepada keluarga yang bukan Islam bagi si mati yang Islam.

    Akan tetapi tidak boleh diucapkan ta’ziah kepada keluarga yang bukan Islam bagi si mati yang Islam itu dengan mendoakannya supaya Allah membesarkan pahala keluarga yang bukan Islam itu. Karena tiada pahala bagi orang-orang bukan Islam. Tetapi harus diucapkan ta’ziah kepada keluarga bukan Islam itu jika si mati orang Islam dengan lafaz seperti berikut :

    Artinya : “Semoga Allah mengampuni si matimu dan membaikkan kesabaranmu.” (Mughni Al-Muhtaj: 1/481-482)

    Manakala ucapan ta’ziah bagi ahli keluarga bukan Islam dan si mati yang bukan Islam, adalah lebih baik ditinggalkan karena itu mendoakan orang bukan Islam dengan berkekalan dan sentiasa dalam kekufurannya. Sebagai contoh lafaz ta’ziah yang ditujukan kepada keluarga bukan Islam dan si mati yang bukan Islam, yang mana lebih baik ditinggalkan itu ialah :

    Artinya : “Semoga Allah memberimu penggantinya.”

    Sebagaimana penjelasan di atas adalah haram bagi umat Islam mengucapkan ta’ziah kepada ahli keluarga yang bukan Islam dengan mendoakan semoga Allah membesarkan pahala mereka. Begitu juga mengucapkan bagi si mati yang bukan Islam dengan mendoakan keampunan. Karena mendoakan orang-orang bukan Islam itu ada batasnya, untuk lebih jelasnya dihuraikan hukum mendoakan orang bukan Islam.

    Hukum Mendoakan Orang Bukan Islam

    Terdapat garis pandu dan batas bagi keharusan mendoakan orang bukan Islam. Tidak semua doa atau permohonan itu diharuskan bagi mereka. Adalah haram mendoakan orang bukan Islam sama ada dia terdiri daripada keluarga sendiri ataupun sebaliknya, dengan doa yang berbentuk permohonan keampunan dan seumpamanya yang tidak layak disebut bagi orang bukan Islam. Karena itu dilarang sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tafsirnya :

    “Tidaklah dibenarkan bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, meminta ampun bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang itu kaum kerabat sendiri, sesudah nyata bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu adalah ahli neraka.” (Surah At-Taubah: 113)

    Daripada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Musa yang berkata yang maksudnya :

    “Orang-orang Yahudi berpura-pura bersin di majlis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan tujuan supaya Baginda bersabda dan mendoakan mereka dengan mendapat rahmat Allah – sebagaimana doa bagi orang-orang Islam apabila mereka bersin – Maka Baginda bersabda (kepada orang-orang Yahudi ketika mereka bersin) semoga Allah memberi hidayat kepada kamu dan membetulkan hal ehwal kamu.” (Hadis riwayat Tirmidzi)

    Daripada hadis di atas, jelas menunjukkan bahwa tidak harus mendoakan orang bukan Islam agar mereka mendapat keampunan dan rahmat daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala itu khusus bagi orang-orang yang beriman. Akan tetapi harus bagi kita mendoakan orang-orang bukan Islam itu supaya mendapat hidayat, taufiq serta beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Sebagaimana hadis yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata yang maksudnya :

    “Thufail bin ‘Amr datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya kabilah Daus telah menderhaka dan enggan (menerima Islam), mohonlah (berdoalah) kepada Allah agar ditimpakan keburukan ke atas mereka.” Orang-orang menyangka bahwa Baginda akan berdoa memohon sesuatu keburukan ke atas mereka (kabilah Daus). Maka Baginda bersabda: “Ya Allah! Berikanlah hidayat kepada kabilah Daus dan datangkanlah mereka sebagai orang-orang Islam.” (Hadis riwayat Bukhari)

    Sementara hadis yang diriwayatkan oleh Anas Radhiallahu ‘anhu berkata yang maksudnya :

    “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah minta tolong menimba air, lalu ada orang Yahudi yang menimbakan air untuk Baginda. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakannya: “Semoga Allah menjadikanmu tampan selalu.” Maka orang Yahudi itu sehingga meninggal dunia tidak pernah kelihatan uban dikepalanya.” (Hadis riwayat Ibnu as-Sunni)

    Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah diminta oleh sahabat Baginda iaitu Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, untuk mendoakan ibunya yang masih kafir supaya memeluk agama Islam. Lalu Baginda pun mendoakannya dan dimakbulkan permohonannya itu oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Doa-doa seperti di atas ini adalah diharuskan. Tetapi mendoakan orang bukan Islam dengan memohon keampunan dan keselamatan daripada azab dunia dan azab akhirat, maka itu adalah haram.

    Pada zaman yang semakin giat membangun ini, bermacam pendapat dan pemikiran yang timbul dan berbagai usaha yang dilakukan terutama sekali dalam strategi-strategi untuk melemah atau menjatuhkan umat Islam, sekaligus terhadap agama Islam itu sendiri.

    Apa yang jelas, melalui strategi-strategi yang nyata mahupun terselindung, budaya-budaya di luar kehendak syara’ beransur-ansur menyerap ke negara Islam sama ada melalui media massa atau berbagai bentuk saluran, secara tidak langsung atau terus menerus yang dapat dilihat oleh kaca mata orang Islam sendiri.

    Budaya-budaya yang dimaksudkan itu ialah seperti merayakan halloween dan valentine’s day, mencurahkan rasa sedih dengan menghidupkan lilin beramai-ramai, bertafakkur atau senyap dalam beberapa minit sebagai mengingati orang yang telah mati atau berkumpul untuk upacara blessing (memohon rahmat, restu dan berkat) untuk orang bukan Islam yang telah mati dalam upacara remembrance day dan sebagainya. Begitu juga, istilah beramal turut disalahgunakan seperti konsert amal, fun-fair amal dan sebagainya untuk mengaburi mata orang Islam yang kononnya pekerjaan itu adalah usaha yang berkebajikan. Akan tetapi sama ada disedari atau tidak pekerjaan dan acara-acara itu bercampur-aduk dengan berbagai perkara yang membawa kepada kemaksiatan dan dosa.

    Oleh yang demikian, hendaklah kita berhati-hati dalam melakukan sesuatu perkara. Berfikir panjang dalam membuat sesuatu keputusan sama ada itu menyalahi hukum Islam atau tidak. Tanpa disedari, seperti memperingati kematian orang-orang bukan Islam dan sekaligus mendoakan mereka itu dalam keampunan dan rahmat daripada Tuhan. Perkara inilah yang mesti kita ambil kira karena itu sudah jelas dilarang oleh Islam.

    Wallohu a’lam bis-shawab,-

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 26 January 2017 Permalink | Balas  

    Ucapan Takziah (1/2) 

    takziahUcapan Takziah (1/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Ta’ziah dari segi istilah bererti menyuruh seseorang dengan bersabar dan mendorongnya dengan pahala yang dijanjikan, memperingati daripada dosa, mendoakan bagi si mati dengan keampunan dan mendoakan bagi orang yang terkena musibah dengan mendapat penggantinya. (Mughni al-Muhtaj: 1/481)

    Sudah menjadi kebiasaan di kalangan masyarakat untuk menziarahi keluarga si mati atau orang yang terkena musibah. Amalan serupa ini amatlah digalakkan oleh Islam. Akan tetapi hendaklah diingat dan dijaga batasan-batasan dan etika yang diajarkan oleh Islam berhubung menziarahi keluarga si mati atau orang yang terkena musibah.

    Hukum Ta’ziah

    Para fuqaha tidak berselisih pendapat dalam mengharuskan ucapan ta’ziah kepada orang yang ditimpa musibah sama ada disebabkan kematian atau kebakaran dan sebagainya. Bahkan ta’ziah itu sunat diucapkan kepada mereka yang ditimpa musibah, sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Tiadalah seorang mukmin yang mengucapkan ta’ziah pada saudaranya yang ditimpa musibah, melainkan Allah Subhanah memberikannya pakaian daripada pakaian kehormatan di hari qiamat.” (Hadis riwayat Ibnu Majah)

    Adapun ta’ziah itu sunat diucapkan kepada ahli keluarga musibah pada keseluruhannya, sama ada terdiri daripada orang dewasa lelaki dan perempuan atau pun kanak-kanak yang berakal. Akan tetapi tidak boleh mengucapkan ta’ziah itu kepada perempuan yang muda melainkan sesamanya perempuan, suami atau pun mahramnya. Ini karena ditakuti akan mendatangkan fitnah.

    Waktu Dan Jangka Masa Ta’ziah

    Sunat mengucapkan ta’ziah kepada ahli keluarga musibah sebelum dan selepas menguburkan si mati. Adapun lebih afdhal mengucapkan ta’ziah itu selepas menguburkan si mati karena kesibukan ahli keluarga pada menguruskan mayat si mati. Berlainan halnya jika ahli keluarga itu terlalu sedih dan resah sebelum dikuburkan mayat tersebut, maka afdhal didahulukan ta’ziah itu bagi menghilangkan kesedihan dan keresahannya.

    Ucapan ta’ziah kepada ahli keluarga musibah itu, hendaklah tidak melebihi kira-kira tiga hari lebih kurang. Karena dalam jangka masa tiga hari itu, ahli keluarga musibah pada kebiasaannya hati mereka sudah mulai tenang dan tidak merasa sedih dan resah lagi. Oleh yang demikian, makruh mengucapkan ta’ziah kepada ahli keluarga si mati selepas berlalunya tiga hari agar tidak menimbulkan lagi kesedihan mereka. Akan tetapi jika salah seorang di antara orang yang mengucapkan ta’ziah dan orang yang diucapkan ta’ziah itu tidak ada pada masa tersebut, maka harus diucapkan ta’ziah itu selepas tiga hari.

    Menyediakan Makanan Bagi Ahli Keluarga Si mati

    Sunat bagi jiran dan kaum karabat yang jauh menyediakan makanan untuk ahli keluarga si mati, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada ahlinya ketika mendapat khabar kematian Saiyidina Ja’far bin Abi Thalib: yang maksudnya :

    “Kamu buatkanlah makanan bagi keluarga Saiyidina Ja’far, sesungguhnya telah didapati mereka itu kesibukan (atas kematian Saiyidina Ja’far).”

    (Hadis riwayat Tirmidzi)

    Haram menyediakan makanan kepada orang yang meratapi si mati (niyahah), seperti perempuan yang meraung menangis sambil menampar-nampar pipinya dan merobek-robek pakaiannya. Ini karena, orang yang menyediakan makanan untuk orang yang meratapi itu bekerjasama dalam maksiat. (I’anah At-Thalibin: 2/165)

    Adapun bagi ahli keluarga si mati itu sendiri adalah makruh menyediakan makanan dan mengumpulkan orang ramai bagi menjamu jamuan itu, karena itu dapat menambahkan kesedihan, kesibukan di samping menguruskan jenazah dan ia juga dapat menyerupai perbuatan orang jahiliah dan perbuatan ini juga adalah bid’ah makruhah. Sebagaimana dalam sebuah hadis daripada Jarir bin Abdillah Al- Bajaliy berkata yang maksudnya :

    “Kami (sahabat) mengiktibarkan berhimpun di tempat ahli keluarga si mati dan mereka (ahli keluarga si mati) membuat jamuan makanan selepas penguburan si mati: itu adalah sebagai satu niyahah (ratapan).” (Hadis riwayat Ibnu Majah)

    Adapun jika jamuan makan yang biasa dilakukan itu bertujuan untuk mendapatkan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi si mati, maka tujuan itu adalah baik.

    Akan tetapi jika ahli keluarga si mati itu memberatkan diri dengan berbagai-bagai makanan dengan tujuan ria’, bermegah-megah dan perkara-perkara yang dapat membawa kepada ria’ dan bertujuan untuk meratapi si mati, maka itu adalah perbuatan orang jahiliah.

    Bersambung

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 2:29 am on 25 January 2017 Permalink | Balas  

    Berbekam 

    bekamBerbekam

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Bekam atau bahasa Arabnya disebut hijamah bererti mengeluarkan darah kotor daripada badan seseorang dengan cara membedah sedikit pada bagian kepala atau belakang badan dan menghisap darah kotor dengan tanduk atau cawan panas yang ditelungkupkan pada tempat yang telah dibedah itu. (Kamus Dewan: 124)

    Pendapat sebagian fuqaha, perkataan hijamah bererti mengeluarkan darah daripada tengkuk dengan cara menghisapnya dengan alat-alat hajam (bekam) selepas dibedah. Al-Khattabi ada menyebutkan bahwa hijamah atau berbekam itu tidak dikhususkan tempatnya di tengkuk sahaja bahkan ia juga boleh dilakukan di mana-mana bagian badan. (Mausu’ah feqhiah: 17/14)

    Hukum Berbekam

    Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa berbekam itu merupakan satu perubatan tradisional yang sudah lama diamalkan oleh sebagian orang. Sehingga ada yang menjadikannya sebagai mata pencarian dalam menyara hidup seharian.

    Persoalan yang timbul adakah perubatan dengan berbekam itu disyariatkan, bolehkah ia dijadikan sebagai pekerjaan dan apakah kesannya terhadap keshahihan sesuatu ibadat?

    Perubatan dengan menggunakan kaedah bekam adalah disunatkan dalam Islam malahan ia merupakan di antara sebaik-baik cara perubatan. Sebagaimana yang disebutkan di dalam beberapa buah hadis yang di antaranya sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya:

    “Sebaik-baik perobatan bagi kamu ialah berbekam” (Hadis riwayat Ahmad)

    Sabda Baginda lagi yang maksudnya :

    “Kiranya ada suatu perubatan yang lebih baik bagi kamu, maka itulah dengan menggunakan pisau pembekam atau minuman daripada madu atau catukan (pagutan) dengan api dan aku sendiri tidak suka membakar dengan besi panas” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

    Sabda Baginda lagi yang maksudnya :

    Maksudnya: “Kesembuhan itu terdapat pada tiga cara: minum madu, pisau pembekam dan alat pengangus, dan aku melarang umatku membakar dengan besi panas” (Hadis riwayat Bukhari)

    Daripada hadis di atas jelas menyebutkan bahwa berbekam itu salah satu jenis perubatan yang diharuskan dalam Islam. Namun apa yang ingin disentuh di sini ialah hubungan dan kesannya terhadap hukum taharah, puasa dan berihram, dan hukumnya jika dijadikan ia sebagai satu mata pencarian.

    Kesan Berbekam Dalam Taharah

    Mengikut mazhab As-Syafie, berbekam itu tidak membatalkan wudhu. Sebagaimana dalam kitabnya al-Umm yang menyatakan yang ertinya :

    “Tidak perlu berwudhu (tidak batal wudhu) karena muntah, darah yang keluar dari hidung, berbekam, sesuatu yang keluar daripada badan dan sesuatu yang dikeluarkan daripada jasad selain daripada tiga lubang yaitu qubul, dubur dan zakar. (Al-Umm: 1/14)

    Oleh itu, sesiapa yang berubat dengan menggunakan bekam dalam keadaannya berwudhu, maka tidaklah batal wudhunya atau berbekam itu tidak membatalkan wudhu.

    Kesan Berbekam Dalam Puasa

    Apabila seseorang itu berbekam di siang Ramadhan ataupun puasa sunat adalah dibolehkan dan tidak membatalkan puasa tersebut. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berbekam ketika Baginda sedang berpuasa. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas Radiallahu ‘anhuma, beliau berkata yang maksudnya :

    “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berbekam padahal Baginda sedang berpuasa”

    (Hadis riwayat Bukhari)

    Kesan Berbekam Dalam Ihram

    Mengikut pendapat Imam As-Syafie, Ashab dan jumhur ulama adalah harus bagi seseorang yang sedang berihram itu berbekam dan tidak dikenakan ke atasnya fidyah, selagi dia tidak memotong rambutnya. (Majmuk: 7/377) Sebagaimana di dalam hadis yang diriwayatkan daripada Ibnu Buhainah Radiallahu ‘anhu, beliau berkata yang maksudnya :

    “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berbekam di tengah-tengah kepala Baginda di Lahyu Jamal (tempat antara Mekkah dan Madinah) padahal Baginda sedang berihram.”

    (Hadis riwayat Bukhari)

    Jika sekiranya seseorang yang sedang berihram itu hendak berbekam dan terpaksa memotong rambutnya, maka hendaklah dia membayar fidyah disebabkan memotong rambutnya itu.

    Menurut Imam An-Nawawi dalam hal ini, jika seseorang yang sedang berihram itu berbekam tanpa tujuan atau hajat lalu terpotong rambutnya maka haram hukumnya. Akan tetapi jika tidak terpotong rambut maka itu diharuskan. (Mausu’ah Feqhiyah: 17/17)

    Berbekam Sebagai Pekerjaan

    Pendapat jumhur fuqaha termasuk mazhab Syafie, adalah diharuskan bagi seseorang itu menjadikan hijamah (bekam) sebagai satu pekerjaan dan mengambil hasil daripadanya. Karena berbekam itu perbuatan yang bermanfaat, mubah (harus) dan orang ramai memerlukannya, maka diharuskan mengambil upah seperti pekerjaan menjahit dan sebagainya. (Mausu’ah feqhiah: 17/18)

    Mereka berdalilkan kepada hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas Radiallahu ‘anhuma, beliau berkata yang maksudnya:

    “Nabi Shallallahu ‘alahi wasallam pernah berbekam dan Baginda memberi (upah) kepada orang yang membekamnya itu, seandainya hal itu haram, niscaya Baginda tidak memberinya.”

    (Hadis riwayat Bukhari)

    Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa berbekam itu adalah merupakan cara perubatan yang diamalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Yang demikian itu sudah tentu banyak kelebihan dari segi kesembuhan suatu penyakit, sebagaimana diamalkan oleh Baginda sendiri. Oleh karena itu membekam suatu bidang pekerjaan yang patut diterokai.

    wallohu a’lam bis-showab,-

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 2:09 am on 24 January 2017 Permalink | Balas  

    Berobat dengan Benda yang Najis (2/2) 

    obat-najisBerobat dengan Benda yang Najis (2/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Tidak dinafikan, ada juga antara penyakit itu yang sukar ditemui ubatnya. Sebagiannya pula boleh disembuhkan dengan menggunakan ubat-ubatan daripada benda-benda najis yaitu berdasarkan pengalaman orang-orang terdahulu.

    Oleh karena itu, menurut pendapat yang ashah dalam mazhab Syafi’e, adalah harus berobat dengan segala benda najis, kecuali yang memabukkan, dengan alasan bahwa berobat itu adalah merupakan perkara darurat. Sedangkan darurat itu mengharuskan kita mengambil apa yang ditegah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    Tafsirnya: “Dan sesungguhnya Allah telah menerangkan kepada kamu satu persatu apa yang diharamkanNya atas kamu, kecuali yang terpaksa kamu memakannya.” (Surah Al-An’am: 119)

    Berdasarkan ayat tersebut dan ayat-ayat seumpamanya, maka para ulama telah menggariskan kaedah:

    Ertinya: “Keadaan-keadaan darurat itu mengharuskan perkara-perkara yang dilarang.”

    Walau bagaimanapun, penggunaan najis sebagai ubat itu masih juga terikat dengan tidak melampaui batas, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    Tafsirnya: “Maka sesiapa yang terpaksa karena kelaparan (memakan benda-benda yang diharamkan) sedang dia tidak cenderung hendak melakukan dosa (maka bolehlah dia memakannya), karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun Lagi Maha Mengasihani.” (Surah Al-Ma’idah: 3)

    FirmanNya lagi:

    Tafsirnya: “Maka sesiapa terpaksa (memakannya karena darurat) sedang dia tidak mengingininya dan tidak pula melampaui batas (pada kadar benda yang dimakan itu), maka tidaklah dia berdosa. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun Lagi Maha Mengasihani.” (Surah Al-Baqarah: 173)

    Imam an-Nawawi Rahimahullah juga berpendapat bahwa harus berobat dengan najis selain arak. Hukum keharusan berobat itu sama sahaja bagi semua najis melainkan yang memabukkan. Ini berdasarkan daripada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas Radhiallahu ‘anhu:

    Maksudnya: “Bahwa serombongan suku ‘Ukal seramai lapan orang datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu mereka berikrar kepada Nabi untuk masuk Islam. Kemudian cuaca kota Madinah merimaskan mereka dan mengakibatkan tubuh badan mereka sakit-sakit, lalu mereka mengadukan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Baginda bersabda kepada mereka: “Barangkali elok kamu pergi bersama tukang gembala kami kepada untanya, kemudian kamu dapatkan air kencing dan susunya.” Mereka menjawab: “Baiklah.” Mereka pun pergi dan meminum susu dan kencing unta itu, setelah itu mereka pun sihat. Tetapi kemudian mereka membunuh tukang gembala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu dan merampas unta-untanya.” (Hadis riwayat Bukhari)

    Walau bagaimanapun, Imam an-Nawawi ada menyebutkan lagi daripada pendapat lain. Bahwa keharusan berobat dengan najis itu hanyalah dibolehkan apabila tidak ditemui ubat yang suci yang boleh menggantikannya. Jika ada ubat yang suci, maka haramlah berobat dengan najis tersebut.

    Sebagaimana Al-‘Izz bin Abdussalam Rahimahullah berkata:

    Ertinya: “Harus berobat dengan najis apabila tidak ada ubat yang suci yang boleh menggantikannya, karena maslahat kesihatan dan kesejahteraan itu lebih sempurna berbanding dengan maslahat menjauhi najis. Dan tidak harus berobat dengan arak mengikut pendapat yang ashah.”

    Oleh yang demikian, berdasarkan daripada penjelasan di atas dapatlah disimpulkan bahwa berobat untuk menyembuhkan penyakit itu adalah perkara yang digalakkan dalam Islam. Ubat-ubatan yang digunakan hendaklah daripada benda-benda yang halal dan suci. Di samping itu, harus berobat dengan benda-benda yang najis selain sesuatu yang memabukkan jika tidak ada ubat lain yang suci sebagai penggantinya.

    Wallohu a’lam bis-showab,-

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 2:08 am on 23 January 2017 Permalink | Balas  

    Berobat Dengan Benda Yang Najis (1/2) 

    obat-najisBerobat Dengan Benda Yang Najis (1/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Sakit adalah suatu perkara yang biasa menimpa manusia. Adakalanya sakit itu menimpa manusia dalam bentuk fizikal dan ada juga kalanya dalam bentuk spiritual. Dalam semua keadaan tersebut, orang sakit biasanya akan berusaha mencari ubat untuk menghilangkan sakit itu.

    Hukum Berobat

    Berobat untuk menghilangkan penyakit itu adalah perkara yang digalakkan pada hukum syara’. Bahkan ia boleh menjadi ibadah jika dilakukan dengan niat yang baik, seperti bertujuan untuk melaksanakan tuntutan syara’ dan bagi memulihkan kesihatan tubuh badan agar dapat beribadat dan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan lebih sempurna.

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri pernah berobat dan menyuruh umatnya berobat. Sebagaimana dalam sebuah hadis, daripada Usamah bin Syuraik menjelaskan bahwa segolongan orang Arab pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, kata mereka:

    “Wahai Rasulullah adakah kami boleh berobat? Baginda menjawab: “Berobatlah kamu, karena Allah ‘azza wajalla tidak menjadikan penyakit melainkan Dia menjadikan ubatnya, melainkan satu jenis penyakit, yaitu sakit tua.”

    (Hadis riwayat Abu Daud)

    Dalam hadis yang lain pula, daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    “Allah tidak menurunkan sesuatu penyakit melainkan diturunkan bersamanya penyembuh.”

    (Hadis riwayat Bukhari)

    Sabda Baginda lagi Maksudnya: “Bagi setiap penyakit itu ada ubatnya, maka apabila ubat serasi dengan penyakit, ia akan sembuh dengan izin Allah ‘azza wajalla.”

    (Hadis riwayat Muslim)

    Sebagaimana yang dijelaskan di atas, bahwa perbuatan berobat itu ternyata digalakkan dalam Islam. Namun begitu, persoalan yang timbul bagaimanakah cara berobat yang dibenarkan oleh hukum syara’?

    Cara Berobat

    Pada dasarnya ubat atau penawar yang dianjurkan untuk dipakai mestilah ubat-ubatan yang halal, suci, bukan yang diharamkan dan dapat diterima oleh naluri pesakit.

    Berobat dengan benda yang haram itu tidak dibenarkan, bahkan ia diharamkan kecuali dalam keadaan darurat. Ini jelas bersandarkan daripada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Ad-Darda’ bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan ubat, dan dijadikan bagi setiap penyakit itu ubatnya, maka berobatlah kamu, dan jangan kamu berobat dengan yang diharamkan.”

    (Hadis riwayat Abu Daud)

    Imam Bukhari pula ada menyebutkan dalam shahihnya daripada Ibnu Mas’ud katanya:

    Maksudnya: “Sesungguhnya Allah tidak menjadikan penawar (kesembuhan) kamu pada benda-benda yang diharamkan ke atas kamu.”

    (Dikeluarkan oleh Bukhari)

    Manakala dalam hadis yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah, beliau berkata:

    Maksudnya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang daripada ubat yang kotor.”

    (Hadis riwayat Abu Daud dan Imam Ahmad)

    Berdasarkan hadis-hadis ini, jika penyakit seseorang itu masih dalam peringkat biasa yang tidak membahayakan, maka sesetengah ulama berkata bahwa adalah tidak harus yakni haram berobat dengan benda-benda najis itu.

    Hikmah Pengharamannya

    Adapun sudut rahasia atau hikmah ia diharamkan, mengikut para ulama Islam; najis itu menjijikkan dan tidak disukai oleh akal dan naluri. Jadi ia tidak layak dipakai atau dijadikan untuk penawar penyakit.

    Ibnu al-Qayyim Rahimahullah ada menerangkan lebih jelas lagi rahsia ini, bahwa larangan tidak dibenarkan benda-benda yang diharamkan sebagai ubat penawar penyakit itu ialah, karena antara syarat boleh mendapat kesembuhan menerusi sesuatu ubat itu ialah jika terdapat sikap menerima (suka) kepada ubat berkenaan, dan ada keyakinan terhadap khasiat (manfaatnya), di samping percaya, padanya ada keberkatan yang dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Kemudian bagi seorang Islam pula, yang haram itu memanglah kotor, najis dan menjijikkan. Setiap yang kotor dan menjijikkan, ia tidak diterima bahkan ditolak oleh naluri yang sihat.

    Demikian itulah kedudukan najis yang diharamkan, mengapa ia tidak sesuai untuk dijadikan ubat, karena syarat untuk itu dapat diterima oleh naluri yang sihat tidak ada lagi. Inilah antara rahsia atau sebab mengapa berobat dengan yang haram itu dilarang. (At-Tibb an-Nabawi: 126)

    Demikian antara pendapat ulama mazhab lain di luar mazhab Syafi’e.

    Bersambung

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 22 January 2017 Permalink | Balas  

    Batasan Dan Syarat Berobat Dengan Jampi Dan Tangkal (3/3) 

    syirikBatasan dan Syarat Berobat Dengan Jampi dan Tangkal (3/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    3) Hendaklah penjampi beriktiqad bahwa yang menyembuhkan ialah Allah Subhanahu wa ta’ala:

    Para ulama bersepakat mengatakan, penjampi hendaklah beriktiqad bahwa yang berkuasa menyembuhkan dan menolak kemudaratan ialah Allah Subhanahu wa ta’ala. Jampi itu sendiri tidak mempunyai kuasa untuk menyembuhkan, akan tetapi kesembuhan, terselamat daripada bahaya bencana dan sebagainya semuanya dengan izin Allah Ta’ala. Ini karena yang menurunkan penyakit itulah juga yang menurunkan ubat dan menolak segala bala bencana yaitu Allah ‘Azza Wa Jalla.

    Oleh itu, barangsiapa yang beriktiqad bahwa jampi itu sendiri mempunyai kuasa untuk menyembuh, menolak kemudaratan atau mendatangkan manfaat maka sesungguhnya dia telah sesat dan melakukan dosa yang amat besar yang tidak diampunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala yaitu dosa syirik yakni menyekutukan Allah dengan makhlukNya. Firman Allah Ta’ala yang tafsirnya :

    “Kalau demikian, apa fikiran kamu tentang yang kamu sembah selain dari Allah itu? Jika Allah hendak menimpakan kepadaku dengan sesuatu bahaya, dapatkah mereka mengelakkan atau menghapuskan bahayaNya itu; atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, dapatkah mereka menahan rahmatNya itu?” Katakanlah lagi: “Cukuplah bagiku Allah (yang menolong dan memeliharaku)! KepadaNyalah hendaknya berserah orang-orang yang mahu berserah dirinya.” (Surah Az-Zumar, ayat 38)

    Melalui ayat di atas, Allah Ta’ala menujukan kata-kataNya kepada golongan musyrik, di mana mereka itu mengakui bahwa Allah ‘Azza wa Jalla adalah Pencipta segala sesuatu, akan tetapi mereka memohon doa dan menyembah selain Allah untuk menolak kemudaratan dan bala bencana, sedangkan apa yang mereka sembah itu tidak mampu untuk mencegah daripada mereka sebarang kemudaratan dan tidak mampu pula memberi sebarang manfaat kepada mereka.

    Di dalam hadits shahih diriwayatkan daripada ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila Baginda meminta perlindungan bagi setengah ahli keluarganya Baginda akan mengusap dengan tangan kanannnya sambil berdoa:

    Maksudnya: “Ya Allah, Tuhan manusia, hilangkanlah penderitaan, sembuhkanlah dia, Engakaulah yang menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhanMu, kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit.” (Hadits riwayat Al-Bukhari)

    Daripada hadits di atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memberi petunjuk bahwa setiap ubat dan pengubatan tidak akan mendatangkan manfaat kesembuhan jika tidak dengan izin Allah Ta’ala. Maka yang berkuasa menyembuhkan itu ialah Allah ‘Azza wa Jalla.

    4) Hendaklah penjampi itu orang yang berpengetahuan tentang cara-cara pengubatan dengan jampi yang dibenarkan syara’:

    Sebenarnya, dalam apa pun bidang apabila kita hendak meminta bantuan khidmat tertentu kita mestilah pergi mencari orang yang ahli dan tahu mengenai bidang tersebut. Maka begitu juga dengan bidang perubatan dengan jampi perlulah orang itu terdiri daripada orang yang tahu dan belajar mengenai perubatan dengan jampi yang dibenarkan oleh syara’.

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menerangkan bahwa jampi merupakan ilmu yang berkehendakkan itu dipelajari untuk menjadikan seseorang itu pandai dan tahu mengubat dengan menggunakan jampi. Diriwayatkan daripada Asy-Syifaa’ binti Abdullah, dia berkata: “Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berjumpa menemuiku sedang aku di sisi Hafshah, Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku yang maksudnya :

    “Tidakkah kamu ajarkan Hafshah mentera penyembuh cacar akibat gigitan semut sebagaimana kamu ajarkannya menulis.” (Hadits riwayat Abu Daud)

    Ketiga- Batasan-batasan syara’ khusus bagi orang yang dirawat:

    1) Hendaklah dia beriktiqad bahwa yang menyembuhkan ialah Allah subhanahu wa ta’ala:

    Sebagaimana halnya dengan penjampi, maka begitu juga dengan orang yang dirawat dengan jampi dia mestilah beriktiqad bahwa yang mempunyai kuasa menyembuh dan menolak segala bahaya bencana itu ialah Allah subhanahu wa ta’ala.

    2) Memelihara jampi atau tangkal dari sebarang perkara yang keji:

    Hendaklah orang yang dirawat itu memelihara jampi atau tangkal yang digunakannya daripada perkara-perkara yang hina atau keji, karena jampi atau tangkal itu mengandungi ayat-ayat al-Qur’an, nama-nama dan sifat-sifat Allah yang Maha Suci.

    Jika tangkal yang dipakai itu digantung di badan, maka bungkuslah dengan elok supaya tidak terkena najis atau kotoran. Jangan dibawa masuk ke dalam tandas, jangan dilangkahi atau diduduki dan ketika berjima’ dengan isteri hendaklah ditanggalkan.

    Kalau itu merupakan air untuk diminum yang dibacakan ke atasnya jampi, maka elok membaca Bismillah pada setiap kali pernafasan ketika dia minum sambil berniat mengikut kehendak masing-masing tujuan dia berobat, karena sesungguhnya Allah akan mengurniakan atau menunaikan kehendaknya mengikut apa yang diniatkan.

    Jika air tersebut khusus untuk dibuat mandi, maka jangan dicurahkan di tempat yang kotor atau yang bernajis, dan jangan dicurahkan di tempat yang dipijak-pijak. Akan tetapi seeloknya dicurahkan di tempat yang bersih dan tidak dipijak-pijak.

    3) Menghindarkan diri dari melakukan perkara yang mendatangkan dosa:

    Di antara perkara yang mesti dijaga bagi orang yang menerima rawatan ialah menjaga dirinya daripada melakukan sebarang perbuatan yang boleh mendatangkan dosa, sama ada dosa kecil apatah lagi dosa besar, khususnya dalam tempoh menerima rawatan, karena melakukan ketaatan dan menghindarkan maksiat merupakan cara atau jalan rawatan yang paling berkesan.

    Al-Imam Ibn Al-Qaiyim pernah berkata: “Di antara jalan yang lebih berkesan dalam pengubatan ialah dengan membuat kebajikan dan ihsan, berzikir (mengingati Allah), berdoa, merendah diri dan memohon dengan sepenuh hati kepada Allah serta bertaubat. Semua ini memberi kesan dalam menolak berbagai penyakit dan menghasilkan kesembuhan, dan itu lebih berkesan berbanding ubat biasa.”

    Sebagai suatu rumusan, Islam ketika meletakkan beberapa batasan mengenai rawatan dengan jampi dan tangkal bukan saja bermaksud untuk menjadikan rawatan tersebut lebih berkesan, akan tetapi yang lebih besar daripada itu ialah hal itu bermaksud untuk memelihara tujuan induknya yaitu menjunjung perintah Allah dan tidak melampaui sempadan laranganNya dan seterusnya menyumbang kepada pemantapan aqidah supaya tidak terseleweng daripada landasan yang sebenar.

    =====SELESAI====

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 21 January 2017 Permalink | Balas  

    Batasan Dan Syarat Berobat Dengan Jampi Dan Tangkal (2/3) 

    syirikBatasan Dan Syarat Berobat Dengan Jampi Dan Tangkal (2/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    4) Bahasa yang digunakan hendaklah difahami maknanya:

    Para ulama bersepakat mensyaratkan bahwa bahasa yang digunakan dalam jampi dan tangkal itu hendaklah terdiri daripada bahasa yang boleh difahami maksudnya.

    Dalam konteks ini, bukan sahaja setakat penjampi atau pembuat tangkal itu dikehendaki mengerti atau faham akan maksud jampinya, bahkan orang yang menerima rawatan melalui jampi tersebut hendaklah juga faham akan maksud jampi yang digunakan. Tujuannya ialah supaya dia tahu bahwa perkataan jampi yang digunakan itu tidak mengandungi perkara-perkara yang bertentangan dengan hukum syara’ seperti perkara yang membawa syirik, sihir dan seumpamanya.

    Di antara dalil yang mendokong larangan berobat dengan jampi mentera dan tangkal yang tidak difahami maksudnya sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika Baginda ditanya tentang jampi yang diamalkan pada zaman jahiliyyah:

    Maksudnya: “Perlihatkan kepada ku jampi-jampi kamu itu, tidak menjadi apa-apa mengamalkan jampi selama mana tidak mengandungi di dalamnya syirik.”

    (Hadits riwayat Muslim dan Abu Daud)

    Al-Imam Ibnu Hajr Al-‘Asqalaani Rahimahullahu Ta’ala menegaskan, hadits di atas memberi petunjuk bahwasanya apa pun jenis jampi yang membawa kepada syirik maka ianya adalah dilarang (bahkan haram). Begitu juga halnya jampi yang tidak difahami makna atau maksudnya, di mana ianya tidak dapat dipastikan bebas daripada perkara syirik, maka dengan sebab itu ianya adalah ditegah oleh syara’ sebagai langkah berjaga-jaga atau berhati-hati.

    5) Ditulis jampi atau tangkal itu dengan benda yang suci:

    Jika sekiranya jampi itu ditulis pada kertas, kulit binatang, logam atau seumpamanya maka hendaklah benda-benda seperti itu terdiri daripada benda yang bersih dan suci. Sebagaimana juga alat yang digunakan untuk menulis hendaklah terdiri daripada benda yang bersih dan suci seperti dakwat, za’faran dan seumpamanya. Oleh itu, tidak harus menggunakan benda-benda yang najis seperti darah, nanah, air kencing dan sebagainya, karena kata-kata Allah (kalaamullaah), nama-nama dan sifat-sifatNya yang Maha Agung dan Maha Suci itu selayaknya tidak bercampur dan tercemar dengan benda-benda yang kotor dan jijik.

    Terdapat setengah pengamal ilmu sihir yang menulis jampi mentera berupa ayat Al-Qur’an dengan menggunakan darah haidh wanita, kemudian menjampinya untuk memanggil jin dan memerintah jin tersebut untuk melakukan apa saja yang dia kehendaki.

    Memang jelas bahwa cara amalan seperti ini merupakan suatu kekufuran yang nyata, karena mempersenda dan mempermain-mainkan surah dan ayat-ayat Al-Qur’an boleh membawa kepada kekufuran.

    Kedua- Batasan-batasan syara’ khusus bagi penjampi:

    1) Hendaklah penjampi itu beragama Islam:

    Adalah disyaratkan orang yang mengubat dengan jampi atau tangkal itu terdiri daripada orang yang beragama Islam. Maka tidak harus bagi orang bukan Islam menjampi orang Islam.

    Apa yang dimaksudkan dengan orang bukan Islam dalam hal ini ialah orang yang bukan ahli kitab yakni bukanYahudi dan Nashrani. Bagi ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) sebagaimana menurut Al-Imam Asy-Syafi’e Rahimahullahu Ta’ala harus menjampi orang Islam, dengan syarat jampi menteranya itu bersumber daripada kitab Allah atau berupa zikrullah.

    Dalil yang menyokong pendapat Imam Syafi’ie itu sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Malik daripada ‘Amrah binti Abdurrahman:

    Maksudnya: “Bahwasanya Abu Bakar masuk berjumpa ‘Aisyah sedang dia (‘Aisyah) mengadu sakit. Pada ketika itu seorang wanita Yahudi menjampi ‘Aisyah, lalu Abu Bakar berkata: “Jampilah dengan kitab Allah.”

    (Hadits riwayat Malik)

    Bagaimana pula kedudukan hukumnya orang Islam menjampi orang bukan Islam? Para ulama tidak mempunyai pandangan berbeda dalam hal ini bahwa seseorang Islam harus menjampi orang yang bukan Islam. Ini adalah berdasarkan hadits yang diriwayatkan daripada Abu Sa’ed Al-Khudri, beliau berkata:

    Maksudnya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus kami dalam suatu peperangan, lalu kami singgah berhenti pada suatu kaum. Kemudian kami meminta kepada mereka agar menjamu kami. Tetapi mereka enggan menjamu kami. Lalu ketua mereka disengat (kalajengking). Mereka pun datang berjumpa kami.

    Lalu mereka berkata: “Adakah di antara kamu sesiapa yang boleh menjampi untuk mengubat sengatan kalajengking?” Aku (Abu Sa’ed) berkata: “Ya, tetapi aku tidak akan menjampinya sehingga kamu memberikan kambing kepada kami.” (Salah seorang kaum itu) berkata: “Sungguh, saya akan memberikan kepada kamu tiga puluh ekor kambing.”

    Kami pun bersetuju, kemudian aku membacakan kepadanya Al-Hamdulillah (Al-Fatihah) sebanyak tujuh kali. Setelah itu ketua kaum itu pun sembuh dan kami menerima kambing. Dia (Abu Sa’ed) berkata: “Lalu timbul sesuatu dalam fikiran kami, kemudia kami berkata: “Janganlah tergesa-gesa sehingga kamu menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

    Dia (Abu Sa’ed) berkata: “Apabila kami datang menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam aku pun menceritakan kepada Baginda apa yang telah aku lakukan.” Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bagaimana kamu tahu bahwa (surah Al-Fatihah) itu adalah jampi? Terimalah kambing itu dan berilah aku bagian bersamamu.”

    (Hadits riwayat At-Tirmidzi)

    Hujjah yang dapat dikemukakan melalui hadits di atas, bahwa perkampungan di mana para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam singgah berhenti di situ pendudukanya terdiri daripada orang kafir, dan salah seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjampi ketua kampung yang kena sengat kalajengking. Apabila perkara tersebut diajukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam Baginda tidak menegahnya. Maka ini menunjukkan harus bagi orang Islam menjampi orang bukan Islam.

    2) Hendaklah penjampi itu orang yang ‘adil dalam beragama:

    Banyak di kalangan para ulama menekankan betapa perlunya orang yang menjampi dengan ayat-ayat Al-Qur’an, nama-nama dan sifat-sifat Allah yang Maha suci lagi Maha Agung hendaklah terdiri daripada orang yang ‘adil dan salih, yaitu orang yang ta’at dalam menjalankan perintah agama, karena kesembuhan – dengan izin Allah jua – akan terhasil melalui lidah orang yang soleh bukan melalui lidah orang yang tidak soleh.

    Apa yang dimaksudkan dengan ‘adil dalam beragama dalam konteks ini ialah suatu sifat dalam diri manusia yang mendorongnya untuk menunaikan apa yang wajib ke atas dirinya, seperti mendirikan sembahyang, berpuasa, membayar zakat, menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia seperti jujur, amanah, bertaqwa dan menjaga maruah. Sebagaimana juga sifat tersebut mendorong dirinya untuk menjauhi segala bentuk dosa-dosa besar, seperti syirik, sihir, penipuan dan sebagainya, dan juga menjauhi dirinya daripada sentiasa melakukan dosa-dosa kecil dan apa-apa juga tindak-tanduk yang membawa kehinaan dan rendah diri.

    Oleh itu, apabila seseorang Islam meninggalkan atau mencuaikan sesuatu yang diwajibkan oleh syara’ ke atasnya atau melakukan sesuatu yang ditegah melakukannya maka dia tidak dikatakan sebagai orang yang ‘adil dalam beragama. Maka dengan itu, tidak seharusnya orang lain meminta bantuan daripada golongan seperti ini untuk berobat dengan jampi mentera. Termasuk di antara golongan ini ialah pengamal sihir, tukang tilik, ahli nujum atau sesiapa saja yang mengamalkan cara mereka.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang umatnya daripada meminta bantuan untuk berobat dengan golongan seperti ini sebagaimana diriwayatkan daripada ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha, beliau berkata:

    Maksudnya: “Beberapa orang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang para tukang tilik.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perkataan mereka itu tidak benar.”

    Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya para tukang tilik itu kadangkala bercerita kepada kami tentang sesuatu, lalu perkara itu benar (menjadi kenyataan).”

    Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Itu adalah kalimat kebenaran yang mereka sambar dari jin, lalu dibisikkan kepada ke telinga pembantunya, kemudian mereka mencampurkan kalimah yang benar itu dengan seratus pembohongan.”

    (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

    Di dalam riwayat yang lain Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda maksudnya :

    “Barangsiapa yang datang berjumpa dukun lalu bertanya tentang sesuatu, maka sembahyangnya tidak akan diterima selama empat puluh malam.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Bersambung

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 20 January 2017 Permalink | Balas  

    Batasan Dan Syarat Berobat Dengan Jampi Dan Tangkal (1/3) 

    syirikBatasan dan Syarat Berobat Dengan Jampi dan Tangkal (1/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Para ulama secara prinsipnya tidak berbeda pandangan mengenai ketetapan harus berobat dengan jampi dan tangkal. Terdapat beberapa jumlah dalil terdiri daripada ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang dijadikan sebagai sandaran untuk mendukung ketetapan hukum tersebut, di mana sebagiannya akan disebutkan kemudian.

    Namun begitu, ketetapan hukum tersebut bukanlah secara mutlak tanpa terikat kepada batasan-batasan tertentu. Islam tidak membiarkan penganutnya bebas begitu saja tanpa meletakkan batas tertentu. Tujuannya ialah bukan untuk mengongkong, tetapi adalah demi mempastikan mereka tidak tergelincir dari landasan syariat yang sebenar dan memelihara kesucian Islam dari bercampur dengan anasir-anasir yang berlawanan dengan syariat Allah Subhanahu wa ta’ala, umpamanya anasir syirik, sihir, khurafat dan sebagainya.

    Jadi, apakah batasan-batasan yang perlu dijaga sehingga dengan itu berobat dengan jampi dan tangkal tidak dianggap sesuatu yang bertentangan dengan hukum syara’?

    Sebelum itu, perlu dijelaskan bahwa batasan-batasan syara’ dalam konteks ini boleh dibahagikan kepada tiga bagian, yaitu:

    1. Batasan-batasan syara’ khusus bagi jampi dan tangkal.
    2. Batasan-batasan syara’ khusus bagi penjampi.
    3. Batasan-batasan syara’ khusus bagi orang yang dirawat.

    Batasan-Batasan Syarak Khusus Bagi Jampi Atau Tangkal :

    1) Hendaklah bersumber daripada Al-Qur’an atau Sunnah Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Para ulama fiqh bersepakat mengatakan bahwa tangkal dan jampi yang dibenarkan hendaklah bersumber daripada Al-Qur’an atau Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ataupun tidak bercanggah dengan kehendak kedua-dua sumber tersebut. Oleh itu, harus berobat dengan jampi dan tangkal yang mengandungi ayat-ayat Al-Qur’an, nama-nama dan sifat-sifatNya Allah yang Maha Mulia, zikir-zikir dan doa-doa yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam.

    Hal ini adalah berdasarkan sebuah hadits diriwayatkan daripada Jabir Radhiallahu ‘anhu beliau berkata yang maksudnya :

    “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang daripada jampian. Lalu keluarga ‘Amr bin Hazm datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka berkata: “Wahai Rasulullah, kami mempunyai jampi yang boleh kami gunakan untuk menjampi sengatan kala, sedangkan engkau melarang jampian.”

    Jabir berkata: “Kemudian mereka pun memperlihatkan jampi mereka kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

    Lantas Baginda bersabda: “Aku tidak nampak ianya menjadi apa-apa, barangsiapa di antara kamu yang boleh menolong saudaranya maka tolonglah dia.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Perbuatan keluarga ‘Amr bin Hazm memperlihatkan jampi mereka kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadits di atas tujuannya ialah untuk memperlihatkan Baginda adakah jampi mereka bercanggah dengan syariat Islam ataupun tidak? Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membenarkannya.

    Maka dengan sebab itu, setiap jampi atau tangkal yang hendak diamal atau dipakai itu tidak boleh bersumber daripada selain Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ataupun yang bercanggah dengannya.

    2) Tidak mengandungi syirik:

    Syirik ialah suatu perbuatan menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain yaitu menyembah selain Allah, atau percaya kepada sesuatu benda mempunyai kuasa menyembuh, menyelamatkan daripada malapetaka, mendatangkan keuntungan atau sebagainya juga merupakan perbuatan syirik.

    Dosa syirik merupakan sebesar-besar dosa sebagaimana firman Allah Ta’ala yang tafsirnya :

    “Dan sesiapa yang mempersekutukan Allah (dengan sesuatu yang lain), maka sesungguhnya ia telah melakukan dosa yang besar.”

    (Surah An-Nisaa’, ayat 48)

    Firman Allah Ta’ala di dalam ayat yang lain yang tafsirnya :

    “Dan sesiapa yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu (apa jua) maka sesungguhnya ia telah sesat dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya.”

    (Surah An-Nisaa’, ayat 116)

    Sehubungan dengan itu, jampi mentera dan tangkal yang mengandungi apa-apa jua unsur syirik adalah dilarang menurut hukum syara’. Diriwayatkan daripada ‘Auf bin Malik Al-Asyja’e, beliau berkata yang maksudnya :

    “Kami pada zaman jahiliah dahulu mengamalkan jampi, lalu kami bertanya: “Wahai Rasulullah! Bagaimana pendapatmu mengenai hal itu?” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Perlihatkan kepada ku jampi-jampi kamu itu, tidak menjadi apa-apa mengamalkan jampi selama mana tidak mengandungi di dalamnya syirik.”

    (Hadits riwayat Muslim dan Abu Daud)

    Maka berdasarkan hadits di atas jelas bahwa berobat menggunakan jampi atau tangkal yang mengandungi unsur syirik adalah tidak diharuskan, walaupun jampi atau tangkal seumpama itu memberi kesan yang positif kepada pemakainya, pesakit yang dijampi atau seumpamanya. Begitu juga halnya jampi dan tangkal yang mengandungi perkataan-perkataan kufur.

    3) Tidak mengandungi unsur-unsur sihir:

    Menurut Al-Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala, para ulama secara ijma’ mengatakan bahwa mengamalkan sihir itu hukumnya adalah haram. Maka dalam hal ini, tidak hairanlah jika para ulama bersepakat menegaskan tentang larangan berobat dengan jampi dan tangkal yang mengandungi unsur-unsur sihir.

    Apa yang dimaksudkan dengan sihir di dalam konteks ini ialah orang yang menjampi atau pembuat tangkal itu meminta bantuan kepada jin atau syaitan dalam jampi menteranya.

    Di antara dalil-dalil yang diboleh dikemukakan sebagai sandaran untuk menegaskan tentang larangan sihir itu sebagaimana firman Allah Ta’ala yang tafsirnya :

    “Dan campakkanlah apa yang ada di tangan kananmu, nescaya ia menelan segala (benda-benda sihir) yang mereka lakukan, karena sesungguhnya apa yang mereka lakukan itu hanyalah tipu daya ahli sihir; sedang ahli sihir itu tidak akan beroleh kejayaan, di mana sahaja ia berada.”

    (Surah Thaha, ayat 69)

    Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, daripada Nabi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam Baginda bersabda yang maksudnya :

    “Jauhilah tujuh perkara maksiat.” Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, apakah itu?”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mensekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan hak, makan riba, makan harta anak yatim, berpaling dari medan pertempuran perang dan menuduh berbuat zina kepada perempuan-perempuan yang baik-baik dan beriman yang tidak terfikir untuk melakukan maksiat.”

    (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

    Orang yang mengamalkan sihir tidak akan mendapat pertolongan daripada syaitan untuk menunaikan hajatnya melainkan setelah dia mempertaruhkan atau menggadaikan agamanya dan aqidahnya, dan merosakkannya demi menjunjung ketaatan kepada perintah syaitan, seterusnya berbuat dosa kepada Allah dan menyembah selain Allah.

    Diceritakan suatu kisah berlaku pada awal abad ini mengenai seorang ahli sihir yang tinggal di bagian sebelah atas negeri Mesir. Di antara kepandaiannya, beliau pernah meminta beberapa orang supaya mencampakkan cincin mereka ke dalam laut. Apabila mereka mencampakkannya beliau akan mengembalikannya semula kepada mereka. Selain itu, beliau juga boleh melakukan banyak perkara-perkara lain yang aneh dan luar biasa. Pada suatu hari beliau pun meninggal dunia. Setelah itu, anaknya ingin mengikut jejak langkah bapanya untuk melakukan pekerjaan sebagaimana yang dilakukan oleh bapanya sebelum ini. Akan tetapi ibunya membantah dan melarangnya daripada berbuat demikian. Lalu si anak pun bertanya kepada ibunya, apakah gerangan sebab dia dilarang mengikut jejak langkah bapanya? Kemudian ibunya membuka almari dan mengeluarkan patung daripada almari tersebut sambil berkata: “Sesungguhnya bapakmu dulu menyembah patung ini supaya syaitan memberi pertolongan kepadanya untuk melakukan sesuatu yang luar biasa. Oleh itu, jangan engkau menjadi kafir sebagaimana bapa mu telah menjadi kafir.”

    Oleh yang demikian, nyatalah bahwa sihir itu boleh menyebabkan pengamalnya terseret kepada perbuatan dosa yang amat besar, dan dengan itu juga orang yang meminta pertolongan dengan pengamal ilmu sihir akan sama-sama mendapat dosa. Jadi, berobat dengan jampi mentera atau tangkal yang mengandungi unsur sihir itu adalah ditegah oleh syara’.

    Bersambung

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:02 am on 19 January 2017 Permalink | Balas  

    Menerima Sumbangan dari Orang non Islam 

    sedekah-2Menerima Sumbangan dari Orang non Islam

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Pendapat Ulama Mengenai Keharusan Menerima Sumbangan Orang Bukan Islam

    Menurut nash-nash mazhab yang empat adalah harus orang-orang Islam berurusniaga, bekerjasama dan bergaul dengan orang-orang bukan Islam seperti menerima hadiah atau wasiat sehingga dalam perkara membangun masjid.

    Secara umumnya penjelasan perkara ini adalah seperti berikut:

    “Dasar umum dalam Islam menghendaki supaya urusan-urusan kewangan dan kontrak-kontrak (akad-akad) dan semua peraturan-peraturan bukanlah suatu larangan. Oleh yang demikian adalah harus orang-orang bukan Islam berkongsi niaga, dalam mudhârabah, bercocok tanam, mengairi tanaman dan lain-lain.”

    Memang tidak dinafikan bahwa ada pengecualian-pengecualian dalam urusan-urusan tertentu yang terlarang dalam Islam seperti larangan dalam jual beli khinzîr, arak dan lain-lain sebagaimana perkara itu disebut dengan terperinci dalam kitab-kitab fiqh.

    Dalam mazhab Syafi’e wasiat dan wakaf itu sebagian daripada akad (kontrak) tabarru’ (seperti derma atau pemberian) dan hubungan sesama manusia adalah harus hukumnya selama ianya bukan karena tujuan maksiat.

    Menurut nash Al-Imam Al-Syafi’e dengan terang menyatakan adalah harus orang bukan Islam berwasiat membina masjid untuk orang-orang Islam. Al-Imam itu juga mengharuskan orang bukan Islam berwakaf sekalipun untuk masjid.

    Berkata Al-Imam Al-Nawawi dalam Raudhah Al-Thâlibîn 6/98: Artinya: “Sah wasiat orang kafir dengan sesuatu yang boleh dijadikan harta atau boleh dimiliki. Dan tidak sah wasiat dengan arak dan khinzîr sama ada wasiat itu untuk orang Islam atau orang dzimmi, dan tidak juga bagi tujuan maksiat seperti menta’mîr gereja atau membangunnya atau mencetak kitab Taurat dan Injil atau membaca kedua-kedua kitab itu dan lain-lain seumpamanya.”

    Katanya lagi:

    Artinya: “Harus bagi orang Islam dan orang dzimmi berwasiat untuk menta’mîr Masjid Al-Aqsha dan lain-lain masjid, menta’mîr perkuburan nabi-nabi, ulama-ulama dan orang-orang salih karena dengan penta’mîran ini tujuannya menghidupkan orang-orang ziarah dan untuk memperolehi tabarruk.”

    Pengarang Al-Sirâj Al-Wahhâb iaitu Muhammad Al-Zuhri Al-Ghamrawi sewaktu menguraikan Matn Al-Minhâj bagi Al-Nawawi tentang ‘Apa yang harus dalam jual beli harus pula menghibahkannya.” Menurut pengarang ini bahwa:

    Artinya: “Setiap apa yang harus jualbelikan, harus pula menghibahkannya, dan apa yang tidak harus diperjualbelikan, seperti barang yang tidak diketahui, yang dirampas, yang hilang, maka tidak harus dihibahkan.” (h. 308)

    Dengan ini jelaslah bahwa orang-orang Islam boleh berurusniaga dengan orang-orang bukan Islam, kecuali yang dilarang oleh Islam seperti khinzîr dan arak. Maka menghadiahkan sesuatu harta atau manfaat oleh orang bukan Islam kepada orang Islam adalah termasuk dalam kaedah yang disebutkan oleh Al-Imam Nawawi di atas.

    Menurut kitab Kifâyah Al-Akhyâr fî Hilli Ghâyah Al-Ikhtishâr katanya:

    Artinya: “Dan sekiranya yang mewakafkan itu seorang dzimmi, lalu dia berhukum kepada kita dalam perkara yang sedemikian itu (mewakafkan sesuatu harta kepada rumah berhala, gereja, kitab-kitab Taurat dan Injil) boleh kita batalkan wakafnya itu, sekiranya wakaf itu kepada sudut dalam hal-hal yang dilarang oleh orang Islam.”

    Maka berdasarkan nash-nash di atas adalah harus bagi orang Islam menerima dan menggunakan apa-apa juga barang yang didermakan, atau diberikan atau dihibahkan oleh orang bukan Islam itu selama ia tiada bercanggah dengan nash dan kaedah di atas.

    Adapun mengenai dengan maksud hadis yang mengatakan bahwa: “Allah itu Thayyib (baik atau bagus) tidak akan menerima melainkan yang baik juga”, tidaklah termasuk dalam persoalan ini, karena maksud penerimaan Allah hanya yang baik-baik itu ialah yang berkaitan dengan pemberian ganjaran pahala, sedangkan pahala itu tiada diberikan kepada orang bukan Islam.

    Menerima Sumbangan Daripada Syarikat Dan Bank Konvensional

    Bank-bank konvensional pada lazimnya tidak sunyi daripada bermuamalah secara riba, terutama dalam soal pinjam-meminjam. Riba itu haram dalam Islam berdasarkan al-Quran dan hadits. Namun demikian bank konvensional ada juga bermuamalah dengan perkara-perkara yang dibenarkan oleh syara’ seperti mengendalikan tukaran wang asing, perkhidmatan pengiriman wang, upah menyimpan harta benda dan lain-lain seumpamanya.

    Apabila kedudukan sesebuah bank konvensional seperti di atas, bermakna bank memiliki harta yang bercampur-campur dari sumber yang haram dan dari yang halal. Mungkin susah untuk membezakan di antara keduanya.

    Mengenai harta yang haram para jumhur ulama mengharuskan boleh dibelanjakan wang haram bagi maslahat umat Islam berdasarkan hadits yang dibawakan oleh Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulum Ad-Din di bawah tajuk “Halal Haram” dan telah mengeluarkan Al-Iraqi hadits daripada Al-Imam Ahmad dengan sanadnya yang bagus, daripada ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha katanya:

    Maksudnya: “Nabi Shallallahu àlaihi wasallam dihadiahkan seekor kambing panggang. Aku (‘Aisyah) mengatakan kepada Baginda, bahwa daging itu haram, Nabi pun tidak memakannya, (sebaliknya) memerintahkannya supaya diberikan. Baginda bersabda: “Beri makan kambing panggang itu kepada orang-orang tawanan.”

    Menurut Al-Imam Al-Ghazali di dalam kitabnya Ihya’ Ulum Ad-Din: “Jika bercampur benda-benda halal yang tidak terbatas dengan benda-benda haram yang tidak terbatas, sepertimana harta-harta yang ada pada masa kini, maka tidak haram mengambil sesuatu daripadanya walaupun ia mengandungi benda-benda halal dan haram itu, melainkan ada bukti yang menunjukkan benda-benda itu haram. Kalau tidak ada pada benda itu sesuatu tanda yang menunjukkan ianya haram, meninggalkannya adalah wara’ dan mengambilnya halal yang tidak akan menjadi fasiq memakannya.

    Sesungguhnya telah dimaklumi di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Khalifah Rasyidin dan sesudahnya bahwa ada harga-harga arak dan dirham-dirham riba daripada tangan kafir zimmi (kafir yang dijamin keselamatannya oleh pemerintah Islam) bercampur baur dengan harta-harta lain, dan begitu juga harta-harta yang diambil dari harta rampasan perang.

    Sejak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengharamkan riba ketika Baginda mengerjakan haji wada’ tidaklah semua manusia meninggalkan amalan riba itu secara menyeluruh, sebagaimana mereka tidak meninggalkan minuman arak dan maksiat-maksiat yang lain, sehingga diriwayatkan bahwa sebagian sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjual arak, lalu Umar Radhiallahu ‘anhu berkata: “Adalah dikutuk oleh Allah kiranya si pulan di mana dia orang yang pertama yang menjalankan penjualan arak, karena dia tidak memahami bahwa pengharaman arak itu adalah (termasuk juga) pengharaman harganya.”

    Adapun orang-orang yang enggan berjual beli daripada harta-harta (yang bercampur itu) hanyalah menunjukkan sifat wara’, sedangkan banyak ulama tidakpun menegah berjual beli dengan harta-harta yang bercampur-campur itu padahal banyak harta-harta dirompak pada masa-masa pemerintahan orang-orang yang zalim.”

    Berdasarkan pandangan Al-Ghazali di atas adalah harus membeli atau mengambil barang-barang yang bercampur aduk di antara halal dan haram.

    Oleh yang demikian, tidaklah mengapa jika sumbangan berupa kewangan, cenderamata atau yang seumpamanya daripada syarikat-syarikat atau bank kewangan konvensional itu diambil atau diterima.

    Bagaimanapun, menurut Al-Ghazali sendiri tentang benda-benda halal dan haram yang bercampur-campur dengan tidak terbatas, jika pada benda-benda itu tiada terdapat suatu tanda yang menunjukkan haramnya, maka meninggalkannya adalah ‘wara’, dan mengambilnya pula dibolehkan tiada menjadi fasik. Wara’ itu ialah menjauhi segala syubhah karena takut terjatuh dalam haram atau melazimkan membuat pekerjaan-pekerjaan yang terpuji dan meninggalkan pekerjaan-pekerjaan yang buruk dan keji.

    wallohu ‘alam bish-showab,-

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 18 January 2017 Permalink | Balas  

    Sedekah : Mana Yang Lebih Utama Kualitas Atau Kuantitas? (2/2) 

    sedekah-masjidSedekah : Mana Yang Lebih Utama Kualitas Atau Kuantitas? (2/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Kualiti atau Kuantiti?

    Antara perkara yang perlu diberi perhatian dalam amalan bersedekah adalah kualiti atau mutu barang yang disedekahkan. Jadi, apakah ciri-ciri yang memenuhi kualiti yang dikehendaki di sini?

    Terdapat tiga perkara yang mesti dipenuhi untuk menjadikan pemberian sedekah itu berkualiti:

    Pertama, mestilah barang yang disedekahkan itu dari kategori yang bagus, yang baik.

    Sebagaimana yang disebutkan terdahulu, bahwa bersedekah merupakan ibadat untuk merapatkan hubungan kita dengan Allah yang Maha Luas pemberianNya, untuk mensyukuri segala nikmat yang dianugerahkan kepada kita, adalah tidak layak jika apa yang dipersembahkan kepadaNya terdiri dari benda-benda yang kita sendiri tidak sudi menerimanya.

    Oleh itu, kalau hendak memberi sedekah biarlah dari jenis yang kita sendiri senang hati jika kita yang menerimanya, bukannya dari jenis yang kita sendiri tidak senang hati jika kita yang menerimanya, malahan hanya menerimanya karena terpaksa, karena menjaga hati pemberinya.

    Allah subhanahu wa ta’ala melarang memberikan sedekah dengan benda yang tidak baik, sebagaimana firmanNya yang tafsirnya :

    “Wahai orang-orang yang beriman! Belanjakanlah (pada jalan Allah) sebagian dari hasil usaha kamu yang baik-baik, dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu sengaja memilih yang buruk daripadanya (lalu kamu dermakan atau kamu jadikan pemberian zakat), padahal kamu sendiri tidak sekali-kali akan mengambil yang buruk itu (kalau diberikan kepada kamu), kecuali dengan memejamkan mata padanya. Dan ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Kaya, lagi sentiasa Terpuji.” (Surah Al-Baqarah, ayat 267)

    Kedua, dan yang penting sekali ialah sedekah itu daripada sesuatu yang halal yang tidak bercampur dengan perkara syubhah.

    Di riwayatkan daripada Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Tidak seseorang itu memberikan sedekah dari harta yang baik – dan Allah tidak akan menerima kecuali yang baik – melainkan Allah yang Maha Pengasih akan Menerima sedekah itu dengan tangan kananNya, sekalipun sedekah itu hanya berupa sebiji kurma. Lalu di tangan Allah yang Maha Pengasih sedekah itu bertambah-tambah sehingga menjadi lebih besar daripada gunung, sebagaimana di antara kamu memelihara (membesarkan) anak kudanya atau anak untanya.”

    (Hadits riwayat Bukhari, Musli, At-Tirmidzi, An-Nasa’ie dan Ibnu Majah)

    Al-Imam An-Nawawi salah seorang ulama terkemuka dalam mazhab Syafi’e telah menjelaskan bahwa apa yang dimaksudkan dengan “Attoyyib” (yang baik) di dalam hadits di atas ialah sesuatu yang halal.

    Di dalam hadits yang lain, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang bermaksud :

    “Wahai manusia! Sesungguhnya Allah itu baik (suci, bersih dari segala kekurangan), dan Dia tidak menerima kecuali yang baik. Dan Allah Memerintahkan kepada orang-orang yang beriman dengan apa yang Dia Perintahkan kepada para Rasul.

    Allah berfirman (tafsirnya): “Wahai Rasul-rasul! Makanlah dari benda-benda yang baik-baik lagi halal dan kerjakanlah amal-amal saleh; sesungguhnya Aku Amat Mengetahui akan apa yang kamu kerjakan.”(Surah Al-Mukminuun, ayat 51)

    Allah berfirman lagi (tafsirnya): “Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari benda-benda yang baik (yang halal) yang telah kami berikan kepada kamu.”(Surah Al-Baqarah, ayat 172)

    Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan tentang seorang yang mengadakan perjalanan jauh, yang kusut rambutnya lagi berdebu, dia menadahkan kedua tangannya ke langit, seraya berdoa: “Ya Tuhanku! ya Tuhanku!”,sedangkan makanannya dari yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan yang haram, lalu bagaimana doanya itu diperkenankan?”

    (Hadits riwayat Muslim dan At-Tirmidzi)

    Dalam mengulas hadits di atas, Al-Imam An-Nawawi menegaskan bahwa itu memberi galakan atau dorongan supaya apa yang dinafkahkan atau dibelanjakan itu hendaklah dari benda yang halal, dan melarang dari menafkahkan benda-benda yang tidak halal. Dan apa jua yang diminum, dimakan, dipakai dan seumpamanya hendaklah dari benda yang halal semata-mata yang tidak ada keraguan atau syubhah padanya.

    Dari ulasan di atas, dapatlah diambil pengajaran bahwa membelanjakan harta di jalan Allah itu salah satunya ialah dengan jalan bersedekah. Oleh itu, adalah sewajarnya benda yang disedekahkan itu daripada yang halal semata-mata, tanpa bercampur dengan elemen-elemen yang meragukan atau syubhah. Ini merupakan tuntutan Allah dan RasulNya sebagaimana jelas di dalam hadits-hadits yang disebutkan tadi; sesungguhnya Allah itu tidak akan menerima kecuali sesuatu yang baik, sesuatu yang halal.

    Ketiga, itu terdiri dari barang yang disayangi oleh pemberi sedekah.

    Sunat hukumnya bagi seseorang mengeluarkan sedekah atau derma daripada benda-benda yang disukainya. Ini jelas sebagaimana firman Allah Ta’ala yang tafsirnya :

    “Kamu tidak sekali-kali akan dapat mencapai (hakikat) kebajikan dan kebaktian (yang sempurna) sebelum kamu dermakan sebagian dari apa yang kamu sayangi.” (Surah Aali ‘Imraan, ayat 92)

    Sebenarnya di sinilah juga merupakan ujian yang berat bagi orang yang mengaku dirinya beriman. Seorang yang tidak sanggup mengeluarkan, membelanjakan atau mendermakan sesuatu yang amat disayangi atau disukainya belumlah mencapai taraf keimanan yang tinggi, belumlah dikatakan mempunyai jiwa yang baik.

    Ketiga-tiga komponen yang kita sebutkan di atas adalah perlu ada pada jenis mata benda yang disedekahkan untuk dikategorikan sebagai sedekah berkualiti. Adapun kuantiti atau sedikit dan banyak sesuatu pemberian itu bukanlah menjadi ukuran.

    Oleh itu, tidak semestinya pemberian itu dengan jumlah bilangan yang banyak, malahan sunat bagi seseorang bersedekah atau menderma walaupun dengan bilangan yang sedikit. Tidak perlu malu untuk bersedekah atau menderma dengan jumlah wang yang kecil atau dengan sesuap makanan umpamanya, karena yang demikian itu amat bernilai di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana firmanNya yang maksudnya :

    “Maka barang siapa berbuat kebajikan seberat zarrah, niscaya akan dilihatnya (dalam surat amalnya).” (Surah Az-Zalzalah, ayat 7)

    Di dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Takutlah kamu akan api neraka walaupun dengan separuh buah kurma.”

    (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

    Hadits di atas memberi dorongan untuk bersedekah walaupun dengan mata benda yang sedikit bilangannya, sekalipun bersedekah dengan separuh buah kurma, karena yang demikian itu sungguhpun itu sedikit tetapi mampu untuk menyelamatkan tuannya daripada api neraka.

    Perkara Yang Merusakkan Sedekah

    Antara elemen terpenting dalam amalan bersedekah adalah keikhlasan. Bersedekah biarlah terbit daripada hati nurani yang bersih, ikhlas untuk membantu orang lain. Oleh karena itu, perlunya ada etika pada diri orang yang bersedekah atau menderma, antaranya jangan mengungkit-ungkit dan menyakiti orang yang menerima sedekah atau derma.

    Apabila seseorang mengungkit-ungkit kembali pemberian sedekah yang telah dihulurkannya, nyatalah bahwa dia tidak memberi dengan keikhlasan, tidak memberi dengan hati yang bulat karena Allah.

    Sebagai contoh, seorang yang telah menghulurkan derma untuk mendirikan masjid, lalu dia diminta sekali lagi untuk memberi bantuannya. Tiba-tiba diungkit-ungkit pemberiannya yang dahulu: “Mengapa datang lagi, bukankah tempo hari saya sudah menderma”. Padahal kalau dia mau, kalau dia ikhlas beberapa kali memberi derma pun tidak menjadi masalah.

    Begitu juga halnya dengan menyakiti orang yang diberi, kelakuan seperti ini tidak sekali-kali menunjukkan keikhlasan si pemberi. Biarpun dia menghulurkan sedekah tetapi diiringi dengan kata-kata yang boleh memalukan dan menyinggung perasaan orang yang diberi, pemberiannya itu tidak mendatangkan apa-apa ganjaran, malahan boleh mendatangkan dosa.

    Para ulama bersepakat mengatakan bahwa perbuatan mengungkit-ungkit kembali sedekah, derma atau sumbangan yang telah diberikan dan menyakiti orang yang menerima pemberian tersebut adalah haram hukumnya, dan merusakkan pahala amal sedekahnya itu. Hal ini telah diperuntukkan dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang tafsirnya :

    “Wahai orang-orang yang beriman! Jangan rusakkan (pahala amal) sedekah kamu dengan perkataan membangkit-bangkit dan (kelakuan yang) menyakiti, seperti (rusaknya pahala amal sedekah) orang yang membelanjakan hartanya karena menunjuk-nunjuk kepada manusia (riya’), dan ia pula tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhirat.” (Surah Al-Baqarah, ayat 264)

    Perkara mengungkit-ungkit pemberian sedekah atau derma dan menyakiti hati orang yang diberi sedekah atau derma, termasuk dalam golongan orang yang rendah akhlak. Orang seperti ini tidak sedar dan insaf bahwa kekayaan dan rezeki yang dikurniakan Allah kepadanya, tidaklah ada artinya kalau dia terputus hubungan dengan masyarakat, karena antara tujuan bersedekah, menderma, menghulur sumbangan merupakan jalan penghubung dan pengerat sesama manusia.

    Sifat riya’ atau sifat menunjuk-nunjuk juga boleh menjadi punca rusaknya sesuatu pemberian sedekah. Sedekah tidak ada apa-apa nilai jika itu dihulurkan hanya untuk mendapat pujian orang, hanya untuk memberitahu orang bahwa dia seorang yang pemurah, padahal jika tidak dilihat orang dia tidak akan mengeluarkan sedekah. Oleh itu, ikhlas merupakan kunci kejayaan untuk mendapat ganjaran daripada amalan bersedekah.

    Sebagai suatu kesimpulan, segala apa yang dikeluarkan atau diberikan dengan niat mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, sama ada itu dinamakan sebagai sedekah, derma, sumbangan atau seumpamanya, adalah penting untuk diperhati aspek kualiti benda atau barang yang diberikan itu. Pendek kata, kualiti adalah menjadi ukuran bukannya kuantiti. Allah Maha Mengetahui segala apa yang kita dermakan atau sedekahkan, sebagaimana firmanNya yang tafsirnya :

    “Dan suatu apa jua yang kamu dermakan maka sesungguhnya Allah Mengetahuinya.” (Surah Ali ‘Imran, ayat 92)

    Wallohu a’lam bish-showab,-

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 17 January 2017 Permalink | Balas  

    Sedekah : Mana Yang Lebih Utama Kualitas Atau Kuantitas? (1/2) 

    adab-sedekahSedekah : Mana Yang Lebih Utama Kualitas Atau Kuantitas? (1/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Apa yang dimaksudkan dengan sedekah dari pandangan syara’ ialah pemberian semasa hidup kepada seseorang tanpa ada tukar ganti atas dasar mendekatkan diri kepada Allah.

    Berdasarkan pengertian tersebut, bahwa apa juga jenis pemberian berupa mata benda tanpa ada bayaran balik sebagai imbalan atas pemberian tersebut melainkan yang diharapkan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka itu disebut sebagai sedekah, seperti sedekah wajib, sedekah sunat, wakaf, derma, sumbangan dan sebagainya.

    Mengapa kita sebut ‘mata benda’? Karena itu akan membedakan antara sedekah dengan pinjaman. Pinjaman ialah pemilikan kepada seseorang sesuatu manfaat akan tetapi mata bendanya tetap menjadi milik orang yang meminjamkan.

    Mengapa pula kita sebut ‘atas dasar mendekatkan diri kepada Allah’? Karena yang demikian itu akan membedakan antara sedekah dengan hibah dan hadiah. Apabila sesuatu pemberian itu dengan tujuan untuk mempererat dan merapatkan hubungan maka itu disebut sebagai hibah. Manakala jika itu dimaksudkan untuk memuliakan orang yang diberi maka itu dinamakan hadiah. Jelas di sini bahwa titik perbedaan antara sedekah dengan hibah dan hadiah adalah dari aspek niat atau tujuan sesuatu pemberian.

    Namun pada kebiasaannya perkataan sedekah itu di kalangan para ulama fiqh lebih kerap dimaksudkan kepada sedekah sunat. Dalam istilah masyarakat kita selain sedekah itu juga disebut sebagai derma atau sumbangan. Kedua-dua istilah derma dan sumbangan itu selama mana dimaksudkan oleh pelakunya, yakni yang memberi derma atau sumbangan sebagai amalan untuk merapatkan hubungan dirinya dengan Allah subhanahu wa ta’ala dan mencari keredhaanNya maka yang demikian itu dikategorikan sebagai sedekah. Sementara sedekah wajib itu lebih dikenali dengan istilah zakat.

    Memberi sedekah itu hukumnya sunat. Banyak terdapat dalil-dalil syara’ yang memperuntukkan suruhan dan galakkan bersedekah. Antaranya sebagaimana firman Allah:

    Tafsirnya: “Siapakah orangnya yang (mau) memberikan pinjaman kepada Allah, sebagai pinjaman yang baik (ikhlas) supaya Allah melipatgandakan akan balasannya dengan berganda-ganda banyaknya? Dan (ingatlah) Allah jualah yang menyempit dan meluaskan (pemberian rezeki), dan kepadaNya lah kamu semua dikembalikan.”

    (Surah Al-Baqarah, ayat 245)

    Firman Allah di dalam ayat yang lain:

    Tafsirnya: “Dan dirikanlah sembahyang serta berilah zakat; dan berikanlah pinjaman kepada Allah sebagai pinjaman yang baik (ikhlas). Dan (ingatlah) apa jua kebaikan yang kamu kerjakan sebagai bekalan untuk diri kamu, tentulah kamu akan mendapat balasannya pada sisi Allah sebagai balasan yang sebaik-baiknya dan amat besar pahalanya. Dan mintalah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah amat Pengampun, lagi amat Mengasihani.”

    (Surah Al-Muzzammil, ayat 20)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga ada menyebutkan mengenai suruhan dan galakkan bersedekah itu, sebagaimana Baginda bersabda yang maksudnya :

    Maksudnya: “Mana-mana orang mukmin yang memberi makanan kepada seorang mukmin yang lain karena kelaparan, maka Allah akan memberi makanan kepadanya pada Hari Kiamat dari buah-buah Syurga. Dan mana-mana orang mukmin yang memberi minuman kepada seorang mukmin yang lain karena kehausan, maka Allah akan memberi minuman kepadanya pada Hari Kiamat dari khamar Syurga yang termetri bekasnya. Dan mana-mana orang mukmin yang memberi pakaian kepada seorang mukmin yang lain karena tidak berpakaian, maka Allah akan memberi pakaian kepadanya dari pakaian Syurga yang berwarna hijau.”

    (Hadits riwayat At-Tirmizi dan Abu Daud)

    Daripada dalil-dalil yang disebutkan dapatlah ditanggapi bahwa suatu pemberian karena Allah akan dibalas dengan sebaik-baik balasan atau ganjaran daripada Allah subhanahu wa ta’ala, dan sudah tentu balasan itu tidak akan diperolehi kecuali melalui amalan-amalan berkebajikan yang telah dilakukan oleh seseorang hamba, baik amalan tersebut berbentuk sumbangan harta ataupun tenaga. Apabila Allah berjanji untuk membalas amalan kebaikan itu, maka ini menunjukkan betapa amalan tersebut adalah suatu yang dituntut oleh syara’, dan ini termasuklah memberi sedekah.

    Sedekah itu boleh dilakukan pada setiap saat, lebih-lebih lagi di bulan Ramadhan, karena di bulan inilah yang lebih dituntut untuk memperbanyakkan sedekah sebagai mengikut sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling pemurah lebih-lebih lagi di bulan Ramadhan. Ini jelas sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma beliau berkata yang maksudnya :

    Maksudnya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan orang yang paling pemurah (dermawan), dan Baginda lebih pemurah pada bulan Ramadhan ketika Jibril bertemu Baginda. Jibril bertemu Baginda shallallahu ‘alaihi wasallam pada setiap malam Ramadhan, lalu Baginda membacakan Al-Qur’an. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu adalah seorang yang lebih pemurah (dermawan) dalam kebaikan daripada angin yang diutus.”

    (Hadits riwayat Bukhari, Muslim dan An-Nasa’ie)

    Di dalam riwayat yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya, sedekah manakah yang lebih afdhal? Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab yang bermaksud:

    Maksudnya: “Sedekah di bulan Ramadhan.”

    (Hadits riwayat At-Tirmidzi)

    Bersambung

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 16 January 2017 Permalink | Balas  

    Perbuatan Yang Ihsan 

    prasangka baikPerbuatan Yang Ihsan

    Oleh: O. Solihin

    Seorang ulama yang hidup di masa Abdul Malik bin Marwan, Sa’id bin Jubair, pernah mengatakan:

    “Tidak diterima suatu perkataan kecuali disertai amal, tidak akan diterima perkataan dan amal kecuali disertai niat, dan tidak akan diterima perkataan, amal dan niat kecuali disesuaikan dengan sunnah Nabi Saw.”

    Saking pentingnya ihsan dalam beramal ini, sampai-sampai Imam Malik mengatakan:

    “Sunnah Rasulullah Saw itu ibarat perahu nabi Nuh. Siapa yang menumpanginya ia akan selamat; sedangkan yang tidak, akan tenggelam.”

    Tradisi kaum muslimin di masa lalu berkaitan dengan amalnya dalam kehidupan sehari-hari selalu menyandarkan kepada tuntutan Allah dan Rasul-Nya. Sehingga untuk masalah yang kecil seperti bagaimana tatacara bersuci dari hadats besar atau kecil sampai urusan muhasabah (mengoreksi) penguasa selalu mengikuti petunjuk yang diberikan Allah dan Rasul-Nya. Tentu saja hal semacam itu menjadikan kaum muslimin generasi terdahulu senantiasa berada di jalur yang benar dalam aktivitas kehidupan sehari-harinya. Mereka berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan semata berlomba-lomba dalam banyaknya amal (perbuatan). Firman Allah:

    “…supaya Dia menguji kalian siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (Qs. al-Mulk [67]: 2).

    Jadi, bukan yang terbanyak amalnya yang akan dinilai oleh Allah, tetapi yang terbaik amalnya.

    Namun, tradisi kaum muslimin generasi mutaakhirin (sekarang ini) ternyata sudah mulai melupakan atau bahkan tidak lagi menghiraukan rambu-rambu yang diberikan Allah dan Rasul-Nya ketika melakukan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga wajar bila akhirnya kaum muslimin kesulitan sendiri dalam melakukan berbagai amal. Malah tak jarang yang akhirnya menempuh cara-cara yang tak pernah diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Praktek-praktek KKN yang diduga kuat dibudayakan orde baru ternyata tradisinya masih terasa sampai sekarang. Dalam urusan amar ma’ruf nahyi munkar kaum muslimin tidak lagi menempatkan dirinya pada posisi yang benar. Dengan kata lain, cara-cara yang ditempuh tidak sejalan dengan sunnah Nabi saw. Yakni cenderung brutal dan menghalalkan segala cara. Artinya, ketika akan meluruskan kesalahan, ternyata cara yang diambil justeru bertentangan dengan Islam. Jadi, membenarkan kesalahan dengan kesalahan.

    Dengan demikian, amal yang baik (ihsan) menurut salah seorang guru Imam Syaifi’i, yakni Fudlail bin ‘Iyadl ketika menjelaskan ayat 2 surat al-Mulk [67] adalah amal yang paling ikhlas dan paling benar. Ketika ditanyakan. “Wahai Abu Ali, Apakah maksud paling ikhlas dan paling benar?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya suatu amal sekalipun benar tetapi tidak dikerjakan dengan ikhlas, maka amal tersebut tidak akan diterima. Sebaliknya, jika dikerjakan dengan ikhlas namun tidak dengan cara yang benar, maka amal tersebut juga tidak akan diterima. Ikhlas hanya dapat terwujud manakala amal itu diniatkan secara murni kepada Allah SWT, sedangkan amal yang benar hanya dapat terwujud dengan mengikuti sunnah Nabi Saw.” (Fauzy Sanqarth, At-Taqorrub ila Allah Thoriqut Taufiq).

    Di antara tanda-tanda ikhlas adalah tunduk kepada kebenaran, dan menerima nasihat sekalipun dari orang yang lebih rendah tingkat ilmunya. InsyaAllah bila kita mengikuti perintah dan tuntutan dari Allah dan Rasul-Nya dalam beramal ini, amal yang kita kerjakan tidak akan sia-sia, dan tentu saja dinilai sebagai amal yang ihsan (baik). Wallahu’alam bishowab.

    ***

    hayatulislam.net

     
  • erva kurniawan 8:50 am on 11 January 2017 Permalink | Balas  

    Istighfar 

    IstighfarIstighfar

    Imam Ahmad bin Hambal Rahimakumullah (murid Imam Syafi’i) dikenal juga sebagai Imam Hambali. Dimasa akhir hidupnya beliau bercerita;

    Suatu waktu (ketika saya sudah usia tua) saya tidak tahu kenapa ingin sekali menuju satu kota di Irak. Padahal tidak ada janji sama orang dan tidak ada keperluan.

    Akhirnya Imam Ahmad pergi sendiri menuju ke kota Bashrah. Begitu tiba di sana waktu masuk sholat Isya’, saya ikut shalat berjamaah Isya di masjid, hati saya merasa tenang, kemudian saya ingin istirahat.

    Begitu selesai shalat dan jamaah bubar, imam Ahmad ingin tiduran di masjid, tiba-tiba Marbot masjid datang menemui Imam Ahmad sambil bertanya; “Kamu mau ngapain  disini, Syaikh?.”

    ~Penjelasan~

    Kata “syaikh” bisa dipakai untuk 3 panggilan:

    1. bisa untuk orang tua; 2. orang kaya ataupun; 3. orang yang berilmu.

    Panggilan Syaikh di kisah ini panggilan sebagai orang tua, karena Marbot taunya sebagai orang tua.

    Marbot tidak tahu kalau beliau adalah Imam Ahmad, dan Imam Ahmad pun tidak memperkenalkan siapa dirinya.

    Di Irak, semua orang kenal siapa imam Ahmad, seorang ulama besar dan ahli hadits, sejuta hadits dihafalnya, sangat shalih dan zuhud. Zaman itu tidak ada foto sehingga orang tidak tahu wajahnya, cuma namanya sudah terkenal.

    Imam Ahmad menjawab,  “Saya ingin istirahat, saya musafir.”

    Kata Marbot, “Tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid.”

    Imam Ahmad bercerita, “Saya didorong-dorong oleh orang itu disuruh keluar dari masjid, Setelah keluar masjid, dikuncinya pintu masjid. Lalu saya ingin tiduran di teras masjid.”

    Ketika sudah berbaring di teras masjid Marbotnya datang lagi, marah-marah kepada Imam Ahmad. “Mau ngapain lagi Syaikh?”_ Kata marbot.

    “Mau tidur, saya musafir”, kata imam Ahmad.

    Lalu marbot berkata, “Di dalam masjid tidak boleh, di teras masjid juga gak boleh.” Akhirnya Imam Ahmad pun diusir. Imam Ahmad bercerita, “Saya didorong-dorong sampai jalanan.”

    Di samping masjid ada penjual roti (rumah kecil sekaligus untuk membuat dan menjual roti). Penjual roti ini sedang membuat adonan, sambil melihat kejadian Imam Ahmad didorong-dorong oleh Marbot tadi.

    Ketika Imam Ahmad sampai di jalanan, penjual roti itu memanggil dari jauh; “Mari Syaikh, anda boleh nginap di tempat saya, saya punya tempat, meskipun kecil.”

    Kata imam Ahmad, “Baik”. Imam Ahmad masuk ke rumahnya, duduk di belakang penjual roti yang sedang membuat roti (dengan tetap tidak memperkenalkan siapa dirinya, hanya bilang sebagai musafir).

    Penjual roti ini punya perilaku khas, kalau imam Ahmad ngajak bicara, dijawabnya. Kalau tidak, dia terus membuat adonan roti sambil (terus-menerus) melafalkan ISTIGHFAR. “Astaghfirullah”

    Saat memberi garam, astaghfirullah, memecah telur_astaghfirullah_ ,  mencampur gandum astaghfirullah . Dia senantiasa mengucapkan istighfar. Sebuah kebiasaan mulia. Imam Ahmad memperhatikan terus.

    Lalu imam Ahmad bertanya, “Sudah berapa lama kamu lakukan ini?”

    Orang itu menjawab, “Sudah lama sekali syaikh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan.”

    Imam Ahmad bertanya, “Apa hasil dari perbuatanmu ini?”

    Orang itu menjawab, “(lantaran wasilah istighfar) tidak ada hajat/keinginan yg saya minta, kecuali PASTI dikabulkan Allah. semua yg saya minta ya Allah…., langsung diwujudkan.”

    Rasulullah SAW pernah bersabda;

    “Siapa yg menjaga istighfar, maka Allah akan menjadikan jalan keluar baginya dari semua masalah dan Allah akan berikan rizki dari jalan yang tidak disangka-sangkanya . ”

    Lalu orang itu melanjutkan, “Semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yang belum Allah beri.”

    Imam Ahmad penasaran lantas bertanya, “Apa itu?”

    Kata orang itu, “Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan Imam Ahmad.”

    Seketika itu juga imam Ahmad bertakbir, “Allahu Akbar..!  Allah telah mendatangkan saya jauh dari Bagdad pergi ke Bashrah dan bahkan – sampai didorong-dorong oleh Marbot masjid – Sampai ke jalanan ternyata karena ISTIGHFARMU.”

    Penjual roti itu terperanjat, memuji Allah, ternyata yang didepannya adalah Imam Ahmad.

    Ia pun langsung memeluk & mencium tangan Imam Ahmad.

    (SUMBER: Kitab Manakib Imam Ahmad)

    Wallohu a’lam

    Saudaraku & Sahabatku tercinta, mulai detik ini – marilah senantiasa kita hiasi lisan kita dengan ISTIGHFAR – kapanpun dan di manapun kita berada.

    Jangan biarkan postingan ini terputus, dan JANGAN SAMPAI ilmu yang SANGAT PENTING ini TIDAK DI-AMALKAN OLEH MASING-MASING DIRI KITA

    Semoga Alloh merahmati kita semua, Aamiin

     
  • erva kurniawan 9:47 am on 4 January 2017 Permalink | Balas  

    Najiskah Bulu Binatang? 

    kulit-binatangNajiskah Bulu Binatang?

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Islam menggalakkan penganutnya untuk sentiasa menjaga kebersihan, baik pada tubuh badan, pakaian dan lain-lain, lebih-lebih lagi ketika menunaikan ibadah seperti sembahyang. Bukan saja bersih daripada benda-benda najis malahan juga bersih daripada sebarang kekotoran. Pengertian kotor dan najis itu adalah berbeda pada pandangan syarak karena setiap yang kotor itu tidak semestinya najis dan setiap yang najis pula adalah kotor. Umpamanya pakaian yang terkena lumpur, kuah kari atau kopi adalah kotor tetapi ia tidak najis.

    Berbalik kepada tajuk di atas yaitu bulu binatang adakah ia najis ataupun tidak? Apabila dilihat perihal bulu di zaman sekarang, memang banyak dimanfaatkan oleh manusia seperti dijadikan pakaian, alas, perhiasan, berus dan sebagai nya. Masalah yang timbul adakah ia boleh digunakan ataupun tidak dan adakah sah sembahyang ketika memakainya.

    Bulu binatang itu ada yang datangnya daripada binatang yang halal dimakan dagingnya dan binatang yang tidak halal dimakan dagingnya. Binatang itu pula ada yang disembelih dan ada juga yang mati bukan karena disembelih (bangkai). Maka IRSYAD HUKUM kali ini meninjau lebih lanjut ketetapan hukum syarak mengenai perkara tersebut.

    Binatang Yang Halal Dimakan Dagingnya

    Bulu binatang yang halal dimakan seperti unta, lembu, kambing, arnab, ayam dan sebagainya, jika terpisah dari badannya sama ada dicabut, tercabut atau sebagainya ketika binatang itu hidup atau mati karena disembelih maka adalah ia suci (tidak najis). Firman Allah Subhanahu Wata’ala yang tafsirnya :

    “Dan (ia juga menjadikan bagi kamu) dari berjenis-jenis bulu binatang-binatang ternak itu, pelbagai perkakas rumah dan perhiasan (untuk kamu menggunakannya) hingga ke suatu masa.” (Surah An-Nahl ayat 80).

    Jika bulu binatang tersebut terpisah sesudah ia menjadi bangkai maka bulu binatang berkenaan adalah najis.

    Adapun anggota yang lain selain bulunya jika di potong atau dipisahkan dari badannya ketika binatang itu masih hidup ia dihukumkan sebagai bangkai, sebagaimana disebutkan dalam hadis daripada Abu Sa’id Al-Khudri Radiallahuanhu yang maksudnya :

    Bahwasanya Rasulullah Sallalahahu Alaihi Wasallam pernah ditanya mengenai potongan bonggol-bonggol unta dan ekor-ekor kambing. Baginda bersabda : “Apa yang dipotong daripada yang hidup adalah bangkai.” (Hadis riwawat Al-Hakim)

    Hadis ini ditakhshishkan oleh dalil Al-Quran yang telah disebutkan di atas di mana bulu bianatang yang halal dimakan itu jika terpisah ketika binatang itu hidup adalah suci. Demikian juga halnya dengan anggota yang terpisah daripada manusia, ikan atau belalang ia adalah suci.

    Binatang Yang Tidak Halal Dimakan Dagingnya

    Jika bulu binatang yang tidak halal dimakan seperti kucing, monyet, musang dan sebagainya, terpisah daripada badannya ketika binatang itu masih hidup, maka bulu tersebut adalah najis apatah lagi sesudah binatang tersebut mati. Demikianlah juga anggota-anggotanya yang lain jika bercerai daripada binatang itu adalah dikira bangkai. (Mughni Al-Muhtaj, Kitab Ath-Thaharah, Bab An-Najasah ayat 1/115).

    Syak Pada Kesucian Bulu Binatang

    Ada kalanya kita terjumpa bulu binatang dan kita tidak mengenali sama ada bulu binatang itu suci atau najis. Maka, jika terjadi syak, adakah bulu yang terpisah dari binatang itu datangnya dari yang suci ataupun yang najis, maka bulu itu di hukumkan suci karena menurut hukuman asal adalah suci, dan telah berlaku syak pada kenajisannya sedang hukum asal adalah tidak najis. (Mughni Al-Muhtaj, Kitab Ath-Thaharah, Bab An-Najasah ayat 1/115). Sebagai contoh baju yang diperbuat daripada bulu binatang sedang tidak diketahui sama ada bulu tersebut datangnya daripada binatang yang halal dimakan ataupun sebaliknya atau ia daripada binatang yang disembelih ataupun bangkai, maka dalam hal ini baju tersebut adalah suci.

    Bulu Pada Anggota Yang Terpotong

    Bulu yang ada pada anggota binatang yang tidak halal dimakan yang terpotong ketika binatang itu masih hidup adalah najis apatah lagi sesudah mati, seperti ekor kucing yang terpisah atau terpotong. Karena ekor yang terpotong itu bangkai, maka bulu yang ada pada ekor itu juga adalah najis.

    Demikian juga halnya dengan bulu yang ada pada anggota binatang yang halal dimakan yang terpotong ketika hidup ataupun mati tanpa disembelih adalah najis, seperti ekor kerbau yang berbulu dan terpisah atau terpotong. Karena ekor kerbau itu terpotong ketika ia hidup atau terpotong setelah ia mati bukan kerena disembelih adalah bangkai, maka bulu ekor itu juga adalah najis.

    Jika dicabut bulu binatang yang halal dimakan ketika hidup sehingga tercabut bersama-samanya akar bulu tersebut dan melekat padanya sesuatu yang basah daripada bulu itu seperti darah atau sebagainya, maka bulu itu mutanajjis (yang terkena najis atau bercampur najis). Akan tetapi ia boleh menjadi suci jika dibersihkan. (Mughni Al-Muhtaj, Kitab Ath-Thaharah, Bab An-Najasah ayat 1/115).

    Penggunaan Bulu Binatang

    Daripada penjelasan sebelum ini, mana-mana bulu yang dicabut daripada bangkai atau dicabut daripada binatang yang tidak boleh dimakan dagingnya adalah najis. Maka setiap penggunaan kesemua benda-benda yang najis, menurut pendapat yang sahih adalah tidak harus memanfaatkannya sama ada dibuat pakaian atau perhiasan di badan melainkan jika ada darurat. Sementara penggunaan selain daripada pakaian atau perhiasan badan adalah diharuskan jika najis itu bukan datangnya daripada anjing dan babi.

    Apa yang dimaksudkan dengan darurat itu ialah, seperti terjadinya peperangan yang mengejut atau takut atas terjadi sesuatu pada dirinya karena kepanasan atau kesejukan ataupun sebagainya, lalu tiada pakaian lain selain yang najis, maka harus dipakai pakaian itu karena darurat kecuali dipakai ketika sembahyang. (Mughni Al-Muhtaj, Kitab As-Shalah, Bab Ma Yukrah Lubsuhu Wa Ma La Yukrah, Fashal Fi At-Tahalli Bi Al-Fidhah ayat 4/387).

    Oleh karena itu, dapatlah difahami bahwa setiap penggunaan bulu binatang yang najis sama ada dijadikan pakaian atau perhiasan di badan adalah tidak diharuskan oleh syarak melainkan jika ada darurat.

    Hubungannya Dengan Sembahyang

    Menurut hukum syarak syarat sah mengerjakan sembahyang itu hendaklah bersih daripada segala najis baik pada pakaian, tubuh badan dan tempat sembahyang.

    Oleh itu, jika terdapat bulu binatang yang hukumkan najis pada pakaian atau badan maka sembahyang itu tidak sah karena menanggung sesuatu yang najis. Kecuali jika bulu yang najis itu sedikit, seperti sehelai atau dua helai, karena ia dimaafkan. Melainkan bulu anjing atau babi karena ia tetap najis walaupun hanya sedikit. (AL-Feqh Al-Islami Wa Adilatuh ayat 1/175).

    Apakah yang harus dilakukan oleh orang yang sedang sembahyang mendapati ada bulu najis pada pakaiannya? Menurut Ashhab Asy Syafi’e, apabila orang yang sedang sembahyang itu mendapati ada najis yang kering pada pakaian atau badannya, maka pada saat itu juga hendaklah dia mengibas najis tersebut. Jika dia mendapati najis yang basah pula hendaklah dia segera menanggalkan atau membersihkan pakaiannya yang bernajis itu tanpa menyentuh najis tersebut. Adapun jika dia tidak segera menanggalkan atau mengibas pakaian yang bernajis itu maka batal sembahyangnya.

    Pakaian yang terkena bulu yang najis hendaklah terlebih dahulu dibersihkan. Cara membersihkannya ialah jika bulu itu kering dan pakaian atau anggota badan yang tersentuh bulu itu juga kering adalah memadai dengan menanggalkan najis itu sama ada dengan mengibas, mengibar atau menyapunya. Adapun jika bulu itu basah ataupun pakaian atau anggota badan yang terkena najis itu saja yang basah maka hendaklah ditanggalkan najis itu dan dibersihkan dengan air yang suci disekitar yang terkena najis. (Fath Al-‘Allam, Kitab Ath-Thararah, Bab Izalah An-Najasah ayat 1/347).

    Oleh karena persoalan memakai pakaian daripada bulu itu adalah berkaitan dengan persoalan hukum najis, maka perlulah kita berhati-hati dalam memilih dan memanfaatkannya supaya pakaian yang dipilih itu diyakini diperbuat daripada bulu yang suci dan boleh kita guna pakai seperti ketika sembahyang dan sebagainya.

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 27 December 2016 Permalink | Balas  

    Pengalaman Jurnalis Meliput Tsunami Aceh 

    Pengalaman Jurnalis Meliput Tsunami Aceh

    Senin 27 desember lalu saya berangkat ke banda aceh untuk liputan buat associated press television news (salah satu media tempat saya menjadi kontributor) ternyata apa yang saya saksikan disana jauh lebih mengenaskan daripada sekedar menyaksikannya lewat layar kaca.

    Di sini saya bisa berinteraksi langsung dengan pada korban, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Dengan yang hidup saya masih bisa berbincang-bincang seadanya (tak etis rasanya saya menanyai mereka panjang lebar karena mereka baru tertimpa bencana, dan saya tau mungkin mereka belum makan sejak minggu pagi saat bencana itu terjadi). Saya juga bisa merasakan langsung kesedihan yang terpancar dari wajah-wajah kuyu yang kecapaian dan masih trauma itu. Mungkin kalau saya mengerti bahasa aceh kesedihan itu bisa jadi berlipat- lipat. Sedangkan dengan si mati! Saya bisa melihat langsung kondisi mereka yang sangat mengenaskan, mencium aroma yang konon bisa “melekat” di tubuh anda selama sepekan. Saya mendapat informasi ini dari seorang dokter yang kebetulan sering berurusan dengan mayat.

    Dalam kunjungan singkat itu (sekitar 2,5 jam saja, sekitar satu jam saya habiskan dengan terbengong di bandara iskandar muda karena tak adanya alat transportasi ke kota) saya sempat menyaksikan kepanikan luar biasa dari warga kota serambi mekah itu. Beberapa tenda militer didirikan tak jauh dari pintu keluar bandara. Di jalan-jalan warga bersileweran seperti orang ling-lung. Mungkin masih trauma, atau mungkin ada keluarganya yang hilang. Atau malah sudah mati… Kondisi ini memaksa kendaraan yang melintas untuk berjalan pelan. Waktu biasa sekitar 20 menit dalam perjalan dari bandara ke kantor gubernuran terasa menjadi lebih lama.

    Di lambaro saya bersama rombongan (3 dokter dari medan, seora! ng anggota DPR RI asal aceh, kadis kesehatan pemprov. NAD, dan 2 jurnalis kantor berita xinhua beijing) singgah di lokasi pemakaman massal. saat tiba disana, areal sekitar 20 m x 15 m itu sedang digali dengan menggunakan excavator. Penggalian belum selesai, 5 kantong berisi mayat teronggok di pinggir lubang raksasa itu. sekitar 5 menit mengambil gambar, kami melanjutkan perjalanan.

    Semakin jauh mendekati kota suasana chaos semakin terasa. Crowd manusia yang kebingungan semakin banyak terlihat. Tak sedikit dari mereka yang membawa buntalan-buntalan besar. Mungkin pakaian, atau harta yang tersisa. Mobil-mobil dan sepeda motor lalu lalang dengan lampu dihidupkan. Sesekali ambulans melintas kencang. Entah membawa korban yang masih hidup, atau mayat yang sudah mulai membengkak. Saya tidak sempat memeriksa.

    Sebelumnya saya dengar banyak beredar rumor bakalan terjadi gempa dan tsunami susulan. Berita-berita seperti ini! Tentu menyesatkan karena bisa saja menimbulkan hal tak diinginkan. Entah siapa yang menghembuskan, yang jelas banyak warga yang menjadi korban. Mungkin karena mereka masih trauma. Sedikit saja terdengar jeritan, “air…” niscaya orang-orang langsung berlarian menyelamatkan diri. Si anggota DPR RI sempat bercerita kalau dia juga sempat menjadi korban.

    Mendekati bundaran lambaro di aceh besar aura kehancuran dan kematian semakin terasa. Beberapa kali saya melihat mayat teronggok di pinggir jalan. Aroma udara yang terhirup juga mulai tak sedap. Saya menduga pasti ada konsentrasi pengumpulan mayat. Dugaan saya benar. Di sebelah kiri simpang lambaro yang dikenal dengan sebutan bundaran itu, tepatnya di depan kantor PMI teronggok sekitar 700 an mayat dari berbagai tempat di kota banda aceh.

    Ya tuhan… Saya hampir tak percaya dengan penglihatan sendiri. Selama saya bekerja sebagai jurnalis inilah konsentrasi mayat terb! Anyak yang saya lihat! Mayat-mayat itu membusuk lebih cepat karena terendam air. Saya sempat terbodoh sebentar, apalagi saat melihat jejeran mayat anak kecil (mungkin berusia 5 tahunan). Ada lagi mayat anggota polisi yang masih berpakaian lengkap. Ada mayat seorang wanita yang biji matanya hampir mencelat. Ada mayat yang mulutnya masih mengeluarkan darah dan buih… Ah… Saya tidak tahu kenapa saya begitu kuat siang itu. Entah dimana air mata saya. Sebelumnya saya mendengar cerita seorang kameramen sctv yang menangis sambil mengambil gambar. Ada juga cerita seorang jurnalis lain yang sampai tak sanggup mengambil gambar. Bisa anda bayangkan?

    Tapi saya teringat saya tidak punya waktu banyak disitu. Apalagi si pemilik mobil kijang yang kami tumpangi juga sedang tergesa-gesa hendak melanjutkan perjalanan mengantarkan 3 orang dokter yang bersama saya itu. Akhirnya camcorder saya hidupkan dan lensa kamera mulai saya arahkan dengan beberapa variasi shoot. Kamera saya juga sempat merekam seorang bapak yang berusaha mengenali sesosok mayat anak kecil dengan meraba-raba bagian belakang kepalanya. Mungkin dia berharap bisa mengenali si anak dari tanda lahir di belakang kepala itu. Sejenak dia seperti tidak yakin kalau itu putranya. Dia terdiam. Tapi tiba-tiba dia menangis kencang dan terisak. Sayang saya tidak mengerti ucapannya. Mata saya sempat berkaca-kaca…

    Sore itu orang-orang hilir mudik berusaha mengenali mayat demi mayat. Sedangkan tentara dan relawan palang merah indonesia mengangkati mayat ke truk untuk diantarkan ke tempat pemakaman. Truk lain masuk ke lokasi mengantarkan mayat baru. Entah dari mana. Pasokan mayat sepeti tak berhenti. Sinar matahari yang lumayan terik membuat aroma tak sedap semakin menyeruak. Untunglah seorang teman yang terbiasa dengan liputan yang berhubungan dengan orang mati pernah memberikan resep. Saat saya coba! Ternyata memang mujarab.

    “Kalau berada di dekat mayat, bagaimanapun kondisi dan bau nya, jangan sekali-kali membuang ludahmu. Karena itu bisa memancing muntah. Sebaiknya telanlah ludahmu kalau merasa ingin muntah, bagaimanapun mualnya. Mudah-mudahan kau tak akan muntah,” kata si teman.

    Teman yang memberikan resep adalah stringer salah satu kantor berita asing di NAD. Ingat dia saya sempat kuatir karena saya belum melihat seorangpun jurnalis yang saya kenal disana. Ada cerita kalau kebanyakan para jurnalis tinggal di daerah dekat pantai. Padahal itulah lokasi yang paling ringsek dihantam tsunami. saya ngeri membayangkan kalau dia ikut menjadi korban.

    Perjalanan lalu berlanjut. Konsentrasi orang semakin banyak. Di sebuah spbu saya melihat antrian panjang orang. Tak sedikit dari mereka membawa jirigen plastik. Antrian itu semakin tak tertib. Petugas spbu sepertinya sengaja menjatah karena persediaan tak banyak. Di sebelah kiri dan kanan jalan saya melihat gedung permanen bertingkat yang rubuh karena gempa. Kalau tidak salah, bangunan yang di sebelah kiri gedung keuangan dan yang di sebelah kanan bangunan gedung asuransi. Saya ngeri membayangkan seandainya bencana terjadi pada saat hari kerja. Berapa banyak korban yang bakalan tertimpa?

    Oia, si Kadis Kesehatan yang menyetir mobil yang kami tumpangi cerita kalau air (bah) sampai ke lokasi yang saya lihat. Padahal jarak bibir pantai dengan tempat tersebut hampir mencapai 15 kilometer. Sebegitu jauh, tapi air sampai kesitu. Tinggi pula lagi. Saya bisa melihat bekas air bercampur lumpur dari tembok-tembok itu…

    sampah-sampah dan kayu-kayu teronggok di pinggir jalan membuat pemandangan semakin kumuh. “Tadi pagi sampah-sampah masih di tengah jalan. Tapi barusan dibersihkan pakai buldoser,” tambah si Kadis.

    Beberapa mayat masih teronggok di pinggir jalan. Sayang saya tak ! Bisa melihat detail ke seluruh tempat karena duduk terjepit di tengah-tengah mobil. Saya juga tak bisa mengambil gambar dengan posisi seperti itu. Ah, seandainya tadi saya bisa mencarter/ menyewa sebuah sepeda motor untuk berjalan sendiri. Tentu gambar yang saya dapat bisa jauh lebih bagus. Tapi saya ingat juga tak punya waktu lama karena paling tidak mesti mengirimkan kaset untuk segera dikirimkan ke jakarta.

    Mobil kami lalu berbelok mengarah ke kantor gubernuran. Si Kadis rupanya hendak bertemu seseorang di sana sehingga tak sempat membawa kami berkeliling lebih jauh. Di Pendopo Gubernuran sudah banyak warga yang mengungsi. Tempat itu memang jauh lebih manusiawi dibanding tempat-tempat yang saya lihat sebelumnya.

    Dalam sekian menit itu saya sempat menimbang-nimbang untuk terus jalan sendirian atau ikut balik ke bandara dengan rombongan Wapres Jusuf Kalla. Tapi tenggat waktu memaksa saya mengambil keputusan cepat. Apalagi cuma ada satu bus yang bisa saya tumpangi untuk kembali ke bandara.

    Pertimbangannya, kalau saya tinggal saya mesti mencari sepeda motor untuk dicarter. Jangan berharap ada angkot atau taksi disana. Kalau saya tinggal, saya pasti akan kesusahan mencari penginapan dan makanan. Jangankan untuk saya, warga setempat saja sudah 2 hari tidak makan. Belum lagi saya betul-betul dengan medan banda aceh. Saya pernah ke kota ini hampir 17 tahun lalu. Banyak perubahan bukan?

    Melihat orang-orang mulai menaiki bus yang akan kembali ke bandara naluri saya memaksa untuk ikut. Sempat saya kuatir, bagaimana kalau Paspampres memaksa saya untuk turun? Tapi saya teringat deadline untuk mengirimkan kaset hasil rekaman. Tanpa berpikir panjang lagi saya ikut naik ke bus. Di dalam saya melihat Najwa Shihab (Presenter Metro TV), beberapa wartawan dan fotografer lain dan seorang reporter perempuan yang membawa-bawa camcorder berstiker TV7. belakangan saya tahu kalau dia ternyata unit lubis.

    Perjalanan setengah jam kembali ke bandara ternyata belum berbeda dengan saat saya menuju gubernuran tadi, selain orang-orang semakin banyak dan jalanan semakin padat.

    Saat melintas dari lokasi pemakaman massal saya sempat melihat kalau pemakaman belum dilakukan. Padahal sore itu rencananya mesti dikuburkan karena mayat bertambah dan yang jelas semakin menebar bau tak sedap. Saya berharap iring-iringan mobil wapres singgah di situ. Tapi rombongan jalan terus.

    Rombongan akhirnya berhenti di hanggar lanud iskandar muda. Rupanya wapres mau melihat pasokan bantuan yang baru tiba dari medan. Sore itu, 1 pesawat Hercules baru saja landing membawa ratusan kardus makanan dan obat-obatan. Prajurit tni tampak hilir mudik mengangkuti kardus-kardus itu dari lambung pesawat. Tak lama Wapres berangkat naik helikopter untuk meninjau beberapa lokasi yang tak terjangkau lewat jalan darat.

    Kesempatan itu lalu saya manfaatkan dengan berbincang-bincang dengan Kapolda NAD Irjen Bachrumsyah.

    “Bencana ini memang sangat mengerikan dik. Saya juga turut menjadi korban. Saya kehilangan kontak dengan banyak saudara-saudara saya. Saya tak bisa berharap banyak. Kalau mereka masih hidup tentu mujizat. Kalaupun sudah tak ada, saya tak bisa berbuat apa-apa,” katanya pada saya.

    Polisi berbintang dua dan berkumis lebat itu sepertinya memang sedang depresi ringan. Wajar-wajar saja karena dia mesti berkeliling kesana- kemari. Belum lagi laporan banyak anak buahnya yang hilang. Termasuk sekitar 1 kompi saat mereka mau apel pagi di minggu naas itu. Kelelahan terpancar dari wajahnya. Celana lapangan yang dikenakannya belepotan lumpur. Sangat jarang saya melihat pemandangan seperti itu. Menyadari itu saya urungkan untuk menanyai hal-hal lain.

    Sore Menjelang Malam Itu Juga, Sekitar Pukul 18.30 Akhirnya Saya Jadi Terbang Ke Medan Menumpang Pesawat pelita air yang disulap menjadi pesawat RI-2. Sebelumnya saya sempat cemas, bagaimana saya mengirimkan kaset saya. Untuk menumpang di pesawat Wapres rasanya mustahil karena saya belum diregistrasi.

    Sambil mencari akal bagaimana caranya untuk ikut pulang tiba-tiba seorang bapak menegur saya. Saya tidak mengenalnya, selain baju safari coklat yang dikenakannya dan pin kecil di ujung kerahnya. Seingat saya, seluruh anggota pasukan pengamanan Presiden/ Wakil Presiden mengenakan pin tersebut. Tapi, dia terlihat lebih tua dari anggota paspampres lainnya.

    “Mau pulang dik?” katanya sambil menepuk pundak saya.

    “Iya pak, kalau memang ada seat,” kata saya ragu-ragu.

    “Ya udah, kalau mau pulang ikut saja. Jangan berlama-lama lagi. Ayo ikut aja,” katanya ramah.

    Mendengar tawaran tersebut saya berbinar dan melangkah pasti ke tangga pesawat. Akhirnya pikiran! Saya soal bagaimana mengirimkan kaset mendapat jawaban.

    Jam 19.00 pesawat meninggalkan banda aceh. Saya masih kepingin kembali kesana, mungkin dalam waktu dekat. Rasanya saya ingin menebus kesalahan tidak sempat melakukan reportase lengkap. Selain kaset berdurasi sekitar 20 menit. Sebagai seorang jurnalis ini sebenarnya kesalahan yang tak bisa ditolerir.

    Satu pertanyaan terus membayangi saya selama 45 menit di udara, bahkan sampai hari ini saat saya mengetik di sebuah warnet tak jauh dari rumah saya setelah seharian menongkrongi posko bencana di Lanud Auri Medan.

    Kenapa pemerintah cenderung lambat menangani bencana ini? Apalagi setelah beberapa pengungsi yang selamat dan pindah ke medan yang curhat mengatakan belum makan dan mendapat air bersih hampir 3 hari belakangan. Jangankan makanan, snack pun hampir tidak ada.

    “kami sampai mesti mengorek-ngorek lumpur siapa tau ada makanan yang terbenam,” kata si pengungsi tadi siang kepada saya. Ucapannya tentu membuat saya terhenyak, apalagi setahu saya pasokan makanan sudah mulai dikirimkan sejak sehari sebelumnya. Buat apa makanan itu sampai ke sana kalau tak segera didistribusikan?

    Sampai tadi malam pasokan makanan dan obat-obatan masih terus masuk ke posko dan “tertimbun” disitu.

    Kenapa semuanya terasa sangat lambat? Sikap pemerintahan srilangka membuat saya iri. Mereka cepat tanggap walau cuma sebuah negara kecil. Militer dikerahkan untuk mengevakuasi korban. Baik yang masih hidup atau sudah mati. Mereka juga dikerahkan untuk mendistribusikan pasokan bantuan makanan dan obat-obatan. Mereka bisa kenapa kita tidak? Ayo kita bantu mereka yang jadi korban sebisa kita.

    Sayang saya tak sempat menanyakannya kepada mr President saat beliau megunjungi Posko SATKORLAK bencana Aceh di Lanud Auri Medan selasa malam tadi.

    ***

    Lia Achmadi

    1. Radio Delta Insani
     
  • erva kurniawan 1:30 am on 18 December 2016 Permalink | Balas  

    Menikmati Kritik Dan Celaan 

    kritikMenikmati Kritik Dan Celaan

    KH Abdullah Gymnastiar

    Kejernihan dan kekotoran hati seseorang akan tampak jelas tatkala  dirinya ditimpa kritik, celaan atau penghinaan orang lain.  Bagi orang yg lemah akal dan imannya, niscaya akan mudah goyah & resah. Ia akan sibuk menganiaya diri sendiri dgn memboroskan waktu untuk memikirkan kemungkinan melakukan pembalasan. Mungkin dg cara  mengorek-ngorek aib lawannya atau mencari dalih dalih untuk membela diri, yg ternyata ujung dari perbuatannya tsb hanya akan membuat dirinya semakin tenggelam dalam kesengsaraan bathin dan kegelisahan.

    Lain halnya dengan orang yang memiliki kejernihan hati dan ketinggian  akhlak. Ketika datang badai kritik, celaan serta penghinaan seberat  atau sedahsyat apapun, dia tetap tegar tak goyah sedikitpun. Malah ia  menikmatinya karena yakin bahwa semua musibah yang menimpa semata-mata  terjadi dengan seijin ALLOH Azza wa Jalla.

    ALLOH tahu persis segala aib dan cela hamba-Nya dan Dia berkenan  memberitahunya dengan cara apa saja dan melalui siapa saja yang  dikehendaki-Nya. Terkadang berbentuk nasihat yg halus, adakalanya lewat  obrolan dan guyonan seorang teman, bahkan tak jarang berupa cacian teramat  pedas dan menyakitkan. Ia pun bisa muncul melalui lisan seorang guru, ulama,  orang tua, adik atau siapa saja. Terserah ALLOH.

    Jadi mengapa kita harus merepotkan diri membalas orang-orang yg menjadi  jalan keuntungan bagi kita? padahal seharusnya kita bersyukur dengan  sebesar-besar syukur karena mereka sudi meluangkan waktu memberitahukan segala kejelekan dan aib yang mengancam amal-amal shaleh kita di akhirat kelak. Karenanya, jangan aneh jika kita saksikan orang-orang mulia dan ulama  yang saleh ketika dihina dan dicaci, sama sekali tidak menunjukkan perasaan sakit hati dan keresahan.Sebaliknya mereka bersikap penuh kemuliaan dengan berterima kasih atas pemberitahuan ihwal aib yang justeru tidak sempat terlihat oleh diri sendiri.

    Sahabat, bagi kita yang berlumur dosa ini, haruslah senantiasa waspada  terhadap pemberitahuan dari ALLOH yang setiap saat bisa datang dengan  berbagai bentuk.

    ALLOH SWT berfirman :”Dan janganlah engkau berduka cita karena perkataan mereka. Sesungguhnya kekuatan itu bagi ALLOH semuanya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.(QS Yunus (10):65)

    Manusia memang sering lupa bahwa qudrah dan iradah ALLOH itu berada diatas segalanya, sehingga menjadi sombong dan takabur, seakan-akan dunia dan isinya ini berada dalam genggaman tangannya. Na’udzubillah.

    Timbulnya keresahan didalam hati, pembelaan diri atau keinginan membalas  menyakiti adalah karena pikiran kita terlampau terfokus pada makhluk. Padahal mereka hanyalah jalan bagi sampainya pemberitahuan ALLOH kepada  kita.

    Nah Sahabat mudah-mudahan ALLOH memberikan kekuatan kepada kita untuk  dapat melakukan semua ini karena mau tidak mau kejadian itu akan datang  juga menimpa diri kita suatu saat.

    ***

    Sumber : isnet.org

     
    • GAYA HIDUP ISLAMI 9:01 pm on 25 Desember 2016 Permalink

      Mencoba bersyukur dengan menahan emosi saat orang lain mencela kita memang sebuah usaha yang takmudah. Tapi justru di sanalah cobaanya …

      Terima kasih sudah berbagi artikel tentang menikmati kritik dan celaan di atas.

  • erva kurniawan 1:52 am on 17 December 2016 Permalink | Balas  

    AA GYM : Mursyid yang Arifbillah. 

    Reciting-QuranAA GYM : Mursyid yang Arifbillah.

    Mursyid yang mengandung arti, yang memberikan bimbingan atau petunjuk dengan cara tepat. Jadi kalau ada seseorang yang disebut mursyid, berarti orang tersebut adalah orang yang tepat untuk menunjukkan ke jalan yang tepat dengan cara yang tepat pula. Kata ini bermakna pula kekuatan dan keteguhan. Rasyadah berarti batu karang, suatu benda yang menunjukkan kekuatan dan keteguhan. Kalau orang bernama rasyid, maka orang tersebut harus memiliki karakter tangguh, kuat, dan mampu bertindak tepat.

    Kita bisa bertindak tepat dan bijaksana apabila kita memiliki ilmu yang luas ilmu dan mencapai tingkat ma’rifatullah. Karena Allah SWT memiliki sifat Ar Rasyid, maka semua tindakan Allah pasti tepat, cermat, dan tidak akan meleset. Ketentuan Allah tidak akan terlambat dan tidak pula terlalu cepat. Tidak kebesaran, tidak kekecilan. Tidak kelebihan, dan tidak kekurangan.

    Semoga Allah Yang Mahatepat tindakan-Nya, menganugerahi kita ilmu yang luas, hati yang lapang, dan kebijaksanaan, sehingga kita mampu bertindak secara tepat dalam segala situasi.

    **

    Kita bisa bertindak tepat dan bijaksana apabila kita memiliki ilmu yang luas. Sangat sulit bagi orang yang sedikit ilmunya untuk menyikapi hidup ini dengan tepat.Semoga Allah Yang Mahatepat tindakan-Nya, menganugerahi kita ilmu yang luas, hati yang lapang, dan kebijaksanaan, sehingga kita mampu bertindak secara tepat dalam segala situasi.

    Allah SWT memiliki nama Ar Rasyid atau Allah Yang Mahatepat Tindakan-Nya. Menurut Dr Quraish Shihab, semoga Allah meridhainya, kata ar-rasyid tersusun dari huruf ra’, syin, dan dal, yang makna dasarnya adalah ketepatan dan lurusnya jalan. Dari makna ini lahirlah kata rusyd atau manusia yang sempurna akal dan jiwanya hingga ia mampu bertindak dan bersikap secara tepat.

    Lahir pula kata mursyid yang mengandung arti yang memberikan bimbingan atau petunjuk dengan cara tepat. Jadi kalau ada seseorang yang disebut mursyid, berarti orang tersebut adalah orang yang tepat untuk menunjukkan ke jalan yang tepat dengan cara yang tepat pula.

    Kata ini bermakna pula kekuatan dan keteguhan. Rasyadah berarti batu karang, suatu benda yang menunjukkan kekuatan dan keteguhan. Kalau orang bernama rasyid, maka orang tersebut harus memiliki karakter tangguh, kuat, dan mampu bertindak tepat.

    Karena Allah SWT memiliki sifat Ar Rasyid, maka semua tindakan Allah pasti tepat, cermat, dan tidak akan meleset. Ketentuan Allah tidak akan terlambat dan tidak pula terlalu cepat. Tidak kebesaran, tidak kekecilan. Tidak kelebihan, dan tidak kekurangan.

    Allah membalas manusia (baik dengan kenikmatan atau pun siksaan) dengan ukuran yang tepat dan sebanding dengan kapasitas amal yang dilakukan manusia bersangkutan. “Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu” (QS Al Baqarah: 284).

    Sayangnya, karena terbatasnya ilmu dan tingkat ma’rifatullah, kita sering kecewa terhadap semua ketentuan Allah. Kita sering merasa bahwa keinginan kita lebih tepat daripada ketentuan Allah, sehingga kita sering kecewa tatkala keinginan tidak terkabul. Padahal, menurut ilmu Allah, apa yang kita inginkan tidak baik atau bahkan berbahaya bagi kita.

    Allah SWT berfirman, Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu. Sesungguhnya Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS Al Baqarah: 216).

    Karena itu, kita meyakini bahwa Allah itu selalu tepat tindakan, waktu, dan momentum-Nya. Meski manusia bermilyar jumlahnya di dunia ini, tapi balasan Allah pasti tepat kepada orang per orang sesuai kadar keimanan dan kekufurannya. Balasannya pun tidak akan tertukar. Maka kita tidak usah khawatir menghadapi semua ketentuan Allah. Yang penting niat kita lurus dan ikhtiar kita maksimal.

    Allah bertindak tepat karena ilmu Allah sangat luas, tidak bertepi. Ketepatan itu berbanding lurus dengan pengetahuan yang Dia miliki. Bukankah Ia adalah Al ‘Alim; Dzat Yang Maha Mengetahu i?

    Seorang hakim bisa memutuskan suatu perkara dengan tepat, karena ia memiliki pengetahuan dan bukti yang lengkap. Semakin lengkap data yang dia miliki, maka akan semakin tepat pula keputusan yang diambil.

    Apa hikmahnya bagi kita ?.

    Pertama, kita bisa bertindak tepat dan bijaksana apabila kita memiliki ilmu yang luas. Sebagai ilustrasi, kita akan bicara tepat dan lancar apabila kita memiliki kekayaan kata-kata. Sangat sulit bagi orang yang sedikit ilmunya untuk menyikapi hidup ini dengan tepat. Seorang ibu yang hamil dan tidak memiliki ilmu memadai akan cenderung tersiksa dengan kehamilannya tersebut. Seorang ayah yang tidak memiliki ilmu mengurus rumah tangga, akan sulit bertindak bijak dalam membina rumah tangga.

    Kunci kedua agar kita bisa bertindak tepat adalah pengendalian diri dan kesabaran. Seorang pemanah yang tepat, kuncinya adalah tenang. Tindakan yang emosional cenderung tidak tepat untuk menghasilkan sebuah solusi. Sikap yang emosional lebih banyak menghasilkan masalah daripada menyelesaikan masalah. Dengan sikap sabar, jernih, dan pengendalian diri, insya Allah setiap masalah dapat diselesaikan dengan cara yang tepat dan bijaksana. Dengan tindakan yang tepat, risiko pun bisa diminimalisasi dan hidup pun akan lebih mudah.

    Wallahu a’lam bish-shawab.

    Meneladani Allah yang Mahatepat Tindakannya

    ***

    KH Abdullah Gymnastiar

    Republika

     
  • erva kurniawan 1:49 am on 15 December 2016 Permalink | Balas  

    Permasalahan Daging Korban (3/3)