Updates from Januari, 2020 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:13 am on 31 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Ja’far Bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu (1) 

    Kisah Ja’far Bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu (1)

    Ja’far bin Abu Thalib masih saudara sepupu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, putra dari Abu Thalib, paman yang mengasuh beliau dari kecil, dan menjadi pelindung Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan dakwah Islamiah ketika masih di Makkah, walaupun akhirnya meninggal dalam kekafiran.

    Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sangat menyayangi Ja’far karena ia termasuk sahabat yang paling mirip dengan beliau. Beliau sendiri pernah bersabda kepadanya, “Engkau adalah yang paling mirip dengan akhlak dan rupaku!!”

    Ja’far dan istrinya, Amma binti Umais memeluk Islam pada masa-masa awal di Makkah. Tak pelak lagi mereka mendapat tekanan dan siksaan dari para pembesar kafir Quraisy. Memang tidak seberat dialami para budak seperti Bilal, Ammar bin Yasir, Khabbab bin Aratt dan beberapa lainnya. Tetapi kehidupan mereka di tanah kelahirannya sendiri menjadi tidak nyaman dan tidak bisa bebas melaksanakan ajaran agama barunya tersebut. Karena itu, ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menghimbau sahabat-sahabatnya untuk berhijrah ke Habasyah (Ethiopia), Ja’far dan istrinya segera menyambut seruan tersebut. Bahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengangkatnya sebagai pimpinan rombongan Muhajirin pertama ini.

    Kaum kafir Quraisy merasa kecolongan karena beberapa orang muslim (sebanyak 83 lelaki dan 18/19 perempuan) lolos dari pengawasan mereka, dan berhasil hijrah ke Habasyah. Tetapi mereka tidak berdiam diri begitu saja, mereka berupaya keras bagaimana bisa mengembalikan mereka ke Makkah. Dikirimlah dua orang ahli diplomasi, Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabiah. untuk mempengaruhi Najasyi agar bersedia mengembalikan kaum muhajirin tersebut ke Makkah. Mereka menyiapkan berbagai macam hadiah dan bingkisan untuk memuluskan rencana tersebut. Setibanya di Habasyah, Amr bin Ash menemui para uskup terlebih dahulu dan memberikan berbagai hadiah, dengan harapan mereka memberikan dukungan kepadanya.

    Tiba waktu yang ditentukan, Amr bin Ash dan Ibnu Abi Rabiah menyampaikan hadiah dan bingkisan yang disiapkan untuk Najasyi, Raja Habasyah, kemudian menyampaikan maksud kedatangannya dengan gaya diplomasi yang manis dan memikat. Para uskuppun ikut berbicara, “Benar apa yang dikatakan mereka berdua, wahai Baginda Raja. Serahkan saja mereka kepada keduanya agar mereka bisa dikembalikan ke negerinya dan kepada kaum kerabatnya.”

    Tetapi Ashamah an Najasyi adalah seorang raja yang adil, berilmu dan beriman kuat (pada agama Nashrani yang dipeluknya) dan berakhlak mulia, persis seperti yang digambarkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam kepada para sahabat yang akan berhijrah ke Habasyah. Ia tidak akan mengambil keputusan apapun hanya berdasarkan apa yang disampaikan oleh Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabiah. Karena itu ia memerintahkan agar rombongan muhajirin tersebut dibawa menghadap kepadanya.

    Kaum muslimin pun mendatangi majelis Najasyi dengan hati was-was. Mereka memang telah mengetahui kehadiran dua utusan Quraisy dan sepak terjangnya dalam upaya mengembalikan mereka ke Makkah. Merekapun menunjuk Ja’far bin Abu Thalib sebagai juru bicara menghadapi Najasyi. Setibanya di majelis itu, Najasyi berkata, “Agama seperti apakah yang kalian pegangi itu, sehingga karena agama tersebut kalian memecah belah kaum kalian, dan kalian tidak juga memeluk agama kami atau agama lainnya yang kami kenali?”

    Sebagai juru bicara kaum muhajirin yang ditunjuk, Ja’far maju menghadap ke Najasyi. Apa yang dikatakannya akan menjadi penentu, apakah mereka akan tetap tinggal di Habasyah dan dengan tenang bisa melaksanakan ibadah, atau apakah mereka akan kembali ke Makkah dan menjadi sasaran siksaan dan pengejaran untuk memaksa mereka kembali ke agama jahiliahnya?

    Ja’far berkata, “Wahai Tuan Raja, dulu kami pemeluk agama jahiliah yang menyembah berhala-berhala, memakan bangkai, berbuat mesum, yang kuat menindas yang lemah, memutuskan tali persaudaraan dan berbagai pekerti buruk lainnya. Lalu Allah mengutus seorang rasul dari kalangan kami sendiri, yang sangat kami kenali nasab, kejujuran, amanah dan kesucian hatinya. Beliau menyeru kami untuk hanya menyembah Allah dan tidak menyekutukannya. Beliau juga memerintahkan kami untuk berbuat jujur, amanah…..”

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 30 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Utsman Bin Mazh’un Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Utsman Bin Mazh’un Radhiyallahu Anhu

    Utsman bin Mazh’un merupakan golongan awal yang masuk Islam, sebelum mencapai dua puluh orang, sehingga ia termasuk dalam golongan as sabiqunal awwalin. Pada awal keislamannya, ia pernah berhijrah ke Habasyah sampai dua kali untuk menghindari siksaan kaum kafir Quraisy. Ketika berhembus kabar bahwa orang-orang Quraisy telah menerima Islam, ia kembali ke Makkah. Tetapi ternyata itu hanya kabar bohong, bahkan mereka telah bersiap untuk menangkap dan menyiksa para sahabat yang baru kembali dari Habasyah tersebut. Untung bagi Utsman, pamannya Walid bin Mughirah (ayah Khalid bin Walid), menyatakan memberikan perlindungan keamanan kepadanya, sehingga orang-orang kafir Quraisy tidak bisa menyiksanya.

    Utsman bebas bergerak dan berjalan dimana saja di Makkah karena perlindungan Walid tersebut, tetapi ia melihat kaum muslimin lainnya dalam ketakutan, sebagian dalam derita penyiksaan. Ia jadi merasa tidak nyaman walau dalam keamanan, karena itu ia mengembalikan jaminan perlindungan pamannya tersebut, sehingga bisa merasakan seperti yang dirasakan oleh saudara muslim lainnya. Ketika Walid menanyakan alasannya, ia berkata, “Aku hanya ingin berlindung kepada Allah dan tidak suka kepada yang lain-Nya…”

    Suatu ketika ia melewati majelis orang kafir Quraisy yang sedang mendengarkan lantunan syair dari seorang penyair bernama Labid bin Rabiah. Seperti biasanya, para hadirin akan memberi applaus. Utsman bin Madz’un ikut memberi applaus ketika Labid menyampaikan salah satu baitnya, “Ingatlah, segala sesuatu selain Allah akan binasa.”

    Labidpun meneruskan bait syairnya, “Dan semua nikmat niscaya pasti sirna.”

    Spontan Utsman berteriak, “Dusta…!! Nikmat surga tidak akan pernah sirna…”

    Mendengar ada orang yang membantah syairnya, Labid jadi marah, ia meminta agar orang Quraisy bertindak karena ada yang mulai berani merusak forum mereka. Seseorang bangkit untuk memukul Utsman, tetapi ia membalas pukulannya tersebut, akibatnya salah satu matanya bengkak karena terpukul. Pamannya, Walid bin Mughirah, yang berada di sebelahnya berkata, “Kalau saja engkau masih berada dalam perlindunganku, matamu tidak akan mendapat musibah seperti itu!!”

    Mendengar komentar pamannya itu, Utsman justru menjawab dengan semangat, “Bahkan aku merindukan ini terjadi padaku, dan mataku yang satunya menjadi iri dengan apa yang dialami oleh saudaranya. Aku berada dalam perlindungan Dzat yang lebih mulia daripada kamu!”

    Ketika telah tinggal di Madinah, Utsman bin Mazh’un meninggal karena sakit, tidak gugur dalam pertempuran sebagai syahid. Hal ini sempat menimbulkan prasangka yang buruk, bahkan Umar bin Khaththab sempat berkata, “Lihatlah orang ini (yakni Utsman) yang sangat menjauhi kebesaran dunia (yakni zuhud), tetapi ia mati tidak dibunuh (mati syahid) !!”

    Persangkaan seperti itu terus bersemayam dalam pikiran banyak orang sampai akhirnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam wafat karena sakit dan tidak dalam pertempuran. Umar-pun berkata, “Alangkah sedihnya, orang yang paling mulia di antara kita telah meninggal dunia.”

    Prasangka seperti itupun jadi hilang, mereka tidak lagi memandang remeh kematiannya yang tidak dibunuh atau syahid di medang perang. Dan hal itu makin menguat ketika Khalifah Abu Bakar-pun meninggal juga karena sakit, tidak terbunuh di medan pertempuran. Kali ini Umar berkata, “Alangkah sedihnya, orang yang paling baik di antara kita telah meninggal dunia.”

    Utsman merupakan sahabat yang pertama meninggal di Madinah dan orang muslim pertama yang pertama kali dimakamkan di Baqi. Beberapa waktu kemudian putri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang juga istri Utsman bin Affan, Ruqayyah binti Muhammad meninggal, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Pergilah, wahai putriku, susullah saudara kita yang saleh, Utsman bin Mazh’un..!!”

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 29 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Khabbab Bin Arats Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Khabbab Bin Arats Radhiyallahu Anhu

    Khabbab bin Arats adalah seorang sahabat Muhajirin yang memeluk Islam pada masa-masa awal, ketika umat Islam belum mencapai dua puluh orang. Ia berasal dari golongan lemah, yakni hanya seorang budak yang bertugas membuat pedang atau peralatan dari besi lainnya. Sebagaimana sahabat-sahabat yang masuk Islam pada periode awal, ia mengalami penyiksaan yang tidak tanggung-tanggung. Statusnya sebagai budak membuat tuannya, Ummu Anmar bebas menyiksa dirinya. Ia diseterika dengan besi panas yang merah menyala, dipakaikan baju besi kemudian dijemur di panas padang pasir, juga pernah diseret di atas timbunan bara sehingga lemak dan darahnya mengalir mematikan bara tersebut.

    Khabbab pernah mengeluhkan beratnya siksaan yang dialaminya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau yang saat itu tengah bersandar pada Ka’bah beralaskan burdah, bersabda, “Wahai Khabbab, orang-orang yang sebelum kalian pernah disisir kepalanya dengan sisir besi, sehingga terlepas tulang dari dari daging dan uratnya, tetapi ia tidak berpaling dari agamanya. Ada pula yang dipenggal lehernya hingga kepalanya putus, namun ia tetap teguh dengan agamanya. Sungguh Allah Subhanahu Wata’ala akan memenangkan perjuangan agama ini sehingga suatu saat nanti, orang akan berkendaraan dari Shan’a hingga Hadramaut tanpa merasa takut kecuali hanya kepada Allah, sampai serigala bisa berdampingan dengan kambing (tanpa memangsanya). Namun sungguh kalian adalah orang yang suka tergesa-gesa.”

    Mendengar penuturan beliau itu, Khabbab pun ikhlas dengan penderitaannya dan berteguh dengan keimanannya. Ketika Islam telah mengalami kejayaan dan berbagai harta kekayaan melimpah, Khabbab justru duduk menangis sambil berkata, “Tampaknya Allah telah memberikan ganjaran atas segala penderitaan yang kita alami, aku khawatir tidak ada lagi ganjaran yang kita terima di akhirat, setelah kita terima berbagai macam kemewahan ini!!”

    Setelah itu Khabbab meletakkan seluruh hartanya pada bagian rumahnya yang terbuka, dan mengumumkan agar siapa saja yang memerlukan untuk mengambilnya tanpa meminta ijin dirinya. Ia berkata, “Demi Allah aku tidak akan mengikatnya dengan tali (yakni, tidak mempertahankan hartanya tersebut), dan tidak akan melarang orang yang akan meminta/mengambilnya!!”

    Setelah Khabbab terbebas dari perbudakannya karena ditebus dan dimerdekakan oleh Abu Bakar, ia berkhidmad untuk belajar Al Qur’an dan akhirnya menjadi salah seorang yang ahli (Qari) dalam Al Qur’an. Ia tengah mengajarkan Al Qur’an kepada Fathimah binti Khaththab dan suaminya ketika Umar datang menghajar keduanya karena keislamannya. Tetapi peristiwa itu justru menjadi pemicu Umar memeluk Islam.

    Khabbab hampir tidak tertinggal dalam berbagai pertempuran di medan jihad. Pada Perang Badr, ia bertugas menjaga kemah Rasulullah pada malam sebelum perang, dan ia melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam shalat semalaman hingga menjelang fajar. Ketika Khabbab bertanya tentang shalat yang sangat panjang itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menjawab, “Itu adalah shalat yang penuh harapan dan ketakutan, aku berdoa kepada Allah dengan tiga permintaan, dua dikabulkan dan satu lagi dicegahNya. Aku berdoa : Ya Allah, janganlah umatku Engkau binasakan sampai habis karena kelaparan, dan Dia mengabulkannya. Aku berdoa : Ya Allah, Janganlah umatku engkau binasakan sampai habis karena serangan musuh, dan Dia mengabulkannya. Aku berdoa : Ya Allah, janganlah terjadi perpecahan dan perselisihan di antara umatku, maka Dia mencegah doaku ini.”

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 28 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Sa’id Bin Zaid Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Sa’id Bin Zaid Radhiyallahu Anhu

    Sa’id bin Zaid al Adawy Radhiyallahu ‘Anhu merupakan kelompok sahabat yang memeluk Islam pada masa-masa awal, sehingga ia termasuk dalam kelompok as Sabiqunal Awwalun. Ia memeluk Islam bersama istrinya, Fathimah binti Khaththab, adik dari Umar bin Khaththab. Sejak masa remajanya di masa jahiliah, ia tidak pernah mengikuti perbuatan-perbuatan yang umumnya dilakukan oleh kaum Quraisy, seperti menyembah berhala, bermain judi, minum minuman keras, main wanita dan perbuatan nista lainnya. Sikap dan pandangan hidupnya ini ternyata diwarisi dari ayahnya, Zaid bin Amru bin Naufal.

    Sejak lama Zaid bin Amru telah meyakini kebenaran agama Ibrahim, tetapi tidak mengikuti Agama Yahudi dan Nashrani yang menurutnya telah jauh menyimpang dari agama Ibrahim. Ia tidak segan mencela cara-cara peribadatan dan perbuatan jahiliah dari kaum Quraisy tanpa rasa takut sedikitpun. Ia pernah bersandar di dinding Ka’bah ketika kaum Quraisy sedang melakukan ritual-ritual penyembahannya, dan ia berkata, “Wahai kaum Quraisy, apakah tidak ada di antara kalian yang menganut agama Ibrahim selain aku??”

    Zaid bin Amru juga sangat aktif menentang kebiasaan kaum Quraisy mengubur hidup-hidup anak perempuannya, karena dianggap sebagai aib, seperti yang pernah dilakukan Umar bin Khaththab di masa jahiliahnya. Ia selalu menawarkan diri untuk mengasuh anak perempuan tersebut. Ia juga selalu menolak memakan daging sembelihan yang tidak disebutkan nama Allah saat penyembelihannya, dan juga penyembelihan untuk berhala-berhala.

    Seakan-akan ia memperoleh ilham, ia pernah berkata kepada sahabat dan kerabatnya, “Aku sedang menunggu seorang Nabi dari keturunan Ismail, hanya saja, rasanya aku tidak akan sempat melihatnya, tetapi saya beriman kepadanya dan meyakini kebenarannya…..!!”

    Zaid bin Amru sempat bertemu dan bergaul dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sebelum beliau dikukuhkan sebagai Nabi dan Rasul, sosok pemuda ini (yakni, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam) sangat mengagumkan bagi dirinya, di samping akhlaknya yang mulia, pemuda ini juga mempunyai pandangan yang sama dengan dirinya tentang kebiasaan dan ritual jahiliah kaum Quraisy.

    Tetapi Zaid meninggal ketika Kaum Quraisy sedang memperbaiki Ka’bah, yakni, ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam berusia 35 tahun.

    Dengan didikan seperti itulah Sa’id bin Zaid tumbuh dewasa, maka tak heran ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menyampaikan risalahnya, ia dan istrinya langsung menyambut seruan beliau. Tak ada ketakutan dan kekhawatiran walau saat itu kaum Quraisy melancarkan siksaan yang tak terperikan kepada para pemeluk Islam, termasuk Umar bin Khatthab, kakak iparnya sendiri yang merupakan jagoan duel di pasar Ukadz. Hanya saja ia masih menyembunyikan keislamannya dan istrinya. Sampai suatu ketika Umar yang bertemperamen keras itu mengetahuinya juga.

    Ketika itu Sa’id dan istrinya sedang mendapatkan pengajaran al Qur’an dari sahabat Khabbab bin Arats, tiba-tiba terdengar ketukan, atau mungkin lebih tepat gedoran di pintu rumahnya. Ketika ditanyakan siapa yang mengetuk tersebut, terdengar jawaban yang garang, “Umar..!!”

    Suasana khusyu’ dalam pengajaran al Qur’an tersebut menjadi kacau, Khabbab segera bersembunyi sambil terus berdoa memohon pertolongan Allah untuk mereka. Sa’id dan istrinya menuju pintu sambil menyembunyikan lembaran-lembaran mushaf di balik bajunya. Begitu pintu dibuka oleh Sa’id, Umar melontarkan pernyataan keras dengan sorot mata menakutkan, “Benarkan desas-desus yang kudengar, bahwa kalian telah murtad?”

    Sebelum kejadian itu, sebenarnya Umar telah membulatkan tekad untuk membunuh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Kemarahannya telah memuncak karena kaum Quraisy jadi terpecah belah, mengalami kekacauan dan kegelisahan, penyebab kesemuanya itu adalah dakwah Islamiah yang disampaikan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Dalam pemikiran Umar, jika ia menyingkirkan/membunuh beliau, tentulah kaum Quraisy kembali tenang seperti semula. Tetapi di tengah perjalanan, ia bertemu dengan Nu’aim bin Abdulah yang memberitahukan kalau adiknya, Fathimah dan suaminya telah memeluk Islam. Nu’aim menyarankan agar ia mengurus kerabatnya sendiri saja, sebelum mencampuri urusan orang lain. Karena itu, tak heran jika kemarahan Umar itu tertumpah kepada keluarga adiknya ini.

    Sebenarnya Sa’id melihat bahaya yang tampak dari sorot mata Umar. Tetapi keimanan yang telah merasuk seolah memberikan tambahan kekuatan yang terkira. Bukannya menolak tuduhan, ia justru berkata, “Wahai Umar, bagaimana pendapat anda jika kebenaran itu ternyata berada di pihak mereka ??”

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 27 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Abu Ubaidah Bin Harits Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Abu Ubaidah Bin Harits Radhiyallahu Anhu

    Sebelum perang Badar mulai pecah dan dua pasukan sedang berhadapan, tokoh kafir Quraisy, Utbah bin Rabiah, menantang duel satu persatu.

    Majulah putranya, Walid bin Utbah dan Ali bin Abi Thalib maju menghadapinya dan Ali berhasil membunuhnya.

    Kemudian majulah saudaranya Syaibah bin Rabiah dan paman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, Hamzah bin Abdul Muthalib melayani tantangannya dan dengan mudah membunuhnya pula.

    Melihat anak dan saudaranya tewas di hadapannya, Utbah sendiri yang maju menuntut balas. Kali ini ia dihadapi oleh Ubaidah bin Harits. Mereka laksana dua tiang yang kokoh, saling beradu pukulan dan tampaknya kekuatan mereka seimbang. Ubaidah berhasil memukul pundak Utbah hingga patah, tetapi Utbah berhasil memotong betis kaki Ubaidah, keduanya tampak sekarat.

    Ali dan Hamzah maju membunuh Utbah, dan mereka membawa Ubaidah ke tempat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sedang berteduh.

    Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam meletakkan kepala Ubaidah di paha beliau, beliau mengusap wajahnya yang penuh debu. Ubaidah memandang beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah, jika Abu Thalib melihat keadaanku ini, ia pasti akan mengetahui bahwa aku lebih berhak atas kata-kata yang pernah diucapkannya tersebut.

    Ubaidah memang masih paman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan sepupu dari Abu Thalib. Ketika kaum kafir Quraisy berniat untuk membunuh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, bahkan mereka menawarkan seorang anak muda sebagai pengganti. Abu Thalib dengan tegas berkata, “(Kalian berdusta jika mengatakan) bahwa kami akan menyerahkannya (yakni Muhammad, tanpa kami melindunginya) sampai kami terkapar di sekelilingnya dan bahkan (untuk itu akan) menelantarkan anak-anak dan istri-istri kami sendiri.”

    Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam tersenyum mendengar perkataannya, dan Ubaidah bertanya, “Apakah aku syahid, ya Rasulullah?””Ya,” Kata beliau, “Dan aku akan menjadi saksi untukmu!!”

    Sesaat kemudian Ubaidah meninggal, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menguburkannya di Shafra’, sebuah wadi antara Badar dan Madinah. Beliau sendiri yang turun ke kuburnya, dan beliau tidak pernah turun ke kuburan siapapun sebelumnya kecuali pada pemakaman Ubaidah bin Harits ini.

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 26 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Abu Salamah Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Abu Salamah Radhiyallahu Anhu

    Abu Salamah Radhiyallahu ‘Anhu, atau nama aslinya Abdullah bin Abdul Asad, memeluk Islam pada masa permulaan Islam, begitu juga dengan istrinya, Ummu Salamah. Sebagian riwayat menyebutkan, ia orang ke sepuluh yang memeluk Islam.

    Karena tekanan dan gangguan yang begitu hebat dari kaum Quraisy, mereka berdua ikut hijrah ke Habasyah. Disanalah lahir anak mereka yang pertama Salamah.

    Setelah beberapa waktu di Habasyah, mereka kembali lagi ke Makkah.

    Ketika datang perintah hijrah ke Madinah, Abu Salamah dan Istrinya, Ummu Salamah pun memenuhi perintah ini, mereka berangkat menaiki onta. Anak satu-satunya yang masih kecil, Salamah dalam gendongan ibunya di dalam sekedup.

    Tetapi kaum kerabat Ummu Salamah, Bani Mughirah, tidak rela jika salah satu anggota kaumnya pergi ke Madinah, karena itu beberapa orang mengejar Abu Salamah dan merebut kendali onta yang membawa istri dan anaknya, mereka berkata, “Ini jiwamu, engkau memenangkannya atas kami. Tidakkah engkau tahu, atas dasar apa kami membiarkanmu berjalan dengannya di negeri ini?”

    Abu Salamah pun tidak bisa berbuat apa-apa. Tetapi tidak cukup sampai disitu, kerabat Abu Salamah dari Banu Abdul Asad ternyata tidak rela kalau Salamah sebagai bagian dari kaumnya berada di Banu Mughirah, karena itu mereka merebutnya dari Ummu Salamah. Setelah berhasil, ternyata mereka tidak membiarkan Salamah untuk ikut ayahnya hijrah ke Madinah.

    Walau kecintaannya begitu besar terhadap istri dan anaknya, perintah Allah dan RasulNya di atas segalanya. Abu Salamah tetap meneruskan hijrah ke Madinah tanpa orang-orang yang dicintainya. Setelah sekitar satu tahun berpisah, barulah Ummu Salamah dibiarkan kaumnya menyusul suaminya ke Madinah. Salamahpun diberikan bani Abdul Asad pada Ummu Salamah untuk dibawa ke Madinah.

    Abu Salamah ikut terjun dalam perang Badar dan Uhud. Pada perang Uhud, ia mengalami luka parah, yang berakibat ia menderita berkepanjangan.

    Ketika lukanya belum sembuh sepenuhnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menunjuk dirinya untuk memimpin pasukan kecil berkekuatan 150 orang sahabat, untuk menyerang Bani Asad bin Khuzaimah.

    Bani Asad menghimpun kekuatan secara rahasia untuk menyerang Madinah, yang dikoordinasikan oleh dua orang bersaudara, Thalhah dan Salamah bin Khuwailid.

    Pasukan yang dipimpin Abu Salamah ini berhasil melumpuhkan Bani Asad. Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharam tahun 4 Hijriah. Tetapi akibat pertempuran ini, luka-lukanya pada perang Uhud yang belum sepenuhnya sembuh, menjadi kambuh kembali, bahkan semakin parah, sehingga akhirnya ia menemui syahid pada bulan Jumadil Akhir tahun 4 Hijriah.

    Dari pernikahannya dengan Ummu Salamah, ia mempunyai empat anak. Selain Salamah, anak lainnya adalah Umar, Durah, dan Zainab. Zainab ini masih di dalam kandungan ketika Abu Salamah wafat.

    Ketika masih hidupnya, Ummu Salamah pernah menginginkan agar mereka saling berjanji untuk tidak menikah lagi, jika salah satu dari mereka meninggal terlebih dahulu. Tetapi Abu Salamah menginginkan agar Ummu Salamah taat kepadanya sebagai suaminya, dan ia berkata, “Jika aku meninggal dahulu, menikahlah engkau.”

    Setelah itu Abu Salamah berdoa, “Ya Allah, apabila saya meninggal nanti, nikahkanlah Ummu Salamah dengan lelaki yang lebih baik daripada saya, yang tidak akan menjadikan hatinya bersedih, yang tidak akan memberikan kesulitan kepadanya.”

    Allah mengabulkan doa Abu Salamah ini, dan sepeninggal dirinya, ternyata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam berkenan untuk menikahi Ummu Salamah.

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 25 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Abu Ubaidah Bin Jarrah Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Abu Ubaidah Bin Jarrah Radhiyallahu Anhu

    Ketika itu waktunya shalat dhuhur, Umar berusaha menampilkan dirinya di dekat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Namun walau Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam telah melihat dirinya, beliau masih mencari-cari seseorang. Ketika pandangan beliau jatuh pada Abu Ubaidah, beliau bersabda, “Wahai Abu Ubaidah, pergilah berangkat bersama mereka, dan selesaikan apabila terjadi perselisihan di antara mereka….!”

    Inilah dia orang terpercaya itu, dan para sahabat lainnya tidak heran kalau ternyata Abu Ubaidah yang dimaksudkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Beberapa kali, dalam beberapa kesempatan berbeda, beliau menyebut Abu Ubaidah sebagai ‘Amiinul Ummah’, orang kepercayaan ummat Islam ini.

    Abu Ubaidah-pun menyertai rombongan tersebut kembali ke Najran, sebagaimana diperintahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Sebagian riwayat menyebutkan, dua dari tiga pemimpinnya masuk Islam setelah mereka tiba di Najran, Yakni Al Aqib atau Abdul Masih, pemimpin yang mengendalikan roda pemerintahan, dan As Sayyid atau Al Aiham atau Syurahbil, pemimpin yang mengendalikan masalah peradaban dan politik. Lambat laun Islam menyebar di Najran berkat bimbingan ‘Amiinul Ummah’ ini. Bahkan akhirnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengirimkan Ali bin Thalib untuk membantu Abu Ubaidah dalam urusan Shadaqah dan Jizyah dari masyarakat Najran yang makin banyak yang memeluk Islam.

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 24 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Al Arqam Bin Abil Arqam Radhiyallahu Anhu… 

    Kisah Al-Arqam Bin Abil Arqam Radhiyallahu Anhu

    Al-Arqam bin Abil Arqam termasuk orang – orang yang pertama memeluk Islam. Ada ulama yang mengatakan ia termasuk orang ketujuh yang memeluk Islam, sementara ulama yang lain mengatakan ia termasuk orang kesebelas. Namun yang jelas, rumah Al-Arqam adalah rumah tempat pusat dakwah pertama. Di rumah yang penuh berkah inilah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengajarkan Islam secara diam – diam kepada para pemeluk Islam pertama.

    Di saat Islam baru mulai diajarkan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memerlukan sebuah tempat yang tenang untuk mengajarkan agama Allah ini. Maklumlah, saat itu seperti pemeluk Islam dimusuhi dan disiksa kaum musyrik. Akhirnya beliau memutuskan bahwa rumah Al-Arqam bin Abil Arqam yang terletak di dataran Shafa ini adalah tempat yang cocok. Tempat ini letaknya agak terpencil dan tak meimbulkan kecurigaan. Terbukti selama rumah itu digunakan tak ada satu pun tindakan penggerebekan dilakukan orang kafir.

    Banyak sekali orang memeluk Islam di rumah Al-Arqam yang diberkahi itu. Salah satu orang terakhir yang memeluk Islam di tempat itu adalah Umar bin Khattab. Setelah Umar memeluk Islam, dakwah mulai dilakukan secara terang – terangan. Ketika itu jumlah Kaum Muslimin telah mencapai 40 orang. Jadi sebelum itu, rumah Arqam telah menjadi sekolah dan tempat berlindung bagi 40 orang pemeluk Islam pertama.

    Ke – 40 orang pemeluk Islam pertama itu dikenal dengan nama Assabiqunal Awwalun. Mereka beriman ketika semua orang lain masih ingkar. Kelak mereka harus akan mengalami hijrah ke seberang lautan di Habasyah dan menempuh berbagai ujian berat lainnya.

    Al-Arqam bin Abil Arqam termasuk kelompok Muhajirin pertama yang hijrah ke Madinah. Ia juga terjun dalam Pertempuran Badar. Di perang ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memberikan rampasan perang berupa pedang kepada Al-Arqam. Baktinya kepada Islam diteruskan dengan terjun ke semua pertempuran genting yang lain.

    Para sejarawan masih berselisih tentang kapan Al-Arqam wafat. Ada yang bilang ia wafat pada hari yang sama dengan wafatnya Abu Bakar Ash-Shidiq. Ada juga yang mengatakan ia wafat setelah Abu Bakar di usia 80 tahun lebih. Ketika wafat, salah satu yang hadir dalam menshalatkan jenazahnya adalah Sa’ad bin Abi Waqqash. Rupanya wasiat Al-Arqam kepada Sa’ad adalah bila ia wafat, Sa’ad diminta menshalati dan mendoakan jenazahnya.

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 23 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Abdurrahman Bin Auf Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Abdurrahman Bin Auf Radhiyallahu Anhu

    Abdurrahman bin Auf termasuk dalam kelompok sahabat as Sabiqunal Awwalun, ia memeluk Islam pada hari-hari pertama Islam didakwahkan, yakni lewat perantaraan Abu Bakar ash Shiddiq. Ia juga termasuk dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga ketika masih hidupnya. Sembilan orang lainnya adalah empat khalifah Khulafaur Rasyidin, Abu Bakar, Umar Utsman dan Ali, kemudian Abu Ubaidah bin Jarrah, Sa’d bin Abi Waqqash, Sa’id bin Zaid, Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam Radhiyallahu ‘Anhuma.

    Abdurrahman bin Auf termasuk seorang sahabat yang selalu berhasil dalam perniagaannya, sehingga hartanya selalu berlimpah. Apapun bidang usaha yang ditekuninya selalu memberikan keuntungan, sehingga ia sempat takjub atas dirinya sendiri, dan berkata, “Sungguh mengherankan diriku ini, seandainya aku mengangkat batu tentulah kutemukan emas dan perak di bawahnya.”

    Namun kekayaannya yang melimpah tidak menjadikannya takabur. Orang yang belum pernah mengenalnya, bila bertemu untuk pertama kali, mereka tidak akan bisa membedakan antara dirinya sebagai tuan dan pelayan/pegawainya, karena kesederhanaan penampilannya.

    Pernah ia dipusingkan dengan hartanya yang begitu berlimpah sehingga ia begitu gelisah dan tidak bisa tidur. Istrinya yang bijak dan penuh keimanan memberikan saran yang bisa menentramkan hatinya. Sang istri berkata, “Hendaknya hartamu engkau bagi tiga, dengan sepertiganya, engkau carilah saudaramu seiman yang berhutang dan lunasilah hutang mereka. Sepertiganya lagi, carilah saudaramu seiman yang memerlukan uang dan berilah mereka pinjaman. Dan sepertiganya lagi, engkau pakai sebagai modal perniagaanmu…”

    Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menyeru agar umat Islam bersedekah untuk mendanai Perang Tabuk, Abdurrahman bin Auf menyedekahkan seluruh hartanya yang berjumlah sekitar 200 uqiyah atau 8000 dirham. Umar bin Khaththab mengadukan sikap Abdurrahman kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam karena tidak menyisakan apapun untuk keluarganya, sedangkan ia sendiri menyedekahkan separuh hartanya sebanyak 100 uqiyah, separuhnya lagi ditingalkan untuk keperluan keluarganya.

    Karena pengaduan Umar ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memanggilnya, kemudian bertanya, “Wahai Abdurrahman, apakah engkau meninggalkan sesuatu untuk keluarga yang engkau tinggalkan!”

    “Benar, ya Rasulullah!” Kata Abdurrahman, “Aku telah meninggalkan untuk keluargaku sesuatu yang lebih baik dan lebih banyak daripada apa yang kusedekahkan!”

    “Berapa?” Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bertanya.

    “Kebaikan dan rezeqi yang dijanjikan oleh Allah dan RasulNya!”

    Rasulullah Shallallahu’ ‘Alaihi Wassalam membenarkan sikapnya dan menerima alasan Abdurrahman tersebut.

    ***

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 22 January 2020 Permalink | Balas  

    Sunnah Wudhu’ 

    Sunnah Wudhu’

    Berikut sunnah-sunnah wudhu’:

    1. Bersiwak

    Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

    “Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya kuperintahkan mereka bersiwak tiap kali berwudhu” (HR. Abu Dawud no. 46, At Tirmidzi no. 22 dan lainnya, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih At Tirmidzi no. 21)

    1. Membasuh kedua telapak tangan tiga kali pada awal wudhu’ dan menyela-nyela jari jemarinya.

    Dasarnya adalah hadits Utsman bin Affan ra. tentang tata cara wudhu’ Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam, “Utsman bin Affan minta diambilkan air wudhu lalu berwudhu. Dia basuh kedua telapak tangannya tiga kali“. (HR. Muslim no. 226 dan lainnya)

    1. Mengabungkan berkumur dan menghirup air ke dalam hidung dengan segenggam air sebanyak tiga kali.

    Abdullah bin Zaid berkata, “Beliau ShallallaHu alaiHi wa sallam berkumur dan menghirup air ke dalam hidung dari satu genggam tangan. Dan beliau melakukannya sebanyak tiga kali” (HR. Muslim no. 235)

    1. Mendahulukan yang kanan dari pada yang kiri.

    Aisyah ra. berkata, “Rasulullah suka mendahulukan bagian kanan saat memakai sandal, menyisir rambut, bersuci dan dalam semua hal” (HR. Al Bukhari, Muslim no. 4122 dan An Nasa-i I/78)

    1. Menggosok

    Abdullah bin Zaid berkata, “Nabi diberi tiga mudd air, beliau lalu berwudhu dan menggosok kedua tangannya” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Ibni Khuzaimah no. 118)

    1. Membasuh 3 kali.

    Membasuh tiga kali merupakan sunnah. Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam juga pernah berwudhu satu kali-satu kali (HR. Al Bukhari no. 157, dari Ibnu Abbas ra.) dan dua kali-dua kali (HR. Abu Dawud no. 136, At Tirmidzi no. 430 dan lainnya, dari Abu Hurairah ra.)

    1. Berdoa setelah selesai.

    Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang diantara kalian berwudhu, lalu menyempurnakan wudhunya, kemudian berdoa,

    ‘AsyHadu al-laa ilaaHa illallaHu wahdaHu laa syariikalaH wa asyHadu anna muhammadan ‘abduHu wa rasullluHu’

    Melainkan dibukakan baginya delapan pintu surga, dia memasukinya dari arah mana saja yang ia kehendaki” (HR. Muslim no. 234)

    1. Shalat dua raka’at setelah wudhu

    Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam berkata kepada Bilal ra. ketika hendak shalat shubuh,

    “Wahai Bilal beritahukanlah kepadaku, amalan apa yang paling engkau harapkan yang engkau kerjakan di dalam Islam, karena sesungguhnya aku mendengar suara kedua sandalmu di hadapanku di Surga”

    Dia (Bilal ra.) menjawab,

    “Tidaklah aku melakukan amalan yang paling aku harapkan (pahalanya), hanya saja aku tidaklah bersuci, baik saat petang maupun siang, melainkan aku shalat (sunnah) dengan apa-apa yang sudah dituliskan tentang shalatku” (HR. Al Bukhari no. 1149 dan Muslim no. 2458)

    Maraji’:

    Panduan Fiqh Lengkap Jilid 1, Abdul ‘Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 21 January 2020 Permalink | Balas  

    Rukun Wudhu’ 

    Rukun Wudhu’

    Allah Ta’ala berfirman,

    “Hai orang-orang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki” (QS Al Maa-idah : 6)

    Berikut Rukun-rukun wudhu,

    1. Berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung.

    Berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung termasuk bagian dari muka atau wajah hingga wajiblah keduanya. (As Sa-iluul Jarraar I/81)

    Tentang berkumur kumur dalam berwudhu Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam telah memerintahkan,

    “Idzaa tawadhdha’ famadhmidh” yang artinya “Jika engkau berwudhu, maka berkumurlah” (HR. Abu Dawud no. 142, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan Abi Dawud no. 129)

    Begitu pula dengan menghirup air ke dalam hidung, Beliau ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Jika salah seorang diantara kalian berwudhu, jadikanlah (hiruplah) air ke dalam hidungnya, lalu semburkanlah” (HR. Abu Dawud no. 140 dan An Nasa-i I/66, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih al Jaami’ush Shaghiir)

    1. Membasuh muka.
    2. Menyela-nyela jenggot.

    Dari Anas bin Malik ra., ia berkata, “Jika Rasulullah berwudhu, beliau ambil segenggam air lalu memasukkannya ke bawah dagunya, dengan air itu belia menyela-nyelai jenggotnya. Beliau lantas bersabda, ‘Begitulah Rabbku memerintahkanku’” (HR. Abu Dawud no. 145 dan lainnya, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Irwaa’ al Ghaliil no. 92)

    1. Membasuh kedua tangan hingga siku

    Imam Asy Syafi’i berkata dalam kitabnya Al Umm I/25, “Membasuh kedua tangan tidaklah cukup kecuali dengan membasuh antara ujung-ujung jemari hingga siku. Dan tidaklah cukup kecuali dengan membasuh sisi luar, dalam dan samping kedua tangan, hingga sempurnalah membasuh keduanya. Jika meninggalkan sedikit saja dari bagian ini, maka tidak boleh”

    1. Mengusap kepala, termasuk mengusap kedua telinga.

    Wajib mengusap kepala secara merata, karena perintah mengusap kepala dalam Al Qur’an masih global maka penjelasannya dikembalikan ke sunnah. Disebutkan dalam Kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dan yang lainnya bahwa Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam mengusap kepala beliau secara merata. Disini terdapat dalil atas wajibnya mengusap kepala secara sempurna.

    [Imam Al Bukhari memberikan bab tentang mengusap kepala secara keseluruhan atau sempurna pada Kitab Shahihnya yaitu bab mashir ra’si kulliHi liqaulillaHi ta’alaa wamsahuu biru-uusikum (bab mengusap kepala seluruhnya karena firman Allah Ta’ala, “Dan usaplah kepalamu”)]

    Lalu bagaimana dengan hadits dari Al Mughirah bin Syu’bah ra. yang menyebutkan bahwa Nabi ShallallaHu alaiHi wa sallam mengusap bagian ubun-ubun dan bagian atas sorban beliau ?

    [Berkata Al Mughirah bin Syu’bah ra., “Bahwa Nabi berwudhu’, maka disapunya ubun-ubun serta serbannya, begitu pun kedua sepatunya” (HR. Muslim)]

    Jawabannya, “Beliau ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam mencukupkan mengusap ubun-ubun saja karena telah membasuh sisa kepala dengan sempurna, yaitu dengan cara mengusap bagian atas sorban. Inilah pendapat kami. Bukan berarti ini adalah dalil atas bolehnya mencukupkan mengusap ubun-ubun atau sebagian kepala tanpa menyempurnakannya dengan mengusap bagian atas sorban” (Kitab Tafsiir Ibni Katsiir II/24, dengan pengubahan)

    Begitu pula dengan kedua telinga, karena ia merupakan bagian dari kepala maka wajiblah untuk mengusapnya. Dasarnya adalah sabda Beliau ShallallaHu alaiHi wa sallam,

    “Al udzunaani minar ra’si” yang artinya “Kedua telinga adalah bagian dari kepala” (HR. Ibnu Majah no. 443, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan Ibni Majah no. 357)

    1. Membasuh kedua kaki dari jari kaki hingga ke mata kaki dan menyela-nyela jari jemarinya, berdasarkan sabda Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam,

    “Wa khallil baynal ashaabi’” yang artinya “Dan sela-selailah jari-jemari” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan Abi Dawud no. 629)

    Maraji’:

    Panduan Fiqh Lengkap Jilid 1, Abdul ‘Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 20 January 2020 Permalink | Balas  

    Syarat Sah Wudhu 

    Syarat Sah Wudhu

    Ada 3 syarat sah Wudhu, yaitu :

    1. Niat

    Berdasarkan sabda Beliau ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam, “Innamal a’maalu binniyyaat” yang artinya “Sesungguhnya perbuatan itu tergantung niat” (HR. Al Bukhari no. 1, Muslim no. 1907, Abu Dawud no. 2186, At Tirmidzi no. 1698, Ibnu Majah no. 4227 dan An Nasa-i I/59)

    Tidak disyari’atkan mengucapkannya, karena Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam tidak pernah mengerjakannya.

    1. Mengucap basmalah

    Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

    “Laa shalaata liman laa wudhuu-a laHu wa laa wudhuu-a liman lam yadzkurismallaHu ‘alaiHi” yang artinya “Tidak sah shalat seseorang tanpa wudhu. Dan tidak ada wudhu untuk seseorang yang tidak menyebut nama Allah” (HR. Abu Dawud no. 101 dan Ibnu Majah no. 399, dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan Ibni Majah no. 320)

    1. Berkesinambungan (tidak terputus)

    Berdasarkan hadits Khalid bin Ma’dan,

    “Nabi melihat seorang laki-laki sedang melakukan shalat, sedangkan pada punggung telapak kakinya ada bagian sebesar uang dirham yang tidak terkena air. Nabi lantas menyuruhnya mengulang wudhu dan shalatnya” (HR. Abu Dawud no. 173, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan Abi Dawud no. 161)

    Maraji’ :

    Panduan Fiqh Lengkap Jilid 1, Abdul ‘Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 19 January 2020 Permalink | Balas  

    Tidak Berbuat Adil di Antara Para Istri 

    Tidak Berbuat Adil di Antara Para Istri

    Oleh : Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Di antara yang diwasiatkan Allah kepada kita dalam kitabNya yang mulia adalah berbuat adil di antara para istri. Allah Tabaroka wata’ala berfirman:

    “Dan kamu sekali–kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian. Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai) sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecenderungan) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (An Nisa’: 129).

    Keadilan yang dituntut adalah dalam membagi giliran menginap di masing –masing istri, dalam memberikan hak nafkah, pakaian, dan tempat tinggal.

    Jadi keadilan yang dituntut bukanlah dalam soal perasaan cinta yang ada di hati, sebab seorang hamba tidak akan mampu menguasai perasaan hatinya.

    Sebagian orang yang berpoligami ada yang lebih cenderung dan berat kepada salah seorang istrinya, sehingga tak mengacuhkan yang lain. Seperti memberinya giliran menginap atau nafkah lebih banyak dari pada istrinya yang lain. Ini jelas suatu perbuatan haram. Pada hari kiamat orang tersebut akan mendapati dirinya sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam :

    “barangsiapa memiliki dua istri dan ia cenderung kepada salah seorang dari keduanya, niscaya ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan sisi badannya condong” (HR Abu Dawud, 2/601; shahihul jami’ hadits No : 6491)

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 18 January 2020 Permalink | Balas  

    Mengauli Istri Lewat Dubur (Anal Seks) 

    Mengauli Istri Lewat Dubur (Anal Seks)

    Oleh : Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Sebagian orang yang memiliki kelainan (abnormal) dari kalangan orang-orang yang lemah iman tidak segan-segan menggauli istrinya lewat dubur (tempat keluarnya kotoran).

    Perbuatan tersebut termasuk dosa besar. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melaknat para pelaku perbuatan keji tersebut.

    Dalam hadits marfu’ dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu disebutkan:

    “(Sungguh) terlaknat orang yang menggauli istrinya lewat duburnya” (HR Ahmad,2/479; dalam shahihul jam’ hadits no: 5865)

    Bahkan lebih dari itu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

    “Barangsiapa yang menggauli istri (yang sedang haid) atau menggauli diduburnya atau mendatangi dukun maka ia telah kufur (mengingkari) dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad” (HR At Tirmmidzi, dari Abu Hurairah dalam shahihul jami’, hadits No:5918)

    Meskipun wanita normal enggan melayani kelainan suaminya, tapi pada akhirnya banyak yang tak berdaya, sebab tak jarang suami mengancam akan menceraikannya jika ia menolak.

    Sebagian lain menipu istrinya yang malu bertanya tentang hukum masalah tersebut dengan mengatakan, hal itu halal dan dibolehkan. Mereka berdalil:

    “Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu ini bagaimana saja kamu kehendaki” (Al Baqarah: 223).

    Padahal kita tidak boleh menafsirkan maksud ayat di atas sesuai dengan keinginan kita, tetapi kita harus merujuk kepada sunnah. Sebab sebagaimana telah dimaklumi bersama, sunnah adalah penjelas Al Qur’an. Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan, suami beleh sekehendaknya menggauli istri, dari arah depan atau belakang selama di tempat jalan kelahiran anak (vagina). Dan tak diragukan lagi dubur atau anus bukanlah jalan kelahiran anak tetapi jalan keluarnya kotoran manusia.

    Di antara sebab tejadinya perbuatan dosa ini adalah saat memasuki kehidupan rumah tangga yang suci, mereka masih membawa warisan jahiliyah yang kotor berupa berbagai adegan menyimpang yang diharamkan. Atau masih membawa ingatan dan imajinasi adegan film-film porno tanpa taubat kepada Allah.

    Perbuatan ini tetap haram, meskipun dilakukan atas dasar suka sama suka oleh suami istri. Karena saling merelakan untuk mengerjakan perbuatan haram tidak menjadikannya sebagai berbuatan halal.

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 17 January 2020 Permalink | Balas  

    Menggauli Istri Saat Haid 

    Menggauli Istri Saat Haid

    Oleh: Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

    “Mereka bertanya kepadamu tentang haid, katakanlah: haid itu adalah kotoran. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka, sehingga mereka suci” (Al Baqarah: 222).

    Karena itu seorang suami tidak halal menggauli istrinya sehingga ia mandi setelah darah haidnya berhenti. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

    “Apabila mereka telah suci, maka gaulilah mereka di tempat yang diperintahkan oleh Allah kepadamu, sesungguhnya Allah senang kepada orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang berbuat suci” (Al Baqarah: 222).

    Mengenai kotornya perbuatan menggauli istri saat haid itu disebutkan dalam sabda nabi Shallallahu’alaihi wasallam:

    “Barangsiapa menggauli istri (yang sedang) haid atau menggauli di duburnya atau mendatangi dukun maka ia telah kufur (mengingkari) dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad” (HR Al Tirmidzi dari Abu Hurairah:1/243; dalam shahihul jami’ hadits No: 5918)

    Tetapi orang yang melakukannya dengan tanpa disengaja serta tidak mengetahui kondisi sang istri maka ia tidak berdosa. Berbeda jika ia melakukannya dengan sengaja serta mengetahui kondisi sang istri maka wajib baginya membayar kaffarat, menurut sebagian ulama yang menganggap shahih hadits tentang kaffarat. Yakni dengan membayar satu dinar atau setengahnya.

    Dalam penerapan kafarat ini, para ulama juga berbeda pendapat, sebagian berkata, ia boleh memilih antara keduanya (satu atau setengah dinar). Sebagian lain berpendapat, jika ia menggauli di awal haid (ketika darah haid masih banyak keluar) maka ia membayar satu dinar, dan jika ia menggaulinya di akhir haid saat darah haid tinggal sedikit atau sebelum mandi dari haid maka ia membayar setengah dinar.

    Menurut ukuran umum, satu dinar adalah 4,25 gram emas, orang yang bersangkutan boleh bersedekah dengannya atau dengan uang yang senilai dengannya.

    Berkata Syaikh Ibn Baz: Yang benar adalah dia boleh memilih antara membayar kaffarat satu dinar atau setengahnya. Baik di awal haid atau di akhirnya. Adapun dinar adalah senilai 4/6 junaih Saudi, sebab satu junaih Saudi sama dendan 1, ¾ dinar.

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 16 January 2020 Permalink | Balas  

    Dhihar 

    Dhihar

    Oleh: Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Di antara ungkapan jahiliyah yang masih tersebar di kalangan umat ini adalah ungkapan yang menjerumuskan kepada persoalan zhihar. Seperti ucapan seorang suami kepada istrinya:

    “Bagiku, engkau seperti punggung ibuku; atau engkau haram bagiku sebagaimana haramnya saudara perempuanku”. Atau ucapan-ucapan kotor lain yang dibenci syariat, karena di dalamnya mengandung penganiayaan terhadap wanita.

    Dalam hal ini Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Orang-orang yang menzhihar istrinya di antara kamu (menganggap istrinya seperti ibunya, padahal) tiadalah istri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun” (Al Mujadilah: 2)

    Syariat Islam menjadikan Kaffarat zhihar demikian berat, yakni hampir menyerupai kaffarat pembunuhan yang tidak disengaja demikian pula menyerupai kaffarat senggama pada siang hari di bulan Ramadhan.

    Seorang yang telah menzhihar istrinya, tidak boleh ia mendekati istrinya kecuali setelah membayar kaffarat tersebut.

    Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Orang-orang yang menzhihar istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Barang siapa yang tidak mendapatkan (budak) maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajib atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan RasulNya. Dan itulah hukum-hukum Allah. Dan bagi orang yang kafir ada siksaan yang sangat pedih (Al Mujadilah: 3-4).

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 15 January 2020 Permalink | Balas  

    Orang – orang yang Didoakan oleh Malaikat 

    Orang – orang yang Didoakan oleh Malaikat

    Oleh : Syaikh Dr. Fadhl Ilahi

    Allah SWT berfirman, “Sebenarnya (malaikat – malaikat itu) adalah hamba – hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah – perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafa’at melainkan kepada orang – orang yang diridhai Allah, dan mereka selalu berhati – hati karena takut kepada-Nya” (QS Al Anbiyaa’ 26-28)

    Inilah orang – orang yang didoakan oleh para malaikat :

    1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci. Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci'” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)
    2. Orang yang duduk menunggu shalat. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia'” (Shahih Muslim no. 469)
    3. Orang – orang yang berada di shaf bagian depan di dalam shalat. Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin ‘Azib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)
    4. Orang – orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalm shaf). Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang – orang yang menyambung shaf – shaf” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)
    5. Para malaikat mengucapkan ‘Amin’ ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu” (Shahih Bukhari no. 782)
    6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia'” (Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)
    7. Orang – orang yang melakukan shalat shubuh dan ‘ashar secara berjama’ah. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat'” (Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)
    8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan'” (Shahih Muslim no. 2733)
    9. Orang – orang yang berinfak. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit'” (Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)
    10. Orang yang makan sahur. Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang – orang yang makan sahur” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)
    11. Orang yang menjenguk orang sakit. Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh” (Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, “Sanadnya shahih”)
    12. Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain” (dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

    Maraji’ :

    Disarikan dari Buku Orang – orang yang Didoakan Malaikat, Syaikh Fadhl Ilahi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 14 January 2020 Permalink | Balas  

    Penolakan Istri Terhadap Ajakan Suami. 

    Penolakan Istri Terhadap Ajakan Suami.

    Oleh : Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Dari Abi Hurairah Radhiallahu’anhu bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

    “Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur (untuk melakukan senggama) ia menolak, sehingga suami marah atasnya maka Malaikat malaknat perempuan itu hingga datang pagi” (HR Al Bukhari, lihat fathul bari : 6/314).

    Manakala terjadi perselisian dengan suami banyak perempuan yang menghukum suaminya (menurut dugaannya) dengan menolak melakukan hubungan suami istri. Padahal perbuatan semacam itu bisa mendatangkan masalah yang lebih besar. Misalnya terperosoknya suami pada perbuatan yang haram. Bahkan masalahnya bisa menjadi berbalik sehingga bisa lebih menyusahkan istri; misalnya suami berusaha menikahi perempuan lain.

    Karena itu manakala suami memanggil, hendaknya sang istri memenuhi ajakannya. Realisasi dari sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam:

    “Jika seorang laki-laki mengajak istrinya ke tempat tidur hendaknya ia memenuhi panggilannya, meskipun itu berada di atas sekedup (sesuatu yang diletakkan di atas punggung onta. Digunakan oleh penunggangnya sebagai tempat duduk, berlindung diri dan berteduh) (lihat zawaidul Bazzar, 2/181, dalam shahihul jami’, hadits no: 547.

    Meski begitu, hendaknya sang suami memperhatikan kondisi istrinya. Misalnya apakah sang istri dalam keadaan sakit, hamil, atau dirundung kesedihan, sehingga tak terjadi perpecahan dan keharmonisan rumah tangga tetap terjaga.

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 13 January 2020 Permalink | Balas  

    Permintaan Agar Ditalak Suami Tanpa Sebab yang Dibolehkan Syara’. 

    Permintaan Agar Ditalak Suami Tanpa Sebab yang Dibolehkan Syara’.

    Oleh : Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Ketika terjadi percekcokan dengan suami, banyak di antara para istri yang langsung mengambil jalan pintas, yaitu minta cerai. Ada juga perceraian itu disebabkan sang suami tak mampu memberi nafkah seperti yang diinginkan istri.

    Padahal, terkadang keputusan itu di ambil hanya pengaruh dari sebagian keluarganya atau tetangga yang memang hendak merusak keluarga orang lain. Bahkan tak jarang yang menantang sang suami dengan kata-kata yang menegangkan urat leher. Misalnya, “kalau kamu memang laki-laki, ceraikan saya!!”

    Semua mengetahui, talak melahirkan banyak kerugian besar antara lain terputusnya tali keluarga, lepasnya kendali anak dan terkadang disudahi dengan menyesal pada saat penyesalan tak lagi berguna dan sebagainya.

    Dengan akibat-akibat seperti disebutkan di atas, menjadi nyatalah hikmat syariat mengharamkan perbuatan tersebut, dalam sebuah hadits marfu, riwayat Tsauban Radhiallahu’anhu disebutkan :

    “Siapa saja wanita yang minta diceraikan suaminya tanpa alasan yang dibolehkan maka haram baginya bau surga” (HR Ahmad: 5/277, dalam shahihul jami’ :2703)

    Hadits marfu’ lain riwayat Uqbah bin Amir Radhiallahu’anhu menyebutkan :

    “Sesungguhnya wanita-wanita yang melepaskan dirinya dan memberikan harta kepada suaminya agar diceraikan, mereka adalah orang-orang munafik” (HR Thabrani dalam Al Kabir : 17/339, dalam shahihul jami’ hadits No : 1934)

    Adapun jika memang ada sebab-sebab yang dibolehkan menurut syara’, seperti suaminya suka meninggalkan shalat, suka minum-minuman keras dan narkotika, atau memaksa istrinya berbuat haram, suka menyiksanya dan menolak memberikan hak-hak istri, tidak mau lagi mendengar nasihat dan tak berguna lagi upaya ishlah (perbaikan) maka tidak mengapa bagi sang istri meminta cerai sehingga ia tetap dapat memelihara diri dan agamanya.

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 12 January 2020 Permalink | Balas  

    Mimbar Jumat: Puncak Kesuksesan 

    Mimbar Jumat: Puncak Kesuksesan

    Assalamu’alaikum wr.wb.

    Allah berfirman, bismillahirrahmaanirrahiim,

    “Barangsiapa yang menghendaki keuntungan /sukses di dunia saja (maka sesungguhnya dia merugi) karena di sisi Allah ada keuntungan dunia dan akhirat. Dan Allah maha mendengar lagi maha melihat. Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah meskipun terhadap dirimu sendiri atau ibu-bapak dan kerabatmu. Jika ia kaya atau miskin, maka Allah lebih mengetahui kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsumu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar-balikkan (fakta) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan” (QS An Nisaa’ 134-135).

    “Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang (banyak) memberi (di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya keuntungan yang terbaik, maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan kemudahan. Dan bagi orang-orang yang pelit dan merasa diri cukup (sombong) serta mendustakan keuntungan yang terbaik, maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan kesukaran. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya ketika ia telah binasa” (QS Al Lail 4-11).

    Maha benar segala firman Allah, tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah yang maha esa dan maha kuasa atas segala sesuatu, Rab pencipta, pemilik dan penguasa seluruh alam jagat raya, yang tidak terbatas kekuasaanNya, yang mengatur dan menguasai seluruh isi alam, termasuk manusia penghuni bumi. Dia yang telah menciptakan luasnya langit dan dan kecilnya bumi beserta segala apa yang ada di antaranya, dan semuanya itu tidak ada yang sia-sia. Atas perkenaan Allah pula kita masih diberi kesempatan untuk mengarungi kehidupan dunia dengan berbagai kenikmatan dan anugerahNya, yang tidak pernah kita ketahui sampai batas waktu kapan kita dipanggil untuk kembali kepadaNya. Bersyukur kita masih dipertemukan melalui mimbar yang hadir pada pagi hari Jum’at 24 Shafar 1427 H, bertepatan dengan tanggal 24 Maret 2006 ini, yang akan membahas masih tentang kesuksesan melanjutkan bahasan beberapa mimbar sebelumnya, dan pada seri terakhir ini, kita akan membicarakan tentang “Puncak Kesuksesan” dalam kehidupan dunia, yang dapat terus berlanjut pada kesuksesan berikutnya di alam barzah dan akhirat kelak. Namun sebelumnya, selaku umat Nabi Muhammad salallahu alaihi wassalam, kita bermohon semoga shalawat dan salam senentiasa tercurah kepada beliau, seluruh keluarga dan para sahabatnya, juga semua pengikutnya yang selalu setia melanjutkan perjuangannya untuk tegaknya Islam di muka bumi, dari jaman ke jaman hingga dunia ini berakhir nanti.

    Muslimin dan muslimat dimana saja berada,

    Pada usia 20 tahunan, Steve Jobs bersama temannya Steven Wozniac membangun cikal bakal komputer Macintosh di garasi rumah orang tuanya. Pada tahun 1976, mereka berhasil mempopulerkan konsep personnal computer (PC) pada dunia. Dan dalam kurun waktu 10 tahun, dua sekawan ini berhasil membangun Apple menjadi perusahaan beraset dua milyar dolar dan memiliki lebih dari 4000 karyawan. Tetapi disaat Steve Jobs berusia 30 tahun, ia harus menerima kenyataan pahit, karena dipecat oleh board of director dari perusahaan yang dirintisnya itu disebabkan oleh kegagalan visinya dan kejatuhan Apple pada saat itu. Ketika itu, Steve Jobs merasa hancur, malu, impiannya hilang dan tidak mampu melakukan apa-apa selama berbulan-bulan. Sampai suatu saat ia bertemu David Packard dan Bob Noyce yang mau memaafkan kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya. Jobs kemudian bekerja sama dengan mereka. Karena ia sangat mencintai pekerjaannya, maka ia berusaha bangkit dan memulai sesuatunya dari awal. Lima tahun kemudian, Steve Jobs mendirikan perusahaan Pixar Animation Studios yang membuat film animasi komputer pertama di dunia “Toy Story” dan berhasil memenangkan penghargaan Oscar sebagai film animasi terbaik. Beberapa tahun kemudian, Apple membeli Pixar dan Steve Jobs pun kembali menduduki jabatannya kembali pada perusahaan yang dulu pernah ia dirikan. Sedangkan teknologi yang ia bangun di Pixar menjadi jantung kebangkitan Apple di masa kini. Dan Apple menjadi pemimpin inovasi dalam dunia desktop dan notebook, operating system, musik digital, toko musik online. Sedangkan Pixar menjadi penghasil film-film animasi box office dan pemenang Oscar seperti Toy Story, A Bug’s Life, Monsters Inc. Finding Nemo dan the Incredibles.

    Seperti halnya keberhasilan Steve Jobs, kita juga bisa menyebutkan keberhasilan Bill Gates pendiri Microsoft Inc., Jerry Yang pendiri Yahoo, Gordon Moore pendiri Intel. Atau Walt Disney penggagas Disneyland, meskipun dia sendiri tidak melihat keberhasilan gagasannya itu karena keburu dipanggil Tuhan. Mereka adalah orang-orang sukses dalam bisnis. Mereka mencapai kesuksesannya karena memilki visi ke masa depan yang jelas dan memiliki motivasi kerja yang tinggi untuk mencapai visinya itu. Itulah kunci kesuksesannya. Begitu juga mereka yang dapat mencapai puncak kekuasaan, sebagai pemimpin umat, sebagai pemimpin bangsa atau negara, jalan yang ditempuh untuk mencapai kesuksesan juga penuh liku, bahkan penuh intrik politik. Namun mereka juga memiliki visi yang jelas dan usaha keras untuk mencapainya. Kita bisa membaca autobiografi para pemimpin bagaimana mereka bisa sampai pada puncak kekuasaan tersebut. Atau juga para selebritis yang mencapai puncak kepopulerannya, seperti yang pernah dijelaskan pada mimbar yang lalu tentang Gito Rolis. Betapa mereka yang merupakan sosok-sosok yang sangat populer, dipuja dan dielu-elukan, dan berlimpah dengan kekayaan materi, namun akhirnya tidak menemukan kebahagiaan. Pada saat mereka berada di puncak kesuksesan karirnya itu, mereka didera rasa takut melihat ke depan ketika mereka tidak lagi populer atau ketika mereka tidak lagi mempunyai kekuasaan atau mengalami kebangkrutan. Mereka membayangkan ketidakberdayaan dan hidup tanpa arti. Karena kesuksesan yang menjadi visinya adalah duniawi belaka. Dan biasanya ketika mereka berada di puncak kesuksesan, mereka cenderung arogan. Hal ini dicirikan bahwa kebanyakan dari mereka ambisius untuk mencapai visinya, agresif dan cenderung menafikan hak orang lain atau menghalalkan segala cara, senang melihat lawannya atau saingannya kalah tapi tidak senang melihat lawan atau saingannya itu dapat mengunggulinya. Ketika berada di puncak kesuksesan, mereka cenderung mempertahankan statusquo, anti kritik, mudah tersinggung, gampang emosi dan jiwanya mudah terguncang.

    Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah,

    Ketika kita hendak mendaki sebuah gunung, maka untuk bisa mencapai puncaknya tentu harus memiliki informasi tentang gunung tersebut dan mempersiapkan diri segala keperluannya yang disesuaikan dengan kondisi gunung tersebut agar bisa selamat sampai di puncak dan kembali ke tempat asal dengan selamat pula. Untuk mencapai puncak gunung tersebut tentunya diperlukan usaha gigih karena medan yang akan di lalui berat dengan jalan yang mendaki, belum lagi adanya rintangan alam berupa kabut atau jalan licin karena hujan atau bersalju. Oleh karenanya, diperlukan perhitungan waktu yang tepat dan perlengkapan dan bekal yang memadai agar bisa mencapai puncak. Ketika sampai di puncak gunung yang kita daki, akan merasakan begitu puas dan bahagianya saat itu, dan rasa capai karena tenaga yang terkuras untuk mendaki pun hilang. Maka pada saat kita berada di puncak tersebut, lihatlah ke bawah, betapa kecilnya diri kita dan betapa maha besarnya Pencipta alam ini. Jika cuaca bagus, kita bisa melihat kota atau dusun yang berada di kaki gunung tersebut. Gedung yang tinggi menjulang ke langit pun akan tampak kecil, sehingga manusia yang menjadi penghuni gedung itu tak akan terlihat karena sangat kecilnya. Kita juga bisa melihat sungai yang mengalir berasal dari gunung itu menuju muara, memanjang meliuk-liuk seperti ular, dari ujung yang kecil pada sumbernya, menjadi besar menuju muara. Fenomena alam tersebut sebenarnya merupakan gambaran kehidupan kita di alam dunia ini, jika saja kita mau memahaminya. Namun kebanyakan manusia tidak mengerti tentang visi hidupnya sehingga mudah tergiur oleh pesona gemerlapnya keindahan kenikmatan dunia yang bersifat sementara. Dan itulah kelemahan manusia, cenderung mencintai dunia, sehingga Allah pun memperingatkan manusia agar tidak terpedaya bahwa semua itu merupakan ujian atau cobaan, dan kesenangan hidup yang sering melalikan, seperti pada firmanNya : “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada dunia, wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari emas dan perak, kuda (kendaraan) pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik” (QS Ali Imran 34).

    Dengan mengibaratkan pendakian sebuah gunung seperti pada uraian di atas, begitu pula untuk mencapai kesuksesan hidup kita. Maka untuk mencapai puncak kesuksesan hidup tersebut, yang pertama adalah harus mengetahui apa visi hidup kita, apakah hanya sekedar untuk sukses kehidupan dunia saja atau sukses dunia-akhirat. Untuk mencapai visi tersebut, tentu diperlukan persiapan sarana dan bekal yang memadai agar bisa mencapai puncak kesuksesan hidup tersebut. Jika visi hidupnya hanya untuk sukses dunia saja, maka sarana dan bekal yang harus dipersipakan hanya materi belaka tanpa bersangkutan dengan aspek ukhrawi. Tetapi jika visi hidup kita adalah dunia dan akhirat, maka sarana dan bekal yang harus dipersiapkan bukan hanya materi saja, namun yang paling penting adalah iman dan amal saleh yang benar di sisi Tuhan, dalam menjalani kehidupan dunia dari awal menapaki hidup sampai saat terakhir kehidupan kita untuk meninggalkan dunia ini dan berpindah ke alam barzah untuk selanjutnya menuju akhirat. Visi yang kedua inilah yang seharusnya menjadi visi setiap manusia, meskipun dalam pelaksanaannya menyimpang, sehingga seolah-olah visi yang pertama yang dipilihnya. Oleh karena itu, untuk mencapai sukses dunia dan akhirat diperlukan sarana-sarana pencapaiannya, seperti yang telah diuraikan pada Mimbar Jum’at 247 : “Sarana Mraih Kesuksesan” dua pekan lalu. Sedangkan bekal yang harus dibawa untuk bisa sampai sukses di akhirat adalah iman dan amal saleh sesuai yang telah ditetapkan sesuai aturan Allah, yang dilaksanakan secara ikhlas dan kuncinya adalah sabar dan syukur, seperti yang telah diuraikan pada mimbar pekan lalu. Untuk sampai pada kesuksesan di akhirat, maka puncak kesuksesannya adalah mempertahankan kesuksesan dunia sampai pada titik akhir perjalanan dunia, dengan akhir kehidupan yang baik (husnul khatimah). Itulah puncak kesuksesan, yang setiap orang akan berbeda.

    Firman Allah QS An Nisaa’ 134-135 yang terjemahannya dikutipkan pada awal mukadimah mimbar ini, mengingatkan kita bahwa jika kita menginginkan keuntungan atau kesuksesan dunia dan akhirat, wajib bersikap adil, dalam artian kita menempatkan segala sesuatu itu pada tempatnya atau sesuai porsinya. Dan untuk bisa bersikap adil, maka harus mampu mengendalikan diri atau tidak mengikuti hawa nafsunya. Jalan setiap orang untuk mencapai kesusesan itu berbeda karena memang usaha setiap orang itu berbeda, seperti yang ditegaskan oleh Allah pada QS Al Lail yang terjemahannya dikutipkan pada mimbar ini. Bagi orang yang bertakwa dan memahami visi hidupnya serta yakin akan adanya kesuksesan di akhirat yang ditentukan dari segala usahanya di dunia, maka puncak keusksesan itu adalah pada saat akan meninggalkan kehidupan dunia, dengan akhir hidupnya yang benar-benar baik dan dalam keadaan pasrah kepada Allah, sehingga Allah memudahkan jalan baginya dan tercermin pada wajah atau senyuman bahagia ketika ruh meninggalkan jasadnya. Sebaliknya bagi orang yang mendustakan akan keusksesan di akhirat, yang dicirikan dengan sikap arogan dan kikir ketika menjalani kehidupan dunia, meskipun telah merintis kesuksesan dengan modal iman dan amal saleh yang dianggapnya benar, maka pada saat akhir hidupnya akan mendapat kesulitan untuk mencapai puncak kesuksesan, sehingga kegagalanlah yang ia dapatkan atau su’ul khatimah. Dan akan gagal pula di akhirat kelak. Oleh karena itu, mari kita berusaha merintis kesuksesan dunia sesaui dengan aturan Allah dan mempertahankannya sampai akhir hidup kita, sehingga kita dapat mencapai puncak kesuksesan dunia pada saat ruh meninggalkan jasad kita dengan husnul khatimah, dan Allah memudahkan kita untuk meretas jalan mencapai sukses di akhirat. Semoga kita termasuk orang-orang yang sukses di dunia dengan puncaknya pada akhir hayat kita, dan akan sukses pula di akhirat kelak, amien. Kita akhiri mimbar ini, alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin.

    Wassalamu’alaikum wr.wb.

    Nana Djumhana

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 11 January 2020 Permalink | Balas  

    Mendapatkan Ruku’ berarti Mendapat 1 Raka’at 

    Mendapatkan Ruku’ berarti Mendapat 1 Raka’at

    Membaca Al Faatihah merupakan rukun di dalam shalat, dari Ubadah bin ash Shamit ra., Nabi ShalallaHu alaiHi wa sallam bersabda, “Laa Shalaata liman lam yaqra’ bifaatihatil kitaab” yang artinya “Tidak (sah) shalat orang yang tidak membaca fatihatul kitab (al faatihah)” (HR. Bukhari no. 756, Muslim no. 394, At Tirmidzi no. 247, An Nasa’I II/137, Ibnu Majah no. 837 dan Abi Dawud no. 807)

    Namun dalil di atas adalah dalil yang sifatnya umum, dan jika terdapat dalil khusus yang berkaitan dengan dalil umum maka kaidahnya adalah dalil khusus yang didahulukan.

    Berkaitan dengan terlambatnya makmum untuk mengikuti shalat berjama’ah, maka Rasulullah ShalallaHu alaiHi wa sallam memberikan beberapa tuntunannya yaitu:

    Mengikuti imam shalat dalam keadaan apa pun.

    Dari Ali bin Abi Thalib ra. dan Mu’adz bin Jabal ra., mereka mengatakan bahwa Nabi ShalallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Jika salah seorang diantara kalian mendatangi shalat jama’ah pada saat imam sedang berada pada suatu keadaan, maka hendaklah ia melakukan gerakan sebagaimana yang dilakukan imam” (HR. At Tirmidzi no. 588, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan At Tirmidzi no. 484)

    Mendapatkan ruku’ berarti mendapatkan 1 raka’at.

    Dari Abu Hurairah ra., ia mengatakan bahwa Nabi ShalallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Jika kalian mendatangi shalat jama’ah pada saat kami sedang sujud, maka sujudlah dan itu jangan dihitung (satu raka’at). Dan barangsiapa mendapati (imam) sedang ruku’, maka dia mendapatkan satu raka’at shalat” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiihul Jaami’ush Shaghiir no. 468)

    Maraji’:

    Panduan Fiqih Lengkap Jilid 1, Syaikh Abdul Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 10 January 2020 Permalink | Balas  

    Penyelenggaraan Jenazah & Pembagian Harta Warisan (2-Tamat) 

    Penyelenggaraan Jenazah & Pembagian Harta Warisan (2-Tamat)

    Wasiat Allah

    Apabila si wafat tidak meninggalkan suatu wasiat, maka pembagian harta warisan dilakukan menurut wasiat Allah. Demikian pula apabila ada sisa harta yang tidak diatur pembagiannya di dalam wasiat, maka ia dibagi menurut ketentuan wasiat Allah.

    Terdapat tiga ayat yang mengatur ketentuan tentang wasiat Allah ini yaitu:

    “Allah mewasiatkan kamu mengenai anak-anak kamu; bagian anak laki- laki sama dengan bagian dua perempuan, dan jika mereka semuanya perempuan yang lebih dari dua, maka bagi mereka dua per tiga dari harta yang ditinggalkan; tapi jika anak perempuan itu seorang saja, maka baginya separuh harta. Dan untuk ibu dan bapak, kepada masing- masing satu per enam dari harta yang ditinggalkan, jika dia ada anak; tetapi jika dia tidak ada anak, dan waris-warisnya ialah ibu dan bapaknya, maka satu per tiga bagi ibunya, atau jika dia ada saudara-saudara laki-laki, maka bagi ibunya satu per enam, sesudah dipenuhi wasiat yang dia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya…” [Q.S. 4:11]

    “Dan bagi kamu (suami), separuh dari apa yang isteri-isteri kamu tinggalkan, jika mereka tidak mempunyai anak. Tapi jika mereka mempunyai anak, maka bagi kamu satu per empat dari yang ditinggalkannya, sesudah dipenuhi wasiat mereka, atau (dan) dibayar hutangnya. Dan bagi mereka (istri-istri), satu per empat dari apa yang kamu tinggalkan jika kamu mempunyai anak. Tapi jika kamu mempunyai anak, maka bagi mereka satu per delapan dari apa yang kamu tinggalkan, sesudah dipenuhi wasiat atau (dan) dibayar hutangnya. Jika seorang laki-laki atau seorang perempuan tidak mempunyai pewaris langsung (ibu bapak dan anak), tapi mempunyai saudara laki- laki atau saudara perempuan, maka bagi masing-masing dari keduanya, satu per enam harta. Tapi jika mereka lebih banyak dari itu, maka mereka bersekutu dalam satu per tiga, sesudah dipenuhi wasiatnya, atau (dan) dibayar hutang yang tidak memudaratkan. (Yang demikian) wasiat dari Allah, dan Allah Mengetahui, Penyantun”. [Q.S. 4:12]

    “Mereka meminta satu keputusan kepada kamu. Katakanlah, “Allah memutuskan kepada kamu mengenai waris yang tidak langsung (selain ibu bapak dan anak). Jika seorang laki-laki mati tanpa seorang anak, tetapi dia mempunyai saudara perempuan, maka dia (saudara perempuan) menerima separuh dari apa yang dia tinggalkan; dan dia (saudara laki- laki) adalah pewaris harta saudara perempuannya jika dia (perempuan) tidak mempunyai anak. Jika ada dua saudara perempuan, mereka menerima dua per tiga dari harta yang dia (saudara laki-laki) tinggalkan. Dan jika ada beberapa orang saudara, laki-laki dan perempuan, yang laki-laki menerima sama dengan dua bagian perempuan. Allah menjelaskan kepada kamu supaya kamu tidak sesat; Allah mengetahui segala sesuatu”. [Q.S. 4:176]

    Sebagai catatan, umumnya Al-Qur’an terjemahan bahasa Indonesia menggunakan frasa “Allah syariatkan…” pada awal ayat 4:11 yang dikutip di atas. Namun apabila kita konsisten dengan terjemahan kata dalam bahasa aslinya (Arab), maka yang lebih tepat adalah frasa “Allah wasiatkan…”.

    Ayat-ayat tentang wasiat Allah di atas dapat diuraikan sebagai berikut:

    Bagian anak-anak – Pada dasarnya, bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan. – Jika anak perempuan berjumlah lebih dari dua, maka mereka mendapatkan 2/3, dan berarti anak laki-laki mendapat 1/3. – Jika anak perempuan hanya satu orang, dan anak laki-laki juga satu orang, maka masing-masing mereka mendapatkan separuh (1/2). – Jika anak laki-laki lebih dari 1 orang, dan anak perempuan hanya 1 orang, maka perhitungannya kembali ke prinsip awal bahwa bagian satu orang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. – Pendapat kami, apabila orang yang wafat hanya meninggalkan anak laki-laki saja (tidak ada anak perempuan), maka warisan yang diperuntukkan bagi anak diserahkan semuanya kepada anak laki-laki tersebut, demikian pula sebaliknya.

    Bagian Istri/ Suami

    • Jika tidak ada anak, istri mendapatkan 1/4 bagian.
    • Jika ada anak, istri mendapatkan 1/8 bagian.
    • Jika tidak ada anak, suami mendapatkan 1/2 bagian.
    • Jika ada anak, suami mendapatkan 1/4 bagian.

    Bagian Orang Tua

    • Jika ada anak, ibu dan bapak masing-masing mendapatkan 1/6 bagian.
    • Jika tidak ada anak, ibu mendapatkan 1/3 bagian.
    • Jika tidak anak tapi ada saudara-saudara laki-laki, ibu kembali mendapatkan 1/6 bagian.

    Bagian Saudara (pewaris tidak langsung)

    • Jika tidak ada pewaris langsung (ibu, bapak, anak), saudara- saudara laki-laki dan perempuan mendapat masing-masing 1/6. Apabila jumlah mereka lebih dari 6 orang, mereka semua berbagi dalam 1/3 bagian. Bagian saudara laki-laki sama dengan dua bagian saudara perempuan.
    • Jika orang yang meninggal adalah laki-laki yang tidak mempunyai pewaris langsung (ibu, bapak, anak), maka saudara perempuannya mendapatkan 1/2 bagian.
    • Jika orang yang meninggal adalah laki-laki yang tidak mempunyai pewaris langsung (ibu, bapak, anak), namun mempunyai dua orang saudara perempuan, maka mereka mendapatkan 2/3 bagian.
    • Jika orang yang meninggal adalah perempuan yang tidak mempunyai pewaris langsung (ibu, bapak, anak), maka saudara laki- laki mewarisi seluruh harta.

    Contoh ilustrasi, seorang laki-laki wafat dan meninggalkan seorang istri, ibu, dan anak-anak. Prosentase pembagiannya:

    Istri => 1/8 (3/24) = 12,50%

    Ibu => 1/6 (4/24) = 16,66%

    Anak-anak => Sisa (17/24) = 70,83%

    Pada kasus tertentu, harta yang dibagi dengan rumus di atas ternyata masih bersisa. Hemat kami, sisa harta tersebut dibagikan kepada orang-orang yang terikat sumpah dengan si meninggal sebagaimana telah disinggung sebelumnya (anak asuh, anak tiri, kerabat yang miskin, pembantu, anak yatim, dll).

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 9 January 2020 Permalink | Balas  

    Liwath (Homoseksual) 

    Liwath (Homoseksual)

    Oleh: Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Kemungkaran yang dilakukan oleh kaum nabi Luth pada zaman dahulu adalah menggauli laki-laki (homoseksual).

    Allah Tabaroka wata’ala berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seseorangpun dari umat-umat sebelum kamu. Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuan?” (Al Ankabut: 28-29)

    Karena keji, buruk dan amat berbahayanya kemungkaran tersebut, sehingga Allah Subhanahu wata’ala menghukum pelaku homoseksual tersebut dengan empat macam siksaan sekaligus. Suatu bentuk siksa yang belum pernah ditimpakan kepada kaum lain. Keempat siksaan tersebut adalah: kebutaan, menjungkir balikkan mereka, menghujani mereka dengan batu-batu kerikil dari neraka serta mengirim kepada mereka halilintar.

    Adapun dalam syariat Islam, hukuman pelaku homoseksual dan teman kencannya jika atas dasar suka sama suka -menurut pendapat yang kuat- adalah dipenggal lehernya dengan pedang.

    Dalam sebuah hadits marfu’ dari ibnu Abbas Radhiallahu’anhu disebutkan: “Barangsiapa yang kalian dapati sedang melakukan perbuatan kaum Luth (hamoseksual) maka bunuhlah pelaku dan teman kencannya” (HR Ahmad, 1/ 300 dalam shahihul jami’ no: 6565)

    Timbulnya berbagai penyakit -yang pada zaman nenek moyang tak dikenal, sebagai hukuman atas merajalelanya kemaksiatan- sebagaimana kita saksikan sekarang seperti tha’un (sejenis penyakit pes yang menjadikan kelenjar-kelenjar bengkak dan lebih banyak menghantar penderitanya kepada kematian) dan macam-macam penyakit yang sulit disembuhkan bahkan belum ditemukan penawarnya, seperti penyakit AIDS yang mematikan, ini semuanya menunjukkan salah satu hikmah; mengapa begitu keras hukuman yang diberikan Allah untuk pelaku homoseksual.

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 8 January 2020 Permalink | Balas  

    Zina 

    Zina

    Oleh : Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Di antara tujuan syariat adalah menjaga kehormatan dan keturunan, karena itu syariat Islam mengharamkan zina, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

    “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu sesuatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (Al Isra’: 32)

    Bahkan syariat menutup segala pintu dan sarana yang mengundang perbuatan zina. Yakni dengan mewajibkan hijab, menundukkan pandangan, juga dengan melarang khalwat (berduaan di tempat yang sepi) dengan lawan jenis bukan mahram dan sebagainya.

    Pezina muhshan (yang telah beristri) dihukum dengan hukuman yang paling berat dan menghinakan. Yaitu dengan merajam (melemparnya dengan batu hingga mati). hukuman ini ditimpakan agar merasakan akibat dari perbuatannya yang keji, juga agar setiap anggota tubuhnya kesakitan, sebagaiman dengannya ia menikmati yang haram.

    Adapun pezina yang belum pernah melakukan senggama melalui nikah yang sah, maka ia dicambuk sebanyak seratus kali. Suatu bilangan yang paling banyak dalam hukuman cambuk yang dikenal dalam Islam. Hukuman ini harus disaksikan sekelompok kaum mukminin. Suatu bukti betapa hukuman ini amat dihinakan dan dipermalukan. Tidak hanya itu, pezina tersebut selanjutnya harus dibuang dan diasingkan dari tempat ia melakukan perzinaan, selama satu tahun penuh.

    Adapun siksaan para pezina -baik laki-laki maupun perempuan- di alam barzakh adalah ditempatkan di dapur api yang atasnya sempit dan bawahnya luas. Dari bawah tempat tersebut, api dinyalakan. Sedang mereka berada didalamnya dalam keadaan talanjang. Jika dinyalakan mereka teriak, malolong-lolong dan memanjat keatas hingga hampir-hampir saja mereka bisa keluar, tapi bila api dipadamkan, mereka kembali lagi ke tempatnya semula (di bawah) lalu api kembali lagi dinyalakan. Demikian terus berlangsung hingga datangnya hari kiamat.

    Keadaannya akan lebih buruk lagi jika laki-laki tersebut sudah tua tapi terus saja berbuat zina, padahal kematian hampir menjemputnya, tetapi Allah Tabaroka wata’ala masih memberinya tenggang waktu.

    Dalam hadits marfu’ dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu disebutkan:

    “Tiga (jenis manusia) yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, juga Allah tidak akan menyucikan mereka dan tidak pula memandang kepada mereka, sedang bagi mereka siksa yang pedih, yaitu laki-laki tua yang suka berzina, seorang raja pendusta, dan orang miskin yang sombong”. (HR Muslim: 1/102-103).

    Di antara cara mencari rizki yang terburuk adalah mahrul baghyi. yaitu upah yang diberikan kepada wanita pezina oleh laki-laki yang menzinainya.

    Pezina yang mencari rizki dengan dengan menjajakan kemaluannya tidak diterima doanya. Walaupun do’a itu dipanjatkan ditengah malam, saat pintu-pintu langit dibuka. (Hadits masalah ini terdapat dalam shahihul jami’: 2971)

    Kebutuhan dan kemiskinan bukanlah suatu alasan yang dibenarkan syara’ sehingga seseorang boleh melanggar ketentuan dan hukum-hukum Allah. Orang Arab dulu berkata: seorang wanita merdeka kelaparan, tetapi tidak makan dengan menjajakan kedua buah dadanya, bagaimana mungkin dengan menjajakan kemaluannya.

    Di zaman kita sekarang, segala pintu kemaksiatan di buka lebar-lebar. Setan mempermudah jalan (menuju kemaksiatan) dengan tipu dayanya dan tipu daya pengikutnya. Para tukang maksiat dan ahli kemungkaran membeo setan. Maka bertebarlah para wanita yang pamer aurat dan keluar rumah tanpa mengenakan pakaian yang diperintahkan agama. Tatapan yang berlebihan dan pandangan yang diharamkan menjadi fenomena umum. Pergaulan bebas antara laki-laki dengan perempuan merajalela. Rumah-rumah mesum semua laku. Demikian pula dengan film-film yang membangkitkan nafsu hewani. Banyak orang-orang melancong ke negeri-negeri yang menjanjikan kebebasan maksiat. Disana-sini berdiri bursa sex. Pemerkosaan terjadi di mana-mana. Jumlah anak haram meningkat tajam. Demikian halnya dengan aborsi (pengguguran kandungan) akibat kumpul kebo dan sebagainya.

    Ya Allah, kami mohon padaMu, bersihkanlah segenap hati kami dan pelihara serta bentengilah kemaluan dan kehormatan kami. Jadikanlah antara kami dengan hal-hal yang diharamkan dinding pembatas. Hanya kepadamulah kami mengadu…..Laa khawla wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adhim.

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 7 January 2020 Permalink | Balas  

    Bab Perkara Fithrah 

    Bab Perkara Fithrah

    Dari Aisyah ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Sepuluh (perilaku fithrah), mencukur kumis, memanjangkan jenggot, bersiwak, menghirup air ke hidung (istinsyaq), memotong kuku, membasuh sela-sela jari, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, bersuci dengan air (al istinjaa’) [Zakaria bin Abi Za-idah, salah seorang perawi hadits ini, berkata kepada Mush’ab bin Syaibah, “Aku lupa yang kesepuluh, mungkin berkumur-kumur’]” (HR. Muslim no. 261, Abu Dawud no. 52, At Tirmidzi no. 2906, An Nasa’i VIII/126 dan Ibnu Majah no. 293)

    Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Lima (perilaku) fithrah, mencukur bulu kemaluan, khitan, mencukur kumis, mencabut bulu ketiak dan memotong kuku” (HR. Al Bukhari no. 5889, Muslim no. 257, Abu Dawud no. 4180, At Tirmidzi no. 2905, An Nasa’i I/14 dan Ibnu Majah no. 292)

    Berikut penjelasan beberapa perilaku fithrah :

    1. Khitan

    Khitan wajib bagi pria dan wanita karena ia merupakan ciri ke-Islaman. Nabi ShallallaHu alaiHi wa sallam berkata kepada seorang laki-laki yang baru memeluk Islam,

    “Alqi “anka sya’ral kufri wakhtatin” yang artinya “Campakkanlah rambut kekufuran darimu dan berkhitanlah” (HR. Abu Dawud no. 352, dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih al Jaami’ush Shaghiir no. 1251)

    Perbuatan khitan ini termasuk ajaran Nabi Ibrahim alaiHis sallam. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Ibrahim, khalilurrahman berkhitan setelah berumur delapan puluh tahun” (HR. Al Bukhari no. 6298 dan Muslim no. 370)

    1. Memanjangkan Jenggot

    Memanjangkan Jenggot hukumnya wajib dan mencukurnya termasuk perbuatan yang haram karena Nabi ShallallaHu alaiHi wa sallam memerintahkannya. Sedangkan perintah menunjukkan kewajiban. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Juzzusy syawaariba wa akhulliha khaaliful majuusa” yang artinya “Pangkaslah kumis dan panjangkan jenggot. Selisihilah orang-orang majusi” (HR. Muslim no. 260)

    Dari Ibnu Umar ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Selisihilah orang-orang musyrik, panjangkan jenggot dan potonglah kumis” (HR. Al Bukhari no. 5892 dan Muslim no. 259)

    1. Siwak

    Bersiwak disukai pada semua keadaan namun lebih disukai ketika wudhu, shalat, membaca Al Qur’an, memasuki rumah dan ketika shalat malam berikut beberapa dalil yang menjelaskan hal tersebut,

    Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku suruh mereka bersiwak setiap wudhu” (HR. Ahmad dalam al Fathur Rabbaani no. 171, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih al Jaami’ush Shaghiir no. 5316)

    Dari Hudzaifah ra., ia berkata,

    “Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam apabila hendak shalat tahajud, beliau membersihkan mulutnya dengan siwak” (HR. Al Bukhari no. 245, ini lafazhnya, Muslim no. 255, Abu Dawud no 54 dan An Nasa’i I/8)

    1. Dimakruhkan mencabut uban

    Dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya. Dia mengatakan bahwa Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Janganlah kalian mencabut uban, karena tidaklah seorang muslim beruban dalam Islam walaupun sehelai, melainkan ia akan menjadi cahaya baginya di hari kiamat” (HR. Abu Dawud no. 4184 dan An Nasa’i VIII/136, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Al Jaami’ush Shaghiir no. 7463)

    1. Menyemir rambut kecuali dengan warna hitam

    Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak menyemir rambut mereka, maka selisihilah mereka” (HR. Al Bukhari no. 5899, Muslim no. 2103, Abu Dawud no. 4185 dan An Nasa’i VIII/137)

    Dari Jabir ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Rubahlah (rambut) ini dengan sesuatu, tetapi hindarilah warna hitam” (HR. Muslim no. 2102, Abu Dawud no. 4186, An Nasa’i VIII/138 dan Ibnu Majah no. 3624)

    Maraji’

    Panduan Fiqh Lengkap Jilid 1, Syaikh Abdul “Azhim bin Badawi al Khalfi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H-Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 6 January 2020 Permalink | Balas  

    An Najaasaat 

    An Najaasaat

    An Najasaat adalah bentuk plural dari najasah, yaitu semua yang dianggap menjijikan oleh orang yang bertabiat normal. Mereka menjaga diri darinya dan mencuci pakaian mereka jika terkena olehnya seperti kotoran dan air seni (Ar Raudhah An Nadiyyah I/12 oleh Syaikh Shidiq Hasan Khan)

    Hukum asal segala sesuatu adalah boleh dan suci. Barangsiapa menyatakan nasjisnya suatu materi, maka ia harus mendatangkan dalil. Namun bila ia tidak bisa membawakan suatu hujjah maka wajib mengikuti hukum asal, yaitu segala sesuatu boleh dan suci.

    Maka tidak boleh mengatakan tentang najisnya sesuatu kecuali dengan dalil (Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan Abu Dawud no. 834 dan Syaikh Shidiq Hasan Khan dalam Ar Raudhah An Nadiyyah I/15).

    Hal-hal yang terdapat dalil tentang kenajisan serta cara menyucikannya adalah:

    Air seni.

    Dari Anas ra., “Seorang Arab Badui buang air di Mesjid, lalu segolongan orang menghampirinya. Rasulullah ShallallaHu alaihi wa sallam lantas bersabda, “Biarkanlah ia jangan kalian hentikan kencingnya”. Lalu Anas ra. melanjutkan, “Tatkala ia sudah menyelesaikan kencingnya, beliau ShallallaHu alaiHi wa sallam memerintahkan agar dibawakan setimba air lalu diguyurkan di atasnya” (HR. Al Bukhari no. 6025 dan Muslim no. 284)

    [Secara umum, zat untuk membersihkan diri dari najis adalah dengan menggunakan air, kecuali syariat membolehkan membersihkannya dengan selain air, seperti menggunakan tanah]

    Adapun cara menyucikan pakaian yang terkena kencing bayi yang masih menyusu adalah sebagaimana sabda Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam, “Air kencing bayi perempuan dicuci, sedangkan air kencing bayi diperciki” (HR. An Nasa’i I/158 dan Abu Dawud no. 372, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan an Nasa’i no. 293)

    Kotoran manusia.

    Dari Hudzaifah ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang diantara kalian menginjak al adzaa dengan sandalnya, maka tanah adalah penyucinya” (HR. Abu Dawud no. 381, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 834)

    Al Adzaa adalah segala sesuatu yang engkau merasa tersakiti olehnya, seperti najis, kotoran dan sebagainya (“Aunul Ma’buud II/44).

    Madzi.

    Madzi adalah cairan bening, encer dan lengket yang keluar ketika naiknya syahwat. Dialami pria maupun wanita.

    Ali ra. berkata, “Aku adalah laki-laki yang sering keluar madzi. Aku malu menanyakannya pada Nabi ShallallaHu alaiHi wa sallam karena kedudukan putri beliau. Lalu kusuruh al Miqdad bin al Aswad untuk menanyakannya. Beliau ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda, “Dia harus membasuh kemaluannya dan berwudhu” (HR Al Bukhari no. 132 dan Muslim no. 303)

    Untuk pakaian yang terkena madzi Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam memberikan panduannya,

    “Cukup ambil segenggam air lalu guyurkan pada pakaianmu yang terkena olehnya” (HR. Abu Dawud no. 207, At Tirmidzi no. 115 dan Ibnu Majah no. 506, dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan Ibni Majah no. 409)

    Wadi

    Wadi adalah cairan bening dan kental yang keluar setelah buang air. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata, “Mani, wadi dan madzi. Adapun mani maka wajib mandi. Sedangkan untuk wadi dan madzi beliau ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Basulah dzakar atau kemaluanmu dan wudhulah sebagaimana engkau berwudhu untuk shalat” (HR. Abu Dawud dan Al Baihaqi I/115, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 190)

    Kotoran hewan yang tidak halal dimakan dagingnya.

    Dari Abdullah ra., ia berkata, “Ketika Nabi ShallallaHu alaiHi wa sallam hendak buang hajat, beliau berkata, “Bawakan aku 3 batu’. Aku menemukan dua batu dan sebuah kotoran keledai. Lalu beliau mengambil kedua batu itu dan membuang kotoran tadi lalu berkata, “(Kotoran) itu najis” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah no. 2530)

    Darah haidh

    Dari Asma’ binti Abi Bakar ra. ra, ia berkata, “Seorang wanita datang kepada kepada Nabi ShallallaHu alaiHi wa sallam lalu berkata, “Baju seorang diantara kami terkena darah haidh, apa yang ia lakukan ?’

    Beliau ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda, “Keriklah, kucek dengan air, lalu guyurlah. Kemudian shalatlah dengan (baju) itu” (HR. Al Bukhari no. 307 dan Muslim no. 291)

    Air liur anjing.

    Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda, “(Cara) menyucikan bejana salah seorang diantara kalian jika dijilat anjing adalah membasuhnya tujuh kali. Yang pertama dengan tanah” (HR. Muslim no. 276)

    Bangkai

    Yaitu segala sesuatu yang mati tanpa disembelih secara syar’i. Dasarnya adalah sabda Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam, “Kulit bangkai apa saja jika disamak, maka ia suci” (HR. Ibnu Majah, Ahmad dalam Al Fathur Rabbani no. 49, At Tirmidzi no. 1782, Ibnu Majah no. 3609 dan An Nasa’iVII/173, dari Ibnu Abbas ra., dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah no. 2907)

    Maraji:

    Panduan Fiqh Lengkap Jilid 1, Abdul “Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 5 January 2020 Permalink | Balas  

    Air 

    Air

    Thaharah secara bahasa berarti suci dan bersih dari hadats. Sedangkan menurut istilah bermakna menghilangkan hadats dan najis (Al Majmuu’ Syarhul Muhadzdzab I/79).

    Semua air yang turun dari langit dan keluar dari Bumi adalah suci dan menyucikan. Dasarnya adalah firman Allah Ta’ala,

    “Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira yang dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan) dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih” (QS Al Furqaan : 48)

    Sabda Nabi ShallallaHu alaiHi wa sallam tentang air laut, “Huwath thaHuuru maa-uHu al hillu maytatuHu” yang artinya “Air laut itu suci dan menyucikan serta halal bangkainya” (HR. Abu Dawud no. 83, At Tirmidzi no. 69, Ibnu Majah no. 386 dan An Nasa’i I/176, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan Ibnu Majah no. 309)

    Air tetap dalam kesuciannya meskipun bercampur dengan sesuatu yang suci selama tidak keluar dari keasliannya. Dasarnya adalah sabda beliau shallallaHu alaiHi wa sallam kepada wanita yang memandikan jenasah putri beliau, “Mandikanlah ia tiga kali, lima kali atau lebih dengan air dan bidara jika menurut kalian perlu. Dan jadikanlah basuhan terakhir dengan kapur barus atau sedikit dengannya” (HR. Al Bukhari no. 1253 dan Muslim no. 939)

    Maraji’:

    Panduan Fiqh Lengkap Jilid 1, Syaikh Abdul ‘Azhim bin Badawi al Khalfi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H-Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 4 January 2020 Permalink | Balas  

    Penyelenggaraan Jenazah dan Pembagian Warisan (1) 

    Penyelenggaraan Jenazah dan Pembagian Warisan (1)

    Demi kebersihan dan kepantasan maka umumnya jenazah dimandikan dan diberi wewangian. Setelah itu terhadapnya dikenakan pakaian yang baik sehingga tidak menjatuhkan kehormatannya meskipun yang bersangkutan telah wafat.

    Sebagaimana petunjuk Allah, selain berfungsi sebagai penutup aurat pakaian juga diturunkan-Nya kepada manusia untuk membawa keindahan.

    “Wahai Bani Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi bagian-bagian aib kamu, dan (pakaian indah sebagai) perhiasan…” [Q.S. 7:26]

    Bagaimana pakaian yang baik untuk jenazah tidak berbeda dengan pakaian yang baik untuk orang hidup. Mungkin ia berupa setelan kemeja, atau batik, atau jas, atau baju kurung, dan sebagainya.

    Penulis tidak berpikir bahwa pembungkusan jenazah dengan kain kafan sebagaimana tradisi selama ini bisa dikatakan sebagai “baik” apalagi “memuliakan” bagi si wafat.

    Setelah jenazah dipakaikan dengan pakaian yang baik, selanjutnya dari ayat-ayat Allah kita mendapati petunjuk bahwa jenazah dikuburkan, bukan diperlakukan dengan cara lain seperti misalnya dikremasi (dibakar).

    “Kemudian Allah kirimkan seekor burung gagak mencakar-cakar di atas bumi, untuk memperlihatkan kepada dia bagaimana dia akan menyembunyikan mayat saudaranya yang menimbulkan aib. Dia berkata: `Celakalah aku! Tidakkah aku mampu untuk menjadi seperti burung gagak ini, untuk menyembunyikan mayat saudaraku yang menimbulkan aib?’ Dan dia menjadi diantara orang-orang yang menyesal”. [Q.S. 5:31]

    “Kemudian mematikannya, dan menguburkannya”. [Q.S. 80:21]

    Sesaat setelah jenazah dikuburkan, pada sebagian masyarakat ada kebiasaan untuk melakukan “talqin”, yaitu suatu pengajaran kepada jenazah tentang apa yang harus dijawabnya atas pertanyaan malaikat di alam kubur. Padahal ayat Allah dalam hal ini sangat jelas:

    “…kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang di dalam kubur untuk mendengar”. [Q.S. 35:22]

    Karena talqin adalah pekerjaan yang sia-sia belaka, maka tidak usah kita ikut-ikutan melakukannya. Sebagai gantinya, kita bisa mendoakan kebaikan untuk si wafat. Ayat di bawah ini mengisyaratkan kepada kita bahwa mendoakan maupun menziarahi jenazah (kubur) orang beriman adalah perbuatan yang dibenarkan oleh Allah.

    “Dan janganlah kamu mendoakan seorang yang mati antara mereka, dan jangan juga berdiri di kuburnya. Sesungguhnya mereka tidak beriman kepada Allah dan rasul-Nya, dan mereka mati dalam keadaan fasik”. [Q.S. 9:84]

    Satu pesan lagi dari ayat di atas adalah, sebagai bentuk penghormatan atas si wafat maka ketika melakukan ziarah kubur hendaknya kita berdiri, bukan duduk atau jongkok.

    Pembagian Harta Warisan

    Wasiat Allah memerintahkan kepada kita membuat wasiat untuk ibu, bapak, dan sanak saudara. Saking pentingnya membuat wasiat ini, Allah mengaitkannya dengan ketakwaan.

    “Dikitabkan bagi kamu, apabila seseorang antara kamu didatangi kematian, dan dia meninggalkan kebaikan (harta), supaya membuat wasiat untuk ibu bapaknya, dan sanak saudara dengan baik – sebagai suatu kewajiban atas orang-orang yang bertakwa”. [Q.S. 2:180]

    Apabila ternyata isi wasiat dirasakan tidak adil atau berdosa apabila dilaksanakan, maka para pihak yang terlibat dapat memperbaikinya agar adil.

    “Jika seseorang takut akan penyimpangan dari jalan yang benar, atau dosa dari orang yang berwasiat itu, lalu dia mengadakan perbaikan antara mereka, maka tidaklah ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Pengampun, Pengasih”. [Q.S. 2:182]

    Allah tetapkan pula agar di dalam wasiat itu dicantumkan pemberian uang belanja dan hak untuk tetap mendiami rumah bagi istri selama satu tahun. Apabila rumah yang dimaksud adalah rumah sewaan, maka pembayaran sewa rumahnya selama satu tahun harus diwasiatkan.

    “Dan orang-orang antara kamu yang mati dan meninggalkan isteri- isteri, hendaklah mereka membuat wasiat untuk isteri-isteri mereka nafkah untuk setahun tanpa mengeluarkannya (dari rumah)…”. [Q.S. 2:240]

    Turut dimasukkan sebagai pewaris di dalam wasiat adalah orang-orang yang terikat sumpah dengan si wafat. “Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu, bapak dan sanak saudara Kami jadikan pewaris-pewarisnya. Dan orang- orang yang terikat sumpah dengan kamu, berilah mereka bagiannya…” [Q.S. 4:33] Hemat penulis, yang dimaksud dengan orang-orang yang terikat sumpah ini adalah orang-orang kepada siapa si wafat ketika hidupnya berkomitmen untuk memberi nafkah. Masuk ke dalam kategori ini adalah: anak asuh, anak tiri, pembantu, kerabat yang miskin, anak yatim, dll. Wasiat hendaknya disaksikan oleh dua orang saksi yang adil. Saksi dapat merupakan orang yang dipercayai atau orang lain jika kebetulan maut mendatangi sedang kita dalam perjalanan. “Wahai orang-orang yang beriman, kesaksian antara kamu apabila salah seorang daripada kamu ditimpa maut, apabila dia berwasiat, ialah dua orang yang adil antara kamu, atau dua orang selain kamu jika kamu berpergian di bumi dan bencana maut menimpa kamu…” [Q.S. 5:106]

    Apabila ragu terhadap kejujuran saksi-saksi, kita minta agar mereka melafazkan sumpah dengan menyebut nama Allah setelah shalat dengan bunyi sebagaimana disebutkan oleh ayat berikut.

    “…Kemudian kamu tahan mereka sesudah shalat, dan mereka akan bersumpah dengan nama Allah, jika kamu ragu-ragu: ‘Kami tidak akan menjualnya untuk suatu harga, walaupun ia sanak saudara yang dekat, dan kami tidak juga akan menyembunyikan kesaksian Allah, karena jika demikian, tentu kami termasuk orang-orang yang berdosa'”. [Q.S. 5:106]

    Pada zaman sekarang kita dapat menggunakan jasa notaris untuk penyaksian wasiat ini.

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 3 January 2020 Permalink | Balas  

    Diam Itu Emas 

    Diam Itu Emas

    Aa. Gym.

    Dalam upaya mendewasakan diri kita, salah satu langkah awal yang harus kita pelajari adalah bagaimana menjadi pribadi yang berkemampuan dalam menjaga juga memelihara lisan dengan baik dan benar. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata benar atau diam.”, hadits diriwayatkan oleh Bukhari.

    1. Jenis-jenis Diam

    Sesungguhnya diam itu sangat bermacam-macam penyebab dan dampaknya. Ada yang dengan diam jadi emas, tapi ada pula dengan diam malah menjadi masalah. Semuanya bergantung kepada niat, cara, situasi, juga kondisi pada diri dan lingkungannya. Berikut ini bisa kita lihat jenis-jenis diam:

    • Diam Bodoh

    Yaitu diam karena memang tidak tahu apa yang harus dikatakan. Hal ini bisa karena kekurangan ilmu pengetahuan dan ketidakmengertiannya, atau kelemahan pemahaman dan alasan ketidakmampuan lainnya. Namun diam ini jauh lebih baik dan aman daripada memaksakan diri bicara sok tahu.

    • Diam Malas

    Diam jenis merupakan keburukan, karena diam pada saat orang memerlukan perkataannya, dia enggan berbicara karena merasa sedang tidak mood, tidak berselera atau malas.

    • Diam Sombong

    Ini pun termasuk diam negatif karena dia bersikap diam berdasarkan anggapan bahwa orang yang diajak bicara tidak selevel dengannya.

    • Diam Khianat

    Ini diamnya orang jahat karena dia diam untuk mencelakakan orang lain. Diam pada saat dibutuhkan kesaksian yang menyelamatkan adalah diam yang keji.

    • Diam Marah

    Diam seperti ini ada baiknya dan adapula buruknya, baiknya adalah jauh lebih terpelihara dari perkataan keji yang akan lebih memperkeruh suasana. Namun, buruknya adalah dia berniat bukan untuk mencari solusi tapi untuk memperlihatkan kemurkaannya, sehingga boleh jadi diamnya ini juga menambah masalah.

    • Diam Utama (Diam Aktif)

    Yang dimaksud diam keutamaan adalah bersikap diam hasil dari pemikiran dan perenungan niat yang membuahkan keyakinan bahwa engan bersikap menahan diri (diam) maka akan menjadi maslahat lebih besardibanding dengan berbicara.

    1. Keutamaan Diam Aktif
    • Hemat Masalah

    Dengan memilih diam aktif, kita akan menghemat kata-kata yang berpeluang menimbulkan masalah.

    • Hemat dari Dosa

    Dengan diam aktif maka peluang tergelincir kata menjadi dosapun menipis, terhindar dari kesalahan kata yang menimbulkan kemurkaan Allah.

    • Hati Selalu Terjaga dan Tenang

    Dengan diam aktif berarti hati akan terjaga dari riya, ujub, takabbur atau aneka penyakit hati lainnya yang akan mengeraskan dan mematikan hati kita.

    • Lebih Bijak

    Dengan diam aktif berarti kita menjadi pesdengar dan pemerhati yang baik, diharapkan dalam menghadapi sesuatu persoalan, pemahamannya jauh lebih mendaam sehingga pengambilan keputusan pun jauh lebih bijak dan arif.

    • Hikmah Akan Muncul

    Yang tak kalah pentingnya, orang yang mampu menahan diri dengan diam aktif adalah bercahayanya qolbu, memberikan ide dan gagasan yang cemerlang, hikmah tuntunan dari Allah swtakan menyelimuti hati, lisan, serta sikap dan perilakunya.

    • Lebih Berwibawa

    Tanpa disadari, sikap dan penampilan orang yang diam aktif akan menimbulkan wibawa tersendiri. Orang akan menjadi lebih segan untuk mempermainkan atau meremehkan.

    Selain itu, diam aktif merupakan upaya menahan diri dari beberapa hal, seperti:

    1. Diam dari perkataan dusta
    2. Diamdari perkataan sia-sia
    3. Diam dari komentar spontan dan celetukan
    4. Diam dari kata yang berlebihan
    5. Diam dari keluh kesah
    6. Diam dari niat riya dan ujub
    7. Diam dari kata yang menyakiti
    8. Diam dari sok tahu dan sok pintar

    Mudah-mudahan kita menjadi terbiasa berkata benar atau diam. Semoga pula Allah ridha hingga akhir hayat nanti, saat ajal menjemput, lisan ini diperkenankan untuk mengantar kepergian ruh kita dengan sebaik-baik perkataan yaitu kalimat tauhiid “laa ilaha illallah” puncak perkataan yang menghantarkan ke surga. Aamiin

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 2 January 2020 Permalink | Balas  

    Bunga Rampai Nasihat 

    Bunga Rampai Nasihat

    Aa. Gym.

    Mudah-mudahan Allah yang Maha Menguasai segala-galanya selalu membukakan hati kita agar bisa melihat hikmah dibalik setiap kejadian apapun yang terjadi. Yakinlah tidak ada satu kejadian pun yang sia-sia, tidak ada suatu kejadian pun yang tanpa makna, sangat rugi kalau kita menghadapi hidup ini sampai tidak mendapat pelajaran dari apa yang sedang kita jalani. Hidup ini adalah samudera hikmah tiada terputus. Seharusnya apapun yang kita hadapi, efektif bisa menambah ilmu, wawasan, khususnya lagi bisa menambah kematangan, kedewasaan, kearifan diri kita sehingga kalau kita mati besok lusa atau kapan saja, maka warisan terbesar kita adalah kehormatan pribadi kita, bukan hanya harta semata. Rindukanlah dan selalu berharap agar saat kepulangan kita nanti, saat kematian kita adalah saat yang paling indah.

    Harusnya saat malaikat maut menjemput, kita benar-benar dalam keadaan siap, benar-benar dalam keadaan khusnul khatimah. Harus sering dibayangkan kalau saat meninggal nanti kita sedang bagus niat, sedang bersih hati, keringat sedang bercucuran di jalan Allah SWT. Syukur-syukur kalau nanti kita meninggal, kita sedang bersujud atau sedang berjuang di jalan Allah. Jangan sampai kita mati sia-sia, seperti yang diberitakan koran-koran tentang seorang yang meninggal sedang nonton di bioskop. Terang saja buruk sekali orang yang meninggal di bioskop, apalagi misalnya film yang ditontonnya film (maaf) “Gairah Membara”, film maksiat, na’ udzubillah. Dia akan “membara” betulan di neraka nanti. Ingat maut adalah hal yang sangat penting.

    Tiada kehormatan dan kemuliaan kecuali dari Engkau wahai Allah pemilik alam semesta, yang mengangkat derajat siapa pun yang Engkau kehendaki dan menghinakan siapa pun yang Engkau kehendaki, segala puji hanyalah bagi-Mu dan milik-Mu. Shalawat semoga senantiasa terlimpah bagi kekasih Allah, panutan kita semua Rasulullah SAW.

    Sahabat, percayalah sehebat apapun harta, gelar, pangkat, kedudukan, atau atribut duniawi lainnya tak akan pernah berharga jikalau kita tidak memiliki harga diri. Apalah artinya harta, gelar, dan pangkat, kalau pemiliknya tidak punya harga diri.

    Hidup di dunia hanya satu kali dan sebentar saja. Kita harus bersungguh-sungguh meniti karier kehidupan kita ini menjadi orang yang memiliki harga diri dan terhormat dalam pandangan Allah SWT juga terhormat dalam pandangan orang-orang beriman. Dan kematian kita pun harus kita rindukan menjadi sebaik-baik kematian yang penuh kehormatan dan kemuliaan dengan warisan terpenting kehidupan kita adalah nama baik dan kehormatan kita yang tanpa cela, kehinaan.

    Langkah awal yang harus kita bangun dalam karier kehidupan ini adalah tekad untuk menjadi seorang muslim yang sangat jujur dan terpercaya sampai mati. Seperti halnya Rasulullah SAW memulai karier kehidupannya dengan gelar kehormatan Al Amin (seorang yang sangat terpercaya).

    Kita harus berjuang mati-matian untuk memelihara harga diri kehormatan kita menjadi seorang muslim yang terpercaya, sehingga tidak ada keraguan sama sekali bagi siapapun yang bergaul dengan kita, baik muslim maupun non muslim, baik kawan atau lawan, tidak boleh ada keraguan terhadap ucapan, janji, maupun amanah yang kita pikul.

    Oleh karena itu, pertama, jaga lisan kita. Jangan pernah berbohong dalam hal apapun. Sekecil dan sesederhana apapun, bahkan betapa pun terhadap anak kecil atau dalam senda gurau sekalipun. Harus benar-benar bersih dan meyakinkan, tidak ada dusta, pastikan tidak pernah ada dusta! Lebih baik kita disisihkan karena kita tampil apa adanya, daripada kita diterima karena berdusta. Sungguh tidak akan pernah bahagia dan terhormat menjadi seorang pendusta. (Tentu saja bukan berarti harus membeberkan aib-aib diri yang telah ditutupi Allah, ada kekuasaan tersendiri, ada kekhususan tersendiri. Jujur bukan berarti bebas membeberkan aib sendiri).

    Kedua, jaga lisan, jangan pernah menambah-nambah, mereka-reka, mendramatisir berita, informasi, atau sebaliknya meniadakan apa yang harus disampaikan. Sampaikanlah berita atau informasi yang mesti disampaikan seakurat mungkin sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Kita terkadang suka ingin menambah-nambah sesuatu atau bahkan merekayasa kata-kata atau cerita. Jangan lakukan! Sama sekali tidak akan menolong kita, nanti ketika orang tahu informasi yang sebenarnya, akan runtuhlah kepercayaan mereka kepada kita.

    Ketiga, jangan sok tahu atau sok pintar dengan menjawab setiap dan segala pertanyaan. Nah, orang yang selalu menjawab setiap pertanyaan bila tanpa ilmu akan menunjukkan kebodohan saja. Yakinlah kalau kita sok tahu tanpa ilmu itulah tanda kebodohan kita. Yang lebih baik adalah kita harus berani mengatakan “tidak tahu” kalau memang kita tidak mengetahuinya, atau jauh lebih baik disebut bodoh karena jujur apa adanya, daripada kita berdusta dalam pandangan Allah.

    Keempat, jangan pernah membocorkan rahasia atau amanat, terlebih lagi membeberkan aib orang lain. Jangan sekali-kali melakukannya. Ingat setiap kali kita ngobrol dengan orang lain, maka obrolan itu jadi amanah buat kita. Bagi orang yang suka membocorkan rahasia akan jatuhlah harga dirinya. Padahal justru kita harus jadi kuburan bagi rahasia dan aib orang lain. Yang namanya kuburan tidak usah digali-gali lagi kecuali pembeberan yang sah menurut syariat dan membawa kebaikan bagi semua pihak. Ingat, bila ada seseorang datang dengan menceritakan aib dan kejelekan orang lain kepada kita, maka jangan pernah percayai dia, karena ketika berpisah dengan kita, maka dia pun akan menceritakan aib dan kejelekan kita kepada yang lain lagi.

    Kelima, jangan pernah mengingkari janji dan jangan mudah mengobral janji. Pastikan setiap janji tercatat dengan baik dan selalu ada saksi untuk mengingatkan dan berjuanglah sekuat tenaga dan semaksimal mungkin untuk menepati janji walaupun dengan pengorbanan lahir batin yang sangat besar dan berat. Ingat, semua pengorbanan menjadi sangat kecil dibandingkan dengan kehilangan harga diri sebagai seorang pengingkar janji, seorang munafik, na’udzubillah. Tidak artinya. Semua pengorbanan itu kecil dibanding jika kita bernama si pengingkar janji. Rasulullah SAW pernah sampai tiga hari menunggu orang yang menjanjikannya untuk bertemu, beliau menunggu karena kehormatan bagi beliau adalah menepati janji.

    ***

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 1 January 2020 Permalink | Balas  

    Etika Berwirausaha 

    Etika Berwirausaha

    Aa. Gym

    Hikam: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya.” (QS. Al-Maidah: 2)

    Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT suka kepada hamba yang berkarya dan terampil. Barang siapa bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya, maka dia serupa dengan seorang mujahid fisabilillah.” (HR.Imam Ahmad)

    Rasul Adalah seorang entrepreunership atau wirausahawan. Mulai usia 8 tahun 2 bulan sudah mulai menggembalakan kambing. Pada usia 12 tahun berdagang sebagai kafilah ke negeri Syiria dan pada usia 25 tahun Rasul menikahi Khadijah dengan mahar 20 ekor unta muda. Ini menunjukan bahwa Rasul merupakan seorang wirausahawan yang sukses.

    Jiwa wirausaha harus benar-benar ditanamkan dari kecil, karena kalau tidak maka potensi apapun tidak bisa dibuat menjadi manfaat. Prinsip dari wirausahawan adalah memanfaatkan segala macam benda menjadi bermanfaat. Tidak ada kegagalan dalam berusaha, yang gagal yaitu yang tidak pernah mencoba berusaha.

    Gagal merupakan informasi menuju sukses, keuntungan bukan hanya untung untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain. Kredibilitas diri kita adalah modal utama dalam berwira usaha, dengan menahan diri untuk tidak menikmati kebahagiaan orang lain sebagai keberuntungan kita. Jual beli bukan hanya transaksi uang dan barang, tapi jual beli harus dijadikan amal soleh yaitu dengan niat dan cara yang benar.

    Uang yang tidak barokah tidak akan dapat memberi ketenangan, walau sebanyak apapun akan tetap kekurangan dan akan membuat kita hina. Berjualan dengan akhlak yang mulia, pembeli tidak hanya mendapat fasilitas dan tidak hanya mendapatkan barang tapi juga melihat kemuliaan akhlak seorang penjual.

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: