Updates from April, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:32 am on 30 April 2012 Permalink | Balas  

    Islamnya Abu Dzar 

    Abu Zar al-Ghifari merupakan seorang sahabat Nabi SAW yang terkenal dengan perbendaharaan ilmu pengetahuannya dan kesholehannya.  Ali RA berkata mengenai Abu Zar RA :

    “Abu Zar ialah penyimpan jenis-jenis ilmu pengetahuan yang tidak dapat diperoleh dari orang lain. ” Ketika dia mulai mendengar khabar tentang kerasulan Nabi SAW, dia telah mengutus saudara lelakinya menyelidiki lebih lanjut mengenai orang yang mengaku menerima berita dari langit. Setelah puas menyelidiki, saudaranya pun melaporkan kepada Abu Zar bahwa Nabi Muhammad SAW itu seorang yang sopan santun dan baik budi pekertinya. Ayat-ayat yang dibacakan kepada manusia bukannya puisi dan bukan pula kata-kata ahli syair.

    Laporan yang disampaikan itu masih belum memuaskan hati Abu Zar. Dia sendiri keluar utk.  mencari kenyataan. Setibanya di Makkah, dia terus ke Baitul Haram. Pada waktu itu dia tidak kenal Nabi SAW, dan Melihat keadaan pada waktu itu dia merasa takut hendak bertanya mengenai Nabi SAW. Ketika menjelang malam, dia dilihat oleh Ali RA. Oleh karena ia seorang musafir, Ali terpaksa membawa Abu Zar ke rumahnya dan melayani Abu Zar sebaik-baiknya sebagai tamu. Ali tidak bertanya apa pun dan Abu Zar tidak pula memberitahu Ali tentang maksud kedatangannya ke Makkah. Pada keesokkan harinya, Abu Zar pergi sekali lagi ke Baitul Haram untuk mengetahui siapa dia Muhammad. Sekali lagi Abu Zar gagal menemui Nabi karena pada waktu itu orang-orang Islam sedang diganggu hebat oleh orang-orang kafir musyrikin. Pada malam yang keduanya, Ali membawa Abu Zar kerumahnya. Pada malam itu Ali bertanya :

    “Saudara, apakah sebabnya saudara datang ke kota ini?”

    Sebelum menjawab Abu Zar meminta Ali berjanji untuk berkata benar. Kemudian dia pun bertanya kepada Ali tentang Nabi SAW. Ali berkata: “Sesungguhnya dialah pesuruh Allah.  Esok engkau ikut aku dan aku akan membawamu menemuinya. Tetapi awas, bencana yang buruk akan menimpa kamu kalau hubungan kita diketahui orang. Ketika berjalan esok, kalau aku dapati bahaya mengancam kita, aku akan berpisah agak jauh sedikit dari kamu dan berpura-pura membetulkan sepatuku Tetapi engkau terus berjalan supaya orang tidak Curiga hubungan kita. ”

    Pada keesokkan harinya, Ali pun membawa Abu Zar bertemu dgn.  Nabi SAW. Tanpa banyak tanya jawab, dia telah memeluk agama Islam. Karena takut dia diapa-apakan oleh musuh, Nabi SAW menasehatkan supaya cepat-cepat balik dan jangan mengabarkanpengislamannya di khalayak ramai. Tetapi Abu Zar menjawab dengan berani ”

    “Ya Rasullulah, aku bersumpah dengan nama Allah yang jiwaku di dalam tanganNya, bahwa aku akan mengucap dua kalimah syahadah di hadapan kafir-kafir musyrikin itu. ”

    Janjinya kepada Rasulullah SAW ditepatinya. Selepas ia meninggalkan baginda, dia mengarah langkah kakinya ke Baitul Haram di mana dihadapan kaum musyrikin dan dengan suara lantang dia telah mengucapkan dua kalimah syahadah.

    “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu pesuruh Allah. ”

    Tatkala mendengar ucapan Abu Zar itu, orang-orang kafir pun menyerbunya lalu memukulnya. Kalau tidak karena Abbas (Paman Nabi yang ketika itu belum Islam) tentulah Abu Zar menemui ajalnya disitu.

    Kata Abbas kepada orang-orang kafir musyrikin yang menyerang Abu zar:

    “Tahukah kamu siapa orang ini? Dia adalah turunan Al Ghifar. Khafilah-khafilah kita yang pulang pergi ke Syam terpaksa melalui perkampungan mereka. Kalaulah ia dibunuh, sudah tentu mereka menghalangi perniagaan kita dengan Syam. ”

    Pada hari berikutnya, Abu Zar sekali lagi mengucapkan dua kalimah syahadah dihadapan orang-orang kafir Quraisy dan pada kali ini juga ia telah diselamatkan oleh Abbas.

    Kegairahan Abu Zar mengucapkan dua kalimah syahadah di hadapan kafir Quraisy sungguh-sungguh luar biasa jika dikaji dalam konteks larangan Nabi SAW kepadanya. Apakah dia bisa dituduh telah mengingkari perintah Nabi? Jawabannya-TIDAK.  Dia tahu bahwa Nabi SAW sedang mengalami penderitaan yang berbentuk gangguan dalam usahanya ke arah menyebarkan agama Islam. Dia hanya hendak menunjukkan keislaman.

    Nabi SAW walaupun ia mengetahui, dengan berbuat demikian dia melibatkan dirinya dalam bahaya. Semangat keislamannya yang beginilah yang telah menjadikan para sahabat mencapai puncak keimanan dalam alam lahiriyah serta batiniyah.

    Keberanian Abu Zar ini selayaknya menjadi contoh kepada umat Islam dewasa ini dalam rangka usaha mereka menjalankan dakwah Islamiyah.

    Kekejaman, penganiyaan serta penindasan tidak semestinya bisa melemahkan semangat mereka yang telah mengucapkan dua kalimah syahadah.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • purmuple 5:54 pm on 1 Oktober 2012 Permalink

      assalamualaikum, ijin copas ya :D
      mau share di fb

  • erva kurniawan 1:17 am on 29 April 2012 Permalink | Balas  

    Gelap Gulita yang Tindih-Bertindih 

    Gelap Gulita yang Tindih-Bertindih

    Ketika anda berada di ruangan yang gelap gulita, apa yang bisa anda lakukan? Tentu saja anda akan meraba-raba untuk menemukan jalan sambil mengerahkan daya insting anda. Anda tak tahu jalan untuk keluar, nafas anda sesak dan kegelisahan mulai menyelimuti anda. Tak ada sebersit cahayapun yang menyinari tempat anda berada.

    Sekarang bayangkan bila hidup anda tak disinari oleh cahaya ilahi. Tentu saja anda pun akan berputar-putar tanpa arah di dalam kegelapan. Atau dalam bahasa Al-Qur’an: “Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia, mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.” (QS 24: 40)

    Di saat keadaan gelap gulita, jiwa gelisah dan anda tak tahu apa yang harus anda kerjakan, beban kerjapun semakin menumpuk, himpitan ekonomi menghadang langkah anda, tubuh anda bergetar dan semuanya menjadi serba tak berarturan dan serba salah, jika hal ini menimpa anda maka carilah cahaya ilahi agar anda dapat keluar dari kegelapan itu.

    Bagaimana caranya mencari cahaya ilahi yang akan menerangi hati anda?

    “dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah!” (QS 74:4-5)

    Mari kita bersihkan pakaian kita.tengoklah diri kita di cermin, berapa banyak pakaian kesombongan, pakaian riya’, pakaian dengki, pakaian takabur yang kita kenakan. Pakaian itu kita percantik dengan segala macam asesoris seperti lalai mengingat Allah, enggan bersedekah, merasa berat untuk pergi haji, dan lain sebagainya. Maka bersihkanlah segala macam pakaian lengkap dengan asesorisnya tersebut. Setelah itu usahakanlah untuk tak mengenakan pakaian itu selamanya.

    Sekarang tengoklah hati anda, rasakan cahaya ilahi mulai masuk ke dalam relung hati. “Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki…”(QS 24: 35)

    Mari kita kumpulkan cahaya ilahi itu mulai sekarang, dari hari ke hari hingga di hari kiamat nanti kita berdo’a, sebagaimana terekam dalam QS 66:28 : “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

    Berbahagialah mereka yang mendapat cahaya ilahi….

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 28 April 2012 Permalink | Balas  

    Dialog Abu Dzar dengan Rosulullah SAW 

    Dialog Abu Dzar dengan Rosulullah SAW

    1. Abu Dzar bertanya, “Ya Rasulullah, engkau memerintahkan aku bersholat?” Rasulullah menjawab: “Sholat adalah sebaik-baik perbuatan, maka perbanyakkanlah atau sedikit.”

    2. Aku tanya, “Amal apakah yang paling afdhal?” Beliau jawab:”Beriman kepada Allah dan berjihad fi sabiilillah

    3. Aku tanya,”Mu’min yang bagaimanakah yang paling afdhal?” Beliau jawab: “ialah yang terbaik akhlaknya.”

    4. Tanya, “Muslim yg bagaimanakah yang paling selamat?” Jawab: “ialah yg menyelamatkan orang-orang dari gangguan lidahnya dan tangannya.”

    5. Tanya, “Hijrah yg bagaimanakah yg afdhal, ya Rasulullah?” Jawab: “ialah hijrah dari (meninggalkan) perbuatan maksiat.”

    6. Tanya,”Sholat yang bagaimanakah yang afdhal, ya Rasulullah?” Jawab:”Berkhusyu’ yang panjang (lama berdiri).”

    7. Tanya,”Hamba-hamba sahaya manakah yg paling afdhal utk dimerdekakan?” Jawab:”Hamba yg paling mahal harganya dan yg paling disayang oleh pemiliknya.”

    8. Tanya,”Sedekah yg bagaimanakah yg paling afdhal, ya Rasulullah?” Jawab:”Pemberian dari orang yg masih kekurangan (tidak kaya) dan pemberian secara rahasia kepada fakir miskin.”

    9. Tanya,”Ayat apakah di antara ayat-ayat yg diturunkan kpdmu yg paling besar?” Jawab:”Ayat Kursi, dan tujuh langit itu jika dibandingkan dengan Kursi, adalah seperti sebuah cincin (atau lingkaran besi) yg berada di tengah-tengah padang pasir, dan perbandingan Arasy terhadap Kursi adalah perbandingan padang pasir itu terhadap cincin tadi.”

    10. Tanya,”Berapakah bilangan Nabi-Nabi, ya Rasulullah?” Jawab:”Seratus dua puluh empat ribu.” (124,000)

    11. Tanya,”Berapakah yg menjadi Rasul di antara mereka, ya Rasulullah?” Jawab:”Sebanyak tiga ratus tiga belas.” (313)

    12. Tanya,”Siapakah yg pertama, ya Rasulullah?” Jawab:”Adam.”

    13. Tanya,”Apakah dia seorang Nabi yg diutus ?” Jawab:”Benar, dia diciptakan oleh Allah dengan tanganNYA, ditiupkan ruh ke dalam tubuhnya yang disempurnakan.”

    Dan selanjutnya Rasulullah bersabda: Hai Abu Dzarr, empat dari mereka adalah dari golongan Siryaniun, yaitu Adam, Syith, Nuh, dan Idris, yaitu Nabi pertama yg dapat menulis dengan pensil. Dan empat Nabi dari keturunan Arab, yaitu Hud, Syuaib, Saleh, dan Nabimu, hai Abu Dzarr.”

    14. Abu Dzarr bertanya,”Berapa kitab yang telah diturunkan Allah, ya Rasulullah?” Beliau menjawab:”Seratus empat kitab (104). Kepada Syith tlh diturunkan lima puluh halaman, Idris tiga puluh halaman, Ibrahim sepuluh halaman, Musa sebelum Taurat ada sepuluh halaman, di samping kitab Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur’an.”

    15. Tanya,”Ya Rasulullah, apakah isi lembaran yg diturunkan kepada Ibrahim?” Jawab:”Isinya ialah: Hai Raja yg berkuasa, dipuji dan sombong, sesungguhnya AKU tidak mengutusmu untuk mengumpulkan dunia, melonggokkan sebagian di atas sebagian, akan tetapi AKU mengutusmu untuk menerima doanya orang yg teraniaya agar tidak sampai kepada-KU, kerana AKU tidak akan mengembalikannya walaupun ia datang dari seorang yg kafir. Seorang yg bijaksana akan membagi waktunya menjadi beberapa waktu untuk bermunajat kepada Tuhannya, beberapa waktu utk bertanya pd dirinya sendiri (muhasabah), beberapa waktu utk merenungkan ciptaan Allah, dan beberapa waktu lagi utk mengurus keperluan makan dan minumnya. Seorang yg bijaksana tidak akan meributkan (menyibukkan) diri melainkan utk tiga tujuan: mencari bekal utk hari kemudian (Akhirat), mencari nafkah hidup, dan mencari rizqi yg halal. Seorang yg bijaksana hendaklah mengenal zamannya, tekun mengurus urusannya, dan menjaga lidahnya. Barangsiapa yg menyesuaikan bicaranya dengan perbuatan, maka akan jarang berbicara melainkan dalam hal-hal yg mengenai dirinya.”

    16. Tanya,”Apakah isi lembaran-lembaran yg diturunkan kepada Musa, ya Rasulullah?” jawab:”Isinya adalah semua peringatan dan ibarat; aku heran dari orang yg yakin akn mati bagaimana ia dapat bersuka-ria, aku heran dari orang yg yakin dgn adanya takdir bagaimana ia membanting tulang bekerja, aku heran dari org yg melihat keadaan dunia yg selalu berubah bagaimana ia dapat tenang mempercayainya dan aku heran dari orang yg yakin adanya hari hisab besok, bagaimana ia enggan beramal.”

    17. Tanya,”Ya Rasulullah, apakah ada yg sampai kpd kita sesuatu yg dulu ada di tangan Ibrahim dan Musa, dan apakah yg diturunkan Allah kepadamu?” Jawab:”Ada, cobalah baca hai Abu Dzarr, ‘Sesungguhnya beruntunglah orang yg membersihkan diri (dengan beriman) dan ia ingat akan nama Tuhannya, lalu ia bersembahyang. Tetapi kamu (orang2 kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.’ Sesungguhnya ini benar2 terdapat dalam kitab2 yg dahulu yaitu kitab2 Ibrahim dan Musa.”

    18. Abu Dzarr bertanya,”Apakah wasiatmu kepadaku, ya Rasulullah?” Ar-Rasul saw menjawab:”Hendaklah engkau bertaqwa kepada Allah, kerana itu (taqwa) adalah pokok segala urusanmu.”

    19. Abu Dzarr bertanya lagi,”Apa lagi ya Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab:”Bacalah Al-Qur’an dan berzikirlah kepada Allah, karena itu akan menjadi zikir buatmu di langit dan cahaya bagimu di dunia.”

    20. Tanya,”Apa lagi, ya Rasulullah?” Jawab:”Hindarilah banyak ketawa, kerana itu mematikan hati dan menghilangkan cahaya wajah.”

    21. Tanya,”Apa lagi, ya Rasulullah?” Jawab:”Laksanakanlah kewajiban berjihad, karena itu merupakan kerahiban perjuangan bagi umatku.”

    22. Tanya,”Apa lagi, ya Rasulullah?” Jawab:”Hendaklah engkau selalu diam (tidak bercakap) melainkan untuk kebaikan, kerana itu dapat mengusir syaitan dan dapat menolongmu dalam urusan agamamu.”

    23. Tanya,”Apa lagi, ya Rasulullah?” Jawab:”Lihatlah kepada orang yg di bawahmu dan janganlah melihat orang yg berada di atasmu, agar engkau tidak memandang rendah akan nikmat yg Allah berikan kepadamu.”

    24. Abu Dzarr bertanya,”Apa lagi, ya Rasulullah?” Jawab:”Cintailah orang2 fakir miskin dan duduklah bersama-sama mereka, agar engkau tidak memandang rendah dan kecil nikmat Allah kepadamu.”

    25. Bertanya Abu Dzarr,”Apa lagi, ya Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab:”Hubungilah kerabatmu, walaupun mereka memutuskan hubungannya dengan engkau.”

    26. Tanya Abu Dzarr,”Apa lagi ya Rasulullah?” Jawab Rasululllah:”Katakanlah apa yang haq (yg benar) walaupun itu merupakan hal yg pahit.”

    27. Tanya,”Apa lagi ya Rasulullah?” Jawab:”Janganlah engkau takut dicerca orang kerana membela agama Allah.”

    28. Tanya,”Apa lagi ya Rasulullah?” Jawab:”Apa yang engkau ketahui tentang dirimu akan mencegahmu mencampuri urusan orang lain dan janganlah engkau sesalkan bahwa orang tidak melakukan apa yg engkau sukai. Dan cukup sebagai aib bahwa engkau mengetahui tentang orang lain apa yg engkau tidak mengetahui tentang dirimu sendiri.”

    Kemudian Rasulullah saw. memukul dadaku dengan tangannya seraya bersabda: “Tiada akal seperti kebijaksanaan, tiada wara’ seperti memahami diri dan tiada kebanggaan seperti akhlak yang baik.”

    ***

    Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 2, Hal. 610-619.

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 27 April 2012 Permalink | Balas  

    Bagaimanakah Rasulullah SAW 

    Bagaimanakah Rasulullah SAW

    1. Makan

    Nabi s.a.w. makan menggunakan tangan kanan. Sewaktu makan, baginda menggunakan 3 jari dan sesudah makan jari-jarinya dihisap sebelum membersihkannya.

    Baginda makan menggunakan suapan yang kecil, berhati-hati hingga makanan tidak terjatuh dari dulang atau tempat hidangan.

    Baginda sering bertanya apakah hidangan makanan itu berbentuk hadiah atau sedekah. Bila makanan itu berbentuk sedekah, baginda tidak memakannya dan menyuruh sahabat makan tetapi bila makanan itu berbentuk hadiah, baginda akan turut makan bersama. (Riwayat Bukhari, Muslim, Nasaai dari Abu Hurairah)

    2. Tidur

    Apabila Nabi s.a.w. merebahkan diri di tempat tidur, baginda sering berdoa yang artinya : “Alhamdulillah yang telah memberi kami makan, minum, tempat perlindungan dan keperluan hidup karena masih banyak yang kurang makan, minum dan tidak mempunyai tempat tidur.” (Riwayat Bukhari Muslim, Abu Daud, Termizi dan Nasaai dari Anas)

    Di waktu Nabi s.a.w. hendak tidur, baginda meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanan baginda. (Riwayat Thabarany dari Hafshah)

    Sebelum Nabi s.a.w. memejamkan mata, baginda berdoa yang artinya : “Ya Allah, dengan namaMu aku hidup dan dengan namaMu aku mati.” Bila bangun dari tidur, baginda mengucapkan: “Alhamdulillah yang menghidupkan kami sesudah kami dimatikan dan kepadaNya kami akan kembali berkumpul,” (Riwayat Ahmad, Muslim dan Nasaai dari al-Barraaq).

    3. Marah

    Kemarahan Nabi saw adalah karena kebenaran, artinya karena kebenaranlah baginda melahirkan kemarahannya. Nabi saw marah dengan cara sopan, sesuai dengan do’anya ini, yaitu:

    “Aku mohonkan kepada Engkau kalimat kebenaran pada saat marah dan suka.”

    Maksudnya, Rasulullah saw tidak berkata kecuali yang benar saja begitu juga waktu marah atau waktu tidak marah. Kemarahan Rasulullah saw karena ada perkara yg tidak disukai yang menyalahi dari yang benar sebagaimana yang diajarkan agama atau yang terang-terangan dilarang oleh agama. [Kitab Matan al-Arba’in – Sheikh Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syirfuan-Nawawi]

    Imam Ghazali berkata: “Kemarahan manusia bermacam-macam. Setengahnya lekas marah, lekas tenang dan lekas hilang. setengahnya lambat marah, lambat pula redanya. Setengahnya lambat akan marahnya dan lekas pula hilangnya. Yang akhir inilah yang terpuji.”

    4. Ketawa

    Bila nabi s.a.w. ketawa, baginda akan meletakkan tangan di mulut baginda dan bila terjadi sesuatu yang mengembirakan, baginda akan mengucap syukur kepada Allah. Bila bercakap-cakap, baginda sentiasa tersenyum. (Riwayat Abu Daud dan Abu Musa)

    5. Warna & pakaian kesukaan

    Warna yang disukai nabi s.a.w. ialah hijau dan pakaian yang digemari ialah habarah seperti kemeja panjang berwarna putih. (Riwayat Bukhari Muslim)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 26 April 2012 Permalink | Balas  

    7 Rombongan Iblis 

    7 Rombongan Iblis

    Iblis akan senantiasa mengganggu manusia, mulai dengan memperdayakan manusia dari terjadinya dengan setitik mani hingga ke akhir hayat mereka, dan yang paling dahsyat ialah sewaktu akhir hayat yaitu ketika sakaratul maut. Iblis mengganggu manusia sewaktu sakaratul maut disusun menjadi 7 golongan dan rombongan.

    Hadith Rasulullah SAW. menerangkan: “Ya Allah aku berlindung kepada Engkau dari tipuan syaitan diwaktu sakaratul maut.”

    Rombongan 1

    Akan datang Iblis dengan berbagai rupa aneh seperti emas, perak dan lain-lain, serta sebagai makanan dan minuman yang lezat-lezat. disebabkan orang yang di dalam sakaratul maut itu di masa hidupnya sangat tamak dan loba kepada barang-barang tersebut, maka diraba dan disentuhnya barang2 Iblis itu, pada waktu itu nyawanya putus dari tubuh. Inilah yang dikatakan mati yang lalai dan lupa kepada Allah SWT inilah jenis mati fasik dan munafik, ke nerakalah tempatnya.

    Rombongan 2

    Akan datang Iblis kepada orang yang didalam sakaratul maut itu merupakan diri sebagai rupa binatang yang di takuti seperti, Harimau, Singa, Ular yang berbisa. Yang apabila orang yang sedang sakaratul maut itu memandang ke binatang itu, maka dia pun menjerit dan melompat sekuat hati. Maka seketika itu juga akan putuslah nyawa itu dari badannya, maka matinya itu disebut sebagai mati lalai dan mati dalam keadaan lupa kepada Allah SWT, matinya itu sebagai Fasik dan Munafik dan ke nerakalah tempatnya.

    Rombongan 3

    Akan datang Iblis mengacau dan memperdayakan orang yang di dalam sakaratul maut itu dengan menyerupai binatang kesayangannya. Apabila tangan orang yang hendak mati itu meraba-raba kepada binatang kesayangan itu dan waktu tengah meraba-raba itu dia pun mati, maka matinya itu di dalam golongan yang lalai dan lupa kepada Allah SWT. Matinya itu mati Fasik dan Munafik, maka nerakalah tempatnya.

    Rombongan 4

    Akan datang Iblis merupakan dirinya sebagai rupa yang paling dibenci oleh orang yang akan mati, seperti musuhnya ketika hidupnya dahulu maka orang yang di dalam sakaratul maut itu akan menggerakkan dirinya untuk melakukan sesuatu kepada musuh yang dibencinya itu. Maka sewaktu itulah maut pun datang dan matilah ia sebagai mati Fasik dan Munafik, dan nerakalah tempatnya

    Rombongan 5

    Akan datang Iblis merupakan dirinya dengan rupa sanak-saudara yang hendak mati itu, seperi ayah ibunya dengan membawa makanan dan minuman, sedangkan orang yang di dalam sakaratul maut itu sangat mengharapkan minuman dan makanan lalu dia pun menghulurkan tangannya untuk mengambil makanan dan minuman yang dibawa oleh si ayah dan si ibu yang dirupai oleh Iblis, berkata dengan penuh kasih “Wahai anakku inilah saja makanan dan bekal yang kami bawakan untukmu dan berjanjilah bahwa engkau akan menurut kami dan menyembah Tuhan yang kami sembah, supaya kita tidak lagi bercerai dan marilah bersama kami masuk ke dalam syurga.”

    Maka dia pun sudi mengikut tawaran itu dengan tanpa berfikir lagi, ketika itu waktu matinya pun sampai maka matilah dia di dalam keadaan kafir, kekal di dalam neraka dan terhapuslah semua amal kebajikan semasa hidupnya.

    Rombongan 6

    Akan datanglah Iblis merupakan dirinya sebagai ulama’-ulama’ yang membawa banyak kitab-kitab, lalu berkata ia: “Wahai muridku, lama sudah kami menunggu akan dikau, ternyata kamu sedang sakit di sini, karena itu kami bawakan kepada kamu dokter dan obat untukmu.” Lalu diminumnya obat, itu maka hilanglah rasa penyakit itu, kemudian penyakit itu datang lagi. Lalu datang pula Iblis yang menyerupai ulama’ dengan berkata: “Kali ini kami datang kepadamu untuk memberi nasihat agar kamu mati didalam keadaan baik, tahukah kamu bagaimana hakikat Allah?”

    Berkata orang yang sedang dalam sakaratul maut: “Aku tidak tahu.”

    Berkata ulama’ Iblis: “Ketahuilah, aku ini adalah seorang ulama’ yang tinggi dan hebat, baru saja kembali dari alam ghaib dan telah mendapat syurga yang tinggi. Cobalah kamu lihat syurga yang telah disediakan untukmu, kalau kamu hendak mengetahui Zat Allah SWT hendaklah kamu patuh kepada kami.”

    Ketika itu orang yang dalam sakaratul maut itu pun memandang ke kanan dan ke kiri, dan dilihatnya sanak-saudaranya semuanya berada di dalam kesenangan syurga, (syurga palsu yang dibentangkan oleh Iblis untuk tujuan menggoda orang yang sedang dalam sakaratul maut). Kemudian orang yang sedang dalam sakaratul maut itu bertanya kepada ulama’ palsu: “Bagaimanakah Zat Allah?” Iblis merasa gembira apabila jeratnya mengena.

    Lalu berkata ulama’ palsu: “Tunggu, sebentar lagi dinding dan tirai akan dibuka kepadamu.”

    Ketika tirai dibuka selapis demi selapis tirai yang berwarna warni itu, maka orang yang dalam sakaratul maut itu pun dapat melihat satu benda yang sangat besar, seolah-olah lebih besar dari langit dan bumi.

    Berkata Iblis: “Itulah dia Zat Allah yang patut kita sembah.”

    Berkata orang yang dalam sakaratul maut: “Wahai guruku, bukankah ini benda yang benar-benar besar, tetapi benda ini mempunyai enam sisi, yaitu benda besar ini ada kiri dan kanannya, mempunyai atas dan bawah, mempunyai depan dan belakang. Sedangkan Zat Allah tidak menyerupai makhluk, sempurna Maha Suci Dia dari sebarang sifat kekurangan. Tapi sekarang ini lain pula keadaannya dari yang di ketahui dahulu. Tapi sekarang yang patut aku sembah ialah benda yang besar ini.”

    Dalam keraguan itu maka Malaikat Maut pun datang dan terus mencabut nyawanya, maka matilah orang itu di dalam keadaan kafir dan kekal di dalam neraka dan terhapuslah segala amalan baik selama hidupnya di dunia ini.

    Rombongan 7

    Rombongan Iblis yang ketujuh ini terdiri dari 72 barisan sebab dari menjadi 72 barisan ialah karena dia menepati Iktikad Muhammad SAW bahwa umat Muhammad akan terbagi kepada 73 barisan). Satu barisan/golongan yang benar yaitu ahli sunnah waljamaah, 72 yang lain masuk ke neraka karena sesat.

    Ketahuilah bahwa Iblis itu akan mengacau dan mengganggu anak Adam dengan 72 macam yang setiap satu berlainan di dalam waktu manusia sakaratul maut. Oleh karena itu hendaklah kita mengajarkan kepada orang yang hampir meninggal dunia akan talkin Laa Ilaaha Illallah untuk menyelamatkan dirinya dari gangguan Iblis dan syaitan yang akan berusaha bersungguh-sungguh menggoda orang yang sedang dalam sakaratul maut.

    Disebutkan dalam sebuah hadith yang artinya: “Ajarkan oleh kamu (orangyang masih hidup) kepada orang yang hampir mati itu: Laa Ilaaha Illallah.”

    Wa Allahu A’lam

    ***

    Dari Sahabat

     
    • achmad usman 12:46 pm on 8 Mei 2012 Permalink

      setahu saya, ada ayat quran ( lupa suratnya ) bahwa kematian nabi sulaiman diketahui jin setelah rayap menggrogoti tongkat nabi sulaiman yg sedang duduk, ketika tongkat itu patah dimakan rayap, jatuhlah nabi sulaiman dari kursinya barulah jin tahu bahwa nabi sulaiman telah meniggal dunia,..

      bahwa kematian manusia, hanya ALLAH yg tahu, bangsa jin dan saitan tidak punya kemampuan kapan manusia dicabut nyawanya……..
      bahwa mengajarkan lafadz Laa Ilaaha Illallah kpd manusia yg sakratul maut semata janji sorga bagi yg dapat mengucapkan kata2 itu… ( ini baru hadis nabi )…..
      gangguan iblis 72 macam kpd hamba Allah yg sakratul maut, ..saya tidak tahu sumber dan dari mana sumber itu anda tahu…….wassalaam……………….

  • erva kurniawan 1:21 am on 25 April 2012 Permalink | Balas  

    Akal dan Nafsu 

    Akal dan Nafsu

    Dalam sebuah kitab karangan ‘Ustman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syaakir Alkhaubawiyi, seorang ulama yang hidup dalam abad ke XIII Hijrah, menerangkan bahwa sesungguhnya Allah S.W.T telah menciptakan akal, maka Allah S.W.T telah berfirman yang bermaksud : “Wahai akal menghadaplah engkau.” Maka akal pun menghadap Allah S.W.T., kemudian Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : “Wahai akal berbaliklah engkau!”, lalu akal pun berbalik.

    Kemudian Allah S.W.T. berfirman lagi yang bermaksud : “Wahai akal! Siapakah aku?”. Lalu akal pun berkata, “Engkau adalah Tuhan yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu yang daif dan lemah.”

    Lalu Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : “Wahai akal tidak Ku-ciptakan makhluk yang lebih mulia daripada engkau.”

    Setelah itu Allah S.W.T menciptakan nafsu, dan berfirman kepadanya yang bermaksud : “Wahai nafsu, menghadaplah kamu!”. Nafsu tidak menjawab sebaliknya mendiamkan diri. Kemudian Allah S.W.T berfirman lagi yang bermaksud : “Siapakah engkau dan siapakah Aku?”. Lalu nafsu berkata, “Aku adalah aku, dan Engkau adalah Engkau.”

    Setelah itu Allah S.W.T menyiksanya di neraka jahim selama 100 tahun, dan kemudian mengeluarkannya. Kemudian Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : “Siapakah engkau dan siapakah Aku?”. Lalu nafsu berkata, “Aku adalah aku dan Engkau adalah Engkau.”

    Lalu Allah S.W.T menyiksa nafsu itu dalam neraka Juu’ selama 100 tahun. Setelah dikeluarkan maka Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : “Siapakah engkau dan siapakah Aku?”. Akhirnya nafsu mengakui dengan berkata, ” Aku adalah hamba-Mu dan Kamu adalah Tuhanku.”

    Dalam kitab tersebut juga diterangkan bahwa dengan sebab itulah maka Allah S.W.T mewajibkan puasa.

    Dalam kisah ini dapatlah kita mengetahui bahwa nafsu itu adalah sangat jahat oleh karena itu hendaklah kita mengendalikan nafsu itu, jangan biarkan nafsu itu mengendalikan kita, sebab kalau dia yang mengendalikan kita maka kita akan menjadi musnah.

    INNAN NAFSA LAAMMAROTUM BISSU’

    Sesungguhnya nafsu itu membawa kita kepada kejelekan

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Bambang Sucipto.Drs (@t212kyb) 5:04 am on 26 April 2012 Permalink

      Subhanallah…212x

    • achmad usman 11:07 pm on 29 April 2012 Permalink

      bila nafsu di arahkan kepada jalan yg benar maka akan baik hasilnya dan dapat pahala….
      memang nafsu konotasinya adalah buruk dan nista, dan itu nafsu seitan yg merusak dan mengganggu manusia dgn berbagai cara agar manusia berbuat dosa dan menjauhi kebaikan,….
      bila IMAN kuat, maka nafsu seitan jadi lemah dan hilang, begitu juga sebaliknya,……..
      bahagialah hamba Allah yg dapat mencegah nafsunya dan bertambah imannya..amin..3X

    • wahono 11:08 am on 21 Juni 2012 Permalink

      saya setuju dgn opini mas achmad usman..
      subhanaLLah…………….
      Ya aLLah……

    • Vendhi 9:27 pm on 24 Juni 2012 Permalink

      perang yang paling berat adalah perang melawan hawa napsu.

    • Moh Ronye Al-muridun 1:32 pm on 7 Juli 2012 Permalink

      Nafsu adalah nimat..yg memerlukan pertanggung jawaban atas nimat yg dirasakan yg di sadari oleh akal. ;-)

    • ciink an suroso 12:24 am on 9 Agustus 2012 Permalink

      nafsu vs akal

      nafsu = syetan
      akal = malaikat

      sesungguhnya kebaikan akan selalu menang.

  • erva kurniawan 1:03 am on 24 April 2012 Permalink | Balas  

    Orang Yang Benar Tidak Wajib Membayar Zakat 

    Orang Yang Benar Tidak Wajib Membayar Zakat

    Awal abad 19, di alun-alun Bandung , Seorang Panghulu Besar Bandung menulis di pagar seng alun-alun grafiti “Orang Yang Benar Tidak Wajib Membayar Zakat”.

    Semua orang yang melewati tempat itu bertanya-tanya dan menganggap hal itu sudah berlebihan. Beberapa kyai datang ke tempat dinasnya dan mengajukan pertanyaan ” Apa dalilnya ? Apakah ada rujukan Nashnya ?”

    Sang Panghulu Besar tersenyum , bukan menjawab, malah balik bertanya ” Lho Kyai, ayo sekarang, Siapa di antara kita ini yang sudah tergolong orang yang benar ? ” Para Kyai tidak ada yang menjawab . ” Justru karena tidak ada seorang pun di antara kita yang mengaku sebagai Orang yang Benar, maka kita wajib zakat, iya toh “.

    Para kyai pulang dari tempat dinas sang panghulu besar sambil kesal karena ditipu permainan logika sang panghulu besar.

    ***

    Dari Sahabat benar

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 23 April 2012 Permalink | Balas  

    Abu Hurairah r.a. 

    Abu Hurairah r.a.

    Akrab dengan Kelaparan

    Tokoh kita ini biasa berpuasa sunah tiga hari setiap awal bulan Qamariah (bulan Arab dalam penanggalan Hijri), mengisi malam harinya dengan membaca Al-Quran dan salat tahajud. Akrab dengan kemiskinan, dia sering mengikatkan batu ke perutnya, guna menahan lapar. Dalam sejarah ia dikenal paling banyak meriwayatkan hadis. Dialah Bapak Kucing Kecil (Abu Hurairah), begitu orang mengenalnya.

    “Aku sudah dengar pergunjingan kalian. Kata kalian, Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan hadis Nabi. Padahal, para sahabat muhajirin dan anshar sendiri tak ada yang meriwayatkan hadis Nabi sebanyak yang dituturkan Abu Hurairah. Ketahuilah, saudara-saudaraku dari kaum muhajirin disibukkan dengan perniagaan mereka di pasar. Sementara saudara-saudaraku dari anshar disibukkan dengan kegiatan pertanian mereka. Dan aku seorang papa, termasuk golongan kaum miskin shuffah (yang tinggal di pondokan masjid). Aku tinggal dekat Nabi untuk mengisi perutku. Aku hadir (di samping Nabi) ketika mereka tidak ada, dan aku selalu mengingat-ingat ketika mereka melupakan.”

    Abu Hurairah adalah sahabat yang sangat dekat dengan Nabi. Ia dikenal sebagai salah seorang ahli shuffah, yaitu orang-orang papa yang tinggal di pondokan masjid (pondokan ini juga diperuntukkan buat para musafir yang kemalaman). Begitu dekatnya dengan Nabi, sehingga beliau selalu memanggil Abu Hurairah untuk mengumpulkan ahli shuffah, jika ada makanan yang hendak dibagikan.

    Karena kedekatannya itu, Nabi pernah mempercayainya menjaga gudang penyimpan hasil zakat. Suatu malam seseorang mengendap-endap hendak mencuri, tertangkap basah oleh Abu Hurairah. Orang itu sudah hendak dibawa ke Rasulullah. “Ampun tuan, kasihani saya,” pencuri itu memelas. “Saya mencuri ini untuk menghidupi keluarga saya yang kelaparan.”

    Abu Hurairah tersentuh hatinya, maka dilepasnya pencuri itu. “Baik, tapi jangan kamu ulangi perbuatanmu ini.”

    Esoknya hal ini dilaporkan kepada Nabi. Nabi tersenyum. “Lihat saja, nanti malam pasti ia kembali.”

    Benar pula, malam harinya pencuri itu datang lagi. “Nah, sekarang kamu tidak akan kulepas lagi.” Sekali lagi, orang itu memelas, hingga Abu Hurairah tersentuh hatinya. Tapi, ketika hal itu dilaporkan kepada Nabi, kembali beliau mengatakan hal yang sama. “Lihat saja, orang itu akan kembali nanti malam.”

    Ternyata pencuri sialan itu benar-benar kembali. “Apa pun yang kamu katakan, jangan harap kamu bisa bebas. Sudah dua kali kulepas, kamu tak kapok-kapok juga.”

    Eh, pencuri itu malah menggurui. “Abu Hurairah, sebelum kamu tidur, bacalah ayat kursi agar setan tidak menyatroni kamu.”

    Merasa mendapat pelajaran berharga, Abu Hurairah terharu. Ah, ternyata orang baik-baik, pikirnya.

    “Apa yang dikatakan orang itu memang benar,” sabda Nabi ketika dilapori pagi harinya. “Tapi orang itu bukan orang baik-baik. Dia adalah setan. Dia katakan itu supaya dia kamu bebaskan.”

    Mengikatkan Batu ke Perut.

    Abu Hurairah adalah salah seorang tokoh kaum fakir miskin. Abu Hurairah sering lapar ketimbang kenyang. Ia sosok yang teguh berpegang pada sunah Nabi. Ia kerap menasihati orang agar jangan larut dengan kehidupan dunia dan hawa nafsu. Ia tak membedakan antara kaum kaya dan kaum miskin, petinggi negeri atau rakyat jelata dalam menyampaikan kebenaran. Ia pun selalu bersyukur kepada Allah dalam keadaan susah dan senang.

    Orang yang nama lengkapnya Abdur Rahman (versi lain: Abdu Syams) ibn Shakhr Ad-Dausi ini adalah sosok humoris. Banyak anekdot yang berasal darinya. Ia pun suka menghibur anak-anak kecil. Ia pecinta kucing kecil. Ke mana-mana dibawanya binatang ini, sehingga julukan Abu Hurairah (bapak kucing kecil) pun melekat padanya.

    Dibanding Nabi, umurnya lebih muda sekitar 30 tahun. Dia lahir di Daus, sebuah desa miskin di padang pasir Yaman. Hidup di tengah kabilah Azad, ia sudah yatim sejak kecil, yang membantu ibunya menjadi penggembala kambing.

    Dia masuk Islam tak lama setelah pindah ke Madinah pada tahun ketujuh hijriah, bersamaan dengan rencana keberangkatan Nabi ke Perang Khaibar. Tapi ibundanya belum mau masuk Islam. Malah sang ibu pernah menghina Nabi. Ini membuatnya sedih. Untuk itu, ia memohon Nabi berdoa agar ibunya masuk Islam. Kemudian Abu Hurairah kembali menemui ibunya, mengajaknya masuk Islam. Ternyata sang ibu telah berubah, bersedia mengucapkan dua kalimat syahadat.

    Buruh Kasar.

    Akan halnya kepindahannya ke Madinah adalah untuk mengadu nasib. Di sana ia bekerja serabutan, menjadi buruh kasar bagi siapa pun yang membutuhkan tenaganya. Acap kali dia harus mengikatkan batu ke perutnya, guna menahan lapar yang amat sangat.

    Menurut shahibul hikayat, ia pernah kedapatan berbaring di dekat mimbar masjid. Gara-gara perbuatan aneh itu, orang mengiranya agak kurang waras. Mendengar kasak-kusuk di kalangan sahabat ini, Nabi segera menemui Abu Hurairah. Abu Hurairah bilang, ia tidak gila, hanya ia lapar. Nabi pun segera memberinya makanan.

    Suatu kali, dengan masih mengikatkan batu ke perutnya, dia duduk di pinggir jalan, tempat orang biasanya berlalu lalang. Dilihatnya Abu Bakr melintas. Lalu dia minta dibacakan satu ayat Al-Quran. “Aku bertanya begitu supaya dia mengajakku ikut, memberiku pekerjaan,” tutur Abu Hurairah. Tapi Abu Bakr cuma membacakan ayat, lantas berlalu.

    Dilihatnya Umar ibn Khattab. “Tolong ajari aku ayat Al-Quran,” kata Abu Hurairah. Kembali ia harus menelan ludah kekecewaan karena Umar berbuat hal yang sama.

    Tak lama kemudian Nabi lewat. Nabi tersenyum. “Beliau tahu apa isi hati saya. Beliau bisa membaca raut muka saya secara tepat,” tutur Abu Hurairah.

    “Ya Aba Hurairah!” panggil Nabi.

    “Labbaik, ya Rasulullah!”

    “Ikutlah aku!”

    Beliau mengajak Abu Hurairah ke rumahnya. Di dalam rumah didapati sebaskom susu. “Dari mana susu ini?” tanya Rasulullah. Beliau diberi tahu bahwa seseorang telah memberikan susu itu.

    “Ya Aba Hurairah!”

    “Labbaik, Ya Rasulullah!”

    “Tolong panggilkan ahli shuffah,” kata Nabi. Susu tadi lalu dibagikan kepada ahli shuffah, termasuk Abu Hurairah. Sejak itulah, Abu Hurairah mengabdi kepada Rasulullah, bergabung dengan ahli shuffah di pondokan masjid.

    Sepulang dari Perang Khaibar, Nabi melakukan perluasan terhadap Masjid Nabawi, yaitu ke arah barat dengan menambah tiga pilar lagi. Abu Hurairah terlibat pula dalam renovasi ini. Ketika dilihatnya Nabi turut mengangkat batu, ia meminta agar beliau menyerahkan batu itu kepadanya. Nabi menolak seraya bersabda, “Tiada kehidupan sebenarnya, melainkan kehidupan akhirat.”

    Abu Hurairah sangat mencintai Nabi.

    Sampai-sampai dia memilih dipukul Nabi karena melakukan kekeliruan ketimbang mendapatkan makanan yang enak. “Karena Nabi menjanjikan akan memberi syafaat kepada orang yang pernah merasa disakitinya secara sengaja atau tidak,” katanya.

    Begitu cintanya kepada Rasulullah sehingga siapa pun yang dicintai Nabi, ia ikut mencintainya. Misalnya, ia suka mencium Hasan dan Husain, karena melihat Rasulullah mencium kedua cucunya itu.

    Ada cerita menarik menyangkut kehidupan Abu Hurairah dan masyarakat Islam zaman itu. Meski Abu Hurairah seorang papa, boleh dibilang tuna wisma, salah seorang majikannya yang lumayan kaya menikahkan putrinya, Bisrah binti Gazwan, dengan lelaki itu. Ini menunjukkan betapa Islam telah mengubah persepsi orang dari membedakan kelas kepada persamaan. Abu Hurairah dipandang mulia karena kealiman dan kesalihannya. Perilaku islami telah memuliakannya, lebih dari kemuliaan pada masa jahiliah yang memandang kebangsawanan dan kekayaan sebagai ukuran kemuliaan.

    Sejak menikah, Abu Hurairah membagi malamnya atas tiga bagian: untuk membaca Al-Quran, untuk tidur dan keluarga, dan untuk mengulang-ulang hadis. Ia dan keluarganya meskipun kemudian menjadi orang berada tetap hidup sederhana. Ia suka bersedekah, menjamu tamu, bahkan menyedekahkan rumahnya di Madinah untuk pembantu-pembantunya.

    Tugas penting pernah diembannya dari Rasulullah. Yaitu ketika ia bersama Al-Ala ibn Abdillah Al-Hadrami diutus berdakwah ke Bahrain. Belakangan, ia juga bersama Quddamah diutus menarik jizyah (pajak) ke Bahrain, sambil membawa surat ke Amir Al-Munzir ibn Sawa At-Tamimi.

    Menolak Jabatan.

    Mungkin karena itu, ketika Umar menjadi amirul mukminin, Abu Hurairah diangkat menjadi gubernur Bahrain. Tapi pada 23 Hijri Umar memecatnya gara-gara sang gubernur kedapatan menyimpan banyak uang (menurut satu versi, sampai 10.000 dinar). Dalam proses pengusutan, ia mengemukakan upaya pembuktian terbalik, bahwa harta itu diperolehnya dari beternak kuda dan pemberian orang. Khalifah menerima penjelasan itu dan memaafkannya. Lalu ia diminta menduduki jabatan gubernur lagi, tapi ia menolak.

    Penolakan itu diiringi lima alasan. “Aku takut berkata tanpa pengetahuan; aku takut memutuskan perkara bertentangan dengan hukum (agama); aku ogah dicambuk; aku tak mau harta benda hasil jerih payahku disita; dan aku takut nama baikku tercemar,” kilahnya. Ia memilih tinggal di Madinah, menjadi warga biasa yang memperlihatkan kesetiaan kepada Umar, dan para pemimpin sesudahnya.

    Tatkala kediaman Amirul Mukminin Ustman ibn Affan dikepung pemberontak, dalam peristiwa yang dikenal sebagai al-fitnatul kubra (bencana besar), Abu Hurairah bersama 700 orang Muhajirin dan Anshar tampil mengawal rumah tersebut. Meski dalam posisi siap tempur, Khalifah melarang pengikut setianya itu memerangi kaum pemberontak.

    Pada masa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah ditawari menjadi gubernur di Madinah. Ia menolak. Ketika terjadi pertemuan antara Khalifah Ali dan lawannya, Muawiyah ibn Abi Sufyan, ia bersikap netral dan menghindari fitnah. Sampai kemudian Muawiyah berkuasa, Abu Hurairah bersedia menjadi gubernur di Madinah. Tapi versi lain mengatakan, Marwan ibn Hakamlah yang menunjuk Abu Hurairah sebagai pembantunya di kantor gebernuran Madinah. Di Kota Penuh Cahaya (Al-Madinatul Munawwarah) ini pula ia mengembuskan nafas terakhir pada 57 atau 58 H. (676-678 M.) dalam usia 78 tahun. Meninggalkan warisan yang sangat berharga, yakni hadis-hadis Nabi, bak butiran-butiran ratna mutu manikam, yang jumlahnya 5.374 hadis.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 22 April 2012 Permalink | Balas  

    Putri Yang Sombong 

    Putri Yang Sombong

    Tersebutlah seorang putri raja dari cina yang sangat cerdas. Dia menjadi sombong dengan kecerdasannya itu. Ketika usia telah cukup untuk menikah sang raja bermaksud untuk mengadakan sayembara, sang putri tidak keberatan namun dia mengajukan syarat bagi mereka yang ingin menikahinya.. Setiap laki laki yang ingin mempersuntingnya harus mampu menjawab 3 pertanyaan yang dia ajukan. Bagi yang tidak mampu menjawab maka tiang gantungan telah menanti sebagai hukuman.

    Demikianlah, puluhan pemuda mengakhiri hidup mereka ditiang gantungan tersebut karena tak mampu menjawab pertanyaan sang putri. Raja menjadi sangat khawatir dengan kondisi putrinya yang semakin menikmati permainannya, juga khawatir dengan usianya yang semakin bertambah namun tidak ada tanda tanda bahwa dia akan mengakhiri permainan gilanya itu serta khawatir semua pemuda terbaiknya mati sia-sia ditiang gantungan.

    Suatu hari datanglah seorang pemuda pengembara dari tanah Bharata, dia mendengar cerita tentang sang putri dan berniat untuk mengakhiri permainannya. Dia mendaftar untuk bertanding dengan sang putri. Mendengar hal ini sang raja jadi gelisah karena pasti pemuda pengembara ini hidupnya akan berakhir pula ditiang gantungan. Dia menasehati sang pemuda agar mengurungkan niatnya untuk mengikuti pertandingan namun ditampik oleh sang pemuda yang telah bulat tekadnya untuk menghentikan kecongkakan sang putri.

    Tibalah hari yang telah ditentukan, sang pemuda dan para penonton telah hadir dipendopo istana bersiap untuk mengikuti acara yang sangat menegangkan itu, namun sang pemuda tidak kelihatan tegang bahkan sebaliknya, dia duduk tegak bersila dengan tenangnya sambil terus menebar senyum. Sang raja dan para juri yang terdiri dari para pendeta dan penasehat istana telah duduk di masing masing tempat yang tersedia dengan harap-harap cemas. Tak berapa lama berselang datanglah sang putri berjalan ketengah-tengah pendopo dengan keangkuhan tersirat yang disebabkan oleh kecerdasannya. Duduk dengan kaki terlipat diatas kursi dan senyum sinis menghiasi wajah yang seharusnya sangat cantik itu dia melirik kearah sang pemuda.

    Sayembara segera dimulai. Tampak sang putri berbisik ditelinga penterjemah yang segera berkata, Wahai pemuda yang berani datang menantang sang putri, apakah engkau tidak takut digantung? Apakah engkau tidak sayang akan nyawamu berakhir sia-sia ditiang gantungan? Apakah engkau tidak sayang akan ketampananmu serta masa depanmu? Pulanglah sebelum terlambat. Demikian kata penterjemah menyampaikan apa yang dibisikkan oleh sang putri, tampak sangat jelas dia memandang rendah sang pemuda. Walau kelihatan seperti menyayangkan keikut sertaan sang pemuda namun dari kata-katanya jelas tersirat bahwa sang putri sangat senang akan ada lagi korban yang jatuh dan dia tidak ingin sang pemuda mundur dari pendopo.

    Sang pemuda hanya tersenyum sambil mempersilakan sang putri untuk menyampaikan pertanyaannya karena dia sudah tidak sabar lagi untuk menjawab.

    Sang penterjemah membacakan pertanyaan pertama sang putri yang berbunyi, Siapakah bapak yang mampu memperlakukan semua secara adil?

    Pemuda itu dengan suara tenang menjawab, Dia adalah Matahari.

    Para juri terperangah karena untuk pertama kalinya ada orang yang mampu menjawab dengan tepat dengan santainya. Biasanya para pemuda terdahulu kalah pada pertanyaan pertama.

    Pertanyaan kedua, Siapakah ibu yang memakan anaknya setelah sang anak dilahirkannya?

    Kembali sang pemuda dengan tenangnya mengawab, Dia adalah laut.

    Kini giliran sang putri yang keluar keringat dingin karena dua pertanyaannya dijawab dengan mudahnya. Dia berpikir sejenak sebelum mengajukan pertanyaannya yang ketiga. Setelah berpikir keras dia tersenyum karena merasa mendapatkan satu pertanyaan yang mustahil dijawab oleh siapapun, bahkan oleh para pendeta terpelajar sekalipun.

    Pertanyaan ketiga adalah, Pohon apakah yang setiap daunnya memiliki dua warna, hitam dan putih?

    Melihat sang putri tersenyum bahagia karena merasa yakin pertanyaannya tidak bakalan bisa dijawab, sang pemuda sengaja berlagak seperti orang yang sedang berpikir keras mencari jawaban, membiarkan sang putri menikmati angannya yang akan berakhir sebentar lagi. Hal ini ternyata membuat para hadirin dan juga sang raja menjadi sangat cemas, padahal tadi telah muncul harapan bahwa sang pemuda akan memenangkan sayembara ini. Setiap jawaban disambut tengan tepuk tangan yang sangat meriah. Namun berbeda dengan sekarang, suasana jadi sangat hening mencekam, setiap hati melantunkan doa kemenangan buat sang pemuda sehingga tidak akan ada lagi korban berjatuhan. Namun sang pemuda tidak segera menjawab, bahkan dia kelihatan berpikir semakin keras. Sengaja dia lakukan untuk memberikan kesempatan kepada sang putri menikmati angan kemenangannya lebih lama..

    Sang putri yang merasa pasti menang menebar senyum bangga kearah hadirin namun ketika dia berpaling kearah sang pemuda senyum itu berubah menjadi sinis. Dia sangat senang atas hal ini dan berkata, Wahai anak muda, sampai kapan engkau akan membisu seperti itu, akuilah bahwa engkau tidak menemukan jawabannya, orang-orang hebat seperti para pendeta yang telah renta karena ilmupun tidak tahu jawabannya apalagi anak kemarin sore sepertimu, oleh karena itu menyerahlah dan bersiaplah untuk menuju tiang gantungan, algojo telah tidak sabar menanti untuk memasang tali dilehermu, kasihan mereka terlalu lama menunggu sesuatu untuk dikerjakan, pekerjaan mereka hanya datang sesekali.

    Dengan tatapan tenang kearah sang putri sembari tersenyum, sang pemuda berkata, Tuan Putri, jawaban hamba atas pertanyaan Tuan Putri yang ke tiga adalah “Tahun”.

    Gemuruh sorak sorai para hadirin karena akhirnya pertanyaan terakhir sang Putri terjawab juga walau mereka belum yakin jawaban itu benar, namun paling tidak mereka telah melihat guratan senyum disudut bibir para juri pertanda jawaban tersebut benar adanya.

    Sementara dilain pihak, wajah sang Putri tiba tiba menjadi merah padam, marah dan kecewa setelah mendengar jawaban gamblang dari sang pemuda. Dia tidak habis pikir bagaimana si pemuda bisa tahu jawaban itu, sementara dia kelihatan berpikir keras dari tadi tapi ternyata dia dengan tenangnya dapat menjawab, sang Putri jadi curiga mungkin jawabannya itu hanya tebakan. Kemudian dia bertanya, Kenapa jawabanmu Tahun, jelaskan!

    Bagai sebatang pohon yang terus bertumbuh, tahun juga terus berjalan tanpa dapat dihentikan, daunnya adalah siang yang putih dan malam yang hitam. Demikian jawaban sang pemuda pengembara. Sekali lagi hadirin bersorak riang gembira. Namun berbeda dengan sang Putri yang takabur itu, dia berteriak tidak terima kalah dan tidak mau menikah sembari ingin mengajukan pertanyaan lagi akan tetapi permohonannya ditolak sang Raja yang mengatakan bahwa jika Putri tidak mau mengaku kalah dan tidak mau menikah dengan sang pemuda maka dia harus mendapat hukuman yang sama seperti para pemuda yang kalah sebelumnya, hukuman gantung.

    Akhirnya sang Putri mengaku kalah walau dengan terpaksa dan kemudian dipersunting oleh si pemuda dan diboyong kenegaranya yaitu Bharatawarsa.

    Makna dari dunia itu sendiri adalah kehidupan karna tanpa hidup kita ga akan pernah tau dunia itu seperti apa,,,,tidak selamanya apa yang kita anggap benar itu ..tidak salah juga di mata kehidupan dalam bingkai dunia..

    ***

    Dari Sahabat di Kaskus.us

     
  • erva kurniawan 1:33 am on 21 April 2012 Permalink | Balas  

    Hidup Zuhud 

    Hidup Zuhud

    Manusia adalah makhluk pengejar kebahagiaan. Namun, tak semua manusia mencicipi hidup bahagia. Karena tidak setiap manusia tahu bagaimana merengkuh kebahagiaan.

    Kebahagiaan tergantung pada pola hidup. Islam menganjurkan pola hidup zuhud. Apakah zuhud itu? Zuhud terumuskan dalam dua kalimat Alquran.

    ”Supaya kamu tidak bersedih karena apa yang lepas dari tanganmu dan tidak bangga dengan apa yang diberikan kepadamu.” (QS Al-Hadid: 23).

    Ada dua ciri zahid (individu yang menjadikan zuhud sebagai pola hidup).

    Pertama, zahid tidak menggantungkan kebahagiaan hidupnya pada apa yang dimiliki. Bila bahagia ditambatkan pada kendaraan yang dimiliki, kala kendaraan itu tergores, hilanglah bahagia yang bersemayam di dada. Jika hati dilabuhkan pada yang dimiliki, maka saat apa yang dimiliki itu terlepas dari genggaman, terlepaslah kebahagiaannya.

    Kedua, kebahagiaan zahid tidak terletak pada materi, tapi pada dataran spiritual. Hidup akan menjelma menjadi guyonan yang mengerikan bila makna bahagia disandarkan pada benda. Sebab, benda hanya menunggu waktu untuk lenyap.

    ”Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS Al-Rahman: 26-27).

    Hakikat zuhud bukanlah meninggalkan dunia, namun tidak meletakkan hati padanya. Zuhud bukan menghindari kenikmatan duniawi, tetapi tidak meletakkan nilai yang tinggi padanya.

    ”Tiadalah perbandingan dunia ini dengan akhirat, kecuali seperti seorang yang memasukkan jarinya dalam lautan besar, maka perhatikan berapa dapatnya. (HR Muslim).

    Oleh sebab itu, zuhud dalam kehidupan dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal.

    ”Zuhud terhadap kehidupan dunia tidak menganggap apa yang ada pada dirimu lebih pasti dari apa yang ada pada Allah SWT dan hendaklah engkau bergembira memperoleh pahala musibah yang menimpamu walaupun musibah itu akan tetap menimpamu.” (HR Ahmad).

    Dalam hadis Qudsi, diriwayatkan,

    ”Allah berfirman wahai dunia, berkhidmatlah kepada orang yang telah berkhidmat kepada-Ku, dan perbudaklah orang yang mengabdi kepadamu. (HR Al-Qudlai).”

    Ringkasnya, rumus hidup bahagia adalah kemampuan memilih nikmat yang abadi di atas kenikmatan yang fana. Bagaimana supaya baju zuhud dapat dikenakan? Dalam Nashaih Al-Ibad, Syaikh Nawawi al-Bantani menceritakan kisah Ibrahim bin Adham tentang mencapai zuhud.

    Beliau menjawab, ”Ada tiga sebab, saya melihat kuburan itu mengerikan, sedangkan belum kudapati pelipur (atasnya). saya melihat jarak perjalanan amatlah jauh, padahal belum kumiliki bekal, dan saya melihat Allah yang Maha perkasa akan mengadili, padahal belum kudapati alasan (untuk mengelak dari hukumannya). ”

    ***

    (M Subhi-Ibrahim, HIKMAH – REPUBLIKA )

     
  • erva kurniawan 1:22 am on 20 April 2012 Permalink | Balas  

    Nabi Muhammad SAW Makhluk Teragung 

    Nabi Muhammad SAW Makhluk Teragung

    Nabi Muhammad saw meskipun sama kejadiannya dengan manusia lain di muka bumi ini, namun bentuk lahiriah dan rohaniahnya tidak sama. Baginda mempunyai keistimewaan yang sama sekali tidak terdapat pada manusia-manusia biasa. Sebagai manusia yang terbaik di muka bumi ini, Baginda dianugerahkan dengan keperibadian dan perwatakan yang istimewa karena padanyalah terdapat contoh untuk diteladani.

    Umum mengetahui keadaan yang zahir adalah gambaran yang terjelma dari unsur-unsur batin. Rupa paras seseorang boleh membantu menjelaskan keperibadian setiap individu. Ciri-ciri seperti bentuk badan, sifat fizikal dan rupa bentuk anggota adalah menggambarkan tentang akal dan akhlak seseorang. Begitulah dengan Nabi Muhammad saw. yang mempunyai bentuk badan yang indah dan segak, namun tidak dapat digambarkan oleh semua pelukis potret di dunia ini. Allah mengharamkan penggambaran potret Baginda oleh sesiapa saja. Sungguhpun begitu sifat-sifat kecantikan baginda masih boleh diillusikan melalui pertuturan dan riwayat para sahabat dan tabi’in.

    Begitu indahnya sifat fizikal Baginda, sehinggakan seorang ulama Yahudi yang pada pertama kalinya bersua muka dengan Baginda lantas melafazkan keIslaman dan mengaku akan kebenaran apa yang disampaikan oleh Baginda. Ulama Yahudi berkenaan terpukau dengan raut paras dan akhlak baginda yang sudah tentunya milik seorang Rasul Agung di muka bumi ini. Para sahabat yang sentiasa bersamanya sentiasa meneliti bentuk tubuh tokoh kesayangannya secara terperinci. Di antara kata-kata appresiasi mereka yang pernah melihat baginda saw:

    • Aku belum pernah melihat lelaki yang sekacak Rasulullah. Aku melihat cahaya memancar dari lidahnya.
    • Seandainya kamu melihat Rasulullah, kamu akan merasa seolah-olah sedang melihat matahari terbit.
    • Aku pernah melihat Rasulullah saw di bawah sinaran bulan. Aku bandingkan wajahnya dengan bulan, akhirnya aku sadari bahwa Rasulullah saw jauh lebih cantik daripada sinaran bulan.
    • Rasulullah saw seumpama matahari yang bersinar. Aku belum pernah melihat lelaki setampan Rasulullah saw.
    • Apabila Rasulullah saw berasa gembira, wajahnya bercahaya seperti bulan purnama dan dari situ kami mengetahui yang baginda sedang gembira.
    • Kali pertama memandangnya, sudah tentu kamu akan terpesona
    • Wajahnya tidak bulat tetapi lebih cenderung kepada bulat
    • Wajahnya seperti bulan purnama
    • Dahi Baginda luas, raut kening tebal, terpisah di tengahnya. Urat darah kelihatan di antara dua kening dan nampak semakin jelas semasa marah.
    • Mata Baginda hitam dengan bulu mata yang panjang
    • Garis-garis merah di bahagian putih mata, luas kelopaknya, kebiruan asli di bahagian sudut.
    • Hidungnya agak mancung, bercahaya penuh misteri, kelihatan luas sekali pertama kali melihatnya.
    • Mulut baginda sederhana luas dan cantik
    • Giginya kecil dan bercahaya, indah tersusun, renggang di bahagian depan.
    • Apabila berkata-kata cahaya kelihatan memancar dari giginya
    • Janggutnya penuh dan tebal menawan
    • Lehernya kecil dan panjang, terbentuk dengan cantik seperti arca. Warna lehernya putih seperti perak sangat indah.
    • Kepalanya besar tapi terlalu elok bentuknya
    • Rambutnya sedikit ikal
    • Rambutnya tebal kadang-kadang menyentuh pangkal telinga dan kadang-kadang mencecah bahu tapi disisir rapi
    • Rambutnya terbelah di tengah
    • Di tubuhnya tidak banyak rambut kecuali satu garisan rambut menganjur dari dada ke pusat
    • Dadanya bidang dan selaras dengan perut. Luas bidang antara kedua bahunya lebih daripada biasa
    • Seimbang antara kedua bahunya
    • Pergelangan tangannya lebar, lebar tapak tangannya , jarinya juga besar dan tersusun dengan cantik
    • Aku tidak pernah menyentuh sebarang sutera yang tipis mahupun tebal yang lebih lembut daripada tapak tangan Rasulullah saw.
    • Perut betisnya tidak lembut tetapi cantik. kakinya berisi, di tapak kakinya terlalu licin sehingga tidak melekat air. Terlalu sedikit daging di bahagian tumit kakinya.
    • Warna kulitnya tidak putih seperti kapur atau coklat tapi campuran antara coklat dan putih. Warna putihnya lebih banyak.
    • Warna kulit Baginda putih kemerah-merahan
    • Warna kulitnya putih tapi sehat
    • Kulitnya putih lagi bercahaya
    • Binaan badannya sempurna, tulang-temulangnya besar dan kukuh
    • Badannya tidak gemuk
    • Badannya tidak tinggi dan tidak pula rendah, kecil tapi berukuran sederhana lagi kacak
    • Perutnya tidak buncit
    • Badannya cenderung kepada tinggi. Semasa berada di kalangan orang ramai, baginda kelihatan lebih tinggi daripada mereka
    • Sekalipun baginda miskin dan lapar tapi tubuhnya lebih gagah dan sehat daripada orang yang cukup makan. Aku tidak pernah melihat seorang lelaki yang lebih gagah dan berani daripada Rasulullah saw.

    Begitu hebat personaliti dan ketokohan Baginda saw., makhluk terpuji dan teragung di muka bumi. Kesimpulannya Nabi Muhammad saw. adalah manusia agung yang ideal dan sebaik-baik contoh sepanjang zaman.

    MORAL & IKTIBAR

    Nabi Muhammad saw. adalah manusia terbaik pilihan Allah. Sifatnya yang terpuji merangkumi aspek fizikal dan rohani. Atas sifatnya yang superior inilah baginda dilantik menjadi pemimpin seluruh manusia di dunia ini.. Baginda adalah manusia mithali yang serba lengkap dan serba kamil dan layaklah baginda tidak disentuh sebarang dosa lagi bersifat dengan maksum. Kepimpinan Baginda sepatutnya menjadi contoh teladan kepada semua manusia di muka bumi ini. Barangsiapa mentaati Allah tanpa mengakui kerasulan Nabi saw, nescaya Allah tidak menerima keimanannya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:33 am on 19 April 2012 Permalink | Balas  

    Karir Muslimah 

    Karir Muslimah

    Oleh Siti Aisyah Nurmi

    Ummati….ummati…..

    Rintihan seorang yang mulia yang hatinya amat lembut. Dalam nubuwwah Beliau SAW telah melihat kenyataan ini…..

    Seorang wanita duduk murung di sudut ruang tamunya. Lampu dimatikan. Di kamar, sang suami terbaring gelisah. Tidak ada yang tertidur kecuali si kecil yang nafasnya masih tersengal karena sakit. Ayah dan ibu sedang bertengkar gara-gara saling menyalahkan, siapa yang seharusnya pulang dari kantor saat Annisa dikabarkan sakit. Rita sang ibu, manajer sebuah perusahaan asing yang bergengsi. Jabatan cukup tinggi dan prestasi karir cemerlang. Agus, sang ayah hanya bisa menyumbang sepertiga dari kebutuhan finansial rumahtangga, maklum, sebagai eselon tiga di departemen yang ‘kering’, tak banyak yang bisa diharapkan. Agus belum bersedia melepas status PNS-nya dengan berbagai alasan. Namun ia juga sibuk di kantor, karena ia sering diandalkan oleh bossnya yang malas dan punya obyekan banyak. Buah hati mereka (Alhamdulillah) baru satu, Annisa, dua tahun.

    Problem keluarga masa kini: pertengkaran suami isteri karena konflik kepentingan antara karir dan rumahtangga.

    Wahai wanita, wahai ibu! Apa sih arti ‘karir’? Dari katanya sendiri bisa kita artikan secara bebas bahwa ia berarti sesuatu yang kita lakukan dengan motivasi tinggi sehingga menghasilkan suatu ‘karya’. Begitu ‘kan?

    Suatu hari penulis diminta mengisi data diri yang pada salah satu kolomnya terdapat: pekerjaan: pilihannya: a) Pegawai negeri b) swasta c) tidak bekerja. Penulis tanyakan kepada petugasnya: Di mana tempat untuk menuliskan karir saya sebagai ibu rumahtangga? Semua jawaban petugas itu tak dapat memuaskan saya.

    Seorang wanita yang mengurus rumahtangganya, siang malam ia bekerja. * Fullday*! Nyaris 24 jam! Apakah itu dikatakan TIDAK BEKERJA? Lebih menyakitkan lagi, ada yang menggolongkan pekerjaan ini sebagai “TIDAK PRODUKTIF”?!?

    Apa hasil kerja seorang ibu rumahtangga?

    Banyak sekali, namun sayangnya tidak pernah diekspos dan diangkat ke dalam diskusi besar-besaran. Tidak juga ada lembaga besar yang mau mengadakan penelitian seputar hal ini. Sebaliknya, ada ribuan seminar tentang wanita bekerja yang mempromosikan wanita untuk keluar rumah mengejar karir kantoran. Bahkan di negeri ini sedang ada diskusi tentang perlunya meningkatkan keterwakilan wanita di parlemen. *That means*: harus ada lebih banyak lagi wanita yang berkarir politik di negeri yang pernah punya presiden wanita ini.

    Apakah wanita tidak boleh bekerja di luar rumah? Wah nanti dulu, di sini bukan porsinya untuk membicarakan fatwa.

    Coba kita tinjau dari sudut lain: apa alasan wanita bekerja di luar rumah. Pertama ada alasan finansial, ini yang terbanyak. Kedua, alasan mencari aktualisasi diri, ketiga, alasan jenuh di rumah, dan terakhir: dibutuhkan di masyarakat. Untuk orang-orang tertentu, alasan terakhir sangat kuat. Misalnya karir sebagai guru TK, hampir tak bisa ditemukan guru TK yang pria, dan memang wajar, tidak cocok. Dokter wanita juga termasuk yang sangat dibutuhkan di masyarakat. Alasannya sederhana, wanita seringkali malu jika dokternya pria. Menjadi perawat juga diperlukan. Bahkan di zaman Nabi SAW, para isteri beliau diundi berangkat bersama Nabi SAW ke medan jihad untuk merawat yang sakit.

    Dari empat alasan di atas, dua yang pertama adalah yang terbanyak. Apakah seorang wanita benar-benar perlu membantu mencari nafkah? Sangat relatif. Jika suaminya masih bisa memenuhi sandang pangan dan papan dengan standar cukup yang normal, maka kebutuhan tersebut tidak ada lagi. Kita dapat memaklumi mbok-mbok jamu yang terpaksa keluar masuk kampung dengan jamu gendongnya, sebab dalam hitungan kasat mata kita dapat melihat bahwa kebutuhan rumahtangganya pasti tak mencukupi jika ia tak berjualan. Masing-masing kita bisa menilai sendiri apakah standar minimal tersebut sudah terpenuhi atau belum. Namun bagaimana dengan yang beralasan ‘aktualisasi diri’?

    Istilahnya saja diambil dari filsuf barat, Maslow. Jauh dari hidayah Islam. Namun lebih jauh lagi, ‘aktualisasi diri’ sekarang diartikan sangat jauh kepada karir dengan format materialisme. Seseorang tidak dikatakan sampai derajat mencapai aktualisasi diri jika belum mendapatkan format kerja yang menghasilkan karya materi. Apakah itu berupa penghasilan tinggi, atau prestasi ilmiah, atau prestasi di bidang apa saja yang bisa masuk ke dalam katagori pengakuan dari masyarakat. Jadi, jika ia hidup di masyarakat yang sudah tidak lagi menghargai karya seorang ibu rumahtangga, maka ia tak akan pernah mencapai aktualisasi diri. Meskipun semua anaknya sholeh dan cerdas, rumahtangganya tak pernah meresahkan orang lain dan sebagainya. Bahkan suaminya amat menghargai sang isteri karena kontribusinya sebagai pasangan hidup terbaik.

    Sebaliknya, seorang wanita yang sukses karir dan merasa sudah mendapatkan kepuasan dan aktualisasi diri, mungkin saja mempunyai kisah hidup memilukan, anak-anaknya yang tak bisa menghargai dirinya, ketika sudah jompo iapun terdampar di panti wredha. Konsep Maslow tentang aktualisasi diri itupun masih belum “sempurna”, sebab pengakuan yang dicarinya masih terbatas pengakuan manusia. Siapakah manusia? Makhluk fana yang sering berbohong. Islam menghendaki seseorang mencari pengakuan dari Pihak Yang Tak Pernah Mengingkari Janji, apalagi berbohong. Ridha Allah adalah sukses tertinggi yang bisa dicapai makhluk di hadapan Khalik. Imbalannya-pun bukan milyaran dollar, tidak. Itu terlalu kecil, sebab Syurga diwariskan kepada para hamba sholeh luasnya seluas langit dan bumi, masih ditambah kelak dipuji puji oleh para malaikat mulia yang berbakti.

    Suatu saat Nabi SAW ditanya oleh seseorang: siapakah orang pertama yang harus aku muliakan, ya Rasulullah? Jawab beliau: Ibumu (1x) ibumu (ke 2 x) dan ibumu (ke 3 x), kemudian baru ayahmu.

    Alangkah indahnya Islam, alangkah mulianya kedudukan wanita dalam Islam.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:23 am on 18 April 2012 Permalink | Balas  

    Menjadi Suami yang Mempesona 

    Menjadi Suami yang Mempesona, Mengapa Tidak?

    Menjadi istri yang mempesona suami? Itu hal biasa yang telah banyak dibahas dalam berbagai literatur, kajian, diskusi dan kesempatan. Tetapi tahukah Anda wahai para suami, para istri juga menginginkan laki-laki yang mempesona sebagai suaminya. Meski gambaran suami yang mempesona boleh jadi relatif, berbeda antara satu perempuan dengan perempuan lainnya, tetapi dapat dikatakan secara umum kaum perempuan membutuhkan pesona yang dapat lebih membuat mereka senantiasa mencintai suaminya.

    Boleh jadi selama ini Anda para suami menyangka bahwa istri Anda mencintai Anda karena ia telah mendampingi, melayani, melahirkan dan mengasuh anak-anak Anda. Mungkin hal itu benar, tetapi untuk membuat perasaan istri Anda tidak berubah ia tetap selalu mencintai Anda dari waktu ke waktu dibutuhkan lebih banyak proses, perbuatan, tingkah laku yang semuanya bermuara pada satu titik bahwa Anda tetap mempesonanya, sehingga ia menganggap Anda layak untuk mendapatkan cintanya untuk selamanya.

    Ada satu pelajaran yang menarik terutama untuk para suami dari kisah seorang perempuan yang mendatangi Rasulullah SAW untuk menceritakan, bahwa sekian lama berumah tangga ternyata perasaannya mengalami perubahan, ia tidak lagi bisa mencintai suaminya dan karena itu ia khawatir berbuat kekufuran.

    Adalah istri Tsabit bin Qais bin Syamas (sahabat Rasulullah SAW) yang bernama Jamilah, ia mendatangi Rasulullah SAW untuk menceritakan perasaannya terhadap suaminya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak mencela agama dan akhlak Tsabit, tetapi aku khawatir jika hidup bersamanya aku berbuat kekufuran.” Maka Rasulullah SAW bersabda, “Apakah engkau hendak mengembalikan kebunnya?” (waktu itu mahar Tsabit adalah kebunnya). Jamilah menjawab, “Benar ya Rasulullah.” Lalu Rasulullah mengutus seseorang kepada Tsabit untuk menyampaikan pesannya,”Terimalah kebun itu dan ceraikanlah dia.” (HR Bukhari dari Ibnu Abbas ra)

    Kisah lainnya yang juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas ra berikut ini menunjukkan bahwa seorang istri diperbolehkan melepaskan diri dari suami yang tidak dapat dicintainya. Barirah adalah seorang budak wanita dari Habasyah yang berada dibawah kekuasaan Utbah bin Lahab. Majikannya ini memaksa Barirah untuk menikah dengan seorang yang tidak disukainya yaitu budak laki-laki bernama Mughits. Merekapun menikah, Barirah tidak mencintai suaminya tapi sebaliknya Mughits sangat mencintai istrinya. Ummul Mukminin Aisyah ra merasa kasihan kepada Barirah, beliau lalu membeli dan memerdekakannya. Setelah itu Barirah merasa benar-benar memiliki kebebasannya dan merasa dapat menentukan hidupnya, maka ia meminta cerai dari suaminya. Ibnu Abbas ra berkata, “Suami Barirah adalah seorang budak bernama Mughits, seakan-akan aku melihatnya berjalan dibelakangnya sambil menangis, air matanya menetes sampai ke jenggotnya. Nabi SAW berkata kepadaku , “Wahai Ibnu Abbas, tidakkah engkau takjub pada cinta Mughits pada Barirah dan kebencian Barirah pada Mughits?’ Selanjutnya Nabi berkata kepada Barirah, “Seandainya engkau mau kembali, sesungguhnya dia adalah suamimu dan ayah anakmu.” Maka Barirah bertanya, “Apakah engkau memerintahkan aku ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Aku hanya menawarkan kepadamu.” Barirah berucap, “Aku tidak membutuhkannya”.

    Nah, para suami, beberapa saran berikut ini dapat membantu Anda untuk menjadi pribadi yang mempesona dimata istri Anda:

    Memperhatikan penampilan luar.

    Tidak disangsikan lagi bahwa penampilan luar dapat membangkitkan pesona pada jiwa perempuan. Suami yang dapat menjaga kebersihan dirinya, rapi dan perlente umumnya lebih mempesona ketimbang suami yang jorok, lusuh dan kumal. Bukankah Rasulullah SAW bersabda bahwa kebersihan itu cabang iman? Umar bin Khattab ra pun pernah berkata, “Perempuan menyukai kalau suaminya berhias untuk dirinya, sebagaimana laki-laki suka istrinya berhias untuk dirinya.”

    Tidak Kaku dan Monoton

    Suami seperti ini selalu mau belajar memahami perasaan istrinya, punya banyak cara dan gaya dalam mengungkapkan perasaan cinta dan kasih sayang kepada istrinya, juga tidak enggan untuk menyatakan cintanya dengan kata-kata.

    Terbuka

    Suami seperti ini tidak enggan mengungkapkan harapan, keinginan dan perasaannya agar istri mengerti dan dapat melakukan hal yang sesuai dengan yang dikehendakinya. Ia bukan suami yang diam dan membiarkan istrinya dalam kesulitan menebak-nebak apa yang diinginkannya.

    Matang

    Kebanyakan perempuan ketika menikah menginginkan suaminya adalah orang yang siap melindungi, membimbing dan dapat menjadi tempat bersandar. Laki-laki yang matang seperti ini lebih mempesona perempuan dibanding yang kekanak-kanakan dan emosional.

    Peduli dengan Keluarga

    Adalah benar suami memiliki tanggung jawab dalam masalah nafkah, tetapi kesibukannya dalam pekerjaan atau hal lainnya tidak membuatnya menjadi orang yang acuh terhadap istri dan anak-anaknya. Ia mau menemani anak belajar dan tidak keberatan mengantar istrinya pergi menghadiri acara-acaranya.

    Dapat Berbagi Rasa

    Suami mempesona mau belajar bagaimana dapat ikut merasakan apa yang sedang dirasakan istrinya. Ia mau mendengar dengan penuh perhatian ketika istri sedang mengungkapkan permasalahannya, ikut merasakan kegelisahannya dan dapat membantu menentramkannya atau mengatasi permasalahannya. Ia adalah tempat curhat istrinya yang setia dan dapat dipercaya.

    Mencintai Orang Tua, Saudara dan Kerabat Istri

    Anda akan semakin mempesona istri Anda manakala Anda mencintai orang tuanya, menyayangi saudara-saudaranya dan bersikap baik kepada kerabatnya. Dan jika Anda senantiasa bersikap demikian maka percayalah iapun akan berusaha keras untuk mencintai orang tua Anda dan bersikap baik pada saudara dan kerabat Anda.

    Jangan ragu dan gengsi untuk melakukan saran-saran diatas, mulailah sekarang juga maka Anda akan takjub mendapati limpahan cinta istri Anda yang seolah tanpa batas, karena begitulah sifat dan karakter perempuan, ia akan memberi lebih dari apa yang Anda berikan kepadanya!***

    Wallahua’lam bishawab…

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 17 April 2012 Permalink | Balas  

    Menghantarkan Orang Tua ke Surga 

    Menghantarkan Orang Tua ke Surga

    Masih ingatkah kita dengan sebuah kisah di masa Rasulullah? Tentang ketaatan seorang wanita yang ditinggal oleh suaminya berjihad dengan satu pesan, “Jangan pergi sebelum saya pulang”. Dan ternyata, dalam masa kepergian suaminya, orangtuanya sakit keras. Saudara-saudaranyapun memintanya hadir, untuk menemui orang tuanya yang sedang sakit, namun karena ketaatannya kepada suami, dia tak juga berangkat menemui orang tuanya hingga meninggal. Tentu, kita semua mengingatnya bukan?

    Bagi kita manusia biasa, peristiwa tersebut terasa amat janggal. Tak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang anak mampu bertahan tidak menemui orang tuanya yang sedang sakit keras bahkan sampai meninggal, hanya karena taat kepada pesan suami. Mungkin, sebagian kita bahkan akan mengumpat dan mencaci maki kepada wanita tersebut bila kita hidup di masa itu.

    Kita akan katakan kepada wanita tersebut sebagai anak yang tak berbakti, anak yang tak tahu balas budi atas kasih sayang orang tua, anak yang keterlaluan, tak punya perasaan, dan berbagai umpatan yang lainnya.

    Namun, apa kata Rasulullah ketika ditanya tentang kejadian itu? Rasulullah dengan mantap menjawab, bahwa orang tua wanita tersebut masuk surga karena telah berhasil mendidik anaknya menjadi wanita shalihah. Subhaanallah!

    Karenanya, marilah kita para orang tua berusaha sekuat tenaga, untuk menjadikan anak-anak kita menjadi anak-anak yang sholeh dan sholihah. Anak yang akan senantiasa mendo’akan kita kapan pun dan di manapun berada. Anak lelaki yang mampu menjadi qowwam bagi keluarganya, dan tetap berbakti kepada orang tuanya, serta anak perempuan yang menjadi istri dan ibu shalihah, yang mampu mengantarkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang shaleh dan shalihah pula.

    Kepada para orang tua yang telah mengantarkan putra-putrinya ke dalam kehidupan rumah tangga, janganlah menjadi orang tua yang egois, yang selalu ingin didampingi anak-anak, dan tak mau melepaskan kepergiannya. Relakan anak-anak pergi dari pangkuan kita, untuk menjalani hidup mandiri, menjadi nahkoda kapal layar yang telah dibangunnya, sebagai salah satu bukti kasih sayang kita kepada mereka.

    Do’akan selalu, agar anak-anak lelaki kita dapat menjadi nahkoda-nahkoda yang handal, yang mampu mengarahkan bahtera rumah tangga menjadi rumah tangga yang barokah, penuh cinta dan kasih sayang, serta mampu menjadi qowam bagi istri dan anak-anaknya. Do’akan pula agar anak-anak perempuan kita dapat menjadi istri-istri sholihah, yang dapat mencipatakan susana rumah yang bagaikan surga dunia dimata keluarganya, mampu melahirkan anak-anak yang taat kepada Allah dan kepada kedua orang tuanya, serta mampu memberikan rasa nyaman kepada suami dan anak-anaknya. Hingga pada akhirnya, mereka menjadi pengantar-pengantar kita meraih surga-Nya. Insya Allah. Aamiin.

    Wallohu a’lam bbishshowwab.

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 16 April 2012 Permalink | Balas  

    Jilbab Itu Indah 

    Jilbab Itu Indah

    Kamu tau kenapa saya suka wanita itu pakai jilbab? Jawabannya sederhana, karena mata saya susah diajak kompromi. Bisa dibayangkan bagaimana saya harus mengontrol mata saya ini mulai dari keluar pintu rumah sampai kembali masuk rumah lagi. Dan kamu tau? Di kampus tempat saya seharian disana, kemana arah mata memandang selalu saja membuat mata saya terbelalak. Hanya dua arah yang bisa membuat saya tenang, mendongak ke atas langit atau menunduk ke tanah.

    Melihat kedepan ada perempuan berlenggok dengan seutas “Tank Top”, noleh ke kiri pemandangan “Pinggul terbuka”, menghindar kekanan ada sajian “Celana ketat plus You Can See”, balik ke belakang dihadang oleh “Dada menantang!” Astaghfirullah… kemana lagi mata ini harus memandang?

    Kalau saya berbicara nafsu, ow jelas sekali saya suka. Kurang merangsang itu mah! Tapi sayang, saya tak ingin hidup ini dibaluti oleh nafsu. Saya juga butuh hidup dengan pemandangan yang membuat saya tenang. Saya ingin melihat wanita bukan sebagai objek pemuas mata. Tapi mereka adalah sosok yang anggun mempesona, kalau dipandang bikin sejuk di mata. Bukan paras yang membikin mata panas, membuat iman lepas ditarik oleh pikiran “ngeres” dan hatipun menjadi keras. Andai wanita itu mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh laki-laki ketika melihat mereka berpakaian seksi, saya yakin mereka tak mau tampil seperti itu lagi. Kecuali bagi mereka yang memang punya niat untuk menarik lelaki untuk memakai aset berharga yang mereka punya.

    Istilah seksi kalau boleh saya definisikan berdasar kata dasarnya adalah penuh daya tarik seks. Kalau ada wanita yang dibilang seksi oleh para lelaki, janganlah berbangga hati dulu. Sebagai seorang manusia yang punya fitrah dihormati dan dihargai semestinya anda malu, karena penampilan seksi itu sudah membuat mata lelaki menelanjangi anda, membayangkan anda adalah objek syahwat dalam alam pikirannya. Berharap anda melakukan lebih seksi, lebih… dan lebih lagi. Dan anda tau apa kesimpulan yang ada dalam benak sang lelaki? Yaitunya: anda bisa diajak untuk begini dan begitu alias gampangan!

    Mau tidak mau, sengaja ataupun tidak anda sudah membuat diri anda tidak dihargai dan dihormati oleh penampilan anda sendiri yang anda sajikan pada mata lelaki. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada diri anda, apa itu dengan kata-kata yang nyeleneh, pelecehan seksual atau mungkin sampai pada perkosaan. Siapa yang semestinya disalahkan? Saya yakin anda menjawabnya “lelaki” bukan? Oh betapa tersiksanya menjadi seorang lelaki dijaman sekarang ini.

    Kalau boleh saya ibaratkan, tak ada pembeli kalau tidak ada yang jual. Simpel saja, orang pasti akan beli kalau ada yang nawarin. Apalagi barang bagus itu gratis, wah pasti semua orang akan berebut untuk menerima. Nah apa bedanya dengan anda menawarkan penampilan seksi anda pada khalayak ramai, saya yakin siapa yang melihat ingin mencicipinya.

    Begitulah seharian tadi saya harus menahan penyiksaan pada mata ini. Bukan pada hari ini saja, rata-rata setiap harinya. Saya ingin protes, tapi mau protes ke mana? Apakah saya harus menikmatinya…? tapi saya sungguh takut dengan Zat yang memberi mata ini. Bagaimana nanti saya mempertanggungjawabkan nanti? sungguh dilema yang berkepanjangan dalam hidup saya. Allah Taala telah berfirman: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya”, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita beriman “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nuur : 30-31).

    Jadi tak salah bukan kalau saya sering berdiam di ruangan kecil ini, duduk di depan komputer menyerap sekian juta elektron yang terpancar dari monitor, saya hanya ingin menahan pandangan mata ini. Biarlah mata saya ini rusak oleh radiasi monitor, daripada saya tak bisa pertanggung jawabkan nantinya. Jadi tak salah juga bukan? kalau saya paling malas diajak ke mall, jjs, kafe, dan semacam tempat yang selalu menyajikan keseksian.

    Saya yakin, banyak laki-laki yang punya dilema seperti saya ini. Mungkin ada yang menikmati, tetapi sebagian besar ada yang takut dan bingung harus berbuat apa. Bagi anda para wanita apakah akan selalu bahkan semakin menyiksa kami sampai kami tak mampu lagi memikirkan mana yang baik dan mana yang buruk. Kemudian terpaksa mengambil kesimpulan menikmati pemadangan yang anda tayangkan?

    So, berjilbablah … karena itu sungguh nyaman, tentram, anggun, canti, mempersona dan tentunya sejuk dimata.

    ***

    Sumber: Friendster Bulletinboard

     
    • ram 12:33 pm on 16 April 2012 Permalink

      Wanita remaja dan dewasa pakai jilbab tapi busananya ketat, sama juga ngumbar bentuk tubuh.
      Laki-laki muslim harus menahan pandangannya, bagi yang belum menikah, perbanyak puasa, amal dan ibadah.

    • irahakim 4:46 pm on 16 April 2012 Permalink

      Tulisannya amat jujur dan mengena, semoga makin banyak lelaki yang berfikiran sama lalu meluruskan pandangannya, dan juga wanita yang sadar untuk tidak “dzolim visual” terhadap lelaki :)

    • widytanpanama 6:09 pm on 16 April 2012 Permalink

      boleh saya share?

    • DolPin Merchandise Nikah 7:57 am on 17 April 2012 Permalink

      Cewek kalo pake jilbab lebih cantik
      save artikel ini ah, buat adek2

      maen kesini ya gan http://www.dolpinjogja.wordpress.com

    • DolPin Merchandise Nikah 8:04 am on 17 April 2012 Permalink

      kata orang tips bagi laki2 cuman 1
      NIKAH

      http://hantaranmaharhias.wordpress.com/

    • Putri 8:30 pm on 17 Juni 2012 Permalink

      saya suka tulisannya,, klo share ke group kira2 ada yg tersinggung gk yaa?

  • erva kurniawan 1:34 am on 15 April 2012 Permalink | Balas  

    Tanda-tanda Mencintai Allah 

    Tanda-tanda Mencintai Allah

    Oleh : Imam Al Ghozali

    Seseorang itu hendaklah tidak benci kepada mati karena tidak ada orang yang enggan bertemu dengan sahabatnya. Nabi Muhammad saw bersabda: “Siapa yang ingin bertemu Allah, Allah ingin bertemu dengannya.” Memang ada juga orang yang ikhlas cintanya kepada Allah merasa gentar apabila mengingat kedatangan mati sebelum ia bersedia untuk pulang ke akhirat. Tetapi jika ia betul-betul ikhlas, ia akan bertambah rajin berusaha untuk membuat persediaan itu.

    Seseorang itu mestilah bersedia mengorbankan kehendaknya untukmengikuti kehendak Allah. Ia coba segala upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah dan benci kepada apa saja yang menjauhkan dirinya dari Allah. Dosa yang dilakukan oleh seseorang itu tidaklah menandakan ia tidak mencintai Allah sama sekali, tetapi itu menunjukkan bahwa ia tidak mencintai Allah sepenuh jiwa dan raga. Fudhail bin Iyadh berkata kepada seseorang: “Jika seseorang bertanya kepadamu apakah kamu cinta kepada Allah, hendaklah kamu diam. Jika kamu berkata: ‘Saya tidak cinta kepadaNya’, maka kamu kafir. Tetapi jika kamu berkata: ‘Saya cinta’, maka perbuatan kamu berlawanan dengan kata-katamu.”

    Ingat kepada Allah senantiasa ada dalam hati seseorang, tanpa ditekan atau diusahakan benar. Ini karena apa yang kita cintai itu senantiasa kita ingat.

    Sekiranya cinta itu sempurna, ia tidak akan lupa yang dicintainya itu. Ada juga kemungkinan bahwa senantiasa cinta kepada Allah itu tidak mengambil tempat yang utama dalam hati seseorang, maka cinta kepada mencintai Allah itu mungkin mengambil tempat juga. Cinta itu satu perkara dan cinta kepada cinta itu adalah perkara yang lain pula.

    Seseorang itu cinta kepada Al-Quran, yaitu Kalam Allah dan cinta kepada Nabi Muhammad yaitu Rasul Allah. Jika cintanya benar-benar kuat, ia akan cinta kepada semua manusia karena mereka semuanya hamba Allah. Bahkan cintanya meliputi semua makhluk, karena orang yang cinta kepada seseorang itu tentulah kasih juga kepada apapun yang dilakukan oleh kekasihnya itu termasuklah tulisan atau karangannya.

    Seseorang itu suka duduk sendirian untuk maksud beribadat. Ia suka malam itu lekas datang agar ia dapat berbicara dengan sahabatnya tanpa gangguan. Jika ia suka berbincang-bincang di siang hari dan tidur di malamnya maka itu menunjukkan cintanya tidak sempurna. Allah berfirman kepada Nabi Daud: “Janganlah terlalu dekat dengan manusia karena ada dua jenis manusia tersingkir dari majlisKu: yaitu mereka yang benar2 mencari ganjaran dan menjadi malas apabila mereka mendapat ganjaran itu; dan mereka yang mementingkan diri mereka sendiri lalu melupakan Aku. Tanda tidak ridhonya Aku ialah Aku biarkan mereka begitu.”

    Pada hakikatnya, jika cinta kepada Allah itu benar-benar mengambil tempat seluruhnya di dalam hati seseorang itu, maka cinta kepada yang lain itu tidak akan dapat mengambil tempat langsung di dalam hati itu. Diceritakan bahwa seorang dari Bani Israel mempunyai kebiasaan sembahyang di malam hari. Tetapi apabila melihat burung bernyanyi di pohon dengan merdu sekali, dia pun sembahyang di bawah pohon itu supaya dapat menikmati nyanyian burung itu. Allah menyuruh Nabi Daud berjumpa dengan dia dan berkata: “Engkau telah mencampurkan cinta kepada nyanyian burung dengan cinta kepadaKu. Martabat engkau di kalangan auliya Allah telah diturunkan.”

    Sebaliknya ada pula orang yang terlalu cinta kepada Allah. Di suatu hari ia sedang melakukan ibadatnya kepada Allah, rumahnya terbakar. Ia tidak nampak atau menyadari akan kejadian itu.

    Seseorang beribadat dengan perasaan senang. Seorang wali Allah berkata: “Dalam tiga puluh tahun yang pertama aku melakukan sembahyang malam dengan susah payah sekali. Dalam tiga puluh tahun yang kedua sembahyang itu menjadi enak dan nikmat.” Apabila cinta kepada Allah itu sempurna, maka tidak ada kenikmatan yang sebanding dengan kenikmatan ibadat

    Seseorang itu cinta kepada orang yang taat kepada Allah dan benci kepada orang-orang kafir dan orang-orang yang durhaka kepada Allah. Al-Quran menyatakan: “Mereka itu berkasih sayang terhadap orang mukmin dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir.”

    Nabi bertanya kepada Allah, “Wahai Tuhan, siapakah kekasihMu?” Terdengarlah jawaban, “siapa yang berpegang teguh kepadaKu seperti bayi dengan ibunya, mengambil perlindungan dengan mengingatKu seperti burung mencari perlindungan di sarangnya, dan yang marah melihat dosa seperti singa yang marah yang tidak takut kepada apa dan siapa pun.”

    ***

    Referensi : Kimia’u Sa’adah (Kimia Kebahagian)

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 14 April 2012 Permalink | Balas  

    Kisah Kapten Couesteau 

    Kisah Kapten Couesteau

    ALQURAN turun di Makah (Arab Saudi), di tengah-tengah masyarakat yang hidup dalam peradaban jahiliyah. Yakni, masyarakat yang menuhankan hawa nafsu, materi, kehormatan, dan pangkat-jabatan.

    Dalam masyarakat ini, akal sehat tidak berjalan lagi, hati nurani tidak bisa membedakan antara kebaikan dan keburukan. Kekerasan merajalela. Kekayaan, kehormatan, dan kemasyhuran adalah cita-cita hidup dan nilai-nilai yang berkembang. Masyarakat kecil tertindas. Tidak ada tempat bagi kaum lemah. Yatim piatu, janda-janda tua, menjadi bulan-bulanan korban kezaliman. Banyak surat-surat (dalam Alquran-Red) yang turun di Makah menyuarakan pembebasan atau liberation, yakni tentang hak-hak yatim piatu, kaum lemah, yang secara umum ayatnya ditujukan pada manusia atau naas, sebuah ajakan universal yang tidak terbatas pada kaum beriman.

    Surat Al-Maaun, Al-Humazah, serta Abasa adalah surat-surat Makkiyah yang secara eksplisit memihak kaum lemah di Makah.

    Alquran memperkenalkan akal sehat sebagai inti keberagaman seseorang. Ayat tentang pentingnya budaya baca, iqra’, adalah wahyu Allah pertama yang diterima Rasul Muhammad. Ayat ini mengajarkan la diina liman la aqla lah (tidak beragama mereka yang tidak menggunakan akal sehatnya).

    Dengan kehadiran Alquran, bangsa Arab yang tadinya tidak diperhitungkan dalam peradaban dunia, kemudian menjadi bangsa yang terpandang, dan Hijaz menjadi pusat inspirasi serta starting point kemajuan dunia Islam pada abad-abad berikutnya (abad ke-7 – abad ke-12).

    Budaya Baca

    Alquran memberikan pedoman bagi umat Islam untuk menyikapi dunia dengan benar sesuai dengan sunnatullah. Ajaran tentang pentingnya budaya baca, iqra’ misalnya, jika dilaksanakan secara konsisten dan proporsional akan membawa kemajuan pada individu, masyarakat, dan peradaban bangsa secara keseluruhan. Jika dewasa ini budaya baca berpindah ke Amerika Serikat, yakni perpustakaan-perpustakaan kampus buka sampai tengah malam, maka tidak bisa disangkal lagi bahwa bangsa Amerikalah yang menjadi bangsa yang terdepan dan terkuat saat ini.

    Nabi Muhammad dengan ajaran Alqurannya menekankan bahwa orang yang beriman dan kuat (berkualitas) lebih mulia dalam pandangan Allah dibanding dengan mukmin yang lemah. Menjadi mukmin idealnya menjadi manusia yang berkualitas. Surat Mu’minun mengajarkan bahwa mukmin adalah individu yang menang, sukses dengan ciri-ciri melakukan salat secara khusuk, produktif, mengendalikan hawa nafsu, menjaga amanah dan salat-salatnya, serta menepati janji.

    Ciri lain orang yang beriman adalah tatkala nama Allah disebutkan, hati dia akan bergetar dan saat Alquran dibacakan, imannya akan bertambah (Al-Anfal: 2).

    Ajaran Alquran yang terakhir disebut juga telah dialami oleh Kapten Couesteau, penjelajah bawah laut termasyhur level internasional, dari Prancis. Yang mendorong dia masuk Islam adalah setelah dia sekian lama melakukan eksplorasi dan observasi dunia bawah laut, yakni tempat pertemuan air laut Atlantik dan Mediterania. Ternyata pertemuan air dua laut tersebut tidak membawa percampuran satu sama lain. Dua air ini telah bertemu satu sama lain di Gibraltar ribuan tahun.

    Semestinya jumlah besar dua air ini akan bercampur satu sama lain dan memiliki identitas yang sama atau paling tidak ada percampuran salinitas serta densitas. Tapi anehnya, hal itu tidak terjadi.

    Sewaktu Captain Cousteau bercerita keajaiban fenomena ini pada Prof Maurice Bucaille yang ahli Alquran itu, dia memperoleh jawaban bahwa fenomena tersebut tidak aneh karena sudah tertulis dalam Alquran secara jelas. Memperoleh jawaban ini, Captain Cousteau yakin bahwa Alquran Al-Karim adalah kalam Ilahi. Tepatnya, ayat yang dimaksud adalah surat Al-Rahman 19-20, dan 22 yang artinya: ”Dan ketika dua lautan bertemu, antara keduanya terdapat batas yang tidak saling melewati, maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang engkau ingkari (subhanallah).”

    Bagi kita rakyat Indonesia yang saat ini mengalami krisis dalam banyak hal, Alquran mendorong kita untuk bekerja sama, tolong-menolong dalam meraih kebaikan.

    Nabi juga memberikan contoh upaya menggalakkan solidaritas sosial. Tidaklah termasuk orang yang beriman, mereka yang tidak menyayangi sesamanya. Juga imannya dipertanyakan, mereka yang tidak mencintai tetangganya atau lingkungannya. Ajaran yang terakhir ini tentu bisa kita kiyaskan bahwa kepedulian lingkungan, cinta Jawa Tengah, dan cinta Tanah Air adalah bagian dari iman. Kegiatan siskamling, jika didasari niat tulus cinta lingkungan, lillahi ta’aala, maka termasuk dalam kategori ibadah dengan landasan iman. Sebaliknya, jika seseorang tidak peduli terhadap lingkungannya, imannya diragukan.

    Sesungguhnya, kata kaum bijak, tanda-tanda iman bisa dilihat dari takwa, malu, syukur, serta sabar, pengendalian diri. Seperti urutan pertama yang terlihat, takwa adalah ciri utama kaum yang beriman. Takwa pada dasarnya adalah kedekatan diri secara ma’nawi pada Allah. Kedekatan diri secara ma’nawi tidak dibatasi ruang dan waktu, di mana saja, kapan saja Allah bersama orang yang bertakwa. Dengan kata lain, manusia takwa adalah manusia yang bisa diandalkan tatkala diberi kepercayaan oleh orang lain. Sifat inilah yang harus ditegakkan saat reformasi sekarang.

    ***

    Dr Abdurrahman Mas’ud, dosen IAIN Walisongo, dikutip dari: Harian Suara Merdeka Selasa, 28 Desember 1999

     
  • erva kurniawan 1:23 am on 13 April 2012 Permalink | Balas  

    Istri Solehah 

    Istri Solehah

    Satu hari saya bertemu dengan seorang sahabat saya yang bernama Wardah. Dalam pertemuan itu, dia bertanya kepada saya, “Ain, apa tandanya isteri solehah”? Saya menjawab, “Wardah, kau tentunya lebih arif daripadaku untuk menjawabnya…”?

    Sebenarnya saya tahu tujuan pertanyaan Wardah bukanlah untuk menanti jawaban saya, sebaliknya untuk saling memperingatkan diri agar berhati-hati dan teliti dalam menyempurnakan tanggungjawab yang berat ini.

    Saya ingin menyingkap kembali sejarah Nabi Ibrahim sewaktu baginda menziarahi menantunya. Pada waktu itu, puteranya, Nabi Ismail tidak di rumah sedangkan isterinya belum pernah bertemu bapak mertuanya, yaitu Nabi Ibrahim.

    Setelah sampai di rumah anaknya itu,terjadilah dialog antara Nabi Ibrahim dan menantunya.

    Nabi Ibrahim : Siapakah kamu?

    Menantu : Aku isteri Ismail.

    Nabi Ibrahim : Di manakah suamimu, Ismail?

    Menantu : Dia pergi berburu.

    Nabi Ibrahim : Bagaimanakah keadaan hidupmu sekeluarga?

    Menantu : Oh, kami semua dalam kesempitan dan (mengeluh) tidak pernah senang dan santai.

    Nabi Ibrahim : Baiklah! Jika suamimu pulang, sampaikan salamku padanya. Katakan padanya, tukar tiang pintu rumahnya (sebagai kiasan supaya menceraikan istrinya).

    Menantu : Ya, baiklah.

    Setelah Nabi Ismail pulang dari berburu,isterinya terus menceritakan tentang orang tua yang telah singgah di rumah mereka.

    Nabi Ismail : Apakah ada yang ditanya oleh orang tua itu?

    Isteri : Dia bertanya tentang keadaan hidup kita.

    Nabi Ismail : Apa jawabanmu?

    Isteri : Aku ceritakan kita ini orang yang susah. Hidup kita ini selalu dalam kesempitan, tidak pernah senang.

    Nabi Ismail : Adakah dia berpesan apa-apa?

    Isteri : Ya ada. Dia berpesan supaya aku menyampaikan salam kepadamu serta meminta kamu menukar tiang pintu rumahmu.

    Nabi Ismail : Sebenarnya dia itu ayahku. Dia menyuruh kita berpisah. Sekarang kembalilah kau kepada keluargamu.

    Ismail pun menceraikan isterinya yang suka menggerutu, tidak bertimbang rasa serta tidak bersyukur kepada takdir Allah SWT. Sanggup pula menceritakan rahasia rumah tangga kepada orang luar.

    Tidak lama sesudah itu, Nabi Ismail kawin lagi. Setelah sekian lama, Nabi Ibrahim datang lagi ke Makkah dengan tujuan menziarahi anak dan menantunya. Terjadi lagi pertemuan antara mertua dan menantu yang saling tidak mengenali.

    Nabi Ibrahim : Dimana suamimu?

    Menantu : Dia tidak dirumah. Dia sedang berburu.

    Nabi Ibrahim : Bagaimana keadaan hidupmu sekeluarga? Mudah-mudahan dalam kesenangan?

    Menantu : Syukurlah kepada Tuhan, kami semua dalam keadaan sejahtera,tiada kekurangan.

    Nabi Ibrahim : Baguslah kalau begitu.

    Menantu : Silakan duduk sebentar.Boleh saya hidangkan sedikit makanan.

    Nabi Ibrahim : Apa pula yang ingin kamu hidangkan?

    Menantu : Ada sedikit daging, tunggulah saya sediakan minuman dahulu.

    Nabi Ibrahim : (Berdoa) Ya Allah! Ya Tuhanku!Berkatilah mereka dalam makan minum mereka. (Berdasarkan peristiwa ini,Rasulullah beranggapan keadaan mewah negeri Makkah adalah berkat doa Nabi Ibrahim).

    Nabi Ibrahim : Baiklah, nanti apabila suamimu pulang,sampai- kan salamku kepadanya. Suruhlah dia menetapkan tiang pintu rumahnya (sebagai kiasan untuk melanggengkan isteri Nabi Ismail).

    Setelah Nabi Ismail pulang dari berburu, seperti biasa dia bertanya sekiranya siapa yang datang mencarinya.

    Nabi Ismail : Ada sesiapa yg datang sewaktu aku tidak di rumah?

    Isteri : Ya, ada. Seorang tua yang baik rupanya dan perwatakannya sepertimu.

    Nabi Ismail : Apa katanya?

    Isteri : Dia bertanya tentang keadaan hidup kita.

    Nabi Ismail : Apa jawabanmu?

    Isteri : Aku nyatakan kepadanya hidup kita dalam keadaan baik,tidak kekurangan apapun , Aku ajak juga dia makan dan minum.

    Nabi Ismail : Adakah dia berpesan apa-apa?

    Isteri : Ada, dia berkirim salam buatmu dan menyuruh kamu melanggengkan tiang pintu rumahmu.

    Nabi Ismail : Oh, begitu. Sebenarnya dialah ayahku.Tiang pintu yang dimaksudkannya itu ialah dirimu yang dimintanya untuk aku langgengkan.

    Isteri : Alhamdulillah, syukur.

    Bagaimana pandangan pembaca tentang petikan sejarah ini? Saya rasa sejarah ini sungguh menyentuh jiwa. Anda juga tentu merasa dan mengalami sendiri ujian hidup berumahtangga yang senantiasa memerlukan kesabaran.

    Berpandukan sejarah tersebut, saya tegaskan kepada diri sendiri bahwa isteri solehah itu sepatutnya sabar di hati dan syukur pada wajah?. Dari sini akan terpancar ketenangan setiap kali suami berhadapan dengan isteri salehah. Isteri salehah tidak cerewet dan tidak mudah menggerutu. Isteri salehah hendaklah senantiasa bersyukur dalam keadaan senang maupun susah supaya Allah tambahkan lagi rahmat-Nya seperti firman-Nya yang artinya: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku tambahkan nikmat-Ku kepadamu. Dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku amat pedih.” (Surah Ibrahim, ayat 7)

    Untuk menambahkan kegigihan kita berusaha menjadi isteri salehah, ingatlah hadis Rasulullah yang artinya: “Sampaikanlah kepada sesiapa yang engkau temui dari kaum wanita,bahwasanya taat kepada suami serta mengakui haknya adalah menyamai pahala orang yang berjihad pada jalan Allah, tetapi sangat sedikit sekali golongan kamu yang dapat melakukan demikian.” (Riwayat Al-Bazzar dan Ath-Thabrani)

    Begitulah, untuk menyiapkan diri sebagai isteri salehah, hati kita hendaklah senantiasa dipenuhi dengan kasih sayang rabbani. Contoh teladan yang sepatutnya jadi rujukan kita ialah sejarah kehidupan nabi serta orang saleh.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 12 April 2012 Permalink | Balas  

    Pemuda yang Digoda 

    Pemuda yang Digoda

    Pada zaman entah kapan, inilah kisah seorang pemuda Bani Israil penjual keranjang. Seperti tukang kelontong dari Tasikmalaya, ia keluar-masuk kampung menjajakan dagangan. Tiba-tiba ia berpapasan dengan seorang dayang, tidak jauh dari istana. Perempuan itu terkesiap. Tapi hanya sesaat: bergegas balik ke istana.

    “Aku lihat pemuda tampan, Tuan Putri,” katanya terengah-engah. “Rasanya belum pernah aku melihat orang setampan dia.”

    “Panggil dia kemari,” kata yang dilapori.

    Pemuda itu pun mengikuti sang dayang. Dan setelah melewati pintu pertama, kedua, dan ketiga, barulah dia berjumpa dengan sang putri.

    “Silakan, kalau ada yang mau beli keranjang ini. Murah, kok,” kata pedagang keliling itu, sedikit grogi. Maklum, Tuan Putri baru saja memerintahkan pintu-pintu yang barusan ia lewati dikunci, dan ia kehilangan omongan.

    “Aku mengundangmu bukan untuk membeli daganganmu,” kata Putri, seraya melempar senyum.

    “Lho, untuk apa?”

    “Aku tertarik akan ketampananmu. Maukah kamu…?”

    “Putri,” kata si pedagang, yang mulai menangkap gelagat. “Takutlah kepada Allah. Janganlah berbuat sesuatu yang dimurkai-Nya.”

    “Kalau tidak mau, aku akan berteriak bahwa kau akan memperkosaku.”

    Namun pemuda itu tidak peduli. Bahkan terus berupaya mengingatkan putri raja itu. Sebaliknya sang putri tidak menggubris: hasratnya sudah mencapai puncak. Merasa kata-katanya tidak dihiraukan, sang pemuda minta izin berwudu. Sang putri memanggil pelayan untuk menyediakan air. Selesai wudu, pemuda itu berdoa:

    “Ya, Allah. Aku diajak bermaksiat. Aku lebih suka jatuh dari loteng ini daripada berbuat dosa kepada-Mu.”

    Lalu ia membaca basmalah. Dan, oops, dari ketinggian, pemuda itu terjun bebas. Tapi mahakuasa Allah, yang lebih cepat mengirimkan malaikat-Nya untuk menyelamatkan sang pemuda.

    “Ya, Allah. Jika Engkau kehendaki, berilah aku rezeki yang cukup sehingga aku tidak berjualan keranjang lagi,” begitu doanya sekarang.

    Arkian, Allah mengirim belalang emas. Maka dengan suka cita pemuda itu memasukkannya ke dalam sakunya, sampai penuh.

    “Ya, Allah. Jika Engkau memberiku rezeki di dunia, maka berkahilah rezeki ini.”

    “Yang Allah berikan kepadamu,” begitu tiba-tiba terdengar suara, entah dari mana, “hanya seperempat dari pahala kesabaranmu bertahan dari gejolak nafsumu, sampai-sampai kau rela menjatuhkan diri dari loteng.”

    “Ya, Allah,” katanya lagi, “aku tidak menginginkan sesuatu yang akan mengurangi pahalaku di akhirat nanti.”

    Selesai dengan doa itu, tiba-tiba belalang emas di sakunya lenyap. Tapi pemuda itu tidak menyesal. Dia segera pulang, sementara dagangannya tertinggal di istana.

    Setan, yang detik per detik mengikuti peristiwa itu, ditanya malaikat: “Mengapa kamu tidak mampu menyesatkan tukang keranjang itu?”

    “Susah, Bung,” jawabnya. “Orang itu berani mengorbankan dirinya untuk keridhaan Tuhannya.”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 11 April 2012 Permalink | Balas  

    Ikhlas 

    Ikhlas

    Ikhlas. Inilah kata yang mudah sekali diucapkan -saya rela kok, saya ikhlas kok- tetapi sangat susah diaplikasikan dalam perbuatan sehari-hari. Karena ikhlas adalah amalan hati. Karena ikhlas tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Kita hanya dapat melihat dari tanda-tandanya. Itupun tidak pasti. Inilah (mungkin) sebagian makna dari keikhlasan:

    Ketika kebaikan yang kita lakukan ternyata tidak mendapat pujian dari orang lain, disitulah makna keikhlasan; ketika kebaikan yang kita lakukan ternyata tidak diekspos oleh media massa/elektronik, disitulah makna keikhlasan; ketika kebaikan yang kita lakukan ternyata mendapat tanggapan yang negatif oleh orang lain, disitulah makna keikhlasan; ketika kebaikan yang kita lakukan ternyata tidak dicatat oleh sejarah, disitulah makna keikhlasan; ketika kebaikan yang kita lakukan ternyata merugikan diri kita sendiri secara lahiriah, disitulah makna keikhlasan; dan seterusnya.

    Ada ataupun tidak ada orang lain kita tetap melakukan kebaikan; dicatat ataupun tidak dicatat oleh sejarah kita tetap melakukan kebaikan; diekspos ataupun tidak oleh media massa/elektronik kita tetap melakukan kebaikan; Ada ataupun tidak ada orang lain kita tetap melakukan kebaikan; mendapat pujian ataupun tidak kita tetap melakukan kebaikan; mendapat tanggapan positif ataupun negatif kita tetap melakukan kebaikan; dan seterusnya.

    Sehingga dalam Al Qur’an Surat 38:83 disebutkan salah satu kejujuran dari iblis/syetan bahwa dia tidak dapat menggoda orang-orang yang ikhlas.

    Wallahu A’lam bis Showab

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 10 April 2012 Permalink | Balas  

    Prasangka 

    Prasangka

    Allah SWT berfirman : “Hai orang – orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.” (At Taubah : 12)

    Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : “Jauhilah oleh kalian berprasangka, karena berprasangka merupakan seburuk-buruk pembicaraan, serta janganlah kalian meraba- meraba dan mencari-cari kesalahan orang lain. Janganlah kalian saling berdebat, saling hasut-menghasut, saling benci-membenci dan saling belakang – membelakangi, tetapi jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan kepada kalian. Orang Islam adalah saudara bagi orang Islam yang lain, tidak boleh saling menganiaya, membiarkan, mendustakan, dan saling menghina. Takwa itu disini dan (sambil) beliau mengisyaratkan (menunjuk)ke dadanya tiga kali. Cukuplah seseorang dikatakan orang jahat (buruk perangai) apabila dia menghina saudaranya yang Islam. Setiap orang Islam terhadap orang Islam yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya, dan hartanya. Sesungguhnya Allah tidak memandang tubuh, rupa, dan amal – amal perbuatanmu, tetapi Allah memandang kepada hatimu.” (HR.Bukhari & Muslim)

    “Gossip” mungkin kata ini bisa mewakili sebagian dari gambaran diatas. Ia sudah tidak asing lagi di telinga kita & seringkali menjadi tema pembicaraan sehari-hari, dan bahkan menjadi acara TV yang digemari. Dengan atau tanpa disadari, seringkali kita terperangkap didalamnya. Awalnya mungkin hanya sekilas mendengar, lalu menyimak, dan akhirnya ‘urun rembug’. “Seru” memang kala bergossip ria, tapi apakah kita sadar sebagian besar gossip itu adalah prasangka, dan kemungkinan besar orang yang menjadi objek gossip itu akan sakit hati atau bahkan menimbulkan fitnah, apakah kita mau, jika suatu saat, kitalah yang menjadi objek..?

    Pada hadits yang lain, dari Ibnu Mas’ud ra, bahwasanya ada seseorang yang dihadapkan kepadanya, kemudian dikatakan bahwa si Fulan itu jenggotnya masih meneteskan minuman keras, kemudian Ibnu Mas’ud berkata : “Sesungguhnya kami telah dilarang untuk mencari-cari kasalahan, tetapi kalau kami benar-benar mengetahui adanya suatu penyelewengan, maka kami pasti akan menghukumnya.” (HR. Abu Dawud)

    Dan pada surat Al Hujurat : 11, Allah berfirman : “Hai Orang – orang yang beriman, janganlah satu kaum mengolok- olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan), dan janganlah pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita- wanita (yang dolok-olokkan), lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan), dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu pangil memanggil dengan gelar – gelar yang buruk. Seburuk – buruk panggilan ialah (panggilan)yang buruk sesudah iman, dan itulah orang-orang yang zalim.”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 9 April 2012 Permalink | Balas  

    Takut 

    Takut

    Rasa takut (khauf) selalu ada pada diri manusia. Ia muncul silih berganti dengan perasaan-perasaan lainnya. Meski keberadaannya wajar, namun umumnya manusia selalu berusaha menghilangkan rasa takut.

    Bahkan, sebisa mungkin menggantikannya dengan keberanian (saja’ah). Maka, tak berlebihan bila Ibnu Hazm, dalam al-Akhlaq washiyar mengatakan, “Tak ada satu tujuan pun yang dicari manusia dalam hidup ini kecuali untuk menghilangkan perasaan takut dan duka cita.”

    Memang, usaha menghilangkan perasaan ini menjadi tujuan inti, bahkan merupakan motif utama yang mendasari seluruh perbuatan dan aktivitas manusia. Orang mencari kekayaan dan harta sebanyak-banyaknya pada hakekatnya berusaha untuk menghilangkan ketakutan dan kemiskinan. Orang mencari popularitas merupakan usaha menolak ketertindasan dan perbudakan. Orang mencari ilmu pengetahuan karena takut akan bodoh dan dungu. Orang mencari kawan karena ingin membuang kesunyian dan keterasingan. Sejarah mencatat bagaimana Qarun tamak menimbun harta, karena takut akan kemiskinaan dan kehilangan harta. Fir’aun la’natullah ‘alaihi, juga takut jabatan dan kekuasaan tercabut dari genggamannya. Maka ia bunuh setiap bayi laki-laki yang lahir.

    Tapi, cukupkah manusia dengan rasa takut seperti itu? Tidak. Ia membutuhkan dimensi lain dari rasa takutnya. Yaitu rasa takut ukhrawi. Rasa takut seperti inilah sebenarnya yang bisa mendatangkan ketenangan jiwa dan kebahagiaan hidup. Karena ia bermuara pada maghfirah Allah. Begitulah para salafushalih mencontohkan.

    Umar bin Abdul Aziz, sewaktu kecil sangat peka dan mudah berurai air mata karena rasa takutnya kepada Allah SWT. Suatu hari, ibunya menjumpai Umar kecil sedang menangis di kamar. Melihat itu, ibunya menghampiri dan merengkuh puteranya ke dalam pelukan. Sang ibunda lalu menanyakan perihal kesedihannya itu. “Tiada sesuatu pun wahai Ibunda, hanya saja ananda takut karena teringat akan mati,” jawab Umar tulus.

    Shalih Ibnu Kaisan, seorang ulama besar Madinah (guru dari Umar bin Abdul Aziz), mengisahkan masa kecil Umar. “Saya belum pernah mendengar seseorang yang demikian besar rasa takutnya kepada Allah SWT melebihi Umar.” Sedangkan Fatimah, istri Umar mengatakan, “Ia selalu mengingat Allah meskipun di tempat tidurnya, tubuhnya gemetar laksana seekor burung pipit yang kedingingan karena rasa takutnya. Bahkan aku sering berkata dalam hati, jangan-jangan esok hari, saat semua orang bangun dari tidurnya, mereka telah kehilangan khalifah mereka.” Sementara Ali bin Zaid memberitahukan, Umar bin Abdul Aziz selalu ketakutan seakan-akan neraka itu diciptakan untuk dirinya saja.”

    Takut seperti ini akan melahirkan jiwa-jiwa muttaqin. Bukan seperti takutnya manusia kepada sesamanya, binatang atau sesuatu lainnya. Namun takut yang diliputi oleh hati yang khusyu’ dan menerima ketentuan qadar-Nya. Takut kalau dijauhkan rahmat dan barakah-Nya. Seperti ditulis Najati dalam Al-Qur’an wa ‘ilmun nafs, bahwa takut kepada Allah di samping melahirkan sikap muttaqin, juga dapat menghindarkan diri dari bahaya. Sebab, rasa takut membuat orang selalu berfikir dan berhati-hati dalam melangkah, serta mempertimbangkan segala kemungkinan yang terjadi.

    ***

    Oleh Taufik

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 8 April 2012 Permalink | Balas  

    Karir Wanita Karir 

    Karir Wanita Karir

    Tiap membicarakan wanita karir, biasanya melintas sosok yang sudah baku dibenak kita. Tubuh tinggi langsing berbalut stelan blazer. Dia memakai rok mini–kadang super mini—membuat hidup kaum lelaki semakin complicated saja. Dia juga bersepatu hak tinggi yang mempermudah datangnya penyakit varises. Warna-warni kosmetiknya begitu semarak dan semerbak. Pokoknya, ilmunya tentang bersolek dan mematut diri tak kalah canggih dari ahli tata rias dan perancang busana.

    Tak cukup mendandani fisik, ia juga mematut psikisnya. Cara hidup, cara gaul, cita dan impiannya mencangkok budaya jahiliyah moderniyah. Persis dan tuntas sampai ke akarnya. Tak ada batas muhrim dan non muhrim. Tak ada batas halal dan haram. Semua serba boleh.

    Kehidupan karir seperti ini tak lepas dari peran sentral–kafirin, fasiqin, munafiqin—pemilik modal yang kapitalistik. Di tangan mereka terkonsentrasi uang melimpah dengan daya menjajah. Sebagian besar wanita pekerja didikte cara berbusana bahkan sampai berapa cm panjang rok mereka oleh raja-raja uang dan kapten-kapten industri ini. Sayangnya, para wanita ini happy-happy saja meski dijajah, karena ada imbalan uang. Demi uang ini pula ada muslimah yang menanggalkan kerudungnya. “Aku sudah ke sana ke mari melamar kerja, tapi ditolak terus. Terpaksa deh buka kerudung biar gampang cari kerja. Habis, gimana dong, Mbak? (Lho, kok malah ngasih PR ke penulis).

    Kalau begitu, jadi wanita karir itu haram, ya? Sebenarnya berkarir itu halal jika berada dalam koridor syar’i. Ada tiga hal yang harus dipenuhi muslimah jika ingin berkarir. Niatnya berkarir halal; caranya berkarir halal; dan tujuannya berkarir halal. Wuih, susah! Memang susah, karena kita berada dalam sistem yang tidak islami. Kita berada di lingkungan orang-orang ngueyeell. “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maidah: 50).

    Ngomong-ngomong, ada nggak sih wanita karir yang tidak dijajah meski menjadi manajer di perusahaan multi nasional? Tidak punya stelan blazer, malah berbusana muslimah gombrong. Tidak punya berbagai sepatu hak tinggi, malah cuma memakai sepasang sepatu bertahun-tahun. Tidak memiliki emas perhiasan se-gram pun, malah gajinya yang jutaan diinfaqkan. Tidak dipoles kosmetik, tapi natural, apa adanya. Tidak mencangklong tas kerja trendy, malah membawa dompet kecil saja.

    Alhamdulillah ada. Dan semoga semakin banyak muslimah yang bisa semerdeka dia. Wanita karir ini berprinsip Hasbunallahu wani’mal wakil. Dan tentu saja tidak cengeng. Allah tidak akan menolong hambaNya yang ongkang-ongkang. Tidak ada jihad tanpa kerja keras lahir batin.

    Sungguh, dia tidak dijajah bosnya yang orang Hong Kong. Dia merdeka dengan karirnya sebagai seorang muslimah. Sang Bos sangat menghargai cara hidupnya sebagai muslimah. Tidak bersalaman dengan lelaki non muhrim meskipun dia presiden direktur. Tidak mengucapkan selamat natal meskipun sehari-hari bertemu. Tidak menghadiri ulang tahun meskipun sudah disediakan meja khusus di restoran terkenal. Tidak datang ketika dijamu di klub karaoke terkenal di Jakarta Barat.

    Ini kisah nyatanya….

    Baru setahun lebih menikah dengan seorang ustadz, suaminya dipenjara rezim Orde Baru karena ceramah agama di Tanjung Priok (lebih kurang tahun 1986). Wanita ini masih kuliah di FHUI tingkat III ketika itu dan memiliki seorang bayi. Awal suami di penjara, santunan dari keluarga dan teman-teman masih lancar. Lama kelamaan berkurang dan rasa malu membuatnya rikuh meminta-minta. Berhari-hari ia hanya menggenggam uang seribu perak kadang malah cuma cepek. Ia sering mengutang sayur di warung tetangga milik penjaga penjara di Cipinang, Jakarta Timur.

    Meski biaya terseok-seok, kuliahnya bisa selesai juga. Saking tak punya uang, biaya wisuda dibayari oleh dosennya, Ibu Chandra Motik. Setelah itu dia mulai melamar kerja. Benar saudara-saudara. Lamarannya ditolak karena cara berbusananya yang tidak fashionable (1988). Dia pantang menyerah karena prinsipnya: Lebih baik mati kelaparan karena berkerudung daripada bekerja tanpa berbusana muslimah. No way buka kerudung!

    Alhamdulillah. Hasbunallahu wa ni’mal wakil. Dia diterima bekerja di Yayasan Al-Muslim dengan gaji Rp. 150.000 per bulan. Karena harus sering besuk ke penjara–tentu saja membutuhkan banyak biaya–si ibu berusaha menambah penghasilan. Dia mengajar ngaji karyawati Hotel Mandarin dengan honor Rp. 20.000 per pertemuan. Si ibu sering membawa bocahnya bekerja dan pergi mengajar agar si anak merasakan nikmatnya hidup sebagai muslim dan merasakan jihad. Learning by doing, istilahnya.

    Cukup setahun dia pindah kerja ke Yayasan Pembinaan Manajemen dan setelah itu ke perusahaan eksportir rotan ke Eropa. Gajinya Rp. 250.000 per bulan. Dia juga mencari tambahan penghasilan dengan menerima catering makan siang dari kantor sebelah. Petugas pengantar makanan adalah bocah balitanya plus sebagai khadimah. Dia juga berjualan majalah Aku Anak Saleh dengan jumlah ratusan eksemplar. Si bocah balita ikut menjadi pengantar majalah kepada para langganan. Si anak memang selalu terlibat dalam setiap kegiatan ibunya. Subhanallah. Penghasilannya bisa mencapai satu juta rupiah per bulan.

    Karena usaha catering mulai goyah lantaran kantor itu mau tutup, si ibu melamar kerja ke kedutaan Amerika. Ada jabatan lowong sebagai asisten Kepala Penerangan Kedutaan AS. Tes demi tes bisa lolos namun tanpa penjelasan rinci, dirinya ditolak begitu saja. Boleh jadi gara-gara jilbab. Nggak ngaruh. No way buka kerudung. Allah memuliakanku dengan dien-Nya. Dan cukuplah itu bagiku.

    Tak lama kemudian dia bekerja di perusahaan Taiwan sebagai sekretaris Direktur Pabrik. Gajinya setengah juta rupiah (1991). Dia tetap berjualan majalah dan mengirim artikel ke majalah SABILI sebagai upaya mencari tambahan penghasilan.

    Baru dua bulan, manajemen pabrik itu goncang. Dia kemudian melamar kerja di perusahaan garmen eksportir dengan 500 pekerja yang 99 % nya terdiri dari wanita. Pertama wawancara, Sang General Manager “a little bit shock”, karena si ibu menolak bersalaman sebagai tanda perkenalan baku di dunia karir. Alhamdulillah, Allah yang merupakan sentral dari segala sesuatu, menggerakkan hati sang GM. Anda diterima bekerja di pabrik baru kami di Cakung sebagai Kepala Personalia.

    Tapi, bagaimana tanggapan para pekerjanya? Alhamdulillah, justru beberapa orang pekerjanya yang beragama lain kembali ke agama fitrah, Islam. Ia sekuat tenaga menerapkan suasana islami di lingkungan pabrik. Tak heran jika kemudian ada beberapa pekerja non muslim dengan suka rela memeluk Islam. Bahkan pekerja non muslim setiap memasuki ruang kerjanya mengucapkan “Assalamu’alaikum. Ibu….”

    Jangan dikata pekerja yang mengenakan busana muslimah. Mereka dapat bekerja dengan tenang, meski di pabrik tetangga masih ada yang alergi dengan busana muslimah yang dipakainya. Namun tetap saja semakin banyak pekerja yang menutup auratnya.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Hanan Lutfi 11:22 am on 8 April 2012 Permalink

      subhanaallaah…
      bermanfaat & mantab…^_^
      ijin share ya…..

    • susi 8:23 am on 10 April 2012 Permalink

      subhanallah… kisah nyata nya membuat saya terharu

    • "A" 9:43 am on 10 April 2012 Permalink

      subhanallaah..

      alhamdulillah lingkungan tempat saya bekerja tidak mempermasalahkan busana muslimah yang saya kenakan sehari-hari..

  • erva kurniawan 1:45 am on 7 April 2012 Permalink | Balas  

    Pemuda Buruk Rupa 

    Pemuda Buruk Rupa

    Kisah ini terjadi pada zaman Nabi Daud. Nabi Daud adalah seorang nabi yang sangat menyayangi kaum muda, karena ia beranggapan bahwa pemudalah yang mampu merubah keadaan menjadi lebih baik.

    Nabi Daud mempunyai sebuah majelis, dan disanalah Ia mengajarkan risalah dan tuntunan wahyu yang diturunkan Allah kepadanya. Di majelis tersebut, sering datang seorang pemuda yang berwajah tak sedap dipandang mata. Pokoknya dilihat darimana saja, wajahnya tetap saja tak menyejukkan mata. Pemuda ini seringkali duduk berjam-jam. Tak jarang ketika semua orang telah bubarpun ia masih merenung seorang diri. Tapi ada yang aneh dengan pemuda tersebut. Meski sering datang dan duduk lama, ia tak pernah mengucapkan sepatah kata pun, baik untuk bertanya maupun untuk mengemukakan pendapatnya.

    Suatu hari, datang ke majelis tersebut malaikat Izrail sang pencabut nyawa. Ia memandang pemuda itu dengan tatapan mata yang tajam. Nabi Daud merasakan ada yang tak beres, kemudian nabi Daud bertanya.

    “Aku diutus Allah untuk mencabut nyawanya minggu depan,” kata Izrail sambil menunjuk pemuda sang pemuda. Kontan, setelah mendengar penjelasan tersebut nabi Daud pun jatuh iba pada sang pemuda. Kemudian dengan penuh kasih ia mendekati pemuda tersebut dan bertanya.

    “Hai pemuda, sudahkah kau menikah?” tanya nabi Daud pada sang pemuda.

    “Belum,” jawabnya jujur.

    Setelah mendengar pengakuan sang pemuda maka bertambah iba lah nabi Daud pada pemuda tersebut. Ditulisnya surat untuk seorang pemuka kaum Bani Israil dengan maksud meminang salah satu putrinya utk dinikahkan dengan pemuda tersebut. Nabi Daud meminta sang pemuda untuk mengantarkan suratnya, dan alhamdulillah, pinangan tersebut langsung diterima. Betapa gembiranya hati sang pemuda kala itu.

    Maka pernikahan pun dilangsungkan dengan semua biaya ditanggung nabi Daud. Setelah berbulan madu, sang pemuda yang kini telah beristri itu datang lagi ke majelis nabi Daud.”

    Hai pemuda, bagaimana bulan madumu selama seminggu,” sapa nabi Daud ketika melihat pemuda itu di dalam majelis.

    “Aku belum pernah merasakan nikmat Allah yang sedahsyat itu,” jawab sang pemuda. Nabi Daud teringat, bahwa hari itu telah dijanjikan malaikat Izrail untuk mencabut nyawa sang pemuda. Namun anehnya, malaikat Izrail tak nampak. Nabi Daud pun meminta kepada sang pemuda untuk datang ke majelisnya minggu depan. Tapi kejadian serupa terulang, Izrail tak menampakkan diri bahkan sampai delapan minggu.

    Pada suatu saat datanglah malaikat Izrail ke majelis nabi Daud. Pada saat yang bersamaan pemuda itupun hadir pula. Nabi Daud pun langsung menegur malaikat Izrail. “Mengapa engkau tak menepati janjimu padahal beberapa minggu telah berlalu?” tanya nabi Daud as.

    “Wahai Daud Allah telah mengasihi pemuda itu karena kasih sayangmu padanya dan menyuruhnya menikah. Maka Allah memanjangkan umurnya sampai tiga puluh tahun lagi,” Jelas Izrail.

    Subhanallah, Maha Suci Engkau Ya… Allah……..

    ***

    Dari Sahabat

     
    • AryaDi Raya Jagad 4:16 pm on 8 April 2012 Permalink

      Subhanallah, ajib nih usianya tertunda krn sebab d kasihi kekasih Allah . . .

    • gorokkuragaji 1:51 pm on 3 Juli 2012 Permalink

      Subhanalloh

    • ohmay 3:03 pm on 12 Agustus 2012 Permalink

      Subhanallah,ALLAH berikan kesempatan bagi orang-orang yang tulus.

  • erva kurniawan 1:05 am on 6 April 2012 Permalink | Balas  

    Ketika Bumi Menjadi Sempit 

    Ketika Bumi Menjadi Sempit

    Pernahkah anda merasakan bumi yang kita diami ini menjadi sempit sehingga napas kita menjadi sesak? Jika belum, dengarlah kisah Ka’ab bin Malik lima belas abad yang lampau. Ketika Nabi yang mulia berangkat perang bersama para sahabat beliau dalam perang Tabuk, ada tiga orang sahabat yang enggan ikut dalam barisan pasukan Nabi, yaitu Ka’ab bin Malik, Hilal bin Umayyah dan Mararah bin Rabi’ah. Ka’ab bercerita, “Ketika kudengar berita bahwa Nabi telah kembali dari Tabuk, terpikir dalam hatiku untuk berdusta. Aku berpikir bagaimana supaya selamat dari kemurkaan Nabi. Namun ketika Nabi sudah sampai di Madinah, aku berpikir bahwa aku tidak akan selamat sedikit pun.

    Aku kemudian memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya mengapa aku tidak ikut berperang bersama beliau.” Nabi datang di Madinah. Aku temui dia. Beliau tersenyum, senyum marah. “Kemarilah,” ujar Nabi. Aku duduk di dekat beliau. Nabi yang mulia bertanya, “Apa yang menyebabkanmu tidak ikut berperang?” Aku berkata, Ya Rasul Allah, jikalau aku menghadap penduduk dunia selain engkau, tentu aku sanggup menyelamatkan diri dari dari kemurkaan dengan mengajukan alasan. Tetapi, demi Allah, sekiranya aku berdusta kepada engkau agar engkau ridha, mungkin Allah segera membuatmu marah kepadaku. Demi Allah, aku tidak mempunyai alasan apapun. Demi Allah, waktu aku meninggalkan diri, aku berada dalam keadaan yang baik (dan mampu untuk berperang).

    Rasul bersabda, “Orang ini berbicara benar. Pergilah, sampai Allah memberikan keputusan tentang kamu.” Nabi kemudian mengisolir Ka’ab dan kedua temannya sampai datang putusan dari Allah. Nabi melarang kaum Muslim berbicara kepada mereka. Bahkan, isteri mereka pun kemudian dilarang mendekati mereka. Wajah umat Islam berubah kalau melihat Ka’ab. Mereka segera memalingkan wajahnya. Ka’ab bercerita, “Aku shalat berjam’ah bersama kaum Muslimin. Aku berkeliling kota dan pasar. Tidak seorangpun menegurku. Aku datangi Rasul sesudah shalat. Aku ucapkan salam kepadanya. Aku ingin tahu apakah beliau menggerakkan bibirnya membalas salamku.Aku shalat didekatnya dan mencoba melirik kepadanya. Usai shalat beliau melihatku, tetapi segera memalingkan wajahnya ke arah lain.

    Aku tinggalkan Nabi. Aku berjalan dan berjalan, sampai ke rumah saudara sepupuku, Abu Qatadah. Kuucapkan salam, tetapi demi Allah ia tidak menjawab salamku. Aku berkata, “Hai Abu Qatadah, tahukah engkau bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya? Aku ulangi beberapa kali. Abu Qatadah hanya diam. Aku ulangi lagi. Ia menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Air mata menggelegak di pelupuk mataku. Aku beranjak dari rumahnya.” Kejadian ini berlangsung lima puluh hari. Ka’ab dan kedua kawannya mengasingkan diri di sebuah bukit. Keluarganya mengantarkan makanan kepada mereka. Suatu hari Ka’ab berkata, “Orang-orang dilarang berbicara kepada kita. Kita pun sepatutnya tidak saling berbicara. Setelah itu mereka tinggal berjauhan.

    Datang pula utusan dari Syam yang bermaksud merangkul Ka’ab dan kedua temannya agar membelot dari Islam dan bergabung dengan non-Muslim. Ka’ab berkata, “Tawaran ini juga bagian dari cobaan.” Ka’ab menampiknya dan tetap setia dalam Islam meski telah diisolir oleh umat Islam. Setiap hari Ka’ab dan kedua rekannya berdo’a, beristighfar dan menangis. Setelah lima puluh hari, Allah menurunkan ayat: “ (Dan Allah juga mengampuni) tiga orang yang meninggalkan diri di belakang. Ketika bumi yang luas terbentang terasa sempit bagi mereka dan mereka rasakan napas mereka sesak. Mereka tahu bahwa tidak ada tempat berlindung kecuali Allah. Kemudian Allah mengasihi mereka agar mereka kembali kepada Tuhan. Sesungguhnya Allah Penerima Taubat dan Maha Penyayang” (QS 9: 118)

    Ka’ab mendengar berita pengampunan ini setelah subuh. Ia memeluk pembawa berita. Ia rebahkan dirinya bersujud syukur. Segera ia temui Rasul. Rasul menyambutnya dengan senyum yang bersinar. Ketika melihat sambutan Nabi seperti itu (yang berbeda dengan sebelumnya). Ka’ab tidak dapat menahan air matanya. Ia menciumi tangan dan kaki Rasul yang mulia. Karena ia mendapat ampunan itu berkat kejujurannya, ia berjanji bahwa sejak itu lidahnya tidak akan pernah mengucapkan kebohongan. (Tafsir al-Durr al-Mantsur 4:309-315; Jalaluddin Rakhmat, 1993: 77-80)

    Akankah kita meninggalkan perintah Allah sementara kita sehat wal afiat.

    Naudzubillahi min dzalik

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 5 April 2012 Permalink | Balas  

    Hukum Ghibah 

    Hukum Ghibah

    Apakah ghibah itu? yaitu mengucapkan perkataan (atau dengan gerak badan, mata, tulisan dsbnya) sesuatu yang tidak disukai pada diri orang lain. Termasuk yang tidak disenangi itu ada pada badannya, tingkah laku, agamanya dan sebagainya.

    Menurut al-Ghazali, definisi ini adalah yang telah diijma’kan oleh kaum muslimin (tiada seorangpun menolak). Maksudnya, mereka bersepakat mengatakan bahwa inilah definasi ghibah. Ghibah, dalam bahasa indonesia lebih dikenal Dengan kata mengumpat. Yaitu menceritakan keburukkan orang lain di belakangnya.

    Hukum Ghibah Umat Islam seluruhnya juga telah ijma’ mengatakan bahwa hukum ghibah adalah haram. Sebagian dalilnya ada termaktub pada ayat al-Quran dan hadis. Rasulullah s.a.w. bersabda : orang yang mengutuk orang Islam yang lain adalah fasik (melakukan maksiat )

    Dan siksaannya amat berat sekali, karena ia adalah termasuk diantara dosa-dosa besar. Dalam sebuah hadis diceritakan Ada 2 orang yang akan menerima siksa di alam kubur yaitu :

    1. Orang yang suka menyampaikan aib orang lain
    2. Orang yang tidak bersuci (sucinya tidak sempurna ) sehabis buang air kecil (kencing ).

    Namimah Adalah mengadu domba yaitu menyampaikan perkataan orang lain kepada yang lainnya dengan maksud kedua belah pihak berkelahi. Jadi, apabila hukum ghibah dan namimah itu haram, maka menasehati orang yang melakukan ghibah adalah wajib.

    Dalam menghadapi kemungkaran ada 3 hal yang harus kita lakukan menurut aturan agama kita, yaitu :

    1. Hentikan dengan kekuasaan bila kita punya kuasa.
    2. Cegah dengan perkataan
    3. Tolak dengan hati

    Namun sesungguhnya bila kita hanya mampu melakukan yang no 3 adalah termasuk orang yang lemah imannya.

    Ghibah yang diperbolehkan Hukum ghibah adalah haram. Ini adalah hukum asal. Atas alasan-alasan syarak ghibah diperbolehkan. Apakah alasan syarak itu? Yaitu ingin mencapai satu tujuan yang benar menurut pertimbangan syarak, di mana jika tidak melalui cara itu tujuan itu tak mungkin akan tercapai. Walaupun demikian, jika ada cara lain yang lebih baik sebaiknya ghibah ditinggalkan.

    Dalam masalah yang anda hadapi, saudara ingin Membela diri. maka dibenarkan jika: a) atas tujuan yang dibenarkan oleh syarak b) Jika tiada jalan lain melainkan dengan membuka aib orang lain. Contohnya, saudara telah dituduh mencuri, sedangkan saudara tahu siapa yang mencuri. Saudara terpaksa mempertahankan diri dengan berkata benar. Ini biasa berlaku di pengadilan. Pengadilan terpaksa membuka aib mereka yang terlibat untuk tujuan yang dibenarkan oleh syarak, yaitu membuktikan benar atau salahnya orang yang dituduh.

    Di bawah ini ada lima perkara yang diperbolehkan ghibah.

    1. Ingin mengadu kepada hakim, polisi, tokoh masyarakat dsbnya karena teraniaya. Kita terpaksa membuka kedzaliman yang telah dilakukan pada diri kita dengan membuka aib Pelaku sehingga keadilan bisa ditegakkan.
    2. Ingin mencegah kemungkaran & kemaksiatan yang akan terjadi. Keburukan si pelaku maksiat boleh diceritakan dengan harapan dapat menghindarkan orang lain Ikut melakukan kemaksiatan.
    3. Meminta fatwa / nasehat dari Ulama. Seorang istri bisa menceritakan perlakuan jelek suaminya karena sering memukul, tidak diberi nafkah dengan harapan mendapat nasehat dari ulama
    4. Mencela orang yang secara terang-terangan melakukan kefasikkan, dan kezaliman. Contoh: seorang yang secara terang-terangan meminum arak, berjudi, melaksanakan maksiat. Yang dibenarkan hanyalah menyebutkan kemaksiatan yang dilakukan secara terang-terangan itu saja. Dan diharamkan menyebutkan aib-aib lain.
    5. Untuk mengenalkan seseorang. Jika seseorang itu memang dikenal dengan julukan si pincang, si buta dan sebagainya, boleh menyebutkan julukan itu dengan niat mengenalkan. Haram jika dengan niat mencemooh, namum demikian selagi dapat mengenalkan dengan tidak menyebut julukan maka kenalkan dengan cara tersebut.

    Firman Allah Taala: “Allah tidak suka kepada perkataan yang tidak baik diperdengarkan, kecuali dari orang-orang yang teraniaya…” (al-Nisaa’, ayat 148)

    Hadis: “Aisyah r.a. berkata: Seseorang datang minta izin kepada nabi s.a.w. (masuk ke rumah). Lalu nabi s.a.w. bersabda: Izinkanlah. Dia adalah sejahat-jahat orang di kalangan kaumnya.” (riwayat Bukhari & Muslim)

    Hadis: “Aisyah r.a. berkata: Hindun binti Uthbah (isteri Abu Sufian) berkata kepada nabi s.a.w.: Sesungguhnya Abu Sufian seorang yang pelit dan tidak memberi belanja yang cukup kepada ku dan anak-anakku, kecuali kalau saya ambil di luar pengetahuannya. Nabi s.a.w. menjawab: Ambillah secukupmu dan anak-anakmu dengan sederhana.” (Riwayat Bukhari & Muslim)

    Hadis: “Fatimah binti Qais berkata: Saya datang kepada Nabi s.a.w. bertanya tentang dua orang yang meminang saya,yaitu Abu Jahm dan Muawiyah. Maka Nabi s.a.w. bersabda: Adapun Muawiyah, dia adalah seorang yang miskin, dan Abu Jahm, dia adalah seorang yang suka memukul isteri.” (Riwayat Bukhari & Muslim)

    Hadis di atas menunjukkan bahwa Nabi s.a.w. telah menceritakan keburukan orang lain untuk mencapai tujuan yang dibenarkan oleh syarak. Dan tiada pilihan lain melainkan memberitahu aib orang tersebut.

    Wallahu’alam..

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Deni 7:35 am on 4 Mei 2012 Permalink

      Naudzubillahiminzalik…

    • setiyo 12:06 pm on 28 Maret 2013 Permalink

      ada koreksi … menyampaikan kebenaran mengenai fatimah binti qais itu adalah kejadian saat dia harus memilih siapa yg akan diterima pinangannya dan bukan dalam rangka mengolok olok sedang pada saat itu fatimah tidak berbicara ke khalayak umum melainkan ke 1 orang saja yg dipercaya keilmuannya yaitu Rasulullah SAW .. harus dikoreksi penjelasan tsb

  • erva kurniawan 1:17 am on 4 April 2012 Permalink | Balas  

    Insya Allah 

    Insya Allah

    Beberapa penduduk Mekkah datang ke Nabi Muhammad saw. bertanya tentang ruh, kisah ashabul kahfi dan kisah Dzulqarnain. Nabi menjawab, “Datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan.” Keesokan harinya wahyu tidak datang menemui Nabi, sehingga Nabi gagal menjawab hal-hal yang ditanyakan. Tentu saja “kegagalan” ini menjadi cemoohan kaum kafir.

    Saat itulah turun ayat menegur Nabi, “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhan-Mu jika kamu lupa dan katakanlah “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.” (QS 18: 24)

    Kata “Insya Allah” berarti “jika Allah menghendaki”. Ini menunjukkan bahwa kita tidak tahu sedetik ke depan apa yang terjadi dengan kita. Kedua, hal ini juga menunjukkan bahwa manusia punya rencana, Allah punya kuasa. Dengan demikian, kata “insya Allah” menunjukkan kerendahan hati seorang hamba sekaligus kesadaran akan kekuasaan ilahi.

    Dari kisah di atas kita tahu bahkan Nabi pun mendapat teguran ketika alpa mengucapkan insya Allah.

    Sayang, sebagian diantara kita sering melupakan peranan dan kekuasaan Allah ketika hendak berencana atau mengerjakan sesuatu. Sebagian diantara kita malah secara keliru mengamalkan kata “insya Allah” sebagai cara untuk tidak mengerjakan sesuatu. Ketika kita diundang, kita menjawab dengan kata “Insya Allah” bukan dengan keyakinan bahwa Allah yang punya kuasa tetapi sebagai cara berbasa-basi untuk tidak memenuhi undangan tersebut. Kita rupanya berkelit dan berlindung dengan kata “Insya Allah”. Begitu pula halnya ketika kita berjanji, sering kali kata “insya Allah” keluar begitu saja sebagai alat basa-basi pergaulan.

    Yang benar adalah, ketika kita diundang atau berjanji pada orang lain, kita ucapkan “insya Allah”, lalu kita berusaha memenuhi undangan ataupun janji itu. Bila tiba-tiba datang halangan seperti sakit, hujan, dan lainnya, kita tidak mampu memenuhi undangan ataupun janji itu, maka disinilah letak kekuasaan Allah. Disinilah baru berlaku makna “insya Allah”.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 3 April 2012 Permalink | Balas  

    Mengapa Tak Mau Berdoa? 

    Mengapa Tak Mau Berdoa?

    “Saya tak bisa bahasa Arab, saya malu memimpin do’a selepas sholat jama’ah bersama isteri saya, apalagi didepan jama’ah yang lain.”

    Pernahkah pengalaman ini menimpa kita? Insya Allah tidak. Tapi andaikata pernah, janganlah khawatir. Sungguh Allah itu mengerti segala macam bahasa. Jangan malu untuk berdo’a dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Kalau anda hapal do’a dalam bahasa arab, saya ucapkan alhamdulillah! Namun kalau anda lebih “sreg” berdo’a dengan bahasa selain bahasa Arab, saya pun berucap alhamdulillah! Yang terpenting adalah kita masih mau berdo’a. Kalimat terakhir ini mengundang pertanyaan, “Mengapa sih kita harus berdo’a?”

    Allah adalah Tuhan kita satu-satunya. Allah pun dalam Al-Qur’an mengatakan bahwa “Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu” (QS 112:2). Dalam surat al-Fatihah kita pun berseru, “Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in” (Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mulah kami mohon pertolongan). Karena itu, kalau ada orang yang mengaku bahwa Allah itu Tuhannya lalu ia tak mau berdo’a maka pantas kalau kita sebut orang tersebut orang sombong. Bukankah Allah telah berfirman, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu” (QS 40:60).

    Betulkah setiap do’a akan dikabulkan oleh Allah? Boleh jadi ada diantara kita yang telah berdo’a sesuatu namun tak kita rasakan hasil dari do’a tersebut. Pertama, harus disadari bahwa kita ini “hamba” sehingga tak berhak memaksa Allah. Kita yang membutuhkan Allah; bukan sebaliknya.

    Kedua, Allah lebih tahu apa yang terbaik buat kita. Boleh jadi, sebuah do’a yang kita minta bila dikabulkan oleh Allah justru ujung-ujungnya dapat menimbulkan kesulitan dalam hidup kita atau mungkin Allah punya ketentuan lain yang tak kita ketahui. Sebagai contoh, Nabi Nuh berdo’a agar anaknya diselamatkan dari banjir dahsyat, Tuhan tidak mengabulkannya dan bahkan menegur Nabi Nuh sehingga Nabi Nuh pun berdo’a: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakekatnya) dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang rugi.” (QS 11: 47) Allah Maha Tahu, maka do’a kita kadang kala bukan tak dikabulkan tapi ditunda waktunya, atau malah diganti dengan yang lebih baik. Wa Allahu A’lam.

    Ketiga, sudah seberapa jauh usaha kita untuk “meminta” dan “memelas” pada Allah. Nabi Zakariya sendiri telah puluhan tahun berdo’a namun belum dikabulkan Allah. Tapi berbeda dengan kita yang cenderung tak sabar, Nabi Zakariya berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada Engkau, ya Tuhanku.” (QS 19:4)

    Begitulah sikap kita seharusnya: jangan pernah kecewa dalam berdo’a. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa “Aku ini bagaimana persangkaan hambaKu saja…” Maksudnya, kalau kita dalam berdo’a belum-belum sudah beranggapan bahwa do’a ini tak akan dikabulkan, yah begitulah jadinya. Insya Allah kita selalu berbaik sangka dan tak pernah kecewa dalam berdo’a.

    Dalam berdo’a kita diminta untuk berharap-harap cemas (QS 21:90). Artinya, kita berharap do’a kita akan dikabulkan, namun disisi lain kita juga cemas kalau-kalau do’a ini tidak dikabulkan. Gabungan perasaan inilah yang menjadi etika dalam berdo’a. Kita tidak terlalu yakin pasti akan dikabulkan, namun juga tidak putus asa. Etika lainnya adalah kita disuruh berdo’a dengan merendahkan diri dan dengan suara yang lembut (QS 7:55). Kalau kita jalani etika berdo’a ini insya Allah hati kita akan tergetar dan seringkali tanpa sadar air mata menggantung di pelopak mata.

    Pendek kata, berdo’alah baik dalam keadaan sehat-sakit, suka-duka, kaya-miskin, berdiri-duduk-berbaring, pagi-siang-malam…….

    ***

    Dari Sahabat

     
    • eny 7:49 am on 3 April 2012 Permalink

      terima kasih buat artikelnya yang bagus dan penuh makna,sekaligus membuka hati….

    • Hanan Lutfi 9:35 pm on 3 April 2012 Permalink

      semua doa akan dikabulkan Allah selama manusia tidak tergesa-gesa,, yaitu dengan meminta doa itu dipercepat dan berkata, “aku telah berdoa tapi belum juga dikabulkan” ^_^

  • erva kurniawan 1:21 am on 2 April 2012 Permalink | Balas  

    “Kiat” Menjemput Maut 

    “Kiat” Menjemput Maut

    Alkisah menurut shirah, pernah Nabi Ibrahim as berdialog dengan Malaikat Maut soal sakratulmaut. Sahabat Allah itu bertanya, ”Dapatkah engkau memperlihatkan rupamu saat engkau mencabut nyawa manusia yang gemar berbuat dosa?”

    Malaikat menjawab pendek: ”Engkau tak akan sanggup.”

    ”Aku pasti sanggup,” tegas beliau.

    ”Baiklah, berpalinglah dariku,” pinta si Malaikat.

    Saat Nabi Ibrahim as berpaling kembali, di hadapannya telah berdiri sesosok makhluk berkulit legam dengan rambut berdiri, berbau busuk, dan berpakaian serba hitam. Dari hidung dan mulutnya tersembur jilatan api. Seketika itu pula Nabi Ibrahim as jatuh pingsan! Ketika tersadar kembali, beliau pun berkata kepada Malaikat Maut, ”Wahai Malaikat Maut, seandainya para pendosa itu tak menghadapi sesuatu yang lain dari wajahmu di saat kematiannya, niscaya cukuplah itu menjadi hukuman untuknya.”

    Di kesempatan lain, kisah yang diriwayatkan oleh ‘Ikrimah dari Ibn ‘Abbas ini, menceritakan Nabi Ibrahim as meminta Malaikat Maut mengubah wujudnya saat mencabut nyawa orang-orang beriman. Dengan mengajukan syarat yang sama kepada Ibrahim as, Malaikat Maut pun mengubah wujudnya. Maka di hadapan Nabi yang telah membalikkan badannya kembali, telah berdiri seorang pemuda tampan, gagah, berpakaian indah dan menyebar aroma wewangian yang sangat harum.

    ”Seandainya orang beriman melihat rupamu di saat kematiannya, niscaya cukuplah itu sebagai imbalan amal baiknya,” kata Nabi Ibrahim as.

    Dari nukilan kisah itu, apakah bisik-bisik misteri tentang penampakan Malaikat Maut menjelang ajal seseorang benar adanya? Dalam pergaulan sehari-hari, kita sering mendengar kisah dari mulut ke mulut, misalnya tentang seseorang yang tiba-tiba melihat ”sesuatu” ketika salah seorang kerabatnya tengah menghadapi maut. Apakah itu berupa bayangan hitam, putih, atau pun hanya gumaman dialog mirip kata-kata yang dilontarkan oleh orang yang mengigau.

    Namun yang pasti selain Nabi Ibrahim as, dari beberapa riwayat, Nabi Daud dan Nabi Isa as juga pernah dihadapkan pada fenomena penampakan Malaikat Maut itu. Kisah sakratulmaut itu belum seberapa bila dibandingkan dengan sakratulmaut itu sendiri. Sakratul maut adalah sebuah ungkapan untuk menggambarkan rasa sakit yang menyerang inti jiwa manusia dan menjalar ke seluruh bagian tubuh, sehingga tak satu pun bagian yang terbebas dari rasa sakit itu. Malapetaka paling dahsyat di kehidupan paripurna manusia ini memberi rasa sakit yang berbeda-beda pada setiap orang.

    Untuk menggambarkan rasa itu, pernah Rasulullah SAW berkata: ”Kematian yang paling mudah adalah serupa dengan sebatang duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang terkoyak?”

    Tapi di bagian lain Rasulullah — seperti yang dikisahkan oleh Al-Hasan — pernah menyinggung soal kematian, cekikan, dan rasa pedih. ”Sakitnya sama dengan tiga ratus tusukan pedang,” sabda beliau.

    Diriwayatkan, ketika ruh Nabi Ibrahim as akan dicabut, Allah SWT bertanya kepada Ibrahim: ”Bagaimana engkau merasakan kematian wahai kawanku?”

    Beliau menjawab, ”Seperti sebuah pengait yang dimasukkan ke dalam gumpalan bulu basah yang kemudian ditarik.”

    ”Yang seperti itulah, sudah Kami ringankan atas dirimu,” firman-Nya.

    Tentang sakratulmaut, Nabi SAW bersabda, ”Manusia pasti akan merasakan derita dan rasa sakit kematian, dan sesungguhnya sendi-sendinya akan mengucapkan selamat tinggal satu sama lain seraya berkata ‘Sejahteralah atasmu; sekarang kita saling berpisah hingga datang hari kiamat kelak’.”

    Ustadz Aam Amirullah, da’i Radio OZ Bandung, menuturkan bahwa Rasulullah saw sendiri menjelang akhir hayatnya berucap ”Ya Allah ringankanlah aku dari sakitnya sakratulmaut” berulang hingga tiga kali. Padahal telah ada jaminan dari Allah SWT bahwa beliau akan masuk surga. ”Lalu, mari kita bandingkan tingkat keimanan dan keshalehan beliau dengan kita, yang hanya manusia biasa ini,” lanjut Aam. Maka sekitar 200-an hadirin yang memadati Aula Kantor Pusat PT Pos Indonesia, Bandung, mendadak tercekam hening.

    Untung banyolan KH Abdullah Gymnastiar — yang menyapa hadirin dengan sebutan ‘Calon Jenazah’ — segera memecah keheningan. Kematian, menurut Aa’ Agim, mestinya tak perlu menjadi sesuatu yang perlu ditakuti, tapi sebaliknya harus senantiasa dirindukan. Jika sesuatu itu begitu dirindukan, logikanya menurut dia, berarti ingin cepat-cepat pula ditemui. ”Barangsiapa membenci pertemuan dengan Allah, maka Allah akan benci bertemu dengannya,” sabda Rasulullah SAW.

    Maka, terhadap manusia yang tak pernah tergugah dengan kematian manusia lain, Aa’ Agim secara guyon menyebutnya sebagai golongan ”mandom” alias manusia domba. ”Seperti domba di Idul Kurban. Terus makan rumput sambil menatap kawan-kawannya disembelih, padahal dia bakal dapat giliran juga,” tambah pimpinan Pesantren Daarut Tauhiid ini.

    Agim menganalogikan orang dalam golongan ini sebagai orang bodoh, yang meski telah diberi modal hidup tapi terhambur dengan sia-sia. ”Semakin banyak kesia-siaan yang kita lakukan, maka semakin tinggi pula tingkat kebodohan kita. Sebaliknya, orang yang paling cerdas adalah orang yang paling sering mengingat ajal dan paling banyak mempersiapkan diri menghadapi maut,” katanya.

    Khusnulkhotimah, menurut Agim, adalah suatu karunia Allah SWT yang khusus diberikan kepada manusia. Kyai yang kocak ini bilang, tak ada ceritanya muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga. Khusnulkhotimah itu seperti hadiah buat manusia, atas upaya manusia yang sungguh-sungguh menjalankan tugas hidup di dunia ini. ”Seperti mahasiswa yang belajar mati-matian, lalu lulus dengan predikat summa cum laude.”

    Jadi jangan pernah berpikir bagaimana supaya kita bisa mendapatkan khusnulkhotimah terlebih dulu. ”Kata-kata mati, harusnya mampu kita hadirkan dalam hati kita setiap hari,” paparnya.

    Sabda Rasulullah yang menyatakan bahwa dengan banyak-banyak mengingat maut menjadikan seseorang menjadi makhluk yang produktif, cermat, dan selektif, adalah benar adanya, menurut Agim. ”Ini karena setiap pekerjaan yang dilakukannya dianggap sebagai pekerjaan terakhirnya. Karena maut itu bisa datang kapan saja.” Sebaliknya, kalau Allah belum memberi izin, maut tak akan datang. Agim memberi anekdot seperti orang yang bekeinginan bunuh diri di rel kereta api. Sesaat kereta melintas, ternyata badannya masih utuh. Karena ternyata ia berada di lintasan dengan tiga jalur rel.

    Dengan selalu mengingat maut, intinya kematian menjadi semacam bahan bakar agar manusia mampu hidup produktif dan bermanfaat. Menurut Aam Amirullah, ada empat ”selalu” agar manusia memiliki manfaat hidup. Pertama, selalu bermunajat kepada Allah SWT; kedua, selalu mengevaluasi dan mengintospeksi diri sendiri; ketiga, selalu bertafakur, mengasah diri dan ilmu; dan keempat, selalu memenuhi hak hidup, seperti makan, minum, tidur dengan teratur. ”Jadi sebelum kita mendekati sakratulmaut, Rasulullah sudah memberi solusi kepada manusia. Jika ajal telah tiba, tak perlu kita takut menghadapinya,” tambah Aam.

    ***

    Republika, 29 Mei 1999

     
  • erva kurniawan 1:31 am on 1 April 2012 Permalink | Balas  

    Mengingat Mati 

    Mengingat Mati

    Kematian adalah permulaan kepada kehidupan baru yang kekal abadi (Akhirat). Yakin dengan sebenar-benar yakin akan alam Akhirat sangat dituntut karena merupakan penjabaran dari rukun iman yang kelima.

    Sabda Rasulullah:

    “Perbanyakkanlah mengingati mati, niscaya akan meremehkan berbagai kelazatan.” (An Nasai, Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

    Ketika Malaikat maut datang menemui Nabi Yaakub AS untuk mencabut nyawa, beliau bertanya,”bukankah aku minta agar dikirimkan utusan terlebih dahulu”

    Malaikat maut menjawab,”demi Allah telah banyak utusanku memberi peringantan wahai nabi Allah,

    Jawab Nabi Yaakub,”aku tidak mengetahui dan mengenalinya,”

    Jawab malaikat maut pula,”yaitu berupa sakit, uban, pendengaran kurang dan penglihatan kabur.”

    Rasulullah bersadba,“Berziarahlah kubur karena ia dapat mengingatkan kamu kepada Akhirat. Mandikan orang mati karena mengurus jasad orang mati merupakan peringatan yang mendalam. Dan sembahyangkan jenazah karena ia dapat menyedihkan hati kamu karena orang yang bersedih dibawah naungan Allah SWT berarti bersedia dengan segala kebajikan. (Dari Abu Dzar)

    Barang siapa yang banyak mengingat mati akan mengutamakan 3 perkara:

    1. Segera bertaubat, karena yakin mati akan datang dengan tiba-tiba, tanpa disangka dan tidak mengira tempat.
    2. Berhati tenang dan senantiasa mewaspadai hati dari dihinggapi dan dikotori oleh berbagai mazmumah (sifat keji). Dan sentiasa mengingati Allah SWT.
    3. Rajin beribadah dan taat, dunia ini adalah tempat beramal dan akhirat adalah tempat perhitungan

    Tanda-tanda orang yang melupakan mati

    1. Menunda-nunda taubat, akhirnya mati dalam keadaan membawa dosa dan belum bertaubat. Seringkali berangan-angan karena menyangka mati masih lambat dan umur akan panjang.
    2. Tidak rela hidup sederhana akhirnya memburu kesenangan dan kemewahan dunia hingga lalai dari menginggati Allah SWT. Sering merasa kecewa dan putus asa seolah-olah dunia ini segala-galanya. Terlalu mementingkan diri sendiri dan sanggup menindas orang lain
    3. Malas beribadah, kelezatan menikmati nikmat dunia menyebabkan lenyapnya kelazatan beribadah pada Allah SWT. Hilang kemanisan ibadah, malah merasakan kosong dan tidak bermanafaat.

    Allah SWT Berfirman :

    Audzubillahi minasy syathonirrijim

    1. Kullu nafsindza iqotul maut (Setiap yang bernyawa akan mengalami kematian)
    2. Faidza ja’a Ajaluhum laa yasta’khiruna sa’ah wala yastaqdimun (Maka apabila datang waktu kematian tidaklah dapat diundur dan tidak pula dapat dimajukan.)
    3. Wamal hayatuddun ya illa mata’ul ghuruur (Sesungguhnya dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. Shodaqollohul adhim.)

    ***

    Dari Sahabat

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: