Updates from Mei, 2015 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:09 am on 30 May 2015 Permalink | Balas  

    Mengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (11) 

    lebahMengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (11)

    Harun Yahya

    Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al An’aam, 6: 73)

    Perilaku Lebah: Kebuntuan Bagi Kaum Evolusionis

    Dalam Al Qur’an, Allah mengungkapkan bahwa Dia telah mengilhami lebah dan memerintahkan kepadanya apa yang harus dilakukannya:

    Seperti kita ketahui, lebah mengumpulkan serbuk sari dan menghasilkan madu dengan cara mencampur serbuk sari dengan cairan dari tubuhnya. Untuk menyimpan madu dan membesarkan anak-anaknya, lebah membentuk sel-sel lilin heksagonal (segi enam) yang semuanya amatlah teratur, bersudut sama, dan secara umum sama sebangun. Lebah membangun sarang madu dengan sel-sel itu. Lebih jauh, lebah yang meninggalkan sarang mencari makan dan selalu kembali ke sana memiliki sistem khusus yang diciptakan Allah sehingga dapat menemukan jalan pulang.

    Bagi seekor serangga, mengetahui besarnya sudut astakona, menemukan resep lilin dan merancang sistem yang diperlukan untuk menghasilkannya dalam tubuhnya, dan memasukkan keterangan itu ke dalam DNA-nya sendiri sehingga anggota sejenisnya di masa depan memiliki kemampuan yang sama, sudah pasti tidak mungkin.

    Sudah sendirinya terbukti bahwa lebah telah diajarkan semua hal itu oleh kekuasaan yang lebih tinggi. Dengan kata lain, pengetahuan semacam itu telah diilhamkan dalam dirinya, sebagaimana diungkapkan ayat-ayat di muka.

    Allah, Yang Maha Mengetahui, menjabarkan kepada lebah apa yang harus dikerjakannya, dan lebah bertindak dalam sepenuhnya penerangan ilham itu. Perilaku sadar sedemikian merupakan bukti nyata penciptaan.

    Penelitian sifat-sifat serupa pada hewan mengungkapkan rancangan tanpa cacat dan kesadaran lebih tinggi yang melekat pada makhluk hidup. Hal-hal seperti itu menyempatkan orang sekali lagi mengerti kekuatan Allah yang tak tertandingi. Dia memiliki daya menciptakan makhluk apa pun yang Dia kehendaki dan dengan sifat-sifat apa pun yang Dia kehendaki, memiliki kekuatan tak berbatas, dan Penguasa segala sesuatu.

    Akan tetapi, kaum evolusionis percaya bahwa sifat-sifat luar biasa makhluk hidup muncul tanpa disengaja. Menurut pernyataan tak masuk akal ini, lebah belajar menghitung sudut dan berhasil menularkan pengetahuannya kepada lebah lain secara tidak disengaja atau kebetulan. Ketidaksengajaan juga mendorong munculnya sistem tubuh yg menghasilkan lilin dan madu.

    Sekadar renungan beberapa detik saja sudah cukup untuk melihat bahwa jalan cerita khayal seperti itu adalah jauh dari nalar dan ilmu pengetahuan. Allah menciptakan lebah dan memberinya kesadaran. Keajaiban penciptaan serupa itu menempatkan kaum evolusionis ke dalam sebuah kesulitan tanpa jalan keluar.

    Nabi Sulaiman Mengerti Bahasa Semut

    Telah disinggung di bagian sebelum ini bahwa kaum evolusionis menganggap makhluk hidup adalah karya ketidaksengajaan buta dan peristiwa acak. Dalam pandangan mereka, sekalipun menghadapi fakta bahwa sama sekali tiada bukti yang membenarkan pendapat khayali ini, hewan tidak memiliki kesadaran. Akan tetapi, ada banyak bukti yang membantah pernyataan mereka.

    Tinjaulah kisah dalam Al Qur’an tentang Nabi Sulaiman AS dan seekor semut betina. Menurut ayat-ayat Al Qur’an tersebut, beliau mendengar dan mengerti kata-kata semut itu, sebagaimana diceritakan ayat-ayat berikut ini:

    Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: “Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”; maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu-bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (QS. An Naml, 27: 18-19)

    Seperti ditegaskan ayat ini, seekor semut berkata kepada semut lainnya. Tentu, tidak mungkin makhluk yang dianggap “diciptakan” oleh ketidaksengajaan dapat memiliki sistem komunikasi khusus yang membuatnya mampu menyampaikan pesan kepada masyarakatnya, atau menunjukkan perilaku yang menandakan nalar dan akal. Makhluk yang mewujud karena kehendak Allah akan menunjukkan perilaku sadar dengan cara dan rentang yang dikehendaki Allah. Manusia bisa saja bertukar pikiran dengan makhluk semacam itu, jika Allah menghendakinya.

    Hewan-hewan, yang menurut teori evolusi, diperkirakan tidak memiliki kesadaran, ternyata menampakkan bukti adanya penalaran yang memadai, sebagaimana kita lihat dalam dua contoh ini. Mungkin kita tidak bisa mengharapkan kaum Darwinis untuk mengerti sifat luar biasa pada keadaan ini (Kita kecualikan dari sangkaan apa pun mereka yang berpikir tulus dan mengikuti petunjuk nuraninya). Akan tetapi, mereka yang berkata bahwa mereka percaya kepada keberadaan dan kekuasaan Allah, harus benar-benar memikirkan tanda-tanda semacam itu, sebab semua itu membantah evolusi. Ini, pada gilirannya, memperlihatkan bahwa evolusi tidak dapat dibela dengan cara apa pun yang mungkin.

    Penciptaan Adalah Sebuah Keajaiban

    Mengabaikan kenyataan bahwa Allah memiliki kekuasaan untuk menciptakan dan menghancurkan berperan penting dalam menyebabkan sebagian kaum Muslimin percaya kepada evolusi. Kaum evolusionis Muslim ini ada di bawah pengaruh paham naturalisme, yang menyatakan bahwa hukum-hukum alam tetap sifatnya dan tak berubah, dan bahwa tak sesuatu pun dapat berada di luar itu semua. Namun, ini kekeliruan besar.

    Yang kita maksudkan dengan “hukum alam” lahir dari tindakan Allah menciptakan dan mempertahankan benda dalam sebuah bentuk tertentu. Tidak mungkin semua itu dianggap sebagai sifat-sifat yang muncul dari dalam benda sendiri. Sebagaimana Allah tegaskan, Dia dapat mengubah hukum-hukum itu kapan saja, dan bertindak di luar cakupan semua itu.

    Kita menyebut tindakan Allah yang demikian itu sebagai mukjizat (keajaiban). Bahwa sekawanan penghuni gua yang disebutkan di muka tetap hidup selama lebih dari 300 tahun merupakan sebuah keajaiban di luar hukum-hukum alam. Mereka, yang Allah matikan dan lalu hidupkan kembali, adalah juga keajaiban. Setiap peristiwa terjadi karena Allah menghendakinya terjadi. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam batas-batas hukum tertentu adalah peristiwa “biasa”, sementara selebihnya adalah keajaiban.

    Hal yang mesti dimengerti di sini adalah, Allah tidak dibatasi oleh hukum yang Dia ciptakan. Jika Dia kehendaki, Dia dapat membalikkan semua hukum alam. Mudah bagi Allah melakukan hal itu.

    Karena sudah terperosok ke dalam pengaruh paham naturalisme yang membentuk landasan Darwinisme, para evolusionis Muslim mencoba menjelaskan asal-muasal manusia dan kehidupan lainnya berdasarkan hukum alam. Mereka percaya bahwa Allah membuat makhluk hidup terwujud dengan cara penciptaan yang dibatasi oleh hukum alam, dan karena itu membayangkan bahwa penciptaan disebabkan oleh mutasi, seleksi alam, pembentukan keragaman (variasi), dan satu makhluk hidup berubah menjadi makhluk hidup lain. Akan tetapi, salah besar bagi kaum Muslimin untuk menerima jalan pikiran “naturalis” seperti itu, sebab mukjizat-mukjizat (keajaiban) yang dilukiskan dalam Al Qur’an nyata-nyata mengungkapkan bahwa cara berpikir demikian adalah rapuh landasannya.

    Apabila kita cermati ayat-ayat yang membahas penciptaan makhluk hidup dan manusia, kita melihat bahwa penciptaan ini terjadi secara ajaib dan di luar hukum-hukum alam. Inilah bagaimana Allah mengungkapkan penciptaan makhluk hidup:

    Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya, dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. An Nuur, 24: 25)

    Ayat ini merujuk ke kelompok-kelompok utama makhluk hidup di Bumi (reptil, burung, dan mamalia) dan mengatakan bahwa Allah menciptakan itu semua dari air. Ditinjau lebih seksama, kelompok-kelompok ini tidak diciptakan “dari satu kelompok menjadi kelompok lainnya”, sebagaimana “diramalkan” oleh teori evolusi, namun “dari air”. Dengan kata lain, semua itu dibentuk secara terpisah dari satu zat yang dibentuk Allah.

    Ilmu pengetahuan mutakhir juga menegaskan bahwa satu zat tersebut adalah air, penyusun dasar setiap tubuh yang hidup. Tubuh mamalia adalah kira-kira 70 persen air. Air tubuh setiap makhluk hidup memungkinkan hubungan di antara sel-sel, maupun hubungan di dalam sel dan antar-jaringan. Sudah disepakati bahwa tiada yang bisa hidup tanpa air.

    Namun, sebagian kaum Muslimin keliru menafsirkan ayat di atas, dan mencoba memberinya makna yang lebih sejalan dengan evolusi. Akan tetapi, jelas bahwa fakta penciptaan dari air sama sekali tidak berkaitan dengan evolusi, karena teori itu tidak menyatakan bahwa semua makhluk hidup muncul dari air dan berevolusi. Sebaliknya, teori itu bertahan bahwa makhluk hidup berevolusi dari satu jenis ke jenis lain, pertentangan yang nyata dengan fakta bahwa semua kelompok makhluk hidup diciptakan dari air (dengan kata lain, semua itu diciptakan sendiri-sendiri secara terpisah).

    Penciptaan Manusia Dari Tanah Liat

    Dalam Al Qur’an, Allah mengungkapkan bahwa manusia diciptakan secara ajaib. Untuk menciptakan manusia pertama, Allah membentuk tanah liat, lalu meniupkan ruh ke dalamnya:

    (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.” Maka, apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya”. (QS. Shaad, 38: 71-72)

    Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. (QS. Al Mu’minuun, 23: 12)

    Maka tanyakanlah kepada mereka (musyrik Mekah): “Apakah mereka yang lebih kukuh kejadiannya ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?” Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat. (QS. Ash Shaffaat, 37: 11)

    Terlihat di sini bahwa manusia tidak diciptakan dari kera atau makhluk hidup lainnya, sebagaimana kaum evolusionis Muslim inginkan kita percayai, namun dari tanah liat, suatu zat yang tak-hidup. Allah secara ajaib mengubah zat tak-hidup itu menjadi manusia dan meniupkan ruh ke dalamnya.

    Tidak ada “proses evolusi alamiah” yang bekerja di sini, melainkan penciptaan Allah yang ajaib dan langsung. Nyatanya, firmanNya sebagaimana berikut ini memperlihatkan bahwa manusia diciptakan langsung oleh kekuasaan Allah:

    Allah berfirman: “Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?” (QS. Shaad, 38: 75)

    Singkatnya, Al Qur’an tidak berisikan kisah “evolusi” penciptaan manusia dan makhluk hidup. Sebaliknya, Al Qur’an mengatakan bahwa Allah menciptakan semua makhluk secara ajaib dari zat-zat tak hidup seperti air dan lumpur. Sekalipun demikian, sejarah Islam menunjukkan bahwa sebagian kaum Muslimin terpengaruhi filsafat Yunani kuno, maupun oleh anasir-anasir evolusi dan materialis di kalangan Muslim sendiri, dan lalu mencoba menyesuaikan filsafat itu dengan Al Qur’an.

    Ulama dan pembaharu besar Islam, Imam Ghazali (wafat 1111), menanggapi kecenderungan ini, yang muncul di saat beliau masih hidup, dalam bukunya Tahafut al-Falasifa (Ketaklurusan Para Filsuf) dan buku lainnya. Akan tetapi, bersamaan dengan penyebaran teori evolusi selama abad ke-19 dan ke-20, pandangan-pandangan “penciptaan lewat evolusi” mulai muncul kembali di dunia Islam.

    Bab selanjutnya meninjau kekeliruan-kekeliruan yang dibuat sebagian kaum Muslimin yang membela pandangan-pandangan itu, dan menguraikan ulasan mereka tentang ayat-ayat Al Qur’an yang mereka gunakan untuk membenarkan kedudukan mereka.

    Iklan
     
  • erva kurniawan 1:54 am on 29 May 2015 Permalink | Balas  

    Mengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (10) 

    Reciting-QuranMengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (10)

    Harun Yahya

    Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al An’aam, 6: 73)

    Bagaimana Burung Yang Dibuat Dari Tanah Oleh Nabi Isa Menjadi Hidup

    Allah menganugerahi Nabi Isa AS dengan sifat-sifat metafisik dalam kehidupan di dunia ini, sebagaimana terbaca dalam: … Al Masih ‘Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah). (QS. Ali ‘Imran, 3:45) Beliau datang ke dunia tanpa bapak, berbicara selagi masih dalam buaian, dan menyembuhkan orang yang sakit secara ajaib.

    Lebih lagi, ketika Nabi Isa AS membuat sebuah benda dari tanah liat berbentuk burung, dan meniupnya, burung itu menjadi hidup atas izin Allah. Kenyataan ini dituturkan dalam Al Qur’an:

    Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah …” (QS. Ali ‘Imran,3:49)

    (ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai ‘Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan Ruhul Qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa: dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, Hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku …” (QS. Al Maa-idah, 5: 110)

    Allah dapat seketika menciptakan makhluk hidup dengan cara demikian. Ini salah satu keajaiban dariNya, dan kebenaran penting yang tidak boleh diabaikan oleh kaum Muslimin yang mendukung teori evolusi.

    Contoh serupa menyangkut Nabi Ibrahim AS, dan mengungkapkan bagaimana Allah menganugerahi zat tak-hidup dengan kehidupan:

    Dan ( ingatlah ) ketika Ibrahim berkata : “Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).” Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkanlah di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Dan ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al Baqarah, 2: 260)

    Bagaimana Istri Nabi Zakaria Yang Mandul Memperoleh Anak

    Satu contoh penciptaan yang ajaib adalah tentang kabar gembira yang diterima Nabi Zakaria AS bahwa istri beliau yang mandul akan melahirkan seorang anak:

    Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia. Zakaria berkata: “Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua.” Tuhan berfirman: “Demikianlah.” … (QS. Maryam, 19: 7-9)

    Seperti diungkapkan ayat-ayat di atas, penciptaan adalah masalah yang mudah bagi Allah, yang tidak memerlukan adanya penyebab apa pun untuk menciptakan. Dia menganugerahi Nabi ini dengan seorang putera, dan dengan memerintahkan bahwa hal itu harus “Jadilah!”, istri sang Nabi seketika hamil. Tuhan kita mengungkapkannya dalam lanjutan ayat itu:

    Tuhan berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali.” (QS. Maryam, 19: 9)

    Berbagai Contoh Pembangkitan Kembali dalam Al Qur’an

    Penciptaan dan pembangkitan kembali adalah sepenuhnya di tangan Allah, dan, sama halnya dengan penciptaan, Dia tidak memerlukan penyebab luar dalam hal pembangkitan. ada banyak contoh pembangkitan dalam Al Qur’an.

    Al Qur’an mengungkapkan bahwa setelah mati dan dikuburkan, manusia akan dibangkitkan pada Hari Kiamat:

    Itulah balasan bagi mereka, karena sesungguhnya mereka kafir kepada ayat-ayat Kami dan (karena mereka) berkata: “Apakah bila kami telah menjadi tulang-belulang dan benda-benda yang hancur, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk baru?” Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah kuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya? Maka, orang-orang zalim itu tidak menghendaki kecuali kekafiran. (QS. Al Israa’, 17: 98-99)

    Sebagaimana telah kita lihat, kaum tak beriman tidak percaya bahwa manusia akan diciptakan kembali setelah mati dan menyatu dengan tanah. Contoh ini menyatakan secara ringkas keadaan yang berkaitan dengan teori evolusi. Tuhan kita, Yang akan membentuk kembali tubuh-tubuh manusia dari ketiadaan pada Hari Kiamat, juga menciptakan manusia pertama, Nabi Adam, dari ketiadaan. Ayat-ayat ini sangat penting bagi mereka yang percaya pada Al Qur’an, namun tetap bersikeras untuk percaya gagasan-gagasan evolusionis.

    Dalam kata-kata: “Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu (QS. Al An’aam, 6: 94), Al Qur’an mengacu kepada pembangkitan manusia di Hari Kiamat. Al Qur’an membuat jelas bahwa penciptaan ini akan sama dengan “penciptaan yang pertama”. Setiap orang, yang sudah mati dan menyatu dengan tanah, akan dilahirkan kembali melalui suatu penciptaan ulang di hari kemudian, dan berbentuk manusia. Itulah sebabnya, penciptaan manusia pertama menyerupai penciptaan itu, dan terjadi tidak setahap demi setahap, namun seketika dan dalam cara yang ajaib.

    Ada banyak contoh pembangkitan dalam Al Qur’an. Misalnya, Allah mengizinkan umat Nabi Musa AS untuk mengalaminya, saat Dia mematikan mereka, dan lalu menghidupkan mereka kembali. Ini dijelaskan Al Qur’an sebagai berikut:

    Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang”, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya. Setelah itu, Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur. (QS.Al Baqarah, 2: 55-56)

    Al Qur’an berisi kisah serupa yang melibatkan lagi umat Nabi Musa AS . Allah memerintahkan mereka memukul sesosok mayat dengan daging sapi yang telah disembelih. Sebagaimana Allah ungkapkan pada ayat di atas, Dia melakukan ini untuk memperlihatkan bahwa manusia akan dibangkitkan dan untuk memastikan bahwa mereka beriman. Ini jelas sebuah mukjizat. Akan tetapi, seperti akan kita lihat di bagian ayat selanjutnya, hati orang-orang itu mengeras lagi setelah mukjizat terjadi:

    Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh-menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan. Lalu Kami berfirman: “Pukullah mayat itu dengan sebagian anggota sapi betina itu!”. Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti. Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Baqarah, 2: 72-74)

    Allah memberikan contoh lain:

    Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya (hukum-hukum-Nya) supaya kamu memahaminya. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati? Maka, Allah berfirman kepada mereka: “Matilah kamu.” Kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (QS. Al Baqarah, 2: 242-243)

    Al Qur’an menceritakan contoh lainnya: keadaan yang dihadapi seseorang yang tidak mempercayai kebangkitan setelah kematian. Menurut ayat ini, Allah menyebabkan orang itu mati selama 100 tahun dan lalu membangkitkannya. Akan tetapi, sekalipun begitu lama waktu berlalu, orang itu berpikir ia mati hanya selama sehari atau bahkan kurang.

    Ketika kebenaran ini disampaikan kepadanya, ia akhirnya beriman, sebagaimana kita lihat dalam ayat berikut:

    Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” Maka, Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapa lama kamu tinggal di sini?”. Ia menjawab: “Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari.” Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; dan lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang-belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) dia pun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Baqarah, 2: 259)

    Contoh lain menyangkut sekelompok manusia dalam gua (ashabul kahfi). Yang membedakan kisah ini dengan kisah-kisah lain adalah, dalam kisah ini mereka tidak dimatikan, melainkan hanya jatuh tertidur selama lebih daripada usia manusia yang wajar.

    Kelompok ini terdiri atas orang-orang muda yang taat beragama, yang meninggalkan kaumnya dan mengungsi ke dalam gua, karena kaum itu telah berpaling kepada paham politeisme (bertuhan banyak) dan penyembahan berhala. Akan tetapi, Allah secara ajaib menyebabkan mereka tertidur lebih dari 300 tahun di dalam gua, sebagai berikut:

    Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu. (QS. Al Kahfi, 18 : 11)

    Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi). Katakanlah: “Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tidak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain daripada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.” (QS. Al Kahfi, 18: 25-26)

    Akan tetapi, setelah itu Allah membangunkan mereka. Kisahnya berlanjut:

    Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu). Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk. (QS. Al Kahfi, 18: 12-13)

    Mereka tidak menyadari telah tertidur sekian lamanya. Mereka pikir mereka hanya tertidur selama sehari, atau beberapa jam, padahal sebenarnya selama 309 tahun. Ayat terkait menyatakan:

    Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini) ?” Mereka menjawab: “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari.” Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berada lamanya kamu berada (di sini). Maka, suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seseorang pun.” (QS. Al Kahfi, 18:19)

    Contoh-contoh sejenis yang diberikan dalam Al Qur’an secara langsung mengungkapkan bahwa Allah tidak memerlukan penyebab apa pun dalam penciptaan.

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 28 May 2015 Permalink | Balas  

    Mengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (9) 

    7-Misteri-Iptek-Yang-Belum-TerpecahkanMengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (9)

    Harun Yahya

    Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al An’aam, 6: 73)

    Ilmu Pengetahuan Tentang Ciptaan Allah

    Sejauh ini, kita telah meneliti kekeliruan besar yang dibuat para evolusionis Muslim, yang menerima pernyataan bahwa Allah menggunakan evolusi untuk menciptakan makhluk hidup. Tidak seperti para evolusionis lain, mereka tidak langsung mengatakan bahwa kehidupan muncul tanpa sengaja. Akan tetapi, dengan menyatakan bahwa Allah menggunakan evolusi dalam penciptaan olehNya, mereka suka rela maupun tidak mendukung Darwinisme dalam beberapa hal. Menurut sudut pandang mereka yang keliru, Allah pasti telah menggunakan mekanisme evolusi, seperti mutasi dan seleksi alam.

    Akan tetapi, ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa baik seleksi alam maupun mutasi tidak dapat menciptakan makhluk hidup baru. Dengan kata lain, keduanya tidak berdaya evolusi. Mereka yang mendukung gagasan penciptaan lewat evolusi berpendapat bahwa Allah menggunakan mutasi untuk mengubah data genetis makhluk hidup, sehingga makhluk itu bisa memperoleh organ yang berguna, atau bahwa pertama kali Allah menciptakan makhluk-makhluk purba dan lalu menggunakan seleksi alam untuk mengubahnya menjadi makhluk yang lebih rumit dan menyempurnakannya. Dengan kata lain, Ia menggunakan seleksi alam untuk menambahkan organ baru, membiarkan organ yang ada melemah dan berhenti tumbuh, atau bahkan meniadakannya agar satu makhluk hidup dapat berubah menjadi makhluk hidup lain.

    Adalah wajar bagi orang-orang yang tidak mengetahui perkembangan ilmiah mutakhir untuk beranggapan semacam itu, khususnya jika mereka ingin mendukung evolusi. Akan tetapi, pernyataan semacam itu bertentangan dengan fakta-fakta ilmiah. Lebih lagi, sebagaimana akan kita lihat, Al Qur’an tidak menyebutkan hal yang demikian.

    Satu hal yang harus ditegaskan: Allah tentu saja bisa menggunakan evolusi untuk menciptakan makhluk hidup jika Dia kehendaki. Namun, Al Qur’an tidak berisi tanda-tanda evolusi dan tidak satu ayat pun mendukung pernyataan evolusionis bahwa makhluk hidup muncul tahap-demi-tahap. Ilmu pengetahuan juga mengungkapkan kebohongan pernyataan itu.

    Karena keadaannya sudah teramat jelas, tidak ada peluang bagi Muslim untuk membenarkan dukungannya pada pernyataan itu. Alasan yang memungkinkan terjadinya kekeliruan seperti itu hanyalah kekurangan informasi, rasa rendah diri saat menghadapi kaum evolusionis, dan kepercayaan bahwa karena jumlah pendukung evolusi lebih besar, mereka pastilah benar.

    Allah Menciptakan Alam Semesta Dari Ketiadaan

    Allah menciptakan segalanya, dalam bentuk dan pada waktu yang Dia tetapkan, tanpa menggunakan contoh apa pun, dan dari ketiadaan. Karena Dia suci dari cacat apa pun, dan kaya tanpa membutuhkan apa pun, Dia tidak membutuhkan penyebab, sarana, atau tahap bagi penciptaan olehNya. Tak seorang pun yang boleh teperdaya oleh kenyataan bahwa segala sesuatu itu terkait dengan sebab dan hukum alam tertentu. Namun, Allah adalah di atas semua sebab dan hukum, karena Dia yang menciptakan itu semua.

    Allah, Tuhan Bumi dan langit, bisa saja melenyapkan semua sebab ini jika Dia kehendaki. Misalnya, Dia dapat menciptakan manusia yang tidak memerlukan oksigen untuk hidup, dan akibatnya, tidak memerlukan paru-paru. Menimbang hal ini, mengapa “perlu” Dia menyempurnakan paru-paru, dengan cara membuatnya berevolusi seiring dengan waktu, atau pun melalui mekanisme lainnya? Karena itu, sepenuhnya keliru apabila seseorang menganggap bahwa keagungan dan kekuatan Allah dibatasi oleh nalar dan perasaannya sendiri. Kita dapat memiliki pengetahuan hanya sebatas yang Dia izinkan.

    Allah dapat menggunakan tahap-tahap tertentu dalam penciptaan olehNya jika Dia kehendaki. Misalnya, Dia mengeluarkan tumbuhan dari sebutir benih, atau seorang manusia dari pertemuan sel mani dengan sel telur. Namun tahap-tahap ini, sebagaimana akan kita lihat nanti, sama sekali tidak berkaitan dengan evolusi, dan tidak memberikan tempat bagi ketidaksengajaan dan kebetulan. Setiap tahap dalam merekahnya tumbuhan, atau berubahnya satu sel menjadi seorang manusia “dalam bentuk yang sebaik-sebaiknya”, terjadi berkat sistem sempurna yang diciptakan oleh kekuasaanNya yang tak terhingga.

    Allah menghendaki dan menciptakan Bumi dan langit, semua yang berada di antara keduanya, dan semua makhluk hidup dan tak-hidup. Ini sangat mudah bagiNya, sebagaimana ditunjukkan dalam Al Qur’an:

    Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al An’aam, 6: 73)

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”,  maka jadilah ia. (QS. An Nahl, 16:40)

    Dialah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan sesuatu urusan, Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia. (QS. Al Mu’min, 40: 68)

    Penciptaan itu mudah bagi Allah. Sebagaimana diungkapkan ayat-ayat di atas, Dia hanya perlu berfirman “Jadilah!”, dan dengan begitu menghendaki sesuatu terjadi demikian. Banyak ayat mengungkapkan bahwa Dia menciptakan alam semesta dan makhluk hidup dalam bentuk yang sempurna.

    Kekeliruan besar bagi Muslim, jika menuruti penjelasan yang dipaksakan di hadapan kebenaran yang sudah terang ini, dan membuat pernyataan yang seolah benar bahwa Allah memanfaatkan evolusi untuk menciptakan serta menggunakan mutasi, seleksi alam, dan tahap-tahap peralihan dari kera ke manusia. Sangat keliru memberikan uraian seperti itu, demi harapan diterima di kalangan evolusionis, sebab tiada bukti baik dalam Al Qur’an maupun ilmu pengetahuan.

    Allah membuat semua hukum di alam semesta, dan memberi hukum-hukum itu bentuk yang Dia pilihkan, mewujudkan apa yang Dia kehendaki dan ketika Dia kehendaki, meliputi segala apa yang ada di Bumi dan di langit, dan mengatur segalanya dengan kekuasaanNya. Namun, sebagian orang tidak betul-betul memahami kekuatanNya, sehingga menilaiNya berdasarkan kekuatan sendiri yang terbatas. Allah mengungkapkan keberadaan mereka dalam Al Qur’an:

    Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia.” … (QS. Al An’aam, 6: 91)

    Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa. (QS. Al Hajj, 22: 74)

    Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada Hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Tuhan dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (QS. Az Zumar, 39: 67)

    Berlawanan dengan apa yang diajukan oleh mereka yang percaya pada penciptaan lewat evolusi, Allah tidak menciptakan kera dahulu, lalu menyebabkan kera berevolusi menjadi manusia melalui bentuk-bentuk peralihan yang cacat dengan alat tubuh yang kurang.

    Melainkan, sebagaimana diungkapkan Al Qur’an, Allah menciptakan manusia dalam cara yang paling sempurna:

    Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (QS. At Tiin, 95: 4)

    Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar. Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu itu, dan hanya kepada-Nya-lah kembali (mu). (QS. At Taghaabun, 64: 3)

    Ayat-ayat di atas merupakan sebagian bukti bahwa Allah menciptakan manusia dalam bentuk sempurna, dengan kata lain, bentuk manusia sekarang. Tentu saja, manusia juga memiliki sejumlah cacat dan kelemahan, semua itu mengingatkannya akan kekurangannya di hadapan Tuhannya. Kelainan bentuk dan cacat tubuh adalah bukti penciptaan yang bertujuan, sebab semua itu berguna sebagai pengingat bagi mereka yang melihatnya, dan sebagai ujian bagi yang menyandangnya.

    Sebagai bentuk dan jenis, Allah menciptakan semua makhluk hidup dengan seketika dan sempurna, tanpa memerlukan evolusi sama sekali. Kebenaran nyata ini diungkapkan Al Qur’an:

    Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling Baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al Hasyr, 59: 24

    Al Qur’an melukiskan betapa mudah penciptaan itu bagi Allah:

    Dan tidakkah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang diganti sesudah hancur itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. (QS.Yaa Siin, 36: 81)

    Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu, melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Luqman, 31: 28)

    Hal penting lain yang terabaikan oleh mereka yang percaya pada penciptaan evolusi, adalah keragaman bentuk ciptaan Allah. Allah telah mengadakan makhluk hidup yang jauh berbeda dari manusia dan hewan, misalnya malaikat dan jin. Masalah ini akan dibahas di halaman-halaman berikut.

    Malaikat Bersayap Dua, Tiga, Dan Empat

    Malaikat adalah makhluk yang selalu mematuhi perintah Allah. Al Qur’an melukiskan penciptaannya sebagai berikut:

    Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. Faathir, 35: 1)

    Sebagaimana dapat kita lihat dari penggambaran di atas, bentuk malaikat jauh berbeda dengan manusia. Allah memerintahkan agar memerhatikan bentuk-bentuk ciptaan yang berbeda dalam ayat di atas.

    Ayat-ayat juga menunjukkan bagaimana malaikat tunduk kepada perintah Allah dan menaatiNya:

    Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berkuasa atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka). (QS. An Nahl, 16: 49-50)

    Al Masih sekali kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barangsiapa yang enggan dari menyembah-Nya dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya. (QS. An Nisaa’, 4: 172)

    Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At Tahrim, 66: 6)

    Selain itu, malaikat diciptakan sebelum manusia. Ternyata, Allah memberitahu para malaikat ketika Dia akan menciptakan Adam, manusia pertama, dan memerintahkan mereka bersujud kepadanya.

    Pada saat yang sama, Allah memberi Nabi Adam AS, pengetahuan yang berbeda dengan yang dimiliki para malaikat, dan mengajarkannya nama-nama benda. Para malaikat tidak memiliki pengetahuan itu. Seperti dinyatakan Al Qur’an:

    Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.” Mereka menjawab: “Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?” Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam.” Maka, sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS. Al Baqarah, 2: 30-34)

    Jin Diciptakan Dari Api

    Seperti malaikat, penampilan jin juga berbeda dari manusia. Ayat-ayat di bawah ini menunjukkan bahwa manusia diciptakan dari tanah liat, sementara jin diciptakan dari api :

    Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. (QS. Al Hijr, 15: 26-27)

    Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar. Dan Dia menciptakan jin dari nyala api. (QS. Ar Rahmaan, 55: 14-15)

    Dalam Al Qur’an, Allah juga mengungkapkan tujuanNya menciptakan manusia dan jin:

    Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. Adz Dzaariyaat, 51: 56)

    Jelas dari ayat ini bahwa, walaupun manusia dan jin adalah makhluk yang amat berbeda, keduanya diciptakan untuk menyembah hanya Allah, dengan menjalani hidup menggunakan nilai-nilai yang Dia perintahkan. Dia telah mengungkapkan dalam banyak ayat bahwa malaikat dan jin memiliki sejumlah sifat yang berbeda dari sifat manusia. Misalnya, keduanya dapat memindahkan benda:

    Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar. Siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” Berkata Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya (dan) dapat dipercaya.” (QS. An Naml, 27: 38-39).

    Al Qur’an juga menyatakan bahwa jin, sama seperti malaikat, juga diciptakan sebelum manusia. Ketika menciptakan Nabi Adam AS, Allah memerintahkan malaikat dan jin bersujud di hadapan Adam. Setelah itu, Dia mengungkapkan bahwa Setan adalah salah satu jin:

    Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim. (QS. Al Kahfi, 18:50)

    Penciptaan itu masalah mudah bagi Allah, yang dapat menciptakan dari ketiadaan dan tanpa sebab apa pun. Sama seperti Dia menciptakan malaikat dan jin dalam bentuk-bentuk yang berbeda dari ketiadaan, Dia juga menciptakan manusia sebagai makhluk yang berbeda dari ketiadaan dan tanpa perlu evolusi.

    Hal serupa berlaku untuk makhluk hidup lainnya, seperti hewan dan tumbuhan. Allah menciptakan semua makhluk hidup ini seketika dari ketiadaan dan tanpa perlu berevolusi – dengan kata lain, tanpa mengubah satu makhluk hidup menjadi makhluk hidup lain. Seperti kita lihat sebelumnya, tahap-tahap yang digunakan Allah dalam penciptaan ini, yang telah disebutkan di muka, tidak berhubungan dengan ketidaksengajaan atau peristiwa acak evolusionis, karena masing-masing adalah hasil sistem tanpa cela yang dimunculkan kekuasaan dan kedaulatan Allah.

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 27 May 2015 Permalink | Balas  

    Mengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (8) 

    quran_tasbih_01Mengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (8)

    Harun Yahya

    Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al An’aam, 6: 73)

    Darwinisme Menggiring Umat Manusia Dari Satu Bencana Ke Bencana Lainnya

    Di awal buku ini, telah kita lihat bagaimana kaum evolusionis Muslim memandang Darwinisme sebagai sebuah kenyataan yang secara ilmiah terbukti, dan mengabaikan wajahnya yang asli. Darwinisme, yang memberikan dukungan “ilmiah” bagi paham fasisme dan komunisme, yakni paham pemikiran paling bengis di abad ke-20, berwajah “asli” yang bahkan lebih kelam.

    Paham-paham pemikiran ini, yang mencapai puncak kekerasannya pada abad lalu, bertanggung jawab atas revolusi komunis dan tindakan kudeta fasis, juga pertarungan, pertikaian, perang saudara, dan pembagian dunia menjadi dua blok. Diktator-diktator bengis seperti Lenin, Stalin, Mao, Pol Pot, Hitler, Mussolini, dan Franco, semuanya meninggalkan bekas yang menetap.

    Sekitar 120 juta orang tewas akibat kekejaman rejim-rejim komunis saja, dan dua perang dunia saja telah meminta tumbal 65 juta jiwa. Perang Dunia II, yang dimulai dengan serbuan Hitler ke Polandia di tahun 1939, sungguh sebuah bencana bagi kemanusiaan. (Untuk rincian, lihat buku Harun Yahya, The Disasters Darwinism Brought to Humanity, Al-Attique Publishers Inc., Ontario, 2001 dan Fascism: Bloody Ideology of Darwinism, Arastirma Publishing, Istanbul, 2002).

    Darwinisme terdapat pada akar pemikiran semua malapetaka politik, ekonomi, dan akhlak ini, sebab ia memupuk dan memperkuat semua itu.

    Paham Komunisme, Fasisme, Dan Darwinisme

    Karl Marx dan Friedrich Engels, dua bapak pendiri komunisme, menyebutkan dalam buku-buku mereka, betapa kuat pengaruh paham Darwinisme pada mereka. Marx menunjukkan rasa simpatinya kepada Darwin, dengan menghadiahinya salinan buku Das Kapital yang telah diberinya catatan pribadi. Terbitan bahasa Jermannya bahkan berisi pesan yang ditulis dengan tangannya sendiri, sebagai berikut: “Untuk Charles Darwin, dari seorang pengagum sejati, dari Karl Marx.”

    Begitu pentingnya Darwinisme bagi paham komunisme, sehingga segera setelah buku Darwin diterbitkan, Engels menyurati Marx: “Darwin,  yang baru saja kubaca, sungguh bagus.” 34

    Seorang komunis Rusia terkemuka, Georgi Valentinovich Plekhanov, memandang paham Marxisme sebagai “Darwinisme dalam penerapannya pada ilmu-ilmu sosial.” 35

    Guru pembimbing paham pemikiran Hitler yang terpenting, sejarawan Jerman yang rasis Heinrich von Treitshcke, mengatakan: “Bangsa-bangsa tidak bisa makmur tanpa persaingan ketat, seperti pertarungan demi mempertahankan hidup [gagasan] Darwin”,36 yang menunjukkan asal-muasal kekerasan pada akar-akar Nazisme.

    Hitler sendiri seorang Darwinis. Memperoleh ilham dari gagasan “pertarungan demi bertahan hidup” yang dipakai Darwin, ia memberi judul karyanya yang terkenal Mein Kampf (Perjuanganku). Pada rapat umum partai di Nuremberg tahun 1933, Hitler mengumandangkan bahwa: “Ras yang lebih tinggi memperbudak ras yang lebih rendah … hak yang dapat kita lihat di alam, dan yang dapat dianggap satu-satunya hak yang dapat terpikirkan, karena berdasarkan ilmu pengetahuan.” Ini memperlihatkan betapa terpengaruhnya ia oleh Darwin. (37

    Mussolini, pemimpin fasisme Italia, juga menyukai Darwinisme sebagai pandangan dunia, dan mencoba menggunakannya untuk membenarkan serbuan Italia ke Etiopia. Franco, diktator Spanyol pada saat itu, juga menunjukkan pemikiran Darwinis baik dalam teori maupun praktik. (Lihat Harun Yahya, Fascism: Bloody Ideology of Darwinism, Arastirma Publishing, Istambul, 2002).

    Dengan mengatakan bahwa hidup adalah sebuah pertarungan yang ditakdirkan untuk dimenangi oleh si kuat, dan si lemah terkutuk untuk kalah, Darwin membuka jalan bagi kekuatan biadab, kekerasan, perang, pertikaian, dan pembantaian pada skala besar.

    Diktator-diktator yang menindas rakyat, di negerinya sendiri atau di mancanegara, begitu diilhami oleh Darwinisme sehingga mereka mematut diri dengan ajaran-ajarannya. Dalam pandangan mereka, hukum alam menghendaki si lemah dihancurkan dan dimusnahkan, dan manusia tidak mesti memiliki nilai bawaan apa pun, karena ia berasal dari hewan.

    Membela Darwinisme Mempermudah Penyebaran Paham Komunisme

    Komunisme merupakan suatu paham pemikiran yang bersikap bermusuhan, baik dalam segi dasarnya yang berupa filsafat materialis, maupun telaah sejarah yang disajikannya. Pemikiran ini mulai dengan mengingkari keberadaan Allah, dan telaah sejarahnya, yang melukiskan agama sebagai “candu masyarakat”, menyerukan pembasmian agama untuk menegakkan masyarakat komunis yang diidamkannya.

    Karena itu, semua rejim komunis memerangi agama, menyerang nilai-nilai keagamaan, menghancurkan berbagai tempat ibadah, dan melarang pelaksanaan kewajiban agama. Rejim di negara-negara seperti bekas Uni Soviet, Cina, Kamboja, Bulgaria, dan Albania telah mengikuti kebijakan yang begitu anti-agama sampai-sampai merapat ke batas, dan kadang sampai, ke pemusnahan ras (genosida).

    Darwinisme memainkan peran penting dalam paham Marxisme tentang kebencian terhadap agama. Darwin menyumbangkan bagi paham ateisme Marxis, apa yang disebut-sebut sebagai dasar ilmiah, yang menjelaskan sebab Marx dan Engels merasa amat berterima kasih kepadanya. Pujian Engels terutama mencolok : “Ia (Darwin) melontarkan pukulan paling telak kepada gagasan alam yang bersifat metafisis, dengan buktinya bahwa semua makhluk organik, tumbuhan, hewan, dan manusia sendiri, merupakan hasil proses evolusi yang berlangsung jutaan tahun.” 38

    Pertikaian terletak pada inti filsafat Marxis (materialisme dialektik), yang menyatakan bahwa alam semesta bekerja menurut hukum benturan antar-lawan. Dengan kata lain, pertarungan demi bertahan hidup di alam yang dinyatakan Darwin kini diterapkan pada masyarakat manusia. Darwinisme adalah dukungan terbesar bagi pemikiran komunisme, yang memandang sejarah manusia sebagai medan perang dan menyiapkan lahan bagi pertikaian lebih lanjut.

    Evolusionis PJ Darlington menjelaskan bahwa kekerasan adalah akibat alamiah dari kepercayaan pada teori ini:

    Pertama, pementingan diri sendiri dan kekerasan adalah sifat bawaan dalam diri kita, diwarisi dari moyang hewan kita yang paling tua … Karena itu, kekerasan adalah alamiah pada manusia; sebuah hasil evolusi.39

    Kaum Marxis percaya bahwa masyarakat akan menerima paham pemikiran mereka, jika mereka membawa masyarakat agar percaya pada Darwinisme. Mereka begitu mementingkan prinsip Darwin bahwa “kekerasan dan pertikaian merupakan hukum alam yang tak berubah.” Inilah sebabnya, semua organisasi teroris berhaluan komunis memberikan pelatihan berbulan-bulan tentang komunisme, materialisme dialektik, dan Darwinisme kepada para anggota setianya.

    Teori Darwin mendorong mereka agar percaya bahwa mereka sebenarnya hewan, dan bahwa seperti hewan, manusia harus bertarung demi bertahan hidup. Jadi, banyak pemuda menjadi makhluk mengerikan, yang amat mampu membunuh dan bahkan menjagal dengan kejam anak-anak dan bayi.

    Dengan cara ini, pemikiran komunis menyebabkan perang gerilya, perang saudara, dan tindakan terorisme berdarah di banyak negara sepanjang abad ke-20. Itulah sebabnya perang pemikiran melawan paham Darwinisme adalah begitu penting: Jika Darwinisme tersingkap sebagai gagasan sesat sebagaimana adanya dan lalu runtuh, filsafat-filsafat Marxis yang berdasar Darwinisme akan hancur.

    Karena Darwinisme berperan begitu penting dalam pemikiran anti-agama komunis, maka mendukung yang satu sama dengan mendukung yang lain. Mencoba membenarkan Darwinisme, dengan cara menyelaraskannya dengan agama, dan menyatakan Allah menggunakan evolusi untuk menciptakan makhluk hidup, adalah sama dengan membenarkan komunisme. Kaum komunis tahu bahwa agama dan Darwinisme saling bertentangan, namun berdiam diri saat menghadapi orang beriman yang menyetujui gagasan penciptaan melalui evolusi, agar kedua paham tersebut dapat menyebar dengan mudah dan semakin jauh. Yang penting adalah membuka dulu pintu menuju diterimanya Darwinisme.

    Kepercayaan komunis pada evolusi berasal dari taklid pemikiran mereka. Misalnya, seorang evolusionis guru besar kimia dan pakar DNA, Robert Shapiro, berkata bahwa pernyataan dasar teori ini (yaitu, zat tak-hidup mengatur dan menyusun diri serta membentuk DNA dan RNA) tidak berlandaskan fakta ilmiah sama sekali. Ia melanjutkan:

    Karena itu, sebuah prinsip evolusi lain harus ada untuk membawa kita menyeberangi jurang yang membentang di antara adonan kimia alamiah yang sederhana dengan pengganda (replikator) pertama yang berfungsi. Prinsip ini belum dijelaskan secara rinci atau dipertunjukkan, namun sudah diperkirakan, dan disebut dengan nama-nama seperti evolusi kimiawi dan penyusunan materi secara mandiri. Keberadaan prinsip ini diterima tanpa pertanyaan dalam filsafat materialisme dialektik… 40

    Sebagaimana telah dinyatakan Shapiro, kaum evolusionis terus membela teori evolusi karena kepatuhan buta kepada filsafat materialis. Ini menandakan bahwa dukungan apa pun bagi teori ini merupakan juga dukungan langsung bagi filsafat materialis, yang penyebarannya akhirnya pasti menyiapkan lahan pijakan bagi masuknya paham komunis ke dalam masyarakat. Kaitan ini mengungkapkan bagaimana paham komunis memperoleh kekuatannya dari paham Darwinisme.

    Kaum Muslimin yang mendukung teori evolusi perlu memikirkan kebenaran ini. Seorang Muslim tidak boleh berbagi sudut pandang dengan kaum komunis, yang telah dan terus menjadi musuh agama yang paling sengit, dan/atau mendukung sebuah pandangan yang merupakan dasar “ilmiah” bagi paham komunisme. Hal ini semakin penting jika kita menimbang bahwa komunisme belum mati, tetapi masih bertahan dalam rejim-rejim tangan besi seperti Korea Utara, dan, yang paling berbahaya, masih menguasai sistem dan budaya politis negeri Cina, sekalipun pandangannya seolah-olah “kapitalis”.

    Rasisme Darwin

    Salah satu segi terpenting namun paling sedikit diketahui tentang Darwin adalah rasismenya: Darwin menganggap orang kulit putih Eropa lebih “maju” daripada ras manusia lainnya. Karena beranggapan bahwa manusia berevolusi dari makhluk serupa kera, ia berkesimpulan bahwa ada beberapa ras yang lebih berkembang daripada ras-ras yang lain, dan ras-ras yang lain itu masih memiliki sifat-sifat kera.

    Dalam bukunya The Descent of Man, yang ia terbitkan setelah The Origin of Species, dengan terus terang Darwin menguraikan “perbedaan besar di antara manusia dari ras-ras yang berlainan.”41 Dalam bukunya, Darwin berpendapat orang kulit hitam dan Aborigin Australia adalah setara dengan gorila, dan menyimpulkan bahwa keduanya, pada saatnya, akan “disingkirkan” oleh “ras-ras beradab”. Ia mengatakan :

    Suatu saat nanti, tidak terlalu lama sampai ukuran abad, ras-ras manusia yang beradab hampir pasti akan memusnahkan dan menggantikan ras-ras biadab di seluruh dunia. Pada saat yang sama, kera-kera antropomorf (mendekati manusia) …. pasti akan punah. Jarak antara manusia dan padanan-padanan terdekatnya akan lebih lebar, karena hal tersebut akan terjadi dalam keadaan lebih beradab sebagaimana bisa kita harapkan, bahkan daripada jarak orang Kaukasia dan beberapa jenis kera serendah babon, tidak seperti sekarang, antara negro atau pribumi Australia dan gorila. 42

    Gagasan-gagasan Darwin yang tak masuk akal bukan hanya diteorikan, melainkan juga dianugerahi derajat kehormatan ilmiah dan sosial, yang memungkinkan semua gagasan itu memberikan “landasan ilmiah” terpenting bagi paham rasisme. Dengan menganggap makhluk hidup berevolusi dalam pertarungan demi bertahan hidup, Darwinisme langsung diterapkan dalam ilmu sosial. Disebut dengan “Darwinisme Sosial”, pemikiran baru ini berpendapat bahwa ras manusia yang ada saat ini menempati tingkat yang berbeda pada “tangga evolusi”, bahwa ras Eropa adalah yang paling “maju”, dan bahwa banyak ras lainnya masih memiliki ciri dan sifat “mirip kera”.

    Lebih jauh, Darwinisme tidak berhenti dengan menyediakan landasan bagi serangan rasis, namun juga membolehkan segala jenis tindakan pemberontakan dan perusakan. Prinsip “hidup itu pertarungan” ini telah menciptakan pendapat yang membenarkan penempatan bangsa lain, yang hidup damai di satu negeri yang sama, ke pusat-pusat penawanan, maupun penggunaan kekerasan dan kekuatan biadab, perang, maut, dan pembunuhan.

    Akan tetapi, Muslim yang menyadari bahwa Allah telah menciptakan dirinya dan segala yang lain, bahwa Allah telah meniupkan ruhNya ke dalam dirinya, bahwa dunia adalah tempat bagi kedamaian dan persaudaraan, bahwa semua orang adalah setara, dan bahwa tiap orang akan diadili di hari kemudian atas semua perbuatannya di dunia, tak mungkin menganiaya orang lain. Hanya mereka yang percaya bahwa mereka terwujud oleh ketidaksengajaan, tidak bertanggung jawab kepada siapa pun, tidak pernah harus bertanggung jawab atas perbuatannya, dan percaya bahwa dunia adalah tempat bagi pertikaian, yang bisa melakukan tindakan demikian.

    Itulah sebabnya, seorang Muslim harus menyimak nuraninya, sebelum menerima Darwinisme, dan apa sebabnya ia harus mengerti harga sesungguhnya jika ia mendukung sebuah teori yang telah ditolak oleh ilmu pengetahuan sendiri. Kerusakan yang diperbuat Darwinisme atas kemanusiaan sungguh nyata. Kepedihan, penderitaan, dan pertikaian yang dibawanya sudah begitu dikenal. Seperti telah kita lihat di sepanjang bab ini, cara orang dibuat agar percaya kepada gagasan dan pemikiran yang jauh dari nalar dan tak masuk akal ini, seharusnya meyakinkan kita bahwa Darwinisme adalah suatu bahaya besar.

    ===========

    1. Conway Zirkle, Evolution, Marxian Biology and the Social Scene, Philadelphia ; the University of Pennsylvania Press , 1959, h. 527 (Penebalan oleh Harun Yahya)
    2. Robert M. Young, Darwinian Evolution and Human History, Ceramah radio yang diberikan dalam sebuah kuliah Universitas Terbuka tentang Darwin ke Einstein: TelaahSejarah atas Ilmu Pengetahuan dan Agama, 1980 (Penebalan oleh Harun Yahya)
    3. L. Poliakov, Le Mythe Aryen, Editions Complexe, Calmann Lévy, Bruxelles, 1987, h. 343 (Penebalan oleh Harun Yahya)
    4. Carl Cohen, Communism, Fascism and Democracy, New York : Random House Publishing, 1967, ph. 408-409 (Penebalan oleh Harun Yahya)
    5. Fredrick Engels, Socialism: Utopian and Scientific, Part II: Science of Dialectics, http: //www.marxists.org/archive/marx/works/1880/soc-utop/ch02.htm.
    6. H. J. Darlington, Evolution for Naturalists, NY: Wiley, 1980, h. 243-244
    7. Robert Shapiro, Origins: A Sceptic’s Guide to the Creation of Life on Earth, Summit Books, New York , 1986, h. 207. (Penebalan oleh Harun Yahya)
    8. Benjamin Farrington, What Darwin Really Said, London : Sphere Books, 1971, h. 54-56
    9. Charles Darwin, The Descent of Man, 2nd ed., New York : A.L. Burt Co., 1874, h. 178

     

     
  • erva kurniawan 11:43 am on 26 May 2015 Permalink | Balas  

    Beragam Jalan Menuju Islam 

    will smithBeragam Jalan Menuju Islam

    Banyak jalan menuju Roma. Dan banyak pula jalan menuju Islam. Ada orang yang masuk Islam karena kebetulan berjumpa dengan seseorang yang memberinya Al-Quran. Ada pula yang karena berjumpa dengan seorang Muslim yang baik hati. Adapula orang-orang hanif yang hatinya senantiasa mencari kebenaran sejati dan kemudian ia temukan di dalam Islam.

    Torquato Cardilli, duta besar Italia untuk Arab Saudi, adalah contoh orang yang mendapat hidayat dan masuk Islam karena pergaulannya selama 33 tahun dengan masyarakat Muslim di berbagai negara tempat ia bertugas sebagai diplomat.

    Will Smith, aktor Hollywood papan atas yang berkulit hitam, mempunyai pengalaman yang lebih unik. Ia masuk Islam setelah menjalankan peran sebagai Muhammad Ali dalam film tentang biografi petinju legendaris itu.

    Seperti diberitakan Ummah News, media Islam asal Inggris, Smith mengaku mulai mengenal Islam, saat dia mempelajari kehidupan Muhammad Ali. Sebagaimana diketahui, Muhammada Ali sebelumnya adalah seorang penganut Nasrani bernama Cassius Clay hingga suatu saat mendapat hidayah dari Allah dan kemudian menjadi Muslim.

    Rupanya perjalanan hidup Ali itu telah memberikan inspirasi yang serupa kepada Smith. Menurut penuturan teman-teman dekat Smith, sang mega bintang yang telah memeluk Islam itu sangat berkeinginan mendalami Islam secara serius.

    michaelwolfe_tvIC__200x153Selain Cardilli dan Smith, ada pula Michael Wolfe, seorang penulis yang cukup dikenal di AS. Wolfe, tertarik Islam setelah bergaul dengan orang-orang Islam di Afrika dan Timur Tengah. Menurut Wolfe, Islam tidak pernah membeda-bedakan ras dan kulit. Sejak itulah Wolfe masuk Islam. “Saya akhirnya belajar tentang Islam dan kini telah aktif di masjid dekat rumahku di California.” Wolfe lahir dari ayah Yahudi dan ibu Kristen. Sejak masuk Islam, pria yang menulis buku tentang “Haji” itu, kini, aktif menulis buku tentang Islam. Syukur Alhamdulillah.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 2:40 am on 25 May 2015 Permalink | Balas  

    Mengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (7) 

    darwinMengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (7)

    Harun Yahya

    Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al An’aam, 6: 73)

    Keliru Jika Mengira Charles Darwin Taat Beragama

    Sebagian besar kaum beragama yang mendukung teori evolusi berpendapat bahwa Charles Darwin taat beragama. Akan tetapi, sungguh mereka keliru, karena di masa hidupnya Charles Darwin mengungkapkan pandangan buruknya tentang Tuhan dan agama.

    Darwin memang percaya kepada Tuhan semasa mudanya, namun perlahan imannya menipis dan digantikan oleh paham ateisme di saat usianya setengah baya. Akan tetapi, tidak ia umumkan fakta ini, karena tidak ingin memancing tentangan, khususnya dari istrinya yang taat, maupun dari kerabat dekat dan lembaga agama.

    Dalam bukunya Darwin and the Darwinian Revolution, ahli sejarah Darwinis Gertrude Himmelfarb menulis: “Karena itu, gambaran menyeluruh tentang keingkaran Darwin [akan keberadaanTuhan] tidak dapat diketahui pada karya maupun riwayat hidupnya yang diterbitkan, namun terlihat hanya dalam versi asli riwayat hidup tersebut.”21

    Buku Himmelfarb juga mengungkapkan bahwa ketika putra Darwin, Francis, hendak menerbitkan bukunya The Life and Letters of Charles Darwin, istri Darwin, Emma, menentang sengit rencana itu, dan tidak hendak memberikan izin, takut surat-surat itu menimbulkan heboh setelah kematian Darwin. Emma memperingatkan puteranya untuk membuang bagian-bagian yang langsung mengacu ke paham tak bertuhan (ateisme). Seluruh keluarga khawatir bahwa pernyataan seperti itu akan menghancurkan nama harum Darwin  22

    Menurut ahli biologi Ernst Mayr, pendiri neo-Darwinisme; “Jelas bahwa Darwin  kehilangan imannya di tahun 1836-1839, sebagian besar nyata-nyata sebelum membaca Malthus. Agar tidak melukai perasaan teman-teman dan istrinya, Darwin sering menggunakan bahasa ilahiah dalam buku-bukunya, namun banyak bagian dalam buku catatannya yang menandakan, saat itu ia telah menjadi seorang ‘materialis’. 23

    Darwin selalu memerhatikan tanggapan keluarganya, dan sepanjang hidupnya berhati-hati menyembunyikan gagasannya tentang agama. Ia bertindak demikian, menurut kata-katanya sendiri, karena : Beberapa tahun silam aku sungguh-sungguh dinasehati oleh seorang kawan agar jangan pernah memasukkan apa-apa tentang agama dalam tulisan-tulisanku jika ingin memajukan ilmu pengetahuan di Inggris; dan nasehat ini mendorongku untuk tidak mempertimbangkan pembahasan yang terkait dengan kedua hal itu. Jika sebelumnya kutahu bahwa dunia akan menjadi sedemikian bebas, mungkin seharusnya aku bertindak lain. 24

    Sebagaimana bisa kita lihat dari kalimat terakhir, jika sudah merasa yakin ia tidak akan memancing tentangan, Darwin tidak akan sedemikian berhati-hati. Ketika Karl Marx (1818-1883) mengusulkan untuk mempersembahkan Das Kapital kepadanya, tegas Darwin menolak penghormatan itu dengan alasan beberapa anggota keluarganya akan merasa sakit hati jika ia dikaitkan dengan buku ateistis semacam itu 25

    Akan tetapi, kita masih bisa mengetahui sikap Darwin terhadap pokok dan kepercayaan ruhani dan agama, dalam kata-kata kepada sepupunya ini: “Kupikir semua perasaan manusia dapat ditelusuri sampai ke benihnya pada hewan.” 26

    Darwin juga menentang pengajaran agama kepada anak-anak karena keyakinannya bahwa mereka harus dibebaskan dari keyakinan agama 27

    Pandangan anti-agama ini menurun ke kaum evolusionis masa kini seolah-olah sejenis warisan. Sama seperti Darwin ingin anak-anak belajar tentang Tuhan selagi bersekolah, para evolusionis mutakhir menentang mati-matian pengajaran tentang penciptaan di sekolah-sekolah. Mereka giat berusaha di seluruh dunia agar penciptaan dikeluarkan dari kurikulum pendidikan

    Paham Tak Bertuhan Yang Dianut Darwin Dan Upaya Menyembunyikannya

    Darwin membuat pernyataan berikut tentang ketiadaan imannya, “pengingkaran [kepada Tuhan] merayapi diriku dengan pelan-pelan sekali, tetapi pada akhirnya menjadi sempurna …” 28

    Buku yang sama menggambarkan, bagaimana ayah Darwin mengajaknya bicara secara diam-diam saat ia akan melangsungkan pernikahan, dan menyarankan agar Darwin  menyembunyikan keraguan imannya dari istrinya. Akan tetapi, sejak semula Emma sadar akan iman Darwin yang terus menipis. Ketika buku Darwin Descent of Man diterbitkan, Emma mengakui kepada putrinya tentang pandangan anti-agama buku itu:

    Aku akan amat membencinya karena lagi-lagi mengesampingkan Tuhan kian jauh. 29

    Dalam sepucuk surat yang ditulisnya pada tahun 1876, Darwin menyatakan bagaimana keyakinannya menipis:

    Kesimpulan ini (paham bertuhan, atau teisme) kuat di benakku di sekitar saat, sejauh yang dapat kuingat, kutulis “Origin of Species”; dan sejak itu secara perlahan, dengan berkali-kali naik-turun, menipis… 30

    Pada saat yang sama, ia merasa aneh bahwa orang-orang selainnya mesti memiliki kepercayaan agama, dan menyatakan bahwa manusia, yang diyakininya berasal dari hewan tingkat rendah, tidak dapat meyakini kepercayaan-kepercayaan itu:

    Dapatkah pikiran manusia, yang kuyakin sepenuhnya, berkembang dari pikiran serendah yang dimiliki hewan terendah, dipercaya saat menarik kesimpulan agung seperti itu? 31

    Alasan dasar Darwin mengingkari adanya Tuhan adalah keangkuhan. Kita dapat melihatnya dalam pernyataan berikut:

    Dalam pengertian bahwa sesosok Tuhan yang mahakuasa dan mahatahu harus mengatur dan mengetahui segalanya, hal ini mesti diakui; namun, sejujur-jujurnya, aku hampir tidak bisa mengakuinya. 32

    Dalam sebuah lampiran singkat yang ditulis tangan pada kisah hidupnya, ia menulis:

    Aku tidak merasakan penyesalan dari melakukan dosa besar apa pun.33

    Pernyataan Darwin, yang mengingkari keberadaan Allah dan agama, sesungguhnya mengikuti sebuah pola pikir yang tak mengenal Allah dari zaman kuno.

    Ayat Al Qur’an melukiskan bagaimana mereka yang mengingkari Allah sesungguhnya menyadari bahwa Dia ada, namun masih juga mengingkariNya karena keangkuhan:

    Dan mereka mengingkarinya* karena kezaliman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka, perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan. (QS.An Naml, 27: 14)

    *mukjizat-mukjizat Allah; lihat ayat ke-13.

    Hal terpenting di sini adalah: keyakinan ateisme Darwin  adalah yang paling berpengaruh dalam pembentukan teorinya. Ia memelintir fakta, pengamatan, dan bukti untuk mempertahankan prasangkanya bahwa kehidupan tidak diciptakan. Saat membaca The Origin of Species, orang melihat jelas, bagaimana Darwin bersusah-payah menolak semua bukti penciptaan (misalnya, struktur makhluk hidup yang rumit, bagaimana catatan fosil mengarah kepada kemunculan seketika, dan berbagai fakta yang menunjuk seberapa jauh batas kemungkinan makhluk hidup di alam untuk dapat menjadi berbeda satu sama lain), dan caranya menunda hal-hal yang tidak segera dapat dijelaskannya dengan mengatakan: “Mungkin hal ini akan terpecahkan suatu hari di masa datang.” Jika ia ilmuwan yang tak memihak, ia tidak akan menampakkan sikap taklid atau dogmatis demikian.Gaya dan cara Darwin sendiri menunjukkan bahwa ia seorang ateis yang memijakkan teorinya pada paham ateisme.

    “Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al An’am, 6: 111)

    Ternyata, kaum yang tak mengenal Allah (ateis) telah mendukung Darwin selama 150 tahun terakhir ini, dan berbagai paham pemikiran anti-agama menyokong Darwin justru karena paham ateisme yang dianutnya. Oleh sebab itu, dengan menimbang kenyataan ateisme Darwin, kaum Muslimin tidak boleh keliru mengira ia orang yang taat beragama, atau setidaknya tidak menentang agama, dan terus mendukungnya, teorinya, serta semua orang yang sepikiran dengannya. Jika seorang Muslim melakukan hal itu, berarti ia menempatkan dirinya bersama kaum ateis.

    ***

    1. Gertrude Hommerfarb, Darwin and the Darwinian Revolution, Elephant Paperbacks, Chicago, 1962, h. 384 (Penebalan oleh Harun Yahya)
    2. Gertrude Himmerfarb, Darwin and the Darwinian Revolution, Elephant Paperbacks, Chicago , 1962, h. 383
    3. Mayr, Ernst, ” Darwin and Natural Selection”, American Scientist, vol.65 (May/June, 1977) h. 323 (Penebalan oleh Harun Yahya)
    4. Gertrude Himmerfarb, Darwin and the Darwinian Revolution, Elephant Paperbacks, Chicago , 1962, h. 383
    5. Gertrude Himmerfarb, Darwin and the Darwinian Revolution, Elephant Paperbacks, Chicago , 1962, h. 383
    6. Gertrude Himmerfarb, Darwin and the Darwinian Revolution, Elephant Paperbacks, Chicago , 1962, h. 384
    7. Gertrude Himmerfarb, Darwin and the Darwinian Revolution, Elephant Paperbacks, Chicago , 1962, h. 385
    8. Gertrude Himmerfarb, Darwin and the Darwinian Revolution, Elephant Paperbacks, Chicago, 1962, h. 381 (Penebalan oleh Harun Yahya)
    9. Gertrude Himmerfarb, Darwin and the Darwinian Revolution, Elephant Paperbacks, Chicago , 1962, h. 382
    10. Francis Darwin, The Life and Letters of Charles Darwin, D. Appleton and Co., 1896, Chapter 1.VIII., Religion.
    11. Francis Darwin, The Life and Letters of Charles Darwin, D. Appleton and Co., 1896, Chapter 1.VIII., Religion.
    12. Francis Darwin, The Life and Letters of Charles Darwin, Charles Darwin kepada C. Lyell, D. Appleton and Co., 1896, Down, April [1860].
    13. Francis Darwin, The Life and Letters of Charles Darwin, D. Appleton and Co., 1896, CHAPTER 2.XVI.
     
  • erva kurniawan 1:32 am on 24 May 2015 Permalink | Balas  

    Mengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (6) 

    Pengertian-Fosil-Pembentukan-Fosil-Waktu-GeologisMengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (6)

    Harun Yahya

    Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al An’aam, 6: 73)

    Penelitian Fosil Membuktikan Penciptaan

    Melihat fakta-fakta di atas, kemajuan ilmiah menunjukkan bahwa seleksi alam dan mutasi tidak berdaya evolusi. Karena tidak ada mekanismenya, evolusi tidak mungkin pernah terjadi di masa lalu. Akan tetapi, kaum evolusionis masih bersikeras bahwa semua makhluk berevolusi dari satu ke lainnya, lewat proses yang lambat selama ratusan juta tahun. Kesalahan mereka disembunyikan dalam jalan pikiran ini, karena jika skenario mereka memang benar, makhluk tahap peralihan, yang tak terhitung banyaknya, dari rentang waktu tersebut seharusnya sudah terbentuk. Lebih lagi, kita seharusnya menemukan sisa-sisa fosilnya.

    Pernyataan kaum evolusionis yang tak masuk akal tampak mencolok dalam setiap perkara. Coba kita lihat perihal munculnya ikan, yang dikatakan kaum evolusionis, berasal dari invertebrata (hewan tak bertulang belakang), seperti bintang laut dan cacing laut. Jika pernyataan ini benar, seharusnya ada contoh makhluk peralihan yang jumlahnya berlimpah ruah, demi membolehkan terjadinya sebuah evolusi yang lamban.

    Dengan kata lain, kita seharusnya dapat melihat sisa fosil dari berjenis-jenis hewan (spesies) yang memiliki baik ciri-ciri ikan mau pun ciri-ciri invertebrata. Akan tetapi, walaupun banyak fosil ikan dan invertebrata ditemukan para ilmuwan, tidak pernah ada fosil makhluk peralihan, yang dapat membenarkan pernyataan evolusionis, yang ditemukan. Ketiadaan demikian, pada gilirannya, berarti evolusi tidak pernah terjadi. (Ternyata, ikan pertama di Bumi muncul di zaman geologis yang sama dengan invertebrata rumit yang pertama dikenal. Fosil ikan berasal dari 530 juta tahun yang lampau.15 Pada saat itu, yang dikenal sebagai zaman Kambrium, semua kelompok utama hewan invertebrata tiba-tiba muncul di Bumi.)

    images (1)Sebagai contoh, kaum evolusionis menyatakan bahwa bintang laut berevolusi menjadi ikan sejati setelah jutaan tahun. Berdasarkan pernyataan ini, seharusnya terdapat banyak bentuk peralihan di antara kedua jenis ikan tersebut. Akan tetapi, tidak satu pun fosil yang memiliki bentuk peralihan pernah ditemukan. Ditemukan bintang laut dan ikan dalam catatan fosil, tetapi tidak ada bentuk peralihan di antara keduanya.

    Walaupun sadar betul akan hal ini, kaum evolusionis menggunakan cara seperti hasutan atau demagogi dan bukti palsu, untuk membuat orang percaya pada evolusi. 16 Bahkan Darwin sendiri tahu bahwa catatan fosil tidak mendukung teorinya; ia cuma berharap bahwa catatan itu akan semakin berlimpah seiring berlalunya waktu, dan berbagai makhluk tahap peralihan akan ditemukan. Akan tetapi, kaum evolusionis masa kini tidak lagi memiliki harapan seperti itu. Bahkan mereka akui, catatan fosil begitu kaya dan sudah memadai untuk mengungkapkan sejarah kehidupan.

    Prof N. Heribert Nillson, ahli botani evolusionis yang ternama berkebangsaan Swedia dari Universitas Lund, mengatakan hal berikut tentang catatan fosil:

    Upaya saya untuk menunjukkan peristiwa evolusi, melalui sebuah percobaan yang sudah dilangsungkan selama lebih dari 40 tahun, sudah sepenuhnya gagal … Bahan fosil kini sudah begitu lengkap, sehingga bahkan dapat disusun berbagai kelas (makhluk hidup) baru, dan ketiadaan rangkaian makhluk tahap perantara tidak bisa dijelaskan sebagai akibat kurangnya bahan (fosil). Kekosongan itu memang ada, (dan) tidak akan pernah terisi. 17

    T Neville George, guru besar ilmu paleontologi Universitas Glasgow, menyatakan bahwa sekalipun catatan fosil sangat berlimpah, bentuk peralihan yang sudah lama dicari-cari belum juga ditemukan:

    Tidak perlu lagi meminta maaf atas kekurangan dalam catatan fosil. Dalam segi tertentu, catatan fosil itu sudah demikian berlimpah, hampir tak terkelola, dan kecepatan penemuan fosil sudah melebihi kecepatan penyusunannya … Meskipun demikian, catatan fosil tetap saja masih lebih banyak terdiri atas celah dan kesenjangan. 18

    Para evolusionis bahkan melangkah terlalu jauh, sampai-sampai mengakui bahwa bukan saja menyangkal evolusi, catatan fosil juga memberikan bukti ilmiah bagi kebenaran penciptaan. Misalnya, evolusionis ahli paleontologi Mark Czarnecki mengakui : Masalah besar dalam membuktikan teori ini ialah catatan fosil; jejak-jejak makhluk hidup yang sudah punah, yang terawetkan dalam lapisan batuan Bumi. Catatan ini tidak pernah mengungkapkan tanda-tanda adanya makhluk perantara – yang diduga Darwin –  bahkan, berbagai jenis makhluk hidup muncul dan menghilang dengan tiba-tiba, dan kejanggalan ini amat memperkuat paham penciptaan bahwa setiap jenis makhluk hidup diciptakan oleh Tuhan….(19

    Seperti telah kita lihat, kaum evolusionis menderita kekecewaan mengenaskan menyangkut makhluk tahap perantara. Tidak ada satu pun penggalian di dunia ini yang telah menghasilkan jejak adanya bentuk peralihan, sekalipun yang paling samar, sejak Darwin kali pertama mengajukannya. Temuan itu semua adalah dari jenis yang seakan bermaksud menghancurkan harapan kaum evolusionis, dan menunjukkan bahwa makhluk hidup di Bumi muncul tiba-tiba, berkembang sempurna, dan tanpa cela.

    Akan tetapi, sekalipun mengetahui bahwa bentuk peralihan tidak pernah ada, para ilmuwan evolusionis tak mau meninggalkan teori mereka. Mereka memberikan uraian berprasangka tentang sejumlah fosil. Dalam karangannya In Search of Deep Time, Henry Gee, anggota redaksi majalah termasyhur di dunia, Nature, melukiskan seberapa ilmiah sebenarnya uraian-uraian tentang fosil semacam itu:

    Kita menyusun fosil-fosil dalam suatu urutan yang mencerminkan pemerolehan bertahap dari apa saja yang kita lihat pada diri sendiri. Kita tidak mencari kebenaran, kita menciptakannya setelah kejadian, untuk disesuaikan dengan prasangka kita sendiri … Untuk mengambil sederet fosil, dan menyatakan bahwa deretan itu melambangkan satu garis keturunan, bukanlah sebuah dugaan (hipotesis) ilmiah yang dapat diuji, melainkan sebuah pernyataan yang mengandung keabsahan setara dengan dongeng sebelum tidur – menghibur, bahkan mungkin berisi pelajaran, namun tidak ilmiah. 20

    Itulah sebabnya, mengapa mereka yang beriman kepada Allah tidak boleh teperdaya oleh permainan kata dan kebohongan yang berjubah ilmiah. Salah besar, jika percaya bahwa sekelompok orang, hanya karena mereka ilmuwan, pasti berkata benar dan patut dipercaya. Ilmuwan evolusionis tidak punya rasa bersalah menyembunyikan kebenaran, memelintir fakta ilmiah, dan bahkan membuat bukti-bukti palsu untuk membela pemikiran mereka. Sejarah Darwinisme penuh dengan contoh semacam itu.

    Bila kita tinjau garis-garis besar Darwinisme yang paling dasar sekalipun, segera terlihat ketidak-absahan dan landasannya yang lapuk habis. Bila kita periksa rinciannya, keadaan ini semakin jelas. (Lihat The Evolution Deceit, Taha Publishers, London, 1999 dan Darwinism Refuted, Goodword Publishers, New Delhi, 2003 untuk keterangan lebih lanjut.)

    Berlawanan dengan apa yang dinyatakan kaum evolusionis, kita melihat suatu perancangan dan perencanaan agung dalam ciri semua makhluk hidup dan tak-hidup, ke mana pun kita memandang. Itulah tanda bahwa Allah telah menciptakan semuanya. Kaum evolusionis terus mengibarkan perlawanan sia-sianya, karena tidak ingin menerima kenyataan ini. Sebagai penganut paham materialisme sejati, mereka sedang mencoba menghidupkan kembali sesosok mayat.

    Semua ini membawa ke hanya satu kesimpulan: Darwinisme menyesatkan orang dari akal sehat, ilmu pengetahuan, dan kebenaran, serta menggiring mereka ke arah ke cara berpikir tanpa akal sehat. Orang-orang yang percaya kepada evolusi tak bersedia mengikuti jalur nalar dan ilmu pengetahuan, dan termakan omong kosong penuh takhayul yang disampaikan turun-temurun sejak tahun 1880-an saat Darwin masih hidup.

    Akhirnya, mereka mulai percaya bahwa ketidaksengajaan atau kebetulan bisa memainkan peran bersifat ilahiah, walaupun segenap alam semesta penuh dengan tanda-tanda penciptaan. Cukup melihat satu saja mekanisme tanpa cacat di langit dan di laut, pada tumbuhan dan hewan, untuk menyadari hal ini. Mengatakan bahwa semua ini karya ketidaksengajaan merupakan pelecehan nalar, akal, dan ilmu pengetahuan. Yang diperlukan adalah pengakuan atas kekuatan dan keagungan Allah, dan setelah itu, penyerahan diri kepadaNya.

    ***

    1. Pada tahun 1999, seorang paleontolog Cina menemukan fosil dua jenis ikan yang berumur kira-kira 530 juta tahun di fauna Chengjiang. Masa itu dikenal sebagai Zaman Kambria Awal. Lihat BBC News Online, 4 November 1999 .
    2. Sejarah Darwinisme meliputi sejumlah contoh terkenal bukti yang dipalsukan. “Manusia Piltdown” atau “moyang purba manusia” ternyata cuma tipuan yang dibuat dengan menggabungkan rahang orang utan dan tengkorak manusia. Ahli biologi Jerman Ernst Haeckel memalsukan gambar-gambar embrio manusia dan hewan agar tampak mirip, dan gambar-gambar palsunya menyesatkan ilmuwan selama puluhan tahun. Foto terkenal Ketllewells tentang “penghitaman industri”, yang memperlihatkan ngengat abu-abu Inggris, baru-baru ini terungkap sebagai foto-foto yang diatur di mana contoh sediaan mati direkatkan ke batang pohon. “Burung dino” yang mengejutkan, yang diberi nama ilmiah Archaeoraptor and mengguncang dunia di tahun 1998 ternyata dusta yang diolah dengan merekatkan lima fosil berbeda dari makhluk-makhluk hidup berbeda. Untuk rinciannya, lihat Harun Yahya, Darwinism Refuted, Goodword Books, New Delhi, 2003.
    3. Prof. N. Heribert Nilsson, Universitas Lund, Swedia. Ahli botani dan evolusionis ternama, sebagaimana dikutip dalam: The Earth Before Man, h.51, http: //www.netcentro.co.uk/steveb/penkhull/create3.htm. (Penebalan oleh Harun Yahya)
    4. T. Neville George, “Fossils in Evolutionary Perspective”, Science Progress, vol 48, Januari 1960, h. 1,3 (Penebalan oleh Harun Yahya)
    5. Mark Czarnecki, “The Revival of the Creationist Crusade”, MacLean’s, 19 January 1981 , h. 56
    6. Henry Gee, In Search of Deep Time, New York , The Free Press, 1999, h.116-117.
     
  • erva kurniawan 12:38 pm on 23 May 2015 Permalink | Balas  

    Mengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (5) 

    earth_day_2008Mengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (5)

    Harun Yahya

    Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al An’aam, 6: 73)

    Seleksi alam dan mutasi tidak memiliki daya untuk menyebabkan perubahan bertahap (evolusi)

    Kaum evolusionis Muslim, yang mengabaikan fakta bahwa ilmu pengetahuan telah menggugurkan evolusi, juga menghadapi permasalahan sulit lainnya: pernyataan bahwa 1,5 juta jenis makhluk hidup di alam muncul sebagai akibat peristiwa alam yang tak-sadar.

    Menurut para evolusionis, sel hidup pertama terbentuk akibat berbagai reaksi kimia dalam zat tak-hidup. (Marilah kita ingat bahwa cukup banyak bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa hal ini tidak mungkin. Lebih lagi, para peneliti yang melakukan percobaan menyatukan gas-gas penyusun lapisan atmosfer awal Bumi, sekaligus berbagai keadaan lapisan atmosfer yang sesuai, tidak mampu “menghasilkan” satuan blok pembangun kehidupan yang terkecil sekali pun, yakni protein.13 ) Karena mereka gagal memunculkan organisme hidup, walaupun semua pengetahuan dan teknologi tersedia bagi mereka, secara ilmiah adalah lebih tak masuk akal lagi apabila dinyatakan bahwa ketidaksengajaan buta mampu menghasilkannya.

    Evolusi juga menyatakan bahwa kehidupan berawal dari sel pertama tersebut, yang tumbuh kian rumit, dan yang semakin lama semakin kaya dan beragam, sampai manusia dihasilkan. Singkatnya, lanjut teori itu, berbagai pergerakan tak-sadar di alam terus mengembangkan makhluk hidup. Contohnya, satu bakteri mengandung kode genetik untuk sekitar 2.000 protein, sementara manusia mengandung kode genetik untuk sekitar 200.000 protein. Dengan kata lain, suatu pergerakan tak-sadar telah “menghasilkan” data genetik untuk 198.000 protein baru, seiring dengan berlalunya waktu.

    Itu yang dinyatakan evolusi. Namun, benarkah alam berisi mekanisme atau pergerakan yang dapat menambah data genetik pada suatu makhluk hidup?

    Teori evolusi modern- juga dikenal sebagai neo-Darwinisme, yaitu versi perbaikan atas teori asli Darwin, yang ikut memperhitungkan berbagai temuan terbaru dalam ilmu genetika – mengusulkan dua mekanisme: seleksi alam dan mutasi.

    seleksi alamSeleksi alam berarti bahwa makhluk yang kuat, dan dapat menyesuaikan diri dengan perubahan keadaan alam, akan memenangkan pertarungan demi mempertahankan hidup, sementara yang lainnya tersisih dan lenyap. Misalnya, penurunan suhu yang terus-menerus di suatu wilayah berarti populasi hewan tertentu, yang tidak tahan terhadap suhu rendah, akan terpangkas. Pada jangka panjang, hanya hewan yang tahan suhu dingin yang bertahan hidup, dan akhirnya menjadi seluruh populasi.

    Contoh lain, dalam kasus kelinci yang hidup terus-menerus dalam ancaman hewan pemangsa, hanya yang terbaik menyesuaikan diri dengan lingkup keadaan itu (misalnya, yang dapat berlari paling cepat), bertahan hidup dan mewariskan ciri atau sifatnya kepada generasi berikutnya. Akan tetapi, pemeriksaan seksama mengungkapkan bahwa tidak ada ciri baru yang muncul di sini, karena kelinci ini tidak berubah menjadi jenis hewan atau spesies yang baru, atau pun memperoleh sifat baru. Jadi, orang tidak dapat berkata bahwa seleksi alam menyebabkan evolusi.

    Karena itu, evolusionis hanya tinggal memiliki mutasi. Agar pernyataan evolusi dapat diterima, mutasi harus mampu menambah data genetik pada suatu makhluk hidup. Mutasi dijabarkan sebagai kesalahan dalam gen makhluk hidup, yang terjadi akibat pengaruh luar (misalnya, radiasi atau penyinaran,) atau pun akibat kesalahan penyalinan DNA. Tentu saja, mutasi dapat menyebabkan perubahan, namun perubahan itu selalu merusak. Dengan kata lain, mutasi tidak bisa mengembangkan makhluk hidup; bahkan sebaliknya, selalu membahayakannya.

    Genetika mencapai kemajuan besar selama abad ke-20. Dengan mempelajari berbagai penyakit keturunan pada makhluk hidup, berdasarkan ilmu pengetahuan yang berkembang cepat, para ilmuwan memperlihatkan bahwa mutasi bukanlah perubahan hayati yang dapat menyumbangkan sesuatu bagi evolusi. Ini bertentangan dengan pernyataan evolusionis. Kemajuan-kemajuan dalam genetika khususnya menghasilkan pengetahuan bahwa sekitar 4.500 penyakit yang diduga sebagai penyakit keturunan sebenarnya disebabkan oleh mutasi.

    Agar dapat diwariskan kepada keturunan, mutasi harus terjadi pada organ perkembangbiakan (sel sperma pada lelaki, indung telur pada perempuan). Hanya perubahan genetik jenis ini yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Banyak penyakit keturunan disebabkan justru oleh perubahan pada sel-sel tersebut.

    Mutasi, di sisi lain, terjadi di organ tubuh lainnya (misalnya, hati atau otak), sehingga tidak bisa diwariskan kepada generasi berikutnya. Mutasi yang demikian, disebut “somatik”, menyebabkan banyak penyakit kanker melalui kemunduran dalam DNA sel.

    Kanker merupakan salah satu contoh paling tepat tentang kerusakan yang disebabkan oleh mutasi. Banyak faktor karsinogenik (penyebab kanker), misalnya zat kimia dan sinar ultra-ungu, sebenarnya menyebabkan mutasi. Setelah adanya temuan mutakhir tentang gen onkogenik (pendorong kanker) dan gen pencegah tumor, yang apabila tidak bekerja dengan benar, mampu menimbulkan kanker, para peneliti menyadari bagaimana mutasi menyebabkan kanker.

    Kedua jenis gen ini penting bagi sel untuk memperbanyak diri, serta bagi tubuh untuk memperbaharui diri. Jika salah satunya rusak karena mutasi, sel-sel mulai tumbuh tak terkendali dan kanker pun mulai terbentuk. Kita dapat membandingkan keadaan ini dengan pedal gas yang macet atau rem yang blong pada sebuah mobil. Dalam kedua kasus tersebut, akan terjadi tabrakan. Begitu pula, pertumbuhan sel yang tak terkendali akan menyebabkan kanker, lalu kematian. Jika mutasi merusak gen-gen ini pada saat kelahiran, seperti dalam kasus retinoblastoma (kanker sel mata), bayi yang terkena akan segera meninggal dunia.

    chernobylMutasi secara tak sengaja selalu membahayakan umat manusia dan makhluk hidup lainnya. Dampak mengerikan kecelakaan nuklir pada tahun 1986 di Chernobyl menunjukkan akibat mutasi.

    Kerusakan yang diakibatkan oleh mutasi pada makhluk hidup tidak terbatas pada contoh-contoh ini saja. Hampir semua mutasi yang dapat teramati sejauh ini bersifat merusak; hanya beberapa saja yang tidak berpengaruh apa-apa. Walaupun demikian, kaum evolusionis, termasuk yang Muslim, masih mencoba mempertahankan anggapan bahwa mutasi adalah mekanisme yang berlaku dalam evolusi. Jika satu makhluk hidup memang berubah menjadi makhluk hidup lain, sebagaimana dinyatakan kaum evolusionis, mestinya terjadi berjuta-juta mutasi yang menguntungkan, dan terdapat pada semua sel benih dan peranakan.

    Ilmu pengetahuan, seiring dengan kemajuan yang terus-menerus dicapainya, telah menemukan berjuta-juta mutasi jahat, dan telah mengenali berbagai penyakit yang diakibatkannya. Akan tetapi, teori evolusi menghadapi kebingungan yang mengenaskan: para ilmuwan evolusionis tidak bisa menyebutkan satu pun mutasi yang benar-benar menambah data genetik.

    Pierre Paul Grassé, seorang ahli zoologi terkemuka Perancis, penyunting buku 35 jilid Traite de Zoologie, dan mantan ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Perancis, mengibaratkan mutasi dengan huruf yang salah diketik saat menyalin naskah tertulis. Dan, sebagaimana huruf salah ketik, mutasi tidak menambah keterangan; bahkan, merusak data yang sudah ada. Grassé menyatakan fakta ini dengan cara berikut:

    Mutasi, dalam sejarah, terjadi secara acak. Mutasi tak saling melengkapi satu sama lain, tidak juga bertambah pada generasi selanjutnya menuju arah tertentu. Mutasi mengubah apa yang sudah menetap, namun secara kacau dan salah, walaupun bagaimana … Begitu ada kekacauan, sekalipun kecil, timbul pada makhluk yang tersusun dan teratur, maka penyakit, lalu kematian, pun mengikuti. Tidak ada jalan tengah yang bisa tercipta antara gejala kehidupan dan kekacauan. 14

    Menimbang fakta ini, mutasi, sebagaimana dijelaskan Grassé, “betapa pun banyaknya, tidaklah menghasilkan evolusi jenis apa pun.” Kita dapat membandingkan akibat mutasi dengan gempa bumi. Sama seperti gempa bumi, yang tidak membantu membangun atau memperbaiki sebuah kota melainkan malah memorak-porandakannya, mutasi pun selalu berpengaruh buruk. Dari sudut pandang ini, pernyataan evolusionis tentang mutasi adalah sepenuhnya tanpa dasar. (Untuk rincian, lihat The Evolution Deceit oleh Harun Yahya, Taha Publishers, London, 1999).

    “Kaum kami telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka?) Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (QS. Al Kahfi, 18:15)

    ***

    1. Jalan cerita evolusi yang terkait dengan asal-muasal kehidupan disebut teori evolusi kimiawi. Tak terhitung jumlah percobaan yang dilakukan selama abad ke-20 gagal mendukung teori ini. Percobaan Stanley Miller, percobaan yang paling terkenal, mencakup “penciptaan” atmosfer purba dugaannya dan diikuti pembentukan beberapa asam amino. Akan tetapi, belakangan diketahui bahwa atmosfer purba jauh lebih bermusuhan terhadap senyawa organik (hidup) dibandingkan dengan perkiraan miller. Tak seorang pun pernah berhasil meniru perakitan protein, blok pembangun kehidupan yang sebenarnya, dalam percobaan “evolusi kimiawi” mana pun. Untuk lebih rinci, lihat Harun Yahya: Darwinism refuted, goodword books, New Delhi , 2003.
    2. Pierre-Paul Grasse, Evolution Of Living Organisms, Academic Press, New York , 1977, h.97
     
  • erva kurniawan 1:57 am on 21 May 2015 Permalink | Balas  

    Mengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (4) 

    evolusiMengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (4)

    Harun Yahya

    Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al An’aam, 6: 73)

    Kebenaran penting yang terabaikan oleh kaum muslimin yang mendukung teori evolusi

    Dalam bab sebelumnya, telah kita bahas bagaimana kaum Muslimin yang telah diyakinkan bahwa evolusi itu adalah sebuah fakta (kenyataan), dan bukan teori, mungkin tak menyadari berbagai kemajuan ilmiah terkait dan mutakhir, yang membantah paham Darwinisme. Tiadanya kesadaran ini menghalau kaum evolusionis Muslim untuk terus menerima gagasan dan kepercayaan yang sudah dibuktikan sebagai tak absah oleh ilmu pengetahuan. Lebih jauh, mereka mengabaikan kenyataan bahwa landasan yang mendasari evolusi mencerminkan tabiat pagan (musyrik, atau tak beragama), menganggap bahwa kuasa ilahiah dimiliki oleh unsur kebetulan atau ketidak-sengajaan dan peristiwa alam, dan telah menyebabkan amat banyak penindasan, pertikaian, perang, dan berbagai malapetaka lain.

    Bab ini akan khusus membahas kenyataan itu, yang terabaikan oleh kaum evolusionis Muslim, dan menghimbau mereka agar menghentikan dukungan bagi tabiat pagan yang memberikan landasan bagi paham pemikiran materialis dan tak bertuhan.

    Evolusi adalah gagasan yunani kuno yang tak mengenal agama

    Berlawanan dengan yang dinyatakan oleh para pendukungnya, evolusi bukanlah sebuah teori ilmiah, melainkan sebuah kepercayaan musyrik. Gagasan tentang evolusi muncul pertama kalinya dalam masyarakat kuno, seperti Mesir, Babilonia, dan Sumeria, lalu mencapai para filsuf Yunani kuno. Tugu peninggalan bangsa Sumeria yang musyrik berisi pernyataan yang mengingkari penciptaan, dan menegaskan bahwa makhluk hidup muncul dengan sendirinya sebagai bagian proses yang bertahap. Menurut kepercayaan Sumeria, kehidupan muncul dengan sendirinya dari kekacauan atau pergolakan air.

    Sebagai bagian dari agama takhayul yang dianutnya, orang Mesir kuno percaya bahwa “ular, katak, cacing, dan tikus timbul dari lumpur banjir Sungai Nil”. Sama seperti orang Sumeria, orang Mesir kuno mengingkari keberadaan Sang Pencipta, dan mengira bahwa “makhluk hidup muncul dari lumpur secara kebetulan atau tanpa sengaja.”

    Pernyataan terpenting para filsuf Yunani seperti Empedocles (abad ke-5 SM), Thales (wafat 546 SM), dan Anaximander (wafat 547 SM) dari Miletus adalah bahwa makhluk hidup pertama terbentuk dari zat-zat tak-hidup seperti udara, api, dan air. Teori ini berpendapat makhluk hidup pertama muncul tiba-tiba di air, dan lalu beberapa di antaranya meninggalkan air, menyesuaikan diri hidup di darat, dan mulai menetap hidup disana.

    Thales percaya bahwa air adalah akar segenap kehidupan, bahwa tumbuhan dan hewan mulai berkembang di air, dan bahwa manusia adalah hasil akhir proses ini. Anaximander,4 filsuf sezaman Thales yang lebih muda, berpendirian bahwa “manusia tumbuh dari ikan” dan bahwa sumber kehidupan mulai dengan “segumpal massa purba”.5

    Karya puisi Anaximander Tentang Alam merupakan karya tulis pertama yang ada yang berdasarkan teori evolusi. Dalam puisi itu, ia menulis bahwa makhluk hidup muncul dari lendir yang dikeringkan oleh matahari. Ia berpikir bahwa hewan pertama berkulit sisik yang berduri, dan hidup di lautan. Sambil berubah perlahan-lahan, makhluk mirip ikan ini pindah ke darat, melepaskan kulit sisik durinya, dan akhirnya menjadi manusia.6 (Untuk lebih rinci, lihat The Religion of Darwinism, Harun Yahya, Abu’l Qasim Publishers, Jeddah, 2003).

    Teorinya bisa dianggap sebagai landasan pertama teori evolusi masa kini, karena memiliki banyak kemiripan dengan paham Darwinisme.

    Empedocles menyatukan gagasan-gagasan awal, dan mengemukakan bahwa unsur-unsur dasar (yakni, tanah, udara, api, dan air) bersatu menciptakan berbagai tubuh. Ia juga percaya bahwa manusia berkembang dari kehidupan tumbuhan, dan hanya faktor di luar kesengajaanlah yang berperan dalam proses ini.7Sebagaimana telah disebutkan, pemikiran tentang ketidaksengajaan ini beserta perannya dalam penciptaan, menjadi landasan utama ditegakkannya teori evolusi.

    Heraclitus (wafat abad ke-5 SM) menyatakan, karena alam semesta selalu dalam proses perubahan yang terus-menerus, tidak ada gunanya mempertanyakan dongeng uraian tentang awal alam semesta. Ditandaskan olehnya bahwa alam semesta tidak berawal atau berakhir. Sebaliknya, alam semesta ada begitu saja. Singkatnya,8 kepercayaan materialis, yang di atasnya berdiri evolusi, juga ada di masa Yunani kuno.

    Gagasan perkembangan seketika didukung oleh banyak filsuf Yunani lain, khususnya Aristoteles (384-322 SM). Gagasan ini mengatakan bahwa hewan, khususnya cacing, serangga, dan tumbuhan, muncul dengan sendirinya di alam, dan tidak perlu melalui proses pembuahan. Maurice Manquat, yang tersohor akan berbagai kajiannya tentang gagasan Aristoteles mengenai sejarah alam, suatu kali berkata:

    Aristoteles begitu memikirkan asal-muasal kehidupan, sampai-sampai ia menerima kemunculan seketika (bersatunya zat-zat tak-hidup untuk seketika membentuk makhluk hidup) untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa tertentu yang tidak dapat diterangkan dengan cara lain.9

    Bila diperiksa dengan seksama, tampak ada cukup banyak kemiripan antara gagasan-gagasan para pemikir evolusionis zaman dulu dengan sekarang. Akar gagasan materialis, yaitu alam semesta tak berawal dan tak berakhir, maupun pandangan evolusionis, yaitu makhluk hidup muncul sebagai akibat faktor kebetulan, terdapat dalam budaya Sumeria musyrik, dan umum di kalangan pemikir materialis Yunani. Gagasan bahwa kehidupan muncul dari air dan adonan yang disebut segumpal “massa purba”, serta bahwa makhluk hidup muncul hanya karena ketidaksengajaan, menjadi dasar kedua gagasan ini, yang masih terkait sekalipun terpisah tenggang waktu yang amat panjang.

    Jadi, kaum evolusionis Muslim mendukung sebuah teori, yang akarnya tertanam dalam gagasan kuno yang telah terbukti tidak memiliki dasar ilmiah. Lebih lagi, gagasan serupa pertama kali diusulkan oleh para pemikir materialis kuno, dan mengandung makna pagan atau musyrik.

    Sebenarnya, evolusi tidak terbatas pada budaya Sumeria kuno maupun filsuf Yunani kuno saja, sebab evolusi juga membentuk saripati berbagai sistem kepercayaan mutakhir yang besar, seperti Konfusianisme, Taoisme, dan Buddhisme. Dengan kata lain, evolusi tidak lebih daripada sebuah teori, yang sepenuhnya bertentangan dengan keyakinan dalam Islam.

    Sebagian evolusionis Muslim, sekalipun bertentangan dengan bukti ilmiah, menyatakan bahwa Al Qur’an mendukung apa yang disebut-sebut sebagai “teori evolusi penciptaan”, dan mencoba menemukan sumber evolusi di dunia Muslim. Mereka menyatakan bahwa gagasan ini pertama kali muncul dari para pemikir Muslim dan, saat karya mereka diterjemahkan ke dalam bahasa asing, gagasan evolusionis timbul di dunia Barat.

    Akan tetapi, beberapa contoh di atas jelas mengungkapkan bahwa evolusi tidak lebih daripada sebuah kepercayaan kuno, yang lahir di masyarakat kuno yang tak beragama. Sungguh suatu kesalahan besar apabila kita mencoba membuktikan bahwa paham evolusionis, yang dibangun di atas dasar kebendaan, bisa berasal dari kaum Muslimin, padahal sama sekali tidak ada dasar ilmiah dan sejarah yang mendukung pernyataan itu.

    Ketidaksengajaan bertentangan dengan kebenaran penciptaan

    Mereka yang berpendapat bahwa evolusi tidak bertentangan dengan penciptaan, lupa akan satu hal penting: Orang seperti mereka percaya bahwa pernyataan utama Darwinisme adalah, makhluk hidup muncul melalui perubahan bertahap (evolusi) dari makhluk hidup lain. Akan tetapi, sebenarnya bukan begitu, sebab kaum evolusionis menyatakan bahwa kehidupan muncul sebagai hasil ketidaksengajaan, oleh pergerakan tak-sadar. Dengan kata lain, kehidupan di Bumi lahir tanpa Sang Pencipta, dan dengan sendirinya, dari zat-zat tak-hidup.

    Pernyataan seperti itu mengingkari keberadaan Sang Pencipta sedari awal, dan karena itu tidak dapat diterima oleh kaum Muslimin. Akan tetapi, sebagian orang Muslim, yang tidak menyadari kebenaran ini, tidak melihat adanya bahaya apabila mendukung evolusi, berdasarkan anggapan bahwa Allah bisa saja menggunakan perubahan bertahap (evolusi) dalam penciptaan makhluk hidup.

    Namun, mereka mengabaikan satu bahaya besar: walaupun mereka sedang mencoba memperlihatkan bahwa evolusi tidak bertentangan dengan agama, nyatanya mereka tengah mendukung dan menyetujui sebuah gagasan yang amat tidak mungkin dari sudut pandang mereka sendiri. Sementara itu, kaum evolusionis berpura-pura tidak melihat keadaan ini, karena hal ini membantu mereka mencapai tujuan, yaitu agar masyarakat menerima gagasan mereka.

    Melihat masalah ini sebagai seorang Muslim yang taat, dan mempertimbangkannya dalam petunjuk Al Qur’an, nyata-nyata bahwa teori yang berlandasan utama ketidaksengajaan tidak memiliki kesamaan apa pun dengan Islam. Evolusi menganggap ketidaksengajaan, waktu, dan zat tak-hidup sebagai tuhan, dan menyematkan gelar “pencipta” pada makhluk-makhluk tak-sadar dan lemah ini. Tak seorang Muslim pun dapat menerima teori berdasar pagan serupa itu, sebab setiap Muslim tahu bahwa Allah, satu-satunya Sang Pencipta, yang menciptakan segalanya dari ketiadaan. Karena itu, Muslim menggunakan ilmu pengetahuan dan nalar untuk membantah semua kepercayaan dan gagasan yang bertentangan dengan fakta tersebut.

    Evolusi adalah sebagian dari paham kebendaan (materialisme), dan, menurut materialisme, alam semesta tidak berawal atau berakhir, sehingga tidak memerlukan Sang Pencipta. Pemikiran anti-agama ini mengajukan bahwa alam semesta, galaksi, bintang, planet, matahari, dan benda-benda langit lainnya, beserta sistem dan keseimbangan yang sempurna tanpa cacat di dalamnya, adalah hasil kebetulan (ketidaksengajaan).

    Dengan cara yang sama, teori evolusi menyatakan bahwa protein yang pertama dan sel yang pertama (yaitu blok atau satuan pembangun makhluk hidup) berkembang dengan sendirinya sebagai hasil serangkai kebetulan yang buta. Menurut pemikiran ini juga, semua keajaiban rancangan pada semua makhluk hidup, baik yang hidup di darat, di laut, atau di udara, adalah hasil ketidaksengajaan. Walaupun dikepung bukti-bukti penciptaan, dimulai dari rancangan pada tubuhnya sendiri, penganut teori evolusi bersikeras menganggap bahwa segenap kesempurnaan itu dihasilkan ketidaksengajaan dan proses tak sadar.

    Dengan kata lain, ciri utama mereka adalah menganggap ketidaksengajaan sebagai tuhan, demi mengingkari keberadaan Allah. Akan tetapi, penolakan untuk menerima atau melihat keberadaan dan keagungan Allah yang nyata ini, tidaklah mengubah apa pun. Pengetahuan Allah yang tak berhingga, dan seni Allah yang tak tertandingi, terungkap sendiri dalam apa pun yang diciptakanNya.

    Kenyataannya, berbagai kemajuan ilmiah mutakhir dengan gamblang menolak pernyataan-pernyataan tak berdasar evolusionis bahwa kehidupan muncul dengan sendirinya dan melalui proses alamiah. Rancangan agung pada makhluk hidup menunjukkan bahwa Sang Pencipta, yang memiliki kebijaksanaan dan pengetahuan agung, yang menciptakan semua makhluk hidup. Fakta bahwa organisme yang paling sederhana sekali pun ternyata adalah rumit tak teruraikan, menempatkan setiap penganut teori evolusi dalam kebingungan yang sangat, tanpa jalan keluar – sebuah kenyataan yang sering mereka akui sendiri! Misalnya, matematikawan dan ahli astronomi Inggris yang tersohor, Fred Hoyle, mengakui bahwa kehidupan tidak mungkin ditimbulkan oleh ketidaksengajaan:

    Akan tetapi, sekali waktu kita melihat bahwa besarnya kemungkinan makhluk hidup berawal secara acak adalah begitu kecilnya, sampai-sampai menjadi mustahil … 10

    Evolusionis Pierre-Paul Grassé mengakui bahwa anggapan sifat ketidaksengajaan memiliki daya cipta adalah murni khayalan:

    Namun, teori Darwin bahkan lebih sulit dipenuhi: sebatang tumbuhan, seekor hewan, mensyaratkan terjadinya beribu-ribu peristiwa mujur yang tepat. Jadi, berbagai keajaiban menjadi biasa: peristiwa dengan tingkat kemungkinan amat rendah tidak mungkin tidak berlangsung … Tidak ada aturan yang melarang orang berangan-angan, namun dalam ilmu pengetahuan hal itu tidak boleh berlebihan.11

    Kata-kata itu membuat kebingungan pemikiran yang dihadapi kaum evolusionis menjadi benar-benar jelas: Sekalipun mereka lihat bahwa teori ini tak bisa dipertahankan dan tak ilmiah, mereka tak mau melepaskannya karena obsesi pemikiran mereka. Dalam pernyataan lainnya, Hoyle mengungkapkan mengapa kaum evolusionis yakin pada ketidaksengajaan:

    Sungguh, teori itu (yakni bahwa makhluk hidup dirancang oleh sebuah kecerdasan), sudah begitu jelasnya, sehingga orang bertanya-tanya mengapa teori itu tidak diterima luas, karena terbukti-benar dengan sendirinya. Sebabnya lebih berupa sebuah alasan kejiwaan daripada ilmiah. 12

    Apa yang dilukiskan Hoyle sebagai alasan “psikologis”atau kejiwaan telah menyiapkan kaum evolusionis untuk mengingkari penciptaan. Semua alasan ini adalah bukti yang cukup bagi evolusionis Muslim, untuk menganggap evolusi sebagai tidak lebih daripada sebuah teori yang diciptakan untuk mengingkari Allah.

    ==============

    1. David Skjaerlund, Philosophical Origins of Evolution, http: //www.forerunner.com/forerunner/x0742-philosophical-origin.html
    2. http: //www.candleinthedark.com/anaximander.html
    3. http: //buglady.clc.uc.edu/biology/bio106/earlymod.htm
    4. David Skjaerlund, Philosophical Origins of Evolution, http:/www.forerunner.com/forerunner/x0742-philosophical-origin.html
    5. http: //buglady.clc.uc.edu/biology/bio106/earlymod.htm
    6. Maurice Manquat, Aristote naturaliste, Paris : Librairie Philosophique, J. Vrin, 1932, h. 113
    7. Sir Fred Hoyle & Chandra Wickramasinghe (Guru Besar Astronomi Universitas Cambridge, Guru Besar Astronomi dan Matematika Terapan Universitas College), Cardiff Evolution from Space, J. M. Dent, 1981, h.141, 144
    8. Pierre-Paul Grasse, Evolution of Living Organisms, Academic Press, New York , 1977, h.103
    9. Fred Hoyle, Chandra Wickramasinghe, Evolution from Space, Dent, London , 1981, h.130
     
  • erva kurniawan 1:45 am on 20 May 2015 Permalink | Balas  

    Mengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (3) 

    teori darwinMengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (3)

    Harun Yahya

    Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al An’aam, 6: 73)

    Akibat jika kaum evolusionis menjadi mayoritas

    Muslihat terpenting kaum evolusionis agar teori Darwin diterima secara luas adalah dengan menandaskan bahwa teori itu diterima luas di kalangan masyarakat ilmiah. Pendeknya, mereka menyatakan keabsahan teori ini didasarkan atas anggapan bahwa penganutnya merupakan mayoritas (berjumlah terbanyak), dan anggapan bahwa pandangan mayoritas adalah benar dalam setiap masalah. Dengan menggunakan jalan pikiran itu, serta pernyataan bahwa kebenaran evolusi kian terbukti oleh penerimaan yang luas di berbagai perguruan tinggi, mereka mencoba memakai tekanan kejiwaan pada setiap orang, termasuk yang percaya kepada Allah, untuk menerimanya.

    Arda Denkel, seorang evolusionis guru besar ilmu filsafat di Universitas Bosphorus, mungkin yang paling tersohor di Turki, bahkan mengakui kelirunya cara ini:

    Apakah dengan banyaknya orang, organisasi atau lembaga terhormat yang mempercayainya, teori evolusi terbukti benar? Bisakah teori itu dibuktikan dengan keputusan pengadilan? Apakah jika orang terhormat atau berkuasa mempercayai sesuatu, maka sesuatu itu akan menjadi benar? Saya ingin mengenang sebuah kenyataan sejarah.

    Bukankah Galileo berdiri di hadapan semua orang, pengacara, dan khususnya ilmuwan terhormat zamannya, dan secara sendirian mengatakan kebenaran, tanpa dukungan satu orang pun? Tidakkah berbagai sidang dewan Inkuisisi mengungkapkan suasana serupa? Memperoleh dukungan dari kelompok terhormat dan berpengaruh tidak menciptakan kebenaran, dan tidak berkaitan dengan kenyataan ilmiah. 2

    Seperti pendapat Denkel, penerimaan luas terhadap sebuah teori tidak membuktikan kebenarannya. Nyatanya, sejarah ilmu pengetahuan dipenuhi berbagai contoh teori, yang awalnya diterima oleh sedikit orang (golongan minoritas) saja, dan baru kemudian diterima kebenarannya secara mayoritas.

    Banyak ilmuwan masa kini yang menolak evolusi dan menerima bahwa Allah, Tuhan Pemilik Segala Kekuatan dan Kecerdasan Tak Terbatas telah menciptakan alam semesta ini. Beberapa ilmuwan yang menerima kebenaran penciptaan ini adalah,Owen Gingerich, profesor astronomi dan sejarah ilmu pengetahuan pada Harvard University; Carl Friedrich von Weizsacker, profesor fisika pada Germany’s Max-Planck-Gasellschaft University; Donald Chittick, profesor kimia pada Oregon State University; Robert Matthews, professor fisika pada Oxford University; Michael J. Behe, profesor biologi pada Lehigh University; David Menton, profesor anatomi pada Washington University, S. Jocelyn Bell Burnell, profesor fisika pada Universitas Terbuka di Inggris; dan William Dembski, profesor rekanan dalam dasar pandangan ilmu pengetahuan pada Baylor University.

    Lebih lagi, evolusi tidaklah diterima oleh seluruh masyarakat ilmiah, seperti yang diupayakan oleh para pendukungnya agar diyakini orang. Selama 20-30 tahun terakhir, jumlah ilmuwan yang menolaknya telah meningkat secara luar biasa. Kebanyakan dari mereka meninggalkan kepercayaan buta kepada Darwinisme, sesudah melihat rancangan yang tanpa cacat di alam semesta dan dalam makhluk hidup. Mereka telah menerbitkan karya tulis yang tak terhitung jumlahnya, yang membuktikan ketidak-absahan teori itu.

    Lebih penting lagi, mereka merupakan anggota berbagai perguruan tinggi terkemuka di seantero dunia, khususnya Amerika Serikat dan Eropa, dan pakar serta peneliti karir dalam bidang biologi, biokimia, mikrobiologi, anatomi, paleontologi, dan bidang ilmu lainnya.3 Karena itu, sangat keliru berkata bahwa jumlah terbanyak dalam masyarakat ilmiah mempercayai evolusi.

    Karena itu, tidak akan bermakna apa-apa, sekalipun jika kaum evolusionis sungguh menjadi jumlah terbanyak. Tidak ada pandangan mayoritas yang sepenuhnya benar hanya karena itu pandangan mayoritas. Kaum Muslimin yang mempercayai evolusi perlu tahu bahwa Al Qur’an membahas masalah ini ketika menceritakan nasib banyak masyarakat zaman dahulu, yang berpandangan serupa, dan akhirnya mengingkari Allah dan agamaNya dengan cara membiarkan diri tersesat dari jalan yang lurus. Allah memperingatkan kaum mukmin agar tidak mengikuti orang-orang yang penuh tipu-daya demikian, dan mengabarkan kepada umat manusia bahwa berjalan bersama jumlah terbanyak, atau mayoritas, bisa mengakibatkan manusia tergiring ke arah kesalahan yang mengerikan:

    Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). (QS. Al An’aam, 6: 116)

    ===================

    1. Arda Denkel, Cumhuriyet Bilim Teknik Eki (Suplemen Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Cumhuriyet), 27 Februari 1999, h.15 (Penebalan oleh Harun Yahya)
    2. Sejumlah pengecam Darwinisme masa kini paling terkemuka adalah Michael Behe (ahli biokimia), Michael Denton (ahli biokimia), Jonathan Wells (ahli biologi), William Dembski (matematikawan), Charles Taxton (ahli biokimia), dan Dean Kenyon (ahli biologi molekuler). Banyak ilmuwan lain yang berpandangan menentang Darwinisme dapat dihubungi melalui lembaga-lembaga sejenis The Discovery Institute, The Intelligent Design Network, atau The Institution for Creation Research. (Untuk rincian selanjutnya, lihat Harun Yahya: The Al Qur’an Leads the Way to Science, Nickleodeon Books, Singapura, 2002)
     
  • erva kurniawan 1:28 am on 19 May 2015 Permalink | Balas  

    Mengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (2) 

    evolusiMengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (2)

    Harun Yahya

    Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al An’aam, 6: 73)

    Mengapa Sebagian Kaum Muslimin Mendukung Teori Evolusi?

    Sepanjang sejarah, manusia sudah memikirkan alam semesta dan asal-muasal kehidupan ini, dan sudah mengajukan berbagai gagasan tentang hal ini. Kita dapat membagi gagasan-gagasan itu menjadi dua kelompok: yang menjelaskan alam semesta ini dari sudut pandang materialis, dan yang melihat bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dari ketiadaan, yakni, kebenaran penciptaan.

    Dalam pengantar buku ini, telah kita lihat bahwa teori evolusi didirikan pada filsafat materialis. Pandangan materialis menyatakan bahwa alam semesta terdiri atas materi, dan materi adalah satu-satunya hal yang ada. Karena itu, materi ada selama-lamanya, dan tidak ada kuasa lain yang mengaturnya. Kaum materialis percaya bahwa faktor ketidaksengajaan (kebetulan) yang buta menyebabkan alam semesta membentuk diri, dan makhluk hidup muncul secara bertahap, berevolusi dari zat-zat tak-hidup. Dengan kata lain, semua makhluk hidup di dunia ini muncul sebagai akibat berbagai pengaruh alam dan ketidaksengajaan.

    Filsafat materialis menggunakan teori evolusi, yang keduanya saling melengkapi, untuk menjelaskan timbulnya makhluk hidup. Kesatuan ini, yang lahir di zaman Yunani kuno, kembali disebarluaskan saat ilmu pengetahuan masih terbelakang di abad ke-19, dan, karena teori itu dianggap mendukung paham materialisme, tak perduli secara ilmiah absah atau tidak, teori ini segera dirangkul oleh kaum materialis.

    Fakta penciptaan bertentangan dengan teori evolusi. Menurut pandangan kreasionis (penciptaan), materi tidaklah ada sejak dan untuk masa yang tak terhingga, dan karena itu, dikendalikan. Allah menciptakan materi dari ketiadaan dan memberinya keteraturan. Semua makhluk, hidup maupun tak-hidup, ada karena diciptakan Allah. Rancangan, perhitungan, keseimbangan, dan keteraturan yang tampak di alam semesta dan dalam makhluk hidup merupakan bukti nyata akan hal ini.

    Semenjak awal, agama telah mengajarkan kebenaran penciptaan, yang dapat dipahami semua orang melalui penggunaan akal dan pengamatan pribadi. Semua agama samawi telah mengajarkan bahwa Allah menciptakan alam semesta dengan berfirman “Jadilah!”, dan bahwa bekerjanya alam semesta secara sempurna tanpa cela merupakan bukti daya ciptaNya yang agung. Banyak ayat Al Qur’an juga mengungkapkan kebenaran ini. Misalnya, Allah mengungkapkan bagaimana Dia secara ajaib menciptakan alam semesta dari ketiadaan:

    Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”. Lalu jadilah ia. (QS. Al Baqarah, 2: 117)

    Allah juga mengungkapkan yang berikut:

    Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al An’aam, 6: 73)

    Ilmu pengetahuan mutakhir membuktikan ketidak-absahan pernyataan materialis-evolusionis, dan menegaskan kebenaran penciptaan. Berlawanan dengan teori evolusi, semua bukti penciptaan yang mengelilingi kita menunjukkan bahwa faktor kebetulan tidak berperan dalam terwujudnya alam semesta. Setiap rincian yang tampak saat kita mengamati langit, bumi, dan semua makhluk hidup dimaksudkan sebagai bukti kebijaksanaan dan kekuasaan Allah yang agung.

    “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. At Taubah, 9:71)

    Perbedaan mendasar antara agama dan paham ateisme adalah, yang pertama mempercayai Allah, sedangkan yang terakhir mempercayai materialisme. Ketika Allah bertanya kepada mereka yang ingkar, Dia menarik perhatian terhadap pernyataan yang mereka ajukan untuk menolak penciptaan:

    Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? (QS. Ath Thuur, 52: 35)

    Sejak zaman bermula, mereka yang mengingkari penciptaan senantiasa menyatakan bahwa manusia dan alam semesta tidaklah diciptakan, dan selalu berusaha membenarkan pernyataan tak masuk akal itu. Dukungan yang terbesar bagi mereka tiba di abad ke-19, berkat teori Darwin.

    Kaum muslimin tidak boleh mengadakan jalan tengah dalam masalah ini. Memang, orang boleh berpikir sesukanya, dan boleh percaya apa pun yang ingin dipercayainya. Akan tetapi, tidak ada jalan tengah bagi teori yang mengingkari Allah dan ciptaanNya, sebab hal itu berarti tawar-menawar dalam unsur dasar agama. Tentu, berbuat demikian sama sekali tak bisa diterima.

    Para evolusionis, karena sadar betapa jalan tengah seperti itu akan merusak agama, mendorong orang-orang beriman agar berusaha memperolehnya.

    Kaum darwinis menganjurkan pandangan penciptaan melalui evolusi

    Para ilmuwan yang mendukung teori evolusi secara buta, kini semakin tersudut oleh berbagai kemajuan ilmiah baru, yang kian lama kian banyak dan kian terbuka bagi orang awam. Menyadari bahwa setiap penemuan baru adalah bertentangan dengan teori ini, serta menegaskan kebenaran penciptaan, maka demagogi (tindakan menghasut masyarakat) pun berperan lebih penting daripada bukti ilmiah dalam berbagai naskah evolusionis. Di sisi lain, majalah-majalah ilmiah pendukung teori evolusi yang paling terkemuka sekalipun, seperti Science, Nature, Scientific American atau New Scientist, terpaksa mengakui bahwa beberapa segi dalam teori Darwin sudah menghadapi jalan buntu. Para ilmuwan yang mendukung paham penciptaan memenangkan berbagai debat ilmiah ini, dan dengan demikian, menyingkapkan berbagai pernyataan tak berdasar yang diajukan kaum evolusionis.

    Di sinilah, pandangan penciptaan lewat evolusi menjadi penolong bagi kaum materialis. Ini merupakan salah satu taktik yang digunakan kaum evolusionis untuk melunakkan sikap para pendukung paham penciptaan (atau “Rancangan Cerdas”), dan melemahkan posisi intelektual mereka dalam melawan dogma Darwinisme. Walaupun tidak mempercayai Tuhan karena telah mendewakan faktor kebetulan atau ketidaksengajaan, dan menentang habis fakta penciptaan, kaum evolusionis menganggap bahwa teori mereka akan lebih dapat diterima jika mereka berdiam diri tentang gagasan kaum beragama yang sekaligus mendukung teori evolusi, bahwa Allah menciptakan makhluk hidup lewat evolusi. Malah, mereka menganjurkan jalan tengah antara teori ini dan agama, sehingga evolusi lebih dapat diterima dan kepercayaan akan penciptaan melemah.

    Melihat ini, kaum Muslimin harus mengerti bahwa adalah salah sepenuhnya apabila kita percaya bahwa Allah menciptakan alam semesta, namun sekaligus mendukung teori evolusi sekalipun tidak ada bukti ilmiah yang meyakinkan. Lebih jauh lagi, adalah sama salahnya apabila kita menyatakan bahwa evolusi selaras dengan Al Qur’an, dengan cara mengabaikan semua peringatan dalam kitab suci itu sendiri. Kaum Muslimin yang bersikap seperti itu perlu menyadari bahwa mereka sedang mendukung sebuah gagasan yang dirancang untuk membantu filsafat materialis dan, setelah tahu hal ini, harus segera menarik kembali dukungan mereka.

    Menolak evolusi tidak berarti menolak ilmu pengetahuan

    Jumlah Muslim yang percaya bahwa semua makhluk hidup muncul melalui evolusi tidaklah boleh diremehkan. Kesalahan mereka berdasarkan pada kurangnya pengetahuan serta berbagai sudut pandang yang keliru, khususnya yang terkait dengan berbagai masalah ilmu pengetahuan. Kesalahan yang utama adalah gagasan bahwa evolusi adalah fakta ilmiah dan sudah terbukti kebenarannya.

    Orang seperti mereka tidak menyadari bahwa ilmu pengetahuan telah mengikis habis tingkat kebenaran teori evolusi. Baik di tingkat molekuler, atau pun dalam biologi dan paleontologi, penelitian telah membuktikan ketidak-absahan pernyataan makhluk hidup muncul sebagai hasil proses evolusi. Teori Darwin mampu bertahan, sekalipun bertentangan dengan kenyataan ilmiah, hanya karena para evolusionis melakukan segala hal yang mereka bisa, termasuk sengaja menyesatkan orang, agar teori itu tetap hidup. Tulisan dan ceramah mereka dipenuhi istilah ilmiah yang tidak dimengerti orang awam. Tetapi bila kata-kata mereka ditelaah, orang tidak dapat menemukan bukti untuk mendukung teori mereka.

    Pemeriksaan yang seksama atas karya tulis terbitan kaum Darwinis telah jelas mengungkapkan kenyataan ini. Uraian mereka hampir tidak pernah berdasarkan bukti ilmiah yang kukuh. Berbagai bidang mendasar, tempat teori ini runtuh, dipulas dengan beberapa patah kata, dan banyak uraian aneh ditulis tentang sejarah alam. Mereka tidak pernah memusatkan perhatian pada pertanyaan-pertanyaan utama, misalnya bagaimana pertama kali kehidupan timbul dari zat-zat yang tak-hidup, celah-celah lebar pada catatan fosil, dan sistem pada makhluk hidup yang rumit. Mereka tidak melakukannya, karena apa pun yang dapat mereka katakan atau tulis akan berlawanan dengan tujuan mereka serta mengungkapkan kekosongan teori mereka.

    darwinKetika Charles Darwin (1809-1882), pendiri teori ini, menelaah salah satu sistem rumit yang terdapat pada makhluk hidup, yakni mata, ia menyadari bahaya yang mengancam teorinya, dan ia bahkan mengakui bahwa memikirkan mata membuat sekujur tubuhnya menggigil. Seperti Darwin, para ilmuwan evolusionis masa kini tahu bahwa teori mereka tidak memiliki penjelasan tentang sistem rumit serupa itu. Namun, bukannya mengakui hal ini, mereka justru mencoba menutupi tiadanya bukti ilmiah, dengan cara menulis berbagai uraian khayal serta mencekokkan teori ini kepada masyarakat dengan memberinya sebuah topeng ilmiah.

    Cara-cara ini tampak jelas dalam debat tatap muka antara kaum evolusionis dengan mereka yang meyakini penciptaan, maupun dalam tulisan dan film dokumenter evolusionis. Sebenarnya, kaum evolusionis tidak peduli pada hal-hal seperti kebenaran ilmiah atau akal sehat, karena sasaran tunggalnya adalah membuat orang yakin bahwa evolusi adalah kenyataan ilmiah.

    Dengan cara demikian, kaum Muslimin pendukung evolusi termakan oleh citra teori ini yang katanya “ilmiah”. Khususnya, mereka tertusuk oleh semboyan Darwinis, seperti: “Siapa pun yang tidak mempercayai teori evolusi artinya bersikap taklid (meyakini sesuatu secara buta) atau tidak ilmiah,” dan karena itu memberikan ruang dalam keyakinan mereka yang sebenarnya. Karena terpengaruh keterangan usang atau tulisan dan pendapat evolusionis, mereka percaya bahwa hanya evolusi yang dapat menerangkan peristiwa munculnya kehidupan. Lalu mereka mencoba menyelaraskan agama dan evolusi, karena tidak mengetahui perkembangan ilmiah mutakhir maupun pertentangan dalam teori itu sendiri, serta tingkat keyakinan terhadap kebenaran teori tersebut yang telah lenyap.

    Akan tetapi, menimbang bahwa evolusi bertentangan 180 derajat dengan penciptaan, membuktikan kebenaran yang satu akan berarti menggugurkan yang lainnya. Dengan kata lain, menggugurkan evolusi berarti membuktikan penciptaan.

    Karena alasan-alasan ini, kaum materialis memandang debat tentang evolusi sebagai sejenis medan perang, semacam perang terbuka antar paham pemikiran, dan bukan sebagai masalah ilmiah. Jadi, kaum materialis melakukan semua cara yang mungkin untuk menghalangi mereka yang meyakini paham penciptaan.

    Misalnya, evolusionis Lerry Flank menyarankan agar kebenaran penciptaan dilawan dengan cara-cara berikut:

    Para pengawas terhadap kaum kreasionis harus ketat mengawasi susunan anggota dewan pendidikan negara bagian. Sebaiknya, mereka yang berminat kepada pendidikan yang bermutu serta kepada pencegahan langkah kaum fundamentalis yang hendak memakai sekolah negeri untuk berkhotbah, menjadi mayoritas anggota dewan-dewan ini … Jika ini gagal, dan buku-buku pelajaran berpaham kreasionis benar-benar dipakai dan disetujui, maka tindakan hukum menjadi perlu diambil. 1

    Jelaslah dari kata-kata ini bahwa kita bukan sedang bicara tentang suatu debat ilmiah, melainkan tentang sebuah perang gagasan, yang dicanangkan oleh kaum evolusionis dalam kerangka kerja siasat tertentu.

    Kaum Muslimin yang mempertahankan evolusi harus menyadari hal ini. Darwinisme bukan sebuah pandangan ilmiah; melainkan sebuah sistem berpikir yang dirancang untuk menggiring orang mengingkari Allah. Karena teori ini tidak berlandasan ilmiah, seorang Muslim tidak boleh membiarkan diri disesatkan oleh berbagai pendapat dalam teori ini, dan lalu memberikan dukungan, setulus apa pun niatnya.

    ===========

    1. Lester J. McCann, Blowing the Whistle on Darwinism (1986), h. 99 (kutipan diambil dari Randy Wysong, The Creation-Evolution Controversy (1976), h. 28-29)
     
  • erva kurniawan 2:40 am on 18 May 2015 Permalink | Balas  

    Mengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (1) 

    teori darwinMengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (1)

    Harun Yahya

    Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al An’aam, 6: 73)

    Pengantar

    Beragam konsep bisa muncul di benak kita apabila teori evolusi disebut. Sebagian orang, terutama kaum materialis yang mengira teori ini adalah fakta yang sudah terbukti secara ilmiah, dengan amat sengit mendukungnya, dan juga, dengan sama sengitnya, menolak semua gagasan yang bertentangan dengannya.

    Kelompok kedua terdiri atas orang-orang yang tidak punya cukup keterangan tentang berbagai pernyataan teori evolusi. Mereka tak begitu tertarik kepadanya, karena tidak menyadari kerusakan yang telah dibawa Darwinisme kepada kemanusiaan dalam satu setengah abad terakhir ini. Bagi mereka tidak menjadi masalah bahwa teori ini dicekokkan kepada masyarakat serta dipertahankan mati-matian, sekalipun secara ilmiah teori ini sudah tidak absah, sebab mereka telah menutup mata terhadap apa yang sedang berlangsung.

    Seandainya pun mereka tahu bahwa teori ini telah kehilangan semua nilai kebenaran ilmiahnya, mereka tidak bisa bersungguh menghadapi orang yang masih memandangnya penting, karena mereka sendiri tidak menganggapnya penting. Mereka pikir tidak perlu menerangkan ketidak-absahan teori tersebut, menerbitkan buku, atau menggelar ceramah-ceramah tentang perihal ini, sebab di mata mereka teori itu sudah jadi barang kuno atau usang.

    Kelompok ketiga adalah mereka, yang di bawah pengaruh saran dan propaganda materialis, memandang teori ini sebagai fakta ilmiah dan mencari “jalan tengah” antara teori evolusi dan iman kepada Allah. Mereka menerima segenap uraian Darwinisme tentang asal-muasal kehidupan, namun mencoba membangun jembatan yang menghubungkan teori evolusi dengan kepercayaan agama, yaitu dengan berpendapat bahwa peristiwa dalam uraian tersebut berlangsung dalam kendali Allah.

    Sesungguhnya, semua pandangan itu keliru, sebab teori evolusi tidak dapat disajikan secara nalar sebagai sebuah fakta ilmiah, diabaikan seakan sepele, maupun disesuaikan dengan agama. Sebagaimana akan kita lihat di sepanjang buku ini, kerangka pemikiran teori ini adalah gagasan anti-agama, yang diajukan untuk memperkuat paham ateisme (paham tak bertuhan) dan memberinya landasan yang kukuh. Lebih lagi, teori ini dibela dengan sengit oleh mereka yang sudah terbuai oleh materialisme, karena dibangun di atas filsafat materialis (kebendaan), dan menyajikan uraian tentang dunia secara materialis. Sejak pertama kali dikemukakan oleh Charles Darwin sampai hari ini, teori ini tidak menyumbangkan apa pun bagi kemanusiaan selain pertikaian, pengisapan, perang, dan kemunduran. Menimbang hal itu, penting bagi kita untuk memiliki pemahaman yang kuat atas permasalahan ini, dan melancarkan perjuangan yang sungguh-sungguh untuk melawannya di tingkat pemikiran atau ideologis.

    Buku ini menanggapi, dari sudut pandang yang amat berbeda, berbagai kesalahan kaum beriman, yang masih mendukung teori evolusi. Buku ini menawarkan jawaban bagi kaum Muslimin yang mencari satu “tempat pijakan bersama” bagi teori evolusi serta fakta penciptaan, dan yang bahkan mencoba memperoleh bukti kebenaran teori itu dalam Al Qur’an. Maksud buku ini bukanlah mencela kaum Muslimin pendukung teori evolusi, melainkan menjelaskan bahwa sikap mereka itu keliru, membantu mereka pada aras pemikiran, dan menjadi sarana bagi mereka untuk menerapkan sudut pandang yang lebih tepat.

    Dua fakta lain akan dibahas dalam buku ini. Pertama, Darwinisme adalah sebuah teori yang tak berlandasan ilmiah, dan kedua, bahwa sasaran teori ini yang sebenarnya adalah agama. Karena itu, buku ini akan menekankan betapa keliru apabila kaum Muslimin menganggap enteng atau meremehkan teori itu, dan tidak melihat perlunya mengobarkan perang pemikiran melawannya.

    Kaum beriman harus menghindari membela teori ini dan makna pemikirannya, karena keduanya menentang kebenaran Islam. Sebagian mukmin mungkin mendukung teori ini, karena tidak sadar akan berbagai bencana yang dibawanya pada umat manusia, bahwa teori ini didukung oleh mereka yang membenci agama, dan bahwa teori ini menolak fakta penciptaan. Mengingat hal itu, kaum Muslimin yang hanya memiliki sedikit pengetahuan tentang teori ini, harus menghindari menempuh jalan itu, sebab sebagaimana difirmankan Allah dalam Al Qur’an kepada mereka yang taat:

    Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al Israa’, 17: 36 )

    Muslim teladan sebaiknya meneliti masalah ini dengan setulusnya, dan berlaku sesuai dengan kesadaran bahwa:

    Barangsiapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus.(QS. Al Jin, 72: 14)

    Sebagaimana diperintahkan ayat di atas, kaum Muslimin yang meyakini kebenaran teori evolusi harus mempertimbangkan teori ini dengan hati-hati, melakukan penelitian yang luas, dan mengambil keputusan sesuai dengan nurani mereka. Buku ini ditulis untuk menolong mereka melakukan hal-hal tersebut, dan untuk sekadar menyinari jalan yang mereka tempuh.

    ***

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 17 May 2015 Permalink | Balas  

    Hati Yang Bersih 

    kaya hatiHati Yang Bersih

    Oleh: A’a Gym

    Setiap manusia tentulah sangat menyukai dan merindukan keindahan. Banyak orang yang menganggap keindahan adalah pangkal dari segala puji dan harga. Tidak usah heran kalau banyak orang memburunya. Ada orang yang berani pergi beratus bahkan beribu kilometer semata-mata untuk mencari suasana pemandangan yang indah. Banyak orang rela membuang waktu untuk berlatih mengolah jasmani setiap saat karena sangat ingin memiliki tubuh yang indah. Tak sedikit juga orang berani membelanjakan uangnya berjuta bahkan bermilyar karena sangat rindu memiliki rumah atau kendaraan mewah.

    Akan tetapi, apa yang terjadi? Tak jarang kita menyaksikan betapa terhadap orang-orang yang memiliki pakaian dan penampilan yang mahal dan indah, yang datang ternyata bukan penghargaan, melainkan justru penghinaaan. Ada juga orang yang memiliki rumah megah dan mewah, tetapi bukannya mendapatkan pujian, melainkan malah cibiran dan cacian. Mengapa keindahan yang tadinya disangka akan mengangkat derajat kemuliaan malah sebaliknya, padahal kunci keindahan yang sesungguhnya adalah jika sesorang merawat serta memperhatikan kecantikan dan keindahan hati. Inilah pangkal kemuliaan sebenarnya.

    Rasulullah SAW pakaiannya tidak bertabur bintang penghargaan, tanda jasa, dan pangkat. Akan tetapi, demi Allah sampai saat ini tidak pernah berkurang kemuliaannya. Rasulullah SAW tidak menggunakan singgasana dari emas yang gemerlap, ataupun memiliki rumah yang megah dan indah. Akan tetapi, sampai detik ini sama sekali tidak pernah luntur pujian dan penghargaan terhadapnya, bahkan hingga kelak datang akhir zaman. Apakah rahasianya? Ternyata semua itu dikarenakan Rasulullah SAW adalah orang yang sangat menjaga mutu keindahan dan kesucian hatinya.

    Rasulullah SAW bersabda, “Ingatlah, dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Tetapi, bila rusak, niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama qolbu!” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Boleh saja kita memakai segala apapun yang indah-indah. Namun, kalau tidak memiliki hati yang indah,demi Allah tidak akan pernah ada keindahan yang sebenarnya. Karenanya jangan terpedaya oleh keindahan dunia. Lihatlah, begitu banyak wanita malang yang tidak mengenal moral dan harga diri. Mereka pun tidak kalah indah dan molek wajah, tubuh, ataupun penampilannya. Kendatipun demikian, mereka tetap diberi oleh Allah dunia yang indah dan melimpah.

    Ternyata dunia dan kemewahan bukanlah tanda kemuliaan yang sesungguhnya karena orang-orang yang rusak dan durjana sekalipun diberi aneka kemewahan yang melimpah ruah oleh Allah. Kunci bagi orang-orang yang ingin sukses, yang ingin benar-benar merasakan lezat dan mulianya hidup, adalah orang-orang yang sangat memelihara serta merawat keindahan dan kesucian qalbunya.

    Imam Al Ghazali menggolongkan hati ke dalam tiga golongan, yakni yang sehat (qolbun shahih), hati yang sakit (qolbun maridh), dan hati yang mati (qolbun mayyit).

    Seseorang yang memiliki hati sehat tak ubahnya memiliki tubuh yang sehat. Ia akan berfungsi optimal. Ia akan mampu memilih dan memilah setiap rencana atas suatu tindakan, sehingga setiap yang akan diperbuatnya benar-benar sudah melewati perhitungan yang jitu berdasarkan hati nurani yang bersih.

    Orang yang paling beruntung memiliki hati yang sehat adalah orang yang dapat mengenal Allah Azza wa Jalla dengan baik. Semakin cemerlang hatinya, maka akan semakin mengenal dia. Penguasa jagat raya alam semesta ini. Ia akan memiliki mutu pribadi yang begitu hebat dan mempesona. Tidak akan pernah menjadi ujub dan takabur ketika mendapatkan sesuatu, namun sebaliknya akan menjadi orang yang tersungkur bersujud. Semakin tinggi pangkatnya, akan membuatnya semakin rendah hati. Kian melimpah hartanya, ia akan kian dermawan. Semua itu dikarenakan ia menyadari, bahwa semua yang ada adalah titipan Allah semata. Tidak dinafkahkan di jalan Allah, pasti Allah akan mengambilnya jika Dia kehendaki.

    Semakin bersih hati, hidupnya akan selalu diselimuti rasa syukur. Dikaruniai apa saja, kendati sedikit, ia tidak akan habis-habisnya meyakini bahwa semua ini adalah titipan Allah semata, sehingga amat jauh dari sikap ujub dan takabur. Persis seperti ucapan yang terlontar dari lisan Nabi Sulaiman AS, tatkala dirinya dianugerahi Allah berbagai kelebihan, “Haadzaa min fadhli Rabbii, liyabluwani a-asykuru am afkuru.” (QS. An Naml [27] : 40). Ini termasuk karunia Tuhanku, untuk mengujiku apakah aku mampu bersyukur atau malah kufur atas nikmat-Nya.

    Suatu saat bagi Allah akan menimpakkan ujian dan bala. Bagi orang yang hatinya bersih, semua itu tidak kalah terasa nikmatnya. Ujian dan persoalan yang menimpa justru benar-benar akan membuatnya kian merasakan indahnya hidup ini. Karena, orang yang mengenal Allah dengan baik berkat hati yang bersih, akan merasa yakin bahwa ujian adalah salah satu perangkat kasih sayang Allah, yang membuat seseorang semakin bermutu.

    Dengan persoalan akan menjadikannya semakin bertambah ilmu. Dengan persoalan akan bertambahlah ganjaran. Dengan persoalan pula derajat kemuliaan seorang hamba Allah akan bertambah baik, sehingga ia tidak pernah resah, kecewa, dan berkeluh kesah karena menyadari bahwa persoalan merupakan bagian yang harus dinikmati dalam hidup ini.

    Oleh karenanya, tidak usah heran orang yang hatinya bersih, ditimpa apapun dalam hidup ini, sungguh bagaikan air di relung lautan yang dalam. Tidak pernah akan berguncang walaupun ombak badai saling menerjang. Ibarat karang yang tegak tegar, dihantam ombak sedahsyat apapun tidak akan pernah roboh. Tidak ada putus asa, tidak ada keluh kesah berkepanjangan. Yang ada hanya kejernihan dan keindahan hati. Ia amat yakin dengan janji Allah, “Laa yukalifullahu nafasan illa wus’ahaa.” (QS. Al Baqarah [2] : 286). Allah tidak akan membebani seseorang, kecuali sesuai dengan kesanggupannya. Pasti semua yang menimpa sudah diukur oleh-Nya. Mahasuci Allah dari perbuatan zhalim kepada hamba-hamba-Nya.

    Ia sangat yakin bahwa hujan pasti berhenti. Badai pasti berlalu. Malam pasti berganti menjadi siang. Tidak ada satu pun ujian yang menimpa, kecuali pasti akan ada titik akhirnya. Ia tidak berubah bagai intan yang akan tetap kemilau walaupun dihantam dengan apapun jua.

    Memang luar biasa orang yang memiliki hati yang bersih. Nikmat datang tak pernah membuatnya lalai bersyukur, sementara sekalipun musibah yang menerjang, sama sekali tidak akan pernah mengurangi keyakinan akan curahan kasih sayang-Nya. Semua itu dikarenakan ia bisa menyelami sesuatu secara lebih dalam atas musibah yang menimpa dirinya, sehingga tergapailah sang mutiara hikmah. Subhanallaah, sungguh teramat beruntung siapapun yang senantiasa berikhtiar dengan sekuat-kuatnya untuk memperindah qolbunya.***

     
  • erva kurniawan 1:12 am on 16 May 2015 Permalink | Balas  

    Bebas Kanker Dengan Tahajjud 

    tahajudBebas Kanker Dengan Tahajjud

    Sholat Tahajjud ternyata tak hanya membuat seseorang yang melakukannya mendapatkan tempat (maqam) terpuji di sisi Allah (Qs Al-Isra:79) tapi juga sangat penting bagi dunia kedokteran. Menurut hasil penelitian Dr. Mohammad Sholeh, dosen IAIN Surabaya, salah satu shalat sunnah itu bisa membebaskan seseorang dari serangan infeksi dan penyakit kanker.

    Tidak percaya? “Cobalah Anda rajin-rajin sholat tahajjud. Jika anda melakukannya secara rutin, benar,khusuk, dan ikhlas, niscaya anda terbebas dari infeksi dan kanker”, ucap Sholeh. Ayah dua anak itu bukan “tukang obat” jalanan. Dia melontarkan pernyataanya itu dalam desertasinya yang berjudul “Pengaruh Sholat tahajjud terhadap peningkatan Perubahan Respons ketahanan Tubuh Imonologik: Suatu Pendekatan Psiko-neuroimunologi” Dengan desertasi itu, Sholeh berhasil meraih gelar doktor dalam bidang ilmu kedokteran pada Program Pasca Sarjana Universitas Surabaya, yang dipertahankannya Selasa pekan lalu. Selama ini, menurut Sholeh, tahajjud dinilai hanya merupakan ibadah salat tambahan atau sholat sunah. Padahal jika dilakukan secara kontinu, tepat gerakannya, khusuk dan ikhlas, secara medis sholat itu menumbuhkan respons ketahanan tubuh (imonologi) khususnya pada imonoglobin M, G, A dan limfosit-nya yang berupa persepsi dan motivasi positif, serta dapat mengefektifkan k emampuan individu untuk menanggulangi masalah yang dihadapi. (coping).

    Sholat tahajjud yang dimaksudkan Sholeh bukan sekedar menggugurkan status sholat yang muakkadah (Sunah mendekati wajib). Ia menitikberatkan pada sisi rutinitas sholat, ketepatan gerakan, kekhusukan, dan keikhlasan. Selama ini, kata dia, ulama melihat masalah ikhlas ini sebagai persoalan mental psikis. Namun sebetulnya soal ini dapat dibuktikan dengan tekhnologi kedokteran. Ikhlas yang selama ini dipandang sebagai misteri, dapat dibuktikan secara kuantitatif melalui sekresi hormon kortisol.

    Parameternya, lanjut Sholeh, bisa diukur dengan kondisi tubuh. Pada kondisi normal, jumlah hormon kortisol pada pagi hari normalnya anatara 38-690 nmol/liter. Sedang pada malam hari-atau setelah pukul 24:00 normalnya antara 69-345 nmol/liter. “Kalau jumlah hormon kortisolnya normal, bisa diindikasikan orang itu tidak ikhlas karena tertekan. Begitu sebaliknya, ujarnya seraya menegaskan temuannya ini yang membantah paradigma lama yang menganggap ajaran agama (Islam) semata-mata dogma atau doktrin.

    Sholeh mendasarkan temuannya itu melalui satu penelitian terhadap 41 responden sisa SMU Luqman Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah, Surabaya. Dari 41 siswa itu, hanya 23 yang sanggup bertahan menjalankan sholat tahajjud selama sebulan penuh. Setelah diuji lagi, tinggal 19 siswa yang bertahan sholat tahjjud selama dua bulan. Sholat dimulai pukul 02-00-3:30 sebanyak 11* rakaat, masing masing dua rakaat empat kali salam plus tiga rakaat. Selanjutnya, hormon kortisol mereka diukur di tiga laboratorium di Surabaya (paramita, Prodia dan Klinika). Hasilnya, ditemukan bahwa kondisi tubuh seseorang yang rajin bertahajjud secara ikhlas berbeda jauh dengan orang yang tidak melakukan tahajjud. Mereka yang rajin dan ikhlas bertahajjud memiliki ketahanan tubuh dan kemampuan individual untuk menangulangi masalah-masalah yang dihadapi dengan stabil.

    “Jadi sholat tahajjud selain bernilai ibadah, juga sekaligus sarat dengan muatan psikologis yang dapat mempengaruhi kontrol kognisi. Dengan cara memperbaiki persepsi dan motivasi positif dan coping yang efectif, emosi yang positif dapat menghindarkan seseorang dari stress.” Nah, menurut Sholeh, orang stress itu biasanya rentan sekali terhadap penyakit kanker dan infeksi. Dengan sholat tahjjud yang dilakukan secara rutin dan disertai perasaan ikhlas serta tidak terpaksa, seseorang akan memiliki respons imun yang baik, yang kemungkinan besar akan terhindar dari penyakit infeksi dan kanker. Dan, berdasarkan hitungan tekhnik medis menunjukan, sholat tahajjud yang dilakukan seperti itu membuat orang mempunyai ketahanan tubuh yang baik.

    “Maka dirikanlah Shalat karena Tuhanmu dan Berkurbanlah”, (Q.S Al-Kautsar:2). Sebuah bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampu mengetahui semua rahasia atas rahmat, nikmat, anugrah yang diberikan oleh ALLAH kepadanya. Haruskah kita menunggu untuk bisa masuk diakal kita ?

    Seorang Doktor di Amerika telah memeluk Islam karena beberapa keajaiban yang di temuinya di dalam penyelidikannya. Ia amat kagum dengan penemuan tersebut sehingga tidak dapat diterima oleh akal fikiran. Dia adalah seorang Doktor Neurologi. Setelah memeluk Islam dia amat yakin pengobatan secara Islam dan oleh sebab itu itu telah membuka sebuah klinik yang bernama “Pengobatan Melalui Al Quran”, kajian pengobatan melalui Al-Quran menggunakan obat-obatan yang digunakan seperti yang terdapat di dalam Al-Quran. Di antara berpuasa, madu, biji hitam (Jadam) dan sebagainya.

    Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam maka Doktor tersebut memberitahu bahwa sewaktu kajian saraf yang dilakukan, terdapat beberapa urat saraf di dalam otak manusia ini tidak dimasuki oleh darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara yang lebih normal. Setelah membuat kajian yang memakan waktu akkhirnya dia menemukan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak tersebut melainkan ketika seseorang tersebut bersembahyang yaitu ketika sujud. Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikut kadar sembahyang waktu yang di wajibkan oleh Islam. Begitulah keagungan ciptaan Allah. Jadi barang siapa yang tidak menunaikan sembahyang maka otak tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal. Oleh karena itu kejadian manusia ini sebenarnya adalah untuk menganut agama Islam “sepenuhnya” karena sifat fitrah kejadiannya memang telah dikaitkan oleh Allah dengan agamanya yang indah ini.

    Kesimpulannya : Makhluk Allah yang bergelar manusia yang tidak bersembahyang apalagi yang bukan yang beragama Islam walaupun akal mereka berfungsi secara normal tetapi sebenarnya di dalam sesuatu keadaan mereka akan hilang pertimbangan di dalam membuat keputusan secara normal. Justru itu tidak heranlah manusia ini kadang-kadang tidak segan-segan untuk melakukan hal hal yang bertentangan dengan fitrah kejadiannya walaupun akal mereka mengetahui perkara yang akan dilakukan tersebut adalah tidak sesuai dengan kehendak mereka karena otak tidak bisa untuk mempertimbangkan secara lebih normal. Maka tidak heranlah timbul bermacam-macam gejala-gejala sosial Masyarakat saat ini.

    Marilah kita membiasakan diri shalat tahajjud, yang hasilnya dapat kita rasakan di dunia dan diakhirat. Anda ingin beramal shaleh? Tolong kirimkan kepada rekan-rekan muslim lainnya yang anda kenal. Wassalam.

    ***

    Dari Sahabat

     

     
  • erva kurniawan 2:16 am on 15 May 2015 Permalink | Balas  

    Bulan Sya’ban, Antara Yang Disyari’atkan dan Yang Tidak Disyari’atkan 

    malam nishfu syabanBulan Sya’ban, Antara Yang Disyari’atkan dan Yang Tidak Disyari’atkan

    Perkara-Perkara Yang Disyari’atkan

    1. Siapa yang memasuki bulan Sya’ban sementara dia punya qadha puasa Ramadhan, wajib baginya untuk segera menggantinya jika dia mampu, tidak boleh baginya untuk menundanya hingga setelah Ramadhan berikutnya jika tidak ada halangan. Siapa yang tidak mengganti qadha puasanya hingga berakhir bulan Sya’ban maka wajib baginya bertaubat atas kelalaiannya dan dia tetap diwajibkan mengganti puasanya tersebut ditambah membayar kafarat setiap hari yang ditinggalkan dengan memberikan kepada orang miskin satu mud beras (atau makanan pokok lainnya).
    2. Disunnahkan untuk memperbanyak shaum (puasa) pada bulan Sya’ban, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dahulu selalu melakukannya. Dalam kitab As-Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim) terdapat hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata: “Aku belum pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyempurnakan shaum selama satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, dan aku belum pernah melihat beliau memperbanyak shaum dalam satu bulan kecuali pada bulan Sya’ban.” Hikmah diperintahkannya untuk memperbanyak shaum pada bulan Sya’ban –wallahu a’lam- adalah sebagai pembukaan bagi bulan Ramadhan yang diwajibkan shaum padanya, agar terlatih untuk melakukan shaum pada bulan tersebut.
    3. Tidak boleh menyambung shaum pada bulan Sya’ban hingga bulan Ramdhan. Sehari atau dua hari terakhir pada bulan Sya’ban harus dihentikan, kecuali jika pada hari itu berbarengan dengan hari biasa dia melakukan shaum padanya, seperti hari Senin atau Kamis, maka dia boleh melakukannya. Terdapat dalam kitab Ash-Shahihain dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam beliau bersabda: “Jangan kalian dahulukan Ramadhan dengan shaum sehari atau dua hari, kecuali (pada hari) yang dia (biasa) shaum, maka shaumlah.” Para ulama menyebutkan hikmahnya dalam masalah ini yaitu: “Agar puasa bulan Ramadhan tidak ditambah dengan puasa selainnya sebagaimana untuk tujuan yang sama dilarang shaum pada hari raya (hari ‘Ied). Begitu juga – hikmah yang lainnya – sebagaimana diketahui bahwa antara perbuatan sunnah (nafl) dan perbuatan wajib (fardhu) hendaknya ada pemisah (jeda) waktu pelaksanaannya, sebagaimana antara shalat nafilah (sunnah) dan shalat fardhu.”

    Perkara-Perkara Yang Tidak Disyari’atkan

    1. Mengkhususkan hari dan malam Nisfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban) dengan melakukan shaum dan shalat, semua perbuatan tersebut tidak ada riwayat yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, juga dari para sahabatnya. Hal tersebut merupakan perkara yang diada-adakan. Terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Jika datang malam Nisfu Sya’ban maka beribadahlah pada malam harinya dan puasalah pada siang harinya, sesungguhnya Allah Ta’ala turun pada hari itu saat matahari terbenam di langit dunia seraya berfirman: “Siapa yang meminta ampun akan Aku ampuni, siapa yang minta rizki akan Aku beri rizki, siapa yang sakit akan Aku sembuhkan.” Hadits ini dilemahkan oleh Imam Bukhari dan lainnya. Adapun mengenai keutamaan malam nisfu Sya’ban, maka berkatalah Al-hafidz Ibn Rajab Rahimahullah: “Mengenai keutamaan malam nisfu Sya’ban terdapat sejumlah hadits yang diperselisihkan kedudukannya, sebagian besar ulama melemahkannya, sedangkan Ibnu Hibban menyatakan shahih sebagiannya dan menempatkannya dalam kitab Shahihnya.” (Latha’iful Ma’arif: 143). Perlu diketahui bahwa Ibnu Hibban dikenal oleh ulama hadits sebagai orang yang menggampangkan dalam men-shahihkan hadits.
    2. Di sebagian tafsir disebutkan bahwa: Malam mulia yang padanya diturunkan Al-Qur’an yang termasuk dalam firman Allah Ta’ala: “inna anzalnahu fi lailatil qadr” adalah malam Nisfu Sya’ban. Pendapat ini keliru dan menyimpang dari kandungan Al-Qur’an itu sendiri, dan para ulama telah membantahnya. Al-Qurthubi seraya mengutip Abu Bakar bin Arabi berkata dalam tafsirnya: “Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa malam tersebut (maksudnya Lailatul qadar) terjadi pada malam Nisfu Sya’ban, itu adalah pendapat yang keliru, karena Allah Ta’ala tatkala berfirman dalam kitab-Nya (syahru romadhonalladzi unzila fihilqur’an) menjelaskan bahwa waktu turunnya Al-Qur’an adalah pada bulan Ramadhan dan kemudian menetapkan waktu malamnya dalam ayat ini: (fi lailati mubarokah) maka siapa yang menyangka bahwa hal tersebut terjadi pada waktu selainnya maka itu merupakan dusta yang sangat besar terhadap Allah Ta’ala.”

    ***

    Sumber: Seksi Terjemah, Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Sulay P.O. Box 1419 Riyadh.

     
  • erva kurniawan 8:46 am on 14 May 2015 Permalink | Balas  

    Shalat itu bikin otak kita sehat 

    sujudShalat itu bikin otak kita sehat

    Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa menghadap Allah (meninggal dunia), sedangkan ia biasa melalaikan Shalatnya, maka Allah tidak mempedulikan sedikit-pun perbuatan baiknya (yang telah ia kerjakan tsb)”. Hadist Riwayat Tabrani.

    Sholat itu Bikin Otak Kita Sehat “Maka dirikanlah Shalat karena Tuhanmu dan Berkurbanlah” (Q.S Al Kautsar:2)

    Sebuah bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampu mengetahui semua rahasia atas rahmat, nikmat, anugrah yang diberikan oleh ALLAH kepadanya. Haruskah kita menunggu untuk bisa masuk diakal kita ?

    Seorang Doktor di Amerika telah memeluk Islam karena beberapa keajaiban yang di temuinya didalam penyelidikannya. Ia amat kagum dengan penemuan tersebut sehingga tidak dapat diterima oleh akal fikiran. Dia adalah seorang Doktor Neurologi. Setelah memeluk Islam dia amat yakin pengobatan secara Islam dan oleh sebab itu itu telah membuka sebuah klinik yang bernama “Pengobatan Melalui Al Qur’an” Kajian pengobatan melalui Al-Quran menggunakan obat-obatan yang digunakan seperti yang terdapat didalam Al-Quran. Di antara berpuasa, madu, biji hitam (Jadam) dan sebagainya.

    Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam maka Doktor tersebut memberitahu bahwa sewaktu kajian saraf yang dilakukan, terdapat beberapa urat saraf didalam otak manusia ini tidak dimasuki oleh darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara yang lebih normal.

    Setelah membuat kajian yang memakan waktu akhirnya dia menemukan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak tersebut melainkan ketika seseorang tersebut bersembahyang yaitu ketika sujud. Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikut kadar sembahyang waktu yang diwajibkan oleh Islam. Begitulah keagungan ciptaan Allah.

    Jadi barang siapa yang tidak menunaikan sembahyang maka otak tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal. Oleh karena itu kejadian manusia ini sebenarnya adalah untuk menganut agama Islam “sepenuhnya” karena sifat fitrah kejadiannya memang telah dikaitkan oleh Allah dengan agamanya yang indah ini.

    Kesimpulannya :

    Makhluk Allah yang bergelar manusia yang tidak bersembahyang apalagi lagi bukan yang beragama Islam walaupun akal mereka berfungsi secara normal tetapi sebenarnya di dalam sesuatu keadaan mereka akan hilang pertimbangan di dalam membuat keputusan secara normal. Justru itu tidak heranlah manusia ini kadang-kadang tidak segan-segan untuk melakukan hal hal yang bertentangan dengan fitrah kejadiannya walaupun akal mereka mengetahui perkara yang akan dilakukan tersebut adalah tidak sesuai dengan kehendak mereka karena otak tidak bisa untuk mempertimbangkan Secara lebih normal. Maka tidak heranlah timbul bermacam-macam gejala-gejala sosial Masyarakat saat ini.

    Jadi, shalat ya! J

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 10 May 2015 Permalink | Balas  

    Antioksidan, Senyawa Ajaib Penangkal Penuaan Dini 

    makananberserat1-300x298Antioksidan, Senyawa Ajaib Penangkal Penuaan Dini

    Oleh Posman Sibuea

    Antioksidan, zat yang dalam kadar rendah mampu menghambat laju oksidasi molekuler target, sering disebut sebagai senyawa ajaib karena dapat menangkal penuaan dini dan beragam penyakit yang menyertainya. Senyawa yang bersemayam dalam buah, sayur, ikan, rempah-rempah dan biji-bijian ini dapat menghentikan reaksi berantai pembentukan radikal bebas dalam tubuh yang diyakini sebagai dalang penuaan dini.

    Menjadi tua adalah suatu proses alami yang tak dapat dihindarkan dan berlangsung secara terus-menerus yang ditandai pada perubahan sel-sel tubuh.

    Di usia memasuki 40-an tahun, seseorang akan mengalami ini secara nyata. Kulit mulai tampak berkeriput dan kering sebab produksi kelenjar keringat kulit mulai menurun. Kemudian, diikuti proses pigmentasi kulit makin meningkat dan rambut mulai menampakkan uban.

    Gejala negatif lainnya adalah stres, penyakit jantung, katarak dan perubahan kejiwaan yang makin merosot. Penyakit jantung akan makin cepat bersemayam dalam tubuh jika seseorang kerap mengalami kondisi stres yang akan merangsang peningkatan kolesterol darah khususnya LDL sehingga akan lebih berisiko terhadap penyakit jantung koroner.

    Sementara itu, gejala perubahan kejiwaan yang tampak dalam proses penuaan adalah pikun alias cepat lupa terhadap apa yang baru saja dilakukan, seperti tempat meletakkan kunci mobil, tas, jam tangan dan lain-lain. Gejala lainnya adalah sulit membedakan dan mengingat sesuatu seperti nama orang, tempat, dan ruang.

    Satu hal lagi yang acap ditakuti dan dihindari adalah proses penuaan pada kulit. Setiap orang berusaha agar kulitnya tetap bersih, kencang dan tidak keriput. Para ahli kesehatan memberikan tip sehat untuk mencegah penuaan dini, antara lain, memelihara kesehatan secara baik, menghindari terpaan sinar matahari secara langsung ke kulit, membersihkan kulit dari debu dan kotoran, menghindari makanan berlemak berlebihan dan berpengawet serta mengonsumsi vitamin yang memiliki aktivitas antioksidan.

    Radikal Bebas

    Tip sehat ini berhubungan erat dengan sifat kulit dan anggota tubuh lainnya yang rentan terhadap pengaruh lingkungan yang amat merugikan, seperti sinar ultra violet dari matahari, polusi udara seperti asap kendaraan bermotor, asap rokok dan bahan-bahan beracun lainnya. Jenis makanan tertentu seperti fast food (cepat saji) dan makanan kemasan atau kaleng juga ditengarai berpotensi meninggalkan racun dalam tubuh karena makanan ini berlimpah lemak dan mengandung pengawet. Padahal untuk zaman sekarang, kebiasaan makan makanan berlemak tinggi menjadi sesuatu yang sulit dihindari karena perubahan pola hidup masyarakat di perkotaan.

    Mengapa tubuh kita rentan terhadap berbagai jenis polutan, makanan berlemak dan berpengawet? Para ahli pangan, gizi dan kesehatan menyebutkan polusi udara dan makanan berlemak dapat menjadi sumber radikal bebas dalam tubuh. Yaitu suatu molekul atau atom apa saja yang sangat tidak stabil karena memiliki satu atau lebih elektron yang tak berpasangan.

    Radikal bebas ini berbahaya karena amat reaktif mencari pasangan elektronnya. Jika radikal bebas sudah terbentuk dalam tubuh maka akan terjadi reaksi berantai dan menghasilkan radikal bebas baru yang akhirnya jumlahnya terus bertambah. Selanjutnya akan menyerang sel-sel tubuh kita sehingga terjadilah kerusakan jaringan yang akan mempercepat proses penuaan.

    Semua sel dalam tubuh, mempunyai enzim yang dapat menangkal serangan radikal bebas. Enzim SOD (Superoxide dismutase) dan glutation proksidase dapat menjadi contoh. SOD akan menjinakkan senyawa oksigen reaktif seperti superoksida anion (O-2) radikal menjadi hidrogen peroksida (H2O2), selanjutnya glutation perksidase mengubahnya menjadi air. Namun dengan meningkatnya usia terjadilah penurunan jumlah kedua enzim ini dalam tubuh, sehingga radikal bebas tidak dapat sepenuhnya dimusnahkan. Belum lagi radikal bebas dari luar yang menyusup masuk ke dalam tubuh akan mempersulit tubuh untuk mengatasi gempuran radikal bebas.

    Sumber Antioksidan

    Hasil penelitian ilmiah menunjukkan bahwa buah-buahan, sayuran dan biji-bijian adalah sumber antioksidan yang baik dan bisa meredam reaksi berantai radikal bebas dalam tubuh, yang pada akhirnya dapat menekan proses penuaan dini. Tomat mengandung likopene, yakni antioksidan yang ampuh menghentikan radikal bebas sehingga tak berkeliaran mencari asam lemak tak jenuh dalam sel. Hal yang sama dilakukan lutein dan zeasantin yang terdapat pada bayam, diketahui amat aktif mencegah reaksi oksidasi lipid pada membran sel lensa (mata) sehingga kita dapat terhindar dari katarak. Sedangkan antioksidan vitamin seperti vitamin C, E dan betakarotenoid akan menstabilkan membran sel lensa dan mempertahankan konsentrasi glutation tereduksi dalam lensa.

    American Heart Association (AHA) dalam petunjuk ilmiahnya yang dimuat dalam Journal of the American Heart Association edisi Februari 1999, mengatakan bukti-bukti yang ada sekarang tidak cukup kuat menjadi dasar merekomendasikan suplemen vitamin antioksidan untuk masyarakat umum. Namun, di sisi lain AHA terus merekomendasikan agar masyarakat meningkatkan konsumsi makanan kaya antioksidan seperti sayuran, buah dan kacang-kacangan. Hal yang sama juga dilakukan Institut Kanker Nasional AS, terus mengampanyekan agar masyarakat mengonsumsi 5 kali atau lebih buah atau sayur dalam sehari. Data ilmiah menyebutkan, individu yang rajin mengonsumsi buah dan sayur memiliki peluang untuk awet muda dan terhindar dari penyakit yang terkait dengan penuaan seperti kanker dan pernapasan.

    Langkah sehat lainnya adalah mengurangi asupan jumlah kalori yang berasal dari karbohidrat dan lemak. Kalori dapat mempercepat penuaan dini karena untuk mengubahnya menjadi energi diperlukan lebih banyak oksigen. Namun, di lain pihak oksigen memicu banyak radikal bebas yang bersumber dari senyawa reaktif oksigen, yang kemudian menyerang sel-sel dan akhirnya mempercepat proses penuaan.

    ***

    Penulis adalah Peserta Program Doktor Ilmu Pangan di UGM. Dosen di Jurusan THP Unika Santo Thomas SU Medan.

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 10 May 2015 Permalink | Balas  

    Tangan Sakti sang Bapak 

    uluran tanganTangan Sakti sang Bapak

    Jalanan kota Jakarta siang itu, seperti biasa, macet. Bus P4 jurusan  Blok M-Pulogadung penuh dengan penumpang. Sebagian berdiri  menggantung lengan. Sebagian lain duduk berjuang menahan kantuk.  Sesekali satu sama lain berpandangan. Mengamati gerak-gerik penumpang  terdekatnya. Biasa, kewaspadaan khas penumpang bus kota.

    Bus merambat pelan seolah masih mempunyai banyak tempat kosong. Satu  demi satu artis jalanan mulai unjuk gigi. Menghias panas terik  mentari dengan lagu-lagu bertemakan sosial dan kemasyarakatan. Kadang  dihiasi sindiran ala politikus, tapi kadang dinodai oleh lirik-lirik  sendu yang kurang pantas dilantunkan.

    Sekilas ada yang aneh terlihat. Seorang bapak setengah baya memakai  batik, peci, dan sarung -khas pendatang baru- duduk di tepi jendela  dengan tenang. Tetapi yang membuat semua penumpang terheran, bapak  itu asyik menjulurkan tangannya ke luar jendela. Bukan sekali dua  kali, tapi malah terus menerus tanpa beban. Sementara penumpang lain  mulai berteriak memberi peringatan.

    “Pak, hati-hati! Tangan bapak dimasukkan bisa patah kena mobil  nanti!” seru seorang ibu yang duduk di sebelahnya.

    “Pak, kemarin ada peristiwa seperti itu. Tangan seorang kakek lepas  saat terjulur keluar dan tersangkut pohon di tepi jalan, hi…  ngeri!” seorang lainnya ikut menakut-nakuti.

    “Aduh, Bapak ini gimana? Nanti kalo tangan bapak kena tiang atau  pohon, bisa patah dan cacat. Kasihan anak istri bapak nantinya…”

    Sang Kondektur tak tinggal diam. Tampaknya kesabarannya sudah  menipis . Aksen batak menambah ketegangan.

    “Bah, ini orang tak tahu di untung, kalo tak kau masukin itu tangan,  bisa koyak, matilah kau!”

    Tapi sang Bapak tak bergeming sedikitpun. Tangannya masih asyik  terjulur dan mengayun-ayun di luar jendela. Sorot matanya yang lugu  pun terkesan percaya diri. Seolah ia tahu apa yang dilakukan dan apa  akibatnya. Para penumpang terheran-heran bertanya-tanya dalam hati:  Apa yang ada dalam benak Bapak tua ini?

    Seorang mahasiswa yang berdiri agak jauh dari bapak tersebut segera  bereaksi. Setelah sempat mengamati gerak-gerik, sorot mata, dan mimik  wajah sang bapak, ia ikut memperingatkan sang Bapak. Tapi peringatan  ini lain dari seruan-seruan sebelumnya.

    Dengan santun ia berteriak tenang, “Maaf Pak, kalau tangan bapak  nggak di masukkan, nanti sayang lho kalo kena pohon, bisa hancur dan  rusak pohonnya. Apalagi kalo kena tiang listrik, wah nanti tiangnya  patah, seluruh kota bisa padam listriknya, Pak! Jadi saya usul  dimasukkin saja tangannya, biar nggak terjadi kerusakan nantinya…”

    Mendengar usulan mahasiswa tersebut, sang Bapak tampak tersenyum. Ia  paham betul dengan peringatan tersebut. Bahkan nampaknya ia sepakat  dengan ucapan sang mahasiswa. Ia tidak ingin pohon-pohon dan tiang  itu rusak karena ulah tangannya. Jauh dari lubuk hatinya ia tidak  ingin ada kerusakan. Ia datang ke Jakarta memenuhi undangan anak  sulungnya. Sama sekali bukan untuk merusak. Apalagi untuk menebang  pohon-pohon dan tiang-tiang listriknya.

    Sadar akan ancaman kerusakan pohon-pohon dan tiang-tiang, sang Bapak  dengan cepat menarik tangannya ke dalam bus kembali. Selesai  persoalan, semua penumpang bernafas lega. Sang kondektur tak henti- hentinya mengurut dada. Tapi sebagian penumpang lain tersenyum-senyum  sambil berbisik-bisik menduga-duga.

    “Oooo… ternyata Bapak ini dari tadi percaya diri karena yakin  dengan kesaktian tangannya too, Alah-alaaaaaaaah…, untung tadi  nggak jadi nabrak pohon.”

    Begitulah, bahasa kembali memberi bukti nyata. Dalam berdakwah, kita  juga harus tahu bahasa yang terbaik bagi setiap orang tentu berbeda.  Sesuai dengan latar belakang objek dakwah masing-masing.

    Bapak itu tidak sepenuhnya salah. Ia merasa yakin dengan kekuatan  tangannya. Toh, selama ini di kampung halamannya ia dikenal  sebagai ‘kyai dan jawara’ yang tubuhnya kebal di sabet pedang dan di  tindih batu besar. Maka ia tak merasa perlu memasukkan tangannya saat  semua penumpang ‘cemas’ akan keselamatan dan keutuhan tangannya. Ia  yakin sepenuhnya tangan saktinya tak akan sakit ‘hanya’ dengan  menyenggol pohon dan tiang.

    Tapi masalahnya menjadi lain, saat sang mahasiswa mulai mengajak  untuk memikirkan hal yang lebih besar: kepentingan umum. Bagaimana  tangan saktinya itu dapat membawa kerusakan pohon-pohon dan tiang- tiang, yang sama sekali tidak ia inginkan. Sungguh, bapak tersebut  tak ingin merusak semua itu. Ia tidak ingin mengganggu kemaslahatan  umum. Maka ia masukkan kembali tangannya dengan sungguh-sungguh,  penuh keikhlasan.

    Mahasiswa itu berhasil. Bukan berhasil dalam artian menyelamatkan  pohon dan tiang dari kesaktian tangan sang Bapak. Bukan, karena hal  itu sama sekali tidak pernah terlintas dalam benaknya. Mahasiswa itu  juga bukan berhasil dalam artian bisa merubah keyakinan sang Bapak  akan kesaktian tangannya. Bukan, karena sampai sejauh ini, sang Bapak  tentu masih yakin dengan kemampuan tangannya, atau bahkan menjadi  semakin yakin.

    Namun paling tidak, mahasiswa tersebut berhasil menyelamatkan tangan  sang Bapak dari ancaman patah ataupun cacat. Begitu pula ia berhasil  mempertemukan sang Bapak dengan anak sulungnya dalam suasana yang  normal dan wajar, bukan suasana sedih dalam musibah. Ia juga berhasil  membuat kondisi bus dan penumpangnya menjadi kembali tenang dan lebih  nyaman. Anda bisa bayangkan sendiri apa yang akan terjadi jika sang  Bapak tetap menjulurkan tangannya ke luar? Mahasiswa itu berhasil,  karena ia berhasil menggunakan bukan sekedar bahasa dakwah, tapi  bahasa dakwah yang terbaik.

    Sekali lagi, sebelum kita berdakwah atau memberikan seruan,  peringatan, terguran, kritikan atau bahkan masukan, akan lebih elegan  dan efektif jika kita tahu ‘siapa’ di depan kita dan ‘apa’ yang ada  dalam benaknya. Sehingga kita bisa memilih bahasa dakwah yang  terbaik. Karena bahasa dakwah terbaik adalah yang mudah di pahami, di  rasakan dalam hati, dan menjadikan objek dakwah setuju dansepakat  dengan apa yang kita maksudkan.

    Bukankah Rasulullah SAW bersabda, “Berbicaralah dengan suatu kaum  sesuai dengan kapasitas pemahaman akal mereka.”

    Semoga kita adalah termasuk dalam orang-orang yang diberi kemudahan  oleh Allah SWT untuk menyampaikan sesuatu dengan bahasa dakwah yang  terbaik.

    Wallahu a’lam bisshowab.

    ***

    Hatta Syamsuddin Anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Sudan

     
  • erva kurniawan 9:18 am on 9 May 2015 Permalink | Balas  

    Tanda-Tanda Kekuasaan Allah Pada Setetes Mani 

    Nasehat IbuTanda-Tanda Kekuasaan Allah Pada Setetes Mani

    Coba lihat setetes mani itu dengan pandangan bashirah. Mani adalah setetes air yang hina, lemah dan kotor. Bila dibiarkan sebentar saja niscaya akan rusak dan bau.

    Coba perhatikan, bagaimana Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa mengeluarkannya dari antara tulang sulbi dan tulang dada berjalan dengan kudratNya, mengikuti kehendakNya dan dengan penuh ketundukan, kendati jalur yang dilalui sangatlah sempit dan cabang-cabang yang dilewati sangatlah banyak namun ia tetap berjalan menuju tempat bermukim dan berkumpul.

    Coba lihat bagaimana Allah memadukan antara lelaki dan perempuan dan menanamkan rasa cinta di antara keduanya. Lalu Allah mengikatnya dengan mata rantai syahwat, cinta dan hubungan badan yang merupakan sebab terciptanya seorang anak manusia. Coba renungkanlah bagaimana Allah mentakdirkan pertemuan antara dua jenis cairan (mani lelaki dan mani perempuan) padahal sebelumnya keduanya sangat berjauhan. Allah menggiringnya dari urat yang paling dalam lalu mempertemukannya di satu tempat yang kokoh, tidak ada udara yang dapat merusaknya, tidak pula hawa dingin yang akan membuatnya beku dan tidak ada pula sesuatu yang mengganggunya dan perusak yang menjamahnya.

    Kemudian Allah merubah setetes air mani yang putih bersih itu menjadi segumpal darah yang merah kehitam-hitaman. Kemudian merubahnya menjadi sekerat daging yang berbeda warna, hakikat maupun bentuknya dengan segumpal darah tadi. Kemudian Allah menjadikan baginya tulang-belulang yang masih polos belum terbungkus yang berbeda bentuk, keadaan, kadar, sensitifitas dan warnanya dengan sekerat daging tadi.

    Lalu coba perhatikan pula bagaimana Allah memilah-milih bagian-bagian yang nyaris sama itu menjadi urat-urat syaraf, tulang belulang, otot-otot, tulang-tulang rawan, cairan-cairan serta alat-alat tubuh yang sangat lunak dan lain-lainnya….

    Kemudian mengikat alat tubuh yang satu dan yang lainnya dengan pengikat yang sangat kokoh dan kuat, pengikat yang tidak mudah terurai. Lalu perhatikan bagaimana Allah membungkusnya dengan daging, menyusunnya sedemikian rupa, lalu menjadikannya sebagai pembalut dan pelindung tubuh.

    Kemudian Al-Imam Ibnul Qayyim melanjutkan pembicaraan tentang setetes air mani ini :

    Sekarang coba lihat setetes air mani itu, perhatikanlah dengan seksama bentuk awalnya, kemudian bentuknya setelah melalui proses. Sungguh, sekiranya jin dan manusia berkumpul untuk menciptakan pendengaran, penglihatan, akal, kemampuan, ilmu, ruh, atau satu tulang saja, yakni tulang yang sangat kecil, atau satu urat saja yang sangat halus atau sehelai rambut saja, niscaya mereka tidak akan mampu menciptakannya. Itu semua merupakan tanda-tanda ciptaan Allah yang menciptakan segala sesuatu dengan rapi, menciptakan manusia dari setetes air mani yang hina.

    ***

    [Keajaiban-Keajaiban MAHKLUK Dalam Pandangan AL-IMAM IBNUL QAYYIM, oleh Abul Mundzir Khalil bin Ibrahim Amin, Darul Haq]

     
  • erva kurniawan 7:00 am on 8 May 2015 Permalink | Balas  

    Hal-Hal Yang Mengurangi atau Merusak Sikap Tawhid (5) Penyakit Hasad 

    hasadHal-Hal Yang Mengurangi atau Merusak Sikap Tawhid (5) Penyakit Hasad

    Penyakit Hasad atau Dengki Hasad tumbuh di hati seseorang apabila ia tidak senang kepada keberhasilan orang lain. Sikap ini biasanya didahului oleh sikap yang menganggap diri paling hebat dan paling berhak mendapatkan segala yang terbaik, sehingga jika melihat ada orang lain yang kebetulan lebih beruntung, maka ia merasa disaingi. Jadi pada dasarnya hasad ini juga berasal dari sikap membesarkan (kibir) diri atau sombong.

    Sikap tawhid pasti akan membuahkan hal yang sebaliknya, karena dengan mentawhidkan Allah seseorang pasti bisa merasakan, bahwa semua makhluk Allah sama kedudukan dan haknya masing-masing di hadapan Allah SWT. Hanya Allah sendiri yang pantas dianggap lebih dari semua yang ada. Adapun manusia punya hak yang sama di sisi Allah. Jika ada manusia yang lebih dimuliakan Allah dari yang lainnya, maka hanya Allah sendiri yang berhak menentukan apa kriterianya, dan bagaimana cara mengukurnya. Di dalam al-Qur’an dikatakan, bahwa kelebihan seseorang manusia terhadap yang lain hanyalah ditentukan oleh ketaqwaan manusia tersebut.

    “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu ialah yang paling bertaqwa, sesungguhnya hanya Allah Yang Maha Mengetahui, Maha Sadar.” (Q. 49:13) Namun taqwa ini merupakan kwalitas hati, yang tidak mungkin diketahui oleh manusia ukurannya. “Taqwa-meter” tak pernah dan tak mungkin dibuat oleh manusia. Oleh karena itu hanya Allah SWT yang mengetahui derajat ketaqwaan seseorang, dan hanya Allah yang Maha Sadar (Khabiir = absolutely well informed) akan nilai setiap orang, maka hanya Allah yang bisa menilai kelebihan seseorang terhadap yang lain.

    Memang dalam pergaulan sesama manusia sering diperlukan suatu metoda tertentu untuk menilai mutu seseorang misalnya setiap guru atau dosen harus menilai murid atau mahasiswanya untuk mengetahui apakah ia pantas dinaikkan atau diluluskan. Di dalam suatu perusahaan, seorang manajer personalia harus mengadakan penilaian (performance appraisal) terhadap bawahannya, namun penilaian itu hanyalah bersifat lahiriah, yaitu yang dinilai ialah hasil prestasi, sama sekali bukan nilai moral atau motivasi bawahan tersebut.

    Oleh karena itu penilaian prestasi (performance appraisal) yang dilakukan oleh seorang manager personalia yang Islami haruslah berdasarkan persetujuan antara si penilai dan orang yang dinilai, dan kedua orang ini haruslah menandatangani laporan hasil penilaian tersebut. Aturan yang sudah biasa dilakukan di kalangan manajer yang modern ini dibuat demi menghasilkan penilaian yang lebih mendekati keobjektifan, namun semua pakar manajemen masih mengakui, bahwa penilaian yang objektif seratus persen tidak akan pernah dicapai manusia, jadi tepat sebagaimana difirmankan Allah SWT:

    “Katakanlah: ‘Setiap kamu berkarya menurut bakat masing-masing, hanya Allah, Tuhanmu yang paling mengetahui siapa yang benar-benar mendapat petunjuk di jalan yang ditempuhnya’…” (Q.17:84) Ayat ini tegas menyatakan, bahwa selain Allah tidak ada yang mampu memberikan penilaian yang betul-betul objektif. Oleh karena itu, sikap dengki yang biasanya didahului oleh penilaian yang subjektif terhadap diri orang lain pasti mendekatkan seseorang kepada syirik, karena menilai secara subjektif itu pada hakikatnya sudah berarti menandingi hak Allah SWT. Wallahu a’lam bishawab.

    ***

    Kuliah Tauhid Ir. Muhammad ‘Imaduddin ‘Abdulrahim M.Sc. Diterbitkan oleh Pustaka-Perpustakaan Salman ITB Bandung, 1400H, 1980 Cetakan 1, 1979, dan cetakan 2 1980 (Muhammad ‘Imaduddin ‘AbdulRahim Ph.D., KULIAH TAWHID, Yayasan Pembina Sari Insan (YAASIN), Jakarta, 1993)

     
  • erva kurniawan 7:51 am on 7 May 2015 Permalink | Balas  

    Hal-Hal Yang Mengurangi atau Merusak Sikap Tawhid (4) Penyakit Zhalim 

    timbanganHal-Hal Yang Mengurangi atau Merusak Sikap Tawhid (4) Penyakit Zhalim

    Kuliah Tauhid Muhammad ‘Imaduddin ‘Abdulrahim

    Zhalim adalah lawan dari ‘adil. Zhalim artinya meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya atau melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Lawannya ‘adil, yang artinya meletakkan sesuatu pada tempatnya atau melakukan sesuatu yang pantas. Jadi kalau seseorang membunuh ular karena ia akan membela nasib seekor tikus yang akan diterkam dan dimakan ular itu, maka tindakannya itu tidak bisa dikatakan ‘adil, karena sudah taqdir Allah SWT, bahwa tikus itu memang makanan ular.

    Demikian pula sikap orang-orang vegetarian yang tak mau makan daging, karena katanya manusia tidak pantas berwatak kejam membunuh binatang yang akan dimakannya. Dengan bersikap demikian mereka menganggap kehidupan mereka penuh dengan kasih sayang sesama makhluk Tuhan. Padahal Allah SWT telah berfirman, bahwa segala sesuatu yang ada di muka bumi ini dan segala yang ada di langit diciptakan Allah untuk melayani kebutuhan manusia.

    “Dan Ia telah menyediakan bagi kamu segala sesuatu yang ada di langit dan apa yang di bumi seluruhnya dari pada-Nya, sesungguhnya dalam hal ini terdapat beberapa tanda bagi kaum yang mau berfikir.” (Q. 45:13). Dari ayat ini dan beberapa ayat lain yang senada (lihat juga Q. 14:32-33; 16:12,14; 22:65; 31:20,29; dan sebagainya), maka membunuh binatang yang memang diciptakan Allah untuk kepentingan kesejahteraan manusia tidaklah termasuk zhalim atau kejam asalkan kita memenuhi segala persyaratan yang berkenaan dengan itu seperti harus dengan pisau yang tajam dan langsung memotong urat leher tertentu agar darahnya segera tanpa tertahan keluar dengan lancar, dan sebagainya.

    Dari ulasan ini dapatlah diketahui, bahwa kezhaliman bisa terjadi jika seseorang melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kewajaran. Sesuatu yang tidak wajar itu biasanya bertentangan dengan hukum atau sunnah Allah SWT. Jadi zhalim dengan tegas berarti melakukan sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Allah SWT. Bedanya dengan kufur hanyalah dalam i’tiqadnya.

    Seorang kafir menolak sunnatuLlah dengan hati dan perbuatannya, sedangkan seorang Muslim yang bertindak berlawanan dengan sunnatuLlah dikatakan zhalim, walaupun ia masih tetap seorang Muslim. Namun kebiasaan berperilaku zhalim akan merusak mentalnya, karena dengan perilaku ini ia telah merendahkan atau meremehkan sunnatuLlah yang pasti menimbulkan akibat negatif bagi dirinya dan lingkungannya. Sikap meremehkan sunnatuLlah ini termasuk atau mendekati sikap sombong yang telah dibicarakan di atas. Pada akhirnya jika pen-zhalim tidak segera taubat maka ia akan menjadi kufur juga akhirnya. Oleh karena itu sikap zhalim dibenci oleh Allah.

    Selain dari pada itu zhalim terhadap makhluk lain, terutama terhadap manusia berarti merendahkan derajat manusia yang dizhalimi. Manusia sebagai makhluk yang dimuliakan Allah haram direndahkan. Bertindak zhalim sama dengan mendekatkan diri dengan kekufuran, karena denqan tindakan itu pen-zhalim telah menandingi hak Allah sebagai Satu-satunya Yang Berhak bertindak menurut iradah-Nya tanpa perlu menenggang yang lain. Tindakan menandingi hak Allah inilah yang berlawanan dengan tawhid. Dengan perkataan lain, zhalim pada dasarnya akan mendekatkan diri seseorang kepada syirik.

    Bertindak zhalim terhadap makhluk selain manusia pun bisa mendekatkan diri kepada kufur, karena telah melawan sunnah Allah. Umpamanya, membunuh binatang yang tak akan dimakan, tapi hanya sebagai permainan atau hobby. Juga, perbuatan-perbuatan yang menimbulkan pencemaran pada lingkungan seperti menebang kayu yang tak akan dimanfaatkan, atau dengan cara yang berlebih-lebihan karena didorong oleh sifat thama’ untuk mendapatkan keuntungan yang berlebihan, sehingga menimbulkan ketidak-seimbangan ecology. Perbuatan zhalim seperti ini sama dengan “berlagak tuhan”, yang boleh berkemauan seenaknya sendiri tanpa menenggang kepentingan orang atau makhluk lain. Hal ini jelas akhirnya akan termasuk syirik atau paling tidak menjauhkan diri seseorang dari sikap tawhid yang istiqamah.

    ***

    Kuliah Tauhid Ir. Muhammad ‘Imaduddin ‘Abdulrahim M.Sc. Diterbitkan oleh Pustaka-Perpustakaan Salman ITB Bandung, 1400H, 1980 Cetakan 1, 1979, dan cetakan 2 1980 (Muhammad ‘Imaduddin ‘AbdulRahim Ph.D., KULIAH TAWHID, Yayasan Pembina Sari Insan (YAASIN), Jakarta, 1993)

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: