Updates from Oktober, 2014 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:23 am on 30 October 2014 Permalink | Balas  

    Ringkasan Cara Pelaksanaan Jenazah 

    jenazahRingkasan Cara Pelaksanaan Jenazah

    Oleh

    Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid

    Tulisan ini hanya ringkasan dan tidak memuat dalil-dalil semua permasalahan secara terperinci. Maka barangsiapa di antara pembaca yang ingin mengetahui dalil-dalil setiap pembahasan dipersilahkan membaca kitab aslinya “Ahkaamul Janaaiz wa Bid’ihaa” karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah

    1. PADA SAAT SAKIT
    2. Orang yang sakit wajib menerima qadha (ketentuan) Allah, bersabar menghadapi serta berbaik sangka kepada Allah, semua ini baik baginya.
    3. Ia harus mempunyai perasaan takut serta harapan, yaitu takut akan siksaan Allah karena adanya dosa-dosa yang telah ia lakukan, serta harapan akan rahmat Allah.
    4. Bagaimana parahnya penyakitnya, ia tidak boleh mengangan-angan kematian, kalaupun terpaksa, maka hendaknya ia berdoa : -Allahumma ahyanii maa kanati al-hayatu khairan lii wa tawaffaniy idzaa kanati al-wafaatu khairan lii- “Artinya : Ya Allah hidupkanlah akau jika kehidupan lebih baik bagiku, matiknalah aku jika kematian lebih baik bagiku”
    5. Jika ia mempunyai kewajiban yang menyangkut hak orang lain, hendaknya menyelesaikan secepat mungkin. Jika tidak mampu hendaknya berwasiat untuk penyelesaiannya.
    6. Ia harus bersegera berwasiat
    7. MENJELANG MATI
    8. Menjelang mati, maka orang-orang yang ada di sekitarnya harus melakukan hal-hal berikut :

    [a] Mentalqin (menuntun) mengucapkan -Laa Ilaha Illal-llah- “Artinya : Tiada yang berhak disembah selain Allah”

    [b] Mendo’akan

    [c] Mengucapkan perkataan yang baik.

    1. Adapun membacakan surat Yaa sin di sisi orang yang meninggal atau menghadapkan ke kiblat maka amalan tersebut tidak ada dalilnya.
    2. Seorang muslim boleh menghadiri kematian orang non-muslim untuk menganjurkan kepadanya supaya masuk Islam (sebelum meninggal dunia).

    III. KETIKA MENINGGAL DUNIA

    Jika sudah meninggal dunia maka orang-orang yang ada disekitarnya harus melakukan hal-hal berikut :

    1. Memejamkan mata mayyit
    2. Mendo’akan
    3. Menutupnya dengan kain yang meliputi semua anggota tubuhnya. Tapi jika yang meninggal sedang melakukan ihram, maka kepala dan wajahnya tidak ditutupi
    4. Bersegera menyelenggarakan jenazahnya setelah yakin bahwa ia sudah betul-betul meninggal
    5. Menguburkan di kampung tempat ia meninggal, tidak memindahkan ke daerah lain kecuali dalam kondisi darurat. Karena memindahkan mayat ke daerah lain berarti menyalahi perintah mempercepat pelaksanaan jenazah.
    6. Bersegera menyelesaikan utang-utangnya semuanya dari harta si mayyit sendiri, mekipun sampai habis hartanya, maka negaralah yang menutupi utang-utangnya setelah ia sendiri sudah berusaha membayarnya. Jika negara tidak melakukan hal itu dan ada yang berbaik budi melunasinya, maka hal itu dibolehkan.
    7. YANG BOLEH DILAKUKAN PARA KERABATNYA DAN ORANG LAIN
    8. Boleh membuka wajah mayyit dan menciumnya, menangisi -tanpa ratapan- dalam kurung tiga hari
    9. Tatkala berita kematian sampai kepada kerabat mayyit, mereka harus :

    [a] Bersabar serta redha akan ketentuan Allah

    [b] Beristirjaa’ yaitu membaca : -Inna Lillahi wa Innaa Ilaihi Raaji’uun- “Artinya : Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan kepada-Nya-lah kita akan kembal”

    1. Tidaklah menyalahi kesabaran jika ada wanita yang tidak berhias sama sekali asal tidak melebihi tiga hari setelah meninggalnya ayahnya atau selain ayahnya. Kecuali jika yang meninggal adalah suaminya, maka ia tidak berhias selama empat bulan sepuluh hari, karena hal ini ada dalilnya.
    2. Jika yang meninggal selain suaminya, maka lebih afdhal jika tidak meninggalkan perhiasannya untuk meredlakan/menyenangkan suaminya serta memuaskannya. Dan diharapkan adanya kebaikan di balik itu.
    3. HAL-HAL YANG TERLARANG

    Rasulullah telah melarang/mengharamkan hal yang selalu dilakukan oleh banyak orang disaat ada yang meninggal, hal-hal yang dilarang tersebut wajib diketahui untuk dihindari, di antaranya :

    1. Meratap, yaitu menangis berlebih-lebihan, berteriak, memukul wajah, merobek-robek kantong pakaian dan lain-lain.
    2. Mengacak-acak rambut
    3. Laki-laki memperpanjang jenggot selama beberapa hari sebagai selama beberapa hari sebagai tanda duka atas kematian seseorang. Jika duka sudah berlalu maka mereka kembali mencukur jenggot lagi.
    4. Mengumumkan kematian lewat menara-menara atau tempat lain, karena cara mengumumkan yang seperti itu terlarang dan syariat
    5. CARA MENGUMUMKAN KEMATIAN YANG DIBOLEHKAN
    6. Boleh menyampaikan berita kematian tanpa menempuh cara-cara yang diamalkan pada zaman jahiliyah dahulu. Bahkan terkadang menyampaikan berita kematian hukumnya menjadi wajib jika tidak ada yang memandikannya, mengkafani, menshalati dan lain-lain.
    7. Bagi yang menyampaikan berita kematian dibolehkan meminta kepada orang lain supaya mendo’akan mayyit, karena hal ini ada landasannya di dalam sunnah

    VII. TANDA-TANDA HUSNUL KHATIMAH

    Telah sah pejelasan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau menyebutkan beberapa tanda husnul khatimah (kematian/akhir hidu yang baik). Jika seseorang meinggal dunia dengan mengalami salah satu di antara tanda-tanda itu maka itu merupakan kabar gembira.

    1. Mengucapkan syahadat di saat meninggal
    2. Mati dengan berkeringat pada dahi
    3. Mati pada hari Jum’at atau pada malam Jum’at
    4. Mati Syahid di medan jihad
    5. Mati terkena penyait thaa’uun
    6. Mati terkena penyakit perut
    7. Mati tenggelam
    8. Mati terkena reruntuhan
    9. Mati seorang wanita hamil karenan janinnya
    10. Mati terkena penyakit paru
    11. Mati membela agama atau diri
    12. Mati membela/mempertahankan harta yang akan dirampok
    13. Mati dalam keterikatan dengan jalan Allah
    14. Mati dalam suatu amalan shalih
    15. Mati terbakar
    Iklan
     
  • erva kurniawan 1:09 am on 29 October 2014 Permalink | Balas  

    Mawar Untuk Ibu 

    mawarMawar Untuk Ibu

    Seorang pria berhenti di toko bunga untuk memesan seikat karangan bunga yang akan dipaketkan pada sang ibu yang tinggal sejauh 250 km darinya. Begitu keluar dari mobilnya, ia melihat seorang gadis kecil berdiri di trotoar jalan sambil menangis tersedu-sedu. Pria itu menanyainya kenapa dan dijawab oleh gadis kecil, “Saya ingin membeli setangkai bunga mawar merah untuk ibu saya. Tapi saya cuma punya uang lima ratus saja, sedangkan harga mawar itu seribu.”

    Pria itu tersenyum dan berkata, “Ayo ikut, aku akan membelikanmu bunga yang kau mau.” Kemudian ia membelikan gadis kecil itu setangkai mawar merah, sekaligus memesankan karangan bunga untuk dikirimkan ke ibunya.

    Ketika selesai dan hendak pulang, ia menawarkan diri untuk mengantar gadis kecil itu pulang ke rumah. Gadis kecil itu melonjak gembira, katanya, “Ya tentu saja. Maukah anda mengantarkan ke tempat ibu saya?”

    Kemudian mereka berdua menuju ke tempat yang ditunjukkan gadis kecil itu, yaitu pemakaman umum, dimana lalu gadis kecil itu meletakkan bunganya pada sebuah kuburan yang masih basah.

    Melihat hal ini, hati pria itu menjadi trenyuh dan teringat sesuatu. Bergegas, ia kembali menuju ke toko bunga tadi dan membatalkan kirimannya. Ia mengambil karangan bunga yang dipesannya dan mengendarai sendiri kendaraannya sejauh 250 km menuju rumah ibunya.

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 28 October 2014 Permalink | Balas  

    Harta yang penuh berkah 

    harta karunHarta yang penuh berkah

    Penulis:

    Achmad ibn Masduqie

    Sering sekali kita mendengar perihal harta barokah. Namun apakah sebenarnya yang dimaksud dengan harta yang barokah itu, dan apakah hubungannya dengan zakat ?

    Harta yang barokah ialah harta yang menyebabkan seseorang yang mempergunakannya memperoleh ketenangan dan ketenteraman jiwa sehingga mampu mendorongnya untuk berbuat kebaikan kepada sesama.

    Harta yang demikian inilah pada hakekatnya sangat didambakan dan dicari oleh setiap orang; sebab ketenangan dan ketenteraman jiwa itulah yang menjadi faktor penentu bagi kebahagiaan hidup seseorang.

    Dalam kitab Riyadus Shalihin dijelaskan bahwa yang dimaksud barokah adalah sesuatu yang dapat menambah kebaikan kepada sesama, ziyadatul khair ‘ala al ghair. Bila dikaitkan dengan harta, maka yang dimaksud dengan harta yang barokah itu sebagaimana dipaparkan di atas.

    Harta-harta yang barokah itu, haruslah yang halal dan baik, karena sesuatu yang diambil dari yang tidak halal dan tidak baik tidak mungkin mampu mendorong kita kepada kebaikan diri maupun orang lain, sebagaimana isyarat Allah swt. dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 168 yang artinya :

    “Wahai manusia, makanlah dari apa-apa yang ada di bumi yang halal dan yang baik. Dan janganlah kamu sekalian mengikuti jejak langkah dari Syaithan, karena sesungguhnya Syaithan itu adalah musuhmu yang nyata”.

    Dalam kesempatan yang lain Nabi Muhammad SAW juga pernah menyatakan “kullu lahmin nabata minal harom, fan naaru aula bihi.” Setiap daging yang timbul atau dihasilkan dari sesuatu yang haram maka hanyalah neraka yang patut menerimanya.

    Secara rinci yang dimaksudkan dengan halal di sini adalah:

    • Halal wujudnya, yaitu apa saja yang tidak dilarang oleh agama Islam, seperti makanan dan minuman yang tidak diharamkan oleh syari’at agama Islam.
    • Halal cara mengambil atau memperolehnya, yaitu cara mengambil atau cara memperoleh yang tidak dilarang oleh syari’at agama Islam, seperti harta yang diperoleh dari ongkos pekerjaan yang halal menurut pandangan syari’at agama Islam, sedang ongkos tersebut juga berasal dari hasil pekerjaan yang halal.
    • Halal karena tidak tercampur dengan hak milik orang lain, karena sudah dikeluarkan zakatnya. Harta yang demikian itu, jika berupa bahan makanan dan dimakan oleh seseorang, maka pengaruhnya sangat positif bagi kesehatan mental atau jiwa seseorang.

    Setiap orang yang lahir di dunia ini oleh Allah swt. telah dibekali dengan dua macam dorongan nafsu, yakni: nafsu yang mendorong manusia untuk berbuat durhaka dan nafsu yang mendorong untuk berbuat taqwa (kebajikan).

    Dalam surat As Syams ayat 7 dan 8 Allah swt. telah berfirman:

    “Demi jiwa dan apa-apa yang menyempurnakannya, maka Allah mengilhamkan pada jiwa tersebut kedurhakaan dan ketaqwaannya”.

    Kedua macam dorongan tersebut tidak dapat berwujud menjadi perbuatan yang nyata, manakala dalam diri seseorang tidak ada energi. Sedangkan energi itu adalah berasal dari bahan makanan. Sehingga apabila bahan makanan yang dimakan oleh seseorang adalah halal, maka energi yang ditimbulkan oleh bahan makanan tersebut adalah energi yang halal. Energi yang halal inilah yang mudah diserap dan dipergunakan oleh dorongan yang mengajak kepada perbuatan-perbuatan yang baik, benar dan haq.

    Sedang perbuatan-perbuatan yang baik, benar dan haq yang dilakukan oleh seseorang akan diserap oleh organ jiwa yang oleh Sigmund Freud disebut dengan “Ego Ideal”. Ego Ideal inilah yang selalu menghibur dan menenteramkan jiwa seseorang.

    Sebaliknya, jika bahan makanan yang dimakan oleh seseorang adalah berasal dari harta yang haram, maka energi yang timbul dari bahan makanan tersebut adalah energi yang haram, yang akan diserap oleh nafsu yang mengajak kepada kejelekan, kesalahan dan kebatilan.

    Manakala seseorang telah melakukan perbuatan yang jelek atau salah atau batil, maka perbuatan ini akan diserap oleh organ jiwa yang oleh Sigmund Freud disebut conscience. Kemudian conscience ini selalu menuntut jiwa manusia itu sendiri atas kejelekan atau kesalahan atau kebatilan yang telah dilakukan, sehingga ketenteraman jiwa menjadi terganggu. Semakin banyak kejelekan atau kesalahan atau kebatilan yang dilakukan oleh seseorang, maka semakin besar tuntutan dari consciense dan semakin goncang ketenangan dan ketenteraman jiwanya, sehingga pada akhinya orang yang selalu memakan makanan yang berasal dari harta yang haram akan dihadapkan pada dua alternatif, yaitu:

    • Jika kondisi jasmaninya kuat, maka jiwanya akan jebol dan akan terkena penyakit jiwa.
    • Jika kondisi jiwanya kuat, maka dia akan terserang penyakit psychosomatica.

    Sedang yang dimaksud dengan makanan yang baik menurut ayat 168 dari surat Al Baqarah di atas, adalah baik menurut syarat-syarat kesehatan. Sebab makanan yang tidak memenuhi syarat-syarat kesehatan akan menyebabkan kondisi jasmani menjadi mudah terserang oleh berbagai macam penyakit. Seseorang tidak akan memperoleh ketenangan dan ketenteraman jiwa manakala badan jasmaninya selalu sakit-sakitan.

    Disamping itu perlu kita ketahui bahwa harta yang diberikan oleh Allah swt. kepada seseorang itu di dalamnya terdapat hak milik fakir miskin yang dititipkan oleh Allah swt. kepadanya. Hal ini telah diterangkan oleh Allah swt. dalam Al Qur’an surat Adz Dzaariyaat ayat 19: “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian”

    Harta orang miskin yang dititipkan oleh Allah swt. pada orang-orang kaya itu harus dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak, baik berupa zakat wajib maupun zakat sunnat, agar harta orang-orang kaya tersebut menjadi halal, karena tidak lagi tercampur dengan hak milik orang-orang miskin. Jadi zakat ini mempunyai peranan yang penting sekali untuk membuat harta yang kita miliki menjadi barokah karena zakat juga merupakan elemen yang menjadikan harta itu bisa memberikan kebahagiaan dan kebaikan kepada orang lain.

    Jika kita mau mengadakan penelitian atau research terhadap orang-orang kaya yang hartanya tercampur oleh harta yang tidak halal, baik wujudnya, atau cara mengambilnya, atau belum dizakati, maka kita akan mendapati kehidupan keluarga mereka itu ternyata tidak bahagia sebagaimana yang kita bayangkan. Kebahagiaan yang mereka dambakan ternyata hanya sebagai fatamorgana belaka.

    Dalam Al Qur’an surat An Nur ayat 39 Allah swt. telah berfirman:

    ” Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungannya”.

    Jadi harta yang barokah itu sangat besar peranannya dalam mencapai kebahagiaan hidup seseorang, baik di dunia maupun di akhirat. Itulah sebabnya maka Nabi Muhammad saw. pernah bersabda: “Mencari yang halal itu adalah kewajiban sesudah shalat fardlu”.

    Wallohu a’lam bish-shawab,-

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 27 October 2014 Permalink | Balas  

    Keberanian dan Ketelitian 

    air gelasKeberanian dan Ketelitian

    Di sebuah ruang kuliah, seorang profesor kedokteran memberikan kuliah perdananya. Para mahasiswa baru itu tampak serius. Mata mereka terpaku menatap profesor, seraya tangan sibuk mencatat.

    “Menjadi dokter, butuh keberanian dan ketelitian,” terdengar suara sang profesor. “Dan saya harap kalian dapat membuktikannya.” Bapak itu beranjak ke samping. “Saya punya setoples cairan limpa manusia yang telah direndam selama 3 bulan.” Profesor itu mencelupkan jari ke dalam toples, dan memasukkan jari itu ke mulutnya. Terdengar teriak-teriak kecil dari mahasiswa itu. Mereka terlihat jijik. “Itulah yang kusebut dengan keberanian dan ketelitian,” ucap profesor lebih meyakinkan.

    “Saya butuh satu orang yang bisa berbuat seperti saya. Buktikan bahwa kalian ingin menjadi dokter.” Suasana aula mendadak senyap. Mereka bingung: antara jijik dan tantangan sebagai calon dokter. Tak ada yang mengangkat tangan. Sang profesor berkata lagi, “Tak adakah yang bisa membuktikan kepada saya? Mana keberanian dan ketelitian kalian?”

    Tiba-tiba, seorang anak muda mengangkat tangan. “Ah, akhirnya ada juga yang berani. Tunjukkan pada teman-temanmu bahwa kau punya keberanian dan ketelitian.” Anak muda itu menuruni tangga, menuju mimbar tempat sang professor berada. Dihampirinya stoples itu dengan ragu-ragu. Wajahnya tegang, dan perasaan jijik terlihat dari air mukanya.

    Ia mulai memasukkan jarinya ke dalam toples. Kepala menoleh ke samping dengan mata yang menutup. Teriakan kecil rasa jijik kembali terdengar. Perlahan, dimasukkannya jari yang telah tercelup lendir itu ke mulutnya. Banyak orang yang menutup mata, banyak pula yang berlari menuju kamar kecil. Sang professor tersenyum. Anak muda itu tersenyum kecut, sambil meludah-ludah ke samping.

    “Aha, kamu telah membuktikan satu hal, anak muda. Seorang calon dokter memang harus berani. Tapi sayang, dokter juga butuh ketelitian.” Profesor itu menepuk punggung si mahasiswa. “Tidakkah kau lihat, aku tadi memasukkan telunjuk ke toples, tapi jari tengah yang masuk ke mulut. Seorang dokter memang butuh keberanian, tapi lebih butuh lagi ketelitian.” *** Tantangan hidup, kadangkala bukan untuk menghadapi kematian. Tapi, justru bagaimana menjalani kehidupan. Banyak orang yang takut mati. Tapi, tidak sedikit yang memilih mati ketimbang hidup. Banyak yang menghabisi hidup pada jalan-jalan tercela. Banyak pula yang enggan hidup hanya karena beratnya beban kehidupan.

    Ujaran profesor itu memang benar. Tantangan menjadi seorang dokter-dan sesungguhnya, menjadi manusia-adalah dibutuhkannya keberanian dan ketelitian. Bahkan, tantangan itu lebih dari sekadar mencicipi rasa cairan limpa di toples. Lebih berat. Jauh lebih berat. Dalam kehidupan, apa yang kita alami kadang lebih pahit dan menegangkan. Namun, bagi yang teliti, semua bisa jadi manis, menjadi tantangan yang mengasyikkan. Di sanalah ditemukan semua rasa, rupa dan suasana yang mendidik. Dan mereka dapat dengan teliti memilah dan memilih.

    hati-hatilah. Hidup memang butuh keberanian. Tapi, akan lebih butuh ketelitian. Cermati langkahmu, waspadai tindakanmu. Hati-hati saat “mencelupkan jari” dalam toples kehidupan. Kalau tidak, “rasa pahit” yang akan kita temukan.

    Wallahua’lam bi showab

    ***

    Kiriman Sahabat: Karlina, Lina

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 26 October 2014 Permalink | Balas  

    Tertawa Memusnahkan Penyakit, Membuat Awet Muda 

    tertawa 1Tertawa Memusnahkan Penyakit, Membuat Awet Muda

    Para ahli mendapatkan kenyataan bahwa pelbagai penyakit merupakan cetusan dari pengaruh berbagai keadaan mental (pikiran) negatif yang mendasarinya.

    Penyakit mempengaruhi manusia secara fisik, mental, emosional, dan bila penyakit itu cukup kuat, akan mempengaruhi juga rohani kita.

    Elen Schuman dalam bukunya, Cause in Miracles, lebih jauh mengatakan bahwa semua penyakit berasal dari rasa bersalah, kebencian, dan perasaan yang tidak bisa memberi ampunan.

    Temperamen kita tampaknya sudah melekat semenjak lahir. Sebagian dari kita ada yang tampak selalu bergembira, sementara yang lain kelihatan murung. Namun, bagaimana tanggapan kita terhadap ujian hidup akan mempengaruhi watak kita secara keseluruhan dalam berreaksi dan beraksi dalam menjalani kehidupan itu sendiri.

    Orang yang arif bijaksana mengatakan, “Anggap saja hidup ini sebagai panggung sandiwara, semua orang kan dapat peran sendiri-sendiri, daripada mengeluhkan duri-duri pada tangkai bunga mawar, lebih baik bersyukurlah untuk bunga mawar yang ada di antara duri-duri tersebut.”

    Penyebab Penyakit

    Menurut terapi Gestalt yang diuraikan dalam buku Louis Proto, seseorang yang tidak bisa lagi tersenyum untuk orang lain, apalagi tersenyum untuk dirinya sendiri, berarti orang tersebut sudah mencanangkan dirinya membentuk “pabrik penyakit” di tubuhnya sendiri. Banyak sebab yang menjadikan seseorang tidak bisa lagi mengembangkan senyum tulus untuk orang lain, juga untuk diri sendiri, di antaranya memendam emosi sebagai berikut.

    Rasa bersalah merupakan kebencian yang diarahkan terhadap dirinya sendiri. Rasa bersalah merupakan perasaan yang paling sia-sia dan salah satu perasaan yang paling merusak yang dapat kita miliki.

    Rasa iri hati membuat merasa kehidupan sendiri merupakan bentuk malapetaka yang harus dijalani. Orang demikian terpaksa menjalani hidupnya dengan mendorong kereta kehidupannya di jalan berduri yang diciptakan sendiri.

    Rasa rendah diri terjadi ketika seseorang yang mengalaminya hidup seperti katak dalam tempurung, dia merasa aman di dalam tempurung dan merasa tertekan, merasa takut di luar tempurungnya. Itu membuatnya enggan keluar untuk melihat dunia luar yang memberinya banyak makna dalam hidupnya.

    Kehilangan cinta dialami seseorang yang merasa kehilangan cinta pada diri sendiri atau kehilangan cinta dari orang lain untuk dirinya, dan memandang hidupnya dengan perasaan nelangsa (sedih, kecewa, dan murung).

    Itulah beberapa faktor yang membuat seseorang tidak bisa lagi tersenyum pada diri sendiri maupun pada orang lain.

    Hal itu menyebabkan sudut bibirnya membentuk menjadi turun ke bawah dan terlihat kusut masam dengan sorot mata yang sendu, terkadang ada juga yang bersorot mata bengis seolah memandang semua orang dengan sinis, dan merasa semua memusuhinya atau selalu mencelanya.

    Pada literatur kesehatan TAO, manusia diajarkan untuk serajin mungkin tersenyum pada diri sendiri termasuk kepada semua organ dalam tubuh kita. Dalam tersenyum, organ dan anggota tubuh kita diajarkan juga untuk berterima kasih atas kerja sama semua anggota tubuh juga termasuk organ-organ kita ketika mereka semua membantu kita dalam menjalani kehidupan ini.

    Bayangkan jika satu organ mogok menjalankan tugasnya, pasti masalah bagi manusia itu sendiri, dan kemogokan itu banyak disebabkan oleh aliran energi yang tak terlihat, yaitu energi emosi (perasaan) yang menjalar bagai racun yang mematikan.

    Kita hidup untuk merasakan dan mengungkapkan diri kita sendiri, itulah sebabnya kita mempunyai tubuh. Jembatan di antara perasaan-perasaan yang tak terungkap bisa keluar berupa penyakit-penyakit mulai dari flu biasa sampai ke kanker ganas!!

    Penyakit sebagai Pelajaran

    Dr Edward Bach, penemu energi bunga untuk pengobatan, mengemukakan dalam salah satu bukunya bahwa penyakit merupakan pengaruh dari berbagai keadaan mental negatif yang mendasarinya dan ditimbulkan oleh diri sendiri.

    Jika kita betul-betul tidak menikmati stres yang muncul dalam kehidupan sebagai tantangan, stres itu pun akan menekan dan mempengaruhi kekebalan tubuh dan mental kita, juga tingkat-tingkat energi, keadaan pikiran kita, juga mutu kehidupan kita.

    Penyakit merupakan pengalaman belajar, penyakit mempunyai maksud-maksud yang ingin diajarkan kepada kita dalam menjalani hidup ini.

    Pelajaran-pelajaran seperti apakah yang diajarkan penyakit kepada kita? Penyakit itu mengajar kita tentang keseimbangan dan perubahan, bagaimana kita hidup telah tidak seimbang dan berbagai perubahan yang perlu kita buat dalam gaya hidup, pola pikir kita agar keseimbangan bisa pulih kembali.

    Tertawa Membuat Awet Muda

    Tersenyum sampai tertawa lebar membuat perasaan bahagia menjalar ke seluruh tubuh. Dua orang peneliti, Darwin dan Hodgkinson, menjelaskan tentang otot zygomatik yang akan bergerak menarik sudut bibir atas dan bawah sampai ke tulang pipi sehingga tubuh menerima oksigen lebih banyak menumbuhkan perasaan lepas dan bahagia.

    Otot zygomatik itu akan mengkerut pada saat wajah dalam ekspresi sedih dan perasaan tertekan menyebabkan darah kekurangan oksigen yang menimbulkan perasaan depresi dan rasa tidak bahagia.

    Oleh sebab itu, seseorang yang dalam keadaan tidak bahagia sering kali menghela napas panjang sebagai respons tubuh untuk mengambil oksigen lebih banyak. Nah berdasarkan hal tersebut, marilah kita sering tersenyum. Selain membuat pemandangan di dunia ini lebih indah, juga membuat Anda lebih sehat dan awet muda.

    Diyakini para ahli bahwa orang yang mudah tersenyum menjadikan dirinya lebih agresif menjalani hidupnya untuk menjadi orang yang lebih sukses dan mujur.

    Siapa tidak mau menjadi orang sehat, sukses, dan awet muda? Karena itu, tersenyumlah. Selama tersenyum dengan tulus dan keluar dari jiwa yang sehat, senyum dan tawa menjadi obat yang mujarab, dan banyak survei yang mendapatkan kenyataan bahwa orang-orang ramah yang hidupnya dipenuhi dengan tersenyum menjadi orang-orang yang lebih sehat, lebih mujur, lebih maju, dan lebih bahagia. Tapi harus diingat juga kalau tertawa harus disesusaikan dengan kondisi. Yang penting jangan tertawa sendiri dan jangan tertawa yang berlebihan karena itu akan mematikan hati.

    ***

    Kiriman Sahabat: Karlina, Lina

     
  • erva kurniawan 2:34 am on 25 October 2014 Permalink | Balas  

    Do’a dengan: “Ya Allah Ampunilah Aku Jika Engkau Menghendaki” 

    doaDo’a dengan: “Ya Allah Ampunilah Aku Jika Engkau Menghendaki”

    Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

    Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah ada seseorang di antara kamu yang berdo’a: “Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki”, atau berdo’a: “Ya Allah, limpahkan rahmat-Mu kepadaku jika Engkau menghendaki; tetapi hendaklah berkeinginan kuat dalam permohonannya itu, karena sesungguhnya Allah tiada sesuatu pun yang memaksa-Nya untuk berbuat sesuatu.”

    Dan disebutkan dalam riwayat Muslim:

    “Dan hendaklah ia membesarkan harapannya, karena sesungguhnya Allah tidak terasa berat bagi-Nya sesuatu yang Dia berikan.”

    Kandungan tulisan ini:

    Dilarang mengucapkan: “Jika Engkau menghendaki” dalam berdo’a.

    Alasannya, (ucapan ini menunjukkan seakan-akan Allah merasa keberatan dengan permintaan hamba-Nya atau merasa terpaksa untuk memenuhi permohonan hamba-Nya).

    Diperintahkan untuk berkeinginan kuat dalam berdo’a.

    Diperintahkan untuk membesarkan harapan dalam berdo’a.

    Alasannya, (karena Allah adalah Maha Kaya, Maha Luas karunia-Nya dan Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya).

    ***

    Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

    Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

     
  • erva kurniawan 1:22 am on 24 October 2014 Permalink | Balas  

    Rasulullah SAW. Adalah Suami Teladan 

    nabi-muhammad-saw1Rasulullah SAW. Adalah Suami Teladan

    Assalamualaikum wr.wb.

    Wahai saudara-saudariku sesama muslim, tidaklah dipungkiri kalau Rasulullah adalah sosok pribadi yang sangat mengagumkan dalam berbagai bidang ataupun berbagai urusan dunia wal akhirat., sehingga patutlah bagi kita untuk menjadikan Beliau sebagai sebaik-baiknya suri tauladan yang harus diikuti, sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Ahzab ayat 21 yang berbunyi : Sesungguhnya dalam diri Rasulullah itu telah terdapat suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

    Dalam urusan rumah tanggapun Beliau adalah seorang suami yang menampilkan figur/sosok yang sempurna dimata para istrinya. Beliau adalah suami yang selalu mengayomi para istrinya, bersikap adil, bijaksana, lemah lembut, penyabar, tidak pernah marah menghadapi kecemburuan istrinya dan masih banyak lagi akhlak terpuji dari Sang Kekasih ALLAH tercinta ini.

    Sebagai contoh kisah, pada suatu hari Hafsah menyatakan keberatannya jika Rasulullah SAW, mencampuri hamba sahayanya yang bernama Mariyah Qibtiyah yang semula adalah budak yang dihadiahkan oleh Raja Mesir kepada Rasulullah SAW. Karena sikap Hafsah itu Rasulullah berjanji untuk tidak datang lagi ke rumah Mariyah Qibtiyah agar Hafsah tidak lagi membencinya dan menjadi senang.

    Janji yang diucapkan Rasulullah dimaksudkan untuk mengayomi istri-istrinya yang dahulu agar tidak timbul ketegangan dengan mereka. Akan tetapi sikap Rasulullah SAW. mendapat teguran dari Allah dengan turunnya ayat 1 QS. At-Tahriim (66). Selanjutnya, beliau tetap memperlakukan Mariyah sebagaimana istri istri beliau yang lain. Ia mendapat tempat tinggal seperti layaknya istri Rasulullah yang lain dan melayani Mariyah dengan baik.

    Dengan Mariyah ini Rasulullah SAW. dikaruniai seorang putra yang bernama Ibrahim. Hidup Ibramim tidaklah lama. Ia meninggal dalam usia bayi. Perlakuan Rasulullah kepada Mariyah, bekas budaknya, mendorong dan memberi contoh kepada kaum muslim untuk bersikap santun kepada budak, bahkan mendorongnya untuk membebaskan mereka sebagai tindakan menghargai kemanusiaan yang dijunjung tinggi oleh agama islam.

    Karena sikap yang ditunjukan oleh Rasulullah kepada Mariyah itulah kemudian istri-istri Rasulullah lainnya yang berasal dari kalangan terhormat akhirnya menghormati kedudukan Mariyah sebagai orang yang sangat dicintai oleh Rasulullah seperti istri istri yang lain.

    Dalam hal melayani kebutuhan istri-istrinya, Rasulullah berlaku adil. Beliau memberikan tempat tinggal, nafkah, pakaian, waktu kunjungan, dan giliran secara merata. Walaupun di antara istri Rasulullah ada yang cantik, muda, tua, sedang, kesemuanya Beliau perlakukan sama. Setiap istri mendapat giliran berkumpul satu malam. Sekalipun beliau dalam keadaan sakit, beliau tetap mengunjungi istri-istrinya seperti ketika sehat dan tinggal ditempat istri yang mendapat giliran berkumpul pada malam harinya.

    Apabila Rasulullah SAW. mengadakan suatu perjanalan, beliau melakukan undian.Siapa yang keluar, dialah yang berhak menemani beliau.

    Diantara sikap Rasulullah SAW. yang menghargai pendapat istrinya ialah mengajak istrinya bermusyawarah. Bahkan mereka diperkenankan mengajukan kritikan. Beliau mengawini seorang wanita setelah mendapat perkenan dari yang lain.

    Pada hari setelah dikukuhkan perjanjian Hudaibiyah, beliau memerintahkan orang orang Islam memotong rambut dan menyembelih kurban setelah diadakan perdamaian dengan pihak Quraisy, tetapi mereka tidak mengikuti perintah Nabi.

    Tampaknya orang orang islam tidak puas dengan isi perjanjian yang telah disepakati oleh Rasulullah. Mereka menggerundel menahan emosi. Beliau mendatangi istrinya, Ummu Salamah, yang langsung melihat gelagat yang kurang enak pada diri Rasulullah. Akhirnya Ummu Salamah berkata : ” Wahai Rasulullah, apakah engkau menginginkan hal itu? Keluarlah, tapi jangan berbicara dengan siapapun diantara kaum muslim, sampai engkau menyembelih kurban dan mendoakan orang yang memangkas rambutmu.”

    Beliau keluar dan melakukan seperti yang dianjurkan Ummu Salamah.Setelah orang-orang islam melihat apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. mereka menjadi heran. Akan tetapi, mereka segera melakukan seperti yang dilakukan Beliau.

    `Saydina Umar pernah bercerita : Pada suatu hari aku pernah marah besar terhadap istriku karena ia mengajukan kritikan, sedang aku tidak menginginkan hal seperti itu. Ia berkata : ” Mengapa engkau menolak bila aku mengajukan kritikan kepadamu? istri-istri Rasul juga mengkritik dan diantara mereka ada yang menghindarinya dari siang sampai malam.” Maka aku segera pergi menemui Hafsah, seraya berkata : ” Apakah kamu mengkritik Rasulullah? ” ” Benar,” jawab Hafsah. ” Sungguh merugilah di antara kalian yang berbuat seperti itu,” kataku.

    Jelaslah walaupun masalah kenegaraan dan umat begitu penting, tetapi Rasulullah benar-benar sangat memperhatikan dan menghargai pendapat-pendapat yang disumbangkan oleh istrinya kepada beliau.

    Dalam memberikan pelayanan kebutuhan biologis istrinya, beliau ternyata melakukannya dengan sangat baik, menarik, dan menggairahkan. Dalam hal ini Rasulullah SAW. bersabda :

    “Cucilah pakaianmu, pangkaslah rambutmu, bersiwaklah, berhiaslah, dan bersihkanlah dirimu, karena sesungguhnya Bani Israil tidak pernah berbuat seperti itu, sehingga wanita-wanita mereka suka berzina.” ( HR. Ibnu Asakir, dari ‘Ali)

    Walaupun Rasulullah SAW. berhadapan dengan istrinya di tempat tidur, beliau tetap menjaga kebersihan, baik badan maupun tempat, sehingga mampu merangsang istri untuk menikmati kesendirian dengan suaminya. Beliau sangat mengecam suami yang jorok dan tidak rapi pada saat berduaan dengan istrinya sehingga istri merasa muak dan cepat bosan. Hal seperti ini tentu akan merusak kedamaian rumah tangga.

    Rasulullah SAW. tidak pernah memukul istrinya dan mencela lelaki yang melakukannya kepada istrinya. Beliau bersabda : ” Tidakkah seseorang di antara kamu merasa malu memukul istrinya sebagaimana memukul seorang hamba sahaya? Ia memukulnya pada awal siang dan menggaulinya pada akhir siang.” ( HR.Asy-Syaikhany dan Tarmizi).

    Tidak jarang para istri beliau dirasuki kecemburuan sebagaimana layaknya para wanita. Akan tetapi, ketika kecemburuan ini mulai menampakan ketidakwajaran, beliau pun segera meluruskan dengan pendidikan yang baik. ‘ Aisyah ra. berkata : ” Aku belum pernah melihat orang membuat makanan seperti yang dibuat oleh Shafiyyah. Ketika ia sedang berada di rumahku, ia membuat makanan untuk Rasulullah. Tiba tiba badanku bergetar sehingga menggigil karena dibakar cemburu. Mangkok Shafiyyah kupecahkan, tapi kemudian aku merasa menyesal. Segera kukatakan kepada Rasulullah SAW. ” Wahai Rasulullah , apakah kaffarah perbuatanku tadi.” Beliau menjawab : Mangkok sama dengan mangkok, makanan sama dengan makanan.” ( HR. Abu Dawud dan Nasa’i).

    Ingatan Rasulullah SAW. tidak pernah lekang dari Khadijah yang sudah meninggal dunia.Tidak sampai di situ saja, beliau juga berbuat baik kepada setiap orang yang mempunyai hubungan dengan Khadijah sebagai perwujudan dari kenangan beliau kala masih bersama istri pertamanya. Beliau selalu menyebutkan kebaikan kebaikannya. Sampai-sampai ‘ Aisyah belum pernah mencemburui seorang wanita pun sebagaimana kecemburuannya terhadap Khadijah, meskipun ia sudah meninggal dunia.

    Mendengar Rasulullah menyanjung almarhumah, maka dengan geramnya berkatalah Aisyah : ” Khadijah lagi…., Khadijah lagi……seperti di dunia ini sudah tidak ada lagi wanita selain Khadijah.” Menanggapi sikap ‘Aisyah itu Rasulullah pergi meninggalkan ‘Aisyah dan tidak seberapa lama beliau kembali lagi. Masih dalam kecemburuannya Aisyah berkata : ” Buat apa engkau mengingat perempuan tua renta dan ujung mulutnya sudah merah, padahal Allah sudah menggatikannya dengan yang lebik baik bagimu? ”

    ” Demi Allah, Dia tidak pernah mengganti yang lebih baik dari Khadijah. Dia beriman kepadaku pada saat semua orang mendustakan aku. Dia ulurkan hartanya pada saat semua orang menahannya. Dia memberiku anak selagi yang lain tidak memberinya,” jawab Rasulullah.

    Dalam peristiwa lain, ” Aisyah pernah bercerita bahwa pada suatu hari Rasulullah masuk ke rumahnya.” Aisyah segera bertanya : ” Dimana seharian tadi?” ” Wahai Humairah, aku tadi di rumah Ummah Salamah,” jawab Beliau. ” Apakah engkau belum kenyang dirumah Ummu Salamah? ” tanyaku lagi. Beliau hanya tersenyum saja.

    Para istri beliau juga sering bercanda, dan beliaupun ikut bergabung dalam suasana kegembiraan mereka.

    Jelaslah bagi kita semua dengan memiliki beberapa istri denga sifat dan tingkah laku yang berbeda ataupun beragam, Rasulullah ingin menunjukan dan mengajari serta memberi contoh pada umatnya bahwa kelak umatnya yang laki-laki akan memiliki dan menghadapi istri dengan pola tingkah laku yang beragam sehingga apabila seorang suami menghadapi sikap istri yang begini, haruslah suami tersebut mencontohi Nabi ketika menghadapi istrinya si A, atau si B, dll.

    Bukannya hanya mencemoh atau mencela kekurangan, kelemahan istri, tetapi suami yang bijak yang bisa mencontohi sikap Nabi, akan menuntun seorang istri ke jalan yang diridhoi Allah SWT.

    Sehingga tidaklah benar tuduhan dari orang kafir atau dunia barat tentang keadaan Nabi yang memiliki beberapa orang istri dengan asumsi yang jelek/negativ. Selain untuk mengangkat harkat dan martabat kaum wanita Arab saat itu dari kehinaan dan kerendahan karena terikat tradisi jahilliyah mereka, juga untuk memperbanyak umat islam, disamping tujuan lainnya. Kesemuanya ini karena islam sangat memuliakan perempuan.

    Untuk itu, wahai para suami tuntunlah istrimu kejalan yang di ridhoi Allah. Sehingga kedamaian dapat menyelimuti ramah tanggamu. Bukankah seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya?

    ***

    Sumber : diambil dari sebuah buku karya Drs. M. Thalib.

    Wassalam

    Siti Nurjannah

     
  • erva kurniawan 6:45 am on 23 October 2014 Permalink | Balas  

    Kisah Seorang Wanita Pengikut Syiah di kota Bandung 

    49. Akibat Nikah Mut'ah Di BandungKisah Seorang Wanita Pengikut Syiah di kota Bandung

    Kasus wanita berjilbab dari Wisma Fatimah di Jl. Alex Kawilarang 63 Bandung Jawa Barat yang mengidap penyakit kotor gonorhe (kencing nanah) akibat nikah mut’ah. Seperti dilaporkan oleh LPPI yang berkasnya disampaikan ke Kejaksaan Agung dan seluruh gubernur, mengutip ASA (Assabiqunal Awwalun) edisi 5, 1411H, hal. 44-47 dengan judul ” Pasien Terakhir “, seperti yang dimuat buku Mengapa Menolak Syi’ah halaman 270-273.

    Berikut ini kisah selengkapnya:

    Untuk kedua kalinya wanita itu pergi ke dokter Hanung, seorang dokter spesialis kulit dan kelamin dikota Bandung. Sore itu ia datang sambil membawa hasil laboratorium seperti yang diperintahkan dokter dua hari sebelumnya. Sudah beberapa Minggu dia mengeluh merasa sakit pada waktu buang air kecil (drysuria) serta mengeluarkan cairan yang berlebihan dari vagina (vaginal discharge).~

    Sore itu suasana di rumah dokter penuh dengan pasien. Seorang anak tampak menangis kesakitan karena luka dikakinya, kayaknya dia menderita Pioderma. Disebelahnya duduk seorang ibu yang sesekali menggaruk badannya karena gatal. Diujung kursi tampak seorang remaja putri melamun, merenungkan acne vulgaris (jerawat) yang ia alami.

    Ketika wanita itu datang ia mendapat nomor terakhir. Ditunggunya satu persatu pasien berobat sampai tiba gilirannya. Ketika gilirannya tiba, dengan mengucapkan salam dia memasuki kamar periksa dokter Hanung. Kamar periksa itu cukup luas dan rapi. Sebuah tempat tidur pasien dengan penutup warna putih. Sebuah meja dokter yang bersih. Dipojok ruang sebuah wastafel untuk mencuci tangan setelah memeriksa pasien serta kotak yang berisi obat-obatan.

    Sejenak dokter Hanung menatap pasiennya. Tidak seperti biasa, pasiennya ini adalah seorang wanita berjilbab rapat. Tidak ada yang kelihatan kecuali sepasang mata yang menyinarkan wajah duka. Setelah wawancara sebentar (anamnese) dokter Hanung membuka amplop hasil laboraturium yang dibawa pasiennya. Dokter Hanung terkejut melihat hasil laboraturium. Rasanya adalah hal yang mustahil. Ada rasa tidak percaya terhadap hal itu. Bagaimana mungkin orang berjilbab yang tentu saja menjaga kehormatannya terkena penyakit itu, penyakit yang hanya mengenai orang-orang yang sering berganti-ganti pasangan sexsual.

    Dengan wajah tenang dokter Hanung melakukan anamnese lagi secara cermat.

    + “Saudari masih kuliah?”

    –   “Masih dok”

    + “Semester berapa?”

    –   “Semester tujuh dok!”

    + “Fakultasnya?”

    –   “Sospol”

    + “Jurusan komunikasi massa ya?”

    Kali ini ganti pasien terakhir itu yang kaget. Dia mengangkat muka dan menatap dokter Hanung dari balik cadarnya.

    –   “Kok dokter tahu?”

    + “Aah,….tidak, hanya barangkali saja!”

    Pembicaraan antara dokter Hanung dengan pasien terakhirnya itu akhirnya seakan-akan beralih dari masalah penyakit dan melebar kepada persoalan lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah penyakit itu.

    + “Saudari memang penduduk Bandung ini atau dari luar kota?

    Pasien terakhir itu nampaknya mulai merasa tidak enak dengan pertanyaan dokter yang mulai menyimpang dari masalah-masalah medis itu. Dengan jengkel dia menjawab.

    • “Ada apa sih Dok…..kok tanya macam-macam?”

    + “Aah enggak,……..barangkali saja ada hubungannya dengan penyakit yang saudari derita!”

    Pasien terakhir ini tampaknya semakin jengkel dengan pertanyaan dokter yang kesana-kemari itu. Dengan agak kesal dia menjawab.

    • “Saya dari Pekalongan”

    + “Kost-nya?”

    • “Wisma Fathimah, jalan Alex Kawilarang 63”

    + “Di kampus sering mengikuti kajian Islam yaa”

    • “Ya,..kadang-kadang Dok!”

    + “Sering mengikuti kajian Bang Jalal?”

    Sekali lagi pasien terakhir itu menatap dokter Hanung.

    • “Bang Jalal siapa?”

    Tanyanya dengan nada agak tinggi.

    + “Tentu saja Jalaluddin Rachmat! Di Bandung siapa lagi Bang Jalal selain dia….kalau       di Yogya ada Bang Jalal Muksin”

    • “Yaa,…….kadang-kadang saja saya ikut”

    + “Di Pekalongan,……(sambil seperti mengingat-ingat) kenal juga dengan Ahmad Baraqba?”

    Pasien terakhir itu tampak semakin jengkel dengan pertanyaan-pertanyaan dokter yang semakin tidak mengarah itu. Tetapi justru dokter Hanung manggut-manggut dengan keterkejutan pasien terakhirnya. Dia menduga bahwa penelitian penyakit pasiennya itu hampir selesai. Akhirnya dengan suara yang penuh dengan tekanan dokter Hanung berkata.

    • “Begini saudari, saya minta maaf atas pertanyaan-pertanyaan saya yang ngelantur tadi, sekarang tolong jawab pertanyaan saya dengan jujur demi untuk therapi penyakit yang saudari derita,…………..”

    Sekarang ganti pasien terakhir itu yang mengangkat muka mendengar perkataan dokter Hanung. Dia seakan terbengong dengan pertanyaan apa yang akan dilontarkan oleh dokter yang memeriksanya kali ini.

    + “Sebenarnya saya amat terkejut dengan penyakit yang saudari derita, rasanya tidak mungkin seorang ukhti mengidap penyakit seperti ini”

    • “Sakit apa dok?”

    Pasien terakhir itu memotong kalimat dokter Hanung yang belum selesai dengan amat Penasaran.

    + “Melihat keluhan yang anda rasakan serta hasil laboraturium semuanya menyokong diagnosis gonorhe, penyakit yang disebabkan hubungan seksual”

    Seperti disambar geledek perempuan berjilbab biru dan berhijab itu, pasien terakhir dokter Hanung sore itu berteriak,

    • “Tidak mungkin!!!”

    Dia lantas terduduk dikursi lemah seakan tak berdaya, mendengar keterangan dokter Hanung. Pandangan matanya kosong seakan kehilangan harapan dan bahkan seperti tidak punya semangat hidup lagi. Sementara itu pembantu dokter Hanung yang biasa mendaftar pasien yang akan berobat tampak mondar-mandir seperti ingin tahu apa yang terjadi. Tidak seperti biasanya dokter Hanung memeriksa pasien begitu lama seperti sore ini. Barangkali karena dia pasien terakhir sehingga merasa tidak terlalu tergesa-gesa maka pemeriksaannya berjalan agak lama. Tetapi kemudian dia terkejut mendengar jeritan pasien terakhir itu sehingga ia merasa ingin tahu apa yang terjadi.

    Dokter Hanung dengan pengalamannya selama praktek tidak terlalu kaget dengan reaksi pasien terakhirnya sore itu. Hanya yang dia tidak habis pikir itu kenapa perempuan berjilbab rapat itu mengidap penyakit yang biasa menjangkit perempuan-perempuan rusak. Sudah dua pasien dia temukan akhir-akhir ini yang mengidap penyakit yang sama dan uniknya sama-sama mengenakan busana muslimah. Hanya yang pertama dahulu tidak mengenakan hijab penutup muka seperti pasien yang terakhirnya sore itu. Dulu pasien yang pernah mengidap penyakit yang seperti itu juga menggunakan pakaian muslimah, ketika didesak akhirnya dia mengatakan bahwa dirinya biasa kawin mut’ah.

    Pasiennya yang dahulu itu telah terlibat jauh dengan pola pikir dan gerakan Syi’ah yang ada di Bandung ini. Dari pengalaman itu timbul pikirannya menanyakan macam-macam hal mengenai tokoh-tokoh Syi’ah yang pernah dia kenal di kota Kembang ini dan juga kebetulan mempunyai seorang teman dari Pekalongan yang menceritakan perkembangan gerakan syi’ah di Pekalongan. Beliau bermaksud untuk menyingkap tabir yang menyelimuti rahasia perempuan yang ada didepannya sore itu.

    + “Bagaimana saudari… penyakit yang anda derita ini tidak mengenai kecuali orang-orang yang biasa berganti-ganti pasangan seks. Rasanya ini tidak mungkin terjadi pada seorang muslimah seperti anda. Kalau itu masa lalu anda baiklah saya memahami dan semoga dapat sembuh, bertaubatlah kepada Allah,….atau mungkin ada kemungkinan yang lain,…?”

    Pertanyaan dokter Hanung itu telah membuat pasien terakhirnya mengangkat muka sejenak, lalu menunduk lagi seperti tidak memiliki cukup kekuatan lagi untuk berkata-kata. Dokter Hanung dengan sabar menanti jawaban pasien terakhirnya sore itu.

    Beliau beranjak dari kursi memanggil pembantunya agar mengemasi peralatan untuk segera tutup setelah selesai menangani pasien terakhirnya itu.

    • “Saya tidak percaya dengan perkataan dokter tentang penyakit saya !” Katanya terbata-bata

    + “Terserah saudari,…….tetapi toh anda tidak dapat memungkiri kenyataan yang anda sandang-kan?”

    • “Tetapi bagaimana mungkin mengidap penyakit laknat tersebut sedangkan saya selalu berada didalam suasana hidup yang taat kepada hukum Allah?”

    + “Sayapun berprasangka baik demikian terhadap diri anda,….tetapi kenyataan yang anda hadapi itu tidak dapat dipungkiri?”

    Sejenak dokter dan pasien itu terdiam. Ruang periksa itu sepi. Kemudian terdengar suara dari pintu yang dibuka pembantu dokter yang mengemasi barang-barang peralatan administrasi pendaftaran pasien. Pembantu dokter itu lantas keluar lagi dengan wajah penuh tanda tanya mengetahui dokter Hanung yang menunggui pasiennya itu.

    + “Cobalah introspeksi diri lagi, barangkali ada yang salah,…….. sebab secara medis tidak mungkin seseorang mengidap penyakit ini kecuali dari sebab tersebut”

    • “Tidak dokter,…….selama ini saya benar-benar hidup secara baik menurut tuntunan syari’at Islam,…..saya tetap tidak percaya dengan analisa dokter”

    Dokter Hanung mengerutkan keningnya mendengar jawaban pasiennya. Dia tidak merasa sakit hati dengan perkataan pasiennya yang berulang kali mengatakan tidak percaya dengan analisisnya. Untuk apa marah kepada orang sakit. Paling juga hanya menambah parah penyakitnya saja, dan lagi analisanya toh tidak menjadi salah hanya karena disalahkan oleh pasiennya. Dengan penuh kearifan dokter itu bertanya lagi,……..

    + “Barangkali anda biasa kawin mut’ah??

    Pasien terakhir itu mengangkat muka,

    • “Iya dokter! Apa maksud dokter”?

    + “Itu kan berarti anda sering kali ganti pasangan seks secara bebas!

    –   “Lho,… tapi itukan benar menurut syari’at Islam dok! Pasien itu membela diri.

    +   “Ooo,…Jadi begitu,…kalau dari tadi anda mengatakan begitu saya tidak bersusah payah mengungkapkan penyakit anda. Tegasnya anda ini pengikut ajaran Syi’ah yang bebas berganti-ganti pasangan mut’ah semau anda. Ya itulah petualangan seks yang anda lakukan. Hentikan itu kalau anda ingin selamat”.

    • “Bagaimana dokter ini, saya kan hidup secara benar menurut syari’at Islam sesuai dengan keyakinan saya, dokter malah melarang saya dengan dalih-dalih medis”

    Sampai disini dokter Hanung terdiam. Sepasang giginya terkatup rapat dan dari wajahnya terpancar kemarahan yang sangat terhadap perkataan pasiennya yang tidak mempunyai aturan itu. Kemudian keluarlah perkataan yang berat penuh tekanan.

    + “Terserah apa kata saudari membela diri,… anda lanjutkan petualangan seks anda, dengan resiko anda akan berkubang dengan penyakit kelamin yang sangat mengerikan itu, dan sangat boleh jadi pada suatu tingkat nanti anda akan mengidap penyakit AIDS yang sangat mengerikan itu,…atau anda hentikan dan bertaubat kepada Allah dari mengikuti ajaran bejat itu kalau anda menghendaki kesembuhan”.

    • “Ma..maaf, Dok, saya telah membuat dokter tersinggung!”

    Dokter Hanung hanya mengangguk menjawab perkataan pasiennya yang terbata-bata itu.

    + “Begini saudari,…tidak ada gunanya resep saya berikan kepada anda kalau toh tidak berhenti dari praktek kehidupan yang selama ini anda jalani. Dan semua dokter yang anda datangi pasti akan bersikap sama,… sebab itu terserah kepada saudari. Saya tidak bersedia memberikan resep kalau toh anda tidak mau berhenti”.

    • “Ba…baik , Dok, …Insya Allah akan saya hentikan!”

    Dokter Hanung segera menuliskan resep untuk pasien terakhir itu, kemudian menyodorkan kepadanya.

    • “Berapa Dok?”

    + “Tak usahlah,….saya sudah amat bersyukur kalau anda mau menghentikan cara hidup binatang itu dan kembali kepada cara hidup yang benar menurut tuntunan dari Rosulullah. Saya relakan itu untuk membeli resep saja”.

    Pasien terakhir dokter Hanung itu tersipu-sipu mendengar jawaban dokter Hanung

    –   “Terima kasih Dok,…….permisi”

    Perempuan itu kembali melangkah satu-satu dipelataran rumah Dokter Hanung. Ia berjalan keluar teras dekat bougenvil biru yang seakan menyatu dengan warna jilbabnya. Sampai digerbang dia menoleh sekali lagi ke teras, kemudian hilang ditelan keramaian kota Bandung yang telah mulai temaran disore itu

    ***

    Sumber : Syiahindonesia.com : Membela Sunnah, Menolak Syiah

     
  • erva kurniawan 7:51 am on 22 October 2014 Permalink | Balas  

    Lihat Diri Sebelum Berbicara 

    pidatoLihat Diri Sebelum Berbicara

    Undzur ma qoola walaa tandzur man qoola – Dengar apa yang dikatakannya dan jangan lihat siapa yang mengatakannya– satu ungkapan lama dari ulama yang sejatinya dimaknai agar kita bersikap kritis terhadap setiap perkataan orang, disisi lain tidak mengambil kebenaran hanya karena memandang kedudukan, status orang yang mengatakannya. Namun, sejalan dengan beragam pemikiran manusia, beragam pula interpretasi terhadap ungkapan tersebut hingga satu titik interpretasi sederhana bahwa tidak perlu melihat siapa yang mengatakannya, karena yang penting adalah apa yang dikatakan orang tersebut. Satu interpretasi yang salah yang terus bergulir yang kemudian tidak jarang dijadikan alasan pembenaran bagi seorang juru dakwah (da’i) untuk tidak tampil dengan penampilan terbaiknya, karena baginya yang penting apa yang akan disampaikannya penuh nilai dan berbobot.

    Anda tentu pernah melihat tukang-tukang obat yang beraksi di tengah keramaian, meski tak pernah belajar teori komunikasi -apalagi kuliah strata satu di fakultas ilmu komunikasi- tapi memiliki kemampuan untuk menyedot perhatian orang banyak hingga rela berdiri untuk sekian lama memperhatikan cuap-cuap si tukang obat. Jual obat belakangan, yang penting orang senang dulu dan betah untuk berlama-lama bersamanya. Bisa jadi kita juga semua tahu bahwa obat yang dijual masih perlu dipertanyakan kualitasnya, juga kemanjurannya, tapi pernahkah Anda mempertanyakan pada diri sendiri, kenapa Anda mau berhenti sejenak untuk memperhatikan tukang obat itu sendiri. Dan tidak jarang, pada akhirnya, ada yang membeli obat tersebut.

    Setiap marketing yang handal dan pengalaman, tentu sangat mengerti jawabannya. Prinsip dasar yang dipegang selama ini dalam menentukan keberhasilan marketing adalah “The singer not the song”. Pada umumnya, keputusan untuk membeli suatu barang sangat ditentukan oleh emosi si pembeli. Termasuk misalnya, pembeli merasa senang, suka ataupun sebaliknya terhadap penjual. Setiap penjual yang baik, biasanya memulai dengan dan mampu untuk “menjual” dirinya terlebih dulu sebelum menjual produk. Syukurnya, dalam kerangkan budaya masyarakat Indonesia pada umumnya masih lebih berorientasi pada “siapa yang berbicara”. Sebagai contoh lagu dan penyanyi misalnya, orang kita masih memandang penyanyinya, bukan lagunya. Coba Anda perhatikan di kampung-kampung misalnya, tertulis besar-besar pengumuman, “Hadirilah pagelaran musik, menghadirkan Cucum Cumenah, Artis Top Ibukota”. Anda tidak akan pernah mendapati, judul lagu yang ditulis dalam pengumuman tersebut. Apapun lagunya, kalau yang membawakannya adalah artis top yang sudah kondang dan kesohor bahkan menjadi pujaan, tidak penting lagi apakah lagu tersebut jelek atau bagus.

    Jadi, sekedar untuk mengembalikan pemahaman sebenarnya dari ungkapan ulama (bukan hadits) diatas, bahwa setiap kita semestinya kritis terhadap apa yang dikatakan orang. Namun jika masih tetap ada yang “keukeuh” menginterpretasikan hal itu sebagai tidak perlu melihat siapa yang mengatakannya, kali ini, seharusnya dipahami bahwa sesungguhnya masyarakat kita sangat betul memperhatikan siapa yang berbicara. Sebagus apapun, sebaik apapun nasihat yang akan anda sampaikan kepada orang lain, luangkan waktu sejenak untuk sekedar memperhatikan penampilan Anda, dan memperbaiki bagian yang kurang sedap dipandang. Dalam pemahaman yang lebih luas, seperti dijelaskan dalam Surat Ash Shaft ayat 2 dan 3, bahwa sebelum mengatakan sesuatu, semestinya kita sudah melakukannya. Sehingga orang lain akan melihat kita sebagai tauladan, bukan sebagai pembual yang hanya pandai mengajak orang, tapi ianya tetap pada keburukan. Wallahu ‘a’lam bishshowaab

    ***

    eramuslim – Bayu Gautama.

     
  • erva kurniawan 7:36 am on 21 October 2014 Permalink | Balas  

    Lelah 

    bohongLelah

    Kalau ada orang-orang yang masih terus menerus berdusta, aku tidak mengerti, terbuat dari apakah lidah mereka sehingga teramat hebat merangkai kata-kata indah menutupi kebenaran, menyembunyikan hakikat mengedepankan kepalsuan. Padahal sekali saja berdusta, sudah sedemikian lelahnya kita berpikir untuk mencari segudang alasan baru untuk dusta berikutnya, sudah sebegitu kelunya lidah ini terpaksa menari mengikuti irama gendang kepalsuan yang tak hentinya bertabuh.

    Jika masih ada sebagian orang yang saling mencaci, menghina, menggunjing, berprasangka buruk dan menjelek-jelekkan saudaranya, aku tidak tahu, sekuat apa penciuman dan mulutnya karena pada saat itu ia seperti tengaha memakan bangkai saudaranya sendiri.

    Seandainya masih beredar orang-orang yang tak hentinya berlaku sombong, angkuh dan takabbur, aku tak habis pikir, sebesar apa dirinya sehingga sangat lancang menantang kebesaran Tuhannya, dan sekuat apa tubuhnya kelak menanggung akibat dari kesombongannya. Padahal semestinya ia tahu, kesombongan adalah mutlak miliki Allah semata.

    Sekiranya tetap hidup manusia-manusia yang enggan menyisihkan sebagian harta yang dimilikinya, sementara bertebaran di seluruh penjuru bumi Allah ini anak-anak yatim piatu, fakir miskin dan orang-orang lemah, aku semakin heran, apakah ia selalu berpikir bahwa semua itu diperolehnya murni dari hasil jerih payahnya? Tak pernahkah ia tahu bahwa semua yang ada padanya itu adalah atas kehendak Allah Sang Pemberi Rizki? Yang seandainya Dia berkehendak, dengan sangat mudah pula Dia mengambil darinya?

    Mungkin saja masih ada segelintir makhluk Allah bernama manusia yang tak bosannya berzina, sungguh aku semakin bingung dibuatnya. Padahal seratus kali ayunan cambuk atau lemparan batu hingga mati bisa jadi satu-satunya alasan Allah untuk memberikan ampunan atas perbuatannya. Dan jika itu tidak dilakukannya, sudah pasti kilatan cambuk Allah di akhirat nanti bukan sekedar mematikan, tetapi menghancurkan tubuh kecil tak berarti ini. Lalu kenapa masih ada yang berani meski sekedar mendekatinya?

    Umpamanya masih hidup orang-orang yang gemar berbuat maksiat, bangga dengan dosa-dosanya, sungguh aku tidak akan pernah memahami, setebal apa kulit mereka menahan api neraka Allah, sekuat tubuh orang-orang itu menerima adzab Allah yang tak pernah berhenti.

    Namun, jika saja ada sebagian kecil dari orang-orang diatas yang berhenti melakukan semua yang dilarang Rabb-nya, ini yang sangat mudah aku pahami, tidak terlalu sulit untuk dimengerti, karena akupun pernah mengalaminya. Aku sangat tahu betul, lelah rasanya terus menerus berbuat dosa. Lelah menahan hentakan demi hentakkan yang bergemuruh di dalam dada ini setiap kali aku melakukan perbuatan maksiat. Dan lelah untuk terus memikirkan ancaman dan hukuman macam apa yang diberikan Allah kelak di hari pembalasan. Astaghfirullaah ?

    ***

    Eramuslim – Bayu Gautama

     
  • erva kurniawan 7:24 am on 20 October 2014 Permalink | Balas  

    Doa Qunut Nazilah 

    Doa Qunut Nazilah 1Doa Qunut Nazilah

    Doa Qunut Nazilah dibaca ketika kaum muslimin terkena bencana, ancaman, penganiayaan, penindasan musuh-musuh Allah dan musuh kaum Muslimin.

    Seperti dikisahkan dalam Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW pernah melakukan qunut selama satu bulan untuk mendoakan pembunuh-pembunuh para sahabatnya di Bir Al-Maunah.

    Dari Abu Hurairah RA :

    “Sesungguhnya bila ingin mendoakan seseorang, Nabi Muhammad SAW membacakan qunut sesudah ruku’ (Hr. Bukhari dan Ahmad bin Hambal).

    Doa Qunut Nazilah dibaca setiap sholat fardhu jahriyah (mahdzab Hanafi), sedangkan selain madzhab Hanafi, Doa Qunut Nazilah dibaca setiap kali sholat fardhu.

    Mari kita bacakan doa ini untuk saudara-saudara kita kaum muslimin dimana saja berada, khususnya yang sedang terkena ancaman, penganiayaan, dan penindasan musuh-musuh Allah.

    Inilah Doa Qunut Nazilah (Hadist diriwayatkan oleh Umar Bin Khatab) :

    Alloohummaghfir lilmu’miniina wal mu’minaat, Wal muslimiina wal muslimaat, Wa allif baina quluubihim, Wa ashlih dzaata bainahum, Wanshur ‘Alaa ‘Aduwwika wa’aduwwihim,

    Allohummal’in kafarota ahlil kitaabil ladziina, Yukadzibuuna rusulaka wayuqottiluuna auliyaa aka, Alloohumma khollif baina kalimaatihim, Wazalzil Aqdaamahum, Wa anzilbihim ba’sakalladzii layuroddu ‘anil qaumil mujrimiin,

    Bismillaahirrahmaanirrahiim, Allohumma innaanasta’iinuka

    Artinya:

    “Ya Allah ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, Ya Allah jinakkan, satu padukan hati orang-orang muslimin, Perbaikilah keadaan mereka, Tolonglah kaum muslimin untuk melawan musuh-musuh-Mu, dan musuh-musuh mereka

    Ya Allah, laknatlah orang-orang kafir yang mendustakan para RasulMu dan membunuh para kekasih-Mu, Ya Allah cerai-beraikan kesatuan kata mereka, Hancur leburkan kekuatan mereka, Dan turunkanlah bencana-Mu yang tiada tertolak lagi untuk orang-orang yang penuh dengan dosa

    Dengan menyebut nama-Mu ya Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang, Ya Allah, sesungguhnya kami memohon perlindungan kepadaMu”

     
  • erva kurniawan 7:23 am on 19 October 2014 Permalink | Balas  

    Cinta Ini Milikmu Mama 

    ibu dan  anakCinta Ini Milikmu Mama

    “Farah, bangun. udah azan subuh. Sarapanmu udah mama siapin di meja.”

    Tradisi ini sudah berlangsung 26 tahun, sejak pertama kali aku bisa mengingat. Kini usiaku sudah kepala 3 tapi kebiasaan mama tak pernah berubah.

    “Mama sayang. ga usah repot-repot ma, aku dan adik-adikku udah dewasa.” pintaku pada mama pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah. Pun ketika mama mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru kukeluarkan uang dan kubayar semuanya.

    Ingin kubalas jasa mama selama ini dengan hasil keringatku. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan. Kenapa mama mudah sekali sedih? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami mama karena dari sebuah artikel yang kubaca .. orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan cenderung untuk bersikap kanak-kanak . tapi entahlah.. Niatku ingin membahagiakan malah membuat mama sedih. Seperti biasa, mama tidak akan pernah mengatakan apa-apa.

    Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya “Ma, maafin aku kalau telah menyakiti perasaan mama. Apa yang bikin mama sedih?”

    Kutatap sudut-sudut mata mama, ada genangan air mata di sana. Terbata-bata mama berkata, “Tiba-tiba mama merasa kalian tidak lagi membutuhkan mama. Kalian sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Mama tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kalian, mama tidak bisa lagi jajanin kalian. Semua sudah bisa kalian lakukan sendiri”

    Ah, Ya Allah, ternyata buat seorang Ibu .. bersusah payah melayani putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan. Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya. Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing.

    Diam-diam aku bermuhasabah. Apa yang telah kupersembahkan untuk mama dalam usiaku sekarang? Adakah mama bahagia dan bangga pada putera putrinya? Ketika itu kutanya pada mama. Mama menjawab “Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kalian berikan pada mama. Kalian tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan. Kalian berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat mama. Setelah dewasa, kalian berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan buat mama. Setiap kali binar mata kalian mengisyaratkan kebahagiaan di situlah kebahagiaan orang tua.”

    Lagi-lagi aku hanya bisa berucap “Ampunkan aku ya Allah kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada mama. Masih banyak alasan ketika mama menginginkan sesuatu.”

    Betapa sabarnya mamaku melalui liku-liku kehidupan. Sebagai seorang wanita karier seharusnya banyak alasan yang bisa dilontarkan mamaku untuk “cuti” dari pekerjaan rumah atau menyerahkan tugas itu kepada pembantu. Tapi tidak! Mamaku seorang yang idealis, menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun. Pukul 3 dinihari mama bangun dan membangunkan kami untuk tahajud. Menunggu subuh mama ke dapur menyiapkan sarapan sementara aku dan adik-adik sering tertidur lagi. Ah, maafin kami mama . 18 jam sehari sebagai “pekerja” seakan tak pernah membuat mama lelah.. Sanggupkah aku ya Allah?

    • * *

    “Farah. bangun nak, udah azan subuh .. sarapannya udah mama siapin di meja.. ”

    Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul mama sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya lekat-lekat dan kuucapkan

    “Terimakasih mama, aku beruntung sekali memiliki mama yang baik hati, ijinkan aku membahagiakan mama. “. Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan.

    Cintaku ini milikmu, Mama. Aku masih sangat membutuhkanmu. Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu..

    Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat “aku sayang padamu. “, namun Rasulullah menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai karena Allah. Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita . ibu dan ayah walau mereka tak pernah meminta. Percayalah. kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia. Wallaahu a’lam

    “Ya Allah, cintai mamaku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan mama .. dan jika saatnya nanti mama Kau panggil, panggillah dalam keadaan khusnul khatimah. Titip mamaku ya Rahman”

    Untuk semua Ibu yang mencintai anak-anaknya dan semua anak yang mencintai Ibunya

     

    Kiriman Sahabat Sakka

     
  • erva kurniawan 7:18 am on 18 October 2014 Permalink | Balas  

    Sebuah Rasa 

    cintaSebuah Rasa

    Suara hati diantara 2 orang manusia yang saling mengerti itu kini sudah meninggalkan tempatnya.Yang tersisa disana hanyalah puing-puing kenangan yang akan tetap meninggalkan bekasnya didasar sebuah hati sang jiwa.

    Semakin sang jiwa berlari akankah ia jauh dari sang pecinta?? tidak…justru ia akan semakin mendekati bayangan sang pecinta.Lalu sang jiwapun terdiam dan membiarkan rasa yang selalu mengguncangkan dunia itu tetap disana…ditempat yang semestinya,sang jiwapun termenung, berfikir dan mencari-cari jawaban atas semua pertanyaannya…apakah ada bedanya?! hanya sang jiwalah yang benar-benar bisa merasakannya.

    Tuhan yang maha membolak-balikan hati, mengapa rasa itu masih ada? tidak bisakah ia tergantikan dengan yang lain? mengapa sang jiwa mencintai seseorang yang seharusnya hanya bisa ia sayangi? dan mengapa pula ia hanya memiliki rasa sayang pada seseorang yang sebenarnya bisa ia cintai? lalu apa itu cinta dan apa itu sayang, wahai yang maha tahu?

    Sang jiwa terus termenung dan ditengah-tengah keterdiamannya ia masih mempertanyakan mengapa kebahagiaan hatinya di suatu kumpulan waktu menjadi deritanya saat ini.. terikat dan terbelenggu karenanya. Benarkah tubuh hanya suatu kumpulan Zat kimia, jaringan dan impuls saraf, pikiran tak lebih dari gelombang listrik dalam otak, hasratpun tak lebih dari asam yang menusuk otak kecil, benarkah? Jika begitu tubuhpun tak lebih dari sekedar mesin tanpa jiwa.

    Wahai Tuhan yang maha tinggi , apakah ini berarti sang jiwa telah melalaikan-Mu meski dalam hatinya masih ada sebuah keinginan yang tak pernah berkurang karena kekeringan dan tidak bertambah karena basah! tidak…tidak Tuhan…dia tidak ingin lalai pada-Mu meski ingatanya tetap terpatri pada sang pecinta.

    Sang jiwa masih teringat akan perkataan Rosul-Mu “KECINTAANMU KEPADA SESUATU BISA MEMBUAT BUTA DAN TULI”. Karenanya sang jiwa masih mencari-cari dimanakah kunci semuanya, dia tidak ingin buta dan tuli, dia hanya ingin sebuah kebahagiaan dan kedamaian.

    Waktupun terus berlalu, terlihat di semua tempat dan membagi tahun menjadi bulan, bulan kedalam hari, hari kedalam jam, jam kedalam detik, pertambahan waktupun berbaris rapi setelah yang satu menghilang dan tergantikan dengan yang lain. Detikpun mulai bergulir dan tibalah waktunya sang jiwa memahami apa yang telah dipertanyakannya, lewat semua Hidayah-Nya ia pun menemukan sebuah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang membuat dirinya resah

    “DAN SEGALA SESUATU KAMI JADIKAN BERJODOH-JODOHAN AGAR SEKALIAN KAMU BERFIKIR”(QS. 51:49)

    Sang jiwa pun mulai merasakan suatu aliran yang mengalir mendesak-desak dalam nadinya, resah itu mulai meninggalkan hati sang jiwa sedikit demi sedikit setelah ia belajar bahwa semuanya bukan milikinya,semuanya sudah diluar kendali seorang anak manusia…Yah sang jiwa tidak mempunyai kuasa apa-apa terhadap takdir dimuka bumi

    “DAN DIA TELAH MENCIPTAKAN SEGALA SESUATU DAN DIA MENETAPKAN UKURAN-UKURANNYA DENGAN SERAPI-RAPINYA”(QS.25:3)

    Sang jiwa masih bisa memberikan senyumnya untuk orang-orang yang memiliki rasa dalam hatinya mungkin masih ada sisa sebuah rasa yang pernah mengguncangkan jiwanya, tapi telah sedikit tertolong .Dia tetap bahagia bahwa rasa itu pernah menetap dalam jiwanya

    “DAN BISA JADI KAMU MEMBENCI SESUATU PADAHAL ITU BAIK UNTUKMU DAN BISA JADI KAMU MENYUKAI SESUATU SEMENTARA ITU BURUK BAGIMU, DAN ALLAH LEBIH MENGETAHUI PADA SAAT KAMU TIDAK MENGETAHUI (QS. 2:126).

    Pada akhirnya sang jiwapun harus pasrah terhadap semua Takdir-Nya dan belajar untuk menerima bahwa hanya Tuhan yang tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.Dan semuanya pasti ada Hikmah dan kebaikan yang terdapat didalamnya……..

    ***

    Dari Sahabat Lina Karlina

     
  • erva kurniawan 7:09 am on 17 October 2014 Permalink | Balas  

    Riwayat Hidup Imam Abu Hanifah 

    abu hanifahRiwayat Hidup Imam Abu Hanifah

    Imam Abu Hanafih adalah seorang imam Mazhab yang besar dalam dunia Islam. Dalam empat mazhab yang terkenal tersebut hanya Imam Hanafi yang bukan orang Arab. Beliau keturunan Persia atau disebut juga dengan bangsa Ajam. Pendirian beliau sama dengan pendirian imam yang lain, yaitu sama-sama menegakkan Al-Quran dan sunnah Nabi SAW.

    Imam Hanafi dilahirkan pada tahun 80 Hijrah bertepatan tahun 699 Masehi di sebuah kota bernama Kufah. Nama Beliau sebenarnya ialah Nu’man bin Tsabit bin Zautha bin Maha. Kemudian lebih terkenal dengan sebutan Imam Hanafi.

    Kemasyhuran nama tersebut menurut para ahli sejarah ada beberapa sebab:

    1. Karena ia mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Hanifah, maka ia diberi julukan dengan Abu Hanifah.
    2. Karena semenjak kecilnya sangat tekun belajar dan menghayati setiap yang dipelajarinya, maka ia dianggap seorang yang hanif (kecenderungan/condong) pada agama. Itulah sebabnya ia terkenal dengan gelaran Abu Hanifah.
    3. Menurut bahasa Persia, Hanifah berarti tinta. Imam Hanafi sangat rajin menulis hadith-hadith, ke mana, ia pergi selalu membawa tinta. Karena itu ia dinamakan Abu Hanifah.

    Waktu ia dilahirkan, pemerintahan Islam berada di tangan Abdul Malik bin Marwan, dari keturunan Bani Umaiyyah kelima. Kepandaian Imam Hanafi tidak diragukan lagi, beliau mengerti betul tentang ilmu fiqih, ilmu tauhid, ilmu kalam, dan juga ilmu hadith. Di samping itu beliau juga pandai dalam ilmu kesusasteraan dan hikmah.

    Imam Hanafi adalah seorang hamba Allah yang bertakwa dan soleh, seluruh waktunya lebih banyak diisi dengan amal ibadah. Jika beliau berdoa matanya bercucuran air mata demi mengharapkan keridhaan Allah SWT. Walaupun demikian orang-orang yang berniat jahat selalu berusaha untuk menganiaya beliau.

    Sifat keberanian beliau adalah berani menegakkan dan mempertahankan kebenaran. Untuk kebenaran ia tidak takut sengsara atau apa bahaya yang akan diterimanya. Dengan keberaniannya itu beliau selalu mencegah orang-orang yang melakukan perbuatan mungkar, karena menurut Imam Hanafi kalau kemungkaran itu tidak dicegah, bukan orang yang berbuat kejahatan itu saja yang akan merasakan akibatnya, melainkan semuanya, termasuk orang-orang yang baik yang ada di tempat tersebut

    Sebagian dilukiskan dalam sebuah hadith Rasulullah SAW bahwa bumi ini diumpamakan sebuah bahtera yang didiami oleh dua kumpulan. Kumpulan pertama adalah terdiri orang-orang yang baik-baik sementara kumpulan kedua terdiri dari yang jahat-jahat. Kalau kumpulan jahat ini mau merusak bahtera dan kumpulan baik itu tidak mau mencegahnya, maka seluruh penghuni bahtera itu akan binasa. Tetapi sebaliknya jika kumpulan yang baik itu mau mencegah perbuatan orang-orang yang mau membuat kerusakan di atas bahtera itu, maka semuanya akan selamat.

    Sifat Imam Hanafi yang lain adalah menolak kedudukan tinggi yang diberikan pemerintah kepadanya. Ia menolak pangkat dan menolak uang yang dibelikan kepadanya. Akibat dari penolakannya itu ia ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Di dalam penjara ia disiksa, dipukul dan sebagainya.

    Gubernur di Iraq pada waktu itu berada di tangan Yazid bin Hurairah Al-Fazzari. Selaku pemimpin ia tentu dapat mengangkat dan memberhentikan pegawai yang berada di bawah kekuasaannya. Pernah pada suatu ketika Imam Hanafi akan diangkat menjadi ketua urusan perbendaharan negara (Baitul mal), tetapi pengangkatan itu ditolaknya. Ia tidak mau menerima kedudukan tinggi tersebut. Sampai berulang kali Gubernur Yazid menawarkan pangkat itu kepadanya, namun tetap ditolaknya.

    Pada waktu yang lain Gubernur Yazid menawarkan pangkat Kadi (hakim) tetapi juga ditolaknya. Rupanya Yazid tidak senang melihat sikap Imam Hanafi tersebut. Seolah-olah Imam Hanafi memusuhi pemerintah, karena itu timbul rasa curiganya. Oleh karena itu ia diselidiki dan diancam akan dihukum dengan hukum dera. Ketika Imam Hanafi mendengar kata ancaman hukum dera itu Imam Hanafi menjawab: “Demi Allah, aku tidak akan mengerjakan jabatan yang ditawarkan kepadaku, sekalipun aku akan dibunuh oleh pihak kerajaan.” Demikian beraninya Imam Hanafi dalam menegakkan pendirian hidupnya.

    Pada suatu hari Yazid memanggil para alim ulama ahli fiqih yang terkemuka di Iraq, dikumpulkan di muka istananya. Di antara mereka yang datang ketika itu adalah Ibnu Abi Laila. Ibnu Syblamah, Daud bin Abi Hind dan lain-lain. Kepada mereka, masing-masing diberi kedudukan resmi oleh Gubernur.

    Ketika itu Gubernur menetapkan Imam Hanafi menjadi Sekretaris Gubernur. Tugasnya adalah bertanggungjawab terhadap keluar masuk uang negara. Gubernur dalam memutuskan jabatan itu disertai dengan sumpah, “Jika Abu Hanifah tidak menerima pangkat itu maka ia akan dihukum dengan pukulan.”

    Walaupun ada ancaman seperti itu, Imam Hanafi tetap menolak jabatan itu, bahkan ia tetap tegas, bahwa ia tidak mau menjadi pegawai kerajaan dan tidak mau campur tangan dalam urusan negara.

    Karena sikapnya itu, akhirnya ditangkap oleh Gubernur. Kemudian dimasukkan ke dalam penjara selama dua minggu, dengan tidak dipukul. Lima belas hari kemudian baru dipukul sebanyak 14 kali pukulan, setelah itu baru dibebaskan. Beberapa hari sesudah itu Gubernur menawarkan menjadi hakim, juga ditolaknya. Kemudian ditangkap lagi dan dijatuhi hukuman dera sebanyak 110 kali. Setiap hari didera sebanyak sepuluh kali pukulan. Namun demikian Imam Hanafi tetap dengan pendiriannya. Sampai ia dilepaskan kembali setelah cukup 110 kali cambukan.

    Akibat dari pukulan itu muka dan seluruh badannya menjadi bengkak-bengkak. Hukuman cambuk itu sengaja untuk menghina Imam Hanafi. Walaupun demikian ketika Imam Hanafi disiksa ia sempat berkata. “Hukuman dera di dunia lebih ringan daripada hukuman neraka di akhirat nanti.” Ketika ia berusia lebih dari 50 tahun, ketua negara ketika itu berada di tangan Marwan bin Muhammad. Imam Hanafi juga menerima ujian. Kemudian pada tahun 132 H sesudah dua tahun dari hukuman tadi terjadilah pergantian pimpinan negara, dari keturunan Umaiyyah ke tangan Abbasiyyah, ketua negaranya bernama Abu Abbas as Saffah.

    Pada tahun 132 H sesudah Abu Abbas meninggal dunia diganti dengan ketua negara yang baru bernama Abi Jaafar Al-Mansur, saudara muda dari Abul Abbas as Saffah. Ketika itu Imam Abu Hanifah telah berumur 56 tahun. Namanya masih tetap harum sebagai ulama besar yang disegani. Ahli fikir yang cepat dapat menyelesaikan sesuatu persoalan.

    Suatu hari Imam Hanafi mendapat panggilan dari baginda Al-Mansur di Baghdad, supaya ia datang mengadap ke istana. Sesampainya ia di istana Baghdad ia ditetapkan oleh baginda menjadi kadi (hakim) kerajaan Baghdad. Dengan tawaran tersebut, salah seorang pegawai negara bertanya: “Adakah guru tetap akan menolak kedudukan baik itu?” Dijawab oleh Imam Hanafi “Amirul mukminin lebih kuat membayar kifarat sumpahnya daripada saya membayar sumpah saya.”

    Karena ia masih tetap menolak, maka diperintahkan kepada pengawal untuk menangkapnya, kemudian dimasukkan ke dalam penjara di Baghdad. Pada saat itu para ulama yang terkemuka di Kufah ada tiga orang. Salah satu di antaranya ialah Imam Ibnu Abi Laila. Ulama ini sejak pemerintahan Abu Abbas as Saffah telah menjadi mufti kerajaan untuk kota Kufah. Karena sikap Imam Hanafi itu, Imam Abi Laila pun dilarang memberi fatwa.

    Pada suatu hari Imam Hanafi dikeluarkan dari penjara karena mendapat panggilan dari Al-Mansur, tetapi ia tetap menolak. Baginda bertanya, “Apakah engkau menyukai keadaan seperti ini?”

    Dijawab oleh Imam Hanafi: “Wahai Amirul Mukminin semoga Allah memperbaiki Amirul Mukminin.

    Wahai Amirul Mukminin, takutlah kepada Allah, janganlah bersekutu dalam kepercayaan dengan orang yang tidak takut kepada Allah. Demi Allah saya bukanlah orang yang boleh dipercayai di waktu tenang, maka bagaimana saya akan dipercayai di waktu marah, sungguh saya tidak sepatutnya diberi jabatan itu.”

    Baginda berkata lagi: “Kamu berdusta, kamu patut dan sesuai memegang jabatan itu.” Dijawab oleh Imam Hanafi: “Amirul Mukminin, sungguh baginda telah menetapkan sendiri, jika saya benar, saya telah menyatakan bahwa saya tidak patut memegang jabatan itu. Jika saya berdusta, maka bagaimana baginda akan mengangkat seorang maulana yang dipandang rendah oleh bangsa Arab. Bangsa Arab tidak akan rela diadili seorang golongan hakim seperti saya.”

    Pernah juga terjadi, baginda Abu Jaffar Al-Mansur memanggil tiga orang ulama besar ke istananya, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Sufyan ats Tauri dan Imam Syarik an Nakhaei. Setelah mereka hadir di istana, maka ketiganya ditetapkan untuk menduduki pangkat yang cukup tinggi dalam kenegaraan, masing-masing diberi surat pelantikan tersebut.

    Imam Sufyan ats Tauri diangkat menjadi kadi di Kota Basrah, lmam Syarik diangkat menjadi kadi di ibu kota. Adapun Imam Hanafi tidak mau menerima pengangkatan itu di manapun ia diletakkan. Pengangkatan itu disertai dengan ancaman bahwa siapa saja yang tidak mau menerima jabatan itu akan didera sebanyak 100 kali deraan.

    Imam Syarik menerima jabatan itu, tetapi Imam Sufyan tidak mau menerimanya, kemudian ia melarikan diri ke Yaman. Imam Abu Hanifah juga tidak mau menerimanya dan tidak pula berusaha melarikan diri.

    Oleh sebab itu Imam Abu Hanifah dimasukkan kembali ke dalam penjara dan dijatuhi hukuman sebanyak 100 kali dera. Setiap pagi dipukul dengan cambuk sementara dileher beliau dikalung dengan rantai besi yang berat.

    Suatu kali Imam Hanafi dipanggil baginda untuk menghadapnya. Setelah tiba di depan baginda, lalu diberinya segelas air yang berisi racun. Ia dipaksa meminumnya. Setelah diminum air yang beracun itu Imam Hanafi kembali dimasukkan ke dalam penjara. Imam Hanafi wafat dalam keadaan menderita di penjara ketika itu ia berusia 70 tahun.

    Imam Hanafi menolak semua tawaran yang diberikan oleh kerajaan daulah Umaiyyah dan Abbasiyah adalah karena beliau tidak sesuai dengan kebijakan pemerintah yang mereka kendalikan. Oleh sebab itu mereka berusaha mengajak Imam Hanafi untuk bekerjasama menjadi pengikut mereka, dan karena mendapat penolakan akhirnya disiksa hingga meninggal, karena itulah Imam Hanafi menolak semua tawaran yang mereka berikan.

    Walluhu a’lam bish-shawab,-

    ***

    Dipetik Dari Buku :

    1001 Duka Himpunan Kisah-kisah Menyayat Hati Oleh Muhammad Isa Selamat,  Darul Numan

    dikirim oleh : Retno Wahyudiaty 2003

     
  • erva kurniawan 1:49 am on 16 October 2014 Permalink | Balas  

    Mutiara Hikmah 

    doaMutiara Hikmah

    (Ali bin Abi Thalib)

    1. Dosa terbesar adalah kekufuran.
    2. Rekreasi terbaik adalah bekerja
    3. Musibah terbesar adalah keputusasaan.
    4. Keberanian terbesar adalah kesabaran
    5. Guru terbaik adalah pegalaman.
    6. Misteri terbesar adalah kematian.
    7. Kehormatan terbesar adalah kesetiaan
    8. Karunia terbesar adalah anak yang sholeh
    9. Sumbangan terbesar adalah berpartisipasi
    10. Modal terbesar adalah kemandirian
     
  • erva kurniawan 1:31 am on 15 October 2014 Permalink | Balas  

    Shalat Jumat (Bagian 4) 

    sholat-jumatTata Cara Salat Jumat

    Adapun tata cara pelaksanaan salat Jumat, yaitu imam naik ke atas mimbar setelah tergelincirnya matahari, kemudian memberi salam. Apabila ia sudah duduk, maka muazin melaksanakan azan sebagaimana halnya azan Dhuhur. Selesai azan, berdirilah imam untuk melaksanakan khotbah yang dimulai dengan hamdalah dan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta membaca shalawat kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam. Kemudian, memberikan nasihat kepada para jamaah, mengingatkan mereka dengan suara yang lantang, menyampaikan perintah dan larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, mendorong mereka untuk berbuat kebajikan, serta menakut-nakuti mereka dari berbuat keburukan, dan mengingatkan mereka dengan janji-janji kebaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta ancaman-ancaman-Nya. Kemudian duduk sebentar, lalu memulai khotbahnya yang kedua dengan hamdalah dan pujian kepada-Nya. Kemudian melanjutkan khotbahnya dengan pelaksanaan yang sama dengan khotbah pertama dan dengan suara yang layaknya seperti suara seorang komandan pasukan perang, sampai selesai tanpa perlu berpanjang lebar, kemudian turun dari mimbar. Selanjutnya, muazin melaksanakan iqamah untuk melaksanakan salat. Kemudian salat berjamaah dua rakaat dengan mengeraskan bacaan, dan sebaiknya surat yang dibaca pada rakaat pertama setelah al-Fatihah adalah surat Al-A’la dan pada rakaat kedua surat Al-Ghasyiah, atau pada rakaat pertama setelah Al-Fatihah surat Al-Jumu’ah dan pada rakaat kedua surat Al-Munafiqun. Akan tetapi, jika imam membaca surat yang lain juga tidak apa-apa.

    Salat Sunnah Sebelum dan Sesudah Salat Jumat

    Dianjurkan salat sunnah sebelum pelaksanaan salat Jumat semampunya sampai imam naik ke mimbar, karena pada waktu itu tidak dianjurkan lagi salat sunnah, kecuali salat tahiyatul masjid bagi orang yang (terlambat) masuk ke dalam masjid. Dalam hal ini salat tetap boleh dilaksanakan sekalipun imam sedang berkhotbah, dengan catatan mempercepat pelaksanaannya sebagaimana diterangkan di atas.

    Adapun setelah salat Jumat, maka disunnahkan salat empat rakaat atau dua rakaat. Ini berdasarkan sabda Rasulullah Sallallaahu alaihi wa sallam :

    “Barangsiapa di antara kamu ingin salat setelah Jumat, maka hendaklah salat empat rakaat.” (HR Muslim).

    Dari Ibnu Umar Radhiallaahu anhuma disebutkan:

    “Bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam salat setelah salat Jumat dua rakaat di rumah beliau.” (Muttafaq ‘alaih).

    Sebagai pengamalan hadis-hadis ini, sebagian ulama mengatakan bahwa seorang muslim apabila ingin salat sunnah setelah Jumat di masjid, maka dia salat empat rakaat dan apabila dia salat di rumah, maka dia salat dua rakaat.

    ***

    Referensi:

    Subulus Salaam, as-Son’ani

    Riyadhus Sholihin, an-Nawawi

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 2:29 am on 14 October 2014 Permalink | Balas  

    Shalat Jumat (Bagian 3) 

    sholat-jumatSyarat-Syarat Kewajiban Salat Jumat

    Salat Jumat diwajibkan atas setiap muslim, laki-laki yang merdeka, sudah mukallaf, sehat badan serta muqim (bukan dalam keadaan musafir). Ini berdasarkan hadis Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam:

    “Salat Jumat itu wajib atas setiap muslim, dilaksanakan secara berjamaah, terkecuali empat golongan, yaitu hamba sahaya, perempuan, anak kecil dan orang sakit.” (HR Abu Daud dan Hakim, hadis sahih).

    Adapun bagi orang yang musafir, maka tidak wajib melaksanakan salat Jumat, sebab Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam pernah melakukan perjalanan untuk menunaikan haji, dan bertempur, namun tidak pernah diriwayatkan bahwa beliau melaksanakan salat Jumat.

    Dalam sebuah atsar disebutkan bahwa Amirul Mukminin Umar Ibnul Khattab Radhiallaahu anhu melihat seseorang yang terlihat akan melakukan perjalanan, kemudian beliau mendengar ucapannya, “Seandainya hari ini bukan hari Jumat, niscaya aku akan bepergian.” Maka Khalifah Umar berkata, “Silakan Anda pergi, sesungguhnya salat Jumat itu tidak menghalangimu dari bepergian.”

    Syarat-Syarat Sahnya Salat Jumat

    Untuk sahnya salat Jumat itu ada beberapa syarat, yaitu sebagai berikut:

    1. Dilaksanakan di suatu perkampungan atau kota, karena di zaman Rasulullah tidak pernah melaksanakan, kecuali di perkampungan atau di kota. Beliau Shallallaahu alaihi wa sallam juga tidak pernah menyuruh penduduk dusun (orang pedalaman) untuk melaksanakannya. Dan, tidak pernah disebutkan bahwa ketika bepergian beliau melaksanakan salat Jumat.
    2. Meliputi dua khotbah. Ini berdasarkan pada perbuatan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam dan kebiasaan beliau (dalam melaksanakannya). Juga dikarenakan khotbah merupakan salah satu manfaat yang sangat besar dari pelaksanaan salat Jumat. Karena, ia mengandung zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, peringatan terhadap kaum muslimin, serta nasihat bagi mereka.

    ***

    Referensi:

    Subulus Salaam, as-Son’ani

    Riyadhus Sholihin, an-Nawawi

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 2:26 am on 13 October 2014 Permalink | Balas  

    Shalat Jumat (Bagian 2) 

    SHOLAT BERJAMAAHHal-Hal yang Disunnahkan serta Beberapa Adab Hari Jumat

    1. Mandi, Berpakaian yang Rapi, Memakai Wangi-wangian, dan Bersiwak

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam:

    “Mandi hari Jumat itu wajib bagi tiap muslim yang telah baligh.” (Muttafaq ‘alaih).

    “Mandi, memakai siwak, mengusapkan parfum sebisanya pada hari Jumat dianjurkan pada setiap laki-laki yang telah baligh.” (Muttafaq ‘alaih).

    “Apa yang menghalangi salah seorang di antara kamu jika dia mempunyai kesempatan untuk memakai dua pakaian (baju dan sarung) selain pakaian kerjanya pada hari Jumat.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah, sahih).

    “Hak setiap muslim adalah siwak, mandi Jumat dan memakai minyak wangi dari rumah jika ada.” (HR Bazzar, sahih).

    1. Lebih Awal Pergi ke Masjid untuk Salat Jumat

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam:

    “Barangsiapa yang mandi pada hari Jumat seperti mandi jinabat, kemudian dia pergi ke masjid pada saat pertama, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor unta dan siapa yang berangkat pada saat kedua, maka seakan-akan ia berkurban dengan seekor sapi, dan siapa yang pergi pada saat ketiga, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor domba yang mempunyai tanduk, dan siapa yang berangkat pada saat keempat, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor ayam, dan siapa yang berangkat pada saat kelima, maka seolah-olah dia berkurban dengan sebutir telur, dan apabila imam telah datang, maka malaikat ikut hadir mendengarkan khotbah.” (Muttafaq ‘alaih).

    1. Melakukan Salat-Salat Sunnah di Masjid Sebelum Salat Jumat Selama Imam Belum Datang

    Apabila imam telah datang, maka berhenti dari itu, kecuali salat tahiyyatul masjid tetap boleh dikerjakan, meskipun imam sedang berkhotbah, tetapi hendaknya dipercepat.

    “Tidaklah seseorang mandi pada hari Jumat dan bersuci sebisa mungkin, kemudian dia memakai wangi-wangian atau memakai minyak wangi, lalu pergi ke masjid dan (di sana) tidak memisahkan antara dua orang (yang duduk berjajar), kemudian dia salat yang disunnahkan baginya, dan dia diam apabila imam telah berkhutbah, terkecuali akan diampuni dosa-dosanya antara Jumat (itu) dan Jum’at berikutnya selama dia tidak berbuat dosa besar.” (HR Bukhari)

    1. Makruh Melangkahi Pundak-Pundak Orang yang Sedang Duduk dan Memisahkan (Menggeser) Mereka

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam, ketika beliau melihat seseorang yang melangkahi pundak orang-orang.

    “Duduklah, sesungguhnya kamu telah mengganggu orang lain, lagi pula kamu datang terlambat.” (HR Ahmad, Abu Daud dan an-Nasai, hadis shahih)

    “… Dan tidak memisahkan antara dua orang… niscaya akan diampuni segala dosanya dari Jumat (itu) ke Jumat berikutnya.”

    1. Berhenti dari Segala Pembicaraan dan Perbuatan Sia-Sia apabila Imam telah Datang

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam:

    “Apabila kamu berkata kepada temanmu ‘diamlah’, ketika imam sedang berkhutbah pada hari Jumat, maka sesungguhnya kamu telah berbuat sia-sia.” (Muttafaq ‘alaih).

    1. Diharamkan Transaksi Jual Beli ketika Azan Sudah Mulai Berkumandang

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:

    “Hai orang-orang yang beriman, apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, maka segeralah mengingat Allah dan tinggalkan jual beli.” (al-Jumu’ah: 9)

    1. Hendaklah Memperbanyak Membaca Shalawat serta Salam kepada Rasulullah pada Malam Jumat dan Siang Harinya

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam:

    “Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari Jumat, sesungguhnya tidak seorang pun yang membaca shalawat kepadaku pada hari Jumat kecuali diperlihatkan kepadaku shalawatnya itu.” (HR Hakim dan Baihaqi).

    “Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari Jumat dan malam Jumat, maka barangsiapa bershalawat kepadaku sekali, niscaya Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR Baihaqi, hadis hasan).

    1. Disunnahkan Membaca Surat Al-Kahfi

    “Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat, maka dia akan mendapat cahaya yang terang di antara kedua Jumat itu.” (HR Hakim dan Baihaqi, hadis sahih)

    1. Bersungguh-sungguh dalam Berdoa untuk Mendapatkan Waktu yang Mustajab

    “Sesungguhnya pada hari Jumat ada saat yang apabila seorang hamba muslim mendapatinya sedang dia dalam keadaan salat dan memohon kebaikan kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.” (HR Muslim).

    Saat istijabah itu ialah pada akhir waktu hari Jumat. Ini berdasarkan hadis Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam:

    “Hari Jumat terdiri dari dua belas waktu, di antaranya ada waktu di mana tidak seorang hamba muslim pun yang meminta kepada Allah suatu permintaan terkecuali akan diberikan kepadanya, maka hendaklah kalian mencarinya pada waktu terakhir, yaitu setelah Ashar.” (HR Abu Daud, Nasai dan Hakim, hadis sahih).

    Dalam hadis lain disebutkan:

    Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, ia berkata, “Bersabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam, ‘Sebaik-baik hari, di mana matahari terbit di dalamnya adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu pula dia diturunkan ke bumi, pada hari itu pula taubatnya diterima, pada hari itu pula dia wafat, pada hari itu pula kiamat akan terjadi dan tidak ada makhluk yang melata di muka bumi kecuali menunggu hari Kiamat itu dari waktu Subuh hari Jumat sampai terbit matahari karena takut pada hari Kiamat, terkecuali jin dan manusia. Di dalamnya ada satu saat yang apabila seorang hamba muslim menemuinya, sedang dia dalam keadaan salat dan memohon kepada Allah suatu kebutuhan, niscaya akan dikabulkan permohonannya’. Ka’b berkata, ‘Yang demikian itu hanya ada satu hari dalam setahun?’ Aku berkata, ‘Bahkan pada setiap hari Jumat’. Berkata Abu Hurairah, ‘Maka Ka’b membaca Taurat, kemudian berkata, ‘Benarlah perkataan Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam itu’. Abu Hurairah berkata, ‘Kemudian aku bertemu Abdullah Ibnu Salam, lalu aku ceritakan apa yang menjadi pembicaraanku dengan Ka’b, maka dia berkata, ‘Aku telah mengetahui kapan saat itu’. Abu Hurairah berkata, ‘Aku katakan kepadanya, ‘Beritahukan kepadaku hal itu’. Abdullah bin Salam berkata, ‘Waktunya adalah saat terakhir dari hari Jumat’, Aku katakan kepadanya, ‘Bagaimana mungkin padahal Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Tidak seorang hamba muslim pun yang mendapatinya sedang ia dalam keadaan salat, dan pada waktu itu (setelah Ashar) tidak boleh salat. Berkatalah Abdullah bin Salam, ‘Bukankah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Barangsiapa duduk pada suatu tempat sambil menunggu (waktu) salat, maka dia dianggap dalam keadaan salat sampai dia melaksanakan salat’, Aku katakan, ‘Ya’. Dia berkata, ‘Itulah maksudnya’.” (HR Abu Daud, Tirmidzi dan Nasai, hadis sahih).

    Dikatakan pula bahwa saat tersebut adalah sejak duduknya imam di atas mimbar hingga usainya pelaksanaan salat.

    ***

    Referensi:

    Subulus Salaam, as-Son’ani

    Riyadhus Sholihin, an-Nawawi

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 12 October 2014 Permalink | Balas  

    Shalat Jumat (Bagian 1) 

    sholat 4Hukum Salat Jumat

    Salat Jumat hukumnya wajib bagi kaum lelaki yang telah memenuhi syarat, yaitu sebanyak dua rakaat. Adapun dalil tentangnya adalah sebagai berikut.

    “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, dan itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.” (Al-Jumuah: 9)

    “Hendaklah orang-orang itu berhenti dari meninggalkan salat Jumat atau kalau tidak, Allah akan menutup hati mereka kemudian mereka akan menjadi orang yang lalai.” (HR Muslim)

    “Sungguh aku berniat menyuruh seseorang (menjadi imam) salat bersama-sama yang lain, kemudian aku akan membakar rumah orang-orang yang meninggalkan shalat Jumat.” (HR Muslim)

    “Salat Jumat itu wajib bagi tiap-tiap muslim, dilaksanakan secara berjamaah, terkecuali empat golongan, yaitu hamba sahaya, perempuan, anak kecil dan orang yang sakit.” (HR Abu Daud dan al-Hakim, hadis sahih).

    Para ulama telah sepakat bahwa salat Jumat itu wajib hukumnya.

    Keutamaan Hari Jumat

    Hari Jumat adalah hari yang penuh keberkahan, mempunyai kedudukan yang agung, dan merupakan hari yang paling utama. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik hari adalah hari Jumat, pada hari itulah diciptakan Nabi Adam, dan pada hari itu dia diturunkan ke bumi, pada hari itu pula diterima taubatnya, pada hari itu pula beliau diwafatkan, dan pada hari itu pula terjadi Kiamat…. Pada hari itu ada saat yang kalau seorang muslim menemuinya kemudian salat dan memohon segala keperluannya kepada Allah, niscaya akan dikabulkan.” (HR Abu Daud, Tirmidzi, Nasai dan lainnya, hadis sahih).

    ***

    Referensi:

    Subulus Salaam, as-Son’ani

    Riyadhus Sholihin, an-Nawawi

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 11 October 2014 Permalink | Balas  

    Riwayat Hidup Imam Malik 

    SalatMalikiStyle-502x300Riwayat Hidup Imam Malik

    Imam Malik dilahirkan di sebuah perkampungan kecil yang bernama Ashbah, yang terletak di dekat Kota Himyar jajahan Yaman. Nama aslinya ialah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir Al-Ashabally. Beliau adalah seorang ulama besar yang lahir di Madinah serta mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap dunia Islam.

    Ketika Imam Malik berusia 54 tahun, pemerintahan berada di tangan baginda Al-Mansur yang berpusat di Bagdad. Ketika itu di Madinah dipimpin oleh seorang Gubernur bernama Jaafar bin Sulaiman Al-Hasymi. Sementara itu Imam Malik juga menjabat sebagai mufti di Madinah. Di saat timbulnya masalah penceraian atau talak, maka Imam Malik telah menyampaikan fatwanya, bahwa talak yang dipaksakan tidak sah, artinya talak suami terhadap isteri tidak jatuh. Fatwa ini sungguh berlawanan dengan kehendak Gubernur, karena ia tidak mau hadith yang disampaikan oleh Imam Malik tersebut diketahui oleh masyarakat, sehingga akhirnya Imam Malik dipanggil untuk menghadap kepada Gubernur.

    Kemudian Gubernur meminta agar fatwa tersebut dicabut kembali, dan jangan sampai orang ramai mengetahui akan hal itu. Walaupun demikian Imam Malik tidak mau mencabutnya. Fatwa tersebut tetap disampaikan kepada khalayak ramai. Talak yang dipaksanya tidak sah. Bahkan Imam Malik sengaja menyiarkan fatwanya itu ketika beliau mengadakan ceramah-ceramah agama, karena fatwa tersebut berdasarkan hadith Rasulullah SAW yang harus diketahui oleh umat manusia.

    Akhirnya Imam Malik ditangkap oleh pihak kerajaan, namun ia masih tetap dengan pendiriannya. Gubernur memberi peringatan keras supaya fatwa tersebut dicabut dengan segera. Kemudian Imam Malik dihukum dengan dera dan diikat dengan tali dan dinaikkan ke atas punggung unta, lalu diarak keliling Kota Madinah. Kemudian Imam Malik dipaksa supaya menarik kembali fatwanya itu.

    Mereka mengarak Imam Malik supaya Imam merasa malu dan hilang pendiriannya. Tetapi Imam Malik masih tetap dengan pendiriannya itu. Karena ketegasannya itu, dia dihukum cambuk sebanyak 70 kali, yang menyebabkan tulang belakangnya hampir patah. Kemudian ia berkata kepada sahabat-sahabatnya:

    “Aku dihukum cambuk begitu berat lantaran fatwa ku. Demikian Said Al-Musayyid, Muhamad Al-Munkadir dan Rabiah telah dijatuhi hukuman demikian lantaran fatwanya juga.”

    Bagi Imam Malik hukuman semacam itu, bukanlah mengurangi pendiriannya, bahkan semakin bertambah teguh jiwanya. Ia tidak pernah takut menerima hukuman asalkan ia berada pada jalan kebenaran. Karena memang setiap perjuangan itu memerlukan pengorbanan. Imam Al-Laits, seorang alim menjadi mufti Mesir ketika itu, saat mendengar bahwa Imam Malik dihukum lantaran fatwanya ia berkata: “Aku mengharap semoga Allah mengangkat derajat Imam Malik atas setiap pukulan yang dijatuhkan kepadanya, menjadikan satu tingkat baginya masuk ke syurga.”

    Insya Allah.

    walluhu a’lam bish-shawab,-

    ***

    Dipetik Dari Buku :  1001 Duka Himpunan Kisah-kisah Menyayat Hati Oleh Muhammad Isa Selamat,  Darul Numan

    dikirim oleh : Retno Wahyudiaty

     
  • erva kurniawan 2:38 am on 10 October 2014 Permalink | Balas  

    Hati-hati Nongkrong Di Jalan 

    nabi-muhammad-saw1Hati-hati Nongkrong Di Jalan

    Berhati-hatilah duduk-duduk di pinggir jalan. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagi kami sesuatu yang tidak dapat kami tinggalkan. Dalam berkumpul itu kami berbincang-bincang.” Nabi SAW menjawab, “Kalau memang suatu keharusan, maka berilah jalan itu haknya.” Mereka bertanya lagi, “Apa yang dimaksud haknya itu, ya Rasulullah?” Nabi SAW menjawab, “Palingkan pandanganmu dan jangan menimbulkan gangguan. Jawablah tiap ucapan salam dan ber-amar ma’ruf nahi munkar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Duduk-duduk di pinggir jalan memang mengasyikkan. Disamping pasang aksi dan jual tampang, juga mengobrol ke sana ke mari, bercanda ria, dan menikmati pemandangan di depannya. Menggoda orang yang lewat, terutama perempuan tidak terlepas dari aktivitas itu. Bahkan sampai berani mengganggu dan merayu.

    Kegiatan seperti ini telah menjadi kesenangan dan membudaya di kalangan muda-mudi dari zaman ke zaman. Malahan bukan hanya pemuda-pemudi saja yang menyenangi duduk-duduk di pinggir jalan ini, tapi pada tingkat orang dewasa dan orang tua juga menyukainya.

    Di zaman Rasulullah SAW hal ini pun merupakan kesenangan para sahabat, sehingga beliau mewanti- wanti dan memberi batasan tentang adab-adab yang harus dipenuhi oleh orang-orang yang senang duduk-duduk di pinggir jalan. Di antara ketentuan-ketentuan itu seperti dalam hadits di atas :

    Pertama, palingkan pandangan. Pandangan mata, sesuatu hal yang membahayakan karena akan mempengaruhi hati dan menggerakkan nafsu birahi yang bergejolak. Walaupun cepatnya pandangan secepat larinya anak panah dari busurnya, ia akan menyangkut dalam hati. Dan hati bisa menyeret pada keinginan untuk melampiaskan hasratnya itu.

    Karena berbahaya pandangan mata itu, Allah memerintahkan untuk menundukkan pandangan itu. Perintah ini tertera dalam surah An-Nuur 30-31 :

    Katakanlah kepada laki-laki yang beriman:”Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman:”Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka…,”

    Ibnu Qayyim berkata, “Pandangan mata adalah penyebab dan penggerak utama adanya nafsu birahi, maka menjaga pandangan mata merupakan penjagaan atas kemaluan. Barangsiapa membiarkan pandangan matanya berkeliaran untuk melihat sela-sela kemaksiatan, sesungguhnya Allah telah menciptakan sebagai cermin dari hati. Jika hamba ini menggerakkan matanya guna memandang barang haram, niscaya hatinya akan menggerakkan dan mempengaruhi nafsu birahi dan hasratnya. Dan jika seseorang memelihara pandangan matanyanya, niscaya hati tidak akan menggerakkan nafsu birahi.

    Kedua, jangan mengganggu. Nongkrong-nongkrong di pinggir jalan terasa kurang asyik bila tidak menggoda dan mengganggu orang. Gatal lidah rasanya bila tidak melontarkan kata-kata pada orang yang lewat di depan matanya. Keinginan itu pastilah muncul bagi orang yang senang duduk- duduk di pinggir jalan, bahkan ada juga yang tujuannya memang demikian. Untuk Rasulullah SAW memberikan persyaratan untuk tidak mengganggu orang, bila pekerjaan nongkrong di pinggir jalan ini tidak bisa ditinggalkan. “Kaffuladzai”, jangan menimbulkan gangguan.

    Ketiga, membalas ucapan salam. Islam telah mengatur tentang adab-adab salam sedemikian rupa, yang mencakup hukum memberi salam, hukum menjawabnya dan siapa yang lebih duluan salam.

    Apabila berjumpa sesama muslim, Rasulullah memerintahkan untuk saling mengucapkan salam. Yang muda mendahului memberi salam kepada yang tua, yang lewat kepada yang duduk, yang berkendaraan kepada yang berjalan kaki, yang berjumlah sedikit kepada yang banyak, dan laki-laki memberi salam kepada wanita. Wanita dilarang memberi salam kepada laki-laki.

    Berdosa hukumnya bila ada salam tidak dijawab, karena hukum menjawab salam adalah wajib. Maka dengan itu Rasulullah memerintahkan untuk selalu menjawab salam orang yang lewat ketika kita nongkrong di pinggir jalan.

    Keempat, ber-amar ma’ruf nahi munkar. Bila suatu ketika di depan mata kita terjadi kezaliman, jangan sampai dibiarkan terjadi tanpa kita turun untuk mencegahnya. Sudah merupakan kewajiban bagi seseorang untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar. Cegahlah dengan tangan, atau dengan hati, tapi itu selemah-lemahnya iman. Jangan biarkan kemungkaran terjadi di depan mata kita, apalagi kita mampu untuk mencegahnya. Jika kita membiarkan, tunggulah siksa Allah di hari pembalasan kelak.

    “Sesungguhnya Allah Azza Wajalla tidak menyiksa awam karena perbuatan dosa orang-orang yang khusus sehingga mereka melihat kemungkaran di hadapan mereka dan mereka mampu mencegahnya, tetapi mereka tidak mencegahnya. Kalau mereka berbuat demikian maka Allah menyiksa yang khusus dan yang awam.” (HR. Ahmad dan At-Thabrani).

    Kelima, tunjuki jalan bagi orang yang bertanya. Kewajiban lainnya bagi orang-orang yang duduk-duduk di pinggir jalan adalah memberikan bantuan dan menerangkan dengan jelas bagi orang yang memerlukan bantuan tersebut. Layani dengan baik, tanya apa keperluannya, mau ke mana, dan jawablah dengan baik lantas tunjuki jalan atau tempat yang dia cari, lebih baik lagi kalau diantarkan ke tempat yang dituju. Itulah kewajiban yang diperintahkan Rasulullah kepada orang- orang yang duduk-duduk di pinggir jalan.

    Nabi SAW mendatangi serombongan orang yang sedang duduk-duduk di pinggir jalan, lalu beliau berkata, “kalau memang harus kamu lakukan maka balaslah ucapan salam dan tolonglah orang yang dizalimi. Tunjuki jalan bagi orang yang bertanya.” (HR. Abu Daud)

    Jelaslah bahwa Rasulullah SAW selalu menegur pada orang-orang yang duduk-duduk di pinggir jalan. Memalingkan pandangan, jangan mengganggu, menjawab salam, ber-amar ma’ruf nahi munkar, menolong orang yang dizalimi, dan menunjukkan jalan bagi orang yang bertanya. Bila hal-hal ini tidak bisa dilaksanakan, maka sebaiknya menghindari untuk duduk-duduk di pinggir jalan. Perbuatan ini membuka peluang untuk mengerjakan maksiat dan terus menambah tabungan dosa kita, yang akan dipertanggungjawabkan di hari kemudian. Pekerjaan yang demikian bila kita jauhi akan menghindarkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna, dan ini merupakan ciri orang beriman yang beruntung.

    “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna.” (QS. Al-Mu’minun: 1-3).

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 9 October 2014 Permalink | Balas  

    Riwayat Hidup Imam Asy-Syafi’iy (2/2) 

    Imam Syafi'iRiwayat Hidup Imam Asy-Syafi’iy (2/2)

    Imam Syafie bernama Muhammad bin Idris. Silsilah keturunan beliau adalah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Usman bin Syafie bin Saib bin Abdul Yazid bin Hasyim bin Abdul Mutalib bin Abdul Manaf. Keturunan beliau bertemu dengan keturunan Nabi Muhammad SAW pada cuctu Nabi Muhammad yang ketiga yaitu Abdul Manaf.

    Beliau dilahirkan di Ghuzah nama sebuah kampung yang termasuk daerah Palestina, pada bulan Rejab 150 H atau 767 Masehi. Tempat asal ayah dan bunda beliau yaitu di Kota Makkah. Imam Syafie lahir di Palestina karena ketika itu bundanya pergi ke daerah itu demi suatu keperluan. Namun di dalam perjalanan menuju Palestina tersebut ayahnya meninggal dunia, sementara Imam Syafie masih dalam kandungan ibunya. Setelah berumur dua tahun baru Imam Syafie dan ibunya kembali ke Kota Makkah.

    Ketika berumur 9 tahun beliau telah hafal Al-Quran 30 juz. Umur 19 tahun telah mengerti isi kitab Al-Muwatha’, karangan Imam Malik, tidak lama kemudian Al-Muwatha’ telah dihafalnya. Kitab Al-Muwatha’ tersebut berisi hadith-hadith Rasulullah SAW, yang dihimpun oleh Imam Malik.

    Karena kecerdasannya pada umur 15 tahun beliau telah diizinkan memberi fatwa di hadapan masyarakat dan sebagai guru besar ilmu hadith serta menjadi mufti dalam Masjidil Haram di Makkah.

    Ketika berumur 20 tahun beliau pergi belajar ke tempat Imam Malik di Madinah, setelah itu beliau ke Irak, Parsi dan akhirnya kembali ke Madinah. Pada usia 29 tahun beliau pergi ke Yaman untuk menuntut ilmu pengetahuan.

    Tentang ketaatan beliau dalam beribadah kepada Allah diceritakan bahwa setiap malam beliau membagi malam itu kepada tiga bagian. Sepertiga malam beliau gunakan kewajiban sebagai manusia yang mempunyai keluarga, sepertiga malam untuk solat dan zikir dan sepertiga lagi untuk tidur.

    Ketika Imam Syafie di Yaman, beliau diangkat menjadi rekan dan penulis pribadi Gubernur di Yaman, sekaligus menjadi guru besar di sana. Karena beliau termasuk orang pendatang, secara tiba-tiba memangku jabatan yang tinggi, maka ramai orang yang memfitnah beliau.

    Ahli sejarah menceritakan bahwa waktu sultan Harun Ar-Rasyid sedang marah terhadap kaum Syiah, sebab golongan tersebut berusaha untuk meruntuhkan kekuasaan Abbasiyah, mereka berhasrat mendirikan sebuah kerajaan Alawiyah yaitu keturunan Saidina Ali bin Abi Talib. Karena itu di mana kaum Syiah berada mereka diburu dan dibunuh.

    Suatu ketika datang surat baginda Sultan dari Baghdad. Dalam surat yang ditujukan kepada Wali negeri itu diberitahukan supaya semua kaum Syiah ditangkap. Untuk pertama kali yang ditangkap adalah para pemimpinnya, setelah pekerjaan penangkapan telah selesai semua mereka akan dikirimkan ke Baghdad. Semuanya dipenjara dan dirantai. Imam Syafie juga ditangkap, sebab di dalam surat tersebut bahwa Imam Syafie termasuk dalam jajaran para pemimpin Syiah.

    Peristiwa itu terjadi pada bulan Ramadhan, Imam Syafie dibawa ke Baghdad dengan dirantai kedua belah tangannya. Dalam keadaan dibelenggu itu para tahanan disuruh berjalan kaki mulai dari Arab Selatan (Yaman) sampai ke Arab Utara (Baghdad), yang menempuh perjalanan selama dua bulan. Sampai di Baghdad belenggu belum dibuka, yang menyebabkan darah-darah hitam melekat pada rantai-rantai yang mengikat tangan mereka.

    Pada suatu malam pengadilan pun dimulai. Para tahanan satu persatu masuk ke dalam bilik pemeriksaan. Setelah mereka ditanya dengan beberapa kalimat, mereka dibunuh dengan memenggal leher tahanan tersebut. Supaya darah yang keluar dari leher yang dipotong itu tidak berserak ia dialas dengan kulit binatang yang diberi nama dengan natha’.

    Imam Syafie dalam keadaan tenang menunggu giliran, dengan memohon keadilan kepada Allah SWT. Kemudian beliau dipanggil ke hadapan baginda Sultan. Imam Syafie menyerahkan segalanya hanya kepada Allah SWT. Dengan keadaan merangkak karena kedua belah kaki beliau diikat dengan rantai, Imam Syafie mengadap Sultan. Semua para pembesar memperhatikan beliau.

    “Assalamualaika, ya Amirul Mukminin wabarakatuh.”

    Demikian ucapan salam beliau kepada baginda dengan tidak disempurnakan yaitu “Warahmatullah.”

    “Wa alaikassalam warahmatullah wabarakatuh.” Jawab baginda. Kemudian baginda bertanya: “Mengapa engkau mengucap salam dengan ucapan yang tidak diperintahkan oleh sunnah, dan mengapa engkau berani berkata-kata dalam majlis ini sebelum mendapat izin dari saya?”

    Imam Syafie menjawab: “Tidak saya ucapkan kata “Warahmatullah”   karena rahmat Allah itu terletak dalam hati baginda sendiri.” Mendengar kata-kata itu hati baginda jadi lembut. Kemudian Imam Syafie membaca surah An-Nur ayat 55 yang bermaksud:

    “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang soleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sesungguhnya Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diredhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.”

    Setelah membaca ayat di atas kemudian Imam Syafie berkata: “Demikianlah Allah telah menepati janjiNya, karena sekarang baginda telah menjadi khalifah, jawapan salam baginda tadi membuat hati saya menjadi aman.” Hati baginda menjadi bertambah lembut. Baginda Harun ar Rashid bertanya kembali: “Kenapa engkau menyebarkan faham Syiah, dan apa alasanmu untuk menolak tuduhan atas dirimu.”

    “Saya tidak dapat menjawab pertanyaan baginda dengan baik bila saya masih dirantai begini, jika belenggu ini dibuka Insya-Allah saya akan menjawab dengan sempurna. Lalu baginda memerintahkan kepada pengawal untuk membukakan belenggu yang mengikat lmam Syafie itu.

    Setelah rantai yang membelenggu kedua kaki dan tangannya itu dibuka, maka Imam Syafie duduk dengan baik kemudian membaca surah Hujarat ayat 6:

    “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq yang membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

    “Ya Amirul Mukminin, sesungguhnya berita yang sampai kepada baginda itu adalah dusta belaka. Sesungguhnya saya ini menjaga kehormatan Islam. Dan bagindalah yang berhak memegang adab kitab Allah karena baginda adalah putera bapa saudara Rasulullah SAW yaitu Abbas. Kita sama-sama menghormati keluarga Rasulullah. Maka kalau saya dituduh Syiah karena saya sayang dan cinta kepada Rasulullah dan keluarganya, maka demi Allah, biarlah umat Islam sedunia ini menyaksikan bahwa saya adalah Syiah. Dan tuan-tuan sendiri tentunya sayang dan cinta kepada keluarga Rasulullah.” Demikian jawab Imam Syafie.

    Baginda Harun ar Rasyid pun menundukkan kepalanya kemudian ia berkata kepada Imam Syafie: “Mulai hari ini bergembiralah engkau agar lenyaplah perselisihan antara kami dengan kamu, karena kami harus memelihara dan menghormati pengetahuanmu wahai Imam Syafie.”

    Demikianlah kehidupan Imam Syafie sebagai ulama besar, yang tidak lepas dari berbagai cobaan serta siksaan dari pihak yang tak mengerti akan hakikat kebenaran yang sesungguhnya. Hanya ketabahan dan keimanan serta pengetahuanlah yang dapat menghadapi setiap cobaan itu sebagai suatu ujian dari Allah SWT yang harus kita hadapi.

    wallohu a’lam bish-shawab,-

    ***

    Disadur dari buku :

    1001 Duka Himpunan Kisah-kisah Menyayat Hati Oleh Muhammad Isa Selamat,  Darul Numan

    Dari : Retno Wahyudiaty

     
  • erva kurniawan 2:51 am on 8 October 2014 Permalink | Balas  

    Riwayat Hidup Imam Asy-Syafi’iy (1/2) 

    Imam Syafi'iRiwayat Hidup Imam Asy-Syafi’iy (1/2)

    Beliau adalah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’iy Al-Mutholliby. Nasab beliau bertemu dengan Nabi SAW pada kakek beliau Abdu Manaf. Beliau dilahirkan di kota Ghuzzah pada tahun 105 H dan kemudian dibawa pindah ke kota Makkah. Disana beliau menuntut ilmu pada guru-gurunya yaitu pada Al-Imam Khalid Muslim Az-Zanuji, Fudhail bin ‘Iyadh, Sufyan bin Uyainah dan lain-lain.

    Pada saat umur beliau menginjak 22 tahun, beliau pergi menuju kota Madinah. Untuk mempersiapkan diri berguru pada Al-Imam Malik, beliau menghafalkan seluruh isi kitab Al-Muwaththo’ dalam jangka waktu 9 hari. Baru setelah itu beliau berguru pada Al-Imam Malik sampai akhirnya beliau menjadi murid yang paling pandai. Selain itu, beliau juga berguru kepada ulama Madinah dan Makkah.

    Pada saat usia beliau masih 18 tahun, beliau sudah menjadi seorang mufti. Disaat itu beliau juga sudah menguasai syair-syair arab dan ilmu-ilmu bahasa arab sampai-sampai Al-Asma’iy (seorang periwayat syair-syair arab) mendapat manfaat dari beliau dan mengambil dari beliau syair-syair kabilah Bani Hudzail.

    Kemudian berpindahlah beliau ke kota Iraq. Disana beliau berguru kepada Al-Imam Muhammad bin Hasan Asy-Syaibany (murid Al-Imam Abu Hanifah). Dari gurunya itu, beliau Al-Imam Asy-Syafi’iy mendapatkan ilmu dan membacakan kitab-kitabnya. Beliau juga sempat berguru kepada beberapa teman gurunya tersebut. Disinilah beliau Al-Imam Asy-Syafi’iy menulis sebuah kitab yang berjudul Al-Hujjah yang menghimpun madzhab beliau yang pertama (al-madzhab al-qodim). Banyak para ulama besar yang mengambil madzhab beliau itu, di antaranya adalah Al-Imam Ahmad dan Al-Imam Abu Tsur.

    Dari Iraq beliau kemudian pindah ke kota Mesir. Disini seringkali ijtihad beliau berbeda dari sebelumnya pada banyak masalah. Hal itulah yang menyebabkan beliau akhirnya menarik madzhabnya yang pertama (al-madzhab al-qodim) dan mengokohkan madzhabnya yang baru (al-madzhab al-jadid). Di kota Mesir, beliau mendiktekan kitabnya yang bernama Al-Um. Beliau juga mengarang sebuah kitab dalam ilmu ushul figih yang berjudul Ar-Risalah. Kitab inilah yang menjadi peletak dasar ilmu ushul figih dan kunci pembuka kesulitan-kesulitan di dalamnya.

    Al-Imam Asy-Syafi’iy dianggap sebagai pembaharu (mujaddid) abad kedua. Hal ini tidak lain disebabkan oleh karena beliau mampu menggabungkan ilmu hadits dan ilmu logika. Beliau telah mengokohkan kaidah-kaidah ilmu ushul figih. Selain itu beliau juga seorang pakar hadits, riwayat-riwayat dan perawi-perawinya. Beliau juga menguasai Al-Qur’an dan ilmu-ilmunya. Ditambah lagi beliau adalah seorang ahli sejarah, penyair, sastrawan dan pakar bahasa. Dan yang tak kalah pentingnya beliau adalah seorang yang sangat wara’, takwa dan zuhud di dunia.

    Sampai akhirnya beliau menghembuskan napas yang terakhir di kota Kairo pada tahun 203 H. Berkata Al-Imam Ahmad tentang Al-Imam Asy-Syafi’iy, “Keberadaan Al-Imam Asy-Syafi’iy bagaikan keberadaan matahari bagi dunia, dan bagaikan keberadaan kesehatan bagi tubuh.”  Beliau Al-Imam Ahmad juga berkata, “Dahulu ilmu figih ini sudah tertutup bagi manusia, sampai akhirnya Allah membukanya kembali dengan Asy-Syafi’iy.”  Berkata Al-Imam Abu Zur’ah, “Tidak ada orang alim yang sangat diagung-agungkan oleh umat Islam seperti Asy-Syafi’iy, semoga Allah memberi rahmat kepada mereka semua dan merestuinya.”

    [Diterjemahkan dari mukadimah kitab At-Taqriirat As-Sadiidah fi Al-Masaail Al-Mufiidah, qismul ibaadat, Al-Habib Zein bin Ibrahim Bin Sumaith, hal. 1-2]

    Diriwayatkan oleh Toyalisi dan Baihaqi, bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah kalian mencaci (suku) Quraisy, sesungguhnya kelak salah seorang ulama Quraisy akan memenuhi bumi ini dengan ilmunya”. Berkata Imam Ahmad bin Hanbal dan ulama lainnya, bahwa ulama quraisy yang dimaksud oleh Rasulullah disini adalah Imam Syafi’i. Juga diakui oleh para ulama zamannya, bahwa Imam Syafi’I adalah seorang mujaddid (pembaharu Islam).

    Ulama mengatakan bahwa : “Tak seorangpun di antara ahli hadist dengan alat tulis mereka, melainkan pasti Imam Syafi’I mempunyai jasa yang sangat besar terhadap mereka”.

    Al-Imam Syafi’I tumbuh dilingkungan yang penuh dengan kemiskinan, akan tetapi beliau banyak melazimi para ulama, dan belajar dari mereka. Bahkan beliau menulis ilmu yang didapatnya di atas tulang atau kulit dan lain sebagainya, karena beliau tidak memiliki alat tulis dan buku yang memadai.

    Beliau banyak berdakwah dan mengajar, sampai beliau pergi ke Yaman dan dikenal disana, lantas pergi ke Iraq dan dikenal disana, lalu ke Mesir sampai akhirnya meninggal di sana. Begitu banyak para murid dan pengikut beliau, sehingga salah seorang murid beliau berkata; “Aku melihat tujuh ratus kendaraan di muka pintu rumah Imam syafi’I, yang mana semuanya datang untuk menimba ilmu dari beliau”.

    Berkata Imam Syafi’I : “Orang yang berakal adalah orang yang terikat oleh akalnya dari hal hal yang tercela”.

    Beliau juga berkata : “Barangsiapa menyangka tidak menjadi mulia karena taqwa, maka orang tersebut tidak memiliki kemuliaan”.

    Kita melihat Imam Syafi’I dengan kecerdasan beliau, taqwa, ilmu dan akhlak beliau sebagaimana diakui oleh ulama salaf dan khalaf. Apabila kita renungkan bahwa betapa terbatasnya fasilitas yang dimiliki Syafi’I untuk menuntut ilmu, bahkan beliau tidak mampu memiliki alat tulis, sehingga harus menulis di atas tulang dan daun. Dan apa yang dimiliki oleh pelajar kita zaman sekarang ini ? Mereka memiliki alat tulis dan buku yang beragam, bahkan seragam dan sepatu yang setiap tahun diganti dengan yang baru. Akan tetapi betapa jauhnya kita tertinggal oleh para pendahulu kita yang tidak memiliki fasilitas yang kita miliki sekarang ini. Sehingga banyak diantara kaum muslimin sekarang ini yang minim pengetahuan agamanya, sampai tidak mengenal akan hal hal yang membatalkan wudhu, atau fardhu-fardhu wudhu, bahkan syarat sahnya wudhu. Bagaimana dengan wudhu mereka ? Bagaimana dengan solat mereka ? Bagaimana dengan puasa dan haji mereka ? Apabila hal-hal yang wajib mereka ketahui didalam agama tidak mereka ketahui.

    Kita terbuai oleh dunia kita yang fana ini. Sehingga orang tua, muda, besar, kecil, laki, perempuan yang mereka pentingkan adalah; bagaimana mencari kesejahteraan mereka di dunia yang akan mereka huni selama 60 atau 70 tahun (kalau panjang umur). Akan tetapi mereka melupakan kesejahteraan akherat yang pasti akan mereka huni tidak seribu atau dua ribu tahun, tidak satu juta atau dua juta tahun, akan tetapi kehidupan yang abadi, yang hanya ada dua alternatif, surga atau neraka.

    Banyak orang yang mengenal profil dari seorang artis, atau pemain bola, atau petinju, bahkan tokoh politikus. Akan tetapi betapa mengherankannya seorang muslim bisa mengenal mereka tadi, melebihi pengenalannya akan profil seorang ulama besar seperti Imam Syafi’I, atau toko- tokoh sahabat dan keluarga Rasulullah SAW, bahkan melebihi pengenalannya akan Rasulullah, Nabinya sendiri. Ia mampu menceritakan kepada anda akan riwayat hidup seorang petinju dunia, akan tetapi tidak tahu riwayat hidup Pemimpin Akherat (Nabi Muhammad). Tidak mengetahui dimana beliau dilahirkan dan dimakamkan. Tidak mengetahui usia beliau ketika menikah, menerima wahyu, hijrah dan wafat. Bahkan tidak mengetahui siapa anak dan istri Rasulullah.

    Perlu ada yang membangunkan muslimin dari tidur mereka yang lelap dan panjang ini. Perlu ada yang menyadari akan tujuan kehidupannya di dunia yang fana ini. Perlu ada yang menyadari bahwa ia tidak akan ditanya kelak dikuburan; berapa penghasilanmu, atau apa mobilmu, atau apa jabatanmu, atau siapa artis favoritmu, akan tetapi akan ditanyakan bagaimana perhatiannya terhadap syariat yang diturunkan Allah Ta’ala. Semoga Allah Ta’ala mempercepat pertolonganNya bagi kaum Muslimin, Amiin..

    Wallohu a’lam bish-shawab,-

    ***

    Dari: Retno Wahyudiaty

     
  • erva kurniawan 2:19 am on 7 October 2014 Permalink | Balas  

    Niat Baik Tidak Dapat Melepaskan Yang Haram 

    niat baikNiat Baik Tidak Dapat Melepaskan Yang Haram

    Islam memberikan penghargaan terhadap setiap hal yang dapat mendorong untuk berbuat baik, tujuan yang mulia dan niat yang bagus, baik dalam perundang-undangannya maupun dalam seluruh pengarahannya. Untuk itulah maka Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya semua amal itu harus disertai dengan niat (ikhlas karena Allah), dan setiap orang dinilai menurut niatnya.” (Riwayat Bukhari).

    Niat yang baik itu dapat menggunakan seluruh yang mubah dan adat untuk berbakti dan taqarrub kepada Allah. Oleh karena itu siapa yang makan dengan niat untuk menjaga kelangsungan hidupnya dan memperkuat tubuh supaya dapat melaksanakan kewajibannya untuk berkhidmat kepada Allah dan ummatnya, maka makan dan minumnya itu dapat dinilai sebagai amal ibadah dan qurbah. Begitu juga, barangsiapa yang melepaskan syahwatnya kepada isterinya dengan niat untuk mendapatkan anak, atau karena menjaga diri dan keluarganya dari perbuatan maksiat, maka pelepasan syahwat tersebut dapat dinilai sebagai ibadah yang berhak mendapat pahala.

    Untuk itu pula, maka Rasulullah s.a.w. pernah menyabdakan: “Pada kemaluanmu itu ada sadaqah. Para sahabat kemudian bertanya: Apakah kalau kita melepaskan syahwat juga mendapatkan pahala? Jawab Nabi: Apakah kalau dia dilepaskan pada yang haram, dia juga akan beroleh dosa? Maka begitu jugalah halnya kalau dia lepaskan pada yang halal, dia pun akan beroleh pahala.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Begitulah, setiap perbuatan mubah yang dikerjakan oleh seorang mu’min, di dalamnya terdapat unsur niat yang dapat mengalihkan perbuatan tersebut kepada ibadah. Adapun masalah haram tetap dinilai haram, betapapun baik dan mulianya niat dan tujuan itu. Bagaimanapun baiknya rencana, selama dia itu tidak dibenarkan oleh Islam, maka selamanya yang haram itu tidak boleh dipakai alat untuk mencapai tujuan yang terpuji. Syariat Islam tidak membenarkan prinsip apa yang disebut al-ghayah tubarrirul wasilah (untuk mencapai tujuan, cara apapun dibenarkan), atau suatu prinsip yang mengatakan: al-wushulu ilal haq bil khaudhi fil katsiri minal bathil (untuk dapat memperoleh sesuatu yang baik, boleh dilakukan dengan bergelimang dalam kebatilan). Setiap tujuan baik harus dicapai dengan cara yang baik pula.

    Oleh karena itu, barangsiapa mengumpulkan uang yang diperoleh dengan jalan riba, maksiat, permainan haram, judi dan sebagainya yang dapat dikategorikan haram, dengan maksud untuk mendirikan masjid, menolong fakir miskin, yatim piatu, atau rencana-rencana baik lainnya, maka tujuan baiknya tidak akan menjadi syafaat dosa haramnya itu dihapus. Haram dalam syariat Islam tidak dapat dipengaruhi oleh tujuan dan niat.

    Sabda Rasulullah s.a.w: “Tidak seorang pun yang bekerja untuk mendapatkan kekayaan dengan jalan haram kemudian ia sedekahkan, bahwa sedekahnya itu akan diterima; dan kalau dia infaqkan tidak juga mendapat barakah; dan tidak pula ia tinggalkan di belakang punggungnya (sesudah ia meninggal), melainkan dia itu sebagai perbekalan ke neraka. Sesungguhnya Allah tidak akan menghapuskan kejahatan dengan kejahatan, tetapi kejahatan dapat dihapus dengan kebaikan. Kejelekan tidaklah dapat menghapuskan kejelekan.” (Riwayat Ahmad dan lain-lain)

    ***

    Hindari hal yang haram dan segala sesuatu yang mendekatinya, karena bisa jadi hal itu menjadi penghalang dikabulkannya doa kita.

    ***

    Dikutip dari Halal dan Haram Dalam Islam, karya Dr. Yusuf Qardhawi

    Kiriman: Haris Satriawan

     
  • erva kurniawan 2:43 am on 6 October 2014 Permalink | Balas  

    Islam dan Iman: Apa Bedanya ..? 

    TauhidIslam dan Iman:  Apa Bedanya ..?

    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Islam dalam pengertiannya secara umum adalah menghamba (beribadah) kepada Allah dengan cara menjalankan ibadah-ibadah yang disyari’atkan-Nya sebagaimana yang dibawa oleh para utusan-Nya sejak para rasul itu diutus hingga hari kiamat.

    Ini mencakup apa yang dibawa oleh Nuh ‘Alaihis sallam berupa hidayah dan kebenaran, juga yang dibawa oleh Musa ‘Alaihis sallam, yang dibawa oleh Isa ‘Alaihis sallam dan juga mencakup apa yang dibawa oleh Ibrahim ‘Alaihis sallam, Imamul hunafa’ (pimpinan orang-orang yang lurus), sebagaimana diterangkan oleh Allah dalam berbagai ayat-Nya yang menunjukkan bahwa syari’at-syari’at terdahulu seluruhnya adalah Islam kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

    Sedangkan Islam dalam pengertiannya secara khusus setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ajaran yang dibawa oleh beliau. Karena ajaran beliau menasakh (menghapus) seluruh ajaran yang sebelumnya, maka orang yang mengikutinya menjadi seorang muslim dan orang yang menyelisihinya bukan muslim karena ia tidak menyerahkan diri kepada Allah, akan tetapi kepada hawa nafsunya.

    Orang-orang Yahudi adalah orang-orang muslim pada zamannya Nabi Musa ‘Alaihis salllam, demikian juga orang-orang Nashrani adalah orang-orang muslim pada zamannya Nabi Isa ‘Alaihis sallam. Namun ketika telah diutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia mengkufurinya, maka mereka bukan jadi orang muslim lagi.

    Oleh karena itu tidak dibenarkan  seseorang berkeyakinan bahwa agama yang dipeluk oleh orang-orang  Yahudi dan Nashrani sekarang ini sebagai agama yang benar dan diterima di sisi Allah sebagaimana Dienul Islam.

    Bahkan orang yang berkeyakinan seperti  itu berarti telah kafir dan keluar dari dienul Islam, sebab Allah Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Sesungguhnya Dien yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam”. (Ali-Imran : 19).

    “Artinya : Barangsiapa mencari suatu dien selain Islam, maka tidak akan diterima (dien itu) daripadanya”. (Ali-Imran : 85).

    Islam yang dimaksudkan adalah Islam yang dianugrahkan oleh Allah kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya. Allah berfirman

    “Artinya : Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepada nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai islam itu jadi agamamu”. (Al-Maidah : 3).

    Ini adalah nash yang amat jelas yang menunjukkan bahwa selain umat ini, setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihis sallam, bukan pemeluk Islam. Oleh karena itu, agama yang mereka anut tidak akan diterima oleh Allah dan tidak akan memberi manfaat pada hari kiamat. Kita tidak boleh menilainya sebagai agama yang lurus. Salah besar orang yang menilai Yahudi dan Nashrani sebagai saudara, atau bahwa agama mereka pada hari ini sama pula seperti yang dianut oleh para pendahulu mereka.

    Jika kita katakan bahwa Islam berarti menghamba diri kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan syari’at-Nya, maka dalam artian ini termasuk pula pasrah atau tunduk kepada-Nya secara zhahir maupun batin. Maka ia mencakup seluruh aspek ; aqidah, amalan maupun perkataan. Namun jika kata Islam itu disandingkan dengan Iman, maka Islam berarti amal-amal perbuatan yang zhahir berupa ucapan-ucapan lisan maupun perbuatan anggota badan. Sedangkan Iman adalah amalan batiniah yang berupa aqidah dan amal-amalan hati. Perbedaan istilah ini bisa kita lihat dalam firman Allah Ta’ala.

    “Artinya : Orang-orang Arab Badui itu berkata :’Kami telah beriman’. Katakanlah (kepada mereka) : ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, ‘kami telah tunduk, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu”. (Al-Hujurat : 14).

    Mengenai kisah Nabi Luth, Allah Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri”. (Adz-Dzariyat : 35-36).

    Di sini terlihat perbedaan antara mukmin dan muslim. Rumah yang berada di negeri itu zhahirnya adalah rumah yang Islami, namun ternyata di dalamnya terdapat istri Luth yang menghianatinya dengan kekufurannya. Adapun siapa saja yang keluar dari negeri itu dan selamat, maka mereka itulah kaum beriman yang hakiki, karena keimanan telah benar-benar masuk kedalam hati mereka.

    Perbedaan istilah ini juga bisa kita lihat lebih jelas lagi dalam hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Jibril pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihis sallam mengenai Islam dan Iman. Maka beliau menjawab :”Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan berhaji ke Baitullah”. Mengenai Iman beliau menjawab :”Engkau beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Utusan-utusan-Nya, hari AKhir, serta beriman dengan qadar yang baik dan yang buruk”.

    Walhasil, pengertian Islam secara mutlak adalah mencakup seluruh aspek agama termasuk Iman. Namun jika istilah Islam itu disandingkan dengan Iman, maka Islam ditafsirkan dengan amalan-amalan yang zhahir yang berupa perkataan lisan dan perbuatan anggota badan. Sedangkan Iman ditafsirkan dengan amalan-amalan batiniah berupa i’tiqad-i’tiqad dan amalan hati.

     
  • erva kurniawan 3:47 am on 5 October 2014 Permalink | Balas  

    Rasa Berqurban 

    kurban-terbaik-1Rasa Berqurban

    Ibrahim tak mau menoleh , ia tak kuasa menahan perasaannya , tatkala harus berpamitan kepada istrinya dan anaknya yang masih bayi. Bagaimana hati Sang Bapak itu tidak hancur, menyaksikan orang orang yang dikasihinya harus dia tinggalkan di lembah Paran yang tandus, tanpa penghuni, tanpa kehidupan, sepi, hanya semata-mata netepi jejeging Nabi memenuhi perintah IIIahi.

    Pertarungan rasa dan gejolak emosi senantiasa mewarnai kehidupan kita. Karena hidup senantiasa dihadapkan pada pilihan berbagai rasa.

    Baik rasa yang ngejawantah menyapa relung sisi kehidupan kita maupun rasa yang menelusup dalam sukma materi konsumsi kita.

    Sebagai makhluk yang tinitah lebih tinggi dari homo sensitivitas hewan, rasa hidup yang kadang membuat kita nelongso ataupun bungah, haruslah disikapi secara wicaksana sebagai garis fitrah yang sengaja dijatah untuk menguji kita sehingga terlihat endi sing kencana endi sing wingko (ayukum ahsanu amala).

    Pak Anu, punya sawah berhektar hektar, truk juga punya, ingon-ingon apalagi, tapi sesambat-e ora karu karuan. Sedang pak Polan, hanya punya sapi empat, kambing dua, dan sedikit tanah yang bisa ditanami polowijo, tapi sesambat-e hampir hampir tidak pernah kedengaran.

    Bleger materi bisa berbeda beda, tetapi rasa yang disandang cenderung sama.

    Sedih dan gembira adalah dua warna yang sejalan pada sisi kehidupan manusia. Dua keadaan itu saling susul menyusul mewarnai setiap langkah kehidupan insan.

    Kadang ujian rasa yang sangat getir, bertiup bagai badai di gurun pasir. Menerpa sanubari yang dalam layaknya Ibrahim ketika ujian rasa dari Illahi datang menyapa lewat mimpinya. “….wahai anakku sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku hendak menyembelihmu, bagaimana pendapatmu…..?”

    “Wahai Bapakku, laksanakanlah perintah Illahi, insya Allah engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar…….”

    Peristiwa Qurban telah datang mengusik nurani setiap aghniya. Rasa berat melepas sebagian harta untuk taqorub pada Sang Pencipta dalam prosesi ritual Qurban, menyadarkan kita bahwa cinta dalam hidup memerlukan perjuangan dan pengorbanan.

    Ketika seorang ayah harus bekerja memunguti sampah di sepanjang jalan, ketika harus berjuang menantang beratnya kehidupan, ketika itu yang terpikir olehnya, bagaimana agar orang orang yang dia kasihi tidak tidur dalam kedinginan dan tidak terjaga dalam kelaparan.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:59 am on 4 October 2014 Permalink | Balas  

    Qurban sang Nenek 

    kambing-kurban-300x225Qurban sang Nenek

    Saya punya cerita yang mudah-mudahan bisa ngenggugah hati temen-temen, true story loh, dan kalau Idul Adha pasti ngingetin saya (Dia Maha Pengasih dalam memberi peringatan pada hambaNya)

    Suatu siang yang panas di penjualan kambing kurban, waktu itu seorang akhwat minta ditemani membeli kambing untuk aqiqah putrinya.

    Setelah memilih-milih kambing, saya lihat kambing yang paling bagus dan gemuk, temen saya menawar harganya , ternyata terlalu mahal untuk ukuran kantong temen saya.

    Tiba-tiba datang seorang nenek tua, kira-kira berusia 70 tahunan, ternyata dia mau beli kambing juga dan milih kambing yang saya pilih.

    Iseng-iseng saya tanya, “Buat apa kambingnya nek?”

    Si Nenek bilang kalau dia mau beli kambing buat kurban, lalu saya tanya lagi,”Kok belinya sendiri emangnya nggak ada anak, atau saudara nenek yang mau nganterin untuk beli kambing?”

    Ternyata si Nenek sudah lama hidup sebatang kara, dan untuk mengidupi kebutuhan sehari-hari dia jualan sapu lidi yang dibuatnya sendiri dari pelepah daun kelapa dan daun pisang.

    Lalu saya bertanya ,”Subhanallah yach nek, nenek masih sanggup berkorban.” Si nenek pun tersenyum dan ini satu hal yang nggak bisa saya lupain, ternyata si Nenek bukan saat itu saja berkorban tapi sudah beberapa tahun ia berkorban.

    Saudaraku, ternyata dia menabung setiap hari seribu rupiah, hasil menjual sapu lidi dan daun-daun pisang, lalu dia bilang, “Neng , gusti Allah sudah demikian sayang sama nenek, tiap hari Dia memberi nenek nikmat-nikmat yang hanya dapat nenek hargai dengan seribu rupiah sehari, neng kalau Dia memberi rezeki lebih, sebenarnya nenek ingin pergi haji, tapi neng tahu sendiri ongkos ke sana berapa dan fisik nenek udah nggak memungkinkan.”

    Nenek tahu gusti Allah Maha kaya dan nggak perlu dengan uang seribu yang nenek korbani tiap hari, tapi hanya ini yang bisa nenek korbankan untuk membalas setiap nikmatNya.

    Saudaraku, saya jadi malu pada diri saya sendiri, ternyata seorang nenek mau bersusah payah berkorban tiap tahun untuk membalas berjuta nikmat yang telah dilimpahkanNYa tiap hari, sedang saya yang telah di beri rezeki lebih terkadang masih merasa sayang, bila harus membeli kambing untuk berkorban.

    Walaupun peristiwa ini sudah terjadi beberapa tahun yang lalu tapi kalau idul adha tiba saya selalu teringat dengan si Nenek, beliau masih ada nggak yach?

    ***

    “Mulailah dari hal yang terkecil, mulailah dari diri sendiri, mulailah dari sekarang juga!”

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 8:27 am on 3 October 2014 Permalink | Balas  

    Indahnya Ibadah Haji 

    haji1Indahnya Ibadah Haji

    KH. Abdullah Gymnastiar/Aa Gym

    Empat puluh empat hari berada di tanah suci bukanlah hal yang remeh. Banyak orang yang takut meninggalkan urusannya, karena takut urusannya itu menjadi berantakan. Padahal kita mati juga tidak akan merubah dunia ini. Betapa pentingnya kita hijrah karena sebetulnya masalah di kantor kita, di rumah tangga kita bukan masalah dari luar tapi pada diri kita sendiri. Sebab kalau kita jadi pemimpin sedang kita riya’, dengki, pada saat kita memimpin kitalah yang menimbulkan masalah di kantor kita.

    Kita butuh jeda, kita butuh berhenti. Kita butuh melihat siapa diri kita. Itulah yang disunnahkan Rasulullah dalam itikafnya. Kalau kita sudah membersihkan diri, mengetahui siapa diri kita, mulai punya program perbaikan maka kita kembali kerumah, kita kembali ke tempat kerja dengan kita yang lebih baik. Insya Allah perkataan kita akan lebih arif didalam memimpin rapat, hasilnya ide akan muncul, gagasan makin cemerlang, suasana makin produktif, maslahat. Kalau kita sebagai ayah pulang haji dan kita berhasil memperbaiki diri makin bijaksana, maka anak-anak menemukan figur dirumah, makin kondusif untuk perbaikan. Jadi betapa pentingnya haji, selain untuk ibadah juga sebagai sarana perbaikan diri. Bagi saudara-saudara yang sibuk bekerja tanpa punya waktu untuk menilai dirinya, itu sama saja artinya dengan punya pisau dipakai sembelih terus menerus dan akhirnya tumpul.

    Kalau punya waktu cari yang panjang tapi dengan program yang jelas. Tiap hari belajar karena kemabruran itu tergantung ilmu. Banyak orang yang pergi umroh/haji tapi tidak dengan ilmu. Susah! Nantinya ikut-ikutan. Apa yang orang lakukan dia ikutan. Contoh, mencium hajar aswad. Itu hukumnya sunnah dan dikaitkan dengan thawaf. Ada orang mencium hajar aswad mati-matian, sikut sana-sikut sini, padahal menyakiti sesama muslim itu hukumnya dosa. Untuk apa mengejar yang sunnah sampai dengan yang haram. Mungkin berhasil mengecup hajar aswad dan sampai dirumah diceritakan pula usahanya itu, udah cuma sunnah dapat yang haram diceritakan, ditambah-tambahi… ya riya’ ya dosa. Apa yang didapat? Tentu perintah Allah mencium hajar aswad bukan seperti itu.

    Nah saudara-saudaraku sekalian…

    Misalkan sholat arbain dan kesepakatan para ulama yang mengenal hadistnya itu lemah, tapi tidak terlarang untuk sholat 40x dan tidak berarti kalau kehilangan 1x dianggap bencana. Dan tidak berarti juga yang setiap hari ke mesjid boleh menghina yang lain. Penting sekali ilmu. Oleh karena itu kalau nanti haji apa sih niatnya haji? Macem-macem.

    Ada haji malu, malu-maluin maksudnya karena temannya sudah berangkat semua, dia belum. Ada haji status, yang ingin mencantumkan gelar H (haji) didepan namanya. Itu niat gelar, asal tahu saja Nabi Muhammad tidak disebut Rasulullah Haji Muhammad atau H. Umar bin Khattab,dll. Tidak dilarang tapi tidak dicontohkan. Boleh dicantumkan asal kelakuannya lebih baik dari gelarnya. Ada juga haji untuk maksiat, yang ingin dianggap sholeh. Dia cari status haji untuk menginginkan sesuatu dari hajinya. Dan yang paling buruk haji untuk menyembunyikan kemaksiatan.

    Lalu apa niat haji kita? menyempurnakan kewajiban kita, rukun Islam ke-5. Kita ingin mati dengan sempurna kewajiban kita. Perkara pahala, perkara ampunan, perkara sorga itu urusan Allah.

    Saudara-saudara sekalian

    Mulai sekarang niat, nabung untuk pergi haji. Bagi yang memakai ONH plus jaga jangan sampai jadi ujub. Kalau sudah niat, daftar, syukuran itu belum tentu berangkat. Jangan memastikan. Berangkat atau tidak itu urusan Allah dan jangan takut gagal. Pas mau berangkat jatuh sakit, nggak apa-apa. Niat sudah sampai, manasik sudah sampai, bayar sudah lunas, syukuran sudah, pergi belum siapa tahu Allah akan menyiapkan ilmu yang lebih banyak, menebalkan iman atau mungkin ada urusan dirumah yang lebih penting kita berada dirumah. Jangan malu nggak jadi berangkat. Masak kecewa atas perbuatan Allah.

    Hati-hatilah kalau haji jangan merasa kita paling bisa/paling sholeh. Dan saya anjurkan saudara jangan lupa membawa qur’an. Tidak ada yang paling enak untuk antri kecuali baca qur’an. Apalagi kalau punya target khatam, misalkan satu hari satu juz, itu antri sepanjang apapun enak. Kasian yang tidak punya kegiatan sibuk menggerutu saja. Kalau antri sebaiknya bikin target, misalkan istighfar 100x nggak pernah rugi antri itu kecuali yang tidak bisa menjaga diri. Jarang kita mempunyai waktu seperti itu.

    Dan biasakan mengalah. Tidak akan ketinggalan dengan mengalah, semua saudara kita. Memperbanyak musuh itu capek, memperbanyak saudara itu yang nikmat. Dakwah itu benar-benar dengan kelembutan/kesantunan. Bahkan bila ada orang yang berbuat jelek, balas kejelekan itu dengan berbuat baik. Maksimalnya adalah kalau ingin membalas, balas dengan perbuatan yang sama. Kalau ingin lebih baik balas dengan kebaikan sebab membalas dengan otot atau kekerasan jarang dapat meluluhkan hati. Senyuman yang tulus yang bisa meluluhkan hati.

    Haji yang mabrur itu adalah haji yang paling lemah lembut. Di Mekah, thawaf, sai kalau tidak hati-hati, kurang ilmu jadi takut ketinggalan tidak khusyu itu. Jadi hikmah yang paling penting dari haji ini diantaranya ialah bagaimana kita merasa bersaudara dengan yang lain. Ini ternyata luar biasa bisa menahan diri dari kedengkian/kemarahan. Sekarang belajar meminimalisir musuh. Mulai sekarang kita harus mulai merasa bersaudara, sepanjang seiman. Jadi hal yang terpenting bagi orang yang sudah berhaji adalah lebih merasa banyak saudaranya daripada banyak musuhnya.

    Apalagi selama haji itu jelas undangan Allah, jelas sama-sama umat Islam. Bagaimana mungkin kita membenci hanya karena perkara yang remeh. Yang pasti jaminan kita datangnya dari Allah. Allah Maha Tahu apa kebutuhan kita dibanding kita sendiri. Setiap kita melakukan apapun harus jelas manfaatnya. Kalau kita punya posisi strategis untuk perubahan diskusikan itu dengan baik. Tapi kalau kita diskusi panjang lebar tidak merubah apapun kecuali makin pening, dongkol, mubazir!

    Saudara-saudaraku sekalian…

    Bonus dari kajian kali ini adalah menikmati bersaudara satu sama lain. Minimalisir perasaan kebencian, mudah-mudahan akan terpancar sifat rahmatan lil’alamin pada diri kita.

    ***

    Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

    Semoga bermanfaat

     
  • erva kurniawan 12:33 pm on 2 October 2014 Permalink | Balas  

    Niat Baik Tidak Dapat Melepaskan yang Haram 

    sedekah 1Niat Baik Tidak Dapat Melepaskan yang Haram

    Islam memberikan penghargaan terhadap setiap hal yang dapat mendorong untuk berbuat baik, tujuan yang mulia dan niat yang bagus, baik dalam perundang-undangannya maupun dalam seluruh pengarahannya. Untuk itulah maka Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya semua amal itu harus disertai dengan niat (ikhlas karena Allah), dan setiap orang dinilai menurut niatnya.” (Riwayat Bukhari).

    Niat yang baik itu dapat menggunakan seluruh yang mubah dan adat untuk berbakti dan taqarrub kepada Allah. Oleh karena itu siapa yang makan dengan niat untuk menjaga kelangsungan hidupnya dan memperkuat tubuh supaya dapat melaksanakan kewajibannya untuk berkhidmat kepada Allah dan ummatnya, maka makan dan minumnya itu dapat dinilai sebagai amal ibadah dan qurbah. Begitu juga, barangsiapa yang melepaskan syahwatnya kepada isterinya dengan niat untuk mendapatkan anak, atau karena menjaga diri dan keluarganya dari perbuatan maksiat, maka pelepasan syahwat tersebut dapat dinilai sebagai ibadah yang berhak mendapat pahala.

    Untuk itu pula, maka Rasulullah s.a.w. pernah menyabdakan: “Pada kemaluanmu itu ada sadaqah. Para sahabat kemudian bertanya: Apakah kalau kita melepaskan syahwat juga mendapatkan pahala? Jawab Nabi: Apakah kalau dia dilepaskan pada yang haram, dia juga akan beroleh dosa? Maka begitu jugalah halnya kalau dia lepaskan pada yang halal, dia pun akan beroleh pahala.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Begitulah, setiap perbuatan mubah yang dikerjakan oleh seorang mu’min, di dalamnya terdapat unsur niat yang dapat mengalihkan perbuatan tersebut kepada ibadah. Adapun masalah haram tetap dinilai haram, betapapun baik dan mulianya niat dan tujuan itu. Bagaimanapun baiknya rencana, selama dia itu tidak dibenarkan oleh Islam, maka selamanya yang haram itu tidak boleh dipakai alat untuk mencapai tujuan yang terpuji. Syariat Islam tidak membenarkan prinsip apa yang disebut al-ghayah tubarrirul wasilah (untuk mencapai tujuan, cara apapun dibenarkan), atau suatu prinsip yang mengatakan: al-wushulu ilal haq bil khaudhi fil katsiri minal bathil (untuk dapat memperoleh sesuatu yang baik, boleh dilakukan dengan bergelimang dalam kebatilan). Setiap tujuan baik harus dicapai dengan cara yang baik pula.

    Oleh karena itu, barangsiapa mengumpulkan uang yang diperoleh dengan jalan riba, maksiat, permainan haram, judi dan sebagainya yang dapat dikategorikan haram, dengan maksud untuk mendirikan masjid, menolong fakir miskin, yatim piatu, atau rencana-rencana baik lainnya, maka tujuan baiknya tidak akan menjadi syafaat dosa haramnya itu dihapus. Haram dalam syariat Islam tidak dapat dipengaruhi oleh tujuan dan niat.

    Sabda Rasulullah s.a.w: “Tidak seorang pun yang bekerja untuk mendapatkan kekayaan dengan jalan haram kemudian ia sedekahkan, bahwa sedekahnya itu akan diterima; dan kalau dia infaqkan tidak juga mendapat barakah; dan tidak pula ia tinggalkan di belakang punggungnya (sesudah ia meninggal), melainkan dia itu sebagai perbekalan ke neraka. Sesungguhnya Allah tidak akan menghapuskan kejahatan dengan kejahatan, tetapi kejahatan dapat dihapus dengan kebaikan. Kejelekan tidaklah dapat menghapuskan kejelekan.” (Riwayat Ahmad dan lain-lain)

    ***

    Hindari hal yang haram dan segala sesuatu yang mendekatinya, karena bisa jadi hal itu menjadi penghalang dikabulkannya doa kita.

    ***

    Kiriman Sahabat: Haris Satriawan

     
    • TEGUH 12:35 pm on 2 Oktober 2014 Permalink

      Ass wrwb trimakasih atas ijinnya

      Teguh S 08567789372 – 2AE44AB0
      Cenderawasih Pos – Lombok Post

  • erva kurniawan 1:24 am on 1 October 2014 Permalink | Balas  

    Pengalaman Dzikir 

    dzikir 2Pengalaman Dzikir

    Ma’af kalau tidak berkenan hanya sekedar pengalaman….

    Dengan berdzikir berarti kita berupaya untuk terus mengingat keberadaan Allah Swt, kapanpun dan dimanapun kita berada. Saya sadari ditengah-tengah kesibukan sehari-hari,seringkali saya merasa melupakan Allah. Oleh sebab itu saya bertekad untuk memperbanyak dzikir agar bayang-bayang kebesaran Allah Swt selalu menyertai ke manapun saya pergi. Saya memilih untuk mengikuti dzikir secara berjamaah, karena selain memupuk kebersamaan,dzikir dengan cara ini juga menghasilkan pahala yang lebih besar. Dan memang,banyak sekali hikmah yang saya dapatkan setalah mengikuti dzikir secara berjamaah ini.

    Pada waktu itu saya mengikuti majelis dzikir disebuah masjid. Saya merasakan betapa berpengaruhnya dzikir tersebut terhadap ketenangan jiwa saya. Sejuk dan nyaman rasanya hati ini merasakan nikmatnya iman dan nikmatnya dzikir kepada Allah.Suatu berkah yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

    Sebelumnya, saya adalah orang yang mudah sekali dihinggapi perasaan emosional, hingga jeleknya terkadang tidak dapat mengendalikan amarah ketika sedang menghadapi problema yang pelik. Ketika saya marah maka tak akan ada yang bisa menahan saya untuk menumpahkan kekesalan dengan berbagai cara. Tak ada yang mampu meredakan bara hati ketika kebuntuan menghadang jalan kehidupan yang saya tempuh.

    Melalui dzikir secara berjamaah itulah saya mendapat pelajaran, apa yang harus saya lakukan ketika sedang menghadapi masalah dan bagaimana cara memanage berbagai permasalahn hidup secara bijaksana.Alhamdulilah, setelah mendapatkan pelajaran itu, saya tekun melakukan istighfar, membaca Asmaul Husna dan memahami surat Al-Fatihah dengan lebih mendalam.Hasilnya, kini saya dapat lebih menahan diri ketika marah,tidak uring-uringan seperti dulu lagi.

    Berbagai macam hal dalam hidup, saya rasakan sebagai ujian Allah terdapat ketaatan saya kepada-Nya. Oleh sebab itu, ketika saya melihat pemandangan yang indah,keagungan semua ciptaan-Nya, membuat saya melihat dan ingat kepada Sang Maha Pencipta.Saya tak bisa menahan untuk mengucapkan Subhanallah!

    Memang tidak mudah untuk membiasakan diri selalu berdzikir kepada Allah, apalagi berbagai godaan hawa nafsu selalu mengitari kehidupan kita. Tapi Insya Allah, kalau kita terus berusaha setiap saat untuk melakukan dzikir kapanpun dan dimanapun kita berada. Semoga Allah selalu dalam hati kita dan meridhoi semua hal yang kita lakukan dalam mengarungi kehidupan. Amien.

    ***

    Kiriman Sahabat : Karlina, Lina

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: