Updates from Agustus, 2010 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:31 am on 31 August 2010 Permalink | Balas  

    Hampir Saja Langit Pecah 

    water lily HelvolaPaling tidak, ada dua peristiwa yang menyebabkan langit hampir pecah. Pertama, dalam surat Maryam ayat 90-91 disebutkan:

    “Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak”

    Kedua, al-Qur’an menginformasikan kepada kita peristiwa lain yang juga hampir saja membuat langit pecah, yaitu dalam surat Asy-Syura ayat 5:

    “Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya (karena kebesaran Tuhan) dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Tuhannya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    Dua peristiwa dengan dua sebab yang berbeda hampir saja menghasilkan kejadian yang luar biasa, yaitu pecahnya langit. Pada persitiwa yang pertama, langit hampir pecah karena kemurkaan Allah SWT. terhadap mereka yang mengatakan bahwa Allah mempunyai anak. Ucapan atau tuduhan itu begitu dahsyat kemungkarannya. Betapa tidak, Allah yang berbeda dengan makhluk manapun itu —mukhalafatu lil hawadits— diserupakan dengan manusia (yang mempunyai anak) yang justru diciptakan-Nya untuk beribadah kepada-Nya. Penyerupaan ini jelas membuat Allah murka!

    Peristiwa kedua terjadi justru karena kebesaran Allah. Malaikat pun bertasbih serta memuji Allah dan memohonkan ampunan bagi penduduk bumi. Kebesaran dan keagungan Allah tidak terkira sehingga ketika Dia diminta Nabi Musa menampakkan wujud-Nya, bukit tempat Musa berdiri menjadi hancur dan Musa jatuh pingsan. Kali ini Allah menampakkan kebesaran-Nya pada langit, dan langit yang demikian luas itu hampir pecah karena tak mampu menyaksikan kebesaran dan keagungan Allah.

    Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari kisah-kisah di atas?

    Seringkali ketika kita berkuasa, kita bertingkah laku hendak menyerupai Allah. Kitalah pemegang nasib bawahan kita. Hanya dengan selembar kertas yang kita tandatangani seorang anak manusia bisa jatuh terduduk atau bisa meloncat-loncat kegirangan. Ketika ada rakyat yang hendak datang ke kantor, kita lempar ia dari satu meja ke meja berikutnya.

    Semua kebijakan tergantung petunjuk kita; semua pengacau kekuasaan kita beri hadiah “azab yang pedih” dan nyawa mereka tak ada harganya bagi kita. Senyum kita menjadi tanda tanya; apakah sedang suka atau sedang marah. Bawahan kita sibuk menafsirkan gerak tubuh kita hanya untuk menyelami apakah kita sedang suka atau tengah berduka.

    Saya khawatir pada saat kita berprilaku menyerupai kekuasaan Allah maka langit akan pecah karena murka Allah. Bukankah segala bentuk penyerupaan harus ditiadakan; apakah itu berarti memiliki kekuasaan tiada batas, memberi azab ataupun menentukan nyawa orang lain. Segala bentuk kesombongan dan takabur harus dilenyapkan, karena hanya Allah yang berhak untuk takabur (Al-Mutakabbir).

    Sementara itu, di sepuluh malam terakhir Ramadhan ini, kita menunggu langit yang hampir pecah, saat Malaikat bertasbih memuji Allah dengan suara yang bergemuruh, mereka turun atas perintah Allah dan memohon ampun untuk penduduk bumi. Kita sambut kehadiran malaikat itu dengan gemuruh suara tasbih dan rintihan tangisan memohon ampunan Allah. Puji-pujian dari penduduk langit kepada Allah bertemu dengan puji-pujian penduduk bumi untuk Allah. Boleh jadi langit hampir pecah pada malam-malam akhir Ramadhan ini.

    Pertanyaannya, tengoklah diri kita sekarang baik-baik. Yang mana yang kita tunggu? apakah kita menunggu langit hampir pecah karena murka Allah atau karena kebesaran-Nya?

    ***

    Sumber email sahabat

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 30 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Izinkan Aku Menangis 

    sajadaheramuslim – Jam menunjukkan pukul 21.20 malam… Kecurian. Aku tertidur sekitar 3,5 jam setelah berbuka puasa petang tadi. Seingatku aku sedang kejar-kejaran dengan waktu di etape sulit ini. Al Qur’anku belum selesai. Tapi entah mengapa, mushaf itu tetap diam disamping bantal; dekat kepalaku? Aku menyerah lagi. Kelelahan fisik dan kepenatan pikiran. Aku hendak berapologi pada diriku sendiri.

    Kegundahan apakah ini? Kekhawatiran apakah ini? Kecemasan apa lagi?

    Mengapa pelupuk mataku panas. Namun, aku malu untuk menumpahkan air mata. Ya, air mata bening itu hanya boleh kutunjukkan pada-Nya. Bukan untuk memperturutkan rasa dan emosi serta mengalahkan rasio yang wajar. Meski… jebol juga tanggul itu.

    Aku membuka hadits ini lagi, ”Orang yang cerdas adalah orang yang merendahkan dirinya dan berbuat untuk masa setelah mati. Orang yang lemah adalah yang memperturutkan hawa nafsunya dan berharap (banyak) pada Allah”. (HR.Turmuzi, dari riwayat Syaddad bin Aus ra.)

    Jika kebodohan (tidak cerdas) tidaklah berakibat kepada kemurkaan Allah? Dan ternyata pengharapan pada-Nya saja tak cukup. Sering menyerah pada diri sendiri di tengah komitmen hendak berbuat. Harapan tanpa kekuatan itu disabdakan Rasulullah Saw. sebagai kelemahan. Mengapa aku lemah?

    Jika saja ini bukan di etape final. Aku boleh berharap banyak untuk menjadi sang pemenang. Jika saja aku boleh berandai, jarum jam diputar. Namun, agamaku melarang pengandaian. Benar. Konsentrasi di babak ini seringkali buyar.

    Aku membuka genggaman tangan kiriku. Ya, tinggal itulah hitungan hari-hari pembekalan tahun ini. Aku tak pernah tahu, mampukah aku sampai di penghujungnya. Mampukah aku menjadi yang terbaik diantara sekian juta para pemburu satu cinta, sejuta pengampunan dan seribu keberkahan? Aku malu menanyakannya pada diriku sendiri.

    Masih tersisa kedengkian. Masih ada pertanyaan sikap dan prasangka buruk. Masih juga bersemanyam ketersinggungan dan gerutu ketidakpuasan. Masih ada pandangan mata khianat. Masih ada ketajaman lidah yang melukai hati. Masih juga mengoleksi berita-berita tak bernilai. Masih saja melafazkan kata-kata tak bermakna. Lantas, apa makna tengadahan tangan di tengah malam yang diiringi isak pengharapan. Sekali lagi, pengharapan yang lemah yang kalah oleh nafsu.

    Aku terduduk lemas. Alhamdulillah Allah memberi kekuatan untuk mengungkapkannya. Aku pandangi lama-lama refleksi kegundahan itu.

    Aku hanya boleh bertanya, kemudian kujawab sendiri. Selain itu hanya kesunyian. Meski dunia sekelilingku ramai dengan hiruk pikuk malam. Kedai sebelah rumah masih ramai. Coffee shop masih dipenuhi orang yang asyik menonton el Ahli–mungkin–, klub kebanggaan mereka sedang berlaga. Aku dibangunkan teriakan itu. Mengapa tidak suara Syeikh Masyari Rasyid yang melantunkan surat al Qiyamah, misalnya. Atau suara siapa saja yang menembus gendang telinga ini. Namun, melantunkan suara pengharapan yang kuat yang bisa menembus langit-Nya.

    Atau suara-suara dari rumah-Nya yang dipenuhi isakan harapan hamba-hamba-Nya yang berlomba memburu seribu keberkahan dan sejuta pengampunan. Atau senyuman malaikat yang menyaksikan bocah-bocah kecil yang menahan kantuk berdiri sambil memegangi mushaf kecil dipojok-pojok masjid.

    Sebagaimana aku boleh berharap di penghujung hari pembekalan ini, aku menjadi sang jawara. Namun, aku malu untuk berharap demikian. Sebagaimana aku juga boleh berharap menutup hariku di dunia dengan syahadah di jalan-Nya. Toh, semua menjadi misteri yang tak terjawab.

    Ya, Khalid bin Walid pun yang sangat pemberani akhirnya menutup harinya di atas pembaringan. Lantas, tidakkah malu aku membandingkan pengaharapanku dengan kelemahan diriku menghadapi diri sendiri.

    Sebagaimana aku mengandaikan bidadari surga. Apakah ia takkan cemburu dan marah dengan pandangan khianatku pada hal-hal yang tak seharusnya kulihat.

    Sebagaimana aku berharap istana megah setelah matiku. Sudah berapakah aku menabung untuk itu. Sementara hidupku dipenuhi ambisi dan obsesi yang penuh dengan tabungan materi dan memegahkan istana duniaku. Dan aku telah mencintai dunia itu.

    Sebagaimana aku berharap menikmati seteguk susu dari aliran sungai di surga-Nya. Aku lalai mengumpulkan “dana” untuk membelinya. Juga madu dan jus mangga.

    Sebagaimana aku tetap berharap ingin terus mencicipi delima merah dan jeruk sankis serta buah khukh di masa setelah kefanaan ini. Tapi aku terlalu terpana oleh keindahannya yang sementara. Entah berapa tahun, bulan, hari atau bahkan hitungan detik aku masih bisa melihatnya di toko buah-buahan di sebelah rumahku.

    Aku memaknai keterlaluan yang fatal ini dengan sikap yang tidak seimbang. Khayalanku dipenuhi pengaharapan. Namun, hatiku disesaki kelemahan. Akibatnya seluruh organ tubuhku lemah. Mata, telinga, mulut, kaki, tangan… semua menolak untuk diajak menggapai cinta-Nya.

    Etape final ini banyak tikungan tajam. Dan aku terjatuh. Putaran roda keinginan tersebut trrgelincir oleh kerikil kecil bernama kelalaian. Alhamdulillah, aku masih bisa bangkit meneruskan perjalanan. Meski aku tahu, kini aku jauh tertinggal. Aku belum bisa menjadi yang terbaik. Tapi aku masih bisa berharap untuk menjadi baik. Karena aku masih bersama orang-orang baik bahkan mereka ada di depanku; orang-orang terbaik itu.

    Aku masih harus melewati tikungan tajam lainnya. Tergesa-gesa, kecerobohan, cinta dunia, rasionalisasi kesalahan, buruk sangka. Namun, aku masih punya bekal. Cinta, hati nurani dan bahan bakar ketelitian serta nasihat orang-orang shalih. Dan tikungan tajam yang paling membahayakan di akhir etape ini adalah: menduakan cinta-Nya. Ada cinta lain yang menyesak hendak menggeser kemuliaan itu.

    Ada beberapa materi terakhir di ujian final ini: menanggalkan kesombongan dan ingin dipuji serta disanjung berlebihan. Menanggalkan kecintaan dunia yang berlebihan dengan qanaah dan tawadhu’.

    Tiba-tiba aku ingin menangis. Namun, aku tak mampu. Ya Allah aku ingin mengeluarkan air mata ini untuk-Mu. Aku khawatir kesulitan ini tersendat karena kemurkaan-Mu.

    Air bening itu tersendat. Jangan-jangan karena kesalahanku. Karena tumpukan-tumpukan egoisme. Karena tumpukan-tumpukan kotoran buruk sangka. Karena tumpukan-tumpukan gerutu. Karena tumpukan-tumpukan doa-doa yang kosong. Terkunci oleh hawa nafsu.

    Jika demikian, jangan Kau murkai hamba ini ya Allah. Hamba masih terus berharap pembebasan dari murka-Mu di hari-hari pembebasan ini.

    “… dan sepertiga terakhirnya adalah pembebasan dari api neraka,” demikian Rasulullah Saw. menjelaskan karakteristik bulan pembekalan ini. Ya Allah, jadikanlah nama hamba ada dalam daftar pembebasan itu. Juga nama kedua orang tua hamba, keluarga hamba, para guru hamba, saudara-saudara hamba serta siapa saja yang mempunyai hak atas hamba. Amin.

    ***

    Oleh: Saiful Bahri

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 29 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: itikaf, panduan itikaf   

    I’tikaf 

    Pada masa sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa melakukan i’tikaf (berdiam diri di masjid). Hal ini terus dilakukan Rasulullah sampai beliau wafat Sudah semestinya kaum Muslimin melaksanakan sunnah yang diajarkan sosok teladan. Agar i’tikaf bisa memberikan hasil sesuai yang diharapkan dan agar orang yang beri’tikaf keluar dari masjid dalam kondisi telah diampuni dosa-dosanya, ada beberapa adab yang perlu diperhatikan, yaitu:

    Niat yang Baik

    Hendaklah orang yang ingin beri’tikaf memurnikan niatnya untuk mencari keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, meraih derajat di akhirat dengan cara melepaskan diri dari kegiatan dunia dan mengisinya dengan amaliyah akhirat, serta menghidupkan sunnah Rasulullah.

    Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan

    Inilah sunnah Rasulullah, yang berlandaskan pada hadits yang diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, “Bahwasanya Rasulullah beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian para istri beliau beri’tikaf setelahnya.” Boleh saja beri’tikaf selain waktu-waktu itu, akan tetapi tetap saja yang terbaik adalah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

    Di Masjid Jami’ (Agung)

    Tidak sah bila seseorang beri’tikaf di rumah Rasulullah mencontohkan i’tikaf di masjid. Allah berfirman, “Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam masjid.” (Al-Baqarah [2]: 187). Ayat ini menunjukkan bahwa tempat i’tikaf adalah masjid.

    Seyogyanya orang yang beri’tikaf memilih masjid jami’ (yang menyelenggarakan shalat Jum’at) sehingga ia tidak perlu pindah dari masjid untuk menunaikan shalat Jum’at, berdasarkan kepada perkataan Aisyah, “Yang disunnahkan kepada orang yang sedang beri’tikaf ialah ia tidak menjenguk orang sakit, tidak melayat jenazah, tidak menyentuh wanita, tidak mencampurinya, tidak keluar masjid untuk satu urusan pun kecuali urusan yang tidak mungkin ia tinggalkan, tidak ada i’tikaf kecuali disertai dengan puasa dan tidak ada i’tikaf kecuali di masjid jami’.”

    Di Mihrab atau Tenda Khusus

    Cara ini akan membantu orang yang beri’tikaf untuk menyendiri bersama Tuhannya dan tidak menghabiskan waktu untuk bercakap-cakap dengan temannya. Rasulullah juga melakukan cara ini, sebagaimana yang dikisahkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Aisyah, “Bahwasanya Rasulullah jika hendak beri’tikaf beliau menunaikan shalat Shubuh lalu memasuki tempat i’tikafnya, dan suatu ketika beliau ingin beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, lalu beliau memerintahkan untuk dirikan tenda untuknya…”

    Memasuki Tenda Setelah Shalat Shubuh

    Yaitu pada hari pertama dari sepertiga terakhir bulan Ramadhan, karena itulah yang pernah dilakukan oleh Rasulullah, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits di atas. Ibnu Hajar berkata, “…dalam hal itu menunjukkan bahwa permulaan seseorang yang beri’tikaf memasuki tempat i’tikafnya ialah setelah shalat Shubuh.”

    Tidak Keluar Masjid

    Hendaklah tidak keluar kecuali untuk urusan yang sangat penting dan tidak mungkin ditinggalkan. Ia tidak disunnahkan menjenguk orang sakit, atau melayat jenazah sebagaimana yang disebutkan dalam hadits terdahulu, kecuali jika ia mensyaratkan hal-hal tersebut ketika ia memulai beri’tikaf.

    Tidak Menyentuh Wanita

    Berdasarkan hadits terdahulu, dan berdasarkan firman Allah, “Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam masjid.” (Al-Baqarah [2]: 187).

    Sungguh-sungguh

    Tujuan utama dari i’tikaf adalah agar seseorang bisa berkonsentrasi untuk ibadah saja sambil menantikan datangnya lailatul qadr seperti yang disebutkan Allah, Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. (Al-Qadr [97]: 3). Diriwayatkan, “Bahwasanya Rasulullah jika telah memasuki sepuluh terakhir beliau mengencangkan kainnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” Maksud mengencangkan kain di sini ialah bersungguh-sungguh dalam beribadah atau tidak mencampuri istrinya.

    Tidak Menyia-nyiakan Waktu

    Hendaklah seseorang yang beri’tikaf memanfaatkan setiap kesempatan yang ia miliki untuk beribadah, berdoa, membaca Al-Qur`an, istighfar, dzikir kepada Allah Swt, shalat, berpikir, dan merenung. Janganlah menyia-yiakan waktu dengan berbincang-bincang dengan teman dan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan ibadah.

    ***

    (Pambudi, dikutip dari buku Ensiklopedi Etika Islam/Hidayatullah)

     
  • erva kurniawan 1:22 am on 28 August 2010 Permalink | Balas  

    Tak Pernah Tua, Gadis 17 Tahun Terjebak dalam Tubuh Balita 

    Broke (Kiri) & adiknya Carly (telegraph)

    Broke (Kiri) & adiknya Carly (telegraph)

    Tak Pernah Tua, Gadis 17 Tahun Terjebak dalam Tubuh Balita

    Merry Wahyuningsih – detikHealth

    Baltimore, AS, Usia 17 tahun tentunya menjadi usia yang sangat berkesan bagi kebanyakan remaja. Tapi tidak bagi Brooke Greenberg, gadis berusia 17 tahun yang terjebak dalam tubuh dan pikiran balita.

    Dengan usianya yang 17 tahun, tinggi gadis asal Amerika Serikat ini hanya mencapai 76,2 cm, yang sama dengan tinggi balita usia 1 tahun. Ia telah mengalami kegagalan dalam berkembang secara fisik atau mental.

    Brooke yang tak pernah tua, kasusnya telah menarik ilmuwan untuk membantu membuka rahasia penuaan.

    Brooke dilahirkan di Reistertown dekat Baltimore di Amerika Serikat. Awalnya ia tampak seperti bayi normal dan sehat.

    Tapi sebelum usia 2 tahun, ia menderita serangkaian keadaan medis darurat yang tidak dapat dijelaskan. Hal ini membuat orangtuanya, Melanie dan Howard sadar bahwa putri mereka berkembang tidak normal.

    Dokter tidak dapat memberikan penjelasan medis untuk kondisi tersebut, tetapi percaya bahwa di berbagai bagian tubuh Brooke tidak sinkron dan tidak berkembang secara terkoordinasi.

    Dokter bingung dengan kelainan yang diderita Brooke, sehingga kondisinya diberi julukan sindrom X.

    Brooke mampu mengenali gerak-gerik dan suara, tapi ia tidak bisa bicara. Tulangnya seperti anak usia 10 tahun, tetapi ia masih memiliki gigi bayinya.

    Penelitian awal tentang DNA-nya menunjukkan bahwa ada kegagalan berkembang yang terkait dengan cacat pada gen yang bertanggung jawab untuk proses penuaan semua manusia.

    Dengan analisa yang dilakukan pada Brooke, diharapkan para ilmuwan dapat memperoleh visi baru dalam proses penuaan, dan bahkan mengembangkan terapi baru dan pengobatan untuk penyakit yang berkaitan dengan usia.

    Sebuah konferensi di London awal pekan ini, yang dihadiri beberapa peneliti terkemuka di dunia, akan membahas beberapa temuan dari kasus Brooke.

    “Kasus Brooke bisa membantu membuka rahasia usia dan perkembangan,” ujar Profesor Richard Walker dari University of South Florida School of Medicine, yang memimpin penelitian, seperti dilansir dari Telegraph, Senin (10/5/2010).

    Menurut Profesor Walker, kondisi Brooke memberi kesempatan yang unik bagi ilmuwan untuk dapat memahami proses penuaan.

    Ilmuwan berpikir Brooke mengalami mutasi gen yang mengendalikan penuaan dan perkembangan, sehingga tampaknya ia telah membeku dalam waktu.

    Jika ilmuwan dapat membandingkan genom untuk versi normal, maka mereka mungkin bisa menemukan gen-gen dan melihat apa yang gen tersebut lakukan dan bagaimana gen mengendalikan proses penuaan.

    “Hal ini mungkin dapat memberikan kita kesempatan untuk menjawab pertanyaan tentang mengapa kita akan mati,” ujar Howard Greenberg, ayah Brooke.

    Menurut Howard, ia ingin penelitian tentang genom yang dimiliki anaknya dilakukan dengan harapan dapat membantu orang lain.

    “Brooke adalah gadis yang sangat cantik, ia sangat suci. Dia masih mengoceh seperti bayi berusia enam bulan, tapi ia masih berkomunikasi dan kami selalu tahu persis apa artinya,” tambah Howard.

    Pada konferensi Royal Society yang dihadiri para ahli dunia dan dimulai minggu ini, akan dibahas temuan kasus Brooke, dengan harapan akhirnya akan mengarah pada pengobatan baru untuk kondisi seperti penyakit Alzheimer dan Parkinson.

    Hal ini juga mengarah pada pengobatan yang membuat manusia bisa hidup lebih lama.

    (mer/ir)

    ***

    http://health.detik.com/read/2010/05/10/101340/1354248/763/tak-pernah-tua-gadis-17-tahun-terjebak-dalam-tubuh-balita?l993306763

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 27 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kata-Kata Kasar. 

    Saya menabrak seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat. “Oh, maafkan saya” adalah reaksi saya. Ia berkata, “Maafkan saya juga; Saya tidak melihat Anda.” Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan. Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.

    Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda. Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki saya berdiri diam-diam di samping saya. Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh. “Minggir,” kata saya dengan marah. Ia pergi, hati kecilnya hancur. Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya.

    Ketika saya berbaring di tempat tidur, dengan halus Tuhan berbicara padaku, “Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, ketika kesopanan kamu gunakan, tetapi anak-anak yang engkau kasihi, sepertinya engkau perlakukan dengan sewenang-wenang. Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga dekat pintu.”

    “Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu; merah muda, kuning dan biru. Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang akan ia buat bagimu, dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu.”

    Seketika aku merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes. Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya, “Bangun, nak, bangun,” kataku.

    “Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?” Ia tersenyum, ” Aku menemukannya jatuh dari pohon. ”

    “Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu. Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna biru.”

    Aku berkata, “Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu; Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi.”

    Si kecilku berkata, “Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu.” Aku pun membalas, “Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku benar-benar menyukai bunga-bunga ini, apalagi yang biru.”

    Apakah anda menyadari bahwa jika kita mati besok, perusahaan di mana kita bekerja sekarang bisa saja dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari? Tetapi keluarga yang kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka.

    Mari kita renungkan, kita melibatkan diri lebih dalam kepada pekerjaan kita ketimbang keluarga kita sendiri, suatu investasi yang tentunya kurang bijaksana, bukan? Jadi apakah anda telah memahami apa tujuan cerita di atas? Apakah anda tahu apa arti kata KELUARGA?

    Dalam bahasa Inggris, KELUARGA = FAMILY.

    FAMILY = (F)ATHER (A)ND (M)OTHER, (I), (L)OVE, (Y)OU

    Teruskan cerita ini kepada orang-orang yang kau pedulikan. Saya telah melakukannya.

    ***

    Dari milis, diterjemahkan dari : HARSH WORDS

    Everything is free

    Semoga menjadikan renungan yang bermanfaat.

     
    • sempulur 2:00 am on 27 Agustus 2010 Permalink

      Sekedar ingin mengucapkan salam kenal dari komunitas keluarga miskin. Semoga berkenan mengunjungi blog kami untuk menyumbang kesempatan meraih masa depan yang lebih baik dan harmonis. Terima kasih

    • azzen noury 9:45 am on 8 September 2010 Permalink

      Siiip…cerita yang patut utk direnungkan

  • erva kurniawan 1:38 am on 26 August 2010 Permalink | Balas  

    Mata Yang Tidak Menangis Di Hari Kiamat 

    Semua kaum Muslim berkeyakinan bahwa dunia dan kehidupan ini akan berakhir. Akan datang suatu saat ketika manusia berkumpul di pengadilan Allah Swt. Al-Quran menceritakan berkali-kali tentang peristiwa Hari Kiamat ini, seperti yang disebutkan dalam surah Al-Ghasyiyah ayat 1-16. Dalam surah itu, digambarkan bahwa tidak semua wajah ketakutan. Ada wajah-wajah yang pada hari itu cerah ceria. Mereka merasa bahagia dikarenakan perilakunya di dunia. Dia ditempatkan pada surga yang tinggi. Itulah kelompok orang yang di Hari Kiamat memperoleh kebahagiaan.

    Tentang wajah-wajah yang tampak ceria dan gembira di Hari Kiamat, Rasulullah  pernah bersabda, “Semua mata akan menangis pada hari kiamat kecuali tiga hal. Pertama, mata yang menangis karena takut kepada Allah Swt. Kedua, mata yang dipalingkan dari apa-apa yang diharamkan Allah. Ketiga, mata yang tidak tidur karena mempertahankan agama Allah.”

    Mari kita melihat diri kita, apakah mata kita termasuk mata yang menangis di Hari Kiamat?

    Dahulu, dalam suatu riwayat, ada seorang yang kerjanya hanya mengejar-ngejar hawa nafsu, bergumul dan berkelana di tempat-tempat maksiat, dan pulang larut malam.

    Dari tempat itu, dia pulang dalam keadaan sempoyongan. Di tengah jalan, di sebuah rumah, lelaki itu mendengar sayup-sayup seseorang membaca Al-Quran.

    Ayat yang dibaca itu berbunyi: “Belum datangkah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang yang fasik (Qs 57: 16).

    Sepulangnya dia di rumah, sebelum tidur, lelaki itu mengulangi lagi bacaan itu di dalam hatinya. Kemudian tanpa terasa air mata mengalir di pipinya. Si pemuda merasakan ketakutan yang luar biasa. Bergetar hatinya di hadapan Allah karena perbuatan maksiat yang pemah dia lakukan. Kemudian ia mengubah cara hidupnya. Ia mengisi hidupnya dengan mencari ilmu, beramal mulia dan beribadah kepada Allah Swt., sehingga di abad kesebelas Hijri dia menjadi seorang ulama besar, seorang bintang di dunia tasawuf.

    Orang ini bernama Fudhail bin Iyadh. Dia kembali ke jalan yang benar kerena mengalirkan air mata penyesalan atas kesalahannya di masa lalu lantaran takut kepada Allah Swt. Berbahagialah orang-orang yang pernah bersalah dalam hidupnya kemudian menyesali kesalahannya dengan cara membasahi matanya dengan air mata penyesalan. Mata seperti itu insya Allah termasuk mata yang tidak menangis di Hari Kiamat.

    Kedua, mata yang dipalingkan dari hal-hal yang dilarang oleh Allah.

    Seperti telah kita ketahui bahwa Rasulullah pernah bercerita tentang orang-orang yang akan dilindungi di Hari Kiamat ketika orang-orang lain tidak mendapatkan perlindungan. Dari ketujuh orang itu salah satu di antaranya adalah seseorang yang diajak melakukan maksiat oleh perempuan, tetapi dia menolak ajakan itu dengan mengatakan, “Aku takut kepada Allah”.

    Nabi Yusuf as. mewakili kisah ini. Ketika dia menolak ajakan kemaksiatan majikannya. Mata beliau termasuk mata yang tidak akan menangis di Hari Kiamat, lantaran matanya dipalingkan dari apa-apa yang diharamkan oleh Allah Swt.

    Kemudian mata yang ketiga adalah mata yang tidak tidur karena membela agama Allah. Seperti mata pejuang Islam yang selalu mempertahahkan keutuhan agamanya, dan menegakkan tonggak Islam. Itulah tiga pasang mata yang tidak akan menangis di Hari Kiamat, yang dilukiskan oleh Al-Quran sebagai wajah-wajah yang berbahagia di Hari Kiamat nanti.

    ***

    Disampaikan oleh Faisal Tofwandi, dalam miis Siar Islam

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 25 August 2010 Permalink | Balas  

    Ikatan Ibu dan Anak Lebih Kuat dari Ayah Karena Oksitosin 

    Ikatan Ibu dan Anak Lebih Kuat dari Ayah Karena Oksitosin

    Vera Farah Bararah – detikHealth

    New York, Filsuf Aristoteles pernah bilang rasa cinta ibu terhadap anaknya lebih besar dibandingkan ayah. Penelitian terbaru menunjukkan kuatnya hubungan ibu dan anak melibatkan senyawa kimia yang lebih kompleks.

    Penelitian perilaku neuroscience terbaru menunjukkan rasa cinta ibu dan anaknya melibatkan senyawa kimia yang lebih kompleks dibandingkan pepatah Aristoteles, yaitu melibatkan hormon oksitosin.

    Ilmuwan telah mengidentifikasi hormon oksitosin memainkan peran yang penting dalam ikatan antar manusia. Meskipun perilaku dari hormon ini pada manusia belum sepenuhnya dipahami oleh banyak peneliti.

    Hormon oksitosin memainkan sejumlah peran di dalam tubuh manusia, terutama berperan penting pada seorang perempuan yang baru menjadi ibu. Hal ini disebabkan karena oksitosin dapat membantu menginduksi proses persalinan dan menstimulasi proses laktasi (menyusui).

    “Oksitosin memfasilitasi atau membantu proses persalinan dan menyusui, karena itu hormon ini dipercaya juga ikut berperan dalam pembentukan ikatan antara ibu dan anak serta perilaku dari ibu itu sendiri,” ujar Jennifer Bartz, asisten professor psikiatri di Mount Sinai Medical Center di New York, seperti dikutip dari LiveScience, Senin (10/5/2010).

    Pengaruh dari hormon oksitosin dalam pembentukan ikatan antara ibu dan anak menjadi alasan mengapa ikatan antara ibu dan anak lebih kuat dibandingkan dengan sang ayah.

    Meskipun belum banyak hal yang bisa dipahami dari kerja hormon oksitosin ini, tapi sebuah penelitian telah menunjukkan peran dari oksitosin. Hormon ini dapat membantu individu mengingat wajah orang-orang yang mereka sukai dan membedakannya dengan orang yang tidak disukai.

    “Kemungkinan salah satu hal yang difasilitasi oleh oksitosin adalah membantu dalam hal memori sosial, sehingga membuat seseorang memiliki pilihan untuk individu tertentu,” ungkap Bartz.

    (ver/ir)

    ***

    http://health.detik.com/read/2010/05/10/093513/1354201/764/ikatan-ibu-dan-anak-lebih-kuat-dari-ayah-karena-oksitosin?l993306763

     
  • erva kurniawan 2:53 am on 24 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Saya Beri Dia Waktu 3 Bulan 

    Pagi hari Kamis lalu, 13 Juli 2006, seorang wanita mudah berusia 24 tahun datang ke Islamic Cultural Center of New York. Dengan pakaian Muslimah yang rapi, nampak seperti santri bule duduk menunggu kedatangan saya di Islamic Center New York. Dengan sedikit malu dan menundukkan muka, dia memulai percakapan dengan bertanya, “Apa hukumnya seorang Muslimah bersuamikan non Muslim? Dan apakah seorang wanita yang bersuamikan non Muslim bisa diterima menjadi Muslimah?

    Tentu saja saya terkejut dengan pertanyaan itu. Mulanya saya mengira bahwa sang wanita yang duduk di hadapan saya ini adalah seorang Muslimah, barangkali dari negara Balkan, Bosnia atau Kosovo. Tapi setelah saya tanya, ternyata dia hanyalah seseorang yang baru menemukan Islam lewat internet (beberapa website Islam), dan kini secara bulat berniat untuk memeluk agama, yang menurutnya, the right way for her.

    Wanita muda itu bernama Jessica Mendosa. Kelahiran Albany, ibukota negara bagian New York dan kini tinggal di kota New York (New York City) sebagai mahasiswi di salah satu universitas di kota ini. Diapun baru menikah dengan suaminya sekitar 4 bulan yang lalu.

    Setelah berta’aruf lebih dekat barulah saya bertanya kepadanya: “Kenapa anda menanyakan tentang boleh tidaknya seorang Muslimah bersuamikan non Muslim? Dan kenapa pula Anda tanyakan apa diterima seorang wanita masuk ke dalam agama Islam jika bersuamikan non Muslim?”

    Dengan sedikit grogi atau malu, Jessica menjawab: “I am very much interested in Islam. I have learned it many months“.

    Saya kemudian memotong: “Where did you learn Islam?” Dia menjawab: “throughn the internet (Islamic websites)“.

    Saya kemudian menanyakan apa hubungan antara keingin tahuan dia tantang Islam dan seorang wanita bersuamikan non Muslim. Maka dengan berat tapi cukup berani dia katakan: “I’ve learned Islam and I am sure this is the right way for me. I am willing to embrace Islam now. But I’ve a problem. I am a wife of a non Muslim”.

    Ketika saya tanyakan apakah suaminya tahu keinginannya tersebut? Dia menjawab: “yes, and he is very much hostile to my intention“.

    Saya tidak langsung menjawab pertanyaannya karena saya yakin dia masih mencintai suami yang baru menikahinya sekitar 4 bulan silam. Saya justru menjelaskan kepadanya pokok-pokok keimanan dan Islam, khususnya makna berislam itu sendiri. Bahwa menerima Islam berarti bersedia menerima segala konsekwensi dari setiap hal yang terkait dengan ajarannya.

    “Islam is not only a bunch of ritual teachings, it’s a code of life,” jelasku.

    Dalam hal ini seseorang yang mengimani ajaran Islam dan dengan kesadarannya memeluk Islam berarti bersedia mengikuti ajaran-ajaran atau aturan-aturan yang mengikat. Dan penerimaan inilah yang merupakan inti dari keislaman itu sendiri.

    Nampaknya Jessica mendengarkan penjelasan itu dengan seksama. Hampir tak pernah bergerak mendengarkan penjelasan-penjelasan mengenai berbagai hal, dari masalah-masalah akidah, ibadah, hingga kepada masalah-masalah mu’amalah, termasuk urgensi membangun rumah tangga yang Islami dalam rangka menjaga generasi Muslim masa depan.

    Ketika saya sampai kepada permasalahan pasangan suami isteri itulah, Jessica memberanikan diri menyelah: “But I am still in love with my husband whom I married to just 4 months ago”

    Saya juga terkejut dan kasihan dengan Jessica. Hatinya telah mantap untuk menjadi Muslimah. Bahkan menurutnya: “Nothing should prevent me to convert to Islam“. Tanpa terasa airmatanya nampak menetes. Saya ikut merasakan dilema yang dihadapinya.

    Saya kemudian menjelaskan perihal hukum nikah dalam Islam dan berbagai hal yang terkait, termasuk persyaratan bagi wanita Muslim untuk menikah hanya dengan pria Muslim. Penjelasan saya tentunya tidak bertumpu kepada nash atau berbagai opini ulama, tapi diserta dengan berbagai argumentasi “aqliyah” (rasional) sehingga dapat meyakinkan Jessica dalam hal ini.

    Pada akhirnya, mau tidak mau, harus terjadi kompromi. Saya katakan, ketika anda sudah yakin bahwa inilah jalan hidup yang benar untuk anda ikuti, maka jangan sampai hal ini tersia-siakan. Namun di satu sisi saya perlu tegaskan bahwa sebagai Muslimah jika tetap bersuamikan non Muslim maka itu adalah sebuah pelanggaran terhadap hukum Islam.

    Untuk itu, setelah mempertimbangkan berbagai pertimbangan yang terkait, baik berdasarkan “masalih al mursalah” (manfaat-manfaat yang terkait) maupun realita-realita kehidupan di Amerika, serta yang paling penting adalah pengalaman-pengalaman mengislamkan selama ini, saya sampaikan kepada Jessica: “You may embrace Islam. But you have to find any possible way to convince your husband that you are not allowed to maintain this marriage if he insists to oppose Islam”.

    Dengan penjelasan terakhir ini Jessica nampak cerah, dan dengan tegas mengatakan: “I’ll give him a chance in 3 months. If he doesn’t want to follow my way, I will ask for a divorce“, katanya tanpa ragu.

    Saya katakan: “Hopefully people will not perceive that Islam separates between husbands and wives. But this is the rule and I have to tell you about it”.

    Oleh karena Islamic Center memang masih sepi, dengan hanya disaksikan dua orang Brothers, dengan diiriingi airmata, Jessica Mendosa mendeklarasikan: “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah”. Allahu Akbar wa lillah alhamd!

    Sabtu kemarin, Jessica telah resmi bergabung dengan kelas khusus yang dirancang untuk para muallaf “The Islamic Forum for new Muslims” di Islamic Cultural Center. Saya terkejut, Jessica hadir di kelas itu seperti seorang Muslim yang telah lama mempelajari agama ini. Bersemangat menjawab setiap ada hal yang dipertanyakan oleh muallaf lainnya. Sayang saya belum sempat menanyakan perihal suaminya!,

    ***

    Oleh: M. Syamsi Ali, New York, 17 Juli 2006

    Jessica, Allah bless and further guide you!

     
    • Sri Mulyati 4:27 pm on 19 September 2010 Permalink

      izin copi ya…

  • erva kurniawan 1:32 am on 23 August 2010 Permalink | Balas  

    Mungkinkah Laki-laki akan Punah Lebih Cepat? 

    Mungkinkah Laki-laki akan Punah Lebih Cepat?

    Merry Wahyuningsih – detikHealth

    Copenhagen, Masalah kemandulan tidak hanya dialami wanita tapi juga pria. Satu dari lima pria kini mengalami masalah kesuburan. Mungkinkah pertanda laki-laki akan punah lebih cepat?

    Penelitian yang dilakukan ilmuwan University of Copenhagen menemukan 1 dari 5 pria bisa mengalami masalah kesuburan. Ilmuwan memperingatkan keadaan tersebut akan semakin parah, dan akan makin banyak pria yang mengalami kemandulan.

    Ilmuwan memperingatkan bahwa kenaikan tingkat kemandulan pria telah menjadi begitu berbahaya dan menjadi masalah kesehatan yang serius.

    “Masalah kemandulan sama pentingnya dengan masalah pemanasan global,” ujar Profesor Niels Skakkebaek dari University of Copenhagen, seperti dilansir dari Dailymail, Senin (10/5/2010).

    Bahkan, salah satu penulis sains memberikan istilah yang mengerikan, “Jika ilmuwan dari Mars mempelajari tentang sistem reproduksi pria, maka mereka mungkin akan menyimpulkan bahwa laki-laki akan punah lebih cepat”.

    Laporan tersebut menyatakan bahwa 1 dari 5 orang muda yang sehat berusia antara 18 dan 25 menghasilkan jumlah sperma yang abnormal.

    Hanya 5-15 persen dari sperma mereka yang cukup baik dan diklasifikasikan dalam kategori normal, menurut aturan Badan Kesehatan Dunia (WHO).

    Hal ini membuktikan bahwa masalah ketidaksuburan bukan hanya ada pada wanita, tetapi juga dari pria.

    Inti masalah kesuburan pria, mungkin diperburuk oleh isu-isu lingkungan, yang berdampak sejak mereka masih dalam kandungan.

    “Jumlah sperma yang menurun dan mengalami ketidaksuburan bahkan dimulai sejak mereka belum dilahirkan,” ujar Dr Gillian Lockwood, direktur medis Midland Fertility Services.

    Menurut Dr Lockwood, walaupun proses reproduksi sperma atau yang disebut spermatogenesis, dimulai pada masa remaja, tapi persiapan yang penting mulai dilakukan dalam beberapa bulan sebelum dan sesudah kelahiran.

    Faktor-faktor kemandulan yang berasal dari ibu hamil seperti obesitas, merokok, paparan pestisida, asap lalu lintas, plastik dan bahkan terlalu banyak makan kacang kedelai, dapat menjadi masalah pada kesuburan janin laki-lakinya.

    Banyak makan daging sapi sama halnya banyak mengonsumsi hidrokarbon polisiklik aromatik atau polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH), yang merupakan bahan kimia yang berpotensi merusak.

    Para ahli mengatakan bahwa perkembangan testis dimulai pada saat janin tumbuh dan berakhir dalam enam bulan pertama kehidupan.

    Adanya masalah dalam periode ini akan mengakibatkan bayi laki-laki tersebut tidak akan pernah memiliki bayi sendiri ketika ia dewasa nanti.

    Hal ini terjadi pada Karl Tonks (47 tahun). Karl memiliki jumlah sperma yang sedikit, yang membuatnya kesulitan untuk mempunyai anak.

    Tapi ia dan istrinya Lorraine (41 tahun) merasa beruntung, karena kini mereka mempunyai dua anak kembar yang sehat dan sudah berumur 12 tahun. Anaknya lahir sebagai hasil dari In Vitro Fertilisation (IVF) yang sulit dan mahal.

    Seperti kebanyakan orang, Karl tidak pernah mendapat alasan khusus yang menjelaskan mengapa jumlah spermanya sedikit. Ia hanya tahu bahwa tak mungkin baginya untuk memiliki anak.

    “Kami sudah berusaha untuk punya bayi sejak kami menikah. Saya tidak tahu ada masalah, dan tidak pernah ada alasan yang diberikan tentang hal ini,” ujar Karl Tonks.

    Menurutnya, kemungkinan ibunya yang mengonsumsi Thalidomide selama hamil yang menjadi penyebab terhadap infertilitasnya. Ibu Karl mengonsumsi Thalidomide untuk mengatasi morning sickness-nya.

    (mer/ir)

    ***

    http://health.detik.com/read/2010/05/10/180036/1354723/763/mungkinkah-laki-laki-akan-punah-lebih-cepat?l991101755

     
  • erva kurniawan 1:32 am on 22 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Pelajaran Dari Seorang Anak, Cerita dari India 

    Istriku berkata kepada aku yang sedang baca Koran, “Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan.”

    Aku taruh Koran dan melihat anak perempuanku satu-satunya, namanya Sindu. Tampak ketakutan, air matanya banjir didepannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam / yogurt (nasi khas India / curd rice).

    Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku msh kuno, mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada “cooling effect”.

    Aku mengambil mangkok dan berkata, “Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak-teriak sama ayah.”

    Aku bisa merasakan istriku cemberut dibelakang punggungku.

    Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata, “Boleh ayah akan saya makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok tapi semuanya akan saya habiskan, tapi saya akan minta ..”. Agak ragu-ragu sejenak, “…akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya.”

    “Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaan saya?”. Aku menjawab, “Oh pasti sayang.” Sindu tanya sekali lagi, “Betul nih ayah? Yah pasti”. Sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju. Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, “Iya, janji”, kata istriku.

    Aku sedikit khawatir dan berkata, “Sindu jangan minta komputer atau barang-barang lain yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang.” Sindu menjawab, “Jangan khawatir, Sindu tidak minta barang-barang mahal kok. Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita, dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu”

    Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya. Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata penuh harap. Dan semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya. Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin / dibotakin pada hari Minggu.

    Istriku spontan berkata permintaan gila, anak perempuan dibotakin, tidak mungkin. Juga ibuku menggerutu jangan terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV. Dan program2 TV itu sudah merusak kebudayaan kita.

    Aku coba membujuk, “Sindu kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua akan sedih melihatmu botak. Tapi Sindu tetap dengan pilihannya, tidak ada ‘yah, tak ada keinginan lain kata Sindu.

    Aku coba memohon kepada Sindu, “Tolonglah kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami.” Sindu dengan menangis berkata, “Ayah sudah melihat bagaimana menderitanya saya menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan saya, kenapa ayah sekarang mau menjilat ludah sendiri?”

    Sindu melanjutkan “Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi, seperti Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala) untuk memenuhi janjinya rela memberikan tahta, harta / kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri.”

    Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku, “Janji kita harus ditepati.” Secara serentak istri dan ibuku berkata, “Apakah kamu sudah gila?”. “Tidak”, jawabku, “Kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri. Sindu permintaanmu akan kami penuhi.”

    Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus. Hari Senin, aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku. Sambil tersenyum aku membalas lambaian tangannya. Tiba-tiba seorang anak laki-laki keluar dari mobil sambil berteriak, Sindu tolong tunggu saya. Yang mengejuntukanku ternyata, kepala anak laki-laki itu botak. Aku berpikir mungkin “botak” model jaman sekarang.

    Tanpa memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari mobil dan berkata, “Anak anda, Sindu, benar-benar hebat. Anak laki-laki yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish, adalah anak saya, dia menderita kanker leukemia.”

    Wanita itu berhenti sejenak, menangis tersedu-sedu, “Bulan lalu Harish tidak masuk sekolah, karena pengobatan chemo therapy kepalanya menjadi botak jadi dia tidak mau pergi kesekolah takut diejek / dihina oleh teman2 sekelasnya.”

    “Nah Minggu lalu Sindu datang kerumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi, hanya saya betul-betul tidak menyangka kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia.” Lanjut Ibu tersebut.

    Aku berdiri terpaku dan aku menangis. Malaikat kecilku tolong ajarkanku tentang kasih.

    ***

    Dari milis siar islam

     
  • erva kurniawan 1:22 am on 21 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: Membeli Surga dengan Harta   

    Membeli Surga dengan Harta 

    Kecintaan manusia kepada harta merupakan fitrah seorang manusia, namun Allah Ta’ala memberikan ganjaran yang begitu besar kepada seorang muslim yang menafkahkan sebagian hartanya fii sabilillaH baik dikala lapang maupun sempit.

    Semoga dengan hal-hal yang berikut ini akan dapat membuat kita lebih bersemangat dan lebih banyak lagi untuk menafkahkan sebagian dari apa yang kita miliki :

    Pertama, Balasannya adalah surga.

    Allah Ta’ala berfirman, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. Ali ‘Imran : 133-134)

    Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan waktu lapang dan waktu sempit adalah dalam keadaan suka maupun duka, dalam keadaan bersemangat maupun tidak berdaya, baik dalam kondisi sehat maupun sakit”

    Kedua, Allah Ta’ala menyandingkan perintah shalat dengan menafkahkan harta.

    Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat. Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya. Dan orang-orang yang dalam bagian hartanya tersedia bagian tertentu. Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)” (QS. Al Ma’arij : 19-25)

    Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallaHu ‘anHu, dia berkata, “Kami diperintahkan mendirikan shalat dan membayar zakat. Barangsiapa yang tidak membayar zakat, maka shalatnya sia-sia” (HR. ath Thabrani)

    Ketiga, Dekatnya kematian.

    Allah Ta’ala berfirman, “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang diantara kamu; lalu ia berkata, ‘Yaa Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)-ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang shalih’” (QS. Al Munaafiquun : 10)

    Keempat, Pahalanya adalah tujuh ratus kali lipat.

    Allah Ta’ala berfirman, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. Al Baqarah : 261)

    Dari Abu Hurairah radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menerima sedekah, lalu Dia mengambilnya dengan tangan kanan-Nya, kemudian menumbuhkembangkannya untuk salah seorang diantara kalian, seperti kalian menumbuhkembangkan anak kuda, anak sapi ataupun anak unta miliknya, sehingga satu suapan saja bisa menjadi besar seperti gunung Uhud” (HR. at Tirmidzi dan Ahmad)

    Kelima, Allah Ta’ala akan menggantinya.

    Allah Ta’ala berfirman, “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya” (QS. As Saba’ : 39)

    Dari Abu Hurairah radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Allah Subhaana wa Ta’ala berfirman, ‘Hai anak Adam, berikanlah nafkah, niscaya kamu dinafkahi’” (HR. al Bukhari)

    Keenam, Harta tidak akan pernah berkurang karena disedekahkan.

    Dari Abu Kabsyah bin Sa’ad an Nari radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Aku bersumpah atas tiga hal dan aku menyampaikannya kepada kalian dengan sungguh-sungguh, maka peliharalah : harta seorang hamba tidak akan berkurang karena disedekahkan …” (HR. at Tirmidzi, dia mengatakan, “Hadits hasan shahih”, juga diriwayatkan oleh Ahmad)

    Ketujuh, Memberikan pinjaman kepada Allah Ta’ala.

    Allah Ta’ala berfirman, “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kalian dikembalikan” (QS. Al Baqarah : 245)

    Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaHu ‘anHu, dia berkata, “Ketika ayat di atas turun, Abu Dahdah al Anshari berkata, ‘Yaa Rasulullah, sesungguhnya Allah menginginkan dari kita untuk memberi pinjaman?’, Rasulullah menjawab, ‘Benar, wahai Abu Dahdah’, Lalu Abu Dahdah berkata, ‘Ya Rasulullah, perlihatkan tanganmu kepada saya’, Abu Dahdah menggenggam tangan Rasulullah seraya berkata, ‘Saya ingin meminjamkan kebun dan tanah saya kepada Allah’” (HR. ath Thabrani)

    ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaHu ‘anHu meriwayatkan bahwa di kebun Abu Dahdah radhiyallaHu ‘anHu terdapat 600 pohon kurma.

    Pada suatu saat ketika sahabat Abu Dahdah meninggal, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Berapa banyak pelepah kurma yang tergantung di Surga, khusus disediakan untuk Abu Dahdah ?” (HR. Muslim, dari jalan Jabir bin Samrah radhiyallaHu ‘anHu)

    Kedelapan, Setanlah yang menakut-nakuti manusia akan kemiskinan

    Allah Ta’ala berfirman, “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir), sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. Al Baqarah : 268)

    Kesembilan, Terhindar dari ancaman yang pedih.

    Allah Ta’ala berfirman, “Dan orang – orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu di dalam jahannam, lalu dibakarnya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka, Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan’” (QS. At Taubah 34 – 35)

    Dari Abu Hurairah radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang memiliki emas dan perak lalu tidak dikeluarkan zakatnya maka pada hari Kiamat nanti akan dibentangkan baginya lempengan dari api lalu dipanaskan dalam neraka kemudian dahi – dahi mereka, lambung dan punggung mereka dibakar dengannya. Setiap kali lempengan itu menjadi dingin, kembali dipanaskan. Demikianlahlah berlaku setiap hari yang panjangnya setara dengan 50.000 tahun di dunia. Hingga diputuskan ketentuan masing – masing hamba apakah ke surga ataukah ke neraka” (HR. Muslim)

    Demikianlah 9 hal yang insya Allah dapat memotivasi diri kita untuk menafkahkan dari sebagian harta yang kita miliki. Dan semoga dengan harta yang kita infakan di jalan Allah Ta’ala dapat membantu seluruh kaum muslimin yang sedang mengalami kesulitan terutama saudara-saudara kita di Palestina dan negeri-negeri Islam lainnya.

    “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya” (QS. Al Zalzalah : 7)

    ***

    Maraji’ :

    Disarikan dari Buku Membeli Jannah dengan Harta, Syaikh Dr. Ragib as Sirjani, Daar an Naba’, Surakarta.

    Semoga Bermanfaat.

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 20 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: manfaat usus buntu, usus buntu   

    Adakah Manfaat Usus Buntu? 

    Adakah Manfaat Usus Buntu?

    AN Uyung Pramudiarja – detikHealth

    Jakarta, Tidak banyak yang mengetahui apa sesungguhnya fungsi usus buntu atau appendix. Ada pendapat yang mengatakan, organ kecil di antara usus kecil dan usus besar tersebut sudah kehilangan fungsi pada sistem pencernaan manusia moderen.

    Ketika terjadi peradangan pada usus buntu, operasi pengangkatan pada umumnya tidak menimbulkan efek merugikan bagi pencernaan. Oleh karena itu, banyak yang mengatakannya sebagai salah satu vestigial organ atau organ sisa.

    Tapi seperti dilansir Buzzle, Rabu (5/5/2010), manfaat usus buntu sesungguhnya diyakini masih ada pada era nenek moyang manusia. Ketika masih memakan tumbuh-tumbuhan, maka membutuhkan organ tambahan untuk mencerna kulit kayu yang keras. Karena itu, usus buntu dalam ukuran lebih besar juga terdapat pada herbivora.

    Namun pendapat ini dinilai lemah, mengingat makanan yang dikonsumsi manusia moderen juga banyak yang susah dicerna. Jika memang teori tersebut benar, seharusnya fungsi usus buntu pada manusia masih dibutuhkan hingga sekarang.

    Bagaimanapun lebih banyak yang meyakini bahwa tubuh manusia telah didesain dengan sangat canggih. Tidak mungkin ada organ yang diciptakan tanpa memiliki fungsi tertentu. Tidak masuk akal juga bila usus buntu diciptakan hanya sebagai organ dekoratif.

    Dalam artikel yang dipubliskasikan Scientific American, Loren G. Martin yang merupakan pakar dari Oklahoma State University menyatakan satu pendapat tentang fungsi usus buntu. Menurutnya usus buntu punya peran pada janin saat berada dalam kandungan.

    Saat janin berusia 11 minggu, sel-sel endokrin teramati pada usus buntu. Sel-sel tersebut memproduksi beberapa hormon amina dan peptida biogenik, yang berperan dalam mekanisme homeostatik pada janin.

    Ketika lahir kemudian tumbuh dewasa, ia meyakini usus buntu masih berperan pada sistem imun tubuh. Usus buntu menjadi lokasi penumpukan jaringan limfoid sejak bayi lahir hingga berusia 20-30 tahun.

    Akumulasi jaringan tersebut membantu pematangan salah satu sel darah putih yakni B-limfosit. Selain itu, juga berperan dalam pembentukan salah satu antibodi yakni immunoglobulin A (IgA).

    Tak hanya itu, pada tahun 2007 para peneliti dari Duke University Medical Centre menemukan bukti baru. Dikutip dari ABA, Rabu (5/5/2010), usus buntu merupakan sarang bakteri baik yang berperan dalam pemulihan kondisi usus pasca serangan penyakit.

    Pada kondisi normal, sistem pencernaan manusia dipenuhi bakteri baik yang membantu mengurai makanan. Namun sejumlah besar bakteri itu mati pada saat terserang penyakit seperti disentri atau kolera.

    Menurut penelitian tersebut, dalam kondisi inilah usus buntu punya peran bagi populasi bakteri baik. Selain sebagai tempat untuk bersembunyi dari serangan penyakit tersebut, juga untuk berkembang biak.

    Hingga kini, berbagai penelitian untuk mengungkap fungsi lain dari usus buntu masih terus dilakukan. Sebab jika memang punya fungsi, pencegahan radang usus buntu harus lebih diprioritaskan daripada operasi pengangkatan.(up/ir)

    ***

    http://health.detik.com/read/2010/05/05/113232/1351451/763/adakah-manfaat-usus-buntu?l991101755

    

     
  • erva kurniawan 9:57 am on 19 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: Hindari Permusuhan   

    Hindari Permusuhan 

    Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah, “Puasa itu perisai. Maka apabila salah seorang diantara kamu berpuasa, jangan mengeluarkan kata-kata keji, berbuat hingar bingar. Apabila seseorang mencaci maki atau memukulnya, maka katakan padanya, “Aku sedang berpuasa”.

    Waktu menjalani ibadah puasa, hindarilah pertengkaran, keutamaan menghindari pertengkaran dijelaskan oleh Baginda Rasul, yaitu dari Abu Umarah r.a, ia berujar, bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa menghindari pertengkaran, padahal ia salah, maka akan dibangunkan baginya rumah disekitar surga. Dan barangsiapa meninggalkan pertengkaran sedang ia benar, maka akan dibangunkan baginya rumah dilantai tengah surga. Sedang barangsiapa membaguskan akhlaknya, akan dibangunkan untuknya rumah dilantai paling atas dari surga”. (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Baihaqi)

    Pertengkaran atau permusuhan merupakan suatu perbuatan yang sangat dibenci Allah. Hadis Riwayat Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Nasa’I menyebutkan sabda Rasulullah, “Sesungguhnya lelaki yang paling dibenci oleh Allah, yaitu yang paling sangat teguh dalam permusuhan”.

    ***

    Source : Sudah betulkah puasa anda?

     
    • dwi 3:54 pm on 2 September 2010 Permalink

      trmksh sdh mengingatkan…..

  • erva kurniawan 8:48 am on 18 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , , ,   

    Sedekah 

    Diantara sunnah puasa adalah memperbanyak sedekah selama bulan Ramadhan dalam rangka membantu fakir miskin, anak-anak yatim, serta orang-orang yang memerlukannya.

    Rasulullah mengajarkan, bahwa sedekah yang paling utama, yaitu sedekah dibulan Ramadhan. Hal ini merujuk sebuah hadits, “Seutama-utama sedekah adalah sedekah dibulan Ramadhan.” (HR. Turmudzi)

    Berbicara masalah keutamaan sedekah, teringatlah kita pada wasiat Rasulullah kepada putra menantunya yang bernama Ali bin Abu Thalib, “Wahai Ali! Janganlah kamu abaikan sedekah, karena sedekah dapat menolak kejahatan dari dirimu. Segeralah bersedekah, karena bencana tidak dapat melangkah mendahului sedekah. Wahai Ali! Sedekah secara sembunyi-sembunyi dapat merekam murka Allah, serta dapat menarik keberkahan dan rezeki sebanyak mungkin”.

    Keutamaan sedekah memang sering diwasiatkan Rasul kepada ummatnya. Orang yang bersedekah dapat terhindar dari Mati Suul Katimah. “Sedekah itu dapat menolak mati dalam keadaan yang tidak baik”. (HR. Qudha-I)

    Dapat menghindarkan dari panas kubur. “Sedekah itu dapat menghindarkan seseorang dari panas kubur, dan seorang pada hari kiamat hanya bernaung dibawah naungan sedekahnya”. (HR. Thabrani)

    Juga sebagai pelepas dari siksa api neraka. “Bersedekahlah kamu, karena sedekah itu sebagai pelepasmu dari api neraka” (HR. Thabrani)

    “Jagalah dirimu dari api neraka walaupun sedekah separuh dari biji kurma, maka jika tidak dapat, yaitu dengan sepatah kata yang baik” (HR Bukhari Muslim)

    **

    Dikisahkan oleh Aisyah, suatu waktu datanglah seorang wanita menghadap Rasulullah s.a.w, seraya bercerita, “Ya rasul, kulihat dalam mimpiku, ibuku disiksa di dalam api neraka, sedang tangan kirinya tidak terlalap oleh si jago merah. Setelah kuteliti secara cermat, ternyata tangan kirinya memegang sehelai kain bekas”

    Kemudian aku bertanya, “wahai Ibu, mengapa hal ini terjadi, sedang ibu rajin shalat, puasa, zakat dan ibadah-ibadah lainnya?”

    Sang Ibu menjawab, “Wahai anakku! Selama hidup didunia, aku termasuk wanita bakhil yang enggan bersedekah. Dan di neraka inilah memang tempat penyiksaan bagi orang2 yang bakhil”

    “Mengapa tangan Ibu yang memegang sehelai kain bekas tidak terlalap api?”

    “Ketahuilah, kain bekas ini adalah sesuatu yang pernah kusedekahkan selama hidup didunia. Ya, sesobek kain yang biasa kupakai untuk membersihkan perabot-perobot rumah tangga seperti piring, gelas, meja, kursi, sepatu, sandal dan lain-lain yang dapat menyelamatkan tangan kiriku dari bakaran siksa api neraka” jawab sang Ibu.

    ***

     
  • erva kurniawan 6:23 am on 17 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: mengatasi bau mulut,   

    Puasa Tanpa Bau 

    Allah SWT memerintahkan puasa pada orang-orang beriman, tujuannya agar mereka lebih bertakwa. Pelaksanaannya di bulan Ramadan dan hari-hari yang telah dianjurkan untuk berpuasa.

    Setiap orang yang berpuasa tentunya ingin tetap sehat. Dr. Samuel Oentoro, MS. dari Klinik Nutrifit, menganjurkan agar orang yang menjalankan puasa tetap mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, yaitu sumber karbohidrat, lemak, protein hewani dan nabati serta asupan sumber mineral dan vitamin, saat sahur maupun buka puasa.

    Dengan demikian, meski sepanjang pagi hingga sore hari tidak makan dan minum, tubuh tetap dalam keadaan sehat dan bugar.

    Meski badan dalam keadaan sehat dan bugar, gangguan sosial kerap dialami oleh orang yang sedang berpuasa, yaitu bau mulut.

    Hal ini dimungkinkan karena sejak batas imsak saat menjelang subuh hingga berbuka ketika magrib, lambung dalam keadaan kosong. Menurut Dr. Rosa dari Klinik Prorevital, Jakarta, keadaan lambung kosong serta hawanya yang keluar lewat mulut menimbulkan bau tak sedap. Terlebih bila orang itu mengalami sakit maag. Bau yang keluar akan lebih menyengat.

    “Sebenarnya dalam keadaan normal saja mulut kita penuh dengan bakteri. Bakteri-bakteri itulah yang menyebabkan bau mulut. Mulut menjadi tidak bau karena terbilas oleh air dan makanan ketika kita tidak berpuasa.

    Mengonsumsi terlalu banyak makan yang beraroma seperti bawang putih pun mengakibatkan bau mulut,” tutur Dr. Rosa.

    **

    Resep atasi bau mulut dan badan

    Ada beberapa jenis tanaman yang cocok untuk mengatasi bau mulut dan bau badan. Tanaman itu mengandung bahan aktif berbau segar dan bermanfaat mematikan atau mengendalikan pertumbuhan bakteri serta memberikan bau harum bagi tubuh.

    Menurut Hj. Sarah Kriswanti S., herbalis asal Bandung, Jawa Barat, tanaman-tanaman itu adalah adas, kapulaga, pegagan, melati, sirih, jeruk nipis, dan kunyit.

    Berikut ini cara meramu bahan-bahan tersebut:

    1. Bahan: 1 sendok teh adas, 1 cangkir daun beluntas, 2 biji kapulaga, 1 gelas air. Cara Membuat: Bahan direbus dalam wadah tertutup dengan api kecil selama setengah jam, diamkan hingga hangat, lalu diperas. Air perasan tersebut dikumur-kumur lalu ditelan. Ramuan ini untuk 3 kali pemakaian. Lakukan hingga beberapa hari.
    2. Bahan: 1 genggam daun beluntas muda. Cara membuat: Daun beluntas dicuci bersih lalu dikukus. Makan sebagai lalap. Lakukan hingga beberapa hari.
    3. Bahan: 3 buah jeruk nipis, kapur sirih secukupnya. Cara membuat: Jeruk nipis diiris-iris. Taburkan kapur sirih pada permukaan irisan jeruk nipis tersebut. Kemudian oleskan pada ketiak, biarkan selama 15 menit. Seteiah itu cuci bersih dengan air. Lakukan setiap selesai mandi.
    4. Bahan: 8 butir kapulaga, 1 cangkir daun pegagan, 2 gelas air. Cara membuat: Kapulaga yang telah dicuci bersih dihancurkan, kemudian dicampur dengan daun pegagan. Tambahkan air, lalu direbus dalam keadaan tertutup hingga mendidih, selama setengah jam. Tetap dalam keadaan tertutup, rebusan didiamkan hingga terasa hangat, kemudian disaring atau diperas. Air perasan diminum setiap pagi pada saat perut masih kosong. Lakukan hal ini selama beberapa hari.
    5. Bahan: 30 buah kuntum bunga melati, 1 gelas air matang. Cara membuat: Bunga melati direndam 1 malam dalam keadaan tertutup dalam wadah plastic atau kaca. Airnya diminum setiap pagi selama lima hari berturut-turut.
    6. Bahan: 5 helai daun sirih, 3 gelas air. Cara Membuat: Daun sirih yang telah dicuci bersih direbus dengan air bersih hingga mendidih selama 15 menit. Biarkan rebusan air hingga dingin dalam keadaan tertutup. Gunakan rebusan air sirih untuk kumur-kumur sebanyak 3 kali sehari. Setiap kali kumur, gunakan 2 sendok makan. Lakukan hal ini hingga beberapa hari.
    7. Bahan: 2 jari kunyit, gula aren secukupnya, 1 gelas air. Cara membuat: Kunyit dicuci bersih lalu diparut dan diremas dengan air. Setelah itu tambahkan gula aren, kemudian aduk-aduk hingga rata. Selanjutnya campuran ini diperas atau disaring. Air perasan diminum sekaligus pada malam hari menjelang tidur. Lakukan hal ini selama beberapa hari.
    8. Bahan: 15 helai daun muda jeruk nipis, tepung beras secukupnya.Cara membuat: Daun jeruk nipis dicuci bersih lalu dihaluskan. Tambahkan tepung beras secukupnya pada halusan daun jeruk nipis. Campuran itu diaduk sampai rata, kemudian bentuklah menyerupai pil, butiran pil tersebut ditelan sebanyak tiga kali sehari satu butir setelah makan. Lakukan hal ini selama beberapa hari.

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 6:17 am on 16 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: , kolak,   

    Kolak Tak Sehat Untuk Berbuka Puasa 

    KOLAK, makanan khas yang selalu ada dalam menu berbuka puasa, menurut ahli nutrisi ternyata bukanlah makanan yang sehat untuk dimakan setelah 14 jam menahan lapar dan haus.

    Pada acara bincang-bincang Cara Mudah Mengikuti Food Combining, di Balai Sidang Jakarta, akhir pecan lalu, ahli nutrisi Wied Harry Apriadji, mengatakan kolak tidak sehat karena mengandung gula dan lemak yang terlalu tinggi. Kombinasi keduanya membuat alat pencernaan secara tiba-tiba bekerja berat, setelah sebelumnya beristirahat seharian.

    Lulusan Institut Pertanian Bogor itu menyarankan agar mengikuti teladan Nabi Mohammmad SAW yang hanya makan kurma dan minum air putih untuk berbuka. Karena meskipun mengandung gula yang kadarnya cukup tinggi, dan sama-sama manis seperti kolak, karbohidrat yang dikandung kurma mudah dicerna.

    “Dalam berpuasa yang harus ditekankan adalah nilai spiritualnya. Puasa akan menjadi percuma kalau kita hanya mengubah jam makan yang harusnya siang menjadi malam,” ujar Wied.

    Menurut Wied, dalam analisa nutrisi, orang yang hanya minum air putih selama 40 hari tidak akan sakit dan meninggal. Kebutuhan nutrisinya juga akan terpenuhi. “Kan kalau berpuasa kita tidak banyak keinginan sehingga nutrisi tidak banyak terkuras. Saat berpuasa semuanya akan lebih tenang, nutrisi lebih dihemat,” kata konsultan gizi yang juga redaktur sebuah majalah kesehatan itu.

    Wied pernah menerapkan pola makan Food Combaining dengan cara mengonsumsi buah dan sayur secara terpisah, dan porsinya sama dengan asupan karbohidrat serta protein ke dalam tubuh. Selain itu, protein dan karbohidrat juga tidak dimakan bersamaan.

    Cara makan seperti itu dibuat dengan mempertimbangkan lamanya proses pencernaan dalam tubuh agar nutrisi zat makanan dapat diserap secara sempurna. Pola makan semacam itu tetap ia terapkan saat menjalankan puasa. Meskipun porsi makan menjadi lebih sedikit. Namun, dengan penyerapan yang maksimal, tubuh tetap dapat menjalankan aktivitas sehari-hari secara normal. (am)

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 5:58 am on 15 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: ,   

    Sahur dan Buka Puasa 

    Rasa lapar dan haus saat puasa lebih merupakan efek sesaat yang dapat diatur. Dengan kata lain, rasa lapar dan haus bukanlah tanda mutlak dari kebutuhan tubuh akan makanan.

    Kebutuhan energi, untuk bekerja misalnya, bias dipenuhi dari cadangan energi pada hati, otot, lemak di bawah kulit, dan lain-lain. Justru berpuasa merupakan kesempatan memobilisasi timbunan lemak. Puasa juga mengistirahatkan “mesin pencernaan” selama beberapa jam.

    Oleh karena itu, puasa tidak harus menimbulkan gangguan kesehatan, bahkan dalam banyak kasus justru membuat tubuh lebih sehat. Untuk itu diperlukan pengaturan berbuka dan makan sahur yang benar. Berbuka dan makan sahur tidaklah sekadar memasukkan makanan.

    Selama berpuasa, kadar gula dalam darah lebih rendah dibandingkan dengan keadaan tidak berpuasa. Padahal, gula merupakan sumber tenaga yang segera dapat digunakan. Gula inilah yang perlu segera diperoleh saat berbuka puasa, tetapi jangan berlebihan sebab akan mengganggu kenikmatan menyantap menu utama.

    Berikut saran Dr. H. Anies, MKK, PKK, Dosen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang, dalam memilih menu sehat saat berbuka dan sahur.

    1. Ada kebiasaan salah yang dulakukan sebagian orang, yaitu minum air es atau es yang dicampur ke dalam minuman sebelum menyantap makanan. Cara ini sangat merugikan karena es dapat menahan rasa lapar. Akibatnya, hidangan lain yang lebih bergizi bisa tidak disantap, sehingga mengurangi asupan nutrisi yang diperlukan. Hindari minum es saat buka puasa.
    2. Saat berbuka mulailah dengan minuman manis hangat dan makanan ringan yang mudah dicerna. Bisa teh manis, sirop, ditemani kurma, pisang goreng, atau pisang sale. Setelah kadar gula darah berangsur-angsur normal bisa dilakukan salat magrib.
    3. Setengah jam kemudian barulah nikmati menu utama. Makanlah secukupnya. Dua jam kemudian, setelah salat tarawih, dapat menyantap hidangan yang masih ada.
    4. Makan sahur jangan dianggap sepele. Tidak jarang orang enggan bangun, padahal makan sahur sangat penting untuk mengimbangi zat gizi yang tidak diperoleh tubuh selama sehari berpuasa. Makan sahur jangan asal kenyang, tetapi harus bergizi tinggi. Hidangan sahur harus bias menjadi cadangan kalori dan protein, serta membuat lambung tidak cepat hampa makanan.

    Dengan demikian, rasa lapar tidak cepat dirasakan. Makanan yang cukup mengandung protein dan lemak adalah nasi; telur, dendeng, rendang, ikan, dan tentu saja sayuran. Dengan berbuka dan sahur secara sehat, berbagai gangguan kesehatan bisa dihindari. Namun, bukan berarti semua orang sakit boleh berpuasa. Hal itu sangat bergantung pada kondisi pasien dan penyakitnya. @ ken

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat

     
    • katauchengi 7:04 pm on 17 Juli 2012 Permalink

      terima kasih infonya … sy sih makan sahur ala kadarnya saja, teergantung apa yang tersedia di warung… namanya juga anak kos-kosan ;p

  • erva kurniawan 6:28 pm on 14 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Riya’ 

    lily waterPada satu waktu sahur, seorang Abid membaca al-Qur’an al-Karim, surah “Thaha”, di biliknya yang berhampiran dengan jalan raya. Selesai membaca, dia berasa amat mengantuk, lalu tertidur.

    Dalam tidurnya itu dia bermimpi melihat seorang lelaki turun dari langit membawa naskah al-Qur’an al-Karim. Lelaki itu datang menemuinya dan segera membuka kitab suci itu di depannya. Didedahkannya surah “Thaha” dan dibiliknya halaman demi halaman untuk tatapan si Abid.

    Si Abid melihat setiap kalimah surah itu dicatatkan sepuluh kebajikan sebagai pahala bacaannya kecuali satu kalimah sahaja yang catatannya dipadamkan. Lalu katanya, “Demi Allah, sesungguhnya telah kubaca seluruh surah ini tanpa meninggalkan satu kalimah pun. Tetapi kenapakah catatan pahala untuk kalimah ini dipadamkan?”

    Lelaki itu berkata, “Benarlah seperti katamu itu. Engkau memang ttidak meninggalkan kalimah itu dalam bacaanmu tadi. Malah, untuk kalimah itu telah kami catatkan pahalanya, tetapi tiba-tiba kami terdengar suara yang menyeru dari arah ‘Arasy: ‘Padamkan catatan itu dan gugurkan pahala untuk kalimah itu’. Maka sebab itulah kami segera memadamkannya”.

    Si Abid menangis dalam mimpinya itu dan berkata, “Kenapakah tindakan itu dilakukan?”

    ” Sebabnya engkau sendiri. Ketika membaca surah itu tadi, seorang hamba Allah melewati jalan di depan rumahmu. Engkau sedar hal itu, lalu engkau meninggikan suara bacaanmu supaya didengar oleh hamba Allah itu. Kalimah yang tiada catatan pahala itulah yang telah engkau baca dengan suara tinggi itu”.

    Si Abid terjaga dari tidurnya. “Astaghfirullaahal-‘Azhim! Sungguh licin virus riya’ menyusup masuk ke dalam kalbuku. Dan, sungguh besar kecelakaannya. Dalam sekejap mata saja ibadahku dimusnahkannya. Benarlah kata alim ulama, serangan penyakit riyak atau ujub, boleh membinasakan amal ibadat seseorang hamba Allah selama tujuh puluh tahun”.

    ***

    Sumber unknown

     
  • erva kurniawan 9:15 am on 13 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: ,   

    Sedekah Berbuka Pahalanya Besar 

    ramadhan 2Ibn ‘Abaas berkata, “Rasulullah adalah orang yang paling banyak bersedekah dan baginda memperbanyakkan sedekah di bulan ramadhan iaitu bulan di mana Jibrael bertemu baginda setiap malam dari awal hingga akhir Ramadhan.” (alBukhari). Sabda Rasulullah SAW “Barangsiapa yang memberi makan (berbuka) untuk orang yang berpuasa ia akan mendapat pahala yang sama banyaknya dengan pahala puasa orang yang diberi makan itu, tanpa mengurangkan sedikitpun pahala orang itu.” Riwayat (at-Tirmidzi)

    Ibnu Abbas meriwayatkan bahawa Nabi Muhammad bersabda yang bermaksud: “Apabila datang hari pertama Ramadan, maka bertiuplah angin ‘Al-Mutsiiratu’ dari Arsy dan menggerakkan daun pohon syurga hingga terdengar sayup-sayup suara merdu yang tidak pernah terdengar oleh sesiapa pun. “Bidadari melihat dan mendengar ke arah sayup-sayup suara merdu itu sambil berkata: “Ya Allah, jadikan kami pada bulan ini (Ramadan) sebagai isteri hamba-hamba- Mu. Maka Allah mengahwinkan hamba-Nya yang berpuasa pada bulan Ramadan dengan bidadari cantik.”

    Ini adalah salah satu cebisan kebaikan dan ketinggian Ramadan yang sedang dilalui umat Islam. Kita harus bersyukur kerana dapat berada dalam Ramadan al-Mubarak, iaitu bulan awalnya rahmat, pertengahannya pengampunan dan akhirnya merdeka (terlepas) daripada api neraka.

    Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim daripada Abu Hurairah, Rasulullah bersabda yang bermaksud: “Barang siapa menahan tidur serta beramal pada Ramadan dengan beriman bersungguh-sungguh akan kelebihannya serta ikhlas semata-mata kerana Allah, nescaya diampuni segala dosanya yang lalu.”

    Bulan Ramadan mempunyai lima keistimewaan yang tidak ada pada bulan yang lain, iaitu puasa selama sebulan, Lailatul Qadar, zakat fitrah, Nuzul Quran dan amal kebajikan.

    Salman Al Farisi meriwayatkan: “Dalam sebuah hadis panjang, Rasulullah berkhutbah di hadapan kami pada akhir bulan Syaaban. Baginda berpesan yang bermaksud: “Wahai umat manusia, sesungguhnya kami naungi bulan yang mulia lagi diberkati kerana Ramadan itu adalah bulan kesabaran dan sabar itu balasannya adalah syurga. Ramadan juga adalah bulan yang padanya ditambah Allah rezeki orang mukmin.“Barang siapa yang memberi makan kepada orang yang berbuka puasa pada bulan ini, adalah baginya pahala seperti memerdekakan seorang hamba dan dosa-dosanya pula diampunkan.”

    ***

    Sumber: Daarut Tauhid

     
  • erva kurniawan 8:51 am on 12 August 2010 Permalink | Balas
    Tags:   

    Akibat Enggan Menunaikan Puasa Ramadhan 

    ramadhan1“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah [2] : 183)

    Hukum Puasa Ramadhan

    Puasa Ramadhan itu wajib bagi setiap muslim yang baligh (dewasa), berakal, dalam keadaan sehat, dan dalam keadaan mukim (tidak melakukan safar/perjalanan jauh). Yang menunjukkan bahwa puasa Ramadhan adalah wajib yaitu firman Allah Ta’ala,

    “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah [2] : 183)

    Hal ini dapat dilihat pula pada pertanyaan seorang Arab Badui kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang badui ini datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan berambut kusut, kemudian dia berkata kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,”Beritahukan aku mengenai puasa yang Allah wajibkan padaku.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    “(Puasa yang wajib bagimu adalah) puasa Ramadhan. Jika engkau menghendaki untuk melakukan puasa sunnah (maka lakukanlah). “ (HR. Bukhari)

    Dan kaum muslimin juga telah sepakat tentang wajibnya puasa ini dan sudah ma’lum minnad dini bidhoruroh yaitu seseorang akan kafir jika mengingkari wajibnya hal ini. Puasa ramadhan ini tidak gugur bagi orang yang telah dibebani syari’at kecuali apabila terdapat ‘udzur (halangan). Di antara ‘udzur sehingga mendapatkan keringanan dari agama ini untuk tidak berpuasa adalah orang yang sedang bepergian jauh (safar), sedang sakit, orang yang sudah berumur lanjut (tua renta) dan khusus bagi wanita apabila sedang dalam keadaan haidh, nifas, hamil atau menyusui (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, II/89, 118-127)

    Peringatan bagi Orang yang Sengaja Membatalkan Puasa

    Pada zaman ini kita sering melihat banyak di antara kaum muslimin yang meremehkan kewajiban yang agung ini. Jika kita lihat di bulan Ramadhan di jalan-jalan ataupun tempat-tempat umum, banyak orang yang mengaku muslim tidak melakukan kewajiban ini atau sengaja membatalkannya. Mereka malah terang-terangan makan dan minum di tengah-tengah saudara mereka yang sedang berpuasa tanpa merasa berdosa sama sekali. Padahal mereka adalah orang-orang yang diwajibkan untuk berpuasa dan tidak punya halangan sama sekali. Mereka adalah orang-orang yang bukan sedang bepergian jauh, bukan sedang berbaring di tempat tidur karena sakit dan bukan pula orang yang sedang mendapatkan halangan haidh atau nifas.

    Mereka semua adalah orang yang mampu untuk berpuasa.  Sebagai peringatan bagi saudara-saudaraku ini yang masih saja enggan untuk menahan lapar dan dahaga pada bulan yang diwajibkan puasa bagi mereka, kami bawakan sebuah kisah dari sahabat Abu Umamah Al Bahili radhiyallahu ‘anhu. Beliau (Abu Umamah) menuturkan bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    “Ketika aku tidur, aku didatangi oleh dua orang laki-laki, lalu keduanya menarik lenganku dan membawaku ke gunung yang terjal. Keduanya berkata,”Naiklah” . Lalu kukatakan,”Sesunggu hanya aku tidak mampu.” Kemudian keduanya berkata,”Kami akan memudahkanmu” . Maka aku pun menaikinya sehingga ketika aku sampai di kegelapan gunung, tiba-tiba ada suara yang sangat keras. Lalu aku bertanya,”Suara apa itu?” Mereka menjawab,”Itu adalah suara jeritan para penghuni neraka.” Kemudian dibawalah aku berjalan-jalan dan aku sudah bersama orang-orang yang bergantungan pada urat besar di atas tumit mereka, mulut mereka robek, dan dari robekan itu mengalirlah darah. Kemudian aku (Abu Umamah) bertanya,”Siapakah mereka itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Mereka adalah orang-orang yang berbuka (membatalkan puasa) sebelum tiba waktunya.” (HR. An Nasa’i dalam Al Kubra, sanadnya shahih. Lihat Shifat Shaum Nabi, hal. 25).

    Lihatlah siksaan bagi orang yang membatalkan puasa dengan sengaja dalam hadits ini, maka bagaimana lagi dengan orang yang enggan berpuasa sejak awal Ramadhan dan tidak pernah berpuasa sama sekali. Renungkanlah hal ini, wahai saudaraku!

    ***

    Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

     
  • erva kurniawan 5:12 pm on 11 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: bulan puasa, marhaban ya ramadhan, ,   

    Marhaban Ya Ramadhan 

    ramadhanAssalamualaikum,

    Berikut tulisan Prof. Quraish Shihab mengenai Puasa, yang dikutip dari buku beliau yang berjudul: WAWASAN AL-QURAN Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, M.A., Penerbit Mizan

    **

    MARHABAN YA RAMADHAN

    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “marhaban” diartikan sebagai “kata seru untuk menyambut atau menghormati tamu (yang berarti selamat datang).” Ia sama dengan ahlan wa sahlan yang juga dalam kamus tersebut diartikan “selamat datang.”

    Walaupun keduanya berarti “selamat datang” tetapi penggunaannya berbeda. Para ulama tidak menggunakan ahlan wasahlan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan, melainkan “marhaban ya Ramadhan”.

    Ahlan terambil dari kata ahl yang berarti “keluarga”, sedangkan sahlan berasal dari kata sahl yang berarti mudah. Juga berarti “dataran rendah” karena mudah dilalui, tidak seperti “jalan mendaki”. Ahlan wa sahlan, adalah ungkapan selamat datang, yang dicelahnya terdapat kalimat tersirat yaitu, “(Anda berada di tengah) keluarga dan (melangkaLkar1 kaki di) dataran rendah yang mudah.”

    Marhaban terambil dari kata rahb yang berarti “luas” atau “lapang”,  sehingga marhaban menggambarkan bahwa tamu disambut dan diterima dengan dada  lapang, penuh kegembiraan serta dipersiapkan baginya ruang yang luas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya. Dari akar kata yang sama dengan “marhaban”, terbentuk kata rahbat yang antara lain berarti “ruangan luas untuk kendaraan, untuk memperoleh perbaikan atau kebutuhan pengendara guna melanjutkan perjalanan.” Marhaban ya Ramadhan berarti “Selamat datang Ramadhan” mengandung arti bahwa kita menyambutnya dengan lapang dada, penuh kegembiraan; tidak dengan menggerutu dan menganggap kehadirannya “mengganggu ketenangan” atau suasana nyaman kita.

    Marhaban ya Ramadhan, kita ucapkan untuk bulan suci itu, karena kita mengharapkan agar jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah Swt.

    Ada gunung yang tinggi yang harus ditelusuri guna menemui-Nya, itulah nafsu. Di gunung itu ada lereng yang curam, belukar yang lebat, bahkan banyak perampok yang mengancam, serta iblis yang merayu, agar perjalanan tidak melanjutkan.  Bertambah tinggi gunung didaki, bertambah hebat ancaman dan rayuan, semakin curam dan ganas pula perjalanan. Tetapi, bila tekad tetap membaja, sebentar lagi akan tampak cahaya benderang, dan saat itu, akan tampak dengan jelas rambu-rambu jalan, tampak tempat-tempat indah untuk berteduh, serta telaga-telaga jernih untuk melepaskan dahaga. Dan bila perjalanan dilanjutkan akan ditemukan kendaraan Ar-Rahman untuk mengantar sang musafir bertemu dengan kekasihnya, Allah Swt. Demikian kurang lebih perjalanan itu dilukiskan dalam buku Madarij As-Salikin.

    Tentu kita perlu mempersiapkan bekal guna menelusuri jalan itu. Tahukah Anda apakah bekal itu? Benih-benih kebajikan yang harus kita tabur di lahan jiwa kita. Tekad yang membaja untuk memerangi nafsu, agar kita mampu menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat dan tadarus, serta siangnya dengan ibadah kepada Allah melalui pengabdian untuk agama, bangsa dan negara. Semoga kita berhasil, dan untuk itu mari kita buka lembaran Al-Quran mempelajari bagaimana tuntunannya.

    **

    PUASA MENURUT AL-QURAN

    Al-Quran menggunakan kata shiyam sebanyak delapan kali, kesemuanya dalam arti puasa menurut pengertian hukum syariat. Sekali Al-Quran juga menggunakan kata shaum, tetapi maknanya adalah menahan diri untuk tidak bebicara:

    Sesungguhnya Aku bernazar puasa (shauman), maka hari ini aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun (QS Maryam [19]: 26).

    Demikian ucapan Maryam a.s. yang diajarkan oleh malaikat Jibril ketika ada yang mempertanyakan tentang kelahiran anaknya (Isa a.s.). Kata ini juga terdapat masing-masing sekali dalam bentuk perintah berpuasa di bulan Ramadhan, sekali dalam bentuk kata kerja yang menyatakan bahwa “berpuasa adalah baik untuk kamu”, dan sekali menunjuk kepada pelaku-pelaku puasa pria dan wanita, yaitu ash-shaimin wash-shaimat.

    Kata-kata yang beraneka bentuk itu, kesemuanya terambil dari akar kata yang sama yakni sha-wa-ma yang dari segi bahasa maknanya berkisar pada “menahan” dan “berhenti atau “tidak bergerak”. Kuda yang berhenti berjalan dinamai faras shaim. Manusia yang berupaya menahan diri dari satu aktivitas –apa pun aktivitas itu– dinamai shaim (berpuasa). Pengertian kebahasaan ini, dipersempit maknanya oleh hukum syariat, sehingga shiyam hanya digunakan untuk “menahan diri dar makan, minum, dan upaya mengeluarkan sperma dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari”.

    Kaum sufi, merujuk ke hakikat dan tujuan puasa, menambahkan kegiatan yang harus dibatasi selama melakukan puasa. Ini mencakup pembatasan atas seluruh anggota tubuh bahkan hati dan pikiran dari melakukan segala macam dosa.

    Betapa pun, shiyam atau shaum –bagi manusia– pada hakikatnya adalah menahan atau mengendalikan diri. Karena itu pula puasa dipersamakan dengan sikap sabar, baik dari segi pengertian bahasa  (keduanya berarti menahan diri) maupun esensi kesabaran dan puasa.

    Hadis qudsi yang menyatakan antara lain bahwa, “Puasa untuk-Ku, dan Aku yang memberinya ganjaran” dipersamakan oleh banyak ulama dengan firman-Nya dalam surat Az-Zumar (39): 10.

    Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.

    Orang sabar yang dimaksud di sini adalah orang yang berpuasa.

    Ada beberapa macam puasa dalam pengertian syariat/hukum sebagaimana disinggung di atas.

    1. Puasa wajib sebutan Ramadhan.
    2. Puasa kaffarat, akibat pelanggaran, atau semacamnya.
    3. Puasa sunnah.

    Tulisan ini akan membatasi uraian pada hal-hal yang berkisar pada puasa bulan Ramadhan.

    **

    PUASA RAMADHAN

    Uraian Al-Quran tentang puasa Ramadhan, ditemukan dalam suratAl-Baqarah (2): 183, 184, 185, dan 187. Ini berarti bahwa puasa Ramadhan baru diwajibkan setelah Nabi Saw. tiba di Madinah, karena ulama Al-Quran sepakat bahwa surat A1-Baqarah turun di Madinah. Para sejarawan menyatakan bahwa kewajiban melaksanakan puasa Ramadhan ditetapkan Allah pada 10 Sya’ban tahun kedua Hijrah.

    Apakah kewajiban itu langsung ditetapkan oleh Al-Quran selama sebutan penuh, ataukah bertahap? Kalau melihat sikap Al-Quran yang seringkali melakukan penahapan dalam perintah-perintahnya, maka agaknya kewajiban berpuasa pun dapat dikatakan demikian. Ayat 184 yang menyatakan ayyaman ma’dudat (beberapa hari tertentu) dipahami oleh sementara ulama sebagai tiga hari dalam sebutan yang merupakan tahap awal dari kewajiban berpuasa. Hari-hari tersebut kemudian diperpanjang dengan turunnya ayat 185:

    Barangsiapa di antara kamu yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) pada bulan itu (Ramadhan), maka hendaklah ia berpuasa (selama bulan itu), dan siapa yang sakit atau dalam perjalanan, maka wajib baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya.

    Pemahaman semacam ini menjadikan ayat-ayat puasa Ramadhan terputus-putus tidak menjadi satu kesatuan. Merujuk kepada ketiga ayat puasa Ramadhan sebagai satu kesatuan, penulis lebih cenderung mendukung pendapat ulama yang menyatakan bahwa Al-Quran mewajibkannya tanpa penahapan. Memang, tidak mustahil bahwa Nabi dan sahabatnya telah melakukan puasa sunnah sebelumnya. Namun itu bukan kewajiban dari Al-Quran, apalagi tidak ditemukan satu ayat pun yang berbicara tentang puasa sunnah tertentu.

    Uraian Al-Quran tentang kewajiban puasa di bulan Ramadhan, dimulai dengan satu pendahuluan yang mendorong umat islam untuk melaksanakannya dengan baik, tanpa sedikit kekesalan pun.

    Perhatikan surat Al-Baqarah (2): 185. ia dimulai dengan panggilan mesra, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu berpuasa.” Di sini tidak dijelaskan siapa yang mewajibkan, belum juga dijelaskan berapa kewajiban puasa itu, tetapi terlebih dahulu dikemukakan bahwa, “sebagaimana diwajibkan terhadap umat-umat sebelum kamu.” Jika demikian, maka wajar pula jika umat Islam melaksanakannya, apalagi tujuan puasa tersebut adalah untuk kepentingan yang berpuasa sendiri yakni “agar kamu bertakwa (terhindar dari siksa).”

    Kemudian Al-Quran dalam surat A1-Baqarah (2): 186 menjelaskan bahwa kewajiban itu bukannya sepanjang tahun, tetapi hanya “beberapa hari tertentu,” itu pun hanya diwajibkan bagi yang berada di kampung halaman tempat tinggalnya, dan dalam keadaan sehat, sehingga “barangsiapa sakit atau dalam perjalanan,” maka dia (boleh) tidak berpuasa dan menghitung berapa hari ia tidak berpuasa untuk digantikannya pada hari-hari yang lain. “Sedang yang merasa sangat  berat berpuasa, maka (sebagai gantinya) dia harus membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.” Penjelasan di atas ditutup dengan pernyataan bahwa “berpuasa adalah baik.”

    Setelah itu disusul dengan penjelasan tentang keistimewaan bulan Ramadhan, dan dari sini datang perintah-Nya untuk berpuasa pada bulan tersebut, tetapi kembali diingatkan bahwa orang yang sakit dan dalam perjalanan (boleh) tidak berpuasa dengan memberikan penegasan mengenai peraturan berpuasa sebagaimana disebut sebelumnya. Ayat tentang kewajiban puasa Ramadhan ditutup dengan “Allah menghendaki kemudahdn untuk kamu bukan kesulitan,” lalu diakhiri dengan perintah bertakbir dan bersyukur. Ayat 186 tidak berbicara tentang puasa, tetapi tentang doa. Penempatan uraian tentang doa atau penyisipannya dalam uraian Al-Quran tentang puasa tentu mempunyai rahasia tersendiri. Agaknya ia mengisyaratkan bahwa berdoa di bu1an Ramadhan merupakan ibadah yang sangat dianjurkan, dan karena itu ayat tersebut menegaskan bahwa “Allah dekat kepada hamba-hamba-Nya dan menerima doa siapa yang berdoa.”

    Selanjutnya ayat 187 antara lain menyangkut izin melakukan hubungan seks di malam Ramadhan, di samping penjelasan tentang lamanya puasa yang harus  dikerjakan, yakni dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.

    Banyak informasi dan tuntunan yang dapat ditarik dari ayat-ayat di atas berkaitan dengan hukum maupun tujuan puasa. Berikut akan dikemukan sekelumit baik yang berkaitan dengan hukum maupun hikmahnya, dengan menggarisbawahi kata atau kalimat dari ayat-ayat puasa di atas.

    ***

     
  • erva kurniawan 8:23 am on 10 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: Tingkatan Puasa   

    Tingkatan Puasa 

    Puasa menurut Hijjatul Islam Imam Ghazali yang lahir di Thus suatu tempat di Khurasa Iran pada tahun 450 H atau tahun 1058 M. dengan nama Asli Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al Imam abu Hamid Al Ghazali, ada tingkatan, antara lain:

    A. Puasa Orang Umum

    Puasa ini dilakukan dengan jalan menahan lapar, haus serta hubungan seksual. Bagi orang yang sampai pada taraf puasa ini, menurut hemat saya perlu diingat petuah Rasulullah saw, bahwa, “Adakalanya orang puasa itu tidak mendapat pahala apa-apa dari puasanya, kecuali haus” (HR. Nasai)

    B. Puasa Orang Khusus

    Selain menahan lapar, haus, bersetubuh maka puasa orang khusus ditambah dengan menahan mata, telinga, lidah, tangan, kaki dan anggota badan lainnya mulai ujung rambut ke ujung kaki dari berbagai macam kedosaan.

    “Puasa itu bukan sekedar menahan makan minum, tetapi puasa yang sungguh-sungguh itu menahan diri dari perkataan-perkataan kotor dan caci maki.” (HR. Muslim)

    Bahkan Allah sendiri tidak memerlukan puasanya orang-orang yang tidak sanggup mengekang lidahnya dari perkataan² bohong dan kepalsuan. meskipun ia kuat menahan lapar dan haus.

    “Barang siapa yg tidak sanggup mengendalikan lisannya dari memperkatakan kebohongan, kepalsuan, bahkan dengan kepalsuan itu juga ia bertingkah laku, maka Allah tidak memerlukan puasanya, walaupun ia sudah membuktikan meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari)

    C. Puasa Orang Khususnya Khusus

    Puasa ini, selain memenuhi syarat puasa orang umum dan puasa orang khusus, juga hatinya berpuasa, yaitu menahan diri dari berbagai perhatian yang rendah, pemikiran seputar keduniawian. Ringkasnya menahan diri dari segala sesuatu yang selain Allah secara menyeluruh.

    Dalam sebuah hadits nabi saw. Bersabda, “Ingatlah bahwa dalam tubuh manusia terdapat segumpal darah, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya, dan apabila ia rusak maka rusak pula seluruh tubuh. Ingatlah, segumpal darah itu ialah hati.”

    Sedang Allah pernah berfirman, “Dan barang siapa beriman kepada Allah. dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS.64:11)

    Berbicara masalah puasa ini, teringatlah kita pada wejangan Ahmad bin Athaillah dalam Kitab Al-Hikam, “Kosongkan hatimu dari masalah keduniawian, maka Allah akan memenuhinya dengan ma’rifat dan rahasia-rahasia ke-Tuhanan. Jangan kau anggap lambat datangnya berbagai macam karunia dari Allah, tapi anggaplah dirimu begitu lambat menghadap Allah.

    ***

    Sumber: Email kiriman dari Sahabat

     
    • dan 5:56 pm on 11 Agustus 2010 Permalink

      Terima kasih anda telah berbagi ilmu yang sangat bermanfaat.

    • maulida 3:48 pm on 22 Agustus 2010 Permalink

      alhamdulillah dapet ilmu hari ini……makasih ya mas…moga ilmunya berkah dan bermanfaat..amiinn

  • erva kurniawan 8:36 am on 9 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: makan   

    Makan 

    Banyak makan sehingga terlalu kenyang dapat mengeraskan hati, melemahkan pemahaman, menguatkan nafsu birahi dan meninggikan amarah. Sedangkan sedikit makan dapat melembutkan hati, menguatkan pemahaman, merendahkan nafsu birahi dan melemahkan nafsu amarah.

    Rasulullah SAW telah bersabda, “Anak Adam tidak memenuhi tempat yang lebih buruk daripada ia memenuhi perutnya. Cukuplah baginya beberapa suap saja untuk menguatkan tulang-tulangnya. Jika tidak mungkin, maka sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum dan sepertiga untuk bernafas”. (HR. Ahmad dan Turmidzi).

    Setan lebih suka menggoda seseorang ketika sedang kenyang. Karena saat itu hati dan bhatin dalam keadaan letih dan ingin istirahat. Ketika sedang mengantuk dan lebih itu rayuan setan lebih mudah masuk kedalam bhatin kita, akhirnya melakukan sesuatu yang dilarang agama. Oleh sebab itu jangan makan terlalu berlebih-lebihan, karena yang berlebih-lebihan itu adalah saudaranya setan. Dalam sebuah riwayat disebutkan “ Sempitkan jalan-jalan setan dengan berpuasa”.

    Contoh yang paling terbaik adalah Rasulullah SAW, karena baginda makan ketika perut tidak terlalu lapar dan berhenti ketika perut tidak terlalu kenyang. Bahkan baginda lebih banyak berpuasa. Baginda melakukan sesuatu dalam bentuk yang sederhana, tidak berlebih-lebihan sehingga menimbulkan kemudaratan.

    Ibrahim bin Adam berkata, “ Barang siapa mampu mengendalikan perutnya, maka ia mampu memelihara agamanya, dan barang siapa yang mampu menguasai rasa laparnya, maka ia mampu menguasai akhlak yang baik, sebab maksiat kepada Allah itu terhindar dari orang yang lapar dan dekat kepada orang yang kenyang.”

    ***

     
  • erva kurniawan 8:59 am on 8 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: , ,   

    Risalah Ringkas Ramadhan Mubarak 

    Oleh : Abu Tauam Al Khalafy

    “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil. Karena itu, barangsiapa diantara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu supaya kamu bersyukur” (Al Qur’an Surat Al Baqarah 185)

    Keutamaan Bulan Ramadhan

    Bulan diwajibkannya umat Islam berpuasa yang mana nantinya dengan Puasa Ramadhan itu mereka akan mendapatkan gelar ketakwaan dari Allah SWT sebagaimana firman-Nya, “Hai orang-orang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Al Baqarah 183)

    Bulan dimana dibukanya pintu-pintu surga, ditutupnya pintu-pintu neraka dan dibelenggunya setan-setan. Rasulullah SAW bersabda, “Jika bulan Ramadhan tiba maka pintu-pintu surga dibuka, sedangkan pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan pun dibelenggu” (HR. Bukhari IV/97 dan Muslim no. 1079)

    Pada bulan ini ada satu malam yang setara dengan 1000 bulan, yaitu malam lailatul qadar. Berkenaan dengan malam lailatul qadar ini Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mendirikan ibadah pada malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala maka akan diberikan ampunan kepadanya atas dosa-dosa yang telah berlalu” (HR. Bukhari IV/217 dan Muslim no. 759)

    Dan disunnahkan membaca doa ini di malam-malam yang diyakini sebagai malam lailatu qadar yaitu diantara 10 malam terakhir di Bulan Ramadhan, “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” yang artinya “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, karena itu berilah maaf kepadaku” (HR. Tirmidzi no. 3760 dan Ibnu Majah no. 3850, hadits ini shahih)

    Keutamaan Puasa Ramadhan

    1. Puasa Ramadhan adalah sebagai puasa untuk mengampuni dosa-dosa yang telah lalu. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, niscaya akan diberikan ampunan kepadanya atas dosa-dosanya yang telah berlalu” (HR. Bukhari IV/99 dan Muslim no. 759)
    2. Dikabulkannya doa dan pembebasan dari api neraka sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya setiap hari, Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka yaitu pada Bulan Ramadhan. Dan sesungguhnya setiap orang muslim memiliki doa yang dipanjatkan, lalu dikabulkan untuknya” (HR. Al Bazzar no. 3142, Ahmad II/254 dan Ibnu Majah no. 1643, hadits ini shahih)

    Rukun-rukun Puasa

    1. Niat, yaitu niat berpuasa pada Bulan Ramadhan harus ada pada malam sebelum puasa karena niat ini wajib ditetapkan pada setiap ibadah dan amalan. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung kepada niatnya. Dan sesungguhnya (balasan) bagi setiap urusan (sesuai dengan) apa yang ia niatkan” (HR. Bukhari I/22 dan Muslim VI/48)
    2. Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, berhubungan badan, haid dan nifas bagi wanita dan hal-hal yang lain yang membatalkan puasa seperti muntah dengan sengaja sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa muntah (tanpa) sengaja, maka tidak ada kewajiban baginya untuk menqadha’nya. Tetapi barangsiapa sengaja muntah, maka wajib baginya menqadha’” (HR. Abu Dawud II/310, At Tirmidzi III/79, Ibnu Majah I/536 dan Ahmad II/498, hadits ini sanadnya shahih sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Haqiiqatush Shiyam hal. 14)
    3. Waktu berpuasa. Orang yang berpuasa harus menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dari sejak terbit fajar (shadiq) sampai matahari tenggelam. Yang demikian itu didasarkan pada firman Allah SWT, “Makan dan minumlah hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam” (QS Al Baqarah 187)

    Sifat orang yang berpuasa yaitu Muslim yang sudah baligh, berakal mampu untuk mengerjakan puasa (orang yang sudah tua renta serta wanita hamil dan menyusui terlepas dari kewajiban berpuasa namun mereka harus membayar fidyah) dan terlepas dari halangan puasa seperti sakit atau berpergian yang mana puasanya harus diganti pada hari yang lain.

    Sahabat Abdullah bin Abbas ra. mengatakan, “Dan sebagai bentuk keringanan oleh Allah SWT kepada orang laki-laki dan wanita yang sudah tua sedang keduanya tidak mampu menjalankan puasa, maka keduanya boleh untuk tidak berpuasa tetapi harus mengganti hal itu dengan memberi makan kepada satu orang miskin setiap harinya. Sedangkan wanita yang hamil dan menyusui, jika keduanya khawatir terhadap anak dan dirinya, maka mereka boleh untuk tidak berpuasa tetapi harus memberi makan seorang miskin setiap hari” (Kitab Al Jaami’ li Ahkaamil Qur’an karya Al Qurthubi II/288)

    Sahabat Abdullah bin Umar ra. pernah ditanyakan tentang seorang wanita hamil dan ia khawatir terhadap kandungannya maka ia menjawab, “Dia boleh tidak berpuasa, tetapi harus memberi makan 1 mud gandum setiap hari kepada satu orang miskin” (HR. Baihaqi IV/230, hadits ini shahih)

    Satu mud itu setara dengan 562,5 gram. Jadi orang-orang yang tidak berpuasa karena tidak mampu atau karena khawatir keselamatan jiwanya atau anak yang dikandung atau yang disusuinya maka harus memberikan makanan seberat 562,5 gram kepada seorang fakir miskin selama Bulan Ramadhan setiap harinya.

    Sunnah-sunnah Puasa Ramadhan

    1. Makan sahur dan mengakhirkan makan sahur. Rasulullah SAW bersabda, “Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah” (HR. Bukhari IV/120 dan Muslim no. 1095). Dari Zaid bin Tsabit ra., bahwa dia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Berapa lama jarak antara adzan dan sahur ?” Lalu Rasulullah SAW menjawab, “Kira-kira sama seperti bacaan 50 ayat” (HR. IV/118 dan Muslim no. 1097)-hadits ini bukan menjelaskan tentang akhir sahur tetapi awal sahur. Namun juga tidak masalah bagi kaum muslimin yang ingin lebih menyegerakan sahurnya di awal waktu.
    2. Meninggalkan perkataan dusta. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata-kata palsu dan mengamalkanya maka Allah tidak memerlukan orang itu untuk meninggalkan makanan dan minumannya (puasanya)” (HR. Bukhari IV/99)
    3. Meninggalkan kata-kata yang tidak bermanfaat dan kata-kata kotor (Ar Rafats). Rasulullah SAW bersabda, “Puasa itu bukan (hanya) dari makan dan minum, tetapi puasa itu dari kata-kata (yang) tidak bermanfaat dan kata-kata kotor” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1996 dan Al Hakim I/430-431, hadits ini shahih)
    4. Menyegerakan berbuka karena menyegerakan berbuka akan mendatangkan kebaikan dan merupakan sunnah. Rasulullah SAW bersabda, “Umat manusia ini akan tetap baik selama mereka menyegerakan berbuka puasa” (HR. Bukhari IV/173 dan Muslim no. 1093)
    5. Berdoa ketika berbuka dengan doa yang diajarkan Rasulullah SAW, “DzaHabazh zhamaa-u wabtallatil ‘uruuqu watsabatal ajru insyaa Allah” yang artinya “ Telah hilang rasa haus dan basah pula urat-urat serta telah ditetapkan pahala, insya Allah” (HR. Abu Dawud II/306, Baihaqi IV/239, Al Hakim I/422, Ibnu Sunni no. 128 dan Ad Daraquthni II/185, hadits ini hasan)

    Ibadah-ibadah pada Bulan Ramadhan

    1. Shalat Tarawih. Sahabat Jabir bin Abdullah ra. berkata, “Bahwa Nabi SAW pada saat menghidupkan malam dengan orang-orang pada Bulan Ramadhan, beliau SAW mengerjakan shalat delapan rakaat dan mengerjakan shalat witir” (HR. Ibnu Hibban no. 920 dan Ath Thabrani, hadits ini hasan)
    2. I’tikaf di Mesjid. I’tikaf berarti tekun dalam melakukan sesuatu. Sahabat Abu Hurairah ra., berkata, “Rasulullah SAW biasa beri’tikaf selama bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Dan pada tahun dimana beliau wafat, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari” (HR. Bukhari IV/245)
    3. Zakat Fitrah. Mengeluarkan zakat ini merupakan kewajiban bagi kaum muslimin pada Bulan Ramadhan. Hal tersebut berdasarkan hadits Abdullah bin Umar ra., “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah (kepada kaum muslimin pada Bulan Ramadhan)” (HR. Bukhari III/291 dan Muslim no. 984, perkataan yang di dalam kurung adalah perkataan Abdullah bin Umar ra.)

    Adapun besarnya zakat fitrah adalah 1 sha’ makanan (setara dengan 2,25 kg) sebagaimana hadits Abu Sa’id Al Khudri ra., “Kami biasa mengeluarkan zakat fitrah berupa 1 sha’ makanan atau 1 sha’ gandum atau 1 sha’ tamr atau 1 sha’ keju atau 1 sha’ anggur kering (kismis)” (HR. Bukhari III/294 dan Muslim no. 985)

    Demikianlah risalah ringkas tentang ibadah dan keutamaan di Bulan Ramadhan, dan semoga apa yang kami tulis ini dapat diambil manfaatnya bagi pembaca untuk dapat mencapai ketakwaan kepada Allah SWT. Akhirnya kami ucapkan Selamat Berpuasa dan Semoga Allah SWT memberikan balasan berlipat ganda bagi kita semua. Amin.

    ***

    Sumber Rujukan :

    1. Meneladani Shaum Rasulullah SAW, Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali dan Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali Abdul Hamid, Pustaka Imam Syafi’i, Bogor, Cetakan Kedua Agustus 2005 M
    2. Meraih Puasa Sempurna, Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath Thayyar, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, September 2004.
     
  • erva kurniawan 1:05 am on 7 August 2010 Permalink | Balas  

    Tepuk Tangan Tingkatkan Kecerdasan Anak 

    Tepuk Tangan Tingkatkan Kecerdasan Anak

    Vera Farah Bararah – detikHealth

    Jakarta, ‘Kalau kau suka hati tepuk tangan… prok…prok’ begitulah kadang-kadang gaya guru TK mengajarkan muridnya bermain sambil belajar. Selain menyenangkan, tepuk tangan juga bisa meningkatkan keterampikan motorik dan kognitif (kecerdasan) anak.

    Peneliti dari Ben-Gurion University of the Negev (BGU) melakukan studi pertama kali mengenai manfaat lagu yang dinyanyikan sambil bertepuk tangan.

    Hasilnya, menunjukkan adanya hubungan langsung dengan peningkatan aktivitas dan keterampilan perkembangan yang penting pada anak-anak, remaja hingga mahasiswa perguruan tinggi.

    “Kami menemukan bahwa anak-anak kelas satu, dua dan tiga sekolah dasar yang menyanyikan lagu ini sambil bertepuk tangan menunjukkan kemampuan yang lebih dibandingkan dengan anak-anak yang tidak ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini,” ujar Dr Idit Sulkin, anggota dari BGU’s Music Science Lab in the Department of the Arts, seperti dikutip dari Sciencedaily, Sabtu (1/5/2010).

    Peneliti juga menemukan tepuk tangan dapat membantu melatih keterampilan motorik anak sehingga dapat menghasilkan tulisan tangan yang rapi, menulis dengan lebih baik serta sedikit membuat kesalahan ejaan.

    Dr Warren Brodsky, seorang psikolog musik yang mengawasi disertasi doktor ini mengungkapkan kegiatan tepuk tangan dapat melatih otak dan mempengaruhi perkembangan daerah otak yang lainnya.

    Manfaat lainnya adalah anak-anak diajarkan melatih integritas sosialnya dengan teman-teman yang lain, sehingga kemampuan sosialisasinya lebih baik.

    Dalam studi ini, Dr Sulkin dan tim pergi ke beberapa kelas sekolah dasar dan memberikan pelatihan lagu sambil bertepuk tangan. Hal ini dilakukannya selama periode waktu 10 minggu.

    Selama penelitian, Dr Sulkin turut bergabung dengan anak-anak untuk bernyanyi. Hal ini untuk melihat apakah anak-anak merasa terhibur dan terpesona dalam menyanyikan lagu sambil bertepuk tangan. Kegiatan ini ternyata menjadi salah satu hiburan bagi anak-anak sekolah dasar.

    “Dalam waktu yang singkat tersebut, anak-anak memiliki kemampuan kognitif yang baik serta membantu kemampuan motoriknya dalam melakukan aktivitas. Karena itu sebaiknya hal ini masuk dalam pendidikan untuk anak usia 6-10 tahun dengan tujuan meningkatkan kemampuan motorik dan kognitifnya,” ujar Dr Sulkin.

    Dr Sulkin menambahkan lagu anak-anak yang dinyanyikan sambil bertepuk tangan ini biasanya dibawakan oleh anak-anak hingga usianya 10 tahun.

    Jika diamati, maka kegiatan ini sangat berfungsi sebagai acuan untuk mengembangkan dan meningkatkan kebutuhan emosional, fisiologis, sosiologis dan kognitif anak-anak hingga ke tahap pertumbuhan berikutnya. (ver/ir)

    ***

    http://health.detik.com/read/2010/05/01/075011/1348994/764/tepuk-tangan-tingkatkan-kecerdasan-anak?l991101755

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 6 August 2010 Permalink | Balas  

    Soul Mate: Where Are You? 

    Soul Mate: Where Are You?

    Narasumber: Ustadz Fathoni

    “21. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (Surat Ar-Rum ayat 21 [QS 30:21])” .

    Setiap orang pasti merindukan untuk dapat memiliki pasangan hidup yang menjadi tempat mencurahkan segala keluh kesah, berbagi suka dan duka, melampiaskan rasa cinta dan sebagainya. Atau seringkali diungkapkan dengan istilah mendapatkan jodoh. Menurut Ustadz Fathoni, jodoh adalah seseorang yang saat ini mendampingi kita dalam berumah tangga, ketika kemudian bercerai maka bisa dikatakan orang tersebut bukan jodoh kita. Namun terkadang jodoh yang diimpikan, kehadiraannya tidak sama bagi setiap orang. Ada yang dimudahkan oleh Allah SWT dalam memperolehnya, ada pula yang sebaliknya.

    Sulit atau mudahnya memperoleh jodoh dapat disebabkan oleh berbagai hal, namun yang sebagian besar karena diri kita sendiri. Kita seringkali mempersullit diri kita sendiri dalam mendapatkan pasangan hidup kita. Penetapan kriteria-kriteria yang sangat ideal, seperti: syarat calon pasangan hidup kita itu haruslah yang berwajah cantik atau tampan, berkulit putih, berpenghasilan tinggi, lulusan Universitas Luar Negeri dan sebagainya. Padahal, semakin tinggi kriteria yang kita tetapkan, maka pemenuhan persyaratan itu akan semakin sulit bukan?

    Rasulullah SAW. Bersabda, “Perempuan itu dikawini karena empat perkara, yaitu: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, atau karena agamanya. Akan tetapi, pilihlah berdasarkan agamanya agar dirimu selamat” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Hadits tersebut memberikan gambaran mengenai kriteria-kriteria yang menjadi bahan pertimbangan seorang lelaki dalam memilih seorang perempuan sebagai isterinya. Kriteria-kriteria tersebut adalah kecantikan, keturunan, kekayaan, dan agamanya. Orang yang mengutamakan kriteria agama dijamin oleh Allah akan memperoleh kebahagiaan dalam berkeluarga.

    Agama atau diin adalah keyakinan yang disertai peribadatan yang sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Bila keyakinan dan peribadatan yang dilakukan seseorang menyimpang dari ketentuan syariat Islam, orang yang melakukannya telah sesat. Untuk mengetahui ketataatan seseorang dalam beragama, kita harus berpedoman dalam ketentuan Al-qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.

    Rasulpun telah mengajarkan sebuah doa yang dipanjatkan dalam meminta diberikan pasangan yang sholeh oleh Allah SWT, yaitu: “Robbi Habli Jauzan Minassholihin” (Ya Allah, bimbinglahlah aku untuk mendapatkan pasangan hidup yang sholehah”

    Jadi dapat disimpulkan bahwa acuan dalam memilih pasangan hidup:

    • Jangan memilih pasangan hidup berdasarkan ukuran fisik.
    • Jangan memilih seseorang untuk menjadi pasangan hidup berdasarkan hitungan rasio / akal.

    Dalam sebuah buku karangan Muhammad Thalib, disampaikan mengenai petunjukmemilih isteri, yang diantaranya sebagai berikut:

    • Taat beragama.
    • Dari Lingkungan yang baik.
    • Perawan.
    • Penyabar.
    • Memikat Hati.
    • Tidak bersolek ketika Keluar Rumah.
    • Amanah.
    • Tabah Menderita.
    • Bukan Pencemburu Buta.
    • Perangai dan kata-katanya menyenangkan.
    • Tidak Materialistis.
    • Hemat (Tidak Boros)
    • Besar Kasih sayangnya kepada anak kecil.

    Agar kita dapat membentuk rumah tangga yang diridhai oleh Allah dan memperoleh kebahagiaan sepanjang hayat, tentunya hanya dapat diwujudkan apabila pasangan kita (jodoh) adalah orang yang taat menjalankan agama. Dan untuk memperoleh jodoh yang taat bergama, tentunya kita harus memperbaiki kualitas keimanan kita dengan makin meningkatkan ibadah kita, juga pengetahuan agama kita dengan jalan banyak membaca buku agama dan menghadiri pengajian. Banyak hadir di Majelis–majelis pengajian dan tempat dimana banyak disebut nama Allah juga akan memudahkan kita memperoleh pasangan hidup yang baik.

    Allah telah berfirman dalam surat an-Nuur ayat 24; “26. Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga) “.

    Wallahu a’lam bisshowab.

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 5 August 2010 Permalink | Balas
    Tags:   

    Antara Cinta dan Thalassemia 

    Antara Cinta dan Thalassemia

    AN Uyung Pramudiarja – detikHealth

    Jakarta, Thalassemia adalah penyakit keturunan yang sulit dicegah. Pasangan berisiko tinggi, sangat dianjurkan untuk tidak menikah karena keturunannya punya peluang terkena penyakit kelainan darah ini. Dilematis memang, sebab manusia kadang tidak bisa memilih dengan siapa mereka akan jatuh cinta.

    Thalassemia merupakan penyakit darah bawaan yang sebenarnya dapat dicegah dengan menghindari memilih pasangan hidup yang membawa gen thalassemia tersebut.

    Penderita thalassemia mengalami kerusakan DNA yang menyebabkan tidak optimalnya produksi sel darah merah sehingga kerap menyebabkan anemia dan seumur hidup harus melakukan transfusi darah.

    Dengan melakukan skrining sebelum menikah, pasangan pembawa gen tersebut bisa mengukur tanggung jawab apa yang harus dilakukan jika hal tersebut terjadi pada keturunannya. Jika masing-masing pasangan memiliki bawaan gen juga bisa memutuskan apakah akan memiliki anak atau tidak.

    Hal ini dirasakan betul oleh Ruswandi, salah satu orangtua penderita thalassemia. Ketika menikah, ia dan pasangannya tidak tahu-menahu tentang thalassemia, hingga akhirnya anak kelimanya didiagnosis menderita thalassemia mayor.

    Berbagai upaya baik medis maupun alternatif telah ditempuh oleh Ruswandi. Pengobatan dan transfusi darah rutin juga dilakukan, namun tidak berhasil. Sekitar 12 tahun lalu, si anak bungsu tersebut akhirnya meninggal pada usia 20 tahun.

    Kehilangan orang yang dicintai juga dialami oleh Aan, warga Mampang Prapatan Jakarta Selatan. Kakak sulungnya meninggal karena pembengkakan jantung, yang merupakan salah satu komplikasi akibat penumpukan zat besi pada penderita thalassemia.

    Aan sendiri juga menderita thalassemia mayor, sehingga harus rutin memompa kelebihan zat besi dalam darahnya. Saat ini ia berusia 28 tahun, dan masih sehat bahkan cukup produktif dengan bekerja sebagai tenaga administrasi di Pusat Thalassemia RSCM.

    Seorang remaja asal Bekasi, Ina juga merasakan ‘kehilangan’ sebagai dampak dari thalassemia yang dideritanya. Karena harus menjalani transfusi darah tiap bulan, ia sering bolos sekolah dan kemudian mendapat cemooh yang tidak menyenangkan dari teman-teman sekolahnya.

    Tak kuat menghadapi tekanan, Ina yang kini berusia 18 tahun memilih berhenti sekolah saat masih duduk di kelas 2 SMA. Meski sempat menyesal, kini ia merasa baik-baik saja dengan hidupnya yang sehari-hari ia lewatkan dengan bermain band.

    Kisah nyata tersebut diceritakan oleh para keluarga maupun penderita thalassemia di acara launching Sahabat Thalassemia ‘2000 untuk Berjuta Harapan’ yang digagas Yayasan Thalassemia Indonesia bekerjasama dengan Prodia, Jumat (29/4/2010).

    Obat-obatan Tidak Menyembuhkan, Hanya Meringankan Gejala

    Menurut Dr. dr. Pustika Amalia Wahidayat, ApA (K) dari Pusat Thalassemia RSCM, penyakit ini tetap harus diobati. Memang bukan untuk menyembuhkan, melainkan untuk mengurangi gejala maupun resiko komplikasi yang dapat timbul karenanya.

    Komplikasi paling berat adalah penumpukan zat besi, akibat rusaknya sel darah merah. Zat besi bisa menumpuk di berbagai organ, terutama jantung. Kerusakan jantung merupakan penyebab utama kematian pada penderita thalassemia.

    Untuk mencegahnya, dr Amalia menyebut obat deferoksiamin yang bisa digunakan secara rutin melalui injeksi. Ada juga yang diminum, antara lain deferiprone dan deferasirox. Fungsinya sama, untuk membuang kelebihan zat besi.

    Selain itu, zat besi juga bisa dibuang dengan alat bernama pompa kelasi besi. Pompa inilah yang dipakai secara rutin oleh Aan dan penderita thalassemia mayor yang lain, sebanyak 5 kali dalam seminggu.

    Bisa Dicegah Dengan Pemeriksaan Darah

    Ongkos perawatan bagi penderita thalassemia tidak bisa dibilang murah. Di banyak negara, biayanya sekitar 30 ribu dolas AS untuk 1 anak tiap tahun. Sementara di Indonesia berkisar antara 200-300 juta rupiah untuk 1 anak tiap tahun.

    Menurut dr Amalia, biaya tersebut tidak sebanding dengan biaya pencegahan yang bisa dilakukan. Untuk melakukan skrining thalassemia, biaya yang dikeluarkan berkisar antara 400-700 ribu rupiah sekali periksa.

    Pemeriksaan seharusnya dilakukan oleh setiap pasangan yang hendak menikah, supaya bisa diketahui seberapa besar kemungkinannya untuk memiliki anak dengan thalassemia. Pasangan beresiko tinggi, sangat dianjurkan untuk tidak menikah.

    Seorang pembawa sifat thalassmia, atau disebut thalassemia minor, tidak akan menampakkan gejala apapun. Namun jika ia menikah dengan sesama thalassemia minor, peluang untuk mendapatkan keturunan thalassemia mayor adalah 25 persen.

    “Susahnya adalah, orang yang merasa sehat pasti tidak merasa perlu untuk melakukan pemeriksaan pra-nikah. Padahal, bisa jadi orang yang sehat itu adalah pembawa sifat thalassemia,” ungkap dr Amalia.

    Jika pasangan thalassemia minor menikah lalu hamil, pemeriksaan masih bisa dilakukan lewat cairan ketuban pada usia kehamilan 10-12 minggu. Hanya saja jika ternyata janin mereka positif thalasemia mayor, pilihannya menjadi lebih sulit karena harus aborsi.

    Beberapa negara maju saat ini memang telah mensyaratkan krining thalassemia bagi pasangan yang hendak menikah. Karena penyakit ini menurun, maka kemungkinan penderitanya akan terus bertambah dari tahun ke tahunnya.

    Di Indonesia setidaknya ada 3.000 bayi lahir menjadi penderita thalesemia. Penderita thalasemia mulai terlihat sejak usia dini atau mulai dari 6 bulan. Jika sudah terkena umumnya memerlukan transfusi rutin 1-2 bulan sekali.(up/ir)

    ***

    http://health.detik.com/read/2010/04/30/145505/1348651/775/antara-cinta-dan-thalassemia?l991101755

    

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 4 August 2010 Permalink | Balas
    Tags:   

    Lakukan Tes Thalassemia Sebelum Menikah 

    Lakukan Tes Thalassemia Sebelum Menikah

    Vera Farah Bararah – detikHealth

    **

    Jakarta, Jumlah penderita thalesemia (kelainan darah) kian bertambah. Setidaknya ada 3.000 bayi lahir di Indonesia tiap tahunnya menjadi penderita thalesemia.

    Sudah saatnya pemerintah melakukan tindakan pencegahan untuk menekan angka penderita thalessemia. Salah satunya dengan mewajibkan skrining thalassemia bagi pasangan yang akan menikah.

    Thallassemia merupakan penyakit darah bawaan yang sebenarnya dapat dicegah dengan menghindari memilih pasangan hidup yang membawa gen thalassemia tersebut.

    Dengan melakukan skrining pasangan pembawa gen tersebut bisa mengukur tanggung jawab apa yang harus dilakukan jika hal tersebut terjadi pada keturunannya. Jika masing-masing pasangan memiliki bawaan gen juga bisa memutuskan apakah akan memiliki anak atau tidak. Penyakit yang juga dikenal sebagai penyakit kelainan darah ini memang penyakit yang dapat merenggut hidup seseorang, bahkan ketika masih dalam kandungan sekalipun.

    Karena penyakit ini menurun, maka kemungkinan penderitanya akan terus bertambah dari tahun ke tahunnya. Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan sebelum menikah sangat penting dilakukan untuk mencegah bertambahnya penderita thalassemia ini.

    Thalassemia merupakan penyakit kelainan darah turunan yang paling banyak terjadi, disebabkan oleh gen yang tidak normal pada darah. Kebanyakan dialami oleh orang-orang Italia, Yunani, Timur Tengah, Asia Tenggara dan Afrika.

    Semuanya berawal dari hemoglobin yang merupakan pembawa atau pengangkut sel darah merah ke seluruh tubuh. Normalnya, hemoglobin terdiri dari 4 rantai asam amino (2 rantai amino alfa dan 2 rantai amino beta) yang bekerja bersama-sama untuk mengikat dan mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.

    Seorang penderita thalassemia tidak dapat memproduksi salah satu atau bahkan kedua jenis asam amino tersebut. Sehingga rantai asam amino pembentuk protein pun gagal dibentuk dan darah menjadi tidak sempurna dan usia sel darahnya menjadi lebih pendek sehingga menyebabkan anemia.

    Berdasarkan gejala klinis dan tingkat keparahannya, thalassemia dibagi menjadi thalassemia mayor dan minor. Thalassemia mayor adalah suatu penyakit darah serius yang bermula sejak awal anak-anak. Thalassemia minor atau disebut juga thalassemia trait atau bawaan adalah orang-orang yang sehat, namun berpotensi menjadi carrier atau pembawa thalassemia.

    Penderita thalassemia mayor tidak dapat membentuk hemoglobin yang cukup di dalam darah mereka, sehingga hampir tidak ada oksigen yang dapat disalurkan ke seluruh tubuh. Lama-kelamaan akan menyebabkan asfiksia jaringan (kekurangan O2), edema, gagal jantung kongestif, maupun kematian.

    Oleh karena itu, penderita thalassemia mayor memerlukan transfusi darah yang sering dan perawatan medis demi kelangsungan hidupnya.

    “Jika salah satu dari orang tuanya (ibu/bapak) mempunyai gen thalassemia, maka si anak akan mendapatkan gen itu juga dan menjadi penderita thalassemia minor, sedangkan jika kedua orang tuanya (ibu dan bapak) memiliki gen tersebut, maka sudah dapat dipastikan si anak akan menderita thalassemia mayor yang memiliki risiko kematian lebih besar bahkan dapat meninggal sewaktu dalam kandungan, tergantung tingkat keparahannya,” ujar Dr. Eva J. Soelaeman SpA(K) dari RSAB Harapan Kita yang diwawancarai detikhealth.

    Dr Eva menjelaskan, penyakit thalassemia termasuk penyakit yang tergolong tinggi angka kejadiannya di Indonesia. “Diperkirakan terdapat jutaan carrier (pembawa sifat genetik thalassemia, namun tidak sakit) yang tidak terdeteksi di tanah air. Potensi mereka besar dalam menurunkan penyakit ini,” ujarnya.

    Oleh karena itu, Dr. Eva pun menyarankan kepada setiap pasangan yang akan menikah untuk melakukan pemeriksaan dan konseling genetik sebelum menikah untuk mengetahui anaknya kemungkinan terlahir thalassemia atau tidak.

    Prevalensi carrier thalassemia di Indonesia mencapai sekitar 3-8%. Jika diasumsikan terdapat 5% saja carrier dan angka kelahiran 23 per mil dari total populasi 240 juta jiwa. Maka diperkirakan terdapat 3000 bayi penderita thalassemia setiap tahunnya.

    Semua thalassemia memiliki gejala yang mirip, tetapi tingkat keparahannya bervariasi, tergantung jenis rantai asam amino yang hilang dan jumlah kehilangannya (mayor atau minor).

    Sebagian besar penderita umumnya mengalami anemia (pucat, sukar tidur, lemas, tidak nafsu makan dan infeksi berulang). Selain itu jantung berdebar-debar yang merupakan suatu usaha untuk memenuhi kebutuhan hemoglobin adalah ciri lainnya. Pembawa sifat thalassemia tidak memiliki ciri khusus, mungkin hanya sekedar anemia ringan.

    Pada thalassemia mayor, penderita dapat mengalami pembesaran limpa dan hati akibat anemia yang lama dan berat, perut membuncit karena pembesaran kedua organ tersebut, sakit kuning (jaundice), luka terbuka di kulit (ulkus/borok), batu empedu, pucat, lesu, sesak napas karena jantung bekerja terlalu berat, yang akan mengakibatkan gagal jantung dan pembengkakan tungkai bawah.

    Penderita thalasemia mayor mulai terlihat sejak usia dini, mulai dari 6 bulan, umumnya memerlukan transfusi rutin 1-2 bulan sekali.

    “Penderita thalassemia mayor juga memilki wajah yang merupakan ciri khas thalassemia mayor, yang disebut facies cooley. Ciri-cirinya adalah batang hidung masuk ke dalam dan tulang pipi menonjol,” ujar Dr. Eva.

    Hal ini diakibatkan karena pada keadaan thalassemia, sumsum tulang bekerja keras mengatasi kekurangan hemoglobin.

    Thalassemia lebih sulit didiagnosis dibandingkan penyakit hemoglobin lainnya. Gejala utama thalassemia adalah anemia. Oleh karena itu, pemeriksaan darah komplit dan rendahnya MCV (mean corpuscular volume) dapat membantu diagnosa thalassemia.

    Sayangnya, hingga saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan pasien dengan thalassemia. Terapi yang dapat digunakan saat ini ialah dengan memberikan transfusi darah dan tambahan asam folat, serta mempertahankan Hb-nya di atas 10g/dl, agar aktivitasnya normal dan dapat melaksanakan kegiatan sehari-hari.

    Namun biaya yang dibutuhkan untuk perawatan optimal satu pasien thalassemia mayor masih lumayan mahal, mencapai Rp 300 jutaan per tahun. Oleh sebab itu, bila ada riwayat keluarga yang menderita thalassemia, sebaiknya seluruh keluarga diperiksa dengan skrining thalassemia yang meliputi CBC (complete blood count), analisis Hb dan pemeriksaan sediaan apus darah tepi.

    Meskipun tidak ada riwayat thalassemia di dalam keluarga, Dr. Eva menyarankan agar tetap melakukan skrining thalassemia bagi seluruh pasangan pra nikah. Mengingat tingginya angka pembawa sifat thalassemia di Indonesia, dan pembawa sifat ini sama sekali sehat atau tidak ada keluhan.

    ***

    http://health.detik.com/read/2009/08/04/092022/1176879/766/lakukan-tes-thalassemia-sebelum-menikah

     
  • erva kurniawan 1:31 am on 3 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: Menjenguk Orang Sakit dan Hukumnya   

    Menjenguk Orang Sakit dan Hukumnya 

    Menjenguk Orang Sakit dan Hukumnya

    (Sumber : Fatwa-fatwa Kontemporer – Dr. Yusuf Al-Qardhawi – Gema Insani Press)

    Orang sakit adalah orang yang lemah, yang memerlukan perlindungan dan sandaran. Perlindungan (pemeliharaan, penjagaan) atau sandaran itu tidak hanya berupa materiil sebagaimana anggapan banyak orang, melainkan dalam bentuk materiil dan spiritual sekaligus.

    Karena itulah menjenguk orang sakit termasuk dalam bab tersebut. Menjenguk si sakit ini memberi perasaan kepadanya bahwa orang di sekitarnya (yang menjenguknya) menaruh perhatian kepadanya, cinta kepadanya, menaruh keinginan kepadanya, dan mengharapkan agar dia segera sembuh. Faktor-faktor spiritual ini akan memberikan kekuatan dalam jiwanya untuk melawan serangan penyakit lahiriah. Oleh sebab itu, menjenguk orang sakit, menanyakan keadaannya, dan mendoakannya merupakan bagian dari pengobatan menurut orang-orang yang mengerti. Maka pengobatan tidak seluruhnya bersifat materiil (kebendaan).

    Karena itu, hadits-hadits Nabawi menganjurkan “menjenguk orang sakit” dengan bermacam-macam metode dan dengan menggunakan bentuk targhib wat-tarhib (menggemarkan dan menakut-nakuti yakni menggemarkan orang yang mematuhinya dan menakut-nakuti orang yang tidak melaksanakannya).

    Diriwayatkan di dalam hadits sahih muttafaq ‘alaih dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda, “Hak orang muslim atas orang muslim lainnya ada lima: menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengantarkan jenazahnya, mendatangi undangannya, dan mendoakannya ketika bersin.”

    Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Berilah makan orang yang lapar, jenguklah orang yang sakit, dan tolonglah orang yang kesusahan.”

    Imam Bukhari juga meriwayatkan dari al-Barra’ bin Azib, ia berkata, “Rasulullah saw. menyuruh kami melakukan tujuh perkara … Lalu ia menyebutkan salah satunya adalah menjenguk orang sakit.”

    Apakah perintah dalam hadits di atas dan hadits sebelumnya menunjukkan kepada hukum wajib ataukah mustahab? Para ulama berbeda pendapat mengenai masalah ini.

    Imam Bukhari berpendapat bahwa perintah disini menunjukkan hukum wajib, dan beliau menerjemahkan hal itu di dalam kitab Shahih-nya dengan mengatakan: “Bab Wujubi ‘Iyadatil-Maridh” (Bab Wajibnya Menjenguk Orang Sakit).

    Ibnu Baththal berkata, “Kemungkinan perintah ini menunjukkan hukum wajib dalam arti wajib kifayah, seperti memberi makan orang yang lapar dan melepaskan tawanan; dan boleh jadi mandub (sunnah), untuk menganjurkan menyambung kekeluargaan dan berkasih sayang.”

    Ad-Dawudi memastikan hukum yang pertama (yakni fardhu kifayah; Penj.).

    Beliau berkata, “Hukumnya adalah fardhu, yang dipikul oleh sebagian orang tanpa sebagian yang lain.”

    Jumhur ulama berkata, “Pada asalnya hukumnya mandub (sunnah), tetapi kadang-kadang bisa menjadi wajib bagi orang tertentu.”

    Sedangkan ath-Thabari menekankan bahwa menjenguk orang sakit itu merupakan kewajiban bagi orang yang diharapkan berkahnya, disunnahkan bagi orang yang memelihara kondisinya, dan mubah bagi orang selain mereka.

    Imam Nawawi mengutip kesepakatan (ijma’) ulama tentang tidak wajibnya, yakni tidak wajib ‘ain.

    Menurut zhahir hadits, pendapat yang kuat menurut pandangan saya ialah fardhu kifayah, artinya jangan sampai tidak ada seorang pun yang menjenguk si sakit. Dengan demikian, wajib bagi masyarakat Islam ada yang mewakili mereka untuk menanyakan keadaan si sakit dan menjenguknya, serta mendoakannya agar sembuh dan sehat.

    Sebagian ahli kebajikan dari kalangan kaum muslim zaman dulu mengkhususkan sebagian wakaf untuk keperluan ini, demi memelihara sisi kemanusiaan.

    Adapun masyarakat secara umum, maka hukumnya sunnah muakkadah, dan kadang-kadang bisa meningkat menjadi wajib bagi orang tertentu yang mempunyai hubungan khusus dan kuat dengan si sakit. Misalnya, kerabat, semenda, tetangga yang berdampingan rumahnya, orang yang telah lama menjalin persahabatan, sebagai hak guru dan kawan akrab, dan lain-lainnya, yang sekiranya dapat menimbulkan kesan yang macam-macam bagi si sakit seandainya mereka tidak menjenguknya, atau si sakit merasa kehilangan terhadap yang bersangkutan (bila tidak menjenguknya).

    Barangkali orang-orang macam inilah yang dimaksud dengan perkataan haq (hak) dalam hadits: “Hak orang muslim terhadap muslim lainnya ada lima,” karena tidaklah tergambarkan bahwa seluruh kaum muslim harus menjenguk setiap orang yang sakit. Maka yang dituntut ialah orang yang memiliki hubungan khusus dengan si sakit yang menghendaki ditunaikannya hak ini.

    Disebutkan dalam Nailul-Authar: “Yang dimaksud dengan sabda beliau (Rasulullah saw.) ‘hak orang muslim’ ialah tidak layak ditinggalkan, dan melaksanakannya ada kalanya hukumnya wajib atau sunnah muakkadah yang menyerupai wajib. Sedangkan menggunakan perkataan tersebut -yakni haq (hak)- dengan kedua arti di atas termasuk bab menggunakan lafal musytarik dalam kedua maknanya, karena lafal al-haq itu dapat dipergunakan dengan arti ‘wajib’, dan dapat juga dipergunakan dengan arti ‘tetap,’ ‘lazim,’ ‘benar,’ dan sebagainya.”

    ***

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 2 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: Keutamaan dan Pahala Menjenguk Orang Sakit   

    Keutamaan dan Pahala Menjenguk Orang Sakit 

    Keutamaan dan Pahala Menjenguk Orang Sakit

    (Sumber : Fatwa-fatwa Kontemporer – Dr. Yusuf Al-Qardhawi – Gema Insani Press)

    Diantara yang memperkuat kesunnahan menjenguk orang sakit ialah adanya hadits-hadits yang menerangkan keutamaan dan pahala orang yang melaksanakannya, misalnya:

    1. Hadits Tsauban yang marfu’ (dari Nabi saw.), “Sesungguhnya apabila seorang muslim menjenguk orang muslim lainnya, maka ia berada di dalam khurfatul jannah.”

    Dalam riwayat lain ditanyakan kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, apakah khurfatul jannah itu?” Beliau menjawab, “Yaitu taman buah surga.”

    2. Hadits Jabir yang marfu’, “Barangsiapa yang menjenguk orang sakit berarti dia menyelam dalam rahmat, sehingga ketika dia duduk berarti dia berhenti disitu (didalam rahmat).”

    3. Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah saw. Bersabda, “Barangsiapa menjenguk orang sakit maka berserulah seorang penyeru dari langit (malaikat), ‘Bagus engkau, bagus perjalananmu, dan engkau telah mempersiapkan tempat tinggal di dalam surga.”

    4. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla akan berfirman pada hari kiamat, ‘Hai anak Adam, Aku sakit, tetapi kamu tidak menjenguk-Ku.’ Orang itu bertanya, ‘Oh Tuhan, bagaimana aku harus menjengukMu sedangkan Engkau adalah Tuhan bagi alam semesta?’ Allah menjawab, ‘Apakah kamu tidak tahu bahwa hamba-Ku si Fulan sedang sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya? Apakah kamu tidak tahu bahwa seandainya kamu menjenguknya pasti kamu dapati Aku di sisinya?’ ‘Hai anak Adam, Aku minta makan kepadamu, tetapi tidak kamu beri Aku makan.’ Orang itu menjawab, ‘Ya Rabbi, bagaimana aku memberi makan Engkau, sedangkan Engkau adalah Tuhan bagi alam semesta?’ Allah menjawab, ‘Apakah kamu tidak tahu bahwa hamba-Ku si Fulan meminta makan kepadamu, tetapi tidak kauberi makan? Apakah kamu tidak tahu bahwa seandainya kamu beri makan dia niscaya kamu dapati hal itu di sisiKu?’ ‘Wahai anak Adam, Aku minta minum kepadamu, tetapi tidak kamu beri minum.’ Orang itu bertanya, ‘Ya Tuhan, bagaimana aku memberi-Mu minum sedangkan Engkau Tuhan bagi alam semesta?’Allah menjawab, ‘Hamba-Ku si Fulan meminta minum kepadamu, tetapi tidak kamu beri minum. Apakah kamu tidak tahu bahwa seandainya kamu memberinya minum niscaya akan kamu dapati (balasannya) itu di sisi-Ku?”

    5. Diriwayatkan dari Ali r.a., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Tiada seorang muslim yang menjenguk orang muslim lainnya pada pagi hari kecuali ia didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga sore hari; dan jika ia menjenguknya pada sore hari maka ia didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga pagi hari, dan baginya kurma yang dipetik di taman surga.” (HR Tirmidzi, dan beliau berkata, “Hadits hasan.”)

    ***

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 1 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Tiket ke Neraka Mahal 

    Oleh M. RIDLO ‘EISY

    SUARANYA sedikit serak dan matanya berkaca-kaca. Ia menuturkan betapa gembira istri dan anak-anaknya waktu mereka diajak makan malam di sebuah restoran di Bandung Utara. “Rasanya sudah lama sekali saya tidak berbincang-bincang dengan istri dan anak-anak saya,” tuturnya.

    “Sekali-sekali makan di luar bersama keluarga sangat menyenangkan. Istri dan anak-anak saya kelihatan sangat berbahagia. Anak-anak saya banyak bercerita tentang berbagai kegiatannya dan juga banyak bertanya tentang berbagai macam hal. “Yang terpenting, kata teman saya itu, biaya untuk membahagiakan keluarga ternyata murah, tidak mahal”.

    **

    LALU ia membandingkan dengan berbagai kegiatannya sebelumnya. Ia bukan pemabuk, hanya sekali-sekali ia mabuk, kalau kelewat batas meminum minuman beralkohol. Pada restoran sedikit di atas kelas menengah, satu gelas single Whiskey dan Tequila adalah Rp 30.000. Kalau ingin gaya sedikit, sebotol Champagne harganya lebih dari Rp 1 juta. “Dengan uang sebanyak itu, saya dapat membahagiakan istri dan anak-anak saya untuk makan-makan di restoran lebih dari lima kali,” katanya.

    Ia juga bukan penyanyi, tetapi ia pintar menyanyi dan suaranya lumayan bagus. Pernah ia berseloroh, “Kalau saya lelah jadi pengusaha, saya akan menjadi penyanyi”. Biasanya, ia minum-minuman keras di karaoke. Biaya yang dikeluarkan untuk menyewa ruang karaoke kelas VIP adalah Rp 1 juta dan untuk lebih meriah ia menyewa pemandu lagu (PL) dengan harga Rp 200.000 per jam.

    “Mas tahu sendirilah,” katanya. “Seringkali saya kebablasan. Dari ruang karaoke pindah ke kamar hotel”. Jumlah uang yang dihamburkannya dalam semalam, menyamai gaji guru besar dalam sebulan.

    “Itu belum seberapa mas,” katanya. Suaranya terdengar bangga namun terselip ada nada pahit. “Pada diskotek yang elite dan mewah, teman saya menyewa hostes dua juta tiap jamnya. Dan Mas dapat memperkirakan berapa besar uang yang harus dibayar teman saya kalau ia membawa hostes itu ke kamar hotel.”

    **

    “Itu adalah bagian dari masa lalu saya Mas,” tambahnya. “Kini saya kembali ke pangkuan keluarga. Kembali kepada istri dan anak-anak saya.”

    “Mungkin inilah yang dinamakan hidayah,” katanya dengan mata menerawang jauh. “Saya hampir bangkrut karena judi. Mula-mula hanya iseng, recehan, seribu dua ribu rupiah, agar main gaplenya lebih serius. Namun, sekali lagi saya kebablasan, sebagian perusahaan saya sudah hilang dalam perjudian itu. Saya diselamatkan oleh rasa letih yang luar biasa, saya istirahat dan berhenti berjudi sehingga tidak semua perusahaan saya lenyap”.

    “Saya hanya sedikit berkomentar, untunglah ia tidak seperti Pendawa Lima yang menjadikan negara sebagai taruhan dalam perjudian dan Pendawa Lima kalah.

    “Ya, untunglah saya tidak seperti Pendawa Lima. Masih ada harta yang tersisa untuk hidup bahagia,” katanya sambil menarik napas lega.

    “Hidup ini aneh,” tambahnya. “Semua yang saya lakukan dahulu itu, seperti mabuk-mabukan, melacur, dan berjudi, adalah tiket menuju neraka yang menyengsarakan. Kenapa lumayan banyak orang mau membeli tiket ke neraka yang harganya sangat mahal?”

    ***

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: