Updates from Desember, 2018 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:38 am on 31 December 2018 Permalink | Balas  

    Sumber Nilai Islam (2) 

    Sumber Nilai Islam (2)

    1. Sejarah Kodifikasi dan Perkembangan Al-Qur’an

    Allah SWT akan menjamin kemurnian dan kesucian Al-Qur’an, akan selamat dari usaha-usaha pemalsuan, penambahan atau pengurangan-pengurangan. (15:9;75:17-19). Dalam catatan sejarah dapat dibuktikan bahwa proses kodifikasi dan penulisan Qur’an dapat menjamin kesuciannya secara meyakinkan. Al-Qur’an ditulis sejak Nabi SAW masih hidup. Begitu wahyu turun kepada Nabi SAW, Nabi langsung memerintahkan para sahabat penulis wahyu untuk menuliskannya secara hati-hati. Begitu mereka tulis, kemudian mereka hafalkan sekaligus mereka amalkan.

    Pada awal pemerintahan khalifah yang pertama dari Khulafaur Rasyidin, yaitu Abu Bakar Shiddiq, Qur’an telah dikumpulkan dalam mushhaf tersendiri. Dan pada zaman khalifah yang ketiga, ‘Utsman bin ‘Affan, Qur’an telah sempat diperbanyak. Alhamdulillah Qur’an yang asli itu sampai saat ini masih ada.

    Dalam perkembangan selanjutnya, tumbuh pula usaha-usaha untuk menyempurnakan cara-cara penulisan dan penyeragaman bacaan, dalam rangka menghindari adanya kesalahan-kesalahan bacaan maupun tulisan. Karena penulisan Qur’an pada masa pertama tidak memakai tanda baca (tanda titik dan harakat). Maka Al-Khalil mengambil inisiatif untuk membuat tanda-tanda yang baru,yaitu huruf waw yang kecil diatas untuk tanda dhammah, huruf alif kecil diatas sebagai tanda fat-hah, huruf alif yang kecil dibawah untuk tanda kasrah, kepala huruf syin untuk tanda shiddah, kepala ha untuk sukun, dan kepala ‘ain untuk hamzah.

    Kemudian tanda-tanda ini dipermudah, dipotong, dan ditambah sehingga menjadi bentuk yang sekarang ada. Dalam perkembangan selanjutnya tumbuhlah beberapa macam tafsir Qur’an yang ditulis oleh ulama-ulama Islam, yang sampai saat ini tidak kurang dari 50 macam tafsir Qur’an. Juga telah tumbuh pula berbagai macam disiplin ilmu untuk membaca dan membahas Qur’an.

    1. Ilmu-ilmu yang Membahas Hal-hal yang Berhubungan dengan al-Qur’an antara lain :
    • Ilmu Mawathin Nuzul, yaitu ilmu yang membahas tentang tempat-tempat turunnya ayat Qur’an.
    • Ilmu Asbabun Nuzul, yaitu ilmu yang membahas sebab-sebab turunnya ayat Al-qur’an.
    • Ilmu Tajwid, yaitu ilmu yang membahas tentang teknik membaca Al-Qur’an.
    • Gharibil Qur’an, yaitu ilmu yang membahas tentang kalimat-kalimat yang asing artinya dalam Al-Qur’an.
    • Ilmu Wajuh wa Nadhar, yaitu ilmu yang membahas tentang kalimat yang mempunyai banyak arti dan makna apa yang dikehendaki oleh sesuatu ayat dalam Al-Qur’an.
    • Ilmu Amtsalil Qur’an, yaitu ilmu yang membahas tentang perumpamaan-perumpamaan dalam Al-Qur’an.
    • Ilmu Aqsamil Qur’an, yaitu ilmu yang mempelajari tentang maksud-maksud sumpah Tuhan dalam Al-Qur’an.
    • Dan masih banyak lagi.

    4. Pembagian Isi al-Qur’an

    Al-Qur’an terdiri dari 114 surat; 91 surat turun di Makkah dan 23 surat turun di Madinah. Ada pula yang berpendapat, 86 turun di Makkah, dan 28 di Madinah. Surat yang turun di Makkah dinamakan surat Makkiyyah, pada umumnya suratnya pendek-pendek, menyangkut prinsip-prinsip keimanan dan akhlaq, panggilannya ditujukan kepada manusia.

    Sedangkan yang turun di Madinah disebut surat Madaniyyah, pada umumnya suratnya panjang-panjang, menyangkut peraturan-peraturan yang mengatur hubungan seseorang dengan Tuhan atau seseorang dengan lainnya ( syari’ah ). Diperkirakan 19/30 juz turun di Madinah.

    Atas inisiatif para ulama maka kemudian Al-Qur’an dibagi-bagi menjadi 30 juz. Dalam tiap juz dibagi-bagi kepada setengah juz, seperempat juz, maqra dan lain-lain.

    1. Nama-nama al-Qur’an

    Al-Kitab = Tulisan yang Lengkap ( 2:2 ).

    Al-Furqan = Memisahkan yang Haq dari yang Bathil ( 25:1 ).

    Al-Mau’idhah = Nasihat ( 10:57 ).

    Asy-Syifa’ = Obat ( 10:57 ).

    Al-Huda = Yang Memimpin ( 72:13 ).

    Al-Hikmah = Kebijaksanaan ( 17:39 ).

    Al-Hukmu = Keputusan ( 13:37 ).

    Al-Khoir = Kebaikan ( 3:103 ).

    Adz-Dzikru = Peringatan ( 15:9 ).

    Ar-Ruh = Roh ( 42:52 ).

    Al-Muthohharoh = Yang Disucikan ( 80:14 ).

    1. Nama-nama Surat Berdasarkan Urutan Turunnya

    Makkiyah.

    Al-‘Alaq, Al-Qalam, Al-Muzammil, Al-Muddatstsir, Al-Fatihah, Al-Masad (Al-Lahab), At-Takwir, Al-A’la, Al-Lail, Al-Fajr, Adh-Dhuha, Alam Nasyrah (Al-Insyirah), Al-‘Ashr, Al-‘Adiyat, Al-Kautsar, At-Takatsur, Al-Ma’un, Al-Kafirun, Al-Fil, Al-Falaq, An-Nas, Al-Ikhlas, An-Najm, ‘Abasa, Al-Qadar, Asy-Syamsu, Al-Buruj, At-Tin, Al-Quraisy, Al-Qari’ah, Al-Qiyamah, Al-Humazah, Al-Mursalah, Qaf, Al-Balad, Ath-Thariq, Al-Qamar, Shad, Al-A’raf, Al-Jin, Yasin, Al-furqan, Fathir, Maryam, Thaha, Al-Waqi’ah, Asy-Syu’ara, An-Naml, Al-Qashash, Al-Isra, Yunus, Hud, Yusuf, Al-Hijr, Al-An’am, Ash-Shaffat, Lukman, Saba’, Az-Zumar, Ghafir, Fushshilat, Asy-Syura, Az-Zukhruf, Ad-Dukhan, Al-Jatsiyah, Al-Ahqaf, Adz-Dzariyah, Al-Ghasyiah, Al-Kahf, An-Nahl, Nuh, Ibrahim, Al-Anbiya, Al-Mu’minun, As-Sajdah, Ath-Thur, Al-Mulk, Al-Haqqah, Al-Ma’arij, An-Naba’, An-Nazi’at, Al-Infithar, Al-Insyiqaq, Ar-Rum, Al-Ankabut, Al-Muthaffifin, Az-Zalzalah, Ar-Ra’d, Ar-Rahman, Al-Insan, Al-Bayyinah.

    Turunnya surah-surah Makkiyyah lamanya 12 tahun, 5 bulan, 13 hari, dimulai pada 17 Ramadhan 40 tahun usia Nabi. ( Febr.610 M ).

    Madaniyyah.

    Al-Baqarah, Al-Anfal, Ali-Imran, Al-Ahzab, Al-Mumtahanah, An-Nisa’, Al-Hadid, Al-Qital, Ath-Thalaq, Al-Hasyr, An-Nur, Al-Haj, Al-Munafiqun, Al-Mujadalah, Al-Hujurat, At-Tahrim, At-Taghabun, Ash-Shaf, Al-Jum’at, Al-Fath, Al-Maidah, At-Taubah dan An-Nashr (1).

    1. Susunan Al-Qur’an dalam Sistematika yang ada Sekarang.

    Al-Fatihah, Al-Baqarah, Ali-Imran, An-Nisaa’, Al-Maa-idah, Al-An’aam, Al-A’raaf, Al-Anfaal, At-Taubah, Yunus, Hud, Yusuf, Ar-Ra’d, Ibrahim, Al-Hijr, An-Nahl, Al-Isra’, Al-Kahfi, Maryam, Thaha, Al-Anbiyaa’, Al-Hajj, Al-Mu’minun, An-Nuur, Al-Furqaan, Asy-Syu’ara’, An-Naml, Al-Qashash, Al-Ankabut, Ar-Ruum, Luqman, As-Sajadah, Al-Ahzab, Saba’, Faathir, Yaa Siin, Ash-Shaffaat, Shaad, Az-Zumar, Al-Mu’min, Fushshilat, Asy-Syuura, Az-Zukhruf, Ad-Dukhaan, Al-Jaatsiyah, Al-Ahqaaf, Muhammad, Al-Fat-h, Al-Hujurat, Qaaf, Adz-Dzaariyaat, Ath-Thuur, An-Najm, Al-Qamar, Ar-Rahmaan, Al-Waaqi’ah, Al-Hadiid, Al-Mujaadilah, Al-Hasyr, Al-Mumtahanah, Ash-Shaff, Al-Jumu’ah, Al-Munaafiquun, At-Taghaabun, Ath-Thalaq, At-Tahrim, Al-Mulk, Al-Qalam, Al-Haaqqah, Al-Ma’aarij, Nuh, Al-Jin, Al-Muzzammil, Al-Muddatstsir, Al-Qiyaamah, Al-Insaan, Al-Mursalaat, An-Naba’, An-Naazi’aat, ‘Abasa, At-Takwiir, Al-Infithar, Al-Muthaffifiin, Al-Insyiqaaq, Al-Buruuj, Ath-Thaariq, Al-A’laa, Al-Ghaasyiyah,Al-Fajr, Al-Balad, Asy-Syams, Al-Lail, Adh-Dhuhaa, Alam Nasyrah, At-Tiin, Al-‘Alaq, Al-Qadar, Al-Bayyinah, Al-Zalzalah, Al-‘Aadiyaat, Al-Qaari’ah, At-Takaatsur, Al-‘Ashr, Al-Humazah, Al-Fiil, Al-Quraisy, Al-Maa’un, Al-Kautsar, Al-Kaafiruun, An-Nashr, Al-Lahab, Al-Ikhlash, Al-Falaq, An-Naas.

    ***

    KENALILAH AGAMA MU (2/18)

    Iklan
     
  • erva kurniawan 1:35 am on 31 December 2018 Permalink | Balas  

    Sumber Nilai Islam (1) 

    Sumber Nilai Islam

    Ketika Rasulullah saw mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, beliau bertanya kepada Mu’adz, ” Dengan pedoman apa anda memutuskan suatu urusan ?”.

    Jawab Mu’adz : Dengan Kitabullah.

    Tanya Rasul : Kalau tidak ada dalam al Qur’an ?

    Jawab Mu’adz : DenganSunnah Rasulullah.

    Tanya Rasul : Kalau dalam Sunnah juga tidak ada?

    Jawab Mu’adz :Saya berijtihad dengan fikiran saya.

    Tanya Rasul : Maha Suci Allah yang telah memberikan bimbingan kepada utusan Rasul-NYA, dengan satu sikap yang disetujui Rasul-NYA (HR. Abu Dawud dan Tarmudzi).

    Dari peristiwa ini dapat diambil kesimpulan tentang nilai dan sumber nilai Islam, yaitu al-Qur’an, Sunnah dan ijtihad. Ayat-ayat al-Qur’an yang mendukung bahwa al-Qur’an, as-Sunnah, dan ijtihad merupakan nilai dan sumber nilai seorang Muslim, dapat kita temukan dalam banyak surat.

    Kesimpulan lain yang dapat diambil dari peristiwa tsb. diatas ialah bahwa penggunaan tiga sumber nilai itu hendaknya; diprioritaskan yang pertama, kemudian yang kedua dan selanjutnya baru yang ketiga. Konsekwensinya adalah apabila bertentangan satu dengan yang lain, maka hendaknya dipilih al-Qur’an terlebih dahulu, kemudian yang kedua al-Hadits.

    Yang perlu dicatat adalah bahwa, sekalipun ketiga-tiganya adalah sumber nilai, akan tetapi antara satu dengan yang lainnya mempunyai tingkat kualitas dan bobot yang berbeda-beda dengan pengaruh hukum yang berbeda-beda pula, namun harus tetap berpokok pada yang pertama.

    A. AL-QUR’AN

    1. Fungsi dan Peranan al-Qur’an

    Al-Qur’an adalah wahyu Allah (7:2) yang berfungsi sebagai mu’jizat bagi Rasulullah Muhammad saw (17:88; 10:38) sebagai pedoman hidup bagi setiap Muslim (4:105; 5:49,50; 45:20) dan sebagai korektor dan penyempurna terhadap kitab-kitab Allah yang sebelumnya (5:48,15; 16:64), dan bernilai abadi.

    Sebagai mu’jizat, Al-Qur’an telah menjadi salah satu sebab penting bagi masuknya orang-orang Arab di zaman Rasulullah ke dalam agama Islam, dan menjadi sebab penting pula bagi masuknya orang-orang sekarang, dan (insya Allah) pada masa-masa yang akan datang.

    Ayat-ayat yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dapat meyakinkan kita bahwa Al-Qur’an adalah firman-firman Allah, tidak mungkin ciptaan manusia apalagi ciptaan Nabi Muhammad saw yang ummi (7:158) yang hidup pada awal abad ke enam Masehi (571 – 632 M). Diantara ayat-ayat tersebut umpamanya : 39:6; 6:125; 23:12,13,14; 51:49; 41:11-41; 21:30-33; 51:7,49 dan lain-lain.

    Demikian juga ayat-ayat yang berhubungan dengan sejarah seperti tentang kekuasaan di Mesir, Negeri Saba’. Tsamud, ‘Ad, Yusuf, Sulaiman, Dawud, Adam, Musa dan lain-lain dapat memberikan keyakinan kepada kita bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah bukan ciptaan manusia.

    Ayat-ayat yang berhubungan dengan ramalan-ramalan khusus yang kemudian dibuktikan oleh sejarah seperti tentang bangsa Romawi, berpecah-belahnya Kristen dan lain-lain juga menjadi bukti lagi kepada kita bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah SWT. (30:2,3,4;5:14).

    Bahasa Al-qur’an adalah mu’jizat besar sepanjang masa, keindahan bahasa dan kerapihan susunan katanya tidak dapat ditemukan pada buku-buku bahasa Arab lainnya. Gaya bahasa yang luhur tapi mudah dimengerti adalah merupakan ciri dari gaya bahasa Al-Qur’an. Karena gaya bahasa yang demikian itulah ‘Umar bin Khattab masuk Islam setelah mendengar Al-Qur’an awal surat Thaha yang dibaca oleh adiknya Fathimah.

    Abul Walid, diplomat Quraisy waktu itu, terpaksa cepat-cepat pulang begitu mendengar beberapa ayat dari surat Fushshilat yang dikemukakan Rasulullah SAW sebagai jawaban atas usaha-usaha bujukan dan diplomasinya.

    Bahkan Abu Jahal musuh besar Rasulullah SAW, sampai tidak jadi membunuh Nabi SAW karena mendengar surat adh-Dhuha yang dibaca Nabi SAW.

    Tepat apa yang dinyatakan Al-Qur’an, bahwa sebab seorang tidak menerima kebenaran Al-Qur’an sebagai wahyu Ilahi adalah salah satu diantara dua sebab, yaitu :

    1. Tidak berpikir dengan jujur dan sungguh-sungguh.
    2. Tidak sempat mendengar dan mengetahui Al-Qur’an secara baik (67:10, 4:82). Oleh Al-Qur’an disebut Al-Maghdhub (dimurkai Allah) karena tahu kebenaran tetapi tidak mau menerima kebenaran itu, dan disebut adh-dhollin (orang sesat) karena tidak menemukan kebenaran itu. Sebagai jaminan bahwa Al-Qur’an itu wahyu Allah, maka Al-Qur’an sendiri menantang setiap manusia untuk membuat satu surat saja yang senilai dengan Al-Qur’an (2:23, 24, 17:88). Sebagai pedoman hidup, Al-Qur’an banyak mengemukakan pokok-pokok serta prinsip-prinsip umum pengaturan hidup dalam hubungan antara manusia dengan Allah dan mahluq lainnya.

    Didalamnya terdapat peraturan-peraturan seperti :

    • beribadah langsung kepada Allah (2:43,183,184,196,197; 11:114),
    • berkeluarga (4:3, 4,15,19,20,25; 2:221; 24:32; 60:10,11),
    • bermasyarakat (4:58; 49:10,13; 23:52; 8:46; 2:143),
    • berdagang (2:275,276,280; 4:29),
    • utang-piutang (2:282),
    • kewarisan (2:180; 4:7-12,176; 5:106),
    • pendidikan dan pengajaran (3:159; 4:9,63; 31:13-19; 26:39,40),
    • pidana (2:178; 4:92,93; 5:38; 10:27; 17:33; 26:40),
    • dan aspek-aspek kehidupan lainnya yang oleh Allah SWT dijamin dapat berlaku dan dapat sesuai pada setiap tempat dan setiap waktu (7:158; 34:28; 21:107).

    Setiap Muslim diperintahkan untuk melakukan seluruh tata nilai tersebut dalam kehidupannya (2:208; 6:153; 9:51). Dan sikap memilih sebagian dan menolak sebagian tata nilai itu dipandang Al-Qur’an sebagai bentuk pelanggaran dan dosa (33:36). Melaksanakannya dinilai ibadah (4:69; 24:52; 33:71), memperjuangkannya dinilai sebagai perjuangan suci (61:10-13; 9:41), mati karenanya dinilai sebagai mati syahid (3:157, 169), hijrah karena memperjuangkannya dinilai sebagai pengabdian yang tinggi (4:100, 3:195), dan tidak mau melaksanakannya dinilai sebagai zhalim, fasiq, dan kafir (5:44,45,47).

    Sebagai korektor Al-Qur’an banyak mengungkapkan persoalan-persoalan yang dibahas oleh kitab-kitab Taurat, Injil, dan lain-lain yang dinilai Al-Qur’an sebagai tidak sesuai dengan ajaran Allah yang sebenarnya. Baik menyangkut segi sejarah orang-orang tertentu, hukum-hukum, prinsip-prinsip ketuhanan dan lain sebagainya.

    Sebagai contoh koreksi-koreksi yang dikemukakan Al-Qur’an tersebut antara lain sebagai berikut :

    1. Tentang ajaran Trinitas (5:73).
    2. Tentang Isa (3:49, 59; 5:72, 75).
    3. Tentang penyaliban Nabi Isa (4:157,158).
    4. Tentang Nabi Luth (29:28-30; 7:80-84) perhatikan, (Genesis : 19:33-36).
    5. Tentang Harun (20:90-94), perhatikan, (keluaran : 37:2-4).
    6. Tentang Sulaiman (2:102; 27:15-44), perhatikan (Raja-raja 21:4-5) dan lain-lain.

    ***

    KENALILAH AGAMA MU (1/18)

     
  • erva kurniawan 2:23 am on 30 December 2018 Permalink | Balas  

    Mengatasi Penyakit Dalih 

    Mengatasi Penyakit Dalih

    Sembilan puluh sembilan persen kegagalan datang dari orang yang punya kebiasaan suka membuat alasan, begitu kata George Washington Carver. Daripada mencari jalan keluar, mereka memilih untuk membuat 1001 dalih mengenai kegagalan mereka. Alhasil, kesempatan belajar pun terlewatkan begitu saja.

    Dalam buku The Magic of Thinking Big, David J. Schwartz menjelaskan mengenai penyakit pikiran yang mematikan alias penyakit dalih (excuisitis). Orang-orang gagal senantiasa berdalih mengenai kegagalan mereka. Penyakit dalih tersebut biasanya muncul 4 bentuk, yaitu: dalih kesehatan, dalih inteligensi, dalih usia dan dalih nasib.

    Dalih kesehatan biasanya ditandai dengan ucapan, “Kondisi fisik saya tidak sempurna”, “Saya tidak enak badan”, “Jantung saya lemah”, dan sejenisnya. Orang sukses tidak pernah menganggap cacatnya itu sebagai hambatan. Saya punya sahabat dekat yang menderita polio namun dikenal sebagai dokter spesialis ginjal sukses dan murah hati. Sejumlah besar tokoh-tokoh dunia bahkan punya cacat fisik. Presiden Amerika ke-32 Franklin Delano Roosevelt menderita polio, Shakespeare lumpuh, Beethoven tuli, Napoleon Bonaparte memiliki postur tubuh yang sangat pendek.

    Dalih inteligensi diitandai dengan ucapan, “Saya kan tidak pintar”, “Saya kan bukan rangking teratas”, “Dia lebih pandai”, dan sejenisnya. Inilah dalih yang paling umum ditemukan. Tanpa bermaksud mengecilkan arti sekolah, saya ingin mengatakan kepa Anda bahwa tidak perlu jadi profesor agar Anda bisa sukses. Selanjutnya, dalih usia yang ditandai dengan ucapan, “Saya terlalu tua”, “Saya masih terlalu muda”, “Biarkan yang lebih tua yang duluan”, dan sejenisnya. Padahal tidak ada batasan usia dalam meraih sukses. Kolonel Sanders memulai usahanya di usia 65 tahun. Berikutnya adalah dalih nasib, misalnya dengan mengatakan , “Aduh, nasib saya memang selalu jelek”, “Itu sudah nasibku”, “Itu memang takdir” Memang amat mudah untuk selalu menyalahkan nasib. Padahal nasib kita ditentukan oleh kita sendiri. Tuhan telah memberikan hidup dengan sejumlah pilihan.

    Baru-baru ini, hati saya tertegun ketika menyaksikan siaran televisi tentang seorang anak kecil yang ahli memainkan drum dalam kebaktian rutin setiap minggunya pada sebuah gereja di Thailand. Titi, nama bocah yang baru berusia 3 tahun itu memang layak dijuluki “drummer cilik”. Bertubuh mungil dengan 2 jari yang tidak sempurna, Titi yang masih suka nge-dot ini menunjukkan kebolehannya menabuh drum. Tak berlebihan jika banyak yang menyarankan agar ia dimasukkan dalam Guiness Book of Record.

    Prestasi yang diraih Titi sungguh menggugah kesadaran saya. Lihatlah betapa banyaknya orang yang memilih berdiam diri daripada melakukan apa yang bisa mereka perbuat. Padahal apapun yang layak diraih layak diupayakan dengan seluruh kemampuan yang kita miliki. Sayangnya, potensi diri ini kerap hanya terkubur karena kebiasan kita membuat dalih jika apa yang kita kerjakan tidak berjalan sesuai harapan kita atau hasilnya tidak segera kelihatan. Gaya hidup modern yang serba instant secara tidak langsung membuat kita sering mengharapkan hasil yang instant pula. Kita kepengen sekali makan durian tanpa mau menanam, menyiram, memupuki dan merawat pohonnya.

    Saya sendiri sempat terkejut membaca cerita tentang ilmuwan besar seperti Albert Einstein yang pernah diusir dari sekolah karena dianggap lamban. Ia bahkan mendapat nilai buruk dalam pelajaran bahasa Yunani karena ingatannya yang lemah. “Tak peduli apa pun yang kamu lakukan, kamu takkan dapat melakukan apa-apa,” kata gurunya. Guru lainnya menimpali, “Kamu Cuma merusak kelas saya!”. Bahkan kepala sekolahnya mengatakan kalau Einstein tidak akan sukses dalam apa pun yang dikerjakannya.

    Saya juga teringat kepada Thomas Alfa Edison yang hanya bersekolah beberapa bulan namun tercatat sebagai pencipta terbesar sepanjang jaman dengan lebih dari 1.000 hak paten. “Saya mempunyai banyak ide tapi hanya sedikit waktu,” ujarnya. Edison gagal di sekolah. Gurunya merasa Edison tidak punya minat belajar, pemimpi dan mudah sekali terpecah konsentrasinya. Yang sungguh membuat saya terharu adalah sikap Ibu Edison terhadap putranya. Ia terus mengajari Edison di rumah dan setiap kali Edison gagal, ibunya memberi harapan dan mendorongnya untuk terus berusaha.

    Kalau orang gagal senantiasa berkata “itu tidak mungkin berhasil” maka orang sukses lebih suka berkata “mengapa tidak mencobanya dulu?”. Daripada membuat alasan, orang sukses memilih untuk mencari cara mewujudkan impian mereka. Daripada berdiam diri dan menunggu datangnya kesempatan, mereka memilih pergi keluar dan menemukan kesempatan itu. Bahkan mereka mampu menciptakan kesempatan dalam kesempitan. E.M. Gray menegaskan, orang-orang sukses mempunyai kebiasaan melakukan hal-hal yang tidak suka dilakukan orang gagal. Jika saat ini Anda masih suka membuat dalih, buatlah komitmen untuk mengubah kebiasaan itu. Jangan biarkan potensi diri Anda dibelenggu oleh dalih-dalih Anda. Ingat selalu nasihat Theodore Roosevelt, “Lakukan apa yang Anda bisa, dengan apa yang Anda miliki, di mana pun Anda berada.”

    Sebagai akhir, ijinkanlah saya membagikan kepada Anda sebuah syair dari Afrika berjudul Perlombaan Saat Matahari Terbit. Setiap pagi di Afrika, seekor rusa bangun. Ia tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat daripada singat tercepat. Jika tidak, ia akan terbunuh. Setiap pagi seekor singa bangun, ia tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat daripada rusa terlamban. Jika tidak, ia akan mati kelaparan. Tidak penting apakah Anda adalah sang rusa atau sang singa. Saat matahari terbit, Anda sebaiknya mulai berlari.

    ***

    Sumber: Mengatasi Penyakit Dalih oleh Paulus Winarto.

    Paulus Winarto adalah pemegang dua Rekor Indonesia dari MURI (Museum Rekor Indonesia), yakni sebagai pembicara seminar pertama yang berbicara dalam seminar di angkasa dan penulis buku yang pertama kali bukunya diluncurkan di angkasa.

    Kiriman Sahabat Setiawan

     
  • erva kurniawan 2:20 am on 29 December 2018 Permalink | Balas  

    Merit Dulu, Pacaran Kemudian 

    Merit Dulu, Pacaran Kemudian

    “Wahai sekalian pemuda… barangsiapa di antara kalian berkesanggupan (sudah mampu) maka hendaklah menikah. Karena sesungguhnya ia (menikah) dapat memejamkan mata dan menjaga kemaluan. Dan barangsiapa belum mampu, maka berpuasalah. Maka sesungguhnya puasa itu benteng baginya.” [HR Bukhari dan Muslim]

    Seorang kakak kelas saya waktu sekolah dulu, punya pacar yang kalo dari segi fisik cukup bagus. Mereka pasangan yang serasi banget. Ibarat panci dengan tutupnya. Klop. Maklum, yang cowok selain pandai di bidang akademik, ia juga terampil berorganisasi dan yang wanitanya cerdas. Dua sejoli ini setahu saya, cukup akrab dan akur. Sampe-sampe banyak teman yang meramalkan bahwa pasangan ini bakalan terus langgeng sampe ke pelaminan.

    Ternyata, ramalan tinggal ramalan, mereka berpisah alias putus ketika sama-sama lulus sekolah dan masing-masing menikah dengan pasangan lain. Yah, kita emang nggak bisa meramal. Dukun sekali pun nggak bisa meramal, mereka cuma nebak. Buktinya, waktu zamannya judi nomer buntut (atau sekarang togel), banyak orang sampe bertanya ke dukun. Hmm… kalo dukun tersebut tahu nomor buntut, pasti bakalan masang sendiri, nggak bakal ngasih tahu. Tul nggak? Eh, kok jadi ngomongin dukun sih? Hehehe… iya saya cuma ingin membuat alur logika aja. Bahwa kita nggak bisa memprediksi. Intinya begitu. Jadi kalo pun sekarang semangat pacaran dengan tujuan ingin menikahinya, itu pun tetap masih gelap. Nah, pelajaran yang bisa diambil adalah kita harus pandai memilih jalur dan tentunya kudu akur bin klop dengan panduan hidup kita, yakni ajaran Islam. Setuju kan?

    Ada juga sih memang, teman saya yang pacaran sejak bangku SMP sampe lulus SMU (karena kebetulan bareng terus dua sejoli itu), bahkan sampe masing-masing bekerja mereka tetap awet menjalin hubungan. Hingga akhirnya mengucap ijab-kabul di depan wali dan petugas pencatat pernikahan dari KUA. Mereka pasangan yang cukup bahagia. Model yang seperti ini juga nggak sedikit di lapangan. Mereka berhasil membina keluarga, yang saling dikenalnya sejak SMP melalui pacaran.

    Tapi kenapa saya tetep ngotot ingin membahas masalah ini? Kenapa pula ingin mempersoalkan pacaran sebelum menikah? Ya, karena saya punya tanggung jawab untuk menyampaikan kebenaran. Memangnya pacaran sebelum menikah nggak benar? Memang pacaran nggak boleh? Memangnya kita bisa langsung menikah tanpa pacaran dulu? Memang lidah tak bertulang…(eh, malah nyanyi!).

    Coba deh SMART!

    Dalam ilmu manajemen dikenal istilah SMART. Apa tuh? Itu rumusan dari Specific, Measurable, Achievable, Reasonable, Time-phased. Walah, masa’ sih untuk menentukan apakah memilih pacaran atau menikah aja kudu pake istilah-istilah yang bikin ribet kayak gini?

    Tenang sobat, saya mencoba mengenalkan rumusan ini karena menurut saya ini berlaku umum. Untuk tujuan apa saja. Tapi biasanya ini akan memberikan dampak yang cukup bagus untuk membuat komitmen bagi diri sendiri dan juga orang yang kita ajak membuat sebuah komitmen. Yuk, kita bahas satu per satu formula SMART ini.

    Spesifik artinya tertentu atau khusus. Boleh dibilang tujuan kita harus tertentu, khusus, dan bila perlu jelas dan khas. Misalnya untuk apa kita pacaran? Tanamkan baik-baik pertanyaan itu dalam diri kamu. Sama seperti halnya untuk apa kita belajar. Tiap orang mestinya akan berbeda-beda menjawabnya karena sesuai tujuan. Ada yang pacaran mungkin sebatas ikutan tren, ada yang menjawab sekadar iseng, ada pula yang menjawab sebagai sarana mengenal pasangan yang akan dinikahi. Eh, saya kok malah ragu kalo pada usia yang masih ABG ini kita berkomitmen bahwa pacaran untuk mengenal pasangan yang akan dinikahi. Tul nggak? Menurut kamu gimana?

    Jujur saja. Saya nggak nuduh, cuma saya sendiri sampe usia sekarang masih merasakan masa-masa ABG dulu, bahwa tuntutan untuk memiliki kekasih (pacar) lebih karena panas akibat dikomporin teman yang udah punya gandengan atau karena kebutuhan untuk berbagi rasa dengan lawan jenis. Tapi sejatinya, kalo ditanya tentang nikah, pasti bingung dan langsung kehilangan kata-kata. Bahkan nggak memikirkan sedikit pun, kecuali mungkin kalo yang ditanya udah dewasa ada yang langsung mantap menjawab sebagai upaya mengenal pasangan untuk menikah. Jadi intinya, kalo sekadar iseng percuma aja. Nggak punya tujuan yang jelas dan khas serta tertentu bisa berabe nantinya.

    Nah, rumus yang kedua sebuah tujuan itu harus Measurable alias bisa terukur. Kalo tujuan belajar adalah untuk ibadah dan ingin mendapat wawasan, maka itu pun harus terukur. Misalnya, apa yang bisa didapatkan dari belajar. Kira-kira memuaskan nggak kalo sudah dapat sampe level tertentu yang sudah direncanakan. Ada tingkat keberhasilan yang bisa terukur. Begitu pun dengan membina hubungan seperti pacaran, bisa nggak terukur kegiatan itu. Jangan asal aja. Hubungan seperti apa yang bisa dijalin, dan tolong dinilai apakah dengan mengetahui karakter dia sudah dianggap terukur dari tujuan semula atau belum, apakah pertemuan dan kualitas curhat dianggap sebagai bentuk hasil hubungan yang bisa terukur untuk menentukan kelayakan hubungan tersebut bisa dilanjutkan atau tidak. Jadi, kalo cuma main-main dan sekadar iseng, enaknya lakukan kegiatan lain aja yang tak berisiko tinggi. Karena ujungnya mesti nggak bisa dipertanggungjawabkan.

    Ketiga, soal Achievable alias dapat dicapai. Tentukan pencapaiannya. Misalnya, kalo belajar sekian minggu kita bisa apa. Kalo pacaran selama dua tahun sudah tahu apa aja dari pasangan kita. Masalah apa aja yang bisa diketahui dan kita kenal dari pasangan yang kita pacari. Tentukan target pencapaiannya. Nggak asal melakukan aja. Nah, kalo kira-kira proyek pacaran itu nggak bisa dicapai hasil-hasilnya, buat apa dilakukan. Betul ndak?

    Terus tentang Reasonable itu bisa diartikan layak, pantas, dan masuk akal. Oke jika pacaran dianggap layak, pantas, dan masuk akal, tentu harus ada ukurannya dong. Apa yang membuat pacaran itu pantas, apa yang membuat pacaran itu masuk akal. Jika memang ada, coba tunjukkan kepada orang-orang. Soalnya, kalo pacaran itu dianggap sebuah proyek yang bisa memuluskan proses mengenal pasangan untuk dinikahi, maka harus jelas juga apakah ini termasuk proyek padat karya atau padat modal (idih, kayak usaha aja?). Iya, maksudnya kita kudu merinci dengan detail sebelum melakukan pacaran apakah masuk akal atau cuma proyek fiktif dan bahkan termasuk ekonomi berbiaya tinggi? Silakan dipikirin.

    Nah, yang terakhir adalah Time-phased, ini artinya kita kudu menentukan tahapan-tahapan waktunya. Kapan memulai, kapan mencapai klimaks, dan kapan mengakhiri. Ini kudu jelas, bila perlu dibuat grafik supaya jelas tergambar semua urutan waktunya. Kayak kalo kerja di bidang penerbitan media massa, pasti ada urutan waktu: mulai dari rapat redaksi, membagi tugas kepada para reporter, para jabrik menulis hasil kerja koresponden dan reporter, editing oleh tim editor bahasa, kapan setting, tanggal berapa naik cetak, sampe hari apa harus edar ke pembaca. Semua urutan waktu itu punya makna.

    Bagaimana dengan pacaran, mungkin bisa dirinci: pada usia berapa saya berani pacaran, kapan kenalannya, dengan siapa, orang yang kayak gimana, tujuannya apa, kapan bisa mengetahui isi hati dan perilakunya, kapan bisa mengenal keluarganya, tahun berapa punya modal, kapan serius memikirkan nikah, dan kapan waktu harus menikah. Semua itu harus jelas urutannya. Jangan sampe pas ditanya sama calon mertua, “Kapan bisa menikah dengan anak saya?”, kamu jawabnya, “Ya, sekarang mah mau main-main dulu aja, Pak. Saya juga masih kuliah. Belum kerja!” Waduh, belum siap kok nekat?

    Main-main terus, atau mulai serius?

    Oke deh, semoga kamu paham dengan paparan formula yang saya tulis. Ini sekadar ingin ngajak kamu merenung aja. Apakah selama ini apa yang kamu lakukan dengan memilih pacaran dulu sebelum merit menguntungkan atau tidak secara ekonomi, sosial, dan juga politik (eh, secara politis orang tua itu suka kepada anak-anak yang mandiri dan bertanggung jawab, kalo cuma iseng aja atau masih perlu milih-milih dan apalagi tanpa ikatan jelas dan kuat, maka bisa meruntuhkan keyakinan dan kepercayaan mereka kepada kita. Suer!).

    Sobat muda muslim, kalo dalam proyek pacaran kamu nggak bisa mempertanggungjawabkan formula SMART ini, jangan harap bisa benar pacarannya. Ini baru dilihat dari sudut pandang manajemen lho. Belum hukum Islam. Karena kalo bicara hukum, meskipun terpenuhi unsur lain, misalnya sudah sesuai formula SMART, tapi dalam hubungannya melanggar batasan-batasan yang ditetapkan Islam, maka tetap tertolak dan diberi label dosa.

    Gimana, masih tetep pengen pacaran dulu? Saran saya sih, jangan dikalahkan oleh nafsu, jangan rela akal sehat dijajah gerombolan setan yang menutup mata dan hati kita dari kebenaran. Oke deh, lanjutin ke bagian berikutnya. Insya Allah soal nyari pasangan yang pas dengan formula SMART dan sekaligus sesuai syariat akan kita bahas juga. Tetep semangat![]

    ***

    Di sadur dari buku: Loving You, Merit Yuk

    Penulis : O.Solihin & G.Hafidz

    Penerbit : Gema Insani

     
  • erva kurniawan 2:02 am on 28 December 2018 Permalink | Balas  

    Mangkuk Tak Beralas 

    MANGKUK TAK BERALAS

    ——————————————

    Seorang raja bersama pengiringnya keluar dari istananya untuk menikmati udara pagi. Di keramaian, ia berpapasan dengan seorang pengemis. Sang raja menyapa pengemis ini:

    — Apa yang engkau inginkan dari dariku?

    Si pengemis itu tersenyum dan berkata:

    — Tuanku bertanya, seakan-akan tuanku dapat memenuhi permintaan hamba.

    Sang raja terkejut, ia merasa tertantang:

    — Tentu saja aku dapat memenuhi permintaanmu. Apa yang engkau minta, katakanlah!

    Maka menjawablah sang pengemis:

    — Berpikirlah dua kali, wahai tuanku, sebelum tuanku menjanjikan apa-apa.

    Rupanya sang pengemis bukanlah sembarang pengemis. Namun raja tidak merasakan hal itu.

    Timbul rasa angkuh dan tak senang pada diri raja, karena mendapat nasihat dari seorang pengemis.

    — Sudah aku katakan, aku dapat memenuhi permintaanmu. Apapun juga! Aku adalah raja yang paling berkuasa dan kaya-raya.

    Dengan penuh kepolosan dan kesederhanaan si pengemis itu mengangsurkan mangkuk penadah sedekah:

    — Tuanku dapat mengisi penuh mangkuk ini dengan apa yang tuanku inginkan.

    Bukan main! Raja menjadi geram mendengar ‘tantangan’ pengemis dihadapannya. Segera ia memerintahkan bendahara kerajaan yang ikut dengannya untuk mengisi penuh mangkuk pengemis kurang ajar ini dengan emas! Kemudian bendahara menuangkan emas dari pundi-pundi besar yang di bawanya ke dalam mangkuk sedekah sang pengemis. Anehnya, emas dalam pundi-pundi besar itu tidak dapat mengisi penuh mangkuk sedekah.

    Tak mau kehilangan muka di hadapan rakyatnya, sang raja terus memerintahkan bendahara mengisi mangkuk itu. Tetapi mangkuk itu tetap kosong. Bahkan seluruh perbendaharaan kerajaan: emas, intan berlian, ratna mutumanikam telah habis dilahap mangkuk sedekah itu. Mangkuk itu seolah tanpa dasar, berlubang.

    Dengan perasaan tak menentu, sang raja jatuh bersimpuh di kaki si pengemis bukan pengemis biasa, terbata-bata ia bertanya :

    — Sebelum berlalu dari tempat ini, dapatkah tuan menjelaskan terbuat dari apakah mangkuk sedekah ini?

    Pengemis itu menjawab sambil tersenyum:

    — Mangkuk itu terbuat dari keinginan manusia yang tanpa batas. Itulah yang mendorong manusia senantiasa bergelut dalam hidupnya. Ada kegembiraan, gairah memuncak di hati, pengalaman yang mengasyikkan kala engkau menginginkan sesuatu. Ketika akhirnya engkau telah mendapatkan keinginan itu, semua yang telah kau dapatkan itu, seolah tidak ada lagi artinya bagimu. Semuanya hilang ibarat emas intan berlian yang masuk dalam mangkuk yang tak beralas itu. Kegembiraan, gairah, dan pengalaman yang mengasyikkan itu hanya tatkala dalam proses untuk mendapatkan keinginan. Begitu saja seterusnya, selalu kemudian datang keinginan baru. Orang tidak pernah merasa puas. Ia selalu merasa kekurangan. Anak cucumu kelak mengatakan : power tends to corrupt; kekuasaan cenderung untuk berlaku tamak.

    Raja itu bertanya lagi :

    — Adakah cara untuk dapat menutup alas mangkuk itu?

    — Tentu ada, yaitu rasa syukur kepada Allah SWT. Jika engkau pandai bersyukur, Allah akan menambah nikmat padamu*) Ucap sang pengemis itu, sambil ia berjalan kemudian menghilang dari mata khalayak.

    *) [dari QS Ibraahiim; 14:7]

    ***

    Berdasarkan penuturan H. Muh. Nur Abdurrahman, WAHYU DAN AKAL – IMAN DAN ILMU, Kolom Tetap Harian Fajar – Makassar

     
  • erva kurniawan 2:59 am on 27 December 2018 Permalink | Balas  

    Ingat Mati Tapi Lupa Diri 

    Ingat Mati Tapi Lupa Diri

    Sebuah hadist Qudsi yang cukup, panjang menggelitik hati kita, Sangat baik kita simak.

    “Aku (Allah) heran terhadap orang yang yakin akan datangnya kematian tetapi ia masih membanggakan diri ?

    Aku heran terhadap orang yang yakin dengan hari perhitungan (hisab), kenapa ia masih sibuk menimbun harta benda?

    Aku heran terhadap orang yang yakin akan masuk pintu kubur, kenapa mereka masih tertawa terbahak-bahak?

    Aku heran terhadap orang yang yakin terhadap hari akhirat, kenapa mereka masih bersenang-senang dan lalai tidak beramal?

    Aku heran terhadap orang yang yakin akan lenyapnya dunia ini, kenapa dia masih menambatkan hati kepadanya?

    Aku heran terhadap orang alim yang pintar bicara tetapi bodoh dalam paham pengertian.

    Aku heran terhadap orang yang sibuk menyelidiki aib orang lain, tetapi lupa cacat/cela dirinya sendiri.

    Aku heran terhadap orang yang tahu bahwa Allah memperhatikan tingkah lakunya, mengapa ia masih durhaka kepada Allah?

    Aku heran terhadap orang yang mengerti bahwa ia akan mati sendirian dan masuk kubur sendirian, kenapa ia masih asyik bersenda gurau dengan orang banyak?

    Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, Muhammad itu benar-benar hamba-Ku dan rasulKu”

    Diakui atau tidak, banyak orang yang tidak sempat mengadakan perenungan. Dengan kesibukan yang padat, rasanya sulit mencari waktu yang tepat untuk berpikir mendalam. Hari-hari hanya diisi dengan kerja dan kerja. Semua waktu habis sekadar untuk mencari nafkah. Kesibukan seperti ini sudah menjadi ciri atau malah menjadi bagian dari kehidupan modern.

    Malam hari yang semestinya waktu paling cocok untuk melakukan perenungan ternyata juga tersita untuk sekedar urusan dunia. Malam, utamanya dikota-kota besar tidak lagi ada bedanya dengan siang, Tetap ramai, tetap sibuk. Lampu-lampu kota kini telah menjadi ‘pengganti’ matahari. Malam pun tetap terang benderang, Itulah sebabnya kemudian bermunculan manusia ‘kelelawar’ yang jadwal hidupnya justru terbalik, Di siang hari mereka tidur, malam hari mulai menampakkan tanda-tanda kehidupannya bekerja. Tentu saja hal ini menyalahi sunnah, menyelisih fitrah.

    Firman Allah,”Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.” (QS Al-Furdan 47 ).

    Karena manusia sudah merasa tidak lagi cukup waktunya untuk mencari kehidupan di siang hari saja, maka malam harinya mereka gunakan juga untuk bekerja. Akibatnya jam istirahat berkurang. Apalagi jam untuk tafakkur, mengadakan perenungan, muhasabah (menghitung diri), muroqobah (mendekatkan diri pada Allah), hampir tiada lagi sama sekali. Jangankan shalat malam, sedang shalat Isya saja dikerjakan sambil ngantuk, pikirannya masih tertuju pada lain yang sifatnya keduniaan. Apalagi disaat shalat, TV tidak dimatikan, sebab anak istri sedang menonton, Bagaimana bisa khusyu’ sedang ingat bacaannya sudah kesulitan. Terlebih kini semakin banyak saja acara yang menarik, yang melalaikan manusia dari memikirkan arti hidupnya sendiri. Semestinya sebelum pergi tidur diluangkan waktu sejenak untuk berzikir. Kalau bisa, shalat dua rakaat. Kalau masih bisa, baca Al Qur’an minimal tiga surat terakhir atau tiga Qul, yaitu Qul Huwallahu ahad, Qul a’udzubirabbil falaq, dan Qul a’udzu birabbinnas, lalu ditutup dengan do’a tidur. Tapi alangkah banyaknya orang yang pergi tidur tanpa sengaja. Sambil menonton TV keterusan. Lupa berzikir, lupa shalat, lupa berdo’a ataupun mengadakan perenungan. Malah mengatur posisi tidurnya saja tidak sempat untuk bangun tengah malam apalagi.

    Kurangnya mengadakan perenungan berakibat sangat fatal, Manusia tak lagi mengerti untuk apa mereka bekerja. Mereka bekerja sekedar untuk mencari harta. Setelah harta didapat digunakan sekenanya. Tidak ada waktu lagi untuk berfikir, darimana harta didapat.

    Tidak ada kesempatan untuk merenung, apakah yang lain juga mendapat, Tak juga sempat menilai, halal atau haram pendapatannya dan sebaliknya digunakan untuk apa saja itu semua. Dalam benaknya hanya ada satu pikiran, pokoknya saya dapat. Mestinya berfikir, darimana didapat, dan kemana dibelanjakan. Orang yang sudah pada taraf seperti ini hidupnya hanyalah sekedar untuk memenuhi hidup. Mereka bekerja, berjuang, berkorban, berdamai dan berperang, hanya untuk hidup, bahkan mereka mempertaruhkan hidupnya sekedar untuk hidup.

    Mereka ini disindir Allah dalam firman-Nya “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah. Mereka mempunyai mata, tetapi tidak dimanfaatkan untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah, mereka mempunyai telinga, tapi tidak dipakai untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu bagai binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi, Mereka itulah orang-orang yang lalai,” (QS Al A’raaf: 179 ).

    Telinga mereka berlubang dan bisa mendengar, tapi tidak mau mendengarkan nasehat, anjuran, perintah dan larangan Dzat yang menciptakan telinga. Inilah yang disebut telinga pasif oleh Allah. Bukan berarti telinga ini tak aktif terhadap yang lain. Begitu musik disetel, nyanyian diperdengarkan, fitnah digunjingkan, telinga itu menjadi normal kembali, Mata mereka juga melek, tapi untuk membaca kalimat Allah mata itu menjadi rabun, malah buta sama sekali, Berbeda bila melihat lenggak lenggok artis, baik di pentas terbuka maupun di layar televisi, mata itu tiba-tiba jernih, sejernih kaca TV. Mereka juga punya hati, tapi sekedar gumpalan daging yang terbalut rongga dada, Hati yang

    berupa qolb tak lagi mereka punyai, paling tidak sudah lama tak terpakai. Usang, sulit dicari. Jika harus diaktifkan, masih perlu dibersihkan, diservis, bahkan mungkin dibongkar pasang dulu.

    “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” kata Allah dalam surah Al -israa’ 36.

    Sebelum hari pertanggungjawaban itu, sebaiknya kita memanfaatkanya untuk merenung, adakah ketiga-tiganya sudah berfungsi sebagaimana yang diharapkan oleh Yang Menciptakan? Atau kita masih beralasan, belum ada waktu untuk merenungkan?

    ***

    Kiriman Sahabat Agus Nadi

     
  • erva kurniawan 2:01 am on 26 December 2018 Permalink | Balas  

    Amalan-Amalan Pamungkas 

    Amalan-Amalan Pamungkas

    Rabu, 20 April 05

    Mukaddimah

    Mencapai kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat merupakan cita-cita setiap muslim tentunya, namun hal itu tidak bisa hanya sebatas cita-cita dan angan-angan. Harus ada aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari sehingga cita-cita itu benar-benar dapat teralisasi.

    Salah satu cara untuk merelisasikannya adalah dengan menjalankan amalan-amalan yang sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, khususnya amalan-amalan pamungkas dan pilar utamanya. Nah, apakah amalan-amalan itu? Mari ikuti kajian berikut ini!

    Naskah Hadits

    Dari Mu’adz bin Jabal RA, ia berkata, “Dalam suatu perjalanan, pernah aku bersama Rasululah SAW. Pada suatu hari saat sedang berjalan-jalan, aku mendekat kepadanya, lalu berkata, Wahai Rasulullah, informasikan kepadaku akan suatu amalan yang dapat menyebabkan aku masuk surga dan jauh dari neraka.” Beliau menjawab, “Engkau telah menanyakan suatu perkara yang amat besar namun sebenarnya ringan bagi orang yang dimudahkan oleh Allah; hendaklah kamu menyembah Allah dan tidak berbuat syirik terhadap-Nya dengan sesuatu apapun, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadlan dan melakukan haji.” Kemudian beliau bersabda lagi, “Maukah kamu aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan; puasa merupakan penjaga (pelindung) dari api neraka, sedekah dapat memadamkan kesalahan (dosa kecil) sebagaimana air dapat memadamkan api, dan shalat seseorang di tengah malam seraya membaca ayat ‘Tatajaafa Junuubuhum ‘Anil Madlaaji’i yad’uuna rabbahum.. [hingga firman-Nya]. Ya’maluun.’ (as-Sajdah:16) Kemudian beliau juga mengatakan, “Dan maukah kamu aku tunjukkan kepala (pangkal) semua perkara, tiang dan puncaknya.?” Aku menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.!” Beliau bersabda, “Kepala (Pangkal) dari semua perkara itu adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad.” Kemudian beliau bersabda lagi, “Maukah kamu aku tunjukkan pilar dari semua hal itu.?” Aku menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.!” Lalu beliau memegang lisan (lidah) nya seraya berkata, “Jagalah ini olehmu.” Lantas aku bertanya, “Wahai Nabiyyullah, apakah kami akan disiksa atas apa yang kami bicarakan.?” Beliau bersabda, “Celakalah engkau wahai Mu’adz! Tidakkah wajah dan leher manusia dijerembabkan ke dalam api neraka kecuali akibat apa yang diucapkan lidah-lidah mereka.?” (HR.at-Turmduzy, dia berkata, “Hadits Hasan Shahih”)

    Kosakata

    • Hashaa`id Alsinatihim : kejelekan dan kekejian yang dibicarakan oleh lidah-lidah mereka seperti syirik kepada Allah, ghibah, adu domba, dst’
    • Tsaqilatka Ummuka (Celakalah Engkau) : secara zhahirnya, kalimat ini tampak seperti doa agar orang yang didoakan mati akan tetapi yang dimaksud sebenarnya bukan makna zhahirnya tersebut tetapi lebih kepada ucapan yang sudah terbiasa oleh lidah bangsa Arab.

    Pesan-Pesan Hadits

    1. Hadits tersebut menunjukkan betapa perhatian para shahabat, di antaranya Mu’adz bin Jabal terhadap amal-amal shalih dan hal-hal yang dapat mendekatkan diri mereka kepada Allah. Mereka selalu memanfa’atkan keberadaan Rasulullah dengan baik untuk bertanya kepadanya, lalu kemudian mengaplikasikan jawaban beliau. Demikianlah seharusnya seorang Muslim, wajib menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya, mencari hal-hal yang berguna dan menjadi kepentingannya serta dapat membuatnya masuk surga.
    2. Hendaknya kemauan seorang Muslim itu begitu tinggi dengan memikirkan hal-hal besar yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah sehingga kemudian target utamanya adalah akhirat yang harus diupayakannya. Dengan begitu, ia akan sangat berhati-hati dan menghindar dari kemauan yang murahan dan sesaat. Makanya, Rasullah mengatakan kepada Mu’adz dalam hadits di atas, “Engkau telah menanyakan suatu perkara yang amat besar.”
    3. Tujuan akhir keinginan manusia di dalam kehidupan ini adalah ‘surga’, masuk ke dalamnya dan hal yang dapat menunjukkannya masuk ke sana. Karena itu, hendaklah ia mencari semua sarana yang dapat menyebabkannya masuk surga dan menjauhkannya dari neraka.
    4. Dien ini mencakup hal-hal wajib dan sunnah; hal-hal wajib (faraidl) wajib diamalkan Muslim, dijalankan secara konsisten dan tidak diterima dari siapa pun alasan tidak tahu mengenainya, sementara hal-hal sunnah, harus antusias dilakukannya selama mampu melakukannya.
    5. Atas karunia Allah Ta’ala, Dia menjadikan pintu-pintu kebaikan demikian banyaknya, sebagiannya dijelaskan dalam hadits ini, yaitu amalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, membuat sampai kepada kecintaan dan ridla-Nya. Di dalam hadits Qudsi, Dia berfirman, “Dan tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya dan senantiasalah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku melalui amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya.” (HR.Bukhari, 6137)
    6. Puasa merupakan ibadah Sirriyyah (yang bersifat rahasia) antara seorang hamba dan Rabbnya. Bila seorang Muslim memperbanyak puasa sunnah, maka hal itu dapat menjadi penjaga dan pelindung dirinya dari api neraka.
    7. Sedekah dapat memadamkan kesalahan (dosa kecil) sebagaimana air dapat memadamkan api. Ini merupakan pintu yang begitu agung sebab sedekah sunnah selalu terbuka sekali pun sedikit. Di dalam hadits yang lain disebutkan, “Bertakwalah kamu walau pun dengan sekeping satu buah kurma.” (HR.Bukhari dan Muslim)
    8. Adalah sangat penting bila seorang Muslim bersungguh-sungguh di dalam melakukan shalat wajib namun terlebih lagi dengan melakukan shalat malam di mana keheningan malamnya, jauh dari kebisingan-kebisingan, bermunajat kepada sang Pencipta secara sendirian dan kehina-dinaannya di hadapan-Nya akan memberikannya kenikmatan iman yang spesial seperti halnya kondisi para shahabat ketika Allah berfirman mengenai mereka, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka.” (as-Sajdah:16) Dalam firman-Nya yang lain ketika memuji mereka, “Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).” (adz-Dzariat:17-18)
    9. Rasulullah SAW kembali mengulang-ulang untuk menjelaskan urgensi amalan-amalan khusus di dalam agama ini, yaitu:
    10. Bahwa kepala (pangkal) semua urusan ini, di mana jasad tidak akan hidup tanpa kepala, adalah tauhid dan syahadat ‘Tiada tuhan -yang haq disembah- selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah.’ Tanpa tauhid seperti ini, tidak akan benar keislaman seseorang, tidak akan lurus kondisinya dan tidak akan selamat pada hari Kiamat.
    11. Tiang, pilar dan pondasinya adalah mendirikan shalat sebab suatu bangunan tidak akan mungkin bisa tegak tanpa adanya tiang. Ia merupakan rukun-rukun ilmiah paling penting, yaitu jalinan antara seorang hamba dan Rabbnya.
    12. Yang paling tinggi dan puncaknya di mana karenanya agama ini menjadi tinggi dan tersebar adalah jihad di jalan Allah. Dengan jihad, telaga Islam dan kehormatan kaum Muslimin akan terjaga, wibawa mereka akan menjadi bertambah, ‘izzah (rasa bangga keislaman) akan nampak dan para musuh dapat ditaklukkan.
    13. Dalam penutup wasiatnya, Rasulullah SAW mengingatkan suatu perkara yang amat penting sekali namun selalu disepelekan oleh banyak orang, yang merupakan pintu besar bagi amal-amal baik dan buruk. Perkara ini adalah lisan (mulut) yang merupakan senjata tajam yang bila digunakan untuk kebaikan dan keta’aan, maka ia akan menjadi pintu besar menuju surga dan bila digunakan untuk kejahatan dan kemaksiatan, mak ia akan menjadi penggiring ke neraka.
    14. Seorang Muslim wajib menggunakan lisannya untuk hal-hal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah seperti dzikir, membaca al-Qur’an, memberi nasehat, amar ma’ruf, menunjukkan kepada kebaikan, berdakwah kepada Allah, nahi munkar, menunjukkan jalan bagi orang yang tersesat dan sebagainya. Demikian pula, wajib baginya untuk menghindari penggunaannya pada hal-hal yang dapat menyebabkannya masuk neraka seperti syirik kepada Allah, berdusta, bicara atas nama Allah tanpa ilmu, ghibah, namimah (adu domba) dan persaksian palsu. Lidah yang seperti ini akan menyeret pemiliknya ke dalam neraka, na’uudzu billaahi min dzaalik.

    ***

    (SUMBER; Silsilah Manaahij Dawraat al-‘Uluum asy-Syar’iyyah- al-Hadiits-Fi`ah an-Naasyi`ah karya Prof Dr Falih bin Muhammad ash-Shaghir, et.ali, h.143-147)

     
  • erva kurniawan 2:55 am on 25 December 2018 Permalink | Balas  

    Perempuan Wajib Berkhitan 

    Perempuan Wajib Berkhitan

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Amma ba’du…

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Berkhitan ialah memotong selaput kulit yang menutupi kepala zakar lelaki atau memotong sedikit hujung daging yang ada di sebelah atas faraj perempuan.

    Berkhitan termasuk di antara amalan-amalan yang telah disyariatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap hambaNya. Ia adalah sebagai pelengkap fitrah yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada mereka. Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Fitrah (sifat semula jadi) itu lima perkara: Berkhitan, mencukur bulu ari-ari, menggunting misai, memotong kuku dan mencabut bulu ketiak.” (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)

    Hukum Berkhitan

    Sebagaimana yang tersebut dalam kitab al-Majmu’ dan kitab Hawasyi Tuhfah al-Muhtaj, berkhitan itu wajib ke atas lelaki dan perempuan yang dilahirkan tanpa berkhitan. Ini berdasarkan kepada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    Tafsirnya: “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (wahai Muhammad): Hendaklah engkau menurut agama Nabi Ibrahim, yang berdiri teguh di atas jalan yang benar.” (Surah an-Nahl: 123)

    Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam supaya mengikut ajaran-ajaran agama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, dan di antara ajaran-ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihissalam itu ialah berkhitan. Perkara ini jelas dikuatkan lagi dengan perbuatan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam itu sendiri yang mengkhitan dirinya pada masa umurnya delapan puluh tahun, sebagaimana riwayat Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Berkhitan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika Baginda berumur delapan puluh tahun dengan alat qadum.” (Hadis riwayat al-Bukhari)

    Menurut kitab Syarh al-Muhadzdzab ulama berkata, salah satu perkara dalam agama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ialah berkhitan. Berkhitan itu adalah wajib dalam agamanya.

    Sementara itu, dalil dari hadis yang menunjukkan wajib berkhitan itu ialah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Buanglah rambut-rambut kamu yang ada ketika kamu kufur dan berkhitanlah.” (Hadis riwayat Abu Daud)

    Dalam mengambil dalil dengan hadis ini, para ulama Syafi’e mengatakan bahwa jika berkhitan itu tidak wajib, maka tidaklah diharuskan membuka aurat ketika berkhitan dan tidaklah diharuskan tukang khitan melihat aurat orang yang dikhitan, karena kedua-duanya itu adalah haram. Jadi apabila kedua-dua yang diharamkan itu diharuskan bagi tujuan berkhitan, ini menunjukkan bahwa berkhitan itu hukumnya adalah wajib.

    Asy-Syirazi, al-Ghazali (kedua-duanya dari ulama mazhab asy-Syafi’e) dan sebahagian ulama pula berdalil dengan qiyâs. Mereka mengatakan bahwa berkhitan itu ialah dengan memotong anggota yang sejahtera. Jika berkhitan itu tidak wajib, maka tidaklah boleh memotongnya (memotong selaput kulit zakar) sebagaimana tidak boleh memotong jari, karena tidak harus memotong anggota yang sehat melainkan jika karena dijatuhkan qishâsh.

    Cara Berkhitan Bagi Lelaki

    Cara bagaimana berkhitan itu, yang wajib bagi lelaki ialah dengan memotong selaput kulit yang menutupi kepala zakar sehingga nampak (terdedah) kepala zakar itu keseluruhannya. Jika dipotong sebahagian saja daripada selaput kulit itu, wajib dipotong bakinya sekali lagi.

    Cara Berkhitan Bagi Perempuan

    Cara yang wajib bagi perempuan ialah dengan memotong daging yang ada di sebelah atas faraj yang seakan-akan bonggolan atau jambul di kepala ayam jantan. Yang lebih afdhal ialah dengan memotong sedikit saja dari daging itu.

    Ini berdasarkan kepada sebuah hadis daripada Anas bin Malik bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menegur Ummu ‘Athiah Radhiallahu ‘anha dengan bersabda:

    Maksudnya: “Apabila engkau mengkhitan maka khitanlah (dengan memotong sebahagian al-bazhr) dan jangan engkau berlebih-lebihan (dalam memotong), karena yang demikian itu menjernihkan air muka perempuan dan mendatangkan kesukaan kepada suami (boleh menambah kelazatan bersetubuh).” (Hadis riwayat ath-Thabrani)

    Masa Atau Waktu Berkhitan

    Tersebut dalam kitab al-Majmu’, menurut ulama-ulama Syafi’eyah masa wajib untuk berkhitan itu ialah selepas baligh dan berakal. Namun begitu adalah sunat dan digalakkan kepada ibu bapa untuk mengkhitankan anak-anak mereka semasa mereka masih kecil lagi karena ini lebih memberi manfaat kepada mereka, luka berkhitan lebih cepat sembuh dan bentuk zakar akan lebih sempurna.

    Sunat dikhitankan anak pada hari ketujuh dari hari kelahirannya, melainkan jika dia lemah, tidak berdaya (tidak tahan) menahan kesakitan berkhitan apabila dijalankan ke atasnya. Maka dalam hal ini hendaklah ditangguhkan berkhitan itu sehingga dia berdaya menanggungnya, dan makruh dikhitankan anak sebelum hari ketujuh dari hari kelahirannya.

    Jika tidak dapat dikhitan pada hari ketujuh, sunat dikhitan pada hari keempat puluh. Jika terlewat (tidak dikhitankan) juga, sunat dikhitankan pada masa umurnya tujuh tahun. Dalam hal menentukan masa berkhitan ini, anak lelaki dan anak perempuan adalah sama.

    Perlulah ditekankan di sini, bahwa hukum berkhitan pada masa-masa yang disebutkan sebelum ini (masa sebelum baligh) adalah sunat dan bukannya wajib. Ini adalah pendapat yang shahîh yang masyhûr yang dipegang oleh jumhur ulama.

    Sebagaimana yang dijelaskan terdahulu, bahwa kewajipan berkhitan itu bermula dari sesudah anak itu baligh. Sekiranya dia sudah baligh, maka kewajipan itu berjalan dengan serta merta. Namun begitu jika orang yang sudah baligh itu lemah kejadiannya, di mana jika dia dikhitankan, ditakuti akan mendatangkan kemudaratan kepadanya, maka dalam hal ini tidaklah harus dia dikhitan, bahkan hendaklah ditunggu sehingga keadaannya selamat atau mengizinkan untuk berkhitan.

    Kenduri Khitan

    Sunat mengadakan walimah (kenduri) bagi pengkhitanan lelaki, karena ia termasuk dalam salah satu yang sunat diadakan kenduri, seperti kenduri kahwin, selepas melahirkan anak, selesai membina bangunan, orang yang terkena musibah, orang yang balik daripada musafir dan kenduri karena hafaz dan khatam al-Qur’an.

    Menurut al-Adzra’ie, bahwa hukum sunat mengadakan kenduri pengkhitanan itu adalah bagi pengkhitanan lelaki dan bukan untuk pengkhitanan perempuan, karena pengkhitanan bagi perempuan itu sunat disembunyikan dan hal yang memalukan jika berterang-terangan. Diihtimalkan juga bahwa hukum sunat mengadakan kenduri bagi pengkhitanan perempuan itu hanyalah khusus bagi sesama perempuan saja tanpa ada jemputan lelaki.

    Meninggal Dunia Sebelum Berkhitan

    Jika seseorang itu meninggal dunia sedang dia belum lagi berkhitan, maka menurut pendapat yang shahih jangan dikhitan si mati tersebut.

    Hikmah Dan Kelebihan Berkhitan

    Islam menuntut umatnya supaya berkhitan karena terdapat beberapa hikmah dan kelebihan yang tersendiri yang tidak akan diperolehi mereka yang tidak berkhitan. Hikmah dan kelebihan itu boleh kita lihat pada dua sudut iaitu sudut keagamaan dan sudut kesehatan. Pada sudut keagamaan, antaranya:

    (i) Berkhitan merupakan tuntutan fitrah dan salah satu syiar Islam.

    (ii) Sebagai menyempurnakan tuntutan syara’ yang berasaskan kepada sunnah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

    (iii) Untuk membezakan antara orang-orang Islam dengan penganut-penganut agama lain. Namun begitu sekarang ini orang-orang bukan Islam ada juga yang sudah mula berkhitan.

    (iv) Sebagai suatu ikrar kesetiaan penghambaan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan patuh segala perintahNya dan tunduk di bawah hukum dan kekuasaanNya.

    Dari sudut kesehatan pula:

    (i) Untuk membersihkan zakar, memperelokkannya, mencantikkan bentuknya dan menambahkan kelazatan semasa hubungan kelamin.

    (ii) Untuk mengawasi kesehatan tenaga batin serta memelihara diri daripada dihinggapi penyakit kelamin, kanser dan lain-lain penyakit.

    Demikianlah di antara hikmah dan kelebihan yang diperolehi oleh orang-orang yang berkhitan. Dengan ini juga tergambar kepada kita akan keindahan Islam serta rahasia-rahasia di balik syariatnya.

    Wallohu a’lam bish-shawab.-

     
  • erva kurniawan 2:33 am on 24 December 2018 Permalink | Balas  

    Syarat-Syarat Doa Dimakbulkan 

    Syarat-Syarat Doa Dimakbulkan

    Assalamu ‘alaikum wr. wb.

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Amma ba’du…

    Doa yang diminta oleh seseorang hamba kepada ALLAH SWT hanya akan dimakbulkan dengan segera atau ditangguhkanNya, adalah berdasarkan syarat tertentu, diantaranya yang utama ialah :

    1. Menjauhi perkara yang mungkar dan maksiat ketika berdoa.
    2. Menepati adab-adab serta rukun-rukun berdoa.
    3. Melakukan kebajikan sebelum dan selepas berdoa.
    4. Menyakini bahwa ALLAH SWT berkehendak dan mendengar setiap doa dan akan diperkenankan oleh ALLAH SWT apakah dengan segera atau ditangguhkan, karena ALLAH SWT itu Maha Adil.
    5. Berdoa bukan untuk tujuan maksiat atau untuk melakukan pendurhakaan kepada ALLAH SWT.
    6. Bukan berdoa terhadap perkara atau sesuatu yang mustahil diperolehi atau dicapai.
    7. Hendaklah sentiasa melaksanakan segala kewajiban dan perintah ALLAH SWT.
    8. Sentiasa menjauhi segala maksiat atau mencegah diri dari maksiat kepada ALLAH SWT.
    9. Meyakini kekuasaan ALLAH SWT serta berdoa dengan penuh keikhlasan.
    10. Berusaha serta berikhtiar sesuai dengan apa yang dimohonkan, misalnya: seseorang yang memohon supaya dilapangkan rezeki, maka wajiblah ia berusaha untuk mendapatkan rezeki yang halal semampu mungkin dan berdoa serta bertawakal tanpa rasa putus asa.
    11. Permohonan itu hendaklah dihadapkan dan dimohonkan kepada ALLAH SWT semata-mata.
    12. Senantiasa berdoa untuk melakukan kebajikan dan mencegah diri dari kemungkaran.

    Wallahu ‘Alam Bisowab

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 2:24 am on 23 December 2018 Permalink | Balas  

    Adab-Adab dalam Berdoa 

    ADAB-ADAB DALAM BERDOA

    Assalamu ‘alaikum wr. wb.

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Amma ba’du…

    Doa adalah permohonan seseorang hamba kepada ALLAh SWT untuk mendapatkan kebaikan atau mencegah kemudaratan. Berdoa merupakan suatu ibadat tambahan yang dapat menguatkan iman. Amalan ini wajib diamalkan oleh setiap muslimin dan muslimat karena do’a merupakan senjata yang paling ampuh dan mujarab bagi setiap mukmin.

    Ketika berdoa, seseorang itu harus yakin dan tawaddu’ bahwa ALLAH SWT yang Maha Esa dan Maha pengasih lagi Maha Penyayang sajalah tempat meminta sesuatu pertolongan. ALLAH SWT sajalah yang berhak memperkenankan doa seseorang itu apakah secara cepat ataupun lambat dikabulkanNya. Mudah-mudahan dengan cara serta keberkatan seseorang itu berdoa dan ketetapan yang tercatat di sisi ALLAH SWT, maka permohonan itu akan dimakbulkan.

    Namun begitu, apa yang perlu diketahui oleh setiap umat Islam, dalam berdoa itu mestilah mengikuti landasan atau syarat-syarat tertentu yang telah digariskan dalam syariat Islam. Justru, berdoalah dan minta sesuatu hajat hanya kepada ALLAH SWT semata-mata disertai niat yang tulus ikhlas. Yakinlah bahwa doa yang dimohon itu suatu saat nanti pasti akan dimakbulkan. Insya-Allah….

    ADAB-ADAB BERDOA

    1. Ketika berdoa, hendaklah dimulai dengan memuji-muji ALLAH SWT. Kemudian diiringi dengan selawat dan salam kepada junjungan besar Nabi Muhammad SAW dan diakhiri dengan kedua-duanya.
    2. Hendaknya tekun dan terus-menerus berdoa serta tidak berputus asa.
    3. Berdoa dengan suara yang perlahan atau sederhana antara kuat dengan perlahan.

    “Berdoalah kepada TUHAN kamu dengan merendah diri dan (dengan suara) perlahan-lahan.” (al-A’raf 55)

    1. Mengakui bahwa diri kita sentiasa berdosa, bertaubat kepadaNya dan mengakui segala nikmat dan kurniaan ALLAH SWT serta bersyukur atas nikmat-nikmat pemberian itu.
    2. Tidak menggunakan bahasa yang berbelit-belit atau sukar difahami dalam berdoa.
    3. Mengulangi permohonan doa sebanyak 3 kali.
    4. Mengadap Kiblat.
    5. Mengangkat kedua-dua belah tangan ketika berdoa.
    6. Berwhudu’ terlebih dahulu sebelum berdoa.
    7. Jika seseorang itu berdoa untuk orang lain, hendaknya dia berdoa untuk dirinya terlebih dahulu, baru kemudian mendo’akan orang lain.
    8. Berdoa dengan bertawassul menggunakan nama-nama ALLAH SWT yang mulia dan sifat-Nya yang Maha Tinggi atau dengan amal soleh yang dilakukan oleh orang yang sedang berdo’a itu.
    9. Hendaklah ketika berdoa itu memakai pakaian yang bersih, memakan makanan dan minuman yang halal. Sebagaimana sabda Baginda SAW :

    “Tidak akan masuk Syurga setiap daging yang tumbuh daripada yang haram.” (Ahmad, al-Tarmizi, al-Darimi)

    Perintah memakan makanan yang baik sebagaimana firman ALLAH SWT:

    “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada ALLAH SWT, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.” (al-Baqarah 172)

    1. Ketika berdoa, hendaklah membaca syahadah dan meminta ampun terlebih dahulu atau beristighfar.
    2. Rendah diri, tawaddu’, gigih serta senantiasa bertakwa.
    3. Memilih tempat dan waktu yang sesuai dan mustajab.
    4. Berdoa dengan doa yang pernah diamalkan oleh Baginda.
    5. Sebaiknya berdoa dalam Bahasa Arab atau menggunakan Bahasa Arab, namun demikian Allah Subhanahu wata’ala itu Maha Mengetahui….

    Wallahu ‘alam

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 2:50 am on 22 December 2018 Permalink | Balas  

    Dampak Medis Shalat Tahajjud 

    Dampak Medis Shalat Tahajjud

    Sholat Tahajjud ternyata tak hanya membuat seseorang yang melakukannya mendapatkan tempat (maqam) terpuji di sisi Allah (Qs Al-Isra:79) tapi juga sangat penting bagi dunia kedokteran. Menurut hasil penelitian Mohammad Sholeh, dosen IAIN Surabaya, salah satu shalat sunah itu bisa membebaskan seseorang dari serangan infeksi dan penyakit kanker.

    Tidak percaya? Cobalah Anda rajin-rajin sholat tahajjud. “Jika anda melakukannya secara rutin, benar, khusuk, dan ikhlas, niscaya Anda terbebas dari infeksi dan kanker”. Ucap Sholeh. Ayah dua anak itu bukan’tukang obat’ jalanan. Dia melontarkan pernyataanya itu dalam desertasinya yang berjudul ‘Pengaruh Sholat tahajjud terhadap peningkatan Perubahan Response ketahanan Tubuh Imonologik: Suatu Pendekatan Psiko-neuroimunologi” Dengan desertasi itu, Sholeh berhasil meraih gelar doktor dalam bidang ilmu kedokteran pada Program Pasca Sarjana Universitas Surabaya, yang dipertahankannya Selasa pekan lalu.

    Selama ini, menurut Sholeh, tahajjud dinilai hanya merupakan ibadah salat tambahan atau sholat sunah. Padahal jika dilakukan secara kontinu, tepat gerakannya, khusuk dan ikhlas, secara medis sholat itu menumbuhkan respons ketahannan tubuh (imonologi) khususnya pada imonoglobin M, G, A dan limfosit-nya yang berupa persepsi dan motivasi positif, serta dapat mengefektifkan kemampuan individu untuk menanggulangi masalah yang dihadapi (coping).

    Sholat tahajjud yang dimaksudkan Sholeh bukan sekedar menggugurkan status sholat yang muakkadah (Sunah mendekati wajib). Ia menitikberatkan pada sisi rutinitas sholat, ketepatan gerakan, kekhusukan, dan keikhlasan.

    Selama ini, kata dia, ulama melihat masalah ikhlas ini sebagai persoalan mental psikis. Namun sebetulnya soal ini dapat dibuktikan dengan tekhnologi kedokteran. Ikhlas yang selama ini dipandang sebagai misteri,dapat dibuktikan secara kuantitatif melalui sekresi hormon kortisol. Parameternya, lanjut Sholeh, bisa diukur dengan kondisi tubuh. Pada kondisi normal, jumlah hormon kortisol pada pagi hari normalnya antara 38-690 nmol/liter. Sedang pada malam hari-atau setelah pukul 24:00 normalnya antara 69-345 nmol/liter. “Kalau jumlah hormon kortisolnya normal, bisa diindikasikan orang itu tidak ikhlas karena tertekan.

    Begitu sebaliknya. Ujarnya seraya menegaskan temuannya ini yang membantah paradigma lama yang menganggap ajaran agama (Islam) semata-mata dogma atau doktrin.

    Sholeh mendasarkan temuannya itu melalui satu penelitian terhadap 41 responden sisa SMU Luqman Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah, Surabaya. Dari 41 siswa itu, hanya 23 yang sanggup bertahan menjalankan sholat tahajjud selama sebulan penuh. Setelah diuji lagi, tinggal 19 siswa yang bertahan sholat tahjjud selama dua bulan. Sholat dimulai pukul 02-00-3:30! sebanyak 11* rakaat, masing masing dua rakaat empat kali salam plus tiga rakaat. Selanjutnya, hormon kortisol mereka diukur di tiga laboratorium di Surabaya (paramita, Prodia dan Klinika).

    Hasilnya, ditemukan bahwa kondisi tubuh seseorang yang rajin bertahajjud secara ikhlas berbeda dengan orang yang tidak melakukan tahajjud. Mereka yang rajin dan ikhlas bertahajud memiliki ketahanan tubuh dan kemampuanindividual untuk menaggulangi masalah-masalah yang dihadapi dengan stabil. “Jadi sholat tahajjud selain bernilai ibadah, juga sekaligus sarat dengan muatan psikologis yang dapat mempengaruhi kontrol kognisi.

    Dengan cara memperbaiki persepsi dan motivasi positif dan coping yang efectif, emosi yang positif dapat menghindarkan seseorang dari stress, “Nah, menurut Sholeh, orang stress itu biasanya rentan sekali terhadap penyakit kanker dan infeksi. Dengan sholat tahajjud yang dilakukan secara rutin dan disertai perasaan ikhlas serta tidak terpa! ksa, seseorang akan memiliki respons imun yang baik, yang kemungkinan besar akan terhindar dari penyakit infeksi dan kanker. Dan, berdasarkan hitungan tekhnik medis menunjukan, sholat tahajjud yang dilakukan seperti itu membuat orang mempunyai ketahanan tubuh yang baik.

    Sebuah bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampu mengetahui semua rahasia atas rahmat, nikmat,anugrah yang diberikan oleh ALLAH kepadanya. Haruskah kita menunggu untuk bisa masuk diakal kita?

    Seorang Doktor di Amerika telah memeluk Islam karena beberapa keajaiban yang di temuinya di dalam penyelidikannya. Ia amat kagum dengan penemuan tersebut sehingga tidak dapat diterima oleh akal fikiran. Dia adalah seorang Doktor Neurologi. Setelah memeluk Islam dia amat yakin pengobatan secara Islam dan oleh sebab itu ia telah membuka sebuah klinik yang bernama “Pengobatan Melalui Al Qur’an” Kajian pengobatan melalui Al-Quran menggunakan obat-obatan yang digunakan seperti yang terdapat didalam Al-Quran. Di antara berpuasa, madu, biji hitam (Jadam) dan sebagainya.

    Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam maka Doktor tersebut memberitahu bahwa sewaktu kajian saraf yang dilakukan, terdapat beberapa urat saraf di dalam otak manusia ini tidak dimasuki oleh darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara yang lebih normal. Setelah membuat kajian yang memakan waktu akhirnya dia menemukan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak tersebut melainkan ketika seseorang tersebut bersembahyang yaitu ketika sujud. Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikut kadar sembahyang 5 waktu yang diwajibkan oleh Islam.

    Begitulah keagungan ciptaan Allah. Jadi barang siapa yang tidak menunaikan sembahyang maka otak tidak dapat menerima darah yang secukupn! ya untuk berfungsi secara normal. Oleh karena itu kejadian manusia ini sebenarnya adalah untuk menganut agama Islam “sepenuhnya” karena sifat fitrah kejadiannya memang telah dikaitkan oleh Allah dengan agamanya yang indah ini.

    Kesimpulannya: Makhluk Allah yang bergelar manusia yang tidak bersembahyang apalagi bukan yang beragama Islam walaupun akal mereka berfungsi secara normal tetapi sebenarnya di dalam sesuatu keadaan mereka akan hilang pertimbangan di dalam membuat keputusan secara normal. Justru itu tidak heranlah manusia ini kadang-kadang tidak segan-segan untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan fitrah kejadiannya walaupun akal mereka mengetahui perkara yang akan dilakukan tersebut adalah tidak sesuai dengan kehendak mereka karena otak tidak bisa untuk mempertimbangkan secara lebih normal. Maka tidak heranlah timbul bermacam-macam gejala-gejala sosial masyarakat saat ini.

    Anda ingin beramal shaleh? Tolong k! irimkan kepada rekan-rekan muslim lainnya yang anda kenal.

    ***

    Kiriman: Edy Purwanto

     
  • erva kurniawan 2:38 am on 21 December 2018 Permalink | Balas  

    Etika Bertetangga 

    Etika Bertetangga

    Menghormati tetangga dan berprilaku baik terhadap mereka. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, sebagaimana di dalam hadits Abu Hurairah Radhiallaahu anhu : “….Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia memu-liakan tetangganya”. Dan di dalam riwayat lain disebutkan: “hendaklah ia berprilaku baik terhadap tetangganya”. (Muttafaq’alaih).

    Bangunan yang kita bangun jangan mengganggu tetangga kita, tidak membuat mereka tertutup dari sinar mata hari atau udara, dan kita tidak boleh melampaui batasnya, apakah merusak atau mengubah miliknya, karena hal tersebut menyakiti perasaannya.

    Hendaknya Kita memelihara hak-haknya di saat mereka tidak di rumah. Kita jaga harta dan kehormatan mereka dari tangan-tangan orang jahil; dan hendaknya kita ulurkan tangan bantuan dan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan, serta memalingkan mata kita dari wanita mereka dan merahasiakan aib mereka.

    Tidak melakukan suatu kegaduhan yang mengganggu mereka, seperti suara radio atau TV, atau mengganggu mereka dengan melempari halaman mereka dengan kotoran, atau menutup jalan bagi mereka. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “Demi Allah, tidak beriman; demi Allah, tidak beriman; demi Allah, tidak beriman! Nabi ditanya: Siapa, wahai Rasulullah? Nabi menjawab: “Adalah orang yang tetangganya tidak merasa tentram karena perbuatan-nya”. (Muttafaq’alaih).

    Jangan kikir untuk memberikan nasihat dan saran kepada mereka, dan seharusnya kita ajak mereka berbuat yang ma`ruf dan mencegah yang munkar dengan bijaksana (hikmah) dan nasihat baik tanpa maksud menjatuhkan atau menjelek-jelekkan mereka.

    Hendaknya kita selalu memberikan makanan kepada tetangga kita. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda kepada Abu Dzarr: “Wahai Abu Dzarr, apabila kamu memasak sayur (daging kuah), maka perbanyaklah airnya dan berilah tetanggamu”. (HR. Muslim).

    Hendaknya kita turut bersuka cita di dalam kebahagiaan mereka dan berduka cita di dalam duka mereka; kita jenguk bila ia sakit, kita tanyakan apabila ia tidak ada, bersikap baik bila menjumpainya; dan hendaknya kita undang untuk datang ke rumah. Hal-hal seperti itu mudah membuat hati mereka jinak dan sayang kepada kita.

    Hendaknya kita tidak mencari-cari kesalahan/kekeliruan mereka dan jangan pula bahagia bila mereka keliru, bahkan seharusnya kita tidak memandang kekeliruan dan kealpaan mereka.

    Hendaknya kita sabar atas prilaku kurang baik mereka terhadap kita. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Ada tiga kelompok manusia yang dicintai Allah…. –Disebutkan di antaranya- :Seseorang yang mempunyai tetangga, ia selalu disakiti (diganggu) oleh tetangganya, namun ia sabar atas gangguannya itu hingga keduanya dipisah oleh kematian atau keberangkatannya”. (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).

    ***

    [Taken From Kitab “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari” By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 20 December 2018 Permalink | Balas  

    Buah Pendidikan Kedisiplinan Di Rumah 

    Buah Pendidikan Kedisiplinan Di Rumah

    Kisah berikut ini adalah tentang apa yang terjadi di rumah tangga. Seorang putra tidak suka tinggal di rumah, karena ayah ibunya selalu ‘ngomel’, ia tak suka bila ayahnya mengomelinya untuk hal-hal kecil ini.

    “Nak ! Kalau keluar kamar matikan kipas anginnya.”

    “Matikan TV, jangan biarkan hidup tapi tak ada yang menonton !

    “Simpan pena yang jatuh ke kolong meja di tempatnya !”

    Tiap hari dia harus ta’at pada hal-hal ini sejak kecil, saat bersama keluarga di rumah. Maka tibalah hari ini, saat dia menerima panggilan untuk wawancara kerja.

    Dalam hati dia berkata : “Begitu mendapat pekerjaan, saya akan sewa rumah sendiri. Tak akan ada lagi omelan ibu ayah,” begitu pikirnya.

    Ketika hendak pergi untuk interview, ayahnya berpesan : “Nak ! Jawablah pertanyaan yang diajukan tanpa ragu-ragu.

    Bahkan jika engkau tidak tahu jawabannya, katakan sejujurnya dengan percaya diri.”

    Ayahnya memberinya uang lebih banyak dari ongkos yang dibutuhkan untuk menghadiri wawancara. Setiba di pusat wawancara, diperhatikannya bahwa tidak ada penjaga keamanan di gerbang. Meskipun pintunya terbuka, gerendelnya menonjol keluar, dan bisa membuat yang lewat pintu itu menabrak atau bajunya tersangkut grendel.

    Dia geser gerendel ke posisi yang benar, menutup pintu dan masuk menuju kantor. Di kedua sisi jalan dia lihat tanaman bunga yang indah. Tapi ada air mengalir dari selang dan tak ada seorang pun disekitar situ. Air meluap ke jalan setapak. Diangkatnya selang dan diletakkannya di dekat salah satu tanaman dan melanjutkan kembali langkahnya. Tak ada seorang pun di area resepsionis. Namun, ada petunjuk bahwa wawancara di lantai dua. Dia perlahan menaiki tangga. Lampu yang dinyalakan semalam masih menyala, padahal sudah pukul 10 pagi.

    Peringatan ayahnya terngiang di telinganya : “Mengapa kamu meninggalkan ruangan tanpa mematikan lampu ?”

    Dia merasa agak jengkel oleh pikiran itu, namun dia tetap mencari saklar dan mematikan lampu. Di lantai atas di aula besar dia lihat banyak calon duduk menunggu giliran. Melihat banyaknya pelamar, dia bertanya-tanya, apakah masih ada peluang baginya untuk diterima? Diapun menuju aula dengan sedikit gentar dan menginjak karpet dekat pintu bertuliskan “Selamat Datang” .

    Diperhatikannya bahwa karpet itu terbalik. Spontan saja dia betulkan, walau dengan sedikit kesal. Dilihatnya di beberapa baris di depan banyak yang menunggu giliran, sedangkan barisan belakang kosong. Terdengar suara kipas angin, dimatikannya kipas yang tidak dimanfaatkan dan duduk di salah satu kursi yang kosong. Banyak pria memasuki ruang wawancara dan segera pergi dari pintu lain. Sehingga tak mungkin ada yang bisa menebak apa yang ditanyakan dalam wawancara. Tibalah gilirannya, dia masuk dan berdiri di hadapan pewawancara dengan agak gemetar dan pesimis.

    Sesampainya di depan meja, pewawancara langsung mengambil sertifikat, dan tanpa bertanya langsung berkata : “Kapan Anda bisa mulai bekerja ?”

    Dia terkejut dan berpikir, “apakah ini pertanyaan jebakan, atau tanda bahwa telah diterima untuk bekerja disitu ?”

    Dia bingung.

    “Apa yang Anda pikirkan ?” tanya sang boss lalu melanjutkan : “Kami tidak mengajukan pertanyaan kepada siapa pun di sini. Sebab hanya dengan mengajukan beberapa pertanyaan, kami tak akan dapat menilai siapa pun. Tes kami adalah untuk menilai sikap orang tersebut.Kami melakukan tes tertentu berdasarkan sikap para calon.Kami mengamati setiap orang melalui CCTV, apa saja yg dilakukannya ketika melihat gerendel di pintu, selang air yang mengalir, keset “selamat datang”, kipas atau lampu yang tak perlu. Anda satu-satunya yang melakukan. Itu sebabnya kami memutuskan untuk memilih Anda !”

    Hatinya terharu, dia ingat ayahnya. Dia yg selalu merasa jengkel terhadap disiplin dan omelan ibu ayahnya. Kini dia menyadari bahwa justru omelan dan disiplin yg ditanamkan orang tuanyalah yang membuatnya diterima pada perusahaan yang diinginkannya. Kekesalan dan kemarahannya pada ayahnya seketika sirna.

    “Hanya Anda satu-satunya yang melakukan apa yang kami harapkan dari seorang manajer, maka kami putuskan menerima Anda bekerja disini.”

    Ayah ! Ma’afkan anakmu, bisiknya dalam hati penuh rasa haru dan bersyukur. Dia akan minta maaf kepada ayahnya, dia akan ajak ayahnya melihat tempat kerjanya.

    Dia pulang ke rumah dengan bahagia. Apapun yang orang tua katakan pada anaknya, adalah demi kebaikan anak-anak itu sendiri, untuk menyiapkan masa depan yang baik !

    “Batu karang tak akan menjadi patung yang indah bernilai tinggi, jika tak dapat menahan rasa sakit saat pahat bekerja memotongnya”.

    Untuk menjadi pribadi yang indah, kita perlu menerima dan mematuhi nasehat yang baik. Kebiasaan baik akan muncul dari perilaku buruk yang dipahat dan dibuang dari diri kita. Ibu menggendong anak di pinggangnya untuk memeluk, memberi makan dan untuk membuatnya tidur.

    Tetapi ayah mengangkat anak dan mendudukkan di pundaknya, untuk membuatnya melihat dunia yang tidak bisa dilihat anaknya. Ayah dan ibu adalah pahlawan, yang kasih sayangnya layaknya guru yang mendampingi anak sepanjang kehidupan. Perlakukanlah orangtua sebaik-baiknya, agar jadi contoh dan bimbingan dari generasi ke generasi, yang menerima estafet kehidupan.

    Untuk dibagikan ke para orang tua dan anak-anak tercinta.

    Semoga bermanfaat !

    ***

    Kiriman Grup Wa

     
  • erva kurniawan 7:15 am on 19 December 2018 Permalink | Balas  

    Etika Berkomunikasi Lewat Telepon 

    Etika Berkomunikasi Lewat Telepon

    Ceklah dengan baik nomor telepon yang akan anda hubungi sebelum anda menelpon agar anda tidak mengganggu orang yang sedang tidur atau mengganggu orang yang sedang sakit atau merisaukan orang lain.

    Pilihlah waktu yang tepat untuk berhubungan via telepon, karena manusia mempunyai kesibukan dan keperluan, dan mereka juga mempunyai waktu tidur dan istirahat, waktu makan dan bekerja.

    Jangan memperpanjang pembicaraan tanpa alasan, karena khawatir orang yang sedang dihubungi itu sedang mempunyai pekerjaan penting atau mempunyai janji dengan orang lain.

    hendaknya wanita tidak memperindah suara di saat ber-bicara (via telpon) dan tidak berbicara melantur dengan laki-laki. Allah berfirman yang artinya: “Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik”. (Al-Ahzab: 32).

    Maka hendaknya wanita berhati-hati, jangan berbicara diluar kebiasaan dan tidak melantur berbicara dengan lawan jenisnya via telepon, apa lagi memperpanjang pembicaraan, memperindah suara, memperlembut dan lain sebagainya.

    Hendaknya penelpon memulai pembicaraannya dengan ucapan Assalamu`alaikum, karena dia adalah orang yang datang, maka dari itu ia harus memulai pembicaraannya dengan salam dan juga menutupnya dengan salam.

    Tidak memakai telpon orang lain kecuali seizin pemilik-nya, dan itupun bila terpaksa.

    Tidak merekam pembicaraan lawan bicara kecuali seizin darinya, apapun bentuk pembicaraannya. Karena hal tersebut merupakan tindakan pengkhianatan dan mengungkap rahasia orang lain, dan inilah tipu muslihat. Dan apabila rekaman itu kamu sebarluaskan maka itu berarti lebih fatal lagi dan merupakan penodaan terhadap amanah. Dan termasuk di dalam hal ini juga adalah merekam pembicaraan orang lain dan apa yang terjadi di antara mereka. Maka, ini haram hukumnya, tidak boleh dikerjakan!

    Tidak menggunakan telepon untuk keperluan yang negatif, karena telepon pada hakikatnya adalah nikmat dari Allah yang Dia berikan kepada kita untuk kita gunakan demi memenuhi keperluan kita. Maka tidak selayaknya jika kita menjadikannya sebagai bencana, menggunakannya untuk mencari-cari kejelekan dan kesalahan orang lain dan mencemari kehormatan mereka, dan menyeret kaum wanita ke jurang kenistaan. Ini haram hukumnya, dan pelakunya layak dihukum.

    ***

    [Taken From Kitab “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari” By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 18 December 2018 Permalink | Balas  

    Etika Safar (Bepergian Jauh) 

    Etika Safar (Bepergian Jauh)

    Disunnatkan bagi orang yang berniat untuk melakukan perjalan jauh (safar) beristikharah terlebih dahulu kepada Allah mengenai rencana safarnya itu, dengan sholat dua raka`at di luar shalat wajib, lalu berdo`a dengan do`a istikharah.

    Hendaknya bertobat kepada Allah Shallallaahu alaihi wa Sallam dari segala kemak-siatan yang pernah ia lakukan dan meminta ampun kepada-Nya dari segala dosa yang telah diperbuatnya, sebab ia tidak tahu apa yang akan terjadi di balik kepergiannya itu.

    Hendaknya ia mengembalikan barang-barang yang bukan haknya dan amanat-amanat kepada orang-orang yang berhak menerimanya, membayar hutang atau menyerah-kannya kepada orang yang akan melunasinya dan berpesan kebaikan kepada keluarganya.

    Membawa perbekalan secukupnya, seperti air, makanan dan uang.

    Disunnatkan bagi musafir pergi dengan ditemani oleh teman yang shalih selama perjalanannya untuk meringankan beban diperjalananya dan menolongnya bila perlu. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “Kalau sekiranya manusia mengetahui apa yang aku ketahui di dalam kesendirian, niscaya tidak ada orang yang menunggangi kendaraan (musafir) yang berangkat di malam hari sendirian”. (HR. Al-Bukhari)

    Disunnatkan bagi para musafir apabila jumlah mereka lebih dari tiga orang mengangkat salah satu dari mereka sebagai pemimpin (amir), karena hal tersebut dapat memper-mudah pengaturan urusan mereka. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila tiga orang keluar untuk safar, maka hendaklah mereka mengangkat seorang amir dari mereka”. (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani).

    Disunnatkan berangkat safar pada pagi (dini) hari dan sore hari, karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Ya Allah, berkahilah bagi ummatku di dalam kediniannya”. Dan juga bersabda: “Hendaknya kalian memanfaatkan waktu senja, karena bumi dilipat di malam hari”. (Keduanya diriwayat-kan oleh Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani).

    Disunatkan bagi musafir apabila akan berangkat mengu-capkan selamat tinggal kepada keluarga, kerabat dan teman-temannya, sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam dan dia sabdakan: “Aku titipkan kepada Allah agamamu, amanatmu dan penutup-penutup amal perbuatanmu”. (HR. At-Turmudzi, dishahihkan oleh Al-Albani).

    Apabila si musafir akan naik kendaraannya, baik berupa mobil atau lainnya, maka hendaklah ia membaca basmalah; dan apabila telah berada di atas kendaraannya hendaklah ia bertakbir tiga kali, kemudian membaca do`a safar berikut ini:

    “Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami; Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepadamu di dalam perjalanan kami ini kebajikan dan ketaqwaan, dan amal yang Engkau ridhai; Ya Allah, mudahkanlah perjalannan ini bagi kami dan dekatkanlah kejauhannya; Ya Allah, Engkau adalah Penyerta kami di dalam perjalanan ini dan Pengganti kami di keluarga kami; Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari bencana safar dan kesedihan pemandangan, dan keburukan tempat kembali pada harta dan keluarga”. (HR. Muslim).

    Disunnatkan bertakbir di saat jalan menanjak dan bertasbih di saat menurun, karena ada hadits Jabir yang menuturkan: “Apabila (jalan) kami menanjak, maka kami bertakbir, dan apabila menurun maka kami bertasbih”. (HR. Al-Bukhari).

    Disunnatkan bagi musafir selalu berdo`a di saat perjala-nannya, karena do`anya mustajab (mudah dikabulkan).

    Apabila si musafir perlu untuk bermalam atau beristirahat di tengah perjalanannya, maka hendaknya menjauh dari jalan; karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila kamu hendak mampir untuk beristirahat, maka menjauhlah dari jalan, karena jalan itu adalah jalan binatang melata dan tempat tidur bagi binatang-binatang di malam hari”. (HR. Muslim).

    Apabila musafir telah sampai tujuan dan menunaikan keperluannya dari safar yang ia lakukan, maka hendaknya segera kembali ke kampung halamannya. Di dalam hadits Abu Hurairah Radhiallaahu anhu disebutkan diantaranya: “……Apabila salah seorang kamu telah menunaikan hajatnya dari safar yang dilakukannya, maka hendaklah ia segera kembali ke kampung halamannya”. (Muttafaq’ alaih).

    Disunnatkan pula bagi si musafir apabila ia kembali ke kampung halamannya untuk tidak masuk ke rumahnya di malam hari, kecuali jika sebelumnya diberi tahu terlebih dahulu. Hadits Jabir menuturkan :”Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang seseorang mengetuk rumah (membangunkan) keluarganya di malam hari”. (Muttafaq’alaih).

    Disunnatkan bagi musafir di saat kedatangannya pergi ke masjid terlebih dahulu untuk shalat dua rakaat. Ka`ab bin Malik meriwayatkan: “Bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam apabila datang dari perjalanan (safar), maka ia langsung menuju masjid dan di situ ia shalat dua raka`at”. (Muttafaq’ alaih).

    ***

    [Taken From Kitab “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari” By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 17 December 2018 Permalink | Balas  

    Etika Pengantin dan Pergaulan Suami-Istri 

    Etika Pengantin dan Pergaulan Suami-Istri

    Merayu istri dan bercanda dengannya di saat santai berduaan. Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam selalu bercanda, tertawa dan merayu istri-istrinya.

    Meletakkan tangan di kepala istri dan mendo`akannya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila salah seorang kamu menikahi seorang wanita, maka hendaklah ia memegang ubun-ubunnya, dan bacalah bimillah lalu mohon berkahlah kepada Allah, dan hendaknya ia membaca:

    “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dari kebaikannya dan kebaikan sifat yang ada padanya; dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukanya dan keburukan sifat yang ada padanya)” (HR. Abu Daud dan dihasankan oleh Al-Albani).

    Disunnahkan bagi kedua mempelai melakukan shalat dua raka`at bersama, karena hal tersebut dinukil dari kaum salaf.

    Membaca basmalah sebelum melakukan jima`. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Kalau sekiranya seorang di antara kamu hendak bersenggama dengan istrinya membaca :

    “(Dengan menyebut nama Alllah, ya Allah, jauhkanlah setan dari kami dan jauhkan syetan dari apa yang Engkau rizkikan kepada kami), maka sesungguhnya jika keduanya dikaruniai anak dari persenggamaannya itu, niscaya ia tidak akan dibahayakan oleh setan selama-lamanya” (Muttafaq alaih).

    Jika sang suami ingin bersenggama lagi, maka dianjurkan berwudhu terlebih dahulu, karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila salah seorang kamu telah bersetubuh dengan istrinya, lalu ingin mengulanginya kembali maka hendaklah ia berwudhu”. (HR. Muslim).

    Disunatkan bagi kedua suami istri berwudhu sebelum tidur sesudah melakukan jima`, karena hadits Aisyah menuturkan :”Adalah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam apabila beliau hendak makan atau tidur sedangkan ia junub, maka beliau mencuci kemaluannya dan berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat” (Muttafaq’alaih).

    Haram bagi suami menyetubuhi istrinya di saat ia sedang haid atau menyetubuhi duburnya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: Barangsiapa yang melakukan persetubuhan terhadap wanita haid atau wanita pada duburnya, atau datang kepada dukun (tukang sihir) lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad”. (HR. Al-Arba`ah dan dishahihkan oleh Al-Alnbani).

    Haram bagi suami-istri menyebarkan tentang rahasia hubungan keduanya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguh-nya manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari Kiamat adalah orang lelaki yang berhubungan dengan istrinya (jima`), kemudian ia menyebarkan rahasianya”. (HR. Muslim).

    Hendaknya masing-masing saling bergaul dengan baik, dan melaksanakan kewajiban masing-masing terhadap yang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Dan para istri mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut yang ma`ruf”. (Al-Baqarah: 228).

    Hendaknya suami berlaku lembut dan bersikap baik terhadap istrinya dan mengajarkan sesuatu yang dipan-dang perlu tentang masalah agamanya, serta menekankan apa-apa yang diwajib Allah terhadapnya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “Ingatlah, berpesan baiklah selalu kepada istri, karena sesungguhnya mereka adalah tawanan disisi kalian….” (HR. Turmudzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

    Hendaknya istri selalu ta`at kepada suaminya sesuai kemampuannya asal bukan dalam hal kemaksiatan, dan hendaknya tidak mematuhi siapapun dari keluarganya bila tidak disukai oleh suami dan bertentangan dengan kehendaknya, dan hendaknya istri tidak menolak ajakan suami bila mengajaknya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila suami mengajak istrinya ke tempat tidutrnya lalu ia tidak memenuhi ajakannya, lalu sang suami tidur dalam keadaan marah kepadanya, maka malaikat melaknat wanita tersebut hingga pagi”. (Muttafaq alaih).

    Hendaknya suami berlaku adil terhadap istri-istrinya di dalam masalah-masalah yang harus bertindak adil. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa mempunyai dua istri, lalu ia lebih cenderung kepada salah satunya, niscaya ia datang di hari Kiamat kelak dalam keadaan sebelah badannya miring”. (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani).

    ***

    [Taken From Kitab “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari” By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]

     
  • erva kurniawan 1:59 am on 16 December 2018 Permalink | Balas  

    Etika di Pasar 

    Etika di Pasar

    Hendaknya berdzikir kepada Allah di saat masuk ke pasar, karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang masuk ke pasar lalu membaca:

    “(Tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah kerajaan, dan kepunyaan-Nyalah segala pujian, Dia yang menghidupkan dan yang mematikan, dan Dia Maha Hidup tidak akan mati; di tangan-Nyalah segala kebaikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu), maka Allah mencatat sejuta kebajikan baginya, dan menghapus sejuta dosa darinya, dan Dia tinggikan baginya sejuta derajat dan Dia bangunkan satu istana baginya di dalam surga”. (HR. Ahmad dan At-Turmudzi, di nilai hasan oleh Al-Albani).

    Tidak menyaringkan suara dengan berbagai pertengkaran dan perdebatan. Di antara sifat kepribadian Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam adalah Bahwasanya beliau bukanlah seorang yang keras kepala atau keras hati dan bukan pula orang yang suka teriak-teriak di pasar dan juga bukan orang yang membalas keburukan dengan keburukan, akan tetapi ia mema`afkan dan mengampuni’. (HR. Al-Bukhari).

    Menjaga kebersihan pasar. Pasar tidak boleh dicemari dengan kotoran dan sampah, karena hal tersebut dapat melumpuhkan arus jalanan dan menjadi sumber bau busuk yang mengganggu.

    Menjaga agar selalu memenuhi akad dan janji serta kesepakatan-kesepakatan di antara dua belah fihak (pembeli dan penjual). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu”. (Al-Ma’idah : 1)

    Mengukuhkan jual beli dengan persaksian atau catatan (dokumentasi), karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman yang artinya: “Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli”. (Al-Baqarah: 282).

    Bersikap ramah dan memberikan kemudahan di dalam proses jual beli. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Allah akan belas kasih kepada seorang hamba yang ramah apabila menjual, ramah apabila membeli dan ramah apabila memberikan keputusan”. (HR. Al-Bukhari).

    Jujur, terbuka dan tidak menyembunyikan cacat barang jualan. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Seorang muslim itu adalah saudara muslim lainnya, maka tidak halal bagi seorang muslim membeli dari saudaranya suatu pembelian yang ada cacatnya kecuali telah dijelaskannya terlebih dahulu”. (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).

    Jangan mudah mengobral sumpah di dalam berjual beli. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Hindarilah banyak bersumpah di dalam berjual-beli, karena sumpah itu dapat menghabiskan (barang) kemudian membatalkan (barakahnya)”. (HR. Muslim).

    Menghindari penipuan, kecurangan dan pengkaburan serta berlebih-lebihan di dalam menarik keuntungan. Telah diriwayatkan bahwa sesungguhnya Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam pernah menjumpai setumpuk makanan, maka Nabi memasukkan tangannya ke dalam tumpukan tersebut, maka jari-jemarinya basah. Maka beliau bersabda: “Apa ini, wahai si pemilik makanan?” Pemilik makanan menjawab :Terkena hujan, wahai Rasulullah. Maka Nabi bersabda: “Kenapa bagian yang basah tidak kamu letakkan di paling atas agar dilihat oleh manusia? Barangsiapa yang curang terhadap kami, maka ia bukan dari golongan kami”. (HR. Muslim).

    Menghindari perbuatan curang di dalam menakar atau menimbang barang dan tidak menguranginya. Allah berfirman yang artinya: “Celakalah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi”. (Al-Muthaffifin : 1-3).

    Menghindari riba, penimbunan barang dan segala per-buatan yang dapat merugikan orang banyak. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Allah mengutuk (melaknat) pemakan riba, pemberinya, saksi dan penulisnya”. (HR. Ahmad, dan dishahihkan oleh Al-Albani). Dan Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak akan menimbun barang kecuali orang yang salah “. (HR. Muslim).

    Membersihkan pasar dari segala barang yang haram diperjual-belikan.

    Menghindari promosi-promosi palsu yang bertujuan menarik perhatian pembeli dan mendorongnya untuk membeli, karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah melarang najasy. (Muttafaq’alaih). Najasy adalah semacam promosi palsu.

    Hindarilah penjulan barang rampasan (hasil ghashab) dan curian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesama kamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu”. (Al-Nisa: 29).

    Menundukkan pandangan mata dari wanita dan menghindar dari percampurbauran dan berdesak-desakan dengan mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; (An-Nur: 30-31).

    Selalu menjaga syi`ar-syi`ar agama (shalat berjama`ah, dll.), tidak melalaikan shalat berjama`ah karena berjual-beli. Maka sebaik-baik manusia adalah orang yang keduniaannya tidak membuatnya lalai terhadap masalah-masalah akhiratnya atau sebaliknya. Allah berfirman yang artinya: “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) menunaikan zakat”. (An-Nur: 37).

    [Taken From Kitab “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari” By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 15 December 2018 Permalink | Balas  

    Kitab Rahasia Zakat (8/8) 

    Kitab Rahasia Zakat (8/8)

    ======================

    Keutamaan sedekah yang disembunyikan

    Allah telah berfirman:

    “Jika kamu menampakkan sedekah itu, maka itu pun baik juga. Tetapi jika kamu menyembunyikan sedekah itu dan kamu memberikannya kepada orang-orang fakir, itu adalah lebih utama.” (al-Baqarah: 271)

    Dalam mengeluarkan sedekah secara bersembunyi-sembunyi itu ada lima maksud:

    Pertama: Memberikannya secara bersembunyi itu akan menutupi rahsia orang yang menerimanya. Jika ia mengambilnya secara terang-terangan akan jatuhlah marwahnya di muka ramai, dan terdedahlah keperluannya di mata mereka. Dengan itu terkeluarlah ia dari golongan orang-orang yang hidupnya ‘afif, yaitu tidak suka meminta-minta dan memelihara diri dari menunjukkan kesusahan di hadapan orang ramai sebagaimana yang dianjurkan oleh agama, hingga ke derajat orang yang tak tahu bila melihatnya, disangkanya ia tidak memerlukan apa-apa.

    Kedua: Memberikanya secara sembunyi-sembunyi itu akan menyelamatkannya dari sangkaan tak baik di dalam hati orang ramai, atau dari bencana lidah mereka. Sebab mungkin mereka akan menaruh hasad terhadapnya atau mengumpatnya, atau menyangka orang itu berani mengambil meskipun ia tidak perlu. Padahal hasad, sangkaan yang buruk dan mengumpat itu adalah di antara dosa-dosa besar, sedangkan memelihara orang ramai dari dosa-dosa ini adalah lebih utama.

    Berkata Ayub as-Sakhtiani: Aku tidak suka memakai pakaian yang baru, karena bimbang kalau-kalau akan berlaku hasad pada diri jiranku. Dan pada riwayat yang lain: karena takut kalau-kalau saudara-maraku akan berkata: Dari mana dia dapat pakaian baru itu?

    Ketiga: Menggalakkan si pemberi untuk merahsiakan pemberian itu, sebab keutamaan memberi secara rahsia atau bersembunyi-sembunyi adalah lebih banyak pahalanya dari memberi secara terang-terangan dan menggalakkan untuk meyempurnakan sesuatu yang baik adalah baik.

    Adalah diceritakan bahawa ada seorang telah membawa sesuatu pemberian kepada seorang alim dan berikannya secara terang-terangan maka orang alim itu menolak pemberian itu. Kemudian di masa yang lain, datang pula seorang lain memberinya sesuatu pemberian secara rahsia, dia pun menerimanya. Bila ditanya tentang sebabnya orang alim itu berkata: Orang ini telah menyempurnakan pemberiannya dengan penuh adab, sebab diberinya aku dengan rahsia, maka aku terimalah pemberian itu daripadanya. Tetapi orang yang pertama itu tidak tahu menjaga kesopanan bila dia memberikan pemberiannya di muka ramai maka aku tidak mau menerimanya.

    Setengah orang pula, bila diberikan kepadanya sesuatu pemberian secara terang-terangan di muka orang ramai, dia akan mengembalikannya seraya berkata: Engkau telah mengsyariatkan pemberian ini dengan selain dari Allah Azzawajalla dan engkau tidak memadai dengan Allah semata-mata karena itu aku akan kembalikan kepadamu kesyirikanmu itu.

    Keempat: Sesungguhnya mengambil zakat atau sedekah di muka khalayak ramai adalah suatu penghinaan dan kerendahan moral dan tidak seharusnya seorang Mu’min menghina saudaranya dengan pemberian zakat serupa itu.

    Kelima: Untuk memelihara diri dari syubhat pengongsian, karena ada sebuah Hadis yang berbunyi: “Barangsiapa yang menerima sesuatu hadiah di hadapan khalayak ramai, maka orang-orang itu berkongsi dalam hadiah itu.”

    Maksudnya: Memberikannya bukan semata-mata karena Allah, tetapi meminta kepujian orang ramai.

    Setiap amalan itu adalah bergantung dengan niat maka sewajarnyalah seseorang yang benar-benar ikhlas di dalam amalannya itu berhati-hati terhadap kelakuan dirinya supaya tidak terkecoh oleh rasa kemegahan yang membendung diri atau terganggu oleh tipu daya syaitan.

    Kita memohon kepada Allah yang Maha Mulia supaya memberikan kita pertolongan dari taufiqNya yang sempurna, Amin….

    WALLOHU A’LAM BIS-SHAWAB

    TAMAT

    KITAB RAHASIA ZAKAT

    ***

    INTISARI KITAB

    Mau’izhatul Mu’minin min “IHYA’ ULUMIDDIN”

    ==Hujjatul Islam Al Imam Al Ghazali==

    (Bimbingan Mu’min dari Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama)

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 14 December 2018 Permalink | Balas  

    Kitab Rahasia Zakat (7/8) 

    KITAB RAHASIA ZAKAT (7/8)

    ***

    Sedekah tathawwu’ dan keutamaannya

    Di antara Hadis yang menyebutkan tentang keutamaan sedekah ialah: “Bersedekah walau dengan sebutir kurma.”

    Dalam riwayat lain: “Takutilah api neraka itu (yakni selamatkanlah dirimu dari api neraka), walaupun dengan bersedekah setengah butir kurma. Jika kamu tiada dapat berbuat demikian, maka dengan perkataan yang baik.”

    Sabdanya lagi: “Setiap manusia di dalam naungan sedekahnya, sehinggalah saat diputuskan Allah antara sekalian manusia (yakni pada Hari Kiamat).”

    Sabdanya yang lain: “Sedekah secara bersembunyi-sembunyi itu memadamkan kemarahan Allah azzawajalla”.

    Apabila Rasulullah s.a.w. ditanya: Mana satu sedekah yang lebih utama? Baginda menjawab: Bilamana engkau bersedekah sedangkan engkau masih sihat, serta kikir, engkau mengharap jadi kaya dan takut jadi miskin. Dan janganlah engkau menangguhkan sedekah itu, sehingga nyawa telah sampai di kerongkong, maka ketika itu engkau katakan untuk si Fulan sekian banyak, dan untuk si Fulan sekian pula, padahal sememangnya semua itu untuk mereka.

    Yakni: Kalau dia tidak bilang sekian si A. Atau sekian untuk si B. Memang akan menjadi hak mereka bila sudah tercabut nyawanya.

    Sabdanya lagi: “Bukanlah seorang miskin itu yang ditolak ketika meminta sebutir atau dua butir kurma, ataupun yang ditolak ketika sesuap atau dua suap makanan. Tetapi yang dikatakan seorang miskin itu ialah orang yang terlalu susah, malah tidak suka meminta-minta. Jika perlu bacalah: (ayat) mereka tiada meminta-minta orang berulang kali.”

    Sabdanya lagi: “Tiada seseorang Muslim yang memberi pakaian kepada Muslim yang lain, melainkan Allah memelihara orang itu, selagi pakaian itu masih digunakan, sekalipun sampai menjadi secarik kain buruk.”

    Dari atsar-atsar cerita lama ialah apa yang dikatakan oleh ‘Urwah; bahawasanya Saiyidatina Aisyah r.a telah bersedekah sebanyak lima puluh ribu dirham, padahal bajunya masih koyak-koyak. Saiyidina Umar Ibnul-Khattab r.a pula berdoa: Ya Allah! Ya Tuhanku! Limpahkanlah karunia kelebihan itu pada orang-orang yang terbaik di antara kami, semoga mereka akan mengembalikan karunia-karunia itu kepada orang-orang yang mempunyai hajat di antara kami.

    Berkata Ibnu Abil-Ja’ad: Sesungguhnya sedekah itu akan menolak tujuh puluh pintu dari kecelakaan dan keutamaan mengeluarkannya secara sembunyi-sembunyi adalah tujuh puluh kali lebih utama daripada mengeluarkannya secara terang-terangan.

    (BERSAMBUNG)

    ***

    INTISARI KITAB

    Mau’izhatul Mu’minin min “IHYA’ ULUMIDDIN”

    ==Hujjatul Islam Al Imam Al Ghazali==

    (Bimbingan Mu’min dari Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama)

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 13 December 2018 Permalink | Balas  

    Kitab Rahasia Zakat (6/8) 

    Kitab Rahasia Zakat (6/8)

    ***

    Tugas-tugas penerima zakat

    Orang yang menerima zakat mempunyai empat tugas:

    (1) Hendaklah ia mengetahui bahawa Allah Azzawajalla mewajibkan pemberian itu untuk mencukupi keperluannya supaya menjadi pertolongan kepadanya untuk mengerjakan ketaatan. Jika dipergunakannya untuk maksiat, seolah-olah ia telah mengkufuri nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepadanya. Dengan itu terjauhlah ia dari rahmat Allah dan mendapat kutukan pula daripadanya.

    (2) Hendaklah ia mensyukuri orang yang memberikan zakat itu sambil mendoakan baginya dan memujinya tetapi hendaklah jangan sampai terkeluar dari menganggapnya sebagai pengantara saja, atau sebagai jalan di mana menerusinya disampaikan nikmat Allah tadi, tidak lebih dari itu, Sebab bagi pengantara atau jalan atau wasitah itu, ada haknya juga dari segi hanya dijadikan pengantara atau wasitah. Dan tiadalah menafikan bahawa asal nikmat itu daripada Allah s.w.t.

    Telah bersabda Rasullullah s.a.w. “Barangsiapa yang tiada menyukuri manusia, maka tiadalah ia mensyukuri Allah.”

    Allah s.w.t. juga telah memuji hamba-hambaNya, karena amalan-amalan baik mereka dalam beberapa ayat di dalam kitabNya, tetapi Dia telah menentukan bahawa Dialah yang mentakdirkan semua itu, diantaranya firman Allah: “Sebaik-baik hamba itu adalah yang banyak taubatnya,” (Shad: 30)

    Bersabda Rasulullah s.a.w.: “Barangsiapa memberikan kepadamu sesuatu kebaikan (bantuan), maka hendaklah kamu membalasnya Kiranya kamu tidak mampu maka doakan baginya (dengan baik) sehinga kamu yakin bahawa kamu telah pun membalasnya.”

    Di antara cara menyempurnakan kesyukuran ialah menutupi aib atau cacat-cacat pemberian itu kalaulah ada cacatnya dan janganlah sampai ia menghina atau mencacinya. Jika ia tiada mahu menerimanya karena keaiban itu maka janganlah ia mengatakan nista orang yang memberinya, bahkan handaklah ia menunjukkan besar hati terhadap pemberian itu dan menganggapnya sangat besar ertinya di hadapan orang ramai, Jelasnya tugas pemberi hendaklah memandang kecil segala pemberiannya, manakala tugas si penerima hendaklah menghargakan kenikmatan itu dan membesar-besarkannya. Dan sewajarnya atas setiap satu dari keduanya menunaikan tugas masing-masing. Semua itu tiadalah berlawanan dengan menganggap bahawa nikmat itu datangnya dari Allah Azzawajalla, sebab barangsiapa yang tiada memandang kepada pengantara atau wasitah, maka oarang itu sebenarnya bodoh. Begitu juga orang yang menganggap pemberian itu berasal dari pengantara, maka orang itu telah ingkar.

    (3) Hendaklah ia meneliti zakat yang diterimanya itu, apakah dari harta yang halal atau tidak. Jika ia bukan dari harta yang halal, maka hendaklah ia bersikap wara’. Janganlah menerima zakat dari orang yang kebanyakan perusahaannya dari hasil yang haram, melainkan bila amat terdesak, maka bolehlah diambil sekadar keperluan saja. Ataupun jika zakat yang diberinya itu dari harta yang serupa itu memang wajib dikeluarkan zakatnya. Pendek kata dalam keadaan-keadaan seperti di atas boleh diterima zakatnya sekiranya memang sukar untuk mendapat dari yang halal seratus persen.

    (4) Hendaklah ia memelihara dari jangan sampai tergelincir ke dalam keraguan dan kesyubhatan dalam kadar zakat yang diambilnya itu, yakni jangan ia menerima, melainkan dalam kadar yang harus diterimanya. Jangan ia menerima juga, melainkan sesudah ia yakin, bahawa ia mempunyai salah satu sifat dari sifat-sifat asnaf yang kedelapan yang telah di tentukan itu. Apabila ia telah meyakini ini, maka hendaklah jangan mengambil atau menerima kadar yang banyak melainkan mengambil sekadar keperluannya saja. Paling banyak boleh diambil untuk menckupi sara hidupnya dalam masa setahun saja. Itulah kadar yang paling tinggi yang dibenarkan oleh syara’ baginya untuk menerima, sebab Rasulullah s.a.w. sendiri hanya menyimpan perbelanjaan untuk tanggungjawabnya hanya untuk masa setahun saja.

    Ada pendapat setengah ulama pula yang mengharuskan si fakir untuk mengambil dari harta zakat sekadar membolehkan ia membeli sebidang tanah yang sederhana, sehingga dengan tanah itu, ia boleh mendapat hasil untuk menampung sara hidup sepanjang umurnya dan tidak perlu lagi meminta-minta atau mengambil zakat dari orang lain. Ada yang berpendapat boleh juga mengambil sekadar untuk dijadikan modal perniagaan agar ia tiadalah akan menerima zakat lagi sesudah itu, sebab ketika itu ia telah terkira sebagai orang yang tidak memerlukannya lagi.

    Saiyidina Umar Ibnul-Khattab r.a telah berkata: Apabila kamu memberi, maka hendaklah kamu memberi sekadar mencukupi hajat orang itu, sehingga ia tiada memerlukan lagi. Dengan pengertian ini, ada pendapat yang mengatakan boleh mengambil sekadar yang boleh memulihkan semula keadaan asal orang yang memerlukannya itu, sekalipun ia mengambil sampai sepuluh ribu dirham.

    Sekali peristiwa Abu Talhah melahirkan keinginannya kepada Rasulullah s.a.w. untuk menderma-baktikan kebun kurmanya, maka Rasulullah s.a.w. telah bersabda:

    “Jadikanlah pemberian itu kepada kaum kerabatmu, maka itu adalah lebih utama.”

    Maka Abu Talhah pun memberikannya kepada Hassan dan Abu Qatadah. Sebenarnya sebidang kebun kurma yang didermakan untuk dua orang saja itu adalah suatu pemberian yang besar dan lebih dari mencukupi.

    (BERSAMBUNG)

    ***

    INTISARI KITAB

    Mau’izhatul Mu’minin min “IHYA’ ULUMIDDIN”

    ==Hujjatul Islam Al Imam Al Ghazali==

    (Bimbingan Mu’min dari Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama)

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 12 December 2018 Permalink | Balas  

    Kitab Rahasia Zakat (5/8) 

    Kitab Rahasia Zakat (5/8)

    ***

    Pembahagian zakat dan asnaf-asnaf penerimanya.

    Ketahuilah, bahawa tiada berhak untuk menerima zakat itu melainkan seorang  Muslim yang ada padanya salah satu dari sifat-sifat asnaf delapan yang  tersebut di dalam al-Quran al-Karim:

    (1) Fakir: yaitu orang yang tiada harta dan tiada mampu pula bekerja.

    Barangsiapa yang boleh bekerja akan terkeluarlah ia dari kategori seorang  fakir. Jika ia sedang menuntut ilmu dan yang demikian itu telah  menghalangnya dari bekerja maka dikiralah ia seorang fakir dan  kekuasaannya untuk bekerja itu tiada dikira. Tetapi kalau ia seorang ‘abid  (beribadat), sehingga ibadatnya itu menghalangnya dari bekerja disebabkan  terlalu banyak ibadatnya dan semua waktunya dihabiskan karena berwirid  maka hendaklah ia disuruh supaya bekerja. Sebab membuat pekerjaan untuk  mendapatkan sara hidup itu, adalah lebih penting daripada menghabiskan  kesemua masanya pada ibadat dan wirid semata-mata.

    (2) Miskin: yaitu orang yang pendapatannya tidak mencukupi perbelanjaan  yang mesti dikeluarkan. Seseorang itu boleh jadi memiliki seribu dirham,  padahal ia boleh dikira miskin sedangkan orang yang tidak memiliki apa-apa  kecuali sebilah kapak dan sepotong tali, padahal ia boleh dikira kaya.  Demikian pula pondok kecil yang dimilikinya dan sepasang pakaian yang  membalut badannya sekadar hal saja, itu semua tidak dapat merampas darinya  nama seorang miskin. Begitu juga dengan perkakas-perkakas rumahtangga yang  diperlukan di rumah menurut keadaan atau kebiasaan tidak dapat  mengeluarkan namanya dari kategori seorang miskin. Termasuk juga kalau ia  mempunyai kitab-kitab fiqh yang banyak, karena tentulah dia berhajat  kepadanya untuk mengetahui hukum-hukum agama.

    (3) Para amil: yaitu orang-orang yang bekerja untuk mengumpulkan zakat, termasuk dalam senarai ini semua orang yang bekerja sebagai kerani,  jurukira penyimpan harta zakat dan orang yang bertugas untuk memindahkan  harta zakat.

    (4) Orang yang dibujuk hatinya menganut Islam atau yang dipanggil  muallaf; yaitu seorang ketua sesuatu puak yang memeluk Islam, sedangkan ia  ditaati oleh kaumnya. Sebab diberikan kepadanya sebahagian daripada zakat,  ialah untuk mengukuhkan kepercayaannya kepada Agama Islam dan menggalakkan  pula pengikut-pengikutnya dan orang lain sepertinya untuk memeluk Agama  Islam.

    (5) Hamba abdi: yaitu untuk maksud menebus dirinya daripada perhambaan,  sama ada dibayarkan harganya kepada tuan punyaanya untuk dimerdekakan,  ataupun diberikan bahagian perhambaan (sekiranya ia hamba mukatab –  pent.).

    (6) Gharim atau orang yang dibebani oleh hutang: yaitu kiranya ia  berhutang karena tujuan-tujuan ketaatan ataupun karena sebab yang mubah  (harus) seperti perbelanjaan ke atas anak-isteri misalnya sedangkan ia di  dalam keadaan fakir, tak punya daya untuk membayar hutang itu. Kiranya ia  berhutang karena tujuan maksiat maka tiadalah ia diberikan dari bahagian  zakat itu, melainkan jika ia telah bertaubat dengan sebenar-benar taubat.  Kiranya ia seorang yang kaya (misalnya mempunyai harta benda – pent.),  maka tiadalah boleh ditunaikan hutangnya itu dari bahagian zakat, kecuali  jika ia berhutang itu karena faedah dan maslahat orang ramai, ataupun  karena tujuan memadamkan fitnah dan huru-hara.

    (7) Orang mujahid atau yang berperang fi-sabilillah: yaitu orang yang  tiada menerima apa-apa bayaran berupa upahan atau gaji dari negara, maka  diberikan kepada mereka itu satu bahagian dari zakat, meskipun mereka itu  tergolong orang-orang yang kaya-raya, karena pemberian itu adalah untuk  menggalakkan mereka supaya terus berperang.

    (8) Ibnu sabil: yaitu orang yang meninggalkan negerinya untuk mengembara  ke negeri orang bukan karena maksiat, atau karena terlantar di negeri  orang dan tak punya wang untuk kembali, maka bolehlah diberikan kepadanya  bahagian zakat, kiranya ia seorang fakir ataupun kiranya ia mempunyai  harta di negeri lain, diberikan sekadar belanja untuk sampai ke negeri itu  saja.

    (BERSAMBUNG)

    ***

    INTISARI KITAB

    Mau’izhatul Mu’minin min “IHYA’ ULUMIDDIN”

    ==Hujjatul Islam Al Imam Al Ghazali==

    (Bimbingan Mu’min dari Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama)

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 11 December 2018 Permalink | Balas  

    Kitab Rahasia Zakat (4/8) 

    Kitab Rahasia Zakat (4/8)

    ======================

    Tugas-tugas mengeluarkan zakat

    Kelima :

    Hendaklah anda memandang pemberian itu amat kecil sekali, sebab jika anda merasakan pemberian itu besar; atau banyak kelak mungkin anda merasa ujub (bermegah diri). Dan sifat ujub itu adalan di antara sifat-sifat yang membinasakan dan tentu sekali anda akan mensia-siakan amalan, bererti menghilangkan pahalanya.

    Adn pendapat yang mengatakan bahawa tidak akan sempurna sesuatu kebajikan melainkan tiga perkara:

    (1) merasakan amalam itu kecil

    (2) menyegerakan amalan itu.

    (3) merahasiakan amalan itu, atau melakukannya secara sembunyi-sembunyi.

    Keenam :

    hendaklah anda memilih dari harta bendamu yang paling bagus sekali dan yang paling dicintainya; yakni yang berharga dan terindah karena Allah Ta’ala tu ZatNya Maha Bagus dan Dia tidak akan menerima malainkan yang bagus pula.

    Sekiranya anda mengeluarkan bukan dari harta yang bagus, maka samalah seperti anda kurang ajar terhadap Allah s.w.t. sebab anda telah memilih yang bagus bagi dirimu atau bagi keluargamu dan memberikan yang tak bagus kepada Allah s.w.t

    Perbuatan ini samalah seperti anda melebihkan dirimu daripada Allah Azzawajalla, padahal segala hartamu itu, Allah yang memberikan kepadamu. Cuba anda buat serupa ini kepada tetamumu; yakni menghidangkan makanan yang busuk, atau tidak enak, tentulah kelakuan itu akan menimbulkan rasa marah di dalam hati si tetamu itu.

    Allah telah berfirman:

    “Wahai orang-orang yang beriman belanjakanlah dari sebaik-baik harta yang kamu perolehi dan dari segala benda yang Kami (Allah) keluarkan dari bumi untuk kamu, dan janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu membelanjakannya, sedangkan kamu sendiri tiada ingin mengambilnya lagi, melainkan dengan memejamkan mata kamu.” (al-Baqarah: 267)

    Maksudnya: Kamu tidak ingin mengambilnya melainkan secara terpaksa atau malu, Itulah yang diartikan dengan makna memejam mata.

    Ketujuh :

    Dalam mengeluarkan sedekah itu, hendaklah anda memilih orang yang benar-benar boleh membersihkan hartamu dengan sedekah itu. Janganlah hendaknya memadai dengan memilih delapan asnaf yang ada secara umum saja, sebab dalam umum asnaf-asnaf yang delapan itu, ada yang mempunyai sifat-sifat yang khusus. Maka hendaklah anda mendahului orang-orang yang mempunyai sifat-sifat yang khusus itu, yaitu kepada enam macam:

    (1) Hendaklah anda memilih dari para Salihin orang-orang penuh taqwa karena sedekah yang didapati mereka itu dapat digunakan untuk jalan taqwa kepada Allah s.w.t. Dengan itu anda akan mengongsi pahala-pahala mereka dalam ketaatan disebabkan pertolonganmu kepada mereka.

    (2) Hendaklah orang yang menerima sedekah itu dari golongan orang-orang ahli ilmu pengetahuan agama, ataupun dari para alim-ulama khasnya, karena memberikan sedekah itu kepadanya samalah seperti menolong mereka memperkembangkan ilmu pengetahuan agama. Manakala ilmu pengetahuan agama itu adalah semulia-mulia ibadat di sisi Tuhan, kiranya disertakan dengan niat yang suci.

    Ibnui-Mubarak sentiasa mengkhususkan bantuannya kepada ahli-ahli ilmu pengetahuan agama. Maka ada orang yang berkata: Mengapa tidak engkau umumkan bantuanmu itu kepada selain mereka. Beliau menjawab: Saya tiada mengetahui ada suatu maqam (kedudukan) yang lebih utama sesudah maqam para Nabi, selain dari maqam alim-ulama. Sebab mereka itu jika dipaksakan untuk mencari keperluan hidup, tentulah mereka tidak dapat menumpukan sepenuh perhatian kepada ilmu pengetahuan, dan tiada mampu untuk meneruskan pelajarannya maka penumpuan mereka kepada ilmu pengetahuan itu adalah lebih utama oleh itu sayugialah hendaknya kita tolong mereka.

    (3) Hendaklah si penerima itu benar-benar dalam taqwanya kepada Allah Ta’ala dan mendalam ilmu pengetahuannya mengenai tauhid. Maksud di sini, hendaklah bila ia menerima pemberian serta-mertalah ia memuji Allah dan bersyukur kepadaNya. Dan hendaklah ia menganggap bahawa nikmat pemberian itu datangnya dari Allah, dan bahawasanya si pemberi itu adalah wasitah atau pengantara yang ditunjuk oleh Allah dengan kekuasaannya sebab hanya Allah s.w.t sajalah merangsangkannya untuk melakukan perbuatan baik itu, Barangsiapa kebatinannya tiada dapat mensifatkan pandangannya terhadap pengantara itu sebagai hanya pengantara semata-mata, maka tentulah ia belum lagi terlepa dari maksud keisyikian yang tersembunyi.

    Oleh itu hendaklah ia memperbanyak taqwa kepada Allah s.w.t. dalam jalan membersihkan ketauhidannya dari daki-daki syirik dan kekotorannya.

    (4) Hendaklah si penerima sedekah itu merahasiakan keperluannya, jangan terlalu banyak mengadu atau merayu. Hendaklah mereka itu dari orang-orang yang menjaga maruahnya seperti halnya orang yang pernah hidup mewah, lalu oleh karena sesuatu sebab atau yang lain, tiba-tiba dia jatuh miskin, tetapi keadaannya tetap seperti biasa juga, tiada pernah meratapi nasibnya, bahkan sentiasa hidup menahan diri.

    Allah telah berfirman :

    “Orang jahil (yang tiada mengetahui halnya) menyangkakan mereka itu kaya raya, sebeb mereka tiada pernah meminta-minta Engkau dapat mengenal mereka itu dengan tanda-tandanya. Mereka tiada suka meminta kepada orang lain secara berulang-ulang.” (al-Baqarah: 273)

    Yakni mereka tiada mahu berulang-ulang meminta sebab mereka sebenarnya kaya raya dengan keyakinan kepada Allah dan termulia dengan kesabaran yang ada pada diri mereka.

    Sayugialah seseorang yang hendak memberikan sedekahnya itu hendaklah terlebih dulu mencari-cari akan ahli-ahli agama di merata-rata tempat, di samping menyingkap rahasia kebatinan orang-orang yang selalu cenderung pada kebaikan dan kesabaran. Sebab pahala memberikan sedekah kepada orang-orang yang selalu meminta-minta di khalayak ramai.

    (5) Hendaklah si pemberi sedekah itu memilih pula orang-orang yang banyak tanggungannya ataupun orang-orang yang terlantar karena sakit ataupun karena sebab-sebab yang lain, menurut pengertian firman Allah Ta’ala berikut:

    “Untuk orang-orang fakir yang terkepung di jalan Allah, yang tiada berkuasa lagi untuk mengusahakan rezekinya di muka bumi.” (al-Baqarah : 273)

    Maksud dari perkataan uh shiruu fi sabillah di sini ialah mereka yang terkurung pada jalan akhirat tidak dapat mengusahakan lagi rezeki anak-isterinya ataupun dikarenakan kesempitan hidup atau kebaikan hati, sehingga seolah-olahnya sayap mereka telah terpotong dan tangan mereka telah terbelenggu.

    Dan atas sebab inilah, Saiyidina Umar Ibnul-Khattab r.a. memberi kepada ahlul-bait, yakni keluarga Rasullullah s.a.w. sekelompok kambing 10 ekor ke atas. Dalam masa hayatnya Rasulullah s.a.w. sendiri telah menguruskan kerja-kerja membahagikan pemberian ini menurut kadar keluarga.

    Saiyidina Umar Ibnul-Khattab apabila ditanya tentang maksud jahdul-bala’ (bencana yang berat) telah menjawab: Maksudnya ialah terlampau banyak tanggungan (keluarga) dan terlalu sedikit wang pula.

    Hendaklah diutamakan pemberian itu kepada kaum kerabat dan keluarga, sehingga pemberian itu merupakan sebagai sedekah dan menyambung silatur-rahim antara keluarga, sedang pahala silatur-rahim ini adalah amat besar sekali.

    Saiyidina Ali r.a telah berkata: Jika aku mempereratkan hubungan salah seorang dari saudara maraku dengan memberinya satu dirham saja, adalah lebih aku utamakan daripada aku menderma 20 dirham kepada selain mereka.

    Sahabat-sahabat dan rakan-rakan seperjuangan dalam melakukan kebaikan kepada orang ramai hendaklah diutamakan dari kenalan-kenalan biasa yang lain. Sebagaimana diutamakan kaum kerabat dari orang-orang yang asing. Semua ini harus diperhatikan dengan sebaik-baiknya. Itulah sifat-sifat yang dituntut oleh agama dan pada setiap sifat itu ada darjat-darjat keutamaannya. Oleh itu janganlah dituntut melainkan darjat yang paling tinggi sekali.

    Kalau ada pula orang yang dapat mengumpulkan semua sifat-sifat keutamaan ini sekaligus maka itulah yang dikatakan simpanan yang paling terbesar dan keuntungan yang amat teragung.

    (BERSAMBUNG)

    ***

    INTISARI KITAB

    Mau’izhatul Mu’minin min “IHYA’ ULUMIDDIN”

    ==Hujjatul Islam Al Imam Al Ghazali==

    (Bimbingan Mu’min dari Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama)

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 10 December 2018 Permalink | Balas  

    Kitab Rahasia Zakat (3/8) 

    Kitab Rahasia Zakat (3/8)

    ***

    Tugas-tugas mengeluarkan zakat

    Pertama :

    Menyegerakan pengeluarannya sebelum waktu kewajibannya, karena melahirkan tanda kesenangan diri, untuk menjujung perintah Allah, dan karena keinginan untuk menimbulkan rasa kegembiraann di dalam hati para fakir-miskin.

    Tindakan mempercepatkan pengeluaran zakat ini boleh menolak halangan-halangan atau gangguan-gangguan masa; mana tahu nanti kelebihan-kelebihan yang ada itu akan lenyap karena sesuatu sebab yang tak terduga. Kemudian kita juga tentu maklum bahawa dalam menangguhkan pengeluaran zakat itu ada beberapa bencana, selain kita akan berdosa karena melanggar perintah Tuhan, sebab melewatkan pengeluaran zakat itu dari waktu kewajibannya.

    Jadi sayugianya diingatkan, apabila tergerak di dalam hati niat yang baik untuk menyegerakan zakat, maka jangan sampai menangguh-nangguhkan lagi, bahkan hendaklah menggunakan kesempatan itu sepenuhnya karena yang demikian itu adalah bisikan Malaikat kepada kita. Kalau tidak, dikhuatiri hati itu akan bertukar tujuan, dan manakala syaitan sentiasa menunggu di pintu hati menjanjikan kita kefakiran, yakni menakut-nakutkan kita menjadi papa-kedana, sebagaimana firman Allah:

    “Syaitan itu menjanjikan (menakut-nakutkan) kamu akan kefakiran dan menggalakkan kamu melakukan kekejian dan kemungkaran.” (al-Baqarah: 268)

    Sebagaimana Malaikat sentiasa membisikkan kepada kita dengan perkara-perkara yang baik-baik, syaitan pula membisikkan sebaliknya. Dan bisikan syaitan itu tidak pernah terputus, sesudah satu tidak berjaya datang pula yang lainnya secara terus-menerus maka hendaklah kita berjaga-jaga daripadanya. Jadi bila ada keinginan yang baik timbul di dalam hati, maka janganlah ditinggalkan peluang itu berlalu begitu saja.

    Kedua :

    Mengeluarkan zakat secara rahasia, tidak dihebahkan ke sana ke mari, karena yang demikian itu akan menjauhkan amalan itu daripada ria’ dan minta dipuji ramai.

    Allah berfirman:

    “Jika sekiranya kamu rahasiakan (sedekah) dan kamu memberikannya kepada para fakir, maka itu adalah lebih utama bagimu.” (al-Baqarah: 271)

    Sebahagian pengeluar zakat yang ingin mendapatkan keutamaan merahasiakan pengeluarannya, sehingga mereka mencuba agar orang yang menerima zakat itu tidak mengetahui siapakah pemberinya. Ada juga yang memberi zakat dengan perantaraan orang lain, supaya si fakir yang menerima itu tiada mengetahui si kaya yang mengeluarkannya. Paling kurang ia akan memesan orang yang akan menyampaikan zakat itu, supaya merahasiakan pemberian itu, dan jangan dibocorkan rahasianya; semuanya itu dilakukan tiada lain, karena mencari keredhaan Allah Ta’ala dan memelihara diri dari perasaan ria’, atau bermegah diri. Tetapi apabila amalannya itu diisytiharkan untuk menuntut kemasyuran, maka hancur-leburlah amalan itu, tanpa apa pahala lagi padanya.

    Ketiga :

    Patut juga anda mengisytiharkan pengeluaran zakat itu, kiranya anda yakin dalam pengisytiharan itu ada tanda-tanda akan menggalakkan orang lain untuk mengikuti jejak langkahmu, tetapi harus pula memelihara jangan sampai di dalam hati terbungkus perasaan ria’ atau rasa bermegah diri.

    Allah telah berfirman:

    “Kiranya kamu menampakkan sedekah-sedekah itu, itu pun baik juga.” (al-Baqarah: 271)

    Maksudnya ialah apabila keadaan memaksa untuk menampakkan sedekah-sedekah itu, sama ada supaya menjadi contoh tauladan bagi orang lain untuk mengikutinya ataupun karena si peminta sedekah itu telah meminta anda di hadapan khalayak ramai, maka tidak sewajarnya anda meninggalkan pemberian sedekah tersebut dengan alasan memberi sedekah secara terang-terangan itu akan menimbulkan ria’ di dalam hati.

    Tidak begitu tetapi hendaklah anda memelihara hati daripada ria’ sekadar yang termampu. Sebab di dalam keadaan yang serupa itu ada larangan yang ketiga, selain dari menampakkan budi dan ria’ yaitu mengecilkan hati si peminta itu, karena mungkin sekali ia akan merasa terhina atau pedih, sebab kelihatan sebagai serang yang perlu dan berhajat di hadapan khalayak ramai.

    Barangsiapa yang meminta-minta di hadapan ramai maka sebenarnya dia telah mendedahkan rahasia dirinya, maka janganlah sampai si pemberi pula melanggar kehormatannya lagi. Yakni karena alasan takutkan ria’ dalam memberi secara terang-terangan itu, dia lalu menolak dan tiada memberinya pula.

    Allah telah berfirman:

    “dan belanjakanlah dari harta yang Kami (Allah) rezekikan kepadamu secara rahasia atau terang-terangan.” (ar-Ra’ad: 22)

    Ayat ini menunjukkan keharusan untuk memberi secara terang-terangan disebabkan adanya faedah untuk mendorong orang lain menurut jejak-langkahnya.

    Oleh karena itu hendaklah kita pandai-pandai meneliti dan menimbang-menimbang faedah yang tersebut itu dan memperbandingkannya dengan bahaya yang kita bimbangkan itu. Barangsiapa yang sudah kenal mana satu yang dikatakan berfaedah dan mana pula yang mengandungi bahaya, tentulah cara yang pertama yang akan dipilih, karena ia adalah yang utama dan yang patut dipilihnya dalam hal ini.

    Keempat :

    Janganlah anda merosakkan sedekahmu itu dengan menyebutkannya ke sana ke mari atau dengan menyakiti hati orang yang menerima sedekah itu.

    Allah berfirman:

    “Janganlah kamu merosakkan sedekah-sedekah kamu itu dengan memuji diri dan cercaan.” (al-Baqarah: 264)

    Perkataan al-Manni di dalam ayat di atas tadi, ialah menyebutkan ke sana ke mari dan memberitahu orang lain, bahawa dia telah memberikan si Fulan itu sekian-sekian dari sedekahnya. Ataupun dia memberikan sedekahnya kepada si Fulan, kemudian menyuruh Fulan itu membuat sesuatu kerja. Ataupun dia memberikannya secara menyombong diri. Dan perkataan al-Adza pula diertikan dengan maksud menampakkan sedekahnya kepada orang ramai, ataupun mencerca Fulan yang menerima sedekah itu karena kefakirannya atau memakinya atau memburukkan-burukkan keadaannya. Karena selalu saja meminta-minta.

    Asal makna perkataan al-Manni ialah menganggap dirinya berbudi kepada si fakir dan memberinya kenikmatan. Tetapi makna yang sebenarnya ialah sebaliknya; yaitu hendaklah ia memandang si fakir itu berbudi kepadanya dengan menerima hak Allah Azzawajalla daripadanya, yang mana dengan itu akan tersucilah dirinya dan terselamatlah ia dari api neraka.

    Renungkanlah andaikata tidak ada orang yang mahu menerima sedekah itu, tentulah kewajipan itu masih tergantung di atas pundaknya. Maka seharusnya dia menganggap dari tanggungjawab yang berat itu.

    Walau bagaimanapun barangsiapa telah mengenal dan mengetahui tiga macam pengertian yang telah berlalu sebutannya itu, akan merasa dirinya tidak berbudi apa-apa kepada siapa pun, melainkan kepada dirinya sendiri. Sebab dengan menunaikan zakat itu dia telah mengeluarkan hartanya, sama ada karena menyatakan kecintaannya kepada Allah s.w.t ataupun karena membersihkan dirinya dari celaan sifat kikir dan lokek, ataupun karena kesyukuran terhadap kenikmatan harta yang dimilikinya, mudah-mudahan Allah Ta’ala akan menambah lagi.

    Adapun asal makna perkataan Al-Adza, ialah mengganggap dirinya lebih utama dari diri si fakir, dan ini ternyata sekali suatu kebodohan. Sebab kiranya ia mengetahui keutamaan si fakir dalam perkara zakat itu, dan berapa beratnya bahaya orang kaya dalam perkara yang sama, tentu sekali ia tidak akan menghina atau merendahkan diri si fakir itu, malah sebaliknya ia akan mengharap-harapkan untuk memperoleh darjat si fakir itu. Apa sebabnya? Karena Allah s.w.t. telah menjadikan kaum fakir-miskin itu tempat orang kaya memperdagangkan nasibnya agar ia terselamat dari tanggungjawabnya; yaitu dengan penerimaan kaum fakir-miskin zakat atau sedekah yang wajib dikelurkan itu.

    (BERSAMBUNG)

    ***

    INTISARI KITAB

    Mau’izhatul Mu’minin min “IHYA’ ULUMIDDIN”

    ==Hujjatul Islam Al Imam Al Ghazali==

    (Bimbingan Mu’min dari Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama)

    (BERSAMBUNG)

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 9 December 2018 Permalink | Balas  

    Kitab Rahasia Zakat (2/8) 

    Bismillah, Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah

    amma ba’du…

    KITAB RAHASIA ZAKAT (2/8)

    ======================

    Rahasia zakat sebagai sendi Agama Islam

    Dalam membincangkan rahasia-rahasia zakat itu ada tiga pengertian:

    Pengertian 1 rahasia-rahasia zakat :

    Penyebutan dua kalimah syahadat itu mengartikan suatu pengakuan terhadap wajibnya sifat keesaan bagi Allah s.w.t. dan sebagai penyaksian akan satunya Tuhan yang disembah. Syarat bagi penyempurnaan pengakuan ini, hendaklah jangan sampai ada bagi orang mengEsakan Allah tadi suatu zat lain yang amat dikasihinya atau dicintainya lagi selain dari Zat yang Maha Esa dan Maha Satu itu. Sebab kecintaan yang sempurna itu tidak mengakui adanya persekutuan dengan yang lain. Mengakui keesaan dengan lidah semata-mata kurang kesannya pada diri, akan tetapi seseorang yang mengakui kecintaan itu akan diduga tingkatan kecintaanya dengan terpisahnya orang yang dicintai itu.

    Harta kekayaan pula adalah barang yang amat dicintai oleh manusia, sebab ia merupakan mata benda yang boleh menyenangkan mereka dalam kehidupan di dunia dan dengan adanya harta kekayaan itu manusia akan merasa kelapangan hidup di dalam alam yang fana ini, dan mereka akan melarikan diri dari maut, padahal hanya dengan maut sajalah akan bertemu pengasih dengan kekasihnya; yaitu Allah s.w.t. lalu mereka itu di duga tentang kebenaran pengakuan mereka terhadap Zat yang dicintainya itu sama ada benar atau palsu; yaitu melalui harta kekayaan yang dikejar dan disanjungnya dalam kehidupan yang fana’ ini.

    Allah Ta’ala berfirman:

    “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah membeli dari kaum Mu’minin itu diri mereka dan harta kekayaan mereka dengan janji akan memberikan mereka syurga”. (at-Taubah: 111)

    Yang demikian itu akan terhasilnya dengan berjihad; yaitu menukar gantikan dengan nyawa, karena sangat cinta untuk bertemu dengan Allah yang dicintaiNya itu, tetapi ini hanya menukar ganti dengan harta benda saja, dan ia adalah lebih ringan dari pertama tadi.

    Apabila pengertian serupa ini diumumkan pada membelanjakan harta kekayaan, maka orang ramai pun terbagi kepada tiga bahagian:

    Bahagian 1:

    Suatu puak mengutamakan tauhid atau keesaan Allah, lalu membelanjakan semua harta kekayaan mereka, tiada sedinar ataupun sedirham pun yang tinggal lagi. Termasuk dalam puak ini ialah Saiyidina Abu Bakar as-Sidiq yang telah membawa semua hartanya kepada Rasulullah s.a.w. untuk dibahagi-bahagikan.

    Bahagian 2:

    Sepuak lagi yang rendah sedikit tingkatannya dari puak yang pertama tadi; yaitu orang-orang yang menahan hartanya untuk dibelanjakan pada waktu-waktu keperluan dan masa-masa mengeluarkan khairat atau sedekah. Jadi maksudnya menyimpan wang itu adalah untuk membelanjakan ke atas kadar keperluannya saja tanpa bersenang-senang dengannya dan selebih dari kadar keperluannya itu dibelanjakan kesemuanya kepada perkara-perkara kebajikan tidak kira apa saja rupanya.

    Orang-orang dari puak ini tiada memandang cukup dengan mengeluarkan zakat semata-mata, malah sedekah-sedekah yang lain pun turrut dikeluarkan sama. Sebahagian terbesar dari para tabi’in menentukan, bahawa dalam harta benda itu ada hak-hak yang lain selain dari hak zakat. Mereka itu termasuklah Imam-imam as Nakha’I as-Sya’bi, Atha’ dan Mujahid.

    Lihatlah apa kata as-Sya’bi apabila ditanya: Apakah dalam harta benda itu ada lagi hak selain zakat, beliau menjawab: Memang ada lagi hak selain zakat, beliau menjawab: Memang ada lagi hak yang lain. Tidak pernahkan engkau mendengar firman Allah Ta’ala.

    “Dan dia memberikan pula hartanya yang dikasihinya kepada kaum kerabat.”

    (al-Baqarah:177)

    Dan mereka itu mengambil dalilnya dari: firman Allah Ta’ala

    “Dan mereka membelanjakan dari apa yang Kami (Allah) rezekinya kepada mereka.”

    (al-Baqarah: 3)

    Begitu pula dengan firman yang berikut:

    “Dan belanjakanlah dari apa yang Kami (Allah) memberi rezeki kepada kamu.”

    (al-Munafiqun:10)

    Ayat ini pula umum termasuk dalam hak seorang Muslim kepada Muslim yang lain. Yakni wajib atas orang yang berkelebihan membantu saudaranya yang berhajat dan menutup keperluannya dari wang yang selain zakat.

    Bahagian 3:

    Puak atau golongan yang berpegang dengan yang wajib semata-mata, tiada lebh dan tiada kurang. Mereka inilah yang berada di tingkat yang paling rendah sekali. Kebanyakan orang berada di tingkat yang paling rendah sekali. Kebanyakan orang terkira dalam golongan ini disebabkan mereka itu terlalu lokek dengan harta kekayaan yang mereka amat mencintainya itu, dan oleh karena lemahnya kecintaan mereka terhadap akhirat.

    Pengertian 2 rahasia-rahasia zakat :

    Membersihkan jiwa dari sifat lokek dan bakhil karena ia adalah salah satu dari sifat-sifat yang membinasakan.

    Allah telah berfirman:

    “Barangsiapa terselamat dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang berbahagia.” (al-Hashr: 9)

    Ketahuilah sifat kikir atau lokek itu tidak akan lenyap dari diri seseorang, melainkan dengan membiasakan diri membelanjakan harta kepada jalan kebajikan, karena kasih kita kepada sesuatu benda itu tidak akan terputus, melainkan dengan memaksa diri untuk berpisah dengannya, sehingga lama-lama menjadi kebiasaan. Menurut pengertian ini, zakat itu menjadi pensuci diri; yaitu ia akan membersihkan diri seseorang itu dari buruknya sifat lokek atau kikir yang membinasakan itu. Dan kadar pensucian itu adalah diukur banyak sedikitnya dengan kadar perbelanjaannya dari harta itu, dan dengan kadar rasa gembiranya karena mengeluarkan wang itu, atau merasa puas hati, sebab dia telah membelanjakannya semata-mata karena mencari keredhaan Allah s.w.t.

    Pengertian 3 rahasia-rahasia zakat :

    Mensyukuri nikmat, karena setiap manusia adalah terhutang nikmat kepada Allah s.w.t. pada dirinya dan pada hartanya.

    Oleh itu ibadat yang dilakukan oleh anggota badan ini merupakan suatu kesyukuran terhadap kenikmatan tubuh. Begitu juga membelanjakan wang dalam jalan Allah itu merupakan suatu kesyukuran terhadap kenikmatan harta pula. Alangkah jeleknya seseorang yang melihat si fakir yang sedang dalam kesempitan rezeki dan amat perlu kepada bantuan wang, sedangkan ia tiada mengindahkannya dan tiada memberatkan untuk menunaikan kesyukuran terhadap Allah s.w.t. yaitu dengan menyelamatkannya dari meminta-minta untuk mencukupi keperluannya dan keperluan orang-orang yang ditanggungnya, dengan membelanjakan seperempatpuluh (2.5%) ataupun sepersepuluh (10%) dari hartanya.

    (BERSAMBUNG)

    ***

    INTISARI KITAB

    Mau’izhatul Mu’minin min “IHYA’ ULUMIDDIN”

    ==Hujjatul Islam Al Imam Al Ghazali==

    (Bimbingan Mu’min dari Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama)

    (BERSAMBUNG)

     
  • erva kurniawan 2:18 am on 8 December 2018 Permalink | Balas  

    Kitab Rahasia Zakat (1/8) 

    Bismillah, Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah

    amma ba’du…

    KITAB RAHASIA ZAKAT (1/8)

    **

    Allah s.w.t. telah menjadikan zakat itu salah satu sendi bagi bangunan Islam, dan diikutkan sertakan sebutan zakat pula dengan sebutan sembahyang yang menjadi setinggi-tinggi panji-panji agama Islam.

    Allah berfirman:

    “Dirikanlah sembahyang dan keluarkanlah zakat” (al-Baqarah: 110)

    Rasulullah s.a.w. telah bersabda:

    “Islam itu didirikan atas lima perkara (1) Penyaksian bahawasanya tiada tuhan melainkan Allah dan bahawasnya Muhammad itu hambaNya dan RasulNya, (2) mendirikan sembahyang, (3) Mengeluarkan zakat, (4) Berpuasa Ramadhan, dan (5) Berhaji ke Baitullah (Ka’bah) bagi sesiapa yang berkuasa menuju kepadanya.”

    Allah Ta’ala telah mengancam dengan sekeras-kerasnya terhadap orang-orang yang melalaikan perintah-perintahNya dengan berfirman:

    “Orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tiada membelanjakan pada jalan Allah, maka beritahukanlah mereka itu akan ditimpa azab yang amat pedih.”

    (at-Taubah: 34)

    Maksud dari membelanja pada jalan Allah ialah mengeluarkan zakat.

    Al-Ahnaf bin Qais berkata: Pada suatu masa saya sedang duduk-duduk bersama-sama beberapa orang Quraish, lalu Abu Zar melintas seraya berkata: Beritahukanlah kepada orang-orang yang mendamkan hartanya (tiada mengeluarkan zakat) bahawa mereka akan diselar dengan api dari tengkuknya menembusi dahinya pula.

    Dengan adanya ancaman yang begitu keras itu, maka adalah menjadi satu tugas- yang penting bagi Agama Islam untuk mendedahkan rahasia-rahasia zakat dan maksud-maksudnya yang lahir dan batin. Dalam hal ini ada beberapa fasal.

    Menunaikan zakat dan syarat-syaratnya.

    Ketahuilah bahawa atas orang-orang yang mengeluarkan zakat itu beberapa perkara yang harus diperhatikan:

    Pertama:

    Menyegerakan pengeluaran zakat sesudah cukup haulnya (yaitu kiraan setahun) dan di dalam zakat fitrah, tiada boleh ditangguhkan hingga hari terbuka, yaitu Hari Raya. Waktu kewajipan zakat fitrah bermula dari tenggelamnya matahari hari terakhir dari Ramadhan dan boleh disegerakan pengeluarannya pada sepanjang bulan Ramadhan.

    Orang yang sengaja melambatkan pengeluaran zakatnya padahal ia berkuasa adalah berdosa besar, dan kewajipan itu tidaklah gugur daripadanya sekiranya hartanya binasa sesudah itu. Kiranya ia lambat mengeluarkannya karena mencari orang-orang yang berhak menerimanya, tidaklah terkira dalam pengertian sengaja melambatkan dan karena itu tidak ia berdosa.

    Menyegerakan pengeluaran zakat umumnya adalah harus.

    Kedua:

    Tiada boleh memindahkan sedekah atau zakat itu ke negeri yang lain, sebab kaum fakir miskin di setiap negeri sentiasa mengharap-harapkan kepada harta benda dari zakat. Apabila harta benda zakat itu dipindahkan ke tempat lain akan kecewalah harapan mereka itu. Andaikata dipindahkan juga harta benda zakat itu, maka hukumnya sah juga dengan khilaf setengah ulama. Tetapi meninggalkan perkara yang ada khilaf ulama itu adalah lebih utama; yaitu sebaik-baiknya ia mengeluarkan zakat hartanya itu dinegerinya sendiri. Dan tiada mengapalah kalau ia memberikan sebahagian dari zakatnya itu kepada orang-orang gharib (orang-orang asing yang datang ke situ) yang berada di negerinya itu juga.

    Ketiga:

    Hendaklah ia mengeluarkan kepada sebilangan orang dari asnaf-asnaf delapan yang ada di negerinya itu. Yang biasanya pada tiap-tiap negeri hanya yang ada empat asnaf saja yaitu: (1) Fakir, (2) Miskin, (3) Ghaarim atau orang yang dibebani oleh hutang, dan (4) Orang yang terlantar, yakni Ibnu Sabil yang terkandas di negeri orang.

    Tiada wajib atasnya untuk membahagikan zakatnya itu sama rata menurut bilangan asnaf.

    INTISARI KITAB

    Mau’izhatul Mu’minin min “IHYA’ ULUMIDDIN”

    ==Hujjatul Islam Al Imam Al Ghazali==

    (Bimbingan Mu’min dari Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama)

     

    (BERSAMBUNG)

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 7 December 2018 Permalink | Balas  

    Dampak Negatif Riba Bagi Pribadi dan Masyarakat 

    Dampak Negatif Riba Bagi Pribadi dan Masyarakat

    Sebagai bentuk maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam bersabda, “Setiap umatku dijamin masuk surga kecuali yang enggan”. Para shahabat bertanya, “Siapa yang enggan masuk surga wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Barangsiapa yang ta’at kepadaku pasti masuk surga dan barangsiapa yang berbuat maksiat (tidak ta’at) kepadaku itulah orang yang enggan (masuk surga)”. (HR.al-Bukhari)

    Ibadah haji, shadaqah dan infak dalam bentuk apapun tidak diterima oleh Allah subhanahu wata’ala kalau berasal dari hasil riba, Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam bersabda dalam hadits yang shahih, “Sesunguhnya Allah itu baik dan Dia tidak menerima kecuali dari hasil yang baik”.

    Allah subhanahu wata’ala tidak mengabulkan doa orang yang memakan riba, Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam bersabda, “Ada seorang yang menengadahkan tangannya ke langit berdo’a, “Ya Rabbi, Ya Rabbi, sementara makanannya haram, pakaiannya haram, dan daging yang tumbuh dari hasil yang haram, maka bagaimana mungkin do’anya dikabulkan.” (HR.Muslim)

    Hilangnya keberkahan umur dan membuat pelakunya melarat, Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam bersabda, “Tidaklah seseorang memperbanyak harta kekayaan dari hasil riba, melainkan berakibat pada kebangkrutan dan melarat.” (HR.Ibnu Majah).

    Sistim riba menjadi sebab utama kebangkrutan negara dan bangsa. Realita menjadi saksi bahwa negara kita ini mengalami krisis ekonomi dan keamanannya tidak stabil karena menerapkan sistim riba, karena para petualang riba memindahkan simpanan kekayaan mereka ke negara-negara yang memiliki ekonomi kuat untuk memperoleh bunga ribawi tanpa memikirkan maslahat di dalam negeri sendiri, sehingga negara ini bangkrut.

    Pengembangan keuangan dan ekonomi dengan sistim riba merupakan penjajahan ekonomi secara sistimatis dan terselubung oleh negara-negara pemilik modal, dengan cara pemberian pinjaman lunak. Dan karena merasa berjasa menolong negara-negara berkembang, maka dengan kebijakan-kebijakan tertentu mereka mendikte negara yang dibantu tersebut atau mereka akan mencabut bantuannya.

    Memakan riba menjadi sebab utama su`ul khatimah, karena riba merupakan bentuk kezhaliman yang menyengsarakan orang lain, dengan cara menghisap “darah dan keringat” pihak peminjam, itulah yang disebut rentenir atau lintah darat.

    Pemakan riba akan bangkit di hari Kiamat kelak seperti orang gila dan kesurupan. Ayat yang menyebut kan tentang hal ini, menurut Syaikh Muhammad al-Utsaimin memiliki dua pengertian, yakni di dunia dan di hari Kiamat kelak. Beliau menjelaskan bahwa jika ayat itu mengandung dua makna, maka dapat diartikan dengan keduanya secara bersamaan.

    Yakni mereka di dunia seperti orang gila dan kesurupan serta bertingkah layaknya orang kerasukan setan (tidak peduli, nekat dan ngawur, red). Demikian pula nanti di Akhirat mereka bangun dari kubur juga dalam keadaan seperti itu.

    Sedangkan mengenai ayat, “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah,” maka beliau mengatakan kehancuran materi (hakiki) dan maknawi. Kehancuran materi seperti tertimpa bencana dalam hartanya sehingga habis, misalya sakit yang parah dan mengharuskan berobat ke sana-sini, atau keluarganya yang sakit, kecurian (dirampok), terbakar dan lain-lain, ini merupakan hukuman dunia. Atau binasa secara maknawi, dalam arti dia memiliki harta yang bertumpuk-tumpuk tetapi seperti orang fakir karena hartanya tidak memberi manfaat apa-apa.

    Apakah orang seperti ini kita katakan memiliki harta? Tentu tidak, bahkan ia lebih buruk daripada orang fakir, sebab harta bertumpuk-tumpuk yang ada di sisinya, dia simpan untuk ahli warisnya saja. Sementara dia tidak dapat mengambil manfaat darinya sedikit pun.

    Inilah kebinasaan harta riba secara maknawi. Wallahu a’lam bish shawab. (Abu Abdillah Dzahabi Isnen Azhar)

    Sumber:

    -Majalah as-Sunnah edisi 02/VII/1424/2003 (dengan menyadur)

    -Syarah Riyadhus Shalihin jilid 2, Syaikh Muhammad al-Utsaimin.

     
  • erva kurniawan 2:04 am on 6 December 2018 Permalink | Balas  

    Bekerja di Tempat/Lembaga Riba 

    Bekerja di Tempat/Lembaga Riba

    Syaikh Shalih al-Fauzan ketika ditanya tentang bekerja di perusahaan yang bertransaksi dengan riba berkata, “Bertransaksi dengan riba haram hukumnya bagi perusahaan, bank dan individu. Tidak boleh seorang muslim bekerja pada tempat yang bertransaksi dengan riba meskipun persentase transaksinya minim sekali sebab pegawai pada instansi dan tempat yang bertransaksi dengan riba berarti telah bekerja sama dengan mereka di atas perbuatan dosa dan melampaui batas. Orang-orang yang bekerja sama dan pemakan riba, sama-sama tercakup dalam laknat yang disabdakan oleh Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam, “Allah telah melaknat pemakan riba, orang yang memberi makan dengan (hasil) riba, pencatatnya serta kedua saksinya”. (HR.Muslim). Beliau bersabda lagi, “Mereka itu semua sama saja.” (dalam andil menjalankan riba, red).

    Jadi di sini, Allah melaknat orang yang memberi makan dengan (hasil) riba, saksi dan pencatat karena mereka bekerja sama dengan pemakan riba itu. Karenanya wajib bagi anda untuk mencari pekerjaan yang jauh dari hal itu. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya), “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan menganugerahi nya rizki yang tidak dia sangka-sangka”. (Q,.s.ath-Thalaq: 2).

    Dan sabda Nabi shallahu ‘alahi wasallam, “Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah Ta’ala maka Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik darinya”. (HR. Ahmad). (Al-Muntaqa Min Fatawa Syaikh Shalih al-Fauzan, Jld.IV, Hal. 142-143, No. 148)

    Sumber:

    -Majalah as-Sunnah edisi 02/VII/1424/2003 (dengan menyadur)

    -Syarah Riyadhus Shalihin jilid 2, Syaikh Muhammad al-Utsaimin.

     
  • erva kurniawan 2:03 am on 5 December 2018 Permalink | Balas  

    Bentuk Riba 

    Bentuk Riba

    Riba dibagi menjadi dua bentuk;

    1. Riba Nasi`ah, yang berarti mengakhirkan masa pembayaran, ini terbagi menjadi dua;

    Pertama; Seseorang atau perusahaan tertentu memberikan pinjaman kepada seorang nasabah dengan membayar bunga sekian persen dalam kurun waktu tertentu dan dibayar dalam bentuk angsuran. Misalnya; seorang nasabah meminjam uang ke salah satu bank sebanyak Rp.100 juta dengan bunga 10% dalam jangka waktu 10 bulan, maka setiap bulan pihak nasabah harus mencicil hutangnya Rp.11 juta, jadi selama 10 bulan itu dia harus membayar Rp.110 juta.

    Ke dua; Pihak nasabah membayar tambahan bunga baru dari bunga sebelumnya disebabkan karena tertundanya pembayaran pinjaman setelah jatuh tempo. Semakin lama tertunda pinjaman itu, maka semakin banyak tumpukan hutang yang harus ditanggung oleh pihak nasabah. Dalam kacamata Islam riba ini disebut riba jahiliyyah. Misalnya si A meminjam uang ke bank B sebanyak Rp. 100 juta dengan bunga 10% dalam jangka waktu 10 bulan, setiap bulannya pihak peminjam harus mencicil Rp. 11 juta, maka selama 10 bulan itu dia paling tidak harus membayar Rp. 110 juta, jika dia tidak menunda pembayaran (ini sudah jelas riba). Tapi jika sudah jatuh tempo dan dia belum bisa melunasi hutangnya maka hutangnya berbunga 15% dan begitu seterusnya (dalam kondisi seperti ini telah terhimpun dua bentuk riba sekaligus yaitu riba nasi`ah dan riba fadhl), dan inilah yang berlaku di bank-bank konvesional yang disebut dengan istilah bunga.

    1. Riba Fadhl, yaitu jual beli dengan sistim barter pada barang yang sejenis tapi timbangannya berbeda, misalnya si A menjual 15 gram emas”perhiasan” kepada si B dengan 13 gram emas “batangan”, ini adalah riba karena jenis barangnya sama tapi timbangannya berbeda. Contoh kedua; menjual dengan sistim barter 1 lembar uang kertas senilai Rp.100.000,- dengan uang kertas pecahan seribu senilai Rp.95.000,- atau 110.000,-.

    Sumber:

    -Majalah as-Sunnah edisi 02/VII/1424/2003 (dengan menyadur)

    -Syarah Riyadhus Shalihin jilid 2, Syaikh Muhammad al-Utsaimin.

     
  • erva kurniawan 2:02 am on 4 December 2018 Permalink | Balas  

    Dosa dan Bahaya Riba 

    Dosa dan Bahaya Riba

    Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallahu

    ‘alahi wasallam bersabda, “Allah melaknat orang yang memakan (pemakai) riba, orang yang memberi riba, dua orang saksi dan pencatat (dalam transaksi riba), mereka sama saja”. (HR. Muslim dan Ahmad)

    Hadits yang mulia ini menjelaskan secara tegas tentang keharaman riba, bahaya yang ditimbulkan bagi pribadi dan masyarakat, serta ancaman bagi mereka yang berkecimpung dalam kubangan dosa riba, sebab Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam menyebutkan laknat bagi orang-orang yang bersyerikat di dalamnya.

    Akibat dari dosa riba ini telah dirasakan oleh banyak kalangan baik muslim maupun non muslim, karena riba merupakan kezhaliman yang sangat jelas dan nyata. Sehingga wajar kalau Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya shallahu ‘alahi wasallam mengancam orang-orang yang telibat di dalamnya dengan berbagai ancaman. Di antaranya adalah dengan azab yang pedih, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala,

    “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya,

    lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Dan barang siapa yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”.(QS. Al-Baqarah:275).

    Allah subhanahu wata’ala juga menghilangkan keberkahan harta dari hasil riba dan pelakunya dicap melakukan tindakan kekufuran, sebagaimana firman-Nya, “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa”. (QS. Al-Baqarah:276)

    Allah subhanahu wata’ala memerangi riba dan pelakunya, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya, “Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasulnya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”. (QS. Al-Baqarah:279)

    Selain ancaman dari Al-Qur’an di atas, Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam juga menjelaskan bahaya riba dan sekaligus mengancam pelakunya, sebagaimana telah dijelaskan dalam hadits Jabir di atas.

    Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam juga bersabda, “Jauhilah tujuh dosa besar yang membawa kepada kehancuran,” lalu beliau sebutkan salah satunya adalah memakan riba. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

    Dalam hadits yang lain Nabi shallahu ‘alahi wasallam mengancam pelaku riba dengan lebih tegas, beliau bersabda, “Dosa riba memiliki 72 pintu, dan yang paling ringan adalah seperti seseorang berzina dengan ibu kandungnya sendiri.” (Shahih, Silsilah Shahihah no.1871)

    Dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Hakim dan dishahihkan oleh beliau sendiri, dijelaskan, “Bahwa satu dirham dari hasil riba jauh lebih besar dosanya daripada berzina 33 kali”.

    Dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dengan sanad yang shahih dijelaskan, “Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari hasil riba dan dia paham bahwa itu adalah hasil riba maka lebih besar dosanya daripada berzina 36 kali”.

    Sumber:

    -Majalah as-Sunnah edisi 02/VII/1424/2003 (dengan menyadur)

    -Syarah Riyadhus Shalihin jilid 2, Syaikh Muhammad al-Utsaimin.

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 3 December 2018 Permalink | Balas  

    Bisa Jadi Warna Putih Disebut Warna Hitam 

    Bisa Jadi Warna Putih Disebut Warna Hitam

    Seorang guru wanita sedang bersemangat mengajarkan sesuatu kepada murid-muridnya. Ia duduk menghadap murid-muridnya. Di tangan nya ada berlembar-lembar kertas. Sang guru berkata, “Saya punya permainan… Caranya begini, saya memiliki dua kata yang yang bertuliskan “HITAM” dengan cat warna hitam & “PUTIH” dengan cat warna putih. Saya akan menunjuk kata-kata tersebut secara bergantian, dan silahkan sebutkan warnanya. Demikian sang guru menunjuk dengan cepat dan para murid menyebutkannya dengan benar lagi lancar.

    Tapi, tanpa sepengetahuan murid2, tiba-tiba muncul kata “HITAM” dengan cat warna putih & “PUTIH” dengan cat warna hitam. Tentu saja murid-murid kerepotan dan kelabakan, dan sangat sulit untuk merubahnya, karena yang diperintahkan adalah menyebutkan warnanya. Namun lambat laun, mereka bisa beradaptasi dan tidak lagi sulit. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.

    “Anak-anak, begitulah kita ummat Islam. Mulanya yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Kita begitu jelas membedakannya. Namun kemudian, musuh-musuh kita memaksakan kepada kita lewat berbagai cara, untuk membalik sesuatu, dari yang haq menjadi bathil, dan sebaliknya.

    Pertama-tama mungkin akan sulit bagi kita menerima hal tersebut, tapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik nilai.”

    Selingkuh dan zinah menjadi gaya hidup yang mengasyikkan, pakaian mini menjadi hal yang lumrah, sex before married menjadi suatu hiburan, materialistis dan permisive kini menjadi suatu gaya hidup pilihan, dan lain-lain , dan lain – lain .”

    “Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disadari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?” tanya Ibu Guru kepada murid-muridnya. “Paham buu…”

    “Baik, permainan kedua…” begitu Bu Guru melanjutkan. “Bu Guru punya Qur’an, Ibu letakkan di tengah karpet. Nah, sekarang kalian berdiri di luar karpet. Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur’an yang ada di tengah tanpa menginjak karpet?”

    Nah, nah, nah. Murid-muridnya berpikir keras. Ada yang punya alternatif dengan tongkat, dan lain-lain. Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, ia gulung karpetnya, dan ia ambil Qur’annya. Ia memenuhi syarat, tidak menginjak karpet.

    “Anak-anak, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya… Musuh-musuh Islam tidak akan menginjak-injak kalian dengan terang-terangan… Karena tentu kalian akan menolaknya mentah-mentah. Preman pun tak akan rela kalau Islam dihina di hadapan mereka. Tapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar.

    “Jika seseorang ingin membangun rumah yang kuat, maka dibangunnyalah pondasi yang kuat. Begitulah Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau membongkar pondasinya dulu, tentu saja hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dulu, kursi dipindahkan dulu, lemari disingkirkan dulu satu persatu, baru rumah dihancurkan…”

    “Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kita. Ia tidak akan menghantam terang-terangan, tapi ia akan perlahan-lahan mencopot kalian. Mulai dari perangai kalian, cara hidup kalian, model pakaian kalian, dan lain-lain, sehingga meskipun kalian muslim, tapi kalian telah meninggalkan ajaran Islam dan mengikuti cara mereka… Dan itulah yang mereka inginkan.”

    “Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (perang pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh – musuh kalian…

    Paham anak-anak?”

    “Paham buu!”

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 2 December 2018 Permalink | Balas  

    Etika Janazah dan Ta’ziah 

    Etika Janazah dan Ta’ziah

    Segera merawat janazah dan mengebumikannya untuk meringankan beban keluarganya dan sebagai rasa belas kasih terhadap mereka. Abu Hurairah Radhiallaahu anhu di dalam haditsnya menyebutkan bahwasanya Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “Segeralah (di dalam mengurus) jenazah, sebab jika amal-amalnya shalih, maka kebaikanlah yang kamu berikan kepadanya; dan jika sebaliknya, maka keburukan-lah yang kamu lepaskan dari pundak kamu”. (Muttafaq alaih).

    Tidak menangis dengan suara keras, tidak meratapinya dan tidak merobek-robek baju. Karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “Bukan golongan kami orang yang memukul-mukul pipinya dan merobek-robek bajunya, dan menyerukan kepada seruan jahiliyah”. (HR. Al-Bukhari).

    Disunatkan mengantar janazah hingga dikubur. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersada: “Barangsiapa yang menghadiri janazah hingga menshalatkannya, maka baginya (pahala) sebesar qirath; dan barangsiapa yang menghadirinya hingga dikuburkan maka baginya dua qirath”. Nabi ditanya: “Apa yang disebut dua qirath itu?”. Nabi menjawab: “Seperti dua gunung yang sangat besar”. (Muttafaq’alaih).

    Memuji si mayit (janazah) dengan mengingat dan menyebut kebaikan-kebaikannya dan tidak mencoba untuk menjelek-jelekkannya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda:”Janganlah kamu mencaci-maki orang-orang yang telah mati, karena mereka telah sampai kepada apa yang telah mereka perbuat”. (HR. Al-Bukhari).

    Memohonkan ampun untuk janazah setelah dikuburkan. Ibnu Umar Radhiallaahu anhu pernah berkata: “Adalah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam apabila selesai mengubur janazah, maka berdiri di atasnya dan bersabda:”Mohonkan ampunan untuk saudaramu ini, dan mintakan kepada Allah agar ia diberi keteguhan, karena dia sekarang akan ditanya”. (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Albani).

    Disunatkan menghibur keluarga yang berduka dan memberikan makanan untuk mereka. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja`far, karena mereka sedang ditimpa sesuatu yang membuat mereka sibuk”. (HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

    Disunnatkan berta`ziah kepada keluarga korban dan menyarankan mereka untuk tetap sabar, dan mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya milik Allahlah apa yang telah Dia ambil dan milik-Nya jualah apa yang Dia berikan; dan segala sesuatu disisi-Nya sudah ditetapkan ajalnya. Maka hendaklah kamu bersabar dan mengharap pahala dari-Nya”. (Muttafaq’alaih).

    ***

    [Taken From Kitab “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari” By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 1 December 2018 Permalink | Balas  

    Etika Menjenguk Orang Sakit 

    Etika Menjenguk Orang Sakit

    Untuk orang yang berkunjung (menjenguk):

    • Hendaknya tidak lama di dalam berkunjung, dan mencari waktu yang tepat untuk berkunjung, dan hendaknya tidak menyusahkan si sakit, bahkan berupaya untuk menghibur dan membahagiakannya.
    • Hendaknya mendekat kepada si sakit dan menanyakan keadaan dan penyakit yang dirasakannya, seperti mengata-kan: “Bagaimana kamu rasakan keadaanmu?”. Sebagai-mana pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam.
    • Mendo`akan semoga cepat sembuh, dibelaskasihi Allah, selamat dan disehatkan. Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu telah meriwayat-kan bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam apabila beliau menjenguk orang sakit, ia mengucapkan: “Tidak apa- Sehat (bersih) insya Allah”. (HR. Al-Bukhari). Dan berdo`a tiga kali sebagai-mana dilakukan oleh Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam.
    • Mengusap si sakit dengan tangan kanannya, dan berdo`a: “Hilangkanlah kesengsaraan (penyakitnya) wahai Tuhan bagi manusia, sembuhkanlah, Engkau Maha Penyembuh, tiada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit”. (Muttafaq’alaih).
    • Mengingatkan si sakit untuk bersabar atas taqdir Allah Subhanahu wa Ta’ala dan jangan mengatakan “tidak akan cepat sembuh”, dan hendaknya tidak mengharapkan kematiannya sekalipun penyakitnya sudah kronis.
    • Hendaknya mentalkinkan kalimat Syahadat bila ajalnya akan tiba, memejamkan kedua matanya dan mendo`akan-nya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “Talkinlah orang yang akan meninggal di antara kamu “La ilaha illallah”. (HR. Muslim).

    Untuk orang yang sakit:

    • Hendaknya segera bertobat dan bersungguh-sungguh beramal shalih.
    • Berbaik sangka kepada Allah, dan selalu mengingat bahwa ia sesungguhnya adalah makhluk yang lemah di antara makhluk Allah lainnya, dan bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membutuhkan untuk menyiksanya dan tidak mem-butuhkan ketaatannya
    • Hendaknya cepat meminta kehalalan atas kezhaliman-kezhaliman yang dilakukan olehnya, dan segera membayar/menunaikan hak-hak dan kewajiban kepada pemiliknya, dan menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.
    • Memperbanyak zikir kepada Allah, membaca Al-Qur’an dan beristighfar (minta ampun).
    • Mengharap pahala dari Allah dari musibah (penyakit) yang dideritanya, karena dengan demikian ia pasti diberi pahala. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apa saja yang menimpa seorang mu’min baik berupa kesedihan, kesusahan, keletihan dan penyakit, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah meninggikan karenanya satu derajat baginya dan mengampuni kesalahannya karenanya”. (Muttafaq’alaih).
    • Berserah diri dan tawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berkeyakinan bahwa kesembuhan itu dari Allah, dengan tidak melupakan usaha-usaha syar`i untuk kesembuhan-nya, seperti berobat dari penyakitnya.

    ***

    [Taken From Kitab “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari” By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: