Updates from September, 2011 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:57 am on 30 September 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Mata Air Hunain 

    Sentuhan Jiwa: Mata Air Hunain

    Berapa pun kali kisah ini dibaca tetap saja, rasa haru menyeruak khususnya saat Rasulullah memberikan tausyiah pada kaum Anshar yang merasa tak dihargai perjuangannya. Saat kaum Anshar cemburu pada Rasulullah yang memberikan ghanimah (harta rampasan perang) amat besar kaumnya (Quraisy) dibandingkan Anshar. Kebersihan hati Kaum Anshar, keridhaan, pengorbanan dan kecintaan mereka atas keputusan Rasulullah ini patut ditiru. Semoga kita dianugerahi hati dan keikhlasan seperti kaum Anshar yang senantiasa menolong agama Allah tanpa pamrih kecuali cinta Allah dan Rasul-Nya semata

    **

    Mata Air Hunain

    Perang Badar baru saja selesai. Namun, peristiwa itu tidak mungkin hilang begitu saja dari benak fikiran para sahabat. Ini karena Badar merupakan pengalaman mereka yang pertama dalam keramaian genderang perang.

    Ketika perang Hunain berakhir dengan kemenangan kaum muslimin, Rasulullah SAW dan kaum muslimin mendapatkan harta rampasan perang yang melimpah. Perang ini berlaku pada tahun ke-8 hijrah. Dengan penaklukan kota Mekah, kaum kuffar Arab akhirnya bergabung, bersedia menyerang kaum muslimin. Bahkan, mereka turut membawa anak isteri mereka juga harta benda yang mereka miliki. Perang yang akan merka tempuh seolah-olah perang pertarungan harga diri sehingga mereka harus membawa semua yang mereka miliki untuk berada dalam kafilah perang mereka.

    Di pihak lain, kaum muslimin yang berjumlah 10 ribu orang anggota yang telah menyerbu dan menakluk kota Mekah sudah bersiap sedia berangkat ke Hunain. Pasukan ini telah pun ditambah dengan dua ribu orang mualaf, orang yang baru masuk Islam dari penduduk Mekah. Sebuah penghormatan dan harga diri kadang kala menjadi suatu yang amat berharga sehingga apaun yang dimiliki dapat dikerahkan untuk mendapatklan kembali harga diri tersebut. Begitulah yang terjadi kepada orang-orang Arab yang merasa kehormatannya diragut oleh umat Islam Madinah yang berhasil menduduki dan menakluk kota Mekah.Puncak perjuangan kaum kuffar untuk kembali merebbut kehormatan dan harga diri mereka adalah dengan menentang umat Islam.

    Jumlah pasukan Islam yang banyak yang bersedia untuk berperang melawan kuffar Arab iaitu dalam 12 ribu orang telah menimbulkan sikap ghurur (bangga diri) pada sebagian kaum muslimin. Mereka beranggapan bahwa jumlah pasukan umat Islam yang besar akan mudah mengalahkan pasukan kuffar Arab sehingga mereka meremehkan kekuatan musuh. Penyakit ghurur ini menjadikan maknawiyah pasukan Islam menjadi kendur. Mereka kurang bersandar kepada Allah sebagai sumber kekuatan. Hal ini karena secara manusiawi mereka jauh lebih besar daripada pasukan musuh sehingga tidak terdorong atau melupakan bahwa sumber kemenangan adalah daripada Allah SWT, sama seperti maknawiyah kafir Quraisy ketika mereka menghadapi pasukan Islam di Badar. Akan tetapi, mereka yang sudah ditempa dengan tarbiyah Rasulullah SAW tergerak dan segera menyusun kembali barisan untuk menguasai keadaan sehingga pertempuran itu berakhir dengan kemenangan.

    Kemenangan kaum muslimin mendatangkan banyak harta rampasan perang dan tawanan, 6 ribu orang tawanan, 24 ribu unta, 40 ribu lebih kambing, dan 4 ribu lebih uqiyah perak.

    Pembagian Harta Rampasan Perang

    Ketika perang berakhir dan setelah beberapa lama Rasulullah menunggu kaum Hawazin yang mungkin datang untuk menebus tawanan mereka di Ji’ranah. Rasulullah SAW membagi-bagikan harta rampasan perang kepada para muallaf, pemuka Mekah yang belum lama masuk Islam, dengan jumlah yang cukup besar untuk mengikat hati mereka.

    Abu Sufyan diberi 40 uqiyah dan 100 ekor unta, kemudian Abu Sufyan ,meminta bagian anaknya, Yazid. Rasulullah SAW meluluskan permintaan Abu Sufyan itu dengan memberikan anaknya jumlah yang sama seperti yang beliau perolehi. Begitu juga dengan anaknya yang bernam Mu’awiyah. Rasulullah SAW memberikannya dengan jumlah yang sama. Kepada Hakim bin Hizam, Rasulullah SAW memberikan 100 ekor unta, kemudian dia meminta lagi dan memberikannya tambahan 100 ekor lagi. Shafwan bin Umayyah diberi 100 ekor unta, kemudian 100 ekor lagi, dan ditambah lagi dengan 100 ekor.

    Al-Haritsah bin Al-Harits bin Kaladah diberi 100 ekor unta dan beberapa pemuka Quraisy yang lain juga memperolehinya. Selain mereka, ada juga yang mendapat 50 ekor unta, 10 ekor unta, 5, 4, sehingga dikhabarkan bahwa Rasulullah memberikan setiap muallaf yang meminta atau minta tambahan bagian dan baginda tidak takut miskin. Orang-orang Arab berkerumun meminta bagian harta sampai baginda terdesak ke pohon pokok hingga baju baginda terlepas. Baginda berkata, “ Wahai kalian, kembalikan bajuku, demi Zat yang diriku di tangan-Nya, andaikan aku memiliki tanaman di Tihamah, maka aku akan memberikannya kepada kalian dan kalian tidak memanggilku sebagai orang kikir, takut, dan berdusta”.

    Kemudian, bagindapun berdiri di samping unta miliknya sambil memegang sebiji gandum dan bersabda, “Wahai manusia, demi Allah, aku tidak lagi menyisakan harta rampasan kalian, termasuk biji gandum ini, kecuali seperlimanya dan seperlima itupun sudah aku serahkan kepada kalian”.

    Setelah membagikan rampasan kepada para muallaf, kepada orang-orang yang baru masuk Islam dan kepada orang yang hatinya masih lemah, Nabi Muhammad SAW memanggil Zaid bin Tsabitagar mengumpulkan sisa harta rampasan perang serta memanggil semua sahabat. Masing-masing sahabat mendapat 4 ekor unta dan 40 ekor kambing. Untuk penunggang kuda, diberikan 12 ekor unta dan 120 ekor kambing.

    Pembagian ini berdasarkan pertimbangan yang sangat matang dan bijaksana. Di dunia, seseorang lebih mampu menerima kebenaran melalui perutnya daripada akalnya, sebagaimana binatang yang digiring ke kandangnya dengan memancingnya melalui dedaunan. Begitu juga manusia yang memerlukan variasi bujukan untuk menyusupkan keimanan.

    Komentar Terhadap Tindakan Rasulullah SAW

    Tindakan dan langkah baginda tidak difahami oleh sebagian sahabat sehingga timbul berbagai komentar yang tidak sedap didengar. Di antara sahabat yang tidak dapat menerima tindakan Rasulullah SAW ini adalah orang-orang Ansar, padahal merekalah yang paling banyak dilibatkan oleh Rasulullah pada saat-saat krisis hingga suasana pertempuran yang mula kelihatan kalah menjadi sebaliknya dapat dikuasai keadaan. Mereka tidak menerima bagian daripada harta rampasan perang Hunain.

    Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, ia berkata, “Setelah Rasulullah SAW membagi-bagikan bagian rampasan perang kepada orang-orang Quraisy dan kabilah-kabilah Arab, sedangkan orang-orang Ansar tidak mendapat bagian apa-apa, maka kemudian tersebarlah berita-berita di antara mereka, ada yang berkata, “Demi Allah, Rasulullah SAW telah bertemu kaumnya sendiri”.

    Lalu Saad bin Ubadah datang ke tempat baginda seraya berkata, “Wahai Rasulullah, di hati orang-orang Ansar ada perasaan tidak puas hati terhadap engkau karena pembagian harta rampasan perang yang telah engkau lakukan. Engkau membagi-bagikannya kepada kaum engkau sendiri dan engkau memberikan bagian yang amat besar kepada beberapa kabilah Arab, sedangkan orang-orang Ansar itu tidak mendapat apa-apa”.

    Kemudian Rasulullah SAW bertanya, “Kalau demikian keadaannya, engkau berpihak kepada siapa wahai Saad?” Saad pun menjawab, “Wahai Rasulullah, tidak ada pilihan lain kecuali aku ikut bersama kaumku”.

    “Kalau begitu kumpulkan kaummu di tempat ini!” kata Rasulullah SAW kepada Saad.

    Kemudian Saad mengumpulkan semua orang Ansar di tempat yang ditunjukkan Rasulullah. Ada beberapa Muhajirin hendak ikut masuk, namun mereka tidak diperkenankan masuk daan hanya orang-orang Ansar sahaja yang masuk ke dalam tempat itu. Setelah semua orang Ansar telah berkumpul, maka Saad memberitahu Nabi SAW dan baginda pun datang berjumpa dengan mereka.

    Taujih Rasulullah SAW

    Setelah memuji dan mengagungkan Allah, baginda bersabda, “Wahai kaum Ansar, aku sempat mendengar berita-berita dari kalian dan dalam diri kalian ada perasaan tidak puas hati terhadapku. Bukankah dulu aku datang ketika kalian dalam keadaan sesat dan Allah memberikan petunjuk kepada kalian? Bukankah dahulu kalian adalah miskin lalu Allah membuat kalian menjadi kaya dan hati kalian bersatu?”

    Mereka menjawab, “Begitulah, Allah dan rasul-Nya lebih murah hati dan banyak kurnianya”.

    “Apakah kalian tidak ingin memenuhi seruanku wahai orang Ansar?”

    Mereka menjawab, “Dengan apa kami harus memenuhi seruanmu wahai Rasul? Segala anugerah dan kurnianya hanyalah milik Allah dan Rasul-Nya”.

    Lalu baginda bersabda, “Demi Allah, jika kalian mahu, kalian perlu membenarkan dan dibenarkan, maka kalian boleh katakan, “Engkau telah datang kepada kami ketika engkau didustakan kaum engkau, kami menerima engkau. Ketika engakau dalam keadaan lemah, kamilah yang menolong engkau. Ketika engkau diusir, kamilah yang memberikan tempat. Ketika engkau dalam keadaan papa, kamilah yang menampung engkau”.

    Setelah mengingatkan orang-orang Ansar bahwa mereka lebih berjasa kepada Rasulullah SAW dari orang-orang Quraisy, baginda kemudian bersabda, “Apakah di dalam hati kalian masih terdetik hasrat kepada dunia yang dengan keduniaan itu sebenarnya aku hendak mengambil hati segolongan orang agar masuk Islam. Sementara terhadap keislaman kalian aku tidak lagi meragukannya? Wahai sahabat Ansar, apakah di hati kalian tidak berkenan jika mereka membawa pulang kambing dan unta, sedangkan kalian pulang bersama Rasulullah ke tempat tinggal kalian?”

    Demi Zat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, kalau bukan karena hijrah, tentu aku termasuk golongan Ansar. Jika para sahabat menempuh suatu jalan di celah gunung dan orang-orang Ansar menempuh suatu celah yang lain, tentu aku akan memilih celah yang dilalui oleh orang Ansar. Ya Allah, rahmatilah orang-orang Ansar, anak-anak Ansar, dan cucu orang-orang Ansar”.

    Setelah mendengar taujih dari Rasulullah SAW yang mengajak mereka mendahulukan akhirat dan nikmat yang besar, mereka pun menitiskan air mata hingga janggut mereka basah lembab dengan air mata sambil berkata, “Kami redha tindakan Rasulullah dalam urusan bagian dan pembagian. Setelah itu, mereka puas dan kembali ke tempat mereka semula”.

    Renungan Peristiwa Hunain

    Kejadian pembagian rampasan perang ini merupakan tarbiyah bagi para sahabat. Kadang kala ketika kita merasa sudah banyak berbuat untuk dakwah, maka kita merasa bahwa kita berhak atas semua keuntungan duniawi dari dakwah. Oleh itu, seperti kejadian Hunain, sebagian sahabat merasa bahwa mereka lebih berhak atas rampasan perang Hunain dibandingkan dengan orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam ketika Fath Al-Makkah.

    Ketika hati kita dipenuhi dengan rasa protes karena kita merasa bahwa jasa kita tidak dihargai, maka prasangka pun akan menghinggapi hati kita sehingga dugaan buruk terhadap lain menguasai kita, seperti yang berlaku kepada orang-orang Ansar pada peristiwa pembagian harta rampasan perang.

    Yang lebih berbahaya adalah jika kekecewaan atas tindakan itu menular kepada orang lain sehingga suasana ukhrawi tidak terlihat. Yang ada sebaliknya, ejekan disebabkan kekecewaan dan tidak puas hati terhadap qiyadah. Jika keadaan ini tidak cepat diselesaikan dengan penjelasan-penjelasan oleh pihak qiyadah, maka tidak mustahil keadaan ini akan bertambah parah menjadi pergaduhan atau perpecahan.

    Di pihak yang lain, sebagai seorang qiyadah, Rasulullah SAW menyedari bahwa tidak seluruh landasan tindakannya diketahui oleh para sahabat. Oleh itu, baginda berinisiatif untuk menjelaskan i’tibarat, dan konsider kepada para tentera. Ini perlu cepat dilakukan agar keadaan tidak bertambah teruk. Semakin cepat akan semakin baik, kecuali jika ada program atau rancangan yang lebih efektif untuk menyelesaikan keadaan seperti itu.

    Kejadian Hunain telah berlalu sekian lama, tetapi pelajaran dan hikmah yang dapat diambil sentiasa mengalir bagai air dari pergunungan yang dapat menyegarkan dan menghilangkan rasa haus generasi penerus perjuangan. Mudah-mudahan Allah masih membuka hati kita agar kita dapat melihat sesuatu dengan benar dan hati pun tidak terfitnah, terjangkit penyakit dari keadaan yang sam,a dengan keadaan yang dialami oleh sahabt-sahabat Ansar pada masa-masa pertama perjuangan Islam.

    Wallahu a’lam.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 29 September 2011 Permalink | Balas  

    Jangan Menuai Saat Menyemai 

    Jangan Menuai Saat Menyemai

    “…….Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus diatas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penananam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang -orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS Al-Fath (48):29)

    Begitu banyak perumpamaan yang Allah buat dalam Al-Qur’an, Allah membuat perumpamaan berbagai binatang mulai dari nyamuk, lebah, laba-laba dan juga berbagai macam tumbuhan. Dengan perumpaan itulah, kita dituntut untuk menggunakan akal pikiran kita memikirkan pelajaran yang ada di dalam perumpamaan itu. Tidak semata-mata Allah menurunkan perumpamaan itu kecuali banyak pelajaran yang bisa kita ambil, firman-Nya : “…….dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir (QS Al-Hasyr (59) :21)

    Dari sekian banyak perumpamaan yang Allah turunkan dalam Al-Qur’an, betapa seringnya Allah mengambil perumpamaan sebuah pohon. Dari perumpamaan inilah kita bisa mendapatkan begitu banyak pelajaran yang mendasar (fundamental) dalam menjalankan kehidupan. Paling tidak, ada tiga perumpamaan dari pepohonan yang memberikan pelajaran penting yakni :

    1. Pohon diumpamakan sebagai kerangka sistem hidup

    ” Tidaklah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat (QS Ibrahim (14) 24-25)

    Salah satu tafsir dari kalimat yang baik menurut para mufassirin adalah kalimat ” Laa ilaaha illallah”. Inilah inti kerangka sistem hidup manusia yang dibawa oleh seluruh nabi dan rasul sejak Nabi Adam AS sampai Rasululhah Muhammad SAW. Dari ayat tersebut, kita bisa memahami beberapa ciri dari kerangka hidup yang sempurna.

    Pertama, kerangka sistem hidup harus memiliki akar yang kuat yaitu pondasi tempat bertumpu seluruh sistem kehidupan. Seberat apapun beban yang harus ditanggung diatasnya, tidak akan meruntuhkannya. Semakin besar sistem itu maka semakin dalam pondasinya sebagaimana sebuah pohon, semakain besar batangnya, semakin kuat akarnya. Inilah pondasi aqidah dan keimanan yang harus tertanam kuat didalam hati seorang muslim

    Kedua, kerangka sistem hidup mansia harus memiliki pohon yang kokoh dengan batang-batangnya yang banyak dan daun yang subur. Artinya, sistem kehidupan yang sempurna mencakup seluruh aspek kehidupan dengan lengkap. Sejalan dengan pertumbuhannya, maka setiap ada celah yang muncul, maka akan tumbuh tunas baru untuk menutupnya. Inilah syariat Islam yang terus berkembang pada cabang-cabang dan tunasnya dengan terbukanya jalan ijtihad, tetapi tetap tegak diatas batang pohonnya yang kuat. Semakin lengkap sistem kehidupan ini semakin rindang dan teduh bagi siapa saja yang ada dibawahnya.

    Ketiga, kerangka sistem hidup manusia harus menghasilkan buah yang bisa dipetik setiap musim. Tentu saja, pohon yang menghasilkan buah adalah pohon yang telah matang dan dewasa. Buah ini pun bisa dipetik oleh siapa saja. Artinya, sistem kehidupan yang sempurna pasti memberikan manfaat bagi siapa saja yang menerapkannya dengan benar. Inilah Akhlaq Islami yang menjadi rahmatan lil’alamin.

    2. Pohon diumpamakan sebagai sosok mukmin

    “…….Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus diatas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penananam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang -orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS Al-Fath (48):29)

    Ayat ini berbicara tentang para pengikut Muhammad Rasulullah SAW. Hal ini menunjukkan bahwa seorang mukmin hendaklah mengikuti proses tarbiyah robbaniyah dalam menjalankan kehidupannya agar sesuai dengan kerangka sistem kehidupan ilahiyah. Ada dua makna yang tersirat dari proses ini, yang pertama adalah proses tarbiyah al-aulad (pendidikan anak) yang menjadi tanggung jawab orang tua (penanam-penanamnya) untuk menyiapkan anak-anak yang tumbuh subur diatas pondasi aqidah yang kuat dengan menjalankan syariat Islam yang lengkap sehingga menumbuhkan akhlak al-karimah. Yang kedua adalah proses tarbiyah robbaniyah tidak mungkin dilakukan secara instan, tetapi tetap harus mengikuti tahapan-tahapan, mulai dari hal-hal pokok hingga hal-hal yang berkembang. Sosok mukmin yang baik adalah mereka yang mengikuti proses tarbiyah robaniyah dalam kerangka sistem ilahiyah

    3. Pohon diumpamakan sebagai hasil

    “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS Al-Baqarah (2) : 261)

    Tidaklah sebutir benih itu didapatkan kecuali dari pohon yang baik, yang sudah matang dan dewasa serta berbuah. Artinya, perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh sosok mukmin yang tarbiyah robbaniyah diatas kerangka sistem ilahiyah, niscaya akan menghasilkan amal-amal yang mampu menumbuhkan manfaat yang banyak yang bisa dinikmati oleh banyak orang. Hal ini menujukkan bahwa seorang mukmin adalah manusia produktif, kreatif dan inovatif. Sehingga amal-amalnya tidak hanya untuk dinikmati olehnya sendiri, tetapi bisa dirasakan oleh generasi-generasi seterusnya

    Satu hal yang niscaya kita temukan pada setiap pohon yang berbuah adalah tidak ada satu pun pohon yang memakan buahnya sendiri ! Seluruhnya dipersembahkan kepada selain dirinya. Sangat berbeda dengan hewan, yang masih kita temukan hewan buas yang membunuh dan memkan anaknya. Dan yang lebih jauh lagi, tidak sedikit manusia yang memakan anaknya bahkan ada manusia yang membunuh orang tuanya sendiri. Pantaslah kalau Allah SWT membuat begitu banyak perumpamaan dari pohon itu agar kita bercermin kepadanya. Atau, renungkanlah pepatah seorang ulama yang mengatakan ” jadilah dirimu bagaikan pohon yang berbuah, dilempar dengan batu tetapi dibalas dengan buah”.

    Jangan Jadi Pohon Bonsai

    Coba kita perhatikan pohon bonsai. Pada dasarnya benihnya adalah benih yang baik, tetapi akarnya dibatasi ruang tumbuhnya, dan batang serta tunasnya dikebiri dan di potong sebelum tumbuh besar. Apakah pohon bonsai itu akan berbuah ? Kalaupun berbuah niscaya buahnya hanya cukup satu kali petik saja. Terkadang mata kita indah melihatnya, tetapi dia tidak bisa memberikan buah dan yang pasti tidak bisa memberikan benihnya agar bisa berkembang biak. Dia hanya menjadi pajangan dan hiasan belaka. Tidak lebih

    Mungkin kalau kita bandingkan pohon bonsai dengan kondisi Islam saat ini khususnya dinegeri ini, kita akan menemukan begitu banyak kemiripan. Aqidahnya terbelenggu sehingga tidak menjadi pijakan yang kokoh. Penerapan syariahnya dipersempit hanya pada hal-hal yang bersifat ritual sehingga tidak bisa tumbuh berkembang. Pada akhirnya umat tidak bisa menunjukkan akhlak yang terpuji sehingga jauh dari rahmatan lil alamin. Yang lebih menyedihkan lagi adalah sulitnya menemukan benih-benih umat yang bisa menjadi generasi yang mampu menunjukkan jati dirinya yang sejati sebagai sosok mukmin yang tangguh.

    Jadilah Sosok Penanam

    Untuk menjadi kebangkitan umat, khususnya di negeri ini kita perlu sosok-sosok penanam yang sebenarnya. Bukan penanam bonsai yang hanya menjadikan pohonnya sebagai hiasan belaka. Kita perlu sosok yang siap menyemai benih-benih unggul dan menyiapkan buahnya untuk generasi masa depan. Bukan sosok yang menyemai pagi hari dan menuai hasilnya di sore hari. Kita perlu banyak sosok yang mau berinvestasi tanpa menunggu-nunggu kapan dia akan kembali modal. Kita perlu sosok yang siap meretas jalan terjal dan menyiapkan jalan lapang bagi generasi yang akan datang.

    Betapa kita melihat begitu banyak fenomena yang bertolak belakang dengan langkah-langkah tarbiyah robbaniyah pada ayat-ayat di atas. Pemimpin-pemimpin kita begitu rajin menebar benih pada pemilu dan pilkada, kemudian menguras kekakyaan rakyat selama dia menjabat. Ini adalah pemimpin bonsai. Betapa banyak pejabat yang melesat jabatannya begitu cepat karena selembar ijazah master dan doktornya, tetapi tidak diiringi oleh keahlian dan kemampuan master dan doktornya, ini adalah pejabat bonsai. Betapa banyak konglomerat yang memiliki ribuan perusahaan dengan menggunakan uang rakyat karena mengemplang dana bank, kemudian berdalih tidak mampu mengembalikan, dia adalah konglomerat bonsai. Dan tidak kalah mirisnya adalah betapa banyak rakyat kita yang pasrah dalam kemiskinan karena menunggu bagian dari dana sosial tanpa memikirkan bagaimana kehidupan anak cucunya di massa yang akan datang, mereka adalah rakyat bonsai

    Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian. Berjuanglah sebagai pendahulu, agar lapang jalan generasi masa depan. Hari ini adalah musim tanam, belum tiba masanya musim panen.

    Wallahu a’lam

    ***

    Buletin Dakwah AL-MIMBAR

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 28 September 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Ku Malu Menjadi Wanita 

    Ku Malu Menjadi Wanita

    Oleh Meralda Nindyasti

    ” Wanita itu ibarat buku yang dijual di toko buku. ” Kata Ukhti Liana, mentor rohaniku ketika SMA.

    Ia melanjutkan ceritanya “Begini asosiasinya.. di suatu toko buku, banyak pengunjung yang datang untuk melihat-lihat buku. Tiap pengunjung memiliki kesukaan yang berbeda-beda. Karena itulah para pengunjung tersebar merata di seluruh sudut ruangan toko buku. Ia akan tertarik untuk membeli buku apabila ia rasa buku itu bagus, sekalipun ia hanya membaca sinopsis ataupun referensi buku tersebut. Bagi pengunjung yang berjiwa pembeli sejati, maka buku tersebut akan ia beli. Tentu ia memilih buku yang bersampul, karena masih baru dan terjaga. Transaksi di kasirpun segera terjadi. ”

    “iya, terus kak..?” kataku dan teman-teman, dibuat penasaran olehnya.

    “Nah, bagi pengunjung yang tidak berjiwa pembeli sejati, maka buku yang ia rasa menarik, bukannya ia beli, justru ia mencari buku dengan judul sama tapi yang tidak bersampul. Kenapa? Kerena untuk ia dibaca saat itu juga. Akibatnya, buku itu ada yang terlipat, kusam, ternoda oleh coretan, sobek, baik sedikit ataupun banyak. Bisa jadi buku yang tidak tersampul itu dibaca tidak oleh seorang saja. Tapi mungkin berkali-kali, dengan pengunjung yang berbeda tetapi berjiwa sama, yaitu bukan pembeli sejati alias pengunjung iseng yang tidak bertanggung jawab. Lama kelamaan, kasianlah buku itu, makin kusam hingga banyak yang enggan untuk membelinya” Cerita ukhti Liana.

    “Wanita itu ibarat buku. Jika ia tersampul dengan jilbab, maka itu adalah ikhtiar untuk menjaga akhlaknya. Lebih-lebih kalau jilbab itu tak hanya untuk tampilannya saja, tapi juga menjilbabkan hati.. Subhanallah..!

    Pengunjung yang membeli adalah ibarat suami, laki-laki yang telah Allah siapkan untuk mendampinginya menggenapkan ½ dienNya. Dengan gagah berani dan tanggung jawab yang tinggi, ia bersedia membeli buku itu dengan transaksi di kasir yang diibaratkan pernikahan. Bedanya, Pengunjung yang iseng, yang tidak berniat membeli, ibarat laki-laki yang kalau zaman sekarang bisa dikatakan suka pacaran. Menguak-nguak kepribadian dan kehidupan sang wanita hingga terkadang membuatnya tersakiti, merintih dengan tangisan, hingga yang paling fatal adalah ternodai dengan free-sex. Padahal tidak semua toko buku berani menjual buku-bukunya dengan fasilitas buku tersampul. Maka, tentulah toko buku itu adalah toko buku pilihan. Ia ibarat lingkungan, yang jika lingkungan itu baik maka baik pula apa-apa yang ada didalamnya. ” kata ukhti Liana.

    “wah, kalau begitu jadi wanita harus hati-hati ya..!. ” celetuk salah satu temanku.

    “Hmm, .apakah apapun di dunia ini bakal dapet yang seimbang ya, kak? Kayak itu deh, buku yang tersampul dibeli oleh pembeli yang bertanggung jawab. Itukan perumpamaan Wanita yang baik dan terjaga akhlaknya juga dapat laki-laki yang baik, bahkan insyallah mapan, sholeh, pokoknya yang baik-baik juga. Gitu ya, kak?” kata temanku.

    ” Benar, Seperti janji Allah SWT, “Wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanit yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). (An-Nur:26). Dan, hanya Allah yang tak menyalahi janji. ” penjelasan ukhti Liana.

    ***

    Empat tahun berselang.. diskusi itu masih mengena dihatiku. Hingga pada suatu malam, pada suatu muhasabah menyambut usia yang bertambah, “Pff, Ya Allah… Tahu begini, Aku malu jadi wanita. ” bisikku.

    Menjadi wanita adalah amanah. Bukan amanah yang sementara. Tapi amanah sepanjang usia ini ada. Pun menjadi wanita baik itu tak mudah. Butuh iman dan ilmu kehidupan yang seiring dengan pengalaman.

    Benar. Menjadi wanita adalah pilihan. Bukan aku yang memilihnya, tapi Kau yang memilihkannya untukku. Aku tahu, Allah penggenggam segala ilmu. Sebelum Ia ciptakan aku, Ia pasti punya pertimbangan khusus, hingga akhirnya saat kulahir kedunia, Ia menjadikanku wanita. Aku sadar, tidak main-main Allah mengamanahkan ini padaku. Karena kutahu, wanita adalah makhluk yang luar biasa. Yang dari rahimnya bisa terlahir manusia semulia Rasulullah atau manusia sehina Fir’aun.

    Kalau banyak orang lain merasa bangga menjadi wanita, karena wanita layak dipuja, karena wanita cantik memesona, karena wanita bisa dibeli dengan harta, karena wanita cukup menggoda, dan lain sebagainya, maka justru sebaliknya, dengan lantang aku berkata.. “aku malu menjadi wanita!”

    Ya, Aku malu menjadi wanita, kalau faktanya wanita itu gampang diiming-iminggi harta dengan mengorbankan harga dirinya. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata wanita itu sebagai sumber maksiat, memikat, hingga mengajak pada jalan sesat. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata dari pandangan dan suara wanita yang tak terjaga sanggup memunculkan syahwat. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata tindak tanduk wanita sanggup membuahkan angan-angan bagi pria. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata wanita tak sanggup jadi ibu yang bijak bagi anaknya dan separuh hati mendampingi perjuangan suaminya.

    Sungguh, aku malu menjadi wanita yang tidak sesuai dengan fitrahnya. Ya, Aku malu jika sekarang aku belum menjadi sosok wanita yang seperti Allah harapkan. Aku malu, karena itu pertanda aku belum amanah terhadap titipan Allah ini. Entahlah, dalam waktu 19 tahun ini aku sudah menjadi wanita macam apa. Aku malu.. Bahkan malu ini berbuah ketakutan, kalau-kalau pada hari akhir nanti tak ada daya bagiku untuk mempertanggungjawabkan ini semua.

    Padahal, setahuku dari Bunda Khadijah, Aisyah dan Fatimah, wanita itu makhluk yang luar biasa, penerus kehidupan. Dari kelembutan hatinya, ia sanggup menguak gelapnya dunia, menyinari dengan cinta. Dari kesholehannya akhlaknya, ia sanggup menjaga dunia dari generasi-generasi hina dengan mengajarkannya ilmu dan agama. Dari kesabaran pekertinya, ia sanggup mewarnai kehidupan dunia, hingga perjuangan itu terus ada.

    Allah, maafkan aku akan kedangkalan ilmuku dan rendahnya tekadku. Aku berlindung pada-Mu dari diriku sendiri. Bantu aku Rabb, untuk tak lagi menghadirkan kelemahan-kelemahan diri saat aku ada di dunia-Mu. Hingga kelak aku akan temui-Mu dalam kebaikan akhlak yang kuusahakan. Ya, wanita sholehah..”

    ***

    dari http://www.eramuslim.com

     
    • bib 12:20 pm on 11 Oktober 2011 Permalink

      ijin copy buat tugas cms ya mas…

    • putri 9:15 am on 14 Oktober 2011 Permalink

      izin kopi ya mas..syukron

  • erva kurniawan 1:31 am on 27 September 2011 Permalink | Balas  

    Jika Tahu Kita Akan Menangis 

    Jika Tahu Kita Akan Menangis

     “Andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Indahnya hidup dengan iman. Saat itulah terasa bahwa dunia bukan segala-galanya. Ada yang jauh lebih besar dari yang ada di depan mata. Semuanya teramat kecil dibanding dengan balasan dan siksa Allah swt.

    Menyadari bahwa dosa diri tak akan terpikul di pundak orang lain Siapa pun kita, jangan pernah berpikir bahwa dosa-dosa yang telah dilakukan akan terpikul di pundak orang lain. Siapa pun. Pemimpinkah, tokoh yang punya banyak pengikutkah, orang kayakah. Semua kebaikan dan keburukan akan kembali ke pelakunya.

    Maha Benar Allah dengan firman-Nya dalam surah Al-An’am ayat 164. “…Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan- Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan.”

    Lalu, pernahkah kita menghitung-hitung dosa yang telah kita lakukan. Seberapa banyak dan besar dosa-dosa itu. Jangan-jangan, hitungannya tak beda dengan jumlah nikmat Allah yang kita terima. Atau bahkan, jauh lebih banyak lagi.

    Masihkah kita merasa aman dengan mutu diri seperti itu. Belumkah tersadar kalau tak seorang pun mampu menjamin bahwa esok kita belum berpisah dengan dunia. Belumkah tersadar kalau tak seorang pun bisa yakin bahwa esok ia masih bisa beramal. Belumkah tersadar kalau kelak masing-masing kita sibuk mempertanggungjawab kan apa yang telah kita lakukan.

    Menyadari bahwa diri teramat hina di hadapan Yang Maha Agung Di antara keindahan iman adalah anugerah pemahaman bahwa kita begitu hina di hadapan Allah swt. Saat itulah, seorang hamba menemukan jati diri yang sebenarnya. Ia datang ke dunia ini tanpa membawa apa-apa. Dan akan kembali dengan selembar kain putih. Itu pun karena jasa baik orang lain.

    Apa yang kita dapatkan pun tak lebih dari anugerah Allah yang tersalur lewat lingkungan. Kita pandai karena orang tua menyekolah kita. Seperi itulah sunnatullah yang menjadi kelaziman bagi setiap orang tua. Kekayaan yang kita peroleh bisa berasal dari warisan orang tua atau karena berkah lingkungan yang lagi-lagi Allah titipkan buat kita. Kita begitu faqir di hadapan Allah swt.

    Seperti itulah Allah nyatakan dalam surah Faathir ayat 15 sampai 17, “Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.”

    Menyadari bahwa surga tak akan termasuki hanya dengan amal yang sedikit Mungkin, pernah terangan-angan dalam benak kita bahwa sudah menjadi kemestian kalau Allah swt. akan memasukkan kita kedalam surga. Pikiran itu mengalir lantaran merasa diri telah begitu banyak beramal. Siang malam, tak henti-hentinya kita menunaikan ibadah. “Pasti, pasti saya akan masuk surga,” begitulah keyakinan diri itu muncul karena melihat amal diri sudah lebih dari cukup.

    Namun, ketika perbandingan nilai dilayangkan jauh ke generasi sahabat Rasul, kita akan melihat pemandangan lain. Bahwa, para generasi sekaliber sahabat pun tidak pernah aman kalau mereka pasti masuk surga. Dan seperti itulah dasar pijakan mereka ketika ada order-order baru yang diperintahkan Rasulullah.

    Begitulah ketika turun perintah hijrah. Mereka menatap segala bayang-bayang suram soal sanak keluarga yang ditinggal, harta yang pasti akan disita, dengan satu harapan: Allah pasti akan memberikan balasan yang terbaik. Dan itu adalah pilihan yang tak boleh disia-siakan. Begitu pun ketika secara tidak disengaja, Allah mempertemukan mereka dengan pasukan yang tiga kali lebih banyak dalam daerah yang bernama Badar. Dan taruhan saat itu bukan hal sepele: nyawa. Lagi-lagi, semua itu mereka tempuh demi menyongsong investasi besar, meraih surga.

    Begitulah Allah menggambarkan mereka dalam surah Albaqarah ayat 214. “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”

    Menyadari bahwa azab Allah teramat pedih Apa yang bisa kita bayangkan ketika suatu ketika semua manusia berkumpul dalam tempat luas yang tak seorang pun punya hak istimewa kecuali dengan izin Allah. Jangankan hak istimewa, pakaian pun tak ada. Yang jelas dalam benak manusia saat itu cuma pada dua pilihan: surga atau neraka. Di dua tempat itulah pilihan akhir nasib seorang anak manusia. “Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. 80: 34-37)

    Mulailah bayang-bayang pedihnya siksa neraka tergambar jelas. Kematian di dunia cuma sekali. Sementara, di neraka orang tidak pernah mati. Selamanya merasakan pedihnya siksa. Terus, dan selamanya.

    Seperti apa siksa neraka, Rasulullah saw. pernah menggambarkan sebuah contoh siksa yang paling ringan. “Sesungguhnya seringan-ringan siksa penghuni neraka pada hari kiamat ialah seseorang yang di bawah kedua tumitnya diletakkan dua bara api yang dapat mendidihkan otaknya. Sedangkan ia berpendapat bahwa tidak ada seorang pun yang lebih berat siksaannya daripada itu, padahal itu adalah siksaan yang paling ringan bagi penghuni neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Belum saatnyakah kita menangis di hadapan Allah. Atau jangan-jangan, hati kita sudah teramat keras untuk tersentuh dengan kekuasaan Allah yang teramat jelas di hadapan kita. Imam Ghazali pernah memberi nasihat, jika seorang hamba Allah tidak lagi mudah menangis karena takut dengan kekuasaan Allah, justru menangislah karena ketidakmampuan itu.

    ***

    Sumber : http://www.taushiyah-online.com

     
    • dedi 7:03 am on 27 September 2011 Permalink

      Ya Allah.. Ampunilah segala dosa-dosa kami…

  • erva kurniawan 1:32 am on 26 September 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kejujuran 

    Kejujuran

    Sebagian orang tua mengatakan,

    “Kami kasihan kepada anak-anak kami, jika kami membebani mereka dengan kegiatan ini….karena masih sangat kecil.” Tatkala mendengar kata yg bernada keberatan ini, Syaikh Ibnu Zhafar Al-Makki berkata, “Tatkala telah mampu menghafal ayat :Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah untuk bersembahyang di malam hari, kecuali sedikit daripadanya (QS.Al-Muzammil [73]:1)

    Abu Yazid Thaifur Ibn Isa Al-Basthami berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku, kepada siapakah Allah berkata dalam ayat ini?”

    Sang Ayah berkata,“Kepada Nabi”

    Sang anak bertanya, “Wahai ayahku, mengapa engkau tidak berbuat seperti apa yg diperbuat Nabi?”

    Sang Ayah berkata, “Wahai anakku, shalat malam hanya dikhususkan bagi Nabi saw, hanya wajib bagi beliau bukan umatnya.”

    Sang anak terdiam. Tatkala telah menghafal ayat :”Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua per tiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan demikian pula segolongan dari orang-orang yg bersama kamu (QS. Al-Muzammil [73]:20), sang anak berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah, aku mendengar bahwa segolongan orang menjalankan shalat malam, siapakah mereka?”

    Sang ayah menjawab, “mereka adalah para sahabat.”

    Sang anak bertanya, “Wahai ayah, apakah baiknya meninggalkan sesuatu yg dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya?”

    “Kamu benar, wahai anakku” timpal sang ayah. Dan sejak saat itu, sang ayah mulai terbiasa bangun malam dan menjalankan shalat. Pada suatu malam, Abu Zaid terbangun dan melihat ayahnya shalat. Ia pun berkata kepada ayahnya,

    “Wahai ayah, ajarilah aku bagaimana cara berwudhu dan shalat bersamamu!”

    “Wahai anakku, tidurlah, engkau masih kecil!!”

    “Wahai ayah, jika pada suatu saat manusia keluar dari kubur dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka balasan pekerjaan mereka, maka aku akan berkata kepada Tuhanku, “Sesungguhnya aku telah berkata kepada ayahku, “wahai ayah, ajarilah aku bagaimana cara berwudhu dan shalat bersamamu!” lalu ayah mengabaikan permintaanku, setelah itu ayah berkata, “wahai anakku, tidurlah, engkau masih kecil!!”. Apakah ayah suka jika aku berkata seperti ini kepada Tuhan?”

    Maka sang ayahpun berkata, “Tidak!! Demi Allah, aku tidak suka engkau berkata seperti itu kepada Tuhan.” Maka sejak saat itu, sang ayah mengajari anaknya shalat dan setelah itu, sang anak terbiasa shalat bersama ayahnya.

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 25 September 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Paku 

    Paku

    Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan sebuah paku dip agar belakang rumah setiap kali dia marah.

    Hari pertama anak itu memakukan 48 paku ke pagar setiap kali dia marah. Lalu secara bertahap jumlah itu berkurang. Dia mendapati bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar.

    Akhhirnya tibalah hari dimana anak tersebut merasa sama sekali bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya. Dia memberitahukan ini kepada ayahnya, yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku setiap hari dimana dia tidak marah.

    Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah tercerabut olehnya. Lalu sang ayah menuntun anaknya ke pagar. “Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi, lihatlah lubang lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. “Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini.di hati orang.”

    “Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu kamu mencabut paku itu. Tetapi tidak peduli berapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada.dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik..”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 24 September 2011 Permalink | Balas  

    Puasa Hanya Dapat Lapar dan Haus 

    Puasa Hanya Dapat Lapar dan Haus

    Assalamu’alaikum wr wb,

    “Berapa banyak orang yang puasa, tapi tidak dapat apa-apa kecuali haus dan lapar.” (Hadits Riwayat Bukhari-Muslim)

    Banyak di antara kita yang menganggap puasa itu cukup menahan diri dari sex, makan, dan minum. Namun tidak mampu menjaga lisan/tulisan mereka sehingga menyakiti orang lain.

    Kadang ketika kita mengkritik orang kita berniat amar ma’ruf nahi munkar. Tapi ketika orang yang kita kritik “ngeyel” dan membantah kita, kita kerap terpancing emosi dan mengeluarkan ucapan/tulisan yang menyakitkan. Padahal jangankan kita, Nabi saja tugasnya hanya menyampaikan. Tidak lebih.

    Rasulullah SAW bersabda : “Puasa adalah perisai (tabir penghalang dari perbuatan dosa). Maka apabila seseorang dari kamu sedang berpuasa, janganlah ia mengucapkan sesuatu yang keji dan janganlah ia berbuat jahil.” (Hadits Riwayat Bukhari – Muslim)

    “Lima hal yang dapat membatalkan puasa: berkata dusta, ghibah (menggunjing), memfitnah, sumpah dusta dan memandang dengan syahwat.” (Hadits Riwayat Al-Azdiy)

    “Barangsiapa yang tidak dapat meninggalkan perkataan kotor dan dusta selama berpuasa, maka Allah S.W.T tidak berhajat kepada puasanya.” (Hadits Riwayat Bukhari)

    “Orang yang menggunjing dan mendengarkan gunjingan , keduanya bersekutu dalam perbuatan dosa.” (Hadits Riwayat Ath-Thabrani)

    Kiranya hadits itu cukup bagi kita untuk menahan diri dari debat-kusir yang mengakibatkan kita melontarkan ucapan/tulisan yang menyakitkan.

    Wa’alaikum salam wr wb

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 23 September 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Di Bawah Mizab Ka’bah 

    Di Bawah Mizab Ka’bah

    Seorang ulama Tabi’in Imam Thawus Al-Yamani mengisahkan, “Aku melihat seorang lelaki sholat di Masjidil Haram di bawah mizab Ka’bah. Ia berdoa dengan khusyuk dan menangis. Aku ikuti sampai ia selesai sholat dan berdoa, ternyata ia adalah Ali Zainal Abidin, putra Husein bin Ali bin Abi Thalib, yang tak lain adalah cicit Rasulullah SAW. Aku katakan padanya:

    “Wahai cicit Rasulullah, aku lihat kamu dalam keadaan begini dan begini (ibadahnya). Padahal kamu memiliki tiga hal yang aku harap akan membuatmu aman dari ketakutan. Pertama, kamu adalah cicit Rasulullah SAW. Kedua, kamu bisa mendapatkan syafaat kakekmu yaitu Rasulullah SAW. Ketiga, rahmat Allah SWT.”

    Ali Zainal Abidin menjawab: “Hai Thawus, bahwa aku adalah cicit dan keturun Rasulullah SAW. Itu tidak menjamin keamananku. Aku mendengar firman Allah SWT: Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab diantara mereka pada hari itu (QS. 23:10).

    Sedangkan syafaat kakekku juga tidak menjadi jaminan bahwa kelak akan kudapatkan, sebab Allah SWT berfirman: Dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang-orang yang diridhai Allah (QS 21:28).

    Sedangkan rahmat Allah, sesungguhnya Allah mewahyukan bahwa rahmatNya dekat pada kaum muhsinin, yaitu orang2 yg berbuat kebajikan. Dan aku tidak tahu apakah aku termasuk mereka apa tidak.”

    ***

    Diambil dari buku Diatas Sajadah Cinta, Habiburrahman El Shirazy (terbitan Republika & Basmala)

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 22 September 2011 Permalink | Balas  

    Ternyata Allah memang Universal 

    Ternyata Allah memang Universal

    “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” QS Thahaa: 14.

    Apa yang akan saya ceritakan bukanlah tentang pluralisme. Karena bagi saya sudah jelas firman Allah dalam QS Al Kafirun yang ditegaskan dalam ayat terakhir (ayat 6), lakum dinukum waliyadin. Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku. Saya hanya ingin berbagi pengalaman dan pemahaman saya bahwa Allah sangat inklusif dan universal.

    Kurang lebih dua minggu yang lalu, saya ngobrol dengan salah seorang teman. Sebut saja namanya Budi. Sambil download e mail melalui pop 3 di free hot spot milik dia, kami berbincang dan bertukar cerita tentang pengalaman spiritual kami masing-masing. Saya muslim, dia nasrani. Tapi perbedaan itu tidak menghalangi keakraban kami.

    Sebenarnya kami kenal juga belum lama, mungkin baru sekitar dua atau tiga bulanan. Tapi keakraban yang muncul seolah-olah kami seperti sahabat lama. Tidak ada sama sekali batasan yang membuat kami saling sungkan. Perbincangan kami mengalir dengan lepas.

    Budi adalah seorang nasrani yang percaya dengan takdir, bahwa segala sesuatu di alam semesta ini tidak berjalan dengan sendirinya. Namun atas kehendak suatu zat yang pasti mempunyai sifat maha segala sesuatu. Berdasarkan pengakuannya, Budi percaya dengan keberadaan Allah. Menurut Budi, sepertinya dia adalah muslim meskipun secara resmi di KTP dia seorang nasrani.

    Pada dasarnya tahapan-tahapan dan proses perjalanan spiritual kami mirip satu sama lain. Dimulai dari pertanyaan dan pencarian tentang zat tunggal pencipta semesta, kemudian kami sama-sama mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut kepada banyak orang. Tetapi tidak ada satupun jawaban yang mampu memuaskan dahaga kami. Saat mentok dan tidak tahu lagi harus bertanya kemana, kami sama-sama diberitahu oleh seseorang untuk bertanya saja kepada Yang Maha Pencipta. Ternyata, jawaban atas semua pertanyaan kami datang dengan sendirinya pada saat kami dalam kondisi hening dan khusyu menghadap kepada Tuhan.

    Dalam satu kesempatan, Budi menyebut Tuhan dengan nama Allah. Cara mengucapkannyapun menggunakan cara muslim, bukan nasrani. Saat Budi – seorang nasrani yang percaya penuh atas takdir dan keberadaan Allah- menyebut nama Allah dengan cara muslim itulah hati saya tiba-tiba tergetar. Hal ini membuat saya kaget. Saya bertanya-tanya dalam hati, mengapa hati saya bergetar, padahal yang menyebut Allah bukan seorang muslim. Ah, mungkin kebetulan saja. Begitu pikir saya dalam hati.

    Namun ternyata setiap kali Budi menyebut nama Allah dengan cara muslim, setiap kali juga hati saya tergetar. Saya jadi ingat salah satu hadits qudsi yang pernah disamapaikan dalam sebuah forum pengajian umum yang menyebutkan bahwa sebenarnya yang menetapkan nama zat pencipta semesta alam sebagai Allah adalah Allah sendiri. Secara pasti saya tidak ingat, tapi kira-kira redaksionalnya berbunyi sebagai berikut: “Aku adalah perbendaharaan tersembunyi, Aku ingin dikenal oleh makhluk-Ku, dan dengan nama Allah-lah mereka memanggil- Ku.” (Mohon maaf apabila saya lupa dan salah kutip.)

    Dalam sebuah forum pertemuan antar penggemar acara sulur kembang di salah satu stasiun radio swasta di Banyuwangi, diceritakan bahwa ada seorang warga negara asing yang ingin bertemu dengan Tuhan. Maka dia diminta untuk memanggil-Nya dengan nama Allah. Ternyata panggilan itu disambut oleh Allah.

    Saat itu pemahaman atas nama Allah masih berada pada tataran otak saja, masih sebatas menjadi sebuah teori. Baru pada tahapan wajibul yakin. Belum tertanam dalam hati dan menjadi ‘ainul yakin ataupun haqqul yakin. Ternyata kemudian Allah memahamkan hati saya dan memberikan bukti langsung bahwa Allah milik semua makhluk-Nya di alam semesta ini. Semua manusia berhak untuk memanggil dan berkomunikasi dengan-Nya. Tanpa perkecualian. Asalkan kita percaya dan yakin sepenuh hati atas eksistensi Allah sebagai satu-satunya zat pencipta alam semesta.

    Subhanallah, ternyata Allah memang benar-benar inklusif. Tidak ada sekat-sekat bagi manusia untuk bertemu dengan-Nya. Allah sangat terbuka kepada manusia. Siapapun yang memanggil-Nya, Allah akan datang dan menyambut panggilan itu. Alhamdulillah, Allah masih meneguhkan hati saya melalui firman-Nya dalam QS Al Kafirun. Allahu akbar, hanya Allah-lah yang mampu memahamkan dan menggerakkan hati manusia. Tanpa kehendak-Nya manusia hanyalah sekedar seonggok daging belaka.

    ***

    Oleh : Aziz Fajar Ariwibowo

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 21 September 2011 Permalink | Balas  

    Insya Allah 

    Insya Allah

    Kalimat terpopuler di kalangan umat Islam, setelah salam (assalamu’alaikum), adalah insya-Allah. Kalimat ini diucapkan saat seseorang ingin melakukan sesuatu atau berjanji.

    ”Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu ‘sesungguhnya aku akan mengerjakan esok,’ kecuali (dengan mengucapkan) insya Allah. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah ‘mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.” (QS Al-Kahfi: 23-24).

    Secara literal, kalimat insya Allah berarti bila Allah menghendaki. Sayangnya, kalimat ini kerap disalahgunakan. Ada dua bentuk penyalahgunaan. Pertama, insya Allah dipakai untuk menunjukkan janji yang longgar dan komitmen yang rendah. Insya Allah hanya pengganti dari kalimat, ‘tidak janji deh.’ Ini keliru sebab nama Allah SWT dijadikan sebagai pembenaran atas kemalasan menepati janji.

    Kedua, segala tindakan ditentukan oleh Allah (fatalisme). Artinya, manusia tidak memiliki ruang kebebasan untuk bertindak. Paham ini tidak tepat karena Allah menganugerahi manusia kebebasan berkehendak. Bagaimana seseorang mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatan bila seluruh tindakannya ditentukan oleh Allah?

    Sebenarnya, insya Allah memiliki falsafah yang mendalam. Pertama, dalam kalimat insya Allah tersimpan keyakinan yang kukuh, bahwa Allah SWT terlibat dan punya andil dalam segala tindak-tanduk manusia. Kesadaran akan kehadiran Allah SWT ini akan memupuk tumbuhnya moral yang luhur (akhlaq al-karimah).

    Hanya orang-orang yang merasa dirinya senantiasa ditatap Ilahi saja yang akan mampu menjaga dari segala bentuk pelanggaran. Inilah yang disebut oleh Rasulullah SAW sebagai ihsan, yaitu, ”Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesunggguhnya Dia melihatmu.” (HR Muslim).

    Kedua, ekspresi kerendahhatian (tawadhu’). Seseorang yang memastikan diri bahwa besok akan bertindak sesuatu (sesungguhnya) terselip dalam relung jiwanya sifat kibr (sombong). Termasuk sikap, bahwa dirinya penentu segala sesuatu di masa depan tanpa ada peran Allah SWT. Seharusnya, orang yang berucap insya Allah adalah orang yang sadar bahwa Allah SWT selalu membimbing hamba-Nya.

    Ketiga, perpaduan usaha dan penyerahan diri. Dalam kata insya Allah terkandung suatu ketidakpastian akan apa yang terjadi esok. Karenanya, keyakinan ini akan melahirkan motivasi, mempersiapkan secara sempurna hal-hal yang menciptakan kesuksesan dari yang direncanakan, serta memastikan apa yang akan terjadi seperti yang dikehendaki. (QS Al-Hasyr: 18).

    ***

    (M Subhi-Ibrahimi ,HIKMAH< Republika) Diambil dari : http://www.kebunhikmah.com

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 20 September 2011 Permalink | Balas  

    Kepada Siapa Surga didekatkan? 

    Kepada Siapa Surga didekatkan?

    Allah berfirman: “Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya).” (Qaaf: 31 – 33)

    Keterangan dan kandungan ayat:

    Firman Allah ta’ala “Dan didekatkanlah surga itu” maksudnya: Didekatkan jaraknya sehingga semua nikmat dan kesenangannya yang kekal dapat dilihat dengan kasat mata. Yaitu kepada mereka yang bertakwa dan mentaati semua perintahNya, yang meninggalkan segala bentuk syirik, baik kecil maupun besar.

    Maksud firman Allah: “Inilah yang dijanjikan kepadamu“: adalah bahwa surga dan segala bentuk kesenangan yang diinginkan setiap diri, dan menyejukkan mata yang memandang yang ada di dalamnya adalah hal yang dijanjikan Allah kepada yang memiliki sifat-sifat berikut:

    1. Selalu kembali kepada Allah pada setiap waktu dengan mengingat-Nya, mencintai-Nya, meminta tolong kepada-Nya, berdoa, takut, dan berharap kepada-Nya.
    2. Memelihara semua apa yang diperintahkan Allah, dengan melaksanakannya secara ikhlas, dan menyempurnakannya sesempurna mungkin, dan menjaga hukum-hukumnya.
    3. Takut kepada Yang Maha Pemurah ketika jauh penglihatan manusia: Yaitu takut kepada-Nya karena ma’rifahnya tentang Tuhannya, berharap kasih sayang-Nya, dan tetap melakukan semua itu pada saat sepi tidak dilihat oleh orang lain. Inilah takut yang sebenarnya. Adapun takut pada saat dilihat orang banyak bisa jadi hanya karena riya dan sum’ah. Tetapi ada kemungkinan yang dimaksud takut kepada Allah dalam keadaan gaib ini berarti seperti beriman kepada hal-hal gaib yang lain.
    4. Yang datang kepada TuhanNya dengan hati penuh taubat dan segala keinginannya selalu tertuju kepada keridaanNya. Kepada orang-orang yang bertakwa dan berbakti ini dikatakan: “Masuklah dengan damai, itu adalah hari kekekalan..

    Lihat Tafsir Ibnu Sa’di, halaman 749 (cetakan Luwaihiq)

     

    Oleh: sahabat A Dani Permana

     
    • jakaria 11:40 am on 21 September 2011 Permalink

      Thanks sharenya , ane numpang copas ya gan

  • erva kurniawan 1:44 am on 20 September 2011 Permalink | Balas  

    Padang Mahsyar 

    Padang Mahsyar

    Setelah manusia dibangkitkan dari alam kubur oleh Allah SWT, maka manusia akan digiring secara bekelompok-kelompok dengan bertelanjang kaki, tidak berpakaian menuju tempat yang disebut Padang Mahsyar yaitu tanah berpasir putih dan sangat datar dimana tidak terlihat lengkungan maupun tonjolan.

    Di Padang Mahsyar tersebut berkumpullah semua mahluk Allah SWT yang berada di tujuh lapis langit dan bumi termasuk malaikat, jin, manusia, qorun, binatang melata, binatang buas dan burung-burung, dimana mereka berkumpul berdesak-desakan.

    Matahari dan bulan padam sehingga bumi dalam kegelapan dan tatkala mereka dalam keadaan demikian, langit diatas mereka berputar-putar dan meledak pecah berkeping-keping selama 500 tahun sehingga langit terbelah dengan segala kekuatannya kemudian meleleh dan mengalir bagaikan perak yang dipanaskan hingga berwarna merah dan manusia bercampur baur seperti serangga yang bertebaran dalam keadaan telanjang kaki, tidak berpakaian dan berjalan kaki.

    Seperti dalam sabda Rasulullah Saw; Pada hari kebangkitan tsb manusia akan dibangkitkan dalam 3 kelompok: Kelompok yg berkendaraan, kelompok yg berjalankaki dan kelompok yg berjalan dengan wajahnya. Seorang sahabat bertanya bagaimana mungkin mereka bisa berjalan dengan wajah mereka ya Rosulullah? Beliau menjawab, “Allah SWT yg menjadikan mereka berjalan dengan kaki, pasti mampu membuat mereka berjalan dengan wajah”. Subhanallah!

    Kemudian matahari diterbitkan oleh Allah SWT tepat diatas kepala mereka dengan jarak hanya 2 busur sehingga manusia terpanggang oleh teriknya matahari yang intensitas panasnya telah dinaikkan dan keringatpun mengalir deras hingga menggenangi padang kiamat seiring dengan rasa takut yang luar biasa karena mereka akan dihadirkan dihadapan Allah SWT.

    Keringat tersebut naik ke badan mereka masing-masing sesuai dengan tingkatan mereka dihadapan Allah SWT. Bagi sebahagian orang keringat akan menggenang mencapai lutut, bagi sebagian lain mencapai pinggang dan bagi sebagian lainnya mencapai lubang hidung bahkan ada sebagian manusia nyaris tenggelam didalamnya.

    Kita tidak tahu setinggi apakah keringat kita nanti; karena keringat yang belum kita cucurkan untuk berjuang dijalan Allah SWT -seperti melaksanakan ibadah haji, jihad, puasa, sholat dimalam hari, memenuhi kebutuhan seorang muslim dan menanggung akibat dari menegakkan amar makruf nahi mungkar- akan dialirkan keluar oleh rasa takut dan malu dipadang kiamat nanti.

    Oleh karena itu marilah kita renungkan, bahwa pada saat kita dipadang mahsyar nanti, derita yang akan kita rasakan sangat berat padahal semua ini terjadi sebelum kita menjalani pemeriksaan ataupun hukuman yang akan kita terima dari Allah SWT atas dosa kita.

    Mudah-mudahan kita digolongkan pada golongan yang sangat sedikit berkeringat dipadang mahsyar nanti dan mudah-mudahan gambaran ini akan menambah rasa taqwa kita kepada Allah SWT.

    Amien.

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 19 September 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Sedekah yang Salah Alamat 

    Sedekah yang Salah Alamat

    Suatu ketika, Rasulullah Saw., seperti yang kerap beliau laku­kan, berbincang-bincang dengan para sahabat di serambi Masjid Nabawi, Madinah. Selepas berbagi sapa dengan me­reka, beliau berkata kepada mereka, “Suatu saat ada seorang pria berkata kepada dirinya sendiri, ‘Malam ini aku akan bersedekah!’ Dan, benar, malam itu juga dia memberikan sedekah kepada seorang perempuan yang tak dikenalnya. Ternyata, perempuan itu seorang pezina. Sehingga, keja­dian itu menjadi perbincangan khalayak ramai.

    “Akhirnya, kabar tersebut sampai juga kepada pria itu. Mendengar kabar yang demikian, pria itu bergumam, ‘Ya Allah! Segala puji hanya bagi-Mu.Ternyata, sedekahku jatuh ke tangan seorang pezina. Karena itu, aku akan bersedekah lagi!’

    “Maka, pria itu kemudian mencari seseorang yang menu­rutnya layak menerima sedekah. Ternyata, penerima sede­kah itu, tanpa diketahuinya, adalah orang kaya. Sehingga, kejadian itu lagi-lagi menjadi perbincangan khalayak ramai, lalu sampai juga kepada pria yang bersedekah itu.

    “Mendengar kabar yang demikian, pria itu pun bergu­mam,’Ya Allah! Segala puji hanya bagi-Mu. Ternyata, sede­kahku itu jatuh ke tangan orang kaya. Karena itu, aku akan bersedekah lagi!’

    Maka, dia kemudian, dengan cermat, men­cari seseorang yang menurutnya layak menerima sedekah. Ternyata, penerima sedekah yang ketiga, tanpa diketahui­nya, adalah seorang pencuri. Tak lama berselang, kejadian itu menjadi perbincangan khalayak ramai, dan kabar itu sampai kepada pria yang bersedekah itu.

    Mendengar kabar demikian, pria itu pun mengeluh, ‘Ya Allah! Segala puji ha­nya bagi-Mu! Ya Allah, sedekahku ternyata jatuh ke tangan orang-orang yang tak kuduga: pezina, orang kaya, dan pen­curi!’

    “Pria itu kemudian didatangi (malaikat utusan Allah) yang berkata, “Sedekahmu telah diterima Allah. Bisa jadi pezina itu akan berhenti berzina karena menerima sedekah itu. Bisa jadi pula orang kaya itu mendapat pelajaran karena sedekah itu, lalu dia menyedekahkan sebagian rezeki yang dikaru­niakan Allah kepadanya. Dan, bisa jadi pencuri itu berhenti mencuri selepas menerima sedekah itu.”

    ***

    (Diceritakan kembali dari sebuah hadis yang dituturkan oleh Muslim dan Abu Hurairah dalam Teladan indah Rasullulah dalam ibadah, Ahmad Rofi ‘Usmani)

     
    • Ren 2:30 pm on 1 Oktober 2011 Permalink

      subhanallah… artikel yang bagus… izin saya postingkan di page saya ya? jazakumullah khoiron katsiir,,, :)

  • erva kurniawan 1:22 am on 18 September 2011 Permalink | Balas  

    Pentingnya bershalawat kepada Nabi Muhammad Saww. 

    Pentingnya bershalawat kepada Nabi Muhammad Saww.

    Shalawat merupakan Jamak dari kata shalat, dengan arti do’a, rahmat dari tuhan, memberi berkah, dan juga merupakan ibadah.

    Bershalawat mempunyai pengertian: Apabila dari Allah berarti memberi rahmat, dari malaikat berarti memohonkan ampunan dan kalau dari kita (orang mukmin) berarti do’a supaya diberi rahmat.

    Shalawat memegang kunci, sebab merupakan realisasi dari kecintaan umat kepada Sang Pembawa Penerang (Muhammad Saww) dengan shalawat kita bisa mendapatkan segala karunia-Nya.

    Mengenai shalawat jelas-jelas Allah memerintahkannya, hal ini Allah kemukakan dalam firmannya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. (Q.S. Al-Ahzab : 56)

    Dan sabda Rasulullah Saww.: “Bershalawatlah kamu kepadaku, karena shalawat itu menjadi zakat (Penghening jiwa dan pembersih dosa) bagimu”. (Diriwayatkan oleh Ibnu Murdawaih).

    Dari Ibnu Mas’ud ra. Rasulullah Saww. Bersabda: “Bahwasanya seutama-utamanya manusia (orang yang terdekat) dengan aku pada hari kiamat adalah mereka yang lebih banyak bershalawat kepadaku”. (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Hibban)

    Mengenai banyaknya shalawat Rasulullah bersabda: “Saya bertanya (sahabat Nabi Saww.), wahai Rasulullah! Sesungguhnya saya memperbanyak shalawat, maka berapakah saya jadikan untukmu dari shalawatku? Nabi bersabda: “Apa yang kamu kehendaki. Ia berkata: “Kataku “Seperempat”. Sabda beliau: “Apa yang kamu sukai. Kataku: “Apakah sepertiga?” Sabda Nabi : “Apa yang kau sukai, jika engkau tambah maka itulah yang lebih baik bagimu”. Saya berkata: “Separuh?” Sabda Nabi: “Apa yang kamu kehendaki, dan jika engkau tambah maka itulah yang lebih baik bagimu”. Ia berkata: “Apakah saya jadikan shalawatku buat Engkau semuanya”. Nabi Bersabda: “Jika demikian, maka dicukupilah cita-citamu dan diampunilah dosamu”. (HR. Ahmad dan Tirmidzi serta Al-Hakim)

    Allah menurunkan wahyu kepada Musa as.: “Hai Musa, kalau engkau ingin Aku lebih dekat denganmu daripada pembicaraan dengan lidahmu, daripada bisikan hati dengan hatimu, daripada nyawa dengan badanmu, daripada sinar penglihatan dengan matamu dan daripada pendengaran dengan telingamu, perbanyaklah membaca shalawat atas Nabi Muhammad Saww”.

    Pentingnya bershalawat kepada Nabi Muhammad Saww. terdapat dalam hadis Rasulullah dan kisah para ulama zuhud diantarannya:

    Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, Rasulullah Saww. Bersabda: “Seseorang amat hina, jika bila namaku disebutkan di sisinya lalu ia tidak mengucapkan shalawat kepadaku”. (HR. Tirmidzi, ia mengatakan hadis hasan).

    Dari Anas r.a. ia berkata, Rasulullah Saww. Bersabda: “Barangsiapa disebutkan namaku disisinya, maka hendaklah ia mengucapkan shalawat kepadaku, karena barang siapa bershalawat kepadaku sekali, Allah Azza wa Jalla bershalawat (memberi rahmat) kepadanya sepuluh kali”. (HR. Ibnu Sunni dengan isnad jayyid).

    dari Ali r.a. ia berkata, Rasulullah Saww. Bersabda: “Orang yang bakhil (kikir) itu ialah orang yang (jika) namaku disebut disisinya, maka ia tidak mau mengucapkan shalawat kepadaku”. (HR. Tirmidzi, Ia menyatakan hadis yang hasan shahih)

    Dari Abu Thalha r.a. Sabda Rasulullah Saww.: “Pada suatu hari beliau datang, sedangkan kegembiraan tampak di wajahnya, lalu beliau Saww. bersabda: “Jibril as. datang kepadaku dan ia berkata: “Tidak engkau ridha, hai Muhammad bahwa tidak seorangpun dari ummatmu memohonkan rahmat (membaca shalawat) atasmu melainkan saya memohonkan rahmat atasnya sepuluh kali, dan tidaklah seseorang dari umatmu memohonkan keselamatan atasmu kecuali aku memohonkan keselamatan atasnya sepuluh kali.”. (HR. An-Nasai dan Ibnu Hibba, dengan sanad yang baik)

    Dari Anas r.a. ia berkata, Rasulullah Saww. Bersabda: “Siapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali shalawat, (rahmat) dan Allah menghapuskan kesalahan dan mengangkat sepuluh derajat kepadanya”. (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Hakim)

    Sabda Rasulullah Saww.: “Sesungguhnya Allah SWT. telah menciptakan malaikat yang memiliki sebuah sayap di dunia timur dan sebuah sayap lagi di dunia barat, kepalanya di bawah arasy dan kedua kakinya dibawah bumi yang ketujuh, padanya ada bulu sebanyak bilangan makhluk Allah SWT, lalu apa bila ada seseorang laki-laki atau perempuan dari umatku membaca shalawat kepadaku, memerintahlah Allah SWT kepada malaikat itu untuk menyelam dalam laut dari cahaya di bawah Arasy. Malaikat itu menyelam di dalamnya kemudian keluar dan mengibaskan sayapnya. Meneteslah sebuah tetesan dari setiap bulu dan dan Allah SWT menjadikan dari setiap tetesan itu malaikat yang memintakan ampun padanya sampai hari kiamat”.

    Datang seorang perempuan kepada Hasan Al-Bashri ra, berkatalah dia: “Sesungguhnnya anak perempuanku yang masih sangat muda telah mati dan aku ingin untuk melihatnya di dalam tidur. Maka aku datang kepadamu agar kau ajarkan kepadaku apa yang dapat aku buat perantara untuk melihatnya”. Diajarkannya oleh Hasan Al-Bashri perempuan itu, dan ia dapat bermimpi melihat anaknya yang pada anaknya itu ada pakaian dari aspal, pada lehernya terdapat rantai dn kakinya terikat. Diceritakanlah hal itu pada Hasan dan bersedihlah hatinya Hasan Al-Bashri. Berselang beberapa waktu Hasan bermimpi melihatnnya didalam surga dan pada kepalanya terdapat mahkota, lalu ia berkata : “Hai Hasan, tidakkah engkau mengenalku? Aku adalah anak puteri dari perempuan yang datang padamu dahulu dan mengatakan begini kepadamu”. Berkatalah Hasan kepadanya: “Apa yang menjadikanmu dalam keadaan yang aku lihat ini?” Dia menjawab: “Ada seorang laki-laki lewat pada kami, dia membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Saww. sekali sedang dalam kuburan itu ada lima ratus lima puluh orang dalam siksa. Lalu dipanggillah: “Hilangkanlah siksa dari mereka berkat bacaan shalawat laki-laki ini”.

    Disebutkan bahwa sesungguhnya seseorang laki-laki melihat perwujudan yang sangat buruk di hutan. Dia bertanya : “Siapakah engkau ini?” Bentuk yang buruk itu menjawab: “Aku adalah amalmu yang jahat”. Bertanya lagi laki-laki itu : “Bagaimana bisa selamat darimu?” Dia menjawab : “Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Saww.” Sebagaimana Nabi Muhammad Saww. telah bersabda : “Membaca shalawat kepadaku dalam hari Jum’at delapan puluh kali, Allah akan mengampuni dosa selama delapan puluh tahun baginya”.

    (Hikayah) Sesungguhnya seseorang laki-laki lupa dari membaca shalawat kepada tuan kita Nabi Muhammad Saww. Pada suatu malam dia mimpi melihat Nabi Muhammad Saww. tidak mau menoleh padanya, dia bertanya : “Ya Rasulallah, apakah engkau marah padaku?” Beliau menjawab: “Tidak”. Dia bertanya lagi: “Lalu sebab apakah engkau tidak memandang kepadaku?” Beliau menjawab: “Karena aku tidak mengenalmu”. Laki-laki itu bertanya: “Bagaimana engkau tidak mengenalku sedang aku adalah seorang dari umatmu. Para ulama meriwayatkan bahwa sesungguhnya engkau lebih mengenal umatmu dari pada seseorang ibu mengenali anaknnya”. Beliau bersabda: “Mereka benar tetapi engkau tidak pernah mengingat aku dengan bacaan shalawat. Padahal kenalku dengan umatku adalah menurut kadar bacaan shalawat mereka padaku”. Terbangunlah laki-laki itu dan mengharuskan dirinya untuk membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Saww. setiap hari seratus kali. Dia selalu melakukan itu, lalu dia melihat beliau dalam tidur dan beliau bersabda : “Aku mengenalmu sekarang dan akan memberi syafa’at padamu”. Ya’ni karena dia telah menjadi orang yang cinta kepada Rasulullah Saww.

    Dari Anas Bin Malik ra, dia berkata : “Bersabda Rasulullah Saww: “Barangsiapa yang membaca shalawat atas aku sekali, Allah akan menciptakan dari diri orang yang membaca shalawat itu sebuah awan putih. Kemudian Allah memerintahkan awan itu mengambil dari lautan rahmat. Dia mengambil dan Allah memerintahkannya menurunkan hujan. Ketika dia telah menurunkan hujan, maka setiap tetes yang manapun menetes di atas bumi Allah menciptakan emas darinya, dan setiap tetes yang menetes di atas gunung Allah menciptakan darinya perak, dan setiap tetes yang menetes pada orang kafir Allah menganugrahkan pada orang kafir itu keimanan”.

    Diriwayatkan dari Muhammad Bin Munkadir, Sesungguhnya dia berkata: “Aku mendengar ayahku berkata: “Ketika Sufyan Ats-Tsauri sedang tawaf, tiba-tiba dia melihat seorang laki-laki yang tidak akan mengangkat telapak kaki dan tidak pula meletakkan telapak kaki itu, kecuali dia mesti membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Saww.” berkata Ats-Tsauri: “Aku berkata kepadanya: “Hai orang ini, sesungguhnya engkau telah meninggalkan tasbih dan tahlil serta menghadapi shalawat kepada Nabi Muhammad Saww. Adakah di sampingmu sesuatu mengenai ini?” Dia berkata: “Siapa engkau? Semoga Allah mengampunimu”. Aku menjawab: “Aku Sufyan Ats-Tsauri”. Dia berkata: “Seandainya engkau bukanlah orang yang zuhud ahlizamannya, tentu tidak akan aku ceritakan padamu dan tidak aku perlihatkan rahasiaku”. Kemudian dia berkata kepadaku: “Aku pernah keluar dengan ayahku beribadah haji ke Baitullah Al-Haram, sehingga pada sementara tempat ayahku jatuh sakit, Aku mengurus perkaranya sehingga pada akhirnya ia meninggal dan menjadi hitamlah wajahnya. Aku berkata : “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” dan aku menutup wajahnya. Tertidurlah aku karena sangat mengantuk dengan perasaan amat sedih. Aku bermimpi bertemu seorang laki-laki yang tidak pernah aku lihat lebih tampan dari dia, yang lebih bersih pakaiannya dan lebih harum darinya. Dia mengangkat kaki dan melakkan yang lain, sehingga dekatlah dengan ayahku. Kemudian dia membuka kain dari wajah ayahku itu dan mengusapkan tangannya pada wajah ayah, dan menjadi bersinarlah wajah itu. Laki-laki itu mengundurkan diri pulang dan aku berpegang pada pakainnya lalu bertanya: “Hai hamba Allah, siapakah engkau ini yang Allah telah memberi anugrah kepada ayahku sebab engkau di bumi asing ini?” Dia berkata : “Tidaklah engkau mengenalku? Aku adalah Muhammad Bin Abdullah pemilik Al-Qur’an. Ingat, ayahmu adalah orang yang berlebihan pada dirinya tetapi dia memperbanyak shalawat atas aku. Ketika dia mengalami apa yang sedang dialaminya, dia minta pertolongan padaku sedang aku adalah orang yang banyak menolong kepada orang yang memperbanyak bacaan shalawat atasku”. Lalu terbangunlah aku dan tiba-tiba wajah ayahku benar telah menjadi terang”.

    (Diriwayatkan) dari Amr Bin Dinar dari Ja’far dari Muhammad Saww, Sesungguhnya beliau bersabda : “Barangsiapa yang lupa membaca shalawat padaku, maka dia benar-benar tersesat jalannya ke surga”.

    Datang dalam sebuah hadist, sesungguhnya Jibril as datang pada suatu hari kepada Nabi Muhammad Saww. dan berkata : “Ya Rasulallah, aku telah melihat seorang malaikat di langit berada diatas singgasana. Di sekitarnya terdapat tujupuluh ribu malaikat berbaris melayaninnya. Setiap nafas yang dihembuskan malaikat itu, Allah menciptakan darinnya seorang malaikat. Dan sekarang ini aku lihat malaikat itu ada diatas gunung Qaf dengan patah sayapnya, dan dia sedang menangis. Ketika dia melihat aku, dia berkata: “Adakah engkau mau menolong aku?” Aku berkata: “Apa salahmu?” Dia berkata: “Ketika aku berada diatas singgasana pada malam mi’raj, lewatlah padaku Muhammad Saww. Lalu aku tidak berdiri menyambutnya dan Allah menghukumku dengan hukuman ini, serta menjadikan aku berada di tempat ini seperti apa yang kau lihat”. Jibril berkata: “Merendakan dirilah aku kepada Allah dan memberikan pertolongan padanya. Maka Allah berfirman : “Hai Jibril, katakanlah agar ia membaca shalawat atas Nabi Muhammad Saww”. Membaca shalawatlah malaikat itu pada engkau dan Allah mengampuninya serta menumbuhkan kedua sayapnya”.

    Dari Anas ra, ia berkata, Rasulullah Saww. Bersabda: “Tidak sempurna iman seorang dari kamu sehingga aku lebih dicintai olehnya daripada ia mencintai anaknya, orang tuanya dan manusia semuanya”. (HR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Turmudzi, Nasai dan Ibnu Majah)

    Dari Abduraahman Bin Abi Laila dari bapaknya ra, ia berkata, Rasulullah Saww. Bersabda : “Tidak sempurna seseorang dari kamu sehingga aku lebih dicintai olehnya daripada dirinya, dan ahliku lebih dicintai olehnya daripada ahlinya, dan anak cucuku lebih dicintai olehnya daripada anak cucunya, dan keturunanku lebih dicintai olehnya daripada ia mencintai keturunannya”. (HR. Thabrani dan Baihaqi)

    Dari Zaid Bin Arqam ra, ia berkata, Rasulullah Saww. Bersabda : “Amma ba’du, ingatlah wahai sekalian manusia, bahwasanya saya adalah seorang manusia hampir-hampir akan datang kepadaku seorang utusan Tuhanku maka saya terima. Dan saya tinggalkan buat kamu dua pegangan. Yang pertama adalah Kitabullah yang didalamnya berisi petunjuk dan cahaya, siapa yang mengambilnya dan berpegang teguh dengannya maka ia memperoleh petunjuk dan siapa yang menyalahinya ia sungguh tersesat, maka ambillah Kitab Allah Ta’ala dan berpegang teguhlah kepadanya. Dan ahli rumahku (Ahlul bait);Yang aku ingatkan kamu kepada Allah dengan ahli rumahku (Ahlul bait);Yang aku ingatkan kamu kepada Allah dengan ahli rumahku (Ahlul bait)”. (HR. Imam Ahmad, Abdu Bin Hamid dan Muslim)

    Dari Abi Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah Saww. Bersabda : “Tiada dari seorang yang mengucapkan salam kepadaku melainkan Allah menerima ruhku sehingga aku menjawab salam padannya”. (HR. Abu Dawud)

    Dari Abi Hurairah dan Amar bin Yasir Ra. Dari Nabi Saww, bahwa beliau bersabda: “Sungguh Allah ta’aalaa telah menciptakan satu malaikat dan memberikan kepadanya pendengaran makhluk semuannya, dan dia berdiri diatas kuburku sampai qiyamat. Maka tidak seorangpun dari umatku yang membacakan shalawat untuk saya sekali, kecuali dia Malaikat menyebutkan namanya dan nama ayahnya serta berkata:”Hai Muhammad Saww, sungguh fulan bin fulan telah bershalawat kepadamu. Mereka para sahabat berkata:”Hai Rasulullah apakah engkau tidak tahu firman Allah: “Sungguh Allah dan para Malaikatnya bershalawat kepada Nabi”. Maka beliau Nabi Saww. bersabda:”Ini adalah dari ilmu yang terjaga, dan kalau sekiranya kamu sekalian tidak bertanya, tentu tidak saya beritahu kepadamu. Sabda Nabi Saww.:”Sungguh Allah Swt. telah mewakilkan/menyerahkan dua malaikat untuk saya, maka tidaklah aku disebutkan dihadapan seseorang muslim kemudian membaca shalawat untuk saya, kecuali dua Malaikat itu berkata: “Mudah-mudahan Allah Swt. mengampuni engkau”, dan para Malaikat pun berkata sebagai jawaban kepada keduanya: “Aamin”=”Semoga Allah mengabulkan”. Dan tidaklah aku disebutkan dihadapan seorang muslim, kemudian dia tidak membaca shalawat untuk saya kecuali dua Malaikat itu berkata: “Semoga Allah tidak mengampuni engkau”, dan para Malaikat berkata sebagai jawabankepada keduanya: “Aamin”=”Semoga Allah mengabulkan”. (Abus Su’ud Ra)

    Dari Anas bin Malik Ra. dari Nabi Saww.: “Tidak satu do’apun kecuali antara do’a itu dan langit terdapat suatu hijab/aling-aling, sehingga dibacakan shalawat kepada Nabi Saww. Kalau dibacakan shalawat kepada Nabi Saww. maka terkoyaklah hijab itu dan masuklah do’a itu. Dan bila tidak dibacakan shalawat, maka kembalilah do’anya”.

    Diceritakan bahwa ada seseorang laki-laki yang shalih telah duduk bertasyahud dan dia terlupa membaca shalawat untuk Nabi Saww.. Maka dia bermimpi melihat Rasulullah Saww. dan berkata kepadanya:”Mengapa engkau lupa membaca shalawat untuk saya”. Kata orang laki-laki itu:”Wahai Rasulullah Saww., karena saya disibukkan dengan menyanjung kepada Allah serta ibadah kepadanya, maka saya lupa”. Maka Nabi Saww. bersabda:”Apakah engkau tidak mendengar sabdaku:”Semua amal itu terhenti dan semua do’a itu tertahan, sehingga dibacakan shalawat untuk saya”. Selanjutnya beliau bersabda:”Kalau sekiranya pada hari qiyamat ada seorang hamba datang dengan membawa kebagusan seluruh penghuni dunia dan tidak terdapat shalawat untuk saya, niscaya kebagusan itu ditolak dan tidak diterima”. (Zubdatul Waa’izdiina)

    Dari Abdurrahman bin Aufin Dari Nabi Saww.: “Telah datang kepada saya Malaikat Jibraa-il dan berkata:”Hai Muhammad Saww., tidak seorangpun membaca shalawat untukmu kecuali dibacakan shalawat oleh tujuh puluh ribu Malaikat, dan barangsiapa dibacakan shalawat oleh para Malaikat, maka dia tergolong keluarga sorga”.

    Diriwayatkan oleh Hasan Al-Bashari Ra. bahwa dia berkata:”Saya melihat Abu Ishmah dalam mimpi, maka saya berkata kepadanya:”Hai Abu Ishmah, apakah yang dilakukan oleh Allah Swt. kepadamu?” Dia menjawab:”Dia Allah Swt. telah mengampuni saya”. Kata saya:”Dengan sebab apa?” Kata dia:”Saya tidak menuturkan sebuah hadits kecuali saya membaca shalawat untuk Nabi Saww.”. (Zubdatul Waa’Izdiina)

    Dari Nabi Saww., bahwa beliau bersabda: “Telah datang kepada saya Malaikat Jibrail, Mikail, Israfil dan Izrail As. Kata Jibrail As.:”Hai Rasulullah Saww., barang siapa membaca shalawat untukmu pada tiap-tiap hari sepuluh kali, maka akan saya bimbing tangannya dan saya lewatkan dia diatas jembatan seperti halilintar yang menyambar”. Kata Mikail As.:”Saya akan memberi minum kepadanya dari telagamu”. Kata Israfil As.:”Saya akan sujud kepada Allah Swt. serta tidak saya angkat kepala saya sehingga Allah Swt. Mengampuninya”. Kata Izrail As.:”Saya akan mencabut ruhnya sebagaimana saya mencabut ruh para Nabi As.

    Diriwayatkan dari Abdullah bahwa dia berkata:”Kami mempunyai seorang pembantu yang melayani Sultan/raja, sedang dia bersifat fasiq. Maka pada suatu malam dia saya jumpai sedang tangannya pada/memegang tangan Nabi Saww. (bergandengan). Maka kata saya kepadanya (Nabi Saww):”Hai Nabi Saww. Allah, orang ini adalah termasuk hamba yang fasiq, maka bagaimana dia boleh meletakkan tangannya diatas tangan engkau? Sabda Nabi Saww.:”Sungguh dia telah diampuni, dan saya telah memberikan syafaat kepadanya dari Allah Swt.”. Kata saya:”Wahai Nabi Saww. Allah, dengan sebab apa dia memperoleh kedudukan itu? Kata Nabi Saww.:”Dengan sebab banyaknya membaca shalawat untuk saya. Sungguh dia pada tiap-tiap malam akan tidur diranjangnya, dia membaca shalawat untuk saya seribu kali”. (Tuhfatul Muluuki)

    Dari Ka’ab Ra. bahwa dia berkata:”Bila telah datang hari qiyamat, maka Nabi Adam As. melihat salah seorang dari umat Muhammad Saww. yang digiring/dihalau keneraka; dan dia Nabi Adam As. memanggil:”Hai Muhammad”. Kata/jawab Nabi Muhammad Saww:”Yaa, hai Abulbasyar/ayah para manusia”. Kata Adam:”Sungguh ada seorang dari umatmu yang dihalau keneraka”. Maka Nabi Saww. meloncat dibelakangnya sehingga mendapatkan orang itu dan berkata:”Hai para Malaikat Tuhanku, berhentilah dahulu!”. Mereka para Malaikat Berkata:”Hai Muhammad tidakkah engkau baca firman Allah Swt: “Laa ya’shuuna maa amarahum wa yaf’aluuna maa yu-maruun” Mereka itu tidak mendurhakai kepada Allah terhadap apa-apa yang diperintahkan dan mereka mengerjakan apa-apa yang mereka diperintah”. Maka mereka mendengar seruanNya(Allah):”Hai para Malaikat; taatlah kamu sekalian kepada Muhammad Saww.”. Kata Nabi Saww.:”Kembalikan dia ketempat timbangan!”. Maka amalnyapun ditimbang dan menjadi lebih beratlah kejahatannya daripada kebaikannya. Lalu Nabi Saww. mengeluarkan kertas/catatan dari sakunya yang didalam catatan itu terdapat tulisan shalawat yang dibacakan sewaktu didunia, kemudian diletakkan sebagai tambahan kebaikan sehingga menjadi lebih berat. Orang laki-laki itupun gembira dan berkata:”Demi ayahku dan ibuku, siapakah engkau ini? Rasulullah Saww. Bersabda:”Saya adalah Muhammad”. Kemudian laki-laki itu mencium kaki Nabi Saww. seraya berkata:”Wahai Rasulullah, Apakah kertas/catatan itu? Kata Nabi Saww.:”Dia adalah shalawat yang engkau baca untuk saya sewaktu didunia saya simpan untuk kamu”. Kata seorang hamba:”Duh menyesal sekali aku terhadap apa-apa yang telah aku lengahkan disisi Allah Swt.”. (Kanzul Akhbaari)

    Diriwayatkan dari Nabi Saww. bahwa beliau bersabda:” Sesungguhnya Allah ta’aalaa telah menciptakan para Malaikat yang di tangannya terdapat beberapa pena dari emas dan beberapa kertas dari perak, yang mereka itu tidak mencatat sesuatupun melainkan shalawat untuk saya dan keluarga rumah saya.”

    Dari Abi Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah Saww. Bersabda : “Bershalawatlah atas para Nabi Allah dan utusan-Nya sebagaimana kamu semua bershalawat kepadaku, sebab mereka itu sama diutus sebagaimana aku diutus”. (HR. Ahmad dan Al-Khathib)

    Dari Abi Umamah ra, ia berkata, Rasulullah Saww. Bersabda : “Perbanyaklah membaca shalawat padaku pada setiap hari Jum’at, sebab shalawat ummatku dipintakan kepadaku setiap hari Jum’at. Maka siapa yang paling banyak shalawatnya kepadaku dari mereka maka ia orang yang terdekat dari mereka kepadaku akan tingkatannya”. (HR. Al-Baihaqy)

    Dari Ali Bin Husin dari ayahnya dari kakeknya ra, Rasulullah Saww. Bersabda : “Siapa bershalawat kepadaku dihari Jum’at seratus kali maka ia datang dihari kiamat dengan cahaya, andaikata dibagi antara makhluk semuanya maka cahaya itu akan memenuhinya”. (HR. Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah)

    Dari Al-Husin Bin Ali ra, Rasulullah Saww, Bersabda : “Dimana saja kamu berada maka bershalawatlah kepadaku, sebab shalawatmu itu akan sampai kepadaku”. (HR. At-Thabrani)

    Dari Abi Hurairah ra, Rasulullah Saww, Bersabda : “Siapa bershalawat kepadaku disisi kuburku maka saya mendengarnya, siapa bershalawat kepadaku dari jauh maka shalawat itu diserahkan oleh seorang malaikat yang menyampaikan kepadaku, dan ia dicukupi urusan keduniaan dan keakhiratannya, dan aku sebagai saksi dan pembela baginya”. (HR. Al-Baihaqy dan Al-Khatib)

    Dari Ibnu Mas’ud ra, Rasulullah Saww. Bersabda : “Bahwa Allah Swt. memiliki malaikat-malaikat yang berkeliling di bumi sebagai penyampai “salam” kepadaku dari ummatku”. (HR. Al-Hakim, An-Nasai, Ibn Hibban)

    Kata Syaikh Al-Muzdhir:”Sungguh kebiasaan para raja dan para orang-orang yang terhormat itu memuliakan kepada orang-orang yang mau menghormati para kekasihnya dan mau memuliakan para sahabat karibnya. Maka sesungguhnya Allah Swt. itu raja dari sekalian raja dan Dzat yang paling mulia, sehingga Dia Allah Swt. lebih berhak terhadap kebiasaan yang mulia itu. Sungguh orang yang memuliakan kekasihNya serta NabiNya Saww. dengan membaca shalawat untuk beliau, maka akan dia dapatkan rahmat dari Allah Swt., terhapus semua dosanya dan ditinggikan derajatnya.

    Kata Ibnu Syaikh Rahimahullaahu ta’aalaa : “Yaitu Wajib membaca shalawat setiap disebutkan asma Nabi Saww., dan meskipun dalam satu majlis disebutkan seribu kali”. (Durratun Nasihin)

    Wallaahu a’lam bi shawab

    Jadi banyak-banyaklah kita bershalawat kepada Nabi Muhammad Saww, terutama pada malam Jum’at dan hari Jum’at dan mengikuti Sunahnya Rasulullah Saww, agar kita diridhai oleh Allah Swt. dan mendapat syafa’at dari Rasulullah Saww., serta tidak menjadi orang yang merugi diakhirat nanti karena mengetahui ganjaran dari shalawat kepada Nabi Saww. karena “siapa yang cinta pada sesuatu hal maka ia akan sering menyebut-nyebutnya”.

    Dikutip dari:

    • Durratun Nasihin –> Usman Alkhaibawi.
    • Ihya’ Ulumiddin –> Imam Al-Ghazali.
    • 70 Shalawat Pilihan –> Al-Ustadz Mahmud Samiy.
    • Kumpulan Keistimewaan Shalawat Nabi –> Imam qadli-Iyyadl dan DR.Muhammad Ustman Al-Khusyt.
    • Terjemahan AL-ADZKAR –> Imam An-Nawawi.
    • The Sufism Verses (Ayat-ayat Sufi) –> Thowil Akhyar.
    • Dibalik Ketajaman Mata Hati –> Imam Al-Ghazali.
    • At-Tuhfa Al-Mardhiyyah fil Akhbaril Qudsiyyah wal Ahadits Nabawiyyah –> Asy-Syaikh Abdul Majid Al-‘Adawiy.
     
  • erva kurniawan 1:23 am on 17 September 2011 Permalink | Balas  

    Nabi Isa ‘Alaihissalam 

    Nabi Isa ‘Alaihissalam

    Oleh Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil MA

    Sebelum kita membicarakan masalah turunnya Isa Ibnu Maryam ‘alaihissalam, baiklah kita mengenal sifat-sifat atau identitasnya terlebih dahulu sebagaimana yang disebutkan di dalam nash-nash syar’iyyah.

    Ciri-ciri beliau menurut beberapa riwayat ialah bertubuh sedang, tidak tinggi dan tidak pendek, berkulit merah dan berbulu, dadanya bidang, rambutnya lurus seperti orang baru keluar dari pemandian, dan rambutnya itu sampai di bawah ujung telinga (bagian bawah) yang disisir rapi dan memenuhi kedua pundaknya.

    Hadits-hadits yang menerangkan ciri-ciri Nabi Isa ‘Alaihissalam antara lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah saw bersabda:

    “Artinya : Pada malam ketika saya diisra ‘kan saya bertemu Musa, …” lalu beliau menyebutkan ciri-cirinya, kemudian melanjutkan sabdanya, “Dan saya juga bertemu Isa, perawakannya sedang, kulitnya merah, seperti orang yang baru keluar dari pemandian. “ [Shahih Bukhari, Kitab Ahaadiitsil Anbiya’, Bab Qaulillah “Wadzkuruu fil Kitaabi Maryam” 6: 476; Shahih Muslim dengan Syarah Nawawi, Bab Al-Isra’ bi Rasulillah wa Fardhish-Shalawat 2: 232]

    Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Artinya : Saya melihat Isa, Musa, dan Ibrahim (pada malam isra’). Isa berkulit merah dan berbulu, serta bidang dadanya.” [Shahih Bukhari 6: 477].

    Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Artinya : Aku melihat diriku di Hijr dan orang-orang Quraisy bertanya kepadaku… ” Lalu beliau melanjutkan, “… Tiba-tiba Isa bin Maryam ‘alaihissalam sedang berdiri menunaikan shalat. Orang yang paling mirip dengannya ialah ‘Urwah bin Mas ‘ud Ats-Tsaqafi.” [Shahih Muslim dengan Syarah Nawawi 2:237-238]

    ***

    [Disalin dari kitab Asyratus Sa’ah edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat, Penulis Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabl MA, Penerjemah Drs As’ad Yasin, Penerbit CV Pustaka Mantiq]

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 16 September 2011 Permalink | Balas  

    Menangis 

    Menangis

    Apa salahnya menangis, jika memang dengan menangis itu manusia menjadi sadar. Sadar akan kelemahan-kelemahan dirinya, saat tiada lagi yang sanggup menolongnya dari keterpurukan selain Allah Swt. Kesadaran yang membawa manfaat dunia dan akhirat. Bukankah kondisi hati manusia tiada pernah stabil? Selalu berbolak balik menuruti keadaan yang dihadapinya. Ketika seseorang menghadapi kebahagiaan maka hatinya akan gembira dan saat dilanda musibah tidak sedikit orang yang putus asa bahkan berpaling dari kebenaran.

    Sebagian orang menganggap menangis itu adalah hal yang hina, ia merupakan tanda lemahnya seseorang. Bangsa Yahudi selalu mengecam cengeng ketika anaknya menangis dan dikatakan tidak akan mampu melawan musuh-musuhnya. Para orang tua di Jepang akan memarahi anaknya jika mereka menangis karena dianggap tidak tegar menghadapi hidup. Menangis adalah hal yang hanya dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai prinsip hidup.

    Bagi seorang muslim yang mukmin, menangis merupakan buah kelembutan hati dan pertanda kepekaan jiwanya terhadap berbagai peristiwa yang menimpa dirinya maupun umatnya. Rasulullah Saw meneteskan air matanya ketika ditinggal mati oleh anaknya, Ibrahim. Abu Bakar Ashshiddiq ra digelari oleh anaknya Aisyah ra sebagai Rojulun Bakiy (Orang yang selalu menangis). Beliau senantiasa menangis, dadanya bergolak manakala sholat dibelakang Rasulullah Saw karena mendengar ayat-ayat Allah. Abdullah bin Umar suatu ketika melewati sebuah rumah yang di dalamnya ada sesorang sedang membaca Al Qur’an, ketika sampai pada ayat: “Hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam” (QS. Al Muthaffifin: 6).

    Pada saat itu juga beliau diam berdiri tegak dan merasakan betapa dirinya seakan-akan sedang menghadap Robbnya, kemudian beliau menangis. Lihatlah betapa Rasulullah Saw dan para sahabatnya benar-benar memahami dan merasakan getaran-getaran keimanan dalam jiwa mereka. Lembutnya hati mengantarkan mereka kepada derajat hamba Allah yang peka.

    Bukankah diantara tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan pada hari dimana tiada naungan kecuali naungan Allah adalah orang yang berdoa kepada Robbnya dalam kesendirian kemudian dia meneteskan air mata? Tentunya begitu sulit meneteskan air mata saat berdo’a sendirian jika hati seseorang tidak lembut. Yang biasa dilakukan manusia dalam kesendiriannya justru maksiat. Bahkan tidak sedikit manusia yang bermaksiat saat sendiri di dalam kamarnya seorang mukmin sejati akan menangis dalam kesendirian dikala berdo’a kepada Tuhannya. Sadar betapa berat tugas hidup yang harus diembannya di dunia ini.

    Di zaman ketika manusia lalai dalam gemerlap dunia, seorang mukmin akan senantiasa menjaga diri dan hatinya. Menjaga lembutan dan kepekaan jiwanya. Dia akan mudah meneteskan air mata demi melihat kehancuran umatnya. Kesedihannya begitu mendalam dan perhatiannya terhadap umat menjadikannya orang yang tanggap terhadap permasalahan umat. Kita tidak akan melihat seorang mukmin bersenang-senang dan bersuka ria ketika tetangganya mengalami kesedihan, ditimpa berbagai ujian, cobaan, dan fitnah. Mukmin yang sesungguhnya akan dengan sigap membantu meringankan segala beban saudaranya. Ketika seorang mukmin tidak mampu menolong dengan tenaga ataupun harta, dia akan berdoa memohon kepada Tuhan semesta alam.

    Menangis merupakan sebuah bentuk pengakuan terhadap kebenaran. “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri) seraya berkata: “Ya Robb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan kenabian Muhammad)”. (QS. Al Maidah: 83).

    Ja’far bin Abdul Mutholib membacakan surat Maryam ayat ke-16 hingga 22 kepada seorang raja Nasrani yang bijak. Demi mendengar ayat-ayat Allah dibacakan, bercucuranlah air mata raja Habsyah itu. Ia mengakui benarnya kisah Maryam dalam ayat tersebut, ia telah mengenal kebenaran itu dan hatinya yang lembut menyebabkan matanya sembab kemudian menangis. Raja yang rindu akan kebenaran benar-benar merasakannya.

    Orang yang keras hatinya, akan sulit menangis saat dibacakan ayat-ayat Allah. Bahkan ketika datang teguran dari Allah sekalipun ia justru akan tertawa atau malah berpaling dari kebenaran. Sehebat apapun bentuk penghormatan seorang tokoh munafik Abdullah bin Ubay bin Salul kepada Rasulullah Saw, sedikit pun tidak berpengaruh pada hatinya. Ia tidak peduli ketika Allah Swt mengecam keadaan mereka di akhirat nanti, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan neraka yang paling bawah. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan seorang penolongpun bagi mereka”. (QS. An Nisa’: 145)

    Barangkali di antara kita yang belum pernah menangis, maka menangislah disaat membaca Al Qur’an, menangislah ketika berdo’a di sepertiga malam terakhir, menangislah karena melihat kondisi umat yang terpuruk, atau tangisilah dirimu karena tidak bisa menangis ketika mendengar ayat-ayat Allah.

    Semoga hal demikian dapat melembutkan hati dan menjadi penyejuk serta penyubur iman dalam dada. Ingatlah hari ketika manusia banyak menangis dan sedikit tertawa karena dosa-dosa yang diperbuatnya selama di dunia. “Maka mereka sedikit tertawa dan banyak menangis, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan”. (QS At Taubah: 82).

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 15 September 2011 Permalink | Balas  

    Manajemen Bisnis Nabi Muhammad SAW 

    Manajemen Bisnis Nabi Muhammad SAW

    Sebagai Rasul terakhir Allah SWT, Nabi Muhammad SAW tercatat dalam sejarah adalah pembawa kemaslahatan dan kebaikan yang tiada bandingan untuk seluruh umat manusia. Bagaimana tidak karena Rasulullah SAW telah membuka zaman baru dalam pembangunan peradaban dunia. Beliaulah adalah tokoh yang paling sukses dalam bidang agama (sebagai Rasul) sekaligus dalam bidang duniawi (sebagai pemimpin negara dan peletak dasar peradaban Islam yang gemilang selama 1000 tahun berikutnya).

    Kesuksesan Rasulullah SAW itu sudah banyak dibahas dan diulas oleh para ahli sejarah Islam maupun Barat. Namun ada salah satu sisi Muhammad SAW ternyata jarang dibahas dan kurang mendapat perhatian oleh para ahli sejarah maupun agama yaitu sisinya sebagai seorang pebisnis ulung. Padahal manajemen bisnis yang dijalankan Rasulullah SAW hingga kini maupun di masa mendatang akan selalu relevan diterapkan dalam bisnis modern. Setelah kakeknya yang merawat Muhammad SAW sejak bayi wafat, seorang pamannya yang bernama Abu Thalib lalu memeliharanya.

    Abu Thalib yang sangat menyayangi Muhammad SAW sebagaimana anaknya sendiri adalah seorang pedagang. Sang paman kemudian mengajari Rasulullah SAW cara-cara berdagang (berbisnis) dan bahkan mengajaknya pergi bersama untuk berdagang meninggalkan negerinya (Makkah) ke negeri Syam (yang kini dikenal sebagai Suriah) pada saat Rasulullah SAW baru berusia 12 tahun. Tidak heran jika beliau telah pandai berdagang sejak berusia belasan tahun. Kesuksesan Rasulullah SAW dalam berbisnis tidak terlepas dari kejujuran yang mendarah daging dalam sosoknya.

    Kejujuran itulah telah diakui oleh penduduk Makkah sehingga beliau digelari Al Shiddiq. Selain itu, Muhammad SAW juga dikenal sangat teguh memegang kepercayaan (amanah) dan tidak pernah sekali-kali mengkhianati kepercayaan itu. Tidak heran jika beliau juga mendapat julukan Al Amin (Terpercaya). Menurut sejarah, telah tercatat bahwa Muhammad SAW melakukan lawatan bisnis ke luar negeri sebanyak 6 kali diantaranya ke Syam (Suriah), Bahrain, Yordania dan Yaman. Dalam semua lawatan bisnis, Muhammad selalu mendapatkan kesuksesan besar dan tidak pernah mendapatkan kerugian.

    Lima dari semua lawatan bisnis itu dilakukan oleh beliau atas nama seorang wanita pebisnis terkemuka Makkah yang bernama Khadijah binti Khuwailid. Khadijah yang kelak menjadi istri Muhammad SAW, telah lama mendengar reputasi Muhammad sebagai pebisnis ulung yang jujur dan teguh memegang amanah. Lantaran itulah, Khadijah lalu merekrut Muhammad sebagai manajer bisnisnya. Kurang lebih selama 20 tahun sebelum diangkat menjadi Nabi pada usia 40 tahun, Muhammad mengembangkan bisnis Khadijah sehingga sangat maju pesat. Boleh dikatakan bisnis yang dilakukan Muhammad dan Khadijah (yang menikahinya pada saat beliau berusia 25 tahun) hingga pada saat pengangkatan kenabian Muhammad adalah bisnis konglomerat.

    Pola manajemen bisnis apa yang dijalankan Muhammad SAW sehingga bisnis junjungan kita itu mendapatkan kesuksesan spektakuler pada zamannya ? Ternyata jauh sebelum para ahli bisnis modern seperti Frederick W. Taylor dan Henry Fayol pada abad ke-19 mengangkat prinsip manajemen sebagai sebuah disiplin ilmu, ternyata Rasulullah SAW telah mengimplementasikan nilai-nilai manajemen modern dalam kehidupan dan praktek bisnis yang mendahului masanya. Berdasarkan prinsip-prinsip manajemen modern, Rasulullah SAW telah dengan sangat baik mengelola proses, transaksi, dan hubungan bisnis dengan seluruh elemen bisnis serta pihak yang terlihat di dalamnya.

    Seperti dikatakan oleh Prof. Aflazul Rahman dalam bukunya “Muhammad: A Trader” bahwa Rasulullah SAW adalah pebisnis yang jujur dan adil dalam membuat perjanjian bisnis. Ia tidak pernah membuat para pelanggannya mengeluh. Dia sering menjaga janjinya dan menyerahkan barang-barang yang dipesan dengan tepat waktu. Muhammad SAW pun senantiasa menunjukkan rasa tanggung jawab yang besar dan integritas yang tinggi dalam berbisnis. Dengan kata lain, beliau melaksanakan prinsip manajemen bisnis modern yaitu kepuasan pelanggan (customer satisfaction), pelayanan yang unggul (service exellence), kemampuan, efisiensi, transparansi (kejujuran), persaingan yang sehat dan kompetitif.

    Dalam menjalankan bisnis, Muhammad SAW selalu melaksanakan prinsip kejujuran (transparasi). Ketika sedang berbisnis, beliau selalu jujur dalam menjelaskan keunggulan dan kelemahan produk yang dijualnya. Ternyata prinsip transparasi beliau itu menjadi pemasaran yang efektif untuk menarik para pelanggan. Beliau juga mencintai para pelanggannya seperti mencintai dirinya sehingga selalu melayani mereka dengan sepenuh hatinya (melakukan service exellence) dan selalu membuat mereka puas atas layanan beliau (melakukan prinsip customer satisfaction).

    Dalam melakukan bisnisnya, Muhammad SAW tidak pernah mengambil margin keuntungan sangat tinggi seperti yang biasa dilakukan para pebisnis lainnya pada masanya. Beliau hanya mengambil margin keuntungan secukupnya saja dalam menjual produknya.Ternyata kiat mengambil margin keuntungan yang dilakukan beliau sangat efektif, semua barang yang dijualnya selalu laku dibeli Orang-orang lebih suka membeli barang-barang jualan Muhammad daripada pedagang lain karena bisa mendapatkan harga lebih murah dan berkualitas. Dalam hal ini, beliau melakukan prinsip persaingan sehat dan kompetitif yang mendorong bisnis semakin efisien dan efektif.

    Boleh dikatakan Rasulullah SAW adalah pelopor bisnis yang berdasarkan prinsip kejujuran, transaksi bisnis yang adil dan sehat. Beliau juga tidak segan mensosialisasikan prinsip-prinsip bisnisnya dalam bentuk edukasi dan pernyataan tegas kepada para pebisnis lainnya. Ketika menjadi kepala negara, Rasulullah SAW mentransformasikan prinsip-prinsip bisnisnya menjadi pokok-pokok hukum. Berdasarkan hal itu, beliau melakukan penegakan hukum pada para pebisnis yang nakal. Beliau pula yang memperkenalkan asas “Facta Sur Servanda” yang kita kenal sebagai asas utama dalam hukum perdata dan perjanjian. Di tangan para pihaklah terdapat kekuasaan tertinggi untuk melakukan transaksi bisnis yang dibangun atas dasar saling setuju.

    Berdasarkan apa yang dibahas di atas ini, jelas junjungan yang kita cintai itu adalah pebisnis yang melaksanakan manajemen bisnis yang mendahului zamannya. Bagaimana tidak karena prinsip-prinsip manajemen Rasulullah SAW baru dikenal luas dan diimplementasikan para pebisnis modern sejak abad ke-20, padahal Rasulullah SAW hidup pada abad ke-7. Pakar manejemen bisnis terkemuka Indonesia, Rhenald Kasali pun mengakuinya dengan mengatakan bahwa semua bisnis yang diinginkan niscaya juga akan sukses jika mau menduplikasi karakter Muhammad SAW dalam berbisnis. Dengan begitu, kita dapat mengatakan kepada pelaku bisnis, “Ingin bisnis sukses, jalankan manajemen bisnis Muhammad SAW!” Selamat mencoba dan semoga bermanfaat.

    ***

    Fachri Berbagai sumber (12-Sep-2007)

     
    • Setia Nusa Utama 5:25 am on 17 September 2011 Permalink

      Saya suka artikelnya. Mohon, diceritakan juga bagaimana Rosulullah yang tidak mampu membaca dan menulis bisa menjalankan bisnis dengan manajemennya yang diimplementasikan para pebisnis modern sejak abad ke-20. Terimakasih.

  • erva kurniawan 1:11 am on 14 September 2011 Permalink | Balas  

    Jangan Tangisi Apa yang Bukan Milikmu 

    Jangan Tangisi Apa yang Bukan Milikmu

    Dalam perjalanan hidup ini seringkali kita merasa kecewa. Kecewa sekali. Sesuatu yang luput dari genggaman, keinginan yang tidak tercapai, kenyataan yang tidak sesuai harapan. Akhirnya angan ini lelah berandai-andai ria. Pffhh.sungguh semua itu tlah hadirkan nelangsa yang begitu menggelora dalam jiwa.

    Dan sungguh sangat beruntung andai dalam saat-saat terguncangnya jiwa masih ada setitik cahaya dalam kalbu untuk merenungi kebenaran. Masih ada kekuatan untuk melangkahkan kaki menuju majelis-majelis ilmu, majelis-majelis dzikir yang akan mengantarkan pada ketentraman jiwa.

    Hidup ini ibarat belantara.Tempat kita mengejar berbagai keinginan. Dan memang manusia diciptakan mempunyai kehendak, mempunyai keinginan. Tetapi tidak setiap yang kita inginkan bisa terbukti, tidak setiap yang kita mau bisa tercapai. Dan tidak mudah menyadari bahwa apa yang bukan menjadi hak kita tak perlu kita tangisi. Banyak orang yang tidak sadar bahwa hidup ini tidak punya satu hukum: harus sukses, harus bahagia atau harus-harus yang lain.

    Betapa banyak orang yang sukses tetapi lupa bahwa sejatinya itu semua pemberian Allah hingga membuatnya sombong dan bertindak sewenang-wenang. Begitu juga kegagalan sering tidak dihadapi dengan benar. Padahal dimensi tauhid dari kegagalan adalah tidak tercapainya apa yang memang bukan hak kita. Padahal hakekat kegagalan adalah tidak terengkuhnya apa yang memang bukan hak kita.

    Apa yang memang menjadi jatah kita di dunia, entah itu Rizki, jabatan, kedudukan pasti akan Allah sampaikan.Tetapi apa yang memang bukan milik kita, ia tidak akan kita bisa miliki, meski ia nyaris menghampiri kita, meski kita mati-matian mengusahakannya.

    “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab(Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakanya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu)supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikaNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Al-Hadid ;22-23)

    Demikian juga bagi yang sedang galau terhadap jodoh.Kadang kita tak sadar mendikte Allah tentang jodoh kita, bukanya meminta yang terbaik dalam istikharah kita tetapi benar-benar mendikte Allah: Pokoknya harus dia Ya Allah harus dia, karena aku sangat mencintainya. Seakan kita jadi yang menentukan segalanya, kita meminta dengan pakasa. Dan akhirnya kalaupun Allah memberikanya maka tak selalu itu yang terbaik. Bisa jadi Allah tak mengulurkanya tidak dengan kelembutan, tapi melemparkannya dengan marah karena niat kita yang terkotori.

    Maka wahai jiwa yang sedang gundah, dengarkan ini dari Allah :

    “.. Boleh jadi kalian membenci sesuatu,padahal ia amat baik bagi kalian. Dan boleh jadi kalian mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian.Allah Maha mengetahui kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 216)

    Maka setelah ini wahai jiwa, jangan kau hanyut dalam nestapa jiwa berkepanjangan terhadap apa-apa yang luput darimu. Setelah ini harus benar-benar dipikirkan bahwa apa-apa yang kita rasa perlu di dunia ini harus benar-benar perlu bila ada relevansinya dengan harapan kita akan bahagia di akhirat. Karena seorang mukmin tidak hidup untuk dunia tetapi menjadikan dunia untuk mencari hidup yang sesungguhnya: hidup di akhirat kelak!

    Maka sudahlah, jangan kau tangisi apa yang bukan milikmu!

    ***

    Diambil dari : http://www.oaseislam.com

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 13 September 2011 Permalink | Balas  

    Menjadi Kaya dengan Berderma 

    Menjadi Kaya dengan Berderma

    Harta bagaikan pedang bermata dua. Ia bisa menyelamatkan pemiliknya, meninggikan derajatnya, mempererat ukhuwah dengan saudaranya, dan menguatkan tali silaturahim dengan kerabatnya, dan melipatgandakan pahala amalnya. Betapa indah harta ditangan orang yg murah hati dan suka berderma. Tapi, jika harta ditangan orang yg kikir, ia akan menjadi bencana di dunia, dan hisab yg berat di akhirat. Karena itulah, harta adalah ujian, harta adalah fitnah.

    Tak harus menunggu kaya untuk bersedekah, kecuali untuk Zakat yg hanya diwajibkan ketika sudah mencapai nishabnya. Gelora untuk berderma harus tetap ada, seberapapun besarannya, meskipun kita bukan orang kaya. Ketika Rasulullah Saw melihat Bilal r.a. mempunyai simpanan makanan, seketika beliau bersabda kepada Bilal, “ Hai Bilal, sedekahkanlah…, jangan sekali-kali kamu takut bahwa Dzat yg bersemayam di ‘Arsy akan melakukan pengurangan.” (HR Thabrani)

    Dengan semangat itu pula, Tabi’in paling mulia, Uwais Al-Qarni memohon Udzur kepada Allah karena tak mampu bersedekah disebabkan tak punya apapun untuk disedekahkan.

    Suatu kali beliau berdo’a ,” Ya Allah saya memohon udzur kepada-Mu hari ini lantaran tidak mampu memberi makan orang yg kelaparan dan tidak mampu memberi pakaian kepada orang yg tak punya pakaian, karena tidak ada makanan dirumahku selain apa yg telah berada didalam perutku, dan aku tidak memiliki apa-apa lagi selain apa yg menempel ditubuhku.”

    Dan ketika itu yg menempel ditubuh beliau hanyalah sehelai baju usang. Takut miskin sering kali menjadi kendala kita untuk bersedekah. Padahal sedekah tidak akan membuat sikaya jatuh miskin, atau yg miskin semakin miskin, Nabi memberikan penegasan, ” Harta tidak akan berkurang dengan disedekahkan,” (HR Muslim).

    Imam An-Nawawi dalam syarah Muslim menyebutkan, bahwa hadist ini mengandung dua pengertian, Pertama, sedekah itu diberkahi (di dunia) dan karenanya ia terhindar dari mudharat. Kedua, pahalanya tidak akan berkurang di akhirat, bahkan dilipatgandakan hingga kelipatan yg banyak.

    Sedekah adalah pintu kekayaan. Karena Allah akan menambah nikmat bagi hamba-Nya yg rajin bersyukur. Allah Swt akan memberikan nafkah hamba-Nya yg sudi bersedekah untuk orang lain. Rasulullah Saw bersabda ” Allah berfirman, ‘ Hai anak Adam, berikanlah nafkah, niscaya Aku akan menafkahimu.” (HR Bukhari & Muslim).

    Hadist ini sesuai dengan janji Allah dalam firman-Nya,

    Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya. (Saba’ : 39)

    Ibnu Katsier menyebutkan bahwa maksud ‘menggantinya’ adalah memberikan ganti di dunia dan juga pahala di akhirat. Laba dan keuntungan mana yg lebih mengiurkan dari ini ?, apalagi, yg berjanji adalah Allah Swt yg tidak akan pernah mengingkari janji.

    ” Ya Allah lapangkanlah dada kami untuk bersedekah dalam segala kondisi, baik lapang maupun sempit.” (Abu Umar A )

    Allah Swt Telah berfirman :

    Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Al Baqarah : 268)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 12 September 2011 Permalink | Balas  

    Sholat Tiang Agama 

    Sholat Tiang Agama

    Rukun Islam yang kedua (setelah membaca 2 kalimat syahadat) adalah shalat 5 waktu (Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya).

    Dalam Al Qur’an Allah memerintahkan kita untuk shalat 5 waktu:

    ”Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” [Al Israa’:78]

    ”… Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” [An Nisaa’:103]

    ”Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’” [Al Baqarah:43]

    ”Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah” [Al Kautsar:2]

    ”Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” [Al Baqarah:110]

    Shalat bisa mencegah perbuatan keji dan munkar:

    ”Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al ’Ankabuut:45]

    Shalat untuk mengingat Allah:

    ”Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” [Thaahaa:14]

    Didiklah anak/keluarga anda untuk shalat:

    ”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” [Luqman:17]

    “Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya” (Thaha : 132)

    Hendaknya kita tetap memelihara/mengerjakan shalat kita:

    “Peliharalah semua Shalat(mu), dan peliharalah shalat wusthaa” (Al Baqarah :238)

    Shalat sangat penting. Shalat adalah tiang agama. Siapa yang tidak mengerjakannya berarti dia meruntuhkan agama:

    “Shalat adalah tiang agama, barang siapa yang mengerjakannya berarti ia menegakkan agama, dan barang siapa meninggalkannya berarti ia meruntuhkan agama” (HR. Baihaqi)

    Pembeda antara orang muslim dengan kafir adalah shalat. Barang siapa tidak shalat berarti dia kafir:

    “Batas antara seorang muslim dengan kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)

    “Perjanjian antara kita dan mereka adalah shalat, maka barangsiapa yang meninggalkan shalat berarti ia kafir.” (HR. Ahmad 5/346, At-Tirmidzi no. 2621, Ibnu Majah no. 1079

    Amal yang pertama dihisab adalah shalat. Begitu dia tidak shalat, meski puasa, zakat, haji, rajin sedekah, dia langsung dimasukkan ke neraka:

    ”Amal yang pertama kali akan dihisab untuk seseorang hamba nanti pada hari kiamat ialah shalat, maka apabila shalatnya baik (lengkap), maka baiklah seluruh amalnya yang lain, dan jika shalatnya itu rusak (kurang lengkap) maka rusaklah segala amalan yang lain” (Thabrani)

    Jangan sampai kita dan keluarga kita yang sudah baligh bolong-bolong shalatnya. Apalagi sampai meninggalkannya.

    Orang yang tidak mengerjakan shalat disiksa di neraka:

    “Apakah yang memasukkan kalian ke dalam neraka Saqar?” Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat….” (Al-Muddatstsir: 42-43)

    “Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai dari mengerjakan shalatnya….” (Al-Ma’un: 4-5)

    “Maka datanglah setelah mereka, pengganti yang jelek yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kerugian2.” (Maryam: 59)

    Hendaknya kita shalat tepat waktu:

    ”Pekerjaan yang sangat disuka Allah, ialah mengerjakan shalat tepat pada waktunya. Sesudah itu berbakti kepada ibu-bapak. Sesudah itu berjihad menegakkan agama Allah (Bukhori dan Muslim)

    Jika shalat 5 waktu, hendaknya berjama’ah:

    Anas r.a.: Nabi SAW selalu memotivasi umatnya untuk sholat berjamaah dan melarang mereka pergi keluar sebelum imam mereka pergi (Muslim)

    Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian, pahalanya berlipat ganda sampai duapuluh tujuh derajat (dibandingkan dengan shalat sendirian) (Bukhori dan Muslim)

    Jika shalat berjama’ah, jangan mendahului imam. Tunggu imam ruku dulu, baru anda ruku. Tunggu imam sujud dulu, baru anda suju:

    Rasul Bersabda: Takutlah kamu bila angkat kepalamu dari sujud mendahului imam, karena Allah akan ubah kepalamu jadi kepala keledai (Bukhori dan Muslim)

    Ummu Salamah r.a.: Bila selesai salam pada saat sholat di masjid, Rasul berhenti sejenak agar wanita pulang lebih dahulu sebelum pria (Bukhori)

    Semoga kita di akhirat nanti termasuk dalam golongan orang yang mengerjakan shalat.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • munahnugroho 1:01 pm on 20 September 2011 Permalink

      iya sholat memang penting dan itu salah satu tiang agama, tapi terkadang aku suka malas untuk melakukan sholat padahal kalau kita tidak melaksanakan sholat hukumannya sangat berat.. makasih ya atas infonya.. mulai sekarang saya akan rajin untuk melaksakan sholat :)

    • Antoncengngilisasi@yahoo.com 10:15 am on 13 November 2012 Permalink

      Kalau solat itu tiang agama, terus bagaimana dengan syahadad ?

  • erva kurniawan 1:15 am on 11 September 2011 Permalink | Balas  

    Waktu-Waktu yang Mustajab 

    Waktu-Waktu yang Mustajab

    Oleh Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih

    Allah memberikan masing-masing waktu dengan keutamaan dan kemuliaan yang berbeda-beda, diantaranya ada waktu-waktu tertentu yang sangat baik untuk berdoa, akan tetapi kebanyakan orang menyia-nyiakan kesempatan baik tersebut. Mereka mengira bahwa seluruh waktu memiliki nilai yang sama dan tidak berbeda. Bagi setiap muslim seharusnya memanfaatkan waktu-waktu yang utama dan mulia untuk berdoa agar mendapatkan kesuksesan, keberuntungan, kemenangan dan keselamatan. Adapun waktu-waktu mustajabah tersebut antara lain.

    [1]. Sepertiga Akhir Malam

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda.

    “Artinya : Sesungguhnya Rabb kami yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga akhir malam, lalu berfirman ; barangsiapa yang berdoa, maka Aku akan kabulkan, barangsiapa yang memohon, pasti Aku akan perkenankan dan barangsiapa yang meminta ampun, pasti Aku akan mengampuninya”. [Shahih Al-Bukhari, kitab Da’awaat bab Doa Nisfullail 7/149-150]

    [2]. Tatkala Berbuka Puasa Bagi Orang Yang Berpuasa

    Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu ‘anhu bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa pafa saat berbuka ada doa yang tidak ditolak”. [Sunan Ibnu Majah, bab Fis Siyam La Turaddu Da’watuhu 1/321 No. 1775. Hakim dalam kitab Mustadrak 1/422. Dishahihkan sanadnya oleh Bushairi dalam Misbahuz Zujaj 2/17].

    [3]. Setiap Selepas Shalat Fardhu

    Dari Abu Umamah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang doa yang paling didengar oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, beliau menjawab.

    “Artinya : Di pertengahan malam yang akhir dan setiap selesai shalat fardhu”. [Sunan At-Tirmidzi, bab Jamiud Da’awaat 13/30. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi 3/167-168 No. 2782].

    [4]. Pada Saat Perang Berkecamuk

    Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Ada dua doa yang tidak tertolak atau jarang tertolak ; doa pada saat adzan dan doa tatkala peang berkecamuk”. [Sunan Abu Daud, kitab Jihad 3/21 No. 2540. Sunan Baihaqi, bab Shalat Istisqa’ 3/360. Hakim dalam Mustadrak 1/189. Dishahihkan Imam Nawawi dalam Al-Adzkaar hal. 341. Dan Al-Albani dalam Ta’liq Alal Misykat 1/212 No. 672].

    [5]. Sesaat Pada Hari Jum’at

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Abul Qasim Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Sesungguhnya pada hari Jum’at ada satu saat yang tidak bertepatan seorang hamba muslim shalat dan memohon sesuatu kebaikan kepada Allah melainkan akan diberikan padanya, beliau berisyarat dengan tangannya akan sedikitnya waktu tersebut”. [Shahih Al-Bukhari, kitab Da’awaat 7/166. Shahih Muslim, kitab Jumuh 3/5-6]

    Waktu yang sesaat itu tidak bisa diketahui secara persis dan masing-masing riwayat menyebutkan waktu tersebut secara berbeda-beda, sebagaimana yang telah disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 11/203.

    Dan kemungkinan besar waktu tersebut berada pada saat imam atau khatib naik mimbar hingga selesai shalat Jum’at atau hingga selesai waktu shalat ashar bagi orang yang menunggu shalat maghrib.

    [6]. Pada Waktu Bangun Tidur Pada Malam Hari Bagi Orang Yang Sebelum Tidur Dalam Keadaan Suci dan Berdzikir Kepada Allah

    Dari ‘Amr bin ‘Anbasah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda.

    “Artinya :Tidaklah seorang hamba tidur dalam keadaan suci lalu terbangun padamalam hari kemudian memohon sesuatu tentang urusan dunia atau akhirat melainkan Allah akan mengabulkannya”. [Sunan Ibnu Majah, bab Doa 2/352 No. 3924. Dishahihkan oleh Al-Mundziri 1/371 No. 595]

    Terbangun tanpa sengaja pada malam hari.[An-Nihayah fi Gharibil Hadits 1/190] Yang dimaksud dengan “ta’ara minal lail” terbangun dari tidur pada malam hari.

    [7]. Doa Diantara Adzan dan Iqamah

    Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Doa tidak akan ditolak antara adzan dan iqamah”. [Sunan Abu Daud, kitab Shalat 1/144 No. 521. Sunan At-Tirmidzi, bab Jamiud Da’waat 13/87. Sunan Al-Baihaqi, kitab Shalat 1/410. Dishahihkan oleh Al-Albani, kitab Tamamul Minnah hal. 139]

    [8]. Doa Pada Waktu Sujud Dalam Shalat

    Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Adapun pada waktu sujud, maka bersungguh-sungguhlah berdoa sebab saat itu sangat tepat untuk dikabulkan”. [Shahih Muslim, kitab Shalat bab Nahi An Qiratul Qur’an fi Ruku’ wa Sujud 2/48]

    Yang dimaksud adalah sangat tepat dan layak untuk dikabulkan doa kamu.

    [9]. Pada Saat Sedang Kehujanan

    Dari Sahl bin a’ad Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda.

    “Artinya : Dua doa yang tidak pernah ditolak ; doa pada waktu adzan dan doa pada waktu kehujanan”. [Mustadrak Hakim dan dishahihkan oleh Adz-Dzahabi 2/113-114. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ No. 3078].

    Imam An-Nawawi berkata bahwa penyebab doa pada waktu kehujanan tidak ditolak atau jarang ditolak dikarenakan pada saat itu sedang turun rahmat khususnya curahan hujan pertama di awal musim. [Fathul Qadir 3/340].

    [10]. Pada Saat Ajal Tiba

    Dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah mendatangi rumah Abu Salamah (pada hari wafatnya), dan beliau mendapatkan kedua mata Abu Salamah terbuka lalu beliau memejamkannya kemudian bersabda.

    “Artinya : Sesungguhnya tatkala ruh dicabut, maka pandangan mata akan mengikutinya’. Semua keluarga histeris. Beliau bersabda : ‘Janganlah kalian berdoa untuk diri kalian kecuali kebaikan, sebab para malaikat mengamini apa yang kamu ucapkan”. [Shahih Muslim, kitab Janaiz 3/38]

    [11]. Pada Malam Lailatul Qadar

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar”. [Al-Qadr : 3-5]

    Imam As-Syaukani berkata bahwa kemuliaan Lailatul Qadar mengharuskan doa setiap orang pasti dikabulkan. [Tuhfatud Dzakirin hal. 56]

    [12]. Doa Pada Hari Arafah

    Dari ‘Amr bin Syu’aib Radhiyallahu ‘anhu dari bapaknya dari kakeknya bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Sebaik-baik doa adalah pada hari Arafah”. [Sunan At-Tirmidzi, bab Jamiud Da’waat 13/83. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Ta’liq alal Misykat 2/797 No. 2598]

    ***

    [Disalin dari buku Jahalatun nas fid du’a, edisi Indonesia Kesalahan Dalam Berdoa, oleh Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih, hal 181-189, terbitan Darul Haq, penerjemah Zainal Abidin Lc]

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 10 September 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Lima Wasiat Abu Bakar Ash-Shiddiq 

    Lima Wasiat Abu Bakar Ash-Shiddiq

    Sahabat Rasul SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq, berkata, ”Kegelapan itu ada lima dan pelitanya pun ada lima. Jika tidak waspada, lima kegelapan itu akan menyesatkan dan memerosokkan kita ke dalam panasnya api neraka. Tetapi, barangsiapa teguh memegang lima pelita itu maka ia akan selamat di dunia dan akhirat.”

    Kegelapan pertama adalah cinta dunia (hubb al-dunya). Rasulullah bersabda, ”Cinta dunia adalah biang segala kesalahan.” (HR Baihaqi). Manusia yang berorientasi duniawi, ia akan melegalkan segala cara untuk meraih keinginannya. Untuk memeranginya, Abu Bakar memberikan pelita berupa takwa. Dengan takwa, manusia lebih terarah secara positif menuju jalan Allah, yakni jalan kebenaran.

    Kedua, berbuat dosa. Kegelapan ini akan tercerahkan oleh taubat nashuha (tobat yang sungguh-sungguh). Rasulullah bersabda, ”Sesungguhnya bila seorang hamba melakukan dosa satu kali, di dalam hatinya timbul satu titik noda. Apabila ia berhenti dari berbuat dosa dan memohon ampun serta bertobat, maka bersihlah hatinya. Jika ia kembali berbuat dosa, bertambah hitamlah titik nodanya itu sampai memenuhi hatinya.” (HR Ahmad). Inilah al-roon (penutup hati) sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Muthaffifin (83) ayat 14.

    Ketiga, kegelapan kubur akan benderang dengan adanya siraj (lampu penerang) berupa bacaan laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah. Sabda Nabi SAW, ”Barangsiapa membaca dengan ikhlas kalimat laa ilaaha illallah, ia akan masuk surga.” Para sahabat bertanya, ”Wahai Rasulallah, apa wujud keikhlasannya?” Beliau menjawab, ”Kalimat tersebut dapat mencegah dari segala sesuatu yang diharamkan Allah kepada kalian.”

    Keempat, alam akhirat sangatlah gelap. Untuk meneranginya, manusia harus memperbanyak amal shaleh. QS Al-Bayyinah (98) ayat 7-8 menyebutkan, orang yang beramal shaleh adalah sebaik-baik makhluk, dan balasan bagi mereka adalah surga ‘Adn. Mereka kekal di dalamnya.

    Kegelapan kelima adalah shirath (jembatan penyeberangan di atas neraka) dan yaqin adalah penerangnya. Yaitu, meyakini dan membenarkan dengan sepenuh hati segala hal yang gaib, termasuk kehidupan setelah mati (eskatologis). Dengan keyakinan itu, kita akan lebih aktif mempersiapkan bekal sebanyak mungkin menuju alam abadi (akhirat). Demikian lima wasiat Abu Bakar. Semoga kita termasuk pemegang kuat lima pelita itu, sehingga menyibak kegelapan dan mengantarkan kita ke kebahagiaan abadi di surga. Amin. (Nur Iskandar, Republika, Hikmah )

    ***

    Sumber : http://kebunhikmah.com

     
    • Ruslan abdul gani 9:05 pm on 16 September 2011 Permalink

      Syukroo ksiron…
      Tlh mmbri sya ilham..!

  • erva kurniawan 1:40 am on 9 September 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Khalifah Umar Bin Khatab dan Gubernur Miskin 

    Khalifah Umar Bin Khatab dan Gubernur Miskin

    Khalifah Umar bin Khattab berniat menggantikan gubernur Syam yang semula dipercayakan kepada Muawiyah. Penggantinya yang diinginkan Khalifah adalah Said bin Amir Al-Jumahi. “Aku ingin memberimu amanah menjadi gubernur,” kata Umar kepada Said. Said berkata, “Jangan kau jerumuskan aku ke dalam fitnah, wahai Amirul Mukminin. Kalian mengalungkan amanah ini di leherku kemudian kalian tinggal aku.” Umar mengira bahwa Said menginginkan gaji, “Kalau begitu, kita berikan untukmu gaji.” Said menjawab, “Allah telah memberiku rizki yang cukup bahkan lebih dari yang kuinginkan.”

    Begitulah kursi gubernuran yang ditolak oleh Said dengan halus. Walau akhirnya dia harus menunjukkan ketaatannya kepada Khalifah dengan menaati keinginan Umar yang tetap bersiteguh untuk mengangkatnya sebagai gubernur Syam. Akhirnya hari yang ditentukan untuk keberangkatannya ke Syam tiba. Dari Madinah dia berangkat beserta istrinya menuju tempat tugasnya yang baru.

    Sesampainya di Syam, Said memulai hari-harinya dengan amanah baru, menjadi gubernur Syam. Hingga suatu saat Said terlilit kebutuhan yang memerlukan uang. Sementara tidak ada uang pribadinya yang bisa dia pakai. Sementara itu di Madinah Umar mendapatkan tamu utusan dari Syam. Mereka datang untuk melaporkan beberapa kebutuhan dan urusan mereka sebagai rakyat yang hidup di bawah kekhilafahan Umar bin Khattab.

    Umar berkata, “Tuliskan nama-nama orang miskin di tempat kalian.”

    Mereka pun menuliskan nama-nama orang yang membutuhkan bantuan dari negara. Tulisan itu diserahkan kepada Umar. Dengan agak terkejut, Umar menemui sebuah nama. Said.

    “Apakah ini Said gubernur kalian?”

    “Ya, itu Said gubernur kami.” “Dia termasuk daftar orang-orang miskin?” tanya Umar lagi mempertegas.

    “Ya,” jawab mereka meyakinkan.

    Umar kemudian mengambil sebuah kantong dari kain yang terikat ujungnya. “Berikan ini kepada gubernur kalian,” kata Umar sambil memberikan kantong itu kepada mereka.

    Rombongan itu akhirnya kembali ke Syam. Setelah sampai, mereka menyampaikan amanah dari Umar itu kepada Said gubernur mereka.

    Sore harinya Said pulang ke rumah. Dia membuka kantong tersebut tanpa sepengetahuan istrinya. Dan ternyata kantong tersebut berisi uang seribu dinar. Jumlah yang tidak sedikit. “Innalillahi wainna ilaihi rojiun,” katanya lirih. Ternyata istrinya mendengar perkataan tersebut. “Apakah amirul mukminin meninggal?” tanya istrinya. “Tidak, tetapi musibah yang lebih besar dari itu,” kata Said. “Maukah engkau membantuku?” sambung Said. “Tentu,” jawab istrinya. “Dunia telah memasuki diriku untuk merusak akhiratku,” kata Said.

    Esok paginya, Said memanggil orang kepercayaannya untuk membagikan uang itu kepada para janda, anak yatim dan orang miskin yang membutuhkan. Tanpa tersisa sedikit pun. Barulah istrinya memahami kata-kata Said, “Dunia telah memasuki diriku untuk merusak akhiratku.”

    Begitulah. Dan memang Said selalu berusaha untuk menjadikan dunia yang dimilikinya untuk membeli akhirat. Agar mendapatkan bidadari surga.

    Ketika suatu hari istrinya menuntut uang yang diberikan dari kakhilafahan, sementara uang itu telah habis disumbangkan kepada orang lain. Hingga tuntutannya itu membuat Said tersiksa. Said berusaha menghindari istrinya beberapa hari dengan selalu pulang malam. Agar dia tidak mendengar lagi tuntutan istrinya.

    Sampai istrinya akhirnya tahu bahwa hartanya telah habis dibagikan cuma-cuma. Sang istri menangisi kepergian harta itu. Dan inilah yang dikatakan Said kepada istri tercintanya, “Sebenarnya istriku, dulu aku mempunyai teman-teman yang kini telah lebih dulu meninggalkanku. Aku tidak rela setelah mereka pergi aku bergelimang harta. Dan kemudian bidadari surga itu jika muncul di langit dunia akan menerangi seluruh penduduk bumi dan sinarnya itu akan memadamkan sinar matahari dan rembulan. Pakaian yang dia pakai lebih baik daripada dunia seisinya. Maka aku lebih memilih dirimu untuk menjadi bidadariku di surga nanti.” Kata-kata ini membuat istrinya Said ridho.

    Kehidupan seorang gubernur Said bin Amir tidak hanya terhenti sampai tingkat kesenangannya membagikan harta. Kalau kita menengok dalam rumahnya lebih ke dalam lagi, kita akan menjumpai kehidupan seorang gunernur yang tak kita jumpai hari ini. Gubernur yang sangat zuhud kepada dunia, tidak merasa begitu perlu dengan harta, maka mustahil kalau dia rela memakan harta rakyatnya.

    Inspeksi mendadak yang dilakukan Umar ke Syam akan mengantarkan kita kepada kisah-kisah dalam rumah tangga Said. Begitu sampai Himsa, Umar mengumpulkan penduduk kota tersebut dan bertanya, “Wahai penduduk Himsa, bagaimana kalian mendapati gubernur kalian?” Jawaban mereka cukup mengejutkan, “Kami mengeluhkan empat hal. Pertama, dia selalu keluar kepada kami setelah siang datang.” “Ini berat,” kata Umar. “Kemudian apa?” tanya Umar kembali.

    “Kedua, dia tidak melayani siapa pun yang datang malam hari.”

    “Ini juga masalah serius, kemudian apa lagi?”

    “Ketiga, ada satu hari dalam satu bulan dimana dia tidak keluar sama sekali untuk menemui kami.”

    “Ini tidak boleh dianggap enteng, kemudian yang keempat?”

    “Dia terkadang pingsan ketika bersama kami.”

    Mendengar aduan ini, Umar tidak bisa tinggal diam. Dia merasa perlu untuk cepat menyelesaikan permasalahan yang timbul antara pejabatnya itu dengan rakyatnya. Itulah pemimpin mulia yang langsung mendengar masalah rakyatnya dan langsung memberikan solusi konkrit dan bukan pepesan kosong serta janji memuakkan. Umar membuat pertemuan akbar antara Said sebagai gubernur dan rakyatnya yang siap mengadili gubernur mereka.

    “Ya Allah, jangan Engkau kecewakan prasangka baikku selama ini kepadanya.”

    Kata Umar membuka pertemuan, “Baiklah, apa yang kalian keluhkan?”

    “Pertama, Said tidak keluar menemui kami kecuali setelah siang datang menjelang.”

    Said angkat bicara, “Demi Allah sesungguhnya aku tidak suka menjawabnya. Aku tidak mempunyai pembantu, maka aku harus mengadoni roti sendiri, kemudian aku tunggu sampai adonan itu mengambang dan kemudian aku panggang hingga menjadi roti, kemudian aku wudhu dan baru keluar.’

    “Terus apa lagi?”

    “Kedua, Said tidak mau melayani yang datang kepadanya di malam hari.”

    “Apa jawabmu, wahai Said?”

    “Sesungguhnya aku tidak suka menjawabnya. Aku menjadikan siang hariku untuk mereka dan aku menjadikan malamku untuk Allah Azza Wajalla saja.”

    “Kemudian apa lagi?”

    “Ada satu hari tertentu dimana dia tidak keluar sama sekali dari rumahnya.”

    “Apa komentarmu?”

    “Aku tidak mempunyai pembantu yang mencucikan pakaianku. Sementara aku tidak memiliki pakaian yang lain. Maka aku mencucinya sendiri dan aku tunggu sampai kering, selanjutnya aku keluar kepada mereka saat sudah sore.”

    “Selanjutnya apa lagi?”

    “Said suka pingsan.”

    “Aku menyaksikan meninggalnya Khubaib Al-Anshari di Mekah. Kematiannya sangat tragis di tangan orang-orang kafir Quraisy. Mereka menyayat-nyayat dagingnya kemudian menyalibnya di pohon kurma. Orang Quraisy itu meledek, “Khubaib, apakah kamu rela jika Muhammad sekarang yang menggantikanmu untuk disiksa?” Khubaib menjawab, “Demi Allah, kalau saya berada tenang dengan keluarga dan anakku, kemudian Muhammad tertusuk duri sungguh aku tidak rela.” Ketika itu aku masih dalam keadaan kafir dan menyaksikan Khubaib disiksa sedemikian rupa. Dan aku tidak bisa menolongnya. Setiap ingat itu, aku sangat khawatir bahwa Allah tidak mengampuniku untuk selamanya. Jika ingat itu, aku pingsan.”

    Umar berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak mengecewakan prasangka baikku kepadanya.”

    ***

    Sumber: Tarbawi

     
  • erva kurniawan 1:23 am on 8 September 2011 Permalink | Balas  

    Hukum Orang yang Mengaku Mengetahui yang Ghaib 

    Hukum Orang yang Mengaku Mengetahui yang Ghaib

    Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Hukum orang yang mengaku mengetahui ilmu yang ghaib adalah kafir, karena ia mendustakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia berfirman.

    Artinya : Katakanlah : “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan” [An-Naml : 65]

    Allah memerintahkan kepada NabiNya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberitahukan kepada manusia bahwa tidak ada seorangpun di bumi maupun di langit yang mengetahui ilmu ghaib kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya orang yang mengaku mengetahui ilmu yang ghaib, maka ia telah mendustakan Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang khabar ini. Kita tanyakan kepada mereka: Bagaimana mungkin kalian mengetahui yang ghaib, sedangkan Nabi saja tidak mengetahui ? Apakah kalian lebih mulia daripada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam ? Jika mereka menjawab : “Kami lebih mulia daripada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka telah kafir karena ucapan itu. Jika mereka mengatakan : Bahwa Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih mulia, maka kami katakan : Kenapa Rasul tidak mengetahui yang ghaib, sedangkan kalian mengetahui ? Allah berfirman.

    Artinya : “(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridahiNya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan belakangnya” [Al-Jin : 26-27]

    Ini adalah ayat kedua yang menunjukkan atas kafirnya orang yang mengetahui ilmu ghaib. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan NabiNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengabarkan kepada manusia dengan firmanNya.

    Artinya : Katakanlah : “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku” [Al-An’am : 50]

    ***

    Disalin dari kitab Majmu Fatawa Arkanil Islam, edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah dan Ibadah, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Terbitan Pustaka Arafah

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 7 September 2011 Permalink | Balas  

    Sunah-Sunnah Dalam Wudhu 

    Sunah-Sunnah Dalam Wudhu

    Oleh Syaikh Khalid al Husainan

    [a]. Mengucapkan Bismillah[1]

    [b]. Membasuh Kedua Telapak Tangan Tiga Kali[2]

    [c]. Mendahulukan Berkumur-Kumur (Madhmadhoh) Dan Istinsyaq (Memasukkan Air Ke Dalam Hidung Lalu Menghirupnya Dengan Sekali Nafas Sampai Ke dalam Hidung Yang Paling Ujung) Sebelum Membasuh Muka.

    [d]. Setelah Istinsyaq Lalu Istintsaar (Mengeluarkan /Menyemburkan Air Dari Hidung Sesudah Menghirupnya Dengan Telapak Tangan Kiri).

    Berdasarkan hadits :

    “Artinya : …Lalu Nabi membasuh kedua telapak tangan tiga kali kemudian berkumur-kumur dan istinsyaq, lalu istintsaar lalu membasuh muka tiga kali.”[Hadits Riwayat Al-Bukhari no. 159 dan Muslim no. 226]

    [e] Bersungguh-Sungguh Dalam Berkumur-Kumur Dan Istinsyaq Bagi Orang Yang Sedang Tidak Berpuasa.

    Berdasarkan hadits :

    “Artinya : .Bersungguh-sungguh dalam menghirup air ke hidung, kecuali kalau kamu sedang berpuasa”. [HR.Abu Dawud, no. 142; Tirmidzi, no.38; Nasaaiy, no. 114 dan Ibnu Majah, no. 407 & 448 dan selain mereka).

    Makna bersungguh-sungguh dalam berkumur-kumur adalah menggerakkan air di ke seluruh bagian mulutnya. Sedangkan makna bersungguh-sungguh dalam istinsyaq adalah menghirup air sampai ke bagian hidung yang terdalam.

    [f]. Menyatukan Antara Berkumur Dan Istinsyaq Dengan Sekali Cidukan Tangan Kanan, Tanpa Pemisahan Antara Keduanya.

    [i]. Mengusap Kepala

    Cara mengusap kepala, memulai dari bagian depan kepala depan kemudian menggerakkan kedua tangannya hingga ke belakang (tengkuk) lalu mengembalikan ke tempat semula.

    Hukum membasuh kepala adalah wajib yaitu berlaku keumuman pada setiap apa yang dibasuh dari kepala dalam berbagai kondisi. Berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Artinya : .Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membasuh kepalanya lalu menjalankan kedua tangannya ke belakang dan mengembalikannya.[Hadits Riwayat Bukhary no. 185 dan Muslim no. 235. Pent]

    [j]. Menyela-Nyela Jari-Jari Kedua Tangan Dan Kedua Kaki.

    Berdasarkan hadits:

    “Artinya : Sempurnakanlah wudhu’, selai-selailah jari-jemari.[HR.Abu Dawud, no. 142; Tirmidzi, no.38; Nasaaiy, no. 114 dan Ibnu Majah, no. 448. Pent]

    [k]. At Tayaamun (Memulai Dari Sebelah Kanan)

    At- Tayaamun (dalam wudhu’) artinya memulai membasuh anggota wudhu’ yang sebelah kanan kemudian yang kiri dari kedua tangan maupun kaki.

    “Artinya : Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai dalam mendahulukan yang kanan ketika memakai sandalnya, menyisir, bersuci dan dalam semua urusannya”. [Hadits Riwayat Bukhari no. 168 dan Muslim, no. 268 dan selain keduanya. Pent.]

    [l]. Menambah Bilangan Basuhan Dari Sekali Menjadi Tiga Kali Basuhan. Tambahan Ini Berlaku Dalam Membasuh Muka, Kedua Tangan Dan Kedua Kaki.

    [m]. Mengucapkan Dua Kalimat Syahadat Setelah Selesai Dari Wudhu’ Dengan Ucapan.

    “Asyhadu alla ilaaha illallaahu wahdahu la syariikalahu wa asyahadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu”.

    “Artinya : Aku bersaksi bahwa tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya.

    Tiada lain balasannya kecuali pasti dibukakan baginya pintu-pintu surga yang bejumlah delapan, lalu ia masuk dari pintu mana saja yang ia sukai’ [Hadits Riwayat Muslim, no. 234; Abu Dawud, no. 169; Tirmidzi, no. 55 ; Nasaaiy, no. 148 dan Ibnu Majah, no. 470. Pent]

    [n]. Wudhu’ Di Rumah

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Barangsiapa yang berwudhu di rumahnya, kemudian berjalan ke masjid untuk melaksanakan kewajiban dari Allah dan langkah yang satu menghapuskan dosa dan langkah yang lain mengangkat derajat.” [Hadits Riwayat Muslim no. 666]

    [o]. Ad-Dalk

    Yaitu meletakkan tangan yang basah (yang akan dipakai untuk menggosok atau membasuh,-pent) pada anggota wudhu’ bersama air atau setelahnya.

    [p]. Berhemat Dalam Menggunakan Air

    “Artinya : Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu’ dengan satu mud [3].[Muttafaqun’alaihi] [4]

    [q]. Melewati Batasan Yang Diizinkan Dalam Membasuh Empat Anggota Wudhu’ (Kedua Tangan Dan Kedua Kaki)

    Karena Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berwudhu’, kemudian ia membasuh tangan hingga mengenai bagian lengan atasnya, kemudian membasuh kakinya sampai betis, kemduian ia berkata : “Demikian aku pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu'” [Hadits Riwayat Muslim no. 246]

    [r]. Shalat Dua Raka’at Setelah Wudhu’

    Sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam:

    “Artinya : Barangsiapa berwudhu’ seperti wudhu’ku ini, kemudian ia mengerjakan shalat dua raka’at yang ia tidak berkata-kata (yang jelek) kepada dirinya, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu”. [Hadits Riwayat Bukhary no.159; Muslim, No. 226 dan Nasaaiy, 84 dan 116].

    Pada riwayat Muslim ada tambahan pada hadits ‘Uqbah bin ‘Amr yaitu “melainkan pasti ia mendapatkan Surga”

    [s]. Menyempurnakan Wudhu’.

    Yaitu memberikan kepada setiap anggota wudhu’ haqnya dalam membasuh yaitu sempurna dan menyeluruh pada setiap anggota wudhu’. Seorang muslim dalam kesehariannya berwudhu’ berkali-kali paling tidak lima kali dan muslim yang lain terkadang lebih dari lima kali ketika dia menghendaki untuk melakukan shalat-shalat sunnah seperti shalat dhuha atau shalat lail. Atas ukuran pengulangan seorang muslim dalam berwudhu’ dan mengikuti sunnah-sunnah tersebut maka akan mendapatkan pahala yang sangat yang banyak.

    Faedah Mengikuti Sunnah-Sunnah Rasulullah Shallallahu A’alaihi wa Sallam Dalam Berwudhu.

    Sesungguhnya hal tersebut tercantum pada sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Artinya : Barangsiapa yang berwudhu’, lalu ia sempurnakan wudhu’nya, niscaya akan keluar dosa-dosanya dari tubuhnya, sampai keluar (dosa-dosa) dari bawah kuku-kuku jarinya.” [Hadits Riwayat. Muslim no. 245]

    Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Artinya :Barang siapa diantara kalian yang berwudhu’ kemudian membaguskan wudhu’nya lalu ia bangkit shalat dua raka’at yang ia hadapkan hati dan wajahnya (kepada Allah) maka pasti ia akan mendapat syurga dan diampuni dosa-dosanya” [Hadits Riwayat Muslim no. 234] [5]

    Berkata Imam an-Nawawi rahimahullah “Sesungguhnya apa-apa yang ia dapatkan dari derajat (orang-orang yang suka berwudhu’) adalah ia mampu berjuang membela dirinya dari kejahatan-kejahatan syaitan dan meniadakannya, menjaga dirinya sampai tidak akan diganggu oleh syaitan walau hanya sekejap matapun. Dia selamat dari syaitan dengan usaha perjuangannya (untuk melakukan sunnah-sunnah wudhu) dan kelapangan bagi hatinya.”

    [Disalin dari kitab Aktsaru Min Alfi Sunnatin Fil Yaum Wal Lailah, edisi Indonesia Lebih Dari 1000 Amalan Sunnah Dalam Sehari Semalam, Penulis Khalid Al-Husainan, Penerjemah Zaki Rachmawan]

    ***

    Foote Note

    1]. “Artinya : Tidak (sempurna) wudhu’ bagi siapa yang tidak menyebutkan nama Allah padanya” [Hadits Riwayat Ibnu Majah 399, At-Tirmidzi 25,26. Abu Dawud 101, dan selain mereka. Menurut Syaikh Al-Albani : “Hadits ini shahih” Lihat Shahiih Al-Jami’ish Shaghiir no. 7444.

    [2]. Hadits Riwayat Al-Bukhari -Fathul Baari 1/255 dan Muslim no. 226 -Syarh Muslim 3/100

    [3]. Ukuran 1 1/3, dinamakan demikian karena air yang diambil sepenuh kedua telapak tangan manusia

    [4]. Hadits Riwayat Muslim no. 326, Ibnu Majah no. 267-268, At-Tirmidzi no. 56 dan 609 dan, An-Nasa’i no. 347

    [5]. Lafazh asli dari Muslim no. 234, adalah sebagai berikut. “Artinya : Setiap muslim yang berwudlu dengan sebaik-baiknya, kemudian ia bangkit melakukan shalat dua rakaat dengan sepenuh hati dan jiwanya, pasti ia akan masuk Surga”

     
    • fauzanislamic 5:47 pm on 22 November 2012 Permalink

      alhamdulilah tulisanya sangat bermanfaat…. saya mau bertanya apa hikmah wudlu itu sendiri bagi kesehatan? trimakaasih

  • erva kurniawan 1:17 am on 6 September 2011 Permalink | Balas  

    Empat Jenis 

    Ada empat jenis manusia.

    • Yang pertama tak berlidah dan tak berhati.

    Mereka adalah manusia biasa, bodoh dan hina. Mereka tak pernah ingat kepada Allah. Tiada kebaikan dalam diri mereka. Mereka bagai sekam tak berbobot, jika Allah tak mengasihi mereka, membimbing hati mereka kepada keimanan pada-Nya sendiri.

    Waspadalah, jangan jadi seperti mereka. Inilah manusia-manusia sengsara dan di murkai oleh Allah. Mereka adalah penghuni-penghuni neraka. Kita berlindung kepada Allah dari mereka. Hiasilah dirimu dengan ma’rifat. Jadilah guru kebenaran, pembingbing ke jalan agama, pemimpinnya dan penyerunya. Ingat, bahwa kau mesti mendatangi mereka, mengajak mereka kepada ketaatan kepada Allah dan memperingatkan mereka akan dosa terhadap Allah. Maka kau akan menjadi pejuang di jalan Allah dan akan dipahalai, sebagaimana para nabi dan utusan Allah. Nabi suci Saw berkata kepada Ali r.a. :

    “jika Allah membimbing seseorang melalui pembimbinganmu atasnya, adalah lebih baik bagimu daripada tempat matahari terbit.”

    • Yang kedua berlidah tapi tak berhati.

    Mereka berbicara bijak, tapi tak berbuat bijak. Mereka menyeru orang kepada Allah, tapi mereka sendiri jauh dari-Nya. Mereka jijik terhadap noda orang lain, tapi mereka sendiri tenggelam dalam noda. Mereka menunjukan kepada orang lain kesalehan mereka, tetapi mereka sendiri berbuat dosa besar terhadap Allah. Bila sendirian mereka bagai srigala berbusana. Inilah yang manusia tentangnya Nabi memperingatkan. Ia bersabda :

    “Hal yang paling mesti ditakuti, yang aku takuti, oleh pengikut-pengikutku, yaitu orang berilmu yang jahat.”

    Kita berlindung kepada Allah dari orang semacam itu. Maka dari itu, menjauhlah selalu dari orang seperti itu, agar kau tak terseret oleh manisnya lidahnya, yang kemudian api dosanya akan membakarmu, dan kebusukan ruhani serta hatinya akan membinasakanmu.

    • Yang ketiga, berhati tapi tak berlidah, dan beriman.

    Allah telah memberinya dari makhluknya, menganugrahinya pengetahuan tentang noda noda dirinya sendiri, mencerahkan hatinya dan membuatnya sadar akan mudharatnya berbaur dengan manusia, akan kekejian berbicara dan yang telah yakin bahwa keselamatan ada dalam ke-diam-an serta keberadaan dalam sebuah sudut, sebagai mana sabda Nabi saw : ” Barang siapa senantiasa diam, maka ia memperoleh keselamatan, sesungguhnya pengabdian kepada Allah terdiri atas sepuluh bagian, yang sembilan bagian adalah ke-diam-an.”

    Maka orang ini adalah wali Allah dalam hal rahasia-Nya, terlindungi, memiliki keselamatan dan banyak pengetahuan, terahmati dan segala sesuatu yang baik ada padanya. Ingatlah, bahwa kau mesti senantiasa bersama dengan orang semacam ini, layanilah ia, cintailah ia dengan memenuhi kebutuhan yang dirasakannya, dan berilah ia hal-hal yang menyenangkan. Bila kau melakukan yang demikian ini, maka Allah akan mencintaimu, memilihmu dan memasukkanmu ke dalam kelompok sahabat dan hamba saleh-Nya di sertai rahmat-Nya.

    • Yang ke empat ialah manusia yang diundang ke dunia gaib, yang di busanai kemuliaan.

    Barangsiapa mengetahui dan bertindak berdasarkan pengetahuannya dan memberikannya kepada orang lain, maka ia diundang ke dunia gaib dan menjadi mulia, orang semacam itu memiliki pengetahuan tentang Allah dan tanda-Nya. Hatinya menjadi penyimpan pengetahuan yang langka tentang-Nya, dan ia menganugrahkan kepadanya rahasia-rahasia yang di sembunyikan-Nya dari yang lain. Ia memilihnya, mendekatkannya kepada-Nya sendiri,membimbingnya, memperluas hatinya agar bisa menerima rahasia-rahasia dan pengetahuan-pengetahuan ini, dan menjadikannya seorang pekerja dijalan-Nya, penyeru hamba-hamba-Nya kepada jalan kebajikan, pengingat akan siksaan perbuatan-perbuatan keji, dan hujjatullah ditengah-tengah mereka, pemandu dan yang terbimbing, perantara dan perantaraannya di terima, seorang shiddiq dan saksi kebenaran, wakil para nabi dan utusan Allah, yang bagi mereka limpahkan rahmat Allah.

    Maka, orang ini menjadi puncak umat manusia. Tiada maqam diatas ini, kecuali maqam para nabi. Adalah kewajibanmu untuk berhati-hati, agar kau tak memusuhi orang semacam itu, tak menjauhinya dan tak melecehkan ucapan-ucapannya. Sesungguhnya keselamatan terletak pada ucapan dan kebersamaan dengan orang itu. Sedang kebinasaan dan kesesatan terletak pada selainnya; kecuali orang yang di karuniai oleh Allah daya pertolongan yang membawa pada kebenaran dan kasih sayang.

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 5 September 2011 Permalink | Balas  

    Mengingat Kematian 

    Mengingat Kematian

    Sesungguhnya manusia senantiasa berada dalam keadaan rawan. Karena kematian senantiasa mengancamnya dari segala arah, bahkan kenyataannnya setiap detik ada orang yang meninggal. Baik karena bencana seperti banjir, longsor, gempa, atau karena konflik, kecelakaan, kejahatan, penyakit dan wabah, bahkan banyak di antara kita yang sehat wal’afiat, jauh dari wilayah konflik dan bencana serta hidup dengan aman sejahtera, namun mendadak meninggal.

    Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab shahihnya, pasal hadits-hadits para nabi, bab kematian Nabi Musa u , dari Abu Hurairah : ” Malaikat maut diutus kepada Nabi Musa (dengan menyerupai manusia) membawa kabar kematian. Maka Nabi Musa menampar mukanya tepat pada matanya. Lalu malaikatpun kembali kepada Allah dan berkata: ya Robbi Engkau telah mengutusku kepada orang yang tidak menginginkan kematian. Allah menjawab: baiklah katakan pada Musa agar meletakan tangannya pada tubuh sapi dan katakan bahwa usianya akan ditambah sebanyak bulu sapi yang tertutup oleh telapak tangannya itu, 1 helai sama dengan 1 tahun. Seteleh pesan itu disampaikan Nabi Musa u berkata: ya Robbi setelah itu apa? Allah I menjawab: “setelah itu adalah kematian”. Akhirnya Nabi Musapun berkata: kalau demikian halnya matikanlah saya sekarang”.

    Jadi masalahnya bukan bagaimana caranya kita menghindari kematian itu. Karena kematian itu pasti datang, baik ditunggu ataupun dilupakan, baik dalam keadaan genting ataupun aman, dalam keadaan senang atau sedih. Tapi masalahnya adalah bagaimana keadaan kita ketika kita sudah masuk ke alam barzakh (kubur) kemudian masuk ke alam Akhirat. Apakah kita akan masuk ke dalam golongan orang-orang mu’min atau sebaliknya masuk ke dalam golongan orang-orang berdosa dan kafir.

    Dari Barra bin Azib, bahwa Rasulullah Saw bersabda dalam hadits yang panjang:

    “Sesungguhnya hamba yang mu’min jika sudah dalam detik-detik meninggalkan dunia menuju Akherat, ia akan didatangi oleh serombongan Malaikat yang banyaknya sejauh mata memandang, wajah mereka bersinar laksana matahari, mereka membawa kain kafan dari Surga yang amat wangi. Lalu turunlah malaikat maut untuk mencabut ruhnya. Lalu dikeluarkanlah ruh itu dengan amat mudah seperti mengeluarkan setetes air dari mulut teko. Kemudian para malaikat pun segera mengambil ruh itu dan meletakkannya di atas kain kafan, maka tersebarlah aroma wewangian yang luar biasa. Lalu rombonganpun membawa ruh itu ke atas langit sampai bertemu dengan Allah SWT. Setiap malaikat langit yang berpapasan bertanya kepada mereka: Ruh siapakah gerangan yang harum ini? rombonganpun menjawab: ini adalah ruh fulan bin fulan dengan menyebut nama panggilannya yang paling bagus ketika ia di dunia. Lalu seluruh malaikat langitpun ikut mengiring ruh yang baik ini sampai bertemu dengan Rabbul Izzah. Ketika sampai, Allah SWT berfirman: tulislah hambaku ini ke dalam golongan orang-orang yang tinggal di Surga ‘Illiyyin” (surga yang tinggi). Lalu rombongan-pun kembali ke bumi dan memasukan kembali ruh itu ke dalam jasadnya ketika ia sudah berada di lubang lahad ……

    Adapun hamba yang kafir saat kematiannya tiba, datanglah rombongan malaikat yang bermuka hitam, banyaknya sejauh mata memandang, mereka membawa kain lap kumal dan berbau busuk. Lalu turunlah malaikat maut, mengumpulkan nyawanya dari seluruh anggota tubuh, lalu keluar dengan menarik ruhnya sekaligus seperti mencabut kawat berduri dari kapas yang basah,. Maka rombongan malaikatpun dengan kasar meletakan ruh itu ke atas kain busuk tadi sehingga tersebarlah bau busuk yang menyengat. Lalu rombonganpun membawa ruh tersebut ke atas langit. Setiap kali berpapasan dengan malaikat, malaikat itu menghindar sambil bertanya: ruh siapakah gerangan yang amat bau ini ? rombongan pun menjawab : ini adalah ruh si fulan bin fulan dengan menyebut namanya yang paling jelek waktu di dunia. Ketika sampai di langit pertama pintu pun di ketuk, namun malang malaikat penjaga langit tidak mengizinkannya untuk menghadap Rabbul Izzah.

    Lalu Rasululah membaca ayat: “Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan berlaku sombong terhadapnya tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak akan masuk Syurga hingga seekor unta dapat melewati lubang jarum, dan demikianlah kami membalas orang-orang jahat”. (Surat Al-A’rof:40)

    Maka rombonganpun melemparkan ruh itu dan menghempaskannya ke bawah dengan sekeras-kerasnya. Lalu Rasulullah membaca Firman Allah: “Dan barang siapa yang menyekutukan Allah maka sesungguhnya itu seperti dilemparkan dari atas langit sehingga disambar burung atau diterbangkan angin ke tempat yang dalam”.(Surat Al-Haj:31). (Hadits riwayat Ahmad, Abu Daud dan Nasai).

    Demikianlah perjalanan ruh setiap anak manusia setelah kematiannya. Hanya ada dua kemungkinan, menjadi ruh yang baik atau sebaliknya menjadi ruh yang buruk. Dan bagi orang yang mu’min kematian adalah merupakan ‘bel istirahat’ dari kepenatan kehidupan dunia. Sekarang ia beristirahat di alam barzah yang luas terbentang menunggu Hari Kiamat dengan tidur pulas sehingga tidak merasakan kejemuan menunggu.

    Sementara ruh bagi orang yang kafir dan banyak dosa , maka kematiannya merupakan bagaikan ‘sirine kebakaran’. Ia akan memulai hari-harinya dengan kesibukan-kesibukan menghadapi siksa Allah yang tidak pernah ada hentinya. Firman Allah I :

    “Kepada mereka dinampakkan api Neraka setiap pagi dan petang. Dan pada hari Kiamat (diperintahkan kepada Malaikat): masukanlah Fir’aun dan pengikutnya ke dalam azab yang sangat keras”. (Surat Al-Mu’min: 46)

    Mengingat Mati adalah obat mujarab

    Banyaknya problema kehidupan yang kita hadapi, dan menumpuknya kewajiban yang kita pikul – sehingga seorang muslim merasakan benar apa yang dikatakan oleh seorang juru da’wah bahwa kewajiban itu lebih banyak dari waktu yang tersedia – Tentu akan membuat lelah fisik, penat pemikiran dan ruhiyah. Sehingga banyak yang merindukan adanya hari ke delapan dan ke sembilan.Seseorang datang kepada Umar bin Khattab RA lalu mengatakan: “tidakkah tuan beristirahat sejenak dari pekerjaan ini”. Beliau menjawab: bukan di sini tempat beristirahat, tapi tempat istirahat kita adalah di Akhirat”. Tidak ada yang lebih ampuh nasehatnya daripada nasehat yang diberikan jenazah dan batu nisan, oleh karenanya menghadirkan gambaran keadaan kita ketika maut menjelang adalah perbuatan yang sangat utama bagi orang yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya. Wallahu A’lam Bishshawab

    ***

    sumber : http://www.taushiyah-online.com

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 4 September 2011 Permalink | Balas
    Tags: Bahaya Lidah   

    Bahaya Lidah 

    Bahaya Lidah

    Kata orang “Mulutmu Harimaumu, yang akan menerkammu”. Rasulullah Shallallahu’alaihiwsallam bersabda:” Yang dikatakan muslim itu adalah manusia selamat dari bahaya lidah dan tangannya”. Imam Ali Radhiallhu’anhu berkata:”Hati yang jahat terletak pada mulutnya, dan mulut yang baik, terletak pada hatinya”.

    Terkadang kita sebagai manusia yang penuh dengan segala kekurangan dan kelebihan, akan selalu dihadapi dengan segala macam problematika kehidupan.Terkadang kita menghadapi berbagai benturan yang sama sekali kehadirannya tidak diundang dan tidak terbersit dalam pikiran kita, dimana segala yang terjadi diluar prediksi kita sebelumnya.

    Disaat kita sedang menyupir mobil kita , tiba-tiba ditengah jalan ada saja mobil yang menyecocos, hal ini akan menimbulkan rasa sakit dihati kita, maka seringnya terjadi keluar kata-kata yang kurang enak kedengaran sama sekali ditelinga siapa saja mendengarnya, cacian makian akan keluar dari mulut kita dari lidah kita yang katanya tidak bertulang itu.

    Ketika seorang ibu, melihat kenakalan anak-anaknya, tanpa disadari juga keluar kata-kata yang sama sekali seharusnya hal itu tidak pantas dikeluarkan dari mulut seorang ibu terhadap anaknya:” Anak sialan, anak kurang ajar, anak tak tau diuntung, bodoh..dsbnya…”, seorang ibu kurang menyadari akan sabda Rasulullah :” Kullu kalam addu’a, setiap perkataan itu adalah merupakan do’a”.(Astagfirullahaladziim, semoga kita bertaubat bila hal ini terlanjur kita keluarkan disaat-saat emosi kita datang).

    Disaat seorang istri atau suami merasa disakiti pasangannya, tanpa disadari akan keluar cacian makian, baik kepada pasangannya, ataupun musuhnya, semua itu keluar dengan perasaan emosi yang amat sangat, tanpa kita bisa menyadari, dan berusaha mencoba melatih diri kita untuk bisa menahan emosi, karena, Rasulullah bersabda : “ Bukanlah dikatakan berani bagi mereka yang dapat mengalahkan musuhnya, (yang bisa merasa memang atas sebuah pertikaian, perkelahian),Yang dikatakan berani itu adalah mereka yang bisa menahan dirinya ketika dalam keadaan marah”.

    Kita jarang, atau kurang atau bahkan sama sekali tidak menyadari bahwa yang dikatakan sabar atas segala musibah adalah mereka yang bisa bersabar disaat menghadapi problema pertama sekali datang, bukan setelah itu. Hal ini dapat kita lihat dari sebuah hadits, dari cerita seorang ibu yang menghadapi musibah akan kematian keluarganya, saat itu Rasulullah memberikannya nasihat agar bersabar, apa kata perempuan itu pada Rasulullah, :” Anda tidak tau apa-apa”, setelah rasulullah menghilang, diberitahukanlah kepada [perempuan itu bahwa yang menegurnya tadi adalah Rasulullah, dan ia datang kepada Rasulullah, apa jawab Rasulullah:”Sesungguhnya dinamakan kesabaran itu adalah sabar ketika menghadapi goncangan yang pertama sekali.”

    Wassalamu’alaikum.

    ***

    Oleh Sahabat Rahima

     
    • munahnugroho 9:54 am on 9 September 2011 Permalink

      wah, terima kasih atas artikelnya.. sangat membantu .

    • Amir 5:01 am on 5 Januari 2012 Permalink

      Wa`alaikumsalam :) thnks

  • erva kurniawan 1:44 am on 3 September 2011 Permalink | Balas  

    Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana 

    Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana

    “De’… de’…. Selamat Ulang Tahun…” bisik seraut wajah tampan tepat di hadapanku.

    “Hmm…” aku yang sedang lelap hanya memicingkan mata dan tidur kembali setelah menunggu sekian detik tak ada kata-kata lain yang terlontar dari bibir suamiku dan tak ada sodoran kado di hadapanku.

    Shubuh ini usiaku dua puluh empat tahun. Ulang tahun pertama sejak pernikahan kami lima bulan yang lalu. Nothing special. Sejak bangun aku cuma diam, kecewa. Tak ada kado, tak ada black forest mini, tak ada setangkai mawar seperti mimpiku semalam. Malas aku beranjak ke kamar mandi. Shalat Subuh kami berdua seperti biasa. Setelah itu kuraih lengan suamiku, dan selalu ia mengecup kening, pipi, terakhir bibirku. Setelah itu diam. Tiba-tiba hari ini aku merasa bukan apa-apa, padahal ini hari istimewaku. Orang yang aku harapkan akan memperlakukanku seperti putri hari ini cuma memandangku.

    Alat shalat kubereskan dan aku kembali berbaring di kasur tanpa dipanku. Memejamkan mata, menghibur diri, dan mengucapkan. Happy Birthday to Me… Happy Birthday to Me…. Bisik hatiku perih. Tiba-tiba aku terisak. Entah mengapa. Aku sedih di hari ulang tahunku. Kini aku sudah menikah. Terbayang bahwa diriku pantas mendapatkan lebih dari ini. Aku berhak punya suami yang mapan, yang bisa mengantarku ke mana-mana dengan kendaraan. Bisa membelikan blackforest, bisa membelikan aku gamis saat aku hamil begini, bisa mengajakku menginap di sebuah resort di malam dan hari ulang tahunku. Bukannya aku yang harus sering keluar uang untuk segala kebutuhan sehari-hari, karena memang penghasilanku lebih besar. Sampai kapan aku mesti bersabar, sementara itu bukanlah kewajibanku.

    “De…. Ade kenapa?” tanya suamiku dengan nada bingung dan khawatir.

    Aku menggeleng dengan mata terpejam. Lalu membuka mata. Matanya tepat menancap di mataku. Di tangannya tergenggam sebuah bungkusan warna merah jambu. Ada tatapan rasa bersalah dan malu di matanya. Sementara bungkusan itu enggan disodorkannya kepadaku.

    “Selamat ulang tahun ya De’…” bisiknya lirih. “Sebenernya aku mau bangunin kamu semalam, dan ngasih kado ini… tapi kamu capek banget ya? Ucapnya takut-takut.

    Aku mencoba tersenyum. Dia menyodorkan bungkusan manis merah jambu itu. Dari mana dia belajar membungkus kado seperti ini? Batinku sedikit terhibur. Aku buka perlahan bungkusnya sambil menatap lekat matanya. Ada air yang menggenang.

    “Maaf ya de, aku cuma bisa ngasih ini. Nnnng… Nggak bagus ya de?” ucapnya terbata. Matanya dihujamkan ke lantai.

    Kubuka secarik kartu kecil putih manis dengan bunga pink dan ungu warna favoritku. Sebuah tas selempang abu-abu bergambar Mickey mengajakku tersenyum. Segala kesahku akan sedikitnya nafkah yang diberikannya menguap entah ke mana. Tiba-tiba aku malu, betapa tak bersyukurnya aku.

    “Jelek ya de’? Maaf ya de’… aku nggak bisa ngasih apa-apa…. Aku belum bisa nafkahin kamu sepenuhnya. Maafin aku ya de’…” desahnya.

    Aku tahu dia harus rela mengirit jatah makan siangnya untuk tas ini. Kupeluk dia dan tangisku meledak di pelukannya. Aku rasakan tetesan air matanya juga membasahi pundakku. Kuhadapkan wajahnya di hadapanku. Masih dalam tunduk, air matanya mengalir. Rabbi… mengapa sepicik itu pikiranku? Yang menilai sesuatu dari materi? Sementara besarnya karuniamu masih aku pertanyakan.

    “A’ lihat aku…,” pintaku padanya.

    Ia menatapku lekat. Aku melihat telaga bening di matanya. Sejuk dan menenteramkan. Aku tahu ia begitu menyayangi aku, tapi keterbatasan dirinya menyeret dayanya untuk membahagiakan aku. Tercekat aku menatap pancaran kasih dan ketulusan itu.

    “Tahu nggak… kamu ngasih aku banyaaaak banget,” bisikku di antara isakan. “Kamu ngasih aku seorang suami yang sayang sama istrinya, yang perhatian. Kamu ngasih aku kesempatan untuk meraih surga-Nya. Kamu ngasih aku dede’,” senyumku sambil mengelus perutku. “Kamu ngasih aku sebuah keluarga yang sayang sama aku, kamu ngasih aku mama….” bisikku dalam cekat.

    Terbayang wajah mama mertuaku yang perhatiannya setengah mati padaku, melebihi keluargaku sendiri. “Kamu yang selalu nelfon aku setiap jam istirahat, yang lain mana ada suaminya yang selalu telepon setiap siang,” isakku diselingi tawa. Ia tertawa kemudian tangisnya semakin kencang di pelukanku.

    Rabbana… mungkin Engkau belum memberikan kami karunia yang nampak dilihat mata, tapi rasa ini, dan rasa-rasa yang pernah aku alami bersama suamiku tak dapat aku samakan dengan mimpi-mimpiku akan sebuah rumah pribadi, kendaraan pribadi, jabatan suami yang oke, fasilitas-fasilitas. Harta yang hanya terasa dalam hitungan waktu dunia. Mengapa aku masih bertanya. Mengapa keberadaan dia di sisiku masih aku nafikan nilainya. Akan aku nilai apa ketulusannya atas apa saja yang ia berikan untukku? Hanya dengan keluhan? Teringat lagi puisi pemberiannya saat kami baru menikah… Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…

    ***

    Oleh: Ust Anismata

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 2 September 2011 Permalink | Balas
    Tags: Tuntunan Merawat Jenazah   

    Tuntunan Merawat Jenazah 

    Tuntunan Merawat Jenazah

    Firman Allah Swt :

    “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada kami kamu dikembalikan. (QS. Al ‘Ankabuut : 57).

    Ayat tersebut mempertegas bahwa kita yang hidup di dunia ini pasti akan merasakan mati. Namun kenyataannya banyak manusia yang terbuai dengan kehidupan dunia sehingga hampir melupakan tujuan hidup yang sebenarnya, hal ini juga membuat manusia tidak banyak yang mengingat tentang kematian.

    Yang jadi permasalahan sekarang adalah, tidak ada manusia satupun yang apabila mati kemudian berangkat sendiri menuju liang kuburnya. Tentu saja hal ini adalah menjadi kewajiban bagi orang yang masih hidup, terutama keluarga yang ditinggalkannya untuk mengurusnya sampai menguburkannya.

    Merawat jenazah adalah hukumnya wajib kifayah, namun setiap orang tentunya wajib mengetahui tatacara bagaimana merawat jenazah yang sesuai dengan tuntunan agama Islam. Karena kewajiban merawat jenazah yang pertama adalah keluarga terdekat, apalagi kalau yang meninggal adalah orangtua atau anak kita. Kalau kita tidak bisa merawatnya sampai menguburkannya berarti kita tidak (birrul walidaini) berbakti kepada kedua orangtua kita.

    Rasulullah SAW telah bersabda : ” Apabila telah mati anak Adam, maka terputuslah amalnya. Kecuali tiga perkara, shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholeh yang mau mendo’akan kedua orangtuanya.”

    Disinilah kita harus menunjukkan bakti kita yang terakhir apabila orangtua kita meninggal, yaitu dengan merawat sampai menguburkan serta mendo’akannya.

    Permasalahan yang lain dan mungkin bisa saja terjadi adalah, karena ajal bila sudah tiba saatnya, pastilah tidak bisa ditunda kapanpun dan dimanapun. Bagaimana kalau kita seandainya sementara kita di tengah hutan belantara jauh dari pemukiman dan kita punya teman cuma beberapa orang saja, sementara kita tidak tahu mayat ini harus diapakan, pastilah kita akan berdosa.

    Fenomena lain yang banyak terjadi sekarang, terutama di kota-kota besar. Pengurusan jenazah kebanyakan tidak dilakukan oleh keluarga dekat, bahkan keluarga tinggal terima bersih karena sudah membayar orang untuk merawatnya, bahkan samapi mendo’akannya juga minta orang lain yang mendo’akan.

    Inilah yang perlu kita pikirkan sepertinya di millist ini belum pernah ada yang memberikan pencerahan. Mungkin diantara kita masih banyak yang belum tahu tentang tatacara merawat jenazah dan kalaupun sudah tahu, semoga bisa mengingatkannya kembali. Dan ini harus kita tanamkan pada diri kita masing-masing dan juga anak-anak kita untuk jadi anak yang sholeh dan sholehah, bila kita menghendaki kalau kita mati nanti anak kita dan keluarga dekat kita yang merawatnya.

    Jadi yang jelas pengurusan jenazah adalah menjadi kewajiban keluarga terdekat si mayit, kalau keluarga yang terdekat tidak ada, barulah orang muslim yang lainnya berkewajiban untuk merawatnya.

    HUKUM MERAWAT JENAZAH

    Hukum merawat Jenazah dalah Wajib Kifayah artinya cukup dikerjakan oleh sebagian masyarakat , bila seluruh masyarakat tidak ada yang merawat maka seluruh masyarakat akan dituntut dihadapan Allah Swt.sedang bagi orang yang mengerjakannya, mendapat pahala yang banyak.disisi Allah Swt.

    SIAPA ORANG YANG MERAWAT

    • Keluarga terdekat (Ayah, Ibunya, Suami/Istrinya, Anak putra/Putrinya, Kakak/Adiknya dst) namun sebaiknya yang sejenis pria oleh pria wanita oleh wanita kecuali Suami / istrinya atau ayah dan ibunya.
    • Bila Urutan tersebut di atas tidak ada baru beralih kepada yang lain .

    WAKTU PENYELENGGARAAN

    Sesegera mungkin, tidak ada keharusan menunggu berkumpulnya seluruh kerabat.

    Sabda Rasullulah :  Ada 3(tiga) hal Hai Ali.. Jangan ditunda, dilarang ditangguhkannya yaitu sholat bila telah datang waktunya, Jenazah bila telah nyata kematiannya, dan wanita yang tidak ada suami bila telah menemukan jodohnya.(Al Hadist)

    Percepatkanlah penyelenggaraan jenazah, bila ia seorang yang baik, perdekatkanlah kebaikannya dan bila tidak demikian, maka kamu akan lepas kejelekannya tersebut dari bebanmu.

    KAIFIAT (CARA PERAWATAN JENAZAH)

    Bila telah terang, nyata, jelas ajalnya seseorang, maka segerakanlah perawatannya, Adapun yang perlu dilakukan adalah :

    • Pejamkan matanya.
    • Lemaskan terutama tangan, dan kakinya diluruskan.
    • Dikatupkan mulutnya, dengan ikatkan kain, dan lingkarkan dagu, pelipis sampai ubun-ubun.
    • Diutamakan ditelentangkan membujur menghadap kiblat dengan kepala di sebelah kanan kiblat (untuk daerah Sidangoli berarti kepala di sebelah utara)
    • Ditutup muka wajahnya, serta seluruh tubuhnya.
    • Mengucapkan kalimat tarji’ untuk istirja'(pasrah dengan ikhlas dan ingat bahwa kita bersama akhirnya juga akan mengalami kematian (Innalillahi wainna ilaihi rooji’uun (Al Baqorah Ayat 156)
    • Mendoakannya (Allahumma ighfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu anhu) artinya : Ya Allah semoga Alloh mengampuni , melimpahkan kasih sayangnya, mema’afkannya serta memulyakannya, Al Hadist.
    • Menyebarluaskan berita kematiannya kepada keluarga/ ahli waris, kerabat dan masyarakat lingkungannya.
    • Mempersiapkan keperluan/perlengkapan perawatan mayat/ jenazah.
    • Keluarga/ ahli waris segera menyelesaikan hak insani/Adam, utang piutang, mengambil alih tanggunga jawab hingga bagi yang telah wafat tiada lagi memiliki kewajiban. Kecuali mempertanggung jawabkan amal perbuatannya.

    HAK & KEWAJIBAN TERHADAP JENAZAH

    1. Memandikannya / Mensucikannya.

    2. Mengkafaninya/ Membungkus seluruh tubuhnya.

    3. Mensalatkannya.

    4. Menguburkannya.

    JENAZAH YANG TIDAK MENDAPAT PERLAKUAN SEPERTI BIASA

    1. Mati sahid dalam peperangan tidak perlu dimandikan dan dikafani cukup dimakamkan dengan pakaiannya yang melekat.

    2. Mati di atas perjalanan laut, tak perlu dibawa ke darat untuk dimakamkan apabila untuk mencapai daratan perlu waktu lama.

    3. Mati saat Ihrom, maka kain kafannya cukup pakaian ihromnya dan tidak boleh diberi parfum sebagaimana jenazah biasa.

    MENSUCIKAN JENAZAH

    Perlengkapan yang diperlukan :

    1. Air suci yang mensucikan yang cukup, dengan dicampuri bau-bauan

    2. Serbuk/larutan kapur barus, untuk meredam bau.

    3. Sarung tangan/ handuk tangan untuk membersihkan kotoran darah atau najis lain.

    4. Lidi dan sebagainya untuk membersihkan kuku.

    5. Handuk untuk mengeringkan badan/ tubuh mayat selesai dimandikan.

    CARA-CARA MEMANDIKAN MAYAT

    1. Bujurkanlah jenazah ditempat yang tertutup serta diutamakan membujur menghadap kiblat dengan kepala di sebelah kanan.

    2. Lepaskanlah seluruh pakaian yang melekat dan menutup,serta pengikat dagu dan pergelangan tangan.

    3. Tutuplah bagian auratnya sekedarnya.

    4. Lepaskan logam seperti cincin, dan gigi palsunya (Kalau ada)

    5. Bersihkan kotoran najisnya dengan didudukkan dan meremas bagian perutnya hingga kotorannya keluar.

    6. Bersihkan rongga mulutnya dari riak atau darah kalau ada

    7. Bersihkan kuku-kuku jari kaki dan tangannya.

    8. Disunahkan menyiram air mulai anggota yang kanan diawali dari kepala bagian kanan terus kebawah, kemudian bagian kiri dan diulang 3(tiga) kali

    PERHATIAN !!!!! Dilarang memotong kuku,rambut dsb. karena dilarang menganiaya seseorang jenazah dengan menimbulkan kerusakan atau cacat tubuhnya.

     CARA PELAKSANAAN MEMANDIKAN MAYAT

    1. Mulai menyiram anggota wudhu secara urut, tertib, segera dan rata, hingga 3(tiga) kali serta memulainya anggota wudhu sebelah kanan.

    2. Menyiram seluruh tubuh

    3. Menggosok seluruh tubuh dengan air sabun.

    4. Menyiram berulang kali sejumlah gasal, misalnya 3,5,7,9,11 kali, hingga rata dan bersih sesuai kebutuhan.

    5. Menyiram dengan larutan kapur barus atau bau-bauan yang harum, cendana dsb.

    6. Mengeringkan seluruh tubuh badannya dengan handuk hingga kering

    Perhatian :

    Saat menyiram air pada wajah muka, tutuplah lubang mata, hidung, mulut dan telinganya, agar tidak kemasukan air.

    Apabila anggota tubuh terluka dalam menggosok dan membersihkan bagian terluka supaya hati-hati dengan lembut seakan memberlakukan pada waktu masih hidup tidak boleh semena-mena.

    MENGKAFANI JENAZAH.

    1. Perlengkapan

    a. Selembar lingkaran badan dan yang lebih panjang dari seluruh tubuh.

    b. Tujuh utas tali dari sobekan kain putih.

    c. Segi tiga tutup kepala/rambut

    d. Sehelai tutup dada, dengan berlobang pada bagian lehernya

    e. Sehelai tutup aurat dengan terlipat panjang.

    Khusus wanita dilengkapi dengan :

    f. Kain Basahan, sebagai penutup bagian aurat bawah.

    g. Mukena untuk rambut

    h. Baju untuk penutup bagian dada dan lengan.

    Perhatian : Bahan perlengkapan, kain putih, cukup yang sederhana, tidak berlebihan jenisnya,demikian juga bagai jenazah wanita kain basahan, baju, mukena adalah yang sehari-hari dipakai.

    Demikian juga disunahkan bagi mayat laki-laki dikafani sampai 3 lapis kain, tiap-tiap lapis hendaknya dapat menutup seluruh tubuhnya, Selain 3 lapis itu ditambah baju kurung dan sorban. Adapun bagi mayat wanita disunahkan 5 lapis, masing-masing berupa Sarung, Baju, Kerudung dan 2 lapis yang menutup seluruh tubuhnya.

    2. Kapas

    • 5 helai kapas selembar telapak tangan
    • 7 Bulatan kecil, penutup lobang
    • Serbuk kapur barus, cendana dsb yang berfungsi sebagai pengharum.

     PERSIAPAN PENGATURAN BAHAN KAFAN

    1. Tali sebanyak 7 diletakkan di:

    a. Ujung Kepala

    b. Leher

    c. Pinggang/ pada lengan tangan

    d. Perut

    e. Lutut

    f. Pergelangan tangan

    g. Ujung kaki

    2. Letakkan kain memanjang seluruh tubuhnya, serta melebar lingkaran badan dengan ditaburi serbuk kapur barus.

    3. Aturlah dan letakkan sehelai tutup kepala/rambut.

    4. Bentangkan tutup dada, dengan masih terhampar ke atas.

    5. Letakkan sehelai tutup aurat (Semacam Celdam) memanjang dan melebar ke bawah dan merupakan kain lipatan

    6. Bagi wanita aturlah mukena,baju dan kain basahan yang sesuai dengan letaknya.

    CARA PELAKSANAAN MENGKAFANI

    1. Letakkan janazah membujur di atas kain kafan, dalam keadaan tertutup selubung kain kafan (jangan sampai mayat telanjang secara terbuka).

    2. Tutuplah tujuh lubang yaitu, 2 mata, 2 telinga, 2 hidung dan 1.pusar dengan bulatan kapas yang ditaburi serbuk kapur barus

    3. Tutuplah lembaran kapas yang ditaburi sebuk kapur barus pada: a.Wajah muka b.Leher kanan & kiri c. Ketiak kanan & kiri d.Lengan siku kanan dan kiri e. Di bawah dan atas peregelangan tangan. f. Kedua pergelangan kakinya. g. Kedua lingkaran mulut.

    4. Bagi Jenazah pria : a.Tutuplah segitiga kain putih di bagian rambut kepala dengan ikatan pada jidat. b.Katupkan tutup dada melalui lubang pada lehernya c. Katupkan lipatan tutup Celdam-nya

    5. Bagi jenazah Wanita : a.Letakkan tiga pintalan rambut ke bawah belakang kepala b.Tutupkan kain mukena pada rambut kepala. c. Tutupkan belahan kain baju pada dada. d.Lipatkankain basahan melingkar badan perut dan auratnya, di atas penutup CD – nya.

    6. Katupkan dengan melingkar tubuh badannya kain kafan yang rapat, tertib, menyeluruh.

     SHOLAT JENAZAH.

    1. Syarat-syarat sholat Jenazah

    a. Sholat mayit sama syaratnya dengan sholat lain yaitu menutup aurat,suci dari hadast besar maupun kecil, bersih badan, pakain dan tempatnya serta menghadap kiblat.

    b. Mayat sudah dimandikan dan dikafani

    c. Letak mayat di sebelah kiblat orang yang menyembahyangkannya, kecuali kalau sholat dilakukan di atas kubur atau sholat ghoib.

    2. Rukun Sholat Mayit.

    a. Niat (Usholli “ala Haadza al mayyiti arba’a takbiiraatin fardo al Kifaayati Ma’muman/Imaaman Lillaahi Ta’ala).

    Artinya: ” Aku berniat shalat atas mayit ini dengan empat kali takbir, fardhu kifayah karena Allah Ta’ala . Allaahu Akbar.

    b. Berdiri bagi yang mampu.

    c. Takbir empat kali

    d. Membaca Fatihah

    e. Membaca Sholawat nabi. f. Mendo’akan mayit.

    Artinya : ” Wahai Tuhanku, ampunilah dia, rahmatilah, sejahterakanlah dan maafkanlah dia, hormatilah kedatangannya, luaskanlah tempat tinggalnya, bersihkanlah dia dengan air, salju dan embun. Bersihkanlah dia dari semua dosa, sebagaimana bersihnya kain putih dari kotoran dan berilah ganti rumahnya yang lebih baik dari rumahnya, ahli yang lebih baik dari ahlinta, dan istri yang lebih baik dari istrinya, serta peliharalah dia dari fitnah kubur dan siksa api neraka:.

    g. Berdo’a untuk diri sendiri dan untuk mayyit

    Artinya : “Wahai Tuhanku, janganlah Engkau halangi, pahalanya kepada kami dan janganlah Engkau memberi fitnahsepeninggalnya kepada kami, serta ampunilah kami dan dia, dan bagi segenap saudara kam yang telah mendahului kami dengan iman, dan janganlah Engkau jadikan gelisah di dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman, Wahai Tuhan kami sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Belas Kasihan lagi Maha Penyayang”.

    h. Memberi Salam

    CARA MENGERJAKAN SHALAT JENAZAH

    1. Mayit diletakkan paling muka, apabila mayit laki-laki, hendak nya Imam berdiri menghadap dekat kepala mayit, sedang mayat wanita Imam menghadap dekat perutnya.

    2. Letak Imam paling muka diikuti oleh para ma’mum, jika yang menyolati sedikit usahakan dibuat 3 baris / shaf.

    3. Setelah semua siap lalu dimulai dengan takbiratul ihrom oleh Imam setelah itu baru makmum.(ini Merupakan takbir pertama)

    4. Setelah takbiratul ihrom, tangan diletakkan bersedekap lalu membaca Surat Al Fatihah.

    5. Setelah membaca Surat Al Fatihah , lalu takbir lagi dengan mengangkat kedua tangan, kemudian bersedekap kembali.

    6. Dalam posisi bersedekap tersebut membaca Sholawat (Allaahuma solli a’ala muhammad wa’ala alihi washbihi wasallim)

    7. Selesai membaca sholawat,lalu takbir kembali dengan mengangkat kedua tangan dan bersedekap kembali (ini sedekap ke 3(tiga)

    8. Dalam posisi bersedekap membaca do’a (Allohummagfir lahu/ha warhamhu/ha wa’afihi/ha wa’fu anhu/ha)

    9. Selesai berdo’a lalu takbir lagi dengan mengangkat kedua tangan dan kemudian bersedekap (ini takbir ke empat)

    10. Dalam posisi takbir ke 4 Lalu bedo’a (Allahumma laa tahrimnaa ajrahu/ha walaa taftinna ba’dahu / ha wagfirlana walahu/ha

    11. Selesai berdo’a baru salam

    MENGUBUR MAYAT

    A. Tempat penguburan

    Tempat penguburan adalah tempat penguburan khusus kaum muslimin, terpisah dari kuburan bukan muslim, dan karena diutamakan pelaksanaan penyelesaian Jenazah sesegera mungkin, maka cukup dikubur di tempat yang tersedia dan yang terdekat, dengan pengertian tidak selalu di tempat kuburan keluarga.

    B. Persiapan Penguburan.

    1. Pembuatan liang lahat sekurang-kurangnya jangan sampai bau busuk mayit dapat keluar,dan sampai dapat dibongkar oleh binatang.

    2. Pilih tempat yang cukup kuat tanahnya,dari penggalian binatang buas, cukup jauh dari arus air,tidak mudah longsor dan hanyut tergusur aliran air.

    3. Penutup lubang lahat harus cukup kuat dan rapat, supaya tidak mudah longsor ke bawah.

    4. Keranda Janazah hendaknya tertutup rapat dan sesederhana mungkin.

    Pemberangkatan Jenazah.

    1. Segerakanlah pemberangkatan penguburan dengan iring-iringan terutama keluarga terdekat.

    2. Hendaknya berjalan secara cepat-segera.

    3. Kaum Wanita, walaupun keluarga terdekat tidak diperkenankan turut mengiringi jenaah dalam proses penguburan.

    4. Bagi yang melihat iringan jenazah hendaknya menghormati dan berdiri tegak, sampai janazah lewat.

    Tata cara Penguburan :

    1. Letakkan usungan keranda Janazah di sebelah liang kubur yang longggar.

    2. Dibuka tutup keranda dan selubung jenazah.

    3. Dua/tiga orang lelaki, dari keluarga jenazah terdekat dan diutamakan yang tidak junub pada malam hari, sebelumnya.masuk dalam liang kubur dengan berdiri, menyiapkan diri menerima jenazah.

    4. Masukkan jenazah dari arah kaki , didahulukan kepalanya dimasukkan (dari arah selatan)

    5. Letakkan jenazah secara membujur , arah kepala di sebelah barat, dan badan jasadnya dihadapkan miring/serong,mukanya menghadap kiblat.

    6. Lepaskan semua ikatan tali, serta dilonggarkan kain kafannya (pipi pelipis tidak harus meneyentuh tanah)

    7. Letakkkan gumpalan tanah sebagai penyangga di bagian belakang badan, kepala, pinggang, perut, kaki, agar jasad tidak terlentang.

    8. Tutuplah rongga dengan rapat dengan kayu atau batu untuk kemudian ditimbuni tanah yang cukup padat dan rapat.

    9. Buatlah onggakan gundukan tanah asal tidak melebihi sejengkal tangan tingginya.

    10. Para pelayat diutamakan turut serta menimbuni tanah dengan tiga kali taburan tanah.

    Lain-lain :

    1. Disunahkan berdo’a setelah selesai penguburan sebelum meninggalkan kuburan dengan harapan siap menjawab pertanyaan Malaikat Mungkar – Nakir.

    2. Setiap mengangkat dan meletakkan mayat hendaklah diiringi do’a “Bismillah wa’ala millati rosulillah” .artinya : Dengan nama Allah serta mengikuti tuntunan Rasullah.

    3. Do’a selesai penguburan : “Ya allah,ampunilah dia dan kasihinilah dia dan sejahterakanlah dia dan maafkanlah dia dan tempatkanlah dia di tempat yang terhormat, dan lapangkanlah tempatnya, dan empukkanlah bumi tempat tidurnya dan jauhkanlah dia darisiksaan kubur, dan lindungilah dia dari siksaan neraka, Ya allah tetapkanlah dia dengan perkataan yang benar di dunia dan akhirat.

    SELESAI

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 1 September 2011 Permalink | Balas
    Tags: Bukti Tuhan itu Ada   

    Bukti Tuhan itu Ada 

    Bukti Tuhan itu Ada

    Beriman bahwa Tuhan itu ada adalah iman yang paling utama. Jika seseorang sudah tidak percaya bahwa Tuhan itu ada, maka sesungguhnya orang itu dalam kesesatan yang nyata.

    Benarkah Tuhan itu ada? Kita tidak pernah melihat Tuhan. Kita juga tidak pernah bercakap-cakap dengan Tuhan. Karena itu, tidak heran jika orang-orang atheist menganggap Tuhan itu tidak ada. Cuma khayalan orang belaka.

    Ada kisah zaman dulu tentang orang atheist yang tidak percaya dengan Tuhan. Dia mengajak berdebat seorang alim mengenai ada atau tidak adanya Tuhan. Di antara pertanyaannya adalah: “Benarkah Tuhan itu ada” dan “Jika ada, di manakah Tuhan itu?”

    Ketika orang atheist itu menunggu bersama para penduduk di kampung tersebut, orang alim itu belum juga datang. Ketika orang atheist dan para penduduk berpikir bahwa orang alim itu tidak akan datang, barulah muncul orang alim tersebut.

    “Maaf jika kalian menunggu lama. Karena hujan turun deras, maka sungai menjadi banjir, sehingga jembatannya hanyut dan saya tak bisa menyeberang. Alhamdulillah tiba-tiba ada sebatang pohon yang tumbang. Kemudian, pohon tersebut terpotong-potong ranting dan dahannya dengan sendirinya, sehingga jadi satu batang yang lurus, hingga akhirnya menjadi perahu. Setelah itu, baru saya bisa menyeberangi sungai dengan perahu tersebut.” Begitu orang alim itu berkata.

    Si Atheist dan juga para penduduk kampung tertawa terbahak-bahak. Dia berkata kepada orang banyak, “Orang alim ini sudah gila rupanya. Masak pohon bisa jadi perahu dengan sendirinya. Mana bisa perahu jadi dengan sendirinya tanpa ada yang membuatnya!” Orang banyak pun tertawa riuh.

    Setelah tawa agak reda, orang alim pun berkata, “Jika kalian percaya bahwa perahu tak mungkin ada tanpa ada pembuatnya, kenapa kalian percaya bahwa bumi, langit, dan seisinya bisa ada tanpa penciptanya? Mana yang lebih sulit, membuat perahu, atau menciptakan bumi, langit, dan seisinya ini?”

    Mendengar perkataan orang alim tersebut, akhirnya mereka sadar bahwa mereka telah terjebak oleh pernyataan mereka sendiri.

    “Kalau begitu, jawab pertanyaanku yang kedua,” kata si Atheist. “Jika Tuhan itu ada, mengapa dia tidak kelihatan. Di mana Tuhan itu berada?” Orang atheist itu berpendapat, karena dia tidak pernah melihat Tuhan, maka Tuhan itu tidak ada.

    Orang alim itu kemudian menampar pipi si atheist dengan keras, sehingga si atheist merasa kesakitan. “Kenapa anda memukul saya? Sakit sekali.” Begitu si Atheist mengaduh.

    Si Alim bertanya, “Ah mana ada sakit. Saya tidak melihat sakit. Di mana sakitnya?” “Ini sakitnya di sini,” si Atheist menunjuk-nunjuk pipinya.

    “Tidak, saya tidak melihat sakit. Apakah para hadirin melihat sakitnya?” Si Alim bertanya ke orang banyak.

    Orang banyak berkata, “Tidak!”

    “Nah, meski kita tidak bisa melihat sakit, bukan berarti sakit itu tidak ada. Begitu juga Tuhan. Karena kita tidak bisa melihat Tuhan, bukan berarti Tuhan itu tidak ada. Tuhan ada. Meski kita tidak bisa melihatNya, tapi kita bisa merasakan ciptaannya.” Demikian si Alim berkata.

    Sederhana memang pembuktian orang alim tersebut. Tapi pernyataan bahwa Tuhan itu tidak ada hanya karena panca indera manusia tidak bisa mengetahui keberadaan Tuhan adalah pernyataan yang keliru.

    Berapa banyak benda yang tidak bisa dilihat atau didengar manusia, tapi pada kenyataannya benda itu ada?

    Betapa banyak benda langit yang jaraknya milyaran, bahkan mungkin trilyunan cahaya yang tidak pernah dilihat manusia, tapi benda itu sebenarnya ada?

    Berapa banyak zakat berukuran molekul, bahkan nukleus (rambut dibelah 1 juta), sehingga manusia tak bisa melihatnya, ternyata benda itu ada? (manusia baru bisa melihatnya jika meletakan benda tersebut ke bawah mikroskop yang amat kuat).

    Berapa banyak gelombang (entah radio, elektromagnetik. Listrik, dan lain-lain) yang tak bisa dilihat, tapi ternyata hal itu ada.

    Benda itu ada, tapi panca indera manusia lah yang terbatas, sehingga tidak mengetahui keberadaannya.

    Kemampuan manusia untuk melihat warna hanya terbatas pada beberapa frekuensi tertentu, demikian pula suara. Terkadang sinar yang amat menyilaukan bukan saja tak dapat dilihat, tapi dapat membutakan manusia. Demikian pula suara dengan frekuensi dan kekerasan tertentu selain ada yang tak bisa didengar juga ada yang mampu menghancurkan pendengaran manusia. Jika untuk mengetahui keberadaan ciptaan Allah saja manusia sudah mengalami kesulitan, apalagi untuk mengetahui keberadaan Sang Maha Pencipta!

    Memang sulit membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Tapi jika kita melihat pesawat terbang, mobil, TV, dan lain-lain, sangat tidak masuk akal jika kita berkata semua itu terjadi dengan sendirinya. Pasti ada pembuatnya.

    Jika benda-benda yang sederhana seperti korek api saja ada pembuatnya, apalagi dunia yang jauh lebih kompleks.

    Bumi yang sekarang didiami oleh sekitar 8 milyar manusia, keliling lingkarannya sekitar 40 ribu kilometer panjangnya. Matahari, keliling lingkarannya sekitar 4,3 juta kilometer panjangnya. Matahari, dan 9 planetnya yang tergabung dalam Sistem Tata Surya, tergabung dalam galaksi Bima Sakti yang panjangnya sekitar 100 ribu tahun cahaya (kecepatan cahaya=300 ribu kilometer/detik!) bersama sekitar 100 milyar bintang lainnya. Galaksi Bima Sakti, hanyalah 1 galaksi di antara ribuan galaksi lainnya yang tergabung dalam 1 “Cluster”. Cluster ini bersama ribuan Cluster lainnya membentuk 1 Super Cluster. Sementara ribuan Super Cluster ini akhirnya membentuk “Jagad Raya” (Universe) yang bentangannya sejauh 30 Milyar Tahun Cahaya! Harap diingat, angka 30 Milyar Tahun Cahaya baru angka estimasi saat ini, karena jarak pandang teleskop tercanggih baru sampai 15 Milyar Tahun Cahaya.

    Bayangkan, jika jarak bumi dengan matahari yang 150 juta kilometer ditempuh oleh cahaya hanya dalam 8 menit, maka seluruh Jagad Raya baru bisa ditempuh selama 30 milyar tahun cahaya. Itulah kebesaran ciptaan Allah! Jika kita yakin akan kebesaran ciptaan Tuhan, maka hendaknya kita lebih meyakini lagi kebesaran penciptanya.

    Dalam Al Qur’an, Allah menjelaskan bahwa Dialah yang menciptakan langit, bintang, matahari, bulan, dan lain-lain:

    “Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.” [Al Furqoon:61]

    Ada jutaan orang yang mengatur lalu lintas jalan raya, laut, dan udara. Mercusuar sebagai penunjuk arah di bangun, demikian pula lampu merah dan radar. Menara kontrol bandara mengatur lalu lintas laut dan udara. Sementara tiap kendaraan ada pengemudinya. Bahkan untuk pesawat terbang ada Pilot dan Co-pilot, sementara di kapal laut ada Kapten, juru mudi, dan lain-lain. Toh, ribuan kecelakaan selalu terjadi di darat, laut, dan udara. Meski ada yang mengatur, tetap terjadi kecelakaan lalu lintas.

    Sebaliknya, bumi, matahari, bulan, bintang, dan lain-lain selalu beredar selama milyaran tahun lebih (umur bumi diperkirakan sekitar 4,5 milyar tahun) tanpa ada tabrakan. Selama milyaran tahun, tidak pernah bumi menabrak bulan, atau bulan menabrak matahari. Padahal tidak ada rambu-rambu jalan, polisi, atau pun pilot yang mengendarai. Tanpa ada Tuhan yang Maha Mengatur, tidak mungkin semua itu terjadi. Semua itu terjadi karena adanya Tuhan yang Maha Pengatur. Allah yang telah menetapkan tempat-tempat perjalanan (orbit) bagi masing-masing benda tersebut. Jika kita sungguh-sungguh memikirkan hal ini, tentu kita yakin bahwa Tuhan itu ada.

    “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” [Yunus:5]

    “Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” [Yaa Siin:40]

    Sungguhnya orang-orang yang memikirkan alam, insya Allah akan yakin bahwa Tuhan itu ada: “Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.” [Ar Ra’d:2]

    “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” [Ali Imron:191]

    Terhadap manusia-manusia yang sombong dan tidak mengakui adanya Tuhan, Allah menanyakan kepada mereka tentang makhluk ciptaannya. Manusiakah yang menciptakan, atau Tuhan yang Maha Pencipta:

    “Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan. Kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya?” [Al Waaqi’ah:58-59]

    “Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya?” [Al Waaqi’ah:63-64]

    “Kamukah yang menjadikan kayu itu atau Kamikah yang menjadikannya?” [Al Waaqi’ah:72]

    Di ayat lain, bahkan Allah menantang pihak lain untuk menciptakan lalat jika mereka mampu. Manusia mungkin bisa membuat robot dari bahan-bahan yang sudah diciptakan oleh Allah. Tapi untuk menciptakan seekor lalat dari tiada menjadi ada serta makhluk yang bisa bereproduksi (beranak-pinak), tak ada satu pun yang bisa menciptakannya kecuali Allah:

    “…Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” [Al Hajj:73]

    Sesungguhnya, masih banyak ayat-ayat Al Qur’an lainnya yang menjelaskan bahwa sesungguhnya, Tuhan itu ada, dan Dia lah yang Maha Pencipta

    ***

    Dari Sahabat

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: