Updates from Januari, 2013 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:32 am on 31 January 2013 Permalink | Balas  

    Bila Diri Sempit Hati 

    Bila Diri Sempit Hati

    Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

    Saudaraku, semoga Allah senantiasa memberikan kepada kita hati yang lapang, jernih, karena ternyata berat sekali menghadapi hidup dengan hati yang sempit.

    Hati yang lapang dapat diibaratkan sebuah lapangan yang luas membentang, walaupun ada anjing, ular, kaajengking, dan ada aneka binatang buas lainnya, pastilah lapangan akan tetap luas.

    Aneka binatang buas yang ada malah semakin nampak kecil dibandingkan luas lapangan.

    Sebaliknya, hati yang sempit dapat diibaratkan ketika kita berada di sebuah kamar mandi yang sempit, baru berdua dengan tikus saja, pasti jadi masalah.

    Belum lagi jika dimasukan anjing, singa atau harimau yang sedang lapar, pastikanlah akan bermasalah lagi.

    Entah mengapa kita sering terjebak dalam pikiran yang membuat hari-hari kita menjadi hari-hari yang tidak nyaman, dan membuat pikiran kita jadi keruh, penuh rencana-rencana buruk.

    Waktu demi waktu yang dilalui seringkali diwarnai kondisi hati yang mendidih, bergolak, penuh ketidaksukaan, terkadang kebencian.

    Bahkan lagi dendam kesumat, capek rasanya, jelang tidur, otak berpikir keras menyusun rencana bagaimana memuntahkan kebencian dan kedendaman yang ada dilubuk hatinya agar habis tandas terpuaskan kepada yang dibencinya.

    Hari-harinya adalah hari uring-uringan makan tak enal, tidur tak nyenyak dikarenakan seluruh kosentrasi dan energinya difokuskan untuk memuaskan rasa bencinya ini.

    Saudaraku, sungguh alangkah menderitanya orang-orang yang disiksa oleh kesempitan hati.

    Dia kan mudah sekali tersinggung, dan jika sudah tersinggung seakan-akan tidak termaafkan, kecuali sudah terpuaskan dengan melihat orang yang menyinggungnya menderita, sengsara, atau tidak berdaya.

    Seringkali kita mendengar cerita orang-orang yang dililit derita akibat rasa bencinya.

    Padahal ternyata yang dicontohkan para rasul, dan nabi serta para ulama yang ikhlas, orang-orang yang berjiwa besar, bukanlah mencontohkan dendam, membenci atau busuk hati.

    Mereka justru contoh pribadi-pribadi yang kokoh bagai tembok tegar, sama sekali tidak terpancing oleh caci maki, cemooh, benci, dendam, dan perilaku-perilaku rendah lainnya.

    Sungguh pribadinya, bagai pohon yang akarnya menghujam ke dalam tanah, begitu kokoh dan kuat, hingga diterpa badai dan diterjang topan sekalipun tetap mantap tidak bergeming. Wallahu a’lam.

     
  • erva kurniawan 9:55 am on 30 January 2013 Permalink | Balas  

    Balasan Dari Jenis Amal 

    Balasan Dari Jenis Amal

    Dari Abdurrahman As-Sulamy, dia berkata, “Aku masuk masjid, dan pada waktu yang sama Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berada diatas mimbar. Dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah mewahyukan kepada salah seorang dari para nabi Bani Israel: Katakanlah kepada orang-orang yang taat kepada-Ku dari umatmu, `Janganlah mereka mengandalkan amal mereka, karena Aku tidak menggerakkan seseorang pada hari Kiamat saat hisab, kemudian Aku berkeinginan untuk mengazabnya melainkan Aku pun mengazabnya’. Katakan kepada orang-orang yang durhaka kepada-Kudari umat- mu, `Janganlah mereka putus asa, karena Aku mengampuni dosa-dosa besar, dan Aku tidak peduli. Tidak ada diantara penduduk kampung, tidak pula penduduk kota, dan tidak pula penduduk bumi, tidak pula orang khusus dan seorang wanita berada pada apa yang Kucintai, sehingga Aku pun berada pada apa yang dicintainya, kemudian dia beralih dari apa yang Kucintai kepada apa yang Kubenci, melainkan Aku juga beralih dari apa yang dicintainya kepada apa yang dibencinya. Sesungguhnya tidak ada dari penduduk kota, tidak pula penduduk bumi, laki-laki khusus maupun wanita, yang berada pada apa yang Kubenci, kemudian dia beralih dari apa-apa yang Kubenci kepada apa yang Kucintai, melainkan Aku juga beralih dari apa yang dibencinya kepada apa yang dicintainya’. Bukan termasuk golongan orang yang meramalkan keburukan atau meminta agar diramalkan baginya. Aku dengan akhlakku adalah bagiku.” (Diriwayatkan Ath- Thabrani di dalam Al-Ausath, di dalamnya ada Isa bin Muslim Ath Thahawy, yang menurut Abu Zar’ah, dia adalah lemah, sedangkan rijal yang lainnya tsiqat. Majma Az-Zawa’id, 1/307)

    Mengkhawatirkan Amal lebih Berat daripada Amal itu Sendiri

    Diriwayatkan dari Abud-Darda’, dari Rasulullah SAW beliau bersabda, “Sesungguhnya mengkhawatirkan amal lebih berat daripada amal itu sendiri. Sesungguhnya seseorang benar-benar mengerjakan amal lalu ditetapkan baginya amal orang lain yang shalih yang dikerjakannya secara sembunyi-sembunyi, yang pahalanya dilipatgandakan tujuh pluh kali. Lalu syetan senantiasa menghampirinya hingga dia menceritakan amalnya kepada manusia dan dia suka dirinya disebut-sebut dan dipuji karena amalnya itu, sehingga amalnya ditetapkan sebagai amal yang dilakukan secara terang-terangan dan sebagai perbuatan riya’. Hendaklah seseorang yang menjaga agamanya, takut kepada Allah dan seseungguhnya riya’ itu merupakan syirik.” (Diriwayatkan Al-Baihaqi. Menurut Al-Hafizh Abdul-Azhim, hadits ini mauquf. At-Targhib, 1/3).

    Orang yang Beramal untuk Mencari Ketenaran

    Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat ialah seseorang yang mati syahid. Dia didatangkan lalu diperkenalkan nikmat- nikmatnya dan dia pun mengenalinya. Allah bertanya, `Apa yang kamu kerjakan didunia?’ Dia menjawab, `Aku berperang karena-Mu hingga aku mati syahid’. Allah berfirman, “Kamu dusta, tapi kamu berperang agar dikatakan, `Dia adalah seorang pemberani’. Maka memang begitulah yang dikatakan. Kemudian Allah memerintahkan kepadanya agar dia ditelungkupkan wajahnya hingga dia dilemparkan ke neraka. Dan, seseorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkan serta membaca Al- Qur’an, dia didatangkan lalu diperkenalkan nikmat-nikmatnya sehingga diapun mengenalinya. Allah berfirman, `Apa yang kamu amalkan di bumi?’ Dia menjawab, `Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an karena-Mu’. Allah berfirman, `Kamu dusta. Tapi kamu mempelajari ilmu agar engkau dikatakan orang yang berilmu, dan kamu membaca Al-Qur’an agar kamu dikatakan, `Dia adalah qari’, dan memang begitulah yang dikatakan. Kemudian Allah memerintahkan kepadanya hingga dia ditelungkupkan pada wajahnya hingga dia dilemparkan ke neraka. Dan seseorang yang diberi kelapangan oleh Allah dan diberi-Nya berbagai macam harta, semuanya. Lalu dia didatangkan, lalu diperkenalkan nikmat-bnikmatnya kepadanya sehingga diapun mengenalinya. Allah berfirman, `Apa yang kamu kerjakan di dunia?’ Dia menjawab, `Aku tidak meninggalkan satu jalanpun yang Engkau suka jika di keluarkan shadaqah padanya, melainkan aku mengeluarkan shadaqah padanya karena-Mu’. Allah berfirman, `Kamu dusta’. tapi kamu mengerjakannya agar dikatakan, `Dia adalah orang yang dermawan’, dan memang begitulah yang dikatakan’. Kemudian Allah memerintahkannya hingga dia ditelungkupkan pada wajahnya kemudian dia dilemparkan ke neraka.” (Diriwayatkan Muslim, At-Tirmidzi dan An- Nasa’i).[*]

    ***

    die *Khutbah-Khutbah Rasulullahh* Muhammad Khalil Al-Khatib

    Abu Luthfia

     
    • Faizah 1:16 pm on 6 Februari 2013 Permalink

      Saya cukup meminati artikel2 yang dilakarkan, dimana banyak nasihat dan peringatan2 yang perlu kita amalkan dalam kehidupan kita seharian. Artikel2 seperti di atas adalah satu-satu artikel yang paling saya
      Minati. Teruskan usaha anda, kerana artikel2 seperti sangat diperlukan oleh kita. Terima kasih kerana menggerakkan hati dan minat saya terhadap artikel2 seperti ini.

  • erva kurniawan 1:49 am on 29 January 2013 Permalink | Balas  

    Beristirahat Akan Sangat Membantu Kelanjutan Perjalanan 

    Beristirahat Akan Sangat Membantu Kelanjutan Perjalanan

    Dalam syariah jelas sekali, ada kebebasan yang membantu seseorang  untuk meningkatkan kualitasnya dalam beribadah, dalam berimfak dan  dalam beramal shaleh. Rasulullah SAW sendiri biasa tertawa,  bercanda, dan tidak berbicara kecuali yang perlu-perlu saja.

    “Dan bahwasannya Dialah yang membuat manusia tertawa dan menangis.”  (QS. An-Najm: 43)

    Beliau pernah mengajak `Aisyah balapan lari, dan selalu bijaksana  mempertimbangkan kapan harus memberi nasihat kepada para shahabatnya  semata-mata untuk menghindarkan kebosanan pada diri mereka.  Rasulullah juga melarang sesuatu yang dibuat-buat, terlalu mendalam,  dan menyulitkan diri sendiri. Beliau pernah mengabarkan bahwa orang  yang mempersulit dirinya dalam menjalankan agama maka agama akan  benar-benar mempersulitnya. Dalam sebuah hadits juga disebutkan  bahwa agama ini sangat kuat dan tegas maka perlakukanlah dia dengan  lembut. Dalam hadits yang lain juga disebutkan bahwa setiap hamba  itu memiliki vitalitasnya masing-masing yakni kekuatan, ketegasan,  dan kemampuan untuk menolak. Seseorang yang terlalu memaksakan diri  untuk melakukan yang terlalu berat akan hancur. Sebab dia hanya  melihat pada kondisi sekarang saja, tanpa memperhatikan apa saja  yang bisa terjadi secara tiba-tiba, berapa lamanya, dan sampai  dimana kebosanan itu karena selalu tertekan. Orang yang berpikir  akan menyadari bahwa dirinya memiliki batas minimal kemampuan untuk  menyelesaikan pekerjaannya secara marathon. Ketika suatu saat sedang  bersemangat maka dia akan menambah volume pekerjaan yang  diselesaikannya, dan ketika suatu saat sedang tidak bersemangat maka  dia akan bekerja dengan kemampuan minimalnya. Inilah makna dari  atsar shahabat: Jiwa itu memiliki kemampuan untuk maju dan untuk  mundur. Maka pergunakanlah kemampuan itu sebaik-baiknya tatkala  sedang maju, dan tinggalkanlah dia saat sedang mundur.

    Sejauh pengamatan saya, orang yang memaksakan diri untuk menambah  berat timbangan amalnya, terlalu banyak melakukan yang nafilah, dan  nekad melakukan amalan diluar batas kemampuannya, justru akan  terputus dari amalan itu dan kembali melemah, bahkan jauh lebih  lemah dari sebelumnya.

    Agama pada dasarnya, datang untuk membahagiakan umat manusia.

    “Kami tidak menurunkan al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi  susah.” (QS. Thaha: 2)

    Allah menghinakan orang-orang yang membebani diri mereka dengan  sesuatu yang diluar batas kemampuannya, yang akhirnya harus menarik  diri dari dunia nyata dengan melanggar apa yang telah mereka  komitmenkan terhadap diri mereka sendiri.

    “Dan, mereka mengada-ngadakan rahbaniyah, padahal Kami tidak  mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada- ngadakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak  memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya.” (QS. Al-Hadid:  27)

    Kelebihan Islam dibandingkan gama-agama lain didunia adalah bahwa  Islam itu agama fitrah, agama yang bersahaja, agama yang  memperhatikan sukma dan raga, dunia dan akhirat, dan agama yang  mudah.

    “(Itulah) agama yang lurus.” (QS. Ar-Rum: 30)

    Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri: “Ada seorang Arab Badui datang  kepada Rasulullah dan bertanya, `Wahai Rasulullah, siapakah orang  yang paling baik?’ Rasulullah menjawab, `Seorang mukmin yang  berjihad di jalan Allah dengan jiwa dan hartanya, kermudian seeorang  yang mengasingkan diri di sebuah lembah untuk menyembah Rabbnya’.”  Dalam riwayat lain juga ditambahkan: “…, dan bertakwa kepada Allah,  serta meninggalkan manusia dari kejahatannya.”

    Masih dari Abu Said al-Khudri: “Saya mendengar Rasulullah  bersabda, `Hampir tiba masanya di mana sebaik-baik harta seorang  muslim adalah seekor domba yang menyusuri lereng-lereng gunung dan  di tempat mengembara (desa) karena melarikan diri membawa agamanya  untuk menjauhi fitnah’.” (HR. Bukhari)

    Umar bin Al-Khaththab pernah berkata, “Menyendirilah sewajarnya.”

    Sangat bagus pesan yang disampaikan oleh Junaid al- Baghdadi. “Menguat-nguatkan diri untuk ber’uzlah itu jauh lebih  mudah daripada harus memaksakan diri untuk bergaul dengan banyak  orang.”

    Al-Khaththabi mengatakan, “Seandainya manfaat ber’uzlah itu hanyalah  menghindarkan diri dari kebiasaan ghibah dan dari kebiasaan melihat  kemungkaran yang tidak mampu dia hilangkan, maka itu sudah merupakan  sesuatu kebaikan yang besar.”

    Ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan Hakim dari Abu Dzar  secara marfu’ dengan sanad hasan: “Menyendiri itu lebih baik  daripada duduk dengan teman yang buruk budi pekertinya.”

    Al-Khaththabi menyebutkan dalam bukunya al-`Uzlah bahwa ber’uzlah  dan bergaul itu berbeda seiring dengan keadaan seseorang. Dalil- dalil yang diturunkan menyuruh untuk bergaul dengan orang lain  karena itu berkaitan dengan ketaatan kepada para pemimpin dan untuk  mengkaji masalah-masalah agama. Untuk pergaulan-pergaulan yang lain,  bagi yang sudah mempunyai penghidupan yang cukup dan kemampuan untuk  menjaga agamanya, maka lebih baik untuk mengurangi kegiatan itu  dengan tidak mempengaruhi kewajibannya untuk bershalat jamaah,  menjawab salam, menengok orang sakit, menghadiri pemakaman, dan lain  sebagainya.. Maksud mengurangi disini adalah mengurangi kontak  sosial yang berlebihan karena itu hanya akan membuat hati tidak  tenang dan waktu yang seharusnya untuk melakukan hal-hal yang lebih  penting terbuang sia-sia. Bergaul dengan orang lain tak ubahnya  kebutuhan tubuh terhadap makan dan minum. Artinya, dalam menghadapi  makanan dan minuman itu, seseorang harus bisa mendahulukan mana yang  dibutuhkan dan mana yang tidak, karena yang demikian itu lebih  bersih untuk tubuh dan hati.

    Al-Qusyairi dalam ar-Risalah mengatakan bahwa alasan orang memilih  ber’uzlah adalah untuk menghindarkan orang lain dari kemungkinan  kejahatan yang ia lakukan, bukan sebaliknya: menghindarkan dirinya  dari kemungkinan kejahatan yang dilakukan orang lain. Alasan  pertama, menghindarkan diri dari sikap merendahkan diri, karena itu  merupakan sifat orang yang merendahkan diri. Sedangkan alasan kedua,  karena keyakinan bahwa dirinya lebih baik dari orang lain, yang  merupakan sifat orang yang sombong.

    Dalam masalah `uzlah , orang digolongkan menjadi tiga: dua golongan  ekstri dan satu golongan lagi moderat.

    Pertama, orang yang menjauh dari masyarakat sampai pada shalat  jum’at, shalat jama’ah, shalat hari raya, dan kumpulan-kumpulan yang  bertujuan baik lainnya. Mereka ini salah.

    Kedua, orang yang bergaul dan berbaur dengan masyarakat sampai dalam  hal-hal yang diikuti syetan, yang mengandung ketidakbenaran, gossip,  dan tak membuang waktu percuma. Mereka juga salah.

    Sedangkan kelompok ketiga adalah orang yang bercampur dengan  masyarakat dalam ibadah-ibadah yang hanya bisa dilakukan secara  berjama’ah, melibatkan diri dalam kegiatan yang prinsipnya saling  tolong-menolong untuk kebaikan, ketakwaan, dan mendatangkan pahala  dan ganjaran. Selain itu juga, menjauhi kegiatan-kegiatan yang  menghalangi kedekatannya dengan Allah dan melakukan kemubahan yang  berlebihan.

    “Dan, demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat  yang adil dan pilihan.” (QS. Al-Baqarah: 143)[*]

    ***

    die *La Tahzan* DR. Aidh al-Qarni

    Abu Luthfia

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 28 January 2013 Permalink | Balas  

    Mimpi Bertemu Rasulullah SAW Sebelum Mati Syahid 

    Mimpi Bertemu Rasulullah SAW Sebelum Mati Syahid

    Abu Muslim Al-Turki, berasal dari Inggris. Syahid dalam sebuah pertempuran melawan tentara Kroasia di Bosnia pada tahun 1993, pada umur 51 tahun. Kisah dari orang pertama.

    Abu Muslim adalah seorang muslim keturunan Turki yang dibesarkan di Inggris. Sebelumnya ia menjalani hidupnya bagaikan seorang kafir. Ia menikahi seorang wanita non muslim, begitu pula ia tidak mengerjakan shalat dan menjalankan ibadah lainnya, sampai suatu hari Allah SWT memberikan petunjukNya untuk kembali ke jalan yang benar.

    Tak lama kemudian, Abu Muslim mendengar tentang situasi di Bosnia, dan berkata pada dirinya bahwa saya harus berangkat ke Bosnia, saya harus bertaubat pada Allah dan bertempur melawan pasukan Serbia, semoga dengan demikian Allah mengampuni semua yang telah saya lakukan di masa lampau.

    Ia tiba di Bosnia pada musim gugur 1992 dan mengikuti training pada sebuah kamp di Mehorich. Abu Muslim adalah orang yang paling tua di antara para mujahidin. Saat mujahidin melakukan lari pagi, mereka semua harus menggenggam sebuah senapan, kecuali Abu Muslim, karena usianya yang tua dan kepayahan fisiknya. Orang yang melihat matanya akan mendapatkan mata seorang yang benar dan jujur kepada Allah.

    Dalam sebuah operasi melawan pasukan Kroasia, Amir pasukan tidak memilihnya untuk ikut dalam operasi tersebut karena usianya yang tua. Namun Abu Muslim mulai menangis, meraung-meraung bagaikan seorang bayi hingga Amir pasukan terpaksa memasukkannya untuk ambil bagian dalam operasi tersebut.

    Dalam operasi tersebut Abu Muslim tertembak di lengannya hingga menghancurkan tulangnya dan sebatang logam harus ditanamkan di lengannya selama enam bulan. Abu Muslim rajin melatih lengannya, dan setelah 45 hari dokter mengatakan bahwa logam tersebut sudah dapat diambil dari tangannya. Semua orang terkejut mendengar kabar tersebut.

    Sebelum dilakukan sebuah operasi besar terhadap pasukan Kroasia, Abu Muslim mendapat mimpi, di mana ia melihat Rasulullah SAW dan mencium kakinya. Kemudian Rasulullah SAW berkata padanya,”Janganlah kau cium kakiku.” Kemudian Abu Muslim mencium tangan Rasulullah SAW, hingga Rasulullah berkata padanya,”Jangan kau cium tanganku.” Kemudian Rasulullah SAW bertanya padanya,”Apa yang kamu inginkan hai Abu Muslim?” Abu Muslim menjawab,” Ya Rasulullah, berdoalah pada Allah untukku, agar dalam operasi besok saya mati syahid.”

    Sebelum operasi tersebut dijalankan, Amir pasukan, yaitu Komandan Abul Haris memilih personil yang akan ambil bagian dalam operasi tersebut. Ia menolak Abu Muslim untuk ikut, karena masih terluka dan belum pulih.

    Seorang mujahid yang hadir saat itu berkata,” Aku bersumpah pada Allah bahwa Abu Muslim mulai menangis seperti bayi dan berkata pada Amir, ‘Takutlah pada Allah! Abul Haris, saya akan menuntutmu di hari Kiamat jika engkau tidak mengikutkanku dalam operasi ini.”

    Saat komandan Abul Haris menyuruhnya untuk tidak berteriak karena kuatir didengar musuh, Abu Muslim menjawab, ”Demi Allah, jika engkau tidak memilih saya dalam operasi ini Abul Haris, saya akan menangis keras hingga terdengar ke seluruh negeri.” Lalu ia berkata,”Ikutkan saya dalam operasi ini di mana saja, meskipun sebagai orang yang paling belakang, ikutkanlah saya dalam operasi ini.”

    Akhirnya Abu Muslim diikutkan dalam operasi ini di posisi belakang. Namun jalannya pertempuran berubah, hingga barisan belakang menjadi barisan depan (berhadapan dengan musuh – penerjemah) dan barisan depan menjadi barisan belakang. Abu Muslim menjadi mujahid kedua yang syahid dalam operasi itu oleh sebuah peluru yang mengenai dadanya.

    Tubuhnya baru dikembalikan oleh pasukan Kroasia setelah tiga bulan, bersama tubuh saudara senegaranya Daud al-Britany. Sebuah aroma wangi tercium dari tubuhnya yang tampak tidak berubah meskpun tiga bulan telah berlalu. Semua orang yang menyaksikannya mengatakan bahwa tubuhnya menjadi lebih tampan dan tampak lebih putih daripada ketika terakhir kalinya mereka melihat Abu Muslim.

    Seorang mujahid bertutur bahwa dari semua jenazah para syuhada yang pernah dilihatnya di Bosnia, tidak ada yang lebih tampan daripada jenazah Abu Muslim at-Turki.

    “Barangsiapa yang menderita suatu luka dalam jihad fi sabilillah, kelak ia akan datang pada hari kiamat, baunya seperti bau harum minyak kesturi, dan warnanya seperti warna za’faron, ada ada cap syuhada’ padanya. Barangsiapa yang meminta syahadah dengan tulus, maka Allah akan memberikan padanya pahala orang yang mati syahid meskipun ia meninggal di atas tempat tidurnya.“ (Hadits Riwayat Ibnu Hibban dan Al Hakim)

    ***

    Disadur dari : ebook Wakaf Kisah Nyata “Biografi dan Karomah Syuhada Jihad Bosnia”

    Silahkan download selengkapnya di abuhamdi.wordpress.com

     
    • what is the best time to try and get pregnant 1:57 am on 31 Januari 2013 Permalink

      I absolutely love your blog.. Pleasant colors & theme.
      Did you build this site yourself? Please reply back as
      I’m planning to create my very own site and want to find out where you got this from or what the theme is named. Thank you!

    • Lia Abduh 5:32 pm on 10 April 2013 Permalink

      Subhanallah*** indahnya mati syahid.

    • VAN roen 5:12 pm on 12 April 2013 Permalink

      Ya ALLAH YA RABB ku tanamkanlah api jihad kpd ENGKAU YANG MAHA SUCI dhati n jiwa hamba Mu yg hina ini sampai ajal menjemput

  • erva kurniawan 1:29 am on 27 January 2013 Permalink | Balas  

    Abraham David Mandey : Pendeta yang mendapat Hidayah Allah 

    Abraham David Mandey : Pendeta yang mendapat Hidayah Allah

    Barangkali tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa perjalanan hidupnya merupakan suatu kasus yang langka dan unik. Betapa tidak, Abraham David Mandey yang selama 12 tahun mengabdi di gereja sebagai “Pelayan Firman Tuhan “, istilah lain untuk sebutan pendeta, telah memilih Islam sebagai “jalan hidup” akhir dengan segala risiko dan konsekuensinya. Di samping itu, ia yang juga pernah menjadi perwira TNI-AD dengan pangkat mayor, harus mengikhlaskan diri melepas jabatan, dan memulai karir dari bawah lagi sebagai kepala keamanan di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. – Cerita Beliau ini, – mohon maaf – tidak bermaksud untuk menjelek-jelekan Institusi tertentu karena apa yang telah terjadi Beliau terima dengan ikhlas dan tawakal, Beliau hanya ingin menceritakan proses bagaimana Beliau mendapat hidayah dan tantangannya sebagai mualaf – red.

    Saya terlahir dengan nama Abraham David di Manado, 12 Februari 1942. Sedangkan, Mandey adalah nama fam (keluarga) kami sebagai orang Minahasa, Sulawesi Utara. Saya anak bungsu dan tiga bersaudara yang seluruhnya laki-laki. Keluarga kami termasuk keluarga terpandang, baik di lingkungan masyarakat maupun gereja. Maklum, ayah saya yang biasa kami panggil papi, adalah seorang pejabat Direktorat Agraria yang merangkap sebagai Bupati Sulawesi pada awal revolusi kemerdekaan Republik Indonesia yang berkedudukan di Makasar. Sedangkan, ibu yang biasa kami panggil mami, adalah seorang guru SMA di lingkungan sekolah milik gereja Minahasa.

    Sejak kecil saya kagum dengan pahlawan-pahlawan Perang Salib seperti Richard Lion Heart yang legendaris. Saya juga kagum kepada Jenderal Napoleon Bonaparte yang gagah perwira. Semua cerita tentang kepahlawanan, begitu membekas dalam batin saya sehingga saya sering berkhayal menjadi seorang tentara yang bertempur dengan gagah berani di medan laga.

    Singkatnya, saya berangkat ke Jakarta dan mendaftar ke Mabes ABRI. Tanpa menemui banyak kesulitan, saya dinyatakan lulus tes. Setelah itu, saya resmi mengikuti pendidikan dan tinggal di asrama. Tidak banyak yang dapat saya ceritakan dari pendidikan militer yang saya ikuti selama 2 tahun itu, kecuali bahwa disiplin ABRI dengan doktrin “Sapta Marga”-nya telah menempa jiwa saya sebagai perwira remaja yang tangguh, berdisiplin, dan siap melaksanakan tugas negara yang dibebankan kepada saya.

    Meskipun dipersiapkan sebagai perwira pada bagian pembinaan mental, tetapi dalam beberapa operasi tempur saya selalu dilibatkan. Pada saat-saat operasi pembersihan G-30S/PKI di Jakarta, saya ikut bergabung dalam komando yang dipimpin Kol. Sarwo Edhie Wibowo (almarhum).

    Setelah situasinegara pulih yang ditandai dengan lahirnya Orde Baru tahun 1966, oleh kesatuan saya ditugaskan belajar ke STT (Sekolah Tinggi Teologi) milik gereja Katolik yang terletak di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. Di STI ini, selama 5 tahun (1966-1972) saya belajar, mendalami, mengkaji, dan diskusi tentang berbagai hal yang diperlukan sebagai seorang pendeta. Di samping belajar sejarah dan filsafat agama Kristen. STT juga memberikan kajian tentang sejarah dan filsafat agama-agama di dumia, termasuk studi tentang Islam.

     

    Menjadi Pendeta.

    Sambil tetap aktif d TNI-AD, oleh Gereja Protestan Indonesia saya ditugaskan menjadi Pendeta II di Gereja P***** (edited) di Jakarta Pusat, bertetangga dengan Masjid Sunda Kelapa. Di gereja inilah, selama kurang lebih 12 tahun (1972-1984) saya memimpin sekitar 8000 jemaat yang hampir 80 persen adalah kaum intelektual atau masyarakat elit.

    Di Gereja P***** (edited) ini, saya tumpahkan seluruh pengabdian untuk pelayanan firman Tuhan. Tugas saya sebagai Pendeta II, selama memberikan khutbah, menyantuni jemaat yang perlu bantuan atau mendapat musibah, juga menikahkan pasangan muda-mudi yang akan berumah tangga.

    Kendati sebagai pendeta, saya juga anggota ABRI yang harus selalu siap ditugaskan di mana saja di wilayah Nusantara. Sebagai perwira ABRI saya sering bertugas ke seluruh pelosok tanah air Bahkan, ke luar negeri dalam rangka tugas belajar dari markas, seperti mengikuti kursus staf Royal Netherland Armed Forces di Negeri Belanda. Kemudian, pada tahun 1969 saya ditugaskan untuk mengikuti Orientasi Pendidikan Negara-negara Berkembang yang disponsoni oleh UNESCO di Paris, Prancis.

     

    Dilema Rumah Tangga

    Kesibukkan saya sebagai anggota ABRI ditambah tugas tugas gereja, membuat saya sibuk luar biasa. Sebagaipendeta, saya lebih banyak memberikan perhatian kepada jemaat. Sementara,kepentingan pribadi dan keluarga nyaris tergeser. Istri saya, yang putri mantan Duta Besar RI di salah satu negara Eropa, sering mengeluh dan menuntut agar saya memberikan perhatian yang lebih banyak buat rumah tangga.

    Tetapi yang namanya wanita, umumnya lebih banyak berbicara atas dasar perasaan. Karena melihat kesibukan saya yang tidak juga berkurang, ia bahkan meminta agar saya mengundurkan diri dan tugas-tugas gereja, dengan alasan supaya lebih banyak waktu untuk keluarga. Tenth saja saya tidak dapat menerima usulannya itu. Sebagai seorang “Pelayan Firman Tuhan” saya telah bersumpah bahwa kepentingan umat di atas segalanya.

    Problem keluarga yang terjadi sekitar tahun 1980 ini kian memanas, sehingga bak api dalam sekam. Kehidupan rumah tangga saya, tidak lagi harmonis. Masalah-masalah yang kecil dan sepele dapat memicu pertengkaran. Tidak ada lagi kedamaian di rumah. Saya sangat mengkhawatirkan Angelique, putri saya satu-satunya. Saya khawatir perkembangan jiwanya akan terganggu dengan masalah yang ditimbulkan kedua orang tuanya. Oleh karenanya, saya bertekad harus merangkul anak saya itu agar ia mau mengerti dengan posisi ayahnya sebagai pendeta yang bertugas melayani umat. Syukur, ia mau mengerti. Hanya Angeliquelah satu-satunya orang di rumah yang menyambut hangat setiap kepulangan saya.

    Dalam kesunyian malam saat bebas dan tugas-tugas gereja, saya sering merenungkan kehidupan ramah tangga saya sendiri. Saya sering berpikir, buat apa saya menjadi pendeta kalau tidak mampu memberikan kedamaian dan kebahagiaan buat rumah tangganya sendiri. Saya sering memberikan khutbah pada setiap kebaktian dan menekankan hendaknya setiap umat Kristen mampu memberikan kasih kepada sesama umat manusia. Lalu, bagaimana dengan saya?

    Pertanyaan-pertanyaan seperti itu semakin membuat batin saya resah. Saya mencoba untuk memperbaiki keadaan. Tetapi, semuanya sudah terlambat. Istri saya bahkan terang terangan tidak mendukung tugas-tugas saya sebagai pendeta. Saya benar-benar dilecehkan. Saya sudah sampal pada kesimpulan bahwa antara kami berdua sudah tidak sejalan lagi.

    Lalu, untuk apa mempertahankan rumah tangga yang sudah tidak saling sejalan? Ketika niat saya untuk “melepas” istri, saya sampaikan kepada sahabat-sahabat dekat saya sesama pendeta, mereka umumnya menyarankan agar saya bertindak lebih bijak. Mereka mengingatkan saya, bagaimana mungkin seorang pendeta yang sering menikahkan seseorang, tetapi ia sendiri justru menceraikan istrinya? Bagaimana dengan citra pendeta di mata umat? Begitu mereka mengingatkan.

    Apa yang mereka katakan semuanya benar. Tetapi, saya sudah tidak mampu lagi mempertahankan bahtera rumah tangga. Bagi saya yang terpenting saat itu bukan lagi persoalan menjaga citra pendeta. Tetapi, bagaimana agar batin saya dapat damai. Singkatnya, dengan berat hati saya terpaksa menceraikan istri saya. Dan, Angelique, putri saya satu-satunya memilih ikut bersama saya.

     

    Mencari Kedamaian

    Setelah kejadian itu, saya menjadi lebih banyak melakukan introspeksi. Saya menjadi lebih banyak membaca literatur tentang filsafat dan agama. Termasuk kajian tentang filsafat Islam, menjadi bahan yang paling saya sukai. Juga mengkaji pemikiran beberapa tokoh Islam yang banyak dilansir media massa.

    Salah satunya tentang komentar K.H. E.Z. Muttaqin (almarhum) terhadap krisis perang saudara di Timur Tengah, seperti diYerusalem dan Libanon. Waktu itu (tahun 1983), K.H.E.Z. Muttaqin mempertanyakan dalam khutbah Idul Fitrinya, mengapa Timur Tengah selalu menjadi ajang mesiu dan amarah, padahal di tempat itu diturunkan para nabi yang membawa agama wahyu dengan pesan kedamaian?

    Saya begitu tersentuh dengan ungkapan puitis kiai dan Jawa Barat itu. Sehingga, dalam salah satu khutbah saya di gereja, khutbah Idul Fitni K.H. E.Z. Muttaqin itu saya sampaikan kepada para jemaat kebaktian. Saya merasakan ada kekagetan di mata para jemaat. Saya maklum mereka terkejut karena baru pertama kali mereka mendengar khutbah dari seorang pendeta dengan menggunakan referensi seorang kiai Tetapi, bagi saya itu penting, karena pesan perdamaian yang disampaikan beliau amat manusiawi dan universal.

    Sejak khutbah yang kontroversial itu, saya banyak mendapat sorotan. Secara selentingan saya pemah mendengar “Pendeta Mandey telah miring.” Maksudnya, saya dinilai telah memihak kepada salah satu pihak. Tetapi, saya tidak peduli karena yang saya sampaikan adalah nilai-nilai kebenaran.

    Kekaguman saya pada konsep perdamaian Islam yank diangkat oleh KH. E.Z. Muttaqin, semakin menarik saya lebih kuat untuk mendalami konsepsi-konsepsi Islam lainnya. Saya ibarat membuka pintu, lalu masuk ke dalamnya, dan setelah masuk, saya ingin masuk lagi ke pintu yang lebih dalam. Begitulah perumpamaannya. Saya semakin “terseret” untuk mendalami, konsepsi Islam tentang ketuhanan dan peribadahan

    Saya begitu tertarik dengan konsepsi ketuhanan Islam yang disebut “tauhid”. Konsep itu begitu sederhana, lugas, dan tuntas dalam menjelaskan eksistensi Tuhan yang oleh orang Islam disebut Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga, orang yang paling awam sekalipun akan mampu mencemanya. Berbeda dengan konsepsi ketuhanan Kristen yang disebut Trinitas. Konsepsi ini begitu rumit, sehingga diperlukan argumentasi ilmiah untuk memahaminya.

    Akan halnya konsepsi peribadatan Islam yang disebut syariat, saya melihatnya begitu teratur dan sistematis. Saya berpikir seandainya sistemper ibadatan yang seperti ini benar benar diterapkan, maka dunia yang sedang kacau ini akan mampu di selamatkan.

    Pada tahun 1982 itulah saya benar-benar mencoba mendekati Islam. Selama satu setengah tahun saya melakukar konsultasi dengan K.H. Kosim Nurzeha yang juga aktif di Bintal (Pembinaan Mental) TNI-AD. Saya memang tidak ingin gegabah dan tergesa-gesa, karena di samping saya seorang pendeta, saya juga seorang perwira Bintal Kristen dilingkungan TNI-AD. Saya sudah dapat menduga apa yang akan terjadi seandainya saya masuk Islam.

    Tetapi, suara batin saya yang sedang mencari kebenaran dan kedamaian tidak dapat diajak berlama-lama dalam kebimbangan. Batin saya mendesak kuat agar saya segera meraih kebenaran yang sudah saya temukan itu.

    Oh, ya, di samping Pak Kosim Nurzeha, saya juga sering berkonsultasi dengan kolega saya di TNI-AD. Yaitu, Dra. Nasikhah M., seorang perwira Kowad (Korps.Wanita Angkatan Darat) yang bertugas pada BAIS (Badan Intelijen dan Strategi) ABRI.

    Ia seorang muslimah lulusan UGM (Universilas Gajah Mada) Yogyakarta, jurusan filsafat. Kepadanya saya sering berkonsultasi tentang masalah-masalah pribadi dan keluarga. Ia sering memberi saya buku-buku bacaan tentang pembinaan pribadi dan keluarga dalam Islam. Saya seperti menemukan pegangan dalam kegundahan sebagai duda yang gagal dalam membina rumah tangganya.

    Akhirnya, saya semakin yakin akan hikmah dibalik drama rumah tangga saya. Saya yakin bahwa dengari jalan itu, Tuhan ingin membimbing saya ke jalan yang lurus dan benar. Saya bertekad, apa pun yang terjadi saya tidak akan melepas kebenaran yang telah saya raih ini.

    Akhimya, dengan kepasrahan yang total kepada Tuhan, pada tanggal 4 Mei 1984 saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat dengan bimbingan Bapak K.H. Kosim Nurzeha dan saksi Drs. Farouq Nasution di Masjid Istiqial. Allahu Akbar. Hari itu adalah hari yang amat bersejarah dalam hidup saya. Han saat saya menemukan diri saya yang sejati.

     

    Menghadapi Teror

    Berita tentang keislaman saya ternyata amat mengejutkan kalangan gereja, termasuk di tempat kerja saya di TNI-AD. Wajar, karena saya adalah Kepala Bintal (Pembinaan Mental)Kristen TNI-AD dan di gereja, saya adalah pentolan.

    Sejak itu saya mulai memasuki pengalaman baru, yaitu menghadapi tenor dan berbagai pihak. Telepon yang bernada ancaman terus berdening. Bahkan, ada sekelompok pemuda gereja di Tanjung Priok yang bertekad menghabisi nyawa saya, karena dianggapnya telah murtad dan mempermalukan gereja.

    Akan halnya saya, di samping menghadapi teror, juga menghadapi persoalan yang menyangkut tugas saya di TNI AD. DGI (Dewan Gereja Indonesia), bahkan menginim surat ke Bintal TNT-AD, meminta agar saya dipecat dan kedinasan dijajaran ABRl dan agar saya mempertanggungjawabkan perbuatan saya itu di hadapan majelis gereja.

    Saya tidak penlu menjelaskan secara detail bagaimana proses selanjutnya, karena itu menyangkut rahasia Mabes ABRI. Yang jelas setelah itu, saya menerima surat ucapan tenima kasih atas tugas-tugas saya kepada negara, sekaligus pembebastugasan dan jabatan saya di jajaran TNT-AD dengan pangkat akhir Mayor.

    Tidak ada yang dapat saya ucapkan, kecuali tawakal dan ménerima dengan ikhlas semua yang tenjadi pada diri saya. Saya yakin ini ujian iman.

    Saya yang terlahir dengan nama Abraham David Mandey, setelah muslim menjadi Ahmad Dzulkiffi Mandey, mengalami ujian hidup yang cukup berat. Alhamdulillah, berkat kegigihan saya, akhirnya saya diterima bekerja di sebuab perusahaan swasta. Sedikit demi sedikit kanin saya terus menanjak. Setelah itu, beberapa kali saya pindah kerja dan menempati posisi yang cukup penting. Saya pennah menjadi Manajer Divisi Utama FT Putera Dharma. Pernah menjadi Personel/General Affairs Manager Hotel Horison, tahun 1986-1989, Dan, sejak tahun 1990 sampai sekarang saya bekerja di sebuah bank terama di Jakarta sebagai Safety & Security Coordinator.

    Kini, keadaan saya sudah relatif baik, dan saya sudah meraih semua kebahagiaan yang selama sekian tahun saya rindukan. Saya sudah tidak lagi sendiri, sebab Dra. Nasikhah M, perwira Kowad itu, kini menjadi pendamping saya yang setia, insya Allah selama hayat masih di kandung badan. Saya menikahinya tahun 1986. Dan, dan perikahan itu telah lahir seorarig gadis kedil yang manis dan lucu, namariya Achnasya. Sementara, Angelique, putri saya dari istri pertama, sampai hari ini tetap ikut bersama saya, meskipun ia masih tetap sebagai penganut Protestan yang taat.

    Kebahagiaan saya semakin bertambah lengkap, tatkala saya mendapat kesempatan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci bersama istri tercinta pada tahun 1989.

     
    • andreas 1:53 am on 19 Agustus 2013 Permalink

      Syalom,itu semua pilihan hati anda…
      semoga kehidupan anda lebih baik didalam pilihan anda pak…

      Yudas iskariot seorang murid dari Yesus juga dipilih oleh Yesus tetapi pada akhirnya dia meninggalkan Yesua dan berakhir didalam kematian kekal….

  • erva kurniawan 1:09 am on 26 January 2013 Permalink | Balas  

    Serba Tiga 

    Serba Tiga

    Didunia ini hanya ada tiga hari saja, yaitu : Pertama, hari kermarin yang telah lewat, maka tidak ada lagi kesempatan sedikitpun bagi kita untuk berbuat. Kedua, hari esok yang kita tidak dapat mengetahui apakah dapat menemui atau tidak. Ketiga, hari ini, disaat kita berada didalamnya.

    Didunia ini pun hanya ada tiga waktu, yaitu : Pertama, waktu yang telah lewat yang telah kita lalui bersama. Kedua, waktu yang belum dilalui, yang kita tidak mengetahui apakah dapat melalui atau tidak. Ketiga, waktu yang kita berada didalamnya

    Didunia ini juga hanya ada tiga nafas, yaitu : Pertama: nafas yang telah lewat yang kita telah menyelesaikan perbuatan dan pekerjaan didalamnya. Kedua, nafas yang belum sampai, apakah kita dapat memakai atau tidak. Ketiga, nafas yang kita sedang ada bersamanya.

    Oleh sebab itu, marilah dihari ini. Ketika waktu bersama dan nafas masih berada didalamnya, kita kerjakan amal saleh. Tinggalkan yang tak berguna. Jauhkan perbuatan dosa, agar dikemudian hari akhir tak akan ada penyesalan selamanya.

    Ada tiga orang tua kita, yaitu Pertama, orang tua yang menyebabkan kita dilahirkan(ibu dan bapak), Kedua, orang tua yang memberikan kesempatan kepada kita, mendapatkan pasangan(mertua). Ketiga, orang tua yang mengajarkan ilmu agama untuk menuju kebahagiaan dan keselamatan dunia akhirat (guru, ustad, kyai). Mereka adalah orang tua yang hakiki serta harus diutamakan.

    Ada tiga perkara yang tergolong musibah yang membinasakan :Pertama, penguasa yang apabila kita berbuat baik kepadanya tidak mensyukuri; dan apabila kita berbuat kesalahan tidak mengampuni. Kedua, tetangga yang kalau melihat kebaikan kita, dia diam. Akan tetapi kalau dia melihat keburukan kita, disebarluaskan. Ketiga, istri yang jika berkumpul bersama menggganggu; dan jika kita pergi ia suka mengkhianati.

    Ada tiga tanda orang munafik, yaitu; Pertama, apabila berbicara, ia berdusta. Kedua, apabila berjanji, ia mengingkari. Ketiga, apabila dipercaya, ia mengkhianati.

    Tiga bencana yang akan diturunkan, apabila manusia menjauhi para ulama, yaitu; Pertama, Allah SWT , akan mengangkat keberkahan usahanya. Kedua, Allah SWT akan menempatkan/memberikan penguasa/pemimpin yang zalim. Ketiga, manusia akan meninggal dunia/wafat dalam keadaan tanpa membawa iman (su’ul khatimah).

    Tiga orang yang halal darahnya : Pertama, janda atau duda yang berzina. Kedua, pembunuhan yang dilakukan dengan sengaja. Ketiga, orang yang murtad/meninggalkan agamanya.

    Tiga golongan manusia yang diharamkan masuk kedalam surga Allah SWT, yaitu Pertama, pemabuk durjana. Kedua, wanita yang menyerupai pria, atau sebaliknya. Ketiga, seseorang yang membiarkan anggota keluarganya berbuat dosa.

    Dikutip dari buku : Menjaga Cinta dan Ridha Allah yang Abadi (Sebuah Renungan Diri)

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 25 January 2013 Permalink | Balas  

    Tiap Saat Diincar Bencana 

    Tiap Saat Diincar Bencana

    Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?”

    QS. Al Ahzab (33) : 17

    Sebenarnya Bumi adalah planet yang rawan bencana. Tapi memang begitulah, setiap benda langit memiliki kondisi yang kurang lebih sama. Selalu diincar oleh bencana. Hanya, khusus Bumi, Allah memberikan perlindungan ekstra, sehingga bisa dihuni oleh makhluk hidup. Termasuk manusia.

    Bumi memang planet istimewa yang paling aneh di antara sembilan planet lainnya di tatasurya ini. Tidak ada satu pun benda langit anggota tatasurya yang bisa ditempati oleh makhluk hidup, karena tidak memenuhi prasyarat untuk itu. Dan teristimewa karena selalu diancam bencana yang menghancurkan kehidupan.

    Merkurius, planet yang paling dekat matahari, jelas-jelas tidak bisa dihuni disebabkan oleh ekstrimnya suhu permukaan planetnya. Perputaran rotasi Merkurius demikian lambatnya, sehingga ada bagian yang membara karena terlalu lama menghadap matahari, sedangkan bagian lainnya membeku karena terlalu lama membelakangi matahari. Dengan suhu seekstrim itu, tidak ada makhluk hidup yang tahan berada di permukaannya.

    Venus sebagai planet ke dua, memiliki suhu yang ‘lumayan’. Namun, tetap saja tidak bisa dihuni oleh makhluk hidup. Suhunya mencapai 450 derajat celsius. Cukup untuk melelehkan logam timbal. Inilah ‘planet pemanggang’ raksasa. Atmosfernya memiliki tekanan sangat besar dan berat. Kurang lebih sama dengan kalau kita berada di kedalaman 1.000 meter di bawah permukaan laut.

    Yang lebih mengerikan, atmosfernya memiliki kandungan asam sulfat – H2SO4 – yang sangat besar dengan ketebalan ribuan meter. Sehingga permukaan planet ini selalu diguyur oleh hujan asam. Tak mungkin ada kehidupan di planet seperti ini.

    Planet yang lebih jauh adalah Mars. Inilah planet ke 4 setelah Bumi. Dulu, banyak ilmuwan berharap akan menemui kehidupan di planet ini. Namun setelah AS mendaratkan pesawat tanpa awaknya ke Mars, terbukti tidak ada kehidupan di sana.

    Bagaimana mungkin bisa ada kehidupan, karena ternyata Mars tidak memiliki prasyarat untuk munculnya kehidupan. Tak ada air. Tak ada kandungan oksigen yang cukup. Atmosfernya dipenuhi oleh gas beracun CO2 dalam kadar yang sangat tinggi.

    Angin badai pasir terjadi selama berbulan-bulan tanpa henti. Permukaannya penuh dengan kawah-kawah selebar ratusan meter, yang sangat dalam dan membahayakan.

    Planet ke 5 adalah Jupiter. Inilah planet terbesar di tatasurya kita. Sebuah planet gas tanpa daratan. Ya, tak ada daratan di sana. Semuanya berbentuk gas dengan suhu yang sangat dingin. Dan angin badai yang berlangsung selama ratusan tahun. Planet ini besarnya sekitar 318 kali Bumi.

    Planet ke 6 adalah Saturnus. Bentuknya sangat khas dengan adanya cincin berisi gas, batu dan es, yang berputar di sekeliling planetnya. Planet ini juga terdiri dari gas dengan komposisi 75% Hidrogen dan 25% Helium. Kerapatannya lebih rendah dibandingkan air. Tentu saja tak mungkin ada kehidupan di planet ke 5 & 6 ini.

    Planet ke 7 adalah Uranus. lnilah planet yang terdiri dari bongkahan batu dan es. Atmosfernya terdiri dari gas beracun metana yang mematikan, bercampur dengan Hidrogen dan Helium. Planet ini memiliki waktu mengelilingi matahari yang sangat panjang. Jika Bumi butuh waktu setahun untuk mengelilingi matahari, maka Uranus butuh waktu 84 tahun untuk sekali keliling matahari.

    Planet ke 8 dan 9 adalah Neptunus dan Pluto. Keduanya adalah bongkahan es yang mati. Suhu di Neptunus berkisar minus 218 derajat celsius. Sedangkan Pluto sekitar minus 328 derajat celsius. Di atas permukaan Neptunus sering terjadi badai dengan kecepatan tinggi sampai 2000 km per jam. Atmosfernya juga dipenuhi Hidrogen, Helium dan Metana sangat tinggi.

    Sedangkan planet ke 10, juga sebuah bongkahan es mati di balik Pluto. Planet ini masih terus diteliti keberadaannya oleh para ahli astronomi.

    Bumi, sebagai planet ke 3 di tatasurya, sungguh memiliki keistimewaan luar biasa. Sehingga memenuhi syarat untuk dihuni makhluk hidup. Seluruh kondisinya sangat unik dan ‘aneh’, karena memiliki mekanisme yang saling mengontrol dalam keseimbangan sempurna.

     

    Atmosfernya tersusun sempurna dengan ketebalan 1000 km, bersaf-saf melindungi penghuninya dari berbagai ancaman dari luar angkasa. Komposisinya juga sempurna, mengandung gas Nitrogen yang tak gampang bereaksi, sebesar 78%. Sementara, oksigennya stabil pada kisaran 21%. Sedangkan gas-gas beracun semisal CO2, CO, dan lainnya, total hanya berjumlah 1%.

    Yang lebih menakjubkan adalah sirkulasi air. Planet ini memiliki keseimbangan sirkulasi air yang mengagumkan. Tak kurang dari 400 miliar ton air mengalami sirkulasi dan penjernihan otomatis sepanjang tahun.

    Hujan air, benar-benar hanya terjadi di planet bumi. Mekanisme hujan akibat pemanasan air di permukaan Bumi oleh sinar matahari ini menjadi sebuah mekanisme penyediaan air bersih yang benar-benar sempurna. Entah apa jadinya jika di Bumi tidak ada mekanisme hujan. Pastilah tidak ada air bersih dalam kadar yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia secara berkualitas.

    Semua air terkumpul di lautan dengan kadar garam yang tinggi. Tak ada air tawar, karena semua air di daratan bakal mengalir ke laut. Maka, manusia akan mengalami masalah besar, karena kesulitan air tawar bersih.

    Bukan hanya air dan udara, planet Bumi dipenuhi oleh segala macam makanan. Uniknya cadangan makanan itu tersedia secara otomatis melalui sebuah mekanisme sempurna yang disebut sebagai ‘rantai makanan’.

    Air, udara, sinar matahari, tumbuh-tumbuhan, dan binatang, bekerjasama untuk membangun suatu mekanisme saling menguntungkan sehingga selalu ‘tercipta’ makanan. Berupa buah-buahan, sayuran, segala macam binatang laut, ternak, unggas, dan lain sebagainya. Semua itu bermunculan dalam mekanisme abadi. Tiada henti, selama berjuta tahun.

    Jika terus kita cermati, maka kita bakal menemukan segala kondisi Bumi ini sangatlah ‘aneh’. Sebagaimana planet yang lain, sebenarnya Bumi ini menyimpan potensi bencana yang luar biasa dahsyatnya. Selain yang datang dari luar, seperti batuan angkasa, sinar matahari, gelombang elektromagnetik dari luar angkasa, maka Bumi sendiri menyimpan bencana yang tiada terkira.

    Di dalam Bumi sendiri ada potensi energi yang demikian besar, berupa magma sebagai inti Bumi. Selain itu ada gas-gas beracun dan bertekanan tinggi di dalam perutnya. Atau lempeng-lennpeng tektonik yang menyimpan energi gempa yang sangat besar dan membahayakan.

    Gelombang air laut, angin badai, petir, banjir, dan semacamnya juga menjadi potensi bencana yang sewaktu-waktu bisa memporak-parandakan kehidupan di muka Bumi. Belum lagi kacaunya iklim, dan berkembang biaknya segala macam penyakit ganas.

    Maka, sebenarnya kehidupan manusia di permukaan planet Bumi ini sangatlah rawan bencana. Terutama ketika mekanisme keseimbangannya telah bergeser jauh dari yang seharusnya. Bencana bakal susul menyusul menghantam semua makhluk yang ada di atasnya, dan menyengsarakan kita semua.

    ***

    Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 1:32 am on 24 January 2013 Permalink | Balas  

    Mengenal Kematian 

    Mengenal Kematian

    Ketahuilah wahai penguasa dunia, bahwa manusia itu terdiri dari dua golongan: satu golongan yang memandang perkara dunia dan berangan- angan memiliki umur panjang. Golongan kedua adalah golongan orang- orang berakal yang menjadikan kematian sebagai cermin untuk melihat kemana tempat mereka kembali, bagaimana keluar dari dunia dengan keimanan yang tetap selamat. Mereka juga memikirkan apa yang akan mereka bawa dari dunia untuk bekal alam kubur mereka. Mereka juga memikirkan apa yang akan mereka tinggalkan untuk musuh-musuh mereka bencana dan siksaan.

    Pemikiran ini wajib dimiliki oleh manusia, lebih-lebih lagi bagi para penguasa dan pemilik dunia, karena mereka paling banyak membuat cemas hati manusia. Mereka memberikan budak-budak mereka kepada orang lain dengan cara yang jahat. Mereka membuat khawatir manusia dan membuat takut hati manusia. Sesungguhnya disisi Allah SWT terdapat seorang pengawal yang namanya Izra’il. Tidak ada tempat sembunyi bagi siapapun bagi kedatangannya. Semua pembantu kerajaan meminta upah berupa emas, perak, dan makanan, sedangkan pembantu yang ini (Izra’il) tidak meminta upah kecuali nyawa. Semua wakil Sultan memerlukan syafaat, sedangkan wakil ini (Izra’il) tidak memerlukan syafaat. Semua wakil suka menangguh-nangguhkan tugasnya mungkin sehari, semalam, atau sejam, sedangkan wakil ini tidak pernah menangguhkan tugasnya satu hembusan nafaspun. Keajaibannya sangat banyak. Tetapi kami hanya akan menguraikan lima hikayat:

    Hikayat Pertama: Diriwayatkan oleh Wahab bin Munabbih. Dia adalah seorang pendeta Yahudi yang kemudian masuk Islam. Diceritakan bahwa pada suatu hari seorang raja yang agung ingin berkuda ke seluruh pelosok kerajaannya agar masyarakat melihat kehebatan dan keindahannya. Raja itu memerintahkan para pejabat, pengawal dan pembesar kerajaan untuk menyiapkan tunggangan agar masyarakat melihat kekuasaannya. Dia juga menyuruh mereka untuk menyediakan pakaian kebesarannya. Dia memerintahkan bawahannya untuk menyiapkan kuda pilihan yang kuat. Dia memilih kuda yang tercepat larinya, yang diberi nama as-Sabak. Dia memacu kuda itu didepan pasukan. Dia merasa bangga dengan kehebatan dan kekuasaannya.

    Datanglah Iblis. Iblis meletakkan mulutnya pada telinganya dan meniupkan perasaan sombong pada raja itu. Maka berkatalah raja itu, “Siapa yang dapat menyamaiku didunia ini?”

    Dia memacu kudanya dengan sombong dan merasa bangga dengan kudanya itu. Dia tidak melihat kepada seorangpun karena perasaan hebat dan sombongnya, serta perasaan ujub dan bangganya. Tiba-tiba dihadapannya berdiri seorang laki-laki yang berpakaian compang camping. Orang itu memberi salam kepada sang raja, tetapi raja itu tidak membalas salamnya. Orang itu kemudian memegang tali kekang kuda sang raja. Kemudian raja itu berkata: “Lepaskan tanganmu dari tali kekang kuda ini. Engkau tidak tahu tali kekang kuda siapa yang engkau pegang!” Orang itu berkata, “Aku mempunyai keperluan denganmu”. Raja berkata, “Sabarlah, tunggu aku turun”. Orang itu berkata, “Keperluanku adalah saat ini juga, bukan saat engkau turun dari kudamu”. Raja berkata, “Katakan, apa keperluannya!” Orang itu berkata, “Ini rahasia. Aku tidak akan mengatakannya kecuali ke telingamu”. Raja menyodorkan telinganya kepada orang itu. Orang itu berkata, “Aku Malaikat Maut. Aku hendak mencabut nyawamu”. Raja berkata, “Tangguhkanlah sampai aku pulang ke rumahku, berpamitan kepada anak istriku”. Orang itu berkata, “Tidak, engkau tidak akan melihat mereka lagi untuk selamanya karena jatah umurmu sudah habis”. Maka, Malaikat Maut pun mengambil nyawanya. Pada waktu itu sang raja sedang duduk diatas kuda kebanggaannya”. Malaikat Maut pergi dari sana, kemudian mendatangi seorang laki-laki soleh yang diridhai Allah. Malaikat mengucapkan salam. Laki-laki itu membalas salamnya. Malaikat berkata, “Aku mempunyai keperluan denganmu dan ini rahasia.” Laki-laki salih itu berkata, “Katakanlah keperluanmu di telingaku”. Malaikat berkata, “Aku adalah Malaikat Maut”. Laki-laki itu berkata, “Selamat datang, segala puji bagi Allah atas kedatanganmu karena sesungguhnya aku banyak mendekatkan diri untuk menyambut kedatanganmu. Aku merasa terlalu lama menunggumu. Aku sangat merindukan kedatanganmu”. Malaikat berkata, “Jika engkau mempunyai urusan selesaikanlah dahulu”. Laki-laki itu berkata, “Tidak ada urusan yang lebih penting daripada saat bertemu dengan Rabbku Azza wa Jalla”. Malaikat berkata, “Cara seperti apa yang engkau sukai ketika aku mencabut nyawamu? Aku diperintahkan mencabut nyawamu dengan cara yang engkau pilih dan engkau inginkan”. Laki-laki itu berkata, “Ijinkanlah aku mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat. Ketika aku sujud, cabutlah nyawaku. Maka, Mlaikat Maut melakukan permintaan orang itu dan mengirimnya kepada rahmat Allah Jalla wa `Ala”.

    Hikayat Kedua: Ada seorang raja yang memiliki banyak harta. Dia telah mengumpulkan banyak harta, dari berbagai macam harta benda yang telah Allah ciptakan, untuk menghibur dirinya. Dia berusaha untuk memakan apa yang telah dikumpulkannya itu. Dia kumpulkan kenikmatan-kenikmatan yang banyak, membangun istana yang tinggi dan megah yang layak bagi para raja, para pembesar, para tokoh, dan orang-orang yang agung. Dia membuat dua pintu gerbang yang dijaga oleh para pengawal yang seram, para penjaga, tentara, dan penjaga pintu sebagaimana yang ia inginkan.

    Pada suatu hari, ia memerintahkan bawahannya untuk memasak makanan yang lezat-lezat dan mengumpulkan para pembesar kerajaan, aparat kerajaan, sahabatnya, dan para pelayannya. Mereka diundang untuk makan-makan dengannya. Dia duduk diatas singgasana sambil bertelekan diatas bantalnya. Kemudian dia berkata, “Wahai orang-orang yang hadir disini, aku telah mengumpulkan semua kenikmatan dunia dan isinya. Oleh karena itu, aku persembahkan buat kalian dan silakan reguk kenikmatan ini sebagai ucapan selamat atas umur yang panjang dan harta yang banyak”.

    Belum habis ucapan raja itu, tiba-tiba datang seorang laki-laki dari belakang istana dengan pakaian compang-camping. Di pundaknya tergantung keranjang makanan seperti orang yang akan meminta-minta makanan. Dia mengetuk pintu dengan ketukan yang sangat keras dan menakutkan sehingga istana itu bergetar dan gonjang-ganjing. Para penjaga ketakutan dan lari kearah pintu gerbang dan berkata, “Hai orang miskin, engkau sungguh-sungguh tidak punya sopan santun. Sabarlah sampai kami menghabiskan makanan yang lezat ini”. Orang itu berkata kepada mereka, “Katakan kepada rajamu untuk keluar menemuiku karena aku mempunyai urusan yang sangat penting dan mendesak”. Para pengawal berkata, “Menyingkirlah wahai orang miskin! Memangnya siapa dirimu hingga berani menyuruh rajaku keluar menemuimu!” Orang itu berkata, “Beritahukan kepada rajamu apa yang aku katakana”. Ketika mereka memberitahukannya kepada raja, maka raja berkata, “Mengapa kalian tidak mengusir orang itu. Marahi dan hardik dia!” Tiba-tiba pintu gerbang diketuk lebih keras lagi dari ketukan yang pertama. Maka mereka semua berdiri sambil memegang tongkat dan senjata dengan maksud memerangi orang itu. Terdengarlah suara, “Tetaplah di tempat kalian! Aku adalah Malaikat Maut”. Maka merekapun menggigil dan tidak jadi bergerak. Hati mereka menjadi ciut. Pikiran mereka menjadi kacau. Raja itu pun berkata, “Katakan kepadanya, ambillah apa saja sebagai gantiku”. Malaikat berkata, “Aku tidak mengambil apa-apa selain engkau. Tidaklah aku datang kecuali untuk menemuimu. Aku akan memisahkanmu dari segala kenikmatan ini”. Raja itu berkata, “Laknat Allah bagi harta benda ini yang telah menipuku dan membuatku celaka, serta telah menghalangiku untuk beribadah kepada Tuhanku. Dulu aku menyangka bahwa harta benda akan bermanfaat bagiku. Hari ini adalah hari penyesalan dan hari bencana buatku. Aku telah keluar mengulurkan kedua tanganku kepadanya (menyambut dengan gembira) tetapi dia malah menjadi musuhku”.

    Kemudian Allah membuat harta itu dapat bicara, dan harta benda itu berkata, “Mengapa engkau melaknati aku? Laknatilah dirimu sendiri. Karena sesungguhnya Allah menciptakan aku dan juga dirimu dari tanah. Allah menjadikan aku berada di tanganmu untuk menjadi bekal akhiratmu, memberikan aku kepada orang-orang miskin, memberikan zakat kepada orang-orang yang lemah, membangun jembatan, masjid, jalan, dan sebagainya. Jika demikian maka aku akan menjadi penolongmu pada Hari Kiamat. Sedangkan engkau mengumpulkan aku, menyimpanku, dan membelanjakan aku untuk mengikuti hawa nafsumu, engkau tidak bersyukur malah berkufur. Maka hari ini aku akan menjadi musuhmu, dan engkau akan menyesal serta menderita. Lalu mengapa engkau melaknati aku?”

    Kemudian Malaikat Maut mencabut nyawa raja itu sebelum dia sempat memakan makanannya. Dia terjatuh dari singgasananya dan mati.

    Hikayat Ketiga: Yazid ar-Ruqasyi bertutur sebagai berikut: Pada masa Bani Israil ada seorang penguasa. Pada suatu hari ia duduk disinggasananya. Tiba-tiba ia melihat seorang laki-laki masuk melalui pintu rumahnya. Orang itu bertampang keji dan berbadan besar. Penguasa itu sangat ketakutan. Dia khawatir laki-laki itu akan menyerangnya. Wajahnya pucat pasi dan berkata, “Siapakah engkau? Siapa yang telah menyuruhmu masuk kerumahku.”

    Laki-laki itu berkata, “Pemilik rumah ini yang menyuruhku kesini. Tidak ada dinding yang dapat menghalangiku. Aku tidak memerlukan izin untuk masuk kemanapun. Aku tidak takut oleh kekuasaan para sultan. Aku tidak merasa takut oleh penguasa. Tidak ada seorangpun yang dapat lari dari jangkauanku.”

    Ketika mendengar perkataan orang itu, wajahnya menjadi pucat pasi dan badannya menggigil, dan ia berkata, “Apakah engkau Malaikat Maut?”

    Orang itu menjawab, “Benar.”

    Penguasa berkata, “Aku bersumpah demi Allah, berilah aku penangguhan satu hari saja agar aku dapat bertobat dari segala dosaku. Aku akan memohon keringanan dari Tuhanku. Aku akan mengimfaqkan harta benda yang aku miliki dan aku simpan hingga tidak terbebani oleh azab akibat harta itu, diakhirat kelak.”

    Malaikat berkata, “Bagaimana aku dapat menangguhkan padahal umurmu sudah habis, dan waktu sudah ditetapkan secara tertulis.”

    Penguasa itu berkata, “Tangguhkanlah sesaat saja.” Malaikat berkata, “Sesungguhnya jangka waktu itu telah diberikan tetapi engkau lalai dan menyia-nyiakannya. Jatah nafasmu sudah habis, tidak tersisa satu nafaspun untukmu.”

    Dia berkata, “Siapa yang akan menyertaiku jika engkau membawaku keliang kubur?” Malaikat berkata, “Tidak ada yang menyertaimu kecuali amalmu.”

    Dia berkata, “Aku tidak mempunyai amal kebaikan.” Malaikat berkata, “Jika demikian, neraka dan murka Tuhan adalah tempat yang layak untukmu.”

    Kemudian Malaikat Maut mencabut nyawanya sehingga dia terjatuh dari singgasananya. Terjadilah kegaduhan diseluruh kerajaan. Jika orang- orang mengetahui apa yang terjadi pada penguasa itu, yaitu murka Allah, pastilah tangisnya dan ratapan mereka akan lebih keras lagi.

    Hikayat Keempat: Diceritakan bahwa Malaikat Maut menemui Nabi Sulaiman bin Daud as. Malaikat Maut melihat dengan tajam dalam waktu yang lama kepada salah seorang pembantu Nabi Sulaiman. Ketika Malaikat Maut keluar, laki-laki itu bertanya, “Wahai Nabi Allah, siapakah orang yang masuk tadi?”

    Nabi Sulaman menjawab, “Malaikat Maut”. Laki-laki itu berkata, “Aku takut Malaikat maut hendak mencabut nyawaku. Oleh karena itu aku akan menghindar darinya.”

    Nabi Sulaiman berkata, “Bagaimana caramu menghindar darinya?”

    Laki-laki itu menjawab, “Suruhlah angin membawaku ke negeri India saat ini juga. Mudah-mudahan Malaikat Maut terkecoh dan tidak dapat menemukanku.”

    Nabi Sulaiman menyuruh angin untuk membawa laki-laki itu ke tempat yang dituju. Mlaikat Maut kembali dan menemui Nabi Sulaiman. Kemudian Nabi Sulaiman bertanya kepada Malaikat Maut, “Mengapa engkau melihat kepada laki-laki itu lama sekali?”

    Malaikat Maut berkata, “Aku sungguh merasa heran terhadapnya. Aku diperintahkan untuk mencabut nyawanya di negeri India padahal negeri itu sangat jauh. Tetapi ternyata angin telah membawanya ke sana. Itulah takdir Allah SWT.

    Hikayat Kelima: Diriwayatkan bahwa Dzul Qarnain melewati sebuah kaum yang tidak memiliki harta dunia sedikitpun. Mereka membuat kuburan bagi keluarga mereka yang telah mati di depan pintu rumah mereka. Setiap hari mereka mengamati kuburan itu, membersihkan, menyapu, menziarahinya dan beribadah kepada Allah di sekat kuburan itu. Mereka tidak makan kecuali rerumputan dan berbagai tanaman lain. Kemudian Dzul Qarnain mengutus seorang laki-laki. Utusan itu kemudian memanggil raja kaum itu tapi dia tidak memenuhi panggilan utusan itu, dan berkata, “Aku tak punya keperluan kepadanya, tidak juga dia kepadaku.”

    Maka kemudian Dzul Qarnain mendatangi kaum tersebut dan berkata, “Bagaimana keadaan kalian? Mengapa aku tidak melihat emas atau perak yang kalian miliki. Dan mengapa aku juga tidak melihat nikmat dunia yang kalian miliki?” Pemimpin mereka menjawab, “Karena nikmat dunia tidak pernah membuat kenyang seorang manusia pun.”

    Bertanya kembali Dzul Qarnain, “Mengapa kalian membuat kuburan di depan rumah kalian?”

    Dia menjawab, “Agar langsung terlihat oleh mata kami, sehingga akan mempengaruhi ingatan kami akan kematian, dan mendinginkan hasrat pada dunia dalam hati kami. Tujuan itu agar kami tidak disibukkan oleh dunia dan melupakan Tuhan kami.”

    Dzul Qarnain bertanya kembali, “Dan mengapa kalian hanya memakan rerumputan dan tanaman?” Dia menjawab, “Karena kami benci menjadikan perut-perut kami sebagai kuburan bagi hewan-hewan. Dan bagaimana pun lezatnya suatu makanan, tetap akan hancur.”

    Pimpinan kaum itu menjulurkan tangannya ke dalam lubang dan mengeluarkan satu buah tengkorak kepala manusia kemudian meletakkan tengkorak itu didepannya dan berkata, “Wahai Dzul Qarnain, apakah engkau tahu, siapa pemilik tengkorak ini? Ini adalah tengkorak seorang raja didunia yang telah menzhalimi rakyatnya, bersikap melampaui batas kepada mereka dan suka menyiksa orang-orang lemah, serta menghabiskan seluruh waktunya untuk mengumpulkan dunia. Maka Allah mencabut nyawanya dan menjadikan neraka sebagai tempat kembali untuknya.”

    Kemudian pemimpin kaum itu menjulurkan kembali tangannya dan mengambil sebuah tengkorak kepala yang lain dan meletakkan didepannya. Dia bertanya, “Apakah engkau tahu siapa pemilik tengkorak ini? Sesungguhnya kepala ini milik seorang raja yang adil. Dia mengasihi rakyatnya dan menyukai seluruh anggota kerajaannya, kemudian Allah mencabut nyawanya dan memasukkannya kedalam surga serta meninggikan derajatnya.”

    Setelah itu, pemimpin kaum itu meletakkan tangannya diatas kepala Dzul Qarnain dan berkata, “Termasuk golongan manakah kepalamu ini? Dzul Qarnain menangis tersedu-sedu sambil menundukkan kepalanya dan berkata, “Jika engkau mau menjadi sahabatku, akan aku serahkan sawah dan ladangku kepadamu dan memberikan sebagian kerajaan kepadamu.” Laki-laki itu menjawab, “Tidak mungkin, aku tidak menyukainya.” Dzul Qarnain bertanya, “Mengapa demikian?” Dia menjawab, “Karena seluruh manusia akan menjadi musuhmu karena harta dan kekuasaan. Sebaliknya, mereka akan menjadi saudaramu akibat perasaan qanaah dan kemiskinanmu. Maka Allah akan bersamamu.”

    Oleh karena itu sekarang engkau harus mengetahui hikayat-hikayat kematian tersebut dan meyakini keberadaannya.

    Ketahuilah, bahwa orang-orang yang lalai dan tertipu tidak suka mendengarkan cerita-cerita tentang kematian karena mereka tidak ingin kehilangan perasaan cinta dunia dan kelezatan makanan dan minuman mereka . Terdapat sebuah riwayat yang menyatakan bahwa orang yang banyak mengingat mati dan gelapnya liang lahat, maka kuburnya seperti salah satu taman dari taman-taman surga. Sedangkan orang yang melupakan kematian dan lalai dari mengingatnya, maka kuburnya seperti salah satu jurang dari jurang-jurang neraka.

    Pada suatu haru Rasulullah sedang membahas pahala orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang berbahagia, yaitu orang-orang yang terbunuh dalam medan perang melawan orang-orang kafir. Kemudian Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, apakah pahala mati syahid akan diperoleh oleh orang-orang yang tidak mati syahid?” Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang mengingat kematian dua puluh kali setiap hari, maka pahala dan derajatnya sama dengan orang-orang yang mati syahid.”

    Rasulullah SAW bersabda, “Perbanyaklah mengingat mati karena hal itu akan menghapus dosa dan menghilangkan perasaan cinta dunia dalam hatimu.”

    Rasulullah SAW pernah ditanya, “Siapakah manusia yang paling berakal dan paling bijaksana?”

    Rasulullah SAW menjawab, “Orang yang paling berakal adalah orang yang paling banyak mengingat kematian. Sementara orang yang paling bijaksana adalah orang yang paling baik persiapannya. Dia akan mendapat kemuliaan di dunia dan akhirat.”

    Siapa saja yang mengenal dunia sebagaimana yang telah kami uraikan dan senantiasa mengingat kematian dalam hatinya, maka urusan dunianya akan menjadi mudah. Hal itu juga akan menguatkan fondasi keimanannya, menumbuhkan dan menambahkan keimanan dalam hatinya, serta menumbuhkan cabang pohon keimanan yang ada padanya. Dia akan menemui Allah dengan keimanan yang kokoh. Allah Yang Maha Sempurna Kekuasaan-Nya dan Maha Tinggi Perkataan-Nya, akan menerangi pandangan para penguasa dunia sehingga ia akan melihat hakikat segal;a sesuatu, bersungguh-sungguh dalam menggapai kehidupan akhirat, dan berbuat baik kepada hamba-hamba Allah serta makhluk-Nya.

    Sesungguhnya ditengah-tengah makhluk terdapat berjuta-juta rakyat jika diperlakukan dengan adil maka mereka akan memberikan syafaat. Siapa saja dari kalangan orang-orang yang beriman, yang mendapatkan syafaat dari seluruh makhluk, maka pada Hari Kiamat dia akan selamat dari azab. Tetapi, jika dia menzalimi mereka, maka mereka semua akan memusuhinya. Urusannya akan hancur berantakkan. Jika pemberi syafaat menjadi musuhnya, maka urusannya akan menjadi tidak menentu.

    ***

    ETIKA BERKUASA: Nasihat-nasihat Imam Al-Ghazali* Karya Imam Al-Ghazali

    from : http://www.jkmhal.com

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 23 January 2013 Permalink | Balas  

    Kiamat Sudah Dekat 

    Kiamat Sudah Dekat

    “Telah dekat kepada manusia hari perhitungan segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi tak menghiraukannya” QS. Al Anbiyaa’ : 1

    Kiamat sudah dekat! Begitulah kata Allah di dalam Al Qur’an. Itulah hari hancurnya segala kehidupan di muka bumi. Maka, Hari Berbangkit pun bakal terjadi tidak lama lagi. Yaitu ketika manusia dibangkitkan dari kematiannya. Dari dalam kuburnya. Dan, karena itu, Hari Perhitungan pun sudah hampir datang. Saat manusia dihitung segala amal perbuatannya. Antara perbuatan buruk dan amalan baiknya, kemudian dibalasiNya…

    Benarkan semua itu sudah dekat dan bakal terjadi tidak lama lagi? Ya begitulah. Ada dua penjelasan tentang dekatnya hari Kiamat, hari Berbangkit dan hari Perhitungan itu.

    Pertama, Hari Kiamat bakal terjadi tidak lama lagi dihitung dari saat-saat terjadinya kematian kita. Kenapa demikian? Karena saat berada di dalam Kubur, kita tidak akan merasakan waktu yang lama. Terasa singkat. Seperti satu hari atau setengah hari. Sebagaimana dikemukakan Allah di dalam FirmanNya.

    QS. Al Israa’ (17) : 52

    Yaitu pada hari Dia memanggil kamu, lalu kamu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya dan kamu mengira, bahwa kamu tidak berdiam (di dalam kubur) kecuali sebentar saja.

    Di ayat lain lebih tegas, bahwa waktu di alam kubur itu memang terasa demikian singkat. Satu hari atau setengah hari saja. Bahkan, kehidupan di Bumi pun ketika dibandingkan dengan kehidupan akhirat menjadi sangat singkat. Juga, seperti satu hari atau setengah hari. Semua itu, disebabkan adanya relativitas waktu antara Dunia dan Akhirat.

    QS. Al Mukminuun (23) : 112-113

    Allah bertanya: ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab: “Kami tinggal sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.”

    Secara umum Allah mengatakan bahwa masa penantian di alam Barzakh itu memang berlangsung sangat cepat. Bagaikan waktu satu hari, atau lebih cepat tagi. Berarti, jika seseorang meninggal pada hari Minggu, sehari kemudian, yaitu hari Senin dia sudah akan dibangkitkan dari dalam kuburnya.

    Anda mungkin masih merasa aneh dengan penjelasan ini. Akan lebih gamblang jika saya contohkan dengan orang tidur. Ya, kematian adalah ibarat orang tidur lelap. Tak merasakan apa-apa. Ketika terbangun, dia tidak tahu sudah berapa lama ia tertidur. Jika anda tanyai: hei berapa lama kamu tidur? dia pasti akan geleng-geleng kepala sambil mengatakan: entahlah, mungkin satu atau dua jam. Padahal ia telah tertidur selama 6-7 jam.

    Ya, orang yang terbangun dari tidur lelapnya tidak akan pernah tahu berapa lama ia tertidur. Ia baru akan tahu lama tidurnya, jika ia melihat ke jam tangannya: ‘Oh, ternyata saya tertidur selama 6-7 jam. Lama juga, ya…’

    Begitulah yang digambarkan oleh Allah dalam Al Qur’an terhadap orang-orang yang dibangkitkan dari dalam kuburnya. Ia merasa seperti bangun dari tidur saja.

    QS. Yaa Siin (36) : 52

    Mereka berkata: “Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya).

    Maka kembali kepada hari Kebangkitan, Allah menegaskan bahwa saat-saat itu akan datang dengan cepat. Tak lama lagi. ‘Sehari’ sesudah kematian datang menjemput kita. Padahal, datangnya kematian itu pun tidak pernah kita ketahui. Yakinkah anda bahwa anda bakal masih hidup di tahun depan? Atau bulan depan? Minggu depan? Besok pagi? Satu jam lagi? Tidak, bukan?

    Nah, inilah misteri kehidupan paling besar dalam kehidupan manusia: ‘kematian’, dan seluruh peristiwa yang bakal terjadi sesudah kematian. Yang jelas saat-saat itu bakal datang kepada setiap orang. Semakin mendekati kita semua…

    Penjelasan yang ke dua tentang sudah dekatnya kiamat itu muncul dari prediksi astronomi. Bahwa Bumi ini bakal mengalami ‘kecelakaan’ dan bertabrakan dengan segerombolan benda langit di kabut Oort.

    Itulah saat-saat hancurnya planet bumi, dengan kerusakan yang sangat fatal. Bumi bakal dibombardir oleh jutaan bebatuan dari angkasa luar, sehingga muncul angin badai, gempa bumi, gunung meletus dan bencana tsunami di mana-mana.

    Kapan itu terjadi? Para pakar Astronomi mulai melihat tanda-tandanya dan menduga-duga waktu terjadinya. Yang jelas, kehancuran kehidupan bumi itu sudah pernah melanda bumi beberapa kali secara periodik, setiap 150-200 juta tahun sekali. Yang terakhir adalah di jaman Dinosaurus, sekitar 200 juta tahun yang lalu. Waktu itu, kehidupan makhluk raksasa itu mengalami kehancuran dan musnah.

    Jika itu terjadi secara periodik, berarti peristiwa berikutnya akan terjadi tidak lama lagi? Ya, begitulah. Sekaranglah waktunya, planet bumi bakal didatangi lagi oleh segerombolan batuan dari angkasa luar dalam jumlah besar. Dan kemudian mengalami kehancurannya. Kapan persisnya? Allah mengatakan bahwa Dia masih merahasiakannya…

    QS. Thaahaa (20) : 15

    Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang. Aku merahasiakan (waktunya) agar tiap-tiap diri dibalas dengan apa yang ia usahakan.

    QS. Al Ahzab (33) : 63

    Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah”. Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 22 January 2013 Permalink | Balas  

    Ibarat Emergency Exit di Pesawat 

    Ibarat Emergency Exit di Pesawat

    Prof Dr M Quraish Shihab:

    Sejak lama istilah poligami, jumlah yang tidak sedikit dari perempuan yang berhak digauli, sudah dikenal dalam kehidupan manusia. Tidak hanya di kalangan masyarakat Arab Jahiliyah tapi juga negara-negara Eropa seperti di Jerman, Swiss, Belanda, Denmark, Swedia, Norwegia hingga Inggris. Islam membolehkan poligami berdasar firman Allah SWT pada Alquran surat Nisa (4) ayat 3. Namun demikian, bukan berarti ayat itu membuka lebar-lebar pintu poligami tanpa batas dan syarat, tetapi dalam saat yang sama ia tidak juga dapat dikatakan menutup pintunya rapat-rapat, sebagaimana dikehendaki sementara orang.

    ”Poligami itu bukan anjuran, tetapi salah satu solusi yang diberikan kepada mereka yang sangat membutuhkan dan memenuhi syarat-syaratnya. Poligami mirip dengan pintu darurat dalam pesawat terbang yang hanya boleh dibuka dalam keadaan emergency tertentu,” tandas Quraish kepada Republika di ruang kerjanya Pusat Studi al Quran (PSQ) Ciputat Tangerang Selasa (5/12). Berikut ini penjelasan lengkap tentang apa dan bagaimana poligami menurut Islam:

    Kapan istilah poligami mulai muncul?

    Poligami telah dikenal oleh masyarakat manusia, yaitu hubungan dengan perempuan yang berhak digauli dengan jumlah lebih dari satu. Dalam Perjanjian Lama misalnya, disebutkan bahwa Nabi Sulaiman AS memiliki tujuh ratus ‘istri’ bangsawan dan tiga ratus gundik. Poligami meluas di samping dalam masyarakat Arab Jahiliyah juga pada bangsa Ibrani dan Sicilia yang kemudian melahirkan sebagian besar bangsa Rusia, Lithuania, Polandia, dan sebagainya.

    Bagaimana pandangan Islam tentang poligami?

    Islam membolehkan poligami berdasar firman Allah dalam QS an-Nisa’ ayat 3 yang artinya: ”Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap perempuan (yatim), maka nikahilah yang kamu senangi dari perempuan-perempuan (lain): dua-dua, tiga-tiga atau empat-empat. Lalu jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka seorang saja, atau budak-budak perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” Ayat ini turun berkaitan dengan sikap sementara pemelihara anak yatim perempuan yang bermaksud menikahi mereka karena harta mereka tapi enggan berlaku adil.

    Pada ayat tersebut disebutkan adanya syarat berlaku adil, bisa dijelaskan?

    Dalam ayat tersebut terdapat kata khiftum yang biasa diartikan takut, yang juga dapat diartikan mengetahui, menunjukkan bahwa siapa saja yang yakin atau menduga keras atau bahkan menduga tidak akan berlaku adil terhadap istri-istrinya yang yatim maupun yang bukan, maka mereka tidak diperkenankan oleh ayat tersebut untuk berpoligami. Yang diperkenanakan berpoligami hanyalah yang yakin atau menduga keras dapat berlaku adil. Yang ragu, apakah bisa berlaku adil atau tidak, seyogyanya tidak berpoligami.

    Ada yang menyebutkan ayat tersebut merupakan perintah untuk berpoligami karena adanya fi’il amr (kata kerja perintah, red)?

    Ayat ini tidak menganjurkan apalagi mewajibkan berpoligami, tetapi ia hanya berbicara tentang bolehnya poligami. Poligami dalam ayat itu merupakan pintu kecil yang hanya dapat dilalui oleh siapa yang sangat membutuhkan dan dengan syarat yang tidak ringan. Islam mendambakan kebahagiaan keluarga, kebahagiaan yang antara lain didukung oleh cinta kepada pasangan. Cinta yang sebenarnya menuntut agar seseorang tidak mencintai kecuali pasangannya.

    Kira-kira apa yang melatarbelakangi seseorang berpoligami?

    Bukankah kenyataan menunjukkan bahwa jumlah lelaki lebih sedikit dari jumlah perempuan? Bukankah rata-rata usia perempuan lebih panjang dari usia lelaki, sedang potensi masa subur lelaki lebih lama daripada potensi masa subur perempuan? Hal ini bukan saja karena mereka mengalami haid, tapi juga karena mereka mengalami manopouse sedang lelaki tidak mengalami keduanya. Bukankah peperangan yang hingga kini tidak kunjung dapat dicegah lebih banyak merenggut nyawa lelaki daripada nyawa perempuan? Maka poligami ketika itu adalah jalan keluar yang paling tepat. Namun sekali lagi perlu diingat poligami bukanlah anjuran apalagi kewajiban. Seandainya ia anjuran, pasti Allah SWT menciptakan perempuan lebih banyak empat kali lipat dari jumlah laki-laki, karena tidak adanya menganjurkan sesuatu kalau apa yang dianjurkan tidak tersedia. Ayat ini hanya memberi wadah bagi mereka yang mengingingkannya, ketika menghadapi kondisi atau kasus tertentu. Poligami mirip dengan pintu darurat dalam pesawat terbang, yang hanya boleh dibuka dalam keadaan emergency tertentu.

    Bagaimana dengan anggapan berpoligami adalah sunnah Rasul?

    Tidak bisa dikatakan bahwa Rasul SAW menikahi lebih dari satu perempuan dan pernikahan semacam itu hendaknya diteladani. Karena, tidak semua apa yang dilakukan Rasul SAW perlu diteladani sebagaimana tidak semua yang wajib atau terlarang bagi beliau, wajib atau terlarang pula bagi umatnya. Bukankah Rasul SAW antara lain wajib bangun shalat malam dan tidak boleh menerima zakat? Bukankah tidak batal wudlu beliau bila tertidur? Selanjutnya perlu dipertanyakan buat mereka yang beranggapan poligami adalah sunah Rasul SAW. ”Apakah benar mereka benar-benar ingin meneladani Rasul SAW dalam pernikahannya?”

    Kalau benar demikian, maka perlu mereka sadari Rasul SAW baru berpoligami setelah pernikahan pertamanya berlalu sekian lama setelah meninggalnya Khadijah RA. Kita ketahui Rasul SAW menikah dalam usia 25 tahun, 15 tahun setelah pernikahan beliau dengan Sayyidah Khadijah RA, beliau diangkat menjadi Nabi. Istri beliau ini wafat pada tahun ke-10 kenabian Beliau. Ini berarti beliau bermonogami selama 25 tahun. Lalu setelah tiga atau empat tahun sesudah wafatnya Khadijah RA, baru beliau menggauli Aisyah RA yakni pada tahun kedua atau ketiga Hijriyah, sedang beliau wafat dalam tahun ke-11 Hijriyah dalam usia 63 tahun.

    Ini berarti beliau berpoligami hanya dalam waktu delapan tahun, jauh lebih pendek daripada hidup bermonogami beliau, baik dihitung berdasar masa kenabian lebih-lebih jika dihitung seluruh masa pernikahan beliau. Jika demikian, maka mengapa bukan masa yang lebih banyak itu yang diteladani? Mengapa mereka yang bermaksud meneladani Rasul SAW itu tidak meneladaninya dalam memilih calon-calon istri yang telah mencapai usia senja? Semua istri Nabi SAW selain Aisyah adalah janda-janda yang berusia di atas 45 tahun? Di samping itu, mengapa mereka tidak meneladani beliau dalam kesetiaannya yang demikian besar terhadap istri petamanya, sampai-sampai beliau menyatakan kecintaan dan kesetiaannya walau di hadapan istri-istri beliau yang lain?

    ***

    Dari REPUBLIKA

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 21 January 2013 Permalink | Balas  

    Jangan Jadi Gelas 

    Jangan Jadi Gelas

    Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.

    “Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu? ” sang Guru bertanya.

    “Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya, ” jawab sang murid muda.

    Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.” Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

    “Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata Sang Guru. “Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.” Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

    “Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru.

    “Asin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.

    Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

    “Sekarang kau ikut aku.” Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.” Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

    “Sekarang, coba kau minum air danau itu,” kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.

    Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, “Bagaimana rasanya?”

    “Segar, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana . Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

    “Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?”

    “Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

    “Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.”

    Si murid terdiam, mendengarkan.

    “Tapi Nak, rasa `asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya ‘qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 20 January 2013 Permalink | Balas  

    Orang Tua Sumbu Pendek 

    Orang Tua Sumbu Pendek

    Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

    Tiba-tiba, saya marah kepada anak saya. Saya membelalakkan mata lebar-lebar, dengan wajah menegangkan dan suara yang menakutkan. Untunglah istri saya segera bertindak.

    Ia panggil anak saya baik-baik, mengajaknya bicara empat mata tanpa amarah yang meluap-luap, lalu menasehatinya dengan lembut dan tegas. Anak saya yang usianya belum mencapai lima tahun itu memerah matanya, merebahkan badannya di pangkuan ibunya tanda bahwa ia menyesal -bukan kesal.

    Entah apa yang dikatakan oleh ibunya, seperti nyaris berbisik, tetapi anak saya segera keluar menemui saya. “Bapak, aku sayang sama Bapak. Aku minta maaf, ya?” katanya.

    Saya pegang tangannya lalu saya pangku. “Iya, Nak. Bapak juga minta maaf. Tadi bapak salah. Bapak nggak boleh marah seperti itu,” kata saya menanggapi, sambil diam-diam merasa malu.

    Ya, saya tidak boleh marah dengan cara yang buruk. Memarahi anak memang boleh jika benar-benar dibutuhkan. Tetapi memarahi berbeda dengan marah. Memarahi tidak selalu karena marah, meski acapkali orangtua memarahi anaknya karena emosi yang meluap-luap, saat hati dan pikiran sama-sama keruh. Memarahi bisa kita lakukan dengan kondisi emosi yang terkontrol, jernih dan tenang.  Lalu, seperti apa marah dengan cara yang buruk? Dan bagaimana pula seharusnya bila kita harus memarahi anak?

    Sumbu Pendek

    Ada beberapa hal buruk yang sering dialami orangtua semacam saya. Mereka cepat tersulut emosinya karena ada hal-hal yang kurang menyenangkan dari anak. Mereka cepat melampiaskan kemarahan hanya karena kejadian-kejadian kecil, tanpa berusaha mengendapkan terlebih dulu untuk mencari jalan paling jernih. Tidak menunggu waktu lama untuk mencubit anak dengan keras, membelalakkan mata secara menakutkan, atau segera menghujaninya dengan kata-kata makian dan umpatan. Begitu anak melakukan sedikit kesalahan, atau bahkan belum tentu merupakan kesalahan, seketika itu pula orangtua menyerangnya dengan kata-kata ancaman, cap yang buruk atau pertanyaan yang memojokkan. Orangtua semacam ini memiliki sumbu pendek, sehingga cepat terbakar tanpa sempat berpikir.

    Sebagian orangtua sumbu pendek menganggap tindakan yang keras, mudah meledak dan reaktif sebagai pilihan terbaik untuk memberi pelajaran pada anak. “Biar anak tidak kurang ajar,” kata seorang ibu, “Mereka harus diajari sopan santun.” Sayangnya, banyak yang merasa mengajarkan sopan santun tanpa pernah menerangkan kepada anak apa yang seharusnya dilakukan. Mereka hanya memberi hukuman yang menyakitkan dan memarahinya habis-habisan ketika anaknya berbuat yang tidak sesuai dengan keinginannya. Padahal, ada kaidah yang mengatakan, “Qubhunal ‘iqab bila bayan.” Adalah buruk menyiksa (menghukum) tanpa memberi penjelasan.  Menghukum dengan memberi penjelasan bukan berarti memukuli atau membentak-bentak sambil menyanyikan lagu cercaan, “Bodoh itu. Awas, kalau kamu melakukan lagi, saya jewer kamu. Ayo, kamu ulangi lagi nggak? Awas kau nanti! Kalau kamu lakukan lagi, saya lempar kamu.”

    Menghukum dengan memberi penjelasan berarti, kita menunjukkan kepada anak apa yang baik, apa yang sepatutnya dilakukan, dan sesudahnya menunjukkan apa yang tidak baik untuk dikerjakan. Kita tunjukkan kepada anak konsekuensinya jika anak mengerjakan yang buruk dan salah. Atau, kita jelaskan kepada anak dengan cara yang lembut dan tegas kesalahan yang baru saja ia lakukan.

    Sikap yang reaktif atau bahkan impulsif dalam menghukum anak akan menjadikan anak belajar menganggap kekerasan sebagai hal yang biasa. Tidak menakutkan. Mereka tidak lagi merasa takut mendapat hukuman orangtua, asal keinginannya terpenuhi. Alhasil, jika Anda sering sekali memarahi anak -apalagi kalau sulit ditebak apa yang membuat Anda memarahinya- jangan salahkan siapa-siapa kalau anak menganggap Anda sebagai macan kertas. Jangan kaget kalau ibunya marah-marah, tetapi anaknya yang kelas empat SD berkata, “Tuh, ibu lagi kumat.”

    Sekalipun memarahi dengan cara ini memang bisa menghentikan perilaku negatif anak, tetapi bukan karena sadar. Anak berhenti melakukan semata-mata karena takut kepada orangtua. Sewaktu-waktu ketakutan itu memudar, atau merasa tak terjangkau oleh pengawasan dan kemarahan orangtua, atau pun merasa sudah punya kekuatan untuk berkata tidak, anak tidak lagi patuh kepada orangtua. Sebaliknya, anak bahkan bisa melawan orangtua.

    Itulah sebabnya kenapa sebagian anak begitu patuh pada orangtua saat mereka kanak-kanak, tetapi berubah menjadi penentang saat remaja. Ada pula yang tetap menjaga kepatuhan sampai masa remaja, tetapi hanya di hadapan orangtua atau berada dalam jangkauan pengawasan orangtua.

    Jika ini terjadi pada anak-anak kita, saya tidak dapat membayangkan bagaimana nasib kita di akhirat kelak. Jangankan di akhirat, ketika uban belum memenuhi kepala pun kita sudah bisa sangat kerepotan. Kita tidak pernah bisa istirahat, meski cuma sejenak. Kita dipaksa mengawasi mereka terus-menerus, padahal kita tidak akan pernah punya kesanggupan untuk mengawasi mereka secara benar-benar sempurna. Karenanya, marilah kita memohon kepada Allah penjagaan atas hati dan iman anak-anak kita. Sesungguhnya, sebaik-baik penjaga adalah Allah ‘Azza wa Jalla. Selebihnya, marilah kita ingat pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

    Seorang laki-laki berkata kepada Nabi saw. “Ya Rasul Allah, berpesanlah kepadaku.” Nabi saw berpesan, “Laa taghdhab! Jangan marah.” Laki-laki itu bertanya berulang-ulang, tetapi Nabi saw tetap berpesan berulang kali pula, “Laa taghdhab! Jangan marah.” (HR. Bukhari).

    Ya, jangan marah. Tetapi alangkah sulitnya menahan marah bila hati sedang keruh dan pikiran sedang rusuh. Lebih-lebih jika tak ada keteduhan jiwa antara suami dan istri lantaran kurangnya syukur atau banyaknya keluh kesah. Atau boleh jadi keadaan itu tidak terjadi di rumah kita, tetapi kita masih sulit mengelola emosi sehingga mudah melampiaskan kemarahan secara berapi-api. Dan inilah yang dirasakan oleh banyak orangtua. Mereka sebenarnya ingin menjadi orangtua yang paling lembut, paling sayang dan paling bijak kepada anaknya. Mereka tidak ingin kasar dan bertindak secara tergesa-gesa, tetapi masih saja sering melakukan kegagalan.

    Dalam kasus yang terakhir ini, kerjasama antara suami dan istri sangat penting peranannya. Mereka perlu saling mengingatkan dan saling menyadari keterbatasan.  Berkenaan dengan mengingatkan, ada dua hal penting yang perlu kita perhatikan. Pertama, ingatkanlah kekeliruan yang dilakukannya saat ini tanpa memojokkan. Tanpa menyalahkan. Teguran yang disampaikan dengan baik dan lembut akan lebih mudah diterima. Seperti sore itu, istri saya memberi teguran dengan empatik tanpa suara yang meninggi, sehingga saya segera menyadari kekeliruan atas tindakan saya kepada anak. Kedua, terimalah teguran itu dengan lapang. Bukan sebagai ancaman atau serangan terhadap harga diri. Sebaik dan selembut apa pun nasehat yang diberikan, tapi kalau kita menerimanya dengan penuh kecurigaan (“Tumben, kok dia bicara seperti itu.”), menganggapnya sebagai serangan terhadap harga diri (“Kok sepertinya cuma saya yang bersalah, padahal dia juga melakukan banyak kesalahan.”), apalagi kita tanggapi dengan serangan balik (“Apa kamu merasa tidak pernah melakukan kesalahan?”), maka seluruh upaya yang baik itu akan sia-sia. Komunikasi akan macet dan saling pengertian tidak tercapai. Boleh jadi, ini akan memicu komunikasi yang bernada saling menyerang dan memaksa. Inilah yang disebut coercive communication, salah satu penyebab utama pertengkaran dan perceraian.

    Masih tentang marah. Memarahi anak secara impulsif, tiba-tiba, dan tanpa berpikir jernih justru dapat membuat anak kebal hukuman. Ia tidak lagi takut terkena bentakan, cubitan atau bahkan pukulan yang paling keras sekalipun. Ia merasakannya sebagai ritme hidup yang harus dijalani dan karena itu tidak perlu dirisaukan lagi. Rasa dongkol dan sakit hati memang tetap ada, tetapi tidak membuat anak jera. Jika ini terjadi, kemarahan orangtua akan berkejar-kejaran dengan “kenakalan” anak. Orangtua marah sepanjang hari, berteriak setiap saat, dan mencubit tanpa henti; sementara anak akan tetap melakukan kenakalannya. Bahkan boleh jadi, anak akan berusaha melawan sebisa-bisanya.

    Keadaan ini akan lebih buruk lagi jika orangtua suka marah semata-mata karena mengikuti kata hatinya. Jadi benar tidaknya perbuatan anak, ditentukan oleh suasana hati orangtua. Hari ini satu perbuatan bisa disambut dengan senyuman, atau sekurang-kurangnya dibiarkan tanpa teguran, tetapi besok bisa tiba-tiba mendatangkan amarah yang menakutkan. Ini menyebabkan anak tidak bisa belajar mengambil keputusan yang baik. Sebaliknya, ia hanya mengikuti kemana angin bertiup atau belajar melawan. Ia tidak punya pendirian yang teguh, lemah, mudah terpengaruh atau sebaliknya, ia menjadi orang yang sangat keras kepala.

    Di sisi lain, tindakan kita yang secara reaktif memarahi anak bisa mematikan kreativitas dan potensi unggul anak. Saya pernah melakukan kesalahan. Dua orang anak saya mengambil cucian yang belum selesai dibilas, sehingga pekerjaan justru bertambah. Saya segera bertindak. Cucian itu saya ambil tanpa bertanya kepada anak. Meskipun tanpa memukul dan atau membentak, tetapi anak saya menampakkan tanda ingin berontak. Ia dongkol. Ketika itulah saya tersentak. Saya dekati mereka dan bertanya, “Cuciannya kenapa diambil, Nak?”

    “Aku mau bantu. Biar ibu nggak capek,” kata Husain.  “Aku hati-hati kok ngambilnya, Pak,” kata Fathimah menambahkan, “Aku mau bantu Bapak.”

    Ya. Allah, maksud yang baik tetapi saya sikapi dengan buruk. Dan alangkah sering kita melakukan yang demikian. Karenanya, begitu menyadari kekeliruan yang saya lakukan, saya segera meminta maaf sekaligus ucapan terima kasih kepada mereka. Sesudahnya, saya beri sedikit penjelasan. Bayangkan kalau kesalahan semacam itu terjadi setiap hari, betapa besar potensi kebaikan anak yang terkubur dalam-dalam sebelum sempat berkembang!

    Benarlah kata Rasulullah. Jangan marah! Jangan marah! Jangan marah! Boleh memarahi anak, tetapi bukan untuk memperturutkan emosi. Ini butuh usaha yang keras dan kesediaan saling mengingatkan antara suami dan istri.  Nah, semoga Allah membaguskan akhlak kita dan mengampuni dosa-dosa kita. Semoga Allah menjaga keturunan kita seluruhnya. Allahumma amin.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 19 January 2013 Permalink | Balas  

    Beras dari Langit 

    Beras dari Langit

    Allah mengiriminya “orang tak dikenal dari langit” dengan membawakan berkarung-karung beras. Demikianlah satu balasan yang diberikan Allah sebagaimana janjinya kepada para pejuang agama Nya

    Hidayatullah.com — Perempuan itu terlihat khusyuk di atas sajadahnya. Wajahnya bening, bersahaja memancarkan sinar kemuliaan dari hati yang qona ah. Jari tangannya masih bergerak-gerak mengiringi rentak tasbihnya, puji cinta yang tak pernah bosan ia lantunkan untuk sang kekasih yang Maha Pengasih.

    “Hhhhh…Ukh…..ukh…..”

    Anak lelaki usia 10 tahunan yang terbaring lemah di atas kasur di sampingnya menggeliat. Dia mengigau lagi. Panas tubuhnya belum turun dari tadi malam. Perempuan itu menghentikan zikirnya. Diperhatikannya lalu dengan penuh kasih diusapnya dahi anak itu.

    “Alhamdulillah … panasnya sudah turun”

    “Salman, minum dulu, nak!” Katanya sambil menyodorkan segelas teh.

    Perempuan itu kemudian bangun dari duduknya. Melipat sejadah dan muqananya, lalu beranjak ke dapur.

    Salman hanyalah satu dari puluhan santri yang mondok di rumahnya. Mereka kebanyakan anak-anak usia sekolah dasar, sebagian yatim atau piatu. Di pondok itu mereka diasuh dan dibesarkan, dididik dan diajari shalat, akhlak, mengaji dan menghafal Al-Qur’an. Mereka juga disekolahkan di SD, SMP ataupun MTSN setempat. Santri-santri itu memang diperlakukan layaknya anak kandung sendiri, sehingga bila ada di antara mereka yang sakit, ia sendiri yang akan merawat dan menjaganya sampai sembuh.

    “Ummi …”

    “Ada apa Da?”

    “Hmm… ini Ummi, Ida cuma mau memberitahu. Beras persiapan kita sudah hampir habis.” Ida juga seorang santriwati yang rajin membantunya di dapur.

    “Hmm…, baiklah. Oh ya, sepertinya di luar ada tamu ya, Da? Sudah dibuatkan minum?”

    “Sudah, Ummi”.

    Ia bergegas ke ruang tamu. Di beranda, suaminya tengah beramah-tamah dengan beberapa guru. Ia berhenti di balik pintu, mencoba mencermati percakapan mereka.

    “Ustadz, kami rasa, sistem yang lama sudah tidak bisa diteruskan lagi. Jumlah santri semakin bertambah, sementara sarana yang kita miliki tidak memadai,” ujar salah seorang guru kepada Pimpinan Pondok.

    “Betul, Ustadz, kita harus memungut bayaran dari santri. Minimal untuk menutupi biaya makan mereka. Kami dengar bahkan beras pun sering kali hampir habis. Bagaimana kalau untuk makan saja tidak cukup?” kata yang lain menambahi.

    “Tapi kalian belum pernah betul-betul kelaparan bukan?” jawab beliau, kalem dan bijaksana.

    “Begini, Ustadz … Maksud kami, biar dana yang biasanya untuk makan santri itu dialihkan untuk dana lain.”

    “Iya, asrama santri perlu ditambah. Bangunan yang ada tidak layak lagi untuk menampung para santri yang jumlahnya bertambah terus. Begitu juga ruang belajar dan sarana kebersihan seperti kamar mandi, toilet, dan lain sebagainya.”

    Hening sejenak. Kemudian terdengar helaan nafas yang berat dari lelaki bijaksana itu.

    “Kami akan menyiapkan proposal permohonan bantuan dana ke seorang kaya yang kami dengar sering membantu pesantren, kalau kalian setuju,” ujar salah seorang dari mereka setengah mendesak namun hati-hati, khawatir akan menyinggung perasaan Pak Ustadz.

    Sunyi lagi. Pak Ustadz tetap terdiam. Beliau hanya sesekali menghela nafas sambil melempar pandangan ke luar. Tetapi kemudian,

    “Baiklah, Ustadz, kami pamit dulu,” kata rombongan guru itu.

    “Assalamu ‘alaykum!”

    “Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Pak Ustadz.

    Beberapa saat sesudah mereka pergi, perempuan yang tadi berdiri di balik pintu dan menyimak pembicaraan itu keluar, lalu duduk di sebelah suaminya.

    “Saya mengikuti dialog tadi,” katanya memecah keheningan.

    “Dan sudah tahu, bukan, apa jawaban saya. Sampai kapan pun, akan tetap sama, jawab suaminya. Sejak didirikan pada tahun 1975, pesantren itu memang tidak memungut iuran sama sekali walau satu sen pun dari para santri, wali ataupun orangtua mereka. Semuanya gratis, dari mulai makan hingga biaya sekolah.

    “Beras di dapur sudah hampir habis. Hanya cukup untuk hari ini saja,” kata perempuan itu kepada suaminya. Suaranya tetap datar, hanya bermaksud memberitahu. Suaminya hanya terdiam. Tak sepatah kata pun diucapkannya. Janji yang ia ikrarkan kepada Sang Khalik tidak akan berubah, karena ia sangat yakin Allah tidak pernah menyalahi janjiNya: in tanshuru-llaha yanshurkum. Orang yang berjuang menegakkan agama Allah pasti akan ditolong, dijamin dan dimenangkan olehNya.

    Pak Ustadz belum beranjak dari duduknya. Hanya kelihatan bergumam sambil menggerak-gerakan jari-jemarinya, larut dalam zikir dan doa. Tidak lama kemudian terdengar suara riuh rendah. Nampaknya santri-santri telah selesai melakukan olah raga, jalan keliling kampung. Sudah menjadi acara khusus di hari Minggu pagi bagi pesantren tersebut. Perempuan itu melongok ke ruang dalam, melihat jam dinding, sudah jam 10. Bergegas dia masuk, menuju dapur. Hanya ada Ida dan Yati di sana, dia harus membantunya menyiapkan makan siang

    ***

    Selesai sholat zuhur, lingkungan pesantren kembali sepi. Sebagian besar santri sedang beristirahat di pondokan masing-masing. Tiba-tiba sebuah truk berhenti di depan pesantren. Sopir dan seorang lagi temannya menurunkan karung-karung beras dari truk itu. Salah seorang dari mereka melambaikan tangan ke arah santri yang sedang duduk-duduk di kursi kayu di depan salah satu pondokan tidak jauh dari pintu gerbang. Bergegas santri itu mendekati orang tersebut.

    “Panggil temanmu. Angkat karung-karung ini ke dapur”, kata orang tadi. Selesai menurunkan semua karung-karung, tanpa berkata apa-apa lagi, kedua orang itu pun langsung pergi. Belum sempat santri itu bertanya, truk sudah bergerak meninggalkan kepulan asap dan debu. Santri itu hanya melongo sesaat setelah itu segera berlari memanggil kawannya.

    “Ilham, orang yang mengantar beras ini sudah dipersilahkan masuk? Biar Ummi panggil Ustadz sebentar, ya!”

    “Orangnya sudah pergi Ummi,” agak ngos-ngosan anak yang dipanggil Ilham itu menjawab.

    “Lho…, dia bilang atau tidak, dari mana beras-beras ini?” tanya Ummi keheranan.

    “Ilham belum sempat tanya Ummi. Orangnya sudah keburu pergi. Dia hanya menyuruh saya mengangkat karung-karung ini ke dapur”.

    “Ya sudahlah …”.

    Ketika disampaikan perihal kedatangan orang-orang tak dikenal itu, suaminya menjawab singkat: “Oh, itu beras dari langit.”

    Demikianlah satu dari sekian banyak pengalaman yang ia lalui selama mendampingi suaminya membina pesantren yang kini kelihatan sudah berkembang dengan pesat dan mulai dikenal luas di seantero nusantara.

    Siapakah orangnya yang (mahu) memberikan pinjaman kepada Allah sebagai pinjaman yang baik (yang ikhlas) supaya Allah melipatgandakan balasannya dengan berganda-ganda banyaknya? Dan (ingatlah), Allah jualah Yang menyempit dan Yang meluaskan (pemberian rezeki) dan kepadaNyalah kamu semua dikembalikan. (QS.2:245)

    “Orang-orang mukmin itu hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan berjihad dengan harta dan jiwa di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Q.S. Al Hujurat :10).

    ***

    Oleh: Andi Sri Suriati Amal

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 18 January 2013 Permalink | Balas  

    Mengenalkan Allah pada Anak 

    Mengenalkan Allah pada Anak

    Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

    Kalau anak-anak kelak tak menjadikan Tuhannya sebagai tempat meminta dan memohon pertolongan, barangkali kitalah penyebab utamanya. Kitalah yang menjadikan hati anak-anak tak dekat dengan Tuhannya. Bukan karena kita tak pernah mengenalkan -meskipun barangkali ada yang demikian-tetapi karena keliru dalam memperkenalkan Tuhan kepada anak.

    Kerapkali, anak-anak lebih sering mendengar asma Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam suasana menakutkan dengan sifat-sifat Jalaliyah (Maha Besar). Sifat Jamaliyah (Maha Indah) Allah hampir-hampir tak mereka ketahui, kecuali namanya saja. Mereka mendengar asma Allah ketika orangtua hendak menghukumnya. Sedangkan saat gembira, yang mereka ketahui adalah boneka barbie. Akibatnya, mereka menyebut nama Allah hanya di saat terjadi musibah yang mengguncang atau saat kematian menghampiri orang-orang tersayang. Astaghfirullah al ‘azhiim.

    Anak-anak kita sering mendengar nama Allah ketika mereka sedang melakukan kekeliruan-meski terkadang kekeliruan itu sebenarnya ada pada kita lalu kita mengeluarkan ancaman. Kita meneriakkan asma Allah, “Ayo., nggak boleh! Dosa! Allah nggak suka sama orang yang sering berbuat dosa.”

    Atau, saat mereka tak sanggup menghabiskan nasi yang memang terlalu banyak untuk ukuran mereka. “Eh. nggak boleh begitu. Harus dihabiskan. Kalau nggak dihabiskan, namanya muba.? Mubazir! Mubazir itu temannya setan. Nanti Allah murka, lho.”

    Nama Allah yang mereka dengar lebih banyak dalam suasana negatif; suasana yang membuat manusia justru cenderung ingin lari. Padahal kita diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendakwahkan agama ini, termasuk kepada anak kita, dengan cara, “Mudahkanlah dan jangan dipersulit, gembirakanlah dan jangan membuat mereka lari”.

    Anak tidak merasa dekat dengan Tuhannya jika kesan yang ia rasakan tidak menggembirakan. Sama seperti pengguna kendaraan bermotor yang cenderung menghindari polisi, bahkan di saat membutuhkan pertolongan. Mereka ‘menjauh’ karena telanjur memiliki kesan yang tidak menyenangkan. Jika ada pemicu yang cukup, kesan negatif itu dapat menjadi benih-benih penentangan kepada agama; Allah dan Rasul-Nya. Na’udzubillahi min dzalik. (Kita berlindung kepada Allah dari hal demikian).

    Rasanya, telah cukup pelajaran yang terbentang di hadapan mata. Anak-anak yang dulu paling keras mengumandangkan adzan, sekarang sudah ada yang menjadi penentang perintah Tuhan. Anak-anak yang dulu segera berlari menuju tempat wudhu begitu mendengar suara batuk bapaknya di saat maghrib, sekarang mereka berlari meninggalkan agama. Mereka mengganti keyakinannya pada agama dengan kepercayaan yang kuat pada pemikiran manusia, karena mereka tak sanggup merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupan. Semenjak kecil, mereka memang tak biasa menangkap dan merasakan kasih sayang Allah.

    Agaknya, ada yang salah pada cara kita memperkenalkan Allah kepada anak. Setiap memulai pekerjaan, apapun bentuknya, kita ajari mereka mengucap basmalah. Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tetapi kedua sifat yang harus selalu disebut saat mengawali pekerjaan itu, hampir-hampir tak pernah kita kenalkan maknanya kepada mereka (atau jangan-jangan kita sendiri tak mengenalnya?). Apa yang mereka rasakan bertentangan dengan apa yang mereka ucapkan tentang Tuhannya.

    Bercermin pada perintah Nabi dan urutan turunnya ayat-ayat suci yang awal, ada beberapa hal yang patut kita catat dengan cermat. Seraya memohon hidayah kepada Allah atas diri dan anak-anak kita, mari kita periksa catatan berikut ini:

    Awali Bayimu dengan Laa Ilaaha IllaLlah Rasulullah pernah mengingatkan, “Awalilah bayi-bayimu dengan kalimat Laa ilaaha illaLlah.”

    Kalimat suci inilah yang perlu kita kenalkan di awal kehidupan bayi-bayi kita, sehingga membekas pada otak dan menghidupkan cahaya hati. Apa yang didengar di saat-saat awal kehidupan akan berpengaruh pada perkembangan berikutnya, khususnya terhadap pesan-pesan yang disampaikan dengan cara yang mengesankan.

    Suara ibu yang berbeda dari suara-suara lain, jelas pengucapannya, terasa seperti mengajarkan (teaching style) atau mengajak berbincang akrab (conversational quality), memberi pengaruh yang lebih besar bagi perkembangan bayi. Selain menguatkan pesan pada diri anak, cara ibu berbicara seperti itu juga secara nyata meningkatkan IQ balita, khususnya usia 0-2 tahun. Begitu pelajaran yang bisa saya petik dari hasil penelitian Bradley & Caldwell berjudul 174 Children: A Study of the Relationship between Home Environment and Cognitive Development during the First 5 Years.

    Apabila anak sudah mulai besar dan dapat menirukan apa yang kita ucapkan, Rasulullah memberikan contoh bagaimana mengajarkan untaian kalimat yang sangat berharga untuk keimanan anak di masa mendatang. Kepada Ibnu ‘Abbas yang ketika itu masih kecil, Rasulullah berpesan: “Wahai anakku, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kata ini sebagai nasihat buatmu. Jagalah hak-hak Allah, niscaya Allah pasti akan menjagamu. Jagalah dirimu dari berbuat dosa terhadap Allah, niscaya Allah akan berada di hadapanmu. Apabila engkau menginginkan sesuatu, mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau menginginkan pertolongan, mintalah pertolongan pada Allah. Ketahuilah bahwa apabila seluruh ummat manusia berkumpul untuk memberi manfaat padamu, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah di dalam takdirmu itu. Juga sebaliknya, apabila mereka berkumpul untuk mencelakai dirimu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakaimu sedikit pun kecuali atas kehendak Allah. Pena telah diangkat dan lembaran takdir telah kering.” (Riwayat At-Tirmidzi)

    Dalam riwayat lain disebutkan, “Jagalah hak-hak Allah, niscaya engkau akan mendapatkan Dia ada di hadapanmu. Kenalilah Allah ketika engkau berada dalam kelapangan, niscaya Allah pun akan mengingatmu ketika engkau berada dalam kesempitan. Ketahuilah bahwa segala sesuatu yang salah dalam dirimu tidak mesti engkau langsung mendapatkan hukuman-Nya. Dan juga apa-apa yang menimpa dirimu dalam bentuk musibah atau hukuman tidak berarti disebabkan oleh kesalahanmu. Ketahuilah bahwa pertolongan itu akan datang ketika engkau berada dalam kesabaran, dan bersama kesempitan akan ada kelapangan. Juga bersama kesulitan akan ada kemudahan.”

    Tak ada penolong kecuali Allah Yang Maha Kuasa; Allah yang senantiasa membalas setiap kebaikan. Tak ada tempat meminta kecuali Allah. Tak ada tempat bergantung kecuali Allah. Dan itu semua menunjukkan kepada anak bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah. Wallahu a’lam bishawab.

    Iqra’ Bismirabbikal ladzii Khalaq Sifat Allah yang pertama kali dikenalkan oleh-Nya kepada kita adalah al-Khaliq dan al-Kariim, sebagaimana firman-Nya, “Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-‘Alaq: 1-5)

    Setidaknya ada tiga hal yang perlu kita berikan kepada anak saat mereka mulai bisa kita ajak berbicara. Pertama, memperkenalkan Allah melalui sifat al-Khaliq (Maha Pencipta). Kita tunjukkan kepada anak-anak kita bahwa kemana pun kita menghadap, di situ kita menemukan ciptaan Allah. Kita tumbuhkan kesadaran dan kepekaan bahwa segala sesuatu yang ada di sekelilingnya adalah ciptaan Allah. Semoga dengan demikian, akan muncul kekaguman anak kepada Allah. Ia merasa kagum, sehingga tergerak untuk tunduk kepada-Nya.

    Kedua, kita ajak anak untuk mengenali dirinya dan mensyukuri nikmat yang melekat pada anggota badannya. Kita ajak mereka menyadari bahwa Allah Yang Menciptakan semua itu. Pelahan-lahan kita rangsang mereka untuk menemukan amanah di balik kesempurnaan penciptaan anggota badannya. Katakan, misalnya, pada anak yang menjelang usia dua tahun, “Mana matanya? Wow, matanya dua, ya? Berbinar-binar. Alhamdulillah, Allah ciptakan mata yang bagus untuk Owi. Matanya buat apa, Nak?”

    Secara bertahap, kita ajarkan kepada anak proses penciptaan manusia. Tugas mengajarkan ini, kelak ketika anak sudah memasuki bangku sekolah, dapat dijalankan oleh orangtua bersama guru di sekolah. Selain merangsang kecerdasan, tujuan paling pokok adalah menumbuhkan kesadaran-bukan hanya pengetahuan-bahwa ia ciptaan Allah dan karena itu harus menggunakan hidupnya untuk Allah.

    Ketiga, memberi sentuhan kepada anak tentang sifat al-Karim. Di dalamnya berhimpun dua keagungan, yakni kemuliaan dan kepemurahan. Kita asah kepekaan anak untuk menangkap tanda-tanda kemuliaan dan sifat pemurah Allah dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tumbuh kecintaan dan pengharapan kepada Allah. Sesungguhnya manusia cenderung mencintai mereka yang mencintai dirinya, cenderung menyukai yang berbuat baik kepada dirinya, dan memuliakan mereka yang mulia. Wallahu a’lam bishawab.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 17 January 2013 Permalink | Balas  

    Keutamaan Sedekah 

    Keutamaan Sedekah

    Oleh : Suprianto

    Diceritakan, ketika Nabi Ayub as., sedang mandi tiba-tiba Allah SWT mendatangkan seekor belalang emas dan hinggap di lengannya. Baginda menepis-nepis lengan bajunya agar belalang jatuh. Lantas Allah SWT berfirman, ”Bukankah Aku lakukan begitu supaya kamu menjadi lebih kaya?” Nabi Ayub AS menjawab, ”Ya benar, wahai Sang Pencipta! Demi keagungan-Mu apalah makna kekayaan tanpa keberkahan-Mu.”

    Kisah di atas menegaskan betapa pentingnya keberkahan dalam rezeki yang dikurniakan oleh Allah SWT. Kekayaan tidak akan membawa arti tanpa ada keberkahan. Dengan adanya keberkahan, harta dan rezeki yang sedikit akan bisa terasakan mencukupi. Sebaliknya, tanpa keberkahan rezeki yang meskipun banyak akan terasakan sempit dan menyusahkan.

    Agar rezeki yang Allah SWT berikan kepada kita menjadi berkah, Rasulullah SAW menganjurkan kepada umatnya untuk memperbanyak sedekah. Kata Rasulullah SAW, ”Belilah semua kesulitanmu dengan sedekah.” Dalam hadis lain, Rasulullah SAW menjelaskan, ”Setiap awal pagi, semasa terbit matahari, ada dua malaikat menyeru kepada manusia di bumi. Yang satu menyeru, ‘Ya Tuhanku, karuniakanlah ganti kepada orang yang membelanjakan hartanya kerena Allah’. Yang satu lagi menyeru, ‘Musnahkanlah orang yang menahan hartanya’.”

    Sedekah walaupun kecil tetapi amat berharga di sisi Allah SWT. Orang yang bakhil dan kikir dengan tidak menyedekahkan sebagian hartanya akan merugi di dunia dan akhirat karena tidak ada keberkahan. Jadi, sejatinya orang yang bersedekah adalah untuk kepentingan dirinya. Sebab, menginfakkan (belanjakan) harta akan memperoleh berkah, dan sebaliknya menahannya adalah celaka.

    Sedekah memiliki beberapa keutamaan bagi orang yang mengamalkannya.

    Pertama, mengundang datangnya rezeki. Allah SWT berfirman dalam salah satu ayat Al-Quran bahwa Dia akan membalas setiap kebaikan hamba-hamba-Nya dengan 10 kebaikan. Bahkan, di ayat yang lain dinyatakan 700 kebaikan. Khalifah Ali bin Abi Thalib menyatakan, ”Pancinglah rezeki dengan sedekah.”

    Kedua, sedekah dapat menolak bala. Rasulullah SAW bersabda, ”Bersegeralah bersedekah, sebab yang namanya bala tidak pernah bisa mendahului sedekah.”

    Ketiga, sedekah dapat menyembuhkan penyakit. Rasulullah SAW menganjurkan, ”Obatilah penyakitmu dengan sedekah.”

    Keempat, sedekah dapat menunda kematian dan memperpanjang umur. Kata Rasulullah SAW, ”Perbanyaklah sedekah. Sebab, sedekah bisa memanjangkan umur.”

    Mengapa semua itu bisa terjadi? Sebab, Allah SWT mencintai orang-orang yang bersedekah. Kalau Allah SWT sudah mencintai seorang hambanya, maka tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan, tidak ada permintaan dan doa yang Allah tidak kabulkan, serta tidak ada dosa yang Allah tidak ampuni, dan hamba tersebut akan meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah (baik).

    Kekuatan dan kekuasaan Allah jauh lebih besar dari persoalan yang dihadapi manusia. Lalu, kalau manfaat sedekah begitu dahsyatnya, masihkah kita belum juga tergerak untuk mencintai sedekah? Wallahu a’lam bis-shawab

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 16 January 2013 Permalink | Balas  

    Menyambut Tamu Agung 

    Menyambut Tamu Agung

    Oleh : KN Kusuma

    Rasulullah belum tiba, tapi ingar-bingar di Madinah sudah begitu terasa. Pagi-pagi, kaum Anshar sudah bersiap-siap di luar kota untuk menyambut kedatangan Nabi. Mereka menunggu, tak peduli dengan terik musim kemarau yang sangat panas.

    Ternyata Rasulullah tiba saat kaum Anshar pulang ke rumah masing-masing. Orang pertama yang melihat Rasululah adalah seorang laki-laki Yahudi. Ia berteriak lantang mengabarkan. Kaum Anshar serta-merta keluar rumah untuk menyambut kedatangan kekasih Allah.

    Rasululah datang bersama Abu Bakar. Usia mereka sama. Perawakan tak jauh beda. Sebagian besar kaum Anshar belum pernah melihat Rasulullah. Mereka hanya sering mendengar kemuliaan Rasul dari Mush’ab bin ‘Umair.

    Rasulullah sengaja mengutus Mush’ab sebelum beliau hijrah, mengajarkan Alquran, Islam, dan memberikan pemahaman agama pada penduduk Madinah. Maka dari itulah kaum Anshar bingung, yang mana kekasih Allah yang harum namanya itu?

    Abu Bakar paham kondisi itu. Ia menutupkan selendangnya untuk memayungi Rasulullah SAW, sehingga kaum Anshar mengenali. Serta-merta 500 kaum Anshar mengerubung, ”Masuklah kaliah berdua (ke dalam kota) dengan aman dan ditaati,” kata salah seorang di antara mereka. Rasulullah dan Abu Bakar masuk ke kota dan semakin meriahlah suasana Madinah.

    Seluruh warga Madinah keluar rumah. Laki-laki dan perempuan naik ke atap rumah mereka. Anak-anak dan pelayan bertebaran di jalan. Mereka menyambut dan memanggil, ”Ya Muhammad! Ya Rasulullah!” takbir gembira bersahut-sahutan. Bahkan, ada pula yang melantunkan syair indah Thala’al Badru yang dikenal sampai sekarang.

    Apa yang membuat kaum Anshar begitu gembira menyambut kedatangan Nabi, padahal mereka belum pernah melihat Nabi, belum tahu rupa dan wajah sejuknya? Nabi datang tanpa harta, keindahan dunia, dan seribu janji kerja sama memakmurkan Madinah. Nabi datang dengan tangan hampa.

    Kaum Anshar bersuka cita, lebih karena iman dan takwanya kepada Allah. Indahnya Islam, lembut akhlak dan perangai Nabi adalah daya magnetis tersendiri. Tak ada yang menyuruh kaum Anshar menyambut kedatangan Rasulullah. Mereka spontan atas dorongan cinta. Mereka merelakan harta, tahta, untuk kaum Muhajirin.

    Begitulah sambutan terhadap tamu agung. Tak perlu seruan atau persiapan istimewa untuk menyambutnya. Indahnya akhlak, santun tutur perilaku, kebersihan hati, lebih dari cukup untuk membuat sang tamu agung disambut dengan penuh suka cita.

    ***

    Sumber:  republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 15 January 2013 Permalink | Balas  

    Ketika Doa Terhalang Makanan Haram 

    Ketika Doa Terhalang Makanan Haram

    Tersebutlah seorang lelaki yang telah melakukan perjalanan jauh. Rambutnya kusut masai penuh debu. Ia berjalan tertatih-tatih dengan membawa sebuntal pakaian dan bekal di pundaknya.

    Setelah sekian lama berjalan, ia berhenti. Matanya memandang ke langit. Ia teringat Tuhannya. Seketika itu pula tangannya menengadah. “Ya Rabb aku minta pertolonganmu. Ya Rabb aku minta rahmat dan kasihmu. Ya Rabb aku minta keselamatan dari-Mu”, pintanya berulang-ulang. Ia tampak khusyu berdoa.

    Diterimakah doanya? Seorang lelaki mulia berujar, “Sesungguhnya Allah menolak doa lelaki malang itu. Bagaimana doanya akan terkabul, sedang makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan perutnya dikenyangkan dengan makanan haram!”・

    Lelaki yang berkomentar tersebut adalah Rasulullah SAW. Sedangkan kisah ini berasal dari Abu Hurairah yang diriwayatakan Imam Muslim dalam Shahih-nya.

    Ya, makanan haram multi efek sifatnya. Ada banyak kerugian yang akan diderita seseorang yang menyengajakan diri mengonsumsinya. Salah satu siksaan yang Allah SWT timpakan adalah tidak diterimanya doa-doa mereka. Padahal, tanpa doa seorang Muslim tidak ada apa-apanya. Bukankan doa adalah senjata orang-orang beriman?

    Al-Hafidz Ibnu Mardawih meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas bahwa Sa’ad bin Abi Waqash berkata kepada Nabi SAW, “Ya Rasulullah, doakanlah aku agar menjadi orang yang dikabulkan doa-doanya oleh Allah”. Apa jawaban Rasulullah SAW, “Wahai Sa’ad perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya. Dan demi jiwaku yang ada di tanganNya, sungguh jika ada seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amal-amalnya selama 40 hari, dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba maka neraka lebih layak baginya.” (HR At-Thabrani).

    Memahami mekanisme PNI

    Untuk memahami lebih dalam tentang bagaimana makanan haram bisa menghalangi terkabulnya doa-doa, kita bisa menelaah mekanisme psiko neuroendokrinologi imunologi (PNI) atau sistem yang melibatkan pikiran, hormon dan sistem pertahanan tubuh.

    Makanan haram adalah sesuatu yang dilarang Allah. Dalilnya sudah sangat jelas. Bila aturan ini dilanggar dan makanan haram tetap dikonsumsi, maka akan lahir rasa tertekan dan ketakutan dari orang yang mengonsumsinya. Dalam jangka panjang, ketakutan akan menghasilkan kecemasan kronis. Dalam kondisi ini tubuh akan memproduksi hormon kortisol, skotofobin, dan adrenalin dalam jumlah yang berlebihan. Apa akibatnya? Seluruh sel tubuh akan terganggu bioritme-nya. Dengan kata lain, akan terganggu proses bertasbihnya. Kita tahu bahwa setiap sel yang terdiri dari atom dan partikel sub atomik senantiasa bertasbih dan ber-thawaf mengikuti ketentuan-Nya. Kondisi ketergangguan ini akan berdampak pada perubahan proses metabolisme dan proses biokimiawi lainnya. Akibatnya banyak potensi dasar biologis terhambat.

    Ketika berdoa, seseorang yang kondisi wujud fisik dan psikologis sedang tidak optimal ini, akan didominasi rasa takut yang berlebihan. Apa akibatnya? Doa yang dipanjatkannya menjadi sarat akan kepentingan sesaat dan egois. Ia pun dihantui dengan ketidakyakinan dan rasa takut berlebihan bahwa doanya tidak akan terkabul. Jadi sudah terjadi proses prasangka atau su’udhzon kepada Allah SWT. Padahal, dalam hadis qudsi disebutkan. “Sesungguhnya Aku akan mengikuti persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku selalu menyertainya apabila ia berdoa kepada-Ku.” (HR Bukhari Muslim)

    Dalam hadis lain disabdakan pula, “Dan jika kamu memohon kepada Allah Azza wa Jalla, wahai manusia, mohonlah langsung ke hadirat-Nya dengan keyakinan yang penuh bahwa doamu akan dikabulkan. Sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa hamba-Nya yang keluar dari hati yang lala.” (HR Ahmad). Jadi dapat disimpulkan, ketakutan dan keresahannya itulah yang menyebabkan doanya tidak tersampaikan dengan sempurna.

    Hal ini sekaligus menjelaskan mengapa mekanisme tobat dapat memperbaiki kualitas hidup dan keimanan seseorang. Proses tobat adalah sebuah proses katarsis atau ventilasi yang merupakan “jendela” atau “pintu” bagi terlepasnya beban psikologis yang ditanggung akibat perbuatan dosa. Tetapi tentu saja proses tobat keberhasilannya juga sangat tergantung pada seberapa dalam keyakinan kita tentang konsep Allah yang Maha Pengampun. Bila kita sudah berprasangka bahwa Allah tidak akan memaafkan, maka jangan berharap kalau tobat kita akan melancarkan segalanya. Justeru malah menjadi beban psikologis baru.

    Bagaimana dengan orang yang hanya sekedar ragu tentang kehalalan makanannya? Bila ragu seharusnya dihindari (syubhat). Mengapa? Karena keraguan itu akan menumbuhkan kecemasan. Dan kecemasan pada gilirannya akan menghasilkan kondisi chaos. Karena itu, Rasulullah SAW mewasiatkan agar kita menjauhi hal-hal yang meragukan. Beliau bersabda, “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu juga jelas, antara keduanya terdapat hal-hal samar yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa menjaga diri dari hal-hal yang samar itu, maka ia telah menjaga agama dan harga dirinya; dan barangsiapa jatuh ke dalam hal yang samar, maka ia telah jatuh kepada hal yang haram, seperti penggembala yang menggembala di sekitar daerah terlarang, nyaris ia masuk ke dalamnya. Ketahuilah, setiap raja mempunyai daerah larangan. Ketahuilah, sesungguhnya daerah larangan Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya.” (HR Bukhari Muslim).

    Untuk itu, sebelum kita dihisab di akhirat kelak tentang bagaimana kita mensyukuri nikmat Allah dalam hal kemampuan berkomunikasi (al-bayan), maka sebaiknya kita bertanya dan menyelidiki secara intensif kehalalan suatu produk makanan. Bukankah yang akan diperhitungkan kelak di hari akhir tidak hanya sekedar dosa yang disengaja saja, melainkan juga kelalaian kita dalam mencegah terjadinya kemungkaran akan dipertanyakan dan ditimbang?

    ***

    sumber: republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 14 January 2013 Permalink | Balas  

    Setiap Kata Itu Pasti Tercatat 

    Setiap Kata Itu Pasti Tercatat

    Allah SWT berfirman, “Tiada suatu kata yang diucapkan melainkan didekatnya ada malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)

    Allah berfirman, “Sesungguhnya bagi kalian ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (perbuatan kalian) yang mulia (disisi Allah) dan yang mencatat (perbuatan itu). Mereka mengetahui apa yang kalian lakukan.” (QS. Al-Infithar: 10-12)

    Dalam firman ALLAH ada juga, “Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan kepada kalian dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang kalian telah kerjakan.” (QS. Al-Jatsiyah: 29)

    Banyak berbicara menyebabkan kejemuan pada manusia. Mereka akan berpaling dari Anda dan mereka tidak akan senang mendengar ucapan Anda. Dari Abu Wail, “Abdullah ibn Mas’ud sering mengingatkan manusia pada hari kamis, lalu seseorang berkata kepadanya, `Wahai Abdurrahman, aku begitu menyukai jika engkau mengingatkan kami setiap hari.’ Dia berkata, `Aku khawatir akan menjenuhkan kalian, maka aku memilih waktu yang tepat (tidak sering) untuk kalian dalam memberi nasehat, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi SAW terhadap kita’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Oleh karena itu, para khatib Jum’at dianjurkan untuk meringkas khutbahnya.

    Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya shalat yang panjang dan khutbahnya yang ringkas merupakan pertanda akan kecerdasannya (imam dan khatib pada shalat jum’at). Maka panjangkanlah shalat dan ringkaskanlah khutbah, karena sebagian dari penjelasan (yang memukau) bagaikan sihir.” (HR. Muslim)

    ALLAH menganjurkan kita untuk membatasi pembicaraan dalam kebaikan dan meninggalkan ucapan yang tidak baik. ALLAH berfirman, “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan- bisikan dari orang-orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, berbuat baik atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barangsiapa berbuat demikian karena mencari keridhaan ALLAH, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. An- Nisa: 114)

    Rasulullah SAW telah membimbing kita untuk menjaga lisan:

    Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa beriman kepada ALLAH dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa menjamin kepadaku akan apa yang ada diantara jenggot dan kumisnya (maksudnya adalah lisannya) dan apa yang berada di antara dua kakinya (maksudnya adalah kemaluannya), maka Aku menjamin surga baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Rasulullah SAW juga bersabda, “Siapa yang diam, maka akan selamat.” Maka ringkas dan padat dalam berkata-kata sangat dianjurkan. Ini adalah bagian dari ke pahaman akan agama. Maka jangan banyak bicara, kecuali untuk sesuatu yang bermanfaat.

    “Di antara perangai Nabi adalah kemampuannya bertutur ringkas dan padat makna.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Allah telah memberikan nikmat kepada Nabi Daud as. berupa hikmah dan kecerdasan dalam berbicara dan menganalisa permasalahan yang dihadapi oleh kaumnya. “Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.” (QS. Shad: 20)

    Setelah delegasi Abdul Qays menemui Rasulullah SAW mereka mengatakan, “Wahai Rasulullah, kami datang kepadamu dari daerah yang jauh. Antara daerah kami dan daerahmu ini terdapat kampung Mudhar yang penduduknya masih kafir. Kami tidak bisa menemuimu kecuali pada bulan haram (suci). Oleh karena itu, ajarkan kepada kami satu perkara yang pasti, yang akan kami ajarkan kepada orang-orang setelah kami, yang menjamin kami masuk surga…” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Mereka meminta sesuatu sederhana yang bisa memasukkan mereka ke surga.

    Setelah penjelasan ini, apakah Anda akan menjadi orang yang banyak bicara? Apakah Anda ingin catatan buku Anda di hari hari akhirat penuh dengan isu dan kesia-siaan? Apakah Anda ingin catatan buku Anda menjadi hitam dengan catatan gunjingan dan cacian terhadap orang lain? Banyak bicara akan menyebabkan kita kesulitan dalam menghadapi hari penghitungan (yaumull a-hisab). Banyak bicara menghilangkan wibawa. Banyak bicara akan menghilangkan ketenangan dan ketentraman. Banyak bicara membuat orang tidak mampu mengingat apa yang mereka dengar. Mereka hanya ingat sebagian dan lupa sebagian.

    Oleh karena itulah, ucapan-ucapan Rasulullah SAW sangat ringkas dan padat. Ketika Rasulullah berkata-kata, jika ada orang yang hendak menghitung kata-katanya, pasti dia dapat menghitungnya (HR. Bukhari dan Muslim)

    Shalawat dan salam bagi Nabi SAW yang memiliki budi pekerti yang luhur yang diutus sebagai pelengkap kesempurnaan akhlak mulia.

    ***

    die: Fikih Akhlak

    Oleh: Musthafa Al-Adawy

     
  • erva kurniawan 1:59 am on 13 January 2013 Permalink | Balas  

    Akhiri Dengan Kebiasaan Bersyukur 

    Akhiri Dengan Kebiasaan Bersyukur

    Pernahkah Anda memberikan sesuatu kepada orang lain, membantu orang lain dan kemudian mereka yang menerimanya mengucapkan terimakasih kepada Anda ? Bagaimana perasaan Anda sewaktu dapat memberikan sesuatu kepada orang lain, menolong orang lain yang memerlukan bantuan dan mereka mengucapkan terimakasih atas bantuan Anda ? Perasaan Anda tentu senang dan bahagia, bukan. Meskipun sekedar ucapan terimakasih, namun itu dapat menyempurnakan kebahagiaan Anda dalam memberikan sesuatu. Demikian sisi perasaan dari sang pemberi dengan ungkapan terimakasih dari yang diberinya.

    Sadarkah kita, bahwa hidup ini adalah pemberian Allah Tuhan Yang Memiliki Kehidupan? Hidup ini bukan kehendak kita, tetapi kehendak Allah SWT. Maka berdirilah kita dalam kehidupan dunia ini sebagai “objek” penerima kehidupan dengan segala karunia yang diberikanNya. Berdirilah pada posisi diri kita sebagai “hamba” atau “abdi” dari Allah Yang Maha Kuasa terhadap hidup kita.

    Menyadari posisi diri kita, pikirkanlah kembali apa yang sudah diberikan Allah Tuhan Yang Maha Pemberi kepada diri kita ?. Pikirkan kembali, begitu banyaknya kenikmatan dan anugerah istimewa yang sudah diberikan Tuhan kepada kita. Renungkan kembali apa yang ada dalam diri kita saat ini, betapa banyak yang sudah kita miliki.

    • Kesehatan badan kita dan keluarga kita
    • Sandang pangan yang sudah kita nikmati selama ini
    • Kehidupan yang tenang, damai dan bahagia selama ini
    • Betapa sangat bernilainya memiliki kedua mata yang mampu melihat dunia
    • Betapa berharganya memiliki kedua kaki yang berfungsi menopang beban tubuh kita

    Betapa sangat istimewanya karunia kecerdasan akal dan pikiran yang sehat. Dengan kekuatan kecerdasan akal dan pikiran yang sehat ini, manusia mampu menjalani hidup dengan berbagai dinamikanya. Menjelajahi dunia dengan pengetahuan, menembus ruang angkasa dan kedalaman lautan dengan kecerdasannya. Apakah kita mengira bahwa semua hal itu begitu sepele dan sederhana, sehingga dengan mudah mengabaikannya ? Apakah kita merasa semua itu sangatlah tidak berarti dibandingkan dengan sesuatu yang kita kejar dan belum kita miliki selama ini ?

    Pikirkan, apakah kita mau menukar kedua mata dengan harta berlimpah, misalnya. Ataukah kita rela menjual pendengaran dengan emas permata, menggadaikan kesehatan dengan istana yang menjulang tinggi ?. Maukah kita menukar kedua tangan dan kaki dengan mobil mewah, sementara kita buntung ? Atau bersediakah kita memiliki harta segunung, tetapi akal dan pikiran tidak sehat, alias tidak waras ? Begitulah sebenarnya, kita ini telah hidup berada dalam kenikmatan yang pasti tidak akan rela melepaskannya hanya demi harta, kekayaan, jabatan, kenikmatan dunia dan sesuatu yang belum kita miliki.

    Maka pantaslah kalau kemudian kita senantiasa mengucapkan terimakasih kepada Tuhan Sang Pemberi Kehidupan. Pantaslah kalau kemudian kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha Pemberi. Bersyukur, berarti menghargai karunia yang diberikanNYA, mengembangkan anugerah berupa potensi diri dan menggunakannya untuk mensejahterakan diri dan orang lain. Kesadaran bersyukur akan pemberian Allah dapat membuka mata hati kita, membuka pikiran kita menjadi fokus pada memberi dan kesediaan untuk berbagi, bukannya fokus pada menunggu dan mengharap sesuatu yang belum ada.

    Akhiri Dengan Kebiasaan Bersyukur merupakan kerendahan hati, mengakui mengakui adanya karunia dari Allah Yang Maha Memiliki Kehidupan, bukan dari lainnya. Apakah posisi kita saat ini sebagai pengusaha, sebagai karyawan, sebagai pegawai, direktur, manager, orang sukses, orang kaya, pemimpin, rakyat biasa, atau siapa saja, pantas mengakhir setiap langkah dalam kehiduapn sehari-hari dengan bersyukur. Apa yang sudah kita dapatkan dalam berbisnis, dalam bekerja, dalam berusaha, pada hakekatnya datangnya dari Allah. Mungkin saja penyebabnya dari sahabat, keluarga, saudara, teman bekerja, berdagang, berbisnis, atau lainnya. Semua itu hanyalah perantara.

    Maka senantiasa Akhiri Dengan Kebiasaan Bersyukur, ini artinya kita mengembalikan kehidupan kita kepada Sang Pemberi Kehidupan. Menyadari semuanya adalah pemberian Allah Sang Maha Pemberi. Kebiasaan ini akan mempengaruhi keikhlasan hati dan lisan untuk menyanjung Dzat Yang Maha Agung. Kemudian anggota badan kita akan menggunakan segala karunia tersebut untuk kehidupan sesuai dengan kehendak Allah Sang Pemberi Kehidupan.

    Mengakhiri Dengan Kebiasaan Bersyukur, tidak berarti mematikan semangat dan motivasi untuk maju dan meraih prestasi kehidupan yang lebih tinggi. Namun kesadaran seperti ini akan menjadikan kita tidak serakah serta mengabaikan anugerah dan karunia yang sudah kita miliki. Kesadaran seperti ini, menjadikan kita mampu menikmati setiap tahapan proses kehidupan menuju tujuan dengan penuh rasa syukur dan kebahagiaan.

    Kebiasaan Bersyukur adalah manifestasi dari aplikasi ucapan “hamdallah”, sebagaimana diajarkan dalam kehidupan keagamaan kita. Dalam setiap gerak langkah kehidupan, dalam setiap apa yang kita dapatkan, dalam setiap apa yang telah kita lakukan, senantiasa akhiri dengan ucapan, “Segala Puji Dan Syukur Hanya Kepada Allah SWT”. Karena sesungguhnya semuanya adalah milik Allah Tuhan Yang Maha Memiliki dan akan kembali kepadaNYA. Jadikanlah hal ini kebiasaan Anda, maka rasakan keberhasilan yang sesungguhnya, the ultimate meaning atau makna tertinggi kehidupan, yakni merasakan kebahagiaan dalam rasa syukur kepada Tuhan. Salam Motivasi Nurani Indonesia.

    ***

    Sumber: Akhiri Dengan Kebiasaan Bersyukur

    Oleh Eko Jalu Santoso,

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 12 January 2013 Permalink | Balas  

    Awali Dengan Kebiasaan Memberi 

    Awali Dengan Kebiasaan Memberi

    Pernah saya menanyakan kepada anak saya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar, apa yang paling menyenangkan dalam hidup ini? Jawabnya adalah menerima hadiah yang bagus, bukan hanya pada hari ulang tahun, tetapi kalau bisa menerima hadiah setiap hari.

    Menerima sesuatu pemberian orang lain, apakah itu hadiah, sekedar pujian atau sesuatu lainnya pasti sangat menyenangkan. Tidak hanya bagi anak-anak, siapapun Anda, apakah orang tua atau masih muda, apakah orang kaya atau miskin, apakah direktur atau karyawan biasa, pemimpin atau rakyat biasa, tentu merasa senang menerima hadiah atau sesuatu dari orang lain. Apalagi kalau sesuatu itu adalah yang memang kita harapkan dan kita tunggu-tunggu, inilah momen yang paling menyenangkan. Inilah perasaan dari sisi seseorang yang menerima sesuatu pemberian orang lain.

    Bagaimana dengan seseorang yang menjadi subjekatau orang yang memberikan sesuatu kepada orang lain? Perasaan apa yang dirasakannya? Apa imbalan yang akan didapatkannya?

    Seringkali orang salah mengartikan memberikan sesuatu kemudian berharap segera mendapatkan imbalan dari orang yang diberinya. Ini adalah prinsip yang salah yang dapat menghilangkan nilai dari pemberian itu, karena tidak dilakukan dengan niat keikhlasan hati.

    Prinsip kebiasaan memberi dan berbagi sesungguhnya adalah prinsip investasi kepercayaan. Karena prinsip mendahulukan memberi, bukan menunggu dan meminta adalah prinsip melepaskan energi kebaikan dari dalam diri. Ingatlah prinsip aksi min reaksi. Bahwa sebuah aksi akan menciptakan reaksi. Dan prinsip kebiasaan memberi kebaikan akan menghasilkan pula sesuatu kebaikan, yakni berupa meningkatnya investasi energi kepercayaan dari orang lain.

    Dalam berbisnis, dalam bekerja sebagai karyawan, dalam berkarya, dalam melakukan berbagai bidang kehidupan, kalau Anda ingin mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan awalilah dengan kebiasaan memberi dan berbagi, bukan menunggu dan meminta. Karena kebiasaan memberi adalah melepaskan energi positif dari dalam diri. Energi ini sesungguhnya tidak pernah hilang dari muka bumi, hanya akan berubah bentuk saja. Energi positif berupa kebaikan ini akan kembali kepada diri kita dalam jumlah yang berlipat ganda. Bisa saja dalam bentuk yang berbeda-beda, misalnya mendapatkan kebahagiaan hati, kesenangan batin, ketenangan, kemudahan hidup, rejeki, keselamatan atau ditolong orang lain. Inilah prinsip hukum kekekalan energi.

    • Apa sih yang harus diberikan?
    • Apa sih yang harus dibagikan?
    • Apakah harus uang, harta atau Perhatian?

    Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin terlintas dalam benak Anda.

    Banyak hal yang dapat diberikan dan dibagikan kepada orang lain, tidak harus harta dan uang. Berikut ini beberapa hal kecil selain harta dan uang yang dapat dibagikan kepada orang lain sehingga dapat meningkatkan kepercayaan, contohnya:

    • Memberikan perhatian yang tulus kepada orang lain
    • Memberikan penghargaan kepada orang lain
    • Mau mengerti penderitaan dan kesulitan orang lain
    • Mau mendengarkan orang lain berbicara
    • Menjadikan orang lain merasa penting dihadapan kita
    • Memberikan pujian kepada orang lain
    • Menolong orang yang memerlukan bantuan
    • Berbagi pemngalaman dan ilmu pengetahuan yang bermanfaat
    • Mengerti perasaan orang lain
    • Dll

    Intinya awalilah dengan kebiasaan memberi dan berbagi, bukan menunggu dan meminta. Mengawali dengan kebiasaan memberi sebenarnya adalah mengikuti sifat-sifat mulia Allah SWT yang sudah built indalam hati kita. Yakni sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim atau Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dalam kehidupan keagamaan, inilah prinsip memulai dengan niat Bismillah, atau mengucapakan niat Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Jadikanlah hal ini sebagai kebiasaan dalam setiap memulai langkah kehidupan dan rasakan efektivitasnya dalam kehidupan Anda.

    ***

    Sumber: Awali Dengan Kebiasaan Memberi

    Oleh Eko Jalu Santoso

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 11 January 2013 Permalink | Balas  

    Samakah Tubuh Kita dengan Gajah? 

    Samakah Tubuh Kita dengan Gajah?

    Berlindung yang paling aman adalah hanya kepada Allah SWT. karena hanya Allah-lah Yang Maha Pencipta. Semua makhluk, baik yang kelihatan maupun yang tidak (yang gaib), Allah yang menciptakannya. Langit, Bumi beserta isinya semuanya Allah yang menciptakan. Oleh sebab itu, tidak ada lagi yang patut kita sembah dan memohon perlindungan-Nya kecuali hanya kepada Allah SWT.

    Kenapa kita harus berlindung? Karena, kita ini sebenarnya makhluk yang lemah, makhluk yang selalu digoda oleh setan la’natullah. Setiap gerak langkah kita, setan selalu mengikuti dan menggoda kita. Tidak ada celah bagi kita yang tidak ada setannya, semua celah yang ada dalam kehidupan kita pasti ada setannya. Siapa pun kita. Apakah kita ini sebagai Kyai, ustadz, guru, yang beriman atau pun tidak beriman kepada Allah SWT. semuanya pasti di goda oleh setan.

    “A’udzubillahiminasyaithaanirrajiim” “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”

    Kalimat ini sebagai titik awal kita setelah kita beriman kepada Allah SWT. Karena kita dituntut oleh Allah SWT. untuk selalu berlindung kepadaNya. Sebagaimana Allah juga telah memerintahkan kepada kita untuk membaca Al-Qur’an dengan diawali membaca Ta’awudz terlebih dahulu, sebagaimana firmanNya.

     “Apabila kamu membaca Al-Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl (16): 98)

    Sebab, orang yang selalu berlindung kepada Allah, pasti tidak akan diganggu oleh setan. Serangan setan yang bertubi-tubi kepada orang tersebut dapat dipatahkan dengan mudah karena kezuhudannya atau ketaqwaannya kepada Allah SWT. Tapi alangkah ruginya diri kita, jika diri kita jauh dari Allah SWT. maka, ketika setan menyerang diri kita, kita akan mudah di kalahkannya dan ditaklukannya, sehingga diri kita akan menjadi tunggangannya setan la’natullah.

    Coba kita perhatikan orang-orang yang tubuhnya menjadi tunggangan setan la’natullah. Sombong, takabur, menghalalkan segala cara, adalah sifatnya. Melanggar perintah Allah SWT. adalah kebiasaannya, dan banyak lagi kebiasaan buruk yang dilakukannya. Semuanya tergantung perintah si penunggangnya. Maka azab Allah SWT. pasti datang kepadanya. Bukan hanya kepada si penunggangnya tapi juga kepada tunggangannya yaitu tubuh kita.

    Tulisan diatas mengingatkan diri kita kepada sebuah kisah, yang di abadikan didalam Al-Qur’an. Bagaimana Raja Abrahah dengan pasukan Gajahnya yang gagah perkasa menyerang kota Makkah dan ingin menghancurkan Ka’bah. Akan tetapi karena kesucian Ka’bah atau karena Allah telah ridha kepada Ka’bah sebagai Baitullah, maka serangan itu dapat di gagalkan dengan azab yang Allah turunkan melalui Burung- burung Ababil sebagaimana firman Allah,

    Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara gajah. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan ka’bah) itu sia-sia, dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat). (QS. Al-Fiil (105): 1- 5)

    Kita bisa lihat, bagaimana Gajah yang gagah perkasa bisa di tundukan oleh kita sebagai penunggangnnya. Maka Gajah yang gagah perkasa itu akan turut kepada si penunggangnya. Kemana pun yang kita mau, maka Gajah itu pun akan turut mengikutinya. Bisa kita gunakan sebagai pembantu kita dalam bekerja dihutan misalkan, atau bisa juga sebagai alat transportasi, atau juga sebagai tontonan. Semuanya dapat kita lakukan tergantung keinginan kita dan Gajah itu pun akan mengikuti suruhan kita. Mau di buat baik (jinak) atau mau dibuat buas, terserah kita karena Gajah itu sudah tunduk kepada kita. Begitu juga dengan Raja Abrahah, dia menggunakan Gajah untuk menyerang kota Makkah untuk menghancurka Ka’bah.

    Tidak jauh beda dengan kita, seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa kalau hati kita atau keimanan kita sudah dapat ditundukan oleh setan la’natullah, maka, diri kita pun akan dikendalikan oleh setan. Apa pun yang dimau setan, maka kita akan mengikutinya. Kalau sudah begitu, maka, diri kita sudah termasuk golongan yang ingkar (kafir) kepada Allah SWT. Orang yang seperti ini, mau di beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman kepada Allah SWT., sebagaimana Allah SWT telah berfirman,

    “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (QS. Al-Baqarah (2): 6-7)

    Sahabat-sahabat sekalian, semoga ini menjadi bahan renungan bagi kita. Sehingga kita lebih waspada lagi dari tipu muslihatnya setan la’natullah, sehingga kita tidak dijadikannya sebagai tunggangannya. Anda bukan gajah, maka berlatihlah mengendalikan diri.

    Wallaahu a’lam

    ***

    abuluthfia.multiply.com

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 10 January 2013 Permalink | Balas  

    Al-Fatah 

    Al-Fatah

    Al-Fatah artinya adalah Yang Maha Pembuka. Kalau kita memperhatikan dari arti kalimat Al-Fatah, kita akan tahu dan mengerti bahwa, ada yang membuka berarti ada yang menutup. Dan itu semua hanya Allah SWT. yang bisa melakukannya. Allah yang memberi (membuka) rizki dan Allah juga yang menutup rizki itu sehingga tidak diturunkan kepada kita. Oleh sebab itu, maka kita dituntut untuk tunduk kepadanya dengan menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangan- Nya.

    Maka, kita jangan terlalu berharap kepada makhluk, sebab segala sesuatu juga hanya Allah-lah yang mengaturnya. Hidup, mati, rizki, jodoh, pekerjaan dan lain sebagainya semuanya hanya Allah-lah yang mengaturnya karena hanya Allah yang menciptakan semua itu. Makanya bila bergabung jin dan manusia untuk memberi rizki, kekuasaan atau apa saja bila Allah tidak menghendaki maka tidak akan bisa memberikannya atau membantunya. Seperti halnya jika jin dan manusia bergabung untuk membuat yang serupa Al-Qur’an, niscaya mereka tidak akan dapat membuatnya, sebagaimana firman Allah SWT.,

    “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (QS. Al-Isra (17): 88)

    Begitu juga dengan hati, hati bisa baik atau jelek tergantung Allah yang mengaturnya. Oleh sebab itu kita harus berusaha dan berdoa kepada Allah SWT. agar hati kita selalu dilapangkan, sebab yang membuka dan menutup hati kita adalah Allah SWT. Maka mintalah kepada Allah untuk dibukakan:

    1. Iman yang Kuat. Upaya kita supaya iman kita kuat adalah beri iman kita pupuk, yang mana pupuk iman itu adalah Ilmu yang bermanfaat, amal yang baik dan ikhlas.

    “Allaahumma inni as-aluka `ilman naafi’an, wa rizqan thayyiban wa `amalan mutaqabbalan” (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang berguna, rizki yang baik dan amal yang diterima)

    2. Jalan Hidup Sehat. Sebagai upaya kita untuk memiliki jalan hidup yang sehat selain berdoa kepada Allah adalah beri tubuh kita makanan yang halalan tayiban, jaga kebersihan tubuh dan rutin beroleh raga.

    “… Dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Araf (7): 69)

    3. Nikmatnya Akur (bersahabat). Sebab mempunyai orang yang dibenci, sangat menyiksa sekali, sehingga dunia ini menjadi sempit karenanya, karena kemana-mana ada orang yang dibenci. Orang yang tidak akur (bersahabat) itu adalah, orang yang mudah tersinggung dan orang yang senang menyimpan memori (prasangka) jelek ke seluruh orang. Maka alangkah baiknya kalau kita mempunyai sikap:

    a. Berlapang dada “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur (24): 22)

    b. Pemaaf “Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.” (QS. An-Nisa’ (4): 149)

    c. Stop membicarakan kejelekan orang lain. Bilal bin Al-Harts berkata bahwa, Rasulullah SAW. bersabda, “Sesungguhnya seseorang yang berbicara dengan kata-kata yang menimbulkan keridhaan Allah, apa yang diduga bahwa kata-kata itu sampai kepada keridhaan-Nya, maka Allah menulis keridhaan-Nya disebabkan kata-kata itu sampai hari kiamat. Dan sesungguhnya orang yang berbicara dengan kata-kata yang menimbulkan kemurkaan Allah, apa yang diduga bahwa kata-kata itu sampai kepada kemurkaan-Nya, maka Allah menulis kemurkaaan-Nya atasnya disebabkan kata-kata itu.”

    Wallahu a’lam

    ***

    Sumber: abuluthfia.multiply.com

     
  • erva kurniawan 1:12 am on 9 January 2013 Permalink | Balas  

    Tanda-tanda Lemah Iman dan Kiat untuk mengatasinya 

    Tanda-tanda Lemah Iman dan Kiat untuk Mengatasinya

    Tanda-tanda Lemah Iman

    1. Terus menerus melakukan dosa dan tidak merasa bersalah
    2. Berhati keras dan tidak berminat untuk membaca Al-Qur’an
    3. Berlambat-lambat dalam melakukan kebaikan, seperti terlambat untuk melakukan shalat
    4. Meninggalkan sunnah
    5. Memiliki suasana hati yang goyah, seperti bosan dalam kebaikan dan sering gelisah
    6. Tidak merasakan apapun ketika mendengarkan ayat Al-Qur’an dibacakan, seperti ketika Allah mengingatkan tentang hukumanNya dan janji-janjiNya tentang kabar baik.
    7. Kesulitan dalam berdzikir dan mengingat Allah
    8. Tidak merasa risau ketika keadaan berjalan bertentangan dengan syari’ah
    9. Menginginkan jabatan dan kekayaan
    10. Kikir dan bakhil, tidak mau membagi rezeki yang dikaruniakan oleh Allah
    11. Memerintahkan orang lain untuk berbuat kebaikan, sementara dirinya sendiri tidak melakukannya.
    12. Merasa senang ketika urusan orang lain tidak berjalan semestinya
    13. Hanya memperhatikan yang halal dan yang haram, dan tidak menghindari yang makruh
    14. Mengolok-olok orang yang berbuat kebaikan kecil, seperti membersihkan masjid
    15. Tidak mau memperhatikan kondisi kaum muslimin
    16. Tidak merasa bertanggung jawab untuk melakukan sesuatu demi kemajuan Islam
    17. Tidak mampu menerima musibah yang menimpanya, seperti menangis dan meratap-ratap di kuburan
    18. Suka membantah, hanya untuk berbantah-bantahan, tanpa memiliki bukti
    19. Merasa asyik dan sangat tertarik dengan dunia, kehidupn duniawi, seperti merasa resah hanya ketika kehilangan sesuatu materi kebendaan
    20. Merasa asyik (ujub) dan terobsesi pada diri sendiri

    Hal-hal berikut dapat meningkatkan keimanan kita:

    1. Tilawah Al-Qur’an dan mentadabburi maknanya, hening dan dengan suara yang lembut tidak tinggi, maka Insya Allah hati kita akan lembut. Untuk mendapatkan keuntungan yang optimal, yakinkan bahwa Allah sedang berbicara dengan kita.
    2. Menyadari keagungan Allah. Segala sesuatu berada dalam kekuasaannya. Banyak hal di sekitar kita yang kita lihat, yang menunjukkan keagunganNya kepada kita. Segala sesuatu terjadi sesuai dengan kehendakNya. Allah maha menjaga dan memperhatikan segala sesuatu, bahkan seekor semut hitam yang bersembunyi di balik batu hitam dalam kepekatan malam sekalipun.
    3. Berusaha menambah pengetahuan, setidaknya hal-hal dasar yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti cara berwudlu dengan benar. Mengetahui arti dari nama-nama dan sifat-sifat Allah, orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang berilmu.
    4. Menghadiri majelis-majelis dzikir yang mengingat Allah. Malaikat mengelilingi majels-majelis seperti itu.
    5. Selalu menambah perbuatan baik. Sebuah perbuatan baik akan mengantarkan kepada perbuatan baik lainnya. Allah akan memudahkan jalan bagi seseorang yang bershadaqah dan juga memudahkan jalan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. Amal-amal kebaikan harus dilakukan secara kontinyu.
    6. Merasa takut kepada akhir hayat yang buruk. Mengingat kematian akan mengingatkan kita dari terlena terhadap kesenangan dunia.
    7. Mengingat fase-fase kehidupan akhirat, fase ketika kita diletakkan dalam kubut, fase ketika kita diadili, fase ketika kita dihadapkan pada dua kemungkinan, akan berakhir di surga, atau neraka.
    8. Berdo’a, menyadari bahwa kita membutuhkan Allah. Merasa kecil di hadapan Allah.
    9. Cinta kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala harus kita tunjukkan dalam aksi. Kita harus berharap semoga Allah berkenan menerima shalat-shalat kita, dan senantiasa merasa takut akan melakukan kesalahan. Malam hari sebelum tidur, seyogyanya kita bermuhasabah, memperhitungkan perbuatan kita sepanjang hari itu.
    10. Menyadari akibat dari berbuat dosa dan pelanggaran. Iman seseorang akan bertambah dengan melakukan kebaikan, dan menurun dengan melakukan perbuatan buruk.
    11. Semua yang terjadi adalah karena Allah menghendaki hal itu terjadi. Ketika musibah menimpa kita, itupun dari Allah.

    ***

    dikutip dari milis lain

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 8 January 2013 Permalink | Balas  

    Buah Ranum Dari Keridhaan 

    Buah Ranum Dari Keridhaan

    “Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” (QS. Al- Bayyinah: 8)

    Keridhaan memiliki buah yang melimpah berupa keimanan. Orang yang ridha hatinya akan terangkat hingga tempat yang paling tinggi, yang kemudian mempengaruhi keyakinannya yang semakin mendalam dan kuat mengakar. Pengaruhnya kemudian adalah kejujuran dalam berucap, berbuat dan berperilaku.

    Kesempurnaan ubudiyahnya lebih disebabkan kemampuannya menjalankan konsekuensi-konsekuensi hukum yang sebenarnya berat baginya. Tapi, ketika hanya hukum-hukum yang ringan saja yang ia jalankan maka itu akan membuat jarak ubudiyahnya dengan Rabbnya semakin jauh. Dalam konteks bahwa ubudiyah itu berarti kesabaran, tawakal, keridhaan, rasa rendah diri, rasa membutuhkan, ketaklukan, dan ketundukkan, maka ubudiyah itu tidak akan sempurna kecuali dengan menjalankan keharusan yang memang berat untuk dilakukan. Keridhaan terhadap qadha’ bukan berarti ridha terhadap qadha’ , yang tidak memberatkan, tapi terhadap yang menyakitkan dan memberatkan. Hamba tidak berhak mengatur qadha’ dan qadar Allah, dengan menerima yang ia mau dan tidak menerima yang tidak ia mau. Karena pada dasarnya manusia itu tidak diberi hak untuk memilih: hak itu mutlak wewenang Allah karena Dia lebih mengetahui, lebih bijaksana, lebih agung dan lebih tinggi. Karena Allah mengetahui alam ghaib, mengetahui segala rahasia, dan mengetahui akibat dari segala hal.

    Saling Meridhai Satu hal yang harus disadari adalah bahwa keridhaan hamba kepada Allah dalam segala hal akan membuat Rabbnya ridha kepadanya. Ketika hamba ridha dengan rizki yang sedikit, maka Rabbnya akan ridha kepadanya dengan amal sedikit yang dia persembahkan. Ketika hamba ridha terhadap semua keadaan yang melingkupinya dan tetap mempertahankan kualitas keridhaannya itu maka Allah akan cepat meridhainya ketika dia meminta keridhaan-Nya. Dengan kacamata itu, lihatlah orang-orang yang ikhlas, walaupun ilmu mereka sedikit tapi Allah meridhai semua usaha mereka karena memang mereka ridha kepada Allah dan Allah meridhai mereka. Berbeda dengan orang-orang munafik yang selalu ditolak amalan mereka. Mereka tidak menerima apa yang telah Allah turunkan dan tidak suka terhadap keridhaan-Nya, maka Allah pun menyia-nyiakan amalan-amalan mereka.

    Faedah dari Keridhaan Keridhaan akan menciptakan ketenangan, hati yang dingin, ketegaran dalam menghadapi berbagai permasalahan yang tumpang tindih dan yang muncul deras sekali. Hati yang ridha akan yakin sepenuhnya kepada janji Allah dan Rasul-Nya. Hati orang seperti ini seakan dibisikan suara,

    “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)

    Sebaliknya, tidak menerima akan membuat hati tidak tenang, ragu dan cemas, tidak tegar, sakit hati dan bergejolak. Hati menjadi bergejolak dan terganggu, seakan didalamnya ada suara membisikan.

     “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada Kami melainkan tipu daya”. (QS. Al-Ahzab: 22)

    Orang-orang yang memiliki hati seperti ini akan mengakui kebenaran jika datang kebenaran, dan akan berpaling jika mereka dituntut untuk memenuhi tugas mereka. Ketika mereka diberi kebaikan maka mereka akan merasa tenang, tapi ketika diuji maka mereka akan berubah menjadi buruk. Mereka akan merugi di dunia dan akhirat.

    “Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj: 11)

    Dan, keridhaan akan memberikan ketenangan, sesuatu yang paling berharga. Karena ketenangan akan membuat hati menjadi tegar, keadaan terkendali dan hati menjadi jernih. Dan tidak menerima hanya akan menjauhkannya dari ketenangan itu, jauh dekatnya tergantung pada besar kecilnya ketidakpuasan terhadap keadaan. Ketika ketenangan itu hilang maka dengan serta merta kegembiraan, rasa aman, dan kedamaian hidup, juga akan lenyap. Itu berarti bahwa nikmat terbesar yang Allah berikan kepada hamba-Nya adalah ketenangan di hati. Dan bagaimana itu bisa didapatkan? Tentunya, dengan keridhaannya kepada Allah bagaimana pun keadaan yang melingkupinya.

    Keselamatan Itu Ada Bersama Keridhaan Keridhaan akan membukakan pintu keselamatan. Keridhaan akan membuat hati menjadi terbebas dan bersih dari tipu daya, kebusukan dan kedengkian. Karena hanya orang yang berhati bersihlah yang akan selamat dari adzab Allah, sebab hati yang bersih adalah hati yang jauh dari syubuhat, dari keraguan dari menyekutukan Allah dan dari jerat-jerat Iblis yang menyesatkan. Dalam hati seperti ini hanya ada sati: Allah.

    Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya)”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain- main dalam kesesatannya.” (QS. Al-An’am: 91)

    Adalah muastahil dalam hati yang bersih itu masih terdapat rasa tidak menerima. Semakin hamba itu ridhamaka semakin bersih hatinya. Kotoran hati, kebusukan dan tipu daya adalah kaitan dari sikap tidak menerima. Sedangkan kebersihan, kelurusan dan kemuliaan hati adalah kaitan keridhaan. Kedengkian adalah buah dari sikap yang tidak menerima. Dan hati yang bersih dari unsur dengki, adalah buah dari keridhaan. Diibaratkan , keridhaan adalah pohon yang baik, yang disirami dengan air keikhlasan dan ditanam di kabut tauhid. Akarnya keimanan, dahan-dahannya adalah amal shaleh, dan buahnya sangat manis. Disebutkan dalam hadits: “Yang akan mencicipi rasa iman adalah orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul.” Atau, seperti disebutkan dalam hadits yang lain: “Ada tiga hal yang bila ketiganya itu menyatu dalam dirinya maka dia akan mendapatkan manisnya iman…”

    Buah dari Keimanan adalah Rasa Bersyukur Keridhaan akan membuahkan rasa syukur yang merupakan level keimanan tertinggi, bahkan merupakan hakikat dari keimanan itu sendiri. Dalam tahapan iman, rasa syukur itu adalah puncaknya. Orang yang tidak ridha terhadap pemberian Allah, keputusan-Nya, penciptaan-Nya, pengaturan-Nya, terhadap yang diambil dan yang diberikan-Nya, tidak akan bisa bersyukur kepada Allah. Dan itu artinya, orang yang bersyukur adalah orang yang paling menikmati hidup.[*]

    ***

    die *La Tahzan* DR. Aidh al-Qarni

    Dari jkmhal.com

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 7 January 2013 Permalink | Balas  

    Fisika di Balik Keindahan Bulu Merak 

    Fisika di Balik Keindahan Bulu Merak

    Tak seorang pun yang memandang corak bulu merak kuasa menyembunyikan kekaguman atas keindahannya. Satu di antara penelitian terkini yang dilakukan para ilmuwan telah mengungkap keberadaan rancangan mengejutkan yang mendasari pola-pola ini.

    Para ilmuwan Cina telah menemukan mekanisme rumit dari rambut-rambut teramat kecil pada bulu merak yang menyaring dan memantulkan cahaya dengan aneka panjang gelombang. Menurut pengkajian yang dilakukan oleh fisikawan dari Universitas Fudan, Jian Zi, dan rekan-rekannya, dan diterbitkan jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, warna-warna cerah bulu tersebut bukanlah dihasilkan oleh molekul pemberi warna atau pigmen, akan tetapi oleh struktur dua dimensi berukuran teramat kecil yang menyerupai kristal. (1)

    Zi dan rekan-rekannya menggunakan mikroskop elektron yang sangat kuat untuk menyingkap penyebab utama yang memunculkan warna pada bulu merak. Mereka meneliti barbula pada merak hijau jantan (Pavo rnuticus). Barbula adalah rambut-rambut mikro yang jauh lebih kecil yang terdapat pada barb, yakni serat bulu yang tumbuh pada tulang bulu. Di bawah mikroskop, mereka menemukan desain tatanan lempeng-lempeng kecil berwarna hitam putih, sebagaimana gambar di sebelah kanan. Desain ini tersusun atas batang-batang tipis yang terbuat dari protein melanin yang terikat dengan protein lain, yakni keratin. Para peneliti mengamati bahwa bentuk dua dimensi ini, yang ratusan kali lebih tipis daripada sehelai rambut manusia, tersusun saling bertumpukan pada rambut-rambut mikro. Melalui pengkajian optis dan penghitungan, para ilmuwan meneliti ruang yang terdapat di antara batang-batang tipis atau kristal-kristal ini, berikut dampaknya. Alhasil, terungkap bahwa ukuran dan bentuk ruang di dalam tatanan kristal tersebut menyebabkan cahaya dipantulkan dengan beragam sudut yang memiliki perbedaan sangat kecil, dan dengannya memunculkan aneka warna.

    “Ekor merak jantan memiliki keindahan yang memukau karena pola-pola berbentuk mata yang berkilau, cemerlang, beraneka ragam dan berwarna,” kata Zi, yang kemudian mengatakan, “ketika saya memandang pola berbentuk mata yang terkena sinar matahari, saya takjub akan keindahan bulu-bulu yang sangat mengesankan tersebut.”(2) Zi menyatakan bahwa sebelum pengkajian yang mereka lakukan, mekanisme fisika yang menghasilkan warna pada bulu-bulu merak belumlah diketahui pasti. Meskipun mekanisme yang mereka temukan ternyata sederhana, mekanisme ini benar-benar cerdas.

    Jelas bahwa terdapat desain yang ditata dengan sangat istimewa pada pola bulu merak. Penataan kristal-kristal dan ruang-ruang [celah-celah] teramat kecil di antara kristal-kristal ini adalah bukti terbesar bagi keberadaan desain ini. Pengaturan antar-ruangnya secara khusus sungguh memukau. Jika hal ini tidak ditata sedemikian rupa agar memantulkan cahaya dengan sudut yang sedikit berbeda satu sama lain, maka keanekaragaman warna tersebut tidak akan terbentuk.

    Sebagian besar warna bulu merak terbentuk berdasarkan pewarnaan struktural. Tidak terdapat molekul atau zat pewarna pada bulu-bulu yang memperlihatkan warna struktural, dan warna-warna yang serupa dengan yang terdapat pada permukaan gelembung-gelembung air sabun dapat terbentuk. Warna rambut manusia berasal dari molekul warna atau pigmen, dan tak menjadi soal sejauh mana seseorang merawat rambutnya, hasilnya tidak akan pernah secemerlang dan seindah bulu merak.

    Telah pula dinyatakan bahwa desain cerdas pada merak ini dapat dijadikan sumber ilham bagi rancangan industri. Andrew Parker, ilmuwan zoologi dan pakar pewarnaan di Universitas Oxford, yang menafsirkan penemuan Zi mengatakan bahwa penemuan apa yang disebut sebagai kristal-kristal fotonik pada bulu merak memungkinkan para ilmuwan meniru rancangan dan bentuk tersebut untuk digunakan dalam penerapan di dunia industri dan komersial. Kristal-kristal ini dapat digunakan untuk melewatkan cahaya pada perangkat telekomunikasi, atau untuk membuat chip komputer baru berukuran sangat kecil. (3)

    Jelas bahwa merak memiliki pola dan corak luar biasa dan desain istimewa, dan berkat mekanisme yang sangat sederhana ini, mungkin tidak akan lama lagi, kita akan melihat barang dan perlengkapan yang memiliki lapisan sangat cemerlang pada permukaannya. Namun, bagaimanakah desain memesona, cerdas dan penuh ilham semacam ini pertama kali muncul? Mungkinkah merak tahu bahwa warna-warni pada bulunya terbentuk karena adanya kristal-kristal dan ruang-ruang antar-kristal pada bulunya? Mungkinkah merak itu sendiri yang menempatkan bulu-bulu pada tubuhnya dan kemudian memutuskan untuk menambahkan suatu mekanisme pewarnaan padanya? Mungkinkah merak telah merancang mekanisme itu sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan desain yang sangat memukau tersebut? Sudah pasti tidak.

    Sebagai contoh, jika kita melihat corak mengagumkan yang terbuat dari batu-batu berwarna ketika kita berjalan di sepanjang tepian sungai, dan jika kita melihat pula bahwa terdapat pola menyerupai mata yang tersusun menyerupai sebuah kipas, maka akan muncul dalam benak kita bahwa semua ini telah diletakkan secara sengaja, dan bukan muncul menjadi ada dengan sendirinya atau secara kebetulan. Sudah pasti bahwa pola-pola ini, yang mencerminkan sisi keindahan dan yang menyentuh cita rasa keindahan dalam diri manusia, telah dibuat oleh seorang seniman. Hal yang sama berlaku pula bagi bulu-bulu merak. Sebagaimana lukisan dan desain yang mengungkap keberadaan para seniman yang membuatnya, maka corak dan pola pada bulu merak mengungkap keberadaan Pencipta yang membuatnya. Tidak ada keraguan bahwa Allahlah yang merakit dan menyusun bentuk-bentuk mirip kristal tersebut pada bulu merak dan menghasilkan pola-pola yang sedemikian memukau bagi sang merak. Allah menyatakan Penciptaannya yang tanpa cacat dalam sebuah ayat Al Qur’an:

    Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik Bertasbih KepadaNya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al Hasyr, 59:24)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 6 January 2013 Permalink | Balas  

    Kiamat Tidak Ada Tanda-Tandanya 

    Kiamat Tidak Ada Tanda-Tandanya

    Oleh: Aam Amiruddin

    Bagaimana memahami hadits yang menjelaskan “tanda-tanda kiamat” dengan ungkapan Al-Qur’an yang menyatakan bahwa kiamat itu akan terjadi dengan tiba-tiba? Bukankah kata “tiba-tiba” mengandung makna tidak ada tanda-tanda? Bagaimana menyikapi keterangan yang terkesan kontradiktif?

    Apa yang Anda katakan benar. Memang ada sejumlah ayat yang menegaskan bahwa kiamat itu akan terjadi secara mendadak atau tiba- tiba. Paling tidak ada empat ayat yang menjelaskannya. Yaitu,

    “Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu Amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. Al- A’raf: 187)

    “Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: “Alangkah besarnya penyesalan Kami, terhadap kelalaian Kami tentang kiamat itu!”, sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, Amat buruklah apa yang mereka pikul itu.” (QS. Al-An’am: 31)

    “Apakah mereka merasa aman dari kedatangan siksa Allah yang meliputi mereka, atau kedatangan kiamat kepada mereka secara mendadak, sedang mereka tidak menyadarinya?” (QS. Yusuf: 107)

    “Mereka tidak menunggu kecuali kedatangan hari kiamat kepada mereka dengan tiba-tiba sedang mereka tidak menyadarinya.” (QS. Az-Zukhruf: 66)

    Keempat ayat diatas menjelaskan bahwa kiamat akan terjadi secara mendadak atau tiba-tiba. Namun, diakui pula bahwa ada sejumlah hadits shahih yang menjelaskan tanda-tanda kiamat, diantaranya:

    Tatkala ditanya oleh Malaikat Jibril tentang tanda-tanda kiamat, Rasulullah SAW menjawab, “Apabila budak wanita melahirkan tuannya dan apabila engkau lihat orang-orang yang bertelanjang kaki, berpakaian compang-camping, miskin, dan pengembala kambing berlomba-lomba dalam kemegahan bangunan.” (Mutafaq’alaih)

    Maksud apabila budak wanita melahirkan tuannya adalah banyak anak yang memperlakukan orang tuanya seperti budak atau pembantu. Banyak anak yang berani menghardik, membentak, bahkan menganiaya orang tuanya. Na’udzubillah!

    Sedangkan yang dimaksud, Engkau lihat orang-orang yang bertelanjang kaki, berpakaian compang-camping, miskin, dan pengembala kambing berlomba-lomba dalam kemegahan bangunan adalah banyak manusia yang materialistis. Orang yang berpenghasilan rendah memiliki nafsu terhadap materi melebihi penghasilannya. Dia menginginkan bangunan megah.

    Kalau kita fokuskan pada konteks zaman sekarang, banyak orang yang berpenghasilan biasa-biasa saja, tapi gaya hidupnya seperti orang yang berpenghasilan luar biasa. Gaji Cuma 2 juta sebulan tapi bergaya hidup seperti yang berpenghasilan 10 juta per bulan.

    Rasulullah SAW bersabda, “Diantara tanda-tanda kiamat adalah lenyapnya ilmu pengetahuan (agama), meluaskan kebodohan, banyaknya minum khamr, dan perzinaan terjadi secara terang-terangan.” (HR. Bukhari)

    Hadits ini menegaskan bahwa diantara tanda kiamat, apabila manusia sudah tidak merasa tertarik lagi untuk mempelajari ajaran-ajaran agama. Khamr atau minuman yang memabukan sudah menjadi minuman kesehariaan, dan perzinaan semakin menjamur, terbuka, dan terang- terangan.

    Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan datang kiamat hingga waktu terasa amat pendek, satu tahun serasa sebulan, satu bulan serasa seminggu, satu minggu serasa sehari, satu hari serasa sejam, satu jam hanya selama membakar pelepah kurma.” (HR. Ahmad)

    Hadits ini menegaskan bahwa diantara tanda kiamat adalah pada saat manusia merasa sangat bertah didunia, hingga setahun serasa sebulan, sebulan serasa seminggu, seminggu serasa sehari. Ini menunjukkan bahwa manusia merasa sangat betah hingga waktu terasa menjadi sangat singkat.

    Itulah hadits-hadits sahih yang menjelaskan tanda-tanda kiamat. Pertanyaannya, apakah hadits-hadits yang menjelaskan tanda-tanda kiamat itu kontradiktif dengan ayat-ayat yang menjelaskan bahwa kiamat itu akan terjadi secara tiba-tiba?

    Ada yang beranggapan bahwa sesuatu yang tiba-tiba berarti tidak ada tanda-tanda. Padahal logikanya tidaklah demikian. Maksud bahwa kiamat itu mendadak atau tiba-tiba adalah kiamat itu tidak bisa diketahui secara pasti dan diidentifikasi kapan terjadinya, bukan berarti tidak ada tanda-tandanya. Jadi sesuangguhnya tidak ada kontradiktif antara ayat yang menjelaskan bahwa kiamat itu akan terjadi mendadak dengan hadits yang menjelaskan tanda-tanda kiamat, bahkan justru bisa saling melengkapi. Wallahu A’lam.

    ***

    die *Percikan Iman* No.11 Th.VII November 2006 M/Syawal 1427 H

    Dari: jkmhal.com

     
    • bejono777 6:09 pm on 6 Januari 2013 Permalink

      terimakasih ilmunya……semoga kita selalu istiqomah dan ingat bahwa sesuatu itu atas kehendakNYA

  • erva kurniawan 1:56 am on 5 January 2013 Permalink | Balas  

    Etika di Masjid 

    Etika di Masjid

    Berdo`a di saat pergi ke masjid. Berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu beliau menyebutkan: Adalah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam apabila ia keluar (rumah) pergi shalat (di masjid) berdo`a:

    “Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, dan cahaya pada lisanku, dan jadikanlah cahaya pada pendengaranku dan cahaya pada penglihatanku, dan jadikanlah cahaya dari belakangku, dan cahaya dari depanku, dan jadikanlah cahaya dari atasku dan cahaya dari bawahku. Ya Allah, anugerahilah aku cahaya”. (Muttafaq’alaih).

    Berjalan menuju masjid untuk shalat dengan tenang dan khidmat. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “Apabila shalat telah diiqamatkan, maka janganlah kamu datang menujunya dengan berlari, tetapi datanglah kepadanya dengan berjalan dan memperhatikan ketenangan. Maka apa (bagian shalat) yang kamu dapati ikutilah dan yang tertinggal sempurnakanlah. (Muttafaq’alaih).

    Berdo`a disaat masuk dan keluar masjid. Disunatkan bagi orang yang masuk masjid mendahulukan kaki kanan, kemudian bershalawat kepada Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam lalu mengucapkan:

    “(Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu)”

    Dan bila keluar mendahulukan kaki kiri, lalu bershalawat kepada Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam kemudian membaca do`a:

    “(Ya Allah, sesungguhnya aku memohon bagian dari karunia-Mu)”. (HR. Muslim).

    Disunnatkan melakukan shalat sunnah tahiyatul masjid bila telah masuk masjid. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seorang di antara kamu masuk masjid hendaklah shalat dua raka`at sebelum duduk”. (Muttafaq alaih).

    Dilarang berjual-beli dan mengumumkan barang hilang di dalam masjid. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila kamu melihat orang yang menjual atau membeli sesuatu di dalam masjid, maka doakanlah “Semoga Allah tidak memberi keuntungan bagimu”. Dan apabila kamu melihat orang yang mengumumkan barang hilang, maka do`akanlah “Semoga Allah tidak mengembalikan barangmu yang hilang”. (HR. At-Turmudzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

    Dilarang masuk ke masjid bagi orang makan bawang putih, bawang merah atau orang yang badannya berbau tidak sedap. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang memakan bawang putih, bawang merah atau bawang daun, maka jangan sekali-kali mendekat ke masjid kami ini, karena malaikat merasa terganggu dari apa yang dengan-nya manusia terganggu”. (HR. Muslim). Dan termasuk juga rokok dan bau lain yang tidak sedap yang keluar dari badan atau pakaian.

    Dilarang keluar dari masjid sesudah adzan. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila tukang adzan telah adzan, maka jangan ada seorangpun yang keluar sebelum shalat”. (HR. Al-Baihaqi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

    Tidak lewat di depan orang yang sedang shalat, dan disunnatkan bagi orang yang sholat menaroh batas di depannya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Kalau sekiranya orang yang lewat di depan orang yang sedang sholat itu mengetahui dosa perbuatannya, niscaya ia berdiri dari jarak empat puluh itu lebih baik baginya daripada lewat di depannya”. (Muttafaq alaih).

    Tidak menjadikan masjid sebagai jalan. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah kamu menjadikan masjid sebagai jalan, kecuali (sebagai tempat) untuk berzikir dan shalat”. (HR. Ath-Thabrani, dinilai hasan oleh Al-Albani).

    Tidak menyaringkan suara di dalam masjid dan tidak mengganggu orang-orang yang sedang shalat. Termasuk perbuatan mengganggu orang shalat adalah membiarkan Handphone anda dalam keadaan aktif di saat shalat.

    Hendaknya wanita tidak memakai farfum atau berhias bila akan pergi ke masjid. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu (kaum wanita) ingin shalat di masjid, maka janganlah menyentuh farfum”. (HR. Muslim).

    Orang yang junub, wanita haid atau nifas tidak boleh masuk masjid. Allah berfirman: “(Dan jangan pula menghampiri masjid), sedang kamu dalam keadaan junub, kecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi”. (an-Nisa: 43).

    Aisyah Radhiallaahu anha meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda kepadanya: “Ambilkan buat saya kain alas dari masjid”. Aisyah menjawab: Sesungguhnya aku haid? Nabi bersabda: “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu”. (HR. Muslim).

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 4 January 2013 Permalink | Balas  

    Menahan Amarah dan Penuh Kasih Sayang 

    Menahan Amarah dan Penuh Kasih Sayang

    Kelemahlembutan adalah akhlak mulia. Ia berada diantara dua akhlak yang rendah dan jelek, yaitu kemarahan dan kebodohan. Bila seorang hamba menghadapi masalah hidupnya dega kemarahan dan emosional, akan tertutuplah akal dan pikirannya yang akhirnya menimbulkan perkara-perkara yang tidak diridhoi Allah ta’ala dan rasul-Nya. Dan jika hamba tersebut menyelesaikan masalahnya dengan kebodohan dirinya, niscaya ia akan dihinakan manusia. Namun jika dihadapi dengan ilmu dan kelemahlembutan, ia akan mulia di sisi Allah ta’ala dan makhluk-makhluknya. Orang yang memiliki akhlak lemah lembut, insya Allah akan dapat menyelesaikan problema hidupnya tanpa harus merugikan orang lain dan dirinya sendiri.

    Melatih diri untuk dapat memiliki akhlak mulia ini dapat dimulai dengan menahan diri ketika marah dan mempertimbangkan baik buruknya suatu perkara sebelum bertindak. Karena setiap manusia tidk pernah terpisahkan dari problema hidup, jika ia tidak membekali dirinya dengan akhlak ini, niscaya ia gagal untuk menyelesaikan problemanya.

    Demikian agungnya akhlak ini sehingga rasullah memuji sahabatnya Asyaj Abdul Qais dengan sabdanya : “Sesungguhnya pada dirimu ada dua perangai yang dicintai Allah yakni sifat lemah lembut (sabar) dan ketenangan (tidak tergesa-gesa)”. (HR. Muslim)

    Akhlak mulia ini terkadang diabaikan oleh manusia ketika amarah telah menguasai diri mereka, sehingga tindakannya pun berdampak negatif bagi dirinya ataupun orang lain. Padahal rasulullah sudah mengingatkan dari sifat marah yang tidak pada tempatnya, sebagaimana beliau bersabda kepada seorang sahabat yang meminta nasehat : “ Janganlah kamu marah.” Dan beliau mengulanginya berkali-kali dengan bersabda : “Janganlah kamu marah”. (HR. Bukhari).

    Dari hadits ini diambil faedah bahwa marah adalah pintu kejelekan, yang penuh dengan kesalahan dan kejahatan, sehingga rasulullah mewasiatkan kepada sahabatnya itu agar tidak marah. Tidak berarti manusia dilarang marah secara mutlak. Namun marah yang dilarang adalah marah yang disebabkan oleh hawa nafsu yang memancing pelakunya bersikap melampaui batas dalam berbicara, mencela, mencerca, dan menyakiti saudaranya dengan kata-kata yang tidak terpuji, yang mana sikap ini menjauhkannya dati kelemahlembutan.

    Di dalam hadits yang shahih Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda : “Bukanlah dikatakan seorang yang kuat itu dengan bergulat, akan tetapi orang yang kuat dalam menahan dirinya dari marah”. (Muttafaqqun’alahi).

    Ulama telah menjelaskan berbagai cara menyembuhkan penyakit marah yang tercelah yang ada pada seorang hamba, yaitu :

    Berdoa kepada Allah, yang membimbing dan menunjuki hamba-hambaNya ke jalan yang lurus dan menghilangkan sifat-sifat jelek dan hina dari diri manusia. Allah ta’alah berfirman: “Berdoalah kalian kepadaku niscaya akan aku kabulkan.” (Ghafir: 60)

    Terus-menerus berdzikir pada Allah seperti membaca Al-Quran, bertasbih, bertahlil, dan istigfar, karena Allah telah menjelaskan bahwa hati manusia akan tenang dan tenteram dengan mengingat Allah. Allah berfirman : “Ingatlah dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” ( Ar-Ra’d : 28).

    Mengingat nash-nash yang menganjurkan untuk menahan marah dan balasan bagi orang-orang yang mampu manahan amarahnya sebagaimana sabda nabi shalallahu ‘alaihi wasallam : “ Barangsiapa yang menahan amarahnya sedangkan ia sanggup untuk melampiaskannya, (kelak di hari kiamat) Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluq-Nya hingga menyuruhnya memilih salah satu dari bidadari surga, dan menikahkannya dengan hamba tersebut sesuai dengan kemauannya “ (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani, lihat shahihul jami’ No. 6398).

    Merubah posisi ketika marah, seperti jika ia marah dalam keadaan berdiri maka hendaklah ia duduk, dan jikalau ia sedang duduk maka hendaklah ia berbaring, sebagaimana sabda rasulullah shalallahu alaihi wa sallam : “ Apabila salah seorang diantara kalian marah sedangkan ia dalam posisi berdiri, maka hendaklah ia duduk. Kalau telah reda/hilang marahnya (maka cukup dengan duduk saja), dan jika belum hendaklah ia berbaring.” (Al-Misykat 5114).

    Berlindung dari setan dan menghindar dari sebab-sebab yang akan membangkitkan kemarahannya.

    Demikianlah jalan keluar untuk selamat dari marah yang tercela. Dan betapa indahnya perilaku seorang muslim jika dihiasi dengan kelemahlembutan dan kasih sayang, karena tidaklah kelemahlembutan berada pada suatu perkara melainkan akan membuatnya indah. Sebaliknya bila kebengisan dan kemarahan ada pada suatu urusan niscaya akan menjelekkannya. Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda : “ Tidaklah kelemahlembutan itu berada pada sesuatu kecuali akan membuatnya indah, dan tidaklah kelembutan itu dicabut kecuali akan menjadikannya jelek.” (HR. Muslim).

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 3 January 2013 Permalink | Balas  

    Sholat Subuh, Ujian Terberat Bagi Munafikin 

    Sholat Subuh, Ujian Terberat Bagi Munafikin

    Ceritanya, suatu ketika, Dr. Raghib menemui seorang ustadz (da’i) yang ceramahnya begitu memukau dan menanyakan perihal penyebab da’i itu jarang salat Subuh berjamaah di masjid. Pertanyaan ini diajukan, setelah sebelumnya beliau mengamati langsung beberapa Hari dan ikut salat Subuh di masjid dekat rumah si da’i, namun tidak melihat sang da’i salat Subuh di situ.

    Mendapat pertanyaan demikian, sang da’i dengan enteng dan tanpa rasa malu menjawab pertanyaan Dr. Raghib: ” Maafkan saya, semoga Allah mengampuni saya dan mengampuni Anda. Kondisi saya sangat sulit. Pagi-pagi saya sudah mulai kerja, sementara tidur agak terlambat. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Mendengar jawaban seperti itu, kontan saja hati beliau bergejolak, jiwanya terasa sempit dan tenggorokkannya terasa tersumbat.

    Akhirnya, dari kejadian itu beliau termotivasi untuk segera menulis sebuah buku tentang hikmah di balik salat Subuh, yang kemudian -atas kehendak Allah swt.- buku itu (Misteri Salat Subuh) menjadi Best Seller.

    Makna Ujian

    Ungkapan lidah sering tak sesuai dengan keyakinan hati. dan beribu ucapan tidak sesuai dengan amal perbuatan. Mukmin yang benar dan jujur adalah yang sesuai antara perkataan dengan perbuatannya. Sedangkan orang munafik, secara lahiriah kelihatan bagus dan bersih, namun hatinya keras bagaikan batu, bahkan lebih keras lagi.

    Allah swt. Maha Mengetahui apa yang terlintas dalam hati manusia. Mengetahui Mata yang tidak jujur dan segala yang tersembunyi dalam dada. Mengetahui yang munafik dari yang mukmin, serta mengetahui yang dusta dari yang jujur.

    Namun, atas kehendak-Nya, Dia berhak memberikan ujian-ujian tertentu, untuk mengetahui rahasia hati yang tersembunyi dalam setiap jiwa; serta menunjukkan siapa yang hanya berbicara tanpa melaksanakan apa yang ia katakan; atau menyakini sesuatu, tapi tidak merealisasikannya.

    Tujuan ditampakkannya rahasia hati itu karena Allah swt. Ingin menegakkan hujjah (alasan) atas manusia, agar di Hari kiamat nanti tidak Ada seorang pun yang merasa terzalimi dan teraniaya. Mereka diberi ujian, akan tetapi sebagian besar gagal dalam ujian tersebut. Lebih dari itu, melalui ujian, Allah swt. Ingin membersihkan barisan orang-orang mukmin dari orang-orang munafik. Sebab, bercampurnya orang mukmin dengan orang munafik akan melemahkan barisan, menyebabkan kegoncangan, dan mengakibatkan kekalahan serta kehancuran.

    Ujian merupakan sunnah ilahiyah dan sebagai standar bagi semua manusia tanpa kecuali, yang berlaku sejak Adam a.s. diciptakan hingga hari kiamat kelak.

    Allah swt. Berfirman dalam kitab-Nya: Alif lam mim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ” Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi? dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS.Al-Ankabut [29]: 1-3).

    Ujian dari Allah swt. Tidak sedikit jumlahnya, dan berlaku terus-menerus sejak manusia mendapat beban syariat, sampai tibanya kematian. Jihad fisabilillah merupakan ujian, bahkan sebagai ujian yang sangat berat. Namun, bukan mustahil dilakukan karena orang-orang mukmin bisa Lulus dalam ujian itu. Sedangkan orang-orang munafik, tidak akan Lulus. Infak di jalan Allah swt. Adalah ujian. Ujian ini sulit, tetapi bukan sesuatu yang mustahil.

    Orang mukmin mampu melaksanakannya, sementara orang munafik tidak akan mampu. Begitu pula, bersikap baik terhadap sesama manusia juga ujian; menahan amarah juga ujian; rida dengan hukum Allah swt. Juga ujian; berbuat baik kepada orang tua pun ujian, dan seterusnya.

    Ujian memiliki variasi tingkat kesulitan. Seorang mukmin harus lulus dalam semua ujian itu untuk membuktikan kebenaran imannya, dan untuk menyelaraskan antara lisan dan hatinya.

    Salat Subuh, Ujian Terberat

    Inilah ujian yang sesungguhnya. Ujian yang sangat sulit, namun bukan satu hal yang mustahil. Nilai tertinggi dalam ujian ini ­bagi seorang laki-laki­ adalah salat Subuh secara rutin berjamaah di masjid. Sedangkan bagi wanita, salat Subuh tepat pada waktunya di rumah. Setiap orang dianggap gagal dalam ujian penting ini, manakala mereka salat tidak tepat waktu, sesuai yang telah ditetapkan Allah swt.

    Sikap manusia dalam menunaikan salat wajib cukup beragam. Ada yang mengerjakan sebagian salatnya di masjid, namun meninggalkan sebagian yang lain. Ada pula yang melaksanakan salat sebelum habis waktunya, namun dikerjakan di rumah. Dan, Ada pula sebagian orang yang mengerjakan salat ketika hampir habis Batas waktunya (dengan tergesa-gesa). Yang terbaik di antara mereka adalah yang mengerjakan salat wajib secara berjamaah di mushala/masjid pada awal waktu.

    Rasulullah saw. Telah membuat klasifikasi yang dijadikan sebagai tolok ukur untuk membedakan antara orang mukmin dengan orang munafik. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., Ia berkata bahwa Rasulullah saw. Bersabda: ” Sesungguhnya salat yang paling berat bagi orang munafik adalah salat Isya’ dan salat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya sekalipun dengan merangkak. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Apabila Rasulullah saw. meragukan keimanan seseorang, beliau akan menelitinya pada saat salat Subuh. Apabila beliau tidak mendapati orang tadi salat Subuh (di masjid), maka benarlah apa yang beliau ragukan dalam hati.

    Di balik pelaksanaan dua rakaat di ambang fajar ini, tersimpan rahasia yang menakjubkan. Banyak permasalahan yang bila dirunut, bersumber dari pelaksanaan salat Subuh yang disepelekan. Itulah sebabnya, para sahabat Rasulullah saw. sekuat tenaga agar tidak kehilangan waktu emas itu.

    Pernah suatu hari, mereka terlambat salat Subuh dalam penaklulkan benteng Tastar. ‘Kejadian’ ini membuat seorang sahabat, Anas bin Malik selalu menangis bila mengingatnya. Yang menarik, ternyata Subuh juga menjadi waktu peralihan dari era jahiliyah menuju era tauhid. Kaum ‘Ad, Tsamud, dan kaum pendurhaka lainnya, dilibas azab Allah swt. pada waktu Subuh.

    Seorang penguasa Yahudi pernah menyatakan bahwa mereka tidak takut dengan orang Islam, kecuali pada satu hal, yaitu bila jumlah jamaah salat Subuh mencapai jumlah jamaah salat Jumat. Memang, tanpa salat Subuh, umat Islam tidak lagi berwibawa. Tak selayaknya kaum muslimin mengharapkan kemuliaan, kehormatan, dan kejayaan, bila mereka tidak memperhatikan salat ini.

    Bagaimana orang-orang muslim tidur di waktu Subuh, lalu dia berdoa pada waktu Dhuha atau waktu Zhuhur atau waktu sore hari (Ashar), memohon kemenangan, keteguhan dan kejayaan di muka bumi. Bagaimana mungkin?

    Sesungguhnya agama ini tidak akan mendapatkan kemenangan, kecuali telah terpenuhi semua syarat-syaratnya. Yaitu dengan melaksanakan ibadah, konsekuen dengan akidah, berakhlak mulia, mengikuti ajaran-Nya, tidak melanggar larangan-Nya, dan tidak sedikit pun meninggalkannya, baik yang sepele apalagi yang sangat penting.

    Subhanallah! Allah swt. akan mengubah apa yang terjadi di muka bumi ini dari kegelapan menjadi keadilan, dari kerusakan menuju kebaikan. Semua itu terjadi pada waktu yang mulia, ialah waktu Subuh. Berhati-hatilah, jangan sampai tertidur pada saat yang mulia ini. Allah swt akan memberikan jaminan kepada orang yang menjaga salat Subuhnya, yaitu terbebas dari siksa neraka jahanam. Diriwayatkan dari Ammarah bin Ruwainah r.a., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Tidak akan masuk neraka, orang yang salat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam matahari.” (HR. Muslim).

    Salat Subuh merupakan hadiah dari Allah swt., tidak diberikan, kecuali kepada orang-orang yang taat lagi bertaubat. Hati yang diisi dengan cinta kemaksiatan, bagaimana mungkin akan bangun untuk salat Subuh? Hati yang tertutup dosa, bagaimana mungkin akan terpengaruh oleh hadist-hadist yang berbicara tentang keutamaan salat Subuh?

    Orang munafik tidak mengetahui kebaikan yang terkandung dalam salat Subuh berjamaah di masjid. Sekiranya mereka mengetahui kebaikan yang ada di dalamnya, niscaya mereka akan pergi ke masjid, bagaimanapun kondisinya, seperti sabda Rasulullah saw.: ” Maka mereka akan mendatanginya, sekalipun dengan merangkak.”

    Coba kita bayangkan ketika ada seorang laki-laki yang tidak mampu berjalan, tidak ada orang yang membantu memapahnya. Dalam kondisi yang sedemikian rupa, ia bersikeras mendatangi masjid dengan merangkak dan merayap di atas tanah untuk mendapatkan kebaikan yang terkandung dalam salat Subuh berjamaah Sekiranya kita saksikan ada orang yang meninggalkan salat Subuh berjamaah di masjid (dengan sengaja), maka kita akan mengetahui betapa besar musibah yang telah menimpanya.

    Tentu saja, tulisan ini bukan untuk menuduh orang-orang yang tidak menegakkan salat Subuh di masjid dengan sebutan munafik. Allah swt Maha Tahu akan kondisi setiap muslim. Namun, sebaiknya hal ini dapat dijadikan sebagai bahan koreksi bagi setiap individu (kita), orang-orang yang kita cintai, anak-anak, serta sahabat-sahabat kita. Sudahkah kita salat Subuh berjamaah di masjid/musalla secara istiqomah?

    Jika seseorang meninggalkan salat Subuh dengan sengaja, maka kesengajaan tersebut adalah bukti nyata dari sifat kemunafikan. Barang siapa yang pada dirinya terdapat sifat ini, maka segeralah bermuhasabah (intropeksi diri) dan bertaubat. Mengapa? Karena dikhawatirkan akhir hayat yang buruk (su’ul khatimah) akan menimpanya. Nauzubillah minzalik! (HD).

    ***

    Hudzaifah.org

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 2 January 2013 Permalink | Balas  

    Ketika Naira Berjilbab 

    Ketika Naira Berjilbab

    Adalah Naira seorang gadis remaja lulus SMU. Naira memiliki wajah yang cantik, tubuhnya langsing, dengan tinggi hampir 170 cm. Naira memilik kegemaran yang jarang dimiliki oleh wanita seusianya yakni berolahraga. Hampir semua bidang olahraga ia kuasai. Ketika teman-temannya mendaftar diperguruan tinggi dengan memilih jurusan yang populer, banyak diminati agar mudah mencari kerja, atau memilih bidang yang bergengsi misalnya; Naira justru memilih untuk kuliah di Universitas Negeri Jakarta [ dulu namanya IKIP] mengambil jurusan ‘langka’, – olahraga -.

    Selama Naira kuliah ia mengambil jurusan olahraga voli. Selain cantik, Naira cerdas, ia berprestasi. Sehingga dimasa kuliahnya ia juga mampu mencari uang sendiri. Misanya memberi pelajaran privat berenang; mengajar ilmu beladiri, senam di kursus-kursus. Kepandaian ber volinya juga memberi dampak bagi lingkungan tempat tinggalnya. Ia melatih warga dan sering memenangkan lomba voli dalam rangka 17-an atau antar RT, kelurahan.

    Puncaknya, ketika Naira terpilih menjadi tim voli dari universitasnya untuk mengikuti acara olahraga antar mahasiswa. Naira bisa berkunjung ke daerah-daerah lain di Indonesia. Naira juga sempat terpilih menjadi anggota tim voli yang mewakili daerah (porda), bahkan nasional. Secara internasional pun Naira sempat merasakannya; bagaimana dieluk-elukan, di puja -puji. Buah keahliannya menghasilan penghargaan; berupa piala, medali, piagam dan tentunya juga materi serta fasilitas lainnya dari universitas.

    Di penghujung masa ia hendak meraih gelar S1 nya, Naira memutuskan untuk berjilbab. Betapa godaan, kesempatan emas untuk berkarir itu justru datang bertubi-tubi padanya ketika ia telah berjilbab. Bermula dari tawaran suatu yayasan kedaerahan di tempat ia tinggal agar Naira bisa mengikuti lomba ‘ratu-ratu-an’. Naira menolak dengan halus. Orangtua Naira yang mempunyai kedekatan dengan personil di AL, memungkinkan Naira bisa merintis karir sedikit mudah untuk menjadi bagian dari korps wanita AL. Kemudian juga ada tawaran untuk menjadi pramugari. Pada karir-karir inilah yang kemudian Naira sempat bimbang. Naira sebenarnya sangat ingin, karena selain menyukai olahraga ia juga senang berpergian. Tapi Naira memutuskan untuk mengatakan tidak, karena untuk profesi ini ia harus menanggalkan jilbabnya; meskipun hanya untuk selama masa pendidikan dan bertugas.

    Selama menganggur setelah menjadi sarjana, ia mendapatkan tawaran dari teman-temannya, lembaga, klub untuk menjadi bagian dari tim voli mereka. Naira menolak, selain harus melepas jilbab, busana resmi voli untuk wanita sangat tidak islami, begitu penuturannya.

    Kini, Naira berprofesi sebagai pengajar di sebuah taman kanak-kanak, menjadi instruktur olahraga bagi anak-anak TK. Naira anak sulung dengan 3 orang adik, berasal dari keluarga sederhana. Umurnya belum 25, ia masih muda tapi ia tak mudah tergoda ketika menentukan arah hidup selanjutnya sesuai yang ia inginkan. Naira menerima banyak pertanyaan dari teman-temannya sehubungan dengan sikapnya ini. Masa sih, seorang atlit bisa dengan mudah berpindah profesi menjadi guru taman kanak-kanak, meninggalkan hiruk pikuk sorak sorai ketenaran, mengabaikan kesempatan profesi yang memungkinkan mendapatkan materi, fasilitas yang lebih menjanjikan sekedar untuk mempertahankan keyakinannya?

    ***

    [Kisah ini nyata, terimakasih untuk ‘Naira’ yang telah membagi pengalaman hidupnya]

     
    • irahakim 5:38 pm on 7 Januari 2013 Permalink

      Semoga Allah selalu menjagamu, Naira :-)

  • erva kurniawan 1:34 am on 1 January 2013 Permalink | Balas  

    Menyebarkan Salam 

    Menyebarkan Salam

    Bagian perkara yang akan menumbuhkan cinta dan kasih sayang antara sesame adalah menyebarkan salam (kedamaian) dan mewujudkannya. Karena itulah ada beberapa hadits Rasulullah SAW yang menganjurkan dan menjelaskan dampak positif dan keutamaannya:

    Barra Ibn Azib ra. berkata, “Rasulullah SAW memerintahkan kita akan tujuh perkara: (1) menjenguk orang sakit, (2) mengiringi jenazah, (3) mendoakan orang yang bersin, (4) menolong orang yang lemah, (5) membantu orang yang teraniaya, (6) menyebarkan salam dan (7) melaksanakan sumpah dengan baik.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Dari Abu Hurairah ra., ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga, kecuali dengan beriman. Kalian tidak akan beriman, kecuali dengan saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu yang jika kalian lakukan, maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam diantara kalian!” (HR. Muslim)

    Dalam riwayat Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dari Anas ra., Rasulullah SAW bersabda, “Salam adalah termasuk salah satu dari nama Allah yang diletakkan didunia. Sebarkanlah salam diantara kalian!”

    Dari Abdullah Ibn Amr ra., “Seorang pemuda bertanya kepada Rasulullah SAW., `Apa yang terbaik dalam Islam?’ Rasulullah menjawab, `Memberi makan (orang miskin) dan mengucapkan salam kepada yang engkau kenal atau yang tidak engkau kenal.'” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Rasulullah menjelaskan bahwa di antara hak muslim atas saudaranya ialah mengucapkan salam. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Hak seorang Muslim atas orang muslim ada enam.” Ditanyakan, “Apa saja ya Rasulullah?” Rasulullah SAW bersabda, “(1) Jika engkau bertemu dengannya, maka ucapkanlah salam. (2) Jika dia mengundangmu, maka datanglah. (3) Jika dia meminta nasihatmu, berilah nasihat. (4) Jika dia bersin dan mengucapkan alhamdulillah, doakanlah. (5) Jika dia sakit, jenguklah. (6) Jika dia meninggal dunia, maka iringilah jenazahnya.” (HR. Muslim)

    Dari Abu Sa’id al-Khudri ra. Nabi SAW bersabda, “Hindarilah duduk di jalan-jalan!” Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika kita tidak ada tempat didik yang lain untuk berbincang-bincang?” Lalu Rasulullah SAW bersabda, “”Jika kalian enggan meninggalkan tempat itu, maka berikan hak jalan itu!” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah apa hak jalan ini?” Rasulullah SAW menjawab, “Menjaga pandangan, tidak mengganggu, membalas salam, menyuruh kepada kebaikan dan melarang kemungkaran.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Manusia yang paling mulia di hadapan Allah adalah orang yang memulai memberi salam, sebagaimana sabda Rasulullah SAW.

    Rasulullah SAW memberi salam kepada anak-anak kecil, seperti disebutkan dalam ash-shahihain dari Anas ra., Beliau juga memberi salam kepada para wanita, sebagaimana disebutkan dalam sunan Tirmidzi dan al- Adab al-Mufrad milik Bukhari dengan sanad hasan dari Asma binti Yazid ra., “Rasulullah SAW melewatiku, dan aku disamping teman-teman sebayaku, lalu beliau memberi salam kepada kami.”

    Begitu juga dalam suatu perkumpulan terdapat muslimin, musyrikin, penyembahan patung dan Yahudi. Nabi SAW mengucapkan salam kepada perkumpulan seperti itu. (HR. Bukhari dan Muslim)

    Para sahabat Rasulullah, jika sedang berjalan kemudian berhadapan dengan pohon atau semak belukar yang menyebabkan mereka harus berpisah satu sama lain, mereka memberi salam ketika bertemu lagi. (Ibnu Sunni dalam bukunya, “Amal al-Yaum wa al-Lailah)

    Yang juga akan menumbuhkan rasa cinta dan kasih adalah berkirim salam kepada orang lain. Dan ini bukan perkara yang berat. Dari Aisyah ra., Rasulullah SAW berkata, “Wahai Aisyah, Jibril menyampaikan salam kepadamu.” Aisyah ra., berkata, “Untuknya salam dan rahmat Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Dari Abu Hurairah ra., Nabi SAW berkata, “Sesungguhnya aku berharap, jika umurku panjang, bisa berjumpa dengan Isa ibn Maryam as. Jika ada diantara kalian yang bertemu dengannya, maka sampaikanlah salamku kepadanya.” (HR. Ahmad)

    Jadi, dalam berkirim salam terdapat pahala dan ganjaran yang besar. Yang paling membuat orang Yahudi menjadi dengki adalah adanya salam dan kata “amin”.

    Diriwayatkan dari Aisyah ra., dari Nabi SAW., “Yang membuat orang- orang Yahudi dengki kepada kalian adalah salam dan kata amin.” (HR. Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan Bukhari dalam al-Abad al-Mufrad)

    Salam merupakan salah satu dari nama-nama Allah dan menyebarkan salam berarti menyebut Allah, sebagaimana difirmankan oleh Allah, “Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (mengingat) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35)

    Berapa banyak kejahatan yang gagal dengan adanya kalimat, as- salamu’alaikum! Berapa banyak kebaikan yang diperoleh dengan kalimat as-salamu’alaikum! Berapa banyak hubungan persaudaraan terjalin dengan kalimat as-salamu’alaikum!

    Dan sebaliknya, beberapa banyak kesulitan, bencana, kesengsaraan, terputusnya tali persaudaraan, ketidak peduliaan dan permusuhan, disebabkan meninggalkan ucapan as-salamu’alaikum!

    Sebarkanlah dan perbanyaklah salam. Ucapkanlah salam kepada yang muda, tua, kaya, miskin, laki-laki, perempuan…, baik yang Anda kenal maupun yang tidak; bahkan kepada orang yang sudah meninggal sekalipun. Yakin bahwa didalam salam kepada orang-orang yang sudah meninggal dunia ada kebaikan. Insya Allah.

    ***

    Sumber: jkmhal.com

    die *Fikih Akhlak*

    Musthafa Al-Adawy

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: