Updates from Juni, 2013 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:37 am on 30 June 2013 Permalink | Balas  

    Syarat-Syarat Taubat 

    taubat (1)Syarat-Syarat Taubat

    Allah berfirman: “dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. At-Taubah [9]: 118 )

    1. Meninggalkan dosa tersebut. Ibnul-Qoyyim berkata: “Taubat mustahil terjadi, sementara dosa tetap dilakukan”.

    2. Menyesal atas perbuatannya. Rasulullah bersabda: “Menyesal adalah taubat”.

    3. Berazzam untuk tidak mengulangi lagi. Ibnu Mas’ud berkata: “Taubat yang benar adalah: Taubat dari kesalahan yang tidak akan diulangi kembali, bagaikan mustahilnya air susu kembali pada kantong susunya lagi.”

    4. Mengembalikan kedzaliman kepada pemiliknya, atau meminta untuk dihalalkan. Imam Nawawi berkata: “Diantara syarat taubat adalah mengembalikan kedzoliman kepada pemiliknya, atau meminta untuk dihalakan”.

    5. Ikhlash. Ibnu hajar berkata: “Taubat tidak sah kecuali dengan ikhlash”. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya” (QS. At Tahrim [66]: 8 ). Yang dimaksud taubat yang murni adalah taubat yang ikhlash.

    6. Taubat dilakukan pada masa diterima-nya taubat. Masa diterimanya taubat adalah: (1) Sebelum saat sakarotul maut. (2) Sebelum Matahari terbit dari barat. Allah berfirman: “Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang” (QS. An-Nisaa [4]: 18).

    Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba, selama belum dalam sakarotul-maut” (HR. Tirmidzi).

    Dalam hadis yang lain Rasululloh bersabda: “Sesungguhnya Alloh membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat orang-orang yang melakukan kesalahan di siang hari. Dan Allah membentangkan Tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat orang-orang yang melakukan kesalahan pada malam hari” (HR. Muslim).

    Dalam hadist yang lain Rasululloh bersabda: “Barang siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, Allah akan menerima taubatnya” (HR. Muslim).

    ***

    Al-Ikhwan.net

    Abu Nu’man Mubarok

     
  • erva kurniawan 4:31 am on 29 June 2013 Permalink | Balas  

    Macam-Macam Dosa dan Jalan Menuju Taubat 

    taubat 3Macam-Macam Dosa dan Jalan Menuju Taubat

    Macam-Macam Dosa

    1. Dosa Besar. Yaitu dosa yang disertai ancaman hukuman di dunia, atau ancaman hukuman di akhirat. Abu Tholib Al-Makki berkata: Dosa besar itu ada 17 macam:

    • 4 macam di hati, yaitu: 1. Syirik. 2. Terus menerus berbuat maksiat. 3. Putus asa. 4. Merasa aman dari siksa Allah.
    • 4 macam pada lisan, yaitu: 1. Kesaksian palsu. 2. Menuduh berbuat zina pada wanita baik-baik. 3. Sumpah palsu. 4. mengamalkan sihir.
    • 3 macam di perut. 1. Minum Khamer. 2. memakan harta anak yatim. 3. memakan riba.
    • 2 macam di kemaluan. 1. zina. 2. Homo seksual.
    • 2 macam di tangan. 1. membunuh. 2. mencuri.
    • 1 di kaki, yaitu lari dalam peperangan
    • 1 di seluruh badan, yaitu durhaka terhadap orang tua.

    2. Dosa kecil. Yaitu dosa-dosa yang tidak tersebut diatas.

    3. Dosa kecil yang menjadi besar

    • Dilakukan terus menerus. Rasulullah bersabda: tidak ada dosa kecil apabila dilakukan dengan terus menerus dan tidak ada dosa besar apabila disertai dengan istighfar. Allah juga berfirman: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS. Ali Imran [3]: 135)
    • Menganggap remeh akan dosa. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seorang mu’min dalam melihat dosanya, bagaikan seorang yang berada di puncak gunung, yang selalu khawatir tergelincir jatuh. Adapun orang fasik dalam melihat dosanya, bagaikan seseorang yang dihinggapi lalat dihidungnya, maka dia usir begitu saja.” (HR. Bukhori Muslim)
    • Bergembira dengan dosanya. Allah berfirman: “Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya. (QS. Al Baqarah [2]: 206)
    • Merasa aman dari makar Allah. Allah berfirman: “Apakah tiada kamu perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu dan mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul. Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu. Dan mereka mengatakan pada diri mereka sendiri: “Mengapa Allah tiada menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?” Cukuplah bagi mereka neraka Jahannam yang akan mereka masuki. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. (QS. Al Mujadilah [58]: 7)
    • Terang-terangan dalam berbuat maksiat. Rasulullah bersabda: “Semua ummatku akan diampunkan dosanya kecuali orang yang mujaharah (terang-terangan dalam berbuat dosa) dan yang termasuk mujaharah adalah: Seorang yang melakukan perbuatan dosa di malam hari, kemudian hingga pagi hari Allah telah menutupi dosa tersebut, kemudian dia berkata: wahai fulan semalam saya berbuat ini dan berbuat itu. Padahal Allah telah menutupi dosa tersebut semalaman, tapi di pagi hari dia buka tutup Allah tersebut.” (HR. Bukhori Muslim)
    • Yang melakukan perbuatan dosa itu adalah seorang yang menjadi teladan. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang memberi contoh di dalam Islam dengan contoh yang jelek, dia akan mendapat dosanya dan dosa orang yang mengikutinya setelah dia tanpa dikurangi dosa tersebut sedikitpun.” (HR. Muslim)

    Jalan Menuju Taubat

    1. Mengetahui hakikat taubat. Hakikat taubat adalah: Menyesal, meninggalkan kemaksiatan tersebut dan berazam untuk tidak mengulanginya lagi. Sahal bin Abdillah berkata: “Tanda-tanda orang yang bertaubat adalah: Dosanya telah menyibukkan dia dari makan dan minum-nya. Seperti kisah tiga sahabat yang tertinggal perang”.
    2. Merasakan akibat dosa yang dilakukan. Ulama salaf berkata: “Sungguh ketika saya maksiat pada Allah, saya bisa melihat akibat dari maksiat saya itu pada kuda dan istri saya.”
    3. Menghindar dari lingkungan yang jelek. Seperti dalam kisah seorang yang membunuh 100 orang. Gurunya berkata: “Pergilah ke negeri sana … sesungguhnya disana ada orang-orang yang menyembah Allah dengan baik, maka sembahlah Allah disana bersama mereka dan janganlah kamu kembali ke negerimu, karena negerimu adalah negeri yang jelek.”
    4. Membaca Al-Qur’an dan mentadabburinya.
    5. Berdo’a. Allah berfirman mengkisahkan Nabi Ibrahim: “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” Al Maraghi berkata: “Yang dimaksud “terimalah taubat kami” adalah: Bantulah kami untuk bertaubat agar kami bisa bertaubat dan kembali kepada-Mu.”
    6. Mengetahui keagungan Allah yang Maha Pencipta. Para ulama salaf berkata: “Janganlah engkau melihat akan kecilnya maksiat, tapi lihatlah keagungan yang engkau durhakai.”
    7. Mengingat mati dan kejadiannya yang tiba-tiba.
    8. Mempelajari ayat-ayat dan hadis-hadis yang menakuti orang-orang yang berdosa.
    9. Membaca sejarah orang-orang yang bertaubat.

    ***

    Al-Ikhwan.net

    Abu Nu’man Mubarok

     
  • erva kurniawan 1:20 pm on 28 June 2013 Permalink | Balas  

    Lisan yang Bermutu 

    38berdoaLisan yang Bermutu

    Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

    Seseorang suatu ketika mengeluh ‘Saya sudah sering sekali mendengarkan ceramah, menyimak mubaligh yang menyampaikan kebenaran, dan mengkaji sendiri buku-buku tentang ajaran Islam. Akan tetapi, mengapa ketika saya menyampaikanya kepada orang lain, rasa-rasanya kata-kata ini selalu saja tidak cocok dengan yang ada di dalam kalbu? Dan yang Iebih menyedihkan lagi, mengapa kata-kata yang keluar dari lisan ini tampaknya seperti masuk ke telinga kanan keluar lagi dari telinga kiri? Sama sekali tidak menimbulkan kesan dan tidak pula berbekas di dalam pikiran maupun hati orang yang mendengarkannya.”

    Seandainya saja keluhan tersebut adalah yang juga kita pertanyakan selama ini, maka bisa jadi kata-kata berhikmah dari lman !bnu Atho’illah berikut ini sebagai jawabannya. “Cahaya (nuur) para ahli hikmah (ahli ma’rifat) itu,” tulisnya dalam kitab Al-Hikam, “selalu mendahului perkataan mereka. Karenanya, manakala telah mendapat penerangan dari cahaya tersebut maka sampailah kalimat yang mereka ucapkan itu.”

    Kalimat Ibnu Atho’illah di atas kurang lebih dapat diartikan, bahwa orang-orang yang telah mengenal Allah dengan baik selalu sadar bahwa kebenaran itu milik Allah. Akibatnya, kalau mau mengucapkan sesuatu, selalu hatinya terlebih dahulu berlindung kepada. Allah dari tipu daya syetan dan memohon kepada-Nya agar lidahnya dapat menjadi jalan kebenaran.

    Hal seperti inilah yang mungkin jarang dilakukan oleh kebanyakan orang. Biasanya kalau kita ingin menyampaikan sesuatu kepada orang orang lain, kita akan sangat sibuk merekayasa kata-kata yang akan diucapkan. Jarang kita lakukan ketika ingin berbicara, sibuk meminta pertolongan kepada Allah Azza wa JaIla. Padahal, yang mengetahui kebenaran hanyalah Allah. Benar menurut kita belum tentu benar menurut Allah.

    Oleh karena itu, ketika kita menghadapi persoalan seperti disebutkan di atas, maka ada beberapa hal yang mesti kita pertanyakan kepada diri sendiri.

    Pertama, ketika kita akan menyampaikan suatu kebenaran, pernahkah kita memohon pertolongan kepada Allah agar lisan ini dituntun dan dilindungi, sehingga mengandung hikmah? Kalau belum, maka mungkin inilah penyebab mengapa kata-kata yang kita ucapkan, kendati tak lepas dari dalil Al-Ouran dan Hadits, tetapi tidak pernah mengena dan menyentuh kalbu yang mendengarkannya.

    Kedua, sebagaimana kata Ibnu Atho’illah sendiri, ‘Tiap-tiap kalimat yang keluar pasti membawa corak bentuk hati (dari orang) yang mengeluarkannya.” Teko hanya mengeluarkan isinya. Bila di dalamnya berisi air kopi, maka yang dikeluarkannya past air kopi. Sebaliknya, bila teko tersebut berisi air bening dan jernih, maka pastilah yang dikeluarkannya pun air yang bening dan jernih pula.

    Mengapa kata-kata yang kita ucapkan kadang-kadang kurang meresap? Mungkin pertanyaan yang harus segera kita ajukan terhadap hati kita sendiri adalah: ikhlaskah kita menyampaikannya? Kalau hati ini sudah kurang keikhlasannya yang mendengarkan ikhlas, tetapi yang berbicara kurang ikhlas, maka hampir dapat dipastikan kata-kata kita tidak akan memiliki bobot.

    Di antara faktor penyebab mengapa kafa-kata kita kurang bisa menyentuh kalbu adalah karena kata-kata yang menyentuh kalbu itu bukanlah hasil rekayasa pikiran dan bukan pula buah rekaan lisan, melainkan wujud dari penataan dan kejernihan hati. Semakin hati kita terus menerus diusahakan ikhlas, tulus, dan penuh kasih sayang, maka kata-kata pun niscaya akan semakin memilki kekuatan menembus hati orang yang mendengarkannya.

    Sibuknya kita mengatur kata-kata, peribahasa, ataupun ungkapan-ungkapan yang indah-indah, tetapi kalau tidak bersumber dari hati yang jernih dan bening, maka hanya manis didengar telinga, namun sekali-kali tidak akan pernah menyetuh kalbu.

    Jadi, mengapa kata-kata yang keluar dari mulut ini sudah begitu luber dan tumpah ruah berbusa-busa, tetapi orang toh belum bergeming juga? Jawabnya, mungkin karena kita terlalu sibuk mengatur pikiran dan lisan, tetapi tidak sibuk mengatur hati. Padahal, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Belum dinamakan lurus keimanan seseorang itu, sehingga lurus pula hatinya dan belum juga dinamakan lurus hatinya itu, sehingga luruslah lisannya …” (H.R. Ibnu Abiddunya dan Kharaiti)

    Oleh sebab itu, tidak usah heran orang orang yang bijak bestari dan mulia kalau berbicara, kata-katanya sedikit namun mempunyai kekuatan yang besar. Kunci kekuatan kata-kata mereka tiada lain adalah hati yang ikhlas. Karena, bila yang berbicara ikhlas dan yang mendengarkannya pun ikhlas, maka tak ubahnya laksana gelombang radio FM, suaranya akan lezat terasa di telinga dan lezat pula terasa di hati.

    Syeikh Ahmad Yasin adalah seorang ulama kharismatik dan mujahid besar yang sangat berpengaruh di kalangan kaum Muslimin dan pejuang Palestina. Siapakah Ahmad Yasin? Ternyata beliau secara syariat hanyalah seorang tua yang sekujur tubuhnya lumpuh, kecuali bagian kepala, akibat sebuah kecelakaan yang dialaminya dalam sebuah latihan perkemahan ketika akfif dalam organisasi Ikhwanul Muslimin, yang didirikan oleh Imam Hasan Al-Banna di Mesir.

    Akan tetapi, siapa pun akan merasa amat tajub dan terkagum-kagum bila mendengar bahwa beliau ternyata adalah tokoh penggerak lntifadah, sebuah gerakan perjuangan jihad melawan tentara Yahudi Israel. Tak hanya para orang tua, tetapi juga para remaja dan anak-anak turun ke jalan-jalan dengan senjata apa saja yang ada di tangan: ketapel, batu-batuan, ban bekas yang dibakar, dan lain sebagainya. Tanpa rasa takut dan bahkan dengan teriakan teriakan “Allaahu Akbar” mereka maju dan berlarian menyerang tentara, Yahudi yang notabene bersenjata lengkap.

    Syeikh Ahmad Yasin juga adalah ulama pendiri Hamas (Harakah al Muqawanah a- Islamiyah, Gerakan Perlawanan Islam) yang beranggotakan para mujahidin militan Palestina. Gerakan ini merupakan kekuatan utama dan kelompok mujahid paling berpengaruh serta mengakar di daerah Teo Barat dan Jalur Gaza, yang merupakan wilayah pendudukan Israel.

    Masya Allah! Secara syariat apalah artinya seorang Ahmad Yasin yang tubuhnya lumpuh total. Akan tetapi, kecerdasan otaknya, kekuatan imannya, ketajaman lisannya, dan yang terutama sekali keikhIasan hatinya demi menegakkan daulah Isiamiyah di bumi Palestina, telah mampu menggerakkan dan mengobarkan semangat dan kesadaran berpuluh ribu warga Muslim Palestina untuk berjihad di jalan Allah melawan kaum kuffar Yahudi.

    Kuncinva, sekali lagi, ternyata hati yang ikhlas, sehingga lisan ini menjadi sangat bermutu dan mempunyai bobot yang amat mengesankan.

    Karenanya, ketika seseorang datang kepada ulama ahli hikmah bernama Muhammad bin Wasi, lalu berkeluh kesah, “Mengapa hati orang-orang sekarang sepertinya tidak lagi mampu khusyuk dan air mata pun tak lagi bisa bercucuran manakala sedang berdoa, menyimak taushiyah, ataupun mendengarkan ayat-ayat AI-Quran dibacakan?”, Muhammad bin Wasi tanpa ragu menjawab, “Kemungkinan yang dernikian itu bermula dari engkau sendiri sebab bila nasihatmu keluar dari hati yang ikhlas, niscaya akan masuk ke dalam hati orang yang mendengarkannya. Sebalikinya, nasihati yang hanya berupa gubahan lidah dan buah rekaan pikiran belaka, maka ia akan masuk dari telinga kanan dan keluar dari telinga kiri.”

    Walhasil, siapa pun yang sangat merindukan dapat tersampaikannya kebenaran dari Allah dan dapat tersemainya nilai-nilai luhur ajaran Islam di daria setiap manusia, sehingga Islam benar-benar dapat dirasakan sebagai rahmatan lil ‘alamin, maka tidak bisa tidak harus selalu merenungkan setiap kata-kata nasihati yang pernah atau akan terlontar dari lisannya, dengan satu pertanyaan saja, “Apakah hati saya sudah ikhlas menyampaikannya?” Karena, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata-kata yang baik atau diam!” (H.R. Bukhafi-Muslim).”

     
  • erva kurniawan 4:01 am on 27 June 2013 Permalink | Balas  

    Gay, Lesbian, Homoseksual 

    jeruk makan jerukGay, Lesbian, Homoseksual

    Oleh Syaikh Nabil Muhammad Mahmud

    DOSA-DOSA HOMOSEKSUAL

    Homoseksual adalah sejelek-jelek perbuatan keji yang tidak layak dilakukan oleh manusia normal. Allah telah menciptakan manusia terdiri dari laki-laki dan perempuan, dan menjadikan perempuan sebagai tempat laki-laki menyalurkan nafsu bilogisnya, dan demikian sebaliknya. Sedangkan prilaku homoseksual –semoga Allah melindungi kita darinya- keluar dari makna tersebut dan merupakan bentuk perlawanan terhadap tabiat yang telah Allah ciptakan itu. Prilaku homoseksual merupakan kerusakan yang amat parah. Padanya terdapat unsur-unsur kekejian dan dosa perzinaan, bahkan lebih parah dan keji daripada perzinaan.

    Aib wanita yang berzina tidaklah seperti aib laki-laki yang melakukan homoseksual. Kebencian dan rasa jijik kita terhadap orang yang berbuat zina tidak lebih berat daripada kebencian dan rasa jijik kita terhadap orang yang melakukan homoseksual. Sebabnya adalah meskipun zina menyelisihi syariat, akan tetapi zina tidak menyelisihi tabiat yang telah Allah ciptakan (di antara laki-laki dan perempuan). Sedangkan homosek menyelisihi syariat dan tabiat sekaligus.

    Para alim ulama telah sepakat tentang keharaman homoseksual. Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencela dan menghina para pelakunya.

    “Artinya : Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya. ‘Mengapa kalian mengerjakan perbuatan fahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelum kalian? ‘Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kalian ini adalah kaum yang melampui batas” [Al-A’raf : 80-81]

    Dalam kisah kaum Nabi Luth ini tampak jelas penyimpangan mereka dari fitrah. Sampai-sampai ketika menjawab perkataan mereka, Nabi Luth mengatakan bahwa perbuatan mereka belum pernah dilakukan oleh kaum sebelumnya.

    BESARNYA DOSA HOMOSEKSUAL SERTA KEKEJIAN DAN KEJELEKANNYA

    Kekejian dan kejelekan perilaku homoseksual telah mencapai puncak keburukan, sampai-sampai hewan pun menolaknya. Hampir-hampir kita tidak mendapatkan seekor hewan jantan pun yang mengawini hewan jantan lain. Akan tetapi keanehan itu justru terdapat pada manusia yang telah rusak akalnya dan menggunakan akal tersebut untuk berbuat kejelekan.

    Dalam Al-Qur’an Allah menyebut zina dengan kata faahisyah (tanpa alif lam), sedangkan homoseksual dengan al-faahisyah (dengan alif lam), (jka ditinjau dari bahsa Arab) tentunya perbedaan dua kta tersebut sangat besar. Kata faahisyah tanpa alif dan lam dalam bentuk nakirah yang dipakai untuk makna perzinaan menunjukkan bahwa zina merupakan salah satu perbuatan keji dari sekian banyak perbuatan keji. Akan tetapi, untuk perbuatan homoseksual dipakai kata al-faahisyah dengan alif dan lam yang menunjukkan bahwa perbuatan itu mencakup kekejian seluruh perbuatan keji. Maka dari itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Mengapa kalian mengerjakan perbuatan faahisyah itu yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelum kalian” [Al-A’raf : 80]

    Maknanya, kalian telah mengerjakan perbuatan yang kejelekan dan kekejiannya telah dikukuhkan oleh semua manusia.

    Sementara itu, dalam masalah zina, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu faahisyah (perbuatan yang keji) dan suatu jalan yang buruk” [Al-Isra : 32]

    Ayat ini menerangkan bahwa zina adalah salah satu perbuatan keji, sedangkan ayat sebelumnya menerangkan bahwa perbuatan homoseksual mencakup kekejian.

    Zina dilakukan oleh laki-laki dan perempuan karena secara fitrah di antara laki-laki dan perempuan terdapat kecenderungan antara satu sama lain, yang oleh Islam kecenderungan itu dibimbing dan diberi batasan-batasan syariat serta cara-cara penyaluran yang sebenarnya. Oleh karena itu, Islam menghalalkan nikah dan mengharamkan zina serta memeranginya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas” [Al-Mukminun : 5-7]

    Jadi, hubungan apapun antara laki-laki dan perempuan di luar batasan syariat dinamakan zina. Maka dari itu hubungan antara laki-laki dan perempuan merupakan panggilan fitrah keduanya, adapun penyalurannya bisa dengan cara yang halal, bisa pula dengan yang haram.

    Akan tetapi, jika hal itu dilakukan antara laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan, maka sama sekali tidak ada hubungannya dengna fitrah. Islam tidak menghalalkannya sama sekali karena pada insting dan fitrah manusia tidak terdapat kecenderungan seks laki-laki kepada laki-laki atau perempuan kepada perempuan. Sehingga jika hal itu terjadi, berarti telah keluar dari batas-batas fitrah dan tabiat manusia, yang selanjutnya melanggar hukum-hukum Allah.

    “Artinya : Yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelum kalian” [Al-A’raf : 80]

    Mujtahid berkata : “Orang yang melakukan perbuatan homoseksual meskipun dia mandi dengan setiap tetesan air dari langit dan bumi masih tetap najis”.

    Fudhail Ibnu Iyadh berkata : “Andaikan pelaku homoseksual mandi dengan setiap tetesan air langit maka dia akan menjumpai Allah dalam keadaan tidak suci”.

    Artinya, air tersebut tidak bisa menghilangkan dosa homoseksual yang sangat besar yang menjauhkan antara dia dengan Rabbnya. Hal ini menunjukkan betapa mengerikannya dosa perbuatan tersebut.

    Amr bin Dinar berkata menafsirkan ayat diatas : “Tidaklah sesama laki-laki saling meniduri melainkan termasuk kaum Nabi Luth”.

    Al-Walid bin Abdul Malik berkata : “Seandainya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menceritakan kepada kita berita tentang kaum Nabi luth, maka aku tidak pernah berfikir kalau ada laki-laki yang menggauli laki-laki”.

    Maka sungguh menakjubkan manakala kita melihat kebiasaan yang sangat jelek dari kaum Nabi Luth ini –yang telah Allah binasakan- tersebar diantara manusia, padahal kebiasaan itu hampir-hampir tidak terdapat pada hewan. Kita tidak akan mendatapkan seekor hewan jantan pun yang menggauli hewan jantan lainnya kecuali sedikit dan jarang sekali, seperti keledai.

    Maka itulah arti dari firman Allah berikut.

    “Artinya : Sesungguhnya kalian mendatangi laki-laki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas” [Al-A’raf :81]

    Allah mengatakan kepada mereka bahwa sesungguhnya perbuatan keji itu belum pernah dilakukan oleh siapapun di muka bumi ini, dan itu mencakup manusia dan hewan.

    Apabila seorang manusia cenderung menyalurkan syahwatnya dengan cara yang hewan saja enggan melakukannya, maka kita bisa tahu bagaimana kondisi kejiwaan manusia itu. Bukankah ini merupakan musibah yang paling besar yang menurunkan derajat manusia dibawah derajat hewan?!

    Maksud dari penjelasan di atas adalah sebagai berikut.

    Pertama : Jika penyakit ini tersebar di tengah umat manusia, maka keturunan manusia itu akan punah karena laki-laki sudah tidak membutuhkan wanita. Populasi manusia akan semakin berkurang secara berangsur.

    Kedua :Pelaku homoseksual tidak mau menyalurkan nafsu biologisnya kepada perempuan. Jika dia telah beristeri, maka dia akan mengabaikan isterinya dan menjadikannya pemuas orang-orang yang rusak. Dan jika dia masih bujangan, maka dia tidak akan berfikir untuk menikah. Sehingga, apabila homosek ini telah merata dalam sebuah kelompok masyarakat, maka kaum laki-lakinya tidak akan lagi merasa membutuhkan perempuan. Akibatnya, tersia-siakanlah kaum wanita. Mereka tidak mendapatkan tempat berlindung dan tidak mendapatkan orang yang mengasihi kelemahan mereka. Disinilah letak bahaya sosial homoseksual yang berkepanjangan.

    Ketiga : Pelaku homoseksual tidak peduli dengan kerusakan akhlak yang ada disekitarnya.

    CIRI-CIRI KAUM HOMOSEKS

    [1]. Fitrah dan tabiat mereka terbalik dan berubah dari fitrah yang telah Allah ciptakan pada pria, yaitu kehendak kepada wanita bukan kepada laki-laki.

    [2]. Mereka mendapatkan kelezatan dan kebahagian apabila mereka dapat melampiaskan syahwat mereka pada tempat-tempat yang najis dan kotor dan melepaskan air kehidupan (mani) di situ.

    [3]. Rasa malu, tabiat, dan kejantanan mereka lebih rendah daripada hewan.

    [4]. Pikiran dan ambisi mereka setiap saat selalu terfokus kepada perbuatan keji itu karena laki-laki senantiasa ada di hadapan mereka di setiap waktu. Apabila mereka melihat salah seorang di antaranya, baik anak kecil, pemuda atau orang yang sudah berumur, maka mereka akan menginginkannya baik sebagai objek ataupun pelaku.

    [5]. Rasa malu mereka kecil. Mereka tidak malu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala juga kepada makhlukNya. Tidak ada kebaikan yang diharapkan dari mereka.

    [6]. Mereka tidak tampak kuat dan jantan. Mereka lemah di hadapan setiap laki-laki karena merasa butuh kepadanya.

    [7]. Allah mensifati mereka sebagai orang fasik dan pelaku kejelekan ; “Dan kepada Luth, Kami telah berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik” [Al-Anbiya : 74]

    [8]. Mereka disebut juga sebagai orang-orang yang melampui batas : “Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kalian ini adalah kaum yang melapaui batas” [Al-A’raf : 81]. Artinya, mereka melampaui batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh Allah.

    [9]. Allah menamakan mereka sebagai kaum perusak dan orang yang zhalim :”Luth berdo’a. ‘Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu’. Dan tatkala utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk (Sodom) ini. Sesunguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zhalim” [Al-Ankabut : 30-31]

    AZAB DAN SIKSA KAUM NABI LUTH

    Disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menhujani mereka dengan batu. Tidak tersisa seorangpun melainkan dia terhujani batu tersebut. Sampai-sampai disebutkan bahwa salah seorang dari pedagang di Mekkah juga terkena hujan batu sekeluarnya dari kota itu. Kerasnya azab tersebut menunjukkan bahwa homoseksual merupakan perbuatan yang paling keji sebagaimana yang disebutkan dalam dalil.

    Dalam suatu hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth” [HR Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra IV/322 (no. 7337)]

    Arti dari laknat Allah adalah kemurkaanNya, dan terjauhkan dari rahmatNya. Allah membalik negeri kaum Luth dan menghujani mereka dengan batu-batu (berasal) dari tanah yang terbakar dari Neraka Jahannam yang susul-menyusul. Tertulis di atas batu-batu itu nama-nama kaum tersebut sebagaimana yang dikatakan Al-Jauhari.

    ***

    [Disalin dari Majalah Fatawa Vol. 11/Th.1/1424H-2003M. Disarikan dan dialaihbahasakan oleh Yusuf Purwanto dan Abdullah. Alamat Redaksi Islamic Center Bin Baz, Karanggayam, Sitimulyo, Piyungan-Bantul, Yogyakarta]

     
    • fadhil fals 4:43 pm on 8 Juli 2013 Permalink

      jauh kan dri segala ku musrik kan antara homo & lesbi’dah melanggar kodrat islam biar kaga d aku am bumi d munta’in

  • erva kurniawan 4:58 am on 26 June 2013 Permalink | Balas  

    Ibarat Semut, Laba-Laba dan Lebah 

    semut1Ibarat Semut, Laba-Laba dan Lebah

    Tiga binatang kecil ini menjadi nama dari tiga surah di dalam Al-Qur’an, An Naml [semut], Al ‘Ankabuut [laba-laba], dan An Nahl [lebah].

    “SEMUT”, menghimpun makanan sedikit demi sedikit tanpa berhenti. Binatang ini dapat menghimpun makanan untuk bertahun-tahun. Padahal usianya tidak lebih dari setahun. KETAMAKANnya sedemikian besar sehingga ia berusaha dan seringkali berhasil memikul sesuatu yang lebih besar dari tubuhnya.

    “LABA-LABA”. Sarangnya adalah tempat yang paling rapuh [Al ‘Ankabuut; 29:41], ia bukan tempat yang aman, apapun yang berlindung di sana akan binasa. Bahkan jantannya disergapnya untuk dihabisi oleh betinanya. Telur-telurnya yang menetas saling berdesakan hingga dapat saling memusnahkan. Inilah gambaran yang mengerikan dari kehidupan sejenis binatang.

    “LEBAH”, memiliki naluri yang dalam bahasa Al-Qur’an – “atas perintah Tuhan ia memilih gunung dan pohon2 sebagai tempat tinggal” [An Nahl;16:68]. Sarangnya dibuat berbentuk segi enam bukannya lima atau empat agar efisen dalam penggunaan ruang. Yang dimakannya adalah serbuk sari bunga. Lebah tidak menumpuk makanan. Lebah menghasilkan lilin dan madu yang sangat manfaat bagi kita. Lebah sangat disiplin, mengenal pembagian kerja, segala yang tidak berguna disingkirkan dari sarangnya. Lebah tidak mengganggu kecuali jika diganggu. Bahkan sengatannya pun dapat menjadi obat.

    Sikap kita dapat diibaratkan dengan berbagai jenis binatang ini. Ada yang berbudaya ‘SEMUT’. Sering menghimpun dan menumpuk harta, menumpuk ilmu yang tidak dimanfaatkan. Budaya ‘semut’ adalah budaya ‘aji mumpung’. Pemborosan, foya2 adalah implementasinya. Entah berapa banyak juga tipe ‘LABA2’ yang ada di sekeliling kita. Yang hanya berpikir: “Siapa yang dapat dijadikan mangsa”

    Nabi Shalalahu ‘Alaihi Wasallam mengibaratkan seorang mukmin sebagai ‘LEBAH’. Sesuatu yang tidak merusak dan tidak menyakitkan : “Tidak makan kecuali yang baik, tidak menghasilkan kecuali yang bermanfaat dan jika menimpa sesuatu tidak merusak dan tidak pula memecahkannya”

    Semoga kita menjadi ibarat lebah. Insya Allah!

    ***

    (Sumber: Lentera Hati – M. Quraish Shihab)

     
  • erva kurniawan 4:37 am on 25 June 2013 Permalink | Balas  

    Lebih Dekat Dari Tapak Kaki 

    cahaya-kebenaranLebih Dekat Dari Tapak Kaki

    Sahabat seiman..,

    Sahabat Ibnu Mas’ud R.A. Berkata, bahwa Nabi Saw bersabda, artinya: syurga itu lebih dekat pada seseorang daripada bunyi terompah kakinya, demikian pula dengan neraka” (H.R. Bukhori)

    Sahabat seiman..,

    Setiap menatap pagi diri selalu teringat waktu yang telah pergi, deteksilah mana yang lebih kuat antara syukur dan kufur, antara kesempatan dan pengorbanan. Sedangkan lembaran hari ini belum tentu dapat kita jalani sebaik kemarin. wajar bila selevel imam As Syafi’I masih merasa belum pantas mendapatkan syurga.

    Sahabat seiman..,

    Pernahkah kita rasa betapa sering diri ingin berhenti berjuang, terdiam menikmati kesendirian, atau mengeluh dari persoalan, seolah lupa bahwa itu adalah ujian kehidupan. tersadarkah kita, ternyata rasa itu datang saat bayang syurga bergeser jauh dari ingatan, lupa bahwa sekelilingnya dipenuhi kepahitan, dan maharnya adalah perjuangan dan pengorbanan.

    Rasulullah Saw mengumpamakannya bahwa ia lebih dekat dari derap langkah kaki kita, sebagai simbol bahwa ia tak bisa diraih hanya dengan diam menanti pertolongan atau menikmati kesendirian.

    Sahabat Ali Bin Abi Thalib yang sedang sakit matapun harus dihadirkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tuk diserahkan panji perang memimpin pasukan.

    Sahabat seiman..,

    Ketahuilah!, bisa jadi kebaikan bisa kita lakukan tanpa harus menanti ia datang. Pertolongan harus membutuhkan juang hingga titik penghabisan. dan kemenangan tak mesti menunggu peluang, semua bisa kita jemput penuh semangat. Temukan lompatan besar tuk meraih syurga dan ia kan semakin dekat seiring ayun langkah kita.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:17 am on 24 June 2013 Permalink | Balas  

    Kisah Nyata Keajaiban 6 Amalan: Hutang Lunas, Istri Kembali 

    alquranKisah Nyata Keajaiban 6 Amalan: Hutang Lunas, Istri Kembali

    “Lik, kalau besuk kamu nggak bisa melunasi utangmu, lebih baik kamu mengosongi rumah ini. Atau, aku yang akan mengosongi rumahmu ini” ancam rentenir, Ahad pagi itu. Dunia makin terasa sempit bagi Malik. Sudah tiga tahun ini ia bergelut dengan masalahnya, namun tak juga ia sanggup mengatasi masalah-masalah yang membelitnya, termasuk hutang tersebut. Malik sudah berusaha mencari pinjaman, tapi hasilnya nihil. Kurang dari 24 jam lagi rumah satu-satunya itu akan disita.

    Setelah si rentenir pergi, datanglah tamu kedua yang tidak lain adalah istrinya sendiri. Sudah 2 tahun suami istri itu pisah ranjang.

    “Kalau Abang belum juga menandatangani surat cerai saya, insya Allah besuk siang ada yang akan datang menjemput paksa Abang. Jadi besuk pukul 12 siang, saya tunggu di Pengadilan Agama untuk tanda tangan surat cerai!” Malik makin bongkok mendengar tuntutan istrinya itu. Ah… kalau saja si Malik tidak selingkuh. Ia masih ingat masa itu, ketika masih jaya-jayanya, Malik punya hobi main judi dan minum. Ketika usahanya bangkrut, hobi itu menjadi pelarian. Di tahun kedua ia main judi dan mabuk, terjadilah ‘perselingkuhan’ itu. Malik sudah menjelaskan bahwa ia selingkuh tidak sengaja, tetapi istrinya tidak terima. Pulang ke rumah orangtuanya dan meminta cerai.

    Setelah Asar, anak pertama datang ke rumah. “Pak, besuk aku sudah nggak bisa sekolah lagi!”

    “Kenapa?” tanya Malik

    “Habis Bapak tidak membayarkan uang sekolah. Sudah tujuh bulan nunggak.”

    Malik semakin bingung. Tiga masalah menumpuk dan memuncak di hari itu. Pikiran Malik semakin gelap seiring hari yang juga mulai gelap. Akhirnya malam itu, Malik memutuskan untuk bunuh diri.

    Untunglah Malik masih punya sedikit iman. Sebelum bunuh diri, ia ingat belum Shalat Isya’. Sudah lama sebenarnya Malik tidak shalat, dan ia ingin shalat untuk terakhir kalinya sebelum ia meninggal. Keinginan untuk shalat ini rupanya adalah taufik dari Allah yang membuat Malik secara tak sengaja mengamalkan 6 amalan yang diwasiatkan Rasulullah kepada umatnya jika sedang dilanda gelisah. Fal yatawadh-dha’, langkah pertama adalah berwudhu.

    Setelah berwudhu, tiba-tiba hati Malik mulai tenang. “Ya Allah… saya belum pernah dapat ketenangan seperti ini!”

    Malik kemudian menunaikan shalat Isya’. Langkah kedua dalam wasiat Rasulullah: wal yushalli rak’atain dikerjakan oleh Malik. Meskipun yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah Shalat Hajat, namun esensinya sama dengan Shalat Isya’ yang dilakukan Malik.

    Setelah shalat, Malik melihat Al Qur’an di atas rak bukunya. “Mengaji dulu ah, untuk terakhir kali,” kata Malik yang kemudian secara tak sengaja membuka Surat Ali Imran ayat 26.

    ”Katakanlah, ‘Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

    Seakan-akan Allah mengatakan kepada Malik: “Lik, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kata siapa rumahmu akan disita jika Allah mengamankannya? Kata siapa kau aka bercerai jika Allah menyatukan kalian? Kata siapa anakmu akan putus sekolah jika Allah memberi rezeki? Semua keputusan ada di tangan-Ku”

    Namun Malik tetap belum percaya. Bagaimana mungkin uang 15 juta bisa ia dapatkan dalam hitungan jam. Bagaimana mungkin ia bisa kembali harmonis dengan istrinya jika jam 12 besuk ia harus bercerai di pengadilan.

    Kemudian Malik meneruskan bacaannya. Ternyata artinya: ”Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki, tanpa batas.” (QS. Ali Imran : 27)

    Malik masih ragu. Ia pun membuka lembaran mushaf yang lain dan membaca Surat Faathir ayat 2-3.

    ”Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yan dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah, maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling?”

    Setelah membaca ayat ini, Malik pun sadar. Ia memohon ampun kepada Allah karena telah berniat bunuh diri yang dosanya sangat besar. “Kalau semua urusan adalah kehendak Allah, saya tidak jadi bunuh diri deh,” kata Malik sambil menutup mushafnya.

    Malik kemudian mematikan seluruh lampu rumahnya, kecuali kamarnya dan kamar anaknya. Ia ingin bermunajat kepada Allah. Yang ternyata, itu amal keempat dalam wasiat Nabi setelah berwudhu, shalat dan membaca Qur’an.

    Malik berdoa dengan khusyu’ memohon kepada Allah agar rumahnya tidak jadi disita, tidak jadi cerai dengan istrinya dan anaknya bisa tetap sekolah. Malik mengiringi doanya dengan membaca asmaul husna yang dihafalnya: Ya Aziizu ya Hakiim, ya Ghafuru ya Rahiim.

    Malik terus berdoa dan membaca asmaul husna hingga jam 1. Mata terasa ngantuk, tetapi Malik tidak menyerah. Ia pun berwudhu dan membaca Qur’an lagi. Kali ini ayat yang dibuka tepat tentang keutamaan taqwa dan tawakkal. Surat Ath Thalaq ayat 2-3.

    ”Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendakiNya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”

    Selesai membaca ayat ini, Malik kembali berdoa. Namun, kali ini doanya berbeda dari doa sebelumnya. Ia benar-benar bertawakkal dalam doanya. “Ya Allah… ampunilah dosaku. Jika besuk para rentenir itu datang, aku memasrahkan rumah ini. Aku telah menyerahkan semuanya kepadaMu…”

    Setelah bertawakkal, kini Malik mendapatkan petunjuk untuk melakukan amalan keenam yang diwasiatkan Nabi, yaitu wal yatashaddaq, bersedekahlah. Malik ingat bahwa yang akan disita dalah rumahnya saja, sedangkan isinya tidak. Maka ia pun berencana menyedekahkan isi rumah itu. Ia akan keluar dari rumah itu hanya membawa pakaian saja.

    Adzan Subuh terdengar. Malik yang sebelumnya lama tidak ke masjid, kini pergi ke rumah Allah itu untuk shalat berjamaah. Selesai shalat, dzikir dan doa, Malik tidak langsung pulang. Ia ingin terus menenangkan hatinya di masjid. Ia pun membaca surat Al Waqi’ah. Ia pernah mendengar, siapa yang membaca surat Al Waqi’ah akan dijauhkan dari kefakiran.

    Tepat pukul 6 pagi, Malik keluar dari masjid. Begitu nyampai rumah, ia melihat sudah ada orang yang menunggunya. “keterlaluan si rentenir, janji datang jam 10, jam 6 sudah di sini,” kata Malik. Namun, ia tetap merasa tenang. Tak lupa ia membaca basmalah.

    Ternyata tamu pagi-pagi ini bukan rentenir, melainkan teman lamanya. Singkat cerita, setelah saling sapa dan dibuatkan minum, sang teman menyampaikan maksud kedatangannya.

    “Sebenarnya gue ada order Lik. Elu kan jago naksir alat-alat berat, bantu gue ya,” kata sang teman. Malik yang memang jago menaksir harga dimintanya untuk menemani ke luar kota yang mau mengadakan lelang alat berat.

    “Maaf, nggak bisa. Gue lagi males,” jawab Malik.

    “Aduh Lik, tolong dong… bisa rugi gue kalau elu nggak ikut”

    Karena Malik tidak mau ikut temannya, ia pun iseng mengatakan, “Begini, deh. Kalau memang elu mau tetap ngajakgue juga, siapkan duit 50 juta cash di meja gue”

    Perkiraan Malik, tidak mungkin temannya menyanggupi hal itu. Namun bagi Allah, semuanya bisa terjadi atas kehendakNya. Kun fayakun.

    “Lik, kalau 50 juta mah nggak ada. Tapi kalau 25 juta ada, pagi ini cash pun gue siapin”

    “Tolong diulang yang tadi,” kata Si Malik yang tersedak mendengar kesanggupan sang teman.

    “Kalau 25 juta, bisa langsung gue siapin. Cash”

    Alhamdulillah… selesailah masalah pertama. Masalah utang 15 juta itu beres, bahkan ada sisa 10 juta. Tinggal dua masalah lagi. Istri dan anak.

    Rupanya, ketika Malik berdoa di malam hari, anaknya yang bungsu tak bisa tidur, ia nangis terus. Orang tua dari istri Malik menyarankan agar si anak dipertemukan dengan Malik pagi-pagi. “Barangkali anakmu kangen bapaknya, ajaklah bertemu besuk pagi sebelum kalian bercerai.”

    Setelah mendapatkan uang 25 juta tersebut, datanglah si istri ke rumah Malik sesuai saran orangtuanya. Malik tersenyum lebar menyambutnya. Si istri pun terheran-heran. Namun belum lagi hilang penasarannya, Malik segera memeluknya dan berkata: “Alhamdulillah, Mah, kita selamat!”

    “Selamat apa Bang?”

    “Abang dapat duit, nih 25 juta. Mamah tahu kan rumah kita diincar rentenir gara-gara utang Abang 15 juta. Ini uang 15 juta nanti Mamah pegang, bayarkan ke rentenir biar nggak datang lagi selamanya. Katanya mau datang jam 10. Sisanya kita bagi dua. 5 juta buat ongkos Abang ke Riau, yang 5 juta Mamah pegang buat urusan anak-anak. Selama Abang di Riau, tolong jaga anak-anak ya”

    “Iya Bang” entah mengapa tiba-tiba kata-kata itu yang keluar dari bibir istrinya. Istri yang tadinya bersikeras meminta cerai tiba-tiba lulu hatinya.

    Permasalahan kedua pun selesai. Tinggal permasalahan ketiga, yaitu masalah SPP anak. Masalah ini justru yang paling ringan karena tunggakan SPP hanya 7 bulan, sebulannya Rp 50 ribu. Jadi totalnya hanya Rp 350 ribu.

    ***

    [Disarikan dari Buku Kun Fayakun 2 karya Ustadz Yusuf Mansur]

     
  • erva kurniawan 4:08 am on 23 June 2013 Permalink | Balas  

    Nasihat Kubur 

    kuburanNasihat Kubur

    Aku adalah tempat yg paling gelap di antara yang gelap, maka terangilah aku dengan TAHAJUD.

    Aku adalah tempat yang paling sempit, maka luaskanlah aku dengan ber SILATURAHIM.

    Aku adalah tempat yang paling sepi maka ramaikanlah aku dengan perbanyak baca AL-QUR’AN.

    Aku adalah tempatnya binatang2 yang menjijikan maka racunilah ia dengan Amal SEDEKAH.

    Aku yang menyepitmu hingga hancur bilamana tidak Solat, bebaskan sempitan itu dengan SOLAT.

    Aku adalah tempat utk merendammu dengan cairan yang amat sakit, bebaskan rendaman itu dengan PUASA.

    Aku adalah tempat Munkar & Nakir bertanya, maka Persiapkanlah jawapanmu dengan Perbanyak mengucapkan Kalimah LAILAHAILALLAH.

     
  • erva kurniawan 4:32 am on 22 June 2013 Permalink | Balas  

    Jembatan Menuju Impian 

    jembatanJembatan Menuju Impian

    Coba bayangkan saat Anda berdiri di pinggir suatu sungai yang besar, yang tidak mungkin Anda melaluinya dengan cara meloncat, apalagi melangkah. Sementara Anda sangat memerlukan atau menginginkan untuk dapat melaluinya. Bagaimana perasaan Anda saat menemukan sebuah jembatan yang menghubungkan kedua tepi sungai itu?

    Saat Anda menginginkan sesuatu yang agak sulit untuk dicapai, maka Anda perlu sebuah jembatan yang menuju kepada apa yang Anda inginkan. Keinginan Anda, insya Allah, akan jauh nampak lebih mudah jika sudah terbentang jembatan yang menghubungkan antara Anda pada kondisi sekarang dengan kondisi Anda setelah mencapai mimpi Anda tersebut.

    Jembatan itulah yang disebut dengan rencana. Rencana yang akan mengubah Anda, bukan kebetulan. Tanpa direncanakan Anda tidak akan berubah. Dalam kehidupan nyata yang saya jumpai, sering orang mengatakan belum siap, atau tidak bisa melakukan atau meraih sesuatu. Ketidaksiapan atau ketidakmampuan tidak akan berubah kecuali kita merencanakan untuk mengubahnya menjadi kesiapan atau kemampuan.

    “Change should be a friend. It should happen by plan, not by accident.”

    Philip Crosby (“Reflections on Quality”)

    Putuskan apa yang Anda inginkan, kemudian tulislah sebuah rencana, maka Anda akan menemukan kehidupan yang lebih mudah dibanding dengan sebelumnya, kenapa?

    Rencana adalah pijakan Anda melangkah, bagaimana bisa melangkah jika tidak ada pijakan? Rencana memberikan arah langkah Anda. Rencana memudahkan Anda untuk fokus, dimana fokus akan memberikan hasil yang optimal. Rencana akan membantu Anda mengoptimalkan waktu. Rencana akan menunjukan apakah tujuan Anda bisa dicapai atau tidak Rencana akan mengontrol Anda, sehingga Anda tetap di jalur yang mengarah menuju impian Anda. Rencana membuat kita berfikir lebih sistematis Kini saatnya bagi Anda untuk membuat sebuah rencana jika Anda ingin sukses seperti apa yang dikatakan petenis tenar Andre Agassi,

    “Success comes to those who plan their work and then work their plan!”

    Allah SWT dalam firman-Nya memerintahkan kepada Nabi SAW beserta para sahabat untuk membuat rencana ketika akan berangkat atau menghadapi peperangan,

    Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (QS:Al Anfaal:60)

    ***

    Oleh: Rahmat

    Sumber : motivasi-islami.com

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 21 June 2013 Permalink | Balas  

    Lisan yang Bermutu 

    darus1Lisan yang Bermutu

    Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

    Seseorang suatu ketika mengeluh ‘Saya sudah sering sekali mendengarkan ceramah, menyimak mubaligh yang menyampaikan kebenaran, dan mengkaji sendiri buku-buku tentang ajaran Islam. Akan tetapi, mengapa ketika saya menyampaikanya kepada orang lain, rasa-rasanya kata-kata ini selalu saja tidak cocok dengan yang ada di dalam kalbu? Dan yang Iebih menyedihkan lagi, mengapa kata-kata yang keluar dari lisan ini tampaknya seperti masuk ke telinga kanan keluar lagi dari telinga kiri? Sama sekali tidak menimbulkan kesan dan tidak pula berbekas di dalam pikiran maupun hati orang yang mendengarkannya.”

    Seandainya saja keluhan tersebut adalah yang juga kita pertanyakan selama ini, maka bisa jadi kata-kata berhikmah dari lman !bnu Atho’illah berikut ini sebagai jawabannya. “Cahaya (nuur) para ahli hikmah (ahli ma’rifat) itu,” tulisnya dalam kitab Al-Hikam,

    “selalu mendahului perkataan mereka. Karenanya, manakala telah mendapat penerangan dari cahaya tersebut maka sampailah kalimat yang mereka ucapkan itu.”

    Kalimat Ibnu Atho’illah di atas kurang lebih dapat diartikan, bahwa orang-orang yang telah mengenal Allah dengan baik selalu sadar bahwa kebenaran itu milik Allah. Akibatnya, kalau mau mengucapkan sesuatu, selalu hatinya terlebih dahulu berlindung kepada. Allah dari tipu daya syetan dan memohon kepada-Nya agar lidahnya dapat menjadi jalan kebenaran.

    Hal seperti inilah yang mungkin jarang dilakukan oleh kebanyakan orang. Biasanya kalau kita ingin menyampaikan sesuatu kepada orang orang lain, kita akan sangat sibuk merekayasa kata-kata yang akan diucapkan. Jarang kita lakukan ketika ingin berbicara, sibuk meminta pertolongan kepada Allah Azza wa JaIla. Padahal, yang mengetahui kebenaran hanyalah Allah. Benar menurut kita belum tentu benar menurut Allah.

    Oleh karena itu, ketika kita menghadapi persoalan seperti disebutkan di atas, maka ada beberapa hal yang mesti kita pertanyakan kepada diri sendiri.

    Pertama, ketika kita akan menyampaikan suatu kebenaran, pernahkah kita memohon pertolongan kepada Allah agar lisan ini dituntun dan dilindungi, sehingga mengandung hikmah? Kalau belum, maka mungkin inilah penyebab mengapa kata-kata yang kita ucapkan, kendati tak lepas dari dalil Al-Ouran dan Hadits, tetapi tidak pernah mengena dan menyentuh kalbu yang mendengarkannya.

    Kedua, sebagaimana kata Ibnu Atho’illah sendiri, ‘Tiap-tiap kalimat yang keluar pasti membawa corak bentuk hati (dari orang) yang mengeluarkannya.” Teko hanya mengeluarkan isinya. Bila di dalamnya berisi air kopi, maka yang dikeluarkannya past air kopi. Sebaliknya, bila teko tersebut berisi air bening dan jernih, maka pastilah yang dikeluarkannya pun air yang bening dan jernih pula.

    Mengapa kata-kata yang kita ucapkan kadang-kadang kurang meresap? Mungkin pertanyaan yang harus segera kita ajukan terhadap hati kita sendiri adalah: ikhlaskah kita menyampaikannya? Kalau hati ini sudah kurang keikhlasannya yang mendengarkan ikhlas, tetapi yang berbicara kurang ikhlas, maka hampir dapat dipastikan kata-kata kita tidak akan memiliki bobot.

    Di antara faktor penyebab mengapa kafa-kata kita kurang bisa menyentuh kalbu adalah karena kata-kata yang menyentuh kalbu itu bukanlah hasil rekayasa pikiran dan bukan pula buah rekaan lisan, melainkan wujud dari penataan dan kejernihan hati. Semakin hati kita terus menerus diusahakan ikhlas, tulus, dan penuh kasih sayang, maka kata-kata pun niscaya akan semakin memilki kekuatan menembus hati orang yang mendengarkannya.

    Sibuknya kita mengatur kata-kata, peribahasa, ataupun ungkapan-ungkapan yang indah-indah, tetapi kalau tidak bersumber dari hati yang jernih dan bening, maka hanya manis didengar telinga, namun sekali-kali tidak akan pernah menyetuh kalbu.

    Jadi, mengapa kata-kata yang keluar dari mulut ini sudah begitu luber dan tumpah ruah berbusa-busa, tetapi orang toh belum bergeming juga? Jawabnya, mungkin karena kita terlalu sibuk mengatur pikiran dan lisan, tetapi tidak sibuk mengatur hati. Padahal, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Belum dinamakan lurus keimanan seseorang itu, sehingga lurus pula hatinya dan belum juga dinamakan lurus hatinya itu, sehingga luruslah lisannya …” (H.R. Ibnu Abiddunya dan Kharaiti)

    Oleh sebab itu, tidak usah heran orang orang yang bijak bestari dan mulia kalau berbicara, kata-katanya sedikit namun mempunyai kekuatan yang besar. Kunci kekuatan kata-kata mereka tiada lain adalah hati yang ikhlas. Karena, bila yang berbicara ikhlas dan yang mendengarkannya pun ikhlas, maka tak ubahnya laksana gelombang radio FM, suaranya akan lezat terasa di telinga dan lezat pula terasa di hati.

    Syeikh Ahmad Yasin adalah seorang ulama kharismatik dan mujahid besar yang sangat berpengaruh di kalangan kaum Muslimin dan pejuang Palestina. Siapakah Ahmad Yasin? Ternyata beliau secara syariat hanyalah seorang tua yang sekujur tubuhnya lumpuh, kecuali bagian kepala, akibat sebuah kecelakaan yang dialaminya dalam sebuah latihan perkemahan ketika akfif dalam organisasi Ikhwanul Muslimin, yang didirikan oleh Imam Hasan Al-Banna di Mesir.

    Akan tetapi, siapa pun akan merasa amat tajub dan terkagum-kagum bila mendengar bahwa beliau ternyata adalah tokoh penggerak lntifadah, sebuah gerakan perjuangan jihad melawan tentara Yahudi Israel. Tak hanya para orang tua, tetapi juga para remaja dan anak-anak turun ke jalan-jalan dengan senjata apa saja yang ada di tangan: ketapel, batu-batuan, ban bekas yang dibakar, dan lain sebagainya. Tanpa rasa takut dan bahkan dengan teriakan teriakan “Allaahu Akbar” mereka maju dan berlarian menyerang tentara, Yahudi yang notabene bersenjata lengkap.

    Syeikh Ahmad Yasin juga adalah ulama pendiri Hamas (Harakah al Muqawanah a- Islamiyah, Gerakan Perlawanan Islam) yang beranggotakan para mujahidin militan Palestina. Gerakan ini merupakan kekuatan utama dan kelompok mujahid paling berpengaruh serta mengakar di daerah Teo Barat dan Jalur Gaza, yang merupakan wilayah pendudukan Israel.

    Masya Allah! Secara syariat apalah artinya seorang Ahmad Yasin yang tubuhnya lumpuh total. Akan tetapi, kecerdasan otaknya, kekuatan imannya, ketajaman lisannya, dan yang terutama sekali keikhIasan hatinya demi menegakkan daulah Isiamiyah di bumi Palestina, telah mampu menggerakkan dan mengobarkan semangat dan kesadaran berpuluh ribu warga Muslim Palestina untuk berjihad di jalan Allah melawan kaum kuffar Yahudi.

    Kuncinva, sekali lagi, ternyata hati yang ikhlas, sehingga lisan ini menjadi sangat bermutu dan mempunyai bobot yang amat mengesankan.

    Karenanya, ketika seseorang datang kepada ulama ahli hikmah bernama Muhammad bin Wasi, lalu berkeluh kesah, “Mengapa hati orang-orang sekarang sepertinya tidak lagi mampu khusyuk dan air mata pun tak lagi bisa bercucuran manakala sedang berdoa, menyimak taushiyah, ataupun mendengarkan ayat-ayat AI-Quran dibacakan?”, Muhammad bin Wasi tanpa ragu menjawab, “Kemungkinan yang dernikian itu bermula dari engkau sendiri sebab bila nasihatmu keluar dari hati yang ikhlas, niscaya akan masuk ke dalam hati orang yang mendengarkannya. Sebalikinya, nasihati yang hanya berupa gubahan lidah dan buah rekaan pikiran belaka, maka ia akan masuk dari telinga kanan dan keluar dari telinga kiri.”

    Walhasil, siapa pun yang sangat merindukan dapat tersampaikannya kebenaran dari Allah dan dapat tersemainya nilai-nilai luhur ajaran Islam di daria setiap manusia, sehingga Islam benar-benar dapat dirasakan sebagai rahmatan lil ‘alamin, maka tidak bisa tidak harus selalu merenungkan setiap kata-kata nasihati yang pernah atau akan terlontar dari lisannya, dengan satu pertanyaan saja, “Apakah hati saya sudah ikhlas menyampaikannya?” Karena, “Barangsiapa ber iman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata-kata yang baik atau diam!” (H.R. Bukhafi-Muslim).”

     
  • erva kurniawan 3:34 am on 20 June 2013 Permalink | Balas  

    Kisah nyata Sarimin & Hendri, Bagaimana kelembutan akhlak menjadikan jalan hidayah 

    hidayah-allahKisah nyata Sarimin & Hendri, Bagaimana kelembutan akhlak menjadikan jalan hidayah

    Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu, Allah yang maha memberikan jalan hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

    Alkisah di kota Cilacap, ada seorang anak SMP yang bernama Sarimin. Kemudian di sekolah itu ada seorang anak murid yang bernama Hendri. Dia beragama Katolik. Hendri minder karena dia merasakan anak-anak islam yang lainnya galak. Sering memusuhinya, sering menakali dan disisihkan dari pergaulan. Satu-satunya anak yang mau berteman dengan Hendri adalah Sarimin yang anak miskin dan sederhana. Namun sikap Sarimin sangat baik sekali kepada Hendri. Kalau ada yang mengganggu Hendri, Sarimin yang melindungi seraya berkata, “Hayo jangan gitu dong, kita ini kan sama-sama sedang belajar disini”.

    Sampai merekapun menjadi dua orang sahabat karib. Dimana ada Hendri, disitu ada Sarimin. Dimana ada Sarimin, disitu ada Hendri. Sampailah persahabatan mereka berlanjut ketika SMA. Di SMA, Hendri juga bernasib sama ketika dia di SMP. Hendri adalah seorang minoritas diantara banyak teman-temannya yang muslim. Kalau Hendri sakit, hanya Sariminlah yang menjenguk dan memijat kakinya.

    Sampai suatu saat, Sarimin bermaksud ingin mengajak Hendri untuk main ke rumahnya. Hendri pun panik seraya berkata dalam hati, “Wah jangan-jangan yang baik hanya Sarimin saja nih. kakaknya, bapaknya serta anggota keluarga Sarimin yang lain jangan-jangan galak. Kan orang Islam”. Tapi karena undangan dari seorang sahabat Hendri mau datang. Alangkah terkejutnya Hendri karena begitu datang, bapaknya menyambut dengan sangat baik kepada Hendri. Kakak Sarimin juga berlaku lembut kepada Hendri. Sampai ketika akan makan bersama di depan meja makan, bapak Sarimin berkata, “Nak Hendri, kami mau berdoa menurut agama Islam. Kalau nak Hendri mau berdoa sesuai agama Katolik, silahkan sebelum kita makan”. Begitu mau pulang kakak Sarimin berkata, “Hendri, jangan sungkan-sungkan ya, kapan-kapan mampirlah ke gubuk kami lagi”. Persahabatan mereka berdua berlangsung sampai kelas tiga SMA.

    Yang memisahkan mereka berdua adalah sarimin kuliah di Univ. Syarif Hidayatullah Jakarta dan Hendri kuliah di Theologi Yogyakarta. Pada jaman itu belum ada handphone seperti sekarang ini. Sampai akhirnya pada semester 6, benar-benar di kampus Theologi itu orang-orang terbeli dengan akhlak Hendri. Begitu lembut, begitu baik, begitu mau menghormati orang lain.

    Sampai suatu ketika pasturnya bertanya, “Hendri, kamu kok baik banget. Saya ingin bertanya, siapa pastur kamu dulu ketika di SMA?”.

    Lalu Hendri menjawab, “Maaf pastur, guru saya adalah Sarimin”.

    “Siapa Sarimin? Masa ada pastur namanya Sarimin?”.

    “Memang Sarimin bukan seorang pastur. Tapi Sarimin adalah sahabat saya. Dia seorang Islam”.

    Sampailah semester 8, Hendri belajar tentang perbandingan agama. Dan dia belajar tentang biografi Nabi Muhammad SAW. Begitu lembar demi lembar dia baca tiap malam, tak terasa air matanya bercucur deras, berlinang membasahi buku itu. Dan sampai mulutnya bergetar seraya berkata, “Ya Tuhan, pantas begitu mulianya akhlak Sarimin. Ini nabinya luar biasa, belum pernah saya temukan tokoh semulia akhlak Muhammad SAW. Luar biasa, pantas akhlak Sarimin begitu bagus”.

    Saudaraku, sampailah saat Hendri diwisuda. Dan ketika selesai diwisuda, dia letakkan toga wisudanya dan bergegas menuju ke suatu masjid. Apa yang dilakukan Hendri? Hendri langsung mengucapkan dua kalimah syahadat. Asyhaduallaaa Ilaa Ha Illallaah… wa Asyhaduallaaa Muhammadarrasuulllah…

    Setelah itu, Hendri langsung pulang ke Cilacap. Dan sebelum Hendri sampai ke rumahnya, dia sempatkan untuk mampir terlebih dahulu ke rumah Sarimin. ”Assalamualaikum… assalamualaikum…”.

    Lalu bapak Sariminlah yang keluar. “Waalaikumsalam…. Oh, nak Hendri …”.

    ”Tapi kok nak Hendri Assalamualaikum??”, tanya bapak Sarimin kepada Hendri.

    “Iya pak, saya sekarang sudah menjadi seorang muslim pak”, jawab Hendri.

    “Alhamdulillah… bapak senang nak..” ujar bapak Sarimin senang mendengar jawaban dari Hendri.

    Hendri lalu menanyakan Sarimin, “Pak, mana Sarimin? Sudah selesai belum kuliahnya pak? Saya kangen sekali dengan dia pak, saya ingin ketemu pak, dimana alamatnya pak”.

    Bapak Sarimin masih terdiam belum menjawabnya. “Pak, dimana alamatnya pak? nomor teleponnya berapa pak?”.

    Bapak Sarimin juga belum menjawabnya. Sampai akhirnya Hendri berkata, “Pak, kenapa bapak diam saja? Saya bertanya tentang Sarimin Pak?!”.

    Lalu bapak Sarimin baru menjawabnya, “Nak Hendri, mau ketemu Sarimin?”.

    “Betul Pak !” jawab Hendri.

    “Mari nak, kita ke belakang rumah” jawab bapak Sarimin.

    Dan saudaraku, ditunjukkanlah sebuah kubur di belakang rumah itu. Di batu Nisan bertuliskan Sarimin. Hendri langsung tertunduk lemas dan mulai keluarlah air matanya.

    Dia bertanya lagi kepada bapak Sarimin, “Kapan dia meninggal paak..”.

    Lalu Bapak menjawab dengan lirih “Dua tahun yang lalu ketika Sarimin semester 5. Dia terserang penyakit tifus”.

    Hendri langsung duduk bersimpuh. Sambil menangis Hendri berkata, “Yaa… Allah…. perjumpakanlah Sarimin dengan-Mu yaa… Rabb… Perjumpakanlah dia dengan Nabi-Mu, Kekasih-Mu, Rasulullah…, Demi Allah yaa Allah…. Saya Islam, mendapat hidayah karena kemuliaan akhlak Sarimin. Sayalah saksinya yaa… Allah…. bahwa sarimin cinta… cinta…. kepadamu yaa… Allah… yaa… Rasulullah….”.

    Allahu Akbar…

    Sarimin tidak banyak bicara tentang Islam. Tetapi Sarimin sudah menjadi bukti tentang kemuliaan Islam.

    ***

    (Ustadz Komar, Daarut Tauhiid Bandung)

     
    • mizsemberpink 11:15 am on 20 Juni 2013 Permalink

      Ini kisah nyata ya? MasyaAllah Subhanallah…kisah yg menggugah dan mengingatkan bahwa mengaku Islam seyogyanya tercermin dalam akhlak karimah, tingkah laku sehari-hari…mohon ijin co-paste ya :)

    • mizsemberpink 11:18 am on 20 Juni 2013 Permalink

      Reblogged this on Playgroup Surga and commented:
      Tidak banyak bicara tentang Islam. Tetapi Sarimin sudah menjadi bukti tentang kemuliaan Islam. Dengan berakhlak karimah yang tercermin dalam tingkah laku sehari-hari yang mampu menggetarkan hati siapapun…:)

  • erva kurniawan 4:32 am on 19 June 2013 Permalink | Balas  

    Akhlaq Bertetangga 

    FamilySilhouette-jpgAkhlaq Bertetangga

    Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil (orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan -pen) dan hamba sahayamu.” (QS. An-Nisa’: 36)

    Syaikh Utsaimin berkata, “Tetangga adalah orang yang tinggal berdekatan dengan rumahmu atau jaraknya dekat dengan rumahmu. Ada atsar yang menunjukkan bahwa tetangga adalah empat puluh rumah (yang berada di sekitar rumah) dari setiap penjuru mata angin. Sehingga tidak diragukan lagi bahwa yang berdekatan dengan rumahmu adalah tetangga. Apabila ada khabar yang benar (tentang penafsiran tetangga) dari Rasulullah, maka itulah yang kita pakai; namun apabila tidak, maka hal ini dikembalikan pada “urf (adat kebiasaan), yaitu kebiasaan orang-orang dalam menetapkan seseorang sebagai tetangganya.” (Kitab Syarah Riydhush Shalihin V/204-205).

    Ada Tiga Macam Tetangga

    Pertama: Tetangga muslim yang masih mempunyai hubungan kekeluargaan. Tetangga semacam ini mempunyai tiga hak: Sebagai tetangga, Hak islam dan Hak kekerabatan.

    Kedua: Tetangga muslim saja. Tetangga semacam ini mempunyai dua hak: Sebagai tetangga dan Hak islam.

    Ketiga: Tetangga kafir. Tetangga semacam ini hanya mempunyai satu hak, yaitu tetangga saja.

    Rasulullah bersabda, “Demi Allah tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman!” Kemudian beliau ditanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang tetangganya tidak aman dari kejelekannya (kejahatannya).” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim)

    Dalam riwayat lain Beliau bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya (kejelekannya).” (Diriwayatkan oleh Muslim no: 47 dalam Kitab Al Iman)

    Berkata Syaikh Utsaimin, “Hadits ini menjadi dalil haramnya memusuhi tetangga, apakah itu dengan perkataan atau perbuatan. Bentuk gangguan terhadap tetangga dengan perkataan misalnya membuat suara gaduh atau mengucapkan suatu perkataan yang menyebabkan kesedihan hatinya, membunyikan radio dan telivisi keras-keras atau yang semisalnya. Semua itu tidak boleh. Bahkan, melantunkan ayat-ayat suci al-qur’an sekalipun (dengan tape recorder atau membaca sendiri) apabila menyebabkan tetangga terganggu, maka itu termasuk perbuatan menyakiti mereka. Maka, hal itu tidak boleh kita lakukan.Adapun bentuk mengganggu tetangga dengan perbuatan misalnya membuang sampah di depan rumahnya, membuat sempit jalan masuk ke rumahnya, suka mengetuk-ngetuk pintunya, atau hal-hal lain yang merugikannya. Demikian pula, apabila kita mempunyai pohon kurma atau pohon lainnya di samping dinding tetangga. Apabila kita siram pohon tersebut membuat tetangga kita tidak berkenan karena menyakitinya. Maka ini juga termasuk perbuatan jelek (mengganggu tetangga) yang tidak boleh dilakukan.” (Kitab Syarah Riyadhush Shalihin V/205-207)

    Rasulullah pernah ditanya tentang dosa-dosa besar di sisi Allah. Beliau menyebutkan tiga macam: “Menjadikan Allah sebagai tandingan padahal Dialah yang menciptakan kita, membunuh anak karena takut dia akan makan harta kita dan menzinai istri tetangga.”

    Dalam hadits lain disebutkan: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangga.”

    Syaikh Utsaimin berkata, “Oleh karena itu, haram seseorang menyakiti tetangganya dengan bentuk apapun. Apabila dia melakukan hal itu, maka dia tidak termasuk orang yang beriman. Artinya, dia tidak melakukan sikap seorang mukmin dalam masalah ini, karena dia menyelisihi sikap yang benar.

    Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah disebutkan bahwasanya Nabi bersabda: “Tidak boleh seseorang melarang tetangganya menancapkan kayu ke dinding rumahnya.” Maksud hadits ini, apabila tetanggamu ingin mengatapi rumahnya dan menumpangkan kayu pada dinding (rumah kita), maka kita tidak boleh melarangnya. Karena meletakkan kayu pada dinding tidak merugikan; bahkan menambah kekuatan dinding tersebut dan menghalangi tumpahan hujan; terlebih lagi jika dinding tersebut dari tanah, karena kayu (untuk atap) tersebut menghalangi dan menjaga curahan air hujan ke dinding kita, sehingga dinding kita menjadi tetap awet. Jadi dalam hal ini saling menguntungkan; tetangga untung dan kita juga diuntungkan. Jadi, tidak boleh seseorang melarang tetangganya untuk menancapkan kayu (untuk atap) pada dindingnya. Apabila dia melarangnya, maka dipaksa untuk membolehkan peletakan kayu tersebut di atas dindingnya.

    Oleh karena itu, Abu Hurairah pernah berkata, “Aku melihat kalian tidak mau mematuhi sunnah ini. Demi Allah, bila demikian, aku akan menancapkannya ke bahu kalian!” Maksudnya, orang yang tidak membolehkan tetangganya meletakkan kayu untuk atap di atas dinding miliknya, maka kami akan menancapkan kayu tersebut di bahunya. Ini adalah perkataan Abu Hurairah tatkala dia menjadi gubernur di Madinah pada masa pemerintahan Marwan bin Al-Hakam.

    Sikap Abu Hurairah di atas sama dengan sikap Amirul Mu’minin Umar bin Al-Khaththab ketika terjadi persengketaan antara Muhammad bin Maslamah dan tetangganya. Persengketaan timbul tatkala Muhammad bin Maslamah yang ingin mengalirkan air ke kebunnya terhalang oleh kebun tetangganya. Tetangganya itu melarang Muhammad bin Maslamah mengalirkan air melalui kebunnya. Lalu keduanya melapor kepada Umar. Umar berkata: “Demi Allah, jika kamu melarang dia mengalirkan air melalui kebunmu, niscaya aku akan mengalirkan air tersebut melalui perutmu.”

    Pada kasus di atas, Umar memaksanya untuk mengalirkan air tersebut, karena aliran air tersebut tidaklah merugikan. Kebun yang ditanami tanaman apabila dilewati aliran air tentu air tersebut akan bermanfaat bagi tanah dan bagi tanaman miliknya. Berbeda halnya bila tetangga itu ingin membangun sebuah bangunan di kebunnya, lalu dia berkata: “Aku tidak mau kebunku dilewati aliran air,” maka kita tidak boleh memaksanya. Namun apabila kebunnya itu hendak dia tanami, maka aliran air yang lewat kebunnya itu tentu menambah kebaikan baginya. Jadi, tidak ada alasan dia melarangnya.

    Kita wajib menjaga hak-hak tetangga dan berbuat baik kepada mereka sesuai dengan kemampuan; dan haram hukumnya memusuhi mereka dengan model dan bentuk apapun. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya dia berbuat baik pada tetangganya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim no: 48 dalam kitab al Iman. Kitab Syarah Riyadhush Shalihin V/207-208)

    Ibnu Umar pernah mempunyai tetangga seorang Yahudi. Apabila menyembelih kambing beliau berkata, “Berilah tetangga kita yang Yahudi itu dagingnya.”

    Diriwayatkan bahwa tetangga yang miskin itu akan bertemu dengan tetangganya yang kaya pada hari kiamat. Kelak tetangga yang miskin itu akan mengadu kepada Allah: “Wahai Allah, tanyalah tetanggaku ini kenapa dia menolak berbuat baik kepadaku dan menutup pintunya untuk aku masuki.”

    Memang sudah selayaknya kita menahan diri dari perbuatan menyakiti tetangga. Tidak menyakiti tetangga sudah termasuk berbuat baik kepadanya.

    Pernah ada seorang lelaki datang menemui Rasulullah, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang apabila aku mengerjakannya akan memasukkanku ke dalam surga.” Beliau pun berkata, “Jadilah engkau orang yang muhsin (selalu berbuat baik).” Dia bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana saya mengetahui bahwa saya adalah orang muhsin (yang berbuat baik)?” Beliau menjawab, “Tanyalah tetanggamu, jika mereka mengatakan kamu adalah orang yang baik, maka kamu adalah orang yang baik; sebaliknya jika mereka mengatakan engkau adalah orang yang jelek maka engkau adalah orang yang jelek.” (Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dari Abu Hurairah)

    Rasulullah pernah bersabda: “Barangsiapa yang terpaksa menutup pintu dari tetangganya khawatir akan keselamatan keluarga dan hartanya, maka tetangganya itu bukanlah orang yang beriman. Dan bukanlah orang yang beriman orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.”

    Diriwayatkan pula, “Seorang lelaki berzina dengan sepuluh perempuan lebih ringan daripada dia berzina dengan istri tetangganya; dan seorang lelaki mencuri di sepuluh rumah lebih ringan daripada dia mencuri di rumah tetangganya.”

    Abu Hurairah berkata: “Pernah ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah mengadukan perilaku tetangganya. Maka, Rasulullah berkata, “Pulang dan bersabarlah!’ Orang itu mendatangi Rasulullah dua atau tiga kali. Pada kali berikutnya, beliau berkata, “Pulang dan lemparkan perabotanmu di jalan.’ Kemudian orang itu melaksanakan nasehat Rasulullah, sehingga orang-orang melewati ceceran perabotannya dan menanyakan sebab-musababnya. Lalu, dia pun menceritakan kelakuan tetangganya terhadapnya kepada orang-orang yang lewat itu. Mereka melaknat tetangganya itu dengan berkata, “Semoga Allah memperlakukan dia setimpal dengan apa yang telah dia perbuat!’ Mereka pun mendo’akan jelek kepadanya. Sejak kejadian itu, tetangga tadi datang kepadanya dan berkata: “Wahai saudaraku, kembalilah ke rumahmu, karena engkau tidak akan lagi menemukan sesuatu yang engkau benci selamanya.’”

    Hendaknya seorang muslim bersabar dari gangguan tetangganya, walaupun tetangganya itu kafir.

    Diriwayatkan dari Sahl bin Abdullah At-Tastari bahwa dia mempunyai seorang tetangga yang kafir. Tetangganya itu mempunyai jamban yang telah penuh sehingga kotorannya meluap ke rumahnya. Sedangkan Sahl setiap hari harus meletakkan bejana untuk menampung luapan kotoran dari jamban orang majusi itu. Dan di malam harinya dia membuang kotoran tersebut agar tidak ada orang yang melihatnya. Beliau hidup dalam keadaan seperti ini dalam waktu yang lama sampai menjelang kematiannya. Suatu hari dia memanggil tetangganya itu dan berkata, “Masuklah ke rumah dan lihatlah apa yang ada di dalamnya!” Lalu, masuklah tetangganya dan melihat tumpahan kotoran dari rumahnya jatuh ke dalam bejana dan seketika itu dia berkata, “Hah, apa yang aku lihat ini?” Berkatalah Sahl, “Ini sudah berlangsung sejak lama. Kotoran ini jatuh dari rumahmu masuk ke rumahku ini, dan aku menampungnya di siang hari kemudian aku buang di waktu malam. Kalaulah bukan karena sudah dekat kematianku, dan kalaulah aku tidak takut sepeninggalku nanti orang-orang tidak bisa sabar dengan kejadian ini, niscaya tidak akan aku khabarkan hal ini kepadamu dan akan tetap aku biarkan hal ini terus terjadi.” Berkatalah orang majusi itu, “Wahai Syaikh, engkau bersikap kepadaku semacam ini dalam waktu yang lama sementara aku tetap di atas kekufuranku. Ulurkan tanganmu, karena aku sekarang bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” Tidak berselang lama setelah kejadian itu Sahl pun meninggal dunia.

    Kita berdoa kepada Allah semoga Dia berkenan membimbing kita sehingga kita mempunyai akhlak yang baik, baik perkataan maupun pebuatan; dan semoga membaguskan akhir kesudahan hidup kita. Sesungguhnya Allah Maha mulia dan Maha pemurah.

    Rujukan:

    1. Kitab Al-Kabair karya Imam Adz-Dzahabi. 2. Kitab Syarah Riyadhush Shalihin karya Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin.

    (sumber: majalah Fatawa)

     
  • erva kurniawan 4:23 am on 18 June 2013 Permalink | Balas  

    Kasih Ibu 

    ibu-anak-siluetKasih Ibu

    Apa jadinya kalau ibu menuntut “uang jasa” atas keberadaan kita selama sembilan bulan lebih di rahimnya? Berapa banyak uang yang harus kita bayar untuk mengganti biaya persalinan, biaya pemeliharaan serta biaya ASI? Tampaknya daftar tagihan akan makin panjang jika ibu memasukkan biaya pengasuhan, biaya pendidikan, kesehatan, sandang, pangan, tempat tinggal, bahkan sampai biaya pernikahan.

    Alhamdulillah, ibu (juga bapak) mewarisi sifat Rahmaan dan Rahiim-Nya Allah SWT. Tak terpikir oleh mereka membuat tagihan untuk anak-anaknya. Yang ada justru keinginan memberi dan terus memberi. Seperti halnya Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, cinta mereka –dalam kapasitasnya sebagai manusia– adalah “cinta tak bersyarat” atau unconditional love. Cinta mereka adalah “cinta walaupun” bukan “cinta karena” mereka mencintai anak-anaknya, “walaupun” anaknya tidak tahu terima kasih, sering menyakiti, dan seterusnya.

    Demikian besarnya jasa seorang ibu, Rasulullah SAW sampai menegaskan bahwa apa pun yang diberikan seorang anak kepada orangtuanya tidak akan pernah cukup membalas budi baiknya. Betapa hebatnya pengorbanan Uways Qarni yang ratusan mil menggendong ibunya, sehingga dari jauh Rasulullah SAW dapat mencium bau kemuliaannya. Namun, apa yang dikatakan Rasul? Walau Uways menggendong ibunya lebih jauh lagi, ia tidak akan pernah mampu membalas budi baiknya.

    Itulah mengapa bakti seorang anak kepada orangtua harus mencapai derajat ihsan. Ihsan ini lebih tinggi derajatnya daripada adil. Yaitu “hanya” memperlakukan orang tua seperti memperlakukan diri. Ihsan kepada orangtua artinya memperlakukan mereka lebih baik dari memperlakukan diri sendiri, memberi lebih banyak daripada apa yang harusnya kita beri, dan mengambil lebih sedikit dari yang seharusnya kita ambil. Dalam Alquran, tak kurang dari lima kali Allah SWT memerintahkan kita berlaku ihsan kepada orangtua (QS 2:83, 4:36, 6:151, 17:23, 46:15). Padahal, dalam Alquran kata ihsan hanya disebutkan enam kali saja. Demikian ungkap Prof. Quraish Shihab dalam tafsirnya.

    Warisan ibu

    Tampaknya, tidak seorang pun yang menyangkal bahwa peran ibu teramat luar biasa dalam hidup kita. Namun, apakah kita tahu bahwa ibu-lah yang mewariskan terangnya dunia serta indahnya nada-nada bagi kita?

    Teori terdahulu menyebutkan karakteristik dan sifat-sifat bawaan seorang anak diwariskan dari ibu bapaknya dalam proporsi 50-50. Namun penelitian biologi molekuler terbaru menemukan bahwa seorang ibu mewariskan 75 persen unsur genetikanya kepada anak. Sedangkan bapak hanya 25 persen. Karena itu, sifat baik, kecerdasan serta keshalihan seorang anak sangat ditentukan oleh sifat baik, kecerdasan serta keshalihan ibunya. Apa yang disabdakan Rasulullah SAW ternyata memiliki korelasi dengan fakta ini. Ketika seorang sahabat bertanya, mana yang harus diprioritaskan seorang anak, beliau pun menjawab, “Ibumu, ibumu, ibumu… lalu bapakmu.

    Dalam setiap sel manusia ada sebuah organela yang sangat strategis fungsinya. Organela ini dinamakan mitokondria. Organelnya berongga berbentuk bulat lonjong, selaputnya terdiri dari dua lapis membran, membran dalam bertonjolan ke dalam rongga (matriks), serta mengandung banyak enzim pernapasan. Tugas utama mitokondria adalah memproduksi kimia tubuh bernama ATP (adenosin tri phosphat). Energi hasil reaksi dari ATP inilah yang menjadi sumber energi bagi manusia.

    Mitokondria bersifat semiotonom karena 40 persen kebutuhan protein dan enzimnya dihasilkan sendiri oleh gennya. Mitokondria adalah salah-satu bagian sel yang punya DNA sendiri, selebihnya dihasilkan gen di inti sel. Yang menarik, mitokondria ini hanya diwariskan oleh ibu, tidak oleh ayah. Sebab, mitokondria berasal dari sel telur bukan dari sel sperma. Itulah sebabnya investasi seorang ibu dalam diri anak mencapai 75 persen.

    Kita dapat berkata, inilah organela cinta seorang ibu yang menghubungkan kita dengan Allah serta kesemestaan. Tanpa mitokondria hidup menjadi hampa, tidak ada energi yang mampu menggelorakan semangat hidup. Tanpa mitokondria kita tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, hingga akhirnya tidak bisa membaca. Allah SWT berfirman, Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur (QS As Sajdah [32]: 9). Tanpa adanya mitokondria di mata, kita akan buta. Tanpa adanya mitokondria di telinga, kita akan tuli. Sesungguhnya, kita menjadi “buta” dan “tuli”, boleh jadi karena ibu tidak ridha mewariskannya. Ridha seorang ibu adalah syarat datangnya kebahagiaan.

    Maka jangan heran jika kontak batin antara ibu dan anaknya, walau terhalang jarak sejauh apa pun, begitu kuat dan intens. Hal ini memperlihatkan adanya energi cinta yang menembus dimensi. Sebenarnya, teori superstring yang kita ambil dari ilmu Fisika sedikit bisa menjelaskan hal ini. Beberapa tahun lalu, para ilmuwan MIT yang tergabung dalam Kelompok 18, menemukan sebuah supersimetri, yaitu sebuah persamaan matematika yang menciptakan ruang di alam semesta yang terdiri dari 57 bentuk di 248 dimensi. Konsep supersimetri menyebutkan, andai dunia ini dibagi-bagi seperti apa pun, sebenarnya hanya satu titik. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan baru menemukan bahwa jarak itu tidak bisa membatasi jiwa dan ruh yang bersemayam di titik yang sama.

    Kalau kita menggunakan konsep ini, maka di mana pun berada, hati seorang ibu selalu berada di titik yang sama. Karena itu, apa yang dirasakan anak dan apa yang dirasakan ibu, bioelektriknya berada di titik yang sama. Mitokondrianya sama sehingga titik pertemuannya pun sama. Dengan kata lain, perasaan seorang ibu kepada anaknya bagaikan perasaan ia terhadap dirinya sendiri.

    Di sini kita dapat membayangkan, betapa perjuangan seorang ibu tidak hanya sebatas hamil, melahir, menyusui, merawat, serta membesarkan anak-anaknya. Ibu pun harus mewariskan fungsi biologis yang sempurna agar kita dapat merasakan indahnya dunia. Sudahkah kita membalas cinta ibu?

    Doa dari Syekh Muhammad Al-Hadhrami tampaknya layak kita renungkan, “Bacaan apa pun yang kami baca dan Engkau sucikan, shalat apa pun yang kami dirikan dan Engkau terima, zakat dan sedekah apa pun yang kami keluarkan dan Engkau sucikan serta kembangkan, amal saleh apa pun yang kami kerjakan dan Engkau ridhai, maka mohon kiranya ganjaran mereka lebih besar dari ganjaran yang Engkau anugerahkan kepada kami, bagian mereka hendaknya lebih banyak dari yang Engkau limpahkan kepada kami, serta perolehan mereka lebih berlipat ganda dari perolehan kami. Karena Engkau, ya Allah, telah berwasiat agar kami berbakti kepada mereka, dan memerintahkan kami mensyukuri mereka, sedangkan Engkau lebih utama berbuat kebajikan dari semua makhluk yang berbuat kebajikan, serta lebih wajar memberi dibanding siapa pun yang diperintahkan memberi.

    ***

    sumber : http://republika.co.id/

    Wendi Gunawan Yusuf

     
    • bejono777 6:03 am on 21 Juni 2013 Permalink

      Subhanalloh begitu besar jasa ibu…..amin Ya Rabb

  • erva kurniawan 4:12 am on 17 June 2013 Permalink | Balas  

    Jadilah Seperti Lebah 

    lebah-maduJadilah Seperti Lebah

    Oleh: Tim dakwatuna.com

    Rasulullah saw. bersabda, “Perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih dan tidak merusak atau mematahkan (yang dihinggapinya).” (Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Bazzar)

    Seorang mukmin adalah manusia yang memiliki sifat-sifat unggul. Sifat-sifat itu membuatnya memiliki keistimewaan dibandingkan dengan manusia lain. Sehingga di mana pun dia berada, kemana pun dia pergi, apa yang dia lakukan, peran dan tugas apa pun yang dia emban akan selalu membawa manfaat dan maslahat bagi manusia lain. Maka jadilah dia orang yang seperti dijelaskan Rasulullah saw., Manusia paling baik adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia lain.”

    Kehidupan ini agar menjadi indah, menyenangkan, dan sejahtera membutuhkan manusia-manusia seperti itu. Menjadi apa pun, ia akan menjadi yang terbaik; apa pun peran dan fungsinya maka segala yang ia lakukan adalah hal-hal yang membuat orang lain, lingkungannya menjadi bahagia dan sejahtera.

    Nah, sifat-sifat yang baik itu antara lain terdapat pada lebah. Rasulullah saw. dengan pernyataanya dalam hadits di atas mengisyaratkan agar kita meniru sifat-sifat positif yang dimiliki oleh lebah. Tentu saja, sifat-sifat itu sendiri memang merupakan ilham dari Allah swt. seperti yang Dia firmankan, “Dan Rabbmu mewahyukan (mengilhamkan) kepada lebah: ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabbmu yang telah dimudahkan (bagimu).’ Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan.(An-Nahl: 68-69)

    Sekarang, bandingkanlah apa yang dilakukan lebah dengan apa yang seharusnya dilakukan seorang mukmin, seperti berikut ini:

    Hinggap di tempat yang bersih dan menyerap hanya yang bersih.

    Lebah hanya hinggap di tempat-tempat pilihan. Dia sangat jauh berbeda dengan lalat. Serangga yang terakhir amat mudah ditemui di tempat sampah, kotoran, dan tempat-tempat yang berbau busuk. Tapi lebah, ia hanya akan mendatangi bunga-bunga atau buah-buahan atau tempat-tempat bersih lainnya yang mengandung bahan madu atau nektar.

    Begitulah pula sifat seorang mukmin. Allah swt. berfirman:

    “Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagimu. (Al-Baqarah: 168)

    (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu- belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang- orang yang beruntung. (Al-A’raf: 157)

    Karenanya, jika ia mendapatkan amanah dia akan menjaganya dengan sebaik-baiknya. Ia tidak akan melakukan korupsi, pencurian, penyalahgunaan wewenang, manipulasi, penipuan, dan dusta. Sebab, segala kekayaan hasil perbuatan-perbuatan tadi adalah merupakan khabaits (kebusukan).

    Mengeluarkan yang bersih.

    Siapa yang tidak kenal madu lebah. Semuanya tahu bahwa madu mempunyai khasiat untuk kesehatan manusia. Tapi dari organ tubuh manakah keluarnya madu itu? Itulah salah satu keistimewaan lebah. Dia produktif dengan kebaikan, bahkan dari organ tubuh yang pada binatang lain hanya melahirkan sesuatu yang menjijikan. Belakangan, ditemukan pula produk lebah selain madu yang juga diyakini mempunyai khasiat tertentu untuk kesehatan: liurnya!

    Seorang mukmin adalah orang yang produktif dengan kebajikan. “Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.(Al-Hajj: 77)

    Al-khair adalah kebaikan atau kebajikan. Akan tetapi al-khair dalam ayat di atas bukan merujuk pada kebaikan dalam bentuk ibadah ritual. Sebab, perintah ke arah ibadah ritual sudah terwakili dengan kalimat “rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu” (irka’u, wasjudu, wa’budu rabbakum). Al-khair di dalam ayat itu justru bermakna kebaikan atau kebajikan yang buahnya dirasakan oleh manusia dan makhluk lainnya.

    Segala yang keluar dari dirinya adalah kebaikan. Hatinya jauh dari prasangka buruk, iri, dengki; lidahnya tidak mengeluarkan kata-kata kecuali yang baik; perilakunya tidak menyengsarakan orang lain melainkan justru membahagiakan; hartanya bermanfaat bagi banyak manusia; kalau dia berkuasa atau memegang amanah tertentu, dimanfaatkannya untuk sebesar-besar kemanfaat manusia.

    Tidak pernah merusak

    Seperti yang disebutkan dalam hadits yang sedang kita bahas ini, lebah tidak pernah merusak atau mematahkan ranting yang dia hinggapi. Begitulah seorang mukmin. Dia tidak pernah melakukan perusakan dalam hal apa pun: baik material maupun nonmaterial. Bahkan dia selalu melakukan perbaikan-perbaikan terhadap yang dilakukan orang lain dengan cara-cara yang tepat. Dia melakukan perbaikan akidah, akhlak, dan ibadah dengan cara berdakwah. Mengubah kezaliman apa pun bentuknya dengan cara berusaha menghentikan kezaliman itu. Jika kerusakan terjadi akibat korupsi, ia memberantasnya dengan menjauhi perilaku buruk itu dan mengajukan koruptor ke pengadilan.

    Bekerja keras

    Lebah adalah pekerja keras. Ketika muncul pertama kali dari biliknya (saat “menetas”), lebah pekerja membersihkan bilik sarangnya untuk telur baru dan setelah berumur tiga hari ia memberi makan larva, dengan membawakan serbuk sari madu. Dan begitulah, hari-harinya penuh semangat berkarya dan beramal. Bukankah Allah pun memerintahkan umat mukmin untuk bekerja keras? “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (Alam Nasyrah: 7)

    Kerja keras dan semangat pantang kendur itu lebih dituntut lagi dalam upaya menegakkan keadilan. Karena, meskipun memang banyak yang cinta keadilan, namun kebanyakan manusia –kecuali yang mendapat rahmat Allah– tidak suka jika dirinya “dirugikan” dalam upaya penegakkan keadilan.

    Bekerja secara jama’i dan tunduk pada satu pimpinan

    Lebah selalu hidup dalam koloni besar, tidak pernah menyendiri. Mereka pun bekerja secara kolektif, dan masing-masing mempunyai tugas sendiri-sendiri. Ketika mereka mendapatkan sumber sari madu, mereka akan memanggil teman-temannya untuk menghisapnya. Demikian pula ketika ada bahaya, seekor lebah akan mengeluarkan feromon (suatu zat kimia yang dikeluarkan oleh binatang tertentu untuk memberi isyarat tertentu) untuk mengudang teman-temannya agar membantu dirinya. Itulah seharusnya sikap orang-orang beriman. “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaff: 4)

    Tidak pernah melukai kecuali kalau diganggu

    Lebah tidak pernah memulai menyerang. Ia akan menyerang hanya manakala merasa terganggu atau terancam. Dan untuk mempertahankan “kehormatan” umat lebah itu, mereka rela mati dengan melepas sengatnya di tubuh pihak yang diserang. Sikap seorang mukmin: musuh tidak dicari. Tapi jika ada, tidak lari.

    Itulah beberapa karakter lebah yang patut ditiru oleh orang-orang beriman. Bukanlah sia-sia Allah menyebut-nyebut dan mengabadikan binatang kecil itu dalam Al-Quran sebagai salah satu nama surah: An-Nahl.

    Allahu a’lam.

    ***

    dakwatuna.com

     
    • abu jibraltar al_maqdisi shaopie satriani 6:56 pm on 1 Juli 2013 Permalink

      Jazakumullah khoir

  • erva kurniawan 4:07 am on 16 June 2013 Permalink | Balas  

    Hakikat Muhasabah 

    syukurHakikat Muhasabah

    Oleh : Asep Sulhadi

    Muhasabah atau introspeksi diri adalah kata yang hakikatnya sering disalahpahami mayoritas orang. Mereka beranggapan introspeksi diri adalah mengingat perbuatan dosa yang telah dilakukan, dengan menyesali dan menangisinya.

    Padahal, pengertian tersebut bukanlah termasuk ke dalam muhasabah. Namun itu adalah salah satu dari syarat-syarat taubatan nasuhan (taubat yang murni). Merujuk kepada hadis Rasulullah SAW tentang hakikat muhasabah, akan kita temukan yang dimaksud dengan muhasabah adalah memaksakan diri dan menundukkannya agar taat melaksanakan semua perintah Allah SWT sebagai bekal di akhirat.

    Rasulullah SAW menyebut orang seperti itu dengan sebutan ‘orang yang berakal’. “Orang yang berakal adalah orang yang memaksa dirinya untuk taat kepada Allah SWT dan berbuat (mempersiapkan bekal) bagi akhirat, sedangkan orang yang lemah adalah orang yang membiarkan dirinya mengikuti hawa nafsu kemudian berangan-angan agar Allah mengampuninya.” (HR At Tirmidzi).

    Muhasabah menurut Rasulullah SAW sama artinya dengan jihad nafs atau jihad memerangi dan mengekang hawa nafsu. Rasulullah SAW dalam sabdanya yang lain menegaskan jihad nafs adalah salah satu jihad paling besar dan termasuk ke dalam hakikat seorang mujahid. “Mujahid adalah orang yang mengekang jiwanya untuk taat kepada perintah Allah.” (HR Ahmad).

    Dari pengertian di atas, jelas bahwa hakikat muhasabah bukan mengingat dosa-dosa yang telah lalu, kemudian menyesali dan menangisinya. Namun, hakikat muhasabah adalah memaksakan diri untuk taat melaksanakan semua perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangannya.

    Karenanya, Umar bin Al Khatab pernah berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, karena sesungguhnya hisab pada hari kiamat adalah ringan bagi orang-orang yang menghisab dirinya di dunia.” Maksudnya adalah tundukkanlah diri kalian agar patuh melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi larangannya karena dengan cara inilah hisab kalian akan ringan pada hari kiamat.

    Marilah kita bergegas melaksanakan hakikat muhasabah yaitu dengan mengerjakan semua perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangannya, agar di akhirat kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang hisabnya ringan. Wallahu a’lam bish-shawab.

    ***

    republika.co.id

     
  • erva kurniawan 4:54 am on 15 June 2013 Permalink | Balas  

    Something Stupid 

    tertawa 1Something Stupid

    Oleh: Bayu Gautama

    Adakah sesekali meluangkan waktu untuk sebentar saja merenung tentang apa-apa yang telah berlalu? Tentang segala yang pernah terjadi di masa lalu, khususnya berkenaan dengan diri kita sendiri? Jika ya, tentu semua kita akan tersenyum tatkala lintasan-lintasan peristiwa manis dan kesuksesan terputar dalam benak. Atau sedih dan sedikit menitikkan air mata saat teringat kembali kenangan-kenangan yang menyesakkan dada, tentang seseorang yang telah lama meninggalkan kita, atau apa pun yang teramat sulit bagi kita melupakannya sebab begitu dalam menghunjam di hati. Sangat pahit bahkan, pedih pula untuk mengingatnya kembali.

    Namun, kadang kita pun terbahak, senyum-senyum sendirian ketika berbagai peristiwa bodoh di masa lalu melintas lagi. Saya ingat betul, hari pertama masuk SLTP. Seragam putih biru yang saya dapat ukurannya terlalu besar, namun saya memaksakan diri untuk tetap mengenakannya. Mungkin saking bangganya saya bisa berseragam biru putih setelah selama enam tahun berseragam merah putih. Celakanya, saya tak memiliki gesper –ikat pinggang- sehingga di pagi hari sebelum berangkat kebingungan mencari sesuatu yang bisa dipakai agar celana biru saya tidak kedodoran.

    Singkat cerita, sampailah saya di sekolah dan langsung mengikuti upara bendera. Upacara bendera pertama saya di sekolah baru, dengan seragam biru putih yang juga baru. Lantaran postur tubuh saya yang kecil, sudah lazim ditempatkan di barisan paling depan saat berbaris. Namun saya menolak, bukan karena saya merasa ada yang lebih kecil dibanding saya, melainkan karena kemeja putih saya tidak dimasukkan ke dalam celana. Akhirnya, saya berdiri di baris kedua, di depan saya seorang anak yang tubuhnya kira-kira sekecil saya.

    Entah mimpi apa malam sebelumnya, kepala sekolah melihat anak di baris kedua di belakang anak lainnya yang tidak memasukkan kemeja putihnya ke dalam celana biru. Dipanggillah anak itu ke depan, persis di dekat tiang bendera. Sementara upacara belum dimulai, anak kecil siswa kelas 1F itu melangkah takut dan diminta menghadap ke arah ratusan siswa lainnya yang mulai terjemur terik pagi. Kepala sekolah meminta anak itu memasukkan kemeja putihnya ke dalam celana, “upacara tidak akan dimulai jika kamu belum rapih,” kalimat itu masih bisa terdengar hingga detik ini. Sebab, anak bertubuh kecil itu adalah saya!

    Malu, takut ditertawai dan langit serasa tengah runtuh hendak menindih tubuh kecil yang berdiri di dekat tiang bendera itu. Ratusan pasang mata tengah menatap, ratusan kepala seolah memasung kaki kecil di tengah lapangan upacara, ketika saya mengangkat kemeja putih dan hendak memasukkannya ke celana biru, dan… ratusan tawa pun menggelegar, memecah langit, membuat si kecil itu menunduk malu tak tertahankan.

    Saya, hari Senin pagi itu, berangkat ke sekolah mengenakan seutas tali rapiah sebagai ikat pinggang. Saya tidak punya ikat pinggang, namun saya juga tidak mau kedodoran. Maka tali rapiah pun menjadi pilihan. Saya merasa bodoh saat itu, merasa tidak berharga dan sangat malu, menyesal menggunakan tali rapiah sebagai ikat pinggang. Tidak, teman-teman dan guru yang menertawai saya di Senin pagi itu tak bersalah. Mereka berhak menertawai kebodohan saya yang menggunakan tali rapiah itu.

    ***

    Ah, rasanya ingin tertawa terbahak-bahak jika mengingat kembali berbagai kebodohan di masa lalu. Ya, mungkin saya dan kita semua boleh tersenyum bahkan tertawa sekeras-kerasnya, karena kebodohan-kebodohan yang kita lakukan di masa lalu itu boleh jadi karena kita melakukannya karena kita tidak tahu, tidak mengerti atau belum pernah melakukannya sebelumnya.

    Bagaimana dengan kebodohan-kebodohan yang kita perbuat sesudah kita banyak tahu, sudah mengerti dan bahkan sebenarnya berkali-kali pernah melakukannya. Jika seorang anak kecil memasukkan telepon selular milik Ayahnya ke dalam secangkir kopi, tentu saja itu bukan kebodohan. Tetapi jika itu dilakukan oleh orang dewasa, bolehlah disebut something stupid, satu kebodohan yang tidak perlu. Kalau melihat anak-anak melakukan kekeliruan, siapa pun akan tertawa dan merasa itu sesuatu yang lucu. Namun jika sebuah kekeliruan dilakukan oleh seorang berpengalaman misalnya, apakah boleh disebut kebodohan?

    Ada orang bijak mengatakan, jika melewati sebuah lorong dan kita terjerembab ke dalam lubang itu wajar jika itu kali pertama kita melewati lorong tersebut. Namun jika keesokan harinya melewati lorong yang sama dan kembali terjerembab, itu lah kebodohan. Sebaiknya kita senantiasa belajar dan mengambil hikmah dari pengalaman masa lalu, agar kesalahan-kesalahan –dan kalau boleh disebut; kebodohan- di masa lalu tidak terulang kembali.

    Saya yakin, setelah membaca tulisan ini, Anda akan senyum-senyum sendiri atau sedikit tertawa karena tiba-tiba saja melintas something stupid di masa lalu. (Gaw)

     
  • erva kurniawan 4:29 am on 14 June 2013 Permalink | Balas  

    Keharusan Beramal Oleh DR Amir Faishol Fath Dan… 

    dzikir 2Keharusan Beramal

    Oleh: DR. Amir Faishol Fath

    Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (At-Taubah: 105)

    Ayat ini menurut Imam Ar-Razi mengandung seluruh yang dibutuhkan seorang mukmin baik mengenai agama, dunia, kehidupan, dan akhiratnya. Dari susunan kata dalam ayat tergambar dua hal: di satu sisi tampak nada targhib (dorongan) bagi orang-orang yang taat, dan di sisi lain nampak nada tarhib (ancaman) bagi orang-orang yang berbuat maksiat. Maksudnya, bersungguh-sungguhlah kamu untuk berbuat sesuatu demi masa depanmu karena segala perbuatanmu akan mendapatkan haknya di dunia maupun di akhirat. Di dunia perbuatan tersebut akan disaksikan Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin. Jika berupa ketaatan, ia akan mendapatkan pujian dan pahala yang besar di dunia dan akhirat. Namun, jika berupa kemaksiatan ia akan mendapatkan hinaan di dunia dan siksaan yang pedih di akhirat. (Imam Ar-Razi. Mafatihul ghaib. Bairut, Darul fikr, 1994, vol. 16, h. 192).

    Syeikh Rasyid Ridha dalam tafsirnya Al-Manar menerangkan makna ayat tersebut begini: Wahai Nabi, katakan kepada mereka bekerjalah untuk dunia, akhirat, diri dan umatmu. Karena yang akan dinilai adalah pekerjaanmu, bukan alasan yang dicari-cari; pun bukan pengakuan bahwa Anda telah berusaha secara maksimal. Kebaikan dunia dan akhirat pada hakikat tergantung pada perbuatan Anda. Allah mengetahui sekecil apapun dari perbuatan tersebut, maka Allah menyaksikan apa yang Anda lakukan dari kebaikan maupun keburukan.

    Karenanya, Anda harus senantiasa waspada akan kesaksian Allah, baik itu berupa amal maupun berupa niat, tidak ada yang terlewatkan. Semuanya tampak bagi-Nya. Oleh sebab itu Anda harus senantiasa menyempurnakannya (itqan), ikhlas, dan mengikuti petunjuk-Nya dalam menjalankan ketaatan sekecil apapun (lihat, Rasyid Ridha. Tafsir Al Manar. Tanpa tahun, vol. 11, h. 33).

    Pada intinya, ayat di atas menegaskan pentingnya beramal. Bahwa, yang akan menjadi tolok ukur keselamatan seseorang di dunia maupun di akhirat bukan semata konsep yang ia hafal, melainkan sejauh mana ia mampu mengamalkan teori yang telah diketahuinya. Al-Qur’an malah mengecam seorang yang hanya pandai ngomong tapi tidak mengerjakannya (Ash-Shaf: 2-3). Rasulullah saw. bukanlah sosok yang hanya pandai memberi nasihat, melainkan seluruh amalnya merupakan nasihat. Siti Aisyah ketika ditanya bagaimana akhlak Rasulullah saw., ia menjawab bahwa akhlaknya adalah Al-Qur’an. (HR. Ahmad, no. 216).

    Amal Sebagai Inti Keimanan

    Kalimat wa quli’malu adalah perintah. Ini berarti keharusan untuk beramal. Akidah tanpa amal akan menjadi kering, karena amal bagi akidah ibarat air bagi sebuah pohon. Pernyataan para ulama bahwa iman naik turun (yaziidu wayanqus) maksudnya ia naik dengan amal shalih dan turun dengan kemaksiatan. Cermin akidah ada diri seseorang adalah amal yang ia lakukan. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang selalu menggabung antara iman dan amal: Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran (Al-Ashr: 2-3, lihat juga Al-Bawarah: 62 dan Al-Maidah: 69).

    Dalam Surat Al-Mu’minun ayat 1-10, Allah menyebutkan tanda-tanda seorang yang beriman dengan amalnya: Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya, menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, menunaikan zakat, menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janjinya, serta memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi.

    Rasulullah saw. seringkali menyebutkan tanda-tanda keimanan dengan amal. Anas r.a. meriwayatkan Rasulullah bersabda: “Seorang tidak disebut beriman sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari, no. 13).

    Imam Bukhari dalam buku Sahihnya menulis judul khusus: Bab man qaala innal iman huwal amal (orang yang mengatakan iman adalah amal), di dalamnya ia menyebutkan ayat Az-Zukhruf: 72 dan hadits riwayat Abu Hurairah: bahwa Rasulullah saw. pernah ditanya, perbuatan apa yang paling utama. Beliau berkata: “Iman kepada Allah dan RasulNya.” Kemudian apa? “Jihad di jalan Allah.” Kemudian apa? “Haji mabrur.” (HR. Bukhari, no. 26).

    Ketika menjelaskan mengenai bagaimana seharusnya seorang muslim, Rasulullah tidak hanya menggambarkan hal-hal yang berkenaan dengan ibadah mahdlah (ritual), melainkan banyak hal yang berkaitan langsung dengan amal sosial. Ibn Amr meriwayatkan Rasulullah saw. bersabda: “Seorang muslim adalah yang tidak menyakiti orang muslim lainnya dengan lidahnya dan tangannya, dan seorang muhajir adalah yang hijrah dari larangan Allah swt.” (HR Bukahri, no. 10).

    Dalam sebuah peristiwa diceritakan bahwa seorang bertanya kepada Rasulullah saw. mengenai apa yang terbaik dalam ber-Islam? Rasulullah menjawab: “Kau memberi makanan dan mengucapkan salam kepada orang lain, baik kamu kenal maupun tidak.” (HR Bukhari, no. 12).

    Amal Sebagai Bukti Kepribadian

    Pada kalimat berikutnya Allah berfirman: fasayarallah alamakum, tidak ada sekecil apapun dari yang Anda lakukan kecuali akan mendapatkan balasannya. Tidak ada kata yang terucap dari lidah Anda, kecuali terekam secara lengkap: mayalfidzu minqaulin illa ladaihi raqiibun atiid. Lebih kecil dari atom pun amal Anda akan tetap menjadi kredit poin dari perjalanan hidup Anda. Bila perbuatan itu baik, simpanan amal baik Anda di akhirat akan bertambah. Dan, bila perbuatan Anda jelek, simpanan amal Anda akan jelek.

    Famayya’mal mittsqaal dzarratiin khairan yarah, wamayya’mal mitqaala dzarratin syarrayarah. Jadi, pribadi Anda hanya ditentukan oleh kedua pilihan ini: bila Snda salah memilih, Anda akan sengsara selama-lamanya. Tapi, bila pilhan Anda benar, Anda akan selamat dan bahagia di dunia dan akhirat. Itulah makna doa yang selalu Anda panjatkan: “rabbanaa aatina fidunya hasanah wafil akhirati hasanah waqinaa adzaabannaar.(Al-Baqarah: 201).

    Dengan menyadari hakikat ini, bila Anda melakukan kebaikan, Anda tidak akan risau, sekalipun tidak ada seorang pun yang memuji Anda. Bagi Anda berbuat baik adalah cicilan membangun kebahagiaan akhirat. Apapun bentuk kebaikan tersebut. Kecil maupun besar, tampak hina di depan mata manusia atau tidak, dalam kesunyian maupun di tengah keramaian, menghasilkan uang atau tidak. Pribadi Anda selalu tampak istiqamah, tidak berwarna-warnai. Popularitas bukan ukuran, karena hakikat fasayarallah amalakum telah terpatri sedemikian kuat dalam keyakinan Anda.

    Bila jalan ini yang Anda pilih, Anda akan selalu produktif. Simpanan pahala Anda akan selalu bertambah. Dan hidup Anda akan selalu tenang, karena tabiat pahala tidak akan pernah mengantarkan Anda kecuali kepada ketenangan hidup. Dari sisi ini tampak apa yang dikatakan Imam Ar-Razi bahwa ayat ini merupakan targhiib (pendorong) bagi orang-orang yang taat kepada Allah untuk senantiasa beramal dan terus beramal.

    Namun, bila Anda melakukan keburukan, Allah juga akan menyaksikannya, fasayarallahu amalakum. Perlu digarisbawahi di sini bahwa keburukan dalam terminologi Islam tidak hanya identik dengan perzinaan, mabuk-mabukan, pencurian, korupsi, dan lain sebagainya, melainkan wudhu’ Anda yang tidak sempurna, shalat Anda yang asal-asalan itu juga kemaksiatan. Di Hari Kiamat kaki yang tidak dibasuh secara lengkap ketika berwudlu’ akan masuk neraka (HR Bukhari, no. 165). Shalat yang tidak sempurna bacaan dan gerakannya, tidak dianggap shalat. Rasulullah saw. pernah menyuruh sahabatnya untuk shalat lagi karena sebagian gerakannya tidak sempurna (HR. Bukhari, no. 757).

    Dalam berdakwah pun jika Anda tidak melakukannya dengan penuh kesungguhan (baca: asal-asalan), itu juga kemaksiatan. Mengapa Anda berbuat untuk Allah asal-asalan? Perhatikan, Allah senantiasa mengingatkan dalam Al-Qur’an bahwa tidak ada di bumi dan langit dari ciptaan-Nya yang dibuat dengan main-main. Semua Allah tegakkan dengan penuh kesempurnaan. Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah (Al-Mulk: 3-4).

    Dari sini tampak bahwa bahwa ayat ini mengandung tarahiib (ancaman) bagi orang-orang yang tidak mentaati Allah sebagaimana mestinya. Az-Zamakhsyari berkata: ayat ini merupakan ancaman bagi mereka sekaligus peringatan akan akibat yang harus mereka jalani jika terus menerus bergelimang dalam kemaksiatan (lihat, Az Zamakhsyari, al kasysyaaf (Mansyratul balaghah) vol. 2, h. 308).

    Lalu mengapa Allah menambahkan setelahnya kalimat warasuluhu wal mu’minun (bukankah sudah cukup dengan kesaksian Allah)? Imam Ar-Razi mengutip jawaban Abu Muslim, “Rasulullah dan orang-orang mukmin adalah saksi yang Allah pilih.” Wakadzalika ja’alnakum ummatan wasathan (Al-Baqarah: 143).

    Dalam ayat lain fakaifa idzaa ji’na min kulli ummatin bisyahiid waji’na bika alaa haaulaai syahiida (An-Nisa: 41) (lihat. Imam Ar Razi, mafatiihul ghaib: vol. 16, h. 194).

    Dalam riwayat Anas r.a. diceritakan: Pernah suatu hari sebuah jenazah dibawa melewati sekelompok para sahabat Rasulullah saw, melihat itu mereka menyebutkan kebaikan si mayit, Nabi menjawab: wajib. Setelah itu mayit yang lain lagi dibawa. Para sahabat yang melihatnya tidak memujinya, bahkan menilainya tidak baik. Nabi menjawab: wajib. Umar lalu bertanya: Apa maksud dari pernyataan wajib yang diucapkan Nabi? Nabi menjawab: mayit pertama yang kamu sebut kebaikannya wajib masuk surga, sementara mayit kedua yang kamu sebut keburukannya wajib masuk neraka. Kamu semua adalah saksi Allah di bumi. (HR. Bukhari, no. 181, Muslim, no. 949).

    Iklash Dasar Segala Amal

    Kalimat berikutnya berbunyi: wasaturadduun ilaa aalimil ghaib wasy syahadah. Ibn Abbas mengatakan, al ghaib yang dirahasiakan, dikerjakan secara sembunyi-sembunyi; dan asy-syahadah yang dikerjakan secara terang-terangan. Imam Ar-Razi berkata: al ghaib bisa dimaksudkan segala yang terbetik dalam hati, berupa niat baik atau buruk, dan asy-syahadah adalah segala perbuatan yang diragakan (lihat Imam Ar Razi, mafaatihul ghaib, vol. 16, h. 194).

    Dari sini tampak bahwa setiap perbuatan harus senantiasa serasi antara niat dan tingkah laku. Hilangnya keserasian ini akan melahirkan ketimpangan, kalau tidak dikatakan sia-sia sama sekali. Bila direnungkan secara mendalam, paduan utuh antara fasayarallahu amalakum dan kalimat sesudahnya wasaturadduun ilaa aalimil ghaib wasy syahadah, maka akan tergambar bahwa niat sebagai pengantar setiap perbuatan harus karena Allah dan untuk semata mencapai ridha-Nya. Karena, Dia-lah yang akan menilainya.

    Dengan demikian tampak bahwa setiap perbuatan terdiri dari dua unsur: niat yang mengantarkan dan perbuatan yang diragakan. Niat saja tidak cukup, melainkan harus tercermin dalam perbuatan. Perbuatan pun harus sesuai dengan petunjuk-Nya, bukan karangan akalnya sendiri. Perbuatan apa pun yang tidak sesuai dengan petunjuk-Nya (baca: kemaksiatan) sekalipun dihantarkan dengan niat yang ikhlas juga tidak akan diterima di sisinya. Sebaliknya, perbuatan yang benar secara syariah, tapi niat yang mengantarkannya tidak ikhlas, juga akan menggiring pada kecelakaan.

    Dalam sebuah hadits Rasulullah pernah menyebutkan tiga orang yang sama-sama melakukan perbuatan baik secara dzahir, tetapi karena niatnya salah akhirnya ketiganya sama-sama masuk neraka: pertama, seorang berperang di jalan Allah dengan niat supaya dibilang pemberani; kedua, seorang mengajarkan Al-Qur’an supaya dibilang alim; ketiga, seorang menginfakkan hartanya supaya dibilang dermawan (lihat Sahih Muslim, no. 1514).

    Ustadz Sayed Quthub mengatakan: Islam adalah manhaj yang realistis, gelora niat dan semangat tidak akan berdampak apa-apa sepanjang tidak diterjemahkan dalam gerakan nyata. Memang, diakui bahwa niat yang baik mempunyai posisi tertentu dalam Islam. Yetapi niat saja belum cukup untuk membangun pahala, sebab ia akan dihitung setelah tercermin dalam bentuk perbuatan. Begitu perbuatan muncul, di sini peranan niat menentukan kualitasnya. Inilah makna hadits: “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya.” Perhatikan, dalam hadits ini perbuatan digabung dengan niat, bukan niat saja. (Sayed Quthub. Fii dzilalil Qur’an. Bairut, Darusy syuruq, 1985, vol. 3, h. 1709).

    Keikhlasan (sihhatun niyah) dan benarnya perbuatan (sihhatul amal) adalah inti utama yang sangat menentukan. Keduanya adalah cerminan dari seluruh rangkaian kata dan kalimat dalam ayat di atas. Ibarat dua sayap bagi burung, ikhlas dan kebenaran amal akan mengantarkan pelakunya kepada tujuan yang didambakan. Sudah barang tentu seekor burung tidak akan bisa terbang hanya dengan satu sayap. Perhatikan bagaimana Allah mengancam seorang yang shalat –padahal shalat adalah ibadah yang sangat mulia dan utama dalam Islam– hanya karena niatnya salah. Allah berfirman: Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna. (Al-Ma’un: 4-7).

    Amal Yang Terus Menerus

    Kalimat demi kalimat dari ayat di atas, bila dipahami secara utuh dan benar akan melahirkan sikap sebagai berikut:

    1. Kesadaran akan makna hidup yang Allah jatahkan hanya untuk beramal shalih. Bila orang mengatakan “waktu adalah uang”, bagi seorang muslim “waktu adalah amal shalih”. Karena, hidup akan menjadi hampa dan sia-sia bila tidak diisi dengan amal shalih.
    2. Amal shalih maksudnya adalah amal yang dilakukan dengan niat yang ikhlas sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Inilah prinsip yang dibangun dari ayat: fasayarallahu amalakum warasululuh wal mukminuun.
    3. Dari prinsip tersebut akan tercermin amal yang terus mengalir. Tidak pernah berhenti. Karena, ia tahu tidak ada sekecil apapun dari perbuatannya kecuali terekam secara utuh dan dikembalikan kepada Allah alimul ghaibi wasy syahadah sesuai dengan bentuk dan kualitasnya. Tidak ada yang tertinggal. Semuanya akan mendapatkan balasan yang setimpal.
    4. Inilah makna dari ayat penutup fayunabbiukum bimaa kuntum ta’lamuun, Allah tahu segala apa yang kamu lakukan, maka Ia akan memberikan balasan sesuai dengan haknya, tidak ada yang dizhalimi.

    ***

    dakwatuna.com

     
  • erva kurniawan 4:18 am on 13 June 2013 Permalink | Balas  

    Di Ingatkan Mungkin Lupa Di Tegur Mungkin Teledor 

    salamanDi Ingatkan Mungkin Lupa Di Tegur Mungkin Teledor

    “Sesungguhnya yang perlu diingat adalah orang yang mungkin lupa, dan sesungguhnya yang perlu ditegur adalah orang-orang yang mungkin teledor.”

    Mestinya yang perlu diingatkan adalah diri kita sendiri,bahwa doa itu sangat utama. Oleh karena itu, jangan lalai. Demikian juga mengingatkan dan menegur orang yang karenanya kesibukan lupa berdoa, atau berdoa dengan hati yang lalai, sembrono dan sangat teledor.

    Disini doa berperanan agar hamba Allah tidak asyik dalam masalah duniawi, atau juga Din, atau ibadah lainnya. Berdoa dituntut agar ibadah apapun menjadi segar, karena hubungan yang berupa dialog dengan Allah terjalin terus menerus.

    Orang yang lupa berdoa, hendaklah selalu diingatkan, karena berdoa merupakan salah satu adab dalam ibadah, yang menjadikan si hamba santun dengan Allah dalam bermohon dan dalam menyampikan munajahnya. Oleh karena Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui, maka sudah sewajarnya dan sangat patut, manusia menyampaikan kata-kata dan kalimat-kalimat yang indah-indah, dengan bahasa yang tersusun dan santun, untuk didengar dan diketahui oleh Allah SWT.

    Kesopanan berdoa, bukan dengan cara kita menuntut dan memaksakan kehendak kita agar cepat-cepat diabulkan oleh Allah SWT. tidak lah sopan pula apabila kita merinci apa yang kita harapkan dari Allah SWT.

    Ketika Syaikh Abu Bakar Al-Wasity diminta untuk berdoa, ia berucap, “Saya kuatir jika saya berdoa kemudian Allah SWT bertanya kepadaku: “Jika doamu itu untuk meminta hak milikmu, berarti engkau telah menuduh Aku. Jika engkau memohon sesuatu yang bukan milikmu, berarti engkau telah menyalahgunakan kewajibanmu untuk memuji-Ku. Akan tetapi jika engkau ridha, maka berjalanlah segala sesuatu, seperti yang telah Aku putuskan, pada zaman azali, yaitu sejak dahulu sebelum makhluk Aku diciptakan.”

    Diriwayatkan pula dari Abdullah bin Munazil. Ia berkata, “Selama lima puluh tahun aku tidak berdoa ke hadirat Allah. Juga aku tidak ingin agar orang lain mendoakan untukku. Sebab segala sesuatu telah berjalan sesuai ketetapan Allah pada zaman azali, dan aku pun telah rela dan cukup dengan semuanya itu.”

    Berdoa dan mengharap akan anugerah Allah itu memerlukan kebersihan hati dan kemurniaan jiwa, serta kesucian niat. Doa itu pun ada syarat dan adabnya. Hamba Allah boleh meminta apa saja kepada Allah, menumpahkan seluruh harapan, perasaan, rasa syukur. rasa sedih, dan boleh berkeluh kesah kepada Allah. Allah Maha Mendengar, Maha Merasakan, Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Adil, sangat suka mendengar suara hamba-Nya yang datang dengan kesucian jiwa dan kebagusan permohonan, memohon petunjuk dan menolong memberikan hidayah dan taufiq dalam hidup si hamba. Seperti di janjikan Allah: “Ud’uni Astajib Lakum” [mohonlah kepaa-Ku, pasti Aku perkenankan permohonanmu]. Dalam ayat lain, “Ujibu Da’watad Da’i Idza Da’ani” [Aku perkenankan permintaan hamba-Ku, apabila memohon kepada- Ku]

    ***

    die *Mutu Manikan dari Kitab Al-Hikam* Syaikh Ahmad Atailah

    Sumber: http://www.jkmhal.com/main.php?sec=content&cat=2&id=5602

     
  • erva kurniawan 4:47 am on 12 June 2013 Permalink | Balas  

    Tanda-Tanda Hati Yang Mati 

    kaya hatiTanda-Tanda Hati Yang Mati

    “Diantara tanda-tanda hati yang mati, ialah tidak ada rasa sedih, apabila telah kehilangan kesempatan untuk melakukan taat kepada Allah, tidak juga menyesal atas perbuatan (kelalaian) yang telah dilakukannya.”

    Hati yang di dalamnya hidup keimanan akan merasa sedih apabila iman dan taat itu hilang daripadanya. Hati yang beriman itu sangat menyesal apabila melakukan maksiat. Hati sangat senang apabila ia telah melaksanakan ketaatan.

    Perbuatan manusia yang dikendalikan oleh hati yang beriman pasti selalu menjurus kepada ketaatan dan bergegas meninggalkan kemaksiatan, sehingga hatinya tidak gelisah oleh dosa, dan jiwanya tidak resah oleh maksiat. Kejahatan yang selalu mencari peluang mendobrak benteng hati insane, mampu menghancur-luluhkan benteng itu, apabila pertahanan iman, yang menjaga beteng hati itu lemah.

    Sebaliknya, benteng hati itu akan kokoh, walau dengan serbuan dan dobrakan apapun, apabila iman yang menjadi perisai di dalamnya kokoh kuat bagaikan batu karang di tengah samudra. Seorang hamba mukmin akan terus-menerus mencegah masuknya kemaksiatan dan kekotoran di dalam hatinya, membentenginya dengan amal ibadah. Ia harus merasa susah dihinggapi dosa dan gembira apabila melakukan kebaikan. Dalam sebuah Atsar. “Barangsiapa merasa senang menjalankan kebaikan, dan merasa sedih menjalankan kejahatan, maka ia adalah orang beriman.” Sebaliknya, hati yang suka dihinggapi kotoran kemaksiatan, tidak merasa sedih menjalankan perbuatan maksiat dan kotoran jiwa, maka itulah hati yang mati dan buta. Tanda Allah SWT ridha terhadap seorang hamba maka hatinya terang benderang menerima kebaikan, dan mampu menghindari maksiat.

    Kearifan hati itu dapat dilihat dari perbuatan manusia dalam hidupnya. Hati yang hidup dan arif nampak pada wajah pemiliknya. Cahaya wajah dan perilaku seperti mimic pada raut wajah pemilik, hati yang jauh dari dosa dan bentuk maksiat, akan tampak dalam pembicaraan. Ucapan seseorang terkias dengan jel;as dalam setiap susunan kata-katanya. Hati yang terbuka oleh iman akan menunjukkan bunyi pada kalimat yang diucapkan seseorang. Halus, jujur, ikhlas dan tidak berbelit. Sebaliknya, hati yang hitam tertuitup oleh noda akan terbias dari semua kalimat yang diucapkan, tak bisa ditutup-tutup. Itu semua adalah gambaran tentang hati orang yang beriman. Hati yang beriman adalah hati yang hidup, sedang hati yang jauh dari keimanan adalah hati yang mati. Hati yang hidup oleh keimanan menumbuhkan kebaikan dan ketaatan, hati yang tertutup dari keimanan akan menumbuhkan kejelekan dan kemaksiatan.

    Sahabat Ibnu Mas’ud mengatakan, “Orang yang benar-benar beriman, ketika melihat dosa-dosanya, seperti ia sedang duduk dibawah gunung. Ia kuatir kalau-kalau puncak gunung itu jatuh menimpanya. Adapun orang munafik, ia memandang dosa-dosanya seperti menghalau lalat di ujung hidungnya.”

    Orang beriman selalu memandang dosa dan kesalahan yang pernah ia perbuat, seperti beban yang sangat berat rasanya, ia kuatir dosa dan kesalahan akan membawa akibat yang jelek, serta menyiksa di hari akhirat. Ia sangat berhati-hati. Kehati-hatian seperti ini adalah cahaya iman yang masih bertahta dalam hatinya. Adapun orang munafik menganggap dosa-dosa dan kesalahan yang pernah diperbuatnya, dengan anggapan bahwa dosa-dosa dan kesalahan tidak mampu meruntuhkan kedudukannya atau merusak dan menganiayanya, oleh karena ia menganggap dosa sangat enteng baginya, tidak berarti apa-apa. Seperti mengusir lalat dari ujung hidungnya saja. Perasaan seperti itu adalah perasaan orang-orang munafik yang tidak mempedulikan kadar Iman dan Islam dalam membentuk pribadi manusia.

    Sekali lagi perasaan hati yang penuh dengan hiasan iman dalam membentuk manusia muslim sangat mempengaruhi bagi perkembangan tingkah laku manusia. Apakah ia suka kepada maksiat, atau ketaatan. Dua perbuatan yang saling bertentangan ini memang bertahta dalam diri manusia. Hanya iman dan ketaatan saja yang mampu memberi arah kepada mansuia untuk memilih perbuatan mana yang diridhai Allah dan perbuatan mana yang dimurkai-Nya.

    Banyak hal yang perlu dipelajari oleh anak Adam tentang hatinya sendiri. Sebab suatu saat hati bisa putih dan terang benderang, terbuka dan hidup. Disaat lain hati bisa hitam pekat tertutup rapat- rapat dan mati.

    Waspadalah terhadap hatimu sendiri, agar iman tetap bertahta di dalamnya, waspada pula terhadap pengaruh dari luar dirimu agar iman yang sedang bersemi di hatimu tumbuh berkembang dan selalu dalam ketaatan. Tidak terpengaruh oleh godaan setan yang selalu mencari peluang untuk mengelabui iman yang ada dalam sanubarimu.

    ***

    die *Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam* Syekh Ahmad Atailah

    Sumber: http://www.jkmhal.com/main.php?sec=content&cat=2&id=5604

     
  • erva kurniawan 4:43 am on 11 June 2013 Permalink | Balas  

    Bagaimanakah Sebenarnya Pengelolaan Masjid? 

    siluet masjid 5Bagaimanakah Sebenarnya Pengelolaan Masjid?

    Di suatu sore yang mendung saya ditelepon seorang teman. Setelah ngobrol ini dan itu, ia tiba pada pokok tujuannya menelpon.

    “Mei, bisakah bantu saya; kasih tahu caranya menyusun neraca, laporan laba rugi?”

    Saya sedikit terperangah; apakah teman yang memutuskan menjadi evangelis, [islam: daiyah] mengabdikan hidupnya untuk kegiatan gereja; seperti memberi pencerahan bagi orang-orang yang terpinggirkan; di kolong jembatan, pada mereka yang tinggal di bantaran sungai, di tempat pembuangan sampah; penghiburan bagi yang sakit dirumah, di rumah sakit juga pada mereka yang tertimpa musibah. Menyemangati mereka yg berada di lapas, panti rehabilitasi, di panti jompo dan lainnya yang jauh dari hiruk pikuk pemberitaan dan menjadi tempat curhat bagi mereka yang terlupakan dikehidupan ini. Apakah sekarang ia kembali bekerja ?

    Latar belakang pendidikan teman ini adalah kesekretariatan, PR yang diperolehnya di negeri Paman Sam. Sebelum memutuskan untuk mengabdi, bekerja bagi Tuhan ia pernah menjadi pegawai pada perusahaan asing, perusahaan multi nasional yang memberinya banyak kelimpahan materi. Rupanya teman ini bisa membaca pikiran saya dan iapun mengatakan, bahwa untuk sementara waktu ia mendapat tugas untuk membereskan pembukuan gereja karena yang biasanya bertugas pindah keluar kota.

    Beberapa hari kemudian di sebuah koran besar berskala nasional, saya membaca iklan lowongan pekerjaan yang cukup mencolok. – Di cari seorang sekretaris gereja berpendidikan SI Akuntansi, menguasai MS Word-Excel, bisa berbahasa asing.

    Setelah membaca iklan itu saya tercenung, bertanya-tanya dalam hati. Bagaimanakah dengan masjid? Sebenarnya pengelolaan masjid di masa kini itu seperti apa? Seorang kerabat ada yang menjadi pengurus sebuah masjid di lingkungan kami tinggal mengatakan, bahwa masjid pada umumnya dikelola dengan prinsip manajemen rumah tangga. Pegawai/pengurus/petugas masjid datang dan pergi. Karena biasanya mereka bekerja tidak profesional; hanya jika punya waktu dan belum punya pekerjaan tetap daripada menganggur, mereka bekerja secara sukarela, lillahi ta’ala di masjid-mushala. Bagaimanakah dana sebuah masjid dihimpun untuk membayar biaya operasional rutin seperti listrik, air, kebersihan? Bagaimanakah mempertanggungjawabkan dana yang terhimpun [kencleng masjid] kepada jamaah, hanya setahun sekali sajakah, tiap shalat hari raya?

    Telepon di sore yang mendung memberikan suatu pandangan bagi saya bahwa rumah ibadah -masjid di masa kini idealnya juga bisa melahirkan, membentuk pribadi-pribadi yang siap melakukan pekerjaan/karir ibadah sosial bagi sesamanya yang kurang beruntung. Masjid harus dikelola seperti sebuah ‘badan usaha’, ada pekerja ‘karir’ yang bertugas memakmurkan masjid dan digaji minimal sesuai standar UMR misalnya.

    Masjid juga seharusnya bisa memberi ruang untuk mereka yang terpinggirkan, mereka yang kumuh, yang papa. Ironis, ketika saya melewati sebuah masjid saat shalat Jum’at tiba. Seorang pemulung yang kumal hanya mendengarkan khutbah sambil duduk di bawah pohon yang berada di lingkungan masjid. “Mengapa bapak tidak ikut shalat?” Lelaki itupun menjawab bahwa ia tidak punya pakaian yang layak dan bersih untuk bisa bersama shalat dalam masjid yang megah itu. Bagaimana mungkin sebuah masjid yang besar tidak terpikirkan menyediakan seperangkat pakaian bersih untuk shalat, yang bisa dipinjamkan pada jamaah yang membutuhkan?

    Untuk siapakah masjid itu sebenarnya?

    ***

    Oleh: Meilany

     
  • erva kurniawan 4:19 am on 10 June 2013 Permalink | Balas  

    Kenapa Berbeda 

    2Mother_sonKenapa Berbeda

    Perbedaan laki-laki dan perempuan, ternyata sudah terjadi sejak saat-saat awal penciptaan manusia di dalam rahim. Penyebab utamanya adalah terbentuknya hormon yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki dikendalikan oleh hormon androgen. Sedangkan perempuan dipengaruhi oleh hormon estrogen.

    Hormon-hormon inilah yang bertanggungjawab terhadap terbentuknya fisik lelaki dan perempuan. Lelaki lebih berotot, sedangkan perempuan lebih lemah lembut. Lelaki berkumis dan bercambang, sedangkan perempuan tidak. Lelaki memiliki alat genital kelaki-lakian, sementara perempuan dengan genital kewanitaannya. Dan seterusnya.

    Tapi, darimanakah munculnya hormon-hormon itu? Dan kenapa bisa berbeda antara hormon lelaki dan hormon perempuan? Ternyata, ini disebabkan oleh perintah dari dalam genetika cikal bakal bayi.

    Rangkaian genetika adalah seperangkat ‘perintah’ yang terdapat di dalam inti sel-sel manusia. Pada setiap inti selnya, manusia menyimpan sekitar 5 miliar perintah. Seperti program komputer saja layaknya.

    Pada saat pembentukan janin di dalam rahim, sperma sang ayah dengan ovum sang ibu menyumbangkan separo sifat-sifat mereka. Lantas, bergabung menjadi sebuah sel baru yang disebut sebagai Stem sel. Cikal bakal bayi.

    Di dalam sel tunggal itulah perintah penciptaan mulai berjalan. Ada perintah untuk membentuk kepala, membentuk tangan, kaki, dan berbagai organ-organ tubuh manusia, secara sempurna. Maka sel tunggal itu pun membelah menjadi bertriliun-triliun sel hanya dalam waktu sekitar 9 bulan. Dan kemudian membentuk struktur dan fungsi yang sangat canggih.

    Proses pembedaan antara lelaki dan perempuan dimulai hari ke-13 setelah sperma dan sel telur bergabung menjadi Stem sel. Dan baru berhenti sekitar 10 hari sesudah kelahiran bayi.

    Apakah yang terjadi saat itu? Ternyata ada jenis gen dalam sperma lelaki yang menyebabkan si bayi terbentuk menjadi bayi laki-laki atau bayi perempuan. Namanya Gen SRY alias Sexual Determining Region. Gen ini menghasilkan substansi yang disebut TDF, dan menyebabkan tumbuhnya alat kelamin lelaki atau alat kelamin perempuan.

    Adalah sangat menarik, jenis kelamin bayi yang akan lahir itu ternyata ditentukan oleh sang ayah lewat kromosom Y yang terdapat pada spermanya. Sedangkan sel telur ibu bersifat pasif dalam hal ini. Kromosom ayah memiliki kode XY. Sedangkan kromosom ibu berkode XX.

    Jika kromosom Y dari ayah bertemu dengan kromosom X dari ibu, maka janin tersebut akan berkembang menjadi bayi lelaki. Jika kromosom X dari ayah yang bertemu dengan X dari ibu, maka janin berkembang menjadi bayi perempuan. Ini persis seperti yang diceritakan oleh Al-Qur’an, bahwa penentu jenis kelamin lelaki dan perempuan adalah sperma ayah, bukan sel telur ibu.

    QS. An Najm (53): 45-46 dan sesungguhnya Dialah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan, dari sperma yang dipancarkan.

    Ini sungguh luar biasa. Sejak belasan abad yang lalu Al-Qur’an telah menunjukkan bahwa penentu jenis kelamin pada seorang bayi ternyata adalah sperma yang dipancarkan oleh sang ayah. Dan kini hal tersebut telah dibuktikan oleh ilmu pengetahuan. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa antara laki-laki dan perempuan memang memiliki fungsi yang berbeda tapi saling melengkapi. Tidak bisa disamakan. Jika anda ingin memiliki bayi dengan jenis kelamin tertentu, maka yang harus direkayasa adalah sperma sang ayah.

    Nah, sejak penentuan jenis kelamin itu terjadi, maka janin bakal menghasilkan hormon yang berbeda. Pada janin laki-laki, ia akan menghasilkan hormon androgen alias hormon lelaki. Sedangkan pada wanita akan menghasilkan hormon estrogen.

    Sejak sekitar hari ke 13 itu janin laki-laki menghasilkan hormon-hormon lelaki yaitu testosteron dan MIS (Mullerian duct Inhibiting Substance). Kedua jenis hormon ini akan menyebabkan otak si janin bertumbuh menjadi otak laki-laki.

    Testosteron berfungsi untuk membentuk alat kelamin lelaki dengan segala perlengkapannya, serta menekan terbentuknya kelenjar susu. Sedangkan MIS bertugas untuk mencegah terbentuknya alat kelamin wanita, termasuk rahim dan saluran telur. Dengan demikian, secara berangsur-angsur janin itu akan mengarah kepada bentuk lelaki dengan segala kekhasannya.

    Sebaliknya, janin akan menjadi perempuan jika hormon yang bekerja adalah hormon-hormon estrogen. Secara bertahap si janin akan membentuk semua kelengkapan organ tubuh wanita.

    Perkembangan tersebut – baik pada lelaki maupun wanita – terjadi selama pembentukan bayi di dalam rahim, sampai usia sekitar 10 hari setelah kelahiran. Jika, dalam kurun 10 hari itu terjadi pengaruh-pengaruh pada sistem organ seks mereka, atau fungsi otaknya, maka boleh jadi hal itu akan mengganggu perilaku seksualnya di kemudian hari.

    Sebagai contoh, jika hewan percobaan yang berkelamin jantan dikebiri sesaat setelah kelahirannya, maka di waktu-waktu selanjutnya hewan tersebut akan bertingkah laku sebagai betina. Demikian pula penyuntikan hormon estrogen pada si jantan, juga menyebabkannya bertingkah laku sebagai betina.

    Pada manusia pun terjadi demikian. Jika ada seorang wanita disuntik dengan hormon laki-laki, maka ia akan menunjukkan sifat-sifat yang cenderung laki-laki dan lebih agresif dibanding sebelumnya. Demikian pula sebaliknya, jika seorang lelaki disuntik dengan hormon-hormon kewanitaan, maka ia akan menunjukkan gejala-gejala fisik dan bersikap sebagai perempuan.

    Karena itu jangan heran, pada seorang waria, mereka mengandalkan suntikan hormon itu untuk membentuk fisik mereka agar menjadi lebih wanita. Sekaligus akan berpengaruh pada beberapa sifatnya. Namun, tentu saja, tidak bisa sempurna. Karena sudah “telanjur jadi”.

    ***

    Oleh: Firliana Putri

     
    • portable solar Battery charger 2:30 am on 17 Juni 2013 Permalink

      Sooooooo awesome submit, i love some words so much and
      may i quote a few of them on my blog site?
      I also have e-mailed you relating to could
      it be probable for us to exchange our links, hope speaking with you soon.
      Wonderful Job, Chow!

  • erva kurniawan 3:18 am on 9 June 2013 Permalink | Balas  

    Laki-Laki dan Wanita Sosok yang Berbeda 

    siluet keluarga 2Laki-Laki dan Wanita Sosok yang Berbeda

    Laki-laki dan perempuan adalah sosok yang berbeda. Dalam banyak hal. Karena itu, kita tidak bisa begitu saja menyamakan keduanya, meskipun – tentu saja – mereka sama-sama manusia.

    Perbedaan itu, mulai dari yang bersifat fisik sampai yang bersifat psikis. Dari bentuk maupun fungsinya. Dalam menghadapi masalah, maupun cara menyelesaikannya. Dan dalam berbagai kebiasaan mereka sehari-hari, termasuk aktivitas mereka di dalam rumah tangga.

    Para ahli otak, bahkan menyebut otak perempuan dan otak lelaki memiliki perbedaan struktur dan fungsi, yang terbentuk sejak mereka di dalam kandungan. Di antaranya, otak lelaki memiliki bagian otak reptil yang lebih besar dibandingkan wanita. Padahal, ini adalah bagian yang bertanggungjawab terhadap perilaku kasar seseorang.

    Karena bagian ini lebih besar dan lebih aktif pada seorang lelaki, maka tidak heran lelaki berperilaku lebih kasar dibandingkan dengan wanita. Seperti seekor reptil. Kalau sedang emosi, cenderung untuk mengandalkan fisik. Seperti memukul, membanting, berkata kasar dan sebagainya. Sedangkan pada wanita, bakal menyikapi dengan lebih hati-hati dan terkontrol.

    Pada perempuan, fungsi otaknya lebih tajam dalam menangkap situasi yang terjadi di sekitarnya. Terutama yang terkait dengan perasaan emosional, seperti sedih dan gembira. Termasuk perubahan ekspresi lawan bicaranya, atau bahasa tubuh mereka, dibandingkan lelaki.

    Ternyata semua itu juga berpangkal pada struktur dan fungsi otak yang berbeda antara keduanya. Pada wanita sistem limbiknya bekerja 8 kali lebih kuat dibandingkan dengan lelaki. Inilah yang memungkinkan wanita menjadi lebih perasa. Cuma, sayangnya, kepekaan ini juga membuat wanita lebih emosional dalam bersikap: gampang merasa sedih dan gembira.

    Pada umumnya wanita juga memiliki kemampuan bahasa dan mendiskripsikan persoalan secara lebih mendetil. Ternyata ini disebabkan sel-sel otak yang bertanggungjawab terhadap kemampuan bahasa pada perempuan tersebar dalam wilayah yang luas di otak kanan maupun otak kiri. Sehingga, pada wanita yang mengalami stroke, kebanyakan mereka tidak kehilangan kemampuan bicaranya. Sel-sel yang berkait dengan fungsi bicara masih berjalan dengan baik. Suatu hal yang jarang terjadi pada pria. Kebanyakan pria jika kena stroke, kemampuan bicaranya bakal menurun drastis.

    Kemampuan berbahasa dan perasaan yang halus itu memberikan kemampuan kepada seorang wanita untuk bisa menjelaskan perasaannya dengan lebih mengesankan dibandingkan kebanyakan lelaki. Secara struktural, otak wanita memiliki saraf penghubung antara otak kanan dan kirinya lebih tebal dibandingkan pria.

    Dalam hal seksualitas, keduanya juga memiliki kemampuan dan kencenderungan berbeda. Meskipun masing-masing memiliki libido atau nafsu yang relatif sama. Perbedaan itu lebih pada cara memperoleh dan melakukannya.

    Wanita memiliki saraf-saraf seksualitas yang lebih tersebar dibandingkan lelaki. Hampir di seluruh tubuhnya. Sedangkan lelaki lebih terkonsentrasi pada daerah genitalnya.

    Selain itu, wanita cenderung bersikap pasrah dalam beraktifitas seksual. Sedangkan lelaki lebih bersifat agresif. Kenikmatan dan kepuasan mereka berbeda. Ini disebabkan oleh bagian otak yang disebut preoptic medial yang terdapat di hypothalamus. Bagian ini kaya dengan saraf-saraf penerima rangsangan seksual yang fungsi dan jumlahnya berbeda pada lelaki dan perempuan.

    Wanita lebih suka bergaya lordosis alias pasrah telentang, sedangkan lelaki lebih suka agresif dan bergaya kiposis atau menungging. Meskipun pada prakteknya bisa sangat bervariasi. Itu dikarenakan perbedaan fungsi preoptic medial-nya. Yang satu peka terhadap rangsangan hormon estrogen, sedangkan yang lelaki peka terhadap hormon androgen.

    Otot-otot dan saraf yang bekerja pada sekitar daerah vital mereka pun berbeda. Pada lelaki, ia baru bisa melakukan hubungan seksual jika otot dan sarafnya menegang aktif. Sedangkan pada wanita, tidak perlu kondisi seperti itu. Meskipun otot dan sarafnya sedang pasif, seorang wanita tetap bisa melakukan hubungan intim. Saraf-saraf seksual di tulang punggung lelaki memiliki jumlah dan ketebalan lebih banyak dibandingkan perempuan. Yang disebut sebagai Nukleus Onuf’s, berfungsi mengatur aktif tidaknya alat genital.

    Perbedaan lainnya adalah pada kemampuan mengelola rasa sakit dan stres. Ternyata perempuan memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan pria. Ini pun disebabkan oleh perbedaan otak mereka.

    Sejak usia baligh, perempuan sudah terbiasa didera nyeri dan stres disebabkan oleh perubahan kondisi menjelang haid alias menstruasi. Nyeri karena datang bulan itu, seringkali datang bersamaan dengan gejolak emosi dan stres.

    Belum lagi, ketika mereka melahirkan. Rasa sakit dan stres semakin meningkat. Tapi mereka bisa mengatasinya dengan baik. Dan berulangkali terjadi, seiring dengan jumlah anak yang mereka lahirkan. Mereka bisa mengelola nyeri dan stres itu lebih baik daripada pria.

    Belum lagi, masa menyusui, masa membesarkan dan mendidik anak, serta berbagai masalah rumah tangga yang datang silih berganti. Wanita memiliki daya tahan yang lebih baik dibandingkan pria. Meskipun, kelihatannya wanita kalah berotot dan lebih lemah. Dan seterusnya. Dan sebagainya.

    Pada dasarnya, pada bagian ini saya hanya ingin mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan memang berbeda. Berbagai penelitian bidang kedokteran dan biologi telah membuktikan hal itu. Mereka memang memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Karena itu harus diperlakukan secara berbeda pula. Karena, sesungguhnyalah mereka adalah sosok yang berbeda, dalam fisik, tingkah laku, maupun ukuran kebahagiaannya…

    ***

    Oleh: Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 4:12 am on 8 June 2013 Permalink | Balas  

    Khazanah Kisah Islam Futuwwah 

    quranKhazanah Kisah Islam Futuwwah

    Ibn Abbas, sahabat dan sepupu Rasullulah saw. yang dikenal sebagai orang yang paling bijaksana pada masanya, menceritakan tentang peperangan melawan orang-orang kafir, yang jumlah tentaranya sepuluh kali lipat dari tentara Islam.

    Perang itu berkecamuk sepanjang hari, kedua belah pihak menderita korban yang sebanding jumlahnya. Ketika pertempuran itu berhenti menjelang fajar, aku mengambil sekantung air dan membawanya ke medan pertempuran, yang penuh dengan mayat-mayat dan orang-orang yang terluka. Aku mendengar banyak tentara Islam merintih dan meminta seteguk air. Aku mendekati seorang tentara yang tengah sekarat yang bibirnya tampak sangat kering. Ketika aku hendak memberinya minum, aku mendengar tentara lain yang tak jauh dari situ meminta air. Tentara yang terluka itu menyuruhku untuk memberikan air kepada tentara yang lain terlebih dahulu. Ketika aku mendekati orang yang kedua, kami mendengar tentara musuh yang tergeletak tak jauh dari situ merintih minta air. Tentara Islam itu meminta aku untuk memberikan air kepada tentara musuh itu terlebih dahulu. Setelah aku memberikan air kepada tentara musuh yang terluka itu, aku kembali kepada tentara musuh yang terluka itu, aku kembali kepada tentara Islam tersebut, tetapi dia telah telanjur minum anggur kesyahidan (menemui ajalnya). Aku kembali kepada tentara yang pertama, tetapi diapun telah menghadap Tuhannya.

    Begitulah khazanah kemurahan hati dan belas kasihan yang tercakup dalam futuwwah.

    Kebajikan-kebajikan yang begitu menyolok dalam Islam seperti yang digambarkan dalam kisah tersebut didasarkan pada perilaku Nabi Besar Muhammad saw,. anggota keluarganya, keempat khalifah yang mewarisi, dan sikap beliau yang sempurna. Inilah landasan pokok filosofi futuwwah. Futuwwah adalah pernyataan pikiran. futuwwah berarti menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi. Futuwwah juga berati menghapus rasa keangkuhan, sabar dan tabah terhadap cobaan, dan meringankan kesulitan orang lain. Futuwwah berarti pertentangan yang pantang menyerah terhadap kezaliman, dan lebih dari itu, futuwwah adalah cinta dan kasih sayang. Cinta kasih adalah esensi futuwwah; cinta kepada Allah, cinta kepada mahkluk_Nya, dan cinta kepada kasih sayang itu sendiri.

    ***

    Sumber: Futuwwah konsep pendidikan kesastraan di kalangan sufi.

    Oleh. IBN AL-HUSAIN AS-SULAMI. Al-Bayan Bandung 1992.

     
  • erva kurniawan 4:02 am on 7 June 2013 Permalink | Balas  

    Calon Isteri Seorang Lelaki 

    Kisah cinta Laila MajnunCalon Isteri Seorang Lelaki

    Oleh Koko Nata Kusuma

    Seorang teman pernah mengatakan, kriteria calon isterinya: shalihah, cerdas, kaya dan cantik. Sebuah hadist juga mengemukakan, seorang perempuan dipinang karena kecantikannya, hartanya dan keturunannya. Tapi pinanglah perempuan karena keshalihannya. Itu yang utama. Saya sepakat dengan hadist tersebut. Perempuan yang shalihah, insya Allah cerdas. Ketika seorang perempuan cerdas, harta bisa dicari. Bila harta sudah di tangan, kecantikan bisa dibeli. Pilih satu, dapat tiga.

    Namun, bila kita tinjau ulang, pemikiran akan kriteria calon isteri tersebut cenderung egois. Tidak memandang dari banyak sisi. Hanya memandang pernikahan dari segi manfaat untuk diri sendiri. Tidak untuk keluarga, sahabat dan lingkungan sekitar. Padahal menikah adalah penyatuan dua organisasi besar; keluarga, membentuk organisasi baru. Banyak pihak yang bisa terpengaruh dan mempengaruhi pra dan pasca pernikahan.

    Jika kita berkaca, mengevaluasi. Melihat, mencari kelebihan dan kekurangan diri. Niscaya kita akan menemukan berbagai fakta; kita juga punya banyak kekurangan. Lalu, pantaskan bersibuk ria dengan segala macam kriteria? Sedang diri sendiri mungkin tak bisa memenuhi segala kriteria impian oleh calon pasangan. Seseorang berharap mendapat perempuan shalihah, namun apakah dia cukup shalih untuk berdampingan dengan perempuan shalihah. Ia ingin perempuan cerdas, tapi apakah ia cukup cerdas untuk mengimbangi kecerdasannya? Ia ingin perempuan berharta, tapi seberapa banyak harta yang dapat dia berikan, untuk ‘membeli’ sang calon dari ayah-bundanya. Dan ketika ia ingin perempuan cantik, apakah ia sendiri cukup gagah, tidak jomplang, saat bersisian dengannya? Tidakkah keinginan si lelaki terlalu berlebih?

    Dari kisah cinta para Nabi, sahabat dan para syuhada, ada sejumlah fakta: tangan Allah selalu bermain. Kisah cinta Muhammad-Khadijah, Yusuf-Zulaikha hanyalah sebagian kecil contoh. Keikhlasan menggenapkan separuh agama pasti akan mendapat anugerah luar biasa; seorang isteri penghuni taman surga. Segala hambatan pernikahan hanyut karena ibadah yang khusu, penghambaan yang sangat padaNya. Manusia hanya berusaha, hasilnya terserah pada Yang Kuasa.

    Hendaknya seorang lelaki berusaha melihat dari banyak sisi, ketika datang seorang calon isteri padanya. Segala identitas standar bukan pertimbangan utama. Serahkan saja padaNya. Meminta petunjuk lewat shalat istikharah. Apakah perempuan itu orang yang tepat? Apakah si calon pasangan dunia akhirat? Hanya Allah yang tahu, kan?

    Lelaki manapun bisa saja berharap: Semoga calon isteri yang datang padaku adalah perempuan shalihah. Bila belum shalihah, haruslah dia mengajak, meningkatkan pemahaman agama, terus memperbaiki diri. Menghiasi rumah tangga dengan amalan wajib dan sunnah. Menggapai sakinah. Semoga perempuan yang datang padaku cerdas. Jika belum cerdas, mestilah dia yang mengajar dan belajar dari pasangannya. Mencari ilmu baru, terutama ilmu rumah tangga. Tentang harta, boleh saja meminta: datangkanlah padaku calon isteri yang berharta. Tetapi ingatlah, harta adalah cobaan, tak banyak orang yang bisa tetap rendah hati, menunduk-nunduk ketika punya harta. Lagipula harta gampang dicari. Soal kecantikan, wajar lelaki normal ingin mendapatkan isteri cantik. Tetapi bukan hanya cantik lahir, batinnya juga harus cantik. Yang menjadi pertanyaan, standar apakah yang akan digunakan untuk menilai seorang perempuan cantik. Standar dunia atau standar surga? Standar dunia menekankan kecantikan maya. Mengandalkan costmetik. Kecantikan abadi, keindahan hingga akhir hayat dan di akhirat kelak, itulah yang seharusnya dicari. Terserah cantik atau tidak kata dunia, yang penting isteri bisa selalu menarik di mata, di hati. Menjadi telaga sejuk, pohon teduh di terik siang. Standar cantik ini sifatnya personal. Orang lain memandang biasa, tapi luar biasa menurut sang suami.

    Perempuan manapun yang datang pada seorang lelaki, sudah sepatutnya ia melepas kacamata kekinian. Menggunakan kacamata masa depan dan kacamata banyak orang untuk menilai. Mungkin banyak keindahan calon pasangan yang sengaja disimpan olehNya. Allah ingin mengujinya, apakah dia cukup shaleh, cukup ikhlas, cukup bersabar untuk mendapatkan pasangan sejati.

    Pasti ada keraguan saat menimbang. Maka dari itulah perlunya mengetuk nurani sahabat, saudara, kakak, orang tua, mereka yang lebih berpengalaman. Calon suami dapat bertanya, apakah perempuan begini akan begini-begini? Ia bisa minta tepukan tangan di pundak, pelukan, dan untaian mutiara. Agar sang lelaki yakin, mantap. Semoga setelah itu, dia betul-betul siap, menggenapkan separuh agama, mengapai sakinah. Memberatkan bumi dengan generasi yang menjunjung tinggi kalimat La Illa Ha Illallah.

     
  • erva kurniawan 4:25 am on 6 June 2013 Permalink | Balas  

    Semua Diciptakan Berpasangan 

    pasangan_serasiSemua Diciptakan Berpasangan

    Allah menciptakan segala yang ada di alam semesta ini berpasang-pasangan. Saling melengkapi. Sekaligus saling mengisi. Saling bekerjasama. Saling mengimbangi. Saling mempengaruhi satu sama lain. Dan saling menyempurnakan.

    Karena berpasang-pasangan itu, jika salah satunya tidak ada, yang lain bakal merasa kehilangan. Bakal timpang. Bakal memunculkan masalah. Dan berbagai persoalan lainnya.

    Bagaikan malam dengan siang. Atau, tangan kanan dan tangan kiri. Kaya dan miskin. Penguasa dan rakyat jelata. Orang pintar dan orang bodoh. Ulama dan awam. Dan seterusnya.

    Pernahkah Anda membayangkan adanya siang tanpa ada malam? Lantas apa gunanya, dan apa maknanya? Atau sebaliknya ada malam tanpa ada siang? Yang ada, bakal muncul masalah. Sehingga Allah mempertanyakan hal itu kepada kita di dalam Al-Qur’an, agar kita berpikir.

    QS. Al Qashash (28): 71-72 Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?”Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”

    Siang dan malam adalah pasangan serasi yang memungkinkan terjadinya kehidupan di muka bumi. Jika Bumi hanya memiliki siang saja, maka kehidupan di muka bumi ini bakal musnah, karena terlalu panas. Permukaan Bumi bakal mendidih hanya dalam hitungan beberapa ratus jam saja.

    Sebaliknya, jika Bumi hanya memiliki malam, di Bumi pun tidak bakal muncul kehidupan. Sebab permukaan bumi bakal membeku. Juga hanya dalam hitungan ratusan jam saja.

    Pergantian siang dan malam itulah yang menyebabkan munculnya mekanisme kehidupan secara sempurna di muka bumi. Allah memperpasangkan siang dan malam demi terciptanya kehidupan manusia di dalamnya. Itulah yang digambarkan Allah dalam berbagai ayatNya.

    QS. Al Jaatsiyah (45): 5 dan pada pergantian malam dan siang, dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkanNya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.

    Bukan hanya soal siang dan malam saja, Allah menciptakan pasangan. Kaya-miskin pun adalah sebuah pasangan yang serasi. Bisakah Anda bayangkan jika manusia di muka Bumi ini kaya semua? Siapakah yang mau melayani yang lain? Demikian juga bila miskin semua, siapa yang bakal membiayai kehidupan sosial? Maka, kehidupan sosial kita bakal berhenti karenanya.

    Penguasa dan rakyat, juga pasangan yang serasi. Tak mungkin ada penguasa jika tidak ada rakyat. Sebaliknya rakyat juga butuh penguasa untuk mengatur kehidupan kolektifnya. Keduanya berpasangan saling membutuhkan, dan saling melengkapi.

    Ulama dan awam pun saling membutuhkan. Keduanya adalah pasangan. Ulama hanya bisa disebut ulama – dan kemudian menjadi bermanfaat – karena ada orang awam. Dan orang awam pun disebut orang awam karena ada pembandingnya, sang ulama. Dan seterusnya. Dan sebagainya.

    Seluruh alam semesta diciptakan Allah secara berpasang-pasangan. Persis seperti dikemukakan olehNya dalam ayat berikut ini.

    QS. Adz Dzaariyaat (51): 49 Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.

    Dalam kasus yang lebih khusus Allah menyebut tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia pun diciptakan secara berpasang-pasangan. Termasuk segala sesuatu, yang tidak kita ketahui.

    QS. Yasin (36): 36 Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan berpasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.

    QS. Asy Syuura (42): 11 (Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

    Ya, manusia diciptakan Allah berpasang-pasangan. Secara fisik maupun fungsinya. Secara fisikal, manusia diciptakan sebagai pasangan laki-laki dan perempuan. Dan secara fungsi, manusia juga membutuhkan pasangan-pasangan dalam skala yang lebih luas di bidang sosial, politik, ekonomi, budaya, dan sebagainya seperti telah kita ungkap di depan.

    Laki-laki adalah pasangan wanita. Demikian pula sebaliknya. Jika mereka tidak berpasangan, atau memilih pasangan yang lain, maka hasilnya adalah masalah. Baik secara individual, ataupun sosial. Kenapa demikian? Sebab, keduanya memang diciptakan bersifat komplementer. Saling melengkapi dan membutuhkan. Secara fisik maupun secara fungsi. Begitulah memang fitrahnya. Begitulah desain penciptaannya.

    QS. An Najm (53): 45 dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan,

    QS. An Naba’ (78): 8 dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan,

    Siapa saja yang tidak berpasangan, ia menyalahi fitrahnya. Akan muncul kerinduan yang tidak bisa dibendung, dan jika penyalurannya salah bakal memunculkan masalah di kemudian hari.

    Bukan hanya dalam skala individual, dalam skala sosial pun mereka yang tidak mau saling tolong menolong dengan orang lain bakal mengalami masalah juga. Ya, semua itu karena Allah menciptakan kita dengan fitrah berpasang-pasangan sebagaimana difirmankan dalam berbagai ayatNya…

    ***

    Oleh Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 3:21 am on 5 June 2013 Permalink | Balas  

    Keseimbangan Adalah Kebahagiaan 

    siluet ontaKeseimbangan Adalah Kebahagiaan

    Kunci keberhasilan dan kebahagiaan dalam berpasangan adalah terjadinya keseimbangan. Jika berpasang-pasangan itu dilakukan dengan cara menabrak keseimbangan maka hasilnya pun adalah masalah.

    Jadi, tidaklah cukup kita hanya menciptakan mekanisme berpasang-pasangan. Karena banyak sekali proses berpasangan itu yang dilakukan dengan mengabaikan persyaratan mendasarnya yaitu keseimbangan.

    Secara alamiah, sebenarnya alam ini sudah diciptakan Allah dalam keseimbangan sempurna. Karena itu, jika kita mengikuti mekanisme alamiah saja, sebenarnya kita pasti akan berada dalam keseimbangan sempurna. Ketidak-seimbangan itu justru muncul karena campur tangan manusia yang serakah. Mementingkan diri sendiri.

    Berpasang-pasangan dalam keseimbangan, itulah kunci keberhasilan dan kebahagiaan. Di sana akan muncul mekanisme saling memberi dan saling menerima. Tidak ada yang ingin menjatuhkan pasangannya. Karena, menjatuhkan pasangan sama saja dengan menjatuhkan dirinya sendiri. Kehilangan pasangan berarti memunculkan ketidakseimbangan. Dampaknya akan kembali kepada dirinya sendiri.

    Jika kita semua memahami mekanisme sederhana ini, sebenarnya kita bakal dengan mudah mencapai keberhasilan dan kebahagiaan…

    Ambillah contoh: manusia berpasangan dengan alam. Jika kita menyadari bahwa kita sedang berpasangan dengan alam, maka kita harus siap untuk saling memberi dan menerima.

    Kalau kita berpasangan dengan alam tetapi serakah: hanya siap menerima, tidak mau memberi, maka yang muncul bukan kesuksesan dan kebahagiaan. Melainkan ketidakseimbangan yang berujung pada penderitaan dan bencana.

    Inilah yang sekarang sedang dialami oleh manusia di seluruh muka Bumi. Ya, kita semua sedang menuai hasil perbuatan kita sendiri. Kerusakan hutan, penambangan liar, industrialiasi yang kebablasan, dan berbagai perusakan lingkungan, maupun ekplorasi sumber daya laut yang tidak terkontrol, adalah cermin betapa kita tidak bisa berbuat seimbang dalam berpasangan dengan alam.

    Hasilnya bisa dipastikan, bukan kesuksesan dan kebahagiaan, melainkan bencana. Bukan pada generasi perusaknya, melainkan pada generasi berikutnya. Kita telah mewariskan masalah besar bagi kehidupan anak cucu kita.

    Bukan hanya alam. Jika kita berpasangan dengan orang lain dalam berbisnis, kita pun harus bisa menjaga keseimbangan. Jangan berpikir serakah, dan mengekploitasi mitra bisnis kita. Sebab, jika mitra bisnis kita ambruk, kita pun bakal ambruk. Kita harus menjaga mereka supaya bisa memberikan kelangsungan bisnis jangka panjang. Selain menerima, kita harus berupaya untuk memberi kepadanya. Pasangan kita sukses, kita juga bakal sukses.

    Dalam hal laki-laki dan wanita sama saja. Jika kita berpasangan dengan lawan jenis kita, maka jangan berpikir untuk mengeksploitasinya. Yang harus kita lakukan adalah menjaganya supaya ia tetap bisa eksis dan bahagia. Sungguh, jika pasangan kita bahagia, ia pun akan memberikan kebahagiaan kepada kita.

    Memberi kebahagiaan adalah kata kunci untuk memperoleh kebahagiaan pada giliran berikutnya. Memberikan kesuksesan kepada pasangan kita, adalah kata kunci untuk meraih kesuksesan kita sendiri pada giliran berikutnya.

    Sayangnya seringkali kita berpikir sebaliknya. Kita menuntut pasangan kita untuk memenuhi keinginan kita agar kita bahagia. Lantas, sebaliknya, pasangan kita juga menuntut untuk dipenuhi keinginannya agar ia bahagia. Yang terjadi kemudian adalah saling menuntut untuk diberi kebahagiaan. Tanpa pernah memperoleh kebahagiaan itu sendiri.

    Kata kuncinya adalah keseimbangan. Dan keseimbangan itu bukan diperoleh dengan cara menuntut, melainkan dengan cara memberikan kontribusi agar tercapai keseimbangan yang dimaksud.

    Kembali kepada fitrah, alam semesta sebenarnya sudah didesain oleh Allah dalam keseimbangan sempurna.

    QS. Al Mulk (67): 3 Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?

    QS. Al Infithaar (82): 7 Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikanmu seimbang,

    Jadi, agar tercapai keseimbangan yang harus dilakukan adalah merendahkan ego kita masing-masing. Sebaliknya, meninggikan kepentingan orang lain, atau pasangan kita.

    Kita harus bersabar dalam hal ini. Sebagaimana bercocok tanam. Seorang petani tidak bisa langsung menuntut sawah atau kebunnya untuk memberikan hasil panen seperti yang diinginkannya. Dia harus mengolah tanah itu terlebih dahulu, memupuknya, menyiraminya, dan merawatnya dengan baik. Karena ia memberikan perhatian dan usaha kepada sawah atau kebunnya itu, maka ia lantas memperoleh ‘balasan’ atas perhatian dan usaha yang dilakukan kepada pasangannya tersebut, berupa panen. Semakin besar ia ‘memberikan’, maka semakin besar pula ia akan ‘menerima’ hasilnya.

    Tidak ada yang gratis di alam semesta ini. Semua kesuksesan dan keberhasilan harus didahului oleh usaha. Semakin besar usaha kita, maka semakin besar pula yang bakal kita terima. Asalkan semua itu dilakukan sesuai dengan fitrah: berpasangan dalam keseimbangan.

    ***

    Oleh Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 4:17 am on 4 June 2013 Permalink | Balas  

    Shalat Berjama’ah, Perintah Agama yang Kian Ditinggalkan 

    sholat-berjamaahShalat Berjama’ah, Perintah Agama yang Kian Ditinggalkan

    Sumber: Buletin Al Ilmu

    Masjid merupakan sebuah tempat suci yang tidak asing lagi kedudukannya bagi umat Islam. Masjid selain sebagai pusat ibadah umat Islam, ia pun sebagai lambang kebesaran syiar dakwah Islam. Alhamdulillah”, kaum muslimin pun telah terpanggil untuk bahu-membahu membangun masjid-masjid di setiap daerahnya masing-masing. Hampir tidak dijumpai lagi suatu daerah yang mayoritasnya kaum muslimin kosong dari masjid. Bahkan terlihat renovasi bangunan masjid-masjid semakin diperlebar dan diperindah serta dilengkapi dengan berbagai fasilitas, agar dapat menarik dan membuat nyaman jama’ah. Semoga semua usaha ini menjadi amal ibadah yang barakah karena mengamalkan hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:

    “Barangsiapa yang membangun masjid karena mengharap wajah Allah, niscaya Allah akan bangunkan baginya semisalnya di al jannah.” (Al Bukhari no. 450)

    Tentunya akan lebih barakah lagi bilamana mampu merealisasikan tujuan dibangunnya masjid. Salah satu fungsi dibangunnya masjid adalah menegakkan shalat berjam’ah di dalamnya. Ternyata, bila kita menengok kondisi masjid-masjid yang ada terlihat shaf (barisan) ma’mum semakin maju alias sepi dari jama’ah. Bahkan ada beberapa masjid yang tidak menegakkan shalat berjama’ah lima waktu secara penuh. Kondisi ini seharusnya menjadikan kita tersentuh untuk bisa berupaya dan ikut serta bertanggung jawab dalam mamakmurkan masjid. Para pembaca, dalam edisi kali ini akan dimuat pembahasan keutamaan dan kedudukan shalat berjama’ah lima waktu di masjid. Semata-mata sebagai nasehat untuk kita bersama dalam mewujudkan kemakmuran masjid-masjid yang merupakan pusat syiar-syiar Islam dan mewujudkan hamba-hamba Allah subhanahu wata’ala yang benar-benar beriman kepada-Nya.

    Memakmurkan Masjid Ciri Khas Orang-Orang Yang Beriman  

    Ciri khas yang harus dimiliki oleh orang yang beriman adalah tunduk dan patuh memenuhi panggilan-Nya. Ciri khas ini sebagai tanda kebenaran dan kejujuran imannya kepada Allah subhanahu wata’ala. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Wahai orang-orang yang beriman penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul, bila Rasul menyeru kalian kepada sesuatu yang dapat menghidupkan hati kalian” (Al Anfal: 24)

    Allah subhanahu wata’ala telah memanggil kaum mu’minin untuk memakmurkan masjid. Siapa yang memenuhi panggilan Allah subhanahu wata’ala ini, maka Allah subhanahu wata’ala bersaksi atas kebenaran dan kejujuran iman dia kepada-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat.” (At Taubah: 18) Al Imam Ibnu Katsir Asy Syafi’i (bermadzhab Syafi’i) seorang ulama’ besar dan ahli tafsir berkata: “Allah subhanahu wata’ala bersaksi atas keimanan orang-orang yang mau memakmurkan masjid.” (Al Mishbahul Munir tafsir At Taubah: 18) Sesungguhnya termasuk syi’ar Islam terbesar adalah memakmurkan masjid-masjid dengan menegakkan shalat berjama’ah. Bila masjid itu sepi atau kosong dari menegakkan shalat berjama’ah pertanda mulai rapuh dan melemahnya kebesaran dan kemulian dakwah Islam.

    Keutamaan Mengerjakan Shalat Berjama’ah Di Masjid

    Berikut ini beberapa keutamaan mendatangi shalat berjama’ah di masjid, diantaranya:

    1. Mendapat naungan dari Allah subhanahu wata’ala pada hari kiamat

    Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tujuh golongan yang Allah akan menaungi mereka pada suatu hari (kiamat) yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; (diantaranya) Seorang penguasa yang adil, pemuda yang dibesarkan dalam ketaatan kepada Rabbnya, seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid.” (Muttafaqun alaihi)

    2. Mendapat balasan seperti haji

    Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan berwudhu’ untuk shalat lima waktu (secara berjama’ah di masjid), maka pahalanya seperti pahala orang berhaji yang memakai kain ihram.” (HR. Abu Dawud no. 554, dan di hasankan oleh Asy Syaikh Al Albani)

    3. Menghapus dosa-dosa dan mengangkat beberapa derajat (Lihat HR. Muslim no. 251)

    4. Disediakan baginya Al Jannah (Lihat H.R. Al Bukhari no. 662 dan Muslim no. 669)

    5. Mendapat dua puluh lima/dua puluh tujuh derajat dari pada shalat sendirian (Lihat HR. Al Bukhari no. 645-646)

    Hukum Shalat Berjama’ah

    Para pembaca, di dalam Al Qur’anul Karim Allah subhanahu wata’ala memerintahkan untuk menegakkan shalat secara berjama’ah. Yang menunjukkan hukum shalat berjama’ah adalah perkara yang wajib (fardhu). Simaklah firman Allah subhanahu wata’ala (artinya): “Dirikanlah shalat dan keluarkan zakat dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (Al Baqarah: 43)

    Ibnu Katsir seorang ulama besar yang bermadzhab Asy Syafi’i dalam kitab tafsirnya, menyatakan bahwa ayat di atas dijadikan dalil oleh mayoritas ulama tentang kewajiban menghadiri shalat berjama’ah. Karena Allah subhanahu wata’ala memerintahkan untuk ruku’ bersama orang-orang yang ruku’, yang artinya shalatlah secara berjama’ah. (Lihat Al Mishbahul Munir, Al Baqarah: 43)

    Lebih tegas lagi, Allah subhanahu wata’ala memerintahkan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya untuk tetap menegakkan shalat berjama’ah walaupun pada saat perang berkecamuk, yang dikenal dengan shalatul khauf.

    Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Dan bila engkau menegakkan shalat ditengah-tengah mereka (para shahabatmu) maka hendaklah salah satu kelompok diantara mereka shalat bersamamu sambil membawa senjata-senjatanya. Bila mereka telah sujud maka hendaklah mundur dan datang kelompok lainnya yang belum shalat untuk shalat bersamamu sambil tetap waspada sambil membawa senjata-senjatanya”. (An Nisaa’: 102)

    Ayat diatas mempertegas tentang hukum shalat berjama’ah adalah fardhu ‘ain. Kalau sekiranya shalat berjama’ah hukumnya sunnah (mustahab) saja, maka keadaan mereka sangat pantas mendapatkan udzur (keringanan) dari shalat berjama’ah, dan kalau sekiranya fardhu kifayah Allah subhanahu wata’ala akan menggugurkan kewajiban shalat berjama’ah pada kelompok kedua. Namun Allah subhanahu wata’ala tetap memerintahkan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan seluruh shahabatnya (baik kelompok pertama dan kedua) untuk menyelenggarakan shalat berjama’ah.

    Demikian pula Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan umatnya untuk shalat berjama’ah. Malik bin Al Huwairits radhiallahu ‘anhu berkata: “Aku menemui Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu rombongan kaumku. Kami bersama beliau selama 20 malam. Beliau adalah orang yang pengasih dan lemah lembut. Tatkala beliau melihat kerinduan kami untuk pulang, beliau berkata: ‘Pulanglah kalian, beradalah ditengah-tengah mereka, ajarilah ilmu dan shalatlah. Bila telah tiba waktu shalat maka hendaklah salah satu diantara kalian adzan dan jadikanlah orang yang paling dewasa sebagai imam.”

    Hadits di atas menunjukkan shalat berjama’ah merupakan perintah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan perintah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam itu pada asalnya adalah wajib untuk ditunaikan. Shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: “Pernah seorang buta menemui Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata: ‘Wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sesungguhnya aku tidak memiliki penuntun yang menuntunku ke masjid.’ Dia meminta keringanan dari Rasulullah untuk tidak menghadiri shalat berjama’ah, maka beliau pun memberi keringanan baginya. Namun manakala orang tadi mau pergi, beliau memanggilnya, lalu beliau shalallahu ‘alaihi wasallam berkata: ‘Apakah kamu mendengar adzan? Orang itu pun menjawab: ‘Ya.’ Akhirnya beliau shalallahu ‘alaihi wasallam pun berkata: ‘Penuhilah panggilannya (shalatlah ke masjid).’ (H.R. Muslim no. 653)

    Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan orang tadi adalah Abdullah Ibnu Ummi Maktum akan tetapi dengan lafadz: “Wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, sesungguhnya aku ini buta, rumahku jauh, aku memiliki penuntun namun tidak cocok denganku, (dalam riwayat lain: Sesungguhnya di Madinah banyak binatang buas dan membahayakan) apakah aku mendapat keringanan untuk shalat di rumahku? Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘Apakah kamu mendengar adzan. Dia menjawab: ‘Ya.’ Akhirnya beliau berkata: ‘Aku tidak menemukan suatu keringanan bagimu.” (H.R. Abu Dawud no. 542, 548)

    Cobalah perhatikan kondisi Abdullah Ibnu Ummi Maktum yang sudah tua, buta, tidak ada penuntun, dan rumahnya pun jauh dari masjid, dan banyak binatang buas, tapi ia tetap diwajibkan untuk menghadiri shalat berjama’ah.

    Demikian pula yang memperjelas dan mempertegas kewajiban shalat berjama’ah adalah larangan dan ancaman dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam kepada orang yang meninggalkan shalat berjama’ah tanpa udzur. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengancam akan membakar rumah-rumah orang yang enggan menghadiri shalat berjama’ah. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku ingin menyuruh untuk mengumpulkan kayu bakar lalu aku perintah untuk menegakkan shalat dan adzan, dan aku perintah seseorang untuk menjadi imam, kemudian aku keluar mendatangi mereka (kaum laki-laki yang tidak menghadiri shalat berjama’ah) lalu aku bakar rumah-rumah mereka beserta penghuninya.” (HR. Al Bukhari no. 644)

    Orang yang sengaja meninggalkan shalat berjama’ah tanpa udzur akan ditutup hatinya dari rahmat Allah subhanahu wata’ala. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh hendaklah orang-orang itu berhenti dari meninggalkan shalat berjama’ah atau pasti Allah subhanahu wata’ala benar-benar akan menutup hati-hati mereka, kemudian pasti mereka menjadi golongan orang-orang yang lalai”. (HR. Ibnu majah no. 794, lihat Ash Shahihah no. 2967 karya Asy Syaikh Al Albani).

    Bahkan meninggalkan shalat berjama’ah dikhawatirkan telah tumbuh pada dirinya sifat kemunafikan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik daripada shalat fajar (shubuh) dan isya’.” (HR. Al Bukhari no. 657)

    Bila seseorang enggan shalat berjama’ah shubuh atau isya’ saja dikhawatirkan munafik, bagaimana bila ia enggan mengahadiri shalat berjama’ah selain shubuh dan isya’? Padahal menghadiri shalat berjama’ah selain pada kedua waktu tersebut lebih mudah (ringan). Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa yang berpendapat bahwa shalat berjama’ah itu fardhu ‘ain dari kelompok Muhadditsin (para ahli hadits) pengikut Al Imam Asy Syafi’i antara lain Abu Tsaur, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Al Mundziri, dan Ibnu Hibban. (Lihatlah Fathul Bari hadits no. 644)

    Al Imam Al Mundziri menukilkan dari Al Imam Abu Tsaur, bahwasanya dia pernah berkata: “Bahwa shalat berjama’ah adalah wajib, tidak ada keringanan bagi siapa saja yang meningalkannya kecuali dengan udzur.” (Al Ausath fis Sunan wal Ijma’ wal Ikhtilaf 4/138). Sedangkan Al Imam Asy Syafi’i sendiri berfatwa dalam kitabnya “Al Umm” Bab Shalatul Jama’ah 1/277: “Tidaklah aku memberi keringanan bagi orang yang mempunyai kemampuan untuk melaksanakan shalat berjama’ah dan enggan untuk mendatanginya, kecuali dengan udzur (alasan yang diterima oleh syari’at –pent).”

    Para pembaca, ketahuilah bahwa yang diwajibkan untuk menghadiri shalat berjama’ah di masjid adalah kaum laki-laki yang sudah baligh saja. Adapun wanita muslimah, tidak ada larangan untuk shalat berjama’ah di masjid, meskipun shalat wanita di rumahnya lebih baik baginya.  Akhir kata, semoga tulisan yang sederhana ini dapat membuka hati orang-orang yang selama ini jauh dari masjid, dan semakin memperkokoh orang-orang yang selalu rutin shalat berjama’ah di masjid. Amiin Yaa Rabbal ‘Alamiin.

     
  • erva kurniawan 4:40 am on 3 June 2013 Permalink | Balas  

    Melawan Setan 

    sujudMelawan Setan

    Penulis : KH Abdullah Gymnastiar

    Ada sebuah pertandingan tinju. Petinju yang satu ditutup kepalanya sehingga tidak bisa melihat, sedangkan petunju yang satunya lagi tidak ditutup dan bisa bebas bergerak. Apa yang akan terjadi? Petinju yang ditutup kepalanya pasti akan menjadi bulan-bulanan lawannya.

    Pertarungan kedua petinju tersebut, sesungguhnya menggambarkan pertarungan antara setan dengan manusia. Betapa sengsaranya jika kita harus bertarung dengan makhluk yang tidak terlihat, sedangkan ia bisa melihat kita. Tugas setan hanya satu, yaitu menggoda dan menggelincirkan manusia, sedangkan tugas kita sangat banyak. Setan menggoda manusia secara berjamaah, sedangkan kita harus menghadapinya sendirian.

    Karena itu, tanpa berlindung kepada Allah, kita akan menjadi bulan- bulanan mereka. Analoginya, jika kita diganggu anjing galak, maka cara yang paling efektif untuk selamat, adalah meminta tolong kepada pemilik anjing tersebut. Inilah yang Allah perintahkan, Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS Al A’raaf [7]: 200).

    Melihat berbagai keterbatasan manusia, Allah SWT telah memberikan aneka perlindungan kepada kita. Salah satunya dengan zikir. Zikir yang dilakukan dengan benar dan ikhlas, akan membuat setan tidak berkutik. Zikir di sini termasuk pula shalat, tilawah Al-Quran serta membaca doa. Dari Harits Al Asyari bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Aku perintahkan kepada kalian agar selalu berzikir kepada Allah. Sesungguhnya, perumpamaan orang yang berzikir itu seperti seorang yang dicari-cari oleh musuhnya. Mereka menyebar mencari orang tersebut sehingga ia sampai pada suatu benteng yang sangat kokoh dan ia dapat melindungi dirinya di dalam benteng tersebut dari kejaran musuh. Begitu juga setan. Seorang hamba tidak akan dapat meindungi dirinya dari setan, kecuali dengan berzikir kepada Allah.

    Sesungguhnya, zikir akan membuat hati kita akan tenang, cemerlang, iman bertambah kuat dan hawa nafsu bisa lebih terkendali (QS Ar Ra’d [13]: 28). Nah, ketika nafsu kita terkendali, maka setan tidak lagi memiliki daya. Sebab, setan hanya bisa menggoda manusia dengan memanfaatkan hawa nafsu. Itulah sebabnya tipu daya setan tidak berdaya sedikit pun terhadap orang-orang ikhlas, yaitu orang-orang yang telah mampu menempatkan Allah di atas hawa nafsunya (QS Shaad [38]: 82-83).

    Rasulullah SAW telah mencontohkan beberapa zikir pendek yang bisa membentengi kita dari tipu daya setan. Di antaranya, ucapan ta’awudz, a’uzdubillahi minassyaithaani rajiimi. Selain membaca basmalah, sangat baik pula jika kita membaca ta’awudz sebelum beraktivitas, agar Allah melindungi kita dari tipu daya setan.

    Juga ucapan, “Bismillahi tawakkaltu ‘alallahu laa haula wa laa quwwata illa billahi”. Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakal kepada-Nya, dan tiada daya serta kekuatan kecuali dari Allah semata. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa pun yang membaca doa ini ketika keluar dari rumahnya, maka Allah akan memberinya petunjuk, menjaga serta memalingkannya dari godaan setan.

    Dan yang ketiga, ucapan istighfar serta tahlil. Rasulullah SAW bersabda, “Perbanyaklah mengucap ‘La Laa Ilaha illaallahu’ dan beristighfar. Karena setan berkata, ‘Aku telah membinasakan mereka dengan dosa, sedangkan mereka membinasakanku dengan ucapan ‘La Laa Ilaha illaallahu’ serta dengan beristighfar. Ketika aku melihat hal itu, aku binasakan mereka dengan hawa nafsu. Sehingga mereka akhirnya menyangka bahwa mereka terus berada dalam naungan hidayah, dan mereka pun tidak lagi beristighfar” (HR Abu Ya’la dan Ad Dailami).

    Saudaraku, ada banyak zikir lain yang bisa kita baca dalam berbagai waktu dan kesempatan. Misal, saat hendak tidur, bangun tidur, makan, berhubungan suami istri, dsb. Termasuk pula membaca Al Ma’tsurat setelah shalat Subuh dan Asar. Bertaburan pula ayat-ayat Alquran dan hadits yang bisa kita jadikan materi zikir. Insya Allah, jika hati kita senantiasa tersambung kepada Allah, maka akan ada benteng kokoh antara kita dan setan.

    ***

    Sumber : http://republika. co.id

     
  • erva kurniawan 4:21 am on 2 June 2013 Permalink | Balas  

    Luruskan Shaf 

    SHOLAT BERJAMAAHLuruskan Shaf

    Kedudukan dan Pentingnya Shalat

    Rukun Islam yang paling utama setelah persaksian dengan dua kalimat syahadat adalah mendirikan shalat. Bahkan shalat adalah amalan yang pertama kali akan dihisab di hari kiamat nanti. Apabila baik shalatnya, niscaya akan baik pula seluruh amalan yang lainnya akan tetapi sebaliknya apabila shalatnya rusak/jelek, niscaya akan rusak pula amalan yang lainnya.

    Untuk itu sangatlah wajib bagi kita untuk memperhatikan permasalahan shalat, di mulai dari rukun-rukunnya, syarat wajibnya, thaharahnya dan lainnya yang berkaitannya dengan shalat.

    Pentingnya Meluruskan Shaf & Ancaman Keras bagi yang Tidak Meluruskannya

    Dan di antara hal yang berkaitan dengan shalat yang harus diperhatikan dengan serius dan tidak boleh diremehkan adalah permasalahan lurus dan rapatnya shaf (barisan dalam shalat). Mengapa demikian? Karena ancamannya pun tidak sembarangan, yakni ancaman bagi yang tidak meluruskan shaf.

    Dijelaskan di dalam hadits yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhariy dan Al-Imam Muslim dari shahabat Abu Abdillah An-Nu’man bin Basyir, beliau berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak), maka sungguh Allah akan memalingkan antar wajah-wajah kalian (menjadikan wajah-wajah kalian berselisih).” (HR. Al-Bukhariy no.717 dan Muslim 436))

    Dalam satu riwayat milik Al-Imam Muslim disebutkan, “Bahwasanya Rasulullah biasa meluruskan shaf-shaf kami seakan-akan beliau sedang meluruskan anak panah sehingga apabila beliau melihat bahwasanya kami telah memahami hal itu, yakni wajibnya meluruskan shaf (maka beliaupun memulai shalatnya, pent). Kemudian pada suatu hari beliau keluar, lalu berdiri sampai hampir-hampir beliau bertakbir untuk shalat, tiba-tiba beliau melihat seseorang yang menonjol sedikit dadanya, maka beliaupun bersabda, “Wahai hamba-hamba Allah, benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak) maka Allah sungguh akan memalingkan antar wajah-wajah kalian.”

    Lihatlah wahai saudaraku, kaum muslimin, sabda beliau yang mulia, yang mana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah Allah terangkan sifatnya kepada orang-orang beriman, “Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan, kebaikan dan keselamatan) bagi kalian, dan amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (At-Taubah:128)

    Tidaklah beliau bersabda demikian kecuali karena menginginkan kebaikan bagi ummatnya, kaum muslimin. Tidak ada satu kebaikan pun yang akan mendekatkan ke jannah kecuali telah beliau tunjukkan kepada ummatnya agar melakukannya dan tidak ada satu kejelekan pun yang akan mengantarkan ke neraka kecuali telah beliau larang ummatnya agar menjauhinya.

    Di dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menekankan agar meluruskan shaf di dalam shalat dengan sabdanya, “Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak), maka sungguh Allah akan palingkan antar wajah-wajah kalian.” “Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian” dalam kalimat ini terdapat tiga penekanan dan penguat yaitu: sumpah yang diperkirakan, lam taukid dan nun taukid. Demikian juga kalimat setelahnya, “atau sungguh Allah akan palingkan antar wajah-wajah kalian”, mengandung tiga penekanan dan penguat: sumpah, lam taukid dan nun tukid, yakni jika kalian tidak meluruskan shaf, maka sungguh Allah subhanahu wa ta’ala akan memalingkan antar wajah-wajah kalian.

    Makna Berpaling/Berselisihnya Wajah

    Para ulama berbeda pendapat tentang makna “berpalingnya atau berselisihnya wajah”. Sebagian mereka berpendapat, bahwasanya maknanya adalah sungguh Allah subhanahu wa ta’ala akan memalingkan antar wajah-wajah mereka dengan memalingkan sesuatu yang dapat dirasakan panca indera, yaitu dengan memutar leher, sehingga wajahnya berada dibelakangnya, dan Allah subhanahu wa ta’ala Maha Mampu atas segala sesuatu. Dialah Allah ‘Azza Wa Jalla yang telah menjadikan sebagian keturunan Nabi Adam (yaitu Bani Israil) menjadi kera, di mana Allah subhanahu wa ta’ala berkata kepada mereka: “Jadilah kalian kera yang hina” (Al-Baqarah:65) maka jadilah mereka kera. Maka Allah subhanahu wa ta’ala mampu untuk memutar leher manusia sehingga wajahnya berada di punggungnya, dan ini adalah siksaan yang dapat dirasakan panca indera.

    Adapun ulama yang lain berpendapat, bahwa yang dimaksudkan perselisihan di sini adalah perselisihan maknawiyyah, yakni berselisihnya hati, karena hati itu mempunyai arah, maka apabila hati itu bersepakat terhadap satu arah, satu pandangan, satu aqidah dan satu manhaj, maka akan didapatkan kebaikan yang banyak. Akan tetapi sebaliknya apabila hati berselisih maka ummat pun akan berpecah belah. Sehingga yang dimaksud perselisihan dalam hadits ini adalah perselisihan hati, dan inilah tafsiran yang paling shahih/benar, karena terdapat dalam sebagian lafazh hadits, “atau sungguh Allah akan palingkan antar hati-hati kalian.” Dengan alasan inilah, maka yang dimaksud dengan sabda beliau, “atau sungguh Allah akan palingkan antar wajah-wajah kalian”, yakni cara pandang kalian, yang hal ini terjadi dengan berselisihnya hati.

    Wajibnya Meluruskan Shaf

    Bagaimanapun juga, di dalam hadits ini terdapat dalil akan wajibnya meluruskan shaf, dan bahwasanya wajib atas para makmum untuk meluruskan shaf-shaf mereka, dan kalau mereka tidak meluruskan shafnya, maka sungguh mereka telah mempersiapkan diri-diri mereka untuk mendapatkan siksaan dari Allah subhanahu wa ta’ala, wal’iyaadzu billaah.

    Pendapat ini yaitu wajibnya meluruskan shaf adalah pendapat yang benar, sehingga wajib atas imam-imam shalat agar memperhatikan shaf, apabila didapatkan padanya kebengkokan atau ada yang sedikit maju atau mundur, maka para imam tersebut harus memperingatkan mereka agar meluruskan shafnya.

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun kadang-kadang berjalan di antara shaf-shaf untuk meluruskannya dengan tangannya yang mulia dari shaf yang pertama sampai terakhirnya. Ketika manusia semakin banyak di masa khilafah ‘Umar Ibnul Khaththab, ‘Umar pun memerintahkan seseorang untuk meluruskan shaf apabila telah dikumandangkan iqamah. Apabila orang yang ditugaskan tersebut telah datang dan mengatakan, “Shaf telah lurus” maka ‘Umar pun bertakbir untuk memulai shalat.

    Demikian juga hal ini dilakukan oleh ‘Utsman bin ‘Affan, beliau menugaskan seseorang untuk meluruskan shaf-shaf manusia, maka apabila orang tersebut datang dan mengatakan, “Shaf telah lurus”, beliaupun bertakbir untuk memulai shalat. Semuanya ini menunjukkan atas perhatian yang tinggi dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Khulafa`ur Rasyidin dalam masalah meluruskan shaf.

    Sebagian Kaum Muslimin Susah Diatur

    Akan tetapi, sungguh amat disesalkan, sekarang engkau akan dapati para makmum tidak mempedulikan masalah meluruskan shaf, yang satu agak maju ke depan, yang satu lagi agak mundur ke belakang, tidak peduli akan lurusnya shaf. Kadang-kadang mereka lurus pada raka’at pertama, kemudian ketika sujud muncullah kesenjangan, yang satu agak maju dan yang lain agak ke belakang, dan mereka tidak meluruskan shaf pada raka’at kedua, bahkan mereka tetap seperti itu tidak meluruskan shaf di raka’at kedua dan seterusnya, ini adalah kesalahan.

    Yang lebih mengherankan dari semuanya itu adalah ketika ada seseorang yang paham akan wajibnya meluruskan shaf, dia bertindak sebagai imam, maka diapun melaksanakan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu memeriksa para makmum dan memerintahkan mereka untuk meluruskan shaf, maka engkau akan dapati sebagian makmum tersebut enggan, tidak mau lurus dan rapat. Bahkan ada yang menonjol maju ke depan atau mundur ke belakang, ataupun kaki-kaki mereka tidak rapat antara satu dengan lainnya. Dalam keadaan mereka sudah mengetahui hadits di atas. Wallaahul Musta’aan.

    Semoga Allah Tabaraka Wa Ta’ala menunjuki semua kaum muslimin agar menjadi orang-orang yang taat kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana sifat orang-orang mukmin yang baik adalah sami’naa wa atha’naa (kami mendengar dan kami taat), bukan sami’naa wa ‘ashainaa (kami mendengar dan kami melanggarnya). Yang jelas wajib bagi imam maupun para makmum untuk meluruskan dan merapatkan shaf.

    Bila Hanya Ada Imam & Seorang Makmum

    Kalau ada yang bertanya, “Apabila di sana hanya ada imam dengan seorang makmum saja, apakah imam maju sedikit ke depan ataukah sejajar dengan makmum?” Jawabannya adalah hendaklah imam sejajar dengan makmum, imam berada di sebelah kiri sedangkan makmum di sebelah kanan imam, karena apabila hanya ada imam dan seorang makmum saja, maka berarti shaf cuma ada satu, yang tidak mungkin makmum sendirian di belakang imam, bahkan yang benar adalah mereka berdua berada dalam satu shaf yaitu sang imam sejajar dengan makmum. Dengan berada dalam satu shaf akan terjadi kelurusan dalam shaf. Dalilnya adalah ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat malam, datanglah Ibnu ‘Abbas berdiri di sebelah kiri beliau, maka beliau pun menarik Ibnu ‘Abbas dan menjadikannya tepat di sebelah kanan beliau. (Muttafaqun ‘alaihi)

    Hal ini berbeda dengan apa yang dikatakan oleh sebagian ulama, “Bahwasanya hendaklah imam maju sedikit ke depan”, karena pendapat ini tidak ada dalilnya, bahkan justru dalil menyelisihi pendapat ini, yaitu hendaklah antara imam dan makmum sejajar apabila mereka hanya berdua.

    Jangan Ada yang Menonjol Dadanya!

    Kemudian dalam riwayat yang lain disebutkan, “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa meluruskan shaf-shaf kami (para shahabat) seakan-akan meluruskan anak panah.” Maka jadilah shaf mereka benar-benar lurus dengan sempurna, sehingga tidak ada yang maju ataupun mundur walaupun sedikit. Beliau biasa meluruskan shaf seperti meluruskan anak panah, sehingga apabila beliau melihat bahwasanya para shahabatnya telah memahaminya, yakni mereka telah paham dan tahu bahwasanya shaf harus lurus, beliaupun memulai shalatnya. Kemudian pada suatu hari beliau keluar untuk melaksanakan shalat, tiba-tiba beliau melihat seseorang yang menonjol dadanya, maka beliaupun besabda, “Wahai hamba-hamba Allah, benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak) maka sungguh Allah akan palingkan antar wajah-wajah kalian.” Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian” sebabnya adalah semata-mata hanya karena beliau melihat seseorang menonjol dadanya, yaitu dada orang tersebut menonjol sedikit.

    Bagaimana kalau beliau melihat shaf-shaf yang ada sekarang? Yang satu ke depan, yang satu lagi ke belakang, shaf mereka bengkok, tidak lurus dan tidak rapat? Bisa kita bayangkan apa yang akan diucapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat keadaan seperti itu?

    Imam Shalat Hendaklah Memeriksa Shaf

    Hadits ini menunjukkan kepada kita bahwasanya di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bahwa beliau senantiasa memeriksa shaf, meluruskan dan merapatkan shaf. Kalau masih ada yang belum lurus atau belum rapat maka beliaupun meluruskannya bahkan mengancam -sebagaimana kisah di atas- kepada orang yang maju sedikit dari shafnya dengan ancaman ini, “Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak) maka sungguh Allah akan memalingkan antar wajah-wajah kalian.”

    Petunjuk ini harus diteladani oleh para imam shalat agar memeriksa, mengatur dan meluruskan shaf para makmum. Kesimpulannya adalah wajib atas kita untuk menerangkan masalah ini kepada imam-imam masjid dan demikian juga kepada para makmum agar mereka memperhatikan perkara yang sangat berbahaya ini sehingga mereka benar-benar meluruskan dan merapatkan shafnya di dalam shalat.

    Semoga Allah subhanahu wa ta’ala selalu membimbing kita kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Wallaahu A’lam.

    ***

    Disadur dari Syarh Riyaadhush Shaalihiin hal.453-454 cetakan Maktabah Ash-Shafaa dengan beberapa tambahan dan perubahan.

    Abu Rasyid Ash-Shinkuaniy

    (Dikutip dari bulletin Al Wala’ wal Bara’, Edisi ke-25 Tahun ke-3 / 20 Mei 2005 M / 11 Rabi’uts Tsani 1426 H, url asli http://fdawj.atspace.org/awwb/th3/25.htm)

    shaf-ok

     
  • erva kurniawan 5:20 am on 1 June 2013 Permalink | Balas  

    Hikmah Pergantian Siang dan Malam 

    yusuf mansurHikmah Pergantian Siang dan Malam

    Oleh Ust. Yusuf Mansur

    Sebagaimana senangnya kita menerima siang, kitapun harus senang menerima kehadiran malam. Sebagaimana siapnya kita menerima terang, kitapun harus siap menerima datangnya kegalapan. Sebagaimana senangnya kita menerima kemudahan, kita mesti senang menerima kesulitan.

    Apa hikmah yang bisa kita petik dari pergantian siang dan malam? Salahsatunya adalah kehidupan tidak selamanya terang. Ada malam yang bakal menjelang. Dan sebaliknya, kehidupan juga tidak selamanya gelap. Pasti ada pagi yang akan datang membawa terang.

    Saudaraku, tidak selamanya manusia berada di dalam kesenangan. Ada saat-saat di mana manusia disentuh kesusahan, disapa kesulitan. Nah, baiknya apapun keadaan yang kita lalui, jangan sampai kehilangan kebersyukuran. Karena ketahuliah saudaraku, tidak banyak orang yang dapat bersyukur ketika diberi kesenangan. Dan tambah banyak lagi yang tidak mampu bersyukur di tengah kesulitan yang mendera. Sedangkan kita harus menjadi pemenang di setiap apapun keadaan kita, dengan menjadi manusia-manusia yang penuh syukur. Apalagi kita juga harus fair. Sebagimana senangnya kita menerima kesenangan, kita juga mesti senang (baca: siap, ridho, ikhlas, sabar dan syukur) menerima kesulitan. Keikhlasan kita menerima kesulitan, keikhlasan kita menerima kesusahan, akan membuat tubuh kita, hati kita, dan pikiran kita juga menolak menderita. Sebab ia bukan lagi penderitaan, melainkan anugerah Ilahi. Kemudian setelahnya kita tanamkan keyakinan, bahwa kesulitan dan permasalahan yang kita hadapi adalah sebagai pintu bagi datangnya kesenangan sesudahnya. Dan memang ini yang harus kita yakini; tidak selamanya kita akan sudah. Yakinlah, kesusahan akan berlalu. Senang itu biasa. Susah itu juga biasa. Sebagaimana datangnya siang dan malam, ia akan senantiasa berputar. Dan inilah kehidupan.

    Sementara itu, ada memang yang menggelapkan siangnya sendiri. Tidak mengapa. Allah Maha Rahman Maha Rahim, Maha Pengasih Maha Penyayang. Di antara kerahmanan dan kerahiman-Nya, Dia membuka pintu ampunan sepanjang umur kita. Dia bentangkan kebijaksanaan pengampunan dan maaf-Nya untuk kita. Dia bentangkan kebijaksanaan pengampunan dan maaf-Nya untuk kita, selama kita hidup. Kalaulah kesulitan yang ada, kalaulah kesusahan yang timbul, kalaulah permasalahan yang hadir, adalah memang sebab satu dua kesalahan kita, terhadap Allah dan terhadap manusia, maka memohon ampun, memperbanyak istighfar, memperbanyak sedekah, dan perbaikan diri, akan menyebabkan semua duka berlalu dari kehidupan kita. Kehidupan kita akan terang kembali.

    Di malam hari ada bintang dan rembulan, yang menyinari malam. Inilah sebagian tanda-tanda- Nya, bahwa meskipun kehidupan kita sedang gelap, maka cahaya iman akan bisa terus menerus menerangi kegelapan kita. Dengan iman, kita bisa mensyukuri semua keadaan. Ketika di atas kita tidak lupa, dan ketika di bawah kita tidak berputus asa.

    Di malam hari yang mestinya sunyi, pun ramai dengan binatang malam. Menghidupkan malam yang harusnya mati. Inilah juga sebagian tanda-tanda- Nya. Kita belajar menghidupkan hati dengan membangun iman di hati kita. Bahwa di tengah kehidupan kita, di tengah kesulitan dan kesusahan kita, di tengah permasalahan dan keinginan kita, ada Allah Yang Maha Kuasa atas segala hal. Ada Allah Yang Maha Melihat kesusahan kita. Ada Allah Yang Maha Kuasa-Nya tidak berbatas tidak bertepi. Ada Allah Yang Maha Menolong. Ada Allah Maha Meringankan. Ada Allah Yang Maha Memudahkan. Ada Allah Yang Maha Mengubah keadaan…

    Selalu ada Allah di kehidupan ini, Yang Maha Segala-galanya. Kita tinggal melangkah kepada Allah, datang dan mendekatkan diri kep[ada-Nya, kemudian mengundang-Nya hadir di kehidupan kita. Bila salah minta ampun, bila kurang benar minta diluruskan, bila diuji minta disabarkan. Kepada siapa lagi kita hadapkan permasalahan kita kalau bukan pada-Nya? Sedangkan kita tahu, bahwa dunia ini, dengan segala isinya, termasuk kesusahan dan kesenangan kita, keinginan dan kehendak kita, ada di dalam genggaman-Nya.

    Semoga Allah menjadikan kita manusia-manusia yang bisa selalu mengintropeksi diri dan memperbaiki diri. Semoga Allah Yang Maha Menyelamatkan, menyelamatkan kita semua dari kebodohan dan keburukan diri kita sendiri. Semoga pula Allah menyelamatkan yang lain dari kesalahan dan dosa diri kita sendiri. Supaya kita tidak menjadi penyebab bagi keburukan dan kesulitan orang lain. Dan semoga kita menjadi manusia-manusia yang banyak manfaatnya, sedikit madharatnya.

    ***

    Dari Sahabat

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: