Updates from Agustus, 2019 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:23 am on 29 August 2019 Permalink | Balas  

    Jumlah Minimal Jama’ah Shalat Jum’at 

    Jumlah Minimal Jama’ah Shalat Jum’at

    Shalat Jum’at dilakukan secara berjama’ah dan tidak sah bila dilakukan secara sendirian. Namun para ulama berselisih tentang jumlah minimal orang yang menghadiri shalat Jum’at. Berikut beberapa pendapat tentang jumlah minimal jama’ah Shalat Jum’at :

    Pertama,

    Tidak diadakan kecuali minimal 40 orang yang diwajibkan shalat Jum’at. Ini adalah pendapat madzhab Maliki, Syafi’i dan yang masyhur dalam madzhab Ahmad. Dalilnya adalah Hadits Ka’ab bin Malik,

    “As’ad bin Zararah adalah orang pertama yang mengadakan shalat Jum’at bagi kami di daerah Hazmi dari harrah Bani Bayadhah di daerah Naqi’ yang terkenal dengan Naqi’ Al Khadhamat. Saya bertanya kepadanya, Waktu itu berapa jumlah kalian ?”, dia menjawab, ‘Empat puluh’” (HR. Abu Dawud no.1069, Ibnu Majah no. 1082 dan lainnya, hadits ini dihasankan oleh Abu Ishaq Al Huwaini dalam Ghauts Al Makdud bi Takhrij Muntaqa Ibni Al Jarud)

    Kedua,

    Harus ada 12 orang dari yang diwajibkan Jum’at, mereka berdalil dengan hadits Jabir, “Rasulullah berdiri berkhutbah pada hari Jum’at, lalu datanglah rombongan dari Syam, lalu orang-orang pergi menemuinya sehingga tidak tersisa kecuali dua belas orang” (HR. Muslim no. 863)

    Ketiga

    Disyaratkan paling sedikit tiga orang; seorang Khatib dan 2 orang pendengarnya. Demikian riwayat dari Imam Ahmad, Al Hasan Al Bashri, Abu Yusuf dan salah satu pendapat Sufyan Ats Tsauri.

    Adapun dalilnya adalah hadits Abu Ad Darda’ sebagai berikut, “Tidak ada dari 3 orang di satu perkampungan atau pedalaman, (lalu) tidak ditegakkan padanya shalat, kecuali setan akan menguasai mereka” (HR. Abu Dawud no. 537 dan An Nasa’i 2/106, hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

    Keempat

    Sah diadakan oleh 2 orang atau lebih. Mereka menyatakan, telah dimaklumi bahwa shalat Jama’ah selain Jum’at sah dilakukan dua orang saja secara ijma’ dan shalat Jum’at sama dengan shalat Jama’ah lainnya. Barangsiapa yang mengeluarkan dari shalat jama’ah lainnya harus mendatangkan dalil dan tidak ada dalil yang tegas dalam masalah ini. Pendapat ini dirajihkan oleh Imam Ibnu Hazm (Al Muhalla 5/45), Asy Syaukani (Nailul Authar), Shidiq Hasan Khan dan Al Albani (Al Ajwiba An Anfi’ah hal. 44). Demikian inilah pendapat yang rajih insya Allah.

    Maraji’ :

    Diringkas dari tulisan Ustadz Abu Asma Khalid bin Syamhudi pada Majalah As Sunnah Edisi 02/VIII/1425H/2004M, Penerbit : Yayasan Lajnah Istiqamah Surakarta.

    Iklan
     
  • erva kurniawan 9:26 am on 28 August 2019 Permalink | Balas  

    Syirik (Bagian 2) 

    Syirik (2)

    Sihir, Perdukunan dan Ramalan

    Temasuk syirik yang banyak terjadi adalah sihir, perdukunan dan ramalan. Adapun sihir, ia termasuk perbuatan kufur dan di antara tujuh dosa besar yang menyebabkan kebinasaan. Sihir hanya mendatangkan bahaya dan sama sekali tidak bermanfaat bagi manusia. Allah Ta’ala berfirman:

    “Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi madharat kepadanya dan tidak memberi manfaat (Al Baqarah : 102).

    “Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang” (Thaha : 69)

    Orang yang mengajarkan sihir adalah kafir. Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

    “Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir) hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu kepada seseorangpun) sebelum mengatakan, “sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. (Al Baqarah : 102).

    Hukuman bagi tukang sihir adalah dibunuh, pekerjaannya haram dan jahat. Orang-orang bodoh, sesat dan lemah iman pergi kepada para tukang sihir untuk berbuat jahat kepada orang lain atau untuk membalas dendam kepada mereka. Di antara manusia ada yang melakukan perbuatan haram, dengan mendatangi tukang sihir dan memohon pertolongan padanya agar terbebas dari pengaruh sihir yang menimpanya. Padahal seharusnya ia mengadu dan kembali kepada Allah, memohon kesembuhan dengan KalamNya, seperti dengan Mu’awwidzat (surat Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas) dan sebagainya.

    Dukun dan tukang ramal itu memanfaatkan kelengahan orang-orang awam (yang minta pertolongan padanya) untuk mengeruk uang mereka sebanyak-banyaknya. Mereka menggunakan banyak sarana untuk perbuatannya tersebut. Di antaranya dengan membuat garis di pasir, memukul rumah siput, membaca (garis) telapak tangan,cangkir, bola kaca, cermin, dsb.

    Jika sekali waktu mereka benar, maka sembilan puluh sembilan kalinya hanyalah dusta belaka. Tetapi tetap saja orang-orang dungu tidak mengingat, kecuali waktu yang sekali itu saja. Maka mereka pergi kepada para dukun dan tukang ramal untuk mengetahui nasib mereka di masa depan, apakah akan bahagia, atau sengsara, baik dalam soal pernikahan, perdagangan, mencari barang-barang yang hilang atau yang semisalnya.

    Hukum orang yang mendatangi tukang ramal atau dukun, jika mempercayai terhadap apa yang dikatakannya adalah kafir, keluar dari agama Islam. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

    “Barang siapa mendatangi dukun dan tukang ramal, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, sungguh dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad”. (HR Ahmad: 2/ 429, dalam shahih jami’ hadits, no : 5939)

    Adapun jika orang yang datang tersebut tidak mempercayai bahwa mereka mengetahui hal-hal ghaib, tetapi misalnya pergi untuk sekedar ingin tahu, coba-coba atau sejenisnya, maka ia tidak tergolong orang kafir, tetapi shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

    “Barang siapa mendatangi tukang ramal, lalu ia menanyakan padanya tentang sesuatu, maka tidak di terima shalatnya selama empat puluh malam” (Shahih Muslim : 4 / 1751).

    Ini masih pula harus dibarengi dengan tetap mendirikan shalat (wajib) dan bertaubat atasnya.

    Kepercayaan adanya pengaruh bintang dan planet terhadap berbagai kejadian dan kehidupan manusia.

    Dari Zaid bin Khalid Al Juhani, Ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam shalat bersama kami, shalat subuh di Hudaibiyah – Di mana masih ada bekas hujan yang turun di malam harinya- setelah beranjak beliau menghadap para sahabatnya seraya berkata:

    “Apakah kalian mengetahui apa yang difirmankan oleh Robb kalian? Mereka menjawab : “ Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui”. Allah berfirman : Pagi ini di antara hambaKu ada yang beriman kepadaKu dan ada pula yang kafir. Adapun orang yang berkata: kami diberi hujan denagn karunia Allah dan rahmatNya maka dia beriman kepadaKu dan kafir terhadap bintang. Adapun orang yang berkata: (hujan ini turun) karena bintang ini dan bintang itu maka dia telah kufur kepadaKu dan beriman kepada bintang” (HR Al Bukhari, lihat Fathul Baari : 2/ 333).

    Termasuk dalam hal ini adalah mempercayai Astrologi (ramalan bintang) seperti yang banyak kita temui di Koran dan majalah. Jika ia mempercayai adanya pengaruh bintang dan planet-planet tersebut maka dia telah musyrik. Jika ia membacanya sekedar untuk hiburan maka ia telah melakukan perbuatan maksiat dan berdosa. Sebab tidak dibolehkan mencari hiburan dengan membaca hal-hal syirik. Di samping syaitan terkadang berhasil menggoda jiwa manusia sehingga ia percaya kepada hal-hal syirik tersebut, maka membacanya termasuk sarana dan jalan menuju kemusyrikan.

    Termasuk syirik, mempercayai adanya manfaat pada sesuatu yang tidak dijadikan demikian oleh Allah Tabaroka wata’ala. Seperti kepercayaan sebagian orang terhadap jimat, mantera-mantera berbahu syirik, kalung dari tulang, gelang logam dan sebagainya, yang penggunaannya sesuai dengan perintah dukun, tukang sihir, atau memang merupakan kepercayaan turun menurun.

    Mereka mengalungkan barang-barang tersebut di leher, atau pada anak-anak mereka untuk menolak ‘ain (pengaruh jahat yang disebabkan oleh rasa dengki seseorang dengan pandangan matanya; kena mata). Demikian anggapan mereka. Terkadang mereka mengikatkan barang-barang tersebut pada badan, manggantungkannya di mobil atau rumah, atau mereka mengenakan cincin dengan berbagai macam batu permata, disertai kepercayaan tertentu, seperti untuk tolak bala’ atau untuk menghilangkannya.

    Hal semacam ini, tak diragukan lagi sangat bertentangan dengan (perintah) tawakkal kepada Allah. Dan tidaklah hal itu menambah kepada manusia, selain kelemahan. Belum lagi ia termasuk berobat dengan sesuatu yang diharamkan.

    Berbagai jimat yang digantungkan, sebagian besar dari padanya termasuk syirik jaly (yang nyata). Demikian pula dengan minta pertolongan kepada sebagian jin atau setan, gambar-gambar yang tak bermakna, tulisan-tulisan yang tak berarti dan sebagainya. Sebagian tukang tenung (sulap) menulis ayat-ayat Al Qur’an dan mencampur-adukkannya dengan hal lain yang termasuk syirik. Bahkan sebagian mereka menulis ayat-ayat Al Qur’an dengan barang yang najis atau dengan darah haid. Menggantungkan atau mengikatkan segala yang disebutkan di atas adalah haram. Ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi wasallam :

    “Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka dia telah berbuat syirik [HR Imam Ahmad :4/ 156 dan dalam silsilah hadits shahihah hadits No : 492].

    Orang yang melakukan perbuatan tersebut, jika ia mempercayai bahwa berbagai hal itu bisa mendatangkan manfaat atau madharat (dengan sendirinya) selain Allah maka dia telah masuk dalam golongan pelaku syirik besar. Dan jika ia mempercayai bahwa berbagai hal itu merupakan sebab bagi datangnya manfaat, padahal Allah tidak menjadikannya sebagai sebab, maka dia telah terjerumus pada perbutan syirik kecil, dan ini masuk dalam kategori syirkul asbab.

     
  • erva kurniawan 9:17 am on 27 August 2019 Permalink | Balas  

    Syirik (Bagian 1) 

    SYIRIK

    Syirik atau menyekutukan Allah adalah sesuatu yang amat diharamkan dan secara mutlak ia merupakan dosa yang paling besar. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abi Bakrah bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

    “Maukah aku kabarkan kepada kalian dosa yang paling besar (tiga kali) ? mereka menjawab : ya, wahai Rasulullah ! beliau bersabda : menyekutukan Allah” (muttafaq ‘alaih, Al Bukhari hadits nomer : 2511)

    Setiap dosa kemungkinan diampuni oleh Allah Subhanahu wata’ala, kecuali dosa syirik, ia memerlukan taubat secara khusus, Allah berfirman : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya (An Nisa : 48)

    Di antara macam syirik adalah syirik besar. Syirik ini menjadi penyebab keluarnya seseorang dari agama Islam, dan orang yang bersangkutan, jika meninggal dalam keadaan demikian, akan kekal di dalam neraka.

    Di antara kenyataan syirik yang umum terjadi di sebagian besar negara-negara Islam adalah:

    Menyembah Kuburan

    Yakni kepercayaan bahwa para wali yang telah meninggal dunia bisa memenuhi hajat, serta bisa membebaskan manusia dari berbagai kesulitan. Karena kepercayaan ini. mereka lalu meminta pertolongan dan bantuan kepada para wali yang telah meninggal dunia, padahal Allah Subhanahu wata’ala berfirman : “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia (Al Isra’ :23)

    Termasuk dalam kategori menyembah kuburan adalah memohon kepada orang-orang yang telah meninggal, baik para nabi, orang-orang shaleh, atau lainnya untuk mendapatkan syafaat atau melepaskan diri dari berbagai kesukaran hidup. Padahal Allah Subhanahu wata’ala berfirman : “Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepadaNya dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? (An Naml : 62)

    Sebagian mereka, bahkan membiasakan dan mentradisikan menyebut nama syaikh atau wali tertentu, baik dalam keadaan berdiri, duduk, ketika melakukan sesuatu kesalahan, dalam setiap situasi sulit, ketika di timpa petaka, musibah atau kesukaran hidup.

    Di antaranya ada yang menyeru : “Wahai Muhammad.” Ada lagi yang menyebut :”Wahai Ali”. Yang lain lagi menyebut : “Wahai Jailani”. Kemudian ada yang menyebut : “Wahai Syadzali”. Dan yang lain menyebut : “Wahai Rifai. Yang lain lagi : “Al Idrus sayyidah Zainab, ada pula yang menyeru : “Ibnu ‘Ulwan dan masih banyak lagi. Padahal Allah telah menegaskan: “Sesungguhnya orang-orang yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu” (Al A’raaf : 194)

    Sebagian penyembah kuburan ada yang berthawaf (mengelilingi) kuburan tersebut, mencium setiap sudutnya, lalu mengusapkannya ke bagian-bagian tubuhnya. Mereka juga menciumi pintu kuburan tersebut dan melumuri wajahnya dengan tanah dan debu kuburan. Sebagian bahkan ada yang sujud ketika melihatnya, berdiri di depannya dengan penuh khusyu’, merendahkan dan menghinakan diri seraya mengajukan permintaan dan memohon hajat mereka. Ada yang meminta sembuh dari sakit, mendapatkan keturunan, digampangkan urusannya dan tak jarang di antara mereka yang menyeru : Ya sayyidi aku datang kepadamu dari negeri yang jauh maka janganlah engkau kecewakan aku. Padahal Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

    “Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tidak dapat memperkenankan (do’anya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do’a mereka”. (Al Ahqaaf : 5)

    Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

    “Barang siapa mati dalam keadaan menyembah sesembahan selain Allah niscaya akan masuk neraka (HR Bukhari, fathul bari : 8/176)

    Sebagian mereka, mencukur rambutnya di pekuburan, sebagian lagi membawa buku yang berjudul : Manasikul hajjil masyahid (tata cara ibadah haji di kuburan keramat). Yang mereka maksudkan dengan masyahid adalah kuburan kuburan para wali. Sebagian mereka mempercayai bahwa para wali itu mempunyai kewenangan mengatur alam semesta, dan mereka bisa memberi madharat dan manfaat. Padahal Allah Tabaroka wata’ala berfirman :

    “Jika Allah menimpakan sesuatu kemadharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu maka tidak ada yang dapat menolak karuniaNya” (Yunus : 107)

    Bernadzar Untuk Selain Allah

    Termasuk syirik adalah bernadzar untuk selain Allah seperti yang dilakukan oleh sebagian orang yang bernadzar memberi lilin dan lampu untuk para ahli kubur.

    Menyembelih Binatang Untuk Selain Allah

    Termasuk syirik besar adalah menyembelih binatang untuk selain Allah.padahal Allah Tabaroka wata’ala berfirman :

    “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah” ( Al Kutsar : 2)

    Maksudnya berkurbanlah hanya untuk Allah dan atas namaNya. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

    “Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah” (HR Muslim, shahih Muslim No : 1978)

    Pada binatang sembelihan itu terdapat dua hal yang diharamkan.

    Pertama : penyembelihannya untuk selain Allah, dan kedua : penyembelihannya dengan atas nama selain Allah. Keduanya menjadikan daging binatang sembelihan itu tidak boleh dimakan. Dan termasuk penyembelihan jahiliyah -yang terkenal di zaman kita saat ini- adalah menyembelih untuk jin. Yaitu manakala mereka membeli rumah atau membangunnya, atau ketika menggali sumur mereka menyembelih di tempat tersebut atau di depan pintu gerbangnya sebagai sembelihan (sesajen) karena takut dari gangguan jin [lihat Taisirul Azizil Hamid, hal : 158]

    Menghalalkan Apa Yang Diharamkan Oleh Allah Atau Sebaliknya

    Di antara contoh syirik besar -dan hal ini umum dilakukan– adalah menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah atau sebaliknya. Atau kepercayaan bahwa seseorang memiliki hak dalam masalah tersebut selain Allah Subhanahuwa ta’ala. Atau berhukum kepada perundang-undangan jahiliyah secara sukarela dan atas kemauannya. Seraya menghalalkannya dan kepercayaan bahwa hal itu dibolehkan . Allah menyebutkan kufur besar ini dalam firmanNya :

    “Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah”. (At Taubah : 31)

    Ketika Adi bin hatim mendengar ayat tersebut yang sedang dibaca oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam ia berkata : “ orang-orang itu tidak menyembah mereka. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dengan tegas bersabda : “Benar, tetapi meraka (orang-orang alim dan para rahib itu) menghalalkan untuk mereka apa yang diharamkan oleh Allah, sehingga mereka menganggapnya halal. Dan mengharamkan atas mereka apa yang dihalalkan oleh Allah, sehingga mereka menganggapnya sebagai barang haram, itulah bentuk ibadah mereka kepada orang-orang alim dan rahib [Hadits riwayat Al Baihaqi, As sunanul Kubra : 10/ 116, Sunan At Turmudzi no : 3095, Al Albani menggolongkannya dalam hadits hasan. lihat ghayatul muram: 19].

    Allah menjelaskan, di antara sifat orang-orang musyrik adalah sebagaimana dalam firmanNya :

    “Dan meraka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah)”. (At Taubah : 29).

    “Katakanlah : Terangkanlah kepadaku tentang rizki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal. Katakanlah : Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan kedustaan atas Allah? (Yunus : 59).

     
  • erva kurniawan 1:35 pm on 26 August 2019 Permalink | Balas  

    Kesalehan Pribadi Saja Tak Cukup 

    Kesalehan Pribadi Saja Tak Cukup

    Menilik situasi dan kondisi yang melingkupi masyarakat Indonesia pada dewasa ini, terutama yang menyangkut masalah moral dan akhlaknya. Maka masih relevan dengan yang pernah dikatakan oleh M. Natsir -salah satu tokoh Negarawan Indonesia pada masa lalu- yang dalam salah satu bukunya yang berjudul “Menyelamatkan Ummat’, telah menuliskan : “ …Umat Muhammad SAW tidak cukup hanya menjadi orang yang baik untuk pribadinya saja. Tetapi, ia harus pula berbuat baik terhadap orang lain, dan mengajak orang lain berbuat baik. Juga tidak cukup sekedar menjadi orang yang baik saja. Tetapi harus pula mencegah kerusakan, memberantas kemungkaran dan kemaksiatan. Sebab, bila kemungkaran itu tidak diberantas, maka kebaikan yang telah dibina dan dibangun dengan susah payah akan berantakan kembali… ‘.

    Moral dan akhlak masyarakat pada dasarnya ditentukan oleh moral dan akhlak dari masing-masing pribadi insan manusia yang menjadi anggota masyarakat itu. Sehingga untuk memperbaiki hal ihwal dari keadaan suatu masyarakat, yang pertama-tama harus dilakukan adalah memperbaiki moral dan akhlak dari masing-masing individu yang menjadi anggota dari masyarakat itu. Langkah selanjutnya, adalah mengajak kepada setiap individu anggota dalam masyarakat itu untuk melakukan upaya amar ma’ruf nahi mungkar. Sebab, menjalankan amar ma’ruf nahi munkar itu merupakan kewajiban dan tanggungjawab dari seluruh umat Muslim untuk menyelamatkan keseluruhan masyarakat itu.

    Imam Al-Ghazali meriwayatkan suatu hadits yang menyiratkan pesan bahwa seorang Muslim itu juga dituntut untuk mempunyai kewajiban dan tanggungjawab dalam dimensi kesalehan masyarakatnya, tak hanya sebatas pada satu dimensi kewajiban dan tanggungjawab kesalehan individual saja. Sebab, membiarkan suatu kejahatan dan kemungkaran berlangsung di masyarakat tanpa adanya reaksi dan upaya untuk mencegahnya, itu akan berarti mengundang datangnya siksa Allah SWT bagi keseluruhan masyarakat itu.

    Siti Aisyah ra berkata bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda : “ Allah menyiksa suatu negeri berpenduduk delapan belas ribu orang, padahal mereka beribadah sebagaimana ibadah nabi-nabi “. Kemudian para sahabat bertanya sebabnya. Rasulullah SAW menjawabnya dan bersabda : “ Karena mereka tidak marah ketika ada orang merusak nama Allah, tidak menegakkan amar ma’ruf, dan tidak mencegah orang-orang berbuat munkar “.

    Didalam kitab suci Al-Qur’an juga telah dijelaskan bahwa hakikat kemaksiatan diri pribadi itu -walaupun mungkin menurut pelakunya secara kasat mata sepertinya tidak berhubungan dengan diri orang lain dan sepertinya tidak merugikan orang lain- akan tetapi sesungguhnya hal itu akan juga membahayakan diri orang lain. Hal itu akan mendatangkan bencana dan akan berarti pula mengundang datangnya murka Allah SWT.

    Allah SWT berfirman : “ Dan jagalah dirimu dari bencana yang tidak khusus menimpa orang-orang zalim saja diantaramu “ (QS. Al-Anfaal : 25).

    Pada tahap selanjutnya, tidak cukup hanya dengan hal itu saja. Tidaklah cukup jika hanya berhenti dengan membangun dan membina kesalehan pribadi dari masing-masing individu anggota masyarakat itu saja. Tidaklah cukup hanya jika hanya berhenti dengan sekedar himbauan kepada individu anggota masyarakat untuk melakukan upaya amar ma’ruf nahi mungkar saja. Tentunya agar tercapai keefektifan upaya maupun keoptimalan hasil dari amar ma’ruf nahi mungkar, diperlukan adanya suatu sistem yang melekat di sistem sosial masyarakat itu. Suatu sistem yang sistematis dan berkelanjutan untuk mengatur tata kemasyarakatannya, agar terbangun kebaikan dalam masyarakat, dan kebaikan yang telah terbangun dalam masyarakat itu akan tetap terjaga dan selalu terbina, serta kebaikan dalam masyarakat senantiasa berkesinambungan. Sehingga kebaikan dalam masyarakat dari hari ke hari semakin bertambah dan semakin meningkat.

    Hal itu sangat relevan jika kita menyimak salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Dalam hadits tersebut Rasulullah SAW mengibaratkan kehidupan bermasyarakat itu dengan bahtera yang berlayar di lautan, sedangkan kemaksiatan diri pribadi itu diibaratkan sebagai tindakan melubangi kapal yang akan membahayakan keseluruhan penumpang bahtera itu.

    Perumpamaan keadaan suatu masyarakat yang menjaga batasan hukum-hukum Allah adalah ibarat suatu rombongan yang naik sebuah kapal. Lalu mereka membagi tempat, tiap orang mendapat tempat tertentu. Salah seorang dari penumpang itu kemudian ada yang berfikir : “Seandainya aku melubangi tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan air) tentu aku tidak akan mengganggu orang yang lain’. Kemudian secara tiba-tiba orang itu melubangi tempat yang didudukinya. Mereka yang lainnya lalu bertanya : “ Apa yang kamu perbuat ? “. Orang itu menjawabnya : “ Bukankah ini tempatku sendiri dan aku bebas berbuat apa saja “. Jika mereka terus mencegah, orang itu akan selamat dan semua penumpang kapal juga akan selamat. Tetapi kalau mereka membiarkannya, orang itu sendiri akan celaka dan semua penumpang yang naik kapal itu juga akan binasa.

    Relevansi dari semua hal yang tersebut diatas -merupakan suatu keniscayaan yang mau tak mau dan suka tidak suka- tak akan dapat dilepaskan dari sistem hukum dan penegakan hukum yang diberlakukan di keseluruhan relasi sosial kemasyarakatan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat itu. Jika tak demikian halnya, maka kebaikan yang telah dibina dan dibangun dengan susah payah itu akan mubazir, pada akhirnya akan berantakan kembali.

    Sementara itu, kita -sebagai Muslim dan umat Nabi Muhammad SAW- seharusnya haqqul yaqin bahwa kebenaran yang hakiki secara kebenaran duniawi dan ukhrowi hanya kebenaran Allah SWT saja. Dan, seharusnya haqqul yaqin pula bahwa hukum dan aturan yang memiliki kebenaran hakiki secara kebenaran duniawi dan ukhrowi tentu hanya aturan Allah SWT yang disampaikan lewat utusan-Nya, Nabi Muhammad SAW.

    Akhirul kalam, Sudahkah kita sebagai masing-masing pribadi telah memahami dan menyadari semua hal itu ?. Sejatinya, jika kita -sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Ukhuwah Islamiyah- kemudian dapat saling bersepakat dan selanjutnya saling mengulurkan tangan agar dapat saling menggandengkan tangan untuk bersama dengan sepenuh hati dan segenap jiwa raga mengupayakan terwujudnya hal yang tersebut diatas. Maka, dengan izin dan ridho-Nya, tak ada halangan yang akan mampu merintanginya dan tiada aral melintang yang akan mampu menghentikannya !!!. Insya Allah, bersama kita bisa !!!.

    Wallahu’alambishawab.

    si-pandir,

    ***

    Dicuplik dan disadur dari : “Mencegah Kemungkaran’ tulisan karya M Fuad Nasar, dan “Melubangi Kapal’ tulisan karya Evi Susanti, yang dimuat di kolom Hikmah SKHU Republika. Dan ditambah serba sedikit dari beberapa sumber lainnya.

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 9 August 2019 Permalink | Balas  

    Mengejar Mabrur dengan Bekal ”Kurma” 

    Mengejar Mabrur dengan Bekal ”Kurma”

    Setiap orang yang melaksanakan ibadah haji pasti ingin meraih gelar haji mabrur. Sebab, seperti dijanjikan Rasulullah, ”Orang yang mendapatkan haji mabrur, tiada balasan yang lebih baik baginya, kecuali surga”. Tidak mudah untuk mencapai mabrur, yang merupakan puncak prestasi ibadah haji seseorang. Namun, ada ikhtiar yang bisa dilakukan untuk merengkuhnya.

    Menurut Mardjoto Fahruri, sekretaris Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Boyolali, Jawa Tengah, menunaikan ibadah haji perlu membawa bekal ”kurma” (bahasa Jawa: dibaca ”kurmo”). Apa maksudnya? ”Kalau mendapatkan kenikmatan kita harus selalu bersyukur, kalau menghadapi kesulitan atau cobaan kita harus nrimo atau ikhlas. Dengan modal ‘kurma’ itu, insya Allah kita akan mendapatkan gelar mabrur,” katanya. Fahruri menjelaskan, orang yang menunaikan ibadah haji itu adalah orang yang dipanggil Allah atau tamu Allah. ”Sebagai tamu Allah, ia harus mempunyai bekal yang disebut ‘kurma’, yakni syukur dan nrimo,” kata Pimpinan Kelompok Pengajian Bani Adam Boyolali.

    Lebih jauh, Fahruri mengatakan, syukur dan nrimo itu merupakan modal hidup yang utama. ”Kalau seorang jamaah haji selalu syukur dan nrimo selama menunaikan ibadah haji di Tanah Suci maupun setelah berada kembali di Tanah Air, insya Allah hidupnya akan selamat dan penuh berkah. Apa pun yang terjadi, ia mampu menerimanya dengan ikhlas. Sebab ia yakin, semua itu merupakan kehendak Allah SWT,” tandasnya.

    Meskipun demikian, Fahruri menegaskan, syariah harus tetap ditempuh dengan sebaik mungkin sesuai dengan prosedur dan manajemen yang benar. ”Dari segi jamaah haji maupun umrah, penting untuk selalu syukur dan nrimo. Namun dari segi penyelenggara, pemerintah maupun travel haji/umrah dan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH), harus melaksanakan segala sesuatunya dengan sebaik-baiknya. Hal yang perlu diingat, jamaah haji itu merupakan tamu Allah. Karena itu harus diperlakukan dengan sebaik mungkin sebagaimana layaknya tamu Allah,” ujarnya.

    Hal yang sama juga diungkapkan oleh Drs H Ahmad Anas MAg, ketua Yayasan Riyadhul Jannah, Semarang. Menurut Anas, selain mengetahui dan memahami tentang tata cara dan makna ibadah haji, hendaknya calon jamaah haji menanamkan nilai-nilai keikhlasan dan kesabaran sejak dini. Sebab, kata dia, banyak peristiwa yang terjadi di Tanah Suci berada di luar jangkauan akal manusia.”Jika kita ikhlas dalam melaksanakan ibadah, niscaya Allah akan memberikan kemudahan bagi kita dalam menunaikan perintah-Nya,” jelas Pembimbing jamaah haji Travel Razek ini. Suami Hj Siti Alfiaturohmaniah ini menambahkan, keikhlasan dan kesabaran menjadi kunci sukses untuk menggapai predikat haji mabrur. Mampu

    H Ma’mun Efendi Nur, Lc, MA, PhD, staf pengajar IAIN Walisongo Semarang mengatakan, salah satu syarat mutlak yang harus dimiliki seorang calon jamaah haji untuk menunaikan ibadah haji adalah istitho’ah (mampu). Artinya, seorang calon jamaah haji harus memiliki kemampuan, baik kemampuan akan harta benda untuk menunaikan ibadah haji dan untuk keluarga yang ditinggalkan, maupun kemampuan fisik (sehat jasmani dan rohani).

    Di samping dua kemampuan di atas, kemampuan lainnya yang juga memiliki peranan penting dalam melaksanakan ibadah haji adalah kesiapan ilmu pengetahuan akan ibadah haji, misalnya makna dan spiritualitas haji, tata cara (manasik) dan lainnya. Faktor kemampuan ilmu pengetahuan tentang ibadah haji ini, sangat penting artinya untuk kesempurnaan ibadah haji (sesuai syarat dan rukunnya) dalam menggapai haji mabrur. Tentu saja, pengetahuan tersebut meliputi banyak hal, sejak proses pendaftaran, pembayaran ONH, perlengkapan dokumen, pengetahuan sejarah haji, serta proses perjalanan dan makna ritual yang terkandung dalam ibadah haji. Proses pembimbingan dan pembinaan haji itulah yang disebut dengan bimbingan manasik haji.

    Untuk mempersiapkan itu semua, tidaklah cukup waktu satu hingga tiga bulan sejak dari proses pendaftaran hingga pemberangkatan calon haji ke Tanah Suci. Maka untuk mempersiapkan pengetahuan yang mendalam, setidaknya seorang calon haji bisa mempersiapkan jauh sebelum dirinya berangkat menunaikan rukun Islam yang kelima ini. Ma’mun mengatakan, waktu manasik yang diberikan selama tiga bulan itu terlalu singkat. ”Minimal seorang calon haji harus mempersiapkan diri setahun sebelum ia berangkat ibadah haji,” kata alumnus Universitas Ummul Qura Madinah kepada Republika.

    Ia menambahkan, pengetahuan dan pemahaman akan makna dan tata cara ibadah haji sangat penting artinya bagi calon haji dalam menunaikan rukun Islam yang kelima. Sebab, tanpa pengetahuan dan pemahaman tentang itu, maka ibadah haji tersebut hanya menjadi ibadah rutinitas yang jauh dari nilai-nilai kesempurnaan. ”Jangan sampai, ketika menjadi tamu, tidak mengetahui apa yang akan disampaikan kepada tuan rumah,” ujar Ma’mun berfilsafat. Pria yang lama bermukim di Tanah Suci itu mengungkapkan, jamaah haji dari Malaysia rata-rata mendapatkan pembekalan dan pengetahuan ibadah haji, jauh hari sebelum melaksanakan ibadah haji. ”Ada yang berguru khusus kepada para ustadz, ada pula yang mempelajari buku-buku tentang haji. Jadi, mereka tidak mendadak mendapatkan pengetahuan tentang tata cara beribadah haji tersebut,” tutur Ma’mun.

    Presiden Direktur PT Nur Rima Al-Waali, Hj Irmawati Asrul SE mengatakan, kemampuan (istithoah) yang dimaksudkan oleh Alquran dalam ibadah haji adalah kemampuan harta benda, ilmu pengetahuan, dan kemampuan fisik. ‘”Dengan memiliki kemampuan seperti ini, Insya Allah ibadah haji akan diterima Allah SWt,” kata Hj Irma. Pengurus Pusat Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) itu menambahkan, selain kemampuan di atas, sebaiknya seorang calon haji juga dibekali dengan niat yang tulus dan ikhlas dalam menjalani segala sesuatu. Sebab, ungkapnya, perjalanan haji untuk menggapai predikat haji mabrur, membutuhkan perjuangan yang maksimal. ”Apalagi, jalannya begitu terjal dan banyak godaan yang siap menghalangi upaya kita untuk beribadah,” jelasnya.

    Ia menyebutkan, godaan dan halangan yang biasa dialami oleh jamaah haji saat melaksanakan haji adalah berkata-kata yang kasar, ketus, suka iri dengan urusan orang dan senang menggunjingkan orang lain. Padahal, kata dia, Allah telah menegaskan, bahwa seorang jamaah haji dilarang berkata-kata rafats (berkata jorok/porno), fusuq (fasik, berkata kasar), dan jidaal (menggunjing) selama melaksanakan ibadah haji. ”Tanpa keikhlasan dan kesabaran, niscaya kita akan sering terpeleset untuk berbuat yang dilarang Allah,” tegasnya.

    Tips Haji Mabrur

    Apa saja langkah-langkah praktis yang perlu dilakukan oleh seorang calon jamaah haji agar bisa meraih mabrur saat berhaji? Berikut ini tips yang diberikan oleh Ustad Mardjoto Fahruri, sekretaris Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), Boyolali, yang juga Pengasuh Kelompok Pengajian Bani Adam, Boyolali, Jawa Tengah.

    • Tobat kepada Allah sebelum pergi berhaji maupun selama menunaikan ibadah haji.
    • Gemar berinfak, dalam keadaaan lapang maupun sempit. Baik dengan tenaga, ilmu maupun harta.
    • Menahan marah
    • Memaafkan kesalahan orang lain, sebelum orang tersebut memohon maaf
    • Senang berbuat baik. Perbuatan kita tidak boleh merugikan orang lain. Bahkan kalau bisa menguntungkan orang lain alias muhsin.

    ***

    Republika

    Kunjungi http://www.direktorihaji.com

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: