Updates from Agustus, 2019 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:23 am on 29 August 2019 Permalink | Balas  

    Jumlah Minimal Jama’ah Shalat Jum’at 

    Jumlah Minimal Jama’ah Shalat Jum’at

    Shalat Jum’at dilakukan secara berjama’ah dan tidak sah bila dilakukan secara sendirian. Namun para ulama berselisih tentang jumlah minimal orang yang menghadiri shalat Jum’at. Berikut beberapa pendapat tentang jumlah minimal jama’ah Shalat Jum’at :

    Pertama,

    Tidak diadakan kecuali minimal 40 orang yang diwajibkan shalat Jum’at. Ini adalah pendapat madzhab Maliki, Syafi’i dan yang masyhur dalam madzhab Ahmad. Dalilnya adalah Hadits Ka’ab bin Malik,

    “As’ad bin Zararah adalah orang pertama yang mengadakan shalat Jum’at bagi kami di daerah Hazmi dari harrah Bani Bayadhah di daerah Naqi’ yang terkenal dengan Naqi’ Al Khadhamat. Saya bertanya kepadanya, Waktu itu berapa jumlah kalian ?”, dia menjawab, ‘Empat puluh’” (HR. Abu Dawud no.1069, Ibnu Majah no. 1082 dan lainnya, hadits ini dihasankan oleh Abu Ishaq Al Huwaini dalam Ghauts Al Makdud bi Takhrij Muntaqa Ibni Al Jarud)

    Kedua,

    Harus ada 12 orang dari yang diwajibkan Jum’at, mereka berdalil dengan hadits Jabir, “Rasulullah berdiri berkhutbah pada hari Jum’at, lalu datanglah rombongan dari Syam, lalu orang-orang pergi menemuinya sehingga tidak tersisa kecuali dua belas orang” (HR. Muslim no. 863)

    Ketiga

    Disyaratkan paling sedikit tiga orang; seorang Khatib dan 2 orang pendengarnya. Demikian riwayat dari Imam Ahmad, Al Hasan Al Bashri, Abu Yusuf dan salah satu pendapat Sufyan Ats Tsauri.

    Adapun dalilnya adalah hadits Abu Ad Darda’ sebagai berikut, “Tidak ada dari 3 orang di satu perkampungan atau pedalaman, (lalu) tidak ditegakkan padanya shalat, kecuali setan akan menguasai mereka” (HR. Abu Dawud no. 537 dan An Nasa’i 2/106, hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

    Keempat

    Sah diadakan oleh 2 orang atau lebih. Mereka menyatakan, telah dimaklumi bahwa shalat Jama’ah selain Jum’at sah dilakukan dua orang saja secara ijma’ dan shalat Jum’at sama dengan shalat Jama’ah lainnya. Barangsiapa yang mengeluarkan dari shalat jama’ah lainnya harus mendatangkan dalil dan tidak ada dalil yang tegas dalam masalah ini. Pendapat ini dirajihkan oleh Imam Ibnu Hazm (Al Muhalla 5/45), Asy Syaukani (Nailul Authar), Shidiq Hasan Khan dan Al Albani (Al Ajwiba An Anfi’ah hal. 44). Demikian inilah pendapat yang rajih insya Allah.

    Maraji’ :

    Diringkas dari tulisan Ustadz Abu Asma Khalid bin Syamhudi pada Majalah As Sunnah Edisi 02/VIII/1425H/2004M, Penerbit : Yayasan Lajnah Istiqamah Surakarta.

     
  • erva kurniawan 9:26 am on 28 August 2019 Permalink | Balas  

    Syirik (Bagian 2) 

    Syirik (2)

    Sihir, Perdukunan dan Ramalan

    Temasuk syirik yang banyak terjadi adalah sihir, perdukunan dan ramalan. Adapun sihir, ia termasuk perbuatan kufur dan di antara tujuh dosa besar yang menyebabkan kebinasaan. Sihir hanya mendatangkan bahaya dan sama sekali tidak bermanfaat bagi manusia. Allah Ta’ala berfirman:

    “Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi madharat kepadanya dan tidak memberi manfaat (Al Baqarah : 102).

    “Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang” (Thaha : 69)

    Orang yang mengajarkan sihir adalah kafir. Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

    “Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir) hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu kepada seseorangpun) sebelum mengatakan, “sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. (Al Baqarah : 102).

    Hukuman bagi tukang sihir adalah dibunuh, pekerjaannya haram dan jahat. Orang-orang bodoh, sesat dan lemah iman pergi kepada para tukang sihir untuk berbuat jahat kepada orang lain atau untuk membalas dendam kepada mereka. Di antara manusia ada yang melakukan perbuatan haram, dengan mendatangi tukang sihir dan memohon pertolongan padanya agar terbebas dari pengaruh sihir yang menimpanya. Padahal seharusnya ia mengadu dan kembali kepada Allah, memohon kesembuhan dengan KalamNya, seperti dengan Mu’awwidzat (surat Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas) dan sebagainya.

    Dukun dan tukang ramal itu memanfaatkan kelengahan orang-orang awam (yang minta pertolongan padanya) untuk mengeruk uang mereka sebanyak-banyaknya. Mereka menggunakan banyak sarana untuk perbuatannya tersebut. Di antaranya dengan membuat garis di pasir, memukul rumah siput, membaca (garis) telapak tangan,cangkir, bola kaca, cermin, dsb.

    Jika sekali waktu mereka benar, maka sembilan puluh sembilan kalinya hanyalah dusta belaka. Tetapi tetap saja orang-orang dungu tidak mengingat, kecuali waktu yang sekali itu saja. Maka mereka pergi kepada para dukun dan tukang ramal untuk mengetahui nasib mereka di masa depan, apakah akan bahagia, atau sengsara, baik dalam soal pernikahan, perdagangan, mencari barang-barang yang hilang atau yang semisalnya.

    Hukum orang yang mendatangi tukang ramal atau dukun, jika mempercayai terhadap apa yang dikatakannya adalah kafir, keluar dari agama Islam. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

    “Barang siapa mendatangi dukun dan tukang ramal, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, sungguh dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad”. (HR Ahmad: 2/ 429, dalam shahih jami’ hadits, no : 5939)

    Adapun jika orang yang datang tersebut tidak mempercayai bahwa mereka mengetahui hal-hal ghaib, tetapi misalnya pergi untuk sekedar ingin tahu, coba-coba atau sejenisnya, maka ia tidak tergolong orang kafir, tetapi shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

    “Barang siapa mendatangi tukang ramal, lalu ia menanyakan padanya tentang sesuatu, maka tidak di terima shalatnya selama empat puluh malam” (Shahih Muslim : 4 / 1751).

    Ini masih pula harus dibarengi dengan tetap mendirikan shalat (wajib) dan bertaubat atasnya.

    Kepercayaan adanya pengaruh bintang dan planet terhadap berbagai kejadian dan kehidupan manusia.

    Dari Zaid bin Khalid Al Juhani, Ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam shalat bersama kami, shalat subuh di Hudaibiyah – Di mana masih ada bekas hujan yang turun di malam harinya- setelah beranjak beliau menghadap para sahabatnya seraya berkata:

    “Apakah kalian mengetahui apa yang difirmankan oleh Robb kalian? Mereka menjawab : “ Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui”. Allah berfirman : Pagi ini di antara hambaKu ada yang beriman kepadaKu dan ada pula yang kafir. Adapun orang yang berkata: kami diberi hujan denagn karunia Allah dan rahmatNya maka dia beriman kepadaKu dan kafir terhadap bintang. Adapun orang yang berkata: (hujan ini turun) karena bintang ini dan bintang itu maka dia telah kufur kepadaKu dan beriman kepada bintang” (HR Al Bukhari, lihat Fathul Baari : 2/ 333).

    Termasuk dalam hal ini adalah mempercayai Astrologi (ramalan bintang) seperti yang banyak kita temui di Koran dan majalah. Jika ia mempercayai adanya pengaruh bintang dan planet-planet tersebut maka dia telah musyrik. Jika ia membacanya sekedar untuk hiburan maka ia telah melakukan perbuatan maksiat dan berdosa. Sebab tidak dibolehkan mencari hiburan dengan membaca hal-hal syirik. Di samping syaitan terkadang berhasil menggoda jiwa manusia sehingga ia percaya kepada hal-hal syirik tersebut, maka membacanya termasuk sarana dan jalan menuju kemusyrikan.

    Termasuk syirik, mempercayai adanya manfaat pada sesuatu yang tidak dijadikan demikian oleh Allah Tabaroka wata’ala. Seperti kepercayaan sebagian orang terhadap jimat, mantera-mantera berbahu syirik, kalung dari tulang, gelang logam dan sebagainya, yang penggunaannya sesuai dengan perintah dukun, tukang sihir, atau memang merupakan kepercayaan turun menurun.

    Mereka mengalungkan barang-barang tersebut di leher, atau pada anak-anak mereka untuk menolak ‘ain (pengaruh jahat yang disebabkan oleh rasa dengki seseorang dengan pandangan matanya; kena mata). Demikian anggapan mereka. Terkadang mereka mengikatkan barang-barang tersebut pada badan, manggantungkannya di mobil atau rumah, atau mereka mengenakan cincin dengan berbagai macam batu permata, disertai kepercayaan tertentu, seperti untuk tolak bala’ atau untuk menghilangkannya.

    Hal semacam ini, tak diragukan lagi sangat bertentangan dengan (perintah) tawakkal kepada Allah. Dan tidaklah hal itu menambah kepada manusia, selain kelemahan. Belum lagi ia termasuk berobat dengan sesuatu yang diharamkan.

    Berbagai jimat yang digantungkan, sebagian besar dari padanya termasuk syirik jaly (yang nyata). Demikian pula dengan minta pertolongan kepada sebagian jin atau setan, gambar-gambar yang tak bermakna, tulisan-tulisan yang tak berarti dan sebagainya. Sebagian tukang tenung (sulap) menulis ayat-ayat Al Qur’an dan mencampur-adukkannya dengan hal lain yang termasuk syirik. Bahkan sebagian mereka menulis ayat-ayat Al Qur’an dengan barang yang najis atau dengan darah haid. Menggantungkan atau mengikatkan segala yang disebutkan di atas adalah haram. Ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi wasallam :

    “Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka dia telah berbuat syirik [HR Imam Ahmad :4/ 156 dan dalam silsilah hadits shahihah hadits No : 492].

    Orang yang melakukan perbuatan tersebut, jika ia mempercayai bahwa berbagai hal itu bisa mendatangkan manfaat atau madharat (dengan sendirinya) selain Allah maka dia telah masuk dalam golongan pelaku syirik besar. Dan jika ia mempercayai bahwa berbagai hal itu merupakan sebab bagi datangnya manfaat, padahal Allah tidak menjadikannya sebagai sebab, maka dia telah terjerumus pada perbutan syirik kecil, dan ini masuk dalam kategori syirkul asbab.

     
  • erva kurniawan 9:17 am on 27 August 2019 Permalink | Balas  

    Syirik (Bagian 1) 

    SYIRIK

    Syirik atau menyekutukan Allah adalah sesuatu yang amat diharamkan dan secara mutlak ia merupakan dosa yang paling besar. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abi Bakrah bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

    “Maukah aku kabarkan kepada kalian dosa yang paling besar (tiga kali) ? mereka menjawab : ya, wahai Rasulullah ! beliau bersabda : menyekutukan Allah” (muttafaq ‘alaih, Al Bukhari hadits nomer : 2511)

    Setiap dosa kemungkinan diampuni oleh Allah Subhanahu wata’ala, kecuali dosa syirik, ia memerlukan taubat secara khusus, Allah berfirman : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya (An Nisa : 48)

    Di antara macam syirik adalah syirik besar. Syirik ini menjadi penyebab keluarnya seseorang dari agama Islam, dan orang yang bersangkutan, jika meninggal dalam keadaan demikian, akan kekal di dalam neraka.

    Di antara kenyataan syirik yang umum terjadi di sebagian besar negara-negara Islam adalah:

    Menyembah Kuburan

    Yakni kepercayaan bahwa para wali yang telah meninggal dunia bisa memenuhi hajat, serta bisa membebaskan manusia dari berbagai kesulitan. Karena kepercayaan ini. mereka lalu meminta pertolongan dan bantuan kepada para wali yang telah meninggal dunia, padahal Allah Subhanahu wata’ala berfirman : “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia (Al Isra’ :23)

    Termasuk dalam kategori menyembah kuburan adalah memohon kepada orang-orang yang telah meninggal, baik para nabi, orang-orang shaleh, atau lainnya untuk mendapatkan syafaat atau melepaskan diri dari berbagai kesukaran hidup. Padahal Allah Subhanahu wata’ala berfirman : “Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepadaNya dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? (An Naml : 62)

    Sebagian mereka, bahkan membiasakan dan mentradisikan menyebut nama syaikh atau wali tertentu, baik dalam keadaan berdiri, duduk, ketika melakukan sesuatu kesalahan, dalam setiap situasi sulit, ketika di timpa petaka, musibah atau kesukaran hidup.

    Di antaranya ada yang menyeru : “Wahai Muhammad.” Ada lagi yang menyebut :”Wahai Ali”. Yang lain lagi menyebut : “Wahai Jailani”. Kemudian ada yang menyebut : “Wahai Syadzali”. Dan yang lain menyebut : “Wahai Rifai. Yang lain lagi : “Al Idrus sayyidah Zainab, ada pula yang menyeru : “Ibnu ‘Ulwan dan masih banyak lagi. Padahal Allah telah menegaskan: “Sesungguhnya orang-orang yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu” (Al A’raaf : 194)

    Sebagian penyembah kuburan ada yang berthawaf (mengelilingi) kuburan tersebut, mencium setiap sudutnya, lalu mengusapkannya ke bagian-bagian tubuhnya. Mereka juga menciumi pintu kuburan tersebut dan melumuri wajahnya dengan tanah dan debu kuburan. Sebagian bahkan ada yang sujud ketika melihatnya, berdiri di depannya dengan penuh khusyu’, merendahkan dan menghinakan diri seraya mengajukan permintaan dan memohon hajat mereka. Ada yang meminta sembuh dari sakit, mendapatkan keturunan, digampangkan urusannya dan tak jarang di antara mereka yang menyeru : Ya sayyidi aku datang kepadamu dari negeri yang jauh maka janganlah engkau kecewakan aku. Padahal Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

    “Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tidak dapat memperkenankan (do’anya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do’a mereka”. (Al Ahqaaf : 5)

    Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

    “Barang siapa mati dalam keadaan menyembah sesembahan selain Allah niscaya akan masuk neraka (HR Bukhari, fathul bari : 8/176)

    Sebagian mereka, mencukur rambutnya di pekuburan, sebagian lagi membawa buku yang berjudul : Manasikul hajjil masyahid (tata cara ibadah haji di kuburan keramat). Yang mereka maksudkan dengan masyahid adalah kuburan kuburan para wali. Sebagian mereka mempercayai bahwa para wali itu mempunyai kewenangan mengatur alam semesta, dan mereka bisa memberi madharat dan manfaat. Padahal Allah Tabaroka wata’ala berfirman :

    “Jika Allah menimpakan sesuatu kemadharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu maka tidak ada yang dapat menolak karuniaNya” (Yunus : 107)

    Bernadzar Untuk Selain Allah

    Termasuk syirik adalah bernadzar untuk selain Allah seperti yang dilakukan oleh sebagian orang yang bernadzar memberi lilin dan lampu untuk para ahli kubur.

    Menyembelih Binatang Untuk Selain Allah

    Termasuk syirik besar adalah menyembelih binatang untuk selain Allah.padahal Allah Tabaroka wata’ala berfirman :

    “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah” ( Al Kutsar : 2)

    Maksudnya berkurbanlah hanya untuk Allah dan atas namaNya. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

    “Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah” (HR Muslim, shahih Muslim No : 1978)

    Pada binatang sembelihan itu terdapat dua hal yang diharamkan.

    Pertama : penyembelihannya untuk selain Allah, dan kedua : penyembelihannya dengan atas nama selain Allah. Keduanya menjadikan daging binatang sembelihan itu tidak boleh dimakan. Dan termasuk penyembelihan jahiliyah -yang terkenal di zaman kita saat ini- adalah menyembelih untuk jin. Yaitu manakala mereka membeli rumah atau membangunnya, atau ketika menggali sumur mereka menyembelih di tempat tersebut atau di depan pintu gerbangnya sebagai sembelihan (sesajen) karena takut dari gangguan jin [lihat Taisirul Azizil Hamid, hal : 158]

    Menghalalkan Apa Yang Diharamkan Oleh Allah Atau Sebaliknya

    Di antara contoh syirik besar -dan hal ini umum dilakukan– adalah menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah atau sebaliknya. Atau kepercayaan bahwa seseorang memiliki hak dalam masalah tersebut selain Allah Subhanahuwa ta’ala. Atau berhukum kepada perundang-undangan jahiliyah secara sukarela dan atas kemauannya. Seraya menghalalkannya dan kepercayaan bahwa hal itu dibolehkan . Allah menyebutkan kufur besar ini dalam firmanNya :

    “Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah”. (At Taubah : 31)

    Ketika Adi bin hatim mendengar ayat tersebut yang sedang dibaca oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam ia berkata : “ orang-orang itu tidak menyembah mereka. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dengan tegas bersabda : “Benar, tetapi meraka (orang-orang alim dan para rahib itu) menghalalkan untuk mereka apa yang diharamkan oleh Allah, sehingga mereka menganggapnya halal. Dan mengharamkan atas mereka apa yang dihalalkan oleh Allah, sehingga mereka menganggapnya sebagai barang haram, itulah bentuk ibadah mereka kepada orang-orang alim dan rahib [Hadits riwayat Al Baihaqi, As sunanul Kubra : 10/ 116, Sunan At Turmudzi no : 3095, Al Albani menggolongkannya dalam hadits hasan. lihat ghayatul muram: 19].

    Allah menjelaskan, di antara sifat orang-orang musyrik adalah sebagaimana dalam firmanNya :

    “Dan meraka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah)”. (At Taubah : 29).

    “Katakanlah : Terangkanlah kepadaku tentang rizki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal. Katakanlah : Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan kedustaan atas Allah? (Yunus : 59).

     
  • erva kurniawan 1:35 pm on 26 August 2019 Permalink | Balas  

    Kesalehan Pribadi Saja Tak Cukup 

    Kesalehan Pribadi Saja Tak Cukup

    Menilik situasi dan kondisi yang melingkupi masyarakat Indonesia pada dewasa ini, terutama yang menyangkut masalah moral dan akhlaknya. Maka masih relevan dengan yang pernah dikatakan oleh M. Natsir -salah satu tokoh Negarawan Indonesia pada masa lalu- yang dalam salah satu bukunya yang berjudul “Menyelamatkan Ummat’, telah menuliskan : “ …Umat Muhammad SAW tidak cukup hanya menjadi orang yang baik untuk pribadinya saja. Tetapi, ia harus pula berbuat baik terhadap orang lain, dan mengajak orang lain berbuat baik. Juga tidak cukup sekedar menjadi orang yang baik saja. Tetapi harus pula mencegah kerusakan, memberantas kemungkaran dan kemaksiatan. Sebab, bila kemungkaran itu tidak diberantas, maka kebaikan yang telah dibina dan dibangun dengan susah payah akan berantakan kembali… ‘.

    Moral dan akhlak masyarakat pada dasarnya ditentukan oleh moral dan akhlak dari masing-masing pribadi insan manusia yang menjadi anggota masyarakat itu. Sehingga untuk memperbaiki hal ihwal dari keadaan suatu masyarakat, yang pertama-tama harus dilakukan adalah memperbaiki moral dan akhlak dari masing-masing individu yang menjadi anggota dari masyarakat itu. Langkah selanjutnya, adalah mengajak kepada setiap individu anggota dalam masyarakat itu untuk melakukan upaya amar ma’ruf nahi mungkar. Sebab, menjalankan amar ma’ruf nahi munkar itu merupakan kewajiban dan tanggungjawab dari seluruh umat Muslim untuk menyelamatkan keseluruhan masyarakat itu.

    Imam Al-Ghazali meriwayatkan suatu hadits yang menyiratkan pesan bahwa seorang Muslim itu juga dituntut untuk mempunyai kewajiban dan tanggungjawab dalam dimensi kesalehan masyarakatnya, tak hanya sebatas pada satu dimensi kewajiban dan tanggungjawab kesalehan individual saja. Sebab, membiarkan suatu kejahatan dan kemungkaran berlangsung di masyarakat tanpa adanya reaksi dan upaya untuk mencegahnya, itu akan berarti mengundang datangnya siksa Allah SWT bagi keseluruhan masyarakat itu.

    Siti Aisyah ra berkata bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda : “ Allah menyiksa suatu negeri berpenduduk delapan belas ribu orang, padahal mereka beribadah sebagaimana ibadah nabi-nabi “. Kemudian para sahabat bertanya sebabnya. Rasulullah SAW menjawabnya dan bersabda : “ Karena mereka tidak marah ketika ada orang merusak nama Allah, tidak menegakkan amar ma’ruf, dan tidak mencegah orang-orang berbuat munkar “.

    Didalam kitab suci Al-Qur’an juga telah dijelaskan bahwa hakikat kemaksiatan diri pribadi itu -walaupun mungkin menurut pelakunya secara kasat mata sepertinya tidak berhubungan dengan diri orang lain dan sepertinya tidak merugikan orang lain- akan tetapi sesungguhnya hal itu akan juga membahayakan diri orang lain. Hal itu akan mendatangkan bencana dan akan berarti pula mengundang datangnya murka Allah SWT.

    Allah SWT berfirman : “ Dan jagalah dirimu dari bencana yang tidak khusus menimpa orang-orang zalim saja diantaramu “ (QS. Al-Anfaal : 25).

    Pada tahap selanjutnya, tidak cukup hanya dengan hal itu saja. Tidaklah cukup jika hanya berhenti dengan membangun dan membina kesalehan pribadi dari masing-masing individu anggota masyarakat itu saja. Tidaklah cukup hanya jika hanya berhenti dengan sekedar himbauan kepada individu anggota masyarakat untuk melakukan upaya amar ma’ruf nahi mungkar saja. Tentunya agar tercapai keefektifan upaya maupun keoptimalan hasil dari amar ma’ruf nahi mungkar, diperlukan adanya suatu sistem yang melekat di sistem sosial masyarakat itu. Suatu sistem yang sistematis dan berkelanjutan untuk mengatur tata kemasyarakatannya, agar terbangun kebaikan dalam masyarakat, dan kebaikan yang telah terbangun dalam masyarakat itu akan tetap terjaga dan selalu terbina, serta kebaikan dalam masyarakat senantiasa berkesinambungan. Sehingga kebaikan dalam masyarakat dari hari ke hari semakin bertambah dan semakin meningkat.

    Hal itu sangat relevan jika kita menyimak salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Dalam hadits tersebut Rasulullah SAW mengibaratkan kehidupan bermasyarakat itu dengan bahtera yang berlayar di lautan, sedangkan kemaksiatan diri pribadi itu diibaratkan sebagai tindakan melubangi kapal yang akan membahayakan keseluruhan penumpang bahtera itu.

    Perumpamaan keadaan suatu masyarakat yang menjaga batasan hukum-hukum Allah adalah ibarat suatu rombongan yang naik sebuah kapal. Lalu mereka membagi tempat, tiap orang mendapat tempat tertentu. Salah seorang dari penumpang itu kemudian ada yang berfikir : “Seandainya aku melubangi tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan air) tentu aku tidak akan mengganggu orang yang lain’. Kemudian secara tiba-tiba orang itu melubangi tempat yang didudukinya. Mereka yang lainnya lalu bertanya : “ Apa yang kamu perbuat ? “. Orang itu menjawabnya : “ Bukankah ini tempatku sendiri dan aku bebas berbuat apa saja “. Jika mereka terus mencegah, orang itu akan selamat dan semua penumpang kapal juga akan selamat. Tetapi kalau mereka membiarkannya, orang itu sendiri akan celaka dan semua penumpang yang naik kapal itu juga akan binasa.

    Relevansi dari semua hal yang tersebut diatas -merupakan suatu keniscayaan yang mau tak mau dan suka tidak suka- tak akan dapat dilepaskan dari sistem hukum dan penegakan hukum yang diberlakukan di keseluruhan relasi sosial kemasyarakatan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat itu. Jika tak demikian halnya, maka kebaikan yang telah dibina dan dibangun dengan susah payah itu akan mubazir, pada akhirnya akan berantakan kembali.

    Sementara itu, kita -sebagai Muslim dan umat Nabi Muhammad SAW- seharusnya haqqul yaqin bahwa kebenaran yang hakiki secara kebenaran duniawi dan ukhrowi hanya kebenaran Allah SWT saja. Dan, seharusnya haqqul yaqin pula bahwa hukum dan aturan yang memiliki kebenaran hakiki secara kebenaran duniawi dan ukhrowi tentu hanya aturan Allah SWT yang disampaikan lewat utusan-Nya, Nabi Muhammad SAW.

    Akhirul kalam, Sudahkah kita sebagai masing-masing pribadi telah memahami dan menyadari semua hal itu ?. Sejatinya, jika kita -sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Ukhuwah Islamiyah- kemudian dapat saling bersepakat dan selanjutnya saling mengulurkan tangan agar dapat saling menggandengkan tangan untuk bersama dengan sepenuh hati dan segenap jiwa raga mengupayakan terwujudnya hal yang tersebut diatas. Maka, dengan izin dan ridho-Nya, tak ada halangan yang akan mampu merintanginya dan tiada aral melintang yang akan mampu menghentikannya !!!. Insya Allah, bersama kita bisa !!!.

    Wallahu’alambishawab.

    si-pandir,

    ***

    Dicuplik dan disadur dari : “Mencegah Kemungkaran’ tulisan karya M Fuad Nasar, dan “Melubangi Kapal’ tulisan karya Evi Susanti, yang dimuat di kolom Hikmah SKHU Republika. Dan ditambah serba sedikit dari beberapa sumber lainnya.

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 9 August 2019 Permalink | Balas  

    Mengejar Mabrur dengan Bekal ”Kurma” 

    Mengejar Mabrur dengan Bekal ”Kurma”

    Setiap orang yang melaksanakan ibadah haji pasti ingin meraih gelar haji mabrur. Sebab, seperti dijanjikan Rasulullah, ”Orang yang mendapatkan haji mabrur, tiada balasan yang lebih baik baginya, kecuali surga”. Tidak mudah untuk mencapai mabrur, yang merupakan puncak prestasi ibadah haji seseorang. Namun, ada ikhtiar yang bisa dilakukan untuk merengkuhnya.

    Menurut Mardjoto Fahruri, sekretaris Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Boyolali, Jawa Tengah, menunaikan ibadah haji perlu membawa bekal ”kurma” (bahasa Jawa: dibaca ”kurmo”). Apa maksudnya? ”Kalau mendapatkan kenikmatan kita harus selalu bersyukur, kalau menghadapi kesulitan atau cobaan kita harus nrimo atau ikhlas. Dengan modal ‘kurma’ itu, insya Allah kita akan mendapatkan gelar mabrur,” katanya. Fahruri menjelaskan, orang yang menunaikan ibadah haji itu adalah orang yang dipanggil Allah atau tamu Allah. ”Sebagai tamu Allah, ia harus mempunyai bekal yang disebut ‘kurma’, yakni syukur dan nrimo,” kata Pimpinan Kelompok Pengajian Bani Adam Boyolali.

    Lebih jauh, Fahruri mengatakan, syukur dan nrimo itu merupakan modal hidup yang utama. ”Kalau seorang jamaah haji selalu syukur dan nrimo selama menunaikan ibadah haji di Tanah Suci maupun setelah berada kembali di Tanah Air, insya Allah hidupnya akan selamat dan penuh berkah. Apa pun yang terjadi, ia mampu menerimanya dengan ikhlas. Sebab ia yakin, semua itu merupakan kehendak Allah SWT,” tandasnya.

    Meskipun demikian, Fahruri menegaskan, syariah harus tetap ditempuh dengan sebaik mungkin sesuai dengan prosedur dan manajemen yang benar. ”Dari segi jamaah haji maupun umrah, penting untuk selalu syukur dan nrimo. Namun dari segi penyelenggara, pemerintah maupun travel haji/umrah dan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH), harus melaksanakan segala sesuatunya dengan sebaik-baiknya. Hal yang perlu diingat, jamaah haji itu merupakan tamu Allah. Karena itu harus diperlakukan dengan sebaik mungkin sebagaimana layaknya tamu Allah,” ujarnya.

    Hal yang sama juga diungkapkan oleh Drs H Ahmad Anas MAg, ketua Yayasan Riyadhul Jannah, Semarang. Menurut Anas, selain mengetahui dan memahami tentang tata cara dan makna ibadah haji, hendaknya calon jamaah haji menanamkan nilai-nilai keikhlasan dan kesabaran sejak dini. Sebab, kata dia, banyak peristiwa yang terjadi di Tanah Suci berada di luar jangkauan akal manusia.”Jika kita ikhlas dalam melaksanakan ibadah, niscaya Allah akan memberikan kemudahan bagi kita dalam menunaikan perintah-Nya,” jelas Pembimbing jamaah haji Travel Razek ini. Suami Hj Siti Alfiaturohmaniah ini menambahkan, keikhlasan dan kesabaran menjadi kunci sukses untuk menggapai predikat haji mabrur. Mampu

    H Ma’mun Efendi Nur, Lc, MA, PhD, staf pengajar IAIN Walisongo Semarang mengatakan, salah satu syarat mutlak yang harus dimiliki seorang calon jamaah haji untuk menunaikan ibadah haji adalah istitho’ah (mampu). Artinya, seorang calon jamaah haji harus memiliki kemampuan, baik kemampuan akan harta benda untuk menunaikan ibadah haji dan untuk keluarga yang ditinggalkan, maupun kemampuan fisik (sehat jasmani dan rohani).

    Di samping dua kemampuan di atas, kemampuan lainnya yang juga memiliki peranan penting dalam melaksanakan ibadah haji adalah kesiapan ilmu pengetahuan akan ibadah haji, misalnya makna dan spiritualitas haji, tata cara (manasik) dan lainnya. Faktor kemampuan ilmu pengetahuan tentang ibadah haji ini, sangat penting artinya untuk kesempurnaan ibadah haji (sesuai syarat dan rukunnya) dalam menggapai haji mabrur. Tentu saja, pengetahuan tersebut meliputi banyak hal, sejak proses pendaftaran, pembayaran ONH, perlengkapan dokumen, pengetahuan sejarah haji, serta proses perjalanan dan makna ritual yang terkandung dalam ibadah haji. Proses pembimbingan dan pembinaan haji itulah yang disebut dengan bimbingan manasik haji.

    Untuk mempersiapkan itu semua, tidaklah cukup waktu satu hingga tiga bulan sejak dari proses pendaftaran hingga pemberangkatan calon haji ke Tanah Suci. Maka untuk mempersiapkan pengetahuan yang mendalam, setidaknya seorang calon haji bisa mempersiapkan jauh sebelum dirinya berangkat menunaikan rukun Islam yang kelima ini. Ma’mun mengatakan, waktu manasik yang diberikan selama tiga bulan itu terlalu singkat. ”Minimal seorang calon haji harus mempersiapkan diri setahun sebelum ia berangkat ibadah haji,” kata alumnus Universitas Ummul Qura Madinah kepada Republika.

    Ia menambahkan, pengetahuan dan pemahaman akan makna dan tata cara ibadah haji sangat penting artinya bagi calon haji dalam menunaikan rukun Islam yang kelima. Sebab, tanpa pengetahuan dan pemahaman tentang itu, maka ibadah haji tersebut hanya menjadi ibadah rutinitas yang jauh dari nilai-nilai kesempurnaan. ”Jangan sampai, ketika menjadi tamu, tidak mengetahui apa yang akan disampaikan kepada tuan rumah,” ujar Ma’mun berfilsafat. Pria yang lama bermukim di Tanah Suci itu mengungkapkan, jamaah haji dari Malaysia rata-rata mendapatkan pembekalan dan pengetahuan ibadah haji, jauh hari sebelum melaksanakan ibadah haji. ”Ada yang berguru khusus kepada para ustadz, ada pula yang mempelajari buku-buku tentang haji. Jadi, mereka tidak mendadak mendapatkan pengetahuan tentang tata cara beribadah haji tersebut,” tutur Ma’mun.

    Presiden Direktur PT Nur Rima Al-Waali, Hj Irmawati Asrul SE mengatakan, kemampuan (istithoah) yang dimaksudkan oleh Alquran dalam ibadah haji adalah kemampuan harta benda, ilmu pengetahuan, dan kemampuan fisik. ‘”Dengan memiliki kemampuan seperti ini, Insya Allah ibadah haji akan diterima Allah SWt,” kata Hj Irma. Pengurus Pusat Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) itu menambahkan, selain kemampuan di atas, sebaiknya seorang calon haji juga dibekali dengan niat yang tulus dan ikhlas dalam menjalani segala sesuatu. Sebab, ungkapnya, perjalanan haji untuk menggapai predikat haji mabrur, membutuhkan perjuangan yang maksimal. ”Apalagi, jalannya begitu terjal dan banyak godaan yang siap menghalangi upaya kita untuk beribadah,” jelasnya.

    Ia menyebutkan, godaan dan halangan yang biasa dialami oleh jamaah haji saat melaksanakan haji adalah berkata-kata yang kasar, ketus, suka iri dengan urusan orang dan senang menggunjingkan orang lain. Padahal, kata dia, Allah telah menegaskan, bahwa seorang jamaah haji dilarang berkata-kata rafats (berkata jorok/porno), fusuq (fasik, berkata kasar), dan jidaal (menggunjing) selama melaksanakan ibadah haji. ”Tanpa keikhlasan dan kesabaran, niscaya kita akan sering terpeleset untuk berbuat yang dilarang Allah,” tegasnya.

    Tips Haji Mabrur

    Apa saja langkah-langkah praktis yang perlu dilakukan oleh seorang calon jamaah haji agar bisa meraih mabrur saat berhaji? Berikut ini tips yang diberikan oleh Ustad Mardjoto Fahruri, sekretaris Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), Boyolali, yang juga Pengasuh Kelompok Pengajian Bani Adam, Boyolali, Jawa Tengah.

    • Tobat kepada Allah sebelum pergi berhaji maupun selama menunaikan ibadah haji.
    • Gemar berinfak, dalam keadaaan lapang maupun sempit. Baik dengan tenaga, ilmu maupun harta.
    • Menahan marah
    • Memaafkan kesalahan orang lain, sebelum orang tersebut memohon maaf
    • Senang berbuat baik. Perbuatan kita tidak boleh merugikan orang lain. Bahkan kalau bisa menguntungkan orang lain alias muhsin.

    ***

    Republika

    Kunjungi http://www.direktorihaji.com

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 27 June 2019 Permalink | Balas  

    Benarkah jumlah asma-ul-Husna adalah 99 ? 

    Benarkah jumlah asma-ul-Husna adalah 99 ?

    Al-Qur’an tidak berbicara apa-apa menyangkut jumlah nama-nama Tuhan yang dikenal dengan istilah asmaul-husna, adapun keterangan yang menyebutkan jumlahnya sebanyak sembilan puluh sembilan hanya bisa didapati dari sejumlah Hadis Nabi, seperti :

    Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama,

    barangsiapa hafal mencakup keseluruhannya, dia masuk syurga. – Hadis riwayat Bukhari

    Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, barangsiapa memeliharanya, dia masuk syurga. – Hadis riwayat Turmudzi dari Abu hurairah

    Selain kedua riwayat diatas, Ibnu Majah yang juga salah seorang periwayat hadis terkenal telah meriwayatkan jumlah asmaul-husna sampai 114 nama (jadi ada 15 nama lebih banyak dari riwayat Turmudzi dan Bukhari yang hanya berjumlah 99). Begitu juga dengan Imam Thabrani yang meriwayatkan sampai 130 nama, sementara al-Qurtubhy menyebutkan hanya sampai 117 nama saja.

    Mengomentari adanya perbedaan dalam jumlah asmaul-husna itu menurut Imam Baihaqi lebih disebabkan adanya campur tangan dari perawi hadist itu sendiri, baik berupa pendapat pribadi, penambahan ataupun pengurangannya.

    Dengan demikian, secara global bisa kita katakan bahwa Tuhan memiliki asma-ulhusna yang tidak akan bisa tergenggam dalam suatu cakupan dan tidak terbatas dalam hitungan, karena secara alamiah, kesemua sifat-Nya telah terbentang didalam setiap bentuk ciptaan-Nya diseluruh semesta raya.

    Katakanlah : Jika laut menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, pasti akan habis laut itu sebelum usai kalimat-kalimat Tuhanku (tertulis), meskipun (lalu) kita datangkan tambahan (laut) sebanyak itu juga ! – Qs. 18 al-kahf : 109

    Nama-nama Tuhan berfungsi sebagai perantara Tuhan dengan alam ciptaan-Nya agar semua ciptaan-Nya tersebut kenal dengan diri-Nya dan bisa memanggil-Nya jadi dalam hal ini setiap nama-nama-Nya haruslah dipahami sebagai cara Tuhan menjalin hubungan dengan hasil kreasi-Nya (yaitu para makhluk-Nya).

    Didalam salah satu do’anya, Nabi Muhammad berkata :

    Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang Engkau miliki, Engkau menamakannya untuk diri-Mu, atau nama yang telah Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau yang telah Engkau ajarkan kepada seorang diantara makhluk-Mu, atau yang Engkau punyai dalam ilmu ghaib disisi-Mu. – Hadis riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban

    Berikut variasi asma-ul-husna dari versi orang yang meriwayatkannya :

    99 ASMA-UL-HUSNA MENURUT VERSI BUKHARI & TURMUDZI

    1. ar-Rohman Maha Pengasih
    2. ar-Rohim Maha Penyayang
    3. al-Malik Maha Merajai
    4. al-Quddus Maha Suci
    5. as-Salam Maha Penyelamat
    6. al-Mukmin Maha Mengamankan
    7. al-Muhaimin Maha Pembela
    8. al-Aziz Maha Mulia
    9. al-Jabbar Maha Pemaksa
    10. al-Mutakabbir Maha Besar
    11. al-Khaliq Maha Pencipta
    12. al-Mushawwir Maha Pembentuk
    13. al-Ghaffar Maha Pengampun
    14. al-Qahir Maha Keras
    15. al-Wahhab Maha Pemberi
    16. ar-Razzaq Maha Penganugerah
    17. al-Fattah Maha Pembuka
    18. al-Alim Maha Mengetahui
    19. al-Qabidh Maha Memegang
    20. al-Basith Maha Menghamparkan
    21. al-Khafidh Maha Memudahkan
    22. ar-Rafi’ Maha Mengangkat
    23. al-Mu’iz Maha Memuliakan
    24. al-Muzil Maha Merendahkan
    25. as-Sami’ Maha Mendengar
    26. al-Bashir Maha Melihat
    27. al-Hakam Maha Bijaksana
    28. al-Adlu Maha Adil
    29. al-Latif Maha Halus
    30. al-Khabir Maha Selidik
    31. al-Halim Maha Penyantun
    32. al-Azhim Maha Agung
    33. al-Ghafur Maha Pengampun
    34. as-Syakur Maha Mensyukuri
    35. al-Aliyya Maha Tinggi
    36. al-Kabir Maha Besar
    37. al-Hafizh Maha Melindungi
    38. al-Muqith Maha Menentukan
    39. al-Hasib Maha Memperhitungkan
    40. al-Jalil Maha Utama
    41. al-Karim Maha Mulia
    42. al-Raqib Maha Pengawas
    43. al-Mujib Maha Memperkenankan
    44. al-Wasi’ Maha Luas
    45. al-Hakim Maha Bijaksana
    46. al-Wadud Maha Cinta
    47. al-Majid Maha Jaya
    48. al-Ba’its Maha Pembangkit
    49. as-Syahid Maha Menyaksikan
    50. al-Haq Maha Hak
    51. al-Wakil Maha Mengatasi
    52. al-Qawiyyu Maha Kuat
    53. al-Matin Maha Teguh
    54. al-Waliyyu Maha Setia
    55. al-Hamid Maha Terpuji
    56. al-Muhshi Maha Menghitung
    57. al-Mubdi’u Maha Memulai
    58. al-Mu’id Maha Mengembalikan
    59. al-Muhyi Maha Menghidupkan
    60. al-Mumit Maha Mematikan
    61. al-Hayyu Maha Hidup
    62. al-Qayyim Maha Tegak
    63. al-Wajid Maha Mengadakan
    64. al-Maajid Maha Mulia
    65. al-Wahid Maha Esa
    66. al-Ahad Maha Esa
    67. as-Shamad Maha Pergantungan
    68. al-Qadir Maha Kuasa
    69. al-Muqtadir Maha Pemberi Kuasa
    70. al-Muqaddim Maha Mendahulukan
    71. al-Muakhir Maha Mengakhirkan
    72. al-Awwal Maha Permulaan
    73. al-Akhir Maha Kemudian
    74. az-Zhahir Maha Zhahir
    75. al-Bathin Maha Bathin
    76. al-Wali Maha Melindungi
    77. al-Muta’alli Maha Meninggikan
    78. al-Barr Maha Penyantun
    79. at-Tawwabu Maha Penerima Tobat
    80. al-Muna’am Maha Pemberi nikmat
    81. al-Muntiqam Maha Pembela
    82. al-Afuwwu Maha Pemaaf
    83. ar-Ra’uf Maha Belas Kasih
    84. Malikul-Muluk Maha Raja di raja
    85. Zul Jalali Wal Ikram Maha Luhur dan Mulia
    86. al-Muqsith Maha Menimbang
    87. al-Jami’ Maha Mengumpulkan
    88. al-Ghani Maha Kaya
    89. al-Mughni Maha Mengkayakan
    90. al-Mani Maha Menghalangi
    91. ad-Dharr Maha Memudharatkan
    92. an-Nafi’ Maha Pemaaf
    93. an-Nur Maha Cahaya
    94. al-Hadi Maha Menunjuki
    95. al-Badi Maha Pencipta yang baru
    96. al-Baqi Maha Kekal
    97. al-Warits Maha Pewaris
    98. ar-Rasyid Maha Cendikiawan
    99. as-Shabur Maha Penyabar

    NAMA-NAMA TAMBAHAN DAN URUTAN ASMA-UL-HUSNA MENURUT VERSI IBNU MAJAH DARI AL-ARAJ:

    1. al-Bari’ Maha Pemelihara
    2. al-Rasyid Maha Cendikiawan
    3. al-Burhan Maha Pembukti
    4. as-Syadid Maha Keras
    5. al-Waqi Maha Pemelihara
    6. al-Qaim Maha Berdidi
    7. al-Hafiz Maha Menjaga
    8. an-Nazhir Maha Melihat
    9. as-Sami’ Maha Mendengar
    10. al-Mu’thi Maha Pemberi
    11. al-Abad Maha Abadi
    12. al-Munir Maha Menerangi
    13. at-Taam Maha Sempurna
    14. al-Qadim Maha Kekal
    15. al-Witru Maha Esa

    NAMA-NAMA TAMBAHAN DAN URUTAN ASMA-UL-HUSNA MENURUT VERSI THABRANI:

    1. ar-Raab Maha Memelihara
    2. al-Ilah ilahi
    3. al-Hanan Maha Kasih
    4. al-Manan Maha Pemberi Anugerah
    5. al-Bari’ Maha Menjadikan
    6. al-Qaimul Fard Maha Berdiri Sendiri
    7. al-Qadir Maha Menentukan
    8. al-Farad Maha Sendiri
    9. al-Mughits Maha Membantu
    10. ad-Da’im Maha Kekal
    11. al-Hamid Maha Terpuji
    12. al-Jamil Maha Indah
    13. as-Shadiq Maha Benar
    14. al-Muwalli Maha Memimpin
    15. an-Nashir Maha Penolong
    16. al-Qadim Maha Dahulu
    17. al-Witru Maha Esa
    18. al-Fathir Maha Pencipta
    19. al-Allam Maha Mengetahui
    20. al-Malik Maha Raja
    21. al-Ikram Maha Mulia
    22. al-Mudabbir Maha Mengatur
    23. al-Maalik Maha Memiliki
    24. as-Syakur Maha Mensyukuri
    25. ar-Rafi’ Maha Tinggi
    26. Zul Thawil Maha Mempunyai Kekuasaan
    27. Zul Ma’arij Maha Mempunyai Jenjang/ tahapan
    28. Zul Fadhlil Khalaq Maha Mempunyai Kelebihan Makhluk
    29. al-Mun’im Maha Pemberi Nikmat
    30. al-Mutafadhal Maha Utama
    31. as-Sari’ Maha Cepat

    NAMA-NAMA TAMBAHAN ASMA-UL-HUSNA MENURUT VERSI IBNU HAZMI :

    1. al-Khafi Maha Tersembunyi
    2. al-Ghallab Maha Menang
    3. al-Musta’an Maha Penolong

    ————-

    Sumber utama :

    Syaikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin abdul wahhab, Ketuhanan Yang Maha Esa menurut Islam, Terj. Drs. Dja’far Soedjarwo, Penerbit Al Ikhlas, Surabaya, hal. 845

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 26 June 2019 Permalink | Balas  

    Indahnya Hidup Bersahaja 

    Indahnya Hidup Bersahaja

    Oleh: Aa Gym

    Bismillahirrohmaanirrohiim,

    Saudara-saudaraku Sekalian,

    Kita tidak perlu bercita-cita membangun kota Jakarta, lebih baik kita bercita-cita tiap orang bisa membangun dirinya sendiri. Paling minimal punya daya tahan pribadi terlebih dahulu. Karenanya sebelum ia memperbaiki keluarga dan lingkungannya minimal dia mengetahui kekurangan dirinya. Jangan sampai kita tidak mengetahui kekurangan sendiri. Jangan sampai kita bersembunyi dibalik jas, dasi dan merk. Jangan sampai kita tidak mempunyai diri kita sendiri. Jadi target awal dari pertemuan kita adalah membuat kita berani jujur kepada diri sendiri. Mengapa demikian? Sebab seorang bapak tidak bisa memperbaiki keluarganya, kalau ia tidak bisa memperbaiki dirinya sendiri. Jangan mengharap memperbaiki keluarga kalau memperbaiki diri sendiri saja tidak bisa. Bagaimana berani memperbaiki diri, jika tidak mengetahui apa yang mesti diperbaiki.

    Kita harus mengawali segalanya dengan egois dahulu, sebab kita tidak bisa memperbaiki orang lain kalau diri sendiri saja tidak terperbaiki. Seorang ustad akan terkesan omong kosong, jika ia berbicara tentang orang lain agar memperbaiki diri sedang ia sendiri tidak benar. Dalam bahasa Al-Qur”an, “Sangat besar kemurkaan Allah terhadap orang berkata yang tidak diperbuatnya”.

    Mudah-mudahan seorang ibu yang tersentuh mulai mengajak suaminya. Seorang anak mengajak orang tuanya, di kantor seorang bos yang berusaha memperbaiki diri diperhatikan oleh bawahannya dan membuat mereka tersentuh. Seorang kakek dilihat oleh cucunya kemudian tersentuh.

    Mudah-mudahan dengan kegigihan memperbaiki diri nantinya daya tahan rumah mulai membaik. Kalau sudah daya tahan rumah membaik insyaAllah, kita bisa berbuat banyak untuk bangsa kita ini. Mudah-mudahan nanti setiap rumah tangga visinya tentang hidup ini menjadi baik.

    Tahap selanjutnya adalah mau dibawa kemana rumah tangga kita ini, apakah mau bermewah-mewahan, mau pamer bangunan dan kendaraan atau rumah tangga kita ini adalah rumah tangga yang punya kepribadian yang nantinya akan menjadi nyaman. Jangan sampai rumah tangga kita ini menjadi rumah tangga yang hubuddunya, karena semua penyakit akarnya dari cinta dunia ini. Orang sekarang menyebutnya materialistis.

    Bangsa ini roboh karena pecinta dunianya terlalu banyak. Acara tv membuat kita menjadi yakin bahwa dunia ini alat ukurnya adalah materi. Pelan tapi pasti kita harus mulai mengatakan dunia ini tidak ada apa-apanya. Di dunia ini kita hanya mampir. Dengan konsep yang kita kenal yaitu rumus “tukang parkir”. Yang tadinya bangga dengan merk menjadi malu dengan topeng yang dikenakannya. Nanti pelan-pelan akan menjadi begitu.

    Bukannya kita harus hidup miskin. Nanti akan terjadi suasana di rumah tidak goyah, lebih sabar, melihat dunia menjadi tidak ada apa-apanya dan tidak sombong. Lihat kembali rumus “tukang parkir”, ia punya mobil tidak sombong, mobilnya ganti-ganti tidak takabur, diambil satu persatu sampai habis tidak sakit hati. Mengapa ? karena tukang parkir tidak merasa memiliki hanya tertitipi.

    Ketika melihat orang kaya biasa saja karena sama saja cuma menumpang di dunia ini jadi tidak menjilat, kepada atasan tidak minder, suasana kantor yang iri dan dengki jadi minimal.

    Saudara-saudaraku Sekalian,

    Jadi visi kita terhadap dunia ini akan berbeda. Kita tidak bergantung lagi kepada dunia, tidak tamak, tidak licik, tidak serakah. Hidup akan bersahaja dan proporsional.

    Sekarang kita sedang krisis, masa ini dapat menjadi momentum karena dengan krisis harga-harga naik, kecemasan orang meningkat, ini kesempatan kita buat berdakwah.

    Mau naik berapa saja harganya tidak apa-apa yang penting terbeli. Jika tidak terjangkau jangan beli, yang penting adalah kebutuhan standar tercukupi. Orang yang sengsara bukan tidak cukup tetapi karena kebutuhannya melampaui batas. Padahal Allah menciptakan kita lengkap dengan rezekinya.

    Mulai dari buyut kita yang lahir ke dunia tidak punya apa-apa sampai akhir hayatnya masih makan dan dapat tempat berteduh terus. Orang tua kita lahir tidak membawa apa-apa sampai saat ini masih makan terus, berpakaian, dan berteduh. Begitu pula kita sampai hari ini. Hanya saja disaat krisis begini kita harus lebih kreatif. Mustahil Allah menciptakan manusia tanpa rezekinya kita akan bingung menghadapi hidup. Semua orang sudah ada rezekinya.

    Dan barangsiapa yang hatinya akrab dengan Allah dan yakin segala sesuatu milik Allah, tiada yang punya selain Allah, kita milik Allah. Kita hanya mahluk dan yang membagi, menahan dan mengambil rezeki adalah Allah. Orang yang yakin seperti itu akan dicukupi oleh Allah.

    Jadi kecukupan kita bukan banyak uang, tetapi kecukupan kita itu bergantung dengan keyakinan kita terhadap Allah dan berbanding lurus dengan tingkat tawakal. Allah berjanji “Aku adalah sesuai dengan prasangka hamba-Ku”. Jadi jangan panik. Allah penguasa semesta alam.

    Ini kesempatan buat kita untuk mengevaluasi pola hidup kita. Yang membuat kita terjamin adalah ketawakalan. Jadi yang namanya musibah bukan kehilangan uang, bukan kena penyakit, musibah itu adalah hilangnya iman. Dan orang yang cacat adalah yang tidak punya iman, ia gagal dalam hidup karena tidak mengerti mau kemana.

    Jadi kita tidak punya alasan untuk panik. Krisis seperti ini ada diman-mana, kita harus kemas agar berguna bagi kita. Kita tidak bisa mengharapkan yang terbaik terjadi pada diri kita, tapi kita bisa kemas agar menjadi yang terbaik bagi diri kita. Kita tidak bisa mengharapkan orang menghormati kita, tapi kita bisa membuat penghinaan orang menjadi yang terbaik bagi diri kita.

    Hal pertama yang harus kita jadikan rahasia kecukupan kita adalah ketawakalan kita dan kedua adalah prasangka baik kepada Allah, yang ketiga adalah Lainsakartum laadziddanakum,”Barangsiapa yang pandai mensyukuri nikmat yang ada, Allah akan membuka nikmat lainnya. Jadi jangan takut dengan belum ada, karena yang belum ada itu mesti ada kalau pandai mensyukuri yang telah ada.

    Jadi dari pada kita sibuk memikirkan harga barang yang naik lebih baik memikirkan bagaimana mensyukuri yang ada. Karena dengan mensyukuri nikmat yang ada akan menarik nikmat yang lainnya. Jadi nikmat itu sudah tersedia. Jangan berpikir nikmat itu uang. Uang bisa jadi fitnah. Ada orang yang dititipi uang oleh Allah malah bisa sengsara, karena ia jadi mudah berbuat maksiat. Yang namanya nikmat itu adalah sesuatu yang dapat membuat kita dekat dengan Allah. Jadi jangan takut soal besok/lusa, takutlah jika yang ada tidak kita syukuri.

    Satu contoh hal yang disebut kurang syukur dalam hidup itu adalah kalau hidup kita itu Ishro yaitu berlebihan, boros, dan bermewah-mewahan. Hati-hati yang suka hidup mewah, yang senang kepada merk itu adalah kufur nikmat. Mengapa? Karena setiap Allah memberi uang itu ada hitungannya. Mereka yang terbiasa glamour, hidup mewah, yang senang kepada merk termasuk yang akan menderita karena hidupnya akan biaya tinggi. Pasti merk itu akan berubah-ubah tidak akan terus sama dalam dua puluh tahun. Harus siap-siap menderita karena akan mengeluarkan uang banyak utnuk mengejar kemewahannya, untuk menjaganya dan untuk perawatannya.

    Dia juga akan disiksa oleh kotor hati yaitu riya’. Makin mahal tingkat pamernya makin tinggi. Dan pamer itu membutuhkan pikiran lebih, lelah dan tegang karena rampok akan berminat. Inginnya diperlihatkan tapi takut dirampok jadinya pening. Makin tinggi keinginan pamer makin orang lain menjadi iri/dengki. Pokoknya kalau kita terbiasa hidup mewah resikonya tinggi. Ketentraman tidak terasa. Hal yang bagus itu adalah yang disebut syukur yaitu hidup bersahaja atau proporsional. Kalau Amirul Mukminin hidupnya sangat sederhana, kalau seperti kita ini hidup bersahaja saja, biaya dan perawatan akan murah.

    Kalau kita terbiasa hidup bersahaja peluang riyanya kecil. Tidak ada yang perlu dipamerkan. Bersahaja tidak membuat orang iri. Dan anehnya orang yang bersahaja itu punya daya pikat tersendiri. Pejabat yang bersahaja akan menjadi pembicaraan yang baik. Artis yang sholeh dan bersahaja selalu bikin decak kagum. Ulama yang bersahaja itu juga membuat simpati.

    Juga harus hati-hati kita sudah capai-capai hidup glamor belum tentu dipuji bahkan saat sekarang ini akan dicurigai.Yang paling penting sekarang ini kita nikmati budaya syukur dengan hidup proporsional.

    Jangan capai dengan gengsi, hal itu akan membuat kita binasa. Miliki kekayaan pada pribadi kita bukan pada topeng kita. Percayalah rekan-rekan sekalian kita akan menikmati hidup ini jika kita hidup proporsional.

    Nabi Muhammad SAW tidak memiliki singgasana, istana bahkan tanda jasa sekalipun hanya memakai surban Tetapi tidak berkurang kemuliaanya sedikitpun sampai sekarang. Ada orang kaya dapat mempergunakan kekayaannya. Dia bisa beruntung jika ia rendah hati dan dermawan. Tapi ia bisa menjadi hina gara-gara pelit dan sombong. Ada orang sederhana ingin kelihatan kaya inilah yang akan menderita. Segala sesuatu dikenakan, segalanya dicicil, dikredit. Ada juga orang sederhana tapi dia menjadi mulai karena tidak meminta-minta, jadi terjaga harga dirinya. Dan ada orang yang mampu dan ia menahan dirinya ini akan menjadi mulia.

    Mulai sekarang tidak perlu tergiur untuk membeli yang mahal-mahal, yang bermerk. Supermarket, mal dan sebagainya itu sebenarnya tidak menjual barang-barang primer. Allah Maha Menyaksikan.

    Apa yang dianjurkan Islam adalah jangan sampai mubadzir. Rasul SAW itu kalau makan sampai nasi yang terakhir juga dimakan, karena siapa tahu disitulah barokahnya. Kalau kita ke undangan pesta jangan mengambil makanan berlebihan. Ini sangat tidak islami. Memang kita enak saja rasanya tapi demi Allah itu pasti dituntut oleh Allah. Dan itu mempengaruhi struktur rezeki kita, karena kita sudah kufur nikmat. Kita harus bisa mempertanggungjawabkan setiap perbuatan kita karena tidak ada yang kecil dimata Allah. Tidak ada pemborosan karena semua dihitung oleh Allah.

    Contohnya mandi, kalau bisa bersih dengan lima sampai tujuh gayung tapi mengapa harus dua puluh gayung. Kita mampu beli air tetapi bukan untuk boros. Ini penting kalau ingin barokah rezekinya, hematlah kuncinya.

    Kalau merokok biaya yang kita keluarkan adalah besar hanya untuk membuang asap dari mulut kita. Jangan cari alasan. Seharusnya sudah saatnya berhenti merokok. Cobalah ingat ini uang milik Allah.

    Kemudian sabun mandi, jangan memakai sesuka kita, takarlah atau kalau perlu pakai sabun batangan. Kenapa kalau kita bisa hemat tidak kita lakukan. Uang penghematan kita bisa gunakan untuk sedekah atau menolong orang yang lebih membutuhkan. Sedekah itu tidak akan mengurangi harta kita kecuali bertambah dan bertambah.

    Ini pelajaran supaya hidup kita dijamin oleh Allah. Kita tidak bisa terjamin oleh harta/tabungan, kalau Allah ingin membuat penyakit seharga dua kali tabungan kita sangat gampang bagi Allah. Tidak ada yang dapat menjamin kita kecuali Allah oleh karena itu jangan merasa aman dengan punya tabungan, tanah, dan warisan. Dengan gampang Allah dapat mengambil itu semua tanpa terhalang. Aman itu justru kalau kita bisa dekat dengan Allah. Mati-matian kita jaga kesehatan, kalau Allah inginkan lain gampang saja. Semua harta tidak bisa kita nikmati, tetapi kalau Allah melindungi kita Insya Allah.

    Marilah hidup hemat, tetapi hemat bukan berarti pelit. Proporsional atau adil adalah puncak dari ahlak Contohnya HP, kalau tidak terlalu perlu jual saja lagi. Janganlah dimiliki kalau hanya untuk gaya saja. Penghematan akan mengundang barokah inilah yang disebut syukur nikmat. Tujuan bukan mencari uangnya tetapi mempertanggung jawabkan setiap rupiah yang Allah titipkan.

    Hal lain yang membuat barokah adalah jika kita dapat mendayagunakan semua barang-barang kita. Di gudang kita pasti banyak barang yang tidak kita pakai tetapi sayang untuk dibuang. Coba lihat lemari pakaian kita banyak baju-baju lama, begitu juga sepatu-sepatu lama kita. Keluarkanlah barang-barang yang tidak berharga tersebut.

    Misalkan dirumah kita ada panci yang sudah rongsokan, jika kita keluarkan ternyata merupakan panci idaman bagi orang lain. Di rumah kita tidak terpakai tetapi jika dipakai orang lain dengan kelapangannya dan mengeluarkan doa bisa jadi itulah yang membuat kita terjamin.

    Kalau kita ikhlas, demi Allah itu lebih menjamin rezeki kita daripada tidak terpakai di rumah. Setiap barang-barang yang tidak bermanfaat tetapi bermanfaat bagi orang lain itulah pengundang rezeki kita. Bersihkan rumah kita dari barang-barang yang tidak berguna. Lebih baik rusak digunakan orang lain daripada rusak dibiarkan di rumah, itu akan barokah rezekinya.

    Ini kalau kita ingin terjamin, namanya teori barokah. Kita tidak akan terjamin dengan teori ekonomi manapun. Sudah berapa banyak sarjana ekonomi yang dihasilkan oleh universitas di negeri ini tetapi Indonesia masih saja babak belur.

    Rumusnya pertama adalah bersahaja, kedua adalah total hemat, ketiga adalah keluarkan yang tidak bermanfaat, yang keempat adalah setiap kita mengeluarkan uang harus menolong orang lain atau manfaat.

    Kalau mau belanja niatkan jangan hanya mencari barang tetapi juga menolong orang. Belilah barang di warung pengusaha kecil yang dapat menolong omzetnya. Hati-hati dengan menawar, pilihannya kalau itu merupakan hal yang adil. Jangan bangga kalau kita berhasil menawar. Nabi Muhammad SAW bahkan kalau beli barang dilebihkan uangnya dari harga barang yang sebenarnya. Tidak akan berkurang harta dengan menolong orang. Jangan memilih barang-barang yang bagus semua pilihlah yang jeleknya sebagian. Kita itu untung jika membuat sebanyak mungkin orang lain untung. Jangan jadi bangga ketika kita sendiri untung orang lain tidak.

    Jika kita jadi pengusaha, kita jadi kaya ketika karyawannya diperas tenaganya, gajinya hanya pas buat makan, sedang kita berfoya-foya, demi Allah kita akan rugi. Pengusaha Islam sejati tidak akan berfoya-foya, ia akan menikmati karyawannya sejahtera. Sehingga tidak timbul iri, yang ada adalah cinta. Cinta membuat kinerja lebih bagus, perusahaan lebih sehat. Kalau kapitalis, pengusahanya bermewah-mewah ketika bawahannya menderita. Jadi timbul dendam dan iri setiap ada kesempatan akan marah seperti yang terjadi di Bandung kemarin. Tetapi kalau kita senang mensejahterakan mereka, anaknya kita sekolahkan. Dia merasa puas dan itulah namanya keuntungan.

    Jadi mulai sekarang setiap membelanjakan uang harus menolong orang, membangun ekonomi umat. Jadi setiap keluar harus multi manfaat bukan hanya dapat barang. Dengan membeli barang di warung kecil mungkin uangnya untuk menyekolahkan anaknya, membeli sejadah, membeli mukena, Subhanallah.

    Saudara-saudaraku Sekalian,

    Jadi krisis seperti ini akan berdampak positif kalau kita bisa mengemasnya dengan baik. Nantinya ketika strategi rumah kita sudah bersahaja, kehidupan kita jadi efisien, anak-anak terbiasa hidup hemat, kita di rumah tidak mempunyai beban dengan banyaknya barang.

    Barang yang ada di rumah harus ada nilai tambahnya, bukan biaya tambah. Setiap blender harus ada nilai produktifnya misalnya untuk membuat jus kemudian dijual, pasti barokah. Bukannya membuat biaya tambah karena harus diurus, dirawat dan membutuhkan pengamanan, barang yang seperti ini tidak boleh ada di rumah kita. Rezeki kita pasti ada tinggal kita kreatif saja. Tidak perlu panik Allah Maha Kaya.

    Sebagai amalan lainnya, dalam situasi sesulit apapun tetaplah menolong orang lain karena setiap kita menolong orang lain kita pasti ditolong oleh Allah. Jika makin pahit, makin getir harus makin produktif bagi orang lain. Baik sukses maupun tidak tetap lakukan dimanapun kita berada. Ketika kita sedang berjalan kaki, kemudian ada mobil yang hendak parkir bisa kita beri aba-aba. Ketika kita menyetir mobil ada yang mau menyebrang, dahulukan saja, kita tidak tahu apa yang akan menimpa kita esok hari. Ketika kita sedang mengantri ada orang yang memotong, berhentilah sebentar, dengan mengalah berhenti barang lima menit tetapi membuat banyak orang bahagia.

    Jadi insya Allah kalau hati kita sudah berbenah baik, krisis ini akan lebih membuat hidup kita lurus. Hidup ini tidak akan kemana-mana kecuali menunggu mati. Latihlah supaya kita sadar bahwa kita pasti mati tidak membawa apa-apa. Kita hanya mampir sebentar di dunia ini.

    Alhamdulilahirobil”alamin

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 17 June 2019 Permalink | Balas  

    Teguh Saat Menghadapi Kematian. 

    Teguh Saat Menghadapi Kematian.

    Orang-orang kafir dan ahli maksiat tidak akan mendapatkan keteguhan pada saat yang paling kritis, sehingga mereka tidak dapat mengucapkan kalimat syahadat saat kematiannya, hal tersebut pertanda Suu’ul khotimah (akhir kehidupan yang buruk), sebagaimana ada kisah bahwa seseorang yang sedang menghadapi sakratul maut dikatakan kepadanya : Bacalah Laa ilaaha illallah, akan tetapi kepalanya digelengkan kekiri dan kekanan sebagai tanda penolakan darinya.

    Ada juga yang lain saat sakratul maut berucap: ‘Ini potongannya bagus, yang ini harganya murah”, ada juga yang menyebut-nyebut bidak-bidak catur, atau ada juga yang melantunkan bait-bait lagu atau menyebut-nyebut kekasihnya.

    Hal tersebut terjadi karena semua itulah yang menyita perhatiannya semasa hidupnya. Bahkan dikisahkan bahwa diantara mereka ada yang bermuka hitam dan berbau busuk dan membelakangi kiblat saat ruh mereka keluar. La haula wala quwwata illah billah.

    Adapun orang baik dan pengikut sunnah, maka Allah akan memberikan keteguhan pada mereka saat-saat kematiannya sehingga mereka dapat mengucapkan syahadatain. Dan wajah mereka tampak berseri-seri serta berbau harum dan menampakkan kegembiraan saat ruhnya keluar.

    Terdapat sebuah contoh bagi orang yang Allah berikan keteguhan saat menghadapi kematiannya. Dia adalah Abu Zur’ah Arrozi, salah seorang pemimpin dari ulama hadits. Berikut uraian ceritanya:

    Berkata Abu Ja’far Muhammad bin Ali, pencatat Abu Zur’ah: “Kami mendatangi Abu Zur’ah di Ma’ Syahran (sebuah nama tempat) saat dia menghadapi sakratul maut, sementara disisinya terdapat Abu Hatim, Ibnu Warih dan Munzir bin Syazan serta yang lainnya. Lalu mereka menyebut-nyebut hadits tentang talqin :

    “Talqinlah (tuntunlan) orang yang sedang menghadapi kematiannya dengan bacaan Laa ilaaha illallah “

    Akan tetapi mereka agak sungkan untuk mentalqinkan Abu Zur’ah. Akhirnya mereka sepakat untuk meriwayatkan hadits tersebut. Maka berkatalah Ibnu Warih: “ telah meriwayatkan kepada kami Abu ‘Ashim, dari Abdul Hamid bin Ja’far dari Shalih’. dan tatkala menyebut Ibnu Abi’.., dia tidak dapat meneruskannya-, maka berkatalah Abu Hatim: “telah meriwayatkan kepada kami Bundaar dari Abu ‘Ashim dari Abdul Hamid bin Ja’far dari Shalih, kemudian dia tidak dapat meneruskannya juga, sementara yang lainnya terdiam saja, maka berkatalah Abu Zur’ah yang sedang dalam sakaratul maut seraya membuka matanya, : Telah meriwayatkan kepada kami Bundaar, dari Abu ‘Ashim, dari Abdul Hamid, dari Shalih Ibnu Abi Uraib dari Katsir bin Murroh dari Mu’az bin Jabal dia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Siapa yang akhir perkataannya La ilaaha illallah, maka dia akan masuk syurga’ setelah itu ruhnya keluar dari dirinya. Semoga Allah merahmatinya.

    Terhadap orang seperti merekalah Allah ta’ala berfirman:

    “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan) : “Jangannlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (Fushshilat : 30)

    ***

    Ya Allah jadikan kami termasuk diantara mereka, kami mohon kepada-Mu keteguhan dalam setiap urusan dan tekad untuk mendapatkan petunjuk.

     
  • erva kurniawan 1:59 am on 16 June 2019 Permalink | Balas  

    Taubat 

    Taubat

    Oleh: Syaikh Ibn Utsaimin

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu, Taubat adalah kembali dari bermaksiat kepada Allah menuju ketaatan kepadaNya. Taubat itu disukai oleh Allah -subhanahu wata’ala-, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (Al-Baqarah: 222).

    Taubat itu wajib atas setiap mukmin, “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.” (At-Tahrim: 8).

    Taubat itu salah satu faktor keberuntungan, “Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An-Nur: 31).

    Keberuntungan ialah mendapatkan apa yang dicarinya dan selamat dari apa yang dikhawatirkannya.

    Dengan taubat yang semurni-murninya Allah akan menghapuskan dosa-dosa meskipun besar dan meskipun banyak, “Katakanlah, ‘Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (Az-Zumar: 53).

    Jangan berputus asa, wahai saudaraku yang berdosa, dari rahmat Tuhanmu. Sebab pintu taubat masih terbuka hingga matahari terbit dari tempat tenggelamnya. Nabi -shollallaahu’alaihi wasallam- bersabda,

    “Allah membentangkan tanganNya pada malam hari agar pelaku dosa pada siang hari bertaubat, dan membentangkan tanganNya pada siang hari agar pelaku dosa pada malam hari bertaubat hingga matahari terbit dari tempat tenggelamnya.” (HR. Muslim dalam at-Taubah, no. 2759).

    Betapa banyak orang yang bertaubat dari dosa-dosa yang banyak dan besar, lalu Allah menerima taubatnya. Allah -subhanahu wata’ala- berfirman,

    “Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membu-nuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, ber-iman dan mengerjakan amal shalih; maka mereka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Furqan: 68-70).

    Taubat yang murni ialah taubat yang terhimpun padanya lima syarat:

    Pertama, Ikhlas karena Allah, dengan meniatkan taubat itu karena mengharapkan wajah Allah dan pahalanya serta selamat dari adzabnya.

    Kedua, menyesal atas perbuatan maksiat itu, dengan bersedih karena melakukannya dan berangan-angan bahwa dia tidak pernah melakukannya.

    Ketiga, meninggalkan kemaksiatan dengan segera. Jika kemaksiatan itu berkaitan dengan hak Allah -subhanahu wata’ala-, maka ia meninggalkannya, jika itu berupa perbuatan haram; dan ia segera mengerjakannya, jika kemaksiatan tersebut adalah meninggalkan kewajiban. Jika kemaksiatan itu berkaitan dengan hak makhluk, maka ia segera membebaskan diri darinya, baik dengan mengembalikannya kepada yang berhak maupun meminta maaf kepadanya.

    Keempat, bertekad untuk tidak kembali kepada kemaksiatan tersebut di masa yang akan datang.

    Kelima, taubat tersebut dilakukan sebelum habis masa penerimaannya, baik ketika ajal datang maupun ketika matahari terbit dari tempat terbenamnya. Allah -subhanahu wata’ala- berfirman,

    “Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, ‘Sesungguhnya saya bertaubat sekarang’.” (An-Nisa’: 18).

    Nabi -shollallaahu’alaihi wasallam- bersabda,

    “Barangsiapa bertaubat sebelum matahari terbit dari tempat tenggelamnya, maka Allah menerima taubatnya.” (HR. Muslim dalam adz-Dzikr wa ad-Du’a’, no. 2703)

    Ya Allah, berilah kami taufik untuk bertaubat semurni-murninya dan terimalah amalan kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

    Sumber:

    Risalah fi Shifati Shalatin Nabi a, hal. 44-45, Syaikh Ibn Utsaimin.

    Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 15 June 2019 Permalink | Balas  

    Mengingat nikmat surga dan azab neraka serta mengingat mati. 

    Mengingat nikmat surga dan azab neraka serta mengingat mati.

    Surga adalah tempat kegembiraan dan pelipur lara serta terminal dari perjalanan seorang mu’min, dan jiwa secara fitrah tidak akan bersedia untuk berkorban, beramal dan teguh pendirian kecuali jika dia mengetahui akan adanya balasan yang akan meringankan segala kesulitan serta memudahkan jalan yang penuh dengan kesulitan dan rintangan.

    Siapa yang mengetahui akan adanya imbalan ini tentu akan merasakannya ringannya tugas yang berat, sebab dia mengetahui jika dirinya tidak teguh maka dia akan kehilangan syurga yang luasnya sebesar langit dan bumi, sementara itu disisi lain jiwa manusia membutuhkan sesuatu yang dapat mengangkatnya dari unsur bumi ke alam yang tinggi.

    Dan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menjadikan mengingat syurga sebagai sarana untuk memperkokoh keteguhan para sahabatnya, dalam hadits hasan shahih, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menemui Yasir, Ammar dan Ummu Ammar yang sedang disiksa di jalan Allah Subhanahu wata’ala, maka beliau Bersabda kepada mereka:

    “Sabarlah wahai keluarga Yasir, sabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya janji untuk kalian adalah syurga” [Riwayat Hakim 3/383, haditsnya Hasan Shahih, lihat takhrijnya dalam Fiqhusshirah tahqiq Albani hal 103

    Demikian juga halnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengucapkan kepada orang-orang Anshor:

    “Sesungguhnya kalian setelahku akan menemukan sifat-sifat egoisme, maka bersabarlah kalian sampai kalian menemukanku di Haudh (telaga/hari kiamat)” [Muttafaq Alaih]

    Begitu juga dengan mempelajari dua kelompok (yang bahagia dan celaka) dialam kubur, dalam Mahsyar, Hisab, Mizan, Shiroth, dan semua tempat di akhirat.

    Demikian juga halnya dengan mengingat mati, akan melindungi seorang muslim dari kejatuhan, dan menahannya manakala berhadapan dengan larangan-larangan Allah sehingga dia tidak melampauinya. Karena jika seseorang mengetahui bahwa kematian lebih dekat kepadanya dari tali sendalnya, dan waktunya mungkin tinggal beberapa saat saja, dia tidak akan membiarkan dirinya tergelincir atau melakukan perbuatan yang menyimpang. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

    “Perbanyaklah kalian mengingat sesuatu yang akan menghancurkan segala kelezatan (kematian)” [Riwayat Turmuzi, 2/50 dan di shahihkan dalam Irwa’ul Ghalil, 3/145]

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 14 June 2019 Permalink | Balas  

    Riwayat Tahun Hijriah. 

    Riwayat Tahun Hijriah.

    Tahun Hijriah adalah sistim penanggalan Islam yang didasarkan atas peredaran bulan [qomariyah]. Maka disebut juga Tahun Qomariyah. Penamaan yang lebih populer adalah ‘Tahun Hijriah’. Karena awal tarikh hijriah dihitung dari hijrahnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, dari Mekah ke Madinah.

    Sedangkan sistim penanggalan yang didasarkan pada waktu perputaran bumi mengelilingi matahari disebut sistim penanggalan Syamsiah atau disebut juga kelender Masehi. Karena didasarkan pada awal kelahiran Isa Almasih.

    Hijrah berasal dari kata yang artinya : memalingkan muka dari seseorang dan tidak memperdulikan lagi. Seorang muslim yang terpaksa meninggalkan kampung halaman atau tanah airnya karena agama disebut Muhajir. Yang dianggap hari hijrah ialah hari tanggal 8 Rabi’ul Awwal – 20 September 622M. Penetapan tahun Hijriah dilakukan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Tepatnya pada tahun ke-empat ia berkuasa, yakni hari Kamis, 8 Rabi’ul Awwal 17 H.

    Tarikh Islam mulai dihitung dari tanggal 1 Muharram, yaitu 15 Juli 622 M. Menurut perhitungan, tarikh islam kira-kira 11 hari lebih singkat dari tahun menurut perhitungan peredaran matahari. Sedikit informasi untuk menghitung bagaimana tahun hijriah (H) bertepatan atau sebaliknya dengan tahun masehi (M) maka dapat dipakai rumus M = 32/33 ( H+622 ) atau sebaliknya H = 33/32 (M-622).

    Sebelum penetapan tahun Hijriah, dari masa ke masa, orang Arab menandai tahun berdasarkan peristiwa-peristiwa penting. Seperti penamaan ‘Tahun Azan’ sebagai tahun pertama, karena pada saat itulah di syari’atkan azan. Atau penamaan ‘Tahun Wada’ yang artinya ‘perpisahan’ sebagai tahun kesepuluh. Sebab pada masa itulah, Nabi melaksanakan ‘haji wada’ yang merupakan haji terakhir sebagai perpisahan dengan kaum muslimin. Ketika Rasulullah lahir, tahunnya dinamakan Tahun Gajah, karena pada tahun tersebut bersamaan dengan terjadinya serangan tentara bergajah yang hendak menurunkan Ka’bah.

    Perhitungan tahun kamariah sendiri sudah dikenal jauh sebelum Islam. Satu tahun kamariah lamanya 354 hari, 8 jam, 47 menit dan 46 detik. Terdiri dari 12 bulan, masing-masing lamanya 29 hari, 12 jam, 44 menit dan 3 detik. Perhitungan waktu berdasarkan matahari dan bulan disebut dalam Al Qur’an [ QS Yuunus; 10:5]

    “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dia tentukan perjalanannya, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan hisab. Allah menjadikan tidak lain kecuali dengan benar……………….”

    Tahun Hijriah terdiri dari 12 [dua belas] bulan dengan jumlah hari 30 dan 29 yang silih berganti setiap bulan. Yakni : Muharram, Shafar, Rabi’ul Awwal, Rabi’ul Akhir, Jumadil Awwal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulqaidah, Dzulhijjah. Penetapan bulan sebanyak 12 ini, sesuai dengan firman Allah SWT [At Taubah; 9:36]

    “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan; dalam ketetapan Allah, sejak hari Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya empat bulan yang dihormati [ Muharram, Rajab, Dzulqaidah dan Dzulhijjah]. Demikian itulah ketetapan agama yang lurus, ……………. ”

    ***

    Kiriman Sahabat Meilany

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 13 June 2019 Permalink | Balas  

    Teguh saat menghadapi ujian 

    Teguh saat menghadapi ujian

    Goyahnya pendirian yang sering menimpa hati. Diantara sebabnya adalah karena mendapatkan ujian, hati yang menghadapi cobaan kesenangan atau kesulitan akan mudah goyah kecuali orang-orang yang memiliki bashirah yang telah menyiram hatinya dengan keimanan.

    Diantara ujian-ujian tersebut adalah:

    Fitnah Harta:

    “Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh l Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran) “ (At-Taubah : 75-76)

    Fitnah Kedudukan.

    “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaann-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini, dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi : 28)

    Dan tentang kedua fitnah yang telah disebutkan di muka, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam Bersabda:

    “Dua srigala kelaparan yang dilepas ditengah domba tidak lebih membahayakan dari orang yang mengejar-ngejar harta dan kemuliaan atas agamanya” [Riwayat Imam Ahmad dalam Musnad 3/460, dan terdapat dalam Shahih Al-Jami’ 5496]

    Maksudnya adalah bahwa orang yang rakus mengejar harta dan kedudukan lebih besar bahayanya terhadap agamanya ketimbang (bahaya) dua ekor serigala kelaparan yang dilepas di hadapan domba.

    Fitnah Istri:

    “Sesungguhnya diantara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka “ (At-Taghabun ; 14)

    Fitnah Anak :

    Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

    “Anak merupakan (sebab yang mendatangkan) ketakutan, kebakhilan dan kesedihan” [Riwayat Abu Ya’la 2/305, dan terdapat riwayat-riwayat lain yang serupa, terdapat dalam Shahih Al-Jami’ 7037]

    Fitnah Intimadasi, Tekanan dan Kezholiman.

    Contoh yang paling bagus untuk hal ini adalah sebagaimana yang terdapat dalam Firman Allah Ta’ala:

    “Binasalah dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar ketika mereka duduk di sekitarnya Sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mu’min itu melainkan karena orang-orann mu’min itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu” (Al-Buruj : 4-9)

    Imam Bukhori meriwayatkan dari Khabbab Radhiallahu’anhu, dia berkata : “Kami mengadu kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam saat dia sedang bersandar dengan burdahnya disisi Ka’bah, maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Orang-orang sebelum kalian ada yang dibawa dan dibuatkan galian untuknya kemudian dikuburkan didalamnya, ada juga yang dibawakan gergaji kemudian diletakkan diatas kepalanya hingga dirinya terbelah dua, ada juga yang disisir dengan sisir besi hingga daging dan tulangnya, semua itu tidak menghalangi mereka dari agama mereka “ [Riwayat Bukhori, Lihat Fathul Bari 12/215]

    Fitnah Dajjal.

    Ini merupakan fitnah terbesar dalam kehidupan:

    “Wahai manusia, tidak ada fitnah yang lebih besar diatas muka bumi ini sejak diciptakannya Adam selain dari fitnah Dajjal……Wahai hamba Allah, wahai manusia : Teguhkanlah diri kalian, sungguh aku akan menyebutkan ciri-cirinya dan belum ada seorang Nabipun yang menyebutkan ciri-cirinya “ [Riwayat Ibnu Majah 2/1359, lihat Shahih Al-Jami’ 7752]

    Berkaitan dengan fase keteguhan hati dan penyimpangannya dihadapan fitnah ini, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

    “Fitnah itu mempengaruhi hati sebagaimana tikar (memberikan bekas kepada orang yang tidur) selembar demi selembar, hati yang menerima (fitnah) akan diberikan titik hitam, sedangkan hati yang menolaknya akan diberi titik putih, hingga terdapat dua hati, yang satu putih bersih tidak akan terpengaruh fitnah selamanya, sedangkan yang lainnya hitam pekat, bagaikan wajan yang terbalik, tidak mengetahui yang ma’ruf dan mecegah yang munkar kecuali apa yang diperturutkan hawa nafsunya “ [Riwayat Ibnu Majah 2/1359, lihat Shahih Jami’ 7752]

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 12 June 2019 Permalink | Balas  

    Menjama’ Shalat 

    Menjama’ Shalat

    Shalat yang dapat dijama’ adalah Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’. Dapat dikerjakan di awal waktu (jama’ taqdim) dan dapat pula dikerjakan di akhir waktu (jama’ takhir).

    Sebab-sebab boleh menjama’ shalat :

    Safar

    Dari Anas ra., dia berkata, “Jika Rasulullah ShalallaHu alaiHi wa sallam berpergian sebelum matahari tergelincir, beliau akhirkan Zhuhur hingga waktu ‘Ashar. Beliau turun dari kendaraannya lalu menjama’ keduanya. Dan jika matahari sudah tergelincir sebelum melakukan perjalanan, maka beliau shalat Zhuhur lalu naik kendaraan” (HR. Al Bukhari no. 1112, Muslim no. 704, Abu Dawud no. 1206 dan An Nasa’i I/248)

    Hujan

    Dari Nafi’ ra., “Jika Abdullah Ibnu Umar ra. mengumpulkan para amir (gubernur) antara Maghrib dan Isya ketika hujan, maka dia menjama’ shalat bersama mereka” (HR. Muslim no. 706 dan Ibnu Majah no. 1070)

    Dari Musa bin Uqbah, “Ketika turun hujan, Umar bin Abdul Aziz pernah menjama’ shalat Maghrib dengan Isya di akhir waktu, sedangkan Sa’id al Musayyib, Urwah bin Az Zubair, Abu Bakar bin Abdurahman serta ulama zaman itu bermakmum di belakangnya. Namun mereka tidak mengingkari perbuatan tersebut” (HR. Al Baihaqi III/168-169, dishahihkan oleh Syaikh Albani di Kitab Irwaa’ul Ghaliil III/40)

    Karena ada Suatu Kebutuhan

    Dari Ibnu Abbas ra., dia berkata, “Rasulullah ShalallaHu alaiHi wa sallam pernah menjama’ shalat Zhuhur dengan ‘Ashar di Madinah, tidak dalam keadaan takut maupun hujan” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiihul Jaami’ush Shaghiir no. 1068).

    Abu Zubair berkata, “Lalu aku bertanya pada Sa’id, ‘Kenapa beliau melakukannya ?’, Dia menjawab, ‘Aku pernah bertanya hal yang sama kepada Ibnu Abbas. Lalu dia berkata, ‘Beliau tidak ingin memberatkan salah seorang pun dari umatnya’”.

    Imam An Nawawi berkata dalam Syarh Muslim V/129, “Sejumlah imam berpendapat tentang bolehnya menjama’ shalat dalam keadaan mukim bagi orang yang tidak menjadikannya kebiasaan”. Pendapat ini diperkuat oleh zhahir perkataan Ibnu Abbas ra., “Beliau tidak ingin memberatkan umatnya”. Dia tidak menyebutkan alasan sakit atau yang lainnya. WallaHu a’lam.

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengungkapkan dalam Majmu’atul Rasail wa Masail II/26-27, “Menjama’ shalat bukanlah termasuk sunnah perjalanan seperti menqashar shalat, tetapi ia dilakukan karena suatu hajat baik ketika sedang dalam perjalanan atau tidak. Rasulullah juga menjama’ shalat pada saat tidak dalam perjalanan supaya tidak memberatkan umatnya”

    [Menjama’ shalat, walaupun dikerjakan di akhir waktu, urutan shalatnya tidak berubah. Contoh, ketika menjama’ shalat Maghrib dengan Isya di waktu Isya maka yang dikerjakan adalah shalat maghrib terlebih dahulu baru kemudian shalat Isya, wallaHu a’lam-ini adalah hasil konsultasi saya dengan Redaksi Majalah Al Furqan, namun saya belum mendapatkan dalil naqlinya, mungkin ada yang bisa membantu ?]

    ***

    Maraji’ :

    Ensiklopedi Fatwa Syaikh Albani, Penyusun : Mahmud Ahmad Rasyid, Pustaka As Sunnah, Jakarta, Cetakan Pertama, Juni 2005 M.

    Panduan Fiqh Lengkap Jilid 1, Syaikh Abdul ‘Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 11 June 2019 Permalink | Balas  

    Jadilah Seperti Ubi 

    Jadilah Seperti Ubi

    Apa yang terjadi jika sepotong ubi dan sebutir telur dimasukkan ke dalam air mendidih? Apakah kedua benda itu keluar dari panci panas dalam keadaan yang sama dengan keadaan sebelum direbus? Air mendidih mengubah ubi dan telur itu.

    Namun perubahan yang terjadi pada kedua benda itu sangat bertolak belakang. Setelah direbus, telur menjadi keras. Sebaliknya, ubi menjadi lembut. Kedua benda itu berada dalam panci yang sama dan air mendidih yang sama,namun reaksi mereka berbeda. Telur akan muncul dalam keadaan keras, sedangkan ubi akan muncul dalam keadaan lembut.

    Dalam hidup ini, ada masa dimana kita harus masuk ke dalam panci yang berisi air mendidih, yaitu musibah dan penderitaan. Dalam suatu musibah, kita merasakan betapa sakit dan nyeri direbus dalam air mendidih. Musibah dan penderitaan bisa terasa sangat kejam dan menyakitkan bagaikan menusuk tulang, hati, dan sumsum. Apalagi ketika musibah demi musibah datang menimpa bagaikan tak ada habisnya. Kita seperti terhempas lemas. Kita menunduk dan menarik nafas panjang, kita bertanya

    lirih: ‘Oh, Tuhan, mengapa ini harus terjadi?’

    Namun kenyataan adalah kenyataan.Musibah itu sudah atau sedang terjadi. Jadi yang lebih mendesak bukanlah persoalan mengapa musibah ini terjadi, melainkan bagaimana menghadapinya, bagaimana bisa melewati dan mengatasi musibah ini.

    Bagaimana bisa survive dalam dan dari musibah ini. Jika musibah dan penderitaan merupakan ibarat direbus dalam panci, soalnya adalah bagaimana kita akan keluar dari panci itu. Apakah kita akan keluar sebagai telur atau ubi?

    Ada orang yang keluar dari musibah dalam keadaan yang sangat tertekan. Mukanya selalu suram. Ia menyendiri. Hidupnya menjadi pahit dan getir. Sikapnya terhadap orang lain menjadi kaku. Ia menjadi keras. Ia ibarat telur yang setelah keluar dari air mendidih menjadi keras.

    Sebaliknya, ada orang yang setelah keluar dari musibah justru menjadi bijak dan matang. Ia merasa damai dengan dirinya. Sikapnya hangat dan ramah. Ia tersenyum dan menyapa. Ia menjadi lembut. Ia ibarat ubi yang setelah digodok justru menjadi lembut.

    Dampak itu bisa begitu berbeda,sebab pandangan dan ketahanan orang terhadap penderitaan dan musibah berbeda-beda.

    Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Penderitaan dan musibah tidak dapat dihindarkan. Itu adalah bagian dari hidup. Hidup adalah ibarat roda, sebentar di atas, sebentar di bawah. Hidup ini ada enaknya dan ada tidak enaknya, yaitu masuk dalam panci dan direbus dalam air mendidih. Soalnya, apakah kita akan keluar dari panci panas itu sebagai telur rebus yang keras ataukah sebagai ubi yang lembut?

    Apakah kita akan keluar dari sebuah musibah sebagai orang yang kaku dan keras atau sebaliknya, sebagai orang yang berhati lembut? Agaknya, dalam suatu musibah, kita boleh belajar berbisik: ‘Tuhan, biarlah saya menjadi seperti ubi … seperti sepotong ubi rebus yang lembut, hangat, dan manis’.

    ***

    Kiriman Yohana Yasmine

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 10 June 2019 Permalink | Balas  

    Shalat Qashar 

    Shalat Qashar

    Mengqashar shalat merupakan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaiHi wa sallam ketika beliau dalam keadaan safar dan merupakan sedekah dari Allah Ta’ala kepada kaum muslimin. Dia berfirman,

    “Dan apabila kamu berpergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu menqashar shalat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu musuh yang nyata bagimu(QS An Nisa’ : 101)

    Ya’la bin Umayah, dia menanyakan ayat ini pada Umar bin Khaththab ra. [tentang] firman Allah Ta’ala, “jika kamu takut diserang orang-orang kafir”, padahal orang-orang sudah dalam keadaan aman. Umar ra. berkata, “Dulu aku juga bingung dengan masalah ini, lalu aku menanyakannya pada Rasulullah Shalallahu ‘alaiHi wa sallam, lantas beliau Shalallahu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

    ‘Itu adalah shadaqah dari Allah untuk kalian, maka terimalah shadaqah-Nya’” (HR. Muslim no. 686, Abu Dawud no. 1187, An Nasa’i III/116, Ibnu Majah no. 1065 dan At Tirmidzi no. 5025)

    Ibnu Abbas ra. berkata, “Melalui lisan Nabi kalian, Allah mewajibkan shalat empat raka’at dalam keadaan mukim, dua raka’at ketika safar dan satu raka’at ketika dalam keadaan takut” (HR. Muslim no. 687, Abu Dawud no. 1234, dan An Nasa’i III/118)

    Ibnu Umar ra. berkata, “Aku pernah menemani perjalanan Rasulullah, dan beliau tidak pernah shalat lebih dari dua raka’at hingga Allah mewafatkannya” (HR. Al Bukhari no. 1102, Muslim no. 689, Abu Dawud no. 1211 dan An Nasa’i III/123)

    Batasan Jarak Shalat Qashar

    Para ulama memiliki banyak pendapat yang berbeda dalam menentukan batasan jarak diperbolehkannya mengqashar shalat. Sampai-sampai Ibnu Al Mundzir dan yang lainnya menyebutkan lebih dari 20 pendapat dalam masalah ini. Yang rajih adalah, “Pada dasarnya tidak ada batasan jarak yang pasti, kecuali yang disebut safar dalam bahasa Arab, yaitu bahasa yang digunakan Nabi Shalallahu ‘alaiHi wa sallam saat berkomunikasi dengan mereka (orang-orang Arab)” (Al Muhalla V/21)

    Syaikh Muhammad bin Musa Al Nashr (murid Syaikh Albani) mengatakan tentang masalah ini ketika berkunjung ke Indonesia, “Musafir atau tidak, itu kembali kepada ukuran ‘urf (adat kebiasaan yang dikenal masyarakat). Misalnya, bila ‘urf masyarakat disini (disini maksudnya adalah kota Malang, Jawa Timur) menganggap orang yang pergi ke Jakarta adalah sebagai seorang musafir, maka pada saat itu dia boleh mengqashar dan menjama’shalat”

    Tempat Diperbolehkannya Mengqashar Shalat

    Mayoritas ulama berpendapat bahwa disyari’atkan mengqashar shalat ketika meninggalkan tempat mukim dan keluar dari daerah tempat tinggal. Dan tidaklah disempurnakan shalat menjadi 4 raka’at sampai memasuki rumah pertama (di dalam tempat tinggalnya).

    Anas ra. berkata, “Aku shalat dzuhur empat raka’at bersama Nabi di Madinah. Sedangkan di Dzul Hulaifah dua raka’at” (HR. Al Bukhari no. 1089, Muslim no. 690, Abu Dawud no. 1190, At Tirmidzi no. 544 dan An Nasa’i I/235)

    Sampai Kapankah Diperbolehkannya Mengqashar Shalat ?

    Jika seorang musafir tinggal di suatu daerah untuk menunaikan suatu kepentingan, namun tidak berniat mukim, maka dia [dapat] melakukan qashar hingga meninggalkan daerah tersebut.

    Dari Jabir ra., dia berkata, “Nabi Shalallahu ‘alaiHi wa sallam tinggal di Tabuk selama dua puluh hari sambil tetap mengashar shalat” (HR. Abu Dawud no. 1223, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 1094)

    Jadi, kedudukan seseorang sebagai musafir akan gugur ketika ia berniat untuk bermukim di suatu tempat. Namun ia diperbolehkan untuk mengqashar shalat selama sembilan belas hari setelah berniat untuk bermukim, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas ra., “Nabi Shalallahu ‘alaiHi wa sallam tinggal selama 19 hari sambil melakukan qashar. Jika kami melakukan safar selama 19 hari, maka kami melakukan qashar. Dan jika lebih dari itu, maka kami menyempurnakan shalat” (HR. Al Bukhari no. 1080, At Tirmidzi no. 547, dan Ibnu Majah no. 1075)

    ***

    Maraji’

    Majalah As Sunnah, Edisi 11/Tahun VIII/1425 H/2005 M, halaman 9.

    Panduan Fiqh Lengkap Jilid 1, Syaikh Abdul ‘Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 9 June 2019 Permalink | Balas  

    Puasa Syawwal 

    Puasa Syawwal

    Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa berpuasa Ramadhan dan meneruskannya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, berarti dia telah berpuasa satu tahun.” (HR. Imam Muslim dan Abu Dawud). Juga ada hadits lainnya yang menguatkan masyru’iyah puasa syawwal, yaitu: Dari Tsauban ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Puasa Ramadhan pahalanya seperti puasa 10 bulan. Dan puasa 6 hari setelahnya (syawwal) pahalanya sama dengan puasa 2 bulan. Dan keduanya itu genap setahun”.

    Dalam hadits tersebut diterangkan, bahwa pahala orang yang berpuasa Ramadhan dan enam hari di bulan Syawwal sama pahala dengan puasa setahun. Jika satu kebaikan dihitung sepuluh pahala (sesuai dengan QS. Al-An’ am:160), berarti puasa Ramadhan selama satu bulan dihitung 10 bulan. Dan puasa enam hari di bulan Syawwal dihitung dua bulan. Jadi total jumlahnya adalah satu tahun.

    Sebagian ulama memperbolehkan tidak harus berturut-turut enam hari, namun pahalanya sama dengan yang melaksanakannya secara langsung setelah Hari Raya. Puasa Syawal juga boleh dilakukan di pertengahan atau di akhir bulan Syawwal.

    Hikmah disyari’atkannya puasa enam hari di bulan Syawwal adalah sebagai pengganti puasa Ramadhan yang dikhawatirkan ada yang tidak sah. Demikian juga untuk menjaga agar perut kita tidak lepas kontrol setelah sebulan penuh melaksanakan puasa, kemudian diberi kesempatan luas untuk makan dan minum. Lebih dari itu, puasa Syawal adalah ibadah sunnah yang sangat dianjurkan oleh ajaran agama kita.

    Imam Malik menghukumi makruh puasa tersebut. Karena ditakutkan adanya keyakinan dan anggapan bahwa puasa enam hari di bulan Syawwal masuk puasa Ramadhan. Apabila tidak ada kekhawatiran seperti alasan Imam Malik di atas, maka disunahkan puasa enam hari. Bagi yang tidak berhalangan atau sakit, mari berlomba-lomba untuk memperbanyak pahala. La haula wala quwwata illa billah.

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 8 June 2019 Permalink | Balas  

    Syawal 

    Syawal

    Bulan suci Ramadhan yang di dalamnya penuh dengan rahmat, berkah, ampunan, serta pembebasan dari api neraka bagi umat Islam, kini telah berlalu. Seperti sabda Rasulullah SAW, ”Langit pun menangis dengan perginya Ramadhan,” tak sedikit umat Islam yang baru saja menunaikan ibadah puasa selama bulan suci, benar-benar merasa sedih dengan berakhirnya Ramadhan.

    Kini, kita berada di bulan Syawal. Secara bahasa, kata Syawal akar kata dari syala yasyulu syawwal artinya meningkat (irtafa’). Yang meningkat adalah ibadah dan muamalah yang kita lakukan. Misalnya, pertama, selama Ramadhan kita selalu mengikuti shalat Subuh berjamaah di masjid. Bahkan, tak jarang yang mengikuti kuliah Subuh yang digelar di masjid-masjid tersebut. Yang menjadi pertanyaan adalah mampukah kita setelah Ramadhan melaksanakan shalat Subuh berjamaah?

    Kedua, selama Ramadhan kita rutin melakukan tadarus Al-Quran, bahkan tak jarang ada yang seperti mengejar target dalam membacanya sampai hatam berkali-kali. Yang menjadi pertanyaan adalah masihkah kita membaca dan mengkaji Al-Quran di bulan Syawal?

    Ketiga, selama Ramadhan kita begitu peduli kepada fakir, miskin, dan kaum dhuafa. Dengan murah hati kita membagi-bagikan paket sembako, mengadakan acara buka puasa bersama dengan kaum dhuafa, bahkan ada yang sampai membagikan paket Lebaran. Yang menjadi pertanyaan adalah masihkah kita menjadi dermawan di tengah situasi perekonomian yang carut-marut?

    Keempat, selama Ramadhan kita sering beriktikaf di masjid-masjid untuk merenungi dosa dan segala perbuatan buruk kita kepada Allah dengan harapan mendapat maghfirah-Nya. Yang menjadi pertanyaan adalah mampukah kita meningkatkan ibadah iktikaf di bulan Syawal dan bulan-bulan lainnya? Kelima, selama Ramadhan, mungkin kita termasuk orang yang tak pernah absen melaksanakan qiyamulail dan shalat dhuha. Yang menjadi pertanyaan adalah masihkah kita melaksanakan ibadah sunah yang sangat tinggi derajatnya di hadapan Allah di luar Ramadhan?

    Pertanyaan-pertanyaan tersebut hendaklah menjadi renungan bagi kita bahwa dengan datangnya Syawal, maka sesuai dengan artinya yaitu meningkat, kita tingkatkan pula ibadah kepada Allah yang akan berdampak pada kesalehan pribadi dan ibadah kepada sesama manusia yang membawa kita kepada kesalehan sosial. Jangan mengartikan kembali ke fitrah berarti kita kembali seperti bayi yang baru dilahirkan dari perut ibunya kemudian dengan seenaknya melakukan perbuatan yang dilarang Allah.

    Ibadah Ramadhan yang membekas berbuah taqwa sebagaimana difirmankan Allah dalam QS Al-Baqarah: 183. Karena itu, di dalam Ramadhan kita disuruh oleh Allah SWT untuk mencari bekal sebanyak-banyak guna menghadapi sebelas bulan berikutnya. Jangan jadikan puasa Ramadhan yang telah kita lakukan hanya mendapatkan haus dan lapar. Ramadhan merupakan pemantik semangat untuk meningkatkan ibadah pribadi dan ibadah sosial di luar Ramadhan. Kemenangan di hari Idul Fitri

    ***

    (Dari Hikmah Republika)

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 7 June 2019 Permalink | Balas  

    Puasa 6 hari di bulan Syawal 

    Puasa 6 hari di bulan Syawal

    1. Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Barang siapa berpuasa penuh di bulan Romadhon lalu menyambungnya dengan (puasa) 6 (enam) hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama 1 (satu) tahun. (HR. Muslim).”
    2. Puasa Syawal & Sya’ban bagaikan sholat sunnah Rowatib, berfungsi sebagai penyempurna dari kekurangan, karena pada hari Kiamat nanti perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan (dilengkapi) dengan perbuatan-perbuatan sunnah. Sebagaimana keterangan yang datang dari Nabi saw di berbagai riwayatnya. Mayoritas puasa fardhu (puasa Romadhon) yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan ketidaksempurnaan, maka hal itu membutuhkan sesuatu yang menutupi dan menyempurnakannya.
    3. Membiasakan puasa setelah Romadhon menandakan diterimanya puasa Romadhon, karena apabila ALLAH swt menerima amal seorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya. Sebagian orang bijak mengatakan : ” Pahala amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya”. Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan suatu kebaikan lalu diikuti dengan yang buruk maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.
    4. Wallahu’alam bi showab
     
  • erva kurniawan 1:36 am on 6 June 2019 Permalink | Balas  

    Lebaran Cara Rasul, Ikuti Yuks! 

    Lebaran Cara Rasul, Ikuti Yuks!

    Fajar 1 Syawal menyingsing, menandai berakhirnya bulan penuh kemuliaan. Senyum kemenangan terukir di wajah-wajah perindu Ramadhan, sambil berharap kembali meniti Ramadhan di tahun depan. Satu persatu kaki-kaki melangkah menuju tanah lapang, menyeru nama Allah lewat takbir, hingga langit pun bersaksi, di hari itu segenap mata tak kuasa membendung airmata keharuan saat berlebaran. Sementara itu, langkah sepasang kaki terhenti oleh sesegukan gadis kecil di tepi jalan. “Gerangan apakah yang membuat engkau menangis anakku?” lembut menyapa suara itu menahan beberapa detik segukan sang gadis.

    Tak menoleh gadis kecil itu ke arah suara yang menyapanya, matanya masih menerawang tak menentu seperti mencari sesosok yang amat ia rindui kehadirannya di hari bahagia itu. Ternyata, ia menangis lantaran tak memiliki baju yang bagus untuk merayakan hari kemenangan. “Ayahku mati syahid dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah,” tutur gadis kecil itu menjawab tanya lelaki di hadapannya tentang Ayahnya.

    Seketika, lelaki itu mendekap gadis kecil itu. “Maukah engkau, seandainya Aisyah menjadi ibumu, Muhammad Ayahmu, Fatimah bibimu, Ali sebagai pamanmu, dan Hasan serta Husain menjadi saudaramu?” Sadarlah gadis itu bahwa lelaki yang sejak tadi berdiri di hadapannya tak lain Muhammad Rasulullah SAW, Nabi anak yatim yang senantiasa memuliakan anak yatim. Siapakah yang tak ingin berayahkan lelaki paling mulia, dan beribu seorang Ummul Mukminin?

    Begitulah lelaki agung itu membuat seorang gadis kecil yang bersedih di hari raya kembali tersenyum. Barangkali, itu senyum terindah yang pernah tercipta dari seorang anak yatim, yang diukir oleh Nabi anak yatim. Rasulullah membawa serta gadis itu ke rumahnya untuk diberikan pakaian bagus, terbasuhlah sudah airmata. Lelaki agung itu, shalawat dan salam baginya.

    ***

    Lebaran, bagi kita sangat identik dengan pakaian bagus. Tak harus baru, setidaknya layak dipakai saat bersilaturahim di hari kemenangan itu. Namun tak dapat dipungkiri, bagi sebagian besar masyarakat kita, memakai pakaian baru sudah menjadi budaya. Mungkin budaya ini merujuk pada kisah di atas, bahwa Rasul pun memakai pakaian yang bagus di hari raya. Tidak sedikit uang yang dikeluarkan untuk menyambut lebaran, bahkan bagi sebagian orang, tak cukup satu stel pakaian baru disiapkan, mengingat tradisi silaturahim berlebaran di Indonesia yang lebih dari satu hari.

    Tak ada yang salah dengan budaya baju baru itu, ambil sisi positifnya saja, bahwa keceriaan hari kemenangan bolehlah diwarnai dengan penampilan yang lebih baik. Sekaligus mencerminkan betapa bahagianya kita menggapai sukses penuh arti selama satu bulan menjalani Ramadhan. Baju baru bukan cuma fenomena, bahkan sudah menjadi budaya. Tetapi ada cara berlebaran Rasulullah yang tak ikut kita budayakan, yakni menceriakan anak yatim dengan memberikan pakaian yang lebih pantas di hari istimewa.

    Anak-anak kita bangga menghitung celana dan baju yang baru saja kita belikan. Tak ketinggalan sepatu dan sandal yang juga baru. Dapatlah kita bayangkan betapa cerianya mereka saat berlebaran nanti mengenakan pakaian bagus itu. Tapi siapakah yang akan membelikan pakaian baru untuk anak-anak yatim? Tak ada Ayah atau Ibu yang akan mengajak mereka menyambangi pertokoan dan memilih pakaian yang mereka suka. Dapatkah kita bayangkan perasaan mereka berada di tengah-tengah riuh rendah keceriaan anak-anak lain berbaju baru, sementara baju yang mereka kenakan sudah usang.

    Rasulullah tak hanya berbaju bagus saat berlebaran, tetapi juga mengajak seorang anak yatim ikut berbaju bagus, sehingga nampak tak berbeda dengan Hasan dan Husain. Lelaki agung itu, tahu bagaimana menjadikan hari raya juga istimewa bagi anak-anak yatim. Mampukah kita meniru cara Rasul berlebaran?

    Kalau kita mampu membeli beberapa stel pakaian untuk anak-anak kita, adakah sedikit yang tersisihkan dari rezeki yang kita dapat untuk membeli satu saja pakaian bagus untuk pantas dipakai oleh anak-anak yatim tetangga kita. Kebahagiaan 1 Syawal semestinya tak hanya milik anak-anak kita, hari istimewa itu juga milik mereka.

    Maka, ikuti yuks! Gerakan LCR (Lebaran Cara Rasul). Gerakan ini, saya yakin sudah banyak yang melakukannya di berbagai tempat. Namun jika lebih banyak lagi orang-orang beruntung seperti kita yang mau membudayakan LCR ini, akan lebih banyak senyum anak yatim yang tercipta di hari bahagia.

    Bayu Gawtama

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 5 June 2019 Permalink | Balas  

    Meneladani Rasulullah SAW Berhari Raya 

    Meneladani Rasulullah SAW Berhari Raya

    Dari Anas ra., Rasulullah SAW pernah bersabda,

    “Aku datang kepada kalian sedangkan kalian memiliki dua hari raya yang menjadi ajang permainan kalian pada masa Jahiliyyah. Dan sesungguhnya Allah telah menganti keduanya dengan yang lebih baik, yaitu hari raya ‘Iedul Adh-ha (An Nahri) dan ‘Iedul Fithri (Al Fithri)” (HR. Ahmad III/103, Abu Dawud no. 1134, An Nasa’i III/179 dan Al Baghawi no. 1098, hadits ini shahih)

    ‘Ied berarti suatu hari dimana terjadi perkumpulan. Imam Ibnu ‘Abidin menjelaskan bahwa disebut ‘Ied, karena pada hari itu Allah Ta’ala memiliki berbagai macam kebaikan yang diberikan kepada hamba – hambaNya diantaranya : berbuka (tidak berpuasa) setelah adanya larangan makan dan minum, zakat fithrah, penyempurnaan haji dengan thawaf, daging kurban dan lainnya. Dan karena kebiasaan yang berlaku pada hari tersebut adalah kegembiraan, kebahagiaan, keceriaan dan hubur (kenikmatan) (Kitab Haasyiyatu Ibni ‘Abidin II/165)

    Beberapa sunnah Rasulullah SAW dalam berhari raya adalah sebagai berikut :

    1.. Makan terlebih dahulu ketika berangkat pada hari raya ‘Iedul Fithri dan tidak makan ketika berangkat pada hari raya ‘Iedul Adh-ha.

    Dari Buraidah ra., ia berkata, “Nabi SAW tidak berangkat pada hari raya ‘Iedul Fithri sampai beliau makan terlebih dahulu dan pada hari raya ‘Iedul Adh-ha beliau tidak makan sampai pulang, kemudian beliau makan dari daging hewan – hewan kurbannya” (HR. At Tirmidzi no. 542, Ibnu Majah no. 1756, Ad Darimi I/375 dan Ahmad V/352, hadits ini hasan)

    2.. Berhias diri.

    Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Zaadul Ma’aad (I/441) mengatakan, “Nabi biasa berangkat (ke tanah lapang) pada hari raya ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adh-ha dengan pakaian yang paling bagus”

    Di dalam kitab Al Mughni (II/228), Ibnu Qudamah mengatakan, “Dan itu menunjukan bahwa berhias diri bagi mereka pada kesempatan seperti ini (hari raya ‘Ied) sudah sangat populer”

    3.. Mengambil jalan lain ketika berangkat dan pulang dari shalat ‘Ied.

    Dari Jabir ra., dia berkata, “Jika hari raya ‘Ied tiba, Nabi SAW biasa mengambil jalan lain (ketika berangkat dan pulang)” (HR. Bukhari no. 986)

    4.. Bertakbir pada hari raya ‘Ied ketika berangkat ke tempat pelaksanaan shalat.

    Allah SWT berfirman, “Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kalian bersyukur” (QS Al Baqarah 185)

    Telah tetap suatu riwayat bahwa Nabi SAW biasanya berangkat menunaikan shalat pada hari raya ‘Ied, lalu beliau bertakbir hingga sampai di tempat pelaksanaan shalat, bahkan sampai shalat akan dilaksanakan. Dan jika shalat dilaksanakan, beliau menghentikan bacaan takbir (HR. Ibnu Abi Syaibah, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam kitab Silsilah Al Ahaadiits Ash Shahiihah no. 170)

    Salah satu ucapan takbir yang dilakukan oleh sahabat Rasulullah SAW yaitu Abdullah bin Mas’ud ra. adalah sebagai berikut,

    “Allahu Akbar Allahu Akbar, Laa ilaHa illallaHu wallaHu Akbar, Allahu Akbar wa lillaHiil hamdu” (HR. Ibnu Abi Syaibah II/168, hadits ini shahih)

    Dan ucapan takbir ini dilakukan dengan suara lantang seperti yang dilakukan oleh sahabat Abdullah bin Umar ra. ketika pergi untuk melaksanakan (HR. Ad Daruquthni, hadits ini shahih)

    [Hendaknya takbir ini tidak dilakukan secara bersama – sama/berjama’ah, atau dibawah 1 komando karena hal tersebut menyelisihi sunnah]

    5.. Melaksanakan Shalat ‘Ied. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata,

    “Bahwasannya Nabi SAW mengerjakan shalat dua raka’at pada hari raya, dan tidak mengerjakan shalat lainnya sebelum maupun sesudahnya” (HR. Bukhari no. 989, At Tirmidzi no. 537, An Nasa’i III/193 dan Ibnu Majah no. 1291)

    Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Kitabnya Fathul Baari II/476 mengatakan, “Bahwa shalat ‘Ied itu ditetapkan dengan tidak adanya shalat sebelum maupun sesudahnya”

    6.. Mendengarkan Khutbah setelah shalat ‘Ied.

    Dari Ibnu Abdullah bin As Sa’ib, dia berkata, “Aku pernah menghadiri shalat ‘Ied bersama Nabi SAW dan ketika selesai shalat, beliau berkata,

    ‘Sesungguhnya kami akan berkhutbah, barangsiapa ingin duduk untuk mendengarkan khutbah maka dipersilahkan duduk. Dan barangsiapa yang ingin pergi , maka dipersilahkan untuk pergi’” (HR. Abu Dawud no. 1155, An Nasa’I III/185, Ibnu Majah no. 1290 dan Al Hakim I/295, hadits dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Al Irwaa III/96-98)

    Ibnul Qayyim mengatakan dalam kitabnya Zaadul Ma’aad (I/448), “Nabi memberikan keringanan bagi orang yang menghadiri shalat ‘Ied untuk duduk mendengarkan khutbah atau pergi”

    7.. Memberikan ucapan selamat.

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan dalam kitabnya Majmuu’ Al Fataawaa (XXIV/253), “Adapun ucapan selamat pada hari raya ‘Ied, sebagaimana ucapan mereka terhadap sebagian lainnya jika bertemu setelah shalat ‘Ied adalah ‘TaqabbalallHu minnaa wa minkum’ (Semoga Allah SWT menerima amal kami dan kalian”

    Tetapi Imam Ahmad mengatakan, “Aku tidak pernah memulai untuk mengucapkan ucapan tersebut kepada seseorang. Dan jika dia (orang tersebut) yang memulai, maka aku akan menjawabnya” (disebutkan oleh Al Jalal As Suyuthi dalam kitab Al Haawi lil Fatawaa I/81-82)

    ***

    Maraji’  Disarikan dari Buku Meneladani Rasulullah SAW dalam Berhari Raya, Syaikh Ali Hasan bin Ali Al Halabi Al Atsari*, Pustaka Imam Asy Syafi’i, Bogor, Cetakan Pertama, September 2005.

     
  • erva kurniawan 1:49 am on 4 June 2019 Permalink | Balas  

    Lafazh Takbiran Sahabat Rasulullah SAW 

    Lafazh Takbiran Sahabat Rasulullah SAW

    Oleh : Syaikh Ali Hasan bin Ali Al Halabi Al Atsari

    Sebatas pengetahuan kami (Syaikh Ali Hasan), tidak ada satu hadits Nabi pun yang shahih dalam menjelaskan sifat takbir (pada hari raya ‘Ied). Akan tetapi ada riwayat dari sebagian sahabat Nabi SAW, seperti Ibnu Mas’ud ra. pernah mengucapkan, “AllaHu Akbar AllaHu Akbar, Laa ilaHa illallaHu wallaHu Akbar, Allahu Akbar wa lillaHiil hamdu” (HR. Ibnu Abi Syaibah II/168, hadits shahih)

    Ibnu Abbas ra. juga pernah mengucapkan, “AllaHu Akbar, AllaHu Akbar, AllaHu Akbar wa lillaHil hamd, AllaHu Akbar wa ajallu, AllaHu Akbar ‘alaa maa Haadaanaa” (HR. Al Baihaqi III/315, hadits shahih)

    Dan diriwayatkan oleh Abdurrazzaq yang diantara jalannya terdapat pada Al Baihaqi dalam kitab As Sunan Al Kubra (III/316) dengan sanad shahih dari Salman al Khair ra., dia mengatakan, “KabbirullaHu, AllaHu Akbar, AllaHu Akbar, AllaHu Akbar”

    Cukup banyak manusia menyelisihi dzikir yang bersumber dari kaum salafush shalih, dengan membaca dzikir – dzikir lain, melakukan penambahan , serta membuat lafazh – lafazh baru yang tidak memiliki dasar sama sekali.

    Sehingga Al Hafizh Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Baari (II/536) mengatakan, “Dan zaman sekarang ini telah terjadi penambahan dalam hal takbir tersebut yang tidak memiliki dasar sama sekali”

    Maraji: Buku Meneladani Rasulullah SAW dalam Berhari Raya, Syaikh Ali Hasan bin Ali Al Halabi Al Atsari*, Pustaka Imam Asy Syafi’i, Bogor, Cetakan Pertama, September 2005.

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 3 June 2019 Permalink | Balas  

    Sholat Taraweh (5) 

    Sholat Taraweh (5)

    Mengapa 20 rakaat bukan 8 rakaat ? (5/5)

    Dalam Sunan Baihaqiy dengan isnad yang shahih sebagaimana ucapan Zainuddin Al Iraqi dalam kitab “Syarah Taqrib”, dari As-Sa’ib bin Yazid ra. katanya: “Mereka (para shahabat) adalah melakukan shalat pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab ra. pada bulan Ramadlan dengan 20 raka’at.

    Imam Malik dalam kitab “Al Muwaththa” meriwayatkan dari Yazid bin Rauman katanya: “Adalah orang-orang pada zaman Khalifah Umar bin Khattab ra. melakukan shalat dengan 23 raka’at. Dan Imam Al Baihaqi telah mengumpulkan kedua riwayat tersebut dengan menyebutkan bahwa mereka melakukan witir tiga raka’at. Dan para ulama’ telah menghitung apa yang terjadi pada zaman Umar bin Khattab sebagai ijma’.

    Perlu kita ketahui bahwa shalat tarawih itu adalah dua raka’at satu salam, menurut madzhab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Dalam hal ini madzhab Syafi’i berpendapat: “Wajib dari setiap dua raka’at; sehingga jika seseorang melakukan shalat tarawih 20 raka’at dengan satu salam, maka hukumnya tidak sah”.

    Madzhab Hanafi, Maliki dan Hambali berpendapat: “Disunnatkan melakukan salam pada akhir setiap dua raka’at. Sehingga jika ada orang yang melakukan shalat tarawih 20 raka’at dengan satu salam, dan dia duduk pada permulaan setiap dua raka’at, maka hukumnya sah tetapi makruh. Dan jika tidak duduk pada permulaan setiap dua raka’at maka dalam hal ini ada perbedaan pendapat dari para imam madzhab”.

    Adapun madzhab Syafi’i berpendapat: “Wajib melakukan salam pada setiap dua raka’at. Maka jika orang melakukan shalat tarawih 20 raka’at dengan satu salam, hukumnya tidak sah; baik dia duduk atau tidak pada permulaan setiap dua raka’at”. Jadi menurut para ulama’ Syafi’iyyah, shalat tarawih itu harus dilakukan dua raka’at dua raka’at dan salam pada permulaan setiap dua raka’at.

    Adapun ulama’ madzhab Hanafi berpendapat: “Jika seseorang melakukan shalat empat raka’at dengan satu salam, maka empat raka’at tersebut adalah sebagai ganti dari dua raka’at menurut kesepakatan mereka. Adapun jika seseorang melakukan shalat lebih dari empat raka’at dengan satu salam, maka ke absahannya diperselisihkan. Ada yang berpendapat sebagai ganti dari raka’at yang genap dari shalat tarawih, dan ada yang berpendapat tidak sah”.

    Para ulama’ dari madzhab Hambali berpendapat bahwa shalat seperti tersebut sah tetapi makruh dan dihitung duapuluh raka’at. Sedang para ulama madzhab Maliki berpendapat:”Shalat yang demkian itu sah dan dihitung duapuluh raka’at. Dan orang yang melakukan shalat demikian itu adalah orang yang meninggalkan kesunnatan tasyahhud dan kesunnatan salam pada setiap dua raka’at; dan yang demikian itu adalah makruh”. Rasulullah saw. bersabda:

    “Shalat malam itu dua raka’at, dua raka’at. Maka jika salah seorang dari kamu sekalian khawatir akan shubuh, maka dia shalat satu raka’at yang menjadi witir baginya dari shalat yang telah dia lakukan”.

    Dan yang menunjukkan bahwa bilangan shalat tarawih 20 raka’at selain dari dalil-dalil tersebut di atas, adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Humaid dan At Thabrani dari jalan Abu Syaibah bin Usman dari Al Hakam dari Muqassim dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah saw. telah melakukan shalat pada bulan Ramadlan 20 raka’at dan witir.

    === Wallohu a’lam bish-shawab ====

     
  • erva kurniawan 2:16 am on 2 June 2019 Permalink | Balas  

    Sholat Taraweh (4) 

    Sholat Taraweh (4)

    Mengapa 20 rakaat bukan 8 rakaat ? (4/5)

    Pengarang dari kitab “Al Fiqhu ‘Ala al Madzaahibil Arba’ah” menyatakan bahwa shalat tarawih itu adalah 20 raka’at menurut semua imam madzhab kecuali witir.

    Dalam kitab “Mizan” karangan Imam Asy-Sya’rani halaman 148 dinyatakan bahwa termasuk pendapat Imam Abu Hanifah, Asy-Syafi’i dan Ahmad, shalat tarawih itu adalah 20 raka’at. Imam Asy-Syafi’i berkata: “20 raka’at bagi mereka itu adalah lebih saya sukai!”. Dan sesungguhnya shalat tarawih dengan berjama’ah itu adalah lebih utama beserta pendapat Imam Malik dalam salah satu riwayat dari beliau, bahwa shalat tarawih itu adalah 36 raka’at.

    Dalam kitab “Bidaayatul Mujtahid” karangan Imam Qurthubi juz I halaman 21 diterangkan bahwa shalat tarawih yang Umar bin Khattab mengumpulkan orang-orang untuk melakukannya dengan berjama’ah adalah disukai; dan mereka berbeda pendapat mengenai jumlah raka’at yang dilakukan orang-orang pada bulan Ramadlan. Imam Malik dalam salah satu dari kedua pendapat beliau, Imam Abu Hanifah, Imam As Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal memilih 20 raka’at selain shalat witir.

    Pada pokoknya Imam Madzhab Empat tersebut di atas memilih bahwa shalat tarawih itu adalah 20 raka’at selain shalat witir. Sedang orang yang berpendapat bahwa shalat tarawih itu adalah 8 (delapan) raka’at adalah menyalahi dan menentang terhadap apa yang telah mereka pilih. Dan sebaiknya pendapat orang ini dibuang dan tidak usah diperhatikan, karena tidak termasuk golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, yaitu golongan yang selamat, yang mengikuti sunnah Rasulullah saw. dan para shahabat beliau.

    Akan tetapi ada yang berpendapat bahwa shalat tarawih delapan raka’at itu adalah berdasarkan hadits ‘A’isyah ra. sebagaimana disebutkan di muka.

    Hadits tersebut tidak sah untuk dijadikan dasar shalat tarawih, karena maudlu’ dari hadits tersebut apa yang nampak jelas adalah shalat witir. Dan sebagaimana kita ketahui, shalat witir itu paling sedikit adalah satu raka’at dan paling banyak adalah sebelas raka’at.

    Dan Rasulullah saw. pada waktu itu melakukan shalat sesudah tidur empat raka’at dengan dua salam tanpa disela, lalu melakukan shalat empat raka’at dengan dua salam tanpa disela, kemudian melakukan shalat tiga raka’at dengan dua salam juga tanpa disela.

    Yang menunjukkan bahwa hadits ‘A’isyah ra. ini adalah shalat witir:

    1.. Ucapan ‘A’isyah:”Apakah engkau tidur sebelum engkau melakukan witir?” Sesungguhnya shalat tarawih itu dikerjakan sesudah shalat isyak dan sebelum tidur.

    2.. Sesungguhnya shalat tarawih itu tidak didapati pada selain bulan Ramadlan.

    Dengan demikian, maka sudah tidak ada dalil yang menentang kebenaran shalat tarawih 20 raka’at. Imam Al-Qasthalani dalam kitab “Irsyadus Saarii” syarah dari Shahih Bukhari berkata: “Apa yang sudah diketahui, yaitu apa yang dipakai oleh “jumhur ulama'” adalah bahwa bilangan / jumlah raka’at shalat tarawih itu 20 raka’at dengan sepuluh kali salam, sama dengan lima kali tarawih yang setiap tarawih empat raka’at dengan dua kali salam selain witir, yaitu tiga raka’at.

    (Bersambung)

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 1 June 2019 Permalink | Balas  

    Sholat Taraweh (3) 

    Sholat Taraweh (3)

    Mengapa 20 rakaat bukan 8 rakaat ? (3/5)

    Telah diriwayatkan dari Sayyidah A’isyah ra. bahwa Nabi Muhammad saw. keluar sesudah tengah malam pada bulan Ramadhan dan beliau melakukan shalat di masjid, maka para shahabat melakukan shalat dengan shalat beliau. Lalu pada pagi harinya para shahabat tersebut memperbincangkan shalat mereka dengan Rasulullah saw., sehingga pada malam kedua orang bertambah banyak. Kemudian Nabi saw. melakukan shalat dan orang-orang melakukan shalat dengan shalat beliau. Pada malam ketiga tatkala orang-orang bertambah banyak sehingga masjid tidak mampu menapung para jama’ah, Rasulullah saw. tidak keluar pada para jama’ah sehingga beliau keluar untuk melakukan shalat shubuh. Dan setelah beliau shalat shubuh,beliau menghadap kepada para jama’ah dan bersabda: “Sesungguhnya tidaklah dikhawatirkan atas kepentingan kalian tadi malam; akan tetapi aku takut apabila shalat malam itu diwajibkan atas kamu sekalian, sehingga kalian tidak mampu melaksanaknnya !”.

    Kemudian Rasulullah saw. wafat dan keadaan berjalan demikian pada zaman kekhalifahan Abu Bakar dan permulaan kekhalifahan Umar bin Khattab ra. Kemudian Khalifah Umar bin Khattab ra. mengumpulkan orang-orang laki-laki untuk berjama’ah shalat tarawih dengan diimami oleh Ubai bin Ka’ab dan orang-orang perempuan berjama’ah dengan diimami oleh Usman bin Khatsamah. Oleh karena itu Khalifah Usman bin Affan berkata pada masa pemerintahan beliau: “Semoga Allah menerangi kubur Umar sebagaimana Umar telah menerangi masjid-masjid kita”. Yang dikehendaki oleh hadits ini adalah bahwa Nabi saw. keluar dalam dua malam saja.

    Menurut pendapat yang masyhur adalah bahwa Rasulullah saw. keluar pada para shahabat untuk melakukan shalat tarawih bersama mereka tiga malam, yaitu tanggal 23, 25 dan 27, dan beliau tidak keluar pada mereka pada malam 29. Sesungguhnya Rasulullah saw tidak tiga malam berturut-turut adalah karena kasihan kepada para shahabat. Dan beliau shalat bersama para shahabat delapan raka’at; tetapi beliau menyempurnakan shalat 20 raka’at di rumah beliau dan para shahabat menyempurnakan shalat di rumah mereka 20 raka’at, dengan bukti bahwa dari mereka itu didengar suara seperti suara lebah. Sesungguhnya Nabi saw. tidak menyempurnakan bersama para shahabat 20 raka’at di masjid adalah karena kasihan kepada mereka.

    Dari hadits ini menjadi jelas, bahwa jumlah shalat tarawih yang mereka lakukan itu tidak terbatas hanya delapan raka’at, dengan bukti bahwa mereka menyempurnakannya di rumah-rumah mereka. Sedang pekerjaan Khalifah Umar ra. telah menjelaskan bahwa jumlah raka’atnya adalah duapuluh, pada sa’at Umar ra. mengumpulkan orang-orang di masjid dan para shahabat menyetujuinya serta tidak didapati seorangpun dari orang-orang sesudah beliau dari para Khulafa’ur Rasyidun yang berbeda dengan Umar. Dan mereka terus menerus melakukan shalat tarawih dengan berjama’ah 20 raka’at. Dalam hal ini Nabi Muhammad saw. telah bersabda:

    “Wajib atas kamu sekalian mengikuti sunnahku dan sunnah dari Al Khulafa’ur Rasyidun yang telah mendapat petunjuk; dan gigitlah sunnah-sunnah tersebut dengan gigi geraham (berpegang teguhlah kamu sekalian pada sunnah-sunnah tersebut). HR Abu Dawud

    Nabi Muhammad saw. juga pernah bersabda sebagai berikut:

    “Ikutlah kamu sekalian dengan kedua orang ini sesudah aku mangkat, yaitu Abu Bakar dan Umar”. HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah.

    Telah diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab telah memerintahkan Ubai dan Tamim Ad Daari melakukan shalat tarawih bersama orang-orang sebanyak 20 raka’at. Dan Imam Al Baihaqi telah meriwayatkan dengan isnad yang shahih, bahwa mereka melakukan shalat tarawih pada masa pemerintahan Umar bin Khattab 20 raka’at, dan menurut satu riwayat 23 raka’at. Dan pada masa pemerintahan Usman bin Affan juga seperti itu, sehingga menjadi ijma’. Dalam satu riwayat, Ali bin Abi Talib ra. mengimami orang-orang dengan 20 raka’at dan shalat witir dengan tiga raka’at.

    Imam Abu Hanifah telah ditanya tentang apa yang telah dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab ra., maka beliau berkata:”Shalat tarawih itu adalah sunnat mu’akkadah. Dan Umar ra. tidaklah menentukan bilangan 20 raka’at tersebut dari kehendaknya sendiri. Dalam hal ini beliau bukanlah orang yang berbuat bid’ah. Dan beliau tidak memerintahkan shalat 20 raka’at, kecuali berasal dari sumber pokoknya yaitu dari Rasulullah saw.”

    Khalifah Umar bin Khattab ra. telah membuat sunnah dalam hal shalat tarawih ini dan telah mengumpulkan orang-orang dengan diimami oleh Ubai bin Ka’ab, sehinggaUbai bin Ka’ab melakukan shalat tarawih dengan berjama’ah, sedangkan para shahabat mengikutinya. Di antara para shahabat yang mengikuti pada waktu itu terdapat: Usman bin ‘Affan, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud, ‘Abbas dan puteranya, Thalhah, Az Zubair, Mu’adz, Ubai dan para shahabat Muhajirin dan shahabat Ansor lainnya ra. Dan pada waktu itu tidak ada seorangpun dari para shahabat yang menolak atau menentangnya, bahkan mereka membantu dan menyetujuinya serta memerintahkan hal tersebut. Dalam hal ini Nabi Muhammad saw. pernah bersabda:

    “Para shahabatku adalah bagaikan bintang-bintang di langit. Dengan yang mana saja dari mereka kamu sekalian mengikuti, maka kamu sekalian akan mendapatkan petunjuk”.

    Memang, pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz ra. yang pada waktu itu beliau mengikuti orang Madinah, bilangan shalat tarawih itu ditambah dan dijadikan 36 raka’at. Akan tetapi tambahan tersebut dimaksudkan untuk menyamakan keutamaan dengan penduduk Makkah; karena penduduk Makkah melakukan thawaf di Baitullah satu kali sesudah shalat empat raka’at, artinya dua kali salam. Maka Umar bin Abdul Aziz ra. yang pada waktu itu mengimami para jama’ah berpendapat untuk melakukan shalat empat raka’at dengan dua kali salam sebagai ganti dari thawaf.

    Ini adalah dalil dari kebenaran ijtihad dari para ulama’ dalam menambahi apa yang telah datang dari ibadah yang telah disyari’atkan, karena sama sekali tidak perlu diragukan, bahwa setiap orang diperbolehkan untuk melakukan shalat sunnat semampu mungkin pada waktu malam atau siang hari, kecuali pada waktu-waktu yang dilarang untuk melakukan shalat.

    (Bersambung)

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 31 May 2019 Permalink | Balas  

    Sholat Taraweh (2) 

    Sholat Taraweh (2)

    Mengapa 20 rakaat bukan 8 rakaat ? (2/5)

    Syekh Muhammad bin ‘Allan dalam kitab “Daliilul Faalihiin” jilid III halaman 659 menerangkan bahwa hadits di atas adalah hadits tentang shalat witir, karena shalat witir itu paling banyak hanya sebelas raka’at, tidak boleh lebih. Hal itu terlihat dari ucapan A’isyah bahwa Nabi saw. tidak menambah shalat, baik pada bulan Ramadlan atau lainnya melebihi sebelas raka’at. Sedang shalat tarawih atau “qiyamu Ramadlan” hanya ada pada bulan Ramadlan saja.

    Adapun ucapan A’isyah “beliau shalat empat raka’at dan anda jangan bertanya tentang kebagusan dan panjangnya”, tidaklah berarti bahwa beliau melakukan shalat empat raka’at dengan satu kali salam. Sebab dalam hadits yang disepakati keshahihannya oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar ra.

    Nabi bersabda:

    “Shalat malam itu dua raka’at, dua raka’at, maka jika kamu khawatir akan shubuh, shalatlah witir satu raka’at”.

    Dalam hadits lain yang disepakati keshahihannya oleh Bukhari dan Muslim, Ibnu Umar juga berkata :

    “Adalah Nabi saw. melakukan shalat dari waktu malam dua raka’at dua raka’at, dan melakukan witir dengan satu rakaat”.

    Pada masa Rasulullah saw. dan masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar As Shiddiq, shalat tarawih itu dilaksanakan pada waktu tengah malam, dan namanya bukan shalat tarawih, melainkan “qiyaamu Ramadlaan” (Shalat pada malam bulan Ramadlan).

    Karena nama “tarawih” itu diambil dari arti “istirahat” yang dilakukan setelah melakukan shalat empat raka’at. Disamping itu perlu kita ketahui, bahwa pelaksanaan shalat tarawih itu di Masjid al Haram di Kota Makkah sekarang ini adalah 20 raka’at dengan dua raka’at satu salam.

    Almarhum KH. Ali Ma’sum Krapyak Jogyakarta, dalam bukunya yang berjudul “Hujjatu Ahlis Sunnah Wal Jama’ah” halaman 24 dan 40 menerangkan tentang shalat “SHALAT TARAWIH” yang artinya kurang lebih sebagai berikut:

    a.. Shalat tarawih itu, meskipun dalam hal ini terdapat perbedaan, namun sepatutnya tidak boleh ada saling mengingkari terhadap kepentingannya. Shalat tarawih itu menurut kami, orang-orang yang bermadzhab Syafi’i, bahkan dalam madzhab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah duapuluh raka’at. Shalat tarawih ini hukumnya adalah sunnat mu’akkad bagi setiap laki-laki dan wanita, menurut madzhab Hanafi, Syafi’i, Hambali dan Maliki.

    b.. Shalat tarawih ini disunnatkan untuk dilakukan dengan berjama’ah bagi setiap muslim, menurut madzhab Syafi’i dan Hambali. Madzhab Maliki berpendapat bahwa berjama’ah dalam shalat tarawih itu hukumnya mandub (derajatnya di bawah sunnat), sedang madzhab Hanafi berpendapat bahwa berjama’ah dalam shalat tarawih itu hukumnya sunnat kifayah bagi penduduk kampung, sehingga apabila ada sebagian dari penduduk kampung tersebut telah melaksanakan dengan berja ma’ah, maka lainnya gugur dari tuntutan.

    c.. Para imam madzhab telah menetapkan kesunnatan shalat tarawih berdasarkan perbuatan Nabi Muhammad saw. Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan hadits sebagai berikut:

    “Adalah Nabi saw. keluar pada waktu tengah malam pada malam-malam Ramadlan, yaitu pada tiga malam yang terpisah: malam tanggal 23, 25 dan 27. Beliau shalat di masjid dan orang-orang shalat seperti shalat beliau di masjid. Beliau shalat dengan mereka delapan raka’at, artinya dengan empat kali salam sebagaimana keterangan mendatang, dan mereka menyempurnakan shalat tersebut di rumah-rumah mereka, artinya sehingga shalat tersebut sempurna 20 raka’at menurut keterangan mendatang. Dari mereka itu terdengar suara seperti suara lebah”.

    Dari hadits ini jelaslah bahwa Nabi Muhammad saw. telah mensunnatkan bagi ummat Islam shalat tarawih dan berjama’ah pada shalat tarawih tersebut, akan tetapi beliau tidak melakukan shalat dengan para sahabat sebanyak 20 raka’at sebagaimana amalan yang berlaku sejak zaman shahabat dan orang-orang sesudah mereka sampai sekarang.

    (Bersambung)

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 30 May 2019 Permalink | Balas  

    Sholat Taraweh (1) 

    Sholat Taraweh (1)

    Mengapa 20 rakaat bukan 8 rakaat ? (1/5)

    Sayyid Ali Fikri dalam bukunya “Khulashatul Kalam fii Arkaanil Islam” halaman 114 menuturkan tentang shalat tarawih sebagai berikut:

    a.. Shalat tarawih itu hukumnya sunnat mu’akkad (sunnat yang hukumnya mendekati wajib) menurut para Imam Madzhab pada malam-malam bulan Ramadlan. Waktunya adalah setelah shalat Isyak sampai terbit fajar; dan disunnatkan shalat witir sesudahnya.

    b.. Shalat tarawih itu disunnatkan beristirahat sesudah tiap adalah dua puluh raka’at dan setiap dua raka’at satu kali salam; dan empat raka’at selama cukup untuk melakukan shalat empat raka’at. Shalat tarawih ini disunnatkan bagi orang laki-laki dan perempuan.

    c.. Cara melakukan shalat tarawih adalah seperti shalat shubuh, artinya setiap dua raka’at satu salam; dan shalat tarawih ini tidak sah tanpa membaca Fatihah dan disunnatkan membaca ayat atau surat pada setiap raka’at.

    Hikmah dari shalat tarawih ini adalah untuk menguatkan jiwa, mengistirahatkan dan menyegarkannya guna melakukan keta’atan; dan juga untuk memudahkan mencernak makanan sesudah makan malam. Karena apabila ada orang sesudah berbuka puasa lalu tidur, maka makanan yang ada dalam perut besarnya tidak tercernak, sehingga dapat mengganggu kesehatannya; kesegaran jasmaninya menjadi lesu dan rusak.

    Adapun orang yang pertama kali mengumpulkan orang-orang muslim untuk melakukan shalat tarawih dengan berjama’ah dengan hitungan dua puluh raka’at adalah Khalifah Umar bin Khattab ra. dan para shahabat Nabi pada waktu itu menyetujuinya. Dan pekerjaan tersebut berlangsung pada masa pemerintahan Khalifah Usman dan Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. Dalam hal ini Rasulullah saw. telah bersabda:

    “Wajib atas kamu sekalian mengikuti sunnahku dan sunnah dari Al Khulafa’ur Rasyidin”.

    Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra. telah menambah jumlah raka’atnya dan menjadikannya 36 (tiga puluh enam raka’at). Tambahan ini beliau maksudkan untuk menyamakan dengan keutamaan dan pahala penduduk Makkah. Karena penduduk Makkah setiap kali selesai melakukan shalat empat raka’at, mereka melakukan thawaf di Ka’bah. Jadi Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra. melakukan shalat empat raka’at sebagai ganti dari satu kali thawaf agar dapat memperoleh pahala dan ganjaran.

    Berdasarkan sunnah dari Khalifah Umar bin Khattab tersebut di atas, maka :

    1.. Menurut madzhab Hanafi, Syafi’i dan Hambali, jumlah shalat tarawih itu adalah duapuluh raka’at selain shalat witir.

    2.. Menurut madzhab Maliki, jumlah shalat tarawih itu adalah 36 (tigapuluh enam) raka’at, karena mengikuti sunnah dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

    Adapun orang yang melakukan shalat tarawih 8 (delapan) raka’at dengan witir 3 (tiga) raka’at, adalah mengikuti hadits yang diriwayatkan dari Sayyidah A’isyah yang berbunyi sebagai berikut:

    “Tiadalah Rasulullah saw. menambah pada bulan Ramadlan dan tidak pula pada bulan lainnya atas sebelas raka’at . Beliau shalat empat raka’at dan jangan anda bertanya tentang kebagusan dan panjangnya. Kemudian beliau shalat empat raka’at dan jangan anda bertanya tentang kebagusan dan panjangnya. Kemudian beliau shalat tiga raka’at. Kemudian aku (A’isyah) berkata: “Wahai Rasulullah, adakah tuan tidur sebelum shalat witir ?” Kemudian beliau bersabda: “Wahai A’isyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, sedang hatiku tidak tidur !”

    (Bersambung)

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 29 May 2019 Permalink | Balas  

    Sejenak Bersama Pemuda 

    Sejenak Bersama Pemuda

    Wahai pemuda Islam! Jalanmu penuh rintangan, laut jiwamu dalam tak berhingga. Puasa bagimu merupakan benteng penahan. Tidak seorang pun yang mampu kecuali mereka yang perkasa, terpercaya, penuh waspada serta mawas diri, serius, tangkas, dan rela berkorban. Peliharalah lidahmu, karena tidak ada sesuatu pun yang dapat membuat manusia tersungkur ke dalam api neraka kecuali karena buah mulut mereka sendiri. Jangan berghibah, kendalikanlah matamu dari pandangan was-was al-khonnas

    Bukankah kamu tahu bahwa Rasul Saw pernah bersabda: “Siapa yang berpuasa, hendaklah mengendalikan pendengaran dan penglihatannya”. Oleh karena itu, jadikanlah ucapanmu berupa dakwah ilallah, pendengaranmu hanya untuk mengingat Allah. Dengan begitu di dalam dirimu terhimpunlah kesenangan dunia dan kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat.

    Sesungguhnya puasa zhohir ditandai dengan berakhirnya siang, yaitu ketika mulai tenggelamnya matahari di tempat istirahnya. Shoum kembali ke keadaan semula dengan rasa gembira tatkala berbuka. Ini dialami semua orang yang shoum. Akan tetapi puasa orang-orang yang muttaqin yang penuh keikhlasan, tidak berujung. Tidak berakhir dengan ghurub dan tidak dimulai dengan syuruq. Tidak dapat dihitung dengan bilangan jam dan tidak pula mempunyai batas waktu.

    Engkaulah pengendali yang terpercaya atas dirimu dan atas diri saudara-saudaramu. Itulah ‘amanah’ dari ujian itu. Bagaimana seandainya engkau melalaikannya, terlepas dari ceruk hatimu di tengah-tengah bersliwerannya berbagai godaan dan pemikat-pemikat? Apakah akan kau biarkan berlalu dan bahkan terlepas dari dirimu? Tidakkah kau merasa perlu kembali memperhatikan janjimu kepada Allah, yang mendatangkan pahala begitu besar? Ialah amanah puasa yang sebenar-benarnya.

    Wahai pemuda yang amil! Kita berpuasa jika telah melihat bulan. Tetapi sesungguhnya yang kuinginkan darimu wahai pemuda, lebih dari sekadar itu, sedikit atau banyak di atas mustawa (level) itu tadi jika memang kamu mampu. Mintalah tolong kepada Maha Pemberi Kemampuan, yang memberi apa saja kepada orang yang dikehendakiNya. Aku mengharap agar engkau sebelum melihat bulan, melihat pencipta dari bulan itu. Sungguh, alangkah tingginya martabat ini, dimana banyak orang yang tak kuasa untuk meraihnya. Tetapi dengan izin Allahjugalah mereka berhasil melampauinya. Jika memang engkau telah berazam (bertekad), maka tawakkallah. Engkau, wahai pemuda!

    Jika berpuasa karena melihat bulan, memang akan mendapatkan pahala sebagaimana halnya kebanyakan orang. Akan tetapi, engkau mempersiapkan dirimu dengan shoum itu untuk beramal (bekerja) fi sabilillah, menyebarkan misi(risalah)Nya, mengemban dakwah, serta jihad yang begitu malah lagi mulia. Tempatkanlah segala sesuatunya di jalan Allah, pasti segala kesulitan yang ada akan menjadi ringan, dan agar kau selalu berada di dalam barisanNya.

    Aturlah barisan. Pemuda di samping pemuda, pemudi beriringan dengan pemudi, orang tua dengan orang tua. Aku menginginkan sekali agar engkau tidak sampai hanya sekedar melihat bulan, akan tetapi terus dan teruslah melangkah lebih jauh. Bersihkanlah hati dan sinarilah keyakinanmu itu, agar kau dapat menyaksikan pencipta dari bulan itu. Inilah rencana dan tujuan, awal dari akhir. KepadaNya jugalah kita kembalikan segala urusan.

    Sesungguhnya berpuasa karena melihat bulan memang betul menurut ibadah. Tetapi berpuasa dengan hati yang bersinar, ruh yang tenang, dan nurani yang cemerlang adalah puncak kekuatan ibadah yang dituntut dari dirimu. Yaitu irodah yang apabila disertai tekad dan ketulusan tujuan, sesaat pun tidak akan pernah menjadi lemah dan pudar. Tak sedetik pun mundur dari kewajiban-kewajiban yang sulit diukur dengan bilangan waktu itu. Irodah yang senantiasa beriringan dengan amal untuk menanggung kesulitan dengan hati yang penuh, bersama melakukan jihad di tengah beragamnya medan-medan jihad; jihadun-nafs, jihad melawan musuh yang zholim.

    Dengan melalui jenjang-jenjang jihad tersebut, dengan tangan bila mampu dan dengan lisan bila sanggup, berarti dirimu telah berhasil menjaga keutuhan imanmu. Hingga tak sesuatu pun yang bisa mengikisnya. Adalah sesuatu yang begitu menggembirakan saat kita berbuka, lapar telah terobati, haus telah pergi. Tetapi ada yang lebih dari sekedar itu, lebih menyenangkan dan menggembirakan, yaitu bertemunya diri kita dengan Allah pada hari perhitungan (Yaumul Hisab) kelak. Tidak mungkin dicapai tingkatan ini kecuali oleh orang-orang yang berpuasa karena Allah dan hanya untuk Allah.

    Sungguh, aku tidak berbicara dengan telinga kasatmu, tapi aku bicara dengan hati sanubarimu. Dengan persamaanmu yang paling dalam agar rela berkorban di jalan Allah, tanpa mengharap upah dan pamrih. Puasalah, karena Allah menghendakimu untuk berpuasa, hanya itu. Beban ini sungguh berat bagimu, tanggung jawab ini begitu besar, dan hambatannya penuh ranjau serta tingkat kesulitannya begitu tinggi. Tidak akan berhasil dan tidak akan menang terkecuali hatimu telah tergetar untuk hanya mengharap ridho Allah, serta perasaanmu telah terdorong untuk mendapatkan husnul khotimah.

    Aku menginginkan pengorbanan yang cukup mahal darimu, di mana kemenangan bagi dienmu tidak akan tercapai tanpa melalui jalan ini. Sungguh, sesungguhnya musuh-musuh Islam akan dengan segala daya upaya ingin menghancurkan segala yang berharga yang ada pada dirimu. Dan aku ingin sekali melihat dirimu berada pada posisi As-Shiddiqie, Syuhada dan Sholihin. Sungguh, apakah ada nilai yang lebih tinggi dari itu? Allah Yang Maha Pemurah mengetahui betul bahwa puasa itu sulit, tidak mungkin dapat dilakukan kecuali oleh orang-orang yang jiwanya bersih dari kotoran-kotoran dan virus.

    Karena rahmatNya jugalah Allah memberikan rukhshoh kepada orang yang sakit, orang yang bepergian dan orang yang haidh agar berbuka. Tetapi dengan syarat untuk mengqodhonya bila telah memungkinkan. Demikian alternatif daripada dispensasi yang diberikan Allah, seperti yang tertulis dari firmanNya:”Dan puasa kamu itu lebih baik untuk kamu, jika kamu mengetahui”. Berbukalah kamu dengan rukhshohKU, tidak mengapa, karena AKU senang. Manfaatkanlah rukhsohKU sebagaimana engkau melaksanakan azimahKU. Tetapi yang Kuinginkan darimu itu adalah yang lebih baik, lebih utama, lebih mulia dan lebih bermanfaat bagi kamu. Yaitu berpuasa, walaupun syarat-syarat rukhsoh itu telah terpenuhi, terkecuali orang yang haidh, tanpa ada penyakit yang menimbulkan bahaya.

    Diprioritaskannya ibadah puasa karena itu lebih baik bagi kita. Di mana letaknya kelebihan-kelebihannya itu? Hanya Allahlah yang tahu, ketika Dia mengakhiri ayat tersebut dengan firmanNya: “Jika kamu mengetahuinya”. Yang jelas dan pasti, kita mengakui bahwa yang terbaik itu adalah apa-apa yang dipilihkan Allah untuk kita. Karena hanya Dialah Yang Maha Mengetahui. Tidak ada satu pun yang dapat menyamai dan menyaingiNya. Maka untuk dirimu, pilihlah yang terbaik dan terindah, karena Allah tidak menjadikan kesulitan bagi kita di dalam beribadah kepadaNya. Kewajiban-kewajiban itu dibebankan sesuai dengan kemampuan yang ada pada diri masing-masing. Nah, disinilah medan uji coba itu.

    Di depan kita terbentang beberapa tingkatan-tingkatan kemuliaan beserta rangking-rangking penghargaanNya. Silahkan kita akan memilih yang mana, dan dimana kita mau menempatkan diri. Nun di sana ada Syurga Na’im, siapa saja yang memasukinya pasti merasa aman dan nyaman. Ada pula Al-Firdaus, Al-A’la. Dan ada pula syurga yang tak mungkin dapat dilukiskan oleh hanya sekedar pena. Kita saat ini hanya bisa menyebutkan nama-namanya saja, tidak lebih. Ada pun hakekat dari nama-nama yang begitu indah itu masih ada di dalam impian dan harapan. Sejenak saja, aku ingin selalu bersamamu wahai pemuda, di dunia ini banyak sekali hiasan pemikat yang berkaitan dengan tuntutan hidup. Tuntutan mencari popularitas, jabatan, harta dan kesenangan duniawi yang begitu semu dan melenakan. Maka dengan puasa, kuharapkan dirimu mampu untuk menahan semua pemikat-pemikat semu itu. Kembali bersama-sama menegakkan Islam.

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 28 May 2019 Permalink | Balas  

    Spiritualisme dan Materialisme Bulan Ramadhan 

    Spiritualisme Dan Materialisme.

    Puasa Ramadhan hakekatnya adalah melatih dan mengajari naluri (instink) manusia yang cenderung tak terkontrol. Naluri yang sulit terkotrol dan terkendali itu adalah naluri perut yang selalu menuntut untuk makan dan minum dan naluri seks yang selalu bergelora sehingga manusia kewalahan untuk mengekang dua naluri ini. Dalam sejarah manusia didapatkan dua falsafah yang dapat menguasai dan mendominasi kebanyakan manusia, yakni falsafah materialisme yang berorientsi pada materi saja, dan falsafah spiritualisme yang hanya berorientasi pada rohaniah saja.

    Orang-orang yang berorientasi materi – terdiri dari orang-orang atheis, komunis dan animisme dan berhalaisme – mereka hidup untuk dunianya saja. Mereka melepaskan kenhendak nalurinya dan tak pernah puas. Bila terpenuhi satu keinginannya, timbul keinginan baru begitu seterusnya. Sahwat manusia bila sudah terbakar maka akan mengheret dari sedikit ke yang banyak, dari banyak ke yang terbanyak. Allah mengecam orang-orang seperti ini:

    Biarkanlah mereka makan, dan bersenang-senang, mereka dilalaikan oleh angan-angan dan mereka akan mengetahui akibatnya“.(QS Al Hijr 3).

    Ayat lain: “Orang-orang kafir mereka bersenang-senang dan makan seperti binatang ternak makan. Dan neraka adalah tempat tinggalnya“.(QS Muhammad 12)

    Mereka hidup di dunia ini dalam keadaan kosong. Jiwanya dikuasai nafsunya, menghalalkan segala cara, dan dihari kiamat nanti mereka mendapat balasan yang setimpal. “Demikian itu bersenang-senang di bumi tanpa haq dan mereka sombong“.(QS Ghofir 75)

    Sementara filsafat spiritualisme yang didasarkan pada kerahiban, berpandangan bahwa pengabdian kepada Tuhan harus menekan naluri seks mengikis habis pendorong-pendorongnya dan mematikannya yang juga diatasi dengan mengurangi makan. Dengan kata lain mereka masuk dalam kancah peperangan melawan jasad manusiawinya. Filsafat ini dilakukan oleh gereja sejak dahulu kala. Orang-orang Barat dewasaa ini melepaskan diri dari filsafat gereja, mereka menggunakan waktu dan harta kekayaannya untuk memenuhi sahwat jasmaninya. Filsafat spiritualismenya telah lenyap, bahkan gereja-gereja sudah tiada lagi pengunjungnya walaupun pada hari Minggu. Seandainya masih ada, itu hanya sekelompok minoritas yang hidup di dunia Islam.

    Agama Islam adalah agama yang seimbang. Ia menghormati rohani dan jasmani sekaligus, ia memperhatikan nilai-nilai ideal manusia, tapi juga menjamin kebutuhan hidup naluri duniawinya asal dalam ruang keutamaan, ketaatan, kehormatan. Ia membolehkan manusia makan dengan catatan dalam batas kewajaran dan kehormatan. “Makanlah dan minumlah, berpakaianlah dan bersedekahlah tanpa berlebih-lebihan dan tidak diiringi kesombongan”.(HR Bukhari) Islam mengimbangkan antara ruhani dan jasmani. “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari lapar, karena sesungguhnya seburuk- buruk tidur adalah dalam keadaan lapar. Dan aku berlindung kepadamu dari khianat, karena itu adalah seburuk-buruk suasana kejiwaan”. (HR Abu Daud)

    Islam memperhatikan kehidupan dunia dan akherat, “Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertaqwa: Apa yang Tuhan kalian turunkan? mereka berkata: ‘Keuntungan bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini dan akherat lebih baik, dan sebaik tempat bagi orang-orang yang bertaqwa“.(QS AN Nahl 30)

    Ajaran Islam datang untuk mensucikan manusia, mengangkat darjatnya, ia mensucikan fisikalnya dengan mandi dan berwudlu, mensucikan jiwanya denga ruku’ dan sujud. Islam adalah jasmani dan ruhani, dunia dan akherat dengan falsafah puasa. Islam menegaskan bahwa manusia terdiri dari jasmani dan ruhani. Nilai manusia tidak terletak pada jasadnya, akan tetapi terletak pada ruhani yang menggerakkannya. Kerena ruhani inilah, Allah memerintahkan pada malaikatnya untuk hormat kepada manusia, karena ruhani datangnya dari Allah swt. Firman Allah: “Ingatlah diwaktu Tuhanmu berkata kepada para malaiakat: “Aku menciptakan manusia dari tanah, dan setelah aku sempurnakan aku tiupkan kedalamnya ruh-Ku, maka hormatlah kalian kepadanya“.(QS Shad 71-72)

    Setelah itu manusia ada yang mengenali siapa yang meniupkan ruh kapadanya dan yang memuliakannya atas seluruh makhluknya. Mereka itu akan bersyukkur kepada pemberi nikmat, sementara ada manusia-manusia yang melupakan Tuhannya, melupakan kepada dzat yang meniupkan ruh kepadanya.

    Demikian juga halnya kebudayaan. Kebudayaan yang memegang kendali alam sekarang ini telah melupakan Tuhannya, melalaikan haknya. Dunia ini tidak memiliki kebudayaan yang mengakui ruhani dan jasmani, berorientasi dunia dan akherat dan menentukan hak-hak manusia disamping hak-hak Allah -kebudayaan Islam-. Puasa Ramadhan sebagaimana Rasulullah jelaskan dapat mengangkat derajat pelakunya menjadi unsur rahmat, kedamaian, ketenangan, kesucian jiwa, aklaq mulia dan perilaku yang indah ditengah-tengah masyarakat. “Bila salah seorang dari kalian berpuasa maka hendaknya ia tidakberbicara buruk dan aib. dan jangan berbicara yang tiada manfaatnya dan bila dimaki seseorang maka berkatalah, ‘Aku berpuasa'”. (HR. Bukhori).

    Dalam bulan Ramadhan terdapat filsafat Islam yang mengaitkan dunia dengan akhirat, mengaitkan jasmani dan ruhani, mengaitkan bumi dengan langit, mengaitkan manusia dengan wahyu, dan mengaitkan dunia dengan kitab yang menerangi jalannya dan menetukan tujuannya

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 27 May 2019 Permalink | Balas  

    Panduan Shalat ‘Iedul Fithri Dan ‘Iedul Adhha 

    Panduan Shalat ‘Iedul Fithri Dan ‘Iedul Adhha

    1.. Diriwayatkan dari Abu Said, ia berkata: Adalah Nabi saw. pada hari raya ‘iedul fitri dan ‘iedul adhha keluar ke mushalla (padang untuk shalat), maka pertama yang beliau kerjakan adalah shalat, kemudian setelah selesai beliau berdiri menghadap kepada manusia sedang manusia masih duduk tertib pada shof mereka, lalu beliau memberi nasihat dan wasiat (khutbah) apabila beliau hendak mengutus tentara atau ingin memerintahkan sesuatu yang telah beliau putuskan,beliau perintahkan setelah selesai beliu pergi. (H.R: Al-Bukhary dan Muslim)

    2.. Telah berkata Jaabir ra: Saya menyaksikan shalat ‘ied bersama Nabi saw. beliau memulai shalat sebelum khutbah tanpa adzan dan tanpa iqamah, setelah selesai beliau berdiri bertekan atas Bilal, lalu memerintahkan manusia supaya bertaqwa kepada Allah, mendorong mereka untuk taat, menasihati manusia dan memperingakan mereka, setelah selesai beliau turun mendatangai shaf wanita dan selanjutnya beliau memperingatkan mereka. (H.R: Muslim)

    3.. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. ia berkata: Umar mendapati pakaian tebal dari sutera yang dijual, lalu beliau mengambilnya dan membawa kepada Rasulullah saw. lalu berkata: Yaa Rasulullah belilah pakaian ini dan berhiaslah dengannya untuk hari raya dan untuk menerima utusan. Maka beliaupun menjawab: Sesungguhnya pakaian ini adalah bagian orang-orang yang tidak punya bagian di akherat (yakni orang kafir). (H.R Bukhary dan Muslim)

    4.. Diriwayatkan dari Ummu ‘Atiyah ra. ia berkata: Rasulullah saw. memerintahkan kami keluar pada ‘iedul fitri dan ‘iedul adhha semua gadis-gadis, wanita-wanita yang haidh, wanita-wanita yang tinggal dalam kamarnya. Adapun wanita yang sedang haidh mengasingkan diri dari mushalla (tempat shalat ‘ied), mereka menyaksikan kebaikan dan mendengarkan da’wah kaum muslimin (mendengarkan khutbah). Saya berkata: Yaa Rasulullah bagaimana dengan kami yang tidak mempunyai jilbab? Beliau bersabda: Supaya saudaranya meminjamkan kepadanya dari jilbabnya. (H.R: Jama’ah)

    5.. Diriwayatkan dariAnas bin Malik ra. ia berkata: Adalah Nabi saw. Tidak berangkat menuju mushalla kecuali beliau memakan beberapa biji kurma, dan beliau memakannya dalam jumlah bilangan ganjil. (H.R: Al-Bukhary dan Muslim)

    6.. Diriwayatkan dari Buraidah ra. ia berkata: Adalah Nabi saw keluar untuk shalat ‘iedul fitri sehingga makan terlebih dahulu dan tidak makan pada shalat ‘iedul adhha sehingga beliau kembali dari shalat ‘ied. (H.R:Ibnu Majah, At-Tirmidzi dan Ahmad)

    7.. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata: Bahwasanya Nabi saw. Keluar untuk shalat ‘iedul fitri dua raka’at, tidak shalat sunah sebelumnya dan tidak pula sesudahnya. (H.R: Bukhary dan Muslim)

    8.. Diriwayatkan dari Jaabir ra. ia berkata: Adalah Nabi saw apabila keluar untuk shalat ‘ied ke mushalla, beliau menyelisihkan jalan (yakni waktu berangkat melalui satu jalan dan waktu kembali melalui jalan yang lain) (H.R: Bukhary)

    9.. Diriwayatkan dari Yazid bin Khumair Arrahbiyyi ra. ia berkata: Sesungguhnya Abdullah bin Busri seorang sahabat nabi saw. Keluar bersama manusia untuk shalat ‘iedul fitri atau ‘iedul adhha, maka beliau mengingkari keterlambatan imam, lalu berkata: Sesungguhnya kami dahulu (pada zaman Nabi saw.) pada jam-jam seperti ini sudah selesai mengerjakan shalat ‘ied. Pada waktu ia berkata demikian adalah pada shalat dhuha. (H.R: Abu Daud dan Ibnu Majah)

    10.. Diriwayatkan dari Abi Umair bin Anas, diriwayatkan dari seorang pamannya dari golongan Anshar, ia berkata: Mereka berkata: Karena tertutup awan maka tidak terlihat oleh kami hilal syawal, maka pada pagi harinya kami masih tetap shaum, kemudian datanglah satu kafilah berkendaraan di akhir siang, mereka bersaksi dihadapan Rasulullah saw.bahwa mereka kemarin melihat hilal. Maka Rasulullah saw. memerintahkan semua manusia (ummat Islam) agar berbuka pada hari itu dan keluar menunaikan shalat ‘ied pada hari esoknya. (H.R: Lima kecuali At-Tirmidzi)

    11.. Diriwayatkan dari Azzuhri, ia berkata: Adalah manusia (para sahabat) bertakbir pada hari raya ketika mereka keluar dari rumah-rumah mereka menuju tempat shalat ‘ied sampai mereka tiba di mushalla (tempat shalat ‘ied) dan terus bertakbir sampai imam datang, apabila imam telah datang, mereka diam dan apabila imam ber takbir maka merekapun ikut bertakbir. (H.R: Ibnu Abi Syaibah)

    12.. Diriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud ra. bertakbir pada hari-hari tasyriq dengan lafadz sbb: (artinya): Allah maha besar, Allah maha besar, tidak ada Illah melainkan Allah dan Allah maha besar, Allah maha besar dan bagiNya segala puji. (H.R Ibnu Abi Syaibah dengan sanad shahih)

    13.. Diriwayatkan dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari neneknya, ia berkata: Sesungguhnya Nabi saw. bertakbir pada shalat ‘ied dua belas kali takbir. dalam raka’at pertama tujuh kali takbir dan pada raka’at yang kedua lima kali takbir dan tidak shalat sunnah sebelumnya dan juga sesudahnya. (H.R: Amad dan Ibnu Majah)

    14.. Diriwayatkan dari Samuroh, ia berkata: Adalah Nabi saw. Dalam shalat kedua hari raya beliau membaca: Sabihisma Rabbikal A’la dan hal ataka haditsul ghosiah. (H.R: Ahmad)

    15.. Diriwayatkan dari Abu Waqid Allaitsi, ia berkata: Umar bin Khaththab telah menanyakan kepadaku tentang apa yang dibaca oleh Nabi saw. Waktu shalat ‘ied . Aku menjawab: beliau membaca surat (Iqtarabatissa’ah) dan Qaaf walqur’anul majid). (H.R: Muslim)

    16.. Diriwayatkan dari Zaid bin Arqom ra. ia berkata: Nabi saw. Mendirikan shalat ‘ied, kemudian beliau memberikan ruhkshah / kemudahan dalam menunaikan shalat jum’at, kemudian beliau bersabda: Barang siapa yang mau shalat jum’ah, maka kerjakanlah. (H.R: Imam yang lima kecuali At-Tirmidzi)

    17.. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Nabi saw. Bersabda pada hari kamu ini, telah berkumpul dua hari raya (hari jum’ah dan hari raya), maka barang siapa yang suka shalat jum’ah, maka shalatnya diberi pahala sedang kami akan melaksanakan shalat jum’ah. (H.R: Abu Daud)

    KESIMPULAN

    Hadits-hadits tersebut memberi pelajaran kepada kita tentang adab-adab shalat hari raya sbb:

    Pakaian

    Pada saat mendirikan shalat kedua hari raya disunnahkan memakai pakaian yang paling bagus. (dalil: 3)

    Makan

    a.. Sebelum berangkat shalat hari raya fitri disunnahkan makan terlebih dahulu, jika terdapat beberapa butir kurma , jika tidak ada maka makanan apa saja.

    b.. Sebaliknya pada hari raya ‘iedul adhha, disunnahkan tidak makan terlebih dahulu sampai selesai shalat ‘iedul adhha. (dalil: 5 dan 6)

    Mendengungkan takbir

    a.. Pada hari raya ‘iedul fitri, takbir didengungkan sejak keluar dari rumah menuju ke tempat shalat dan sesampainya di tempat shalat terus dilanjutkan takbir didengungkan sampai shalat dimulai. (dalil: 11)

    b.. Pada hari raya ‘iedul adhha, takbir boleh didengungkan sejak Shubuh hari Arafah (9 Dzul Hijjah) hingga akhir hari tasyriq (13 Dzul Hijjah). (dalil: 12)

    Jalan yang dilalui

    Disunnahkan membedakan jalan yang dilalui waktu berangkat shalat hari raya dengan jalan yang dilalui di waktu pulang dari shalat ‘ied (yakni waktu berangkat melalui satu jalan, sedang waktu pulang melalui jalan yang lain). (dalil: 8)

    Bila terlambat mengetahui tibanya hari raya

    Apabila datangnya berita tibanya hari raya sudah tengah hari atau petang hari, maka hari itu diwajibkan berbuka sedang pelaksanaan shalat hari raya dilakukan pada hari esoknya. (dalil: 10)

    Yang menghadiri shalat ‘ied

    Shalat ‘ied disunnahkan untuk dihadiri oleh orang dewasa baik laki-laki maupun wanita, baik wanita yang suci dari haidh maupun wanita yang sedang haidh dan juga kanak-kanak baik laki-laki maupun wanita. Wanita yang sedang haidh tidak ikut shalat, tetapi hadir untuk mendengarkan khutbah ‘ied. (dalil: 4)

    Tempat shalat ‘ied

    Shalat ‘ied lebih afdhal (utama) diadakan di mushalla yaitu suatu padang yang di sediakan untuk shalat ‘ied, kecuali ada uzur hujan maka shalat diadakan di masjid. Mengadakan shalat ‘ied di masjid padahal tidak ada hujan sementara lapangan (padang) tersedia, maka ini kurang afdhal karena menyelisihi amalan Rasulullah saw. yang selalu mengadakan shalat ‘ied di mushalla (padang tempat shalat), kecuali sekali dua kali beliau mengadakan di masjid karena hujan. (dalil: 1 dan 8)

    Cara shalat ‘ied

    Shalat ‘ied dua raka’at, tanpa adzan dan iqamah dan tanpa shalat sunnah sebelumnya dan sesudahnya. (dalil: 1, 2 dan 7)

    Pada raka’at pertama setelah takbiratul ihram sebelum membaca Al-Fatihah, ditambah 7 kali takbir. Sedang pada raka’at yang kedua sebelum membaca Al-Fatihah dengan takbir lima kali. (dalil 13)

    Setelah membaca Fatihah pada raka’at pertama di sunnahkan membaca surat (sabihisma Rabbikal a’la / surat ke 87) atau surat iqtarabatissa’ah / surat ke 54). Dan setelah membaca al-Fatihah pada raka’at yang kedua disunnahkan membaca surat (Hal Ataka Haditsul Ghaasyiyah / surat ke 88) atau membaca surat (Qaaf walqur’anul majid / surat ke 50). (dalil: 15)

    Setelah selesai shalat , imam berdiri menghadap makmum dan berkhutbah memberi nasihat-nasihat dan wasiat-wasiat, atau perintah-perintah penting.

    Khutbah hari raya ini boleh diadakan khusus untuk laki-laki kemudian khusus untuk wanita.

    Khutbah hari raya ini tidak diselingi duduk. (dalil: 1 dan 2)

    Waktu shalat

    Shalat ‘ied diadakan setelah matahari naik, tetapi sebelum masuk waktu shalat dhuha. (dalil: 9)

    Hari raya jatuh pada hari jum’ah Bila hari raya jatuh pada hari jum’ah, maka shalat jum’ah menjadi sunnah, boleh diadakan dan boleh tidak, tetapi untuk pemuka umat atau imam masjid jami’ sebaiknya tetap mengadakan shalat jum’at. (dalil: 16 dan 17)

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 26 May 2019 Permalink | Balas  

    Panduan Mengeluarkan Zakat Fitrah 

    Panduan Mengeluarkan Zakat Fitrah

    1.. Diriwayatkan dari Ibnu Umar t.ia berkata: Rasulullah telah mewajibkan zakat fithrah dari bulan Ramadhan satu sha’ dari kurma, atau satu sha’ dari sya’iir. atas seorang hamba, seorang merdeka, laki-laki, wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslilmin. (H.R: Al-Bukhary dan Muslim)

    2.. Diriwayatkan dari Umar bin Nafi’ dari ayahnya dari Ibnu Umar ia berkata ; Rasulullah telah mewajibkan zakat fithrah satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari sya’iir atas seorang hamba, merdeka, laki-laki, wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslimin dan beliau memerintahkan agar di tunaikan / dikeluarkan sebelum manusia keluar untuk shalat ‘ied. (H. R: Al-Bukhary, Abu Daud dan Nasa’i)

    3.. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata: Rasulullah saw telah memfardhukan zakat fithrah untuk membersihkan orang yang shaum dari perbuatan sia-sia dan dari perkataan keji dan untuk memberi makan orang miskin. Barang siapa yang mengeluarkannya sebelum shalat, maka ia berarti zakat yang di terima dan barang siapa yang mengeluarkannya sesudah shalat ‘ied, maka itu berarti shadaqah seperti shadaqah biasa (bukan zakat fithrah). (H.R: Abu Daud, Ibnu Majah dan Daaruquthni)

    4.. Diriwayatkan dari Hisyam bin urwah dari ayahnya dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. bersabda: Tangan di atas (memberi dan menolong) lebih baik daripada tangan di bawah (meminta-minta), mulailah orang yang menjadi tanggunganmu (keluarga dll) dan sebaik-baik shadaqah adalah yang di keluarkan dari kelebihan kekayaan (yang di perlukan oleh keluarga) (H.R: Al-Bukhary dan Ahmad)

    5.. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. ia berkata: Rasulullah sw. memerintahkan untuk mengeluarkan zakat fithrah unutk anak kecil, orang dewasa, orang merdeka dan hamba sahaya dari orang yang kamu sediakan makanan mereka (tanggunganmu). (H.R: Daaruquthni, hadits hasan)

    6.. Artinya: Diriwayatkan dari Nafi’ t. berkata: Adalah Ibnu Umar menyerahkan (zakat fithrah) kepada mereka yang menerimanya (panitia penerima zakat fithrah / amil) dan mereka (para sahabat) menyerahkan zakat fithrah sehari atau dua hari sebelum ‘iedil fitri. (H.R.Al-Bukhary)

    7.. Diriwayatkan dari Nafi’: Bahwa sesungguhnya Abdullah bin Umar menyuruh orang mengeluarkan zakat fithrah kepada petugas yang kepadanya zakat fithrah di kumpulkan (amil) dua hari atau tiga hari sebelum hari raya fitri. (H.R: Malik)

    Kesimpulan

    Hadits-hadits tersebut di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa:

    1.. Wajib bagi tiap kaum muslimin untuk mengeluarkan zakat fithrah untuk dirinya , keluarganya dan orang lain yang menjadi tanggungannya baik orang dewasa, anak kecil, laki-laki maupun wanita. (dalil: 1,2 dan 5)

    2.. Yang wajib mengeluarkan zakat fithrah adalah yang mempunyai kelebihan dari keperluan untuk dirinya dan keluarganya. (dalil: 4)

    3.. Sasaran zakat fithrah adalah dibagikan kepada kaum miskin dari kalangan kaum muslimin. (dalil: 3)

    4.. Zakat fithrah dikeluarkan dari makanan pokok (di negeri kita adalah beras) sebanyak lebih kurang 3,1 liter untuk seorang. (dalil: 1 dan 2)

    5.. Cara menyerahkan zakat fithrah adalah sebagai berikut:

    a.. Bila diserahkan langsung kepada yang berhak (fakir miskin muslim) waktu penyerahannya adalah sebelum shalat ‘ied yakni malam hari raya atau setelah shalat Shubuh sebelum shalat ‘iedul fitri. (dalil: 2 dan 3)

    b.. Bila diserahkan kepada amil zakat fithrah (orang yang bertugas mengumpulkan zakat fithrah), boleh diserahkan tiga,dua atau satu hari sebelum hari raya ‘iedul fitri. (dalil: 6 dan 7)

    6.. Zakat fithrah disyari’atkan untuk membersihkan pelaksanaan shaum Ramadhan dari perbuatan sia-sia dan perkataan keji di waktu shaum. (dalil: 3)

     
  • erva kurniawan 2:21 am on 25 May 2019 Permalink | Balas  

    Panduan I’tikaf Ramadhan 

    Panduan I’tikaf Ramadhan

    Diantara rangkaian ibadah-ibadah dalam bulan suci Ramadhan yang dangat dipelihara sekaligus diperintahkan (dianjurkan) oleh Rasulullah SAW adalah i’tikaf. setiap muslim dianjurkan (disunnatkan) untuk beri’tikaf di masjid, terutama pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. I’tikaf merupakan sarana meditasi dan kontemplasi yang sangat efektif bagi muslim dalam memelihara keislamannya khususnya dalam era globalisasi, materialisasi dan informasi kontemporer.

    Definisi I’tikaf

    Para ulama mendefinisikan i’tikaf yaitu berdiam atau tinggal di masjid dengan adab-adab tertentu, pada masa tertentu dengan niat ibadah dan taqorrub kepada Allah SWT . Ibnu Hazm berkata: I’tikaf adalah berdiam di masjid dengan niat taqorrub kepada Allah SWT pada waktu tertentu pada siang atau malam hari. (al Muhalla V/179)

    Hukum I’tikaf

    Para ulama telah berijma’ bahwa i’tikaf khususnya 10 hari terakhir bulan Ramadhan merupakan suatu ibadah yang disyariatkan dan disunnatkan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah SAW sendiri senantiasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama 10 hari. A’isyah, Ibnu Umar dan Anas ra meriwayatkan: “Adalah Rasulullah SAW beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan” (HR. Bukhori & Muslim) Hal ini dilakukan oleh beliau hingga wafat, kecuali pada tahun wafatnya beliau beri’tikaf selama 20 hari. Demikian halnya para shahabat dan istri beliau senantiasa melaksanakan ibadah yang amat agung ini. Imam Ahmad berkata: “Sepengetahuan saya tak seorang pun ulama mengatakan i’tikaf bukan sunnat”.

    Fadhilah ( keutamaan ) I’tikaf

    Abu Daud pernah bertanya kepada Imam Ahmad: Tahukan anda hadits yang menunjukkan keutamaan I’tikaf? Ahmad menjawab: tidak kecuali hadits lemah. Namun demikian tidaklah mengurangi nilai ibadah I’tikaf itu sendiri sebagai taqorrub kepada Allah SWT. Dan cukuplah keuatamaanya bahwa Rasulullah SAW, para shahabat, para istri Rasulullah SAW dan para ulama’ salafus sholeh senantiasa melakukan ibadah ini.

    Macam-macam I’tikaf

    I’tikaf yang disyariatkan ada dua macam; satu sunnah, dan dua wajib. I’tikaf sunnah yaitu yang dilakukan secara sukarela semata-mata untuk bertaqorrub kepada Allah SWT seperti i’tikaf 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Dan I’tikaf yang wajib yaitu yang didahului dengan nadzar (janji), seperti: “Kalau Allah SWT menyembuhkan sakitku ini, maka aku akan beri’tikaf.

    Waktu I’tikaf

    Untuk i’tikaf wajib tergantung pada berapa lama waktu yang dinadzarkan , sedangkan i’tikaf sunnah tidak ada batasan waktu tertentu. Kapan saja pada malam atau siang hari, waktunya bisa lama dan juga bisa singkat. Ya’la bin Umayyah berkata: ” Sesungguhnya aku berdiam satu jam di masjid tak lain hanya untuk i’tikaf”.

    Syarat-syarat I’tikaf

    Orang yang i’tikaf harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:

    1.. Muslim.

    2.. Berakal

    3.. Suci dari janabah (junub), haidh dan nifas.

    Oleh karena itu i’tikaf tidak diperbolehkan bagi orang kafir, anak yang belum mumaiyiz (mampu membedakan), orang junub, wanita haidh dan nifas.

    Rukun-rukun I’tikaf

    1.. Niat (QS. Al Bayyinah: 5), (HR: Bukhori & Muslim tentang niat)

    2.. Berdiam di masjid (QS. Al Baqoroh: 187)

    Disini ada dua pendapat ulama tentang masjid tempat i’tikaf . Sebagian ulama membolehkan i’tikaf disetiap masjid yang dipakai shalat berjama’ah lima waktu. Hal itu dalam rangka menghindari seringnya keluar masjid dan untuk menjaga pelaksanaan shalat jama’ah setiap waktu. Ulama lain mensyaratkan agar i’tikaf itu dilaksanakan di masjid yang dipakai buat shalat jum’at, sehingga orang yang i’tikaf tidak perlu meninggalkan tempat i’tikafnya menuju masjid lain untuk shalat jum’at. Pendapat ini dikuatkan oleh para ulama Syafi’iyah bahwa yang afdhol yaitu i’tikaf di masjid jami’, karena Rasulullah SAW i’tikaf di masjid jami’. Lebih afdhol di tiga masjid; masjid al-Haram, masjij Nabawi, dan masjid Aqsho.

    Awal dan akhir I’tikaf

    Khusus i’tikaf Ramadhan waktunya dimulai sebelum terbenam matahari malam ke 21. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: ” Barangsiapa yang ingin i’tikaf dengan ku, hendaklah ia beri’tikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan (HR. Bukhori). 10 (sepuluh) disini adalah jumlah malam, sedangkan malam pertama dari sepuluh itu adalah malam ke 21 atau 20. Adapun waktu keluarnya atau berakhirnya, kalau i’tikaf dilakukan 10 malam terakhir, yaitu setelah terbenam matahari, hari terakhir bulan Ramadhan. Akan tetapi beberapa kalangan ulama mengatakan yang lebih mustahab (disenangi) adalah menuggu sampai shalat ied.

    Hal-hal yang disunnahkan waktu i’tikaf

    Disunnahkan agar orang yang i’tikaf memperbanyak ibadah dan taqorrub kepada Allah SWT , seperti shalat, membaca al-Qur’an, tasbih, tahmid, tahlil, takbir, istighfar, shalawat kepada Nabi SAW, do’a dan sebagainya. Termasuk juga didalamnya pengajian, ceramah, ta’lim, diskusi ilmiah, tela’ah buku tafsir, hadits, siroh dan sebagainya. Namun demikian yang menjadi prioritas utama adalah ibadah-ibadah mahdhah. Bahkan sebagian ulama meninggalkan segala aktifitas ilmiah lainnya dan berkonsentrasi penuh pada ibadah-ibadah mahdhah.

    Hal-hal yang diperbolehkan bagi mu’takif (orang yang beri’tikaf)

    1.. Keluar dari tempat i’tikaf untuk mengantar istri, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW terhadap istrinya Shofiyah ra. (HR. Riwayat Bukhori Muslim)

    2.. Menyisir atau mencukur rambut, memotong kuku, membersihkan tubuh dari kotoran dan bau badan.

    3.. Keluar dari tempat keperluan yang harus dipenuhi, seperti membuang air besar dan kecil, makan, minum (jika tidak ada yang mengantarkannya), dan segala sesuatu yang tidak mungkin dilakukan di masjid. Tetapi ia harus segera kembali setelah menyelesaikan keperluanya .

    4.. Makan, minum, dan tidur di masjid dengan senantiasa menjaga kesucian dan kebersihan masjid.

    Hal-hal yang membatalkan I’tikaf

    1.. Meninggalkan masjid dengan sengaja tanpa keperluan, meski sebentar, karena meninggalkan salah satu rukun i’tikaf yaitu berdiam di masjid.

    2.. Murtad (keluar dari agama Islam) (QS. 39: 65)

    3.. Hilangnya akal, karena gila atau mabuk

    4.. Haidh

    5.. Nifas

    6.. Berjima’ (bersetubuh dengan istri) (QS. 2: 187). Akan tetapi memegang tanpa syahwat, tidak apa-apa sebagaimana yang dilakukan Nabi dengan istri- istrinya.

    7.. Pergi shalat jum’at (bagi mereka yang membolehkan i’tikaf di mushalla yang tidak dipakai shalat jum’at)

    I’tikaf bagi Muslimah

    I’tkaf disunnahkan bagi wanita sebagaimana disunnahkan bagi pria. Selain syarat-syarat yang disebutkan tadi, i’tikaf bagi kaum wanita harus memenuhi syarat-syarat lain sbb:

    1.. Mendapat izin (ridlo) suami atau orang tua. Hal itu disebabkan karena ketinggian hak suami bagi istri yang wajib ditaati, dan juga dalam rangka menghindari fitnah yang mungkin terjadi.

    2.. Agar tempat i’tikaf wanita memenuhi kriteria syari’at.

    Kita telah mengetahui bahwa salah satu rukun atau syarat i’tikaf adalah masjid. Untuk kaum wanita, ulama sedikit berbeda pendapat tentang masjid yang dapat dipakai wanita beri’tikaf. Tetapi yang lebih afdhol- wallahu ‘alam- ialah tempat shalat di rumahnya. Oleh karena bagi wanita tempat shalat dirumahnya lebih afdhol dari masjid wilayahnya. Dan masjid di wilayahnya lebih afdhol dari masjid raya. Selain itu lebih seiring dengan tujuan umum syari’at Islamiyah, untuk menghindarkan wanita semaksimal mungkin dari tempat keramaian kaum pria, seperti tempat ibadah di masjid. Itulah sebabnya wanita tidak diwajibkan shalat jum’at dan shalat jama’ah di masjid. Dan seandainya ke masjid ia harus berada di belakang. Kalau demikian, maka i’tikaf yang justru membutuhkan waktu lama di masjid , seperti tidur, makan, minum, dan sebagainya lebih dipertimbangkan. Ini tidak berarti i’tikaf bagi wanita tidak diperboleh di masjid. Wanita bisa saja i’tikaf di masjid dan bahkan lebih afdhol apabila masjid tersebut menempel dengan rumahnya, jama’ahnya hanya wanita, terdapat tempat buang air dan kamar mandi khusus dan sebagainya.

    Wallahu ‘alam.

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 24 May 2019 Permalink | Balas  

    Panduan Menggapai Lailatul Qodar 

    Panduan Menggapai Lailatul Qodar

    Muqadimah

    Sesudah disyariatkannya ibadah shaum, dan agar umat Islam dapat merealisasikan nilai taqwa, Allah SWT melengkapi nikmat-Nya dengan memberikan adanya “Lailat al qodr”. Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an pada ” Lailat al qodr”. Tahukah kalian apakah ” Lailat al qodr”?. Itulah malam yang lebih utama dari pada seribu bulan” (QS. Al Qodr: 1-3)

    Keutamaan Lailat al Qodr

    Ayat yang dikutip di atas jelas menunjukkan nilai utama dari ” Lailat al qodr”. Mengomentari ayat di atas Anas bin Malik ra menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan keutamaan disitu adalah bahwa amal ibadah seperti shalat, tilawah al-Qur’an, dan dzikir serta amal sosial (seperti shodaqoh dana zakat), yang dilakukan pada malam itu lebih baik dibandingkan amal serupa selama seribu bulan (tentu di luar malam lailat al qodr sendiri). Dalam riwayat lain Anas bin Malik juga menyampaikan keterangan Rasulullah SAW bahwa sesungguhnya Allah mengkaruniakan ” Lailat al qodr” untuk umatku, dan tidak memberikannya kepada umat-umat sebelumnya.

    Sementara berkenaan dengan ayat 4 surat al qodr, Abdullah bin Abbas ra menyampaikan sabda Rasulullah bahwa pada saat terjadinya lailat al qodr, para malaikat turun kebumi menghampiri hamba-hamba Allah yang sedang qiyam al lail, atau melakukan dzikir, para malaikat mengucapkan salam kepada mereka. Pada malam itu pintu-pintu langit dibuka, dan Allah menerima taubat dari para hambaNya yang bertaubat. Dalam riwayat Abu Hurairah ra, seperti dilaporkan oleh Bukhori, Muslim dan al Baihaqi, Rasulullah SAW juga pernah menyampaikan , “barangsiapa melakukan qiyam (shalat malam) pada lailat al qodr, atas dasar iman serta semata-mata mencari keridloan Allah, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa yang pernah dilakukannya”. Demikian banyaknya keutamaan lailat al qodr, sehingga Ibnu Abi Syaibah pernah menyampaikan ungkapan al Hasan al Bashri, katanya: ” Saya tidak pernah tahu adanya hari atau malam yang lebih utama dari malam yang lainnya, kecuali ‘ Lailat al qodr’, karena lailat al qodr lebih utama dari (amalan) seribu bulan”.

    Hukum “Menggapai” Lailat al Qodr.

    Memperhatikan pada arahan (taujih) Rasulullah SAW, serta contoh yang beliau tampilkan dalam upaya “menggapai” lailat al qodr, dalam hal ini misalnya Umar pernah menyampaikan sabda Rasulullah SAW: ” Barangsiapa mencari lailat al qodr, hendaknya ia mencarinya pada malam kedua puluh tujuh” (HR. Ahmad). Maka para ulama’ berkesimpulan bahwa berupaya menggapai lailat al qodr hukumnya sunnah.

    Kapankah terjadinya Lailat al Qodr

    Sesuai dengan firman Allah pada awal surat Al Qodr, serta pada ayat 185 surat Al Baqoroh, dan hadits Rasulullah SAW. Maka para ulama’ bersepakat bahwa ” Lailat al qodr” terjadi pada malam bulan Ramadhan. Bahkan seperti diriwayatkan oleh Ibnu Umar, Abu Dzar, dan Abu Hurairah, lailat al qodr bukannya sekali terjadi pada masa Rasulullah SAW saja, malainkan ia terus berlangsung pada setiap bulan Ramadhan untuk mashlahat umat Muhammad, sampai terjadinya hari qiyamat. Adapun tentang penentuan kapan persis terjadinya lailat al qodr, para ulama berbeda pendapat disebabkan beragamnya informasi hadits Rasulullah, serta pemahaman para shahabat tentang hal tersebut.

    Sebagaimana tersebut dibawah ini:

    1.. Lailat al qodr terjadi pada malam 17 Ramadhan, malam diturunkannya Al Qur’an. Hal ini disampaikan oleh Zaid bin Arqom, dan Abdullah bin Zubair ra. (HR. Ibnu Abi Syaibah, Baihaqi dan Bukhori dalam tarikh).

    2.. Lailat al qodr terjadi pada malam-malam ganjil disepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Diriwayatkan oleh Aisyah dari sabda Rasululah SAW: “Carilah lailat al qodr pada malam-malam ganjil disepuluh hari terakhir bulan Ramadhan” (HR. Bukhori, Muslim dan Baihaqi)

    3.. Lailat al qodr terjadi pada malam tanggal 21 Ramadhan, berdasarkan hadits riwayat Abi Said al Khudri yang dilaporkan oleh Bukhori dan Muslim.

    4.. Lailat al qodr terjadi pada malam tanggal 23 bulan Ramadhan, berdasarkan hadits riwayat Abdullah bin Unais al Juhany, seperti dilaporkan oleh Bukhori dan Muslim.

    5.. Lailat al qodr terjadi pada malam tanggal 27 bulan Ramadhan, berdasarkan hadits riwayat Ibnu Umar, seperti dikutip oleh Ahmad. Dan seperti diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, bahwa Umar bin al Khoththob, Hudzaifah serta sekumpulan besar shahabat, yakin bahwa lailat al qodr terjadi pada malam 27 bulan Ramadhan. Rasulullah SAW seperti diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, juga pernah menyampaikan kepada shahabat yang telah tua dan lemah tak mampu qiyam berlama-lama dan meminta nasehat kepada beliau kapan ia bisa mendapatkan lailat al qodr, Rasulullah SAW kemudian menasehati agar ia mencarinya pada malam ke 27 bulan Ramadhan (HR. Thabroni dan Baihaqi).

    6.. Seperti difahami dari riwayat Ibnu Umar dan Abi Bakrah yang dilaporkan oleh Bukhori dan Muslim, terjadinya lailat al qodr mungkin berpindah-pindah pada malam-malam ganjil sepanjang sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Sesuai dengan informasi terakhir ini, dan karena langka dan pentingnya lailat al qodr, maka selayaknya setiap muslim berupaya selalu mendapatkan lailat al qodr pada sepanjang sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

    Tanda-tanda terjadinya Lailat al qodr

    Seperti diriwayatkan Oleh Imam Muslim, Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: ” Pada saat terjadinya lailat al qodr itu, malam terasa jernih, terang, tenang, cuaca sejuk tidak terasa panas tidak juga dingin. Dan pada pagi harinya matahari terbit dengan jernih terang benderang tanpa tertutup sesuatu awan”.

    Apa yang perlu dilakukan pada lailat al qodr dan agar dapat menggapai lailat al qodr

    1.. Lebih bersungguh-sungguh dalam menjalankan semua bentuk ibadah pada hari-hari Ramadhan, menjauhkan diri dari semua hal yang dapat mengurangi keseriusan beribadah pada hari-hari itu. Dalam peribadatan ini juga dengan mengikutsertakan keluarga. Hal itulah yang dahulu dicontohkan Rasulullah SAW.

    2.. Melakukan i’tikaf dengan berupaya sekuat tenaga. Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.

    3.. Melakukan qiyamu al lail berjama’ah, sampai dengan rekaat terakhir yang dilakukan imam, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dzar ra.

    4.. Memperbanyak do’a memohon ampunan dan keselamatan kepada Allah dengan lafal: “Allahumma innaka ‘afuwun tuhibul afwa fa’fu ‘anni”. Hal inilah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada Aisyah ra ketika beliau bertanya: ‘ wahai Rasulullah, bila aku ketahui kedatangan lailat al qodr, apa yang mesti aku ucapkan”? (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi)

    Menggapai ” Lailat al qodr” bagi Muslimah

    Sebagaimana tersirat dari dialog Rasulullah SAW dengan Aisyah, istri beliau itu, maka mudah disimpulkan bahwa kaum muslimah-pun disyari’atkan dan diperbolehkan menggapai lailat al qodr . Dengan melakukan maksimalisasi ibadah yang memang diperbolehkan untuk dilakukan seorang muslimah.

    Demikian panduan ringkas ini, mudah-mudahan pada bulan Ramadhan tahun ini Allah memperkenankan kita meraih “Lailat al qodr”, malam yang utama dari 1000 bulan alias 83 tahun itu.

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 23 May 2019 Permalink | Balas  

    Panduan Shalat dan Shaum Dalam Bepergian 

    Panduan Shalat Dan Shaum Dalam Bepergian

    Hukum-hukum yang berkaitan dengan safar (perjalanan) ialah mengkoshor shalat, menjama’ shalat, menyapu sepatu saat wadhu’ selama tiga hari, berbuka di bulan Ramadhan, boleh tidak shalat jam’at dan sunnat ‘ied, shalat di atas kendaraan dan tayammum. Dalam kesempatan ini – insya Allah – akan dikemukakan lebih lanjut tentang ketentuan shalat dan shaum dalam safar, yang sekaligus menegaskan bahwa bahkan dalam keadaan safar (bepergian)pun Islam memberikan panduan agar umat selalu selamat dan sejahtera.

    Shalat Dalam Safar

    Berkenaan dengan shalat, illah (sebab) adanya perjalanan membolehkan hal-hal berikut :

    1.. Mengqoshor (memendekkan) shalat:

    a.. Pada dasarnya qoshor merupakan keringanan (rukhshoh) bagi orang yang bepergian (musafir), jika bukan untuk tujuan maksiat. Manyoritas ulama’ berkesimupulan bahwa qoshor adalah afdhol. Sebagaimana sunnah dan kebiasaan Rasulullah SAW kemudian para shahabat beliau. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dari Ibnu Umar Rasulullah SAW katanya: ” Aku sering menyertai Rasulullah SAW dan beliau menunaikan shalat yang asalnya empat rekaat menjadi dua rekaat, demikian pula Abu Bakar, Umar dan Ustman Rasulullah SAW.

    b.. Jarak perjalanan yang membolehkan qoshor adalah yang menurut ukuran urf di zamannya dan dikatagorikan safar atau bepergiaan/ melakukan perjalanan.

    c.. Persyaratan teknis melaksanakan qoshor, dikemukakan fuqoha’ sebagai berikut :

    1.. Bukan safar untuk maksiat, menurut mayoritas ulama’.

    2.. Mempunyai tujuan tempat tertentu dalam jarak qoshor

    3.. Telah keluar rumah dan wilayah dimana ia tinggal

    4.. Tidak berniat untuk tinggal menetap di tempat ia mengqoshor

    5.. Tidak menjadi makmun bagi imam yang tidak mengqoshor

    6.. Niat qoshor saat takbirotul ikhrom .

    2.. Menjama’ (mengumpulkan) shalat

    Menjama’ shalat dhuhur dengan ashar atau naghrib dengan isya’ dibolehkan dalam safar, baik dengan jama’ taqdim (didahulukan) maupun jama’ ta’khir (diakhirkan). Asal sudah berniat untuk safar boleh menjama’ taqdim menjelang keberangkatan tanpa keluar rumah terlebih dahulu. Sedang untuk jama’ ta’khir diharuskan berniat sejak tibanya waktu shalat pertama. Sesudah adzan untuk tiap shalat dilakukan iqomah (qomat) masing-masing. Dan antara kedua shalat yang dijama’ tidak diselingi dengan shalat sunnat.

    3.. Menjama’ dan mengqoshor shalat

    Selain kedua hal diatas dan disebabkan oleh alasan-alasan yang sama, syari’at Islam juga membolehkan adanya jama’ dan qoshor sekaligus, baik secara taqdim maupun ta’khir, yaitu dengan menjama’ qoshor antara shalat dhuhur dengan ashar, masing-masing dua reka’at dan menjama’ qoshor antara shalat maghrib (tetap 3 reka’at) dengan isya’ dua rekaat.

    4.. Shalat di atas kendaraan

    Jika tiba waktu shalat sedang di atas kendaraan dan tidak memungkinkan untuk berhenti dulu, maka boleh menunaikan shalat di atas kendaraan dengan tetap menghadap qiblat, minimal saat takbirotul ikhrom jika untuk sampai selesai shalat tidak memungkinkan. Dan jika sejak awal sudah tidak memungkinkan menghadap qiblat, boleh menunaikannya sesuai dengan arah kendaraan. Dan boleh sambil duduk jika tidak memungkinkan melaksanakannya sambil berdiri. Diriwayatkan dari Maemun bin Mahron dari Ibnu Umar RA. katanya: “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW bagaimana caranya shalat di atas kapal laut? jawab beliau : “Shalatlah berdiri kecuali jika dikhawatirkan akan tenggelam (karena oleng). Riwayat ad Daraquthni menurut syarat Bukhori dan Muslim.Asy Syaukani berkomentar: Diqiyaskan atas khawatir tenggelam, adanya udzur atau kesulitan lainnya termasuk kesulitan menghadap ke arah qiblat.

    Shaum Dalam Safar

    1.. Safar (bepergian) termasuk kondisi yang membolehkan ifthor atau berbuka, artinya boleh tidak menunaikan shaum meski hukumnya wajib, seperti shaum Ramadhan, shaum nadzar, dan kafarot. Sekalipun tetap ada ketentuan untuk mengganti (mengqodho’) di waktu lain. Dalil syar’i yang mengaturnya; Al-Qur’an suarat Allah SWT Baqoroh : 185: “… Maka barangsiapa yang sakit atau dalam safar, (jika berbuka) maka hendaklah menggantinya pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagi kamu sekalian dan tidak menghendaki kesulitan… “.

    2.. Ukuran safar yang populer dikalangan ulama’ adalah pada jarak perjalanan yang boleh mengqoshor shalat. Dan jika memperhatikan isyarat ayat, bahwa ” Allah menghendaki kemudahan bagi kamu sekalian dan tidak menghendaki kesulitan”, dapat difahami bahwa keringan (rukhshoh) dibolehkannya berbuka saat safar agar tidak terjadi kondisi yang menyulitkan (al usr) atau memberatkan (al masyaqqoh). Sebagaimana yang difahami oleh ulama Hanafiyah, Malikiyah dan Syafi’iyah.

    3.. Dengan mempertimbangkan (mura’at) terjadi tidaknya masyaqqoh, maka shaum dalam safar dapat dibedakan sebagai berikut:

    a.. Shaum lebih utama (afdhol) dari pada berbuka:

    Bagi orang yang kuat menjalaninya tanpa suatu masyaqqoh. Demikian pendapat jumhurul ulama’ sesuai dengan taujih ayat : ” …. Dan bahwa kamu sekalian melaksanakan shaum adalah lebih baik jika kamu sekalian mengetahui nilai keutamaannya” ( QS:2:184)

    Shaum lebih baik walaupun terasa sedikit berat, jika untuk mengqodho’nya akan terasa berat. Demikian difatwakan oleh Umar bin Abdul Aziz.

    Shaum lebih utama bagi yang sudah biasa dan rutin bepergian relatif jauh tanpa merasakan adanya rasa berat (masyaqqoh). Dalam soal masyaqqoh, kecuali fisik yang harus dipertimbangkan, tapi kondisi ruhiyah atau kejiwaan lebih menentukan. Adalah para shahabat Rasulullah SAW biasa tetap menjalani shaum walaupun dalam keadaan perang, tanpa merasakan adanya masyaqqoh yang berarti.

    b.. Berbuka lebih baik:

    Bagi orang yang kuat shaum tapi dikhawatirkan terganggu dengan rasa ujub (bangga) atau riya’. Sebagaimana difatwakan oleh Ibnu Umar RA. Imam Bukhori meriwayatkan hadits dari shahabat Anas RA bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada mereka yang berbuka ketika melayani mereka yang shaum: ” Orang-orang yang berbuka hari ini meraih pahala”.

    Demikian pula berbuka lebih baik bagi orang yang belum pernah mengambil rukhshoh (keringanan ini). Sebagaimana kesimpulan Asy Syaukani tentang hadits riwayat Muslim dan an Nasa’i bahwa shahabat Hamzah bin Amr as Aslami berkata kepada Rasulullah SAW : ya Rasulullah saya kuat menjalankan shaum dalam safar bolehkah saya lakukan ? jawab beliau : ” Ini merupakan rukhshoh dari Allah ta’ala, siapa yang mengambilnya adalah baik dan siapa yang ingin shaum tidak apa-apa”.

    Berbuka adalah afdhol bahkan shaum menjadi makruh, bagi yang memaksakan shaum diperjalanan yang terdapat masyaqqoh. Dalam kontek ini Rasulullah SAW bersabda tentang musafir yang tetap shaum dalam kepayahan sehingga dikerumuni dan diteduhi orang banyak: ” Tidak merupakan kebaikan (al birr) as shaum dalam safar “. Demikian Imam Bukhori menyimpulkan.

    Berbuka dalam safar lebih baik jika akan lebih kuat untuk mengadapi musuh dalam jihad.

    Bahkan berbuka menjadi wajib hukumnya apabila panglima jihad memerintahkan untuk berbuka demi kepentingan jihad

    Dalam kajian fiqhiyah, ulama’ menyim-pulkan sejumlah persyaratan untuk mengambil rukhshoh ifthor (berbuka) dalam safar. Yaitu :

    a.. Merupakan perjalanan yang halal atau mubah, bukan safar untuk tujuan maksiat

    b.. Perjalanan relatif jauh menurut ukuran zamannya

    c.. Tidak memulai perjalanan dalam keadaan shaum agar tidak sampai membatalkan amal ibadah yang sudah dimulai.

    Bukan merupakan perjalanan yang biasa dan rutin (seperti perjalanan supir) kecuali jika terjadi masyaqqoh. Para ulama’ cenderung bahwa untuk pengamalan sendiri memilih yang afdhol dan yang ahwath (lebih berhati-hati) dari pilihan yang ada. Wallahu ta’ala ‘alam.

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 22 May 2019 Permalink | Balas  

    Fiqih Shaum Bagi Muslimah 

    Fiqih Shaum Bagi Muslimah

    Muqoddimah

    Dalam surat Al-Baqoroh : 183, Allah SWT memerintahkan umat Islam melaksanakan shiyam, untuk mencapai derajat taqwa. Perintah ini adalah umum, baik untuk pria maupun wanita. Tetapi dalam perincian pelaksanaan shiyam, ada beberapa hukum khusus bagi wanita. Hal ini terjadi karena perbedaan fithrah yang ada pada wanita yang tidak dimiliki oleh pria. Dalam kajian ini- insya Allah- akan dibahas hukum-hukum yang berkaitan dengan wanita secara khusus.

    Panduan Umum

    1.. Wanita sebagaimana pria disyari’atkan memanfaatkan bulan suci ini untuk hal-hal yang bermanfaat, dan memperbanyak menggunakan waktu untuk beribadah. Seperti memperbanyak bacaan Al-Qur’an, dzikir, do’a, shodaqoh dan lain sebagainya, karena pada bulan ini amal sholeh dilipatgandakan pahalanya.

    2.. Mengajarkan kepada anak-anaknya akan nilai bulan Ramadhan bagi umat Islam, dan membiasakan mereka berpuasa secara bertahap (tadarruj), serta menerangkan hukum-hukum puasa yang bisa mereka cerna sesuai dengan tingkat kefahaman yang mereka miliki.

    3.. Tidak mengabiskan waktu hanya di dapur, dengan membuat berbagai variasi makanan untuk berbuka. Memang wanita perlu menyiapkan makanan, tetapi jangan sampai hal itu menguras seluruh waktunya, karena ia juga dituntut untuk mengisi waktunya dengan beribadah dan bertaqorrub kepada Allah.

    4.. Melaksanakan shalat pada waktunya (awal waktu) III. Hukum Berpuasa bagi Muslimah Berdasarkan umumnya firman Allah SWT (QS. Al-Baqoroh: 183) serta hadits Rasulullah SAW (HR.Bukhori & Muslim), maka para ulama’ ber-ijma’ bahwa hukum puasa bagi muslimah adalah wajib, apabila memenuhi syarat-syarat; antara lain: Islam, akil baligh, muqim, dan tidak ada hal-hal yang menghalangi untuk berpuasa.

    Wanita Shalat Tarawih, I’tikaf dan Lailat al Qodr

    Wanita diperbolehkan untuk melaksanakan shalat tarawih di masjid jika aman dari fitnah. Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian melarang wanita untuk mengunjungi masjid-masjid Allah ” (HR. Bukhori). Prilaku ini juga dalakukan oleh para salafush shaleh. Namun demikian, wanita diharuskan untuk berhijab (memakai busana muslimah), tidak mengeraskan suaranya, tidak menampakkan perhiasan- perhiasannya, tidak memakai wangi-wangian, dan keluar dengan izin (ridlo) suami atau orang tua. Shof wanita berada dibelakang shof pria, dan sebaik-baik shof wanita adalah shof yang di belakang (HR. Muslim).

    Tetapi jika ia ke masjid hanya untuk shalat, tidak untuk yang lainnya, seperti mendengarkan pengajian, mendengarkan bacaan Al-Qur’an (yang dialunkan dengan baik), maka shalat di rumahnya adalah lebih afdlol. Wanita juga diperbolehkan melakukan i’tikaf baik di masjid rumahnya maupun di masjid yang lain bila tidak menimbulkan fitnah, dan dengan mendapatkan izin suami, dan sebaiknya masjid yang dipakai i’tikaf menempel atau sangat berdekatan dengan rumahnya serta terdapat fasilitas khusus bagi wanita. Disamping itu wanita juga di perbolehkan menggapai ‘lailat al qodr’, sebagaimana hal tersebut dicontohkan Rasulullah SAW dengan sebagian isteri beliau. (Lebih lanjut lihat panduan tentang i’tikaf dan lailat al qodr).

    Wanita Haidh dan Nifas

    Shiyam dalam kondisi ini hukumnya haram.

    Apabila haid atau nifas keluar meski sesaat sebelum maghrib, ia wajib membatalkan puasanya dan mengqodo’nya (mengganti) pada waktu yang lain.

    Apabila ia suci pada siang hari, maka untuk hari itu ia tidak boleh berpuasa, sebab pada pagi harinya ia tidak dalam keadaan suci.

    Apabila ia suci pada malam hari Ramadhan meskipun sesaat sebelum fajar, maka puasa pada hari itu wajib atasnya, walaupun ia mandi setelah terbit fajar.

    Wanita Hamil dan Menyusui

    v Jika wanita hamil itu takut akan keselamatan kandungannya, ia boleh berbuka.

    v Apabila kekhawatiran ini terbukti dengan pemeriksaan secara medis dari dua dokter yang terpercaya, berbuka untuk ibu ini hukumnya wajib, demi keselamatan janin yang ada dikandungannya.

    v Apabila ibu hamil atau menyusui khawatir akan kesehatan dirinya, bukan kesehatan anak atau janin, mayoritas ulama’ membolehkan ia berbuka, dan ia hanya wajib mengqodo’ (mengganti) puasanya. Dalam keadaan ini ia laksana orang sakit.

    v Apabila ibu hamil atau menyusui khawatir akan keselamatan janin atau anaknya (setelah para ulama’ sepakat bahwa sang ibu boleh berbuka), mereka berbeda pendapat dalam hal: Apakah ia hanya wajib mengqodo’? atau hanya wajib membayar fidyah (memberi makan orang miskin setiap hari sejumlah hari yang ia tinggalkan)? atau kedua-duanya qodho’ dan fidyah (memberi makan):

    Ø Ibnu Umar dan Ibnu Abbas membolehkan hanya dengan memberi makan orang miskin setiap hari sejumlah hari yang ditinggalkan.

    Ø Mayoritas ulama’ mewajibkan hanya mengqodho’.

    Ø Sebagian yang lain mewajibkan kedua-duanya; qodho’ dan fidyah.

    Ø DR. Yusuf Qordhowi dalam Fatawa Mu’ashiroh mengatakan bahwa ia cenderung kepada pendapat yang mengatakan cukup untuk membanyar fidyah (memberi makan orang setiap hari), bagi wanita yang tidak henti-hentinya hamil dan menyusui. Tahun ini hamil, tahun berikutnya menyusui, kemudian hamil dan menyusui, dan seterusnya, sehingga ia tidak mendapatkan kesempatan untuk mengqodho’ puasanya. Lanjut DR. Yusuf al-Qordlowi; apabila kita membebani dengan mengqodho’ puasa yang tertinggal, berarti ia harus berbuasa beberapa tahun berturut-turut sertelah itu, dan itu sangat memberatkan , sedangkan Allah tidak menghendaki kesulitan bagi hambaNya.

    Wanita yang Berusia lanjut

    Apabila puasa membuatnya sakit, maka dalam kondisi ini ia boleh tidak berpuasa. Secara umum, orang yang sudah berusia lanjut tidak bisa diharapkan untuk melaksanakan (mengqodho’) puasa pada tahun-tahun berikutnya, karena itu ia hanya wajib membayar fidyah (memberi makan orang miskin).

    Wanita dan Tablet Pengentas Haidh

    Syekh Ibnu Utsaimin menfatwakan bahwa penggunaan obat tersebut tidak dianjurkan. Bahkan bisa berakibat tidak baik bagi kesehatan wanita. Karena haid adalah hal yang telah ditakdirkan bagi wanita, dan kaum wanita di masa Rasulullah SAW tidak pernah membebani diri mereka untuk melakukan hal tersebut. Namun apabila ada yang melakukan, bagaimana hukumnya?. Jawabnya: – Apabila darah benar-benar terhenti, puasanya sah dan tidak diperintahkan untuk mengulang. – Tetapi apabila ia ragu, apakah darah benar-benar berhenti atau tidak,maka hukumnya seperti wanita haid, ia tidak boleh melakukan puasa. (Masa’il ash Shiyam h. 63 & Jami’u Ahkam an Nisa’ 2/393)

    Mencicipi Masakan

    Wanita yang bekerja di dapur mungkin khawatir akan masakan yang diolahnya pada bulan puasa, karena ia tidak dapat merasakan apakah masakan tersebut keasinan atau tidak atau yang lain-lainnya. Maka bolehkah ia mencicipi masakannya?. Para ulama’ memfatwakan tidak mengapa wanita mencicipi rasa masakannya, asal sekedarnya dan tidak sampai di tenggorokan, dalam hal ini diqiyaskan dengan berkumur. (Jami’u Ahkam an Nisa’).

    Khotimah

    Demikian panduan ringkas ini, semoga para wanita muslimah dapat memaksimalkan diri beribadah selama bulan Ramadhan tahun ini, untuk meraih nilai taqwa.

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 21 May 2019 Permalink | Balas  

    Hal-Hal Yang Boleh Dikerjakan Waktu Ibadah Shaum. 

    Fiqih Shaum

    Hal-Hal Yang Boleh Dikerjakan Waktu Ibadah Shaum.

    1.. Diriwayatkan dari Aisyah ra Bahwa sesungguhnya Nabi saw. dalam keadaan junub sampai waktu Shubuh sedang beliau sedang dalam keadaan shaum, kemudian mandi. (H.R: Al-Bukhary dan Muslim)

    2.. Diriwayatkan dari Abi Bakar bin Abdurrahman, dari sebagian sahabat-sahabat Nabi saw. ia berkata kepadanya: Dan sungguh telah saya lihat Rasulullah saw. menyiram air di atas kepala beliau padahal beliau dalam keadaan shaum karena haus dan karena udara panas. (H.R:Ahmad, Malik dan Abu Daud)

    3.. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Bahwa sesungguhnya Nabi saw berbekam sedang beliau dalam keadaan shaum. (H.R: Al-Bukhary).

    4.. Diriwayatkan dari Aisyah ra Adalah Rasulullah saw mencium (istrinya) sedang beliau dalam keadaan shaum dan menggauli dan bercumbu rayu dengan istrinya (tidak sampai bersetubuh) sedang beliau dalam keadaan shaum, akan tetapi beliau adalah orang yang paling kuat menahan birahinya. (H.R: Al-Jama’ah kecuali Nasa’i) hadits shahih.

    5.. Diriwayatkan dari Abdullah bin Furuuj: Bahwa sesungguhnya ada seorang wanita bertanya kepada Ummu Salamah ra. Wanita itu berkata: Sesungguhnya suami saya mencium saya sedang dia dan saya dalam keadaan shaum, bagaimana pendapatmu? Maka ia menjawab: Adalah Rasulullah pernah mencium saya sedang beliau dan saya dalam keadaan shaum. (H.R: Aththahawi dan Ahmad dengan sanad yang baik dengan mengikut syarat Muslim).

    6.. Diriwayatkan dari Luqaidh bin Shabrah: Sesungguhnya Nabi saw bersabda: Apabila kamu beristinsyaaq (menghisap air ke hidung ) keraskan kecuali kamu dalam keadaan shaum. (H.R: Ashhabus Sunan)

    7.. Perkataan ibnu Abbas: Tidak mengapa orang yang shaum mencicipi cuka dan sesuatu yang akan dibelinya (Ahmad dan Al-Bukhary).

    8.. Kesimpulan

    Hadits-hadits tersebut di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa hal-hal tersebut di bawah ini bila diamalkan tidak membatalkan shaum:

    a.. Menyiram air ke atas kepala pada siang hari karena haus ataupun udara panas, demikian pula menyelam kedalam air pada siang hari.

    b.. Menta’khirkan mandi junub setelah adzan Shubuh. (dalil: 1)

    c.. Berbekam pada siang hari. (dalil: 3)

    d.. Mencium, menggauli, mencumbu istri tetapi tidak sampai bersetubuh di siang hari. (dalil 4 dan 5)

    e.. Beristinsyak (menghirup air ke dalam hidung ) terutama bila akan berwudhu, asal tidak dikuatkan menghirupnya. (dalil: 6)

    f.. Disuntik di siang hari

    g.. Mencicipi makanan asal tidak ditelan. (dalil:7)

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 20 May 2019 Permalink | Balas  

    Hal-Hal Yang Membatalkan Shaum 

    Fiqih Shaum

    Hal-Hal Yang Membatalkan Shaum

    1.. “…dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam (fajar ), kemudian sempurnakanlah shaum itu sampai malam…” (Al-Baqarah: 187).

    2.. “Dari Abu Hurairah ra.: bahwa sesungguhnya nabi saw. telah bersabda: Barangsiapa yang terlupa, sedang dia dalam keadaan shaum, kemudian ia makan atau minum, maka hendaklah ia sempurnakan shaumnya. Hal itu karena sesungguhnya Allah hendak memberinya karunia makan dan minum ” (Hadits Shahih, riwayat Al-Jama’ah kecuali An-Nasai).

    3.. Dari Abu Hurairah ra. bahwa sesungguhnya Nabi saw telah bersabda: Barang siapa yang muntah dengan tidak sengaja, padahal ia sedang shaum – maka tidak wajib qadha ( shaumnya tetap sah ), sedang barang siapa yang berusaha sehinggga muntah dengan sengaja, maka hendaklah ia mengqadha (shaumnya batal). (H.R: Abu Daud dan At-Tirmidziy)

    4.. Diriwayatkan dari Aisyah ra ia berkata: Disaat kami berhaidh (datang bulan) dimasa Rasulullah saw. kami dilarang shaum dan diperintah untuk mengqadhanya dan kami tidak diperintah untuk mengqadha shalat. (H.R: Al-Bukhary dan Muslim)

    5.. Diriwayatkan dari Hafshah, ia berkata: Telah bersabda Nabi saw. Barang siapa yang tidak berniat untuk shaum (Ramadhan) sejak malam, maka tidak ada shaum baginya. (H.R: Abu Daud) hadits shahih.

    6.. Telah bersabda Rasulullah saw: Bahwa sesungguhnya semua amal itu harus dengan niat ……… (H.R: Al-Bukhary dan Muslim)

    7.. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Sesungguhnya seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah saw: Ya Rasulullah saya terlanjur menyetubuhi istri saya (di siang hari) padahal saya dalam keadaan shaum Ramadhan ), maka Rasulullah saw. bersabda: Punyakah kamu seorang budak untuk dimerdekakan? Ia menjawab: Tidak. Rasulullah saw bersabda: Mampukah kamu shaum dua bulan berturut-turut? Lelaki itu menjawab: Tidak. Beliau bersabda lagi: Punyakah kamu persediaan makanan untuk memberi makan enam puluh orang miskin? Lelaki itu menjawab: Tidak. Lalu beliau diam, maka ketika kami dalam keadaan semacam itu, Rasulullah datang dengan membawa satu keranjang kurma, lalu bertanya: dimana orang yang bertanya tadi? ambilah kurma ini dan shadaqahkan dia. Maka orang tersebut bertanya: Apakah kepada orang yang lebih miskin dari padaku ya Rasulullah? Demi Allah tidak ada diantara sudut-sudutnya (Madinah) keluarga yang lebih miskin daripada keluargaku. Maka Nabi saw. lalu tertawa sampai terlihat gigi serinya kemudian bersabda: Ambillah untuk memberi makan keluargamu. (H.R: Al-Bukhary dan Muslim)

    8.. Kesimpulan

    Ayat dan hadits-hadits tersebut di atas menerangkan kepada kita bahwa hal-hal yang dapat membatalkan shaum (Ramadhan) ialah sbb:

    a.. Sengaja makan dan minum di siang hari. Bila terlupa makan dan minum di siang hari, maka tidak membatalkan shaum. (dalil: 2)

    b.. Sengaja membikin muntah, bila muntah dengan tidak disengajakan, maka tidak membatalkan shaum. (dalil: 3)

    c.. Pada siang hari terdetik niat untuk berbuka. (dalil: 5 dan 6)

    d.. Dengan sengaja menyetubuhi istri di siang hari Ramadhan, ini disamping shaumnya batal ia terkena hukum yang berupa: memerdekakan seorang hamba, bila tidak mampu maka shaum dua bulan berturut-turut, dan bila tidak mampu, maka memberi makan enam puluh orang miskin.(dalil: 7)

    e.. Datang bulan di siang hari Ramadhan (sebelum waktu masuk maghrib).(dalil: 4)

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 19 May 2019 Permalink | Balas  

    Yang Diberi Kelonggaran Untuk Tidak Shaum Ramadhan 

    Fiqih Shaum

    Yang Diberi Kelonggaran Untuk Tidak Shaum Ramadhan

    1.. “(Masa yang diwajibkan kamu shaum itu ialah) bulan Ramadhan yang padanya diturunkan Al-Qur’an, menjadi pertunjuk bagi sekalian manusia, dan menjadi keterangan-keterangan yang menjelaskan pertunjuk, dan (menjelaskan) antara yang haq dengan yang bathil. Karenanya, siapa saja dari antara kamu yang menyaksikan anak bulan Ramadhan (atau mengetahuinya), maka hendaklah ia shaum di bulan itu; dan siapa saja yang sakit atau dalam musafir maka (bolehlah ia berbuka, kemudian wajiblah ia shaum) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (Dengan ketetapan yang demikian itu) Allah menghendaki kamu beroleh kemudahan, dan Ia tidak menghendaki kamu menanggung kesukaran. Dan juga supaya kamu cukupkan bilangan shaum (sebulan Ramadhan), dan supaya kamu membesarkan Allah karena mendapat pertunjukNya, dan supaya kamu bersyukur.” (Al-Baqarah:185)

    2.. “Diriwayatkan dari Mu’adz , ia berkata: Sesungguhnya Allah swt telah mewajibkan atas nabi untuk shaum, maka DIA turunkan ayat (dalam surat AL-Baqarah: 183-184), maka pada saat itu barangsiapa mau shaum dan barangsiapa mau memberi makan seorang miskin, keduanya diterima. Kemudian Allah menurunkan ayat lain (Al-Baqarah: 185), maka ditetapkanlah kewajiban shaum bagi setiap orang yang mukim dan sehat dan diberi rukhsah keringanan) untuk orang yang sakit dan bermusafir dan ditetapkan cukup memberi makan orang misikin bagi oran yang sudah sangat tua dan tidak mampu shaum. ” (HR. Ahmad, Abu Dawud, AL-Baihaqi dengan sanad shahih).

    3.. “Diriwayatkan dari Hamzah Al-Islamy: Wahai Rasulullah, aku dapati bahwa diriku kuat untuk shaum dalam safar, berdosakah saya? Maka beliau bersabda: hal itu adalah merupakan kemurahan dari Allah Ta’ala, maka barangsiapa yang menggunakannya maka itu suatu kebaikan dan barangsiapa yang lebih suka untuk terus shaum maka tidak ada dosa baginya ” (H.R.Muslim)

    4.. “Diriwayatkan dari Sa’id Al-Khudry ra. ia berkata: Kami bepergian bersama Rasulullah saw. ke Makkah, sedang kami dalam keadaan shaum. Selanjutnya ia berkata: Kami berhenti di suatu tempat. Maka Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya kamu sekalian sudah berada ditempat yang dekat dengan musuh kalian, dan berbuka lebih memberi kekuatan kepada kamu. Ini merupakan rukhsah, maka diantara kami ada yang masih shaum dan ada juga yang berbuka. Kemudian kami berhenti di tempat lain. Maka beliau juga bersabda: Sesungguhnya besoak kamu akan bertemu musuh, berbuka lebih memberi kekuatan kepada kamu sekalian,maka berbukalah. Maka ini merupakan kemestian, kamipun semuanya berbuka. Selanjutnya bila kami bepergian beserta Rasulullah saw. kami shaum .” (H.R Ahmad, Muslim dan Abu Dawud).

    5.. “Diriwayatkan dari Sa’id Al-Khudry ra. ia berkata: Pada suatu hari kami pergi berperang beserta Rasulullah saw. di bulan Ramadhan. Diantara kami ada yang shaum dan diantara kami ada yang berbuka . Yang shaum tidak mencela yang berbuka ,dan yang berbuka tidak mencela yang shaum. Mereka berpendapat bahwa siapa yang mendapati dirinya ada kekuatan lalu shaum, hal itu adalah baik dan barangsiapa yang mendapati dirinya lemah lalu berbuka,maka hal ini juga baik ” (HR. Ahmad dan Muslim)

    6.. “Dari Jabir bin Abdullah: Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. pergi menuju ke Makkah pada waktu fathu Makkah, beliau shaum sampai ke Kurraa’il Ghamiim dan semua manusia yang menyertai beliau juga shaum. Lalu dilaporkan kepada beliau bahwa manusia yang menyertai beliau merasa berat , tetapi mereka tetap shaum karena mereka melihat apa yang tuan amalkan (shaum). Maka beliau meminta segelas air lalu diminumnya. Sedang manusia melihat beliau, lalu sebagian berbuka dan sebagian lainnya tetap shaum. Kemudian sampai ke telinga beliau bahwa masih ada yang nekad untuk shaum. Maka beliaupun bersabda: mereka itu adalah durhaka. “(HR.Tirmidzy)

    7.. “Ucapan Ibnu Abbas: wanita yang hamil dan wanita yang menyusui apabila khawatir atas kesehatan anak-anak mereka, maka boleh tidak shaum dan cukup membayar fidyah memberi makan orang miskin ” (Riwayat Abu Dawud). Shahih

    8.. “Diriwayatkan dari Nafi’ dari Ibnu Umar: Bahwa sesungguhnya istrinya bertanya kepadanya (tentang shaum Ramadhan), sedang ia dalam keadaan hamil. Maka ia menjawab: Berbukalah dan berilah makan sehari seorang miskin dan tidak usah mengqadha shaum .” (Riwayat Baihaqi) Shahih.

    9.. “Diriwayatkan dari Sa’id bin Abi ‘Urwah dari Ibnu Abbas beliau berkata: Apabila seorang wanita hamil khawatir akan kesehatan dirinya dan wanita yang menyusui khawatir akan kesehatan anaknya jika shaum Ramadhan. Belberkata: Keduanya boleh berbuka (tidak shaum) dan harus memberi makan sehari seorang miskin dan tidak perlu mengqadha shaum” (HR.Ath-Thabari dengan sanad shahih di atas syarat Muslim , kitab AL-irwa jilid IV hal 19).

    10.. Kesimpulan: Pelajaran yang dapat diambil dari keterangan di atas adalah:

    1.. Orang Mu’min yang diberi kelonggaran diperbolehkan untuk tidak shaum Ramadhan, tetapi wajib mengqadha di bulan lain, mereka itu ialah:

    a.. Orang sakit yang masih ada harapan sembuh.

    b.. Orang yang bepergian (Musafir).

    Musafir yang merasa kuat boleh meneruskan shaum dalam safarnya, tetapi yang merasa lemah dan berat lebih baik berbuka, dan makruh memaksakan diri untuk shaum.

    2.. Orang Mu’min yang diberi kelonggaran diperbolehkan untuk tidak mengerjakan shaum dan tidak wajib mengqadha, tetapi wajib fidyah (memberi makan sehari seorang miskin).

    Mereka adalah orang yang tidak lagi mampu mengerjakan shaum karena:

    a.. Umurnya sangat tua dan lemah.

    b.. Wanita yang menyusui dan khawatir akan kesehatan anaknya.

    c.. Karena mengandung dan khawatir akan kesehatan dirinya.

    d.. Sakit menahun yang tidak ada harapan sembuh.

    e.. Orang yang sehari-hari kerjanya berat yang tidak mungkin mampu dikerjakan sambil shaum, dan tidak mendapat pekerjaan lain yang ringan. (dalil 2,7,8 dan 9).

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 18 May 2019 Permalink | Balas  

    Yang Diwajibkan dan Dilarang Shaum Ramadhan. 

    Fiqih Shaum

    Yang Diwajibkan Shaum Ramadhan.

    1.. “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu sekalian untuk shaum, sebagaimana yang telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertaqwa. ” (Al-Baqarah: 183)

    2.. “Diriwayatkan dari Ali ra., ia berkata: Sesungguhnya nabi saw telah bersabda: telah diangkat pena ( kewajiban syar’i/ taklif) dari tiga golongan . – Dari orang gila sehingga dia sembuh – dari orang tidur sehingga bangun – dari anak-anak sampai ia ia bermimpi /dewasa.” (H.R.Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi).

    3.. Kesimpulan

    Keterangan di atas mengajarkan kepada kita bahwa: yang diwajibkan shaum Ramadhan adalah: setiap orang beriman baik lelaki maupun wanita yang sudah baligh/dewasa dan sehat akal /sadar.

    Yang Dilarang Shaum

    1.. “Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. ia berkata: Disaat kami haidh di masa Rasulullah saw, kami dilarang shaum dan diperintahkan mengqadhanya, dan kami tidak diperintah mengqadha Shalat “( H.R Bukhary Muslim).

    2.. Kesimpulan

    Keterangan di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa wanita yang sedang haidh dilarang shaum sampai habis masa haidhnya, lalu melanjutkan shaumnya. Di luar Ramadhan ia wajib mengqadha shaum yag ditinggalkannya selama dalam haidh.

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 17 May 2019 Permalink | Balas  

    Rukun Shaum 

    Fiqih Shaum

    Rukun Shaum

    1.. “… dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah shaum itu sampai alam…( AL-Baqarah: 187).

    2.. “Adiy bin Hatim berkata: Ketika turun ayat ; artinya (…hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam…), lalu aku mengambil seutas benang hitam dan seutas benanag putih, lalu kedua utas benang itu akau simpan dibawah bantalku. Maka pada waktu malam saya amati, tetapi tidak tampak jelas, maka saya pergi menemui Rasulullah saw. dan saya ceritakan hal ini kepada beliau. Beliapun bersabda: Yang dimaksud adalah gelapnya malam dan terangnya siang (fajar). ” (H.R. Bukhary Muslim).

    3.. “Allah Ta’ala berfirman: “Dan tidaklah mereka disuruh, kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlashkan ketaatan untukNya ” (Al-Bayyinah:5)

    4.. “Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya semua amal itu harus dengan niat, dan setiap orang mendapat balasan sesuai dengan apa yang diniatkan.” (H.R Bukhary dan Muslim).

    5.. “Diriwayatkan dari Hafshah , ia berkata: Telah bersabda Nabi saw.: Barangsiapa yang tidak beniat (shaum Ramadhan) sejak malam, maka tidak ada shaum baginya .” (HR. Abu Dawud) Hadits Shahih.

    6.. Kesimpulan:

    Keterangan ayat dan hadit di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa rukun shaum Ramadhan adalah sebagai – berikut:

    a.. Berniat sejak malam hari (dalil 3,4 dan 5).

    b.. Menahan makan, minum koitus (Jima’) dengan istri di siang hari sejak terbit fajar sampai terbenam matahari (Maghrib), (dalil 1 dan 2).

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 16 May 2019 Permalink | Balas  

    Cara Menetapkan Awal Dan Akhir Bulan 

    Fiqih Shaum

    Cara Menetapkan Awal Dan Akhir Bulan

    1.. “Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. beliau berkata: Manusia sama melihat Hilal (bulan sabit), maka akupun mengabarkan hal itu kepada Rasululullah saw. Saya katakan: sesungguhnya saya telah melihat Hilal. Maka beliau saw. shaum dan memerintahkan semua orang agar shaum.” (H.R Abu Dawud, Al-Hakim dan Ibnu Hibban). (Hadits Shahih).

    2.. “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: Mulailah shaum karena melihat ru’yah dan berbukalah (akhirilah shaum Ramadhan) dengan melihat ru’yah. Apabila awan menutupi pandanganmu, maka sempurnakanlah bulan Sya’ban selama Tiga Puluh hari. “( HR. Bukhary Muslim).

    3.. Kesimpulan

    a.. Menetapkan awal dan akhir bulan Ramadhan dengan melihat ru’yah, meskipun bersumber dari laporan seseorang, yang penting adil (dapat dipercaya).

    b.. Jika bulan sabit (Hilal) tidak terlihat karena tertutup awan, misalnya, maka bilangan bulan Sya’ban digenapkan menjadi Tiga Puluh hari. (dalil 1 dan 2).

    c.. Pada dasarnya ru’yah yang dilihat oleh penduduk di suatu negara, berlaku untuk seluruh dunia. Hal ini akan berlaku jika Khilafah ‘Ala Minhaajinnabiy sudah tegak (dalil 2).

    4.. Selama khilafah belum tegak, untuk menghindarkan meluasnya perbedaan pendapat ummat Islam tentang hal ini, sebaiknya ummat Islam mengikuti ru’yah yag nampak di negeri masing-masing. (ini hanya pendapat sebagian ulama).

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 15 May 2019 Permalink | Balas  

    Panduan Shaum Ramadhan 

    Panduan Shaum Ramadhan

    Diriwayatkan dari Anas ra. ia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw.: Apabila ada sesuatu dari urusan duniamu, maka kamu lebih tahu tentang hal itu. Jika ada urusan dienmu, maka akulah tempat kembalinya ( ikuti aku ). ( H.R Ahmad).

    Dirwayatkan dari ‘Aisyah ra: Rasulullah saw. telah bersabda: Barangsiapa melakukan perbuatan yang bukan perintah kami, maka ia tertolak tidak diterima). Dan dalam riwayat lain: Barangsiapa yang mengada-adakan dalam perintah kami ini yang bukan dari padanya, maka ia tertolak. Sementara dalam riwayat lain: Barangsiapa yang berbuat sesuatu urusan yang lain daripada perintah kami, maka ia tertolak. (HR.Ahmad. Bukhary dan Abu Dawud).

    Kandungan dua hadits shahih di atas menerangkan dengan jelas dan tegas bahwa segala perbuatan, amalan-amalan yang hubungannya dengan dien/syari’at terutama dalam masalah ubudiyah wajib menurut panduan dan petunjuk yang telah digariskan oleh Rasulullah saw. Tidak boleh ditambah dan/atau dikurangi meskipun menurut fikiran seolah-olah lebih baik.

    Diantara cara syaithan menggoda ummat Islam ialah membisikkan suatu tambahan dalam urusan Dien. Sayangnya, perkara ini dianggap soal sepele, enteng dan remeh. Padahal perbuatan seperti itu adalah merupakan suatu kerusakan yang amat fatal dan berbahaya.

    “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, katanya: Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. berkhutbah kepada manusia pada waktu haji Wada’ . Maka beliau bersabda: Sesungguhnya Syaithan telah berputus asa (dalam berusaha) agar ia disembah di bumimu ini. Tetapi ia ridha apabila ( bisikannya) ditaati dalam hal selain itu; yakni suatu amalan yang kamu anggap remeh dari amalan-amalan kamu, berhati-hatilah kamu sekalian. Sesungguhnya aku telah meninggalkan untukmu , yang jika kamu berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya. Yaitu: Kitab Allah dan sunnah NabiNya. ” (HR. Hakim).

    Dengan demikian dapat difahami bagaimana Rasulullah saw. mengingatkan kita agar selalu waspada terhadap provokasi setan untuk beramal dengan menyalahi tuntunan Nabi sekalipun hal itu nampak remeh. “Diriwayatkan dari Ghudwahaif bin Al-Harits ra: ia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw.: Setiap suatu kaum mengadakan Bid’ah, pasti saat itu diangkat (dihilangkan ) sunnah semisalnya. Maka berpegang teguh kepda sunnah itu lebih baik daripada mengadakan bid’ah “(HR.Ahmad). Jadi, ketika amalan bid’ah ditimbulkan betapapun kecilnya, maka pada saat yang sama Sunnah telah dimusnahkan. Pada akhirnya lama kelamaan yang nampak dalam dien ini hanyalah perkara bid’ah sedangkan yang Sunnah dan original telah tertutup. Pada saat itulah ummat Islam akan menjadi lemah dan dikuasai musuh. Insya Allah tak lama lagi kita akan menyambut kedatangan Ramadhan,dalam bulan yang penuh berkat ini kita diwajibkan menjalankan ibadah Shaum Ramadhan sebulan penuh , yang mana hal tersebut merupakan salah satu bagian dari rukun Islam. Karenanya hal tersebut amat penting.

    Berkaitan dengan hal diatas, maka kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk dapat menunaikan ibadah Shaum ini sesempurna mungkin , benar-benar bebas dari bid’ah sesuai dengan panduan yang telah digariskan oleh Rasulullah saw. Untuk keperluan itulah dalam risalah yang sederhana ini diterangkan beberapa hal yang berkaitan dengan amaliah shaum Ramadhan, zakat fithrah, dan Shalat ‘Ied berdasarkan Nash-nash yang Shariih (jelas).

    Dalil – dalil dan kesimpulan dibuat agar mudah difahami antara hubungan amal dengan dalilnya. Dan -tak ada gading yang tak retak- kata pepatah, sudah barang tentu risalah ini sangat jauh dari sempurna, untuk menuju kesempurnaannya bantuan dari pemakai amat diharapkan. Semoga risalah ini diterima oleh Allah sebagai Amal Shalih yang bermanfaat terutama di akhirat nanti.

    1.. Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab ra. telah bersabda Rasulullah saw:Apabila malam sudah tiba dari arah sini dan siang telah pergi dari arah sini, sedang matahari sudah terbenam, maka orang yang shaum boleh berbuka. (H.R: Al-Bukhary dan Muslim)

    2.. Diriwayatkan dari Sahal bin Sa?ad: Sesungguhnya Nabi saw telahbersabda: Manusia (ummat Islam) masih dalam keadaan baik selama mentakjilkan (menyegerakan) berbuka. (H.R: Al-Bukhary dan Muslim)

    3.. Diriwayatakan dari Anas ra., ia berkata: Rasulullah saw berbuka denganmakan beberapa ruthaab (kurma basah) sebelum shalat, kalau tidak ada makadengan kurma kering, kalau tidak ada maka dengan meneguk air beberapa teguk.(H.R: Abu Daud dan Al-Hakiem)

    4.. Diriwayatkan dari Salman bin Amir, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: Apabila salah seorang diantara kamu shaum hendaklah berbuka dengan kurma, bila tidak ada kurma hendaklah dengan air, sesungguhnya airitu bersih. (H.R: Ahmad dan At-Tirmidzi)

    5.. Diriwayatkan dari Ibnu Umar: Adalah Nabi saw. selesai berbuka Beliau berdo’a (artinya) telah pergi rasa haus dan menjadi basah semua urat-urat dan pahala tetap ada Insya Allah. (H.R: Ad-Daaruquthni dan Abu Daud hadits hasan)

    6.. Diriwayatkan dari Anas, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw:Apabila makan malam telah disediakan, maka mulailah makan sebelum shalat Maghrib, janganlah mendahulukan shalat daripada makan malam itu ( yang sudah terhidang ). (H.R: Al-Bukhary dan Muslim)

    7.. Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra: Sesungguhnya Rasulullah saw.telah bersabda: Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya makan sahur itu berkah.(H.R: Al-Bukhary)

    8.. Diriwayatkan dari Al-Miqdam bin Ma’di Yaqrib, dari Nabi saw.bersabda:Hendaklah kamu semua makan sahur, karena sahur adalah makanan yang penuh berkah. (H.R: An-Nasa’i)

    9.. Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit t berkata: Kami bersahur bersama Rasulullah saw. kemudian kami bangkit untuk menunaikan shalat (Shubuh). Saya berkata: Berapa saat jarak antara keduanya ( antara waktu sahur danwaktu Shubuh )?Ia berkata: Selama orang membaca limapuluh ayat. (H.R:Al-Bukhary dan Muslim)

    10.. Diriwayatkan dari Amru bin Maimun, ia berkata: Adalah para sahabat Muhammad saw. adalah orang yang paling menyegerakan berbuka dan melambatkan makan sahur. (H.R: Al-Baihaqi)

    11.. Telah bersabda Rasulullah saw: Apabila salah seorang diantara kamu mendengar adzan dan piring masih di tangannya janganlah diletakkan hendaklah ia menyelesaikan hajatnya (makan/minum sahur) daripadanya. (H.R: Ahmad dan Abu Daud dan Al-Hakiem)

    12.. Diriwayatkan dari Abu Usamah ra. ia berkata: Shalat telah di’iqamahkan, sedang segelas minuman masih di tangan Umar ra. beliau bertanya: Apakah ini boleh saya minum wahai Rasulullah? Beliau menjawab: ya, lalu ia meminumnya. (H.R Ibnu Jarir)

    13.. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata: Adalah Rasulullah saw.orang yang paling dermawan dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya, dan Jibril menemuinya pada setiap malam pada bulan Ramadhan untuk mentadaruskan beliau saw. al-qur’an dan benar-benar Rasulullah saw. lebih dermawan tentang kebajikan (cepat berbuat kebaikan) daripada angin yang dikirim.(HR Al-Bukhary)

    14.. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: Adalah Rasulullah saw.menggalakkan qiyamullail (shalat malam) di bulan Ramadhan tanpa memerintahkan secara wajib, maka beliau bersabda: Barang siapa yang shalat malam di bulan Ramadhan karena beriman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka diampuni baginya dosanya yang telah lalu. (H.R: Jama’ah)

    15.. Diriwayatkan dari Aisyah ra. Sesungguhnya Nabi saw. Apabila memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan) beliau benar-benar menghidupkan malam (untuk beribadah) dan membangunkan istrinya (agar beribadah) dengan mengencangkan ikatan sarungnya (tidak mengumpuli istrinya). (H.R:Al-Bukhary dan Muslim)

    16.. Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata: Adalah Nabi saw. bersungguh-sungguh shalat malam pada sepuluh hari terakhir (di bulan Ramadhan) tidak seperti kesungguhannya dalam bulan selainnya. (H.R: Muslim)

    17.. Diriwayatkan dari Abu salamah din Abdur Rahman, sesungguhnya ia telah bertanya kepada Aisyah ra: Bagaimana shalat malamnya Rasulullah saw di bulan Ramadhan? maka ia menjawab: Rasulullah saw tidak pernah shalat malam lebih dari sebelas raka’at baik di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya, caranya: Beliau shalat empat raka’at jangan tanya baik dan panjangnya, kemudian shalat lagi empat raka’at jangan ditanya baik dan panjangnya, kemudian shalat tiga raka’at. (H.R: Al-Bukhary, Muslim dan lainnya)

    18.. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata: Adalah Rasulullah saw. Apabila bangun shalat malam, beliau membuka dengan shalat dua raka’at yang ringan, kemudian shalat delapan raka’at, kemudian shalat witir. (H.R: Muslim)

    19.. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ia berkata: Ada seorang laki-laki berdiri lalu ia berkata: Wahai Rasulullah bagaimana cara shalat malam? Maka Rasulullah menjawab: Shalat malam itu dua raka’at dua raka’at. Apabila kamu khawatir masuk shalat Shubuh, maka berwitirlah satu raka’at. (H.R:Jama’ah)

    20.. Dari Aisyah ra. ia berkata: Sesungguhnya Nabi saw shalat di masjid, lalu para sahabat shalat sesuai dengan shalat beliau (bermakmum di belakang), lalu beliau shalat pada malam kedua dan para sahabat bermakmum dibelakangnya bertambah banyak, kemudian pada malam yang ketiga atau yang keempat mereka berkumpul, maka Rasulullah saw tidak keluar mengimami mereka. Setelah pagi hari beliau bersabda: Saya telah tahu apa yang kalian perbuat, tidak ada yang menghalangi aku untuk keluar kepada kalian (untuk mengimami shalat) melainkan aku khawatir shalat malam ini difardhukan atas kalian. Ini terjadi pada bulan Ramadhan. (H.R: Al-Bukhary dan Muslim)

    21.. Dari Ubay bin Ka’ab t. ia berkata: Adalah Rasulullah saw. Shalat witir dengan membaca: Sabihisma Rabbikal A’la dan (Qul ya ayyuhal kafirun) dan (Qulhu wallahu ahad). ( H.R: Ahmad, Abu Daud, Annasa’i dan Ibnu Majah)

    22.. Diriwayatkan dari Hasan bin Ali t. ia berkata: Rasulullah saw. Telah mengajarkan kepadaku beberapa kata yang aku baca dalam qunut witir: artinya: Ya Allah berilah aku petunjuk beserta orang-orang yang telah engkau beri petunjuk, berilah aku kesehatan yang sempurna beserta orang yang telah engkau beri kesehatan yang sempurna, pimpinlah aku beserta orang yang telah Engkau pimpin, Berkatilah untukku apa yang telah Engkau berikan, peliharalah aku dari apa yang telah Engkau tentukan. Maka sesungguhnya Engkaulah yang memutuskan dan tiada yang dapat memutuskan atas Engkau, bahwa tidak akan hina siapa saja yang telah Engkau pimpin dan tidak akan mulia siapa saja yang Engkau musuhi. Maha agung Engkau wahai Rabb kami dan Maha Tinggi Engkau. (H.R: Ahmad, Abu Daud, Annasa’i, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

    23.. Dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw. bersabda: Barang siapa yang shalat malam menepati lailatul qadar, maka diampuni dosanya yang telah lalu. (H.R: Jama’ah)

    24.. Diriwayatkan dari Aisyah ra. Sesungguhnya Rasulullah saw. Telah bersabda: berusahalah untuk mencari lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir. (H.R: Muslim)

    25.. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. ia berkata: Dinampakkan dalam mimpi seorang laki-laki bahwa lailatul qadar pada malam kedua puluh tujuh, maka Rasulullah saw. bersabda: Sayapun bermimpi seperti mimpimu, ditampakkan pada sepuluh malam terakhir, maka carilah ia (lailatul qadar) pada malam-malam ganjil. (H.R: Muslim)

    26.. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata: Saya berkata kepada Rasulullah saw. Ya Rasulullah, bagaimana pendapat tuan bila saya mengetahui lailatul qadar,apa yang saya harus baca pada malam itu? Beliau bersabda: Bacalah artinya: Yaa Allah sesungguhnya Engkau maha pemberi ampun, Engkau suka kepada keampunan maka ampunilah daku. (H.R: At-Tirmidzi dan Ahmad)

    27.. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata: Adalah Rasulullah saw mengamalkan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan sampai beliau diwafatkan oleh Allah Azza wa Jalla. (H.R: Al-Bukhary dan Muslim)

    28.. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata: Adalah Rasulullah saw. Apabila hendak beri’tikaf, beliau shalat shubuh kemudian memasuki tempat i’tikafnya………. (H.R:Jama’ah kecuali At-Tirmidzi)

    29.. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata: Adalah Rasulullah saw. Apabila beri’tikaf , beliau mendekatkan kepalanya kepadaku, maka aku menyisirnya, dan adalah beliau tidak masuk ke rumah kecuali karena untuk memenuhi hajat manusia (buang air, mandi dll…) (H.R: Al-Bukhary dan Muslim)

    30.. Allah ta’ala berfirman: (artinya ) Janganlah kalian mencampuri ereka( istri-istri kalian) sedang kalian dalam keadaan i’tikaf dalam masjid. Itulah batas-batas ketentuan Allah, maka jangan di dekati… (Al-Baqarah: 187 )

    31.. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw: Setiap amal anak bani Adam adalah untuknya kecuali shaum, ia adalah untukku dan aku yang memberikan pahala dengannya. Dan sesungguhnya shaum itu adalah benteng pertahanan, pada hari ketika kamu shaum janganlah berbuat keji , jangan berteriak-teriak (pertengkaran), apabila seorang memakinya sedang ia shaum maka hendaklah ia katakan: ” sesungguhnya saya sedang shaum” . Demi jiwa Muhammad yang ada di tanganNya sungguh bau busuknya mulut orang yang sedang shaum itu lebih wangi disisi Allah pada hari kiamat daripada kasturi. Dan bagi orang yang shaum ada dua kegembiraan, apabila ia berbuka ia gembira dengan bukanya dan apabila ia berjumpa dengan Rabbnya ia gembira karena shaumnya. (H.R: Al-Bukhary dan Muslim)

    32.. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata: Sesungguhnya Nabi saw. Telah bersabda: Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan amalan kebohongan, maka tidak ada bagi Allah hajat ( untuk menerima ) dalam hal ia meninggalkan makan dan minumnya. (H.R: Jama’ah Kecuali Muslim) Maksudnya Allah tidak merasa perlu memberi pahala shaumnya.

    33.. Bahwa sesungguhnya Nabi saw. bersabda kepada seorang wanita Anshar yang sering di panggil Ummu Sinan: Apa yang menghalangimu untuk melakukan haji bersama kami? Ia menjawab: Keledai yang ada pada kami yang satu dipakai oleh ayahnya si fulan (suaminya) untuk berhaji bersama anaknya sedang yang lain di pakai untuk memberi minum anak-anak kami. Nabipun bersabda lagi Umrah di bulan Ramadhan sama dengan mengerjakan haji atau haji bersamaku. (H.R: Muslim)

    34.. Rasulullah sw. bersabda: Apabila datang bulan Ramadhan kerjakanlah umrah karena umrah di dalamnya (bulan Ramadhan) setingkat dengan haji. (H.R: Muslim)

    Kesimpulan

    Ayat dan hadits-hadits tersebut di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa dalam mengamalkan shaum Ramadhan kita perlu melaksanakan adab-adab sbb:

    1.. Berbuka apabila sudah masuk waktu Maghrib. (dalil: 6)

    Sunnah berbuka adalah sbb:

    a.. Disegerakan yakni sebelum melaksanakan shalat Maghrib dengan makanan yang ringan seperti kurma, air saja, setelah itu baru melaksanakan shalat. (dalil: 2,3 dan 4)

    b.. Tetapi apabila makan malam sudah dihidangkan, maka terus dimakan, jangan shalat dahulu. (dalil: 6)

    c.. Setelah berbuka berdo’a dengan do’a sbb: Artinya: Telah hilang rasa haus, dan menjadi basah semua urat-urat dan pahala tetap wujud insya Allah. (dalil: 5)

    2.. Makan sahur. (dalil: 7 dan 8)

    Adab-adab sahur:

    a.. Dilambatkan sampai akhir malam mendekati Shubuh. (dalil 9 dan 10)

    b.. Apabila pada tengah makan atau minum sahur lalu mendengar adzan Shubuh, maka sahur boleh diteruskan sampai selesai, tidak perlu dihentikan di tengah sahur karena sudah masuk waktu Shubuh. (dalil 11 dan 12) * Imsak tidak ada sunnahnya dan tidak pernah diamalkan pada zaman sahabat maupun tabi’in.

    3.. Lebih bersifat dermawan (banyak memberi, banyak bershadaqah, banyak menolong) dan banyak membaca al-qur’an (dalil: 13)

    4.. Menegakkan shalat malam / shalat Tarawih dengan berjama’ah. Dan shalat Tarawih ini lebih digiatkan lagi pada sepuluh malam terakhir( 20 hb. Sampai akhir Ramadhan). (dalil: 14,15 dan 16)

    Cara shalat Tarawih adalah:

    a.. Dengan berjama’ah. (dalil: 19)

    b.. Tidak lebih dari sebelas raka’at yakni salam tiap dua raka’at dikerjakan empat kali, atau salam tiap empat raka’at dikerjakan dua kali dan ditutup dengan witir tiga raka’at. (dalil: 17)

    c.. Dibuka dengan dua raka’at yang ringan. (dalil: 18)

    d.. Bacaan dalam witir: Raka’at pertama: Sabihisma Rabbika. Roka’t kedua: Qul yaa ayyuhal kafirun. Raka’at ketiga: Qulhuwallahu ahad. (dalil: 21)

    e.. Membaca do’a qunut dalam shalat witir. (dalil 22)

    5.. Berusaha menepati lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir, terutama pada malam-malam ganjil. Bila dirasakan menepati lailatul qadar hendaklah lebih giat beribadah dan membaca: Yaa Allah Engkaulah pengampun, suka kepada keampunan maka ampunilah aku. (dalil: 25 dan 26)

    6.. Mengerjakan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir. (dalil: 27 ).

    Cara i’tikaf:

    a.. Setelah shalat Shubuh lalu masuk ke tempat i’tikaf di masjid. (dalil 28)

    b.. Tidak keluar dari tempat i’tikaf kecuali ada keperluan yang mendesak.(dalil: 29)

    c.. Tidak mencampuri istri dimasa i’tikaf. (dalil: 30)

    7.. Mengerjakan umrah. (dalil: 33 dan 34)

    8.. Menjauhi perkataan dan perbuatan keji dan menjauhi pertengkaran. (dalil: 31 dan 32)

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 14 May 2019 Permalink | Balas  

    Panduan Amalan Di Bulan Ramadhan 

    Panduan Amalan Di Bulan Ramadhan

    Ramadhan bagi umat Islam bukan sekedar salah satu nama bulan qomariyah, tapi dia mempunyai makna tersendiri. Ramadhan bagi seorang muslim adalah rihlah dari kehidupan materialistis kepada kehidupan ruhiyah, dari kehidupan yang penuh berbagai masalah keduniaan menuju kehidupan yang penuh tazkiyatus nafs dan riyadhotur ruhiyah. Kehidupan yang penuh dengan amal taqorrub kepada Allah, mulai dari tilawah Al-Qur’an, menahan syahwat dengan shiyam, sujud dalam qiyamul lail, ber’itikaf di masjid, dan lain-lain. Semua ini dalam rangka merealisasikan inti ajaran dan hikmah puasa Ramadhan yaitu : Agar kalian menjadi orang yang bertaqwa. (Al-Baqoroh: 183 dan akhir Al-Hijr)

    Ramadhan juga merupakan bulan latihan bagi peningkatan kualitas pribadi seorang mulism. Hal itu terlihat pada esensi puasa yakni agar manusia selalu dapat meningkatkan nilainya dihadapan Allah SWT dengan bertaqwa, disamping melaksanakan amaliyah-amaliyah positif yang ada pada bulan Ramadhan. Diantara amaliyah-amaliyah Ramadhan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW baik itu amaliyah ibadah maupun amaliyah ijtijma’iyah adalah sebagai berikut:

    Shiyam (puasa)

    Amaliyah terpenting selama bulan Ramadhan tentu saja adalah shiyam (puasa), sebagaimana termaktub dalam firman Allah pada surat al Baqoroh : 183-187. Dan diantara amaliyah shiyam Ramadhan yang diajarkan oleh Rasulullah ialah :

    a.. Berwawasan yang benar tentang puasa dengan mengetahui dan menjaga rambu-rambunya. “Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yang semestinya diperhatikan, maka hal itu akan menjadi pelebur dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelumnya” (HR. Ibnu Hibban dan Al Baihaqi).

    b.. Tidak meninggalkan shiyam, walaupun sehari, dengan sengaja tanpa alasan yang dibenarkan oleh syari’at Islam. Rasulullah SAW bersabda bahwa : “Barangsiapa tidak puasa pada bulan Ramadhan sekalipun sehari tanpa alasan rukhshoh atau sakit, hal itu (merupakan dosa besar) yang tidak bisa ditebus bahkan seandainya ia berpuasa selama hidup” (HR At Turmudzi).

    c.. Menjauhi hal-hal yang dapat mengurangi atau bahkan menggugurkan nilai shiyam. Rasulullah SAW pernah bersabda : ” Bukanlah (hakikat) shiyam itu sekedar meninggalkn makan dan minum, melainkan meninggalkan pekerti sia-sia (tak bernilai) dan kata-kata bohong” (HR Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah). Rasulullah juga pernah bersabda bahwa : ” Barangsiapa yang selama berpuasa tidak juga meninggalkan kata-kata bohong bahkan mempraktekkannya, maka tidak ada nilainya bagi Allah apa yang ia sangkakan sebagai puasa, yaitu sekedar meninggalkan makan dan minum ” (Hr Bukhori dan Muslim).

    d.. Bersungguh – sungguh melakukan shiyam dengan menepati aturan-aturannya. Rasulullah SAW bersabda : ” Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan sepenuh Iman dan kesungguhan, maka akan diampunkanlah dosa-dosa yang pernah dilakukan ” (HR. Bukhori, Muslim dan Abu Daud).

    e.. Bersahur, makanan yang berkah (al ghoda’ al mubarok ). Dalam hal ini Rasulullah pernah bersabda bahwa : ” Makanan sahur semuanya bernilai berkah, maka jangan anda tinggalkan, sekalipun hanya dengan seteguk air. Allah dan para Malaikat mengucapkan salam kepada orang-orang yang makan sahur” (HR. Ahmad). Dan disunnahkan mengakhirkan waktu makan sahur.

    f.. Ifthor, berbuka puasa. Rasululah pernah menyampaikan bahwa salah satu indikasi kebaikan umat manakala mereka mengikuti sunnah dengan mendahulukan ifthor (berbuka puasa) dan mengakhirkan sahur. Dalam hal berbuka puasa Rasulullah SAW juga pernah bersabda bahwa : ” Sesungguhnya termasuk hamba Allah yang paling dicintai olehNya, ialah mereka yang bersegera berbuka puasa. ” (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Bahkan beliau mendahulukan ifthor walaupun hanya dengan ruthob (kurma mengkal), atau tamr (kurma) atau air saja ” (HR. Abu Daud dan Ahmad).

    g.. Berdo’a. Sesudah hari itu menyelesaikan ibadah puasa dengan berifthor, Rasulullah SAW seperti prilaku yang beliau lakukan sesudah menyelesaikan suatu ibadah, dan sebagai wujud syukur kepada Allah, beliau membaca do’a sebagai berikut ; Rasulullah bahkan mensyari’atkan agar orang-orang yang berpuasa banyak memanjatkan do’a, sebab do’a mereka akan dikabulkan oleh Allah. Dalam hal ini beliau pernah bersabda bahwa : ” Ada tiga kelompok manusia yang do’anya tidak ditolak oleh Allah. Yang pertama ialah do’a orang-rang yang berpuasa sehingga mereka berbuka” (HR. Ahmad dan Turmudzi).

    Tilawah (membaca) al Qur’an

    Ramadhan adalah bulan diturunkannya al Qur’an. (QS. Al Baqoroh: 185). Pada bulan ini Malaikat Jibril pernah turun dan menderas al Qur’an dengan Rasulullah SAW (HR. Bukhori). Maka tidak aneh kalau Rasulullah SAW (yang selalu menderas al Qur’an disepanjang tahun itu) lebih sering menderasnya pada bulan Ramadhan.

    Imam az Zuhri pernah berkata : ” Apabila datang Ramadhan maka kegiatan utama kita (selain shiyam) ialah membaca al Qur’an”. Hal ini tentu saja dilakukan dengan tetap memperhatikan tajwid (kaedah membaca al Qur’an) dan esensi dasar diturunkannya al Qur’an untuk ditadabburi, dipahami dan diamalkan (QS. Shod: 29).

    Ith’am ath tho’am (memberikan makanan dan shodaqoh lainnya)

    Salah satu amaliyah Ramadhan Rasulullah ialah memberikan ifthor (santapan berbuka puasa) kepada orang-orang yang berpuasa. Seperti beliau sabdakan : “Barangsiapa yang memberi ifthor kepada orang-orang yang berpuasa, maka ia mendapat pahala senilai pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut ” (HR. Turmudzi dan an Nasa’i).

    Hal memberi makan dan sedekah selama bulan Ramadhan ini bukan hanya untuk keperluan iftor melainkan juga untuk segala kebajikan, Rasulullah yang dikenal dermawan dan penuh peduli terhadap nasib umat, pada bulan Ramadhan kedermawanan dan keperduliannya tampil lebih menonjol, kesigapan beliau dalam hal ini bahkan dimisalkan sebagai ” lebih cepat dari angin ” (HR Bukhori).

    Memperhatikan kesehatan.

    Shaum memang termasuk kategori ibadah mahdhoh (murni), sekalipun demikian agar nilai maksimal ibadah puasa dapat diraih, Rasulullah justru mencontohkan kepada umat agar selama berpuasa tetap memperhatikan kesehatan. Hal ini terlihat dari beberapa peristiwa dibawah ini:

    a.. Menyikat gigi dengan siwak (HR. Bukhori dan Abu Daud).

    b.. Berobat seperti dengan berbekam (al hijamah) seperti yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim.

    c.. Memperhatikan penampilan, seperti pernah diwasiatkan oleh Rasulullah SAw kepada sahabat Abdullah ibnu Mas’ud RA, agar memulai puasa dengan penampilan baik dan tidak dengan wajah yang cemberut. ( HR. AL Haitsami)

    Memperhatikan harmoni keluarga

    Sekalipun puasa adalah ibadah yang khusus diperuntukkan kepada Allah, yang memang juga mempunyai nilai khusus dihadapan Allah, tetapi agar hal tersebut diatas dapat terealisir dengan lebih baik, maka Rasulullah justru mensyari’atkan agar selama berpuasa umat tidak mengabaikan harmoni dan hak-hak keluarga. Seperti yang diriwayatkan oleh istri-istri beliau, Aisyah dan Ummu Salamah RA, Rasulullah tokoh yang paling baik untuk keluarga itu, selama bulan Ramadhan tetap selalu memenuhi hak-hak keluarga beliau. Bahkan ketika Rasulullah berada dalam puncak praktek ibadah shaum yakni i’tikaf, harmoni itu tetap terjaga.

    Memperhatikan aktivitas da’wah dan sosial

    Kontradiksi dengan kesan dan perilaku umum tentang berpuasa, Rasulullah SAW justru menjadikan bulan puasa sebagai bulan penuh amaliyah dan aktivitas positif. Selain yang telah tergambar seperti tersebut dimuka, beliau juga aktif melakukan da’wah, kegiatan sosial, perjalanan jauh dan jihad. Dalam sembilan kali Ramadhan yang pernah beliau alami, beliau misalnya melakukan perjalanan ke Badr (tahun 2 H), Mekah ( tahun 8 H), dan ke Tabuk (tahun 9 H), mengirimkan 6 sariyah (pasukan jihad yang tidak secara langsung beliau ikuti/pimpin), melaksanakan perkawinan putrinya (Fathimah) dengan Ali RA, beliau berkeluarga dengan Hafshoh dan Zainab RA, meruntuhkan berhala-berhala Arab seperti Lata, Manat dan Suwa’, meruntuhkan masjid adh Dhiror, dll.

    Qiyam Ramadhan (sholat tarawih)

    Diantara kegiatan ibadah Rasulullah selama bulan Ramadhan ialah ibadah qiyam al lail, yang belakangan lebih populer disebut sebagai sholat tarowih. Hal demikian ini beliau lakukan bersama dengan para sahabat beliau. Sekalipun karena kekhawatiran bila akhirnya sholat tarawih (berjama’ah) itu menjadi diwajibkan oleh Allah, Rasulullah kemudian meninggalkannya. (HR. Bukhori Muslim).

    Dalam situasi itu riwayat yang shohih menyebutkan bahwa Rasulullah shalat tarowih dalam 11 reka’at dengan bacaan-bacaan yang panjang (HR. Bukhori Muslim). Tetapi ketika kekhawatiran tentang pewajiban sholat tarowih itu tidak ada lagi, kita dapatkan riwayat-riwayat lain, juga dari Umar ibn al Khothob RA, yang menyebutkan jumlah reka’at shalat tarowih adalah 21 atau 23 reka’at. (HR. Abdur Razaq dan al Baihaqi). Mensikapi perbedaan reka’at ini bagus juga bila kita cermati pendapat dan kajian dari Ibnu hajar al Asqolani asy Syafi’i, seorang tokoh yang juga dijuluki sebagai amirul mu’minin fi hadits, beliau menyampaikan bahwa : Beberapa informasi tentang jumlah reka’at tarowih itu menyiratkan ragam sholat sesuai dengan keadaan dan kemampuan masing-masing, kadang ia mampu melaksanakan shalat dalam 11 reka’at, kadang 21 dan terkadang 23 reka’at pula. Hal demikian itu kembali juga semangat dan antusiasme masing-masing. Dahulu mereka yang sholat dengan 11 reka’at itu dilakukan dengan bacaan yang panjang sehingga mereka bertelekan diatas tongkat penyangga, sementara mereka yang sholat dengan 21 atau 23 reka’at mereka membaca bacaan-bacaan yang pendek (dengan tetap memperhatikan thoma’ninah sholat) sehingga tidak menyulitkan.

    I’tikaf.

    Diantara amaliyah sunnah yang selalu dilakukan oleh Rasulullah SAw dalam bulan Ramadhan ialah i’tikaf, yakni berdiam diri di dalam masjid dengan niat beribadah kepada Allah. Seperti dilaporkan oleh Abu Sa’id al Khudlri RA, hal demikiam ini pernah beliau lakukan pada awal Ramadhan, pertengahan Ramadhan dan terutama pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Ibadah yang demikian penting ini sering dianggap berat sehingga ditinggalkan oleh orang-orang Islam, maka tidak aneh kalau Imam az Zuhri berkomentar ; Aneh benar keadaan orang Islam, mereka meninggalkan ibadah i’tikaf, padahal Rasulullah SAW tak pernah meninggalkannya semenjak beliau datang ke madinah sehingga wafatnya disana.

    Lailat al Qodr

    Selama bulan Ramadhan ini terdapat satu malam yang sangat berkah, yang populer disebut sebagai lailat al Qodr, malam yang lebih berharga dari seribu bulan (QS. Al Qodr : 1-5). Rasululah tidak pernah melewatkan kesempatan untuk meraih lailat al qodr terutama pada malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan puasa (HR. Bukhori Muslim ). Dalam hal ini Rasulullah menyampaikan bahwa : “Barangsiapa yang sholat pada malam lailatul qodr berdasarkan iman dan ihtisab, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. ” (Hr. Bukhori Muslim). Dalam keadaan ini Rasulullah mengajarkan do’a sebagai berikut :

    Umroh

    Umroh atau haji kecil itu bagus juga apabila dilaksanakan pada bulan Ramadhan, sebab nilainya bisa berlipat-lipat, sebagaimana pernah disabdakan oleh Rasulullah kepada seorang wanita dari anshor bernama Ummu Sinan: ” Agar apabila datang bulan Ramadhan ia melakukan umroh, karena nilainya setara dengan haji bersama Rasulullah SAW. (Hr. Bukhori Muslim)

    Zakat Fitrah

    Pada hari-hari terakhir bulan Ramadhan amaliyah yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW ialah membayarkan zakat fithr, suatu kewajiban yang harus dipenuhi oleh umat Islam baik laik-laki maupun perempuan, baik dewasa maupun anak-anak (HR. Bukhori Muslim). Zakat fithr ini juga berfungsi sebagai pelengkap penyucian untuk pelaku puasa dan untuk membantu kaum fakir miskin. (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

    Ramadhan bulan taubat menuju fithroh

    Selama sebulan penuh, secara berduyun-duyun umat kembali kepada Allah yang M aha Pemurah juga Maha Pengampun. Dia Dzat yang menyampaikan bahwa pada setiap malam bulan Ramadhan Allah membebaskan banyak hambaNya dari api nereka (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Karenanya inilah satu kesempatan emas agar umat dapat kembali, bertaubat agar ketika mereka selesai melaksanakan ibadah puasa mereka benar-benar kembali kepada fithrohnya. Khotimah Demikianlah sebagian amaliyah Ramadhan yang mudah dan bisa dilakukan oleh setiap muslim. Dan dengan demikian Ramadhan juga menyiratkan salah satu prinsip dasar Islam tentang moderasi dan integralitas ajarannya. Ramadhan memang bulan penuh kebaikan, sehingga Rasulullah pernah bersabda ; “Apabila orang-orang mengetahui nilai lebih Ramadhan, mereka akan berharap agar semua bulan dijadikan sebagai bulan Ramadhan”. (HR. Ibnu Huzaimah). Semoga Allah menerima amaliyah shiyam dan qiyam kita sekalian, amin.

    ***

    Kiriman Sahabat Erman

     
  • erva kurniawan 1:31 am on 13 May 2019 Permalink | Balas  

    Keutamaan Bulan Ramadhan Dan Keutamaan Beramal Di Dalamnya 

    Keutamaan Bulan Ramadhan Dan Keutamaan Beramal Di Dalamnya

    1. “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. pernah bersabda : Ketika datang bulan Ramadhan: Sungguh telah datang kepadamu bulan yang penuh berkat, diwajibkan atas kamu untuk shaum, dalam bulan ini pintu Jannah dibuka, pintu Neraka ditutup, Setan- Setan dibelenggu. Dalam bulan ini ada suatu malam yang nilanya sama dengan seribu bulan, maka barangsiapa diharamkan kebaikannya ( tidak beramal baik didalamnya), sungguh telah diharamkan ( tidak mendapat kebaikan di bulan lain seperti di bulan ini).” (HR. Ahmad, Nasai dan Baihaqy. Hadits Shahih Ligwahairihi).
    2. “Diriwayatkan dari Urfujah, ia berkata : Aku berada di tempat ‘Uqbah bin Furqad, maka masuklah ke tempat kami seorang dari Sahabat Nabi saw. ketika Utbah melihatnya ia merasa takut padanya, maka ia diam. ia berkata: maka ia menerangkan tentang shaum Ramadhan ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda tentang bulan Ramadhan: Di bulan Ramadhan ditutup seluruh pintu Neraka, dibuka seluruh pintu Jannah, dan dalam bulan ini Setan dibelenggu. Selanjutnya ia berkata : Dan dalam bulan ini ada malaikat yang selalu menyeru : Wahai orang yang selalu mencari/ beramal kebaikan bergembiralah anda, dan wahai orang-orang yang mencari/berbuat kejelekan berhentilah (dari perbuatan jahat) . Seruan ini terus didengungkan sampai akhir bulan Ramadhan.” (Riwayat Ahmad dan Nasai)
    3. “Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra. Sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda : Shalat Lima waktu, Shalat Jum’at sampai Shalat Jum’at berikutnya, Shaum Ramadhan sampai Shaum Ramadhan berikutnya, adalah menutup dosa-dosa (kecil) yang diperbuat diantara keduanya, bila dosa-dosa besar dijauhi.”(H.R.Muslim)
    4. “Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: Shaum dan Qur’an itu memintakan syafa?at seseorang hamba di hari Kiamat nanti. Shaum berkata : Wahai Rabbku,aku telah mencegah dia memakan makanan dan menyalurkan syahwatnya di siang hari, maka berilah aku hak untuk memintakan syafa’at baginya. Dan berkata pula AL-Qur’an : Wahai Rabbku aku telah mencegah dia tidur di malam hari ( karena membacaku ), maka berilah aku hak untuk memintakan syafaat baginya. Maka keduanya diberi hak untuk memmintakan syafaat.” (H.R. Ahmad, Hadits Hasan).
    5. “Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad : Sesungguhnya Nabi saw telah bersabda : bahwa sesungguhnya bagi Jannah itu ada sebuah pintu yang disebut ” Rayyaan”. Pada hari kiamat dikatakan : Dimana orang yang shaum? ( untuk masuk Jannah melalui pintu itu), jika yang terakhir diantara mereka sudah memasuki pintu itu, maka ditutuplah pintu itu.” (HR. Bukhary Muslim).
    6. Rasulullah saw. bersabda : Barangsiapa shaum Ramadhan karena beriman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu dan yang sekarang (HR.Bukhary Muslim).

    Hadits di atas memberi pelajaran kepada kita, tentang keutamaan bulan Ramadhan dan keutamaan beramal didalamnya, diantaranya bulan Ramadhan adalah:

    1.. Bulan yang penuh Barakah.

    2.. Pada bulan ini pintu Jannah dibuka dan pintu neraka ditutup.

    3.. Pada bulan ini Setan-Setan dibelenggu.

    4.. Dalam bulan ini ada satu malam yang keutamaan beramal didalamnya lebih baik daripada beramal seribu bulan di bulan lain, yakni malam LAILATUL QADR.

    5.. Pada bulan ini setiap hari ada malaikat yang menyeru menasehati siapa yang berbuat baik agar bergembira dan yang berbuat ma’shiyat agar menahan diri. (dalil 1 & 2).

    Keutamaan beramal di bulan Ramadhan antara lain :

    1.. Amal itu dapat menutup dosa-dosa kecil antara setelah Ramadhan yang lewat sampai dengan Ramadhan berikutnya.

    2.. Menjadikan bulan Ramadhan memintakan syafa’at.

    3.. Khusus bagi yang shaum disediakan pintu khusus yang bernama Rayyaan untuk memasuki Jannah. (dalil 3, 4, 5 dan 6).

    ***

    Kiriman Sahabat Erman

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 12 May 2019 Permalink | Balas  

    Ramadhan Bulan Berkah 

    Ramadhan Bulan Berkah

    Ikhwati wa akhowati fillaah, Salah satu sifat Allah SWT adalah Ia memiliki irodah (kehendak), sebagaimana firmanNya : “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia).” (QS Al Qoshosh [28]:68).

    Allah memilih sesuatu yang dikehendakiNya. Allah memilih tempat yang dikehendakiNya. Allah memilih manusia yang dikehendakiNya, pilihanNya sendiri ada yang menjadi Rasul, pemimpin negara, cendekia, dsb. Allah memilih gua Hiro’ yang dikehendakiNya sebagai tempat pertemuan Rasul dan Malaikat Jibril. Allah memilih Mekkah yang dikehendakiNya sebagai kiblat kaum Muslimin dan memilih pula kota Madinah sebagai basis pertahanan Rasulullah dalam menyebarkan risalah Ilahi.

    Begitu pula halnya dengan bulan-bulan dalam setahun, Allah telah memilih Ramadhan sebagai bulan yang istimewa, yang namanya disebutkan dalam Al Qur-an. Firman Allah : “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” QS Al Baqoroh [2]:185.

    Jika Allah berkehendak, tentu ada suatu maksud tertentu dibalik kehendakNya itu. Allah mengutus Rasulullah dengan satu maksud, untuk menyampaikan risalah-Nya. Begitu halnya dengan bulan Ramadhan, sebab Allah tidak akan mengatakan Ramadhan sebagai bulan istimewa jika tidak ada sesuatu dibalik itu. Baginda Rasulullah SAW, ketika berada di penghujung bulan Sya’ban, selalu mengatakan kepada sahabatnya : “Telah datang padamu bulan Ramadhan, penghulu segala bulan. Maka sambutlah kedatangannya. Telah datang bulan shiyam membawa segala keberkahan, maka alangkah mulianya tamu yang datang itu.” (HR. Ath Thabrani) Dalam sabdanya yang lain : “Sesungguhnya telah datang padamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah memerintahkan berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu, dibukakan segala pintu Surga, dikunci segala pintu neraka dan dibelenggu syetan-syetan. Di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Barangsiapa yang tidak diberikan kebajikan malam itu, berarti telah diharamkan baginya segala rupa kebajikan.” (HR. An Nasai dan Al Baihaqi)

    Jika kita menengok ke belakang, melihat sirah Rasulullah SAW kita akan melihat betapa banyaknya kejadian penting terjadi pada bulan Ramadhan, di antaranya :

    1. Bulan diturunkannya Al Qur-an. Firman Allah : “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS Al Baqarah [2]:185) Dalam tafsir Mafatihul Ghaib, berkenaan dengan ayat diatas, Ar Razi berkata : “Allah telah mengistimewakan bulan Ramadhan dengan jalan menurunkan Al Qur-an. Karenanya, Allah SWT mengkhususkannya dengan satu ibadah yang sangat besar nilainya, yakni puasa (shaum). Shaum adalah satu senjata yang mengungkapkan tabir-tabir yang menghalangi kita manusia memandang nur Ilahi yang Maha Quddus. Al Qur-an adalah suatu kitab yang tiada bandingannya, pemisah yang haq dan bathil, berlaku sepanjang masa, dan menjadi pengikat seluruh ummat Islam di seluruh dunia.
    2. Bulan diturunkannya kitab-kitab suci lainnya. Di bulan ini pula, Allah menurunkan kitab-kitabNya yang lain kepada para Rasul, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits: “Shuhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan, Taurat diturunkan pada 6 Ramadhan dan Injil diturunkan pada 13 Ramadhan sedangkan Al Qur-an diturunkan pada 24 Ramadhan.” (HR. Ahmad) Itulah keberkahan bulan Ramadhan, bulan turunnya ayat-ayat Qouliyyah, minhajul hayah bagi keberadaan manusia di muka bumi, penunjuk jalan bagi orang-orang yang mau mensucikan dirinya.
    3. Bulan pilihan Allah bagi terjadinya perang Badr. Perang pertama yang dilakukan kaum Muslimin, dimana perang ini menjadi penentu kelangsungan perjuangan da’wah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW bersama para sahabatnya. Perang Badr dinamakan Allah dengan sebutan “yaumul furqon” (hari pembeda antara yang haq dan bathil), sebagaimana firmanNya : “Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” QS Al Anfal [8]:41. Muhammad Qutb mengatakan dalam tafsirnya bahwa perang ini dari awal hingga akhirnya adalah rencana Allah SWT yang dilaksanakan dengan pimpinan dan bantuanNya. Dimana dalam jalannya pertempuran, Allah SWT memenangkan kaum Muslimin yang mempunyai personil dan persenjataan minim, ditambah kondisi fisik kaum Muslimin yang secara lahiriah lebih lemah karena sedang berpuasa, setelah menerima perintah yang baru beberapa saat diterimanya. Namun itu bukanlah hambatan untuk menang, karena kekuatan utama kaum Muslimin adalah kekuatan ruhiyyah mereka dengan keyakinan akan kebenaran janji Allah SWT. Peperangan ini membuahkan babakan baru dalam sistem gerakan Islam. Perang ini memperbaharui kondisi ummat Islam, setelah dengan sabar dan tabah menempuh tahapan-tahapan perjuangan da’wah. Lahir tatanan baru dalam kehidupan manusia, bagi penerapan hak-hak asasi serta sistem dan struktur baru bagi masyarakat dan negara.
    4. Bulan yang dipilih bagi terbukanya kota Mekkah. Peristiwa “fathul makkah” terjadi pada pertengahan bulan Ramadhan, sekitar 10000 kaum Muslim mendatangi Makkah dari segala penjuru. Pada saat itulah terjadi fenomena kemenangan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah manapun, dimana semua musuh, hingga para pemimpinnya menerima dan mengikuti agama lawan. Ini tidak terjadi melainkan dalam sejarah Islam. Kemenangan ini hakikatnya adalah kemenangan akidah, kalimat tauhid dan bukan kemenangan individual atau balas dendam.
    5. Bulan yang dipilih Allah untuk Lailatul Qadar. Dijelaskan dalam firman Allah SWT : “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS Al Qadr [97]:1-5)
    6. Bulan yang dipilih untuk pelaksanaan puasa dan pemindahan qiblat. Firman Allah : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. ” QS Al Baqarah [2] : 183. Bersamaan dengan turunnya ayat perintah berpuasa di bulan Ramadhan, pemindahan qiblat ummat Islam dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram inipun menjadi pembeda antara yang haq dan bathil, dimana pada saat sebelumnya orang Yahudi merasa lebih benar karena puasa mereka dan kiblat mereka diikuti kaum Muslimin. Namun dengan perintah itu, maka berbedalah kaum Muslimin dengan ahlul kitab. Berbeda pula kiblat Muslimin dengan mereka, serta puasa Muslimin dengan mereka. Kecongkakan merekapun berakhir dengan barokah bulan ini.

    ***

    Kiriman Sahabat Erman

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 11 May 2019 Permalink | Balas  

    Marhaban Ya Ramadhan 

    Marhaban Ya Ramadhan

    Marhaban barasal dari kata rahb yang berarti luas atau lapang. Marhaban menggambarkan suasana penerimaan tetamu yang disambut dan diterima dengan lapang dada, dan penuh kegembiraan. Marhaban ya Ramadhan (selamat datang Ramadhan), mengandungi arti bahwa kita menyambut Ramadhan dengan lapang dada, penuh kegembiraan, tidak dengan keluhan.

    Rasulullah sendiri senantiasa menyambut gembira setiap datangnya Ramadhan. Dan berita gembira itu disampaikan pula kepada para sahabatnya seraya bersabda: “Sungguh telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkatan. Allah telah memfardlukan atas kamu puasanya. Di dalam bulan Ramadhan dibuka segala pintu surga dan dikunci segala pintu neraka dan dibelenggu seluruh setan. Padanya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tidak diberikan kepadanya kebaikan malam itu maka sesungguhnya dia telah dijauhkan dari kebajikan” (Hr. Ahmad)

    Marhaban Ramadhan, kita ucapkan untuk bulan suci itu, karena kita mengharapkan agar jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah swt. Perjalanan menuju Allah swt itu dilukiskan oleh para ulama salaf sebagai perjalanan yang banyak ujian dan tentangan. Ada gunung yang harus didaki, itulah nafsu. Digunung itu ada lereng yang curam, belukar yang hebat, bahkan banyak perompak yang mengancam, serta iblis yang merayu, agar perjalanan tidak dilanjutkan. Bertambah tinggi gunung didaki, bertambah hebat ancaman dan rayuan, semakin curam dan ganas pula perjalanan.

    Tetapi, bila tekad tetap membaja, sebentar lagi akan tampak cahaya benderang, dan saat itu akan tampak dengan jelas rambu-rambu jalan, tampak tempat-tempat yang indah untuk berteduh, serta telaga-telaga jernih untuk melepaskan dahaga. Dan bila perjalanan dilanjutkan akan ditemukan kendaraan Ar-Rahman untuk mengantar sang musafir bertemu dengan kekasihnya. Untuk sampai pada tujuan tentu diperlukankan bekal yang cukup. Bekal itu adalah benih-benih kebajikan yang harus kita tabur didalam jiwa kita. Tekad yang keras dan membaja untuk memerangi nafsu, agar kita mampu menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat dan tadarrus, serta siangnya dengan ibadah kepada Allah melalui pengabdian untuk agama.

    ***

    Kiriman Sahabat Erman

     
  • erva kurniawan 2:18 am on 9 May 2019 Permalink | Balas  

    Hadits Dha’if dan Hasan tentang Doa Berbuka Puasa 

    Hadits Dha’if dan Hasan tentang Doa Berbuka Puasa

    Hadits dha’if tentang doa berbuka puasa :

    Dari Mu’adz bin Zuhrah, bahwasannya telah sampai kepadanya, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi was sallam apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan, “Allahumma laka shumtu wa bika amantu “(HR Abu Dawud no. 2358, Baihaqi 4/239 dan lainnya)

    Hadits tersebut di atas dikatakan mursal karena Mu’adz bin Zuhrah adalah seorang tabi’in bukan seorang sahabat, jadi ada sanadnya yang terputus antara sahabat dan tabi’in sehingga haditsnya dikategorikan dha’if.

    Sementara itu hadits yang hasan tentang doa berbuka puasa adalah sebagai berikut :

    Doa yang biasa diucapkan Rasulullah SAW ketika berbuka puasa, “DzaHabazh zhuma-u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah” yang artinya “Telah hilang rasa haus dan urat – urat telah basah serta pahala telah ditetapkan, insya Allah” (HR. Abu Dawud no. 2357, Ad Daraquthni III/1401 no. 2247, dan Al Hakim no. 1/422, hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Irwaa-ul Ghaliil no. 920)

    Maraji’

    Al Masaa-il, Abdul Hakim bin Amir Abdat, Darul Qalam, Jakarta, Cetakan Kedua, Tahun 2004 M.

    Adab Harian Muslim Teladan, Abdul Hamid bin Abdurrahman As Suhaibani, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Januari 2005 M, hal. 184-185.

     
  • erva kurniawan 3:36 am on 8 May 2019 Permalink | Balas  

    Kitab Rahasia Puasa (4/4) 

    Kitab Rahasia Puasa (4/4)

    Puasa Tathawwu’

    Ketahuilah bahwasanya puasa tathawwu’ atau puasa sukarela itu dituntut untuk dilakukan pada hari-hari yang diutamakan oleh Islam. Dan keutamaan hari-harinya itu ada yang dihubungkan dengan tahun ada dengan bulan dan ada pula dengan minggu.

    Yang dihubungkan dengan tahun sesudah dikira puasa Ramadhan ialah berpuasa pada hari Arafah, Hari Asura dan sepuluh hari pertama pada bulan Zulhijjah. Rasulullah s.a.w sendiri dikatakan terlalu banyak berpuasa pada bulan Sya’ban. Ada sebuah Hadis mengatakan bahawa:

    “Sebaik-baik berpuasa sesudah Ramadhan ialah berpuasa pada bulan Muharram” karena Muharram itu adalah permulaan tahun Islam dan memulakan bulan itu dengan kebajikan memanglah dituntut dan diberatkan agar keberkatannya berterusan.

    Ada Hadis yang lain: Apabila telah masuk separuh bulan Sya’ban, maka tidaklah disunnatkan berpuasa lagi, sehingga masuk pada bulan Ramadhan. Sebab itulah disunnatkan agar tidak berpuasa sebelum bulan Ramadhan beberapa hari, tetapi jika mahu berpuasa juga bersambung dengan bulan Ramadhan maka hukum nya harus pula.

    Tidak dibolehkan berpuasa karena menyambut bulan Ramadhan dua hari ataupun tiga hari sebelum ketibaannya, melainkan jika hari sebelum ketibaannya, melainkan jika hari itu menjadi hari kebiasaannya ia berpuasa sunat (hari Isnin dan Khamis dan sebagainya). Setengah para sahabat telah melarang berpuasa pada bulan Rejab sebulan penuh, supaya ia tidak menyamai puasa dalam Ramadhan pula.

    Adapun puasa yang dilakukan dalam setiap bulan itu, ialah pada permulaan bulan, pertengahannya dan akhirnya. Di pertengahannya ialah hari-hari putih, iaitu pada hari 13, 14 dan 15.

    Manakala puasa mingguan pula disunnatkan pada hari Senin, Kamis dan Jumat. Pada hari-hari itu bukan saja disunnatkan puasa, malah disunnatkan memperbanyakkan khairat dan sedekah, agar bertambah-tambah pula pahalanya dengan keberkatan hari dan masanya.

    Sekarang telah jelaslah kepada kita bila masanya diutamakan puasa maka untuk menyempurnakannya hendaklah setiap manusia Muslim memahami pengertian puasa yang sebenarnya dan rahasianya dalam menjernihkan hati dan meringankan kesusahan yang dilakukan semata-mata karena Allah Ta’ala saja.

    Wallohu A’lam Bis-Shawab

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:32 am on 7 May 2019 Permalink | Balas  

    Kitab Rahasia Puasa (3/4) 

    Kitab Rahasia Puasa (3/4)

    Sunnat-sunnat puasa

    Sunnat bagi orang yang berpuasa melewatkan sahur dan menyegerakan berbuka, yaitu dengan buah kurma atau dengan air sebelum bersembahyang. Sunnat baginya juga banyak bersedekah dalam bulan Ramadhan, banyak membaca Al-Quran duduk beri’tikaf dalam masjid pada 10 hari yang terakhir dari Ramadhan dan tiada keluar dari masjid itu, melainkan karena sesuatu hajat saja. Tiada mengapa dia memakai bau-bauan yang wangi di dalam masjid, berakad nikah di situ, makan-minum dan tidur di dalamnya, membasuh tangan di dalam besin, yang semua itu mungkin diperlukan ketika ber’iktikaf di dalam masjid.

    Jenis-Jenis puasa dan tingkatannya.

    Ketahuilah bahawa puasa itu ada tiga darjatnya.

    1. Puasa umum: yaitu berpuasa dengan menahan perut dan faraj (kemaluan) dari mengecap kesyahwatannya, seperti yang telah berlalu huraiannya.
    2. Puasa khusus: yaitu puasa disertakan dengan mengekang pendengaran, penglihatan, lidah, tangan, kaki dan seluruh anggota dari melakukan perkara-perkara yang haram atau dosa.
    3. Puasa khususul-khusus: yaitu berpuasa dengan menyertakan semua yang tersebut di atas tadi dan menambah lagi dengan berpuasanya hati dari segala cita-cita yang kotor dan pemikiran-pemikiran keduniaan dan memesongkan perhatian dari selain Allah azzawajalla sama sekali.

    Rahasia-rahasia puasa dan syarat-syarat kebatinannya:

    Semua ada enam yaitu:

    1. Memejamkan mata dan menahannya dari meluaskan pemandangan kepada segala perkara yang tercela dan dibenci oleh agama dan juga kepada segala sesuatu yang boleh menganggu hati, seperti melalaikannya dari berzikir dan mengingat kepada Allah.
    2. Memelihara lidah dari bersembang kosong, berbohong, mencaci maki, bercakap kotor, menimbulkan permusuhan dan riya’.
    3. Memelihara pendengaran dari mendengar hal-hal yang dilarang dan dibenci, sebab setiap yang haram diucapkan haram pula didengarkan. Dan karena itu jugalah Allah s.w.t telah menyamakan pendengaran kepada sesuatu semacam itu dengan memakan barang-barang yang diharamkan, sebagaimana dalam firmanNya: “Mereka itu suka mendengar perkara yang bohong dan memakan barang yang haram.” (al-Maidah: 42)
    4. Memelihara seluruh anggota yang lain dari membuat dosa seperti tangan dan kaki dan memeliharanya juga dari segala yang dibenci. Demikian pula menahan perut dari memakan barang-barang yang bersyubhat waktu berbuka puasa. Apalah gunanya berpuasa dari makanan yang halal, kemudian dia berbuka pula, dia memakan makanan yang haram. Orang berpuasa seperti ini, samalah seperti orang yang membangunkan sebuah istana yang indah, kemudian dia menghancurkan sebuah kota. Rasulullah s.a.w bersabda: “Ada banyak orang yang berpuasa tetapi ia tiada memperolehi dari puasaya itu selain dari lapar dan dahaga (yakni tiada mendapat pahala).” Ada yang mengatakan bahwa orang itu adalah orang yang berbuka puasanya dengan makanan yang haram. Yang lain pula mengatakan orang itu ialah orang yang menahan dirinya berpuasa dari makanan yang halal, lalu ia berbuka dengan memakan daging manusia; yaitu mencaci maki orang karena yang demikian itu adalah haram hukumnya. Ada yang mengertikannya dengan orang yang tiada memelihara anggota-anggotanya dari dosa.
    5. Janganlah dia membanyakkan makan waktu berbuka puasa, sekalipun dari makanan yang halal, sehingga terlampau kenyang, karena tidak ada bekas yang paling dibenci oleh Allah s.w.t. daripada perut yang penuh dari makanan yang halal. Cubalah renungkan, bagaimanakah dapat menentang musuh Allah (syaitan) dan melawan syahwat kiranya apa yang dilakukan oleh orang yang berpuasa waktu berbuka itu, ialah mengisikan perut yang kosong itu dengan berbagai makanan semata-mata karena dia tidak mengisikannya di waktu siang tadi. Kadangkala makanan-makanan yang disediakan itu berbagai-bagai rencamnya sehingga menjadi semacam adat pula kemudiannya. Akhirnya dikumpulkanlah bermacam ragam makanan untuk persediaan menyambut Ramadhan, dan dihidangkan pula dalam satu bulan itu bermacam-macam makanan yang tidak pernah dihidangkan dalam bulan-bulan sebelumnya. Sebagaimana yang termaklum bahwa maksud puasa itu adalah menahan selera dan mengekang nafsu, agar diri menjadi kuat untuk taat dan bertaqwa kepada Allah. Tetapi kalaulah hanya sekadar mengekang perut di siang hari hingga ke masa terbuka, lalu membiarkan syahwat berlonjak-lonjak dengan kemahuannya kepada makanan, dan dihidangkan pula dengan berbagai-bagai makanan yang lazat-lazat, sehingga perut kekenyangan, tentulah perut akan bertambah keinginannya kepada makanan-makanan itu. Malah akan timbul syahwat pula keinginan yang baru, yang kalau tidak dibiasakan sebelumnya mungkin ia tetap pada kebiasaannya. Semua ini adalah bertentangan dengan maksud dan tujuan puasa yang sebenarnya. Sebab hakikat puasa dan rahsianya adalah untuk melemahkan kemahuan dan keinginan, yang digunakan oleh syaitan sebagai cara-cara yang menarik manusia kepada berbagai kejahatan. Padahal keinginan ini tidak dapat ditentang, melainkan dengan mengurangkan syahwat. Barangsiapa yang menjadikan di antara hatinya dan dadanya tempat untuk dipenuhi dengan makanan, maka ia terlindung dari kerajaan langit.
    6. Hendaklah hatinya merasa bimbang antara takut dan harap karena ia tiada mengetahui apakah amalan puasanya itu diterima oleh Allah, sehingga tergolongnya ia ke dalam puak muqarrabin (hampir kepada Allah) ataupun puasanya tertolak maka terkiralah ia ke dalam golongan orang yang terjauh dari rahmat Allah Ta’ala. Perasaan seumpama ini seharusnya sentiasa ada pada diri seseorang, setiap kali selesai melakukan sesuatu ibadat kepada Allah Ta’ala.

    Bersambung.

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 6 May 2019 Permalink | Balas  

    Kitab Rahasia Puasa (2/4) 

    Kitab Rahasia Puasa (2/4)

    Kewajiban-kewajiban lahiriah puasa

    Adapun kewajiban lahiriah puasa enam perkara:

    1. Meneliti datangnya permulaan bulan Ramadhan dengan rukyah, yaitu dengan melihat anak bulan. Jika tiada terlihat, maka genapkanlah bulan Sya’ban 30 hari. Kami maksudkan, rukyah atau melihat itu, mestilah melalui ilmu pengetahuan dan ini dapat disahkan dengan penyaksian seorang adil (orang yang terkenal lurus perjalanannya dan tiada diragui boleh berbohong). Ini kalau penyaksian maksudnya Ramadhan. Tetapi untuk penyaksian permulaan Syawal atau anak bulan Syawwal, dihukumkan tidak sah, melainkan dengan dua orang saksi adil, mengambil hukum yang lebih berat untuk menyempurnakan ibadat puasa. Barangsiapa mendengar seorag adil dan ia percaya dengan yakin apa yang disaksikannya tentang anak bulan itu tanpa apa-apa keraguan lagi bagi dirinya, maka wajiblah dia berpuasa meskipun kadhi atau hakim tiada menghukumkan sah penyaksiannya itu.
    2. Niat puasa pada setiap malam – mestilah dia berniat yang khas dan tetap bagi kefardhuan puasa karena Allah Ta’ala.
    3. Menahan diri dari menyampaikan sesuatu benda ke dalam perutnya dengan sengaja tidak terlupakan dirinya sedang berpuasa. Kalau dilakukan yang demikian, maka rusaklah puasanya; yaitu dengan makan atau minum, memasukkan sesuatu melalui lubang hidung atau dubur. Tidak batal dengan bersuntik, berbekam, bercelak, memasukkan pembersih ke dalam telinga atau melalui zakar ataupun apa yang sampai ke perut tanpa disengajakan seperti debu jalan, ataupun seekor lalat termasuk ke dalam perutnya. Kalau air masuk ke dalam perut disebabkan berkumur-kumur tidak membatalkan puasa, kecuali jika dia terlalu berlebihan-lebihan dalam berkumur-kumur, maka perbuatan serupa membatalkan disebabkan kecuaian. Itulah yang dimaksudkan dengan perkataan dengan sengaja. Adapun perkataan tidak terlupa – dimaksudkan supaya ia terselamat dari lupa, kiranya ia terlupa, maka tidaklah dikira batal puasanya.
    4. Menahan diri dari persetubuhan tetapi kiranya dia bersetubuh dengan terlupa maka tiadalah dikira telah berbuka. Kiranya dia bersetubuh di sebelah malam, ataupun dia bermimpi, sehingga dia menjadi seorang junub di sebelah paginya, maka tiadalah ia dikirakan berbuka.
    5. Menahan diri dari sengaja mengeluarkan air mani dengan tujuan untuk bersetubuh ataupun tidak bersetubuh, sebab kelakuan yang demikian itu adalah membatalkan puasa. Bercium-ciuman dengan isteri atau bercumbu-cumbu dengannya tiada membatalkan puasa selagi tiada mengeluarkan mani, tetapi perbuatan semacam itu adalah makruh hukumnya kecuali jika dia seorang yang sudah tua, atau orang yang dapat menguasai dirinya (tidak takut keluar mani) maka bolehlah dia bercium-ciuman. Walau bagaimanapun meninggalkan kelakuan serupa ini adalah utama.
    6. Menahan diri dari muntah, sebab sengaja mengeluarkan muntah dari perutnya membatalkan puasa tetapi kalau termuntah dengan tidak sengaja, maka tidaklah batal puasanya. Dan sekiranya tertelan dahak dari kerongkongnya atau dari dadanya, tiadalah batal puasanya, karena keringanan sebab tidak dapat ditahan, melainkan kalau dia menelannya sesudah dahak itu sampai ditengah mulutnya maka hal itu akan membatalkan puasanya.

    Perkara yang harus dilakukan bila batal puasa.

    Orang yang batal puasanya harus melakukan empat perkara:

    1. Qadha’: Kewajibannya umum ke atas setiap Muslim Mukallaf yang meninggalkan puasa dengan uzur ataupun tanpa uzur. Umpamanya, perempuan yang datang darah haidh harus mengqadha’kan puasanya, demikian pulalah orang yang murtad. Adapun orang kafir, anak kecil dan orang gila tidak wajib mengqadha’kan puasanya. Dan hukum mengqadha’kannya tidak wajib berturut-turut, tetapi bolehlah mengqadhakannya sesuka hatinya sama ada terpisah-pisah ataupun terkumpul.
    2. Kaffarah: Kewajibannya berlaku hanya ke atas orang yang bersetubuh pada siang Ramadhan, selainnya tidak dikenakan kaffarah. Adapun kaffarahnya ialah memerdekakan seorang hamba. Kiranya ia tidak mempunyai wang untuk menebus seorang hamba, maka berpuasalah ia dua bulan berturut-turut. Jika ia tidak mampu, maka hendaklah ia memberi makan kepada 60 orang miskin setiap seorang satu mud.
    3. Berhenti dari makan-minum dan sebagainya pada sisa harinya. Ini diwajibkan ke atas orang yang menderhaka perintah Allah, karena tiada berpuasa ataupun karena cuai pada perintah puasa (berbuka tanpa sebab atau seumpamanya). Maka hendaklah ia berhenti dari makan-minum, apabila ternyata ada seorang adil yang menyaksikan anak bulan pada hari syak (yaitu 30 Sya’ban), sedangkan orang ramai semuanya tiada berpuasa pula, maka hendaklah sekaliannya berhenti dari makan-minum dan sebagainya. Bagi orang yang sedang dalam pelayaran, berpuasalah adalah lebih utama daripada berbuka.
    4. Mengeluarkan fidyah, yaitu bagi orang yang mengandung atau ibu yang masih menyusukan bayinya, karena khuatir kemudharatan ke atas bayi jika ia berpuasa. Maka dikeluarkan fidyah karena tiada berpuasa itu, setiap hari satu mud gandum/beras kepada seorang miskin, kemudian puasa itu diqadha’kan. Begitu pula dengan orang tua yang sudah lanjut umurnya, tiada mampu untuk berpuasa, dikeluarkan fidyah satu mud juga.

    Bersambung.

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 5 May 2019 Permalink | Balas  

    Kitab Rahasia Puasa (1/4) 

    Kitab Rahasia Puasa (1/4)

    Sebesar-besar nikmat yang pernah dikurniakan Allah ke atas hamba-hambaNya ialah dengan menjadikan puasa itu benteng bagi para wali dan pelindungan bagi mereka dari segala tipu daya syaitan dan angan-angannya, sebagimana Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: “Puasa itu separuh kesabaran”

    Allah telah berfirman: “Hanyasanya orang-orang yang sabar itu dipenuhi pahalanya tanpa perhitungan.” (az-Zumar: 10)

    Kalau begitu pahalanya kesabaran itu telah melampaui batas-batas perkiraan dan perhitungan dan memadailah kalau kita mengetahui keutamaannya dengan sabda Rasulullah s.a.w. yang berikut: “Demi Allah yang jiwaku berada di dalam genggamanNya, bahwa bau mulut seorang yang berpuasa adalah lebih harum pada sisi Allah dari bau-bauan minyak kasturi. Allah azzawajalla berkata: Sesungguhnya ia telah meninggalkan syahwatnya, makannya dan minumannya karena Aku. Puasa itu (dilakukan) karena Aku, dan Akulah yang akan memberikan balasannya sendiri.”

    Orang yang berpuasa itu dijanjikan Allah akan bertemu denganNya untuk menerima balasan puasanya itu.

    Rasulullah s.a.w telah bersabda: “Orang yang berpuasa itu mempunyai dua kegembiraan: Kegembiraan yang pertama ketika masa berbuka puasanya, dan kegembiraan yang lain ialah ketika masa menemui Tuhannya.”

    Dalam penafsiran makna ayat yang berikut: “Tiada seorang pun yang mengetahui apa-apa yang telah disembunyikan daripada mereka itu dari cahaya mata, iaitu sebagai pembalasan terhadap segala yang mereka kerjakan.” (as-Sajdah:17)

    Yakni amalan yang mereka kerjakan itu ialah berpuasa sebab Allah berfirman pula pada ayat yang lain: “Hanyasanya orang-orang yang bersabar itu dipenuhi pahalanya tanpa perhitungan.” (az-Zumar: 10)

    Nyatalah orang yang berpuasa itu akan diberikan balasan secukup-cukupnya dan dilipat-gandakan pahalanya tanpa dapat diragukan lagi atau diperhitungkan banyaknya. Sudah sewajarnyalah ia menerima balasan yang begitu besar, sebab puasa itu adalah dikerjakan karena Allah semata-mata dan ditujukan kepadaNya, tiada lain. Walaupun ibadat-ibadat yang lain itu pun ditujukan kepada Allah jua, tetapi ada dua perbedaannya:

    1. Bahwasanya puasa itu adalah menahan diri dan meninggalkan hawa nafsu, dan ia adalah rahsia di dalam diri seseorang dan bukan merupakan amalan yang boleh dilihat. Semua ketaatan dibuat di mata ramai dan dapat diketahui, melainkan puasa saja, tiada yang melihatnya selain Allah azzawajalla. Ia adalah suatu amalan dalam kebatinan yang disertai dengan kesabaran semata-mata.
    2. Bahwasanya puasa itu merupakan suatu jalan penentangan terhadap musuh Allah azzawajalla, sebab jalan syaitan itu, ialah melalui syahwat dan hawa nafsu yang meminta banyak makan dan minum. Jadi dalam menekan dan menentang kemauan musuh Allah itu adalah suatu pertolongan kepada Allah Ta’ala sedangkan pertolongan Allah kepada kita itu tergantung atas pertolongan dari Allah Ta’ala.

    Allah telah berfirman: “Jika kamu sekalian menolong Allah (menurut perintah Allah), tentulah Allah akan menolong kamu dan akan menetapkan kaki kamu (kedudukan kamu).” (Muhammad: 7)

    Dengan jalan inilah puasa itu menjadi pintu bagi segala peribadatan dan perlindungan dari hawa nafsu. Jika kita telah mengetahui keutamaannya begitu besar sekali, maka hendaklah kita menuntut syarat-syaratnya yang lahir dan batin dengan mempelajari rukun-rukunnya, sunat-sunatnya dan syarat-syarat kebatinannya.

    Bersambung.

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 4 May 2019 Permalink | Balas  

    Sikap Selama Ramadhan 

    Sikap Selama Ramadhan

    Ketika tiba bulan Ramadhan tibalah saatnya kita menghidupkan Ramadhan (Ihya Ramadhan) dengan menjaga setiap detik hari-hari Ramadhan kita tidak terlewatkan begitu saja tanpa diisi dengan memperbanyak ibadah kepada Allah SWT, seperti memperpanjang ruku’ dan sujud, shalat tarawih, bermunajat kepada Allah, memperbanyak sholat sunnat (nawafil), senantiasa berdzikir, tilawah dan tadabbur al-Quran, i’tikaf minimal pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, mengurangi waktu tidur pada siang hari (sementara Rasulullah dan Ummahatul Mu’minin selama Ramadhan begitu aktifnya beramal) dan perbanyak waktu menemui orang-orang yang sholeh.

    Jangan biarkan harta kita yang berlebih tersisa hingga melewati bulan Ramadhan. Alangkah indahnya bila Allah memanggil kita ke pangkuan-Nya manakala Ramadhan telah membersihkan kita dari dosa dan kemudian Ramadhan menghadiahi kita teman-teman alam barzarkh berupa amal sholeh dan amal sedekah Ramadhan. Hitunglah kembali kekurangan zakat yang belum kita penuhi, sempurnakan ia dengan infaq, hiasi dengan shodaqoh dan bahagiakan Ramadhan dengan memberi makan orang yang berpuasa. Sebuah hadits meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda :

    “Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan dan ia mengajak orang lain untuk berbuka dengan makanan yang halal, maka Allah SWT pada malam itu akan mengirim rahmat-Nya melalui para malaikat-Nya, dan pada malam Lailatul Qadar, Jibril a.s. akan berjabat tangan dengannya. Dan barang siapa berjabat tangan dengan Jibril a.s., hatinya akan menjadi lembut dan matanya akan mudah menangis”.

    Alangkah sayangnya bila bulan yang setiap detiknya sangat berarti ini terlewatkan sia-sia oleh kesibukan dunia yang berlebihan, kesibukan berlebihan dalam mempersiapkan makanan buka puasa dan acara lebaran, atau kesibukan memperbagus rumah. Alangkah sedihnya sang Ramadhan, bila ia diisi dengan menghabiskan waktu di depan TV secara sia-sia, bercengkerama tanpa tujuan, atau menunggu waktu buka dengan berjalan-jalan ke pertokoan. Para salafus sholihin pada jaman dahulu selalu bekerja keras selama 11 bulan, dan menabung uang agar bisa waktunya 100 % bisa untuk ibadah di bulan Ramadhan. Kini kita lebih banyak menggunakan waktu cuti kita untuk berwisata bersama keluarga di bulan lain, kini mulailah belajar menjadikan Ramadhan sebagai wisata hati bagi seluruh keluarga kita yang hadiahnya syurga.

    Sungguh niscaya bila kita mengotori Ramadhan ini dengan melakukan perbuatan yang diharamkan, karena itu jauhilah pintu-pintu dosa, jauhilah kemungkinan-kemungkinan dimana godaan dunia dan syeitan berkumpul. Jauhilah pusat keramaian dimana dosa diobral murah, hindarkan berkumpul dengan orang-orang yang melakukan pekerjaan sia-sia atau berbicara sia-sia, jauhi pandangan mata dari hal yang diharamkan bahkan yang dimakruhkan, tutup telinga dari namimah, ghibah dan kemungkaran, kunci mulut dari kata-kata yang menyakiti dan yang sia-sia.

    Rasulullah SAW juga bersabda : “Barangsiapa yang selama berpuasa tidak juga meninggalkan kata-kata bohong, bahkan mempraktekkannya, maka ia tidak memperoleh pahala puasa kecuali lapar dan haus”

    Bulan Penuh Rahmat, Bulan Penuh Pengampunan, Bulan Yang Akan Menjauhkan Kita Dari Api Neraka

    Dalam Ramadhan ini kita bertekad akan menyelami rahasia kehidupan, dari mana, di mana dan hendak kemana kita ? Sehingga kita akan menghayati bahwa dunia ini adalah tempat berusaha untuk mematuhi perintah Allah dan akhirat adalah untuk menerima balasan dariNya.

    Pada bulan Ramadhan ini, kita akan berusaha untuk mendapatkan rahmat dan ampunan Allah, karena sesungguhnya kecelakaanlah bagi orang-orang yang tidak mendapatkan rahmat Allah pada bulan yang penuh dengan rahmat ini.

    “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, niscaya Allah mengampuni dosanya yang telah lalu” (HR. Ash Habus Sunan).

    “Tiadalah berpuasa seorang hamba pada suatu hari di jalan Allah, melainkan Allah menjauhkan neraka dari mukanya selama 70 tahun karena puasa hari itu” (HR. Al-Jamaah dari Abu Sa’id)

    “Demi Tuhan yang jiwaku berada genggaman-Nya, sesungguhnya bau busuk mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah SWT dari pada wangi kasturi. Dan bagi orang yang berpuasa tersedia 2 kegembiraan, yaitu gembira ketika berbuka puasa dan gembira ketika kelak menerima pahala puasanya di akhirat” (HR Syaikhoni, Nasa’I, Ibnu Majjah dan Ibnu Hibban).

    Selamat datang Wahai Ramadhan, bulan yang agung, bulan yang penuh berkah, bulan yang menghapuskan dosa dan mengabulkan doa bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh beribadah di dalamnya.

    Ya Ilahi, Engkaulah tujuan kami dan KeridhoanMulah dambaan kami.

    (Sumber : Ceramah Ustadzah Dra Herlini Amran. MA, 2005-08-11; buku Amaliah Ramadhan, Dr. Miftah Faridl; buku Fadhilah Ramadhan, Maulana Muhammad Zakariyya Rah.A.; dan sumber NN)

     
  • erva kurniawan 2:25 am on 3 May 2019 Permalink | Balas  

    Persiapan Diri Menyambut Sang Tamu 

    Persiapan Diri Menyambut Sang Tamu

    1. Sejak dua bulan sebelum sang Ramadhan datang, yaitu di bulan Rajab, biasanya Rasulullah saw banyak berdoa sbb :

    “Ya Allah berkahilah kami dalam bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.”

    “Ya Allah sampaikanlah kami pada Ramadhan dengan aman, keimanan, keselamatan, Islam, kesehatan dan terhindar dari penyakit serta bantulah kami untuk melaksanakan shalat, puasa dan tilawah al-Quran padanya.”

    “Ya Allah bulan Ramadhan telah menaungi kami dan telah hadir, serahkanlah ia pada kami dan serahkanlah kami padanya, karuniakanlah kami kesanggupan untuk berpuasa, dan menegakkan malam-malamnya. Dan karuniakanlah kami kesungguhan kekuatan dan semangat serta jauhkanlah kami dari fitnah didalamnya”.

    1. Sejak sebulan sebelum sang Ramadhan tiba, yaitu bulan Sya’ban (saat ini), hendaknya kita memperbanyak puasa (sunat), membaca Qur’an, dzikir, dan ibadah sunnat lainnya, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah saw dalam hadits Bukhari-Muslim, Aisyah ra. berkata : “Tidaklah aku lihat Rasul menyempurnakan puasanya sebulan penuh kecuali pada Ramadhan dan tidak juga aku lihat beliau memperbanyak puasa sunnatnya kecuali di bulan Sya’ban”. Memperbanyak aktivitas tilawah Quran, sebagaimana yang diungkapkan Anas bin Malik bahwa para sahabat jika memasuki bulan Sya’ban, mereka segera mengambil mushaf dan membacanya.
    2. Meminta maaf kepada sesama manusia, sehingga ketika memasuki Ramadhan dosa kita dengan sesama manusia sudah terhapuskan dan di bulan Ramadhan tinggal menyelesaikan dosa kita pada Allah SWT saja, dan ketika hari raya Idul Fitri tiba kita benar-benar berada dalam keadaan fitrah (suci).
    3. Bertafaqquh, yaitu memperdalam pengetahuan fiqih kita yang berkaitan dengan ibadah Ramadhan, sehingga pelaksanaan ibadah dapat berjalan dengan sebaik mungkin syariat yang diajarkan Rasulullah SAW.
     
  • erva kurniawan 1:23 am on 2 May 2019 Permalink | Balas  

    Seorang Tamu Yang Segera Hadir 

    Saudaraku muslimin dan muslimah,

    Asssalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Segala puji bagi Allah SWT. Shalawat dan salam atas Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan segenap para pengikutnya yang dengan teliti menjaga sunnah-sunnahnya.

    Seorang Tamu Yang Segera Hadir

    Bagaimanakah perasaan anda jika ada seorang tamu yang anda cintai bermaksud akan mengunjungi dan tinggal besama anda selama beberapa hari ?. Tak diragukan lagi betapa bahagianya anda mendengar kabar ini dan sedapat mungkin anda akan mempersiapkan rumah anda, membersihkannya dan menyiapkan acara dan makanan-minuman yang menarik.

    Wahai saudaraku, bagaimana jika tamu itu bukan saja anda cintai, akan tetapi juga dicintai dan dimuliakan Allah dan rasul-Nya serta seluruh umat muslim. Sudahkah terbayang oleh anda siapa tamu yang luar biasa ini, yang akan berada bersama anda dalam waktu dekat ini, selama selama sebulan penuh, siang dan malam, membawa kebaikan dan keberkahan. Dialah bulan Ramadhan, bulan mulia, bulan dimana al-Quran diturunkan, bulan shiyam, bulan qiyamullail, bulan berhias tahajud, bulan yang dipenuhi airmata umat yang bertobat, bulan penuh kesabaran, penuh ketaqwaan, bulan dimana pahala dan ampunan Allah diobral semurah mungkin, bulan dimana pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka selebar-lebarnya, bulan dimana para syaitan dibelenggu, bulan dimana amal kebaikan dilipatgandakan, bulan dimana didalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan (lailatul qadr).

    Dialah bulan mulia yang ditunggu-tunggu sejak 11 bulan yang lalu oleh orang-orang sholeh, dan ditangisi dibanyak mesjid sejak 10 hari menjelang kepergiannya.

     
  • erva kurniawan 2:04 pm on 30 April 2019 Permalink | Balas  

    Mandi Wajib 

    Tata Cara Mandi Wajib

    Hal-hal yang menyebabkan diwajibkannya mandi :

    Keluar air mani, baik saat terjaga ataupun tidur

    Berdasarkan sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya air (mandi) itu disebabkan air (keluarnya mani)” (HR. Muslim no. 343 dan Abu Dawud no. 214)

    Jima’ (berhubungan badan).

    Walaupun tidak keluar air mani. Dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika ia telah duduk diantara ke empat cabang istrinya … (kiasan untuk bersetubuh), maka ia wajib mandi meskipun tidak keluar air mani” (HR. Muslim no. 348)

    Masuk Islamnya orang kafir.

    Dari Qais bin ‘Ashim, ia menceritakan bahwa ketika ia masuk Islam, Nabi SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR. At Tirmidzi no. 602 dan Abu Dawud no. 351, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Irwaa’ul Ghaliil no. 128)

    Terputusnya haidh dan nifas.

    Dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah SAW berkata kepada Fathimah binti Abi Khubaisy,

    “Jika datang haidh, maka tinggalkanlah shalat. Dan jika telah lewat, maka mandi dan shalatlah” (HR. Al Bukhari no. 320, Muslim no. 333, Abu Dawud no. 279, At Tirmidzi no. 125 dan An Nasa’i I/186)

    Hari Jum’at.

    Dari Abu Sa’id Al Khudri ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Mandi Jum’at wajib bagi setiap orang yang telah baligh” (HR. Al Bukhari no. 879, Muslim no. 346, Abu Dawud no. 337, An Nasa’i III/93 dan Ibnu Majah no. 1089)

    Adapun tata caranya adalah berdasarkan hadits dari jalan Aisyah ra., ia berkata, “Dahulu, jika Rasulullah SAW hendak mandi janabah (junub), beliau membasuh kedua tangannya. Kemudian menuangkan air dari tangan kanan ke tangan kirinya lalu membasuh kemaluannya. Lantas berwudhu sebagaimana berwudhu untuk shalat. Lalu beliau mengambil air dan memasukan jari-jemarinya ke pangkal rambut. Hingga beliau menganggap telah cukup, beliau tuangkan ke atas kepalanya sebanyak 3 kali tuangan. Setelah itu beliau guyur seluruh badannya. Kemudian beliau basuh kedua kakinya” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

    Pada riwayat lain dikatakan, “dan dimasukannya jari-jari ke dalam urat rambut hingga bila dirasanya air telah membasahi kulit [kepala], disauknya dua telapak tangan lagi dan disapukannya ke kepalanya sebanyak 3 kali, kemudian dituangkan ke seluruh tubuh” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

    Dari hadits yang mulia di atas maka urutan tata cara mandi wajib adalah :

    1. Membasuh kedua tangan
    2. Membasuh kemaluan
    3. Berwudhu sebagaimana berwudhu untuk shalat [Boleh menangguhkan menangguhkan membasuh kedua kaki sampai selesai mandi
    4. Mencuci rambut dengan cara memasukan jari-jemari ke pangkal rambut
    5. Menuangkan air ke atas kepala sebanyak 3x atau mengambil air dengan kedua tangan kemudian menyapukannya ke kepalanya.
    6. Menguyur seluruh badan
    7. Membasuh kaki

    Sedangkan rukun dari mandi wajib ini menurut pandangan fiqh ada 2 yaitu :

    • Karena inilah yang memisahkan antara ibadah dengan kebiasaan dan adat.
    • Membasuh seluruh anggota tubuh. Karena Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika kamu junub hendaklah bersuci”, maksudnya adalah mandi.

    Maraji’:

    Fikih Sunnah Jilid 1, Sayyid Sabiq, PT. Al Ma’arif, Bandung, Cetakan Kedelapan belas, 1997 M.

    Panduan Fiqih Lengkap Jilid 1, Abdul Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 27 April 2019 Permalink | Balas  

    Walimatul Ursy 

    Walimatul Ursy

    Seputar bulan Dzulhijjah adalah bulannya orang menikah. Banyak walimatul ‘ursy yang diadakan. Tentang hal ini Rasulullah saw memberikan tuntunan : “Adakan walimah, walau dengan seekor kambing…..” Buraidah menceritakan, “Ketika Ali datang melamar Fatimah, bersabdalah Nabi Muhammad saw. ‘Sesungguhnya harus, untuk pesta perkawinan ada walimahnya.'” (HR. Ahmad)

    Seperti apa, dan bagaimana menyelenggarakan walimah yang Islami, berikut ini adalah beberapa kiatnya.

    1.. Niatnya.

    Jangan sampai salah memasang niat, karena segala sesuatu itu tergantung niatnya. Penyelenggaraan walimah pernikahan di dalam Islam memiliki tujuan suci, yaitu untuk mengabarkan kepada khalayak umum tentang pelaksanaan sebuah ijab qabul. Terjadinya ijab qabul tak boleh disembunyikan dari masyarakat, karena akan menyebabkan terjadinya fitnah dan kemudharatan. Hindari penyelenggaraan walimah dengan niat memamerkan harta yang dimiliki, atau saling bersaing dengan keluarga lain. Hindari pula pelaksanaan walimah karena niat mencari sensasi, mencari popularitas. Bahkan ada yang berniat menyakiti hati orang lain dengan cara mengadakan walimah besar-besaran.

    2.. Waktunya.

    Sebenarnya tak ada ketentuan khusus mengenai pilihan waktu penyelenggaraan. Bisa di saat ijab qabul atau sesudahnya. Boleh di hari pertama pengantin berkumpul. Boleh pula beberapa hari sesudahnya. Biasanya, pilihan waktu ini disesuaikan dengan adat dan kebiasaan yang berlaku di satu tempat, juga ketersediaan anggaran.

    3.. Undangannya.

    Mengundang sanak kerabat, teman dan tetangga sangat bermanfaat untuk menyambung tali silaturrahim. Mengundang siapa saja pun boleh seperti Rasulullah saw yang berpesan kepada sahabat untuk mengundang ‘siapa saja yang kau temui’ pada saat pernikahan beliau. Tetapi hendaknya tidak membeda-bedakan undangan, seperti dipesankan beliau, “Sejelek-jelek makanan ialah makanan walimah yang hanya mengundang orang-orang kaya akan tetapi meninggalkan orang-orang miskin.” (HR Bukhari)

    4.. Penjagaan Syariahnya.

    Keinginan mengadakan walimah pernikahan yang meriah tak jarang membuat orang mengabaikan nilai-nilai syariah dalam Islam. Pendapat ‘hanya sekali dalam hidup’ sering dijadikan alasan untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran. Beberapa hal yang sering terjadi antara lain:

    • Memajang Pengantin.

    Dengan berbagai macam alasan, orang suka mendudukkan pengantin yang telah berdandan dan berpakaian menarik bersanding berdua di atas kursi pengantin. Kursi ini diletakkan persis di depan menghadap ke para undangan. Dengan dihiasi dekorasi yang sangat menarik, jadilah pasangan pengantin sebagai pusat perhatian seluruh undangan.

    Memang benar tujuan utama walimah pernikahan adalah mengabarkan terjadinya sebuah akad nikah, namun tidaklah berarti harus mempertontonkan pengantin putri kepada undangan pria, dan pengantin putra kepada undangan wanita. Dalam salah satu pernikahan Rasulullah saw, beliau mengundang para sahabat datang berkunjung. Pada saat itu beliau berada bersama istri beliau, namun sang istri membalikkan badan, tidak menghadap kepada para sahabat. Jika kita berkeinginan sekadar memperkenalkan pengantin juga tidak mengapa, tetapi tidaklah perlu sepanjang acara berlangsung, dari awal sampai akhir.

    Akan lebih baik jika memperkenalkan pengantin di tempat terpisah. Pengantin putra diperkenalkan kepada undangan pria dan pengantin putri diperkenalkan kepada undangan wanita di tempat tersendiri. Kalau toh terpaksa harus diperkenalkan bersama-sama, bisa dipilih waktu secukupnya, misalkan di akhir acara, saat undangan hendak memberikan ucapan selamat, atau pada saat berfoto.

    • Busana pengantin.

    Iming-iming untuk bisa tampil istimewa dengan dandanan khas pengantin cukup merangsang. Para pengantin, terutama pengantin putri perlu waspada. Jangan terjebak bujukan ‘sekali seumur hidup’ untuk bersedia memperlihatkan aurat pada saat ini. Bagaimana jika pada saat seperti itu kita meninggal?

    Alhamdulillah, busana pengantin muslimah sekarang sudah mulai disukai. Desainnya pun bervariasi dan menarik. Ada pula yang dipadukan dengan ciri kedaerahan sehingga nampak mirip busana daerah. Namun perlu juga hati-hati memilih model, karena ada busana pengantin muslim yang begitu bagusnya, tetapi menggunakan kain yang menerawang, masih memperlihatkan leher, memakai sanggul palsu atau terlalu ketat ke badan. Yang seperti ini sebaiknya disempurnakan lagi.

    • Hijab undangan.

    Memisahkan tempat duduk para undangan adalah upaya menegakkan hijab dengan baik. Tentunya tidak harus dengan tabir tinggi yang begitu ketat sehingga mengurangi nilai keindahan. Batas antara tempat undangan pria dan wanita bisa dirancang yang indah dan menarik, misalkan dengan tatanan taman bunga yang indah. Ini terutama jika diperkirakan para undangan banyak terdiri dari mereka yang belum sepenuhnya mengerti makna hijab.

    Bila undangan lebih spesifik, dengan pemahaman terhadap hijab yang cukup, maka memisahkan ruang para undangan adalah alternatif terbaik.

    • Rangkaian Acara.

    Banyak alternatif rangkaian acara bisa dipilih, asalkan tidak sampai melanggar nilai-nilai Islam. Adat daerah dalam walimah pernikahan hendaknya diseleksi terlebih dahulu. Yang dikhawatirkan menyimpang dari nilai Islam lebih baik ditinggalkan. Adat yang tidak menyimpang, melinkan sekadar sebuah kebiasaan bisa dilaksanakan dengan lebih dititikberatkan kepada pengambilan hikmahnya.

    Beberapa acara yang tidak perlu diperlihatkan kepada undangan bisa dilaksanakan hanya di antara keluarga dekat saja. Seperti acara ijab qabul, pemberian do’a pengantin putra kepada istrinya, pemberian mahar dan sungkem kepada ayah-ibu.

    • Acara foto bersama.

    Berfoto bersama keluarga besar pengantin diperbolehkan, dengan tetap memperhatikan hijab. Perlu diperhatikan bahwa dalam keluarga besar sekalipun ada yang tidak satu muhrim dengan pengantin. Boleh berfoto antara mereka dengan tetap memperhatikan aturan hijab seperti tidak bergandengan tangan.

    • Acara hiburan.

    Tidak ada tujuan lain dari penyelenggaraan acara hiburan selain menggembirakan undangan dan memeriahkan acara. Hukumnya hanya mubah. Jika disepakati mengadakan acara ini, hendaknya dicari acara yang diperbolehkan dalam Islam. Tidak menimbulkan kemudharatan, tidak merangsang nafsu birahi dan menimbulkan fitnah.

    1. TIDAK BERMEWAH-MEWAH.

    Segala sesuatu yang berlebih-lebihan akan membawa kemudharatan. Begitu pula pengadaan walimah. Menghabiskan uang jutaan adalah hal yang lumrah untuk orang sekarang. Tetapi sebaiknya kita pun instrospeksi kembali, sebesar itukah keperluan sebuah walimah? Sedangkan kriteria dari Rasulullah tak lebih dari seekor kambing.

    Sumber : Ummu Itqon

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 26 April 2019 Permalink | Balas  

    Tata Cara Penyembelihan Kurban (Bagian 3) 

    Tata Cara Penyembelihan Kurban (Bagian 3)

    Oleh: Shidiq Hasan Khan

    7.. Dan Tidak Mencukupi Selain Dari Ma’zun

    Berdasarkan hadits Abu Burdah dalam shahihain dan lainnya bahwa dia berkata, “Artinya: Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya mempunyai hewan ternak ma’zun jadz’u (Sejenis Kambing Yang Kurang Dua Tahun). Lalu beliau berkata: Sembelihlah, dan tidak boleh untuk selainmu.” 34)

    Adapun yang diriwayatkan dalam Shahihain dan lainnya dari hadits ‘Uqbah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membagikan kambing kepada para shahabatnya sebagai hewan kurban, lalu yang tersisa adalah ‘Atud (anak ma’az). Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diberitahu, lalu beliau menjawab: “Artinya: Berkurbanlah engkau dengan ini.”Al-‘Atud adalah anak ma’az yang umurnya sampai setahun.

    Dikeluarkan pula oleh Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih bahwa ‘Uqbah berkata:”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membagikan kambing kepada para shahabatnya sebagai hewan kurban, lalu tersisa ‘atud. Maka beliau berkata:”Artinya: Berkurbanlah engkau dengannya dan tidak ada rukhsah (keringanan) terhadap seseorang setelah engkau.” 35)

    Sedangkan Al-Imam An-Nawawy menukil kesepakatan bahwa tidak mencukupi Jadz’u dari ma’az. 36)

    Saya (Shidiq Hasan Khan) katakan:”Mereka sepakat bahwa tidak boleh ada onta, sapi dan ma’az kurang dari dua tahun. Dan kambing Jadz’u boleh menurut mereka dan tidak boleh hewan yang terpotong telinganya. Namun Abu Hanifah berkata: “Apabila yang terpotong itu kurang dari separuh, maka boleh.” 37)

    8.. Hewan Kurban Tidak Buta Sebelah, Sakit, Pincang dan Kurus, Hilang Setengah Tanduk atau Telinganya.

    Berdasarkan hadits Al-Barra 38) dalam riwayat Ahmad dan Ahlu Sunan serta dishahihkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al-Hakim, berkata: Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Artinya: Empat yang tidak diperbolehkan dalam berkurban,(hewan kurban) buta sebelah yang jelas butanya, sakit yang jelas sakitnya, pincang yang jelas bengkoknya dan tidak sanggup berjalan, dan yang tidak mempunyai lemak (kurus).” (Dalam riwayat lain dengan lafazh-lafazh Al-Ajfaa’/kurus pengganti Al-Kasiirah)

    Dan dikeluarkan oleh Ahmad, Ahlu Sunan dan dishahihkan At-Tirmidzi dari hadist Ali, berkata:”Artinya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang berkurban dengan hewan yang terpotong setengah dari telinganya.” 39)

    Qatadah berkata:”Al-‘Adhab, adalah (yang terpotong) setengah dan lebih dari itu.” Dan di keluarkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Al-Hakim dan Bukhari dalam tarikhnya, berkata, “Artinya: Hanyasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari Mushfarah, Al-Musta’shalah, Al-Bakhqaa’, Al-Musyaya’ah dan Al-Kasiirah. Al-Mushafarah adalah yang dihilangkan telinganya dari pangkalnya. Al-Musta’shalah adalah yang hilang tanduknya dari pangkalnya, Al-Bukhqa’ adalah yang hilang penglihatannya dan Al-Musyaya’ah adalah yang tidak dapat mengikuti kelompok kambing karena kurus dan lemahnya, dan Al-Kasiirah adalah yang tidak berlemak.” 40)

    Penafsiran ini adalah asal riwayat, dan dalam bab ini terdapat beberapa hadits. Adapun hewan kurban yang kehilangan pantat, sebagaimana hadits yang dikeluarkan oleh Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Baihaqi dari hadits Abu Sa’id, berkata:”Artinya: Saya membeli seekor domba untuk berkurban, lalu srigala menganiyayanya dan mengambil pantatnya. Lalu aku tanyakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau bersabda: Berkurbanlah dengannya.” 41) (Di dalam sanadnya terdapat Jabir Al-Ju’fy dan dia sangat lemah)42)

    9.. Bersedekah dari Udhiyah, Memakan dan Menyimpan Dagingnya

    Berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha, “Artinya: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Makanlah, simpanlah dan bersedekahlah.” (Diriwayatkan dalam shahihain 43) dan dalam bab ini terdapat beberapa hadits)

    10.. Menyembelih di Mushalla (tanah lapang yang digunakan untuk Shalat Ied) Lebih Utama.

    Untuk menampakkan syi’ar agama, berdasarkan hadist Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Artinya: Bahwa beliau menyembelih dan berkurban di Mushala.” 44) (Diriwayatkan oleh Bukhari)

    11.. Bagi yang Memiliki Kurban, jangan Memotong Rambut dan Kukunya setelah Masuknya 10 Dzul Hijjah hingga Dia Berkurban.

    Berdasarkan hadits Ummu Salamah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Artinya: Apabila engkau melihat bulan Dzul Hijjah dan salah seorang kalian hendak berkurban, maka hendaklah dia menahan diri dari rambut dan kukunya.”

    Dan didalam lafazh Muslim dan lainnya, “Artinya: Barangsiapa yang punya sembelihan untuk disembelih, maka apabila memasuki bulan Dzul Hijjah, jangan sekali-kali mengambil (memotong) dari rambut dan kukunya hingga dia berkurban.” 46)

    Dan para ulama berbeda pendapat dalam permasalahan ini. Sa’id bin Al-Musayyib, Rabi’ah, Ahmad, Ishaq, Dawud dan sebagian pendukung Syafi’i berpendapat, bahwa diharamkan mengambil (memangkas/memotong) rambut dan kukunya sampai dia (menyembelih) berkurban pada waktu udhiyah. Imam Syafi’i dan murid-muridnya berkata: “Makruh tanzih.” Al-Mahdi menukil dalam kitab Al-Bahr dari Syafi’i dan selainnya, bahwa meninggalkan mencukur dan memendekkan rambut bagi orang yang hendak berkurban adalah disukai. Berkata Abu Hanifah: Tidak Makruh. 47)

    Wallahu a’lam

    Fote Note

    1. Diriwayatkan oleh Bukhari X/8/No. 5556, Muslim XIII/35/1961, Syarh Nawawi
    2. Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam As-Sunnan Al-Kubra IX/270 No. 19062 dan sanadnya shahih. Atud adalah anak dari ma’z. Berkata Ibnu Baththa: Al-‘Atul adalah Al-Jadz’u dari ma’z berumur lima bulan (Fath al-Bari X/14)
    3. Lihat Syarh Muslim An-Nawawi, juz XIII hal. 99
    4. Lihat Al-Ifsah ‘an ma’anish shihah, oleh Abul Mudzhfir, I/308 cet. Muassasah As-Sa’idiyan di Riyadh 38. Diriwayatkan oleh seluruh kitab sunan dan lainnya, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil IV/1149
    5. Sayikh Al-Alabni mengatakan bahwa hadits ini mungkar, lihat Irwa’ul Ghalil IV/1149
    6. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, bab;maa yukrahi min adh-dhahaya V/No. 2800 dan ini lafazhnya, dan riwayat ini didhaifkan oleh Al-Albani dalam dha’if Abu Dawud No. 599 hal. 274
    7. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, bab manisy syifaraa udhiyah shahihah faashabaha ‘indahu syaiun, No. 3146 hadits ini di dhaifkan oleh Al-Albani No. 679 dalam dhaif Ibnu Majah
    8. Namanya Jabir bin Yazid bin Al-Harits Al-Ju’fy, Abu Abdillah Al-Kuufi, dha’if rafidhi (Taqrib At-Tahdzib, No. 886)
    9. Diriwayatkan oleh Imam Muslim, bab : An-Nahyu ‘an luhum al-adhahy ba’da tsalats , juz XII No. 197 dari ‘Aisyah sedangkan dalam riwayat Bukhari, saya tidak menemukan hadits dari ‘Aisyah, yang ada adalah dari Salamah bin Al-Akwa X/No. 5569, dengan yang bebeda, wallahu ‘alam.
    10. Bukhari, bab : Al-Adhaa wan nahr bil mushala . X/No. 5552. Al-Fath
    11. HR Muslim, bab . Nahyu Murid At-Tadhiyah an ya’khudza min sya’rihi wa adzfaarihi stai’an XIII/No. 1977 dari Ummu Salamah.
    12. Riwayat Muslim, hadits berikutnya setelah hadits No. catatan kaki No. 45 pada shahih muslim
    13. Nailul Authar, Al-Imam ASy-Syaukani, jilid V. hal. 128 cet. Syarikah maktabah wa matba’ah, Mustafa Al-Baby Al-Halaby, tanpa tahun.
     
  • erva kurniawan 1:07 am on 25 April 2019 Permalink | Balas  

    Tata Cara Penyembelihan Kurban (Bagian 2) 

    Tata Cara Penyembelihan Kurban (Bagian 2)

    Oleh: Shidiq Hasan Khan

    3.. Waktunya Setelah Melaksanakan Shalat Iedul Kurban

    Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Artinya: Barangsiapa menyembelih sebelum shalat hendaklah menyembelih sekali lagi sebagai gantinya, dan siapa yang belum menyembelih hingga kami selesai shalat maka menyembelihlah dengan bismillah.”

    Terdapat dalam Shahihain 17) Dan di dalam shahihain dari hadits Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Artinya: Siapa yang menyembelih sebelum shalat maka hendaklah dia mengulangi.” 18)

    Berkata Ibnul Qayyim: “Dan tidak ada pendapat seseorang dengan adanya (perkataan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang ditanya oleh Abu Burdah bin Niyar tentang seekor kambing yang disembelihnya pada hari Ied, lalu beliau berkata:”Artinya: Apakah (dilakukan) sebelum shalat? Dia menjawab: Ya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Itu adalah kambing daging (yakni bukan kambing kurban).” (Al-Hadits)

    Ibnu Qayyim berkata: “Hadits ini shahih dan jelas menunjukkan bahwa sembelihan sebelum shalat tidak dianggap (kurban), sama saja apakah telah masuk waktunya atau belum. Inilah yang kita jadikan pegangan secara qath’i (pasti) dan tidak diperbolehkan (berpendapat) yang lainnya. Dan pada riwayat tersebut terdapat penjelasan bahwa yang dijadikan patokan (berkurban) adalah shalatnya Imam.”

    4.. Akhir Waktunya Adalah Di Akhir Hari-hari Tasyriq

    Berdasarkan hadits Jubair bin Mut’im dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda:”Artinya: Pada setiap hari-hari tasyriq ada sembelihan.” 20) (Dikeluarkan Imam Ahmad dan Ibnu Hibban dalam shahihnya dan Al-Baihaqi. Dan terdapat jalan lain yang menguatkan antara satu dengan riwayat yang lainnya. Dan juga diriwayatkan dari hadits Jabir dan lainnya. Dan ini diriwayatkan segolongan dari shahabat. Dan perselisihan dalam perkara ini adalah ma’ruf).

    Di dalam Al-Muwatha’ dari Ibnu Umar:”Artinya: Al-Adha (berkurban) dua hari setelah dari Adha. 21)Demikian pula dari Ali bin Abi Thalib. Dan ini pendapat Al-Hanafiah dan madzhab Syafi’iyah bahwa akhir waktunya sampai terbenamnya matahari dari akhir hari-hari tasyriq berdasarkan hadits Imam Al-Hakim yang menunjukan hal tersebut.22)

    5.. Sembelihan yang Terbaik adalah yang Paling Gemuk.

    Berdasarkan hadits Abu Rafi’:”Artinya: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bila berkurban, membeli dua gibas yang gemuk” 23) (Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan lainnya dengan sanad Hasan).

    Dan dikeluarkan oleh Imam Bukhari dari hadits Abu Umamah bin Sahl berkata:”Artinya: Adalah kami menggemukkan hewan kurban di Madinah dan kaum Muslimin menggemukkan (hewan kurbannya).” 24)

    Saya katakan, bahwa kurban yang paling afdhal (utama) adalah gibas (domba jantan) yang bertanduk. Sebagaimana yang terdapat pada suatu hadits dari Ubadah bin Ash-Shamit dalam riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Hakim dan Al-Baihaqi secara marfu’ dengan lafadzh:”Artinya: Sebaik-baik hewan kurban adalah domba jantan yang bertanduk.” 25) (Dan juga dikeluarkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Baihaqi dari hadits Abu Umamah dan di dalam sanadnya terdapat ‘Ufair bin Mi’dan dan dia Dha’if.26)

    Al-Udhiyah (sembelihan kurban) yang dimaksud bukanlah Al-Hadyu. Dan terdapat pula nash pada riwayat Al-Udhiyah, maka nash wajib didahulukan dari qiyas (mengqiyaskan udhiyah dengan Al-Hadyu), dan hadits: “Domba jantan yang bertanduk.” adalah nash diantara perselisihan ini.

    Apabila dikhususkan berkurban dengan domba berdasarkan zhahir hadits, dan bila meliputi yang lainnya, maka termasuk yang dikebiri. Tetapi yang utama tidaklah dikhususkan dengan hewan yang dikebiri. Adapun penyembelihan kurban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa hewan yang dikebiri tidak menunjukkan lebih afdhal dari yang lainnya, namun yang ditujuk pada riwayat tersebut bahwa berkurban dengan hewan yang dikebiri adalah boleh. 27)

    6.. Tidak Mencukupi Kurban Ada yang di bawah Al-Jadz’u 28)

    Berdasarkan hadits Jabir dalam riwayat Muslim dan selainnya berkata : Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Artinya: Janganlah engkau menyembelih melainkan musinnah (kambing yang telah berumur dua tahun) kecuali bila kalian kesulitan maka sembelihlah Jadz’u (kambing yang telah berumur satu tahun).29)

    Dan dikeluarkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzi dari Abu Hurairah berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersbada, “Artinya: Sebaik-baik sembelihan adalah kambing Jadz’u.” 30)

    Dikeluarkan pula oleh Ahmad dan Ibnu Majah, Al-Baihaqi dan At-Thabrani dari hadits Ummu Bilal binti Hilal dari bapaknya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Artinya: Boleh berkurban dengan kambing Jadz’u.” 31)

    Di dalam shahihain dari hadits ‘Uqbah bin ‘Amir berkata, “Artinya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi-bagi hewan kurban pada para shahabatnya, dan ‘Uqbah mendapatlan Jadz’ah. Lalu saya bertanya: Wahai Rasulullah, saya mendapatkan Jadz’u. Lalu beliau menjawab: Berkurbanlah dengannya.” 32)

    Jumhur berpendapat bahwa boleh berkurban dengan kambing Jadz’u. Dan barang siapa yang beranggapan bahwa kambing tidak memenuhi kecuali untuk satu atau tiga orang saja, atau beranggapan bahwa selainnya lebih utama maka hendaklah membawakan dalil. Dan tidaklah cukup menggunakan hadits Al-Hadyu sebab itu adalah bab yang lain. 33)

    Fote Note. 17. Lihat No. 10

    1. Riwayat Bukhari, kitab Al-Adhahi, bab : Man dzahaba qubla as-shalah a’aada X/12/5561 dengan Fath Al-Bari. Dan Muslim, kitab Al-Adhahi, bab : Waqtuha XIII/35/No. 1962, dengan Syarh Nawawi, ini merupakan potongan hadits yang panjang.
    2. Riwayat Muslim, bab : Waqt a-Adhahi XIII/35?no. 1961 dan lainnya.
    3. Hadit ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad IV/82 dan lainnya. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Arnauth dalam tahqih Zaadul Maad oleh Ibnul Qayyim, dan beliau menyebutkan beberapa jalan dari riwayat ini. (Lihat Zaadul Maad II/318 cetakan Muasasah Risalah).
    4. Riwayat Imam Malik di dalam Al-Muwatha’, kitab Adh-Dhahaya, bab Adh-Dhahiyatu ‘amma fil batnil mar’ah wa dzikir ayyamil adhaa II/38, At-Tanwir, dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar.
    5. Perselisihan ulama dalam hal ini ma’ruf, lihat Subulus Salam IV/92. cet. Daarul Fikr.
    6. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya VI hal 391,dari Abu ‘Amir dari Zuhair dari Abdullah bin Muhammad dari Ali bin Husain dari Abu Rafi’, bahwa Rasulullah bila hendak berkurban, membeli dua domba yang gemuk, ber- tanduk, dan sangat putih…” al-hadits. Pada sanadnya terdapat perawi yang bernama Abdullah bin Muhammad bin Uqail, perawi ini dibicarakan oleh para ulama (Lihat : Tahdzibu At-Tahdzib VI/13). Berkata Al-Hafidz : Shaduq, dalam haditsnya ada kelemahan dan dikatakan pula : berubah pada akhir (hayat)nya. (Taqrib At-Tahdzib 3617).
    7. Dikeluarkan oleh Bukhari dalam shahihnya secara ta’liq X/7 bab: Udhiyatun Nabi bi kabsyaini aqranain. Dan atsar ini disambung sanadnya oleh Abu Nu’aim dalam Mustakhrij dari jalan Ahmad bin Hanbal dari Ubbad bin Al-‘Awwam ber- kata : Mengabarkan kepadaku Yahya bin Sa’id Al-Anshari dari lafadznya : Adalah kaum muslimin salah seorang mereka membeli kurban, lalu menggemukkan (mengebiri)nya dan menyembelihnya pada akhir Dzul Hijjah. (Fath al Bari).
    8. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, bab : Karahiyatul Mughalah fil kafan III/3156, dari Ubadah bin Ash-Shamit. Dan Diriwa- yatkan pula oleh yang lainnya. Hadits ini di dha’ifkan Al-Abani dalam Dha’if al-Jami’ ash-Shagir No. 2881.
    9. Ibnu Hajar mengatakan : dha’if (Taqrib at-Tahdzib, No. 4660) tahqiq Abul Asybaal Al-Baakistani.
    10. Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar : Setelah menyebutkan beberapa riwayat : Padanya terdapat dalil bolehnya mengebiri dalam berkurban, dan sebagian ahli ilmu membencinya karena mengurangi anggota badan. Namun ini bukanlah cacat karena mengebiri menjadikan dagingnya baik, dengan menghilangkan bau busuk. (Fath al-Bari X/12).
    11. Al-Jadz’u, berkata Al-Hafidz : Yaitu sifat bagi umur tertentu dari hewan ternak. Maka dari kambing adalah yang ber- umur satu tahun menurut jumhur. Dan dikatakan pula, kurang dari itu. Kemudian berbeda pendapat dalam penetuan- nya. Dikatakan : berumur 6 bulan dan ada yang berkata 8 bulan dan dikatakan pula 10 bulan. At-Tirmidzi menukilkan dari Waki’ bahwa yang dimaksud adalah 6 atau 7 bulan (Fath al-Bari X/7). Berkata An-Nawawi : Al-Jadzu’ dari kambing adalah yang berumur setahun penuh. Ini yang shahih menurut madzhab kami. Ini yang paling masyhur menurut ahli bahasa dan lainnya (Syarh Muslim XIII/100). Dan Al-Hafidz berkata pula : Al-Jadz’u dari Ma’az adalah berumur masuk pada tahun kedua, sapi (lembu) berumur 3 tahun penuh dan onta berumur lima tahun (Fath al-Bari X/7). Adh-Dha’n, berkata Ibnul Atsir dalam An-Nihayah : Adh-Dhawa’in : Jamak dari dha’inah, yaitu kambing yang berbeda dengan Ma’z (An-Nihayah fi gharibil hadits, III/69, cet. Al-Maktabah Al-Islamiyah). Di sini saya menyebut Dha’n dengan kam- bing sebagai pembeda dengan ma’z (di Jawa, maz itu disebut sebagai kambing jawa).
    12. Riwayat Muslim, bab sinnul Udhiyah XIII/35/1963, Syarh Nawawi. Dan Ibnu Majah, bab : maa Tafzi’u minal adhahi No. 3141. Namin hadits ini di dha’ifkan oleh syaikh Al-Albani karena pada sanadnya terdapat perawi yang bernama Abu Zuhair dan ia mudallis, riwayatnya tidak diterima kecuali bila menjelaskan bahwa dia mendengar dari syaikhnya Lihat penjelasan panjang di Dha’if Ibnu Majah No. 676, hal 248, dan Irwa’ul Ghallil 1145, Silsilah Hadits Dha’ifah juz I halaman 91. Al-Musinnah : adalah gigi seri dari tiap sesuatu, berupa onta, lembu, kambing dan lainnya. (Syarh Nawawi XIII/99).
    13. Hadits ini di Dha’ifkan oleh Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil IV/1143 dan silsilah hadits dha’ifah I/64.
    14. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, bab :maa Tajzi’u minal adhahi II/7/No. 3139 dan lainnya. Hadist ini di dha’ifkan oleh Al-Albani dalam dha’if Ibnu Majah No. 3139.
    15. Bukhari, bab : Qismatul Imam Al-Adhahi bainan naas X/2/No. 5547, Al-Fath dan Muslim, bab : Sinnul Udhiyah XIII/2/No. 1965, An-Nawawi.
    16. Al-Hadyu adalah apa yang disembelih menuju tanah haram dari binatang ternak. Di dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah : 196 (Mu’jam Al-Wasith 978).
     
  • erva kurniawan 1:03 am on 24 April 2019 Permalink | Balas  

    Tata Cara Penyembelihan Kurban (Bagian 1) 

    Tata Cara Penyembelihan Kurban

    Oleh Shidiq Hasan Khan

    Kata Pengantar

    Sehubungan dengan hadirnya bulan Dzul Hijjah, maka pada sajian kali ini kami angkat permasalahan tentang Tata Cara Penyembelihan Kurban, yang diterjemahkan dari Kitab Ar-Raudhatun Nadhiyyah Syarh Ad-Durar Al-Bahiyyah, karangan Abu-At-Thayyib Shidiq Hasan bin Ali Al-Hushaini Al-Qanuji Al-Bukhari oleh Abu Abdirrahman Asykari bin Jamaluddin Al-Bugisy, dan dimuat di Majalah As-Sunnah edisi 22/II/1417H-1997M.

    1.. Disyaria’tkan bagi setiap Keluarga

    Berdasarkan hadits Abu Ayyub Al-Anshary, ia berkata:”Artinya: Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada seorang berkurban dengan seekor kambing untuknya dan keluarganya. 1) (Dikeluarkan Ibnu Majah dan At-Tirmidzi dan di shahihkannya dan dikeluarkan Ibnu Majah semisal hadits Abu Sarihah 2) dengan sanad shahih).

    Dan dikeluarkan juga oleh Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa’i dari hadits Mikhna bin Salim, bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”Artinya: Wahai sekalian manusia atas setiap keluarga pada setiap tahun wajib ada sembelihan (udhiyah) 3). (Di dalam sanadnya terdapat Abu Ramlah dan namanya adalah ‘Amir. Al-Khaththabi berkata: majhul) 4)

    Jumhur berpendapat bahwa hukum berkurban adalah sunnah, bukan wajib. Demikianlah yang dikatakan oleh Imam Malik. Dan (beliau) berkata: “Saya tidak menyukai seseorang yang kuat (sanggup) untuk membelinya (binatang kurban) lalu dia meninggalkannya.” 5) Dan demikian pula Imam Syafi’i berpendapat.

    Adapun Rabi’ah dan Al-Auza’i dan Abu Hanifah dan Al-Laits, dan sebagian pengikut Malikiyah berpendapat bahwa hukumnya wajib terhadap yang mampu. Demikian pula yang diceritakan dari Imam Malik dan An-Nakha’iy. 6)

    Orang-orang yang berpendapat akan wajibnya (berkurban) berpegang pada hadits:”Artinya:Tiap-tiap ahli bait (keluarga) harus ada sembelihan (udhiyah). “Yaitu hadits yang terdahulu, dan juga hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Ibnu Majah serta di dishahihkan Al-Hakim. Ibnu Hajar dalam kitabnya Fath-Al-Bari berkata:”Para perawinya tsiqah (terpercaya) namun diperselisihkan marfu’ dan mauquf-nya. Tetapi lebih benar (jika dikatakan) mauquf.

    Dikatakan Imam Thahawi dan lainnya, 7) berkata: “Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,”Artinya: Barangsiapa yang mempunyai keleluasaan (untuk berkurban) lalu dia tidak berkurban maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami.”

    Diantara dalil yang mewajibkan (berkurban) adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Artinya : Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu dan berkurbanlah.”8)Dan perintah menunjukkan wajib. Dikatakan pula bahwa yang dimaksudkan adalah mengkhususkan penyembelihan hanya untuk Rabb, bukan untuk patung-patung.9)

    Diantaranya juga adalah hadits Jundub bin Sufyan Al-Bajaly dalam shahihain 10) dan lainnya, berkata: Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Artinya: Siapa yang menyembelih sebelum dia shalat maka hendaklah dia menyembelih sekali lagi sebagai gantinya. Dan barang siapa yang belum menyembelih hingga kami selesai shalat, maka hendaklah dia menyembelih dengan (menyebut) nama Allah.”Dan disebutkan dari hadits Jabir semisalnya. 11)

    Berdasarkan dengan hadits:”Artinya: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban untuk orang yang tidak berkurban dari umatnya dengan seekor gibas.” 12)Sebagaimana terdapat pada hadits Jabir yang diriwayatkan Ahmad dan Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan dikeluarkan semisalnya oleh Ahmad dan At-Thabrani dan Al-Bazzar dari hadits Abu Rafi’ dengan sanad yang hasan. Jumhur berpendapat untuk menjadikan hadits ini sebagai qarinah (keterangan) yang memalingkan dalil-dalil yang mewajibkan.

    Tidak diragukan lagi bahwa (keduanya) mungkin untuk dijamak (gabung). Yaitu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban untuk orang-orang yang tidak memiliki (tidak mampu menyembelih) sembelihan dari umatnya, sebagaimana dijamaknya hadits:”Artinya: Orang yang tidak menyembelih dari umatnya. “Dengan hadits, “Artinya: Atas setiap keluarga ada kurban.”

    Adapun hadits:”Artinya: Aku diperintahkan berkurban dan tidak diwajibkan atas kalian.” 13)Dan yang semisal hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah, karena pada sanad-sanadnya ada yang tertuduh berdusta dan ada yang dha’if sekali.

    2.. Kurban Dilakukan Paling Sedikit Seekor Kambing

    Berdasarkan hadits yang terdahulu. Al-Mahally berkata:”onta dan sapi cukup untuk tujuh orang. Sedangkan seekor kambing mencukupi untuk satu orang. Tapi apabila mempunyai keluarga, maka (dengan seekor kambing itu) mencukupi untuk keseluruhan mereka. Demikian pula dikatakan bagi setiap orang diantara tujuh orang yang ikut serta dalam penyembelihan onta dan sapi. Jadi berkurban hukumnya sunnah kifayah (sudah mencukupi keseluruhan dengan satu kurban) bagi setiap keluarga, dan sunnah ‘ain (setiap orang) bagi yang tidak memiliki rumah (keluarga).

    Menurut (ulama) Hanafiah, seekor kambing tidak mencukupi melainkan untuk seorang saja. Sedangkan sapi dan onta tidak mencukupi melainkan untuk tiap tujuh orang. Mereka tidak membedakan antara yang berkeluarga dan tidak. Menurut mereka berdasarkan penakwilan hadits itu maka berkurban tidaklah wajib kecuali atas orang-orang yang kaya. Dan tidaklah orang tersebut dianggap kaya menurut keumuman di zaman itu kecuali orang yang memiliki rumah. Dan dinisbatkannya kurban tersebut kepada keluarganya dengan maksud bahwa mereka membantunya dalam berkurban dan mereka memakan dagingnya serta mengambil manfa’atnya.14)

    Dan dibenarkan mengikutsertakan tujuh orang pada satu onta atau sapi, meskipun mereka adalah dari keluarga yang berbeda-beda. Ini merupakan pedapat para ulama. Dan mereka mengqiyaskan kurban tersebut dengan al-hadyu. 15)

    Dan tidak ada kurban untuk janin (belum lahir). Ini adalah perkataan ulama. 16)

    Fote Note.

    1. Diriwayatkan oleh At-Tarmidzi, kitab Al-Adhahi V/8/1541 dalam Tuhfah-Al-Ahwadzi, dan Ibnu Majah, kitab Al-Adhahi bab Orang yang menyembelih seekor kambing untuk keluarganya II/3147. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih AT-Tirmidzi II/1216, dan Shahih Ibnu Majah II/2546.
    2. Di dalam kitab Ar-Raudhatun Nadiyah tertulis “syariihah” dengan hurup syin. Ini adalah salah, yang benar adalah “Sariihah” dengan hurup siin, seperti yang terdapat pada kitab Sunan Ibnu Majah. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah II/2547 dengan lafadz : Keluargaku membawaku kepada sikap meremehkan setelah aku tahu bahwa itu termasuk sunnah. Ketika itu penghuni rumah menyembelih kurban dengan satu dan dua ekor kambing, dan sekarang tetangga kami menuduh kami bakhil.
    3. Berkata Al-Jauhary : Berkata Al-Ashmi’iy : Terdapat 4 bahasa dalam penyebutan Udhiyah dan Idhiyah …. dst (-disingkat) (Lihat Syarah Shahih Muslim oleh An-Nawawi VIII/13, hal. 93 Cet. Daarul Kutub Al-Ilmiyah, Beirut-Lebanon.
    4. Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani : Tidak dikenal …. (Lihat : Taqrib At-Tahdzib, oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, No. 3130 hl. 479, pentahqiq : Abul Asybaal Shaghir Ahmad Syaqif Al-Baqistani, penerbit : Daarul ‘Ashimah, Al-Mamla kah Al-‘Arabiyah As-Su’udiyah).
    5. Muwatha ‘ Imam Malik, Juz II, hal. 38, Syarh Muwatha’ Tanwir Al-Hawaalik, pen. Daarul Kutub Al-Ilmiyah.
    6. Lihat perselisihan para ulama dan ahli dalil mereka dalam kitab : Bidayah Al-Mujtahid oleh Ibnu Rasyd I/314 dan Al-Fiqh Al-Islami wa Adilatuhu oleh Dr. Wahbad Al-juhaili, Juz III/595-597. cet. Darul fikr.
    7. Fath Al-Bari, Ibnu Hajar, jilid X, halaman 5, cet. Daar Ar-Rayyan li at Turats. Dan beliau juga berkata dalam Bulughul Maram : Namun para Imam mentarjihnya mauquf. (Bulughul Maram, bab : Adhahiy, No. 1349, bersama Ta’liq Al- Mubarakfuri, cet. Jam’iyah Ihya At-Turats Al-Islami). Namun hadits ini tidak menunjukkan wajib menurut jumhur. Wallahu a’lam.
    8. Al-Qur’an Surat Al-Kautsar: 2
    9. Kedua tafsiran ini disyaratkan oleh Ibnu Katsir di dalam tafsirnya, namun Ibnu Katsir merajihkan maknanya menyembelih hewan kurban, wallahu a’laam. (Tafsir Ibnu Katsir, jilid IV, hal. 559-560 cet. Al-Maktabah At-tijariyah, Makkah)
    10. Riwayat Bukhari kitab Al-Adhahiy, bab : Man Dzabaha qobla as-shalah a’aada, X/12 No. 5562, dan Muslim kitab Al- Adhahi, bab : Waqtuha : XIII/35 No. 1960, Syarh Nawawi. Dan Lafazh ini adalah Lafzh Muslim.
    11. Saya belum mendapatkan ada yang semakna dengan hadits tersebut. Diriwayatkan dari Al-Barra’ bin ‘Azib seperti dalam Shahihain dan kitab-kitab Sunan.
    12. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi bab : maa jaa’a anna asy-syah al-wahidah tujzi’u’an ahlil bait : V No. 1541 dalan At-Tuhfah dan Abu Dawud bab : Fisy-syaah Yuhadhahhi Biha ‘An Jama’ah, No. 2810, dan dishahihkan Al-Albani dalam shahih Abu-Dawud : II/2436, dan Irwa’ al-ghalil, IV/1138.
    13. Dijelaskan oleh Ibnu Hajar Asqalani dalam Fath Al-Bari X/6, dan kitab beliau Al-Khasa-is fi Takhrij Ahadits Ar-Rafi’. dan demikian juga Asy-Syaukani di kitabnya Nailul Authar V/126.
    14. Lihat kitab Bidayah Al-Mujtahid I/317.
    15. Al-Hadyu yang disembelih di tanah haram dari hewan ternak, dalam Al-Qur’an. (Lihat Al-Mu’jam Al-Wasith : 978)
    16. Adapun berkurban bagi anak kecil yang belum baligh, menurut Hanafiah dan Malikiyah : Disukai berkurban dari harta walinya, dan tidak disukai menurut madzhab Syafi’iyah dan Hanabilah. (Al-Fath Al-Islami, oleh Wahbah Al-Jihaili III/604)
     
  • erva kurniawan 1:58 am on 23 April 2019 Permalink | Balas  

    Dari Mana dan Ke Mana Harta Kita? 

    Dari Mana dan Ke Mana Harta Kita?

    Oleh Gede H. Cahyana

    Adakah orang yang tak perlu harta? Jangankan kita yang hidup pada zaman supramodern ini, pada zaman nabi Muhammad saja orang-orang begitu giat berdagang. Ada yang merantau sampai ke Cina, malah. Tentu mereka juga menyinggahi negeri-negeri di antara Arab dan Cina, yaitu Asia Tengah. Apa tujuan mereka berdagang? Dapat uang! Dengan uang, mereka bisa membeli kebutuhan yang tak dimilikinya. Seorang tukang tenun akan membutuhkan dan membeli makanan ke penjual makanan. Begitu sebaliknya. Artinya, sejak zaman dulu posisi uang begitu tinggi. Sebelum ada uang mereka tukar-tukaran barang atau barter. Bahkan Nabi Muhammad pun berdagang yang hasilnya digunakan sebagai mahar ketika menikahi Khadijah. Ujudnya, 100 ekor unta. Bukan main, kaya sekali beliau.

    Bagaimana kita? Dengan cepat bisa dijawab, kita sangat perlu harta. Bisa berupa uang, tanah, rumah atau kendaraan. Banyak lagi jenis-jenis harta lainnya. Tapi umumnya kita mencari uang dulu sebagai alat tukar lalu membeli benda apapun keinginan atau kebutuhan kita. Untuk mencarinya perlu pengorbanan waktu, tenaga, pikiran dan juga harta. Istilahnya, orang bisa habis-habisan dalam mengejar harta. Rambu-rambu halal pun sering dilanggar dan malah menganggap zaman sekarang sudah tak perlu lagi berpikir halal-haram. Yang haram saja sulit didapat apalagi yang halal, begitu ujaran yang terdengar. Betulkah demikian?

    Sumber harta, menurut Prof. Dr. Hamka, ada dua macam. Yang pertama, harta dari hasil kerja sendiri. Yang kedua dari pemberian orang lain, warisan atau hadiah yang tak disangka-sangka. Harta yang didapat dari hasil kerja sendiri masih dibagi menjadi dua lagi yaitu, harta halal dan harta haram. Andaikata sudah jelas bahwa harta itu halal, maka ambillah. Sebaliknya, kalau jelas harta itu haram, jauhilah. Jangan sekali-kali didekati sebelum menjadi terbiasa, apalagi sampai ketagihan. Sebab, kalau tidak dicegah maka kebiasaan itu akan mendarah daging dan sangat sulit ditinggalkan. Banyak orang terjerat seperti ini. Malah lingkungan kerjanya langsung membencinya kalau ingin tobat dan keluar dari lingkaran setan.

    Yang jadi masalah adalah ketika harta itu dalam status, menurut pandangan kita, -pertengahan- alias ragu-ragu atau syubhat. Kalau demikian, sebaiknya juga ditinggalkan. Namun, prinsip dasarnya, jika sulit diputuskan apakah diambil atau tidak maka caranya dengan berpatokan pada yang paling sedikit haramnya dan paling banyak halalnya. Yang jadi acuan adalah hati kita, nurani kita. Sebab, nurani atau mata hati pasti tak bisa bohong. Hati harus bersih dan caranya adalah dengan dekat kepada Allah.

    Setelah sumber harta itu bersih, selanjutnya jagalah ke mana saja dibelanjakan. Barang-barang yang dibeli hendaklah yang jelas-jelas halal zatnya. Jangan membeli dan menjual barang haram zatnya seperti minuman keras, narkotika, obat-obatan terlarang. Pendeknya, janganlah harta yang diperoleh dengan halal itu dibelikan sesuatu yang mengundang dan mengandung mudarat. Dibelikan televisi, kulkas, radio, HP, rumah, mobil, sepeda, dll. tentu sah-sah saja. Kalau memang butuh dua televisi, lalu membeli tiga maka yang satunya mubazir. Apalagi barang-barang yang dibeli itu sekadar untuk pamer gagah-gagahan. Inilah salah satu penggunaan harta yang menyimpang dari hakikat harta.

    Yang wajib diingat, keluarkanlah zakat dari harta yang diperoleh. Sekecil apapun harta yang didapat, sisihkan paling sedikit 2,5 % untuk zakat. Kini sudah banyak lembaga amil zakat sehingga tak sulit lagi menitipkan zakat. Bisa juga diberikan langsung untuk memakmurkan masjid. Dan tak harus semata-mata untuk pembangunan fisik masjid. Bisa juga untuk perangkat lunak (software) masjid seperti buku-buku dan teknologi informasi. Zakat boleh saja dibelikan perangkat komputer (hardware) yang dilengkapi software penunjang kegiatan masjid.

    Kita bisa membeli alat-alat presentasi untuk masjid seperti Overhead Projector (OHP) atau proyektor semacam Infocus yang lebih canggih lagi. Semuanya bisa digunakan untuk pengajian rutin ataupun untuk sarana belajar bagi santri masjid bersangkutan. Zakat juga bisa digunakan untuk memperkaya khazanah perpustakaan masjid. Tak harus mushaf Qur’an saja yang dibeli, tapi boleh saja membeli kaset, CD dan lain-lain yang berisi ilmu pengetahuan. Juga bisa membeli buku-buku yang mendukung keilmuan jamaah masjid dan santri termasuk sewa internet. Situs-situs kaya manfaat banyak bertebaran dan ini pun sumber ilmu.

    Lebih dari semua itu, agar mampu berzakat dan membantu kegiatan masjid maka kita perlu harta. Selain ibadah ritual (mahdhah) kita pun wajib ibadah ghair mahdhah seperti bekerja. Mari simak firman Allah dalam surat Qashash ayat 77. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

    Semoga kita menjadi orang-orang yang mampu mencari harta secara halal dan membelanjakannya di jalan Allah. Aamiin.

    Gede H. Cahyana, -muallaf- yang menulis buku -Mencari Allah. Dari Kuta Bali Ke Salman ITB-.

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 22 April 2019 Permalink | Balas  

    Masjid Nabawi Di Madinah 

    Masjid Nabawi Di Madinah

    “Shalat di Masjidku lebih utama dari pada shalat di Masjid manapun kecuali Masjidil Haram”, Hadis Nabi SAW

    Masjid ini disebuat Masjid Nabawi atau Masjid Nabi, karena Nabi SAW sering menyebutnya dengan “Masjidku”

    Sebagaimana terlihat pada gambar-gambarnya, Masjid Nabawi sangat anggun dan indah. Seluruh bangunannya dibuat dengan bahan bngunan dan aksesori berkualitas tinggi. Masjid ini juga mempunyai desain interior yang sangat indah dan artistik tanpa kehilangan suasana religius dan populis.

    Ketika pertama kali dibangun oleh Nabi dan para sahabatnya tidak lama setelah beliau tiba berhijrah dari Mekah ke Medinah, masjid ini masih berbentuk bangunan yang sangat sederhana: pondasinya terbuat dari batu, temboknya terbuat dari bata mentah (yang belum dibakar), tiangnya dari pohon kurma dan atapnya dari pelepah kurma, Masjid yang terletak di sebelah Barat rumah Nabi hanya mempunyai luas 1050 meter persegi. Setelah diperluas berkali-kali, terakhir oleh Raja Fahd dalam tahun 1995, Masjid Nabawi saat ini mempunyai luas lantai dasar lebih kurang 98.000 meter persegi yang dapat menampung 167.000 jemaah, dan lantai atas dengan luas 67.000 meter persegi yang dapat menampung 90.000 jemaah.

    Berikut halamannya yang mempunyai luas 207.000 meter persegi, Masjid Nabawi dapat menampung sebanyak 600.000 jemaah shalat di luar musim haji, dan satu juta orang dalam musim haji dan bulan Ramadhan. Untuk ventilasi bangunan yang demikian besar dan luas itu, dibuat 27 ruang terbuka dengan ukuran 18 x 18 meter yang ditutup dengan kubah-kubah yang dapat ditutup dan dibuka secara elektronik atau manual. Kubah-kubah yang terbuat dari kerangka baja dan beton yang dilapisi dengan kayu pilihan dengan berat 80 ton itu dihiasi dengan relif-relif bertatahkan batu mulia sejenis phyrus yang sangat indah. Sementara pada bagian tengah terdapat dua ruang terbuka, yang setiap ruangnya dilengkapi dengan enam buah “payung” dari fiberglass berkualitas tinggi dengan desain tenda yang artistik yang ditutup dibuka dibuka dengan sistem komputer pada tiang-tiang penyangganya yang artistik. Atap fiberglass itu tertutup pada siang hari dan terbuka pada malam hari, kecuali pada saat cuaca terlalu dingin

    Bangunan Masjid waktu ini mencakup bekas rumah Nabi yang sangat-sangat sederhana itu, yang kemudian menjadi makam beliau beserta dua dari empat khulafaur-rasyidin Abu Bakar Siddiq r.a. dan Umar bin Khatab r.a..

    Bentangan antara rumah dan mimbar beliau yang pernah beliau sebut sebagai Raudah, taman syurga, yang sekarang disekat dan dihiasi dengan ornamen khusus berlatar belakang dan karpet lantai berwarna hijau, selalu dipadati oleh jemaah untuk berdoa dan melakukan shalat sunat. Makam Nabi dan kedua sahabatnya itu belakangan tidak terlihat dari luar karena tertutup oleh rak-rak berisi Al Qur’an, guna mencegah pemujaan dan tangis histeris para penziarah yang melihat makam beliau.

    Sebagaimana halnya dengan Masjidil Haram, walaupun sudah diperluas beberapa kali, kecuali bagian yang diperluas dan direnovasi Khalifah Umar bin Abdul Azis (Raudah dan Makam Rasullulah terletak di bagian ini), Masjid terlihat sebagai kesatuan fisik dan arsitektur yang utuh.

    Masjid Nabawi mempunyai 10 buah menara setinggi 104 meter yang dirancang dengan sangat artistik dan dipuncaknya terdapat ornamen dari bulan sabit dari bahan perunggu yang dilapisi dengan mas 24 karat. Di ketinggian 87 meter pada menara terdapat sistem pencahayaan laser yang pada waktu-waktu tertentu memancarkan sinar laser sepanjang 60 km ke arah Mekah untuk menunjukkan arah Ka’bah.

    Penyejuk udaranya dibangkitkan dari sebuah unit AC sentral raksasa di atas tanah seluas 70.000 meter persegi yang terletak 7 km di sebelah Barat Masjid. Dari sini hawa dingin dialirkan melalui pipa bawah tanah yang diterima oleh mesin-mesin di basement dan didistribusikan ke pipa-pipa yang terletak di bawah lantai Masjid dan pot-pot marmer di kaki-kaki kokoh pilar Masjid yang tersusun rapi dengan jarak 6 meter atau 13 meter. Pilar-pilar tersebut yang seluruhnya berjumlah 2104 buah, terbuat dari beton berdiameter 64 cm yang dilapisi marmer tebal berwarna putih susu. Di kiri dan kanan kanan kaki-kaki pilar tersebut, secara berselang seling terdapat rak-rak Kitab Suci Al Qur’an dan rak-rak bercat putih dan bernomor tempat sendal jemaah. Di pinggir lorong-lorong dan gang-gang di dalam Masjid terdapat tong-tong air Zam-Zam dingin yang dilengkapi dengan gelas-gelas plastik untuk minum jemaah

    Tinggi dari lantai dasar sampai lengkungan lantai atas 5,6 meter dan pada batas-batas lengkungan itu dipajang lampu-lampu indah yang dikurung dengan ornamen yang terbuat dari keping-keping emas.

    Masjid ini terbuka sepanjang hari dan ditutup (kalau tidak salah) satu jam sesudah selesai shalat Isya dan dua jam sebelum waktu waktu Shubuh untuk dibersihkan. Selain itu antara waktu shalat lorong-lorong, gang-gang dan ruang-ruang tertentu yang tidak ada jemaahnya juga selalu disapu dan dipel, sehingga walaupun di antara waktu shalat Masjid tidak pernah sepi dari jemaah yang berzikir, bertadarus, tidur-tidur dan tidur benaran, Masjid selalu terlihat rapih dan bersih.

    Halaman Masjid yang luasnya 206.000 meter persegi yang dapat menampung 400.000 jemaah shalat berlantai marmar dan granit, yang di sana sini didirikan pilar-pilar penyangga lampu-lampu cantik.

    Di bawah halaman ini terletak konstruksi raksasa dua lantai yang dimanfatkan untuk tempat tempat parkir seluas 392.000 meter persegi serta 2 outlet tempat wudhuk bagi jemaah laki-laki dan perempuan yang pintu masuknya terletak di bagian depan Masjid, dengan jumlah toilet/kamar mandi 2.500 unit dan 6.800 pancuran untuk berwudhuk yang terbuat dari bahan-bahan berkualitas tinggi yang bersih dan terawat baik.

    Tahun ini Masjid ini akan kembali diperluas dan menurut pedagang perhiasan yang terletak di depan Masjid Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia sudah membeli bangunan-bangunan yang ada didepan Masjid untuk keperluan perluasan tersebut.

    (Sumber: ”Mekah, Madinah dan Sekitarnya”, H. Ahmad Junaidi Halim. Lc, yang diterbitkan ICMI Cabang Madinah, tidak untuk diperdagangkan, 1995, beberapa sumber lainnya dan hasil observasi langsung)

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 21 April 2019 Permalink | Balas  

    Ummi 

    Ummi

    Kata Ummi dalam kamus Bahasa Arab artinya tidak bisa baca dan tidak bisa tulis. Namun kata itu akan berubah maknanya jika sudah menjadi sebuah kalimat yang berkaitan dengan kandungan maksud yang lain.atau bisa menjadi alat bantu untuk idiom sebuah kandungan arti yang lebih dari kata tersebut. misalnya kata “makan”, arti harfiahnya adalah memasukkan sesuatu (makanan) kedalam mulut lalu menelannya. Akan tetapi bisa berubah arti jika kata makan dimasukkan kedalam kalimat “senjata makan tuan”, artinya senjata yang dia miliki telah menjadi alat membunuh dirinya sendiri.

    Kata “An yadhriba” dalam surat Al Baqarah : 26 asal katanya adalah dharaba-yadhribu-dharban artinya telah memukul, akan tetapi berubah arti setelah masuk kedalam sebuah kalimat, ” Sesungguhnya Allah tiada segan membuat (an yadhriba) perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih dari itu (Al baqarah: 26) kita tidak bisa mengartikan “Allah tiada segan memukul nyamuk atau lebih dari itu…”

    Menyimak alasan-alasan dalam pertanyaan diatas saya akan membahas soal ayat yang di kemukakan. Perhatikan ayat berikut ini :

    Diantara Ahli kitab ada orang yang jika kamu mempercayakannya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu, dan diantara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dirham tidak dikembalikannya kepadamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: Tidak ada dosa bagi kamu terhadap orang-orang ummi. (QS. Ali Imran: 75)

    Ada sebagian orang-orang Yahudi (Ahli kitab) apabila diberi amanah harta, mereka akan mengembalikannya karena takut terhadap hukum Tuhan. Sebagian lagi berpendapat tidak perlu mengembalikan uang (harta) amanah, karena tidak ada hukum yang berlaku bagi orang-orang arab. Karena itu mereka menyebutnya sebagai orang yang ummi (orang yang tidak tahu hukum /buta hukum/ tidak diturunkan Al kitab). Mereka menganggap rendah derajat orang-orang arab disebabkan tidak tahu hukum.

    Memang sebutan (julukan) itu sering diungkapkan oleh bangsa yang peradabannya lebih tinggi, sehingga menganggap bangsa lain primitif (terbelakang). Dahulu, bangsa Jerman menganggap dirinya sebagai bangsa Arya yang memiliki peradaban lebih tinggi sehingga orang-orang yahudi dianggap rendah. Orang-orang kulit putih di Eropa maupun di Afrika memperlakukan kaum yang berkulit hitam seperti tidak mempunyai hak sebagai manusia yang bebas, sehingga mereka menindas dan memperbudak bahkan dijual belikan. Itulah watak orang kafir yang justru tidak beradab. Kata ummi yang dilontarkan orang-orang yahudi itu hanyalah pelecehan dan penghinaan terhadap kaum yang belum memiliki kitab, sehingga mereka berani berpendapat dan memperlakukan orang-orang Arab dengan menipu atau tidak mengembalikan uang yang diamanatkan kepadanya.

    Tuduhan-tuduhan palsu dari orang-orang kafir terhadap Al Qur’an

    Firman Allah :

    Dan orang-orang kafir berkata : Al qur’an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad, dan dia dibantu oleh kaum yang lain. Maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezaliman dan dusta yang besar.

    Dan mereka berkata: Dongengan-dongengan orang-orang terdahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang.

    Katakanlah : Al Qur’an itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan dibumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.

    (QS. Al Furqan: 4-6)

    Orang-orang kafir telah menuduh Nabi Muhammad dengan sangat menyakitkan, bahwa Alquran itu hanyalah hasil dongeng-dongeng orang-orang terdahulu yang dikumpulkan bersama orang lain yang dimintakan untuk menulis dan Muhammad yang membacakannya. Hal ini dibantah sendiri oleh Allah bahwa itu bukan hasil karangan Muhammad apalagi bekerja sama dengan orang lain ” Al qur’an itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan dibumi ”

    Ayat diatas bukan menjelaskan Muhammad mampu menulis atau membaca. Akan tetapi penjelasan atas tuduhan orang-orang kafir yang mengatakan Al qur’an merupakan hasil karangan Muhammad kemudian ditulis bersama orang-orang terdekatnya.

    Jadi tidak tepat mengatakan Muhammad bisa membaca dengan mengutarakan ayat ini. Karena kata Muhammad “membaca” disini, merupakan sangkaan orang-orang kafir. Tidak bisa dijadikan landasan dalil.

    Dalil diatas sering digunakan untuk menjatuhkan argumentasi orang Islam bahwa Al qur’an bukanlah wahyu yang telah diturunkan kepada Muhammad. Dengan alasan Muhammad pernah membaca dan menulis kitab-kitab sebelumnya. Dengan meyakini Muhammad bisa membaca huruf berupa rangkaian hijaiyyah, kita telah terjebak kepada perangkap orang-orang kafir. Maka kita akan turut membenarkan bahwa Muhammad sebenarnya hanyalah orang yang meniru (Plagiator) atau terinspirasi oleh apa yang telah dibacanya dan dipelajarinya. Sehingga muncul gagasan untuk membuat kitab baru. Hal ini akan berbahaya bagi kebenaran Al qur’an dan sangat meragukan, kalau difahami sebagaimana tuduhan orientalis. Justru Allah menjaga Muhammad dari tuduhan tersebut dengan ditakdirkan ummi (tidak bisa membaca huruf dan menulis). Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala :

    Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al qur’an) sesuatu kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu. Andaikata (kamu pernah membaca dan menulis) benar-benar ragulah orang yang mengingkarimu. (QS. Al Ankabut : 48)

    Marilah kita perhatikan sebuah peristiwa bersejarah yang menentukan kebenaran Al qur’an. Ketika beliau sudah berbulan-bulan berkhalwat disebuah Goa seorang diri, lalu tiba-tiba ada getaran yang menyesakkan dadanya yang terasa berat sekali. Sehingga menjadilah jelas apa penyebabnya. Seorang malaikat sang utusan yang memerintahkan untuk membaca: Bacalah Ya Muhammad…Aku tidak bisa membaca, bacalah ya Muhammad..Aku tidak bisa membaca, bacalah Ya Muhammad.Aku tidak bisa membaca ! setelah tiga kali mengatakan tidak bisa, tiba-tiba dengan lancar beliau mengikuti apa yang diperintahkan oleh Sang Utusan (Jibril). Sebuah kalam yang tidak keluar dari mulut dan fikiran masuk kedalam sukma Muhammad.

    Iqra’ bismirabbikal ladzi khalaq..khlaqal insaana min ‘alaq, iqra’ qarabbukal akram, alladzi ‘allama bil qalam, ‘allamal insaana maa lam ya’lam..(QS. Al ‘Alaq :1-5)

    Dengan tegas Muhammad mengatakan tidak bisa membaca, karena mengira perintah membaca adalah membaca huruf-huruf hijaiyyah atau tulisan, beliau menyadari hal itu sehingga malaikat menyampaikan wahyu yang disusupkan kedalam hatinya.

    Ditegaskan juga dalam surat Al A’laa :6

    Sanuqriuka falaa tansaa…Kami akan membacakan (Alqur’an) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa.

    Muhammad tidak membaca rangkaian huruf hijaiyyah (Arab), akan tetapi beliau menerima wahyu yang disusupkan kedalam hati sanubari yang bukan berupa suara maupun huruf (laa shatun wa laa harfun). Maka fahamlah Muhammad sebagaimana lebah yang difahamkan oleh Allah untuk membuat sarangnya. Wa auhaa rabbuka ila an nahli (An Nahl 16:17). Allah yang mengajarkan Muhammad apa-apa yang tidak diketahuinya (Allamal insaana ma lam ya’lam).

    Dalam surat Al ‘Alaq tidak disebutkan objek yang dibaca berupa rangkaian huruf atau sebuah kitab, akan tetapi objeknya adalah prosesi penciptaan manusia dari ‘alaq. Tertulis kata perintah ” Iqra”, tetapi objeknya apa ? apa yang dibaca ? Mengapa tidak,” Iqra’ kitaban ” (bacalah Al kitab). Dan Al qur’an itupun turun berangsur-angsur sampai 23 tahun, tepatnya 22 tahun 2 bulan 22 hari.

    Muhammad membaca Al qur’an bukan karena beliau pandai membaca huruf hijaiyyah, akan tetapi muhammad dibacakan oleh Allah (sanuqriuka falaa tansaa) sehingga beliau tidak akan lupa selamanya. Sedangkan bahasa Allah bukanlah berupa tulisan dan bukan berupa suara (laisa kamistlihi syaiun,tidak serupa dengan makhluknya).Karena Allah menghimpun pengertian itu kedalam hati Nabi dengan sangat cepat. (arti wahyu dalam kamus bahasa Arab), bukan proses berfikir dan proses belajar. Inilah hikmah keadaan Rasulullah Ummi (Baca: Tidak bisa baca dan tulis). bukanlah menghina Rasulullah akan tetapi justru mengangkat derajat kebenaran Rasulullah. Seorang yang tidak mampu menulis dan membaca bisa menghasilkan ilmu yang sangat tinggi dan modern. Dan tidak mungkin berasal dari gagasan cerdas Muhammad karena dia adalah seorang yang UMMI. Hal ini terbukti ketika Allah menantang untuk membuat ayat yang serupa dengan Alqur’an. Ternyata mereka tidak mampu menciptakan tandingan Alqur’an yang berasal dari Muhammad yang tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis.

    Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Alqur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah. jika kamu orang-orang yang benar. (QS. Al baqarah : 23)

    Membaca

    Seorang yang ummi (tidak bisa baca dan menulis) bukan berarti orang tersebut bodoh atau dungu (jahil), sebab selama ini banyak orang terjebak dengan kata ” membaca ” dengan pengertian sempit, yaitu membaca rangkaian huruf-huruf. Padahal banyak sekali pengertian membaca dengan makna yang lebih luas, seperti membaca situasi, membaca raut muka (aura), membaca getaran cinta, membaca perasaan, membaca alam semesta, membaca arah angin, membaca diri sendiri. Hal ini dinyatakan dalam Al qur’an dengan tegas bahwa Allah mengajarkan manusia (Muhammad) membaca dalam bentuk bukan berupa tulisan, yaitu ayat kauniyah.

    Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat ayat-ayat Allah bagi orang-orang yang beriman. Dan pada penciptaan kamu dan binatang-binatang yang melata yang tersebar (dimuka bumi) terdapat ayat-ayat kekuasaan Allah bagi kaum yang yakin, dan pada pergantian malam dan siang serta hujan yang diturunkan Allah dari langit sebagai rizki lalu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya dengan air hujan itu, dan pada perkisaran angin terdapat pula ayat-ayat kekuasaaan Allah bagi mereka yang berakal. Itulah ayat-ayat Allah, kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya, maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan ayat-ayat-Nya” (QS: Al jaatsiyah, 45: 3-6)

    Seorang ilmuwan pada prinsipnya tidak membaca tulisan pada saat mereka meneliti fenomena alam baik binatang, manusia, tanaman. Karena pada diri alam tersebut sudah terdapat sistem yang bisa berbicara kepada orang yang mengamati atas dirinya (tidak menggunakan kata-kata). Seandainya dua atom hidrogen itu bisa bicara dia akan mengatakan kalau aku bersenyawa (bersetubuh) dengan oksigen (satu) maka aku akan menjadi air. Demikian juga jantung akan berkata : Aku yang memompa darah sehingga bergerak dan nutrisi bisa disuplai keseluruh organ tubuh maka manusia menjadi tumbuh berkembang. Apabila diriku (jantung) sebagai pemompa ini rusak, maka kiriman nutrisi akan terhambat, akibatnya manusia akan jatuh sakit dan bisa mati.

    Akan lebih jelas lagi kalau kita khususkan pengamatan kita atas ayat Allah berupa peristiwa kejadian manusia. Kita akan lebih banyak mengetahui berbagai hal yang tadinya merupakan sebuah misteri. Bagaimana sebuah sel telur atau ovum, atau sel reproduksi wanita yang telah dewasa ditempatkan dalam jaringan yang berbentuk bisul di permukaan indung telur. Lalu kemudian terbukalah pintu, dan ovum itu bergerak maju ke bagian ruang peranakan. Kemudian terus berjalan hingga ke ujung saluran indung telur, yaitu satu pipa saluran menuju kandungan. Begitu seterusnya hingga ovum siap dibuahi, hingga muncullah zigote, janin, bayi dan seterusnya.

    Itu baru sebuah proses awal, dimana itupun mendorong kepada munculnya pengetahuan lain. Misalnya komposisi cairan di dalam saluran indung telur dalam kandungan, lalu proses gerak dari ovum sendiri. dengan cara demikian Allah berkomunikasi memberikan ajarannya melalui perantara kalam sehingga manusia menjadi faham dan berilmu. Dari setiap sistem yang berlaku dalam penciptaan tersebut, Allah sekaligus mengilhamkan sebuah pengertian atau kefahaman bagi si ” Pembaca”. (bukan membaca huruf).

    Firman Allah dalam surat Al mukminun, 23 ayat: 12-14

    Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati (ekstrak) tanah, kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim), kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang. Lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging, kemudian Kami jadikan dia makhluk (berbentuk) lain. Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik

    Sorang pemerhati penciptaan alam telah tertarik dengan sebuah gundukan tanah yang menjulang kelangit. Sebuah sarang rayap yang penuh keajaiban. Yang kelihatannya sepele (remeh) ternyata menyimpan sebuah kecerdasan yang mengalir pada diri para penghuninya. Bagaimana tidak, saat suhu udara diluar bergerak antara 35 derajat fahrenheit (pada malam hari) hingga 104 derajat Fahrenheit (pada siang hari), suhu didalam sarang tetap stabil, kira-kira hanya 87 derajat Fahrenheit. Ternyata ada sebuah lubang angin dibawah gundukan sehingga udara yang hangat di siang hari mengalir keseluruh ruang, sementara ruang-ruang itu telah basah oleh lumpur yang dibawa rayap dari genangan dibawah tanah sehingga kelembaban udara di dalam sarang tetap terjaga. Tak heran jika jamur yang dibutuhkan rayap sebagai makanan tumbuh subur disini.

    Kehebatan ini yang membuat arsitek di Zimbabwe berguru kepada rayap. Mereka ingin membuat rumah yang dingin seperti rumah rayap. Belajar dari melihat dan memperhatikan apa yang dilakukan rayap, para arsitek Pearce Partnership di Harare, Zimbabwe, menerapkan ide yang sama untuk membangun sebuah komplek perkantoran dan Real Estate, maka berdirilah bangunan Eastgate. Bangunan tersebut sebenarnya terdiri dari dua bangunan. Di bagian atapnya dihubungkan oleh semacam jembatan miring berbahan kaca, sehingga angin menjadi bebas masuk pada malam hari. Kipas-kipas yang dipasang disetiap ruangan mengalirkan udara dingin dari luar atrium, udara masuk rongga di lantai dasar, persis seperti lubang rayap. Di bagian dasar ini, udara segar mengalir ke setiap ruang perkantoran melalui ventilasi lantai, sementara udara panas di siang hari akan keluar gedung melalui cerobong di atas atap.

    Masya Allah keajaiban yang luar biasa. Kita tidak usah malu memiliki seorang Nabi yang Ummi (tidak bisa baca tulisan), dan tidaklah hina bersikap seperti para arsitek Pearce Partnership. Bahkan mereka mendapatkan penghargaan yang tinggi karena gagasannya menciptakan gedung yang hebat. Archimides terangkat derajatnya karena memperhatikan telur nyamuk yang mengapung diatas air (innallaha laa yastahyi an yadhriba matslan ba’uudhatan.QS.2: 26). Thomas Alfa Edison terangkat derajatnya karena mengamati ledakan petir yang dahsyat, lalu dunia menjadi terang benderang setelah ledakan itu dibuatnya mini (kecil) di dalam bola kaca (qulin dhuruu madza fissamaai wal ardh….QS.10:101). Sigmund Freud terkenal karena mengamati jiwanya (wa fii anfusikum afala tubshiruun…QS.45:3,QS.91:7-9), Albert Enstein dihormati diseluruh dunia karena menemukan relativitas waktu (wal Ashri innal insaana lafi husrin,QS.103:1-2), dan banyak lagi orang-orang yang membaca fenomena alam ahirnya menjadi profesor.

    Namun sungguh disayang para pembaca yang budiman itu bukanlah dari kalangan orang-orang yang suka membaca Alqur’an. Mungkin kebanyakan ummat Islam menyangka Al Qur’an itu hanya sekedar bacaan yang berpahala, kemudian untuk musabaqah tilawah sehingga terlena dengan lagu-lagu yang indah. Ahirnya melupakan pesan-pesan didalamnya.

    Demikian semoga Allah Allah menuntun hati kita, amin.

    Abu Sangkan Paraning Wisesa.

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 20 April 2019 Permalink | Balas  

    Rumah Tangga Dalam Islam (3) Tamat 

    Rumah Tangga Dalam Islam (3)

    *Perceraian*

    Perceraian di dalam rumah tangga meskipun pahit, namun kadang menjadi kenyataan yang harus dialami.

    Allah tidak pernah membenci perceraian, apalagi sampai memaksa suami istri untuk tetap bersatu sampai maut menjemput. Dia memahami adanya kenyataan perceraian tersebut.

    “Tetapi jika keduanya bercerai, Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari limpahan karunia-Nya” [4:130]

    Ajaran Islam itu sangat realistis. Dalam kondisi tertentu, bisa jadi perceraian lebih mendatangkan kebaikan dari pada sama-sama tersiksa dan menyiksa di dalam sebuah ikatan perkawinan.

    Perceraian selain disebabkan oleh pernyataan cerai (talak) dari suami bisa juga terjadi secara otomatis karena suami meninggalkan istrinya selama lebih dari empat bulan.

    “Bagi orang-orang yang bersumpah memantangkan diri dari perempuan- perempuan mereka, diberi tangguh empat bulan. Jika mereka kembali (kepada istrinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Pengasih. Tetapi jika mereka memutuskan untuk bercerai, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Q.S. 2:226- 227]

    Istri pun dimungkinkan mengambil inisiatif untuk bercerai dengan suatu penebusan. Penebusan ini bermaksud bahwa istri membayarkan kembali segala pemberian suami untuk menebus dirinya dari ikatan perkawinan.

    “Jika kamu khawatir bahwa keduanya tidak dapat menjalankan batasan- batasan Allah, maka tidak bersalah atas istri untuk menebus dirinya” [2:229]

    Cerai dalam bahasa Arab disebut talak. Jadi, istilah talak satu berarti bercerai pertama kali. Istilah talak dua berarti bercerai untuk kedua kalinya (dengan istri yang sama). Karenanya, menyebut “talak tiga” pada perceraian yang pertama adalah keliru dan tidak pada tempatnya.

    *Masa tunggu (iddah)*

    Di dalam proses perceraian ada masa tunggu (iddah) yang harus diperhatikan oleh kaum muslim. Ketentuan Allah tentang masa tunggu (iddah) tersebut adalah sebagai berikut:

    1.. Secara umum, masa tunggu adalah selama tiga kali haid. “Perempuan-perempuan yang diceraikan hendaklah menunggu sendiri selama tiga kali haid, dan tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah di dalam rahim mereka” [2:228]

    2.. Tidak ada masa tunggu bagi istri yang diceraikan sebelum dicampuri. “… apabila kamu mengawini perempuan-perempuan beriman, dan kemudian menceraikan mereka sebelum mencampurinya, maka tiadalah masa tunggu (iddah)” [33:49]

    3.. Bagi perempuan yang tidak haid lagi masa tunggunya adalah tiga bulan. Sedangkan bagi perempuan yang sedang hamil, masa tunggunya adalah sampai ia melahirkan.

    “Bagi perempuan-perempuan yang kamu berputus asa tentang haid selanjutnya, jika kamu ragu-ragu, maka masa tunggu mereka ialah tiga bulan, dan begitu pula mereka yang tidak datang haid lagi (monopause). Dan mereka yang hamil, masa tunggu mereka adalah sampai mereka melahirkan kandungannya…” [65:4]

    4.. Bagi perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya, masa tunggu sebelum ia dapat kawin lagi adalah selama empat bulan dan sepuluh hari. “Dan orang-orang yang meninggal di antaramu dan meninggalkan istri-istri, mereka (istri-istri) menunggu sendiri selama empat bulan dan sepuluh hari” [2:234]

    5.. Perempuan yang sedang dalam masa tunggu untuk bercerai harus tetap diberi tempat tinggal dan nafkah sesuai dengan kemampuan suami. Kewajiban mengadakan penyusuan bagi anak-anak ada di pundak suami, karenanya dalam hal anak-anak disusukan oleh istri yang sudah diceraikan maka suami berkewajiban membayar upahnya.

    “Tempatkanlah mereka di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu, dan janganlah menekan mereka untuk menyempitkan keadaan mereka. Jika mereka sedang mengandung, nafkahilah mereka sampai mereka melahirkan. Jika mereka menyusukan (anak-anak) untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya” [65:6]

    *Saksi*

    Apabila masa tunggu (iddah) berakhir akan ada dua kemungkinan keputusan: memutuskan untuk rujuk kembali, atau akhirnya resmi berpisah. Apapun keputusannya hendaknya disaksikan oleh dua orang saksi. Saksi tersebut bisa saja majelis hakim pengadilan agama, atau kerabat, atau pengacara, atau notaris dan sebagainya.

    “Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah” [65:2] Pemberian

    1.. Ketika perceraian terjadi, mantan suami memberikan suatu pemberian yang patut untuk istrinya. Ini memperlihatkan sekalipun dalam kasus perceraian Islam menghendaki agar diakhiri dengan manis. “kepada perempuan-perempuan yang diceraikan, diberi pemberian (hadiah) dengan baik sebagai suatu kewajiban bagi orang- orang yang bertakwa” [2:241]

    2.. Untuk istri yang diceraikan sebelum dicampuri dan belum ditetapkan maharnya, suami memberi suatu pemberian yang patut.

    “Tidak ada kesalahan atasmu jika kamu menceraikan istri-istrimu sedang kamu belum mencampuri mereka, dan belum juga kamu tetapkan suatu bagian untuk mereka. Namun hendaklah kamu berikan suatu pemberian untuk mereka – orang yang mewah menurut kemampuannya, dan orang yang miskin menurut kemampuannya – suatu pemberian yang patut. Yang demikian suatu kewajiban bagi orang-orang yang berbuat baik”. [2:236]

    3.. Untuk istri yang diceraikan sebelum dicampuri namun sudah ditetapkan maharnya, suami memberi setengah dari jumlah yang sudah ditetapkan itu.

    Kalau istrinya merelakan, suami terbebas dari pembayaran mahar yang telah ditentukan. Sebaliknya kalau si suami yang merelakan, ia membayar penuh mahar yang telah ditetapkan. Allah katakan, merelakan (memaafkan) adalah lebih dekat kepada takwa.

    “Dan jika kamu menceraikan mereka sebelum mencampuri mereka, sedangkan kamu sudah menetapkan bagi mereka bagian yang ditentukan (mahar), maka berilah setengah dari apa yang telah kamu tetapkan, kecuali jika mereka memaafkan, atau dimaafkan oleh yang memegang ikatan perkawinan. Dan pemaafan kamu adalah lebih dekat kepada takwa” [2:237]

    ***

    Kiriman Sahabat Debu Semesta

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 19 April 2019 Permalink | Balas  

    Rumah Tangga Dalam Islam (2) 

    Rumah Tangga Dalam Islam (2)

    Pergaulan Suami Istri

    *Bercampur*

    Salah satu kenikmatan hidup berumah tangga diperoleh dalam hubungan seksual (bercampur). Tentang tatagaya bercampur antara suami istri sepenuhnya terpulang pada masing-masing pasangan. Allah membuka kebebasan dalam hal ini.

    “Istri-istrimu adalah ladang bagimu; maka datangilah ladang kamu bagaimana saja yang kamu kehendaki” [2:223]

    Bagaimanapun, ada batasan-batasan tertentu yang ditetapkan Allah dimana percampuran suami istri menjadi terlarang. Batasan-batasan dimaksud adalah:

    1.. Ketika bertekun di mesjid (iktikaf). “tetapi janganlah kamu campuri mereka sedang kamu bertekun (iktikaf) di dalam mesjid” [2:187]

    2.. Ketika menjalani haji. “barang siapa yang menetapkan niat untuk haji pada bulan itu, maka tidak boleh bercampur” [2:197]

    3.. Ketika istri haid. “hendaklah kamu menjauhkan diri dari perempuan-perempuan di waktu haid, dan janganlah mendekati mereka sehingga mereka bersih” [2:222]

    Selain larangan bercampur suami istri, ketentuan Al-Qur’an mengenai perempuan haid berkaitan dengan masa tunggu ketika akan bercerai untuk memastikan bahwa si perempuan tidak sedang hamil [Q.S. 2:228, 65:4]. Ajaran Allah tidak pernah melarang perempuan haid untuk shalat, berpuasa, atau menyentuh dan membaca Al-Qur’an.

    4.. Suami memantangkan diri dari istrinya lewat dari empat bulan. Lewat masa empat bulan percampuran diharamkan, dan mereka dianggap telah bercerai.

    “Bagi orang-orang yang bersumpah memantangkan diri dari perempuan- perempuan mereka, diberi tangguh empat bulan. Jika mereka kembali (kepada istrinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Pengasih. Tetapi jika mereka memutuskan untuk bercerai, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Q.S. 2:226- 227]

    5.. Menzihar istri (berkata kepada istri: “Kamu bagiku adalah seperti punggung ibuku”) dan belum menunaikan tebusan untuk menarik kembali ucapan mungkarnya tersebut.

    “Orang-orang yang menzihar istri-istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali ucapannya, mereka (wajib) memerdekakan seorang hamba sahaya sebelum keduanya bercampur satu sama lain… Barang siapa yang tidak mendapatkannya (hamba sahaya), maka hendaklah dia berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur satu sama lain. Dan barang siapa yang tidak sanggup (berpuasa dua bulan), maka hendaklah dia memberi makan enam puluh orang miskin” [58:3-4]

    *Poligami*

    Poligami pada dasarnya adalah halal. Konteks poligami di dalam Al- Qur’an adalah mengawini perempuan-perempuan untuk mengasuh anak-anak yatim sehingga diharapkan anak-anak yatim tersebut mendapatkan perlakuan yang adil.

    “Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap anak-anak yatim, maka kawinilah perempuan-perempuan yang nampak baik bagimu: dua, tiga, atau empat” [4:3]

    Lanjutan dari ayat di atas memberikan peringatan untuk mewaspadai ketidakadilan dalam berpoligami. “tetapi jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka (kawini) satu saja … itu lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” [4:3]

    Kenyataannya, seorang suami tidak akan mampu berbuat adil terhadap istri-istrinya. Ketidakadilan yang biasanya terjadi adalah, suami condong kepada istri muda dan membiarkan istri tua terkatung-katung.

    “Kamu sekali-kali tidak akan bisa berbuat adil di antara istri- istrimu walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu condong (kepada salah satu) dan kamu biarkan yang lain terkatung-katung” [4:129]

    Karena lebih dekat kepada berbuat aniaya, maka poligami sebaiknya dihindari.

    *Percekcokan*

    Menyatukan dua orang di dalam sebuah ikatan perkawinan tentu membawa gesekan-gesekan perbedaan tersendiri. Al-Qur’an memberi contoh- contoh perselisihan di dalam rumah tangga dan cara-cara menyelesaikannya:

    1.. Menuduh istri melakukan zina. “Dan orang-orang yang menuduh istri-istrinya (berzina) tanpa ada saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu adalah empat kali bersumpah dengan nama Allah bahwa dia termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya jika dia termasuk orang-orang yang berdusta. Istri akan terhindar dari hukuman, jika dia (istri) bersumpah empat kali atas nama Allah bahwa suaminya adalah termasuk orang-orang yang berdusta. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya (istri) jika dia (suami) termasuk orang-orang yang benar” [24:6-9]

    2.. Kedurhakaan suami atau istri. Bagi kedurhakaan suami Allah menjelaskan dengan ayat yang berbunyi: “Jika seorang perempuan khawatir akan kedurhakaan atau sikap tidak acuh suaminya, tidak bersalah bagi keduanya mengadakan perdamaian di antara mereka; dan perdamaian itu adalah lebih baik, walaupun jiwa cenderung pada kekikiran” [4:128]

    Bagi istri yang durhaka, tindakan yang diambil oleh suami adalah seperti pada ayat yang berbunyi: “perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan kedurhakaannya, nasihatilah mereka, dan pisahkanlah mereka dari tempat tidur mereka, dan pukullah mereka” [4:34]

    Sejenak kita perhatikan kata “pukul” (wadribu) pada ayat di atas. Sebuah terjemahan, AL-QUR’AN a contemporary translation, oleh Ahmed Ali (1984), pada catatan kakinya halaman 78 menulis: “wadribu , in the original, translated here `have intercourse’ “ see Raghib, Lisan al-`Arab and “. daraba metaphorically means to have intercourse, and quote the expression darab al-fahl an-naqah, ‘the stud camel covered the she-camel,’ which is also quoted by Lisan al-`Arab. It cannot be taken here to mean `to strike them (women).'”

    Maka, kata “pukul” pada ayat di atas adalah kata kiasan untuk bercampur (have intercourse). Ini berarti istri yang durhaka pun harus dicampuri, bukan ditempeleng, atau ditendang, dan sebagainya. Selain di dalam bahasa Arab sebagaimana kata “daraba” yang kita bahas, bahasa Jerman juga menggunakan kata “pukul” (focken) untuk mengekspresikan hubungan seksual. Kata focken ini telah diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi (maaf) fuck.

    *Pendamai*

    Sebelum percekcokan bertambah parah dan mengarah pada perceraian, sebaiknya dilakukan upaya perdamaian oleh wakil kedua belah pihak. “Jika kamu khawatir akan persengketaan antara keduanya, maka bangkitkanlah seorang pendamai dari keluarga laki-laki, dan seorang pendamai dari keluarga perempuan. Jika mereka menghendaki perbaikan, Allah akan memberi taufik kepada keduanya” [4:35].

    ***

    Kiriman Sahabat Debu Semesta

     
  • erva kurniawan 1:02 am on 18 April 2019 Permalink | Balas  

    Rumah Tangga Dalam Islam (1) 

    Rumah Tangga Dalam Islam (1)

    “Dan di antara tanda-tanda-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu cinta dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”. [Q.S. 30:21]

    Rasa cinta dan sayang yang muncul antara laki-laki dan perempuan di dalam Islam ditindaklanjuti di dalam ikatan perkawinan. Tentang perkawinan ini Islam memberikan tuntunan sebagai berikut:

    Hukum Perkawinan

    *Halal*

    Orang-orang yang halal untuk dikawini disebutkan di dalam Al-Qur’an sebagai berikut:

    1.. Lajang. “Kawinlah orang-orang yang tanpa teman hidup di kalangan kamu” [24:32]

    2.. Janda. “Tidak ada kesalahan atas kamu meminang perempuan- perempuan (janda) dengan sindiran” [2:235]

    3.. Ahli Kitab (Yahudi, Nasrani). “.. dan menikahi perempuan- perempuan yang diberi al-Kitab sebelum kamu” [5:5]

    Catatan: Keputusan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) nomor : 4/Munas VII/MUI/8/2005 Tentang Perkawinan Beda Agama telah mengharamkan perkawinan laki-laki muslim dengan perempuan ahli kitab. Fatwa MUI tersebut jelas menyesatkan dan telah keluar dari ajaran Islam.

    4.. Hamba sahaya yang beriman. “ia boleh mengawini wanita-wanita beriman, dari budak-budak yang kamu miliki” [4:25]

    5.. Anak tiri dari istri yang belum dicampuri. “… dan (diharamkan mengawini) anak-anak tiri dalam pemeliharaan kamu dari isteri-isteri yang telah kamu campuri – tapi jika kamu belum mencampuri mereka (istri), maka tidaklah bersalah atas kamu” [4:23]

    6.. Bekas istri anak angkat. “tidak ada kesalahan atas orang-orang mukmin dalam hal (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka” [33:37]

    7.. Wanita mukmin yang lari dari suami yang kafir. “…dan tiada kesalahan atas kamu untuk mengawini mereka (yang lari dari suami yang kafir), apabila kamu telah memberi mahar mereka” [60:10]

    *Haram*

    Disamping orang-orang yang halal dikawini sebagaimana telah dijelaskan di atas, Allah juga menetapkan adanya orang-orang yang haram dikawini. Berikut uraiannya:

    1.. Yang enggan (tidak rela/ dipaksa). “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai perempuan-perempuan dengan paksa” [4:19]

    2.. Bekas istri ayah. “Dan janganlah kamu kawini perempuan- perempuan yang telah dikawini oleh ayahmu” [4:22]

    3.. Ibu, ayah, anak-anak perempuan, saudara-saudara perempuan, saudara perempuan ayah, saudara perempuan ibu, dan anak-anak perempuan saudara. “Diharamkan atas kamu ibu-ibumu, anak-anak perempuanmu, saudara-saudara perempuanmu, saudara perempuan ayahmu, saudara perempuan ibumu, dan anak-anak perempuan saudara laki-laki maupun anak-anak perempuan saudara perempuanmu” [4:23]

    4.. Perempuan yang menyusukan, dan perempuan yang sepersusuan. “ dan ibu-ibu yang menyusukan kamu, dan saudara-saudara perempuan kamu yang sepersusuan” [4:23]

    5.. Ibu mertua, dan anak-anak tiri yang ibunya sudah dicampuri. “ dan ibu-ibu istrimu, anak-anak tiri perempuanmu yang dalam pemeliharaanmu dari istri-istrimu yang telah kamu campuri” [4:23]

    6.. Menantu. “dan istri-istri anak-anak kandungmu” [4:23]

    7.. Dua kakak-beradik. “dan kamu himpunkan dua perempuan kakak- beradik” [4:23]

    8.. Istri orang. “Dan perempuan-perempuan yang bersuami, kecuali hamba sahaya yang kamu miliki” [4:24]

    Ayat di atas sekaligus menjadi dalil haramnya perempuan bersuami lebih dari satu orang (“poliandri”).

    9.. Pezina bagi yang bukan pezina. “Laki-laki yang berzina tidak mengawini kecuali perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina, tidak dikawini kecuali oleh laki-laki yang berzina, atau laki-laki yang musyrik; yang demikian itu diharamkan atas orang-orang beriman” [24:3]

    10.. Yang keji bagi yang baik. “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji; wanita-wanita yang baik adalah untuk laki- laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik” [24:26]

    11.. Yang telah ditalak (dicerai) dua kali, sampai ia (bekas istri) kawin lagi dengan orang lain lalu bercerai. “Jika dia menceraikannya (setelah kali kedua), dia (isteri) tidak halal baginya sesudah sampai dia kawin dengan laki-laki yang lain” [2:230]

    12.. Orang yang musyrik (yang menyekutukan selain Allah untuk menetapkan sesuatu dalam agama). “Janganlah mengawini perempuan- perempuan musyrik sampai mereka beriman; hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan yang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah mengawini laki-laki yang musyrik sebelum mereka beriman. Hamba sahaya yang beriman adalah lebih baik daripada orang yang musyrik walaupun dia menarik hatimu” [2:221]

    13.. Orang yang tidak percaya (kafir) kepada Allah dan Kitab- Nya. “Mereka (yang beriman) tidak halal bagi orang-orang kafir, dan tidak juga orang-orang kafir itu halal bagi mereka” [60:10]

    Proses Perkawinan

    *Persetujuan Perempuan*

    Pertama kali harus dipastikan bahwa calon mempelai perempuan menyetujui rencana perkawinan yang akan dilangsungkan. Sama sekali tidak dibenarkan mengawinkan perempuan tanpa persetujuannya. “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai perempuan- perempuan dengan paksa” [4:19]

    *Akad*

    Selanjutnya akad nikah dilakukan antara keluarga si perempuan dengan calon mempelai laki-laki. Lafaz akad berisikan (1)maksud dari keluarga perempuan untuk mengawinkan anaknya dan (2)mahar (mas kawin) yang harus dibayarkan oleh laki-laki atas perkawinan tersebut.

    Sebagai contoh yang diceritakan Al-Qur’an adalah lafaz akad bapak mertua Nabi Musa tatkala dia menyerahkan anaknya untuk dikawinkan dengan Musa: “Aku bermaksud mengawinkan kamu dengan salah seorang dari kedua anak perempuanku ini, dengan kamu bekerja padaku selama delapan tahun” [28:27]

    Dalam kasus Nabi Musa mas kawinnya adalah berupa “kerja”. Hal ini mungkin karena kondisi Nabi Musa yang sedang dalam pelarian sehingga tidak memiliki harta yang mencukupi.

    Perlu ditambahkan bahwa bisa saja ketika perkawinan dilangsungkan maharnya belum ditetapkan. Apabila seperti itu yang terjadi tentunya ketetapan mahar tidak dimasukkan ke dalam lafaz akad.

    “Tidak ada kesalahan atasmu jika kamu menceraikan istri-istrimu sedang kamu belum mencampuri mereka, dan belum juga kamu tetapkan suatu bagian (mahar) untuk mereka”. [2:236] *Mahar*

    Mahar /mas kawin adalah pemberian wajib dari seorang laki-laki untuk perempuan dalam ikatan perkawinan [4:24]. Termasuk juga bila perempuan yang dikawini adalah seorang hamba sahaya [4:25].

    Adapun besarnya mahar adalah sesuai kerelaan kedua belah pihak. Dan meskipun mahar tersebut adalah pemberian suami yang sudah menjadi milik istri, namun suami tetap boleh ikut menikmatinya bila sang istri menawarkan. “Berikanlah mahar kepada perempuan-perempuan (yang dinikahi) sebagai suatu pemberian yang penuh kerelaan. Kemudian jika mereka dengan senang hati menawarkan sebagian darinya kepadamu, maka makanlah pemberian itu dengan sedap” [Q.S. 4:4]

    Harta, termasuk mahar, yang telah diberikan oleh suami kepada istrinya tidak boleh diminta kembali. “Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka (istri)” [2:229]

    ***

    Kiriman Sahabat Debu Semesta

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 17 April 2019 Permalink | Balas  

    Kematian, Alam Barzakh, Dan Kebangkitan 

    Kematian, Alam Barzakh, Dan Kebangkitan

    Kematian

    Semua yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Seseorang yang sedang tekun meniti jalan spiritual biasanya sering merenungi kematian. Renungan tersebut dapat berujung pada phobia (ketakutan yang tidak pada tempatnya) tatkala informasi yang didapatkan tentang kematian keliru adanya.

    Bagaimana tidak akan ketakutan, kalau diceritakan bahwa seringan- ringannya rasa sakit pada saat kematian adalah seperti sakit yang dirasakan oleh seekor kambing yang dikuliti hidup-hidup? Sebagai catatan, metafora kambing yang dikuliti hidup-hidup ini sama sekali tidak dikenal di dalam Al-Qur’an.

    Memang ada manusia yang nyawanya dicabut malaikat dengan cara yang kasar, disamping ada pula yang nyawanya dikeluarkan dengan lembut. Sepanjang kita termasuk orang-orang yang beriman maka tidak perlu merasa takut karena perlakuan yang kasar tersebut hanya diperbuat terhadap orang-orang yang tidak beriman.

    “Demi yang merengggut dengan keras, dan yang mengeluarkan dengan lembut.” [Q.S. 79:1,2]

    “Kalau kamu dapat melihat ketika para malaikat mematikan orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka, `Rasakanlah azab yang membakar'” [Q.S. 8:50]

    Derita kematian untuk orang-orang yang tidak beriman adalah salah satu bentuk siksaan di dunia sebelum mendapat siksaan yang kekal di Hari Akhir nanti.

    Alam Barzakh

    Setelah mati, jiwa kita meninggalkan dunia ini menuju sebuah dimensi yang disebut alam kubur atau biasa juga disebut alam barzakh untuk tidur panjang. Barzakh berarti dinding. Di alam barzakh ini kita terdinding dari kesempatan untuk berbalik ke dunia.

    “Sehingga apabila kematian datang kepada seorang dari mereka, dia berkata: `Wahai Rabbku, kembalikanlah aku, supaya aku membuat amal kebaikan yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak, itu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di belakang mereka ada dinding (barzakh) sampai hari mereka dibangkitkan”. [Q.S. 23:99,100]

    Setelah mati dan ditempatkan di alam barzakh, jiwa manusia tidak bisa mendengar apapun. Jadi, jangan sekali-kali minta didoakan kepada orang yang sudah mati karena hal tersebut adalah perbuatan sia-sia.

    “Tidaklah sama yang hidup dengan yang mati. Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tidak sanggup menjadikan orang-orang yang di dalam kubur dapat mendengar”. [Q.S. 35:22]

    Kebangkitan

    Ketika tiba Waktunya, seluruh manusia dibangkitkan dari kuburnya. Kebangkitan tersebut terasa seperti baru bangun tidur saja.

    “Dan sesungguhnya Saat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya; dan Allah membangkitkan semua orang yang di dalam kubur”. [Q.S. 22:7]

    “Mereka berkata: `Celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami? Inilah yang dijanjikan Yang Maha Pemurah, dan benarlah rasul-rasul.” [Q.S. 36:52]

    Pada fase kehidupan kembali ini kita akan dibalas seadil-adilnya atas segala apa yang telah kita perbuat di dunia.

    “Pada hari ini tiap-tiap jiwa dibalas dengan apa yang diusahakannya; tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah cepat membuat perhitungan.” [Q.S. 40:17]

    Apakah logis manusia yang sudah mati bahkan tulang belulangnya pun telah hancur terurai dapat dibangkitkan hidup kembali utuh seperti sedia kala??

    Kita perlu fakta empiris untuk menjawab pertanyaan di atas.

    Mari lihat diri kita. Kita adalah makhluk hidup berjenis manusia. Dulu, kita hanyalah setetes air yang tersembur ketika ayah mendatangi ibu. Air itu berasal dari saripati makanan, dan makanan itu berasal dari saripati tanah. Dari setetes air yang benda MATI tersebut akhirnya hadirlah diri kita yang HIDUP ini.

    Allah yang telah menciptakan kita. Bukan ayah dan ibu. Mereka tidak punya daya untuk menentukan mana dari ribuan sel sperma yang akan melekat ke sel telur; mereka tidak sanggup memastikan agar kita terlahir rupawan meskipun siang malam surat Yusuf dibacakan; mereka pun tidak bisa campur tangan menetapkan jenis kelamin kita.

    Mari lihat lingkungan kita. Petani menabur benih padi yang MATI ke sebidang tanah yang juga MATI. Tanah tersebut kemudian disirami air yang juga MATI. Dengan kekuasaan Allah bangkitlah di lahan tersebut makhluk HIDUP bernama batang padi. Bila Dia kehendaki, batang padi itu bisa tidak tumbuh sama sekali.

    Karena premis-premis penciptaan di atas memang telah terbukti secara empiris, maka adalah logis kalau dinyatakan bahwa Allah yang telah mengeluarkan yang hidup dari yang mati dapat pula membangkitkan manusia yang sudah mati hidup kembali.

    Kematian dan kehidupan adalah pasangan sebagaimana halnya siang dan malam. Dulu kita adalah benda mati, sekarang kita hidup. Besok kita mati, maka tentu akan hidup kembali. Abadi.

    “Wahai Rabb kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan menghidupkan kami dua kali;…” [Q.S. 40:11]

    ***

    Kiriman Sahabat Debu Semesta

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 16 April 2019 Permalink | Balas  

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu (Bagian 8) 

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu (Bagian 8)

    Atmosfir Bumi

    Dalam beberapa aspek yang mengenai langit secara khusus dan yang telah kita bicarakan dalam posting-posting yang lalu, Qur’an memuat beberapa paragraf yang ada hubunnnya dengan fenomena-fenomena yang terjadi dalam atmosfir.

    Mengenai hubungannya paragraf-paragraf Qur’an tersebut dengan hasil-hasil Sains Modern, kita dapatkan seperti yang sudah-sudah dilain persoalan tidak adanya kontradiksi dengan pengetahuan ilmiah yang sudah dikuasai manusia sekarang tentang fenomena-fenomena yang disebutkan.

    Ketinggian (Altitude)

    Sesungguhnya ini adalah pemikiran sederhana terhadap rasa, ‘tidak enak’ yang dirasakan orang ditempat yang tinggi, dan yang akan bertambah-tambah jika orang itu berada dalam tempat yang lebih tinggi lagi, hal ini dijelaskan dalam Surah Al-An’aam ayat 125:

    “…niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki kelangit….” (QS. 6:125)

    Bila Muhammad bukan utusan Allah, pasti ia tidak mengetahui bahwa kalau diluar angkasa tidak ada udara yang mengandung oksigen.

    Benda apapun yang dilemparkan tinggi-tinggi akan jatuh kembali kebumi, begitu juga bila seorang peloncat tinggi meloncar, ia akan jatuh kembali kebumi. Burung dapat terbang karena dengan susah payah harus menggerakkan sayapnya untuk mendorong udara, sekalipun berat badannya cukup ringan.

    Semua ini karena adanya gaya tarik bumi yang disebut gravitasi. Besar atau kecilnya gaya tarik bumi dipengaruhi oleh besar kecilnya berat jenis suatu benda. Dengan demikian semakin ringan suatu benda, maka semakin kecil gaya tarik bumi pada benda tersebut, karena berat ringan suatu benda yang sama volumenya ditentukan oleh besar kecil berat jenisnya.

    “Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. sesungguhnya pada yang demikian itu benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman.” (QS. 16:79)

    “Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu.” (QS. 6:38)

    Air yang verat jenisnya lebih besar daripada minyak tanah, selalu berada dibagian bawah bila dicampurkan, karena gaya tarik bumi terhadap air lebih besar dibandingkan minyak tanah. Helium yang ringan mempunyai gaya tarik bumi kecil sekali, sehingga bila dimasukkan kedalam balon mainan anak-anak, balon akan terbang tinggi karena masih banyak udara lain yang berebutan ingin lebih kebumi ditarik bumi.

    Batu yang dilemparkan keatas akan mengalami perlambatan sampai mencapai puncaknya dengan kecepatan sama dengan 0 (nol). Selanjutnya jatuh kembali kebumi mengalami percepatan. Kecepatan benda terbesar adalah pada saat pertama sewaktu benda jatuh kebumi apabila tepat jatuh dan tempat melempar sama tinggi dan tanpa pengaruh lain. Semakin kuat tenaga yang dimiliki untuk melemparkan benda semakin tinggi pula titik puncak yang dicapai. Dan kekuatan yang diperlukan tersebut adalah kekuatan untuk melawan gravitasi bumi.

    Dapat dibayangkan betapa banyaknya tenaga dan kekuatan yang diperlukan untuk melepaskan pesawat luar angkasa meninggalkan atmosfir. Bahkan Challenger yang meledak pada percobaan penerbangan angkasa luar Amerika Serikat, tenaganya melebihi ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki di Jepang pada waktu perang Dunia kedua.

    Pesawat luar angkasa pertama milik Amerika Serikat yang mencapai bulan, yaitu Apollo 11, memerlukan kekuatan sedemikian besarnya untuk dapat mencapai bulan, sehingga tidak cukup hanya kekuatan ledakan pertama di Cape Kenedy, tetapi beberapa kali harus melepaskan alasnya untuk kekuatan baru. Begitu juga Lunix dan Soyuz miliki Uni Soviet (Rusia).

    Sejak nuklir ditemukan manusia, para pembuat pesawat luar angkasa semakin bergairah karena kekuatannya dapat dipergunakan lebih maksimal. Benda biasa yang dibakar umumnya menjadi abu, menguap keudara dan sisanya menjadi energi, tetapi nuklir dapat habis seluruhnya untuk menciptakan energi (tenaga) ataupun kekuatan. Begitu besarnya perhatian dan keinginan para ahli luar angkasa, untuk memperoleh kekuatan agar dapat mengimbangi gaya tarik bumi (gravitas), lepas landas keluar angkasa menembus penjuru langit.

    Ini semua sudah dibicarakan dalam Al-Qur’an :

    “Hai jama’ah jin dan manusia,jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan”. (QS. 55:33)

    “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang ?. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang ?” (QS. 67:3)

    Listrik di Atmosfir

    Listrik yang ada diatmosfir dan akibat-akibatnya seperti guntur dan butir-butir es disebutkan dalam beberapa ayat sbb :

    “Dia-lah yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan mendung. Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia-lah Tuhan Yang Maha keras siksa-Nya.” (QS. 13:12-13)

    Surah An-nur ayat 43.

    “Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatan olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.” (QS. 24:43)

    Dalam dua ayat tersebut digambarkan hubungan yang erat antara terbentuknya awan-awan berat yang mengandung hujan atau butiran-butiran es dan terbentuknya guntur. Yang pertama sangat dicari orang karena manfaatnya dan yang kedua ditolak orang. Turunnya guntur adalah keputusan Allah. Hubungan antara kedua fenomena atmosfir sesuai dengan pengetahuan tentang listrik atmosfir yang sudah dimiliki oleh manusia sekarang.

    Bayangan

    Fenomena yang sangat luar biasa dijaman kita, yaitu bayangan dan pergeserannya disebutkan dalam ayat-ayat berikut :

    “Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang; dan kalau Dia menghendaki niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu.” (QS. 25:45)

    “Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang dilangit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya diwaktu pagi dan petang hari.” (QS. 13:15)

    “Dan apakah mereka tidak memperhatikan segala sesuatu yang telah diciptakan Allah yang bayangannya berbolak-balik ke kanan dan ke kiri dalam keadaan sujud kepada Allah, sedang mereka berendah diri.” (QS. 16:48)

    Diluar hal-hal yang menunjukkan tunduknya segala ciptaan Tuhan termasuk bayangan, kepada penciptanya Yang Maha Kuasa, dan disamping Tuhan memperlihatkan kekuasaanNya, ayat-ayat Qur’an juga menyebutkan hubungan antara bayangan dan matahari.

    ***

    Taken From : Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu, Drs. Inu Kencana Syafiie, Gema Insani Press, Jakarta, 1996

    Bibel, Qur’an dan Sains Modern, Dr. Maurice Bucaille, Bulan Bintang 1984

    Dari Sains ke Stand AlQur’an, Dr. Imaduddin Khalil, Arista 1993

    Asal Usul Manusia Menurut Bibel, Al-Qur’an dan Sains Modern, Dr. Maurice Bucaille, Penerbit Mizan 1996

     

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 15 April 2019 Permalink | Balas  

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu (Bagian 7) 

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu (Bagian 7)

    Lautan

    Sebagaimana ayat-ayat Qur’an telah memberikan bahan perbandingan dengan ilmu pengetahuan modern mengenai siklus air dalam alam pada umumnya, hal tersebutakan kita rasakan juga mengenai lautan.

    Tidak ada ayat AL-Qur’an yang mengisahkan mengenai kelautan yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Begitu juga perlu digaris bawahi bahwa tidak ada ayat Qur’an yang membicarakan tentang lautan menunjukkan hubungan dengan kepercayaan-kepercayaan atau mitos atau takhayul yang terdapat pada jaman Qur’an diwahyukan.

    Beberapa ayat yang mengenai lautan dan pelayaran mengemukakan tanda-tanda kekuasaan Tuhan yang nampak dalam pengamatan sehari-hari, dimana semua itu untuk dipikirkan.

    Ayat-ayat tersebut adalah:

    “Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.” (QS. 14:32)

    “Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.” (QS. 16:14)

    “Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur.” (QS. 31:31)

    “Dan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan, dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu. Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka diselamatkan, kecuali karena Rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai pada waktu tertentu.” (QS. 36:41-44)

    Pada dini hari para nelayan bertolak kelaut mencari ikan, mereka mengembangkan layar perahunya karena mengharapkan angin darat meniup perahu mereka kelaut. Begitu pula sebaliknya bila mereka hendak pulang, mereka mengembangkan layar perahunya mengharapkan angin laut menghantarkan mereka kedarat. Begitulah pertolongan Allahus Shamad (Allah tempat bergantung segala sesuatu), karena Allah juga Rabbul Mustadh’afin.

    Peristiwa diatas ini telah dimuat dalam Al-Qur’an dengan manis :

    “…bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia…” (QS. 2:164)

    Hal ini terjadi karena memang udara didarat pada siang hari terasa panas, menjadikan udara tersebut memuai (mengembang) sehingga karena kepadatannya udara tersebut bergerak ketempat yang relatif lebih renggang dilaut. Sedangkan panasnya laut pada malam hari membuat udara memuai (mengembang) sehingga karena kepadatannya pula udara tersebut bergerak ketempat yang relatif lebih renggang didarat, sesuai sifatnya.

    Udara yang bergerak disebut angin, membawa serta awan yang mengundang air atau butir-butir es (bila membatu). Hal ini menjadi keterangan AL-Qur’an pada potongan ayat selanjutnya, sebagai berikut :

    “…dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi (atmosfir)..” (QS. 2:164)

    Secara lengkap penulis cantumkan keseluruhan Surah Al-Baqarah ayat 164 tersebut sbb :

    “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi (atmosfir); sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. 2:164)

    Perjalanan awan tersebut dalam ayat diatas adalah merupakan salah satu dari proses siklus air, air yang berasal dari manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan maupun dari alam sekitarnya seperti sungai, danau, kolom, got, selokan, parit, WC dam kamar mandi bergerak dari tempat yang tinggi ketempat yang relatif lebih rendah, sehingga pada akhirnya sebagian bisa sampai kelaut.

    Dilautlah udara (disamping penguapan pada tempat-tempat lain), uap air diudara berkumpul membentuk awan. Bersama angin gumpalan-gumpalan awan tersebut terbawa, dan oleh kelembaban tertentu (misalnya oleh gunung atau hutan) berubah kembali menjadi bintik-bintik hujan.

    Peristiwa perjalanan awan lebih lengkap difirmankan oleh Allah dalam Surah An-Nuur 24 ayat 43 berikut ini :

    “Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatan olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.” (QS. 24:43)

    Ada lagi fakta mengenai lautan untuk diamati, fakta tersebut dapat diambil dari ayat-ayat Qur’an tentang lautan dan fakta tersebut menunjukkan suatu aspek yang khusus. Tiga ayat membicarakan sifat-sifat sungai yang besar jika sungai itu menuang kedalam lautan.

    Suatu fenomena yang sering kita dapatkan adalah bahwa air lautan yang asin, dengan air sungai-sungai besar yang tawar tidak bercampur seketika. Orang mengira bahwa Qur’an membicarakan sungai Euphrat dan Tigris yang setelah bertemu dalam muara, kedua sungai itu membentuk semacam lautan yang panjangnya lebih dari dari 150 Km, dan dinamakan Syath al Arab.

    Didalam teluk pengaruh pasang surutnya air menimbulkan suatu fenomena yang bermanfaat yaitu masuknya air tawar kedalam tanah sehingga menjamin irigasi yang memuaskan. Untuk memahami teks ayat, kita harus ingat bahwa lautan adalah terjemahan kata bahasa Arab ‘Bahr’ yang berarti sekelompok air yang besar, sehingga kata itu dapat dipakai untuk menunjukkan lautan atau sungai yang besar seperti Nil, Tigris dan Euphrat.

    Tiga ayat yang memuat fenomena tersebut adalah sbb :

    “Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (QS. 25:53)

    “Dan tiada sama (antara) dua laut; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit.Dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya, dan pada masing-masingnya kamu lihat kapal-kapal berlayar membelah laut supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan supaya kamu bersyukur.” (QS. 35:12)

    “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.” (QS. 55:19, 20 & 22)

    Selain menunjukkan fakta yang pokok, ayat-ayat tersebut menyebutkan kekayaan-kekayaan yang dikeluarkan dari air tawar dan air asin yaitu ikan-ikan dan hiasan badan : Batu-batu perhiasan dan mutiara. Mengenai fenomena tidak campurnya air sungai dengan air laut dimuara-muara hal tersebut tidak khusus untuk Tigris dan Euphrat yang memang tidak disebutkan namanya dalam ayat walaupun ahli-ahli tafsir mengira bahwa dua sungai besar itulah yang dimaksudkan.

    Sungai-sungai besar yang menuang kelaut seperti Missisipi dan Yang Tse menunjukkan keistimewaan yang sama; campurnya kedua macam air itu tidak terlaksa seketika tetapi memerlukan waktu.

    ***

    Taken From : Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu, Drs. Inu Kencana Syafiie, Gema Insani Press, Jakarta, 1996

    Bibel, Qur’an dan Sains Modern, Dr. Maurice Bucaille, Bulan Bintang 1984

    Dari Sains ke Stand AlQur’an, Dr. Imaduddin Khalil, Arista 1993

    Asal Usul Manusia Menurut Bibel, Al-Qur’an dan Sains Modern, Dr. Maurice Bucaille, Penerbit Mizan 1996

     

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 14 April 2019 Permalink | Balas  

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu (Bagian 6) 

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu (Bagian 6)

    Siklus Air dan Lautan

    Jika pada waktu ini kita membaca ayat-ayat Qur’an yang mengenai air dan kehidupan manusia, ayat demi ayat, semuanya akan nampak kepada kita sebagai ayat-ayat yang menunjukkan hal yang sudah jelas. Sebabnya adalah sederhana; pada jaman kita sekarang ini, kita semua mengetahui siklus air dalam alam, meskipun pengetahuan kita itu tidak tepat keseluruhannya.

    Tetapi jika kita memikirkan konsep-konsep lama yang bermacam-macam mengenai hal ini, kita akan mengetahui bahwa ayat-ayat Qur’an tidak menyebutkan hal-hal yang ada hubungannya dengan konsep mistik yang tersiar dan mempengaruhi pemikiran filsafat secara lebih besar daripada hasil-hasil pengamatan. Jika orang-orang jaman dulu telah dapat memperoleh pengetahuan praktis yang bermanfaat, untuk memperbaiki pengairan air, walaupun pengetahuan itu terbatas.

    Dengan cara pemikiran orang dahulu itu, mudahlah bagi seseorang untuk menggambarkan bahwa air dibawah tanah itu dapat diperoleh karena terjadinya gugusan dalam tanah. Orang menyebutkan konsep Vitruvius Polio Marcus yang pada abad 1 SM mempertahankan ide tersebut di Roma. Dengan begitu, selama beberapa abad, dan juga setelah Qur’an diwahyukan banyak orang yang mengikuti ide yang salah tentang regime air.

    Konsepsi tentang siklus air yang jelas untuk pertama kali diutarakan oleh Bernard Palissy pada tahun 1580. Konsepsi ini mengatakan bahwa air dibawah tanah asalnya dari infiltrasi air hujan dalam tanah. Teori ini kemudian dibenarkan oleh E. Mariotte dan P. Perrault pada abad XVII M.

    Dalam ayat-ayat Qur’an tidak terdapat konsepsi yang salah, malah semakin ilmiah saja.

    “Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfa’atnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rezki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan.” (QS. 50:9-11)

    “Dan kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkan. Lalu dengan air itu, Kami tumbuhkan untuk kamu kebun-kebun kurma dan anggur; di dalam kebun-kebun itu kamu peroleh buah-buahan yang banyak dan sebahagian dari buah-buahan itu kamu makan.” (QS. 23:18-19)

    “Dan Kami telah mengirimkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turnkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (QS. 15:22)

    Ada dua cara untuk menafsirkan ayat yang terakhir ini, angin yang menyuburkan dapat dianggap sebagai penyubur tanam-tanaman dengan jalan membawa Pollen (benih buah dari tumbuh-tumbuhan lain). Tetapi dapat juga ditafsirkan sebagai ekspresi kiasan yang menggambarkan peranan angin yang membawa awan yang tidak mendatangkan hujan atau awan yang membawa hujan. Peranan ini sering disebut dalam ayat, seperti berikut :

    “Dan Allah, Dialah yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan, maka kami halau awan itu ke suatu negeri yang mati lalu kami hidupkan bumi setelah matinya dengan hujan itu. Demikianklah kebangkitan itu.” (QS. 35:9)

    “Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan ke luar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambaNya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira.” (QS. 30:48)

    “Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab angin itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (QS. 7:57)

    “Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih, agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak.” (QS. 25:48-49)

    “Dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkanNya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.” (QS. 45:5)

    “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang.” (QS. 13:17)

    “Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?”. (QS. 67:30)

    “Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diatur-Nya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanaman-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu ia menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. 39:21)

    “Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air.” (QS. 36:34)

    Pentingnya sumber-sumber dan diisinya dengan air hujan yang digiring kearah sumber itu digaris bawahi dengan tiga ayat terakhir. Kita perlu memperhatikan hal ino, untuk mengingat konsepsi yang tersiar pada abad pertengahan seperti konsepsi Aristotelis yang mengatakan bahwa sumber-sumber itu mendapat air dari danau-danau dibawah bumi.

    Dalam artikel ‘Hidrologie’ dalam Encyclopedia Universalis, M.R. Remenieras, Guru Besar pada Ecolenationale du Genie rural, des Eaux et Forets (sekolah nasional untuk pertahanan desa, pertahanan air dan hutan), menerangkan tahap-tahap pokok dari pada hidrologi dan menyebutkan proyek-proyek irigasi kuno, khususnya di Timur Tengah.

    Ia mengatakan bahwa empirisme telah mendahului ide pada waktu itu dan konsepsi-konsepsi yang salah. Kemudian ia meneruskan : Perlu manusia menunggu jaman Renaissance (antara tahun 1400 – 1600) untuk melihat konsep-konsep filsafat mundur dan memberikan tempatnya kepada penyelidikan-penyelidikan fenomena hidrologi yang didasarkan atas pengamatan (observasi).

    Leonardo da vinci (1452-1519) menentang pernyataan Aristoteles. Bernard Palissy dalam bukunya ‘Penyelidikan yang mengagumkan tentang watak air dan air mancur, yang alamiah dan yang buatan), memberikan interprestasi yang benar tentang siklus air dan khususnya pengisian sumber-sumber air daripada air hujan.

    Surah Az-Zumar ayat 21 yang menyebutkan bahwa air hujan itu mengarah kepada sumber-sumber air, bukankah ini tepat sekali seperti apa yang ditulis oleh Palissy tahun 1570.

    Kemudian Al-Qur’an membicarakan butiran-butiran es dalam surah An-Nuur ayat 43:

    “Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatan olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.” (QS. 24:43)

    ***

    Taken From :

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu, Drs. Inu Kencana Syafiie, Gema Insani Press, Jakarta, 1996

    Bibel, Qur’an dan Sains Modern, Dr. Maurice Bucaille, Bulan Bintang 1984

    Dari Sains ke Stand AlQur’an, Dr. Imaduddin Khalil, Arista 1993

    Asal Usul Manusia Menurut Bibel, Al-Qur’an dan Sains Modern, Dr. Maurice Bucaille, Penerbit Mizan 1996

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 13 April 2019 Permalink | Balas  

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu (Bagian 5) 

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu (Bagian 5)

    Bumi

    Berbicara mengenai bumi, maka sama seperti pokok-pokok yang dibicarakan mengenai penciptaan benda-benda lainnya, ayat yang mengenai bumi ini adalah tersebar diseluruh Qur’an. Untuk mengelompokkannya tidaklah mudah.

    Untuk terangnya pembahasan ini, pertama kita dapat memisahkan ayat-ayat yang biasanya membicarakan bermacam-macam persoalan akan tetapi ayat-ayat tersebut mempunyai ciri umum, yaitu mengajak manusia untuk memikirkan nikmat-nikmat Tuhan dengan memakai contoh-contoh.

    Ada lagi kelompok ayat-ayat yang dapat dipisahkan, yaitu ayat-ayat yang membicarakan soal-soal khusus seperti :

    • Siklus (peredaran) air dan lautan * Dataran Bumi * Atmosfir bumi
    1. Ayat-ayat yang bersifat umum ——————————–

    Ayat-ayat yang mengajak manusia untuk memikirkan nikmat-nikmat Tuhan kepada ciptaan-Nya, mengandung disana sini pernyataan-pernyataan yang baik sekali untuk dihadapkan dengan Sains Modern.

    Dari segi pandangan ini ayat-ayat tersebut malah lebih penting karena tidak menyebutkan kepercayaan-kepercayaan yang bermacam-macam mengenai fenomena alamiah, yaitu kepercayaan yang digemari oleh manusia pada jaman turunnya wahyu yang sekarang ini terbukti salah oleh Ilmu Pengetahuan dan Tekonologi.

    Disatu pihak, ayat-ayat itu memajukan ide sederhana yang dapat dimengerti dengan mudah oleh mereka yang diajak bicara oleh Qur’an berhubung dengan kedudukan geografis mereka, yaitu penduduk Mekkah dan Madinah, serta orang-orang Badui di Jazirah Arabia.

    Dilain pihak ayat-ayat itu menyajikan pemikiran-pemikiran umum yang dapat dimanfaatkan masyarakat luas yang terpelajar disegala tempat dan disegala waktu. Hal ini salah satu hal yang menunjukkan bahwa Qur’an itu suatu buku universil (untuk segala manusia sepanjang jaman).

    Oleh karena tak ada pengelompokan ayat-ayat tersebut dalam Al-Qur’an, maka ayat-ayat itu kita sajikan menurut urut-urutan Surah.

    “Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. 2:22)

    “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. 2:164)

    “Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. 13:3)

    “Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezki kepadanya. Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu.” (QS. 15:19-21)

    “Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam.

    Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.” (QS. 20:53-54)

    “Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung (mengkokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada Tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.” (QS. 27:61)

    Disini terdapat isyarat kepada stabilitas umum dari pada muka bumi. Kita sudah dapat mengetahui bahwa pada periode-periode permulaan dari pada bumi, maka bumi sebelum dingin tidak stabil.

    Stabilitas muka bumi tidak mutlak, karena terdapat zone (daerah) dimana gempa bumi sering terjadi. Adapun pemisah antara dua lautan, hal ini merupakan gambaran (image) tentang tidak tercampurnya air sungai dan air laut pada muara-muara yang besar seperti yang akan kita lihat nanti.

    (Maha Suci Allah, jauh sebelum manusia sadar bahwa diantara dua lautan itu ada suatu pemisah, Nabi Muhammad Saw yang bahkan tidak pernah berlayar sama sekali berkat petunjuk Allah, dapat menjabarkan sedemikian baiknya mengenai masalah ini).

    Ada lagi ayat yang menjelaskan hal serupa :

    “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.” (QS. 55:19-20)

    Muhammad tidak pernah sekolah, meskipun dia orang jenius tetapi apabila tidak pernah mengadakan penelitian atau pengamatan, dia pasti mengetahui apa-apa, kecuali mendapat petunjuk dari Allah Swt.

    Air laut (Asin) bertemu dengan air tawar, namun keduanya tidak bisa bercampur aduk menjadi satu macam air. Kebenaran ayat ini terbukti dengan menggunakan ilmu pengetahuan modern. Bisakah Muhammad mengetahui hal tersebut tanpa petunjuk dari Allah yang Maha Menciptakan ?

    Mari kita teruskan pembahasan ilmiah kita terhadap ayat-ayat Qur’an ini…

    “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezkinya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. 67:15)

    “Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.” (QS. 79:30-33)

    Dalam beberapa ayat diatas, pentingnya air serta akibat praktis dari adanya air terhadap tanah dan kesuburan tanah, digaris bawahi. Dalam negeri-negeri bersahara, air adalah unsur nomor satu yang mempengaruhi kehidupan manusia.

    Tetapi disebutkannya hal ini dalam Qur’an melampau keadaan geografis yang khusus. Keadaan planet yang kaya akan air, keadaan yang unik dalam sistem matahari seperti yang dibuktikan oleh Sains Modern, disini ditonjolkan. Tanpa air, bumi akan menjadi planet mati seperti bulan. Al-Qur’an memberi kepada air tempat yang pertama dalam menyebutkan fenomena alamiah daripada bumi. Siklus air telah mendapatkan gambaran yang sangat tepat didalam kitab suci ini.

    ***

    Taken From :

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu, Drs. Inu Kencana Syafiie, Gema Insani Press, Jakarta, 1996

    Bibel, Qur’an dan Sains Modern, Dr. Maurice Bucaille, Bulan Bintang 1984

    Dari Sains ke Stand AlQur’an, Dr. Imaduddin Khalil, Arista 1993

    Asal Usul Manusia Menurut Bibel, Al-Qur’an dan Sains Modern, Dr. Maurice Bucaille, Penerbit Mizan 1996

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 12 April 2019 Permalink | Balas  

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu (Bagian 4) 

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu (Bagian 4)

    Ilmu Falak

    Sesuatu ayat Al-Qur’an diturunkan selain untuk meng-Esakan Allah, juga untuk memberikan peraturan (syari’at) dan untuk lain-lain, diantaranya juga untuk memperkenalkan isi alam raya ini kepada manusia, jauh sebelum para ilmuwan menemukan rahasianya.

    Hal ini sesuai dengan fungsi penurunan Al-Qur’an & diutusnya nabi Muhammad Saw sendiri yang membawa rahmat kepada seluruh alam :

    “Dan kamu (wahai Muhammad) sekali-kali tidak meminta upah kepada mereka (terhadap seruanmu ini), itu tidak lain hanyalah pengajaran bagi semesta alam.” (QS. 12:104)

    “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. 21:107)

    “Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam.” (QS. 38:87)

    Dr. Maurice Bucaille, dalam bukunya Bibel, Qur’an dan Sains Modern menyayangkan penterjemahan Al-Qur’an yang kurang memperhatikan segi ilmiahnya. Penterjemahan Al-Qur’an selama ini biasanya hanya cenderung memperhatikan sisi sastranya saja.

    Sebagai contoh ayat berikut ini :

    “Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan *menutupkan* siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. 39:5)

    Kata *menutupkan* dalam surah Az-Zumar diatas, berasal dari kata ‘Kawwiru’. Oleh para penterjemah Al-Qur’an di Indonesia kata ‘Kawwiru’ ini diterjemahkan dengan berbagai arti yang beraneka ragam.

    Berikut menurut masing-masing penterjemah yang berusaha mengartikan kata ‘Kawwiru’ :

    Menurut Bachtiar Surin dalam ‘Terjemahan Al-Qur’an’ mengartikan ‘Kawwiru’ dengan kata ‘Menyungkupkan’.

    Departemen Agama RI didalam Al-Qur’an terjemahannya mengartikan ‘Kawwiru’ dengan kata ‘Menutupkan’.

    Menurut H. Oemar Bakry dalam ‘Tafsir Rahmat’ mengartikan ‘Kawwiru’ dengan kata ‘Mengganti’.

    Menurut A. Hassan dalam ‘Tafsir Al Furqan’ mengartikan kata ‘Kawwiru’ dengan kata ‘Putarkan’.

    Menurut H.B. Jassin dalam ‘Bacaan Mulia’ mengartikan ‘Kawwiru’ sebagai ‘Mengalihkan’.

    Menurut K.H. Ramli dalam ‘Al Kitabul Mubin Tafsir AlQur’an Bahasa Sunda’ mengartikan ‘Kawwiru’ dengan ‘Muterkeun’ atau ‘Ngagulungkeun’ (Dalam bahasa Indonesia berarti memutarkan atau menggulungkan).

    Menurut Prof. Dr. Hamka dalam ‘Tafsir Al Azhar’ mengartikan kata ‘Kawwiru’ dengan kata ‘Menutupkan’ (sama seperti Depag).

    Menurut H. Fachruddin HS dan H. Zainuddin Hamidy dalam ‘Al-Quran dan Terjemahan Bahasa Indonesia’ mengartikan kata ‘Kawwiru’ dengan kata ‘Dijadikan-Nya’.

    Menurut hal-hal tersebut diatas menunjukkan keutamaan Al-Qur’an, yaitu andaikata dalam setiap terjemahan Al-Qur’an tidak ditemukan lagi teks aslinya dalam bahasa Arab, penterjemahan akan semakin menjauh. Tetapi Al-Qur’an walaupun terjemahan disesuaikan dengan cerita, situasi dan kondisi cerita secara fleksibel, orang-orang masih dapat memeriksa masing-masing kata tersebut dengan melihat aslinya, Kitab Suci Al-Qur’an dalam bahasa Arab tersebut, dan menguraikannya secara harfiah.

    Bucaille menganggap bahwa hanya R. Blachere yang paling tepat menterjemahkan kata ‘Kawwiru’ kedalam bahasa Prancis, yaitu kata ‘Enrouler’ (Menggulung). Memang arti lain daripada kata ini ada, namun arti yang sebenarnya adalah serban bulat yang biasanya dipakai oleh orang-orang Arab dengan menggulungkan kain tersebut berputar-putar kekepala mereka.

    Jadi sebagaimana kita ketahui bahwa ‘Malam’ disebabkan oleh keadaan bumi membelakangi matahari sehingga gelap, sedangkan ‘siang’ disebabkan oleh keadaan bumi menghadapkan tanah tempat kita berpijak kepada matahari sehingga terang benderang.

    Pergantian2 siang dan malam berputar-putar ini diibaratkan serban orang Arab yang berputar-putar dikepala, ini tampak terlihat bila kita berada pada pesawat ruang angkasa yang sedang meninggalkan ataupun sedang kembali kebumi.

    Dengan begitu, melalui potongan ayat 5 Surah Az-Zumar yang berbunyi :

    ‘…. Dia menggulungkan malam atas siang dan menggulungkan siang atas malam….”

    Seakan-akan Allah Swt menjelaskan kepada umat manusia bahwa : 1. Bumi berotasi (berputar) pada sumbunya 2. Bumi bulat adanya

    Sebab apabila saja terjadi misalnya kejadian bumi tidak bulat ataupun bumi tidak berotasi pada sumbunya, maka salah satu hal tersebut terjadi, maka sebagai tempat dipermukaan bumi yang berada di Khatulistiwa sekalipun akan mengalami keadaan malam berkepanjangan, sebaliknya lokasi yang tegak lurus dengan tempat tersebut akan mengalami keadaan siang berkepanjangan.

    (Pada buku aslinya ada gambar 5 yang memperjelas terjadinya siang dan malam pada bumi, yang menjelaskan peristiwa Kawwiru itu.)

    Lebih jauh mengenai rotasi bumi pada sumbunya ini dijelaskan dalam Surah An-Naml 88:

    “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan….” (QS. 27:88)

    Terjadinya malam berkepanjangan atau siang berkepanjangan seperti yang telah kita uraikan, adalah karena apabila terjadi tidak adanya rotasi salah satu planet pada sumbunya, sehingga dapat terus menerus melihat matahari, atau terus menerus membelakangi matahari, atau juga terus menerus menyamping terhadap matahari, tergantung posisinya dalam membuat gerakan melingkar (edar) pada matahari.

    Hal ini tentu membuat sisi yang menghadap matahari terus menerus akan kering kerontang dengan suhu asngat tinggi, sebaliknya sisi yang membelakangi matahari terus menerus akan dingin membeku dengan suhu rendah (Menurut penelitian planet Venus mengalami keadaan seperti ini).

    Semua peristiwa diatas dengan terperinci sudah diceritakan dalam Al-Qur’an surah 28 ayat 71 sampai dengan 73 sbb :

    (71) Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu maka apakah kamu tidak mendengar?”

    (72) Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya, Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”

    (73) Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.

    (QS. Al-Qashash 71-73)

    ***

    Taken From : Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu, Drs. Inu Kencana Syafiie, Gema Insani Press, Jakarta, 1996

     
  • erva kurniawan 1:23 am on 11 April 2019 Permalink | Balas  

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu (Bagian 3) 

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu (Bagian 3)

    Al-Qur’an sebagai dasar Ilmu

    A.. Al-Qur’an dengan ilmu Eksakta

    1.. Ilmu kesehatan Anak.

    Dalam pidato pengukuhan gelar Guru Besar mata pelajaran ilmu kesehatan dan anak pada fakultas Kedokteran Universitas Airlangga di Surabaya, Prof. dr. Haroen Noerasid menyampaikan bahwa dalam keadaan diare sekalipun seorang bayi tetap boleh minum air susu ibu (ASI). Karena air susu ibu merupakan susu alamiah yang paling baik terutama untuk bayi yang baru lahir, lebih-lebih bila bayi tersebut prematur.

    Dengan menyusu pada ibunya, bayi yang baru lahir mendapat air susu ibu yang mengandung colostrum, yang mengakibatkan bayi tersebut jarang terserang infeksi, terutama infeksi pada usus. Pengamatan membuktikan bahwa air susu ibu yang diterima bayi akan melindungi bayi tersebut dari infeksi usus dan anggota badan lainnya.

    Selanjutnya dr. Haroen Noerasid yang mengepalai Laboratorium/UPF Ilmu Kesehatan anak dan kepala seksi gastroenterologi anak RSUD dr. Soetomo Surabaya tersebut menjelaskan bahwa air susu ibu tidak perlu diragukan baik harganya maupun faedahnya.

    Air susu ibu adalah susu yang paling gampang diperoleh, kapan saja dan dimana saja. Lebih instant dari susu yang manapun juga serta dapat diberikan secara hangat dengan suhu yang optimal dan bebas kontaminasi.

    Statistik menunjukkan bahwa morbiditas (angka keadaan sakit pada suatu tempat) karena infeksi pada saluran pernafasan dan pencernaan bayi yang diberi susu ibu, lebih jarang dan sedikit terjadi dibandingkan dengan bayi yang diberi susu formula, oleh karena sering tercemar atau tidak memenuhi kebutuhan.

    Di Philipina, sejak digalakkannya promosi air susu ibu, yang dilaporkan CLAVANO pada tahun 1981 dengan rawat gawat dan larangan kampanye susu formula, dirumah-rumah sakit dijumpai penurunan yang dramatis kejadian infeksi (terutama diare) dari 15% menjadi 1.5%.

    Dari segi lain, pemberian air susu ibu juga menguntungkan bagi ibu-ibu, oleh karena berfungsi untuk merenggangkan kelahiran anak. (Prof. Dr. Haroen Noerasid. Penanggulangan Diare pada anak dalam rangka pelaksanaan sistem kesehatan nasional, Unair Surabaya 1986 hal. 11 s/d 12).

    Segala apa yang diuraikan oleh dr. Haroen tersebut diatas bersesuaian dengan pernyataan Al-Qur’an yang telah diturunkan empat belas abad yang lalu. Kendati Nabi Muhammad Saw tidak pernah kuliah pada satu fakultas kedokteranpun atau melakukan penelitian di laboratorium kesehatan, bahkan sebagaimana diketahui beliau dikenal sebagai seorang yang ummi sama sekali.

    Selain dari itu, Al-Qur’an juga menentukan lamanya seorang bayi menyusu dengan air susu ibu, dan kemungkinan bagi bayi untuk disusukan kepada ibu-ibu lain sebagaimana dinyatakan dalam ayat berikut:

    “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan pernyusuan.

    Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf.

    Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.

    Janganlah seorang itu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya.

    Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu bila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertaqwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. 2:233)

    Agama Islam memberikan penghormatan besar kepada para ibu-ibu susuan ini, bahkan bila telah sama-sama dewasa, anak kandung dari ibu yang pernah menyusukan seseorang, maka tidak boleh menikah dengan sianak yang pernah disusukan tersebut. Sejarah Islam mencatat bagaimana Nabi Muhammad Saw menghargai saudara-saudaranya sesusuan, dan menganggap mereka sebagai saudara kandung (Hamzah, Singa Gurun Pasir adalah salah satunya).

    Hubungan2 Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan ini yang menjadikan salah satu bukti bahwa Al-Qur’an bukan berasal dari karangan Nabi Muhammad Saw tetapi berasal dari Allah Swt, Tuhan semesta alam sebagai sumber segala ilmu. Lebih jauh hak tersebut memperbanyak pemikir Islam semakin yakin dan semakin mempertebal keimanan dan keislaman.

    Ayat-ayat lain selain ayat 233 Surah Al-Baqarah tersebut tentang ASI dan penyapihan adalah sbb :

    “dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa:”Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?” (QS. 28:12)

    “…kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya; dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu), dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.” (QS. 65:6)

    “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan…” (QS. 46:15)

    “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibubapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. 31:14)

    ***

    Taken From : Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu, Drs. Inu Kencana Syafiie, Gema Insani Press, Jakarta, 1996

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 10 April 2019 Permalink | Balas  

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu (Bagian 2) 

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu (Bagian 2)

    Al-Qur’an dan penelitian Ilmiah

    Penelitian dapat dilakukan dalam segala disiplin ilmu, jadi tempat penelitian/laboratorium bukan hanya milik ilmu kedokteran yang meneliti dan mengamati kegiatan bakteri, dan bukan juga hanya milik ilmu kimia yang meneliti dan mengamati reaksi zat-zat yang dicampur di tabung reaksi. Tetapi juga milik ilmu-ilmu lain, sehingga dikenal sekarang adanya laboratorium bahasa, laboratorium pemerintahan, laboratorium politik dsb.

    Istilah yang menyebutkan ‘Lain teori lain pula prakteknya’ tidak tepat lagi karena teori dan pendapat ilmiah dari seorang ahli itu muncul setelah ybs melakukan penelitian, dengan demikian selalu didukung oleh kenyataan empiris. Meskipun kadang-kadang teori itu spekulatif namun demikian teori itu dekat dengan kenyataan.

    Tujuan teori yaitu secara umum mempersoalkan pengetahuan dan menjelaskan hubungan antara gejala-gejala sosial dengan observasi yang dilakukan. Teori juga bertujuan untuk meramalkan fungsi dari pada gejala-gejala sosial yang diamati itu berdasarkan pengetahuan-pengetahuan yang secara umum telah dipersoalkan oleh teori.

    Dalam berbagai model penelitian untuk menemukan kebenaran ilmiah, ada yang memakai hipotesa, yaitu untuk penelitian yang uji hipotesa atau disebut juga penelitian analisis verifikatif, namun ada pula yang non hipotesis, seperti penelitian deskriptif, yang terdiri dari deskriptif developmental dan deskriptif eksploratif dan lain-lain.

    Hipotesa harus dibuktikan, tidak dapat menjadi praduga dan persangkaan belaka. Bila tidak dibuktikan dan diuji, sipeneliti sudah barang tentu tidak mengetahui sejauh mana kebenaran ilmiahnya.

    Hal ini bersesuaian dengan apa yang di Firmankan Allah dalam Al-Qur’an sbb:

    “Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.” (QS. 53:28)

    “…dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS. 45:24)

    Kata “persangkaan” dan “Duga-duga” dalam ayat diatas berarti hipotesa yang harus diuji dan dibuktikan kebenaran ilmiahnya.

    Pada gambar yang telah saya cantumkan, menunjukkan hubungan antara variabel dengan hipotesa. Dari dua atau lebih variabel dapat dibuat hipotesa untuk penelitian analisis verifikatip.

    Penelitian analisis verifikatip ditandai dengan penempatan kata “Pengaruh” atau “Peranan” didepan variabel bebas, selanjutnya memerlukan perhitungan statistik untuk menentukan ramalan (prediction) perubahan variabel tergantung, atas tindakan yang sudah dilakukan variabel bebas. Sehingga antara variabel dengan variabel tergantung diletakkan kata “Terhadap” dan “Dalam” sebagai penghubung, misalnya :

    1.. Pengaruh Promosi ASI terhadap berkurangnya penderita diare pada anak.

    2.. Peranan Administrasi Pemerintahan Desa dalam Pembangunan Desa.

    Lebih rendah gradiasinya dari pemakaian kata “Pengaruh” dan “Peranan” dipakai kata “Hubungan” dengan meletakkan kata “Dengan” sebagai penghubung, misalnya :

    1.. Hubungan disiplin Islam secara mendasar dengan berkurangnya tindak kejahatan.

    2.. Hubungan pengarsipan dengan pengambilan keputusan.

    Variabel dibagi menjadi sub-sub variabel, untuk masing-masing dapat diuji sebagai hipotesa minor.

    Penelitian seperti apa yang diuraikan diatas, baik analisis verifikatif maupun deskriptif (developmental atau eksploratif) dan lain-lain, sangat diperlukan oleh setiap cendikiawan dan intelektual Muslim, sebagai realisasi Firman Allah sbb :

    “Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfa’at tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”.” (QS. 10:101)

    Kata “Perhatikanlah” dapat ditafsirkan sebagai “Lakukanlah Penelitian” karena merupakan perintah untuk para ilmuwan untuk lebih mendalami dan melakukan penelitian dibidang disiplin ilmunya masing-masing. Dengan demikian ayat tersebut dapat lebih jauh ditafsirkan sbb :

    Lakukanlah penelitian dilaboratorium2 berbagai disiplin ilmu pengetahuan, terhadap apa yang ada dan terjadi dari alam raya sampai pada dasar bumi. Jika tidak, maka tidak akan bermanfaat bagi manusia tanda-tanda kebesaran Allah Rabbul ‘Alamin, dan Rasul-rasulNya yang memberi peringatan, yaitu bagi orang-orang yang tidak mempergunakan akal pikirannya dan memiliki keyakinan akan kebesaran agama Islam.

    Nabi Muhammad Saw sendiri juga memerintahkan agar umat Islam melakukan penelitian dan beliau juga menyebut-nyebut tentang ilmu pengetahuan sebagaimana diriwayatkan hadits-hadist berikut ini :

    “Mencari ilmu pengetahuan itu wajib bagi setiap Muslimin dan Muslimat”

    “Tuntutlah ilmu pengetahuan sejak dari buaian sampai keliang lahad.”

    “Bahwasanya ilmu itu menambah mulia bagi orang yang sudah mulia dan meninggikan seorang budak sampai ketingkat raja-raja.”

    “Apabila wafat seorang anak Adam, putuslah amal perbuatannya, kecuali tiga perkara, yaitu Ilmu yang membawa manfaat, sedekah Jariyah dan doa anak yang saleh.”

    “Tidak wajar bagi orang yang bodoh berdiri atas kebodohannya, dan tidak wajar bagi orang yang berilmu berdiam diri atas ilmunya.”

    “Yang binasa dari umatku ialah, orang berilmu yang zalim dan orang beribadah yang bodoh. Kejahatan yang paling jahat ialah kejahatan orang yang berilmu dan kebaikan yang paling baik ialah kebaikan orang yang berilmu.”

    “Jadilah kamu orang yang mengajar dan belajar atau pendengar atau pencinta ilmu, dan janganlah engkau jadi orang yang kelima (tidak mengajar, tidak belajar, tidak suka mendengar pelajaran dan tidak mencintai ilmu), nanti kamu akan binasa”

    “Barang siapa menghendaki dunia, maka dia harus mencapainya dengan ilmu. Barang siapa menghendaki akhirat, maka dia harus mencapainya dengan ilmu. Dan barang siapa menghendaki keduanya, maka dia harus mencapainya dengan ilmu.”

    “Ma’rifat adalah modalku, akal pikiran adalah sumber agamaku, cinta adalah dasar hidupku, rindu adalah kendaraanku, berdzikir adalah kawan dekatku, keteguhan adalah perbendaharaanku, duka adalah kawanku, ilmu adalah senjataku, ketabahan adalah pakaianku, kerelaan adalah sasaranku, faqr adalah kebanggaanku, menahan diri adalah pekerjaanku, keyakinan adalah makananku, kejujuran adalah perantaraku, ketaatan adalah ukuranku, berjihad adalah perangaiku, hiburanku adalah dalam bersembahyang.”

    ***

    Taken From : Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu, Drs. Inu Kencana Syafiie, Gema Insani Press, Jakarta, 1996

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 9 April 2019 Permalink | Balas  

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu (Bagian 1) 

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu (Bagian 1)

    1. Pengertian Al-Qur’an

    Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan Allah Swt, Tuhan alam semesta, kepada Rasul dan NabiNya yang terakhir, Muhammad Saw melalui malaikat Jibril as untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia sampai akhir jaman.

    Al-Qur’an berarti bacaan, nama-nama lain dari kitab suci ini adalah Al-Furqaan (Pembeda), Adz Dzikir (Pengingat) dan lain-lain, tetapi yang paling terkenal adalah Al-Qur’an.

    Sebagai kitab suci terakhir, Al-Qur’an bagaikan miniatur alam raya yang memuat segala disiplin ilmu, Al-Qur’an merupakan karya Allah Swt yang Agung dan Bacaan mulia serta dapat dituntut kebenarannya oleh siapa saja, sekalipun akan menghadapai tantangan kemajuan ilmu pengetahuan yang semakin canggih (sophisticated).

    Kata pertama dalam wahyu pertama (The First Revelation) bahkan menyuruh manusia membaca dan menalari ilmu pengetahuan, yaitu Iqra’.

    Adalah merupakan hal yang sangat mengagumkan bagi para sarjana dan ilmuwan yang bertahun-tahun melaksanakan penelitian di laboratorium mereka, menemukan keserasian ilmu pengetahuan hasil penyelidikan mereka dengan pernyataan-pernyataan Al-Qur’an dalam ayat-ayatnya.

    Setiap ilmuwan yang melakukan penemuan pembuktian ilmiah tentang hubungan Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan akan menyuburkan perasaan yang melahirkan keimanan kepada Allah Swt, dorongan untuk tunduk dan patuh kepada Kehendak-Nya dan pengakuan terhadap Kemaha Kuasaan-Nya.

    Tidak pada tempatnya lagi orang-orang memisahkan ilmu-ilmu keduniawian yang dianggap sekuler, seperti ilmu-ilmu sosial dengan segala cabangnya, dengan ilmu-ilmu Al-Qur’an. Para ilmuwan dapat sekuler, tetapi ilmu tidak sekuler.

    Bila penyelidikan tentang alam raya ini adalah ilmiah, mana mungkin Pencipta Alam Raya ini tidak ilmiah. Bila percampuran dan persenyawaan unsur-unsur adalah ilmiah, mana mungkin Pencipta setiap unsur itu tidak ilmiah. Begitu pula pembicaraan hal-hal kenegaraan adalah ilmiah, mana mungkin Pencipta perbedaan watak individu yang menjadikan beraneka ragam ideologi tidak ilmiah.

    Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, sehingga bahasa Arab menjadi bahasa kesatuan umat Islam sedunia. Peribadatan dilakukan dalam bahasa Arab sehingga menimbulkan persatuan yang dapat dilihat diwaktu ‘shalat-shalat massal’ dan ibadah haji. Selain daripada itu, bahasa Arab tidak berubah, sangat mudah diketahui bila Al-Qur’an hendak ditambah atau dikurangi, banyak orang yang buta huruf terhadap bahasa nasionalnya, tetapi mahir membaca Al-Qur’an bahkan sanggup menghafal Al-Qur’an keseluruhan.

    Al-Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat (QS. 68:52), sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah peringatan bagi seluruh umat (QS. 38:87), petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (QS. 2:2), korektor dari semua kitab sebelumnya yang telah terdistorsi (QS. 5:48).

    Al-Qur’an dalam bahasa Arab mempunyai gaya tarik dan keindahan yang deduktif. Didapatkan dalam gaya yang singkat dan cemerlang, bertenaga ekspresif, berenergi eksplosif dan bermakna kata demi kata. (Dr. John Maish MA, The Wisdom Of The Koran. Oxford 1937)

    1. Pengertian Ilmu

    Bila seseorang memiliki pengertian (understanding) atau sikap (attitude) tertentu, yang diperolehnya melalui pendidikan dan pengalaman sendiri, maka oleh banyak orang dianggap yang bersangkutan tahu atau berpengetahuan.

    Begitu juga bila seseorang memiliki ketrampilan atau ketangkasan (aptitude) yang diperolehnya melalui latihan dan praktek, maka kemampuan tersebut disebut kebiasaan atau keahlian.

    Namun keahlian atau kebiasaan ini, sekalipun karena keterbiasaan melakukan sesuatu, juga karena yang bersangkutan sebelumnya tahu itu adalah tahu mengerjakan (know to do), tahu bagaimana (know how) dan tahu mengapa (know why) sesuatu itu.

    Jadi sekalipun menurut Peter Drucker (The Effective Executive), kebiasaan yang berurat berakar yang tanpa dipikirkan (in thinking habit) telah menjadi kondisi tak sadar (reflex condition), tetap sebelumnya harus merupakan pengetahuan yang dipelajari dan dibiasakan.

    Tetapi E.J. Gladden dalam bukunya The Essentials of Public Administration menganggap ilmu sama dengan ketrampilan, hanya ketrampilan diperoleh melalui latihan dan belajar.

    Sekarang sebenarnya dimana letaknya ilmu ? Ilmu adalah bagian dari pengetahuan, sebaliknya, setiap pengetahuan belum tentu ilmu. Untuk itu ada syarat-syarat yang membedakan ilmu (Science) dengan pengetahuan (knowledge), yaitu sbb :

    Menurut Prof. Dr. Prajudi Atmosudirdjo, Administrasi dan Management Umum 1982, Ilmu harus ada obyeknya, terminologinya, metodologinya, filosofinya dan teorinya yang khas.

    Menurut Prof. Dr. Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial 1985, Ilmu juga harus memiliki obyek, metode, sistimatika dan mesti bersifat universal.

    Menurut Prof. Dr. Sondang Siagian, Filsafat Administrasi 1985 :

    Ilmu pengetahuan dapat didefenisikan sebagai suatu obyek ilmiah yang memiliki sekelompok prinsip, dalil, rumus yang melalui percobaan yang sistimatis dilakukan berulang kali telah teruji kebenarannya, prinsip-prinsip, dalil-dalil dan rumus-rumus mana dapat diajarkan dan dipelajari.

    Menurut Prof. Drs. Sutrisno Hadi, Metodologi Reserach 1 1969 :

    Ilmu pengetahuan sebenarnya tidak lain adalah kumpulan dari pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang-orang yang dipadukan secara harmonik dalam suatu bangunan yang teratur.

    Dari pendapat2 diatas terlihat bahwa ilmu pengetahuan itu kongkrit sehingga dapat diamati, dipelajari dan diajarkan secara teratur, teruji, bersifat khas atau khusus, dalam arti mempunyai metodologi, obyek, sistimatika dan teori sendiri.

    Disamping itu dalam pengajian ilmu-ilmu agama Islam, sementara ini meliputi antara lain yaitu berbagai ilmu Nahwu (seperti persoalan Fi’il dan Ijim), berbagai ilmu Tafsir (seperti tafsir Hadits dan Al-Qur’an dengan persoalan Nasikh, Mansukh, Mutasyabih, Tanzil dan Ta’wil), berbagai ilmu Tajwid (pronunciation), Qira’ah dan Balaghah (seperti Bayan, Ma’ani dan Badii), berbagai ilmu Fiqih dan Ushul Fiqih, berbagai ilmu Hadits (seperti kandungan dan perawi Hadits), berbagai ilmu tasawuf (seperti pengetahuan tentang Sufi, Tarekat, Mistisme dalam Islam, Filsafat Islam), berbagai ilmu Qalam (bentuk huruf Al-Qur’an), berbagai ilmu Arudh (poets) atau syair-syair Al-Qur’an dan berbagai ilmu Sharf (grammar, kata-kata dan morfologinya).

    Pembagian fakultas dan jurusan yang ada pada perguruan tinggi Islam seperti IAIN, kita temui Fakultas Syariah (meliputi Tafsir baik Al-Qur’an sendiri maupun Al-Hadits, Perbandingan Mahzab, Bahasa Arab), Tarbiyah (meliputi Pendidikan Agama Islam, Bahasa Arab dan lain-lain), Ushuluddin meliputi Perbandingan Agama (muqdranatul addien), bahasa Arab dan lain-lain, Fakultas Adab dan Fakultas Da’wah.

    Hal ini adalah karena pengetahuan keIslaman itu sendiri digolongkan atas Ibadah (yaitu tata cara peribadatan kepada Allah, dalam arti hubungan manusia dengan Allah atau Hablum Minallah, Muamalah (tata cara pergaulan sesama manusia, dalam arti hubungan antar manusia atau Hablum Minannas), persoalan Munakahaat dan persoalan Jinayaat.

    Dalam Al-Qur’an ada lebih dari 854 ayat-ayat yang menanyakan mengapa manusia tidak mempergunakan akal(afala ta’kilun), yang menyuruh manusia bertafakur/memikirkan (tafakurun) terhadap Al-Qur’an dan alam semesta serta menyuruh manusia mencari ilmu pengetahuan.

    Jadi kata yang identik dengan akal dalam Al-Qur’an tersebut 49 kali seperti kala Yatadabbarun dan Yatazakkarun, kata yang menganjurkan manusia menjadi ahli pikir, para sarjana, para ilmuwan dan para intelektual Islam (ulul albab) dalam Al-Qur’an disebut 16 kali, sehingga jumlah keseluruhan diatas adalah lebih kurang 854 kali.

    Beberapa diantaranya adalah sbb :

    “…Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS. 16:43)

    “Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al-Qu’ran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami..” (QS. 7:52)

    “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang yang berilmu.” (QS. 29:43)

    “Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. 58:11)

    “Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan.” (QS. 16:44)

    “Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (memikirkannya).” (QS. 16:12)

    “Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui ?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. 39:9)

    “…Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata:”Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (QS. 3:7)

    “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. 39:18)

    “…Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS. 2:197)

    “…Dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (QS. 59:21)

    ***

    Taken From : Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu, Drs. Inu Kencana Syafiie, Gema Insani Press, Jakarta, 1996

     
  • erva kurniawan 2:59 am on 8 April 2019 Permalink | Balas  

    Jumatan 

    Jumatan

    “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada yaumil jumu’ati, maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [Q.S. 62:9]

    Kata yaumil jumu’at secara harfiah berarti “hari berkumpul” atau “hari keramaian”. Secara lebih gamblang yaumil jumu’at adalah hari disaat orang-orang mengadakan keramaian baik untuk jual-beli maupun hiburan. Pada masa sekarang hari yang dimaksudkan itu dapat berwujud hari pasar; hari ketika ada pertunjukan; hari ketika ada pertandingan olahraga; dan semacamnya di mana pada saat-saat itu terdapat satu atau dua waktu shalat yang wajib dilaksanakan.

    Secara umum nama-nama hari dalam bahasa Arab adalah mengikuti urutan angka sebagaimana berikut:

    1 = ahad = minggu

    2 = isnaini = senin

    3 = thalasa = selasa

    4 = arba’a = rabu

    5 = khamis = kamis

    6 = sittah = jumat

    7 = saba’ah = sabtu

    Namun hari ke-enam tidak disebut dengan `sittah’ melainkan `jumuah’. Hemat penulis, digunakannya kata jum’at untuk menamakan hari ke-enam adalah karena hari tersebut disepakati sebagai hari pasar / hari pekan bagi masyarakat Arab zaman dahulu. Kini, hari sesudah Kamis lazim disebut dengan hari Jum’at.

    Tidak masalah apakah kita akan mengartikan yaumil jumu’ah sebagai hari keramaian atau mengartikannya sebagai hari sesudah Kamis. Yang pasti, ayat tersebut di atas sama sekali bukan dasar pembenar bagi pelaksanaan shalat Jum’at sebagaimana yang sudah menjadi tradisi selama ini.

    Mengapa demikian, karena shalat adalah kewajiban yang sudah ditetapkan Allah waktu-waktunya. Di dalam Al-Qur’an Allah hanya menetapkan 3 waktu shalat yaitu pada dua pinggir hari dan pada awal malam. Shalat pada pinggir hari pertama (terbit matahari) dinamakan shalat Fajar, shalat pada pinggir hari yang ke dua (terbenam matahari) dinamakan shalat Wusta, dan shalat pada awal malam dinamakan shalat Isya’.

    “Dan lakukanlah shalat pada dua tepi hari, dan pada awal malam.” [Q.S. 11:114]

    Waktu pertengahan hari (dzuhur) yang merupakan waktu bagi pelaksanaan tradisi jumatan sama sekali tidak pernah ditetapkan Allah sebagai waktu shalat.

    Mungkin menjadi pertanyaan “Kalaulah tidak ada perkara khusus semacam tradisi shalat jumat yang selama ini dilakukan, untuk apa Allah memerintahkan melaksanakan shalat pada hari Jum’at. Tokh setiap hari pun kita memang wajib melaksanakan shalat?” Dari pola sejenis yang terdapat di dalam Al-Qur’an disimpulkan bahwa ketentuan shalat Jumat sifatnya sebagai penekanan karena pada hari ketika ada pertunjukan, ada pasar malam, ada resepsi, atau ada pertandingan, godaan untuk melalaikan shalat lebih kuat dibandingkan hari-hari biasa.

    Contoh yang sama tentang perintah Allah yang diberi penekanan dapat kita temukan pada ayat berikut:

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengejek kaum (yang lain), boleh jadi mereka (yang diejek) lebih baik dari mereka (yang mengejek). Dan jangan pula wanita-wanita (mengejek) wanita- wanita lain, boleh jadi wanita (yang diejek) lebih baik dari wanita (yang mengejek)…” [Q.S. 49:11]

    Pada kalimat pertama Allah melarang suatu kaum (golongan) mengejek kaum (golongan) lain, pada kalimat berikutnya Allah melarang para wanita mengejek para wanita lain. Sebenarnya dari kalimat pertama pun kita mafhum bahwa larangan mengejek ini mencakup semua orang beriman, termasuk kaum wanita. Namun, Allah tetap memberikan penekanan khusus kepada para wanita di dalam kalimat berikutnya.

    Kembali ke masalah shalat. Jadi, baik itu hari Jum’at, hari Sabtu, hari Minggu, hari Senin, hari Selasa, hari Rabu, maupun hari Kamis, wajib bagi kita untuk mendirikan shalat. Pada waktu yang telah ditetapkan Allah tentunya (pagi, petang, awal malam).

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 5 April 2019 Permalink | Balas  

    Tata Cara Shalat Di Dalam Al-Qur’an 

    Tata Cara Shalat Di Dalam Al-Qur’an

    Dalam upaya menyerukan apa yang diturunkan Allah (Al-Qur’an) pertanyaan tantangan yang paling sering dilontarkan adalah “Bagaimana caranya shalat kalau hanya berbekal Al-Qur’an? Mana ada tata cara shalat di dalam Al-Qur’an!”

    Untuk menjawab pertanyaan yang menantang tersebut berikut penulis paparkan apa yang ditetapkan Allah tentang shalat. Apabila terdapat perbenturan dengan apa yang selama ini diyakini, marilah kita berhakim kepada apa yang telah diturunkan Allah saja (Al-Qur’an) dan berpaling dari selain itu.

    Waktu Shalat

    Awal sekali kita harus tahu kapan waktu-waktu shalat itu. Allah menetapkan ada 3 waktu shalat bagi manusia dalam sehari semalam.

    “Dan lakukanlah shalat pada dua tepi siang, dan pada awal malam.” [Q.S. 11:114]

    Tepi siang yang pertama adalah pada awal hari (pagi), Shalat pada waktu ini dinamakan shalat Fajar [Q.S. 24:58].

    Tepi siang yang kedua adalah pada akhir hari (petang), shalat pada waktu ini dinamakan shalat Wusta [Q.S. 2:238]. Kita biasa mengenal waktu ini dengan istilah “maghrib”.

    Khusus mengenai rentang waktu shalat Wusta dijelaskan di dalam ayat berikut:

    “Lakukanlah shalat dari terbenam matahari sampai kegelapan malam” [Q.S. 17:78]

    Shalat pada awal malam dinamakan shalat Isya [Q.S. 24:58].

    Walaupun nama-nama lain yang umum digunakan untuk shalat seperti “shubuh”, “dzuhur” yang berarti tengah hari, “ashar” yang berarti masa/ waktu, dan “maghrib” yang berarti barat tercantum di dalam Al-Qur’an, tidak satupun dari nama-nama tersebut yang berhubungan dengan shalat ataupun dengan waktu shalat.

    Menjamak Shalat

    Shalat haruslah dilakukan pada waktu-waktu yang telah ditentukan oleh Allah sebagaimana di atas.

    “Sesungguhnya shalat itu adalah suatu kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” [Q.S. 4:103] Tidak terdapat satu ayat pun di dalam Al-Qur’an yang membolehkan menjamak shalat. Dalam keadaan apapun shalat harus tetap dilakukan.

    “Jika kamu dalam ketakutan, maka (shalatlah) sambil berjalan kaki, atau berkendaraan”. [Q.S. 2:239]

    MEMBERSIHKAN DIRI Setelah mengetahui kapan shalat harus dilakukan, yang perlu dilakukan sebelum shalat adalah membersihkan diri atau yang biasa kita kenal dengan istilah wudhu’. Bagian tubuh yang perlu dibersihkan ada empat, yaitu: muka, tangan hingga siku, kepala, dan kaki hingga mata kaki.

    “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berdiri untuk shalat, basuhlah mukamu, dan tanganmu sampai siku, dan sapulah kepalamu, dan kaki-kaki kamu sampai kedua mata kaki” [Q.S. 5:6]

    Ada kondisi-kondisi dimana kita diperbolehkan untuk tidak membasuh diri dengan air. Kondisi-kondisi itu adalah ketika sakit, ketika dalam perjalanan, atau ketika tidak mendapatkan air. Dalam kondisi tersebut kita diperintahkan bertayamum dengan debu tanah yang baik. Bagian tubuh yang disapu ketika tayamum adalah muka dan tangan.

    “tetapi jika kamu sakit, atau dalam perjalanan, atau jika salah seorang antara kamu kembali dari kakus, atau kamu menyentuh perempuan, dan kamu tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah dengan debu tanah yang baik, dan sapulah muka kamu, dan tangan kamu dengannya” [Q.S. 5:6]

    Perlu dijelaskan bahwa frasa “menyentuh perempuan” pada ayat di atas bukanlah dimaksudkan bersentuhan kulit secara harfiah seperti apabila kita berjabat tangan. Frasa tersebut adalah istilah penghalusan dari “berhubungan seksual”. Allah berkali-kali menggunakan istilah “menyentuh” untuk memaksudkan “berhubungan seksual” di dalam Al-Qur’an, beberapa diantaranya terdapat pada surat 2:236-237, 19:20, 33:49, dan 58:3.

    Pakaian

    Setelah membersihkan diri, berikutnya kita gunakan pakaian yang bagus untuk bermunajat kepada-Nya. Allah menyuruh kita agar mengenakan perhiasan di setiap tempat sujud (mesjid), termasuk perhiasan adalah pakaian yang bagus.

    “Wahai anak Adam, kenakanlah perhiasanmu di setiap masjid” [Q.S. 7:31]

    Kiblat

    Untuk memulai ritual shalat kita berdiri menghadap kiblat. Kiblat menurut Al-Qur’an adalah Masjidil Haram, yang di tengahnya terletak Ka’bah.

    “Sungguh Kami melihat kamu membalik-balikkan wajah kamu ke langit, sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu berpuas hati. Maka palingkanlah muka kamu ke arah Masjidil Haram, dan di mana saja kamu berada, palingkanlah muka kamu ke arahnya. Orang- orang yang diberi al-Kitab mengetahui bahwa itu adalah yang benar dari Tuhan mereka. Dan Allah tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” [Q.S. 2:144]

    Seruan

    Karena pada dasarnya shalat adalah sebuah media komunikasi antara hamba dan Tuhannya, maka awal sekali si hamba akan memanggil Tuhannya. Al-Qur’an mengajarkan kita untuk memanggil “Allah” (ya Allah/ wahai Allah), atau “Ar-Rahman” (ya Rahman/ wahai Yang Pemurah) atau nama-nama-Nya yang terbaik (asma al-husna) yang diajarkan di dalam Al-Qur’an.

    “Serulah Allah, atau serulah Ar-Rahman, mana saja yang kamu seru, bagi-Nya nama-nama yang paling baik”. [Q.S. 17:110]

    Sesudah kita memanggil Nama-Nya, Allah menyuruh kita agar memuji- Nya. Lafaz pujian tersebut diajarkan Allah pada ayat berikutnya.

    “Dan katakanlah: `Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu dalam kerajaan-Nya, dan tidak ada baginya pelindung dari kehinaan” [Q.S. 17:111]

    Bacaan

    Setelah memuji-Nya kita dapat memilih untuk menambah bacaan lain ataupun langsung ruku’. Tentang apa lagi yang kita baca di dalam shalat baik ketika berdiri, ruku’, maupun sujud terpulang kepada masing-masing orang.

    Allah memerintahkan agar kita memohon pertolongan kepada-Nya di dalam shalat. Maka, mohonlah pertolongan sesuai dengan apa yang anda hajatkan.

    “Dan mohonlah pertolongan dalam kesabaran dan shalat” [Q.S. 2:45]

    Shalat didirikan juga untuk mengingat/ menyebut nama Allah seperti Ya Allah, atau Ya Malik, atau Ya Ghaffar, atau nama-nama-Nya yang lain. “dan dirikanlah shalat untuk mengingat/ menyebut Aku”. [Q.S. 20:14]

    Di akhir sujud menjelang selesai shalat kita disuruh untuk melafalkan sanjungan kepada-Nya.

    “Dan sanjunglah Dia pada malam hari, dan pada ujung-ujung sujud”. [Q.S. 50:40]

    Contoh lafal sanjungan adalah “Allah disanjung” /Subhanallah [12:108], atau “Engkau disanjung ya Allah” /Subhanakallahumma [Q.S. 10:10].

    Sebagai catatan tambahan, untuk kepantasan berkomunikasi dengan Allah, sepatutnya kita tidak mengucapkan kata “qul” atau “katakanlah” pada ayat-ayat yang diawali dengan kata “qul” atau “katakanlah” seperti yang terdapat di dalam surat Al-Ikhlas, Al- Falaq maupun An-Nas.

    Bahasa

    Bahasa bukanlah hal penting dalam menyembah Allah. Dia tidak pernah memerintahkan agar bahasa Arab dijadikan sebagai bahasa pengantar dalam shalat untuk semua kaum. Islam itu mudah, orang-orang yang karena keterbatasan pendidikan ataupun karena usianya tidak sanggup menguasai bahasa Arab tetap dapat bermunajat kepada-Nya dengan menggunakan bahasa yang mereka mengerti.

    Membaca ayat-ayat yang tidak kita pahami artinya bisa jadi menyeret kita ke dalam kedurhakaan. Bagaimana tidak durhaka kalau misalnya ayat yang kita ucapkan ketika menghadap-Nya adalah salah satu dari ayat di bawah ini:

    “Wahai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut”. [Q.S. 2:40]

    “Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, kecuali pada masa yang lalu; sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci dan seburuk-buruk jalan”. [Q.S. 4:22]

    “Sesungguhnya Akulah Allah; tidak ada Tuhan selain Aku; maka sembahlah Aku, dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”. [Q.S. 20:14]

    Meskipun ayat-ayat di atas diambil dari Al-Qur’an, ia tidak pantas diucapkan di dalam shalat. Itulah pentingnya kita mengerti apa yang kita ucapkan. Seiring dengan perkara ini, Allah melarang kita mendekati shalat ketika dalam keadaan mabuk sampai kita mengerti apa yang kita ucapkan.

    “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah mendekati shalat apabila kamu sedang mabuk, sampai kamu mengerti apa yang kamu ucapkan” [Q.S. 4:43]

    Suara

    Suara di dalam shalat tidak dilantangkan dan tidak pula didiamkan. Allah menyuruh kita agar mengambil suara yang pertengahan, dan ini berlaku untuk keseluruhan shalat.

    “Dan janganlah kamu melantangkan suara dalam shalat kamu, dan jangan juga mendiamkannya, tetapi carilah pertengahan di antara yang demikian itu.” [Q.S. 17:110]

    Gerakan

    Berdiri, rukuk, dan sujud disebut berulang kali di dalam Al-Qur’an dan ini adalah gerakan ritual shalat.

    ” Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Aku, dan bersihkanlah Rumah-Ku untuk orang-orang yang mengelilinginya (haji), dan orang-orang yang berdiri, dan orang-orang yang ruku’, orang- orang yang sujud (shalat)” [Q.S. 22:26]

    “Tuhan kami,sesungguhnya aku telah menempatkan keturunanku di sebuah lembah gersang dekat Rumah Engkau yang dihormati, ya Tuhan kami, agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati manusia cenderung kepada mereka…” [Q.S. 14:37]

    Kedua ayat di atas menjelaskan kaitan antara perbuatan berdiri, ruku’, dan sujud dengan shalat.

    Tentang bagaimana cara berdiri, ruku’, dan sujud seseorang terpulang pada dirinya sendiri. Orang yang pincang berdirinya mungkin tidak tegak lurus; orang yang sakit pinggang atau sudah lemah mungkin ruku’ dengan tidak terlampau menukikkan badan; orang yang keningnya ada penyakit mungkin sujud dengan pelipisnya. Kesemua itu tidak mengurangi kesempurnaan ibadah shalat yang dilakukan.

    Rakaat

    Al-Qur’an sama sekali tidak pernah menetapkan adanya rakaat shalat seperti yang umum diketahui. Dari ayat di bawah ini kita akan maklumi bahwa shalat berawal dari berdiri dan berakhir setelah selesai sujud.

    “Apabila kamu di kalangan mereka dan melakukan shalat bersama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri bersamamu dan menyandang senjata mereka. Apabila mereka sujud, hendaklah mereka berada di belakang kamu (berjaga-jaga), dan hendaklah segolongan lain yang belum shalat datang, dan shalat bersamamu” [Q.S. 4:102]

    Memendekkan Shalat

    Apabila kita berada dalam perjalanan atau dalam kondisi membahayakan, maka kita dapat menyingkat shalat kita.

    “Dan apabila kamu berpergian di bumi, tidak bersalah atas kamu untuk memendekkan shalat, jika kamu takut dianiaya orang-orang yang tidak beriman…” [Q.S. 4:101]

    Menyingkat shalat ini dilakukan dengan cara mengurangi atau meniadakan bagian “menyebut/ mengingat Allah” sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya. Setelah kita berada dalam keadaan aman, maka kita kembali menyebut/ mengingat Allah.

    “Apabila kamu telah aman, ingatlah/ sebutlah Allah sebagaimana Dia telah mengajar kamu apa yang kamu tidak tahu”. [Q.S. 2:239]

    Memendekkan shalat dapat pula dilakukan dengan cara mengurangi doa- doa yang ingin dipanjatkan.

    Akhir Shalat

    Kalau tadi kita telah mengawali seruan kepada-Nya dengan “Ya Allah” ataupun “Ya Rahman”, maka Al-Qur’an mengajarkan bahwa akhir dari seruan kepada-Nya adalah pujian yang berbunyi “Alhamdulillahirabbil’alamiin” atau “Segala puji bagi Allah, Pemelihara semesta alam”.

    “Dan akhir seruan mereka: `Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.'” [Q.S. 10:10]

    Menyuruh Keluarga

    Tidak cukup kita hanya memastikan bahwa diri kita pribadi telah melakukan shalat. Allah perintahkan kita untuk juga menyuruh keluarga kita melakukan shalat, termasuklah di dalamnya istri/ suami dan anak-anak.

    “Dan suruhlah keluarga kamu shalat dan bersabarlah padanya” [Q.S. 20:132]

    Wanita Haid

    Al-Qur’an tidak pernah melarang wanita yang sedang haid untuk masuk ke dalam mesjid maupun untuk melakukan shalat. Ketentuan Al-Qur’an tentang wanita haid hanyalah berkaitan dengan larangan melakukan hubungan suami isteri [Q.S. 2:222] dan waktu tunggu ketika akan bercerai untuk memastikan bahwa si wanita tidak sedang hamil [Q.S. 2:228, 65:4]

    Larangan-Larangan

    Kita dilarang mendekati shalat ketika dalam keadaan mabuk sampai kita mengerti apa yang kita ucapkan, dan dilarang juga ketika dalam keadaan junub sampai kita mandi.

    “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah mendekati shalat apabila kamu sedang mabuk, sampai kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, dan jangan pula dalam junub kecuali sekadar berlalu, sampai kamu mandi” [Q.S. 4:43]

    Selain itu, kita dilarang pula menyeru (memanggil) nama selain nama Allah. Ketentuan ini mencakup juga larangan menyeru (memanggil) nama nabi-nabi semisal Nabi Muhammad.

    “Bahwasanya masjid-masjid adalah kepunyaan Allah, maka janganlah menyeru kepada selain Allah di dalamnya” [Q.S. 72:18]

    Sekian uraian singkat tentang tata cara shalat di dalam Al-Qur’an. Sangat mungkin tidak sesuai dengan cara shalat yang kita anggap benar, namun demikianlah yang ditetapkan Allah di dalam Kitab-Nya. Dan apa yang ditetapkan Allah itulah yang benar.

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 27 March 2019 Permalink | Balas  

    Mu’awiyah bin Abi Sufyan ra adalah Sahabat Nabi SAW yang Mulia 

    Mu’awiyah bin Abi Sufyan ra adalah Sahabat Nabi SAW yang Mulia

    Oleh : Ustadz Abu Ubaidah

    Imam Ibnul Mubarak rhm. berkata, “Mu’awiyyah dalam pandangan kami adalah ujian. Apabila kami mendapati seorang yang memandang Mu’awiyah dengan sinis, maka kami pun mencurigai sikapnya terhadap para sahabat Nabi Muhammad SAW” (Tarikh Dimasyq 59/209 oleh Ibnu Asakir)

    Sungguh mengherankan, keharuman nama Mu’awiyah ra. dan sejarah perjalanan hidupnya yang begitu indah dalam kitab-kitab hadits dan sejarah yang terpercaya, kini telah dinodai oleh suara sumbang mulut-mulut dan goresan tangan manusia-manusia yang memutarbalikan sejarah dan memendam fakta!

    Ironisnya pemikiran ini telah lama subur dalam buku-buku pendidikan sejarah di berbagai tingkatan madrasah negeri ini, mulai dari Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah hingga Perguruan Tinggi. Sehingga semenjak dini anak-anak telah dibina untuk membenci seorang sahabat Rasulullah SAW bernama Mu’awiyah ra.

    Dalam gambaran mereka Mu’awiyah ra. adalah musuh bebuyutan Khalifah Ali bin Abi Thalib ra.! Mu’awiyah ra. adalah seorang yang menghalalkan darah saudaranya hanya karena ambisi terhadap kekuasaan! Dan gambaran-gambaran mengerikan lainnya.

    Oleh karena itu perkenankanlah penulis memaparkan hadits-hadits dan atsar tentang Mu’awiyah ra. dan penjelasan terhadap keutamaannya :

    1. Mu’awiyah ra. berkata, “Sesungguhnya kalian telah melakukan shalat! Sungguh kami telah menemani Rasulullah SAW, tidaklah kami melihat beliau SAW telah melakukan shalat tersebut, dan sungguh beliau telah melarangnya, yakni 2 rakaat setelah ashar” (HR. Bukhari no. 3766, Ahmad 4/99 dan lainnya).

    Imam Bukhari berdalil dengan hadits ini bahwa persabatan Mu’awiyah ra dan Nabi SAW sudah cukup menunjukan keutamaan beliau yang sangat besar.

    Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 7/131 mengatakan, “Dengan kejelian beliau (Bukhari) berdalil dengan hadits yang dapat menghantam pemikiran (Syiah) Rafidhah”.

    1. Dia (Abu Sufyan) berkata, “Mu’awiyah engkau jadikan sekretarismu ?”, Nabi SAW menjawab, “Ya” (HR. Muslim no. 2501, Ibnu Hibban no. 7209, dan lainnya)

    Segi pendalilan hadits ini amat jelas, yaitu Mu’awiyah ra. termasuk para penulis wahyu untuk Rasulullah SAW (Al Bidayah 8/119 oleh Al Hafizh Ibnu Katsir)

    Demikian pula dikatakan oleh seluruh Ulama yang menulis biografinya (biografi Mu’awiyah ra.) seperti Abu Nu’aim, Ibnu Abdil Barr, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar dan lainnya (Lihat pula Zadul Ma’ad 1/113 oleh Ibnul Qayyim)

    1. Dari Irbad bin Sariyah ra., Rasulullah SAW bersabda, “Ya Allah, ajarkan Mu’awiyah ilmu tulis dan hitung dan lindungi dia dari siksa” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1938, Ibnu Hibban no. 2278, Ahmad 4/127 dan lainnya, hadits hasan lighairihi, Imam Adz Dzahabi berkata, “Hadits ini memiliki penguat yang kuat”)
    2. Nabi SAW berdoa untuk Mu’awiyah, “Ya Allah, jadikanlah dia penunjuk dan yang diberi petunjuk, tunjukilah ia dan berilah manusia petunjuk karenanya” (HR Bukhari dalam Tarikh 4/1/327, At Tirmidzi 2/316, Ibnu Asakir 16/684-686 dan Adz Dzahabi dalam Siyar 8/38, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah 4/615-618)
    3. Umar bin Khaththab ra. berkata tatkala mengangkatnya sebagai gubernur Syam, “Janganlah kalian menyebut Mu’awiyah kecuali dengan kebaikan” (Kitab Al Bidayah 8/125 oleh Ibnu Katsir)
    4. Ali bin Abi Thalib ra. berkata sepulangnya dari Perang Shiffin, “Wahai manusia, janganlah kalian membenci kepemimpinan Mu’awiyah, seandainya kalian kehilangan dia, niscaya kalian akan melihat kepala-kepala bergelantungan dari badannya (banyak pembunuhan)” (Kitab Al Bidayah 8/134 oleh Ibnu Katsir)
    5. Abdullah bin Umar ra. berkata, “Ayahku Umar lebih baik daripada Mu’awiyah tetapi Mu’awiyah lebih pandai berpolitik darinya” (Kitab Al Bidayah 8/138 oleh Ibnu Katsir)
    6. Abdullah bin Abbas ra. berkata, “Saya tidak melihat seorang yang lebih arif tentang kenegaraan daripada Mu’awiyah” (Kitab Al Bidayah 8/138 oleh Ibnu Katsir)
    7. Seorang tabi’in, Zuhri, berkata, “Mu’awiyah bekerja pada pemerintahan Umar bin Khaththab bertahun-tahun dan tiada cela sedikitpun darinya” (Kitab As Sunnah 1/444 oleh Al Khallal)
    8. Abu Mas’ud Al Muafa bin Imran pernah ditanya, “Wahai Abu Mas’ud siapakah yang lebih utama, Umar bin Abdul Aziz ataukah Mu’awiyah ?”. Dengan nada marah ia berkata, “Seorang sahabat nabi tidak bisa dibandingkan dengan seorang pun. Mu’awiyah adalah sahabat Nabi sekaligus iparnya dan penulis wahyunya” (Tarikh Dimasyq 59/208)
    9. Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang yang mencela Mu’awiyah ra. dan Amr bin Ash ra, lalu ia menjawab, “Tak seorangpun berani mencela keduanya kecuali mempunyai tujuan jelek” (Tarikh Dimasyq 59/210)
    10. Ibnu Taimiyyah berkata, “Ia (Mu’awiyah) adalah awal raja dan kepemimpinannya adalah rahmat” (Kitab Majmu’ Fatawa 4/478 dan Kitab Minhaj As Sunnah 6/232)
    11. Ibnu Abil Izzi Al Hanafi berkata, “Raja pertama kaum muslimin adalah Mu’awiyah dan ia adalah sebaik-baiknya raja kaum muslimin” (Syarah Kitab Aqidah Thahawiyah hal. 722)
    12. Adz Dzahabi berkata dalam biografinya, “Amirul Mukminin, raja Islam. Mu’awiyah adalah raja pilihan yang keadilannya mengalahkan kezhaliman” (Kitab Siyar 3/120, 159)

    Demikianlah hadits-hadits yang shahih dan atsar salafush shalih tentang keutamaan Mu’awiyah bin Abi Sufyan ra. Akhirnya penulis berkata seperti apa yang dikatakan oleh Imam Ibnu Katsir rhm., “Cukuplah bagi kami untuk memaparkan hadits-hadits shahih, hasan dan jayyid daripada hadits yang palsu dan mungkar” (Al Bidayah 8/122)

    Maraji’

    Disarikan dari tulisan Ustadz Abu Ubaidah Al Atsari, Majalah Al Furqan, Lajnah Dakwah Ma’had Al Furqan, Gresik, Edisi 12, Tahun IV, Rajab 1426 H, hal. 14-20.

     
  • erva kurniawan 2:06 am on 26 March 2019 Permalink | Balas  

    Keutamaan dan Hak Sahabat Rasulullah SAW 

    Keutamaan dan Hak Sahabat Rasulullah SAW

    Berikut ini adalah hadits-hadits shahih yang menceritakan keutamaan Sahabat Rasulullah SAW,

    Dari Abdullah bin Mas’ud ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Khairun naasi qarnii tsummal ladziina yaluunaHum tsummal ladziina yaluunaHum” yang artinya “Sebaik-baik manusia adalah pada zamanku, kemudian zaman berikutnya, kemudian zaman berikutnya” (HR. Bukhari no. 3651 dan Muslim no. 2533)

    Abu Burdah meriwayatkan dari bapaknya, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Wa ahshaabii amanatun liummatii faidzaa dzahaba ashhaabii ataa ummatii maa yuu’aduun” yang artinya “Dan sahabatku adalah pengaman bagi umatku, jika sahabatku telah pergi maka akan datang apa yang telah dijanjikan atas umatku” (HR. Muslim no. 2531)

    Rasulullah SAW bersabda, “Inna amannan naasi ‘alayya fii maaliHi washuhbatiHi abuubakrin” yang artinya “Sesungguhnya yang paling besar jasanya padaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar” (HR. Bukhari no. 3654 dan Muslim no. 2382)

    Sa’ad bin Abi Waqqash ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “IiHan yabnal khaththaabi wal ladzii nafsii biyadiHi maa laqiyakasy syaithaanu saalikan fajjan qaththu illaa salaka fajjan ghaira fajjik” yang artinya “Bahagialah wahai Ibnul Khaththab, demi Allah, setiap kali setan berpas-pasan denganmu pada satu jalan ia pasti memilih jalan lain selain jalan yang engkau lalui” (HR. Bukhari no. 3683 dan Muslim no. 2396)

    Rasulullah SAW bersabda perihal Utsman bin Affan ra., “Alaa astahii min rajulin tastahii minHul malaa-ikatu” yang artinya “Tidakkah aku malu terhadap lelaki yang para malaikat malu terhadapnya !?” (HR. Muslim no. 1401)

    Dari Abu Sarihah ra. atau Zaid bin Arqam ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Man kuntu maulaaHu fa’aliyun maulaaHu” yang artinya “Barangsiapa yang mengangkat diriku sebagai walinya maka Ali adalah walinya juga” (HR. Ahmad dalam Kitab Al Fadhaail no. 959, At Tirmidzi, An Nasa’i dalam Kitab Khashaaish Ali no. 76 dan Ibnu Abi Syaibah, hadits ini shahih)

    Dari Irbad bin Sariyah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Wa man ya’isy minkum fasayarakh tilaafan katsiran fa’alaikum bimaa ‘araftum min sunnatii wa sunnatil khulafaair raasyidiin al maHdiyyiin” yang artinya “Barangsiapa yang hidup sepeninggalku ia pasti melihat perselisihan yang amat banyak. Hendaklah kalian tetap memegang teguh sunnahku yang kalian ketahui dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang berada diatas petunjuk” (HR. Imam Ahmad dalam Kitab Musnad IV/126-127, Abu Dawud no. 4607, At Tirmidzi no. 2676, Ibnu Majah no. 42 dan Ad Darimi no. 95, hadits ini shahih)

    Dan masih banyak hadits-hadits shahih maupun atsar yang menceritakan tentang keutamaan para Sahabat Rasulullah SAW dan tentu saja keutamaan mereka banyak juga disebutkan di dalam Al Qur’an Al Karim, maka dari itu mereka radhiyallaHu ‘anHum memiliki hak-hak istimewa yang harus dipenuhi oleh seluruh kaum muslimin diantaranya :

    Mencintai mereka ra. Perlu diketahui mencitai mereka berarti kita telah mewujudkan konsekwensi cinta terhada Allah SWT, sebab Allah SWT telah mengabarkan bahwa Dia telah ridha terhadap para sahabat ra.

    “Rabb mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal” (QS At Taubah 21)

    Memohonkan rahmat dan ampunan untuk mereka ra. Sebagai realisasi firman Allah SWT,

    “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (yaitu sesudah kaum Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, ‘Yaa Rabb kami, berilah ampun kepada kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang beriman, Yaa Rabb kami sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang ‘” (QS Al Hasyr 10)

    1. Menahan lisan dari membicarakan kesalahan mereka ra. apalagi mencela mereka ra. Hal ini karena kesalahan mereka ra. sangatlah sedikit dibandingkan dengan kebaikan mereka ra. yang begitu banyak, apalagi sumber kesalahan mereka bersumber dari ijtihad yang diampuni. Dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Laa tasubbuu ashhaabii fawal ladzii nafsii biyadiHi lau anfaqa ahadukum mitsla uhudin dzaHaban maa balagha mudda ahadiHim walaa nashiifaHu” yang artinya “Janganlah kalian mencela sahabatku, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya seandainya seorang diantara kalian berinfak emas seperti gunung Uhud, sungguh belum menyamai satu mud seorang diantara mereka, tidak pula separuhnya” (HR. Bukhari no. 3673 dan Muslim no. 2541)

    Nabi SAW juga bersabda,

    “Idzaa dzukira ashhaabii fa-amsikuu” yang artinya “Apabila disebut sahabatku maka diamlah” (Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Ash Shahihah no. 34)

    Maka dari itu Al Munawi berkata, “Yakni apa yang terjadi diantara mereka berupa peperangan dan persengketaan, (maka diamlah) secara wajib dari mencela mereka dan membicarakan mereka dengan tidak pantas, karena mereka adalah sebaik-baiknya umat” (Kitab Faidhul Qadir 1/347)

    Sedangkan sikap membela sahabat dan mencela para pencela sahabat adalah warisan para ulama salafush shalih. Imam Abu Zur’ah Ar-Raazi Rahimahullahu berkata , “Apabila anda melihat seseorang mencela salah satu sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam maka ketahuilah bahwa dia itu zindiq, karena Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam menurut kami adalah benar dan Al-Qur’an itu benar. Sesungguhnya yang menyampaikan Al-Qur’an dan hadits kepada kita adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam. Mereka (yang mencela para sahabat) hanyalah ingin mencela para saksi kita untuk membatalkan Al-Qur’an dan sunnah, padahal celaan itu lebih pantas untuk mereka dan mereka adalah orang-orang zindiq” [lihat Kitab Al-Kifaayah fii ‘ilmil riwaayah oleh Al-Khatib Al-Baghdadi hal.67].

    Dan Imam Al-Barbahaari Rahimahullahu berkata dalam Kitab Syarhus sunnah hal 50 no.104, “Apabila anda melihat seseorang mencela para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam maka ketahuilah bahwa dia itu pemilik ucapan yang jelek dan pengekor hawa nafsu”.

    Akhirnya, Yaa Allah saksikanlah bahwa kami mencintai sahabat Nabi-Mu dan berlepas diri dari perilaku kaum Syi’ah Rafidhah (dan selainnya) yang mencela sahabat Nabi-Mu.

    Maraji’

    1. Mengenal Keutamaan Mutiara Zaman, Hamd bin Abdillah bin Ibrahim Al Humaidi, Darul Haq, Jakarta, Cetakan Pertama, Agustus 2002 M.
    2. Disarikan dari Tulisan Ustadz Abu Ubaidah Al Atsari, Majalah Al Furqan, Lajnah Dakwah Ma’had Al Furqan, Edisi 12, Tahun IV, Rajab 1426 H, hal. 20.
     
  • erva kurniawan 1:21 am on 25 March 2019 Permalink | Balas  

    Mengembalikan Kepada Allah dan Rasul-Nya 

    Mengembalikan Kepada Allah dan Rasul-Nya

    “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah rasul,  dan ulil amri di antara kamu. Jika kamu berselisih tentang suatu  perkara, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan rasul, jika kamu  benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir; yang demikian itu  lebih utama dan lebih baik kesudahannya”. [Q.S. 4:59]

    Ayat di atas dan ayat-ayat lain yang serupa kerap disalahpahami oleh  sebagian umat Islam dengan mengartikan “mengembalikan kepada rasul”  sebagai “mengembalikan kepada hadits”.

    Untuk mendudukkan dengan benar topik ketaatan dan pengembalian  kepada rasul ini, marilah sebelumnya kita pahami apa yang dijelaskan  oleh Allah di dalam Al-Qur’an tentang (para) rasul.

    1. Apakah Tugas Para Rasul Itu?

    “Dan setelah datang kepada mereka seorang rasul dari sisi Allah,  yang membenarkan apa (Kitab) yang ada pada mereka, segolongan dari  orang-orang yang diberi Kitab melemparkan Kitab Allah ke belakang  punggungnya, seolah-olah mereka tidak mengetahui”. [Q.S. 2:101]

    “Wahai Pemelihara kami, bangkitkanlah untuk mereka seorang rasul  dari kalangan mereka, yang akan membacakan ayat-ayat Engkau, dan  mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan Kebijaksanaan serta  mensucikan mereka; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa, Maha  Bijaksana”. [Q.S. 2:129] (Ayat dengan redaksi serupa: 2:151,  3:164, 62:2)

    “Dan tidaklah Pemeliharamu memusnahkan suatu negeri sebelum Dia  mengutus seorang rasul di ibukotanya, yang membacakan ayat-ayat Kami  kepada mereka”. [Q.S. 28:59]

    “Seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Allah yang menjelaskan,  supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan berbuat  kebaikan dari kegelapan kepada cahaya. [Q.S. 65:11]

    “Wahai rasul, sampaikanlah apa-apa yang diturunkan kepadamu dari  Pemeliharamu, dan jika tidak kamu kerjakan, maka kamu tidak  menyampaikan Pesan (risalah)-Nya”. [Q.S. 5:67]

    “Siapakah yang lebih kuat kesaksiannya? Allah menjadi saksi antara  aku dan kamu, dan Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya aku  memberi peringatan dengannya kepadamu dan kepada orang-orang yang  telah sampai, apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan- tuhan lain di samping Allah?”. [Q.S. 6:19]

    “Wahai golongan jin dan manusia, apakah belum datang padamu rasul- rasul dari antara kamu sendiri yang menceritakan ayat-ayat-Ku  kepadamu dan memberi peringatan kepadamu mengenai pertemuan hari  ini?” [Q.S. 6:130] (Ayat dengan redaksi serupa: 7:35, 39:71)

    “Dan sekiranya Kami membinasakan mereka dengan suatu azab  sebelumnya, tentu mereka berkata: `Wahai Rabb kami, mengapa tidak  Engkau utus seorang rasul kepada kami supaya kami mengikuti ayat- ayat Engkau sebelum kami dihina dan direndahkan?'” [Q.S. 20:134]  (Ayat dengan redaksi serupa: 28:47)

    Dari kutipan ayat-ayat di atas, ada enam tugas yang diemban oleh  para rasul:

    • Membenarkan kitab yang ada pada manusia
    • Membacakan ayat-ayat Allah
    • Menyampaikan ayat-ayat Allah
    • Memberi peringatan dengan Al-Qur’an
    • Menceritakan ayat-ayat Allah
    • Mengajak umat untuk mengikuti ayat-ayat Allah

    Sebagai manusia, rasulpun mengadukan keadaannya kepada Allah. Dan  pengaduan rasul itu tidak lepas dari tugasnya untuk menyampaikan Al- Qur’an.

    “Dan rasul berkata: `Wahai Pemeliharaku, sesungguhnya kaumku  menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diperdulikan.'” [Q.S.  25:30]

    Silahkan cermati. Tidak satu ayat pun tentang tugas rasul di dalam  Al-Qur’an yang keluar dari tema sentral “penyampaian pesan-pesan  Allah (Al-Qur’an)”.

    1. Adakah Kewenangan Rasul Untuk Mengadakan Sesuatu Di Luar  Ayat-Ayat Allah?

    “Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul, dan berhati- hatilah. Jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa (kewajiban) atas  rasul Kami hanyalah menyampaikan dengan jelas.” [Q.S. 5:92] (Ayat  dengan redaksi serupa: 5:99, 29:18, 64:12)

    Rasul tidak mempunyai kewenangan untuk mengada-adakan sesuatu di  luar ayat-ayat Allah. Malahan, sebuah ancaman keras menanti  terhadap pelanggaran atas ketentuan ini.

    “Dan seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan suatu perkataan atas  (nama) Kami, niscaya Kami pegang dia dengan tangan kanan, kemudian  pasti Kami potong urat jantungnya.” [Q.S. 69:44-46]

    1. Masih Adakah Rasul?

    Sebuah pertanyaan kritis berbunyi: “Rasulullah Muhammad kan sudah  wafat, lalu bagaimana hari ini kita bisa mengembalikan perkara  kepada rasul kalau tanpa kitab hadits?”

    Pertanyaan di atas terlontar atas asumsi bahwa pada jaman sekarang  ini sudah tidak ada lagi rasul. Setelah Nabi Muhammad wafat,  berakhirlah kerasulan.

    Benarkan demikian? Mari kita tarik kesimpulan dari ayat-ayat Allah  berikut ini…

    “Dan tiap-tiap umat ada rasulnya, maka apabila telah datang rasul  mereka, diputuskan (perkara) diantara mereka dengan adil, dan mereka  tidak dizalimi.” [Q.S. 10:47]

    “Dan orang-orang kafir dihalau berbondong-bondong ke Jahanam,  sehingga apabila mereka sampai pintu-pintunya dibuka, dan penjaga- penjaganya berkata kepada mereka: ‘Tidakkah rasul-rasul datang  kepada kamu dari kalangan kamu sendiri yang membacakan kepadamu ayat- ayat Tuhanmu, dan memberi peringatan tentang pertemuan hari ini?’  Mereka menjawab: `benar’. Tetapi telah pasti berlaku azab terhadap  orang-orang kafir.” [Q.S. 39:71]

    “Kami tidak mengutus seorang rasul melainkan dengan bahasa kaumnya  supaya dia menjelaskan kepada mereka; kemudian Allah menyesatkan  siapa yang Dia kehendaki, dan Dia memberi petunjuk kepada sesiapa  yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana. [Q.S.  14:4]

    Untuk dapat membacakan ayat-ayat Allah kepada kita pada hari ini,  maka rasul yang dimaksud haruslah masih hidup. Dan tentunya ia  bukan Nabi Muhammad, karena beliau telah wafat lebih dari 1400 tahun  yang lalu.

    Misi kerasulan tidak terhenti dengan wafatnya Nabi Muhammad. Rasul  terus dibangkitkan pada setiap umat meskipun sudah tidak ada lagi  nabi. Kenabian sudah ditutup dengan diutusnya Nabi Muhammad.

    “Muhammad bukanlah bapak seorang laki-laki diantara kamu, tetapi  adalah rasul Allah dan penutup Nabi-Nabi. Dan Allah Maha Mengetahui  segala sesuatu.” [Q.S. 33:40]

    Kesimpulan

    Sesuai tuntunan Al-Qur’an, kaum muslim hendaknya mengembalikan  urusannya kepada rasul agar rasul memberikan putusan sesuai dengan  apa yang telah diajarkan Allah (Al-Qur’an).

    Para rasul itu senantiasa ada di antara kita, dan berbicara dalam  bahasa kita. Kita mengenalnya bukan dari tanda khusus di tubuhnya,  bukan pula dari keajaiban yang dihadirkannya. Kita mengenalnya dari  apa yang disampaikan dan diajarkannya yang tidak lain adalah ayat- ayat Allah (Al-Qur’an) semata.

    “Dan tiada yang menghalangi manusia untuk beriman apabila petunjuk  datang kepada mereka, selain bahwa mereka berkata: `Adakah Allah  membangkitkan seorang manusia sebagai rasul?’  Katakanlah: `Sekiranya ada malaikat berjalan-jalan di bumi ini  dengan tenteram, tentu Kami turunkan dari langit seorang malaikat  sebagai rasul.'” [Q.S. 17:94-95]

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 24 March 2019 Permalink | Balas  

    Mukjizat Al-Qur’an 

    Mukjizat Al-Qur’an

    Berbicara tentang Al-Qur’an adalah berbicara tentang sebuah buku yang istimewa. Bagaimana tidak istimewa, ketika buku-buku lain diciptakan oleh para doktor, cendekiawan, ataupun negarawan, buku yang satu ini diciptakan oleh Tuhan melalui utusannya yang mulia Nabi Muhammad.

    Ada banyak tantangan untuk menguji kebenaran Al-Qur’an dari zaman ke zaman. Sebagian menguji atas dasar ketidakpercayaan, sebagian menguji atas dasar kebencian, sebagian lagi menguji murni demi memuaskan hasrat intelektualnya.

    Penemuan demi penemuan di bidang sains yang tak terpikirkan oleh orang-orang terdahulu telah dengan sangat fasih membuktikan bahwa Al- Quran adalah sebuah buku yang diciptakan oleh Pencipta alam semesta.

    Teori Big Bang

    Teori big bang yang ditemukan pada abad 20 ini secara sederhana menyatakan bahwa alam semesta ini terbentuk dari suatu ledakan. Dari sebuah esensi yang padu terjadilah perpisahan berupa ledakan besar (big bang). Al-Qur’an menjelaskan fenomena penciptaan alam semesta ini dengan sebuah ayat berikut:

    “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan kami jadikan segala sesuatu yang hidup dari air. Maka mengapa mereka tiada juga beriman?” [Q.S. 21:30]

    Gunung Sebagai Pasak

    Ilmuwan geologi menemukan fakta bahwa gunung-gunung terbentuk dari proses tumbukan lempeng kerak bumi. Lempeng kulit bumi yang lebih cepat gerakannya melesak ke dalam perut bumi dan lempeng kulit bumi yang kalah cepat terangkat menjadi gunung. Jadi, gunung-gunung memiliki “akar” menghunjam dalam yang berfungsi sebagai paku/pasak bagi kerak bumi. Fungsi pemancangan gunung ini diistilahkan “isostasi”.

    “Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan?, dan gunung- gunung sebagai pasak?” [Q.S. 78:6-7]

    Dinding Virtual Antara Dua Lautan

    Adanya dua lautan yang bertemu namun tidak bercampur telah ditemukan oleh para ahli kelautan. Dikarenakan gaya fisika yang dinamakan “tegangan permukaan”, air dari laut-laut yang saling bersebelahan tidak menyatu. Akibat adanya perbedaan masa jenis, tegangan permukaan mencegah lautan dari bercampur satu sama lain, seolah terdapat dinding tipis yang memisahkan mereka. Fenomena ini terbukti bagaimana air Laut Tengah memasuki Samudera Atlantik melalui Selat Gibraltar namun suhu, kadar garam, dan kerapatan air antara dua laut itu tidak berubah sama sekali.

    “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.” [Q.S. 55:19-20]

     Segala Sesuatu Berpasangan

    Berpasang-pasangan ternyata tidak hanya ada pada jenis kelamin makhluk hidup saja. Paul Dirac, pemenang hadiah Nobel Fisika tahun 1933 dari Inggris mengemukakan bahwa materi mempunyai pasangan yang disebut “anti-materi”. Anti materi ini memiliki sifat yang berseberangan dengan materi, dimana elektron anti-materi bermuatan positif dan protonnya bermuatan negatif. Ini berlawanan dengan sifat materi yang mempunyai elektron bersifat negatif dan proton bersifat positif.

    “Tersanjunglah yang telah menciptakan semuanya berpasangan-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari yang mereka tidak ketahui.” [Q.S. 36:36]

    Sejarah Masa Depan

    Tidak hanya dalam bidang sains Al-Qur’an menunjukkan mukjizatnya sebagai sebuah buku yang tidak mungkin diciptakan oleh manusia. Di dalam tataran sejarah pun Al-Qur’an dengan tepat meramalkan masa depan dengan mengabarkan kemenangan imperium Romawi. Ayat tentang kemenangan ini dulu menjadi bahan bulan-bulanan kaum musyrik karena dianggap menggambarkan sesuatu yang mustahil. Pada masa itu Romawi sedang menghadapi kekalahan telak dari Persia. Selain kalah dari Persia, bangsa Avar pun sudah mencapai dinding batas Konstantinopel. Emas dan perak yang ada di gereja dilebur untuk modal perang; para gubernur banyak yang memberontak kepada Kaisar Heraklius. Semua kondisi mengarah pada satu kepastian: keruntuhan imperium Romawi.

    Keajaiban terjadi 7 tahun setelah ayat tentang kemenangan Romawi diturunkan (627 M). Dalam sebuah pertempuran yang menentukan di Nineveh, Romawi mengalahkan Persia. Semua terhenyak tak percaya, akhirnya Persia harus menandatangani perdamaian yang mewajibkannya mengembalikan seluruh wilayah Romawi.

    “Alif, Lam, Mim. bangsa Romawi telah dikalahkan, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan pada hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman” [Q.S. 30:1-4]

    Dari beberapa pengungkapan bukti-bukti kebenaran “tingkat tinggi” di atas, Allah mengajak kita untuk merenungkannya:

    “Tidakkah mereka merenungkan Al-Qur’an? Jika ia bukan dari sisi Allah, tentu mereka mendapati di dalamnya banyak perselisihan.” [Q.S. 4:82]

    Pihak-pihak yang tidak percaya ada yang berusaha membuat kitab tandingan untuk menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukanlah kitab yang istimewa karena mereka pun bisa membuat yang seperti itu. Terhadap orang-orang ini Allah menyambut dengan sebuah tantangan terbuka:

    Katakanlah: Jika berkumpul manusia dan jin untuk membuat yang seperti Al-Qur’an ini, mereka tidak akan bisa membuatnya, walau sebagian dari mereka membantu sebagian yang lain. [Q.S. 17:88]

    Sumber temuan sains: http://www.keajaibanalquran.com