Updates from Juni, 2016 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:09 am on 19 June 2016 Permalink | Balas  

    Penggunaan Akal Yang Tercela 

    akalPenggunaan Akal Yang Tercela

    Oleh : Imam Asy-Syatibi

    Penggunaan akal dikatakan tercela bila tanpa menggunakan dasar dan tidak bersandar pada Al-Kitab dan Sunnah. Jadi, akal (dijadikan) sebagai penentu dalam (penetapan) syari’at. Bila seseorang menempatkan akalnya seperti itu, maka dia telah terjebak dalam perbuatan bid’ah. Karena semua bid’ah itu hanyalah merupakan pendapat akal belaka yang tidak berdasar dalil sama sekali. Oleh karena itulah setiap bid’ah selalu dinisbatkan kepada sesuatu kesesatan.

    Dalam hadist shahih dari Abdullah bin Amr bin Ash, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda :

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu begitu saja dari manusia setelah memberikannya kepada mereka. Akan tetapi Allah mencabut ilmu tersebut dari mereka dengan mematikan ulama berserta ilmu mereka, lalu tinggallah orang-orang jahil yang dimintai fatwa, kemudian mereka pun berfatwa dengan pendapat akal mereka, maka (jadilah) mereka itu tersesat lagi menyesatkan.”1)

    Perbedaan Ulama tentang Penggunaan Akal

    Sebagian ulama berkata bahwa penggunaan akal yang tercela adalah penggunaan akal yang menyelisihi Sunnah, sebagaimana yang dilakukan oleh ahli bid’ah. Akan tetapi hal itu ada dalam masalah akidah saja, seperti ajaran Jahm2) dan semua ajaran ahli kalam lainnya. Karena mereka menggunakan pendapat akal mereka semata untuk membantah hadist-hadist Rasulullah yang shahih; bahkan, untuk membantah ayat Al-Qur’an yang telah jelas penunjukan hukumnya.

    Sebagian yang lain mengatakan bahwa penggunaan akal yang tercela dan rusak adalah penggunaan akal untuk membuat perkara-perkara yang bid’ah atau yang semisalnya. Karena memang dari semua bid’ah itu kembalinya kepada pendewaan akal dan penyimpangan dari syari’at. Pendapat inilah yang kuat. Karena dalil-dalil yang telah kita sebutkan dimuka tidak menunjukkan satu macam bid’ah saja, tapi justru menunjuk kepada semua bentuk bid’ah yang telah terjadi dan yang akan terjadi sampai hari kiamat, baik masalah ushul maupun masalah furu’.

    Sebagian yang lain lagi mengatakan penggunaan akal yang tercela adalah penggunaan akal untuk menentukan hukum-hukum agama untuk masalah istihsan dan asumsi-asumsi, sibuk membahas permasalahan-permasalahan yang rumit yang sering mengelirukan, mengembalikan sebagian permasalahan furu’ dan kasus-kasus yang muncul antara satu dengan yang lain berdasarkan qiyas tanpa mengembalikan kepada kaidah-kaidah ushul serta meneliti sisi kelemahan dan kelayakan cara tersebut. Akal pun digunakan sebagai pemegang peranan dalam membahas permasalahan tersebut. Dibahas dan diperbincangkannya permasalahan tersebut secara terperinci sebelum kasusnya sendiri terjadi dengan mengandalkan akal berdasar perkiraan-perkiraan. Mereka yang berpendapat demikian berkata: “Karena menyibukkan diri dan larut dengan cara-cara semacam itu berarti menafikkan Sunnah, mendorong kejahilan orang terhadap Sunnah, meninggalkan keharusan berdasar Sunnah tersebut; juga dengan Kitabullah.”

    Pendapat diatas sejalan dengan pendapat sebelumnya. Kerena pendapat diatas melarang menggunakan akal meskipun tidak tercela. Hal itu karena terlalu sibuk dengan penggunaan akal akan mengarahkan diri kepada pendapat yang tercela, yaitu membuang Sunnah dan mencukupkan diri dengan akal. Dan kalau sudah begitu maka akan sejalan dengan pendapat sebelumnya. Karena di antara kebiasaan syari’at bahwa apabila melarang keras sesuatu berarti melarang pula hal-hal yang mendukungnya. Tidaklah kita mengetahui adanya sabda Rasulullah:

    “Yang halal itu jelas; yang haram pun juga jelas. Diantara kedua nya ada perkara-perkara syubhat3).”4)

    Demikian pula, dalam syari’at terdapat kaidah Saddudz Dzari’ah, yaitu menahan diri dari hal yang dibolehkan karena dikhawatirkan akan mengiring kepada hal yang tidak dibolehkan. Dan semakin besar daya rusak suatu perkara yang dilarang tersebut, maka akan semakin diperketat upaya pencegahannya.

    Sebagai kesimpulannya adalah bahwa penggunaan akal yang tercela adalah penggunaan akal yang berdasar atas kebodohan, mengikuti hawa nafsu tanpa mau merujuk kepada syari’at. Dan termasuk penggunaan akal yang tercela pula, segala jalan yang mengiring kepada penurutan hawa nafsu meski pada asalnya jalan tersebut baik lantaran kembali kepada kaidah syar’i.

    Footnote:

    1). Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (Hadist no. 100, dan 7307)

    2). Jahm bin Shafwan adalah pendiri kelompok Jahmiyyah yang di antara ajarannya adalah menolak nama-nama dan sifat-sifat Allah, pent.

    3). Syubhat artinya tidak ada kejelasan halal dan haramnya, pent.

    4). Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (Hadist no. 2051) dan ini adalah lafal yang dia riwayatkan, dan Muslim (Hadist no. 1599) dari An-Nu’man bin Basyir.

    ***

    Ringkasan Al-I’tisham Imam Asy-Syatibi, “Membedah Seluk Beluk Bid’ah”, karya Syaikh Abdul Qadir As-Saqqaf, Bab 2 “Tercelanya bid’ah dan akibat buruk yang akan diperoleh para pelakunya” hal: 54.

    Iklan
     
  • erva kurniawan 1:07 am on 19 June 2016 Permalink | Balas  

    Setelah Ada Hadits Shahih, Tidak Boleh Mengatakan Mengapa 

    tanyaSetelah Ada Hadits Shahih, Tidak Boleh Mengatakan Mengapa

    Oleh : Al-Hafizh Al-Imam As-Suyuthi

    Diriwayatkan dari Utsman bin Umar, ia berkata : “Datang seorang laki-laki kepada Imam Malik untuk bertanya kepadanya tentang suatu masalah, maka Imam Malik berkata kepada laki-laki itu : ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bagini dan begitu’, lalu laki-laki itu berkata : ‘Bagaimana pendapatmu ?’. Maka Imam Malik menjawab dengan firman Allah.

    “Artinya : Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. [An-Nuur : 63]

    Diriwayatkan dari Ibnu Wahb, ia berkata : Imam Malik mengatakan : “Suatu fatwa yang telah difatwakan kepada manusia maka tak satupun manusia boleh mengatakan : “Mengapa engkau berfatwa seperti ini”, melainkan cukup bagi mereka saat itu untuk mengetahui riwayat dan mereka rela dengan riwayat (hadits) itu”.

    Diriwayatkan dari Ishaq bin Isa, ia berkata : Aku mendengar Malik bin Anas mencela perdebatan dalam perkara agama, ia mengatakan : “Setiap kali datang kepada kami seseorang yang lebih pandai berdebat dari pada orang lain, maka kami membantah dengan apa yang dibawa malaikat Jibril ‘Alaihis Salam kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

    Diriwayatkan dari Ibnu Al-Mubarak, ia berkata : “Hendaknya yang engkau jadikan sandaran adalah atsar, dan ambillah dari fikiran apa yang dapat menafsirkan hadits itu untukmu”..

    Diriwayatkan dari Yahya bin Dharis, ia berkata : Aku menyaksikan Sufyan ketika datang kepadanya seorang laki-laki, lalu laki-laki itu berkata : “Apa tuntutanmu kepada Abu Hanifah ?” Sufyan berkata : “Memangnya ada apa dengan dia, sesungguhnya aku telah mendengarnya berkata : “Aku berpegang kepada Kitabullah, jika tidak aku temui, maka aku akan berpegang pada Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika tidak ada aku temui dalam Kitabullah dan tidak pula dalam Sunnah Rasul, maka aku berpegang pada pendapat para sahabat beliau, aku akan mengambil pendapat di antara mereka yang aku kehendaki dan aku akan meninggalkan pendapat diantara mereka yang aku hendaki. Sedangkan jika perkara itu berakhir pada Ibrahim, Asy-Sya’bi, Ibnu Sirin, Al-Hasan, Atha, Ibnu Al-Musayyab dan beberapa orang lainnya yang berijtihad maka saya akan berijtihad pula sebagaimana mereka berijtihad”.

    Diriwayatkan dari Ar-Rabi’, ia berkata : Pada suatu hari Imam Syafi’i meriwayatkan suatu hadits, maka berkatalah seorang laki-laki kepadanya : “Apakah engkau berpegang pada ini wahai Abu Abdullah?”, maka berkata Imam Syafi’i : “Jika diriwayatkan kepadaku suatu hadits yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian aku tidak berpegang kepadanya, maka aku bersaksi kepada kalian bahwa akalku telah hilang”.

    Diriwayatkan dari Ar-Rabi’, ia berkata : Aku mendengar Imam Syafi’i berkata : “Jika kalian dapatkan dalam kitabku (tulisanku) sesuatu yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka berpeganglah kalian kepada Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tinggalkanlah apa yang telah aku ucapkan”.

    Diriwayatkan dari Mujtahid, tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    “Artinya : Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-(Nya)”. [An-Nisaa : 59].

    Ia berkata : “Kepada Allah artinya adalah kepada Kitabullah, sedangkan kepada Rasul artinya adalah kepada Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

    Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan Ad-Darimi, dari Abu Dzar, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kita agar kita tidak dikalahkan dalam memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah perbuatan mungkar dan agar kita mengajarkan As-Sunnah kepada manusia”.

    Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Pelajarilah As-Sunnah, ilmu fara’idh dan ilmu membaca sebagaimana kalian mempelajari Al-Qur’an”.

    Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa ia berkata : “Wahai menusia sekalian hendaklah kalian mempelajari ilmu itu sebelum ilmu itu diangkat, karena diangkatnya ilmu adalah dengan dimatikannya para ahli ilmu (para ulama). Jauhilah oleh kalian perbuatan baru (bid’ah), dan hendaklah kalian berpegang pada yang lama (As-Sunnah), karena sesungguhnya pada akhir kehidupan umat ini akan ada golongan-golongan manusia yang mana mereka menduga bahwa mereka menyeru kepada Kitabullah tetapi sebenarnya mereka telah meninggalkan Kitabullah di belakang punggung mereka”. [Hadist Riwayat Darimi]

    [Disalin dari buku Miftahul Jannah fii Al-Ihtijaj bi As-Sunnah, edisi Indonesia KUNCI SURGA Menjadikan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Sebagai Hujjah oleh Al-Hafizh Al-Imam As-Suyuthi terbitan Darul Haq, hal. 108-111 penerjemah Amir Hamzah Fachruddin]

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 18 June 2016 Permalink | Balas  

    Meninggalkan Puasa Ramadan 

    ramadhan8Meninggalkan Puasa Ramadan

    Orang-Orang Yang Diwajibkan Kaffarah

    ULAMA sepakat mengenai kewajipan kaffarah bagi orang-orang yang berbuka puasa dengan melakukan persetubuhan (jimak) sama ada dengan perempuan atau binatang dengan sengaja tanpa dipaksa atau dengan maksud melanggar kehormatan dalam bulan puasa, atau bukan kerana yang diharuskan berbuka puasa. Kaffarah kerana persetubuhan tersebut ialah memerdekakan seorang hamba. Jika dia tidak mendapatkannya, maka hendaklah dia puasa dua bulan berturut-turut dan jika dia tidak berdaya maka dia memberi makan enam puluh orang miskin.

    Dalil kaffarah ini telah diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radiallahuanhu yang bermaksud, “Ketika kami duduk bersama Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam telah datang seorang lelaki kepada Baginda lalu berkata : “Binasalah aku!” Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda : “Kenapa dengan engkau?” Lelaki itu menjawab : “Aku telah menyetubuhi isteriku sedang aku berpuasa (Ramadan).” Lalu Nabi bersabda : “Adakah engkau berdaya memerdekakan seorang hamba?” Lelaki itu menjawab : “Tidak”. Lalu bersabda Nabi: “Adakah engkau berupaya menunaikan puasa dua bulan berturut-turut? Lelaki itu menjawab : “Tidak.” Bersabda Nabi : “Adakah engkau berdaya memberi makan enam puluh orang miskin?” Lelaki itu menjawab : “Tidak.” (Abu Hurairah) berkata : “Ketika kami duduk telah dibawakan kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dengan serumpun tamar. “Lalu Baginda bersabda: Ambil (tamar) ini dan sedekahkan ….” (Hadis riwayat Al-Bukhari).

    Membatalkan puasa dengan jimak atau persetubuhan yang berlaku pada siang hari bulan Ramadan adalah haram. Akan tetapi tidak wajib kaffarah jika berlaku jimak pada bulan-bulan yang lain selain bulan Ramadan seperti ketika melakukan puasa sunat, nazar, qada atau puasa kaffarah. Perkara ini telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu Wataala yang tafsirnya :

    “Dihalalkan bagi kamu, pada malam hari puasa, bercampur (bersetubuh) dengan isteri-isteri kamu. Isteri-isteri kamu itu adalah sebagai pakaian bagi kamu dan kamu pula sebagai pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahasanya kamu mengkhianati diri sendiri, lalu Dia menerima taubat kamu dan memaafkan kamu. Maka sekarang setubuhilah isteri-isteri kamu dan carilah apa-apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kamu; dan makanlah serta minumlah sehingga nyata kepada kamu benang putih (cahaya siang) daripada benang hitam (kegelapan malam), iaitu waktu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sehingga waktu malam (Maghrib); dan janganlah kamu setubuhi isteri-isteri kamu ketika kamu sedang beriktikaf di masjid. Itulah batas-batas larangan Allah, maka janganlah kamu menghampirinya. Demikian Allah menerangkan ayat-ayat hukum-Nya kepada sekalian manusia supaya mereka bertakwa.” (Al-Baqarah : 187).

    Apabila seorang lelaki atau perempuan berbuka dengan melakukan jimak dengan sengaja, maka batal puasa dan berdosa. Begitu juga ke atasnya wajib qada puasa dan kaffarah bersama ta’zir. Jika keadaan ini berlaku kepada suami dan isteri, siapakah yang dikenakan kaffarah? Ulama berbeza pendapat tentang siapakah yang dikenakan kaffarah sama ada suami atau isteri atau kedua-duanya sekali. Menurut pendapat yang ashah di kalangan ulama Syafi’e, kaffarah hanya wajib ke atas suami sahaja.

    Jika berlaku jimak itu dua hari atau lebih dalam bulan Ramadan, ulama sepakat bagi setiap hari dikenakan kaffarah. Manakala bagi yang melakukan jimak beberapa kalli dalam satu hari atau pada hari yang sama, dia hanya dikenakan satu kaffarah.

    Jika berlaku jimak dalam keadaan musafir yang diharuskan, puasa terbatal dan tidak wajib kaffarah dengan jimak tersebut. Begitu juga jika dia menyangka (dzann) matahari telah masuk dan berlaku jimak, sedangkan hari masih siang (belum masuk matahari), dihukumkan tiada kaffarah kerana dia tidak bermaksud untuk melakukan yang dilarang. Manakala jika dia syak di siang hari, sama ada berniat puasa di malam hari atau sebaliknya, kemudian berlaku jimak dalam keadaan syak itu, lalu dia teringat bahawa dia telah berniat, maka batal puasanya dan tidak wajib kaffarah. Begitu juga tidak wajib kaffarah jika jimak itu berlaku setelah terbatal puasa oleh perkara-perkara lain seperti makan, minum dan sebagainya.

    Berdasarkan kepada penjelasan di atas, bahawa ibadat puasa itu wajib ditunaikan kecuali bagi orang-orang yang ditentukan oleh syarak mempunyai kelonggaran-kelonggaran tertentu. Kelonggaran-kelonggaran tersebut bertujuan supaya tidak membebankan umat Islam melaksanakan tanggungjawab dan kewajipan.

    Namun ibadat puasa yang ditinggalkan sama ada dengan sebab keuzuran syari atau tanpa sebab munasabah, Islam telah mewajibkan ke atas mereka qada atau fidyah ataupun kaffarah.

    Oleh yang demikian mana-mana orang yang wajib ke atasnya kaffarah atau fidyah hendaklah mengambil perhatian tentang perkara ini. Sementara yang wajib qada pula tidak akan melengah-lengahkan atau menunda-nunda qadanya sehingga masuk Ramadan yang akan datang.

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 17 June 2016 Permalink | Balas  

    Permasalahan Puasa Ramadan (4) 

    ramadhan 2Permasalahan Puasa Ramadan (4)

    4. Puasa Dalam Perjalanan

    Pada kelazimannya di musim Ramadhan ini lah ramai masyarakat kita mengambil kesempatan untuk membuat perjalanan jauh seperti belayar ke luar negara untuk menziarahi sanak saudara, menunaikan umrah untuk mengambil ganjaran pahalanya yang besar di bulan mubarak ini dan juga ada yang membeli belah untuk keperluan di Hari Raya atau sebagainya. Tidak kurang pula mereka yang berada di luar negara khasnya para pelajar akan balik bercuti ke tanah air untuk sama-sama menyambut Ramadhan dan berhari raya bersama-sama kaum keluaga.

    Pada dasarnya ibadah puasa itu tidak diwajibkan ke atas orang yang dalam perjalanan (musafir). Ini karena musafir itu adalah merupakan salah satu keuzuran syar’ie yang menyebabkan beberapa kewajipan yang berbentuk ‘azimah diangkat dari mereka. Firman Allah Subhanhu wa Ta’ala :

    Tafsirnya: “Maka barang siapa di antara kamu yang sakit, atau dalam musafir, (bolehlah ia berbuka) kemudian wajiblah ia berpuasa sebanyak (hari yang dibuka) itu pada hari-hari yang lain.

    (Surah Al-Baqarah: 184)

    Ada juga hadis-hadis Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam yang menyatakan tentang keharusan perkara ini. Antaranya ialah hadis yang diriwayatkan daripada Saiyidatuna ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha:

    Maksudnya : “Sesungguhnya Hamzah bin ‘Amr Al-Aslamiy berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alahi wasallam : “Adakah mesti aku berpuasa di dalam musafir?” (Walhal) adalah Hamzah itu seorang yang banyak mengerjakan ibadah puasa. Bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Jika engkau hendak berpuasa berpuasalah dan jika engkau hendak berbuka, berbukalah.”

    (Hadis riwayat Bukhari)

    Walau bagaimanapun tidak semua orang musafir itu diberikan rukhshah berbuka puasa. Mereka yang diberikan kelonggaran itu hanya orang yang memenuhi syarat-syarat berikut :

    a). Perjalanannya mestilah mencapai atau melebihi jarak yang dibolehkan mengqashar sembahyang. Yaitu jarak dari tempat ia memulakan perjalanannya ke tempat yang ditujunya itu mestilah tidak kurang dari dua marhalah yaitu kira-kira 89 (delapan puluh sembilan) kilometer.

    b). Perjalanan itu ialah perjalanan yang diharuskan oleh hukum syara’ bukan perjalanan yang melibatkan perkara maksiat.

    Perjalanan yang Tidak Membebankan

    Adakah perjalanan yang tidak membebankan orang yang bermusafir seperti yang berlaku di zaman yang serba canggih ini boleh dianggap sebagai uzur syar’ie yang mana si musafir ini boleh mengambil rukhshah berbuka?

    Mengikut apa yang telah dijelaskan oleh ayat al-Qur’an di atas bahwa musafir itu adalah merupakan satu keuzuran syar’ie tanpa memperincikan sama ada perjalanan yang dilakukan itu perjalanan yang mendatangkan beban kepayahan ataupun tidak.

    Menurut apa yang telah diperjelaskan oleh Imam As-Syaf’ie dan Ashhabnya Rahimahullah keharusan berbuka puasa itu lebih kepada wujudnya kepayahan sepertimana yang disebutkan:

    Maksudnya: “ Jika dengan berpuasa akan memudharatkannya maka berbuka itu afdhal dan jika sebaliknya maka berpuasa itu lebih afdhal.” (Kitab Al-Majmuk, 6:265)

    Ini bererti apa jua jenis pengangkutan yang digunakan untuk bermusafir maka dia adalah diharuskan dan berhak untuk mengambil rukhshah berbuka mengikut syarat yang telah dijelaskan. Akan tetapi berpuasa itu adalah lebih utama (afdhal) jika tidak memudharatkan dirinya sebagimana yang telah dijelaskan oleh Imam Asy-Syafi’ie dan Ashhab beliau Rahimahumullah.

    Bila Diharuskan Mengambil Rukhshah Berbuka

    Syarat lain yang membawa kepada keharusan berbuka ketika musafir itu ialah orang berkenaan memulakan perjalanan sebelum terbit fajar shadiq. Maksud memulakan perjalanan di sini ialah apabila dia melewati sempadan atau perbatasan kampong tempat tinggalnya.

    Jika dia melewati tempat tersebut selepas terbitnya fajar shadiq maka kewajipan puasa itu dituntut ke atasnya dan tidak harus baginya berbuka kecuali ada sesuatu kesusahan yang menyebabkan dia tidak berkuasa meneruskan puasanya. Dalam keadaan ini dia diharuskan berbuka karena tidak berkemampuan berpuasa atau khuatir akan memudharatkan dirinya bukan karena perjalanan (safar).

    Tetapi jika dia singgah di sesuatu tempat bukan dengan niat bermuqim maka dia diharuskan berbuka walau pun selepas terbit fajar shadiq ia keluar untuk meneruskan perjalanannya karena ia masih dihukumkan sebagai orang musafir.

    Wajib Mengqadha Puasa Yang Ditinggalkan.

    Walaupun orang yang musafir itu diharuskan berbuka puasa semasa dalam perjalanan tetapi dia masih diwajibkan menqadha hari-hari puasa yang di tinggalkan itu tanpa membayar fidyah sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    Tafsirnya: “Maka sesiapa di antara kamu yang sakit, atau dalam musafir, (bolehlah ia berbuka) kemudian wajiblah ia berpuasa sebanyak (hari yang dibuka) itu pada hari-hari yang lain.

    (Surah Al-Baqarah: 184)

    Sekiranya perjalanan itu menuju negeri yang lambat kelihatan anak bulan Ramadhan yang menyebabkan penduduk negeri tersebut terkemudian menunaikan puasa Ramadhannya dari negeri asalnya maka dia dikehendaki berpuasa bersama-sama dengan penduduk negeri itu menurut pendapat yang ashah sekalipun ia telah berpuasa tiga puluh hari penuh.

    Begitu juga halnya jika ia membuat perjalanan menuju negeri yang lebih awal kelihatan anak bulan, apabila dia sampai di sana penduduknya telah menyambut hari raya, maka ketika itu dia diwajibkan berbuka (berhari raya bersama mereka) dan haram baginya berpuasa. Walaupun bilangan puasanya pada waktu mereka menyambut hari raya itu kurang dari sebulan penuh pada perkiraannya.

    Sekiranya jumlah puasanya sebanyak dua puluh lapan hari ia akan berhari raya pada hari yang kedua puluh sembilan mengikut negeri tersebut, tetapi dalam keadaan ini dia dikenakan mengqadha sebanyak sehari untuk mencukupkan sebulan karena satu bulan itu sekurang-kurangnya adalah sebanyak dua puluh sembilan hari. Berlainan pula halnya jika ia sudah berpuasa sebanyak dua puluh sembilan hari maka ia tidak perlu mengqadha karena bilangan dua puluh sembilan hari itu adalah bilangan sebulan yang paling minima. (Kitab Mughni Al-Muhtaj 1:422-423)

    Hukum Menahan Diri (Imsak) Bagi Orang Musafir

    Jika dia sampai ke negeri tempat dia hendak bermuqim dalam keadaan dia berbuka atau tidak berpuasa maka adalah disunatkan ke atasnya imsak yaitu menahan diri bagi menghormati waktu. Imsak itu tidak wajib ke atasnya karena ia berbuka atas sebab keuzuran syar’ie yaitu musafir. Walau bagaimanapun dalam mazhab Hanafi pula mewajibkan imsak ke atasnya.

    Walaupun imsak itu hanya sunat keatasnya tetapi jika dia makan sesuatu hendaklah bukan dikhalayak orang ramai yang tidak mengetahui keuzuran itu karena ditakuti akan menimbulkan tohmahan dan hukuman.

    Jika orang yang musafir itu sampai ke tempat yang ditujunya dalam keadaan ia berpuasa maka dia mesti menyempurnakan puasanya itu. (Kitab Al-Majmuk 6:267/ I’anah Al-Thalibin 2:269)

    Waktu Berbuka Dalam Perjalanan

    Menurut hukum syara’ waktu berbuka puasa itu ialah apabila tenggelam matahari (waktu Maghrib). Soalnya bagaimana halnya jika perjalanan menggunakan kapal terbang yang pada kebisaannya matahari akan masih lagi wujud pada penglihatan penumpang walaupun ia sudah hilang (tenggelam) bagi mereka yang berada di bumi.

    Dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ada menjelaskan:

    Tafsirnya: “Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam (Maghrib)”

    (Surah Al-Baqarah:187)

    Sementara itu hadis Baginda Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abi Aufa Radhiallahu ‘anhu katanya:

    Maksudnya: “Kami bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam satu perjalanan di bulan Ramadhan. Ketika matahari telah terbenam Baginda bersabda: “Hai Fulan ! Turunlah, dan siapkan makan kita !” Jawab orang itu, “ Hari masih siang, ya Rasullullah!” Sabda Rasulullah , “Turunlah dan siapkan makan kita!” kata Abdullah,, “Orang itu pun segera turun, lalu dia menyiapkan makanan dan menyajikannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam, dan Baginda langsung minum. Kemudian Baginda bersabda sambil menunjuk dengan tangannya : “Apabila matahari telah terbenam di sana, dan malam telah datang di sini , maka orang puasa sudah boleh berbuka”.

    (Hadis Muttafaq ‘alaihi)

    Maka berpandukan ayat al-Quran dan hadis di atas, jika seseorang itu berpuasa lalu belayar dengan menaiki kapal terbang dan ia sedang berada di udara waktu berbukanya ialah apabila matahari itu hilang dari penglihatannya. Tidak sah puasanya jika ia berbuka selagi matahari ternampak olehnya walaupun negeri dari tempat ia memulakan perjalanan itu sudah tiba saatnya untuk berbuka.

    Sebagaimana yang berlaku bagi mereka yang menuju ke arah Timur, maka waktu siangnya adalah pendek berbanding dengan mereka yang menuju ke arah Barat waktu siangnya adalah panjang. Oleh yang demikian apa yang diambil kira sekarang bagi orang yang berpuasa itu ialah dengan terbenamnya matahari daripada penglihatannya, walau dimana ia berada ketika itu, dan bukan dikira dengan waktu tempatan yang dilaluinya atau waktu negerinya sendiri yang ditinggalkannya.

    Sekiranya puasa sepanjang hari itu menyusahkannya, maka baginya terdapat kelonggaran yang mengharuskannya berbuka, sebaliknya jika tidak menyusahkan dan dia dapat menyempurnakan puasanya itu, maka yang afdhal teruskan dan sempurnakan puasanya itu.

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 16 June 2016 Permalink | Balas  

    Permasalahan Puasa Ramadan (3) 

    ramadhan 2Permasalahan Puasa Ramadan (3)

    III. Perempuan Hamil dan Perempuan Yang Menyusukan Anak

    Fungsi ibadah yang disyariatkan kepada manusia itu ialah untuk mengukur dan membuktikan ketaatan seorang hamba kepada tuhannya. Selain itu ia juga berperanan sebagai jalan yang menghampirkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak kira ibadah itu wajib atau pun sunat. Perkara ini dijelaskan dalam firman-Nya:

    Tafsirnya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal salih, mereka itulah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhannya ialah syurga ‘adn (tempat tinggal yang tetap), yang mengalir di bawahnya beberapa sungai; kekallah mereka di dalamnya selama-lamanya; Allah redha akan mereka dan mereka pun redha (serta bersyukur) akan nikmat pemberian-Nya. Balasan yang demikian itu untuk orang-orang yang takut (melanggar perintah) Tuhannya.

    (Surah al-Baiyinah: 7-8)

    Adalah janggal sekali pendapat yang mendakwa bahwa ibadah-ibadah seperti sembahyang, puasa, haji, zakat dan sebagainya itu sebagai suatu bebanan yang menyeksa manusia. Tuduhan ini dengan tegas ditolak oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

    Tafsirnya: “Dan Ia tidak menjadikan kamu menanggung sesuatu keberatan dan susah payah dalam perkara ugama”

    (Surah al-Haj: 78)

    Kita telah pun diajar tentang tahap (darajah) hukum-hukum ibadah yang disyariatkan itu dan perlu diambil penuh perhatian ialah ibadah-ibadah yang wajib. Ibadah seumpama ini jika kita tinggalkan dengan tiada keuzuran akan berdosa.

    Walaupun demikian, Islam sebagai agama yang mulia dan agama yang diperakukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah pun menggariskan tentang kewajipan manusia dalam melaksanakan ibadah-ibadah wajib itu. Sekalipun sesuatu ibadah itu wajib dilaksanakan namun tahap kewajipan melaksanakannya adalah mengikut kadar yang termampu oleh manusia. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

    Tafsirnya: “Allah tidak memberati seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya”

    (Surah al-Baqarah: 286)

    Ayat di atas juga dengan jelasnya menerangkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala itu bersifat Rahim yaitu amat pengasihani. Begitulah cantiknya syariat Islam itu. Walaupun demikian hakikatnya, tetapi tidak bererti kita bersikap cuai atau mengambil ringan tentang hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh syariat Islam itu. Kecuaian atau sikap mengambil ringan soal hukum-hukum Islam boleh membawa kepada berleluasnya kepada perkara mungkar dan maksiat yang akhirnya meleburkan iman dan taqwa manusia.

    Berbalik kepada kelonggaran atau keringanan yang diberikan oleh syariat Islam itu, maka bagaimanakah hukum dan kewajipan berpuasa terhadap perempuan hamil atau menyusukan anak?

    Seperti yang kita jelaskan sebelum ini puasa itu wajib ke atas orang-orang Islam yang mukallaf. Ini bererti perempuan yang hamil atau perempuan yang menyusukan anak itu termasuk di bawah hukum di atas. Hamil itu boleh terjadi atas jalan pernikahan dan tanpa pernikahan. Menyusukan anak pula, boleh terjadi karena menyusukan anak sendiri atau anak orang lain. Perempuan yang menyusukan anak ini disebut dalam bahasa Arab sebagai Murdhi’.

    Menurut hukum syara’ perempuan yang hamil sekalipun hasil dari perzinaan dan perempuan yang menyusukan anak damit (murdhi’) walaupun anak damit itu kepunyaan orang lain disebabkan menderma atau diupah, adalah diharuskan bagi mereka untuk berbuka puasa semata-mata karena dua perkara tersebut.

    Sekalipun demikian, persoalan lain yang timbul, apakah hukum yang berbangkit dari berbuka puasa itu? Adakah diwajibkan ke atas mereka qadha atau lain hukum mengenainya?

    Dalam hal ini para fuqaha telah merumuskan hukum-hukum mengenainya. Rumusan hukum dan perbincangan mereka lebih tertumpu kepada perkara-perkara yang menyebabkan mereka berbuka puasa.

    Tetapi jika mereka berbuka puasa karena takut akan kemudaratan kepada anak yang dalam kandungan atau anak yang disusukan itu sahaja, maka wajib ke atas mereka membayar fidyah dan juga qadha pada tiap-tiap hari puasa yang ditinggalkannya itu.

    Jika mereka berbuka puasa karena takut akan timbul kemudaratan atas diri mereka atau kedua-duanya yaitu takut ke atas diri mereka dan anak yang dalam kandungan atau anak yang disusukan, maka wajib ke atas mereka mengqadha puasa yang ditinggalkan itu tanpa wajib mengeluarkan fidyah.

    Jika perempuan yang hamil atau perempuan yang menyusukan anak (murdhi’) itu sedang dalam musafir ataupun sakit, lalu mereka berbuka puasa dengan berniat rukhshah (kelonggaran) atas sebab musafir atau sakit, bukan karena takut akan kemudaratan kepada anaknya, maka diwajibkan ke atas mereka mengqadha puasa itu tanpa membayar fidyah di hari-hari puasa yang ditinggalkan ketika musafir itu.

    Dalam keadaan musafir atau sakit, jika hamil atau yang menyusukan anak (murdhi’) berbuka karena takut akan kemudaratan anaknya dan bukan berbukanya itu atas rukhshah musafir atau sakit, menurut pendapat yang ashah dia juga tidak diwajibkan membayar fidyah. Sebagaimana tidak diwajibkan membayar kaffarah kepada orang musafir yang sampai ke kediamannya ketika siang hari puasa, lalu dia melakukan persetubuhan di siang hari itu bersama isterinya yang tidak berpuasa disebabkan baru bersih dari haidh atau nifas di siang hari itu juga. (Al-Majmuk: 6/272&375)

    Berkait dengan hukum ini, ingin juga dijelaskan apakah dia fidyah karena meninggalkan puasa itu? Kepada siapakah ia diserahkan dan bagaimanakah melaksanakannya?

    Fidyah ialah denda atau tebusan yang dikenakan kepada orang Islam yang melakukan beberapa kesalahan tertentu dalam ibadah. Ia juga merujuk kepada menebus ibadah (karena uzur dan disyariatkan), dengan memberi sedekah kepada fakir miskin berupa makanan yang mengenyangkan.(Ensiklopedia Islam 3:264)

    Adapun makna fidyah dalam hal puasa ialah bayaran denda karena tidak berpuasa Ramadhan dengan sebab-sebab tertentu atau karena melambat-lambatkan mengqadha puasa Ramadhan sehingga masuk Ramadhan berikutnya.

    Jenis fidyah itu ialah sama seperti jenis zakat fitrah yaitu makanan asasi dan yang mengenyangkan bagi sesebuah negeri seperti beras. Kadar yang patut dikeluarkan ialah satu mudd (secupak) yaitu kira-kira lima belas tahil beras bersamaan 566.85 gram.

    Pihak yang berhak menerima fidyah itu ialah orang-orang fakir dan miskin sahaja. Fidyah itu boleh diberi dengan lebih dari satu cupak kepada seorang miskin berlainan dengan kaffarah, karena ia hendaklah satu cupak sahaja kepada setiap seorang miskin hingga enam puluh orang yaitu tidak boleh dua cupak untuk satu orang miskin bagi membayar kaffarah.

    Membayar fidyah itu diharuskan selepas terbit fajar di hari puasa Ramadhan yang ditinggalkan karena keuzuran seperti orang yang sakit yang tiada harapan untuk sembuh, orang yang terlalu tua yang tiada berdaya untuk puasa dan perempuan yang hamil dan murdhi’. Walau bagaimana pun diharuskan juga mengeluarkan fidyah itu sebelum terbit fajar bagi hari yang dikeluarkan fidyah itu dan diharuskan juga mengeluarkan fidyah terlebih dahulu sebelum berbuka, akan tetapi hanyalah satu fidyah sahaja di hari berbukanya itu dan tidak harus mendahuluinya bagi hari kedua dia berbuka puasa. Begitu juga tidak diharuskan membayar fidyah sebelum masuk bulan Ramadhan.(Raudah At-Thalibin: 2/385)

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 15 June 2016 Permalink | Balas  

    Permasalahan Puasa Ramadan (2) 

    ramadanPermasalahan Puasa Ramadan (2)

    2. Wajib Menahan Diri (Imsak)

    Apabila masuknya bulan Ramadhan masih terdengar di media-media elektronik seperti radio dan televisyen yang menyiarkan berita tentang orang Islam yang didenda oleh mahkamah kadhi karena tidak berpuasa dan makan atau minum di khalayak ramai. Fenomena ini menggambarkan bahwa masih ada sebilangan kecil daripada masyarakat kita yang tidak menghiraukan kewajipan berpuasa tersebut, sedangkan ketika itu dia mukallaf dan tiada sesuatu yang menghalangnya daripada berpuasa. Ada pula di antara mereka yang senghaja berbuat demikian malahan berbangga-bangga dengan tidak berpuasa, seolah-olah kewajipan itu tidak ada bagi mereka. Perbuatan ini wajib kita perbetulkan dari terus berleluasa.

    Menurut ketentuan hukum syara’, orang-orang yang meninggalkan puasa dengan senghaja itu sangat berat balasannya. Perbuatan tersebut termasuk dalam kategori dosa besar malahan menjadi kerugian yang tidak boleh ditukar ganti sebagaimana digambarkan di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya:

    Maksudnya: “Barangsiapa berbuka satu hari pada bulan Ramadhan tanpa ada rukhshah (keringanan) dan tidak juga karena sakit, dia tidak akan dapat melunaskan (mengganti) puasa yang ditinggalkannya itu, sekalipun dia berpuasa seumur hidup”

    (Hadis riwayat Tirmidzi, Abu Daud, An-Nasa’ie, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah)

    Maksudnya: “Sesungguhnya di dalam syurga terdapat pintu yang disebut Rayyan, yang mana pada hari qiamat orang-orang yang berpuasa masuk daripadanya. Dikatakan: “Di manakah orang-orang yang berpuasa?” Maka mereka berdiri, tidak ada seorang pun selain mereka yang masuk daripadanya. Apabila mereka telah masuk maka pintu itu ditutup, sehingga tidak ada seorang pun yang masuk daripadanya.”

    (Hadis Muttafaq ‘Alaihi)

    Hadis di atas menerangkan bahwa orang-orang yang berpuasa itu akan diberi keistimewaan khas dimana mereka berhak untuk masuk syurga melalui pintu al-Rayyan. Amat rugilah orang-orang yang tidak mengerjakan ibadah puasa itu karena tiada hak untuk masuk syurga melalui pintu tersebut.

    Apa yang lebih dikhuatiri ialah orang-orang yang tidak berpuasa itu beranggapan bahwa puasa itu tidak perlu dikerjakan karena ia hanya suatu budaya yang menyeksa manusia. Menurut ijma’ ulama, barangsiapa yang mengingkari fardhu puasa Ramadhan atau merasa ragu-ragu akan fardhunya maka dia adalah terkeluar daripada agama Islam yaitu murtad wal’iyadzubillah.

    Daripada hadis-hadis dan ijma’ ulama yang disebutkan di atas jelas kepada kita bahwa terdapat ancaman dan peringatan kepada mereka yang mengabaikan puasa bulan Ramadhan. Oleh itu janganlah kita mengambil ringan akan perkara ini dengan mengabaikan suruhan Allah Subhanahu wa Ta’ala karena azab Allah Subhanahu wa Ta’ala amat pedih.

    Membincangkan tentang orang yang berbuka puasa tanpa keuzuran ini selain daripada menerima ancaman dan balasan seperti yang disebutkan di atas, mereka ini juga dipertanggungjawabkan untuk memenuhi kehendak hukum-hukum syara’ yang diwajibkan ke atas mereka. Antaranya ialah menahan diri (imsak) daripada perkara-perkara yang dilarang ketika berpuasa.

    Menurut para fuqaha’, orang-orang yang berbuka puasa dengan senghaja tanpa keuzuran yang dibenarkan oleh hukum syara’ itu wajib imsak yaitu menahan diri daripada makan dan minum dan perkara-perkara yang membatalkan puasa.

    Imsak juga diwajibkan ke atas orang yang berbuka puasa Ramadhan bukan disebabkan keuzuran seperti orang yang lupa berniat atau makan di waktu yang disangkakannya masih belum terbit fajar sedangkan ketika itu fajar sudah terbit. Diwajibkan ke atas mereka imsak karena menghormati waktu puasa.

    Manakala bagi orang yang berbuka puasa disebabkan keuzurannya seperti orang yang sakit apabila dia sembuh dan orang yang musafir apabila dia sampai ke tempat kediamannya pada waktu siang Ramadhan, hukum imsak atau menahan diri itu adalah sunat.

    Sunat imsak bagi orang yang gila bila dia sedar, orang kafir apabila masuk Islam, kanak-kanak apabila dia baligh dan perempuan yang haidh atau nifas apabila dia bersih di siang hari Ramadhan.

    Menurut pengarang Hasyiyah I’anah at-Thalibin terdapat dua kaedah mengenai perkara imsak ini. Kaedah yang pertama ialah bahwa setiap seseorang yang diharuskan baginya berbuka puasa dan dia mengetahui akan hakikat hari itu maka tidak diwajibkan baginya imsak bahkan disunatkan saja. Kaedah yang kedua yaitu bagi orang yang tidak diharuskan berbuka puasa dan dia mengetahui akan hakikat hari itu maka diwajibkan baginya imsak.

    Demikianlah ketentuan hukum yang perlu kita fahami tentang kewajipan mengerjakan ibadah puasa dan hukum yang berkaitan dengannya. Semoga dengan mengetahui hukum-hukum tersebut akan menambahkan ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 14 June 2016 Permalink | Balas  

    Permasalahan Puasa Ramadan (1) 

    ramadhanPermasalahan Puasa Ramadan (1)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Puasa bulan Ramadhan adalah di antara ibadat-ibadat yang disyariatkan kepada umat Islam yang mempunyai berbagai hikmat dan kemaslahatan, baik dari segi kerohanian mahupun jasmani bahkan juga dari segi kemasyarakatan.

    Bulan Ramadhan juga adalah merupakan tetamu agung umat Islam, bulan yang membawa keampunan, rahmat, kebajikan dan berkat. Kita patut merebut peluang yang ada dan mendapatkan kelebihan setiap ibadat yang dilakukan di dalamnya. Di samping itu juga kita hendaklah mempersiapkan diri dengan hukum-hakam puasa Ramadhan yang dituntut di dalam syara’, seperti memperdalami pengetahuan terhadap rukun-rukun dan perkara-perkara yang akan membatalkan puasa. Antara beberapa permasalahan penting yang kita perlu ketahui dengan lebih mantap ialah:

    1. Bagaimana Melaksanakan Niat Puasa

    Bila membincangkan soal ibadat perkara yang penting diambil perhatian ialah niat. Tanpa niat ia tidak akan menjadi ibadat yang sah. Inilah yang dimakskudkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda baginda:

    “Sesungguhnya amal perbuatan itu hanyalah dengan niat.”

    (Hadis riwayat Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Nasa’iy dan Ibnu Majah)

    Niat adalah salah satu dari tiga rukun puasa. Ia diwajibkan sama ada puasa itu puasa wajib atau puasa sunat. Jika orang yang berpuasa itu meninggalkan niat puasa walaupun dia tidak mengetahui (jahil), maka puasa itu tidak sah.

    Menurut al-Imam as-Suyuthi di dalam kitabnya, niat itu tempatnya di hati (al-Asybah wan-Nazhair:23). Manakala menurut pengarang Hasyiyah I’anah at-Thalibin, sunat dilafazkan niat itu dengan lidah bagi membantu dalam hati seperti mana niat ibadat-ibadat yang lain.

    Berdasarkan hadis di atas, kita dapat memahami bahawa puasa itu mesti ada niat yang khusus. Tidak memadai niat puasa itu dengan hanya makan sahur karena mengelakkan lapar atau lemah ketika berpuasa. Niat puasa itu juga tidak memadai dengan hanya menahan dirinya daripada sesuatu yang membatalkan puasa karena takut kedatangan fajar di mana orang berpuasa tidak dibenarkan melakukannya. Dari itu perbuatan seperti di atas hendaklah disertai dengan niat untuk mengerjakan puasa atau paling tidak ada lintasan di hati untuk berpuasa. (I’anah at-Thalibin: 2/248-249)

    Menurut Ibnu Katsir keadaan puasa orang-orang yang terdahulu (ahli kitab), jika tidak sampai waktu berbuka mereka boleh makan dan minum sehingga terbit fajar selama mana seseorang itu belum tidur. Ini berbeza dengan keadaan puasa orang Islam di mana mereka boleh makan dan minum termasuklah menggauli isteri sebelum terbit fajar sekalipun sesudah tidur. Puasa tidak batal dengan melakukan perkara-perkara tersebut. Begitu juga dengan niat puasa. Niat itu tidak akan terbatal dengan melakukan perkara-perkara di atas dan kita tidak perlu memperbaharui niat berkenaan.

    Manakala perempuan haidh atau nifas yang berniat selepas terbenam matahari ketika belum kering darahnya untuk berpuasa ke esokan harinya, lalu darahnya kering sebelum terbit fajar maka sah puasanya dengan niatnya itu dan tidak perlu memperbaharui niatnya, walaupun perempuan itu belum mandi hadats selepas terbit fajar.

    Begitulah juga bagi mereka yang melakukan persetubuhan di malam hari puasa, apabila dia berniat di malam itu dan belum mandi junub (hadats besar) di siang hari, adalah sah puasa dengan niatnya itu.

    Waktu berniat puasa Ramadhan itu ialah setelah terbenam matahari dan sebelum terbit fajar shadiq. Jika niat itu dilakukan setelah terbit fajar atau sebaya dengan terbit fajar puasa adalah tidak sah. Inilah yang dikatakan oleh para ulama bahawa niat itu mesti di waktu malam (tabyit), sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

    Maksudnya: “Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum terbit fajar shadiq maka tidak ada puasa baginya.”

    (Hadis riwayat Baihaqi dan Al-Daraquthni)

    Manakala bagi puasa-puasa sunat pula, masa berniat itu mulai terbenam matahari hingga sebelum tergelincir matahari pada hari berikutnya selagi dia belum melakukan perkara-perkara yang membatalkan puasa dari terbit fajar shadiq pada hari tersebut, sebagaimana di dalam hadis yang diriwayatkan daripada ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha:

    Maksudnya: “Bersabda Rasullullah kepadaku pada satu hari: “Wahai ‘Aisyah, adakah di sisi kamu sesuatu (untuk dimakan)?” Maka aku (‘Aisyah) berkata: “Wahai Rasullullah tidak ada di sisi kita sesuatupun (untuk dimakan).” Berkata (Rasullullah): “Maka (kalau begitu) sesungguhnya aku seorang yang berpuasa.”

    (Hadis riwayat Muslim)

    Adapun sekurang-kurang lafaz niat puasa Ramadhan itu ialah:

    Artinya: “Niat aku puasa Ramadhan.”

    Manakala niat yang lengkap pula ialah:

    Artinya: “Niat aku puasa esok hari menunaikan fardhu Ramadhan pada tahun ini karena Allah Ta’ala.”

    Niat puasa itu wajib dilakukan pada tiap-tiap malam di dalam hati dan sunat dilafazkan, karena ibadat puasa itu adalah ibadat berasingan yang masuk waktunya dengan terbit fajar shadiq dan keluar waktunya dengan terbenam matahari. Ia dikira sehari sehari. Apabila rosak satu hari puasa itu, ia tidak merosakkan puasa yang terdahulu dan yang terkemudian.

    Berniat pada tiap-tiap malam ini khusus bagi puasa wajib saja, yaitu puasa bulan Ramadhan, nazar, kaffarah, qadha dan fidyah haji. Masa berniat itu mulai terbenam matahari hinggalah sebelum terbit fajar shadiq.

    Di samping kita wajib berniat pada tiap-tiap hari, kita juga digalakkan untuk berniat dengan niat satu bulan penuh, itupun hanya di awal bulan Ramadhan saja. Tujuannya ialah untuk berjaga-jaga kalau-kalau kita terlupa berniat pada malam-malam berikutnya dengan bertaqlid kepada mazhab Imam Malik. Maka dengan adanya kita berniat sebulan itu akan menampung niat pada hari yang kita lupa itu. Akan tetapi niat tersebut tidak akan dikira niat sebulan jika ia diniatkan setelah berlalu satu Ramadhan. Contohnya orang yang berpuasa itu berniat dengan niat puasa sebulan pada hari kedua puasa, maka niat tersebut tidak sah.

    Maka dalam hal ini, perkara penting yang mesti kita ambil perhatian ialah kita wajib berniat puasa pada tiap-tiap malam, dan sebaiknya kita juga berniat puasa sebulan pada permulaan Ramadhan sebagai langkah berjaga-jaga kalau-kalau ada hari kita terlupa berniat.

    Ini berarti niat pada tiap-tiap malam itu tidak boleh kita tinggalkan dengan senghaja karena sudah berniat puasa sebulan adalah tidak memadai dan tidak sah puasa selain puasa hari pertama Ramadhan jika ia dikerjakan dengan hanya berniat satu bulan saja tanpa disertai dengan niat puasa setiap hari.

    Lafaz niat sebulan puasa itu ialah:

    “Saja aku puasa bulan Ramadan seluruhnya pada tahun ini karena  Allah Taala”.

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 13 June 2016 Permalink | Balas  

    Berhenti Menjadi Pengemis 

    pengemisBerhenti Menjadi Pengemis

    Selama ini, saya selalu menyediakan beberapa uang receh untuk berjaga-jaga kalau melewati pengemis atau ada pengemis yang menghampiri. Satu lewat, ku beri, kemudian lewat satu pengemis lagi, kuberi. Hingga persediaan receh di kantong habis baru lah aku berhenti dan menggantinya dengan kata “maaf” kepada pengemis yang ke sekian.

    Tidak setiap hari saya melakukan itu, karena memang pertemuan dengan pengemis juga tidak setiap hari. Jumlahnya pun tidak besar, hanya seribu rupiah atau bahkan lima ratus rupiah, tergantung persediaan.

    Sahabat saya, Diding, punya cara lain. Awalnya saya merasa bahwa dia pelit karena saya tidak pernah melihatnya memberikan receh kepada pengemis. Padahal kalau kutaksir, gajinya lebih besar dari gajiku. Bahkan mungkin gajiku itu besarnya hanya setengah dari gajinya. Tapi setelah apa yang saya lihat sewaktu kami sama-sama berteduh kehujanan di Pasar Minggu, anggapan saya itu ternyata salah.

    Seorang ibu setengah baya sambil menggendong anaknya menghampiri kami seraya menengadahkan tangan. Tangan saya yang sudah berancang-ancang mengeluarkan receh ditahannya. Kemudian Diding mengeluarkan dua lembar uang dari sakunya, satu lembar seribu rupiah, satu lembar lagi seratus ribu rupiah. Sementara si ibu tadi ternganga entah apa yang ada di pikirannya sambil memperhatikan dua lembar uang itu.

    “Ibu kalau saya kasih pilihan mau pilih yang mana, yang seribu rupiah atau yang seratus ribu?” tanya Diding

    Sudah barang tentu, siapa pun orangnya pasti akan memilih yang lebih besar. Termasuk ibu tadi yang serta merta menunjuk uang seratus ribu.

    “Kalau ibu pilih yang seribu rupiah, tidak harus dikembalikan. Tapi kalau ibu pilih yang seratus ribu, saya tidak memberikannya secara cuma-cuma. Ibu harus mengembalikannya dalam waktu yang kita tentukan, bagaimana?” terang Diding.

    Agak lama waktu yang dibutuhkan ibu itu untuk menjawabnya. Terlihat ia masih nampak bingung dengan maksud sahabat saya itu. Dan, “Maksudnya… yang seratus ribu itu hanya pinjaman?”

    “Betul bu, itu hanya pinjaman. Maksud saya begini, kalau saya berikan seribu rupiah ini untuk ibu, paling lama satu jam mungkin sudah habis. Tapi saya akan meminjamkan uang seratus ribu ini untuk ibu agar esok hari dan seterusnya ibu tak perlu meminta-minta lagi,” katanya.

    Selanjutnya Diding menjelaskan bahwa ia lebih baik memberikan pinjaman uang untuk modal bagi seseorang agar terlepas dari kebiasaannya meminta-minta. Seperti ibu itu, yang ternyata memiliki kemampuan membuat gado-gado. Di rumahnya ia masih memiliki beberapa perangkat untuk berjualan gado-gado, seperti cobek, piring, gelas, meja dan lain-lain.

    Setelah mencapai kesepakatan, akhirnya kami bersama-sama ke rumah ibu tadi yang tidak terlalu jauh dari tempat kami berteduh. Hujan sudah reda, dan kami mendapati lingkungan rumahnya yang lumayan ramai. Cocok untuk berdagang gado-gado, pikirku.

    ***

    Diding sering menyempatkan diri untuk mengunjungi penjual gado-gado itu. Selain untuk mengisi perutnya -dengan tetap membayar- ia juga berkesempatan untuk memberikan masukan bagi kelancaran usaha ibu penjual gado-gado itu.

    Belum tiga bulan dari waktu yang disepakati untuk mengembalikan uang pinjaman itu, dua hari lalu saat Diding kembali mengunjungi penjual gado-gado. Dengan air mata yang tak bisa lagi tertahan, ibu penjual gado-gado itu mengembalikan uang pinjaman itu ke Diding. “Terima kasih, Nak. Kamu telah mengangkat ibu menjadi orang yang lebih terhormat.”

    Diding mengaku selalu menitikkan air mata jika mendapati orang yang dibantunya sukses. Meski tak jarang ia harus kehilangan uang itu karena orang yang dibantunya gagal atau tak bertanggung jawab. Menurutnya, itu sudah resiko. Tapi setidaknya, setelah ibu penjual gado-gado itu mengembalikan uang pinjamannya berarti akan ada satu orang lagi yang bisa ia bantu. Dan akan ada satu lagi yang berhenti meminta-minta.

    Ding, inginnya saya menirumu. Semoga bisa ya.

     
  • erva kurniawan 8:36 pm on 12 June 2016 Permalink | Balas  

    Ramadhan Yang Spesial 

    ramadan1Ramadhan Yang Spesial

    Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

    Alhamdullilaahhirrabil aa’lamin Allahuma Shalli ‘Ala Muhammad Wa’ala aliihi Washahbihii Ajma’in ‘Amma Ba’du.

    Semoga Allah yang Mengenggam langit dan bumi, membuka pintu hati kita semua agar dapat memahami hikmah dibalik kejadian apapun yang menimpa dan semoga Allah membimbing kita untuk bisa menyikapi kejadian apapun dengan sikap terbaik kita.

    Yaa, ayyuhal ladziina aamanuu khutiba ‘alaikumush shiyaamu kamaa kutiba ‘alal ladziina min qablikum la’allakum tattaquun, artinya “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (QS: Al Baqarah :183)

    Ayyaamam ma’duudaatin fa man kaana minkum marii dhan au’alaa safarin fa ‘iddatum min ayyaamin ukhara wa ‘alal ladziina yuthiiquunahuu fidyatun tha’aamu miskiinin fa man tathawwa’a khairan fa huwa khairul lahuu wa an tashuumuu khairul lahuu wa an tashuumuu khirul lakum in kuntum ta’lamuun, artinya: “yaitu dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan,lalu ia berbuka maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya jika mereka tidak berpuasa, membayar fidyah (yaitu) memberi makan seorang miskin; dan barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya, dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS:AlBaqarah 184)

    Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala Allah maka diampuni dosanya yang terdahulu (H.R. Bukhari)

    Saudara-saudaraku,Allah menciptakan kita bukan untuk kehinaan ataupun kecelakaan, tetapi justru untuk kemuliaan dan kebahagiaan kita di dunia dan akherat. Tidak ada kezaliman dari Allah, manusia sengsara dan celaka pasti karena dia mendzalimi dirinya sendiri, setiap hari Allah sudah menciptakan waktu-waktu yang sangat spesial diantaranya adalah sepertiga malam terakhir. Barangsiapa yang melakukan sesuatu yang spesial pada waktu yang spesial niscaya dia diperlakukan spesial pula oleh Allah.

    Orang yang bangun malam, tahajud dengan benar dan istiqomah maka ahli tahajud dijamin akan memiliki kedudukan yang terpuji dalam pandangan Allah dan dibuat terpuji dalam pandangan orang yang beriman , dia juga akan memiliki kata-kata yang mempunyai kekuatan, mungkin kata-katanya sederhana tapi oleh Allah diberikan tenaga sehingga mepunyai daya sentuh, daya hujam, daya gugah dan daya rubah, juga akan diberi jalan keluar dari kesulitan-kesulitannya dan maqbul doanya.

    Saudaraku,setiap minggu ada hari yang spesial yaitu hari jumat, Rasullulah saw pun spesial penampilannya pada hari jumat, amalannya ditingkatkan dengan amalan-amalan yang utama, Allah pun menjaminnya dengan gugurnya dosa dari jumat-ke jumat, dan dalam satu tahun Allah menciptakan bulan spesial, bulan yang penuh barokah, bulan yang benar-benar beda dengan bulan yang lain, hari demi harinya berbeda, jam demi jamnya berbeda, detik demi detik berbeda ,begitu spesial !. dan siapapun yang memperlakukan detik demi detik di bulan Ramadhan dengan perilaku spesial niscaya dia akan spesial dalam pandangan Allah, siapakah yang spesial dalam pandangan Allah ?

    Inna akramakum ‘indallaahi atqaakum artinya “Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah yang lebih taqwa di antara kamu” (QS : Alhujurat/49:13).

    Orang yang paling dekat dengan Allah adalah yang berpredikat taqwa dan Ramadhan la’allakum tattaquun adalah salah satu sarana menjadi orang yang spesial dalam pandangan Allah.

    Lihatlah kalau kita dispesialkan oleh orang tua, belum meminta sudah dicukupi, selalu dijaga, kebutuhan kita dipenuhi, ketika kita meminta diberi, ada yang menganiaya dilindungi ,itu baru manusia, Bagaimana kalau kedudukan seorang hamba yang spesial Dalam pandangan Allah Yang Maha Tahu segala kebutuhan dan harapan kita.

    Maaf, makanya sebodoh-bodoh manusia adalah manusia yang melewatkan waktunya di bulan Ramadhan dan dia tidak mendapat apapun. Oleh karena itu program kita di bulan Ramadhan ini : kita tidak melakukan apapun kecuali yang spesial terbaik dalam pandangan Allah.

    Karena ini waktu spesial,maka kita bertekad tidak boleh melihat apapun kecuali yang spesial, mata kita hanya melihat sesuatu yang Insya Allah membersihkan hati, mata ini harus menjadi penambah ilmu, mata ini menjadi penambah dzikir kita kepada Allah.

    Apakah boleh melihat TV ?,tentu saja boleh tapi lihatlah hanya acara yang spesial yang bisa mengembangkan iman kita dan membuat kita kagum kepada Allah. Mata dan telinga ini adalah karunia Allah maka mata dan telinga ini hanya akan melihat dan mendengar yang spesial di bulan yang spesial pula, Subhanalloh.

    Jangan membicarakan aib orang lain,ingat kita hanya mau mendengar sesuatu yang membuat diri kita semakin dekat dengan Allah, daripada membicarakan keburukan orang akan lebih baik jika kita membicarakan kebaikan-kebaikan orang lain supaya bisa kita tiru. Jangan mendengarkan obrolan yang sia-sia, apakah boleh mendengarkan lagu ? tentu saja boleh tapi dengarkanlah lagu yang dapat menjadi amal, bicara boleh kalau bicara kebaikan “fal yaqul khairan auliyashmut” saya tidak akan berkata kecuali kata-kata terbaik. Tidak akan berkomentar kecuali komentar terbaik. Jangan ada komentar negatif, karena sekali bicara didengar oleh Allah dan dicatat oleh malaikat.

    Jangan ada lintasan hati, kepada orang yang beriman kecuali lintasan yang baik saja.

    “Yaa ayyuhal ladziina aamanuj tanibuu katsiiram minazh zhanni inna ba’dhazh zhanni itsmuw wa laa tajassasuu wa laa yaghtab ba’dhukum ba’dhan a yuhibbu ahadukum ay ya’kula lahma akhiihi maitan fa karihtumuuhu wat taqullaaha innallaaha tawwaabur rahiim” Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari keburukan orang dan janganlah sebagian kamu menggunjing atas sebagian yang lain. Adakah di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang mati? Maka kamu membenci (memakannya ). Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha penyayang (QS.: Al Hujurat/49:12)

    Usahakanlah di bulan Ramadhan ini jangan sampai banyak keinginan duniawi, kita harus shaum dari buruk sangka, kita harus memiliki keinginan untuk memperbanyak amal ; untuk membagikan pakaian, makanan, parcel. Bershadaqahlah juga misalnya dengan senyum, membersihkan masjid, mendoakan yang lain.

    Ramadhan adalah bulan tawadhu’, siapapun yang menjadikan waktu Ramadhan ini penuh spesial ia akan berusaha untuk akrab dengan Al Quran dan shalatnya diperbaiki, hanya orang yang mau melakukan yang spesial, yang khusus, yang terbaik, di bulan ini, maka dialah yang menjadi orang yang spesial di sisi Allah Swt.Amiin

    Di bulan ramadhan ini yang terpenting sesudah meningkatkan ibadah seperti : sholat dan membaca Alquran yaitu meningkatkan akhlak,akhlak itu yaitu merespons kejadian apapun dengan sikap terbaik kita. Itulah yang mudah-mudahan menjadikan Ramadhan ini kita menjadi manusia terbaik dalam pandangan Allah Swt. Wallahu’alam.

    http://.www.manajemenqolbu.com

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 2 June 2016 Permalink | Balas  

    Bersiaplah! Bulan Ramadhan Sebentar Lagi (2/2) 

    Bersiaplah! Bulan Ramadhan Sebentar Lagi (2/2)

    1. Mendalami Perkara Dilarang dan Yang Disunatkan Ketika Puasa

    Setiap muslim hendaklah mengetahui perkara-perkara yang dilarang ketika puasa serta menjaga adab-adabnya, agar puasa itu diterima Allah Subhanahu wa Ta”ala dan sempurna pula perlaksanaannya. Demikian juga, setiap muslim hendaklah mengetahui perkara-perkara yang disunatkan ketika berpuasa agar mendapat ganjaran pahala yang berlipat ganda serta mendapat rahmat Allah Subhanahu wa Ta”ala. Antara perkara-perkara yang sepatutnya bahkan wajib diketahui yaitu:

    i. Adab-Adab Puasa

    Antara adab-adab yang perlu dijaga ketika seseorang menjalani ibadat puasa yaitu:

    1. Menutup pandangan daripada melihat perkara-perkara yang diharamkan oleh syara” dan daripada melihat perkara-perkara yang boleh melalaikan hati daripada mengingati Allah Ta”ala.
    2. Menutup telinga daripada mendengar perkara-perkara yang diharamkan supaya tidak tergolong ke dalam golongan orang-orang yang suka mendengar berita bohong.
    3. Menjaga lidah daripada mengeluarkan kata-kata yang tidak berfaedah seperti berbual-bual kosong, lebih-lebih lagi yang dituntut supaya menjaga lidah daripada mengeluarkan kata-kata yang diharamkan, seperti mengumpat, berdusta, memfitnah, berbantah-bantah karena perkelahian, bersumpah bohong dan yang seumpamanya.
    4. Memelihara seluruh anggota yang lain seperti tangan, kaki dan sebagainya daripada melakukan perkara-perkara yang tidak berfaedah dan yang diharamkan.

    ii. Perkara-Perkara Sunat Ketika Puasa

    Terdapat beberapa perkara yang sunat dilakukan oleh orang berpuasa, antaranya yaitu:

    1. Sunat bagi orang yang hendak mengerjakan puasa itu bersahur dengan sesuatu makanan walaupun dengan sebiji kurma ataupun seteguk air, karena bersahur itu mengandungi keberkatan. Antara keberkatannya yaitu, dapat membantu seseorang menyiapkan ketahanan dirinya dari segi fizikal untuk mengerjakan ibadat puasa di siang hari, ia juga dapat membantu mengisi keperluan rohaninya dengan merebut peluang untuk bertahajjud, berzikir, beristighfâr dan berdoa pada waktu sahur.
    2. Sunat melambatkan sahur sehingga hampir waktu fajar iaitu kira-kira pada kadar membaca lima puluh atau enam puluh ayat sebelum terbit fajar. Antara tujuannya yaitu untuk memendekkan masa menahan diri daripada kelaparan dan daripada melakukan perkara-perkara yang membatalkan puasa.
    3. Sunat bagi orang yang berpuasa menyegerakan berbuka puasa terlebih dahulu sebelum dia mengerjakan sembahyang Maghrib iaitu sunat berbuka puasa dengan tiga biji kurma basah (ruthab). Jika tidak ada, memadai dengan kurma kering (tamar) dan jika tidak ada, memadai dengan beberapa teguk air. Sesudah selesai menunaikan sembahyang Maghrib baharulah menikmati juadah yang lain.
    4. Sunat bagi orang yang berpuasa itu sentiasa membasahkan bibirnya dengan berzikir dan berdoa sepanjang hari dia menjalani ibadat puasa, lebih-lebih lagi yang dituntut ketika waktu berbuka puasa karena doa orang berpuasa ketika dia berbuka sangat mustajab dan tidak tertolak.
    5. Memperbanyakkan membaca al-Qur”an. Al-Imam an-Nawawi menegaskan di dalam kitabnya al-Azkâr bahawa hari-hari yang terbaik membaca al-Qur”an yaitu pada hari Jumaat, Isnin, Khamis, hari “Arafah (9 Zulhijjah), sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah dan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, kemudian bulan terbaik adalah bulan Ramadhan.

    Oleh itu, di bulan Ramadhan inilah kesempatan yang paling berharga yang sepatutnya digunakan dengan sebaik-baik mungkin untuk memperbanyakkan membaca Al-Qur”an, sama ada secara bertadarus ataupun secara berseorangan.

    1. Memperbanyakkan sedekah di bulan Ramadhan. Karena Nabi Shallallahu “alaihi wasallam adalah orang yang paling pemurah dan dermawan, lebih-lebih lagi ketika bulan Ramadhan. Antara lain fungsi sedekah di bulan Ramadhan itu yaitu untuk menutupi atau menampal apa-apa jua kecacatan atau kekurangan pada puasa seseorang.

    iii. Perkara-Perkara Membatalkan Puasa

    1. Perempuan yang datang haidh atau nifas ketika dia sedang berpuasa, maka batal puasa tersebut dan wajib diqadha.
    2. Makan dan minum dengan senghaja di siang hari bulan Ramadhan. Perbuatan sedemikian haram hukumnya dan wajib diqadha puasa tersebut.
    3. Muntah dengan senghaja. Iaitu melakukan sesuatu yang menyebabkan dia muntah seperti menjolok-jolokkan lidahnya ke langit-langit kemudian dia muntah dengan sebab perbuatannya itu.
    4. Mengeluarkan air mani dengan sengaja sama ada dengan menggunakan tangan, menyentuh, menggesel, dengan sebab berpeluk-peluk, bercium-cium atau seumpamanya.
    5. Orang yang sedang berpuasa menjadi gila dengan tiba-tiba, sekalipun gilanya itu hanya dalam tempoh seketika. Orang gila tersebut tidak diwajibkan qadha puasanya.
    6. Orang yang sedang berpuasa yang hilang akal seperti pitam, pengsan atau mabuk sepanjang hari iaitu daripada terbit fajar sehinggalah terbenam matahari. Puasa orang tersebut batal dan wajib diqadha. Jika dia sedar dalam tempoh tersebut walau hanya sesaat, maka sah puasanya.
    7. Orang yang sedang berpuasa apabila murtad (keluar dari agama Islam), walaupun sekejap, maka batal puasanya dan wajib qadha apabila dia kembali semula kepada Islam.
    8. Orang yang sedang berpuasa apabila bersetubuh pada siang hari dengan sengaja dengan memasukkan hasyafah atau kadarnya pada qubul atau dubur manusia atau binatang, maka batal puasa orang yang melakukan persetubuhan itu dan wajib dia mengqadha puasanya serta menunaikan kaffârah. Begitu juga kepada orang yang disetubuhi adalah batal juga puasanya, tetapi wajib dia mengqadhanya saja tanpa kaffârah. Kaffârah karena persetubuhan tersebut yaitu memerdekakan seorang hamba. Jika tidak memperolehinya, maka hendaklah berpuasa dua bulan berturut-turut dan jika tidak berdaya hendaklah memberi makan enam puluh orang miskin.
    9. Memasukkan sesuatu benda ke dalam rongga dengan sengaja melalui lubang yang terbuka dari bahagian tubuh manusia.

    Maksud dengan benda di sini yaitu apa-apa saja benda walaupun sedikit, sama ada yang boleh dimakan seperti sebiji lenga atau yang tidak boleh dimakan seperti sebutir pasir. Tidak termasuk maksud benda itu yaitu rasa, warna atau bau.

    Yang dimaksudkan dengan “lubang yang terbuka” itu yaitu tempat masuk atau keluar sesuatu, sama ada lubang itu semula jadi adanya seperti mulut, hidung dan sebagainya atau yang baru wujud seperti perut atau kepala yang ditebuk.

    Adapun maksud “sengaja” itu pula yaitu dilakukan oleh dirinya sendiri atau dilakukan oleh orang lain dengan keizinannya.

    Manakala maksud “rongga” pula yaitu apa-apa saja yang dinamakan rongga sama ada rongga itu mempunyai kuasa memproses makanan atau ubat ataupun tidak seperti rongga otak, kerongkong atau rongga mulut, rongga hidung, rongga telinga, perut, dubur, faraj, pundi-pundi kencing, lubang tempat keluar air kencing lelaki dan lubang tempat keluar air susu (al-ihlil).

    Penutup

    Berpuasa bukan hanya memelihara dan menjaga perkara-perkara yang boleh membatalkan puasa, akan tetapi lebih jauh daripada itu yaitu menjaga perkara-perkara yang boleh mendatangkan haram kepada mana-mana anggota tubuh badan. Oleh karena itu kita telah diperingatkan bahawa berapa banyak orang puasa yang tidak dapat apa-apa pahala melain lapar dan dahaga.

    Bulan Ramadhan adalah musim mengaut untung dan laba besar, karena ganjaran pahala ibadat – sembahyang umpamanya – dilipat gandakan sehingga menjadi 70 kali lipat, bahkan pahala puasa itu sendiri hanya Allah saja yang mengetahuinya.

    Ketika berpuasa elakkan perkara-perkara yang boleh melalaikan atau menyebabkan susut nilai amalan di bulan Ramadhan, lebih-lebih lagi 10 terakhir di bulan yang mulia itu, yang di dalamnya ada satu hari yang lebih baik daripada 1000 bulan. Kalau hendak berbelanja karena hari raya  bukan membazir atau memboros berbelanjalah dari sekarang. Supaya masa-masa di bulan Ramadhan hanya akan dipenuhi dengan amal ibadat.

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 1 June 2016 Permalink | Balas  

    Menyambut Ramadhan dengan Ziarah Kubur 

    berdoa di kuburan waliMenyambut Ramadhan dengan Ziarah Kubur

    Jalaluddin Rakhmat

    Sebagian kaum muslim Indonesia, dari dulu sampai sekarang, biasa menyambut bulan Ramadhan dengan acara ziarah ke kubur. Orang Jawa menyebutnya nyadran, sementara orang Sunda menyebutnya nadran. Dalam acara itu, mereka berkunjung ke pusara orang tua atau karib kerabat yang telah mendahului mereka menghadap Allah swt. Belakangan ada sebagian di antara kita yang memandang ziarah kubur sebagai perbuatan yang tidak diajarkan Islam, tetapi diadopsi dari ajaran leluhur. Betulkah pendapat itu? Apakah ziarah kubur merupakan sunnah yang dianjurkan Nabi saw ataukah bid’ah, hal baru yang dibuat-buat kemudian hari? Apa dasar-dasar ziarah dalam Al-Quran dan Sunnah?.

    Ziarah ke kuburan dapat terdiri dari tiga macam. Kesatu, ziarah orang-orang mulia yang masih hidup kepada orang-orang mulia yang telah meninggal. Misalnya para ulama yang mengunjungi pusara ulama lainnya. Di dalam hadis-hadis kita temukan bahwa kebiasaan orang- orang mulia untuk berziarah ke kuburan orang-orang mulia lainnya dicontohkan oleh Rasulullah saw. Menurut hadis-hadis sahih yang sampai kepada kita, diriwayatkan ketika Rasulullah saw melakukan perjalanan isra-mikraj, beliau berziarah ke kuburan para nabi dengan diantarkan malaikat Jibril. Jibril memerintahkan Nabi turun dari Buraq dan melakukan salat di samping kuburan setiap nabi.

    Dari peristiwa itu juga Nabi mengajarkan adab ziarah, Beliau turun dari kendaraannya dan menunaikan salat di dekat kuburan dengan penuh kerendahan hati, lalu berdoa di depan kuburan. Hadis yang meriwayatkan ziarahnya Rasulullah ke kuburan para nabi terdapat dalam semua kitab hadis yang berkenaan dengan peristiwa Isra.

    Di dalam hadis yang diriwayatkan Al-Hakim dalam Mustadrak-nya, disebutkan bahwa Fathimah ra setiap hari Jumat berziarah ke kuburan Hamzah, pamannya yang syahid pada Perang Uhud. Waktu Fathimah mengunjungi makam Hamzah, Rasulullah tidak pernah melarangnya bahkan beliau menganjurkannya. Setelah Rasulullah saw meninggal dunia, setiap hari Fathimah berziarah ke pusara ayahnya. Setiap hari ia menangis dan berdoa agar ia dapat segera menyusul ayahnya.

    Tentang Sayyidah Fathimah, Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya Fathimah itu adalah bagian dari diriku. Siapa yang membuat marah Fathimah, ia membuat marah aku; dan siapa yang menyakiti Fathimah, ia menyakiti aku (Shahih Bukhari). Aisyah juga pernah berkata bahwa tidak ada orang yang paling menyerupai Nabi, dalam hal wajah dan akhlaknya, selain Fathimah. Saya mengutip hadis-hadis itu untuk menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh Fathimah juga merupakan perbuatan yang harus dicontoh. Tidak mungkin Fathimah yang dijamin kesuciannya dalam Al-Quran surat Al-Ahzab ayat 33 melakukan perbuatan tercela. Seperti halnya Fathimah yang setiap Jumat berziarah kepada Hamzah, kita juga harus secara rutin mengunjungi kuburan keluarga kita. Bila kita buka kitab-kitab tasawuf tentang amalan-amalan yang harus dilakukan setiap hari Jumat, salah satu di antaranya adalah berziarah ke kuburan kaum muslimin. Demikian pula salah satu amalan dalam menyambut Ramadhan adalah berziarah ke kuburan kaum muslimin.

    Tradisi berziarah di antara orang-orang mulia itu dilanjutkan oleh para ulama besar berikutnya. Imam Syafii, misalnya, sering berziarah ke makam Abu Hanifah di Mekkah. Ketika Imam Syafii melakukan salat dalam kunjungannya ke makam Abu Hanifah, ia tinggalkan qunut pada salat subuhnya demi menghormati Abu Hanifah yang telah meninggal dunia (karena Abu Hanifah tidak menfatwakan tentang kewajiban qunut pada salat subuh). Imam Syafii memberikan sebuah contoh yang sangat indah, yang sayangnya tidak diteruskan oleh para pengikutnya; yakni, menghargai orang yang pendapatnyaberbeda, meskipun ia telah meninggal dunia.Setiap kali Imam Syafii berziarah ke makam Abu Hanifah, ia berdoa di depan makam itu dan bertawasul kepada Allah swt dengan perantaraan Abu Hanifah untuk memenuhi hajat-hajatnya. Imam Syafii meniru Rasulullah saw ketika berdoa di depan kuburan para nabi atas perintah Jibril as.

    Ketika Fathimah binti Asad, istri Abu Thalib berhijrah ke Madinah, ia meninggal dunia. Rasulullah saw menguburkannya di Baqi. Saat pemakaman, Rasulullah saw turun ke kuburan Fathimah binti Asad dan berbaring di sisinya seraya memeluk ibu asuhnya itu. Lalu Rasulullah membaca doa tawasul: Ya Allah, aku bermohon kepada-Mu dengan bertawasul kepada nabi-nabi-Mu dan nabi-nabi yang Kau utus sebelum aku.

    Salah satu adab dalam berziarah adalah berdoa dan memulai doa kita dengan membaca tawasul yang singkat, seperti yang diajarkan Nabi saw di atas: Ya Allah aku bermohon kepada-Mu melalui tawasul kepada Nabi- Mu dan keluarganya, janganlah engkau azab mayit ini. Sebuah hadis menyebutkan, barang siapa yang berziarah ke kuburan dan membaca doa itu, Allah akan menganugrahkan perlindungan dari dahsyatnya hari kiamat.

    Jenis ziarah yang kedua, adalah ziarah orang-orang mulia kepada kuburan orang-orang biasa. Nabi saw sering berziarah ke kuburan kaum muslimin. Beliau sering berdoa di atas kuburan mereka seraya beristighfar memohonkan ampunan bagi para pendurhaka yang menjadi ahli kubur itu, sebagai bukti bahwa kedatangan Nabi adalah rahmatan lil ‘alamin.

    Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari menyebutkan: Rasulullah saw melewati dua kuburan. Lalu beliau berkata, “Kedua ahli kubur ini sedang diazab Tuhan, meskipun bukan karena dosa yang besar.” Rasulullah saw lalu meletakkan di atas kedua kuburan itu pelepah kurma yang masih hijau sambil berdoa. Rasulullah kemudian berkata, “Sesungguhnya kedua pelepah kurma itu, insya Allah, akan meringankan azab mereka sampai pelepah itu mengering.” Dengan berkah kehadiran Rasulullah ke kuburan itu, Tuhan meringankan azabnya.

    Ibnu Hajar Al-Asqalani, dalam Fathul Bâri, ketika membahas hadis ini menulis: “Ada kemungkinan, kuburan itu bukan kuburan kaum muslimin melainkan kuburan kaum kafir. Hal itu menunjukkan bolehnya berziarah ke kuburan orang kafir. Apa rahasianya meringankan azab untuk orang kafir itu? Rahasianya adalah ketika Rasulullah datang, Allah menurunkan rahmat-Nya, karena Nabi membaca zikir, menyebut asma Allah. Kedua pelepah kurma yang masih hijau itu sebetulnya selalu bertasbih selama mereka dalam keadaan basah.” Seluruh pepohonan dan tanaman bertasbih kepada Allah swt. Kedua pelepah kurma itu disimpan Nabi agar selalu bertasbih untuk meringankan azab para penghuni kubur. Sekiranya yang meninggal adalah orang Islam, maka manfaat dari doa Rasulullah itu akan berlipat ganda karena ia memperoleh syafaat Nabi saw. Nabi bersabda, “Syafaatku kukhususkan untuk orang- orang yang berbuat dosa besar dari kalangan umatku.”

    Semua keterangan di atas menunjukkan bahwa Rasulullah yang teramat mulia juga mengunjungi kuburan mereka yang tidak mulia, bahkan para pendosa. Selain itu, Rasulullah mengunjungi kuburan kaum muslimin untuk memberikan penghormatan kepada mereka.

    Seperti dalam sebuah hadis riwayat Bukhari: Di zaman Nabi, hidup seorang perempuan kulit hitam yang pekerjaannya membersihkan masjid. Ketika ia meninggal dunia, kaum muslimin menshalatkan dan menguburkannya pada malam hari. Suatu saat, ketika Rasulullah mengunjungi pekuburan, beliau melewati kuburan perempuan itu. Wangi harum yang semerbak tercium oleh ruh Rasulullah yang suci. Rasulullah bertanya kepada para sahabat yang menyertainya, “Kuburan siapakah ini?” “Ini adalah kuburan perempuan kulit hitam yang sering membersihkan masjid,” jawab para sahabat. Rasulullah lalu bertanya, “Mengapa kalian tidak memberitahu aku ketika kalian menguburkannya?” Kemudian Rasulullah salat di depan kuburan perempuan kulit hitam itu. Setelah salat, Rasulullah bertanya lagi, “Bagaimana perbuatannya ketika ia hidup?” Para sahabat menjawab, “Ia adalah perempuan yang baik.” “Apa pekerjaan yang dilakukannya?” Rasulullah masih bertanya. “Ia membersihkan masjid,” jawab para sahabat.

    Rasulullah saw tidak hanya mengunjungi kuburan perempuan kulit hitam itu, seorang budak belian yang pada masa itu sering diperlakukan dengan hina, tetapi beliau juga mensalatkan dan mendoakannya. Tuhan menyingkapkan tirai alam malakut kepada Nabi dan memperlihatkan perempuan itu sebagai orang yang mulia di alam barzakh, yang menyebarkan harum semerbak di sekitarnya.

    Sayyid Ismail bin Mahdi Al-Hasani, dalam Kitab Nafasur Rahmân, menulis: Hendaknya orang-orang yang mulia sering berkunjung ke orang- orang yang kurang mulia di antara mereka. Walaupun mereka adalah para ahli kasyaf. Dengan berkunjung ke kuburan, mereka dapat melihat keadaan orang-orang yang dikubur sehingga mereka dapat mendoakan kebaikan bagi para ahli kubur itu.

    Saya teringat sebuah kisah ketika seorang yang salih pergi mengunjungi pekuburan kaum muslimin. Setelah mengucapkan salam, orang salih itu lalu berdoa. Ia ingin tahu apa yang terjadi dengan para penghuni kubur di sekitarnya. Usai berdoa, tiba-tiba ia mendapati dirinya berada di sebuah taman yang sangat indah. Ia menyusuri setapak jalan yang membawanya ke istana yang megah. Di tempat itu duduk seseorang di atas tahta yang gemerlapan. Puluhan khadam melayaninya. Wajahnya ceria dan gembira. Namun tiba-tiba wajah yang cerah itu berubah muram. Ia melihat dari salah satu sudut tamannya berdatangan rombongan lebah dengan dengungan yang amat nyaring. Orang di atas tahta lalu menjulurkan lidahnya untuk disengat kawanan lebah itu. Serangga-serangga itu pun lalu merubungi lidah orang itu sampai pingsan. Setelah itu, kawanan lebah pun menghilang. Ketika orang itu tersadar, wajahnya menjadi ceria gembira seperti sedia kala. Namun lebah-lebah itu datang lagi dan peristiwa yang sama terulang kembali.

    Orang salih yang melihat semua ini keheranan, “Apa yang terjadi dengan dirimu?” tanyanya. “Dahulu, ketika aku masih hidup, alhamdulillah, aku banyak beramal salih. Aku sering membantu orang- orang yang kekurangan, aku tak meninggalkan ibadatku di hari-hari yang mulia, dan aku pun berziarah ke Masjidil Haram. Tapi satu saat, aku jatuh cinta pada anak perempuan tetanggaku. Aku melamarnya namun orang tuanya tak menerima lamaranku. Karena jengkel, kusebarkan berita pada orang banyak bahwa sebenarnya perempuan itu telah menikah diam-diam.Karena berita yang kusebarkan, sampai sekarang perempuan itu tak menemukan jodohnya. Tak ada seorang pun yang melamarnya. Aku lalu meninggal dunia.

    Setiap kali perempuan itu menangis menyesali nasibnya, Tuhan mengirimkan kawanan lebah itu untuk menyiksa diriku. Aku bermohon kepada-Nya agar dilepaskan dari azab ini, tapi Tuhan berkata bahwa aku tak bisa dilepaskan dari azab ini sebelum perempuan itu memaafkanku dan sebelum ia menemukan jodohnya. Tapi aku telah mati dan tak bisa meminta maaf kepadanya. Aku lalu bertawasul dengan perantara Imam Ali kw. Imam Ali berkata, “Nanti akan datang kepadamu seorang salih, sampaikan pesanmu kepadanya.” Kini engkau telah datang kepadaku. Tolong sampaikan permohonan maafku kepada perempuan itu dan keluarganya dan tolong bantu mencarikan jodoh bagi dirinya. Hanya dengan itulah aku bisa selamat dari azab ini.”

    Orang yang salih itu berziarah sehingga Tuhan menyingkapkan tirai malakut kepadanya. Ia mampu melihat keadaan ahli kubur yang diziarahinya. Kisah ini menunjukkan bahwa ziarah orang salih ke kuburan adalah sebuah amal yang utama walaupun kuburan itu adalah kuburan orang awam, orang kebanyakan. Ziarah tidak hanya dilakukan kepada orang-orang yang salih tetapi juga kepada orang-orang yang biasa.

    Contoh lain dari ziarah orang yang mulia kepada orang yang tidak semulia dia adalah kebiasaan Rasulullah saw untuk berkunjung ke kuburan para syuhada Perang Uhud. Banyak di antara para jamaah haji Indonesia yang ketika berangkat ke Madinah tak mengunjungi kuburan para syuhada Perang Uhud itu. Bahkan kepada Rasulullah pun mereka tak berziarah padahal Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang mengunjungiku setelah aku mati sama seperti mengunjungiku ketika aku hidup.” Rasulullah juga bersabda, “Siapa yang naik haji, pergi ke Masjidil Haram, tapi tak mengunjungi aku, ia telah melecehkan aku.” Dalam hadis yang lain Rasulullah berkata, “Barang siapa yang berziarah padaku, aku pastikan syafaatku baginya.”

    Ketika kita meninggal, di malam pertama kesendirian kita, perasaan sedih, cemas, dan takut yang luar biasa akan menyergap kita di alam Barzakh. Malam itu adalah saat yang paling menakutkan bagi ahli kubur. Di waktu itu, sebagian ahli kubur akan mendapatkan kehormatan dan kebahagiaan dikunjungi Rasulullah saw yang mulia. Mereka yang beruntung itu adalah mereka yang pernah berziarah ke kuburan Rasulullah saw.

    Jenis ziarah yang ketiga adalah ziarah dari kaum muslimin yang awam kepada kaum muslimin awam lainnya. Inilah ziarah yang biasa kita lakukan kepada orang tua, karib kerabat, dan saudara-saudara kita. Dalilnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yang diterima dari Abu Hurairah: Rasulullah saw bersabda, “Sering berkunjung kepada kuburan itu akan mengingatkan kalian kepada akhirat dan kepada maut. Hadis ini juga dimuat oleh Al-Turmudzi dalam shahih-nya.

    Ziarah kubur adalah sunnah Rasulullah saw. Ziarah juga adalah cara kita untuk mendoakan orang-orang yang telah mendahului kita. Al- Quran mencontohkan doa itu: Tuhanku ampunilah orang-orang yang telah mendahului kami dalam keimanan. (QS. Al-Hasyr:10). Itulah perintah Al-Quran agar kita mendoakan orang-orang yang telah lebih dahulu meninggal dunia. Doa itu kita baca ketika berziarah ke kubur.

    Perintah ziarah kubur ditujukan baik bagi lelaki maupun perempuan. Bila ziarah kubur itu memiliki pahala dan keutamaan yang amat besar, maka melarang perempuan untuk berziarah akan menyebabkan mereka kehilangan amal salih dan syafaat Rasulullah saw. Islam tidak memberikan ajaran yang diskriminatif; yang hanya menguntungkan kaum lelaki saja.

    Sebagian pendapat yang mengharamkan perempuan berziarah didasarkan kepada hadis dari Abu Hurairah: Rasulullah saw bersabda, “Allah melaknat perempuan-perempuan yang berziarah ke kubur.” Bila dilakukan penelitian terhadap hadis ini akan ditemukan bahwa dari segi sanadnya, hadis ini tidak cukup kuat. Hadis ini pun bertentangan dengan hadis-hadis lain yang disepakati kesahihannya oleh semua orang, misalnya hadis yang menganjurkan bila kita berkunjung ke kuburan, kita mengucapkan salam kepada para ahli kubur. Hadis itu menceritakan Rasulullah yang mengajarkan bacaan salam bagi ahli kubur kepada Aisyah. Sekiranya perempuan yang berziarah kubur itu dilaknat, Rasulullah tidak akan mengajarkan bacaan salam itu kepada Aisyah, istrinya sendiri.

    Hadis yang lain meriwayatkan Rasulullah pernah menemukan seorang perempuan sedang berziarah sambil menangis. Rasulullah tidak melarang perempuan itu berziarah. Beliau hanya berkata, “Penghuni kubur itu sedang diazab padahal keluarganya sedang menangis.” Hadis ini lalu menimbulkan kesalahpahaman; bahwa mayit diazab karena tangisan keluarganya. Sampai suatu saat -setelah Rasulullah saw meninggal- Aisyah mendengar Abdullah Ibnu Umar berkata, “Mayit itu disiksa karena tangisan keluarganya.” Aisyah lalu berkata, “Semoga Allah menyayangi Abdullah Ibnu Umar. Ia tidak berbohong, ia hanya salah dengar.”

    Ziarah kubur bermanfaat bagi penziarah dan yang diziarahi. Rasulullah saw bersabda, “Ziarahilah orang-orang yang sudah mati di antara kamu karena mereka bergembira dengan ziarah yang kau lakukan. Dan hendaklah orang menyampaikan hajatnya di kuburan kedua orang tuanya setelah ia berdoa terlebih dahulu kepada mereka.” (Bihârul Anwâr, juz 10, hal. 97) Riwayat lain dari Dawud Al-Riqqi menyatakan: Aku bertanya kepada Abu Abdillah as, “Kalau ada seseorang berdoa di kuburan bapak, ibu, karib kerabat, atau yang bukan saudaranya, apakah itu ada manfaatnya?” Abu Abdillah menjawab, “Betul, itu bermanfaat. Kunjungan itu akan merupakan hadiah bagi mereka. Hadiah itu akan masuk kepada mereka sama seperti kalian memberikan hadiah bagi sesama kalian.”

    Salah satu adab ziarah adalah berbicara kepada orang yang telah meninggal dunia. Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari mengisahkan suatu peristiwa setelah Perang Uhud. Rasulullah mengajak bicara kepada para jenazah syuhada Uhud, “Apakah kalian telah menemukan apa yang dijanjikan Rasulullah kepada kalian itu benar?” Umar bin Khaththab berkata, “Ya Rasulallah, kau ajak bicara orang yang mati padahal dia tak mendengarmu.” Rasulullah saw menjawab, “Hai Umar, engkau tidak lebih mendengar dari mereka.” Para ahli kubur mendengar ucapan kita sama seperti orang yang masih hidup. Salam yang kita ucapkan kepada para ahli kubur pun pada hakikatnya adalah mengajak mereka bicara: Salam bagi kalian, hai penghuni kampung ini. Kalian telah mendahului kami dan insya Allah, kami akan menyusul kalian.

    Satu saat, Imam Ali kw melewati pekuburan. Ia mengajak bicara para ahli kubur, “Hai, penghuni kampung yang penuh kesepian. Hai, penghuni kubur yang penuh kegelapan. Hai, mereka yang bergelimang debu. Hai, mereka yang terasing dari kampung halamannya. Hai, mereka yang dalam kesendirian dan ketakutan. Kalian telah mendahului kami dan kami pasti akan menyusul kalian. Adapun rumah-rumah kalian telah dihuni oleh orang lain. Suami-suami dan istri-istri kalian telah menikah lagi dengan orang lain. Harta-harta kalian telah dibagi- bagikan. Ini berita kami untuk kalian, lalu bagaimana berita kalian untuk kami?” Imam Ali lalu menengok sahabat-sahabatnya dan berkata, “Kalaulah mereka itu diberi izin untuk berbicara, mereka akan menjawab pertanyaan kita dengan ucapan: Sesungguhnya bekal yang paling baik untuk alam kubur itu adalah takwa.”

    Adab yang sebaiknya kita amalkan ketika ziarah ke kubur adalah mengucapkan salam seperti di atas. Lalu ketika kita sampai di kuburan, letakkan tangan kita di atas kuburan seraya membaca surat Al-Fatihah, surat Al-Qadr tujuh kali, surat Al-Ikhlas sebelas kali, Ayat Kursi, serta membaca bagian awal dan akhir dari surat Al- Baqarah. Bila kita masih mempunyai waktu, bacalah surat Yasin di kuburan itu. Setelah itu bacalah doa.

    Bila waktu kita sedikit, kita dapat cukup membaca surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan Al-Nas masing-masing satu kali saja. Setelah itu lalu membaca doa tawasul kepada Nabi Muhammad dan keluarganya agar mayit itu tidak diazab Allah swt.

    ***

    Ditranskrip oleh Ilman Fauzi dari ceramah Jalaluddin Rakhmat pada Pengajian Ahad, tanggal 19 Nopember 2000, di Masjid Al-Munawwarah, Bandung.

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 1 June 2016 Permalink | Balas  

    Bersiaplah! Bulan Ramadhan Sebentar Lagi (1/2) 

    Selamat-Berpuasa-Puasa-Ramadhan-1431-HBersiaplah!  Bulan Ramadhan Sebentar Lagi (1/2)

    Kedatangan bulan Ramadhan adalah merupakan rahmat bagi setiap orang yang beriman. Di bulan ini dibukakan segala pintu-pintu langit, pintu-pintu syurga dan pintu-pintu rahmat. Setiap amal kebajikan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda. Doa mudah dikabulkan dan pintu pengampunan terbuka luas bagi setiap orang yang beriman dan orang-orang yang kembali ke jalan Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

    Sebagai seorang yang beriman, sudah setentunya tidak ingin terlepas segala peluang yang ada. Lebih-lebih lagi di bulan ini banyak keistimewaan dan ganjaran pahalanya. Untuk itu Irsyad Hukum kali ini mengingatkan supaya sama-samalah kita mempersiapkan diri sebelum menempuh kehadiran bulan Ramadhan, iaitu dengan mendalami perkara yang dilarang dan yang disunatkan ketika melaksanakan puasa serta kewajipan-kewajipan lain yang perlu dilunaskan sebelum kedatangannya.

    Persiapan Sebelum Menjelang Ramadhan

    Persiapan kita sebelum menjelangnya bulan Ramadhan antaranya:

    1. Merasa Gembira Dan Berdoa

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menggembirakan para sahabatnya sempena menyambut ketibaan bulan Ramadhan ketika Baginda menyampaikan khutbah kepada para sahabat yang antara lain mengandungi beberapa panduan dan dorongan untuk memperbanyak amal ibadat dalam bulan Ramadhan. Panduan dan dorongan yang diberikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu membuatkan para sahabat merasa gembira menyambut ketibaan bulan Ramadhan yang mulia.

    Sehubungan dengan kegembiraan menyambut Ramadhan itu, at-Thabarani dan lain-lain meriwayatkan daripada Anas Radhiallahu ‘anhu, bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tiba bulan Ramadhan, mulai daripada masuk bulan Rejab, Baginda sering berdoa. Antara doa Baginda ialah:

    Maksudnya: “Ya Allah, berilah keberkatan kepada kami di bulan Rajab dan Sya‘ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan.”

    1. Puasa Sunat

    Sebelum bulan Ramadhan, iaitu di bulan Sya‘ban, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memperbanyakkan puasa sunat. Oleh itu memperbanyakkan puasa sunat di bulan Sya‘ban adalah sangat digalakkan kerana mencontohi amalan Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, kalau tidak dapat dibuat semuanya, maka janganlah ditinggalkan semua. Bukan sahaja bagi mengkecapi ganjaran pahala dan rahmat Allah Ta‘ala, bahkan bagi melatih diri berpuasa sebelum datangnya bulan Ramadhan.

    1. Mengqadha Puasa Wajib

    Puasa Ramadhan yang tertinggal tetap wajib diqadha pada bila-bila masa. Bulan Sya‘ban merupakan masa atau peluang terakhir buat tahun itu untuk mengqadha puasa Ramadhan yang tertinggal itu. Maksud peluang terakhir di sini ialah bagi mengelakkan membayar fidyah, kerana jika telah masuk bulan Ramadhan, sedangkan puasa Ramadhan tahun yang sebelumnya belum diqadha, maka di samping kewajipan mengqadhanya, wajib pula mengeluarkan fidyahnya.

    Bagi sesiapa yang masih belum mengqadha puasa Ramadhan tahun lepas, eloklah mengambil kesempatan mengqadhanya pada bulan Sya‘ban ini agar tidak terkena membayar fidyah.

    1. Membayar Fidyah

    Fidyah dalam hal puasa bererti bayaran denda kerana tidak berpuasa Ramadhan dengan sebab-sebab tertentu atau kerana melambat-lambatkan mengqadha puasa Ramadhan sehingga masuk Ramadhan berikutnya. Antara sebab-sebab wajib mengeluarkan fidyah puasa ialah:

    1. Tidak berupaya berpuasa, iaitu seseorang yang wajib berpuasa tetapi tidak sanggup lagi mengerjakannya disebabkan tua atau lemah. Sekiranya dia berpuasa, dia tidak akan dapat menanggung kepayahannya. Maka orang sedemikian wajib membayar fidyah sahaja dan tidak diwajibkan mengqadha puasanya.
    2. Orang yang sakit tidak ada harapan sembuh dan tidak berupaya melakukan puasa. Maka dia wajib membayar fidyah sahaja tanpa mengqadha puasanya. Sementara orang sakit yang ditakuti akan bertambah sakitnya jika dia berpuasa tetapi ada harapan untuk sembuh, maka tidak wajib baginya berpuasa. Tetapi apabila dia sembuh wajib ke atasnya mengqadha puasa yang ditinggalkannya itu tanpa membayar fidyah.

    iii. Perempuan hamil atau yang sedang menyusukan anak, iaitu jika sekiranya mereka berpuasa maka ditakuti akan mendatangkan mudarat kepada anak yang dikandung atau boleh mengurangkan air susu yang akan memberi kesan kurang baik kepada anak yang menyusu. Dalam hal ini, di samping mereka diwajibkan membayar fidyah, mereka juga wajib mengqadha puasanya. Namun jika dia berbuka kerana merasa takut akan kemudaratan dirinya sahaja atau takut akan kemudaratan dirinya dan juga anaknya, maka wajib dia mengqadha puasa sahaja tanpa membayar fidyah.

    Orang yang tidak mengqadha puasa Ramadhan pada tahun berkenaan sehingga masuk Ramadhan berikutnya tanpa uzur syar‘i. Di samping wajib ke atasnya membayar fidyah (satu cupak bagi sehari puasa), dia juga wajib mengqadha puasa yang ditinggalkannya itu. Kadar jumlah fidyah tersebut akan berganda (2 cupak bagi sehari puasa) jika ditangguhkan lagi sehingga datang tahun berikutnya. Demikianlah seterusnya, setahun ke setahun kadar jumlah fidyah akan berganda-ganda jika qadha puasa tidak ditunaikan.

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: