Updates from Juni, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:58 am on 30 June 2012 Permalink | Balas  

    Rezeki yang Telah Ditetapkan 

    Rezeki yang Telah Ditetapkan

    “Kesungguhan dalam mencari rezeki yang telah dijamin oleh Allah akan mendapatkannya, dan mengurangi dari apa yang diwajibkan padamu, adalah termasuk sifat yang menunjukkan bashiroh (mata hati) yang tertutup.”

    Sesuatu yang telah dijamin oleh Allah kepada seorang hamba adalah rezeki. Sesuatu yang dimintakan pertanggungjawaban oleh Allah adalah rezeki juga. Pertanggunganjawaban itu, tidak lain ialah menempatkan harta yang telah dianugerahkan Allah kepada para hamba ialah dengan menjadikan harta berfungsi ibadah. Dengan demikian setiap harta kekayaan yang dijamin oleh Allah kepada manusia, hendaklah berfungsi benar sebagai barang jaminan yang diberlakukan sebagai ibadah untuk kepentingan yang berfaedah bagi si pemilik dan bermanfaat pula bagi sesama hamba Allah.

    Sebab harta yang menjadi jaminan itu akan ditarik kembali oleh Allah apabila harta itu tidak memberikan manfaat bagi agama, sesama hamba, dalam hubungannya dengan keagungan nama Allah Ta’ala. Jaminan itu, berarti Allah Swt adalah pemilik yang syah dari semua harta yang ada di tangan manusia. Allah Ta’ala akan ridho apabila rezeki Allah itu akan menghidupkan syariat, kesejahtraan para hamba Allah, dan tentu Allah akan murka apabila rezeki itu jatuh ke tempat maksiat.

    Selain itu pengertian yang dapat diambil dari perkataan sungguh sungguh di atas, adalah menunjukan kemampuan yang cukup untuk mendapatkan rezeki yang telah ditebarkan Allah Ta’ala di muka bumi ini. Kesungguhan mendapat rezeki Allah itu menjadi suatu keharusan, bahkan bisa menjadi wajib apabila rezeki itu akan berguna bagi ibadah seorang hamba. Mencari rezeki Allah itu bagi manusia telah menjadi sunnatullah. Jaminan Allah atas rezeki manusia, sebagaimana Allah telah menjamin rezeki bagi seekor anak hewan yang baru lahir dan membiarkannya hidup, karena Allah telah menyediakannya rezeki. Demikian juga halnya binatang melata ketika lahir, mampu melangsungkan hidupnya karena jaminan Allah atas rezekinya masing masing. Sebagaimana Allah berfirman, “Tiada seekor binatang melata pun di muka bumi ini, melainkan telah dijamin oleh Allah rezekinya.”.

    Dalam menuntut rezeki di dunia ini Allah tidak akan memaksa manusia agar mendapatkan harta yang berlimpah limpah. Manusia diberi kesempatan memenuhi kebutuhan hidupnya menurut kemampuan mereka masing masing. Yang diajarkan oleh Islam dalam masalah harta ialah agar manusia tidak bersikap berlebih lebihan. Karena sikap ini akan membawa ketamakan. Sedangkan ketamakan akan menjurus kepada kerakusan dan aniaya. Sikap rakus dan aniaya itu akan membutakan mata hati manusia.

    Orang mukmin ketika mencari rezeki dengan sungguh sungguh selalu memperhatikan pula cara ber-muamalah, sikap hati hati, serta mampu membedakan antara harta yang halal dan harta yang haram.

    Jaminan yang telah diberi oleh Allah dalam hal rezeki ini seperti difirmankan dalam Al-Qur anul Karim, “Perintahlah keluargamu mendirikan sholat, dan berlaku tabahlah menghadapi hidup. Tak perlu kamu bertanya soal rezeki.”

    Karena Allah Ta’ala telah menjamin rezeki hamba hamba-Nya, maka kesungguhan hamba untuk berikhtiar dan memohon dari Allah sangat dituntut. Pemberian Allah kepada manusia sesuai dengan ketaatan manusia kepada Allah.

    Seperti sudah dijelaskan di atas, bahwa kedudukan seorang hamba dalam kaitannya dengan rezeki yang diterimanya dari Allah, sangat erat dengan anugerah yang harus dijaganya. Rezeki sebagai pemberian Allah, haram untuk disia siakan, dan wajib untuk dimanfaatkan bagi agama Allah dan sesama hamba-nya.

    Rezeki banyak kaitannya dengan persiapan manusia untuk berjumpa dengan Allah. Rezeki selain menjadi bekal hidup dunia, termasuk pula untuk bekal hidup di Akhirat. Apabila harta yang telah di-rezkikan kepada manusia dipergunakan untuk kepentingan agama dan amal soleh, seperti menginfakkan dan menzakatkannya. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur an “Berbekal bekallah kamu, maka sebaik baik bekal adalah menunjukkan ketakwaan kepada Allah.”

    Ketakwaan dalam harta, tidak lain adalah memberikan harta itu kepada hamba Allah yang berhak menerima. Karena dalam harta setiap muslim itu terkandung hak orang orang dhu’afa.

    ***

    Narasumber: “Mutumanikam dari kitab Al-Hikam”.

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 29 June 2012 Permalink | Balas  

    Beriman kepada Takdir yang Baik dan Buruk 

    Beriman kepada Takdir yang Baik dan Buruk

    Beriman kepada Qadar/Taqdir Allah yang baik atau pun yang buruk adalah rukun Iman yang ke 6.

    Dari Umar bin Khaththab ra., bahwasanya Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya oleh Malaikat Jibril tentang iman yaitu, “Kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab – kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari kiamat dan kepada takdir yang baik dan yang buruk” (HR Imam Muslim)

    Meski kita diperintahkan untuk berusaha sekuat tenaga dan berdo’a, namun kita harus menerima dan mensyukuri apa yang terjadi. Sehingga hati kita selalu bahagia.

    “Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya” (QS Ali Imran 123)

    “Tuhanmu berfirman: “Jika kamu bersyukur, pasti akan Kami tambah nikmat kepadamu. Jika kamu ingkar, sesungguhnya azabKu sangat pedih.” [Ibrahim:7]

    Jika kita bersyukur, maka kita akan bahagia. Allah pun akan menambah nikmatnya. Tapi jika kita tidak bersyukur, kita akan kecewa, frustrasi, dan akhirnya putus asa.

    Segala Sesuatu Telah Ditulis dalam Lauhul Mahfudz

    Kita sering membaca buku, koran, majalah, ensiklopedi yang ditulis manusia tentang kejadian yang telah terjadi. Kadang yang ditulis itu ternyata tidak benar meski mereka berusaha menulis seakurat mungkin.

    Allah Maha Mengetahui segala hal yang ghaib dan tersembunyi bahkan ketika semua yang lain tidak mengetahuinya. Semua hal, bukan hanya yang sudah terjadi, namun yang akan terjadi sudah ditulis Allah dalam Lauhul Mahfudz. Jangan heran karena ilmu Allah sangat luas.

    Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; “tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” [Al An’aam:59]

    “Tiada sesuatupun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).” [An Naml:75]

    “Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” [Al Qamar:53]

    “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” [Huud:6]

    Sebagai Tuhan yang Maha Tahu, maka seluruh tulisan yang ditulis Allah itu adalah benar.

    Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” [Al Israa’ :58]

    Tak ada satu bencana pun yang menimpa kita kecuali sudah ditulis dalam kitab Lauhul Mahfuz

    “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab Lauhul Mahfuzh sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” [Al Hadiid:22]

    Oleh sebab itu janganlah kita khawatir akan segala musibah yang akan menimpa kita.

    Sering orang datang ke peramal atau paranormal untuk mengetahui takdirnya. Padahal ini adalah dosa besar dan tak ada seorang pun tahu perkara yang ghaib kecuali Allah SWT

    “Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah” (QS An Naml:65)

    Allah Maha Berkehendak

    Kita harus meyakini bahwa Allah adalah yang Maha Berkehendak. Allah dengan mudah dapat mewujudkan segala keinginannya.

    Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia menghendaki sesuatu, maka Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.” [Al Baqarah:117]

    Oleh karena itu Nabi dan para sahabat tidak gentar menghadapi musuh baik kelompok kafir Quraisy, Yahudi, bahkan dua negara adidaya Romawi dan Persia. Mereka tahu bahwa Allah sudah menentukan kematian mereka. Tak ada satu pun yang dapat memajukan atau memundurkannya meski hanya sedetik saja.

    Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula)” memajukannya. [Al A’raaf:34]

    Mendekat Kepada Allah

    Untuk itu patutlah kita mendekati Allah SWT dengan mengerjakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Kita seharusnya mencintai Allah agar Allah juga mencintai kita. Jika Allah mencintai kita, insya Allah apa yang kita inginkan akan dikabulkannya.

    “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” [Al Maa’idah:35]

    Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.” [Al Ahzab:17]

    Berserah diri Kepada Allah

    Dan Ya’qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri.” [Yusuf:67]

    “Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” [Ath Thalaaq:3]

    “Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman.” [Ali ‘Imran:166]

    Menerima Ketetapan/Takdir Allah

    Sering kita dihadapkan pada situasi yang kita benci atau sesuatu yang buruk menimpa kita. Hendaknya kita tawakkal kepada Allah karena boleh jadi itu baik bagi kita.

    Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; “Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” [Al Baqarah:216]

    Jangan Putus Asa!

    Di media massa diberitakan beberapa ibu membunuh anaknya (kemudian bunuh diri) hanya karena khawatir tidak bisa membahagiakan anaknya.

    Di AS ada seorang bapak yang dikenal baik kemudian membunuh 2 putri kembarnya. Seorang psikolog di acara Oprah Winfrey mengatakan bahwa itu terjadi karena bapak tersebut menderita depresi. Diperkirakan 20% penduduk AS pernah menderita depresi. Yang paling berbahaya adalah jika penderita depresi sudah kehilangan harapan (hope) atau putus asa. Orang seperti ini bukan hanya bisa bunuh diri tapi juga bisa membunuh orang yang dia cintai.

    Dalam Islam kita dilarang putus asa dan harus beriman kepada takdir. Kita menerima semua ujian karena yakin itu semua sudah ditetapkan oleh Allah.

    Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat.” [Al Hijr:56]

    Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Az Zumar:53]

    Allah tidak menginginkan kita jadi dokter, kaya raya, atau yang lainnya. Yang dinginkan Allah dari kita hanya takwa. Yaitu mematuhi aturannya dan menjauhi larangannya. Toh ketika manusia mati, segala harta, jabatan, dan istri yang cantik sudah tidak bermanfaat lagi baginya.

    Kita jangan takut dan sedih jika ditimpa musibah berupa ketakutan, kelaparan, kemiskinan, dan kematian. Itu adalah cobaan. Ucapkanlah bahwa kita semua adalah milik atau ciptaan Allah dan kepada Allah kita kembali.

    Jika kita sabar, itu akan menambah pahala kita dan mengurangi dosa kita dan surga adalah imbalannya.

    Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al Baqarah:155-157]

    …Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” [Yusuf :87]

    Kita harus yakin bahwa dibalik kesulitan yang menimpa kita, insya Allah akan ada kemudahan. Percayalah karena ini adalah janji Allah yang Maha Benar!

    “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” [Alam Nasyrah:5-6]

    …Siapakah yang dapat menghalangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al Fath:11]

    Allah tidak Membebani Cobaan di luar Kemampuan Kita

    Yakinlah bahwa Allah tidak akan membebani kita cobaan di luar kemampuan kita. Segala macam cobaan insya Allah bisa kita atasi selama kita dekat dengan Allah SWT.

    Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” [Al Baqarah:286]

    Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya…” [Al Mu’minuun:62]

    “Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuanmu” [At Taghabun:16]

    Berusaha Mencari Karunia Allah

    Meski kita beriman kepada Takdir Allah, tidak berarti kita jadi fatalis dan tidak berusaha melakukan apa-apa.

    Jika telah shalat, bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” [Al Jumu’ah:10]

    “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” [Al Qashash:77]

    Allah Maha Tahu

    Sebagai Tuhan yang Maha Mengetahui, Allah sebelum menciptakan sesuatu sudah mengetahui apa yang akan terjadi dengan ciptaannya dan Dia tuliskan itu. Meski demikian kita tetap wajib berusaha. Karena orang yang ditakdirkan masuk surga akan dimudahkan Allah untuk mengerjakan perbuatan ahli surga. Dan orang yang ditakdirkan masuk neraka akan dimudahkan

    Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata: Rasulullah saw. sebagai orang yang jujur dan dipercaya bercerita kepada kami: Sesungguhnya setiap individu kamu mengalami proses penciptaan dalam perut ibunya selama empat puluh hari (sebagai nutfah). Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Selanjutnya Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menulis empat perkara yaitu: menentukan rezekinya, ajalnya, amalnya serta apakah ia sebagai orang yang sengsara ataukah orang yang bahagia. Demi Zat yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kamu telah melakukan amalan penghuni surga sampai ketika jarak antara dia dan surga tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga ia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah ia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya salah seorang di antara kamu telah melakukan perbuatan ahli neraka sampai ketika jarak antara dia dan neraka tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga. (Shahih Muslim No.4781)

    Hadis riwayat Ali ra., ia berkata: Kami sedang mengiringi sebuah jenazah di Baqi Gharqad (sebuah tempat pemakaman di Madinah), lalu datanglah Rasulullah saw. menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika itu memegang sebatang tongkat kecil. Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu kemudian beliau bersabda: Tidak ada seorang pun dari kamu sekalian atau tidak ada satu jiwa pun yang hidup kecuali telah Allah tentukan kedudukannya di dalam surga ataukah di dalam neraka serta apakah ia sebagai seorang yang sengsara ataukah sebagai seorang yang bahagia. Lalu seorang lelaki tiba-tiba bertanya: Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha? Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara. Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara. Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini: Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. (Shahih Muslim No.4786)

    Hadis riwayat Imran bin Hushain ra., ia berkata: Rasulullah saw. ditanya: Wahai Rasulullah! Apakah sudah diketahui orang yang akan menjadi penghuni surga dan orang yang akan menjadi penghuni neraka? Rasulullah saw. menjawab: Ya. Kemudian beliau ditanya lagi: Jadi untuk apa orang-orang harus beramal? Rasulullah saw. menjawab: Setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan apa yang telah menjadi takdirnya. (Shahih Muslim No.4789)

    ***

    Sumber : disusun oleh oleh : Abu Tauam Al Khalafy, dari berbagai sumber :

    1. 40 Hadits Shahih, Imam An Nawawi, Direktorat Percetakan dan Penerbitan Departemen Agama Saudi Arabia, 1422 H.
    2. Al ‘Aqidah Ath Thahawiyah, Imam Abu Ja’far Ath Thahawi, ta’liq oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, At Tibyan, Solo, Edisi Indonesia, November 2000 M.
    3. Aqidah Thahawiyah, Imam Abu Ja’far Ath Thahawi, ta’liq oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Media Hidayah, Cetakan Pertama, Mei 2005 M
    4. Tauhid, Abdul Aziz bin Muhammad Alu Abdul Lathif. Direktorat Percetakan dan Penerbitan Departemen Agama Saudi Arabia, 1422 H

    syiarislam.wordpress.com

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 28 June 2012 Permalink | Balas  

    Malas 

    Malas 

    Kata Rasulullah SAW malas adalah sebuah penyakit. Penyakit malas ini selalu menjadi musuh manusia dan banyak manusia yang terpedaya oleh penyakit ini. Salah satunya mungkin diri kita.

    Coba kita rasakan, adakah penyakit malas didiri kita? Ketika kita mau melaksanakan shalat tahajud atau shalat subuh adakah penyakit malas disana? Ketika kita selesai shalat Fardu lalu kita berdzikir dan berdoa kepada Allah SWT adakah penyakit malas disana? Ketika disuruh oleh ibu kita untuk mengerjakan sesuatu hal padahal kita lagi asyiknya nonton tv, adakah penyakit malas disana? Ketika menerima tugas dari atasan di kantor, adakah penyakit malas disana? Dan banyak lagi suasana atau keadaan diri kita yang mana pada waktu itu diri kita sedang dilanda penyakit malas. Dan ini dirasakan oleh semua, baik anak-anak, remaja, dewasa maupun orang tua.

    Pernah suatu hari teman saya bilang, dulu sewaktu saya masih sekolah, saya jarang sekali dapat rengking di kelas saya, karena saya malas untuk belajar sehingga nilai ulanganpun saya selalu dapat nilai kecil. Tetapi, setelah saya buang rasa malas yang ada didiri saya, Alhamdulillah nilai-nilai ulanganpun menjadi bagus dan Alhamdulillah saya dapat rangking satu terus.

    Begitupun dengan teman yang dulu satu kerjaan dengan saya yang sekarang telah tiada (meninggal dunia) mudah-mudahan Allah mengampuni atas semua dosanya dan menerima semua amal salihnya dan dilapangkan kuburnya amin. Dia pindah kerja ke perusahaan lain, disana kerjanya bagus sampai oleh atasannya dia diangkat menjadi kepala bagian diperusahannya yang lain, dan dia dapat menjalankannya dengan baik dan penuh tanggungjawab, sampai atasanya memberikan penghargaan atas dedikasi kerjanya yang baik itu. Itu semua dia lakukan dengan semangat yang tinggi dan tidak kalah penting lagi dia lakukan dengan Ikhlas.

    Dan perlu diingat oleh kita semua, bahwa semua pengusaha, pendidik, pekerja, olahragawan dan lain sebagainya bisa berhasil dibidangnya, karena, mereka semua bisa melepaskan diri dari penyakit malas yang menyerangnya itu. Dan Allah SWT pun telah menganjurkan agar kita sebagai hamba-Nya untuk selalu bersemangat dalam melakukan suatu aktivitas. Baik itu dalam beribadah kepada Allah SWT maupun dalam bermuamalah dengan sesama manusia.

    Ada sebuah gambaran yang sangat indah dari Allah untuk kita renungkan, yang mana gambaran itu Allah tuangkan dalam Al-Qur’an surat Al-Aadiyaat ayat 1 sampai 5:

     “Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, maka ia menerbangkan debu, dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh,” (QS. Al-Aadiyaat (100): 1-5)

    Dalam kitabnya “Tafsir Al-Qur’an Kontemporer EUstadz Aam Amiruddin mengatakan bahwa, Ayat 1-5 menggambarkan keperkasaan kuda perang yang berlari kencang menyerang kumpulan musuh . Begitu semangat dan kencangnya kuda itu berlari hingga hentakan kakinya memercikkan api dan menerbangkan debu.

    Hal tersebut merupakan penggambaran yang sangat indah dari Allah SWT untuk kita renungkan. Umat Islam seharusnya menadi umat yang gigih, penuh semangat dan kerja keras dalam memperjuangkan apapun, sebagaimana halnya kuda perang yang begitu gigih, penuh semangat, dan mengerahkan seluruh kemampuannya menerjang kumpulan musuh.

    Namun, fakta dalam kehidupan keseharian menunjukkan bahwa kita belum menjadi bangsa yang memiliki etos kerja yang baik. Padahal kalau kita gali pesan-pesan Ilahi, sungguh banyak ayat yang mendorong kita agar menjadi orang yang giat bekerja dan banyak berkarya, misalnya ayat-ayat berikut ini,

     “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaan itu…,” (QS. At-Tubah (9): 105)

     “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Al-Insyirah (94): 7-8)

    Islam mengajarkan kepada kita untuk selalu melakukan yang terbaik. Kalau kita menjadi ibu, jadilah ibu yang terbaik dalam mendidik anak-anak dan mengatur rumah tangga. Kalau kita menjadi ayah, jadilah ayah yang terbaik dalam mengayomi dan menapkahi keluarga. Kalau kita menjadi karyawan, jadilah karyawan yang bertanggungjawab dalam melaksanakan tugas-tugas perusahaan. Jadi, apapun profesi dan bidang kerja kita, maka jadilah yang terbaik di bidangnya.

    Maka tidak ada kata malas dalam ajaran Islam. Apabila kita telah selesai dari sesuatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain karena Allah SWT lebih menyukai muslim yang kuat daripada muslim yang lemah. Mudah-mudahan kita termasuk orang yang di sukai dan dikasihi oleh Allah SWT karena kita berani melepaskan diri dari penyakit malas itu.

    Wallahu A’lam

    ***

    Sumber: jkmhal.com

    e…@jkmhal.com

     
  • erva kurniawan 1:12 am on 27 June 2012 Permalink | Balas  

    Berwudlu Dalam Makna 

    Berwudlu Dalam Makna

    Apakah sebenarnya makna wudlu? Apakah ia berfungsi membersihkan ataukah mensucikan? Ternyata, berwudlu lebih memiliki makna untuk mensucikan diri. Bukan sekedar membersihkan.

    Membersihkan dalam istilah agama disebut sebagai istinja’. Misalnya, setelah kita buang air kecil atau besar. Maka kita diwajibkan membersihkan diri dengan air atau batu atau cara-cara yang telah diajarkan.

    Namun berwudlu lebih kepada mensucikan. Dan ini lebih bermakna batiniah daripada lahiriah. Memang berwudlu mesti bersih dulu lewat istinja’, tetapi berwudlu sendiri tidak harus bersifat membersihkan. Memang, berwudlu juga harus mengusap anggota badan dengan air atau debu. Tapi coba perhatikan, anggota badan yang diusap tidak terkait secara langsung dengan hadats yang terjadi. Apalagi dengan najisnya, sama sekali tidak. Karena itu, jika kita tidak menemukan air, maka kita oleh bertayamum dengan menggunakan ‘debu yang bersih’.

    Tentu kita segera paham, bahwa debu (sebersih apa pun) ya tetaplah debu. Ia tidak akan bisa membersihkan badan kita yang kotor (malah semakin ‘berdebu’), sebagaimana air membersihkan badan kita. Jadi makna bertayamum (sebagai pengganti wudlu) bukanlah membersihkan melainkan mensucikan. Demikian pula berwudlu, adalah mensucikan. Bukan badan tetapi batin.

    Jadi berwudlu bukanlah membersihkan najis, melainkan menghilangkan hadats kecil, karena buang air besar dan buang air kecil. Sedangkan hadats besar, yang disebabkan oleh ‘hubungan suami istri’ dihilangkan dengan cara mandi. Coba perhatikan ini : ‘hadats kecil’ dihilangkan dengan cara membasuh sebagian anggota tubuh kita dengan

    cara berwudlu, sedangkan hadats besar dihilangkan dengan cara membasuh seluruh badan kita dengan air, alias mandi besar. Jika tidak menemukan, maka lakukan dengan debu yang bersih. Baik wudlu maupun mandi besar bisa digantikan dengan tayamum. Ini, sekali lagi menunjukkan kepada kita, bahwa yang disucikan bukanlah badan. Tapi, batin.

    Namun demikian, dalam aktivitas berwudlu, sebenarnya Allah juga menghendaki agar kita selalu menjaga kebersihan. Karena itu, sebelum berwudlu kita mesti beristinja’ terlebih dahulu. Hilangkan najis dulu, baru kemudian mensucikan diri. Sebagaimana difirmankan Allah berikut ini.

    QS. Al Maidah (5): 6

    “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.”

    Berwudlu memang membasuh anggota-anggota badan, mulai dari muka sampai ke kaki. Akan tetapi yang membatakan wudlu bukanlah kotoran yang mengotori badan kita, melainkan ‘pikiran kotor’ yang menghinggapi hati kita.

    Coba cermati filosofi wudlu ini. Jika kita sudah berwudlu, maka aktivitas makan dan minum tidaklah membatakannya. Demikian pula jika badan kita kena najis. Untuk mengatasi kedua hal tersebut, cukup membersihkannya saja. Tidak perlu mengulangi berwudlu. Jika anda. makan minum ketika masih mempunyai wudlu, maka untuk melakukan shalat, anda cukup berkumur saja. Demikian pula jika anda terkena najis atau kotoran pada anggota badan, anda cukup mencuci dan membersihkannya saja.

    Kalau begitu apakah yang membatakan wudlu? Wudlu dibatakan oleh ‘kotoran-kotoran’ atau gangguan yang bersifat kejiwaan. Misalnya, menyentuh kemaluan dan menyentuh perempuan yang mengarah kepada syahwat. Atau, ketiduran dan pingsan yang menyebabkan hilangnya akal. Atau kentut, kencing dan buang air besar, yang memang ditetapkan oleh Allah sebagai pembatal wudlu dalam arti melatih kemampuan kita dalam mengendalikan diri.

    Khusus tentang kentut, buang air kecil dan buang air besar, ada yang menganggap bahwa pembatalan wudlu itu bersifat jasmani. Bagi saya tidak demikian. Bukan ‘gas’ kentut, air seni dan faeces itu sebenarnya yang membatakan. Melainkan ketidak mampuan kita mengendalikan ketiga hal itulah yang oleh Allah dijadikan pembatal wudlu.

    Buktinya, jika kita terkena ‘gas’ kentut, atau terkena air kencing, atau terkena faeces orang lain, hal itu tidak membatakan wudlu kita. Cukup dengan membersihkan saja. Ini membuktikan bahwa yang membatakan wudlu kita bukanlah bendanya, melainkan prosesnya.

    Nah, dengan menetapkan ketiga hal tersebut sebagai pembatal wudlu, sebenarnya Allah menginginkan kita hidup bersih dan teratur. Selain itu, juga mampu mengendalikan diri untuk tidak berlaku sembarangan. Hidup bersih dan teratur akan membuat hidup kita sehat.

    Dengan demikian, seorang muslim harus selalu menjaga kesehatan ‘perutnya’, berkait dengan shalat 5 waktu yang dijalaninya. Apalagi kesehatan perut ini sangatlah vital. Lebih dari 80 persen penyakit modern dewasa ini berasal dari tidak terjaganya ‘perut’. Makan sembarang makan, dengan pola yang jelek bakal menyebabkan problem kesehatan.

    (Cermatilah berbagai macam penyakit modern dewasa ini berasal dari perut. Misalnya, darah tinggi, asam urat, diabetes, liver, typhus, jantung, dan obesitas (kegemukan) dengan berbagai macam komplikasinya.. Pengaturan pola makan yang baik dan hidup yang teratur akan sangat mengurangi berbagai resiko penyakit tersebut.

    Jadi, filosofi wudlu adalah filosofi mensucikan hati dan pengendalian diri secara kejiwaan. Kesucian hati dan pengendalian diri itu akan semakin sempurna, ketika seseorang bisa menata hatinya untuk berserah diri penuh keikhlasan, karena Allah semata.

    Orang yang kurang ikhlas dalam wudlu biasanya malah akan memperoleh ‘godaan’ yang bersifat membatakan wudlunya. Di antaranya adalah kecenderungan untuk kentut yang berlebihan. Jika, anda menemui hal semacam itu, maka relakan sajalah. Artinya, kalau memang Allah menghendaki kita tidak bisa menahan diri untuk tidak kentut, ya buang saja gas itu. Dan kita relakan untuk berwudlu kembali.

    Ketakutan untuk ‘kentut’ seringkali malah membuat kita merasa was-was, ‘wudlu kita sudah batal atau belum’. Sekali lagi ini adalah latihan untuk mengendalikan diri dan keikhlasan kita kepada Allah. Bagi orang yang ikhlas, semuanya akan terasa menjadi mudah saja. Dan Keikhlasan itulah yan menjadi salah satu kunci bagi kekhusyukan shalat kita. Termasuk bagi kemustajaban do’a kita di dalam shalat.

    Dengan demikian, sejak dari niat melakukan wudlu, kita harus sudah mengkondisilkan hati bahwa wudlu kita ini adalah untuk mensucikan hati dalam menyongsong ibadah shalat. Sehingga seluruh tatacara wudlu itu mesti kita barengi dengan do’a untuk mensucikan anggota-anggota badan yang kita wudlukan.

    Kalau kita mengacu pada ayat tersebut di atas, maka berwudlu memiliki 4 gerakan utama, yaitu mengusap wajah, mengusap tangan, mengusap kepala, dan mengusap kaki. Keempat anggota badan itu adalah anggota vital yang sering kita gunakan dalam interaksi kehidupan kita sehari-hari.

    Wajah adalah representasi dari kepribadian dan diri seseorang. Dalam shalat, wajah kita inilah yang dihadapkan kepada Allah sebagaimana kita ucapkan dalam do’a iftitah (inni wajahtu wajhiya lilladzii fatharassamaawati wal ardhisesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dzat Yang Menciptakan Langit dan Bumi).

    QS. Ar Ruum (30): 30

    “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tdak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

    Maka dengan mengusap wajah, kita meniatkan untuk mensucikan seluruh diri kita, lahir dan batin. Kita ingin menghadapkan ‘wajah’ dan diri kepada Allah dalam keadaan terbaik yang kita miliki.

    Di wajah itu pula terdapat mata, mulut, hidung, dan telinga yang juga mesti kita sucikan dari berbagai ‘kekotoran’ perbuatan kita selama ini. Mudah-mudahan dengan mengusapkan air wudlu ke wajah kita, berbagai indera kita itu ikut tersucikan. Tidak lagi makan, minum, berkata, melihat, mendengar dan mencium sembarangan yang bisa menyebabkan berbagai persoalan dalam kehidupan kita, pribadi maupun masyarakat.

    Sebaliknya, dengan mensucikannya kita berharap memunculkan manfaat yang positip dari indera-indera yang kita gunakan untuk kebaikan. Dan dari wajah yang sering terkena air wudlu itu, mudah-mudahan memancar cahaya jernih yang menggambarkan aura positip dari orang-orang yang saleh.

    Selain wajah, Allah mengajarkan agar kita juga mensucikan kedua tangan. Tangan adalah representasi dari perbuatan dan karya-karya kita. Maka mensucikan kedua belah tangan adalah bermakna menjauhkan seluruh perbuatan dan berbagai hasil karya kita dari hal-hal yang kotor.

    Betapa banyaknya orang berbuat kerusakan di muka Bumi dengan tangan-tangan mereka. Daratan dan lautan mengalami kerusakan yang sangat parah yang justru menyebabkan turunnya kualitas kehidupan manusia itu sendiri. Banjir dan kerusakan lingkungan serta rusaknya atmosfer memunculkan problem yang serius buat kehidupan generasi-generasi mendatang. Maka, kita harus mengendalikan tangan-tangan kita, agar tidak semakin memperparah keadaan. Nah komitmen itulah yang kita tegaskan lewat aktivitas wudlu’.

    QS. Ar Ruum (30): 41

    “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

    Yang ketiga, adalah mengusap kepala. Inilah anggota badan yang paling penting dalam kehidupan kita. Kepala adalah anggota badan yang mengendalikan seluruh kemauan untuk melakukan sesuatu dan kemudian membuat keputusan. Di otak itulah kehendak kita berada. Karena itu, Allah memerintahkan kepada kita untuk mensucikannya.

    Mensucikan kepala adalah mensucikan berbagai kehendak yang ‘tersembunyi’ di dalam otak. Betapa menyenangkannya dunia ini, kalau isi kepala setiap kita adalah hal-hal yang positip. Hal-hal yang memberikan manfaat untuk kehidupan kita, kini maupun nanti.

    Maka, disinilah Allah mengajarkan kepada kita untuk membangun komitmen : mari kita sucikan kehendak dan segala keinginan kita menjadi kehendak dan keinginan yang suci yang memberikan manfaat besar buat siapa saja. Diri kita, keluarga kita, sahabat-sahabat kita, masyarakat bangsa dan negara, serta umat manusia seluruhnya.

    Dan yang terakhir, kita mengusap kaki dalam berwudlu. Kita semua berharap agar seluruh langkah kehidupan kita mencerminkan ‘wajah-wajah’ yang suci, ‘tangan-tangan’ yang suci, dan ‘isi kepala’ yang suci.

    Inilah makna wudlu kita. Wudlu adalah sebuah komitmen suci untuk mengendalikan diri agar menjadi orang yang bertaubat dari segala kesalahan kemanusiaan kita, bersih dari keinginan yang keji dan merugikan orang lain, serta komitmen untuk selalu berbuat dan menghasilkan karya yang bermanfaat untuk generasi sekarang maupun yang akan datang. Karena itu, seusai wudlu kita diajari untuk membaca do’a:

    Asyhadu anlaa ilaaha illailaahu wahdahu laa syariikalahu wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasuuluhu laa Nabiyya ba’dahu Allahummaj’alni minattawwabin waj’alni minal mutathaahiriin waj’alni minal ‘ibaadihash shaalihiin

    “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan tidak ada serikat bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya, tidak ada Nabi sesudahnya. Ya Allah jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bertaubat, dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang mensucikan diri, dan jadikanlah aku dari golongan hamba-hambaMu yang saleh.”

    Do’a sesudah wudlu di atas memberikan penegasan kepada kita bahwa berwudlu itu untuk memperoleh tiga hal yang terkandung dalam do’a di atas. Yaitu, bertaubat atas segala hal yang selama ini ‘kurang bagus’. Karena itu lantas mohon menjadi orang yang ‘disucikan’ dari berbagai ‘kekurangan’ tersebut. Dan akhirnya, memohon untuk dijadikan sebagai orang-orang yang banyak ‘berbuat kebaikan’ atau orang-orang yang beribadah dalam keihklasan, alias orang-orang yang saleh.

    Jadi, wudlu adalah sebuah proses untuk membangun komitmen menjadi lebih berkualitas. Menyiapkan diri untuk menapaki langkah-langkah berikutnya. Siap menghadapi proses yang lebih berat lagi ke depan.

    Dengan demikian, diharapkan shalatnya akan lebih khusyuk. Lebih bermakna. Bermakna dalam dzikirnya. dan bermakna dalam do’anya. Ya, bukankah shalat kita memiliki makna untuk berdzikir dan berdo’a?

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 26 June 2012 Permalink | Balas  

    Bershalat Dalam Makna 

    Bershalat Dalam Makna

    Kebanyakan kita shalat secara hafalan. Sangat jarang yang melakukan shalat dengan memahami maknanya Padahal kunci kekhusyukan shalat adalah kefahaman tentang apa yang kita lakukan dan apa yang kita ucapkan. Maka, mau tidak mau kita harus menggunakan akal untuk memahami makna shalat kita.

    Jika tidak, maka hal yang menimpa laki-laki yang pernah disuruh Rasul mengulangi shalatnya sampai 3 kali bakal menimpa kita. Artinya, shalat kita ternyata tidak memiliki makna apa-apa. Dan dianggap belum melaksanakan shalat. Tentu, shalat yang demikian, bukanlah seperti yang diharapkan Rasulullah saw. Apalagi, kalau kita ingin ketemu Allah, tentu sangatlah jauh. Karena itu, marilah kita mulai berusaha untuk memaknai setiap shalat kita.

    Secara umum, makna shalat kita ada 2, yaitu ‘berdzikir’ dan ‘berdo’a’. Maka, sebelum kita memulai shalat, kita harus sudah membangun suasana hati, bahwa shalat itu bertujuan untuk ‘berdzikir’ dan ‘berdo’a’.

    1. Shalat sebagai Dzikir kepada Allah

    Untuk apakah berdzikir? Fungsinya adalah agar kita ‘ingat Eterus dengan Allah. Untuk apa ‘ingat’ sama Allah? Agar setiap ‘langkah kehidupan’ kita bermakna laa ilaaha illaallaah. Kenapa mesti laa ilaaha illallah? Disinilah proses keimanan berperan penting! Orang yang tidak menggunakan akalnya tidak akan bisa menemukan jawabnya.

    Proses keimanan yang baik adalah seperti yang diajarkan Nabi Ibrahim. Beliau beriman kepada Allah bukan karena memperoleh warisan dari orang tuanya, atau gurunya. beliau memperolehnya dengan cara ‘bereksperimen’: mencari ‘SESUATU Eyang layak dianggap sebagai Tuhan.

    Maka, Allah mengabadikan catatan sejarah ‘pencarian’ Ibrahim itu di dalam al Qur’an. Dan kita semua umat muhammad disuruhNya untuk meneladani beliau. Dan bahkan, kemudian menjadikan do’a Ibrahim itu sebagai salah satu do’a yang kita baca di dalam shalat kita setiap hari.

    (Baca rentetan ayat berikut ini. Dan, perhatikan bagian terakhir, yaitu di ayat 79. Do’a tersebut diabadikan sebagai do’a iftitah dalam shalat yang diajarkan Rasulullah saw kepada kita.)

    QS. Al An’aam (6): 74 – 79

    “Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar. “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”.

    “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan Bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. “

    “Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.

    “Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”.

    “Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”

    “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan Bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”

    Dari pencariannya itulah Ibrahim akhirnya memperoleh kesimpulan yang sangat mendasar, bahwa kehidupan kita ini harus berorientasi kepada satu tujuan saja, yaitu Allah. Kenapa demikian? Karena ternyata segala sesuatu yang selain DIA hanya semu belaka. Semuanya akan musnah dan binasa kecuali Allah saja.

    QS. Qashaash (28): 88

    “Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. BagiNyalah segala penentuan, dan hanya kepada Nyalah kamu dikembalikan.”

    Kesimpulan itulah yang merasuk ke dalam jiwa Nabi Ibrahim, sehingga beliau memiliki keteguhan iman yang luar biasa. Tidak bisa digoyahkan, meskipun diperintahkan untuk mengorbankan anak yang dicintainya, Ismail. Maka, Allah lantas memerintahkan kepada kita semua untuk mengikuti cara-cara Ibrahim di dalam beragama, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah Muhammad saw.

    QS. An Nisaa'(4): 125

    “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.”

    Segala yang kita miliki dan kita bangga-banggakan bakal lenyap. Harta yang bertumpuk, kekuasaan, penampilan diri, dan berbagai kecintaan pada Dunia bakal berakhir seiring dengan berjalannya waktu. Akan tetapi Allah tidak. Itulah sebagian dari makna laa ilaaha illallah.

    Karena itu, semua tujuan hidup mesti kita arahkan kepada Allah saja. Dialah yang memiliki segala kebahagiaan Dunia dan kebahagiaan Akhirat. Maka, jika Dia berkehendak, segalanya bisa terjadi untuk kebahagiaan kita di Dunia dan Akhirat nanti.

    Inilah yang dimaksudkan dengan berdzikir kepada Allah. Bukan sekedar ingat Allah, dengan tidak jelas jluntrungannya, melainkan ingat dalam arti laa ilaaha illallah. Ingat bahwa seluruh eksistensi ini hanya milik Allah belaka.

    Bahwa Allah lah yang layak mengisi ingatan kita setiap saat setiap waktu. (Secara lebih detil akan saya uraikan pada pembahasan secara terpisah). Itulah yang kita rasakan dalam shalat. Dan itu pula yang kita lakukan setelah shalat, sebagaimana DIA ajarkan pada ayat-ayat berikut ini.

    QS. Thahaa (20): 14

    ‘Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”

    QS. An Nisaa'(4): 103

    “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

    Secara umum, dengan selalu ingat kepada Allah kita akan memetik banyak manfaat, diantaranya adalah:

    1. Hati kita akan selalu tenang dan tentram, jauh dari rasa was-was.

    Sebagaimana difirmankan Allah berikut ini.

    QS. Ar Ra’d (13): 28

    “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah lah hati menjadi tenteram.

    2. Menjadi orang yang ‘tahan banting’ alias sabar dan tegar, karena kita merasa selalu dekat dengan Allah.

    QS. Al Baqarah (2): 153

    “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

    3. Menjadi orang yang ikhlas dan rendah hati, karena kita tahu bahwa kita ini memang sebenarnya kecil. Hanya Allah yang Maha Besar.

    QS. Al Furqaan (25): 63 – 64

    “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas Bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. ” “Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.”

    4. Terhindar dari perbuatan yang kotor (keji) dan merugikan (mungkar) orang lain.

    QS. Al Ankabut (29): 45

    “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

    5. Menjadi orang yang ‘Berhati kaya’, alias tidak ‘Serakah’ dan suka menolong orang lain, karena kita merasa dekat dengan Dzat Yang Maha Kaya lagi Menyayangi.

    QS. Ali lmran (3):134

    “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

    Dan masih ratusan manfaat lagi yang bisa kita petik dari kedekatan kita kepada Allah. Secara umum Allah mengatakan bahwa orang yang dekat kepada Allah akan terjauhkan dari rasa sedih dan bakal bergembira terus di Dunia maupun di Akhirat. Sebagaimana Dia firmankan berikut ini.

    QS. Yunus (10): 62 – 64

    “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

    “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bettakwa.”

    “Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di Dunia dan (dalam kehidupan) di Akhirat. Tdak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. “

    2. Shalat adalah Berdo’a.

    Seringkali, shalat kita tidak bermakna sebagai do’a (permintaan tolong kepada Allah). Shalat adalah sebuah kewajiban belaka. Sedangkan untuk berdoa, kebanyakan kita melakukannya di luar shalat. Misalnya, setelah shalat. Atau, waktu-waktu lain yang dianggap mustajab.

    Padahal, coba perhatikan ayat-ayat berikut ini. Allah memerintahkan agar kita minta tolong (berdo’a) kepadaNya dengan cara shalat. Mereka adalah orang-orang, yang istilah Allah ‘lambungnya jauh dari tempat tidumya E Artinya, mereka banyak melakukan shalat malam untuk berdo’a kepada Allah dengan penuh harap.

    QS. Al Baqarah (2): 45

    Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat Dan sesungguhnya yang demikian itu. sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’

    QS. Al Badarah (2): 153

    Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

    QS. As Sajdah (32): 15 – 16

    Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, sedang mereka tidak menyombongkan diri,

    Lambung mereka jauh dari tempat tidumya, sedang mereka berdo’a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.

    Nah, dengan demikian, mestinya kita mulai merubah cara minta tolong kita kepada Allah. Cara berdo’a yang paling baik yang dianjurkan Allah adalah dengan melakukan shalat. Di dalam shalat itulah kita berdo’a dan memohon pertolongan atas berbagai permasalahan yang kita hadapi. Dan setelah itu, tunggulah ‘hasilnya’ dengan penuh kesabaran.

    Namun demikian, berdo’a memang tidak dibatasi hanya dalam shalat. Allah ‘menerima’ do’a kita kapan saja kita butuh. Akan tetapi, shalat adalah tatacara yang secara ‘formal’ diajarkan oleh Allah. Insya Allah, jika kita mengikuti petunjuk tersebut do’a kita lebih mustajab.

    Pada dasarnya, tatacara dan ucapan-ucapan di dalam shalat telah ditentukan oleh Rasulullah saw. Akan tetapi, kita bisa memaknai ucapan-ucapan itu dengan hal-hal yang sedang menjadi permasalahan dalam kehidupan kita. Sehingga do’a kita di dalam shalat itu tidaklah hambar, melainkan ‘ngematch’ alias nyambung dengan problem kehidupan sehari-hari.

    Selain memberikan makna kepada do’a standar dalam shalat, ada saat-saat yang kita diperbolehkan berdoa secara ‘lebih bebas’ di dalam shalat kita. Di antaranya adalah pada saat i’tidal, yaitu seusai membaca do’a i’tidal (contohnya: ada yang membaca do’a Qunut ada yang tidak).

    Saat-saat yang lain, adalah ketika duduk di antara dua sujud, dimana kita selalu mengucapkan do’a memohon kesehatan, rezeki, permohonan ampun dan permintaan maaf, dan lain sebagainya. Juga di dalam sujud, dimana kita sedang dalam ‘kondisi terdekat’ kita dengan Allah. Dan akhirnya, pada saat menjelang salam, setelah membaca tasyahud akhir dan shalawat Nabi.

    Begitulah, sangat banyak kesempatan yang diberikan kepada kita untuk berdo’a di dalam shalat. Intinya, agar shalat kita tidak terasa hambar. Tetapi memiliki ‘muatan’ kebutuhan hidup dan permintaan tolong kepada Allah atas segala problem kehidupan kita.

    Dan yang paling penting dari proses berdo’a kita itu adalah sikap hati. Janganlah kita ragu di dalam berdo’a. Yakinlah, Allah pasti menjawab do’a kita, asalkan kita memang bersungguh-sungguh di dalam berdo’a. Hal itu telah Dia janjikan dalam firmanNya. Nggak usah ragu. Sekali lagi jangan sampai ragu, karena Allah akan mengabulkan do’a kita sesuai dengan prasangka hati kita. Kalau yakin, hasilnya ya meyakinkan. Kalau ragu, hasilnya ya meragukan.

    QS. Al Baqarah (2): 186

    “Dan apabila hamba-hamba Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. “

    Sebelum lebih jauh kita membahas makna do’a-do’a shalat, maka cermatilah firman-firman Allah berikut ini agar do’a kita di dalam shalat lebih ‘diperhatikan’ Allah. Dan mudah-mudahan dikabulkanNya.

    QS. Yunus (10): 22

    “… dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdo’a kepada Allah dengan mengikhlaskan keta’atan kepada Nya semata-mata… “

    QS. As Sajdah (32): 16

    “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo’a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”

    QS. Al Qalam (68): 48

    Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya).

    QS. Al Israa’ (17): 11

    Dan manusia mendo’a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo’a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.

    QS. Al A’raaf (7): 55

    Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang, yang melampaui batas.

    Lewat ayat-ayat tersebut Allah mengajarkan kepada kita bahwa do’a yang baik adalah mengikuti kondisi-kondisi tersebut. Di antaranya adalah :

    1. Berdo’alah dengan penuh keikhlasan, hanya semata mata, kepada Allah saja. Bahkan, kalimat yang digunakan adalah, mukhlisiina lahuddiin, yaitu mengikhlaskan diri dalam beragama. Bukan hanya ketika berdo’a, melainkan dalam seluruh peribadatan yang kita jalankan, kita ikhlas hanya untuk Allah saja.
    2. Dengan rasa takut dan penuh harap. Artinya, janganlah kita berdo’a dengan tidak serius. Misalnya, dengan perasaan ‘cuek’ dikabulkan syukur, nggak dikabulkan ya sudah. Berdo’a yang seperti ini tidaklah serius. Berdo’a adalah memohon pertolongan kepada Allah, maka tentu dilakukan dengan sepenuh hati dan ‘harap-harap cemas’.
    3. Jangan berdo’a dalam keadaan marah atau penuh kebencian atas perbuatan seseorang kepada kita. Bertawakallah kepada Allah dengan penuh kesabaran, Insya Allah Dia akan memberikan yang tebaik buat kita.
    4. Jangan berdo’a untuk kejahatan. Ikutilah jalan yang lurus yang diajarkan Allah dan RasulNya kepada kita. Meskipun kita sedang terjepit, usahakan agar kita tidak melakukan kejahatan. Sekali lagi bertawakallah kepada Allah, maka Dia akan memberikan yang terbaik buat kita.
    5. Ucapkanlah do’a kita dengan suara yang lembut dan berendah diri kepada Allah. Jangan berdo’a dengan suara yang keras, karena Allah sebenarnya begitu dekat dengan kita. Dia lebih dekat kepada kita daripada urat leher kita (QS.50:16). Dia mengetahui apa yang dibisikkan oleh hati kita. Jadi kenapa kita mesti berteriak-teriak dalam berdo’a. Orang-orang yang berdo’a dengan suara keras, cenderung memiliki hati yang riya’ atau pamer kepada orang lain. Do’a yang demikian menjadi tidak ikhlas adanya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 25 June 2012 Permalink | Balas  

    Jangan Meremehkan Wirid 

    Jangan Meremehkan Wirid

    “Tidak akan meremehkan wirid kecuali orang yang bodoh. Karena  Allah (Al-Warid) itu diperoleh di akherat’, sedangkan Al-Wirid, akan selesai dengan musnahnya dunia. Yang paling baik diperintahkan oleh manusia, adalah yang tidak pernah musnah. Wirid yang diperintahkan Allah kepadamu, serta karunia yang kalian terima, adalah merupakan hajatmu sendiri terhadap Allah Ta’ala. Dimanakah letaknya perbedaan antara perintah Allah kepadamu dengan pengharapan kalian kepada-Nya.”

    Yang dimaksud wirid ialah perbuatan seorang hamba yang berbentuk ibadah, lahir dan batin. Sedangkan Al-Warid adalah karunia Allah ke dalam batinnya seorang hamba ibarat cahaya yang halus,  yang bersinar sinar di dalam dadanya dan memberi nur ke dalam dadanya, semuanya sebagai karunia Allah yang wujudnya dalam ibadah si hamba. Al-Warid itu adalah dari Allah Swt, merupakan muamalah dan ibadah.

    Adapun wirid adalah amalan yaang dikerjakan di dunia secara tetap dan tertib di dunia ini juga berupa ibadah secara tertib termasuk dzikir yang dikerjakan terus menerus, tidak pernah ditinggalkan. Warid merupakan karunia Allah kepada para hamba berupa penjelasan, nurullah, kenikmatan  merasakan ibadah, hidayah dan taufik Allah, semuanya merupakan amalan batin yang kuat. Kenikmatan warid itu berkelanjutan hingga hari akhirat. Antara Wirid dan Al-Warid mempunyai kaitan yang kuat Apabila Al-Warid itu karunia Allah, wirid adalah ibadah yang tetap dan tertib.

    Orang yang melaksanakan wirid dalam ibadah, adalah orang yang memelihara hubungannya dengan Allah secara tetap, tidak pernah tertutup dalam saat waktu yang tetap pula. Dalam keadaan apapun dan di manapun, ia senantiasa menjaga ibadah rutinnya itu dengan baik dan dikerjakan sebagus bagusnya. Contoh ibadah yang diwiridkan, seperti sholat sunah yang dipilih untuk wirid, dzikir yang diwiridkan, puasa sunah yang diwiridkan, dan lain lainnya. Hamba yang wirid selalu membasahi jiwa dan lidahnya dengan dzikrullah. Karena dikerjakan secara rutin, maka ibadah tersebut sudah menjadi kebiasaan serta dikerjakan dengn senang hati dan dirasakan kenikmatannya.

    Kedua duanya, Wirid dan Warid, ibarat saudara kembar yang saling berlomba menjadi ibadah yang sangat dicintai untuk mendapatkan keridhoan Allah Swt. Yang satu (wirid) ibadah untuk menghiasi lahir, yang satu ibadah (warid) untuk menghiasi batin.  Wirid adalah hak Allah yang diperintahkan agar diamalkan oleh para hamba. Sedang warid adalah hak hamba yang disampaikan kepada Allah Swt.

    Menghidupkan wirid dalam hidup hamba Allah diperlukan, agar si hamba tetap kontak dengan Allah di waktu waktu yang sudah ditentukan oleh si hamba sendiri. Sebab amal ibadah yang paling baik ialah dikerjakan terus menerus, walaupun sedikit (kecil). Amal seperti ini sangat disukai oleh Allah   Ta’ala

    Diriwayatkan bahwasanya Al Jundi adalah seorang ahli makrifat yang membiasakan dirinya membaca Al-Qur an dalam waktu yang telah ditetapkan, sehingga waktu ia wafat bertepatan dengan ia menghatamkan Al-Qur an, dan menghatamkan bacaannya di saat itu. Disebutkan juga dalam beberapa riwayat oleh Abu Qosim Ad-Daraj, bahwa Al Jundi adalah seorang ahli makrifat yang senang beribadah dan mewiridkan ibadah ibadahnya itu.

    Abu Tolib Al Makky berkata, “Orang yang senantiasa men-dawam-kan (membiasakan ibadah rutin), termasuk akhlak orang beriman, dan jalan para abidin, sebab cara ini akan memperkokoh iman, termasuk hal juga yang menjadi amalan Rosulullah Saw.”

    Di samping wirid yang dikerjakan secara tetap dan tertib, seorang hamba memerlukan warid, yang disebut Imdad, artinya warid yang tidak terputus putus dan senantiasa bersambung yang dipersiapkan.  Dengan persiapan melalui wirid ini barulah warid itu masuk menjadi hiasan kalbu para ahli makrifat. Tanpa wirid maka tidak ada warid.

    Syekh Ahmad Atailah (pengarang kitab Al-Hikam) menjelaskan lagi :

    “Masuknya warid Imdad menurut persiapannya (wirid), dan terbitnya cahaya atas hati sesuai kebersihan hati itu pula.”

    Warid itu dapat memasuki hati dan rasa seorang hamba, apabila hati si hamba telah bersih dari pengaruh duniawi yang meresahkan dan mengendorkan iman. Hati akan menjadi bersih menurut wirid yang dilakukan oleh si hamba dengan terus menerus, tertib, dan kontinyu. Memelihara terlaksananya wirid sangat diperlukan bagi terangnya hati manusia dengan nurullah.

    ***

    Narasumber : Buku “Mutumanikan dari kitab Al-Hikam”

    Firman Allah dalam surat Al-Bayyinah ayat 5: “Padahal mereka tidak diperintah kecuali menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus, dan (supaya) mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.”

    Lurus artinya jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan.

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 24 June 2012 Permalink | Balas  

    Makruhnya Mencabut Uban 

    Assalamu’alaikum wa rohmatullohi Ta’ala wa barokatuhu

    Makruhnya Mencabut Uban

    Dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, Rosululloh bersabda, “Janganlah mencabut uban. Tidaklah seorang muslim yang memiliki uban sehelaipun sesudah masuk Islam kecuali uban tersebut akan menjadi cahaya untuknya di hari kiamat kelak.” (Shohih Jami’ush Shoghir diriwayatkan oleh Abu Dawud 11/256/4184 dan Nasai 8/136).

    Anjuran untuk Mewarnai Uban dengan Daun Pacar, Katm atau Sejenisnya dan Haram Mewarnainya dengan Warna Hitam

    Dari Abu Dzar rodhiyallohu ‘anhu, beliau mengatakan bahwa Rosululloh bersabda, “Sesungguhnya termasuk yang paling baik untuk merubah warna uban ialah daun pacar dan katm.” (Shohih Jami’ush Shoghir no.1546. Diriwayatkan oleh Abu Dawud 11/259/4187, Tirmidzi 3/145/1806, Ibnu Majah 2/1196/3622 dan An Nasai 8/139. Teks hadits tersebut ada dalam riwayat Ibnu Majah).

    Katm adalah tumbuhan yang menghasilkan warna hitam kemerah-merahan. Demikian keterangan dalam Fiqh Sunnah 1/35. Ed.

    Dari Abu Huroiroh, beliau menyatakan bahwa Rosululloh bersabda, “Sesungguhnya Yahudi dan Nasrani tidak mewarnai uban mereka, maka selisihilah mereka!” (Muttafaq ‘alaih. Diriwayatkan oleh Bukhori 1/354/5899, Muslim 3/1663/2103, Abu Dawud 11/257/4185, dan An Nasai 8/137).

    Dari jabir rodhiyallohu ‘anhu, bahwasanya Abu Quhafah didatangkan ke hadapan Rosululloh ketika Fathul Makkah dalam keadaan rambut dan jenggotnya seperti tsagomah. Rosululloh bersabda, “Ubahlah warna ubannya dengan warna apapun akan tetapi jauhilah penggunaan warna hitam.” (Shohih Jami’ush Shoghir no.4170. Diriwayatkan oleh Muslim 3/1663-69-2102, Abu Dawud 11/258/4186, An Nasai 8/138, dan Ibnu Majah 2/1197/3624). Tsaghomah adalah pohon yang daun dan bunganya berwarna putih.

    Dari Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhuma, beliau menceritakan bahwa Rosululloh bersabda, “Kelak di akhir jaman akan muncul sekelompok orang yang mewarnai ubannya dengan warna hitam seperti warna tembolok merpati. Mereka tidak akan mencium bau surga.” (Shohih Jami’ush Shoghir no.8153. Diriwayatkan oleh Abu Dawud 11/266/4194 dan An Nasai 8/138)

    Wallahu’alam bish showwab

    Wassalamu’alaikum wa rohmatullohi Ta’ala wa barokatuhu

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 23 June 2012 Permalink | Balas  

    Indahnya Sinergi 

    Indahnya Sinergi

    Sering menyaksikan pertandingan sepak bola? tidak semua menjadi penjaga gawang, dan tak semua pula ingin menjebol gawang. Sebelas pemain dalam satu tim, punya peran masing-masing yang mesti dijalankan sebaik-baiknya. Tak semuanya harus maju ke depan, begitu pun sebaliknya, tak perlu sebelas pemain menjaga daerah pertahanan. Namun, mereka tetap bersinergi untuk satu tujuan, mencetak gol demi kemenangan.

    Sering menonton sebuah film? ada yang berperan sebagai aktor utama, ada juga yang cuma memainkan peran pembantu, peran kecil dan peran figuran. Ada yang berperan protagonis, dan ada yang rela berperan antagonis. Layaknya sebuah drama, ada yang disuka, dan dipuja karena selalu memerankan tokoh baik. Namun ada pula aktor yang rela dicaci dan dibenci di luar perannya, hanya karena kerelaannya berperan tokoh jahat. Namun itu semua hanya sebuah film, sebuah kisah layar kaca yang memiliki satu tujuan; menghibur penonton.

    Tak semua manusia di muka bumi ini berprofesi sebagai kepala negara, karenanya ada lebih banyak yang membantunya dalam menjalankan negara. Dan jauh lebih banyak orang yang berperan sebagai rakyat. Para rakyat ini pun menjalankan perannya masing-masing. Tak semuanya menjadi dokter, tak seluruhnya menjadi guru, dan tak mungkin semua orang melakoni satu profesi saja.

    Ada yang punya kendaraan bermotor, banyak pula yang hanya mampu berjalan kaki atau menggunakan jasa angkutan umum. Maka bergunalah para pengusaha jasa angkutan, maka bermanfaatlah mereka yang berprofesi sebagai supir dan kondektur angkutan umum atau tukang ojeg sekali pun. Berguna pula para penambal ban di pinggir jalan, para mekanik di bengkel, termasuk para petugas lalu lintas.

    Tak sedikit yang memiliki lebih dari satu tempat tinggal, namun jauh lebih banyak yang tak memiliki tempat untuk berteduh. Ada yang hidup berlebihan, ada yang berkecukupan, dan pasti pula banyak yang kekurangan. Karenanya, mereka yang berlebih pun tahu kebutuhan yang kekurangan, dibuatlah rumah-rumah sewaan agar yang lain tak lagi kehujanan dan kepanasan.

    Seseorang bisa disebut `kaya` karena ada orang yang disebut miskin. Seseorang bisa berprofesi sebagai pembantu rumah tangga, karena ada yang membutuhkan tenaganya. Ada yang menjadi tukang sampah, karena banyak sampah bertebaran. Jika satu bulan sampah di rumah tak ada yang mengangkutnya, bayangkan betapa besar kebutuhan kita terhadap para tukang sampah itu.

    Sungguh, Allah telah menciptakan sinergi yang luar biasa indah. Masing-masing menjalankan perannya dengan baik agar tetap seimbang. Ketika banyak orang membutuhkan pertolongan, semestinya banyak pula yang menjadi penolong. Saat begitu banyak yang mendapat musibah, seharusnya tak kalah banyaknya tangan-tangan yang terhulur memberi bantuan.

    Kadang, tak semua pendaki gunung harus mencapai puncaknya. Ada satu atau sebagian yang menjadi camper, namun tetap mendukung rekannya yang menjadi climber. Memang tak semua orang harus datang langsung dan menemui para korban bencana di lokasi musibah. Karenanya, ada orang-orang yang mendedikasinya dirinya untuk masuk menembus lokasi bencana. Cukup sambungkan tangan peduli itu dengan tangan yang beraksi di lapangan, maka sempurnalah sinergi itu. Ketika simpati bersinergi dengan aksi, inilah yang disebut peduli. duh, indahnya.

    ***

    Oleh Sahabat Bayu Gawtama

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 22 June 2012 Permalink | Balas  

    Jauhi Sifat Angkuh dan Sombong 

    Jauhi Sifat Angkuh dan Sombong

    Sifat angkuh dan sombong telah banyak mencelakakan makhluk ciptaan Allah subhanahu wata’ala, mulai dari peristiwa terusirnya Iblis dari sorga karena kesombongannya untuk tidak mau sujud kepada Nabi Adam alaihis salam tatkala diperintahkan oleh Allah subhanahu wata’ala untuk sujud hormat kepadanya.

    Demikian juga Allah subhanahu wata’ala telah menenggelamkan Qorun beserta seluruh hartanya ke dalam perut bumi karena kesombongan dan keangkuhannya terhadap Allah subhanahu wata’ala dan juga kepada sesama kaumnya.

    Allah subhanahu wata’ala juga telah menenggelamkan Fir’aun dan bala tentaranya di lautan karena kesombongan dan keangkuhannya terhadap Allah subhanahu wata’ala dan juga kepada sesama kaumnya, dan karena kesombongannya itulah dia lupa diri sehingga dengan keangkuhannya dia menyatakan dirinya adalah tuhan yang harus disembah dan diagungkan.

    Kehancuran kaum Nabi Luth alaihis salam juga karena kesombongan mereka dengan menolak kebenaran yang disampaikan Nabi Luth alaihis salam agar mereka meninggalkan kebiasaan buruk mereka yaitu melakukan penyimpangan seksual, yakni lebih memilih pasangan hidup mereka sesama jenis (homosek), sehingga tanpa disangka-sangka pada suatu pagi, Allah subhanahu wata’ala membalikkan bumi yang mereka tempati dan tiada satu pun di antara mereka yang bisa menyelamatkan diri dari adzab Allah yang datangnya tiba-tiba.

    Dan masih banyak kisah lain yang bisa menyadarkan manusia dari kesombongan dan keangkuhan, kalaulah mereka mau mempergunakan hati nurani dan akalnya secara sehat.

    Mengapa manusia tidak boleh sombong? Sebab manusia adalah makhluk yang lemah, maka pantaskah makhluk yang lemah itu bermega-megahan dan sombong di hadapan penguasa langit dan bumi? Namun fenomena dan realita yang ada masih banyak manusia itu yang lupa hakikat dan jati dirinya, sehingga membuat dia sombong dan angkuh untuk menerima kebenaran, merendahkan orang lain, serta memandang dirinya sempurna segala-galanya.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, telah menjelaskan tentang bahayanya sifat kesombongan dan keangkuhan, sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah Bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu , dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

    “Tidak masuk surga siapa saja yang di dalam hatinya ada sedikit kesombongan, kemudian seseorang berkata: “(ya Rasulullah) sesungguhnya seseorang itu senang pakaiannya bagus dan sandalnya bagus”, Beliau bersabda: “Sesunguhnya Allah itu Indah dan Dia menyenangi keindahan, (dan yang dimaksud dengan) kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan melecehkan orang lain” (HR. Muslim)

    Imam An-Nawawi rahimahullah berkomentar tentang hadits ini, “Hadits ini berisi larangan dari sifat sombong yaitu menyombongkan diri kepada manusia, merendahkan mereka dan menolak kebenaran”. (Syarah Shahih Muslim 2/269).

    Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, “Orang yang sombong adalah orang yang memandang dirinya sempurna segala-galanya, dia memandang orang lain rendah, meremehkannya dan menganggap orang lain itu tidak pantas mengerjakan suatu urusan, dia juga sombong menerima kebenaran dari orang lain”. (Jami’ul Ulum Wal Hikam 2/275)

    Raghib Al-Asfahani rahimahullah berkata, “Sombong adalah keadaan/kondisi seseorang yang merasa bangga dengan dirinya sendiri, memandang dirinya lebih utama dari orang lain, kesombongan yang paling parah adalah sombong kepada Rabbnya dengan cara menolak kebenaran (dari-Nya) dan angkuh untuk tunduk kepada-Nya baik berupa ketaatan maupun dalam mentauhidkan-Nya.” (Umdatul Qari` 22/140).

    Nash-nash Ilahiyyah banyak sekali mencela orang yang sombong dan angkuh, baik yang terdapat dalam Al-Qur`an maupun dalam As-Sunnah.

    1. Orang Yang Sombong Telah Mengabaikan Perintah Allah subhanahu wata’ala.

    Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya:

    “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri (angkuh).” (QS. 31:18)

    Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, menjelaskan makna firman Allah subhanahu wata’ala: (Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia) dia berkata: “Janganlah kamu sombong dan merendahkan manusia, hingga kamu memalingkan wajahmu ketika mereka berbicara kepadamu.” (Tafsir At-Thobari 21/74)

    Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan Firman Allah subhanahu wata’ala, “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh”, maksudnya janganlah kamu menjadi orang yang sombong, keras kepala, berbuat semena-mena, janganlah kamu lakukan semua itu yang menyebabkan Allah murka kepadamu”. (Tafsir Ibnu Katsir 3/417).

    2. Orang Yang Sombong Menjadi Penghuni Neraka.

    Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya:

    “Katakanlah kepada mereka: Masuklah kalian ke pintu-pintu neraka jahannam dan kekal di dalamnya, maka itulah sejelek-jelek tempat kembali.” (QS. Az-Zumar: 72)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    “Tidak akan masuk surga siapa saja yang di dalam hatinya terdapat sedikit kesombongan.” (HR. Muslim)

    Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Maukah Aku beritakan kepada kalian tentang penghuni surga? Para shahabat menjawab: tentu (wahai Rasulullah), lalu beliau berkata: “(Penghuni surga adalah) orang-orang yang lemah lagi direndahkan oleh orang lain, kalau dia bersumpah (berdo’a) kepada Allah niscaya Allah kabulkan do’anya, Maukah Aku beritakan kepada kalian tentang penghuni neraka? Para shahabat menjawab: tentu (wahai Rasulullah), lalu beliau berkata: “(Penghuni neraka adalah) orang-orang yang keras kepala, berbuat semena-mena (kasar), lagi sombong”. (HR. Bukhori & Muslim)

    3. Orang Yang Sombong Pintu Hatinya Terkunci & Tertutup.

    Sebagaimana Firman Allah subhanahu wata’ala, artinya:

    “Demikianah Allah mengunci mati pintu hati orang yang sombong dan sewenang-wenang” (QS. Ghafir 35)

    Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Sebagaimana Allah mengunci mati hati orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah maka demikian juga halnya Allah juga mengunci mati hati orang yang sombong lagi berbuat semena-mena, yang demikian itu karena hati merupakan sumber pangkal kesombongan, sedangkan anggota tubuh hanya tunduk dan patuh mengikuti hati”. (Fathul Qodir 4/492).

    4. Kesombongan Membawa Kepada Kehinaan Di Dunia & Di Akhirat

    Orang yang sombong akan mendapatkan kehinaan di dunia ini berupa kejahilan, sebagai balasan dari perbuatannya, perhatikanlah firman Allah subhanahu wata’ala, artinya:

    “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di dunia ini tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaanku”. (QS. Al-‘Araf: 146)

    (Maksudnya) yaitu Aku (Allah) halangi mereka memahami hujah-hujjah dan dalil-dalil yang menunjukkan tentang keagungan-Ku, syari’at-Ku, hukum-hukum-Ku pada hati orang-orang yang sombong untuk ta’at kepada kepada-Ku dan sombong kepada manusia tanpa alasan yang benar, sebagaimana mereka sombong tanpa alasan yang benar, maka Allah hinakan mereka dengan kebodohan (kejahilan). (Tafsir Ibnu Katsir 2/228)

    Kebodohan adalah sumber segala malapetaka, sehingga Allah sangat mencela orang-orang yang jahil dan orang-orang yang betah dengan kejahilannya, Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya:

    “Sesungguhnya makhluk yang paling jelek (paling hina) di sisi Allah ialah orang-orang yang tuli dan bisu yang tidak mengerti apapun (jahil).” (QS. Al-Anfal:22)

    Maksudnya Allah subhanahu wata’ala menghinakan orang-orang yang tidak mau mendengar-kan kebenaran dan tidak mau menutur-kan yang haq, sehingga orang tersebut tidak memahami ayat-ayat-Nya yang pada akhirnya menyebabkan dia menjadi seorang yang jahil dan tidak mengerti apa-apa, dan kejahilan itulah bentuk kehinaan bagi orang-orang yang sombong.

    Dan orang yang sombong di akhirat dihinakan oleh Allah subhanahu wata’ala dengan memperkecil postur tubuh mereka sekecil semut dan hinaan datang kepada dari segala penjuru tempat, hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits berikut:

    “Orang-orang yang sombong akan dihimpunkan pada hari kiamat seperti dalam bentuk semut-semut kecil dengan rupa manusia, dari segala tempat datang hinaan kepada mereka, mereka digiring ke penjara neraka jahannam yang di sebut Bulas, di bagian atasnya api yang menyala-nyala dan mereka diberi minuman dari kotoran penghuni neraka”. (HR. Tirmizi & Ahmad, dihasankan oleh Syekh Al-Albani dalam Al-Misykat)

    Semoga dengan merenungi nash-nash Ilahiyyah diatas, karunia Allah subhanahu wata’ala beserta kita dan bisa menjauhkan kita dari sifat angkuh dan sombong. (Abu Abdillah Dzahabi)

    ***

    Tulisan ini disadur dari Majalah Al-Furqon Edisi: 5 Tahun V /Dzulhijjah 1426 /Januari 2006

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 21 June 2012 Permalink | Balas  

    Tiga Kata yang Terlupakan 

    Tiga Kata yang Terlupakan

    Hudzaifah.org – Ardi berlalu begitu saja setelah ia membayar ongkos ojeg yang ia tumpangi, jalannya tergesa-gesa. Yup, ia terburu-buru karena hampir terlambat masuk kelas, alasannya klasik, “MACET”. Dalam hatinya berkata beruntung ia terbantu oleh fasilitas ojeg yang mahir berselap-selip diantara kerumunan kendaraan-kendaraan mewah Jakarta. Ups, tapi ia lupa sesuatu, berkata TERIMA KASIH pada pak ojeg. Hal yang remeh memang, dan cenderung sering diremehkan oleh kebanyakan orang.

    Yuli, seorang akhwat yang selalu sibuk dengan agenda-agendanya yang padat, datang telat satu jam kerapat organisasi. Simple juga, hanya ucapkan “Assalamu’alaikum” lalu duduk dengan manis di kerumunan teman-temannya tanpa pernah berpikir untuk mengucapkan MAAF. Padahal ia termasuk orang yang ditunggu-tunggu dalam rapat itu. Maklum dia adalah ketua sie acara yang notabene harus selalu memberikan progress report yang berkala.

    Irman adalah seorang Presiden Mahasiswa di kampusnya. Ia termasuk orang yang lugas dalam memberikan instruksi. “Anto, bawakan proposal yang harus saya tandatangani keruangan saya”. “Rina, ketik surat ini dan secepatnya kirim!” “Mas somay, pesen somay sepiring, gak make lama ya..!!” Wah, sangking lugasnya ada sebuah kata berharga yang ia lupa. TOLONG.

    Fenomena-fenomena diatas sering kita temui di sekeliling kita. Mungkin bahkan tidak jauh-jauh, kita juga sering melakukannya. Betul?

    TERIMA KASIH, atau bahasa aktivis gaulnya syukron, seringkali terlupa. Dalam surat Al A’raaf ayat 58 Allah berfirman:

    “Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang BERSYUKUR.”

    Dalam ayat ini Allah mengajarkan kita untuk berterimakasih atas semua yang kita terima. Dalam psikologi, orang yang menerima ucapan “TERIMA KASIH” akan senang dan merasa usahanya dihargai.

    Kata berikutnya yang jarang kita ucapkan adalah kata “MAAF”. Atau akrab disebut “AFWAN…”.

    “Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema’afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema’afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma’af) membayar (diat) kepada yang memberi ma’af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat.” (QS. Al Baqarah:178)

    Dalam ilmu psikologinya kata MAAF sangat efektif untuk meredam rasa kekesalan orang yang dirugikan. Kata MAAF pun sebaiknya dari hati yang tulus dan diiringi dengan senyum yang ikhlas.

    Kata terakhir yang sering terlupakan adalah kata “TOLONG”.

    “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al Maaidah:2)

    Dalam ilmu psikologinya kata TOLONG adalah sebuah kata yang membuat orang yang dimintai pertolongan merasa dibutuhkan dan merasa dipentingkan. Bagi sebagian besar orang perasaan tersebut sangat membahagiakan hatinya. Apalagi kalau diucapkan dengan lembut.

    Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. (QS. Ali ‘Imran:159) [DAI]

    ***

    Dari Sahabat

     
    • ANAK JAIL 12:55 pm on 17 Januari 2013 Permalink

      SALUTTTT, MEMBACA TULISAN ANDA.
      DIJAMIN, APABILA 50 % SAJA KAUM MUSLIM DI NEGERI INI, BERSIKAP SEPERTI ANDA PASTI NEGERI INI MENJADI AMAN TENTERAM. Tetapi dalam hidup berangsa sampai hari ini yang ada adalah, kebencian, dendam kesumat, menang sendiri, dan benar sendiri. sampai kapan bisa kembali ke budaya asli indonesia, tepok seliro, dan gotong royong. semoga

  • erva kurniawan 1:34 am on 20 June 2012 Permalink | Balas  

    Pendeta Masuk Islam (Dr. Muhammad Yahya Waloni) 

    Pendeta Masuk Islam (Dr. Muhammad Yahya Waloni)   

    Adaha Nadjemuddin, Tolitoli : PAGI menjelang siang hari itu, nuansa Idul Fitri 1427 Hijriah masih terasa di Tolitoli. Hari itu baru memasuki hari ke-9 lebaran. Kendati terik panas matahari masih mengitari Tolitoli dan sekitarnya, tetapi denyut aktivitas warga tetap seperti biasa.

    Begitupun di sekitar Jalan Bangau, Kelurahan Tuweley, Kelurahan Baru, Kabupaten Tolitoli. Aktivitas sehari-hari warga berjalan seperti biasa.

    Kecuali di salah satu rumah kost di jalan itu, pintunya tampak masih tertutup rapat. Di rumah kost inilah, Yahya Yopie Waloni (36), bersama istrinya Lusiana (33) dan tiga orang anaknya tinggal sementara. “Pak Yahya bersama istrinya baru saja keluar. Sebaiknya bapak tunggu saja di sini, sebelum banyak orang. Karena kalau pak Yahya ada di sini banyak sekali tamunya. Nanti bapak sulit ketemu beliau,” jelas ibu Ani, tetangga depan rumah Yahya kepada Radar Sulteng.

    Yahya bersama istrinya memeluk Islam secara sah pada hari Rabu, 11 Oktober 2006 pukul 12.00 Wita melalui tuntunan A. Qomarun Shofa, Sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli. Hari itulah Yahya dengan tulus mengucapkan dua kalimat syahadat.

    Setelah memeluk Islam, nama Yahya Yopie Waloni diganti dengan Muhammad Yahya, dan istrinya Lusiana diganti dengan Mutmainnah. Begitupun ketiga anaknya. Putri tertuanya Silvana (8 tahun) diganti dengan nama Nur Hidayah, Sarah (7 tahun) menjadi Siti Sarah, dan putra bungsunya Zakaria (4 tahun) tetap menggunakan nama itu.

    Mohammad Yahya sebelum memeluk Islam, pernah menjabat Ketua Sekolah Tinggi Theologia Calvinis di Sorong tahun 2000-2004. Saat itu juga ia sebagai pendeta dengan status sebagai pelayan umum dan terdaftar pada Badan Pengelola Am Sinode GKI di tanah Papua, Wilayah VI Sorong-Kaimana. Ia menetap di Sorong sejak tahun 1997. Tahun 2004 ia kemudian pindah ke Balikpapan. Di sana ia menjadi dosen di Universitas Balikpapan (Uniba) sampai tahun 2006. Yahya menginjakkan kaki di kota Cengkeh, Tolitoli, tanggal 16 Agustus 2006.

    Sambil menunggu kedatangan Yahya, ibu Ani mempersilakan Radar Sulteng masuk ke rumahnya. Sebagai tetangga, Ibu Ani tahu banyak aktivitas yang terjadi rumah kontrakan Yahya. “Pak Yahya pindah di sini kira-kira baru tiga minggu lalu. Sejak pindah, di sini rame terus. Orang-orang bergantian datang. Ada yang datang dengan keluarganya. Malah ada yang rombongan dengan truk dan Kijang pickup. Karena rame sekali terpaksa dibuat sabua (tenda, red) dan drop kursi dari kantor Lurah Tuweley,” cerita ibu Ani.

    Hari pertama Yahya pindah di Jalan Bangau itu, orang-orang berdatangan sambil membawa sumbangan. Ada menyumbang belanga, kompor, kasur, televisi, Alquran, gorden dan kursi. Mereka bersimpati karena Yahya sekeluarga saat pindah dari tempat tinggal pertamanya hanya pakaian di badan. Rumah yang mereka tempati sebelumnya di Tanah Abang, Kelurahan Panasakan adalah fasilitas yang diperoleh atas bantuan gereja. Sehingga barang yang bukan miliknya ia tanggalkan semuanya.

    Tidak lama menunggu di rumah Ibu Ani, datang dua orang ibu-ibu yang berpakaian dinas pegawai negeri sipil. Keduanya juga mampir di rumah Ibu Ani. Salah satu dari mereka adalah Hj Nurdiana, pegawai di Balitbang Diklat, Pemkab Tolitoli. Ibu berjilbab ini ternyata guru mengaji. Dia adalah guru mengaji yang khusus membimbing istri Yahya. “Saya baru tiga kali pertemuan dengan ibu Yahya. Supaya ibu Yahya mudah memahami huruf hijjaiyah, saya menggunakan metode albarqy. Alhamdulillah sekarang sedikit sudah bisa,” kata Nurdiana.

    Menurutnya, dia tidak kesulitan mengajari ibu Yahya. Malah, katanya, ibu Yahya cepat sekali memahami huruf-huruf hijaiyah yang diajarkan. Karena itu dia memperkirakan kemungkinan dalam waktu tidak lama ibu Yahya sudah bisa lancar mengaji.

    Hanya sekitar 20 menit menunggu di rumah ibu Ani, bunyi kendaraan sepeda motor butut milik Yahya terdengar memasuki halaman rumah kontrakannya. Radar Sulteng diterima dengan senang hati, lalu dipersilakan duduk di sofa. Sementara Yahya memilih duduk di lantai alas karpet. Badannya disandarkan ke kursi sofa. “Kita lebih senang duduk di bawah sini,” tuturnya dengan logat kental Manado.

    Cara duduk Yahya, tampak tidak tenang. Sesekali ia membuka kedua selangkangnya. Ternyata karena baru beberapa hari selesai disunat. “Setelah tiga hari saya masuk Islam, saya langsung minta disunat di rumah ini,” cerita Yahya, sesekali disertai canda.

    Penataan interior rumah kost Yahya tampak apik. Di dinding ruang tamu tampak terpampang kaligrafi ayat kursi yang dibingkai dengan warna keemasan. Di sisi lain, kaligrafi Allah-Muhammad juga terpampang. Di meja ruang tamu terdapat dua buah Alquran lengkap terjemahannya. Di tengah meja itu, juga masih ada tiga toples kue lebaran. “Rumah ini saya kontrak sementara. Saya sudah bayar Rp2,5 juta,” rinci Yahya.

    Di tengah asiknya bercerita, istri Yahya, Mutmainnah menyuguhkan beberapa cangkir teh panas. “Silakan diminum air panasnya,” kata ibu tiga anak ini yang saat itu mengenakan jilbab cokelat.

    Tidak lama kemudian, dia masuk di salah satu kamar dan mengajak guru mengajinya Hj Nurdiana bersama rekannya. Dari balik kamar itulah terdengar suara Mutmainnah yang sedang mengeja satu per satu huruf hijaiyah. Terdengar memang masih kaku, tetapi berulang-ulang satu per satu huruf-huruf Alquran itu dilafalkannya.

    Lain halnya dengan suaminya, Yahya. Pria kelahiran Manado ini mengaku sudah bisa melafalkan beberapa ayat setelah beberapa kali diajarkan mengaji oleh A. Qomarun Shofa. Selain A. Qomarun Shofa, selama ini ia juga mendapat bimbingan dari ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tolitoli, Yusuf Yamani. “Hanya lima menit saya diajarkan. Saya langsung paham. Surat Fatihah saya sudah hafal,” ujar Yahya.

    Selain belajar mengaji dan menerima tamu, aktivitas Yahya juga kerap menghadiri undangan di beberapa masjid. Tidak hanya dalam kota, tetapi sampai ke desa-desa di Kabupaten Tolitoli. “Saya ditemani beberapa orang. Ada juga dari Departemen Agama,” katanya.

    Yahya bersama istrinya memeluk Islam secara sah pada hari Rabu, 11 Oktober 2006 pukul 12.00 Wita melalui tuntunan A. Qomarun Shofa, sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli. “Hari itu saya sudah mengucapkan dua kalimat syahadat yang dituntun Pak A. Qomarun Shofa,” cerita Yahya. Apa yang melatari sampai Yahya dan keluarganya memeluk Islam.

    Mengalami Mimpi yang Sama dengan Istrinya

    Pak Yahya, begitu sapaan akrabnya. Pria kelahiran Manado tahun 1970 ini lahir dari kalangan terdidik dan disiplin. Ayahnya seorang pensiunan tentara. Sekarang menjabat anggota DPRD di salah satu kabupaten baru di Sulawesi Utara. Sebagai putra bungsu dari tujuh bersaudara, Yahya saat bujang termasuk salah seorang generasi yang nakal. “Saya tidak perlu cerita masa lalu saya. Yang pasti saya juga dulu pernah nakal,” tukasnya.

    Lantaran kenakalannya itulah mungkin, sehingga beberapa bagian badannya terdapat bekas tato. Di lengannya terdapat bekas luka setrika untuk menghilangkan tatonya. “Ini dulu bekas tato. Tapi semua sudah saya setrika,” katanya sambil menunjuk bekas-bekas tatonya itu.

    Postur tubuhnya memang tampak mendukung. Tinggi dan tegap. Meski ia pernah nakal, tetapi pendidikan formalnya sampai ke tingkat doktor. Ia menyandang gelar doktor teologi jurusan filsafat. Saat ditemui, Yahya memperlihatkan ijazah asli yang dikeluarkan Institut Theologia Oikumene Imanuel Manado tertanggal 10 Januari 2004. Sehingga titel yang didapatnya pun akhirnya lengkap menjadi Dr. Yahya Yopie Waloni, S.TH, M.TH.

    Sebelum menyatakan dirinya masuk Islam, beberapa hari sebelumnya Yahya mengaku sempat bertemu dengan seorang penjual ikan, di rumah lamanya, kompleks Tanah Abang, Kelurahan Panasakan, Tolitoli. Pertemuannya dengan si penjual ikan berlangsung tiga kali berturut-turut. Dan anehnya lagi, jam pertemuannya dengan si penjual ikan itu, tidak pernah meleset dari pukul 09.45 Wita.

    “Kepada saya, si penjual ikan itu mengaku namanya Sappo (dalam bahasa Bugis artinya sepupu). Dia juga panggil saya Sappo. Tapi dia baik sekali dengan saya,” cerita Yahya.

    Setiap kali ketemu dengan si penjual ikan itu, Yahya mengaku berdialog panjang soal Islam. Tapi Yahya mengaku aneh, karena si penjual ikan yang mengaku tidak lulus Sekolah Dasar (SD) tetapi begitu mahir dalam menceritakan soal Islam.

    Pertemuan ketiga kalinya, lanjut Yahya, si penjual ikan itu sudah tampak lelah. “Karena saya lihat sudah lelah, saya bilang, buka puasa saja. Tapi si penjual ikan itu tetap ngotot tidak mau buka puasanya,” cerita Yahya.

    Sampai saat ini Yahya mengaku tidak pernah lagi bertemu dengan penjual ikan itu. Si penjual ikan mengaku dari dusun Doyan, desa Sandana (salah satu desa di sebelah utara kota Tolitoli). Meski sudah beberapa orang yang mencarinya hingga ke Doyan, dengan ciri-ciri yang dijelaskan Yahya, tapi si penjual ikan itu tetap tidak ditemukan.

    Sejak pertemuannya dengan si penjual ikan itulah katanya, konflik internal keluarga Yahya dengan istrinya meruncing. Istrinya, Lusiana (sekarang Mutmainnah, red), tetap ngotot untuk tidak memeluk Islam. Ia tetap bertahan pada agama yang dianut sebelumnya. “Malah saya dianggap sudah gila,” katanya. Tidak lama setelah itu, kata Yahya, tepatnya 17 Ramadan 1427 Hijriah atau tanggal 10 Oktober sekitar pukul 23.00 Wita. Ia antara sadar dengan tidak mengaku mimpi bertemu dengan seseorang yang berpakaian serba putih, duduk di atas kursi. Sementara Yahya di lantai dengan posisi duduk bersila dan berhadap-hadapan dengan seseorang yang berpakaian serba putih itu. “Saya dialog dengan bapak itu. Namanya, katanya Lailatulkadar,” ujar Yahya mengisahkan.

    Setelah dari itu, Yahya kemudian berada di satu tempat yang dia sendiri tidak pernah melihat tempat itu sebelumnya. Di tempat itulah, Yahya menengadah ke atas dan melihat ada pintu buka-tutup. Tidak lama berselang, dua perempuan masuk ke dalam. Perempuan yang pertama masuk, tanpa hambatan apa-apa. Namun perempuan yang kedua, tersengat api panas.

    “Setelah saya sadar dari mimpi itu, seluruh badan saya, mulai dari ujung kaki sampai kepala berkeringat. Saya seperti orang yang kena malaria. Saya sudah minum obat, tapi tidak ada perubahan. Tetap saja begitu,” cerita Yahya.

    Sekitar dua jam dari peristiwa itu, di sebelah kamar, dia mendengar suara tangisan. Orang itu menangis terus seperti layaknya anak kecil. Yahya yang masih dalam kondisi panas-dingin, menghampiri suara tangisan itu. Ternyata, yang menangis itu adalah istrinya, Lusiana.

    “Saya kaget. Kenapa istri saya tiba-tiba menangis. Saya tanya kenapa menangis. Dia tidak menjawab, malah langsung memeluk saya,” tutur Yahya.

    Ternyata tangisan istri Yahya itu mengandung arti yang luar biasa. Ia menangis karena mimpi yang diceritakan suaminya kepadanya, sama dengan apa yang dimimpikan Mutmainnah. “Tadinya saya sudah hampir cerai dengan istri, karena dia tetap bertahan pada agama yang ia anut. Tapi karena mimpi itulah, malah akhirnya istri saya yang mengajak,” tandasnya.

    Akhirnya, Yahya bersama istrinya memeluk Islam secara sah pada hari Rabu, 11 Oktober 2006 pukul 12.00 Wita melalui tuntunan A. Qomarun Shofa, Sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli. Hari itulah Yahya dengan tulus mengucapkan dua kalimat syahadat.

    Setelah memeluk Islam, nama Yahya Yopie Waloni diganti dengan Muhammad Yahya, dan istrinya Lusiana diganti dengan Mutmainnah. Begitu pun ketiga anaknya. Putri tertuanya Silvana (8 tahun) diganti dengan nama Nur Hidayah, Sarah (7 tahun) menjadi Siti Sarah, dan putra bungsunya Zakaria (4 tahun) tetap menggunakan nama itu.

    Masuknya Yahya ke agama Islam, menimbulkan banyak interpretasi. Menurut Yahya, ada yang menyebut dirinya orang gila. Ada juga yang meragukannya, dan mungkin masih banyak interpretasi lain lagi tentang dirinya. “Tapi cukup saja sampai pada interpretasi, jangan lagi melebar ke yang lain,” pungkasnya.

    ***

    Sabtu, 4 November 2006

    Sumber :

     
    • erensdh 6:43 am on 21 Juni 2012 Permalink

      Sepertinya begitu menyenangkan bila ada yg berpindah keyakinan ke Islam… Maka stop intimidasi atau pembunuhan juga untuk yg beralih dari Islam ke keyakinan lain (yg disebut murtad)

    • jauhari 9:06 am on 10 Juli 2012 Permalink

      islam di anut oleh orang yg mendapat hidayah ALLAH ,dan dia menuju pada hidayah itu dg izin ALLAH. bukan dengan paksaan dari luar(islam lainnya) tugas seorang islam hanya berkewajiban memberi tau tentang iman dan islam serta cara mengamalkan syari’at yg ada pada kitabuLLAH dan sunnah RASULLULLAH MUHAMMAD SAW dg jujur dan benar, tapi tidak berhak memaksakan agar orang jadi memeluk nya., karena hidayah ALLAH itu diberikannya pada siapa yg dikehendakinya.

    • .umum 6:34 am on 4 September 2012 Permalink

      .kita yg sudah islam sejak lahir

    • kisah bagus 8:30 am on 5 September 2012 Permalink

      hidayah mmg bisa datang kepada siapa saja, Allahu Akbar!

    • putra haryadi 12:51 pm on 16 Oktober 2012 Permalink

      Sepertinya begitu menyenangkan bila ada yg berpindah keyakinan ke Islam… Maka stop intimidasi atau pembunuhan juga untuk yg beralih dari Islam ke keyakinan lain (yg disebut murtad)

      karena mereka sangat memusuhi agama Islam makanya dibunuh. lagian apa gw harus ikutin kemauan lw. menyelamatkan diri lw dari azab Allah aja lw nggak bisa apalagi menyalamatkan diri gw?

    • JURTUL 10:20 am on 17 Oktober 2012 Permalink

      Sdr . Erensh. Kejadian ini adalah penggenapan berita baik (Injil) itu. ni ayatnya.

      Yohanes 17:12
      Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa SELAIN DARI PADA DIA (yang menolak) YANG TELAH DITETAPKAN UNTUK BINASa., supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci.

      Beliau sudah dipanggil dan melakukan panggilan itu, tetapi tidak dilih.
      Matius 22:14
      Sebab BA NYAK yang dipanggil, tetapi SEDIKIT yang dipilih.”

      Demikian Juga Bp. DR Yahya YW. STH, MTH. kalau ditinju dari Gelar sudah Full Gelar, Kalu ditInjau dari PANGGILAN, sudah Taat, ternyata beliau tidak DIPILIH.

      Karena Beliau mantan nakal ( Yang pasti saya juga dulu pernah nakal,” tukasnya.
      “Ini dulu bekas tato. Tapi semua sudah saya setrika,” katanya sambil menunjuk bekas-bekas tatonya itu.)
      Rupanya Kenakalannya ikut mengawal Dia trus, dan tidak bertobat / hidup baru.

      Tarbukti TANPA Hidup baru (meninggalkan yang lama menerima yang bau secara trus menerus) keselamatan itu akan LEPAS, pindah ke tempat lain.

      mungkin Beliau tidak menghayati dan mengimani ayat ini (kalau baca pasti sudah karena beliau jam pelayanannya sudah panjang dengan titel Full) ni ayatnya.

      Gal 6:7 Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya DIPEMAINKAN. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.

      Ibrani 6 4-6 (inilah tuaian orang murtad itu)
      Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, 5 dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, 6 namun YANG MURTAD lagi, TIDAK MUNGKIN dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, SEBAB mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya DIMUKA UMUM. > Beliau TIDAK meng Imani dan meng Amini surat ini.

      LUAR BIASA SAMBUTAN SAMA BELIAU ITU . ( Orang-orang bergantian datang. Ada yang datang dengan keluarganya. Malah ada yang rombongan dengan truk dan Kijang pickup. Karena rame sekali terpaksa dibuat sabua (tenda, red) dan drop kursi dari kantor Lurah Tuweley,”

      KalAu Pengikut Ajaran Tuhan Yesus bertobat. SANGAT BERBEDA Pelaku dan tempatnya. ni ayat.

      Lukas 15:10
      Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada SUKA CITA pada MALAIKAT-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang BERTOBAT.” >> beda kan.

      Ini tanggapan saya, Khususnya buat srku seIman. SYALOM

    • JURTUL 11:01 am on 17 Oktober 2012 Permalink

      Koreksi ya.
      (meninggalkan yang lama menerima yang bau > seharusnya BARU)

    • JURTUL 1:04 pm on 17 Oktober 2012 Permalink

      Sdr Erensh,

      Saya Umpamakan. sekarang Bp. Dr. Yahya Yopie Waloni, S.TH, M.TH. lagi berkhotah di Pelayanannya.
      Beliau DULU. Dia mengambil Topiknya dari

      Mat 20: 20 -23
      20 Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.
      21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
      22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
      23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! ENYAHLAH DARI PADAKU , kamu sekalian pembuat kejahatan!”

      Kesimpulan Khotbahnya. siapa Yang berseru itu ????? itulah Dia Para GEMBALA JEMAAT , GURU PENGAJAR ALKITAB, PENDETA ,>>” PENYESAT atau PALSU ”

      Oleh karena itu mari kita ingat pesan Tuhan Yesus ini : Aku datang segera. PEGANGLAH apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu. (Wahyu 3:11)

      Ini tanggapan Firman Tuhan mengenai kasus diatas. jangan heran ya. SYALOM

    • ady pradana 8:04 pm on 28 Oktober 2012 Permalink

      SMOGA BAPAK SLALU DI RAHMATI ALLAH SWT.

    • JURTUL 8:05 am on 29 Oktober 2012 Permalink

      SDR ADY.
      Saya TOLAK rahmat dari Allah swt.
      Penolakan saya berdasarkan 109. Al Kaafiirun. >> Tuhanmu bukan TuhanKu

      Agama Boleh banyak dan bereda beda, Nabi boleh Besar sampai pengikutnya buuanyaakkkk bangat, tetapi kepastian masuk sorga nanti hanya JANJI dari yang punya sorga ” Yesus” namanya.

    • oldfartjoseph 8:19 am on 12 November 2012 Permalink

      jika saudara masuk islam , saudara tetap bisa mencintai yesus, bukan sebagai tuhan tapi sebagai nabi … sebagai juru selamat bersama 25 nabi yang lain

    • joel 2:30 am on 13 November 2012 Permalink

      “ALLAHUAKBAR..”
      JURTUL sok taw lu ah.. kalau mmg bener jumpain aja tu DR. Muhammad yahya nya.. suruh dia betobat kyk yg lu bilang.. Banyak Cito Dikaw neh..

    • bismillahirohmanirohim 4:29 pm on 13 November 2012 Permalink

      Hi JURTUL,How are you?
      mau tanya nih ^_^ kenapa kalian menyembah sesama manusia? dia itu sama seperti anda yaitu “manusia” kenapa disembah? karena dia suci? punya mukjizat? di dunia ini bukan hanya yesus yang suci dan punya mukjizat, mengapa yg kalian sembah cuma yesus aja?
      dia hanya manusia biasa? apa ada di alkitab kalian bahwa DIA yang manusia sama seperti kita itu yang telah menciptakan segala alam semesta ini? tuhan kalian memiliki seorang ibu, mengapa tidak kalian anggap dia tuhan juga, karena ibunya telah melahirkan yesus kalian? Mengapa tuhan kalian bisa mati sama seperti manusia pada umumnya?

      Dan sekarang yang paling saya pertanyakan mengapa umat kalian dulunya bermusuhan sekarang malah berteman dengan umat yahudi? sementara umat yahudi-lah yang telah membunuh/menyalib yesus kalian? bukankah di kitab kalian yahudi adalah musuh? tetapi sekarang kalian malah bersatu untuk menghancurkan islam contohnya amerika dan israel bersatu untuk menghancurkan kaum kami yaitu Islam.

      Yesus yang disalib itu adalah bukan tuhan kalian yang sebenarnya, karena tuhan kalian yang sebenarnya (nabi Isa) telah di selamatkan oleh tuhan kami yaitu “ALLAH” ketika akan di siksa oleh kaum yahudi untuk di salib.
      Yang disalib dan kalian sembah itu adalah “Judas” sahabat tuhan kalian “nabi Isa” yang telah berkhianat kepada nabi Isa dan tuhan kami “ALLAH” melaknat “JUDAS” dan mengutuknya menjadi berwajah mirip seperti nabi Isa sehingga bangsa yahudi menyalib “JUDAS” karena mereka mengira itu adalah nabi Isa/yesus kalian.

      Kita hidup didunia ini tidak bisa berpegang teguh pada 1 kitab saja, cobalah anda membaca kitab kami yang paling sempurna ini dan bandingkan makna isinya dengan alkitab kalian :)

      Mau beragama Islam, Kristen, Yahudi, Budha, Hindu itu adalah terserah pada orang yang ingin menganutnya :)

      Semoga orang yang non muslim setelah membaca ini mendapatkan hidayah dan pikirannya terbuka akan kebenaran. Amin ya robbal alamin :)

      Jangan ada musuh-musuhan lagi ya, semoga kita bisa tenang, damai, dan saling toleransi hidup didunia ini :)

      Wassalam.

    • Awam 11:19 am on 18 November 2012 Permalink

      Sewaktu Islam masih berkuasa di Spanyol,tidak ada rasa takut dan mereka (umat Kristen) bisa menjalankan ibadah mereka dengan damai dan aman. Tidak ada paksaan pada mereka untuk memeluk Islam. Tapi ketika Kristen(ma’af,saya menyebut Kristen,bukan Nasrani,karena Nasrani mengakui dan memuliakan Isa AS/Yesus sebagai Nabi,bukan Tuhan) berkuasa,umat Islam dipaksa masuk Kristen,bagi yang tidak mau,mereka harus keluar dari Spanyol,dan bagi yang tetap tinggal,mereka dibunuh.
      Nabi pernah marah pada salah satu gubernurnya,karena dia telah mengzhalimi seorang Yahudi yang mau hidup berdampingan dalam damai dengan kaum muslim.

    • Ema 8:26 pm on 22 November 2012 Permalink

      Sesungguhnya Allah itu Maha Tau,,, Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada Dr. Muhammad Yahya Waloni,,,,

    • JURTUL 7:50 pm on 25 November 2012 Permalink

      Hi JURTUL,How are you? Fine Tq

      Kami Bukan menyembah sesama Manusia tetapi Menyembah SATU (esa) Tuhan. Yesus Namanya.

      Siapa Yang memeberi nama Yesus, Yesus itu Tuhan, Yesus itu anak Allah.

      1. Namam Yesus.

      Lukas 1: 26 Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, 27 kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. 28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” 29 Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. 30 Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. 31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia YESUS.

      2. YESUS TUHAN
      Lukas 1: 9 Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. 10 Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa:
      11 Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, TUHAN, di kota Daud.

      3. YESUS ANAK ALLAH.
      Lukas 2: 21 Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit 22 dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: “Engkaulah ANAK-KU yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”

      Berdasarkan surat Injil, yang ditulis Lukas, Murid Yesus, saksi Hidup. Orang Kristen Mengatakan, seperti di surat tersebut, BUKAN karangan.

    • theo 12:49 pm on 26 November 2012 Permalink

      syalom saudara..

      Debat yang seperti ini tidak ada titik temunya.
      percaya ga percaya debat ini akan menimbulkan perselisihan satu sama lain.

      seseorang percaya pada Tuhan Yesus hanyalah anugerah.

    • jurtul 1:47 pm on 26 November 2012 Permalink

      INI CERITA DONGENG ARAB MU
      Yang disalib dan kalian sembah itu adalah “Judas” sahabat tuhan kalian “nabi Isa” yang telah berkhianat kepada nabi Isa dan tuhan kami “ALLAH” melaknat “JUDAS” dan mengutuknya menjadi berwajah mirip seperti nabi Isa sehingga bangsa yahudi menyalib “JUDAS” karena mereka mengira itu adalah nabi Isa/yesus kalian.

      LANJUTANNYA.
      وَمَكَرُواْ وَمَكَرَ اللّهُ وَاللّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ (Qs Al-i ‘Imran 3:54) Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan ALLAH SEAIK-BAIKNYA PEMBAAS TIPU DAYA .
      <<< JUDAS MAIN TIPU2 AN SAMA ALLAH << Yang mencipta menipu yang dicipta ??<> AKHIR AJALMU<> LIHAT DISINI DISEBUT ISA SAMPAI AKHIR AJALNYA alias MATI << yang benar mana bung<<> bismillahirohmanirohim << tolong jelaskan hubungan surat2 diatas mengenai Isa itu, yang benar yang mana.

    • eben 11:33 pm on 27 November 2012 Permalink

      jurtul…..
      kalau kamu memang ingin kebenaran…. perbaiki dulu hatimu……
      dan niatkan di hatimu untuk mencari kebenaran… setelah kamu dapatkan kebenaran ikuti itu…. jangan kamu sangkal…
      sebab kamu tidak akan dapat memahami ayat al quran dengan hati yang menolak kebenaran…..

    • bengkelmobiljakartatimur 8:54 am on 6 Desember 2012 Permalink

      Bung eben
      Kebenaran itu adalah, Yesus itu hidup di Sorga sampai selama lamanya, karena Dia Tuhan
      dan hanya Dia yang berani memberikan KEPASTIAN manusia bisa masuk sorgaNya.

      Bukan sorga yang dijanjikan Nabi. M, melalui Qs nya, yang masih berisi kehidupan duniawi seperti SEX, dan makan minum.

    • JURTUL 9:19 am on 6 Desember 2012 Permalink

      Bung Eben,
      “” kalau kamu memang ingin kebenaran…. perbaiki dulu hatimu……
      dan niatkan di hatimu untuk mencari kebenaran… setelah kamu dapatkan kebenaran ikuti itu…. jangan kamu sangkal… “”

      Ya……….. inilah kebenaran itu.

      Yohanes 1:14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan KEBENARAN<<.

    • eben 8:18 pm on 7 Desember 2012 Permalink

      @ bengkelmobiljakartatimur : dimana Qs yang mengatakan kalau Nabi . M mengajarkan sex dan makan minum,

      kalau sex sebenarnya ini bunyinya :
      “Tetapi orang tahu anak-anaknya nanti tidak akan menjadi miliknya. Jadi setiap kali ia bersetubuh dengan janda abangnya itu, dibiarkan maninya ditumpahkan di luar, supaya abangnya tidak akan mendapat keturunan.” (Kejadian 38: 9)

      Aku punya adik wanita yang kecil buah dadanya.” (Kidung 8: 8)

      masa sih ada orang yang mempermasalahkan buah dada adiknya yang kecil… sampai2 ada di kitab suci lagi….

      Hai @jurtul :
      kalau ayat yang ini bagaimana???

      Yohanes pasal 10 ayat 30, menerangkan bahwa Allah dan Yesus (Isa) bersatu, yaitu, “Aku dan Bapa adalah satu.” Sedangkan, pada Matius pasal 27 ayat 46 menjelaskan bahwa Yesus dan Allah berpisah, yaitu, “Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring, “Eli, Eli, lama sabakhtani?” ‘Artinya, “Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkan aku?”

      Roma 3:7
      Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa

      sebenarnya siapa yang tuhan?? Tuan Yesus atau???

      dan roma 3:7 itu apa ya?? itu maksudnya apa ya?? tolong bantu dong.. sebab kalau aku yang menterjemahkan ya seperti ini…. ” masak sih untuk membangun kerajaan Allah dengan berdusta di bilang pendosa.. padahal kan walaupun berdusta tetap untuk membangun kerajaan Allah”
      wah berarti berdusta boleh dong.. :)

      bengkelmobiljakartatimur dan jurtul : maaf ya… silahkan dikoreksi bila saya salah…..

    • Baehaqi 11:53 pm on 7 Desember 2012 Permalink

      Hendklh kalian mjd mnusia mulia bkn mjd domba-domba yesus.
      Krn domba adlh binatang yg tdk mempunyai akal fikirn sprti manusia,mk lebih baik and brwjud binatang dr pd brwujud mnusia.

    • agus 12:56 am on 9 Desember 2012 Permalink

      kepada sdr. jurtul
      sebaiknya anda coba dengarkan ceramah bpk. M.yahya beliau lebih hapal bible luar kepala beliau adalah mantan pendeta, dan beliau mengakui semua kebohongan nasrani, saya bener-2 terpukau setelah mendengar beliau. silahkan anda searching di google tentang pidato beliau atau anda bisa membeli buku yg beliau terbitkan.

    • lgsial 12:33 pm on 16 Desember 2012 Permalink

      gak ada hukum bunuh murtad di Quran, tapi ada di injil , silahkan baca Deuteronomy 13:6-9 , Deuteronomy 13:12-17 , 2 Chronicles 15:13, Luke 19:27

    • Lily Fauziah A.Q Shofa 11:09 am on 17 Desember 2012 Permalink

      Untuk penulisnya mohon diperbaiki nama yg menuntun Bapak Yahya W masuk islam, nama beliau bukan komarudin sofa tetapi A.Qomarun Shofa. Terima kasih

    • iye' 2:42 pm on 26 Desember 2012 Permalink

      Telah menceritakan kepada kami Bisyr, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Yaziid, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Sa’iid, dari Qataadah tentang firman-Nya : ‘Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar’ (QS. Al-Israa’ : 33), ia berkata : “Kami tidak mengetahui darah seorang muslim dihalalkan kecuali dengan satu di antara tiga sebab : seorang yang membunuh secara sengaja, maka wajib baginya ditegakkan qishaash; atau orang yang telah menikah yang berzina, maka baginya hukum rajam; dan kafir setelah Islamnya, maka baginya hukum bunuh” [Tafsiir Ath-Thabariy, 17/439; shahih].

      “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar” [QS. Al-Maaidah : 33].

    • ANAK JAIL 12:13 am on 17 Januari 2013 Permalink

      >> lgsial , baca itu tulisan si iye, kalian sama 2 muslim saling silang pendepat. gimana sih.

      >> Apa Ya definisi Penyembah Berhala, Karena kelihatannya Muslim memberhalakan Kaabah
      >> Apa Ya definisi Penjajah, Kelihatannya Muslim menjajah total kebebasan Jemaatnya.

      karena jemaatnya harus mengikuti bahasa, Tulisan, budaya dan penampilan rakyat asal agama itu. tidak seperti agama non muslim yang masih tetap mempertahankan budayanya walaupun ajaran agamanya import dari negeri lain.

    • ANAK JAIL 11:17 am on 17 Januari 2013 Permalink

      lgsial >>gak ada hukum bunuh murtad di Quran

      ni Ayatnya.
      QS 2:191. Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah[117] itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka BUNUHLAH mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.

      QS 2: 54. Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan BUNUHLAH DIRIMU[49]. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka ALLAH AKAN MENERIMA TAUBATMU. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
      (ALLAH MUSLIM MENRIMA TAUBAT ORANG YANG BUNUH DIRI ????

      QS 9: 5. Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu[630], maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan[631]. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.

      Iqsial >> PERNAH BACA AYAT DIATAS BELUM, BEARTI KAMU BLUM KATAM.

    • TUKANG JEWER ANAK JAIL 7:00 am on 19 Januari 2013 Permalink

      ini sambungan ayat diatas……kalo nampilin ayat jangan sepotong2… jangan ntar ane lagi potong kepala ayam…ente bilang ane lagi potong kepala ma orang2 lain wkwkwkkw

      Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.

      At-Taubah:7
      Tweet

      Bagaimana bisa ada perjanjian (aman) dari sisi Allah dan RasulNya dengan orang-orang musyrikin, kecuali orang-orang yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) di dekat Masjidilharaam [632]? maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.

      At-Taubah:8
      Tweet

      Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan RasulNya dengan orang-orang musyrikin), padahal jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (tidak menepati perjanjian).

      At-Taubah:9
      Tweet

      Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu .( INI YANG BARU ANDA LAKUKAN BRO….SEMUA TINGKAH LAKU “GEMBALA” SUDAH TERSIRAT DALAM ALQUR’AN )<<<<<<BRO ANAK JAIL WAJIB BACA DAN PAHAMI INI.

      At-Taubah:10
      Tweet

      Mereka tidak memelihara (hubungan) kerabat terhadap orang-orang mu`min dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Dan mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.

      =AYAt diatas menceritakan tentang perjanjian damai antara kaum muslimin dengan kaum musryikin saat penaklukan mekkah, yang dimana sebenarnya kaum muslimin sudah diatas angin tapi rasullullah SAW lebih memilih menaklukan makkah dengan jalan damai. tapi intinya adalah BERSIKAPA LEMBUT KEPADA YANG LEMBUT ,DAN BERSIKAP KERAS PADA YG HARUS DIKERASI. DAN KAREna pada saat itu masih dalam suasana perang bahwa diwajibkan bersikap hati2 dan keras kepada musuh dalam selimut………andaikata dipakai tampar pipi kiri beri pipi kanan ,pastilah arab dah dijajah romawi.

    • TUKANG JEWER ANAK JAIL 7:22 am on 19 Januari 2013 Permalink

      JURTUL DAN ANAK JAIL ,,,,mengunakan ayat alquran sepotong2. sia2 bro ayat alquran terjaga kemurnian nya,,,,,karana ada jutaan para hafizz yang mampu mengahapal alquran diluar kepala.itulah sebabnya alquran terjaga keaslian dan kemurniaanya. Rasulullah SAW memelihara Alquran dengan menghafalkan setiap ayat yang diwahyukan kepadanya.

      Bahkan, Allah SWT telah menjamin terpeliharanya hafalan Nabi SAW terhadap ayat-ayat Alquran. “Janganlah kamu menggerakan lidahmu untuk (membaca] Alquran karena hendak cepat-cepat menguasainya, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. (QS Al-Qiyamah 16-17]



      BAGAIMANA MUNGKIN KALIAN BISA MENGIMANI FIRMAN TUHAN YANG BISA BERUBAH2, BAGAIMANA MUNGKIN ALKITAB DIKATAKAN KITAB SUCI (MURNI/ASLI) JIKA ISINYA TELAH DIEDIT DAN DIREKAYASA

    • JURI AKHIR 7:30 pm on 19 Januari 2013 Permalink

      KEMBALI KE TOPIK.

      SESUNGGUHNYA Bp. Dr. YW, inilah yang disebut oleh alkitab ” antikristus “: asli, asli banget.
      jadi dengarkanlah peringatan alkitab ini.

      1 Yohanes 2:18
      Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah ” BANGKIT BANYAK ANTIKRISTUS “. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir.

      UNTUK ANAK2 TUHAN, TIDAK ADA GUNANYA KAMU MENGOMENTARI ATAU NIMBRUNG DISINI, khususnya buat jurtul dan anak jail ” jauh lebih baik menyiapkan diri untuk menyambut kedatangannya, jangan sampai kamu didapatNYA bercacat cela. INGAT !!.

      Wahyu 3:11
      Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu.

    • ANAK JAIL. 6:39 pm on 25 Januari 2013 Permalink

      Kriteria sifat dan Karakter MULIA versi muhammad adalah.

      1. Berperang, Membunuh dan Merampas
      2. Poligami, . (punya istri banyak, ngembat anak mantu, dan anak kecil umur 9 thn)
      3. Menjajah lalu membodohi pengikutnya. (mengharuskan pengikutnya memakai tulisan, Bahasa, Budaya yaitu Arab, dan penampilan dirinya, seperti berjenggot. >> minta pengikutnya mendokannya sepanjang hidup ) >> kok pengikut mendoakan yang diikuti << Pembodohan orang Tolol<<

    • coba diingat2 1:05 am on 28 Januari 2013 Permalink

      coba diingat2 lagi, dicari di berbagai referensi(web/buku/koran)
      org yg sebelumnya muslim pindah ke agama lain, pasti waktu jadi muslim bukan muslim yg taat..(islam KTP atau muslim yg pura2 taat padahal sebenarnya enggak)
      sedangkan utk penganut agama diluar islam yg kemudian pindah jadi muslim..banyak diantaranya berasal dari kalangan yg taat (misal pendeta/pastur atau org biasa yg taat beribadah)
      mereka sdh mendalami ajaran agama sebelumnya lebih dalam..

    • ANAK JAIL. 8:24 pm on 31 Januari 2013 Permalink

      >> sedangkan utk penganut agama diluar islam yg kemudian pindah jadi muslim..banyak diantaranya berasal dari kalangan yg taat (misal pendeta/pastur atau org biasa yg taat beribadah) <> ” ANTIKRISTUS “

    • Oceania 10:29 pm on 9 Februari 2013 Permalink

      coba diingat2 lagi, dicari di berbagai referensi(web/buku/koran)
      org yg sebelumnya muslim pindah ke agama lain, pasti waktu jadi muslim bukan muslim yg taat..(islam KTP atau muslim yg pura2 taat padahal sebenarnya enggak)
      sedangkan utk penganut agama diluar islam yg kemudian pindah jadi muslim..banyak diantaranya berasal dari kalangan yg taat (misal pendeta/pastur atau org biasa yg taat beribadah)
      mereka sdh mendalami ajaran agama sebelumnya lebih dalam..

      ———————————————————————————————————————————

      hehe.. saya kebalikan dari yang ada bilang..

      setelah saya tau semua tentang isi alquran dan hadist.. saya malah mulai tinggalkan islam

      ISLAM IBARATKAN = IKUT SETAN LEWAT AJARAN MUHAMMAD

    • miskin tapi kaya 4:33 pm on 14 Februari 2013 Permalink

      Benar dan betul sekali….setelah saya telaah dan pelajari mendalam…ternyata saya lebih condong mengikuti ajaran Kristus…karena didalam ajaranNya mengajarkan Kasih yg sesungguhNya dr Tuhan Allah yg menyelamatkan saya dan semua umat yg percaya pdNya…Jd pengorbananNya dikayu salib tidaklah sia2…walaupun banyak yg menentang ajaran Kristus bahwa yg mati diatas kayu salib bukanlah Yesus…itu tidak benar!!Padahal banyak saksi2 pd zaman itu yg menyaksikan penyaliban Yesus…

    • biji sesawi 7:41 pm on 7 Maret 2013 Permalink

      => Oceania … Selamat anda sudah mendorong diri anda pada jalan kehidupan yang kekal
      => miskin tp kaya .. JBU … injil selalu mengajarkan cinta dan kasih

    • yesus islam 7:52 pm on 21 Maret 2013 Permalink

      yg ajaib banget dari Yesus apa sampe dia jadi Tuhan? Karena Yesus lahir tanpa

      ayah?? Masih lebih ajaib Adam yg lahir tanpa ayah dan ibu. Harusnya Adam jd

      Tuhan juga dong. Karena bisa nyembuhin penyakit, bangkitin orang mati, dll?

      Musa bisa belah laut, tongkat kayu bisa dia ubah jadi uler, Sulaiman bahkan

      bisa ngomong sama semut?? Artinya adalah Yesus sama mulia dengan semua nabi2

      mulia yg ajaib lainnya, tapi tidak sebagai Tuhan

    • All Pilowo 11:33 pm on 29 Maret 2013 Permalink

      Yg pertama: klo memang Yesus yg menurut kristen itu Tuhan, knapa di dlm Injil mulai dri perjanjian lama sampai perjanjian baru, yesus tdk tahu Kiamat datang? Kenapa ya? Padahal yg membuat Kiamat itu dia klo dia Tuhan?
      Yg ke dua: Sayangnya orang kristen itu tdk konsisten, krn menganggap yesus itu tuhan krn ada proses kelahirannya tdk berayah. Seharusnya setiap anak yg lahir tdk berayah sekarag ini tuhan juga itu.
      Yg ke tiga: Jika memang yesus itu tuhan sebagai sang maha kuasa dn pencabut nyawa. Suru yesus mencabut nyawa ku sekarang agr membuktikan kebenarannya jika dia tuhan.
      Yg ke empat:
      silahkan pelajari isi Injil perjanjian lama dn perjanjian baru yg sudh direvisi olh tangan2 manusia itu, yesus tdk mengklaim dirinya sebagai tuhan.
      Dn yg ke lima: unsur Trinitas tdk ada dlm Injil. Dn secara ilmiah yesus BUKAN TUHAN tetapi dia Nabi dn Rasul Allah, yg kemudian di Daulat olh Paulus biadap menjadi Tuhan dn itu terjadi sekitar thn 352 masehi.
      QULHUALLAU AHAD. Tuhan hanya Dia satu2Nya (ALLAH SWT).

    • All Pilowo 7:34 am on 30 Maret 2013 Permalink

      Assalamu’alaikum,,,
      Jika berbicara menyangkut ketuhanan yesuahamasia/yesus, menurut sya tdk Ilmiah dlm segi pandang apa saja. Kenapa? Krn sya juga mantan kristen.
      Sya bkn pendeta, tpi sya belajar alkitab mulai dri usia 9 thn. Dn akhirnya usia 20 thn Iman sya di kristen mulai terobrak-abrik olh theologia sinting!
      Maaf bukan menyinggung tapi itu Fakta yg sya temukan dlm kitab kristen.

      Dlm kitap perjanjian lama sampai perjanjian baru, coba kalian buka satu/satu. Yesus yg menurut umat kristen itu tuhan tpi menurut ummat islam dia Nabi dn Rasul Allah. Dari sinilah sudut pandang permasalahan kita.
      Saya tdk pernah menjumpai satu ayatpun dlm alkitab bhwa yesus mengklaem dirinya tuhan. Dn klo memang dirinya tuhan, kenapa dia tdk tw kapan hari Kiamat terjadi? Padahal katanya dia tuhan.
      Sebenarnya iman kristen olh Paulus yg mendaulat yesus itu tuhan terjadi sekitar 352 masehi, dn sebelum di daulat olh paulus, yesus blm menjadi tuhan. Tdk ilmiah.
      Yg berikut, apa makna dri YESUS? YESUS adlh YERUSSALEEM, itu kepanjangannya. Krn yesus di angkat menjadi tuhan itu di yerussalem/israel. Ini juga tdk ilmiah.
      Sebenarnya orang kristen itu tdk konsisten terhadap tuhan mereka, kenapa? Yesus terlahir krn tdk mempunyai ayah, klo memang dia tuhan kenapa dia lahir ke dunia harus minjam di rahim manusia? Itukah tuhan?
      Dn seharusnya setiap anak yg lahir tdk mempunyai ayah, itu jga tuhan. Knapa? Ya krn yesus tdk punya ayah. Ini juga tdk ilmiah. Coba orang kristen ambil alkitab sebanyak 10, dn Alqur’an sebanyak 10 trus bandingkan mana yg masih tetap asli dn mana yg sdh di ganti ayat2 tuhan? Pasti Alqur’an unggul dimana-mana. Krn ALQUR’AN adlh kitap literatur tertinggi yg msih mempertahankan kemurniannya. So, yesus itu adlh Isa as. Nabi dn Rasul Allah yg kita yakini selamanya.

      Wassalamu’alaikum…..

    • All Pilowo 7:56 am on 30 Maret 2013 Permalink

      Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatu..
      Hai orang2 KRISTEN/NASRANI… Pendeta2 kalian telah membodohi kalian. Mereka telah menyimpan kebenaran ats kalian yg goblok2. Akhirnya kalian tetap dn tetap menerima kebodohan secara ilmiah dlm kitab2 kalian itu. Tuhan itu Esa, tdk ada ayah, tdk ada anak, dn tdk di peranakkan. Tdk terlahirkan, tdk mati, dn apalagi disalib. Semua isi alkitab kalian telah dipalsukan olh tokoh2 terdahulu. Jika memang bhs alkitab itu bhs tuhan, knpa ada kontraversi di dlm alkitab? Apakh tuhan sdh kehabisan cara untk mengajak manusia agar menyembahnya kok boro2 dia dtang ke dunia sebagai wujud manusia dn mw menerima dosa manusia yg kendati tdk cebok di tumplakan padanya, kemudian rela mati demi hambanya di kayu salib?
      Dimana akal sehat kalian? Kalian telah ditipu olh Paulus biadap.

      “Do’a ku”,,, Ya Allah yg Maha Pengampun dn Maha Pemberi Hidayah, berikanlah hidayahMu pada saudara2 ku yg kristen agr mereka kembali ke jalanMu. Sesungguhnya akal mereka telah tertutup olh kebodohan kitab2 mereka yg bukan KitabMu lagi. Tpi klo bole jgn semua KAU berikan HidayahMu. Sisakan sedikit buat Kau campakkan mereka ke dlm NerakaMu ya Rabbi.. Aamiin ya Rabbal’alamin….

      Wassalamu’alaikum..

    • sendal onta 9:39 pm on 2 April 2013 Permalink

      semoga allah swt memberi hidayah kepada mereka yang belum tersentuh islam…

    • rose 6:17 pm on 16 Mei 2013 Permalink

      ikut nimbrung yaa..
      assalamualaikum..

      sbnrnya yg jadi prbedaan trbesar antara kristen dan islam adalah mengenai siapa Yesus. Menurut ajaran Islam Yesus adalah seorang Nabi yang mengajarkan agama Allah. tetapi menurut ajaran kristen, Yesus adlah Tuhan.
      sampai kpnpun tetap tdk akn ada titik temu untuk membahas hal ini.
      tetapi ijinkanlah saya brtanya kepada Anda kaum Kristiani, kenapa Yesus itu Anda Tuhankan?
      1. apakah karena dia melakukan mujizat2?
      nabi musa pun melakukan banyak mujizat saat membawa umat Israel keluar dri Tanah Mesir menuju Kanaan. kenapa bukan dia sja yg dijadikan Tuhan?

      2. apakah karena dia mati dan terangkat ke sorga?
      nabi Elia terangkat ke sorga hidup2 tnpa mengalami kematian menggunakan kereta dari api. kenapa bukan dia yg dijadikan Tuhan?
      3. apakah karena Yesus tidak memiliki Ayah? melkisedek, raja salem tidak memiliki ayah dan ibu. jg tdk mmiliki silsilah. knp bukan dia yg dijadikan Tuhan?

      Mengapa klian meributkan nabi kami yg memiliki 13 istri, tetapi Salomo yg memiliki 700 istri dan 300 gundik tdk kalian prsoalkan?

      saya menghargai setiap pemeluk agama, tetapi keselamatan hanya milik Allah.
      tiada Tuhan selain Allah..
      Allahhu Akbar

    • PATAR 4:53 pm on 10 Juni 2013 Permalink

      ROSE, ALL PILOWO > pembohong kamu pernah membaca alkitab < saya akan menjawab pertanyaan anda sesuai yang ada tertulis di Alkitab yang saya percayai.

      1.NAMA YESUS.

      Luk 1:31
      Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. (suara Tuhan melalui malikatNya)

      2. YESUS TUHAN

      Luk. 2: 11
      Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, TUHAN, di kota Daud. (suara tuhan melalui malaikatNya

      Yoh 13:13.
      Kamu menyebut Aku Guru dan TUHAN, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan TUHAN. (suara Tuhan Yesus sendiri)

      3. YESUS ANAK ALLAH

      Luk 3:22 (suara Tuhan)
      dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: "Engkaulah ANAK-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." (Suara Tuhan )

      Makanya Yesus sering menyebut Bapaku . dan diikuti oleh pengikutnya.
      Dan pengikut Yesus memanggilnya Anak Allah

      4. Nama Bapa

      Yoh. 17 : 11
      Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam NAMA- MU- , yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.

      (hubungkan Luk 1:31 dengan ayat ini)

      5. Kuasa nama Yesus
      Kisah 4:12
      Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."

      Makanya doa Kristen selalu didalam nama Yesus.

      saya harap bisa menjawab pertanyaan anda.

    • PATAR 5:06 pm on 10 Juni 2013 Permalink

      Bung All Pilowo

      Agama TIDAK pernah bisa menyelamatkan. Buktinya anda sendiri.
      Biar Pindah Agama APApun kamu di muka bumi INI kamu tidak akan pernah Selamat dari Penghakiman di akhirat.

      1. Kamu bilang TIDAK ayat Yesus mengclaim dirinya Tuhan, itu ada diatas kan. < dan saya sudah tau jawabanmu itu Palsu.

      2. Saya Tidak Perduli Agama, karena agama hanya menghasilkan Orang2, Pelanggar Aturan Agama. Mau Islam, Mau Kristen dll, dll.
      disi TERBUKTI hasil produknya. Menjadi Juri dan Hakim kepada AGAMA orang lain.

      3. Bagaikan Seorang Memakai BajU Pemain Bola kelas dunia, berjalan dengan gayanya, padahal nendang bola saja tidak bejus.

      4. Kamu Muslimer, dan Kristener, Pelajari kitab suci mu dengan baik. tidak satu ajaran pun dalam kitab suci itu. mengajarkan Jadilah Juri dan Hakim buat jemaat Agama lain

      5. AGAMAMU, KRISTENER MUSLIMER SUDAH GAGAL TOTAL MENJADIKAN KALIAN BERDUA MENJADI JEMAATNYA. LUCIFER SUDAH TERTAWA MELIHAT KRISTENER DAN MUSLIMER DI BLOK INI, tetapi Nabi dan Tuhan yang kalian sebut Sedih dan mungkin menangis disana, melihat kelakuanmu kristener dan muslimer yang sudah menjadi juri dan hakim kepada agama lain.

      TOBATLAH SOBAT.

    • Nento Luki 8:31 am on 2 Juli 2013 Permalink

      Kisah pendeta masuk Islam bukanlah cerita baru, sudah sejak awal zaman Nabi sebelum Hijrah Ke Madina. Pendek cerita Kaisar Romawi dan Pendetanya sudah yakin bahwa yang katanya mangaku Nabi itu memang benar-benar Nabi. Pendetanya bersyahadat, kaisarnya tidak mau karena sayang dengan tahtanya. Pendetanya mendapat petunjuk Kaisarnya tidak. Jadi bukan persoalan kebenaran Islam atau tidak, tapi sang pendeta masuk Islam karena ada petenjuk dari Allah swt. Para Ilmuwan non-Muslim mengakui kebenaran Islam, tapi yang mendapat petunjuk bersyahadat dan yang tidak, tetap pada agamanya bahkan memusuhi Islam.
      Tidak perlu ngotot dengan perdebatan, hanya akan berahir dengan kebencian sesama manusia, yang tidak lain adalah makhluk Allah swt juga. “Faminkum kafiru wa minkun mu’min”. Mu’min dan kafir sama sama punya hak numpang di bumi Allah swt.
      Tks was.

    • Kristen adlh agama ku & TUHAN adlh kepercayaan ku 1:43 pm on 14 Februari 2014 Permalink

      Knp manusia di dunia ini saling bertentangan soal agama?
      Seharus nya kita itu sadar trhadap diri kita sndri,jgn memandang agama org lain.baik kristen maupun islam,dll.
      Yg sebenar & sesunguh sungguh nya kita ini manusia yg di ciptakan oleh satu TUHAN . Mengapa kita slalu meremehkn TUHAN nya islam & kristen..
      Sadar lah dgn ucapan2 kasar mu tentang TUHAN.sgeralah minta ampun kpd nya atas ketidak percayaan mu.
      Kita ini manusia yg di ciptakan dari tanah & debu,jika kita mati nanti maka kita akan kembali lg menjadi debu.yg menciptakan kita adlh SATU yaitu TUHAN ALLAH YG MAHA KUASA.
      Tidak ada yg nama nya di dunia ini TUHAN nya islam & kristen itu beda. TUHAN itu hanya SATU.
      Yg membedakan kita adlh cara penyembahan kita & kpda siapa kita percaya. Jgn saling menghakimi tentang agama.

    • dit 4:33 pm on 13 Juni 2014 Permalink

      menurut pengalaman saya. Ada temna2 saya yang dulunya islam masuk ke kristen tahu2 masuk islam lagi, kemudian masuk kristen lagi, ujung2nya agamanya nggak jelas. Begitu juga ada yang dulunya kristen kemudian masuk islam, lalu masuk kristen lagi, tak lama kemudian masuk islam lagi.
      kesimpulan saya adalah: orang yang suka pindah2 agama adalah orang yang tidak punya kenyakinan kuat. waspada kepada orang2 seperti itu.
      Jangan sampai kita yang bener2 beragama terhasut dengan orang2 demikian.

    • madinah 7:17 am on 26 Agustus 2014 Permalink

      buat saudara Muslim mohon penjelasan ttg 1 “Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan” (Qs 19:71) 2, “Barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya” Qs 2:81 (2 ayat dalam Alquran menjelaskan klu semua Muslim akan menghuni Neraka, berarti muslim tdk dpt meniduri Bidadari)

  • erva kurniawan 1:06 am on 19 June 2012 Permalink | Balas  

    Zikir Mengingat Allah 

    Zikir Mengingat Allah

    Allah memerintahkan orang yang beriman untuk berzikir (mengingat dan menyebut nama Allah) sebanyak-banyaknya:

    “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” [QS Al Ahzab 33:41]

    Tidak berzikir akan mengakibatkan seseorang jadi orang yang rugi.

    “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” [QS Al Munaafiquun 63:9]

    Allah mengingat orang yang mengingatNya.

    “Karena itu, ingatlah Aku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” [Al Baqarah:152]

    Orang yang beriman selalu ingat kepada Allah dalam berbagai keadaan :

    “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” [QS Ali ‘Imran 3:190-191]

    Dengan berzikir hati menjadi tenteram.

    “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” [QS 13:28]

    Menyebut Allah dapat membawa ketenangan dan menyembuhkan jiwa :

    “Menyebut-nyebut Allah adalah suatu penyembuhan dan menyebut-nyebut tentang manusia adalah penyakit (artinya penyakit akhlak).” (HR. Al-Baihaqi)

    Nabi berkata: Tiada amal perbuatan anak Adam yang lebih menyelamatkannya dari azab Allah daripada zikrullah. (HR. Ahmad)

    “Demi yang jiwaku dalam genggamanNya, kalau kamu selamanya bersikap seperti saat kamu ada bersamaku dan mendengarkan zikir, pasti para malaikat akan bersalaman dengan kamu di tempat tidurmu dan di jalan-jalan yang kamu lalui. Tetapi, wahai Hanzhalah (nama seorang sahabat) kadangkala begini dan kadangkala begitu. (Beliau mengucapkan perkataan itu kepada Hanzhalah hingga diulang-ulang tiga kali).” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

    “Perumpamaan orang yang berzikir kepada Robbnya dan yang tidak, seumpama orang hidup dan orang mati” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Nabi berkata: “ Nyanyian dan permainan hiburan yang melalaikan menumbuhkan kemunafikan dalam hati, bagaikan air menumbuhkan rerumputan. Demi yang jiwaku dalam genggamanNya, sesungguhnya Al Qur’an dan zikir menumbuhkan keimanan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan rerumputan” (HR. Ad-Dailami)

    Nabi berkata: “Maukah aku beritahu amalanmu yang terbaik, yang paling tinggi dalam derajatmu, paling bersih di sisi Robbmu serta lebih baik dari menerima emas dan perak dan lebih baik bagimu daripada berperang dengan musuhmu yang kamu potong lehernya atau mereka memotong lehermu? Para sahabat lalu menjawab, “Ya.” Nabi Saw berkata,”Zikrullah.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

    Seorang sahabat berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam sudah banyak bagiku. Beritahu aku sesuatu yang dapat aku menjadikannya pegangan.” Nabi Saw berkata, “Biasakanlah lidahmu selalu bergerak menyebut-nyebut Allah (zikrullah).” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

    Nabi berkata: Sebaik-baik zikir dengan suara rendah dan sebaik-baik rezeki yang secukupnya. (HR. Abu Ya’la)

    Di antara ucapan tasbih Rasulullah Saw ialah : “Maha suci yang memiliki kerajaan dan kekuasaan seluruh alam semesta, Maha suci yang memiliki kemuliaan dan kemahakuasaan, Maha suci yang hidup kekal dan tidak mati.” (HR. Ad-Dailami)

    “Dua kalimat ringan diucapkan lidah, berat dalam timbangan dan disukai oleh Allah yaitu kalimat: “Subhanallah wabihamdihi, subhanallahil ‘Adzhim” (Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya, Maha suci Allah yang Maha Agung). (HR. Bukhari)

    Nabi berkata: “Ada empat perkara, barangsiapa memilikinya Allah akan membangun untuknya rumah di surga, dan dia dalam naungan cahaya Allah yang Maha Agung. Apabila pegangan teguhnya “Laailaha illallah”. Jika memperoleh kebaikan dia mengucapkan “Alhamdulillah”, jika berbuat salah (dosa) dia mengucapkan “Astaghfirullah” dan jika ditimpa musibah dia berkata “Inna lillahi wainna ilaihi roji’uun.” (HR. Ad-Dailami)

    Nabi berkata: Wahai Aba Musa, maukah aku tunjukkan ucapan dari perbendaharaan surga? Aku menjawab, “Ya.” Nabi berkata, “La haula wala Quwwata illa billah.” (Tiada daya upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).” (HR. Ibnu Hibban dan Ahmad)

    Di antara zikir yang utama adalah Laa ilaaha illallahu (Tidak ada Tuhan selain Allah) “Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: ‘Zikir yang paling utama adalah Laa ilaaha illallahu” [HR Turmudzi]

    “Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya aku berkata bahwa kalimat : “Subhanallah, wal hamdulillah, wa Laa Ilaaha Illallah, wallahu akbar” (Maha Suci Allah, dan segala puji bagi Allah, dan tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan Allah Maha Besar) itu lebih kusukai daripada apa yang dibawa oleh matahari terbit.” (HR Bukhari dan Muslim)

    ***

    Referensi: Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) – Dr. Muhammad Faiz Almath – Gema Insani Press Disadur dari: HaditsWeb 2.0 – Sofyan Efendi – Kumpulan dan Referensi Belajar Hadits

    Syiarislam.wordpress.com

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 18 June 2012 Permalink | Balas  

    Matematika Sedekah 

    Matematika Sedekah

    Pengantar

    Sedekah bisa mendatangkan ampunan Allah, menghapus dosa dan menutup kesalahan dan keburukan. Sedekah bisa mendatangkan ridha Allah, dan sedekah bisa mendatangkan kasih sayang dan bantuan Allah. Inilah sekian fadilah sedekah yang ditawarkan Allah bagi para pelakunya.

    Sebagaimana kita ketahui, hidup kita jadi susah, lantaran memang kita banyak betul dosanya. Dosa-dosa kita mengakibatkan kehidupan kita menjadi tertutup dari Kasih Sayangnya Allah. Kesalahan- kesalahan yang kita buat, baik terhadap Allah, maupun terhadap manusia, membuat kita terperangkap dalam lautan kesusahan yang sejatinya kita buat sendiri. Hidup kita pun banyak masalah. Lalu Allah datang menawarkan bantuan-Nya, menawarkan kasih sayang-Nya, menawarkan ridha-Nya terhadap ikhtiar kita, dan menawarkan ampunan-Nya. Tapi kepada siapa yang Allah bisa berikan ini semua? Kepada siapa yang mau bersedekah. Kepada yang mau membantu orang lain. Kepada yang mau peduli dan berbagi.

    Kita memang susah. Tapi pasti ada yang lebih susah. Kita memang sulit, tapi pasti ada yang lebih sulit. Kita memang sedih, tapi barangkali ada yang lebih sedih. Terhadap mereka inilah Allah minta kita memperhatikan jika ingin diperhatikan.

    Di pembahasan-pembahasan tentang sedekah, saya akan banyak mendorong diri saya dan saudara, untuk melakukan sedekah, dengan mengemukakan fadilah-fadilah/ keutamaannya. Insya Allah pembahasan akan sampai kepada Ihsan, Mahabbah, Ikhlas dan Ridha Allah. Apa yang tertulis, adalah untuk memotivasi supaya tumbuh keringanan dalam berbagi, kemauan dalam bersedekah. Sebab biar bagaimanapun, manusia adalah pedagang. Ia perlu dimotivasi untuk melakukan Akhirnya, mintalah doa kepada Allah, agar Allah terus menerus membukakan pintu ilmu, hikmah, taufiq dan hidayah-Nya hingga sampai kepada derajat ‘mukhlishiina lahuddien’, derajat orang-orang yang mengikhlaskan diri kepada Allah.

    Matematika Dasar Sedekah

    Apa yang kita lihat dari matematika di bawah ini?

    10 – 1 = 19

    Pertambahan ya? Bukan pengurangan? Kenapa matematikanya begitu? Matematika pengurangan darimana? Koq ketika dikurangi, hasilnya malah lebih besar? Kenapa bukan 10-1 = 9?

    Inilah kiranya matematika sedekah. Dimana ketika kita memberi dari apa yang kita punya, Allah justru akan mengembalikan lebih banyak lagi. Matematika sedekah di atas, matematika sederhana yang diambil dari QS. 6: 160, dimana Allah menjanjikan balasan 10x lipat bagi mereka yang mau berbuat baik.

    Jadi, ketika kita punya 10, lalu kita sedekahkan 1 di antara yang sepuluh itu, maka hasil akhirnya, bukan 9. Melainkan 19. Sebab yang satu yang kita keluarkan, dikembalikan Allah sepuluh kali lipat. Hasil akhir, atau jumlah akhir, bagi mereka yang mau bersedekah, tentu akan lebih banyak lagi, tergantung Kehendak Allah. Sebab Allah juga menjanjikan balasan berkali-kali lipat lebih dari sekedar sepuluh kali lipat.

    Dalam QS. 2: 261, Allah menjanjikan 700x lipat. Tinggallah kita yang kemudian membuka mata, bahwa pengembalian Allah itu bentuknya apa? Bukalah mata hati, dan kembangkan ke- husnudzdzanan, atau positif thinking ke Allah. Bahwa Allah pasti membalas dengan balasan yang pas buat kita.

    Memberi Lebih Banyak, Menuai Lebih Banyak

    Kita sudah belajar matematika dasar sedekah, dimana setiap kita bersedekah Allah menjanjikan minimal pengembalian sepuluh kali lipat (walaupun ada di ayat lain yg Allah menyatakan akan membayar 2x lipat). Atas dasar ini pula, kita coba bermain-main dengan matematika sedekah yang mengagumkan. Bahwa semakin banyak kita bersedekah, ternyata betul Allah akan semakin banyak juga memberikan gantinya, memberikan pengambalian dari-Nya.

    Coba lihat ilustrasi matematika berikut ini:

    Pada pembahasan diatas, kita belajar: 10 – 1 = 19. Maka, ketemulah ilustrasi matematika ini:

    • 10 – 2= 28
    • 10 – 3= 37
    • 10 – 4= 46
    • 10 – 5= 55
    • 10 – 6= 64
    • 10 – 7= 73
    • 10 – 8= 82
    • 10 – 9= 91
    • 10 – 10= 100

    Menarik bukan? Lihat hasil akhirnya? Semakin banyak dan semakin banyak. Sekali lagi, semakin banyak bersedekah, semakin banyak penggantian dari Allah. Mudah-mudahan Allah senantiasa memudahkan kita untuk bersedekah, meringankan langkah untuk bersedekah, dan membuat balasan Allah tidak terhalang sebab dosa dan kesalahan kita.

    2.5 % Tidaklah Cukup

    Saudaraku, barangkali sekarang ini zamannya minimalis. Sehingga ke sedekah juga hitung-hitungannya jadi minimalis. Angka yang biasa diangkat, 2,5%. Kita akan coba ilustrasikan, dengan perkalian sepuluh kali lipat, bahwa sedekah minimalis itu tidak punya pengaruh yang signifikan.

    Contoh berikut ini, adalah contoh seorang karyawan yang punya gaji 1jt. Dia punya pengeluaran rutin sebesar 2jt. Kemudian dia bersedekah 2,5% dari penghasilan yang 1jt itu. Maka kita dapat perhitungannya sebagai berikut:

    Sedekah: Sebesar 2,5%

    2,5% dari 1.000.000 = 25.000

    Maka, tercatat di atas kertas:

    1.000.000 – 25.000 = 975.000

    Tapi kita belajar, bahwa 975.000 bukan hasil akhir. Allah akan mengembalikan lagi yang 2,5% yang dia keluarkan sebanyak sepuluh kali lipat, atau sebesar 250.000. Sehingga dia bakal mendapatkan rizki min haitsu laa yahtasib (rizki tak terduga) sebesar: 975.000 + 250.000 = 1.225.000 Lihat, ‘hasil akhir’ dari perhitungan sedekah 2,5% dari 1jt, ‘hanya’ jadi Rp. 1.225.000,-. Masih jauh dari pengeluaran dia yang sebesar Rp. 2jt. Boleh dibilang secara bercanda, bahwa jika dia sedekahnya ‘hanya’ 2,5%, dia masih akan keringetan untuk mencari sisa 775.000 untuk menutupi kebutuhannya.

    Coba Sedekah 10 %.

    Saudara sudah belajar, bahwa sedekah 2,5% itu tidaklah cukup. Ketika diterapkan dalam kasus seorang karyawan yang memiliki gaji 1jt dan pengeluarannya 2jt, maka dia hanya mendapatkan pertambahan 250rb, yang merupakan perkalian sedekah 2,5% dari 1jt, dikalikan sepuluh. Sehingga ‘skor’ akhir, pendapatan dia hanya berubah menjadi Rp. 1.225.000. Masih cukup jauh dari kebutuhan dia yang 2jt.

    Sekarang kita coba terapkan ilustrasi berbeda. Ilustrasi sedekah 10%.

    Sedekah: Sebesar 10%

    10% dari 1.000.000 = 100.000

    Maka, tercatat di atas kertas:

    1.000.000 – 100.000 = 900.000

    Kita lihat, memang kurangnya semakin banyak, dibandingkan dengan kita bersedekah 2,5%. Tapi kita belajar, bahwa 900.000 itu bukanlah hasil akhir. Allah akan mengembalikan lagi yang 2,5% yang dia keluarkan sebanyak sepuluh kali lipat, atau dikembalikan sebesar 1.000.000. Sehingga dia bakal mendapatkan rizki min haitsu laa yahtasib (rizki tak terduga) sebesar: 900.000 + 1.000.000 = 1.900.000

    Dengan perhitungan ini, dia ‘berhasil’ mengubah penghasilannya, menjadi mendekati angka pengeluaran yang 2 juta nya. Dia cukup butuh 100 rb tambahan lagi, yang barangkali Allah yang akan menggenapkan 2 juta.

    Dan satu hal yang saya kagumi dari matematika Allah, bahwa Spiritual Values, ternyata selalu punya keterkaitan dengan Economic Values. Kita akan bahas pelan-pelan sisi ini, sampai kepada pemahaman yang mengagumkan tentang kebenaran janji Allah tentang perbuatan baik dan perbuatan buruk. Kita sedang membicarakan bahwa sedekah 2,5% itu tidaklah cukup. Mestinya sedekah kita, haruslah minimal 10%. Dengan bersedekah 10%, insya Allah kebutuhan- kebutuhan kita, yang memang kita hidup di dunia pasti punya kebutuhan, akan tercukupi.

    Dari ilustrasi diatas, saya memaparkan bahwa ketika seorang karyawan bersedekah 2,5% dari gajinya yang 1jt, maka ‘pertambahannya’ menjadi Rp. 1.225.000. Yakni didapat dari Rp.975.000, sebagai uang tercatat setelah dipotong sedekah, ditambah dengan pengembalian sepuluh kali lipat dari Allah dari 2,5% nya.

    Bila sedekah 2,5% ini yang dia tempuh, sedangkan dia punya pengeluaran 2jt, maka kekurangannya teramat jauh. Dia masih butuh Rp. 775.000,-. Maka kemudian saya mengajukan agar kita bersedekah jangan 2,5%, tapi lebihkan. Misalnya 10%.

    Saudaraku, ada pernyataan menarik dari guru-guru sedekah, bahwa katanya, sedekah kita yang 2,5% itu sebenarnya tetap akan mencukupi kebutuhan-kebutuhan kita, di dunia ini, maupun kebutuhan yang lebih hebat lagi di akhirat, kalau kita bagus dalam amaliyah lain selain sedekah. Misalnya, bagus dalam mengerjakan shalat. Shalat dilakukan selalu berjamaah. Shalat dilakukan dengan menambah sunnah-sunnahnya; qabliyah ba’diyah, hajat, dhuha, tahajjud. Bagus juga dalam hubungan dengan orang tua, dengan keluarga, dengan tetangga, dengan kawan sekerja, kawan usaha. Terus, kita punya maksiat sedikit, keburukan sedikit. Bila ini yang terjadi, maka insya Allah, cukuplah kita akan segala hajat kita. Allah akan menambah poin demi poin dari apa yang kita lakukan. Hanya sayangnya, kita-kita ini justru orang yang sedikit beramal, dan banyak maksiatnya. Jadilah kita orang-orang yang merugi. Skor akhir yang sebenarnya sudah bertambah, dengan sedekah 2,5% itu, malah harus melorot, harus tekor, sebab kita tidak menjaga diri. Perbuatan buruk kita, memakan perbuatan baik kita. Tambahi terus amaliyah kita, dan kurangi terus maksiat kita

    Kalikan Dari Target Supaya Beroleh Lebih.

    Saudaraku, ini menyambung tulisan diatas. Kasusnya, tetap sama: Seorang karyawan dengan gaji 1jt, yang punya pengeluaran 2jt. Bila karyawan tersebut mau hidup tidak pas-pasan, dan mau dicukupkan Allah, dia harus menjaga dirinya dari keburukan, dan terus memacu dirinya dengan berbuat kebaikan dan kebaikan. Kemudian, lakukan sedekah 10% bukan dari gajinya, melainkan dari pengeluarannya.

    Sedekah 10% dari 2jt (bukan dari gajinya yang 1jt), maka akan didapat angka sedekah sebesar Rp. 200rb. Gaji pokok sebesar 1jt, dikurang 200rb, menjadi tinggal 800rb. Lihat, angka tercatatnya tambah mengecil, menjadi tinggal 800.000. Tapi di sinilah misteri sedekah yang ajaib. Yang 200rb yang disedekahkan, akan dikembalikan sepuluh kali lipat oleh Allah, atau menjadi 2jt. sehingga skor akhirnya bukan 800rb, melainkan 2,8jt.

    Dengan perhitungan di atas, kebutuhannya yang 2jt, malah terlampaui. Dia lebih 800rb. Subhanallah. Apalagi kalau kemudian dia betul-betul mau memelihara diri dari maksiat dan dosa, dan mempertahankan perbuatan baik, maka lompatan besar akan terjadi dalam hidupnya. Sebuah perubahan besar, sungguh-sungguh akan terjadi. Baik kemuliaan hidup, kejayaan, kekayaan, hingga keberkahan dan ketenangan hidup. Sekali lagi, subhanallah.

    ***

    Artikel Ustadz Yusuf Mansur

     
    • R.Suryo Basuki 3:05 am on 30 Januari 2013 Permalink

      subhanallah…ya Allah jadikan hambamu ini ahli sedekah dan jauhkan dari maksiat….

  • erva kurniawan 1:29 am on 17 June 2012 Permalink | Balas  

    Siapakah diantara manusia yang merugi? 

    Bismillahirrahmaanirrahiim.

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

    Siapakah diantara manusia yang merugi?

    Allah Subhanahu wata’ala berfirman :” Yaitu, orang-orang yang melanggar perjanjian Allah, sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan untuk menghubunginya, dan membuat kerusakan dimuka bumi. Mereka itulah orang-orang yang merugi”(Q.S Al Baqarah 27).

    FirmanNya lagi :”Dan orang-orang yang merusak janji Allah, sesudah diikrarkan dengan teguh, dan memutuskan apa-apa yang diperintahkan untuk dihubungkan, dan mengadakan kerusakan dimuka bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk(jahannam).(Q.S Ar Ra’d 25)

    Diriwayatkan dari Imam Bukhari, dalam kitabnya Adabul Mufrad(1:36), dan Al baihaqi 6:220, dan dari sahabat Jubair bin Math’am, Ia berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan silaturrahm”.

    Dari Abi Bukrah, Rasulullah bersabda :” Tidak ada dosa, yang paling disegerakan hukumannya didunia, dan disimpan azabnya diakhirat , selain mereka yang memutuskan hubungan silaturrahm”.

    Dalam riwayat lain, “Langit dunia ini sangat luas, kecuali untuk mereka yang memutuskan hubungan silaturrahm”

    Dalam riwayat Al Baihaqi kitab su’bah iman juga, dari Abi Hurairah, Rasulullah bersabda :” Tiap hari khamis malam Jum’at segala amalan akan dipersembahkan kepada Allah Ta’ala, kecuali mereka yang memutuskan hubungan silaturrahm

    Dalam riwayat Bukhari, kitab adabul mufrad (1:36), dari Abdullah bin’aufa, Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak akan menurunkan rahmatnya kepada mereka yang memutuskan hubungan silaturrahm”.

    Dalam syarah (penjelasan) Imam Bukhari, Kitab fathul baari, Ibnu Hajar menjelaskan, diriwayatkan dari Siti ‘Aisyah, dari Rasulullah bersabda : “Barang siapa yang ingin dimudahkan rezekinya, hendaklah ia menghubungkan silaturrahm, baik dengan tetangga, dan baik akhlaqnya.”(H.R Atturmidzi dan hadis ini derajatnya Hadist Hasan).

    Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

    ***

    Dari Milis, oleh Sahabat: Rahima.

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 16 June 2012 Permalink | Balas  

    Renungan Kehidupan 

    Renungan Kehidupan

    Setelah sholat malam, ditengah keheningan malam coba diri ini merenung tentang :

    1. Kepala kita! Apakah ia sudah kita tundukkan, rukukkan dan sujudkan dengan segenap kepasrahan seorang hamba yang tiada daya di hadapan Allah Yang Maha Perkasa, atau ia tetap tengadah dengan segenap keangkuhan, kecongkakan dan kesombongan seorang manusia?
    2. Mata kita! Apakah ia sudah kita gunakan untuk menatap keindahan dan keagungan ciptaan-ciptaan Allah Yang Maha Kuasa, atau kita gunakan untuk melihat segala pemandangan dan kemaksiatan yang dilarang?
    3. Telinga Kita! Apakah ia sudah kita gunakan untuk mendengarkan suara adzan, bacaan Al Qur’an, seruan kebaikan, atau kita gunakan utk mendengarkan suara-suara yang sia-sia tiada bermakna?
    4. Hidung Kita! Apakah sudah kita gunakan untuk mencium sajadah yang terhampar di tempat sholat, mencium anak-anak tercinta serta mencium kepala anak-anak yatim piatu yang sangat kehilangan kedua orangtuanya dan sangat mendambakan cinta bunda dan ayahnya?
    5. Mulut kita! Apakah sudah kita gunakan untuk mengatakan kebenaran dan kebaikan, nasehat-nasehat bermanfaat serta kata-kata bermakna atau kita gunakan untuk mengatakan kata-kata tak berguna dan berbisa, mengeluarkan tahafaul lisan alias penyakit lisan seperti: bergibah, memfitnah, mengadu domba, berdusta bahkan menyakiti hati sesama?
    6. Tangan Kita! Apakah sudah kita gunakan utk bersedekah kepada dhuafa, membantu sesama yang kena musibah, membantu sesama yang butuh bantuan, mencipta karya yang berguna bagi ummat atau kita gunakan untuk mencuri, korupsi, menzalimi orang lain serta merampas hak-hak serta harta orang yang tak berdaya?
    7. Kaki Kita! Apakah sudah kita gunakan untuk melangkah ke tempat ibadah, ke tempat menuntut ilmu bermanfaat, ke tempat-tempat pengajian yang kian mendekatkan perasaan kepada Allah Yang Maha Penyayang atau kita gunakan untuk melangkah ke tempat maksiat dan kejahatan?
    8. Dada Kita! Apakah didalamnya tersimpan perasaan yang lapang, sabar, tawakal dan keikhlasan serta perasaan selalu bersyukur kepada Allah Yang Maha Bijaksana, atau di dalamnya tertanam ladang jiwa yang tumbuh subur daun-daun takabur, biji-biji bakhil, benih iri hati dan dengki serta pepohonan berbuah riya?
    9. Perut kita! Apakah didalamnya diisi oleh makanan halal dan makanan yang diperoleh dengan cara yang halal sehingga semua terasa nikmat dan barokah. Atau didalamnya diisi oleh makanan yang diperoleh dengan cara yang tidak halal, dengan segala ketamakan dan kerakusan kita?
    10. Diri kita! Apakah kita sering tafakur, tadabur, dan selalu bersyukur atas karunia yang kita terima dari Allah Yang Maha Perkasa?

    ***

    (Dari berbagai sumber, dengan sedikit ‘editing’ tanpa mengubah makna aslinya)

    Sumber : taushiyah-online.com

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 15 June 2012 Permalink | Balas  

    Oleh-Oleh dari Sidratul Muntaha Shalat Lima Waktu 

    Oleh-Oleh dari Sidratul Muntaha Shalat Lima Waktu

    Apakah oleh-oleh yang dibawa Rasulullah saw sepulang dari Isra’ Mi’raj? Pada umumnya ulama sepakat bahwa beliau membawa ‘oleh-oleh’ perintah shalat 5 waktu. Hal ini didasarkan kepada hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kumpulan hadits shahihnya, lewat Anas Ibn Malik.

    Disana diceritakan bahwa Rasulullah saw pada awalnya menerima perintah shalat 50 waktu, tetapi akhirnya diturunkan sampai 5 waktu, setelah Rasulullah disarankan oleh Nabi Musa untuk mohon keringanan. Maka, akhirnya jadilah perintah shalat itu hanya 5 waktu dalam sehari semalam.

    Akan tetapi, apakah yang dimaksudkan dengan perintah ‘shalat 5 waktu’ itu? Di kalangan umat Islam ada beberapa persepsi yang berkembang.

    1. Ada yang berpendapat bahwa saat Mi’raj itulah Rasulullah saw menerima perintah shalat untuk pertama kalinya. Atau dengan kata lain, sebelum itu beliau belum menjalani shalat.
    2. Mirip dengan yang pertama, ada yang berpendapat bahwa dengan Isra’ Mi’raj itu Allah bertujuan untuk memberikan perintah dan mengajarkan ‘tatacara shalat’. Jadi tatacara shalat yang kita lakukan sekarang ini adalah ‘oleh-oleh’ Nabi saat Mi’raj ke Sidratul Muntaha.
    3. Namun, agak berbeda dengan dua pendapat di atas, ada yang mengatakan bahwa perintah shalat dalam peristiwa Isra’ Mi’raj itu hanya terkait dengan jumlah waktunya saja, yaitu 5 waktu : Subuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya’. Sedangkan tatacara shalatnya sudah turun sebelumnya.
    4. Dan, lebih jauh lagi, ada yang mengemukakan pendapat bahwa peristiwa itu bukan untuk menerima perintah shalat, melainkan untuk menunjukkan tanda-tanda Kebesaran dan Kekuasaan Allah kepada Rasulullah saw, yang sedang terhimpit beban berat dalam masa perjuangan beliau. Namun demikian, proses Isra’ dan Mi’raj itu sendiri memberikan pelajaran kepada kita bagaimana seharusnya shalat yang khusyuk.

    Bagi saya, keempat persepsi itu agak rancu. Dan memberikan pengaruh pada kepahaman kita secara mendasar. Karena itu kita harus mendiskusikan secara lebih mendalam. Untuk memahami pendapat-pendapat itu, ada baiknya kita menengok kembali beberapa landasan yang dipakai untuk memahami peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut.

    Yang pertama adalah hadits yang meriwayatkan peristiwa Isra’Mi’raj. Hadits itu terdapat dalam kumpulan hadits shahih Imam Muslim, yang diceritakan oleh Anas Ibn Malik. Di hadits yang cukup panjang itu diceritakan seluruh kisah perjalanan Nabi Muhammad saw pada malam itu. Dan salah satu informasinya, Rasulullah saw menerima perintah shalat 5 waktu, setelah terjadi ‘tawar-menawar’ dari 50 waktu.

    Lepas dari ‘ketidak setujuan’ beberapa kalangan terhadap, proses ‘tawar menawar Eitu, menurut hadits tersebut, akhirnya Rasulullah saw menerima perintah shalat 5 waktu. Di sinilah muncul beberapa persepsi yang agak ‘rancu’.

    Misalnya, tentang pendapat ‘apakah benar Rasulullah saw menerima perintah shalat pertama kalinya pada waktu itu’. Kenapa muncul pertanyaan demikian? Karena ada beberapa informasi di dalam hadits maupun Qur’an yang mengatakan bahwa perintah shalat itu sebenarnya diberikan untuk pertama kalinya bukan kepada beliau. Bahkan pada saat perjalanan Isra’ Mi’raj itu pun Rasulullah saw sudah menjalankan shalat di beberapa tempat pemberhentian. Termasuk juga shalat di masjidil Aqsha sebelum berangkat Mi’raj.

    Maka, kita memang pantas untuk mempertanyakan, manakah informasi yang harus kita ambil sebagai kesimpulan : Rasullullah saw menerima perintah shalat pada saat Mi’raj di langit ke tujuh, ataukah sebelum itu beliau sudah menjalankan shalat.

    Apalagi dalam berbagai ayat Qur’an Allah berfirman bahwa perintah shalat itu memang sudah diberikan sejak zaman Nabi Ibrahim as. Sehingga seluruh keturunan, anak cucu Nabi Ibrahim, juga telah menjalankan shalat. Tentu saja, termasuk Nabi Muhammad saw. Coba cermati ayat-ayat berikut ini.

    Dalam beberapa ayat Qur’an disebutkan bahwa perintah shalat itu sebenarnya sudah diwahyukan sejak lama kepada para Nabi dan Rasul sebagai ibadah utama untuk berkomunikasi dengan Allah. Jadi bukan hanya pada saat Rasulullah saw saja shalat itu diperintahkan.

    QSAl Anbiyaa’ (21):72 – 73

    “Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim), Ishaq dan Ya’qub, sebagai suatu anugerah (dari Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang saleh.”

    “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah,”

    Ayat di atas secara tegas menginformasikan kepada kita bahwa Nabi Ibrahim, Ishaq dan Ya’kub telah menerima wahyu untuk mengerjakan shalat (wa iqaamash shalaati). Selain kepada beliau bertiga, Musa ternyata juga sudah memperoleh perintah shalat itu. Hal tersebut diceritakan Allah kepada Nabi Muhammad dalam ayat berikut ini.

    QS. Thahaa (20): 13 – 14

    “Dan Aku telah memilih kamu (Musa), maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).

    “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”

    Lebih jauh, Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah agar anak keturunan beliau dijadikan Allah sebagai orang-orang yang menjaga shalatnya, dan terus istiqamah untuk menegakkan. Termasuk di dalamnya adalah Nabi Isa as.

    QS. Ibrahim (14): 39 – 40

    “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) do’a.”

    “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku-orang orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do’aku.”

    QS. Maryam (19): 30 – 31

    “Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup”

    Dan yang lebih menarik, Allah memberikan gambaran bahwa cara shalat mereka juga dengan ruku’ dan sujud kepada Allah. Selain itu ditegaskan bahwa mereka tidak menyerikatkan Allah, mensucikan, dan mengagungkan, serta memuji muji KebesaranNya.

    QS. Al Hajj (22): 26

    “Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.“

    QS. Maryam (19): 58 – 59

    “Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi ni’mat oleh Allah, yaitu para Nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.”

    “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.

    Kalimat ‘menyia-nyiakan shalat’ di bagian terakhir ayat di atas, menunjukkan kepada kita bahwa beliau-beliau adalah hamba-hamba Allah yang sangat taat menegakkan shalat. Karena digambarkan, banyak orang sesudah mereka yang menyia-nyiakan shalat, dan bermalas-malasan dalam mengerjakannya. Maka, lantas turun Rasul baru (sampai Nabi Muhammad saw.) untuk memompa kembali semangat dan ketaatan umat dalam menegakkan shalat.

    QS. Al Hajj (22) : 78

    “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”

    Dan kalau kita cermati ayat di atas, kita bahkan memperoleh informasi bahwa sejak zaman Nabi Ibrahim kita memang sudah disebut sebagai orang Islam. Juga pada zaman Nabi Muhammad, yang menjadi saksi atas keislaman kita. Maka, kita memperoleh perintah untuk mendirikan shalat sebagaimana Nabi Ibrahim juga menjalankan shalat.

    Nah, berbagai ayat dan informasi di atas, saya kira memberikan penegasan kepada kita bahwa sebenarnya shalat itu sudah menjadi bagian wahyu-wahyu Allah sejak zaman Rasul-Rasul sebelumnya. Bukan hanya kepada Rasulullah Muhammad saw. Apalagi kalau kita baca hadits ‘shahih dan kuat’ berikut ini :

    “Aku didatangi Jibril a.s. pada awal-awal turunnya wahyu kepadaku. Dia mengajarkan kepadaku wudlu dan shalat”

    (HR Imam Hakim – vol. III : 217, Al Baihaqi vol. I : 162, dan Imam Ahmad vol. V : 203, sebagaimana dikutip dalam buku ‘Shalat bersama Nabi Saw’, Hasan Bin ‘Ali as Saqqaf, Yordania, terjemahan oleh Drs Tarmana Ahmad Qosim, Agustus 2003).

    Hadits Nabi ini menceritakan, sebenarnya turunnya perintah shalat itu terjadi di awal-awal masa kenabian. Berarti sejak awal masa kenabian beliau, Rasulullah saw memang sudah menjalani shalat. Bukan setelah peristiwa Isra’Mi’raj.

    Dan agaknya ini ada kaitannya dengan masa turunnya surat Al Fatihah. Dalam bukunya, ‘Al Fatihah, Membuka Mata Batin dengan Surat Pembuka’, Achmad Chodjim menuturkan bahwa Al Fatihah adalah surat yang diturunkan di awal-awal masa kenabian.

    Meskipun ada perbedaan pendapat tentang urutan ke berapa wahyu ini diturunkan, tetapi sebagian besar ulama sepakat bahwa surat Al Fatihah adalah surat yang diturunkan pertamakali secara lengkap 1 surat. Wahyu yang lainnya biasanya diturunkan secara terpotong-potong dalam satu atau beberapa ayat.

    Maka, kalau kita amati antara turunnya wahyu Al Fatihah dan datangnya Jibril mengajari shalat kepada Rasulullah saw terdapat pada kurun waktu yang hampir bersamaan. Atau bahkan mungkin saling berkaitan. Hal ini, karena surat Al Fatihah merupakan surat yang wajib dibaca dalam shalat. Rasulullah saw mengatakan, tidak sah shalat seseorang jika tidak membaca al Fatihah.

    Dengan adanya berbagai informasi di atas, maka agaknya kita perlu menata kembali kefahaman tentang turunnya perintah shalat pada saat beliau Mi’raj. Khususnya, persepsi yang berkembang di beberapa kalangan Islam selama ini, bahwa shalat untuk pertama kalinya diperintahkan kepada umat Islam pada saat Rasulullah saw Mi’raj.

    Persepsi yang kedua, adalah yang berkait dengan ‘tata cara’ shalat. Diskusi kita di atas saya kira telah memberikan gambaran yang berbeda tentang turunnya perintah ‘tatacara’ shalat Rasulullah saw.

    Secara umum, kita telah dapat menangkap informasi, dari berbagai ayat di atas, bahwa gerakan-gerakan shalat para Nabi sebelum Rasulullah saw pun sama, yaitu ruku’ dan sujud. Gerakan ruku’ adalah gerakan membungkuk dari posisi berdiri, dan kemudian dilanjutkan dengan bersujud yaitu menyentuhkan dahi kita ke permukaan Bumi.

    Memang tidak ada penjelasan yang khusus tentang cara shalatnya umat sebelum Nabi Muhammad. Tetapi secara umum kita melihatnya memiliki dasar-dasar yang sama. Sehingga pada umat nasrani tertentu, di Timur Tengah, pun kita melihat mereka memiliki gerakan yang mirip dengan gerakan shalat umat Islam. Yaitu ada ruku’ dan sujudnya.

    Dan, shalat yang diajarkan oleh Rasulullah saw kepada kita itu berasal dari apa yang diajarkan oleh Jibril kepada beliau. termasuk cara berwudlunya. Praktek shalat telah beliau jalankan, jauh sebelum peristiwa Isra’dan Mi’raj.

    Yang menarik, tatacara shalat yang kita lakukan sebagai umat beliau ini adalah hasil penglihatan para sahabat terhadap shalat Rasulullah saw. Dan kemudian diteruskan pada generasi-generasi selanjutnya. Rasulullah saw tidak pernah mengajarkan secara khusus, beliau cuma mengucapkan “shalatlah sebagaimana kamu melihat aku shalat E

    Maka pada jaman itu, para sahabat selalu mencermati melihat, mendengarkan, dan menirukan bagaimana shalatnya Rasulullah saw. Termasuk saling menceritakan tentang tatacara shalat beliau.

    Namun demikian, Rasulullah saw juga mengkoreksi praktek shalat yang dilakukan oleh sahabat. Di antaranya, yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim (diceritakan secara rinci dalam buku ‘Shalat Bersama Nabi Saw’, sebagaimana saya sebutkan di atas).

    Digambarkan ada seorang laki-laki masuk masjid, sementara Rasulullah saw berada di bagian lain masjid itu. Rasul melihat laki-laki itu melakukan shalat 2 rakaat. Selesai shalat, laki-laki itu mendekati Nabi dan mengucapkan salam. Rasulullah saw menjawabnya.

    Namun, beliau memerintahkan kepada laki-laki itu untuk mengulangi shalatnya: “Kembalilah, ulangi shalatmu, karena sesungguhnya kamu belum shalat”. Maka lelaki itu pun mengulangi shalatnya 2 rakaat. Setelah itu dia mendekat lagi kepada Nabi sambil mengucapkan salam.

    Rasul menjawab salamnya, tapi kemudian mengucapkan perintah yang sama : “Kembalilah, ulangi shalatmu, karena kamu sesungguhnya belum shalat.” Maka, lelaki itu pun kembali melakukan shalat, dan setelah itu kembali kepada Rasulullah saw. Tapi lagi-lagi Rasul menyuruhnya untuk mengulangi shalatnya. Hal itu terjadi sampai tiga kali. Akhirnya, si lelaki ‘menyerah’ kepada Rasul.”

    Demi Tuhan yang mengutusmu dengan hak, aku tidak dapat melakukan shalat yang lebih baik dari pada ini (maka perlihatkanlah kepadaku) dan ajari aku karena sesungguhnya aku manusia biasa, kadang aku benar dan kadang aku salah. “Maka Rasulullah saw pun mengajari laki-laki tesebut, bagaimana cara shalat yang seharusnya.

    Kisah ini, selain menggambarkan kepada kita bahwa Rasulullah saw tidak memberikan pelatihan shalat secara khusus kepada setiap sahabat, tetapi beliau tetap mengkoreksi orang-orang yang tidak melakukan shalatnya secara baik. Bahkan, ada kesan, orang-orang yang tidak menguasai ilmu shalat dengan baik, kualitas shalatnya juga dianggap tidak baik. Sehingga, secara tegas Rasulullah saw mengatakan bahwa dia sebenarnya belum shalat, karena itu perlu mengulanginya.

    Kembali kepada tatacara shalat sebelum Rasulullah saw. Memang penulis belum menemukan penjelasan detil tentang perbedaan tatacara shalat Rasulullah saw dengan Rasul sebelumnya. Akan tetapi, secara umum, shalat mereka. memiliki makna yang sama. Apalagi dengan adanya gerakan ruku’ dan sujud.

    Sebagaimana saya uraikan di depan, shalat memiliki makna untuk berserah diri kepada Allah, mengagungkanNya, mensucikanNya, dan memuji KebesaranNya. Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara shalat para Nabi itu. Akan tetapi, dalam bacaan yang diucapkan tentu memiliki perbedaan. Terutama pada Surat Al Fatihah dan syahadat serta shalawat yang dibaca pada saat Tasyahud. Hal ini disebabkan Al Fatihah memang baru turun pada zaman Rasulullah saw, dan syahadat serta. shalawat Nabi terkait langsung dengan beliau. Namun begitu, pada saat tasyahud akhir, kita yang umat Muhammad ini membaca shalawat untuk beliau dengan cara mendoakannya sebagaimana shalawat dan barokah yang dilimpahkan Allah kepada Nabi Ibrahim (dikenal sebagai shalawat lbrahimiyyah).

    Hal ini, memberikan penegasan kepada kita bahwa memang ada keterkaitan yang sangat erat antara shalat Muhammad saw dengan shalat Ibrahim a.s. Intinya sama, tapi dengan redaksi yang berbeda.

    Dalam buku ‘Shalat Bersama Nabi Saw’ dikatakan bahwa bacaan tasyahud diajarkan secara jelas oleh Rasulullah saw dengan redaksi tertentu. Sedangkan, setelah itu kita diwajibkan membaca shalawat Nabi, dengan redaksi yang lebih longgar. Dan sesudah bacaan shalawat itu kita. disunnahkan untuk berdo’a, menjelang salam.

    Bacaan tasyahud akhir.

    Attahiyatul mubaarakatush shalawaatuth thayyibaatulillah

    Assalaamu ‘alaika ayyuhannabiyyu warahmatullaahi

    wabarakaatuh assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadilahish

    shaalihin Asyhadu anlaa i1aaha ifiallaah wa asyhadu anna

    Muhammadarrasulullaah

    “Salam sejahtera penuh berkah, dan shalawat (rahmat) yang baik (semuanya) hanya milik Allah. Semoga salam sejahtera ditetapkan kepada engkau wahai Nabi, dan rahmat serta berkah (dari) Allah SWT Dan semoga pula salam sejahtera dilimpahkan kepada kami dan kepada semua hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. E

    Bacaan Shalawat:

    Allaahumma shalli’alaa Muhammad wa’ala ‘ali Muhammad kamaa shallaita ‘alaa lbraahim wa’alaa ‘ali Ibrahim wa baarik’alaa Muhammad wa’alaa ‘ali Muhammad kamaa baarakta ‘alaa lbraahim wa ‘alaa ‘ali lbraahim fil ‘alaamfina innaka hamfidum majiid.

    “Ya Allah berikanlah shalawat (rahmat) kepada Nabi Muhamad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana telah Engkau berikan shalawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Dan berikanlah berkah kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana telah Engkau berikan berkah kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau di seluruh alam, Maha Terpuji dan Maha Mulia.

    Maka dalam hal ‘tatacara’ shalat terkait dengan Isra’ Mi’raj, kita memperoleh ‘tanda-tanda’ atau ‘jejak’ bahwa tidak seluruh tatacara shalat Rasulullah saw yang kita jalankan sekarang ini diturunkan pada zaman Rasulullah saw. Sebagian besar dan pokok ternyata telah diajarkan sejak zaman Nabi Ibrahim. Dan kemudian diturunkan kepada Nabi Muhammad lewat perantaraan malaikat Jibril.

    Perintah untuk mengikuti Nabi Ibrahim itu banyak kita temui di dalam Al Qur’an, di antaranya adalah ayat-ayat di bawah ini.

    QS. An Nahl (16): 123

    “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif. Dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”

    QS. An Nisaa’ (4): 125

    “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.”

    QS. Ali Imran (3): 95

    Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.

    QS. Yusuf (12): 38

    “Dan aku mengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya’qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia itu tidak mensyukuri (Nya).”

    Yang ketiga, persepsi mengenai shalat 5 waktu. Persepsi tentang turunnya perintah shalat 5 waktu pada saat Mi’raj Rasulullah saw lebih menemukan pijakannya, dibandingkan dengan perintah tentang ‘tata cara’ dan ‘perintah shalat pertama kali’ yang telah kita diskusikan di atas.

    Perintah shalat 5 waktu itu, telah kita ketahui diceritakan dalam hadits tentang Isra’ Mi’raj yang, kita bahas di atas. Selain itu, perintah tentang waktu-waktu shalat juga difirmankan Allah dalam ayat berikut ini.

    QS Al Israa’ (17): 78

    “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).”

    Dalam tafsir Al Misbah, vol 7 : 525, Quraish Shihab menjelaskan bahwa ayat tersebut memberikan perintah shalat 5 waktu secara langsung. Yang dimaksud dengan sesudah matahari tergelincir (li duluk asy syams) adalah shalat Dhuhur, Ashar dan Maghrib. Sedangkan yang dimaksud sampai gelap malam (ilaa ghasaq al lail) adalah shalat lsya’. Dan shalat subuh diistilahkan sebagai Qur-aan al fajr.

    Menurut Quraish Shihab, penempatan perintah shalat 5 waktu dalam surat al Israa’ ini sangatlah tepat, karena berkait langsung dengan cerita Isra’ Mi’raj yang membawa ‘oleh-oleh’ perintah shalat 5 waktu. Meskipun kita tidak menemukan penjelasan yang eksplisit dalam firman Allah bahwa perintah shalat 5 waktu itu diterima oleh Rasulullah saw pada saat Mi’raj di langit ke tujuh.

    Quraish Shihab menjelaskan bahwa turunnya surat al Israa’ ini memang terjadi sebelum peristiwa Hijrah. Artinya, turun di Mekkah di sekitar peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut.

    Jadi dalam persepsi ini dikatakan, bahwa sebenarnya dalam peristiwa Isra’ Mi’raj ini Rasulullah saw memang tidak menerima perintah menjalankan shalat. Atau juga tidak diajari tata cara shalat. Rasulullah cuma menerima perintah, yaitu umat Muhammad mesti menjalankan shalat 5 waktu dalam sehari semalam. Akan tetapi mengenai tatacaranya sudah diterima oleh Rasulullah saw di awal-awal masa kenabian beliau dari malaikat Jibril. Bahkan beliau sudah menjalankannya.

    Persepsi yang ke empat, adalah pendapat yang mengatakan bahwa perjalanan Isra’Mi’raj itu bukan bertujuan menerima perintah shalat. Melainkan sebuah perjalanan yang dimaksudkan Allah untuk ‘memompa’ semangat Rasulullah saw dalam memperjuangkan penyampaian risalah Islam. Karena pada waktu itu Rasulullah saw memang sedang mengalami keprihatinan yang sangat mendalam, akibat Lantas Allah menunjukkan tanda-tanda KebesaranNya di alam semesta kepada Rasulullah saw, dengan maksud membesarkan hati beliau. Sekaligus memberikan keyakinan yang lebih besar tentang kekuasaanNya. Sedangkan perintah shalat 5 waktu, menurut persepsi ini, diterima beliau lewat wahyu seperti biasanya. Termasuk perintah shalat yang terdapat pada QS. Al lsraa’ (17) : 78 tersebut.

    Pendapat ini didasarkan pada Firman Allah SWT dalam QS. Al Israa’ (17): 1, yang bercerita tentang perjalanan Isra’, maupun QS. An Najm (53): 14-18 yang dijadikan dasar pijakan cerita Mi’raj. Kedua-duanya tidak menyinggung perintah shalat, melainkan bertujuan ‘mempertontonkan’ kebesaran Allah di alam semesta. Mulai dari langit pertama sampai ke tujuh, di Sidratul Muntaha.

    Apalagi kalau kita ingat bahwa ternyata masjid al-Haram dan masjd al Aqsha tersebut adalah dua masjid yang dibangun oleh Nabi Ibrahim, dalam masa perjuangan beliau menyebarkan agama Islam. Maka, dalam konteks ini, Rasulullah saw diutus untuk napak tilas rute perjuangan Nabi Ibrahim itu bersama Jibril. Dimulai dari Mekkah ke Palestina kemudian balik lagi ke Mekkah.

    Ini juga ada kaitannya dengan informasi Al Qur’an bahwa rumah ibadah yang tertua memang ada di Mekkah. Sedangkan yang di Palestina (al Aqsha) dibangun oleh Ibrahim sesudah yang di Mekkah. Dalam hadits Bukhari Muslim, yang diriwayatkan oleh Abu Dzar, Rasulullah mengatakan bahwa al Aqsha dibangun sekitar 40 tahun sesudah yang di Mekkah

    (Tafsir al Misbah, vol. 7, Quraish Shihab, h1m. 404)

    QS. Ali lmran (3): 96

    “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.”

    Dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Barra’ra, katanya : setelah Rasulullah saw, sampai di Madinah, beliau sembahyang menghadap ke arah Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan. Beliau ingin supaya diperintahkan menghadap ke Ka’bah. Maka diturunkan oleh Allah ayat “Sesungguhnya telah Kami lihat tengadah mukamu ke langit (berdoa). Sebab itu Kami palingkan mukamu menghadap kiblat yang engkau sukai. (QS. 2: 144). Beliau diperintahkan menghadap ke arah Kabah. Ada seorang laki-laki sembahyang Ashar bersama dengan Nabi saw, kemudian itu dia pergi dan bertemu dengan satu kumpulan kaum Anshar. Lalu dia mengatakan, bahwa dia hadir sembahyang bersama Nabi saw. Dan beliau telah diperintahkan menghadap ke arah Kabah. Lalu orang yang sedang sembahyang itu berputar ketika sedang ruku’ dalam sembahyang Ashar.

    Hadits ini bercerita tentang arah kiblat Rasulullah saw sesudah terjadinya Isra’ Mi’raj. Beliau menghadap ke Baitul Maqdis selama 16 atau 17 bulan. Akan tetapi, hal itu memunculkan ‘rasan-rasan’ yang kurang mengenakkan hati dari orang-orang Yahudi, bahwa shalatnya umat Islam menghadap ke arah tanah kelahiran mereka. Maka, Rasulullah saw pun berdo’a kepada Allah sambil berharap turunnya perintah tentang arah kiblat. Dan memang lantas turun QS. Al Badarah (2) : 144, sebagaimana diceritakan oleh hadits di atas.

    Dengan adanya cerita-cerita di atas, maka kita melihat adanya keterkaitan antara sejarah kedua masjid tersebut, dengan perjuangan penyampaian agama Islam oleh Nabi-Nabi sebelumnya, serta dengan tatacara shalat pada zaman Nabi Muhammad, termasuk penentuan kiblatnya.

    Dalam tafsir al Misbah, vol 7, Quraish Shihab, halaman 405 diceritakan bahwa perjalanan Isra’ Mi’raj itu menjadi semacam Isyarat tentang ajaran tauhid yang dibawa para Nabi sejak zaman Ibrahim as sampai Nabi Muhammad saw. Agama Islam dikembangkan dimulai dari Masjid al Haram, kemudian berkembang ke Palestina, berpusat di Baitul Maqdis, dan kemudian berakhir di Masjid al Haram lagi.

    Maka, persepsi yang keempat ini lantas memperoleh pijakan yang kuat, berdasarkan firman-firman Allah di dalam al Qur’an. Untuk itu, di bawah ini saya kutipkan lagi kedua surat yang terkait dengan perjalanan tersebut.

    QS. Israa’ (17): 1 -Kisah Israa’

    “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba Nya pada suatu malam dari Masjid al Haram ke Masjid al Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (Kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

    QS. An Najm (53): 14 – 18 -Kisah Mi’raj

    “Di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada Surga tempat tinggal. Ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu, dan tidak pula melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda Kekuasaan Tuhannya yang paling besar”

    Kalau kita mencoba mencermati kembali QS. lsraa'(17): 1, maka kita tidak memperoleh sedikit pun tentang perintah shalat. Padahal itulah satu-satunya ayat yang menceritakan perjalanan Rasulullah saw dari Mekkah ke Palestina. Bahkan, dengan sangat gamblang Allah menginformasikan di ayat itu, “agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (Kebesaran) Kami.” (linuriyahu min aayaatinaa). Jadi menurut ayat tersebut, tujuan Allah memperjalankan Rasulullah saw dari Mekkah ke Palestina adalah untuk menunjukkan tanda-tanda Kebesaran Allah di alam semesta.

    Demikian pula, kalau kita lihat ayat-ayat di surat An Najm: 14-18, yang menggambarkan kejadian Mi’raj. Ayat-ayat inilah yang dijadikan pijakan oleh para ulama untuk memahami peristiwa Mi’raj Rasulullah saw. Dan sekali lagi ayat-ayat tersebut tidak menceritakan tentang perintah shalat. Melainkan, untuk menunjukkan betapa hebatnya ciptaan Allah yang telah dipertontonkanNya kepada Rasulullah di langit yang ke tujuh.

    “Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda Kekuasaan Tuhannya yang paling besar” (laqad ra-aa min aayaati rabbihil qubraa).

    Tentang kejadian Isra’ Mi’raj ini, ada ulama yang berpendapat bahwa keduanya terjadi dalam satu paket perjalanan, sebagaimana digambarkan oleh hadits Shahih Muslim, dari Anas Ibn Malik. Namun ada juga yang berpendapat bahwa antara Isra’ dan Mi’raj sebenarnya terjadi dalam waktu yang berbeda. Alasan pendapat yang kedua ini didasarkan pada ayat-ayat yang digunakan Allah untuk menceritakan Isra’ Mi’raj itu adalah ayat yang berbeda. dan turun dalam masa yang berbeda pula.

    Namun demikian, dalam konteks pembahasan turunnya shalat, kedua-duanya tidak menceritakan tentang perintah shalat. Melainkan bertujuan untuk menunjukkan Kekuasaan dan Kebesaran Allah di alam semesta. Sedangkan perintan shalat diberikan Allah lewat wahyu-wahyu seperti biasanya. Dan tata cara shalatnya diajarkan oleh Jibril di awal-awal masa kenabian beliau.

    Berikut ini adalah sebagian dari puluhan perintah shalat yang diwahyukan Allah kepada Rasulullah saw.

    QS. Al Baqarah (2): 43

    “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku.”

    QS. Al Baqarah (2): 45

    “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu”

    QS. Al Baqarah (2): 110

    Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.

    QS. Al Baqarah (2): 153

    Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

    QS. Al Baqarah (2): 238

    Peliharalah segala shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.

    QS. An Nisaa’ (4): 43

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, hingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.”

    QS. An Nisaa’ (4): 103

    “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

    QS. Al Maa-idah (5): 6

    “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, danjika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih);sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni’mat Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.”

    QS. Ibrahim (14): 31

    “Katakanlah kepada hamba-hamba Ku yang telah beriman. Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rizki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang terangan sebelum datang harrii (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan”

    QS. Al Hijr (15): 98

    maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat).

    QS. Al Israa’ (17): 78

    Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).

    QS. Thaahaa (20):14

    Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.

    QS. Thaahaa (20): 132

    Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.

    QSAl ‘Ankabuut (29): 45

    Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

    Lebih jelas lagi soal datangnya perintah shalat itu, kalau kita membaca ayat-ayat di dalam surat Al Muzammil (73) : 1 – 9. Ayat-ayat ini adalah wahyu di awal-awal masa kenabian. Bahkan ini adalah wahyu kedua setelah turunnya surat Al ‘Alaq. Ya, di wahyu kedua itu Allah sudah memerintahkan kepada Nabi untuk melakukan shalat.

    QS. Al Muzammil (73):1 – 9

    “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada Nya dengan penuh ketekunan. (Dia lah) Tuhan masyriq dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.”

    Di ayat-ayat tersebut Allah telah memerintahkan Nabi untuk melakukan shalat malam, secara khusyu’, sebagai persiapan untuk menerima wahyu-wahyu berikutnya yang sangat berat. Ini menunjukkan kepada kita bahwa perintah shalat itu memang sudah turun sejak awal masa kenabian beliau. Dan ini sesuai dengan hadits Nabi yang mengatakan bahwa Jibril datang kepada beliau untuk mengajarkan tatacara wudlu dan tatacara shalat di awal-awal masa kenabian.

    Dan masih banyak lagi ayat-ayat di dalam al Qur’an yang memerintahkan untuk menjalankan ibadah shalat. Jumlah ayat tentang shalat tersebut ada puluhan. Mulai dari yang mengandung perintah mengerjakan, waktu pelaksanaannya, cara mencapai kekhusyukan, sampai perintah agar kita paham apa yang kita baca di dalam shalat. Semuanya telah difirmankan Allah dengan jelas.

    Yang belum jelas di dalam al Qur’an adalah tentang tatacara shalat itu sendiri. Nah, untuk itu Rasulullah saw mengatakan kepada umatnya agar melihat dan menirukan tatacara shalat yang beliau lakukan sepanjang hidupnya. Dan, tatacara shalat itu langsung kita praktekkan secara turun temurun sejak dulu sampai sekarang. Itulahtatacara shalat yang diajarkan oleh malaikat Jibril kepada beliau.

    Kembali kepada pembahasan kita tentang persepsi ke empat. Dengan demikian mereka berpendapat, bahwa perintah shalat itu sebenarnya disampaikan Allah kepada Rasulullah saw lewat firman dalam berbagai ayatNya. Termasuk yang berkait dengan waktu-waktu pelaksanaannya, mulai Subuh sampai Isya’.

    Jadi shalat 5 waktu itu pun diperintahkan Allah lewat wahyu sebagaimana wahyu yang lain. Bukan lewat Isra’ dan Mi’raj. Kenapa demikian? Karena ternyata perintah shalat 5 waktu itu bisa kita temukan dalam al Qur’an, diantaranya adalah QS. An Nisaa’: 103 dan QS. Israa: 78.

    Perjalanan Isra’ Mi’raj, lantas dimaknai sebagai perjalanan yang memberikan penegasan terhadap Kebesaran Allah di alam semesta, kepada Rasulullah saw. Karena itu, selama dalam perjalanan tersebut diperlihatkan seluruh petilasan agama-agama tauhid yang diperjuangkan oleh para Rasul sebelum beliau. Sehingga dikabarkan juga, beliau berhenti di beberapa tempat petilasan para Rasul terdahulu. Dan disana beliau melakukan shalat 2 rakaat. Hal ini untuk, memberikan motivasi yang besar kepada Rasulullah saw bahwa para Nabi terdahulu juga mengalami perjuangan yang berat. Ltulah ‘pesan’ yang ada pada perjalanan Isra’ dari Mekkah, ke Palestina.

    Sedangkan perjalanan Mi’raj ke langit ke tujuh adalah perjalanan spiritual melintasi berbagai dimensi yang menghasilkan pelajaran kekhusyukan dalam shalat. Hal ini, telah saya uraikan di bagian terdahulu tentang Mi’raj Rasulullah saw menembus berbagai batas langit. Dimana kekhusyukan beliau itu telah memberikan penglihatan-penglihatan yang menakjubkan di setiap perpindahan dimensi.

     
    • hevnypmu 8:52 am on 11 Maret 2013 Permalink

      bagus

    • honeysmile17 4:38 pm on 4 Mei 2013 Permalink

      Benar sekali sholat, sudah dilakukan sejak dulu oleh para nabi … kalau ada perintah sholat pada jaman nabi muhammad ketika isro’ mi’roj dan Allah memerintahkan kepada nabi muhammad sebagai wahyu sholat 5-waktu sebagai suatu perintah terakhir yang disetujui nabi muhammad yang sebelumnya terjadi tawar menawar dengan Allah … dari jumlah 50-waktu akhirnya menjadi 5-waktu… Allah kalau berfrman memerintahkan hanya sekali dan harus dilaksanakan … bisa dilihat firman-2-Nya dalam al-quran .. sedangkan perintah sholat terjadi tawar menawar dengan manusia sebagai nabi …menurut saya tidak masuk akal … mana ada Allah tawar menawar dengan manusia kaya jual beli aja, sepertinya inforrmasi wahyu sholat 5-waktu itu terjadi karena tawar menawar adalah cerita yang sangat lucu adanya menurut saya …

    • nothing 6:03 pm on 18 Juni 2013 Permalink

      Bagaimana klo orang yg kena santet apa harus sholat dalam keadaan kesakitan kena santet. Apa wajib diadakan sumpah pocong untuk membantu mencari dan mendamaikan korban dengan pelaku dukun si penyantet.

    • honeysmile17 3:13 pm on 19 Juni 2013 Permalink

      Bila ada perselisihan diantara manusia/mukmin… maka kembalilah berhukum kepada Petunjuknya yaitu Al-Quran ….jangan berhukum kepada yang lain.. lihat Firman-Nya 6/106, 7/3, 43/43 …please buka petunjukmu.. semoga kamu menjadi faham..

  • erva kurniawan 1:06 am on 14 June 2012 Permalink | Balas  

    Godaan Menjelang Hari Pernikahan 

    Godaan Menjelang Hari Pernikahan   

    Sejak era 80-an pesta pernikahan seringkali dilakukan di “gedung” daripada di rumah. Semakin lama untuk memperoleh gedung yang dapat digunakan untuk acara pernikahan menjadi semakin jauh dari waktu acara akan dilakukan. Untuk mendapatkan tempat memakan waktu enam bulan, bahkan sampai satu tahun. Hal tersebut, tentu saja membawa pengaruh dalam persiapan mental seseorang yang akan menikah. Jika dahulu sepasang anak manusia yang mau menikah, dapat langsung menikah beberapa saat kemudian Karena tidak perlu memesan gedung berikut aksesori yang terkait dengan pesta pernikahan tersebut. Dengan demikian, seringkali niat suci sepasang manusia yang akan menikah menjadi tertunda untuk dapat melaksanakannya, bahkan terkadang niat suci tersebut terselenggara dalam keadaan tidak suci lagi.

    Dalam beberapa kondisi yang penulis temukan, beberapa pasang calon mempelai terjebak melakukan hal-hal yang seharusnya mereka jaga kesuciannya sebelum akad nikah dilaksanakan akibat panjangnya waktu antara niat suci tersebut diikrarkan dengan waktu pelaksanaan ibadah suci tersebut. Kondisi yang serba permisif saat ini turut pula menambah kesempatan untuk melakukan hal-hal yang belum waktunya dilakukan.

    Pernah sebuah kejadian yang penulis temukan, yakni seorang anak muda yang “taat” beribadah melakukan hal yang belum dibenarkan untuk dilakukan dengan calon isterinya beberapa hari sebelum akad dilaksanakan karena kondisi yang membuat mereka tidak menyadari apa yang mereka lakukan. Sebagaimana banyak ditemukan, semakin dekat dengan akan dilaksanakannya acara pernikahan, maka semakin banyak pula tekanan yang diterima. Sang anak muda dan calon isterinya berkeluh kesah dan saling “curhat” terhadap tekanan-tekanan yang mereka terima baik menyangkut segala “tetek-bengek” acara yang tak kunjung “beres” dan permintaan-permintan dari keluarga dan berbagai pihak yang cukup “memusingkan”. Untuk saling menenangkan hati, maka mereka saling ‘curhat” berduaan, mulai dari kata-kata hingga gerakan dan akhirnya tanpa disadari mereka telah jauh melangkah melakukan hal yang telah mereka jaga selama ini.

    Sang anak muda dengan penuh penyesalan menyampaikan “keteledorannya” kepada penulis. Dia menyesal tidak dapat menjaga kesucian niat suci mereka untuk menempuh kehidupan suci berumahtangga hanya beberapa hari sebelum acara suci tersebut dilakukan. Penulis hanya dapat menyampaikan, bahwa sesuatu yang telah terjadi tidak ada gunanya disesali terus menerus. Hanya minta ampun kepada Allah yang dapat menjadi jalan keluarnya.

    Kejadian sepasang anak manusia yang telah berniat suci untuk mengarungi bahtera rumah tangga sakinah mawaddah waramah yang ternoda sebelum niat suci tersebut terlaksana, bukan hanya dialami oleh anak muda di atas. Beberapa kasus yang hampir serupa penulis temui pula pada beberapa pasang anak muda lainnya. Ada yang beberapa hari menjelang pernikahan seperti di atas, ada yang sebulan sebelum akad nikah dilangsungkan, ada yang dua bulan atau tiga bulan sebelum acara suci tersebut dilaksanakan. Mereka berbeda dengan pasangan-pasangan yang menikah karena “kecelakaan” dan berbeda sama sekali dengan orang-orang yang hidup bebas tanpa ikatan pernikahan.

    Mereka telah merencanakan suatu kehidupan suci untuk membentuk keluarga sakinah mawadah waramah. Namun di tengah jalan, sebelum kehidupan suci tersebut mereka lalui, mereka “tanpa sadar” telah menodai kesucian niat suci yang mereka ikrarkan. Kondisi ini mungkin lebih berat daripada kondisi orang-orang yang sebelum ketemu pasangan dalam rumah tangga mereka telah terjerumus melakukan pergaulan bebas dengan orang lain, dan kemudian mereka insyaf lalu menikah dengan orang lain. Suatu perbuatan masa lalu yang tidak sesuai dengan yang seharusnya, seringkali menghantui alam bawah sadar seseorang. Seorang yang melakukan perbuatan “terlarang” dengan orang lain mungkin tidak akan seberat orang yang pernah melakukan perbuatan “terlarang” dengan pasangan “syah” nya sendiri. Orang yang taubat dan telah melakukan perbuatan “terlarang” dengan bukan pasangan “syah”nya akan berkurang rasa penyesalannya karena tidak menemui orang yang pernah melakukan dosa bersamanya, sedangkan orang yang melakukan dengan orang yang saat ini telah menjadi pasangan “syah”nya setiap dia ingat dosanya dia akan menemui orang yang pernah bersama melakukan dosa dengannya.

    Oleh karena itu, saya sering menghimbau kepada pasangan-pasangan muda yang telah merencanakan pernikahan mereka, tetapi dilakukan dengan jarak waktu yang cukup panjang karena berbagai macam “persiapan” yang harus dilakukan sebelum pernikahan itu sendiri dilakukan, untuk menjaga diri mereka untuk tidak terlalu sering berdua-duaan karena syetan tidak pernah relah melihat anak manusia hidup dengan kesucian. Banyak dari mereka yang merasa yakin bahwa mereka cukup kuat dengan iman yang dimiliki. Namun pada akhirnya, anak-anak manusia yang yakin dengan keimanan mereka tadi, tidak sedikit yang terjerembab menodai ikrar suci yang akan mereka laksanakan. Oleh karena itu, Al Qur’an secara tegas menyatakan bahwa jangan kau dekati zinah. Jadi bukan hanya zinah yang dilarang. Berdua-duaan di tempat yang tak terawasi merupakan pintu untuk mendekati zinah bahkan zinah itu sendiri.

    Ketaatan beribadah seseorang tidak menjadi jaminan, bahwa syetan tidak akan menggoda mereka. Semakin kuat iman seseorang akan semakin kuat syetan yang diutus untuk menggoda anak manusia yang sedang berdua-duaan sebelum ikrar suci mereka terlaksana. Akhirnya penyesalan datang karena mereka tidak sempat menikmati malam pertama mereka nan suci. Kondisi tersebut ibarat seorang yang berpuasa sedang menunggu bedug maghrib, tetapi tergoda menikmati makanan yang disiapkannya untuk berbuka puasa menjelang azan maghrib berkumandang. Nauzubillah min zalik.

    ***

    Penulis: MERZA GAMAL

    (Tulisan ini kupersembahkan untuk “anak-anakku” yang sedang menanti pelaksanaan ikrar suci mereka)

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 13 June 2012 Permalink | Balas  

    Allah Menjawab Doa Dengan Cara-Nya 

    Allah Menjawab Doa Dengan Cara-Nya

    Masalah terbesar dari doa adalah bagaimana membiarkannya mengalir dan mengizinkan Allah menjawab dengan cara-NYA. Pada suatu hari, seorang wanita sedang mengajar keponakannya. Dia biasanya menyimak apa yang diajarkan bibinya, tetapi kali ini dia tidak bisa berkonsentrasi.

    Ternyata salah satu kelerengnya hilang. Tiba-tiba anak itu berkata: “Bi, bolehkan aku berlutut dan meminta Allah untuk menemukan kelerengku?”

    Ketika bibinya mengizinkan, anak itu berlutut di kursinya, menutup matanya dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Kemudian dia bangkit dan melanjutkan pelajaran.

    Keesokan harinya, bibinya yang takut doa keponakannya tidak terjawab dan dengan demikian melemahkan imannya, dengan khawatir bertanya: “Sayang apakah engkau sudah menemukan kelerengmu?”

    “Tidak Bi”, jawab anak itu, “tetapi Allah telah membuatku tidak menginginkan kelereng itu lagi.”

    Alangkah indahnya iman anak itu. Allah memang tidak selalu menjawab doa kita menurut kehendak kita, tetapi jika kita tulus berdoa, Dia akan mengambil keinginan kita yang bertentangan dengan kehendakNya.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • susi 10:23 pm on 16 Juni 2012 Permalink

      Subhanallah.

  • erva kurniawan 1:58 am on 12 June 2012 Permalink | Balas  

    Rukhsah Shalat dari Allah 

    Rukhsah Shalat dari Allah

    Islam adalah agama yang mudah dan banyak sekali memberikan kemudahan (rukhsah) bagi umatnya. Termasuk dalam hal pelaksanaan ibadah shalat atas apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya. Berikut ini di antara bentuk-bentuk kemudahan dari Allah SWT tersebut.

    1. Membukakan pintu ketika sedang shalat.

    Hal ini pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw dalam sebuah hadits. Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata, “Rasulullah sedang shalat di rumah dan pintu terkunci dari dalam, lalu saya datang dan meminta agar dibukakan pintu, lalu Rasulullah bergerak membuka pintu kemudian melanjutkan shalatnya.” Aisyah berkata, “Pintu itu berada di arah kiblat.” (HR Abu Dawud, Nasa’i, At-Tirmidzi, dan Ahmad)

    Namun, sebelum melakukan gerakan tersebut (membuka pintu), hendaknya orang yang sedang shalat mengeraskan bacaan takbirnya agar diketahui oleh orang yang mengetuk pintu. Jika tidak mengerti juga maka hendaknya membuka pintu dengan gerakan yang sangat halus dan tidak memalingkan tubuhnya dari arah kiblat.

    2. Shalat sambil menggendong bayi atau balita

    Ada sebuah pertanyaan. Apa yang dilakukan seseorang (ibu) jika ia mempunyai bayi atau balita yang rewel yang menyebabkan ia susah melaksanakan shalat karena kerewelannya?

    Islam adalah agama yang mudah dan memudahkan pemeluknya untuk melakukan ibadah tanpa terhalang oleh apa pun. Oleh karena itu, dalam kasus di atas, jika tidak ada orang lain yang mengasuhnya atau seseorang yang menjaganya ketika kita akan melakukan shalat, sebagai rukhsah (keringanan) bagi kita adalah kita boleh menggendongnya ketika kita shalat.

    Adapun caranya adalah sebagai berikut.

    1. Sebelum digendong terlebih dahulu bersihkan dari segala macam najis yang menempel pada bayi atau balita.
    2. Niat seperti biasa sambil menggendong bayi atau balita.
    3. Tangan tidak perlu diangkat ketika takbir dan juga tidak bersedekap di atas dada, karena hukum mengangkat tangan dan menyedekapkan di atas dada adalah sunah.
    4. Ketika rukuk, tangan tidak perlu diletakkan di atas lutut, tapi tetap memegang erat bayi atau balita.
    5. Ketika hendak sujud, letakkan bayi atau balita tersebut di tempat yang mudah dijangkau tanpa gerakan yang berlebihan.
    6. Laksanakan seperti itu hingga shalat selesai.

    Hal ini berdasarkan hadist dari Abu Qatadah, ia berkata, “Rasulullah shalat sedang cucunya Umamah putri Zainab berada di punggungnya. Bila beliau rukuk, diletakkannya cucunya tersebut dan bila berdiri dari sujud, diambilnya kembali dan diletakkan di punggungnya seperti semula.”

    Dari Abdullah bin Syidad dari ayahnya berkata, “Pada suatu ketika Rasulullah keluar untuk mengerjakan shalat Zuhur atau Asar, beliau membawa cucunya Hasan atau Husein, lalu maju ke depan dan meletakkan cucunya kemudian bertakbir. Ketika sujud, beliau sujud lama sekali hingga terangkat kepalaku. Terlihat olehku, ternyata sang cucu sedang berada di punggung Rasulullah, maka aku pun kembali sujud. Setelah selesai shalat, para jamaah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, lama sekali Anda sujud hingga kami mengira bahwa telah terjadi sesuatu atau wahyu sedang diturunkan kepadamu.’ Rasulullah menjawab, ‘Semua itu tidak terjadi, melainkan ketika itu cucuku sedang berada di punggungku dan aku tidak mau mengganggunya hingga dia merasa puas bermain-main.” (HR Ahmad, An-Nasa`i, dan Hakim)

    3. Memberi isyarat dalam shalat.

    Diperbolehkan memberi isyarat kepada orang yang sangat membutuhkan. Misalnya seseorang yang menanyakan kunci kendaraan, sedangkan kita sedang melaksanakan shalat dan tidak ada seorang pun yang mengetahuinya selain kita. Sedangkan dia sangat membutuhkan kendaraan, atau memberi isyarat kepada seseorang untuk melakukan sesuatu, atau memberi isyarat ketika menjawab salam. Hal ini berdasarkan pada sebuah hadits:

    Jabir bin Abdullah ra berkata, “Aku diperintahkan oleh Nabi agar datang menemuinya, karena pada waktu itu beliau hendak pergi bertemu dengan Bani Musthalik, kebetulan aku tiba ketika Nabi sedang shalat di atas kendaraannya. Aku berkata-kata kepadanya, maka beliau pun memberikan isyarat dengan tangannya sambil menganggukkan kepalanya sedangkan aku mendengarkan bacaan shalat beliau. Setelah selesai shalat, beliau bertanya kepadaku, “Bagaimana tugas yang aku berikan kepadamu? Sebenarnya tidak ada yang menghalangiku untuk menjawab ucapanmu, karena ketika itu aku sedang shalat.” (HR Muslim dan Ahmad)

    Hadits lain menerangkan, Syuaib berkata, “Subhaanallah”, dan bagi makmum perempuan dengan menepukkan tangan sehingga menimbulkan bunyi. Dengan bunyi tersebut, imam akan segera menyadari kesalahannya dan memperbaikinya. Hal ini didasarkan pada hadist, dari Sahl bin Sa’ad, Rasulullah bersabda, “Aku berjalan di dekat Rasulullah ketika beliau sedang melaksanakan shalat. Aku pun mengucapkan salam kepadanya dan beliau menjawab dengan isyarat.” (HR At-Tirmidzi dan Ahmad)

    ***

    Artikel ini dikutip dari buku “Panduan Pintar Shalat”

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 11 June 2012 Permalink | Balas  

    Iman, Islam, dan Ihsan 

    Iman, Islam, dan Ihsan

    Pokok ajaran Islam ada 3, yaitu: Iman, Islam dan Ihsan. Dasarnya adalah hadits sebagai berikut:

    Pada suatu hari kami (Umar Ra dan para sahabat Ra) duduk-duduk bersama Rasulullah Saw. Lalu muncul di hadapan kami seorang yang berpakaian putih. Rambutnya hitam sekali dan tidak tampak tanda-tanda bekas perjalanan. Tidak seorangpun dari kami yang mengenalnya. Dia langsung duduk menghadap Rasulullah Saw. Kedua kakinya menghempit kedua kaki Rasulullah, dari kedua telapak tangannya diletakkan di atas paha Rasulullah Saw, seraya berkata, “Ya Muhammad, beritahu aku tentang Islam.” Lalu Rasulullah Saw menjawab, “Islam ialah bersyahadat bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan mengerjakan haji apabila mampu.” Kemudian dia bertanya lagi, “Kini beritahu aku tentang iman.” Rasulullah Saw menjawab, “Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan beriman kepada Qodar baik dan buruknya.” Orang itu lantas berkata, “Benar. Kini beritahu aku tentang ihsan.” Rasulullah berkata, “Beribadah kepada Allah seolah-olah anda melihat-Nya walaupun anda tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat anda. Dia bertanya lagi, “Beritahu aku tentang Assa’ah (azab kiamat).” Rasulullah menjawab, “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.” Kemudian dia bertanya lagi, “Beritahu aku tentang tanda-tandanya.” Rasulullah menjawab, “Seorang budak wanita melahirkan nyonya besarnya. Orang-orang tanpa sandal, setengah telanjang, melarat dan penggembala unta masing-masing berlomba membangun gedung-gedung bertingkat.” Kemudian orang itu pergi menghilang dari pandangan mata. Lalu Rasulullah Saw bertanya kepada Umar, “Hai Umar, tahukah kamu siapa orang yang bertanya tadi?” Lalu aku (Umar) menjawab, “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah Saw lantas berkata, “Itulah Jibril datang untuk mengajarkan agama kepada kalian.” (HR. Muslim)

    a. Rukun Iman 6 Perkara

    Iman adalah keyakinan kita pada 6 rukun iman. Islam adalah pokok-pokok ibadah yang wajib kita kerjakan. Ada pun Ihsan adalah cara mendekatkan diri kita kepada Allah.

    Tanpa iman semua amal perbuatan baik kita akan sia-sia. Tidak ada pahalanya di akhirat nanti:

    Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun…” [An Nuur:39]

    Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” [Ibrahim:18]

    Iman ini harus dilandasi ilmu yang mantap sehingga kita bisa menjelaskannya kepada orang lain. Bukan sekedar taqlid atau ikut-ikutan.

    Sebagaimana hadits di atas, rukun Iman ada 6. Pertama Iman kepada Allah. Artinya kita meyakini adanya Allah dan tidak ada Tuhan selain Allah. Di bab-bab berikutnya akan dijelaskan secara rinci tentang hal ini.

    Rukun Iman yang kedua adalah iman kepada Malaikat-malaikat Allah. Kita yakin bahwa Malaikat adalah hamba Allah yang selalu patuh pada perintah Allah.

    Rukun Iman yang ketiga adalah beriman kepada Kitab-kitabNya. Kita yakin bahwa Allah telah menurunkan Taurat kepada Musa, Zabur kepada Daud, Injil kepada Isa, dan Al Qur’an kepada Nabi Muhammad. Namun kita harus yakin juga bahwa semua kitab-kitab suci di atas telah dirubah oleh manusia sehingga Allah kembali menurunkan Al Qur’an yang dijaga kesuciannya sebagai pedoman hingga hari kiamat nanti.

    Maka kecelakaan yang besar bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, dengan maksud untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” [Al Baqarah:79]

    Kita harus meyakini kebenaran Al Qur’an dan mengamalkannya:

    Kitab Al Quran ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” [Al Baqarah:2]

    Rukun Iman yang keempat adalah beriman kepada Rasul-rasul (Utusan) Allah. Rasul/Nabi merupakan manusia yang terbaik yang pantas dijadikan suri teladan yang diutus Allah untuk menyeru manusia ke jalan Allah. Ada 25 Nabi yang disebut dalam Al Qur’an yang wajib kita imani di antaranya Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad.

    Karena ajaran Nabi-Nabi sebelumnya telah dirubah ummatnya, kita harus meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir yang harus kita ikuti ajarannya.

    Muhammad bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi…” [Al Ahzab:40]

    Rukun Iman yang kelima adalah beriman kepada Hari Akhir (Kiamat/Akhirat). Kita harus yakin bahwa dunia ini fana. Suatu saat akan tiba hari Kiamat. Pada saat itu manusia akan dihisab. Orang yang beriman dan beramal saleh masuk ke surga. Orang yang kafir masuk neraka.

    Selain kiamat besar kita juga harus yakin akan kiamat kecil yaitu mati. Setiap orang pasti mati. Untuk itu kita harus selalu hati-hati dalam bertindak.

    Rukun Iman yang keenam adalah percaya kepada Takdir/qadar yang baik atau pun yang buruk. Meski manusia wajib berusaha dan berdoa, namun apa pun hasilnya kita harus menerima dan mensyukurinya sebagai takdir dari Allah.

    b. Rukun Islam 5 Perkara

    Ada pun rukun Islam terdiri dari 5 perkara. Barang siapa yang tidak mengerjakannya maka Islamnya tidak benar karena rukunnya tidak sempurna.

    Rukun Islam pertama yaitu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Asyhaadu alla ilaaha illallaahu wa asyhaadu anna muhammadar rasuulullaah. Artinya kita meyakini hanya Allah Tuhan yang wajib kita patuhi perintah dan larangannya. Jika ada perintah dan larangan dari selain Allah, misalnya manusia, yang bertentangan dengan perintah dan larangan Allah, maka Allah yang harus kita patuhi. Ada pun Muhammad adalah utusan Allah yang menjelaskan ajaran Islam. Untuk mengetahui ajaran Islam yang benar, kita berkewajiban mempelajari dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad.

    Konsekwensi dari 2 kalimat syahadat adalah kita harus mempelajari dan memahami Al Qur’an dan Hadits yang sahih (minimal Kutuubus sittah: Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, An Nasaa’i, dan Ibnu Majah) dan mengamalkannya.

    Rukun Islam kedua adalah shalat 5 waktu, yaitu: Subuh 2 rakaat, Dzuhur dan Ashar 4 raka’at, Maghrib 3 rakaat, dan Isya 4 raka’at. Shalat adalah tiang agama barang siapa meninggalkannya berarti merusak agamanya.

    Rukun Islam ketiga adalah puasa di Bulan Ramadhan. Yaitu menahan diri dari makan, minum, hubungan seks, bertengkar, marah, dan segala perbuatan negatif lainnya dari subuh hingga maghrib.

    Rukun Islam keempat adalah membayar zakat bagi para muzakki (orang yang wajib pajak/mampu). Ada pun orang yang mustahiq (berhak menerima zakat seperti fakir, miskin, amil, mualaf, orang budak, berhutang, Sabilillah, dan ibnu Sabil) berhak menerima zakat. Zakat merupakan hak orang miskin agar harta tidak hanya beredar di antara orang kaya saja.

    Rukun Islam yang kelima adalah berhaji ke Mekkah jika mampu. Mampu di sini dalam arti mampu secara fisik dan juga secara keuangan. Sebelum berhaji, hutang yang jatuh tempo harus dibayar dan keluarga yang ditinggalkan harus diberi bekal yang cukup. Nabi berkata barang siapa yang mati tapi tidak berhaji padahal dia mampu, maka dia mati dalam keadaan munafik.

    c. Ihsan Mendekatkan Diri kepada Allah

    Ada pun Ihsan adalah cara agar kita bisa khusyuk dalam beribadah kepada Allah. Kita beribadah seolah-olah kita melihat Allah. Jika tidak bisa, kita harus yakin bahwa Allah SWT yang Maha Melihat selalu melihat kita. Ihsan ini harus kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga jika kita berbuat baik, maka perbuatan itu selalu kita niatkan untuk Allah. Sebaliknya jika terbersit niat kita untuk berbuat keburukan, kita tidak mengerjakannya karena Ihsan tadi.

    Orang yang ihsannya kuat akan rajin berbuat kebaikan karena dia berusaha membuat senang Allah yang selalu melihatnya. Sebaliknya dia malu berbuat kejahatan karena dia selalu yakin Allah melihat perbuatannya.

    Itulah sekilas pokok-pokok dari ajaran Islam. Semoga kita semua bisa memahami dan mengamalkannya.

    ***

    Dari Sahabat

    http://syiarislam.wordpress.com

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 10 June 2012 Permalink | Balas  

    Nabi Muhammad Manusia Terbaik di Dunia 

    Nabi Muhammad Manusia Terbaik di Dunia

    “Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada suri teladan yang baik bagimu yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan banyak menyebut Allah.” [Al Ahzab:31]

    Itulah firman Allah yang menyatakan kemuliaan Nabi Muhammad. Bahkan non Muslim seperti Sir George Bernard Shaw dalam buku ‘The Genuine Islam,’ Vol. 1, No. 8, 1936 menyatakan bahwa jika ada agama yang akan menguasai Inggris atau Eropa dalam abad mendatang mungkin itu adalah Islam. Muhammad adalah orang yang mengagumkan dan pantas disebut Penyelamat Manusia (the Savior of Humanity). Begitu katanya.

    Mahatma Gandhi, dalam pernyataan yang diterbitkan di “Young India”, tahun 1924 menyatakan bahwa bukanlah pedang yang menyebarkan Islam. Tapi kepedulian, keberanian, dan keimanan Nabi kepada Tuhan yang menyebabkan itu. Ketika saya menutup buku jilid kedua dari Kisah Nabi Muhammad, saya menyesal karena tidak ada lagi yang dapat dibaca.

    Dan memang Muhammad yang kala itu pengikutnya hanya istri dan keponakannya, Ali, tidaklah mungkin bisa menyebarkan Islam dengan pedang. Karena kepribadiannya dan kebenaran Islamlah maka orang-orang berbondong memeluk Islam. Jika pun ada perang, maka itu tak lebih dari membela diri sebagaimana diketahui bahwa 3 perang besar pertama seperti perang Badar, Uhud, dan Khandaq terjadi di kota tempat tinggal ummat Islam di Madinah ketika mereka diserang kaum kafir Mekkah bersama sekutunya. Begitu pula perang Mu’tah terjadi di tanah Arab ketika tentara Romawi yang beragama Kristen menyerang untuk menghancurkan Islam.

    Michael H Hart dalam buku ‘The 100, A Ranking of the Most Influential Persons In History,’ New York, 1978 menempatkan Nabi Muhammad dalam urutan pertama 100 orang paling berpengaruh di dunia mengalahkan Isaac Newton, Paulus, dan Yesus.

    Menurut Michael H Hart, kebanyakan dari orang-orang besar yang ada dalam bukunya menjadi besar karena kebetulan lahir di negara-negara maju yang jadi pusat peradaban dunia. Bahkan tanpa ada mereka pun tetap saja negara-negara tersebut akan maju dan akan ada banyak orang yang akan menggantikannya untuk memimpin kemajuan tersebut.

    Sebagai contoh Napoleon Bonaparte yang memimpin Perancis untuk menguasai Eropa itu terjadi karena Perancis adalah memang negara Eropa yang besar dan kuat. Napoleon tidak bisa melakukan itu jika Perancis adalah negara yang kecil dan lemah. Dan pada akhirnya, Napoleon pun gagal dan meninggal dalam pengasingan.

    Yesus pun meski merupakan penyebar agama Kristen yang pertama, namun dia ditangkap dan disalib oleh tentara Romawi. Jumlah pengikutnya saat Yesus meninggal tidak banyak. Paulus lah yang berhasil mengembangkan agama Kristen sehingga diterima bangsa Eropa.

    Sebaliknya, Nabi Muhammad lahir di kawasan yang terbelakang. Mekkah kota kelahiran Nabi adalah kota kecil di pinggiran yang jauh dari pusat perdagangan, seni, dan ilmu pengetahuan. Saat itu yang jadi negara besar dalah Romawi dan Persia. Ada pun bangsa Arab adalah bangsa jajahan yang terbelakang dengan jumlah penduduk yang hingga sekarang pun tidak banyak serta terpecah menjadi berbagai suku yang saling perang satu sama lain.

    Pada saat Nabi lahir, kebanyakan bangsa Arab menyembah berhala. Selama 3 tahun pertama Nabi Muhammad menyeru Islam pada keluarga dan teman dekatnya. Baru pada tahun 613 Nabi menyiarkan Islam secara terbuka sehingga Islam mulai menyebar. Penguasa Mekkah yang kafir pun menganggap Nabi Muhammad sebagai bahaya dan ingin membunuhnya sehingga Nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Setelah 3 kali serangan kaum kafir Mekkah dalam perang Badar, Uhud, dan Khandaq gagal, Nabi Muhammad dan pengikutnya menaklukkan kota Mekkah tahun 630. Pada saat meninggal tahun 632 Nabi Muhammad yang bertahun-tahun pada masa awal kenabiannya ditentang penduduk kafir Quraisy dalam tempo 23 tahun sanggup menyatukan bangsa Arab di dalam Islam.

    Bangsa Arab bukan hanya sanggup menahan serangan tentara Romawi dan Persia, bahkan sanggup menaklukkannya. Hingga saat ini ibukota Romawi, Constantinople, di bawah kepemimpinan negara Islam dan berganti nama jadi Istambul (Turki). Begitu pula Baghdad yang sebelumnya jadi ibukota Persia ada di negara Islam Iraq.

    Yang harus diingat adalah bahwa peperangan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad bukanlah peperangan yang penuh darah seperti yang dilakukan tentara Salib yang membantai semua ummat Islam yang mereka taklukkan seperti dalam film “Kingdom of Heaven” (dibintangi Orlando Bloom). Peperangan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad seperti pada perang Badar, Uhud, Khandaq, dan Tabuk terjadi karena mereka membela diri dari serangan kaum kafir. Peperangan terhadap kerajaan Romawi dan Persia justru membebaskan daerah jajahan kerajaan tersebut sehingga mereka lepas dari penindasan kerajaan Romawi dan Persia yang membebani rakyat dengan pajak yang besar. Pada saat penaklukan kota Mekkah misalnya boleh dikata tidak ada peperangan yang penuh darah. Tapi penyerahan yang penuh kedamaian.

    Dalam 100 tahun sejak kematian Nabi Muhammad, Kerajaan Islam menyebar dari India, Pakistan, Iran, Timur Tengah, Afrika Utara, Albania, Yugoslavia, hingga Spanyol sepanjang 7.600 km dengan lebar 3.200 km di 3 benua! Ini adalah satu imperium terbesar yang pernah ada dalam sejarah. Meski Spanyol kembali dikuasai Katolik setelah 7 abad, namun Islam tetap berkuasa di negara-negara Afrika Utara, Timur Tengah, Iran, dan Pakistan.

    Islam bukan hanya maju secara politik dan militer. Dalam ilmu pengetahuan pun tiba-tiba bangsa Arab yang dulunya terbelakang di bawah ilmuwan Yunani atau Persia tiba-tiba jadi pemimpin. Banyak penemuan Islam / ilmuwan Arab/Islam yang diakui dunia hingga sekarang.

    Sebagai contoh, sistem angka yang dipakai dunia sekarang adalah sistem angka Arab (Arabic Numeral) menggantikan sistem angka Romawi (Roman Numeral) yang kaku. Dengan angka Arab anda dapat menulis 93.567.794.214.698 dengan mudah. Angka tersebut tidak bisa ditulis dengan sistem angka Romawi.

    Dalam ensiklopedi Microsoft Encarta disebut bahwa dalam dunia Islam yang menyebar ke Barat hingga Spanyol banyak dihasilkan penemuan Ilmiah seperti angka Arab: === The Islamic world, which in medieval times extended as far west as Spain, also produced many scientific breakthroughs. The Arab mathematician Muhammad al-Khwrizm introduced Hindu-Arabic numerals to Europe many centuries after they had been devised in southern Asia. === Astronom Arab (baca Astronom Muslim) juga banyak yang menemukan dan menamakan bintang seperti Aldebaran, Altair, dan Deneb. Al Haytham (Alhacen) yang mengantarkan ilmu Optic juga menemukan metode Ilmiah yang menekankan kepada observasi, eksperimen, dan pencatatan yang akurat.

    Singkatnya, Nabi Muhammad bukan hanya sekedar pemimpin agama atau Nabi. Namun beliau juga adalah pemimpin militer, pemimpin negara, dan juga peletak fondasi berkembangnya ilmu pengetahuan Islam (Islam Golden Age) di kalangan ummat Islam.

    Hanya dalam waktu 23 tahun, Nabi Muhammad berhasil merubah bangsa Arab yang bodoh dan terbelakang serta terjajah menjadi bangsa yang cerdas dan terkemuka di dunia mengalahkan 2 super power dunia: Romawi dan Persia. Ini merupakan satu teladan yang harus bisa ditiru oleh pemimpin-pemimpin Islam!

    Tak heran jika seorang Non Muslim seperti Michael H Hart pun mengakui Nabi Muhammad sebagai orang nomor satu di dunia mengalahkan Yesus dan manusia-manusia lain di dunia.

    Jika Non Muslim saja bersikap seperti itu, maka ummat Islam yang dalam syahadahnya mengakui Muhammad sebagai utusan Allah juga harus mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah manusia paling sempurna yang maksum (terpelihara dari kesalahan). Oleh karena itu ummat Islam harus mempelajari siroh/sejarah Nabi dan mengikuti sunnah Nabi.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 9 June 2012 Permalink | Balas  

    Panggilan Allah Hanya 3x Saja 

    Panggilan Allah Hanya 3x Saja

    Saat itu, Dhuha, hari terakhir aku di Masjid Nabawi untuk menuju Mekah, aku bertanya pada Ibu.

    “Ibu”, kataku, “ada cerita apa yang menarik dari Umrah.?” Maklum, ini pertama kali aku ber Umrah.

    Dan Ibu, memberikan Tausyiahnya. Kebetulan umrahku dimulai di Madinah dulu selama 4 hari, baru ke Mekah. Tujuannya adalah mendapatkan saat Malam Jumat di depan Kabah. Jadi aku punya kesempatan untuk bertanya tentang Umrah.

    Ibu berkata,”Sayang-ku, Allah hanya memanggil kita 3 kali saja seumur hidup.”

    Keningku berkerut, “Sedikit sekali Allah memanggil kita?”

    Ibu tersenyum, “Sayang, tahu tidak apa saja 3 panggilan itu?”

    Saya menggelengkan kepala.

    “Panggilan pertama adalah Azan”, ujar Ibu.

    “Itu adalah panggilan Allah yang pertama. Panggilan ini sangat jelas terdengar di telinga kita, sangat kuat terdengar. Ketika kita sholat, sesungguhnya kita menjawab panggilan Allah. Tetapi Allah masih fleksibel, Dia tidak ‘cepat marah’ akan sikap kita. Kadang kita terlambat, bahkan tidak sholat sama sekali karena malas. Allah tidak marah seketika. Dia masih memberikan rahmatNya, masih memberikan kebahagiaan bagi umatNya, baik umatNya itu menjawab panggilan Azan-Nya atau tidak. Allah hanya akan membalas umatNya ketika hari Kiamat nanti”.

    Saya terpekur, mata saya berkaca-kaca. Terbayang saya masih melambatkan sholat karena meeting lah, mengajar lah, dan lain lain. Masya Allah. .

    Ibu melanjutkan, “Sayang-ku, Panggilan yang kedua adalah panggilan Umrah/Haji. Panggilan ini bersifat halus. Allah memanggil hamba-hambaNya dengan panggilan yang halus dan sifatnya ‘bergiliran’. Hamba yang satu mendapatkan kesempatan yang berbeda dengan hamba yang lain. Jalannya pun berbeda-beda. Yang tidak punya uang menjadi punya uang, yang tidak berencana pula akan pergi, ada yang memang berencana dan terkabul. Ketika kita mengambil niat Haji / Umrah, berpakaian Ihram dan melafazkan ‘Labaik Allahuma Labaik/ Umrotan’, sesungguhnya kita saat itu menjawab panggilan Allah yang kedua. Saat itu kita merasa bahagia, karena panggilan Allah sudah kita jawab, meskipun panggilan itu halus sekali. Allah berkata, laksanakan Haji / Umrah bagi yang mampu”.

    Mata saya semakin berkaca-kaca, Subhanallah, saya datang menjawab panggilan Allah lebih cepat dari yang saya rencanakan, Alhamdulillah.

    “Dan panggilan ke-3”, lanjut Ibu, “Adalah KEMATIAN . Panggilan yang kita jawab dengan amal kita. Pada kebanyakan kasus, Allah tidak memberikan tanda tanda secara langsung, dan kita tidak mampu menjawab dengan lisan dan gerakan. Kita hanya menjawabnya dengan amal sholeh. Karena itu sayangku, manfaatkan waktumu sebaik-baiknya. Jawablah 3 panggilan Allah dengan hatimu dan sikap yang Husnul Khotimah, Insya Allah syurga adalah balasannya”.

    Renungkanlah bersama…

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 8 June 2012 Permalink | Balas  

    Belajar dari Semut 

    Belajar dari Semut

    Mengikuti jejak K.H. Zainuddin MZ yang tenar sebagai da’i sejuta umat, Aa Gym da’i “sejuta hati”, atau ustad Arifin Ilham yang identik dengan majelis zikir, nama Yusuf Mansur belakangan beken sebagai da’i penganjur sedekah.

    Dalam setiap tausiyahnya, penulis 30-an buku ini selalu mendengungkan kekuatan sedekah. Tema sedekah – dihubungkan dengan pemberdayaan ekonomi umat – tampak mulai mendapat tempat di hati masyarakat. Penceramah jebolan IAIN Syarif Hidayatullah, Ciputat (“Ane enggak punya ijazah, brenti waktu nyusun skripsi,” katanya buka kartu dalam logat Betawi kental) ini pun laris bak kacang goreng.

    “Bulan ini (Agustus 2006 – Red.), enggak ada hari tanpa tausiyah. Satu hari bisa lima sampai enam tempat,” aku seorang stafnya.

    Yusuf kian identik dengan sedekah, setelah bareng rumah produksi Sinemart menggagas sinetron Maha Kasih. Sinetron yang ditayangkan sebuah stasiun teve swasta itu diangkat berdasarkan kisah nyata dan sarat pesan hikmah sedekah.

    Yusuf juga pernah menjadi Duta Dompet Dhuafa dan Duta Bank Muamalat. Tahun 1999 – 2000, Yusuf bahkan aktif di Majelis Syifa, yang mempraktikkan terapi sedekah untuk penyembuhan penyakit fisik. Ceramah Yusuf terasa hidup, karena bapak dari dua orang anak ini selalu menyelipkan kisah nyata.

    Sekali waktu, ia berkisah tentang seorang buruh yang bersedekah Rp 5.000,- di sebuah acara tausiyah. Eh, begitu sampai di rumah, ada orang kaya numpang buang hajat di kamar mandinya. Setelah berhajat, musafir tadi menyerahkan Rp 50 ribu buat “jajan” anak si empunya rumah. “Pak ustad, sedekah saya dibalas 10 kali lipat hari itu juga,” tutur sang buruh berkaca-kaca.

    Yusuf juga fasih bertutur tentang kesaksian seorang office boy yang menyetor seluruh gaji pertamanya untuk ibunda tercinta. Esoknya, ia diganjar balasan setimpal, tak lebih tak kurang, Rp 600.000,-. Duit pengganti gaji itu didapatnya sebagai komisi jerih payah membantu menjualkan motor seorang teman. Setelah itu, selalu saja ada rezeki yang masuk ke kantung si office boy. Total jenderal di akhir bulan istimewa itu, ia “gajian” sampai Rp 5 juta – Rp 6 juta.

    Kesaksian orang-orang yang pernah terbantu oleh sedekah itu ikut membentuk keyakinan Yusuf, bahwa kekuatan sedekah tidak main-main. Apalagi ia juga punya kisah sendiri. Akhir 1990-an, selama beberapa bulan, Yusuf sempat merasakan pahitnya tinggal di rumah tahanan. Ia terbelit utang.

    “Pinjaman usaha yang mulanya sedikit, karena kebodohan saya, berbunga dan membengkak jadi lebih dari satu miliar. Orang Betawi bilang, bukan lagi gali lubang tutup lubang, tapi gali lubang tutup empang,” ujar pemilik blog beradres wisatahati.multiply.com ini menerawang.

    Saat dibekap kesulitan itulah, ia mengalami dua pengalaman luar biasa. “Di tahanan suatu kali saya merasa sangat lapar. Enggak ada makanan. Yang ada cuma sedikit sisa roti, saya simpan di bawah bantal. Tapi begitu roti mau saya makan, tampak semut berbaris di tembok sampai lantai. Saya merasakan itu sebagai pertanda alam, lalu teringat hadis, yang artinya kira-kira, Allah akan membantu hambanya, selama hamba itu mau membantu yang lain.”

    Tanpa pikir panjang, Yusuf menyerahkan sejumput roti itu pada gerombolan semut. Entah mengapa, ia begitu ingin bersedekah saat itu. “Lima menit kemudian, seorang sipir datang bertanya, ‘Suf, udah makan apa belum?’ Setengah percaya, saya menggelengkan kepala. Alhamdulillah, dalam hati saya tak putus-putusnya mengucap syukur,” imbuh Yusuf.

    ***

    Dari Sahabat

    t-wei� 9 o0� �� ter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px; -webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: rgb(255, 255, 255); “>selalu saja ada rezeki yang masuk ke kantung si office boy. Total jenderal di
    akhir bulan istimewa itu, ia “gajian” sampai Rp 5 juta – Rp 6 juta.
    Kesaksian orang-orang yang pernah terbantu oleh sedekah itu ikut membentuk
    keyakinan Yusuf, bahwa kekuatan sedekah tidak main-main. Apalagi ia juga punya
    setori sendiri. Akhir 1990-an, selama beberapa bulan, Yusuf sempat merasakan
    pahitnya tinggal di rumah tahanan. Ia terbelit utang. “Pinjaman usaha yang
    mulanya sedikit, karena kebodohan saya, berbunga dan membengkak jadi lebih dari
    satu miliar. Orang Betawi bilang, bukan lagi gali lubang tutup lubang, tapi gali
    lubang tutup empang,” ujar pemilik blog beradres wisatahati.multiply.com ini
    menerawang.
    Saat dibekap kesulitan itulah, ia mengalami dua pengalaman luar biasa. “Di
    tahanan suatu kali saya merasa sangat lapar. Enggak ada makanan. Yang ada cuma
    sedikit sisa roti, saya simpan di bawah bantal. Tapi begitu roti mau saya makan,
    tampak semut berbaris di tembok sampai lantai. Saya merasakan itu sebagai
    pertanda alam, lalu teringat hadis, yang artinya kira-kira, Allah akan membantu
    hambanya, selama hamba itu mau membantu yang lain.”
    Tanpa pikir panjang, Yusuf menyerahkan sejumput roti itu pada gerombolan semut.
    Entah mengapa, ia begitu ingin bersedekah saat itu. “Lima menit kemudian,
    seorang sipir datang bertanya, ‘Suf, udah makan apa belum?’ Setengah percaya,
    saya menggelengkan kepala. Alhamdulillah, dalam hati saya tak putus-putusnya
    mengucap syukur,” imbuh Yusuf.

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 7 June 2012 Permalink | Balas  

    Pesan Untuk Para Calon Istri 

    Pesan Untuk Para Calon Istri

    Asma’ binti Kharijah Al Fazary berpesan kepada puterinya ketika menikah (sebelum melepaskan kepergiannya menuju suaminya):

    “Wahai puteriku sayang, tak lama lagi kau akan keluar meninggalkan ayunan tempat kau ditimang dulu, dan berpindah ke atas ranjang yang belum pernah kau lihat sebelumnya. Kau akan hidup bersama seorang kawan yang belum pernah kau kenal sebelumnya. Oleh karena itu, jadilah bumi tempat ia berpijak, maka ia akan menjadi langit yang menaungimu. Jadikanlah dirimu tempat sandaran baginya, maka ia akan menjadi tiang yang meneguhkanmu. Jadilah pelayan baginya, ia akan menjadi abdi bagimu. Jangan kau merepotkannya sehingga ia merasa kesal. Dan jangan terlalu jauh darinya sehingga ia lupa akan dirimu. Jika ia mendekatimu, maka dekatilah. Jika ia berpaling, maka menjauhlah. Peliharalah pandangannya, pendengarannya dan penciumannya. Jangan sampai ia memandang sesuatu yang buruk darimu. Dan jangan sampai ia mendengar kata-kata kasar darimu. Dan jangan sampai ia mencium bau yang tak sedap darimu. Jadikanlah setiap apa yang ia lihat adalah wajahmu yang cantik berseri-seri. Jadikanlah setiap apa yang ia dengar adalah ucapanmu yang santun dan lembut. Jadikanlah setiap apa yang ia cium adalah aroma wangi tubuh dan pakaianmu.”

    “Ayahmu dulu berpesan kepada ibumu: Maafkanlah segala kesalahan dan kehilafanku, niscaya cinta kita akan terus bersemi. Ketika aku marah, janganlah kau memancing lagi amarahku. Karena benci dan cinta takkan pernah bersatu. Saat benci datang, cinta pun kan berlalu.”

    Demikian isi pesan tersebut. Semoga bermanfaat dan dapat dijadikan bahan renungan untuk para calon istri yang akan memasuki sebuah kehidupan baru. Kehidupan yang mengakhiri masa lajang penuh penantian yang melelahkan.

    Wallahu a’lamu bis showab.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 6 June 2012 Permalink | Balas  

    Siapakah orang yang sibuk? 

    Siapakah orang yang sibuk?

    Orang yang sibuk adalah orang yang suka menyepelekan waktu sholatnya, seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman A.S. Maka sempatkanlah bagimu untuk beribadah dan bersegeralah!

    Siapakah orang yang manis senyumannya?

    Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang ketika ditimpa musibah, lalu dia berucap “Inna lillahi wainna illaihi rajiuun.” Kemudian berkata,”Ya Rabbi, Aku ridho dengan ketentuanMu ini”, sambil mengukir senyuman. Maka berbaik hatilah dan bersabar…

    Siapakah orang yang kaya?

    Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada, dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini. Maka bersyukurlah atas nikmat yang kau terima dan berbagilah.. .

    Siapakah orang yang miskin?

    Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan nikmat yang ada,selalu menumpuk-numpukkan harta. Maka janganlah kau menjadi kikir juga dengki…

    Siapakah orang yang rugi?

    Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan, namun masih berat untuk melakukan ibadah dan amal-amal kebaikan. Maka hargailah waktumu dan bersegeralah. ..

    Siapakah orang yang paling cantik?

    Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik. Maka peliharalah akhlakmu dari dosa dan noda…

    Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?

    Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal-amal kebaikan, dimana kuburnya akan diluaskan sejauh mata memandang. Maka beramal shalehlah selagi sempat dan mampu…

    Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi dihimpit?

    Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikan, lalu kuburnya menghimpitnya. Maka ingatlah akan kematian dan kehidupan setelah dunia…

    Siapakah orang yang mempunyai akal?

    Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni surga kelak, karena telah menggunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka. Maka peliharalah akal sehatmu dan pergunakan semaksimal mungkin untuk mengharap ridho-Nya…

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 5 June 2012 Permalink | Balas  

    Shalat 5 Waktu 

    Shalat 5 Waktu Pembeda Muslim dari Orang Kafir

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.,

    Berikut satu tulisan dari buku “Iman, Islam, dan Ihsan” yang bisa didownload di: http://syiarislam.wordpress.com

    Shalat 5 Waktu – Rukun Islam yang kedua. Rukun Islam yang kedua (setelah membaca 2 kalimat syahadat) adalah shalat 5 waktu (Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya). Dalam Al Qur’an Allah memerintahkan kita untuk shalat 5 waktu:

    Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” [Al Israa’:78]

    … Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” [An Nisaa’:103]

    Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’“ [Al Baqarah:43]

    Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah” [Al Kautsar:2]

    Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” [Al Baqarah:110]

    a. Shalat Bisa Mencegah Perbuatan Keji Dan Munkar

    Shalat bisa mencegah perbuatan keji dan munkar:

    Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al ‘Ankabuut:45]

    Shalat untuk mengingat Allah:

    Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” [Thaahaa:14]

    b. Didiklah Anak/Keluarga Anda Untuk Shalat

    Didiklah anak/keluarga anda untuk shalat:

    Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” [Luqman:17]

    “Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya” (Thaha : 132)

    “Hendaknya kita tetap memelihara/mengerjakan shalat kita: “Peliharalah semua Shalat(mu), dan peliharalah shalat wusthaa” (Al Baqarah :238)

    Shalat sangat penting. Shalat adalah tiang agama. Siapa yang tidak mengerjakannya berarti dia meruntuhkan agama:

    “Shalat adalah tiang agama, barang siapa yang mengerjakannya berarti ia menegakkan agama, dan barang siapa meninggalkannya berarti ia meruntuhkan agama” (HR. Baihaqi)

    c. Shalat Pembeda Orang Islam dengan Orang Kafir

    Pembeda antara orang muslim dengan kafir adalah shalat. Barang siapa tidak shalat berarti dia kafir:

    “Batas antara seorang muslim dengan kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)

    “Perjanjian antara kita dan mereka adalah shalat, maka barangsiapa yang meninggalkan shalat berarti ia kafir.” (HR. Ahmad 5/346, At-Tirmidzi no. 2621, Ibnu Majah no. 1079)

    Amal yang pertama dihisab adalah shalat. Begitu dia tidak shalat, meski puasa, zakat, haji, rajin sedekah, dia langsung dimasukkan ke neraka:

    Amal yang pertama kali akan dihisab untuk seseorang hamba nanti pada hari kiamat ialah shalat, maka apabila shalatnya baik (lengkap), maka baiklah seluruh amalnya yang lain, dan jika shalatnya itu rusak (kurang lengkap) maka rusaklah segala amalan yang lain” (Thabrani)

    Jangan sampai kita dan keluarga kita yang sudah baligh bolong-bolong shalatnya. Apalagi sampai meninggalkannya. Orang yang tidak mengerjakan shalat disiksa di neraka:

    “Apakah yang memasukkan kalian ke dalam neraka Saqar?” Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat….” (Al-Muddatstsir: 42-43)

    “Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai dari mengerjakan shalatnya.” (Al-Ma’un: 4-5)

    “Maka datanglah setelah mereka, pengganti yang jelek yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kerugian.” (Maryam: 59)

    d. Shalat Tepat Waktu dan Berjama’ah

    Hendaknya kita shalat tepat waktu:

    Pekerjaan yang sangat disuka Allah, ialah mengerjakan shalat tepat pada waktunya. Sesudah itu berbakti kepada ibu-bapak. Sesudah itu berjihad menegakkan agama Allah” (Bukhori dan Muslim)

    Jika shalat 5 waktu, hendaknya berjama’ah: Anas r.a.:

    Nabi SAW selalu memotivasi umatnya untuk sholat berjamaah dan melarang mereka pergi keluar sebelum imam mereka pergi (Muslim)

    Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian, pahalanya berlipat ganda sampai duapuluh tujuh derajat (dibandingkan dengan shalat sendirian) (Bukhori dan Muslim)

    Jika shalat berjama’ah, jangan mendahului imam. Tunggu imam ruku dulu, baru anda ruku. Tunggu imam sujud dulu, baru anda sujud: Rasul Bersabda: Takutlah kamu bila angkat kepalamu dari sujud mendahului imam, karena Allah akan ubah kepalamu jadi kepala keledai (Bukhori dan Muslim)

    Ummu Salamah r.a.: Bila selesai salam pada saat sholat di masjid, Rasul berhenti sejenak agar wanita pulang lebih dahulu sebelum pria (Bukhori)

    Semoga kita di akhirat nanti termasuk dalam golongan orang yang mengerjakan shalat.

    Wassalammualaikum Wr. Wb.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 4 June 2012 Permalink | Balas  

    Tahukah Anda Jam Piket Organ Tubuh Kita? 

    Tahukah Anda Jam Piket Organ Tubuh Kita?

    Jam Piket Organ Tubuh

    LAMBUNG Jam 07.00 – 09.00

    Jam piket organ lambung sedang kuat, sebaiknya makan pagi untuk proses pembentukan energi tubuh sepanjang hari. Minum jus atau ramuan sebaiknya sebelum sarapan pagi, perut masih kosong sehingga zat yang berguna segera terserap tubuh.

    LIMPA Jam 09.00 – 11.00

    Jam piket organ limpa kuat, dalam mentransportasi cairan nutrisi untuk energi pertumbuhan. Bila pada jam-jam ini mengantuk, berarti fungsi limpa lemah. Kurangi konsumsi gula, lemak,minyak dan protein hewani.

    JANTUNG Jam 11.00 – 13.00

    Jam piket organ jantung kuat, harus istirahat, hindari panas dan olah fisik, ambisi dan emosi terutama pada penderita gangguan pembuluh darah .

    HATI Jam 13.00 – 15.00

    Jam piket organ hati lemah, bila orang tidur, darah merah berkumpul dalam organ hati dan terjadi proses regenerasi sel-sel hati. Apabila fungsi hati kuat maka tubuh kuat untuk menangkal semua penyakit.

    PARU-PARU Jam 15.00 – 17.00

    Jam piket organ paru-paru lemah, diperlukan istirahat, tidur untuk proses pembuangan racun dan proses pembentukan energi paru-paru

    GINJAL Jam 17.00 – 19.00

    Jam piket organ ginjal kuat, sebaiknya digunakan untuk belajar karena terjadi proses pembentukan sumsum tulang dan otak serta kecerdasan.

    LAMBUNG Jam 19.00 – 21.00

    Jam piket organ lambung lemah sebaiknya tidak mengkonsumsi makan yang sulit dicerna atau lama dicerna atau lebih baik sudah berhenti makan

    LIMPA Jam 21.00 – 23.00

    Jam piket organ limpa lemah, terjadi proses pembuangan racun dan proses regenerasi sel limpa. Sebaiknya istirahat sambil mendengarkan musik yang menenangkan jiwa, untuk meningkatkan imunitas.

    JANTUNG Jam 23.00 – 01.00

    Jam piket organ jantung lemah. Sebaiknya sudah beristirahat tidur, apabila masih terus bekerja atau begadang dapat melemahkan fungsi jantung.

    HATI Jam 01.00 – 03.00

    Jam piket organ hati kuat. Terjadi proses pembuangan racun/limbah hasil metabolisme tubuh. Apabila ada gangguan fungsi hati tercermin pada kotoran dan gangguan mata. Apabila ada luka dalam akan terasa nyeri.

    PARU-PARU Jam 03.00 – 05.00

    Jam piket organ paru-paru kuat, terjadi proses pembuangan limbah/racun pada organ paru-paru, apabila terjadi batuk,bersin-bersin dan berkeringat menandakan adanya gangguan fungsi paru-paru. Sebaiknya digunakan untuk olah nafas untuk mendapatkan energi paru yang sehat dan kuat.

    USUS BESAR Jam 05.00 – 07.00

    Jam piket organ usus besar kuat, sebaiknya biasakan BAB secara teratur.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 3 June 2012 Permalink | Balas  

    Beratnya Memakai Kerudung 

    Beratnya Memakai Kerudung

    Firman Allah SWT: “Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung” (QS. An-Nur/24:31)

    Pada masa remaja dan saat menjadi seorang pria dewasa muda, yang “jauh” dari Allah, saya suka berbuat iseng, mengganggu, dan meledek teman-teman saya yang memakai kerudung. Pada saat itu masih sangat sedikit wanita yang menggunakan kerudung dalam kehidupan sehari-hari. Ketika itu, wanita yang menggunakan kerudung dipandang sebagai orang-orang yang ikut aliran tertentu.

    Pada saat kehidupan saya mulai “dekat” dengan Allah, saya baru menyadari betapa jahiliyah-nya saya ketika itu. Saya baru sadar, bahwa ternyata berkerudung bagi wanita merupakan kewajiban yang tercantum dalam Al Qur’an. Jadi berkerudung (menutup aurat) bagi wanita sama wajibnya seperti perintah sholat, puasa, dan ibadah lainnya.

    Ketika saya mendekatkan diri dengan Allah dan berjuang menjauhi semua maksiat yang pernah saya lakukan, saya benar-benar meniatkan diri untuk menjadi Muslim yang “kaffah”. Setelah saya naik haji tahun 1995, dan mendapatkan pengarahan dari “guru” saya, saya meniatkan untuk meninggalkan bank konvensional tempat saya bekerja hingga terwujud 4 tahun kemudian (tahun 1999) untuk resign dari bank konvensional tersebut. Demikian pula saya ingin penampilan isteri saya berubah dari memakai pakaian “konvensional” menjadi memakai pakaian yang “syariah”. Namun ternyata tidak mudah untuk mewujudkan hal tersebut. Isteri saya yang sudah terbiasa memakai pakaian “konvensional” dan lingkungan serta keluarganya yang juga terbiasa memakai pakaian “konvensional” sejak dia kecil hingga menjadi isteri saya, membutuhkan perjuangan yang berat dan panjang hingga benar-benar mantap memakai pakaian yang “syariah”.

    Isteri saya baru siap berpakaian “syariah” dengan kerudung di kepala setelah 6 tahun pulang dari “tanah suci”. Isteri saya pergi ke “Makkah” pada tahun 1997 bersama saya yang masih bekerja di bank “konvensional” saat itu. Pulang dari “Mekkah”, isteri saya masih belum “siap” untuk memakai pakaian lengkap dengan kerudungnya. Dia baru mampu menggunakan pakaian yang cukup “tertutup”. Berbagai alasan yang “menguatkan” isteri saya untuk tidak siap berkerudung. Hal utama yang “menguatkan” untuk tidak berkerudung adalah rasa “percaya diri” (PD) yang rendah untuk memakai kerudung. Dia merasa wajahnya tidak pas untuk bekerudung. Ada saja rasa “kurang” setiap kali memakai kerudung. Padahal di mata saya, isteri saya tambah cantik saat memakai kerudung. Namun dia tetap tidak “PD” berkerudung. Namun akhirnya setelah dengan niat yang “mantap” di hati isteri saya, dia berhasil pada kuartal ketiga 2003 memakai kerudung sebagai bagian dari pakaiannya sehari-hari hingga hari ini.

    Alasan tidak “PD” untuk berkerudung bukan hanya menimpa isteri saya saja, tetapi juga kakak perempuan saya satu-satunya, serta isteri-isteri saudara-saudara laki-laki saya. Namun, alhamdulillah, setelah mereka berniat dengan “mantap” dengan dorongan suami-suami mereka, akhirnya saat ini mereka telah menggunakan kerudung. Saya sangat bahagia melihat photo keluarga besar saya yang lengkap pada “Idul Fitri” tahun lalu (1428 H), semua wanita dewasa memakai kerudung dalam photo tersebut. Photo itu adalah photo keluarga terakhir yang lengkap bersama “Ibunda” kami (3 bulan setelah itu Ibunda berpulang ke rahmatullah). Photo tersebut sangat berbeda dengan photo keluarga kami pada tahun 2002 yang hampir semua wanitanya tidak menggunakan kerudung.

    Di sisi lain, banyak pula wanita yang sudah punya kesadaran penuh untuk berkerudung, namun banyak tantangan yang harus mereka hadapi untuk dapat menggunakan kerudung dalam kehidupan sehari-hari. Betapa banyak wanita yang ingin berkerudung tetapi mempunyai kendala karena tempat kerjanya yang tidak dapat “menerima” pegawai yang berkerudung. Mereka benar-benar merindukan lingkungan yang dapat menerima mereka berkerudung secara “utuh”.

    Pengalaman isteri dan saudara-saudara saya yang “berat” untuk menggunakan kerudung baik karena tidak “PD” maupun lingkungan yang “tidak mendukung”, membuat saya sedih setiap melihat adanya pegawai “lembaga syariah” yang hanya berkerudung pada hari dan jam kerja saja. Menurut pendapat saya pribadi, sungguh sangat sayang jika 5 hari dalam sepekan dan 10 jam dalam hari-hari tersebut menggunakan kerudung karena “tuntutan” pekerjaan. Dan membuka kerudung di depan umum pada 2 hari lain dalam satu pekan. Betapa sayangnya kesempatan yang dimiliki untuk dapat mematuhi perintah Allah terbuang sia-sia. Mengapa masih ada pegawai “lembaga syariah” tidak mampu menggunakan kerudung hanya 2 hari sepekan dan beberapa jam di hari-hari lain, padahal lingkungan sudah mendukung. Mengapa mereka lebih “takut” pada peraturan perusahaan yang “mewajibkan” mereka berkerudung saat bekerja, dibandingkan takut dengan “perintah” Allah untuk menutup “aurat” dengan berkerudung setiap saat…….?????

    Entahlah, mungkin saya yang terlalu hipokrit karena dahulu hidup saya jauh dari “Allah”. Sehingga ketika kehidupan saya mendekat kepada “Allah”, saya merasa sangat sayang jika ada orang-orang yang punya kesempatan dekat dengan Allah, tetapi tidak mengikuti perintah Allah secara “kaffah”.

    Wallahualam bishowab

    ***

    Penulis: MERZA GAMAL (Pengkaji Sosial Ekonomi Islami)

     

     
  • erva kurniawan 1:22 am on 2 June 2012 Permalink | Balas  

    Air Kencing : Penyebab kebanyakan siksa kubur. 

    Air Kencing : Penyebab kebanyakan siksa kubur.  

    Ibnu Abbas ra mengisahkan bahwa suatu hari Rasulullah saw melintasi dua makam, lalu beliau berkata, “Sesungguhnya mereka berdua sedang disiksa, mereka berdua disiksa bukan disebabkan melakukan dosa besar. Salah satu dari mereka disiksa karena tidak sampai bersih saat bersuci dari buang air kecil.” Seorang perempuan Yahudi mendatangi Aisyah seraya berkata, “Sesungguhnya azab kubur itu disebabkan air kencing.” Mendengar perkataannya, Aisyah berkata, “Engkau bohong.” Perempuan Yahudi itu menjelaskan, “Karena air kencing itu mengenai kulit dan pakaian.” Kemudian Rasulullah saw keluar untuk mengerjakan shalat, sedangkan suara kami semakin keras terdengar (karena ribut). Mendengar keributan ini Rasulullah saw bertanya, “Ada apa ini?” Aisyah pun meceritakan kepadanya apa yang telah dikatakan oleh perempuan Yahudi tadi, setelah itu Rasulullah saw bersabda, “Dia memang benar.” Abdurrahman bin Hasaah mendengar Rasulullah saw bertanya, “Tahukah kalian apa yang telah menimpa salah seorang Bani Israil? Dulu, saat mereka terkena air kencing, mereka segera membersihkannya dengan memotong pakaian yang terkena cipratan air kencing tersebut. Melihat perbuatan ini, orang itu melarang mereka, maka dia pun diadzab dalam kuburnya. Dalam hadist yang diriwayatkan dari Abu Huraihah ra secara mauquf, Rasulullah saw bersabda, ” Kebanyakan siksa kubur itu disebabkan air kencing.”

    Pada suatu malam Abdullah bin Umar pergi ke rumah seorang perempuan tua yang di samping rumahnya terdapat pemakaman. Lalu dia mendengar suara lirih yang berkata, “Kencing, apa itu kencing? Gayung, apa itu gayung?” Abdullah bin Umar pun berkata, “Celaka, apa yang terjadi?” Perempuan tua itu menjawab, “Itu adalah suara suamiku yang tidak pernah bersuci dari buang air kecil.” Mendengar penjelasan tersebut, Abdullah bin Umar berkata, “Celakalah dia! Unta saja kalau kencing bersuci, tapi dia malah tidak peduli.” Perempuan tua itu kembali menuturkan kisah suaminya : Ketika suamiku sedang duduk, ada seorang lelaki mendatanginya seraya berkata, “Berilah aku minum, aku sangat haus.” Suamiku malah berkata, “Engkau membawa gayung sedangkan gayung kami tergantung.” Orang itu berkata, “Wahai tuan, berilah aku minum, aku hampir mati kehausan.” Suamiku berkata, “Engkau membawa gayung.” Akhirnya lelaki yang meminta air untuk minum itu meninggal dunia. Setelah itu, suamiku juga meninggal dunia. Namun sejak hari pertama dia meninggal dunia, seringkali terdengar suara suamiku dari arah pemakaman, “Kencing, apa itu kencing? Gayung, apa itu gayung?”

    Nauzubillah min dzalik, ternyata perkara kecil saja bisa menyebabkan kita mendapat siksa kubur ya? Banyak orang memandang remeh bersuci setelah buang air kecil (kurang bersih bahkan tidak bersuci sama sekali), padahal hal yang remeh itu bisa menjadi malapetaka ketika kita masuk pada Alam Barzakh.

    “Ya Allah, lindungi kami semua dari siksa neraka, siksa kubur, fitnah dunia & alam barzakh, serta fitnah yang ditimbulkan oleh dajjal, amin.”

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Veishayana Inalatani Ayu 5:00 pm on 5 Februari 2013 Permalink

      Sungguh ..sngatt lah berarty bagi.kita smua … :) (^_^)

  • erva kurniawan 1:24 am on 1 June 2012 Permalink | Balas  

    Hadits tentang Haramnya Khamar / Minuman Keras 

    Hadits tentang Haramnya Khamar / Minuman Keras      

    Assalamu’alaikum wr wb, Dari hadits di bawah kita dapat menyaksikan keimanan para sahabat Nabi. Begitu Allah mengharamkan khamar, tanpa banyak tanya apalagi debat, mereka tumpahkan khamar-khamar yang mereka miliki ke jalan sehingga jalanan jadi berbau khamar. Sungguh beda dengan sekarang.

    1. Pengharaman khamar serta menerangkan bahwa khamar itu terbuat dari perasan anggur, kurma basah, kurma kering dan lain sebagainya yang dapat memabukkan.

    Hadis riwayat Ali bin Abu Thalib ra., ia berkata: Aku mendapat seekor unta bersama Rasulullah saw. dari rampasan perang Badar. Dan Rasulullah saw. memberiku seekor unta yang lain. Pada suatu hari aku menderumkan keduanya di depan pintu seorang sahabat Ansar, aku hendak memuatkan idzkhir (sejenis tumbuh-tumbuhan) di atas kedua unta tersebut untuk aku jual kepada seorang tukang emas dari Bani Qainuqa` yang datang bersamaku. Uang penjualan itu akan kupergunakan membantu walimah Fatimah ra. Pada saat itu, Hamzah bin Abdul Muthalib ra. sedang minum minuman keras di rumah tersebut. Ia ditemani seorang budak perempuan yang bernyanyi untuknya. Budak itu berkata: Hai Hamzah, perhatikanlah unta-unta yang gemuk itu! Tiba-tiba Hamzah melompat ke arah kedua untaku dengan pedang, lalu ia potong ponok keduanya dan ia belah lambung keduanya, kemudian ia ambil hati keduanya. Aku katakan kepada Ibnu Syihab: Dan bagaimana dengan ponoknya? Ia berkata: Ponok-ponoknya di pangkas dan dibawa pergi. Kata Ibnu Syihab: Ali berkata: Dan aku menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu. Lalu aku mendatangi Rasulullah saw. yang pada saat itu Zaid bin Haritsah sedang berada di dekat beliau. Aku pun menceritakan peristiwa tersebut. Kemudian beliau bersama Zaid keluar dan aku juga ikut bersama beliau. Lalu beliau masuk menemui Hamzah dan marah kepadanya. Hamzah mengangkat pandangannya, kemudian berkata: Kalian ini tidak lain hanyalah budak-budak bapakku! Rasulullah saw. kemudian mundur ke belakang lalu meninggalkan mereka. (Shahih Muslim No.3660)

    Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Aku sedang memberi minum para tamu di rumah Abu Thalhah, pada hari khamar diharamkan. Minuman mereka hanyalah arak yang terbuat dari buah kurma. Tiba-tiba terdengar seorang penyeru menyerukan sesuatu. Abu Thalhah berkata: Keluar dan lihatlah! Aku pun keluar. Ternyata seorang penyeru sedang mengumumkan: Ketahuilah bahwa khamar telah diharamkan. Arak mengalir di jalan-jalan Madinah. Abu Thalhah berkata kepadaku: Keluarlah dan tumpahkan arak itu! Lalu aku menumpahkannya (membuangnya). Orang-orang berkata: Si polan terbunuh. Si polan terbunuh. Padahal arak ada dalam perutnya. (Perawi hadis berkata: Aku tidak tahu apakah itu juga termasuk hadis Anas). Lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat: Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh karena makanan yang telah mereka makan dahulu, asal mereka bertakwa serta beriman dan mengerjakan amal-amal saleh. (Shahih Muslim No.3662)

    2. Makruh membuat minuman dari kurma dan anggur kering yang dicampur

    Hadis riwayat Jabir bin Abdullah Al-Anshari ra.: Bahwa Nabi saw. melarang anggur kering dicampur dengan kurma atau kurma yang belum matang dengan kurma yang matang. (Shahih Muslim No.3674)

    Hadis riwayat Abu Qatadah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Janganlah kalian membuat minuman kurma setengah matang (mengkal) dan kurma matang sekaligus. Janganlah kalian membuat minuman anggur dan kurma sekaligus. Masaklah masing-masing dari keduanya secara terpisah. (Shahih Muslim No.3681)

    3. Larangan membuat nabiz dalam wadah yang dicat dengan teer, dalam labu kering, panci seng, kayu yang dilubangi, dan menerangkan bahwa larangan itu dihapus dan sekarang halal asal tidak memabukkan

    Hadis riwayat Ali ra., ia berkata: Rasulullah saw. melarang pembuatan minuman dalam kulit labu dan wadah yang dicat dengan teer. (Shahih Muslim No.3693)

    Hadis riwayat Aisyah, Ummul Mukminin ra.: Dari Aswad, ia berkata: Aku bertanya kepada Ummul Mukminin: Wahai Ummul Mukminin! Beritahukanlah kepadaku, apa yang dilarang oleh Rasulullah saw. untuk dijadikan bahan membuat minuman! Ummul Mukminin berkata: Rasulullah saw. melarang kami ahlulbait membuat minuman nabidz dalam kulit labu dan wadah yang dicat dengan teer. (Shahih Muslim No.3694)

    Hadis riwayat Ibnu Umar ra. dan Ibnu Abbas ra.: Dari Said bin Jubair ia berkata: Aku bersaksi bahwa Ibnu Umar ra. dan Ibnu Abbas ra. menyaksikan bahwa Rasulullah saw. melarang kulit labu, tempayan, wadah yang dicat dengan teer dan kayu yang dilubangi. (Shahih Muslim No.3705)

    Hadis riwayat Abdullah bin Amru ra., ia berkata: Ketika Rasulullah saw. melarang nabiz dalam beberapa bejana, orang-orang berkata: Tidak setiap orang mempunyai bejana lain. Lalu Rasulullah saw. memberikan kemurahan (dispensasi) kepada mereka, boleh minum dalam guci yang tidak dicat dengan teer. (Shahih Muslim No.3726)

    4. Menerangkan bahwa setiap yang memabukkan adalah khamar dan semua khamar adalah haram

    Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata: Rasulullah saw. pernah ditanya tentang arak dari madu. Beliau menjawab: Setiap minuman yang memabukkan adalah haram. (Shahih Muslim No.3727)

    5. Balasan peminum khamar yang belum bertobat di akhirat

    Hadis riwayat Ibnu Umar ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Setiap minuman yang memabukkan adalah khamar dan setiap yang memabukkan adalah haram. Barang siapa minum khamar di dunia lalu ia mati dalam keadaan masih tetap meminumnya (kecanduan) dan tidak bertobat, maka ia tidak akan dapat meminumnya di akhirat (di surga). (Shahih Muslim No.3733)

    ***

    Sumber: hadith.al-islam.com

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: