Updates from November, 2019 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:29 am on 30 November 2019 Permalink | Balas  

    Bila Hati Bercahaya 

    Bila Hati Bercahaya

    Adakah diantara kita yang merasa mencapai sukses hidup karena telah berhasil meraih segalanya : harta, gelar, pangkat, jabatan, dan kedudukan yang telah menggenggam seluruh isi dunia ini? Marilah kita kaji ulang, seberapa besar sebenarnya nilai dari apa-apa yang telah kita raih selama ini.

    Di sebuah harian pernah diberitakan tentang penemuan baru berupa teropong yang diberi nama telescope Hubble. Dengan teropong ini berhasil ditemukan sebanyak lima milyar gugusan galaksi. Padahal yang telah kita ketahui selama ini adalah suatu gugusan bernama galaksi bimasakti, yang di dalamnya terdapat planet-planet yang membuat takjub siapa pun yang mencoba bersungguh-sungguh mempelajarinya. Matahari saja merupakan salah satu planet yang sangat kecil, yang berada dalam gugusan galaksi di dalam tata surya kita. Nah, apalagi planet bumi ini sendiri yang besarnya hanya satu noktah. Sungguh tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan lima milyar gugusan galaksi tersebut. Sungguh alangkah dahsyatnya.

    Sayangnya, seringkali orang yang merasa telah berhasil meraih segala apapun yang dirindukannya di bumi ini – dan dengan demikian merasa telah sukses – suka tergelincir hanya mempergauli dunianya saja. Akibatnya, keberadaannya membuat ia bangga dan pongah, tetapi ketiadaannya serta merta membuat lahir batinnya sengsara dan tersiksa. Manakala berhasil mencapai apa yang diinginkannya, ia merasa semua itu hasil usaha dan kerja kerasnya semata, sedangkan ketika gagal mendapatkannya, ia pun serta merta merasa diri sial. Bahkan tidak jarang kesialannya itu ditimpakan atau dicarikan kambing hitamnya pada orang lain.

    Orang semacam ini tentu telah lupa bahwa apapun yang diinginkannya dan diusahakan oleh manusia sangat tergantung pada izin Allah Azza wa Jalla. Mati-matian ia berjuang mengejar apa-apa yang dinginkannya, pasti tidak akan dapat dicapai tanpa izin-Nya. Laa haula walaa quwwata illaabillaah! Begitulah kalau orang hanya bergaul, dengan dunia yang ternyata tidak ada apa-apanya ini.

    Padahal, seharusnya kita bergaul hanya dengan Allah Azza wa Jalla, Zat yang Maha Menguasai jagat raya, sehingga hati kita tidak akan pernah galau oleh dunia yang kecil mungil ini. Laa khaufun alaihim walaa hum yahjanuun! Samasekali tidak ada kecemasan dalam menghadapi urusan apapun di dunia ini. Semua ini tidak lain karena hatinya selalu sibuk dengan Dia, Zat Pemilik Alam Semesta yang begitu hebat dan dahsyat.

    Sikap inilah sesungguhnya yang harus senantiasa kita latih dalam mempergauli kehidupan di dunia ini. Tubuh lekat dengan dunia, tetapi jangan biarkan hati turut lekat dengannya. Ada dan tiadanya segala perkara dunia ini di sisi kita jangan sekali-kali membuat hati goyah karena toh sama pahalanya di sisi Allah. Sekali hati ini lekat dengan dunia, maka adanya akan membuat bangga, sedangkan tiadanya akan membuat kita terluka. Ini berarti kita akan sengsara karenanya, karena ada dan tiada itu akan terus menerus terjadi.

    Betapa tidak! Tabiat dunia itu senantisa dipergilirkan. Datang, tertahan, diambil. Mudah, susah. Sehat, sakit. Dipuji, dicaci. Dihormati, direndahkan. Semuanya terjadi silih berganti. Nah, kalau hati kita hanya akrab dengan kejadian-kejadian seperti itu tanpa krab dengan Zat pemilik kejadiannya, maka letihlah hidup kita.

    Lain halnya kalau hati kita selalu bersama Allah. Perubahan apa saja dalam episode kehidupan dunia tidak akan ada satu pun yang merugikan kita. Artinya, memang kita harus terus menerus meningkatkan mutu pengenalan kita kepada Allah Azza wa Jalla.

    Di antara yang penting yang kita perhatikan sekiranya ingin dicintai Allah adalah bahwa kita harus zuhud terhadap dunia ini. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Barangsiapa yang zuhud terhadap dunia, niscaya Allah mencintainya, dan barangsiapa yang zuhud terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya manusia mencintainya.”

    Zuhud terhadap dunia bukan berarti tidak mempunyai hal-hal yang bersifat duniawi, melainkan kita lebih yakin dengan apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tangan kita. Bagi orang-orang yang zuhud terhadap dunia, sebanyak apapun yang dimiliki sama sekali tidak akan membuat hati merasa tentram karena ketentraman itu hanyalah apa-apa yang ada di sisi Allah.

    Rasulullah SAW bersabda, “Melakukan zuhud dalam kehidupan di dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan bukan pula memboroskan kekayaan. Zuhud terhadap kehidupan dunia itu ialah tidak menganggap apa yang ada pada dirimu lebih pasti daripada apa yang ada pada Allah.” (HR. Ahmad, Mauqufan)

    Andaikata kita merasa lebih tentram dengan sejumlah tabungan di bank, maka berarti kita belum zuhud. Seberapa besar pun uang tabungan kita, seharusnya kita lebih merasa tentram dengan jaminan Allah. Ini dikarenakan apapun yang kita miliki belum tentu menjadi rizki kita kalau tidak ada izin Allah.

    Sekiranya kita memiliki orang tua atau sahabat yang memiliki kedudukan tertentu, hendaknya kita tidak sampai merasa tentram dengan jaminan mereka atau siapa pun. Karena, semua itu tidak akan datang kepada kita, kecuali dengan izin Allah.

    Orang yang zuhud terhadap dunia melihat apapun yang dimilikinya tidak menjadi jaminan. Ia lebih suka dengan jaminan Allah karena walaupun tidak tampak dan tidak tertulis, tetapi Dia Mahatahu akan segala kebutuhan kita.jangan ukur kemuliaan seseorang dengan adanya dunia di genggamannya. Sebaliknya jangan pula meremehkan seseorang karena ia tidak memiliki apa-apa. Kalau kita tidak menghormati seseorang karena ia tidak memiliki apa-apa. Kalau kita menghormati seseorang karena kedudukan dan kekayaannya, kalau meremehkan seseorang karena ia papa dan jelata, maka ini berarti kita sudah mulai cinta dunia. Akibatnya akan susah hati ini bercahaya disisi Allah.

    Mengapa demikian? Karena, hati kita akan dihinggapi sifat sombong dan takabur dengan selalu mudah membeda-bedakan teman atau seseorang yang datang kepada kita. Padahal siapa tahu Allah mendatangkan seseorang yang sederhana itu sebagai isyarat bahwa Dia akan menurunkan pertolongan-Nya kepada kita.

    Hendaknya dari sekarang mulai diubah sistem kalkulasi kita atas keuntungan-keuntungan. Ketika hendak membeli suatu barang dan kita tahu harga barang tersebut di supermarket lebih murah ketimbang membelinya pada seorang ibu tua yang berjualan dengan bakul sederhananya, sehingga kita mersa perlu untuk menawarnya dengan harga serendah mungkin, maka mulailah merasa beruntung jikalau kita menguntungkan ibu tua berimbang kita mendapatkan untung darinya. Artinya, pilihan membeli tentu akan lebih baik jatuh padanya dan dengan harga yang ditawarkannya daripada membelinya ke supermarket. Walhasil, keuntungan bagi kita justru ketika kita bisa memberikan sesuatu kepada orang lain.

    Lain halnya dengan keuntungan diuniawi. Keuntungan semacam ini baru terasa ketika mendapatkan sesuatu dari orang lain. Sedangkan arti keuntungan bagi kita adalah ketika bisa memberi lebih daripada yang diberikan oleh orang lain. Jelas, akan sangat lain nilai kepuasan batinnya juga.

    Bagi orang-orang yang cinta dunia, tampak sekali bahwa keuntungan bagi dirinya adalah ketika ia dihormati, disegani, dipuji, dan dimuliakan. Akan tetapi, bagi orang-orang yang sangat merindukan kedudukan di sisi Allah, justru kelezatan menikmati keuntungan itu ketika berhasil dengan ikhlas menghargai, memuliakan, dan menolong orang lain. Cukup ini saja! Perkara berterima kasih atau tidak, itu samasekali bukan urusan kita. Dapatnya kita menghargai, memuliakan, dan menolong orang lain pun sudah merupakan keberuntungan yang sangat luar biasa.

    Sungguh sangat lain bagi ahli dunia, yang segalanya serba kalkulasi, balas membalas, serta ada imbalan atau tidak ada imbalan. Karenanya, tidak usah heran kalau para ahli dunia itu akan banyak letih karena hari-harinya selalu penuh dengan tuntutan dan penghargaan, pujian, dan lain sebagainya, dari orang lain. Terkadang untuk mendapatkan semua itu ia merekayasa perkataan, penampilan, dan banyak hal demi untuk meraih penghargaan.

    Bagi ahli zuhud tidaklah demikian. Yang penting kita buat tatanan kehidupan ini seproporsional mungkin, dengan menghargai, memuliakan, dan membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun. Inilah keuntungan-keuntungan bagi ahli-ahli zuhud. Lebih merasa aman dan menyukai apa-apa yang terbaik di sisi Allah daripada apa yang didapatkan dari selain Dia.

    Walhasil, siapapun yang merindukan hatinya bercahaya karena senantiasa dicahayai oleh nuur dari sisi Allah, hendaknya ia berjuang sekuat-kuatnya untuk mengubah diri, mengubah sikap hidup, menjadi orang yang tidak cinta dunia, sehingga jadilah ia ahli zuhud.

    “Adakalanya nuur Illahi itu turun kepadamu,” tulis Syaikh Ibnu Atho’illah dalam kitabnya, Al Hikam, “tetapi ternyata hatimu penuh dengan keduniaan, sehingga kembalilah nuur itu ke tempatnya semula. Oleh sebab itu, kosongkanlah hatimu dari segala sesuatu selain Allah, niscaya Allah akan memenuhinya dengan ma’rifat dan rahasia-rahasia.”

    Subhanallaah, sungguh akan merasakan hakikat kelezatan hidup di dunia ini, yang sangat luar biasa, siapapun yang hatinya telah dipenuhi dengan cahaya dari sisi Allah Azza wa Jalla. “Cahaya di atas cahaya. Allah membimbing (seorang hamba) kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki …” (QS. An Nuur [24] : 35).

    ***

    Tausyiah AA.Gym.

     
    • Rissaid 4:58 am on 30 November 2019 Permalink

      Saat baca jd teringat Aa Gym, materi beliau ttg Zuhud bbrp waktu lalu, Masyallah ternyata kajian beliau.

  • erva kurniawan 1:28 am on 29 November 2019 Permalink | Balas  

    Mimbar Jum’at: Jangan Lupakan Bagianmu di Dunia 

    Mimbar Jum’at: Jangan Lupakan Bagianmu di Dunia

    Assalamu’alaikum wr.wb.

    Allah berfirman, bismillahirrahmaanirrahiim,

    “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (untuk) negri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu pada dunia, dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS Al Qashash 77).

    “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung” (QS Al Jumu’ah 10).

    Maha benar segala firman Allah. Dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, bagiNya-lah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagiNya-lah segala penentuan dan hanya kepadaNya-lah kamu dikembalikan (QS Al Qashash 70). Segala ungkapan syukur hanya bagi Allah atas seluruh karuniaNya yang sangat banyak yang telah dianugerahkan kepada kita semua, yang jika dihitung satu persatu tidak mungkin dapat mengkalkulasikannya, karena terlalu banyaknya. Atas perkenaanNya pula kita masih dipertemukan kembali pada pagi ini, di hari Jum’at pertama bulan Shafar 1427 H ataupun bulan Maret 2006 M (tanggal 3 Shafar yang bertepatan juga dengan 3 Maret), melalui mimbar yang hadir dengan bahasan tentang anjuran tidak melupakan kehidupan duniawi untuk mencapai kesuksesan, baik selama hidup di dunia maupun kelak di akhirat nanti, sebagaimana telah dibahas pada mimbar yang lalu. Karena bagaimanapun juga kesuksesan di akhirat itu sangat tergantung dari bagaimana kita menapaki kehidupan duniawi. Namun sebelumnya, mari kita bermohon semoga curahan shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad salallahu alaihi wassalam, beserta seluruh keluarga dan para sahabatnya, juga semua pengikutnya yang tetap konsisten melanjutkan perjuangannya mendakwahkan Islam dimana dan kapan saja.

    Muslimin dan muslimat dimana saja berada,

    Sahabat Anas bin Malik mengisahkan, bahwa ada sekumpulan orang datang ke rumah istri-istri Nabi saw., menanyakan tentang ibadah yang dilakukan Rasulullah. Ketika disampaikan kepada mereka tentang ibadah Rasulullah, seakan-akan mereka saling mengatakan :’Manakah bagian yang bisa kita laksanakan dari apa yang telah dilakukan Rasulullah, padahal beliau telah mendapatkan jaminan ampunan (Allah) dari dosa yang telah lalu maupun yang akan datang ?’. Di antara mereka ada yang berkata : ‘Aku akan melakukan shalat malam sepanjang malam (tanpa tidur)’. Ada pula yang berkata : ‘Aku akan berpuasa sepanjang tahun, tidak akan berbuka di siang hari’. Ada lagi yang berkata : ‘Aku akan menjauhi wanita, tidak akan menikah selamanya’. Kemudian Rasulullah mendengar tentang hal itu, dan mendatangi mereka seraya bersabda : “Apakah kalian orang-orang yang mengatakan begini dan begitu ? Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut dan paling takwa kepada Allah di antara kalian. Tetapi aku masih juga berpuasa dan berbuka, shalat malam dan tidur, serta menikahi wanita. Barangsiapa benci kepada sunnahku, maka dia tidak termasuk golongan umatku” (HR Bukhari). Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah mendengar kabar bahwa Abdillah bin Amr bin Ash mengatakan akan melakukan puasa di siang hari dan shalat sunnah di malam hari sepanjang hidupnya. Maka kemudian Rasulullah bersabda : “Wahai Abdallah, telah sampai berita kepadaku bahwa engkau selalu melakukan puasa di siang hari dan shalat sunnah di malam hari (sepanjang hayat). Maka janganlah kamu melakukan yang demikian. Sebab bagi badan dan matamu ada hak. Demikian pula bagi istrimu, ada hak. Sekali tempo berpuasa dan sekali tempo berbukalah. Puasalah di setiap bulan tiga hari. Yang demikian adalah sama dengan puasa setahun penuh”.

    ‘Aisyah istri Nabi saw telah meriwayatkan, bahwa pada suatu malam Rasulullah datang dan langsung mendekat kepadanya hingga bersentuhan, kemudian beliau bersabda :”Tinggalkanlah diriku karena (pada malam ini) aku hendak beribadah kepada Allah”. Kemudian Rasulullah mengambil air wudhu’, dan melaksanakan shalat sambil menangis berlinang air mata sehingga membasahi jenggotnya. Lalu beliau sujud hingga tempat sujudnya basah. Setelah selesai melaksanakan shalat, lalu beliau tiduran hingga Bilal mengumandangkan adzan subuh. (Karena Rasulullah tidak juga muncul setelah adzan subuh tersebut dan Bilal tahu bahwa pada malam itu merupakan giliran di rumah ‘Aisyah, kemudian Bilal mendatangi Rasulullah karena dia merasa khawatir terjadi sesuatu pada diri Rasulullah).

    Bilal bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah yang menyebabkan engkau menangis, padahal Allah telah mengampuni segala dosamu yang terdahulu maupun yang akan datang ?” Rasulullah menjawab : :”Waihaka (celakalah), wahai Bilal, tidak sesuatupun yang dapat mencegahku dari menangis, sebab semalam Allah telah menurunkan ayat : Inna fii khalqis samaawaati wal ardhi wahtilaafil laili wan nahaari laa aayatil li uulil albaab (sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang adalah ayat-ayat / tanda kebesaran Allah bagi uulil albab / orang-orang yang menggunakan akalnya)(QS Ali Imran 100)” Kemudian beliau bersabda : “Celakalah bagi orang yang mebaca ayat ini, namun dia tidak mau memikirkan makna dan maksudnya”. (HR Ibnu Abi Dun-ya dalam kitab tafakur).

    Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah,

    Apabila kita memperhatikan sejarah umat Islam ini dari jaman ke jaman, terutama setelah era pertengahan atau setelah jaman keemasan dalam bidang ilmu dan teknologi yang dikuasai umat Islam, tampaknya sebagian umat lebih menekuni dunia sufi dan zuhud dengan meninggalkan atau melupakan kehidupan duniawi, dan berjalan tidak seirama dengan syariat karena mungkin kurangnya pengetahuan mereka tentang syariat, ataupun karena rasa bangga yang berlebihan dengan kekuatan akalnya.

    Mereka berdalil dengan ayat-ayat Qur’an namun mereka tidak memahami makna yang sebenarnya. Misalnya, “Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kenikmatan yang menipu” (QS Ali Imran 185), atau pada ayat yang lain : “Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau” (QS Muhammad 36). Mereka kemudian tidak mau mendekati dunia dan memperlakukannya secara berlebihan tanpa berusaha mencari hakekat firman Allah tersebut. Padahal Allah telah memperingatkan untuk tidak melupakan bagian hidupnya di dunia, seperti pada firman Allah QS Al Qashash 77 yang terjemahannya dikutipkan pada mukadimah mimbar ini. Jabir bin Abdillah meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah menyampaikan khutbah Jum’at : “Wahai manusia, sesungguhnya untuk kalian telah ada petunjuk-petunjuk, maka berpeganglah pada petunjuk-petunjuk itu, dan kalian jangan membatasi, maka berpeganglah pada apa yang telah ditentukan bagi kalian itu.

    Sesungguhnya seorang hamba yang beriman berada di antara dua ketakutan, antara batas masa lalu yang ia tidak mengetahui bagaimana Allah akan berbuat kepadanya, dan masa yang akan datang juga ia tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada dirinya. Karena itu, setiap orang harus berbekal untuk kepentingan dirinya, dari masa hidupnya sampai kematiannya, dari masa mudanya untuk masa tuanya, dan dari (kehidupan) dunia untuk (kehidupan) akhiratnya. Maka dunia ini dijadikan untuk kalian, untuk di akhirat kelak. Demi Allah yang jiwaku ada dalam genggamanNya, sesudah kematian tidak ada lagi taubat, dan sesudah dunia tidak ada lagi tempat kecuali surga dan neraka. Aku katakan hal ini dan aku memohon ampunan kepada Allah untukku dan untuk kalian”.

    Dari kekeliruan dalam memahami petunjuk Allah dan RasulNya inilah yang menyebabkan umat Islam saat ini mengalami stagnasi atau bahkan kemunduran dalam bidang ilmu dan teknologi, jika dibandingkan dengan kemajuan umat bukan Islam. Fakta menunjukkan bahwa hampir mayoritas umat Islam di muka bumi ini adalah kaum fakir dan miskin, umumnya berpendidikan rendah dan gagap teknologi. Bahkan saat ini umat Islam terkotak-kotak oleh golongan atau aliran, yang seringkali antar golongan atau aliran tersebut terjadi pertikaian, berperang antar umat Islam untuk berebut kedudukan, seperti yang terjadi beberapa hari belakangan ini di Irak. Dengan kata lain, kefakiran, kemalasan dan kebodohan serta perpecahan umat Islam merupakan penyebab atau musuh dari dalam yang dapat menghancurkan bangunan Islam.

    Oleh karena itu, kita bisa memahami mengapa Rasulullah menangis ketika turunnya QS Ali Imran 190, seperti dalam hadits yang disampaikan oleh ‘Aisyah di atas. Karena Allah sebenarnya telah menginformasikan kepada Rasulullah tentang kejadian umat beliau di masa yang akan datang, seperti apa yang sedang terjadi pada saat ini. Ada sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dimana umat Islam seringkali salah dalam memahami arti miskin dan kaya. Rasulullah pernah bersabda : “Bukan dikatakan miskin orang yang mendapatkan kecukupan hidup, tetapi dikatakan miskin adalah orang yang tidak mampu menopang hidupnya.

    Demikian pula tidak dikatakan miskin orang yang memiliki ketrampilan kerja yang dapat mencukupi kebutuhan hidupnya, dan orang yang berjalan meminta-minta kepada sesama manusia. Bukanlah seseorang dikatakan kaya karena banyaknya harta benda, tetapi yang dikatakan kaya adalah yang kaya ilmu pengetahuan”.

    Maka sesuai judul mimbar ini : “Jangan Lupakan Bagianmu di Dunia”, mari kita berusaha meningkatkan ilmu kita dan berusaha mencerdaskan untuk mensejahterakan umat, sehingga kita bisa bangkit untuk mengejar ketertinggalan kita dalam ilmu dan teknologi, sehingga umat Islam nantinya bukan hanya sekedar menjadi obyek, tetapi mampu menjadi subyek. Kita mulai dari diri kita masing-masing, lingkungan yang ada di sekitar kita, insya Allah bisa terus sampai seluruh umat. Kita jangan terlarut dalam ritual ibadah untuk kehidupan akhirat, sehingga melupakan karya atau kiprah kita dalam kehidupan dunia sebagai khalifah Allah di muka bumi. Ataupun sebaliknya, kita hanya memikirkan dunia terus menerus, namun lupa terhadap bekal yang harus dibawa untuk kehidupan akhirat.

    Allah telah memerintahkan kepada kita agar begitu selesai melakukan suatu ibadah, segeralah kita bertebaran di muka bumi untuk meraih karuniaNya, sebagaimana firmanNya QS Al Jumu’ah 10 yang terjemahannya dikutipkan pada mukadimah mimbar ini. Ingat bahwa kesuksesan yang akan kita raih di akhirat kelak, sangat tergantung kepada segala apa yang kita lakukan di dunia.

    Semoga kita termasuk orang yang sukses dunia dan akhirat, amien. Kita akhiri mimbar ini, alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin.

    Wassalamu’alaikum wr.wb.

    Nana Djumhana

     
  • erva kurniawan 1:31 am on 28 November 2019 Permalink | Balas  

    Bersandar hanya Kepada Allah 

    Bersandar hanya Kepada Allah

    Tiada keberuntungan yang sangat besar dalam hidup ini, kecuali orang yang tidak memiliki sandaran, selain bersandar kepada Allah. Dengan meyakini bahwa memang Allah-lah yang menguasai segala-galanya; mutlak, tidak ada satu celah pun yang luput dari kekuasaan Allah, tidak ada satu noktah sekecil apapun yang luput dari genggaman Allah. Total, sempurna, segala-galanya Allah yang membuat, Allah yang mengurus, Allah yang menguasai.

    Adapun kita, manusia, diberi kebebasan untuk memilih, “Faalhamaha fujuraha wataqwaaha”, “Dan sudah diilhamkan di hati manusia untuk memilih mana kebaikan dan mana keburukan”. Potensi baik dan potensi buruk telah diberikan, kita tinggal memilih mana yang akan kita kembangkan dalam hidup ini. Oleh karena itu, jangan salahkan siapapun andaikata kita termasuk berkelakuan buruk dan terpuruk, kecuali dirinyalah yang memilih menjadi buruk, naudzubillah.

    Sedangkan keberuntungan bagi orang-orang yang bersandarnya kepada Allah mengakibatkan dunia ini, atau siapapun, terlampau kecil untuk menjadi sandaran baginya. Sebab, seseorang yang bersandar pada sebuah tiang akan sangat takut tiangnya diambil, karena dia akan terguling, akan terjatuh. Bersandar kepada sebuah kursi, takut kursinya diambil. Begitulah orang-orang yang panik dalam kehidupan ini karena dia bersandar kepada kedudukannya, bersandar kepada hartanya, bersandar kepada penghasilannya, bersandar kepada kekuatan fisiknya, bersandar kepada depositonya, atau sandaran-sandaran yang lainnya.

    Padahal, semua yang kita sandari sangat mudah bagi Allah (mengatakan ‘sangat mudah’ juga ini terlalu kurang etis), atau akan ‘sangat mudah sekali’ bagi Allah mengambil apa saja yang kita sandari. Namun, andaikata kita hanya bersandar kepada Allah yang menguasai setiap kejadian, “laa khaufun alaihim walahum yahjanun’, kita tidak pernah akan panik, Insya Allah.

    Jabatan diambil, tak masalah, karena jaminan dari Allah tidak tergantung jabatan, kedudukan di kantor, di kampus, tapi kedudukan itu malah memperbudak diri kita, bahkan tidak jarang menjerumuskan dan menghinakan kita. kita lihat banyak orang terpuruk hina karena jabatannya. Maka, kalau kita bergantung pada kedudukan atau jabatan, kita akan takut kehilangannya. Akibatnya, kita akan berusaha mati-matian untuk mengamankannya dan terkadang sikap kita jadi jauh dari kearifan.

    Tapi bagi orang yang bersandar kepada Allah dengan ikhlas, ‘ya silahkan … Buat apa bagi saya jabatan, kalau jabatan itu tidak mendekatkan kepada Allah, tidak membuat saya terhormat dalam pandangan Allah?’ tidak apa-apa jabatan kita kecil dalam pandangan manusia, tapi besar dalam pandangan Allah karena kita dapat mempertanggungjawabkannya. Tidak apa-apa kita tidak mendapatkan pujian, penghormatan dari makhluk, tapi mendapat penghormatan yang besar dari Allah SWT. Percayalah walaupun kita punya gaji 10 juta, tidak sulit bagi Allah sehingga kita punya kebutuhan 12 juta. Kita punya gaji 15 juta, tapi oleh Allah diberi penyakit seharga 16 juta, sudah tekor itu.

    Oleh karena itu, jangan bersandar kepada gaji atau pula bersandar kepada tabungan. Punya tabungan uang, mudah bagi Allah untuk mengambilnya. Cukup saja dibuat urusan sehingga kita harus mengganti dan lebih besar dari tabungan kita. Demi Allah, tidak ada yang harus kita gantungi selain hanya Allah saja. Punya bapak seorang pejabat, punya kekuasaan, mudah bagi Allah untuk memberikan penyakit yang membuat bapak kita tidak bisa melakukan apapun, sehingga jabatannya harus segera digantikan.

    Punya suami gagah perkasa. Begitu kokohnya, lalu kita merasa aman dengan bersandar kepadanya, apa sulitnya bagi Allah membuat sang suami muntaber, akan sangat sulit berkelahi atau beladiri dalam keadaan muntaber. Atau Allah mengirimkan nyamuk Aides Aigepty betina, lalu menggigitnya sehingga terjangkit demam berdarah, maka lemahlah dirinya. Jangankan untuk membela orang lain, membela dirinya sendiri juga sudah sulit, walaupun ia seorang jago beladiri karate.

    Otak cerdas, tidak layak membuat kita bergantung pada otak kita. Cukup dengan kepleset menginjak kulit pisang kemudian terjatuh dengan kepala bagian belakang membentur tembok, bisa geger otak, koma, bahkan mati.

    Semakin kita bergantung pada sesuatu, semakin diperbudak. Oleh karena itu, para istri jangan terlalu bergantung pada suami. Karena suami bukanlah pemberi rizki, suami hanya salah satu jalan rizki dari Allah, suami setiap saat bisa tidak berdaya. Suami pergi ke kanotr, maka hendaknya istri menitipkannya kepada Allah.

    “Wahai Allah, Engkaulah penguasa suami saya. Titip matanya agar terkendali, titip hartanya andai ada jatah rizki yang halal berkah bagi kami, tuntun supaya ia bisa ikhtiar di jalan-Mu, hingga berjumpa dengan keadaan jatah rizkinya yang barokah, tapi kalau tidak ada jatah rizkinya, tolong diadakan ya Allah, karena Engkaulah yang Maha Pembuka dan Penutup rizki, jadikan pekerjaannya menjadi amal shaleh.”

    Insya Allah suami pergei bekerja di back up oleh do’a sang istri, subhanallah. Sebuah keluarga yang sungguh-sungguh menyandarkan dirinya hanya kepada Allah. “Wamayatawakkalalallah fahuwa hasbu”, (QS. At Thalaq [65] : 3). Yang hatinya bulat tanpa ada celah, tanpa ada retak, tanpa ada lubang sedikit pun ; Bulat, total, penuh, hatinya hanya kepada Allah, maka bakal dicukupi segala kebutuhannya. Allah Maha Pencemburu pada hambanya yang bergantung kepada makhluk, apalagi bergantung pada benda-benda mati. Mana mungkin? Sedangkan setiap makhluk ada dalam kekuasaan Allah. “Innallaaha ala kulli sai in kadir”.

    Oleh karena itu, harus bagi kita untuk terus menerus meminimalkan penggantungan. Karena makin banyak bergantung, siap-siap saja makin banyak kecewa. Sebab yang kita gantungi, “Lahaula wala quwata illa billaah” (tiada daya dan kekuatan yang dimilikinya kecuali atas kehendak Allah). Maka, sudah seharusnya hanya kepada Allah sajalah kita menggantungkan, kita menyandarkan segala sesuatu, dan sekali-kali tidak kepada yang lain, Insya Allah.

    ***

    Tausyiah AA.Gym.

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 27 November 2019 Permalink | Balas  

    Mimbar Jum’at: Sarana Meraih Kesuksesan 

    Mimbar Jum’at: Sarana Meraih Kesuksesan

    Assalamu’alaikum wr.wb.

    Allah berfirman, bismillahirrahmaanirrahiim,

    “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shaleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahKu dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang ingkar sesudah itu, mereka itulah orang-orang yang fasik. Dan dirikanlah shalat, tunaikan zakat, dan taatlah kepada Rasul agar kamu mendapat rahmat” (QS An Nuur 55-56).

    “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar maha kuat lagi maha perkasa.(Allah pasti menolong) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang munkar, dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS Al Hajj 40-41).

    Maha benar segala firman Allah.TiadaTuhan kecuali Allah yang maha esa lagi maha kuasa. Allah yang telah menciptakan seluruh alam jagat raya dan segala isinya, termasuk manusia yang menghuni bumi, sebuah planet yang teramat sangat kecil keberadaannya di tengah maha luasnya jagat raya ini. Jika bumi secara fisik begitu amat kecil, apalagi manusia sebagai penghuninya. Jadi apa yang pantas dibanggakan manusia di hadapan Allah yang maha besar. Oleh karena itu, kita selaku hamba Allah yang sekaligus khalifahNya di muka bumi ini, tiada yang pantas dipanjatkan kepadaNya kecuali segala puji dan ungkapan syukur atas berbagai karuniaNya yang berlimpah ruah tak terhitung banyaknya itu yang diberikan kepada kita semua. Dan atas seizin Allah pula kita masih dipertemukan melalui mimbar yang hadir di pagi hari Jum’at, 10 Shafar 1427 H yang bertepatan dengan tanggal 10 Maret 2006, yang akan membahas masih berkaitan dengan mimbar-mimbar sebelumnya, yaitu tentang kesuksesan. Namun sebelumnya, selaku umat Nabi Muhammad salallahu alaihi wassalam seyogyanya kita bermohon semoga curahan shalawat dan salam senantiasa melimpah kepada beliau beserta seluruh keluarga dan para sahabatnya, dan juga semua pengikutnya dari jaman ke jaman yang tetap konsisten melanjutkan perjuangannya sehingga Islam tetap tegak di muka bumi sampai kiamat nanti.

    Muslimin dan muslimat dimana saja berada,

    Plato pernah berkata : “Kesuksesan awal dan yang terbaik adalah menundukkan diri sendiri (hawa nafsunya). Dan sebaliknya, ditundukkan oleh diri sendiri (hawa nafsunya) adalah yang paling memalukan dan paling hina dari segala-galanya”. Hawa nafsu adalah fitrah manusia sehingga tidak mungkin dibuang atau dipungkiri keberadaannya, sekaligus merupakan anugerah Allah sebagai daya pendorong untuk mewujudkan kemauan yang melahirkan gerak dan kekuatan. Potensi hawa nafsu pada dasarnya adalah positif. Dia merupakan dorongan atau energi mental untuk meraih apa yang ingin dicapai. Hanya saja, dorongan, motivasi dan ambisi-ambisi tersebut harus dikendalikan sedemikian rupa sehingga tidak berubah menjadi ambisius yang menjerumuskan pada sifat-sifat arogansi dan tindakan yang di luar kendali. Hawa nafsu yang tidak terkendali, bukan saja akan membakar orang lain, tetapi juga akan membumi-hanguskan dirinya sendiri. Jiwanya akan menjadi buta dan arah tindakannya sangat mekanistik hanya satu arah, ibarat robot yang dikendalikan kekuatan listrik yang melebihi kapasitas geraknya yang normal. Itulah sebabnya pengendalian terhadap ambisi atau dorongan hawa nafsu merupakan salah satu kunci kesuksesan. Dan kunci pengendalian diri terletak pada pikiran, keyakinan dan kebiasaan-kebiasaan kita sendiri. Peranan fuad atau hati nurani dan kesadaran diri sangat dibutuhkan untuk mengendalikan dan mengarahkan potensi hawa nafsu, sehingga hawa nafsu tersebut tidak mampu mengembangkan potensi negatifnya yang akan mengarahkan perjalanan hidup kita kepada duniawi semata, yang gemerlap dalam gelap penuh dengan sifat keburukan dan fana. Kemampuan fuad dan kesadaran dalam mengendalikan hawa nafsu kita merupakan kesuksesan besar untuk melangkah menuju harapan masa depan yang lebih baik, bukan hanya dalam kehidupan dunia saja, tetapi juga untuk kehidupan akhirat kelak. Kemuliaan manusia justru berada dalam dinamika potensi hawa nafsu yang mampu dikendalikannya. Ibarat seorang penggembala yang menggiring domba gembalaannya, meskipun ada domba yang bandel atau binal, tercecer berlari kesana kemari, namun tugas penggembala bukanlah untuk membunuhnya, tetapi menggiringnya menuju kandang yang membatasi ruang gerak domba tersebut dan sekaligus menyelamatkannya dari terkaman srigala atau predator lainnya.

    Dengan demikian, selama kita mengetahui tabiat hawa nafsu, mengetahui arah dan gerakannya, niscaya lebih mudah mengendalikannya, bahkan diarahkan untuk menggapai tujuan hidup yang hakiki, sehingga kesuksesan dapat di raih bukan hanya ketika dalam menjalani kehidupan di dunia yang sementara saja, tetapi juga kesuksesan di akhirat yang abadi. Kita menyadari bahwa tabiat hawa nafsu itu cenderung mengarah ke bumi (duniawi) atau potensi hawa nafsu itu merupakan api pembakar, sehingga bila tidak dikendalikan akan merusak dan menghanguskan ruhani kita, sehingga akan menyimpang dari kebenaran. Oleh karena itu Allah mengingatkan manusia : ” …..Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsumu karena ingin menyimpang dari kebenaran …” (QS An Nisaa’ 135). Bahkan dengan tabiat hawa nafsu yang mengarah pada penyimpangan dari kebenaran itu, dapat menjebak dan menyebabkan manusia menjadi sesat dan jauh dari cahaya Ilahi, seperti yang diingatkan Allah melalui firmanNya : ” …..dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsumu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat karena mereka melupakan hari perhitungan” (QS Shaad 26). Dari kedua peringatan Allah tersebut, jelaslah bagi kita bahwa jika ingin sukses dunia dan akhirat, maka syaratnya kita harus mampu mengendalikan hawa nafsu sendiri. Apa sarananya agar kita selalu mampu mengendalikan hawa nafsu tersebut sehingga kita dapat meraih kesuksesan ? Salah satu sarana yang paling efektif dalam melatih pengendalian hawa nafsu kita adalah dengan banyak mengosongkan perut atau melaparkan diri alias berpuasa. Namun puasa saja belum cukup untuk meraih kesuksesan, masih harus ditunjang dengan sarana-sarana lainnya, sesuai ketentuan yang telah ditetapkan Allah kepada manusia.

    Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah,

    Dengan mengacu pada firman Allah QS An Nuur 55-56 dan Al Hajj 40-41 yang terjemahannya dikutipkan pada mukadimah mimbar ini, paling tidak, ada lima (5) sarana untuk mencapai kesuksesan menurut perspektif Islam.

    Pertama, adalah mendirikan shalat, yaitu menunaikan shalat sebagaimana yang dikehendaki oleh syariat, dengan memenuhi persyaratannya, rukun-rukunnya, dan memahami hakekat shalat dan makna waktu dan gerakannya yang mendidik pelakunya berdisiplin dan rendah hati. Dengan demikian, melakukan shalat bukan hanya sekedar memenuhi kewajiban atau menggugurkan fardhu ‘ain saja, tetapi shalat yang berdampak luas dan positif terhadap pelakunya, yaitu berakhlak mulia, selalu mengingat Allah dan mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar : “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS Al Ankabuut 45). Dengan menegakkan shalat secara baik dan benar, akan mampu mengendalikan diri, membuat hati tentram, tidak banyak mengeluh dan jauh dari sifat kikir, seperti yang diinformasikan oleh Allah : “Sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang melaksanakan shalat, yang (dalam keadaan bagaimanapun) mereka tetap melaksanakan shalatnya” (QS Al Ma’aarij 19-23).

    Kedua, menunaikan zakat, yaitu kewajiban memberikan sebagian harta kita kepada yang berhak menerimanya, untuk membersihkan harta dan jiwa kita dalam rangka mencari ridha Allah. Dengan demikian, agar kita mampu berzakat, tentu kita berusaha menjadi orang yang mampu atau berkelebihan harta. Karena bagaimana mungkin kita bisa berzakat jika masuk dalam kategori kaum dhuafa/ fakir-miskin. Oleh karena itu, seseorang dianggap sukses di dunia dengan banyak harta adalah orang yang banyak menginfakan hartanya di jalan Allah, salah satunya dengan menunaikan zakat, sehingga dengan harta yang diinfakan/dizakatkan itu akan memberikan banyak manfaat bagi orang lain. Namun pada kenyataannya, masih ada atau mungkin masih banyak di antara kita yang masih berfikir duniawi dan matematis bahwa dengan mengeluarkan hartanya untuk diberikan kepada orang lain, dianggap rugi karena akan mengurangi jumlah kekayaannya, sehingga akan cenderung menjadi pelit/kikir. Hal ini sebenarnya Allah telah menginformasikan kepada kita : “Di antara orang-orang Arab badui itu, ada orang yang memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu sebagai kerugian dan ia menunggu-nunggu marabahaya menimpamu, (padahal) dialah yang akan ditimpa marabahaya. Dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui” (QS At Taubah 98).

    Ketiga, amar ma’ruf nahi munkar, yaitu mengajak atau menyuruh orang lain untuk berbuat kebaikan dan berusaha mencegah orang lain untuk berbuat kejahatan. Tentunya sebelum melakukan hal itu terhadap orang lain, diri kita harus sudah melaksanakannya terlebih dahulu. Karena jika tidak demikian, Allah akan membenci kita seperti yang ditegaskan melalui firmanNya : “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat ? Amat besar kebencian di sisi Allah terhadap kamu yang mengatakan apa yang tidak kamu perbuat”. (QS Ash Shaff 2-3). Untuk bisa beramar ma’ruf nahi munkar tentunya harus memiliki ilmu dan wawasan. Dan untuk itu tentunya harus terus belajar agar ilmu dan wawasan kita terus meningkat. Belajar memahami ayat-ayat Allah baik yang terulis berupa Al-Qur’an maupun yang tidak tertulis berupa alam dan lingkungan hidup di sekitar kita. Belajar untuk menambah ilmu pengetahuan dan juga belajar dari pengalaman, baik dari kesuksesan maupun dari kegagalan. Tentunya semua itu akan menjadi kunci kesuksesan kita.

    Keempat, mentaati Rasul, karena taat kepada Rasul berarti taat kepada Allah, seperti yang dinyatakan dalam firman Allah : “Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah.” (QS An Nisaa’ 80). Untuk bisa mentaati Rasul, seyogyanya kita harus mengetahui siapa sesungguhnya Rasul itu, bagaimana kehidupannya, bagaimana karakter atau akhlaknya, bagaimana perjuangannya, dan sebagainya. Dengan mengetahui riwayat kehidupan Rasul, maka kita akan berusaha untuk dapat meneladaninya, seperti yang dipesankan oleh Allah kepada kita : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir dan dia banyak menyebut Allah” (QS Al Ahzab 21). Seperti yang kita ketahui bahwa Nabi Muhammad Rasulullah adalah manusia yang mencapai kesuksesan luar biasa, baik sebagai pemimpin, sebagai pendakwah, sebagai enterpreuner, sebagai bisnismen, sebagai kepala keluarga, dan yang mencakup berbagai aspek kehidupan lainnya. Oleh karena itu, untuk mencapai kesuksesan kita selayaknya menjadikan beliau sebagai referensi utama.

    Kelima, mengembalikan segala urusan kepada Allah. Maknanya bahwa kita sebagai manusia hanyalah wajib berusaha, tetapi ketentuan akan keberhasilan usaha kita itu ada di tangan Allah. Terkadang apa yang kita dapatkan dari usaha itu tidak seperti yang kita harapkan atau rencanakan. Atau bahkan hasilnya di luar dugaan, melebihi apa yang ditargetkan. Oleh karena itu, ketika kita mendapat kegagalan dalam suatu usaha, bersabar dan tidak perlu putus asa, dan ketika kita mendapat keberuntungan, banyak bersyukur. Atau dengan kata lain kembalikan semuanya kepada Allah, karena Dia-lah yang mengatur segalanya. Ketika mendapat kegagalan, mungkin Allah menghendaki kebaikan yang lain kepada kita, sesuatu yang tidak kita ketahui. Dengan demikian kita berusaha tidak akan dan jangan pernah berburuk sangka kepada Allah, jika mendapat kegagalan atau musibah.

    Semoga dengan memahami sarana Qur’ani untuk meraih kesuksesan, akan memotivasi kita untuk berusaha dapat melaksanakannya sesuai kemampuan kita masing-masing. Dimulai dari usaha selalu mengedalikan hawa nafsu kita dengan sarana berpuasa, kemudian mengikuti lima sarana yang mengacu kepada firman Allah QS An Nuur 55-56 dan Al Hajj 40-41 di atas, insya Allah, derajat kemuliaan kita akan meningkat dan kesuksesan dunia akhirat akan kita raih. Hal itu merupakan sunnatullah yang tidak pernah berubah selamanya. “Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tidak akan pernah menemukan perubahan bagi sunnatullah itu” (QS Al Fath 23). Masalahnya kembali kepada kita, apakah kita mau melaksanakannya dengan benar dan sungguh-sungguh atau tidak. Maka, jika memang kita ingin sukses dunia akhirat, kita harus berusaha dapat melaksanakannya dan tentu tidak lupa dibarengi dengan do’a. Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita do’a memohon kesuksesan : “Allahumma innii as-aluka shihhatan fii iimaanin wa iimaanan fii husni khuluqin wa najaahan yathba’uhu falaahun wa rahmatan minka wa ‘aafiyatan wa maghfiratan minka wa ridhwana (Ya Allah sungguh aku mohon kepadaMu kemurnian iman dan akhlak terpuji serta kesuksesan yang disertai keberuntungan, dan aku mohon rahmat, kesehatan, pengampunan dan keridhaanMu)” (HR Hakim). Semoga kita menjadi orang yang sukses, amien. Dan kita akhiri mimbar ini, alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin.

    Wassalamu’alaikum wr.wb.

    Nana Djumhana

     
  • erva kurniawan 1:23 am on 26 November 2019 Permalink | Balas  

    Para Penghuni Gua 

    Para Penghuni Gua

    Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) prasasti itu mereka, termasuk tanda-tanda Kami yang mengherankan. (QS Al Kahfi 9)

    Surat ke 18 Al Qur’an dinamakan dengan “Al-Khaf” yang berarti “gua”, menceritakan tentang sekelompok pemuda yang berlindung di sebuah gua untuk bersembunyi dari penguasa yang mengingkari Allah dan melakukan penindasan dan perbutan tidak adil atas mereka yang beriman. Ayat-ayat yang menerangkan tentang hal ini adalah sebagai berikut :

    Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunya) prasasti itu mereka, termasuk tanda-tanda Kami yang mengherankan?. (ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu encari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”.

    Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu, kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tingal (di dalam gua itu). Kami menceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesunguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk; dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka). Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orrang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?. Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu . Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka dalam tempat yang yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari anda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.

    Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka.

    Dan demikianlah Kami bangunkan merka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Sudah berapalamakah kamu berada (disini)?”. Mereka menjawab” “Kita berada (disini) sehari atau etengah hari”. Berkata (yang lain lagi) “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (disini). Maka suruhlah salah satu orang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun.

    Sesungguhnya jika mereka dapat mengatahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu atau memaksamu kembali kepada agama mereka dan jika demikian nisaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya:

    Dan demikianlah (kami) mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: “dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka”. Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan diatasnya”. Nanti (ada orang yang akan ) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya dan (yang lain) mengatakan: “(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjingnya”, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib: dan (yang lain lagi) mengatakan: “(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya” Katakanlah : “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Muhammmad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun diantara mereka.

    Dan janganlah sekali-kali kamu mengatakan terhadap seuatu ; “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah; “Mudah-mudahan Tuhanku memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini”. Dan mereka tinggal di dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).

    Katakanlah: ” Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nyalah semua yang tersembunyi di langit dan bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain daripada-Nya’ dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan”. (QS Al Kahfi 9-26).

    Menurut kepercayaan yang berkembang luas di kalangan pengikut agama Islam dan Kristen, yang dimaksudkan dengan para Penghuni Gua adalah warga negara dari tiran yang kejam dari kekaisaran Romawi bernama Decius. Dikarenakan menemui penindasan dan tindakan sewenang-wenang, sekelompok orang muda ini memperingatkan kaumnya berkali-kali untuk tidak meninggalkan agama Allah. Ketidakacuhan dari kaumnya terhadap pesan-pesan tersebut dijawab dengan peningkatan penindasan oleh pihak kekaisaran dan mereka diancam untuk dibunuh, hal ini mengakibatkan mereka untuk meninggalkan rumah mereka (berlilndung).

    Sebagaimana dikabarkan oleh catatan sejarah, pada saat itu, banyak kekaisaran yang melaksanakan kebijakan teror secara meluas, penindasan dan tindakan sewenang-wenang terhadap mereka yang percaya kepada agama Kristen dalam bentuk dan asalnya yang murni.

    Dalam sebuah surat yang ditulis oleh Gubernur Romawi Pilinius (69-113 M) yang berada di Barat Laut Anatolia kepada Kaisar Trayanus, ia menghubungkannya dengan “orang-orang Messiah (Kristen) yang dihukum karena mereka menolak untuk menyembah patung dari sang kaisar”. Surat ini adalah salah satu dokumen terpenting yang berkaitan dengan penindasan yang menimpa orang-orang Kristen pada masa awalnya. Berada dalam situasi seperti ini, maka orang-orang muda ini yang diperintahkan untuk tunduk kepada system yang non-agama dan untuk menyembah seorang kaisar sebagai tuhan selain Allah, merekapun tidak menerima hal ini dan mengatakan :

    dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalu demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka). Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?. (QS Al Kahfi 14-15).

    Dengan memperhatikan daerah dimana Para Penghuni Gua hidup, terdapat beberapa pandangan yang berbeda. Yang paling bisa diterima dengan akal daerah ini adalah Ephesus dan Tarsus.

    Hampir semua sumber dari agama Kristen menunjukkan Ephesus adalah tempat dari Gua dimana orang-orang muda yang beriman ini berlindung. Beberapa peneliti Muslim dan pengamat Al Qur’an setuju dengan pendapat kaum Kristen tentang Ephesus. Beberapa yang lainnya menerangkan dengan terperinci bahwa tempat tersebut bukanlah Ephesus, dan kemudian berusaha untuk membuktikan bahwa kejadian tersebut terjadi di Tarsus. Dalam penelitian ini, kedua alternatif ini akan dibahas. Lagipula, semua peneliti dan pengamat – termasuk kalangan Kristen – mengatkan bahwa kejadian tersebut terjadi pada masa Kekaisaan Romawi Decius ( yang juga disebut dengan Decianus) sekitar 250 M.

    Decius bersama dengan Nero dikenal sebagai Kaisar Romawi yang sangatlah sering menyiksa kaum Kristen. Dalam masa pemerintahannya yang singkat, ia mengesahkan sebuah hukum yang memaksa semua orang yang berada di bawah kekuasaannya untuk melakukan sebuah pengorbanan terhadap dewa-dewa Roawi. Seiap orang diwajibkan untuk melakukan pengorbanan terhadap dewa-dewa ini dan mereka harus mampu menunjukkan surat sertifikat yang menyatakan bahwa mereka telah melakukan pengorbanan tersebut yang harus mereka tunjukkan kepada petugas pemerintahan. Bagi mereka yang tidak mematuhinya akan dibunuh. Dalam sumber-sumber Kristen hal ini dikatakan bahwa sebagian besar dari kaum Kristen menolak perilaku musyrik ini dan melarikan diri dari “satu kota ke kota lain” atau bersembunyi di tempat rahasia. Para Penghuni gua kemungkinan besar adalah salah satu kelompok diantara para kaum Kristen awal ini.

    Namun demikian ada satu hal yang harus ditekankan disini; topik ini telah diceritakan dalam sebuah cerita (perilaku) oleh banyak ahli sejarah dan pengamat Islam dan Kristen, dan akhirnya berubah menjdi sebuah legenda sebagai hasil dari penambahan-penambahan yang penuh dengan kepalsuan dan cerita mulut ke mulut. Namun demikian, kejadian ini adalah benar-benar merupakan kenyataan sejarah yang tidak apat diingkari.

    Adakah Para Penghuni Gua berada di Ephesus

    Sebagaimana diketahui kota dimana orang-orang muda ini hidup dan gua dimana mereka berlindung, beberapa tempat diindikasikan dalam berbagai sumber yang berbeda. Alasan utama untuk alasan ini adalah : orang-orang ingin percaya bahwa sebuah keteguhan hati dan keberanian dari orang-orag yang hidup dikotanya dan banyaknya kesamaan antara gua-gua yang ada di daerah tersebut. Sebagai contoh, hampir di semua tempat ini terdapat tempat untuk menyembah dikatakan dibangun diatas gua-gua.

    Sebagaimana dikenal luas, Ephesus diterima sebagai sebuah tempat suci bagi orang Kristen, karena dikota tersebut terdapat sebuah rumah yang dikatakan menjadi milik Perawan Maria dan yang kemudian berubah menjadi sebuah gereja. Jadi sangatlah mungkin bahwa Para Penghuni Gua pernah hidup disalah datu diantara tempat-tempat suci tersebut. Beberapa sumber Kristen bahkan menegaskan bahwa tempatnya adalah disini.

    Sumber tertua yang berkaitan dengan hal ini adalah dari seorang pendeta Syria bernama James dari Saruc ( lahir 452 M). Ahli sejarah terkemuka Gibbon telah banyak mengutip dari penelitian James dalam bukunya yang berjudul The Decline and Fall of the Roman Empire (Kemunduran dan runtuhnya Kekaisaan Romawi). Berdasarkan buku ini, Kaisar yang melakukan penyiksaan tujuh pemuda pemeluk agama Kristen dan memamksa mereka untuk bersembunyi di dalam gua adalah kaisar Decius. Decius berkuasa di Kekaisaan Romawi antara 249-251 M dan masa pemerinahannya dikenal luas terhadap penyiksaan yang dilakukan terhadap para pengikut Nabi Isa (Jesus). Menurut para pengamat Islam, daerah dimana kejadian tersebut terjadi adalah “Aphesus” atau juga “Aphesos”. Menurut Gibbon nama dari tempat ini adalah Ephesus. Terletak di pantai Barat Anatolia, kota ini adalah salah satu pelabuhan dan kota terbesar dari kekaisaran Romawi. Saat ini reruntuhan dari kota ini dikenal sebagai “Kota Antik Ephesus”.

    Bagian dalam dari gua di Ephesus yang dianggap sebagai gua yang ditempati Para Penghuni Gua.

    Nama dari kaisar yang memerintah dalam masa ketika para Penghuni Gua dibangunkan dari tidur mereka yang panjang adalah Tezusius menurut para peneliti Muslim, dan menurut Gibon adalah Theodosius II menurut Gibbons. Kekaisaran ini berkuasa antra 408-450 M, setelah kekaisaran Romawi berubah memeluk agama Kristen.

    Menurut ayat dibawah ini, dalam beberapa komentarnya dikatakan bahwa pintu masuk dari gua mengarah ke Utara sehingga sinar matahari tidak bisa menembus ke alam gua. Dengan demikian seseorang yang melewati gua tersebut tidak dapat melihat sama sekali apa yang ada didalamnya. Ayat Al Qur’an yang berkaian dengan hal ini mengatakan :

    Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka dalam tempat yang yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari anda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.( QS Al Kahfi: 17)

    Gua di Ephesus tampak dari luar. Ahli Arkeologis Dr. Musa Baran menunjuk Ephesus sebagai tempat dimana sekelompok orang muda yang beriman ini hidup, dalam bukunya yang berjudul “Ephesus” dia menambahkan :

    **Di tahun 250 SM, tujuh orang pemuda yang idup di Ephesus memilih untuk memeluk agama Kristen dan menolak penyembahan terhadap berhala . Mencoba untuk mencari jalan keluar, sekelompok pemuda ini menemukan sebuah gua yang berada di sebelah Timur lereng gunung Pion. Tentara Romawi yang melihat ini dan merekapun membangun dinding di pintu gua tersebut .

    Saat ini, telah diketahi bahwa diatas reruntuhan tua dan kuburan ini banyak didirikan bangunan religius. Penggalian yang dilakukan oleh Institut Arkrologi Austria di ahun 1926 mengungkapkan bahwa reruntuhan yang ditemukan di lereng Timur dari gunung Pion merupakan sebuah bangunan yang didirikan untuk kepentingan Para Penghuni Gua di pertengahan abad 7 (selama masa kepemimpinan Theodosius II) .

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 25 November 2019 Permalink | Balas  

    Barokah Sholat Khusu 

    Barokah Sholat Khusu’

    Hikam : Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman yaitu orang-orang yang khusyu dalam sholatnya dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna (Al-Quran: Surat Al-Mu`minun )

    Rasulullah SAW bersabda : Ilmu yang pertama kali di angkat dari muka bumi ialah kekhusyuan. (HR. At-Tabrani )

    Nabi Muhammad SAW dalam sholatnya benar-benar dijadikan keindahan dan terjadi komunikasi yang penuh kerinduan dan keakraban dengan Allah. Ruku, sujudnya panjang, terutama ketika sholat sendiri dimalam hari, terkadang sampai kakinya bengkak tapi bukannya berlebihan, karena ingin memberikan yang terbaik sebagai rasa syukur terhadap Tuhannya. Sholatnya tepat pada waktunya dan yang paling penting, sholatnya itu teraflikasi dalam kehidupan sehari-hari.

    Ciri-ciri orang-orang yang sholatnya khusyu:

    1. Sangat menjaga waktunya, dia terpelihara dari perbuatan dan perkataan sia-sia apa lagi maksiat. Jadi orang-orang yang menyia-nyiakan waktu suka berbuat maksiat berarti sholatnya belum berkualitas atau belum khusyu.
    2. Niatnya ikhlas, jarang kecewa terhadap pujian atau penghargaan, dipuji atau tidak dipuji, dicaci atau tidak dicaci sama saja.
    3. Cinta kebersihan karena sebelum sholat, orang harus wudhu terlebih dahulu untuk mensucikan diri dari kotoran atau hadast.
    4. Tertib dan disiplin, karena sholat sudah diatur waktunya.
    5. Selalu tenang dan tuma`ninah, tuma`ninah merupakan kombinasi antara tenang dan konsentrasi.
    6. Tawadhu dan rendah hati, tawadhu merupakan akhlaknya Rasulullah.
    7. Tercegah dari perbuatan keji dan munkar, orang lain aman dari keburukan dan kejelekannya.

    Orang yang sholatnya khusyu dan suka beramal baik tapi masih suka melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah, mudah-mudahan orang tersebut tidak hanya ritualnya saja yang dikerjakan tetapi ilmunya bertambah sehingga membangkitkan kesadaran dalam dirinya.

    Jika kita merasa sholat kita sudah khusyu dan kita ingin menjaga dari keriaan yaitu dengan menambah pemahaman dan mengerti bacaan yang ada didalam sholat dan dalam beribadah jangan terhalang karena takut ria.

    Inti dalam sholat yang khusyu yaitu akhlak menjadi baik, sebagaimana Rosulullah menerima perintah sholat dari Allah, agar menjadikan akhlak yang baik. Itulah ciri ibadah yang disukai Allah.

    Semoga di bulan ramadhan ini kita meningkatkan kualitas sholat kita.

    ***

    Tausyiah AA. Gym.

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 24 November 2019 Permalink | Balas  

    Belajar Dari Wajah 

    Belajar Dari Wajah

    Menarik sekali jikalau kita terus menerus belajar tentang fenomena apapun yang terjadi dalam hiruk-pikuk kehidupan ini. Tidak ada salahnya kalau kita buat semacam target. Misalnya : hari ini kita belajar tentang wajah. Wajah? Ya, wajah. Karena masalah wajah bukan hanya masalah bentuknya, tapi yang utama adalah pancaran yang tersemburat dari si pemilik wajah tersebut.

    Ketika pagi menyingsing, misalnya, tekadkan dalam diri : “Saya ingin tahu wajah yang paling menenteramkan hati itu seperti apa? Wajah yang paling menggelisahkan itu seperti bagaimana?” karena pastilah hari ini kita akan banyak bertemu dengan wajah orang per orang. Ya, karena setiap orang pastilah punya wajah. Wajah irtri, suami, anak, tetangga, teman sekantor, orang di perjalanan, dan lain sebagainya. Nah, ketika kita berjumpa dengan siapapun hari ini, marilah kita belajar ilmu tentang wajah.

    Subhanallaah, pastilah kita akan bertemu dengan beraneka macam bentuk wajah. Dan, tiap wajah ternyata dampaknya berbeda-beda kepada kita. Ada yang menenteramkan, ada yang menyejukkan, ada yang menggelikan, ada yang menggelisahkan, dan ada pula yang menakutkan. Lho, kok menakutkan? Kenapa? Apa yang menakutkan karena bentuk hidungnya? Tentu saja tidak! Sebab ada yang hidungnya mungil tapi menenteramkan. Ada yang sorot matanya tajam menghunjam, tapi menyejukkan. Ada yang kulitnya hitam, tapi penuh wibawa.

    Pernah suatu ketika berjumpa dengan seorang ulama dari Afrika di Masjidil Haram, subhanallaah, walaupun kulitnya tidak putih, tidak kuning, tetapi ketika memandang wajahnya… sejuk sekali! Senyumnya begitu tulus meresap ke relung qolbu yang paling dalam. Sungguh bagai disiram air sejuk menyegarkan di pagi hari. Ada pula seorang ulama yang tubuhnya mungil, dan diberi karunia kelumpuhan sejak kecil. Namanya Syekh Ahmad Yassin, pemimpin spiritual gerakan Intifadah, Palestina. Ia tidak punya daya, duduknya saja di atas kursi roda. Hanya kepalanya saja yang bergerak. Tapi, saat menatap wajahnya, terpancar kesejukan yang luar biasa. Padahal, beliau jauh dari ketampanan wajah sebagaimana yang dianggap rupawan dalam versi manusia. Tapi, ternyata dibalik kelumpuhannya itu beliau memendam ketenteraman batin yang begitu dahsyat, tergambar saat kita memandang sejuknya pancaran rona wajahnya.

    Nah, saudaraku, kalau hari ini kita berhasil menemukan struktur wajah seseorang yang menenteramkan, maka caru tahulah kenapa dia sampai memiliki wajah yang menenteramkan seperti itu. Tentulah, benar-benar kita akan menaruh hormat. Betapa senyumannya yang tulus; pancaran wajahnya, nampak ingin sekali ia membahagiakan siapapun yang menatapnya. Dan sebaliknya, bagaimana kalau kita menatap wajah lain dengan sifat yang berlawanan; (maaf, bukan bermaksud meremehkan) ada pula yang wajahnya bengis, struktur katanya ketus, sorot matanya kejam, senyumannya sinis, dan sikapnya pun tidak ramah. Begitulah, wajah-wajah dari saudara-saudara kita yang lain, yang belum mendapat ilmu; bengis dan ketus. Dan ini pun perlu kita pelajari.

    Ambillah kelebihan dari wajah yang menenteramkan, yang menyejukkan tadi menjadi bagian dari wajah kita, dan buang jauh-jauh raut wajah yang tidak ramah, tidak menenteramkan, dan yang tidak menyejukkan.

    Tidak ada salahnya jika kita evalusi diri di depan cermin. Tanyalah; raut seperti apakah yang ada di wajah kita ini? Memang ada diantara hamba-hamba Allah yang bibirnya di desain agak berat ke bawah. Kadang-kadang menyangkanya dia kurang senyum, sinis, atau kurang ramah. Subhanallaah, bentuk seperti ini pun karunia Allah yang patut disyukuri dan bisa jadi ladang amal bagi siapapun yang memilikinya untuk berusaha senyum ramah lebih maksimal lagi.

    Sedangkan bagi wajah yang untuk seulas senyum itu sudah ada, maka tinggal meningkatkan lagi kualitas senyum tersebut, yaitu untuk lebih ikhlas lagi. Karena senyum di wajah, bukan hanya persoalan menyangkut ujung bibir saja, tapi yang utama adalah, ingin tidak kita membahagiakan orang lain? Ingin tidak kita membuat di sekitar kita tercahayai? Nabi Muhammad SAW, memberikan perhatian yang luar biasa kepada setiap orang yang bertemu dengan beliau sehingga orang itu merasa puas. Kenapa puas? Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW – bila ada orang yang menyapanya – menganggap orang tersebut adalah orang yang paling utama di hadapan beliau. Sesuai kadar kemampuannya.

    Walhasil, ketika Nabi SAW berbincang dengan siapapun, maka orang yang diajak berbincang ini senantiasa menjadi curahan perhatian. Tak heran bila cara memandang, cara bersikap, ternyata menjadi atribut kemuliaan yang beliau contohkan. Dan itu ternyata berpengaruh besar terhadap sikap dan perasaan orang yang diajak bicara.

    Adapun kemuramdurjaan, ketidakenakkan, kegelisahan itu muncul ternyata diantara akibta kita belum menganggap orang yang ada dihadapan kita orang yang paling utama. Makanya, terkadang kita melihat seseorang itu hanya separuh mata, berbicara hanya separuh perhatian. Misalnya, ketika ada seseorang yang datang menghampiri, kita sapa orang itu sambil baca koran. Padahal, kalau kita sudah tidak mengutamakan orang lain, maka curahan kata-kata, cara memandang, cara bersikap, itu tidak akan punya daya sentuh. Tidak punya daya pancar yang kuat.

    Orang karena itu, marilah kita berlatih diri meneliti wajah, tentu saja bukan maksud untuk meremehkan. Tapi, mengambil tauladan wajah yang baik, menghindari yang tidak baiknya, dan cari kuncinya kenapa sampai seperti itu? Lalu praktekkan dalam perilaku kita sehari-hari. Selain itu belajarlah untuk mengutamakan orang lain!

    Mudah-mudahan kita dapat mengutamakan orang lain di hadapan kita, walaupun hanya beberapa menit, walaupun hanya beberapa detik, subhanallaah.

    ***

    Tausyiah AA. Gym.

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 23 November 2019 Permalink | Balas  

    Al Waliyyu 

    Al Waliyyu

    Bismillahhirrahmaanirrahiim,

    Semoga Allah yang Maha Menatap, mengkaruniakan kepada kita nikmatnya berlindung hanya kepada Allah, amannya berlindung hanya kepada Allah, karena yang membuat kita gelisah adalah ketika kita berlindung selain kepada Allah.

    Al-Walliyyu makna dasarnya menurut Prof. Dr. Quraish Syihab yaitu dekat, kemudian muncul makna-makna baru yaitu pendukung, pembela, pelindung, yang mencintai, yang lebih utama, dll.

    Seperti tertera dalam Al-Qur’an “Allah pelindung orang yang beriman yang mengeluarkan dari kegelapan kepada cahaya iman”.

    Perlindungan Allah yang paling penting adalah diberi keteguhan iman. Perlindungan Allah yang paling besar adalah diberi kekuatan iman. Makin kuat iman, kita mau diapa-apakan tidak masalah. Jadi kalau ingin diberi perlindungan Allah yang paling kokoh adalah minta diberi kekuatan iman dan minta diteguhkan. Akal kita dicerdaskan juga dapat merupakan perlindungan Allah sehingga kita bisa bertemu dengan perlindungan Allah.

    Perlindungan Allah itu bermacam-macam, contohnya pada Perang Badar, bukan hanya pasukan malaikat saja yang turun tetapi musuh juga jadi terlihat sedikit dimata kaum muslimin.

    Musuh terbesar bagi kita adalah bukan makhluk, karena itu hanya alat, musuh besar kita adalah setan dan kawan-kawannya. Hal yang paling berbahaya bagi kita adalah bukan orang lain tetapi sikap kita sendiri. Sedangkan kalau tidak ada musuh tidak akan seru. Maka orang-orang yang berlindung kepada Allah pasti memuaskan dan nikmat, karena perlindungan Allah itu spektrumnya sangat luas, bisa terdeteksi bisa juga tidak terdeteksi oleh akal kita. Tidak ada yang tidak masuk akal, tetapi akal kita yang tidak sampai. Titipkan istri atau suami masing-masing kepada Allah. Dengan mengamalkan doa “Hasbunallah wani’malwakil Ni’malmaula wani’mal nashir”. Dengan mengamalkan doa ini dan meyakini bahwa semua makhluk itu milik Allah. Dengan Allah-lah urusan kita serahkan. Berdiri, duduk dan berbaring ingat kepada Allah karena semuanya milik Allah. Sesuai dengan kisah Nabi Muhammad SAW ketika diancam untuk dibunuh dengan pedang terhunus, kata yang keluar dari mulut Beliau adalah “Aku berlindung kepada Allah”.

    Ini adalah ilmu hati, berbeda lagi dengan ilmu akal dan ilmu fisik, karena nanti kita tidak bisa mati konyol karena hanya yakin. Ini adalah jalan syariat untuk tidak konyol.

    Tidak boleh keyakinan melemahkan ikhtiar, tidak boleh kegigihan ikhtiar memperlemah keyakinan. Jadi lakukanlah ikhtiar; tubuh 100% bersimbah keringat terus berbuat all out, otak peras sesuai teknologi yang paling mutakhir saat ini. Kita tidak bisa konyol dengan hanya membawa panah melawan peluru. Ilmu hatinya sudah benar dengan keyakinan tetapi sunnatullahnya adalah kecepatan peluru lebih daripada panah, hal ini harus diakali. Berbeda dengan zaman Rasul atau sudah tidak ada peluang.

    Sebuah kisah meriwayatkan ketika Rasulullah hijrah dan berdoa di goa Tur, sahabat Abu Bakar merasa gentar, jawaban Rasul adalah “Jangan sedih sesungguhnya Allah bersama kita”.

    Jadi kita sempurnakan syariat, tubuh harus dimaksimalkan, otak juga. Dua-duanya akan menjadi ibadah. Tidak masalah jika kita mati terbunuh. Tidak ada yang kalah kecuali orang yang kurang iman. Kemenangan dan kekalahan hanya dipergilirkan. Mudah-mudahan kejadian di Palestina dan Amerika membuat kita semakin mantap untuk meyakini kebenaran.

    Walhamdulillahirobbil’alamiin.

     
  • erva kurniawan 8:55 am on 22 November 2019 Permalink | Balas  

    Jonathan Arnold : Dari ‘Belenggu Salib’ Menuju ‘Keteduhan Islam’ 

    Jonathan Arnold : Dari ‘Belenggu Salib’ Menuju ‘Keteduhan Islam’

    Kisah berikut adalah kisah seorang mu’alaf dari kota Malang mantan Pendeta Militan pelaku Pemurtadan yang banyak mengandung pelajaran berharga dan bahan renungan bagi kita bersama, berikut ini penuturannya.

    Saya dilahirkan 14 Juli 1943 di kota Malang Jawa Timur, hari Minggu pukul 09 00 WIB saat lagu kidung suci dikumandangkan di Gereja. Ayah saya seorang militer AD yang ditokohkan dan disegani oleh warga Kristiani (Protestan). Hidup dalam kedisiplinan yang tinggi adalah ciri keluarga kami. Sebagai seorang anggota militer, ayah saya telah menerapkan kedisiplinan yang tinggi dalam kehidupan kami dan sebagai seorang Kristiani yang ditokohkan, maka ayah saya termasuk yang sangat tidak bersahabat dengan umat Islam. Saya masih ingat betapa hebatnya orang tua menanamkan kebencian-kebencian dalam hati saya terhadap Islam. Menurut penuturan ibu, hal itu bermula dari tingkah laku oknum-oknum orang Islam yang banyak membikin sakit hati ayah. Itulah sebabnya saya dilarang bergaul dengan mereka dan selalu diawasi dengan ketat.

    Pada usia tiga bulan saya di babtis di gereja GPI Malang dengan nama Jonathan Arnold. Tiga tahun kemudian saya mulai sekolah di sekolah Minggu (Zondaag School) di gereja, sampai kemudian melanjutkan ke SMP dan SLTA Kristen.

    1. Menjadi Pengkabar Injil

    Kelebihan-kelebihan saya dalam sastra, kelancaran lidah saya dalam menyampaikan nas-nas suci BIBLE, ditunjang dengan keberanian dan penampilan saya yang meyakinkan, maka beberapa sesepuh Gereja menyatakan bahwa saya cocok sekali untuk menjadi pengkabar Injil. Inilah alasan ayah saya mengirim saya ke sekolah Theologia di kota Batu-Malang. Nilai akhir yang gemilang dan suksesnya theater yang saya tangani, para pendeta dan tokoh gereja mendesak orang tua saya agar mau mengirimkan saya ke Universitas Leiden-Belanda.

    Perjalanan ke negeri Kincir Angin saya lewati dengan mulus, saya memilih jurusan Pekabaran Injil dan filosofia, prinsip mata kuliahnya tidak jauh berbeda dengan yang saya terima di STI Batu-Malang.

    Setelah lulus dari Belanda, saya diangkat menjadi pendeta di kabupaten Lumajang pada akhir tahun 1967, saya langsung membentuk misi pekabaran yang sering dikenal dengan istilah kristenisasi, apa yang saya lakukan ini bukanlah hal yang baru. Hal ini telah dilakukan sejak zaman Belanda.

    1. Perjalanan hidupku sebagai penginjil

    Saya susun personil-personil yang cukup terlatih, terampil dan mau bekerja untuk Tuhan, ramah tamah, murah senyum dan tak kalah pentingnya bekal yang harus dimiliki anggota misi adalah sabar dan tahan pukul. Karena tugas meraka memang sangat berat. Mereka harus berani menyampaikan berita dari Allah dengan ‘door to door system’, Semua harus dilaksanakan dengan iklash, bersih hati dan senang. Karena Tuhan Yesus ( padahal Yudas-lah yang memanggul salib) telah rela memanggul salib sengsaranya yang cukup jauh. Oleh karena itu tidak ada alasan untuk berberat hati.

    1. Mencari kelemahan orang Islam

    Sebelum operasi benar-benar mulai, saya tebarkan anggota misi untuk meneliti dari dekat kehidupan orang-orang muslim. Ternyata ada 3 kelemahan :

    Pertama, Banyak orang Islam yang ikut-ikutan, Islamnya hanya Islam KTP dan tidak paham tentang Islam. Kedua, seringkali terjadi perpecahan antar umat Islam. Ketiga, banyak umat Islam yang serakah, tamak, bakhil tidak mau menolong fakir miskin dan yatim piatu. Dengan tiga faktor ini saya mulai misi, darah militer orang tua rupanya mengalir dalam tubuh saya, seperti seorang jendral mengatur pasukan tempur, saya sebar anggota saya ke daerah-daerah terpencil berpendidikan rendah dan berekonomi rendah.

    1. Strategi memurtadkan orang Islam

    Saya menyebut misi ini dengan sebutan ‘Operasi Simpati’, yaitu agar memperoleh simpati orang-orang Islam dengan jalan menolong fakir miskin. Dana yang kami peroleh cukup besar, karena di samping bersumber dari jemaat sendiri juga dari luar negeri seperti : Belanda, Amerika dan Australia. Saya juga berpesan kepada anggota misi agar segala sesuatunya tidak berkesan menarik orang masuk Kristen. Yang kesulitan biaya untuk sekolah di beri bea siswa, yang sakit diberi obat-obatan, yang susah dihibur, yang lapar diberi makan, yang lemah ekonomi diberi modal, bahkan yang keluarganya matipun ditolong dalam biaya dan pelaksanaan pemakaman, maka operasi simpati ini tampak dari luar sebagai operasi kemanusiaan, sehingga orang Islam banyak yang tertarik masuk Kristen tanpa dipaksa.

    Hasilnya sangat mengagumkan, dalam waktu singkat dapat memurtadkan hampir 1000 orang. Namun saya belum puas dengan hasil ini, saya meragukan kemurtadan mereka, apakah karena ekonomi atau benar-benar iklash masuk Kristen. Maka saya bikin formula baru yaitu saya kembangkan pergaulan bebas muda-mudi ala barat, saya kenalkan valentine day, pakaian dan kesenian barat kebudayaan hingga olahraga dan kegiatan-kegiatan lainnya yang mencuri waktu sholat hingga banyak anak-anak tidak sholat dan mengaji, padahal hal tersebut sebelumnya telah menjadi budaya umat Islam.

    1. Usaha saya melemahkan pondok pesantren

    Penyusunan sistem, metode, personil untuk pelayanan pekerjaan Tuhan juga telah saya persiapkan sangat matang, bahkan gerejapun sudah saya dirikan lengkap dengan sekedul kegiatannya. Dalam perjalanan pengkabaran Injil ke daerah Jember saya rencanakan hendak melemahkan pondok-pondok pesantren, terutama pondok pesantren Kyai Haji Ahmad Shiddiq”. Di sinilah saya bertemu dengan gadis berkerudung putih, pertemuan yang kemudian membuahkan pernikahan antara pendeta dan gadis muslimah. Saya dapat menikahinya karena berpura-pura telah masuk Islam dengan surat palsu yang saya bikin di penghulu Jatiroto.

    Rumah tangga berjalan aman hanya beberapa hari saja. Sebab masing-masing punya akidah yang tidak bisa dipertemukan, kebencian saya terhadap Islam makin lama semakin tidak bisa ditutup-tutupi, terjadilah pertengkaran demi pertengkaran dan setiap kali saya marah, istri saya tidak pernah melawan, yang dilakukannya yaitu langsung shalat dan baca Al-Qur’an. Dari sinilah timbul keinginan saya yang makin lama makin keras untuk mengetahui kandungan Al-Qur’an, maka saya pinjam AL-Qur’an yang ada terjemahannya terbitan dari DEPAG.

    1. Hatiku mulai mendapat petunjuk

    Terus terang saya belum pernah membaca Al-Qur’an, kalau membuang hampir tiap hari, pada suatu malam terjadilah sesuatu yang aneh, saat semua orang tidur nyenyak, sepi dan hening, Al-Qur’an saya buka dan seluruh tubuh saya seolah gemetar semua, ketika saya buka persis pada halaman yang ditandai benang pembatas yaitu surat Ar-Rahman, saya terpana dengan keindahan bahasa Al-Qur’an yang di ulang-ulang walau kalimatnya sederhana Nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan”.

    Lembar demi lembar saya buka, dan sampailah pada ‘surat Maryam’, Maryam ibunya Yesus dikisah-kan dalam Al-Qur’an lebih terhormat, suci, luhur dan mulya dari pada kisah Maryam dalam Alkitab.

    Begitu juga dengan sifat Tuhan dalam Al-Qur’an, Tuhan itu Esa adanya, ini berarti tidak boleh ada alternatif lain selain Allah SWT. Berbeda dengan Alkitab yang menyatakan Tuhan itu tiga yang amat tidak logis, apalagi doktrin Tuhan trinitas tersebut baru ada 325 tahun setelah Yesus diangkat ke langit. Al-Qur’an mengisahkan Allah itu kekal, yang membedakan antara mahluk dengan Tuhan, tetapi dalam Alkitab dikisahkan Tuhan telah mati disalib dan Tuhan dikisahkan kalah berkelahi dengan a’kub. Masih banyak hal-hal logis yang tidak saya jumpai dalam Alkitab yang membuat imanku mulai goyang.

    Hari masih pagi ketika itu, langit tampak cerah dan matahari begitu hangatnya, semalaman saya tidak dapat tidur dengan pikiran yang kalut. Kemarin saya bertengkar dengan istriku, seperti biasa karena keyakinan yang berbeda. Pagi itu istriku minta dipulangkan ke rumah orang tuanya, karena tidak kuat menahan perasaan karena suami selalu memojokkan bahkan menghina keyakinan.”Maaf mas, saya mau nikah sama mas karena kehendak orang tua. Di Islam hukumnya anak harus nurut sama orang tua. Saya sudah taat, tetapi rupanya saya mau di-Kristenkan, maaf mas, bagi saya lebih baik kehilangan Mas dari pada harus kehilangan Iman-Islam, Besok setelah sholat subuh antarkan saya kembali ke orang tua.”

    Besok harinya, tiba-tiba istri saya sudah siap untuk minta dipulangkan ke orang tuanya. “Kamu harus tetap tinggal di rumah ini bersama saya” kata-kataku memulai dan dia menatapku dengan tajam. “sampai perasaanku hancur…sampai imanku hancur..??” tanyanya. “..Tidak..!!, aku tidak akan berbuat sekasar itu lagi terhadapmu, aku berjanji di depan Tuhan, kau bebas dengan agamamu, bahkan kau bebas membaca kitab sucimu. Tadi malam kitab itu telah aku baca, isinya luar biasa dan benar mutlak. Tapi maaf…aku masih belum yakin, bahwa Islam agama yang benar, aku akan menyelidiki” jawabku menjelaskan pada istriku. “Kalau Islam yang benar mas ?” tanya istriku. “Kalau Islam yang benar maka aku akan masuk Islam, tetapi kalau ternyata Islam yang salah atau keliru, maka kamu harus masuk gereja” jawab saya menantang.

    1. Iman saya mulai goyang dan tertarik dengan agama Islam

    Saya mulai membeli buku-buku Islam, minta bantuan ke kedutaan-kedutaan Islam bagian penerangan Kerajaan Islam Saudi Arabia. Saya datang kepondok-pondok pesantren mulai dari Banyuwangi sampai ke Kediri. Tidak ada waktu yang berlalu kecuali saya isi dengan belajar perbandingan agama,saya bertekad mencari kebenaran. Saya tidak ingin membohongi hati nurani.

    Banyak sekali kebenaran hakiki yang saya jumpai dalam Al-Qur’an, semakin lama semakin nampak kejanggalan-kejanggalan dalam Alkitab, dalam Alkitab banyak sekali pertentangan antara ayat yang satu dengan ayat yang lainnya, banyak juga berkisah tentang pornografi dan mensifati Tuhan dengan sifat yang mustahil, belum lagi Alkitab tidak ditulis dalam bahasa Yesus. Kejanggalan-kejanggalan ini membuat saya semakin bernafsu mencari sampai dimana kekeliruan-kekeliruan Alkitab.

    1. Aku resmi keluar dari Gereja Protestan

    Pada suatu malam saya bermimpi melihat menara gereja saya yang dikerubuti burung-burung. Langit mendadak terbuka, Para malaikat dan bidadari turun, dan seorang bidadari cantik menyanyikan lagu yang amat merdu sampai saya terjaga dari tidur, dan masih kedengaran suara bidadari itu. Setelah saya amati, ternyata suara itu adalah suara istri saya yang sedang membaca Al Qur’an. Sejenak kemudian istri saya membangunkan saya “Mas… katanya ingin ketemu Tuhan, mari silakan”. Malam itu saya bangun, diluar hujan deras diselingi petir menyambar-nyambar. Saya bangun dan cuci muka lalu duduk di atas sajadah yang biasa digunakan istri saya sholat. Saya memang sering bangun tengah malam. Kalau istri saya sholat, saya cuma berdoa saja. Sementara hujan belum reda saya khusu’ berdoa sampai tidak terasa air mata saya berlinang, saya memohon kepada Tuhan, “..Ya Tuhan tolonglah saya,berilah petunjuk kepada saya, kalau memang benar Yesus itu Tuhan, tetapkan hati saya, akan tetapi kalau bukan, tolong beri saya petunjuk kepada siapa saya harus menyembah”. Tiba-tiba badan saya menggigil, keringat dingin mengucur amat derasnya, kembali terngiang suara kiai-kiai, ulama-ulama, yang pernah berdialog dengan saya bahkan suara dari buku-buku Islam yang saya pelajari, seolah semua berkata “Islam adalah agama yang benar”.

    Lalu secepatnya saya menulis surat kepada Dewan Gereja Jatirto-Lumajang dengan tembusan ke Jakarta, saya menyatakan keluar dari gereja protestan, dan ketika membaca surat saya, istri saya terkejut dan berkata, “Terlalu cepat pernyataan ini, sudahkah Mas pikirkan benar?”. Saya jawab, “Bagiku bahkan terlalu lamban, sekian lamanya aku terombang ambing antara kebenaran dan ketidak benaran, aku sudah tak sanggup lagi membohongi diri sendiri”. “Sudah mantap benar Mas?”, tanya istri saya, “Yah, aku mantap bahwa Islam adalah agama yang benar!”. Jawab saya, “Kalau begitu mari saya bimbing membaca syahadat”. Lalu istri saya berwudhu dan sholat dua rakaat. Sementara itu saya melihat lonceng di dinding menunjuk pukul 02.10 WIB dini hari.Usai ia sholat, tangan saya dijabat, katanya, “Mari saya bimbing masuk Islam,disaksikan oleh Allah, seluruh malaikat, Nabi dan Rasul, termasuk junjungan kita Nabi Muhammad saw, coba tirukan: Asyhadu Alla Ilahaillallah, Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah”. Istri saya tak kuat menahan air matanya jatuh bercucuran. Dan sejak itu tersiarlah berita dari mulut ke mulut,”..Jonathan masuk Islam..!”. Majalah dan surat-kabar juga turut meramaikan. Ayahpun akhirnya mengetahui kalau saya masuk Islam dan memanggil saya pulang, ayah menyodorkan majalah ke hadapan saya dan saya menganggukkan berita tentang saya. Ayah marah sekali dan wajahnya nampak merah padam.

    Ayah saya marah sekali, “Terlalu gila kamu..Biaya ayah habis banyak karena kamu. Ini berarti kamu telah mengkhianati cita-cita orang tua. Sekarang aku perintahkan kamu pulang kembali ke Malang dan kembali ke Gereja!”. Saya hanya dapat menundukkan kepala dan tidak berani menatap wajah ayah yang merah padam itu. Saya jawab, “Tidak ayah, saya sudah menyatakan masuk Islam dan saya sudah berjanji mati bersama Islam”. Ayah saya semakin berang dan tiba-tiba menggedor meja, “Terlalu gila..jadi kau sudah benar-benar hendak meninggalkan gereja?”. Saya hanya bisa menganggukkan kepala, langsung ayah saya menyahut tidak senang, “Baiklah kalau kamu sudah tidak bisa diatur lagi kamu tidak usah mengaku orang tua di sini, keluar! Dan jangan menginjakkan kakimu lagi di rumah ini!”.

    1. Saya diusir dan kerja di pabrik gula

    Sejak itu saya diusir dan sayapun meninggalkan rumah . Di Jatiroto, saya ajak istri saya untuk segera meninggalkan rumah dinas Gereja. Tidak ada yang saya bawa dari rumah itu, sebab saya memang merasa semua kekayaan di rumah itu milik gereja. Selanjutnya, saya ditolong oleh orang-orang Islam, ditempatkan di rumah dinas PG. Jatiroto yang kebetulan tidak ada yang menempati.

    Alhamdulillah, berkat perjuangan tokoh-tokoh Islam akhirnya saya masuk dan menjadi karyawan PG.Jatiroto. Saya mulai belajar sholat dan membaca Al-Qur an, dibawah tuntunan istri saya sendiri.

    Satu ketika, disaat lagi asyik-asyiknya belajar sholat, datanglah adik saya yang anggota marinir dua jip lengkap dengan anggota-anggotanya. Agaknya keluarga saya di Malang tetap akan memaksa saya kembali ke Malang dan kembali mengelola gereja. Saat itu dengan tegas saya jawab,”Maaf, saya sudah memilih Islam dan berjanji mati dengan Islam!”. Agaknya sudah diatur sebelumnya, begitu mendengar jawaban saya, ia langsung membuka sabuk kopelreim dan dipukul-pukulkan di kepala saya dan saya terjatuh ke lantai dengan berlumuran darah. Saya baru sadar kembali setelah di RS Jatiroto.

    Kala itu, ulama-ulama dan tokoh-tokoh agama Islam sama berdatangan menjenguk saya di RS. Jatiroto. Setelah peristiwa itu, beberapa ulama dan kyai mulai menampilkan saya di masjid-masjid untuk memberikan kesaksian tentang kebenaran ajaran Islam. Atas bimbingan dan dorongan dari mereka itulah saya akhirnya lebih giat lagi mempelajari, memperdalam Al-Qur’an dan Hadits.

    Saya mulai dikenal masyarakat Islam secara luas, waktu-waktu saya terisi dengan acara-acara pengajian, dari kampung ke kampung, dari pesantren ke pesantren, dari kota ke kota, Jawa Timur, Bali, Lombok, Sumatera Selatan, Kalimantan dan Alhamdulillah sampai ke Malaysia. Bapak M. Nasir dengan Dewan Dakwah Islamiyah (DDII) nya mendengar cerita tentang saya dan pada tanggal 29 Agustus sampai dengan 8 September 1991 saya mendapat kehormatan diundang pada kesempatan Silaaturrahmi Jamaah Muhtadien di Cisalopa, Bogor Jawa Barat dimana pada kesempatan itu dihadiri pula oleh para Pengurus Rabithah Al Alam Islamy dari Saudi Arabia.

    1. Bergabung ke jamaah Muhtadien

    Forum silaturrahmi Jamaah Muhtadien ini adalah suatu acara yang diselenggarakan oleh orang-orang yang telah mendapat hidayah dari Allah SWT yang kemudian masuk Islam, mereka terdiri dari bekas orang-orang Kristen Pendeta maupun Pastur.

    Sejak itu, setiap kali diundang pengajian, saya selalu dipanggil dengan Haji Muhammad Abdillah” sebenarnya saya merasa sangat malu, karena saya belumlah menunaikan ibadah haji ke tanah suci.

    Pada suatu malam, sepulang dari acara pengajian, sebelum berangkat tidur saya menyempatkan diri untuk melaksanakan sholat tahajjud. Pada saat sholat itulah, sengaja saya menangis dihadapan Allah SWT, saya bermunajat, memohon kemurahan Allah SWT agar saya dapat menunaikan ibadah haji.

    Setelah sekian puluh kali hal ini saya lakukan, Allah Yang Maha Rahman dan Rahim mendengar munajat saya dan Alhamdulillah pada musim haji tahun 1992, di suatu pagi sekitar tiga hari setelah hari raya Idul Fitri, datang kepada saya sepucuk surat undangan dari Raja Fadh Arab Saudi yang isinya mengundang saya untuk menunaikan ibadah haji.

    Allah sungguh Maha Besar, saya seolah dalam mimpi ketika tiba-tiba saya sudah bersujud di Masjidil Haram persis di muka Ka’bah. Kala itu air mata saya tak terbendung lagi, mengalir deras membasahi pipi dan seolah-olah menjeritkan suara hati saya, “.. Yaa Allah, pada akhirnya telah sampailah perjalanan saya yang sangat meletihkan dari Yerusalem ke Tanah Suci Mekkah, ampuni dan terima taubat hambamu ini dan jadikan hambamu ini termasuk golongan haji yang mabrur…amien Ya Robbal Alamin..”. (al-islahonline)

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: