Updates from Januari, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:10 am on 31 January 2012 Permalink | Balas  

    Zalimnya Pemerintahan Ini 

    Zalimnya Pemerintahan Ini.

    Sepulang dari pengajian rutin beberapa hari lalu, saya berdiri di tepi trotoar daerah Klender. Angkot yang ditunggu belum jua lewat, sedang matahari kian memancar terik. Entah mengapa, kedua mata saya tertarik utuk memperhatikan seorang bapak tua yang tengah termangu di tepi jalan dengan sebuah gerobak kecil yang kosong. Bapak itu duduk di trotoar. Matanya memandang kosong ke arah jalan.

    Saya mendekatinya. Kami pun terlibat obrolan ringan. Pak Jumari, demikian namanya, adalah seorang penjual minyak tanah keliling yang biasa menjajakan barang dagangannya di daerah Pondok Kopi, Jakarta Timur. “Tapi kok gerobaknya kosong Pak, mana kaleng-kaleng minyaknya?” tanya saya.

    Pak Jumari tersenyum kecut. Sambil menghembuskan nafas panjang-panjang seakan hendak melepas semua beban yang ada di dadanya, lelaki berusia limapuluh dua tahun ini menggeleng. “Gak ada minyaknya.”

    Bapak empat anak ini bercerita jika dia tengah bingung. Mei depan, katanya, pemerintah akan mencabut subsidi harga minyak tanah. “Saya bingung. saya pasti gak bisa lagi jualan minyak. Saya gak tahu lagi harus jualan apa. modal gak ada.keterampilan gak punya..” Pak Jumari bercerita. Kedua matanya menatap kosong memandang jalanan. Tiba-tiba kedua matanya basah. Dua bulir air segera turun melewati pipinya yang cekung.

    “Maaf dik, saya menangis, saya benar-benar bingung. mau makan apa kami kelak.., ” ujarnya lagi. Kedua bahunya terguncang menahan tangis. Saya tidak mampu untuk menolongnya dan hanya bisa menghibur dengan kata-kata. Tangan saya mengusap punggungnya. Saya tahu ini tidak mampu mengurangi beban hidupnya.

    Pak Jumari bercerita jika anaknya yang paling besar kabur entah ke mana. “Dia kabur dari rumah ketika saya sudah tidak kuat lagi bayar sekolahnya di SMP. Dia mungkin malu. Sampai sekarang saya tidak pernah lagi melihat dia. Adiknya juga putus sekolah dan sekarang ngamen di jalan. Sedangkan dua adiknya lagi ikut ibunya ngamen di kereta. Entah sampai kapan kami begini .”

    Mendengar penuturannya, kedua mata saya ikut basah.

    Pak Jumari mengusap kedua matanya dengan handuk kecil lusuh yang melingkar di leher. “Dik, katanya adik wartawan.. tolong bilang kepada pemerintah kita, kepada bapak-bapak yang duduk di atas sana, keadaan saya dan banyak orang seperti saya ini sungguh-sungguh berat sekarang ini. Saya dan orang-orang seperti saya ini cuma mau hidup sederhana, punya rumah kecil, bisa nyekolahin anak, bisa makan tiap hari, itu saja. ” Kedua mata Pak Jumari menatap saya dengan sungguh-sungguh.

    “Dik, mungkin orang-orang seperti kami ini lebih baik mati… mungkin kehidupan di sana lebih baik daripada di sini yah…” Pak Jumari menerawang.

    Saya tercekat. Tak mampu berkata apa-apa. Saya tidak sampai hati menceritakan keadaan sesungguhnya yang dilakukan oleh para pejabat kita, oleh mereka-mereka yang duduk di atas singgasananya. Saya yakin Pak Jumari juga sudah tahu dan saya hanya mengangguk.

    Mereka, orang-orang seperti Pak Jumari itu telah bekerja siang malam membanting tulang memeras keringat, bahkan mungkin jika perlu memeras darah pun mereka mau. Namun kemiskinan tetap melilit kehidupannya. Mereka sangat rajin bekerja, tetapi mereka tetap melarat.

    Kontras sekali dengan para pejabat kita yang seenaknya numpang hidup mewah dari hasil merampok uang rakyat. Uang rakyat yang disebut ‘anggaran negara’ digunakan untuk membeli mobil dinas yang mewah, fasilitas alat komunikasi yang canggih, rumah dinas yang megah, gaji dan honor yang gede-gedean, uang rapat, uang transport, uang makan, akomodasi hotel berbintang nan gemerlap, dan segala macam fasilitas gila lainnya. Mumpung ada anggaran negara maka sikat sajalah!

    Inilah para perampok berdasi dan bersedan mewah, yang seharusnya bekerja untuk mensejahterakan rakyatnya namun malah berkhianat mensejahterakan diri, keluarga, dan kelompoknya sendiri. Inilah para lintah darat yang menghisap dengan serakah keringat, darah, tulang hingga sum-sum rakyatnya sendiri. Mereka sama sekali tidak perduli betapa rakyatnya kian hari kian susah bernafas. Mereka tidak pernah perduli. Betapa zalimnya pemerintahan kita ini!

    Subsidi untuk rakyat kecil mereka hilangkan. Tapi subsidi agar para pejabat bisa hidup mewah terus saja berlangsung. Ketika rakyat antri minyak berhari-hari, para pejabat kita enak-enakan keliling dalam mobil mewah yang dibeli dari uang rakyat, menginap berhari-hari di kasur empuk hotel berbintang yang dibiayai dari uang rakyat, dan melancong ke luar negeri berkedok studi banding, juga dari uang rakyat.

    Sepanjang jalan, di dalam angkot, hati saya menangis. Bocah-bocah kecil berbaju lusuh bergantian turun naik angkot mengamen. Di perempatan lampu merah, beberapa bocah perempuan berkerudung menengadahkan tangan. Di tepi jalan, poster-poster pilkadal ditempel dengan norak. Perut saya mual dibuatnya.

    Setibanya di rumah, saya peluk dan cium anak saya satu-satunya. “Nak, ini nasi bungkus yang engkau minta.” Dia makan dengan lahap. Saya tatap dirinya dengan penuh kebahagiaan. Alhamdulillah , saya masih mampu menghidupi keluarga dengan uang halal hasil keringat sendiri, bukan numpang hidup dari fasilitas negara, mengutak-atik anggaran negara yang sesungguhnya uang rakyat, atau bagai lintah yang mengisap kekayaan negara.

    Saat malam tiba, wajah Pak Jumari kembali membayang. Saya tidak tahu apakah malam ini dia tidur dengan perut kenyang atau tidak. Saya berdoa agar Allah senantiasa menjaga dan menolong orang-orang seperti Pak Jumari, dan memberi hidayah kepada para pejabat kita yang korup. Mudah-mudahan mereka bisa kembali ke jalan yang benar. Mudah-mudahan mereka bisa kembali paham bahwa jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabk an di mahkamah akhir kelak. Mudah-mudahan mereka masih punya nurani dan mau melihat ke bawah.

    Mudah-mudahan mereka bisa lebih sering naik angkot untuk bisa mencium keringat anak-anak negeri ini yang harus bekerja hingga malam demi sesuap nasi, bukan berkeliling kota naik sedan mewah…

    Mudah-mudahan mereka lebih sering menemui para dhuafa, bukan menemui konglomerat dan pejabat… Mudah-mudahan mereka lebih sering berkeliling ke wilayah-wilayah kumuh, bukan ke mal…

    Amien Ya Allah.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Eka 1:14 pm on 7 Februari 2012 Permalink

      aminnnn yaa Rabb…

  • erva kurniawan 1:58 am on 30 January 2012 Permalink | Balas  

    Berbulan Madu dengan Bidadari 

    Berbulan Madu dengan Bidadari…

    Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang pemuda yang bernama Zahid yang berumur 35 tahun namun belum juga menikah. Dia tinggal di Suffah masjid Madinah. Ketika sedang memperkilat pedangnya tiba-tiba Rasulullah SAW datang dan mengucapkan salam. Zahid kaget dan menjawabnya agak gugup.

    “Wahai saudaraku Zahid….selama ini engkau sendiri saja,” Rasulullah SAW menyapa.

    “Allah bersamaku ya Rasulullah,” kata Zahid.

    “Maksudku kenapa engkau selama ini engkau membujang saja, apakah engkau tidak ingin menikah…,” kata Rasulullah SAW.

    Zahid menjawab, “Ya Rasulullah, aku ini seorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan wajahku jelek, siapa yang mau denganku ya Rasulullah?”

    ” Asal engkau mau, itu urusan yang mudah!” kata Rasulullah SAW.

    Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan sekretarisnya untuk membuat surat yang isinya adalah melamar kepada wanita yang bernama Zulfah binti Said, anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan terkenal sangat cantik jelita. Akhirnya, surat itu dibawah ke rumah Zahid dan oleh Zahid dibawa kerumah Said. Karena di rumah Said sedang ada tamu, maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surat tersebut dan diterima di depan rumah Said.

    “Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasul yang mulia diberikan untukmu saudaraku.”

    Said menjawab, “Adalah suatu kehormatan buatku.”

    Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut, Said agak terperanjat karena tradisi Arab perkawinan yang selama ini biasanya seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan dan yang kaya harus kawin dengan orang kaya, itulah yang dinamakan SEKUFU.

    Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Wahai saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?”

    Zahid menjawab, “Apakah engkau pernah melihat aku berbohong….”

    Dalam suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata, “Wahai ayah, kenapa sedikit tegang terhadap tamu ini…. bukankah lebih disuruh masuk?”

    “Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya engkau menjadi istrinya,” kata ayahnya.

    Disaat itulah Zulfah melihat Zahid sambil menangis sejadi-jadinya dan berkata, “Wahai ayah, banyak pemuda yang tampan dan kaya raya semuanya menginginkan aku, aku tak mau ayah…..!” dan Zulfah merasa dirinya terhina.

    Maka Said berkata kepada Zahid, “Wahai saudaraku, engkau tahu sendiri anakku tidak mau…bukan aku menghalanginya dan sampaikan kepada Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak.”

    Mendengar nama Rasul disebut ayahnya, Zulfah berhenti menangis dan bertanya kepada ayahnya, “Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama rasul?”

    Akhirnya Said berkata, “Ini yang melamarmu adalah perintah Rasulullah.”

    Maka Zulfah istighfar beberapa kali dan menyesal atas kelancangan perbuatannya itu dan berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah, kenapa sejak tadi ayah berkata bahwa yang melamar ini Rasulullah, kalau begitu segera aku harus dikawinkan dengan pemuda ini. Karena ingat firman Allah dalam Al-Qur’an surat 24 : 51. “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan. Kami mendengar, dan kami patuh/taat”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 24:51)”

    Zahid pada hari itu merasa jiwanya melayang ke angkasa dan baru kali ini merasakan bahagia yang tiada tara dan segera pamit pulang. Sampai di masjid ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.

    “Bagaimana Zahid?”

    “Alhamdulillah diterima ya rasul,” jawab Zahid.

    “Sudah ada persiapan?”

    Zahid menundukkan kepala sambil berkata, “Ya Rasul, kami tidak memiliki apa-apa.”

    Akhirnya Rasulullah menyuruhnya pergi ke Abu Bakar, Ustman, dan Abdurrahman bi Auf. Setelah mendapatkan uang yang cukup banyak, Zahid pergi ke pasar untuk membeli persiapan perkawinan. Dalam kondisi itulah Rasulullah SAW menyerukan umat Islam untuk menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.

    Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudah siap-siap dengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya, “Ada apa ini?”

    Sahabat menjawab, “Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, maka apakah engkau tidak mengerti?”.

    Zahid istighfar beberapa kali sambil berkata, “Wah kalau begitu perlengkapan kawin ini akan aku jual dan akan kubelikan kuda yang terbagus.”

    Para sahabat menasehatinya, “Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau hendak berperang?”

    Zahid menjawab dengan tegas, “Itu tidak mungkin!”

    Lalu Zahid menyitir ayat sebagai berikut, “Jika bapak-bapak, anak-anak, suadara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. 9:24).

    Akhirnya Zahid (Aswad) maju ke medan pertempuran dan mati syahid di jalan Allah.

    Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.”

    Lalu Rasulullah membacakan Al-Qur’an surat 3 : 169-170 dan 2:154). “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati“.(QS 3: 169-170).

    “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. 2:154).

    Pada saat itulah para sahabat meneteskan air mata dan Zulfahpun berkata, “Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku tidak bisa mendampinginya di dunia izinkanlah aku mendampinginya di akhirat.”

    HIKMAH

    Mudah-mudahan bermanfaat dan bisa menjadi renungan buat kita bahwa, “Untuk Allah di atas segalanya, and die as syuhada.” Jazakumullah.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Xin Lv 10:21 pm on 1 Februari 2012 Permalink

      Menakjubkan sekali dan suatu pengajaran yg sangat bermanfaat.

    • Setia Nusa Utama 1:34 pm on 2 Februari 2012 Permalink

      Membaca cerita tersebut diatas, aku sangat merasa bahagia. Indahnya keimanan Zahid dan Zulfah…sholawat dan salam bagi Rasulullah SAW. Terimakasih untuk yang menulis dan memuatnya, smoga Allah senantiasa paring keimanan. amin.

  • erva kurniawan 1:42 am on 29 January 2012 Permalink | Balas  

    Save Our Planet [75 cara menyelamatkan bumi] 

    Save Our Planet [75 cara menyelamatkan bumi]

    Sebarkan Tip ini kepada tiap orang yang anda jumpai. Memang lidah tak bertulang, berbicara memang lebih mudah dibanding melakukannya. Padahal tanpa banyak bicarapun sebenarnya kita semua bisa ikut mengambil bagian dalam upaya pelestarian lingkungan

    1. Jangan menggunakan listrik untuk penerangan atau peralatan kecuali jika anda benar-bnar sedang menggunakannya, jika tidak menggunakannya matikanlah !
    2. Menggunakan lampu luorescent (neon) yang hemat energi.
    3. Pergunakan penerangan, pembangkit listrik, unit-unit pemanas bertenaga surya.
    4. Manfaatkan lebih banyak penerangan cahaya alam.
    5. Pergunakan ventilasi yang struktural untuk penyejuk ruangan daripada menggunakan Air Condition (AC)
    6. Pergunakan air dingin, bukan air panas.
    7. Pastikan peralatan bertenaga listrik tetap efisien dan terawat dengan baik
    8. Pengendalian penerangan, alat pendingin udara secara otomatis, misal dengan alat sensor cahaya
    9. Pergunakan alat-alat pematul cahaya untuk menggantikan lampu penerangan.
    10. Pergunakan film pelapis kaca atau rayban untuk mengurangi panas matahari.
    11. Tanamlah tanaman sebanyak mungin di kebun anda untuk mengurangi karbondiosida.
    12. Jangan membakar apa saja, bahkan rokok.
    13. Lengkapi mobil atau motor anda dengan katalisator.
    14. Jika anda menghentikan kendaraan dalam waktu yang tidak lama, jangan matikan mesin kendaraan anda.
    15. Kurangi bawaan pada kendaraan anda untuk mengurangi beban, bahkan mengeluarkan sebatang pensil dari kendaraanpun akan membantu.
    16. Jangan membuang sesuatu yang dapat di daur ulang, seperti kaleng aluminium dan kertas. Simpan dan berikan pemulung untuk dijual kembali.
    17. Meminimalisir penggunaan styrofoam (gabus sintetik) untuk bungkus makanan.
    18. Lihat dan periksa kembali jika anda menggunakan aerosol, cat, AC, apakah mengandung khlorofluorokarbon (CFC).
    19. Jangan beli barang apapun yang langsung dibuang sesudah dipakai sekali, jika ada barang sejenis yang dapat dibeli sebagai investasi jangka panjang.
    20. Belilah produk yang anda sukai sehingga produk tersebut tidak perlu diganti sampai benar-benar rusak dan tidak dapat dipakai kembali.
    21. Cobalah untuk tidak memiliki barang yang hanya memiliki nilai estetika saja.
    22. Berhati-hati dengan barang plastik yang anda beli karena ada beberapa jenis plastik tidak dapat di daur ulang.
    23. Bawalah tas anda sendiri jika hendak berbelanja yang terbuat dari kain atau kanvas untuk mengurangi produk plastik.
    24. Katakan pada seseorang jika anda melihatnya membuang sampah secara sembarangan.
    25. Jangan sekali-sekali memotong tanaman atau menebang pohon karena tetumbuhan membantu menyelamatkan bumi.
    26. Sirami taman anda dengan air hujan, buat sistem tadah hujan.
    27. Pergunakan air sehemat mungkin untuk mencuci kendaraan dan menyiram kebun anda.
    28. Pisahkan sampah yang dapat di daur ulang dan tidak.
    29. Jangan membuang sampah kedalam saluran air, terusan air, sungai dan laut.
    30. Jangan gunakan bahan kimia terutama bahan detergen dan bahan pembersih yang mengandung phospat.
    31. Pakailah bahan pengganti zat kimia dalam rumah misal jus lemon dicampur dengan garam,cuka dan amoniak.
    32. Jangan menggunakan air lebih dari yang anda perlukan.
    33. Apabila mungkin, air di daur ulang.
    34. Jangan menggunakan air untuk membersihkan halaman jika dapat dibersihkan dengan sapu.
    35. Pastikanlah agar keran bekerja dengan baik dan pergunakan pancuran yang mengalir pelan.
    36. Periksa pembilas toilet berada dalam keadaan baik untuk menghindarkan pembilasan yang tidak perlu.
    37. Simpan air bekas dan mesin cuci pakaian untuk mencuci kendaraan anda.
    38. Biasakan meminum air dengan tidak menyisakan air dalam gelas.
    39. Jangan melakukan perjalanan, kecuali anda terpaksa melakukannya.
    40. Jangan melakukan perjalanan dengan kendaraan pribadi, kecuali jika anda memang terpaksa.
    41. Pergunakan kendaraan umum untuk mengurangi kemacetan, karbon monoksida dan ongkos parkir.
    42. Pergunakan sepeda, jika jarak yang ditempuh relatif dekat.
    43. Pergunakan bahan bakar yang bebas timah (unleaded fuel)
    44. Pergunakan bahan bakar beroktan rendah.
    45. Mengkonversi mesin kendaraan anda untuk memakai gas alam yang dipadatkan.
    46. Merawat mesin dengan teratur.
    47. Pilih kendaraan yang menggunakan bahan bakar paling efisien.
    48. Jika hendak mencetak (nge-print) periksa setting print terlebih dahulu, pergunakan cetak draft untuk menghemat tinta.
    49. Pergunakan dibalik kertas yang telah terpakai untuk kebutuhan intern.
    50. Jangan pergunakan gambar-gambar yang yang tidak dibutuhkan dalam sebuah tulisan, karena gambar membutuhkan tinta yang lebih.
    51. Pilih jenis dan ukuran huruf yang standart.
    52. Jangan mempergunakan pupuk yang mengandung zat kimia atau penyalahgunaan pestisida.
    53. Pergunakan bahan kimia untuk tanaman herbisida dan fungisida seefisien mungkin.
    54. Mulailah menanam tanaman dengan teknik hidroponik (ditanam tanpa menggunakan tanah dan hanya memberi gizi secukupnya di dalam air.
    55. Untuk pedagang keliling, jangan menghidupkan alat-alat yang menimbulkan suara bising, kecuali untuk memberikan demonstrasi kepada konsumen.
    56. Menghindarkan musik pengiring ditempat-tempat publik.
    57. Jangan mengoperasikan peralatan pada jam-jam puncak istirahat.
    58. Hindari memperdengarkan musik bersuara keras, sehingga mengaburkan bunyi pengumuman yang penting.
    59. Pastikan bahwa peralatan benar-benar kedap suara dan diservis untuk memperkecil suara bising.
    60. Pakailah alat penutup telinga jika bekerja pada mesin yang bersuara bising.
    61. Pastkan agar produk yag menimbulkan suara mengeluarkan suara sekecil mungkin atau diisolasi.
    62. Gunakanlah alat-alat musik pada tingkat suara yang wajar dan tidak memekakkan telinga.
    63. Jangan menempel poster,atribut organisasi atau hal-hal yang berbau promosi di dinding atau tembok di area publik.
    64. Hindari pemasangan tanda penunjuk atau rambu lebih dari satu sehingga orang tidak dibingungan dengan rambu itu.
    65. Pasanglah reklame atau baliho pada tingkat kewajaran.
    66. Jangan bangun pabrik yang menimbulkan pencemaran di daerah pemukiman.
    67. Pastikan adanya prasarana yang memadai untuk pembuangan seluruh limbah.
    68. Meminimalisir tingkat asap beracun dan limbah cair yang rendah.
    69. Cari informasi dari pemerintah mengenai standar pencemaran udara dan air yang dapat diterima.
    70. Pergunakan bahan bakar yang paling sedikit menimbulkan pencemaran.
    71. Pergunakan teknologi pembersih atau anti pencemaran yang ada untuk menjaga agar prosesing pabrik anda menjadi bersih.
    72. Hindarkan pemakaian bahan-bahan beracun, kecuali jika hal tersebut sangat diperlukan sekali.
    73. Jangan menanam limbah beracun tanpa nasehat ahli.
    74. Jangan membuang limbah beracun di luar pabrik anda.
    75. Jangan membakar limbah industri di tempat terbuka. (Berbagai Sumber)

    Apapun yang anda lakukan dan apapun yang anda beli, pikirkan apakah anda merusak lingkungan kita?

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 28 January 2012 Permalink | Balas  

    Iman Kepada Malaikat 

    Iman Kepada Malaikat

    Assalamu’alaikum wr wb,

    Beriman kepada Malaikat adalah rukun Iman yang kedua.

    Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya…” [Al Baqarah:285]

    Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” [An Nisaa’:136]

    Malaikat diciptakan Allah dari Nur/Cahaya [HR Muslim] dan merupakan makhluk ghaib yang tidak dapat dilihat oleh manusia kecuali jika Allah mengizinkan.

    Malaikat tidak memiliki hawa nafsu dan selalu taat dan melaksanakan perintah Allah:

    Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).” [An Nahl:50]

    Para Malaikat tidak lalai dalam menjalankan kewajiban:

    Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat- malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” [Al An’aam:61]

    Malaikat merupakan hamba Allah yang dimuliakan:

    Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak”, Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan” [Al Anbiyaa’:26]

    Malaikat senantiasa beribadah kepada Allah dan bertasbih:

    Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nya-lah mereka bersujud” [Al A’raaf:206]

    Para Malaikat mengerjakan berbagai urusan yang diberikan Allah kepada mereka:

    Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan untuk mengurus berbagai macam urusan yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [Faathir:1]

    Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.” [Al Qadr:4]

    Para malaikat senantiasa berdoa untuk orang-orang yang beriman:

    (Malaikat-malaikat) yang memikul Arasy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala, ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu, maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar”. [Al Mu’min:7-9]

    Bahkan Malaikat dikirim Allah untuk menolong orang-orang yang beriman jika mereka bersabar dan siap siaga: . Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.” [Ali ‘Imran:125]

    Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.” [Al Ahzab:9]

    Jumlah Malaikat banyak dan teratur dalam barisan-barisan yang rapi:

    dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris.” [Al Fajr:22]

    Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf- shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar.” [An Naba’:38]

    Di antara para malaikat yang wajib setiap orang Islam ketahui sebagai salah satu Rukun Iman berserta tugas-tugas mereka adalah:

    1. Jibril – Menyampaikan wahyu kepada para Nabi dan Rasul Allah. Sesungguhnya Al Qur’aan itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril)” [At Takwiir:19]

    Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.”[Al Baqarah:98]

    2. Mikail – Membagi rezeki kepada seluruh makhluk, di antaranya menurunkan hujan [QS 2:98]

    3. Israfil – Meniup sangkakala (terompet) pada hari kiamat [HR An Nasaa’i]

    4. Maut – Mencabut nyawa seluruh makhluk [QS 32:11] Katakanlah: “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” [As Sajdah:11]

    5. Munkar – Memeriksa amal perbuatan manusia di alam kubur [HR Ibnu Abi ‘Ashim]

    6. Nakir – Memeriksa amal perbuatan manusia di alam kubur [HR Ibnu Abi ‘Ashim]

    7. Raqib – Mencatat amal baik manusia ketika hidup di dunia [QS 50:18] Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” [Qaaf:18]

    8. Atid – Mencatat amal buruk manusia ketika hidup di dunia [QS 50:18]

    9. Malik / Zabaniyah- Menjaga neraka dengan bengis dan kejam Mereka berseru: “Hai Malik biarlah Tuhanmu membunuh kami saja.” Dia menjawab: “Kamu akan tetap tinggal di neraka.” [Az Zukhruf:77]

    kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah” [Al ‘Alaq:18]

    10. Ridwan, Penjaga Surga – Menjaga sorga dengan lemah lembut [QS 39:73] Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam syurga berombong-rombongan. Sesampai di surga dan pintu-pintunya telah terbuka berkatalah penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan dilimpahkan atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.” [Az Zumar:73]

    Nama Malaikat Maut, Izrail, tidak ditemukan sumbernya baik dalam Al Quran maupun Hadits. Ibnu Katsir mentafsirkannya dari surat As Sajdah ayat 11 dengan sumber hadits yang tidak jelas [(Ahkamul Jana’iz, I/254 dan Takhrij At-Thahawiyyah, I/72]

    Nama Malaikat Ridwan menurut sebagian ahli hadits haditsnya maudhu’ [Dha’if At-Targhib wat Tarhib, I/149 dan Adh-Dha’ifah, X/138]. Dalam QS 39:73 hanya disebut Penjaga Surga.

    Hikmah dari beriman kepada malaikat cukup banyak. Misalnya dengan menyadari adanya malaikat Roqib dan ‘Atid yang selalu mencatat amal baik/buruk kita, maka kita akan lebih hati-hati dalam berbuat. Kita malu berbuat dosa.

    Padahal sesungguhnya bagi kamu ada malaikat-malaikat yang mengawasi pekerjaanmu, yang mulia di sisi Allah dan mencatat pekerjaan-pekerjaanmu, mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al Infithaar:10-12]

    Dengan meyakini adanya malaikat Maut yang mencabut nyawa kita, Munkar dan Nakir yang memeriksa kita di alam kubur serta malaikat Malik yang menyiksa para pendosa di neraka, niscaya kita takut berbuat dosa.

    Kita juga bisa meniru ketaatan dan kerajinan malaikat dalam beribadah.

    Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih.” [Al Anbiyaa’:19]

    Di TV saya menyaksikan bagaimana pemerintah AS dan Inggris khusus mendirikan Lembaga untuk menyelidiki keberadaan piring terbang/UFO (Unidentified Flying Object) atau makhluk ruang angkasa (alien). Mereka bahkan membuat teleskop radio raksasa untuk mendeteksi keberadaan UFO/alien.

    Sebagian ilmuwan berpendapat bahwa mungkin tidak hanya ada satu alam semesta (universe). Tapi ada alam semesta lain yang paralel keberadaannya (Parallel Universe/Dimension). Sebagai contoh ada orang yang melihat UFO kemudian benda itu menghilang. Sebetulnya tidak hilang. Tapi dia merubah “frekuensinya” sehingga tidak terlihat lagi oleh mata manusia.

    Para ilmuwan itu masih mencari-cari dan meraba-raba keberadaan UFO, Alien, atau Parallel Universe. Padahal dalam Islam hal itu sudah ada penjelasannya. Dalam Islam disebut ada dunia dan ada juga akhirat. Kemudian selain manusia yang kasat mata, ada juga makhluk ghaib seperti jin dan malaikat yang tidak bisa dideteksi oleh manusia. Hanya kadang-kadang saja mereka nampak sehingga Nabi dan para sahabat bisa melihat mereka. Hal yang ghaib ini harus kita imani:

    yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” [Al Baqarah:3]

    Jika kadang-kadang ada orang yang mengaku melihat benda yang bersinar dan terbang dengan cepat, meski mungkin tidak semua laporan itu benar, bisa jadi yang mereka lihat itu adalah makhluk ghaib seperti Malaikat yang memang diciptakan Allah dari Nur atau Cahaya.

    Malaikat memang biasa naik turun ke bumi pada subuh dan sore hari:

    Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” [Al Israa’:78]

    Dan malaikat memang kecepatannya luar biasa yaitu lebih dari 17 juta kali kecepatan maksimal yang dilakukan manusia. Saat ini benda tercepat yang diakui oleh manusia adalah cahaya (300.000 km/detik) dan Malaikat memang diciptakan Allah dari cahaya.

    dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat, dan (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang” [An Naazi’aat:3-4]

    Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.” [Al Ma’aarij:4]

    ***

    Referensi: Wikipedia, al-ihwan.net

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 27 January 2012 Permalink | Balas  

    SMS dan Pembodohan 

    SMS dan Pembodohan

    Oleh : Zaim Uchrowi

    Hari itu, ceramah Pak RW usai shalat Subuh terasa berbeda. Pak RW berbicara dalam tempo pelan dengan nuansa lebih lembut dari biasa. Semua terdiam memerhatikannya. Ia punya pengalaman hidup istimewa. Ia baru pulang dari rumah sakit setelah sempat koma lebih dari 24 jam akibat serangan jantung. Banyak jamaah menduga ia akan menceritakan pengalamannya menghadapi saat-saat kritis itu. Ternyata, tidak.

    Pak RW justru menyatakan keprihatinannya pada kondisi sosial sekarang. Ia mepaparkan bertambah beratnya beban hidup masyarakat kebanyakan. Kebutuhan sehari-hari semakin mahal. Minyak semakin sulit didapat. Daya beli masyarakat berupa pangan, pendidikan, dan kesehatan semakin melemah. Ringkas kata, ‘hidup semakin sulit’. Dalam iklim demikian, menurutnya, berpikir jernih dan sehat semakin menjadi kebutuhan. Ketika persoalan hidup kian kompleks, tak ada pilihan yang lebih baik buat menghadapinya selain dengan berpikir jernih dan sehat. Maka, berpikir jernih dan sehatlah yang perlu ditumbuhkan di masyarakat. Jika seluruh bangsa ini dapat didorong ke arah sana, kompleksitas persoalan tersebut sedikit banyak akan dapat terurai. ‘Bangsa ini juga akan bergerak maju ke depan, seberat apa pun tantangan ke depan yang menghadang.

    Namun, menyemaikan berpikir jernih dan sehat ternyata tak semudah memakan kerupuk. Yang tersemaikan secara cepat justru cara berpikir gampangan berdasar pada budaya instan dan jalan pintas. Pada tingkat tertentu, budaya demikian juga bermanfaat. Setidaknya, untuk membuat kita melupakan sejenak kegetiran hidup. Juga membuat kita terhibur sesaat. Hal yang penting dalam hidup agar tak patah atau terjatuh selamanya. Namun, budaya itu sangat kuat menyeret kita ke dunia mimpi dan mengabaikan realitas sekitar.

    Telepon genggam dan televisi adalah medium efektif buat menyingkirkan berpikir jernih dan sehat. Ia tunjuk berbagai program ramalan dan ‘teka-teki’ yang banyak dijajakan lewat TV. Coba lihat iklan yang menyuruh menulis reg spasi nama spasi ramal atau apalah yang menjamur di TV.

    Masyarakat tidak diajak untuk berpikir jernih dan bekerja keras mengatasi persoalan hidup. Masyarakat diajak memilih jalan instan buat mengatasi persoalan. Hanya dengan mengirim SMS, kita merasa tahu nasib ke depan. Yang lebih runyam, menurutnya, adalah ‘teka-teki bodoh’, seperti program ‘Acak Kata’ dan sebagainya. Pertanyaannya sama sekali tidak mendidik.

    Huruf dari sebuah kata ‘diacak’ sangat gampang agar orang mau mengirimkan jawaban sebanyak-banyaknya lewat SMS. Iming-imingnya hadiah Rp 200 juta. “Itu perjudian yang jauh lebih jahat dibanding SDSB dulu,” ungkapnya. Tak ada kontrol negara, tak ada notaris yang mengundi pemenangnya, tak jelas pula siapa yang mendapat hadiah. Sedangkan, membuang uang dalam perjudian itu begitu gampang karena hanya dengan cara mengirim SMS. Anak-anak muda dari kalangan bawah tergoda menghamburkan uang puluhan ribu rupiah.

    Itu hanya salah satu cara meraup uang dari orang-orang susah dengan menggunakan SMS. Banyak cara lain yang juga ditempuh. Misalnya, mengirim ‘petunjuk’ pada siswa SD atau SMP yang bertelepon genggam, seperti ‘jangan pilih jawaban B kalau ujian di hari…’. Lalu, bocah-bocah polos akan menyebarkan ‘petunjuk’ itu pada kawan-kawannya. Atau, bekerja sama dengan televisi dalam berbagai macam lomba idola. Pemirsa didorong untuk mengirim SMS buat memenangkan idola. Bila perlu, sang peserta menjual rumah keluarga buat membiayai pengiriman SMS dukungan bagi dirinya sendiri agar segera sukses menjadi bintang. Hasilnya, terbanting.

    “Saya heran, ada yang tega berbisnis dengan membodohi masyarakat lewat SMS begitu?” kata Pak RW lembut. “Saya tidak mengerti bagaimana operator telepon seluler dan pemilik stasiun TV mau memfasilitasi bisnis begitu. Kalau pembodohan itu terus berlangsung dan pemerintah juga tak peduli soal begini, bagaimana masa depan bangsa kita?” Saya terdiam. “Inilah wajah kita saat ini.”

    ***

    Sumber: republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 26 January 2012 Permalink | Balas  

    Ibu Meninggal Setelah 38 Tahun Merawat Putrinya yang Koma 

    Ibu Meninggal Setelah 38 Tahun Merawat Putrinya yang Koma

    Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali … Sepenggal syair lagu itu benar-benar mengena pada sosok ibu asal AS ini. Wanita berusia 80 tahun itu selama berpuluh-puluh tahun merawat putrinya yang mengalami koma.

    Sampai akhirnya ibu penuh kasih itu meninggal, mendahului putrinya yang hingga saat ini masih terbaring dalam koma berkepanjangan.

    Kaye O’Bara menutup mata untuk selamanya di rumahnya di Miami Gardens, Florida . Kamar yang selama ini ditempatinya bersama putrinya, Edwarda sejak 1970 silam. Kaye meninggal dalam tidurnya. Dia telah bertahun-tahun menderita penyakit jantung.

    Semasa hidupnya Kaye pernah berjanji tak akan pernah meninggalkan Edwarda yang ketika itu masih remaja. J anji itu dimulai sejak Edwarda jatuh koma akibat penyakit diabetesnya 38 tahun yang lampau.

    “Kami kira dia akan hidup melampaui kami semua. Wanita itu begitu kuat,” kata keponakan Kaye, Pamela Burdgick seperti dilansir harian News.com.au, Sabtu (8/3/2008).

    Selama kurun waktu 38 tahun, kisah pengabdian Kaye kepada putrinya, Edwarda menarik simpati banyak orang. Para pengunjung yang jumlahnya tak terhitung lagi mendatangi rumah Kaye. Bahkan ada pula sebagian orang yang datang dari J epang untuk ikut merayakan ulang tahun Edwarda.

    Kisah Kaye telah dituangkan dalam buku laris karya Dr. Wayne Dyer yang berjudul A Promise Is A Promise: An Almost U nbelievable Story of a Mother’s U nconditional Love and What It Can Teach U s.

    Edwarda, penderita diabetes, mengalami flu sebelum Natal 1969. Beberapa hari kemudian kondisinya memburuk dan orangtuanya, Kaye dan suaminya, J oe, membawanya ke rumah sakit.

    Beberapa saat sebelum Edwarda kehilangan kesadarannya, remaja putri itu sempat bertanya kepada ibunya: ” J anji ibu tidak akan meninggalkan saya, janji ya?” Kaye pun berjanji tidak akan pernah meninggalkan anak perempuannya itu.

    Itulah kata-kata terakhir yang disampaikan Kaye sebelum anaknya koma berkepanjangan. Dan Kaye menepati janjinya.

    Kaye dengan teratur membalik tubuh putrinya tiap dua jam supaya tidak mengalami nyeri akibat berbaring terlalu lama. Kaye memberinya makan berupa campuran makanan bayi dan susu bubuk melalui tube, menyuntikkan insulin, memutar alunan musik, membacakan buku untuk Edwarda dan tak lelah berdoa di samping tempat tidur Edwarda supaya suatu hari nanti putrinya itu akan sadar kembali.

    Bagi Kaye, mengurus putrinya itu bukanlah beban, melainkan berkat. Kaye sangat yakin, Edwarda akan terbangun. “Bagi saya, dia hampir sadar. Kadang-kadang saya merasa mendengar dia bicara: Ibu, saya baik-baik saja,” kata Kaye kepada media AS, Miami Herald beberapa waktu lalu.

    Namun kini Kaye telah pergi untuk selamanya. Dia meninggalkan Edwarda yang masih terbaring koma entah sampai kapan. Adik Edwarda, Colleen O’Bara mengatakan, keluarga akan terus merawat Edwarda di rumah mereka. Sama seperti Kaye, Colleen juga yakin kakaknya itu akan sadar suatu hari nanti.

    Suami Kaye, J oe mengalami serangan jantung pada tahun 1972 dan meninggal dunia empat tahun kemudian. Sejak itu, Kaye mengurus Edwarda dengan menggunakan tunjangan sosial dari pemerintah dan dana pensiun suaminya, ditambah lagi dengan sumbangan dari orang-orang.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 25 January 2012 Permalink | Balas  

    Jihad Ibu 

    Jihad Ibu

    Oleh: Siti Yuliati

    Rasulullah SAW bersabda, ”Setiap jerih payah istri di rumah sama nilainya dengan jerih payah suami di medan jihad.’‘ (HR Bukhari dan Muslim). Pada dasarnya, Islam telah memberikan keistimewaan kepada para istri untuk tetap berada di rumahnya. Untuk mendapatkan surga-Nya kelak, para istri cukup berjuang di rumah tangganya dengan ikhlas. Tetesan keringat mereka di dapur dinilai sama dengan darah mujahid di medan perang.

    Menjadi ibu rumah tangga kedengarannya memang sepele dan remeh, hanya berkecimpung dengan urusan rumah dari A-Z, namun siapa sangka banyak sekali kebaikan dan hikmah yang dapat diperoleh. Ibulah yang mengambil porsi terbesar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi.

    Pertumbuhan suatu generasi bangsa pertama kali berada di buaian para ibu. Di tangan ibu pula pendidikan anak ditanamkan dari usia dini, dan berkat keuletan dan ketulusan ibu jualah bermunculan generasi-generasi berkualitas dan bermanfaat bagi bangsa dan agama.

    Dalam Islam, ini adalah tugas besar, namun sangat mulia dan akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, ”Seorang istri pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Sayangnya, kebanyakan wanita modern saat ini tidak menyukai aktivitas rumah tangga. Mereka lebih bangga bekerja di luar rumah karena beranggapan tinggal di rumah identik dengan ketidakmandirian dan ketidakberdayaan ekonomi. Maka, jadilah peran ibu di rumah dianggap rendah, dan tidak sedikit ibu rumah tangga yang malu-malu ketika ditanya apa pekerjaannya.

    Meskipun seorang wanita tidak bekerja setelah lulus sarjana, ilmunya tidak akan sia-sia, sebab ia akan menjadi ibu sekaligus pendidik bagi anak-anaknya. Kebiasaan berpikir ilmiah yang ia dapatkan dari proses belajar di bangku kuliah itulah yang akan membedakannya dalam mendidik anak. Seorang ibu memang harus cerdas dan berkualitas, sebab kewajiban mengurus anak tidak sebatas memberi makan.

    Ia harus mampu merawat dan mendidik anak-anaknya dengan benar, penuh kasih sayang, kesabaran, menempanya dengan nilai dan norma agama agar sang anak mampu menghindar dari pengaruh lingkungan dan kemajuan teknologi yang merusak akal dan akhlaknya. Hal itu hanya dapat dilakukan oleh seorang ibu yang cerdas.

    ***

    Republika Online

     
  • erva kurniawan 1:32 am on 24 January 2012 Permalink | Balas  

    Dalil Nabi Muhammad Nabi dan Rasul Terakhir 

    Dalil Nabi Muhammad Nabi dan Rasul Terakhir  

    Di bawah adalah dalil Nabi Muhammad Nabi dan Rasul terakhir dan tidak ada Nabi sesudahnya. Ini adalah dalil-dalil dari Al Qur’an dan Hadits yang mematahkan argumen kelompok Ahmadiyah yang menyatakan Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi.

    Ketika disodorkan ayat: QS Al Ahzab 40: Bukanlah Muhammad itu bapak salah seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi”. Ada yang berargumen bahwa Nabi Muhammad hanya Nabi terakhir. Bukan Rasul terakhir. Namun hadits di bawah menunjukkan bahwa Nabi Muhammad bukan hanya Nabi terakhir, tapi juga Rasul terakhir:

    Rasulullah SAW menegaskan: “Rantai Kerasulan dan Kenabian telah sampai pada akhirnya. Tidak akan ada lagi rasul dan nabi sesudahku”. (Tirmidhi, Kitab-ur-Rouya, Bab Zahab-un-Nubuwwa; Musnad Ahmad; Marwiyat-Anas bin Malik).

    Inilah 17 dalil tak ada Nabi baru setelah Muhammad.

    Tak ada nabi baru lagi setelah Rasulullah

    1. QS AL AHZAB 40: Bukanlah Muhammad itu bapak salah seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi”

    2. Imam Muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

    “Perumpamaan saya dan para Nabi sebelum saya seperti orang yang membangun satu bangunan lalu dia membaguskan dan membuat indah bangunan itu kecuali tempat batu yang ada di salah satu sudut. Kemudian orang-orang mengelilinginya dan mereka ta’juk lalu berkata: “kenapa kamu tidak taruh batu ini.?’ Nabi menjawab : Sayalah batu itu dan saya penutup Nabi-nabi”

    3. Imam Muslim juga meriwayatkan dari Jubair bin Mut’im RA bahwa Nabi SAW bersabda:

    “Sesungguhnya saya mempunyai nama-nama, saya Muhammad, saya Ahmad, saya Al-Mahi, yang mana Allah menghapuskan kekafiran karena saya, saya Al-Hasyir yang mana manusia berkumpul di kaki saya, saya Al-Aqib yang tidak ada Nabi setelahnya”

    4. Abu Daud dan yang lain dalam hadist Thauban Al-Thawil, bersabda Nabi Muhammad SAW:

    “Akan ada pada umatku 30 pendusta semuanya mengaku nabi, dan saya penutup para Nabi dan tidak ada nabi setelahku”

    5. Khutbah terakhir Rasulullah

    Wahai manusia, tidak ada nabi atau rasul yang akan datang sesudahku dan tidak ada agama baru yang akan lahir.Karena itu, wahai manusia, berpikirlah dengan baik dan pahamilah kata-kata yang kusampaikan kepadamu. Aku tinggalkan dua hal: Al Quran dan Sunnah, contoh-contoh dariku; dan jika kamu ikuti keduanya kamu tidak akan pernah tersesat ”

    6. Rasulullah SAW menjelaskan: “Suku Israel dipimpim oleh Nabi-nabi. Jika seorang Nabi meninggal dunia, seorang nabi lain meneruskannya. Tetapi tidak ada nabi yang akan datang sesudahku; hanya para kalifah yang akan menjadi penerusku” (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib).

    7. Rasulullah SAW menegaskan: “Posisiku dalam hubungan dengan nabi-nabi yang datang sebelumku dapat dijelaskan dengan contoh berikut: Seorang laki-laki mendirikan sebuah bangunan dan menghiasinya dengan keindahan yang agung, tetapi dia menyisakan sebuah lubang di sudut untuk tempat sebuah batu yang belum dipasang. Orang-orang melihat sekeliling bangunan tersebut dan mengagumi keindahannya, tetapi bertanya-tanya, kenapa ada sebuah batu yang hilang dari lubang tersebut? Aku seperti batu yang hilang itu dan aku adalah yang terakhir dalam jajaran Nabi-nabi”. (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib).

    8. Rasulullah SAW menyatakan: “Allah telah memberkati aku dengan enam macam kebaikan yang tidak dinikmati Nabi-nabi terdahulu: – Aku dikaruniai keahlian berbicara yang efektif dan sempurna. – Aku diberi kemenangan karena musuh gentar menghadapiku – Harta rampasan perang dihalalkan bagiku. -Seluruh bumi telah dijadikan tempatku beribadah dan juga telah menjadi alat pensuci bagiku. Dengan kata lain, dalam agamaku, melakukan shalat tidak harus di suatu tempat ibadah tertentu. Shalat dapat dilakukan di manapun di atas bumi. Dan jika air tidak tersedia, ummatku diizinkan untuk berwudhu dengan tanah (Tayammum) dan membersihkan dirinya dengan tanah jika air untuk mandi langka. – Aku diutus Allah untuk menyampaikan pesan suciNYA bagi seluruh dunia. “ Dan jajaran Kenabian telah mencapai akhirnya padaku (Riwayat Muslim, Tirmidhi, Ibnu Majah)

    9. Rasulullah SAW menegaskan: “Rantai Kerasulan dan Kenabian telah sampai pada akhirnya. Tidak akan ada lagi rasul dan nabi sesudahku”. (Tirmidhi, Kitab-ur-Rouya, Bab Zahab-un-Nubuwwa; Musnad Ahmad; Marwiyat-Anas bin Malik).

    10. Rasulullah SAW menjelaskan: “Saya Muhammad, Saya Ahmad, Saya Pembersih dan kekafiran harus dihapuskan melalui aku; Saya Pengumpul, Manusia harus berkumpul pada hari kiamat yang datang sesudahku. (Dengan kata lain, Kiamat adalah satu-satunya yang akan datang sesudahku); dan saya adalah Yang Terakhir dalam arti tidak ada nabi yang datang sesudahku”. (Bukhari dan Muslim, Kitab-ul-Fada’il, Bab Asmaun-Nabi; Tirmidhi, Kitab-ul-Adab, Bab Asma-un-Nabi; Muatta’, Kitab-u-Asma-in-Nabi; Al-Mustadrak Hakim, Kitab-ut-Tarikh, Bab Asma-un-Nabi).

    11. Rasulullah SAW menjelaskan: “Allah yang Maha Kuasa tidak mengirim seorang Nabi pun ke dunia ini yang tidak memperingatkan ummatnya tentang kemunculan Dajjal (Anti-Kristus, tetapi Dajjal tidak muncul dalam masa mereka). Aku yang terakhir dalam jajaran Nabi-Nabi dan kalian ummat terakhir yang beriman. Tidak diragukan, suatu saat, Dajjal akan datang dari antara kamu”. (Ibnu Majah, Kitabul Fitan, Bab Dajjal).

    12. Abdur Rahman bin Jubair melaporkan: “Saya mendengar Abdullah bin “Amr ibn-’As menceritakan bahwa suatu hari Rasulullah SAW keluar dari rumahnya dan bergabung dengan mereka. Tindak-tanduknya memberi kesan seolah-olah beliau akan meninggalkan kita. Beliau berkata: “Aku Muhammad, Nabi Allah yang buta huruf”, dan mengulangi pernyataan itu tiga kali. Lalu beliau menegaskan: “Tidak ada lagi Nabi sesudahku”. (Musnad Ahmad, Marwiyat “Abdullah bin “Amr ibn-’As).

    13. Rasulullah SAW berkata: Allah tidak akan mengutus Nabi sesudahku, tetapi hanya Mubashirat”. Dikatakan, apa yang dimaksud dengan al-Mubashirat. Beliau berkata: Visi yang baik atau visi yang suci”. (Musnad Ahmad, marwiyat Abu Tufail, Nasa’i, Abu Dawud). (Dengan kata lain tidak ada kemungkinan turunnya wahyu Allah di masa yang akan datang. Paling tinggi, jika seseorang mendapat inspirasi dari Allah, dia akan menerimanya dalam bentuk mimpi yang suci).

    14. Rasulullah SAW berkata: “Jika benar seorang Nabi akan datang sesudahku, orang itu tentunya Umar bin Khattab”. (Tirmidhi, Kitab-ul-Manaqib).

    15. Rasulullah SAW berkata kepada ‘Ali, “Hubunganmu denganku ialah seperti hubungan Harun dengan Musa. Tetapi tidak ada Nabi yang akan datang sesudahku”. (Bukhari dan Muslim, Kitab Fada’il as-Sahaba).

    16. Rasulullah SAW menjelaskan: “Di antara suku Israel sebelum kamu, benar-benar ada orang-orang yang berkomunikasi dengan Tuhan, meskipun mereka bukanlah NabiNYA. Jika ada satu orang di antara ummatku yang akan berkomunikasi dengan Allah, orangnya tidak lain daripada Umar”. (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib)

    17. Rasulullah SAW berkata: “Tidak ada Nabi yang akan datang sesudahku dan karena itu, tidak akan ada ummat lain pengikut nabi baru apapun”. (Baihaqi, Kitab-ul-Rouya; Tabrani)

    Wassalam

    ***

    Oleh: M. Nurhuda

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 23 January 2012 Permalink | Balas  

    Tangis ‘Aisyah RHA Saat Peristiwa Haditsul Ifki (Kabar Burung) 

    Tangis ‘Aisyah RHA Saat Peristiwa Haditsul Ifki (Kabar Burung)

    Al-Qasim menuturkan, “Jika aku pergi, maka aku mampir terlebih dahulu ke rumah Aisyah untuk mengucapkan salam kepadanya. Suatu hari aku pergi, ternyata ia berdiri dalam keadaan bertasbih dan membaca firman Allah SWT, ‘Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari adzab neraka.’ (Ath-Thur: 27).

    Ia berdoa dan menangis seraya mengulang-ulang ayat tersebut, sehingga aku jemu berdiri, lalu aku pergi ke pasar untuk keperluanku. Kemudian aku kembali, ternyata ia masih berdiri seperti sediakala dalam keadaan shalat dan menangis.”

    Itulah Aisyah Ummul Mukminin RHA yang dizhalimi orang-orang muslim menurut zhahirnya, padahal mereka sebenarnya adalah kaum munafik, dalam peristiwa berita dusta yang nyaris menghancurkan rumah tangga Nabi SAW dalam peristiwa yang menyakitkan dari pihak kaum munafik dan kaum yang berakhlak buruk yang tidak memperhatikan bahwa dia adalah istri Nabi SAW dan bahwa dia dizhalimi, padahal dia lebih suci daripada mereka. Tetapi ini adalah fitnah yang sepanjang zaman selalu menampakkan bisa dan kuman yang ingin mencemari orang-orang bersih dan orang-orang baik secara zhalim dan dusta. Tetapi orang yang dizhalimi tidak bisa berbuat apa-apa selain menuju dan bersandar ke haribaan Allah SWT. Berapa banyak kita mendengar manusia hina memfitnah orang-orang baik dengan tuduhan dusta padahal mereka terbebas dari semua tuduhan tersebut, kecuali karena mereka kaum yang shalih, mendapatkan taufik dan meraih kesuksesan. Manusia yang hina, mereka sebenarnya bukanlah manusia, tetapi setan pengecut yang dengki dan hasad terhadap setiap orang yang diberi taufik oleh Allah SWT. Orang-orang yang mengigau ini tidak mempunyai senjata kecuali memberitakan melalui berbagai surat kabar kaum sekuler yang hina seperti mereka. Mereka lupa bahwa Allah SWT Memberikan balasan lagi Mahaperkasa, Dia menangguhkan dan bukan membiarkan. Mahabenar Allah, ketika berfirman, “Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedustaan.” (Thaha: 61).

    Dusta adalah senjata kaum pengecut, kaum munafik, dan manusia yang hina. Karena itu, Aisyah SAW menangis siang malam, karena masalahnya sungguh menyakitkan, mengapa orang yang tidak bersalah dan tidak pernah menyakiti siapa pun dituduh.

    Lebih terkutuk dari kezhaliman ini adalah menuduh berzina wanita yang baik-baik lagi beriman. Kemudian datang pembebasan terhadap Ummul Mukminin Aisyah SAW dari atas tujuh langit di dalam al-Qur’an yang akan selalu dibaca hingga Hari Kiamat, sehingga setiap munafik lagi pendusta terdiam. Demikianlah Ummul Mu’minin terbebas dari berita dusta yang ditebarkan oleh kaum munafik yang tidak menginginkan kebaikan tetapi menginginkan fitnah. Bagi Merekalah hukuman di dunia dan akhirat, serta mereka diancam al-Qur’an dengan adzab yang pedih. Mahabenar Allah SWT, ketika berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagimu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya adzab yang besar.”(An-Nur: 11)

    Demikianlah air mata Ummul Mukminin Aisyah RHA tumpah demi mengharapkan pahala dan berlindung kepada Dzat yang tiada tempat berlindung kecuali kepadaNya sehingga dia mendapatkan pembebasan dari Allah SWT.

    ***

    CATATAN:

    as-Samth ats-Tsamin fi Manaqib Ummahat al-Mu’minin, Abu al-Abbas Ahmad ath-Thabari, hal. 90

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 22 January 2012 Permalink | Balas  

    Tujuh golongan yg mendapat naungan 

    Tujuh golongan yg mendapat naungan

    Dari Abu Hurairah r.a., Nabi SAW bersabda: “Tujuh golongan, Allah akan menaungi mereka pada hari yang tiada naungan melainkan naungan-Nya: Imam yang adil, pemuda yang membesar dengan beribadat kepada Allah, insan yang hatinya terpaut dengan masjid, dua insan yang berkasih sayang kerana Allah, mereka bertemu dan berpisah kerana Allah, insan yang diajak (digoda) oleh wanita yang berpangkat dan cantik lalu ia berkata: Sesungguhnya aku takutkan Allah, insan yang bersedekah dengan cara yang tersembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dibelanjakan oleh tangan kanannya, insan yang mengingati Allah secara bersunyian lalu berlinangan air matanya.”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 21 January 2012 Permalink | Balas  

    Doa Yang Selalu Dikabulkan 

    Doa Yang Selalu Dikabulkan

    Helvy Tiana Rosa

    Pagi itu, dari Jakarta, saya diundang mengisi seminar di IAIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Saya duduk di bangku kedua dari depan sambil menunggu kedatangan pembicara lain, Mimin Aminah, yang belum saya kenal.

    Jam sembilan tepat, panitia menghampiri saya dan memperkenalkan ia yang baru saja tiba. Saya segera berdiri menyambut senyumnya yang lebih dulu merekah. Ia seorang yang bertubuh besar, ramah, dalam balutan gamis biru dan jilbab putih yang cukup panjang. Kami berjabat tangan erat, dan saat itu tegas dalam pandangan saya dua kruk (tongkat penyangga yang dikenakan-nya) serta sepasang kaki lemah dan kecil yang ditutupi kaos kaki putih. Sesaat batin saya hening, lalu melafazkan kalimat takbir dan tasbih.

    Saat acara seminar dimulai, saya mendapat giliran pertama. Saya bahagia karena para peserta tampak antusias. Begitu juga ketika giliran Mimin tiba. Semua memperhatikan dengan seksama apa yang disampaikannya. Kata-kata yang dikemukakannya indah dengan retorika yang menarik. Wawasannya luas, pengamatannya akurat.

    Saya tengah memandang wajah dengan pipi merah jambu itu saat Mimin berkata dengan nada datar. “Saya diuji Allah dengan cacat kaki ini seumur hidup saya.”

    Ia tersenyum. “Saya lahir dalam keadaan seperti ini. Mungkin banyak orang akan pesimis mengha dapi keadaan yang demikian, tetapi sejak kecil saya telah memohon sesuatu pada Allah. Saya berdoa agar saat orang lain melihat saya, tak ada yang diingat dan disebutnya kecuali Allah,” Ia terdiam sesaat dan kembali tersenyum. “Ya, agar mereka ingat Allah saat menatap saya. Itu saja.”

    Dulu tak ada orang yang menyangka bahwa ia akan bisa kuliah. “Saya kuliah di Fakultas Psikologi,” katanya seraya menambahkan bahwa teman-teman pria dan wanita di Universitas Islam Bandung-tempat kuliahnya itu-senantiasa bergantian membantunya menaiki tangga bila kuliah diadakan di lantai dua atau tiga. Bahkan mereka hafal jam datang serta jam mata kuliah yang diikutinya. “Di antara mereka ada yang membawakan sebelah tongkat saya, ada yang memapah, ada juga yang menunggu di atas,” kenangnya.

    Dan civitas academica yang lain? Menurut Mimin ia sering mendengar orang menyebut-nyebut nama Allah saat menatapnya. “Mereka berkata: Ya Allah, bisa juga ya dia kuliah,” senyumnya mengembang lagi. “Saya bahagia karena mereka menyebut nama Allah. Bahkan ketika saya berhasil menamatkan kuliah, keluarga, kerabat atau teman kembali memuji Allah. Alhamdulillah, Allah memang Maha Besar. Begitu kata mereka.”

    Muslimah bersahaja kelahiran tahun 1966 ini juga berkata bahwa ia tak pernah ber-mimpi akan ada lelaki yang mau mempersuntingnya. “Kita tahu, terkadang orang normal pun susah mendapatkan jodoh, apalagi seorang yang cacat seperti saya. Ya tawakal saja.”

    Makanya semua geger, ketika tahun 1993 ada seorang lelaki yang saleh, mapan dan normal melamarnya. “Dan lagi-lagi saat walimah, saya dengar banyak orang menyebut-nyebut nama Allah dengan takjub. Allah itu maha kuasa, ya. Maha adil! Masya Allah, Alhamdulillah, dan sebagainya,” ujarnya penuh syukur. Saya memandang Mimin dalam. Menyelami batinny a dengan mata mengembun.

    “Lalu saat saya hamil, hampir semua yang bertemu saya, bahkan orang yang tak mengenal saya, menatap takjub seraya lagi-lagi mengagungkan asma Allah. Ketika saya hamil besar, banyak orang menyarankan agar saya tidak ke bidan, melainkan ke dokter untuk operasi. Bagaimana pun saat seorang ibu melahirkan otot-otot panggul dan kaki sangat berperan. Namun saya pasrah. Saya merasa tak ada masalah dan yakin bila Allah berkehendak semua akan menjadi mudah. Dan Alhamdulillah, saya melahirkan lancar dibantu bidan,” pipi Mimin memerah kembali. “Semua orang melihat saya dan mereka mengingat Allah. Allahu Akbar, Allah memang Maha Adil, kata mereka berulang-ulang.”

    Hening. Ia terdiam agak lama.

    Mata saya basah, menyelami batin Mimin. Tiba-tiba saya merasa syukur saya teramat dangkal dibandingkan nikmatNya selama ini. Rasa malu menyergap seluruh keberadaan saya. Saya belum apa-apa. Yang selama ini telah saya lakukan bukanlah apa-apa.

    Astaghfirullah. Tiba-tiba saya ingin segera turun dari tempat saya duduk sebagai pembicara sekarang, dan pertamakalinya selama hidup saya, saya menahan airmata di atas podium. Bisakah orang ingat pada Allah saat memandang saya, seperti saat mereka memandang Mimin?

    Saat seminar usai dan Mimin dibantu turun dari panggung, pandangan saya masih kabur. Juga saat seorang (dari dua) anaknya menghambur ke pelukannya. Wajah teduh Mimin tersenyum bahagia, sementara telapak tangan kanannya berusaha membelai kepala si anak. Tiba-tiba saya seperti melihat anak saya, yang selalu bisa saya gendong kapan saya suka. Ya, Allah betapa banyak kenikmatan yang Kau berikan padaku.

    Ketika Mimin pamit seraya merangkul saya dengan erat dan berkata betapa dia men-cintai saya karena Allah, seperti ada suara menggema di seluruh rongga jiwa saya. “Subhanallah, Maha besar Engkau ya Robbi, yang telah memberi pelajaran pada saya dari pertemuan dengan hambaMu ini. Kekalkanlah persaudaraan kami di Sabilillah. Selamanya. Amin.”

    Mimin benar. Memandangnya, saya pun ingat padaNya. Dan cinta saya pada Sang Pencipta, yang menjadikan saya sebagaimana adanya, semakin mengkristal.

    ***

    (“Pelangi Nurani”: Penerbit Asy Syaamil, 2002)

     
    • farkhan 10:04 pm on 1 Februari 2012 Permalink

      subhanallah

    • akhmad sururi 12:25 pm on 18 Februari 2012 Permalink

      lahaula wala kuata illabillah ….. terima kasih kisahnya sayapun terharu betul salam ke bu mimin..

  • erva kurniawan 1:58 am on 20 January 2012 Permalink | Balas  

    Langit dan Ulama (Kekuatan Cahaya Allah) 

    Langit dan Ulama (kekuatan cahaya Allah)

    Ilmu ilmu yang mencoba menerangkan realitas alam semesta : Mekanika Newton menjelaskan fenomena benda mikroskopik.

    Alangkah Indahnya, kalau para ilmuwan ini melihat firman Allah Ta’ala dalam melihat benda yang terkecil sekalipun, sementara “penglihatan” Allah tak perlu memakai alat Mikroscop. Benda sekecil “Dzarrahpun”, terlihat oleh Allah ta’ala. Benda apakah yang terkecil dijagad alam raya ini? Allah pasti melihatnya, sedangkan manusia, mampukah melihatnya dengan mata telanjang, tanpa alat apapun?

    Mekanika statistik menjelaskan teknik statistik untuk interaksi benda dalam jumlah besar untuk menjelaskan fenomena yang besar, teori kinetik dan termodinamik.

    Maxwell menjelaskan medan elektromagnet, juga teori tentang hubungan cahaya dan elektromagnet. Dalam interaksi partikel, ada prinsip larangan Pauli, interaksi gravitasi, dan interaksi elektromagnet. Dalam Medan gaya ada medan gravitasi menyebabkan gaya gravitasi, medan-listrik menyebabkan gaya listrik dan sebagainya.

    Gaya-gaya dan perubahan-perubahan dialam raya, jauh sebelumnya telah dijelaskan oleh Allah ta’ala dalam FirmanNya betapa Allah menciptakan Gunung? Untuk apakah gunung kami ciptakan?(wal jibaalaa autaada). Kalau gunung tidak diciptakan, apa yang akan terjadi pada bumi tempat manusia berdiam?

    Ketika kita melihat, warna cahaya yang berasal dari matahari, kelihatan putih, padahal ia perpaduan dari berbagai warna cahaya(spektrum), sifat-sifat cahaya, kegunaan cayaha, bisakah manusia melihat tanpa cahaya? Mata tak dapat melihat benda yang sangat kecil, atau yang terlalu jauh, maka mata memerlukan alat bantu, dan alat itu menggunakan lensa(optik).

    Melihat benda ditempat yang gelap, atau remang-remang dapat mengganggu kesehatan mata, jika melihat cahaya secara langsung dari yang terlalu terang juga dapat merusak mata . Mata bisa kena penyakit rabun jauh(miopi), rabun dekat (hipermetropi), cacat mata tua(presbiopi).

    Untuk melihat benda jauh, sangat kecil, selain alat optik, juga bisa dengan alat kaca pembesar(LUP), kamera, Mikroskop, teropong, Perioskop(teropong yang biasa dipakai untuk mengamati permukaan air laut), Overhead projektor(untuk melihat gambar tembus cahaya), semuanya itu untuk melihat benda, agar kelihatan cahayanya.

    Lantas, apakah manusia tidak berfirkir, bagaimana cahaya Allah Ta’ala? (Lihat Q.S Annur ayat 35).

    Cahaya Allah ta’ala bisa kita lihat dan rasakan pada Alquranul karim, yang disampaikan via lisan NabiNya, Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam.(Lihat Q.S Almaidah 15)(Annisa 174).

    Dan mari kita lihat Q.S Yunus 6, bagaimana, dan apa fugsi dari penciptaan cahaya dari matahari dan bulan. Dan kenapa, ketika Allah menyebutkan kata “cahaya” pada kalimat matahari, disebut kata “Dhiyaa”(cahaya), sementara pada bulan “annur”(cahaya juga).

    Coba kita lihat, cahaya bulan berasal dari mana, cahaya matahari berasal dari mana?. Apakah cahaya bulan benar-benar berasal dari bulan itu sendiri, ataukah ia hanya merupakan pantulan yang berasal dari cahaya matahari?.

    Lantas, kenapa cahaya Allah disebutkan dengan kata “Nuur”. Ini menandakan bahwa, Allah laisa kamislihi syaiun (Allah Ta’ala, tidak ada bisa diserupakan dengan siapapun, dengan siapapun), kalau ada perumpamaan sifat yang disandarkan pada Allah ta’ala, itu pertanda, betapa kecil akal manusia, sehingga untuk memberikan pemahaman akan ayat-ayat AlQuranpun, Allah memberikan contoh dan perumpamaan yang bisa ditangkap dengan akal manusia itu sendiri.

    Inilah dia Cahaya Allah Ta’ala, melebihi cahaya yang diketahui, diciptakan oleh manusia itu sendiri.

    Cahaya yang dibuat manusia, listrik, lampu, center dllnya, hanya mampu menerangi dengan tempat yang terbatas, sementara Allah mampu menerangi kegelapan berlipat ganda (Yukhrijuhum (annaasa) minadzuluumati ilaannuur), dari dinding-dinding tebal, menembus sampai beribu-ribu kali dinding dan jarak yang berkilometer, lahir dan bathin, alam riil, dan metafisika, sementara cahaya buatan manusia sangatlah terbatasnya.

    Ini menandakan kekuasaan Allah, yang pantas bagi manusia untuk merendah dihadapanNya, karena sehebat apapun ilmuwan, masih sangat kecil dimata Allah Ta’ala. Selain contoh cahaya, masih banyak lagi yang dapat kita lihat dari fenomena alam ini.

    Wassalamu’alaikum.

    ***

    Oleh Rahima

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 19 January 2012 Permalink | Balas  

    Dua laut Bertemu 

    Dua laut Bertemu

    Allah SWT berfirman dari ayat (19-22), yang artinya “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan? Dari SALAH SATU diantara keduanya keluar mutiara dan marjan. “. Maha benar Allah dengan segala firmanNya. (diterjemahan Depag kata “salah satu” ini tidak disebutkan, maka hal ini ada kekurangan dari terjemahan yang dapat merubah makna yang dikandung )

    Surah Arrahman menurut pendapat Ibnu Mas’ud dan Muqatil, Madaniyaah semuanya. Tetapi yang lebih tepat dan benar, sebagaimana yang disebutkan oleh imam Al Qurthubi dan Ibnu katsir, serta jumhur ulama, makkiyah semuanya. Dinamakan Surah Ar Rahman karena pembukaannya di mulai dengan salah satu nama, dari nama-nama Allah, yaitu ” Ar Rahmaan “.

    Ar Rahman ini adalah Isim mubhalaghah (berlebihan) dari kata “Ar Rahmah” kata ini lebih tinggi kandungannya dari Arrahiim. Kenapa,..?

    Karena Arrahmaan, rahmat dan kasih sayang Allah untuk sekalian alam, sementara Ar Rahiim tertentu untuk kaum Muslimin saja. Dinamakan juga surah Ar Rahman ini dengan ” ‘Aruusul Qur’an = Pengantinnya Al Qur’an “, sesuai dengan Hadist Rasulullah SAW dari Ali karramahullahu al wajhah, marfu’an dari rasulullah SAW ” Tiap-tiap Sesuatu itu, ada pengantin, atau pangeran, maka surah Ar Rahman ini adalah pengantinnya , atau pangerannya Al Qur’an “.

    “Dua laut yang bertemu, diantara keduanya ada batas yang tidak dapat dilampaui”. ( Ar Rahman 19-20) Maksudnya Allah mengutus, atau membuat dua lautan satu rasanya asin, satunya lagi tawar. dan keduanya saling bertemu.

    Secara sepintas, kita melihat dengan pandangan sekejap mata saja, tidak ada batas diantara keduanya, padahal diantara keduanya ada batas yang membatasinya. “Dan keduanya tidak dapat saling melampaui “, maksudnya, meskipun mereka bercampur dan berkumpul, namun tetap rasa dan ciri khas masing-masingnya sesuai dengan yang semula, yaitu sesuai dengan asalnya.

    Ayat ini sesuai dengan firman Allah dalam surah (Al Furqaan 25/53). “Keluar dari salah satu keduanya ” Permata dan marjan,( sejenis hiasan seumpama bros yang warnanya kemerah-merahan ). ( Tafsir Al munir ). Disini ada kata yang didhamirkan ( disembunyikan yaitu kata “Ahad “). Seharusnya “Yakhruju min AHADI himaa “.kenapa demikian, karena sudah jelas, permata dan marjan tersebut tidak ada keluar, kecuali di air yang ada garamnya permata dan marjan, tidak keluar dari air tawar. Kenapa dihilangkan bacaan ” Ahad” ( salah satu) Nya ?, Itu rahasia Allah yang jelas, untuk memudahkan lidah kita dalam pengucapannya.

    Sekarang kita lihat surah Al Furqan yang menjelaskan arti dua laut itu. “Dan Allahlah yang membiarkan dua laut mengalir berdampingan,yang satu tawar lagi segar, sementara satunya lagi asin lagi pahit. dan dijadikan diantara keduanya dinding dan batas yang menghalangi ”

    Dalam ayat diatas,disebutkan “Adzbun furaatun” “tawar amat segar “. Disini Allah tidak memakai kata penghubung “Waw = dan”. Tidak disebutkan “Adzbun WA Furaatun”. Ini menandakan bahwa air yang tidak terlalu asin, atau tidak terlalu tawar, tidak termasuk dalam pembicaraan ini.

    Setiap orang dapat melihat ada air sungai yang terjun kelaut dan bila diamati terbukti bahwa air sungai itu sedikit demi sedikit berubah warna dan rasanya sejauh percampurannya dengan air laut. dari kenyataan diatas dapat difahami bahwa ada jenis air sungai dan laut yang bercampur, namun ini tidak dinamakan ” Adzbun furaatun “, atau “Milhun ‘Ujaazun” (tawar lagi segar, asin yang sangat)

    Kalau air ini terombang ambing dari laut kesungai, bila ia kelaut bertambah garamnya, biar ia kesungai bertambah rasa tawarnya. Namun bukan air ini yang dimaksudkan ayat diatas. lantas air laut mana yang disebutkan ayat diatas..?

    Pada tahun 1873 ,para pakar ilmu kelautan dengan menggunakan kapal “challenger”, menemukan perbedaan ciri-ciri laut dari segi kadar garamnya, temperatur, jenis ikan, binatang, dan sebagainya. Namun yang selalu menjadi pertanyaan,mengapa air tersebut tidak bercampur dan menyatu, meski keduanya bertemu? Jawabannya baru ditemukan pada tahun 1948, setelah penelitian yang seksama menyangkut samudra.

    Rupanya perbedaan –perbedaan mendasar yang disebutkan diatas menjadikan setiap jenis air tertentu terpisah dari jenis air yang lain, betapapun ia mengalir jauh. Gambar-gambar dari ruang angkasa pada akhir abad ke – 20,menunjukkan dengan sangat jelas adanya batas-batas air di laut tengah yang panas dan sangat asin. Dan di samudra Atlantik yang temperatur airnya lebih dingin serta kadar garamnya lebih rendah. Batas-batas itu juga terlihat di laut merah dan Teluk Aden.

    Muhammad Ibrahim As Sumaih guru besar pada fakultas sains, jurusan ilmu kelautan Universitas Qatar, dalam penelitian yang dilakukan di teluk Oman dan Persia (1984-1988),melalui sebuah kapal peneliti, menemukan perbedaan rinci dengan angka-angka dan gambar-gambar pada kedua teluk tersebut. Penelitiannya menemukan adanya daerah antara kedua teluk itu yang dinamai “Mixed water Area “, atau daerah “barzakh” istilah Al Qur’an.

    Hasil penelitiannya juga menemukan adanya dua tingkat air pada area tersebut. Pertama , tingkat area yang bersumber dari teluk Oman, dan kedua tingkat bawah yang bersumber dari teluk Persia. Adapun area yang jauh dari ” Mixed water area” tersebut, tingkat air seragam adanya . Garis pemisah atau Barzakh yang memisahkan kedua tingkat pada mixed area tersebut berupa daya tarik stabil (gravitational stability), yang terdapat pada kedua tingkat tersebut, sehingga menghalangi percampuran dan pembaurannya.

    Garis pemisah tersebut terdapat dalam kedalaman antara 10-50 meter. Kalau pertemuan air itu secara horizontal, Itulah barzakh (batas),yang disebut dalam Al Qur’an ((Subhanallah, wa masyaAllah, Al Qur’an sudah menyebutkan ribuan abad lamanya, baru ditemukan kebenarannya sudah selama itu.)). Dan sangat kita kecewakan yang menemukan ini kebanyakan dari Eropah sana. Sementara kita Islam, malas-malas, tidak mau mencari dan meneliti.

    Warisan yang ditinggalkan oleh Allah dan Rasulullah, yang memanfaatkannya justru non Islam. Sangat kita sesalkan. Tapi jangan pesimis, masih banyak waktu untuk kita mengubah dan mengejar segalanya. Islam pernah jaya begitu lamanya, mungkin saatnya kini giliran Eropah pula yang gemilang. Itulah adilnya Allah, maha benar Allah dengan segala firmanNya,menggantikan siang dengan malam, dan sebaliknya.

    Kita harus menerima kehebatan mereka dalam hal ini dengan tanpa berleha-leha. Masih ada waktu untuk merebut segalanya. (In Sya Allah, asal kita jangan sombong dan selalu berbangga diri tanpa dilandasi rasa syukur).

    Air Sungai Amazon yang mengalir deras kelaut Atlantik sampai batas dua ratus Mil, masih tetap tawar. Demikian juga mata air-mata air di teluk Persia. Ikan nya sangat khas. dan masing-masing tidak dapat hidup kecuali di lokasinya. Mungkin inilah yang dimaksud Al Qur’an “Hijran Mahjuura”.

    Demikian rangkuman yang dikemukakan Prof. Dr. Abdul hamid Az Zanjani, yang dikemukakannya pada seminar Internasional,” Mukjizat Al Qur’an dan Sunnah , yang diadakan di Bandung , September 1994″. Muhammad Kamil Abdushamad dalam bukunya “I’jazilmi fi Qur’an mengatakan hal yang senada diatas.

    Wallahua’lam bisshawab.

    ***

    Oleh: Rahima Sarmadi

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 18 January 2012 Permalink | Balas  

    Belajar dari Mbah Tuki: Menggantung Nasib pada Buah Afkir 

    Belajar dari Mbah Tuki: Menggantung Nasib pada Buah Afkir

    Usianya sudah uzur, 68 tahun, namun Mbah Tuki masih harus bergelut dengan kehidupan yang berat. Tiga cucunya menjadi tanggungannya. Sementara ia hanya mengandalkan usaha memulung buah di pasar, untuk dijual kembali

    Adzan shubuh baru saja berlalu, udara dingin pun masih melingkup. Namun Mbah Tuki sudah bersiap dengan kerja rutinnya. Selepas shalat shubuh, keranjang butut bergegas dijinjing menemaninya ke pasar buah sekitar 3 kilometer dari rumahnya. Sementara ketiga cucunya masih tidur pulas di kamar rumah kontrakkan yang sempit.

    Berjalan kaki ia menyusuri jalanan yang masih sunyi. Setiba di pasar buah kawasan Jalan Gunung Galunggung, Kargo, Denpasar, Mbah Tuki langsung beredar mencari pisang-pisang afkir, berharap masih ada bagian yang bagus. Kadang kalau ada modal, lewat pengepul ia memborong sekeranjang, harganya Rp 5 ribu.

    Begitu matahari sudah menyembul dari cakrawala dan lalu lalang manusia berangkat kerja. Mbah Tuki pulang ke rumah. Lantas pisang-pisang afkir yang dibelinya di pasar, ia ambil bagian yang masih bagus. Digoreng lantas dijual dengan cara berkeliling. Hasilnya lumayan untuk uang saku cucunya berangkat sekolah.

    Istirahat? Belum. Mbah Tuki masih kembali lagi ke pasar yang sama, kali ini ditemani cucu terkecilnya. Kali ini ia mencari jeruk, mangga, nanas atau yang buah afkir lainnya. Sama, buah-buahan afkir itu dijualnya kembali setelah dibersihkan. Yang tidak laku, ia berikan kepada anak-anak kecil di sekitar tempat tinggalnya. Selepas adzan dhuhur ia baru pulang ke rumah. Begitu setiap hari yang dikerjakan Mbah Tuki untuk menghidupi ketiga cucunya yang ditinggal kedua orang tuanya entah ke mana.

    “Menawi mboten ngeten sinten sing nyukani sangune lare-lare, kale tumbas beras kagem nedho,” (Kalau tidak begini siapa yang memberi bekal untuk anak-anak, atau beli beras untuk makan),” ujar Mbah Tuki lirih.

    Wanita renta itu kini terpaksa bekerja sendirian menghidupi tiga orang cucunya, Sri Wahyuningsih yang duduk di bangku kelas 4 SD, Alex Siswanto, dan Agus Setiawan (6 tahun). Beban hidupnya cukup berat, selain kebutuhan sehari-hari, Mbah Tuki masih harus mencari uang untuk biaya sekolah cucunya.

    Mbah Tuki tinggal bersama tiga orang cucunya di sebuah rumah kontrakkan yang disewanya Rp 250 ribu per bulan. Hampir semua warga di lingkungan Mbah Tuki adalah pendatang. Hari Raya kemarin Mbah Tuki dan cucu-cucunya tak bisa pulang ke Jember lantaran tak ada biaya. Sudah hampir lima tahun Mbah Tuki melakoni pekerjaannya, walau melelahkan, namun Mbah Tuki tidak pernah mengeluh. Semuanya dikerjakan dengan sabar, senyum selalu tersungging di sela kelelahan.

    Kepada Madani, wanita asal Jember itu mengaku tidak menyangka jika jalan hidupnya akan seperti ini. Awalnya ia datang ke Bali diajak anaknya lelakinya yang bekerja di Denpasar, 12 tahun silam. “Sekarang anak saya pergi ke Jakarta, namun sudah setahun ini tidak ada kabarnya. Istrinya pergi meninggalkan rumah saat Agus, cucu saya, baru berumur 2 tahun,” kata Mbah Tuki.

    Satu cermin lagi buat kita. Sesulit apapun pekerjaan, ternyata masih ada pekerjaan. Memang terkesan jorok, terkesan tidak berkelas, terkesan memalukan. Tapi apakah yang terkesan jorok, yang terkesan tidak berkelas dan yang terkesan memalukan lebih mulia dari pencuri, lebih mulia dari perampok, lebih baik dari para koruptor? Tentu kita sepakat, pencuri, perampok dan koruptor tidak lebih mulia dari Mbah Tuki.

    Usia Mbah Tuki sudah 68 tahun. Tapi semangat, keuletan dan tahan bantingnya tidak kalah dengan anak muda. Bagaimana dengan anak muda sekarang? Jangan mau kalah dengan mbah Tuki. Tetap semangat, ulet dan sungguh-sungguh!

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:59 am on 17 January 2012 Permalink | Balas  

    Langit Nyaris Pecah 

    Langit Nyaris Pecah

    “Ada dua kejadian yang membuat langit hampir saja pecah..”

    Bumi yang semakin tua terhampar luas sejauh mata memandang. Lalu, langit menaungi tanpa syarat. Seluruh alam bertasbih menurut peredarannya. Semua jadi pertanda kebesaran-Nya. Allah bisa sangat lembut dengan sifat-Nya yang Maha Pemurah. Tapi, Allah pun bisa sangat murka jika hamba-hamba-Nya berbuat kemunkaran di luar batas. Ada dua kejadian yang membuat langit hampir saja pecah.

    Pertama, langit nyaris pecah karena manusia menganggap bahwa Allah itu mempunyai anak.

    Dalam Alquran, hal itu ditegaskan pada ayat: “Hampir saja langit pecah dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh (karena ucapan itu) karena mereka menganggap Allah Yang Maha Pengasih mempunyai anak,” (QS Maryam: 90-91).

    Tidak bisa dibayangkan betapa dahsyatnya murka Allah karena menilai bahwa Allah memiliki anak. Allah yang memiliki sifat mukhalafatu lil hawadits (berbeda dengan makhluk ciptaan-Nya) disamakan dengan manusia (yang berkembang dengan cara beranak) yang justru diciptakan untuk menyembah dan beribadah kepada-Nya.

    Untuk itu, Allah menegaskan dalam Alquran surat Al-Ikhlash ayat 3-4, “Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan-Nya.”

    Pada zaman teknologi serbacanggih seperti saat ini, peristiwa yang berkaitan dengan kejadian alam atau apa pun kerap dikaji dengan sebab ilmiah atau logika. Misalnya, musibah tsunami, longsor, banjir bandang, gempa bumi, dan lain-lain. Peristiwa yang disebabkan oleh kejadian alam tersebut selalu dikaji dan dijelaskan dengan alasan-alasan ilmiah. Padahal, selalu ada hal yang tak bisa dijelaskan dengan logika atau akal manusia. Di situlah kebesaran Allah akan semua rahasia dan ketetapan-Nya.

    Karena itu, penyamaan Allah dengan makhluk ciptaannya “manusia“ merupakan perbuatan yang sangat tercela. Apalagi menganggap bahwa Dia Yang Mahaperkasa mempunyai anak: Allah akan sangat murka.

    Kejadian kedua yang membuat langit hampir saja pecah adalah keagungan Allah.

    Dijelaskan dalam Alquran surat asy-Syura ayat 5:

    “Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya (karena kebesaran Allah) dan malaikat-malaikat bertasbih memuji Tuhannya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS asy-Syura: 5)

    Begitu indah bahasa Alquran menggambarkan kejadian itu. Di mana para malaikat bertasbih memuji kebesaran Allah SWT serta memohonkan ampunan bagi manusia di bumi. Dan kejadian tersebut nyaris membuat langit pecah.

    Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar..

    Betapa indah dan agungnya Allah. Kekuasaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Sampai-sampai takkala Nabi Musa ingin melihat Allah SWT di Bukit Tursina, lalu Allah menampakkan kebesaran-Nya pada langit, bukit tersebut hancur dan Nabi Musa jatuh pingsan. Langit pun hampir saja pecah karena takjub dan tak mampu melihat kebesaran dan keagungan Ilahi Rabbi. Subhanallah.

    Kejadian ini sering luput dari kajian kita. Satu kejadian luar biasa, meski berbeda sebab, yang dapat mengakibatkan langit nyaris pecah.

    Mengambil Hikmah

    Di antara dua peristiwa yang hampir membuat langit pecah itu, banyak hikmah yang dapat dipetik.

    Terkadang, tanpa kita sadari, saat kita berkuasa, kita berperi laku hendak menyamai Allah.

    Merasa sebagai atasan, kita memperlakukan bawahan kita sekendaknya. Seolah, atasan adalah pemegang nasib bawahan. Tanda tangan atasan seakan sangat menentukan masa depan bawahannya. Hasilnya, senyum karena kontrak kerja diperpanjang atau muka sedih karena kontrak kerja berakhir.

    Bahkan, uang bisa dianggap sebagai dewa dan layak disembah. Dengan uang, orang bisa membeli kekuasaan. Dengan uang, darah seseorang seakan tak ada nilainya. Dengan uang, dunia seolah bisa direngkuh.

    Penguasa bisa mengebiri rakyat. Sebab, ini memang sudah jadi tren di negara kita. Politik jadi senjata untuk memperalat rakyat. Yang menentang “diamankan.” Bahkan, pada era sebelumnya, darah rakyat penentang kekuasaan “dihalalkan.”

    Tak semestinya manusia berbuat menyerupai kekuasaan Allahu azza wa jalla. Bahkan, atas diri sendiri pun, manusia tidak memiliki hak. Allah lah yang sangat berhak berlaku takabur (Al Mutakabbir). Sebab, Dia-lah yang Maha Memiliki Segala Keagungan.

    Karena itu, sudah seharusnya kita bersyukur dan merendah memohon ampunan Allah SWT. Tidak sepantasnya seorang hamba itu bangga dengan kekuasaan, uang, ataupun kepandaian. Sebab, semua itu harus dipertanggungjawabkan kelak pada hidup sesudah mati, kehidupan yang kekal: akhirat.

    Sedangkan mendengarkan suara petir yang keras saja kita dibuat kaget dan takut, apalagi bila langit itu pecah. Saat kita menertawakan orang lain, saat kita membentak bawahan, saat kita menghukum murid yang bebal, pernahkah terlintas bahwa langit hampir saja pecah karena kesombongan kita. Maka, jangan membuat langit nyaris pecah karena Allah murka jikalau dengan bertasbih memuji keagungan-Nya saja langit nyaris pecah.

    ***

    Oleh: Eko Prasetyo

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 16 January 2012 Permalink | Balas  

    Pak Rudi dan Sikat Gigi bekas 

    Pak Rudi dan Sikat Gigi bekas     

    Pada pagi itu pak Rudi pergi ke sebuah perusahaan dimana dia dipanggil untuk test wawancara untuk menjadi karyawan di Perusahaan tersebut. Saat dalam antrian panggilan untuk test, pak Rudi menyempatkan diri ke toilet untuk sekedar membersihkan muka dan mencuci tangan, karena beliau menggunakan kendaraan umum sehingga banyak debu jalanan yang ingin beliau hilangkan.

    Saat di wastafel, beliau melihat wastafel tersebut kotor dan sedikit disana sini ada kerak kerak porselen, dan disamping wastafel itu ada sikat gigi bekas yang terlihat tak terpakai. Tanpa berfikir panjang, pak Rudi membersihkan wastafel tersebut dengan sikat gigi bekas yang beliau temukan. Dan ternyata tanpa beliau sadari ada orang lain disamping beliau yang melihat perbuatan Pak Rudi tersebut, yang tak lain orang tersebut adalah orang HRD, dan orang itu yang akan mewawancara Pak Rudi.

    Ketika Pak Rudi ada di Ruang test, beliau langsung ditanya oleh sang HRD

    ” Pak, tadi saya lihat pak Rudi membersihkan wastafel dengan sikat gigi bekas, boleh saya tahu, apa tujuan bapak melakukannya, padahal bapak datang kesini bukan untuk wawancara karyawan office boy, atau cleaning service, dan yang pasti…. bapak belum tentu kami terima sebagai karyawan di perusahaan ini…”

    ” Saya melakukannya karena saya ikhlas melakukannya, dan hal itu terlepas dari masalah apakah saya akan diterima atau tidak diperusahaan ini, dan terlepas dilihat orang atau tidak saya melakukannya. Karena saya yakin Allah melihat apa yang saya kerjakan….”

    Apakah anda tahu, siapa yang diterima diperusahaan itu? ya… tentu saja pak Rudi lah orang nya…

    Angle priciple, prinsip malaikat, dimana malaikat adalah mahluk yang terbuat dari cahaya, dimana cahaya itu tidak pernah memilih. Mungkin anda sekarang bisa melihat lampu yang ada dikantor anda, atau dimana saja, atau mungkin matahari yang ada diluar sana. Perhatikan sedikit lampu atau matahari yang ada, dimana menyinari setiap benda, orang dan semua yang ada, tak peduli apakah orang tersebut baik, jahat, kaya atau miskin, tetap dibuatnya terang agar bisa terlihat…

    ***

    Dari Sahabat

     
    • annisa 8:30 am on 17 Januari 2012 Permalink

      Super sekali.., nice story.., moga kita semua bisa mempunyai angle principle dgn keikhlasan yang melekat ( tanpa pamrih), Allah tidak tidur dan sll dekat dgn hamba-Nya yg baik.., insya Allah..^_^

    • makhdy 12:55 pm on 2 Februari 2012 Permalink

      Subhanallah..terima kasih yah…sangat berkesan…izin copas yah….makasih B4…

  • erva kurniawan 1:14 am on 15 January 2012 Permalink | Balas  

    Diancam Dibunuh Setelah Bersyahadat 

    Diancam Dibunuh Setelah Bersyahadat

    Perjuangannya “memeluk” Islam dilakukan dengan penuh resiko, ia bahkan diancam bunuh. Dulu ia ingin ‘mengkristen-kan’ orang. Kini malah mengislamkan orang

    Semenjak memeluk Islam, ibunya sudah tak mengakui lagi ia sebagai anak. Ayahnya bahkan hendak menembaknya pula. Sang kakak menganggap ia sudah gila. Lalu suami menceraikannya. Oleh pengadilan dia divonis tak punya hak mengasuh kedua anaknya, kecuali meninggalkan Islam. Belum selesai sampai disitu, setelah mengenakan jilbab ia malah dikeluarkan dari tempat kerjanya. Begitulah ujian demi ujian datang menerpa Aminah Assilmi setelah memeluk Islam. Namun perempuan Amerika ini tetap tegar. Alhasil, dengan kuasa Allah, beberapa tahun kemudian neneknya yang telah berusia 100 tahun masuk Islam. Lalu bapaknya, diikuti ibu, kakak, anak lelakinya yang telah berusia 21 pun kemudian memeluk Islam. Bahkan, enam belas tahun setelah bercerai, mantan suaminya juga masuk Islam. Kini ia banyak diundang memberikan ceramah di berbagai tempat di Amerika. Satu kalimatnya yang terkenal: “Bagi saya, profesi terbaik adalah menjadi seorang ibu.” Berikut kisah lengkapnya seperti dituangkan dalam http://www.islamfortoday.com.

    Aminah Assilmi dulunya seorang juru baptis, penganut feminis yang radikal dan juga seorang jurnalis radio. Tapi kini, selepas memeluk Islam, dia bagaikan seorang duta besar bagi agama Islam. Sebagai Direktur International Union of Muslim Women atau Persatuan Wanita Muslim Internasional dia benar-benar menyuarakan kebenaran Islam. Aminah kerap mengadakan perjalanan, berceramah di kampus-kampus, menyeru pentingnya kepedulian terhadap masyarakat banyak serta berbagi pemahaman atas keyakinan yang dianutnya kini.

    Aminah sendiri, jauh sebelum mengenal Islam, awalnya berada di garda terdepan kelompok pembenci Islam. Dalam buku yang dikarangnya “Choosing Islam“, Aminah menceritakan perjumpaannya dengan Islam.

    Berawal dari kesalahan komputer

    Aminah dikenal sebagai gadis yang cerdas hingga memperoleh beasiswa selama kuliah. Disamping itu ia juga mengembangkan bisnis sendiri, berkompetisi secara professional hingga akhirnya memperoleh penghargaan (awards). Semua itu berlangsung semasa masih kuliah di perguruan tinggi. Ada kejadian menarik tatkala ia memasukkan data registrasi mata kuliah ke komputer di kampusnya. Berawal dari sinilah ia mengenal Islam hingga di kemudian hari kehidupannya berubah secara total.

    “Kejadian itu pada tahun 1975 ketika pertama kali pendaftaran mata kuliah menggunakan sistem komputer. Waktu itu saya melakukan registrasi sebuah mata kuliah. Setelah mendaftar saya pun berangkat ke Oklahoma untuk urusan bisnis,” kisahnya mengenang. Urusan bisnisnya sedikit lama, membuatnya tertunda kembali ke kampus. Dan baru muncul di kampus dua minggu setelah kuliah dimulai. Bagi dia ketinggalan pelajaran dan tugas-tugas mata kuliah tidak masalah. Namun yang membuatnya sangat terkejut adalah ketika diketahui komputer salah dalam melakukan registrasi. Di komputer namanya tertera sebagai peserta kelas Theatre, sebuah kelas dimana para mahasiswa musti unjuk kebolehan di depan peserta lainnya.

    “Saya ini gadis pendiam. Bagi saya berdiri di depan kelas adalah hal yang sangat menakutkan. Tentu saja membatalkan mata kuliah tidak mungkin lagi. Sudah sangat terlambat. Tidak hadir sama sekali selama kuliah, juga bukan pilihan yang tepat. Sebabnya saya menerima beasiswa. Bila nilai saya jatuh, beasiswa bisa dicabut,” tambahnya.

    Suami Aminah menyarankan agar ia menemui dosennya guna mencari solusi alternatif lain. Oleh sang dosen ia dianjurkan untuk masuk ke kelas lain. Namun alangkah terkejutnya Aminah tatkala masuk ke kelas alternatif itu.

    “Saya tak menduga di kelas itu banyak sekali wanita Arab berjilbab. Waktu itu saya menyebut mereka dengan “para penunggang unta”. Kontan gairah saya hilang,” kenangnya.

    Aminah tidak jadi ikut kelas tersebut dan pulang ke rumah.”Saya tidak mau berada di tengah-tengah orang-orang Arab. Saya tidak mau duduk bareng dengan orang-orang kafir kotor itu!,” tulis Aminah dalam bukunya. Suaminya, seperti biasa, tetap tenang menghadapinya.

    Dengan kalem sang suami menyebut bahwa Tuhan punya maksud tertentu atas segala apa yang terjadi. Ia lalu meminta Aminah untuk berpikir masak-masak sebelum memutuskan berhenti kuliah. Konon lagi pemberi beasiswa telah mengeluarkan dana untuk studinya itu. Selama dua hari Aminah mendekam di kamarnya guna mengambil keputusan. Akhirnya dia memutuskan kembali ke kampus. Kala itu, menurut Aminah, dia seperti merasakan seolah-olah Tuhan memberinya tugas untuk mengkristenkan mahasiswi Arab itu. Ia rasakan seperti ada sebuah misi yang musti dituntaskan segera.

    Misi Kristenisasi

    Kala kembali ke kampus, Aminah pun mulai menjalankan misi Kristenisasi kepada mahasiswi Arab itu.

    “Saya terangkan tentang neraka. Bagaimana mereka akan dibakar dan disiksa jika tak ikut ajaran Kristen. Lalu saya terangkan Yesus cinta mereka dan Yesus mati disalib untuk menebus dosa-dosa pengikutnya. Jadi kita musti ikuti dia.” terang Aminah yang mengaku heran dengan kesopanan mahasiswi Arab tersebut. Mereka tidak membantah sedikitpun dengan apa yang diterangkannya.

    “Anak-anak Arab itu kok belum tertarik juga dengan Kristen. Saya putuskan untuk mencoba cara lain. Yakni saya coba pelajari kitab mereka untuk membuktikan bahwa Islam agama salah dan Muhammad bukan Nabi,” tukasnya lagi.

    Atas permintaan Aminah, seorang mahasiswi Arab memberinya sebuah mushaf Al-Quran dan beberapa buku tentang Islam. Aminah mulai mempelajari Al-Quran berikut dengan bantuan 15 buah buku tentang Islam secara intensif. Al-Quran dibaca berulang-ulang, dikajinya berdasarkan referensi-referensi yang ada, lalu dibacanya lagi. Begitu seterusnya. Selama observasi dia selalu mencatat hal-hal yang tak disetujuinya guna membuktikan pendapatnya Islam agama salah. Kajian berjalan selama hampir satu setengah tahun.

    Cari kelemahan Islam

    Begitulah, setelah berjalan hampir dua tahun, alih-alih berupaya mengganti paham mahasiswi Islam tersebut dengan ajaran Kristen, malah Aminah yang akhirnya belajar Al-Quran. Awalnya dia mempelajari Quran untuk mencari kesalahan-kesalahan Islam, untuk membuktikan Nabi Muhammad bukan Nabi. Akan tetapi semakin dibaca, semakin tertarik ia dengan Islam.

    Tanpa disadari, perilakunya mulai sedikit berubah. Rupanya perubahan itu menarik perhatian suaminya. “Sungguh, tanpa saya sadari ada perubahan kecil dalam keseharian saya. Tapi itu sudah cukup mengganggu pikiran suami. Biasanya saban Jumat dan Sabtu kami sering pergi ke bar atau menghadiri pesta. Tapi saya tidak begitu suka lagi. Bahkan berhenti makan babi dan minum-minuman keras,” kisahnya.

    Lama- kelamaan suaminya mulai menaruh curiga dengan perubahan itu. Suaminya menduga Aminah ada hubungan gelap dengan lelaki lain. Puncaknya, mereka pisah ranjang, dan bahkan kemudian pisah apartemen. Namun Aminah masih terus mengkaji Al-Quran.

    Secara khusus dia mengaku sangat tertarik dengan apa yang dikatakan Al-Quran tentang laki-laki dan perempuan. Wanita Islam, sebelum dia mempelajari Al-Quran, dia pikir berada dalam penindasan suaminya. “Waktu itu dalam sangkaan saya suamilah yang memaksa istri, misal untuk memakai jilbab,” ujar Aminah.

    Melalui kajian intensif, dia dapati bahwa wanita Islam punya kesamaan hak dalam pekerjaan, pendidikan tanpa memperhatikan gender mereka. Yang menarik baginya, pada saat seorang wanita Islam menikah, maka dia tidak harus mengganti nama belakang (nama keluarga-red) menjadi nama keluarga suami, tapi tetap menjaga nama ayahnya. Dan banyak lagi perkara-perkara lainnya. Dari situ Aminah mengambil kesimpulan bahwa Islam atau dengan kata lain Nabi Muhammad telah mengangkat harkat dan martabat kaum wanita.

    Didatangi lelaki berjubah

    Akhirnya, satu malam seseorang mengetuk pintu rumahnya. Ternyata seorang lelaki berjubah dan mengaku bernama Abdul Aziz Al-Shekh. Ia ditemani tiga orang temannya dengan pakaian yang sama. Aminah sangat terkejut dengan kedatangan pria tak diundang itu. Apalagi tatkala pria berjubah tersebut mengatakan bahwa hanya masalah waktu saja bagi Aminah untuk menjadi seorang muslim.

    “Dia berujar saya sudah siap jadi seorang Islam. Saya kontan menangkal pernyataannya itu dengan menyebut saya orang Kristen. Selama ini saya hanya coba mengkaji, bukan mau masuk Islam. Begitu kata saya malam itu,” tukas Aminah mengenang. Begitupun Aminah mempersilahkan mereka masuk karena ia ingin mengajukan beberapa pertanyaan tentang Islam yang masih menyelubungi pikirannya.

    Aminah menumpahkan semua pertanyaannya, hasil observasi selama hampir dua tahun. Abdul Azis mendengarkan dengan seksama. Tiap pertanyaan dijawabnya dengan sangat tenang dan teratur. Aminah mengaku sangat puas dengan jawaban-jawaban yang diberikan. “Akhirnya, keesokan harinya, dengan disaksikan Abdul-Aziz dan tiga temannya sayapun bersyahadah. Saat itu 21 Mei 1977,” kenangnya.

    Dikucilkan Keluarga

    Segera setelah Islamnya Aminah, perlahan ujian demi ujian pun datang. Dia dikucilkan oleh keluarga dan teman-temannya. Ibunya tak mengakui lagi ia sebagai anak. Yang lebih parah, sang ayah bahkan hendak menembaknya pula. Kakak Aminah menganggap ia sudah gila dan perlu dirawat di rumah sakit jiwa. Belum berhenti disitu, suami pun menceraikannya. Yang membuat hati Aminah sangat pedih adalah kala pengadilan memutuskan dia tak punya hak mengasuh kedua anakNYA, kecuali meninggalkan Islam. “Saya meninggalkan pengadilan dengan hati yang hancur. Anda bisa bayangkan bagaimana hati seorang ibu dipisahkan dari anak-anaknya,” ujar Aminah sedih.

    Belum selesai sampai disitu, setelah mengenakan jilbab ia malah dikeluarkan dari tempat kerjanya. Namun karena kecintaannya pada Islam, penderitaan-penderitaan itu tidak membuat imannya runtuh. Aminah menyitir sebuah ayat suci Al-Quran (Ayat Kursi-red) yang bikin hatinya tenang:

    Tidak ada Tuhan yang patut disembah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi dan Allah tidak merasa berat memelihara kedua-duanya, dan Allah Maha Tinggi Lagi Maha Besar. (Q.S. 2;255).

    Anggota keluarga masuk Islam

    Meskipun keluarga mengucilkannya, Aminah tetap menjaga hubungan dengan mereka. Misalnya, ia sering berkirim surat dan selalu menulis beberapa terjemahan ayat Quran dan hadis yang berhubungan dengan masalah sosial kemanusiaan. Namun Aminah tak menyebut petuah-petuah itu dari Al-Quran. Rupanya strategi itu lumayan manjur. Lama-kelamaan ada respon positif dari anggota keluarga. Aminah pun terus berkirim surat plus kutipan-kutipan berisi ayat Quran dan hadis Nabi.

    Begitulah, dengan sabar dan doa, satu demi satu anggota keluarganya masuk Islam. Pertama, sang nenek yang sudah uzur. “Nenek berusia 100 tahun ketika menerima Islam. Persis setelah itu dia meninggal dunia. Masya Allah nenek meninggal dengan membawa buku amalan yang penuh kebajikan ke akhirat,” kisah Aminah.

    Tak lama, ayah yang dulu hendak membunuhnya juga memeluk Islam. Dua tahun kemudian, sang ibu diikuti oleh kakak Aminah juga bersyahadah. Dan yang membuat Aminah sangat gembira, anaknya yang telah beranjak dewasa (umur 21 tahun) juga mengikuti jejaknya. Yang paling mengharukan, enam belas tahun selepas Islamnya Aminah, mantan suaminya juga mengucap dua kalimah syahadah. Mantan pasangan hidupnya itu bahkan meminta maaf atas segala kekhilafannya.

    Aminah sendiri kala itu telah menikah dengan pria lain. Dia sempat didiagnosa oleh dokter mengidap penyakit kanker dan divonis tidak bisa memiliki anak lagi. Namun Allah punya kuasa. Ia tetap bisa mengandung dan diamanahi seorang anak laki-laki yang diberi nama “Barakah”.

    “Saya sangat gembira menjadi seorang Muslim. Islam adalah hidupku. Islam adalah irama hatiku. Islam adalah darah yang mengalir di sekujur tubuhku. Islam adalah kekuatanku. Islam telah membuat hidupku sangat menyenangkan. Tanpa Islam aku tak berarti apa-apanya. Andai Allah memalingkan wajah-Nya dariku, sungguh aku tak bisa bertahan hidup,” senandung Aminah Assilmi yang telah dua kali berhaji ke Mekkah.

    Tak malu tunjukkan identitas Islam

    Aminah dalam beraktifitas tak malu-malu menunjukkan keislamannya. Misal, dia mengenakan busana muslimah secara sempurna. Jilbab menutupi sekujur kepala dan rambutnya, serta busana panjang menutupi seluruh anggota tubuhnya. Sesuatu yang tidak lazim sebenarnya bagi warga di Amerika, dimana wanita umumnya gemar mempertontonkan aurat mereka.

    Satu ketika Aminah memberikan kuliah di hadapan mahasiswa yang memenuhi ruang kuliah di Universitas Tennesse tentang status wanita dalam Islam berjudul “Wanita Muslim berbicara dari balik hijabnya.”

    “Wanita muslim tidak dibatasi dalam berkarir oleh agamanya. Begitupun, bagi saya, profesi terbaik adalah menjadi seorang ibu. Karena para ibulah yang membentuk generasi masa depan,” ujar Aminah diplomatis. Wanita Islam, lanjutnya, saat ini banyak mendapat diskriminasi di lapangan hanya karena mereka berjilbab. Ia menekankan, terutama di negerinya Amerika, muslimah sangat sulit mengaktualisasikan dirinya. Pernah satu saat ketika Aminah hendak mencairkan cek di sebuah bank. Satuan pengaman bank serta merta menghardiknya seraya mengarahkan moncong senapan ke wajahnya. “Itu hanya karena saya berjilbab,” katanya.

    Aminah mengingatkan para pengeritik Islam yang kerap menyebut bahwa wanita-wanita di negeri-negeri Islam tertindas di bawah kekuasaan lelaki. Ia menjelaskan bahwa yang menindas mereka bukanlah Islam, tapi budaya setempat. Dalam Islam wanita begitu dihormati dan tinggi derajatnya. “Jangan anggap (ajaran Islam) seperti itu. Sangat bodoh,” ujarnya. Ia sangat tidak setuju Islam dijadikan kambing hitam.

    Itulah Aminah Assilmi. Dulunya memojokkan Islam dan bahkan bermaksud meng-Kristen-kan kawan sekelasnya. Berbagai ujian dan penderitaan yang datang selepas ia memeluk Islam tak membuatnya bergeming. Allah berikan ganjaran atas kesabarannya itu dengan mengirimkan hidayah kepada seluruh anggota keluarganya. Kini ia bersama organisasinya memperjuangkan agar umat Islam di Amerika mendapatkan libur di kala merayakan lebaran. Salah satu sukses yang telah mereka rengkuh adalah beredarnya perangko Idul Fitri, hasil kerjasama dengan kantor pos Amerika. Wallahu `alam bisshawab.

    ***

    Oleh:  Zulkarnain Jalil, hidayatullah.com

     
    • erensdh 9:05 pm on 16 Januari 2012 Permalink

      Semoga mereka bisa merubah wajah islam dari dalam, yang sejauh ini sangat ditakuti karena kekejaman-kekejaman para mujahidinnya (fundamentalis/radikalis islam).

    • alfamark 1:02 pm on 2 Februari 2012 Permalink

      Hoax

  • erva kurniawan 1:06 am on 14 January 2012 Permalink | Balas  

    Harta Dapatan/Temuan 

    Harta Dapatan/Temuan

    Kitab Luqhtah. Apa itu maksud dari Luqthah? Maksudnya adalah sesuatu yang didapatkan.

    Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab, semoga Allah meridhai beliau.” Aku mendapatkan harta 100 dinar, kemudian aku mendatangi Rasulullah Shalllaahu. Alaihi wasallam, maka Rasulullahpun bersabda: ” Kenalilah pemiliknya dulu sampai satu tahun( hal ini berulang sampai tiga kali),, jika tidak ditemui siapa pemiliknya, maka Rasulullahpun bersabda : Peliharalah berapa jumlah bilangannya, jika datang pemiliknya, maka berikan, jika tidak maka bersenang-senanglah, atau pakailah harta dapatan itu, maka akupun memakainya…” (H.R Bukhari 2426, hal 94, jilid5, fil fath baari).

    Jika tidak ditemui siapa pemilik harta dapatan itu, maka pemiliknya adalah yang menemukannya, apakah yang menemukan itu faqir atau miskin.

    Dan bagi yang menemukannya, wajib memeliharanya sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan saling tolong menolonglah kamu dalam ketaqwaan”  (Q.S Almaidah:2)

    Sebagian ulama mengatakan boleh harta tersebut dijadikan menjadi tamlik (hak milik), namun setelah dikenal dimana kedudukan harta yang didapat itu, bila tidak ada pemiliknya (Takmilatul Al Majumu’ oleh Imam Abu Ishaq Ibrahim bin Ali Assyairaazi juz 17 hal 3).

    Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam diriwayatkan dari ‘Amru bi Syu’aib dari bapaknya dari neneknya bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam ditanya tentang masalah harta dapatan ini, Rasulullahpun bersabda : “Apabila kamu dapatkan harta/tanah tersebut dijalan yang sunyi/lama, maka tunggulah/kenalilah siapa pemiliknya sampai setahun, jika datang yang empunya, maka berikan pada sang empunya, jika tidak kamu temukan dalam masa satu tahun maka harta tersebut untukmu, dan apabila harta itu kamu dapatkan dari harta yang tertimbun, maka hendaklah kamu keluarkan zakatnya 1/5″.

    Dalam kitab Shahih Bukhari juz 5 hal 101, Kitab Luqthan Bab : “Apabila tidak ditemukan pemilik barang yang ditemukan tadi dalam jangka waktu satu tahun, maka barang/harta tersebut milik orang yang mendapatkannya.”

    Dari Zaid bin Khalid radhiallahu’anhu: Seorang lelaki datang kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bertanya tentang harta dapatan, Rasulullahpun menjawab:Kenalilah oleh kamu siapa pemiliknya, dan tempat dimana kamu mendapatkannya beserta sifat-sifat barang dari yang kamu dapati tersebut, kemudian kenalilah (tunggulah, carilah sipemilik harta tersebut),dalam jangka waktu satu tahun. Jika datang pemiliknya, maka berikanlah pada sang empunya harta, jika dalam jangka waktu setahun tersebut tidak ada yang mengakui harta tersebut, maka barang tersebut menjadi milik kamu. Kemudian beliau ditanya lagi, bagaimana dengan seekor kambing yang sesat ditemukan, Rasulullah bersabda, kambing itu juga untuk kamu, untuk saudara kamu, atau ia dimakan serigala(untuk serigala), rasulullah ditanya lagi bagaimana pula dengan onta yang sesat. Begitu juga, makan dan minumlah susunya, dan pelihara jugalah onta tersebut, makananya, minumannya, sampai onta tersebut menemui tuannya.(atau sampai menemui Tuhannya)

    Attirmidzi mengatakan hadits ini hasan shahih.

     

    Wassalamu’alaikum.

    Oleh: Rahima

     
  • erva kurniawan 1:02 am on 13 January 2012 Permalink | Balas  

    Air zam zam 

    Air zam zam

    Suatu ketika Nabi Ibrahim (atas perintah Allah swt) beserta Ismail dan ibunya Hajar datang ke Mekkah, kemudian Ibrahim meninggalkan keduanya dengan membekali air dan kurma. Setelah beberapa lama persediaan air habis, maka naiklah Hajar ke bukit Shafa dengan harapan dapat menemukan pertolongan ataupun menemukan air, namun tidak terlihat apapun kecuali hamparan pasir dan pergunungan batu, kemudian Hajar lari ke bukit Marwa, namun di sanapun tidak terlihat apapun … demikian Hajar berlari-lari bolak-balik dengan panik antara Shafa dan Marwa hingga 7 putaran (dari Shafa ke Marwa 4 kali, dan Marwa ke Shafa 3 kali), dan dipuncak kelelahannya Hajar mendengar suara yang ternyata suara Malaikat mengepakkan sayapnya … dan muncullah air Zam-zam …(Usaha Hajar mencari pertolongan atau mencari air ini diabadikan dalam bentuk ibadah Sa’i).

    Zam-zam, dalam bahasa Arab artinya ‘air yang melimpah’ dan dapat juga berarti ‘minum dengan regukan sedikit-sedikit’. Kemudian datanglah Kabilah dari Yaman yang dikenal dengan “Jurhum” menetap di sana. Ketika kesucian Ka’bah mulai tercemar oleh kemusyrikan, mata air Zam-zam pun ikut mengering dan sumurnya tenggelam hingga tidak diketahui keberadaannya selama beberapa abad. Suatu malam Abdul Muthalib (Kakek Nabi Muhammad) bermimpi, dalam mimpinya ia mendengar suara ghaib yang menyuruhnya menggali Zam-zam kembali. Abdul Muthalib menggali sesuai petunjuk dari mimpinya dan berhasil menemukan mata air Zam-zam untuk kemudian memperbaiki sumur air Zam-zam.

    Sumur Zam-zam terletak di sebelah tenggara Ka’bah berjarak kira-kira 11 m. Dahulu kala air Zam-zam diambil dengan menggunakan gayung, namun pada tahun 1373 H. (1953 M.) dibangun pompa air yang menyalurkan air Zam-zam ke bak penampungan dan juga ke kran-kran yang ada di sekitar sumur Zam-zam. Berdasarkan penelitian, dibuktikan bahwa mata air sumur Zam-zam dapat memompa air antara 11 – 18,5 liter air /detik, sehingga per minitnya akan menghasilkan air 660 liter, berarti dalam 1 jam dapat menghasilkan air sebanyak 39.600 liter. Dari mata air ini terdapat celah ke arah Hajar Aswad dengan panjang 75 cm dengan ketinggian 30 cm yang juga menghasilkan air sangat banyak, ada pula celah ke arah pengeras suara dengan panjang 70 cm dan tinggi 30 cm, di samping beberapa celah kecil lainnya ke arah Bukit Shafa dan Bukit Marwa. Beberapa keterangan mengenai sumur Zam-zam :

    Celah sumur di bawah tempat thawaf 1,56 m.Kedalaman sumur dari bibir sumur 30 m. Kedalaman air dari bibir sumur 4 m. Kedalaman mata air 13 m. Dari mata air sampai dasar sumur 17 m. Diameter berkisar antara 1,46 – 2,66 m. Dahulu di atas sumur Zam-zam terdapat bangunan dengan ukuran 8,3 x 10,7 m, antara tahun 1381 – 1388 H. bangunan ini dibongkar untuk memperluas tempat thawaf, sehingga tempat air minum air Zam-zam dipidahkan ke ruang bawah tanah di bawah tempat thawaf, dengan 23 anak tangga dan dilengkapi dengan AC. Tempat masuk untuk lelaki & wanita dipisahkan, terdapat 220 kran di ruang untuk lelaki dan 130 kran di ruang untuk wanita. Sumur Zam-zam dapat dilihat dari ruang untuk pria yang dibatasi dengan kaca tebal. Saat ini sumur Zam-zam ditutup untuk umum.

    Pada tahun 1415 H. dibentuk pejabat atau Lembaga di Mekkah yang bertugas khusus mengurusi air Zam-zam, dan saat ini telah membangun saluran untuk menyalurkan air Zam-zam ke tangki penampungan yang berkapasiti 15.000 m3, bersambung dengan tangki lain di bagian atas Masjidil Haram guna melayani para pejalan kaki dan musafir. Selain itu air Zam-zam juga diangkut ke tempat-tempat lain menggunakan trak tangki diantaranya ke Masjidil Nabawi di Madinah Al-Munawarrah.

    Keutamaan dan fadhilat air Zam-zam antara lain:

    Air Zam-zam berasal dari mata Surga (Maa’ul Jannah). Merupakan pemberian Allah atas doa Nabi Ibrahim as yang dikabulkan. Penentu hidup dan perkembangan kota Mekkah Al-Mukarromah. Bukti nyata eksistensi Allah swt di Tanah Suci. Menjadi nikmat agung serta membawa manfaat besar pada Masjidil Haram.Air terbaik yang ada di muka bumi. Terjadi melalui perantara Malaikat Jibril as. Berada di tempat paling suci di dunia. Air yang dipergunakan untu mencuci kalbu Rasulullah saw lebih dari satu kali. Rasulullah saw memberkatinya dengan air ludah beliau yang suci. Air yang berfungsi sebagai makanan (mengenyangkan) sekaligus obat untuk penyembuh segala macam penyakit. Dapat menghilangakan pusing kepala. Barang siapa melihatnya, insya Allah penglihatannya akan menjadi lebih tajam.Jika diminum dengan niat kebaikan, maka Allah swt akan mengabulkan sesuai niatnya. Keinginan untuk mengetahui seluk-beluk air Zam-zam merupakan tanda keimanan dan terbebas dari sifat nifaq (munafik).Air minum untuk orang-orang yang baik. Menjadikan badan kuat. Tidak akan pernah habis walau selalu diambil.Telah ada sejak 5.000 tahun yang lalu, sehingga menjadi sumur tertua di muka bumi. Di Masjidil Haram di Mekkah Al-Karromah, air Zam-zam bertebaran di halaman serta di dalam Masjidil Haram, diperbolehkan mengambil air Zam-zam dengan mengisikannya kedalam botol atau tempat air untuk dibawa pulang:

    Di Mekkah Al-Mukarromah:

    Di halaman Masjidil Haram: Air Zam-zam dapat kita temukan di beberapa sisi halaman Masjidil Haram dalam sediaan berbentuk semacam dispenser khusus, terbuat dari logam yang dipasangi beberapa kran. Di dekatnya disediakan gelas plastik bersih dan juga tempat pembuangan gelas plastik pakai buang. Di sini air Zam-zam dapat kita pergunakan untuk wudlu juga, karena tidak jauh dari dispenser ini ada bagian lantai halaman yang diberi lubang untuk dapat mengalirkan air ke saluran pembuangan, jadi kita bisa mencuci kaki di sini. Di atas dispenser tertulis peruntukkannya, apakah “Men Only” atau “Women Only”, sayangnya jamaah tidak tertib, jadi campur aduk. Air Zam-zam di sini sejuk/dingin.

    Di dalam Masjidil Haram:

    Ada air Zam-zam yang ditempatkan pada tempat air minum terbuat dari fiber atau plastik berwarna cream yang dipasang sebuah kran di bahagian depan bawah, diletakkan pada sebuah dudukan yang tidak tinggi, jadi kalau mau mengambilnya harus berlutut atau bongkok. Di sebelah kiri & kanan setiap tempat air tsb disediakan juga gelas plastik bersih dan tempat pembuangan gelas plastik pakai buang. Beberapa tempat minum ini dijajarkan berdekatan untuk setiap lokasi yang rata-rata berjumlah 5 buah. Pada bahagian depan atasnya ditulis dengan huruf Arab (artinya tak tau) yang berwarna hitam dan hijau. Yang tulisannya berwarna hitam airnya dingin, sementara yang tulisannya berwarna hijau airnya tidak dingin, jadi bagi yang sedang demam atau batuk sebaiknya mengambil air yang tidak dingin. Sediaan air Zam-zam seperti ini bertebaran di dalam Masjidil Haram, hingga pada lantai 2 dan lokasi Sa’i lantai pertama.

    Di beberapa bagian Masjidil Haram terdapat air Zam-zam yang khusus untuk berwudlu, semacam tempat cuci tangan yang ada kran-nya dipasang berderet (bentuk krannya agak unik), juga di sekitar tempat tersebut disediakan tempat khusus untuk mencuci kaki. Tempat wudlu seperti ini terdapat di lantai pertama maupun di lantai kedua. Air Zam-zam di sini dingin.

    Di beberapa bagian Masjidil Haram juga disediakan dalam sediaan berbentuk semacam dispenser seperti yang terdapat di halaman Masjidil Haram, namun di atas dispenser ini terdapat tulisan “For Drinking Only” dan di bawahnya (Surprise !!!) tercantum tulisan “Hanya Untuk Diminum” (Orang Indonesia mungkin sering menggunakannya untuk hal lain sehingga perlu dicantumkan peringatan dalam Bahasa Indonesia … malu ya!). Sediaan seperti ini terdapat di lantai pertama dekat areal thawaf, juga di lokasi Sa’i lantai kedua. Air Zam-zam di sini dingin.

    Di pinggir tempat thawaf disediakan dalam sediaan seperti yang terdapat di halaman, jadi air Zam-zam di sini pun dapat dipergunakan untuk wudlu. Hanya tidak tertulis peruntukkannya (Men or Women). Air Zam-zam di sini dingin. Di Masjidil Nabawi di Madinah Al-Munawarrah, Air Zam-zam di sini ditempatkan pada tempat air minum terbuat dari fiber atau plastik berwarna cream sama seperti yang terdapat di dalam Masjidil Haram, hanya untuk air yang tidak dingin, tulisan Arab-nya berwarna biru.

    Air Zam-zam diakui sebagai air mineral terbaik yang ada di dunia ini, namun untuk dapat menyembuhkan penyakit tidak bererti begitu saja diminum terus dapat menyembuhkan, sebab yang menyembuhkan bukanlah airnya, yang menyembuhkan adalah rahmat Allah yang diturunkan melalui air Zam-zam untuk hamba-Nya yang dipilih karena ketaqwaannya. Karena itu tertib meminum air Zam-zam harus dipenuhi, dengan diawali membaca niat secara ikhlas, kemudian menghadap ke arah qiblat membaca doa yang tulus dengan penuh keyakinan akan dikabulkan, sesuai dengan niat kita.Air Zam-zam berkhasiat, sesuai dengan niatnya (niat yang akan meminumnya).

    Adab meminum air Zam-zam:

    Berdoa sebelum meminum air Zam-zam sambil menghadap ke qiblat. Contoh doa sebelum minum air Zam-zam: Allohuma inni as-aluka ‘ilman naa-fi’an, wa-rizqon waa-si’an, wa-syifaa-an min kulli daa-in wa-saqomin … biroh-matika yaa arhamar-roohimiin.

    Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang banyak, serta kesembuhan dari sakit dan penyakit … wahai dzat Yang Maha Pengasih. Namun kita boleh juga membaca doa-doa yang baik yang lainnya.

    Menggunakan tangan kanan untuk mengambil air Zam-zam, dan dengan membaca basmalah serta takbir (Bismillahi Allahu Akbar), basahilah bibir pada tegukan pertama, kemudian bacalah hamdalah dan menarik nafas 3 kali.Dengan membaca basmalah serta takbir, basahilah tenggorokan pada tegukan kedua, kemudian bacalah hamdalah dan menarik nafas 3 kali.Dengan membaca basmalah serta takbir, minumlah sepuasnya pada tegukan ketiga yang boleh dilanjutkan dengan membasahi bagian tubuh tertentu, kemudian bacalah hamdalah.Kemudian bacalah doa untuk kebaikan dunia & akhirat. Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang dipilih-Nya.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Dedi Kurniadi 1:13 am on 13 Januari 2012 Permalink

      Syukran yach,,atas artikelnya semoga manfaat untuk semua,dan semoga semakin sekses selalu..amiin

    • thanell 7:04 pm on 20 Januari 2012 Permalink

      ada lagi sejarah yang lebih rinci kan …..?

  • erva kurniawan 1:32 am on 12 January 2012 Permalink | Balas  

    Sepenggal Cinta dari Perempatan Jalan 

    Sepenggal Cinta dari Perempatan Jalan

    Cuaca bisa berubah setiap saat. Iklim makin tak menentu sepanjang awal tahun ini. Siang kadang terasa terik, lantas sore harinya bisa berubah gelap dan turun hujan. Namun, situasi cuaca yang kadang tak bersahabat itu tak menciutkan semangat insan Allah di suatu sudut perempatan jalan itu. Di situ, kita bisa belajar tentang arti hidup. Sebab, di sanalah cinta ini dimulai.

    Di perempatan jalan, tak jarang kita melihat gelandangan dan anak-anak jalanan berada di sudut traffict light. Ada yang memasang wajah iba meminta belas kasihan para pengendara yang kebetulan lewat. Ada pula yang gigih menjajakan koran dan majalah meski kadang kulit mereka terbakar panasnya matahari. Bagi pemerintah daerah setempat, keberadaan mereka dinilai mengganggu pemandangan dan kenyamanan. Karena itu, tak sedikit di antara pengemis jalanan tersebut kena garuk petugas ketertiban kota. Lantas, kita tak tahu bagaimana kelanjutan nasib mereka setelah itu.

    Suatu siang, saya melintas di kawasan Jl Dr Soetomo, Surabaya. Cuaca yang panas makin membuat saya tak sabar menunggu tanda lampu hijau menyala. Sejenak perhatian saya tertuju pada bocah cilik sekitar lima tahun yang sibuk menjajakan koran di antara para pengendara. Saat menuju ke arah saya, anak tersebut menawarkan harian Surya. “Surya seribu, Pak,” kata bocah itu. “Tumbas (belilah) Pak, buat makan,” pintanya setengah merengek agar korannya saya beli.

    Ya Allah, kalau sudah begitu, luluh hati ini tak tega untuk tidak membeli meski sebenarnya saya sudah membawa harian Jawa Pos. Bagaimana tidak, bocah ingusan yang seharusnya masih duduk di bangku TK itu sibuk berkelahi dengan waktu untuk tetap survive di kota metropolis seperti Surabaya ini. Dia terlalu kecil untuk mencicipi getirnya hidup di tengah jalan raya. Terlampau keras untuk merasakan sukarnya mencari uang dengan kerja keras bagi bocah seumuran dia.

    Sebelum lampu hijau menyala, selembar uang seribu rupiah sudah tertukar dengan koran Surya. Sebenarnya, terlalu siang untuk bisa mendapatkan harian pagi Surya. Namun, bila menatap rona berseri dari raut muka anak kecil tersebut, hati saya gerimis. Berapa untung bocah itu dari penjualan koran seharga seribu? Jelas, jumlah pendapatannya dari tiap koran yang terjual tidak sebanding dengan kucuran keringat dan kerja kerasnya. Dia rela jual koran, tidak sekolah, serta terkena panas dan hujan hanya untuk bisa bertahan hidup. Loper koran cilik itu bukan pengemis meski dia berjualan dengan setengah merengek. Dia begitu hanya agar bisa makan pada hari itu. Allahu akbar! Namun, hukum alam terus berputar. Saya yakin, Allah adalah hakim paling adil. Tak perlu menuntut keadilan karena Allah sekaligus jaksa paling mulia.

    Lampu hijau sudah menyala di saat saya ingin berlama-lama tertegun dengan semangat hidup anak itu. Semangat yang melecut saya agar tidak mudah mengeluh di saat menerima kesempitan. Ini bukan pelajaran yang sulit untuk dicerna dengan akal dan jiwa. Tapi, mencernanya pun membutuhkan sentuhan perasaan. Nurani harus lebih banyak bicara agar saya bisa menikmati semakin dalam pelajaran hidup dari bocah cilik tersebut.

    Kendaraan saya mulai melaju meninggalkan perempatan jalan itu. Namun, lajunya agak lambat karena hati ini terasa berat untuk segera berpisah dengan anak kecil tersebut. Ingin rasanya menyampaikan terima kasih tanpa sepatah kata pun kepadanya. Mengapa? Sebab, bocah itu mungkin tak menginginkan kata-kata sebagai ungkapan terima kasih. Layaknya bocah tersebut, yang diinginkan oleh kaum bawah dan miskin memang bukan kata-kata, apalagi janji. Mereka butuh uang untuk beli makanan. Soal perhatian, mereka tak akan pernah memikirkan siapa memedulikan siapa. Sebab, mereka merasa cuma kaum pinggiran yang terbiasa tak diperdulikan penguasa. Yang penting hari ini bisa makan, soal besok itu perkara nanti, itulah harapan mereka.

    Dan bocah penjual koran tersebut, dia jauh lebih mulia ketimbang orang yang malas berusaha. Lapangan kerja memang semakin sempit dan sulit dicari. Tapi, menjadi pengangguran karena gengsi dan malas adalah alasan yang sulit diterima. Sebab, dunia ini bukan ajang kontes menengadahkan tangan tanpa ada kemauan dan usaha. Rezeki tak datang cuma-cuma dari langit turun ke bumi. Sebab, sekarang adalah zamannya rezeki dijemput bukan ditunggu. Bocah itu telah membuktikannya lewat kerja keras ketimbang jadi peminta-minta.

    Betapa uang seribu sangat berarti bagi kaum yang hidup di jalanan seperti bocah tersebut. Memang, Allah menciptakan orang kaya dan orang miskin agar kehidupan dunia ini seimbang. Agar manusia bisa saling berbagi. Sebab, rezeki tak bisa datang tiba-tiba tanpa ada usaha meski datangnya dari Tuhan yang mahakaya. Kita terkadang tak sulit mengeluarkan lembaran puluhan ribu bahkan ratusan ribu. Apalah artinya jikalau dengan uang seribu kita berbagi kasih dengan sesama yang kekurangan seperti bocah itu. Dengan seribu rupiah, kita tidak hanya berinvestasi. Namun, kita juga bisa mengolah hati dengan becermin pada semangat hidup kaum duafa.

    “Dan bumi telah Dia bentangkan untuk makhluk-Nya. Di dalamnya ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang dan bijian-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya. Maka, nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS: Ar-Rahman: 10-13).

    ***

    Dari Sahabat

     
    • mahesa djenar 10:11 pm on 12 Januari 2012 Permalink

      BERBAHAGIALAH KITA ,AMIN

    • novia 3:09 pm on 13 Januari 2012 Permalink

      saya cukup terhentak membaca postingan kali ini, saya sering tidak mensyukuri pekerjaan yg telah saya miliki, bekerja di ruang AC pun saya masih sering mengeluh, ya Allah ampuni hambamu ini..

  • erva kurniawan 1:25 am on 11 January 2012 Permalink | Balas  

    Kisah-kisah di Balik Keajaiban Shalat Hajat 

    Kisah-kisah di Balik Keajaiban Shalat Hajat

    Mereka yang mendapatkan keajaiban Shalat Hajat

    A. Menghidupkan Keledai yang Mati

    Diriwayatkan dari Abu Sirah an-Nakh’iy, dia berkata, “Seorang laki-laki menempuh perjalanan dari Yaman. Di tengah perjalan keledainya mati, lalu dia mengambil wudhu kemudian shalat dua rakaat, setelah itu berdoa. Dia mengucapkan, “Ya Allah, sesungguhnya saya datang dari negeri yang sangat jauh guna berjuang di jalan-Mu dan mencari ridha-Mu. Saya bersaksi bahwasanya Engkau menghidupkan makhluk yang mati dan membangkitkan manusia dari kuburnya, janganlah Engkau jadikan saya berhutang budi terhadap seseorang pada hari ini. Pada hari ini saya memohon kepada Engkau supaya membangkitkan keledaiku yang telah mati ini.” Maka, keledai itu bangun seketika, lalu mengibaskan kedua telinganya.” (HR Baihaqi; ia mengatakan, sanad cerita ini shahih)

    B. Tercapainya Seluruh Hajat

    Di dalam kitab Hasyiyatu Ibnu ‘Aabidiin, disebutkan bahwa di dalam shalat hajat, pada rakaat pertama dibaca surah Al-Fatihah dan ayat Kursi tiga kali kemudian pada tiga rakaat sisanya dibaca surah Al-Fatihan dan Al-Ikhlash, Al-Falak, dan An-Nas satu kali. Maka itu sebanding dengan Lailatul Qadr . Guru-gurunya melaksanakan shalat ini, dan tercapai seluruh hajatnya.

    C. Dikabulkan Permintaannya Oleh Khalifah Utsman bin Afan

    Dalam kitab Mu’jamu ash-Shoghir wal Kabiir, Imam Thabrani menceritakan:

    Ada seorang laki-laki memiliki kebutuhan (hajat), kemudian ia memintanya kepada Amirulmukminin Utsman bin Afan, tetapi Utsam bin Afan tidak memberikan apa yang dimintanya. Kemudian ia bertemu seseorang, yaitu Utsman bin Hunaif. Lalu ia mengadukan permasalannya kepadanya. Akhirnya, Utsman bin Hunaif menyuruhnya untuk melaksanakan shalat hajat, sebagaimana yang telah diajarkan –tata caranya– dalam hadits. Kemudian, ia pun mengerjakannya. Setelah itu, ia pun datang kembali menemui Utsam bin Afan. Tidak disangka, Utsam bin Afan memuliakannya dan mengabulkan permintaan laki-laki tersebut. Dengan kejadian itu, ia pun menemui Utman bin Hunaif (yang telah mengajarkannya shalat hajat) dan mengucapkan terima kasih kepadanya.

    D. Ditolong Oleh Gubernur Thulun –Mesir–

    Abu Al-Hasan As-Shaffar Al-Faqih berkata dan menceritakan,

    Suatu ketika, kami bersama Al-Hasan bin Sufyan An-Naswi. Banyak orang-orang terhormat yang mengunjunginya dari berbagai negeri yang jauh untuk mengikuti majelis taklimnya, guna menuntut ilmu dan mencatat riwayat hadits.

    Suatu hari, ia pergi menuju majelisnya, tempat ia menyampaikan riwayat-riwayat hadis, lalu ia berkata, “Dengarkanlah apa yang akan aku sampaikan kepada kalian sebelum kita memulai pelajaran. Kami memaklumi bahwa kalian adalah sekelompok orang yang diberikan banyak kenikmatan dan termasuk orang-orang yang terpandang. Kalian tinggalkan negeri kalian, berpisah dari kampung halaman dan teman-teman, hanya demi menuntut ilmu dan mencatat riwayat hadits. Kalian tidak menyadari bahwa kalian telah menempuh semua kesulitan ini demi ilmu, atau telah menanggung apa yang telah kalian tanggung, yaitu berupa kesusahan dan kelelahan yang menjadi salah satu konsekuensinya. Sesungguhnya aku ingin menceritakan kepada kalian sebagian kesulitan yang aku alami di dalam menuntut ilmu, serta bagaimana Allah SWT memberikan jalan keluar untukku dan para sahabatku –dengan keberkahan ilmu dan kemurnian aqidah– dari segala kesempitan dan kesulitan. Ketahuilah, sejak muda aku telah meninggalkan kampung halaman untuk menuntut ilmu dan mencatat riwayat hadits.

    Takdir membawaku sampai ke Maroko, kemudian menuju Mesir, bersama tujuh orang sahabatku sesama penuntut ilmu dan pendengar hadits. Kami lalu berguru kepada seorang guru, ulama yang paling menonjol pada waktu itu. Paling banyak meriwayatkan hadits, paling mengetahui sanad-sanadnya, dan paling otentik periwayatan hadisnya. Ia menjelaskan hadis setiap hari sedikit demi sedikit, sehingga memakan waktu yang cukup lama. Akibatnya, kami menjadi kehabisan bekal. Kondisinya sampai memaksa kami untuk menjual barang-barang yang kami bawa, berupa baju dan celana. Akhirnya, tidak ada lagi milik kami yang tersisa untuk memperoleh biaya makan satu hari pun.

    Tiga hari tiga malam kami lalui tanpa dapat mencicipi sesuatu apa pun. Sampai pada suatu pagi di hari keempat, tak satu pun di antara kami yang dapat bergerak karena kelaparan. Kondisinya memaksa kami harus menahan rasa malu dan mengorbankan muka kami untuk meminta-minta, padahal diri kami menolak dan hati kami merasa keberatan.

    Setiap orang dari kami menolak melakukan hal itu, namun situasi dan kondisinya benar-benar memaksa untuk meminta-minta. Akhirnya, semuanya sepakat untuk menuliskan nama-nama kami di atas sebuah kain dan meletakkannya di atas air, barangsiapa yang namanya muncul ke permukaan, maka ia yang harus pergi meminta dan mencari makanan untuk dirinya serta sahabat-sahabatnya.

    Kain yang tertulis dengan namaku kemudian muncul ke permukaan. Aku bingung dan terkejut, dalam hatiku menolak untuk meminta-minta dan menanggung hina. Lalu, aku bergegas pergi ke satu sudut masjid untuk melakukan shalat dua rakaat dalam waktu cukup lama. Berdoa kepada Allah SWT dengan nama-nama-Nya yang Mahaagung dan kalimat-kalimat-Nya yang Mahamulia, agar menghilangkan kesusahan ini dan memberikan jalan keluarnya.

    Belum selesai aku melakukan shalat, seorang pemuda tampan tiba-tiba masuk ke dalam masjid dengan pakaian bersih dan bau yang wangi, diikuti oleh seorang pengawal yang memegang sebuah sapu tangan.

    Ia bertanya, “Siapa di antara kalian yang bernama Al-Hasan bin Sufyan?”

    Aku mengangkat kepalaku dari sujudku, lalu menjawab, “Aku Al-Hasan bin Sufyan, apa yang Anda inginkan?”

    Ia menjawab, “Sesungguhnya sahabatku, Gubernur Ibnu Thulun menyampaikan salam hormat dan permohonan maafnya atas kelalaiannya di dalam memberikan perhatian mengenai kondisi kalian, juga atas kelalaian yang terjadi di dalam memenuhi hak-hak kalian. Ia mengirimkan sejumlah bekal untuk hari ini. Sedangkan besok, ia sendiri yang akan mengunjungi kalian untuk meminta maaf secara langsung.”

    Pemuda tersebut memberikan di tanganku masing-masing sebuah pundi berisi uang seratus dinar. Aku heran dan kebingungan.

    Maka, aku berkata kepada pemuda tersebut, “Ada kisah apakah dibalik ini semua?”

    Ia berkata, “Aku adalah salah seorang pelayan khusus Gubernur Ibnu Thulun.

    Pagi tadi, aku menemuinya bersama sejumlah sahabat yang lain, lalu gubernur mengatakan kepadaku, “Hari ini aku ingin menyendiri, maka pulanglah kalian ke rumah masing-masing!”

    Aku pun pulang bersama yang lainnya. Sesampainya di rumah, belum sempat aku duduk, seorang utusan gubernur mendatangiku dengan tergesa-gesa, memintaku untuk kembali. Aku segera memenuhi panggilannya dan mendapatkan gubernur sedang berada sendirian di rumahnya. Ia meletakkan tangan kanannya di atas pinggangnya, menahan rasa sakit yang teramat sangat di dalam perutnya.

    Ia berkata kepadaku, “Apakah engkau mengenal Al-Hasan bin Sufyan dan sahabat-sahabatnya?”

    Aku menjawab, “Tidak.”

    Ia berkata lagi, “Pergilah ke sektor fulan dan masjid fulan, bawalah pundi-pundi ini dan serahkan kepadanya dan para sahabatnya. Sudah tiga hari mereka kelaparan dengan kondisi yang mengenaskan. Sampaikan permintaan maafku, dan katakan bahwa besok pagi aku akan mengunjungi mereka untuk meminta maaf secara langsung.”

    Pemuda itu berkata, “Aku menanyakan tentang sebab yang membuatnya berbuat demikian, maka ia berkata, ‘Ketika aku masuk ke dalam rumah ini sendiri untuk beristirahat sesaat, aku tertidur dan bermimpi melihat seorang penunggang kuda sedang berlari di angkasa dengan begitu stabilnya –seperti layaknya berlari di atas hamparan bumi– sambil memegang sebilah tombak. Aku melihatnya sambil tercengang hingga ia turun di depan pintu rumah ini, lalu meletakkan tombaknya di atas pinggangku, dan berkata, ‘Bangun, dan temuilah Al-Hasan bin Sufyan dan para sahabatnya.’ Bangun, dan temuilah mereka, sesungguhnya mereka kelaparan sejak tiga hari yang lalu di masjid fulan!’

    Aku bertanya, ‘Siapakah engkau?” Ia menjawab, ‘Aku Ridhwan, penjaga pintu surga.’ Semenjak ia meletakkan ujung tombaknya di pinggangku, aku merasakan sakit yang teramat sangat, membuatku tidak dapat bergerak. Maka, segeralah engkau sampaikan uang ini kepada mereka, agar rasa sakit ini menghilang dariku.”

    Al-Hasan berkata, “Kami tercengang mendengar kisah tersebut, bersyukur kepada Allah SWT dan dapat memperbaiki kembali kondisi kami. Namun, diri kami merasa tidak nyaman lagi untuk menetap di tempat itu. Agar kami tidak dikunjungi oleh gubernur dan rahasia kami diketahui oleh orang lain, sehingga menyembabkan melambungnya reputasi dan kedudukan kami, dan semua itu akan menimbulkan sifat riya’. Maka, malam itu juga kami meninggalkan Mesir. Dan, ternyata setiap orang dari kami menjadi seorang tokoh ulama dan terpandang di zamannya.

    Keesokan paginya, Gubernur Ibnu Thulun datang ke tempat itu untuk mengunjungi kami, lalu dikabarkan kepadanya mengenai kepergian kami. Kemudian, ia memerintahkan untuk membeli pertokoan/pasar seluruhya dan mewakafkannya untuk kepentingan masjid dan para perantau, orang-orang penting, dan para penuntut ilmu sebagai bekal mereka, agar kebutuhan mereka tidak lagi terabaikan dan tidak mengalami seperti yang kami alami. Semua itu disebabkan oleh kekuatan agama, kebersihan aqidah dan Allah SWT Maha Pemberi Taufiq.”

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Sabarimanto 8:33 am on 12 Januari 2012 Permalink

      Luar biasa artikelnya

    • nurul laily 10:07 pm on 17 Januari 2012 Permalink

      assalaumualaikum.. afwan sebelumnya.. saya kemarin membaca sebuah artikel, bahwasannya dalil shalat hajat itu tidak rajih.. bahkan rasul menganjurkan untuk shalat istikharah jika kita ingin meminta sesuatu kepada Allah.. dan beliau tdak mnganjurkan dan menyinggung2 shalat hajat.. pertannyaannya.. bisakah anda memberi dalil yang rajih tentang pelaksanan shalat hajat ini? syukron..

    • novy 8:20 pm on 29 April 2012 Permalink

      semoga artikel ini akan memberikan motivasi untuk kita semua agar selalu dekat dengan allah bukan hanya dengan shalat fardu saja tapi juga dilengkapi dengan shalat2 sunnah

    • Ri Ya 8:46 pm on 22 Juli 2012 Permalink

      Dahsyat nya sholat hajat :)

    • wongkonsel 7:07 pm on 21 Agustus 2012 Permalink

      pernah dikasi amalan ma ustadz,,,shalat hajat 2 rakaat,rakat pertama baca alfatehah terus alkafirun 10x, rakaat kedua setelah alfatehah baca al ihlas 10x,,setelah salam sujud lagi baca tasbihat 10 dan salawat 10x bangun dr sujud kita berdoa dan diakhiri dengan robbana atina fiddunya hasanah…dst 10x,,,

    • kisah bagus 9:09 am on 5 September 2012 Permalink

      subhanallah, Allah selalu dekat dgn hamba2nya yg tulus dlm menuntut ilmu.

    • Zulkifli Rahman 11:13 pm on 26 September 2012 Permalink

      makasih infonya..sangat berguna nih,
      begitu banyak rahasia Allah yg tersimpan dimuka bumi ini

    • Ruswanto 8:45 pm on 8 November 2012 Permalink

      Saya bercita cita menjadi TNI namun saya selalu gagal,sekarang saya didadapkan dua pilihan antara TNI ATAU POLiSI.saya bingung untuk menentukannya.sekarang saya akan melaksanakan shalat hajat ingin meminta petunjuk kepada allah.

    • Adam Musyaddad Khairul Rahman 9:46 am on 27 Februari 2013 Permalink

      Artikel yang Keren Luar Biasa ,, sangat bermanfaat

    • achmad usman 10:24 am on 1 Maret 2013 Permalink

      ALLAH selalu dekat dgn hamba2nya yg memohon pertolongan,………

    • bobby 10:59 pm on 6 Maret 2013 Permalink

      terima kasih untuk artikelnya yang sangat bermanfaat bisa menjadi referensi dan motivasi tambahan dalam menunaikan shalat hajat.

    • baety 1:47 pm on 6 Mei 2013 Permalink

      cukuplah Allah yang menjadi penolong kita dalam menghadapi setiap persoalan.

    • sulasi 10:58 am on 24 Agustus 2014 Permalink

      Ma,,af saya mau nanya bacaan sholawatnya itu yang gimana”’makasih

      .

    • Syahrin Bravo 4:10 am on 27 Januari 2015 Permalink

      Dalam memenuhi keinginan duniawi/ahirat, solat adalah media yang tepat untuk meminta. Jaman sekarang, banyak yg jadi ahli hadis setengah ilmu, jadinya orang awam ragu untuk beramal soleh. Pernah seorang teman selepas solat dhuha dan baca salat 100 kali, memohon agar terhindar dari hal memalukan yg dalam hitungan itu niscaya akan terjadi. Satu jam kemudian, orang yg akan membuatnya malu dalam berkarir itu pun pulang dari tempatnya bekerja. Dia pun selamat dari orang yg slama ini sering buat dia malu di dean umum.

    • diki 4:46 pm on 10 Juli 2015 Permalink

      waw

    • taufik 6:33 am on 28 Agustus 2015 Permalink

      semoga kita menjadi orang yang selalu mengerjakan sholat… aminn

  • erva kurniawan 1:09 am on 10 January 2012 Permalink | Balas  

    Penyakit Rohani 

     Penyakit Rohani

    Sebuah hadis yang diriwayatkan Rasulullah s. a.w kepada Saidina Ali r.a:

    “Wahai Ali, setiap sesuatu pasti ada penyakitnya: Penyakit bicara adalah bohong, penyakit ilmu adalah lupa, penyakit ibadah adalah riak,penyakit akhlak mulia adalah kagum kepada diri sendiri, penyakit berani adalah menyerang, penyakit dermawan adalah mengungkap pemberian, penyakit tampan adalah sombong, penyakit bangsawan adalah membanggakan diri, penyakit malu adalah lemah, penyakit mulia adalah menyombongkan diri, penyakit kaya adalah kikir, penyakit royal adalah hidup mewah dan penyakit agama adalah nafsu yang diperturutkan. ..”

    Ketika berwasiat kepada Ali bin Abi Thalib r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: “Wahai Ali, orang yang riak itu mempunyai tiga ciri iaitu:

    1. Rajin beribadat ketika dilihat orang.

    2. Malas ketika sendirian.

    3. Ingin mendapat pujian dalam segala perkara.

    Wahai Ali, jika engkau dipuji orang, maka berdoalah: “Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik daripada yang dikatakannya, ampunilah dosa- dosaku yang tersembunyi darinya dan janganlah kata-katanya mengakibatkan siksa bagiku…”

    Ketika ditanya bagaimana cara mengobati hati yang sedang resah dan gundah gulana, Ibnu Mas’udr.a berkata: “Dengarkanlah bacaan al-Quran atau datanglah ke majlis zikir atau pergilah ke tempat yang sunyi untuk berkhalwat dengan Allah s.w.t.

    Jika belum terobati juga, maka mintalah kepada Allah s.w.t hati yang lain karena sesungguhnya hati yang kamu pakai bukan lagi hatimu….”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 9 January 2012 Permalink | Balas  

    Iman Kepada Malaikat 

    Iman Kepada Malaikat

    Makna Malaikat Malaikat adalah salah satu makhluq Allah SWT yang diciptakan-Nya dari cahaya (nuur) [1] Dan diberikan kekuatan untuk senantiasa taat kepada-Nya tanpa bermaksiat sedikitpun [2]. Tetapi walaupun tidak pernah sedikitpun bermaksiat kepada Allah SWT, malaikat adalah makhluq yang paling takut kepada azab Allah SWT, sebagaimana dalam hadits nabi SAW berikut [3]: “Apabila Allah menentukan suatu keputusan di langit, maka semua malaikat sama-sama memukulkan sayapnya karena tunduk kepada firman Allah SWT, sehingga seperti bunyi-bunyian yang sangat nyaring. Sehingga apabila telah mereda rasa takut dalam hati mereka, maka mereka saling berbisik satu sama lain: Apakah yang diucapkan oleh Allah? Maka jawab yang lain: Kebenaran, Dia adalah Maha Luhur lagi Maha Besar.”

    Jumlah Malaikat

    1. Bersabda Nabi SAW [4]: “Sesungguhnya aku mendengar langit berkeriut Dan bergemeretak, Dan tidaklah Ada satu tempat sebesar sejengkal kecuali Ada seorang malaikat meletakkan dahinya sedang bersujud atau berdiri shalat.”

    2. Bersabda Nabi SAW [5]: “Masuk ke dalam baitul Ma’mur pada setiap harinya 70.000 malaikat Dan tidak pernah keluar lagi sampai Hari Kiamat.”

    Ketelitian Dan Kedisiplinan Malaikat

    1. Mereka sangat teliti dalam melaksanakan semua amanah yang diberikan oleh pencipta Dan pemilik mereka (ALLAH SWT), sehingga tidak satupun tugas yang diberikan kepada mereka berani mereka lalaikan: “Dan sungguh atas kalian senantiasa Ada malaikat yang senantiasa menjaga, yang mulia lagi senantiasa mencatat. [6]”

    2. Mereka sangat disiplin dalam segala hal, sehingga Nabi Kita yang mulia SAW memerintahkan Kita untuk mengikuti kedisiplinan mereka dalam sabdanya: “Inginkah kalian shalat sebagaimana sikap para malaikat ketika menghadap Rabbnya? Maka para shahabat Ra bertanya: Bagaimanakah sikap shalatnya para malaikat itu wahai RasuluLLAH? Maka jawab Nabi SAW: Mereka memenuhi semua shaf pertama kemudian baru shaf berikutnya Dan mereka merapatkan shafnya. [7]”

    Doa, Cinta, Dan Pertolongan Mereka Kepada Kaum Mu’minin

    1. Mereka tidak putus-putusnya mendoakan Kita, memohonkan ampun Dan bershalawat bagi Kita yang benar-benar mu’min, sebagaimana dalam hadits: “Sesungguhnya ALLAH Dan malaikat sampaipun semut dalam lubang-lubangnya sampaipun tiram di dasar samudera senantiasa berdoa bagi para da’i Dan orang yang mengajarkan kebaikan. [8]”

    2. Dalam hadits lainnya dikatakan: “Sesungguhnya malaikat senantiasa bershalawat untuk seorang diantara kalian selama dia masih di tempat shalatnya sepanjang dia belum berhadats. Mereka para malaikat tersebut senantiasa berkata: Ya ALLAH ampunilah dia.. Ya ALLAH sayangilah dia.. [9]”

    3. Cinta mereka bersifat tulus Dan seketika, yaitu ketika ALLAH SWT mencintai seorang hamba-NYA yang beriman, maka merekapun serentak mencintai orang tsb. Sebagaimana digambarkan dalam hadits: “Sesungguhnya jika ALLAH SWT mencintai seorang hamba, maka berserulah Jibril: Sesungguhnya ALLAH SWT telah mencintai Fulan, maka cintailah dia. Maka Jibrilpun mencintai orang tersebut Dan para malaikat di langitpun semua mencintainya Dan yang demikian itupun kemudian diikuti oleh para penduduk bumi. [10]”

    4. Cinta mereka inipun ditunjukkan dengan keikutsertaan mereka dalam berbagai aktifitas kebaikan Kita, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Nabi SAW: “Tidaklah berkumpul suatu kaum dalam sebuah rumah dari rumah-rumah ALLAH (mesjid) sambil membaca kitab ALLAH Dan mempelajarinya diantara mereka Melainkan di majlis itu turun ketenangan dari sisi ALLAH, Dan diliputi oleh kasih sayang ALLAH, serta malaikat mengerubungi dengan sayap-sayapnya, serta ALLAH SWT menyebutkan nama mereka satu-persatu diantara makhluq yang Ada disisi-NYA. [11]”

    Tugas-Tugas Para Malaikat

    1. Beribadah kepada Allah SWT dengan bertasbih kepada-Nya baik siang maupun malam tanpa rasa bosan maupun terpaksa [12].

    2. Membawa wahyu kepada anbiya’ maupun para Rasul [13].

    3. Memohon ampunan bagi kaum yang beriman [14].

    4. Meniup sangkakala [15].

    5. Mencatat amal perbuatan manusia Dan jin [16].

    6. Mencabut nyawa [17].

    7. Memberi salam kepada para penghuni jannah [18].

    8. Menyiksa para penghuni neraka [19].

    9. Memikul arsy’ Allah SWT [20].

    10. Memberi kabar gembira dan memperkuat kondisi kaum mukminin [21].

    11. Mengerjakan berbagai pekerjaan lain selain di atas, seperti melarang perbuatan maksiat & memberikan pelajaran [22], membagi tugas & pekerjaan [23], membawa kebaikan, menyebarkan rahmat, membedakan antara benar & salah [24], dsb.

    Kewajiban Kita Kepada Malaikat

    1. Mengimani keberadaan mereka [25].

    2. Mengimani nama-nama, sifat-sifat, dan tugas-tugas mereka yang kita kenali maupun yang tidak Kita kenali tapi diberitakan oleh Allah SWT [26].

    Nama-Nama Malaikat Menurut Al-Qur’an Dan As-Sunnah Yang Shahih

    1. Jibril [27], kadang juga disebut Ruhul Qudus [28], kadang juga disebut Ruhul Amin [29].

    2. Mikal [30] atau sering disebut Mika’il.

    3. Malik [31] atau Zabaniyyah [32].

    4. Raqibun ‘Atid [33] (Yang dekat lagi mencatat) atau juga Kiraman Katibin [34] (yang mulia lagi mencatat).

    5. Israfil [35].

    6. Munkar & Nakir [36].

    Nama-Nama Malaikat Yang Dhaif & Maudhu’ Menurut As-Sunnah

    1. Izra’il [37], oleh sebab itu yang benar adalah menamakannya dengan Malakul Maut [38] sesuai Al-Qur’an.

    2. Ridhwan [39], oleh karenanya yang benar adalah menamakannya dengan Penjaga Syurga [40].

    Pengaruh Beriman Kepada Malaikat

    1. Semakin meyakini kebesaran, kekuatan dan kemahakuasaan Allah SWT.

    2. Bersyukur kepada-Nya, karena telah menciptakan para malaikat untuk membantu kehidupan dan kepentingan manusia dan jin.

    3. Menumbuhkan cinta kepada amal shalih, karena mengetahui ibadah para malaikat

    4. Merasa takut bermaksiat karena meyakini berbagai tugas malaikat seperti mencatat perbuatannya, mencabut nyawa dan menyiksa di naar.

    5. Cinta kepada malaikat karena kedekatan ibadahnya kepada Allah SWT, dan karena mereka selalu membantu dan mendoakan kita. WaLLAAHu a’lamu bish Shawaab…

    __

    Catatan Kaki: [1] HR Muslim, VIII/226, no. 7687 [2] QS Al-Anbiya’, 21/19-20 [3] HR Bukhari, VI/101, no. 4701 [4] HR At-Thahawi dlm Musykil al Atsar/2:43, at-Thabrani dlm Mu’jam al Kabir/10:153 dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Silsilatul Ahadits ash Shahihah/852 [5] HR Bukhari Muslim dalam Lu’lu wal Marjan/103 [6] QS Al-Infithar, 82/10-12 [7] HR Muslim, no. 430 [8] HR Thabrani dalam al-Kabir dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Jami’ Shaghir no.1834 [9] HR Ibnu Majah no.799, Ahmad II/252, dan Shahih Jami Shaghir no.6603 [10] HR Bukhari Muslim dalam Lu’lu wal Marjan no.1692 [11] HR Muslim no. 2699 [12] QS Al-Anbiya’, 21/19-20 [13] QS Al-Baqarah, 2/97 [14] QS Ghafir, 40/7-9 [15] QS Az-Zumar, 39/68-70 [16] QS Qaaf, 50/16-18 [17] QS As-Sajdah, 32/11 [18] QS Ar-Ra’du, 13/23-24 [19] QS Az-Zukhruf, 43/77 [20] QS Ghafir, 40/7 [21] QS Al-Anfal, 8/12 [22] QS Ash-Shaffaat, 37/1-3 [23] QS Adz-Dzariyat, 51/1-4 [24] QS Al-Mursalat, 77/1-6 [25] QS Al-Baqarah 2/97,98,177,285 [26] QS An-Nisa’, 4/136 [27] QS Al-Baqarah, 2/98 [28] QS An-Nahl, 16/102 [29] QS Asy-Syu’ara’, 26/192-195 [30] QS Al-Baqarah, 2/98 [31] QS Az-Zukhruf, 43/77 [32] QS Al-‘Alaq, 96/18 [33] QS Qaaf, 50/18 [34] QS Al-Infithar, 82/11 [35] HR Shahih An-Nasa’i no. 5519 & As-Suyuthi dlm Jami’us Shaghir, & di-hasan-kan oleh Albani dlm Shahih wa Dha’iful Jami’. [36] HR Ibnu Abi ‘Ashim & di-hasan-kan oleh Albani dlm Zhilalil Jannah, II/114 [37] Imam Ibnu Katsir menukilnya dlm tafsirnya atas QS As-Sajdah, 32/11; tetapi haditsnya tidak ada asalnya (lih. Ahkamul Jana’iz, I/254; juga dlm Takhrij At-Thahawiyyah, I/72) [38] QS As-Sajdah, 32/11 [39] Haditsnya maudhu’, lih. Dha’if At-Targhib wat Tarhib, I/149; juga dlm Adh-Dha’ifah, X/138 [40] QS Az-Zumar, 39/73

    ***

    Sumber : al-ihwan.net

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 8 January 2012 Permalink | Balas  

    Menunda Nikah : Sebab Dan Solusinya 

    Menunda Nikah : Sebab Dan Solusinya

    Menikah merupakan sunnah (jalan hidup) para nabi Dan rasul ‘alaihimus salam sebagaimana difirmankan Allah Subhannahu WA Ta’ala, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum kamu Dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri Dan keturunan.” (QS. Ar-Ra’d : 38).

    Menikah juga merupakan nikmat Allah kepada hamba-hambaNya yang dengannya akan diperoleh maslahat dunia dan akhirat, pribadi dan masyarakat, sehingga Allah menjadikannya sebagai salah satu tuntutan syara’.

    Allah Subhannahu WA Ta’ala berfirman, “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, Dan orang-orang yang patut (kawin) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan.” (QS. 24 : 32).

    Menunda nikah kalau kita perhatikan, kini telah menjadi sebuah fenomena di masyarakat yang cukup menarik perhatian berbagai kalangan. Penundaan tersebut memiliki beberapa sebab, di antaranya ada yang berkaitan dengan keluarga dan masyarakat, ada pula yang terkait langsung dengan para pemuda dan pemudi sendiri.

    Di bawah ini di antara sebab-sebab yang menjadikan para pemuda dan pemudi menunda nikah :

    1. Lemahnya Pemahaman Syar’i Tentang Nikah

    Seseorang jika tahu bahwa sesuatu itu adalah ibadah, maka segala apa yang dihadapinya akan tampak lebih ringan. Halangan dan rintangan yang ada, meskipun berat akan dihadapi dengan lapang dada dan penuh kesabaran, sehingga urusan menjadi terasa lebih mudah. Di dalam nikah, terdapat beberapa bentuk ibadah, di antaranya : Untuk menjaga para pemuda dan pemudi dari perbuatan negatif dan dosa, serta untuk melahirkan generasi pilihan yang siap beribadah kepada Allah, mendirikan shalat, berpuasa dan berjuang di jalanNya.

    2. Biaya yang berlebihan

    Angka rupiah yang melambung tinggi untuk biaya nikah terkadang menjadi momok tersendiri bagi para pemuda, sehingga hal itu menjadi beban bagi diri dan keluarganya. Masalah ini biasanya lebih dikarenakan alasan adat, ikut-ikutan, gengsi, atau mengikuti trends. Ini semua menyalahi ajaran Nabi Shallallaahu alaihi WA Salam dan merupakan penghalang bagi pemuda-pemudi untuk menikah.

    3. Terikat dengan studi

    Sebagian pemuda ada yang tidak memikirkan nikah sama sekali, kecuali setelah selesai studinya. Bahkan hingga tingkat pasca sarjana atau doktoral di luar negeri, hingga bertahun-tahun. Demikian pula dengan para pemudinya yang kuliah untuk dapat mengejar jenjang akademisnya, hingga mengabaikan masalah pernikahan.

    4. Kekeliruan Cara Pandang Terhadap Pemuda Pelamar

    Ketika ada seorang pemuda melamar gadis, maka yang pertama ditanyakan adalah apa pekerjaannya dan berapa penghasilan atau gajinya. Dan karena penghasilan yang kurang besar, banyak para pemuda yang tidak diterima lamarannya, padahal tidak seharusnya demikian.

    5. Banyaknya Pengaruh dari Orang Lain

    Baik itu dari tetangga, kerabat, teman atau sesama pemuda, padahal mereka bukanlah orang-orang yang faham ilmu syar’i. Orang-orang tersebut memberikan pertimbangan- pertimbangan yang kurang proporsional sehingga menjadikan lemah Dan kendornya semangat untuk menikah.

    6. Belum Ketemu yang Didambakan

    Ada sebagian pemuda yang menunda-nunda nikah karena mencari wanita yang betul-betul memenuhi kriteria impiannya, sempurna dari semua segi. Bahkan boleh jadi ada yang membatalkan lamaran karena si wanita tadi kurang tinggi beberapa senti saja. Demikian pula dengan pemudinya yang mendambakan laki-laki yang sempurna dari segala sisi, sehingga setiap ada pemuda yang melamar selalu ditolak karena tidak memenuhi kriteria yang didambakan.

    7. Kurang Adanya Kerja Sama di Masyarakat

    Kerjasama di masyarakat untuk saling memberi informasi pemuda-pemudi yang siap menikah, dirasakan masih kurang.

    8. Merebaknya Media yang Merusak

    Seperti menampilkan acara-acara yang menggambarkan permasalahan- permasalahan rumah tangga, pertengkaran suami istri, antara istri dengan keluarga suami dan lain-lain. Hal ini berpengaruh, ketika seorang pemuda akan melamar, yaitu munculnya persangkaan negatif Dan rasa curiga yang berlebihan.

    9. Kurangnya Rasa Tanggung Jawab di Kalangan Pemuda

    Tidak adanya keseriusan seorang pemuda di dalam mengemban tanggung jawab hidup, terkadang merupakan penghalang untuk menikah. Mereka merasa amat berat dan lemah menghadapi kehidupan, apalagi kehidupan rumah tangga. Karena mereka tumbuh dan terbiasa dalam kondisi santai, serba enak, dan dimanja.

    10. Banyaknya Media Dan Tempat Hiburan

    Maraknya tempat-tempat hiburan dan tempat-tempat yang merusak, ditambah dengan sarana transportasi dan telekomunikasi yang tidak dimanfaatkan dengan benar menjadikan fitnah tersebar di mana-mana. Maka tak jarang pemuda atau pemudi asyik dan terlena dengan semua itu, sehingga tidak ada perhatian sama sekali terhadap nikah.

    11. Budaya Hubungan Pra-Nikah (Pacaran)

    Jika seorang pemuda mengikat hubungan dengan pemudi sebelum menikah, maka pada dasarnya sama saja dengan menjerumuskan diri ke dalam bahaya dan kesulitan. Hal ini juga berdampak kepada si gadis, ketika akan dilamar, maka mungkin dia menolak dengan alasan telah ada hubungan dengan pemuda lain, padahal sebenarnya pemuda tersebut bukanlah apa-apanya.

    12. Keberatan Orangtua terhadap Anak Gadisnya

    Terutama jika si anak memiliki penghasilan yang lumayan besar atau dia seorang anak yang berbakti, biasanya si orangtua berat hati melepasnya karena masih ingin mendapat perhatian atau pelayanan darinya.

    ***

    Solusi

    Masalah menunda pernikahan bagi pemuda dan pemudi merupakan masalah yang cukup serius dan memiliki dampak negatif yang amat banyak. Maka sebagai jalan keluarnya dalam kesempatan ini disampaikan beberapa saran kepada masyarakat umum dan lebih khusus para orangtua dan walinya. Di antaranya yaitu :

    1. Memberikan pengarahan secara intensif kepada masyarakat tentang tujuan menikah, kebaikan yang diperoleh, hukum, dan adabnya. Hendaknya disampaikan secara sederhana dan dengan bahasa yang mudah. Tujuannya supaya dapat menghilangkan anggapan keliru seputar pernikahan masa muda.
    2. Menyebarluaskan pernikahan para pemuda/pemudi dan memberikan pujian kepada mereka serta orang tuanya.
    3. Senantiasa mengingatkan bahwa usia yang paling utama untuk menikah adalah di masa muda. Alangkah indah jawaban yang disampaikan oleh seseorang ketika ditanya, “Kapan usia yang tepat untuk menikah? Maka ia menjawab, “Kapan selayaknya seseorang itu makan? Maka orang tentu akan menjawab, “Ketika ia lapar.” Demikian pula ketika seorang remaja telah melewati masa baligh, maka itulah waktu yang sangat pas untuk menikah karena tuntutan kebutuhan fithrah dan sebagai penjagaan dari berbagai perilaku negatif.
    4. Memberikan dorongan dan anjuran kepada para orangtua dan kerabat agar menikahkan putra-putrinya di usia muda serta memperingatkan akan bahaya dan dampak negatif dari menunda-nundanya.
    5. Membiasakan agar tidak bermewah-mewahan di dalam mengadakan walimah, sebab hal ini sering menjadi masalah bagi para pemuda yang ingin menikah. Nabi telah bersabda, “Adakan walimah meski hanya dengan seekor kambing!” Jelas sekali bahwa walimah tidak harus memaksakan diri dengan sesuatu yang serba mewah.
    6. Mengajak kepada masyarakat agar memberikan keringanan dalam mahar (maskawin).
    7. Senantiasa memberikan dorongan dan anjuran untuk menikah, karena ia merupakan salah satu sunnah Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam.
    8. Hendaknya bagi orang yang memiliki kelebihan dan keluasan harta supaya memberikan bantuan kepada saudara, teman, atau kerabatnya yang membutuhkan biaya pernikahan demi untuk menjaga para pemuda dan pemudi dari hal-hal yang negatif. Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin memperbolehkan penyaluran dana zakat untuk membantu para fakir miskin yang membutuhkan biaya pernikahan khusus untuk membayar mahar dan biaya pernikahan saja.
    9. Menganjurkan para pemuda, baik melalui teman-temannya atau kerabatnya supaya memberikan dorongan untuk menikah. Juga menganjurkan para wali agar bersegera menikahkan putrinya atau para gadis yang berada dalam tanggungannya.
    10. Memberikan kabar gembira bahwa menikah merupakan salah satu sebab dibukanya pintu rizki, sebagaimana disabdakan Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam, “Tiga orang yang akan dijamin pertolongan dari Allah : Orang yang menikah karena ingin menjaga diri, mukatib (hamba sahaya yang ingin memerdekakan diri) yang menepati janjinya, dan orang yang berperang di jalan Allah.”
    11. Memperingatkan para pemuda untuk tidak menyia-nyiakan harta dan agama, berfoya-foya dan senang-senang, suka melancong, dan menghambur-hamburka n uang. Ingatkan pula bahwa menikah itu tidaklah membutuhkan biaya yang sangat besar, bahkan boleh jadi biaya yang digunakan sekali jalan dalam melancong adalah lebih besar daripada biaya pernikahan.
    12. Bagi yang telah lebih dahulu menikah hendaklah memberikan pengarahan yang logis dengan penuh hikmah kepada para pemuda. Janganlah terlalu idealis di dalam memilih pendamping hidup, cukuplah sabda Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam menjadi acuan di dalam hal memilih istri. Beliau mengatakan bahwa wanita dinikahi karena empat hal dan beliau menjadikan yang paling utama adalah yang baik agamanya.
    13. Memperingatkan keluarga dan kerabat agar jangan menunda-nunda pernikahan putri-putrinya. Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam pernah bersabda kepada shahabat Ali Radhiallaahu anhu, “Tiga perkara wahai Ali, janganlah engkau menunda-nunda, shalat jika telah masuk waktunya, jenazah bila telah siap dishalatkan, wanita sendirian jika telah ada jodoh-nya.” (HR. Ahmad).
    14. Membentuk keluarga dan lingkungan yang baik dan Islami yang mengerti dan bersungguh-sungguh dengan ajaran Islam. Sehingga dampaknya adalah akan memberikan dukungan yang besar terhadap berkembangnya ajaran dan sunnah Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam termasuk salah satunya adalah menikah.
    15. Memperingatkan para ibu dan bapak agar bersegera menikahkan putra-putrinya jika telah siap. Karena menundanya terkadang akan memberikan dampak negatif berupa penyimpangan moral atau terjadinya hubungan yang diharamkan. Dan sebagai orangtua tentu juga memperoleh dosa akibat kelalaian yang diperbuatnya.

    ***

    Kafemuslimah.com

    Sumber : Kutaib “Ya Abbi Zawwijni” Abdul Malik al-Qasim.

    Sumber : http://www.alsofwah. or.id

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 7 January 2012 Permalink | Balas  

    Anak Durhaka 

    ANAK DURHAKA    

    Setiap anak wajib berbakti kepada ibu bapak, lebih-lebih lagi bagi orang Islam yang sangat dituntut untuk berbuat baik terhadap orang tuanya.

    Ini sebagaimana ditegaskan pada ayat 36, dari surah an-Nisa yang artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada orang tua (ibu bapak)”

    Penegasan ini disusuli dengan sabda Rasulullah s.a.w sebagaimana dinyatakan oleh at-Tabrani, artinya: “Berbaktilah kamu kepada dua ibu bapak kamu agar anak-anakmu kelak akan berbakti kepadamu. Dan peliharalah dirimu daripada perzinaan agar isteri-isterimu memelihara diri nya.”

    Berbakti kepada ibu bapak adalah wajib karena ia hukum Allah. Anak yang enggan berbakti kepada dua ibu bapanya dianggap anak derhaka dan perbuatan derhaka adalah dosa besar.

    Derhaka kepada ibu bapak termasuk dalam empat dosa besar. Keadaan ini jelas berdasarkan kata-kata nabi yang dinyatakan Bukhari: “Sebesar-besar (daripada) dosa besar adalah me nyekutukan Allah, membunuh manusia, derhaka kepada ibu bapak dan menjadi saksi palsu.”

    Perintah Islam supaya anak berbuat baik kepada ibu bapak adalah perintah yang wajar. Baru saja tiga bulan hamil, si ibu menghadapi pelbagai keperitan. Badan selalu letih, kepala pening dan selalu loya.

    Apabila kandungan semakin besar, hatinya diganggu was-was, khuatir dan penuh persoalan. Apa akan terjadi kepada anak yang bakal dilahirkan? Apakah laki-laki atau perempuan? Apakah sempurna anggotanya badannya?

    Tiba detik melahirkannya, perasaan ibu bertambah gelisah. Khawatir keselamatan diri dan anak sentiasa menghantui fikiran. Tetapi segala kerisauan, kebimbangan dan kesakitan terobati ketika mendengar tangisan bayi yang dilahirkan.

    Dimulai ari anak yang sebesar telapak tangan itu, ibu bapak tidak pernah mengeluh membesarkan anaknya dengan kasih sayang tidak terbagi. Makan, minum, pakaian, pendidikan dan segala keperluan dipenuhi, sehingga anak kecil tadi menjadi seorang kanak-kanak, remaja dan dewasa sebanding dengan ibu bapaknya.

    Jasa ibu bapaklah menjadikan si anak mengenal dan mengecap nikmat dunia, dapat menggali khazanah dunia serta mendalami ilmu lain. Justru, sudah selayaknya ibu bapak dimuliakan, dibaluti dengan kasih sayang sebagaimana mereka mencurahkan kasih kepada anaknya yang kecil dulu.

    Anak yang enggan berbakti kepada ibu bapak adalah anak durhaka, yang menerima balasan buruk. Ini sebagaimana dapat dipahami dari hadis yang diceritakan Tabrani: “Dua (kejahatan) yang akan dibalas oleh Allah di dunia ini adalah zina dan derhaka kepada dua ibu bapa.”

    Ada banyak contoh yang memberi pelajaran betapa azab yang ditanggung anak durhaka di dunia. Siksa ini datang dalam bentuk penderitaan, baik rohani atau jasmani, sukar mencari nafkah, gagal mendapatkan pekerjaan dan tiada ketenteraman dalam kehidupan.

    Kisah Wail bin Khattab pada zaman Nabi Muhammad s.a.w, satu peristiwa yang dapat dijadikan teladan. Disebabkan terlalu mencintakan isteri, Wail selalu mencaci ibunya, mempercayai segala yang dilaporkan isterinya berkaitan ibunya.

    Waktu Wail menghadapi kematian, dia mengalami penderitaan sakit yang tidak terhingga. Dia sekarat hingga keluar keringat dingin membasahi seluruh badan. Mati tidak, sembuh pun tidak ada harapan.

    Selama berpuluh hari dia berada dalam keadaan demikian. Matanya merah menyala, mulutnya terbuka lebar tetapi kerongkongnya tersumbat sehingga tidak terdengar jeritan, manakala kaki dan tangannya kaku.

    Sahabat menunggu kematiannya, namun tidak tiba. Mereka berasa terharu melihat penderitaan yang dihadapi Wail. Mereka bersilih ganti mengajarkan Wail mengucap kalimah syahadah, namun semuanya buntu.

    Wail mencoba segala upaya mengucap dua kalimah syahadah tetapi yang kedengaran dari mulutnya hanya perkataan “oh, oh, oh, oh”. Keadaan semakin mengerikan.

    Akhirnya seorang sahabat Ali bin Abi Talib menemui Nabi dan menceritakan keadaan Wail. Nabi Muhammad meminta Ibunda Wail dijemput menemui beliau. Nabi ingin mengetahui bagaimana keadaan dan perlakuan Wail terhadap ibunya sebelum sakit.

    Ketika ditanya, ibu Wail menyatakan anaknya sentiasa mencaci lantaran hasutan isterinya. Dia percaya dan mengikut apa saja yang dilaporkan isterinya tanpa usul periksa. Ini menyebabkan ibunya berasa sakit hati kepadanya.

    Nabi Muhammad s.a.w memujuk Ibunda Wail supaya segera mengampuni dosa anaknya yang durhaka. Tetapi perempuan itu berkeras tidak mau memenuhinya. Dia berkata, air matanya belum kering lantaran perbuatan Wail yang menyakitkan hatinya.

    Melihat keadaan itu, Nabi termenung seketika. Kemudian, baginda memerintahkan sahabat mengumpul kayu api. Wail akan dibakar hidup-hidup.

    Nabi Muhammad menyatakan, jika ibu Wail tidak mau memaafkan dosa anaknya, Wail akan menderita menghadapi maut dalam jangka masa yang tidak pasti.

    Mendengar kata-kata Nabi itu, ibu Wail segera berkata: “Wahai Rasulullah, jangan dibakar dia. Wail anakku. Aku telah ampuni dia. Kesalahannya aku telah maafkan.”

    Menurut sahabat, setelah Wail diampuni Ibundanya, wajahnya langsung berubah. Akhirnya dia dapat mengucap syahadah dan menghembuskan nafas terakhir.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • m.rifani 2:19 pm on 17 Januari 2012 Permalink

      subhanaulah

    • anshor 5:26 pm on 11 Februari 2012 Permalink

      cerita itu adalah pljaran untk kta,spaya kta berprilaku baik kpda bunda kta

  • erva kurniawan 1:13 am on 6 January 2012 Permalink | Balas  

    Salam Terindah Untukmu, Ya Rasulullah 

    Salam Terindah Untukmu, Ya Rasulullah

    Suatu subuh, saat terbangun dari tidurnya, Aisyah ra tidak mendapati suaminya, Rasulullah SAW. Aisyah ra panik dan bingung. Ketika membuka pintu rumahnya, dia kaget mendapati Rasulullah tidur di depan pintu. Aisyah lalu bertanya, “Kenapa engkau tidur di luar suamiku?” Rasulullah SAW lantas menjawab, “Semalam aku pulang telah larut. Aku takut mengganggu tidurmu. Sehingga, aku tidur di sini.”

    Sederhana, namun penghormatan Rasullah SAW kepada istrinya tersebut menyimpan makna mendalam bagaimana seharusnya suami memperlakukan istrinya. Selain aktivitasnya dalam berdakwah, Rasulullah SAW tidak mengabaikan keluarganya. Nabi pun membantu istrinya membersihkan rumah, memerah susu unta, dan mengasuh cucunya, yakni Hasan dan Husen.

    Pernah, Rasulullah dilempari kotoran oleh orang-orang Quraisy, bahkan dilempari batu hingga wajahnya berdarah. Namun, Nabi menghadapi perlakuan itu dengan mendoakan mereka. Nabi berdoa, “Ya Allah, ampunilah mereka. Mereka berbuat seperti itu karena tidak tahu.” Siksaan dan teror yang menjadi-jadi tidak membuat semangat Nabi SAW dalam berdakwah surut. Bahkan, Umar bin Khattab yang sangat ditakuti oleh Suku Quraisy pun menawarkan diri untuk membunuh orang-orang yang mengganggu Nabi, tapi Nabi melarangnya. Cinta Nabi SAW tidak memandang kepada siapa cinta itu diberikan. Tak peduli kepada orang yang telah menyakiti beliau sekalipun. Subhanallah.

    Perut Nabi SAW yang kurus dan dibebat kain berisi batu adalah hal yang membuat miris para sahabat pada saat-saat menjelang Nabi SW wafat. Betapa tidak, jika Rasulullah SAW mau, harta, kedudukan, uang, dan makanan paling lezat pun siap tersaji untuknya. Namun, Rasulullah pun menolak kenikmatan itu semua. Rasulullah SAW tidak mau dilebihkan hanya karena dia seorang pemimpin. Mencintai kaum fakir miskin, dekat dengan anak-anak yatim, sopan dalam berhadapan dengan siapa saja, dan santun segala tindak tanduknya menjadikan Nabi SAW sebagai pemimpin yang disegani oleh siapa pun.

    Kini, telah ratusan abad Rasulullah SAW meninggalkan umatnya, umat akhir zaman. Namun, kelembutan dan cinta Nabi SAW kepada umatnya tetap menjadi sejarah yang tak akan bisa lekang ditelan zaman sampai kiamat datang. Dia mewariskan kepribadian agung serta dua titipan untuk dijadikan pedoman hidup, yakni Alquran dan sunahnya.

    Angin berembus tenang menyapu padang pasir yang mahaluas. Bila malam tiba, cahaya bintang mengangguk ramah ditemani rembulan yang memancar keindahan akhlak Nabi SAW. Menabur cinta sepanjang masa. Alam berzikir. Dan menitipkan salam paling mesra kepada Rasulullah SAW. Jatuhan tetes air mata tak mudah terbendung mengenang perjuangan dan pengorbanannya. “Kami merindukanmu, yaa Rasulullah..”

    Allahumma salli ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa sahbihi wasallim.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • matori 5:51 pm on 8 Januari 2012 Permalink

      subhanallah………… rasulullah memang benar2 manusia yang paling mulia sampai akhir zaman

    • hadi al haris 5:12 pm on 30 Januari 2012 Permalink

      Rasulullah memang teladan yg baik, patut dicontoh oleh kita semua…

    • tiara 2:30 pm on 6 April 2012 Permalink

      subhanallah..
      izin share ya
      syukran

  • erva kurniawan 1:08 am on 5 January 2012 Permalink | Balas  

    Cara tidur Rasulullah 

    Cara tidur Rasulullah

    Umat Islam dianjurkan supaya selalu berdo’a dan berzikir dalam keadaan apapun demi mendapatkan rahmat dan keberkatan hidup dari Allah Subhanahu Wata’ala. Ia juga menganjurkan untuk menghindarkan dari gangguan-gangguan makhluk-makhluk lain seperti jin dan syaitan, dalam waktu senang ataupun susah, ketika berdiri, duduk, berjalan, bekerja dan begitu juga sewaktu bangun dari tidur.

    Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam menganjurkan agar kita selalu berzikir, sehingga dalam perkara tidur juga kita diberikan panduan dengan do’a dan zikir-zikir tertentu. Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam sebagai model terunggul bagi umat Islam telah menggariskan adab kesopanan, peraturan dan panduan ketika tidur untuk diamalkan sebagaimana Baginda sendiri mengamalkannya.

    Dalam sebuah hadis diterangkan:

    “Al-Barra’ bin Azib Radhiallahu ‘Anhu berkata: “Adalah Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam jika akan tidur, miring ke sebelah kanan kemudian Baginda membaca: ” Ya Allah aku serahkan diriku kepadaMu Dan menghadapkan mukaku kepadaMu Dan menyerahkan semua urusanku kepadaMu, Dan menyandarkan punggungku kepadaMu kerana mengharap Dan takut kepadaMu, tiada perlindungan Dan tiada tempat selamat daripada seksaMu kecuali kembali kepadaMu. Aku percaya kepada kitab yang Engkau turunkan Dan Nabi yang telah Engkau utus”. (Hadis riwayat Bukhari)

    Menurut sebuah hadis lagi riwayat Bukhari Dan Muslim:

    “Jika kamu akan tidur maka berwudhu’lah bagaikan kamu akan sembahyang, kemudian berbaring atas pinggang kanan Dan bacalah do’a ini (seperti do’a yang tersebut di atas) Dan jadikanlah bacaan do’a itu yang terakhir daripada bacaanmu (perkataanmu)”.

    Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam juga pernah tidur terlentang dengan cara meletakkan satu kaki di atas yang lain sebagaimana maksud hadis :

    “Daripada ‘Abbad bin Tamim, daripada bapa saudaranya, bahawasanya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam tidur terlentang di masjid sambil meletakkan satu kaki di atas yang lain.” (Diriwayatkan oleh Bukhari Dan Muslim)

    Tidur dianggap sebagai ibadah seorang hamba kepada Penciptanya, sekiranya seseorang itu tidur dengan melakukan tuntunan dan mengikut sunnah Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.

    Dalam sebuah hadis daripada Huzaifah katanya: “Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wassalam apabila Baginda berbaring di tempat tidurnya, Baginda berdo’a (Ya Allah, dengan namaMu aku mati dan aku hidup) dan apabila bangun Baginda membaca: (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan aku kembali setelah mematikan aku Dan kepadaNyalah tempat kembali.”

    Dalam riwayatnya yang lain menerangkan: “Dari ‘Aisyah Radhiallahu Anha katanya: “Nabi Sallalahu ‘Alaihi Wasallam apabila berbaring di tempat tidurnya pada setiap malam Baginda mengangkat kedua tangannya (seperti berdo a), lalu meniup Dan membaca surah al-Ikhlas, surah al-Falaq, surah an-Nas, kemudian Baginda menyapukan tangannya itu ke seluruh badan yang dapat disapunya mulai dari kepalanya dan mukanya dan bagian depan dari badannya, Baginda melakukannya sebanyak tiga kali.”  (Diriwayatkan oleh at-Tirmizi)

    Selain itu sebelum tidur Baginda menunaikan sembahyang Witir sebagaimana hadis yang menyebutkan: “Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam juga telah mengingatkan umatnya bahawa syaitan sering mengganggu manusia ketika tidur. Oleh itu umat Islam adalah dianjurkan supaya mengamalkan sembahyang witir setiap kali sebelum tidur. (Hadis riwayat Bukhari)

    Ketika Baginda terbangun dari tidur di tengah malam pula, Baginda akan membasuh muka dan kedua belah tangan sebelum Baginda tidur semula.

    Dalam sebuah hadis yang lain pula Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

    “Sesungguhnya Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Syaitan akan mengikat ujung kepala seseorang yang sedang tidur dengan tiga ikatan, menyebabkan kamu tidur lama. Apabila seseorang di antara kamu bangkit seraya menyebut nama Allah, maka akan terlepaslah ikatan yang pertama. Apabila dia berwudhu’ maka akan terbukalah ikatan yang kedua. Apabila dia sembahyang maka akan terbukalah ikatan semuanya. Dia juga akan merasakan suatu kesegaran dan ketenangan hati, jika tidak dia akan merasa malas dan kekusutan hati” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari)

    Demikian antara cara tidur Rasullullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk menjadi amalan kita.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 4 January 2012 Permalink | Balas  

    Asma binti Abu Bakar 

    Asma binti Abu Bakar

    Asma binti Abu Bakar, turut dikenali sebagai wanita besi yang berumur panjang. Nama wanita ini pendek sahaja, tetapi, perjalanan hidupnya tidak pendek seperti namanya. Allah memberinya umur panjang dan kecerdasan berfikir, hingga dia dapat mewarnai perjalanan hidup generasi tabiin (pengikut Rasulullah) dengan perjalanan kehidupan pada zaman Rasulullah. Asma’, termasuk kelompok wanita yang pertama masuk Islam. Permulaan Asma’ tidak boleh dipisahkan dengan peristiwa hijrah Rasulullah dan ayahnya Abu Bakar.

    Dialah yang mengirimkan bekalan makanan dan minuman kepada mereka. Lantaran peristiwa inilah, Asma’ digelar sebagai “dzatun nithaqain” yang membawa maksud wanita yang mempunyai dua ikat pinggang.

    Gelaran ini diberikan ketika Asma’ hendak mengikat karung makanan dan tempat minuman yang akan dikirim kepada Rasulullah dan Abu Bakar. Pada waktu itu, Asma’ tidak memiliki tali untuk mengikatnya, maka dia memotong ikat pinggangnya menjadi dua,satu untuk mengikat karung makanan dan satu lagi untuk mengikat tempat air minum. Ketika Rasulullah mengetahui hal ini, baginda berdoa semoga Allah akan menggantikan ikat piinggang Asma’ dengan dua ikat pinggang yang lebih baik dan indah di syurga.

    Asma’ berkahwin dengan Zubir bin Awwam, seorang pemuda dari golongan biasa yang tidak memiliki harta, kecuali seekor kuda. Namun demikian, Asma’ tidak kecewa. Dia tetap setia melayan suaminya. Sekiranya suaminya sibuk menyebarkan tugas daripada Rasulullah, Asma’ tidak segan merawat dan menumbuk biji kurma untuk makanan kuda suaminya. Hasil perkahwinannya, Allah menganugerahi mereka seorang anak yang cerdas yang diberi nama Abdullah bin Zubir.

    Asma’ memiliki beberapa sifat istimewa. Selain cantik, dia mempunyai sifat yang hampir sama dengan dengan saudaranya Aisyah, cerdas, pantas dan lincah. Sifatnya yang pemurah menjadi teladan kepada ramai orang. Waktu terus berlalu, anaknya Abdullah bin Zubir diangkat menjadi Khalifah menggantikan Yazid bin Mu’awwiyah yang wafat. Bani Umaiyah tidak rela dengan kepemimpinan Abdullah bin Zubir. Mereka menyiapkan tentera yang besar dalam pimpinan Panglima Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi untuk menggulingkan Khalifah Abdullah bin Zubir. Perang di antara dua kekuatan itu tidak dapat dihindari.Lalu, Abdullah bin Zubir turun ke medan perang untuk memimpin pasukannya.

    Tetapi, tenteranya belot dan pergi kepada pihak Bani Umaiyah.Akhirnya, dengan jumlah tentera yang sedikit, pasukan Abdullah binZubir undur ke Baitul Laham, bersembunyi di bawah Kaabah. Beberapa saatsebelum kekalahannya, Abdullah bin Zubir menemui ibunya. Ibunya bertanya,”Mengapa engkau datang ke sini, padahal batu besaryang dilontarkan pasukan Hajjaj kepada pasukanmu menggetarkan seluruhkota Makkah? “Aku datang hendak meminta nasihat daripada ibu,” jawab Abdullah dengan rasa hormat. “Mengenai apa?” tanya Asma’ lagi. “Tentera aku banyak yang belot.Mungkin kerana takut kepada Hajjaj atau mungkin juga merekamenginginkan sesuatu yang dijanjikan.

    Tentera yang ada sekarangnampaknya tidak akan sabar bertahan lebih lama bersama aku. “Sementara itu, utusan Bani Umaiyah menawarkan kepadaku apa sajayang aku minta berupa kemewahan dunia, asal aku bersedia meletakkansenjata dan bersumpah setia mengangkat Abdul Malik bin Marwan sebagaiKhalifah. Bagaimana pendapat ibu?”tanya Abdullah. Asma’ menjawab dengansuara tinggi,”Terserah engkau, wahai Abdullah! Bukankah engkau sendiriyang lebih tahu tentang dirimu. ”Apabila engkau yakin dalam kebenaran, maka teguhkan hatimu sepertitentera engkau yang gugur.

    Tetapi apabila engkau menginginkan kemewahan dunia, tentu engkau seorang lelaki yang pengecut. Bererti engkau mencelakakan diri sendiri, menjual murah sebuah kepahlawanan.”

    Abdullah bin Zubir, menundukkan kepala di depan ibunya yang kecewa. Ibunya, walaupun tua dan buta, namun Abdullah seorang khalifah dan panglima yang gagah berani tidak sanggup melihat wajah ibunya kerana rasa hormat dan kasih kepadanya. “Tetapi aku akan terbunuh hari ini, ibu,”kata Abdullah lembut. “Itu lebih baik bagimu, daripada engkau menyerahkan diri kepadaHajjaj.

    Akhirnya kepala kamu akan dipijak-pijak oleh Bani Umaiyah dengan memberikan janji mereka yang sukar untuk dipercayai,”kata ibunya tegas. “Aku tidak takut mati, ibu! Tetapi aku khuatir mereka akan mencincang dan merobek-robek jenazah aku dengan kejam,” ujar Abdullah lagi. “Tidak ada apa yang perlu ditakuti dengan perbuatan orang hidup terhadap orang mati. Bukankah kambing yang disembelih tidak merasa sakit lagi ketika disiat?” jawab Asma’. “Yang ibu khuatir kalau engkau mati di jalan yang sesat,” sambung Asma’ lagi. “Percayalah ibu, aku tidak memiliki fikiran sesat untuk melakukan perbuatan keji. Aku tidak akan melanggar hukum Allah. Aku bukan pengecut dan aku lebih mengutamakan keredhaan Allah dan keredhaan ibu,” ucap Abdullah bersemangat.

    Nasihat Asma’ memberi semangat kepada Abdullah untuk mempertahankan dan membela kebenaran. Sebelum matahari terbenam, Abdullah mati syahid menemui Allah.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 3 January 2012 Permalink | Balas  

    Natirah Yang Berjuang 

    Natirah Yang Berjuang

    Natirah, 33 tahun adalah janda cerai sejak tiga tahun lalu. Ia ditinggal suaminya dengan diwarisi rumah tipe 21 yang baru lunas tiga tahun mendatang. Selain itu ia juga berkewajiban menghidupi anak-anak yang tiga orang, dan tetap mempertahankan mereka untuk sekolah. Yang pertama di SMK, yang terakhir masih SD. Untuk itu ia mencoba berjualan rempeyek. Namun mengandalkan usaha kecil ini tidak menyelesaikan masalah. Untungnya kecil, tak cukup untuk makan satu hari. Dalam keterbatasannya Natirah tetap punya cita-cita dapat mengantarkan anaknya hingga jenjang kuliah. Apakah mungkin, terkadang ia tertawa geli. Lulus sekolah saja rasanya sudah beruntung. Namun Natirah bukan sosok yang mudah menyerah. Ia sanggup berjuang!

    Kemudian terbersitlah didalam pikirannya bagaimana jika ia mengojek? Tapi ia tak punya motor. Apalagi wanita jadi tukang ojek sungguh hal yang tidak biasa, duh malunya! Apa kata tetangga? Namun pikiran dan perasaan malu itu hanya sekejap melintas. Nasib anak-anak dan menjaga kelangsungan hidup keluarga menghapus pikiran tersebut.

    Natirah dipinjami motor oleh kakaknya, maka Natirah memutuskan menjadi tukang ojek bagi anak-anak sekolah. Mulanya ia malu untuk menawarkan jasa, tapi kebutuhan di depan mata tak bisa dipenuhi dengan rasa malu dan gengsi. Natirah yang lulusan SMP ini perlahan menekuni profesi yang tak biasa ini. Kini ia punya sembilan pelanggan ojek. Ia mengawali waktu kerjanya sejak pukul 06.00 Satu kali angkut ia membonceng dua anak. Usai mengantar pelanggan ia pulang mengambil dagangan rempeyek, yang ia jajakan dari rumah ke rumah; warung ke warung. Jam 10.00 ia berhenti dan Natirah kembali menjemput pelanggannya, hingga waktu dzuhur. Ia setia menunggu sambil melaksanakan solat di mushala sekolah. Setelahnya ia pulang; istirahat sejenak dan kemudian mengasuh anak-anak yang ditinggal orang tuanya bekerja. Natirah membawa anak-anak itu untuk dijaga di rumahnya yang sempit. Sambil menjaga anak-anak itu, ia memasak untuk makan anaknya sepulang sekolah. Biasanya ia juga membuat adonan rempeyek untuk digoreng malam harinya. Anita anak pertamanya selalu membantu hingga larut malam untuk menggoreng dan membungkus rempeyek. Sementara anaknya yang lain belajar. Natirah sangat bersyukur jerih payahnya terbalas oleh prestasi sekolah anak-anaknya yang membanggakan.

    Menjelang Subuh, Natirah bangun untuk tahajud. Ia mengadu dan berdoa pada Allah SWT. Paginya ia merasa punya enerji baru demi membawa anak-anaknya menuju hidup yang lebih baik.

    Di Bumi Sawangan Indah, Pengasinan, Sawangan, Depok, pengemudi ojek Natirah Ratnasari dengan jilbab dan kacamata hitamnya cukup dikenal. Natirah sungguh seorang perempuan dan ibu teladan yang baik, ramah dan supel. Ia tangguh, dinamis dan ulet. Perjuangan Natirah sejogyanya menjadi inspirasi bagi kaum yang lemah dan terpuruk.

    ***

    Sebagian besar kisah ini dikutip dari REPUBLIKA.

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 2 January 2012 Permalink | Balas  

    Mimpi Rasulullah S.A.W 

    Mimpi Rasulullah S.A.W

    Dari Abdul Rahman Bin Samurah ra berkata, Nabi Muhammad saw bersabda: “Sesungguhnya aku telah mengalami mimpi- mimpi yang menakjubkan pada malam aku sebelum di Israqkan……..”

    1. Aku telah melihat seorang dari umatku telah didatang oleh malaikatul maut dengan keadaan yang amat mengerunkan untuk mengambil nyawanya, maka malaikat itu terhalang perbuatannya itu disebabkan oleh KETAATAN DAN KEPATUHANNYA KEPADA KEDUA IBUBAPANYA.
    2. Aku melihat seorang dari umatku telah disediakan azab kubur yang amat menyiksakan, diselamatkan oleh berkat WUDUKNYA YANG SEMPURNA.
    3. Aku melihat seorang dari umatku sedang dikerumuni oleh syaitan-syaitan dan iblis-iblis lakhnatullah, maka ia diselamatkan dengan berkat ZIKIRNYA YANG TULUS IKHLAS kepada Allah.
    4. Aku melihat bagaimana umatku diseret dengan rantai yang diperbuat daripada api neraka jahanam yang dimasukkan dari mulut dan dikeluarkan rantai tersebut ke duburnya oleh malaikat Ahzab, tetapi SOLATNYA YANG KHUSUK DAN TIDAK MENUNJUK-NUNJUK telah melepaskannya dari siksaan itu.
    5. Aku melihat umatku ditimpa dahaga yang amat berat, setiap kali dia mendatangi satu telaga dihalang dari meminumnya,ketika itu datanglah pahala PUASANYA YANG IKHLAS KEPADA ALLAH SWT memberi minum hingga dia merasa puas.
    6. Aku melihat umatku mencoba untuk mendekati kumpulan para nabi yang sedang duduk berkumpulan-kumpulan, setiap kali dia datang dia akan diusir, maka menjelmalah MANDI JUNUB DENGAN RUKUN YANG SEMPURNANYA sambil ke kumpulanku seraya duduk disebelahku.
    7. Aku melihat seorang dari umatku berada di dalam keadan gelap gelita disekelilingnya, sedangkan dia sendiri di dalam keadaan binggung, maka datanglah pahala HAJI DAN UMRAHNYA YANG IKHLAS KEPADA ALLAH SWT lalu mengeluarkannya dari kegelapan kepada tempat yang terang-menderang.
    8. Aku melihat umatku mencoba berbicara dengan golongan orang mukmin tetapi mereka tidakpun membalas bicaranya, maka menjelmalah SIFAT SILATURRAHIMNYA DAN TIDAK SUKA BERMUSUH-MUSUHAN SESAMA UMATKU lalu menyeru kepada mereka agar menyambut bicaranya, lalu berbicara mereka dengannya.
    9. Aku melihat umatku sedang menepis-nepis percikan api ke mukanya, maka segeralah menjelma pahala SEDEKAHNYA YANG IKHLAS KARENA ALLAH SWT lalu menabir muka dan kepalanya dari bahaya api tersebut.

    Buat renungan bersama…

    ***

    Dari Sahabat

     
    • shinta 10:49 am on 13 Januari 2012 Permalink

      Subhanaallah…ya ALLAH..jadikanlah kami hamba2MU yg istiqomah menjalankan perintahMU dan menjauhi laranganMU

  • erva kurniawan 1:51 am on 1 January 2012 Permalink | Balas  

    Manisnya iman 

    Manisnya iman

    Rasulullah SAW bersabda: “Manisnya iman tidak akan merasuk ke dalam hati seseorang hingga dia mahu meninggalkan sebahagian ucapan kerana takut dusta, meskipun dia itu jujur; dan mahu meninggalkan sebahagian sanggahan meskipun dia itu benar.” (HR Dailami)

    “Barangsiapa benar-benar bersabar dalam menghadapi masalah yang amat sulit, nescaya Allah akan menempatkannya di syurga Firdaus dan di dalamnya dia boleh memilih tempat di mana saja yang disukainya” (HR Abu Syaikh)

     “Siapa yang tergiur memenuhi syahwatnya (yang haram) namun dia mampu untuk menolaknya dan lebih mengutamakan penolakannya daripada memenuhi keinginan dirinya, maka dosa-dosanya diampuni” (HR Daraquthni)

     “Tidaklah seorang hamba mengucapkan suatu ucapan yang maksudnya hanya untuk membuat orang lain tertawa, melainkan sungguh dia telah jatuh ke dalam jurang yang ukuran dalamnya lebih jauh daripada jarak antara langit dan bumi; dan sungguh dia tergelincir kerana olah lisannya yang kadarnya lebih parah daripada ketergelinciran kedua kakinya” (HR Khara’ithi)

    “Diam adalah akhlaq yang terbaik, barangsiapa suka humor, tentu dia akan dihinakan” (HR Dailami)

    “Ada enam faktor yang boleh menghapus amal kebaikan: iaitu suka memerhatikan atau membicarakan aib orang lain, hati yang keras beku (tidak mahu menerima nasihat orang lain), cinta keduniaan, kurang memiliki rasa malu, panjang angan-angan, dan senantiasa berbuat zalim (kepada orang lain)” (HR Dailami)

    ***

    Dari Sahabat

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: