Updates from Desember, 2015 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:43 am on 23 December 2015 Permalink | Balas  

    Adakah Tradisi Mengucapkan Selamat Ulang Tahun dalam Islam? 

    Sejarah-Maulid-Nabi-MuhammadAdakah Tradisi Mengucapkan Selamat Ulang Tahun dalam Islam?

    Bismillah, Walhamdulillah, Wasshalatu ala Rasulullah, Wa ba’d

    Terus terang saja kalau pertanyaan seperti itu, maka jawabnya jelas bahwa tradisi untuk mengucapkan selamat ulang tahun memang bukan dari Islam. Paling tidak kita tidak mendapatkan dalil baik dari Al-Quran maupun Sunnah Rasulullah SAW tentang kewajiban atau anjuran atau keutamaan mengucapkan selamat ulang tahun pada seseorang.

    Artinya, secara baku perilaku itu memang tidak punya dasar dari ajaran Islam. Kalau seandainya pernah sekali waktu ada contoh dari Rasulullah SAW atau para shahabat pernah melakukannya, pastilah hal itu tertera pada hadits atau atsar para shahabt. Namun sepanjang yang kami ketahui, mereka memang tidak pernah melakukannya.

    Namun bagaimana hukumnya kalau ada yang melakukannya juga dan dia adalah seorang muslim?

    Di sinilah para ulama berbeda pendapat.

    1. Pendapat Yang Mengharamkan

    Sebagian akan mengatakan bahwa hal itu memang bid’ah dan mengada-ada. Sebab tidak ada contoh atau anjuran dari Syariah. Apalagi bahwa budaya itu berasal dari peradaban di luar Islam, dalam hal ini barangkali orang barat. Maka semakin kuatlah pendapat yang mengharamkan perayaan ulang tahun dan memberikan ucapan selamat.

    1. Yang Tidak Mengharamkan

    Namun sebagian lainnya tidak secara terburu-buru mengharamkan tradisi itu. Sebab meskipun Rasulullah SAW tidak pernah memerintahkannya, namun beliau juga tidak pernah memberi isyarat untuk melarangnya. Apalagi ini adalah bagian dari kebiasaan yang ada dalam suatu masyarakat, sehingga menurut kalangan ini bukan pada tempatnya untuk mengharamkan begitu saja tanpa ada dalil yang sharih dan kuat yang melarangnya. Dan kita tahu bahwa dalam perkara muamalat, yang berlaku adalah hukum segala sesuatu itu boleh selama tidak ada larangan yang secara jelas melarangnya.

    Sedangkan masalah anggapan bahwa hal itu menyerupai budaya suatu kaum, dijawab oleh kalangan ini dengan argumen bahwa ucapan selamat kelahiran tidak terkait dengan masalah yang bertentangan dengan syariah. Memang benar barangkali sebagian masyarakat di barat melakukannya, tetapi apakah hal itu identik dengan agama dan ajaran ritual mereka? Menurut kalangan ini, ucapan itu tidak terkait dengan ritual ibadah sebuah agama, melainkan budaya sebuah masyarakat. Dan prinsipnya Islam tidak melarang sebuah kebiasaan manakala memang tidak secara langsung ada larangan untuk melakukannya.

    Betapa banyak budaya dan produk di luar Jazirah Arabia yang nota bene bukan dari peradaban Islam yang lalu diadaptasi oleh peradaban Islam ketika penyebaran dakwah Islam sampai di negeri itu. Katakanlah misalnya masalah bentuk kubah masjid, menara, sistem administrasi pemerintahan dan masih banyak lagi hal-hal yang dimasa Rasulullah tidak dilakukan, namun para khalifah setelahnya justru mengadaptasi sekian banyak produk peradaban non Islam. Namun kita tidak mendapatkan bahwa adaptasi itu ditentang oleh ulama dengan alasan bahwa di zaman Rasulullah tidak dilakukan.

    Bahkan Rasulullah SAW tidak pernah mengisyaratkan untuk membukukan Al-Quran, namun Abu Bakar dan para khalifah sesudahnya berpkir bahwa hal itu penting dikerjakan. Pasukan Islam di masa Rasulullah SAW tidak pernah digaji, namun di masa Umar mereka digaji dari baitul mal. Dan masih banyak lagi ijtihad yang dilakukan oleh para shahabat terdekat Rasululah SAW sepeninggal beliau.

    Maka mengadaptasi sebuah produk budaya dari sebuah peradaban masyarakat selama tidak bertentangan secara syara` bukanlah hal yang terlarang. Bahkan dalam perang sekalipun Rasulullah menerima usul dari Salman Al-Farisi yang menggunakan pola tentara Persia dalam berperang dengan menggali parit.

    Kembali kepada masalah ucapan selamat uang tahun, sebenarnya kata MILAD itu hanya masalah bahasa arab saja, sehingga tidak ada perbedaan hakiki sama sekali dari sisi hukumnya. Tinggal anda pikirkan, kira-kira manakah yang menurut anda lebih tepat, ikut menghidupkan budaya yang identik dengan sebuah masyarakat yang bukan Islam, ataukah tetap menjaga simbol-simbol Islam dengan tidak menambahkannya dengan produk budaya lain?

    Yang jelas, meski tidak ada larangan dari ayat Quran atau hadits yang secara detail mengahramkan seseorang mengucapkan selamat ulang tahun, kita dengan bijak bisa membuat perbandingan. Yaitu mencoba mensyiarkan hal-hal yang secara syar`i memang punya nilai dakwah dan keislaman. Sedangkan tidak ada nilai keislamannya seperti ucapan ulang tahun, rasanya tidak perlu bercapek-capek untuk menghidupkannya.

    Mungkin bukan karena tidak boleh, tetapi karena ada sekian banyak hal yang perlu kita dihidup-hidupkan yang memang murni berasal dari Islam namun hingga kini tidak ada yang menghidupkannya. Sebaliknya, produk budaya di luar Islam itu tanpa harus kita yang menghidup-hidupkannya pun sudah ada. Jadi intinya, sebaiknya kita hemat energi dan tidak terlalu mudah untuk ikut-ikutan. Paling tidak bagi kami, tidak menghidupkan ucapan selamat ulang tahun adalah jauh lebih baik dari pada melakukannya.

    Wassalam

    Ahmad Sarwat, Lc

    Iklan
     
  • erva kurniawan 1:53 am on 20 December 2015 Permalink | Balas  

    Refleksi Maulid Nabi SAW sebagai Pencerahan Spiritualitas 

    nabi-muhammad-rasulullah-sawRefleksi Maulid Nabi SAW sebagai Pencerahan Spiritualitas

    Oleh: Hery Sucipto

    Kelahiran Nabi Muhammad SAW tak syak lagi telah memberikan makna lain dalam kehidupan umat manusia. Secara mendasar, nabi telah mampu mengadakan perubahan-perubahan signifikan dan meletakkan dasar nilai-nilai positif dalam menjalani kehidupan ini. Dalam konteks ini, ia secara cemerlang telah melakukan apa yang biasa disebut sebagai humanisasi spiritualitas yang telah lama terjebak dalam fatalisme akibat krisis moral bangsa saat itu.

    Jika kita cermati, proses itu dilakukan nabi dengan melakukan suatu pembebasan dan pemberdayaan dalam moral-etik Islam. Konsep pemberdayaan itu memiliki parameter empirik dan operasional dalam tiga pilar: (1) Persamaan derajat kemanusiaan; (2) Adanya rasa keadilan dalam masyarakat; (3) Adanya kemerdekaan. Ketiga pilar ini oleh Hassan Hanafi (2000) disebut sebagai teologi pembebasan yang, menurut Nurcholish Madjid (1995), menjadi dasar-dasar konstitusi Madinah yang merupakan operasionalisasi semangat tauhid yakni membebaskan manusia dengan mendorong sikap kritis, dan berusaha secara konstan menjelajahi kemungkinan-kemungkinan baru. Ciri utama dari hal ini adalah pengakuan terhadap perlunya memperjuangkan secara serius problem bipolaritas spiritual-material manusia dengan menyusun kembali tatanan sosial menjadi tatanan yang tidak eksploitatif, berkeadilan, dan egaliter.

    Prinsip utama

    Aspek pembebasan dan pemberdayaan moral-etik Islam ini tidak lain dilakukan nabi semata sebagai upaya transformasi dan pencerahan kehidupan manusia menuju apa yang diistilahkan Alquran sebagai shiraatal mustaqiim (jalan kebenaran).

    Dalam konteks ini, setidaknya ada dua prinsip yang menjadi mainstream nabi dalam membangun masyarakat berkeadaban tadi, yang dasar-dasarnya tertuang dalam Piagam Madinah (mitsaq almadinah). Pertama, prinsip kesederajatan dan keadilan, dan kedua, prinsip inklusivisme (keterbukaan). Kedua prinsip ini kemudian dimodifikasi oleh kelompok sunni (ahl alsunnah wal-jamaah) menjadi i’tidal (konsisten), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran) dan tawasuth (moderat), yang semuanya menjadi landasan ideal sekaligus operasional mazhab sunni dalam menjalin hubungan sosial-kemasyarakatan.

    Prinsip kesederajatan dan keadilan ini mencakup semua aspek, baik politik, ekonomi, maupun hukum. Dalam aspek politik nabi mengakomodasi seluruh kepentingan. Semua rakyat mendapat hak yang sama dalam politik. Mereka tidak dibedakan berdasarkan suku maupun agama. Meskipun suku Quraisy berpredikat the best dan Islam sebagai agama dominan, tapi mereka tidak dianakemaskan. Seluruh lapisan masyarakat duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Ideologi sukuisme dan nepotisme tidak dikenal nabi.

    Sementara dalam aspek ekonomi, nabi menerapkan ajaran egalitarianisme, yakni pemerataan saham-saham ekonomi kepada seluruh masyarakat. Seluruh lapisan masyarakat punya hak yang sama untuk berusaha dan berbisnis (lihat QS Alisra: 26 dan Alhasyr: 7). Nabi sangat menentang paham kapitalisme, yang menjadikan kapital/modal hanya dikuasai oleh suatu kelompok tertentu yang secara ekonomi mapan.

    Misi egalitarianisme ini sangat tipikal dalam Islam sebab misi utama yang diemban oleh nabi bukanlah misi teologis, dalam pengertian untuk membabat orang-orang yang tidak seideologi dengan Islam, melainkan untuk membebaskan masyarakat dari cengkeraman kaum kapitalis.

    Dari sini kemudian Mansour Fakih mensinyalir perlawanan yang dilakukan kafir Quraisy bukanlah perlawanan agama (teologi) melainkan lebih ditekankan pada aspek ekonomi, karena prinsip egalitarianisme Islam berseberangan dengan konsep kapitalisme Mekkah.

    Di samping faktor politik dan ekonomi, hal sangat mendasar yang ditegakkan nabi adalah konsistensi legal (hukum). Sebagai sejarawan ulung, nabi memahami bahwa aspek hukum sangat urgen dan signifikan kaitannya dengan stabilitas suatu bangsa. Karena itulah nabi tidak pernah membedakan ”orang atas”, ”orang bawah” atau keluarganya sendiri.

    Dalam sebuah hadits, ia pernah menegaskan bahwa kehancuran suatu bangsa di masa lalu adalah karena jika ”orang atas” (alsyarif) melakukan kejahatan dibiarkan tapi bila ”orang bawah” (aldhaif) yang melakukannya pasti dihukum. Karena itu nabi juga menegaskan seandainya Fatimah pun, putri kesayangannya, melakukan kejahatan, maka dia akan menghukumnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

    Dari hadits ini dapat dipahami, stabilitas suatu bangsa dan negara bisa terbangun dengan konsistensi hukum. Masyarakat beperadaban tidak akan terwujud jika hukum tidak ditegakkan dengan adil dan egaliter. Nabi sebagai manifestasi pemerintah sadar betul akan posisinya sebagai cerminan masyarakat (uswah hasanah).

    Ketertiban sosial selamanya tidak akan terwujud sepanjang negara/pemerintah tidak konsisten dengan ketentuan hukum yang berlaku. Plato pernah berkata bahwa ketertiban sosial berawal dari ketertiban negara. Maka salah satu misi Islam adalah mewujudkan suatu tatanan sosial politik yang adil, egaliter, bersih dan berwibawa dengan membangun suatu masyarakat tak berkelas (a classless society).

    Masyarakat tak berkelas artinya, struktur di dalamnya tidak membedakan antara orang elite dan orang miskin, antara kepala negara dan ketua RT. Nabi pernah bersabda ”Tidak ada kelebihan antara orang Arab dengan selain Arab (‘ajam) selain dengan takwa.”

    Inklusivisme dan moralitas

    Menurut Nurcholish Madjid (1996) keterbukaan (inklusivisme) adalah konsekuensi dari perikemanusiaan, suatu pandangan yang melihat secara positif dan optimis, yaitu pandangan bahwa manusia pada dasarnya adalah baik (QS Ala’raf: 172 dan Alrum: 70), sebelum terbukti sebaliknya.

    Berdasarkan pandangan kemanusiaan yang optimis-positif ini, kita harus memandang bahwa setiap orang mempunyai potensi untuk benar dan baik. Karena itu setiap orang mempunyai potensi untuk menyatakan pendapat dan untuk didengar. Dari pihak yang mendengar, kesediaan untuk mendengar sendiri memerlukan dasar moral yang amat penting yaitu sikap rendah hati berupa kesiapan mental untuk menyadari dan mengakui diri sendiri selalu berpotensi untuk membuat kekeliruan.

    Keterbukaan adalah kerendahan hati untuk tidak merasa selalu benar, kemudian kesediaan mendengar pendapat orang lain untuk diambil dan diikuti mana yang terbaik. Inilah yang dipraktekkan nabi dalam menegakkan Negara Madinah (negara peradaban). Tidak jarang beliau mendengar dan menerima kritik dari sahabat, terlebih sahabat Umar Ibnu Khattab yang terkenal sebagai kritikus ulung. Sahabat Umar tidak dianggap rival, makar, kontra establishment apalagi ekstrem kanan oleh nabi, meskipun kritikan-kritikan tajam keluar dari mulutnya.

    Dalam konteks ini, faktor moral juga memegang kunci penting. Fakta sejarah menunjukkan betapa banyak peradaban-peradaban besar yang tumbang akibat runtuhnya moral. Bangsa Indonesia kini sedang membangun sejarahnya sendiri, membangun peradaban baru bagi masa depan. Karenanya agar tidak bernasib seperti bangsa-bangsa masa lalu, prinsip iman menjadi penting adanya.

    Dalam agama, iman menjadi basis untuk menumbuhkan kesadaran moral. Keyakinan kepada Tuhan yang transenden, maha melihat, maha mendengar dan maha mengetahui mendorong keinsafan batin dalam diri manusia. Iman kepada Tuhan menciptakan kedamaian dan ketenteraman jiwa. Dengan cara itu manusia menjadi lebih manusiawi, lebih halus kepekaan moralnya untuk kemudian mampu menumbuhkan kesadaran sosial.

    Nabi Muhammad berhasil dengan gemilang membangun masyarakat peradaban (Madinah) sehingga dikagumi di Timur dan Barat, pada hakikatnya karena dilakukan dengan semangat sosial yang tinggi yang terpancar dari iman yang kukuh. Prinsip equal and justice dan inklusivisme yang merupakan basis tegaknya peradaban mustahil dijalankan beliau tanpa landasan ilahiyah yang kuat.

    Becermin dari sejarah Nabi Muhammad di atas, maka untuk menciptakan kawasan Indonesia yang sejuk, damai, anggun dan berwibawa, mutlak harus menempatkan moralitas di atas segala-galanya. Nabi yang tidak dilengkapi dengan DPR saja mampu membangun peradaban di Madinah, mengapa kita tidak? Padahal Bangsa Indonesia dilengkapi dengan sarana legislatif dan struktur pemerintahan yang mengakar ke bawah.

    Persoalannya tiada lain adalah krisis moral dan krisis iman. Bagaimanapun orang yang moralnya kukuh, imannya kuat pantang berbuat destruktif. Hal ini karena merasa selalu dikoordinasi oleh Tuhan, yang Mahatahu. Korupsi, kolusi, buruk sangka (prejudice), ceroboh, tirani dan sebagainya yang melanda tanah air ini karena tiadanya iman yang mapan.

    Allah berfirman, ”Seandainya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, niscaya akan Kami bukakan kepada mereka berkah dari langit dan bumi… (QS Ala’raf 96). Secara universal ayat ini mengandung makna bahwa tegaknya sebuah peradaban karena landasan transendennya kuat. Sebaliknya hancurnya sebuah peradaban, karena masyarakatnya dilanda krisis moral.

    Nah dalam kerangka kelahiran Muhamamd SAW inilah, sekiranya pelajaran maha penting di atas itu menjadi hikmah dan landasan utama kita membangun masyarakat yang manusiawi, ramah, dan santun. Maulid ini sangat tepat kita jadikan momentum untuk melakukan perenungan-perenungan atas perilaku kita selama ini, sudah manusiawi atau belum. Kita jadikan bulan maulid itu sebagai ”renaisance etika profetis” guna membangun peradaban baru yang lebih sejuk dan anggun.

    Penulis adalah Alumnus Universitas Al Azhar, Kairo-Mesir.

    Tulisan ini dikutip dari Harian Umum Republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 19 December 2015 Permalink | Balas  

    Maulid Nabi dan Kebangkitan Ummat 

    nabi-muhammad-saw1Maulid Nabi dan Kebangkitan Ummat

    Oleh: Dr. Amir Faishol Fath

    Al-Qur’an telah merekam sebuah zaman yang sangat gelap. Kebodohan dan kesombongan menjadi kebanggaan. Anak-anak kecil laki-laki yang baru lahir dibunuh begitu saja. Fir’aun yang pada waktu itu paling berkuasa mengaku dirinya tuhan. Pada saat yang demikian menyedihkan itu Allah lahirkan seorang anak kecil, yang bernama Musa, di mana kelak ia terpilih sebagai Nabi yang mengajarkan kebenaran, membangkitkan kemanusiaan, dan menyelamatkan manusia dari kesesatan.

    Jauh setelah zaman itu, pada pertengahan abad ke enam Masehi, muncul sebuah zaman yang sama. Syeikh Abul Hasan Nadwi melukiskannya sebagai puncak zaman hancurnya kemanusiaan. Akal yang Allah berikan kepada mereka, digusur dengan minuman-minuman keras yang sangat merajalela. Manusia pada waktu itu tidak lagi berjalan dengan akalnya, melainkan disetir oleh hawa nafsu kebinatangannya. Yang kuat memeras yang lemah. Wanita tidak lagi dianggap sebagai manusia, melainkan semata simbol seks dan pemuas hawa nafsu. Akidah yang dibawa para Nabi sebelumnya, lenyap ditelan kebodohan. Mereka tidak lagi menyembah Allah, Pencipta alam semesta, melainkan menyembah patung-patung yang mereka ciptakan sendiri. Buku-buku suci yang dibawa para Nabi, seperti Injil, mereka gerogoti kewahyuannya. (lihat Al Sirah Nabawiyah, oleh Abul Hasan Al Nadwi, Mansyuratul Maktabah Al Ashriyah, Bairut, 1981, hal. 19-67 ).

    Jazirah Arab pada waktu itu benar-benar dalam puncak kegelapan dan kerendahan moral. Ustadz Sayyid Qutub menggambarkannya, bahwa kedzaliman pada saat itu menjadi suatu keharusan. Jika tidak berbuat dzalim, pasti didzalimi. Minuman yang yang memabukkan, bukan hanya kebiasaan, melainkan sebuah kebanggaan.

    Pernikahan yang berjalan di tengah masyarakat pada waktu ada empat macam :

    1. Nikah seperti biasa, yang laki-laki melamar perempuannya dan menikahinya.
    2. Seorang suami yang menyuruh istrinya untuk berselingkuh dengan seorang yang ditentukan sampai hamil, dengan maksud untuk mendapatkan keturunan yang pandai, ini namanya nikah istibdha’.
    3. Seorang perempuan melakukan hubungan dengan beberapa laki-laki, jumlahnya kurang dari sepuluh orang. Setelah anak itu lahir, perempuan itu memanggil semua laki-laki yang menghubunginya, lalu ia menentukan bapak sang anak itu di antara mereka.
    4. Seorang wanita melakukan hubungan dengan banyak laki-laki tak terbatas jumlahnya. Begitu wanita itu melahirkan, semua laki-laki yang pernah menghunginya berkumpul, lalu memilih siapa yang wajahnya mirip dengan anak itu sebagai bapaknya. ( lihat Ma’alim fit Tharieq, oleh Sayyed Qutub, Darusy Syuruq, Bairut 1980, hal.31-32 ).

    Dari apa yang baru saja kita paparkan, terlihat dengan jelas bahwa kemanusiaan di Jazera Arab pada waktu itu sungguh sangat hancur. Sampai-sampai seorang yang bernama Abrahah tiba-tiba berniat untuk menghancurkan Ka’bah, tempat yang sangat Allah sucikan. Suatu tindakan kebodohan yang demikian jelas. Dan Abrahah memang serius untuk menghancurkan Ka’bah. Pada waktu itu ia dan pasukan gajahnya sudah berangkat dari Yaman menuju Makkah. Namun Allah Maha tahu akan niat jahat Abrahah. Sebelum mereka mencapai tujuannya Allah segera mengirimkan burung-burung Ababil, menyebarkan kepada mereka batu-batu api neraka yang menghanguskan. (perhatikan QS.105:1-5 )

    Tidak hanya itu, pada hari yang sama, dan dalam kondisi zaman yang demikian penuh dengan kebodohan ini, seorang bayi bernama Muhammad, Allah melahirkan dari rahim seorang Ibu bernama Aminah, tepatnya 12 Rabi’ul Awal, tahun Gajah.

    Muhammad, dialah yang kemudian Allah pilih sebagai seorang Rasul, pembawa risalahNya, kepadanya Allah turunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk jalan kehidupan. Sejak itu muncul sebuah zaman baru yang sangat mengagumkan bagi bangkitnya kemanusiaan. Manusia yang benar-benar manusia, tunduk kepada Allah Penciptanya dan pencipta segala mahluk. Keadilan benar-benar ditegakkan, dan kedzaliman dihancurkan. Wanita dihargai kemanusiannya, minuman keras dilarang, kerena merusak akal dan kejahiliahan diperangi dan dimusnahkan.

    Kini kita sedang berada di sebuah zaman yang kembali penuh dengan proses penghancuran kemanusiaan, mirip dengan zaman jahiliyah sebelum Nabi SAW dilahirkan. Minuman keras disahkan, aurat wanita dipertontankan. Yang kuat memeras dan menghanguskan yang lemah. Ajaran Allah dicampakkan. Orang-orang yang mencintai Allah & Rasulnya dicemoohkan dan dipersulit jalan hidupnya, orang-orang yang memperingati Maulid Nabi untuk mengenang jasa dan perjalanan beliau malah dimusuhi.

    Akankah dalam kondisi yang sangat menyedihkan ini – Allah melahirkan seorang bayi yang kelak bangkit menjadi pembaharu, meneruskan perjuangan Rasulullah, menegakkan kebenaran, keadilan dan kemanuisaan.

    Mari kita berdo’a dan mari mulai dari diri kita untuk mengamalkan ajaran Rasulullah dengan sesungguh-sungguhnya dan sejujur-jujurnya.

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 18 December 2015 Permalink | Balas  

    Makna Hakiki Maulid Nabi Muhammad SAW 

    nabi-muhammad-rasulullah-sawMakna Hakiki Maulid Nabi Muhammad SAW

    Kelahiran seorang manusia sebetulnya merupakan perkara yang biasa saja. Bagaimana tidak? Setiap hari, setiap jam, bahkan setiap menit dunia ini tidak henti-hentinya menyambut bayi-bayi manusia yang baru lahir. Karena perkara yang biasa-biasa saja, tidak terasa bahwa dunia ini telah dihuni lebih dari 6 miliar jiwa.

    Karena itulah barangkali, Nabi kita, Rasulullah Muhammad saw., tidak menjadikan hari kelahirannya sebagai hari yang istimewa. Demikian juga keluarga maupun para sahabat beliau. Wajar jika dalam Sirah Nabi saw. dan dalam sejarah otentik para sahabat beliau, sangat sulit ditemukan tentang adanya fragmen Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw., baik yang dilakukan oleh Nabi saw. sendiri maupun oleh para sahabat beliau. Sebab, sebagaimana manusia lainnya, secara fisik atau lahiriah, memang tidak ada yang istimewa pada diri Muhammad sebagai manusia, selain beliau adalah seorang Arab dari keturunan yang dimuliakan di tengah-tengah kaumnya. Wajarlah jika Allah SWT., melalui lisan beliau sendiri, berfirman:

    Katakanlah, “Sungguh, aku ini manusia biasa seperti kalian…”(QS Fushshilat [41]: 6).

    Lalu mengapa setiap tahun kaum Muslim saat ini begitu antusias memperingati Maulid Nabi Muhammad saw.; sesuatu yang bahkan tidak dilakukan oleh Nabi saw. sendiri dan para sahabat beliau?

    Berbagai jawaban atau alasan dari mereka yang memperingati Maulid Nabi Muhammad saw. biasanya bermuara pada kesimpulan, bahwa Muhammad saw. memang manusia biasa, tetapi beliau adalah nabi dan rasul yang telah diberi wahyu; beliau adalah pembawa risalah sekaligus penebar rahmat bagi seluruh alam. Karena itu, kelahirannya sangat layak diperingati. Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. sendiri tidak lain merupakan sebuah sikap pengagungan dan penghormatan (ta‘zhîman wa takrîman) terhadap beliau dalam kapasitasnya sebagai nabi dan rasul; sebagai pembawa risalah sekaligus penebar rahmat bagi seluruh alam.

    Jika memang demikian kenyataannya, kita dapat memahami makna Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. yang diselenggarakan setiap tahun oleh sebagian besar kaum Muslim didunia saat ini, yakni sebagai bentuk pengagungan dan penghormatan beliau dalam kapasitasnya sebagai nabi dan rasul Allah. Itulah yang menjadikan beliau sangat istimewa dibandingkan dengan manusia yang lain. Keistimewaan beliau tidak lain karena beliau diberi wahyu oleh Allah SWT, yang tidak diberikan kepada kebanyakan manusia lainnya.

    Allah SWT berfirman (masih dalam surah dan ayat yang sama):

    Katakanlah, “Sungguh, aku ini manusia biasa seperti kalian. (Hanya saja) aku telah diberi wahyu, bahwa Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, tetaplah kalian istiqamah pada jalan yang menuju kepada-Nya.” (QS Fushshilat [41]: 6).

    Makna Kelahiran Muhammad saw.

    Kelahiran Muhammad saw. tentu tidaklah bermakna apa-apa seandainya beliau tidak diangkat sebagai nabi dan rasul Allah, yang bertugas untuk menyampaikan wahyu-Nya kepada umat manusia, agar mereka mau diatur dengan aturan apa saja yang telah diwahyukan-Nya kepada Nabi-Nya itu. Karena itu, Peringatan Maulid Nabi saw. pun tidak akan bermakna apa-apa—selain sebagai aktivitas ritual dan rutinitas belaka—jika kaum Muslim tidak mau diatur oleh wahyu Allah, yakni al-Quran dan as-Sunnah, yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad saw. ke tengah-tengah mereka. Sebab, Allah SWT telah berfirman:

    Apa saja yang diberikan Rasul kepada kalian, terimalah; apa saja yang dilarangnya atas kalian, tinggalkanlah. (QS al-Hasyr [59]: 7).

    Lebih dari itu, pengagungan dan penghormatan kepada Rasulullah Muhammad saw.—yang antara lain diekspresikan dengan Peringatan Maulid Nabi saw.—sejatinya merupakan perwujudan kecintaan kepada Allah, karena Muhammad saw. adalah kekasih-Nya. Jika memang demikian kenyataannya, maka kaum Muslim wajib mengikuti sekaligus meneladani Nabi Muhammad saw. dalam seluruh aspek kehidupannya, bukan sekadar dalam aspek ibadah ritual dan akhlaknya saja.

    Allah SWT berfirman:

    Katakanlah, “Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku.”  (QS Ali Imran [3]: 31).

    Dalam ayat di atas, frasa fattabi‘ûnî (ikutilah aku) bermakna umum, karena memang tidak ada indikasi adanya pengkhususan (takhshîsh), pembatasan (taqyîd), atau penekanan (tahsyîr) hanya pada aspek-aspek tertentu yang dipraktikkan Nabi saw. Demikian juga dalam firman Allah SWT berikut:

    Sesungguhnya dalam diri Rasulullah itu terdapat suri teladan yang baik. (QS al-Ahzab [33]: 21).

    Ayat di atas juga bermakna umum; tidak membatasi bahwa keteladanan Rasulullah saw. yang baik hanya dalam masalah ibadah ritual atau akhlaknya saja.

    Dengan demikian, kaum Muslim dituntut untuk mengikuti dan meneladani Nabi Muhammad saw. dalam seluruh perilakunya: mulai dari akidah dan ibadahnya; makanan/minuman, pakaian, dan akhlaknya; hingga berbagai muamalah yang dilakukannya seperti dalam bidang ekonomi, sosial, politik, pendidikan, hukum, dan pemerintahan.

    Sebab, Rasulullah saw. sendiri tidak hanya mengajari kita bagaimana mengucapkan syahadat serta melaksanakan shalat, shaum, zakat, dan haji secara benar; tetapi juga mengajarkan bagaimana mencari nafkah, melakukan transaksi ekonomi, menjalani kehidupan sosial, menjalankan pendidikan, melaksanakan aktivitas politik (pengaturan masyarakat), menerapkan sanksi-sanksi hukum (‘uqûbat) bagi pelaku kriminal, dan mengatur pemerintahan/negara secara benar.

    Lalu, apakah memang Rasulullah saw. hanya layak diikuti dan diteladani dalam masalah ibadah ritual dan akhlaknya saja, tidak dalam perkara-perkara lainnya? Tentu saja tidak.

    Jika demikian, mengapa saat ini kita tidak mau meninggalkan riba dan transaksi-transaksi batil yang dibuat oleh sistem kapitalisme; tidak mau mengatur urusan sosial dengan aturan Islam; tidak mau menjalankan pendidikan dan politik Islam; tidak mau menerapkan sanksi-sanksi hukum Islam (seperti qishâsh, potong tangan bagi pencuri, rajam bagi pezina, cambuk bagi pemabuk, hukuman mati bagi yang murtad, dll); juga tidak mau mengatur pemerintahan/negara dengan aturan-aturan Islam? Bukankah semua itu justru pernah dipraktikan oleh Rasulullah saw. selama bertahun-tahun di Madinah dalam kedudukannya sebagai kepala Negara Islam (Daulah Islamiyah)?

    Kelahiran Nabi saw.: Kelahiran Masyarakat Baru

    Sebagaimana diketahui, masa sebelum Islam adalah masa kegelapan, dan masyarakat sebelum Islam adalah masyarakat Jahiliah. Akan tetapi, sejak kelahiran (maulid) Muhammad saw. di tengah-tengah mereka, yang kemudian diangkat oleh Allah sebagai nabi dan rasul pembawa risalah Islam ke tengah-tengah mereka, dalam waktu hanya 23 tahun, masa kegelapan mereka berakhir digantikan dengan masa ‘cahaya’; masyarakat Jahiliah terkubur digantikan dengan lahirnya masyarakat baru, yakni masyarakat Islam.

    Sejak itu, Nabi Muhammad saw. adalah pemimpin di segala bidang. Ia memimpin umat di masjid, di pemerintahan, bahkan di medan pertempuran. Ia tampak seperti seorang dokter jiwa yang mengubah jiwa manusia yang biadab menjadi jiwa yg memancarkan peradaban

    Ia juga seorang politikus yang berhasil mempersatukan suku-suku Arab hanya dalam waktu kurang dari seperempat abad. Ia juga pemimpin ruhani yang melalui aktivitas ibadahnya telah mengantarkan jiwa para pengikutnya ke alam kelezatan samawiah dan keindahan suasana ilahiah.

    Karena itu, kita bisa menyimpulkan bahwa makna terpenting dari kelahiran Nabi Muhammad saw. adalah keberadaannya yang telah mampu membidani kelahiran masyarakat baru, yakni masyarakat Islam; sebuah masyarakat yang tatanan kehidupannya diatur seluruhnya oleh aturan-aturan Islam.

    Renungan

    Dari paparan di atas, jelas bahwa Peringatan Maulid Nabi saw. sejatinya dijadikan momentum bagi kaum Muslim untuk terus berusaha melahirkan kembali masyarakat baru, yakni masyarakat Islam, sebagaimana yang pernah dibidani kelahirannya oleh Rasulullah saw. di Madinah. Sebab, siapapun tahu, masyarakat sekarang tidak ada bedanya dengan masyarakat Arab pra-Islam, yakni sama-sama Jahiliah. Sebagaimana masa Jahiliah dulu, saat ini pun aturan-aturan Islam tidak diterapkan.

    Karena aturan-aturan Islam—sebagaimana aturan-aturan lain—tidak mungkin tegak tanpa adanya negara, maka menegakkan negara yang akan memberlakukan aturan-aturan Islam adalah keniscayaan. Inilah juga yang disadari benar oleh Rasulullah saw. sejak awal dakwahnya.

    Rasulullah tidak hanya menyeru manusia agar beribadah secara ritual kepada Allah dan berakhlak baik, tetapi juga menyeru mereka seluruhnya agar menerapkan semua aturan-aturan Allah dalam seluruh aspek kehidupan mereka. Sejak awal, bahkan para pemuka bangsa Arab saat itu menyadari, bahwa secara politik dakwah Rasulullah saw. akan mengancam kedudukan dan kekuasaan mereka. Itulah yang menjadi alasan orang-orang seperti Abu Jahal, Abu Lahab, Walid bin Mughirah, dan para pemuka bangsa Arab lainnya sangat keras menentang dakwah Rasulullah saw.

    Akan tetapi, semua penentangan itu akhirnya dapat diatasi oleh Rasulullah sampai beliau berhasil menegakkan kekuasaannya di Madinah sekaligus melibas kekuasaan mereka di Makkah. Rasulullah saw. bahkan berhasil menegakkan kekuasaan Islam sekaligus menghancurkan kekuasaan orang-orang kafir di seluruh jazirah Arab.

    Walhasil, dakwah seperti itulah yang juga harus dilakukan oleh kaum Muslim saat ini, yakni dakwah untuk menegakkan kekuasaan Islam yang akan memberlakukan aturan-aturan Islam, sekaligus yang akan meruntuhkan kekuasaan rezim kafir yang telah memberlakukan aturan-aturan kufur selama ini. Hanya dengan itulah Peringatan Maulid Nabi saw. yang diselenggarakan setiap tahun akan jauh lebih bermakna.

    Sebagai catatan akhir, marilah kita sambut seruan dakwah Islam dengan melibatkan diri bersama-sama dengan para pengemban dakwah untuk menegakkan syariat Islam dan membidani lahirnya kembali masyarakat baru, yakni masyarakat Islam,  Allah SWT berfirman:

    Hai orang-orang beriman, sambutlah seruan Allah dan Rasul-Nya jika Allah dan Rasul-Nya menyeru kalian menuju sesuatu yang akan menghidupkan kalian. (QS al-Anfal [8]: 24).

    Wallohu a’alam bis-shawab,-

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 17 December 2015 Permalink | Balas  

    Refleksi Maulid Nabi: Bertaklid dalam Cinta 

    muhammad 3Refleksi Maulid Nabi: Bertaklid dalam Cinta

    Di masa Khalifah Harun al-Rasyid, ada seorang pemuda di Bashrah, Iraq yang sangat kaya. Gaya hidupnya serba mewah dan glamor. Karena sikapnya yang jelek itulah pemuda tersebut tidak disukai oleh masyarakat sekitar. Bahkan ketika ia meninggal dunia, mereka enggan menghadiri janazahnya. Tiba-tiba terdengar hatif (suara ghaib), “Wahai penduduk Bashrah, hadirilah janazah wali Allah itu, karena ia mendapat tempat yang mulya di sisiku”.

    Akhirnya penduduk Bashrah menghadiri janazahnya sampai acara pemakaman. Malam harinya, mereka bermimpi bertemu dengan pemuda itu sedang yarfalu hiasan emas. Ketika ditanyai tentang keistimewaan yang diperolehnya, pemuda itu menjawab, “Karena aku selalu memuliakan hari kelahiran Nabi”.

    Konon, setiap kali bulan Rabi’ul Awal tiba, pemuda itu mempunyai acara rutin: berhias diri dengan baju baru, memakai wangi-wangian dan mengadakan walimah. Ia menyuruh orang lain agar membaca sejarah kelahiran Nabi saw, di sampingnya. ‘Ritual’ itu terus ia lakukan selama bertahun-tahun.

    Dan hal itulah yang membuatnya mendapat keistimewaan tersebut.

    ***

    Begitu istimewakah?

    Bukan rahasia bila perayaan maulid Nabi atau yang lazim kita sebut maulidurrasul ini masih sering dipertentangkan. Kelompok Islam Wahabiyah tidak mengakui peringatan maulid Nabi ini, seraya menyatakan sebagai bid’ah, sesat.

    Berdzikir, membaca shalawat tidak dipermasalahkan. Masalahnya terletak pada membuat acara khusus untuk memperingati Maulid Nabi, bukan isi di dalamnya.

    Namun kalau dirunut ke depan; Syaikh al-Islam Ibnu Taymiyah, perintis Salafiyah, madzhab kaum pembaru saat itu, ketika ditanya tentang berkumpul dan beramai-ramai berdzikir, membaca al-Quran berdoa sambil menanggalkan serban dan menangis sedangkan niat mereka bukanlah karena riya’ tetapi hanyalah kerana hendak mendekatkan diri kepada Allah s.w.t. Adakah perbuatan-perbuatan ini boleh diterima? Beliau menjawab,”Segala puji hanya bagi Allah, perbuatan-perbuatan itu semuanya adalah baik dan merupakan suruhan didalam Syari’ah (mustahabb) untuk berkumpul dan membaca al-Quran dan berdzikir serta berdoa.” (lihat, Majmu’ al-Fatawa Ibn Taymiyah)

    Imam Ibnu Hajar al-’Asqalani telah menulis didalam, ‘Al-Durar al-Kamina fi ‘ayn al-Mi’at al-tsamina’ bahwa Ibnu Katsir, seorang Muhaddits bermadzhab Syafi’i dan pengikut utama Ibnu Taimiyyah, telah menulis sebuah kitab yang bertajuk Mawlid Rasul Allah di penghujung hidupnya.

    Ibnu Kathir membenarkan dan menggalakkan sambutan Maulid dan dalam hal 19 beliau menulis,” Malam kelahiran Nabi (s.a.w) merupakan malam yang mulia, utama, dan malam yang diberkahi dan malam yang suci, malam yang menggembirakan bagi kaum Mukmin, malam yang bercahaya-cahaya, terang benderang dan bersinar-sinar dan malam yang tidak ternilai.”

    Jalaludin al-Suyuti telah menulis di dalam, “Hawi li al-Fatawa”, Sheikhul Islam dan Imam Hadits pada zamannya, Ahmad ibn Hajar (‘Asqalani) telah ditanya mengenai menyambut Maulidurrasul (s.a.w) dan beliau telah memberi jawaban:

    Perbuatan Menyambut Maulidurrasul (s.a.w.) merupakan bid’ah yang tidak pernah diriwayatkan oleh para Salafus-soleh pada 300 tahun pertama hijrah.

    Namun, perayaan ini penuh dengan kebaikan walau terkadang terdapat hal yang tidak patut. Jika dalam acara tersebut tidak terdapat hal-hal yang melanggar syara’ maka tergolong bida’ah hasanah, tetapi jika tidak, maka bukan bid’ah hasanah.

    Diantara dalil menyambut Maulidurrasul (s.a.w), adalah hadith riwayat Imam Bukhari dan Muslim. Semasa Nabi berada di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari kesepuluh Muharranm (‘Asyura) dan Baginda bertanya akan perbuatan mereka. Mereka menjawab, “Kita berpuasa karena pada hari itu Nabi Musa telah diselamatkan dan Firaun telah ditenggelamkan. Kita berpuasa sebagai ungkapan rasa syukur kita. Nabi lalu bersabda, “Kami lebih berhak mensyukurinya dari pada kalian.” Lalu diwajibkanlah berpuasa di hari asyura’ (Baca Istinbat edisi 5/Tahun I/Rabiul Awal 1421)

    Menyambut maulid Nabi itu adalah ungkapan rasa cinta kita kepada junjungan semua makhluk, Nabi Muhammad saw. Cinta kepada Nabi itu adalah identitas seorang muslim. “Tidak sempurna iman seseorang sehingga ia lebih mencintaiku dari pada dirinya, keluarganya dan seluruh umat manusia.” (Hadits).

    Ala kullihal, memperingati maulid Nabi adalah perbuatan yang sangat terpuji. Menentangnya berarti menentang Nabi sendiri.

    Masalahnya sekarang, betulkah kita telah mencintai Nabi?

    Cinta kepada Nabi bukanlah asmara yang murni sebagai bentuk emosi. Cinta kepada Nabi adalah emosi yang ditumbuhkan oleh rasio dan aksi. Mencintai seseorang yang telah tiada dan tidak pernah kita kenal seringkali adalah bentuk semu. Obyek cinta memang harus kongkrit dan dikenal dengan nyata.

    Lantas bagaimana kita harus mencintai Nabi?

    Rasio juga harus berperan besar di situ. Kepekaan kita dalam membaca sebuah filsafat sejarah adalah inti dari cinta kepada Nabi. Toh, cinta kepada Nabi juga merupakan kunci kita beragama, sebagaimana iman. Kedua hal itu, idealnya harus dibangun atas dasar kesimpulan rasional dibanding sebagai sebuah kepercayaan yang turun temurun.

    Jika kita dilarang taklid dalam iman maka mestinya taklid dalam cinta adalah hal yang juga imposible.

    Konstruksi cinta Nabi harus dibangun atas dasar kekaguman dan membaca sejarah. Jadi, kecintaan itu bukan semata-mata ekspresi emosional atau pengaruh mutlak opini lingkungan. Lebih dari itu, cinta kepada Nabi adalah pengakuan hakiki atas keberadaan beliau sebagai manusia ideal.

    Di situlah, komitmen menjadikan tauladan dan semangat ittiba’ussunnah tumbuh tanpa kesemuan. Cinta Rasul yang tidak didasarkan pada penghayatan sejarah akan mudah terombang-ambing oleh derasnya figuritas berbagai tokoh.

    Kita memang tidak bisa menafikan bangunan cinta Rasul atas dasar taklid atau unsur-unsur lain di luar kekaguman. Hal itu adalah sebuah keniscayaan. Namun, kalau kita mau jujur, kita mesti bertanya kepada diri sendiri: seberapa banyak kita tahu tentang Rasul dan jejaknya, lalu seberapa lekat nama Rasul di hati kita?

    Wallohu a’alam bish-shawab,-

    wallohu a’lam bis-shawab,-

    ***

    Arland

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 5 December 2015 Permalink | Balas  

    Kafir “Kontemporer” 

    takwaKafir “Kontemporer”

    Secara literal, al-kufr (kekafiran) bermakna dladd al-imaan (lawan dari keimanan).  Kata kufr juga bermakna juhud al-ni’mah (ingkari terhadap nikmat), atau lawan dari al-syukr (syukur).  Allah swt berfirman, artinya,”Innaa bi kulli kaafiruun” [Sesungguhnya kami tidak mempercayai masing-masing mereka itu.”(28:48)]. Arti dari “kaafiruun” pada ayat ini adalah jaahiduun (orang-orang yang ingkar). [Imam Abu Bakr al-Raaziy, Mukhtaar al-Shihaah, bab kafar]

    Pada asalnya, semua hal yang menutupi sesuatu yang lain disebut dengan kekafiran.  Sebab, al-kufr juga bermakna “al-lail al-mudzlim” (malam yang gelap gulita). Ibnu Sakiit menyatakan: “Kekafiran yang melekat pada diri seseorang disebabkan karena “ni’mat” Allah swt telah tertutup pada diri mereka.”

    Secara syar’iy, al-kufr juga bermakna lawan dari keimanan.  Keimanan sendiri bermakna ‘ didefinisikan oleh banyak ‘ulama sebagai berikut:

    Imam al-Nasafiy, berpendapat, “Îman adalah pembenaran hati sampai pada tingkat kepastian dan ketundukan.” [Imam al-Nasafiy, Al-‘Aqâid al-Nasafiyyah, hal. 27-43]

    Imam Ibnu Katsir menjelaskan,”Îman yang telah ditentukan oleh syara’ dan diserukan kepada kaum muslimîn adalah berupa i’tiqâd (keyakinan), ucapan, dan perbuatan. Inilah pendapat sebagian besar Imam-imam madzhab. Bahkan, Imam Syafi’iy, Ahmad bin Hanbal,dan Abu Ubaidah menyatakan, pengertian ini sudah menjadi suatu ijma’. (kesepakatan)”. [Ibnu Katsîr, Tafsir Ibnu Katsîr, jilid.I, hal. 40]

    Imam Nawawi menyatakan, “Ahli Sunnah dari kalangan ahli hadits, para fuqaha, dan ahli kalam, telah sepakat bahwa seseorang dikategorikan muslim apabila orang tersebut tergolong sebagai ahli kiblat (melakukan sholat). Ia tidak kekal di dalam neraka. Ini tidak akan didapati kecuali setelah orang itu mengimani dienul Islâm di dalamnya hatinya, secara pasti tanpa keraguan sedikitpun, dan ia mengucapkan dua kalimat syahadat.”[ Imam Nawawi, Syarah Shahih Muslim, jilid I, hal. 49]

    Berdasarkan definisi di atas, “kufr” lebih berhubungan dengan “perbuatan hati” (I’tiqad).   Seseorang yang mengingkari Allah swt, ayat-ayat Allah dan risalah Mohammad saw secara pasti ia telah kafir.   Allah swt berfirman, artinya, “Sesungguhnya orang-orang kafir itu, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak beriman.”[2:6] Ali Al-Shabuniy menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut:”Orang-orang kafir adalah orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah dan mendustakan risalah Mohammad saw.”[Ali-al-Shabuniy, Shafwaat al-Tafaasir, juz I, hal.22]

    Muslim yang melanggar aturan Allah namun tidak disertai dengan i’tiqad (keyakinan) maka dirinya tidak terjatuh kepada kekafiran.   Namun, apabila pelanggarannya disertai dengan keyakinan, maka dirinya telah terjatuh dalam kekafiran.   Sebagian ‘ulama –misalnya Imam Malik—menyatakan, bahwa orang yang meninggalkan sholat secara sengaja, maka ia telah terjatuh kepada kekafiran.  Sedangkan Imam Syafi’iy berpendapat, bahwa orang yang meninggalkan sholat tidak secara otomatis keluar dari Islam (kafir).  Jika, tindakan meninggalkan sholat tersebut disertai dengan keyakinan bahwa sholat lima waktu itu tidak wajib, maka, orang semacam ini telah terjatuh ke dalam kekafiran.  Akan tetapi, jika tindakannya tidak disertai keyakinan, maka ia tidak terjatuh kepada kekafiran, namun hanya disebut maksiyat.

    Seseorang bisa terjatuh ke dalam kekafiran, jika : (1) mengingkari pokok-pokok keimanan; yakni ingkar terhadap eksistensi Allah, ayat-ayat Allah (sebagian maupun keseluruhan), dan kenabian Mohammad saw.   (2) melanggar perkara-perkara qath’iy yang sudah ditetapkan di dalam Al-Quran dan sunnah, dan dibarengi dengan sebuah keyakinan bahwa ia tidak berdosa tatkala mengerjakan perbuatan tersebut.

    Betapa banyak orang yang mengaku muslim menyatakan dengan enteng, semua agama adalah benar.   Syari’at Islam sudah ketinggalan zaman dan hanya cocok diberlakukan kepada hewan ternak.   Sebagian yang lain menyatakan bahwa, Mohammad saw bias gender.   Menerapkan Islam sama dengan romantisme sejarah, dan masih banyak lagi lontaran-lontaran yang ditujukan untuk menikam Islam dan kaum muslim.   Jikalau lontaran-lontaran semacam ini dibarengi dengan niat untuk menyakiti dan menginjak-injak kesucian Islam, tidak diragukan lagi bahwa mereka telah keluar dari Islam.

    wallahu ‘alam bi ash shawab

    ya Allah jangan Engkau hukum kami jika kami tersalah atau kami lupa

    ***

    himawan sutanto

     
  • erva kurniawan 2:38 am on 4 December 2015 Permalink | Balas  

    Sesungguhnya Agama Itu Mudah 

    kemuliaan-sholat-dhuhaSesungguhnya Agama Itu Mudah

    Oleh

    Ummu Malik

    Kerap kali manusia mengulang-ulang perkataan ini (yaitu ucapan “Sesungguhnya agama itu mudah”), akan tetapi (sebenarnya) mereka (tidak menginginkan) dengan ucapan itu, untuk tujuan memuji Islam, atau melunakkan hati (orang yang belum mengerti Islam) dan semisalnya. Yang diinginkan mereka adalah pembenaran terhadap perbuatan mereka yang menyelisihi syari’at. Bagi mereka kalimat itu adalah kalimat haq, namun yang diinginkan dengannya adalah sebuah kebatilan.

    Ketika salah seorang diantara kita ingin memperbaiki perbuatan yang menyalahi syari’at, orang-orang yang menyalahi (syari’at itu) berhujjah dengan perkataan mereka : “Islam adalah agama yang mudah”. Mereka berusaha mengambil keringanan yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, dengan sangkaan bahwa mereka telah menegakkan hujjah bagi orang yang menasehati mereka agar mengikuti syariat yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

    Orang-orang yang menyelisihi syariat itu hendaknya mengetahui bahwa Islam adalah agama yang mudah. (Akan tetapi maknanya adalah) dengan mengikuti keringanan-keringanan yang diberikan Allah Jalla Jalaluhu dan RasulNya kepada kita.

    Allah Jalla Jalaluhu dan RasulNya telah memberi keringanan bagi kita, ketika kita membutuhkan keringanan itu dan ketika adanya kesulitan dalam mengikuti (melaksanakan perintah) yang sebenarnya.

    Asal dari ungkapan ” Sesungguhnya agama itu mudah” adalah penggalan kalimat dari hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    “Artinya : Sesungguhnya agama itu mudah, dan sekali-kali tidaklah seseorang memperberat agama melainkan akan dikalahkan, dan (dalam beramal) hendaklah pertengahan (yaitu tidak melebihi dan tidak mengurangi), bergembiralah kalian, serta mohonlah pertolongan (didalam ketaatan kepada Allah) dengan amal-amal kalian pada waktu kalian bersemangat dan giat”

    Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani menerangkan ungkapan “Sesungguhnya agama itu mudah” dalam kitabnya yang tiada banding (yang bernama) : Fathul Baariy Syarh Shahih Al-Bukhari 1/116. Beliau berkata : “Islam itu adalah agama yang mudah, atau dinamakan agama itu mudah sebagai ungkapan lebih (mudah) dibanding dengan agama-agama sebelumnya. Karena Allah Jalla Jalaluhu mengangkat dari umat ini beban (syariat) yang dipikulkan kepada umat-umat sebelumnya. Contoh yang paling jelas tentang hal ini adalah (dalam masalah taubat), taubatnya umat terdahulu adalah dengan membunuh diri mereka sendiri. Sedangkan taubatnya umat ini adalah dengan meninggalkan (perbuatan dosa) dan berazam (berkemauan kuat) untuk tidak mengulangi.

    Kalau kita melihat hadits ini secara teliti, dan melihat kalimat sesudah ungkapan “agama itu mudah”, kita dapati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi petunjuk kepada kita bahwa seorang muslim berkewajiban untuk tidak berlebih-lebihan dalam perkara ibadahnya, sehingga (karena berlebih-lebihan) ia akan melampui batas dalam agama, dengan membuat perkara bid’ah yang tidak ada asalnya dalam agama.

    Sebagaimana keadaan tiga orang yang ingin membuat perkara baru (dalam agama). Salah seorang di antara mereka berkata : “Saya tidak akan menikahi perempuan”, yang lain berkata : “Saya akan berpuasa sepanjang tahun dan tidak berbuka”, yang ketiga berkata : “Saya akan shalat malam semalam suntuk”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mereka dari hal itu semua, dan memberi pengarahan kepada mereka agar membaguskan amal mereka semampunya, dan hendaknya dalam mendekatkan diri kepada Allah Jalla Jalaluhu, (beribadah) dengan ibadah yang telah diwajibkan Allah Jalla Jalaluhu kepada mereka.

    Dan hendaknya mereka tidak membuat-buat perkara yang tidak ada asalnya dalam agama ini, karena mereka sekali-kali tidak akan mampu (mengamalkannya), (sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) ” Maka sekali-kali tidaklah seseorang memperberat agama melainkan akan dikalahkan”.

    Maka ungkapan “Agama itu mudah” maknanya adalah : “Bahwa agama yang Allah Jalla Jalaluhu turunkan ini semuanya mudah dalam hukum-hukum, syariat-syariatnya”. Dan kalaulah perkara (agama) diserahkan kepada manusia untuk membuatnya, niscaya seorangpun tidak akan mampu beribadah kepada Allah Jalla Jalaluhu.

    Maka jika orang-orang yang menyelisihi syariat tidak mendapatkan “kekhususan” (tidak mendapat celah sebagai pembenaran atas perbuatan mereka) dengan hadits diatas, mereka akan lari kepada hadits-hadits lain, yang dengannya mereka berhujjah bagi perbuatan mereka yang menggampang-gampangkan dalam perkara agama.

    Diantara hadits-hadits yang mereka jadikan alasan dalam masalah ini, adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Artinya : Sesungguhnya Allah menyukai keringanan-keringanannya diambil sebagaimana Dia membenci kemaksiatannya didatangi/dikerjakan”

    Dalam riwayat lain.

    “Artinya : Sebagaimana Allah menyukai kewajiban-kewajibannya didatangi”

    Hadits lain adalah sabda nabi :

    “Artinya : Mudahkanlah, janganlah mempersulit dan membikin manusia lari (dari kebenaran) dan saling membantulah (dalam melaksanakan tugas) dan jangan berselisih” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]

    Hadits yang ketiga.

    “Artinya : Mudahkanlah, janganlah mempersulit, dan berikanlah kabar gembira dan janganlah membikin manusia lari (dari kebenaran)”.

    Adapun hadits yang pertama, wajib bagi kita untuk mengetahui bahwa keringanan-keringanan dalam agama Islam banyak sekali, diantaranya : berbukanya musafir ketika bepergian, orang yang tertinggal dalam shalat boleh mengqadha (mengganti), orang yang tertidur atau lupa boleh mengqadha shalat, orang yang tidak mendapatkan binatang sembelihan dalam haji tamattu boleh berpuasa, tayamum sebagai ganti wudhu ketika tidak ada air atau ketika tidak mampu untuk berwudhu … dan lainnya diantara keringanan yang banyak tidak diamalkan kecuali jika terdapat kesulitan dalam melaksanakan perintah yang sebenarnya.

    Dan perlu kita perhatikan, bahwa keringanan-keringanan ini adalah syari’at Allah Jalla Jalaluhu dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (dengan izin Allah Jalla Jalaluhu). Dan tidak diperbolehkan seorang muslim manapun, untuk mendatangkan (mengada-ada) keringanan (dalam masalah agama) tanpa dalil, karena hal ini adalah termasuk mengadakan perkara baru dalam agama yang tidak berdasar.

    Dan perhatikanlah wahai saudaraku sesama muslim (surat Al-Baqarah ayat 185), yang menceritakan tentang puasa dan keringanan berbuka bagi orang yang sakit atau bepergian, lalu firman Allah Jalla Jalaluhu sesudah ayat itu.

    “Artinya : Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” [Al-Baqarah : 185]

    Makna ini menerangkan makna mudah (menurut Allah Jalla Jalaluhu), yang maknanya adalah keringanan itu datangnya dari sisi Allah saja, tiada sekutu bagiNya. Atau (keringanan itu) dari syariat Rasulullah Shallallahju ‘alaihi wa sallam dengan wahyu dari Allah Jalla Jalaluhu. Ayat ini juga menerangkan bahwa makna mudah itu dengan mengikuti hukum Allah Jalla Jalaluhu (yang tiada sekutu bagiNya) dan mengikuti syariatNya. Inilah yang bekenaan dengan hadits yang pertama tadi.

    Adapun hadits yang kedua dan tiga, maka pengambilan dalil yang dilakukan oleh orang-orang yang mengikuti hawa nafsu serta menyelisihi syariat (dengan kedua hadits itu) adalah batil, dan termasuk merubah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari makna yang sebenarnya, dan keluar dari makna yang dimaksud.

    Tafsir kedua hadits yang lalu berhubungan dengan para da’i yang menyeru kepada agama Islam. Dalam kedua hadits itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memantapkan kaidah penting dari kaidah-kaidah dasar dakwah kepada Allah Jalla Jalaluhu, yaitu berdakwah dengan lemah lembut dan tidak kasar. Maka dakwah para dai yang sepatutnya disampaikan pertama kali kepada orang-orang kafir adalah Syahadat, lalu Shalat, Puasa , Zakat. Kemudian (hendaknya) mereka menjelaskan kepada manusia tentang sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu menerangkan amal perbuatan yang wajib, yang sunnah dan yang makruh. Jika melihat suatu kesalahan yang disebabkan karena kebodohan atau lupa, maka hendaklah bersabar dan mendakwahi manusia dengan penuh kasih sayang dan kelembutan serta tidak kasar. Allah Jalla Jalaluhu berfirman.

    “Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” [Ali Imran : 159]

    Sesudah memahami hadits-hadits itu, dan penjelasan makna keringanan dan kemudahan. Maka saya berkata kepada orang-orang yang merubah dan mengganti makna-makna hadits-hadits tersebut (karena ingin mengenyangkan hawa nafsu mereka dengan perbuatan itu) :

    “Bertaqwalah kepada Allah Jalla Jalaluhu dan ikutilah apa yang diperintahkan kepada kalian, dan jauhilah laranganNya, dan tahanlah (diri kalian) dari merubah sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan takutilah suatu hari yang kalian dikembalikan kepada Allah Jalla Jalaluhu lalu setiap jiwa akan disempurnakan dengan apa yang ia usahakan. Dan takutlah kalian jangan sampai diharamkan dari mendatangi telaga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lantaran kalian mengganti agama Allah Jalla Jalaluhu dan merubah sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

    Saya mengharapkan dari Allah Jalla Jalaluhu yang Maha Hidup dan Maha Berdiri sendiri agar memberi petunjuk kepada kita dan kaum muslimin seluruhnya untuk mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah NabiNya, dan agar Allah Jalla Jalaluhu mengajarkan kepada kita ilmu yang bermanfaat, dan memberi manfaat dari apa yang Dia ajarkan, serta memelihara kita dari kejahatan perbuatan bid’ah dan penyelewengan, serta kejahatan mengubah dan mengganti (syariat Allah).

    ***

    Disalin dari Majalah : Al Ashalah edisi 15-16 hal 33-35, diterjemahkan oleh Majalah Adz-Dzkhiirah Al-Islamiyah Edisi : Th. I/No. 03/Dzulhijjah 1423/Februari 2003, hal 5 -6.Terbitan Ma’had Ali Al-Irsyad Surabaya

     
  • erva kurniawan 2:35 am on 3 December 2015 Permalink | Balas  

    Al-Walahan : Setan Spesialis Wudhu 


    wudhu 3Al-Walahan : Setan Spesialis Wudhu

    Bisa kita bayangkan, bagaimana canggihnya seorang pencuri kendaraan bermotor jika setiap hari yang dipelajari dan dikerjakan adalah mencuri motor. Ada juga pencuri spesialis elektronik, dia paling ahli soal bagaimana menggondol barang elektronik di rumah orang yang sedang lengah. Ternyata, iblis juga memiliki bala tentara yang dibekali ketrampilan khusus dan ditugasi pekerjaan yang khusus pula. Iblis menggoda manusia di setiap lini, dan di setiap lini dia siapkan setan-setan ‘spesialis’ yang pakar dalam bidangnya.

    Dalam hal wudhu misalnya, ada jenis setan khusus yang beraksi di wilayah ini. Pekerjaannya fokus untuk menggoda orang-orang yang wudhu sehingga menjadi kacau wudhunya. Setan spesialis wudhu ini disebut Nabi dengan ‘Al-Walahan’. Nabi bersabda:

    “Pada wudhu itu ada setan yang menggoda, disebut dengan Al-Walahan, maka hati-hatilah terhadapnya.” (HR Ahmad)

    Setan ini menggoda tidak hanya mengandalkan satu jurus saja untuk memperdayai mangsanya. Untuk masing-masing karakter pelaku wudhu, disiapkan satu jurus untuk melumpuhkannya.

    Waspadai Setiap Jurusnya

    Sebagian dipermainkan setan hingga sibuk mengulang-ulang lafazh niat. Saking sibuknya mengulang, ada yang rela ketinggalan rekaat untuk meng’eja’ niat. Niat memang harus dilazimi bagi setiap hamba yang hendak melakukan suatu kativitas. Akan tetapi, tak ada secuil keteranganpun dari Nabi yang shahih menunjukkan sunahnya melafazkan niat. Bahkan tidak ada dalil sekalipun berupa hadits dha’if, mursal, atau yang terdapat di musnad maupun perbuatan sahabat yang menunjukkan keharusan atau sunahnya melafazkan niat.

    Dalil yang biasa dipakai adalah hadits Nabi “segala sesuatu tergantung niatnya.” Hadits ini tidak menunjukkan sedikitpun akan perintah melafazkan niat. Jika hadits ini dimaknai sebagai niat yang dilafazkan, berarti untuk setiap amal shalih baik menolong orang tenggelam, belajar, bekerja dan aktivitas lain menuntut dilafazkan niat. Apakah orang yang melafazkan niat ketika wudhu juga melafazkan niat ketika melakukan aktivitas amal yang lain? Kalau saja itu baik, tentunya Nabi dan para sahabat melakukannya.

    Sebagian lagi digoda setan sehingga asal-asalan ketika melakukan wudhu. Dia membiarkan anggota tubuh yang mestinya wajib dibasuh, tidak terkena oleh air. Nabi mengingatkan akan hal ini dengan sabdanya:

    “Celakalah tumit dari neraka.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

    Untuk menangkal godaan ini, wajib bagi kita mengetahui, manakah anggota tubuh yang wajib dibasuh atau diusap. Allah telah menjelaskan dalam firman-Nya:

    “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan mata kaki …” (QS. al-Maidah : 6)

    Syaikh Utsaimin menyebutkan bahwa ‘istinsyaq’ atau memasukkan air ke hidung kemudian istinsyar (mengeluarkannya) hukumnya wajib karena hidung termasuk bagian dari wajah yang dituntut untuk dibasuh.

    Telinga juga wajib untuk diusap karena termasuk bagian dari kepala sebagaimana hadits Nabi: al-udzun minar ra’si, telinga adalah bagian dari kepala.

    Boros Menggunakan Air

    Asal-asalan berwudhu adalah jurus setan yang diarahkan bagi orang yang malas. Sedangkan untuk orang yang antusias dan bersemangat, ‘al-walahan’ memiliki jurus yang lain. Yakni dia menggoda agar orang yang wudhu terlampau boros menggunakan air. Timbullah asumsi bagi orang yang berwudhu, semakin banyak air, maka semakin sempurna pula wudhunya. Padahal anggapan ini bertentangan dengan sunnatul huda. Bahkan Nabi mengingatkan umatnya akan hal itu. Beliau bersabda:

    “Sesungguhnya akan ada di antara umat ini yang melampaui batas dalam bersuci dan berdoa.” (HR Abu Dawud, Ahmad, dan An-Nasa’i, sanadnya kuat dan dishahihkan oleh Al-Albani).

    Ada pula hadits menyebutkan, tatkala Nabi melewati Sa’ad yang tengah berwudhu beliau bersabda: “Janganlah boros dalam menggunakan air.” Sa’ad berkata: “Apakah ada istilah pemborosan dalam hal air?” beliau menjawab: “Ya, meskipun engkau (berwudhu) di sungai yang mengalir.” (HR Ibnu Majah dan Ahmad). Ibnul Qayyim menyebutkan hadits ini dalam Zaadul Ma’ad, begitu pula Ibnul Jauzi dalam kitabnya “Talbis Iblis”, hanya saja Syaikh Al-Albani menyatakan ini sebagai hadits dha’if, begitu pula dengan Al-Bushiri dalam Al-Zawa’id.

    Yang baik adalah kita tidak boros dalam menggunakan air, termasuk ketika berwudhu. Namun bukan berarti boleh meninggalkan sebagian anggota yang wajib untuk dibasuh.

    Ragu-Ragu Ketika Berwudhu

    Jurus lain yang ditujukan bagi orang yang kelewat semangat dalam hal wudhu adalah, setan menanamkan keraguan kepada orang yang berwudhu. Ketika orang itu selesai wudhu, dibisikkan di hatinya keraguan akan keabsahan wudhunya. Agar orang itu mengulangi wudhunya kembali dan hilanglah banyak keutamaan seperti takbiratul uula maupun shalat jama’ah secara umum.

    Telah datang kepada Ibnu Uqail seseorang yang terkena jurus setan ini. Dia menceritakan bahwa dirinya telah berwudhu, kemudian dia ulangi wudhunya karena ragu, bahkan dia menceburkan diri ke sungai, setelah keluar darinya diapun masih ragu akan wudhunya. Dia bertanya: “Dalam keadaan (masih ragu) seperti itu apakah saya boleh shalat?” Ibnu Uqail menjawab: “Bahkan kamu tidak lagi wajib shalat.”

    Ya, tak ada orang yang melakukan seperti itu kecuali orang yang hilang ingatan, sedangkan orang yang hilang ingatan tidak terkena kewajiban.

    Wallahu a’lam.

    ***

    (Majalah Ar risalah)

     
  • erva kurniawan 6:25 am on 2 December 2015 Permalink | Balas  

    Bagaimana Kita Mencintai Allah dan Rasulullah SAW 

    hidayah-allahBagaimana Kita Mencintai Allah dan Rasulullah SAW

    Pembaca yang budiman, tahukan Anda bagaimana cara kita mencintai Allah Ta’ala dan Rasulullah SAW itu ?!! Ketahuilah, Allah Ta’ala telah memberitahukan hal ini dalam firman-Nya:

    “Katakanlah (wahai Muhammad SAW terhadap kaum muslimin) Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ali Imran: 31).

    Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu dalam kitabnya Al-Firqatun Najiyah hal. 111 menyatakan: “Faedah dari ayat ini adalah bahwa kecintaan seorang hamba terhadap Allah itu adalah dengan ittiba’ (selalu mengikuti) terhadap apa saja yang berasal dari Rasulullah SAW, mentaati apa yang diperintahkannya dan meninggalkan semua hal yang dilarangnya seperti apa yang terdapat dalam hadits-hadits yang shohih yang telah beliau jelaskan kepada umat manusia. Dan mahabbah (kecintaan) ini tidak akan terwujud bila hanya semata-mata ucapan lisan tanpa adanya amalan yang sesuai dengan petunjuk dan tuntunan Rasulullah SAW.

    Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di Rahimahullah dalam kitab tafsirna Taisir A-Karimir Rahman juga menjelaskan: “Ayat ini juga merupakan Al-Mizan (alat penimbang) bagi orang-orang yang mengaku benar-benar mencintai Allah. Maka tanda kecintaan seorang hamba kepada Allah itu adalah dengan ittiba’  (mengikuti) Nabi Muhammad SAW, yang mana Allah Ta’ala menjadikan ittiba’-nya seseorang pada Rasulullah dalam semua yang dida’wahkan oleh beliau SAW sebagai jalan untuk mencintai Allah dan mendapatkan keridhoan-Nya. Dan seseorang itu tidak akan mendapatkan kecintaan, keridhoan dan pahala-Nya kecuali dengan cara tashdiq (selalu membenarkan) terhadap apa yang dibawa oleh Rasulullah SHALALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM berupa Al-Kitab dan As-Sunnah, kemudian tunduk kepada perintah keduanya dan menjauhi semua hal yang dilarang oleh keduanya. Maka barangsiapa yang telah melakukan hal tersebut, Allah Ta’ala akan mencintainya dan diberi balasan berupa pahala sebagai orang-orang yang dicintai-Nya, diampunkan segala dosanya, dan akan ditutupi segala aibnya …”

    Pembaca yang budiman, jelaslah bagi kita bahwa cara yang paling tepat mencintai Allah dan Rasul-Nya adalah dengan ittiba’ terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah yang dibawa oleh Rasulullah. Ini berarti wajib bagi kita merasa cukup dengan agama yang dibawa Rasulullah SHALALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM, dan kitapun yakin bahwa agama ini benar-benar telah sempurna, tidak perlu mendapatkan tambahan-tambahan untuk disesuaikan dengan perkembangan jaman atau dikurangi karena tidak cocok dengan selera jaman, Apa saja yang berasal dari Rasulullah SAW, wajib kita terima dan kita amalkan apa adanya. Sedangkan apa saja yang tidak pernah ada pada jaman Rasulullah (tidak dicontohkan oleh beliau) wajib kita tinggalkan meskipun banyak orang yang mengerjakannya. Inilah prinsip dan hakekat kecintaan seorang hamba kepada Allah swt.gif (980 bytes).

    Mengaku mencintai Allah dan mencintai Rasul-Nya dengan cara-cara selain cara tersebut di atas adalah pengakuan yang dusta dan menipu ! Karena bagaimana mungkin seseorang mengaku cinta tetapi melakukan perbuatan yang dibenci dan tidak disuka oleh kekasih yang dicintainya? Nah, contohnya adalah seperti apa yang dilakukan oleh kaum muslimin di setiap bulan Rabi’ul Awal. Mereka mengadakan acara perayaan Maulid Nabi SAW dengan niat untuk ibadah dan sebagai wujud ekspresi cinta mereka kepada Rasulullah. Benarkah begitu cara kita mengekspresikan cinta kita kepada beliau, yakni dengan mengadakan acara-acara yang tidak pernah diperintahkan dan dicontohkan oleh beliau?! Bukankan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya telah menjelaskan secara gamblang bagaimana mestinya kita mengekspreskan cinta kita kepada keduanya?

    Oleh karena itu benarlah apa yang pernah dikatakan oleh Imam Malik bin Anas Rahimahullah: “Barangsiapa membuat bid’ah  (perkara baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, pent) dalam agama Islam ini, dan dia memandangnya sebagai suatu kebaikan, maka sungguh dia telah menganggap dan menuduh Muhammad SAW telah mengkhianati risalah Allah (yakni wahyu yang diturunkan kepada beliau, pent). Karena sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: “Pada hari ini telah aku sempurnakan bagimu agamamu … ” (QS. Al-Maidah: 3). Maka apa saja yang pada hari itu (jaman Rasulullah, pent) bukan merupakan agama, pada hari inipun bukan merupakan agama.”

    Inilah prinsip yang selalu dipegang teguh oleh para ulama Salafus Shalih, dan juga jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang istiqomah dengan prinsip-prinsip ini hingga akhir jaman. Mudah-mudahan Allah Ta’ala selalu memberikan pertolongan-Nya kepada kita dan kita berlindung dari setiap kesesatan yang dibungkus dengan baju keagamaan.

    Wallahu a’lamu bishshowwab

    Sumber : http://www.shahabat.cjb.net

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 1 December 2015 Permalink | Balas  

    Kesengsaraan Dalam Neraka 

    al-quran-yang-muliaKesengsaraan Dalam Neraka

    Allah telah menciptakan bagi manusia untuk diakhirat nanti dua tempat tinggal, yaitu “SURGA” dan “NERAKA”. Masing-masingnya akan dihuni oleh penghuni-penghuni yang telah ditentukan baginya.

    Yang akan menjadi penghuni surga antara lain ialah manusia-manusia yang menta’ati Allah dan Rasul-Nya, menjalankan segala perintah agama dan menjauhkan / menjahui segala larangan agama.

    Firman Allah SWT: “Dan orang-orang yang menta’ati Allah dan Rasul-Nya niscaya Ia (Allah) masukkan dia kedalam surga”. (QS. An Nisa’ ayat 13).

    Atau manusia-manusia yang beriman dan beramal saleh, sebagaimana firman Allah SWT: “Dan beri kabar gembiralah orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bahwasanya bagi mereka adalah surga” (QS.Al Baqarah: 25).

    Firman Allah SWT: “Sesungguhnya bagi orang-orang yang taqwa disisi Tuhan mereka adalah surga na’im”. (QS. Al Qalm ayat 34

    Yang menjadi penghuni neraka antara lain ialah:

    Manusia-manusia yang “Fasiq”, yaitu antara lain orang-orang Islam yang tidak melaksanakan perintah Allah atau mengerjakan larangan Allah, sebagaimana difirmankan Allah: “Dan adapun orang-orang yang fasiq (kafir), maka tempat mereka adalah neraka. Setiap kali mereka hendak ke luar daripadanya, mereka dikembalikan (lagi) kedalamnya dan dikatakan kepada mereka: “Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya”. (QS. As Sajadah ayat 20). Bahkan kamu menganggapnya enteng (pen).

    Orang-orang “Munafiq”, yaitu orang-orang yang mengaku beragama Islam dengan mulutnya, dengan pengakuannya, (KTP-nya) dan mungkin juga mengerjakan sebahagian ajaran Islam, mengerti ajaran Islam namun tidak mendirikan shalat, shalatnya hari Jum’at saja, tidak membayar zakat, tetapi hatinya anti Islam, sebagaimana firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang munafiq itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka”. (QS. An Nisa’ ayat 145).

    Orang-orang kafir dan orang-orang musyrik, Firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang kafir dan orang-orang musyrik tempat mereka di dalam neraka Jahanam; mereka kekal didalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk”. (QS. Al Bayinah ayat 6). Lebih hina dari binatang (pen).

    Orang-orang Islam bisa pula jadi musyrik tersebut, seperti orang-orang Islam yang menggantungkan azimat di lehernya, ditangannya, dikakinya atau dirumahnya, ke kuburan para wali minta berkah, perdukunan, dsb. Tentang menggantungkan azimat itu syirik, Nabi Muhammad SAW menyabdakan sebagai berikut: “Sesungguhnya jampi-jampi, azimat dan sihir adalah syirik”. (Hadits Riwayat: Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan Hakim). Jadi orang-orang yang fasiq, munafiq, musyrik, berselingkuh, korupsi, maling, musyrik, yang melanggar larangan agama, yang melalaikan sholatnya, juga menjadi penghuni neraka.

    Kesengsaraan yang akan dialami oleh manuasia di dalam neraka antara lain:

    1. Tempatnya berdesak-desakan, sebab walaupun isinya sudah penuh sesak, namun akan ditambahi terus. Firman Allah SWT: “Pada hari Kami bertanya kepada neraka jahanam: Apakah engkau sudah penuh sesak? Neraka jahanam menjawab: Masih adakah tambahan ? (QS.Qaf ayat 30)
    2. Makanannya dari pohon zaqqum, yaitu sebangsa pohon yang tumbuh di neraka, yang amat jelek dan rasanya sangat pahit, sampai dalam perut seperti minyak atau air yang mendidih. Firman Allah SWT: “Sesungguhnya pohon zaqqum itu makanan orang yang banyak berdosa. Ia (pohon zaqqum) sebagai kotoran minyak yang mendidih didalam perut. Seperti mendidihnya air yang sangat panas“. QS. Ad Dukhaan ( Kabut) ayat 43 -44, 45 dan 46.

    Buah pohon zaqqum makanan ahli neraka. Firman Allah SWT: “Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zalim. Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar neraka jahim. Mayangnya seperti kepala syaitan-syaitan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu. Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas”. QS. Ash Shaaffaat ayat 63, 64, 65, 66, dan 67.

    Allah berfirman: “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya”. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. Maka tiada seorang temanpun baginya pada hari ini di sini. Dan tiada pula makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa. (Qs-Al Haaqqah (69) ayat 25 s/d 37).

    1. Minumanya air mendidih dan air nanah. Firman Allah SWT: “Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak pula mendapat minuman, selain air yang mendidih dan nanah”. QS.An Naba’ ayat 24 & 25.

    Firman Allah SWT: “Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zhalim itu neraka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi dengan air seperti besi mendidih menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek”. (QS.Al Kahfi ayat 29).

    1. Pakaiannya dari api. Firman Allah SWT: “Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit mereka”. QS. Al Hajj (Haji) ayat 19 & 20.
    2. Dikelilingi oleh api. Firman Allah SWT: “Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan dari api. Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku hai hamba-hamba-Ku“. QS. Az Zumar ayat 16
    3. Tidak akan mati dan tidak pula akan hidup. Firman Allah SWT: ” Orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya (peringatan), yaitu orang yang celaka yang terpanggang di dalam api yang amat besar (neraka). Kemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak pula hidup“. QS.Al A’laa ayat 11, 12 dan 13.
    4. Setiap kali kulitnya sudah hangus akan diganti lagi dengan kulit yang baru. Firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami panggang mereka kedalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan pedihnya azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. QS. An Nisaa’ ayat 56.
    5. Tertutup sama sekali dari rahmat Allah. Firman Allah SWT: “Sekali-kali tidak, maksudnya sekali-kali tidak seperti apa yang mereka katakan, bahwa mereka dekat pada sisi Tuhan. Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Kemudian, dikatakan kepada mereka: Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan”. QS.Al Muthaffiffiin ayat 15, 16 & 17. (Kamu sepelekan, kamu anggap enteng, kamu remehkan, kamu anggap keciil-pen).
    6. Sehingga sewaktu mereka meminta kepada penghuni surga sedikit air, penghuni surga menjawab: Allah mengharamkannya atas kamu. Firman Allah SWT: “Penghuni neraka berseru kepada penghuni surga: “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah di rezikikan Allah kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab: “Sesungguhnya Allah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir. QS.Al A’raaf ayat 50.
    7. Azab mereka yang paling ringan ialah bersandal dari api. Tetapi begitu dipakai (di injak) otak pemakainya menjadi mendidih. Sabda Nabi Muhammad SAW: “Seringan-ringan azab bagi manusia ( di neraka) ialah memakai sandal dan ikatannya dari api, mendididh otaknya karenanya, sebagai mendidihnya air di dalam kuali, ia tidak melihat ada orang lain yang (dianggapnya) lebih berat azabnya dari dia, padahal dialah orang yang paling ringan azabnya. (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).

    Itulah yang kami dapat kutibkan dari kitab Al Qur’an, bisa dicek langsung ke Al Qur’an, Al Qur’an adalah kitab Allah yang paling sempurna dan mutlak kebenarannya. Yang tersebut diatas sebahagian dari kesengsaraan yang akan diderita oleh penghuni-penghuni neraka. Tetapi walaupun demikian sudah sangat mengerikan sekali. Oleh sebab itu seharusnya hal ini mendorong kita untuk menghindarinya dengan segala kemampuan yang kita miliki.

    Kalau kiranya kita sudah terlanjur mengerjakan perbuatan-perbuatan yang akan membawa kita ke dalam neraka tersebut, seperti perbuatan syirik (musyrik) menyekutukan Allah, membunuh orang atau menyuruh membunuh orang yang dilarang untuk dibunuh, berzina, melacur, berselingkuh, berghibah (ghosib), korupsi, ingkar janji, berdusta, berbohong, memakan yang diharamkan dimakan, fasiq, kafir, munafiq, riya, sihir, dsb yang dilarang oleh agama, maka hendaklah kita cepat-cepat bertaubat nasuha (bertaubat atas perbuatannya dan berjanji tidak akan diulanginya lagi), memperbaiki iman dan beramal saleh sebanyak-banyaknya. Karena kalau kita sudah taubat, iman sudah baik dan amal saleh sudah banyak, maka dosa-dosa kita yang lalu itu akan diampuni oleh Allah dan diganti oleh Allah dengan kebaikan, sungguh Allah itu Maha (Amat) Pengampun dan Maha (amat besar sekali) kasih sayang-Nya kepada kita, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada semua makhluk-Nya.

    Firman Allah SWT: “Dan orang-orang yang tidak menyeru Tuhan yang lain beserta Allah, dan tidak membunuh jiwa yang Allah haramkan, kecuali dengan jalan yang benar dan tidak berzina dan barangsiapa yang mengerjakan yang demikian itu ia akan bertemu dosa (neraka). Dilipat gandakan baginya azab pada hari kiaamat dan ia kekal di dalamnya dengan sangat hina. Kecuali orang-orang yang bertaubat dan beriman dan beraamal saleh, maka Allah akan menggantikan kejahatan-kejahatan mereka itu dengan kebaikan-kebaikan, karena Allah itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. QS. Al Furqan ayat 68 s/d. 70.

    Marilah kita berdo’a, semoga Allah SWT senantiasa selalu membimbing kita kejalan yang diridhoi-Nya, kejalan yang benar dan semoga Allah memberi kekuatan iman kita untuk menjauhkan dari segala perbuatan-perbuatan yang dilarang-Nya dan agar kita senantiasa dapat melaksanakan segala perintah-Nya dengan hati yang tulus, yang ikhlas, ridho, jadikan hidup ini sebagai ibadah, agar kita semua terhindar dari siksa neraka, dan mendapat surga yang telah dijanjikan-Nya. Insya Allah, Amien ya Rabbal ‘alamiin.

    Alhamdulillahrobbil’alamin.

    Allahu a’lam bishshawab.

    Wabillahi taufik wal hidayah, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    ***

    Indra Subni

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: