Updates from Februari, 2019 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:31 am on 28 February 2019 Permalink | Balas  

    AL-QUR’AN : kitab Allah yang telah sempurna 

    AL-QUR’AN : kitab Allah yang telah sempurna

    SUMBER PETUNJUK

    Al-Qur’an sebagai sebuah buku yang diciptakan sendiri oleh Allah pencipta alam semesta berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia.

    Petunjuk Al-Qur’an meliputi segala sesuatu yang dihukumkan Allah atas manusia, baik itu berupa ketetapan, suruhan, maupun larangan.

    Petunjuk Al-Qur’an meliputi penjelasan atas segala sesuatu sehingga manusia tidak memerlukan lagi sumber-sumber lain untuk dapat menjalankan apa yang sudah dihukumkan Allah atas manusia. Kitab ini, tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang yang taqwa. [Q.S. 2:2]

    “Bukanlah (Al-Qur’an) itu perkataan yang diada-adakan, tetapi ia membenarkan (Kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan petunjuk serta rahmat bagi kaum yang beriman.” [Q.S. 12:111]

    DITULIS DAN DISUSUN OLEH NABI MUHAMMAD

    Al-Qur’an adalah kitab yang langsung ditulis oleh Nabi Muhammad. Sebelum Al-Qur’an itu Nabi Muhammad belum pernah menulis ataupun membaca kitab lain. “Dan tidak pernah sebelum ini kamu (Muhammad) membaca suatu Kitab, atau menulisnya dengan tangan kanan kamu, jika demikian tentulah ragu-ragu orang-orang yang mengingkarimu.” [Q.S. 29:48]

    Susunan Al-Qur’an yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Naas sebagaimana kita dapati sekarang ini disusun langsung oleh Nabi Muhammad dengan petunjuk Allah.

    Al-Qur’an bukan disusun oleh para sahabat Nabi sebagaimana yang umum tertulis di dalam literatur. “Sesungguhnya atas (urusan) Kamilah mengumpulkan dan membacakannya” [Q.S. 75:17]

    Proses keberlanjutan Al-Qur’an kemudian adalah melalui proses tulis ulang (salin) yang dilakukan oleh para juru tulis dan akhirnya sampailah kepada kita hari ini melalui proses percetakan modern.

    “Sekali-kali tidak! Ia adalah Peringatan, maka siapa yang menghendaki akan mengingatnya. Pada naskah-naskah yang dimuliakan. Dinaikkan dan dibersihkan oleh tangan-tangan para jurutulis”. [Q.S. 80:11-15]

    TERJAGA

    Syaitan dan orang-orang yang ingkar berusaha menjauhkan manusia dari Al-Qur’an dengan meniupkan keragu-raguan atas keaslian Al-Qur’an.

    Kita tidak perlu termakan oleh godaan semacam itu karena Allah sendiri telah menjamin untuk menjaga Al-Qur’an.

    “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Peringatan (Al-Qur’an), dan Kamilah yang menjaganya.” [Q.S. 15:9]

    JELAS DAN MUDAH

    Semua perintah, larangan, dan ketetapan yang diturunkan Allah untuk manusia tertulis dengan jelas di dalam Al-Qur’an. Selama kita membuka hati terhadapnya maka petunjuk cahaya keselamatan akan didapatkan.

    “Seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Allah yang menjelaskan, supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan dari kegelapan kepada cahaya”. [Q.S. 65:11]

    “(Al-Qur’an) itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada orang- orang yang berpengetahuan. Tiada yang menyangkal ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim”. [Q.S. 29:49]

    Dengan sifat ayat-ayat Al-Qur’an yang jelas dan menjelaskan maka untuk mengikutinya tidak diperlukan apa yang diistilahkan sebagai “asbabun nuzul”, “ilmu nahwu-sharaf” dan sebagainya. Terjemahan Al-Qur’an dalam berbagai bahasa dengan mudah bisa didapati sekarang ini. Syarat-syarat “asbabun nuzul”, “ilmu nahwu- sharaf” dan sebagainya diada-adakan oleh orang zalim untuk membuat manusia “ngeri” terhadap Al-Qur’an. Padahal, Allah sendiri menyatakan bahwa Al-Qur’an itu dimudahkan untuk menjadi peringatan

    “Dan sesungguhnya telah kami mudahkan Al-Qur’an itu untuk peringatan. Maka adakah orang yang mau memikirkan?” [Q.S. 54:17]

    Penguasaan bahasa Arab tentu saja nilai lebih yang positif. Namun kembali, hal itu bukanlah syarat untuk memahami Al-Qur’an.

    TERPERINCI DAN SEMPURNA

    Disamping memberi petunjuk atas segala sesuatu, Allah memfatwakan bahwa Al-Qur’an bersifat terperinci dan sempurna. Dengan fatwa Allah ini gugurlah fatwa-fatwa ajaran palsu yang mengatakan bahwa Al- Qur’an bersifat garis besar dan dibutuhkan sumber lain untuk merinci petunjuk-Nya.

    “Apakah kepada selain Allah aku mencari hakim, padahal Dialah yang telah menurunkan Kitab kepadamu secara terperinci? Dan orang-orang yang telah kami turunkan Kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Kitab itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali menjadi orang yang ragu-ragu. Dan telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Qur’an) dengan kebenaran dan keadilan. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. [Q.S. 6:114-115]

    Tingkat keterperincian Al-Qur’an adalah sesuai dengan yang dikehendaki Allah. Bisa saja Allah menetapkan suatu hal dengan batasan yang longgar seperti tentang rangkaian gerakan shalat (berdiri, ruku, sujud) yang tidak ditetapkan harus berapa kali. Sebaliknya bisa pula Allah menetapkan sebuah batasan yang sangat ketat sebagaimana dapat dibaca pada ayat tentang waris di bawah ini.

    “Allah mewasiatkan kepadamu tentang (pembagian warisan) untuk anak- anakmu, yaitu: bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. Jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua orang, maka bagi mereka 2/3 dari harta yang ditinggalkan, dan jika anak perempuan itu seorang saja maka ia memperoleh 1/2 harta. Dan untuk dua orang ibu bapak, bagi masing-masing memperoleh 1/6 dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak. Jika yang meninggal itu tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu bapaknya saja, maka ibunya memperoleh 1/3. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya memperoleh 1/6 sesudah dipenuhi wasiat dan hutang-hutangnya….Dan bagi kamu 1/2 dari harta yang ditinggalkan istri-istrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istrimu mempunyai anak maka kamu memperoleh 1/4 dari harta yang ditinggalkannya, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuatnya dan hutang-hutangnya. Dan bagi para istri memperoleh 1/4 dari harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para istri itu memperoleh 1/8 dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat dan hutang- hutangnya. Dan jika seseorang wafat baik laki-laki atau perempuan yang tidak meninggalkan bapak dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki atau seorang saudara perempuan, maka masing-masing dari kedua saudara itu memperoleh 1/6. Tetapi jika saudara-saudara lebih dari seorang, maka mereka berbagi dalam yang 1/3 sesudah dipenuhi wasiat dan hutang-hutangnya dengan tidak merugikan. Itulah ketetapan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.” [Q.S. 4:11-12]

    Sesungguhnya keterperincian pengaturan di dalam Al-Qur’an sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah. Bisa longgar, bisa ketat. Tidak pantas jika kemudian ada mulut manusia yang berkata: “Al- Qur’an masih belum terperinci, masih harus ada pengaturan tentang ini dan itunya dalam pelaksanaan ibadah.” Manusia kah atau Allah yang lebih tahu tentang apa dan bagaimana seharusnya sesuatu hal diatur?

    LENGKAP

    Selain terperinci, Al-Qur’an pun dengan lengkap memuat segala pesan Allah untuk manusia. Tiada yang terluputkan oleh Allah, karenanya tidak bisa diterima keberadaan kitab lain apapun yang diklaim sebagai “pelengkap” Al-Qur’an.

    “tidak Kami luputkan sesuatupun di dalam Kitab itu, kemudian kepada Tuhan merekalah, mereka akan dikumpulkan”. [Q.S. 6:38]

    PENGUJI KEBENARAN KITAB LAIN

    Allah telah menurunkan kitab suci-kitab suci lain sebelum akhirnya Ia menurunkan Al-Qur’an melalui Nabi penutup. Kitab suci yang telah diturunkan sebelum Al-Qur’an telah mengalami banyak distorsi melalui campur tangan pemuka-pemuka agama (yahudi dan nasrani) yang mengubah ayat-ayat Allah dan menukarnya dengan ucapan-ucapan mereka sendiri.

    Sepatutnya manusia (agama apapun) yang takut kepada Allah tidak lagi mencari kebenaran pada kitab suci-kitab suci terdahulu. Bila ingin menemukan kebenaran haruslah mencarinya pada Al-Qur’an karena ia diturunkan Allah sebagai batu ujian untuk menilai kebenaran kitab- kitab sebelumnya.

    Dan Kami telah menurunkan kepada kamu Kitab dengan kebenaran, yang membenarkan Kitab sebelumnya, dan menjaga (kebenaran)nya. Maka putuskanlah antara mereka menurut apa yang telah ditirunkan Allah, dan janganlah mengikuti keinginan mereka dengan mengabaikan kebenaran yang telah datang kepadamu. [Q.S. 5:48]

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 27 February 2019 Permalink | Balas  

    Mereka Menjadikan Orang Alimnya sebagai tuhan 

    Mereka Menjadikan Orang Alimnya sebagai tuhan

    Allah SWT berfirman, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah dan juga mereka mempertuhankan al masih putera Maryam (QS At Taubah : 31)

    Ketika sahabat Adi bin Hatim ra. mendengar ayat ini (dahulunya ia adalah penganut nasrani) dia berkata kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, kami dahulu tidak menyembah mereka”

    Lalu Rasulullah SAW berkata,

    “Alaysa yuhilluuna lakum maa harramallaHu fatuhilluunaHu wa yuharrimuuna maa ahallallHu fatuharrimuunaHu?” yang artinya “Bukankah mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah lalu kalian mengikutinya?”

    Menjawab Adi bin Hatim ra., “Benar”

    Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Fatilka ‘ibaadatuHum” yang artinya “Itulah bentuk ibadah kalian” (HR. At Tirmidzi dan Al Baihaqi, hadits ini hasan)

    Maka dari itu berhati-hatilah terhadap ucapan atau pendapat orang-orang alim di sekitar kita karena mereka bukanlah manusia yang ma’shum (terbebas dari dosa). Artinya jika pendapat mereka menyelisihi Al Qur’an dan As Sunnah baik secara disengaja maupun tidak, maka pendapat tersebut harus ditinggalkan dan wajib bagi kita mengikuti Allah SWT dan Rasul-Nya.

    Semoga Bermanfaat

    Abu Hasan Husain

     
    • itaandarika 5:46 am on 27 Februari 2019 Permalink

      Ada yang lebih lucu lagi.. diluar sana, orang dengan skizofrenia dianggap sebagai nabi…

  • erva kurniawan 7:20 am on 26 February 2019 Permalink | Balas  

    Macam-Macam Syirik 

    Macam-Macam Syirik

    Syirik adalah mempersekutukan Allah SWT dengan segala sesuatu selain-Nya dan Allah SWT tidak akan mengampuni orang yang berbuat syirik kepada-Nya, jika ia meninggal dunia dalam kemusyrikan, sebagaimana firman-Nya,

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar (QS An Nisaa’ 48)

    Syirik adalah dosa yang paling besar, kezhaliman yang paling zhalim dan kemungkaran yang paling mungkar.

    Syirik ada 2 jenis: Syirik Besar dan Syirik Kecil

    Syirik Besar dapat mengeluarkan pelakunya dari agama Islam dan menjadikannya kekal di dalam neraka, jika ia meninggal dunia dalam keadaan syirik dan belum bertaubat daripadanya.

    Syirik Besar ada 4 macam:

    Syirik Doa, yaitu disamping ia berdoa kepada Allah SWT, ia juga berdoa kepada selain-Nya. Allah SWT berfirman,

    “Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan (Allah)” (QS Al ‘Ankabuut 65)

    Syirik Tujuan, yaitu ia menunjukan suatu ibadah untuk selain Allah SWT. Dia Yang Maha Penyayang berfirman,

    “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” (QS Hud 15-16)

    Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah SWT dalam hal maksiat kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya,

    “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan” (QS At Taubah 31)

    Syirik Kecintaan, yaitu menyamakan Allah SWT dengan selain-Nya dalam hal kecintaan. Allah SWT berfirman,

    “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cintanya kepada Allah, dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka meyesal)” (QS Al Baqarah 165)

    Sementara itu syirik kecil tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, tetapi ia mengurangi tauhid dan merupakan wasilah (perantara) kepada syirik besar (maka berhati-hatilah terhadap syirik kecil ini !).

    Syirik Kecil ada 2 macam:

    1.. Syirik Zhahir (Nyata), yaitu syirik kecil dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Dalam ucapan misalnya, bersumpah dengan nama selain Allah. Dari Abdullah bin Umar ra. Rasulullah SAW bersabda,

    “Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka ia telah berbuat kufur atau syirik” (HR. Tirmidzi no. 1535, Al Hakim I/18 dan Ahmad II/34, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Silsilah Al Ahaadiits Ash Shahiihah no. 2042)

    2.. Syirik Khafi (Tersembunyi), yaitu syirik dalam keinginan dan niat, seperti riya’ (ingin dipuji orang) dan sum’ah (ingin didengar orang) dan lainnya. Dari sahabat Mahmud bin Labid ra., Rasulullah SAW bersabda,

    “Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil”. Mereka (sahabat) bertanya, “Apakah syirik kecil itu ya Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Yaitu Riya’” (HR. Ahmad V/428-429, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir pada Kitab Tahqiq Musnad Imam Ahmad no. 23521 dan 23526)

    Maraji’:

    Disarikan dari Buku Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Yazid Abdul Qadir Jawaz, Pustaka At Taqwa, Bogor, Cetakan Kedua, April 2005 M, hal 99-104.

    [Rasulullah SAW bersabda,

    “Inna baynar rajuli wa bayna syirki wal kufri tarkush shalaaH “ yang artinya “Sesungguhnya batas antara seseorang dengan kemusyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat” (HR. Muslim, dari Jubair ra.)

    Syaikh Al Islam Ibnu Taimiyyah pernah ditanya tentang hukum meninggalkan shalat (kemudian dijawab), “Adapun meninggalkan shalat, jika ia berkeyakinan tidak wajib, maka ia telah kafir berdasarkan nash dan ijma’ Ulama. Namun, jika ia masuk Islam dan tidak mengetahui tentang kewajiban shalat…maka yang seperti ini tidak dikatakan kafir” (Majmu’ Al Fatawaa XXII/40)]

     
  • erva kurniawan 1:49 am on 25 February 2019 Permalink | Balas  

    Doa Orang Musafir dan Orang Shalih 

    Memohonkan Doa Kepada Orang Yang Bermusafir Dan Orang-Orang Yang Shalih

    Dibolehkan meminta seseorang untuk mendoakan, walaupun orang yang memohon itu lebih tinggi darjatnya dan lebih afdhal doanya daripada orang yang bakal mendoakan. Diriwayatkan oleh Umar Radhiallahu ‘anhu yang maksudnya :

    Umar berkata: “Aku pernah memohon izin kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berumrah, maka Baginda mengizinkan aku.

    Lalu Baginda bersabda: “Jangan engkau lupa mendoakan kami, hai saudaraku.”

    Maka Baginda telah mengucapkan suatu kalimat yang lebih menggembirakan aku daripada dunia ini.”

    Dalam riwayat yang lain dengan lafaz: “Sertakan (sebutkan) kami, wahai saudaraku, dalam doamu.”

    (Hadis riwayat Abu Daud)

    Tidak syak lagi bahawa amalan saling doa mendoakan itu adalah sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang sewajarnya menjadi ikutan dan contoh tauladan kepada umatnya. Ianya patut dijadikan budaya dan amalan hidup, lebih-lebih lagi di saat di mana saudara kita itu khususnya ketika dia memerlukan pertolongan dan bantuan dalam menghadapi kesusahan hidup, di mana peranan doa itu boleh menjadi senjata untuk menolak kesusahan dan penderitaannya. Dalam waktu yang sama mendoakannya untuk memperolehi segala kebaikan dan kebahagiaan.

    Di samping peranan doa itu, ia boleh mengeratkan pertalian dan perhubungan yang mesra sesama umat, ia juga mengukuhkan kekuatan iman dan tauhid karena tiada tempat berdoa dan mengadu hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata. Lebih-lebih lagi mendoakan orang tanpa sepengetahuannya itu adalah di antara doa yang tidak akan terhalang. Inilah suatu hakikat yang tidak patut dilupakan.

    wallohu a’lam bish-showab,-

     
  • erva kurniawan 2:48 am on 24 February 2019 Permalink | Balas  

    Ta’ziah Atau Mendoakan Orang Yang Ditimpa Musibah 

    Ta’ziah Atau Mendoakan Orang Yang Ditimpa Musibah

    Adalah sunat mengucapkan ta’ziah kepada saudara Islam yang ditimpa musibah samada disebabkan kematian, bencana dan sebagainya. Adapun hikmah mengucapkan ta’ziah itu sebagai tanda bersimpati dan sama-sama merasakan kesedihan yang menimpa dan ditanggung oleh saudaranya. Sementara itu ganjaran dari mengucapkan ta’ziah itu sangat besar sepertimana yang disebut di dalam sebuah hadis yang maksudnya :

    “Tidaklah seorang mukmin yang mengucapkan ta’ziah pada saudaranya yang ditimpa musibah, melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala memakaikannya pakaian daripada pakaian kehormatan pada Hari Kiamat.”

    (Hadis riwayat Ibnu Majah)

    Antara lafaz ta’ziah yang ditujukan kepada ahli keluarga si mati adalah berdasarkan daripada al-Qur’an, yaitu dengan mengucapkan “. (=Inna lillahi wa inna ilayhi Rooji’un=) Ini adalah berdasarkan firman Allah Ta’ala yang tafsirnya :

    “(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa oleh sesuatu kesusahan, mereka berkata: “Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali.”

    (Surah al-Baqarah: ayat 156)

    Adapun orang yang junub dan perempuan yang haidh, maka hukumnya harus (boleh dengan niat zikir) membaca sepotong ayat al-Qur’an di atas.

    Antara lafaz ta’ziah yang pernah diucapkan oleh Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Usamah bin Zaid. Bahawa mereka sedang berada berhampiran dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila datang orang suruhan salah seorang puteri Baginda dengan membawa kabar untuk Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam bahawa anak dari puteri Baginda itu sedang menghadapi maut yang maksudnya :

    “Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada orang suruhan tersebut: “Kembalilah kepadanya dan katakan: “Sesungguhnya hanya Allahlah yang berhak mengambil dan hanya Allahlah yang berhak memberi. Segala sesuatu itu di sisiNya adalah dengan batas waktu tertentu.” Maka suruhlah dia agar bersabar dan mengharap pahala (daripadaNya).”

    (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)

    Disebutkan di dalam kitab al-Adzkar, lafaz ta’ziah itu ialah:

    (=a’dzomallohu ajroka, wa ahsana ‘aza aka, waghofaro limayyitika=)

    Maksudnya: “Semoga Allah membesarkan pahalamu dan membaikkan kesabaranmu dan mengampunkan bagi si matimu”

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 23 February 2019 Permalink | Balas  

    Bersin 

    Bersin

    Mendoakan Orang Bersin

    Daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Sesungguhnya Allah suka pada orang-orang yang suka bersin dan membenci orang yang menguap. Maka ketika seseorang itu bersin dan memuji Allah, maka adalah menjadi hak kepada bagi setiap orang muslim yang mendengarnya untuk mendoakan berkat ke atasnya. Adapun menguap, maka sesungguhnya hal itu daripada syaitan, maka tolaklah ia sekuat tenaga, maka ketika seseorang berkata: ‘Haa’, syaitan mentertawakannya.”

    (Hadis riwayat al-Bukhari)

    Cara Mendoakan Orang Bersin

    Daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Ketika salah seorang di antara kamu bersin maka hendaklah dia berkata : (=Alhamdulillah=) “Segala puji bagi Allah”

    Dan hendaklah saudaranya atau temannya mendoakannya: (=Yarhamukalloh=) “Semoga Allah merahmatimu”

    Dan ketika temannya berkata demikian, “ (=Yarhamukalloh=) ”Semoga Allah merahmatimu”

    Hendaklah orang yang bersin tadi berkata: ”(=Yahdikumulloh Wayushlihu Yaa lakum=)”Semoga Allah memberi petunjuk dan memperbaikkan sifatmu”.

    (Hadis riwayat al-Bukhari)

    Para ulama telah sepakat bahawa lafaz yang dianjurkan untuk diucapkan oleh orang yang bersin ialah(=Alhamdulillah= Segala puji bagi Allah) dan lebih baik “ (=Alhamdulillahi Robbil ‘alamin= Segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam), dan lebih afdhal “ (=Alhamdulillahi ‘ala kulli hal= Segala puji bagi Allah ke atas tiap-tiap suatu perkara).

    Kelebihan Mengucapkan “Alhamdulillah” Ketika Bersin

    Diceritakan di dalam sebuah hadis tentang kelebihan seorang yang mengucapkan “Alhamdulillah” apabila dia bersin yang maksudnya :

    “Dua orang lelaki bersin di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian Baginda mendoakan berkat pada salah seorang dari mereka dan tidak mendoakan pada yang seorang lagi, maka bertanyalah orang itu: “Wahai Rasulullah! Engkau doakan dia dan engkau tidak mendoakan aku?”

    Baginda bersabda: “Sesungguhnya yang ini memuji Allah, dan engkau tidak memuji Allah.”

    (Hadis riwayat al-Bukhari)

    Berdasarkan hadis di atas, sesiapa yang tidak mengucapkan alhamdulillah kerana lupa atau seumpamanya, maka dianjurkan bagi sesiapa yang berada di sisinya atau berdekatan dengannya agar mengingatkannya untuk mengucapkan “Alhamdulillah” kerana mengucapkan tahmid, iaitu (Alhamdulillah) ketika bersin itu adalah orang-orang yang ingat dan bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka bagi orang-orang yang bersyukur kepada Allah itu pasti mendapat ganjaran yang tidak terhingga.

     
  • erva kurniawan 7:36 am on 22 February 2019 Permalink | Balas  

    Kaffah 

    Kaffah

    Oleh : Armansyah

    “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu semuanya kedalam Islam secara kaffah, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya dia itu musuh yang nyata bagimu.” (Qs. al-Baqarah 2:208)

    Ayat diatas merupakan seruan, perintah dan juga peringatan Allah yang ditujukan khusus kepada orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang mengakui Allah sebagai Tuhan satu-satunya dan juga mengakui Muhammad selaku nabi-Nya agar masuk kedalam agama Islam secara kaffah dan agar mau melakukan intropeksi diri, sudahkah kita benar-benar beriman didalam Islam secara kaffah?

    Allah memerintahkan kepada kita agar melakukan penyerahan diri secara sesungguhnya, lahir dan batin tanpa syarat hanya kepada-Nya tanpa diembel-embeli hal-hal yang bisa menyebabkan ketergelinciran kedalam kemusryikan.

    Bagaimanakah jalan untuk mencapai Islam Kaffah itu sesungguhnya?

    al-Qur’an memberikan jawaban kepada kita :

    “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling darinya, padahal kamu mengerti.” (Qs. al-Anfaal 8:20)

    Jadi Allah telah menyediakan sarana kepada kita untuk mencapai Islam yang kaffah adalah melalui ketaatan kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya serta tidak berpaling dari garis yang sudah ditetapkan.

    Taat kepada Allah dan Rasul ini memiliki aspek yang sangat luas, akan tetapi bila kita mengkaji al-Qur’an secara lebih mendalam lagi, kita akan mendapati satu intisari yang paling penting dari ketaatan terhadap Allah dan para utusan-Nya, yaitu melakukan Tauhid secara benar.

    Tauhid adalah pengesaan kepada Allah.

    Bahwa kita mengakui Allah sebagai Tuhan yang Maha Pencipta yang tidak memiliki serikat ataupun sekutu didalam zat dan sifat-Nya sebagai satu-satunya tempat kita melakukan pengabdian, penyerahan diri serta ketundukan secara lahir dan batin.

    Seringkali manusia lalai akan hal ini, mereka lebih banyak berlaku sombong, berpikiran picik laksana Iblis, hanya menuntut haknya namun melupakan kewajibannya. Tidak ubahnya dengan orang kaya yang ingin rumahnya aman akan tetapi tidak pernah mau membayar uang untuk petugas keamanan.

    Banyak manusia yang sudah melebihi Iblis.

    Iblis tidak pernah menyekutukan Allah, dia hanya berlaku sombong dengan ketidak patuhannya untuk menghormati Adam selaku makhluk yang dijadikan dari dzat yang dianggapnya lebih rendah dari dzat yang merupakan sumber penciptaan dirinya.

    Manusia, telah berani membuat Tuhan-tuhan lain sebagai tandingan Allah yang mereka sembah dan beberapa diantaranya mereka jadikan sebagai mediator untuk sampai kepada Allah. Ini adalah satu kesyirikan yang besar yang telah dilakukan terhadap Allah.

    “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan pendeta-pendeta mereka sebagai Tuhan-Tuhan selain Allah, juga terhadap al-Masih putera Maryam; padahal mereka tidak diperintahkan melainkan agar menyembah Tuhan Yang Satu; yang tidak ada Tuhan selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (Qs. al-Bara’ah 9:31)

    “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfa’atan, namun mereka berkata: “Mereka itu penolong-penolong kami pada sisi Allah !”. Katakanlah:”Apakah kamu mau menjelaskan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di langit-langit dan dibumi?” ; Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (Qs. Yunus 10:18)

    Penyakit syirik ini dapat mengenai dan menyertai siapa saja, tidak terkecuali didalam orang-orang Islam yang mengaku bertauhid. Untuk itulah Allah memberikan perintah internal kepada umat Muhammad ini agar sebelum mereka melakukan Islamisasi kepada orang lain, dia harus terlebih dahulu mengIslamkan dirinya secara keseluruhan alias Kaffah dengan jalan mentaati apa-apa yang sudah digariskan dan dicontohkan oleh Rasul Muhammad Saw sang Paraclete yang agung, Kalky Authar yang dijanjikan.

    Bagaimana orang Islam dapat melakukan satu kesyirikan kepada Allah, yaitu satu perbuatan yang mustahil terjadi sebab dia senantiasa mentauhidkan Allah?

    Sejarah mencatatkan kepada kita, berapa banyak orang-orang Muslim yang melakukan pemujaan dan pengkeramatan terhadap sesuatu hal yang sama sekali tidak ada dasar dan petunjuk yang diberikan oleh Nabi.

    Dimulai dari pemberian sesajen kepada lautan, pemandian keris, peramalan nasib, pemakaian jimat, pengagungan kuburan, pengkeramatan terhadap seseorang dan seterusnya dan selanjutnya. Inilah satu bentuk kesyirikan terselubung yang terjadi didalam diri dan tubuh kaum Muslimin kebanyakan.

    Mereka lebih takut kepada tokoh Roro Kidul ketimbang kepada Allah, mereka lebih hormat kepada kyai ketimbang kepada Nabi. Mereka lebih menyukai membaca serta mempercayai isi kitab-kitab primbon dan kitab-kitab para ulama atau imam Mazhab tertentu ketimbang membaca dan mempercayai kitab Allah, al-Qur’anul Karim.

    Adakah orang-orang yang begini ini disebut sebagai Islam yang kaffah?

    Sudah benarkah cara mereka beriman kepada Allah?

    Saya yakin, kita semua membaca al-Fatihah didalam Sholat, dan kita semua membaca “Iyyaka na’budu waiyya kanasta’in” yang artinya “Hanya kepada Engkaulah (ya Allah) kami mengabdi dan hanya kepada Engkaulah (ya Allah) kami memohon pertolongan”.

    Ayat ini berindikasikan penghambaan kita kepada Allah dan tidak memberikan sekutu dalam bentuk apapun sebagaimana juga isi dari surah al-Ikhlash :

    “Katakan: Dialah Allâh yang Esa. Allâh tempat bergantung. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada bagi-Nya kesetaraan dengan apapun.” (Qs. al-Ikhlash 112:1-4)

    Hanya sayangnya, manusia terlalu banyak yang merasa angkuh, pongah dan sombong yang hanyalah merupakan satu penutupan dari sifat kebodohan mereka semata sehingga menimbulkan kezaliman-kezaliman, baik terhadap diri sendiri dan juga berakibat kepada orang lain bahkan hingga kepada lingkungan.

    Untuk mendapatkan kekayaan, kedudukan maupun kesaktian, tidak jarang seorang Muslim pergi kedukun atau paranormal, memakai jimat, mengadakan satu upacara ditempat-tempat tertentu pada malam-malam tertentu dan di-ikuti pula dengan segala macam puasa-puasa tertentu pula yang tidak memiliki tuntunan dari Allah dan Rasul-Nya.

    Apakah mereka-mereka ini masih bisa disebut sebagai seorang Islam yang Kaffah?

    Dengan tindakan mereka seperti ini, secara tidak langsung mereka sudah meniadakan kekuasaan Allah, mereka menjadikan semuanya itu selaku Tuhan-tuhan yang berkuasa untuk mengabulkan keinginan mereka.

    “Dan sebagian manusia, ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Tetapi orang-orang yang beriman adalah amat sangat cintanya kepada Allah.” (Qs. Al-Baqarah 2:165)

    Kepada orang-orang seperti ini, apabila diberikan peringatan dan nasehat kepada jalan yang lurus, mereka akan berubah menjadi seorang pembantah yang paling keras.

    “Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam al-Qur’an ini bermacam-macam perumpamaan. Tetapi manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.” (Qs. al-Kahf 18:54)

    “Tidakkah engkau pikirkan orang-orang yang membantah tentang kekuasaan-kekuasaan Allah? Bagaimana mereka bisa dipalingkan?” (Qs. al-Mu’min 40:69)

    Orang-orang sekarang telah banyak yang salah pasang ayat, mereka katakan bahwa apa yang mereka lakukan itu bukanlah suatu kesyirikan melainkan satu usaha atau cara yang mesti ditempuh, sebab tanpa usaha Tuhan tidak akan membantu.

    Memang benar sekali, tanpa ada tindakan aktif dari manusia, maka tidak akan ada pula respon reaktif yang timbul sebagai satu bagian dari hukum alam sebab-akibat. Akan tetapi, mestikah kita mengaburkan akidah dengan dalil usaha?

    Anda ingin kaya maka bekerja keras dan berhematlah semampu anda, anda ingin mendapatkan penjagaan diri maka masukilah perguruan-perguruan beladiri entah silat, karate, kempo, tenaga dalam dan sebagainya.

    Anda ingin pintar maka belajarlah yang rajin begitu seterusnya yang pada puncak usaha itu haruslah dibarengi dengan doa kepada Allah selaku penyerahan diri kepada sang Pencipta atas segala ketentuan-Nya, baik itu untuk ketentuan yang bagus maupun ketentuan yang tidak bagus.

    “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Qs. al-Baqarah 2:216)

    “Yang demikian itu adalah nasehat yang diberikan terhadap orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, karena barang siapa berbakti kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan bagi mereka satu pemecahan; dan Allah akan mengaruniakan kepadanya dari jalan yang tidak ia sangka-sangka; sebab barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan menjadi pencukupnya. Sesungguhnya Allah itu pelulus urusan-Nya, sungguh Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap sesuatu.” (Qs. at-Thalaq 65:2-3)

    Bukankah hampir semua dari kita senantiasa hapal dan membaca ayat dibawah ini dalam doa iftitahnya?

    “Sesungguhnya Sholatku, Ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan sekalian makhluk, tiada serikat bagi-Nya, karena begitulah aku diperintahkan.” (Qs. al-An’aam 6:162-163)

    Anda membutuhkan perlindungan dari segala macam ilmu-ilmu jahat, membutuhkan perlindungan dari orang-orang yang bermaksud mengadakan rencana yang jahat dan keji, maka berimanlah anda secara sungguh-sungguh kepada Allah dan Rasul-Nya, InsyaAllah, apabila anda benar-benar Kaffah didalam Islam, Allah akan menepati janji-Nya untuk memberikan Rahmat-Nya kepada kita.

    “Dan ta’atilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (Qs. Ali Imran 3:132)

    Rahmat Allah itu tidak terbatas, Rahmat bisa merupakan satu perlindungan, satu pengampunan, Kasih sayang dan juga bisa berupa keridhoan yang telah diberikan-Nya kepada kita.

    Apakah anda tidak senang apabila Tuhan meridhoi anda?

    Seorang anak saja, apabila dia telah mendapatkan restu dan ridho dari kedua orangtuanya, anak tersebut akan memiliki ketenangan dan penuh suka cita didalam melangkah, apakah lagi ini yang didapatkan adalah keridhoan dari Ilahi, Tuhan yang menciptakan seluruh makhluk, yang berkuasa atas segala sesuatu?

    Jika Allah ridho kepada kita, maka percayalah Allah akan membatalkan dan mengalahkan musuh-musuh kita. Maka dari itu berkepribadian Kaffah-lah didalam Islam, berimanlah secara tulus dan penuh kesucian akidah.

    Dalam kajian lintas kitab, kita akan mendapati fatwa dari ‘Isa al-Masih kepada para sahabatnya mengenai kekuatan Iman :

    Terjemahan Resmi: Baru: Matius: 17

    17:19 Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan dia, bertanyalah mereka: “Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?”

    17:20 Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, –maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.

    al-Qur’an pun memberikan gambaran :

    Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah, bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Qs. 2 al-Baqarah: 186)

    Kita lihat, Allah akan mendengar doa kita, Dia akan memberikan Rahmat-Nya kepada kita dengan syarat bahwa terlebih dahulu kita harus mendengarkan dan percaya kepada-Nya, mendengar dalam artian mentaati seluruh perintah yang telah diberikan oleh Allah melalui para Nabi dan Rasul-Nya, khususnya kepada Rasul Muhammad Saw selaku Nabi terakhir yang universal.

    Tidak perlu anda mendatangi tempat-tempat keramat untuk melakukan tapa-semedi, berpuasa sekian hari atau sekian malam lamanya dengan berpantang makan ini dan makan itu atau juga menyimpan, menggantung jimat sebagai penolak bala, pemanis muka, atau sebagai aji wibawa.

    Ambillah al-Qur’an, bacalah dan pelajarilah, amalkan isinya … maka dia akan menjadi satu jimat yang sangat besar sekali yang mampu membawa anda tidak hanya lepas dari derita dunia yang bersifat temporary, namun juga derita akhirat yang bersifat long and abide.

    Yakinlah, bahwa sekali anda mengucapkan kalimah “Laa ilaaha illallaah” (Tiada Tuhan Selain Allah), maka patrikan didalam hati dan jiwa anda, bahwa jangankan ilmu-ilmu jahat, guna-guna, santet, Jin, Iblis apalagi manusia dengan segenap kemampuannya, Tuhan-pun tidak ada.

    Kenapa demikian?

    Sebab dunia ini telah dibuat terlalu banyak memiliki Tuhan-tuhan, semua berhala-berhala yang disembah oleh manusia dengan beragam caranya itu tetap dipanggil Tuhan oleh mereka, entah itu Tuhan Trimurti, Tuhan Tritunggal, Tuhan anak, Tuhan Bapa, Tuhan Budha dan seterusnya.

    Manusiapun sudah menjadikan harta, istri dan anak-anak sebagai Tuhan, menjadikan para ulama sebagai Tuhan, menjadikan perawi Hadis sebagai Tuhan, menjadikan keluarga Nabi sebagai Tuhan dan seterusnya.

    Karena itu Tauhid yang murni adalah Tauhid yang benar-benar meniadakan, menafikan segala macam jenis bentuk ketuhanan yang ada, untuk kemudian disusuli dengan keberimanan, di-ikuti dengan keyakinan, mengisi kekosongan tadi dengan satu keberadaan, bahwa yang ada dan kita akui hanyalah Tuhan yang satu, tanpa berserikat dan esa dalam berbagai penafsiran.

    Itulah intisari dari Iman didalam Islam, intisari seluruh ajaran dan fatwa para Nabi terdahulu, dimulai dari Nuh, Ibrahim terus kepada Ismail, Ishak, Ya’kub, Musa hingga kepada ‘Isa al-Masih dan berakhir pada Muhammad Saw.

    Itulah senjata mereka, itulah jimat yang mereka pergunakan didalam menghadapi segala jenis kebatilan, segala macam kedurjanaan yang tidak hanya datang dari manusia namun juga datang dari syaithan yang terkutuk.

    Dalam salah satu Hadits Qudsi-Nya, Allah berfirman :

    “Kalimat Laa ilaaha illallaah adalah benteng pertahanan-Ku; dan barangsiapa yang memasuki benteng-Ku, maka ia aman dari siksaan-Ku.” (Riwayat Abu Na’im, Ibnu Hajar dan Ibnu Asakir dari Ali bin Abu Thalib r.a.)

    Nabi Muhammad Saw juga bersabda :

    “Aku sungguh mengetahui akan adanya satu kalimat yang tidak seorangpun hamba bilamana mengucapkannya dengan tulus keluar dari lubuk hatinya, lalu ia meninggal, akan haram baginya api neraka. Ucapan itu adalah : Laa ilaaha illallaah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Untuk itu, marilah sama-sama kita memulai hidup Islam yang kaffah sebagaimana yang sudah diajarkan oleh para Nabi dan Rasul, sekali kita bersyahadat didalam Tauhid, maka apapun yang terjadi sampai maut menjemput akan tetap Allah sebagai Tuhan satu-satunya yang tiada memiliki anak dan sekutu-sekutu didalam zat maupun sifat-Nya.

    Cobalah anda ikrarkan : Apapun yang terjadi sampai saya mati akan tetap berpegang kepada Laa ilaaha illallaah.

    Segera kita tanggalkan segala bentuk kepercayaan terhadap hal-hal yang berbau khurafat, kita ikuti puasa yang diajarkan oleh Islam, kita contoh prilaku Nabi dalam keseharian, kita turunkan berbagai rajah dan tulisan-tulisan maupun bungkusan-bungkusan hitam yang kita anggap sebagai penolak bala atau juga pemanis diri yang mungkin kita dapatkan dari para dukun, paranormal atau malah juga kyai.

    Nabi Muhammad Saw bersabda :

    “Barangsiapa menggantungkan jimat penangkal pada tubuhnya, maka Allah tidak akan menyempurnakan kehendaknya.” (Hadist Riwayat Abu Daud dari Uqbah bin Amir)

    “Ibnu Mas’ud berkata: Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, mantera-mantera, tangkal dan guna-guna adalah syirik.” (Hadist Riwayat Ahmad dan Abu Daud )

    “Sa’id bin Jubir berkata: orang yang memotong atau memutuskan tangkal (jimat) dari manusia, adalah pahalanya bagaikan memerdekakan seorang budak.” (Diriwayatkan oleh Waki’)

    Percayalah, Allah adalah penolong kita.

    “Sesuatu bahaya tidak mengenai melainkan dengan idzin Allah.” (Qs. at-Taghabun 64:11)

    “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah ni’mat Allah kepadamu tatkala satu kaum hendak mengulurkan tangannya untuk mengganggu, lalu Allah menahan tangan mereka daripada (sampai) kepada kamu; dan berbaktilah kepada Allah; hanya kepada Allah sajalah hendaknya Mu’minin berserah diri.” (Qs. al-Maaidah 5:11)

    Apabila setelah kita melepaskan seluruh kebiasaan buruk tersebut kita mendapatkan musibah, bukan berarti Allah berlepas tangan pada diri kita dan kitapun bertambah mendewakan benda-benda, ilmu-ilmu yang pernah kita miliki sebelumnya.

    Akan tetapi Allah benar-benar ingin membersihkan kita dari segala macam kemunafikan, menyucikan akidah kita, hati dan pikiran kita sehingga benar-benar berserah diri hanya kepada-Nya semata.

    “Apakah manusia itu menyangka bahwa mereka akan dibiarkan berkata: “Kami telah beriman”, padahal mereka belum diuji lagi?” (Qs. al-Ankabut 29:2)

    “Dan sebagian dari manusia ada yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”, tetapi manakala ia diganggu dijalan Allah, maka ia menjadikan percobaan manusia itu seperti adzab dari Allah; dan jika datang pertolongan dari Tuhan-mu, mereka berkata: “Sungguh kami telah berada bersamamu.”; Padahal bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada-dada makhluk?” (Qs. al-Ankabut 29:10)

    “Dan sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang beriman dan mengetahui orang-orang yang munafik.” (Qs. al-Ankabut 29:11)

    Nabi juga bersabda :

    “Bilamana Allah senang kepada seseorang, senantiasa menimpakan cobaan baginya supaya didengar keluh kesahnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Bagaimana bila sebagai satu konsekwensi dari usaha kembali kepada jalan Allah tersebut kita gugur? Jangan khawatir, Allah telah berjanji bagi orang-orang yang sudah bertekad untuk kembali pada kebenaran :

    “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.” (Qs.at-Taubah 9:20)

    “Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik”. (Qs. ali Imran 3:195)

    “Karena itu, hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar.” (Qs. an-Nisa’ 4:74)

    Kembali kejalan Allah adalah satu hijrah yang sangat berat, godaan dan gangguan pasti datang menerpa kita dan disanalah kita dipesankan oleh Allah untuk melakukan jihad, melakukan satu perjuangan, melibatkan diri dalam konflik peperangan baik dengan harta maupun dengan jiwa (tentunya ini tidak berlaku bagi mereka yang cuma melakukan teror dengan membunuh diri).

    Dengan harta mungkin kita harus siap apabila mendadak jatuh miskin atau juga melakukan kedermawanan dengan menyokong seluruh aktifitas kegiatan umat Islam demi tegaknya panji-panji Allah; berjihad dengan jiwa artinya kita harus mempersiapkan mental dan phisik dalam menghadapi segala kemungkinan yang terjadi akibat ketidak senangan sekelompok orang atau makhluk dengan hijrah yang telah kita lakukan ini.

    Apakah anda akan heran apabila pada waktu anda masih memegang jimat anda merupakan orang yang kebal namun setelah jimat anda tanggalkan anda mendadak bisa tergores oleh satu benturan kecil ditempat tidur? Bagaimana anda memandang keperkasaan seorang Nabi yang agung yang bahkan dalam perperanganpun bisa terluka dan juga mengalami sakit sebagaimana manusia normal?

    Percayalah, berilmu tidaknya anda, berpusaka atau tidak, bertapa maupun tidaknya anda bukan satu hal yang serius bagi Allah apabila Dia sudah menentukan kehendak-Nya kepada kita.

    “Berupa apa saja rahmat yang Allah anugerahkan kepada manusia, maka tidak ada satupun yang bisa menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Gagah, yang Bijaksana.” (Qs. Fathir 35:2)

    Apabila memang sudah waktunya bagi kita untuk mendapatkan musibah (baik itu berupa maut dan lain sebagainya) maka dia tetap datang tanpa bisa kita mundurkan atau juga kita majukan, tidak perduli anda punya ilmu, punya jimat atau seberapa tinggi kedudukan sosial anda.

    “Bagi tiap-tiap umat ada batas waktunya; maka apabila telah datang waktunya maka mereka tidak dapat meminta untuk diundurkan barang sesaatpun dan tidak dapat meminta agar dimajukan.” (Qs. al-A’raf 7:34)

    “Masing-masing Kami tolong mereka ini dan mereka itu, sebab tidaklah pemberian Tuhanmu itu terhalang.” (Qs. al-Israa 17:20)

    Demikianlah, semoga kita semua bisa mendapatkan hikmah dari tulisan ini.

    ***

    Wassalam,

    Armansyah – Palembang

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 17 February 2019 Permalink | Balas  

    Shalawat-Shalawat Bid’ah 

    Shalawat-Shalawat Bid’ah

    Kita banyak mendengar lafazh-lafazh bacaan shalawat untuk Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Salam yang diada-adakan (bid’ah) yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam , para sahabat, tabi’in, juga tidak oleh para imam mujtahid. Tetapi semua itu hanyalah buatan sebagian masyayikh (para tuan guru) di kurun belakangan ini. Lafazh-lafazh shalawat itu kemudian menjadi terkenal dikalangan orang awam dan ahli ilmu, sehingga mereka membacanya lebih banyak daripada membaca shalawat tuntunan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam. Bahkan mungkin mereka malah meninggalkan lafazh shalawat yang benar, lalu menyebarluaskan lafazh shalawat ajaran para syaikh mereka.

    Jika kita renungkan mendalam makna shalawat-shalawat tersebut, niscaya kita akan menemukan di dalamnya pelanggaran terhadap petunjuk Rasul, orang yang kita shalawati. Di antara shalawat-shalawat bid’ah tersebut adalah:

    1.. Shalawat yang berbunyi: “Ya Allah, curahkanlah keberkahan dan keselamatan atas Muhammad, penawar hati dan obatnya, penyehat badan dan penyembuhnya, cahaya mata dan sinarnya, juga atas keluarga-nya.”

    Sesungguhnya yang menyembuhkan, menyehatkan badan, hati dan mata hanyalah Allah semata. Dan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam tidak memiliki manfaat untuk dirinya, juga tidak untuk orang lain. Lafazh shalawat di atas menyelisihi firman Allah, “Katakanlah, ‘Aku tidak berkuasa menank kemanfa’atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah.” (AI-A’raaf: 188)

    Juga menyelisihi sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam: “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Aku hanyalah seorang hamba. Maka katakanlah Abdullah (hamba Allah) danRasulNya.” (HR. Al-Bukhari)

    Makna “ithra” yaitu melampaui batas dan berlebih-lebihan dalam memuji, (ini hukumnya haram).

    2.. Penulis pernah membaca kitab tentang keutamaan shalawat, karya seorang syaikh shufi besar dari Libanon.

    Di dalamnya terdapat lafazh shalawat berikut: “Ya Allah limpahkanlah keberkahan untuk Muhammad, sehingga Engkau menjadikan daripadanya (sifat) keesaan dan (sifat) terus menerus mengurus (makhluk).”

    Sifat Al-Ahadiyyah dan Al-Qayyumiyyah adalah bagian dan sifat-sifat Allah, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an. Kemudian oleh syaikh tersebut, keduanya dijadikan sebagai sifat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam.

    3.. Penulis melihat dalam kitab Ad’iyatush Shabaahi wal Masaa’i, karya seorang syaikh besar dari Suriah. Ia mengatakan, “Ya Allah, limpahkanlah keberkahan untuk Muhammad, yang dari cahayanya Engkau ciptakan segala sesuatu.”

    “Segala sesuatu”, berarti termasuk di dalamnya Adam, lblis, kera, babi, lalat, nyamuk dan sebagainya. Adakah seorang yang berakal akan mengatakan bahwa semua itu diciptakan dari cahaya Muhammad?

    Bahkan setan sendiri mengetahui dari apa ia diciptakan, juga mengetahui dari apa Adam diciptakan, sebagaimana dikisahkan dalam AI-Qur’an, “Iblis berkata, ‘Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau cip-takan aku dari api, sedangkan dia engkau ciptakan dari tanah.” (Shaad: 76)

    Ayat di atas mendustakan dan membatalkan ucapan syaikh tersebut.

    4.. Termasuk lafazh shalawat bid’ah adalah ucapan mereka, “Semoga keberkahan dan keselamatan dilimpahkan untukmu wa-hai Rasulullah. Telah sempit tipu dayaku maka perkenankanlah (hajatku) wahai kekasih Allah.”

    Bagian pertama dari shalawat ini adalah benar, tetapi yang berbahaya dan merupakan syirik adalah pada bagian kedua. Yakni dari ucapannya:

    Hal ini bertentangan dengan firman Allah, “Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepadaNya?” (An-Naml: 62)

    Dan firman Allah, “Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri.” (Al-An’am: 17)

    Sedangkan Rasulullah sendiri, manakala beliau ditimpa suatu kedukaan atau kesusahan, beliau berdo’a,

    “Wahai Dzat Yang Maha Hidup, yang terus menerus mengurus (makhlukNya), dengan rahmatMu aku Memohon pertolongan-Mu.” (HR. At-Tirmidzi, hadits hasan)

    Jika demikian halnya, bagaimana mungkin kita diperbolehkan mengatakan kepada beliau, “Perkenankanlah hajat kami, dan tolonglah kami?”

    Lafazh ini bertentangan dengan sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam: “Jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih)

    5.. Shalawat AI-Fatih, lafazhnya: “Ya Allah, limpahkanlah keberkahan untuk Muhammad, Sang Pembuka terhadap apa yang tertutup”

    Orang yang mengucapkan shalawat ini menyangka, bahwa barangsiapa membacanya maka baginya lebih utama daripada membaca khatam Al-Qur’an sebanyak enam ribu kali. Demikian, seperti dinukil oleh Syaikh Ahmad Tijani, pemimpin thariqah Tijaniyah.

    Sungguh amat bodoh jika terdapat orang yang berakal mempercayai hal tersebut, apatah lagi jika ia seorang muslim. Sungguh amat tidak mungkin, bahwa membaca shalawat bid’ah tersebut lebih utama daripada membaca Al-Qur’an sekali, apatah lagi hingga enam ribu kali. Suatu ucapan yang tak mungkin diucapkan oleh seorang muslim.

    Adapun menyifati Rasulullah dengan “Sang Pembuka terhadap apa yang tertutup” secara muthlak, tanpa membatasinya dengan kehendak Allah, maka adalah suatu kesalahan. Karena Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam tidak membuka kota Makkah kecuali dengan kehendak Allah. Beliau juga tidak mampu membuka hati pamannya sehingga beriman kepada Allah, bahkan ia mati dalam keadaan menyekutukan Allah. Bahkan dengan tegas Al-Qur’an menyeru kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi,tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya, …” (Al-Qashash: 56)

    “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.” (AI-Fath: 1)

    6.. Pengarang kitab Dalaa ‘ilul Khairaat, pada bagian ke tujuh dari kitabnya mengatakan, “Ya Allah, limpahkanlah keberkahan untuk Muhammad selama burung-burung merpati berdengkur dan jimat-jimat bermanfaat.”

    Tamimah yaitu tulang, benang atau lainnya yang dikalungkan di leher anak-anak atau lainnya untuk menangkal atau menolak ‘ain (kena mata). Perbuatan tersebut tidak memberi manfaat kepada orang yang mengalungkannya, juga tidak terhadap orang yang dikalungi, bahkan ia adalah di antara perbuatan orang-orang musyrik.

    Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa mengalungkan jimat maka dia telah berbuat syirik”. (HR. Ahmad, hadits shahih)

    Lafazh bacaan shalawat di atas, dengan demikian, secara jelas bertentangan dengan kandungan hadits, karena lafazh tersebut menjadikan syirik dan tamimah sebagai bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah.

    7.. Dalam kitab Dalaa ‘ilul Khairaat, terdapat lafazh bacaan shalawat sebagai berikut:

    “Ya Allah limpahkanlah keberkahan atas Muhammad, sehingga tak tersisa lagi sedikit pun dari keberkahan, dan rahmatilah Muhammad, sehingga tak tersisa sedikit pun dari rahmat.”

    Lafazh bacaan shalawat di atas, menjadikan keberkahan dan rahmat, yang keduanya merupakan bagian dari sifat-sifat Allah, bisa habis dan binasa. Allah membantah ucapan mereka dengan firman-Nya, “Katakanlah, ‘Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (AI-Kahfi: 109)

    8.. Shalawat Basyisyiyah. lbnu Basyisy berkata, “Ya Allah, keluarkanlah aku dari lumpur tauhid. Dan tenggelamkanlah aku dalam mata air lautan keesaan. Dan lemparkanlah aku dalam sifat keesaan sehingga aku tidak melihat, mendengar atau merasakan kecuali dengannya.”

    Ini adalah ucapan orang-orang yang menganut paham Wahdatul Wujud. Yaitu suatu paham yang mendakwakan bahwa Tuhan dan makhIukNya bisa menjadi satu kesatuan.

    Mereka menyangka bahwa tauhid itu penuh dengan lumpur dan kotoran, sehingga mereka berdo’a agar dikeluarkan daripadanya. Selanjutnya, agar ditenggelamkan dalam lautan Wahdatul Wujud. sehingga bisa melihat Tuhannya dalam segala sesuatu. Bahkan hingga seorang pemimpin mereka berkata,

    “Dan tiadalah anjing dan babi itu, melainkan keduanya adalah tuhan kita. Dan tiadalah Allah itu,melainkan pendeta di gereja.”

    Orang-orang Nasrani menyekutukan Allah (musyrik) ketika mereka mengatakan bahwa Isa bin Maryam adalah anak Allah. Adapun mereka, menjadikan segenap makhluk secara keseluruhan sebagai sekutu-sekutu Allah! Mahatinggi Allah dan apa yang diucapkan oleh orang-orang musyrik.

    Oleh karena itu, wahai saudaraku sesama muslim, berhati-hatilah terhadap lafazh-lafazh bacaan shalawat bid’ah, karena akan menjerumuskanmu dalam perbuatan syirik. Berpegangteguhlah dengan apa yang datang dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam, seorang yang tidak mengatakan sesuatu menurut kehendak hawa nafsunya. Dan janganlah engkau menyeli-sihi petunjuknya,

    “Barangsiapa melakukan suatu amalan (dalam agama) yang tidak ada perintah dari kami, maka ia tertolak.” (HR. Muslim)

    Taken from kitab Al Firqotun Naajiyah JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT karya Syaikh Muhammad Ibn Jamil Zainu

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 16 February 2019 Permalink | Balas  

    Keutamaan Membaca Shalawat Untuk Nabi 

    Keutamaan Membaca Shalawat Untuk Nabi

    Allah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam berfirman, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah ka-mu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepada-nya.” (Al-Ahzab: 56)

    Imam Al-Bukhari meriwayatkan, Abu ‘Aliyah berkata, “Shalawat Allah adalah berupa pujianNya untuk nabi di hadapan para malaikat. Adapun shalawat para malaikat adalah do’a (untuk beliau).”

    Ibnu Abbas berkata, “Bershalawat artinya mendo’akan supaya diberkati.”

    Maksud dari ayat di atas, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya yaitu, “Sesungguhnya Allah Subhannahu wa Ta’ala menggambarkan kepada segenap hambaNya tentang kedudukan seorang hamba-Nya, nabi dan kekasihNya di sisiNya di alam arwah, bahwa sesungguhnya Dia memujinya di hadapan para malaikat. Dan sesungguhnya para malaikat bershalawat untuknya. Kemudian Allah memerintahkan kepada penghuni alam dunia agar bershalawat untuknya, sehingga berkumpullah pujian baginya dari segenap penghuni alam semesta.”

    1.. Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan kita agar mendo’akan dan bershalawat untuk Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam. Bukan sebaliknya, memohon kepada beliau, sebagai sesembahan selain Allah, atau mem-bacakan Al-Fatihah untuk beliau, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian manusia.

    2.. Bacaan shalawat untuk Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam yang paling utama adalah apa yang beliau ajarkan kepada para sahabat, ketika beliau bersabda, “Katakanlah, Ya Allah limpahkanlah rahmat untuk Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat untuk Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, limpahkanlah berkah untuk Muhammad dan keluarga Muhammad sebagai-mana Engkau telah melimpahkan berkah untuk Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

    3.. Shalawat di atas, juga shalawat-shalawat lain yang ada di dalam kitab-kitab hadits dan fiqih yang terpercaya, tidak ada yang menyebutkan kata “sayyidina” (penghulu kita), yang hal itu ditambahkan oleh kebanyakan manusia. Memang benar, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam adalah penghulu kita, “sayyiduna”, tetapi berpegang teguh dengan sabda dan tuntunan Rasul adalah wajib. Dan, ibadah itu dilakukan berdasarkan keterangan nash syara’, tidak berdasarkan akal.

    4.. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam bersabda, “Jika kalian mendengar muadzin maka ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan, kemudian bershalawatlah untukku. Karena sesungguhnya barangsiapa yang bershalawat untukku satu kali, Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Kemudian mohonkanlah kepada Allah wasilah untukku. Sesungguhnya ia adalah suatu tempat (derajat) di Surga. Ia tidak pantas kecuali untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah. Aku berharap bahwa hamba itu adalah aku. Barangsiapa memintakan wasilah untukku, maka ia berhak menerima syafa’atku.” (HR. Muslim)

    Do’a memintakan wasilah seperti yang diajarkan Rasulullah dibaca dengan suara pelan. Ia dibaca seusai adzan dan setelah membacakan shalawat untuk nabi. Do’a yang diajarkan beliau yaitu:

    “Ya Allah, Tuhan yang memiliki seruan yang sempurna ini. Dan shalat yang akan didirikan. Berikanlah untuk Muhammad wasilah (derajat) dan keutamaan. Dan tempatkanlah ia di tempat terpuji sebagaimana yang telah Engkau janjikan.” (HR. Al-Bukhari)

    5.. Membaca shalawat atas Nabi ketika berdo’a, sangat dianjukan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah: “Setiap do’a akan terhalang, sehingga disertai bacaan shalawat untuk Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Salam.” (HR. AI-Baihaqi, hadits hasan)

    Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berpetualang di bumi, mereka menyampaikan kepadaku salam dari umatku.” (HR Ahmad, hadits shahih)

    Bershalawat untuk Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Salam sangat dianjurkan, terutama pada hari Jum’at. Dan ia termasuk amalan yang paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bertawassul dengan shalawat ketika berdo’a adalah dianjurkan. Sebab ia termasuk amal shalih. Karena itu, sebaiknya kita mengucapkan, “Ya Allah, dengan shalawatku untuk Nabimu, bukakanlah dariku kesusahanku… Semoga Allah melimpahkan berkah dan keselamatan untuk Muhammad dan keluarganya.”

    Taken from kitab Al Firqotun Naajiyah JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT karya Syaikh Muhammad Ibn Jamil Zainu

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 15 February 2019 Permalink | Balas  

    Kebahagiaan Tidak Ditentukan oleh Banyaknya Harta 

    Kebahagiaan Tidak Ditentukan oleh Banyaknya Harta

    Oleh : Abu Tauam

    Allah SWT berfirman, “Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal” (QS Al A’la : 17)

    “Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu adalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (QS Al Hadid : 20)

    Dari Aisyah ra, dia berkata, “Nabi SAW keluar dari dunia, dan beliau tidak pernah kenyang karena roti dan gandum” (HR. Imam Muslim)

    Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, “Allahummaj ‘al rizqa aali muhammadin quutaa” yang artinya “Yaa Allah, jadikanlah rizki keluarga Muhammad sekedar kebutuhan pokok” (HR. Imam Muslim)

    Juga dari Abu Hurairah ra., dia berkata, “Tikar Rasulullah SAW itu terbuat dari kulit yang diisi oleh ijuk (sabut)” (HR. Bukhari-Muslim)

    Di hadits lain Rasulullah SAW juga bersabda, “Jadilah kamu di dunia seolah-olah kamu perantau atau seperti penyebrang jalan” (HR. Bukhari 5/2358, dari sahabat Abdullah bin Umar ra.)

    Coba sesaat kita lihat sebagian orang-orang yang hidup mewah, memiliki rumah yang besar, mobil yang banyak, tabungan yang melimpah. Apakah mereka dapat mengatakan bahwa mereka hidup bahagia !? Ataukah mereka dapat mengatakan, “baytii jannatii” yang artinya “rumahku surgaku” !? Belumlah tentu…

    Mungkin kita sering mendengar bahwa banyak orang yang hidup bermewah-mewahan akhirnya bunuh diri, keluarganya berantakan, pasangannya berselingkuh dan sebagainya. Dan hal itu menunjukan bahwa harta tidak akan menjamin kebahagiaan bahkan dapat menyebabkan hal yang sebaliknya yaitu dengan harta yang melimpah maka fitnah dan cobaan akan datang bertubi-tubi.

    Ingatlah selalu akan hadits ini saudaraku,

    Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Qad aflaha man aslama waruziqa kafaafan wa qanna’atuLLaHu bimaa ataahu” yang artinya “Beruntunglah orang yang masuk Islam dan diberi rizki secukupnya (oleh Allah) dan Allah membuatnya puas dengan apa yang diberikan kepadanya” (HR. Muslim 2/370, Ahmad 2/168 dan Al Baihaqi 4/196)

    Jadi kebahagiaan itu tidak ditentukan oleh banyaknya harta, tetapi kebahagian itu diperoleh karena seseorang menjadi muslim dan kemudian hatinya selalu puas dengan apa yang telah Allah SWT berikan padanya baik itu dalam jumlah banyak ataupun sedikit.

    Dan betapa berbahagianya orang-orang miskin di akhirat kelak karena perhitungan hisab mereka lebih cepat dibandingkan dengan orang-orang kaya sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

    “Orang-orang miskin akan masuk surga 500 tahun lebih dahulu daripada orang-orang kaya” (HR. Tirmidzi, dia berkata, “Hadits shahih”, dari Abu Hurairah ra.)

    Disamping itu, merekalah penghuni mayoritas surga yang penuh kenikmatan dan kebaikan sebagaimana ucapan Nabi SAW. dari Usamah bin Zaid ra.,

    “Qumtu ‘alaa baabil jannati faidzan ‘aammatu man dakhalahaal masaakiinu” yang artinya “Aku pernah berdiri di pintu surga, ternyata kebanyakan orang-orang yang masuk kedalamnya adalah orang-orang miskin” (HR. Bukhari-Muslim)

    Dan akhirnya dapat kita mengerti mengapa Rasulullah SAW berdoa seperti ini,

    “Allahumma, wahsyurnii fii zumratil masaakiin” yang artinya “Ya Allah, kumpulkanlah aku (pada hari kiamat) bersama rombongan orang-orang miskin” (HR. Ibnu Majah no. 4126, dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Al Irwa no. 861 dan Ash Shahihah no. 308)

    Dunia itu tidak bernilai di sisi allah, walaupun seberat sayap nyamuk, jika pun bernilai seberat itu, tak seteguk pun air akan dirasakan oleh orang-orang kafir itu.

    (Silahkan lihat matan haditsnya pada Kitab Riyadush Shalihin, HR Tirmidzi, dia berkata, “Hadits hasan shahih”)

    Catatan :

    Sebagian hadits – hadits di atas diambil dari Ringkasan Shahih Muslim oleh Imam Al Mundziri dan Riyadush Shalihin oleh Imam An Nawawi.

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 14 February 2019 Permalink | Balas  

    Tanda-Tanda Kiamat 

    Tanda-Tanda Kiamat

    Oleh : Armansyah.

    Rasulullah Muhammad Saw al-Amin sang Paraclete telah bersabda: “Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga matahari terbit dari arah barat. Maka apabila matahari sudah terbit dari arah barat, lalu para manusiapun akan beriman seluruhnya. Tetapi kelakuan mereka yang demikian pada waktu itu sudah tidak berguna lagi, keimanan seseorang yang belum pernah beriman sebelum peristiwa tersebut atau memang belum pernah berbuat kebaikan dengan keimanan yang sudah dimilikinya itu.” (Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Abu Daud dari Abu Hurairah)

    Hadist diatas, menceritakan salah satu tanda-tanda dari sudah mendekatnya hari kiamah, hari dimana pengadilan Allah akan segera berlaku bagi para makhluk-Nya. Hari dimana semua makhluk bernyawa akan diminta pertanggungan jawab atas seluruh perbuatan yang pernah dilakukan selama hidupnya.

    Berkaitan erat dengan hadist diatas kita bisa melihat dalam sabda Rasul dalam dua buah hadistnya yang lain: “Tiada seorang Nabi-pun yang diutus Allah, melainkan Nabi tersebut akan menakut-nakuti kepada umatnya perkara Dajjal. Dajjal itu akan keluar kepada kamu semua, kemudian tidak samar-samar lagi bagimu semua akan hal-ihwalnya dan tidak samar-samar untukmu semua, bahwa Tuhanmu itu tidak bermata sebelah. Sesungguhnya Dajjal itu bermata sebelah yang tidak dapat digunakan yang sebelah kanannya, seolah-olah matanya itu menonjol kemuka.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

    “Demi dzat yang jiwaku berada dalam genggaman kekuasaan-Nya, niscaya, sudah amat dekat sekali saat turunnya ‘Isa putra Maryam dikalangan kamu semua yang bertindak sebagai seorang hakim yang adil. Dia akan memecahkan semua kayu salib dan membunuh babi.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

    “al-Mahdi akan muncul dari ummatku, Tuhan akan menurunkan hujan untuk manusia, ummat akan merasa senang, ternak hidup (dengan aman), dan bumi menumbuhkan tumbuh-tumbuhannya dan harta akan diberikan dengan merata.” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan al-Hakim dari Abu Sa’id r.a)

    Hadist-hadist diatas menurut hemat penulis, tidak bisa kita tafsirkan sambil lalu saja, disaat-saat seperti sekarang ini, mungkin kita bisa sama-sama memberikan pemahaman dan makna yang baru terhadapnya sesuai dengan situasi dan kondisi jaman yang berlaku.

    Nabi Muhammad Saw menceritakan bahwa kiamat itu sudah sangat dekat, dan beliau Saw juga telah memberikan beberapa nubuat mengenai tanda-tanda semakin mendekatnya hari tersebut, dan dalam kesempatan kali ini, kita akan membahas 4 diantaranya terlebih dahulu.

    1. Terbitnya matahari dari arah barat
    2. Keluarnya al-Masih Dajjal
    3. Turunnya ‘Isa al-Masih putera Maryam
    4. Datangnya al-Mahdi

    Bahwa dalam semua jaman yang telah berlalu kita mengenal terbitnya matahari yang terlihat oleh manusia setiap paginya selalu dari arah timur, matahari merupakan satu sumber energi yang bisa menerangi bumi dari kegelapan, membangkitkan pertumbuhan makhluk-makhluk hidup baik itu manusia, hewan hingga tumbuh-tumbuhan atau mungkin pula didalamnya termasuk makhluk-makhluk halus sebangsa Jin.

    Matahari dalam kaitan dengan Hadist diatas memiliki kesamaan dengan ajaran agama yang membimbing manusia dari jalan kesesatan, kegelapan pandangan maupun pemikiran kearah pencerahan, kearah hidayah atau cahaya kebenaran.

    Agama yang mampu membangkitkan pertumbuhan makhluk hidup, membina mental dan spiritual agar dapat berperan aktif didalam menjalankan roda kehidupan diatas dunia sebagai satu tugas yang diembankan oleh sang Pencipta, menjadi Khalifah dibumi.

    Matahari yang selama ini terbit dari arah Timur bisa kita tafsirkan sebagai munculnya ajaran-ajaran Allah yang mempengaruhi umat manusia dari sebagian besar bagian timur dunia seperti tanah Yerusalem, Palestina hingga semenanjung Arabia.

    Cahaya Allah sebagaimana yang pernah disinggung oleh Nabi Musa dalam kitab Ulangan 33:2, telah pernah terbit dari pegunungan Sinai, Seir dan pegunungan Paran didalam kawasan Timur Tengah.

    Ajaran yang berisikan petunjuk, pembimbing serta pencerahan kepada manusia untuk menjadi pedoman hidupnya bergerak dan berputar, muncul tenggelam sebagaimana cahaya matahari yang terkadang tampak maupun terhalang.

    Ajaran para Nabi yang telah begitu banyak pudar karena nafsu keserakahan manusia terhadap dunia dan emosi yang mendorong rasa fanatisme berlebihan terkadang lebih banyak membuat ajaran-ajaran kebenaran itu terpuruk, terpecah dan berkesan membingungkan.

    Arah perpindahan terbitnya matahari dari timur kebarat didalam sabda Nabi Muhammad Saw diatas bisa juga kita berikan penafsiran bahwa cahaya kemenangan Islam, kebangkitan Islam akan muncul dari negeri-negeri Barat.

    Negeri-negeri yang kita kenal memiliki pengikut mayoritas penyembah berhala dan pendewaan terhadap manusia yang didalam kacamata orang-orang terdahulu adalah sangat mustahil bisa terjadi justru akan menjadi cikal-bakal bersinarnya kembali Islam keseantero dunia.

    Sebagaimana yang kita ketahui, merupakan satu kenyataan yang tidak terbantahkan bahwa jumlah pengunjung gereja diberbagai negeri-negeri dibarat semakin menunjukkan prosentasi yang menurun, padahal dinegeri-negeri tersebut berbagai sarana telah melimpah-limpah untuk menjadi seorang Nasrani sejati.

    Orang-orang Eropa dan Barat sudak tidak dapat diharap lagi untuk menjadi bumi yang subur bagi perkembangan ajaran Nasrani, yang dewasa inipun telah menjadi hanya seperti adat, bukan sebagai suatu ajaran agama yang harus dimengerti dan disadari secara jelas. Begitulah tampaknya ajaran Nasrani telah dan akan kehilangan tempat berpijak serta basis yang amat kuat dan kaya raya karena umumnya orang-orang disana telah mampu bersikap kritis dan mau terbuka terhadap akal pikirannya mengenai kebenaran yang ditunjang oleh penemuan-penemuan ilmu pengetahuan modern.

    Negeri-negeri yang dahulunya merupakan ajang kebiadaban dunia, penuh sentimen ras, pendeskreditan wanita dan lokalisasi kemaksiatan lainnya kini telah berubah menjadi satu negeri yang memiliki tim ahli, memiliki orang-orang pandai, peneliti dan segudang ilmuwan yang kelak akan menghantarkan mereka dan umat Islam lainnya kepada kebenaran ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad Saw hampir 15 abad yang silam.

    Dari sejarah kita ketahui bahwa sekian banyak para ahli dari bidang Astronomi, Geologi, Kedokteran, Biologi dan seterusnya yang berasal dari negeri barat menemukan fakta-fakta kevalidan al-Qur’an yang tidak mungkin bisa ditulis dan dikarang oleh seorang anak manusia ditengah gurun pasir yang hampa ilmu pengetahuan terhadap tantangan dunia ilmiah abad 20-an.

    Pencerahan yang diberikan Allah terhadap para penduduk dinegeri barat ditamsilkan oleh Nabi Muhammad Saw sebagai munculnya matahari dari arah barat yang akan menyinari bumi kepada keterangan, kepada cahaya kebenaran yang berlandaskan wahyu dan ilmu pengetahuan.

    Saat itulah orang-orang akan menyadari bahwa betapa mereka selama ini sebenarnya sudah terlalu jauh mengadakan penyimpangan-penyimpangan dari ajaran para Nabi dan mereka bermaksud untuk kembali kepada ajaran Islam yang hakiki, Islam yang dianut oleh Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Ishaq, Nabi Musa, Nabi ‘Isa dan Nabi Muhammad Saw.

    Namun Rasul menggambarkan bahwa saat itu sudah akan sangat terlambat bagi mereka untuk menyadari kebenaran itu, kebiasaan yang sudah mengurat akar didalam hati dan keyakinan mereka selama ini telah membuat kebanyakan dari mereka bingung dan memakan buah simalakama. Tidak mudah untuk membunuh pemahaman dan doktrin-doktrin yang melekat didalam diri mereka sejak dari anak-anak.

    Hal ini telah difirmankan oleh Allah didalam al-Qur’an :

    “Dan sesungguhnya Kami telah menjadikan isi Neraka itu beberapa banyak dari Jin dan Manusia, yang mempunyai hati tetapi tidak untuk mengerti dengannya, mempunyai mata tidak untuk melihat dengannya dan mempunyai telinga tidak dipergunakan untuk mendengarkan; mereka itu seperti binatang, malah mereka lebih sesat.” (Qs. 7:179)

    Bahkan didalam kitab Bible sendiri kita dapati pernyataan ‘Isa al-Masih :

    “Sekalipun melihat, mereka tidak melihat. Sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti.” (Matius 13:13)

    Hal ikhwal Hadist Nabi mengenai perpindahan arah sang matahari dari arah terbitnya yang di Timur menjadi ke wilayah Barat disambung dengan kemunculan raja angkara murka yang disebut Dajjal yang akan menimbulkan huru-hara diatas dunia.

    Rasanya tidak mungkin bila kita bayankan sosok Dajjal seperti monster dalam film-film Power Rangers dan Ultraman.

    Dajjal pasti merupakan satu lambang kejahatan yang akan melanda setiap jamannya sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw bahwa semua Nabi terdahulu-pun telah mengingatkan umatnya akan keberadaan dan ulah Dajjal-dajjal yang merusak.

    Dajjal digambarkan oleh Rasulullah Muhammad Saw sebagai satu perwujudan yang hanya bisa memandang dengan sebelah mata adalah sebuah bentuk dari kezoliman, ke-egoisan, keculasan serta kepicikan yang akan melanda umat manusia.

    Dalam satu Hadistnya, Rasul menjelaskan perihal Dajjal ini secara lebih luas :

    “Sesungguhnya Dajjal itu keluar dan bersamanya adalah air dan api; maka apa-apa yang dilihat oleh orang banyak sebagai air, sebenarnya adalah api yang membakar, sedangkan apa yang dilihat oleh orang banyak sebagai api, maka sebenarnya itu adalah air yang dingin dan tawar. Maka barangsiapa yang bertemu dengannya, hendaklah menjatuhkan dirinya kedalam apa yang dilihatnya sebagai api itu, sebab sesungguhnya yang ini adalah air yang tawar dan nyaman.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

    Hadist diatas memberikan refleksi kepada kita, betapa akan datang suatu masa dimana orang yang berpegang pada kebenaran akan dianggap telah berhadapan dengan sesuatu yang menggerahkan, sesuatu yang membakar dan dapat menghanguskan.

    Suatu jaman dimana fitnah merajalela, kebenaran bisa dibeli, hal yang putih bisa dibalikkan menjadi hitam dan begitupun sebaliknya, abad dimana perzinahan telah dianggap biasa, wanita telah memakai pakaian namun tidak ubahnya seperti telanjang, perampokan, pembunuhan serta makar dianggap sesuatu yang biasa, sebaliknya mereka yang giat menekuni ilmu-ilmu agama, mereka yang sholat dan mengadakan pengajian maupun tablig keagamaan malah dianggap sesuatu yang lucu dan kekanak-kanakan malah tidak jarang dicap sebagai orang-orang fundamentalis dalam konotasi negatif.

    Pada saat itu Nabi menyarankan agar orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, tetap beristiqomah, memiliki pendirian yang mantap dan tegas didalam berakidah, beramaliah serta beragama sebab hal itu akan menghantarkan mereka kepada jalan Allah yang lurus, menjadi hamba-hamba Allah yang bertaqwa yang syurga dan kenikmatan Allah telah menantikannya.

    Berpindahnya kebesaran Islam dari Timur ke Barat yang dilambangkan oleh Rasul sebagai perpindahan arah terbit matahari akan disusul dengan kemunculan orang-orang yang berlaku sombong, picik dan culas yang disymbolkan sebagai Dajjal yang berusaha menjatuhkan ajaran Allah yang haq akan diikuti dengan munculnya kembali sosok ‘Isa al-Masih dan al-Mahdi yang bahu membahu didalam menumpas kebatilan dan keberadaan Dajjal.

    Kehadiran ‘Isa al-Masih pada periode akhir jaman bisa merupakan satu makna figuratif atau kiasan dari pemahaman dan kesadaran manusia terhadap ajaran ‘Isa al-Masih yang hakiki, pengajaran yang tidak pernah menyimpang dari hukum Nabi-nabi sebelumnya dan mempunyai satu relevansi yang erat sekali terhadap pengajaran Nabi Muhammad Saw yang datang setelah berakhirnya masa kenabian ‘Isa al-Masih kepada Bani Israil sekitar 600 tahun sebelum diutusnya sang Paraclete agung itu.

    Kita lihat dari kacamata sejarah, betapa banyaknya Ahli Kitab yang mulai merenungi ajaran agamanya dengan membuka pintu objektivitas dan keterbukaan atas doktrin-doktrin yang ada didalam kitab sucinya.

    Berapa banyak para pemikir dan cendikiawan Nasrani mulai tidak bisa menerima perbedaan pemahaman antara pengajaran ‘Isa yang sejati dengan yang mereka hadapi didalam dakwahan gereja yang bersumberkan kepada Paulus, inilah salah satu bentuk penafsiran bahwa kehadiran ‘Isa al-Masih tersebut akan mematahkan kepercayaan akan penyaliban dan kematiannya serta menghilangkan kebiasaan memakan babi.

    Beragam studi dan perbandingan telah dilakukan dalam kalangan Yahudi dan Nasrani untuk mendapatkan nilai kebenaran yang sesungguhnya, dan kebanyakan dari mereka akhirnya beralih untuk mengedepankan kelimuwanan dan kecendikiawanan masing-masing didalam menelaah dan mengkaji hingga rata-rata dari mereka akan sampai pada satu titik pemberhentian kepada ajaran yang dibawa oleh Muhammad Saw.

    Munculnya pemahaman Saksi Yehovah, Kaum Essenes serta ditemukannya gulungan laut mati yang lebih dikenal dengan sebutan Dead Sea Scroll didalam gua Qumran adalah salah satu contoh kecil dari kembalinya ajaran Nabi ‘Isa al-Masih putera Maryam.

    Kita lihat dalam hal ini Rasulullah Saw bersabda :

    “Segolongan ummatku akan selalu berperang membela kebenaran, sehingga turunlah ‘Isa ibn Maryam pada saat fajar terbit di Baitul-Maqdis (Palestina). Ia turun pada al-Mahdi, maka dikatakan: “Majulah hai Nabi Allah! dan salatlah bersama kami.” Maka ia berkata: “Ummat ini menjadi pemimpin (amir) sebagian yang satu pada sebagian yang lain.” (Diriwayatkan oleh Ibn Amr ad-Dani dari Jabir ibn ‘Abdillah)

    Umat Muhammad Saw senantiasa berhadapan dengan orang-orang yang ingin melepaskan mereka dari keyakinan dan keteguhan akidahnya yang umumnya disebabkan oleh mereka-mereka yang menganut ajaran Nasrani (baca: Kristenisasi), sebagai suatu pertolongan dari Allah terhadap orang-orang yang beriman ini yaitu dengan dikembalikannya kebenaran yang pernah disampaikan oleh ‘isa al-Masih yang merupakan dasar dan tokoh utama yang menjadi panutan kaum Masehi.

    Kehadiran risalah ‘Isa yang sejati ini bertepatan disaat terbit fajar dari Baitul Maqdis, yaitu mulai tercerahkannya orang-orang cendikiawan dan ahli kitab akan kesalahan keyakinan yang telah mereka anut selama ini.

    Waktu terbit fajar adalah saat dimana matahari mulai muncul menyinari bumi, yaitu dikala kesadaran mulai menyelimuti para penganut kitab Bible terhadap kandungan-kandungan yang ada didalamnya dan berganti dengan memahami kandungan ajaran Muhammad Saw.

    Tampilnya keberadaan ‘Isa al-Masih ini menurut Hadist Nabi diatas akan turun kepada al-Mahdi, sebelum kita berbicara mengenai hal ini, mari terlebih dahulu kita mengerti apa yang dimaksud dengan al-Mahdi itu sendiri.

    Kata al-Mahdi sering dipasangkan oleh orang dengan perkataan Imam yang berarti Pemimpin, jadi bila disebut sebagai Imam al-Mahdi (baca: Imam Mahdi) maka berarti orang atau pemimpin yang telah mendapat hidayah atau petunjuk dari Allah.

    Dengan demikian bisalah kita tarik garis lurus pengertian ini dengan kriteria apa yang disebut al-Qur’an terhadap orang yang telah mendapatkan petunjuk Allah ini :

    “Itulah petunjuk Allah yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Qs. Al-An’am 6:88)

    Berdasarkan ayat diatas terdapatlah kesimpulan, bahwa siapapun bisa menjadi al-Mahdi. Karena petunjuk dan bimbingan dari Allah itu bisa ada pada manusia manapun diantara hamba-hambaNya yang dikehendaki oleh Allah sendiri tanpa mesti terikat dengan satu individu tertentu.

    Ayat diatas tidak menunjukkan pengecualian petunjuk dan bimbingan Allah itu hanya ditujukan kepada orang-orang yang beriman saja, sebab keadilan Allah itu tidak terbataskan dan sangat susah untuk bisa kita tebak.

    Dalam bukunya yang berjudul Islam Aktual, Jalaludin Rakhmat meriwayatkan bahwa Imam Ali bin Abu Thalib ra pernah berkata : “Hikmah itu barang berharga yang hilang dari seorang Mukmin, karena itu, dimanapun orang Mukmin menemukan hikmah, maka harus memungutnya. Ambillah hikmah itu walaupun dari orang munafik!”

    Begitupun Nabi Muhammad Saw sendiri pernah bersabda: “Ambillah hikmah dan jangan merisaukan kamu darimaka hikmah itu keluar.”

    Jadi bisa saja seorang yang kafir mendapatkan bimbingan oleh Allah dalam hal ilmu duniawi, akan tetapi dia hampa dari bimbingan Allah untuk ilmu akhirat. Sebaliknya melalui tangan-tangan orang-orang kafir inilah Allah membuktikan kebesaran-Nya sekaligus mengajarkan kepada kaum Muslimin atas kebenaran risalah Rasul-Nya.

    Sebagaimana bunyi dari bagian terakhir ayat tersebut : “Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.”

    Ini merupakan penerangan kepada kita, bahwa cendikiawan manapun itu dan berasal dari agama apapun dia tidak menutup kemungkinan bagi Allah untuk membagikan ilmu dunia-Nya kepada mereka, untuk berlaku sebagai al-Mahdi, sebagai orang yang dibimbing Allah.

    Akan tetapi jika dalam urusan ke-Tuhanan al-Mahdi ini berlaku ingkar, berlaku menyekutukan Allah terhadap yang lain maka seluruh ilmu dan bimbingan yang diberikan oleh Allah untuknya tidak akan memberikan pengaruh apa-apa bagi kehidupan akhiratnya kelak.

    Dan berdasarkan Hadist yang diriwayatkan oleh Ibn Amr ad-Dani dari Jabir ibn ‘Abdillah yang telah kita kutip diatas, bahwa ‘Isa al-Masih akan turun kepada al-Mahdi adalah satu perwujudan dari kembalinya ajaran ‘Isa yang sejati kepada orang-orang yang telah dibimbing oleh Allah dalam urusan agama yang tidak akan menyalahi satu titikpun terhadap apa-apa yang sudah diajarkan oleh Muhammad Saw.

    Kita lihat kembali satu Hadist dibawah ini :

    “Manusia akan keluar dari arah timur menyerahkan kekuasaan kepada al-Mahdi.” (Diriwayatkan oleh Ibn Majah dan Tabrani dari ‘Abdullah ibn Sa’id az-Zubaidi)

    Ini juga menjadi satu tambahan nubuat yang jelas, bahwa cahaya kebesaran Islam akan beralih kepada kaum cendikiawan dari negeri barat yang telah mendapatkan hidayah Allah untuk berakidahkan Islam.

    Nabi Muhammad Saw memberikan tamsilan bahwa pada masa itu manusia akan keluar dari arah timur, yaitu dari arah umumnya matahari terbit setiap harinya kemudian menyerahkan kekuasaan kepada al-Mahdi yang memiliki pengertian tenggelamnya cendikiawan-cendikiawan Muslim dari asal kelahiran Islam kedalam perpecahan dan kebodohannya telah menghantarkan kemegahan dan kebenaran risalah Allah kepada orang-orang Barat.

    Kita kenal orang-orang semacam Maurice Bucaille, Napoleon Bonaparte, Will Durant, Ahmad Deedat, Prof. Dr. Joe Leigh Simpson, Proffesor Moore, Thomas Muhammad Clayton, Thomas Irving, Dr. Umar Rolf Baron Ehrenfels, Sir Jalaludin Louder Brunton adalah sederetan kecil dari daftar nama-nama orang yang telah membuktikan kebenaran agama Allah yang berasal dari negeri Barat.

    Dan kaum muslimin bersama ‘Isa al-Masih akan bahu membahu bersama al-Mahdi didalam menumpas Dajjal, bahwa para pakar ilmu pengetahuan bersama-sama dengan Ahli Kitab yang tercerahkan dan segenap kaum Muslimin akan mengadakan perlawanan terhadap para pembangkang agama, para pimpinan dan masyarakat dinegara zionis yang menawarkan racun dalam bentuk madu kepada masyarakat Islam, menjual neraka dengan nama syurga kepada orang-orang yang beriman.

    Semoga kita semua dapat terhindar dari Dajjal-dajjal ini dan bersama mencerahkan kembali bumi Timur dengan ajaran Islam yang sejati, mengembalikan kebenaran dari ajaran ‘Isa al-Masih yang telah diselewengkan, menjadi Mahdi-mahdi yang siap bertempur dijalan Allah dengan segenap jiwa, raga dan harta.

    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang percaya kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (Qs. 49:15)

    Wassalam.

    Armansyah

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 13 February 2019 Permalink | Balas  

    Hukum Cium Tangan Oleh Syaikh Abdullah bin Abdurrahman… 

    Hukum Cium Tangan

    Oleh : Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin*

    Menurut kami, mencium tangan orang yang memiliki keutamaan seperti orang tua, ulama, guru dan lainnya adalah boleh, dalam rangka menghormati dan bersikap sopan kepada mereka.

    Ibnu Al Arabi (bukan Ibnu Arabi tokoh sufi/filsafat !) telah menulis risalah tentang hukum cium tangan dan sejenisnya, dan sebaiknya merujuk kepada risalahnya.

    Bila mencium tangan itu dilakukan terhadap kerabat-kerabat yang lebih tua atau orang-orang yang memiliki keutamaan, ini berarti sebagai penghormatan, bukan menghinakan diri bukan pula pengagungan.

    Kami dapati sebagian Syaikh kami mengingkari dan melarangnya, hal itu karena sikap rendah hati mereka, bukan berarti mereka mengharamkannya. Wallahu a’lam.

    ***

    Maraji’: Fatwa-fatwa Terkini Jilid 3, Darul Haq, Jakarta, Cetakan Pertama, September 2004 M, hal. 91-92

    *Beliau salah satu murid Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 12 February 2019 Permalink | Balas  

    Berbuat Baik Kepada Kedua Orang Tua dan Memberikannya Nafkah 

    Berbuat Baik Kepada Kedua Orang Tua dan Memberikannya Nafkah

    Oleh : Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

    Berbakti kepada kedua orang tua adalah berbuat baik kepada keduanya dengan harta, bantuan fisik, kedudukan dan sebagainya, termasuk juga dengan perkataan. Allah SWT telah menjelaskan bakti ini dalam firmannya :

    “Immaa yablughonna ‘indaka al kibara ahaduhumaa au kilaa humaa falaa taqullahumaa uffin wa laa tanhar humaa waqullahumaa qoulan kariima” yang artinya “Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkatan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (QS. Al Isra’ : 23)

    Demikian ini terhadap orang tua yang sudah lanjut usia. Biasanya orang yang sudah lanjut usia perilakunya tidak normal, namun Allah SWT menyebutkan :

    “Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’”

    Yakni sambil merasa tidak senang kepada keduanya,

    “Dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”.

    Bentuk perbuatan, hendaknya seseorang bersikap santun dihadapan mereka serta bersikap sopan dan penuh kepatuhan karena statusnya adalah sebagai kedua orang tuanya, demikian berdasarkan firman Allah SWT :

    “Wakhfidh lahumaa janaahadz dzulli minarahmah wa qurrabbirhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa” yang artinya “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidiku di waktu kecil’” (QS Al Isra’ : 24).

    Lain dari itu, hendaknya pula berbakti dengan memberikan harta, karena kedua orang tua berhak memperoleh nafkah, bahkan hak nafkah mereka merupakan hak yang paling utama, sampai-sampai Rasulullah SAW pernah bersabda :

    “Anta wa maaluka liabiika” yang artinya “Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu” (HR. Abu Daud dalam Al Buyu’ dan HR Ibnu Majah dalam At Tijarah)

    Semoga bermanfaat

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 11 February 2019 Permalink | Balas  

    Pengenalan Diri melalui Surah al-Qur’an 

    Pengenalan Diri melalui Surah al-Qur’an

    Oleh : Armansyah

    Assalamu’alaykum Wr. Wb.

    Dalam tulisan kali ini, saya mengajak kita semua merenung mengenai hakikat diri masing-masing, tanpa bermain ayat dan tanpa harus bersusah payah berpikir dengan semua dalil dan teori yang memusingkan kepala. Saya mencoba memperkenalkan metode pengenalan diri melalui nama surah (khususnya 5 surah pertama) dari al-Qur’an dengan semua kesederhanaan kalimatnya. Semoga bermanfaat.

    Surah pertama dalam al-Qur’an adalah al-Fatihah, surah ini juga dikenal sebagai surah pembuka, ummul Qur’an, surah 7 ayat berulang dan sebagainya. Inilah inti dari al-Qur’an, tanpa surah ini maka sebuah kitab tidak bisa disebut al-Qur’an, tanpa membaca surah ini pula maka tidak syah sholat seorang muslim bahkan tanpa membaca surah ini pula menurut perhitungan matematis Dr. Rasyad Khalifah (lihat : http://www.submission.org/salat19.html) berarti seorang muslim sudah menghilangkan kata sandi senilai 608, karena setiap huruf dalam al-Fatihah memiliki nilai tersendiri.

    Setiap manusia, siapapun itu didalam sejarah hidupnya pasti melalui surah al-Fatihah, artinya kita-kita ini pasti pernah memulai dari awal, dari dasar. Apa awal dari manusia ? nutfahkah ? mungkin jawaban ini benar, tetapi nutfah adalah pembentuk awal kemanusiaan dan bukan awal dari manusia itu sendiri. Awal kehidupan manusia dimulai sejak ia dilahirkan ibunya kedunia ini. Detik pertama dia menghirup udara maka detik itupulalah sejarah manusia tersebut dimulai.

    Bahkan seorang ‘Isa al-Masih yang proses kejadiannya tampak begitu istimewa, tidak terkecuali untuk memulai hidupnya dari seorang bayi merah. Sama seperti yang lain. (lihat rujukan Qs. Ali Imran 3 ayat 59)

    Dari surah ini kita diajar banyak hal, bahwa semua ayat baik yang panjang maupun yang pendek didalam al-Qur’an akhirnya akan kembali pada surah al-Fatihah, karena dalam surah inilah semua pujian dan doa serta pentauhidan Tuhan terintegrasi menjadi satu.

    Begitupula manusia, dia hakekatnya adalah bayi, semua kedudukan sosial serta harta benda yang ia miliki akan kembali pada kekerdilan dirinya dimata sang Khaliq yang serba Maha.

    Sosok manusia tidak ubahnya bagaikan bulatan kecil bumi ditengah samudra galaksi yang Maha Luas dan tak hingga (alpha dan omega). Kenapa manusia masih banyak yang berlaku sombong atas semua yang dia miliki ? Dilihat secara ultraviolet, manusia itu telanjang, tanpa pakaian, tanpa kedudukan, tanpa apa-apa. Begitulah kira-kira cara Tuhan memandang kita (lihat rujukan Surah al-A’raaf 7 ayat 26)

    Jikapun kita berkuasa, apakah iya kita berkuasa atas nafas kita ? atas udara yang kita hisap ? apa iya kita berkuasa atas setan yang ada didiri kita ? – Rasanya kok nggak ya.

    Bahkan satu contoh yang paling ringan bahwa kita tidak berkuasa untuk menahan rasa kebelet untuk buang air. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang akan kita dustakan ? (lihat rujukan Surah an-Najm 53 ayat 55)

    Artinya, semua anggota tubuh kita ini bukanlah milik kita, apalagi harta dan kedudukan. Kita ini bayi, kita ini al-Fatihah, seharusnya kita menjadi ayat yang berfungsi sebagai pujian terhadap Allah, sebagai alat pengabdian, penyebar petunjuk bagi orang lain kepada jalan yang lurus sekaligus penolak pada nilai-nilai kebatilan, keterpurukan dan kesesatan.

    Surah kedua adalah al-Baqarah, yang secara harfiah berarti Sapi Betina.

    Seorang bayi yang baru lahir, dia memerlukan asupan susu, entah itu berupa ASI atau susu olahan.

    Jika sebagai penyambung al-Fatihah tertulis al-Baqarah, ini tidak serta merta satu petunjuk bahwa seorang bayi harus minum susu sapi.

    Penyebutan sapi betina merujuk pada satu kebutuhan yang ada pada seorang bayi, dia perlu kehangatan, dia perlu nutrisi awal, nutrisi satu-satunya yang bisa ia cerna, karena tidak mungkin dia bisa mengkonsumsi coca cola atau fanta, dia perlu susu, perlu hal yang putih, bersih dan sehat.

    Inilah gambaran kita, membutuhkan nilai-nilai yang lurus, yang bisa memenuhi gizi kejiwaan sebagai satu-satunya sumber asupan yang bisa kita terima agar bisa tumbuh menjadi kepribadian yang dewasa dan tangguh.

    Kita perlu nilai-nilai yang sehat dan benar untuk sampai pada satu pemahaman tertentu, hati dan niat ini harus bersih dan akal kita harus bisa berpikir realistis obyektif. Inilah makna ayat al-Qur’an : hendaklah engkau berlaku adil, jangan karena kebencianmu pada sesuatu hal membuatmu gelap mata, membuatmu menjadi subyektif. (Lihat rujukan Surah al-Maidah 5 ayat 8).

    Surah al-Baqarah merupakan satu-satunya surah terpanjang didalam al-Qur’an, ini merefleksikan bahwa manusia itu akan terus memerlukan nilai-nilai yang bersih dan sehat tadi sepanjang masa, tidak ada batasan, karenanya Nabi bersabda : menuntut ilmu itu wajib bagi seorang muslim sampai ia mendatangi kuburnya sendiri.

    Selanjutnya surah al-Baqarah disambung dengan ali Imran dan an-Nisaa’, masing-masing mewakili kedua orang tua kita, yang satu laki-laki dan yang lainnya wanita. Bahwa didalam hidup, kita tidak hanya membutuhkan nilai tetapi juga memerlukan bantuan lingkungan disekitar kita, butuh keberadaan sosok bapak dan ibu yang membuat kita menjadi aman, tentram dan damai. Secara lebih luas, kita perlu melakukan interaksi dengan semua komponen masyarakat (pria dan wanita pada ali Imron dan an-Nisaa’ menggambarkan adanya keragaman).

    Kita tidak bisa hidup sendiri, kita adalah makhluk sosial yang saling berinteraksi antar sesama kita (lihat rujukan Surah al-Hujuraat 49 ayat 13).

    Orang yang hanya mau bergaul dengan sekelompok kaum tertentu saja, bertaklid pada satu jemaah tertentu dan meninggalkan kaum atau jemaah yang lainnya sama seperti seorang anak yang hanya memerlukan ibunya saja atau bapaknya saja, dan jelas ini satu kepincangan.

    Bersikaplah yang wajar, bergaullah dengan semua komponen masyarakat tanpa membedakan apakah mereka sama jemaahnya dengan kita, sama jalan pemikirannya dengan kita atau sebaliknya. Apalagi jika ini menyangkut hubungan sesama muslim, malah al-Qur’an berkata, satukan hubungan yang retak antar sesama saudaramu seiman, jauhi prasangka yang jahat kepadanya (lihat rujukan Surah al-Hujuraarat 49 ayat 12).

    Surah kelima, surah al-Maaidah yang berarti hidangan.

    Hidangan disini adalah suatu sajian makanan, seorang bayi dia memerlukan asupan susu dan belaian kasih sayang kedua orang tuanya, seorang manusia perlu belajar nilai-nilai kebenaran yang obyektif dan melakukan silaturahhim terhadap sesamanya, dan dia perlu berbagi.

    Saat sudah menjelang dewasa usia, kita tidak lagi menjadi bayi, kebutuhan gizi kita sudah lebih besar dari susu putih didalam botol. Kita menuntut menu lain, kita mulai belajar memakan makanan yang lebih keras, lebih kejal dan lebih berasa.

    Semakin kita banyak belajar dan berinteraksi maka kepribadian kita seharusnya semakin meningkat, semakin menuntut lebih banyak dari sebelumnya, semakin kita belajar semakin kita merasa ilmu ini teramat sedikit, semua kekayaan pemikiran, khasanah pengetahuan harus bertambah demikian juga dengan ketakwaan maupun kesederhanaan jiwa.

    Inilah inti dari sabda Nabi : Sesungguhnya siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka dia orang yang beruntung, tetapi orang yang hari ini lebih buruk dari sebelumnya maka dia termasuk orang yang merugi (lihat rujukan Surah al-Ashar 103 ayat 1 s/d 3).

    Masihkah kita belum mengnal siapa diri kita sejauh ini ?

    Haruskah pembahasan ini dilanjutkan pada surah-surah lainnya?

    Untuk sementara ini, biarlah tulisan ini berhenti sampai disini agar dapat direnungkan dan mencari kedalam inti diri, siapa aku?

    Wassalam,

    Mohon maaf lahir dan batin, semoga Allah mengampuni.

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 10 February 2019 Permalink | Balas  

    Relikui Rasulullah di Istana Topkapi 

    Relikui Rasulullah di Istana Topkapi

    Jejak-jejak Nabi Muhammad Saw dalam bentuk relikui (peninggalan barang atau benda suci-Red) tak hanya bis dijumpai di Makkah atau Madinah di Arab Saudi, kita pun bisa menjumpainya di wilayah yang agak jauh dari situ. Misalnya di Turki, atau tepatnya di Istana Topkapi.

    Istana Topkapi suatu istana 24 raja dari Dinasti Ottoman Turki yang sangat terkenal. Istana tersebut berfungsi selama sekitar 400 tahun sejak mulai dibangun pada tahun 1453 Masehi, atau pada masa pemerintahan Sultan Mehmet II. Selama itu pula, pembangunan dan pembaharuan istana dilangsungkan tanpa henti hingga tahun 1850.

    Istana yang berluas 700 meter persegi dan dikelilingi tembok sepanjang 5 kilometer itu berada di titik pertemuan Selat Bosphorus, Tanjung Tanduk Emas (Golden Horn), dan Laut Marmara. Topkapi dalam bahasa Turki yang artinya “Gerbang Meriam” yang merupakan salah satu pintu masuk ke dalam istana.

    Jadi, mengunjungi istana tersebut, terlebih-lebih saat memasuki ruangan yang menyimpan relikui Rasulullah, saya seperti dibawa ke masa Nabi hidup. Dan tempat itu bisa menjadi tujuan berwisata agama yang sangat mencerahkan batin.

    Ada banyak sekali relikui yang tersimpan di istana tersebut. Di antara yang paling menarik adalah relikui Rasulullah dan 4 sahabatnya. Benda-benda itu ditempatkan di ruangan yang terpisah dari bangunan utama Istana Topkapi dan berada di ruang yang disebut Paviliun Relikui Suci. Selain menjadi bukti kebesaran Islam, Dinasti Ottoman itu sendiri adalah sebuah lambang kejayaan Islam di wilayah yang sekarang masuk ke dalam wilayah Eropa tersebut.

    Bagaimana relikui Rasulullah bisa sampai jauh dari tanah asal tempat Nabi hidup? Sejarah dimulainya pengumpulan relikui tersebut bermula dari masa pemerintahan Sultan Selim I (1512-1520). Taj al-Tawarikh (Catatan Kejadian Para Raja) yang ditulis Sadeddin Effendi menyebutkan, ketika itu Sultan Selim hampir tiap malam tidak dapat tidur. Dalam kondisi seperti itu, dia selalu ditemani Hasan Can (ayah Sadeddin Effendi). Mereka selalu terlibat diskusi yang serius.

    Pada suatu hati Hasan Can sangat mengantuk dan tertidur. Pagi harinya sang raja menanyakan mimpi lelaki itu. Awalnya pertanyaan itu mengagetkan Hasan. Tapi anehnya, mimpi Hasan Can serupa dengan mimpi Hasan Aga si Penjaga Pintu Raja. Dalam mimpi mereka, mereka melihat sekelompok orang Arab dengan wajah berkilauan sedang berdiri di dekat pintu. Orang-orang itu bersenjata dan memegang bendera. Salah seorang yang memegang bendera kesultanan yang berwarna putih mengetuk pintu. Ketika Hasan Aga membuka pintu, sang tamu berkata, “Mereka ini pendamping Rasulullah. Beliau mengirimkan salam dan berkata Katakan pada rajamu, bangkit dan datanglah. Penjaga Haramain (Kota suci Makkah dan Madinah-Red), menganugerahkan padamu. Ini Abubakar al-Siddiq, Ini Umar al-Faruq, dan ini Uthman Zinnurayn. Saya Ali bin Abu Thalib. Sampaikan salamku untuk Selim Khan.”

    Ketika Sultan Selim mendengar hal itu, wajahnya memerah dan mulai menangis. Kemudian dia berkata pada Hasan Can, “Saya telah mengatakan padamu bahwa saya tidak akan bertindak tanpa perintah. Nenek moyang saya sekarang telah merestui dengan kebijakan suci. Saya tidak bisa menyamai mereka”.

    Setelah mimpi spiritual tersebut, Sultan Selim I mulai melakukan invasi ke Kesultanan Mamluk yang berpusat di Mesir. Tak lama kemudian, Mesir dan Hijaz (Arab Saudi sekarang) menjadi bagian dari Kesultanan Turki. Penaklukan Mesir ditandai dengan klaim atas wilayah itu oleh Sultan Selim pada 20 Pebruari 1517 di Masjid Mallik Muayyad, Kairo.

    Hijaz yang ketika itu juga wilayah Kesultanan Mamluk diklaim Sultan Selim dengan menyebut dirinya sebagai “Pelayan Haramain”. Abu Numay, anak Sharif Barakat (Gubernur Makkah saat itu) segera menyerahkan kunci Makkah dan Madinah.

    Penaklukan itulah awal kisah keberadaan relikui di Istana Topkapi. Saat kembali ke Turki, Sultan Selim membawa serta relikui Nabi Muhammad yang sekian lama disimpan Kesultanan Mamluk. Relikui itu adalah mantel, tongkat, gigi (yang tanggal pada Perang Uhud), segenggam janggut, bendera, pena, sajadah, tasbih kayu, bakiak atau terompah, pedang hitam (Pedang Nabawi), busur panah, serban, dan sabuk. selain itu, masih ada beberapa relikui lainnya, termasuk pedang-pedang milik 4 sahabat Nabi.

    Berlanjut

    Pengumpulan relikui tersebut terus berlanjut. Setelah Sultan Selim I, para penggantinya pun dengan antusias melakukan hal serupa. Wilayah pengumpulannya pun meluas hingga Oran, Baghdad, dan banyak wilayah lainnya. Dari Kairo dan Makkah pun masih banyak lagi yang dibawa ke Turki.

    Salah satu yang mengagumkan adalah cetakan telapak kaki Nabi Muhammad. Benda itu diboyong dari Tripoli, Libya. Telapak kaki itu dipercaya tercetak saat Rasulullah melakukan Mi’raj dari Masjidil Aqsa. Atas kuasa Allah, saat hendak naik ke langit, pada batu tempat berpijaknya tercetak telapak kaki beliau. Yang tersimpan di istana Topkapi hanya cetakan telapak kaki kanan, sedangkan cetakan telapak kaki kiri masih tersimpan di Masjidil Aqsa sampai sekarang.

    Tak kalah pentingnya adalah beberapa surat dan segel peninggalan nabi. Surat-surat itu ditujukan pada beberapa orang. Bisa dinukilkan di sini bunyi surat yang ditujukan kepada Muqawqis, pemimpin Kaum Kopts, sebagai berikut: “Dengan nama Allah yang Mahapengasih dan Mahapenyayang. Dari Muhammad, pelayan Allah dan pembawa berita-Nya kepada Muqawqis, Pemimpin Kopts. Aman dan damai bagi mereka yang berjalan di sisi yang benar. Karena itu, saya mengundang Anda untuk menerima Islam. Jika Anda menerima, Anda akan menemukan kedamaian. Anda akan menyelamatkan takhta Anda, dan Anda akan mendapatkan keuntungan dua kali lipat untuk membiarkan takhta Anda dimuliakan oleh Islam. Jika Anda membalikkan badan pada tawaran ini, tanggung jawab untuk kerusakan dengan jatuh dari takhta oleh sebab Anda sendiri. O, Rakyat Book, kemarilah dan jadilah satu berkumpul dalam satu bahasa. Jangan memuja apa pun selain Allah. Jangan mempersekutukan apa pun dengan-Nya. Jangan meninggalkan Allah dan saling menyembah satu sama lain. Jika Anda memalingkan undangan ini, Anda akan tahu bahwa kami Muslim.”

    Tegas dan bernas isi surat itu. Surat dengan ketegasan dan kebernasan serupa bisa dibaca pada surat yang ditujukan pada Musaylima si Pembohong. “Dengan nama Allah yang Mahapengasih dan Mahapenyayang. Dari Muhammad, pelayan Allah dan pembawa berita-Nya kepada Musaylima si Pembohong. Aman dan damai bagi mereka yang berjalan di sisi yang benar. Mulai sekarang, bumi milik Allah. Dia memberikannya pada siapa saja yang Dia kehendaki. Yang terindah adalah milik Allah. Jika Anda dan mereka menyesal, Allah akan mengampuni Anda dan mereka yang menyesal bersama Anda.”

    Perlu dicatat, pada bagian bawah surat-surat itu selalu tertera segel yang bertuliskan Muhammad Rasullulah. Segel tersebut terbuat dari batu merah Cornelian. Tadinya segel tersebut berbentuk bulat, diikat dengan perak, dan dipakai sebagai cincin di jari Nabi. Saat Muhammad wafat, cincin segel itu diwariskan pada Abubakar, kemudian ke Umar bin al-Khattab, dan Usman bin Affan. Usman secara tidak sengaja menjatuhkannya ke dalam Sumur Eris dan mencarinya hingga beberapa hari tetapi tidak ditemukan.

    Maka selanjutnya Usman membuat segel dengan kalimat yang sama dan diwariskan kepada Dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Segel tersebut ditemukan di Baghdad dan dibawa ke Topkapi. Dengan begitu boleh diasumsikan bahwa segel tersebut dipakai oleh para pemimpin Dinasti Abbasiyah yang bermukim di Irak. Asumsi itu mendapat pembuktian jika kita mencermati bentuk teraan segel pada surat-surat yang ada di Topkapi. Pada surat-surat Nabi, teraan segelnya bulat dan itu dibuat sebelum segelnya dijatuhkan Usman, sementara segel yang disimpan di Topkapi berbentuk kotak.

    Peninggalan penting lainnya adalah manuskrip Alquran yang pertama. Sebelum Alquran disatukan menjadi kitab, manuskrip pertama Alquran dituliskan di atas lembaran kulit binatang. Salah satu yang tersimpan di Topkapi menyuratkan Surat Al Qadar.

    Tak hanya relikui Rasulullah, Topkapi juga menyimpan banyak relikui tokoh-tokoh lainnya yang dikenal dalam sejarah Islam. Beberapa bisa disebutkan antara lain potongan serban Syeh Abdul Qodir Jaelani, mangkuk Nabi Ibrahim, tongkat Nabi Musa, pedang Nabi Daud, serban Nabi Yusuf, jubah dan sajadah Fatimah al Zahra.

    Dari semua itu, yang paling mengejutkan adalah relikui potongan tangan kanan milik Yohannes Pembaptis yang dikenal dalam sejarah kristiani. Tangan kanan itulah yang dulu membaptis Yesus di Sungai Yordan. Cerita sejarah memang menyebutkan bahwa Yohannes Pembaptis dipenggal oleh Raja Herodes dari Kerajaan Romawi. Relikui tersebut ke Istanbul dari Antiokia pada saat Konstantin VII (Kerajaan Katolik penguasa Turki sebelum Dinasti Turki Ottoman).

    Tadinya sejak abad ke-12, relikui itu disimpan di Kapel Konstantin sebelum dipindah ke Gereja Perawan Maria, hingga akhirnya pindah ke Gereja Periblebtos. Saat Turki dikuasai Dinasti Ottoman, relikui itu jatuh ke tangan orang Islam.

    Masih banyak lagi relikui yang belum disebutkan. Yang pasti, berkunjung ke situ, Anda seperti tengah berpesiar ke alam spiritual para tokoh agama. Lebih menarik lagi, pada Paviliun Relikui Suci, kita bisa mendengar alunan bacaan Alquran oleh 24 orang Hafiz Quran secara bergantian 24 jam nonstop. Dan bayangkan, lantunan ayat suci itu sudah berlangsung tanpa jeda sejak tahun 1517.

    ***

    (Arya H-13)

    Sumber: SuaraMerdeka

     
  • erva kurniawan 2:06 am on 9 February 2019 Permalink | Balas  

    Hajar Aswad Batu Surga Saksi Kita di Akhirat 

    Hajar Aswad Batu Surga Saksi Kita di Akhirat

    Diyakini sebagai batu surga, Hajar Aswad bakal menjadi saksi kita di akhirat kelak. Karena itulah, meski sunah hukumnya, ribuan jamaah haji berupaya sekuat tenaga untuk dapat menciumnya. Meski hanya sunah, setiap jamah haji selalu berupaya untuk sebisa mungkin dapat mencium Hajar Aswad (batu hitam). Selain diyakini sebagai batu surga, konon, Hajar Aswad kelak akan menjadi saksi kita di akhirat.

    Terletak di sudut selatan Kabah pada ketinggian 1,10 meter dari lantai Masjidil Haram, batu hitam berukuran 25 x 17 cm ini selalu menyedot perhatian jamaah haji. Mereka berusaha untuk dapat menciumnya, atau paling tidak dapat ber-ihtilam (menyalaminya atau mencium tangan ketika tawaf).

    Meski demikian, untuk melakukan ritual ini (mencium Hajar Aswad), setiap orang dituntut kesabarannya, mengingat banyaknya jamaah haji yang memiliki niat serupa. Karena itu, tidak dibenarkan jika kita memaksakan untuk menciumnya sembari menyakiti jemaah yang lainnya. Apalagi jika hal itu memicu keributan dengan sesama jamaah. Di lain pihak, karena hukumnya bukan wajib melainkan sunah, sejauh ini Pemerintah Arab Saudi tidak menyediakan sarana sebagaimana tawaf dan sa’i.

    Apa makna di balik prosesi mencium Hajar Aswad? Konon, mencium Hajar Aswad adalah lambang perjanjian kita dengan Allah SWT. Hajar Aswad melambangkan “tangan Allah”. Mencium Hajar Aswad-baik dari dekat maupun dari jauh melambangkan perjanjian kita dengan “menjabat” tangan Allah. Seakanakan kita berkata: “Ya Allah, saya berjanji bahwa mulai saat ini saya telah masuk ke dalam lingkaran-Mu, dan tidak akan pernah keluar dari lingkaran-Mu ini”. Karena itu, jika ada kesempatan dan kemampuan, setiap jamaah disunahkan untuk mencium Hajar Aswad.

    Mulanya Putih

    Menurut sejarahnya, Hajar Aswad adalah batu yang diberikan Malaikat Jibril kepada Nabi Ismail AS ketika diperintah mencari batu oleh ayahnya, Nabi Ibrahim AS yang hendak meninggikan Kabah. Kala itu, Hajar Aswad menyala-nyala karena saking putihnya. Cahayanya menyinari Barat dan Timur.

    Tapi mengapa Hajar Aswad sekarang berwarna hitam? Ada beberapa versi mengenai hal ini. Hajar Aswad itu berubah warnanya menjadi hitam pekat karena diduga kuat akibat peristiwa kebakaran yang terjadi di zaman Quraisy dan di era Ibnu Zubair. Akibatnya Hajar Aswad mengalami keretakkan yang kemudian diikat oleh Ibnu Zubair dengan perak ketika ia merenovasinya.

    Versi lainnya menyebutkan, berubahnya warna Hajar Aswad dari semula abyad (putih) menjadi aswad (hitam) karena dosa-dosa anak cucu Adam. Dalam kaitan ini ada sabda Rasulullah SAW yang artinya:

    “Hajar Aswad itu diturunkan dari surga, berwarna lebih putih dari susu. Dosa-dosa anak cucu Adam-lah yang menjadikannya hitam”. Mana yang benar? Wallaahua’lam.

    Dalam kaitan versi kedua, Ibnu Zhahirah mengingatkan bahwa dosa-dosa anak manusia saja bisa menghitamkan batu, apalagi pengaruhnya terhadap hati manusia. Ini jelas sebagai peringatan kepada anak cucu Adam agar hanya kepada Allah SWT sajalah kita bertumpu.

    Hajar Aswad yang sekarang adalah 8 bongkahan kecil akibat pecahnya batu yang semula besar. Kedelapan bongkahan itu masih tersusun rapi pada tempatnya seperti sekarang. Pecahnya batu itu terjadi pada zaman Qaramithah, yaitu sekte dari Syi’ah Al-Bathiniyyah dari pengikut Abu Thahir Al-Qaramathi yang mencabut Hajar Aswad dan membawanya ke Ihsa’ pada tahun 319 Hijriyah. Tetapi batu itu dikembalikan lagi pada tahun 339 Hijriah.

    Gugusan yang terbesar berukuran sebuah kurma yang tertanam di batu besar lain dan dikelilingi oleh ikatan perak inilah yang senantiasa dirindui setiap muslim untuk dapat menciumnya. Batu yang terletak dalam lingkaran perak itulah yang diusahakan jamaah haji untuk dapat menciumnya, bukan batu yang berada di sekitarnya.

    Dalam perkembangannya, Hajar Aswad pernah mengalami renovasi pada zaman Raja Fahd, tepatnya pada bulan Rabiul Awal 1422 Hijriyah. Kini, setiap tahun menjelang musim haji, Hajar Aswad senantiasa dibersihkan berbarengan dengan pencucian Kabah. Pada saat inilah, biasanya Pemerintah Arab Saudi memberi kesempatan kepada tamu-tamu kerajaan untuk menyaksikan pencucian Kabah sekaligus mencium Hajar Aswad. TC Nar

    Sumber: Majalah Travel Club

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 8 February 2019 Permalink | Balas  

    Berapakah umur Aisyah ? 

    Berapakah umur Aisyah ?

    Artikel ini saya terjemahkan bagi yang suka malas baca artikel bahasa inggris, dari : The Ancient Myth Exposed By T.O. Shanavas , di Michigan. (c) 2001 Minaret from The Minaret Source: http://www.iiie.net/

    Seorang teman kristen suatu kali bertanya ke saya, ” Akankah anda menikahkan saudara perempuanmu yang berumur 7 tahun dengan seorang tua berumur 50 tahun?” Saya terdiam. Dia melanjutkan,” Jika anda tidak akan melakukannya, bagaimana bisa anda menyetujui pernikahan gadis polos berumur 7 tahun, Aisyah, dengan Nabi anda?” Saya katakan padanya,” Saya tidak unya jawaban untuk pertanyaan anda pada saat ini.” Teman saya tersenyum dan meninggalkan saya dengan guncangan dalam batin saya akan agama saya. Kebanyakan muslim menjawab bahwa pernikahan seperti itu diterima masyarakat pada saat itu. Jika tidak, Orang-orang akan merasa keberatan dengan pernikahan Nabi saw dengan Aisyah.

    Bagaimanapun, penjelasan seperti ini akan mudah menipu bagi orang-orang yang naif dalam mempercayainya. Tetapi, saya tidak cukup puas dengan penjelasan seperti itu.

    Nabi merupakan manusia tauladan, Semua tindakannya paling patut dicontoh sehingga kita, Muslim dapat meneladaninya. Bagaimaanpun, kebanyakan orang di Islamic Center of Toledo, termasuk saya, Tidak akan berpikir untuk menunangkan saudara perempuan kita yang berumur 7 tahun dengan seorang laki-laki berumur 50 tahun. Jika orang tua setuju dengan pernikahan seperti itu, kebanyakan orang, walaupun tidak semuanya, akan memandang rendah thd orang tua dan suami tua tersebut.

    Tahun 1923, pencatat pernikahan di Mesir diberi intruksi untuk menolak pendaftaran dan menolak mengeluarkan surat nikah bagi calon suami berumur dibawah 18 tahun , dan calon isteri dibawah 16 tahun. Tahun 1931, Sidang dalam oraganisasi-oraganisi hukum dan syariah menetapkan untuk tidak merespon pernikahan bagi pasangan dengan umur diatas (Women in Muslim Family Law, John Esposito, 1982). Ini memperlihatkan bahwa walaupun di negara Mesir yang mayoritas Muslim pernikahan usia anak-anak adalah tidak dapat diterima.

    Jadi, Saya percaya, tanpa bukti yang solidpun selain perhormatan saya thd Nabi, bahwa cerita pernikahan gadis brumur 7 tahun dengan Nabi berumur 50 tahun adalah mitos semata. Bagaimanapun perjalanan panjang saya dalam menyelelidiki kebenaran atas hal ini membuktikan intuisi saya benar adanya.

    Nabi memang seorang yang gentleman. Dan dia tidak menikahi gadis polos berumur 7 atau 9 tahun. Umur Aisyah telah dicatat secara salah dalam literatur hadist. Lebih jauh, Saya pikir bahwa cerita yang menyebutkan hal ini sangatlah tidak bisa dipercaya. Beberapa hadist (tradisi Nabi) yang menceritakan mengenai umur Aisyah pada saat pernikahannya dengan Nabi, hadist-hadist tsb sangat bermasalah. Saya akan menyajikan beberapa bukti melawan khayalan yang diceritakan Hisyanm ibnu `Urwah dan untuk membersihkan nama Nabi dari sebutan seorang tua yang tidak bertanggung jawab yang menikahi gadis polos berumur 7 tahun.

    BUKTI #1: PENGUJIAN THD SUMBER

    Sebagaian besar riwayat yang menceritakan hal ini yang tercetak di hadist yang semuanya diriwayatkan hanya oleh Hisham ibn `Urwah, yang mencatat atas otoritas dari Bapaknya,Yang mana seharusnya minimal 2 atau 3 orang harus mencatat hadist serupa juga. Adalah aneh bahwa tak ada seorangpun yang di Medinah, dimana Hisham ibn `Urwah tinggal, sampai usia 71 tahun baru menceritakan hal ini, disamping kenyataan adanya banyak murid-murid di Medinah termasuk yang kesohor Malik ibn Anas, tidak menceritakan hal ini. Asal dari riwayat ini adalah dari orang-orang Iraq, dimana Hisham tinggal disana dan pindah dari Medinah ke Iraq pada usia tua.

    Tehzibu’l-Tehzib, salah satu buku yang cukup terkenal yang berisi catatan para periwayat hadist, menurut Yaqub ibn Shaibah mencatat : ” Hisham sangat bisa dipercaya, riwayatnya dapat diterima, kecuali apa-apa yang dia ceritakan setelah pindah ke Iraq ” (Tehzi’bu’l-tehzi’b, Ibn Hajar Al- `asqala’ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, 15th century. Vol 11, p.50). Dalam pernyataan lebih lanjut bahwa Malik ibn Anas menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq: ” Saya pernah dikasih tahu bahwa Malik menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq” (Tehzi’b u’l-tehzi’b, IbnHajar Al- `asqala’ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, Vol.11, p. 50).

    Mizanu’l-ai`tidal, buku lain yang berisi uraian riwayat hidup pada periwayat hadist Nabi saw mencatat: “Ketika masa tua, ingatan Hisham mengalami kemunduran yang mencolok” (Mizanu’l-ai`tidal, Al-Zahbi, Al-Maktabatu’l-athriyyah, Sheikhupura, Pakistan, Vol. 4, p. 301).

    KESIMPULAN: berdasarkan referensi ini, Ingatan Hisham sangatlah jelek dan riwayatnya setelah pindha ke Iraq sangat tidak bisa dipercaya, sehingga riwayatnya mengenai umur pernikahan Aisyah adalah tidak kredibel.

    KRONOLOGI: Adalah vital untuk mencatat dan mengingat tanggal penting dalam sejarah Islam:

    pra-610 M: Jahiliya (pra-Islamic era) sebelum turun wahyu

    610 M: turun wahyu pertama AbuBakr menerima Islam

    613 M: Nabi Muhammad mulai mengajar ke Masyarakat

    615 M: Hijrah ke Abyssinia.

    616 M: Umar bin al Khattab menerima Islam.

    620 M: dikatakan Nabi meminang Aisyah

    622 M: Hijrah ke Yathrib, kemudian dinamai Medina

    623/624 M: dikatakan Nabi saw berumah tangga dengan Aisyah

    BUKTI #2: MEMINANG

    Menurut Tabari (juga menurut Hisham ibn `Urwah, Ibn Hunbal and Ibn Sad), Aisyah dipinang pada usia 7 tahun dan mulai berumah tangga pada usia 9 tahun.

    Tetapi, di bagian lain, Al-Tabari mengatakan: “Semua anak Abu Bakr (4 orang) dilahirkan pada masa jahiliyah dari 2 isterinya ” (Tarikhu’l-umam wa’l-mamlu’k, Al-Tabari (died 922), Vol. 4,p. 50, Arabic, Dara’l-fikr, Beirut, 1979).

    Jika Aisyah dipinang 620M (Aisyah umur 7 tahun) dan berumah tangga tahun 623/624 M (usia 9 tahun), ini mengindikasikan bahwa Aisyah dilahirkan pada 613 M. Sehingga berdasarkan tulisan Al- Tabari, Aisyah seharusnya dilahirkan pada 613M, Yaitu 3 tahun sesudah masa jahiliyah usai (610 M). Tabari juga menyatakan bahwa Aisyah dilahirkan pada saat jahiliyah. Jika Aisyah dilahirkan pada era Jahiliyah, seharusnya minimal Aisyah berumur 14 tahun ketika dinikah. Tetapi intinya Tabari mengalami kontradiksi dalam periwayatannya.

    KESIMPULAN: Al-Tabari tak reliable mengenai umur Aisyah ketika menikah.

    BUKTI # 3: Umur Aisyah jika dihubungkan dengan umur Fatimah

    Menurut Ibn Hajar, “Fatima dilahirkan ketika Ka`bah dibangun kembali, ketika Nabi saw berusia 35 tahun… Fatimah 5 tahun lebih tua dari Aisyah ” (Al-isabah fi tamyizi’l-sahabah, Ibn Hajar al-Asqalani, Vol. 4, p. 377, Maktabatu’l-Riyadh al-haditha, al-Riyadh,1978).

    Jika Statement Ibn Hajar adalah factual, berarti Aisyah dilahirkan ketika Nabi berusia 40 tahun. Jika Aisyah dinikahi Nabi pada saat usia Nabi 52 tahun, maka usia Aisyah ketika menikah adalah 12 tahun.

    KESIMPULAN: Ibn Hajar, Tabari, Ibn Hisham, dan Ibn Humbal kontradiksi satu sama lain. Tetapi tampak nyata bahwa riwayat Aisyah menikah usia 7 tahun adalah mitos tak berdasar.

    BUKTI #4: Umur Aisyah dihitung dari umur Asma’

    Menurut Abda’l-Rahman ibn abi zanna’d: “Asma lebih tua 10 tahun dibanding Aisyah (Siyar A`la’ma’l-nubala’, Al-Zahabi, Vol. 2, p. 289, Arabic, Mu’assasatu’l-risalah, Beirut, 1992).

    Menurut Ibn Kathir: “Asma lebih tua 10 tahun dari adiknya [Aisyah]” (Al-Bidayah wa’l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 371,Dar al-fikr al-`arabi, > Al-jizah, 1933). Menurut Ibn Kathir: “Asma melihat pembunuhan anaknya pada tahun 73 H, dan 5 hari kemudian Asma meninggal. Menurut iwayat lainya, dia meninggal 10 atau 20 hari kemudian, atau bebrapa hari lebih dari 20 hari, atau 100 hari kemudian. Riwayat yang paling kuat adalah 100 hari kemudian. Pada waktu Asma Meninggal, dia berusia 100 tahun” (Al-Bidayah wa’l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 372, Dar al-fikr al-`arabi, Al- jizah, 1933)

    Menurut Ibn Hajar Al-Asqalani: “Asma hidup sampai 100 tahun dan meninggal pada 73 or 74 H.” (Taqribu’l-tehzib, Ibn Hajar Al-Asqalani,p. 654, Arabic, Bab fi’l-nisa’, al-harfu’l-alif, Lucknow).

    Menurut sebagaian besar ahli sejarah, Asma, Saudara tertua dari Aisyah berselisuh usia 10 tahun. Jika Asma wafat pada usia 100 tahun dia tahun 73 H, Asma seharusnya berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (622M).

    Jika Asma berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (ketika Aisyah berumah tangga), Aisyah seharusnya berusia 17 atau 18 tahun. Jadi, Aisyah, berusia 17 atau 18 tahun ketika hijrah pada taun dimana Aisyah berumah tangga.

    Berdasarkan Hajar, Ibn Katir, and Abda’l-Rahman ibn abi zanna’d, usia Aisyah ketika beliau berumah tangga dengan Rasulullah adalah 19 atau 20 tahun.

    Dalam bukti # 3, Ibn Hajar memperkirakan usia Aisyah 12 tahun dan dalam bukti #4 Ibn Hajar mengkontradiksi dirinya sendiri dengan pernyataannya usia Aisyah 17 atau 18 tahun. Jadi mana usia yang benar ? 12 atau 18..? kesimpulan: Ibn Hajar tidak valid dalam periwayatan usia Aisyah.

    BUKTI #5: Perang BADAR dan UHUD

    Sebuah riwayat mengenai partisipasi Aisyah dalam perang Badr dijabarkan dalam hadist Muslim, (Kitabu’l-jihad wa’l-siyar, Bab karahiyati’l-isti`anah fi’l-ghazwi bikafir). Aisyah, ketika menceritakan salah satu moment penting dalam perjalanan selama perang Badar, mengatakan: “ketika kita mencapai Shajarah”. Dari pernyataan ini tampak jelas, Aisyah merupakan anggota perjalanan menuju Badar. Sebuah riwayat mengenai pastisipasi Aisyah dalam Uhud tercatat dalam Bukhari (Kitabu’l-jihad wa’l-siyar, Bab Ghazwi’l-nisa’ wa qitalihinnama`a’lrijal): “Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, Orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. [pada hari itu,] Saya melihat Aisyah dan Umm-i-Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan sedikit pakaian-nya [untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb].” Lagi-lagi, hal ini menunjukkan bahwa Aisyah ikut berada dalam perang Uhud and Badr.

    Diriwayatkan oleh Bukhari (Kitabu’l-maghazi, Bab Ghazwati’l-khandaq wa hiya’l-ahza’b): “Ibn `Umar menyatakan bahwa Rasulullah tidak mengijinkan dirinya berpastisispasi dalam Uhud, pada ketika itu, Ibnu Umar berusia 14 tahun. Tetapi ketika perang Khandaq, ketika berusia 15 tahun, Nabi mengijinkan Ibnu Umar ikut dalam perang tsb.”

    Berdasarkan riwayat diatas, (a) anak-anak berusia dibawah 15 years akan dipulangkan dan tidak diperbolehkan ikut dalam perangm, dan (b) Aisyah ikut dalam perang badar dan Uhud

    KESIMPULAN: Aisyah ikut dalam perang Badar dan Uhud jelas mengindikasikan bahwa beliau tidak berusia 9 tahun ketika itu, tetapi minimal berusia 15 tahun. Disamping itu, wanita-wanita yang ikut menemani para pria dalam perang sudah seharusnya berfungsi untuk membantu, bukan untuk menambah beban bagi mereka. Ini merupakan bukti lain dari kontradiksi usia pernikahan Aisyah.

    BUKTI #6: Surat al-Qamar (Bulan)

    Menurut beberapa riwayat, Aisyah dilahirkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah. Tetapi menurut sumber lain dalam Bukhari, Aisyah tercatat mengatakan hal ini: “Saya seorang gadis muda(jariyah dalam bahasa arab)” ketika Surah Al-Qamar diturunkan(Sahih Bukhari, kitabu’l-tafsir, Bab Qaulihi Bal al-sa`atu Maw`iduhum wa’l-sa`atu adha’ wa amarr).

    Surat 54 dari Quran diturunkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah(The Bounteous Koran, M.M. Khatib, 1985), menunjukkan bahwa surat tsb diturunkan pada tahun 614 M. jika Aisyah memulai berumahtangga dengan Rasulullah pada usia 9 di tahun 623 M or 624 M, Aisyah masih bayi yang baru lahir (sibyah in Arabic) pada saat Surah Al-Qamar diturunkan. Menurut riwayat diatas, secara aktual tampak bahwa Aisyah adalah gadis muda, bukan bayi yang baru lahir ketika pewahyuan Al-Qamar. Jariyah berarti gadis muda yang masih suka bermain (Lane’s Arabic English Lexicon). Jadi, Aisyah, telah menjadi jariyah bukan sibyah (bayi), jadi telah berusia 6-13 tahun pada saat turunnya surah Al-Qamar, dan oleh karean itu sudah pasti berusia 14-21 tahun ketika dinikah Nabi.

    Kesimpulan: riwayat ini juga mengkontra riwayat pernikahan Aisyah yang berusia 9 tahun.

    BUKTI #7: Terminologi bahasa Arab

    Menurut riwayat dari Ahmad ibn Hanbal, sesudah meninggalnya isteri pertama Rasulullah, Khadijah, Khaulah datang kepada Nabi dan menasehati Nabi untuk menikah lagi, Nabi bertanya kepada nya ttg pilihan yang ada di pikiran Khaulah. Khaulah berkata: “Anda dapat menikahi seorang gadis (bikr) atau seorang wanita yang pernah menikah (thayyib)”. Ketika Nabi bertanya ttg identitas gadis tsb (bikr), Khaulah menyebutkan nama Aisyah.

    Bagi orang yang paham bahasa Arab akan segera melihat bahwa kata bikr dalam bahasa Arab tidak digunakan untuk gadis belia berusia 9 tahun. Kata yang tepat untuk gadis belia yangmasih suka bermain-main adalah, seperti dinyatakan dimuka, adalah jariyah. Bikr disisi lain, digunakan untuk seorang wanita yang belum menikah serta belum punya pertautan pengalaman dengan pernikahan, sebagaiaman kita pahami dalam bahasa Inggris “virgin”. Oleh karean itu, tampak jelas bahwa gadis belia 9 tahun bukanlah “wanita” (bikr) (Musnad Ahmad ibn Hanbal, Vol. 6, p. .210,Arabic, Dar Ihya al-turath al-`arabi, Beirut).

    Kesimpulan: Arti literal dari kata, bikr (gadis), dalam hadist diatas adalah “wanita dewasa yang belum punya pengalaman sexual dalam pernikahan.” Oleh karean itu, Aisyah adalah seorang wanita dewasa pada waktu menikahnya.

    BUKTI #8. Text Qur’an

    Seluruh muslim setuju bahwa Quran adalah buku petunjuk. Jadi, kita perlu mencari petunjuk dari Qur’an untuk membersihkan kabut kebingungan yang diciptakan oleh para periwayat pada periode klasik Islam mengenai usia Aisyah dan pernikahannya. Apakah Quran mengijinkan atau melarang pernikahan dari gadis belia berusia 7 tahun?

    Tak ada ayat yang secara eksplisit mengijinkan pernikahan seperti itu. Ada sebuah ayat , yang bagaimanapun, yang menuntun muslim dalam mendidik dan memperlakukan anak yatim. Petunjuk Qur’an mengenai perlakuan anak Yatim juga valid doaplikasikan ada anak kita sendiri sendiri. Ayat tsb mengatakan : Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. (Qs. 4:5) Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. ?? (Qs. 4:6)

    Dalam hal seorang anak yang ditingal orang tuanya, Seorang muslim diperintahkan untuk (a) memberi makan mereka, (b) memberi pakaian, (c) mendidik mereka, dan (d) menguji mereka thd kedewasaan “sampai usia menikah” sebelum mempercayakan mereka dalam pengelolaan keuangan.

    Disini, ayat Qur’an menyatakan ttg butuhnya bukti yang teliti terhadap tingkat kedewasaan intelektual dan fisik melalui hasil test yang objektif sebelum memasuki usia nikah dan untuk mempercayakan pengelolaan harta-harta kepada mereka.

    Dalam ayat yang sangat jelas diatas, tidak ada seorangpun dari muslim yang bertanggungjawab akan melakukan pengalihan pengelolaan keuangan pada seorang gadis belia berusia 7 tahun. Jika kita tidak bisa mempercayai gadis belia berusia 7 tahun dalam pengelolaan keuangan, Gadis tsb secara tidak memenuhi syarat secara intelektual maupun fisik untuk menikah. Ibn Hambal (Musnad Ahmad ibn Hambal, vol.6, p. 33 and 99) menyatakan bahwa Aisyah yang berusia 9 tahun lebih tertarik untuk bermain dengan mainannya daripada mengambi tugas sebagai isteri. Oleh karean itu sangatlah sulit untuk mempercayai, bahwa AbuBakar,seorang tokoh muslim, akan menunangkan anaknya yang masih belia berusia 7 taun dengan Nabi yang berusia 50 tahun.. Sama sulitnya untuk membayangkan bahwa Nabi menikahi seorang gadis belia berusia 7 tahun.

    Sebuah tugas penting lain dalam menjaga anak adalah mendidiknya. Marilah kita memunculkan sebuah pertanyaan,” berapa banyak di antara kita yang percaya bahwa kita dapat mendidik anak kita dengan hasil memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 atau 9 tahun?” Jawabannya adalah Nol besar. Logika kita berkata, adalah tidak mungkin tugas mendidik anak kita dengan memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 tahun, lalu bagaimana mana mungkin kita percaya bahwa Aisyah telah dididik secara sempurna pada usia 7 tahun seperti diklaim sebagai usia pernikahannya?

    AbuBakr merupakan seorang yang jauh lebih bijaksana dari kita semua, Jadi dia akan merasa dalam hatinya bahwa Aisyah masih seorang anak-anak yang belum secara sempurna sebagaimana dinyatakan Qur’an. Abu Bakar tidak akan menikahkan Aisyah kepada seorangpun. Jika sebuah proposal pernikahan dari gadis belia dan belum terdidik secara memuaskan datang kepada Nabi, Beliau akan menolak dengan tegas karean itu menentang hukum-hukum Quran.

    Kesimpulan: Pernikahan Aisyah pada usia 7 tahun akan menentang hukum kedewasaan yang dinyatakan Quran. Oleh karean itu, Cerita pernikahan Aisyah gadis belia berusia 7 tahun adalah mitos semata.

    BUKTI #9: Ijin dalam pernikahan

    Seorang wanita harus ditanya dan diminta persetujuan agar pernikahan yang dia lakukan menjadi syah (Mishakat al Masabiah, translation by James Robson, Vol. I, p. 665). Secara Islami, persetujuan yang kredible dari seorang wanita merupakan syarat dasar bagi kesyahan sebuah pernikahan.

    Dengan mengembangkan kondisi logis ini, persetujuan yang diberikan oleh gadis belum dewasa berusia 7 tahun tidak dapat diautorisasi sebagai validitas sebuah pernikahan.

    Adalah tidak terbayangkan bahwa AbuBakr, seorang laki-laki yang cerdas, akan berpikir dan mananggapi secara keras ttg persetujuan pernikahan gadis 7 tahun (anaknya sendiri) dengan seorang laki-laki berusia 50 tahun.

    Serupa dengan ini, Nabi tidak mungkin menerima persetujuan dari seorang gadis yang menurut hadith dari Muslim, masih suka bermain-main dengan bonekanya ketika berumah tangga dengan Rasulullah. kesimpulan: Rasulullah tidak menikahi gadis berusia 7 tahun karena akan tidak memenuhi syarat dasar sebuah pernikahan islami ttg klausa persetujuan dari pihak isteri. Oleh karean itu, hanya ada satu kemungkinan Nabi menikahi Aisyah seorang wanita yang dewasa secara intelektual maupun fisik.

    SUMMARY:

    Tidak ada tradisi Arab untuk menikahkan anak perempuan atau laki-laki yang berusia 9 tahun, Demikian juga tidak ada pernikahan Rasulullah saw dan Aisyah ketika berusia 9 tahun. Orang-orang arab tidak pernha keberatan dengan pernikahan seperti ini, karean ini tak pernah terjadi sebagaimana isi beberapa riwayat.

    Jelas nyata, riwayat pernikahan Aisyah pada usia 9 tahun oleh Hisham ibn `Urwah tidak bisa dianggap sebagai kebenaran, dan kontradisksi dengan riwayat-riwayat lain. Lebih jauh, tidak ada alasan yang nyata untuk menerima riwayat Hisham ibn `Urwah sebagai kebenaran ketika para pakar lain, termasuk Malik ibn Anas, melihat riwayat Hisham ibn `Urwah selama di Iraq adalah tidak reliable. Pernyataan dari Tabari, Bukhari dan Muslim menunjukkan mereka kontradiksi satu sama lain mengenai usia menikah bagi Aisyah. Lebih jauh, beberapa pakar periwayat mengalami internal kontradiksi dengan riwayat-riwayatnya sendiri. Jadi, riwayat usia Aisyah 9 tahun ketika menikah adalah tidak reliable karean adanya kontradiksi yang nyata pada catatan klasik dari pakar sejarah Islam.

    Oleh karean itu, tidak ada alasan absolut untuk menerima dan mempercayai usia Aisyah 9 tahun ketika menikah sebagai sebuah kebenaran disebabkan cukup banyak latar belakang untuk menolak riwayat tsb dan lebih layak disebut sebagai mitos semata. Lebih jauh, Qur’an menolak pernikahan gadis dan lelaki yang belum dewasa sebagaimana tidak layak membebankan kepada mereka tanggung jawab-tanggung jawab.

    ***

    Diterjemahkan oleh : cahyo_prihartono@…

     
  • erva kurniawan 9:50 am on 7 February 2019 Permalink | Balas  

    Siapakah Sebenarnya Yang Lebih Pandai? 

    Siapakah Sebenarnya Yang Lebih Pandai?

    Ada seorang laki-laki yang sedang memangkaskan rambutnya di sebuah rumah pangkas yang letaknya tak jauh dari kantornya. Dari dinding kaca mereka melihat seorang anak kecil gelandangan yang sedang bermain berlompat-lompatan, berlari-larian di halaman perpakiran, persis di depan mereka.

    “Itu Fulan, dia anak paling bodoh sedunia,” kata si pemangkas sambil terus bekerja.

    “Apa iya?” Tanya laki-laki yang tampak perlente itu.

    “Lihat saja, kalau tidak percaya….saya buktikan!”

    Lalu si pemangkas rambut itu memanggil Fulan. Kemudian ia mengambil uang dari saku kemejanya. Selembar uang 1.000-an dan selembar 5.000-an, dan menyodorkannya ke Fulan.

    “Ayo, kamu boleh ambil salah satu uang ini. Terserah kamu pilih yang mana.”

    Dengan cepat Fulan mengambil lembaran uang 1.000-an. Si pemangkas dengan perasaan benar dan menang kembali melakukan kerjanya dan berkata : “Benar kan, yang saya katakan tadi. Fulan itu anak paling bodoh yang pernah saya temui. Sudah tak terhitung berapa kali saja, saya melakukan tes seperti itu, dan ia selalu mengambil uang yang nilainya kecil.”

    Setelah laki-laki itu selesai memangkaskan rambutnya, dalam perjalanan menuju kantornya ia bertemu dengan Fulan. Merasa penasaran dengan apa yang ia lihat sebelumnya, iapun memanggil Fulan lalu bertanya : “Fulan, mengapa tadi waktu Pak Pemangkas menawarkan lembaran 1.000-an dan 5.000-an, saya lihat kamu mengambil yang 1.000-an bukan yang 5.000-an? 5.000-an kan nilainya lebih besar, lima kali lipat dari yang 1.000-an?”

    Fulan memandang wajah laki-laki itu seperti menyelidik, Fulan tampak ragu-ragu untuk mengatakannya. “Ayo beritahu saya , mengapa kamu ambil yang 1.000-an?” Desak laki-laki itu sambil tersenyum.

    Akhirnya Fulan berkata : ” Kalau saya ambil yang 5.000-an, berarti permainannya akan selesai….”

    Kata sebuah ungkapan : Jangan menilai sebuah buku dari sampulnya. Kisah di atas mungkin tidak sesuai dengan apa yang kita pikirkan, tapi setidaknya jangan menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya. Penampilan terkadang menipu.

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 3 February 2019 Permalink | Balas  

    Doa Malam yang Mustajab 

    Doa Malam yang Mustajab

    Oleh : Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu*

    Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa bangun pada malam hari dan berkata, “Laa ilaHa illallaHu wahdaHu laa syariikalaH, laHul mulku wa laHul hamdu, yuhyii wa yumiitu biyadiHil khairu, wa Huwa “alaa kulli syai-in qadiir, subhaanallaH wal hamdulillaH wa laa ilaHa illallaHu wallaHu akbar, wa laa haula wa laa quwwata illa billaH”

    [Tiada ilah kecuali Allah satu- satunya tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nyalah seluruh kerajaan dan seluruh pujian. Dia menghidupkan dan mematikan dengan di tangan-Nyalah segala kebaikan, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada ilah kecuali Allah dan Allah Maha Besar. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah]

    kemudian dia berkata,

    “Allahummaghfirlii” [Ya Allah ampunilah aku]

    atau dia berdoa, maka akan dikabulkan doanya. Dan jika dia bangun lalu shalat maka diterimalah shalatnya” (HR. Bukhari 1/387 dan Abu Dawud 4/314)

    Aku telah membaca doa ini agar aku sembuh dari sakit kemudian Allah SWT menyembuhkanku. Dan aku membacanya agar pekerjaan-pekerjaan yang melelahkan menjadi mudah, kemudian Allah memudahkannya untukku.

    Aku menasehatkan kepada seluruh kaum muslimin yang sedang mengalami kesulitan, terutama saudara-saudaraku di Palestina, Afghanistan dan di negeri-negeri muslim lainnya, agar mereka berserah diri kepada Allah SWT saja dan membaca doa ini, dibarengi dengan usaha sebagai perantara seperti mempersiapkan diri untuk berjihad dengan harta dan senjata.

    Dan juga kepada saudara-saudaraku sesama muslim di seluruh dunia agar mereka mendoakan saudara-saudara kita sesama muslim yang terusir dari kampung halaman mereka, semoga Allah menolong dan menguatkan mereka serta mengembalikan mereka ke negeri mereka yang semula, terutama saudara-saudara kita di Palestina.

    Sebab doa seorang muslim kepada saudaranya secara diam-diam adalah termasuk doa yang mustajab sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda” ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata “aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan” (Kitab Shahih Muslim no. 2733), terutama doa yang penuh berkah di atas yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan yang telah mendatangkan manfaat bagi banyak orang.

    Semoga Bermanfaat

    *Beliau Murid Syaikh Albani

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 2 February 2019 Permalink | Balas  

    Masjid Qiblatain Masjid Berkiblat Dua 

    Masjid Qiblatain Masjid Berkiblat Dua

    Sebuah peristiwa penting berupa perpindahan arah kiblat dialami Rasulullah SAW dan para sehabat daat sedang melakukan shalat dzuhur berjamaah di Masjid Qiblatain. Itulah mengapa masjid ini dinamai Qiblatain yang berarti dua kiblat.

    Syahdan ketika Rasulullah SAW sedang melakukan salat dzuhur (riwayat lain menyebutkan salat ashar) berjamaah di Masjid Qiblatain, mendadak turun wahyu (Q.S. Al-Bagarah:114) yang memerintahkan mengubah arah kiblat dari Masjidil Aqsa di Palestina (utara) ke Ka’bah di Masjidil Haram di Mekkah (selatan).

    “Sungguh Kami melihat mukamu, menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Al Kitab memang mengetahui, bahwu berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”

    Padahal, ketika turun wahyu tersebut shalat telah berlangsung dua rakaat. Maka begitu mendengar wahyu tersebut, serta merta Rasulullah SAW dan para shahabat langsung memindahkan arah kiblatnya atau memutar arah 180 derajat. Dan peristiwa perpindahan kiblat itu dilakukan sama sekali tanpa membatalkan shalat. Juga tidak dengan mengulangi shalat dua rakaat sebelumnya. Ayat itu sendiri adalah ayat yang diturunkan kepada Rasulullah SAW yang telah lama mengharapkan dipindahkannya kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram.

    Peristiwa yang terjadi pada bulan Rajah 12 H itulah yang menjadi cikal bakal pemberian nama Masjid Qiblatain yang berarti dua kiblat. Sebelum dinamai Qiblatain karena perubahan arah kiblat itu, masjid yang terletak di atas bukit kecil di utara Harrah Wabrah, Madinah, itu bernama Masjid Bani Salamah.

    Tadinya di dekat Masjid Qiblatain ada telaga yang diberi nama Sumur Raumah, sebuah sumber air milik orang Yahudi. Mengingat pentingnya air untuk masjid, maka atas anjuran Rasulullah SAW, Usman bin Affan kemudian menebus telaga tersebut seharga 20 ribu dirham dan menjadikannya sebagai wakaf. Air telaga tersebut hingga sekarang masih berfungsi untuk bersuci dan mengairi taman di sekeliling masjid, serta kebutuhan minum penduduk sekitar. Hanya bentuk fisiknya sudah tidak kelihatan, karena ditutup dengan tembok.

    Dalam perkembangannya, pemugaran Masjid Qiblatain terus-menerus dilakukan, sejak zaman Umayyah, Abbasiyah, Utsmani, hingga zaman pemerintahan Arab Saudi sekarang ini. Pada pemugaran-pemugaran terdahulu, tanda kiblat pertama masih jelas kelihatan. Di situ diterakan bunyi QS. AlBaqarah: 114, ditambah larangan bagi siapa saja yang shalat agar tidak menggunakan kiblat lama itu.

    Berziarah ke Masjid Qiblatain mengandung banyak hikmah. Selain ibadah shalat wajib dan sunat di sana, jamaah dapat juga memetik ibrah (suri teladan) dari para pejuang Islam periode awal (as-sabiqunal awwalun) yang begitu gigih menyebarkan risalah Islamiyah, melaksanakan perintah Allah SWT baik dalam segi ibadah mahdlab (ritual), seperti berjamaah, mengganti kiblat, dan menyucikan diri, maupun dalam segi ibadah ghair mahdlah (sosial) seperti menyisihkan harta untuk kepentingan umat, untuk memugar masjid dan lain sebagainya.

    Bila mengacu pada peristiwa di atas, maka kita perlu memberitahukan arah kiblat yang sebenarnya meski kepada orang yang sedang shalat. Dan baginya boleh merubah atau membetulkan arah posisi kiblat meski dalam shalat, tanpa perlu mengulangi rakaat yang salah arahnya. TC Nar

    Sumber: Majalah Travel Club

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 1 February 2019 Permalink | Balas  

    Kejamnya Waktu Subuh 

    Kejamnya Waktu Subuh

    Saudaraku…

    Saya yakin di antara kita sudah mengetahui keistimewaan waktu Subuh. Hari ini ada baiknya kita melihat waktu Subuh dengan kacamata yang lain, yaitu dari bahaya waktu Subuh bila kita tidak dapat memanfaatkannya.

    Allah bersumpah dalam Al Fajr : “Demi fajar (waktu subuh)”.

    Kemudian dalam Al Falaq, Allah mengingatkan: “Katakanlah! Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh”.

    Ada apa di balik waktu Subuh? Mengapa Allah bersumpah demi waktu Subuh? Mengapa harus berlindung kepada yang menguasai waktu Subuh? Apakah waktu Subuh sangat berbahaya? Ya, ternyata waktu Subuh benar-benar sangat berbahaya! Waktu Subuh lebih kejam dari sekawanan perampok bersenjata api.

    Waktu Subuh lebih menyengsarakan dari derita kemiskinan.

    Jika ada sekawanan perampok menyatroni rumah kita, dan mengambil paksa semua barang kita: uang dan semua perhiasan emas digondolnya. Uang cash puluhan juta ditilepnya. Laptop, yang berisi data-data penting kita juga diembatnya. Eh, mobil yang belum lunas juga diembatnya dan rumah kita dibakarnya. Bagaimana rasa pedih hati kita menerima kenyataan ini?

    Ketahuilah, bahwa waktu Subuh lebih kejam dari perampok itu.  Karena jika kita tergilas sang waktu Subuh sampai melalaikan shalat fajar, maka kita akan menderita kerugian lebih besar dari sekedar kehilangan seluruh harta kita. Kita kehilangan dunia dan segala isinya. Ingat sabda Rasulullah Shallallahu  alaihi wasallam : “Dua rakaat fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya” (HR Muslim).

    Waktu Subuh juga lebih menyengsarakan dari sekedar kemiskinan dunia. Karena bagi orang2 yang tergilas waktu Subuh hingga mengabaikan shalat Subuh berjamaah di masjid, maka hakikatnya, merekalah orang2 miskin sejati yang hanya mendapatkan upah 1/150 (0,7%) saja pahala shalatnya.

    “…dan barangsiapa yang shalat Subuh berjamaah, maka ia bagaikan shalat semalam suntuk” (HR Muslim).

    Shalat semalam suntuk adalah shalat yang dikerjakan mulai dari tenggelamnya matahari sampai terbit fajar. Fantastis!

    Shalat selama sepuluh jam, atau kurang lebih 150 kali shalat! Betapa agung fadhilah shalat Subuh berjamaah ini. Sebaliknya betapa malangnya orang yang tergilas waktu Subuh, orang2 yang mengabaikan shalat subuh berjamaah di masjid.

    Waktu Subuh juga lebih berbahaya dari kobaran api yang disiram bensin.

    Mengapa demikian? Tahukah Anda bahwa Nabi Muhammad Shalallhu alaihi wassalam  menyetarakan dengan orang Munafik bagi yang tidak mampu melaksanakan shalat Subuh berjamaah di mesjid ?

    Rasulullah Shalallhu alaihi wassalam bersabda : “Sesungguhnya tiada yang dirasa berat oleh seorang Munafik, kecuali melaksanakan shalat Isya dan shalat Subuh berjamaah. Sekiranya mereka tahu akan keagungan pahalanya, niscaya mereka bakal mendatanginya (ke masjid, shalat berjamaah) sekalipun harus berjalan merangkak-rangkak” (HR Bukhari Muslim).

    Agar tidak merasakan gilasan waktu Subuh yang lebih kejam dari perampokan, agar tidak terkena gilasan waktu Subuh yang lebih menyengsarakan dari derita kemiskinan, dan panasnya kobaran api, maka: “Katakanlah! Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh.” (Al Falaq:1).

    Yaitu dengan bersegera memanfaatkan waktu Subuh sebaik-baiknya. Lakukan shalat sunnah qabliyah Shubuh (shalat fajar) dan shalat Shubuh berjamaah di masjid – bagi pria, di rumah – bagi wanita di awal waktu setelah azan berkumandang.

    Ayo jadi pejuang shubuh…!!!

    Barakallah…

    ***

    Kiriman Sahabat

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: