Aku Anak Pelacur


ibu-anak-siluetAku Anak Pelacur

Pernahkan Anda dihina, dicibirkan ato dijadikan gunjingan, bahkan selalu dipojokan, karena profesi dari ortu? Hal ini pasti akan Anda rasakan, apabila Anda dilahirkan dari rahim seorang pelacur, sundal, lonte, PSK, perek, atau nama lain apa sajalah yang dapat mewakili sebutan seorang penjaja tubuh dan cinta. Aku memang anak seorang pelacur, walaupun aku sendiri tidak ingin menjadi anak pelacur. Bila aku boleh memilih, pasti aku akan memilih mempunyai orang tua yang baik-baik, lahir dari suatu perkawinan yang sah. Tapi, apakah aku punya pilihan? Hidup memang sebuah pilihan, tetapi tidak untuk memilih dari siapa manusia dilahirkan.

Orang sekampung memperlakukan kami sekeluarga seperti juga penderita penyakit AIDS. Bukan hanya dicibirkan saja, tetapi dalam keadaan apapun juga aku selalu disalahkan. Cemohan dan hinaan sebagai anak pelacur melekat di tubuhku sejak kecil. Apabila aku bertengkar dengan anak tetangga, pasti aku yang selalu disalahkan dengan cemohan, “pantas saja anak ini nakal sebab ibunya juga seorang pelacur. Betapa pedih dan sakitnya hatiku mendengar hinaan seperti itu, tapi aku tidak bisa membela diri. Apakah seorang anak pelacur harus selalu salah? Apakah aku tidak bisa menjadi diriku sendiri tanpa harus dikaitkan dengan pekerjaan ibu? Hinaan ini bukannya hanya berlaku dirumah saja, tetapi disekolahan atau dimanapun juga aku berada.

Apabila aku menceritakan kesedihanku kepada Ibu, Ibu hanya bisa membelai kepalaku dengan lembut, sambil turun air matanya berlinang, karena ia bisa turut merasakan betapa pedihnya penderitaanku. Walaupun aku tidak dididik menjadi anak soleh, tetapi Ibu selalu berharap agar anaknya bisa menjadi seorang wanita karir yang berpendidikan, ia tidak ingin aku terjerumus, sehingga mengikuti jejaknya. Nasehat Ibuku selalu terngiang dikupingku: “Janganlah tiru jejak kehidupan emak yang suram ini. Cukup hanya emak yang terperosok dalam kegelapan, hidup dalam kehinaan, tak punya harga diri.”

Aku tidak pernah mengenal ayahku, sedangkan Ibu sendiripun tak mengerti siapa bapak sahnya. Ibu menjadi pekerja seks sebab dia tidak mempunyai apa-apa. Dia tidak mempunyai ijasah atau ketrampilan yang bisa digunakan untuk mencari uang. Aku yakin menjadi seorang pekerja seks bukan pilihan ibu, tapi sebuah keterpaksaan. Jika ada pilihan pekerjaan lain, aku yakin ibu pasti akan meninggalkan pekerjaan itu, karena kehidupan serba kekurangan inilah yang memaksanya menjalani profesi terkutuk. Dan aku tetap mengasihi Ibuku seperti juga layaknya anak-anak lain mengasihi Ibunya, aku tidak pernah merasa jijik ataupun muak terhadap Ibuku, apakah ini salah? Walaupun demikian aku selalu berdoa, apapun yang akan terjadi didalam kehidupanku, aku tidak ingin anakku mengalami nasib yang sama dengan mendapatkan Ibu seorang pelacur.

Tetapi rupanya takdir dan jalan kehidupan seseorang itu bukanlah pilihan sendiri, suatu hari aku di perkosa oleh para pemuda sekampung, karena mereka menilai apabila Ibunya seorang pelacur pasti anaknyapun sudah tidak perawan lagi, padahal usiaku baru saja 15 tahun. Betapa sakitnya badanku terlebih lagi hati dan perasaanku, sehingga aku mulai merasa jijik terhadap diriku sendiri, aku sudah menilai diriku kotor dan hina, walaupun ini bukannya keinginanku melainkan karena hasil dari pemerkosaan para pemuda yang menilai aku sama seperti Ibuku. Apakah dalam hal ini aku bisa menyalahkan Ibuku?

Hancurlah sudah harapanku maupun harapan Ibuku untuk menjadikan aku beda daripada Ibuku. Karena satu-satunya mahkota kehidupanku telah direnggut dengan paksa, mahkota yang menjadikan diriku lebih terhormat dibanding dengan Ibuku di mata masyarakat. Sesuatu yang diharapkan dapat menghapus citra jelek anak seorang pelacur telah hilang dalam waktu satu malam. Apakah Tuhan telah mentakdirkan aku untuk mengikuti jejak Ibuku menjadi seorang pelacur? Apakah Tuhan telah merencanakan bertambahnya seorang pelacur di muka bumi ini dengan hancurnya kebanggaan hidupku? Dan apakah Tuhan masih mau mengangkatku dari lembah kegelapan hidup yang selama ini mengikuti ke mana langkahku pergi?

Malapetaka yang menimpa diriku ini diketahui oleh orang sekampung. Apakah ada rasa iba atau prihatian akan kejadian yang menimpa diriku, boro-boro bahkan aku semakin dipojokan oleh mereka, mereka menilai apa yang terjadi dengan diriku itu hal yang sewajarnya sebagai hukuman karma atas dosa ibuku. Hal ini membuat harga diriku semakin jatuh, aku merasa malu, sehingga jangankan pergi ke sekolah keluar rumah pun aku merasa malu.

Dua bulan kemudian sejak kejadian yang mengenaskan tersebut Dokter menyatakan bahwa aku hamil. Kehamilan yang sama sekali tidak kuinginkan, kehamilan karena peristiwa tragis itu. Diperkosa.

Anakku akan lahir sebagai anak haram, walaupun ia memang tidak berdosa, tapi dia pasti akan menanggung segala beban yang tidak seharusnya ditanggung olehnya kelak. Seperti halnya aku yang tak tahu siapa bapakku, hal seperti itu pulalah yang akan dialaminya nanti, dikucilkan, dicela, dijauhi, seperti halnya yang terjadi dengan diriku.

Tak ada seorang anakpun yang mau lahir sebagai anak haram. Aku juga tak mau dia menderita, karena mungkin jika dia boleh memilih, dia pasti akan memilih untuk tidak dilahirkan. Karena kelahirannnya tidaklah diinginkan terutama oleh masyarakat yang serba munafik ini.

Apakah masih ada masa depan untuku, setelah lahirnya bayi tersebut? Apakah aku akan mampu mengasihi bayi yang tak berdosa tersebut, seperti layaknya seorang Ibu mengasihi anaknya?

Aku sudah tidak memiliki masa depan lagi, usiaku masih muda belia, pendidikanpun tidak kumiliki, sehingga rupanya aku sudah ditakdirkan untuk mengikuti jejak dari Ibuku! Tetapi dilain pihak aku tidak ingin bayi ini nanti mengalami nasib yang sama seperti yang juga pernah kualami sampai saat ini. Mungkin jalan satu-satunya yang terbaik ialah memilih agar bayi ini tidak dilahirkan, seperti juga apa yang dianjurkan oleh emak! Apakah Tuhan itu benar-benar mengasihi umat-Nya? Apakah masih ada masa depan untukku maupun untuk bayiku?

Apakah mungkin takdir yang sedang kualami ini merupakan hukum karma, karena prilaku dari emak? Apakah aku bisa menyalahkan emak ataupun membencinya, karena aib yang menimpa diriku ini?

Sehingga tersirat dalam pikiranku mungkin ada baiknya untuk bunuh diri saja, sehingga dengan demikian, anak yang tak berdosa inipun tidak perlu dilahirkan dan akupun tidak perlu mengikuti jejak dari emak, mungkin inilah keinginan Tuhan dariku untuk mati dalam usia 15 tahun.

Dari Rita (Bukan nama sebenarnya)

Mungkin ada pembaca yg bersedia memberikan saran untuk Rita yang merasa sedang berada di jalan kehidupan yang buntu.