Updates from Februari, 2017 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 3:19 pm on 24 February 2017 Permalink | Balas  

    Kecerdikan pendamping Amanah 

    cerdikKecerdikan pendamping Amanah

    Tak cukup hanya berbekal Amanah saja, namun diperlukan pula Kecerdikan. Kecerdikan -salah satu keniscayaan penting yang diperlukan- ketika kebohongan sudah menjadi mewabah dan mentradisi, ketika kebenaran seringkali dikaburkan sehingga tak bisa dilihat secara kasat mata. Kala kebenaran prinsip ideologi Islam harus membentur tembok ideologi-ideologi sekuler yang membungkus dirinya seolah berdasarkan realita –bagaikan srigala berbulu domba- kebenaran kadang tak cukup hanya dijelaskan dengan ungkapan halal-haram saja. Saat dakwah merambah parlemen –dimana lidah para penjahat terlalu mudah berkata bohong menyembunyikan kebenaran- ketelitian dan kecerdikan amat dibutuhkan, maka dalam hal-hal tertentu kebenaran kadang harus dipaparkan dengan logika dan bahasa yang mudah difahami oleh awam. Begitu juga saat para penegak keadilan harus memutuskan perkara -dimana merajalela siasat berkelit mengingkari kesalahan yang disertai sumpah palsu ditambah bukti tak pula mencukupi- maka amat dibutuhkan ketelitian dan kecerdikan untuk mengungkapkan kebenaran untuk memutuskan perkara dan hukuman dengan benar serta adil.

    **

    Alkisah, suatu ketika seorang Hakim didatangi dua orang laki-laki, salah satu diantaranya sebagai pendakwa sedangkan yang satunya lagi sebagai yang didakwa. Si laki-laki pendakwa mengatakan bahwa ia telah menitipkan sejumlah uang kepada laki-laki yang didakwa. Ketika dia meminta kembali titipannya itu, laki-laki itu tidak mau mengakui bahwa ia menerima titipan uang.

    Laki-laki yang didakwa telah mengingkari titipan uang tersebut membela diri dengan berkata : “Kalau memang ia mempunyai bukti, silahkan tunjukkan. Jika tidak, berarti aku tinggal bersumpah bahwa aku tak pernah menerima titipan itu”.

    Sejenak hakim itu termenung. Ia khawatir kalau ucapan laki-laki itu tidak benar, berarti ia membiarkannya memakan uang haram dengan sumpah palsu. Tapi sulitnya, sang pendakwa tak memiliki bukti bahwa ia pernah menitipkan hartanya pada laki-laki tersebut.

    “Dimana anda menitipkan uang itu kepadanya?”, tanya Hakim.

    “Di tempat anu”, kata laki-laki pendakwa itu menyebutkan suatu tempat.

    “Benda apa yang paling dekat dengan tempat itu?”, Tanya Hakim lagi.

    “Sebuah pohon besar yang rimbung lagi rindang. Dulu kami berdua memang suka berteduh dibawah naungan pohon yang rindang itu. Waktu itu kami sedang duduk-duduk dibawah pohon yang besar itu, ketika kami ingin pulang, aku menyerahkan uang titipan itu kepadanya”, papar laki-laki pendakwa itu.

    “Kalau begitu, pergilah kembali ke tempat pohon besar itu. Barangkali ketika tiba disana engkau akan teringat dimana kamu menaruh uang itu. Kemudian temui aku lagi untuk menyampaikan apa yang kamu lihat”, kata Hakim memerintahkan kepada laki-laki yang mendakwa itu. Kemudian, Orang yang mendakwa tersebut pergi menuju tempat pohon besar yang dimaksudkannya itu.

    Sedangkan kepada orang yang didakwa, Hakim memerintahkannya untuk menunggu di dekat hakim itu, “Duduklah menunggu disini saja, sampai temanmu yang mendakwamu itu datang kembali kesini”.

    Sembari menunggu datangnya kembali si pendakwa, Hakim mengadili perkara-perkara lain, sambil sesekali melirik diam-diam kearah laki-laki yang didakwa itu.

    Ketika kondisi persidangan perkara-perkara lain mulai tenang, secara tiba-tiba Hakim menoleh kepada laki-laki yang didakwa itu sembari bertanya, “Menurut perkiraanmu, apakah temanmu yang mendakwamu tadi telah sampai ke tempat pohon besar dimana dia menyerahkan uang itu kepadamu?”.

    Tanpa berfikir panjang, laki-laki yang didakwa itu menjawab, “Belum, tempat itu cukup jauh dari sini”.

    Kini Hakim pun tahu kebenaran dari perkara ini, ia kemudian berkata, “Wahai musuh Allah, engkau mengingkari telah menerima titipan uang itu padahal engkau tahu dimana tempatnya?, demi Allah, sungguh engkau seorang pengkhianat”.

    Laki-laki itu menjadi terkejut, bungkam multnya, sejurus kemudian ia pun mengakui perbuatannya. Hakim pun selanjutnya menahannya sampai laki-laki pendakwa itu datang kembali dan menyuruh laki-laki yang didakwa itu mengembalikan sejumlah uang yang pernah dititipkan kepadanya.

    Kecerdikan, itulah kuncinya. Meski tanpa bukti yang cukup, Hakim itu berhasil memutuskan perkara dengan adil dan bisa membuktikan siapa yang salah dan siapa yang benar.

    **

    Pada kisah lain, seorang pejabat datang kepada seorang alim yang terkenal cerdik pandai, lalu pejabat tadi berkata, “Wahai alim yang cerdik pandai, apa pendapatmu tentang minuman keras?”.

    “Haram!”, jawab alim tadi dengan tegas.

    Pejabat tadi berkata lagi, “Apa alasan keharamannya, padahal ia hanyalah berupa buah-buahan dan air yang dimasak di atas api, bukankah semua bahannya itu halal?”.

    Orang alim tadi menjawab dengan balik bertanya, “Seandainya aku mengambil segayung air lalu aku siramkan ke tubuhmu, apakah engkau akan merasa sakit?”.

    “Tidak”, jawab pejabat itu.

    “Seandainya aku mengambil segenggam pasir kemudian aku lemparkan ke tubuhmu, apakah engkau akan merasa sakit?”, tanya orang alim itu.

    “Tidak”, jawab pejabat itu.

    “Seandainya aku mengambil segenggam lumpur lalu aku lempar lemparkan ke tubuhmu, apakah engkau akan merasa sakit?”, tanya orang alim itu.

    “Tidak”, jawab pejabat itu.

    Selanjutnya alim tadi melanjutkan berkata, “Seandainya aku mengambil pasir, lalu dicampur dengan lumpur, kemudian aku aduk dengan air, kemudian kujemur hingga kering, selanjutnya kulemparkan ketubuhmu, apakah engkau akan merasa sakit?”.

    “Kalau itu, ya!, tentu saja aku akan merasakan sakit, bahkan jika besar ukurannya aku pun bisa jadi dapat terbunuh karena lemparan itu”, jawab pejabat itu.

    “Begitulah khamar, ketika bahan-bahan halal itu disatukan dan diragikan, maka hukumnya menjadi haram”, kata orang alim tadi.

    **

    Kecerdikan seperti kisah-kisah itu sangat penting, apalagi bagi Hakim yang harus mengetahui kebenaran sebelum memutuskan perkara. Permasalahan kadang tak bisa dilihat dari kasat mata. Ia membutuhkan ketelitian dan kecerdikan.

    Kecerdikan ini semakin dibutuhkan saat kebohongan sudah menjadi tradisi. Saat lidah para penjahat terlalu mudah berkata-kata, ketika itulah kemampuan para pemutus perkara amat dibutuhkan.

    Bagi dakwah, kecerdikan ini tak kalah pentingnya. Era keterbukaan yang membuat medan dakwah harus merambah beragam kalangan, mengharuskan para dai bertindak cerdik.

    Apalagi saat dakwah mulai merambah panggung parlemen. Ketika ideology harus berhadapan dengan realita, kala prinsip harus dipegang teguh saat membentur ideology-ideologi sekuler, ketika itulah kecerdikan amat dibutuhkan.

    Kebenaran kadang tak cukup dijelaskan dengan ungkapan “hala dan haram” saja. Dalam hal-hal tertentu ia harus dipaparkan dengan logika umum.

    Cukup menarik menyimak jawaban Hidayat Nurwahid ketika diminta untuk mencukur jenggotnya dengan alasan bahwa orang Amerika tak suka dengan orang-orang berjenggot.

    “Beberapa waktu yang lalu, saya pernah bertemu dengan Paul Wolfowitz, mantan Duta Besar Amerika untuk Indonesia (sekarang Deputi Menteri Pertahanan AS). Dia mempunyai jenggot yang lebih lebat dari saya”, jawab Hidayat Nurwahid.

    Sang ketua MPR telah memberikan jawaban memuaskan, tanpa harus menjelaskan bahwa memelihara jenggot itu adalah sunnah, yang mungkin akan membuat si penanya jengkel.

    Ia hanya menjelaskan bahwa orang di jajaran penting Departemen Pertahanan AS pun berjenggot. Lalu mengapa kita kok harus mencukur jenggot untuk bertemu dengannya?.

    ***

    Disadur dari : Bertindak Cerdik. Hepi Andi. Sabili, No.17 TH.XII.

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 18 February 2017 Permalink | Balas  

    ASAL USUL NAMA SURAH DALAM AL-QUR’AN 

    quran_tasbih_01Asal Usul Nama Surah Dalam Al-Qur’an

    Bismillah, Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…

    Para ulama berbeda pendapat tentang tertib surah-surah Qur’an. Sebagian mengatakan bahwa urutan itu berdasarkan wahyu semata (tauqifi), sebagian lagi mengatakan ijma’ atau ijtihad para shahabat (taufiqi). Dan pendapat ketiga merupakan perpaduan antara kedua pendapat sebelumnya.

    Sedangkan masalah juz-juznya memang ditetapkan kemudian, termasuk masalah ada huruf ‘ainnya. Semua itu ditulis setelah Islam mulai melebarkan sayap ke negeri-negeri yang tidak mengerti bahasa Arab, sehingga dibutuhkan teknik penulisan arab (Al-Qur’an) yang lebih dari apa yang ada sebelumnya.

    Sedangkan tentang perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang apakah urutan surat itu berdasarkan wahyu atau bukan, silahkan simak rincian berikut ini:

    1. Pendapat yang Mengatakan bahwa Urutan Surat Berdasarkan Ketetapan Rasulullah SAW

    Dikatakan bahwa tertib surah itu tauqifi dan ditangani langsung oleh Nabi SAW sebagaimana diberitahukan Jibril kepadanya atas perintah Tuhan. Dengan demikian, Al-Qur’an pada masa Nabi SAW telah tersusun surah-surahnya secara tertib sebagaimana tertib ayat-ayatnya. Seperti yang ada di tangan kita sekarang ini. Yaitu tertib mushaf Usman yang tak ada seorang sahabat pun menentangnya. Ini menunjukkan telah terjadi kesepakatan (ijma’) atas tertib surah, tanpa suatu perselisihan apa pun.

    Yang mendukung pendapat ini ialah, bahwa Rasulullah telah membaca beberapa surah secara tertib di dalam salatnya. Ibn Abi Syaibah meriwayatkan bahwa Nabi pernah membaca beberapa surah aufassal (surah-surah pendek) dalam satu rakaat.

    Bukhari meriwayatkan dari Ibn Mas’ud, bahwa ia mengatakan tentang surah Bani Isra’il, Kahfi, Maryam, Taha dan Anbiya’, “Surah-surah itu termasuk yang diturunkan di Mekkah dan yang pertama-tama aku pelajari.” Kemudian ia menyebutkan surah-surah itu secara berurutan sebagaimana tertib susunan seperti sekarang ini.

    Telah diriwayatkan melalui Ibn wahhab, dari Sulaiman bin Bilal, ia berkata, “Aku mendengar Rabbi’ah ditanya orang, ‘ Mengapa surah Al-Baqarah dan Ali Imran didahulukan, padahal sebelum kedua surah itu telah diturunkan delapan puluh sekian surah makki, sedang keduanya di turunkan di Madinah?’. Dia menjawab, ‘Kedua surah itu memang didahulukan dan Al-Qur’an dikumpulkan menurut pengetahuan dari orang yang mengumpulkannya.’ Kemudian katanya, ‘Ini adalah sesatu yang mesti terjadi dan tidak perlu dipertanyakan.”

    Ibn Hisyar mengatakan, ‘”Tertib surah dan letak ayat-ayat pada tempat-tampatnya itu berdasarkan wahyu. Rasulullah mengatakan, “Letakkanlah ayat ini ditempat ini.” Hal tersebut telah diperkuat oleh nukilan atau riwayat yang mutawatir dengan tertib seperti ini, dari bacaan Rasulullah dan ijma’ para sahabat untuk meletakkan atau menyusunnya seperti ini didalam mushaf.”

    1. Pendapat yang Mengatakab bahwa Urutan Surat Berdasarkan Ijma’ Shahabat

    Dikatakan bahwa tertib surah itu berdasarkan ijtihad para sahabat. Dasar dari pendapat itu adalah kenyataan bahwa para shahabat punya koleksi mushaf yang awalnya berbeda-beda urutan.

    Misalnya mushaf Ali disusun menurut tertib nuzul, yakni dimulai dengan Iqra’, kemudian Muddassir, lalu Nun, Qalam, kemudian Muzammil, dan seterusnya hingga akhir surah makki dan madani. Dalam mushaf Ibn Masu’d yang pertama ditulis adalah surah Al-Baqarah, Nisa’ dan Ali-‘Imran. Dalam mushaf Ubai yang pertama ditulis ialah Fatihah, Baqarah, Niasa’ dan Ali-Imran.

    Diriwayatkan Ibn Abbas berkata, “Aku bertanya kepada Usman, “Apakah yang mendorongmu mengambil Anfal yang termasuk kategori masani dan Al-Bar’ah yang termasuk Mi’in untuk kamu gabungkan keduanya menjadi satu tanpa kamu tuliskan di antara keduanya Bismillahirrahmanirrahim, dan kamu pun meletakkannnya pada as-Sab’ut Tiwal (tujuh surah panjang)? Usman menjawab, ‘Telah turun kepada Rasulullah surah-surah yang mempunyai bilangan ayat. Apabila ada ayat turun kepadanya, ia panggil beberapa orang penulis wahyu dan mengatakan, ‘ Letakkanlah ayat ini pada surah yang di dalamnya terdapat ayat anu dan anu.” “Surah Anfal termasuk surah pertama yang turun di madinah. Sedang surah Bara’ah termasuk yang terakhir diturunkan. Surah Anfal serupa dengan surah yang turun dalam surah Bara’ah, sehingga aku mengira bahwa surah adalah bagian dari surah Anfal. Dan sampai wafatnya Rasulullah tidak menjelaskan kepada kami bahwa surah Bara’ah adalah sebagian dari surah Anfal. Oleh karena itu, kedua surah tersebut aku gabungkan dan diantara keduanya tidak aku tuliskan Bismillahirrahmanirrahim serta aku meletakkannya pula pada as-Sab’ut Tiwal.”

    1. Pendapat yang Memadukan bahwa Sebagian Ayat Ditetapkan dan Sebagian lagi Ijtihad

    Pendapat lain adalah perpaduan antara keduanya. Mereka mengatakan bahwa sebagian surah itu tertibnya tauqifi dan sebagian lainnya berdasarkan ijtihad para sahabat, hal ini karena terdapat dalil yang menunjukkan tertib sebagian surah pada masa Nabi. Misalnya keterangan yang menunjukkan tertib as-‘abut Tiwal, al hawamin dan al mufassal pada masa hidup Rasulullah.

    Diriwayatkan, “Bahwa Rasulullah berkata: bacalah olehmu dua surah yang bercahaya, baqarah dan ali Imran”. Diriwayatkan pula, bahwa jika hendak pergi ketempat tidur, Rasululah mengumpulkan kedua telapak tangannya kemudian meniupnya lalu membaca Qul huwallahu ahad dan mu’awwizatain.”

    Ibn Hajar mengatakan, “Tertib sebagain surah-surah atau sebagian besarnya itu tidak dapat ditolak sebagai bersifat Tauqifi.” Untuk mendukung pendapatnya ia kemukakan hadis Huzaifah as-Saqafi yang didalamnya antara lain termuat: Rasulullah berkata kepada kami, “Telah datang kepadaku waktu untuk membaca hizb (bagian) dari Qur’an, maka aku tidak ingin keluar sebelum selesai.’ Lalu kami tanyakan kepada sahabat-sahabat Rasulullah, “Bagaimana kalian membuat pembagian Qur’an? Mereka menjawab, “Kami membaginya menjadi tiga surah, lima surah, tujuh surah, sembilan, sebelas, tiga belas surah dan bagian al Mufassal dari Qaf sampai kami khatam.”

    Kata Ibn Hajaar, ” Ini menunjukkan bahwa tertib surah-surah seperti terdapat dalam mushaf sekarang adalah tertib surah pada masa Rasulullah.” Dan katanya, “Namun mungkin juga bahwa yang telah tertib pada waktu itu hanyalah bagian mufassal, bukan yang lain.”

    Apabila membicarakan ketiga pendapat ini, jelaslah bagi kita bahwa pendapat kedua, yang menyatakan tertib surah-surah itu berdasarkan ijtihad para sahabat, tidak bersandar dan berdasar pada suatu dalil. Sebab, ijtihad sebagian sahabat mengenai terib mushaf mereka yang khusus, merupakan ihtiyar mereka sebelum Qur’an dikumpulkan secara terib. Ketika pada masa Usman Qur’an dikumpulkan , ditertibkan ayat-ayat dan surah-surahnya pada suatu huruf (logat) dan umatpun menyepakatinya, maka mushaf-mushaf yang ada pada mereka ditinggalkan. Seandainya tertib itu merupakan hasil ijtihad, tentu mereka tetap berpegang pada mushafnya masing-masing.

    Mengenai hadis tentang surah al-Anfal dan Taubah yang diriwayatkan dari Ibn Abbas di atas, isnadnya dalam setiap riwayat berkisar pada Yazid al Farsi yang oleh Bukhari dikategorikan dalam kelompok du’afa’. Di samping itu dalam hadis inipun tedapat kerancuan mengenai penempatan basmalah pada permulaan surah, yang mengesankan seakan-akan Usman menetapkannya menurut pendapatnya sendiri dan meniadakannya juga menurut pendapatnya sendiri. Oleh karena itu dalam komentarnya terdapat hadis tersebut dalam musnad Imam Ahmad. Syaikh Ahmad Syakir, menyebutkan, “Hadis itu tak ada asal mulanya” paling jauh hadis itu hanya menunjukan ketidaktertiban kedua surah tersebut.

    Sementara itu, pendapat ketiga yang menyatakan sebagian surah itu tertibnya tauqifi dan sebagian lainnya bersifat ijtihadi, dalil-dalilnya hanya berpusat pada nas-nas yang menunjukkan tertib tauqifi. Adapun bagian yang ijtihadi tidak bersandar pada dalil yang menunjukkan tertib ijtihadi. Sebab, ketetapan yang tauqifi dengan dalil-dalilnya tidak berarti bahwa selain itu adalah hasil ijtihad. Disamping itu pula yang bersifat demikian hanya sedikit sekali.

    Dengan demikian bahwa tertib surah itu bersifat tauqifi seperti halnya tertib ayat-ayat. Abu Bakar Ibnul Anbari menyebutkan, “Alah telah menurunkan Qur’an seluruhnya ke langit dunia. Kemudian ia menurunkannya secara berangsur-angsur selama dua puluh sekian tahun. Sebuah surah turun karena suatu urusan yang terjadi dan ayatpun turun sebagai jawaban bagi orang yang bertanya, sedangkan Jibril senantiasa memberitahukan kepada Nabi di mana surah dan ayat tersebut harus ditempatkan. Dengan demikian susunan surah-surah, seperti halnya susunan ayat-ayat dan logat-logat Al-Qur’an, seluruhnya berasal dari Nabi. Oleh karena itu, barang siapa mendahulukan sesuatu surah atau mengakhirinya, ia telah merusak tatanan Al-Qur’an.”

    Al-Kirmani dalam al-Burhan mengatakan, “Tertib surah seperti kita kenal sekarang ini adalah menurut Allah pada lauh mahfuz, Qur’an sudah menurut tertib ini. Dan menurut tertib ini pula Nabi membacakan di hadapan Jibril setiap tahun apa yang dikumpulkannya dari Jibril itu. Nabi membacakan dihadapan Jibril menurut tertib ini pada tahun kewafatannya sebanyak dua kali.

    Dan ayat yang terakhir kali turun ialah, “Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah.” (Al-Baqarah: 28). Lalu jibril memerintahkan kepadanya untuk meletakkan ayat ini diantara ayat riba dan ayat tentang utang piutang.

    As-Suyuti cenderung pada pendapat Baihaqi yang mengatakan, “Al-Qur’an pada masa Nabi surah dan ayat-ayatnya telah tersusun menurut tertib ini kecuali anfal dan bara’ah, karena hadis Usman.”

    Wallahu A’lam Bish-shawab

    Ulasan Ustad Ahmad Sarwat, Lc

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 17 February 2017 Permalink | Balas  

    Adab Membaca Al Qur’an 

    Reciting-QuranAdab Membaca Al Qur’an

    Bismillah, Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…

    Adab atau sopan santun dalam membaca Al-Qur’an sbb :

    1. Membersihkan mulut dengan bersiwak sebelum membaca Al Qur’an.
    2. Membaca Al Qur’an di tempat yang bersih seperti masjid, dsb.
    3. Menghadap kiblat.
    4. Membaca ta’awudz (A’udzu billahi minas-syaithonirrajiim) ketika mulai membaca Al Qur’an.

    Firman Allah Ta’ala: “Apabila engkau membaca Al Qur’an maka mohonlah perlindungan Allah dari godaan setan yang terkutuk”

    1. Membaca basmalah (Bismillahirrahmaanirrahiim) di permulaan tiap surat kecuali surat At Taubah.
    2. Khusyu’ dan teliti pada setiap ayat yang dibaca.

    Firman Allah Ta’ala: “Apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci” ( Surat Muhammad: ayat 24 )

    Firman Allah Ta’ala: “Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan keberkahan supaya mereka memerhatikan ayat-ayatnya ….” ( Surat Shaad: ayat 29 )

    1. Memperindah, melagukan dan memerdukan suara dalam membaca Al Qur’an.

    Firman Allah Ta’ala: “…..dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan” ( Surat Al Muzzammil: ayat 4 )

    Dari Abu Hurairah ra. berkata; Rasulullah saw. bersabda,”Bukan dari golongan kita orang-orang yang tidak memperindah suaranya ketika membaca Al Qur’an.” ( Riwayat Bukhari )

    Dari Abu Hurairah ra. juga, bahawa beliau berkata; Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Allah tidak mengizinkan sesuatu seperti yang Dia izinkan kepada seorang nabi yang bagus suaranya, di mana beliau melagukan Al Qur’an dengan keras.” ( Riwayat Bukhari & Muslim )

    1. Pelan dan tidak tergesa-gesa dalam membaca Al Qur’an.

    Dari Abi Wail dari Abdullah berkata: Pada waktu pagi kami pergi kepada Abdullah, dia berkata; Seseorang telah berkata: “Aku telah membaca satu mufasshal (seperempat Al Qur’an) tadi malam”, Abdullah berkata: “Secepat itukah seperti orang membaca syair?, sesungguhnya aku mendengar bacaan dan aku menghafal beberapa pasang ayat yang dibaca Rasulullah saw. yaitu sebanyak delapan belas dari mufasshal dan ada dua dari Alif Laam Haa Miim.” ( Riwayat Bukhari )

    1. Memperhatikan bacaan (yang panjang dipanjangkan dan yang pendek dipendekkan).

    Dari Qatadah ra. berkata; Aku bertanya kepada Anas bin Malik ra. tentang bacaan Rasulullah saw. Anas menjawab: Beliau memanjangkan yang panjang (Mad).” Pada riwayat lain: Anas membaca ‘Bismillaahirrahmaanirrahiim’ dia memanjangkan ‘Bismillaah’, dan memanjangkan ‘ar-rahmaan’ dan memanjangkan ‘ar-rahiim’ Dari Ummu Salamah ra. bahwa dia menggambarkan bacaan Rasulullah saw. seperti membaca sambil menafsirkan; satu huruf, satu huruf. (Riwayat Abu Daud, Tirmizi, Nasai’e. Tirmizi berkata: hadits ini hasan  sahih)

    1. Berhenti untuk berdoa ketika membaca ayat rahmat dan ayat azab.

    Dari Huzaifah ra. ia berkata; Pada suatu malam aku shalat bersama Nabi Muhammad saw., beliau membaca surat Al Baqarah kemudian An Nisaa’ kemudian Ali ‘Imran. Beliau membaca perlahan-lahan, apabila sampai pada ayat tasbih beliau bertasbih, dan apabila sampai pada ayat permohonan beliau memohon, dan apabila sampai pada ayat ta’awudz (mohon perlindungan) beliau mohon perlindungan. ( Riwayat Muslim )

    1. Menangis, sedih dan terharu ketika membaca Al Qur’an.

    Allah berfirman: “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan  kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan kenabian Muhammad saw.)” ( surah Al Maidah – ayat 83 )

    Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah, “Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur sambil bersujud”,

    dan mereka berkata: “Maha suci Tuhan kami;sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi”

    Dan mereka menyungkur sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk

    ( Surat Al Israa’: ayat 107 – 109 )

    1. Sujud tilawah, bila bertemu ayat sajdah.

    Disahkan dari Umar ra. bahawa ia membaca surat An Nahl di atas mimbar pada hari Jum’at sampai ketika membaca ayat sujud beliau turun dan sujud, begitu juga orang-orang yang lain ikut sujud bersama beliau. Dan ketika datang Jum’at berikutnya ia membaca surat tersebut dan ketika sampai pada ayat sujud ia berkata, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kita melalui ayat sujud barangsiapa yang sujud, maka ia telah mendapat pahala, dan barangsiapa yang tidak sujud, maka tiada dosa baginya.” dan Umar ra. tidak sujud. ( Riwayat Bukhari )

    1. Suara tidak terlalu keras dan tidak terlalu pelan.

    Allah berfirman: “….dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam  shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara keduanya” ( surah Al Isra’ – ayat 110 )

    Dari ‘Uqbah bin Amir ra. berakata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang membaca Al Qur’an dengan suara keras seperti orang yang bersedekah secara terang-terangan dan orang yang membaca Al Qur’an secara perlahan seperti orang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi. ( Riawayat Abu Daud dan Tirmizi dan An Nasa’i ) ( Tirmizi berkata: Hadis ini hasan )

    1. Menghindari tawa, canda dan bicara saat membaca.

    Allah berfirman: “Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” ( Surah Al A’raaf – ayat 204 )

    1. Apabila Al Qur’an sudah dibacakan dengan bacaan (qiraat) tertentu, maka etisnya supaya megikuti bacaan tersebut selama masih dalam satu majlis.
    2. Memperbanyak membaca Al Qur’an dan mengkhatamkannya (menamatkannya)

    Dari Abdullah bin ‘Amr berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Bacalah  Al Qur’an dalam waktu satu bulan”, Aku menjawab, “Saya mampu,” Rasulullah saw. bersabda, “Bacalah ia dalam waktu sepuluh hari”, Aku menjawab, “Saya mampu.” Rasulullah saw. bersabda lagi, “Bacalah ia dalam waktu tujuh hari dan jangan lebih dari itu.” ( Riwayat Bukhari dan Muslim )

     
  • erva kurniawan 1:49 am on 16 February 2017 Permalink | Balas  

    Keutamaan Beberapa Surat Dan Ayat Al Qur’an 

    Keutamaan Beberapa Surat dan Ayat Al Qur’an

    Bismillah, Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…

    1. Surat Al Faatihah.

    Dari Abi Said Rafi’ bin Al Mu’alla ra. berkata: Rasulullah saw. berkata kepadaku, “Mahukah aku ajarkan kepadamu surat yang paling agung dalam Al Qur’an, sebelum kamu keluar dari masjid?” Lalu beliau memegang tanganku, dan ketika kami hendak keluar aku bertanya, “Ya Rasulullah, engkau berkata bahwa engkau akan mengajarkanku surat yang palin agung dalam Al Qur’an?” beliau menjawab, “Alhamdulillahirabbil’alamiin (Al Faatihah), ia adalah tujuh ayat yang dibaca pada setiap shalat, ia adalah Al Qur’an yang agung yang diberikan kepadaku.” (Diriwayatkan oleh Bukhari)

    1. Surat Al Faatihah dan beberapa ayat terakhir surat Al Baqarah.

    Dari Ibnu Abbas ra. berkata: Ketika Jibril a.s. sedang duduk di sisi Nabi saw. baginda mendengar suara dari atas, lalu beliau mendongakkan kepala dan bersabda, “Ini adalah pintu langit yang dibuka pada hari ini dan yang dibuka pada hari ini dan tidak pernah dibuka kecuali hari ini.” Lalu turun malaikat dari pintu tersebut, kemudian beliau bersabda, “Ini adalah malaikat yang turun ke bumi dan dia tidak pernah turun kecuali hari ini.” Lalu dia (malaikat) memberi salam seraya berkata, “Aku membawa berita gembira dengan dua cahaya yang diturunkan kepada engkau dan tidak pernah diberikan kepada nabi sebelummu, yaitu: Surat Al Faatihah dan beberapa ayat terakhir Surat Al Baqarah, tidaklah kamu membaca satu huruf daripadanya kecuali kamu medapat karunia.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

    1. Surat Al Baqarah.

    Dari Abi Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kau jadikan rumah-rumahmu seperti kuburan, sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang di dalamnya dibaca surat Al Baqarah.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

    1. Ayat Kursi.

    Dari Ubai bin Ka’ab ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Wahai Abu Munzir, tahukah engkau ayat manakah dalam  Al Qur’an yang paling agung menurutmu?” Aku menjawab,  “Allahu laailaaha illa huwalhayyul qoyyuum (ayat kursi)”, Lalu beliau menepuk dadaku dan bersabda, “Semoga Allah memudahkan ilmu bagimu wahai Abu Munzir.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

    1. Dua ayat terakhir surat Al Baqarah.

    Dari Abi Mas’ud Al Badri ra. dari Rasulullah saw. beliau bersabda, “Barangsiapa membaca dua ayat terakhir surat Al Baqarah pada waktu malam niscaya ia akan mencukupinya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

    1. Al Baqarah dan Ali ‘Imran.

    Dari Abi Umamah Al Bahili berkata: Aku mendengar Rasulullah saw.  bersabda, “Bacalah Al Qur’an karena di hari kiamat kelak ia akan memberikan syafaat bagi pembacanya, bacalah zahrawaen, yaitu: surat Al Baqarah dan surat Ali ‘Imran. Sesungguhnya pada hari kiamat nanti keduanya akan datang bagaikan dua awan atau dua kawanan burung yang berbaris yang siap membantu orang-orang yang pernah membacanya. Dan bacalah surah Al Baqarah kerana membacanya adalah suatu barakah dan meninggalkannya adalah suatu kerugian. Dan tukang sihir tak akan sanggup menghasilkannya.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

    1. Sepuluh ayat dari surat Al Kahfi.

    Dari Abi Darda’ ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al Kahfi, maka akan terjaga dari dajal.”  Dalam riwayat yang lain: “…sepuluh ayat terakhir…”  (Diriwayatkan oleh Muslim)

    1. Membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at.

    Dari Abi Said Al Khudri ra. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at akan diterangi cahaya antara dua Jum’at.” (Diriwayatkan oleh Hakim dan Baihaqi, Hadis di atas sahih)

    1. Surat Tabaarak (Al Mulk).

    Dari Ibnu Mas’ud ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Surat Tabarak (Al Mulk) adalah penjaga dari azab kubur.” (Diriwayatkan oleh Hakim dan Abu Na’im, Hadis di atas sahih)

    1. Surat At-Takwiir, Al Infithaar dan Al Insyiqaaq.

    Dari Ibnu Umar ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang suka untuk melihat aku di hari kiamat dengan sebenar-benar penglihatan, maka bacalah surat At-Takwiir, Al Infithaar dan Al insyiqaq.”  (Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmizi dan Hakim)

    1. Surat Al Ikhlash.

    Dari Abi Said Al Khudri ra. bahawa Rasulullah saw. bersabda tentang Qul Huwallahu ahad; “Demi Allah –Yang diriku berada di dalam genggaman-Nya–, sesungguhnya ia (Al Ikhlash) menyamai sepertiga Al Qur’an.” Pada riwayat lain Rasulullah saw. bersabda kepada para sahabatnya, “Adakah di antara kamu yang tidak sanggup membaca sepertiga Al Qur’an dalam satu malam?” Hal ini memang berat bagi mereka, lalu mereka bertanya, “Siapakah di antara kami yang mampu ya… Rasulullah?” Beliau bersabda, “Qul Huwallahu ahad Allahush-Shamad, adalah sepertiga Al Qur’an.” (Diriwayatkan oleh Bukhari)

    1. Membaca sepuluh kali surat Al Ikhlash.

    Dari Mu’az bin Anas ra. Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa membaca Qul huwallahu ahad sebanyak sepuluh kali niscaya Allah akan membangun rumah baginya di surga.” (Diriwayatkan oleh Ahmad)

    1. Surat Al Falaq dan An-Naas.

    Dari ‘Uqbah bin ‘Amir ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, Adakah kau lihat ayat-ayat yang diturunkan pada malam ini dan selainnya tidak dapat dilihat sepertinya?, dialah: Qul a’udzu birabbil falaq’ dan ‘Qul a’udzu birabbin-naas.”  (Diriwayatkan oleh Muslim)

    1. Surat Al Ikhlash, Al Falaq dan An-Naas.

    Dari Aisyah ra. bahwa Rasulullah saw. apabila akan berangkat tidur tiap-tiap malam beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya kemudian meniupkannya seraya membaca surat Al Ikhlash, Al Falaq dan An-Naas. Kemudian beliau mengusapkannya ke seluruh tubuhnya (sebatas yang bisa) dimulai dari kepala lalu muka kemudian bagian depan dari badan. Beliau melakukannya sebanyak tiga kali. (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

    1. Membaca surat Al Ikhlash, Al Falaq dan An-Naas ketika sakit.

    Abdullah bin Yusuf bercerita kepada kami, Malik bercerita kepada kami dari Ibnu Syihab, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah ra.: Bahwa Rasulullah saw. bila merasa sakit beliau membaca sendiri ‘Al Mu’awwizaat'(Al Ikhlash, Al Falaq dan An-Naas) kemudian meniupkannya. Dan apabila rasa sakitnya bertambah aku yang membacanya kemudian aku usapkan ke tangannya mengharap keberkahan darinya. (Diriwayatkan oleh Bukhari)

     

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 15 February 2017 Permalink | Balas  

    Sejarah Penulisan Al Qur’an 

    quran34Sejarah Penulisan Al Qur’an

    Bismillah, Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…

    Pertama: Penulisan Al Qur’an di masa Rasulullah saw.

    Atas perintah Nabi saw., Al Qur’an ditulis oleh penulis-penulis wahyu di atas pelepah kurma, kulit binatang, tulang dan batu. Semuanya ditulis teratur seperti yang Allah wahyukan dan belum terhimpun dalam satu mushaf. Di samping itu ada beberapa sahabat yang menulis sendiri beberapa juz dan surat yang mereka hafal dari Rasulullah saw.

    Kedua: Penulisan Al Qur’an di masa Abu Bakar As Shiddiq.

    Atas anjuran Umar ra., Abu Bakar ra. memerintahkan kepada Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan ayat-ayat Al Qur’an dari para penulis wahyu menjadi satu mushaf.

    Ketiga: Penulisan Al Qur’an di masa Usman bin ‘Affan.

    Untuk pertama kali Al Qur’an ditulis dalam satu mushaf. Penulisan ini disesuaikan dengan tulisan aslinya yang terdapat pada Hafshah bt. Umar. (hasil usaha pengumpulan di masa Abu Bakar ra.). Dalam penulisan ini sangat diperhatikan sekali perbedaan bacaan (untuk menghindari perselisihan di antara ummat). Usman ra. memberikan tanggung jawab penulisan ini kepada Zaid Bin Tsabit, Abdullah Bin Zubair, Sa’id bin ‘Ash dan Abdur-Rahman bin Al Haris bin Hisyam. Mushaf tersebut ditulis tanpa titik dan baris. Hasil penulisan tersebut satu disimpan Usman ra. dan sisanya disebar ke berbagai penjuru negara Islam.

    Keempat: Pemberian titik dan baris, terdiri dari tiga pase;

    Pertama: Mu’awiyah bin Abi Sofyan menugaskan Abul Asad Ad-dualy untuk meletakkan tanda bacaan (i’rab) pada tiap kalimat dalam bentuk titik untuk menghindari kesalahan dalm membaca.

    Kedua: Abdul Malik bin Marwan menugaskan Al Hajjaj bin Yusuf untuk memberikan titik sebagai pembeda antara satu huruf dengan lainnya (Baa’; dengan satu titik di bawah, Ta; dengan dua titik di atas, Tsa; dengan tiga titik di atas). Pada masa itu Al Hajjaj minta bantuan kepada Nashr bin ‘Ashim dan Hay bin Ya’mar.

    Ketiga: Peletakan baris atau tanda baca (i’rab) seperti: Dhammah, Fathah, Kasrah dan Sukun, mengikuti cara pemberian baris yang telah dilakukan oleh Khalil bin Ahmad Al Farahidy.

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 14 February 2017 Permalink | Balas  

    Keutamaan Alquran Yang Disebut Dalam Al Qur’an 

    quranKeutamaan Alquran Yang Disebut Dalam Al Qur’an

    Bismillah, Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…

    1. Allah befirman: Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat shubuh). Sesungguhnya shalat shubuh itu disaksikan (oleh Malaikat). Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.

    (Surat Al Israa’: ayat 78 – 79)

    1. Allah berfirman: Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.

    (Surat Al Baqarah: ayat 2)

    1. Allah berfirman: (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).

    (Surat Al Baqarah: ayat 185)

    1. Allah berfirman: Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhan-mu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur’an).

    (Surat An Nisaa’: ayat 174)

    1. Allah berfirman: Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah memberi perunjuk orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari kegelapan kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan memberi petunjuk mereka ke jalan yang lurus.

    (Surat Al Maa-idah: ayat 15 – 16)

    1. Allah berfirman: Dan ini (Al Qur’an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberikan peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Qur’an), dan mereka selalu memelihara shalatnya.

    (Surat Al An’aam: ayat 9)

    1. Allah berfirman: Dan Al Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.

    (Surat Al An’aam: ayat 155)

    1. Allah berfirman: Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Qur’an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

    (Surat Al A’raaf: ayat 52)

    1. Allah berfirman: Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al Kitab (Taurat) serta mendirikan shalat, (akan diberi pahala) karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan.

    (Surat Al A’raf: ayat 170)

    1. Allah berfirman: Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.

    (Surat Al A’raaf: ayat 204)

    1. Allah berfirman: Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaan dari Tuhan-mu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah, “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

    (Surat Yunus: ayat 57 – 58)

    1. Allah berfirman: Alif, Laam, Raa. (ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Terpuji.

    (Surat Ibrahim: ayat 1)

    1. Allah berfirman: Dan apabila kamu membaca Al Qur’an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup, dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhan-mu saja dalam Al Qur’an, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya.

    (Surat Al Israa’: ayat 45 – 46)

    1. Allah berfirman: Dan kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim kecuali kerugian.

    (Surat Al Israa’: ayat 82)

    1. Allah berfirman: Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhan-nya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.

    (Surat Az Zumar: ayat 23)

    1. Allah berfirman: Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelummnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.

    (Surat Asy Syuura: ayat 52)

    1. Allah berfirman: Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.

    (Surat Al Hasyr: ayat 21)

    1. Allah berfirman: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan (lailatul-qadr). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.

    (Surat Al Qadr: ayat 1 – 3)

    1. Allah berfirman: (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Qur’an), di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus.

    (Surat Al Bayyinah: ayat 2 – 3)

    1. Allah berfirman: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesunggguhnya Kami benar-benar memeliharanya.

    (Surat Al Hijr: ayat 9)

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 13 February 2017 Permalink | Balas  

    Keutamaan Al Qur’an Yang Disebut Dalam Hadits 

    quran_tasbih_01Keutamaan Al Qur’an Yang Disebut Dalam Hadits

    Bismillah, Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…

    1. Dari Abu Umamah ra. dia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Bacalah Al Qur’an sesungguhnya ia akan datang di hari Kiamat menjadi syafaat (penolong) bagi pembacanya.”  (Riwayat Muslim)
    2. Dari Nawwas bin Sam’an ra. telah berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Di hari Akhirat kelak akan didatangkan Al Qur’an dan orang yang membaca dan mengamalkannya, didahului dengan surat Al Baqarah dan Surah Ali ‘Imran, kedua-duanya menjadi hujjah (pembela) orang yang membaca dan mengamalkannya.” (Riwayat Muslim)
    3. Dari Usman bin ‘Affan ra. telah berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik manusia di antara kamu adalah orang yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.” (Riwayat Bukhari)
    4. Dari Aisyah ra. telah berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang membaca Al Qur’an dengan terbata-bata karena susah, akan mendapat dua pahala.” (Riwayat Bukhari & Muslim)
    5. Dari Abu Musa Al Asy’ari ra. telah berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al Qur’an seperti buah Utrujjah (sejenis limau), baunya harum dan rasanya sedap. Dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an seperti buah kurma, tidak ada baunya tapi rasanya manis. Dan perumpamaan orang munafik yang membaca Al Qur’an seperti Raihanah (jenis tumbuhan), baunya wangi tapi rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al Qur’an seperti buah hanzhal (seperti buah pare), tidak berbau dan rasanya pahit. (Riwayat Bukhari & Muslim)
    6. Dari Umar bin al Khatthab ra. bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah mengangkat (martabat) sebagian orang dan merendahkan sebagian lainnya dengan sebab Al Qur’an.” (Riwayat Muslim)
    7. Dari Ibnu Umar ra. dari Nabi Muhammad saw. telah bersabda, “Tidak boleh iri kecuali pada dua perkara: Laki-laki yang dianugerahi (kefahaman yang sahih tentang) Al Qur’an sedang dia membaca dan mengamalkannya siang dan malam, dan laki-laki yang dianugerahi harta sedang dia menginfakkannya siang dan malam.” (Riwayat Bukhari & Muslim)
    8. Dari Barra’ bin ‘Azib ra. telah berkata: Seorang laki-laki membaca surat Al Kahfi dan di sisinya ada seekor kuda yang diikat dengan dua tali panjang, tiba-tiba ada awan melindunginya dan semakin mendekat dan kudanya menjauhinya. Pagi-paginya laki-laki itu mendatangi Nabi Muhammad saw. dan menceritakan peristiwa tersebut, maka beliau bersabda, “Itu adalah ketenangan yang turun karena Al Qur’an.” (Riwayat Bukhari & Muslim)
    9. Dari Ibnu ‘Abbas ra. beliau berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya orang yang tidak ada dalam dirinya sesuatu pun dari Al Qur’an laksana sebuah rumah yang runtuh.” (Riwayat Tirmizi, beliau berkata: Hadits ini hasan sahih)
    10. Dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash ra. dari Nabi Muhammad saw. beliau bersabda, “Akan dikatakan kepada orang yang membaca Al Qur’an: Baca, tingkatkan dan perindah bacaanmu sebagaimana kamu memperindah urusan di dunia, sesungguhnya kedudukanmu pada akhir ayat yang engkau baca.” (Riwayat Abu Daud dan Tirmizi, beliau berkata: Hadits ini hasan sahih)
    11. Dari ‘Uqbah Bin ‘Amir ra. berkata; Rasulullah saw. keluar dan kami berada di beranda masjid. Beliau bersabda: “Siapakah di antara kalian yang tiap hari ingin pergi ke Buthan atau ‘Aqiq dan kembali dengan membawa dua ekor unta yang gemuk sedang dia tidak melakukan dosa dan tidak memutuskan hubungan silaturahmi?” Kami menjawab, “Kami ingin ya Rasulullah” Lantas beliau bersabda, “Mengapa tidak pergi saja ke masjid; belajar atau membaca dua ayat Al Qur’an akan lebih baik baginya dari dua ekor unta, dan tiga ayat lebih baik dari tiga ekor unta, dan empat ayat lebih baik dari empat ekor unta, demikianlah seterusnya mengikuti hitungan unta.” (Riwayat Muslim)
    12. Dari Ibnu Mas’ud ra. bahawasanya Nabi Muhammad saw. bersabda, “Yang paling layak mengimami kaum dalam shalat adalah mereka yang paling fasih membaca Al Qur’an.” (Riwayat Muslim)
    13. Dari Jabir bin Abdullah ra. bahawasnya; Ketika Nabi Muhammad saw. mengumpulkan dua mayat laki-laki diantara korban perang Uhud kemudian beliau bersabda, “Siapa diantara keduanya yang lebih banyak menghafal Al Qur’an?” dan ketika ditunjuk salah satunya beliau mendahulukannya untuk dimasukkan kedalam liang lahad. (Riwayat Bukhari, Tirmizi, Nasa’i & Ibnu Majah)
    14. Dari Imran bin Hushoin bahawa beliau melewati seseorang yang sedang membaca Al Qur’an kemudian dia berdoa kepada Allah lalu ia kembali membaca, lantas dia berkata aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang membaca Al Qur’an maka berdoalah kepada Allah dengan Al Qur’an karena sesungguhnya akan datang beberapa kaum yang membaca Al Qur’an dan orang-orang berdo’a dengannya.” (Riwayat Tirmizi, beliau berkata : Hadits ini hasan)
    15. Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: Barangsiapa membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan sama dengan sepuluh pahala, aku tidak bermaksud ‘Alif, Laam, Miim’ satu huruf, melainkan Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf. (Riwayat Ad Darami dan Tirmizi, beliau berkata hadits ini hasan sahih)
     
  • erva kurniawan 1:12 am on 12 February 2017 Permalink | Balas  

    Memelihara, Menulis Dan Menyentuh Ayat-Ayat Al-Quran (2/2) 

    quran-tasbihMemelihara, Menulis Dan Menyentuh Ayat-Ayat Al-Quran (2/2)

    Menyentuh Dan Mengangkat Al-Quran

    MENGENAI hukum yang berbangkit di antara orang yang berhadas (yang tidak suci) dengan mushaf telah disebutkan oleh ulama. Mereka menyebutkan bahwa menanggung mushaf ketika berhadas (tidak ada wuduk atau sebab haid) adalah haram berdasarkan firman Allah Subhanahu Wataala yang tafsirnya:

    “Tidak menyentuhnya (Al-Quran) melainkan orang-orang yang suci.” (Surah Al-Waaqiah: 79).

    Mengangkat Al-Quran Untuk Tujuan Belajar

    Selain larangan menyentuh (tanpa berwudhu) , haram juga mengangkat sesuatu yang ditulis padanya hanya ayat-ayat Al-Quran untuk tujuan belajar walaupun yang ditulis itu hanya setengah ayat, kecuali jika tujuannya bukan untuk belajar seperti untuk azimat (tamimah). Ini bermaksud jika diqasadkan sebagai pelajaran adalah haram dan tidak pula menjadi haram jika diqasadkan sebagai mengambil berkat. Jika tidak ada tujuan tertentu, maka yang perlu diperhatikan ialah qarinah atau alamat-alamat tertentu untuk apa tujuan menulisnya (I’anah Al-Thalibin: 1:81)

    Kanak-Kanak Mumayyiz Menyentuh Al-Quran

    Bagi guru dan penjaga, tidak mengapa membiarkan kanak-kanak mumayiz sekalipun berhadas menanggung dan menyentuh mushaf karena keperluan mempelajarinya, seperti membawanya ke sekolah dan membawanya ke tempat guru untuk mempelajarinya. Selain mushaf lengkap, termasuklah papan tulis (buku tulis) yang mengandungi ayat-ayat Al-Quran. Perkara ini dibenarkan karena membebani kanak-kanak itu supaya terus berwuduk adalah suatu perkara yang amat berat bagi mereka dan pada lazimnya masa mempelajari Al-Quran itu memakan masa yang lama.

    Menurut fatwa Ibn Hajar, guru kanak-kanak itu juga dimaafkan terutama bagi mereka yang tidak berupaya terus-menerus dalam keadaan suci (berwuduk) untuk menyentuh papan tulis yang ada padanya ayat Al-Quran, karena berwuduk itu mungkin susah dilakukan. Akan tetapi seeloknya ia bertayamum karena tayamum itu lebih mudah. Walau bagaimanapun bagi guru yang tidak mempunyai masyaqqah (susah) adalah wajib berwuduk ketika menyentuh dan menanggung Al-Quran. (I’anah Al-Thalibin: 1.82-83).

    Hukum Mengangkat Al-Quran Bersama Barang Lain

    Mengangkat mushaf (tanpa berwudhu) bersama barang lain tidak haram sekiranya tujuan sebenarnya bukan menanggung mushaf saja. Menurut kitab Al-Tuhfah, sekiranya maksudnya hanya : (1) menanggung mushaf, atau (2) menanggung mushaf bersama barang, atau (3) menanggungnya secara mutlak, ketiga-tiga cara ini adalah haram. Yang tidak haram itu hanyalah satu cara iaitu jika diqasadkan hanya menanggung barang. Ulama lain pula berpendapat yang dihukumkan itu hanya satu cara iaitu sekiranya diqasadkan menanggung mushaf sahaja, manakala qasad menanggung mushaf bersama barang itu atau menanggung barang itu saja atau menanggungnya secara mutlak, tidak menjadikan haram. (I’anah Al-Thalibin : 1:81).

    Menyentuh Kertas,Kulit Atau Sarung Al-Quran

    Menyentuh lambaran mushaf (tanpa berwudhu) adalah haram sekalipun bagian yang tiada tulisan dan haram menyentuh bungkusan atau sarung mushaf yang khusus disediakan untuk menyimpan mushaf dengan syarat pada ketika itu mushaf ada di dalam bungkusan atau sarung berkenaan.

    Selain sarung Al-Quran, adalah haram menyentuh (tanpa berwudhu) benda lain seperti kantung atau peti yang disediakan khusus untuk menyimpan mushaf semata-mata, dan ketika itu mushaf ada di dalamnya. Akan tetapi jika mushaf berkenaan sudah keluarkan dari sarung atau peti tersebut, maka bolehlah mengangkat dan menyentuhnya.

    Adapun kulit mushaf haram menyentuhnya (tanpa berwudhu) sama ada kulit itu bersambung dengan mushaf ataupun tidak dengan syarat kulitnya itu masih tetap dinisbahkan kepada mushaf. Jika kulit mushaf itu diganti baru, maka kulit lama tetap haram disentuh.

    Jika kertas mushaf itu hilang atau terbakar, yang tinggal hanya kulit, maka kulit itu tidak haram disentuh(tanpa berwudhu) . Begitu juga tidak haram (tanpa berwudhu) membalik kertas mushaf dengan kayu karena cara itu tidak disebutkan sebagai menanggung.

    Al-Quran Dan Tafsirnya

    Menanggung dan menyentuh mushaf bersama tafsirnya (tanpa berwudhu) tidak menjadi haram sekiranya tafsirnya itu lebih banyak. Jika tafsir itu sama banyak, atau tafsirnya sedikit atau diragukan mana yang lebih banyak, maka adalah haram menyentuhnya (tanpa berwudhu) . Ulama juga menggariskan kedudukan antara mushaf dan tafsir dalam mengukur banyak sedikitnya. Ketika menanggungnya yang diambil kira ialah jumlah Al-Quran dan tafsirnya. Manakala dalam perkara menyentuh, yang perlu diperhatikan ialah tempat di mana ia meletakkan tangannya. Jika pada tempat itu tafsirnya lebih banyak, tidak haram menyentuhnya(tanpa berwudhu) , tetapi jika Al-Quran lebih banyak, haram menyentuhnya. (I’anah Al-Thalibin : 1:82).

    Menulis Ayat-Ayat Al-Quran

    Ulama sepakat dalam mengharuskan penulisan Al-Quran dengan jelas, indah dan cantik supaya tidak menyusahkan orang-orang yang membacanya. Hal ini berdasarkan kepada pengumpulan dan penulisan mushaf Al-Quran pada zaman Nabi Muhamad Sallallahu Alaihi wasallam dan zaman khulafa ‘Al-Rasyidin.

    Bagi menghormati dan menjaga kemuliaan Al-Quran menulis ayat-ayat Al-Quran dengan benda-benda najis adalah haram. Begitu juga haram menuliskan huruf-huruf Al-Quran dengan huruf selain huruf Arab. Ibnu Hajar dalam fatwanya ketika ditanya, adakah haram menulis Al-Quran Al-Karim dengan huruf Arab begitu juga membacanya, beliau menjawab : “Berdasarkan apa yang dijelaskan dalam kitab Al-Majmu’ yang diriwayatkan oleh ulama Syafie bahwa perkara sedemikian adalah haram.” (I’anah Al-Thalibin : 1:83).

    Apabila menulis Al-Quran pada papan atau selainnya sama ada banyak atau sedikit, maka berlakulah hukum mushaf iaitu haram bagi orang yang dewasa yang baligh menyentuh dan menanggung papan tersebut (tanpa berwudhu) (berdasarkan pendapat mazhab yang sahih). (Al-Majmu : 2:83)

    Manakala mata wang yang diukir padanya Al-Quran, ulama membahagikannya kepada dua perkara iaitu mata wang yang tidak diperlakukan atau digunakan oleh kebanyakan orang dan di dalamnya tertulis ayat Al-Quran seperti Surah Al-Ikhlas tidak harus menanggungnya, sedangkan mata wang yang digunakan oleh orang ramai adalah diharuskan sebagaimana juga menyentuh dan menanggung cincin yang diukir padanya ayat Al-Quran. (Al-Majmu’ : 2:81)

    Tulisan-tulisan ayat Al-Quran pada kitab-kitab hadis, fiqh, dirham (mata wang), baju, serban atau kayu adalah harus (tidak haram) menanggung dan mengangkatnya. (Al-Majmu’ : 2:81)

    Menulis Ayat Al-Quran Pada Surat, Kad Jemputan Dan Lain-Lain

    Berdasarkan kepada pandangan ulama mengenai penulisan Al-Quran pada dinding, kayu dan mata wang dirham, tidaklah menjadi kesalahan jika ditulis ayat-ayat Al-Quran atau kalimah-kalimah lain yang dihormati oleh Islam pada surat, kad jemputan atau bahan-bahan cetak yang lain. Walaupun demikian jika tulisan-tulisan itu dibuat daripada bahan-bahan najis serta terdedah kepada pencemaran dan penghinaan, maka ia adalah haram.

    Dasar dan dalil hukum harus ini ialah berdasarkan pada surat-surat Nabi Sallallahu alaihi wasallam yang dikirimkan Baginda kepada raja dan pemimpin-pemimpin asing yang mengandungi Basmalah dan petikan ayat Al-Quran seperti ayat 64 Surah Ali ‘Imran. tetapi hukum harus ini hanyalah berlaku jika diyakini tulisan ayat berkenaan tidak terdedah kepada penghinaan dan pencemaran kesucian dan kehormatannya. Jika jelas dan pasti akan terhina dan tercemar, maka tidak harus menulisnya.

    Implikasi Menghina Ayat Al-Quran

    Para ulama telah menyebutkan tentang hukum orang Islam yang menghina dan merendah-rendahkan perkara yang dihormati dalam Islam. Al-Imam Al-Ramli menyebutkan bahwa seseorang itu akan menjadi murtad atau keluar daripada agama Islam apabila dia meletakkan mushaf Al-Quran atau benda-benda yang ditulis dengan nama-nama yang mulia dan dihormati dalam Islam atau benda-benda yang ditulis padanya daripada hadis-hadis Nabi Sallallahu alaihi wasallam pada tempat-tempat kotor dan jijik. (Al-Nihayah : 7:416).

    Al-Imam Al-Rauyani pula menyatakan bahwa antara perkara yang boleh menyebabkan seseorang itu terkeluar daripada agama Islam (murtad) ialah apabila benda-benda yang ditulis padanya ilmu-ilmu syariah atau ilmu Islam diletakkan di tempat yang kotor dan jijik, karena perbuatan-perbuatan sedemikian dengan terang telah menghina dan merendah-rendahkan agama Islam. (Al-Nihayah : 7:416).

    Seterusnya Al-Ramli telah menjelaskan bahwa perbuatan-perbuatan seperti meletak Al-Quran di tempat kotor dan jijik dan menyentuh Al-Quran ketika berhadas adalah menjadi tanda atau qarinah yang menunjukkan kepada menghina Al-Quran dan merendah-rendahkan agama.

    Berdasaran kepada keterangan-keterangan di atas, demi menjaga kesucian agama, kita wajib berwaspada dan bersungguh-sungguh dalam menghormati ayat-ayat Al-Quran yang ditulis pada suratkhabar-suratkhabar, kad-kad jemputan atau seumpamanya. Begitu juga dengan ayat-ayat Al-Quran yang diukir di papan-papan atau umpamanya agar tidak dibuang atau dicampakkan di merata tempat seperti longkang, jalan raya, tong sampah dan tandas. Helai-helai kertas, akhbar, surat-surat dan kad jemputan tersebut janganlah hendaknya dijadikan pembungkus barangan, alas kaki, alas duduk, barang mainan kepada kanak-kanak kecil atau apa-apa juga keperluan yang boleh dikategorikan sebagai menghina ayat Al-Quran.

    Cara Memusnahkan Mushaf Atau Kertas Yang Mengandungi Ayat-Ayat Al-Quran

    Mushaf atau kertas yang mengandungi ayat-ayat Al-Quran tidak boleh dikoyakkan atau dicarik-carik karena cara itu bererti memutus huruf-huruf dan kalimahnya dan mempersia-siakan apa yang termaktub itu.

    Jika mushaf atau tulisan-tulisan ayat Al-Quran itu tidak boleh dibaca atau tidak boleh digunakan lagi, ia boleh dimusnahkan di antara caranya ialah dengan membasuh tulisannya sehingga tidak kelihatan lagi atau membakarnya atau menanamnya.

    Sebagian ulama berpendapat membakarnya adalah lebih utama karena Sayidina Uthman Al-Affan pernah membakar mushaf-mushaf tertentu dan tidak ada sahabat yang membantahnya. Sebagian ulama pula menetapkan ia tidak boleh dibakar karena cara itu tidak menghormati namanya sehingga menghukumkannya sebagai makruh.

    Selain itu ada yang berpendapat bahwa membasuhnya lebih utama. Sebagiannya pula mengatakan mushaf itu tidak dibakar, bahkan ia hendaklah ditanam dalam tanah dan dengan cara ini ia tidak akan terkena pijakan. (Al-Itqan: 4:165).

    Dalam pada itu, setengah ulama mutakhir berpendapat bahwa cara membakar itu adalah cara yang paling ringan dilakukan. Disertakan dengan niat yang baik, maka cara ini dilakukan hanya semata-mata untuk menjaga kesucian dan kemuliaan Al-Quran, bukan merendahkan, apa lagi menghinanya dan tidak mendedahkannya kepada pencemaran dan penghinaan. (Ahsan Al-Kalam: 2:210).

    Disimpulkan bahwa mushaf Al-Quran yang menjadi kitab suci umat Islam adalah wajib dihormati, seperti tidak meletakkan sesuatu di atasnya, menyentuh atau mengangkatnya hanya ketika dalam keadaan berwuduk dan tidak menuliskannya pada kertas, kad, poster atau bahan-bahan cetak yang lain yang terdedah kepada pencemaran kesucian dan kehormatannya itu.

    wallohu a’lam bish-shawab,-

     
    • EKT 11:40 am on 12 Februari 2017 Permalink

      Banyak haramnya ya…

  • erva kurniawan 1:08 am on 11 February 2017 Permalink | Balas  

    Memelihara, Menulis Dan Menyentuh Ayat-Ayat Al-Quran (1/2) 

    quranMemelihara, Menulis Dan Menyentuh Ayat-Ayat Al-Quran (1/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    AL-QURAN adalah semulia kitab dan tidak diragukan bahwa Al-Quran itu adalah Kalamullah, ia mengatasi segala kalam. Mushaf yang dituliskan padanya Kalamullah wajib dihormati, dimuliakan dan tidak merendah-rendahkan dan mendedahkannya kepada penghinaan dan pencemaran.

    Al-Quran diturunkan kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dengan membawa kebenaran dan petunjuk kepada umat manusia sekaligus mengesahkan benarnya kitab-kitab suci yang telah diturunkan sebelumnya. (Ibn Katsir. Kitab Fadail Al-Quran : 9-10).

    Hal ini telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu Wataala dalam firman-Nya dalam tafsirnya:

    “Dan Kami turunkan kepadamu (wahai Muhammad) kitab (Al-Quran) dengan membawa kebenaran, untuk mengesahkan benarnya kitab-kitab suci yang telah diturunkan sebelumnya dan untuk memelihara serta mengawasinya.”

    Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam juga menjelaskan tentang kemuliaan dan kebesaran Al-Quran di dalam banyak hadis. Di antaranya ialah hadis yang disebut oleh Ali bin Abu Thalib yang diberitakan oleh Harits Al-A’war, katanya: “Aku berlalu di masjid, lalu aku melihat ada orang ramai yang mengarung (yakni mabuk bercakap tentang perkara-perkara yang boleh membawa fitnah, pembunuhan dan permusuhan). Kemudian aku menemui Ali bin Abu Thalib dan berkata kepadanya: “Wahai Amirul mukminin, adakah tuan melihat bahwa orang ramai telah mengarung di dalam percakapan mereka?” Ali bertanya: “Adakah mereka telah melakukannya?” Aku menjawab: “Ya”. Maka Ali pun berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah Sallalahu Alaihi Wasallam bersabda yang maksudnya:

    “Ingat, sesungguhnya itu akan menyebabkan fitnah”. Saya bertanya: “Bagaimana jalan keluar daripadanya wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda: “(Berpegang) kepada kitab Allah yang telah menceritakan orang-orang sebelummu dan berita orang-orang sesudahmu, dan sebagai penghukum apa yang terjadi antara sesamamu. Kitab Allah adalah firman yang memisahkan antara yang hak dan yang bathil dan ia adalah bukan sebagai senda gurau, orang yang meninggalkan kitab Allah daripada orang yang sombong, Allah akan membinasakannya, orang yang mencari petunjuk daripada selain kitab Allah, maka Allah akan menyesatkannya, kitab Allah adalah (tali) Allah yang kuat, ia adalah juga kitab yang penuh hikmah, ia adalah jalan yang lurus, ia adalah yang tidak condong pada hawa nafsu, ia tidak berat pada setiap lisan, para ulama tidak akan kenyang padanya, ia tidak usang oleh banyaknya diulang-ulang (bacaannya), ia tidak habis-habis keajaibannya, ia adalah yang tidak henti-hentinya Jin tatkala mendengarnya, mereka berkata: (Sesungguhnya kami telah mendengar Al-Quran yang menakjubkan yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya). Barangsiapa berkata dengan Al-Quran, maka benarlah ia, barangsiapa yang mengamalkannya, ia diberi pahala, orang yang menetapkan hukum dengannya maka ia adil dan barangsiapa mengajak-ajak kepada Al-Quran, ia mendapat petunjuk pada jalan yang lurus.” Ambillah (kata-kata yang baik) hai A’war.” (Riwayat Al-Tirmidzi dalam Tuhfah At-Ahwazi: 8/183-186, Al-Darimi: 2/294).

    Wajib Menjaga Kemuliaan Al-Quran

    Menurut ulama membaca Al-Quran itu lebih utama (afdal) daripada membaca tasbih, tahlil dan zikir-zikir yang lain selain Al-Quran. (Al-Tibyan: 17).

    Perkara ini dapat difahami karena ia adalah kitabullah, kitab suci umat Islam yang diwahyukan oleh Allah kepada Nabi-Nya yang terakhir dalam tempoh masa lebih kurang 23 tahun.

    Berdasarkan catatan sejarah Al-Quran sejak dari awal turunnya, ia telah mula dihafal dan ditulis sehinggalah turun ayatnya yang terakhir.

    Penghafalan dan penulisan ini berlaku adalah bagi memenuhi sebahagian tuntutan pemeliharaan, penyucian dan penghormatan kepada kitab suci ini.

    Oleh itu, sesuai dengan fungsinya sebagai kitab yang paling suci, maka semua umat Islam sepakat (ijmak) tentang wajibnya ke atas orang Islam menjaga dan menghormati Al-Quran.

    Di antara cara menghormatinya, ia tidak boleh dicampakkan dan ditindih dengan sesuatu di atasnya. Dalam hal ini Imam Nawawi menjelaskan bahwa apabila seseorang Islam itu melempar atau mencampakkan mushaf (Al-Quran) ke tempat-tempat yang kotor dan jijik, maka dia dihukumkan kafir. Begitu juga haram meletakkan sesuatu di atasnya sekalipun dengan kitab-kitab agama. (Al-Tibyan: 150, Al-Majmu’ 2:85).

    Menurut beliau lagi, sebagaimana yang telah diriwayatkan di dalam musnad Al-Darimi bahwa Ikrimah bin Abu Jahal meletakkan mushaf di mukanya (separasnya muka) seraya berkata: “Kitab Tuhanku, kitab Tuhanku.” Berdasarkan riwayat ini adalah wajar meletakkan Al-Quran itu di tempat yang sesuai seperti di atas kepala dan tidak di tempat yang hina dan tercemar.

    Termasuk dalam kategori menjaga kemuliaan Al-Quran itu ialah menjaganya daripada jatuh ke tangan orang-orang kafir. Larangan ini telah dijelaskan oleh Rasullullah Sallallahu Alaihi Wasallam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari yang maksudnya:

    “Sesungguhnya Rasullullah Sallallahu Alaihi Wasallam melarang membawa Al-Quran ketika musafir (belayar) ke negeri musuh (kafir).” (Riwayat Al-Bukhari).

    Berdasarkan pengkajian dan pembahasan ulama tentang betapa perlunya menghormati kitab suci ini, mereka telah membuat beberapa disiplin dan adab terhadapnya.

    Berikut ini disebutkan beberapa adab yang berkaitan dengan Al-Quran dan mushaf bagi tujuan memuliakan dan menghormatinya sebagaimana disebut dalam kitab Nawadir Al-Ushul Fi Ma’rifah Ahadits Al-Rasul (2.391-396):

    1. Menyentuh, memegang atau membawa (mengangkat mushaf (Al-Quran) hendaklah dalam keadaan suci (berwuduk), sama ada ayat-ayat Al-Quran itu ditulis pada kertas, papan, besi, kain dan sebagainya. Dalam kaitan ini termasuklah poster atau sepanduk yang sepenuhnya bertuliskan ayat Al-Quran.
    2. Tidak meletakkan mushaf pada tempat yang mudah terdedah kepada pencemaran seperti di tempat yang sering jatuh padanya najis burung, cicak dan lain-lain dan tidak membiarkan bertaburan dan berselerak di tempat yang tidak sepatutnya.
    3. Tidak meletakkan sesuatu di atas mushaf, sama ada buku atau yang lainnya. Mushaf itu pula hendaklah diletakkan di atas segala buku dan di tempat yang lebih terhormat.
    4. Ketika membaca mushaf eloklah dipangku atau diletakkan di atas sesuatu di hadapan seperti rehal dan tidak meletakkannya secara langsung di atas lantai.
    5. Jika ia ditulis, jangan dihapus atau dipadam dengan air liur tetapi boleh memadamkan tulisannya dengan air yang bersih. Bekas larutan basuhannya hendaklah tidak jatuh ke tempat yang bernajis karena larutan basuhan itu perlu dihormati.
    6. Adalah elok dan wajar memandang Al-Quran, paling tidak sekali pada setiap hari. Diriwayatkan daripada Abu Sa’id Al-Khudri Radiallahuanhu katanya, Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda yang maksudnya:

    “Kamu berikanlah peruntukkan ibadat untuk mata kamu. Sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apa dia peruntukkan ibadat mata?” Baginda menjawab: “Peruntukkan ibadat mata ialah memandang mushaf, memikirkan kandungannya dan mengambil iktibar daripada keajaibannya.”

    1. Mencantikkan tulisan apabila menulisnya. Diriwayatkan daripada Abu Halimah bahwa semasa ia menulis mushaf di Kufah, Ali bin Abu Thalib berlalu dan melihat tulisannya seraya berkata kepada Abu Halimah: “Runcingkan penamu”. (Abu Halimah berkata) saya pun mengambil pena, lalu meruncingkan hujungnya, kemudian saya menuliskannya semula, dan Ali Radiallahuanhu berdiri memerhatikan tulisanku, kemudian beliau (Ali) berkata: “Beginilah sepatutnya cara kamu menyinari mushaf sebagaimana Allah Subhanahu Wataala menyinarinya.”
    2. Tidak menjadikan mushaf sebagai bantal dan alat bersandar dan jangan melemparkannya kepada kawan apabila kawan itu hendak mengambilnya.
    3. Jangan memperkecilkan (saiz) mushaf sebagaimana telah diriwayatkan bahwa Ali Radiallahuanhu pernah berkata: “Jangan engkau perkecil mushaf.”
    4. Hendaklah mushaf itu diasingkan dan tidak mencampur- adukkan dengan benda lain yang bukan daripada mushaf, yakni tidak meletakkan apa-apa benda di dalamnya.
    5. Tidak menghiasi mushaf dengan emas dan tidak ditulis dengan emas supaya tidak bercampur dengan perhiasan dunia.
    6. Tidak menuliskannya di tanah karena Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melarang berbuat demikian. Daripada Umar bin Abd. Aziz Rahimahullah telah berkata: Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam pernah melintasi (tempat) yang ada tulisan di tanah lalu Baginda bertanya kepada seorang muda daripada suku Huzail: “Apa ini?” Pemuda itu menjawab: “Sebahagian tulisan dari Kitab Allah Subhanahu Wataala yang ditulis oleh seorang Yahudi.” Kemudian Baginda bersabda: “Allah Subhanahu Wataala melaknat orang yang melakukan (perkara) ini, janganlah kamu letakkan Kitab Allah Subhanahu Wataala melainkan pada tempatnya.” Bertolak daripada peristiwa ini segolongan besar ulama berpendapat makruh hukumnya menulis Al-Quran dan nama-nama Allah pada mata wang dirham, mihrab dan dinding. (Ahsan Al-Kalam: 2:114).
    7. Apabila tulisan Al-Quran dijadikan bahan mandian karena berubat daripada penyakit yang dialaminya, maka janganlah ianya jatuh ke tempat yang kotor dan bernajis, atau ke tempat yang dipijak. Adalah elok jika ia jatuh ke tanah yang tidak menjadi pijakan orang ramai atau ke lubang yang digali di tempat yang bersih supaya airnya jatuh ke dalam lubang itu, kemudian barulah lubang itu ditutup. Selain daripada cara itu, air tersebut boleh juga dialirkan ke sungai supaya larutan itu akan mengalir bersama.
    8. Ayat-ayat pelindung daripada Al-Quran tidak dibawa masuk ke dalam tandas kecuali ianya dimasukkan dalam sarung kulit atau perak atau sebagainya karena berbuat yang demikian itu ianya seperti berada di dalam dada.
    9. Apabila ianya ditulis dan airnya diminum hendaklah membaca basmalah setiap kali minum dan membetulkan niat, karena Allah Subhanahu Wataala akan memberi mengikut kadar niatnya. Daripada Mujahid katanya: “Tidak mengapa menulis ayat-ayat Al-Quran kemudian melarut atau melunturkan ayat-ayat yang ditulis itu lalu meminumkannya kepada pesakit.”

    Bersambung

     
  • erva kurniawan 3:58 pm on 10 February 2017 Permalink | Balas  

    Islam Memuliakan Wanita 

    wanitaIslam Memuliakan Wanita

    Oleh: O. Solihin

    hayatulislam.net – Rasulullah SAW membuat empat garis seraya berkata: “Tahukah kalian apakah ini?” Mereka berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Nabi Saw lalu bersabda: “Sesungguhnya wanita ahli surga yang paling utama adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad Saw, Maryam binti ‘Imron, dan Asiyah binti Mazahi.” (Mustadrak Ash Shahihain, jld. 2, hal. 497).

    Sabda Rasulullah Saw yang lain:

    “Takutlah kepada Allah dan hormatilah kaum wanita.” [HR. Muslim].

    Itulah sebagai tanda cinta Islam kepada wanita. Islam memuliakan wanita, dan menempatkannya dalam kedudukan yang terhormat. Kita tahu, bahwa wanita itu makhluk yang lemah dan rentan terhadap tindak kejahatan.

    Pelecehan seksual kerap mendera kaum wanita. Namun kita juga sering dibuat aneh dengan sikap wanita di jaman sekarang ini. Berlindung di balik kedok emansipasi, kaum wanita malah membuat peluang untuk dilecehkan. Karena menginginkan peran ganda dalam kehidupannya dan ingin bersaing dengan laki-laki, akhirnya mereka sendiri yang kedodoran menahan gempuran pelecehan seksual yang jelas membahayakan kesucian dan kehormatan dirinya.

    Dalam masyarakat kapitalis, wanita sudah dijadikan komoditas yang diperjual-belikan. Mereka dijadikan sumber tenaga kerja yang murah dan dieksploitasi untuk menjual barang. Dan ini telah banyak memakan korban dan merendahkan martabat wanita yang dalam Islam sangat dihormati. Wal hasil, emansipasi yang sebenarnya mengangkat wanita dari perbudakan dan dominasi kaum pria, malah membuatnya semakin amburadul.

    Islam sangat menjunjung kehormatan dan kesucian kaum wanita. Terbukti, suatu ketika seorang muslimah di kota Amuria -terletak antara wilayah Irak dan Syam- berteriak meminta pertolongan karena kehormatannya dinodai oleh seorang pembesar Romawi. Teriakan itu ternyata “terdengar” oleh Khalifah Mu’tashim, pemimpin umat Islam saat itu. Kontan saja ia mengerahkan tentaranya untuk membalas pelecehan tersebut. Dan bukan saja sang pejabat nekat itu, tapi kerajaan Romawi langsung digempur. Sedemikian besarnya tentara kaum muslimin hingga diriwiyatkan, “kepala” pasukan sudah berada di Amuria sedangkan “ekornya” berakhir di Baghdad, bahkan masih banyak tentara yang ingin berperang. Fantastis! Dan untuk membayar penghinaan tersebut 30.000 tentara musuh tewas dan 30.000 lainnya menjadi pesakitan.

    Kondisi itu sangat berbeda dengan sekarang, selain memang sistemnya tidak mendukung untuk memuliakan wanita, wanitanya sendiri malah memberi peluang pria untuk mengotori kesucian dan meruntuhkan kehormatannya. Jutaan wanita yang masih betah mengumbar auratnya ketika keluar rumah. Yang secara fakta memang menjadi faktor pemicu terjadinya pelecehan seksual.

    Kita bisa mengambil hikmah dari perlakuan Islam terhadap kaum wanita ini. Lapangan pekerjaan wanita yang banyak di rumah, bukan berarti Islam mengucilkan dan merendahkan wanita, tapi justru memuliakannya. Bekerja di luar rumah bukan berarti tidak boleh. Mubah saja selama jenis pekerjaannya sesuai kodrat dan tidak membahayakan kesucian dan kehormatan dirinya. Namun, bila jenis pekerjaannya kemudian menuntut perannya yang besar hingga melupakan kewajiban rumah tangganya, maka tentu saja tidak dibenarkan. Apalagi sampai mengancam kesucian dan merendahkan kehormatannya sebagai wanita.

    Dengan demikian, memang hanya dengan bercermin kepada Islam semuanya akan beres, dan kaum wanita bisa meneladani pribadi-pribadi wanita terhormat dalam hadits di atas. Dan tentu saja hanya dengan penerapan Islam sebagai aqidah dan syariat dalam mengatur kehidupan yang bakal menuntaskan berbagai problem masyarakat saat ini.

    ***

    hayatulislam.net

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 7 February 2017 Permalink | Balas  

    Subuh Berjamaah Penentu Nasib Di Akherat 

    azan-shalat-subuhSubuh Berjamaah Penentu Nasib Di Akherat

    Suatu ketika seorang bocah yang baru duduk di kelas 3 sekolah dasar mendapat motivasi dari gurunya untuk melaksanakan shalat subuh berjama’ah. Baginya hal tersebut adalah hal yang sulit karena keluargaya tidak biasa shalat subuh berjama’ah, namun anak ini mempunyai tekad yang kuat untuk bisa berjama’ah subuh di masjid.

    Anak tersebut tidak biasa bangun di pagi buta saat fajar, karena takut kesiangan ia tidak meminta ayahnya untuk membangunkan atau memasang alarm, namun ia memilih untuk tidak tidur di malam hari dan menunggu hingga adzan subuh berkumandang.

    Begitu adzan subuh berkumandang ia segera keluar menuju masjid. Ada satu masalah muncul ketika itu, suasana di luar rumahnya yang gelap dan sunyi membuat nyalinya menciut. Ia tidak berani pergi ke masjid sendiri. Pada saat itu juga ia mendengar langkah kaki yang berat, alih-alih setelah diamati, ternyata ada seorang kakek berjalan dengan tongkatnya. Anak tadi yakin bahwa sang kakek akan pergi ke masjid dan mengikuti dari belakang tanpa sepengetahuan sang kakek.

    Prediksinya benar, Allah benar-benar membukakan jalan bagi hambanya yangmemiliki tekad. Ia pun menjadikan hal tersebut sebagai rutinitasnya, begadang sepanjang malam hingga adzan subuh menggema, lalu berjalan menuju masjid di belakang sang kakek, shalat subuh berjama’ah dan kembali ke rumah dengan cara yang serupa saat dia berangkat.

    Keluarganya tidak ada yang mengetahuinya, mereka hanya tahu bahwa bocah tersebut menjadi jarang bermain dan lebih banyak tidur sepulang sekolah. Kemudian taqdir Allah terjadi. Ia mendengar kabar bahwa kakek tersebut meninggal dunia, inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kita akan kembali.

    Bocah itu menangis sesenggukan, ia begitu sedih. Sang pemandu jalan telah meninggal. Ia mencintainya karena dengannya ia bisa menghadiri sholat subuh berjama’ah, dengannya ia bisa bertaqwa kepada Allah.

    Ayahnya heran melihat anaknya yang menangis dan bertanya, “Kenapa kamu menangis ? ia kan bukan kakekmu ? bukan siapa-siapamu ?”

    Spontan anaknya menjawab, “ Kenapa bukan ayah saja yang meninggal ?”

    Ayahnya kaget. “ Astahfirulloh, kenapa kamu bicara seperti itu nak ?”. ujarnya dengan keheranan.

    “Lebih baik ayah saja yang meninggal, ayah tidak pernah membangunkanku untuk sholat subuh. Tidak pernah mengajakku ke masjid, sedangkan kakek itu ….. setiap pagi aku berjalan dibelakangnya untuk shalat subuh di masjid”.

    Ayahnya sontak terdiam, lidahnya kelu, matanya menganak sungai, selama ini ia begitu lalai, meninggalkan kewajiban sebagai hamba Allah dan lalai dalam mendidik anaknya. Ia pun akhirnya rajin mengikuti shalat jama’ah di masjid karena dakwah anaknya, terutama shalat subuh.

    Dikutip dari buku “Dasyatnya Bangun Pagi” semoga bisa memetik hikmahnya.

     
  • erva kurniawan 2:58 pm on 6 February 2017 Permalink | Balas  

    Khilafah & Khalifah 

    khalifahKhilafah & Khalifah

    Oleh : Yahya Abdurrahman

    Makna al-Khilafah Menurut Bahasa

    Al-Khilafah adalah mashdar dari khalafa. Menurut Ibn al-Manzhur,1 Istakhlafa fulan min fulan (Seseorang mengangkat si fulan), artinya ja’alahu makanahu (Ia menetapkan Fulan menduduki posisinya). Khalafa fulan[un] fulan[an] idza kana khalifatuhu (Fulan menggantikan si fulan jika dia adalah khalifah (pengganti)-nya). Dikatakan, Khalaftu fulan[an] (Aku menggantikan fulan); akhlufuhu takhlifan (Aku menggantikannya sebagai pergantian); Istakhlaftuhu ana ja’altuhu khalifati wa astakhlifuhu (Aku mengangkatnya, aku menetapkan sebagai penggantiku dan aku mengangkatnya).

    Jadi, menurut bahasa, khalifah adalah orang yang mengantikan orang sebelumnya. Jamaknya, khala’if. Sedangkan Imam Sibawaih mengatakan, khalifah jamaknya adalah khulafa’.

    Dalam masalah kepemimpinan, orang Arab berkata: Khalafahu fi qawmihi, yakhlufuhu, khilafat[an] fahuwa khalifah (Ia telah menggantikan kaumnya, ia memanggul kepemimpinan, maka ia adalah pengganti/khalifah). Arti inilah makna firman Allah Swt.:

    Berkata Musa kepada saudaranya, Harun, “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku.” (QS al-A’raf [7]: 142).2

    Al-Quran menyebut kata khalifah dalam surat al-Baqarah: 30 dan Shad: 26), khulafa’ (3 kali: al-A’raf: 69, 74; an-Naml: 62), khala’if (4 kali: al-An’am: 145; Yunus: 14, 73; Fathir: 39) dan masih banyak ayat lain yang menyatakan kata bentukannya. Semuanya dinyatakan dalam arti bahasa, yakni pengganti yang menggantikan umat atau pemimpin terdahulu; menggantikan malaikat untuk mengurus bumi atau mendapat amanah dari Allah untuk mengelola bumi.

    Khalifah dan Khilafah Menurut Syariat

    Kata khilafah banyak dinyatakan dalam hadis, misalnya:

    Sesungguhnya (urusan) agama kalian berawal dengan kenabian dan rahmat, lalu akan ada khilafah dan rahmat, kemudian akan ada kekuasaan yang tiranik. (HR al-Bazzar).

    Kata khilafah dalam hadis ini memiliki pengertian sistem pemerintahan, pewaris pemerintahan kenabian. Ini dikuatkan oleh sabda Rasul saw.:

    Dulu Bani Israel dipimpin dan diurus oleh para nabi. Jika para nabi itu telah wafat, mereka digantikan oleh nabi yang baru. Akan tetapi, setelahku tidak ada lagi seorang nabi, dan akan ada khalifah yang banyak. (HR al-Bukhari dan Muslim).3

    Pernyataan Rasul, “Akan tetapi, setelahku tidak ada lagi seorang nabi,” mengisyaratkan bahwa tugas dan jabatan kenabian tidak akan ada yang menggantikan beliau. Khalifah hanya menggantikan beliau dalam tugas dan jabatan politik, yaitu memimpin dan mengurusi umat.

    Dari kedua hadis di atas dapat kita pahami bahwa bentuk pemerintahan yang diwariskan Nabi saw. adalah Khilafah. Orang yang mengepalai pemerintahan atau yang memimpin dan mengurusi kaum Muslim itu disebut Khalifah.

    Sistem pemerintahan Khilafah ini yang diwajibkan Rasul saw. sebagai sistem pemerintahan bagi kaum Muslim. Sebab, dalam hadis riwayat al-Bazzar di atas, Khilafah dikaitkan dengan rahmat sebagaimana kenabian. Hal itu menjadi indikasi yang tegas (qarinah jazimah). Di samping itu, Rasul saw. juga bersabda:

    Siapa saja yang mati dalam keadaan tidak ada baiat (kepada Khalifah) di atas pundaknya, maka matinya mati Jahiliah. (HR Muslim).

    Hadis ini mengandung perintah untuk mewujudkan Khalifah yang dibaiat oleh kaum Muslim. Sebab, hanya dengan adanya Khalifah, akan terdapat baiat di atas pundak kaum Muslim. Adanya sifat jahiliah menunjukkan bahwa tuntutan perintah itu sifatnya tegas. Dengan demikian, mewujudkan Khalifah yang menduduki Khilafah hukumnya wajib.

    Ijma Sahabat juga menegaskan kewajiban tersebut. Para sahabat (termasuk keluarga Rasul: Ali, Ibn Abbas, Salman. dll) semuanya sepakat untuk menunda pelaksanaan kewajiban memakamkan jenazah Rasul saw. Mereka lebih menyibukkan diri untuk mengangkat pengganti Rasul dalam urusan kekuasaan dan pemerintahan. Lalu Abu Bakar terpilih dan dibaiat oleh kaum Muslim.

    Secara syar’i, pelaksanaan kewajiban hanya boleh ditunda jika berbenturan dengan pelaksanaan kewajiban yang menurut syariat lebih utama. Ini artinya para sahabat telah berijma bahwa mengangkat Khalifah adalah wajib dan lebih utama daripada memakamkan jenazah Rasul saw.

    Selanjutnya, mereka juga telah berijma’ untuk menyebut pengganti Rasul itu, yakni Abu Bakar, sebagai khalifah. Begitu juga para pengganti beliau setelah Abu Bakar ra.

    Dari semua itu dapat kita pahami bahwa Khilafah adalah bentuk sistem pemerintahan yang ditetapkan syariat sekaligus bentuk Daulah Islamiyah.

    Dengan demikian, Khilafah dapat kita definisikan sebagai kepemimpinan umum atas seluruh kaum Muslim di dunia untuk menerapkan hukum-hukum syariat dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Definisi inilah yang tepat.4

    Wallah a’lam bi ash-shawab. [Yahya A.]

    Catatan Kaki

    1 Lisan al-’Arab, Ibn al-Manzhur, I/882, 883, pasal Khalafa.

    2 Ma’atsir al-Inafah fi Ma’alam al-Khilafah, Qalqasyandi, I/8.

    3 Imam Muslim, Shahih, bab Imarah, hadis no. 3429; al-Bukhari, Shahih, bab Ahadits al-Anbiya’, hadis no. 3196. Keduanya bersumber dari Abû Hurayrah.

    4 Definisi inilah yang diadopsi oleh Hizbut Tahrir. Lihat: Nizham al-Hukm fi al-Islam, Qadhi an-Nabhani dan diperluas oleh Syaikh Abdul Qadim Zallum, Hizbut Tahrir, cet. VI (muktamadah). 2002 M/1422 H; Definisi ini juga yang diadopsi oleh Dr. Mahmud al-Khalidi dalam desertasinya setelah mendiskusikan berbagai pendapat para ulama dalam masalah ini, lihat, Qawa’id Nizham al-Hukm fi al-Islam, hlm. 226-230, Maktabah al-Muhtashib, cet II (mazidah wa munaqqahah). 1983

    ***

    hizbut-tahrir.or.id

     
    • cintakamuaa 1:06 am on 11 Februari 2017 Permalink

      asalamualaikum..
      tulisan nya bagus mb,izin save ya untuk di pelajari sistem pemerintahan zaman Khilafah & Khalifah ny ..terima kasih

  • erva kurniawan 1:33 am on 5 February 2017 Permalink | Balas  

    Memberi Nafkah Anak Dengan Nafkah Yang Baik 

    kerjaMemberi Nafkah Anak Dengan Nafkah Yang Baik

    Soal: Bagaimana hukum seorang anak yang tinggal bersama ortunya, makan, biaya pendidikan, dan semua biaya kehidupannyapun masih ditanggung oleh ortunya, padahal ortunya ini ada terlibat hutang di sebuah bank konvensional. Namun semua itu dilakukan oleh ortunya karena mereka tidak ingin anak mereka tertinggal, sedangkan untuk hutang ke yang lain, tidak memungkinkan, karena hutangnya lumayan besar.

    Jawab: Pada dasarnya, orang tua berkewajiban menafkahi orang-orang yang berada di bawah tanggungjawabnya, termasuk di dalamnya isteri dan anak-anak. Kewajiban orang tua menafkahi anak ditetapkan berdasarkan firman Allah SWT:

    “Dan kewajiban ayah memberikan makanan dan pakaian kepada ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak akan dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.” (Qs. al-Baqarah [2]: 233).

    Imam Ibnu al-’Arabi menyatakan, “Ayat ini merupakan dalil wajibnya seorang ayah menafkahi anak-anaknya. Sebab, mereka masih belum mampu dan lemah.” (Imam Ibnu al-’Arabi, Ahkâm al-Qur’an, juz I, hal. 274).

    Dalam kitab Shafâwt at-Tafâsîr, Ali ash-Shabuni menyatakan, “Makna ayat ini adalah, seorang ayah wajib memberikan nafkah dan pakaian kepada isterinya yang telah dicerai jika ia menyusui anak-anaknya.” (Ali ash-Shabuni, Shafâwt at-Tafâsîr, juz 1, hal. 150).

    Di dalam sunnah juga dituturkan mengenai kewajiban seorang ayah untuk menafkahi isteri dan anak-anaknya. Rasulullah Saw bersabda:

    “Ketahuilah bahwa, hak mereka atas kalian adalah supaya kalian berbuat baik kepada mereka dalam hal memberikan pakaian dan makanannya.” [HR. Tirmidzi].

    Dalam riwayat lain dituturkan, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:

    “Sedinar yang engkau infakkan di jalan Allah, sedinar yang engkau infakkan dalam pembebasan hamba, sedinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin dan sedinar yang engkau infakkan kepada keluargamu, maka yang lebih besar pahalanya adalah yang engkau infakkan kepada keluargamu.” [HR. Ahmad dan Muslim].

    Jika seorang anak (anak laki-laki) telah berusia baligh, maka ia diwajibkan menghidupi dan mengurusi dirinya sendiri. Sebab, ia telah menjadi seorang mukallaf yang diberi beban untuk melaksanakan seluruh perintah Allah secara mandiri, termasuk menafkahi dirinya sendiri. Akan tetapi, jika ia tidak mampu dan miskin, maka orang tua wajib memberi nafkah kepadanya.

    Adapun jika ia adalah anak perempuan; maka kewajiban memberi nafkah orang tua gugur, jika anak wanita tersebut telah menikah.

    Memberi Nafkah Yang Baik

    Namun demikian, seorang ayah wajib memberikan nafkah kepada anaknya dengan nafkah yang halal; yakni nafkah yang diperoleh dari jalan yang sesuai dengan tuntunan Allah SWT. Allah SWT telah berfirman:

    “Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah ni`mat Allah jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (Qs. al-Nahl [16]: 114).

    Imam al-Baghawi, dalam tafsir al-Baghawiy, menyatakan, “Menurut ‘Abdullah ibn al-Mubarak, yang dimaksud halal adalah semua rejeki yang diperoleh berdasarkan tuntunan Allah SWT.” (al-Baghawi, Tafsír al-Baghawiy, juz 2, hal. 59; lihat juga Imam asy-Syaukani, Fath al-Qadír, juz 2, hal. 70).

    Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:

    “Wahai manusia, sesungguhnya Allah tidak akan menerima sesuatu kecuali yang baik (thayyib), dan sesungguhnya Allah memerintahkan kaum mukmin sebagaimana halnya Ia memerintah para Rasul. Kemudian, Ia berfirman, ‘Wahai para Rasul, makanlah dari rejeki yang baik-baik, dan berbuat baiklah kalian. Sesungguhnya Aku Mengetahui apa yang engkau ketahui.’ Selanjutnya, beliau bercerita tentang seorang laki-laki yang berada di dalam perjalanan yang sangat panjang, hingga pakaiannya lusuh dan berdebu. Laki-laki itu lantas menengadahkan dua tangannya ke atas langit dan berdoa, ‘Ya Tuhanku, Ya Tuhanku…’, sementara itu makanan yang dimakannya adalah haram, minuman yang diminumnya adalah haram, dan pakaian yang dikenakannya adalah haram; dan ia diberi makanan dengan makanan-makanan yang haram. Lantas, bagaimana mungkin doanya dikabulkan?” [HR. Muslim].

    Al-Qadli berkata, “Hadits ini merupakan salah satu pilar agama Islam dan tonggak dari hukum-hukum Islam. Ada 40 hadits yang menjadi bagian tak terpisahkan dari hadits ini. Di dalam hadits ini ada perintah kepada kaum muslim untuk berinfak dengan yang rejeki halal, serta larangan untuk berinfak dengan rejeki yang haram. Hadits ini juga menerangkan, bahwa minuman, makanan, pakaian, dan lain-lain harus halal dan terjauh dari syubhat; dan siapa saja yang hendak berdoa hendaknya ia memenuhi syarat-syarat tersebut, dan menjauhi minuman, makanan, dan pakaian yang haram.”

    Imam al-Hafidz Abu al-’Ala al-Mubarakfuri, dalam Tuhfat al-Ahwadziy, menyatakan bahwa makna hadits ini adalah, Allah SWT suci dari noda, dan tidak akan menerima dan tidak boleh mendekatkan diri kepadaNya, kecuali sejalan dengan makna hadits tersebut.

    Dari seluruh uraian di atas, kita bisa menyimpulkan, bahwasanya seseorang tidak boleh memberi nafkah keluarganya dengan nafkah yang haram. Sebaliknya, seorang muslim dilarang menerima dan mengkonsumsi sesuatu yang diharamkan oleh Allah swt. Atas dasar itu, seorang anak yang sudah akil baligh mesti menolak nafkah dari orang tua jika ia tahu bahwa nafkah tersebut berasal dari jalan yang haram; misalnya hasil hutang yang mengandung riba. Ia harus berusaha dengan dirinya sendiri, dan menjauhi mengkonsumsi barang-barang yang diharamkan oleh Allah SWT. Sebab, keberkahan hidup seseorang sangat tergantung dari makanan yang dimakannya. Namun jika ia tidak tahu bahwa nafkah yang diberikan orang tua tersebut berasal dari usaha haram, maka hukumnya dimaafkan.

    Pada dasarnya, orang tua tidak boleh melibatkan diri dengan riba dengan alasan; kalau tidak pinjam di bank maka pendidikan anaknya akan ketinggalan, dan sebagainya. Jika ia tidak mampu menyekolahkan anaknya di pendidikan-pendidikan formal, ia bisa menempuh jalan lain dengan cara menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah yang murah dengan kualitas yang tidak rendah. Bisa juga ia mendidik anaknya untuk mandiri sejak kecil, hingga anak bisa menafkahi dirinya sendiri, dan berfikir secara mandiri. Masih banyak jalan yang bisa dilakukan agar anak tidak ketinggalan dalam pendidikannya. Yang jelas, orang tua tidak boleh menceburkan atau melibatkan dirinya dalam perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh syariat Islam. Jika orang tua menafkahi anaknya dengan jalan haram, sesungguhnya ia tidak sedang mencintai anaknya, akan tetapi justru menjerumuskan anaknya ke lembah ketidakberkahan.

    Wallahu A’lam bi al-Shawab.

    ***

    Syamsuddin – Ramadhan hayatulislam.net

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 4 February 2017 Permalink | Balas  

    Bila Maut Menjemput. 

    jenazah (1)Bila Maut Menjemput.

    “Kalau sekiranya kamu dapat melihat malaikat-malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka serta berkata, “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”. (niscaya kamu akan merasa sangat ngeri). (QS. Al-Anfal {8} : 50).

    “Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata), “Keluarkanlah nyawamu !” Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Alloh (perkataan) yang tidak benar dan kerena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya”. (Qs. Al- An’am : 93).

    “Sakitnya sakaratul maut itu, kira-kira tiga ratus kali sakitnya dipukul pedang”. (H.R. Ibnu Abu Dunya).

    Cara Malaikat Izrail mencabut nyawa tergantung dari amal perbuatan orang yang bersangkutan, bila orang yang akan meninggal dunia itu durhaka kepada Alloh, maka Malaikat Izrail mencabut nyawa secara kasar. Sebaliknya, bila terhadap orang yang soleh, cara mencabutnya dengan lemah lembut dan dengan hati-hati. Namun demikian peristiwa terpisahnya nyawa dengan raga tetap teramat menyakitkan.

    Di dalam kisah Nabi Idris a.s, beliau adalah seorang ahli ibadah, kuat mengerjakan sholat sampai puluhan raka’at dalam sehari semalam dan selalu berzikir di dalam kesibukannya sehari-hari. Catatan amal Nabi Idris a.s yang sedemikian banyak, setiap malam naik ke langit. Hal itulah yang sangat menarik perhatian Malaikat Maut, Izrail. Maka bermohonlah ia kepada Alloh Swt agar di perkenankan mengunjungi Nabi Idris a.s. di dunia. Alloh Swt, mengabulkan permohonan Malaikat Izrail, maka turunlah ia ke dunia dengan menjelma sebagai seorang lelaki tampan, dan bertamu kerumah Nabi Idris.

    “Assalamu’alaikum, yaa Nabi Alloh” . Salam Malaikat Izrail,  “Wa’alaikum salam wa rahmatulloh”. Jawab Nabi Idris a.s.

    Beliau sama sekali tidak mengetahui, bahwa lelaki yang bertamu ke rumahnya itu adalah Malaikat Izrail.

    Seperti tamu yang lain, Nabi Idris a.s. melayani Malaikat Izrail, dan ketika tiba saat berbuka puasa, Nabi Idris a.s. mengajaknya makan bersama, namun di tolak oleh Malaikat Izrail. Selesai berbuka puasa, seperti biasanya, Nabi Idris a.s mengkhususkan waktunya “menghadap”. Alloh sampai keesokan harinya. Semua itu tidak lepas dari perhatian Malaikat Izrail. Juga ketika Nabi Idris terus-menerus berzikir dalam melakukan kesibukan sehari-harinya, dan hanya berbicara yang baik-baik saja.

    Pada suatu hari yang cerah, Nabi Idris a.s mengajak jalan-jalan “tamunya” itu ke sebuah perkebunan di mana pohon-pohonnya sedang berbuah, ranum dan menggiurkan.

    “Izinkanlah saya memetik buah-buahan ini untuk kita”, pinta Malaikat Izrail (menguji Nabi Idris a.s).

    “Subhanalloh, (Maha Suci Alloh)”, kata Nabi Idris a.s.

    “Kenapa ?”, Malaikat Izrail pura-pura terkejut.

    “Buah-buahan ini bukan milik kita”. Ungkap Nabi Idris a.s.

    Kemudian Beliau berkata: “Semalam anda menolak makanan yang halal, kini anda menginginkan makanan yang haram”.

    Malaikat Izrail tidak menjawab.  Nabi Idris a.s perhatikan wajah tamunya yang tidak merasa bersalah.  Diam-diam beliau penasaran tentang tamu yang belum dikenalnya itu.  Siapakah gerangan?, pikir Nabi Idris a.s.

    “Siapakah engkau sebenarnya ?”, tanya Nabi Idris a.s. ”

    “Aku Malaikat Izrail”. Jawab Malaikat Izrail.

    Nabi Idris a.s terkejut, hampir tak percaya,  Seketika tubuhnya bergetar tak berdaya.

    “Apakah kedatanganmu untuk mencabut nyawaku ?”, selidik Nabi Idris a.s serius.

    “Tidak”, Senyum Malaikat Izrail penuh hormat.

    “Atas izin Alloh, aku sekedar berziarah kepadamu”. Jawab Malaikat Izrail.

    Nabi Idris manggut-manggut, beberapa lama kemudian beliau hanya terdiam.

    “Aku punya keinginan kepadamu”. Tutur Nabi Idris a.s

    “Apa itu ?, katakanlah !”. Jawab Malaikat Izrail.

    “Kumohon engkau bersedia mencabut nyawaku sekarang. Lalu mintalah kepada Alloh SWT untuk menghidupkanku kembali, agar bertambah rasa takutku kepada-Nya dan meningkatkan amal ibadahku”. Pinta Nabi Idris a.s.

    “Tanpa seizin Alloh, aku tak dapat melakukannya”, tolak Malaikat Izrail.

    Pada saat itu pula Alloh SWT memerintahkan Malaikat Izrail agar mengabulkan permintaan Nabi Idris a.s.  Dengan izin Alloh Malaikat Izrail segera mencabut nyawa Nabi Idris a.s. sesudah itu beliau wafat.

    Malaikat Izrail menangis, memohonlah ia kepada Alloh SWT agar menghidupkan Nabi Idris a.s. kembali.  Alloh mengabulkan permohonannya. Setelah dikabulkan Allah Nabi Idris a.s. hidup kembali.

    “Bagaimanakah rasa mati itu, sahabatku ?”, Tanya Malaikat Izrail.

    “Seribu kali lebih sakit dari binatang hidup dikuliti”. Jawab Nabi Idris a.s.

    “Caraku yang lemah lembut itu, baru kulakukan terhadapmu”. Kata Malaikat Izrail.

    Masya Alloh, lemah-lembutnya Malaikat Maut (Izrail) itu terhadap Nabi Idris a.s.  Bagaimanakah jika sakaratul maut itu, datang kepada kita ?. Siapkah kita untuk menghadapinya ?.

    ***

    Hikmah, Dahsyatnya Sakaratul Maut, Siapkah Kita Untuk Menghadapinya ?.

    Swaramuslim.net

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 3 February 2017 Permalink | Balas  

    Ada Sajadah Panjang Terbentang 

    sajadahAda Sajadah Panjang Terbentang

    Nadirsyah Hosen

    Lagu Bimbo dengan judul tersebut membuat saya merenung akan hubungan saya dengan Allah swt. Saya ingin tahu bagaimana sebenarnya posisi saya di sisi Tuhan. Seorang sufi berkata, “jika anda ingin tahu bagaimana posisi anda di sisi Tuhan, lihatlah di mana posisi Tuhan di hati anda!”

    Saya pun mencoba melihat ke dalam hati saya. Bisakah saya merasakan Tuhan hadir di hati saya? Entahlah,.. Saya memang bukan seorang sufi. Tapi saya percaya bahwa Tuhan semestinya hadir dalam semua perbuatan saya. Ketika saya sholat dan puasa, saya tahu Tuhan hadir dalam hati saya. Namun ketika saya berangkat kerja, ke luar dari rumah, saya tak bisa memastikan apakah masih saya bawa Tuhan dalam aktivitas saya.

    Apakah Tuhan hadir ketika saya disodori uang komisi oleh rekan sekantor? Apakah Tuhan hadir ketika saya selipkan selembar amplop agar urusan saya menjadi lancar? Apakah Tuhan juga hadir ketika saya ombang-ambingkan mereka yang datang ke kantor saya, terlempar dari satu meja ke meja yang lain.

    Lagu Bimbo tersebut mengingatkan saya bahwa hidup ini bagaikan sajadah panjang yang terbentang,dari buaian bunda sampai ke liang lahat. Seharusnya semua aktivitas yang saya lakukan di sajadah panjang ini membawa saya untuk selalu mengingat kehadiran-Nya.

    Mengapa Tuhan hanya saya bawa dan saya resapi kehadiran-Nya ketika saya berada di masjid, dan tiba-tiba Tuhan hilang ketika saya berada di luar masjid. Kalau saja lagu Bimbo tersebut saya terjemahkan ke dalam bahasa para khatib Jum’at: “Apapun aktivitas kita, seharusnya kita selalu ingat keberadaan Allah. Itulah makna dzikrullah; mengingat Allah; itu jugalah makna ibadah.”

    Kalau saya diperbolehkan menerjemahkan lagu Bimbo itu dengan bahasa al-Qur’an, saya teringat satu ayat suci, “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” Sayang, penafsiran saya akan kata ibadah masih terbatas pada ibadah ritual. Sayang sekali, sajadah saya tak panjang terbentang. Sajadah saya tak mampu masuk ke gedung-gedung pencakar langit, ke pusat perbelanjaan, ke tempat hiburan dan ke gedung sekolah.

    “Tak kulihat suatu benda, kecuali di ujungnya kulihat ada Tuhan!” Ah, ucapan sufi ini lagi-lagi

    membuat saya malu…Saya tahu bahwa bukan maksud sufi tersebut untuk mengatakan dia telah melihat Tuhan, tapi yang ingin dia ceritakan adalah Tuhan selalu hadir di sekelilingnya.

    Ada sajadah panjang terbentang….

     
  • erva kurniawan 1:02 am on 2 February 2017 Permalink | Balas  

    Aku Cermin, Engkaulah “Mentari” 

    cermin1Aku Cermin, Engkaulah “Mentari”

    Oleh : Nadirsyah Hosen

    Suhrawardi, sufi yang dikenal sebagai Syaikh al-Isyraq dan mati terbunuh oleh penguasa zalim, pernah membuat perumpamaan tentang cermin dan matahari. Ketika cermin dihadapkan kepada matahari maka sinar matahari akan diserap oleh cermin itu dan dipantulkannya kembali. Andaikan cermin mampu melihat ke dalam dirinya, ia akan terkejut dan mengira bahwa dirinya-lah matahari itu karena betapa kuatnya cahaya mentari tersebut.

    Manusia dalam cerita Suhrawardi di atas digambarkan sebagai cermin sedangkan Allah diumpamakan sebagai matahari. Ketika manusia mampu mensucikan dirinya dan membersihkannya sedemikian rupa, maka ia layak diserupakan dengan cermin. Ketika ia menjumpai “tanda-tanda kekuasaan ilahi”, ia menerima cahaya ilahi yang dipancarkan sedemikian kuatnya ke dalam dirinya. Ia serap cahaya ilahi itu lalu ia pantulkan kembali.

    Manakala kita mampu menyerap dan memantulkan kembali cahaya ilahi itu, hidup kita akan terus diterangi oleh cahaya ilahi. Orang yang sudah mencapai tahap itu akan menebarkan berkah pada setiap sudut yang menerima pantulan cahaya ilahi dari “cermin”-nya. Ia mampu sebarkan rahmat disekelilingnya.

    Nabi Muhammad adalah contoh terbaik dari perumpamaan di atas. Cahaya ilahi yang diserap Nabi Muhammad SAW dipantulkannya ke seluruh alam semesta. Oleh karena itu, kehadiran Nabi Muhammad mampu menebarkan rahmat ke seluruh alam semesta (rahmatan lil ‘alamin).

    Perhatikan orang disekeliling kita. Bukankah ada orang yang bila kita pandang wajahnya, keteduhan dan kedamaian-lah yang kita peroleh. Ketika kita mendegar suaranya, kita bagaikan mendengar “nyanyian dari surga”; indah dan menyejukkan. Ketika ia memandang kita, sorot matanya mampu memecahkan kegalauan di hati kita.Ketika ia tersenyum seakan dunia ini begitu indah untuk didiami. Pendek kata, kehadiran orang tersebut telah membawa berkah untuk lingkungan sekitarnya.

    Sebaliknya, pernahkah kita menjumpai seseorang yang meskipun tampan ataupun cantik, namun mata enggan berlama-lama menatapnya. Ketika ia bicara, meskipun dengan retorika yang luar biasa memikatnya, kita bisa merasakan bahwa ia sebenarnya sedang membual. Ketika ia tersenyum, kita melihat ada seberkas kepalsuan dibalik senyum itu. Setiap ia datang di suatu tempat, ia sebarkan kerusakan dan kekacauan. Ia masuk organisasi, tak lama kemudian organisasi itu mengalami konflik. Ia bertamu ke satu rumah, tak lama setelah ia pergi, rumah tangga itu menjadi berantakan. Ia menjadi pengurus masjid, namun alih-alih masjid menjadi tempat beribadah, berkat kehadirannya, masjid menjadi tempat bergossip ria. Pendek kata, kemana ia melangkah, berkah dan rahmat menjauh darinya.

    Orang pertama adalah mereka yang mampu membersihkan cermin hatinya sehingga mampu menyerap cahaya ilahi. Sebaliknya, orang yang kedua tak pernah mensucikan cermin hatinya. Cerminnya kusam dan gelap; tertutup oleh debu dan kotoran. Walaupun ia menjumpai banyak tanda-tanda kekuasaan Allah di bumi ini, cermin hatinya tetap tak mampu menyerap cahaya ilahi apalagi memantulkannya.

    Abu Sa’id Abu al-Khair, sufi besar abad 10 dan 11 dari Maihana, menasehati muridnya: “Selama egomu menyertaimu, engkau tak akan mengenal Allah, sebab, ego tidak menyukai manusia sempurna (insan al-kamil)”

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 1 February 2017 Permalink | Balas  

    Hikmah Pengharaman Babi 

    haram babiHikmah Pengharaman Babi

    Oleh: Fauzi Muhammad Abu Zaid

    Hal ini penting untuk diketahui, terutama oleh pemuda-pemuda kita yang sering pergi ke negara-negara Eropa dan Amerika, yang menjadikan daging babi sebagai makanan pokok dalam hidangan mereka.

    Dalam kesempatan ini, saya sitir kembali kejadian yang berlangsung ketika Imam Muhammad Abduh mengunjungi Perancis. Mereka bertanya kepadanya mengenai rahasia diharamkannya babi dalam Islam. Mereka bertanya kepada Imam, “Kalian (umat Islam) mengatakan bahwa babi haram. Antara lain karena ia memakan sampah yang mengandung cacing pita, mikroba-mikroba dan bakteri-bakteri lainnya. Hal itu sekarang ini sudah tidak ada. Babi diternak dalam peternakan modern, dengan kebersihan terjamin, dan proses sterilisasi yang mencukupi. Bagaimana mungkin babi-babi itu terjangkit cacing pita atau bakteri dan mikroba lainnya.?”

    Imam Muhammad Abduh tidak langsung menjawab pertanyaan itu, dan dengan kecerdikannya beliau meminta mereka untuk menghadirkan dua ekor ayam jantan beserta satu ayam betina, dan dua ekor babi jantan beserta satu babi betina.

    Mengetahui hal itu, mereka bertanya, “Untuk apa semua ini?” Beliau menjawab, “Penuhi apa yang saya pinta, maka akan saya perlihatkan suatu rahasia.”

    Mereka memenuhi apa yang beliau pinta. Kemudian beliau memerintahkan agar melepas dua ekor ayam jantan bersama satu ekor ayam betina dalam satu kandang. Kedua ayam jantan itu berkelahi dan saling membunuh, untuk mendapatkan ayam betina bagi dirinya sendiri, hingga salah satu dari keduanya hampir tewas. Beliau lalu memerintahkan agar mengurung kedua ayam tersebut.

    Kemudian beliau memerintahkan mereka untuk melepas dua ekor babi jantan bersama dengan satu babi betina. Kali ini mereka menyaksikan keanehan. Babi jantan yang satu membantu temannya sesama jantan untuk melaksanakan hajat seksualnya, tanpa rasa cemburu, tanpa harga diri atau keinginan untuk menjaga babi betina dari temannya.

    Selanjutnya beliau berkata, “Saudara-saudara, daging babi membunuh ‘ghirah’ orang yang memakannya. Itulah yang terjadi pada kalian. Seorang lelaki dari kalian melihat isterinya bersama lelaki lain, dan membiarkannya tanpa rasa cemburu, dan seorang bapak di antara kalian melihat anak perempuannya bersama lelaki asing, dan kalian membiarkannya tanpa rasa cemburu, dan was-was, karena daging babi itu menularkan sifat-sifatnya pada orang yang memakannya.”

    Kemudian beliau memberikan contoh yang baik sekali dalam syariat Islam. Yaitu Islam mengharamkan beberapa jenis ternak dan unggas yang berkeliaran di sekitar kita, yang memakan kotorannya sendiri. Syariah memerintahkan bagi orang yang ingin menyembelih ayam, bebek atau angsa yang memakan kotorannya sendiri agar mengurungnya selama tiga hari, memberinya makan dan memperhatikan apa yang dikonsumsi oleh hewan itu. Hingga perutnya bersih dari kotoran-kotoran yang mengandung bakteri dan mikroba. Karena penyakit ini akan berpindah kepada manusia, tanpa diketahui dan dirasakan oleh orang yang memakannya.

    Itulah hukum Allah, seperti itulah hikmah Allah. Ilmu pengetahuan modern telah mengungkapkan banyak penyakit yang disebabkan mengkonsumsi daging babi. Sebagian darinya disebutkan oleh Dr. Murad Hoffman, seorang Muslim Jerman, dalam bukunya: “Pergolakan Pemikiran: Catatan Harian Muslim Jerman”, halaman 130-131:

    “Memakan daging babi yang terjangkit cacing babi tidak hanya berbahaya, tetapi juga dapat menyebabkan meningkatnya kandungan kolestrol dan memperlambat proses penguraian protein dalam tubuh, yang mengakibatkan kemungkinan terserang kanker usus, iritasi kulit, eksim, dan rematik. Bukankah sudah kita ketahui, virus-virus influenza yang berbahaya hidup dan berkembang pada musim panas karena medium babi?”

    Dr. Muhammad Abdul Khair, dalam bukunya Ijtihdt fi at Tafsr al Qur’an al Karm, halaman 112, menyebutkan beberapa penyakit yang disebabkan oleh daging babi: “Daging babi mengandung benih-benih cacing pita dan cacing trachenea lolipia. Cacing-cacing ini akan berpindah kepada manusia yang mengkonsumsi daging babi tersebut. Patut dicatat, hingga saat ini, generasi babi belum terbebaskan dari cacing-cacing ini. Penyakit lain yang ditularkan oleh daging babi banyak sekali, di antaranya:

    1. Kolera babi. Yaitu penyakit berbahaya yang disebabkan oleh virus;
    2. Keguguran anak, yang disebabkan oleh bakteri prosillia babi.
    3. Kulit kemerahan, yang ganas dan menahun. Yang pertama bisa menyebabkan kematian dalam beberapa kasus, dan yang kedua menyebabkan gangguan persendian.
    4. Penyakit pengelupasan kulit. Benalu eskares, yang berbahaya bagi manusia.

    Fakta-fakta berikut cukup membuat seseorang untuk segera menjauhi babi.

    Babi adalah hewan yang kerakusannya dalam makan tidak tertandingi hewan lain. Ia makan semua makanan di depannya. Jika perutnya telah penuh atau makanannya telah habis, ia akan memuntahkan isi perutnya dan memakannya lagi, untuk memuaskan kerakusannya. Ia tidak akan berhenti makan, bahkan memakan muntahannya. Ia memakan semua yang bisa dimakan di hadapannya. Memakan kotoran apa pun di depannya, entah kotoran manusia, hewan atau tumbuhan, bahkan memakan kotorannya sendiri, hingga tidak ada lagi yang bisa dimakan di hadapannya.

    Ia mengencingi kotoranya dan memakannya jika berada di hadapannya, kemudian memakannya kembali. Ia memakan sampah, busuk-busukan, dan kotoran hewan. Ia adalah hewan mamalia satu-satunya yang memakan tanah, memakannya dalam jumlah besar dan dalam waktu lama, jika dibiarkan. Kulit orang yang memakan babi akan mengeluarkan bau yang tidak sedap. Penelitian ilmiah modern di dua negara Timur dan Barat, yaitu Cina dan Swedia – Cina mayoritas penduduknya penyembah berhala, sedangkan Swedia mayoritas penduduknya sekular-menyatakan: daging babi merupakan penyebab utama kanker anus dan kolon.

    Persentase penderita penyakit ini di negara-negara yang penduduknya memakan babi, meningkat secara drastis. Terutama di negara-negara Eropa, dan Amerika, serta di negara-negara Asia (seperti Cina dan India). Sementara di negara-negara Islam, persentasenya amat rendah, sekitar 1/1000. Hasil penelitian ini dipublikasikan pada 1986, dalam Konferensi Tahunan Sedunia tentang Penyakit Alat Pencernaan, yang diadakan di Sao Paulo.

    Kini kita tahu betapa besar hikmah Allah mengharamkan daging dan lemak babi. Untuk diketahui bersama, pengharaman tersebut tidak hanya daging babi saja, namun juga semua makanan yang diproses dengan lemak babi, seperti beberapa jenis permen dan coklat, juga beberapa jenis roti yang bagian atasnya disiram dengan lemak babi. Kesimpulannya, semua hal yang menggunakan lemak hewan hendaknya diperhatikan sebelum disantap. Kita tidak memakannya kecuali setelah yakin bahwa makanan itu tidak

    mengandung lemak atau minyak babi, sehingga kita tidak terjatuh ke dalam kemaksiatan terhadap Allah SWT, dan tidak terkena bahaya-bahaya yang melatar belakangi Allah SWT mengharamkan daging dan lemak babi.

    • * *

    Dari buku, Hidangan Islami: Ulasan Komprehensif Berdasarkan Syari`at dan Sains Modern

    Penulis: Syeikh Fauzi Muhammad Abu Zaid

    Penerjemah: Abdul Hayyie al Kattani, Cet : I/1997

    Penerbit: Gema Insani Press

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 31 January 2017 Permalink | Balas  

    Meneladani Rasulullah saw. 

    nabi-muhammad-rasulullah-sawMeneladani Rasulullah saw.

    Oleh : Yahya Abdurrahman

    Pengantar Redaksi:

    Mengikuti (al-ittiba’) dan meneladani (at-ta’asi) Rasul saw. sangat penting agar umat tidak tersesat. Maknanya, umat harus mengikuti dan meneladani perkataan, perbuatan dan persetujuan Rasul saw. Agar bisa meneladani Rasul saw. secara sempurna dan tidak terpelanting menyalahi syariat, kaidah-kaidahnya perlu dipahami. Kaidah—terutama untuk perbuatan Rasul saw.—secara singkat dibahas dalam buku pertama rangkaian pembinaan Hizbut Tahrir, yakni Nizham al-Islam, halaman. 80-81 (edisi mu’tamadah). Pembahasan ini termasuk pembahasan ushul. Penjelasan lebih detail dapat kita jumpai dalam buku as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, jilid III halaman. 84-96. Pembahasan masalah ini juga banyak bertebaran dalam buku-buku Ushûl al-Fiqh karya para ulama salaf maupun khalaf. Berikut paparannya.

    Seluruh elemen umat sepakat bahwa as-Sunnah merupakan dalil syariat. As-Sunnah diartikan sebagai semua yang bersumber dari Nabi saw.—selain al-Quran—baik berupa perkataan, perbuatan maupun taqrir (diam/ persetujuan) beliau.

    As-Sunah merupakan hujah yang harus diikuti sesuai dengan ketentuan yang diberikan. Allah Swt. berfirman;

    Katakanlah, “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Ali ‘Imran [3]: 31).

    Wajibnya Ittiba’ kepada Rasul saw. ini dinyatakan secara umum, artinya mencakup semua yang keluar dari beliau baik berupa perkataan, perbuatan, maupun diam (persetujuan)-nya beliau.

    Seruan beliau berupa takhyir (pilihan) antara melakukan atau meninggalkan jelas status hukumnya mubah. Seruan berupa perintah (tuntutan untuk melaksanakan) atau larangan (tuntutan untuk meninggalkan) harus dikaitkan dengan qarinah-nya untuk mengetahui tegas dan tidaknya tuntutan itu, yakni apakah perintah itu bersifat tegas sehingga wajib dilaksanakan atau tidak tegas sehingga hukumnya sunah saja; juga apakah larangan beliau itu bersifat tegas sehingga hukumnya haram atau tidak tegas sehingga hukumnya makruh.

    Persetujuan (taqrir) beliau adalah terjadi ketika sahabat melakukan sesuatu di hadapan beliau atau tidak di hadapan beliau tetapi diketahui/sepengetahuan beliau, lalu beliau diam saja. Itu berarti, apa yang dilakukan sahabat itu hukumnya mubah.

    Meneladani Perbuatan Rasul saw.

    Para ulama lebih sering menyebut ittiba’ kepada Rasul saw. dengan istilah meneladani perbuatan Rasul saw. (at-ta’asi bi af’al ar-Rasûl).

    Meneladani Rasul saw. adalah wajib, tentu sesuai dengan ketentuan hukumnya; apakah wajib, sunnah, haram, makruh, atau mubah. Shalat lima waktu, misalnya, wajib, ya kita ikuti sebagai sebuah kewajiban; shalat malam (tahajud) sunnah, ya kita laksanakan sebagai sunnah; meminum khamar haram, ya kita teladani sebagai sebuah keharaman; dst.

    Jadi, meneladani perbuatan Rasul saw. berarti melakukan perbuatan persis dengan perbuatan beliau (bi mitsli fi’lihi, di atas niat atau maksudnya (‘ala wajhihi), dan karena perbuatan beliau (min ajli fi’lihi).1 Meneladani perbuatan Rasul saw. harus memenuhi tiga batasan ini. Jika tidak maka tidak terkategori sebagai peneladanan.2

    1. Bi mitsli fi’lihi (persis dengan perbuatan Nabi saw.)

    Maksudnya, perbuatan itu harus sama persis dengan potret perbuatan Nabi saw.; jika berbeda maka itu bukan peneladanan. Misal, membasuh muka sebanyak tiga kali dalam berwudhu. ‘Amru bin Syu’aib menceritakan, bahwa seorang Arab baduwi datang kepada Nabi saw. dan bertanya mengenai berwudhu, lalu ia melihat Rasul saw. berwudhu dengan tiga kali, tiga kali; kemudian Rasul saw. bersabda:

    Inilah tatacara berwudhu. Siapa saja yang menambah ini maka ia telah berbuat buruk, melampaui batas, dan zalim (HR Ahmad, an-Nasa’i, dan Ibn Majah).

    Contoh lainnya adalah ketidakbolehan memungut zakat profesi, zakat atas rumah, zakat atas mobil, dll. Sebab, al-Hasan berkata:

    Nabi saw. tidak mewajibkan zakat kecuali pada sepuluh (jenis harta): gandum, jewawut, kurma, kismis, sorghum, unta, sapi, kambing, emas, dan perak. (HR al-Baihaqi).

    1. ‘Ala Wajhihi.

    Maknanya, melaksanakan perbuatan sesuai dengan maksud, tujuan, atau niat Rasul melakukan perbuatan itu. Artinya, meneladani perbuatan Rasul saw. dari sisi apakah perbuatan itu wajib, sunnah atau mubah. Sebab, suatu perbuatan yang dilakukan persis seperti perbuatan Nabi saw., namun berbeda niatnya, tidak bisa disebut peneladanan. Misal, Rasul shalat dengan niat sunnah, lalu kita melakukan persis seperti shalat Rasul itu dengan niat wajib, maka itu bukan meneladani, tetapi menyalahi beliau.

    1. Min ajli fi’li-hi.

    Artinya, perbuatan itu dilaksanakan karena Rasul melakukan perbuatan tersebut. Dengan kata lain, perbuatan itu dilakukan dengan alasan mencontoh Rasul saw. Jika dua perbuatan dilakukan persis sama dan dengan niat yang sama pula, namun bukan dimaksudkan untuk mencontoh satu sama lain, maka hal itu bukan peneladanan.

    Waktu dan tempat Rasul melakukan suatu perbuatan secara umum tidak masuk dalam bagian yang harus diteladani, sekalipun berulang-ulang; kecuali jika terdapat nash yang menunjukkan pengkhususan suatu aktivitas ibadah pada tempat dan atau waktu tertentu—jika demikian maka tempat dan waktu itu menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas yang harus kita teladani. Hal ini seperti dikhususkannya shalat dan puasa pada waktu-waktunya, haji dengan segala manasiknya di Makkah dan pada waktu tertentu, dsb.

    Ketentuan ini dilihat dari sisi kewajiban mengikuti dan meneladani (al-ittiba’ wa at-ta’asi) Rasul saw. Sedangkan dari sisi melakukan perbuatan yang dilakukan Rasul saw. (al-qiyam bi al-fi’li), ketentuannya adalah sebagai berikut:3

    Pertama, perbuatan Jibiliyyah, yakni perbuatan Rasul yang beliau lakukan sebagaimana biasanya manusia. Perbuatan itu merupakan karakter alamiah manusia, baik Rasul maupun bukan; seperti berdiri, duduk, makan, minum, berjalan, tidur, dan sebagainya. Perbuatan seperti ini mubah, baik bagi Rasul maupun bagi umatnya.

    Kedua, perbuatan yang ditetapkan nash sebagai kekhususan bagi Rasul (khawwash ar-Rasûl). Contohnya seperti puasa wishal (puasa terus-menerus), menikahi wanita lebih dari empat orang, dsb. Perbuatan itu hanya khusus bagi Rasul dan kita haram melakukannya.

    Ketiga, perbuatan Rasul yang merupakan penjelasan (bayan) atas seruan terdahulu. Perbuatan ini tanpa diperselisihkan menjadi dalil yang harus kita ikuti. Status hukum perbuatan ini mengikuti status seruan yang dijelaskan (al-mubayyan). Jika yang dijelaskan wajib, maka hukum perbuatan itu wajib. Jika yang dijelaskan sunnah maka sunnah melakukannya. Jika yang dijelaskan mubah maka mubah pula melakukannya.

    Penjelasan (bayan) itu bisa dengan perkataan secara jelas (sharih al-maqal). Bayan seruan wajib contohnya sabda Rasul saw.:

    Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat (HR al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

    Contohlahlah dariku tatacara haji kalian. (HR Muslim dan an-Nasa’i).

    Bayan seruan sunnah adalah seperti penjelasan Rasul tentang berkurban. Abu Bardah bercerita, Rasul saw. pernah berkhutbah kepada kami:

    Siapa yang shalat dengan shalat kami, menghadapkan wajahnya ke kiblat kami, dan berhaji dengan ibadah haji kami, maka hendaknya ia tidak menyembelih (kurban) hingga ia shalat (‘Id Adha) (HR Muslim).

    Jabir bin Abdullah berkata:

    Kami berkurban bersama Nabi pada tahun Perjanjian Hudaibiyah seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang. (HR Muslim, Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

    Bayan atas seruan sunnah, misalnya, penjelasan tentang memakai cincin. Sesungguhnya Nabi saw. memakai cincin yang terbuat dari perak yang diukir di atasnya. (HR al-Bukhari dan Abu Dawud). Rasulullah saw. memakai cincin di tangan kanannya. (HR al-Bukhari, Ahmad, an-Nasa’i, at-Tirmidzi, dan Ibn Majah).

    Bisa juga bayan itu disampaikan sebagai qara’in ahwal (indikasi dalam bentuk perbuatan tertentu). Misal, ketika ada ungkapan mujmal atau umum yang hendak di-takhshish (dikhususkan) atau ungkapan mutlaq yang hendak di-taqyid (dibatasi), namun belum di-takhsis atau di-taqyid oleh Rasul, lalu saat dibutuhkan, Rasul saw. melakukan suatu perbuatan yang layak dijadikan bayan. Contoh, Rasul memotong tangan pencuri sampai pergelangan tangan sebagai penjelasan QS al-Maidah (5) ayat 38; pelaksanaan hukuman rajam merupakan bayan atas had zina; tayamum dengan mengusap muka dan tangan sampai siku sebagai penjelasan QS an-Nisa’ (4) ayat 43.

    Keempat, selain ketiga jenis di atas (bukan jibiliyyah, bukan khawwash ar-rasûl, dan bukan bayan seruan terdahulu), maka kemungkinan hukumnya bisa wajib, sunnah, atau mubah. Perbuatan Rasul itu semata-mata menunjukkan adanya thalab al-fi’li (tuntutan agar dilaksanakan). Ia membutuhkan qarinah (indikator) yang akan menentukan apakah tuntutan itu bersifat pasti (wajib), tidak pasti (sunnah) ataukah berupa pilihan (mubah). Berikut contoh untuk ketiga hukum tersebut:

    Pertama, jika dalam perbuatan itu tampak adanya maksud taqarrub kepada Allah maka hukumnya sunah. Sebab, adanya maksud taqarrub jelas menunjukkan bahwa melaksanakan lebih dikuatkan dari meninggalkan. Hanya saja, penguatan itu tidak bersifat pasti. Jadi, hukumnya sunnah. Contohnya membaca doa qunut pada shalat subuh. Beliau melakukannya selama sebulan lalu meninggalkannya. Karena mengandung maksud taqarrub kepada Allah, maka itu menunjukkan bahwa melakukannya lebih dikuatkan, sehingga hukumnya sunnah.4

    Kedua, jika Rasul melakukan suatu perbuatan, lalu dalam kesempatan lain meninggalkannya, dan di dalamnya tidak terdapat maksud taqarrub, maka perbuatan itu hukumnya mubah. Contohnya berdiri ketika ada jenazah lewat. Diriwayatkan bahwa jenazah lewat di depan Ibn ‘Abbas dan al-Hasan, lalu salah satu berdiri dan yang lain tetap duduk. Yang berdiri berkata kepada yang duduk, “Bukankah Rasul saw. telah berdiri (ketika jenazah lewat)?” Yang duduk menjawab, “Benar, tetapi beliau juga pernah tetap duduk.”5

    Rasul saw. mengadakan jamuan makan dan mengundang kerabat beliau sebagai cara untuk mengumpulkan dan mendakwahi mereka. Lalu beliau tidak melakukannya lagi. Karena itu, mengundang jamuan makan itu sebagai cara dakwah hukumnya mubah, yang dalam istilah fiqh ad-da’wah disebut uslûb.

    Ketiga, jika Rasul saw. melakukan perbuatan secara kontinu, dan beliau tetap melakukannya meskipun mendapat kesulitan, maka hukum perbuatan itu adalah wajib. Misalnya, tatsqif (pembinaan) bagi sebuah jamaah dakwah. Sebab, Rasul saw. melaksanakan tatsqif sepanjang hidup dan tidak pernah meninggalkannya. Contoh lain, aktivitas shira’ al-fikr (pergolakan pemikiran) adalah wajib, karena Rasul saw. mencela akidah kafir Quraisy; mencela sesembahan mereka; mencela, memburukkan, dan membatilkan sistem kehidupan mereka. Beliau (juga para sahabat) tetap melakukan semua itu meski mendapatkan kesulitan bahkan siksaan fisik. Begitu juga kifah as-siyasiy (perjuangan politik) membongkar kezaliman penguasa dan strategi musuh-musuh Islam. Thalab an-nushrah juga hukumnya wajib, karena Rasul terus melakukannya dengan mendatangi sekitar 19 kabilah. Semua menolak bahkan secara buruk seperti Bani Tsaqif di Thaif, Bani Hamdan dan Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah; dan hanya kaum Anshar yang menjawabnya. Wallah

    a’lam bi ash-shawab. d

    Catatan Kaki

    1 Qadhi Taqiyyuddin an-Nabhani, as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, III/93.

    2 Lihat, Pernyataan Al-Kamal bin al-Humam (790 –861 H/1388 – 1457 M), di antara ulama mazhab Hanafi, dalam at-Taqrir wa at-tahbir, 2/404, Dar al-Fikr, Beirut, cet. I. 1996; Muhammad bin ali bin at-Thayib al-Bashri, Abu al-Husayn (w 436 H), Al-Mu’tamad fi Ushûl al-Fiqh, I/343-345, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, cet. I. 1403 H; Imam al-Amidi (551-631 H), di antara ulama mazhab Syafi’i, Al-Ihkam fi Ushûl al-Ahkam, juz I hal. 226, Dar al-Kitab al-’Arabi, Beirut. Cet. I. 1404 H.

    3 Lihat: al-Qadhi an-Nabhani, as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, III/84-88; Imam al-Amidi, al-Ihkam, I/226-seterusnya; Syaikh ‘Atha’ ibn Khalil, Taysir al-Wushûl ila al-Ushûl, hlm. 75-76, Dar al-Umamh, cet. III (mazid wa munaqqahah), Beirut. 2000; Hafizh Abdurrahman, Ushul Fih Membangun Paradigma Berpikir Tasyri’iy, hlm. 87-89; al-Azhar Press. 2003.

    4 Lihat: HR. Bukhari, hadis no. 3781; Muslim, hadis no. 1087, 1088; Abu Dawud, hadis no. 1233; dll.

    5 HR at-Thabrani dalam Mu’jam al-Awsath. Hadis no. 2490.

    hizbut-tahrir.or.id

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 30 January 2017 Permalink | Balas  

    Bolehkah Menghadiri Upacara Pemakaman Mayat Orang Non-Islam ? (2/2) 

    takziahBolehkah Menghadiri Upacara Pemakaman Mayat Orang Non-Islam ? (2/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaa

    Memasuki Gereja

    Gereja ialah sebuah bangunan tempat beribadat penganut Kristian. Gereja disebut pelbagai nama mengikut saiz dan penggunaannya. Jikalau gereja kecil dan penggunaannya dikhaskan ia disebut chapel. Tetapi terdapat juga istilah umum yang digunakan untuk gereja yaitu disebut church. Abbey pada asalnya bermakna asrama paderi-paderi tetapi kini telah diperluaskan penggunaannya hingga lebih membawa arti gereja besar. Biasanya bahagian utama gereja berbentuk salib. Gerbang gereja pada mulanya berbentuk bulat, tetapi kemudiannya tirus ke atas bagi melambangkan keteguhan dan keagungan. (Ensiklopedia Malaysiana: 5/109-110)

    Jika berlaku kematian, biasanya mayat orang kafir (Kristian) dibawa ke dalam gereja bagi menjalankan upacara khas keagamaan dan ia adalah menjadi salah satu syi’ar atau tanda khusus bagi agama mereka. Cara seperti ini tidak ada di dalam Islam dan bagi orang Islam sendiri tidak dibenarkan turut bersama mengikuti atau menyertai acara keagamaan mereka itu.

    Menurut sesetengah kitab yang menghuraikan hukum-hukum yang berkaitan dengan orang kafir zimmi ada menyebutkan bahwa gereja-gereja mereka itu adalah tempat-tempat laknat, kemarahan dan kemurkaan turun kepada mereka di dalamnya sebagaimana dikatakan oleh sebahagaian sahabat: “Jauhi oleh kamu akan orang-orang Yahudi dan Nashrani di hari-hari kebesaran mereka karena kemurkaan turun kepada mereka pada hari-hari itu”. Selain daripada itu, gereja itu termasuk di antara rumah (tempat) musuh-musuh Allah, rumah musuhNya pula adalah tidak layak dijadikan tempat beribadat kepadaNya. (Ibn Qayyim Al-Jauziah, Ahklam Ahl Zimmah, 3:1230-1231)

    Apabila demikian halnya gereja itu, maka tidak elok bagi seseorang Muslim memasukinya tanpa sebab-sebab tertentu, sebagaimana dicatatkan dalam sejarah pembukaan Bait Al-Muqaddas bahwa Sayyidina Umar Radhiallahu ‘anhu pernah memasuki gereja Al-Qummamah (Al-Qiyamah) dan sempat duduk di dalamnya dan apabila tiba waktu sembahyang beliau keluar. Tindakan Sayyidina Umar ini lebih banyak bermotifkan politik Islamiyah yang pada masa itu di mana agama Islam baru mula bertapak di kawasan Bait Al-Muqaddas dan Umar sendiri memasukinya bukan karena sukakan atau cenderung kepada gereja atau ajaran mereka. (Muhammad Redha, Al-Faruq: Umar bin Al-Khattab: 208)

    Syarat-Syarat Memasuki Gereja

    Menurut ulama Syafi’e hukum memasuki gereja itu dibolehkan dengan beberapa syarat. Antara syarat-syarat itu ada kebenaran daripada pihak gereja dan di dalam gereja itu pula tidak terdapat gambar atau patung-patung yang dimuliakan seperti gambar atau patung yang disangkakan orang Nashrani sebagai gambar atau patung Nabi Isa ‘Alaihishshalatu wasallam, atau Sayyidatina Maryam dan lain-lain.

    Jika syarat-syarat ini tidak terpenuhi, maka tidak harus memasukinya (haram) masuk gereja disebabkan ada gambar-gambar atau patung yang dihormati oleh mereka yang diletakkan dalam gereja itu.

    Dalam hal ini Ibnu Hajar dan Imam Ali Al-Syibramalisi Rahimahullah menyebutkan bahwa tidak harus memasuki gereja kecuali dengan ada izin kebenaran daripada mereka dan di dalamnya tidak terdapat gambar-gambar yang dimuliakan. (Tuhfah Al-Muhtaj: 9/295 & Hasyiah Nihayah Al-Muhtaj: 8/99)

    Termasuk juga syarat itu hendaklah masuknya itu tidak membawa kesan cenderung atau mengiktiraf kepada ajaran gereja atau akan membawa dia mempersendakan Islam bersama-sama orang kafir sehingga boleh merusakkan aqidahnya. (Fatwa Abdul Halim Mahmud: 198)

    Berasaskan kepada huraian di atas, adalah dibolehkan mengikuti serta menyertai jenazah orang kafir dari tempat kediaman asalnya sehingga sampai ke tempat pengkebumiaannya, termasuk ke gereja yang sunyi daripada gambar-gambar dan patung yang disebutkan.

    Walau bagaimanapun perlu diingat bahwa orang Islam adalah haram menghadiri atau menyertai mana-mana acara peribadatan atau acara khas keagamaan agama yang lain, sama ada ia dilakukan di gereja, di kuil, rumah atau di mana-mana tempat sekalipun.

    Dengan demikian perkara orang Islam datang ke gereja untuk hanya sekadar memberi takziah dan simpati kepada keluarga terdekat atau teman rapat adalah harus, yaitu selama tidak menyertai acara khusus keagamaan mereka dan di tempat itu tidak ada gambar-gambar atau patung yang mereka muliakan.

    wallohu a’lam bis-showab

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 29 January 2017 Permalink | Balas  

    Bolehkah Menghadiri Upacara Pemakaman Mayat Orang Non Islam (1/2) 

    takziahBolehkah Menghadiri Upacara Pemakaman Mayat Orang Non Islam (1/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaa

    Agama Islam sangat tegas dan keras dalam soal mempertahankan akidah Islamiyah, namun ia juga amat berlembut dan toleran dalam perkara-perkara tertentu seperti soal sosial dan kemasyarakatan yang melibatkan bagaimana mengatur di antara orang Islam dengan orang yang bukan Islam selama mana hubungan itu tidak menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal, lebih-lebih lagi tidak ada yang boleh menjejaskan atau merusakkan akidah orang Islam.

    Berbuat baik dan berlaku adil kepada semua orang adalah salah satu prinsip Islam. Karena Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam itu diutus oleh Allah Ta’ala bagi seluruh alam sebagai rahmat dan nikmat yang besar. Sesiapa yang beriman dan menurut syari’at Islam yang disampaikannya, selamatlah dia, dan sesiapa yang kufur ingkar, celakalah dia di dunia dan di akhirat, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    Tafsirnya: “Dan tiadalah kami mengutus engkau (wahai Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam”. (Surah Al-Anbiya’: 107)

    Begitu juga berbuat baik kepada orang yang bukan Islam tidak dilarang oleh Islam. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firmanNya:

    Tafsirnya: “Allah tidak melarang kamu daripada berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama (kamu), dan tidak mengeluarkan kamu daripada kampung halaman kamu; sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berlaku adil”. (Surah Al-Mumtahinah: 8)

    Islam juga tidak melarang bermu’amalah seperti berjual beli, saling berkunjung, menghormati mereka sebagai individu dalam batas pergaulan dan hubungan mengikut sukatan mujamalah asalkan bukan karena memenuhi tuntutan acara keagamaan mereka atau lainnya yang bertentangan dengan syara’.

    Pendeknya Islam juga tidak melarang menjalin hubungan silaturahim dengan orang bukan Islam dalam batas yang diizinkan oleh syara’, apa lagi mereka itu keluarga terdekat seperti ibu bapa, adik, abang dan sebagainya. Hal ini telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadis, Baginda bersabda:

    Maksudnya: “Daripada Asma’ binti Abu Bakar Radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Telah datang ibuku kepadaku di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sedangkan (ketika itu) dia masih musyrik (belum Islam). Maka aku meminta fatwa kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu aku berkata: “Dia (ibuku) menginginkan sesuatu daripadaku, adakah aku menghubungkan silaturahim kepadanya? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ya, hubungkanlah silaturahim dengannya”.

    (Hadis riwayat Al-Bukhari)

    Dalam hubungan ini jika berlaku kematian di kalangan mereka yang kafir zimmi, bagaimana sikap orang Islam mengenainya?

    Perlu diketahui bahwa pada dasarnya apabila berlaku kematian ke atas orang kafir zimmi adalah dituntut supaya mereka tidak menzahirkan penanaman mayat dan kematian mereka secara terang-terangan. (Al-Raudhah: 10/333)

    Mengiringi Mayat Orang Kafir Ke Kubur

    Islam tidak melarang perkara takziah dengan menghadiri atau mengikuti mayat orang kafir ke tempat pengkebumian, jika mayat itu terdiri daripada keluarga terdekat seperti isteri, jiran, teman rapat, maula dan hambanya. Keharusan menghadiri atau mengikuti mayat orang bukan Islam ini berdasarkan riwayat daripada Ali Karramallahu wajhah di mana beliau memberitahu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa saudara Baginda yang sesat (belum menganut Islam) telah mati, lalu Baginda mengarahkan Ali untuk menghadirinya. (Qalyubi wa ‘Umairah: 1/406 & Fath Al-‘Allam: 3/280)

    Menurut Kitab Fath Al-‘Allam, jika mayat itu orang lain seperti bukan ahli keluarganya maka hukumnya adalah haram. (Fath Al-‘Allam: 3/280)

    Adab Ketika Menziarahi Mayat Orang Kafir

    Islam tidak melarang menghadiri pengkebumian mayat orang kafir bahkan memberikan etika dan cara ketika menghadiri mayat tersebut.

    Etika dan cara menghadiri mayat orang kafir dicatatkan dalam beberapa riwayat yang ada kaitan mengenainya, di antaranya:

    Maksudnya: “Muhammad bin Al-Hassan bin Harun berkata: “Abu Abdullah ditanya: “Dan adakah dia boleh menghadiri mayatnya? “Beliau menjawab: “Ya, boleh sebagaimana yang dilakukan oleh Al-Harith bin Abu Rubai’ah di mana dia menghadiri mayat ibunya dan dia hanya berada di tepi dan tidak berada di dekat mayat karena mayat itu dilaknat”.

    Dalam sebuah riwayat yang lain:

    Maksudnya: “Daripada Abdullah bin Ka’ab bin Malik daripada bapanya: “Qais bin Syammas datang menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, katanya lagi: “Ibunya kebetulan mati sebagai seorang Kristian dan dia ingin menghadiri mayatnya”, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Naiki kenderaanmu dan berjalanlah di hadapan mayatnya, karena apabila engkau menunggang dan engkau berada di hadapannya maka engkau tidak dikira bersamanya”.

    (Hadis riwayat Ad-Daruqutni: 2/75-76)

    Berdasarkan riwayat di atas, keharusan menghadiri dan mengucapkan takziah di dalam majlis yang ada padanya mayat orang kafir hanyalah sekadar menunjukkan simpati saja dan tidak terlalu dekat dengan mayat, manakala ketika membawanya ke tempat pengkebumian pula, maka beradalah di hadapan mayat, bukan di arah belakang.

    Simpati (takziah) yang ditunjukkan itu hanya sekadar muamalah saja dan kehadiran itu pula tidak sekali-kali dikaitkan dengan agama dan akidah. Dengan lain perkataan kehadiran itu bukan karena mengikut acara keagamaan mereka.

    Dengan yang demikian bertakziah dengan menghadiri mayat orang kafir daripada kalangan keluarga atau teman rapat dalam batas-batas yang tidak termasuk dalam acara keagamaan mereka adalah diharuskan.

    Bersambung

     
  • erva kurniawan 1:12 am on 28 January 2017 Permalink | Balas  

    Rahasia Lautan 

    masjid_2_utuh_tsunami_acehRahasia Lautan

    Jauh sebelum sejumlah pakar menemukan teori gelombang tsunami dan gempa di dasar laut, al-Qur’an sudah menjelaskan teori gelombang yang bergulung-gulung, dan api yang keluar dari dasar lautan itu.

    Selain keyakinan kita bahwa musibah adalah peringatan dari Allah SWT, makna apa yang bisa menjelaskan pada kita akan hadirnya badai dasyat bernama ‘tsunami’ yang menerjang hampir seluruh pantai di pesisir Asia tanggal 26 Desember 2004?

    Sebuah air bah dasyat, menjulang tinggi, setinggi gunung kelapa. Laksana makluk raksasa, dia bisa menghajar dan menghancurkan gedung-gedung. Dia juga bisa menggulung manusia dan mencampurnya dengan urapan sampah rumah dan bangkai-bangkai mobil. Lalu melemparkan kapal berbobot 200 ton jauh ke kota. Seolah memiliki tangan kekar, dia juga mampu menjebol beton besi, menyeretnya dengan jarak berkilo-kilo dan menariknya kembali ke dasar laut lepas dan kemudian hilang tanpa bekas. Dia bukan layaknya monster raksasa dalam film fiksi animasi kesukaan anak-anak buatan Jepang. Bahkan, dia hanyalah air biasa.

    Siapa menyangka, air, –yang tadinya– indah dan tenang, di mana semilir angin dan suara deburan ombaknya menjadi tempat banyak orang melepas penat. Kejernihan air yang di dalamnya ada banyak rizki yang menjadi satu-satunya tempat masyarakat bergantung hidup. Tiba-tiba, kini, benda cair itu dianggap makluk menakutkan yang bisa berlari cepat memburu dan menyeret kaki-kaki manusia.

    Kecuali, sedikit dari orang-orang yang hanya mau berfikir, tak banyak orang begitu paham. Sekalipun dia ilmuwan dan pakar yang telah menekuni ilmu selama puluhan tahun. Bahkan untuk membaca tanda-tandanya saja, mereka masih kalah dengan hewan.

    Kandungan Lautan

    Kenyataannya, laut yang -kini dianggap mengerikan-itu bukanlah semata tempat ghaib. Dia adalah tempat nyata dan paling menakjubkan yang telah diberikan Allah hanya untuk manusia. Laut berserta airnya, adalah tempat mengais rizki yang tak pernah habis-habisnya. Kandungannya menjanjikan kemakmuran dan kesejahteraan manusia. Dan permukannya bisa memudahkan kita melakukan perjalanan jauh melintas benua. Hanya karena kebodohan kitalah, air dan lautan itu tak ubahnya seonggok barang yang tak berarti.

    Sudah menjadi rahasia umum, semenjak ilmu pengetahuan mencapai kejayaannya, tak banyak orang yang memalingkan wajahnya ke lautan. Bahkan sejak industri dikenal luas, banyak sainstis -dengan dukungan penguasa-terus-terusan menghabisan miliaran dollar untuk meneliti luar angkasa dan bintang-bintang.

    Karenanya, penelitian luar angkasa terlihat lebih glamour dibanding meneliti lautan beserta kandungannya. Sebutan Rocket Scientist mungkin kelihatan lebih trendy dibanding Marine Geophysict atau Marine Biologist.

    Tapi banyak orang lupa. Justru di lautanlah masa lalu dan masa depan kebergantuan umat manusia berada. Negara-negara besar dan kuat hanyalah negara-negara yang memiliki angkatan laut yang besar dan kuat. Negeri-negeri kaya masa depan adalah negeri-negeri yang memiliki laut atau kepulauan dengan kandungan yang kaya. Sedangkan negeri-negeri yang hanya dikeliling daratan (lanlock) akan lebih susah berkembang.

    Beberapa negara, seperti; Jepang, Inggris, Irlandia, Singapura, Hong Kong, Taiwan, Selandia Baru, Bahrain adalah negara pulau. Juga negara-negara pesisir yang kuat ekonominya karena ditopang industri maritim, seperti; Norwegia. Korea Selatan, Belanda dan Jerman.

    Faktanya, memiliki tak pernah bisa menguasai. Karena ketidakmampuan mengelola laut, negara-negara yang seharusnya kaya-raya karena memiliki sumber daya alam, mereka justru miskin dan hidupnya susah. Mereka memiliki tapi tak mampu menguasai. Di Sierra Leone, Afrika Barat, dikenal lautnya kaya intan. Namun, kekayaan itu justu dikeruk bangsa Eropa dan Amerika Serikat (AS). Di Papua dan Riau, dikenal memiliki kandungan emas dan minyaknya. Namun, pengelolanya bukan orang-orang pribumi. Mereka tak lain adalah bangsa Amerika, bukan kita.

    Ayat-ayat Allah

    Al-Qur’an telah 1400 tahun lalu memberikan rahasia kekayaan yang ada dilautan. Prof. Zaghoul dari Universitas of Petroleom, Dahran, Saudi Arabia, pernah mengamati kandungan al-Qur’an yang mengungkap misteri lautan. Menurutnya, ada sekitar 460 ayat yang mengungkap kandungan bumi dengan sangat rinci. Menyangkut bentuk, gerakan, dan asal-usulnya. Gunung-gunung, asal muasal atmosfer dan hidrosfer, kegelapan dilautan. Juga termasuk berbagai fenomena ilmu bumi (earthscience) dengan sangat rinci. Menyangkut geologi, geofisika, geokimia, geografi dan geodesi.

    Jauh sebelum lahirnya pakar-pakar tsunami dan gelombang laut, al-Qur’an secara detil dan menjelaskan akan keganasan gelombang laut. Akibat ketakjuban kandungan al-Qur’an ini, bahkan pernah mengantarkan seorang pelaut ulung asal Amerika memeluk Islam.

    Garry Miller, pernah bercerita, di Toronto, Kanada, ada seorang pelaut ulung yang menghabiskan waktunya di atas kapal dan seluruh hidupnya di atas lautan. Suatu ketika, seorang Muslim meminjamkannya al-Qur’an. Pria ini kemudian terkaget-kaget setelah membaca isi al-Qur’an Surat An-Nur: 40, yang mengunggap teori gelombang laut.

    “Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang bertindih-tindih, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa oleh Allah tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitnya.” (QS. An-Nur: 40)

    Sebuah perumpamaan yang luar biasa, “..diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak, dan di atasnya awan; gelap gulita yang bertindih-tindih” , tentu bukanlah sebuah gelombang biasa. Dia sebuah badai laut besar yang bertumpuk-tumpuk dan mengulung-gulung. Dialah gelombang maha dasyat itu.

    Menurut Garry Miller, karena kekaguman isi kandungan Al-Qur’an itu, sang pelaut lantas bertanya kepada si pemilik al-Qur’an. “Apakah Muhammad itu seorang pelaut?. Bukan, bahkan sesungguhnya Muhammad tinggal di tengah gurun pasir.” Jawaban itu kontan membuat sang pelaut mengimani al-Qur’an dan segera memeluk Islam. Bagaimana mungkin, ada sebuah kitab mampu menjelaskan teori ombak besar bertindih-tindih sedang penyampai risalah itu (Nabi Muhammad) justru tinggal di sebuah padang pasir cadas Mekah dan Madinah, yang jauh lebih dari 100 KM dari pesisir Laut Merah jika bukan sebuah kitab suci?

    Al-Qur’an tak hanya mengulas rahasia gelombang dasyat semata. Apa yang akan Anda pikirkan dengan isi kandungan QS. Al-Thur ayat 6 yang isinya berbunyi, “Dan lautan yang di dalam tanahnya ada api.” Bagi orang-orang yang tak mau merenung dan berfikir, akan sulit memahami isi al-Qur’an apalagi kemudian menyatakan segera berserah diri bahwa Allah adalah Tuhan yang maha benar.

    Istilah gelombang yang bergulung-gulung, dan api yang keluar dari dasar lautan itu sudah ada 1400 tahun lalu, sebelum pakar-pakar tsunami mampu menjelaskan ada ombak berbahaya dan menakutkan atau gempa di dasar lautan.

    Ketika baru beberapa taun ini para ilmuwan mampu membuktikan bahwa bola bumi tidak statis alias bergerak, melalui pengukuran geomagnetik, mereke gembira luar-biasa karena bisa menjelaskan bahwa kulit bola bumi bisa berpindah-pindah dan bergerak. Tapi rupanya mereka kecele, sebab jauh sebelumnya, ribuan tahun lalu, al-Qur’an telah mengungkapnya secara gamblang.

    Dalam Surat an-Naml ayat 88 dan al-Thur ayat 10, al-Qur’an mengatakan dengan sangat jelas, “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sanga ia tetap ditempatnya, padahal dia berjalan sebagaimana jalan awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kukuh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Naml:88).

    Masih banyak penjelasan dari rahasia laut yang ditunjukkan Allah SWT dalam al-Qur’an -yang juga ditulis dalam buku ini – yang tentu tak bisa diungkap semuanya di sini. Jika kemudian banyak orang mengatakan semua agama sama, bisakah kita meletakkan kesamaannya dan membandingkan kitab suci mereka dengan al-Qur’an ? yang juga sama bisa menjelaskan gelombang yang bergulung-gulung, api yang keluar dari dasar lautan dan gunung yang bisa berjalan? Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu sembunyikan?

    Buku ini tebal -yang terdiri dari 5 bab- yang ditulis dengan menggunakan sentuan spiritual dan intelektual ini banyak mengungkap rahasia dan misteri lautan sebagaimana diungkap oleh al-Qur’an yang belum diungkap banyak orang.

    Buku yang ditulis saudara Agus Djamil, seorang geosaintis Islam Indonesia, banyak mengupas ayat-ayat qauliyyah dan ayat qauniyyah (al-Qur’an) mengenai lautan lengkap dengan teori-teori bumi beserta penjelasan tafsirnya. Kandungan rahasia lautan yang ada dalam al-Qur’an ini seharusnya semakin menambah iman orang akan kebenaran al-Qur’an. Kecuali orang-orang yang mendustakan agama.

    ***

    Resensi dari Buku: Judul: Al-Qur’an dan Lautan. Pengantar: Dr. Abdurahman R.A. Haqqi. Penulis: Agus S. Djamil. Penerbit: Arasy (Kelompok Mizan). Tahun: Cetakan I, Desember 2004. Tebal: 552 halaman.

    Artikel dari: Mengungkap Rahasia Allah dalam Lautan.

    Hidayatullah.com.

     
  • erva kurniawan 2:49 am on 27 January 2017 Permalink | Balas  

    Ucapan Takziah (2/2) 

    takziahUcapan Takziah (2/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Lafaz Ta’ziah

    Sebagaimana penjelasan di atas, sunat ke atas orang Islam mengucapkan ta’ziah kepada orang yang ditimpa musibah.

    Adapun ucapan ta’ziah itu jika ditujukan kepada ahli keluarga yang Islam dan bagi si mati yang Islam, lafaznya adalah seperti berikut yang artinya :

    “Semoga Allah membesarkan pahalamu dan membaikkan kesabaranmu dan mengampunkan bagi si matimu.”

    Persoalan yang timbul, bolehkah mengucapkan ta’ziah kepada orang orang bukan Islam dan bagaimanakah lafaznya?

    Ucapan Ta’ziah Bagi Orang Bukan Islam

    Harus (boleh) bagi orang Islam memberi ucapan ta’ziah kepada orang kafir zimmi bahkan sunat hukumnya jika mengharapkan Islamnya.

    Apabila si mati orang bukan Islam dan ucapan ta’ziah itu ditujukan kepada keluarganya yang Islam, lafaznya ialah seperti berikut :

    Artinya:”Semoga Allah membesarkan pahalamu dan kesabaranmu dan semoga Allah memberimu penggantinya.”

    Akan tetapi haram didoakan bagi mayat orang bukan Islam itu dengan memohon keampunan baginya, walaupun ucapan ta’ziah itu ditujukan kepada keluarga si mati yang Islam. Contoh lafaz mendoakan keampunan yang diharamkan bagi mayat orang bukan Islam itu seperti berikut :

    Artinya :”Semoga Allah mengampuni si matimu.”

    Berbeda halnya jika si mati itu orang Islam. Maka harus didoakan si mati itu dengan memohonkan keampunan, walaupun ucapan ta’ziah itu kepada keluarga yang bukan Islam bagi si mati yang Islam.

    Akan tetapi tidak boleh diucapkan ta’ziah kepada keluarga yang bukan Islam bagi si mati yang Islam itu dengan mendoakannya supaya Allah membesarkan pahala keluarga yang bukan Islam itu. Karena tiada pahala bagi orang-orang bukan Islam. Tetapi harus diucapkan ta’ziah kepada keluarga bukan Islam itu jika si mati orang Islam dengan lafaz seperti berikut :

    Artinya : “Semoga Allah mengampuni si matimu dan membaikkan kesabaranmu.” (Mughni Al-Muhtaj: 1/481-482)

    Manakala ucapan ta’ziah bagi ahli keluarga bukan Islam dan si mati yang bukan Islam, adalah lebih baik ditinggalkan karena itu mendoakan orang bukan Islam dengan berkekalan dan sentiasa dalam kekufurannya. Sebagai contoh lafaz ta’ziah yang ditujukan kepada keluarga bukan Islam dan si mati yang bukan Islam, yang mana lebih baik ditinggalkan itu ialah :

    Artinya : “Semoga Allah memberimu penggantinya.”

    Sebagaimana penjelasan di atas adalah haram bagi umat Islam mengucapkan ta’ziah kepada ahli keluarga yang bukan Islam dengan mendoakan semoga Allah membesarkan pahala mereka. Begitu juga mengucapkan bagi si mati yang bukan Islam dengan mendoakan keampunan. Karena mendoakan orang-orang bukan Islam itu ada batasnya, untuk lebih jelasnya dihuraikan hukum mendoakan orang bukan Islam.

    Hukum Mendoakan Orang Bukan Islam

    Terdapat garis pandu dan batas bagi keharusan mendoakan orang bukan Islam. Tidak semua doa atau permohonan itu diharuskan bagi mereka. Adalah haram mendoakan orang bukan Islam sama ada dia terdiri daripada keluarga sendiri ataupun sebaliknya, dengan doa yang berbentuk permohonan keampunan dan seumpamanya yang tidak layak disebut bagi orang bukan Islam. Karena itu dilarang sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tafsirnya :

    “Tidaklah dibenarkan bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, meminta ampun bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang itu kaum kerabat sendiri, sesudah nyata bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu adalah ahli neraka.” (Surah At-Taubah: 113)

    Daripada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Musa yang berkata yang maksudnya :

    “Orang-orang Yahudi berpura-pura bersin di majlis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan tujuan supaya Baginda bersabda dan mendoakan mereka dengan mendapat rahmat Allah – sebagaimana doa bagi orang-orang Islam apabila mereka bersin – Maka Baginda bersabda (kepada orang-orang Yahudi ketika mereka bersin) semoga Allah memberi hidayat kepada kamu dan membetulkan hal ehwal kamu.” (Hadis riwayat Tirmidzi)

    Daripada hadis di atas, jelas menunjukkan bahwa tidak harus mendoakan orang bukan Islam agar mereka mendapat keampunan dan rahmat daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala itu khusus bagi orang-orang yang beriman. Akan tetapi harus bagi kita mendoakan orang-orang bukan Islam itu supaya mendapat hidayat, taufiq serta beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Sebagaimana hadis yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata yang maksudnya :

    “Thufail bin ‘Amr datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya kabilah Daus telah menderhaka dan enggan (menerima Islam), mohonlah (berdoalah) kepada Allah agar ditimpakan keburukan ke atas mereka.” Orang-orang menyangka bahwa Baginda akan berdoa memohon sesuatu keburukan ke atas mereka (kabilah Daus). Maka Baginda bersabda: “Ya Allah! Berikanlah hidayat kepada kabilah Daus dan datangkanlah mereka sebagai orang-orang Islam.” (Hadis riwayat Bukhari)

    Sementara hadis yang diriwayatkan oleh Anas Radhiallahu ‘anhu berkata yang maksudnya :

    “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah minta tolong menimba air, lalu ada orang Yahudi yang menimbakan air untuk Baginda. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakannya: “Semoga Allah menjadikanmu tampan selalu.” Maka orang Yahudi itu sehingga meninggal dunia tidak pernah kelihatan uban dikepalanya.” (Hadis riwayat Ibnu as-Sunni)

    Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah diminta oleh sahabat Baginda iaitu Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, untuk mendoakan ibunya yang masih kafir supaya memeluk agama Islam. Lalu Baginda pun mendoakannya dan dimakbulkan permohonannya itu oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Doa-doa seperti di atas ini adalah diharuskan. Tetapi mendoakan orang bukan Islam dengan memohon keampunan dan keselamatan daripada azab dunia dan azab akhirat, maka itu adalah haram.

    Pada zaman yang semakin giat membangun ini, bermacam pendapat dan pemikiran yang timbul dan berbagai usaha yang dilakukan terutama sekali dalam strategi-strategi untuk melemah atau menjatuhkan umat Islam, sekaligus terhadap agama Islam itu sendiri.

    Apa yang jelas, melalui strategi-strategi yang nyata mahupun terselindung, budaya-budaya di luar kehendak syara’ beransur-ansur menyerap ke negara Islam sama ada melalui media massa atau berbagai bentuk saluran, secara tidak langsung atau terus menerus yang dapat dilihat oleh kaca mata orang Islam sendiri.

    Budaya-budaya yang dimaksudkan itu ialah seperti merayakan halloween dan valentine’s day, mencurahkan rasa sedih dengan menghidupkan lilin beramai-ramai, bertafakkur atau senyap dalam beberapa minit sebagai mengingati orang yang telah mati atau berkumpul untuk upacara blessing (memohon rahmat, restu dan berkat) untuk orang bukan Islam yang telah mati dalam upacara remembrance day dan sebagainya. Begitu juga, istilah beramal turut disalahgunakan seperti konsert amal, fun-fair amal dan sebagainya untuk mengaburi mata orang Islam yang kononnya pekerjaan itu adalah usaha yang berkebajikan. Akan tetapi sama ada disedari atau tidak pekerjaan dan acara-acara itu bercampur-aduk dengan berbagai perkara yang membawa kepada kemaksiatan dan dosa.

    Oleh yang demikian, hendaklah kita berhati-hati dalam melakukan sesuatu perkara. Berfikir panjang dalam membuat sesuatu keputusan sama ada itu menyalahi hukum Islam atau tidak. Tanpa disedari, seperti memperingati kematian orang-orang bukan Islam dan sekaligus mendoakan mereka itu dalam keampunan dan rahmat daripada Tuhan. Perkara inilah yang mesti kita ambil kira karena itu sudah jelas dilarang oleh Islam.

    Wallohu a’lam bis-shawab,-

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 26 January 2017 Permalink | Balas  

    Ucapan Takziah (1/2) 

    takziahUcapan Takziah (1/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Ta’ziah dari segi istilah bererti menyuruh seseorang dengan bersabar dan mendorongnya dengan pahala yang dijanjikan, memperingati daripada dosa, mendoakan bagi si mati dengan keampunan dan mendoakan bagi orang yang terkena musibah dengan mendapat penggantinya. (Mughni al-Muhtaj: 1/481)

    Sudah menjadi kebiasaan di kalangan masyarakat untuk menziarahi keluarga si mati atau orang yang terkena musibah. Amalan serupa ini amatlah digalakkan oleh Islam. Akan tetapi hendaklah diingat dan dijaga batasan-batasan dan etika yang diajarkan oleh Islam berhubung menziarahi keluarga si mati atau orang yang terkena musibah.

    Hukum Ta’ziah

    Para fuqaha tidak berselisih pendapat dalam mengharuskan ucapan ta’ziah kepada orang yang ditimpa musibah sama ada disebabkan kematian atau kebakaran dan sebagainya. Bahkan ta’ziah itu sunat diucapkan kepada mereka yang ditimpa musibah, sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Tiadalah seorang mukmin yang mengucapkan ta’ziah pada saudaranya yang ditimpa musibah, melainkan Allah Subhanah memberikannya pakaian daripada pakaian kehormatan di hari qiamat.” (Hadis riwayat Ibnu Majah)

    Adapun ta’ziah itu sunat diucapkan kepada ahli keluarga musibah pada keseluruhannya, sama ada terdiri daripada orang dewasa lelaki dan perempuan atau pun kanak-kanak yang berakal. Akan tetapi tidak boleh mengucapkan ta’ziah itu kepada perempuan yang muda melainkan sesamanya perempuan, suami atau pun mahramnya. Ini karena ditakuti akan mendatangkan fitnah.

    Waktu Dan Jangka Masa Ta’ziah

    Sunat mengucapkan ta’ziah kepada ahli keluarga musibah sebelum dan selepas menguburkan si mati. Adapun lebih afdhal mengucapkan ta’ziah itu selepas menguburkan si mati karena kesibukan ahli keluarga pada menguruskan mayat si mati. Berlainan halnya jika ahli keluarga itu terlalu sedih dan resah sebelum dikuburkan mayat tersebut, maka afdhal didahulukan ta’ziah itu bagi menghilangkan kesedihan dan keresahannya.

    Ucapan ta’ziah kepada ahli keluarga musibah itu, hendaklah tidak melebihi kira-kira tiga hari lebih kurang. Karena dalam jangka masa tiga hari itu, ahli keluarga musibah pada kebiasaannya hati mereka sudah mulai tenang dan tidak merasa sedih dan resah lagi. Oleh yang demikian, makruh mengucapkan ta’ziah kepada ahli keluarga si mati selepas berlalunya tiga hari agar tidak menimbulkan lagi kesedihan mereka. Akan tetapi jika salah seorang di antara orang yang mengucapkan ta’ziah dan orang yang diucapkan ta’ziah itu tidak ada pada masa tersebut, maka harus diucapkan ta’ziah itu selepas tiga hari.

    Menyediakan Makanan Bagi Ahli Keluarga Si mati

    Sunat bagi jiran dan kaum karabat yang jauh menyediakan makanan untuk ahli keluarga si mati, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada ahlinya ketika mendapat khabar kematian Saiyidina Ja’far bin Abi Thalib: yang maksudnya :

    “Kamu buatkanlah makanan bagi keluarga Saiyidina Ja’far, sesungguhnya telah didapati mereka itu kesibukan (atas kematian Saiyidina Ja’far).”

    (Hadis riwayat Tirmidzi)

    Haram menyediakan makanan kepada orang yang meratapi si mati (niyahah), seperti perempuan yang meraung menangis sambil menampar-nampar pipinya dan merobek-robek pakaiannya. Ini karena, orang yang menyediakan makanan untuk orang yang meratapi itu bekerjasama dalam maksiat. (I’anah At-Thalibin: 2/165)

    Adapun bagi ahli keluarga si mati itu sendiri adalah makruh menyediakan makanan dan mengumpulkan orang ramai bagi menjamu jamuan itu, karena itu dapat menambahkan kesedihan, kesibukan di samping menguruskan jenazah dan ia juga dapat menyerupai perbuatan orang jahiliah dan perbuatan ini juga adalah bid’ah makruhah. Sebagaimana dalam sebuah hadis daripada Jarir bin Abdillah Al- Bajaliy berkata yang maksudnya :

    “Kami (sahabat) mengiktibarkan berhimpun di tempat ahli keluarga si mati dan mereka (ahli keluarga si mati) membuat jamuan makanan selepas penguburan si mati: itu adalah sebagai satu niyahah (ratapan).” (Hadis riwayat Ibnu Majah)

    Adapun jika jamuan makan yang biasa dilakukan itu bertujuan untuk mendapatkan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi si mati, maka tujuan itu adalah baik.

    Akan tetapi jika ahli keluarga si mati itu memberatkan diri dengan berbagai-bagai makanan dengan tujuan ria’, bermegah-megah dan perkara-perkara yang dapat membawa kepada ria’ dan bertujuan untuk meratapi si mati, maka itu adalah perbuatan orang jahiliah.

    Bersambung

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 2:29 am on 25 January 2017 Permalink | Balas  

    Berbekam 

    bekamBerbekam

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Bekam atau bahasa Arabnya disebut hijamah bererti mengeluarkan darah kotor daripada badan seseorang dengan cara membedah sedikit pada bagian kepala atau belakang badan dan menghisap darah kotor dengan tanduk atau cawan panas yang ditelungkupkan pada tempat yang telah dibedah itu. (Kamus Dewan: 124)

    Pendapat sebagian fuqaha, perkataan hijamah bererti mengeluarkan darah daripada tengkuk dengan cara menghisapnya dengan alat-alat hajam (bekam) selepas dibedah. Al-Khattabi ada menyebutkan bahwa hijamah atau berbekam itu tidak dikhususkan tempatnya di tengkuk sahaja bahkan ia juga boleh dilakukan di mana-mana bagian badan. (Mausu’ah feqhiah: 17/14)

    Hukum Berbekam

    Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa berbekam itu merupakan satu perubatan tradisional yang sudah lama diamalkan oleh sebagian orang. Sehingga ada yang menjadikannya sebagai mata pencarian dalam menyara hidup seharian.

    Persoalan yang timbul adakah perubatan dengan berbekam itu disyariatkan, bolehkah ia dijadikan sebagai pekerjaan dan apakah kesannya terhadap keshahihan sesuatu ibadat?

    Perubatan dengan menggunakan kaedah bekam adalah disunatkan dalam Islam malahan ia merupakan di antara sebaik-baik cara perubatan. Sebagaimana yang disebutkan di dalam beberapa buah hadis yang di antaranya sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya:

    “Sebaik-baik perobatan bagi kamu ialah berbekam” (Hadis riwayat Ahmad)

    Sabda Baginda lagi yang maksudnya :

    “Kiranya ada suatu perubatan yang lebih baik bagi kamu, maka itulah dengan menggunakan pisau pembekam atau minuman daripada madu atau catukan (pagutan) dengan api dan aku sendiri tidak suka membakar dengan besi panas” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

    Sabda Baginda lagi yang maksudnya :

    Maksudnya: “Kesembuhan itu terdapat pada tiga cara: minum madu, pisau pembekam dan alat pengangus, dan aku melarang umatku membakar dengan besi panas” (Hadis riwayat Bukhari)

    Daripada hadis di atas jelas menyebutkan bahwa berbekam itu salah satu jenis perubatan yang diharuskan dalam Islam. Namun apa yang ingin disentuh di sini ialah hubungan dan kesannya terhadap hukum taharah, puasa dan berihram, dan hukumnya jika dijadikan ia sebagai satu mata pencarian.

    Kesan Berbekam Dalam Taharah

    Mengikut mazhab As-Syafie, berbekam itu tidak membatalkan wudhu. Sebagaimana dalam kitabnya al-Umm yang menyatakan yang ertinya :

    “Tidak perlu berwudhu (tidak batal wudhu) karena muntah, darah yang keluar dari hidung, berbekam, sesuatu yang keluar daripada badan dan sesuatu yang dikeluarkan daripada jasad selain daripada tiga lubang yaitu qubul, dubur dan zakar. (Al-Umm: 1/14)

    Oleh itu, sesiapa yang berubat dengan menggunakan bekam dalam keadaannya berwudhu, maka tidaklah batal wudhunya atau berbekam itu tidak membatalkan wudhu.

    Kesan Berbekam Dalam Puasa

    Apabila seseorang itu berbekam di siang Ramadhan ataupun puasa sunat adalah dibolehkan dan tidak membatalkan puasa tersebut. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berbekam ketika Baginda sedang berpuasa. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas Radiallahu ‘anhuma, beliau berkata yang maksudnya :

    “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berbekam padahal Baginda sedang berpuasa”

    (Hadis riwayat Bukhari)

    Kesan Berbekam Dalam Ihram

    Mengikut pendapat Imam As-Syafie, Ashab dan jumhur ulama adalah harus bagi seseorang yang sedang berihram itu berbekam dan tidak dikenakan ke atasnya fidyah, selagi dia tidak memotong rambutnya. (Majmuk: 7/377) Sebagaimana di dalam hadis yang diriwayatkan daripada Ibnu Buhainah Radiallahu ‘anhu, beliau berkata yang maksudnya :

    “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berbekam di tengah-tengah kepala Baginda di Lahyu Jamal (tempat antara Mekkah dan Madinah) padahal Baginda sedang berihram.”

    (Hadis riwayat Bukhari)

    Jika sekiranya seseorang yang sedang berihram itu hendak berbekam dan terpaksa memotong rambutnya, maka hendaklah dia membayar fidyah disebabkan memotong rambutnya itu.

    Menurut Imam An-Nawawi dalam hal ini, jika seseorang yang sedang berihram itu berbekam tanpa tujuan atau hajat lalu terpotong rambutnya maka haram hukumnya. Akan tetapi jika tidak terpotong rambut maka itu diharuskan. (Mausu’ah Feqhiyah: 17/17)

    Berbekam Sebagai Pekerjaan

    Pendapat jumhur fuqaha termasuk mazhab Syafie, adalah diharuskan bagi seseorang itu menjadikan hijamah (bekam) sebagai satu pekerjaan dan mengambil hasil daripadanya. Karena berbekam itu perbuatan yang bermanfaat, mubah (harus) dan orang ramai memerlukannya, maka diharuskan mengambil upah seperti pekerjaan menjahit dan sebagainya. (Mausu’ah feqhiah: 17/18)

    Mereka berdalilkan kepada hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas Radiallahu ‘anhuma, beliau berkata yang maksudnya:

    “Nabi Shallallahu ‘alahi wasallam pernah berbekam dan Baginda memberi (upah) kepada orang yang membekamnya itu, seandainya hal itu haram, niscaya Baginda tidak memberinya.”

    (Hadis riwayat Bukhari)

    Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa berbekam itu adalah merupakan cara perubatan yang diamalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Yang demikian itu sudah tentu banyak kelebihan dari segi kesembuhan suatu penyakit, sebagaimana diamalkan oleh Baginda sendiri. Oleh karena itu membekam suatu bidang pekerjaan yang patut diterokai.

    wallohu a’lam bis-showab,-

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 2:09 am on 24 January 2017 Permalink | Balas  

    Berobat dengan Benda yang Najis (2/2) 

    obat-najisBerobat dengan Benda yang Najis (2/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Tidak dinafikan, ada juga antara penyakit itu yang sukar ditemui ubatnya. Sebagiannya pula boleh disembuhkan dengan menggunakan ubat-ubatan daripada benda-benda najis yaitu berdasarkan pengalaman orang-orang terdahulu.

    Oleh karena itu, menurut pendapat yang ashah dalam mazhab Syafi’e, adalah harus berobat dengan segala benda najis, kecuali yang memabukkan, dengan alasan bahwa berobat itu adalah merupakan perkara darurat. Sedangkan darurat itu mengharuskan kita mengambil apa yang ditegah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    Tafsirnya: “Dan sesungguhnya Allah telah menerangkan kepada kamu satu persatu apa yang diharamkanNya atas kamu, kecuali yang terpaksa kamu memakannya.” (Surah Al-An’am: 119)

    Berdasarkan ayat tersebut dan ayat-ayat seumpamanya, maka para ulama telah menggariskan kaedah:

    Ertinya: “Keadaan-keadaan darurat itu mengharuskan perkara-perkara yang dilarang.”

    Walau bagaimanapun, penggunaan najis sebagai ubat itu masih juga terikat dengan tidak melampaui batas, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    Tafsirnya: “Maka sesiapa yang terpaksa karena kelaparan (memakan benda-benda yang diharamkan) sedang dia tidak cenderung hendak melakukan dosa (maka bolehlah dia memakannya), karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun Lagi Maha Mengasihani.” (Surah Al-Ma’idah: 3)

    FirmanNya lagi:

    Tafsirnya: “Maka sesiapa terpaksa (memakannya karena darurat) sedang dia tidak mengingininya dan tidak pula melampaui batas (pada kadar benda yang dimakan itu), maka tidaklah dia berdosa. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun Lagi Maha Mengasihani.” (Surah Al-Baqarah: 173)

    Imam an-Nawawi Rahimahullah juga berpendapat bahwa harus berobat dengan najis selain arak. Hukum keharusan berobat itu sama sahaja bagi semua najis melainkan yang memabukkan. Ini berdasarkan daripada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas Radhiallahu ‘anhu:

    Maksudnya: “Bahwa serombongan suku ‘Ukal seramai lapan orang datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu mereka berikrar kepada Nabi untuk masuk Islam. Kemudian cuaca kota Madinah merimaskan mereka dan mengakibatkan tubuh badan mereka sakit-sakit, lalu mereka mengadukan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Baginda bersabda kepada mereka: “Barangkali elok kamu pergi bersama tukang gembala kami kepada untanya, kemudian kamu dapatkan air kencing dan susunya.” Mereka menjawab: “Baiklah.” Mereka pun pergi dan meminum susu dan kencing unta itu, setelah itu mereka pun sihat. Tetapi kemudian mereka membunuh tukang gembala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu dan merampas unta-untanya.” (Hadis riwayat Bukhari)

    Walau bagaimanapun, Imam an-Nawawi ada menyebutkan lagi daripada pendapat lain. Bahwa keharusan berobat dengan najis itu hanyalah dibolehkan apabila tidak ditemui ubat yang suci yang boleh menggantikannya. Jika ada ubat yang suci, maka haramlah berobat dengan najis tersebut.

    Sebagaimana Al-‘Izz bin Abdussalam Rahimahullah berkata:

    Ertinya: “Harus berobat dengan najis apabila tidak ada ubat yang suci yang boleh menggantikannya, karena maslahat kesihatan dan kesejahteraan itu lebih sempurna berbanding dengan maslahat menjauhi najis. Dan tidak harus berobat dengan arak mengikut pendapat yang ashah.”

    Oleh yang demikian, berdasarkan daripada penjelasan di atas dapatlah disimpulkan bahwa berobat untuk menyembuhkan penyakit itu adalah perkara yang digalakkan dalam Islam. Ubat-ubatan yang digunakan hendaklah daripada benda-benda yang halal dan suci. Di samping itu, harus berobat dengan benda-benda yang najis selain sesuatu yang memabukkan jika tidak ada ubat lain yang suci sebagai penggantinya.

    Wallohu a’lam bis-showab,-

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 2:08 am on 23 January 2017 Permalink | Balas  

    Berobat Dengan Benda Yang Najis (1/2) 

    obat-najisBerobat Dengan Benda Yang Najis (1/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Sakit adalah suatu perkara yang biasa menimpa manusia. Adakalanya sakit itu menimpa manusia dalam bentuk fizikal dan ada juga kalanya dalam bentuk spiritual. Dalam semua keadaan tersebut, orang sakit biasanya akan berusaha mencari ubat untuk menghilangkan sakit itu.

    Hukum Berobat

    Berobat untuk menghilangkan penyakit itu adalah perkara yang digalakkan pada hukum syara’. Bahkan ia boleh menjadi ibadah jika dilakukan dengan niat yang baik, seperti bertujuan untuk melaksanakan tuntutan syara’ dan bagi memulihkan kesihatan tubuh badan agar dapat beribadat dan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan lebih sempurna.

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri pernah berobat dan menyuruh umatnya berobat. Sebagaimana dalam sebuah hadis, daripada Usamah bin Syuraik menjelaskan bahwa segolongan orang Arab pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, kata mereka:

    “Wahai Rasulullah adakah kami boleh berobat? Baginda menjawab: “Berobatlah kamu, karena Allah ‘azza wajalla tidak menjadikan penyakit melainkan Dia menjadikan ubatnya, melainkan satu jenis penyakit, yaitu sakit tua.”

    (Hadis riwayat Abu Daud)

    Dalam hadis yang lain pula, daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    “Allah tidak menurunkan sesuatu penyakit melainkan diturunkan bersamanya penyembuh.”

    (Hadis riwayat Bukhari)

    Sabda Baginda lagi Maksudnya: “Bagi setiap penyakit itu ada ubatnya, maka apabila ubat serasi dengan penyakit, ia akan sembuh dengan izin Allah ‘azza wajalla.”

    (Hadis riwayat Muslim)

    Sebagaimana yang dijelaskan di atas, bahwa perbuatan berobat itu ternyata digalakkan dalam Islam. Namun begitu, persoalan yang timbul bagaimanakah cara berobat yang dibenarkan oleh hukum syara’?

    Cara Berobat

    Pada dasarnya ubat atau penawar yang dianjurkan untuk dipakai mestilah ubat-ubatan yang halal, suci, bukan yang diharamkan dan dapat diterima oleh naluri pesakit.

    Berobat dengan benda yang haram itu tidak dibenarkan, bahkan ia diharamkan kecuali dalam keadaan darurat. Ini jelas bersandarkan daripada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Ad-Darda’ bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan ubat, dan dijadikan bagi setiap penyakit itu ubatnya, maka berobatlah kamu, dan jangan kamu berobat dengan yang diharamkan.”

    (Hadis riwayat Abu Daud)

    Imam Bukhari pula ada menyebutkan dalam shahihnya daripada Ibnu Mas’ud katanya:

    Maksudnya: “Sesungguhnya Allah tidak menjadikan penawar (kesembuhan) kamu pada benda-benda yang diharamkan ke atas kamu.”

    (Dikeluarkan oleh Bukhari)

    Manakala dalam hadis yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah, beliau berkata:

    Maksudnya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang daripada ubat yang kotor.”

    (Hadis riwayat Abu Daud dan Imam Ahmad)

    Berdasarkan hadis-hadis ini, jika penyakit seseorang itu masih dalam peringkat biasa yang tidak membahayakan, maka sesetengah ulama berkata bahwa adalah tidak harus yakni haram berobat dengan benda-benda najis itu.

    Hikmah Pengharamannya

    Adapun sudut rahasia atau hikmah ia diharamkan, mengikut para ulama Islam; najis itu menjijikkan dan tidak disukai oleh akal dan naluri. Jadi ia tidak layak dipakai atau dijadikan untuk penawar penyakit.

    Ibnu al-Qayyim Rahimahullah ada menerangkan lebih jelas lagi rahsia ini, bahwa larangan tidak dibenarkan benda-benda yang diharamkan sebagai ubat penawar penyakit itu ialah, karena antara syarat boleh mendapat kesembuhan menerusi sesuatu ubat itu ialah jika terdapat sikap menerima (suka) kepada ubat berkenaan, dan ada keyakinan terhadap khasiat (manfaatnya), di samping percaya, padanya ada keberkatan yang dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Kemudian bagi seorang Islam pula, yang haram itu memanglah kotor, najis dan menjijikkan. Setiap yang kotor dan menjijikkan, ia tidak diterima bahkan ditolak oleh naluri yang sihat.

    Demikian itulah kedudukan najis yang diharamkan, mengapa ia tidak sesuai untuk dijadikan ubat, karena syarat untuk itu dapat diterima oleh naluri yang sihat tidak ada lagi. Inilah antara rahsia atau sebab mengapa berobat dengan yang haram itu dilarang. (At-Tibb an-Nabawi: 126)

    Demikian antara pendapat ulama mazhab lain di luar mazhab Syafi’e.

    Bersambung

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 22 January 2017 Permalink | Balas  

    Batasan Dan Syarat Berobat Dengan Jampi Dan Tangkal (3/3) 

    syirikBatasan dan Syarat Berobat Dengan Jampi dan Tangkal (3/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    3) Hendaklah penjampi beriktiqad bahwa yang menyembuhkan ialah Allah Subhanahu wa ta’ala:

    Para ulama bersepakat mengatakan, penjampi hendaklah beriktiqad bahwa yang berkuasa menyembuhkan dan menolak kemudaratan ialah Allah Subhanahu wa ta’ala. Jampi itu sendiri tidak mempunyai kuasa untuk menyembuhkan, akan tetapi kesembuhan, terselamat daripada bahaya bencana dan sebagainya semuanya dengan izin Allah Ta’ala. Ini karena yang menurunkan penyakit itulah juga yang menurunkan ubat dan menolak segala bala bencana yaitu Allah ‘Azza Wa Jalla.

    Oleh itu, barangsiapa yang beriktiqad bahwa jampi itu sendiri mempunyai kuasa untuk menyembuh, menolak kemudaratan atau mendatangkan manfaat maka sesungguhnya dia telah sesat dan melakukan dosa yang amat besar yang tidak diampunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala yaitu dosa syirik yakni menyekutukan Allah dengan makhlukNya. Firman Allah Ta’ala yang tafsirnya :

    “Kalau demikian, apa fikiran kamu tentang yang kamu sembah selain dari Allah itu? Jika Allah hendak menimpakan kepadaku dengan sesuatu bahaya, dapatkah mereka mengelakkan atau menghapuskan bahayaNya itu; atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, dapatkah mereka menahan rahmatNya itu?” Katakanlah lagi: “Cukuplah bagiku Allah (yang menolong dan memeliharaku)! KepadaNyalah hendaknya berserah orang-orang yang mahu berserah dirinya.” (Surah Az-Zumar, ayat 38)

    Melalui ayat di atas, Allah Ta’ala menujukan kata-kataNya kepada golongan musyrik, di mana mereka itu mengakui bahwa Allah ‘Azza wa Jalla adalah Pencipta segala sesuatu, akan tetapi mereka memohon doa dan menyembah selain Allah untuk menolak kemudaratan dan bala bencana, sedangkan apa yang mereka sembah itu tidak mampu untuk mencegah daripada mereka sebarang kemudaratan dan tidak mampu pula memberi sebarang manfaat kepada mereka.

    Di dalam hadits shahih diriwayatkan daripada ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila Baginda meminta perlindungan bagi setengah ahli keluarganya Baginda akan mengusap dengan tangan kanannnya sambil berdoa:

    Maksudnya: “Ya Allah, Tuhan manusia, hilangkanlah penderitaan, sembuhkanlah dia, Engakaulah yang menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhanMu, kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit.” (Hadits riwayat Al-Bukhari)

    Daripada hadits di atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memberi petunjuk bahwa setiap ubat dan pengubatan tidak akan mendatangkan manfaat kesembuhan jika tidak dengan izin Allah Ta’ala. Maka yang berkuasa menyembuhkan itu ialah Allah ‘Azza wa Jalla.

    4) Hendaklah penjampi itu orang yang berpengetahuan tentang cara-cara pengubatan dengan jampi yang dibenarkan syara’:

    Sebenarnya, dalam apa pun bidang apabila kita hendak meminta bantuan khidmat tertentu kita mestilah pergi mencari orang yang ahli dan tahu mengenai bidang tersebut. Maka begitu juga dengan bidang perubatan dengan jampi perlulah orang itu terdiri daripada orang yang tahu dan belajar mengenai perubatan dengan jampi yang dibenarkan oleh syara’.

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menerangkan bahwa jampi merupakan ilmu yang berkehendakkan itu dipelajari untuk menjadikan seseorang itu pandai dan tahu mengubat dengan menggunakan jampi. Diriwayatkan daripada Asy-Syifaa’ binti Abdullah, dia berkata: “Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berjumpa menemuiku sedang aku di sisi Hafshah, Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku yang maksudnya :

    “Tidakkah kamu ajarkan Hafshah mentera penyembuh cacar akibat gigitan semut sebagaimana kamu ajarkannya menulis.” (Hadits riwayat Abu Daud)

    Ketiga- Batasan-batasan syara’ khusus bagi orang yang dirawat:

    1) Hendaklah dia beriktiqad bahwa yang menyembuhkan ialah Allah subhanahu wa ta’ala:

    Sebagaimana halnya dengan penjampi, maka begitu juga dengan orang yang dirawat dengan jampi dia mestilah beriktiqad bahwa yang mempunyai kuasa menyembuh dan menolak segala bahaya bencana itu ialah Allah subhanahu wa ta’ala.

    2) Memelihara jampi atau tangkal dari sebarang perkara yang keji:

    Hendaklah orang yang dirawat itu memelihara jampi atau tangkal yang digunakannya daripada perkara-perkara yang hina atau keji, karena jampi atau tangkal itu mengandungi ayat-ayat al-Qur’an, nama-nama dan sifat-sifat Allah yang Maha Suci.

    Jika tangkal yang dipakai itu digantung di badan, maka bungkuslah dengan elok supaya tidak terkena najis atau kotoran. Jangan dibawa masuk ke dalam tandas, jangan dilangkahi atau diduduki dan ketika berjima’ dengan isteri hendaklah ditanggalkan.

    Kalau itu merupakan air untuk diminum yang dibacakan ke atasnya jampi, maka elok membaca Bismillah pada setiap kali pernafasan ketika dia minum sambil berniat mengikut kehendak masing-masing tujuan dia berobat, karena sesungguhnya Allah akan mengurniakan atau menunaikan kehendaknya mengikut apa yang diniatkan.

    Jika air tersebut khusus untuk dibuat mandi, maka jangan dicurahkan di tempat yang kotor atau yang bernajis, dan jangan dicurahkan di tempat yang dipijak-pijak. Akan tetapi seeloknya dicurahkan di tempat yang bersih dan tidak dipijak-pijak.

    3) Menghindarkan diri dari melakukan perkara yang mendatangkan dosa:

    Di antara perkara yang mesti dijaga bagi orang yang menerima rawatan ialah menjaga dirinya daripada melakukan sebarang perbuatan yang boleh mendatangkan dosa, sama ada dosa kecil apatah lagi dosa besar, khususnya dalam tempoh menerima rawatan, karena melakukan ketaatan dan menghindarkan maksiat merupakan cara atau jalan rawatan yang paling berkesan.

    Al-Imam Ibn Al-Qaiyim pernah berkata: “Di antara jalan yang lebih berkesan dalam pengubatan ialah dengan membuat kebajikan dan ihsan, berzikir (mengingati Allah), berdoa, merendah diri dan memohon dengan sepenuh hati kepada Allah serta bertaubat. Semua ini memberi kesan dalam menolak berbagai penyakit dan menghasilkan kesembuhan, dan itu lebih berkesan berbanding ubat biasa.”

    Sebagai suatu rumusan, Islam ketika meletakkan beberapa batasan mengenai rawatan dengan jampi dan tangkal bukan saja bermaksud untuk menjadikan rawatan tersebut lebih berkesan, akan tetapi yang lebih besar daripada itu ialah hal itu bermaksud untuk memelihara tujuan induknya yaitu menjunjung perintah Allah dan tidak melampaui sempadan laranganNya dan seterusnya menyumbang kepada pemantapan aqidah supaya tidak terseleweng daripada landasan yang sebenar.

    =====SELESAI====

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 21 January 2017 Permalink | Balas  

    Batasan Dan Syarat Berobat Dengan Jampi Dan Tangkal (2/3) 

    syirikBatasan Dan Syarat Berobat Dengan Jampi Dan Tangkal (2/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    4) Bahasa yang digunakan hendaklah difahami maknanya:

    Para ulama bersepakat mensyaratkan bahwa bahasa yang digunakan dalam jampi dan tangkal itu hendaklah terdiri daripada bahasa yang boleh difahami maksudnya.

    Dalam konteks ini, bukan sahaja setakat penjampi atau pembuat tangkal itu dikehendaki mengerti atau faham akan maksud jampinya, bahkan orang yang menerima rawatan melalui jampi tersebut hendaklah juga faham akan maksud jampi yang digunakan. Tujuannya ialah supaya dia tahu bahwa perkataan jampi yang digunakan itu tidak mengandungi perkara-perkara yang bertentangan dengan hukum syara’ seperti perkara yang membawa syirik, sihir dan seumpamanya.

    Di antara dalil yang mendokong larangan berobat dengan jampi mentera dan tangkal yang tidak difahami maksudnya sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika Baginda ditanya tentang jampi yang diamalkan pada zaman jahiliyyah:

    Maksudnya: “Perlihatkan kepada ku jampi-jampi kamu itu, tidak menjadi apa-apa mengamalkan jampi selama mana tidak mengandungi di dalamnya syirik.”

    (Hadits riwayat Muslim dan Abu Daud)

    Al-Imam Ibnu Hajr Al-‘Asqalaani Rahimahullahu Ta’ala menegaskan, hadits di atas memberi petunjuk bahwasanya apa pun jenis jampi yang membawa kepada syirik maka ianya adalah dilarang (bahkan haram). Begitu juga halnya jampi yang tidak difahami makna atau maksudnya, di mana ianya tidak dapat dipastikan bebas daripada perkara syirik, maka dengan sebab itu ianya adalah ditegah oleh syara’ sebagai langkah berjaga-jaga atau berhati-hati.

    5) Ditulis jampi atau tangkal itu dengan benda yang suci:

    Jika sekiranya jampi itu ditulis pada kertas, kulit binatang, logam atau seumpamanya maka hendaklah benda-benda seperti itu terdiri daripada benda yang bersih dan suci. Sebagaimana juga alat yang digunakan untuk menulis hendaklah terdiri daripada benda yang bersih dan suci seperti dakwat, za’faran dan seumpamanya. Oleh itu, tidak harus menggunakan benda-benda yang najis seperti darah, nanah, air kencing dan sebagainya, karena kata-kata Allah (kalaamullaah), nama-nama dan sifat-sifatNya yang Maha Agung dan Maha Suci itu selayaknya tidak bercampur dan tercemar dengan benda-benda yang kotor dan jijik.

    Terdapat setengah pengamal ilmu sihir yang menulis jampi mentera berupa ayat Al-Qur’an dengan menggunakan darah haidh wanita, kemudian menjampinya untuk memanggil jin dan memerintah jin tersebut untuk melakukan apa saja yang dia kehendaki.

    Memang jelas bahwa cara amalan seperti ini merupakan suatu kekufuran yang nyata, karena mempersenda dan mempermain-mainkan surah dan ayat-ayat Al-Qur’an boleh membawa kepada kekufuran.

    Kedua- Batasan-batasan syara’ khusus bagi penjampi:

    1) Hendaklah penjampi itu beragama Islam:

    Adalah disyaratkan orang yang mengubat dengan jampi atau tangkal itu terdiri daripada orang yang beragama Islam. Maka tidak harus bagi orang bukan Islam menjampi orang Islam.

    Apa yang dimaksudkan dengan orang bukan Islam dalam hal ini ialah orang yang bukan ahli kitab yakni bukanYahudi dan Nashrani. Bagi ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) sebagaimana menurut Al-Imam Asy-Syafi’e Rahimahullahu Ta’ala harus menjampi orang Islam, dengan syarat jampi menteranya itu bersumber daripada kitab Allah atau berupa zikrullah.

    Dalil yang menyokong pendapat Imam Syafi’ie itu sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Malik daripada ‘Amrah binti Abdurrahman:

    Maksudnya: “Bahwasanya Abu Bakar masuk berjumpa ‘Aisyah sedang dia (‘Aisyah) mengadu sakit. Pada ketika itu seorang wanita Yahudi menjampi ‘Aisyah, lalu Abu Bakar berkata: “Jampilah dengan kitab Allah.”

    (Hadits riwayat Malik)

    Bagaimana pula kedudukan hukumnya orang Islam menjampi orang bukan Islam? Para ulama tidak mempunyai pandangan berbeda dalam hal ini bahwa seseorang Islam harus menjampi orang yang bukan Islam. Ini adalah berdasarkan hadits yang diriwayatkan daripada Abu Sa’ed Al-Khudri, beliau berkata:

    Maksudnya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus kami dalam suatu peperangan, lalu kami singgah berhenti pada suatu kaum. Kemudian kami meminta kepada mereka agar menjamu kami. Tetapi mereka enggan menjamu kami. Lalu ketua mereka disengat (kalajengking). Mereka pun datang berjumpa kami.

    Lalu mereka berkata: “Adakah di antara kamu sesiapa yang boleh menjampi untuk mengubat sengatan kalajengking?” Aku (Abu Sa’ed) berkata: “Ya, tetapi aku tidak akan menjampinya sehingga kamu memberikan kambing kepada kami.” (Salah seorang kaum itu) berkata: “Sungguh, saya akan memberikan kepada kamu tiga puluh ekor kambing.”

    Kami pun bersetuju, kemudian aku membacakan kepadanya Al-Hamdulillah (Al-Fatihah) sebanyak tujuh kali. Setelah itu ketua kaum itu pun sembuh dan kami menerima kambing. Dia (Abu Sa’ed) berkata: “Lalu timbul sesuatu dalam fikiran kami, kemudia kami berkata: “Janganlah tergesa-gesa sehingga kamu menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

    Dia (Abu Sa’ed) berkata: “Apabila kami datang menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam aku pun menceritakan kepada Baginda apa yang telah aku lakukan.” Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bagaimana kamu tahu bahwa (surah Al-Fatihah) itu adalah jampi? Terimalah kambing itu dan berilah aku bagian bersamamu.”

    (Hadits riwayat At-Tirmidzi)

    Hujjah yang dapat dikemukakan melalui hadits di atas, bahwa perkampungan di mana para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam singgah berhenti di situ pendudukanya terdiri daripada orang kafir, dan salah seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjampi ketua kampung yang kena sengat kalajengking. Apabila perkara tersebut diajukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam Baginda tidak menegahnya. Maka ini menunjukkan harus bagi orang Islam menjampi orang bukan Islam.

    2) Hendaklah penjampi itu orang yang ‘adil dalam beragama:

    Banyak di kalangan para ulama menekankan betapa perlunya orang yang menjampi dengan ayat-ayat Al-Qur’an, nama-nama dan sifat-sifat Allah yang Maha suci lagi Maha Agung hendaklah terdiri daripada orang yang ‘adil dan salih, yaitu orang yang ta’at dalam menjalankan perintah agama, karena kesembuhan – dengan izin Allah jua – akan terhasil melalui lidah orang yang soleh bukan melalui lidah orang yang tidak soleh.

    Apa yang dimaksudkan dengan ‘adil dalam beragama dalam konteks ini ialah suatu sifat dalam diri manusia yang mendorongnya untuk menunaikan apa yang wajib ke atas dirinya, seperti mendirikan sembahyang, berpuasa, membayar zakat, menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia seperti jujur, amanah, bertaqwa dan menjaga maruah. Sebagaimana juga sifat tersebut mendorong dirinya untuk menjauhi segala bentuk dosa-dosa besar, seperti syirik, sihir, penipuan dan sebagainya, dan juga menjauhi dirinya daripada sentiasa melakukan dosa-dosa kecil dan apa-apa juga tindak-tanduk yang membawa kehinaan dan rendah diri.

    Oleh itu, apabila seseorang Islam meninggalkan atau mencuaikan sesuatu yang diwajibkan oleh syara’ ke atasnya atau melakukan sesuatu yang ditegah melakukannya maka dia tidak dikatakan sebagai orang yang ‘adil dalam beragama. Maka dengan itu, tidak seharusnya orang lain meminta bantuan daripada golongan seperti ini untuk berobat dengan jampi mentera. Termasuk di antara golongan ini ialah pengamal sihir, tukang tilik, ahli nujum atau sesiapa saja yang mengamalkan cara mereka.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang umatnya daripada meminta bantuan untuk berobat dengan golongan seperti ini sebagaimana diriwayatkan daripada ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha, beliau berkata:

    Maksudnya: “Beberapa orang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang para tukang tilik.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perkataan mereka itu tidak benar.”

    Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya para tukang tilik itu kadangkala bercerita kepada kami tentang sesuatu, lalu perkara itu benar (menjadi kenyataan).”

    Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Itu adalah kalimat kebenaran yang mereka sambar dari jin, lalu dibisikkan kepada ke telinga pembantunya, kemudian mereka mencampurkan kalimah yang benar itu dengan seratus pembohongan.”

    (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

    Di dalam riwayat yang lain Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda maksudnya :

    “Barangsiapa yang datang berjumpa dukun lalu bertanya tentang sesuatu, maka sembahyangnya tidak akan diterima selama empat puluh malam.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Bersambung

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 20 January 2017 Permalink | Balas  

    Batasan Dan Syarat Berobat Dengan Jampi Dan Tangkal (1/3) 

    syirikBatasan dan Syarat Berobat Dengan Jampi dan Tangkal (1/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Para ulama secara prinsipnya tidak berbeda pandangan mengenai ketetapan harus berobat dengan jampi dan tangkal. Terdapat beberapa jumlah dalil terdiri daripada ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang dijadikan sebagai sandaran untuk mendukung ketetapan hukum tersebut, di mana sebagiannya akan disebutkan kemudian.

    Namun begitu, ketetapan hukum tersebut bukanlah secara mutlak tanpa terikat kepada batasan-batasan tertentu. Islam tidak membiarkan penganutnya bebas begitu saja tanpa meletakkan batas tertentu. Tujuannya ialah bukan untuk mengongkong, tetapi adalah demi mempastikan mereka tidak tergelincir dari landasan syariat yang sebenar dan memelihara kesucian Islam dari bercampur dengan anasir-anasir yang berlawanan dengan syariat Allah Subhanahu wa ta’ala, umpamanya anasir syirik, sihir, khurafat dan sebagainya.

    Jadi, apakah batasan-batasan yang perlu dijaga sehingga dengan itu berobat dengan jampi dan tangkal tidak dianggap sesuatu yang bertentangan dengan hukum syara’?

    Sebelum itu, perlu dijelaskan bahwa batasan-batasan syara’ dalam konteks ini boleh dibahagikan kepada tiga bagian, yaitu:

    1. Batasan-batasan syara’ khusus bagi jampi dan tangkal.
    2. Batasan-batasan syara’ khusus bagi penjampi.
    3. Batasan-batasan syara’ khusus bagi orang yang dirawat.

    Batasan-Batasan Syarak Khusus Bagi Jampi Atau Tangkal :

    1) Hendaklah bersumber daripada Al-Qur’an atau Sunnah Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Para ulama fiqh bersepakat mengatakan bahwa tangkal dan jampi yang dibenarkan hendaklah bersumber daripada Al-Qur’an atau Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ataupun tidak bercanggah dengan kehendak kedua-dua sumber tersebut. Oleh itu, harus berobat dengan jampi dan tangkal yang mengandungi ayat-ayat Al-Qur’an, nama-nama dan sifat-sifatNya Allah yang Maha Mulia, zikir-zikir dan doa-doa yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam.

    Hal ini adalah berdasarkan sebuah hadits diriwayatkan daripada Jabir Radhiallahu ‘anhu beliau berkata yang maksudnya :

    “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang daripada jampian. Lalu keluarga ‘Amr bin Hazm datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka berkata: “Wahai Rasulullah, kami mempunyai jampi yang boleh kami gunakan untuk menjampi sengatan kala, sedangkan engkau melarang jampian.”

    Jabir berkata: “Kemudian mereka pun memperlihatkan jampi mereka kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

    Lantas Baginda bersabda: “Aku tidak nampak ianya menjadi apa-apa, barangsiapa di antara kamu yang boleh menolong saudaranya maka tolonglah dia.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Perbuatan keluarga ‘Amr bin Hazm memperlihatkan jampi mereka kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadits di atas tujuannya ialah untuk memperlihatkan Baginda adakah jampi mereka bercanggah dengan syariat Islam ataupun tidak? Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membenarkannya.

    Maka dengan sebab itu, setiap jampi atau tangkal yang hendak diamal atau dipakai itu tidak boleh bersumber daripada selain Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ataupun yang bercanggah dengannya.

    2) Tidak mengandungi syirik:

    Syirik ialah suatu perbuatan menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain yaitu menyembah selain Allah, atau percaya kepada sesuatu benda mempunyai kuasa menyembuh, menyelamatkan daripada malapetaka, mendatangkan keuntungan atau sebagainya juga merupakan perbuatan syirik.

    Dosa syirik merupakan sebesar-besar dosa sebagaimana firman Allah Ta’ala yang tafsirnya :

    “Dan sesiapa yang mempersekutukan Allah (dengan sesuatu yang lain), maka sesungguhnya ia telah melakukan dosa yang besar.”

    (Surah An-Nisaa’, ayat 48)

    Firman Allah Ta’ala di dalam ayat yang lain yang tafsirnya :

    “Dan sesiapa yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu (apa jua) maka sesungguhnya ia telah sesat dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya.”

    (Surah An-Nisaa’, ayat 116)

    Sehubungan dengan itu, jampi mentera dan tangkal yang mengandungi apa-apa jua unsur syirik adalah dilarang menurut hukum syara’. Diriwayatkan daripada ‘Auf bin Malik Al-Asyja’e, beliau berkata yang maksudnya :

    “Kami pada zaman jahiliah dahulu mengamalkan jampi, lalu kami bertanya: “Wahai Rasulullah! Bagaimana pendapatmu mengenai hal itu?” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Perlihatkan kepada ku jampi-jampi kamu itu, tidak menjadi apa-apa mengamalkan jampi selama mana tidak mengandungi di dalamnya syirik.”

    (Hadits riwayat Muslim dan Abu Daud)

    Maka berdasarkan hadits di atas jelas bahwa berobat menggunakan jampi atau tangkal yang mengandungi unsur syirik adalah tidak diharuskan, walaupun jampi atau tangkal seumpama itu memberi kesan yang positif kepada pemakainya, pesakit yang dijampi atau seumpamanya. Begitu juga halnya jampi dan tangkal yang mengandungi perkataan-perkataan kufur.

    3) Tidak mengandungi unsur-unsur sihir:

    Menurut Al-Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala, para ulama secara ijma’ mengatakan bahwa mengamalkan sihir itu hukumnya adalah haram. Maka dalam hal ini, tidak hairanlah jika para ulama bersepakat menegaskan tentang larangan berobat dengan jampi dan tangkal yang mengandungi unsur-unsur sihir.

    Apa yang dimaksudkan dengan sihir di dalam konteks ini ialah orang yang menjampi atau pembuat tangkal itu meminta bantuan kepada jin atau syaitan dalam jampi menteranya.

    Di antara dalil-dalil yang diboleh dikemukakan sebagai sandaran untuk menegaskan tentang larangan sihir itu sebagaimana firman Allah Ta’ala yang tafsirnya :

    “Dan campakkanlah apa yang ada di tangan kananmu, nescaya ia menelan segala (benda-benda sihir) yang mereka lakukan, karena sesungguhnya apa yang mereka lakukan itu hanyalah tipu daya ahli sihir; sedang ahli sihir itu tidak akan beroleh kejayaan, di mana sahaja ia berada.”

    (Surah Thaha, ayat 69)

    Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, daripada Nabi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam Baginda bersabda yang maksudnya :

    “Jauhilah tujuh perkara maksiat.” Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, apakah itu?”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mensekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan hak, makan riba, makan harta anak yatim, berpaling dari medan pertempuran perang dan menuduh berbuat zina kepada perempuan-perempuan yang baik-baik dan beriman yang tidak terfikir untuk melakukan maksiat.”

    (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

    Orang yang mengamalkan sihir tidak akan mendapat pertolongan daripada syaitan untuk menunaikan hajatnya melainkan setelah dia mempertaruhkan atau menggadaikan agamanya dan aqidahnya, dan merosakkannya demi menjunjung ketaatan kepada perintah syaitan, seterusnya berbuat dosa kepada Allah dan menyembah selain Allah.

    Diceritakan suatu kisah berlaku pada awal abad ini mengenai seorang ahli sihir yang tinggal di bagian sebelah atas negeri Mesir. Di antara kepandaiannya, beliau pernah meminta beberapa orang supaya mencampakkan cincin mereka ke dalam laut. Apabila mereka mencampakkannya beliau akan mengembalikannya semula kepada mereka. Selain itu, beliau juga boleh melakukan banyak perkara-perkara lain yang aneh dan luar biasa. Pada suatu hari beliau pun meninggal dunia. Setelah itu, anaknya ingin mengikut jejak langkah bapanya untuk melakukan pekerjaan sebagaimana yang dilakukan oleh bapanya sebelum ini. Akan tetapi ibunya membantah dan melarangnya daripada berbuat demikian. Lalu si anak pun bertanya kepada ibunya, apakah gerangan sebab dia dilarang mengikut jejak langkah bapanya? Kemudian ibunya membuka almari dan mengeluarkan patung daripada almari tersebut sambil berkata: “Sesungguhnya bapakmu dulu menyembah patung ini supaya syaitan memberi pertolongan kepadanya untuk melakukan sesuatu yang luar biasa. Oleh itu, jangan engkau menjadi kafir sebagaimana bapa mu telah menjadi kafir.”

    Oleh yang demikian, nyatalah bahwa sihir itu boleh menyebabkan pengamalnya terseret kepada perbuatan dosa yang amat besar, dan dengan itu juga orang yang meminta pertolongan dengan pengamal ilmu sihir akan sama-sama mendapat dosa. Jadi, berobat dengan jampi mentera atau tangkal yang mengandungi unsur sihir itu adalah ditegah oleh syara’.

    Bersambung

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:02 am on 19 January 2017 Permalink | Balas  

    Menerima Sumbangan dari Orang non Islam 

    sedekah-2Menerima Sumbangan dari Orang non Islam

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Pendapat Ulama Mengenai Keharusan Menerima Sumbangan Orang Bukan Islam

    Menurut nash-nash mazhab yang empat adalah harus orang-orang Islam berurusniaga, bekerjasama dan bergaul dengan orang-orang bukan Islam seperti menerima hadiah atau wasiat sehingga dalam perkara membangun masjid.

    Secara umumnya penjelasan perkara ini adalah seperti berikut:

    “Dasar umum dalam Islam menghendaki supaya urusan-urusan kewangan dan kontrak-kontrak (akad-akad) dan semua peraturan-peraturan bukanlah suatu larangan. Oleh yang demikian adalah harus orang-orang bukan Islam berkongsi niaga, dalam mudhârabah, bercocok tanam, mengairi tanaman dan lain-lain.”

    Memang tidak dinafikan bahwa ada pengecualian-pengecualian dalam urusan-urusan tertentu yang terlarang dalam Islam seperti larangan dalam jual beli khinzîr, arak dan lain-lain sebagaimana perkara itu disebut dengan terperinci dalam kitab-kitab fiqh.

    Dalam mazhab Syafi’e wasiat dan wakaf itu sebagian daripada akad (kontrak) tabarru’ (seperti derma atau pemberian) dan hubungan sesama manusia adalah harus hukumnya selama ianya bukan karena tujuan maksiat.

    Menurut nash Al-Imam Al-Syafi’e dengan terang menyatakan adalah harus orang bukan Islam berwasiat membina masjid untuk orang-orang Islam. Al-Imam itu juga mengharuskan orang bukan Islam berwakaf sekalipun untuk masjid.

    Berkata Al-Imam Al-Nawawi dalam Raudhah Al-Thâlibîn 6/98: Artinya: “Sah wasiat orang kafir dengan sesuatu yang boleh dijadikan harta atau boleh dimiliki. Dan tidak sah wasiat dengan arak dan khinzîr sama ada wasiat itu untuk orang Islam atau orang dzimmi, dan tidak juga bagi tujuan maksiat seperti menta’mîr gereja atau membangunnya atau mencetak kitab Taurat dan Injil atau membaca kedua-kedua kitab itu dan lain-lain seumpamanya.”

    Katanya lagi:

    Artinya: “Harus bagi orang Islam dan orang dzimmi berwasiat untuk menta’mîr Masjid Al-Aqsha dan lain-lain masjid, menta’mîr perkuburan nabi-nabi, ulama-ulama dan orang-orang salih karena dengan penta’mîran ini tujuannya menghidupkan orang-orang ziarah dan untuk memperolehi tabarruk.”

    Pengarang Al-Sirâj Al-Wahhâb iaitu Muhammad Al-Zuhri Al-Ghamrawi sewaktu menguraikan Matn Al-Minhâj bagi Al-Nawawi tentang ‘Apa yang harus dalam jual beli harus pula menghibahkannya.” Menurut pengarang ini bahwa:

    Artinya: “Setiap apa yang harus jualbelikan, harus pula menghibahkannya, dan apa yang tidak harus diperjualbelikan, seperti barang yang tidak diketahui, yang dirampas, yang hilang, maka tidak harus dihibahkan.” (h. 308)

    Dengan ini jelaslah bahwa orang-orang Islam boleh berurusniaga dengan orang-orang bukan Islam, kecuali yang dilarang oleh Islam seperti khinzîr dan arak. Maka menghadiahkan sesuatu harta atau manfaat oleh orang bukan Islam kepada orang Islam adalah termasuk dalam kaedah yang disebutkan oleh Al-Imam Nawawi di atas.

    Menurut kitab Kifâyah Al-Akhyâr fî Hilli Ghâyah Al-Ikhtishâr katanya:

    Artinya: “Dan sekiranya yang mewakafkan itu seorang dzimmi, lalu dia berhukum kepada kita dalam perkara yang sedemikian itu (mewakafkan sesuatu harta kepada rumah berhala, gereja, kitab-kitab Taurat dan Injil) boleh kita batalkan wakafnya itu, sekiranya wakaf itu kepada sudut dalam hal-hal yang dilarang oleh orang Islam.”

    Maka berdasarkan nash-nash di atas adalah harus bagi orang Islam menerima dan menggunakan apa-apa juga barang yang didermakan, atau diberikan atau dihibahkan oleh orang bukan Islam itu selama ia tiada bercanggah dengan nash dan kaedah di atas.

    Adapun mengenai dengan maksud hadis yang mengatakan bahwa: “Allah itu Thayyib (baik atau bagus) tidak akan menerima melainkan yang baik juga”, tidaklah termasuk dalam persoalan ini, karena maksud penerimaan Allah hanya yang baik-baik itu ialah yang berkaitan dengan pemberian ganjaran pahala, sedangkan pahala itu tiada diberikan kepada orang bukan Islam.

    Menerima Sumbangan Daripada Syarikat Dan Bank Konvensional

    Bank-bank konvensional pada lazimnya tidak sunyi daripada bermuamalah secara riba, terutama dalam soal pinjam-meminjam. Riba itu haram dalam Islam berdasarkan al-Quran dan hadits. Namun demikian bank konvensional ada juga bermuamalah dengan perkara-perkara yang dibenarkan oleh syara’ seperti mengendalikan tukaran wang asing, perkhidmatan pengiriman wang, upah menyimpan harta benda dan lain-lain seumpamanya.

    Apabila kedudukan sesebuah bank konvensional seperti di atas, bermakna bank memiliki harta yang bercampur-campur dari sumber yang haram dan dari yang halal. Mungkin susah untuk membezakan di antara keduanya.

    Mengenai harta yang haram para jumhur ulama mengharuskan boleh dibelanjakan wang haram bagi maslahat umat Islam berdasarkan hadits yang dibawakan oleh Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulum Ad-Din di bawah tajuk “Halal Haram” dan telah mengeluarkan Al-Iraqi hadits daripada Al-Imam Ahmad dengan sanadnya yang bagus, daripada ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha katanya:

    Maksudnya: “Nabi Shallallahu àlaihi wasallam dihadiahkan seekor kambing panggang. Aku (‘Aisyah) mengatakan kepada Baginda, bahwa daging itu haram, Nabi pun tidak memakannya, (sebaliknya) memerintahkannya supaya diberikan. Baginda bersabda: “Beri makan kambing panggang itu kepada orang-orang tawanan.”

    Menurut Al-Imam Al-Ghazali di dalam kitabnya Ihya’ Ulum Ad-Din: “Jika bercampur benda-benda halal yang tidak terbatas dengan benda-benda haram yang tidak terbatas, sepertimana harta-harta yang ada pada masa kini, maka tidak haram mengambil sesuatu daripadanya walaupun ia mengandungi benda-benda halal dan haram itu, melainkan ada bukti yang menunjukkan benda-benda itu haram. Kalau tidak ada pada benda itu sesuatu tanda yang menunjukkan ianya haram, meninggalkannya adalah wara’ dan mengambilnya halal yang tidak akan menjadi fasiq memakannya.

    Sesungguhnya telah dimaklumi di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Khalifah Rasyidin dan sesudahnya bahwa ada harga-harga arak dan dirham-dirham riba daripada tangan kafir zimmi (kafir yang dijamin keselamatannya oleh pemerintah Islam) bercampur baur dengan harta-harta lain, dan begitu juga harta-harta yang diambil dari harta rampasan perang.

    Sejak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengharamkan riba ketika Baginda mengerjakan haji wada’ tidaklah semua manusia meninggalkan amalan riba itu secara menyeluruh, sebagaimana mereka tidak meninggalkan minuman arak dan maksiat-maksiat yang lain, sehingga diriwayatkan bahwa sebagian sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjual arak, lalu Umar Radhiallahu ‘anhu berkata: “Adalah dikutuk oleh Allah kiranya si pulan di mana dia orang yang pertama yang menjalankan penjualan arak, karena dia tidak memahami bahwa pengharaman arak itu adalah (termasuk juga) pengharaman harganya.”

    Adapun orang-orang yang enggan berjual beli daripada harta-harta (yang bercampur itu) hanyalah menunjukkan sifat wara’, sedangkan banyak ulama tidakpun menegah berjual beli dengan harta-harta yang bercampur-campur itu padahal banyak harta-harta dirompak pada masa-masa pemerintahan orang-orang yang zalim.”

    Berdasarkan pandangan Al-Ghazali di atas adalah harus membeli atau mengambil barang-barang yang bercampur aduk di antara halal dan haram.

    Oleh yang demikian, tidaklah mengapa jika sumbangan berupa kewangan, cenderamata atau yang seumpamanya daripada syarikat-syarikat atau bank kewangan konvensional itu diambil atau diterima.

    Bagaimanapun, menurut Al-Ghazali sendiri tentang benda-benda halal dan haram yang bercampur-campur dengan tidak terbatas, jika pada benda-benda itu tiada terdapat suatu tanda yang menunjukkan haramnya, maka meninggalkannya adalah ‘wara’, dan mengambilnya pula dibolehkan tiada menjadi fasik. Wara’ itu ialah menjauhi segala syubhah karena takut terjatuh dalam haram atau melazimkan membuat pekerjaan-pekerjaan yang terpuji dan meninggalkan pekerjaan-pekerjaan yang buruk dan keji.

    wallohu ‘alam bish-showab,-

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 18 January 2017 Permalink | Balas  

    Sedekah : Mana Yang Lebih Utama Kualitas Atau Kuantitas? (2/2) 

    sedekah-masjidSedekah : Mana Yang Lebih Utama Kualitas Atau Kuantitas? (2/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Kualiti atau Kuantiti?

    Antara perkara yang perlu diberi perhatian dalam amalan bersedekah adalah kualiti atau mutu barang yang disedekahkan. Jadi, apakah ciri-ciri yang memenuhi kualiti yang dikehendaki di sini?

    Terdapat tiga perkara yang mesti dipenuhi untuk menjadikan pemberian sedekah itu berkualiti:

    Pertama, mestilah barang yang disedekahkan itu dari kategori yang bagus, yang baik.

    Sebagaimana yang disebutkan terdahulu, bahwa bersedekah merupakan ibadat untuk merapatkan hubungan kita dengan Allah yang Maha Luas pemberianNya, untuk mensyukuri segala nikmat yang dianugerahkan kepada kita, adalah tidak layak jika apa yang dipersembahkan kepadaNya terdiri dari benda-benda yang kita sendiri tidak sudi menerimanya.

    Oleh itu, kalau hendak memberi sedekah biarlah dari jenis yang kita sendiri senang hati jika kita yang menerimanya, bukannya dari jenis yang kita sendiri tidak senang hati jika kita yang menerimanya, malahan hanya menerimanya karena terpaksa, karena menjaga hati pemberinya.

    Allah subhanahu wa ta’ala melarang memberikan sedekah dengan benda yang tidak baik, sebagaimana firmanNya yang tafsirnya :

    “Wahai orang-orang yang beriman! Belanjakanlah (pada jalan Allah) sebagian dari hasil usaha kamu yang baik-baik, dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu sengaja memilih yang buruk daripadanya (lalu kamu dermakan atau kamu jadikan pemberian zakat), padahal kamu sendiri tidak sekali-kali akan mengambil yang buruk itu (kalau diberikan kepada kamu), kecuali dengan memejamkan mata padanya. Dan ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Kaya, lagi sentiasa Terpuji.” (Surah Al-Baqarah, ayat 267)

    Kedua, dan yang penting sekali ialah sedekah itu daripada sesuatu yang halal yang tidak bercampur dengan perkara syubhah.

    Di riwayatkan daripada Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Tidak seseorang itu memberikan sedekah dari harta yang baik – dan Allah tidak akan menerima kecuali yang baik – melainkan Allah yang Maha Pengasih akan Menerima sedekah itu dengan tangan kananNya, sekalipun sedekah itu hanya berupa sebiji kurma. Lalu di tangan Allah yang Maha Pengasih sedekah itu bertambah-tambah sehingga menjadi lebih besar daripada gunung, sebagaimana di antara kamu memelihara (membesarkan) anak kudanya atau anak untanya.”

    (Hadits riwayat Bukhari, Musli, At-Tirmidzi, An-Nasa’ie dan Ibnu Majah)

    Al-Imam An-Nawawi salah seorang ulama terkemuka dalam mazhab Syafi’e telah menjelaskan bahwa apa yang dimaksudkan dengan “Attoyyib” (yang baik) di dalam hadits di atas ialah sesuatu yang halal.

    Di dalam hadits yang lain, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang bermaksud :

    “Wahai manusia! Sesungguhnya Allah itu baik (suci, bersih dari segala kekurangan), dan Dia tidak menerima kecuali yang baik. Dan Allah Memerintahkan kepada orang-orang yang beriman dengan apa yang Dia Perintahkan kepada para Rasul.

    Allah berfirman (tafsirnya): “Wahai Rasul-rasul! Makanlah dari benda-benda yang baik-baik lagi halal dan kerjakanlah amal-amal saleh; sesungguhnya Aku Amat Mengetahui akan apa yang kamu kerjakan.”(Surah Al-Mukminuun, ayat 51)

    Allah berfirman lagi (tafsirnya): “Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari benda-benda yang baik (yang halal) yang telah kami berikan kepada kamu.”(Surah Al-Baqarah, ayat 172)

    Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan tentang seorang yang mengadakan perjalanan jauh, yang kusut rambutnya lagi berdebu, dia menadahkan kedua tangannya ke langit, seraya berdoa: “Ya Tuhanku! ya Tuhanku!”,sedangkan makanannya dari yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan yang haram, lalu bagaimana doanya itu diperkenankan?”

    (Hadits riwayat Muslim dan At-Tirmidzi)

    Dalam mengulas hadits di atas, Al-Imam An-Nawawi menegaskan bahwa itu memberi galakan atau dorongan supaya apa yang dinafkahkan atau dibelanjakan itu hendaklah dari benda yang halal, dan melarang dari menafkahkan benda-benda yang tidak halal. Dan apa jua yang diminum, dimakan, dipakai dan seumpamanya hendaklah dari benda yang halal semata-mata yang tidak ada keraguan atau syubhah padanya.

    Dari ulasan di atas, dapatlah diambil pengajaran bahwa membelanjakan harta di jalan Allah itu salah satunya ialah dengan jalan bersedekah. Oleh itu, adalah sewajarnya benda yang disedekahkan itu daripada yang halal semata-mata, tanpa bercampur dengan elemen-elemen yang meragukan atau syubhah. Ini merupakan tuntutan Allah dan RasulNya sebagaimana jelas di dalam hadits-hadits yang disebutkan tadi; sesungguhnya Allah itu tidak akan menerima kecuali sesuatu yang baik, sesuatu yang halal.

    Ketiga, itu terdiri dari barang yang disayangi oleh pemberi sedekah.

    Sunat hukumnya bagi seseorang mengeluarkan sedekah atau derma daripada benda-benda yang disukainya. Ini jelas sebagaimana firman Allah Ta’ala yang tafsirnya :

    “Kamu tidak sekali-kali akan dapat mencapai (hakikat) kebajikan dan kebaktian (yang sempurna) sebelum kamu dermakan sebagian dari apa yang kamu sayangi.” (Surah Aali ‘Imraan, ayat 92)

    Sebenarnya di sinilah juga merupakan ujian yang berat bagi orang yang mengaku dirinya beriman. Seorang yang tidak sanggup mengeluarkan, membelanjakan atau mendermakan sesuatu yang amat disayangi atau disukainya belumlah mencapai taraf keimanan yang tinggi, belumlah dikatakan mempunyai jiwa yang baik.

    Ketiga-tiga komponen yang kita sebutkan di atas adalah perlu ada pada jenis mata benda yang disedekahkan untuk dikategorikan sebagai sedekah berkualiti. Adapun kuantiti atau sedikit dan banyak sesuatu pemberian itu bukanlah menjadi ukuran.

    Oleh itu, tidak semestinya pemberian itu dengan jumlah bilangan yang banyak, malahan sunat bagi seseorang bersedekah atau menderma walaupun dengan bilangan yang sedikit. Tidak perlu malu untuk bersedekah atau menderma dengan jumlah wang yang kecil atau dengan sesuap makanan umpamanya, karena yang demikian itu amat bernilai di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana firmanNya yang maksudnya :

    “Maka barang siapa berbuat kebajikan seberat zarrah, niscaya akan dilihatnya (dalam surat amalnya).” (Surah Az-Zalzalah, ayat 7)

    Di dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Takutlah kamu akan api neraka walaupun dengan separuh buah kurma.”

    (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

    Hadits di atas memberi dorongan untuk bersedekah walaupun dengan mata benda yang sedikit bilangannya, sekalipun bersedekah dengan separuh buah kurma, karena yang demikian itu sungguhpun itu sedikit tetapi mampu untuk menyelamatkan tuannya daripada api neraka.

    Perkara Yang Merusakkan Sedekah

    Antara elemen terpenting dalam amalan bersedekah adalah keikhlasan. Bersedekah biarlah terbit daripada hati nurani yang bersih, ikhlas untuk membantu orang lain. Oleh karena itu, perlunya ada etika pada diri orang yang bersedekah atau menderma, antaranya jangan mengungkit-ungkit dan menyakiti orang yang menerima sedekah atau derma.

    Apabila seseorang mengungkit-ungkit kembali pemberian sedekah yang telah dihulurkannya, nyatalah bahwa dia tidak memberi dengan keikhlasan, tidak memberi dengan hati yang bulat karena Allah.

    Sebagai contoh, seorang yang telah menghulurkan derma untuk mendirikan masjid, lalu dia diminta sekali lagi untuk memberi bantuannya. Tiba-tiba diungkit-ungkit pemberiannya yang dahulu: “Mengapa datang lagi, bukankah tempo hari saya sudah menderma”. Padahal kalau dia mau, kalau dia ikhlas beberapa kali memberi derma pun tidak menjadi masalah.

    Begitu juga halnya dengan menyakiti orang yang diberi, kelakuan seperti ini tidak sekali-kali menunjukkan keikhlasan si pemberi. Biarpun dia menghulurkan sedekah tetapi diiringi dengan kata-kata yang boleh memalukan dan menyinggung perasaan orang yang diberi, pemberiannya itu tidak mendatangkan apa-apa ganjaran, malahan boleh mendatangkan dosa.

    Para ulama bersepakat mengatakan bahwa perbuatan mengungkit-ungkit kembali sedekah, derma atau sumbangan yang telah diberikan dan menyakiti orang yang menerima pemberian tersebut adalah haram hukumnya, dan merusakkan pahala amal sedekahnya itu. Hal ini telah diperuntukkan dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang tafsirnya :

    “Wahai orang-orang yang beriman! Jangan rusakkan (pahala amal) sedekah kamu dengan perkataan membangkit-bangkit dan (kelakuan yang) menyakiti, seperti (rusaknya pahala amal sedekah) orang yang membelanjakan hartanya karena menunjuk-nunjuk kepada manusia (riya’), dan ia pula tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhirat.” (Surah Al-Baqarah, ayat 264)

    Perkara mengungkit-ungkit pemberian sedekah atau derma dan menyakiti hati orang yang diberi sedekah atau derma, termasuk dalam golongan orang yang rendah akhlak. Orang seperti ini tidak sedar dan insaf bahwa kekayaan dan rezeki yang dikurniakan Allah kepadanya, tidaklah ada artinya kalau dia terputus hubungan dengan masyarakat, karena antara tujuan bersedekah, menderma, menghulur sumbangan merupakan jalan penghubung dan pengerat sesama manusia.

    Sifat riya’ atau sifat menunjuk-nunjuk juga boleh menjadi punca rusaknya sesuatu pemberian sedekah. Sedekah tidak ada apa-apa nilai jika itu dihulurkan hanya untuk mendapat pujian orang, hanya untuk memberitahu orang bahwa dia seorang yang pemurah, padahal jika tidak dilihat orang dia tidak akan mengeluarkan sedekah. Oleh itu, ikhlas merupakan kunci kejayaan untuk mendapat ganjaran daripada amalan bersedekah.

    Sebagai suatu kesimpulan, segala apa yang dikeluarkan atau diberikan dengan niat mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, sama ada itu dinamakan sebagai sedekah, derma, sumbangan atau seumpamanya, adalah penting untuk diperhati aspek kualiti benda atau barang yang diberikan itu. Pendek kata, kualiti adalah menjadi ukuran bukannya kuantiti. Allah Maha Mengetahui segala apa yang kita dermakan atau sedekahkan, sebagaimana firmanNya yang tafsirnya :

    “Dan suatu apa jua yang kamu dermakan maka sesungguhnya Allah Mengetahuinya.” (Surah Ali ‘Imran, ayat 92)

    Wallohu a’lam bish-showab,-

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 17 January 2017 Permalink | Balas  

    Sedekah : Mana Yang Lebih Utama Kualitas Atau Kuantitas? (1/2) 

    adab-sedekahSedekah : Mana Yang Lebih Utama Kualitas Atau Kuantitas? (1/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Apa yang dimaksudkan dengan sedekah dari pandangan syara’ ialah pemberian semasa hidup kepada seseorang tanpa ada tukar ganti atas dasar mendekatkan diri kepada Allah.

    Berdasarkan pengertian tersebut, bahwa apa juga jenis pemberian berupa mata benda tanpa ada bayaran balik sebagai imbalan atas pemberian tersebut melainkan yang diharapkan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka itu disebut sebagai sedekah, seperti sedekah wajib, sedekah sunat, wakaf, derma, sumbangan dan sebagainya.

    Mengapa kita sebut ‘mata benda’? Karena itu akan membedakan antara sedekah dengan pinjaman. Pinjaman ialah pemilikan kepada seseorang sesuatu manfaat akan tetapi mata bendanya tetap menjadi milik orang yang meminjamkan.

    Mengapa pula kita sebut ‘atas dasar mendekatkan diri kepada Allah’? Karena yang demikian itu akan membedakan antara sedekah dengan hibah dan hadiah. Apabila sesuatu pemberian itu dengan tujuan untuk mempererat dan merapatkan hubungan maka itu disebut sebagai hibah. Manakala jika itu dimaksudkan untuk memuliakan orang yang diberi maka itu dinamakan hadiah. Jelas di sini bahwa titik perbedaan antara sedekah dengan hibah dan hadiah adalah dari aspek niat atau tujuan sesuatu pemberian.

    Namun pada kebiasaannya perkataan sedekah itu di kalangan para ulama fiqh lebih kerap dimaksudkan kepada sedekah sunat. Dalam istilah masyarakat kita selain sedekah itu juga disebut sebagai derma atau sumbangan. Kedua-dua istilah derma dan sumbangan itu selama mana dimaksudkan oleh pelakunya, yakni yang memberi derma atau sumbangan sebagai amalan untuk merapatkan hubungan dirinya dengan Allah subhanahu wa ta’ala dan mencari keredhaanNya maka yang demikian itu dikategorikan sebagai sedekah. Sementara sedekah wajib itu lebih dikenali dengan istilah zakat.

    Memberi sedekah itu hukumnya sunat. Banyak terdapat dalil-dalil syara’ yang memperuntukkan suruhan dan galakkan bersedekah. Antaranya sebagaimana firman Allah:

    Tafsirnya: “Siapakah orangnya yang (mau) memberikan pinjaman kepada Allah, sebagai pinjaman yang baik (ikhlas) supaya Allah melipatgandakan akan balasannya dengan berganda-ganda banyaknya? Dan (ingatlah) Allah jualah yang menyempit dan meluaskan (pemberian rezeki), dan kepadaNya lah kamu semua dikembalikan.”

    (Surah Al-Baqarah, ayat 245)

    Firman Allah di dalam ayat yang lain:

    Tafsirnya: “Dan dirikanlah sembahyang serta berilah zakat; dan berikanlah pinjaman kepada Allah sebagai pinjaman yang baik (ikhlas). Dan (ingatlah) apa jua kebaikan yang kamu kerjakan sebagai bekalan untuk diri kamu, tentulah kamu akan mendapat balasannya pada sisi Allah sebagai balasan yang sebaik-baiknya dan amat besar pahalanya. Dan mintalah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah amat Pengampun, lagi amat Mengasihani.”

    (Surah Al-Muzzammil, ayat 20)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga ada menyebutkan mengenai suruhan dan galakkan bersedekah itu, sebagaimana Baginda bersabda yang maksudnya :

    Maksudnya: “Mana-mana orang mukmin yang memberi makanan kepada seorang mukmin yang lain karena kelaparan, maka Allah akan memberi makanan kepadanya pada Hari Kiamat dari buah-buah Syurga. Dan mana-mana orang mukmin yang memberi minuman kepada seorang mukmin yang lain karena kehausan, maka Allah akan memberi minuman kepadanya pada Hari Kiamat dari khamar Syurga yang termetri bekasnya. Dan mana-mana orang mukmin yang memberi pakaian kepada seorang mukmin yang lain karena tidak berpakaian, maka Allah akan memberi pakaian kepadanya dari pakaian Syurga yang berwarna hijau.”

    (Hadits riwayat At-Tirmizi dan Abu Daud)

    Daripada dalil-dalil yang disebutkan dapatlah ditanggapi bahwa suatu pemberian karena Allah akan dibalas dengan sebaik-baik balasan atau ganjaran daripada Allah subhanahu wa ta’ala, dan sudah tentu balasan itu tidak akan diperolehi kecuali melalui amalan-amalan berkebajikan yang telah dilakukan oleh seseorang hamba, baik amalan tersebut berbentuk sumbangan harta ataupun tenaga. Apabila Allah berjanji untuk membalas amalan kebaikan itu, maka ini menunjukkan betapa amalan tersebut adalah suatu yang dituntut oleh syara’, dan ini termasuklah memberi sedekah.

    Sedekah itu boleh dilakukan pada setiap saat, lebih-lebih lagi di bulan Ramadhan, karena di bulan inilah yang lebih dituntut untuk memperbanyakkan sedekah sebagai mengikut sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling pemurah lebih-lebih lagi di bulan Ramadhan. Ini jelas sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma beliau berkata yang maksudnya :

    Maksudnya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan orang yang paling pemurah (dermawan), dan Baginda lebih pemurah pada bulan Ramadhan ketika Jibril bertemu Baginda. Jibril bertemu Baginda shallallahu ‘alaihi wasallam pada setiap malam Ramadhan, lalu Baginda membacakan Al-Qur’an. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu adalah seorang yang lebih pemurah (dermawan) dalam kebaikan daripada angin yang diutus.”

    (Hadits riwayat Bukhari, Muslim dan An-Nasa’ie)

    Di dalam riwayat yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya, sedekah manakah yang lebih afdhal? Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab yang bermaksud:

    Maksudnya: “Sedekah di bulan Ramadhan.”

    (Hadits riwayat At-Tirmidzi)

    Bersambung

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 16 January 2017 Permalink | Balas  

    Perbuatan Yang Ihsan 

    prasangka baikPerbuatan Yang Ihsan

    Oleh: O. Solihin

    Seorang ulama yang hidup di masa Abdul Malik bin Marwan, Sa’id bin Jubair, pernah mengatakan:

    “Tidak diterima suatu perkataan kecuali disertai amal, tidak akan diterima perkataan dan amal kecuali disertai niat, dan tidak akan diterima perkataan, amal dan niat kecuali disesuaikan dengan sunnah Nabi Saw.”

    Saking pentingnya ihsan dalam beramal ini, sampai-sampai Imam Malik mengatakan:

    “Sunnah Rasulullah Saw itu ibarat perahu nabi Nuh. Siapa yang menumpanginya ia akan selamat; sedangkan yang tidak, akan tenggelam.”

    Tradisi kaum muslimin di masa lalu berkaitan dengan amalnya dalam kehidupan sehari-hari selalu menyandarkan kepada tuntutan Allah dan Rasul-Nya. Sehingga untuk masalah yang kecil seperti bagaimana tatacara bersuci dari hadats besar atau kecil sampai urusan muhasabah (mengoreksi) penguasa selalu mengikuti petunjuk yang diberikan Allah dan Rasul-Nya. Tentu saja hal semacam itu menjadikan kaum muslimin generasi terdahulu senantiasa berada di jalur yang benar dalam aktivitas kehidupan sehari-harinya. Mereka berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan semata berlomba-lomba dalam banyaknya amal (perbuatan). Firman Allah:

    “…supaya Dia menguji kalian siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (Qs. al-Mulk [67]: 2).

    Jadi, bukan yang terbanyak amalnya yang akan dinilai oleh Allah, tetapi yang terbaik amalnya.

    Namun, tradisi kaum muslimin generasi mutaakhirin (sekarang ini) ternyata sudah mulai melupakan atau bahkan tidak lagi menghiraukan rambu-rambu yang diberikan Allah dan Rasul-Nya ketika melakukan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga wajar bila akhirnya kaum muslimin kesulitan sendiri dalam melakukan berbagai amal. Malah tak jarang yang akhirnya menempuh cara-cara yang tak pernah diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Praktek-praktek KKN yang diduga kuat dibudayakan orde baru ternyata tradisinya masih terasa sampai sekarang. Dalam urusan amar ma’ruf nahyi munkar kaum muslimin tidak lagi menempatkan dirinya pada posisi yang benar. Dengan kata lain, cara-cara yang ditempuh tidak sejalan dengan sunnah Nabi saw. Yakni cenderung brutal dan menghalalkan segala cara. Artinya, ketika akan meluruskan kesalahan, ternyata cara yang diambil justeru bertentangan dengan Islam. Jadi, membenarkan kesalahan dengan kesalahan.

    Dengan demikian, amal yang baik (ihsan) menurut salah seorang guru Imam Syaifi’i, yakni Fudlail bin ‘Iyadl ketika menjelaskan ayat 2 surat al-Mulk [67] adalah amal yang paling ikhlas dan paling benar. Ketika ditanyakan. “Wahai Abu Ali, Apakah maksud paling ikhlas dan paling benar?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya suatu amal sekalipun benar tetapi tidak dikerjakan dengan ikhlas, maka amal tersebut tidak akan diterima. Sebaliknya, jika dikerjakan dengan ikhlas namun tidak dengan cara yang benar, maka amal tersebut juga tidak akan diterima. Ikhlas hanya dapat terwujud manakala amal itu diniatkan secara murni kepada Allah SWT, sedangkan amal yang benar hanya dapat terwujud dengan mengikuti sunnah Nabi Saw.” (Fauzy Sanqarth, At-Taqorrub ila Allah Thoriqut Taufiq).

    Di antara tanda-tanda ikhlas adalah tunduk kepada kebenaran, dan menerima nasihat sekalipun dari orang yang lebih rendah tingkat ilmunya. InsyaAllah bila kita mengikuti perintah dan tuntutan dari Allah dan Rasul-Nya dalam beramal ini, amal yang kita kerjakan tidak akan sia-sia, dan tentu saja dinilai sebagai amal yang ihsan (baik). Wallahu’alam bishowab.

    ***

    hayatulislam.net

     
  • erva kurniawan 8:50 am on 11 January 2017 Permalink | Balas  

    Istighfar 

    IstighfarIstighfar

    Imam Ahmad bin Hambal Rahimakumullah (murid Imam Syafi’i) dikenal juga sebagai Imam Hambali. Dimasa akhir hidupnya beliau bercerita;

    Suatu waktu (ketika saya sudah usia tua) saya tidak tahu kenapa ingin sekali menuju satu kota di Irak. Padahal tidak ada janji sama orang dan tidak ada keperluan.

    Akhirnya Imam Ahmad pergi sendiri menuju ke kota Bashrah. Begitu tiba di sana waktu masuk sholat Isya’, saya ikut shalat berjamaah Isya di masjid, hati saya merasa tenang, kemudian saya ingin istirahat.

    Begitu selesai shalat dan jamaah bubar, imam Ahmad ingin tiduran di masjid, tiba-tiba Marbot masjid datang menemui Imam Ahmad sambil bertanya; “Kamu mau ngapain  disini, Syaikh?.”

    ~Penjelasan~

    Kata “syaikh” bisa dipakai untuk 3 panggilan:

    1. bisa untuk orang tua; 2. orang kaya ataupun; 3. orang yang berilmu.

    Panggilan Syaikh di kisah ini panggilan sebagai orang tua, karena Marbot taunya sebagai orang tua.

    Marbot tidak tahu kalau beliau adalah Imam Ahmad, dan Imam Ahmad pun tidak memperkenalkan siapa dirinya.

    Di Irak, semua orang kenal siapa imam Ahmad, seorang ulama besar dan ahli hadits, sejuta hadits dihafalnya, sangat shalih dan zuhud. Zaman itu tidak ada foto sehingga orang tidak tahu wajahnya, cuma namanya sudah terkenal.

    Imam Ahmad menjawab,  “Saya ingin istirahat, saya musafir.”

    Kata Marbot, “Tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid.”

    Imam Ahmad bercerita, “Saya didorong-dorong oleh orang itu disuruh keluar dari masjid, Setelah keluar masjid, dikuncinya pintu masjid. Lalu saya ingin tiduran di teras masjid.”

    Ketika sudah berbaring di teras masjid Marbotnya datang lagi, marah-marah kepada Imam Ahmad. “Mau ngapain lagi Syaikh?”_ Kata marbot.

    “Mau tidur, saya musafir”, kata imam Ahmad.

    Lalu marbot berkata, “Di dalam masjid tidak boleh, di teras masjid juga gak boleh.” Akhirnya Imam Ahmad pun diusir. Imam Ahmad bercerita, “Saya didorong-dorong sampai jalanan.”

    Di samping masjid ada penjual roti (rumah kecil sekaligus untuk membuat dan menjual roti). Penjual roti ini sedang membuat adonan, sambil melihat kejadian Imam Ahmad didorong-dorong oleh Marbot tadi.

    Ketika Imam Ahmad sampai di jalanan, penjual roti itu memanggil dari jauh; “Mari Syaikh, anda boleh nginap di tempat saya, saya punya tempat, meskipun kecil.”

    Kata imam Ahmad, “Baik”. Imam Ahmad masuk ke rumahnya, duduk di belakang penjual roti yang sedang membuat roti (dengan tetap tidak memperkenalkan siapa dirinya, hanya bilang sebagai musafir).

    Penjual roti ini punya perilaku khas, kalau imam Ahmad ngajak bicara, dijawabnya. Kalau tidak, dia terus membuat adonan roti sambil (terus-menerus) melafalkan ISTIGHFAR. “Astaghfirullah”

    Saat memberi garam, astaghfirullah, memecah telur_astaghfirullah_ ,  mencampur gandum astaghfirullah . Dia senantiasa mengucapkan istighfar. Sebuah kebiasaan mulia. Imam Ahmad memperhatikan terus.

    Lalu imam Ahmad bertanya, “Sudah berapa lama kamu lakukan ini?”

    Orang itu menjawab, “Sudah lama sekali syaikh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan.”

    Imam Ahmad bertanya, “Apa hasil dari perbuatanmu ini?”

    Orang itu menjawab, “(lantaran wasilah istighfar) tidak ada hajat/keinginan yg saya minta, kecuali PASTI dikabulkan Allah. semua yg saya minta ya Allah…., langsung diwujudkan.”

    Rasulullah SAW pernah bersabda;

    “Siapa yg menjaga istighfar, maka Allah akan menjadikan jalan keluar baginya dari semua masalah dan Allah akan berikan rizki dari jalan yang tidak disangka-sangkanya . ”

    Lalu orang itu melanjutkan, “Semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yang belum Allah beri.”

    Imam Ahmad penasaran lantas bertanya, “Apa itu?”

    Kata orang itu, “Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan Imam Ahmad.”

    Seketika itu juga imam Ahmad bertakbir, “Allahu Akbar..!  Allah telah mendatangkan saya jauh dari Bagdad pergi ke Bashrah dan bahkan – sampai didorong-dorong oleh Marbot masjid – Sampai ke jalanan ternyata karena ISTIGHFARMU.”

    Penjual roti itu terperanjat, memuji Allah, ternyata yang didepannya adalah Imam Ahmad.

    Ia pun langsung memeluk & mencium tangan Imam Ahmad.

    (SUMBER: Kitab Manakib Imam Ahmad)

    Wallohu a’lam

    Saudaraku & Sahabatku tercinta, mulai detik ini – marilah senantiasa kita hiasi lisan kita dengan ISTIGHFAR – kapanpun dan di manapun kita berada.

    Jangan biarkan postingan ini terputus, dan JANGAN SAMPAI ilmu yang SANGAT PENTING ini TIDAK DI-AMALKAN OLEH MASING-MASING DIRI KITA

    Semoga Alloh merahmati kita semua, Aamiin

     
  • erva kurniawan 9:47 am on 4 January 2017 Permalink | Balas  

    Najiskah Bulu Binatang? 

    kulit-binatangNajiskah Bulu Binatang?

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Islam menggalakkan penganutnya untuk sentiasa menjaga kebersihan, baik pada tubuh badan, pakaian dan lain-lain, lebih-lebih lagi ketika menunaikan ibadah seperti sembahyang. Bukan saja bersih daripada benda-benda najis malahan juga bersih daripada sebarang kekotoran. Pengertian kotor dan najis itu adalah berbeda pada pandangan syarak karena setiap yang kotor itu tidak semestinya najis dan setiap yang najis pula adalah kotor. Umpamanya pakaian yang terkena lumpur, kuah kari atau kopi adalah kotor tetapi ia tidak najis.

    Berbalik kepada tajuk di atas yaitu bulu binatang adakah ia najis ataupun tidak? Apabila dilihat perihal bulu di zaman sekarang, memang banyak dimanfaatkan oleh manusia seperti dijadikan pakaian, alas, perhiasan, berus dan sebagai nya. Masalah yang timbul adakah ia boleh digunakan ataupun tidak dan adakah sah sembahyang ketika memakainya.

    Bulu binatang itu ada yang datangnya daripada binatang yang halal dimakan dagingnya dan binatang yang tidak halal dimakan dagingnya. Binatang itu pula ada yang disembelih dan ada juga yang mati bukan karena disembelih (bangkai). Maka IRSYAD HUKUM kali ini meninjau lebih lanjut ketetapan hukum syarak mengenai perkara tersebut.

    Binatang Yang Halal Dimakan Dagingnya

    Bulu binatang yang halal dimakan seperti unta, lembu, kambing, arnab, ayam dan sebagainya, jika terpisah dari badannya sama ada dicabut, tercabut atau sebagainya ketika binatang itu hidup atau mati karena disembelih maka adalah ia suci (tidak najis). Firman Allah Subhanahu Wata’ala yang tafsirnya :

    “Dan (ia juga menjadikan bagi kamu) dari berjenis-jenis bulu binatang-binatang ternak itu, pelbagai perkakas rumah dan perhiasan (untuk kamu menggunakannya) hingga ke suatu masa.” (Surah An-Nahl ayat 80).

    Jika bulu binatang tersebut terpisah sesudah ia menjadi bangkai maka bulu binatang berkenaan adalah najis.

    Adapun anggota yang lain selain bulunya jika di potong atau dipisahkan dari badannya ketika binatang itu masih hidup ia dihukumkan sebagai bangkai, sebagaimana disebutkan dalam hadis daripada Abu Sa’id Al-Khudri Radiallahuanhu yang maksudnya :

    Bahwasanya Rasulullah Sallalahahu Alaihi Wasallam pernah ditanya mengenai potongan bonggol-bonggol unta dan ekor-ekor kambing. Baginda bersabda : “Apa yang dipotong daripada yang hidup adalah bangkai.” (Hadis riwawat Al-Hakim)

    Hadis ini ditakhshishkan oleh dalil Al-Quran yang telah disebutkan di atas di mana bulu bianatang yang halal dimakan itu jika terpisah ketika binatang itu hidup adalah suci. Demikian juga halnya dengan anggota yang terpisah daripada manusia, ikan atau belalang ia adalah suci.

    Binatang Yang Tidak Halal Dimakan Dagingnya

    Jika bulu binatang yang tidak halal dimakan seperti kucing, monyet, musang dan sebagainya, terpisah daripada badannya ketika binatang itu masih hidup, maka bulu tersebut adalah najis apatah lagi sesudah binatang tersebut mati. Demikianlah juga anggota-anggotanya yang lain jika bercerai daripada binatang itu adalah dikira bangkai. (Mughni Al-Muhtaj, Kitab Ath-Thaharah, Bab An-Najasah ayat 1/115).

    Syak Pada Kesucian Bulu Binatang

    Ada kalanya kita terjumpa bulu binatang dan kita tidak mengenali sama ada bulu binatang itu suci atau najis. Maka, jika terjadi syak, adakah bulu yang terpisah dari binatang itu datangnya dari yang suci ataupun yang najis, maka bulu itu di hukumkan suci karena menurut hukuman asal adalah suci, dan telah berlaku syak pada kenajisannya sedang hukum asal adalah tidak najis. (Mughni Al-Muhtaj, Kitab Ath-Thaharah, Bab An-Najasah ayat 1/115). Sebagai contoh baju yang diperbuat daripada bulu binatang sedang tidak diketahui sama ada bulu tersebut datangnya daripada binatang yang halal dimakan ataupun sebaliknya atau ia daripada binatang yang disembelih ataupun bangkai, maka dalam hal ini baju tersebut adalah suci.

    Bulu Pada Anggota Yang Terpotong

    Bulu yang ada pada anggota binatang yang tidak halal dimakan yang terpotong ketika binatang itu masih hidup adalah najis apatah lagi sesudah mati, seperti ekor kucing yang terpisah atau terpotong. Karena ekor yang terpotong itu bangkai, maka bulu yang ada pada ekor itu juga adalah najis.

    Demikian juga halnya dengan bulu yang ada pada anggota binatang yang halal dimakan yang terpotong ketika hidup ataupun mati tanpa disembelih adalah najis, seperti ekor kerbau yang berbulu dan terpisah atau terpotong. Karena ekor kerbau itu terpotong ketika ia hidup atau terpotong setelah ia mati bukan kerena disembelih adalah bangkai, maka bulu ekor itu juga adalah najis.

    Jika dicabut bulu binatang yang halal dimakan ketika hidup sehingga tercabut bersama-samanya akar bulu tersebut dan melekat padanya sesuatu yang basah daripada bulu itu seperti darah atau sebagainya, maka bulu itu mutanajjis (yang terkena najis atau bercampur najis). Akan tetapi ia boleh menjadi suci jika dibersihkan. (Mughni Al-Muhtaj, Kitab Ath-Thaharah, Bab An-Najasah ayat 1/115).

    Penggunaan Bulu Binatang

    Daripada penjelasan sebelum ini, mana-mana bulu yang dicabut daripada bangkai atau dicabut daripada binatang yang tidak boleh dimakan dagingnya adalah najis. Maka setiap penggunaan kesemua benda-benda yang najis, menurut pendapat yang sahih adalah tidak harus memanfaatkannya sama ada dibuat pakaian atau perhiasan di badan melainkan jika ada darurat. Sementara penggunaan selain daripada pakaian atau perhiasan badan adalah diharuskan jika najis itu bukan datangnya daripada anjing dan babi.

    Apa yang dimaksudkan dengan darurat itu ialah, seperti terjadinya peperangan yang mengejut atau takut atas terjadi sesuatu pada dirinya karena kepanasan atau kesejukan ataupun sebagainya, lalu tiada pakaian lain selain yang najis, maka harus dipakai pakaian itu karena darurat kecuali dipakai ketika sembahyang. (Mughni Al-Muhtaj, Kitab As-Shalah, Bab Ma Yukrah Lubsuhu Wa Ma La Yukrah, Fashal Fi At-Tahalli Bi Al-Fidhah ayat 4/387).

    Oleh karena itu, dapatlah difahami bahwa setiap penggunaan bulu binatang yang najis sama ada dijadikan pakaian atau perhiasan di badan adalah tidak diharuskan oleh syarak melainkan jika ada darurat.

    Hubungannya Dengan Sembahyang

    Menurut hukum syarak syarat sah mengerjakan sembahyang itu hendaklah bersih daripada segala najis baik pada pakaian, tubuh badan dan tempat sembahyang.

    Oleh itu, jika terdapat bulu binatang yang hukumkan najis pada pakaian atau badan maka sembahyang itu tidak sah karena menanggung sesuatu yang najis. Kecuali jika bulu yang najis itu sedikit, seperti sehelai atau dua helai, karena ia dimaafkan. Melainkan bulu anjing atau babi karena ia tetap najis walaupun hanya sedikit. (AL-Feqh Al-Islami Wa Adilatuh ayat 1/175).

    Apakah yang harus dilakukan oleh orang yang sedang sembahyang mendapati ada bulu najis pada pakaiannya? Menurut Ashhab Asy Syafi’e, apabila orang yang sedang sembahyang itu mendapati ada najis yang kering pada pakaian atau badannya, maka pada saat itu juga hendaklah dia mengibas najis tersebut. Jika dia mendapati najis yang basah pula hendaklah dia segera menanggalkan atau membersihkan pakaiannya yang bernajis itu tanpa menyentuh najis tersebut. Adapun jika dia tidak segera menanggalkan atau mengibas pakaian yang bernajis itu maka batal sembahyangnya.

    Pakaian yang terkena bulu yang najis hendaklah terlebih dahulu dibersihkan. Cara membersihkannya ialah jika bulu itu kering dan pakaian atau anggota badan yang tersentuh bulu itu juga kering adalah memadai dengan menanggalkan najis itu sama ada dengan mengibas, mengibar atau menyapunya. Adapun jika bulu itu basah ataupun pakaian atau anggota badan yang terkena najis itu saja yang basah maka hendaklah ditanggalkan najis itu dan dibersihkan dengan air yang suci disekitar yang terkena najis. (Fath Al-‘Allam, Kitab Ath-Thararah, Bab Izalah An-Najasah ayat 1/347).

    Oleh karena persoalan memakai pakaian daripada bulu itu adalah berkaitan dengan persoalan hukum najis, maka perlulah kita berhati-hati dalam memilih dan memanfaatkannya supaya pakaian yang dipilih itu diyakini diperbuat daripada bulu yang suci dan boleh kita guna pakai seperti ketika sembahyang dan sebagainya.

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 27 December 2016 Permalink | Balas  

    Pengalaman Jurnalis Meliput Tsunami Aceh 

    Pengalaman Jurnalis Meliput Tsunami Aceh

    Senin 27 desember lalu saya berangkat ke banda aceh untuk liputan buat associated press television news (salah satu media tempat saya menjadi kontributor) ternyata apa yang saya saksikan disana jauh lebih mengenaskan daripada sekedar menyaksikannya lewat layar kaca.

    Di sini saya bisa berinteraksi langsung dengan pada korban, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Dengan yang hidup saya masih bisa berbincang-bincang seadanya (tak etis rasanya saya menanyai mereka panjang lebar karena mereka baru tertimpa bencana, dan saya tau mungkin mereka belum makan sejak minggu pagi saat bencana itu terjadi). Saya juga bisa merasakan langsung kesedihan yang terpancar dari wajah-wajah kuyu yang kecapaian dan masih trauma itu. Mungkin kalau saya mengerti bahasa aceh kesedihan itu bisa jadi berlipat- lipat. Sedangkan dengan si mati! Saya bisa melihat langsung kondisi mereka yang sangat mengenaskan, mencium aroma yang konon bisa “melekat” di tubuh anda selama sepekan. Saya mendapat informasi ini dari seorang dokter yang kebetulan sering berurusan dengan mayat.

    Dalam kunjungan singkat itu (sekitar 2,5 jam saja, sekitar satu jam saya habiskan dengan terbengong di bandara iskandar muda karena tak adanya alat transportasi ke kota) saya sempat menyaksikan kepanikan luar biasa dari warga kota serambi mekah itu. Beberapa tenda militer didirikan tak jauh dari pintu keluar bandara. Di jalan-jalan warga bersileweran seperti orang ling-lung. Mungkin masih trauma, atau mungkin ada keluarganya yang hilang. Atau malah sudah mati… Kondisi ini memaksa kendaraan yang melintas untuk berjalan pelan. Waktu biasa sekitar 20 menit dalam perjalan dari bandara ke kantor gubernuran terasa menjadi lebih lama.

    Di lambaro saya bersama rombongan (3 dokter dari medan, seora! ng anggota DPR RI asal aceh, kadis kesehatan pemprov. NAD, dan 2 jurnalis kantor berita xinhua beijing) singgah di lokasi pemakaman massal. saat tiba disana, areal sekitar 20 m x 15 m itu sedang digali dengan menggunakan excavator. Penggalian belum selesai, 5 kantong berisi mayat teronggok di pinggir lubang raksasa itu. sekitar 5 menit mengambil gambar, kami melanjutkan perjalanan.

    Semakin jauh mendekati kota suasana chaos semakin terasa. Crowd manusia yang kebingungan semakin banyak terlihat. Tak sedikit dari mereka yang membawa buntalan-buntalan besar. Mungkin pakaian, atau harta yang tersisa. Mobil-mobil dan sepeda motor lalu lalang dengan lampu dihidupkan. Sesekali ambulans melintas kencang. Entah membawa korban yang masih hidup, atau mayat yang sudah mulai membengkak. Saya tidak sempat memeriksa.

    Sebelumnya saya dengar banyak beredar rumor bakalan terjadi gempa dan tsunami susulan. Berita-berita seperti ini! Tentu menyesatkan karena bisa saja menimbulkan hal tak diinginkan. Entah siapa yang menghembuskan, yang jelas banyak warga yang menjadi korban. Mungkin karena mereka masih trauma. Sedikit saja terdengar jeritan, “air…” niscaya orang-orang langsung berlarian menyelamatkan diri. Si anggota DPR RI sempat bercerita kalau dia juga sempat menjadi korban.

    Mendekati bundaran lambaro di aceh besar aura kehancuran dan kematian semakin terasa. Beberapa kali saya melihat mayat teronggok di pinggir jalan. Aroma udara yang terhirup juga mulai tak sedap. Saya menduga pasti ada konsentrasi pengumpulan mayat. Dugaan saya benar. Di sebelah kiri simpang lambaro yang dikenal dengan sebutan bundaran itu, tepatnya di depan kantor PMI teronggok sekitar 700 an mayat dari berbagai tempat di kota banda aceh.

    Ya tuhan… Saya hampir tak percaya dengan penglihatan sendiri. Selama saya bekerja sebagai jurnalis inilah konsentrasi mayat terb! Anyak yang saya lihat! Mayat-mayat itu membusuk lebih cepat karena terendam air. Saya sempat terbodoh sebentar, apalagi saat melihat jejeran mayat anak kecil (mungkin berusia 5 tahunan). Ada lagi mayat anggota polisi yang masih berpakaian lengkap. Ada mayat seorang wanita yang biji matanya hampir mencelat. Ada mayat yang mulutnya masih mengeluarkan darah dan buih… Ah… Saya tidak tahu kenapa saya begitu kuat siang itu. Entah dimana air mata saya. Sebelumnya saya mendengar cerita seorang kameramen sctv yang menangis sambil mengambil gambar. Ada juga cerita seorang jurnalis lain yang sampai tak sanggup mengambil gambar. Bisa anda bayangkan?

    Tapi saya teringat saya tidak punya waktu banyak disitu. Apalagi si pemilik mobil kijang yang kami tumpangi juga sedang tergesa-gesa hendak melanjutkan perjalanan mengantarkan 3 orang dokter yang bersama saya itu. Akhirnya camcorder saya hidupkan dan lensa kamera mulai saya arahkan dengan beberapa variasi shoot. Kamera saya juga sempat merekam seorang bapak yang berusaha mengenali sesosok mayat anak kecil dengan meraba-raba bagian belakang kepalanya. Mungkin dia berharap bisa mengenali si anak dari tanda lahir di belakang kepala itu. Sejenak dia seperti tidak yakin kalau itu putranya. Dia terdiam. Tapi tiba-tiba dia menangis kencang dan terisak. Sayang saya tidak mengerti ucapannya. Mata saya sempat berkaca-kaca…

    Sore itu orang-orang hilir mudik berusaha mengenali mayat demi mayat. Sedangkan tentara dan relawan palang merah indonesia mengangkati mayat ke truk untuk diantarkan ke tempat pemakaman. Truk lain masuk ke lokasi mengantarkan mayat baru. Entah dari mana. Pasokan mayat sepeti tak berhenti. Sinar matahari yang lumayan terik membuat aroma tak sedap semakin menyeruak. Untunglah seorang teman yang terbiasa dengan liputan yang berhubungan dengan orang mati pernah memberikan resep. Saat saya coba! Ternyata memang mujarab.

    “Kalau berada di dekat mayat, bagaimanapun kondisi dan bau nya, jangan sekali-kali membuang ludahmu. Karena itu bisa memancing muntah. Sebaiknya telanlah ludahmu kalau merasa ingin muntah, bagaimanapun mualnya. Mudah-mudahan kau tak akan muntah,” kata si teman.

    Teman yang memberikan resep adalah stringer salah satu kantor berita asing di NAD. Ingat dia saya sempat kuatir karena saya belum melihat seorangpun jurnalis yang saya kenal disana. Ada cerita kalau kebanyakan para jurnalis tinggal di daerah dekat pantai. Padahal itulah lokasi yang paling ringsek dihantam tsunami. saya ngeri membayangkan kalau dia ikut menjadi korban.

    Perjalanan lalu berlanjut. Konsentrasi orang semakin banyak. Di sebuah spbu saya melihat antrian panjang orang. Tak sedikit dari mereka membawa jirigen plastik. Antrian itu semakin tak tertib. Petugas spbu sepertinya sengaja menjatah karena persediaan tak banyak. Di sebelah kiri dan kanan jalan saya melihat gedung permanen bertingkat yang rubuh karena gempa. Kalau tidak salah, bangunan yang di sebelah kiri gedung keuangan dan yang di sebelah kanan bangunan gedung asuransi. Saya ngeri membayangkan seandainya bencana terjadi pada saat hari kerja. Berapa banyak korban yang bakalan tertimpa?

    Oia, si Kadis Kesehatan yang menyetir mobil yang kami tumpangi cerita kalau air (bah) sampai ke lokasi yang saya lihat. Padahal jarak bibir pantai dengan tempat tersebut hampir mencapai 15 kilometer. Sebegitu jauh, tapi air sampai kesitu. Tinggi pula lagi. Saya bisa melihat bekas air bercampur lumpur dari tembok-tembok itu…

    sampah-sampah dan kayu-kayu teronggok di pinggir jalan membuat pemandangan semakin kumuh. “Tadi pagi sampah-sampah masih di tengah jalan. Tapi barusan dibersihkan pakai buldoser,” tambah si Kadis.

    Beberapa mayat masih teronggok di pinggir jalan. Sayang saya tak ! Bisa melihat detail ke seluruh tempat karena duduk terjepit di tengah-tengah mobil. Saya juga tak bisa mengambil gambar dengan posisi seperti itu. Ah, seandainya tadi saya bisa mencarter/ menyewa sebuah sepeda motor untuk berjalan sendiri. Tentu gambar yang saya dapat bisa jauh lebih bagus. Tapi saya ingat juga tak punya waktu lama karena paling tidak mesti mengirimkan kaset untuk segera dikirimkan ke jakarta.

    Mobil kami lalu berbelok mengarah ke kantor gubernuran. Si Kadis rupanya hendak bertemu seseorang di sana sehingga tak sempat membawa kami berkeliling lebih jauh. Di Pendopo Gubernuran sudah banyak warga yang mengungsi. Tempat itu memang jauh lebih manusiawi dibanding tempat-tempat yang saya lihat sebelumnya.

    Dalam sekian menit itu saya sempat menimbang-nimbang untuk terus jalan sendirian atau ikut balik ke bandara dengan rombongan Wapres Jusuf Kalla. Tapi tenggat waktu memaksa saya mengambil keputusan cepat. Apalagi cuma ada satu bus yang bisa saya tumpangi untuk kembali ke bandara.

    Pertimbangannya, kalau saya tinggal saya mesti mencari sepeda motor untuk dicarter. Jangan berharap ada angkot atau taksi disana. Kalau saya tinggal, saya pasti akan kesusahan mencari penginapan dan makanan. Jangankan untuk saya, warga setempat saja sudah 2 hari tidak makan. Belum lagi saya betul-betul dengan medan banda aceh. Saya pernah ke kota ini hampir 17 tahun lalu. Banyak perubahan bukan?

    Melihat orang-orang mulai menaiki bus yang akan kembali ke bandara naluri saya memaksa untuk ikut. Sempat saya kuatir, bagaimana kalau Paspampres memaksa saya untuk turun? Tapi saya teringat deadline untuk mengirimkan kaset hasil rekaman. Tanpa berpikir panjang lagi saya ikut naik ke bus. Di dalam saya melihat Najwa Shihab (Presenter Metro TV), beberapa wartawan dan fotografer lain dan seorang reporter perempuan yang membawa-bawa camcorder berstiker TV7. belakangan saya tahu kalau dia ternyata unit lubis.

    Perjalanan setengah jam kembali ke bandara ternyata belum berbeda dengan saat saya menuju gubernuran tadi, selain orang-orang semakin banyak dan jalanan semakin padat.

    Saat melintas dari lokasi pemakaman massal saya sempat melihat kalau pemakaman belum dilakukan. Padahal sore itu rencananya mesti dikuburkan karena mayat bertambah dan yang jelas semakin menebar bau tak sedap. Saya berharap iring-iringan mobil wapres singgah di situ. Tapi rombongan jalan terus.

    Rombongan akhirnya berhenti di hanggar lanud iskandar muda. Rupanya wapres mau melihat pasokan bantuan yang baru tiba dari medan. Sore itu, 1 pesawat Hercules baru saja landing membawa ratusan kardus makanan dan obat-obatan. Prajurit tni tampak hilir mudik mengangkuti kardus-kardus itu dari lambung pesawat. Tak lama Wapres berangkat naik helikopter untuk meninjau beberapa lokasi yang tak terjangkau lewat jalan darat.

    Kesempatan itu lalu saya manfaatkan dengan berbincang-bincang dengan Kapolda NAD Irjen Bachrumsyah.

    “Bencana ini memang sangat mengerikan dik. Saya juga turut menjadi korban. Saya kehilangan kontak dengan banyak saudara-saudara saya. Saya tak bisa berharap banyak. Kalau mereka masih hidup tentu mujizat. Kalaupun sudah tak ada, saya tak bisa berbuat apa-apa,” katanya pada saya.

    Polisi berbintang dua dan berkumis lebat itu sepertinya memang sedang depresi ringan. Wajar-wajar saja karena dia mesti berkeliling kesana- kemari. Belum lagi laporan banyak anak buahnya yang hilang. Termasuk sekitar 1 kompi saat mereka mau apel pagi di minggu naas itu. Kelelahan terpancar dari wajahnya. Celana lapangan yang dikenakannya belepotan lumpur. Sangat jarang saya melihat pemandangan seperti itu. Menyadari itu saya urungkan untuk menanyai hal-hal lain.

    Sore Menjelang Malam Itu Juga, Sekitar Pukul 18.30 Akhirnya Saya Jadi Terbang Ke Medan Menumpang Pesawat pelita air yang disulap menjadi pesawat RI-2. Sebelumnya saya sempat cemas, bagaimana saya mengirimkan kaset saya. Untuk menumpang di pesawat Wapres rasanya mustahil karena saya belum diregistrasi.

    Sambil mencari akal bagaimana caranya untuk ikut pulang tiba-tiba seorang bapak menegur saya. Saya tidak mengenalnya, selain baju safari coklat yang dikenakannya dan pin kecil di ujung kerahnya. Seingat saya, seluruh anggota pasukan pengamanan Presiden/ Wakil Presiden mengenakan pin tersebut. Tapi, dia terlihat lebih tua dari anggota paspampres lainnya.

    “Mau pulang dik?” katanya sambil menepuk pundak saya.

    “Iya pak, kalau memang ada seat,” kata saya ragu-ragu.

    “Ya udah, kalau mau pulang ikut saja. Jangan berlama-lama lagi. Ayo ikut aja,” katanya ramah.

    Mendengar tawaran tersebut saya berbinar dan melangkah pasti ke tangga pesawat. Akhirnya pikiran! Saya soal bagaimana mengirimkan kaset mendapat jawaban.

    Jam 19.00 pesawat meninggalkan banda aceh. Saya masih kepingin kembali kesana, mungkin dalam waktu dekat. Rasanya saya ingin menebus kesalahan tidak sempat melakukan reportase lengkap. Selain kaset berdurasi sekitar 20 menit. Sebagai seorang jurnalis ini sebenarnya kesalahan yang tak bisa ditolerir.

    Satu pertanyaan terus membayangi saya selama 45 menit di udara, bahkan sampai hari ini saat saya mengetik di sebuah warnet tak jauh dari rumah saya setelah seharian menongkrongi posko bencana di Lanud Auri Medan.

    Kenapa pemerintah cenderung lambat menangani bencana ini? Apalagi setelah beberapa pengungsi yang selamat dan pindah ke medan yang curhat mengatakan belum makan dan mendapat air bersih hampir 3 hari belakangan. Jangankan makanan, snack pun hampir tidak ada.

    “kami sampai mesti mengorek-ngorek lumpur siapa tau ada makanan yang terbenam,” kata si pengungsi tadi siang kepada saya. Ucapannya tentu membuat saya terhenyak, apalagi setahu saya pasokan makanan sudah mulai dikirimkan sejak sehari sebelumnya. Buat apa makanan itu sampai ke sana kalau tak segera didistribusikan?

    Sampai tadi malam pasokan makanan dan obat-obatan masih terus masuk ke posko dan “tertimbun” disitu.

    Kenapa semuanya terasa sangat lambat? Sikap pemerintahan srilangka membuat saya iri. Mereka cepat tanggap walau cuma sebuah negara kecil. Militer dikerahkan untuk mengevakuasi korban. Baik yang masih hidup atau sudah mati. Mereka juga dikerahkan untuk mendistribusikan pasokan bantuan makanan dan obat-obatan. Mereka bisa kenapa kita tidak? Ayo kita bantu mereka yang jadi korban sebisa kita.

    Sayang saya tak sempat menanyakannya kepada mr President saat beliau megunjungi Posko SATKORLAK bencana Aceh di Lanud Auri Medan selasa malam tadi.

    ***

    Lia Achmadi

    1. Radio Delta Insani
     
  • erva kurniawan 1:30 am on 18 December 2016 Permalink | Balas  

    Menikmati Kritik Dan Celaan 

    kritikMenikmati Kritik Dan Celaan

    KH Abdullah Gymnastiar

    Kejernihan dan kekotoran hati seseorang akan tampak jelas tatkala  dirinya ditimpa kritik, celaan atau penghinaan orang lain.  Bagi orang yg lemah akal dan imannya, niscaya akan mudah goyah & resah. Ia akan sibuk menganiaya diri sendiri dgn memboroskan waktu untuk memikirkan kemungkinan melakukan pembalasan. Mungkin dg cara  mengorek-ngorek aib lawannya atau mencari dalih dalih untuk membela diri, yg ternyata ujung dari perbuatannya tsb hanya akan membuat dirinya semakin tenggelam dalam kesengsaraan bathin dan kegelisahan.

    Lain halnya dengan orang yang memiliki kejernihan hati dan ketinggian  akhlak. Ketika datang badai kritik, celaan serta penghinaan seberat  atau sedahsyat apapun, dia tetap tegar tak goyah sedikitpun. Malah ia  menikmatinya karena yakin bahwa semua musibah yang menimpa semata-mata  terjadi dengan seijin ALLOH Azza wa Jalla.

    ALLOH tahu persis segala aib dan cela hamba-Nya dan Dia berkenan  memberitahunya dengan cara apa saja dan melalui siapa saja yang  dikehendaki-Nya. Terkadang berbentuk nasihat yg halus, adakalanya lewat  obrolan dan guyonan seorang teman, bahkan tak jarang berupa cacian teramat  pedas dan menyakitkan. Ia pun bisa muncul melalui lisan seorang guru, ulama,  orang tua, adik atau siapa saja. Terserah ALLOH.

    Jadi mengapa kita harus merepotkan diri membalas orang-orang yg menjadi  jalan keuntungan bagi kita? padahal seharusnya kita bersyukur dengan  sebesar-besar syukur karena mereka sudi meluangkan waktu memberitahukan segala kejelekan dan aib yang mengancam amal-amal shaleh kita di akhirat kelak. Karenanya, jangan aneh jika kita saksikan orang-orang mulia dan ulama  yang saleh ketika dihina dan dicaci, sama sekali tidak menunjukkan perasaan sakit hati dan keresahan.Sebaliknya mereka bersikap penuh kemuliaan dengan berterima kasih atas pemberitahuan ihwal aib yang justeru tidak sempat terlihat oleh diri sendiri.

    Sahabat, bagi kita yang berlumur dosa ini, haruslah senantiasa waspada  terhadap pemberitahuan dari ALLOH yang setiap saat bisa datang dengan  berbagai bentuk.

    ALLOH SWT berfirman :”Dan janganlah engkau berduka cita karena perkataan mereka. Sesungguhnya kekuatan itu bagi ALLOH semuanya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.(QS Yunus (10):65)

    Manusia memang sering lupa bahwa qudrah dan iradah ALLOH itu berada diatas segalanya, sehingga menjadi sombong dan takabur, seakan-akan dunia dan isinya ini berada dalam genggaman tangannya. Na’udzubillah.

    Timbulnya keresahan didalam hati, pembelaan diri atau keinginan membalas  menyakiti adalah karena pikiran kita terlampau terfokus pada makhluk. Padahal mereka hanyalah jalan bagi sampainya pemberitahuan ALLOH kepada  kita.

    Nah Sahabat mudah-mudahan ALLOH memberikan kekuatan kepada kita untuk  dapat melakukan semua ini karena mau tidak mau kejadian itu akan datang  juga menimpa diri kita suatu saat.

    ***

    Sumber : isnet.org

     
    • GAYA HIDUP ISLAMI 9:01 pm on 25 Desember 2016 Permalink

      Mencoba bersyukur dengan menahan emosi saat orang lain mencela kita memang sebuah usaha yang takmudah. Tapi justru di sanalah cobaanya …

      Terima kasih sudah berbagi artikel tentang menikmati kritik dan celaan di atas.

  • erva kurniawan 1:52 am on 17 December 2016 Permalink | Balas  

    AA GYM : Mursyid yang Arifbillah. 

    Reciting-QuranAA GYM : Mursyid yang Arifbillah.

    Mursyid yang mengandung arti, yang memberikan bimbingan atau petunjuk dengan cara tepat. Jadi kalau ada seseorang yang disebut mursyid, berarti orang tersebut adalah orang yang tepat untuk menunjukkan ke jalan yang tepat dengan cara yang tepat pula. Kata ini bermakna pula kekuatan dan keteguhan. Rasyadah berarti batu karang, suatu benda yang menunjukkan kekuatan dan keteguhan. Kalau orang bernama rasyid, maka orang tersebut harus memiliki karakter tangguh, kuat, dan mampu bertindak tepat.

    Kita bisa bertindak tepat dan bijaksana apabila kita memiliki ilmu yang luas ilmu dan mencapai tingkat ma’rifatullah. Karena Allah SWT memiliki sifat Ar Rasyid, maka semua tindakan Allah pasti tepat, cermat, dan tidak akan meleset. Ketentuan Allah tidak akan terlambat dan tidak pula terlalu cepat. Tidak kebesaran, tidak kekecilan. Tidak kelebihan, dan tidak kekurangan.

    Semoga Allah Yang Mahatepat tindakan-Nya, menganugerahi kita ilmu yang luas, hati yang lapang, dan kebijaksanaan, sehingga kita mampu bertindak secara tepat dalam segala situasi.

    **

    Kita bisa bertindak tepat dan bijaksana apabila kita memiliki ilmu yang luas. Sangat sulit bagi orang yang sedikit ilmunya untuk menyikapi hidup ini dengan tepat.Semoga Allah Yang Mahatepat tindakan-Nya, menganugerahi kita ilmu yang luas, hati yang lapang, dan kebijaksanaan, sehingga kita mampu bertindak secara tepat dalam segala situasi.

    Allah SWT memiliki nama Ar Rasyid atau Allah Yang Mahatepat Tindakan-Nya. Menurut Dr Quraish Shihab, semoga Allah meridhainya, kata ar-rasyid tersusun dari huruf ra’, syin, dan dal, yang makna dasarnya adalah ketepatan dan lurusnya jalan. Dari makna ini lahirlah kata rusyd atau manusia yang sempurna akal dan jiwanya hingga ia mampu bertindak dan bersikap secara tepat.

    Lahir pula kata mursyid yang mengandung arti yang memberikan bimbingan atau petunjuk dengan cara tepat. Jadi kalau ada seseorang yang disebut mursyid, berarti orang tersebut adalah orang yang tepat untuk menunjukkan ke jalan yang tepat dengan cara yang tepat pula.

    Kata ini bermakna pula kekuatan dan keteguhan. Rasyadah berarti batu karang, suatu benda yang menunjukkan kekuatan dan keteguhan. Kalau orang bernama rasyid, maka orang tersebut harus memiliki karakter tangguh, kuat, dan mampu bertindak tepat.

    Karena Allah SWT memiliki sifat Ar Rasyid, maka semua tindakan Allah pasti tepat, cermat, dan tidak akan meleset. Ketentuan Allah tidak akan terlambat dan tidak pula terlalu cepat. Tidak kebesaran, tidak kekecilan. Tidak kelebihan, dan tidak kekurangan.

    Allah membalas manusia (baik dengan kenikmatan atau pun siksaan) dengan ukuran yang tepat dan sebanding dengan kapasitas amal yang dilakukan manusia bersangkutan. “Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu” (QS Al Baqarah: 284).

    Sayangnya, karena terbatasnya ilmu dan tingkat ma’rifatullah, kita sering kecewa terhadap semua ketentuan Allah. Kita sering merasa bahwa keinginan kita lebih tepat daripada ketentuan Allah, sehingga kita sering kecewa tatkala keinginan tidak terkabul. Padahal, menurut ilmu Allah, apa yang kita inginkan tidak baik atau bahkan berbahaya bagi kita.

    Allah SWT berfirman, Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu. Sesungguhnya Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS Al Baqarah: 216).

    Karena itu, kita meyakini bahwa Allah itu selalu tepat tindakan, waktu, dan momentum-Nya. Meski manusia bermilyar jumlahnya di dunia ini, tapi balasan Allah pasti tepat kepada orang per orang sesuai kadar keimanan dan kekufurannya. Balasannya pun tidak akan tertukar. Maka kita tidak usah khawatir menghadapi semua ketentuan Allah. Yang penting niat kita lurus dan ikhtiar kita maksimal.

    Allah bertindak tepat karena ilmu Allah sangat luas, tidak bertepi. Ketepatan itu berbanding lurus dengan pengetahuan yang Dia miliki. Bukankah Ia adalah Al ‘Alim; Dzat Yang Maha Mengetahu i?

    Seorang hakim bisa memutuskan suatu perkara dengan tepat, karena ia memiliki pengetahuan dan bukti yang lengkap. Semakin lengkap data yang dia miliki, maka akan semakin tepat pula keputusan yang diambil.

    Apa hikmahnya bagi kita ?.

    Pertama, kita bisa bertindak tepat dan bijaksana apabila kita memiliki ilmu yang luas. Sebagai ilustrasi, kita akan bicara tepat dan lancar apabila kita memiliki kekayaan kata-kata. Sangat sulit bagi orang yang sedikit ilmunya untuk menyikapi hidup ini dengan tepat. Seorang ibu yang hamil dan tidak memiliki ilmu memadai akan cenderung tersiksa dengan kehamilannya tersebut. Seorang ayah yang tidak memiliki ilmu mengurus rumah tangga, akan sulit bertindak bijak dalam membina rumah tangga.

    Kunci kedua agar kita bisa bertindak tepat adalah pengendalian diri dan kesabaran. Seorang pemanah yang tepat, kuncinya adalah tenang. Tindakan yang emosional cenderung tidak tepat untuk menghasilkan sebuah solusi. Sikap yang emosional lebih banyak menghasilkan masalah daripada menyelesaikan masalah. Dengan sikap sabar, jernih, dan pengendalian diri, insya Allah setiap masalah dapat diselesaikan dengan cara yang tepat dan bijaksana. Dengan tindakan yang tepat, risiko pun bisa diminimalisasi dan hidup pun akan lebih mudah.

    Wallahu a’lam bish-shawab.

    Meneladani Allah yang Mahatepat Tindakannya

    ***

    KH Abdullah Gymnastiar

    Republika

     
  • erva kurniawan 1:49 am on 15 December 2016 Permalink | Balas  

    Permasalahan Daging Korban (3/3) 

    kambing-kurban-300x225Permasalahan Daging Korban (3/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Hukum Berwakil Membeli Dan Menyembelih Korban

    Sepertimana kebiasaan di negara kita ibadat korban itu dilaksanakan dengan berkumpulan sama ada atas nama kementerian, jabatan, persatuan kampung dan sebagainya. Kadang-kadang ibadat korban itu sudah menjadi projek tahunan bagi pihak-pihak yang berkenaan itu.

    Jika dilihat daripada amalan kebiasaan bagi perlaksanaan ibadah korban itu, kumpulan tersebut akan menentukan wakil mereka untuk mengurus pembelian, penyembelihan binatang korban dan pengagihan dagingnya di pusat-pusat penyembelihan. Jika ditinjau dari segi hukum, perlaksanaan yang sedemikian itu melibatkan hukum wakalah iaitu berwakil.

    Huraian Umum Mengenai Wakalah

    Wakalah dari segi bahasa bererti menyerahkan kuasa, pengawasan, penjagaan dan pemeliharaan. Dari segi istilah fiqh pula ialah seseorang itu menyerahkan sesuatu perkara ketika hidupnya kepada orang lain agar melakukannya dalam hal-hal yang boleh diwakilkan.

    Hukum wakalah adalah harus berdasarkan Al-Qur’an, sunnah dan ijma’ ulama. Wakalah mempunyai empat rukun iaitu:

    1. Muwakkil (orang yang berwakil)
    2. Muwakkal (orang yang dijadikan wakil)

    iii. Muwakkal fihi (sesuatu yang diwakilkan)

    1. Shighah (ijab dan qabul). (I’anah At-Thalibin: 3/100-101)

    Shighah Dalam Wakalah

    Apa yang ingin dihuraikan di sini ialah rukun yang keempat iaitu shighah di mana perkara ini sangat penting diketahui demi menjaga keshahihan ibadah korban berkenaan.

    Disyaratkan ijab ke atas orang yang berwakil itu dengan melafazkan sesuatu perkataan sama ada secara sharih (jelas atau terang) ataupun kinayah (yang tidak terang atau tidak jelas) seperti dalam kitabah (penulisan), persuratan atau dengan isyarat jika yang berwakil itu orang bisu yang boleh difahami, yang menyatakan bahawa orang yang berwakil itu adalah dengan keredhaan hatinya. (Majmuk: 14/197)

    Ini bererti ada interaksi antara orang yang berwakil dengan orang yang diwakilkan yang dinamakan aqad. Namun orang yang dijadikan wakil itu tidak disyaratkan baginya qabul (ucap terima), kecuali di dalam keadaan tertentu seperti jika dalam perwakilan itu dengan upah. Contohnya orang yang berwakil itu mewakilkan seseorang untuk menjualkan sebidang tanahnya dengan harga sekian dan memberi upah kepada wakilnya itu. Maka dalam keadaan ini, wakil itu hendaklah melafazkan qabulnya sama ada dia menerimanya ataupun tidak. Adapun yang disyaratkan bagi orang yang dijadikan wakil itu ialah dia tidak menolak ucapan atau lafaz orang yang berwakil itu. Jika orang yang dijadikan wakil itu menolak ucapan tersebut, seperti dia berkata: “aku tidak terima” atau seumpamanya, maka batal dan tidak sah akad perwakilan itu.

    Jika dilihat ketentuan hukum dalam bab wakalah dan dipraktikkan dengan cara kebiasaan yang tersebut di atas oleh sebahagian kumpulan yang berkorban itu ditakuti tidak menepati kehendak sebenar hukum wakalah. Pada kebiasaannya, orang-orang yang hendak menyertai ibadat korban akan mendaftarkan namanya dan membayar kadar tertentu bagi tujuan tersebut tanpa disertai dengan lafaz tawkil kepada wakil yang dilantik.

    Amalan tersebut tidak memenuhi kehendak hukum berwakil kerana jika dilihat kepada tuntutan bab wakalah orang yang berwakil itu wajib melafazkan tawkilnya (akad) sama ada dengan lafaz yang sharih atau kinayah kepada wakil yang ditentukan bagi tujuan seperti membeli dan menyembelih binatang korban serta mengagihkan daging korban tersebut.

    Melantik Wakil Kedua

    Dalam bab wakil ini, para ulama fiqh juga berpendapat bahawa orang yang dijadikan wakil itu harus mewakilkan lagi kepada orang lain untuk menjadi wakil yang kedua tanpa perlu mendapat izin daripada orang yang berwakil. Itu pun jika perkara yang diwakilkan itu tidak dapat dikerjakan oleh wakil itu sendiri, disebabkan dia tidak layak melakukannya atau tidak berkemampuan mengerjakannya. Akan tetapi jika sebaliknya, iaitu dia mampu untuk melaksanakan perkara yang diwakilkan ke atasnya itu, maka tidak harus baginya melantik orang lain menjadi wakil yang kedua melainkan dengan izin orang yang berwakil. (Majmuk: 14/218)

    Mewakilkan Sembelihan Binatang Korban

    Menurut hukum asal berkorban itu bahawa sunat binatang yang hendak dijadikan korban itu disembelih oleh orang yang berkorban itu sendiri, kiranya dia pandai menyembelih. Walaupun begitu boleh juga dia mewakilkan orang lain untuk menyembelih korban itu dan hadir ketika penyembelihannya. Afdhalnya wakil itu ialah orang Islam yang mengetahui akan hukum-hakam mengenai korban.

    Keharusan berwakil dalam ibadah korban itu diambil daripada perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah berkorban dengan seratus ekor unta, di mana Baginda sendiri menyembelih – dengan tangan Baginda yang mulia – enam puluh tiga ekor, kemudian Baginda menyerahkan pisau penyembelih itu kepada Sayyidina Ali Karramallahu wajhah untuk menyembelih bakinya.

    Persoalan Niat

    Disyaratkan orang yang berkorban itu berniat kerana korban ketika menyembelih, kerana ia ibadat dan harus juga mendahulukan niat itu sebelum menyembelih mengikut pendapat yang ashah.

    Adalah memadai jika orang yang berwakil itu berniat ketika wakilnya menyembelih korbannya dengan hadir orang yang berwakil ketika itu. Dalam hal ini, niat orang yang berwakil itu adalah memadai dan wakil tidak perlu lagi berniat. Walau bagaimanapun adalah lebih baik orang yang berwakil itu, ketika menyerahkan korban, menyuruh wakilnya berniat bagi pihak dirinya ketika dia menyembelih korban tersebut.

    Apa yang mesti diambil perhatian dalam hal berniat korban ini, ada baiknya ditentukan niat itu umpamanya sebagai korban sunat ———–bagi mengelakkan niat itu menjadi korban wajib, kerana haram bagi yang berkorban itu makan daripada daging korban wajib, bahkan wajib disedekahkan semua daging tersebut kepada fakir miskin.

    Lafaz Niat Dan Tawkil Dalam Korban

    Niat itu tempatnya di hati dan sunat melafazkannya dengan lidah. Niat bagi korban sunat itu ialah seperti berikut:

    Maksudnya: “Sahaja aku melakukan korban yang sunat”

    Contoh lafaz berwakil:

    “Buatkan korban/udhhiyyah sunat untuk saya”, atau

    “Belikan korban sunat untuk saya”, yang bermakna: “Sembelihkan untuk saya, niatkan untuk saya.”

    Contoh terima wakalah:

    “Aku terima.”

    Menyembelih Binatang Korban Di Luar Negeri Dan Dagingnya Dialihkan Ke Negeri Yang Lain

    Apa yang dimaksudkan dengan memindahkan daging korban itu ialah memindahkan daging korban dari negeri tempat penyembelihannya ke negeri lain, supaya daging korban itu dibahagi-bahagikan kepada mereka yang berhak di negeri berkenaan itu.

    Adakah harus bagi orang-orang tempatan berwakil untuk berkorban di luar negeri dan daging korban itu dipindahkan daripada tempat korban ke negeri atau daerah lain?

    As-Sayyid Al-Bakri Ad-Dumyathi, Pengarang Hasyiah I’anah At-Thalibin menjelaskan bahawa telah dijazamkan dalam An-Nihayah bahawa haram memindahkan daging korban daripada tempat berkorban itu seperti mana juga zakat, sama ada korban sunat atau wajib. Adapun yang dimaksudkan daripada korban sunat itu ialah bahagian yang wajib disedekahkan kepada fakir miskin.

    Manakala memindahkan wang daripada satu negeri ke negeri yang lain untuk membeli binatang korban adalah di haruskan seperti mana katanya yang ertinya :

    “Adapun memindah wang dirham daripada satu negeri ke negeri yang lain untuk membeli dengannya binatang korban di negeri tersebut maka ia adalah harus.”

    (I’anat At-Thalibin: 2/380)

    As-Syeikh Mohammad bin Sulaiman Al-Kurdi pernah ditanya :

    “Sudah menjadi kebiasaan orang-orang Jawi (kepulauan Melayu) berwakil kepada seseorang untuk membeli na’am (seperti lembu dan kambing) di Mekkah untuk dijadikan aqiqah dan korban sedangkan orang yang hendak beraqiqah atau berkorban itu berada di negeri Jawi. Adakah sah perbuatan sedemikian atau tidak, mohon fatwakan kepada kami.

    Jawapan: Ya! Sah yang demikian itu dan harus berwakil membeli binatang korban dan aqiqah dan begitu juga untuk menyembelihnya sekalipun di negeri yang bukan negeri orang yang berkorban dan beraqiqah itu.”

    (I’anah At-Thalibin: 2/381)

    Dalam perkara ini pengarang Kitab Sabil Al-Muhtadin pula menyebutkan:

    Kata Syeikhi Muhammad bin Sulaiman: Harus berwakil pada membeli na’am akan korban pada negeri yang lain dan pada menyembelih dia dan pada membahagikan dagingnya bagi segala miskin negeri itu intaha. Maka iaitu zahir sama ada negeri Mekkah atau lainnya tetapi jangan dipindahkan dagingnya daripada negeri tempat berkorban kepada negeri yang lain maka iaitu haram lagi akan datang kenyataannya dan sayuginya hendaklah yang berwakil menyerahkan niat korban kepada wakil pada masalah ini wallahu ‘alam. (Sabil Al-Muhtadin: 214)

    Katanya lagi jikalau berwakil seorang akan seorang pada berkorban di negeri lain kerana menghasilkan murah umpamanya hendaklah disedekahkan oleh wakil akan dagingnya bagi fakir miskin negeri itu dan janganlah dipindahkannya akan sesuatu daripada dagingnya daripada negeri itu kepada negeri yang berwakil melainkan sekadar yang sunat ia memakan dia itupun jika ada korban itu sunat (adapun) jika ada korban itu wajib maka wajiblah atas wakil mensedekahkan sekeliannya kepada fakir di dalam negeri tempat berkorban itu (dan haram) atasnya memindahkan suatu daripadanya ke negeri yang lain. (Sabil Al-Muhtadin: 216)

    Berdasarkan perkataan para ulama seperti yang dinukilkan di atas, adalah jelas bahawa hukumnya harus berwakil untuk membeli binatang korban di negeri yang lain dan menyembelihnya serta membahagikan daging tersebut kepada fakir miskin di negeri berkenaan.

    Adapun memindahkan daging korban daripada tempat sembelihan Ke negeri yang lain itu adalah berhubungkait dengan hukum menyedekahkan daging korban itu:

    Jika korban itu adalah korban wajib yang mana kesemua dagingnya wajib disedekahkan kepada fakir miskin dalam keadaan mentah, maka haram hukumnya memindahkan daging korban berkenaan daripada tempat sembelihan. Inilah pendapat jumhur ulama Syafi’eyah.

    Jika korban itu korban sunat di mana sebahagian daripada daging korban itu harus dihadiahkan atau dimakan oleh orang yang berkorban, maka bahagiannya (hak orang yang berkorban) itu sahaja yang harus dipindahkan ke negeri lain. Manakala bahagian yang wajib disedekahkan kepada fakir miskin itu wajib disedekahkan di tempat berkorban itu juga dan haram dipindahkan ke negeri lain. (I’anah At-Thalibin: 2:380)

    Penutup

    Mengingatkan hukum berkorban itu sunat mu’akkadah dan mempunyai kelebihan-kelebihannya yang banyak, sayugia jangan dilepaskan peluang untuk membuat amalan korban ini.

    Supaya korban itu sempurna, fahamilah hukum-hakam yang berkaitan dengan ibadah korban itu. Begitu juga mengambil perhatian dalam memenuhi tuntutan-tuntutan lain yang berkaitan seperti berwakil membeli dan menyembelih sebagaimana yang dijelaskan di atas supaya amalan berkorban itu benar-benar menepati syara’.

    wallohu a’lam bish-shawab,-

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 14 December 2016 Permalink | Balas  

    Permasalahan Daging Korban (2/3) 

    kambing-kurban-300x225Permasalahan Daging Korban (2/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Isu-Isu Daging Korban Sunat

    Sebagaimana yang kita ketahui berkorban itu hukumnya sunat mu’akkadah (sunat yang sangat dituntut). Jumhur ulama juga mengatakan ia adalah sunat bagi orang yang mampu. Makruh bagi orang yang mampu itu jika dia tidak melakukan korban. Walau bagaimanapun jika ditinggalkannya tanpa sebarang keuzuran, tidaklah dia berdosa dan tidak wajib dia mengqadhanya.

    Terdapat beberapa isu yang perlu diambil perhatian berhubung dengan korban sunat seperti berikut:

    (1) Memakan Daging Korban Sunat

    Sunat bagi orang yang empunya korban itu memakan sebahagian daripadanya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tafsirnya :

    “Maka makanlah daripadanya dan beri makanlah kepada orang-orang yang sangat fakir”.

    (Surah Al-Hajj: 28)

    Afdhalnya yang dimakan itu ialah hatinya, kerana telah diriwayatkan bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah makan sebahagian daripada hati binatang korbannya, tetapi makan di sini bukanlah bererti dia wajib memakannya.

    (2) Menyedekahkan Daging Korban Sunat

    Berdasarkan kepada ayat di atas, para ulama berpendapat bahawa selain daripada sunat dimakan, wajib pula disedekahkan sebahagian daripada daging korban sunat itu dalam keadaan mentah lagi basah kepada orang-orang fakir atau miskin yang Islam.

    Ini bererti setiap orang yang berkorban sunat itu wajib menyediakan sebahagian daripada daging korbannya itu untuk disedekahkan kepada orang fakir dan miskin. Tidak memadai jika daging-daging korban itu dihadiahkan keseluruhannya kepada orang-orang kaya misalnya. Hal inilah yang wajib diketahui oleh setiap orang yang berkorban.

    (3) Cara Pembahagian (Menyedekahkan)

    Harus bagi orang yang berkorban itu membahagikan daging korbannya kepada tiga bahagian; satu pertiga untuk dimakan, satu pertiga untuk disedekahkan kepada fakir dan miskin dan satu pertiga lagi untuk dihadiahkan kepada orang kaya.

    (4) Afdhal disedekahkan Kesemuanya

    Namun yang afdhalnya adalah disedekahkan semuanya, melainkan dimakannya sedikit sahaja iaitu kadar beberapa suap untuk mengambil berkat daripadanya, kerana yang demikian itu lebih mendekatkan diri kepada taqwa dan jauh daripada sifat mementingkan diri sendiri.

    (5) Jika Dimakan Kesemuanya

    Sekalipun sah korban sunat seseorang itu, jika dimakan kesemua daging korbannya dan tiada sedikit pun disedekahkan kepada orang fakir atau miskin, tetapi wajib didapatkan atau dibeli daging-daging yang lain kadar yang wajib disedekahkan sebagai ganti.

    (6) Daging Korban Untuk Hadiah

    Memberikan daging korban sunat sebagai hadiah kepada orang kaya Islam adalah harus. Walau bagaimanapun hadiah itu setakat untuk dimakan sahaja, bukan untuk tujuan memilikinya. Ini bererti dia tidak boleh menjualnya, menghibahkannya atau sebagainya kecuali menyedekahkannya kepada fakir atau miskin. Berlainan halnya dengan orang fakir dan miskin, di mana daging yang disedekahkan kepadanya itu adalah menjadi milik mereka. Mereka diharuskan menjual daging tersebut atau menghibahkan (memberikan) kepada orang lain.

    (7) Menghadiahkan Daging Korban Kepada Orang Kafir

    Satu perkara lagi yang wajib kita ketahui ialah hukum haram menyedekah dan menghadiahkan daging korban kepada orang kafir sekalipun dia kaum kerabat, sama ada ia korban wajib atau sunat sekalipun sedikit kerana ia adalah perkara yang berhubung dengan ibadat.

    (8) Daging Korban Dijadikan Upah

    Kulit atau daging binatang korban itu haram dijadikan upah kepada penyembelih, tetapi harus diberikan kepadanya dengan jalan sedekah jika penyembelih itu orang miskin atau hadiah jika dia bukan orang miskin.

    (9) Daging Korban Dijadikan Jamuan Bagi Fakir Miskin

    Sepertimana yang dijelaskan di atas, bahagian yang wajib disedekahkan itu hendaklah ia daging yang masih basah dan mentah. Ini bererti tidak memadai jika bahagian yang disedekahkan itu bukan daging seperti kulit, hati, tanduk dan sebagainya. Begitu juga tidak memadai jika daging tersebut dimasak kemudian dipanggil orang-orang fakir dan miskin untuk memakannya kerana hak fakir dan miskin itu bukan pada makan daging tersebut, tetapi adalah memiliki daging berkenaan dan bukan memilikinya dalam keadaan yang telah dimasak.

    (10) Berkorban Bagi Pihak Orang

    Tidak sah dibuat korban bagi orang yang hidup melainkan dengan izinnya, dan tidak sah juga dibuat korban bagi orang yang telah mati jika simati tidak berwasiat untuk berbuat demikian.

    Bersambung

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 13 December 2016 Permalink | Balas  

    Permasalahan Daging Korban (1/3) 

    kambing-kurban-300x225Permasalahan Daging Korban (1/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Suasana ‘Idul Adha atau dikenal juga sebagai Hari Raya Korban tidaklah sehebat ‘Idul Fitri. ‘Idul Fitri disambut dengan ‘bermati-matian’ di mana persediaan menyambut kedatangannya dibuat lebih awal dan ada orang sanggup ‘berbelanja besar’ kerananya. Inilah suatu hakikat yang tidak selaras dengan agama.

    ‘Idul Adha mengingatkan kita kepada peristewa penyembelihan Nabi Ismail. Sejak dari saat itulah penyembelihan binatang korban menjadi salah satu syiar dalam Islam.

    Kalau ada orang sanggup ‘berbelanja besar’ kerana Hari Raya Fitri, maka inilah saatnya kita ‘berbelanja besar’ kerana menyertai amalan berkorban binatang, kerana ia menjanjikan pahala yang besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang antaranya:

    1. Orang yang berkorban itu akan dikurniakan kebajikan (hasanah) sebanyak bulu binatang yang dikorban.
    2. Titisan darah korban yang pertama adalah pengampunan bagi dosa-dosa yang telah lalu.

    iii. Darah korban itu jika tumpah ke bumi, maka ia akan mengambil tempat yang mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Tidak syak lagi menyembelih binatang korban itu tanda bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh kerana itu, jika seseorang itu mempunyai harta sebanyak nilai harga binatang korban, selepas ditolak keperluannya dan keperluan orang-orang di bawah tanggungannya pada hari raya dan hari-hari Tasyrik, maka dia dianggap telah memenuhi syarat-syarat boleh berkorban.

    Meninggalkan ibadah korban walaupun tidak berdosa, namun seseorang itu bukan hanya kehilangan pahala-pahala besar yang dijanjikan dan tidak mendapat pahala sunnah, bahkan dihukum pula sebagai makruh.

    Yang demikian itu, rebutlah peluang berkorban ini yang datangnya hanya setahun sekali, itupun jika ada umur yang lebih, sambil itu sama-samalah kita memerhatikan hukum-hakam mengenainya supaya bertambah sempurna amalan korban itu dan dalam waktu yang sama terjauh daripada segala yang boleh mencacatkannya.

    Isu-Isu Daging Korban Wajib

    Udhhiyyah atau korban itu terbahagi kepada dua iaitu udhhiyyah wajibah (korban wajib) dan udhhiyyah mandubah (korban sunat).

    Binatang sembelihan bagi ibadat korban itu menjadi wajib apabila ia dinazarkan, sama ada nazar itu nazar yang sebenar (nazar hakikat) ataupun nazar dari segi hukum sahaja, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya : “Sesiapa yang bernazar untuk mentaati Allah, maka hendaklah dia mentaatinya”.

    (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

    Apa yang dimaksudkan dengan nazar yang sebenar itu adalah dengan menyebut nama Allah atau menggunakan perkataan ‘nazar’. Sebagai contoh orang yang berkorban itu berkata: “Demi Allah wajib ke atasku menyembelih kambing ini sebagai korban”, ataupun dia berkata: “Aku bernazar untuk menyembelih kambing sebagai korban pada Hari Raya Haji nanti”.

    Adapun bernazar dari segi hukum sahaja seperti seseorang itu berkata: “Aku jadikan kambing ini untuk korban”, ataupun dia berkata: “Ini adalah korban”, maka dianggap sama seperti bernazar yang sebenar kerana dia telah menentukan (ta’ayin) binatang tersebut.

    Maka yang demikian itu wajib disedekahkan semua daging sembelihan itu termasuk kulit dan tanduknya. Untuk lebih jelasnya lagi disebutkan beberapa isu berhubung dengan korban wajib yang perlu diambil perhatian seperti berikut:

    (1) Hukum Memakan Daging Korban Wajib

    Haram atas orang yang berkorban wajib itu memakan daging tersebut walaupun sedikit. Jika dimakannya daging tersebut, wajib diganti kadar yang dimakannya itu, tetapi tidak wajib dia menyembelih binatang lain sebagai ganti.

    (2) Makan Daging Korban Yang Diwasiatkan

    Jika daging korban itu ialah korban disebabkan wasiat daripada seseorang yang telah meninggal dunia, maka tidak boleh dimakan dagingnya oleh orang yang membuat korban untuknya dan tidak boleh dihadiahkan kepada orang kaya kecuali ada izinnya.

    (3) Menukar Binatang Korban Wajib Dengan Yang Lebih Baik

    Binatang korban wajib itu tidak boleh ditukar dengan yang lain walaupun dengan yang lebih baik. Apatah lagi dijual, disewakan atau dihibahkan (diberikan).

    (4) Melambat-lambatkan Pembahagian Daging Korban

    Jika orang yang berkorban itu melambat-lambatkan pembahagian daging korban wajib tersebut sehingga rosak, maka wajib ke atas orang yang berkorban itu bersedekah dengan harga daging itu dan tidaklah wajib dia membeli yang baharu sebagai gantinya kerana telah dikira memadai dengan sembelihan tersebut.

    (5) Menjual Binatang Korban Wajib

    Sekiranya binatang korban wajib itu dijual oleh orang yang berkoban, maka hendaklah dia mendapatkannya semula daripada orang yang telah membelinya jika masih ada di tangan pembeli dan dia hendaklah memulangkan harga belian yang diterimanya. Jika tiada lagi di tangan pembeli, umpamanya sudah disembelihnya, maka wajib baginya mengadakan nilaian harga yang lebih mahal daripada harga waktu dia memiliki yang dahulu, dan hendaklah dia membeli semula dengan nilaian itu binatang korban yang sama jenisnya dan sama umurnya untuk disembelih pada tahun itu juga. Jika luput dia daripada menyembelihnya, maka wajib ke atasnya menyembelih binatang korban wajib itu pada tahun hadapannya sebagai qadha yang luput itu. Jika harga binatang korban itu (yang sama jenis dan umur dengan yang dahulu) lebih mahal kerana naik harga dan harga nilaian itu tidak mencukupi untuk membeli binatang yang sama dengan yang dahulu itu hendaklah ditambahnya dengan hartanya yang lain. Begitulah juga hukumnya jika binatang itu tidak disembelih setelah masuk Hari Raya Adha dan binatang itu binasa dalam tempoh tersebut.

    (6) Binatang Korban Dicuri Dan Dibinasakan Orang Lain

    Jika binatang korban wajib itu rosak, umpamanya mati atau dicuri orang sebelum masuk waktu berkorban dan bukan kerana kecuaiannya, tidaklah wajib dia menggantinya.

    Manakala jika ia dibinasakan oleh orang lain, maka hendaklah orang yang membinasakan itu mengganti harga binatang korban wajib itu kepada orang yang punya korban dan dia hendaklah membeli semula binatang yang sama seperti yang dahulu, jika tidak diperolehi binatang yang sama, hendaklah dibelinya yang lain sahaja sebagai ganti.

    (7) Disembelih Sebelum Masuk Waktu

    Adapun jika binatang korban wajib itu disembelih sebelum masuk waktu korban, wajiblah disedekahkan kesemua dagingnya dan tidak boleh bagi orang yang berkorban wajib itu memakan dagingnya walaupun sedikit dan wajib pula menyembelih yang sama dengannya pada hari korban itu sebagai ganti.

    (8) Kecacatan Binatang Korban Wajib

    Jika binatang korban yang telah ditentukan dalam korban wajib itu menjadi cacat (‘aib) setelah dinazarkan dan sebelum masuk waktu menyembelihnya dan kecacatan binatang itu adalah cacat yang tidak boleh dibuat korban pada asalnya, maka tidaklah disyaratkan menggantinya dan tidaklah terputus hukum wajib menyembelihnya dengan adanya cacat tersebut. Bahkan jika disembelihnya pada Hari Raya Adha adalah memadai (boleh dibuat) sebagai korban.

    (9) Binatang Cacat Disembelih Sebelum Masuk Waktunya

    Sekiranya binatang yang dalam keadaan cacat itu disembelih sebelum Hari Raya Adha hendaklah disedekahkan dagingnya itu dan tidak wajib menggantinya dengan binatang yang sama untuk disembelih pada Hari Raya Adha itu. Tetapi wajib bersedekah nilaian harga binatang yang disembelih itu.

    (10) Cacat Setelah Masuk Waktu Menyembelih

    Jika kecacatan itu berlaku setelah Hari Raya Adha dan disembelih dalam keadaan yang demikian, maka tidaklah ia memadai (tidak memenuhi syarat) sebagai korban, kerana ia telah menjadi barang jaminan selagi belum disembelih, dan wajib diganti dengan yang baru.

    Bersambung

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 12 December 2016 Permalink | Balas  

    Apa Hukumnya Merayakan Maulid Nabi? 

    maulid-nabi-muhammadAPA HUKUMNYA MERAYAKAN MAULID NABI ?

    Oleh: Imam Muhammad bin Ali bin Muhammad Asy Syaukani ( 1173 – 1250 H )

    Kandungan buku

    “RISALAH TENTANG HUKUM MEMPERINGATI MAULID NABI -shallallahu ‘alaihi wa sallam- ”

    Beliau-rahimahullah- telah ditanya tentang hukum maulid:

    Maka dia menjawab: saya tidak mendapatkan sampai sekarang dalil (argumentasi) didalam Al Qur’an, Sunnah, Ijma’, Qiyas dan Istidlal yang menjelaskan landasan amalan maulid, bahkan kaum muslimin telah sepakat, bahwa perayaan maulid nabi tidak ada pada masa qurun yang terbaik (para shahabat, pent), juga orang yang datang sesudah mereka (para tabi’in) dan yang datang sesudah mereka (tabi’ tabi’in). Dan mereka juga sepakat bahwa yang pertama sekali melakukan maulid ini adalah Sulthan Al Muzhaffar abu Sa’id Kukburi, anak Zainuddin Ali bin Baktakin, pemilik kota Irbil dan yang membangun mesjid Al Muzhaffari di Safah Qaasiyyun, pada tahun tujuh ratusan, dan tidak seorangpun dari kaum muslimin yang tidak mengatakan bahwa maulid tersebut bukan bid’ah.

    Dan apabila telah tetap hal ini, jelaslah bagi yang memperhatikan (para pembaca) bahwasanya orang yang membolehkan maulid tersebut setelah dia mengakuinya sebagai bid’ah dan setiap yang bid’ah itu adalah sesat, berdasarkan perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidaklah dia (yang membolehkan maulid) mengatakan kecuali apa yang bertentangan dengan syari’at yang suci ini, dan tidak ada tempat dia berpegang kecuali hanya taqlid kepada orang yang membagi bid’ah tersebut kepada beberapa macam, yang sama sekali tidak berlandasakan kepada ilmu.

    Dan kesimpulannya kita tidak bisa menerima dari seseorang yang mengatakan bolehnya suatu amalan kecuali setelah dia sebutkan argumentasi yang mengkhususkan bid’ah yang dilakukannya tersebut keluar dari keumuman (hadits yang mengatakan: setiap yang baru itu adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah adalah sesat, pent) yang tidak dia ingkari, adapun semata-mata ungkapan yang mengatakan “kata sipulan atau pendapat sipulan” ini sama sekali tidak bermanfaat, sebab kebenaran itu lebih besar (agung) dari setiap orang, dan jikalau seandainya kita percaya (berpegang) kepada perkatan manusia dan kembali berpegang kepada omongan belaka, tiada lain orang yang membolehkan bid’ah tersebut kecuali orang yang menyimpang dari jalan kaum muslimin.

    Adapun al ‘atirah (para keluarga rasulullah) dan para pengikutnya tidak kita temukan satu perkataan pun dari mereka yang membolehkan maulid tersebut, bahkan perkataan mereka seakan sepakat mengatakan: bid’ah ini muncul jauh di belakangan hari, dan ia merupakan sarana yang paling jelek untuk timbulnya kerusakan (kemungkaran), oleh karena itu kamu melihat negeri ini (Yaman) bersih dari segala tipu daya orang-orang sufi, dan maulid nabi ini merupakan salah satu dari tipu daya mereka -Alhamdulillah-, dan khalifah yang terakhir yang membela (memperjuangkan) yang demikian itu adalah al Mahdi Lidinillah Al ‘Abbas bin Al Manshur, sesungguhnya dia telah melarang perayaan mulid dan memerintahkan untuk penghancuran sebagian kuburan yang diyakini oleh orang-orang awan, semoga Allah ta’ala memberikan ilham (taufig) kepada khalifah kita sekarang Al Manshur Billah -semogah Allah memeliharanya- untuk mengikuti as salafus sholeh (para shahabat, tabi’in, tabi’ tabi’in dan yang mengikuti jejak mereka, pent). Karena permasalahannya sebagaimana yang ungkapkan dalam gubahan berikut ini:

    Saya melihat kilatan bara api dicela-cela abu

    Hampir saja bara tersebut akan menyala.

    Bertebarnya bid’ah itu lebih cepat dari menyebarnya api, betapa lagi bid’ah maulid, karena diri orang yang awam sangat menyukainya (merindukanya), ditambah lagi jikalau yang hadir bersama mereka orang-orang yang berilmu, terhormat dan yang berpangkat, sesudah itu mereka (orang yang awam) akan memahami bahwasanya “ perbuatan ini (maulid) merupakan tujuan dan bukanlah suatu bid’ah”, sebagaimana yang diungkapkan dalam gubahan ini:

    Orang yang berilmu yang tidak peduli dengan kesalahannya adalah kerusakan yang besar

    Dan lebih rusak lagi orang yang bodoh yang banyak beribadah

    Keduanya merupakan fitnah yang besar bagi alam ini

    Bagi orang yang menjadikan mereka panutan didalam agamanya

    Dan tidak diragukan lagi bahwasanya masyarakat awam merupakan orang yang paling cepat menerima segala bentuk sarana yang membawa kepada kerusakan, yang bisa mereka dengan sarana tersebut melakukan hal-hal yang diharamkan, seperti maulid dan semisalnya, apalagi jika ditambah dengan kehadiran orang yang yang dikenal keilmuan, kehormatan dan kedudukannya, mereka melakukan yang terlarang dengan bentuk ketaatan, tenggelam dalam jurang kebodohan dan kesesatan, sehingga mereka (orang awam) akan berlepas diri dari pelarangan sambil berkata: “Telah hadir bersama kami sayyid (tuan) si pulan, sipulan dan sipulan”.

    Jangankan orang yang awam, sebagian orang yang menuntut ilmupun juga telah duduk di depan saya untuk membaca (mempelajari) sebagian dari ilmu-ilmu ijtihad, lalu dia memberitahukan kepada saya: “bahwa dia telah hadir pada malan perayaan maulid tersebut, pada bulan ini (Rabiul awwal, pent)” maka saya ingkari perbuatannya, lantas dia berkata: “ telah hadir bersama kami tuan sipulan, sipulan dan sipulan”, lalu saya bertanya: “ bagaimana bentuk pelaksanaannya didepan mereka para tuan itu”, maka dia menjawab: ‘yang membaca maulid tersebut seorang laki-laki yang bodoh, sementara para tuan-tuan tersebut memukul gendang sambil menyanyi dan mendengarkannya, sampai dia berdiri seolah-olah lepas dari ikatan sambil mengucapkan: “ Selamat datang wahai cahaya mataku, selamat datang” dan berdiri pula bersamanya seluruh yang hadir termasuk para tuan tersebut dan yang lainnya, lalu dia bersuara sambil berdiri, begitu juga mereka yang hadir, tatkala capek sebagian yang hadir lalu dia duduk, lalu sebagian para tuan tersebut melarangnya sambil berkata yang dimukanya terlihat kemarahan-: “berdiri wahai sibodoh”, (dengan lafazd seperti ini), dan mereka tidak ragu lagi bahwasanya Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam telah sampai kepada mereka pada waktu itu, kemudian mereka saling bersalaman dan sebagian orang yang awam dengan segera memberikan bermacam-macam wangian ketangan mereka, seolah-olah mereka sedang mempergunakan kesempatan bertemu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallm, innalillahi wainnailaihi raji’un !! lalu mana kehormatan (kemuliaan) agama ini ?, jikalau sudah hilang, mana rasa malu dan akal yang sehat ? .

    Seandainya tidak ada terjadi dihadapan mereka para tuan tersebut satupun dari bentuk kemungkaran, -sabagaimana persangkaan baik kita terhadap mereka,- tapi apakah mereka tidak tahu bahwa orang awam menjadikan yang demikian itu sebagai sarana untuk kemungkaran, menutupi dengan kehadiran mereka segala bentuk kemungkaran, melakukan pada perayaan maulid mereka- yang tidak dihadirinya- setiap kemungkaran, sambil berkata: telah hadir dalam perayaan maulid sipulan, sipulan dan sipulan, mereka berpegang dengan nama maulid.

    Maka disini jelaslah bagimu rusaknya I’tidzar (dalil) sebagian orang yang membolehkannya dengan alasan ” apabilah tidak terjadi dalam perayaan tersebut kecuali berkumpul untuk makan dan dzikir, maka tidak apa-apa, dan ini tidak mengharuskan haramnya hal-hal yang terlarang yang menyertai maulid tersebut”.

    Karena kita katakan: Perayaan maulid dalam posisinya sebagai bid’ah –sesuai dengan pengakuanmu- biasanya disertai dengan banyak bentuk kemungkaran dan sudah menjadi sarana untuk melakukan kemaksiatan yang banyak. Dan adanya perayaan maulid seperti ini yang tidak mencakup selain makanan dan dzikir labih baik dari kibriit (permata) yang merah.

    Dan telah tetap bahwa “saddudz dzarai’ (menutupi jalan-jalan)) dan melarang seluruh sarana yang menjurus kepada sesuatu yang terlarang” merupakan Qaedah Syariat yang amat penting, yang dianggap wajib oleh para jumhur (ulama). Dan jikalau seandainya masih ada dalam dirimu rasa inshof janganlah kamu ingkari permasalahan ini.

    Dan jika telah jelas bagi anda bahwa tiada seorangpun dari ahli bait dan para pengikut mereka yang membolehkan perayaan Maulid, dan anda ingin juga mengetahui pendapat ulama selain ahli bait, maka keterangannya sebagai berikut :

    Kami telah jelaskan pada anda bahwa semua kaum muslimin telah bersepakat bahwasanya ia adalah bid’ah, hanya saja para penguasa berpengaruh besar dalam menghidupkan bid’ah atau menghancurkannya. Maka tatkala sang pencetus perbuatan bid’ah ini adalah seorang raja yaitu saaidah bin dihyah(), dimana beliau menyusun sebuah karangan dalam masalah itu yang dinamakannya :

    “Penjelasan Gamlang Tentang Maulid Sang Pemberi Kabar Gembira Dan Penakut”, meskipun beliau ahli dalam masalah ilmu hadits, tetapi kitab tersebut kosong dari dalil-dalil yang kuat, tidak dapat diingkari, ia membolehkan nya dengan imbalan seribu dinar –sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Khallakaan – dan cinta dunia, bisa berbuat lebih dari ini.

    Kemudian setelah terjadi perayaan maulid ini, tegaklah perselisihan yang besar, dan bermunculanlah karangan-karangan tentang masalah ini, antara yang melarang dan yang membolehkan, diantara pengarang-pengarang tersebut ialah Alfakihany Almaliky menulis sebuah kitab yang berjudul : “Pendapat Yang Mendasar Dalam Pelaksanaan Maulid” di dalamnya beliau mencela dan mencaci, dan diantara gubahan dalam kitab itu yang ditujukan kepada gurunya Al-Qusyairy :

    Kemunkaran telah dianggap baik.

    Dan kebaikan menjadi munkar di zaman yang pelik.

    Para ulama tak bernilai lagi.

    Sedangkan orang-orang bodoh mendapat kedudukan tinggi

    Mereka menyeleweng dari kebenaran.

    Dulunya pemimpin-pemimpin mereka tak diperhatikan

    Maka kukatakan kepada orang-orang baik lagi bertaqwa

    Dan beragama, tatkala memuncaknya kesedihan

    Janganlah kalian menyesali keadaan, telah tiba

    Giliran mu pada masa yang asing.

    Kemudian juga Al-Imam Abdillah bin Al-Haaj dengan nama kitabnya : “Pintu Masuk Dalam Mengamalkan Maulid”, dan Imam Ahli Qiro-at Al-Jazary dengan nama kitabnya: “Pengenalan Terhadap Maulid Yang Mulia”, dan juga Imam Al-Hafidz Ibnu Naashir() dengan kitabnya: “Sumber Utama Dalam Pelaksanaan Maulid Sang Pembawa Petunjuk”, dan Imam Suyuthi dengan kitabnya : “Tujuan Yang Baik Dalam Melaksanakan Maulid” di antara mereka ada yang benar-benar tidak membolehkan, dan ada juga yang membolehkan dengan bersyarat kalau tidak dicampuri oleh hal-hal yang munkar, meskipun mereka mengakui bahwasanya itu merupakan perbuatan bid’ah, namun mereka tidak mampu untuk memberikan argumentasi yang kuat, adapun dalil mereka dengan hadits bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dikala sampai di Madinah beliau mendapati orang-orang yahudi berpuasa pada hari asyura, lalu beliau menanyakan sebabnya, hari tersebut adalah hari dimana Allah menyelamatkan Nabi Musa dan membinasakan Fir’aun, lalu kami berpuasa pada hari itu sebagai rasa syukur kepada Allah ta’ala sebagaimana yang dilakukan Ibnu Hajar(), atau dengan hadits bahwasanya Rasulullah e mengaqiqahkan dirinya sendiri setelah kenabian(), sebagaimana yang dilakukan suyuthi, ini merupakan suatu yang sangat aneh dimana itu terjadi karena keinginan untuk menegakkan bid’ah.

    Walhasil bahwa sesungguhnya orang-orang yang membolehkan – yang mereka itu segelintir kalau dibandingkan dengan orang-orang yang mengharamkan – mereka sepakat bahwasanya tidak boleh kecuali dengan syarat hanya untuk makan-makan dan berdzikir. Telah kita jelaskan bahwasanya ia sudah menjadi wacana untuk hal-hal yang munkar. Hal ini tidak satu pun yang bisa mengingkarinya. Dan adapun peringatan maulid seperti ini yang terjadi sekarang semuanya bersepakat bahwa ia tidak boleh. Rasanya semua ini sudah cukup bagi kita, meskipun semestinya membutuhkan penjelasan yang panjang lebar, membeberkan pendapat-pendapat orang yang membolehkan kemudian dibantah, hal yang demikian tentu akan menghasilkan beberapa buah buku. Dan Allah tentu akan mengilhamkan kepada salah seorang petinggi negara untuk mencegah perbuatan ini, maka ia akan mudah dikikis habis, yaitu dengan mencegah generasi yang akan diajak untuk melakukan perayaan maulid serta mengecamnya. Cara seperti ini bisa dilakukan oleh setiap orang.

    Adapun pertanyaan anda tentang kejadian besar yang terjadi di Qotor Tuhamy, di mana mereka menghiasi batu-batu, lalu mereka tawaf di sekelilingnya, sebagai mana tawaf di sekeliling Ka’bah, telah sampai kepada orang yang mencintai anda – yaitu pengarang (pent)- pertanyaan sebagian pemuka penduduk Tuhamah, yang ditulis oleh Sayyid Muhammad Ahmad An-Nu’amy, pertanyaan itu telah saya jawab dengan panjang lebar, maka bacalah ia kalau memungkinkan, dan pertanyaan itu memuat keyakinan mereka terhadap orang-orang yang telah mati, dan batu-batu itu, bahwasanya dia dapat memberikan mudharat dan manfaat, hal ini adalah perbuatan kufur() yang tidak diragukan lagi, bahkan ia lebih dari kekufuran penyembah-penyembah berhala dulu, karena orang-orang itu berkata: kami mengibadati berhala-berhala itu agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya. Sedangkan mereka ini berkata: kami ibadati mereka supaya dapat memberikan mudharat dan manfaat, maka musibah mana yang lebih keji dari pada kekufuran, dan kemungkaran mana yang lebih dahsyat dari nya ?! dan bagaimana bisa orang yang sanggup untuk melaksanakan perintah-perintah beranggapan bahwasanya ia termasuk orang-orang yang beriman, sedangkan saudara-saudara sesama muslim telah terjerumus kedalam kekufuran yang nyata ? Innalillahi wa inna ilaihi rooji’uun, dan semoga Allah merahmati Al-Mahdy lidinillah Al-Abbas bin Mansur Beliau telah berusaha menghancurkan kemungkaran di setiap tempat, dan semoga Allah mengilhami pemimpin zaman sekarang untuk melakukan kewajiban yang sangat penting ini.

    Sebagai kesimpulan, tidak ada seorangpun yang membutuhkan dalil tentang jeleknya amalan ini, tiada seorang muslimpun yang ragu akan kufurnya perbuatan ini, dan tiada seorangpun yang menyelisihi tentang buruknya kekufuran, Alquran dan sunnah penuh oleh dalil-dalil yang menetapkan jeleknya kekufuran, yang membeberkan kepada orang kafir apa-apa yang mereka yakini. Siapa yang membaca satu lembar saja dari Al-quran niscaya ia akan menemukan dalil-dalil tentang tauhid, dan tentang jeleknya syirik dan kufur, apa yang membuatnya puas dan merasa cukup, maka tidak akan ada faedahnya kalau kita berpanjang lebar, jikalau ada orang yang ingin menyebutkan secara detil dalil-dalil tentang itu baik naql ataupun akal, pasti akan mengeluarkan kitab yang berjilid-jilid.

    Ya Allah sesungguh Engkau mengetahui bahwa kemampuan kami terbatas untuk melawan kerusakan-kerusakan ini dan menghancurkan kemungkaran-kemungkaran ini, tidaklah ada yang bisa kami lakukan kecuali hanya memberi peringatan dan menyampaikan, dan itu telah kami lakukan. Ya Allah turunkan murka Mu karena agama Mu, dan sucikanlah ia dari noda-noda para syetan yaitu mereka-mereka yang menyembah kubur, dan selamatkanlah kami dari kotoran-kotoran yang mengeruhkan kesucian agama yang kokoh ini.

    Ditulis oleh penjawab Muhammad bin Ali As-Syaukany pada subuh hari kamis Bulan Rabiul awwal 1306 H.

    Tamat

    [Disalin dari buku “Maa hukmul Ihtifal bi maulidin –Naby”, ditulis oleh Imam Syaukani, editor Abu Ahmad Abdul Aziz bin Ahmad bin Muhammad bin Hamuud Al Musyaiqih, diterjemahkan oleh Ali Musri Lc, Aspri Rahmat Lc, Arifin Badri Lc, dan M. Nur Ihsan Lc.]

     
    • cholidahmad 4:45 pm on 30 Desember 2016 Permalink

      yang penting pegang teguh pendirian. lana a’maluna walakum a’malukum. mari orang islam bersatu padu. jangan kaya gitu.

  • erva kurniawan 9:04 am on 11 December 2016 Permalink | Balas  

    Peringatan Maulid Nabi s.a.w. dan Bid’ah 

    maulid-nabi-muhammadPeringatan Maulid Nabi s.a.w. dan Bid’ah

    ======= Tanya : =======

    Assalaamu’alaikum Wr.Wb.

    Ustadz yang saya hormati:

    Saya pernah membaca dari buku terbitan kementrian agama Arab Saudi bahwa Peringatan Maulid Nabi tidak pernah dilakukan dan dicontohkan pada masa Nabi Muhammad SAW maupun pada masa sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW.

    Dalam buku tersebut diperkuat pula dengan hadist-hadist shahih. Yang ingin saya tanyakan adalah: “Bagaimana dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia apakah ada hadist yang membenarkannya dan bagaimana sikap kita untuk menghadapi sesuatu yang dikatagorikan bid’ah?”

    Wassalaamu’alaikum

    ======= Jawab : =======

    Assalamua’alikum wr. wb.

    Ada tradisi umat Islam di banyak negara, seperti Indonesia, Malaysia, Brunai, Mesir, Yaman, Aljazair, Maroko, dan lain sebagainya, untuk senantiasa melaksanakan kegiatan-kegiatan seperti Peringatan Maulid Nabi SAW, peringatan Isra’ Mi’raj, peringatan Muharram, dan lain-lain. Bagaimana sebenarnya aktifitas-aktifitas itu?

    Secara khusus, Nabi Muhammad SAW memang tidak pernah menyuruh hal-hal demikian. Karena tidak pernah menyuruh, maka secara spesial pula, hal ini tidak bisa dikatakan “masyru'” [disyariatkan], tetapi juga tidak bisa dikatakan berlawanan dengan teologi agama.

    Yang perlu kita tekankan dalam memaknai aktifitas-aktifitas itu adalah “mengingat kembali hari kelahiran beliau –atau peristiwa-peristiwa penting lainnya– dalam rangka meresapi nilai-nilai dan hikmah yang terkandung pada kejadian itu”. Misalnya, hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Itu bisa kita jadikan sebagai bentuk “mengingat kembali diutusnya Muhammad SAW” sebagai Rasul. Jika dengan mengingat saja kita bisa mendapatkan semangat-semangat khusus dalam beragama, tentu ini akan mendapatkan pahala. Apalagi jika peringatan itu betul-betul dengan niat “sebagai bentuk rasa cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW”.

    Dalam Shahih Bukhari diceritakan, sebuah kisah yang menyangkut tentang Tsuwaibah. Tsuwaibah adalah budak [perempuan] Abu Lahab [paman Nabi Muhammad [SAW]. Tsuwaibah memberikan kabar kepada Abu Lahab tentang kelahiran Muhammad [keponakannya], tepatnya hari Senin tanggal 12 Robiul Awwal tahun Gajah. Abu Lahab bersuka cita sekali dengan kelahiran beliau. Maka, dengan kegembiraan itu, Abu Lahab membebaskan Tsuwaibah.

    Dalam riwayat disebutkan, bahwa setiap hari Senin, di akhirat nanti, siksa Abu Lahab akan dikurangi karena pada hari itu, hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, Abu Lahab turut bersuka cita. Kepastian akan hal ini tentu kita kembalikan kepada Allah SWT, yang paling berhak tentang urusan akhirat.

    Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW secara seremonial sebagaimana yang kita lihat sekarang ini, dimulai oleh Imam Shalahuddin Al-Ayyubi, komandan Perang Salib yang berhasil merebut Jerusalem dari orang-orang Kristen. Akhirnya, setelah terbukti bahwa kegiatan ini mampu membawa umat Islam untuk selalu ingat kepada Nabi Muhammad SAW, menambah ketaqwaan dan keimanan, kegiatan ini pun berkembang ke seluruh wilayah-wilayah Islam, termasuk Indonesia.

    Kita tidak perlu merisaukan aktifitas itu. Aktifitas apapun, jika akan menambah ketaqwaan kita, perlu kita lakukan.

    Tentang pendapat Ulama dan Pemerintah Arab Saudi itu, memang benar, sebagaimana yang kami tulis di atas. Tetapi, jika kita ingin 100% seperti zaman Nabi Muhammad SAW, apapun yang ada di sekeliling kita, jelas tidak ada di zaman Nabi. Yang menjadi prinsip kita adalah esensi. Esensi dari suatu kegiatan itulah yang harus kita utamakan.

    Nabi Muhammad SAW bersabda : ‘Barang siapa yang melahirkan aktifitas yang baik, maka baginya adalah pahala dan [juga mendapatkan] pahala orang yang turut melakukannya’ (Muslim dll). Makna ‘aktifitas yang baik’ –secara sederhananya–adalah aktifitas yang menjadikan kita bertambah iman kepada Allah SWT dan Nabi-Nabi-Nya, termasuk Nabi Muhammad SAW, dan lain-lainnya.

    Masalah Bid’ah: Ibnu Atsir dalam kitabnya “Annihayah fi Gharibil Hadist wal-Atsar” pada bab Bid’ah dan pada pembahasan hadist Umar tentang Qiyamullail (sholat malam) Ramadhan “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”, bahwa bid’ah terbagi menjadi dua : bid’ah baik dan bid’ah sesat. Bid’ah yang bertentangan dengan perintah qur’an dan hadist disebut bid’ah sesat, sedangkan bid’ah yang sesuai dengan ketentuan umum ajaran agama dan mewujudkan tujuan dari syariah itu sendiri disebut bid’ah hasanah.

    Ibnu Atsir menukil sebuah hadist Rasulullah “Barang siapa merintis jalan kebaikan maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang orang yang menjalankannya dan barang siapa merintis jalan sesat maka ia akan mendapat dosa dan dosa orang yang menjalankannya”. Rasulullah juga bersabda “Ikutilah kepada teladan yang diberikan oleh dua orang sahabatku Abu Bakar dan Umar”. Dalam kesempatan lain Rasulullah juga menyatakan “Setiap yang baru dalam agama adala Bid’ah”.

    Untuk mensinkronkan dua hadist tersebut adalah dengan pemahaman bahwa setiap tindakan yang jelas bertentangan dengan ajaran agama disebut “bid’ah”.

    Izzuddin bin Abdussalam bahkan membuat kategori bid’ah sbb :

    1) wajib seperti meletakkan dasar-dasar ilmu agama dan bahasa Arab yang belum ada pada zaman Rasulullah. Ini untuk menjaga dan melestarikan ajaran agama.Seperti kodifikasi al-Qur’an misalnya.

    2) Bid’ah yang sunnah seperti mendirikan madrasah di masjid, atau halaqah-halaqah kajian keagamaan dan membaca al-Qur’an di dalam masjid.

    3) Bid’ah yang haram seperti melagukan al-Qur’an hingga merubah arti aslinya,

    4) Bid’ah Makruh seperti menghias masjid dengan gambar-gambar

    5) Bid’ah yang halal, seperti bid’ah dalam tata cara pembagian daging Qurban dan lain sebagainya.

    Syatibi dalam Muwafawat mengatakan bahwa bid’ah adalah tindakan yang diklaim mempunyai maslahah namun bertentangan dengan tujuan syariah. Amalan-amalan yang tidak ada nash dalam syariah, seperti sujud syukur menurut Imam Malik, berdoa bersama-sama setelah shalat fardlu, atau seperti puasa disertai dengan tanpa bicara seharian, atau meninggalkan makanan tertentu, maka ini harus dikaji dengan pertimbangan maslahat dan mafsadah menurut agama. Manakala ia mendatangkan maslahat dan terpuji secara agama, ia pun terpuji dan boleh dilaksanakan. Sebaliknya bila ia menimbulkan mafsadah, tidak boleh dilaksanakan.(2/585)

    Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa bid’ah terjadi hanya dalam masalah-masalah ibadah. Namun di sini juga ada kesulitan untuk membedakan mana amalan yang masuk dalam kategori masalah ibadah dan mana yang bukan.

    Memang agak rumit menentukan mana bid’ah yang baik dan tidak baik dan ini sering menimbulkan percekcokan dan perselisihan antara umat Islam, bahkan saling mengkafirkan.

    Selayaknya kita tidak membesar-besarkan masalah seperti ini, karena kebanyakan kembalinya hanya kepada perbedaan cabang-cabang ajaran (furu’iyah).

    Kita diperbolehkan berbeda pendapat dalam masalah cabang agama karena ini masalah ijtihadiyah (hasil ijtihad ulama). Sikap yang kurang terpuji dalam mensikapi masalah furu’iyah adalah menklaim dirinya dan pendapatnya yang paling benar.

    Demikian, semoga membantu

    1. Luthfi Thomafi
     
  • erva kurniawan 7:49 am on 10 December 2016 Permalink | Balas  

    Maulid Nabi SAW. 

    maulid-nabi-muhammadMaulid Nabi SAW.

    1. Pengertian Maulid

    “Maulud Nabi” yang kadang disebut “Maulid Nabi” dari bahasa asalnya Arab berarti “kelahiran Nabi”, dalam hal ini Nabi Muhammad SAW.

    Muhammad SAW dilahirkan tanggal 12 Rabi’ul awwal atau 21 April 571 M. Tahun kelahiran Nabi, oleh bangsa Arab, disebut “tahun gajah”, karena pada tahun itu tentara Abrahah yang berkendaraan gajah dari Yaman menyerbu Kota Makkah untuk menghancurkan ka’bah. Tentara itu, akhirnya, lari tunggang langgang lantaran dilempari dengan kerikil tajam yang panas oleh gerombolan burung Ababil dari berbagai penjuru di luar perhitungan Abrahah.

    Dalam sejarah hidup Muhammad SAW, 12 Rabi’ul awwal memiliki arti tersendiri. Selain menandai kelahiran, tanggal itu juga Nabi hijrah ke Madinah, bahkan Nabi wafat pada 12 Rabi’ul- awwal.

    Di zaman Khulafaur Rasyidin dan daulat Umaiyah serta Abbasiyah, belum berkembang ide memperingati kelahiran atau Maulid Nabi. Nanti di zaman daulat Khilafat Fathimiyah abad IV hijriah, peringatan Maulid dimulai.

    Raja Abu Sa’id Muzaffar, ipar Sultan Salahuddin AI-Ayubi, adalah orang pertama yang memperingati Maulid Nabi secara besar-besaran. Walaupun Raja yang memerintah kerajaan Arbil (Arbelles), sebelah timur Mosul Irak, itu sehari-harinya hidup sederhana, namun untuk peringatan Maulid Nabi, beliau tidak segan-segan mengeluarkan sampai 300 ribu dinar.

    Di zaman itu, raja Mongolia Zengis Khan mengganas dan melabrak negeri tetangga. Raja Muzaffar membayangkan apabila rakyat tidak memiliki ketahanan mental yang tinggi, tentu mereka akan menjadi korban keganasan nafsu ekspansionisme itu. Pada saat semangat rakyat melemah, Raja menemukan gagasan untuk membangkitkan kembali semangat rakyat dengan mengungkapkan riwayat kehidupan Muhammad SAW, yang penuh heroisme dan patriatisme dalam menegakkan kebenaran, serta melindungi hak kaum lemah dan golongan tertindas.

    Kajian mengenai hidup dan kehidupan Nabi itu ternyata mampu membangun kembali semangat rakyat serta menumbuhkan ketahanan nasional yang tinggi sehingga Zengis Khan tidak berhasil melabrak kerajaan kecil itu.

    Salahuddin AI-Ayubi juga menggunakan pendekatan Maulid Nabi sebagai upaya membangkitkan semangat rakyat dalam menghadapi perang salib yang cukup lama itu.

    Ummat Islam, terutama di Indonesia, secara resmi memperingati 12 Rabiul awwal sebagai hari kelahiran atau mauludin Nabi. Karena peringatan itu telah menjadi sesuatu yang sangat berarti dalam peradaban Islam Indonesia, mereka tidak saja memperingati 12 Rabiul awwal tetapi juga hari-hari sebelum dan sesudah tanggal itu.

    Pada bulan Rabiul akhir, yang oleh sementara daerah di Indonesia disebut Maulid kedua, ummat Islam masih menyelenggarakan peringatan hari besar itu. Pada sementara masyarakat kita, berkembang pula budaya membaca Maulid/Rawi sebagai awal pekerjaan yang baik, sehingga membaca riwayat Nabi tidak dilakukan pada bulan Rabi’ul awal saja, tetapi juga pada sembarang bulan. Orang yang akan menunaikan ibadah haji, umpamanya, sering mengadakan Maulid. Upacara akad nikah, pihak keluarga mengadakan Maulid. Upacara memandikan anak pun dikaitkan dengan peringatan Maulid.

    Peringatan Maulid memang tidak dapat dipisahkan dari tata kehidupan dan tata nilai bangsa Indonesia. Di Jogyakarta, peringatan Maulid diselenggarakan besar-besaran. Mereka menyebutnya Sekaten., berasal dari kata Syahadatain, yang berarti dua kalimat syahadat. Pada kesempatan itu digelar berbagai seni budaya Islam serta ceramah keagamaan. Di kalangan masyarakat kita tersebar luas berbagai kitab Maulid berbahasa Arab, seperti kitab barzanji, yang dibaca secara khas dengan lagu.

    Peringatan Maulid, sebagai tradisi keagamaan, berlangsung dari kota sampai desa dengan berbagai acara sakral. Di Masjid, mushalla, pesantren, kantor, bahkan di perumahan, Maulid diselenggarakan melalui berbagai cara. Terkadang dikaitkan dengan perlombaan kesenian dan olahraga serta ceramah agama dan santunan terhadap fakir miskin.

    Peringatan Maulid merupakan sasaran dakwah yang relevan dengan tata cara kehidupan ummat Islam di Indonesia. Pada dasarnya, Peringatan Maulid merupakan manifestasi kecintaan ummat kepada junjungannya, Muhammad SAW, yang disertai doa semoga kelak di hari kiamat mendapat syafaatnya.

    1. Masyarakat Arab Jahiliyah

    Muhammad SAW berhadapan dengan struktur sosial yang rusak. Orang kaya menindas orang miskin; penguasa bertindak semena-mena; yang kuat mempermainkan yang lemah; dan yang lebih tragis adalah posisi kaum wanita yang diperlakukan hanya sebagai pemuas hawa nafsu seksual kaum laki-laki.

    Kehidupan mental spiritual masyarakat Arab sebelum Islam ditandai berbagai kemusyrikan penyembahan berhala atau patung ciptaan sendiri. Masyarakat seperti itu disebut masyarakat Jahiliyah, artinya masyarakat yang diliputi kebodohan dan kejahilan. Nabi diutus kepada masyarakat itu untuk menegakkan nilai moral yang tinggi atau akhlaqul karimah (akhlak yang mulia) Nabi bersabda:

    “Sesungguhnya aku diutus untuk kesempurnaan akhlak orang mulia”. (Hadist Riwayat Imam Ahmad).

    Pikiran mereka sangat dipengaruhi berbagai kemusyrikan yang berkembang di masyarakat. Memang mereka percaya pada Allah, Tuhan yang menguasai langit dan bumi serta yang mengatur segala sesuatunya, tetapi mereka tidak dapat memahami ajaran tauhid yang jernih sebagaimana yang diajarkan para rasul terdahulu.

    Lantaran itu, mereka mencari perantara yang dapat mendekatkan mereka kepada Allah. Mereka menganggap tuhan-tuhan itu sanggup memberi manfaat dan mendatangkan kemudaratan.

    Masyarakat Arab Jahiliyah mempunyai berbagai kepercayaan dengan bermacam tuhan kecil. Ada yang mempertuhankan malaikat, bulan, bintang, jin, binatang, dll. Mereka percaya bahwa malaikat adalah anak perempuan tuhan, karena itu mereka sembah untuk mendapatkan syafa’at dan sebagai perantara dengan Allah. Mereka juga mempersekutukan jin dengan Allah.

    Sementara itu, akhlak mereka sangat parah. Minuman keras yang berakibat sampingan dalam kehidupan mental spiritual menjadi kegemaran utama. Pesta dan jamuan makan kaum bangsawan dirasa tidak sempurna tanpa menyajikan minuman keras. Kebiasaan membangga-banggakan hamar banyak terdapat dalam syair Arab Jahiliyah. Kedai-kedai minuman dibuka sepanjang hari dan di depannya dikibarkan Ghayah, bendera kebanggaan.

    Judi merupakan salah satu kebanggaan dan pekerjaan bergengsi dalam kehidupan. Tidak turut dalam perjudian akan dipandang hina, yang menjatuhkan martabat dan harga diri seseorang. Sedemikian gemarnya mereka berjudi sehingga istri sendiri pun dijadikan taruhan. Jika kalah, mereka akan menyaksikan istri sendiri dibawa orang.

    Perbuatan zina bukan hal aneh, malahan umum terjadi. Kumpul kebo dianggap wajar, bahkan tidak sedikit suami yang menyuruh istrinya berbuat zina, baik untuk persahabatan maupun untuk disewakan. Ibnu Abbas mengatakan: “Pada zaman jahiliyah, banyak laki-laki memaksa hamba sahayanya melakukan zina untuk mengambil upahnya”.

    Kaum wanita merupakan sasaran empuk penipuan kezaliman dan kesewenang-wenangan. Hak warisnya ditiadakan, malah wanita diperjual-belikan seperti ternak. Fanatisme kesukuan sangat menonjol. Motto hidup mereka yang terkenal adalah “Bela saudaramu salah atau benar”.

    Demikianlah gambaran umum masyarakat Arab sebelum Islam. Masyarakat itulah yang hendak diubah oleh Nabi melalui risalahnya. Tetapi kiranya perlu dicatat bahwa dari gambaran umum tersebut barangkali kita dapat melakukan analisa atas masyarakat modern saat ini: sejauh manakah praktek jahiliyah terselubung dalam kehidupan modern. Itulah barangkali yang pernah disinyalir sebagai “Jahiliyah Modern yang berkembang dalam diri manusia yang mengaku modern.

    1. Risalah lslamiyah

    Mulanya Nabi Muhammad SAW mengajak manusia beriman kepada Allah SWT dan meninggalkan berhala. Tugas ini sangat mendasar. Iman adalah dasar atas segalanya. Di atas itulah dibangun keber-agamaan seseorang.

    Perjuangan Nabi menegakkan risalah, walaupun hanya selama batas yang relatif singkat, yaitu 23 tahun, namun hasilnya luar biasa. Ketika yang mulia itu wafat, seluruh jazirah Arab telah memeluk Islam.

    Melalui ajaran keimanan dan pendidikan yang cermat, tekun dan bijaksana, Rasulullah berhasil membangun masyarakat baru dalam akidah, syariah, akhlak, tatanan sosial dan struktur pemerintahan, yang kesemuanya berdasar wahyu Ilahi yang diturunkan kepadanya.

    Rasul membangun kehidupan baru di atas puing kemanusiaan yang sudah hancur. Manusia syirik menjadi beriman; yang berakhlak bejat menjadi baik; yang sombong menjadi tahu diri serta sadar akan kelemahan dan kekurangannya di hadapan Allah SWT.

    Rasul yang mulia itu juga berhasil menyegarkan kembali sisa-sisa kemanusiaan yang sudah layu dan memberinya roh baru, sehingga seolah menyalakan kembali api yang telah padam. Kemanusiaan yang telah mati kini hidup kembali, bahkan dapat memberikan sinar terang kepada dunia. Pola hidup, yang meraba-raba dalam gelap, kini memperleh cahaya yang memandu umat kepada jalan yang haq. Rasul itu pembawa obor yang memberikan sinar terang.

    Nabi Muhammad SAW benar-benar berhasil menghujamkan risalah Islamiyah ke jantung dan urat nadi masyarakat, sehingga dari masyarakaat jahiliyah dilahirkan masyarakat beradab dan berkepribadian tinggi.

    1. Panutan Umat

    Sesungguhnya, kunci keberhasilan Nabi Muhammad SAW terletak pada akhlak yang sempurna, tutur kata menyenangkan, selalu sesuai, kata dengan perbuatan dan bijaksana dalam tindakan. Kesemuanya itu terpancar dalam keseharian beliau yang patut dijadikan panutan dan idola sepanjang masa, sebagaimana firman Allah dalam kitab suci-Nya:

    “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah“. (QS. AI- Ahzab: 21).

    Ayat ini menekan agar kaum muslimin menjadikan Muhammad SAW sebagai ikutan dalam segala hal, dalam cara bicara, bergaul, bersikap dan bertingkah laku. Karena itu, kita harus mempelajari sejarah hidup beliau, agar mengerti dan memahami bagaimana akhlak, kepribadian, sikap dan tingkah laku yang mulia itu. Salah satu upayanya adalah memperingati Maulud.

    Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menyatakan bahwa yang dimaksud dengan ikutan yang baik dalam ayat di atas terhimpun dalam tiga hal: 1. Fii aqwaalihi (pada perkataannya), artinya perkataan Rasul menjadi ikutan dan pegangan, sehingga mempribadi dalam diri kita. Rasul tidak berbicara yang tidak perlu, itupun dilakukan dengan bahasa yang komunikatif, mudah dimengerti dan dipahami. Rasul tidak berbicara dengan bahasa yang sulit dipahami, baik oleh ummat di masa itu maupun di kemudian hari.

    Jika perlu, Rasul mengulang tiga kali agar pembicaraannya itu benar-benar dipahami dan tidak menimbulkan salah pengertian. Beliau berbicara berdasarkan kata hatinya. Dengan kata lain:

    1. Nabi berbicara jujur dan benar. Kepada ummatnya beliau ingatkan :

    “Barangsiapa beriman dengan Allah dan hari akhir hendaklah ia berbicara yang baik atau ia diam”. (HR. Bukhari dan Muslim).

    1. Fii Af’aalihi (pada perbuatannya). Maksudnya hendaknya kita jadikan perbuatan Rasul sebagai suri tauladan. Perkataan dengan perbuatan Rasul selalu sesuai, artinya tidak hanya sekadar pandai berbicara tetapj juga dibuktikan dalam praktek. Jika menyuruh berbuat baik, beliaulah yang memulai lebih dahulu.

    Bila melarang sesuatu, beliau juga tidak melakukannya. Bukan hanya sekadar melarang orang lain, tetapi lebih dahulu melarang dirinya sendiri. Bahkan dalam banyak hal, Rasul berbuat dahulu baru berkata. Misalnya, Shalat. Beliau shalat dulu, kemudian baru berkata.

    “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” (HR. Bukhari dan Muslim).

    1. Fii ahwaalihi (akhlak dan tingkah lakunya). Akhlak Rasulullah mendapat pujian Allah SWT :

    “Sesungguhnya engkau (hai Muhammad) memiliki akhlak yang agung”. (QS. AI- Kalam: 4).

    Karena itu, pantas bila kita pelajari akhlak Nabi sebagai pemimpin, kepala negara, panglima, suami, bapak dan teman bicara. Setelah itu, kita berusaha mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik kehidupan pribadi maupun dalam bermasyarakat.

    Demikianlah wujud cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW. Barangsiapa mencintai Nabi Muhammad SAW, pasti akan mendapat tempat dalam surga yang penuh nikmat. Beliau bersabda :

    “Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku maka sesungguhnya ia mencintaiku, dan barangsiapa yang mencintaiku, maka ia bersamaku nanti di dalam surga”. (HR. As-Sijzi dari Anas).

    RASUL TERAKHIR DAN PENUTUP SEGALA NABI

    Nabi Muhammad SAW adalah rasul terbesar dan penutup segala Nabi. Tidak ada lagi rasul dan nabi sesudahnya. Dan beliau merupakan Rasul terbesar sepanjang zaman.

    Karena itu, ajaran yang dibawanya bersifat permanen. Berbeda dengan rasul-rasul terdahulu, mereka diutus untuk golongan, ummat serta jangka waktu tertentu. Ajaran -ajarannya tidak abadi. Karena itu, para rasul terdahulu menyeru dengan kalimat: Yaa Qaumi (hai kaumku). Demikian yang dilakukan Nabi Nuh, Nabi Saleh, Nabi Musa, dan para rasul lainnya.

    Adapun Nabi Muhammad SAW ketika mulai menyebarkan Islam, diperintahkan Allah SWT agar menyeru dengan kalimat: “Yaa Ayyuhannasu., yang berarti “Wahai manusia”. Ini diungkapkan Allah dalam firman-Nya sebagai berikut:

    “Katakanlah: ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua” (QS. AI-Araf: 158).

    Bahkan pada ayat lain ditegaskan lagi :

    “Dan tidaklah kami mengutus engkau (hai Muhammad) melainkan menjadi rahmat bagi semesta alam” (OS. AI-Anbiyaa: 107).

    Jelaslah bahwa kerasulan Nabi Muhammad SAW. bersifat universal. Ajaran yang dibawanya berlaku tetap dan sesuai sepanjang masa, tempat dan keadaan.

    Karena itu, kehadiran Nabi Muhammad SAW sebagal penutup segala nabi dan rasul merupakan anugerah Allah SWT yang sangat tinggi nilainya, sebagai rahmat bagi semesta alam, bukan bagi makhluk manusia saja, tetapi juga bagi makhluk-makhluk lain yang menjadi penghuni alam semesta ini.

    Wallohu a’lam bis-showab,-

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 9 December 2016 Permalink | Balas  

    Jika Allah Menetapkan Yang Tidak Disukainya 

    siluet bicaraJika Allah Menetapkan Yang Tidak Disukainya

    Sesuatu yang dicintai itu ada dua macam.

    [1] Dicintasi karena dzatnya.

    [2] Dicintai karena ada faktor lainnya

    Yang dicintai karena ada faktor lain terkadang dzatnya dibenci, akan tetapi ia dicintai karena di dalamnya terdapat kemaslahatan. Ketika demikian, ia dicintai dari satu sisi dan dibenci dari sisi lainnya.

    Contoh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    “Artinya : Dan telah kami tetapkan kepada Bani Israil di dalam al-Kitab ; Sesunguhnya kalian akan membuat kerusakan di muka bumi dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar” [Al-Israa : 4]

    Kerusakan di muka bumi dzatnya dibenci oleh Allah Ta’ala karena Allah tidak menyukai kerusakan dan orang-orang yang melakukannya. Tetapi hukum yang dikandungnya disukai oleh Allah Azza wa Jalla dari satu sisi, demikian juga berlaku sombong di muka bumi. Misalnya kekurangan hujan, paceklik, sakit dan fakir yang ditetapkan Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya tidak disukai oleh Allah pada dzatnya, karena Allah tidak suka menyakiti hamba-hamba-Nya dengan sesuatu dari hal-hal itu, sebaliknya Dia menghendaki kemudahan bagi hamba-hamba-Nya. Tetapi Dia mentaqdirkan hukum yang timbul karena musibah tadi, sehingga dicintai Allah dari satu sisi dan dibenci dari sisi yang lain. Allah Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan karena perbuatan tangan-tangan manusia, agar Dia merasakan kepada mereka sebahagian yang mereka kerjakan mudah-mudahan mereka kembali”

    Jika ada yang bertanya : bagaimana bentuk sesuatu yang disatu sisi dicintai sedangkan di sisi lainnya dibenci ?

    Saya jawab : Perkara ini benar-benar terjadi, akal tidak menolaknya dan perasaanpun tidak menyangkalnya. Contohnya, orang yang sakit, ia diberi seteguk obat yang pahit rasanya dan baunya tidak enak serta warnanya tidak menarik. Orang sakit itu meminumnya meskipun ia tidak menyukainya karena pahit, warnanya jelek dan bau tidak sedap.

    Ia menyukainya karena obat itu dapat menyembuhkan. Demikian pula seorang tabib yang meng-kay (salah satu cara pengobatan tradisional) orang sakit dengan besi yang dipanaskan di atas api. orang yang sakit itu tentu merasakan sakitnya akibat di-‘kay’ ini. Rasa sakit itu dibenci di satu sisi, disukai dari sisi lainnya.

    ***

    [Disalin kitab Al-Qadha’ wal Qadar edisi Indonesia Tanya Jawab Tentang Qadha dan Qadar, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin’, terbitan Pustaka At-Tibyan, penerjemah Abu Idris]

    Sumber : almanhaj.or.id

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 8 December 2016 Permalink | Balas  

    Bila Ditimpa Musibah 

    musibahBila Ditimpa Musibah

    Manusia terbagi menjadi empat tingkatan dalam menghadapi musibah.

    Tingkatan Pertama : Marah-Marah

    Ini terbagi kepada beberapa macam:

    [1] Terjadi di dalam hati, misalnya jengkel terhadap Rabb-nya karena taqdir buruk menimpanya. Ini haram hukumnya, terkadang bisa menjerumuskan kepada kekufuran. Allah Ta’ala berfirman. :

    “Artinya : Di antara manusia ada yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka jika memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keaadaan itu, dan jika ditimpa suatu bencana berbaliklah ia ke belakang. Ia rugi dunia dan akhirrat” [Al-Hajj : 11]

    [2] Dengan lidah, misalnya meminta celaka dan binasa dan yang semisal itu. Ini juga haram.

    [3] Dengan anggota tubuh seperti menampar pipi, merobek saku, menjambak rambut dan semisalnya. Semua ini haram karena bertentangan dengan sabar yang merupakan kewajiban.

    Tingkatan Kedua : Bersabar

    Seperti diucapkan oleh seorang penyair ; sabar seperti namanya, pahit rasanya tetapi lebih manis akibatnya dari pada madu. Maka orang ini akan melihat bahwa suatu musibah itu berat, namun ia tetap menjaga imannya sehingga tidak marah-marah, meski ia berpandangan bahwa adanya musibah itu dan ketiadaannya tidaklah sama. Ini hukumnya wajib karena Allah Ta’ala memerintahkan untuk bersabar.

    Dia berfirman :

    “Artinya : Bersabarlah kalian, sesunguhnya Allah berserta orang-orang yang sabar” [ Al-Anfa : 46]

    Tingkatan Ketiga : Ridha

    Yakni manusia ridha dengan musibah yang menimpanya. Ia berpandangan bahwa ada dan tidaknya musibah sama saja baginya, sehingga adanya musibah tadi tidak memberatkannya. ia pun tidak merasa berat memikulnya. Ini dianjurkan dan tidak wajib menurut pendapat yang kuat. Perbedaan tingkatan ini dengan tingkatan sebelumnya nampak jelas karena adanya musibah dan tidak adanya sama saja dalam tingkatan ridha. Adapun pada tingkatan sebelumnya, jika ada musibah dia merasakan berat, namun ia tetap bersabar.

    Tingkatan Keempat : Bersyukur

    Ini merupakan tingkatan yang paling tinggi. Di sini seseorang bersyukur atas musibah yang menimpanya karena ia memahami bahwa musibah ini menjadi sebab pengampunan kesalahan-kesalahannya bahkan mungkin malah menambah kebaikannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Tidaklah satu musibah menimpa seorang muslim kecuali dengannya Allah mengampuni dosa-dosanya sampai sebuah duripun yang menusuknya”

    ***

    [Disalin kitab Al-Qadha’ wal Qadar edisi Indonesia Tanya Jawab Tentang Qadha dan Qadar, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin’, terbitan Pustaka At-Tibyan, penerjemah Abu Idris]

    Sumber : almanhaj.or.id

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 7 December 2016 Permalink | Balas  

    Masjid Raya Baituarrahman 

    masjid-baitul-rahmanMasjid Raya Baituarrahman

    Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, adalah keindahan dan keelokan arsitektur.  Sejarah dan masa depan sepertinya sedang bercakap-cakap di masjid itu  sekarang. Masjid dengan tiang 280 buah ini, adalah saksi perjalanan sejarah  Aceh. Terakhir menjadi saksi tsunami yang dahsyat itu. Rekaman video amatir  tentang tsunami yang ditayangkan Metro TV hari-hari terakhir ini,  memperlihatkan kepada kita bahwa tsunami yang ganas itu, tiba-tiba seperti  orang kepayahan begitu mendekati masjid.

    Karenanya mereka yang lari ke masjid selamat dari terjangan gelombang yang  mengamuk. Jika orang India bangga dengan Taj Mahal, orang Aceh bangga dengan  masjid mereka: Baiturrahman. Inilah masjid sejarah dan saksi bisu perjalanan  Islam di Nusantara. Saksi bisu perjuangan rakyat Aceh. Menurut sejumlah  literatur, masjid ini dibangun pertama kali pada 1292 M atau 691 H, oleh  Sultan Alaidin Mahmud Syah I, cucu Sultan Alaidin Johan Syah. Namun ada yang  menyebut, usianya jauh lebih muda, karena dibangun di zaman Sultan Iskandar  Muda (1607-1636).

    Namun, pendapat yang terakhir diimbuhi pendapat lain, bahwa Iskandar Muda  hanya melakukan perbaikan-perbaikan. Baiturrahman pernah dipakai untuk  musyawarah bersejarah. Misalnya pada 22 Maret 1873, sebuah pertemuan yang  diprakarsai Sultan Alaidin Mahmud, Aceh menolak kehadiran Belanda. Seminggu  kemudian, Belanda pun memaklumkan perang untuk Aceh.

    Bulan berikutnya, Kutaradja pun diserang dari laut oleh Belanda. Pimpinan  perang, Mayjen Kohler mengepung Masjid Baiturrahman karena menurut intel  Belanda, dari masjid itulah perlawanan digerakkan. Malah saking kesalnya,  Belanda sempat membakar masjid itu hingga dua kali. Meski dibakar, tapi  bangunan masjid secara keseluruhan tetap bisa diselamatkan.

    Pejuang-pejuang Aceh bahu membahu memadamkan api yang berkobar. Belanda  membakar masjid ini pertama kali 10 April 1873, tatkala serangan cepat dan  besar-besaran mereka lakukan terhadap pejuang Aceh. Karena tak bisa merebut,  Belanda pun membakarnya. Pejuang Aceh kemudian berusaha merebut kembali masjid  yang menjadi simbol Islam di negeri tersebut.

    Menurut buku Masjid-masjid Bersejarah di Indonesia (1999) upaya itu dilakukan  pada 14 April 1873. Menurut Abdul Baqir Zein penulis buku ini, dalam  pertempuran tersebut Belanda mengalami kerugian yang sangat besar. Mayjen  Kohler tewas berikut delapan perwira lainnya dan 397 orang prajurit, 405 orang  luka-luka, termasuk 23 orang perwira.

    Masjid ini kembali dibakar Belanda pada 6 Januari 1874. Kali ini Belanda  membakar ibukota. Api berkobar di mana-mana. Tak pelak, masjid bersejarah ini  habis terkabar. Selain itu, dua masjid lainnya juga habis dibakar Belanda,  yaitu Masjid Baitul Musyahadah, dan Masjid Baiturrahim. Rakyat Aceh  benar-benar berkabung. Sejak itu Belanda mengibarkan benderanya di Tanah  Rencong.

    Aceh benar-benar terluka karena perangai Belanda. Belanda mencium hal itu.  Maka 9 Oktober 1879, masjid ini direhabilitasi berat kembali oleh Gubernur  Militer Aceh Jenderal K Van Der Heijden. Peletakan batu pertama dilakukan oleh  Teungku Kadhi Malikul Adil. Masjid selesai dikerjakan pada 1881 dengan satu  kubah.

    Pada 1935 masjid diperluas dengan tambahan dua kubah pada kedua sisi. Tahun  1957 dibangun lagi dua kubah di belakang dan selesai 1967. Karena itulah  Masjid Baiturrahman yang Anda lihat sekarang memiliki lima kubah dan dua  menara. Bagi warga kota Banda Aceh, Masjid Baiturrahman adalah simpul kota.  Masjid ini menjadi bangunan paling mewah di sana. Sepanjang malam bermandikan  pendaran cahaya listrik. Lampu merkurinya, berkilau disapu angin.

    Tak lengkap kalau ke Aceh, jika tidak mampir atau shalat di masjid ini. Jika  masuk ke dalam, kesejukan dengan cepat menjalari tubuh kita. Masjid yang bisa  menampung 10 ribu sampai 13 ribu jamaah itu. Bagi anak-anak masjid ini,  sekaligus dijadikan lokasi bermain seusai mengaji di TPA masjid yang sama.  Anak-anak Aceh mendapat “bimbingan” karena kehadiran masjid cantik tersebut di  tengah-tengah mereka.

    Ketika gelombang tsunami menyapu kota Banda Aceh, masjid ini selamat. Umat  Islam meyakini bahwa sebagai Rumah Tuhan, masjid memang senantiasa selamat  dari musibah. Pemulihan Aceh, untuk pertama kali ditandai dengan  dibersihkannya masjid itu. Shalat Jumat pertama seusai tsunami di Masjid  Baiturrahman, menjadi sangat religius dan menjadi tonggak sejarah bagi Aceh  untuk melangkah ke depan.

    (khairul jasmi)

    republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 6 December 2016 Permalink | Balas  

    Menunaikan Haji Dengan Berhutang 

    hajiMenunaikan Haji Dengan Berhutang

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Ibadat haji adalah merupakan salah satu daripada rukun Islam yang lima. Ia diwajibkan ke atas setiap orang Islam yang memenuhi syarat-syarat wajib haji. Antara syarat-syarat wajib haji itu ialah istitha’ah. Istitha’ah bererti berkuasa atau ada kemampuan.

    Istitha’ah (berkuasa) mengerjakan haji itu ada dua bahagian iaitu:

    1. Berkuasa pergi melaksanakan haji dengan dirinya sendiri.
    2. Berkuasa menunaikan haji dengan perantaraan orang lain.

    Apa yang menarik perhatian kita untuk ditonjolkan dalam perbincangan ini mengenai kedua-dua jenis istitha’ah di atas ialah berkenaan “berkuasa pergi melaksanakan haji dengan dirinya sendiri.”

    Menurut para ulama, berkuasa mengerjakan haji dengan dirinya sendiri itu mempunyai syarat-syarat tertentu iaitu:

    1. Mempunyai perbelanjaan yang cukup untuk dirinya semasa dalam perjalanan pergi dan balik serta semasa melaksanakan fardhu haji, dan juga sara/biaya hidup bagi orang yang wajib dibelanjainya semasa dalam pelayarannya, serta perbelanjaannya itu melebihi dari hutangnya.
    2. Mempunyai kenderaan seperti kapal terbang, kapal laut, bas dan seumpamanya sama ada miliknya sendiri atau dia mampu menyewanya dengan sewaan biasa menurut tempat dan masa.

    Syarat mempunyai kenderaan bagi yang hendak mengerjakan haji itu hanya dikenakan kepada orang yang jauh tempat tinggalnya daripada Mekkah iaitu sejauh dua marhalah atau lebih iaitu jarak jauh yang membolehkan sembahyang diqashar. Kedua-dua syarat iaitu bekalan dan kenderaan itu disebut dalam hadits riwayat Ibnu ‘Umar dengan katanya:

    Maksudnya: “Seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata (bertanya): “Ya Rasulullah, apakah yang mewajibkan haji itu?

    Baginda bersabda: “Bekalan dan kenderaan”.

    (Hadis riwayat at-Tirmidzi)

    Berdasarkan hadis di atas, dapat difahami bahawa orang yang tidak mempunyai bekalan dan kenderaan itu belum diwajibkan ke atasnya mengerjakan haji.

    Menurut Ibnu Hajar, tidak wajib di atas orang Islam mencari bekalan dan kenderaan untuk pergi haji dengan cara meminta-minta kepada orang lain atau menerima pemberian daripada orang lain atau dengan cara berhutang, kecuali dia mendapat bekalan dan seumpamanya itu daripada harta yang sedia ada di tangannya.

    Bagi orang yang memiliki belanja yang melebihi dari keperluan dirinya dan tanggunggannya sepanjang pemergiaannya untuk mengerjakan haji maka haji adalah wajib ke atas orang tersebut. Demikianlah sebaliknya sekiranya belanja tersebut tidak melebihi keperluan diri dan tanggunggannya maka tiadalah wajib haji ke atasnya.

    Adapun orang yang memiliki harta yang memberi hasil kepadanya dan hasil tersebut tidak melebihi kadar keperluan diri dan tanggunggannya, seperti tanah atau rumah sewa dan seumpamanya, tetapi apabila dijual harta berkenaan, hasil jualan tersebut akan membolehkan dia mengerjakan haji dan melebihi keperluan tanggunggannya sepanjang pemergian haji, maka menurut qaul yang ashah dalam mazhab Syafi’e haji adalah wajib ke atas orang tersebut.

    Walau bagaimanapun tidak wajib menjual rumah tempat kediamannya dan perkakas rumah untuk mengerjakan haji, pada fikiran kita termasuk juga tidak menjual tanah, kerana semua perkara itu adalah merupakan keperluan yang sangat dihajati (dharuri). Malahan ia mesti diberikan prioriti sebagai perkara asas untuk membolehkan seseorang menjalani kehidupan.

    Oleh itu Islam tidak membebankan umatnya untuk menunaikan haji jika belum berkemampuan dan cukup syarat-syaratnya.

    Orang Berhutang Untuk Mengerjakan Haji

    Apa yang kadang-kadang berlaku, walaupun mengerjakan haji itu wajib terdapat sebahagian orang memaksa dirinya berhutang untuk tujuan tersebut. Berhutang itu mengandungi risiko yang tinggi yang boleh menyusahkan bukan sahaja di dunia bahkan juga di akhirat.

    Antara hadits yang memperkatakan masalah hutang dan orang yang berhutang sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Malik:

    Maksudnya: “Dan jauhkanlah diri kamu dari hutang, kerana sesungguhnya (hutang itu) awalnya adalah dukacita dan akhirnya pula mengambil harta orang dengan tiada mengembalikannya.”

    (Hadis riwayat Malik)

    Dalam hadis yang lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Roh seseorang mukmin itu tergantung-gantung dengan hutangnya sehinggalah hutangnya itu dibayar.”

    (Hadis riwayat at-Tirmidzi)

    Di dalam sebuah atsar diriwayatkan daripada Tariq, beliau berkata:

    Maksudnya: “Aku pernah mendengar Ibnu Abi Awfa (salah seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam) ditanya berkenaan seorang laki-laki yang berhutang untuk pergi menunaikan haji, beliau berkata: “Mohonlah rezeki kepada Allah dan jangan berhutang.”

    (Dikeluarkan oleh al-Baihaqi)

    Imam an-Nawawi menjelaskan pendapat para ulama mazhab Syafi’e bahawa sekalipun orang yang memberi hutang itu rela supaya hutang itu dibayar semula pada tempoh selepas menunaikan haji, haji tetap tidak wajib ke atas orang yang berhutang itu. (Al-Majmu’ : 7/56)

    Agama Islam adalah agama yang mudah dan tidak menyusahkan. Dalam hal mengerjakan haji para ulama telah menjelaskan syarat-syarat tertentu yang amat padat, kemas dan ringkas berdasarkan al-Qur’an, hadis dan ijma’. Jika syarat-syarat itu tidak dapat dipenuhi oleh seseorang, maka haji tidak wajib baginya, walaupun haji itu salah satu daripada rukun Islam. Ini membuktikan bahawa agama Islam itu agama rahmat dan tidak menyusahkan umatnya.

    Oleh yang demikian, bagi orang yang ingin mengerjakan haji yang wajib ke atasnya, tidaklah perlu menyusahkan dirinya dengan berhutang. Lebih-lebih lagi bagi haji yang dikerjakan itu kali kedua atau seterusnya. Berhutang kerana tujuan ini adalah dilarang oleh agama kerana hutang itu akan menjadi bebanan dan menyusahkannya sebagaimana yang disebut oleh hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam.

    wallohu a’lam bish-shawab,-

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 11:18 am on 5 December 2016 Permalink | Balas  

    Belajar Dari Wajah 

    topeng_homeBelajar Dari Wajah

    Subhanallah, walaupun kulitnya tidak putih, tetapi ketika memandang wajahnya… sejuk sekali! Senyumnya begitu tulus meresap ke relung kalbu yang paling dalam. Menarik sekali jika kita terus-menerus belajar tentang fenomena apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini. Salah satunya adalah wajah. Wajah? Ya, wajah. Wajah bukan hanya masalah bentuk, yang utama adalah pancaran yang tersemburat dari si pemilik wajah tersebut.  Ketika pagi menyingsing misalnya, tekadkan dalam diri, ”Saya ingin tahu wajah yang paling menenteramkan hati itu seperti apa ? Wajah yang paling menggelisahkan itu bagaimana?” Karena, pasti hari ini kita akan banyak bertemu dengan wajah orang per orang.

    Saat berjumpa dengan orang, kita bisa belajar ilmu tentang wajah, karena setiap wajah memberikan dampak yang berbeda-beda kepada kita. Ada yang menenteramkan, ada yang menyejukkan, ada yang menggelikan, ada yang menggelisahkan, dan ada pula yang menakutkan. Menakutkan? Mengapa? Apakah karena bentuk hidungnya? Tentu saja tidak! Sebab ada yang hidungnya mungil, tapi menenteramkan. Ada yang sorot matanya tajam menghunjam, tapi menyejukkan. Ada yang kulitnya hitam, tapi penuh wibawa.

    Aa pernah berjumpa dengan seorang ulama dari Afrika di Masjidil Haram. Subhanallah, walaupun kulitnya tidak putih, tidak kuning, tetapi ketika memandang wajahnya… sejuk sekali! Senyumnya begitu tulus meresap ke relung kalbu yang paling dalam. Sungguh bagai disiram air menyegarkan pada siang hari.

    Kalau hari ini kita berhasil menemukan wajah seseorang yang menenteramkan, maka cari tahu mengapa dia bisa memiliki wajah seperti itu. Tentu kita akan menaruh hormat kepada dia. Betapa senyumannya yang tulus, pancaran wajahnya tampak sekali ia ingin membahagiakan siapa pun yang menatapnya. Sebaliknya, bagaimana kalau kita menatap raut wajah yang berlawanan? Wajahnya bengis, struktur katanya ketus, sorot matanya kejam, senyumannya sinis, dan sikapnya pun tidak ramah. Ini pun perlu kita pelajari.

    Ambillah kelebihan dari wajah yang menenteramkan dan menyejukkan tadi menjadi bagian dari wajah kita, dan buang jauh-jauh raut wajah yang tidak menenteramkan. Tidak ada salahnya jika kita evalusi diri di depan cermin. Tanyalah, raut seperti apakah yang ada di wajah ini?  Memang, ada di antara hamba-hamba Allah yang bibirnya didesain agak berat ke bawah. Kadang-kadang menyangkanya dia kurang senyum, sinis, atau kurang ramah. Subhanallah, bentuk seperti ini pun karunia Allah yang patut disyukuri dan bisa jadi ladang amal bagi siapa pun yang memilikinya untuk berusaha senyum ramah lebih maksimal lagi.  Bagi wajah yang untuk seulas senyum itu sudah ada, maka tinggal meningkatkan lagi kualitas senyum tersebut, agar lebih ikhlas lagi.

    Karena senyum bukan sekadar mengangkat ujung bibir saja, tapi yang utama adalah keinginan membahagiakan orang lain. Rasulullah SAW memberikan perhatian yang luar biasa kepada setiap orang yang ditemuinya sehingga orang itu merasa puas. Diriwayatkan, bila ada orang yang menyapanya, Rasul menganggap orang tersebut adalah orang yang paling utama, sesuai kadar kemampuannya.

    Walhasil, ketika Rasul berbincang dengan siapa pun, maka orang yang diajak berbincang itu senantiasa menjadi curahan perhatian. Tak heran bila cara memandang dan bersikap, ternyata menjadi atribut kemuliaan yang ia contohkan. Hal itu berpengaruh besar terhadap sikap dan perasaan orang yang diajak bicara.

    Kemuramdurjaan, ketidakenakan, dan kegelisahan itu muncul karena kita belum menganggap orang yang ada dihadapan kita sebagai yang paling utama. Makanya, kita sering melihat seseorang itu hanya separuh mata, berbicara hanya separuh perhatian. Misalnya, ketika ada seseorang yang datang menghampiri, kita sapa orang itu sambil baca koran. Padahal, kalau kita sudah tidak mengutamakan orang lain, maka curahan kata-kata, cara memandang, cara bersikap, itu tidak akan punya daya sentuh dan daya pancar yang kuat.

    Karena itu, marilah kita berlatih diri meneliti wajah. Tentu bukan untuk meremehkan, tapi mengambil teladan wajah yang baik dan menghindari yang tidak baik. Lalu praktikkan dalam perilaku sehari-hari. Selain itu, belajarlah untuk mengutamakan orang lain, walaupun hanya sesaat saja. Wallahu a’lam.

    ***

    KH Abdullah Gymnastiar

    http://www.republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 21 November 2016 Permalink | Balas  

    Termasuk Iman Kepada Allah: Sabar Atas Segala Takdirnya 

    imanTermasuk Iman Kepada Allah: Sabar Atas Segala Takdirnya

    Oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

    Firman Allah Ta’ala (artinya): “Tiada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (At-Taghabun: 11)

    ‘Alqamah (‘Alqamah bin Qais bin ‘Abdullah bin Malik An-Nakha’i. Salah seorang tokoh dari ulama tabi’in. Dilahirkan pada masa hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Meninggal th. 62 H / 681M) menafsirkan iman yang tersebut dalam ayat ini dengan mengatakan: “Yaitu: orang ketika ditimpa musibah ia meyakini bahwa itu semua dari Allah, maka ia pun ridha dan pasrah (atas takdir-Nya).”

    Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada dua perkara masih dilakukan orang, padahal kedua-duanya adalah kufur, yaitu: mencela keturunan dan meratapi orang mati.”

    Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits marfu’ dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu: “Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek pakaian dan menyeru dengan seruan jahiliyah.”

    Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba-Nya maka Dia menyegerakan hukuman baginya di dunia; sedang apabila Allah menghendaki keburukan pada seorang hamba-Nya maka Dia menangguhkan dosanya sampai Dia penuhi balasannya nanti di hari Kiamat.” (HR At-Tirmidzi dan Al-Hakim)

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh, besarnya pahala setimpal dengan besarnya cobaan; dan sungguh, Allah Ta’ala apabila mencintai suatu kaum, diuji-Nya mereka dengan cobaan. Untuk itu, barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan dari Allah, sedang barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan dari Allah.” (Hadits hasan, menurut At-Tirmidzi)

    Kandungan tulisan ini:

    • Tafsiran ayat dalam surah At-Taghabun. Ayat ini menunjukkan keutamaan sabar atas segala takdir Allah yang pahit, seperti musibah; dan menunjukkan pula bahwa amal termasuk dalam pengertian iman.
    • Sabar terhadap segala cobaan termasuk iman kepada Allah.
    • Disebutkan hukum tentang perbuatan mencela keturunan.
    • Ancaman keras terhadap orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek pakaian dan menyeru dengan seruan jahiliyah (karena meratapi orang mati).
    • Tanda apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya.
    • Tanda apabila Allah menghendaki keburukan kepada hamba-Nya.
    • Tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya.
    • Dilarang bersikap marah dan tidak sabar atas cobaan yang diujikan Allah.
    • Pahala bagi orang yang ridha atas cobaannya.

    ***

    Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

    Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

    Sumber : assunnah.or.id

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 20 November 2016 Permalink | Balas  

    Dalam Alkohol Ada Tinat al-Khabal 

    miras arakDalam Alkohol Ada Tinat al-Khabal

    Rasulullah menyamakan alkohol dengan keringat yang berasal dari penghuni neraka. Seorang pedagang asal Yaman pada suatu hari bertanya kepada Rasulullah. Dia bertanya tentang kebiasaan masyarakat di tempat tinggalnya yang suka minum minuman keras terbuat dari bahan padi-padian yang disebutnya mizr. Rasul menjawab pertanyaan itu dengan pertanyaan pula,”Apakah minuman itu memabukkan?”

    Dan setelah dijawab “ya” oleh pedagang tadi, maka Rasul pun bersabda,”Setiap yang memabukkan sangatlah dilarang. Allah sudah membuat ketentuan bahwa bagi mereka yang meminum minuman memabukkan, maka di dalam minumannya itu akan berisi tinat al-khabal.”

    Orang tadi kembali bertanya apa yang dimaksudkan tinat al-khabal dan Rasulullah menjawab.”Itu merupakan keringat yang berasal dari penghuni neraka.” Begitulah peringatan Rasulullah terhadap mereka yang suka meminum minuman memabukkan. Sebagai hukumannya nanti di akherat, orang-orang itu akan diberi minuman racun dari asawida (sejenis ular hitam yang sangat berbisa) yang menyebabkan seluruh kulit serta daging di wajahnya luntur.

    Selain itu, Allah SWT pun tidak akan menerima segala amalan ibadah puasa, shalat dan haji dari seorang peminum alkohol atau yang menjual alkohol hingga dia benar-benar bertobat dan tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

    Abdullah bin Umar menyatakan, Rasulullah pernah bersabda, “Jangan duduk di dekat seorang peminum khamr, atau menjenguknya kala dia sakit, dan jangan pula menghadiri pemakamannya. Orang yang suka minum minuman keras akan muncul di hari akhir dengan wajah berwarna hitam dan lidahnya miring ke samping. Maka setiap yang melihat wajah seperti itu akan langsung mengetahui bahwa mereka peminum.”

    Demikian pula Wa’il al-Hadrami berkata bahwa Tariq bin Suwaid pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang minuman anggur yang hanya dia pergunakan sebagai obat. Muslim lantas meriwayatkan Rasulullah bersabda, “Itu bukan obat tapi penyakit.” Jabir juga menyatakan tentang pesan Rasul,”Dalam jumlah yang banyak, itu (minuman keras) akan memabukkan, adapun dalam jumlah sedikit tetap dilarang.”

    Larangan agama Islam agar umat menjauhi meminum khamr bukan tanpa dasar maupun alasan. Di tinjau dari segala sisi, tidak ada yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh apabila seseorang menjadi pencandu minuman alkohol. Yang ada hanyalah kemudaratan.

    Allah SWT dalam Alquran jauh-jauh hari sudah mengingatkan: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termauk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS Al-Maidah [3]:90)

    Dan, peringatan itu benar adanya. Di jaman serba modern ini, ditengarai alkohol merupakan penyebab nomor satu kecelakaan lalu lintas dan ketidak harmonisan rumah tangga. Negara adidaya Amerika Serikat (AS) punya catatan buruk mengenai hal ini. Selama tahun 1996, dari 17.126 jiwa meninggal akibat kecelakaan lalu lintas, 3.732 berhubungan dengan alkohol.

    Masih ada lagi dampak negatif alkohol. Penelitian menunjukkan, setiap konsumsi 2-3 gelas alkohol per hari, pada akhirnya dapat menganggu fungsi jantung. Studi lain bahkan menyatakan alkohol bisa menimbulkan efek negatif terhadap fisik bayi yang baru lahir.

    Berdasarkan hasil penelitian American Medical Association (AMA) tahun 1988, menyebutkan bahwa angka 100 ribu kematian serta uang berjumlah 85,8 miliar dolar berkaitan langsung dengan akibat alkohol, dengan 25 hingga 40 persen ruang inap rumah sakit berisikan pasien penyakit komplikasi karena alkohol. Jumlah tersebut masih lebih besar dari akibat obat-obatan terlarang dan rokok, walau digabung sekalipun.

    AMA juga melaporkan, faktor gaya hidup dan problem sosial telah menghabiskan biaya 171 miliar dolar anggaran kesehatan negara. Dr Daniel Johnson Jr, juru bicara AMA, mengatakan setiap tahunnya miliaran dolar harus disisihkan untuk perawatan akibat kekerasan, penyalahgunaan narkoba, rokok, serta alkohol.

    Data statistik AMA menyebut dari tahun 1988 hingga 1996, tercatat 500 ribu kasus kematian lantaran dampak merokok dan biaya perawatan mencapai 22 miliar dolar. Angka 100 ribu kematian dan 85,8 miliar dolar bagi kasus alkohol, dan penyalahgunaan narkoba menghabiskan dana 58,3 miliar dolar guna rehabilitasi dan perawatan.

    Meski sudah terpampang angka-angka semacam itu, tak hanya di AS tapi juga dibanyak negara, kasus akibat alkohol tidak lantas menyusut. Kini di sejumlah negara, memang batasan usia untuk boleh minum alkohol ditambah menjadi 21 tahun. Tapi terbukti hal tersebut tidak dapat memecahkan persoalan.

    Fakta membuktikan, banyaknya angka kecelakaan lalu lintas yang melibatkan peminum remaja. Ironisnya, hukum pun seolah tak berdaya untuk menekan angka-angka tadi. Lantas apa yang harus dilakukan masyarakat, dan umat, agar bisa terhindar dari bahaya kecanduan alkohol? Tumbuhkan kesadaran di dalam diri untuk menjauhi alkohol dan efek negatifnya. Masing-masing individu juga harus memelihara kesehatan diri serta yang tua memberikan suri tauladan kepada yang muda. Gampang saja, kan?

    ***

    (yus/berbagai sumber )

    republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 19 November 2016 Permalink | Balas  

    Air Zamzam (2/2) 

    zam-zamAir Zamzam (2/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Adab Meminum Air Zamzam

    Adab ketika minum air zamzam itu sebagaimana yang disebutkan oleh sebahagian Fuqaha adalah termasuk dalam hukum sunat, antaranya:

    1. Menghadap kiblat.
    2. Menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelum minum.
    3. Bernafas sebanyak tiga kali ketika minum dan ketika bernafas itu hendaklah di luar bekas atau gelas itu (yakni tidak minum dengan sekali teguk sehingga habis, bahkan minum dengan berhenti sebanyak tiga kali).
    4. Minum sehingga kenyang, karena orang munafiq tidak meminumnya sehingga kenyang.
    5. Mengucapkan syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala setelah selesai minum. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Majah:

    Maksudnya: “Daripada Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Abu Bakr katanya: “Ketika aku duduk di sisi Ibnu ‘Abbas datang seorang lelaki kepadanya, lalu berkata Ibnu ‘Abbas: “Dari mana engkau datang?”

    Lelaki itu berkata: “Dari perigi zamzam.”

    Ibnu ‘Abbas berkata: “Apakah engkau minum dari perigi itu sebagaimana yang sepatutnya.”

    Lelaki itu berkata: “Bagaimana?”

    Ibnu ‘Abbas berkata: “Apabila engkau minum air zamzam, maka menghadaplah ke kiblat, sebut nama Allah dan bernafaslah tiga kali (waktu minum). Minumlah air zamzam sehingga kenyang dan jika sudah selesai maka pujilah Allah ‘azza wajalla. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya tanda yang membezakan antara kita dengan orang-orang munafiq, sesungguhnya mereka tidak minum air zamzam itu sehingga kenyang.”

    (Hadis riwayat Ibnu Majah)

    Antara adabnya lagi:

    1. Setiap kali mengambil nafas ketika minum air zamzam, melihat ke arah Kaabah.
    2. Sunat masuk ke tempat perigi zamzam dan melihatnya. Kemudian menggunakan timba yang ada di sana lalu meminumnya serta memercikkan air zamzam itu ke kepala, muka dan dada.
    3. Memperbanyakkan doa ketika minum dan mengharapkan kebaikan di dunia dan akhirat. Sunat dibaca seperti di bawah ini:

    Artinya: “Ya Allah Ya Tuhanku, sesungguhnya telah sampai kepadaku NabiMu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Air zamzam itu diminum untuk keperluan apa saja.” Dan aku meminumnya supaya…..”

    Sesudah membaca seperti di atas, berdoalah lagi untuk memohon kebaikan di dunia dan akhirat, kemudian membaca bismillah, lalu minum dan mengambil nafas sebanyak tiga kali. ‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiallallahu ‘anhuma berdoa ketika minum air zamzam:

    Artinya: “Ya Allah Ya Tuhanku, aku mohon padaMu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas dan sembuh daripada segala penyakit.”

    Untuk memohon keampunan atau kesembuhan daripada penyakit, bacalah doa seperti di bawah:

    Artinya: “Ya Allah Ya Tuhanku, sesungguhnya telah sampai kepadaku bahawa RasulMu Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Air zamzam itu diminum untuk keperluan apa saja.” Ya Allah Ya Tuhanku, sesungguhnya aku meminumnya supaya Engkau ampuni dosaku, Ya Allah ampunilah aku. Ya Allah Ya Tuhanku, sesungguhnya aku meminumnya supaya Engkau sembuhkan sakitku, Ya Allah sembuhkanlah aku.”

    Selain berdoa untuk kepentingan diri sendiri bagi memohon kebaikan di dunia dan akhirat, memohon juga untuk orang lain seperti anak atau sanak saudara misalnya, akan tercapai permohonan itu juga jika dia meminum air zamzam tersebut dengan niat yang betul.

    Memindahkan Air Zamzam

    Memindahkan air zamzam daripada Makkah atau tanah haram kepada tanah halal atau keluar daripada Makkah adalah harus. Daripada ‘Urwah bin Az-Zubair katanya:

    Maksudnya: “Sesungguhnya ‘Aisyah membawa air zamzam dan dikhabarkan bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan yang demikian itu.”

    (Hadis riwayat Al-Baihaqi)

    Penggunaan Air Zamzam Selain Untuk Diminum

    Beristinja’ (bersuci daripada dua jalan qubul dan dubur), menurut Al-Khatib dan Ibnu Hajar, makruh beristinja’ dengan menggunakan air zamzam. Sementara pendapat Syaikhuna adalah khilaful Awla (bertentangan dengan yang lebih utama). Karena air zamzam itu mempunyai kehormatan. Menurut Al-Bulqini, air zamzam itu lebih afdhal daripada air Kawtsar.

    Termasuklah dalam hukum makruh dan khilaful awla di atas, air yang keluar daripada jari-jari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, air Kawtsar dan air yang dirampas.

    Dikatakan juga, sesiapa beristinja’ dengan air zamzam, nescaya dia akan mewarisi penyakit bawasir. Jika dia beristinja’ juga dengan air zamzam tersebut, maka dengan air itu dia suci (dia dapat membersihkan najisnya).

    Harus menggunakan air zamzam itu untuk mandi dan berwudhu. Adapun menggunakan air zamzam bagi memandikan mayat hendaklah dielakkan.

    Berjual Beli Dengan Air Zamzam

    Setakat ini kita belum jumpa keterangan khusus mengenai hukum jual beli air zamzam itu. Bagaimanapun berdasarkan kaedah:

    Artinya: “Asal suatu perkara itu adalah harus, sehingga ada dalil syara’ yang mengharamkannya.”

    Maka berdasarkan kaedah ini, harus air zamzam itu diperdagangkan atau dijual dan dibeli.

    Demikianlah beberapa penjelasan mengenai air zamzam dan kelebihannya, rahasia serta manfaat yang boleh kita perolehi. Di samping itu juga, ia adalah sebagai tanda kebesaran Allah di mana air zamzam itu masih dapat kita nikmati dan tidak kering sampai saat ini.

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 18 November 2016 Permalink | Balas  

    Air Zamzam (1/2) 

    zamzam1Air Zamzam (1/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Zamzam ialah nama sebuah telaga yang terletak di tengah-tengah Masjidil Haram yang dahulunya bersebelahan dengan makam Hambali, tetapi sekarang ini makam ini tiada lagi dan tidak jauh dari bangunan Kaabah di Makkah kira-kira tiga puluh lapan hasta letaknya daripada Kaabah Musyarrafah atau lebih tepat lagi bersetentang dengan Hajarul Aswad yang terletak di bahagian penjuru tenggara Kaabah. Telaga ini sangat dalam dan besar walaupun kelihatan kecil di permukaannya. Buktinya ialah airnya tidak pernah kering walaupun ramai dan setiap masa orang menggunakannya. Telaga ini berdindingkan simen dan berbumbungkan marmar yang bertatah indah dan berwarna-warni, tingginya 1.5 meter dan luasnya kira-kira tiga meter.

    Air zamzam digunakan untuk minum dan wudhu dan boleh juga dijadikan sebagai penawar (jikalau diniatkan sedemikian) dan ia boleh mencerahkan pandangan jikalau dimasukkan ke dalam mata karena airnya sangat hening dan bersih. Air zamzam dianggap air yang suci dan berkat. Penduduk di Makkah sentiasa berbuka puasa dengan air zamzam atau dengan buah kurma sebagai mengikut sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hampir setiap orang yang menunaikan fardhu haji ke Makkah tidak lupa membawa pulang air zamzam, khususnya orang yang datang dari sebelah timur untuk diagihkan kepada kaum keluarga.

    Dinamakan air itu sebagai zamzam karena terlalu banyak air tersebut. Sebagaimana kita maklumi air itu sudah wujud pada zaman Nabi Isma’il ‘alaihissalam sehinggalah sekarang. Betapa besarnya kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Sejarah Air Zamzam

    Zamzam adalah sebuah perigi Nabi Isma’il ‘alaihissalam. Menurut para ahli sejarah, kisah air zamzam itu bermula dari peristiwa yang dialami oleh Siti Hajar dan anaknya Isma’il ‘alaihissalam. Mereka berdua ditinggalkan oleh suaminya Ibrahim ‘alaihissalam di suatu tempat yang sepi dan tandus. Di tempat itu tidak ada air untuk diminum, tidak ada makanan untuk dimakan dan tidak ada orang untuk meminta pertolongan.

    Setelah bekalan mereka habis, Isma’il pun menangis karena lapar dan dahaga. Melihat keadaan anaknya sedemikian, Siti Hajar pun pergi mencari air. Dia berjalan menuju ke Bukit Safa dan Marwah kira-kira lima ratus meter jarak antara kedua bukit tersebut, dengan harapan menemui kafilah pedagang yang membawa air. Setelah berulang-alik sebanyak tujuh kali antara dua bukit itu, namun Siti Hajar tidak menemui sesiapa pun.

    Berkata Ibnu ‘Abbas: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maka itulah sa’ie manusia (orang haji dan umrah) antara keduanya (Safa dan Marwah).”

    Apabila Siti Hajar naik ke Bukit Marwah, dia terdengar suatu suara lalu dia berkata di dalam hati: “Sesungguhnya aku mendengarmu, jika engkau dapat memberi pertolongan, maka tolonglah kami.” Tiba-tiba dia ternampak Malaikat di samping anaknya Isma’il. Malaikat itu pun menggali tanah dengan tumit atau sayapnya sehingga terpancutlah air yaitu air zamzam.

    Setelah beberapa tahun berlalu, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam datang menemui mereka berdua. Pada waktu inilah, Baginda mendirikan rumah suci (Ka’bah). Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    Tafsirnya: “Sesungguhnya rumah ibadat yang mula-mula dibina untuk manusia (beribadat kepada Tuhannya) ialah Baitullah yang di Makkah, yang berkat dan (dijadikan) petunjuk hidayat bagi umat manusia. Di situ ada tanda-tanda keterangan yang nyata (yang menunjukkan kemuliaannya, di antaranya ialah) Makam Nabi Ibrahim. Dan siapa yang masuk ke dalamnya aman tenteramlah dia. Dan Allah mewajibkan manusia mengerjakan ibadah Haji dengan mengujungi Baitullah, yaitu sesiapa yang mampu dan berkuasa sampai kepadanya. Dan sesiapa yang kufur (ingkar akan kewajipan ibadah haji itu), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak berhajatkan sesuatu pun) daripada sekalian makhluk.”

    (Surah Ali ‘Imran: 96-97)

    Ketika Makkah didiami oleh kaum Jurhum (kabilah daripada Syam) dengan kemajuan dan kemewahan hidup mereka sehingga tidak mengendahkan kehormatan Ka’abah tersebut. Menurut ahli sejarah, kaum Jurhum memakan harta Ka’abah dan melakukan perkara dosa besar sehinggalah perigi zamzam itu kering kontang dan lama kelamaan ia tertimbus dan tidak diketahui lagi kedudukannya.

    Setelah pemerintahan daerah itu dipegang oleh Abdul Muthallib (nenek Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam). Suatu ketika beliau telah bermimpi mendapat petunjuk untuk menggali perigi zamzam itu, lalu dia mengarahkan orang lain untuk menggali perigi tersebut sehinggalah kedudukan perigi itu ditemui.

    Hukum Meminum Air Zamzam

    Para Fuqaha bersepakat bahawa sunat bagi orang-orang yang mengerjakan ibadah Haji dan Umrah minum air zamzam, karena Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam minum air zamzam tersebut.

    Berdasarkan nas asy-Syafi’eyah, bahawa air zamzam itu sunat diminum dalam apa keadaan sekalipun. Hukum sunat itu tidak hanya khusus selepas mengerjakan tawaf, bahkan ia sunat diminum bagi setiap orang walaupun bukan pada waktu mengerjakan ibadah haji atau umrah. Disebutkan dalam hadis Jabir bin ‘Abdullah katanya:

    Maksudnya: “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Air zamzam itu diminum untuk keperluan apa saja.”

    (Hadis riwayat Ibnu Majah)

    Dalam erti kata yang lain, jika ia meminumnya dengan maksud menghilangkan rasa haus, maka Allah akan menghilangkan rasa hausnya, jika ia meminumnya untuk menghilangkan rasa lapar, maka Allah akan mengenyangkannya, dan jika ia meminumnya untuk menyembuhkan penyakit, maka Allah akan menyembuhkan penyakitnya.

    Kelebihan Air Zamzam

    Banyak kelebihan yang terdapat pada air zamzam itu, sebagaimana disebutkan di dalam hadis-hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, antara kelebihan itu:

    Ada keberkatan padanya, boleh mengenyangkan seperti makanan dan sebagai penawar penyakit. Disebutkan dalam hadis Abu Dzar Radhiallahu ‘anhu, bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang air zamzam:

    Maksudnya: “Sesungguhnya air zamzam itu penuh berkat, sesungguhnya ia makanan yang mengenyangkan.” Dan Abu Daud Ath-Thayalisi menambah dalam musnadnya: “Dan penyembuh penyakit.”

    (Hadis riwayat Muslim)

    Perihal air zamzam menjadi penawar penyakit itu, banyak disebut mengenainya, antaranya:

    Maksudnya: “Daripada Abu Jamrah Adh-Dhuba’ie katanya: “Aku duduk bersama Ibnu ‘Abbas di Makkah, lalu aku terkena demam panas. Berkata Ibnu ‘Abbas: “Dinginkanlah panasmu itu dengan air zamzam, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demam panas itu daripada bahang neraka jahannam, maka dinginkanlah ia dengan air, (atau sabda Baginda: “Dengan air zamzam” , si Hammam syak).

    (Hadis riwayat Al-Bukhari)

    Kisah seorang perempuan Maghribi yang disembuhkan Allah Subhanahu wa Ta’ala daripada penyakit kanser dengan meminum air zamzam. Di mana doktor menyatakan, bahawa dia tidak ada harapan untuk hidup dalam masa tiga bulan. Perempuan itu pun pergi menunaikan umrah, beri’tikaf di Masjidil Haram, minum air zamzam sepuas-puasnya dan menghabiskan masanya dengan bersembahyang, membaca al-Qur’an dan berdoa. Setelah beberapa hari bintik-bintik merah yang tumbuh di badannya sudah tiada lagi, lalu dia menemui doktor dengan menerima keputusan bahawa penyakitnya sudah sembuh.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dibersihkan dadanya dengan air zamzam bagi menguatkan Baginda melihat Malakut langit dan bumi, syurga dan neraka. Dengan ini, ada keistimewaan dalam air zamzam itu yaitu menguatkan hati dan menghilangkan ketakutan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Dibukalah atap rumahku ketika aku berada di Makkah. Lalu turun Jibril membelah dadaku, kemudian dicucinya dengan air zamzam. Setelah itu dia (Jibril) membawa mangkuk besar dari emas yang penuh dengan hikmat dan keimanan, lalu ditumpahkannya ke dalam dadaku kemudian ditutupnya kembali dadaku. Setelah itu dia menarik tanganku lalu membawaku naik ke langit dunia (dimi’irajkan).”

    bersambung

     
  • erva kurniawan 1:33 am on 17 November 2016 Permalink | Balas  

    Telaah Kitab: Persoalan Seputar Mazhab 

    mazhabTelaah Kitab: Persoalan Seputar Mazhab

    Oleh: M. Shiddiq Al-Jawi

    Pengantar Redaksi:

    Umat Islam sering menghadapi beberapa persoalan dan pertanyaan di seputar mazhab (fikih), misalnya: bagaimana sejarah lahirnya mazhab; apakah bermazhab itu dibolehkan atau tidak; bagaimanakah bermazhab secara benar; apakah Hizbut Tahrir suatu mazhab atau bukan?

    Tulisan ini bertujuan menjawab beberapa persoalan seputar mazhab tersebut. Maka dari itu, di sini akan ditelaah kitab Asy-Syakhshiyah Al-Islâmiyyah Jilid I karya Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani (1994) serta beberapa referensi lain yang terkait.

    Pengertian Mazhab

    Mazhab menurut bahasa Arab adalah isim makan (kata benda keterangan tempat) dari akar kata dzahab (pergi) (Al-Bakri, I’ânah ath-Thalibin, I/12). Jadi, mazhab itu secara bahasa artinya, “tempat pergi”, yaitu jalan (ath-tharîq) (Abdullah, 1995: 197; Nahrawi, 1994: 208).

    Sedangkan menurut istilah ushul fiqih, mazhab adalah kumpulan pendapat mujtahid yang berupa hukum-hukum Islam, yang digali dari dalil-dalil syariat yang rinci serta berbagai kaidah (qawâ’id) dan landasan (ushûl) yang mendasari pendapat tersebut, yang saling terkait satu sama lain sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh (Nahrawi, 1994: 208; Abdullah, 1995: 197). Menurut Muhammad Husain Abdullah (1995:197), istilah mazhab mencakup dua hal: (1) sekumpulan hukum-hukum Islam yang digali seorang imam mujtahid; (2) ushul fikih yang menjadi jalan (tharîq) yang ditempuh mujtahid itu untuk menggali hukum-hukum Islam dari dalil-dalilnya yang rinci.

    Dengan demikian, kendatipun mazhab itu manifestasinya berupa hukum-hukum syariat (fikih), harus dipahami bahwa mazhab itu sesungguhnya juga mencakup ushul fikih yang menjadi metode penggalian (tharîqah al-istinbâth) untuk melahirkan hukum-hukum tersebut. Artinya, jika kita mengatakan mazhab Syafi’i, itu artinya adalah, fikih dan ushul fikih menurut Imam Syafi’i. (Nahrawi, 1994: 208).

    Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menegaskan dua unsur mazhab ini dengan berkata, “Setiap mazhab dari berbagai mazhab yang ada mempunyai metode penggalian (tharîqah al-istinbâth) dan pendapat tertentu dalam hukum-hukum syariat.” (Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah, II/395).

    Lahirnya Mazhab

    Berbagai mazhab fikih lahir pada masa keemasan fikih, yaitu dari abad ke-2 H hingga pertengahan abad ke-4 H dalam rentang waktu 250 tahun di bawah Khilafah Abbasiyah yang berkuasa sejak tahun 132 H (Al-Hashari, 1991: 209; Khallaf, 1985:46; Mahmashani, 1981: 35). Pada masa ini, tercatat telah lahir paling tidak 13 mazhab fikih (di kalangan Sunni) dengan para imamnya masing-masing, yaitu: Imam Hasan al-Bashri (w. 110 H), Abu Hanifah (w. 150 H), al-Auza’i (w. 157 H), Sufyan ats-Tsauri (w. 160 H), al-Laits bin Sa’ad (w. 175 H), Malik bin Anas (w. 179 H), Sufyan bin Uyainah (w. 198 H), asy-Syafi’i (w. 204 H), Ahmad bin Hanbal (w. 241 H), Dawud azh-Zhahiri (w. 270 H), Ishaq bin Rahawaih (w. 238 H), Abu Tsaur (w. 240 H), dan Ibn Jarir ath-Thabari (w. 310 H) (Lihat: al-’Alwani, 1987: 88; as-Sayis, 1997: 146).

    Bagaimana mazhab-mazhab itu lahir di tengah masyarakat dalam kurun sejarah saat itu? Seperti dijelaskan Nahrawi (1994: 164-168), terdapat berbagai faktor dalam masyarakat yang mendorong aktivitas keilmuan yang pada akhirnya melahirkan berbagai mazhab fikih, antara lain:

    Pertama, kestabilan politik dan kesejahteraan ekonomi.

    Kedua, kesungguhan para ulama dan fukaha.

    Ketiga, perhatian para khalifah terhadap fikih dan fukaha.

    Keempat, pembukuan ilmu-ilmu (tadwîn al-’ulûm). Pada masa ini telah dilakukan pembukuan berbagai cabang ilmu seperti hadis, fikih, dan tafsir yang memudahkan tersedianya rujukan untuk mengembangkan ilmu fikih.

    Kelima, adanya berbagai perdebatan dan diskusi (munâzharât) di antara ulama. Ini merupakan faktor terbesar yang merangsang perkembangan ilmu fikih (Nahrawi, 1994: 164-168. Lihat juga: Al-Hudhari Bik, 1981: 174-182; Khallaf, 1985: 46-48; Al-Hashari, 1991: 209-213).

    Terbentuknya Mazhab

    Bagaimana terbentuknya mazhab-mazhab itu sendiri? Menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani (1994: 386), berbagai mazhab itu terbentuk karena adanya perbedaan (ikhtilâf) dalam masalah ushûl maupun furû’ sebagai dampak adanya berbagai diskusi (munâzharât) di kalangan ulama. Ushul terkait dengan metode penggalian (tharîqah al-istinbâth), sedangkan furû’ terkait dengan hukum-hukum syariat yang digali berdasarkan metode istinbâth tersebut.

    Lebih jauh An-Nabhani menerangkan bagaimana dapat terjadi perbedaan metode penggalian (tharîqah al-istinbâth) hukum tersebut. Ini disebabkan adanya perbedaan dalam 3 (tiga) hal, yaitu: (1) perbedaan dalam sumber hukum (mashdar al-ahkâm); (2) perbedaan dalam cara memahami nash; (3) perbedaan dalam sebagian kaidah kebahasaan untuk memahami nash (An-Nabhani, 1994: 387-392). Penjelasannya sebagai berikut:

    Mengenai perbedaan sumber hukum, hal itu terjadi karena ulama berbeda pendapat dalam 4 (empat) perkara berikut, yaitu:

    1. Metode mempercayai as-Sunnah serta kriteria untuk menguatkan satu riwayat atas riwayat lainnya. Para mujtahidin Irak (Abu Hanifah dan para sahabatnya), misalnya, berhujjah dengan sunnah mutawâtirah dan sunnah masyhûrah; sedangkan para mujtahidin Madinah (Malik dan sahabat-sahabatnya) berhujjah dengan sunnah yang diamalkan penduduk Madinah. (Khallaf, 1985: 57-58).
    2. Fatwa sahabat dan kedudukannya. Abu Hanifah, misalnya, mengambil fatwa sahabat dari sahabat siapa pun tanpa berpegang dengan seorang sahabat, serta tidak memperbolehkan menyimpang dari fatwa sahabat secara keseluruhan. Sebaliknya, Syafi’i memandang fatwa sahabat sebagai ijtihad individual sehingga boleh mengambilnya dan boleh pula berfatwa yang menyelisihi keseluruhannya. (Khallaf, 1985: 58-59).
    3. Kehujjahan Qiyas. Sebagian mujtahidin seperti ulama Zhahiriyah mengingkari kehujahan Qiyas sebagai sumber hukum, sedangkan mujtahidin lainnya menerima Qiyas sebagai sumber hukum sesudah al-Quran, as-Sunnah, dan Ijma. (Khallaf, 1985: 59).
    4. Subyek dan hakikat kehujjahan Ijma. Para mujtahidin berbeda pendapat mengenai subyek (pelaku) Ijma dan hakikat kehujjahannya. Sebagian memandang Ijma Sahabat sajalah yang menjadi hujjah. Yang lain berpendapat, Ijma Ahlul Bait-lah yang menjadi hujah. Yang lainnya lagi menyatakan, Ijma Ahlul Madinah saja yang menjadi hujah. Mengenai hakikat kehujjahan Ijma, sebagian menganggap Ijma menjadi hujjah karena merupakan titik temu pendapat (ijtimâ’ ar-ra’yi); yang lainnya menganggap hakikat kehujjahan Ijma bukan karena merupakan titik temu pendapat, tetapi karena menyingkapkan adanya dalil dari as-Sunnah. (An-Nabhani, 1994: 388-389).

    Mengenai perbedaan dalam cara memahami nash, sebagian mujtahidin membatasi makna nash syariat hanya pada yang tersurat dalam nash saja. Mereka disebut Ahl al-Hadîts (fukaha Hijaz). Sebagian mujtahidin lainnya tidak membatasi maknanya pada nash yang tersurat, tetapi memberikan makna tambahan yang dapat dipahami akal (ma’qûl). Mereka disebut Ahl ar-Ra’yi (fukaha Irak). Dalam masalah zakat fitrah, misalnya, para fukaha Hijaz berpegang dengan lahiriah nash, yakni mewajibkan satu sha’ makanan secara tertentu dan tidak membolehkan menggantinya dengan harganya. Sebaliknya, fukaha Irak menganggap yang menjadi tujuan adalah memberikan kecukupan kepada kaum fakir (ighnâ’ al-faqîr), sehingga mereka membolehkan berzakat fitrah dengan harganya, yang senilai satu sha’ (1 sha’= 2,176 kg takaran gandum). (Khallaf, 1985: 61; Az-Zuhaili, 1996: 909-911).

    Mengenai perbedaan dalam sebagian kaidah kebahasaan untuk memahami nash, hal ini terpulang pada perbedaan dalam memahami cara pengungkapan makna dalam bahasa Arab (uslûb al-lughah al-’arabiyah). Sebagian ulama, misalnya, menganggap bahwa nash itu dapat dipahami menurut manthûq (ungkapan eksplisit)-nya dan juga menurut mafhûm mukhâlafah (pengertian implisit yang berkebalikan dari makna eksplisit)-nya. Sebagian ulama lainnya hanya berpegang pada makna manthûq dari nash dan menolak mengambil mafhûm mukhâlafah dari nash. (Khallaf, 1985: 64).

    Tentang Bermazhab

    Bolehkan kita bertaklid (mengikuti) mazhab tertentu? Menjawab pertanyaan ini, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani (1994:232) menyatakan, sesungguhnya Allah Swt. tidak memerintahkan kita mengikuti seorang mujtahid, seorang imam, ataupun suatu mazhab. Yang diperintahkan Allah Swt. kepada kita adalah mengikuti hukum syariat dan mengamalkannya. Itu berarti, kita tidak diperintahkan kecuali mengambil apa saja yang dibawa Rasulullah saw. kepada kita dan meninggalkan apa saja yang dilarangnya atas kita. (QS al-Hasyr [59]: 7).

    Karena itu, An-Nabhani menandaskan, secara syar’î kita tidak dibenarkan kecuali mengikuti hukum-hukum Allah; tidak dibenarkan kita mengikuti pribadi-pribadi tertentu. (An-Nabhani, 1994: 232).

    Akan tetapi, fakta menunjukkan, tidak semua orang mempunyai kemampuan menggali hukum syariat sendiri secara langsung dari sumber-sumbernya (Al-Quran dan as-Sunnah). Karena itu, di tengah-tengah umat kemudian banyak yang bertaklid pada hukum-hukum yang digali oleh seorang mujtahid. Mereka pun menjadikan mujtahid itu sebagai imam mereka dan menjadikan hukum-hukum hasil ijtihadnya sebagai mazhab mereka (An-Nabhani, 1994: 232). Persoalannya, apakah bermazhab ini sesuatu yang dibenarkan syariat Islam?

    An-Nabhani menjawab, hal itu bergantung pada persepsi umat terhadap masalah ini. Jika mereka berpaham bahwa yang mereka ikuti adalah hukum-hukum syariat yang digali oleh seorang mujtahid maka bermazhab adalah sesuatu yang sahih dalam pandangan syariat Islam. Sebaliknya, jika umat berpaham bahwa yang mereka ikuti adalah pribadi mujtahid (syakhsh al-mujtahid), bukan hukum hasil ijtihad mujtahid itu, maka bermazhab seperti ini adalah sesuatu yang bertolak belakang dengan syariat Islam (An-Nabhani, 1994: 232).

    Walhasil, para pengikut mazhab wajib memperhatikan hal ini dengan sangat seksama; sekali lagi, sangat seksama, yaitu bahwa yang mereka ikuti hanyalah hukum syariat yang digali oleh mujtahid, bukan pribadi mujtahid yang bersangkutan. Kalau seseorang bermazhab Syafi’i, misalnya, maka wajiblah dia mempunyai persepsi, bahwa yang dia ikuti bukanlah Imam Syafi’i sebagai pribadi (taqlîd asy-syaksh), melainkan hukum syariat yang digali oleh Imam Syafi’i (taqlîd al-ahkâm). Jika persepsinya tidak demikian, maka para pengikut mazhab pada Hari Kiamat kelak akan ditanya oleh Allah Azza wa Jalla, mengapa mereka meninggalkan hukum Allah dan mengikuti pribadi-pribadi yang statusnya juga sesama hamba-Nya seperti halnya para pengikut mazhab itu? (An-Nabhani, 1994: 232 & 394).

    Bermazhab Secara Benar

    Para pengikut mazhab, di samping wajib mempunyai persepsi yang benar tentang bermazhab (seperti diuraikan sebelumnya), wajib memahami setidaknya 2 (dua) prinsip penting lainnya dalam bermazhab (Abdullah, 1995: 372), yaitu:

    Pertama, wajib atas muqallid suatu mazhab untuk tidak fanatik (ta’âshub) terhadap mazhab yang diikutinya (Ibn Humaid, 1995: 54). Tidaklah benar, ketika Syaikh Abu Hasan Abdullah al-Karkhi (w. 340 H), seorang ulama mazhab Hanafi, berkata secara fanatik, “Setiap ayat al-Quran atau hadis yang menyalahi ketetapan mazhab kita bisa ditakwilkan atau dihapus (mansûkh).” (Abdul Jalil Isa, 1982: 74).

    Karena itu, jika terbukti mazhab yang diikutinya salah dalam suatu masalah, dan pendapat yang benar (shawâb) ada dalam mazhab lain, maka wajib baginya untuk mengikuti pendapat yang benar itu menurut dugaan kuatnya. Para imam mazhab sendiri mengajarkan agar kita tidak bersikap fanatik. Ibnu Abdil Barr meriwayatkan, bahwa Imam Abu Hanifah pernah berkata, “Idzâ shaha al-hadîts fahuwa madzhabî (Jika suatu hadis/pendapat telah dipandang sahih maka itulah mazhabku).” (Al-Bayanuni, 1994: 90).

    Al-Hakim dan Al-Baihaqi juga meriwayatkan, bahwa Imam Syafi’i pernah mengatakan hal yang sama. Dalam satu riwayat, Imam Syafi’i juga pernah berkata, “Jika kamu melihat ucapanku menyalahi hadis, amalkanlah hadis tersebut dan lemparkanlah pendapatku ke tembok.” (Al-Dahlawi, 1989: 112).

    Kedua, sesungguhnya perbedaan pendapat (khilâfiyah) di kalangan mazhab-mazhab adalah sesuatu yang sehat dan alamiah, bukan sesuatu yang janggal atau menyimpang dari Islam, sebagaimana sangkaan sebagian pihak. Sebab, kemampuan akal manusia berbeda-beda, sebagaimana nash-nash syariat juga berpotensi memunculkan perbedaan pemahaman. Perbedaan ijtihad di kalangan sahabat telah terjadi sejak zaman Rasulullah saw. Beliau pun membenarkan hal tersebut dengan taqrîr-nya. (Abdullah, 1995: 373).

    Hizbut Tahrir Sebuah Mazhab?

    Satu persoalan yang juga menarik adalah, apakah Hizbut Tahrir itu suatu mazhab atau bukan? Jawabnya, Hizbut Tahrir bukanlah sebuah mazhab, melainkan sebuah partai politik yang berideologi Islam. Hizbut Tahrir adalah sebuah kelompok yang berdiri di atas dasar ideologi Islam yang diyakini para anggotanya, yang diperjuangkan untuk menjadi pengatur interaksi masyarakat dalam segala aspek kehidupan.

    Disebutkan dalam kitab Hizbut Tahrir (1995: 22) bab Keanggotaan Hizbut Tahrir, bahwa Hizbut Tahrir adalah partai bagi seluruh kaum Muslim tanpa melihat lagi faktor kebangsaan, warna kulit, dan mazhab mereka, karena Hizbut Tahrir memandang mereka semua dengan pandangan Islam. (Lihat: Hizbut Tahrir, 1995: 22).

    Namun demikian, jika umat Islam menaruh kepercayaan (tsiqah) kepada kualitas keilmuan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, radhiyallâhu ‘anhu, pendiri Hizbut Tahrir, maka dimungkinkan akan dapat terwujud mazhab An-Nabhani—bukan mazhab Hizbut Tahrir—pada masa mendatang. Sebab, beliau adalah mujtahid mutlak yang memiliki metode istinbâth (ushul fikih) tersendiri dan meng-istinbâth hukum-hukum syariat berdasarkan ushul fikih tersebut. Ihsan Sammarah dalam kitabnya Mafhûm Al-’Adalah Al-Ijtima’iyah (1991: 267) berkata, “Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani adalah seorang mujtahid yang mengikuti metode para fukaha dan mujtahidin, namun beliau tidak mengikuti satu mazhab dari mazhab-mazhab yang telah dikenal. Sebaliknya, beliau mengadopsi ushul fikih yang khas bagi beliau dan menggali hukum-hukum syariat berdasarkan ushul fikih tersebut.”

    Wallâhu a’lam.

    Daftar Pustaka

    1. Abdullah, M. Husain. 1995. Al-Wadhîh fî Ushûl sl-Fiqh. Beirut: Darul Bayariq.
    2. Ad-Dahlawi, Syah Waliyullah. 1989. Lahirnya Mazhab-Mazhab Fiqh (Al-Inshâf fî Bayân Asbâb al-Ikhtilâf). Terjemahan oleh Mujiyo Nurkholis. Bandung: CV Rosda.
    3. Al-’Alwani, Thaha Jabir. 1987. Adâb Al-Ikhtilâf fî al-Islâm. Washington: Al-Ma’had Al-’Alami li Al-Fikr Al-Islami (IIIT).
    4. Al-Bakri, As-Sayyid. T.t. I’ânah ath-Thâlibîn. Jld. I. Semarang: Maktabah wa Mathba’ah Toha Putera.
    5. Al-Bayanuni, M. Abul Fath. 1994. Studi Tentang Sebab-Sebab Perbedaan Mazhab (Dirâsât fî al-Ikhtilâfât al-Fiqhiyah). Terjemahan oleh Zaid Husein Al-Hamid. Surabaya: Mutiara Ilmu.
    6. Al-Hashari, Ahmad. 1991. Târîkh al-Fiqh al-Islami Nasy’atuhu, Mashâdiruhu, Adwâruhu, Madârisuhu. Beirut: Darul Jil.
    7. An-Nabhani, Taqiyuddin. 1994. Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyah. Jld. I. Beirut: Darul Ummah
    8. As-Sayis, M. Ali. 1997. Fiqih Ijtihad Pertumbuhan dan Perkembangannya (Nasy’ah al-Fiqh al-Ijtihâdi wa Athwâruhu). Terjemahan oleh M. Muzamil. Solo: CV Pustaka Mantiq.
    9. Az-Zuhaili, Wahbah. 1996. Al-Fiqh al-Islâmî wa Adillatuhu. Jld. II. Beirut: Darul Fikr.
    10. Bik, M. Al-Hudhari. 1981. Târîkh Tasyrî’ al-Islâmi. T.tp.: Maktabah Dar Ihya’ al-Kutub al-’Arabiyah.
    11. Ibn Humaid, Shalih Abdullah. 1995. Adab Berselisih Pendapat (Adab al-Khilâf). Terjemahan oleh Abdul Rosyad Shiddiq. Solo: Khazanah Ilmu.
    12. Isa, Abdul Jalil. 1982. Masalah-Masalah Keagamaan Yang Tidak Boleh Diperselisihkan Antar Sesama Umat Islam (Mâ Lâ Yajûzu fîhi al-Khilâf bayna al-Muslimîn). Terjemahan oleh M. Tolchah Mansoer & Masyhur Amin. Bandung: PT Alma’arif.
    13. Khallaf, Abdul Wahhab. 1985. Ikhtisar Sejarah Hukum Islam (Khulâshah Târîkh at-Tasyrî’ al-Islâmî). Terjemahan oleh Zahri Hamid & Parto Djumeno. Yogyakarta: Dua Dimensi.
    14. Mahmashani, Subhi. 1981. Filsafat Hukum Dalam Islam (Falsafah at-Tasyrî’ fî al-Islâm). Terjemahan oleh Ahmad Sudjono. Bandung: PT Alma’arif.
    15. Nahrawi, Ahmad. 1994. Al-Imâm asy-Syâfi’i fî Mazhabayhi al-Qadîm wa al-Jadîd. Kairo: Darul Kutub.
    16. Sammarah, Ihsan. 1991. Mafhûm al-’Adalah al-Ijtimâ’yah fî al-Fikri al-Islâmî al- Mu’âshir. Beirut: Dar An-Nahdhah Al-Islamiyah.
     
  • erva kurniawan 1:21 am on 16 November 2016 Permalink | Balas  

    Mensyukuri Nikmat Melalui Aqiqah 

    kambing-aqiqahMensyukuri Nikmat Melalui Aqiqah

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Para ulama telah berselisih pendapat dalam mengertikan aqiqah. Dari segi bahasa terdapat empat pendapat yang diberikan yaitu:

    1. Aqiqah ialah rambut yang di atas kepala anak ketika dia dilahirkan.
    2. Perkataan aqiqah diambil daripada kata dasar ‘al-‘aqq’ yang membawa erti memutuskan (al-qath’).
    3. Aqiqah adalah perbuatan menyembelih itu sendiri. Hujahnya, bahwa makna asal ‘al-‘aqq’ itu adalah dari perkataan ‘al-qath” (memutus atau memotong).
    4. Mengandungi makna kedua-duanya sekali yaitu dengan makna rambut dan menyembelih, dan ini merupakan pendapat yang lebih baik dipegang.

    Manakala dari segi syara’ pula, aqiqah ialah binatang ternakan yang berkaki empat yang disembelih ketika hendak mencukur rambut di kepala anak yang baru dilahirkan, sama ada disembelih pada hari ketujuh atau selepasnya.

    Hukum Aqiqah Dan Tujuannya

    Jumhur ulama mengatakan bahwa hukum aqiqah itu adalah sunat muakkadah yaitu sunat yang sangat digalakkan oleh Islam. Dasar kepada tuntutan ini ialah hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Anak-anak tergadai (terikat) dengan aqiqahnya, disembelih (aqiqah) untuknya pada hari ketujuh (kelahirannya) dan diberi namanya serta dicukur rambutnya.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Terdapat dua pendapat dalam menghuraikan maksud “anak-anak tergadai dengan aqiqahnya”. Pendapat pertama mengatakan bahwa jika tidak diaqiqahkan, anak itu akan terbantut atau terhalang pertumbuhannya, tidak seperti anak- anak lain yang diaqiqahkan. Pendapat kedua mengatakan bahwa maksudnya ialah anak itu tidak akan memberi syafaat kepada kedua ibu bapanya pada Hari Kiamat kelak jika dia tidak diaqiqahkan. Pendapat kedua ini adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal, dan pendapat ini adalah pendapat yang terbaik.

    Keguguran anak yang sudah bernyawa (ditiupkan roh) juga dituntut supaya dibuatkan aqiqah untuknya.

    Aqiqah dituntut oleh Islam bukan saja bertujuan untuk menghidupkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bagi mencari keredaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tetapi juga dituntut bagi melahirkan kesyukuran ibu bapa kepada Allah di atas anugerah cahaya mata atau zuriat keturunannya. Di samping itu, ia juga merupakan latihan untuk umat Islam dalam melakukan sedikit pengorbanan.

    Selain daripada itu, pelaksanaan aqiqah juga adalah bagi melahirkan kegembiraan ibu bapa di atas nikmat yang besar itu. Adalah dianggap kurang sopan kepada ibu bapa yang telah dikurniakan nikmat yang begitu besar, tidak bersyukur kepada Allah dengan melaksanakan aqiqah itu, sedangkan dia mempunyai kemampuan dari segi kewangan dan kelapangan.

    Orang Yang Berhak Melakukan Aqiqah

    Orang yang disunatkan membuat aqiqah untuk anak yang baru dilahirkan itu ialah orang yang wajib memberi nafkah kepada anak tersebut yaitu bapa atau ibunya sekalipun mereka itu orang fakir atau papa.

    Aqiqah tidak boleh dilakukan oleh orang yang tidak wajib ke atasnya memberi nafkah kepada anak tersebut melainkan dengan izin daripada orang yang wajib memberi nafkah (bapa atau ibunya).

    Belanja untuk aqiqah itu hendaklah diambil dari wang atau harta bapa atau ibu itu sendiri dan tidak boleh diambil dari harta anak yang hendak diaqiqahkan karena aqiqah adalah tabarru’ (sedekah). Jika diambil dari wang atau harta anak, aqiqah yang dibuat itu tidak sah dan ibu bapa tersebut wajib menggantinya.

    Bagi ibu bapa yang berkemampuan, hukum sunat melakukan aqiqah untuk anak mereka itu berkekalan sehinggalah anaknya itu baligh atau cukup umur. Jika anak itu sudah baligh tetapi tiada dibuat aqiqah untuknya, maka sunat ke atasnya melakukan aqiqah untuk dirinya sendiri.

    Adapun yang dimaksudkan dengan berkemampuan yang merupakan syarat untuk melakukan aqiqah itu ialah orang yang hendak melakukan aqiqah itu mempunyai wang belanja yang lebih untuk dirinya dan orang-orang yang di bawah tanggungannya sebelum berlalu jangka masa terpanjang bagi perempuan bernifas yaitu enam puluh hari. Jika kemampuannya itu wujud selepas berlalu masa tersebut (sebelum itu dia tidak mampu, kemudian selepas enam puluh hari baharulah dia mampu), maka tidaklah disunatkan ke atasnya beraqiqah.

    Al-Syeikh Muhammad Al-Khathib Al-Syarbini di dalam kitabnya Mughni Al-Muhtâj mengatakan bahwa jika wali anak tersebut tidak mampu untuk beraqiqah sebaik saja anak itu dilahirkan, kemudian dia mampu sebelum umur anak itu genap tujuh hari, maka sunat ke atas wali itu beraqiqah untuk anaknya itu.

    Jika kemampuannya itu ada selepas hari ketujuh dari hari kelahiran anaknya dalam masa isterinya sudah melalui semaksima hari-hari nifasnya (enam puluh hari), maka kebanyakan ulama muta’akhirîn berpendapat tidak disunatkan ke atasnya aqiqah.

    Adapun jika kemampuan itu wujud selepas hari ketujuh dari hari kelahiran anaknya sedang isterinya masih dalam nifas, maka dalam hal ini, para ulama berbeda pendapat. Menurut pendapat Yusuf Al-Ardabili di dalam kitabnya Al-Anwâr li A’mâli Al-Abrâr, beliau mentarjîhkan (lebih cenderung kepada) pendapat yang mengatakan sunat ke atasnya aqiqah.

    Dalam arti kata lain, jika wali itu tidak mampu sehingga habis masa nifas isterinya, maka gugurlah daripadanya hukum sunat melakukan aqiqah.

    Dalam masalah menentukan hukum melakukan aqiqah untuk anak zina pula, menurut Ibnu Hajar sebagaimana tersebut dalam kitabnya Tuhfah Al-Muhtâj bahwa hukumnya adalah sunat ke atas ibunya melakukan aqiqah untuk anak zinanya itu, akan tetapi hendaklah dilakukan aqiqah itu secara sembunyi-sembunyi (tidak dizahirkan).

    Masa Aqiqah

    Aqiqah sunat dilakukan sebaik-baik saja anak dilahirkan dan berterusan sehinggalah anak itu baligh. Ini adalah pendapat yang paling râjih. Apabila anak itu sudah baligh, gugurlah hukum sunat itu daripada walinya dan ketika itu hukum sunat berpindah ke atas anak itu sendiri dalam melakukan aqiqah untuk dirinya sendiri.

    Walaupun masa yang disunatkan untuk beraqiqah itu panjang, tetapi yang afdhalnya hendaklah dilakukan pada hari ketujuh dari hari kelahirannya. Termasuk dalam kiraan tujuh hari itu, hari anak itu dilahirkan. Jika anak itu dilahirkan pada waktu siang sebelum terbenam matahari, maka hari itu dikira satu hari. Sebaliknya jika dia dilahirkan pada waktu malam, maka malam dia dilahirkan itu tidak dikira sebagai satu hari, bahkan kiraan tujuh hari itu bermula dari hari selepasnya (siang berikutnya).

    Jika tidak sempat disembelih aqiqah pada hari ketujuh, digalakkan disembelih pada hari yang keempat belas dari hari kelahiran anaknya, jika tidak sempat pada hari tersebut, disembelih pada hari yang kedua puluh satu. Begitulah seterusnya, boleh dilakukan selepas itu setiap kali berlalu tujuh hari yang berikutnya, seperti pada hari yang kedua puluh lapan, tiga puluh lima dan seterusnya.

    Di dalam kitab Kifâyah Al-Akhyâr ada menyebutkan bahwa masa untuk menyembelih aqiqah (bagi yang mampu) itu hendaklah jangan melebihi tempoh sehingga kering darah nifas ibu yang bersalin. Jika tidak dilakukan aqiqah setelah kering darah nifas ibunya, maka bolehlah dilakukan selepas itu, tetapi sepatutnya janganlah terlewat sehingga anak itu berhenti menyusu (dalam tempoh dua tahun dari tarikh lahir). Jika tidak dilakukan juga, maka bolehlah dilakukan selepas itu, tetapi janganlah terlewat sehingga anak itu berumur tujuh tahun. Jika tidak dilakukan juga sehingga anak itu berumur tujuh tahun, boleh lagi dilakukan selepas itu, tetapi hendaknya sebelum anak itu sampai umur (baligh). Jika anak itu telah sampai umur baligh, maka pada masa itu diberi pilihan kepada anak tersebut melakukan aqiqah untuk dirinya sendiri.

    Masa yang afdhal untuk menyembelih aqiqah itu ialah setelah terbit matahari, dan semasa penyembelihan itu dilakukan hendaklah dibaca:

    Artinya: “Dengan nama Allah dan Allah Maha Besar (kerajaanNya), ya Allah, mohon kurniakan selawat, rahmat dan kebesaran kepada Sayyidina Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabat Baginda, ya Allah, ini aqiqah si Polan.”

    Semasa menyembelih itu juga disyaratkan berniat dengan niat bahwa binatang yang disembelih itu adalah untuk aqiqah.

    Bilangan Binatang Yang Hendak Disembelih

    Bagi anak lelaki, yang afdhalnya disunatkan menyembelih dua ekor kambing yang sama keadaan keduanya (besarnya). Manakala bagi anak perempuan, memadai dengan seekor kambing saja. Ini berdasarkan kepada hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Sayyidatina ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha:

    Maksudnya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh kami beraqiqah untuk anak lelaki dengan (menyembelih) dua ekor kambing dan untuk anak perempuan dengan (menyembelih) seekor kambing.”

    (Hadits riwayat Ibnu Majah)

    Jika tidak mampu menyembelih dua ekor kambing untuk anak lelaki, maka memadailah dengan seekor kambing atau satu pertujuh dari seekor unta atau dari seekor lembu atau kerbau saja, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri membuat aqiqah untuk cucunda Baginda, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain dengan menyembelih seekor kambing bagi tiap-tiap seorang.

    Bagi anak yang khuntsâ yaitu anak yang mempunyai dua kemaluan pula, para ulama berbeda pendapat dalam menentukan bilangan binatang aqiqah yang hendak disembelih untuknya. Ibnu Hajar berpendapat bahwa anak khuntsâ sama seperti anak perempuan yaitu memadai disembelih seekor kambing saja. Manakala Imam Al-Ramli mengatakan bahwa bagi anak khuntsâ disunatkan disembelih dua ekor kambing, sama seperti anak lelaki.

    Pada perkara membuat aqiqah itu, yang lebih afdhal ialah dengan tujuh ekor kambing, kemudian seekor unta, kemudian dengan seekor lembu atau kerbau, kemudian dengan seekor kibasy, kemudian dengan seekor kambing, kemudian dengan satu pertujuh unta dan seterusnya dengan satu pertujuh lembu atau kerbau.

    Oleh karena itu, jika seseorang itu mempunyai harta yang banyak, yang paling afdhal sekali, dituntut supaya dia beraqiqah bagi seorang anak dengan tujuh ekor kambing atau dengan seekor unta atau seekor lembu.

    Binatang Aqiqah Dan Dagingnya

    Binatang yang sah disembelih untuk aqiqah sama seperti binatang-binatang yang sah dibuat korban yaitu binatang ternakan berkaki empat seperti unta, lembu, kerbau, kambing, biri-biri dan kibasy yang telah sampai umurnya dan sihat badannya, tidak berpenyakit dan tidak ada sebarang kecacatan yang boleh mengurangkan daging atau lemaknya atau mengurangkan anggota-anggota yang boleh dimakan.

    Oleh Karena itu, binatang yang sangat kurus, yang kudung, yang patah kaki atau pincang, yang buta, yang terpotong telinga atau seumpamanya, tidak sah dibuat aqiqah.

    Manakala daging aqiqah digalakkan supaya tidak disedekahkan dalam keadaan mentah, bahkan disunatkan dimasak dengan sedikit rasa manis.Tujuannya ialah untuk menaruh harapan baik (optimis) terhadap keelokan perangai dan budi pekerti anak yang diaqiqahkan.

    Kemudian daging yang dimasak itu diberi makan kepada fakir miskin, sama ada dengan dihantar masakan itu ke rumah-rumah mereka atau dijemput mereka hadir makan ke rumah tempat beraqiqah, tetapi jika dihantar masakan itu ke rumah-rumah mereka adalah lebih afdhal.

    Adapun kaki hingga ke pangkal paha kambing tersebut adalah dikecualikan dari dimasak yaitu dibiarkan ia mentah, dan disunatkan disedekahkan kaki kanannya kepada bidan yang menyambut kelahiran anak tersebut. Ini karena Sayyidatina Fatimah Radhiallahu ‘anha, puteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri melakukan demikian dengan suruhan Baginda.

    Sementara itu, orang yang beraqiqah digalakkan memakan sebagian kecil daripada daging binatang yang diaqiqahkan selama mana aqiqahnya itu bukan aqiqah wajib (aqiqah nazar).

    Begitu juga daging aqiqah itu harus dihadiahkan kepada orang kaya, dan dia memiliki apa yang dihadiahkan kepadanya itu, dengan maksud bahwa dia boleh memakannya atau menjualnya.

    Akan tetapi daging aqiqah haram diberikan kepada orang kafir dan juga haram dijual.

    Semasa memotong daging disunatkan supaya jangan dipecah-pecah atau dikerat-kerat tulang binatang yang diaqiqah itu, bahkan dikehendaki supaya diasing-asingkan tulang-tulang itu antara satu sama lain melalui sendi-sendinya saja, ini bertujuan untuk mengambil sempena baik supaya tulang anak-anak nanti tidak pecah dan tidak patah sebagaimana tidak pecah dan tidak patahnya tulang-tulang binatang aqiqahnya. Kalau sekiranya tulang-tulang binatang aqiqah itu dipecah-pecah atau dipotong-potong dan dikerat sebagaimana yang biasa dilakukan kepada binatang sembelihan biasa, maka tidaklah menjadi makruh, akan tetapi hanyalah menyalahi yang utama (khilâf al-awlâ).

    Sebagai kesimpulan, aqiqah merupakan ibadat yang antara lain sebagai tanda mensyukuri nikmat Allah subhanahu wa ta’ala, oleh itu adalah perlu ianya dilakukan menurut sebagaimana yang digariskan oleh syara’.

    Wallohu a’lam bish-shawab.

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 14 November 2016 Permalink | Balas  

    Riya Penghapus Amal 

    adab-sedekahRiya Penghapus Amal

    Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jalan Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda:

    ”Sesungguhnya orang yang pertama akan diadili oleh Allah adalah seorang yang mati syahid (di mata manusia), maka orang ini didatangkan (menghadap Allah), diberitahukan kepadanya nikmat-nikmatnya dan iapun mengetahuinya. Maka Allah bertanya kepadanya, ”Apa yang engkau lakukan di dalam nikmat tersebut?” Maka ia menjawab, ”Sungguh aku telah berperang karena Engkau, sehingga aku mati syahid.” Maka Allah berfirman, ”Engkau dusta. Akan tetapi, engkau berperang supaya dikatakan pemberani, dan pujian itu telah engkau dapatkan,” kemudian orang ini diperintahkan agar dicampakkan wajahnya ke dalam api neraka.

    Kemudian orang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an, maka orang ini didatangkan (menghadap Allah), maka diberitahukan kepadanya nikmat-nikmatNya, dan iapun mengetahuinya. Maka Allah bertanya kepadanya, ”Apa yang telah engkau lakukan di dalam nikmat tersebut?” Orang ini menjawab, ”Sesungguhnya aku telah mempelajari ilmu dan mengajarkannya, dan aku membaca Al-Qur’an karena Engkau.” Maka Allah berfirman, ”Engkau berdusta, akan tetapi engkau belajar ilmu agar dikatakan ‘alim dan membaca Al-Qur’an supaya dikatakan qarri’, dan pujian itu telah engkau dapatkan.” Kemudian orang ini diperintahkan agar dicampakkan wajahnya ke dalam api neraka.

    Kemudian orang yang diberi keluasan rizki oleh Allah, maka Allah memberikan kepadanya berbagai macam harta. Maka orang ini didatangkan (menghadap Allah). Diberitahukan kepadanya nikmat-nikmatNya, dan iapun mengetahuinya. Maka Allah bertanya kepadanya, ”Apa yang telah engkau lakukan di dalam nikmat tersebut?” Orang ini menjawab, ”Tidaklah aku meninggalkan satu jalan yang Engkau cintai atau diinfakkan di dalamnya, kecuali aku menginfakkan di jalan tersebut karena Engkau,” maka Allah berfirman, ”Engkau dusta, akan tetapi engkau berinfak supaya dikatakan dermawan, dan pujian itu telah dikatakan.” Kemudian orang ini diperintahkan agar dicampakkan wajahnya ke dalam api neraka. (HR Muslim)

    Apa yang menyebabkan tiga orang ini dicampakkan Allah ke dalam neraka jahannam? Bukankah mereka telah melakukan amalan-amalan yang mulia? Bukankah mereka telah bersusah payah melakukannya? Tiada lain karena mereka melakukan semua itu bukan karena Allah, tapi karena ingin dipandang oleh manusia.

    Jihad di Jalan Allah

    Jihad, merupakan amalan yang mulia, bahkan sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa salam,

    ”Dan puncak agama adalah jihad fi sabilillah.” (HR Tirmidzi)

    Dan sebagaimana yang difirmankan oleh Allah:

    ”Dan janganlah kamu mengatakan bahwa orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS Al-Baqarah: 154)

    Dan masih banyak lagi ayat maupun hadits yang menjelaskan keutamaan jihad dan orang yang mati syahid. Akan tetapi, tatkala amalan yang agung ini dicampuri dengan perbuatan riya’, maka hilanglah pahalanya. Dari sini, maka kita perlu mengetahui yang disebut dengan jihad fi sabilillah dan ciri-cirinya.

    Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari jalan sahabat Abu Musa Al Asy’ari, ia berkata: Seorang Badui datang kepada Rasulullah dan bertanya, ”Wahai Rasulullah, seseorang berperang karena harta rampasan, seseorang berperang karena ingin terkenal, dan seseorang berperang agar dilihat oleh manusia. Siapakah yang di jalan Allah?” Maka Rasulullah menjawab,

    ”Barangsiapa yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah, maka ia berada di jalan Allah. (muttafaqun ‘alaih).

    Inilah jihad yang sebenarnya, yaitu tidak ada tujuan lain, kecuali dalam rangka menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini.

    Mencari dan Mengajarkan Ilmu serta Membaca Al-Qur’an

    Selanjutnya diantara orang yang pertama akan dihakimi oleh Allah adalah seseorang yang mencari ilmu dan mengajarkannya, serta orang yang membaca Al-Qur’an. Tiga amalan ini merupakan amalan yang sangat mulia dan banyak pahalanya. Akan tetapi, tatkala tiga amalan tersebut bukan karena Allah semata, maka menjadi hilanglah pahalanya, bahkan pelakunya diancam oleh Allah dengan neraka. Dalam sabdanya, Rasulullah mengancam seseorang yang mencari ilmu bukan karena Allah,

    ”Barangsiapa yang mempelajari ilmu yang dengannya diharapkan wajah Allah, kemudian dia tidak mempelajarinya, kecuali karena ingin mendapatkan dunia, maka dia tidak akan mencium bau surga dan pada hari kiamat. (HR Abu Dawud).

    Berinfaq di Jalan Allah

    Adapun orang yang ketiga adalah orang yang berinfak. Banyak ayat-ayat maupun hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan berinfak. Di antaranya firman Allah:

    ”Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipatgandakan ganjaran bagi siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas karunia-Nya, lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Baqarah: 261)

    Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda,

    ”Baransiapa yang bersedekah dengan seukuran buah kurma dari hasil usaha yang halal -dan Allah tidak menerima kecuali yang baik-, maka Allah akan menerima dengan tangan kanannya, kemudian akan mengembangkan (shadaqah tersebut) untuk pemiliknya, sebagaimana salah seorang diantara kalian mengembangkan anak kudanya, sehingga menjadi seukuran gunung uhud (muttafaqun alaih).

    Ini merupakan keutamaan besar yang Allah berikan kepada orang-orang yang mau bersedekah. Akan tetapi, apabila seseorang menginfakkan hartanya bukan karena Allah, yang karena ingin mendapatkan pujian manusia, maka didapat bukan pahala, tetapi siksa dari Allah.

    Khatimah

    Hadits yang disebutkan di atas menunjukkan pentingnya masalah ikhlas dalam beribadah, dan menunjukkan betapa berbahayanya perbuatan riya’, hingga dapat menghapus amalan yang dilakukan oleh seseorang. Oleh karena itu, riya’ termasuk perbuatan yang sangat ditakutkan Rasullah, sebagaimana sabda Beliau shalallahu alaihi wa salam:

    ”Sesungguhnya yang paling aku takutkan akan menimpa kalian adalah syirik kecil. Beliau ditanya tentangnya, maka Beliau mejawab, yaitu riya’ (HR Ahmad).

    Rasulullah shalallahu alaihi wa salam juga memerintahkan kepada umatnya agar selalu meminta perlindungan Allah dari perbuatan syirik, baik yang besar maupun yang kecil. Ketahuilah, bahwa ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya ibadah seseorang. Allah tidak akan menerima ibadah seseorang, kecuali jika hanya diberikan kepada Allah.

    Semoga amalan Allah melindungi kita dari perbuatan riya’ dan menjadikan kita sebagai orang yang ikhlas. Aamiin

    Sumber: Bonus Khutbah Jum’at Majalah As Sunnah Edisi 02/VII/1424 H – 2004 M

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 13 November 2016 Permalink | Balas  

    Tata Cara Penyembelihan Kurban 

    kambing-kurban-300x225Tata Cara Penyembelihan Kurban

    Oleh Shidiq Hasan Khan

    Kata Pengantar

    Sehubungan dengan hadirnya bulan Dzul Hijjah, maka pada sajian kali ini kami angkat permasalahan tentang Tata Cara Penyembelihan Kurban, yang diterjemahkan dari Kitab Ar-Raudhatun Nadhiyyah Syarh Ad-Durar Al-Bahiyyah, karangan Abu-At-Thayyib Shidiq Hasan bin Ali Al-Hushaini Al-Qanuji Al-Bukhari oleh Abu Abdirrahman Asykari bin Jamaluddin Al-Bugisy, dan dimuat di Majalah As-Sunnah edisi 22/II/1417H-1997M.

    1. Disyaria’tkan bagi setiap Keluarga

    Berdasarkan hadits Abu Ayyub Al-Anshary, ia berkata:”Artinya: Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada seorang berkurban dengan seekor kambing untuknya dan keluarganya. 1) (Dikeluarkan Ibnu Majah dan At-Tirmidzi dan di shahihkannya dan dikeluarkan Ibnu Majah semisal hadits Abu Sarihah 2) dengan sanad shahih).

    Dan dikeluarkan juga oleh Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa’i dari hadits Mikhna bin Salim, bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”Artinya: Wahai sekalian manusia atas setiap keluarga pada setiap tahun wajib ada sembelihan (udhiyah) 3). (Di dalam sanadnya terdapat Abu Ramlah dan namanya adalah ‘Amir. Al-Khaththabi berkata: majhul) 4)

    Jumhur berpendapat bahwa hukum berkurban adalah sunnah, bukan wajib. Demikianlah yang dikatakan oleh Imam Malik. Dan (beliau) berkata: “Saya tidak menyukai seseorang yang kuat (sanggup) untuk membelinya (binatang kurban) lalu dia meninggalkannya.” 5) Dan demikian pula Imam Syafi’i berpendapat.

    Adapun Rabi’ah dan Al-Auza’i dan Abu Hanifah dan Al-Laits, dan sebagian pengikut Malikiyah berpendapat bahwa hukumnya wajib terhadap yang mampu. Demikian pula yang diceritakan dari Imam Malik dan An-Nakha’iy. 6)

    Orang-orang yang berpendapat akan wajibnya (berkurban) berpegang pada hadits:”Artinya:Tiap-tiap ahli bait (keluarga) harus ada sembelihan (udhiyah). “Yaitu hadits yang terdahulu, dan juga hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Ibnu Majah serta di dishahihkan Al-Hakim. Ibnu Hajar dalam kitabnya Fath-Al-Bari berkata:”Para perawinya tsiqah (terpercaya) namun diperselisihkan marfu’ dan mauquf-nya. Tetapi lebih benar (jika dikatakan) mauquf.

    Dikatakan Imam Thahawi dan lainnya, 7) berkata: “Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,”Artinya: Barangsiapa yang mempunyai keleluasaan (untuk berkurban) lalu dia tidak berkurban maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami.”

    Diantara dalil yang mewajibkan (berkurban) adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Artinya : Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu dan berkurbanlah.”8)Dan perintah menunjukkan wajib. Dikatakan pula bahwa yang dimaksudkan adalah mengkhususkan penyembelihan hanya untuk Rabb, bukan untuk patung-patung.9)

    Diantaranya juga adalah hadits Jundub bin Sufyan Al-Bajaly dalam shahihain 10) dan lainnya, berkata: Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Artinya: Siapa yang menyembelih sebelum dia shalat maka hendaklah dia menyembelih sekali lagi sebagai gantinya. Dan barang siapa yang belum menyembelih hingga kami selesai shalat, maka hendaklah dia menyembelih dengan (menyebut) nama Allah.”Dan disebutkan dari hadits Jabir semisalnya. 11)

    Berdasarkan dengan hadits:”Artinya: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban untuk orang yang tidak berkurban dari umatnya dengan seekor gibas.” 12)Sebagaimana terdapat pada hadits Jabir yang diriwayatkan Ahmad dan Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan dikeluarkan semisalnya oleh Ahmad dan At-Thabrani dan Al-Bazzar dari hadits Abu Rafi’ dengan sanad yang hasan. Jumhur berpendapat untuk menjadikan hadits ini sebagai qarinah (keterangan) yang memalingkan dalil-dalil yang mewajibkan.

    Tidak diragukan lagi bahwa (keduanya) mungkin untuk dijamak (gabung). Yaitu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban untuk orang-orang yang tidak memiliki (tidak mampu menyembelih) sembelihan dari umatnya, sebagaimana dijamaknya hadits:”Artinya: Orang yang tidak menyembelih dari umatnya. “Dengan hadits, “Artinya: Atas setiap keluarga ada kurban.”

    Adapun hadits:”Artinya: Aku diperintahkan berkurban dan tidak diwajibkan atas kalian.” 13)Dan yang semisal hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah, karena pada sanad-sanadnya ada yang tertuduh berdusta dan ada yang dha’if sekali.

    1. Kurban Dilakukan Paling Sedikit Seekor Kambing

    Berdasarkan hadits yang terdahulu. Al-Mahally berkata:”onta dan sapi cukup untuk tujuh orang. Sedangkan seekor kambing mencukupi untuk satu orang. Tapi apabila mempunyai keluarga, maka (dengan seekor kambing itu) mencukupi untuk keseluruhan mereka. Demikian pula dikatakan bagi setiap orang diantara tujuh orang yang ikut serta dalam penyembelihan onta dan sapi. Jadi berkurban hukumnya sunnah kifayah (sudah mencukupi keseluruhan dengan satu kurban) bagi setiap keluarga, dan sunnah ‘ain (setiap orang) bagi yang tidak memiliki rumah (keluarga).

    Menurut (ulama) Hanafiah, seekor kambing tidak mencukupi melainkan untuk seorang saja. Sedangkan sapi dan onta tidak mencukupi melainkan untuk tiap tujuh orang. Mereka tidak membedakan antara yang berkeluarga dan tidak. Menurut mereka berdasarkan penakwilan hadits itu maka berkurban tidaklah wajib kecuali atas orang-orang yang kaya. Dan tidaklah orang tersebut dianggap kaya menurut keumuman di zaman itu kecuali orang yang memiliki rumah. Dan dinisbatkannya kurban tersebut kepada keluarganya dengan maksud bahwa mereka membantunya dalam berkurban dan mereka memakan dagingnya serta mengambil manfa’atnya.14)

    Dan dibenarkan mengikutsertakan tujuh orang pada satu onta atau sapi, meskipun mereka adalah dari keluarga yang berbeda-beda. Ini merupakan pedapat para ulama. Dan mereka mengqiyaskan kurban tersebut dengan al-hadyu. 15)

    Dan tidak ada kurban untuk janin (belum lahir). Ini adalah perkataan ulama. 16)

    1. Waktunya Setelah Melaksanakan Shalat Iedul Kurban

    Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Artinya: Barangsiapa menyembelih sebelum shalat hendaklah menyembelih sekali lagi sebagai gantinya, dan siapa yang belum menyembelih hingga kami selesai shalat maka menyembelihlah dengan bismillah.”

    Terdapat dalam Shahihain 17) Dan di dalam shahihain dari hadits Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Artinya: Siapa yang menyembelih sebelum shalat maka hendaklah dia mengulangi.” 18)

    Berkata Ibnul Qayyim: “Dan tidak ada pendapat seseorang dengan adanya (perkataan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang ditanya oleh Abu Burdah bin Niyar tentang seekor kambing yang disembelihnya pada hari Ied, lalu beliau berkata:”Artinya: Apakah (dilakukan) sebelum shalat? Dia menjawab: Ya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Itu adalah kambing daging (yakni bukan kambing kurban).” (Al-Hadits)

    Ibnu Qayyim berkata: “Hadits ini shahih dan jelas menunjukkan bahwa sembelihan sebelum shalat tidak dianggap (kurban), sama saja apakah telah masuk waktunya atau belum. Inilah yang kita jadikan pegangan secara qath’i (pasti) dan tidak diperbolehkan (berpendapat) yang lainnya. Dan pada riwayat tersebut terdapat penjelasan bahwa yang dijadikan patokan (berkurban) adalah shalatnya Imam.”

    1. Akhir Waktunya Adalah Di Akhir Hari-hari Tasyriq

    Berdasarkan hadits Jubair bin Mut’im dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda:”Artinya: Pada setiap hari-hari tasyriq ada sembelihan.” 20) (Dikeluarkan Imam Ahmad dan Ibnu Hibban dalam shahihnya dan Al-Baihaqi. Dan terdapat jalan lain yang menguatkan antara satu dengan riwayat yang lainnya. Dan juga diriwayatkan dari hadits Jabir dan lainnya. Dan ini diriwayatkan segolongan dari shahabat. Dan perselisihan dalam perkara ini adalah ma’ruf).

    Di dalam Al-Muwatha’ dari Ibnu Umar:”Artinya: Al-Adha (berkurban) dua hari setelah dari Adha. 21)Demikian pula dari Ali bin Abi Thalib. Dan ini pendapat Al-Hanafiah dan madzhab Syafi’iyah bahwa akhir waktunya sampai terbenamnya matahari dari akhir hari-hari tasyriq berdasarkan hadits Imam Al-Hakim yang menunjukan hal tersebut.22)

    1. Sembelihan yang Terbaik adalah yang Paling Gemuk.

    Berdasarkan hadits Abu Rafi’:”Artinya: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bila berkurban, membeli dua gibas yang gemuk” 23) (Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan lainnya dengan sanad Hasan).

    Dan dikeluarkan oleh Imam Bukhari dari hadits Abu Umamah bin Sahl berkata:”Artinya: Adalah kami menggemukkan hewan kurban di Madinah dan kaum Muslimin menggemukkan (hewan kurbannya).” 24)

    Saya katakan, bahwa kurban yang paling afdhal (utama) adalah gibas (domba jantan) yang bertanduk. Sebagaimana yang terdapat pada suatu hadits dari Ubadah bin Ash-Shamit dalam riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Hakim dan Al-Baihaqi secara marfu’ dengan lafadzh:”Artinya: Sebaik-baik hewan kurban adalah domba jantan yang bertanduk.” 25) (Dan juga dikeluarkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Baihaqi dari hadits Abu Umamah dan di dalam sanadnya terdapat ‘Ufair bin Mi’dan dan dia Dha’if.26)

    Al-Udhiyah (sembelihan kurban) yang dimaksud bukanlah Al-Hadyu. Dan terdapat pula nash pada riwayat Al-Udhiyah, maka nash wajib didahulukan dari qiyas (mengqiyaskan udhiyah dengan Al-Hadyu), dan hadits: “Domba jantan yang bertanduk.” adalah nash diantara perselisihan ini.

    Apabila dikhususkan berkurban dengan domba berdasarkan zhahir hadits, dan bila meliputi yang lainnya, maka termasuk yang dikebiri. Tetapi yang utama tidaklah dikhususkan dengan hewan yang dikebiri. Adapun penyembelihan kurban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa hewan yang dikebiri tidak menunjukkan lebih afdhal dari yang lainnya, namun yang ditujuk pada riwayat tersebut bahwa berkurban dengan hewan yang dikebiri adalah boleh. 27)

    1. Tidak Mencukupi Kurban Ada yang di bawah Al-Jadz’u 28)

    Berdasarkan hadits Jabir dalam riwayat Muslim dan selainnya berkata : Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Artinya: Janganlah engkau menyembelih melainkan musinnah (kambing yang telah berumur dua tahun) kecuali bila kalian kesulitan maka sembelihlah Jadz’u (kambing yang telah berumur satu tahun).29)

    Dan dikeluarkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzi dari Abu Hurairah berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersbada, “Artinya: Sebaik-baik sembelihan adalah kambing Jadz’u.” 30)

    Dikeluarkan pula oleh Ahmad dan Ibnu Majah, Al-Baihaqi dan At-Thabrani dari hadits Ummu Bilal binti Hilal dari bapaknya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Artinya: Boleh berkurban dengan kambing Jadz’u.” 31)

    Di dalam shahihain dari hadits ‘Uqbah bin ‘Amir berkata, “Artinya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi-bagi hewan kurban pada para shahabatnya, dan ‘Uqbah mendapatlan Jadz’ah. Lalu saya bertanya: Wahai Rasulullah, saya mendapatkan Jadz’u. Lalu beliau menjawab: Berkurbanlah dengannya.” 32)

    Jumhur berpendapat bahwa boleh berkurban dengan kambing Jadz’u. Dan barang siapa yang beranggapan bahwa kambing tidak memenuhi kecuali untuk satu atau tiga orang saja, atau beranggapan bahwa selainnya lebih utama maka hendaklah membawakan dalil. Dan tidaklah cukup menggunakan hadits Al-Hadyu sebab itu adalah bab yang lain. 33)

    1. Dan Tidak Mencukupi Selain Dari Ma’zun

    Berdasarkan hadits Abu Burdah dalam shahihain dan lainnya bahwa dia berkata, “Artinya: Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya mempunyai hewan ternak ma’zun jadz’u (Sejenis Kambing Yang Kurang Dua Tahun). Lalu beliau berkata: Sembelihlah, dan tidak boleh untuk selainmu.” 34)

    Adapun yang diriwayatkan dalam Shahihain dan lainnya dari hadits ‘Uqbah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membagikan kambing kepada para shahabatnya sebagai hewan kurban, lalu yang tersisa adalah ‘Atud (anak ma’az). Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diberitahu, lalu beliau menjawab: “Artinya: Berkurbanlah engkau dengan ini.”Al-‘Atud adalah anak ma’az yang umurnya sampai setahun.

    Dikeluarkan pula oleh Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih bahwa ‘Uqbah berkata:”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membagikan kambing kepada para shahabatnya sebagai hewan kurban, lalu tersisa ‘atud. Maka beliau berkata:”Artinya: Berkurbanlah engkau dengannya dan tidak ada rukhsah (keringanan) terhadap seseorang setelah engkau.” 35)

    Sedangkan Al-Imam An-Nawawy menukil kesepakatan bahwa tidak mencukupi Jadz’u dari ma’az. 36)

    Saya (Shidiq Hasan Khan) katakan:”Mereka sepakat bahwa tidak boleh ada onta, sapi dan ma’az kurang dari dua tahun. Dan kambing Jadz’u boleh menurut mereka dan tidak boleh hewan yang terpotong telinganya. Namun Abu Hanifah berkata: “Apabila yang terpotong itu kurang dari separuh, maka boleh.” 37)

    1. Hewan Kurban Tidak Buta Sebelah, Sakit, Pincang dan Kurus, Hilang Setengah Tanduk atau Telinganya.

    Berdasarkan hadits Al-Barra 38) dalam riwayat Ahmad dan Ahlu Sunan serta dishahihkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al-Hakim, berkata: Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Artinya: Empat yang tidak diperbolehkan dalam berkurban,(hewan kurban) buta sebelah yang jelas butanya, sakit yang jelas sakitnya, pincang yang jelas bengkoknya dan tidak sanggup berjalan, dan yang tidak mempunyai lemak (kurus).” (Dalam riwayat lain dengan lafazh-lafazh Al-Ajfaa’/kurus pengganti Al-Kasiirah)

    Dan dikeluarkan oleh Ahmad, Ahlu Sunan dan dishahihkan At-Tirmidzi dari hadist Ali, berkata:”Artinya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang berkurban dengan hewan yang terpotong setengah dari telinganya.” 39)

    Qatadah berkata:”Al-‘Adhab, adalah (yang terpotong) setengah dan lebih dari itu.” Dan di keluarkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Al-Hakim dan Bukhari dalam tarikhnya, berkata, “Artinya: Hanyasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari Mushfarah, Al-Musta’shalah, Al-Bakhqaa’, Al-Musyaya’ah dan Al-Kasiirah. Al-Mushafarah adalah yang dihilangkan telinganya dari pangkalnya. Al-Musta’shalah adalah yang hilang tanduknya dari pangkalnya, Al-Bukhqa’ adalah yang hilang penglihatannya dan Al-Musyaya’ah adalah yang tidak dapat mengikuti kelompok kambing karena kurus dan lemahnya, dan Al-Kasiirah adalah yang tidak berlemak.” 40)

    Penafsiran ini adalah asal riwayat, dan dalam bab ini terdapat beberapa hadits. Adapun hewan kurban yang kehilangan pantat, sebagaimana hadits yang dikeluarkan oleh Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Baihaqi dari hadits Abu Sa’id, berkata:”Artinya: Saya membeli seekor domba untuk berkurban, lalu srigala menganiyayanya dan mengambil pantatnya. Lalu aku tanyakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau bersabda: Berkurbanlah dengannya.” 41) (Di dalam sanadnya terdapat Jabir Al-Ju’fy dan dia sangat lemah)42)

    1. Bersedekah dari Udhiyah, Memakan dan Menyimpan Dagingnya

    Berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha, “Artinya: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Makanlah, simpanlah dan bersedekahlah.” (Diriwayatkan dalam shahihain 43) dan dalam bab ini terdapat beberapa hadits)

    10.Menyembelih di Mushalla (tanah lapang yang digunakan untuk Shalat Ied) Lebih Utama.

    Untuk menampakkan syi’ar agama, berdasarkan hadist Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Artinya: Bahwa beliau menyembelih dan berkurban di Mushala.” 44) (Diriwayatkan oleh Bukhari)

    1. Bagi yang Memiliki Kurban, jangan Memotong Rambut dan Kukunya setelah Masuknya 10 Dzul Hijjah hingga Dia Berkurban.

    Berdasarkan hadits Ummu Salamah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Artinya: Apabila engkau melihat bulan Dzul Hijjah dan salah seorang kalian hendak berkurban, maka hendaklah dia menahan diri dari rambut dan kukunya.”

    Dan didalam lafazh Muslim dan lainnya, “Artinya: Barangsiapa yang punya sembelihan untuk disembelih, maka apabila memasuki bulan Dzul Hijjah, jangan sekali-kali mengambil (memotong) dari rambut dan kukunya hingga dia berkurban.” 46)

    Dan para ulama berbeda pendapat dalam permasalahan ini. Sa’id bin Al-Musayyib, Rabi’ah, Ahmad, Ishaq, Dawud dan sebagian pendukung Syafi’i berpendapat, bahwa diharamkan mengambil (memangkas/memotong) rambut dan kukunya sampai dia (menyembelih) berkurban pada waktu udhiyah. Imam Syafi’i dan murid-muridnya berkata: “Makruh tanzih.” Al-Mahdi menukil dalam kitab Al-Bahr dari Syafi’i dan selainnya, bahwa meninggalkan mencukur dan memendekkan rambut bagi orang yang hendak berkurban adalah disukai. Berkata Abu Hanifah: Tidak Makruh. 47)

    Wallahu a’lam

    Fote Note.

    1. Diriwayatkan oleh At-Tarmidzi, kitab Al-Adhahi V/8/1541 dalam Tuhfah-Al-Ahwadzi, dan Ibnu Majah, kitab Al-Adhahi bab Orang yang menyembelih seekor kambing untuk keluarganya II/3147. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih AT-Tirmidzi II/1216, dan Shahih Ibnu Majah II/2546.
    2. Di dalam kitab Ar-Raudhatun Nadiyah tertulis “syariihah” dengan hurup syin. Ini adalah salah, yang benar adalah “Sariihah” dengan hurup siin, seperti yang terdapat pada kitab Sunan Ibnu Majah. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah II/2547 dengan lafadz : Keluargaku membawaku kepada sikap meremehkan setelah aku tahu bahwa itu termasuk sunnah. Ketika itu penghuni rumah menyembelih kurban dengan satu dan dua ekor kambing, dan sekarang tetangga kami menuduh kami bakhil.
    3. Berkata Al-Jauhary : Berkata Al-Ashmi’iy : Terdapat 4 bahasa dalam penyebutan Udhiyah dan Idhiyah …. dst (-disingkat) (Lihat Syarah Shahih Muslim oleh An-Nawawi VIII/13, hal. 93 Cet. Daarul Kutub Al-Ilmiyah, Beirut-Lebanon.
    4. Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani : Tidak dikenal …. (Lihat : Taqrib At-Tahdzib, oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, No. 3130 hl. 479, pentahqiq : Abul Asybaal Shaghir Ahmad Syaqif Al-Baqistani, penerbit : Daarul ‘Ashimah, Al-Mamla kah Al-‘Arabiyah As-Su’udiyah).
    5. Muwatha ‘ Imam Malik, Juz II, hal. 38, Syarh Muwatha’ Tanwir Al-Hawaalik, pen. Daarul Kutub Al-Ilmiyah.
    6. Lihat perselisihan para ulama dan ahli dalil mereka dalam kitab : Bidayah Al-Mujtahid oleh Ibnu Rasyd I/314 dan Al-Fiqh Al-Islami wa Adilatuhu oleh Dr. Wahbad Al-juhaili, Juz III/595-597. cet. Darul fikr.
    7. Fath Al-Bari, Ibnu Hajar, jilid X, halaman 5, cet. Daar Ar-Rayyan li at Turats. Dan beliau juga berkata dalam Bulughul Maram : Namun para Imam mentarjihnya mauquf. (Bulughul Maram, bab : Adhahiy, No. 1349, bersama Ta’liq Al- Mubarakfuri, cet. Jam’iyah Ihya At-Turats Al-Islami). Namun hadits ini tidak menunjukkan wajib menurut jumhur. Wallahu a’lam.
    8. Al-Qur’an Surat Al-Kautsar: 2
    9. Kedua tafsiran ini disyaratkan oleh Ibnu Katsir di dalam tafsirnya, namun Ibnu Katsir merajihkan maknanya menyembelih hewan kurban, wallahu a’laam. (Tafsir Ibnu Katsir, jilid IV, hal. 559-560 cet. Al-Maktabah At-tijariyah, Makkah)

    10.Riwayat Bukhari kitab Al-Adhahiy, bab : Man Dzabaha qobla as-shalah a’aada, X/12 No. 5562, dan Muslim kitab Al- Adhahi, bab : Waqtuha : XIII/35 No. 1960, Syarh Nawawi. Dan Lafazh ini adalah Lafzh Muslim.

    11.Saya belum mendapatkan ada yang semakna dengan hadits tersebut. Diriwayatkan dari Al-Barra’ bin ‘Azib seperti dalam Shahihain dan kitab-kitab Sunan.

    12.Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi bab : maa jaa’a anna asy-syah al-wahidah tujzi’u’an ahlil bait : V No. 1541 dalan At-Tuhfah dan Abu Dawud bab : Fisy-syaah Yuhadhahhi Biha ‘An Jama’ah, No. 2810, dan dishahihkan Al-Albani dalam shahih Abu-Dawud : II/2436, dan Irwa’ al-ghalil, IV/1138.

    13.Dijelaskan oleh Ibnu Hajar Asqalani dalam Fath Al-Bari X/6, dan kitab beliau Al-Khasa-is fi Takhrij Ahadits Ar-Rafi’. dan demikian juga Asy-Syaukani di kitabnya Nailul Authar V/126.

    14.Lihat kitab Bidayah Al-Mujtahid I/317.

    15.Al-Hadyu yang disembelih di tanah haram dari hewan ternak, dalam Al-Qur’an. (Lihat Al-Mu’jam Al-Wasith : 978)

    16.Adapun berkurban bagi anak kecil yang belum baligh, menurut Hanafiah dan Malikiyah : Disukai berkurban dari harta walinya, dan tidak disukai menurut madzhab Syafi’iyah dan Hanabilah. (Al-Fath Al-Islami, oleh Wahbah Al-Jihaili III/604)

    Fote Note. 17. Lihat No. 10

    1. Riwayat Bukhari, kitab Al-Adhahi, bab : Man dzahaba qubla as-shalah a’aada X/12/5561 dengan Fath Al-Bari. Dan Muslim, kitab Al-Adhahi, bab : Waqtuha XIII/35/No. 1962, dengan Syarh Nawawi, ini merupakan potongan hadits yang panjang.
    2. Riwayat Muslim, bab : Waqt a-Adhahi XIII/35?no. 1961 dan lainnya. 20. Hadit ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad IV/82 dan lainnya. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Arnauth dalam tahqih Zaadul Maad oleh Ibnul Qayyim, dan beliau menyebutkan beberapa jalan dari riwayat ini. (Lihat Zaadul Maad II/318 cetakan Muasasah Risalah).

    21 Riwayat Imam Malik di dalam Al-Muwatha’, kitab Adh-Dhahaya, bab Adh-Dhahiyatu ‘amma fil batnil mar’ah wa dzikir ayyamil adhaa II/38, At-Tanwir, dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar.

    22 Perselisihan ulama dalam hal ini ma’ruf, lihat Subulus Salam IV/92. cet. Daarul Fikr.

    23 Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya VI hal 391,dari Abu ‘Amir dari Zuhair dari Abdullah bin Muhammad dari Ali bin Husain dari Abu Rafi’, bahwa Rasulullah bila hendak berkurban, membeli dua domba yang gemuk, ber- tanduk, dan sangat putih…” al-hadits. Pada sanadnya terdapat perawi yang bernama Abdullah bin Muhammad bin Uqail, perawi ini dibicarakan oleh para ulama (Lihat : Tahdzibu At-Tahdzib VI/13). Berkata Al-Hafidz : Shaduq, dalam haditsnya ada kelemahan dan dikatakan pula : berubah pada akhir (hayat)nya. (Taqrib At-Tahdzib 3617).

    24 Dikeluarkan oleh Bukhari dalam shahihnya secara ta’liq X/7 bab: Udhiyatun Nabi bi kabsyaini aqranain. Dan atsar ini disambung sanadnya oleh Abu Nu’aim dalam Mustakhrij dari jalan Ahmad bin Hanbal dari Ubbad bin Al-‘Awwam ber- kata : Mengabarkan kepadaku Yahya bin Sa’id Al-Anshari dari lafadznya : Adalah kaum muslimin salah seorang mereka membeli kurban, lalu menggemukkan (mengebiri)nya dan menyembelihnya pada akhir Dzul Hijjah. (Fath al Bari).

    25 Diriwayatkan oleh Abu Dawud, bab : Karahiyatul Mughalah fil kafan III/3156, dari Ubadah bin Ash-Shamit. Dan Diriwa- yatkan pula oleh yang lainnya. Hadits ini di dha’ifkan Al-Abani dalam Dha’if al-Jami’ ash-Shagir No. 2881.

    26 Ibnu Hajar mengatakan : dha’if (Taqrib at-Tahdzib, No. 4660) tahqiq Abul Asybaal Al-Baakistani.

    27 Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar : Setelah menyebutkan beberapa riwayat : Padanya terdapat dalil bolehnya mengebiri dalam berkurban, dan sebagian ahli ilmu membencinya karena mengurangi anggota badan. Namun ini bukanlah cacat karena mengebiri menjadikan dagingnya baik, dengan menghilangkan bau busuk. (Fath al-Bari X/12).

    28 Al-Jadz’u, berkata Al-Hafidz : Yaitu sifat bagi umur tertentu dari hewan ternak. Maka dari kambing adalah yang ber- umur satu tahun menurut jumhur. Dan dikatakan pula, kurang dari itu. Kemudian berbeda pendapat dalam penetuan- nya. Dikatakan : berumur 6 bulan dan ada yang berkata 8 bulan dan dikatakan pula 10 bulan. At-Tirmidzi menukilkan dari Waki’ bahwa yang dimaksud adalah 6 atau 7 bulan (Fath al-Bari X/7). Berkata An-Nawawi : Al-Jadzu’ dari kambing adalah yang berumur setahun penuh. Ini yang shahih menurut madzhab kami. Ini yang paling masyhur menurut ahli bahasa dan lainnya (Syarh Muslim XIII/100). Dan Al-Hafidz berkata pula : Al-Jadz’u dari Ma’az adalah berumur masuk pada tahun kedua, sapi (lembu) berumur 3 tahun penuh dan onta berumur lima tahun (Fath al-Bari X/7). Adh-Dha’n, berkata Ibnul Atsir dalam An-Nihayah : Adh-Dhawa’in : Jamak dari dha’inah, yaitu kambing yang berbeda dengan Ma’z (An-Nihayah fi gharibil hadits, III/69, cet. Al-Maktabah Al-Islamiyah). Di sini saya menyebut Dha’n dengan kam- bing sebagai pembeda dengan ma’z (di Jawa, maz itu disebut sebagai kambing jawa).

    29 Riwayat Muslim, bab sinnul Udhiyah XIII/35/1963, Syarh Nawawi. Dan Ibnu Majah, bab : maa Tafzi’u minal adhahi No. 3141. Namin hadits ini di dha’ifkan oleh syaikh Al-Albani karena pada sanadnya terdapat perawi yang bernama Abu Zuhair dan ia mudallis, riwayatnya tidak diterima kecuali bila menjelaskan bahwa dia mendengar dari syaikhnya Lihat penjelasan panjang di Dha’if Ibnu Majah No. 676, hal 248, dan Irwa’ul Ghallil 1145, Silsilah Hadits Dha’ifah juz I halaman 91. Al-Musinnah : adalah gigi seri dari tiap sesuatu, berupa onta, lembu, kambing dan lainnya. (Syarh Nawawi XIII/99).

    30 Hadits ini di Dha’ifkan oleh Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil IV/1143 dan silsilah hadits dha’ifah I/64.

    31 Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, bab :maa Tajzi’u minal adhahi II/7/No. 3139 dan lainnya. Hadist ini di dha’ifkan oleh Al-Albani dalam dha’if Ibnu Majah No. 3139.

    32 Bukhari, bab : Qismatul Imam Al-Adhahi bainan naas X/2/No. 5547, Al-Fath dan Muslim, bab : Sinnul Udhiyah XIII/2/No. 1965, An-Nawawi.

    33 Al-Hadyu adalah apa yang disembelih menuju tanah haram dari binatang ternak. Di dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah : 196 (Mu’jam Al-Wasith 978).

    Fote Note 34 Diriwayatkan oleh Bukhari X/8/No. 5556, Muslim XIII/35/1961, Syarh Nawawi

    35 Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam As-Sunnan Al-Kubra IX/270 No. 19062 dan sanadnya shahih. Atud adalah anak dari ma’z. Berkata Ibnu Baththa: Al-‘Atul adalah Al-Jadz’u dari ma’z berumur lima bulan (Fath al-Bari X/14)

    36 Lihat Syarh Muslim An-Nawawi, juz XIII hal. 99

    37 Lihat Al-Ifsah ‘an ma’anish shihah, oleh Abul Mudzhfir, I/308 cet. Muassasah As-Sa’idiyan di Riyadh 38 Diriwayatkan oleh seluruh kitab sunan dan lainnya, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil IV/1149

    39 Sayikh Al-Alabni mengatakan bahwa hadits ini mungkar, lihat Irwa’ul Ghalil IV/1149

    40 Diriwayatkan oleh Abu Dawud, bab;maa yukrahi min adh-dhahaya V/No. 2800 dan ini lafazhnya, dan riwayat ini didhaifkan oleh Al-Albani dalam dha’if Abu Dawud No. 599 hal. 274

    41 Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, bab manisy syifaraa udhiyah shahihah faashabaha ‘indahu syaiun, No. 3146 hadits ini di dhaifkan oleh Al-Albani No. 679 dalam dhaif Ibnu Majah

    42 Namanya Jabir bin Yazid bin Al-Harits Al-Ju’fy, Abu Abdillah Al-Kuufi, dha’if rafidhi (Taqrib At-Tahdzib, No. 886)

    43 Diriwayatkan oleh Imam Muslim, bab : An-Nahyu ‘an luhum al-adhahy ba’da tsalats , juz XII No. 197 dari ‘Aisyah sedangkan dalam riwayat Bukhari, saya tidak menemukan hadits dari ‘Aisyah, yang ada adalah dari Salamah bin Al-Akwa X/No. 5569, dengan yang bebeda, wallahu ‘alam.

    44 Bukhari, bab : Al-Adhaa wan nahr bil mushala . X/No. 5552. Al-Fath

    45 HR Muslim, bab . Nahyu Murid At-Tadhiyah an ya’khudza min sya’rihi wa adzfaarihi stai’an XIII/No. 1977 dari Ummu Salamah.

    46 Riwayat Muslim, hadits berikutnya setelah hadits No. catatan kaki No. 45 pada shahih muslim

    47 Nailul Authar, Al-Imam ASy-Syaukani, jilid V. hal. 128 cet. Syarikah maktabah wa matba’ah, Mustafa Al-Baby Al-Halaby, tanpa tahun.

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 12 November 2016 Permalink | Balas  

    Kesengsaraan Dalam Neraka 

    taubatKesengsaraan Dalam Neraka

    Allah telah menciptakan bagi manusia untuk diakhirat nanti dua tempat tinggal, yaitu “SURGA” dan “NERAKA”. Masing-masingnya akan dihuni oleh penghuni-penghuni yang telah ditentukan baginya.

    Yang akan menjadi penghuni surga antara lain ialah manusia-manusia yang menta’ati Allah dan Rasul-Nya, menjalankan segala perintah agama dan menjauhkan / menjahui segala larangan agama.

    Firman Allah SWT: “Dan orang-orang yang menta’ati Allah dan Rasul-Nya niscaya Ia (Allah) masukkan dia kedalam surga“. (QS. An Nisa’ ayat 13).

    Atau manusia-manusia yang beriman dan beramal saleh, sebagaimana firman Allah SWT: “Dan beri kabar gembiralah orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bahwasanya bagi mereka adalah surga” (QS.Al Baqarah: 25).

    Firman Allah SWT: “Sesungguhnya bagi orang-orang yang taqwa disisi Tuhan mereka adalah surga na’im“. (QS. Al Qalm ayat 34

    Yang menjadi penghuni neraka antara lain ialah:

    Manusia-manusia yang “Fasiq”, yaitu antara lain orang-orang Islam yang tidak melaksanakan perintah Allah atau mengerjakan larangan Allah, sebagaimana difirmankan Allah: “Dan adapun orang-orang yang fasiq (kafir), maka tempat mereka adalah neraka. Setiap kali mereka hendak ke luar daripadanya, mereka dikembalikan (lagi) kedalamnya dan dikatakan kepada mereka: “Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya”. (QS. As Sajadah ayat 20). Bahkan kamu menganggapnya enteng (pen).

    Orang-orang “Munafiq”, yaitu orang-orang yang mengaku beragama Islam dengan mulutnya, dengan pengakuannya, (KTP-nya) dan mungkin juga mengerjakan sebahagian ajaran Islam, mengerti ajaran Islam namun tidak mendirikan shalat, shalatnya hari Jum’at saja, tidak membayar zakat, tetapi hatinya anti Islam, sebagaimana firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang munafiq itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka“. (QS. An Nisa’ ayat 145).

    Orang-orang kafir dan orang-orang musyrik, Firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang kafir dan orang-orang musyrik tempat mereka di dalam neraka Jahanam; mereka kekal didalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk“. (QS. Al Bayinah ayat 6). Lebih hina dari binatang (pen).

    Orang-orang Islam bisa pula jadi musyrik tersebut, seperti orang-orang Islam yang menggantungkan azimat di lehernya, ditangannya, dikakinya atau dirumahnya, ke kuburan para wali minta berkah, perdukunan, dsb. Tentang menggantungkan azimat itu syirik, Nabi Muhammad SAW menyabdakan sebagai berikut: “Sesungguhnya jampi-jampi, azimat dan sihir adalah syirik”. (Hadits Riwayat: Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan Hakim). Jadi orang-orang yang fasiq, munafiq, musyrik, berselingkuh, korupsi, maling, musyrik, yang melanggar larangan agama, yang melalaikan sholatnya, juga menjadi penghuni neraka.

    Kesengsaraan yang akan dialami oleh manuasia di dalam neraka antara lain:

    1. Tempatnya berdesak-desakan, sebab walaupun isinya sudah penuh sesak, namun akan ditambahi terus. Firman Allah SWT: “Pada hari Kami bertanya kepada neraka jahanam: Apakah engkau sudah penuh sesak? Neraka jahanam menjawab: Masih adakah tambahan ? (QS.Qaf ayat 30)
    2. Makanannya dari pohon zaqqum, yaitu sebangsa pohon yang tumbuh di neraka, yang amat jelek dan rasanya sangat pahit, sampai dalam perut seperti minyak atau air yang mendidih. Firman Allah SWT: “Sesungguhnya pohon zaqqum itu makanan orang yang banyak berdosa. Ia (pohon zaqqum) sebagai kotoran minyak yang mendidih didalam perut. Seperti mendidihnya air yang sangat panas”. QS. Ad Dukhaan ( Kabut) ayat 43 -44, 45 dan 46.

    Buah pohon zaqqum makanan ahli neraka. Firman Allah SWT: “Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zalim. Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar neraka jahim. Mayangnya seperti kepala syaitan-syaitan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu. Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas“. QS. Ash Shaaffaat ayat 63, 64, 65, 66, dan 67.

    Allah berfirman: “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya”. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. Maka tiada seorang temanpun baginya pada hari ini di sini. Dan tiada pula makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa. (Qs-Al Haaqqah (69) ayat 25 s/d 37).

    1. Minumanya air mendidih dan air nanah. Firman Allah SWT: “Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak pula mendapat minuman, selain air yang mendidih dan nanah“. QS.An Naba’ ayat 24 & 25.

    Firman Allah SWT: “Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zhalim itu neraka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi dengan air seperti besi mendidih menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek”. (QS.Al Kahfi ayat 29).

    1. Pakaiannya dari api. Firman Allah SWT: “Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit mereka“. QS. Al Hajj (Haji) ayat 19 & 20.
    2. Dikelilingi oleh api. Firman Allah SWT: “Bagi mereka lapisan-lapisan dari api diatas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan dari api. Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku hai hamba-hamba-Ku“. QS. Az Zumar ayat 16
    3. Tidak akan mati dan tidak pula akan hidup. Firman Allah SWT: ” Orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya (peringatan), yaitu orang yang celaka yang terpanggang di dalam api yang amat besar (neraka). Kemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak pula hidup“. QS.Al A’laa ayat 11, 12 dan 13.
    4. Setiap kali kulitnya sudah hangus akan diganti lagi dengan kulit yang baru. Firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami panggang mereka kedalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan pedihnya azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. QS. An Nisaa’ ayat 56.
    5. Tertutup sama sekali dari rahmat Allah. Firman Allah SWT: “Sekali-kali tidak, maksudnya sekali-kali tidak seperti apa yang mereka katakan, bahwa mereka dekat pada sisi Tuhan. Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Kemudian, dikatakan kepada mereka: Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan“. QS.Al Muthaffiffiin ayat 15, 16 & 17. (Kamu sepelekan, kamu anggap enteng, kamu remehkan, kamu anggap keciil-pen).
    6. Sehingga sewaktu mereka meminta kepada penghuni surga sedikit air, penghuni surga menjawab: Allah mengharamkannya atas kamu. Firman Allah SWT: “Penghuni neraka berseru kepada penghuni surga: “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah di rezikikan Allah kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab: “Sesungguhnya Allah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir. QS.Al A’raaf ayat 50.
    7. Azab mereka yang paling ringan ialah bersandal dari api. Tetapi begitu dipakai (di injak) otak pemakainya menjadi mendidih. Sabda Nabi Muhammad SAW: “Seringan-ringan azab bagi manusia ( di neraka) ialah memakai sandal dan ikatannya dari api, mendididh otaknya karenanya, sebagai mendidihnya air di dalam kuali, ia tidak melihat ada orang lain yang (dianggapnya) lebih berat azabnya dari dia, padahal dialah orang yang paling ringan azabnya. (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).

    Itulah yang kami dapat kutibkan dari kitab Al Qur’an, bisa dicek langsung ke Al Qur’an, Al Qur’an adalah kitab Allah yang paling sempurna dan mutlak kebenarannya. Yang tersebut diatas sebahagian dari kesengsaraan yang akan diderita oleh penghuni-penghuni neraka. Tetapi walaupun demikian sudah sangat mengerikan sekali. Oleh sebab itu seharusnya hal ini mendorong kita untuk menghindarinya dengan segala kemampuan yang kita miliki.

    Kalau kiranya kita sudah terlanjur mengerjakan perbuatan-perbuatan yang akan membawa kita ke dalam neraka tersebut, seperti perbuatan syirik (musyrik) menyekutukan Allah, membunuh orang atau menyuruh membunuh orang yang dilarang untuk dibunuh, berzina, melacur, berselingkuh, berghibah (ghosib), korupsi, ingkar janji, berdusta, berbohong, memakan yang diharamkan dimakan, fasiq, kafir, munafiq, riya, sihir, dsb yang dilarang oleh agama, maka hendaklah kita cepat-cepat bertaubat nasuha (bertaubat atas perbuatannya dan berjanji tidak akan diulanginya lagi), memperbaiki iman dan beramal saleh sebanyak-banyaknya. Karena kalau kita sudah taubat, iman sudah baik dan amal saleh sudah banyak, maka dosa-dosa kita yang lalu itu akan diampuni oleh Allah dan diganti oleh Allah dengan kebaikan, sungguh Allah itu Maha (Amat) Pengampun dan Maha (amat besar sekali) kasih sayang-Nya kepada kita, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada semua makhluk-Nya.

    Firman Allah SWT: “Dan orang-orang yang tidak menyeru Tuhan yang lain beserta Allah, dan tidak membunuh jiwa yang Allah haramkan, kecuali dengan jalan yang benar dan tidak berzina dan barangsiapa yang mengerjakan yang demikian itu ia akan bertemu dosa (neraka). Dilipat gandakan baginya azab pada hari kiaamat dan ia kekal di dalamnya dengan sangat hina. Kecuali orang-orang yang bertaubat dan beriman dan beraamal saleh, maka Allah akan menggantikan kejahatan-kejahatan mereka itu dengan kebaikan-kebaikan, karena Allah itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“. QS. Al Furqan ayat 68 s/d. 70.

    Marilah kita berdo’a, semoga Allah SWT senantiasa selalu membimbing kita kejalan yang diridhoi-Nya, kejalan yang benar dan semoga Allah memberi kekuatan iman kita untuk menjauhkan dari segala perbuatan-perbuatan yang dilarang-Nya dan agar kita senantiasa dapat melaksanakan segala perintah-Nya dengan hati yang tulus, yang ikhlas, ridho, jadikan hidup ini sebagai ibadah, agar kita semua terhindar dari siksa neraka, dan mendapat surga yang telah dijanjikan-Nya. Insya Allah, Amien ya Rabbal ‘alamiin.

    ***

    Kiriman Sahabat Indra Subhni

     
  • erva kurniawan 8:35 am on 11 November 2016 Permalink | Balas  

    Keutamaan Sabar Menghadapi Cobaan 

    sabar (1)KEUTAMAAN SABAR MENGHADAPI COBAAN

    Majdi As-Sayyid Ibrahim

    Kata Pengantar.

    Insya Allah untuk Masalah-47 s/d Masalah-50, kami akan mengangkat seruan-seruan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ditujukan kepada wanita-wanita Mukminah, baik berupa peringatan ataupun berupa perintah-perintah yang dikhususkan bagi mereka. Dan artikel-artikel tersebut kami ambil dari buku 50 Wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi Wanita, oleh Majdi As-Sayyid Ibrahim, terbitan Pustaka Al-Kautsar, cetakan kelima.

    KEUTAMAAN SABAR MENGHADAPI COBAAN

    “Artinya : Dari Ummu Al-Ala’, dia berkata :”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjengukku tatkala aku sedang sakit, lalu beliau berkata. ‘Gembirakanlah wahai Ummu Al-Ala’. Sesungguhnya sakitnya orang Muslim itu membuat Allah menghilangkan kesalahan-kesalahan, sebagaimana api yang menghilangkan kotoran emas dan perak”.(Isnadnya Shahih, ditakhrij Abu Daud, hadits nomor 3092).

    Wahai Ukhti Mukminah .! Sudah barang tentu engkau akan menghadapi cobaan di dalam kehidupan dunia ini. Boleh jadi cobaan itu menimpa langsung pada dirimu atau suamimu atau anakmu ataupun anggota keluarga yang lain. Tetapi justru disitulah akan tampak kadar imanmu. Allah menurunkan cobaan kepadamu, agar Dia bisa menguji imanmu, apakah engkau akan sabar ataukah engkau akan marah-marah, dan adakah engkau ridha terhadap takdir Allah?

    Wasiat yang ada dihadapanmu ini disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala menasihati Ummu Al-Ala’ Radhiyallahu anha, seraya menjelaskan kepadanya bahwa orang mukmin itu diuji Rabb-nya agar Dia bisa menghapus kesalahan dan dosa-dosanya.

    Selagi engkau memperhatikan kandungan Kitab Allah, tentu engkau akan mendapatkan bahwa yang bisa mengambil manfaat dari ayat-ayat dan mengambil nasihat darinya adalah orang-orang yang sabar, sebagaimana firman Allah.

    “Artinya : Dan, di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah kapal-kapal (yang berlayar) di laut seperti gunung-gunung. Jikalau Dia menghendaki, Dia akan menenangkan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan) -Nya bagi setiap orang yang bersabar dan banyak bersyukur”. (Asy-Syura : 32-33)

    Engkau juga akan mendapatkan bahwa Allah memuji orang-orang yang sabar dan menyanjung mereka. Firman-Nya.

    “Artinya : Dan, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”. (Al-Baqarah : 177).

    Engkau juga akan tahu bahwa orang yang sabar adalah orang-orang yang dicintai Allah, sebagaimana firman-Nya.

    “Artinya : Dan, Allah mencintai orang-orang yang sabar”. (Ali Imran : 146).

    Engkau juga akan mendapatkan bahwa Allah memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan balasan yang lebih baik daripada amalnya dan melipat gandakannya tanpa terhitung. Firman-Nya.

    “Artinya : Dan, sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan”. (An-Nahl : 96).

    “Artinya : Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (Az-Zumar : 10).

    Bahkan engkau akan mengetahui bahwa keberuntungan pada hari kiamat dan keselamatan dari neraka akan mejadi milik orang-orang yang sabar. Firman Allah.

    “Artinya : Sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (sambil mengucapkan) :’Salamun ‘alaikum bima shabartum’. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu” (Ar-Ra’d : 23-24).

    Benar. Semua ini merupakan balasan bagi orang-orang yang sabar dalam menghadapi cobaan. Lalu kenapa tidak ? Sedangkan orang mukmin selalu dalam keadaan yang baik ?.

    Dari Shuhaib radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Apabila mendapat kelapangan, maka dia bersyukur dan itu kebaikan baginya. Dan, bila ditimpa kesempitan, maka dia bersabar, dan itu kebaikan baginya”. (Ditakhrij Muslim, 8/125 dalam Az-Zuhud).

    Engkau harus tahu bahwa Allah mengujimu menurut bobot iman yang engkau miliki. Apabila bobot imanmu berat, Allah akan memberikan cobaan yang lebih keras. Apabila ada kelemahan dalam agamamu, maka cobaan yang diberikan kepadamu juga lebih ringan. Perhatikalah riwayat ini.

    “Artinya : Dari Sa’id bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu, dia berkata. ‘Aku pernah bertanya : Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling keras cobaannya ?. Beliau menjawab. Para nabi, kemudian orang pilihan dan orang pilihan lagi. Maka seseorang akan diuji menurut agamanya. Apabila agamanya merupakan (agama) yang kuat, maka cobaannya juga berat. Dan, apabila di dalam agamanya ada kelemahan, maka dia akan diuji menurut agamanya. Tidaklah cobaan menyusahkan seorang hamba sehingga ia meninggalkannya berjalan di atas bumi dan tidak ada satu kesalahan pun pada dirinya”. (Isnadnya shahih, ditakhrij At-Tirmidzy, hadits nomor 1509, Ibnu Majah, hadits nomor 4023, Ad-Darimy 2/320, Ahmad 1/172).

    “Artinya : Dari Abu Sa’id Al-Khudry Radhiyallahu anhu, dia berkata. ‘Aku memasuki tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau sedang demam. Lalu kuletakkan tanganku di badan beliau. Maka aku merasakan panas ditanganku di atas selimut. Lalu aku berkata.’Wahai Rasulullah, alangkah kerasnya sakit ini pada dirimu’. Beliau berkata :’Begitulah kami (para nabi). Cobaan dilipatkan kepada kami dan pahala juga ditingkatkan bagi kami’. Aku bertanya.’Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat cobaannya ?. Beliau menjawab.’Para nabi. Aku bertanya.’Wahai Rasulullah, kemudian siapa lagi?. Beliau menjawab.’Kemudian orang-orang shalih. Apabila salah seorang di antara mereka diuji dengan kemiskinan, sampai-sampai salah seorang diantara mereka tidak mendapatkan kecuali (tambalan) mantel yang dia himpun. Dan, apabila salah seorang diantara mereka sungguh merasa senang karena cobaan, sebagaimana salah seorang diantara kamu yang senang karena kemewahan”. (Ditakhrij Ibnu Majah, hadits nomor 4024, Al-Hakim 4/307, di shahihkan Adz-Dzahaby).

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :

    “Artinya : Cobaan tetap akan menimpa atas diri orang mukmin dan mukminah, anak dan juga hartanya, sehingga dia bersua Allah dan pada dirinya tidak ada lagi satu kesalahanpun”. (Isnadnya Hasan, ditakhrij At-Tirmidzy, hadits nomor 2510. Dia menyatakan, ini hadits hasan shahih, Ahmad 2/287, Al-Hakim 1/346, dishahihkan Adz-Dzahaby).

    Selagi engkau bertanya :”Mengapa orang mukmin tidak menjadi terbebas karena keutamaannya di sisi Rabb.?”.

    Dapat kami jawab :”Sebab Rabb kita hendak membersihan orang Mukmin dari segala maksiat dan dosa-dosanya. Kebaikan-kebaikannya tidak akan tercipta kecuali dengan cara ini. Maka Dia mengujinya sehingga dapat membersihkannya. Inilah yang diterangkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ummul ‘Ala dan Abdullah bin Mas’ud. Abdullah bin Mas’ud pernah berkata.”Aku memasuki tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau sedang demam, lalu aku berkata.’Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau sungguh menderita demam yang sangat keras’.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata.”Benar. Sesungguhnya aku demam layaknya dua orang diantara kamu yang sedang demam”.

    Abdullah bin Mas’ud berkata.”Dengan begitu berarti ada dua pahala bagi engkau ?”

    Beliau menjawab. “Benar”. Kemudian beliau berkata.”Tidaklah seorang muslim menderita sakit karena suatu penyakit dan juga lainnya, melainkan Allah menggugurkan kesalahan-kesalahannya dengan penyakit itu, sebagaimana pohon yang menggugurkan daun-daunnya”. (Ditakhrij Al-Bukhari, 7/149. Muslim 16/127).

    Dari Abi Sa’id Al-Khudry dan Abu Hurairah Radhiyallahu anhuma, keduanya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata.

    “Artinya : Tidaklah seorang Mukmin ditimpa sakit, letih, demam, sedih hingga kekhawatiran yang mengusiknya, melainkan Allah mengampuni kesalahan-kesalahannya”. (Ditakhrij Al-Bukhari 7/148-149, Muslim 16/130.)

    Sabar menghadapi sakit, menguasai diri karena kekhawatiran dan emosi, menahan lidahnya agar tidak mengeluh, merupakan bekal bagi orang mukmin dalam perjalanan hidupnya di dunia. Maka dari itu sabar termasuk dari sebagian iman, sama seperti kedudukan kepala bagi badan. Tidak ada iman bagi orang yang tidak sabar, sebagaimana badan yang tidak ada artinya tanpa kepala. Maka Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu anhu berkata. “Kehidupan yang paling baik ialah apabila kita mengetahuinya dengan berbekal kesabaran”. Maka andaikata engkau mengetahui tentang pahala dan berbagai cobaan yang telah dijanjikan Allah bagimu, tentu engkau bisa bersabar dalam menghadapi sakit. Perhatikanlah riwayat berikut ini.

    “Artinya : Dari Atha’ bin Abu Rabbah, dia berkata. “Ibnu Abbas pernah berkata kepadaku. ‘Maukah kutunjukkan kepadamu seorang wanita penghuni sorga .?. Aku menjawab. ‘Ya’. Dia (Ibnu Abbas) berkata. “Wanita berkulit hitam itu pernah mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seraya berkata.’Sesungguhnya aku sakit ayan dan (auratku) terbuka. Maka berdoalah bagi diriku. Beliau berkata.’Apabila engkau menghendaki, maka engkau bisa bersabar dan bagimu adalah sorga. Dan, apabila engkau menghendaki bisa berdo’a sendiri kepada Allah hingga Dia memberimu afiat’. Lalu wanita itu berkata. ‘Aku akan bersabar. Wanita itu berkata lagi. ‘Sesungguhnya (auratku) terbuka. Maka berdo’alah kepada Allah bagi diriku agar (auratku) tidak terbuka’. Maka beliau pun berdoa bagi wanita tersebut”. (Ditakhrij Al-Bukhari 7/150. Muslim 16/131)

    Perhatikanlah, ternyata wanita itu memilih untuk bersabar menghadapi penyakitnya dan dia pun masuk sorga. Begitulah yang mestinya engkau ketahui, bahwa sabar menghadapi cobaan dunia akan mewariskan sorga. Diantara jenis kesabaran menghadapi cobaan ialah kesabaran wanita muslimah karena diuji kebutaan oleh Rabb-nya. Disini pahalanya jauh lebih besar.

    Dari Anas bin Malik, dia berkata.”Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata.

    “Artinya : Sesungguhnya Allah berfirman.’Apabila Aku menguji hamba-Ku (dengan kebutaan) pada kedua matanya lalu dia bersabar, maka Aku akan mengganti kedua matanya itu dengan sorga”. (Ditakhrij Al-Bukhari 7/151 dalam Ath-Thibb. Menurut Al-Hafidz di dalam Al-Fath, yang dimaksud habibatain adalah dua hal yang dicintai. Sebab itu kedua mata merupakan anggota badan manusia yang paling dicintai. Sebab dengan tidak adanya kedua mata, penglihatannya menjadi hilang, sehingga dia tidak dapat melihat kebaikan sehingga membuatnya senang. dan tidak dapat melihat keburukan sehingga dia bisa menghindarinya).

    Maka engkau harus mampu menahan diri tatkala sakit dan menyembunyikan cobaan yang menimpamu. Al-Fudhail bin Iyadh pernah mendengar seseorang mengadukan cobaan yang menimpanya. Maka dia berkata kepadanya.”Bagaimana mungkin engkau mengadukan yang merahmatimu kepada orang yang tidak memberikan rahmat kepadamu .?”

    Sebagian orang Salaf yang shalih berkata :”Barangsiapa yang mengadukan musibah yang menimpanya, seakan-akan dia mengadukan Rabb-nya”.

    Yang dimaksud mengadukan di sini bukan membeberkan penyakit kepada dokter yang mengobatinya. Tetapi pengaduan itu merupakan gambaran penyesalan dan penderitaan karena mendapat cobaan dari Allah, yang dilontarkan kepada orang yang tidak mampu mengobati, seperti kepada teman atau tetangga.

    Orang-orang Salaf yang shalih dari umat kita pernah berkata. “Empat hal termasuk simpanan sorga, yaitu menyembunyikan musibah, menyembunyikan (merahasiakan) shadaqah, menyembunyikan kelebihan dan menyembunyikan sakit”.

    Ukhti Muslimah ! Selanjutnya perhatikan perkataan Ibnu Abdi Rabbah Al-Andalusy : “Asy-Syaibany pernah berkata.’Temanku pernah memberitahukan kepadaku seraya berkata.’Syuraih mendengar tatkala aku mengeluhkan kesedihanku kepada seorang teman. Maka dia memegang tanganku seraya berkata.’Wahai anak saudaraku, janganlah engkau mengeluh kepada selain Allah. Karena orang yang engkau keluhi itu tidak lepas dari kedudukannya sebagai teman atau lawan. Kalau dia seorang teman, berarti engkau berduka dan tidak bisa memberimu manfaat. Kalau dia seorang lawan, maka dia akan bergembira karena deritamu. Lihatlah salah satu mataku ini,’sambil menunjuk ke arah matanya’, demi Allah, dengan mata ini aku tidak pernah bisa melihat seorangpun, tidak pula teman sejak lima tahun yang lalu. Namun aku tidak pernah memberitahukannya kepada seseorang hingga detik ini. Tidakkah engkau mendengar perkataan seorang hamba yang shalih (Yusuf) :”Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku”. Maka jadikanlah Allah sebagai tempatmu mengadu tatkala ada musibah yang menimpamu. Sesungguhnya Dia adalah penanggung jawab yang paling mulia dan yang paling dekat untuk dimintai do’a”. (Al-Aqdud-Farid, 2/282).

    Abud-Darda’ Radhiyallahu anhu berkata. “Apabila Allah telah menetapkan suatu takdir,maka yang paling dicintai-Nya adalah meridhai takdir-Nya”. (Az-Zuhd, Ibnul Mubarak, hal. 125).

    Perbaharuilah imanmu dengan lafazh la ilaha illallah dan carilah pahala di sisi Allah karena cobaan yang menimpamu. Janganlah sekali-kali engkau katakan :”Andaikan saja hal ini tidak terjadi”, tatkala menghadapi takdir Allah. Sesungguhnya tida ada taufik kecuali dari sisi Allah.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 6 November 2016 Permalink | Balas  

    Segeralah Bertaubat 

    TaubatSegeralah Bertaubat

    Muhammad Haryono

    Assalaamu’alaikum Wr Wb

    Dalam renungan ini kita akan mengkaji sebuah ayat yang apabila iblis mendengarnya ia akan segera menangis dan menyesal. Sebuah ayat yang menyenangkan hati orang yang berdosa yang telah bertaubat, ajakan bagi orang yang lalai dan berlebih-lebihan agar segera berhenti dari perbuatan maksiatnya itu. Mari kita bersama-sama membaca ayat tersebut (yang artinya):

    “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri mereka sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Rabb mereka dan Surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (Ali-‘Imraan: 135-136)

    Saudaraku yang tercinta, siapa di antara kita yang tidak pernah berbuat dosa? Siapa di antara kita yang tidak pernah bersalah terhadap Rabbnya? Dan apakah engkau mengira kesalahan-kesalahan kita hanya kita sendiri yang melakukannya dan belum pernah dilakukan orang lain? Sama sekali tidak. Sehari pun kita tidak bisa seperti malaikat yang sama sekali tidak pernah berbuat maksiat terhadap Allah subhaanahu wa ta’ala dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya. Akan tetapi kita adalah manusia yang sangat mungkin berbuat kesalahan.

    Setiap hamba Allah yang shalih yang pernah engkau temui pastilah ia pernah berbuat kesalahan dan dosa. Ibnu Mas’ud radhiyalahu ‘anhu berkata kepada para sahabatnya yang mengikutinya,

    “Kalau kalian mengetahui dosa-dosaku tentulah kalian akan melempariku dengan batu.”

    Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan menggantikanmu dengan suatu kaum yang berbuat dosa, hingga mereka memohon ampunan dan Allah mengampuni mereka.” (H.R. Muslim)

    Kita tidak luput dari kesalahan-kesalahan tersebut, bahkan kita tidak bakal terhindar darinya. Karena itu, marilah kita usir setan dengan istighfar yang bersumber dari hati kita atas kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa kita yang telah lalu.

    Marilah kita perbaiki taubat kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Hendaknya taubat kita benar-benar bersumber dari hati yang bersih, hingga sesuai dengan firman Allah (yang artinya):

    “Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni diri kami dan tidak memberi rahmat kepada kami niscaya kami pasti termasuk orang-orang yang merugi.”( Al-A’raaf: 23)

    dan seorang penyair berkata,  “Wahai Dzat yang tempat bertumpu segala harapan dan tempat berlindung dari segala yang menakutkan, manusia tidak mampu membetulkan tulang yang Engkau patahkan dan tidak kuasa meretakkan tulang yang Engkau betulkan.”

    Ketahuilah wahai orang yang dijaga oleh Allah, bahwasannya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang telah terpelihara dari dosa, masih bertaubat kepada Allah ‘azza wa jalla dan memohon ampunan-Nya dalam sehari lebih dari seratus kali. Diriwayatkan dari Ibnu “Umar radhiyallahu ‘anhumaa ia berkata, “Terhitung Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sebelum berdiri dari majelis, beliau mengucapkan seratus kali .”Yaa Allah, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat dan Maha Pengampun.”(H.R. Tirmidzi, hasan shahih).

    Sedangkan kalian wahai orang yang telah berlebihan dalam berbuat dosa dan maksiat, hingga sebagian dari kalian menganggap bahwasannya Allah tidak menerima taubatnya apabila ia bertaubat, saya katakan kepada kalian, jangan khawatir, pintu taubat masih terbuka untuk kalian semua.

    Saya katakan ini kepada kalian dari lubuk hati yang mengharapkan kebaikan atas diri kalian dan orang-orang semacam kalian. Dengarkanlah, Allah subhaanahu wa ta’ala telah menyeru kepadamu dalam firman-Nya (yang artinya):

    “Wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputu asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Rabbmu dan berserahdirilah kepada-Nya.” (Az-zumar: 53-54),  justru ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta’ala senang dengan taubatmu.

    “Allah sangat senang dengan taubat hamba-Nya di kala bertaubat daripada salah seorang di antara kalian yang sedang naik kudanya di tanah yang tandus. Kemudian kuda itu melarikan diri dengan membawa perbekalannya, berupa makanan dan minumannya sehinga ia berputus asa. Kemuian ia mendatangi sebuah pohon dan merebahkan dirinya di bawah naungan pohon dan sudah dihinggapi putus asa memikiran kudanya. Di saat kalut seperti itu, tiba-tiba kudanya sudah berdiri di hadapannya. Dengan segera ia mengambil tali kekang kudanya, dan dengan gembira ia berkata,” Yaa Allah Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhan-Mu”, ia salah ucap karena kegembiraannya yang meluap.”(H.R. Bukhari dan Muslim).

    Suatu hari ada seseorang yang datang kepada Nabi shalallahu ‘alahi wa sallam dan bertanya kepada beliau, “Bagaimana jika seseorang melakukan semua perbuatan dosa tanpa satu pun dosa yang belum pernah ia lakukan, apakah ia masih bisa mendapat pengampunan? Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam balik bertanya, “Sudahkah engkau masuk Islam?” Orang itu menjawab, “Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak untuk disembah selain Allah dan engkau adalah utusan-Nya.  Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Mulailah engkau mengerjakan berbagai kebajikan dan meninggalkan segala kejahatan, niscaya Allah akan menjadikan semua itu sebagai kebajikan bagimu.” Orang itu bertanya lagi, “Apakah kesalahan dan kejahatan saya diampuni?” Beliau menjawab , “Ya!” Orang itu segera bertakbir berulang-ulang hingga ia meninggalkan Nabi shalallahu ‘alahi wa sallam. *)

    Wahai orang yang fakir di hadapan Tuhan, meski engkau kaya di duniamu, apalagi yang engkau inginkan setelah datangnya kabar gembira ini? Kembalilah kepada Tuhanmu, karena kembali kepada Tuhan itu lebih terpuji bagimu di dunia maupun di akherat. Di dunia mendapatkan ketenangan hati, kelapangan dan kemudahan rezeki.

    “Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3).

    Bila ia tidak mendapatkan rezeki berbentuk harta , ia akan mendapatkan rezeki berbentuk bertambahnya keimanan. Sedang di akherat, ia mendapatkan:

    “Surga ‘Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka. Di dalamnya mereka bertelekan (di atas dipan-dipan) sambil meminta buah-buahan yang banyak dan minuman di Surga itu. Dan pada sisi mereka (ada bidadari-bidadari) yang tidak liar pandangannya lagi sebaya umurnya. Inilah yang dijanjikan kepadamu pada hari hisab. Sesungguhnya ini adalah benar-benar rezeki dari Kami yang tiada habis-habisnya.” (Shaad: 50-54).

    Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsi:  “Wahai para hambaku, kalian semua tersesat kecuali yang aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepadaKu, niscaya Aku akan beri petunjuk.” (H.R.Muslim).

    Saudaraku,–semoga Allah menerima taubat kita renungkan cerita berikut ini. Ambillah hikmah dan pelajaran daripadanya, tetapi sebelumnya renungkanlah ayat berikut ini (yang artinya):  “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepada mereka, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasiq.” (Al-Hadid: 16).

    Saya pernah bertemu dengan seorang Syaikh yang shalih dan jujur, beliau ini berkata kepadaku, “Di samping kami ada sebuah keluarga kecil, di antara anggota keluarganya ada seorang pemuda yang usianya baru mencapai sekitar duapuluh tahun. Ia sangat menyenangi lagu-lagu hingga ia jatuh cinta dengan seorang penyanyi perempuan.

    Saya seringkali menasihatinya bila ada kesempatan. Kadang-kadang saya menakut-nakutinya dengan siksa Neraka, bila saya selesai menasihatinya, kadang air matanya mengalir, bahkan kadang-kadang menangis, lalu ia berjanji untuk tidak melakukan perbuatannya itu. Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama, karena kemudian ia mengingkari janjinya.”

    Pada suatu malam, saya ceritakan kepadanya tenang Surga dan siksa Neraka, kemudian ia menangis sekeras-kerasnya hingga saya merasa kasihan kepadanya. Seorang penyair berkata,

    “Mataku berlinang, menangisi diriku yang telah bermaksiat kepada Tuhan, siapa yang lebih berhak dari diriku dengan bersedih hati dari berbagai dosa yang terputus ujungnya kau tak kuasa menghalangi maksiat dan dirimu tak takut terhadap Tuhanmu kau bertaubat di pagi hari dan kau batalkan di sore hari kau batalkan janji-Nya dari waktu ke waktu seakan-akan Allah tidak melihatnya.”

    Saya merasa kali ini nasihat saya akan mampu mempengaruhinya, maka saya katakan kepadanya,” Kemarikan tanganmu!”, Ia pun memberikan tangannya kepada saya, dan saya katakan kepadanya, “ Berjanjilah kepada Allah kemudian kepadaku untuk tidak mengulangi lagi perbuatan itu!”, Ia pun berkata , “Saya berjanji kepada Allah kemudian kepada anda untuk tidak mengulangi lagi perbuatan itu.”

    Pada pagi harinya ia datang kepada saya sambil membawa kaset-kaset lagu dan berkata kepada saya, “Ambillah kaset-kaset ini dan bakarlah, hancurkanlah atau terserah mau anda apakan, yang penting, bebaskan saya dari kaset-kaset ini, bebaskanlah saya dari penyakit hati yang telah melalaikan saya dari shalat dan mengingat Rabb bumi dan langit.” Saya pun berkata, “Maha suci Dzat yang membalikkan hati, katakan apa yang terjadi?”

    Anak muda itu pun berkata kepada saya, “Setelah saya meninggalkanmu tadi malam, saya langsung pulang ke rumah lalu tidur. Dalam tidur itu saya bermimpi berjalan di sebuah pantai. Tiba-tiba saya bertemu dengan salah seorang teman yang berkata kepada saya, “Apakah engkau suka seorang wanita Fulanah?”, Saya pun menjawab, “Ya!”, Ia berkata , “Ia di sana sedang menyanyi.”, Saya pun segera berlari, berlari dan berlari karena ingin segera melihatnya, karena saya sangat mencintainya, ketika saya sudah kelelahan, saya sampai dan melihatnya sedang menyanyi. Saya sangat terkesan dengan wanita itu dan suaranya.

    Ketika dalam keadaan demikian, tiba-tiba saya merasakan sebuah tangan yang memegang pundak saya, saya pun menoleh, yang terlihat adalah sebuah wajah yang bersinar seperti bulan purnama, dihiasi jenggot yang indah, tampak pada wajahnya cahaya kebaikan. Ia membacakan sebuah ayat kepadaku (yang artinya),

    “Maka apakah orang yang berjalan di atas mukanya itu lebih banyak mendapat petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?” (Al-Mulk: 22).

    Dia mengulang-ngulang ayat tersebut dengan suara merdu, dan mulai menangis hingga saya terpengaruh olehnya, maka mulailah saya menangis sambil mengulang-ngulang ayat itu, tiba-tiba saya terbangun sembari mengulang-ngulang ayat tersebut. Saya pun menangis kemudian ibu saya masuk. Sewaktu melihat saya menangis seperti itu ia pun terpengaruh dan ikut menangis bersama saya.

    Syaikh berkata, “Setelah itu, anak muda tadi menjadi sangat benci dengan nyanyian dan mulai menyenangi membaca Al-Qur’an dan menikmatinya, saya bisa melihatnya dari air matanya yang mengalir dari kedua matanya ketika membaca membaca Al-Qur’an.”

    Saudaraku catatlah baik-baik kisah taubat ini dengan pena kerinduan dan tinta air mata, berusahalah selalu mengutamakan untuk rendah hati menuju pintu ketenangan, mohonlah peningkatannya, terkadang permintaan itu dikabulkan. Menangislah atas segala dosa maupun sedikit syukur.

    Maka ketahuilah bahwa seseorang itu mungkin saja berbuat dosa, namun ia akhirnya masuk Surga karena dosanya itu. Tahukah engkau, bagaiman hal itu bisa terjadi? Yang demikian itu bisa saja terjadi karena ia melakukan suatu perbuatan dosa, namun ia menyesali, menangis karena perbuatan itu, dan ia malu terhadap Rabbnya, menundukkan kepala di hadapan Rabbnya dengan hati yang hancur. Dosa sedemikian inilah yang menjadikan kebahagian seorang hamba dan keberuntungannya, bahkan bisa jadi lebih bermanfaat dari berbagai macam kebajikan, karena taubatnya dari dosa ini telah menjadikannya masuk Surga.

    Wahai pendamba Surga, wahai orang yang takut akan siksa Neraka, inilah sekelompok cerita orang yang telah bertaubat, adakah engkau akan berjalan di belakang mereka?. Inilah sekumpulan orang-orang yang telah bertaubat, adakah hatimu juga bersama mereka?. Inilah orang yang memohon ampunan yang air matanya mengalir di wajah-wajah mereka, adakah wajahmu juga basah oleh air mata yang menjadikanmu segolongan dengan mereka?

    Saudaraku, ini adalah ajakan yang jujur dari Allah ‘azza wa jalla, yang telah berfirman (yang artinya),

    “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang beriman supaya kamu beruntung.” (An-Nuur: 31).

    Sesuatu yang harus saya peringatkan juga kepada kalian, sebenarnya tidak ada manfaatnya bagi kalian untuk menghibur kesedihan kalian ini dengan cara mendengar lagu-lagu, atau melihat pertandingan sepak bola yang kadang kalah kadang menang, atau jalan-jalan keluar rumah, apalagi mencari kesenangan dengan perbuatan haram, sama sekali tidak ada manfaatnya, saudaraku itu bukanlah caramu. Itu cara-cara orang yang telah Allah ceritakan tentang mereka dalam ayat-Nya,

    “Dan orang-orang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang dan Neraka adalah tempat tinggal mereka.” (Muhammad: 12)

    Saudaraku, engkau jauh masih lebih baik dari mereka!, engkau diciptakan di dunia ini untuk suatu perkara yang agung, engkau dipersiapkan untuk menerima tanggung jawab yang besar. Seorang penyair berkata,

    “Mereka telah mempersiapkan untukmu suatu perkara, jika engkau pintar, maka jauhkan dirimu dari kesia-siaan.”

    Saudaraku,

    Jika tujuanmu sekarang tak lain dan tak bukan adalah keridhaan Yang Maha Esa dan Maha Perkasa, maka lihatlah kepada amal perbuatanmu, apakah amalmu itu menjadikan Rabbmu meridhaimu atau tidak? Jika keinginanmu sekarang adalah Surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, maka perhatikanlah apa yang telah engkau lakukan untuk menjadikanmu masuk Surga?

    Renungkanlah dengan jujur dan ketahuilah bahwasannya mungkin saja engkau tidur dan tidak akan bangun lagi, atau mungkin saja engkau keluar dari rumahmu dan engkau tidak kembali lagi, atau kau kenakan pakaian yang tidak akan pernah kau buka lagi. Maka keadaan seperti apa yang engkau inginkan di saat engkau harus meninggalkan duniamu?

    Saudarakau,

    Pada akhir renungan ini, saya ungkapkan kepadamu apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam,

    “Sesungguhnya Allah membuka tangan-Nya pada malam hari agar orang yang berbuat kejahatan pada siang hari mau bertaubat, dan Dia membuka tangan-Nya pada siang hari, agar orang yang berbuat kejahatan pada malam hari mau bertaubat.” (H.R. Muslim) *) Akan tetapi ia mengamalkan syahadat dengan semua konsekuensinya, tidak sekedar mengucapkan dengan lisannya saja. hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bazaar dan Ath-Thabraani terdapat dalam kitab At-Targhib wa Tarhib karya Al-Mundziri.  Wassalaamu’alaikum Wr Wb

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 5 November 2016 Permalink | Balas  

    Menggerakan Jari Saat Tasyahud 

    tahiyatMenggerakan Jari Saat Tasyahud

    Sunnah hukumnya mengangkat jari telunjuk dan menggerakannya saat tasyahud dalam shalat. Sebagaimana hadist Nabi Saw: “kemudian beliau mengangkat telunjuknya dan saya melihat beliau menggerakannya dan berdoa”(HR: Ahmad).

    Imam Baihaqi berkata : “Mungkin saja yang dimaksud ‘menggerakan’ dengan isyarat dengan telunjuk’ tidak berarti menggerakan berkali-kali, sesuai dengan hadist riwayat Ibnu Zubair: bahwa Nabi SAW memberi isyarat dengan jarinya jika membaca do’a dan tidak menggerakannya”(HR:Abu Dawud dengan isnad shohih).

    Dari hadist tersebut, dan hadist lainnya, terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama tentang menggerakan jari telunjuk saat tasyahud:

    1. Ulama Al syafi’i berpendapat bahwa memberi Isyarat jari telunjuk hanya sekali saat mengucapkan “illalah”yang terdapat dalam tasyahud.
    2. Ulama Hanafi berpendapat mengangkat jari telunjuk ketika lafadz nafi atau” laa” dan meletakannya kembali saat membaca “illalah”(itsbat).
    3. Ulama Malik berpendapat mengerakannya kekiri dan kekanan hingga selesai shalat.
    4. Ulama Hambali berpendapat; memberi isyarat setiap kali mengucap lafadz Jalalah (allah) sebagai isyarat tauhid, dan tidak menggerak-gerakannya.

    ***

    (Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah)

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 4 November 2016 Permalink | Balas  

    Anak Sebagai Amanah dan Lahan Tafakur 

    ibu dan anak lelakinya berdoaAnak Sebagai Amanah dan Lahan Tafakur

    Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

    Kondisi bangsa kita yang sedang sakit ini adalah sebuah cerminan bahwa keluarga-keluarga yang membentuk bangsa kita ini kurang sehat karena siapapun yang menjadi penyebab rusaknya negeri ini dulunya pasti anak-anak yang sempat dididik dalam sebuah keluarga.

    Dua hal yang bisa kita ambil hikmah mengapa negeri kita diuji seperti ini. Pertama, nila-nilai yang berlaku di keluarga-keluarga yang ada di bangsa kita tidak tepat. Kedua, sistem pendidikan yang diterapkan di negeri ini juga belum tepat, sehingga harus dievaluasi ulang.

    Menyalahkan, mengutuk dan mencaci tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah. Kalau kita belum bisa mengubah negara, marilah kita mulai dari mengubah keluarga kita. Peran anak bagi orang tua adalah sebagai amanah, cobaan, lahan tafakur, investasi pahala, dan indikator kesuksesan dunia akhirat.

    Pertama anak itu adalah amanah, bukan milik kita. Milik Allah segala yang ada di langit dan di bumi, termasuk anak-anak kita. Kita jangankan membuat anak, menggambar anak saja belum tentu sanggup, bahkan membuat satu helai saja rambut tidak sanggup. Bagusnya jangan membuat sombong dan kekurangannya jangan membuat minder, kemudian melihat anak orang lain jangan iri, karena semuanya milik Allah.

    Umurnya Allah yang menentukan. Mati-matian kita ingin anak panjang umur, kita tak berdaya kalau pemiliknya akan mengambil. Walaupun penguasa negara, tak dapat menguasainya kalau Allah tak menghendaki. Yang penting bagi kita adalah menyikapi amanah ini dengan sebaik- baiknya.

    Kedua, anak sebagai cobaan (sudah diuraikan minggu kemarin). Ketiga, anak sebagai lahan tafakkur. Alangkah bahagianya jikalau Allah mengaruniakan kepada kita hati yang bening. Gelas bening yang berisi air bening, jika ada satu butir debu saja di dalamnya, maka kita mudah melihatnya. Begitu pula orang tua yang memiliki hati yang bersih, kalau melakukan kesalahan, maka ia bisa merasakannya, tidak sibuk menyalahkan anak, tetapi sibuk mengevaluasi diri.

    Alangkah beruntungnya orang yang berhati bersih, seperti gelas bening yang di dalamnya ada cahaya. Selain bisa menerangi seisi gelas, juga bisa menerangi sekitarnya. Kalau kita ingin selalu mendapatkan ilmu, maka rahasianya adalah bersihkan hati kita.

    Begitupula orang tua yang berhati bersih, setiap kejadian apapun senantiasa menjadi ilmu yang merupakan cahaya bagi dirinya dan sekitarnya. Ilmu tidak datang dari orang yang lebih tua saja, bahkan bisa datang dari anak-anak kecil.

    Betapa banyak yang bisa kita tafakuri dari perilaku anak-anak kita. Mereka jangan hanya dijadikan objek untuk mengekspresikan harapan kita kepada mereka, tetapi perilaku mereka pun harus menjadi pelajaran bagi kita. Banyak yang bisa kita renungkan dari sikap anak kecil itu, baik sisi positif maupun negatifnya.

    Pertama, anak kecil itu tidak panik dengan rezekinya, tetapi mengapa setelah dewasa banyak yang menjadi licik bahkan ada yang korupsi. Kita tidak usah risau dengan rezeki. Yang harus dirisaukan itu benar tidaknya cara kita menjemput rezeki kita.

    Kedua, anak kecil itu memiliki semangat pantang menyerah. Ketika anak belajar berjalan, dia jatuh bangkit. Tidak ada anak yang menyerah, hingga akhirnya bisa berjalan. Ini ilmu buat kita. Kegagalan itu bukan jatuh, tetapi kegagalan yang sebenarnya adalah kalau kita tidak pernah mau berbuat. Ketiga, anak kecil itu pemaaf. Mereka begitu mudah untuk memaafkan dan berdamai, tetapi mengapa banyak orang yang semakin tua semakin pendendam.

    Keempat, polos (apa adanya). Anak kecil itu tidak banyak beban dalam hidupnya karena mereka jujur sehingga merdeka hidupnya. Kita banyak menderita dalam hidup ini karena sering ingin kelihatan lebih baik dari kenyataan yang sebenarnya, sehingga malah menimbulkan masalah baru. Selain itu, kita juga bisa menafakuri kelakuan jelek anak-anak kita untuk melihat apakah kita kekanak-kanakan atau tidak. Ada beberapa perilaku anak kecil yang jangan ditiru, misalkan anak kecil itu senang pamer. Ini banyak yang terbawa sampai tua.

    Anak kecil juga suka memaksa dan ingin menang sendiri. Kalau mempunyai keinginan harus diikuti, jika tidak maka ia akan memaksanya tanpa mempedulikan apapun.

    Menurut pengakuan beberapa koruptor kecil-kecilan mereka melakukannya karena dipaksa oleh istrinya. Ini perilaku anak kecil. Ya Allah, muliakan bangsa ini dengan Engkau muliakan keluarga- keluarganya. Cahayai rumah tangga bangsa ini dengan cahaya hidayah- Mu. Jadikan bangsa ini bangsa rahmatan lil alamiin, bukti dari kebenaran agama-Mu.

    ***

    Sumber : http://republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 3 November 2016 Permalink | Balas  

    Anak Sebagai Investasi 

    nasehat ibundaAnak Sebagai Investasi

    Oleh : KH Abdullah Gimnastiar

    Rasulullah SAW bersabda, “Apabila anak Adam telah meninggal dunia (mati) maka terputuslah seluruh amalnya, kecuali tiga perkara, yaitu shadaqah jariyah (yang ia berikan) atau ilmu yang ia manfaatkan kebaikan) atau anak shalih yang mendoakan dirinya.” (HR Muslim) Artinya anak itu adalah investasi. Anak-anak keturunan kita itu adalah bagian dari keselamatan dunia akhirat kita. Karenanya kita harus serius menanamkan keshalihan pada anak-anak kita.

    Kalau kita ingin menikmati masa depan kita, maka berapapun pengeluaran yang dikeluarkan untuk mendidik anak agar menjadi shalih, untuk belajar, sekolah dan lainnya, itu bukan biaya, melainkan investasi (modal) yang akan mendatangkan keuntungan suatu saat kelak.

    Saya pernah bertanya pada seseorang yang menyekolahkan anaknya ke luar negeri. Ia menjawab, “Karena sebentar lagi perdagangan bebas, kita perlu mempunyai anak-anak yang memiliki visi ke depan untuk mengarungi era globalisasi.”

    Kemudian saya bertanya lagi, “Bagaimana kondisi ibadahnya di sana?”

    “Nanti saja kalau dia kembali ke Indonesia akan diperbaiki lagi.”

    “Bagaimana kalau sebelum lulus kuliah sudah diambil nyawanya oleh Allah? Apakah dia siap untuk pulang ke akhirat?”

    Belum tentu anak kita panjang umur. Berapa banyak anak yang mendahului orang tuanya pulang ke akhirat. Mereka jangan hanya dipersiapkan agar bisa hidup kaya di dunia saja, tetapi juga harus dipersiapkan agar bisa pulang dengan selamat, hidup mulia di akhirat.

    Dari Umar bin Khattab ketika ditanya (semoga Allah ridha kepadanya), “Ya Umar, apakah sama pahalanya jika saya mengurus orang tua seperti orang tua mengurus saya di waktu kecil?”

    “Tidak.”

    “Mengapa tidak?”

    “Karena orang tua mengurus kamu supaya kamu panjang umur.” Setelah kita meninggal, mudah-mudahan anak-anak kita yang mengurus, menyalatkan dan mengiringi jasad kita. Setelah kita dikubur, mudah- mudahan mereka sering mendoakan kita dalam munajat-munajatnya.

    Kasihan orang tua yang anaknya tidak tahu agama, sehingga tidak mengerti bagaimana mengurus jasad ibu bapaknya, tidak tahu shalat jenazah, dan setelah dikubur tidak mengerti bagaimana mendoakan orang tuanya.

    Warisan dipakai maksiat, vila dipakai zina, sehingga hancur dan perih orang tuanya. Tidak sedikit orang yang hidupnya terlunta-lunta di dunia karena anaknya, di akhirat tersiksa pula.

    Jangan sampai orang tua belum meninggal, anak-anak sudah menghitung warisannya. Bahkan ada anak yang mengurus orang tuanya yang sudah jompo, tetapi dalam benaknya, “Kenapa lama sekali sakitnya?” karena dia membutuhkan warisannya. Ini anak yang tidak shalih. Naudzubillahi min dzalik.

    Oleh karena itu, mengurus anak itu jangan pernah hanya dengan sisa waktu, tenaga, dan pikira. Bayangkan jika membangun investasi dengan sesuatu yang serba sisa. Berembuklah dengan istri bagaimana mengupayakan agar anak-anak kita menjadi hamba Allah yang bermanfaat di dunia dan akhirat.

    Para pemimpin sekarang adalah anak hasil investasi keluarga-keluarga beberapa puluh tahun yang lalu, sedangkan anak-anak sekarang merupakan investasi untuk para pemimpin masa depan. Karenanya jika kita merindukan kebangkitan bangsa ini, maka harus diawali dengan kebangkitan dari keluarga-keluarga di rumah.

    Jika sang anak menjadi pemimpin, tentu tata nilai yang ditanamkan dalam keluarganya yang akan digunakannya kelak. Jika pada masa kecilnya tata nilai yang didapatkan di rumahnya hanya sibuk memamerkan harta kekayaan, maka jangan heran kalau setelah menjadi pemimpin dia hanya sibuk meraup harta.

    Sekarang investasi apa yang akan ditanamkan terhadap anak-anak kita di rumah? Kita perlu mengubah tata nilai seperti itu dengan melatih anak-anak kita agar hidup bersahaja, mencari uang sebanyak mungkin untuk dishadaqahkan. Sehingga setelah dewasa, dia makin kaya, makin banyak orang yang tertolong. Dia makin berkuasa, makin banyak orang yang terangkat martabatnya. Dia makin berani, makin banyak orang yang terlindungi karena keberaniannya.

    Ya Allah, titipkan kepada kami anak-anak keturunan yang lebih baik dari pada kami, yang menjadi jalan kebahagiaan dan keselamatan bagi dunia akhirat kami. Lindungi kami dari keturunan yang durhaka dan durjana.

    ***

    Sumber : http://republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 2 November 2016 Permalink | Balas  

    Pengertian Iman Menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. 

    Lemah ImanPengertian Iman Menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

    [Iman dapat bertambah atau berkurang]

    Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Pengertian Iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah ; ikrar dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota badan. Jadi, Iman itu mencakup tiga hal :

    [1] Ikrar dengan hati.

    [2] Pengucapan dengan lisan.

    [3] Pengamalan dengan anggota badan

    Jika keadaannya demikian, maka iman itu akan bisa bertambah atau bisa saja berkurang. Lagi pula nilai ikrar itu tidak selalu sama. Ikrar atau pernyataan karena memperoleh satu berita, tidak sama dengan jika langsung melihat persoalan dengan kepala mata sendiri. Pernyataan karena memperoleh berita dari satu orang tentu berbeda dari pernyataan dengan memperoleh berita dari dua orang. Demikian seterusnya. Oleh karena itu, Ibrahim ‘Alaihis Sallam pernah berkata seperti yang dicantumkan oleh Allah dalam Al-Qur’an.

    “Arrtinya : Ya Rabbku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang yang mati. Allah berfirman : ‘Apakah kamu belum percaya’. Ibrahim menjawab :’Saya telah percaya, akan tetapi agar bertambah tetap hati saya”. [Al-Baqarah : 260]

    Iman akan bertambah tergantung pada pengikraran hati, ketenangan dan kemantapannya. Manusia akan mendapatkan hal itu dari dirinya sendiri, maka ketika menghadiri majlis dzikir dan mendengarkan nasehat di dalamnya, disebutkan pula perihal surga dan neraka ; maka imannya akan bertambah sehingga seakan-akan ia menyaksikannya dengan mata kepala. Namun ketika ia lengah dan meninggalkan majlis itu, maka bisa jadi keyakinan dalam hatinya akan berkurang.

    Iman juga akan bertambah tergantung pada pengucapan, maka orang berdzikir sepuluh kali tentu berbeda dengan yang berdzikir seratus kali. Yang kedua tentu lebih banyak tambahannya.

    Demikian halnya dengan orang yang beribadah secara sempurna tentunya akan lebih bertambah imannya ketimbang orang yang ibadahnya kurang.

    Dalam hal amal perbuatan pun juga demikian, orang yang amalan dengan anggota badannya jauh lebih banyak daripada orang lain, maka ia akan lebih bertambah imannya daripada orang yang tidak melakukan perbuatan seperti dia.

    Tentang bertambah atau berkurangnya iman, ini telah disebutkan di dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Allah Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab yakin dan supaya orang-orang yang beriman bertambah imannya”. [Al-Mudatstsir : 31]

    “Artinya : Dan apabila diturunkan suatu surat, maka diantara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata :’Siapa di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini ?’. Adapun orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir”. [At-Taubah : 124-125]

    Dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah bersabda bahwa kaum wanita itu memiliki kekurangan dalam soal akal dan agamanya. Dengan demikian, maka jelaslah kiranya bahwa iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang.

    Namun ada masalah yang penting, apa yang menyebabkan iman itu bisa bertambah ? Ada beberapa sebab, di antaranya.

    [1] Mengenal Allah (Ma’rifatullah) dengan nama-nama (asma’) dan sifat-sifat-Nya. Setiap kali marifatullahnya seseorang itu bertambah, maka tak diragukan lagi imannya akan bertambah pula. Oleh karena itu para ahli ilmu yang mengetahui benar-benar tentang asma’ Allah dan sifat-sifat-Nya lebih kuat imannya dari pada yang lain.

    [2] Memperlihatkan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah yang berupa ayat-ayat kauniyah maupun syar’iyah. Seseorang jika mau memperhatikan dan merenungkan ayat-ayat kauniyah Allah, yaitu seluruh ciptaan-Nya, maka imannya akan bertambah. Allah Ta’ala berfirman. :

    “Artinya : Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan” [Adz-Dzariyat : 20-21].

    Ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa jika manusia mau memperhatikan dan merenungkan alam ini, maka imannya akan semakin bertambah.

    [3] Banyak melaksanakan ketaatan. Seseorang yang mau menambah ketaatannya, maka akan bertambah pula imannya, apakah ketaatan itu berupa qauliyah maupun fi’liyah. Berdzikir -umpamanya- akan menambah keimanan secara kuantitas dan kualitas. Demikian juga shalat, puasa dan haji akan menambah keimanan secara kuantitas maupun kualitas.

    Adapun penyebab berkurangnya iman adalah kebalikan daripada penyebab bertambahnya iman, yaitu :

    [1] Jahil terhadap asma’ Allah dan sifat-sifat-Nya. Ini akan menyebabkan berkurangnya iman. Karena, apabila mari’fatullah seseorang tentang asma’ dan sifat-sifat-Nya itu berkurang, tentu akan berkurang juga imannya.

    [2] Berpaling dari tafakkur mengenai ayat-ayat Allah yang kauniyah maupun syar’iyah. Hal ini akan menyebabkan berkurangnya iman, atau paling tidak membuat keimanan seseorang menjadi statis tidak pernah berkembang.

    [3] Berbuat maksiat. Kemaksiatan memiliki pengaruh yang besar terhadap hati dan keimanan seseorang. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :”Artinya : Tidaklah seseorang itu berbuat zina ketika melakukannnya sedang ia dalam keadaan beriman”. [Al-Hadits].

    [4] Meninggalkan ketaatan. Meninggalkan keta’atan akan menyebabkan berkurangnya keimanan. Jika ketaatan itu berupa kewajiban lalu ditinggalkannya tanpa udzur, maka ini merupakan kekurangan yang dicela dan dikenai sanksi. Namun jika ketaatan itu bukan merupakan kewajiban, atau berupa kewajiban namun ditinggalkannya dengan udzur (alasan), maka ini juga merupakan kekurangan, namun tidak dicela. Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menilai kaum wanita sebagai manusia yang kurang akal dan kurang agamanya. Alasan kurang agamanya adalah karena jika ia sedang haid tidak melakukan shalat dan puasa. Namun ia tidak dicela karena meninggalkan shalat dan puasa itu ketika sedang haid, bahkan memang diperintahkan meninggalkannya. Akan tetapi jika hal ini dilakukan oleh kaum laki-laki, maka jelas akan mengurangi keimannya dari sisi yang satu ini.

    [Disalin dari kitab Soal Jawab Masalah Iman dan Tauhid terbitan At-Tibyan Solo]

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 1 November 2016 Permalink | Balas  

    Berdzikir 

    dzikir 2Berdzikir

    Sawaluddin Ukkas

    Dzikir atau mengingat Allah, ialah apa yang dilakukan oleh hati dan lisan berupa tasbih atau mensucikan Allah Ta’ala, memuji dan menyanjungNya, menyebutkan sifat-sifat kebesaran dan keagungan serta sifat-sifat keindahan dan kesempurnaan yang telah dimilikiNya.

    1. Allah telah menitahkan kita agar banyak berdzikir,

    Firman Allah “Hai orang-orang yang beriman! Berdzikir kamu kepada Allah sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah padaNya diwaktu pagi maupun petang.” (Al Ahzab 41 -42)

    1. Allah menyatakan bahwa Ia akan mengingat orang yang ingat atau berdzikir kepadaNya :

    Firman Allah, “Berdzikirlah kamu kepadaKu, niscaya Aku akan ingat pula kepadamu” (Al Baqarah 152).

    Dan dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Allah berfirman :

    “Aku ini adalah menurut dugaan hambaKu, dan Aku menyertainya dimana saja ia berdzikir kepadaKu. Jika ia berdzikir atau ingat padaKu dalam hatinya, maka Aku akan ingat pula padanya dalam hatiKu dan dan kalau mengingatKu di depan umum, maka Aku akan mengingatnya pula di depan khalayak yang lebih baik. Dan seandainya ia mendekatkan dirinya kepadaKu sejengkal, Aku akan mendekatkan diriKu kepadanya sehasta, dan jika ia mendekat kepadaKu sehasta, Aku akan mendekatkan diriKu kepadanya sedepa, dan jika ia datang kepadaKu secara berjalan kaki, Aku akan datang padanya dengan berlari”.

    1. Allah SWT, telah menetapkan ahli dzikir itu sebagai golongan istimewa dan terkemuka.

    Sabda Rasulullah saw. : “Telah majulah orang-orang yang istimewa !” Tanya mereka : “Siapakah orang-orang yang istimewa itu ?” Ujarnya : “Mereka ialah orang-orang yang berdzikir kepada Allah, baik laki-laki maupun wanita”. (Hadits riwayat : Muslim)

    1. Orang-orang yang berdzikir itulah pada hakikatnya orang-orang yang hidup.

    Diterima dari Abu Musa bahwa Nabi saw bersabda : “Perumpamaan orang-orang yang dzikir kepada Allah dengan yang tidak, adalah seperti orang yang hidup dengan yang mati !” (Riwayat Bukhari).

    1. Berdzikir merupakan pokok pangkal amal-amal saleh, maka barang siapa diberi taufik untuk melakukannya, ia telah diberi kesempatan untuk menjadi wali Allah. Oleh sebab itulah Rasul saw selalu dzikir kepada Allah setiap saatnya, dan pernah berpesan kepada seorang laki-laki yang mengatakan kepadanya ” Mengenai syari’at-syariat Islam telah banyak anda sebutkan padaku. Sekarang sebutkan pula padaku sesuatu yang harus aku pegang teguh !”

    Maka ujar Nabi saw : “Mulutmu tidak akan kering disebabkan dzikir kepada Allah”. dan kepada sahabat-sahabatnya dipesankan : “Maukan kamu saya tunjukkan yang lebih utama dan lebih suci di sisi Tuhanmu, lebih meningkatkan derajatmu dan lebih berharga dari menafkahkan emas dan perak, bahkan lebih baik dari menghadapi menghadapi musuhmu dimana kamu akan berusaha akan menebas leher mereka, sebaliknya mereka berusaha akan menebas lehermu?” “Mau”, wahai Rasulullah”, ujar mereka. Maka sabdanya : “Yaitu berdzikir kepada Allah !”

    (Diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, juga oleh Hakim yang menyatakan isnadnya sah).

    1. Ia juga merupakan jalan kebebasan, yakni dari siksa.

    Diterima dari Mu’adz ra. bahwa Nabi saw. bersabda : ” Tidak satupun amal yang dikerjakan oleh anak cucu Adam, yang lebih membebaskan dari siksa Allah dari pada dzikir kepada Allah ‘azza wajallah”. (Riwaya Ahmad).

    Sumber : Fikih Sunnah, Sayyid Sabiq

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 31 October 2016 Permalink | Balas  

    Adab Berjalan Ke Masjid Dan Bacaan Sewaktu Masuk Dan Keluarnya 

    Di-pintu-masuk-masjidAdab Berjalan Ke Masjid Dan Bacaan Sewaktu Masuk Dan Keluarnya

    Adab berjalan ke masjid

    Dari Abu Qatadah Radhiallahu’anhu : Tatkala kami sedang shalat bersama Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, tiba-tiba beliau mendengar suara berisik orang-orang (yang datang). Maka ketika Nabi Shallallahu’alaihi wasallam telah selesai shalat, ia bertanya : “Ada apa dengan kamu tadi (berisik) ?”. Mereka menjawab : “Kami terburu-buru untuk turut (jama’ah)”, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Janganlah kamu berbuat begitu !. Apabila kamu mendatangi shalat, hendaklah kamu berlaku tenang ! Apa yang kamu dapatkan (dari shalatnya Imam), maka shalatlah kamu (seperti itu) dan apa yang kamu ketinggalan, sempurnakanlah !” [Hadits Shahih Riwayat : Bukhari, Muslim dan Ahmad]

    Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apabila kamu mendengar qamat, maka pergilah kamu ke tempat shalat itu, dan kamu haruslah berlaku tenang dan bersikap sopan/terhormat, dan janganlah kamu tergesa-gesa, apa yang kamu dapatkan (dari shalatnya Imam), maka shalatlah kamu (seperti itu) dan apa yang kamu ketinggalan sempurnakanlah”. [Hadits Riwayat : Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasa’i dan Ahmad]

    Kedua hadits ini mengandung beberapa hukum :

    [1]. Kita diperintah berlaku tenang dan bersikap sopan/terhormat apabila mendatangi tempat shalat (masjid).

    [2]. Kita dilarang tergesa-gesa/terburu-buru apabila mendatangi tempat shalat, seperti berlari-lari, meskipun qamat telah dikumandangkan.

    [3]. Kita dilarang berisik apabila sampai di tempat shalat, sedang shalat (jama’ah) telah didirikan. Ini dapat mengganggu orang-orang yang sedang shalat jama’ah.

    [4]. Imam masjid perlu menegur (memberikan pelajaran/nasehat) kepada para jama’ah (ma’mum) yang kelakuannya tidak sopan di masjid, seperti berisik, mengganggu orang shalat, melewati orang yang sedang shalat, shaf tidak beres, berdzikir dengan suara keras, yang dapat mengganggu orang yang sedang shalat atau belajar atau lain-lain.

    [5]. Apa yang kita dapatkan dari shalatnya Imam, maka hendaklah langsung kita shalat sebagaimana keadaan shalat imam waktu itu. (ruku’ ketika imam ruku’, sujud ketika imam sujud, atau duduk tahiyat ahir ketika imam sedang tahiyat ahir, ed)

    [6]. Setelah imam selesai memberi salam ke kanan dan ke kiri, barulah kita sempurnakan apa-apa yang ketinggalan.

    Diantara hikmahnya kita diperintahkan tenang dan sopan serta tidak boleh tergesa-gesa, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda, “Karena sesungguhnya salah seorang diantara kamu, apabila menuju shalat, maka berarti dia sudah dianggap dalam shalat”. [Hadits Shahih Riwayat : Muslim].

    Bacaan ketika masuk dan keluar masjid

    dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu, “….Kemudian muadzin adzan (Shubuh), lalu Nabi keluar ke (tempat) shalat (masjid), dan beliau mengucapkan : “ALLAHUMMAJ ‘AL FI QALBY NUURAN dan seterusnya (yang artinya) : “(Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya, dan didalam ucapakanku cahaya, dan jadikanlah pada pendengaranku cahaya, dan jadikanlah pada penglihatanku cahaya, dan jadikanlah dari belakangku cahaya dan dari depanku cahaya, dan jadikanlah dari atasku cahaya, dan dari bawahku cahaya, ya Allah berikanlah kepadaku cahaya”. [Hadits Riwayat : Muslim dan Abu Dawud]

    Dari Abi Humaid Radhiallahu’anhu atau dari Abi Usaid Radhiallahu’anhu, bahwasanya Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Apabila salah seorang kamu masuk masjid, maka ucapkanlah : “ALLAHUMMAF TAHLII ABWAABA RAHMATIKA (Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu)”. Dan apabila keluar (dari masjid), maka ucapkanlah : “ALLAHUMMA INNI AS ALUKA MIN FADLIKA (Ya Allah, sesungguhnya aku minta kepada-Mu dari karunia-Mu) “.[Hadits Shahih Riwayat : Muslim, Ahmad dan Nasa’i].

    Dari Abdullah bin Amr bin Ash dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallm, apabila masuk masjid, beliau mengucapkan : “AUDZU BILLAHIL ‘AZHIMI WABIWAJHIHIL KARIIMI WA SULTHANIHIL QADIIMI MINASY SYAITHANIR RAJIIM” (Aku berlindung kepada Allah yang Maha Agung dan dengan wajah-Nya yang Mulia serta kekuasaan-Nya yang tiada yang mendahuluinya, dari (gangguan) syaithan yang terkutuk)”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : Apabila ia mengucapkan demikian (do’a di atas), syaithanpun berkata : Dipeliharalah ia dari padaku sisa harinya” [Hadits Shaih Riwayat Abu Dawud]

    (adapun yang masyhur di kalangan kaum muslim Indonesia adalah hadits ke dua di atas, dari Abi Humaid Radhiallahu’anhu atau dari Abi Usaid Radhiallahu’anhu, ed)

    ***

    [Disalin dari kitab Al-Masaa-il (Masalah-Masalah Agama)- Jilid ke satu, Penulis Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, Terbitan Darul Qolam – Jakarta]

     
  • erva kurniawan 2:34 am on 30 October 2016 Permalink | Balas  

    Doa Ketika Bersin dan Menguap 

    masih-ngantuk-mak_1650_lDoa Ketika Bersin dan Menguap

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu anhu, dari Rasulullah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda : ” Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala menyukai bersin dan membenci menguap. Jika salah seoarang dari kalian bersin, maka hendaklah ia menucapkan Alhamdulillah. Bagi kaum muslimin yang mendengar pujian tersebut hendaknya mengatakan ‘Yarhamukallah (Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberimu rahmat)’, sedangkan menguap merupakan pekerjaan setan. Jika salah seorang dari kalian hendak menguap, maka sebisa mungkin hendaklah ia tahan. Sesungguhnya jika salah seorang dari kalian menguap, maka setan akan mentertawakannya.”

    Masih dalam riwayat Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Jika salah seorang dari kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan ‘Alhamdulillah’ dan saudaranya atau orang yang bersamanya mengatakan kepadanya ‘Yarhamukallah (Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberikan rahmat-Nya kepadamu)’. Jika salah seorang mengucapkan ‘Yarhamukallah’, maka orang yang bersin tersebut hendaklah menjawab ‘Yahdiikumullah wayushlih baalakum (Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberikanmu petunjuk dan memperbaiki keadaanmu).”

    Kedua hadits ini dikeluarkan oleh Imam Bukhari Radhiallahu anhu dalam kitabnya.

    Abu Musa Al Asy’ari Radhiallahu anhu mendengar Rasululah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “JIka salah seorang dari kalian bersin, maka hendaklah ia membaca ‘Alhamdulillah’, dan hendaklah kalian bertasymit (mengucapkan Yarhamukallah). Jika yang bersin tidak mengucapkan pujian kepada Allah Subhanahu wata’ala, maka janganlah kalian bertasymit.” (HR Muslim)

    ***

    Sumber : Doa-doa Rasulullah oleh Ibnu Taimiyah dengan muhaqqiq (peneliti) syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani.

     
  • erva kurniawan 9:32 am on 29 October 2016 Permalink | Balas  

    Hukum Dokter Membuka Aurat Wanita Dan Berkhalwat Dengannya Untuk Berobat 

    periksa dokterHukum Dokter Membuka Aurat Wanita Dan Berkhalwat Dengannya Untuk Berobat

    Apabila tidak ditemukan seorang dokter wanita yang diperlukan maka diperbolehkan baginya untuk berobat kepada dokter laki-laki, dan hal ini lebih mirip dengan keadaan darurat tetapi harus tetap terikat dengan aturan-aturan yang jelas. Oleh karena itu, para ahli fiqih berkata, keadaan darurat memperbolehkan untuk melakukan suatu hal sesuai dengan sekedar kebutuhan. Maka seorang dokter laki-laki tidak diperbolehkan untuk melihat atau memegang aurat pasien wanitanya yang tidak dibutuhkan untuk dilihatnya ataupun dipegang, dan wajib pula bagi wanita tersebut untuk menutup segala sesuatu yang tidak diperlukan untuk dibuka ketika berobat.

    Meski wanita dihukumi sebagai aurat, sesungguhnya aurat wanita bermacam-macam tingkatannya. Di antaranya ada aurat berat dan ada aurat yang lebih ringan darinya. Demikian pula sakit yang diderita oleh wanita, ada sakit yang berbahaya yang tidak boleh ditunda pengobatannya dan ada pula penyakit biasa yang tidak berbahaya apabila pengobatannya ditunda hingga mahramnya hadir untuk menemaninya berobat. Sebagaimana wanita juga bermacam-macam, di antara mereka ada wanita yang sudah tua dan wanita muda yang cantik serta ada pula pertengahan antara keduanya. Di antara mereka ada yang datang dalam keadaan tersiksa oleh penyakitnya dan juga di antara mereka ada yang datang ke rumah sakit tanpa terlihat pengaruh sakitnya. Di antara mereka ada yang dibius lokal atau keseluruhan, dan ada yang cukup diberi pil-pil dan semisalnya. Setiap individu dari mereka ada hukumnya tersendiri.

    Atas dasar semua itu maka berdua-duan dengan wnaita selain mahram adalah haram secara syara’ meskipun bagi dokter laki-laki yang mengobatinya berdasarkan hadits :

    “Artinya : Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali yang ketiganya adalah setan”.

    Maka harus hadir seseorang bersama keduanya baik suaminya ataupun salah satu mahramnya yang laki-laki. Dan apabila tidak bisa menghadirkan kerabat dekat yang wanita sedangkan sakitnya membahayakannya dan pengobatannya tidak biasa ditunda-tunda lagi, maka paling tidak harus dengan kehadiran seorang perawat wanita untuk menjaga agar tidak terjadi ‘khalwat’ yang terlarang.

    Adapun soal tentang hukum aurat anak perempuan yang masih kecil, maka seorang anak perempuan apabila belum berumur tujuh tahun dihukumi tidak mempunyai aurat. Apabila telah mencapai umur tujuh tahun maka ia mempunyai aurat sebagaimana dijelaskan oleh para ahli fiqih meskipun auratnya berbeda dengan aurat wanita yang lebih tua umurnya.

    Kapan Diperbolehkan Membuka Aurat

    Aurat hanya boleh dibuka karena adanya penyakit yang membahayakan. Adapun ungkapan : “Boleh membuka aurat untuk pengobatan” artinya boleh hingga aurat yang berat hanya saja aurat yang berat ini hanya diperbolehkan untuk dibuka dengan sebab suatu penyakit yang sangat berbahaya dan ditakutkan bisa menyebabkan meninggal atau semakin parahnya penyakit tersebut. Adapun sakit yang ringan, menurut saya tidak termasuk dalam ungkapan tersebut. Yang dimaksudkan disini adalah melihat aurat wanita dan laki-laki, dengan catatan bahwa yang diperbolehkan melihat aurat wanita hanyalah kaum wanita sendiri.

    Memang pada dasarnya aurat wanita tetap dianggap sebagai aurat di hadapan wanita lain, akan tetapi lebih ringan dibandingkan dengan di hadapan lelaki, karena penyebab timbulnya fitnah tidak ada dalam diri wanita apabila melihat pada aurat wanita lain.

    Maksud dari pengobatan di sini adalah pengobatan dari suatu penyakit. Sedangkan untuk tujuan menambah kekuatan, -dan dalam masalah ini banyak orang terlalaikan-, maka misalnya seorang lelaki membuka paha lelaki lain karena sakit yang ringan atau untuk tujuan menambah kekuatan, merupakan suatu kerusakan dan kejahatan yang besar. Ini telah menjadi hal yang biasa dilakukan oleh manusia, tetapi ini adalah kebiasaan yang dilarang oleh syara’, meski banyak dilakukan oleh manusia.

    ***

    [Disalin dari kitab Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Maratil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita -3, hal 190-193, Darul Haq]

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 28 October 2016 Permalink | Balas  

    Aku Dimakamkan Hari Ini 

    mayat2Aku Dimakamkan Hari Ini  

     

    Perlahan, tubuhku ditutup tanah,

    perlahan, semua pergi meninggalkanku,

    masih terdengar jelas langkah langkah terakhir mereka

    aku sendirian, di tempat gelap yang tak pernah terbayang,

    sendiri, menunggu keputusan…

     

    Istri, belahan hati, belahan jiwa pun pergi,

    Anak, yang di tubuhnya darahku mengalir, tak juga tinggal,

    Apatah lagi sekedar tangan kanan, kawan dekat,

    rekan bisnis, atau orang-orang lain,

    aku bukan siapa-siapa lagi bagi mereka.

    Istriku menangis, sangat pedih, aku pun demikian,

    Anakku menangis, tak kalah sedih, dan aku juga,

    Tangan kananku menghibur mereka,

    kawan dekatku berkirim bunga dan ucapan,

    tetapi aku tetap sendiri, disini,

    menunggu perhitungan …

     

    Menyesal sudah tak mungkin,

    Tobat tak lagi dianggap,

    dan ma’af pun tak bakal didengar,

    aku benar-benar harus sendiri…

     

    Tuhanku,

    (entah dari mana kekuatan itu datang,

    setelah sekian lama aku tak lagi dekat dengan-Nya),

    jika kau beri aku satu lagi kesempatan,

    jika kau pinjamkan lagi beberapa hari milik-Mu,

    beberapa hari saja…

     

    Aku harus berkeliling, memohon ma’af pada mereka,

    yang selama ini telah merasakan zalimku,

    yang selama ini sengsara karena aku,

    yang tertindas dalam kuasaku.

    yang selama ini telah aku sakiti hati nya

    yang selama ini telah aku bohongi

     

    Aku harus kembalikan, semua harta kotor ini,

    yang kukumpulkan dengan wajah gembira,

    yang kukuras dari sumber yang tak jelas,

    yang kumakan, bahkan yang kutelan.

    Aku harus tuntaskan janji janji palsu yg sering ku umbar dulu

    Dan Tuhan,

    beri lagi aku beberapa hari milik-Mu,

    untuk berbakti kepada ayah dan ibu tercinta ,

    teringat kata kata kasar dan keras yg menyakitkan hati mereka ,

    maafkan aku ayah dan ibu ,

    mengapa tak kusadari betapa besar kasih sayang mu

    beri juga aku waktu,

    untuk berkumpul dengan istri dan anakku,

    untuk sungguh sungguh beramal soleh ,

    Aku sungguh ingin bersujud dihadap-Mu,

    bersama mereka …

    begitu sesal diri ini

    karena hari hari telah berlalu tanpa makna

    penuh kesia sia an

    kesenangan yg pernah kuraih dulu, tak ada artinya

    sama sekali mengapa ku sia sia saja ,

    waktu hidup yg hanya sekali itu

    andai ku bisa putar ulang waktu itu …

     

    Aku dimakamkan hari ini,

    dan semua menjadi tak terma’afkan,

    dan semua menjadi terlambat,

    dan aku harus sendiri,

    untuk waktu yang tak terbayangkan …

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 27 October 2016 Permalink | Balas  

    Menyikapi Masalah Dalam Hidup 

    AIRMATAMenyikapi Masalah Dalam Hidup

    Segala puji hanya milik Allah, pencipta, pemelihara, dan pemilik seluruh makhluk-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya.

    Semoga diri ini selalu sadar dan ingat bahwa ajal dapat menjemput kapan dan dimana saja kita berada sehingga kita dapat selalu mempersiapkan bekal untuk akhirat. Alangkah indahnya hidup ini bila kita selalu menghadapinya dengan semangat dan optimisme tinggi. Dengan semangat dan optimisme yang tinggi akan mendorong kita untuk selalu mempersembahkan karya terbaik untuk dunia ini.

    Kesempatan yang Allah berikan selama kita hidup hendaknya tidak kita sia-siakan. Dalam hidup, kita pasti akan menghadapi masalah. Suatu masalah akan mendatangi siapapun kita. Baik kaya maupun miskin, tua maupun muda, pria maupun wanita, pejabat maupun pelayan, orang pintar maupun bodoh, akan menghadapi masalah. Oleh sebab itu langkah yang paling tepat dalam menyikapinya adalah dengan menghadapi dan berusaha untuk menyelesaikannya tanpa pernah putus asa karena seorang muslim tidak boleh berputus asa dalam mengharap rahmat Allah.

    Akan sangat merugikan diri kita sendiri bila kita takut untuk menhadapinya dan hanya berusaha menghindar. Hal itu hanya akan membuat kita capek karena sudah pasti,

    pertama tidak akan menyelesaikan masalah dan kedua, kita malah mungkin akan bertemu dengan masalah baru. Masalah yang timbulpun silih berganti seakan tak ada habisnya. Pada hakikatnya masalah yang timbul bukanlah beban melainkan tantangan yang akan mendewasakan kita dalam berpikir dan bersikap sehingga kita bisa semakin bijaksana dalam menyikapi hidup ini. Oleh sebab itu ada tiga langkah yang sebaiknya kita lakukan ketika menemuinya yaitu

    Pertama, menerimanya dengan lapang dada dan ikhlas, tidak dengan mengeluh atau berusaha mencari kambing hitam karena hal itu menandakan kekerdilan jiwa kita.

    Kedua, menghadapi dengan sabar dan tabah, tidak dengan terburu-buru, emosi, serta putus asa, karena hal ini menandakan lemahnya jiwa kita.

    Dan yang ketiga, menyelesaikannya dengan pikiran yang jernih, tidak dengan nafsu, karena hal ini menandakan tidak bijaknya jiwa kita. Disamping itu ada baiknya jika kita senantiasa berdoa agar Allah senantiasa memberi petunjuk serta kemudahan bagi kita dalam menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi.

    Semua permasalahan pada hakikatnya berasal dari Allah, maka sudah sepatutnya kita bertawakkal pada-Nya setelah kita berusaha secara optimal untuk menyelesaikannya. Dan tak kalah pentingnya bagi kita untuk memahami dan meyakini bahwa apapun yang Allah takdirkan bagi kita maka itulah yang terbaik karena sesuai firman Allah yang berbunyi ” boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui ( Al Baqarah : 216 )”.

    Wallahu ‘Alam bisshowab

    ***

    Kiriman Sahabat Joko P

     
  • erva kurniawan 2:15 am on 26 October 2016 Permalink | Balas  

    Sakit Sebagai Kafarat 

    sakitSakit Sebagai Kafarat

    Oleh : Fajar Kurnianto

    Hidup tak selalu berjalan lurus, menyenangkan, dan membahagiakan. Suatu saat manusia akan mengalami siklus yang membuatnya tidak dapat melakukan apa-apa. Dan, karena siklus inilah, Allah SWT menuntut umat manusia untuk menghadapinya dengan baik, sesuai dengan petunjuk-Nya. Dengan siklus kehidupan ini juga, umat manusia sesungguhya diuji, apakah tetap tegar dan optimistis, ataukah putus asa.

    Sakit adalah salah satunya. Tak selamanya manusia berada dalam kondisi sehat, yang memungkinkannya dapat melakukan apa saja. Suatu waktu ia pasti akan didera oleh satu hal yang membuatnya harus terbaring tak berdaya di atas ranjang, atau salah satu anggota badannya tidak berfungsi dengan baik. Pada kondisi seperti ini, godaan untuk berkeluh kesah dan putus asa akan selalu menyerangnya setiap saat, karena orang sakit potensial untuk putus asa.

    Sakit sesungguhnya adalah batu ujian bagi seorang Mukmin. Sakit bukanlah adzab yang dilimpahkan karena kebencian Allah, tapi justru itu adalah bagian dari kasih dan perhatian Allah SWT yang begitu besar kepada orang beriman. Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya seorang yang beriman ketika didera musibah sakit, kemudian Allah menyembuhkannya, maka itu adalah kafarat (penghapus) bagi dosa-dosa yang ia lakukan sebelumnya. Ia sekaligus menjadi pesan berharga untuk menghadapi masa yang akan datang.” (HR Abu Dawud).

    Mengapa Allah menghapus dosa-dosa orang Mukmin yang sedang sakit? Ada dua hal yang menjadi alasannya. Pertama, faktor kesabaran, ketabahan, dan optimisme seorang Mukmin. Sakit justru adalah ujian kesabaran yang mesti dihadapi dengan sikap lapang dada dan besar hati. Dalam beberapa ayat Alquran, Allah SWT sering menyitir bahwa Dia akan selalu menyertai orang- orang yang sabar dalam menerima ujian, tak terkecuali sakit ini. ”Sesungguhnya Allah akan selalu menyertai orang-orang yang sabar.” (QS 2: 153).

    Kebersamaan Allah dengan Mukmin yang sakit adalah rahmat yang tiada terkira. Maka, biarpun rasa sakitnya teramat parah, namun karena ia merasa bahwa Allah selalu menyertainya, maka hampir-hampir tidak merasakan. Yang ada hanyalah kedamaian dan ketenteraman berada selalu di sisi-Nya.

    Kedua, faktor kesadaran yang timbul akibat sakit tersebut. Sakit sesungguhnya adalah waktu bagi seseorang untuk merenung dan mengingat-ingat segala perbuatan yang dilakukan sebelumnya. Seorang Mukmin yang sakit akan menjadikan sakit itu justru sebagai ladang introspeksi diri, sejauh mana ia melakukan segala perintah Allah SWT atau menjauhi larangan-Nya, pada saat ia belum sakit. Sakit sekaligus menjadi pesan bahwa manusia sejatinya adalah mahluk lemah yang tidak dapat berbuat apa-apa. Sakit yang diderita adalah bentuk konkretnya.

    Dengan demikian, orang yang sakit seharusnya menyadari bahwa sakit justru merupakan karunia tak terkira baginya. Karena, dengan demikian, berarti Allah SWT masih peduli dan perhatian padanya. Kafarat dosa tentu adalah salah satu bagian dari itu. Di balik itu tersimpan pesan yang lebih besar: Allah SWT sesungguhnya sedang meninggikan derajat seorang Mukmin yang sedang sakit. Wallahu a’lam.