Updates from Januari, 2019 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:30 am on 31 January 2019 Permalink | Balas  

    Garam Alias Uyah 

    Garam Alias Uyah

    Takut akan penyakit yang timbul dari garam? Ini cara Rasul mengkonsumsi garam. Nabi Muhammad Sholallohi ‘alaihi wassallam  bersabda : “Sebaik-baik lauk adalah garam” (Al-Baihaqi).

    Sebaik baik lauk adalah garam.

    Sangat bertentangan dengan dunia medis saat ini yang mengatakan bahwa makan garam bisa menyebabkan berbagai penyakit seperti darah tinggi, dehidrasi, keropos tulang dan penyakit empedu, namun hal itu tidak akan terjadi jika Anda mengetahui cara mengkonsumsi garam dengan baik dan secara benar. Sesuai Sunnah Rasul.

    Begini Cara Mengkonsumsi Garam Agar Terhindar Dari Penyakit (Ala Rasul)

    Jadi sesuai dengan hadist diatas yang menyatakan Garam bukanlah penyebab penyakit, tapi malah obat yang paling mujarab seandainya digunakan dengan cara yang betul. Kuncinya adalah Garam tidak boleh dimasak !!!.                  

    Ingat tidak boleh dimasak !!!

    Kesalahan kita (kebanyakan orang  Indonesia) ialah kita memasak garam yaitu memasukkan garam ke dalam masakan ketika masakan sedang MENDIDIH/ PANAS. Hal tersebut akan menyebabkan garam menjadi racun/toksik. Jika garam dimasak dengan cara di atas, garam akan menyebabkannya ber-asid dan membahayakan kesehatan serta mengundang berbagai penyakit, selain itu kandungan yodium pada garam juga akan hilang dengan percuma. Ingat yodium sangat bermanfaat untuk kesehatan tubuh kita.

    Begini cara yang betul penggunaan garam agar garam benar-benar menjadi obat bagi Anda, bukan jadi Penyakit. Masaklah makanan yang ingin dimasak sehingga selesai. Contohnya: sayur masukkan garam dalam masakan apabila makanan dan airnya sudah berangsur dingin,atau dalam keadaan dingin. Ingat  makanan yang dimasak harus tanpa garam ingat tanpa garam. Selagi makan, sediakan semangkuk garam dan taburkan di atas makanan yang ingin dimakan sesuai selera masing2.

    Garam adalah mineral bagi tubuh, “Banyak amalan yang dilakukan oleh para Salafus soleh ialah dengan mengambil garam sebelum memulai makan”. Garam digunakan sebagai pembuka makan dengan mengambilnya dengan ujung jari dan dimasukkan ke mulut.

    Ingat garam adalah mineral !!!!          

    Kelebihannya atau manfaatnya mengkonsumsi garam antara lain ialah:

    Mengobati lebih dari 70 penyakit, antara lain Darah tinggi, Diabetes, Tulang keropos, Gondokan, Pusing sakit kepala dll serta tidak akan mengalami keadaan mati mendadak.

    Silakan sebarkan, sekiranya anda ingin orang-orang yang anda cintai menjadi sehat.

    Berbagai penyakit yang disinyalir timbul akibat garam seperti gejala jantung dan tekanan darah tinggi adalah akibat dari penggunaan garam yang salah. Karena kalau memasak jangan dikasih garam.. Ingat garam jangan dimasak. Insyaallah penyakit darah tinggi,  jantung   bisa dihindari dengan cara makan yg baik. Jadi kesimpulannya yg benar garam itu adanya dimeja makan bukan didapur.

    Marilah berubah agar sehat semua. Orang asing lebih awal menggunakan garam selalu di meja

    Semoga bermanfaat.

    #COPAS

    Iklan
     
  • erva kurniawan 1:20 am on 30 January 2019 Permalink | Balas  

    Membaca Al Qur’an 

    Ayo Gemar Membaca  Al Quran

    Apakah orang yang meninggal sadar bahwa dirinya sudah mati

    Orang yang mati  awalnya tidak menyadari bahwa dirinya mati. Dia merasa dirinya sedang bermimpi mati. Dia melihat dirinya ditangisi, dimandikan, dikafani, disholati hingga diturunkan ke dalam kubur. Dia merasa dirinya sedang bermimpi saat dirinya ditimbun tanah. Dia berteriak-teriak tapi tidak ada yang mendengar teriakannya

    Beberapa waktu kemudian

    Saat semua sudah pulang meninggalkannya sendirian di bawah tanah. Allah kembalikan ruhnya. Dia membuka mata, dan terbangun dari “mimpi” buruknya.

    Dia senang dan bersyukur, bahwa ternyata apa yang dia alami hanyalah sebuah mimpi buruk, dan kini dia sudah bangun dari tidurnya.

    Kemudian dia meraba badannya yang hanya diselimuti kain sambil bertanya kaget,

    “Dimana bajuku? Kemana celanaku?” Lalu dia meraba sekelilingnya yang berupa tanah “Dimanakah aku?” “Tempat apa ini? Kenapa bau tanah dan lumpur?” Kemudian dia mulai menyadari bahwa dia ada di bawah tanah, dan sebenarnya apa yang dialaminya bukanlah mimpi! Ya, dia sadar bahwa dirinya benar-benar telah mati.

    Berteriak lah dia sekeras-kerasnya, memanggil orang-orang terdekatnya yang dianggap bisa menyelamatkannya:

    “Ibuuuuu….!!!!

    “Ayaaaaaah…!!!!”

    “Kakeeeeek!!!”

    “Neneeeek!!”

    “Kakaaaaak!!!”

    “Sahabaaaaat!!!”

    Tidak ada seorang pun yang menjawabnya. Dia yang selama ini lupa pada Allah pun ingat bahwa ALLAH adalah satu-satunya harapan.

    Menangis lah dia sambil meminta ampun,

    “Ya, Allaaaaaaah…. Ya Allaaaaaaah…. Ampuni aku ya Allaaaaaaah….!!!”

    Dia berteriak dalam ketakutan yang luar biasa yang belum pernah dirasakan sebelumnya sepanjang hidupnya.

    Jika dia orang baik, maka muncullah dua malaikat dengan wajah tersenyum akan mendudukkannya dan menenangkannya, menghiburnya dan melayaninya dengan pelayanan yang terbaik.

    Jika dia orang buruk, maka dua malaikat akan menambah ketakutannya dan akan menyiksanya sesuai keburukannya.

    **

    Pertolongan Al-Quran di Alam Kubur

    Dari Sa’id bin Sulaim ra, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

    “Tiada penolong yang lebih utama derajatnya di sisi Allah pada hari Kiamat daripada Al-Qur’an. Bukan nabi, bukan malaikat dan bukan pula yang lainnya.” (Abdul Malik bin Habib-Syarah Ihya)

    Al Bazzar meriwayatkan dalam kitab La’aali Masnunah bahwa jika seseorang meninggal dunia, ketika orang – orang sibuk dengan kain kafan dan persiapan pengebumian di rumahnya, tiba-tiba seseorang yang sangat tampan berdiri di kepala mayat. Ketika kain kafan mulai dipakaikan, dia berada di antara dada dan kain kafan.

    Setelah dikuburkan dan orang – orang mulai meninggalkannya, datanglah 2 malaikat. Yaitu Malaikat Munkar dan Nakir yang berusaha memisahkan orang tampan itu dari mayat agar memudahkan tanya jawab.

    Tetapi si tampan itu berkata: ”Ia adalah sahabat karibku. Dalam keadaan bagaimanapun aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian ditugaskan utk bertanya kepadanya, lakukanlah pekerjaan kalian. Aku tidak akan berpisah dari orang ini sehingga ia dimasukkan ke dalam syurga.”

    Lalu ia berpaling kepada sahabatnya dan berkata, “Aku adalah Al quran yang terkadang kamu baca dengan suara keras dan terkadang dengan suara perlahan.

    Jangan khawatir setelah menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir ini, engkau tidak akan mengalami kesulitan.”

    Setelah para malaikat itu selesai memberi pertanyaan, ia menghamparkan tempat tidur dan permadani sutera yang penuh dengan kasturi dari Mala’il A’la (Himpunan Fadhilah Amal : 609)

    Allahu Akbar, selalu saja ada getaran haru selepas membaca hadits ini. Getaran penuh pengharapan sekaligus kekhawatiran. Getaran harap karena tentu saja mengharapkan Al-Quran yang kita baca dapat menjadi pembela kita di hari yang tidak ada pembela. Sekaligus getaran takut, kalau-kalau Al-Quran akan menuntut kita.

    Banyak riwayat yang menerangkan bahwa Al-Quran adalah pemberi syafa’at yang pasti dikabulkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Ya Allah, ampunilah dosaku, dosa ibu bapakku, keluargaku, saudaraku dan seluruh kaum muslimin, Ya Allah, jangan Engkau cabut nyawa kami saat tubuh kami tak pantas berada di SurgaMu. Aamiin.

    Sobat sekarang anda memiliki dua pilihan,

    1. Membiarkan sedikit pengetahuan ini hanya dibaca disini
    2. Membagikan pengetahuan ini kesemua teman mu , insyallah bermanfaat dan akan menjadi pahala bagimu. Aamiin..

    Boleh di SHARE sebanyak mungkin!

    Siapakah sahabatku selama di alam kubur dialah AL – QUR’ANNUL KARIM

     
    • hasanijun 5:54 am on 1 Februari 2019 Permalink

      Menghidupkan waktu antara maghrib dan Isya Di zaman skrg sptnya sdh tidak ada lagi , lain halnya dengan jaman kita kecil dahulu, org tua bersama dgn kita tadarusan al quran, skrg alquran sdh di gantikan dgn hp , mungkin sebab itulah keberkahan dinegri kita ini sdh tidak ada lg.

    • Admin Asma Karimah 12:14 am on 3 April 2019 Permalink

      Menarik nih: “Aku adalah Al quran yang terkadang kamu baca dengan suara keras dan terkadang dengan suara perlahan. Jangan khawatir setelah menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir ini, engkau tidak akan mengalami kesulitan.”

  • erva kurniawan 1:17 am on 29 January 2019 Permalink | Balas  

    Bahlul Bahlul adalah kata yang biasa kita… 

    Bahlul

    “Bahlul” adalah kata yang biasa kita gunakan untuk mensifati orang yang bodoh, tapi tahukah dari mana asal kata itu..?

    Dikisahkan, sesungguhnya BAHLUL seorang yang dikenal sebagai orang gila di zaman Raja Harun Al-Rasyid (Dinasti Abbasiyah).

    Pada suatu hari Harun Al-Rasyid lewat di pekuburan, dilihatnya Bahlul sedang duduk disana.

    Berkata Harun Al-Rasyid kepadanya :

    “Wahai Bahlul, kapankah kamu akan berakal/sembuh dari gila.. ?”

    Mendengar itu Bahlul beranjak dari tempatnya dan naik keatas pohon, lalu dia memanggil Harun Al-Rasyid dengan sekuat suaranya dari atas pohon,

    ” Wahai Harun yang gila, kapankah engkau akan sadar….? “,

    Maka Harun Al-Rasyid menghampiri pohon dengan menunggangi kudanya dan berkata : “Siapa yang gila, aku atau engkau yg selalu duduk dikuburan…?”

    Bahlul berkata :

    “Aku berakal dan engkau yang gila”,

    Harun : “Bagaimana itu bisa…?”,

    Bahlul : “Karena aku tau bahwa istanamu akan hancur dan kuburan ini akan tetap ada, maka aku memakmurkan kubur sebelum istana, dan engkau memakmurkan istanamu dan menghancurkan kuburmu, sampai- sampai engkau takut untuk dipindahkan dari istanamu ke kuburanmu, padahal engkau tahu bahwa kamu pasti masuk dalam kubur, maka katakan wahai Harun siapa yang gila di antara kita…?”.

    Bergetarlah hati Harun, lalu menangis dengan tangisan yang sampai membasahi jenggotnya, lalu Harun berkata : “Demi ALLAH engkau yang benar, Tambahkan nasehatmu untukku wahai Bahlul”.

    Bahlul : “Cukup bagimu Al-Qur’an maka jadikanlah pedoman”.

    Harun : “Apa engkau memiliki permintaan wahai Bahlul….? Aku akan penuhi”.

    Bahlul : “Iya aku punya 3 permintaan, jika engkau penuhi aku akan berterima kasih padamu”.

    Harun : “mintalah…”

    Bahlul : 1. “Tambahkan umurku”.

    Harun : “Aku tak mampu”,

    Bahlul: 2. “Jaga aku dari Malaikat maut”.

    Harun : “Aku tak mampu”,

    Bahlul: 3. “Masukkan aku kedalam surga dan jauhkan aku dari api Neraka”.

    Harun : “Aku tak mampu”.

    Bahlul : “Ketahuilah bahwa engkau dimiliki (seorang hamba) dan bukan pemilik (Tuhan), maka aku tidak perlu padamu”.

    *Kisah ini dikutip dari kitab yang berjudul ﻋﻘﻼﺀ ﺍﻟﻤﺠﺎﻧﻴﻦ “Orang-orang Gila Yang Berakal”

    Tetapi kita menggunakan perkataan BAHLUL untuk mengatakan seseorang itu bodoh sedangkan ia adalah merupakan nama Ulama yang hebat.

    Makam Syech Bahlul Majnun Di Baghdad Irak.

     
  • erva kurniawan 2:35 am on 28 January 2019 Permalink | Balas  

    Tips Memulai Hari dengan Cerah 

    Tips Memulai Hari dengan Cerah

    Hari yang cerah bukan ditandai dengan matahari yang bersinar terang atau udara yang sejuk, melainkan dari hati dan pikiran yang segar. Kecerahan suatu hari dimulai dari diri anda sendiri. Kita tahu bahwa sesuatu yang dimulai dengan baik merupakan separuh dari pencapaian tujuan.

    Karena itu, memulai aktivitas hari ini dengan kecerahan suasana adalah modal besar untuk menyelesaikan hari dengan baik pula. Bagaimana memulai hari dengan cerah sangat dipengaruhi oleh pola hidup kita.

    Berikut beberapa tips ringan agar kita bisa memulai hari dengan cerah.

    1–Mulailah dari malam hari. Kita tak bisa berharap bangun dengan segar jika di malam harinya tak cukup tidur nyenyak. Hari esok yang cerah dimulai dari malam ini. Bila anda masih mempunyai masalah, yakinlah masih ada waktu esok untuk menyelesaikannya lebih baik lagi. Malam ini, beristirahatlah sebaik-baiknya.

    2–Bangun pagi lebih pagi. Bangunlah lebih pagi daripada terbitnya matahari. Jumpai keheningan dan kesunyian. Pagi buta adalah saat yang tepat untuk menemukan sisi damai dalam diri anda.

    3–Damaikan pikiran dan tentramkan jiwa Jangan terburu melakukan aktivitas. Resapi saja suasana pagi yang damai ini. Berdoa,sampaikan syukur atas hidup yang masih diberikan pada kita dan bersaat teduh.

    4–Segarkan tubuh. Minum air. Hirup aroma tea atau kopi yang menyegarkan. Berjalan-jalanlah keluar. Pompa udara banyak-banyak ke dalam paru-paru. Lakukan olahraga ringan, Mandi dengan air segar. Bersihkan tubuh baik-baik. Tetaplah mengingat janji anda tadi pagi untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi semesta hari ini.

    5–Dapatkan sarapan secukupnya. Isi perut anda secukupnya. Sarapan yang baik adalah modal untuk kebugaran tubuh anda sepanjang hari. Jangan asal kenyang, namun cukupkan kebutuhan energi dan gizi.

    6–Sapalah orang-orang yang anda jumpai. Terbarkan senyum. Tak peduli apakah matahari bersinar cerah atau mendung menggayut, sapalah orang-orang yang anda jumpai. Tanyakan kabar mereka, maka jangan terkejut jika mereka pun akan membalas senyum anda.

    7–Jangan mengeluh. Apa pun yang terjadi, entah itu hari hujan, jalanan macet, kereta datang terlambat, kendaraan mogok, atau apa pun yang terjadi, terimalah semua itu apa adanya. In everything, give thanks. Selamat bekerja serta selamat bercerah hari.

    ***

    Kiriman Sahabat Setiawan

     
  • erva kurniawan 2:13 am on 27 January 2019 Permalink | Balas  

    Macam-Macam Syirik Kecil 

    Macam-Macam Syirik Kecil

    Syirik kecil yaitu setiap perantara yang mungkin menyebabkan kepada syirik besar, ia belum mencapai tingkat ibadah, tidak menjadikan pelakunya keluar Islam, akan tetapi ia termasuk dosa besar.

    Macam-macam Syirik kecil:

    Riya’ dan melakukan suatu perbuatan karena makhluk:

    Seperti seorang muslim yang beramal dan shalat karena Allah, tetapi ia melakukan shalat dan amalnya dengan baik agar dipuji manusia. Allah I berfirman:

    “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhan-nya.” (Al-Kahfi: 100)

    Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

    “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu sekalian adalah syirik kecil, riya’. Pada hari Kiamat, ketika memberi balasan manusia atas perbuatannya, Allah berfirman, “Pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian tujukan amalanmu kepada mereka di dunia. Lihatlah, apakah engkau dapati balasan di sisi mereka?” (HR. Ahmad, hadits shahih)

    Bersumpah dengan nama selain Allah:

    Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

    “Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka dia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad, hadits shahih)

    Bisa jadi bersumpah dengan nama selain Allah termasuk syirik besar. Yaitu jika orang yang bersumpah tersebut meyakini bahwa sang wali memiliki kemampuan untuk menimpakan bahaya atas dirinya, jika ia bersumpah dusta dengan namanya.

    Syirik khafi :

    Ibnu Abbas menafsirkan syirik khafi dengan ucapan seseorang kepada temannya, “Atas kehendak Allah dan atas kehendak kamu.”

    Termasuk syirik khafi adalah ucapan seseorang, “Seandainya bukan karena Allah, kemudian (seandainya bukan karena) si fulan.”

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam,

    “Jangan mengatakan, ‘Atas kehendak Allah, dan atas kehendak si fulan.’ Tetapi katakanlah, ‘Atas kehendak Allah, kemudian atas kehendak si fulan’.” (HR. Ahmad dan lainnya, hadits shahih)

    ***

    Taken from kitab Al Firqotun Naajiyah JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT karya Syaikh Muhammad Ibn Jamil Zainu

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 26 January 2019 Permalink | Balas  

    Orang Yang Mengesakan Allah 

    Orang Yang Mengesakan Allah

    Barangsiapa menafikan ketiga macam syirik tersebut dari Allah, kemudian ia mengesakan Allah dalam DzatNya, dan dalam menyembah dan berdo’a kepadaNya, juga dalam sifat-sifatNya, maka dia adalah seorang muwahhid (yang mengesakan Allah) yang bakal memiliki berbagai keutamaan yang khusus dijanjikan bagi orang-orang muwahhidin.

    Sebaliknya, jika ia melakukan salah satu dari ketiga macam syirik di atas, maka dia bukanlah seorang muwahhid, tetapi ia tergolong seperti yang disebutkan dalam firman Allah:

    “Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am: 88)

    “Jika kamu mempersekutukan Tuhan, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Az-Zumar: 65)

    Hanya jika ia bertaubat dan menafikan sekutu dari Allah maka ia termasuk golongan orang-orang muwahhidin.

    Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengesakanMu dan janganlah Engkau jadikan kami termasuk golongan orang-orang yang menyekutukanMu.

    ***

    Taken from kitab Al Firqotun Naajiyah JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT karya Syaikh Muhammad Ibn Jamil Zainu

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 25 January 2019 Permalink | Balas  

    Tahap Awal Alam Akhirat 

    Tahap Awal Alam Akhirat

    Segala puji semata hanya bagi Allah SWT, Dzat Yang Menunjukkan kita pada kebenaran agama-Nya, Yang Menyempurnakan serta Meridhai agama-Nya, Yang membukakan pandangan hati orang yang dicintai-Nya, Yang menguasai takdir, Yang menjadi tempat kembali segala urusan. Semoga rahmat dan salam tetap tercurahkan pada nabi Muhammad SAW, yang telah dipilih oleh Allah SWT dari sekian banyak makhluk-Nya, yang dijadikan oleh-Nya sebagai yang terpilih dari yang terbaik. Semoga terlimpah pula kepada keluarga dan keturunannya, kepada semua nabi, semua keluarga mereka, dan kepada hamba-hamba-Nya yang salih.

    Suatu ketika Ustman bin Affan ra berhenti didekat sebuah kuburan, ia menangis sampai janggutnya basah. Ustman ra kemudian ditanya mengenai hal itu: “Mengapa anda tidak menangis ketika menyebut surga dan neraka, tetapi anda malah menangis ketika berhenti didekat kuburan?’. Ustman bin Affan ra lalu menjawab bahwa pada suatu ketika ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya kuburan adalah tahap pertama akhirat. Jika penghuninya selamat darinya, maka yang datang sesudahnya akan lebih mudah. Tetapi jika dia tidak selamat darinya, maka yang datang sesudahnya akan lebih sukar”.

    Jenasah itu sesungguhnya merupakan pelajaran bagi orang yang memiliki mata hati, dan padanya terdapat nasihat serta peringatan bagi semua orang, kecuali orang-orang yang lalai. Ketika seorang hamba melihat keranda jenasah yang diusung, hendaklah dia tidak lupa bahwa suatu saat dia sendirilah yang akan diusung. Mungkin esok hari, atau mungkin lusa, atau mungkin esok lusanya lagi, bisa jadi akan terjadi tak lama lagi.

    Pada masa sekarang ini, tidak jarang dijumpai sekelompok orang yang justru tertawa-tawa dan bersendau-gurau ketika mereka menghadiri suatu pemakaman. Bahkan tak jarang terjadi keributan diantara ahli warisnya perihal harta warisan yang ditinggalkannya. Sesungguhnya hanya Allah SWT saja yang mampu memberikan hidayah dan kemampuan untuk menyadari semua kelalaian dan kelemahan serta kekerasan hati kita.

    Al-Turmidzi dalam A-Hakim menyebutkan bahwa Al-Nu’man bin Basyir pernah mendengar Rasulullah SAW berkhutbah diatas mimbar dan bersabda: “Ketahuilah bahwa tak ada yang tersisa dari dunia ini kecuali yang setara dengan lalat-lalat yang beterbangan di udara. Oleh karena itu, demi Allah aku berpesan kepadamu agar mengingat saudara-saudaramu yang telah meninggal dunia, sebab amal-amalmu diperlihatkan kepada mereka”.

    Ibn Hanbal dalam Musnad menyebutkan bahwa Abu Sa’id Al-Khuduri berkata bahwa suatu ketika mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang mati itu mengetahui siapa yang memandikannya, mengusungnya, dan meletakkannya ke liang lahat”.

    Abu Dzarr berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ziarahilah kubur, pasti kalian akan mengingat akhirat, mandikanlah jenasah, sebab dalam menyentuh jenasah terdapat pelajaran yang sangat berharga. Dan kerjakanlah shalat atas jenasah, agar kalian bisa bersedih, sebab orang yang bersedih berada didalam lindungan Allah SWT”.

    Aisyah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seseorang berziarah ke kuburan saudaranya dan duduk didekatnya, kecuali hal itu akan menyenangkan saudaranya dan membalas salamnya hingga dia berdiri”.

    Ibn Abi Mulaikah juga berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ziarahilah kubur orang-orang yang mati diantara kalian, dan ucapkanlah salam kepada mereka, sebab pada mereka terdapat pelajaran bagi kalian”.

    Disunahkan bagi seseorang yang berziarah ke kubur untuk membelakangi kiblat dengan wajah menghadap ke jenasah, dan memberi salam kepadanya. Namun hendaklah dia tidak mengusap-usap dan tidak menciumi kuburannya. Peziarah hendaknya berdoa untuk dirinya dan untuk orang yang telah meninggal itu, serta mengambil pelajaran.

    Ibn Abi al-Dunya dalam Al-Maut menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan seorang mukmin di dunia bagaikan seorang bayi di dalam perut ibunya, yang menangis ketika dilahirkan, tapi ketika dia melihat cahaya dana mulai menyusu, maka dia tak lagi berkehendak untuk kembali ke tempat tinggalnya yang lama. Demikian pula halnya orang beriman, dia menderita pada saat kematian, tapi ketika dia dibawa ke hadirat Allah SWT, dia tak lagi ingin kembali ke dunia seperti halnya seorang bayi yang tak ingin kembali ke dalam perut ibunya”.

    Imam Bukhari dalam Jana’iz dan imam Muslim dalam Jannah, menyebutkan bahwa Anas ra meriwayatkan sabda Rasulullah SAW: “Kematian adalah kiamat, barangsiapa mati berarti kiamatnya telah tiba. Jika salah seorang dari kalian mati, maka tempat duduknya (yang akan datang) diperlihatkan kepadanya pagi dan petang. Jika dia termasuk penghuni surga, maka tempat duduknya itu ditempatkan di penghuni surga, dan jika dia termasuk penghuni neraka, maka tempat duduknya itu ditempatkan di neraka. Dan kepadanya dikatakan: “Inilah tempat kalian hingga kalian dibangkitkan untuk menemui Dia pada hari kebangkitan’ “.

    Kematian berarti perubahan keadaan dimana ruh sama sekali tidak lagi efektif bagi jasadnya. Semasa hidup, badan jasad adalah alat ruh untuk menggerakkan anggota badannya, mendengarkan dengan telinganya, melihat dengan matanya. Setelah kematian, jasad badannya tak lagi tunduk kepada perintah-perintah ruh. Kematian adalah ungkapan tentang tak berfungsinya semua anggota badan yang merupakan alat-alat ruh.Tak lagi berfungsi jasadnya setelah kematian sama dengan tak berfungsinya anggota badan tertentu semasa hidup seseorang dikarenakan telah rusaknya daya keseimbangan atau kehancuran pada urat syaraf sehingga menghalangi ruh untuk meresap kedalamnya.

    Pada hakikatnya, ruh mampu mengetahui pelbagai hal tanpa harus berperantaraan alat tertentu. Kematian yang telah menghilangkan daya kerja badan jasadnya, tidaklah mengakibatkan rusaknya pengetahuan dan pemahaman serta kemampuannya mencerap rasa gembira, sedih, atau rasa sakit. Itulah sebabnya maka ruh bisa mengenyam rasa sedih dan duka nestapa, mengecap rasa senang dan gembira. Karenanya itu maka disebutkan bahwa ruh adalah esensi manusia yang bersifat abadi.

    Pada saat kematian, ruh akan mengalami dua macam perubahan. Perubahan pertama adalah terpisahnya ruh dari mata, telinga, kaki, dan semua bagian anggota tubuhnya, seperti halnya dia terpisah dari keluarga, anak-anak, kerabat, semua kenalannya, dan semua hal kekayaan benda duniawi yang pernah menjadi miliknya. Bergejolaklah didalam dirinya perpisahan dengan semua hal fana yang pernah menentramkan hatinya. Pada saat itulah dikatakan kepada dirinya: “Cukup dirimu sendiri sebagai penghitung bagimu !’.

    Perubahan kedua adalah terungkapnya segala hal yang tidak terungkapkan kepadanya di masa hidup, seperti halnya seseorang yang terbangun dari tidurnya. Pertama kali yang terungkap baginya adalah tentang manfaat dan mudharat dari apa yang menjadi akibat dari perbuatannya semasa hidup. Setiap orang yang meninggal dunia akan diperlihatkan kepadanya amal baiknya dan buruknya, dia akan menatap amal baiknya dan dia akan merasa malu terhadap amal-amal buruknya.

    Kemudian ia akan mengarungi masa penantian yang panjang di alam barzakh dengan segala kondisinya tergantung amal perbuatannya, sampai tiba datangnya tiupan Sangkakala. Lalu ia akan dibangkitkan dan dikumpulkan di Padang Mahsyar, berdiri dihadapan Yang Maha Kuasa, ditegakkannya Mizan untuk menimbang amalnya, berjalan diatas Shirath yang kecil dan tajam.

    Setelah itu, menanti seruan menuju pengadilan akhir, dan penetapan apakah ia termasuk seseorang yang akan berbahagia kekal di surga?, ataukah termasuk seseorang yang akan menderita kekal di neraka?, ataukah termasuk golongan yang berhak menghuni surga akan tetapi harus melewati “tahap penyucian’ dengan disiksa di neraka?.

    Berkaitan dengan kematian sebagai tahap awal dunia akhirat yang kekal itu, ada baiknya kita menyimak penuturan Ibn Umar ra yang mengatakan: Suatu ketika aku datang kepada Nabi SAW dan mendapati beliau sedang berada ditengah-tengah jamaah yang jumlahnya sepuluh orang. Seseorang dari kalangan Anshar bertanya: “Siapakah orang yang paling cerdas dan pemurah, wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Yaitu orang yang paling rajin mengingat mati dan orang yang paling baik persiapannya dalam menghadapinya. Itulah orang yang paling cerdas, yang akan memperoleh kehormatan di dunia ini dan kemuliaan di akhirat kelak”.

    Rasulullah SAW juga bersabda: “Cukuplah maut sebagai pemisah”, dan beliau juga bersabda: “cukuplah maut sebagai pemberi peringatan”.

    Wallahu’alambishawab.

    ***

    Dikutip dari “Remembrance of Death and the Afterlife” yang ditulis oleh Al-Ghazali dan diterjemahkan oleh Ahsin Mohamad yang diterbitkan oleh Mizan, Bandung dengan judul sampul “Metode Menjemput Maut”.

     
  • erva kurniawan 2:55 am on 24 January 2019 Permalink | Balas  

    Muhammad Yusuf: Islam Sudah Mengubah Hidup Saya 

    Muhammad Yusuf: Islam Sudah Mengubah Hidup Saya

    Pemain Cricket Pakistan Yousuf Youhana yang sekarang berganti nama menjadi Muhammad Yusuf, mengaku dirinya mengalami ‘perubahan-perubahan yang revolusioner’ setelah memeluk agama Islam.

    “Saya merahasiakan ke-Islaman saya selama dua tahun karena tekanan dari kerabat saya. Saya sekarang merasakan perubahan yang revolusioner dalam diri saya. Islam betul-betul sudah mengubah hidup saya,” kata Yusuf yang sebelumnya beragama Kristen.

    Ia menempuh perjalanan panjang sebelum akhirnya memutuskan memeluk agama Islam. Selama tiga tahun terakhir, ia kerapkali berkunjung ke perkumpulan Jamaah Tabligh di Raiwind dan mendapatkan bimbingan agama Islam di sana.

    Dijumpai di Qaddafi Stadium, Lahore, Yusuf mengaku merasakan kepuasan batin dan lebih tenang dengan melakukan sholat lima waktu. “Saya tidak bisa menjelaskan perasaan saya. Dengan memeluk agama Islam, kehidupan saya sudah berubah,” katanya seperti dikutip Arab News.

    Sebelum masuk Islam, Yusuf adalah satu-satunya anggota tim cricket Pakistan yang beragama Kristen dan terlihat sering membuat ‘tanda salib’ apabila ia berhasil membuat pukulan yang bagus.

    Yousuf menyatakan, ia mendapat tekanan keras dari anggota keluarganya sehingga ia memutuskan untuk menyembunyikan ke-Islamannya untuk sementara waktu.

    ***

    Sumber: eramuslim

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 23 January 2019 Permalink | Balas  

    Cara Menghilangkan Syirik 

    Cara Menghilangkan Syirik

    Menghilangkan syirik kepada Allah, belum akan sempurna kecuali dengan menghilangkan tiga macam syirik:

    Syirik dalam perbuatan Tuhan:

    Yaitu beri’tikad bahwa di samping Allah, terdapat pencipta dan pengatur yang lain. Sebagaimana yang diyakini sebagian orang-orang shufi, bahwa Allah menguasakan sebagian urusan kepada beberapa waliNya untuk mengaturnya. Suatu keyakinan, yang hingga orang-orang musyrik sebelum Islam pun tidak pernah mengatakannya. Bahkan ketika Al-Qur’an menanyakan siapa yang mengatur segala urusan, mereka menjawab: “Allah”. Seperti ditegaskan dalam firmanNya:

    “Dan siapakah yang mengatur segala urusan? Mereka menja-wab ‘Allah’.” (Yunus: 31)

    Penulis pernah membaca kitab “Al-Kaafii Firrad alal Wahabi” yang pengarangnya seorang shufi. Di antara isinya adalah, “Sesung-guhnya Allah memiliki beberapa hamba yang bila mengatakan kepada sesuatu; Jadilah! Maka ia akan terjadi.”

    Sungguh dengan tegas Al-Qur’an mendustakan apa yang ia dak-wahkan itu. Allah berfirman:

    “Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, “Jadilah!” maka terjadilah ia.” (Yaasiin: 82)

    “Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah.” (Al-A’raaf: 54)

    Syirik dalam ibadah dan do’a:

    Yaitu di samping ia beribadah dan berdo’a kepada Allah, ia beribadah dan berdo’a pula kepada para nabi dan orang-orang shalih.

    Seperti istighatsah (meminta pertolongan) kepada mereka, berdo’a kepada mereka di saat kesempatan atau kelapangan. Ironinya, justru hal ini banyak kita jumpai di kalangan umat Islam. Tentu, yang menanggung dosa terbesarnya adalah sebagian syaikh (guru) yang mendukung perbuatan syirik ini dengan dalih tawassul.

    Mereka menamakan perbuatan tersebut dengan selain nama yang sebenarnya. Karena tawassul adalah memohon kepada Allah dengan perantara yang disyari’atkan. Adapun apa yang mereka lakukan ada-lah memohon kepada selain Allah. Seperti ucapan mereka:

    “Tolonglah kami wahai Rasulullah, wahai Jaelani, wahai Badawi …”

    Permohonan seperti di atas adalah ibadah kepada selain Allah, sebab ia merupakan do’a (permohonan). Sedangkan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

    “Do’a adalah ibadah.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, hadits hasan shahih)

    Di samping itu pertolongan tidak boleh dimohonkan kecuali kepada Allah semata. Allah berfirman:

    “Dan (Allah) membanyakkan harta dan anak-anakmu,” (Nuh: 12)

    Termasuk syirik dalam ibadah adalah “syirik hakimiyah”. Yaitu jika sang hakim, penguasa atau rakyat meyakini bahwa hukum Allah tidak sesuai lagi untuk diterapkan, atau dia membolehkan diberlaku-kannya hukum selain hukum Allah.

    Syirik dalam sifat:

    Yaitu dengan menyifati sebagian makhluk Allah, baik para nabi, wali atau lainnya dengan sifat-sifat yang khusus milik Allah. Mengetahui hal-hal yang ghaib, misalnya. Syirik semacam ini banyak terjadi di kalangan shufi dan orang-orang yang terpengaruh oleh mereka. Seperti ucapan Bushiri, ketika memuji Nabi Shallallahu’alaihi wasallam:

    “Sesungguhnya, di antara kedermawananmu adalah dunia dan kekayaan yang ada di dalamnya Dan di antara ilmumu adalah ilmu Lauhul Mahfuzh dan Qalam.

    Dari sinilah kemudian terjadi kesesatan para dajjal (pembohong) yang mendakwakan dirinya bisa melihat Rasulullah dalam keadaan jaga. Lalu menurut pengakuan para dajjal itu mereka menanyakan kepada beliau tentang rahasia jiwa orang-orang yang bergaul dengannya. Para dajjal itu ingin menguasai sebagian urusan manusia. Padahal Rasulullah semasa hidupnya saja, tidak mengetahui hal-hal yang ghaib tersebut, sebagaimana ditegaskan oleh Al-Qur’an:

    “Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku mem-buat kebajikan yang sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan.” (Al-A’raaf: 188)

    Jika semasa hidupnya saja beliau tidak mengetahui hal-hal yang ghaib, bagaimana mungkin beliau bisa mengetahuinya setelah beliau wafat dan berpindah ke haribaan Tuhan Yang Maha Tinggi? “Ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mendengar salah seorang budak wanita mengatakan, ‘Dan di kalangan kita terdapat Nabi yang mengetahui apa yang terjadi besok hari.’ Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam berkata kepadanya,

    “Tinggalkan (ucapan) ini dan berkatalah dengan yang dahulu-nya (biasa) engkau ucapkan’.” (HR. Al-Bukhari)

    Kepada para rasul itu, memang terkadang ditampakkan sebagian masalah-masalah ghaib, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah:

    “(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada rasul yang diridhaiNya.” (Al-Jin: 26-27)

    ***

    Taken from kitab Al Firqotun Naajiyah JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT karya Syaikh Muhammad Ibn Jamil Zainu

     
  • erva kurniawan 2:46 am on 22 January 2019 Permalink | Balas  

    Perumpamaan Orang Yang Berdo’a Kepada Selain Allah 

    Perumpamaan Orang Yang Berdo’a Kepada Selain Allah

    Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

    “Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” (Al-Hajj: 73)

    Allah menyeru kepada segenap umat manusia agar mendengarkan perumpamaan agung yang telah dibuatNya, dengan mengatakan:

    “Sesungguhnya para wali dan orang-orang shalih serta lainnya yang kamu berdo’a kepadanya agar menolongmu saat kamu berada dalam kesulitan, sungguh mereka tak mampu melakukannya. Meskipun sekedar menciptakan makhluk yang sangat kecil pun mereka tidak bisa. Menciptakan lalat, misalnya. Bahkan jika lalat itu mengambil dari mereka sejumput makanan atau minuman, mereka tak mampu merebutnya kembali. Ini merupakan bukti atas kelemahan mereka, juga kelemahan lalat. Jika demikian halnya, bagaimana mungkin engkau berdo’a kepada mereka, sebagai sesembahan selain Allah?”

    Perumpamaan di atas merupakan pengingkaran dan penolakan yang amat keras terhadap orang yang berdo’a dan bermohon kepada selain Allah, baik kepada para nabi atau wali.

    Allah berfirman:

    “Hanya bagi Allah lah(hak mengabulkan) do’a yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan do’a (ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.” (Ar-Ra’ad: 14)

    Ayat di atas mengandung pengertian bahwa do’a, yang ia merupakan ibadah, wajib hanya ditujukan kepada Allah semata.

    Orang-orang yang berdo’a dan memohon kepada selain Allah, tidak mendapatkan manfaat dari orang-orang yang mereka sembah. Mereka tidak bisa memperkenankan do’a barang sedikitpun.

    Menurut riwayat dari Ali bin Abi Thalib, menjelaskan perumpamaan orang yang berdo’a kepada selain Allah yaitu seperti orang yang ingin mendapatkan air dari tepi sumur (hanya) dengan tangannya. Maka hanya dengan tangannya itu, tentu dia tidak akan mendapatkan air selama-lamanya, apatah lagi lalu air itu bisa sampai ke mulutnya?”

    Menurut Mujahid,” (seperti orang yang) meminta air dengan lisannya sambil menunjuk-nunjuk air tersebut (tanpa berikhtiar selainnya), maka selamanya air itu tak akan sampai padanya.”

    Selanjutnya Allah menetapkan, bahwa hukum orang-orang yang berdo’a kepada selain Allah adalah kafir, do’a mereka hanya sia-sia belaka. Allah berfirman:

    “Dan do’a (ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.” (Ar-Ra’ad: 14)

    Maka dari itu, wahai saudaraku sesama muslim, jauhilah dari berdo’a dan memohon kepada selain Allah. Karena hal itu akan menjadikanmu kafir dan tersesat. Berdo’alah hanya kepada Allah semata, sehingga engkau termasuk orang-orang beriman yang mengesakan-Nya.

    ***

    Taken from kitab Al Firqotun Naajiyah JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT karya Syaikh Muhammad Ibn Jamil Zainu

     
  • erva kurniawan 2:43 am on 21 January 2019 Permalink | Balas  

    Sakaratul Maut 

    Sakaratul Maut

    Segala puji semata hanya bagi Allah SWT, Dzat Yang Menunjukkan kita pada kebenaran agama-Nya, Yang Menyempurnakan serta Meridhai agama-Nya, Yang membukakan pandangan hati orang yang dicintai-Nya, Yang menguasai takdir, Yang menjadi tempat kembali segala urusan. Semoga rahmat dan salam tetap tercurahkan pada nabi Muhammad SAW, yang telah dipilih oleh Allah SWT dari sekian banyak makhluk-Nya, yang dijadikan oleh-Nya sebagai yang terpilih dari yang terbaik. Semoga terlimpah pula kepada keluarga dan keturunannya, kepada semua nabi, semua keluarga mereka, dan kepada hamba-hamba-Nya yang salih.

    Seandainya dihadapan manusia tak ada kemalangan ataupun siksaan, maka kedahsyatan saat menjelang maut, sakaratulmaut, cukuplah untuk menghalangi kegembiraan serta mengusir kelengahan dan kealpaan. Disetiap saat disetiap tempat, malaikat maut dapat saja menimpakan dirinya derita pencabutan nyawa. Nabi SAW bersabda: “Kematian yang tiba-tiba adalah rahmat bagi orang yang beriman, dan nestapa bagi pendosa”.

    Yazid Al-Ruqasyi bercerita bahwa ketika seorang penguasa tiran yang lalim dari bani Israil sedang duduk ditemani oleh istrinya, masuklah seorang laki-laki melalui pintu istana.

    Penguasa itu marah dan berkata: “Siapa engkau?, siapa yang mengizinkanmu masuk kedalam rumahku?”. Orang itu menjawab: “Yang mengizinkan aku masuk kedalam rumah ini adalah pemilik rumah ini. Sedangkan aku adalah yang tak bisa dihalangi oleh seorang pengawal pun dan tidak pernah meminta izin untuk masuk, bahkan kepada raja-raja sekalipun, tidak pernah takut kepada kekuatan raja-raja yang perkasa dan tidak pernah diusir oleh penguasa tiran yang keras kepala ataupun setan pembangkang”.

    Mendengar itu, penguasa tersebut menutup mukanya dan dengan tubuh gemetar dia jatuh tersungkur. Kemudian dia bangkit dengan wajah memelas: “Jadi engkau adalah Malaikat Maut?”. “Ya”, jawab laki-laki itu.

    Penguasa itu menghiba: “Sudikah engkau memberiku kesempatan agat aku bisa memperbaiki kelakuanku?”. Malaikat Maut menjawab: “Alangkah bodohnya engkau, waktumu telah habis, napasmu dan masa hidupmu telah berakhir, tidak ada jalan lagi untuk memperoleh penangguhan”.

    Penguasa itu lalu bertanya: “Kemana engkau akan membawaku?”. “Kepada amal-amalmu yang telah engkau kerjakan sebelumnya, dan juga ke tempat tinggal yang telah engkau dirikan sebelumnya”, jawab Malaikat Maut. Sang penguasa berkata: “Bagaimana mungkin, aku belum pernah mempersiapkan amal baik dan rumah baik yang bagaimanapun”. Malaikat pun menjawab: “Kalau begitu, ke neraka, yang menggigit hingga ke pinggir-pinggir tulang”.

    Kemudian malaikat mencabut nyawa penguasa itu, dan dia pun jatuh mati ditengah-tengah keluarganya, ditengah-tengah mereka yang meratap dan menjerit.

    Yazid Al-Ruqasyi menambahkannya bahwa seandainya mereka mengetahui bagaimana buruknya neraka itu, tentu mereka akan menangis lebih keras lagi.

    Sakaratulmaut adalah ungkapan tentang rasa sakit yang menyerang inti jiwa dan menjalar keseluruh bagian jiwa, sehingga tidak ada lagi satu pun bagian jiwa yang terbebas dari rasa sakit itu. Kedahsyatan rasa sakit yang dialami pada saat sakaratulmaut tak dapat diketahui dengan pasti kecuali oleh orang yang telah merasakannya, orang yang belum pernah merasakannya hanya bisa menganalogikannya saja.

    Rasa sakit akibat tertusuk duri hanya menjalar pada bagian jiwa yang terletak pada anggota badan yang tertusuk duri, luka karena terbakar maka efeknya dirasakan oleh bagian-bagian jiwa yang mengalir pada bagian dagingnya itu. Akan tetapi, rasa sakit sakaratulmaut menghujam jiwa dan menyebar keseluruh anggota badan, hingga serasa dirinya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap urat nadi, urat saraf, persendian, setiap akar rambut dan kulit kepala hingga ujung kaki. Rasa sakit sakaratul maut yang tak teperikan itu diibaratkan bahwa seandainya setetes dari rasa sakit kematian itu diletakkan diatas semua gunung di bumi, maka niscaya gunung-gunung itu akan meleleh.

    Hujaman pedang, rasa sakitnya masih menyisakan sisa tenaga dalam hati dan lidahnya untuk berteriak kesakitan. Sedangkan dalam sakaratulmaut, suara dan dan jeritan akibat rasa sakitnya itu telah terputuskan oleh dahsyatnya rasa sakitnya itu sendiri, sehingga jikalau masih tersisa tinggallah suara lenguhan dan gemertak saja. Jikalau manusia tak memohon perlindungan darinya dan tidak memandangnya dengan penuh rasa gentar, itu karena ketidaktahuannya saja, bahkan Rasulullah SAW sendiri pun pernah berdoa berkaitan dengan sakaratulmaut ini: “Ya Allah Tuhanku, ringankanlah sakaratulmaut bagi Muhammad”.

    Suatu ketika, Rasulullah SAW ditanya perihal pedihnya sakaratulmaut, beliau menjawab bahwa: “Kematian yang paling mudah adalah serupa dengan sebatang pohon duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang terkoyak?”.

    Diriwayatkan tentang nabi Musa as bahwa ketika ruhnya akan menuju ke hadirat Allah SWT, Dia bertanya kepadanya: “Wahai Musa, bagaimana engkau merasakan kematian?. Nabi Musa as menjawab: “Kurasakan diriku seperti seekor burung yang dipanggang hidup-hidup, tak mati untuk terbebas dari rasa sakit dan tak bisa terbang untuk menyelamatkan diri”.

    Diriwayatkan bahwa ketika Nabi Ibrahim as meninggal dunia, Allah SWT bertanya kepadanya: “Bagaimana engkau merasakan kematian?”, dan nabi Ibrahim as menjawab: “Seperti sebuah pengait yang dimasukkan kedalam gumpalan bulu yang basah, kemudian ditarik”. “Yang seperti itu sudah Kami ringankan atas dirimu”, firman-Nya.

    Seandainya seorang yang sudah mati dihidupkan kembali untuk menceritakan tentang rasa sakit sakaratulmaut, maka niscaya mereka tidak mempunyai gairah hidup dan tidak akan bisa merasakan nikmat tidur. Diriwayatkan bahwa pada suatu ketika sekelompok kaum bani Israil berjalan melewati pekuburan, dan salah seorang diantaranya berkata kepada yang lainnya: “Bagaimana jika kalian berdoa kepada Allah SWT, agar Dia menghidupkan satu mayat dari pekuburan ini, dan kalian bisa mengajukan pertanyaan kepadanya?”. Mereka pun lalu berdoa kepada Allah SWT. Tiba-tiba mereka berhadapan dengan seorang laki-laki dengan tanda-tanda sujud diantara kedua matanya yang muncul dari satu kuburan. “Wahai manusia”, katanya, “Apa yang kalian kehendaki dariku?, lima puluh tahun yang lalu aku mengalami kematian, namun hingga kini rasa pedihnya belum juga hilang dari hatiku !”.

    Zaid bin Aslam meriwayatkan bahwa suatu ketika ayahnya berkata: “Jika bagi seorang beriman masih ada derajat tertentu yang belum berhasil dicapainya melalui amal perbuatannya, maka kematian yang dijadikan sangat berat dan menyakitkan agar dia bisa mencapai kesempurnaan derajatnya di surga. Sebaliknya, jika seorang kafir mempunyai amal baik yang belum memperoleh balasan, maka kematian akan dijadikan ringan atas dirinya sebagai balasan atas kebaikannya, dan dia akan langsung mengambil tempatnya di neraka”.

    Bersamaan dengan sakaratul maut, berturut-turut datang petaka kepada dirinya. Peristiwa petaka pertama adalah kedahsyatan peristiwa dicabutnya ruh. Selanjutnya adalah menyaksikan wujud dari Malaikat Maut dengan disertai timbulnya rasa takut dalam hatinya. Kemudian adalah pertemuannya dengan Malaikat Pencatat Amal. Lalu ketika peristiwa penyaksian tempatnya di akhirat kelak.

    Wujud dari Malaikat Pencabut Nyawa saat menjalankan tugasnya mencabut nyawa manusia yang penuh dosa, niscaya tak akan sanggup dilihat sekalipun oleh manusia yang paling kuat sekalipun. Diriwayatkan, suatu ketika nabi Ibrahim as, bertanya kepada Malaikat Maut: “Dapatkah engkau memperlihatkan rupamu ketika mencabut nyawa manusia yang gemar melakukan perbuatan jahat?”. Malaikat pun menjawab: “Engkau tidak akan sanggup”. Beliau menjawab: “Aku pasti sanggup”. “Baiklah, berpalinglah dariku”, kata Malaikat Maut. Maka nabi Ibrahim as pun berpaling darinya. Kemudian ketika berbalik kembali, maka yang ada dihadapannya adalah seorang berkulit legam dengan rambut berdiri, berbau busuk, dan mengenakan pakaian berwarna hitam. Dari mulut dan lubang hidungnya keluar jilatan api.

    Melihat pemandangan itu, nabi Ibrahim as jatuh pingsan, dan ketika beliau sadar kembali, Malaikat Maut telah berubah dalam wujud semula. Nabi Ibrahim as pun berkata: “Wahai Malaikat Maut, seandainya seorang pelaku kejahatan pada saat kematiannya tidak menghadapi sesuatu lain kecuali wajahmu, niscaya cukuplah itu sebagai hukuman atas dirinya”.

    Akan tetapi, wujud Malaikat Pencabut Nyawa saat menjalankan tugas mencabut nyawa manusia yang bertakwa, akan terlihat dalam rupa yang paling indah.

    Diriwayatkan, pada suatu hari nabi Ibrahim as pulang kerumah, beliau melihat seorang laki-laki didalamnya.

    Lalu beliau bertanya: “Siapa yang mengizinkanmu masuk ke rumahku?”. Orang itu menjawab: “Aku diizinkan masuk oleh Pemiliknya”. Lalu nabi Ibrahim berkata: “Tapi, akulah pemilik rumah ini”. Orang itu menjawab lagi: “Aku diizinkan masuk oleh Dia yang lebih berhak atas rumah ini daripada engkau atau aku”.

    Beliau lalu bertanya: “Kalau begitu Malaikat apa engkau ini?”. Orang itu menjawab: “Aku adalah Malaikat Maut”.

    Selanjutnya nabi Ibrahim as berkata: “Dapatkah engkau perlihatkan kepadaku rupamu ketika mencabut nyawa orang beriman?”. “Baiklah, berpalinglah dariku”, kata Malaikat Maut. Maka nabi Ibrahim as pun berpaling darinya.

    Ketika beliau berbalik kembali ke arah malaikat itu, maka berdiri didepannya adalah pemuda gagah dan tampan, berpakaian indah dan menyebarkan bau harum wewangian.

    Nabi Ibrahim as pun berkata: “Wahai Malaikat Maut, seandainya orang beriman melihat rupamu saja pada saat kematiannya, niscaya cukuplah itu sebagai imbalan atas amal baiknya”.

    Peristiwa selanjutnya adalah tak seorang pun manusia yang mati kecuali akan diperlihatkan kepadanya dua Malaikat yang bertugas mencatat amalnya.

    Jika dia seorang saleh, maka kedua malaikat itu akan berkata: “Semoga Allah memberikan ganjaran yang baik kepadamu sebab engkau telah menyatakan kami untuk duduk ditengah-tengah kebaikan, dan membawa kami hadir menyaksikan banyak perbuatan baikmu”.

    Akan tetapi, jika dia adalah seorang pelaku kejahatan, maka mereka akan berkata kepadanya: “Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik sebab engkau telah hadirkan kami ke tengah-tengah perbuatan yang keji, dan membuat kami hadir menyaksikan banyak perbuatan buruk, memaksa kami mendengar ucapan-ucapan yang buruk. Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik”.

    Selanjutnya orang pendosa yang sekarat itu menatap lesu ke arah kedua malaikat itu dan selamanya dia tidak akan pernah kembali ke dunia ini lagi.

    Selanjutnya adalah peristiwa diperlihatkannya tempat kembalinya di neraka atau surga. Bukan kematian yang ditakuti, namun rasa takut terhadap kematian yang su”ul khatimah telah mengoyak hati orang-orang yang arif.

    Berkaitan dengan ini, nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Tak seorang pun di antara kalian yang akan meninggalkan dunia ini kecuali telah diberikan tempat kembalinya dan diperlihatkan kepadanya tempatnya di surga atau neraka”.

    Rasulullah SAW juga bersabda: “Barangsiapa mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah pun akan senang bertemu dengannya, dan barangsiapa membenci pertemuan dengan-Nya, maka Dia-pun tidak senang bertemu dengannya”.

    Namun peristiwa ini merupakan petaka bagi manusia-manusia pendosa, hati mereka gentar ketika kepadanya diperlihatkan tempat mereka di neraka. Ruh mereka para pendosa tidaklah keluar kecuali setelah mereka mendengar suara Malaikat Maut menyampaikan kabar: ““Rasakanlah, wahai musuh Allah, siksaan neraka !”.

    Raut wajah yang paling disukai dari orang yang sedang sekarat adalah raut wajah yang mencerminkan ketentraman dan ketenangan, serta dari lidahnya terucap dua kalimah Syahadat. Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Suatu ketika Malaikat Maut mendatangi orang yang sedang sekarat. Setelah melihat ke dalam hatinya dan tidak menemukan apa pun disitu, Malaikat itu lalu membuka janggut orang itu dan mendapati ujung lidahnya melekat pada langit-langit mulutnya selagi dia mengucapkan, “Tidak ada Tuhan selain Allah”. Dosa-dosanya diampuni akrena kalimat ikhlas yang telah diucapkannya”.

    Rasulullah SAW bersabda: “Perhatikanlah tiga tanda pada orang yang sekarat, Jika keningnya berkeringat, matanya basah oleh air mata, dan bibirnya mengering, berarti rahmat Allah SWT telah turun kepadanya. Akan tetapi, jika dia kelihatan seperti orang yang dicekik-cekik, warna kulitnya memerah dan mulutnya berbusa, maka itu adalah akibat siksaan Allah yang ditimpakan atas dirinya”.

    Wallahu”alambishawab.

    ***

    Dikutip dari “Remembrance of Death and the Afterlife” yang ditulis oleh Al-Ghazali dan diterjemahkan oleh Ahsin Mohamad yang diterbitkan oleh Mizan, Bandung dengan judul sampul “Metode Menjemput Maut”.

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 20 January 2019 Permalink | Balas  

    Ziarah Alam Kubur Dan Ziarah Kubur 

    Ziarah Alam Kubur dan Ziarah Kubur

    Segala puji semata hanya bagi Allah SWT, Dzat Yang Menunjukkan kita pada kebenaran agama-Nya, Yang Menyempurnakan serta Meridhai agama-Nya, Yang membukakan pandangan hati orang yang dicintai-Nya, Yang menguasai takdir, Yang menjadi tempat kembali segala urusan. Semoga rahmat dan salam tetap tercurahkan pada nabi Muhammad SAW, yang telah dipilih oleh Allah SWT dari sekian banyak makhluk-Nya, yang dijadikan oleh-Nya sebagai yang terpilih dari yang terbaik. Semoga terlimpah pula kepada keluarga dan keturunannya, kepada semua nabi, semua keluarga mereka, dan kepada hamba-hamba-Nya yang salih.

    Ibn Abi ad-Dunya dan Al-Bayhaqi menuturkan riwayat dari Utsman ibn Sawrah. Ibunya adalah seorang yang taat beribadah, ia dikenal dengan nama Rahibah. Utsman ibn Sawrah bertutur: Setelah ibuku meninggal dunia, aku senantiasa mendatangi kuburannya setiap malam jumat. Aku berdoa dan memohonkan ampunan untuknya dan untuk semua ahli kubur.

    Pada suatu malam aku bermimpi bertemu ibuku, aku bertanya: “Ibu, bagaimana keadaan ibu?”.

    “Anakku, sesungguhnya kesedihan akibat kematian itu amat mendalam. Alhamdulillah, aku berada ditempat yang terpuji, tidur berkasur rayhan serta berbantalkan sutera kasar dan sutera halus”.

    Aku bertanya lagi: “Apakah ibu mempunyai keperluan tertentu?”.

    “Ya”, jawab ibuku.

    “Apakah keperluan ibu?”, sahutku lebih lanjut.

    Beliau menjawab: “Janganlah engkau meninggalkan ziarah dan doa yang pernah engkau lakukan kepada kami. Sesungguhnya aku merasa terhibur dengan kedatanganmu pada hari jumat. Jika engkau datang, akan dikatakan kepadaku “Ya Rahibah, telah datang kepadamu seorang dari keluargamu”. Aku merasa gembira karenanya dan demikian juga dengan mayat-mayat yang berada disekelilingku”.

    Ibn Abi ad-Dunya dan Al-Bayhaqi juga menuturkan riwayat dari Basyar ibn Manshur, dia bertutur:

    Ada seorang yang pulang dan pergi ke pemakaman dan senantiasa mengerjakan shalat jenasah. Jika sore hari tiba, dia berdiri di pintu kuburan seraya mengucapkan: “Semoga Allah menghibur kalian, menyayangi kesendirian kalian, mengampuni dosa-dosa kalian, dan menerima semua kebaikan kalian”.

    Pada suatu malam, dia pulang ke rumah menemui keluarganya dan tidak mendatangi kuburan. Ketika tidur, tiba-tiba dia bermimpi berada bersama orang banyak yang sengaja mendatanginya.

    Dia kemudian bertanya: “Siapakah kalian ini?, apa pula keperluan kalian?.

    Mereka menjawab: “Kami adalah penghuni kubur”. Dia bertanya lagi: “Apa yang menyebabkan kalian datang kepadaku?”. Mereka menjawab: “Engkau sudah membiasakan memberi sesuatu kepada kami pada saat kepulanganmu menemui keluargamu”.

    Dia bertanya: “Pemberian apa itu?”.

    Mereka berucap: “Doa-doa yang engkau panjatkan”. Setelah itu, orang itu lalu membiasakannya kembali dan tidak pernah meninggalkan doa-doa tersebut.

    Dalam Al-Firdaus disebutkan bahwa Abu ad-Darda bertutur bahwa jika seseorang meninggal dunia, dia akan dibawa mengitari rumahnya selama satu bulan dan sekeliling kuburnya selama satu tahun. Selanjutnya dia akan dibawa naik ke suatu sebab yang mempertemukan arwah orang yang sudah meninggal dunia dengan arwah orang yang masih hidup.

    Ibn Mundah dalam Ar-Ruh dan Ath-Thabrani dalam Al-Awsath, melalui Sa’id Ibn Jubair menuturkan riwayat dari Ibn Abbas, bahwa arwah orang yang masih hidup dan arwah orang yang sudah mati saling bertemu di dalam tidur, lalu Allah SWT menahan arwah orang-orang yang sudah meninggal dunia dan mengirimkan arwah orang-orang yang masih hidup ke jasadnya masing-masing.

    Dalam suatu riwayat dari An-Nasa’i mengatakan Khuzaymah berkata bahwa dirinya pernah menyampaikan mimpinya kepada Rasulullah SAW, dalam mipinya itu seakan-akan bersujud diatas dahi Nabi SAW. Rasulullah SAW kemudian bersabda bahwa sesungguhnya ruh itu dapat bertemu dengan ruh yang lainnya.

    Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan Al-Baihaqi dalam Dala’il an-Nubuwwah menuturkan riwayat dari Katsir ibn ash-Shilat, bahwa Ustman bin Affan ra pernah pingsan pada hari ketika dia terbunuh, lalu dia tersadar dan berkata: “Sesungguhnya aku telah melihat Rasulullah SAW dalam tidurku tadi”.

    Ath-Thabrani dalam Al-Awsath dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak menuturkan riwayat dari Al-Uqayli. Ibn Umar ra bercerita bahwa pada suatu saat Umar ibn al-Khaththab ra pernah bertemu dengan Ali ibn Abi Thalib ra dan berkata: “Abu al-Hasan, ada seseorang yang bermimpi, sebagiannya benar dan sebagiannya lagi ada yang tidak benar”. Ali pun menjawab: “Benar, aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda bahwa seorang hamba baik laki-laki maupun perempuan yang tidur dengan nyenyak , ruhnya dibawa naik ke Arsy, itulah mimpi yang benar, sedangkan yang bangun sebelum ruhnya sampai di Arsy, itu adalah mimpi yang bohong”.

    Dalam suatu riwayat dari Al-Baihaqi mengatakan Abdullah ibn Amr ibn al-Ash berkata bahwa arwah orang hidup dibawa naik ke langit ketika sedang tidur, dia diperintahkan bersujud di Arsy, barangsiapa berada dalam keadaan suci maka ia akan bersujud, jika tidak suci maka dia akan bersujud ditempat yang jauh dari Arsy.

    Sedangkan Ibn al-Mubarak menuturkan riwayat dari Abu ad-Darda bahwa jika manusia tidur, ruhnya dibawa naik sehingga sampai di Arsy, jika dalam keadaan suci maka diizinkan baginya bersujud, jika dalam keadaan junub maka tidak diizinkan baginya bersujud.

    Ikrimah dan Mujahid mengatakan bahwa jika seseorang itu tidur, ada jalan padanya yang menjadi tempat bagi ruh keluar dari jasadnya, sehingga ruh itu akan sampai ke mana saja sesuai dengan kehendak Allah SWT. Selama ruh itu masih belum kembali, dia akan terus tidur, jika telah kembali ke jasadnya maka dia pun akan terjaga. Kedudukannya itu sama seperti sinar matahari, sinar itu sampai ke bumi padahal sebenarnya matahari masih tetap ada pada tempatnya.

    Ibn Mundah juga menuturkan riwayat dari beberapa ulama bahwa jika ruh itu keluar dari badannya secara keseluruhan maka dia akan mati, sebagaimana lampu tempel akan padam jika sumbunya dicabut secara keseluruhan. Begitupun dengan ruh orang yang tidur, ruh berjalan-jalan menelusuri alam jagat raya ini, dan malaikat menjaga arwah manusia ini, setelah itu ia akan kembali ke badannya lagi.

    Syaikh Izzuddin ibn Abdissalam dalam Ruh al-Yaqazah mengatakan bahwa sesungguhnya Allah SWT telah memberlakukan tatkala ruh berada didalam jasad seseorang maka dia dalam keadaan terjaga, jika ruh itu keluar dari jasad maka dia dalam keadaan tidur. Ruh yang berpisah dari jasad itu akan mengalami berbagai mimpi, jika ruh itu berada di langit maka mimpinya itu benar karena tidak ada jalan bagi setan untuk sampai ke langit, jika berada dibawah langit maka mimpinya itu adalah ulah setan. Kemudian jika ruh itu kembali ke jasadnya maka orang itu akan bangun seperti sediakala.

    Ibn al-Qayyim mengatakan bahwa arwah itu terdapat dua macam, yang mendapat nikmat dan yang mendapat siksa. Arwah yang mendapatkan siksa tidak dapat melakukan kunjungan dan pertemuan, sementara arwah yang mendapatkan nikmat, sama sekali tidak terikat. Mereka senantiasa mengadakan kunjungan dan pertemuan antar sesamanya, saling mengingat apa yang mereka lakukan di dunia. Di sana setiap ruh memiliki teman yang sejajar sesuai dengan amal perbuatan yang dilakukannya. Ruh para nabi berada pada tempat tertinggi. Persahabatan pun berlaku selamanya, baik di dunia, di alam barzakh, dan di akhirat kelak. Ketika orang berziarah ke kuburan, penghuninya dapat mengetahui peziarahnya, mendengar ucapannya, merasa senang dengannya, serta menjawab salam yang diucapkannya.

    Sesungguhnya, tidaklah ada pertentangan antara dalil-dalil yang ada, dan dari dalil-dali itu tak dapat diputuskan benar-salahnya, karena arwah-arwah itu saling berbeda satu dengan lainnya di tempat persemayamannya di alam barzakh, melainkan ditempatkan sesuai dengan tingkat kesejahteraan dan kesengsaraannya.

    Keadaan hubungan ruh dengan badan terdapat berbagai macam hubungan, antara lain hubungan ketika tidur dimana disatu sisi ruh itu mempunyai hubungan namun disisi lain sebenarnya terpisah, hubungan dialam barzakh dimana meskipun ruh telah dipisahkan dari badan oleh kematian namun sebenarnya tidak dipisahkan secara menyeluruh, hubungan pada hari kebangkitan dimana merupakan hubungan yang paling sempurna.

    Ibn al-Qayyim juga mengatakan bahwa orang yang masih hidup dapat melihat arwah orang mati dalam tidurnya, lalu orang yang sudah mati itu memberitahukan mengenai sesuatu sehingga orang yang masih hidup mendapatkan apa yang diberitahukannya itu.

    Al-Yafi’i mengatakan bahwa diperlihatkannya oleh Allah SWT orang yang sudah meninggal dunia baik dalam suatu kebaikan atau kejahatan termasuk bagian dari kasyf, penyingkapan alam gaib, sebagai peringatan sekaligus nasihat dan juga untuk kepentingan si mayat tersebut guna mendapatkan kebaikan, membayar utang, dan lain-lain. Kasyf ini lebih sering dialami pada saat sedang tidur, kadang juga dalam keadaan terjaga. Semua itu juga termasuk bagian dari karamah para wali.

    Imam Ahmad dalam Al-Zuhd dan Ibn Sa’ad dalam Ath-Thabaqat menuturkan riwayat dari Abbas ibn Abdul Muthallib ra, dia berkata: “Umar ibn Kththab ra adalah teman dekatku, sepeninggalnya selama satu tahun penuh aku berdoa agar dia diperlihatkan padaku dalam tidurku. Akhirnya, aku berhasil melihatnya melalui mimpi setelah setahun penuh, tatkala dia terlihat membasuh peluh dari dahinya, kutanyakan kepadanya: “Amirul Mukminin, apa yang diperbuat Tuhanmu kepadamu?”. Dia menjawab: “Ini adalah waktu luangku (tidak dihisab), hampir saja keteguhanku goyang, untung aku mendapatkan Tuhanku sangat Pengasuh lagi Penyayang”.

    Yazid ibn al-Madz”ur berkisah bahwa pernah dalam bertemu dengan Ibn al-Mubarak, lalu bertanya: “Abu Amr, tolong tunjukkan sesuatu kepadaku yang dapat aku jadikan bahan untuk ber-taqarrub kepada Allah SWT. Lalu ia menjawab bahwa ia disana tidak melihat derajat yang lebih tinggi daripada derajat para ulama, setelah itu adalah derajat mereka yang bersedih”.

    Abdullah ibn Shalih as-Shuffi bercerita bahwa sebagian perawi hadis dalam mimpinya pernah diperlihatkan kepadanya. Ia bertanya kepada mereka: “Bagaimana perlakuan Allah terhadapmu?”, mereka menjawab: “Allah memberikan ampunan “. Lalu ia bertanya lagi: “Dengan apa Dia mengampunimu?”, mereka menjawab: “Dengan shalawat yang aku panjatkan kepada Rasulullah SAW didalam buku-bukuku”.

    Abdul Aziz ibn Amr ibn Abdul Aziz berkisah: “Aku pernah bermimpi melihat ayahku dalam tidurku setelah beliau meninggal dunia, aku bertanya kepadanya: “Amal apa yang ayah lihat paling afdhal?”, lalu ia menjawab: “Istighfar, puteraku”.

    At-Turmudzi dalam Nawadir al-Ushul, meriwayatkan bahwa Abdul Ghafur ibn Abdul Aziz menuturkan bahwa ayahnya menerima riwayat dari kakeknya yang bercerita bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Amal-amal perbuatan itu diperlihatkan pada hari Senin dan Kamis kepada Allah, kepada para nabi, serta kepada ibu dan bapak mereka pada hari Jumat. Mereka senang dengan kebaikan-kebaikan mereka dan wajah mereka pun semakin cerah. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kalian menyakiti orang-orang yang sudah meninggal diantara kalian”.

    Abu Dawud dan Ibn Hibban meriwayatkan bahwa Abu Usayd menuturkan bahwa ada seseorang yang datang kepada Rasulullah SAW seraya bertanya: “Ya Rasulullah, apakah masih mungkin berbakti kepada orang tua yang dapat saya lakukan setelah kematian mereka?”. Beliau menjawab: “Ya, ada empat kriteria yang tersisa untukmu, yaitu doa, memenuhi janji keduanya, memuliakan teman-teman mereka, serta menyambung silaturahmi yang menjadikan engkau tidak akan mendapatkan kasih-sayang melainkan dari keduanya”.

    Abu Nu”aym menuturkan riwayat dari Ibn Mas”ud, dia berkata: “Sambunglah hubungan dengan orang yang pernah menjalin hubungan dengan ayahmu. Karena hubungan seorang mayat itu masih terus bersambung di alam kuburnya, jika engkau menjalin hubungan dengan orang yang pernah menjalin hubungan dengannya”.

    Ibn Hibban juga menuturkan riwayat dari Ibn Umar yang mengatakan bahwa Rasullah SAW pernah bersabda: “Barangsiapa ingin menjalin hubungan dengan ayahnya yang berada di alam kuburnya, hendajlah dia menjalin hubungan dengan saudara-saudara ayahnya setelah kematian ayahnya”.

    Ath-Thabrani dan Al-Bayhaqi, dan Al-Asbahani, menuturkan riwayat dari Samrah ibn Jundab yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah pada saat usai mengerjakan salat subuh bertanya: “Apakah disini ada seseorang dari Bani Fulan?. Sesungguhnya sahabat kalian ini ditahan di pintu surga karena utangnya. Jika kalian berkehendak, tebuslah. Jika kalian berkehendak, kalian dapat menyerahkannya kepada azab Allah”.

    Al-Bazzar dan Ath-Thabrani menuturkan juga riwayat dari Ibn Abbas bahwa Rasulullah SAW pernah mengerjakan salah subuh setelah itu beliau mengatakan: “Apakah disini ada seseorang dari kabilah Hudzayl? Sesungguhnya sahabat kalian ditahan di pintu surga karena utangnya”.

    Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Sa’id ibn al-Athwa yang berkisah bahwa ayahnya meninggal dunia dengan meninggalkan tiga ratus dirham, juga keluarga dan utangnya. Aku bermaksud memberikan nafkah kepada keluarganya, lalu Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya ayahmu tertahan oleh utangnya. Oleh karena itu, bayarlah utangnya itu”.

    Aisyah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Barangsiapa yang meninggal dunia sedangkan dia masih mempunyai utang puasa, walinyalah yang harus membayar utang puasa itu”.

    Ath-Thabrani menuturkan, Ibn Umar pernah diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Jika salah seorang diantara kalian bersedekah secara sukarela dengan meniatkannya untuk kedua orangtuanya, bagi keduanya ada pahala dari sedekah tersebut tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang mengeluarkannya”.

    Imam Ahmad dan At-Turmudzi meriwayatkan bahwa Anas ibn Malik menuturkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa sesungguhnya amal-amal kalian itu diperlihatkan kepada kaum kerabat dan keluarga kalian yang sudah meninggal. Jika amal-amal itu baik, mereka pun akan merasa senang, jika sebaliknya, mereka akan mengatakan: “Ya Allah, janganlah Engkau mematikan mereka sehingga Engkau memberikan petunjuk kepada mereka, sebagaimana Engkau telah memberikan petunjuk kepada kami”.

    Ath-Thayalusi meriwayatkan dari Jabir ibn Abdillah bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa sesungguhnya amal-amal kalian diperlihatkan kepada keluarga dan kaum kerabat kalian didalam kuburan mereka. Jika baik, mereka akan senang hati. Jika sebaliknya, mereka akan berdoa: “Ya Allah, berikanlah ilham kepada mereka agar berbuat taat kepada-Mu”.

    Ibn Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, dan juga At-Turmudzi, menuturkan riwayat dari Ibrahim ibn Maysarah. Dia bercerita bahwa Abu Ayyub al-Qasthanthiniyyah pernah pergi berperang, lalu dia bertemu dengan seseorang yang berkata kepadanya: “Jika seorang hamba berbuat suatu amalan pada tengah hari, akan diperlihatkan kepada orang-orang yang mengenalnya yang sudah meninggal dunia pada sore harinya. Jika ia berbuat amalan pada akhir siang hari, akan diperlihatkan pagi harinya kepada orang-orang yang dikenalnya yang sudah meninggal dunia”.

    Abdullah ibn Shalih as-Shuffi juga menceritakan bahwa pernah bertemu dengan Abu Nuwas dalam tidurnya. Abdullah bertanya: “Bagaimana perlakuan Allah terhadapmu?”, lalu Abu Nuwas menjawab: “Dia telah mengampuniku dan memberiku semua nikmat ini”. Kemudia ia bertanya lagi: “Dengan apa padahal engkau telah mencampurkan antara amal salih dan perbuatan jahat?”, dijawabnya: “Sebagian orang salih pernah datang ke beberapa kuburan pada suatu malam, lalu mereka membentangkan tikarnya, kemudian mengerjakan shalat dua rakaat, didalam shalatnya mereka membaca dua ribu kali surah al-Ikhlas, dan mereka berniat memberikan pahalanya untuk para penghuni kubur. Sehingga Allah pun memberikannya kepada para penghuni kubur, sementara aku termasuk bagian dari penghuni kubur tersebut”.

    Al-Wakidi menuturkan bahwa Rasulullah SAW senantiasa mengunjungi kuburan para syuhada di gunung Uhud setiap tahunnya. Ketika sampai pada sebuah jalan di gunung itu, beliau nabi SAW mengangkat tangannya seraya mengucapkan salam: “Keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian, alangkah baiknya tempat kesudahan itu”. Selanjutnya hal itu dilanjutkan oleh Abu Bakar, Umar ibn al-Kaththab, dan Ustman bin Affan. Selain itu, Fatimah ibn Rasulullah SAW juga mengunjunginya dan berdoa.

    Sa’ad ibn Abi Waqah juga mengucapkan salam kepada mereka. Setelah itu, dia mengarahkan pandangannya kepada para sahabatnya seraya berucap: “Mengapa kalian tidak mengucapkan salam kepada orang-orang yang akan menjawab salam kalian?”.

    Abu Hurairah ra menuturkan bahwa Abu Razin bertanya kepada Rasulullah SAW: “Ya Rasulullah, sesungguhnya dalam perjalananku ini, aku melewati kuburan orang-orang yang meninggal dunia. Apakah ada ucapan yang harus aku ucapkan ketika aku berjalan melewatinya?. Beliau nabi SAW lalu menjawab: “Ucapkanlah “As-Salam alaykum ya Ahl al-Qubur min al-muslimin wa al-mu’minin”. Kalian telah mendahului kami, kami akan mengikuti kalian. Insya Allah, kami akan menyusul kalian”. Kemudian Abu Razin kembali bertanya: “Ya Rasulullah, apakah mereka itu mendengar?”. Beliau menjawab: “Mereka itu mendengar, tetapi mereka tidak dapat menjawab”. Lebih lanjut beliau bersabda: “Ya Abu Razin, tidakkah engkau meridhai jika malaikat sebanyak jumlah merekalah yang menjawab salam kepadamu?”.

    Dalam hadis riwayat Muslim dituturkan dari Abu Hurairah ra yang meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah mendatangi suatu kuburan seraya mengucapkan: “Salam sejahtera kepada kalian yang menempati tempat orang-orang yang beriman ini. Jika Allah menghendaki, kami akan menyusul kalian”.

    Al-Hafizh ibn Rajab menerima kabar dari Ali ibn Abdushshamad yang diterimanya dari Ahmad al-Baghdadi. Ayah Ahmad al-Baghdadi menuturkan bahwa Qastantin ibn Abdillah ar-Rumi menerima kabar dari Al-Asad ibn Musa. Dia berkata: “Aku memiliki seorang teman yang sudah meninggal, lalu aku bermimpi bertemu dengannya. Dia berkata kepadaku:

    “Subhanallah, engkau telah datang kepada temanmu, si Fulan., dan berdoa untuknya serta memohonkan rahmat baginya. Sedangkan aku engkau biarkan, tidak engkau datangi dan dekati”. Kutanyakan: “Tahukah engkau apa yang aku kerjakan?”, dia menjawab: “Engkau mendatangi kuburan temanmu, si Fulan, dan aku melihatmu”. Lalu aku bertanya: “Bagaimana mungkin engkau melihatku sedangkan kuburanmu tertutup oleh tanah?, dia menyahut: “Bukankah engkau tidak dapat melihat air yang berada di dalam gelas?”, aku menjawab: “Ya”. Kemudian ia mengatakan: “Demikianlah kami melihat orang-orang berziarah kepada kami”. Ath-Thabrani meriwayatkan dari Taswban yang menuturkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Aku pernah melarang kalian berziarah kubur, sekarang berziarahlah, jadikanlah ziarah kubur kalian sebagai doa sekaligus permohonan ampunan bagi mereka”. Ibn Abi ad-Dunya menuturkan riwayat dari Aisyah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seseorang berziarah ke kuburan saudaranya dan duduk disisinya, melainkan saudara yang telah meninggal itu akan menyambut dan menjawab salamnya hingga dia berdiri”.

    Ibn Abi ad-Dunya menuturkan riwayat dari Abu Hurairah ra, bahwa jika seseorang melewati kuburan orang yang dikenalnya, lalu dia mengucapkan salam kepadanya, niscaya penghuninya akan menjawab salamnya dan mengetahui kehadirannya. Jika seseorang melewati kuburan orang yang tidak dikenalnya, lalu dia mengucapkan salam, niscaya penghuninya itu pun akan menjawab salamnya itu.

    Ibn Abi ad-Dunya menuturkan riwayat dari Ibnu Abbas ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seseorang melewati kuburan saudaranya yang beriman yang dikenalnya di dunia, lalu dia mengucapkan salam kepadanya, melainkan dia mengetahui dan menjawab salamnya”.

    Dalam Al-Arba’in ath-Tha’iyah menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Seorang mayat akan merasa senang di dalam kuburnya jika dikunjungi oleh orang yang dicintainya di dunia”.

    Hadis riwayat Ath-Thabrani yang meriwayatkan dari Ibn Amr menyebutkan, bahwa Rasulullah SAW ketika pulang dari perang Uhud melewati kuburan Mush’ab ibn Umar, lalu beliau Nabi SAW berhenti pada kuburannya dan kuburan para sahabat lainnya, seraya bersabda: “Aku bersaksi bahwa kalian hidup di sisi Allah, oleh karena itu, hendaklah kalian ziarahi mereka dan ucapkan salam kepada mereka. Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang mengucapkan salam kepada mereka melainkan mereka akan menjawabnya sampai hari Kiamat”.

    Abu Al-Qasim Sa’ad ibn Ali al-Zunjani menuturkan riwayat dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang masuk pekuburan, lalu membaca surah Al-Fatihah, surah Al-Ikhlas, surah at-Takatsur, kemudian berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya aku berniat memberikan pahala atas apa yang aku baca ini kepada penghuni kubur yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan”, maka mereka akan menjadi pemohon syafaat kepada Allah SWT baginya”.

    Abdul Aziz menuturkan riwayat dari Anas ibn Malik ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang masuk kuburan, lalu ia membaca surah Yasin, Allah akan memberikan keringanan kepada mereka, sedangkan dia akan memperoleh kebaikan sejumlah penghuni kubur yang ada disitu”.

    Amr ibn Jarir pernah manyampaikan bahwa jika seorang hamba berdoa untuk saudaranya yang sudah meninggal dunia, dengan doa itu akan datang malaikat ke kuburnya seraya mengatakan: “Wahai penghuni kubur ini, inilah hadiah dari saudaramu yang menaruh kasihan terhadapmu”.

    Dalam Al-Awsath, Ath-Thabrani meriwayatkan dari Anas ibn Malik bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Umatku adalah umat yang disayang, mereka masuk ke kubur mereka dengan penuh dosa dan keluar darinya dalam keadaan bersih dari dosa, yang demikian itu karena istighfar orang-orang mukmin”.

    Al-Bayhaqi dalam Syu’ab al-Iman mengatakan bahwa Ibn Abbas menuturkan Rasulullah SAW pernah bersabda: “Tidaklah seorang mayat didalam kuburnya melainkan seperti orang tenggelam yang memohon bantuan, yang menunggu doa dari ayah, ibu, anak, atau temannya. Jika doa itu telah dipanjatkan, yang demikian itu lebih dicintainya daripada dunia dan seisinya. Sesungguhnya Allah SWT akan memasukkan kepada ahli kubur doa dari orang yang masih hidup yang menyerupai gunung. Sesungguhnya hadiah yang dapat diberikan orang yang masih hidup kepada orang yang sudah meninggal adalah istighfar”.

    Imam Ahmad, juga At-Turmudzi, meriwayatkan bahwa Ibn Umar pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan”.

    Abu Nashr Khalaf al-Wizan bertutur: Yusuf ibn al-Husayn ar-Razi ash-Shufi pernah diperlihatkan didalam mimpinya, dikatakan kepadanya: “Bagaimana perlakuan Allah terhadapmu?”, dijawabnya: “Dia mengampuni dan mengasihiku”. Kemudian aku bertanya: “Dengan apa?”, dijawabnya: “Dengan satu kalimat yang aku ucapkan ketika meninggal”. Setelah itu, aku pun memanjatkan doa: “Ya Allah, aku telah menasihati orang-orang yang mengucapkan sesuatu, tetapi aku mengkhianati diriku sendiri dengan tidak melakukannya”.

    Wallahu’alam bishawab.

    ***

    Dikutip dari “Syarh ash-Shudur bi Syarh Hal al-Mawta wa al-Qubur” yang ditulis oleh al-Imam Jalaluddin as-Suyuthi dan diterjemahkan oleh Muhammad Abdul Ghoffar yang diterbitkan oleh Pustaka Hidayah, Bandung dengan judul sampul “Ziarah ke Alam Barzakh”.

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 19 January 2019 Permalink | Balas  

    Mbah Jum 

    Mbah Jum

    Oleh : Irene Radjiman

    Begitulah beliau dipanggil. Aku sempat bertemu dengannya 5 tahun yang lalu saat berlibur di Kasian Bantul Yogyakarta. Nama desanya saya lupa.

    Mbah Jum seorang tuna netra yang berprofesi sebagai pedagang tempe. Setiap pagi beliau dibonceng cucunya ke pasar untuk berjualan tempe. Sesampainya dipasar tempe segera digelar. Sambil menunggu pembeli datang, disaat pedagang lain sibuk menghitung uang dan ngerumpi dengan sesama pedagang, mbah Jum selalu bersenandung sholawat. Cucunya meninggalkan mbah Jum sebentar, karena ia juga bekerja sebagai kuli panggul dipasar itu. Dua jam kemudian, cucunya datang kembali untuk mengantar simbahnya pulang kerumah. Tidak sampai 2 jam dagangan tempe mbah Jum sudah habis ludes. Mbah Jum selalu pulang paling awal dibanding pedagang lainnya. Sebelum pulang mbah Jum selalu meminta cucunya menghitung uang hasil dagangannya dulu. Bila cucunya menyebut angka lebih dari 50 ribu rupiah, mbah Jum selalu minta cucunya mampir ke masjid untuk memasukkan uang lebihnya itu ke kotak amal.

    Saat kutanya : “kenapa begitu ?”

    “karena kata simbah modal simbah bikin tempe Cuma 20 ribu. Harusnya simbah paling banyak dapetnya yaa 50 ribu. Kalau sampai lebih berarti itu punyanya gusti Allah, harus dikembalikan lagi. Lha rumahnya gusti Allah kan dimasjid mbak, makanya kalau dapet lebih dari 50 ribu, saya diminta simbah masukkin uang lebihnya kemasjid.”

    “Lho, kalo sampai lebih dari 50 ribu, itukan hak simbah, kan artinya simbah saat itu bawa tempe lebih banyak to ?” Tanyaku lagi

    “Nggak mbak. Simbah itu tiap hari bawa tempenya ga berubah-ubah jumlahnya sama.” Cucunya kembali menjelaskan padaku.

    “Tapi kenapa hasil penjualan simbah bisa berbeda-beda ?” tanyaku lagi

    “Begini mbak, kalau ada yang beli tempe sama simbah, karena simbah tidak bisa melihat, simbah selalu bilang, ambil sendiri kembaliannya. Tapi mereka para pembeli itu selalu bilang, uangnya pas kok mbah, ga ada kembalian. Padahal banyak dari mereka yang beli tempe 5 ribu, ngasih uang 20 ribu. Ada yang beli tempe 10 ribu ngasih uang 50 ribu. Dan mereka semua selalu bilang uangnya pas, ga ada kembalian. Pernah suatu hari simbah dapat uang 350 ribu. Yaaa 300 ribu nya saya taruh dikotak amal masjid.” Begitu penjelasan sang cucu.

    Aku melongo terdiam mendengar penjelasan itu. Disaat semua orang ingin semuanya menjadi uang, bahkan kalau bisa kotorannya sendiripun disulap menjadi uang, tapi ini mbah Jum…?? Aahhh…. Logikaku yang hidup di era kemoderenan jahiliyah ini memang belum sampai.

    Sampai rumah pukul 10:00 pagi beliau langsung masak untuk makan siang dan malam. Ternyata mbah Jum juga seorang tukang pijat bayi (begitulah orang dikampung itu menyebutnya). Jadi bila ada anak-anak yang dikeluhkan demam, batuk, pilek, rewel, kejang, diare, muntah-muntah dan lain-lain, biasanya orang tua mereka akan langsung mengantarkan ke rumah mbah Jum. Bahkan bukan hanya untuk pijat bayi dan anak-anak, mbah Jum juga bisa membantu pemulihan kesehatan bagi orang dewasa yang mengalami keseleo, memar, patah tulang, dan sejenisnya. Mbah Jum tidak pernah memberikan tarif untuk jasanya itu, padahal beliau bersedia diganggu 24 jam bila ada yang butuh pertolongannya. Bahkan bila ada yang memberikan imbalan untuk jasanya itu, ia selalu masukan lagi 100% ke kotak amal masjid. Ya! 100%! anda kaget? sama, saya juga kaget.

    Ketika aku kembali bertanya : “kenapa harus semuanya dimasukkan ke kotak amal ?”

    mbah Jum memberi penjelasan sambil tersenyum :

    “Kulo niki sakjane mboten pinter mijet. Nek wonten sing seger waras mergo dipijet kaleh kulo, niku sanes kulo seng ndamel seger waras, niku kersane gusti Allah. Lha dadose mbayare mboten kaleh kulo, tapi kaleh gusti Allah.” (Saya itu sebenarnya nggak pinter mijit. Kalau ada yang sembuh karena saya pijit, itu bukan karena saya, tapi karena gusti Allah. Jadi bayarnya bukan sama saya, tapi sama gusti Allah).

    Lagi-lagi aku terdiam. Lurus menatap wajah keriputnya yang bersih. Ternyata manusia yang datang dari peradaban kapitalis akan terkaget-kaget saat dihadapkan oleh peradaban sedekah tingkat tinggi macam ini. Dimana di era kapitalis orang sekarat saja masih bisa dijadikan lahan bisnis. Jangankan bicara GRATIS dengan menggunakan kartu BPJS saja sudah membuat beberapa oknum medis sinis.

    Mbah Jum tinggal bersama 5 orang cucunya. Sebenarnya yang cucu kandung mbah Jum hanya satu, yaitu yang paling besar usia 20 tahun (laki-laki), yang selalu mengantar dan menemani mbah Jum berjualan tempe dipasar. 4 orang cucunya yang lain itu adalah anak-anak yatim piatu dari tetangganya yang dulu rumahnya kebakaran. Masing-masing mereka berumur 12 tahun (laki-laki), 10 tahun (laki-laki), 8 tahun (laki-laki) dan 7 tahun (perempuan).

    Dikarenakan kondisinya yang tuna netra sejak lahir, membuat mbah Jum tidak bisa membaca dan menulis, namun ternyata ia hafal 30 juz Al-Quran. Subhanallah…!! Cucunya yang paling besar ternyata guru mengaji untuk anak-anak dikampung mereka. Ke-4 orang cucu-cucu angkatnya ternyata semuanya sudah qatam Al-Quran, bahkan 2 diantaranya sudah ada yang hafal 6 juz dan 2 juz.

    “Kulo niki tiang kampong. Mboten saget ningali nopo-nopo ket bayi. Alhamdulillah kersane gusti Allah kulo diparingi berkah, saget apal Quran. Gusti Allah niku bener-bener adil kaleh kulo.” (saya ini orang kampong. Tidak bisa melihat apapun dari bayi. Alhamdulillah kehendak gusti Allah, saya diberi keberkahan, bisa hafal Al-Quran. Gusti Allah itu benar-benar adil sama saya).

    Itu kata-kata terakhir mbah Jum, sebelum aku pamit pulang. Kupeluk erat dia, kuamati wajahnya. Kurasa saat itu bidadari surga iri melihat mbah Jum, karena kelak para bidadari itu akan menjadi pelayan bagi mbah Jum.

    Matur nuwun mbah Jum, atas pelajaran sedekah tingkat tinggi 5 tahun yang lalu yang sudah simbah ajarkan pada saya di pelosok desa Yogyakarta.

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 18 January 2019 Permalink | Balas  

    Apa Pantas Berharap Surga? 

    Apa Pantas Berharap Surga?

    Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudahlah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek saja agar lekas selesai. Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, terlipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan: “Kalau tidak terlambat” atau “Asal nggak bangun kesiangan”. Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?

    Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya. Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan, kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.

    Baca Qur’an sesempatnya, tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar, padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah hatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas. Yang begini ngaku beriman?

    Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka untuk meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi.

    Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, itu pun dipilih mata uang terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudah lah jarang beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa sih susahnya senyum? Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah?

    Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata miliki Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepada musuhnya sekali pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.

    Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, ya tetangga sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh temeh, tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri. Detik demi detik dada ini terus jengkel setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka atau mendapatkan bencana. Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini? Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak?

    Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orang beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu? Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri?

    Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalah lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apa pun selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka besarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah. Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?

    Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yang disebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Bukankah Rasulullah yang tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah? Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka? Jangan tunggu penyesalan.

    Astaghfirullaah .

    Oleh/ Kiriman Sahabat: Bayu Gautama

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 17 January 2019 Permalink | Balas  

    Mereka Yang Dilaknat Allah SWT 

    Mereka Yang Dilaknat Allah SWT

    Segala puji bagi Allah SWT, hanya kepada-Nya kita bersyukur dan memohon pertolongan-Nya serta memohon ampunan-Nya. Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari kejahatan nafsu kita dan kejahatan perbuatan kita. Barangsiapa memperoleh hidayah-Nya, maka tiada sesuatu yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkan-Nya maka tiada sesuatu yang dapat memberinya hidayah.

    Kita bersaksi bahwa nabi Muhammad SAW itu adalah hamba dan Rasul-Nya, kekasih dan kesayangan-Nya. Ia adalah manusia utama dan termulia, baik yang dahulu maupun sekarang. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan shalawat dan salam kepadanya, kepada keluarganya, dan kepada semua nabi-Nya, kepada semua keluarga mereka, juga kepada hamba-hamba-Nya yang shalih.

    Allah SWT menciptakan manusia tiada lain maksud dan tujuannya hanya untuk menyembah-Nya. Allah SWT menegaskan itu dalam firman-Nya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS:Az-Zariyat: 56).

    Oleh sebab itu setiap kita shalat, selalu kita tegaskan lagi kesaksian pengabdian kita: “Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil-’alamiin”. “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku, dan matiku, semata hanya untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam”.

    Pertama-tama manusia itu harus selalu menyembah-Nya dan itu berarti manusia harus senatiasa patuh kepada perintah-Nya dengan melaksanakannya dalam bentuk amal perbuatan, serta tidak mengingkari ayat-ayat yang disampaikan-Nya melalui Rasul-Nya, nabi Muhammad SAW. Mengingkarinya berarti telah kufur lagi kafir.

    Termasuk dalam kufur dan kafir ini adalah mereka yang mengingkari ajaran Rasul-Nya, menutup-nutupi ajaran-Nya. Kufur ucapan ditandai dengan meyakini kepercayaan lain yang bukan dari Allah SWT, serta mengejek ajaran Dienullah. Kufur perbuatan ditandai dengan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan Islam , justru mendukung kepercayaan lain selain Islam. Segala macam bentuk kekufuran apabila dilakukan oleh seorang muslim, maka pada hakikatnya dia telah tergolong ingkar serta murtad. Dan orang yang sampai matinya tetap berada dalam kekufuran itu akan dilaknati oleh Allah Ta’ala. Laknat Allah SWT berarti dikutuk dan dijauhkan-Nya dari rahmat-Nya. Sedangkan laknat manusia berarti dimaki oleh manusia karena keburukan dan kejahatan perbuatannya itu.

    Allah SWT menegaskan hal itu dalam firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu akan mendapat laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya. Mereka kekal didalam laknat itu; tidak akan diringankan siksa itu dari mereka dan tidak (pula) mereka diberi tangguh”. (QS:Al-Baqarah:161-162). Yang pertama kali mendapat laknat Allah SWT adalah iblis. Iblis patut dilaknat karena kesombongannya dan tekadnya untuk melakukan seluruh upaya agar manusia terjerumus ke syirik dengan menyembah kepada selain-Nya.

    Allah SWT berfirman: “Iblis menjawab:”Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)”. (QS:Al-Araf:16-17).

    Apabila iblis tak berhasil mencapai tujuannya itu, maka dia akan merayu seraya membujuk manusia agar berbuat kejahatan, kekejian, dan dusta terhadap Allah SWT.

    Allah SWT berfirman: “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan dari pada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) laga Maha Mengetahui”. (QS:Al-Baqarah:268).

    Allah SWT juga mengutuk mereka yang mempunyai ilmu tetapi tidak disampaikan atau disebarkan malah disembunyikannya. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati. Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang“. (QS:Al-Baqarah:159-160).

    Sebagian ulama berpendapat bahwa segala segala ”ibrah berlaku secara umum, dan bukan berlaku khusus terhadap asbabun nuzulnya saja. Sehingga dengan demikian yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah siapa saja yang menyembunyikan hak dan kebenaran, serta mencampakkannya ke belakang punggung mereka apa-apa yang diperlukan umat dari ajaran Diennullah yang benar. Termasuk juga bagi para ulama yang telah menyembunyikan kebenaran ayat Allah karena kepentingannya dan didorong oleh nafsu syahwatnya.

    Kemudian, orang yang zalim adalah orang yang dikutuk oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman: “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat dusta terhadap Allah?. Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi akan berkata: ”Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka’. Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim”. (QS: Huud: 18).

    Selain itu, orang yang mengabaikan hukum yang diturunkan Allah SWT serta menolak pelaksanaannya termasuk orang-orang yang zalim. Allah SWT berfirman: “Dan kami telah tetapkan terhadap mereka didalamnya (At-Taurat) bahwasanya jiwa(dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qishashnya. Barangsiapa melepaskan (hak qishashnya) maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim”. (QS:Al-Maidah:45).

    Begitu juga orang-orang yang memberikan kekuasaan dan menyerahkan kepemimpinan dirinya kepada orang musyrik, maka dia termasuk orang yang zalim. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa diantara kamu yang menjadikan mereka pemimpim-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (QS:At-Taubah:23).

    Kita sering berpura-pura tidak mengerti terhadap segala kekufuran dan kejahatan yang telah kita lakukan. Selama ini sebenarnya sudah banyak teguran yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita, namun diri kita membutakan mata menulikan telinga, serta menutup mata batin kita akan kebenaran itu. Bahkan kita ikutan mencoba menutup-nutupi dan menyembunyikan kebenaran itu, semata karena memperturutkan dorongan nafsu syahwat kita. Sesungguhnya kita harus jujur terhadap apa yang sebenarnya ada dalam diri kita, karena sekali pun itu tak diketahui oleh orang lain, tetapi ingatlah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala perbuatan dan rahasia kita.

    Wallahu’alambishawab.

    • * *

    Disadur dari Al Mai’unin wal Mal’unat Minarrijaali wannisa’ yang ditulis oleh Majid Assayyid Ibrahim dan diterbitkan oleh Gema Insani Pers.

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 16 January 2019 Permalink | Balas  

    Renungan Kisah Kematian 

    Renungan Kisah Kematian

    Barangsiapa yang mengharapkan mati syahid dgn sepenuh hati, maka ALLAH akan memberikan mati syahid kepadanya meskipun ia mati ditempat tidur (hadis).

    Dunia hanya satu terminal dari seluruh fase kehidupan. Hanya Allah yang tahu rentang usia seorang manusia.

    **

    Saya, Khadijah sebut saja demikian, menikah dengan Muhammad, 3 Oktober 1993. Muhammad adalah kakak kelas saya di IPB. Selama menikah, suami sering mengingatkan saya tentang kematian, tentang syurga, tentang syahid, dan sebagainya. Setiap kami bicara tentang sesuatu, ujung2nya bicara tentang kematian dan indahnya syurga itu bagaimana. Kalau kita bicara soal nikmatnya materi, suami mengaitkannya dengan kenikmatan syurga yang lebih indah. Bahkan, berulang-ulang dia mengatakan, nanti kita ketemu lagi di syurga. Itu mempunyai makna yang dalam bagi saya.

    Hari itu, 16 Januari 1996, kami ke rumah orang tua di Jakarta. Seolah suami mengembalikan saya kepada orang tua. Malam itu juga, suami saya mengatakan harus kembali ke Bogor, karena harus mengisi diklat besok paginya. Menurutnya, kalau berangkat pagi dari Jakarta khawatir terlambat.

    Mendekati jam 12 malam, saya bangun dari tidur, perut saya sakit, keringat dingin mengucur, rasanya ingin muntah. Saya bilang pada ibu saya, untuk diobati. Saya kira maag saya kambuh. Saya sempat berpikir suami saya di sana sudah istirahat, sudah senang, sudah sampai karena berangkat sejak maghrib. Saya juga berharap kalau ada suami saya mungkin saya dipijitin atau bagimana. Tapi rupanya pada saat itulah terjadi peristiwa tragis menimpa suami saya.

    Jam tiga malam, saya terbangun. Kemudian saya shalat. Entah kenapa, meskipun badan kurang sehat, saya ingin ngaji. Lama sekali saya menghabiskan lembar demi lembar mushaf kecil saya. Waktu shubuh rasanya lama sekali. Badan saya sangat lelah dan akhirnya tertidur hingga subuh. Pagi harinya, saya mendapat berita dari seorang akhwat di Jakarta, bahwa suami saya dalam kondisi kritis. Karena angkutan yang ditumpanginya hancur ditabrak truk tronton di jalan raya Parung. Sebenarnya waktu itu suami saya sudah meninggal. Mungkin sengaja beritanya dibuat begitu biar saya tidak kaget. Namun tak lama kemudian, ada seorang teman di Jakarta yang memberitahukan bahwa beliau sudah meninggal. Inna lillahi wainna ilaihi rajiun.

    Entah kenapa, mendengar berita itu hati saya tetap tegar. Saya sendiri tidak menyangka bisa setegar itu. Saya berusaha membangun keyakinan bahwa suami saya mati syahid. Saya bisa menasihati keluarga dan langsung ke Bogor. Disana, suami saya sudah dikafani. Sambil menangis saya menasihati ibu, bahwa dia bukan milik kita. Kita semua bukan milik kita sendiri tapi milik ALLAH.

    Alhamdulillah ALLAH memberi kekuatan. Kepada orang2 yang bertakziah waktu itu, saya mengatakan : “Doakan dia supaya syahid.. doakan dia supaya syahid”. Sekali lagi ketabahan saya waktu itu semata datang dari ALLAH, kalau tidak, mungkin saya sudah pingsan. Seperti tuntunan Islam, segala hutang orang yang meninggal harus ditunaikan. Meski tidak ada catatannya, tapi tanpa disadari, saya ingat sekali hutang2 suami. Saya memang sering bercanda sama suami, “Mas kalau ada hutang, catat. Nanti kalau Mas meninggal duluan saya tahu saya harus bayar berapa.” Canda itu memang se! ring muncul ketika kami bicara masalah kematian. Sampai saya pernah bilang pada suami saya, “kalau mas meninggal duluan, saya yang mandiin. Kalau mas meninggal duluan, saya kembali lagi ke ummi, jadi anaknya lagi.” Semua itu akhirnya menjadi kenyataan.

    Beberapa hari setelah musibah itu, saya harus kembali ke rumah kontrakan di Bogor untuk mengurus surat2. Saat saya buka pintunya, tercium bau harum sekali. Hampir seluruh ruangan rumah itu wangi. Saya sempat periksa barangkali sumber wangi itu ada pada buah-buahan, atau yang lainnya. Tapi tidak ada. Ruangan yang tercium paling wangi, tempat tidur suami dan tempat yang biasa ia gunakan bekerja.

    Beberapa waktu kemudian, dalam tidur, saya bermimpi bersalaman dengan dia. Saya cium tangannya. Saat itu dia mendoakan saya: “Zawadakillahu taqwa waghafara dzanbaki, wa yassara laki haitsu ma kunti” (Semoga Allah menambah ketakwaan padamu, mengampuni dosamu, dan mempermudah segala urusanmu di manasaja). Sambil menangis, saya balas doa itu dengan doa serupa.

    Semasa suami masih hidup, doa itu memang biasa kami ucapkan ketika kami akan berpisah. Saya biasa mencium tangan suami bila ia ingin keluar rumah. Ketika kami saling mengingatkan, kami juga saling mendoakan.

    Banyak doa-doa yang diajarkan suami saya. Ketika saya sakit, suami saya menulis doa di white board. Sampai sekarang saya selalu baca doa itu. Anak saya juga hafal. Saya banyak belajar darinya. Dia guru saya yang paling baik. Dia juga bisa menjelaskan bagaimana indahnya syurga. Bagaimana indahnya syahid.

    Waktu saya wisuda, 13 Januari 1996 saya sempat bertanya pada suami, “Mas nanti saya kerja di mana?” Suami diam sejenak. Akhirnya suami saya mengatakan supaya wanita itu memelihara jati diri. Saya bertanya, “Maksudnya apa?”, “Beribadah, bekerja membantu suaminya, dan bermasyarakat”. Saya berpikir bahwa saya harus mengurus rumah tangga dengan baik. Tidak usah memikir! kan pekerjaan. Sekarang, setiap bulan saya hidup dari pensiun pegawai negeri suami. Meskipun sedikit, tapi saya merasa cukup. Dan rejeki dari ALLAH tetap saja mengalir. ALLAH memang memberi rejeki pd siapa saja, dan tidak tergantung kepada siapa saja. Katakanlah meski suami saya tidak ada,tapi rejeki ALLAH itu tidak akan pernah habis.

    Insya ALLAH saya optimis dengan anak2 saya. Saya ingat sabda Nabi : “Aku dan pengasuh anak yatim seperti ini”, sambil mendekatkan kedua buah jari tangannya. Saya bukan pengasuh anak yatim, tapi ibunya anak yatim. Meski masih kecil-kecil, saya sudah merasakan kedewasaan mereka. Kondisi yang mereka alami, membuat mereka lebih cepat mengerti tentang kematian, neraka, syurga bahkan tentang syahid. Rezeki yang saya terima, tak mustahil lantaran keberkahan mereka.

    ***

    Kiriman Sahabat Satriyo

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 15 January 2019 Permalink | Balas  

    Usai Menyaksikan Jenazah Raja Fahd, Seorang Pendeta Italia Masuk Islam 

    Usai Menyaksikan Jenazah Raja Fahd, Seorang Pendeta Italia Masuk Islam

    Hidayah Allah datangnya tidak bisa diraba-raba. Apabila Allah menghendaki maka ia akan mendatangi hamba yang berbahagia itu. Demikianlah kisah seorang pendeta asal Italia. Seorang pendeta terkenal di Italia mengumumkan masuk Islam setelah menyaksikan jenazah raja Arab Saudi, Fahd bin Abdul Aziz, untuk kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat. Hal itu terjadi setelah ia melihat betapa sederhananya prosesi pemakaman jenazah yang jauh dari pengeluaran biaya yang mahal dan berlebihan.

    Sang mantan pendeta telah mengikuti secara seksama prosesi pemakaman sang Raja yang bersamaan waktunya dengan jenazah yang lain. Ia melihat tidak ada perbedaan sama sekali antara kedua jenazah tersebut. Keduanya sama-sama dishalatkan dalam waktu yang bersamaan. Pemandangan ini meninggalkan kesan mendalam tersendiri pada dirinya sehingga gambaran persamaan di dalam Islam dan betapa sederhananya prosesi pemakaman yang disaksikan oleh seluruh dunia di pekuburan ‘el-oud’ itu membuatnya masuk Islam dan merubah kehidupannya. Tidak ada perbedaan sama sekali antara kuburan seorang raja dan penguasa besar dengan kuburan rakyat jelata. Karena itulah, ia langsung mengumumkan masuk Islam.

    Salah seorang pengamat masalah dakwah Islam mengatakan, kisah masuk Islamnya sang pendeta tersebut setelah sekian lama perjalanan yang ditempuh mengingatkan pada upaya besar yang telah dikerahkan di dalam mengenalkan Islam kepada sebagian orang-orang Barat. Ada seorang Da’i yang terus berusaha sepanjang 15 tahun untuk berdiskusi dengan pendeta ini dan mengajaknya masuk Islam. Tetapi usaha itu tidak membuahkan hasil hingga ia sendiri menyaksikan prosesi pemakaman Raja Fahd yang merupakan pemimpin yang dikagumi dan brilian. Baru setelah itu, sang pendeta masuk Islam.

    Sang Muslim baru yang mengumumkan keislamannya itu pada hari prosesi pemakaman jenazah pernah berkata kepada Dr al-Malik, “Buku-buku yang kalian tulis, surat-surat kalian serta diskusi dan debat yang kalian gelar tidak bisa mengguncangkanku seperti pemandangan yang aku lihat pada pemakaman jenazah raja Fahd yang demikian sederhana dan penuh toleransi ini.” Ia menambahkan, “Pemandangan para hari Selasa itu akan membekas pada jiwa banyak orang yang mengikuti prosesi itu dari awal seperti saya ini.”

    Ia meminta agar kaum Muslimin antusias untuk menyebarkan lebih banyak lagi gambaran toleransi Islam dan keadilannya agar dapat membekas pada jiwa orang lain. Ia menegaskan, dirinya telah berjanji akan mengerahkan segenap daya dan upaya dari sisa usianya yang 62 tahun in untuk menyebarkan gambaran Islam yang begitu ideal. Semoga Allah menjadikan keislamannya berkah bagi alam semesta.(istod/AH) Netter Al-Sofwa yang dimuliakan Allah Ta’ala, Menyampaikan Kebenaran adalah kewajiban setiap Muslim. Kesempatan kita saat ini untuk berdakwah adalah dengan menyampaikan buletin ini kepada saudara-saudara kita yang belum mengetahuinya.

    Semoga Allah Ta’ala Membalas ‘Amal Ibadah Kita. Aamiin Waassalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 14 January 2019 Permalink | Balas  

    Sakaratul Maut Orang-orang Yang Bertaqwa 

    Sakaratul Maut Orang-orang Yang Bertaqwa

    Sebaliknya Imam Ghozali mengatakan bahwa orang beriman akan melihat rupa Malaikatul Maut sebagai pemuda tampan, berpakaian indah dan menyebarkan wangi yang sangat harum.

    Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab: “(Allah telah menurunkan) kebaikan”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa, (yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Assalamu alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. (QS, An-Nahl, 16 : 30-31-32)

    Dan saat terakhir sakaratul mautnya, malaikatpun akan menunjukkan surga yang akan menjadi rumahnya kelak di akhirat, dan berkata padanya, “Bergembiaralah, wahai sahabat Allah, inilah rumahmu kelak, bergembiralah dalam masa menunggumu”

    Wallahu a’lam bish-shawab.

    Semoga kita yang masih hidup dapat selalu dikaruniai hidayah-Nya, berada dalam jalan yang benar, selalu istiqomah dalam keimanan, dan termasuk umat yang dimudahkan-Nya, selama hidup di dunia, di akhir hidup, ketika sakaratul maut, di alam barzakh, di Padang Mahsyar, di jembatan jembatan Sirath-al mustaqim, dan seterusnya.

    Amin !

    ***

    Kiriman Sahabat ABDI Mu

    “Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sekejab, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri” (Imam Ghozali mengutip atsar Al-Hasan).

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 13 January 2019 Permalink | Balas  

    Sakaratul Maut Orang-orang Zhalim 

    Sakaratul Maut Orang-orang Zhalim

    Imam Ghozali mengutip sebuah riwayat yang menceritakan tentang keinginan Ibrahim as untuk melihat wajah Malaikatul Maut ketika mencabut nyawa orang zhalim. Allah SWT pun memperlihatkan gambaran perupaan Malaikatul Maut sebagai seorang pria besar berkulit legam, rambut berdiri, berbau busuk, memiliki dua mata, satu didepan satu dibelakang, mengenakan pakaian serba hitam, sangat menakutkan, dari mulutnya keluar jilatan api, ketika melihatnya Ibrahim as pun pingsan tak sadarkan diri. Setelah sadar Ibrahim as pun berkata bahwa dengan memandang wajah Malaikatul Maut rasanya sudah cukup bagi seorang pelaku kejahatan untuk menerima ganjaran hukuman kejahatannya, padahal hukuman akhirat Allah jauh lebih dahsyat dari itu.

    Kisah ini menggambarkan bahwa melihat wajah Malakatul Maut saja sudah menakutkan apalagi ketika sang Malaikat mulai menyentuh tubuh kita, menarik paksa roh dari tubuh kita, kemudian mulai menghentak-hentak tubuh kita agar roh (yang masih enggan meninggalkan dunia) lepas dari tubuh kita ibarat melepas akar serabut-serabut baja yang tertanam sangat dalam di tanah yang terbuat dari timah keras.

    Itulah wajah Malaikatul Maut yang akan mendatangi kita kelak dan memisahkan roh dari tubuh kita. Itulah wajah yang seandainya kita melihatnya dalam mimpi sekalipun maka kita tidak akan pernah lagi bisa tertawa dan merasakan kegembiraan sepanjang sisa hidup kita.

    Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (QS Al-An’am 6:93)

    (Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat lalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); “Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatan pun”. (Malaikat menjawab): “Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan”. Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu. (QS, An-Nahl, 16 : 28-29)

    Di akhir sakaratul maut, seorang manusia akan diperlihatkan padanya wajah dua Malaikat Pencatat Amal. Kepada orang zhalim, si malaikat akan berkata, “Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik, engkaulah yang membuat kami terpaksa hadir kami ke tengah-tengah perbuatan kejimu, dan membuat kami hadir menyaksikan perbuatan burukmu, memaksa kami mendengar ucapan-ucapan yang burukmu. Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik ! “ Ketika itulah orang yang sekarat itu menatap lesu ke arah kedua malaikat itu.

    Ketika sakaratul maut hampir selesai, dimana tenaga mereka telah hilang dan roh mulai merayap keluar dari jasad mereka, maka tibalah saatnya Malaikatul Maut mengabarkan padanya rumahnya kelak di akhirat. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tak seorangpun diantara kalian yang akan meninggalkan dunia ini kecuali telah diberikan tempat kembalinya dan diperlihatkan padanya tempatnya di surga atau di neraka”.

    Dan inilah ucapan malaikat ketika menunjukkan rumah akhirat seorang zhalim di neraka, “Wahai musuh Allah, inilah rumahmu kelak, bersiaplah engkau merasakan siksa neraka”. Naudzu bila min dzalik!

    ***

    Kiriman Sahabat ABDI Mu

    “Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sekejab, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri” (Imam Ghozali mengutip atsar Al-Hasan).

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 12 January 2019 Permalink | Balas  

    Dahsyatnya Rasa Sakit Saat Sakaratul Maut 

    Dahsyatnya Rasa Sakit Saat Sakaratul Maut

    Sabda Rasulullah SAW : “Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR Tirmidzi)

    Sabda Rasulullah SAW : “Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?” (HR Bukhari)

    Atsar (pendapat) para sahabat Rasulullah SAW : Ka’b al-Ahbar berpendapat : “Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan kedalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itupun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa”

    Imam Ghozali berpendapat : “Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut menghujam jiwa dan menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bagian orang yang sedang sekarat merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki”.

    Imam Ghozali juga mengutip suatu riwayat ketika sekelompok Bani Israil yang sedang melewati sebuah pekuburan berdoa pada Allah SWT agar Ia menghidupkan satu mayat dari pekuburan itu sehingga mereka bisa mengetahui gambaran sakaratul maut. Dengan izin Allah melalui suatu cara tiba-tiba mereka dihadapkan pada seorang pria yang muncul dari salah satu kuburan. “Wahai manusia!”, kata pria tersebut. “Apa yang kalian kehendaki dariku? Limapuluh tahun yang lalu aku mengalami kematian, namun hingga kini rasa perih bekas sakaratul maut itu belum juga hilang dari hatiku.”

    Proses sakaratul maut bisa memakan waktu yang berbeda untuk setiap orang, dan tidak dapat dihitung dalam ukuran detik seperti hitungan waktu dunia ketika kita menyaksikan detik-detik terakhir kematian seseorang. Mustafa Kemal Attaturk, bapak modernisasi (sekularisasi) Turki, yang mengganti Turki dari negara bersyariat Islam menjadi negara sekular, dikabarkan mengalami proses sakaratul maut selama 6 bulan, seperti dilaporkan oleh salah satu keturunannya melalui sebuah mimpi.

    Rasa sakit sakaratul maut dialami setiap manusia, dengan berbagai macam tingkat rasa sakit, ini tidak terkait dengan tingkat keimanan atau kezhaliman seseorang selama ia hidup. Sebuah riwayat bahkan mengatakan bahwa rasa sakit selama kita hidup dan saat sakaratul maut bisa jadi merupakan suatu proses pengurangan kadar siksaan akhirat kita kelak. Demikianlah rencana Allah. Wallahu a’lam bis shawab.

    ***

    Kiriman Sahabat ABDI Mu

    “Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sekejab, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri” (Imam Ghozali mengutip atsar Al-Hasan).

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 11 January 2019 Permalink | Balas  

    Datangnya Kematian Menurut Al Qur’an 

    Datangnya Kematian Menurut Al Qur’an

    1. Kematian bersifat memaksa dan siap menghampiri manusia walaupun kita berusaha menghindarkan resiko-resiko kematian.

    Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. (QS Ali Imran, 3:154)

    1. Kematian akan mengejar siapapun meskipun ia berlindung di balik benteng yang kokoh atau berlindung di balik teknologi kedokteran yang canggih serta ratusan dokter terbaik yang ada di muka bumi ini.

    Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun? (QS An-Nisa 4:78)

    1. Kematian akan mengejar siapapun walaupun ia lari menghindar

    Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS al-Jumu’ah, 62:8)

    1. Kematian datang secara tiba-tiba

    Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS, Luqman 31:34)

    1. Kematian telah ditentukan waktunya, tidak dapat ditunda atau dipercepat

    Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS, Al-Munafiqun, 63:11)

    ***

    Kiriman Sahabat ABDI Mu

    “Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sekejab, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri” (Imam Ghozali mengutip atsar Al-Hasan).

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 10 January 2019 Permalink | Balas  

    Cerpen: Kisah Cinta dari Masjid Kampus 

    Kisah Cinta dari Masjid Kampus

    Oleh : Ayat Al Akrash (0719)

    (Tahun 2040). Seorang kakek-kakek duduk di sebuah sekret rohis kampus. Sekret itu berukuran 3×3 meter. Kecil, tapi sangat nyaman. Lantainya dialasi karpet coklat. Ada lemari file, kaca besar di sampingnya. Buku-buku Islam tersusun rapi di hadapan kakek itu duduk. Jendela terbuka lebar. Terdengar kicauan dari burung yang ada di dalam sangkar.

    Kerut-kerut di wajahnya sangat kentara. Rambutnya sudah memutih. Ia termenung. Kepalanya tertunduk. Ia tengah memandangi sebuah album foto. Tak jauh darinya, ada setumpuk album foto lainnya. Lama sekali ia memandangi album foto itu.

    Seorang mahasiswa berbaju koko, masuk ke sekret dan sebelum duduk di sebelahnya, ia mengucap salam, sambil mengulurkan tangannya, mencium tangan kakek itu dan mencium pipi kiri dan kanan. “Wa’alaikumsalam Wr Wb,” jawab sang kakek. Untuk beberapa saat mereka saling terdiam. Kakek itu masih asyik menatapi foto-foto tersebut. Membuka-buka halamannya. “Saya suka melihat foto-foto ini, dan saya tak kan pernah bosan melihatnya,” ujar kakek itu memecah kesunyian. Matanya terlihat sayu dan memendam kerinduan yang mendalam. Mahasiswa itu terlihat tak mengerti, tapi kemudian ia berujar, “Ya, Pak saya pernah melihat foto-foto itu, sepertinya orang-orang di dalam foto itu sangat kompak ya.” Mahasiswa itu mendekat dan ikut melihat foto-foto itu. “Lihatlah ikhwan-ikhwan ini, mereka semua sangat kompak,” kata kakek itu sambil menunjuk sebuah foto dan tiba-tiba wajah kakek itu terlihat sumringah. “Tahukah kamu,. untuk mewujudkan ikhwan-ikhwan yang kompak seperti ini, ada pengorbanan dari para senior-senior kami dahulu dan juga dari teman-teman kami sendiri,” kakek itu menjelaskan.

    Mahasiswa itu kemudian bertanya “Bapak sendiri yang mana?” “Saya., yang ini. Bersama teman-teman saya dulu.,” ujar kakek itu sambil menunjuk ke sebuah foto ikhwan yang memakai ikat kepala putih dan slayer biru saat mukhayyam di gunung.

    Tiba-tiba pintu sekret terbuka dan ada enam orang ikhwan berbaju koko, memasuki sekret sambil tertawa riang dan bercerita panjang lebar. Begitu melihat kakek itu, mereka segera mengucap salam, dan bersalaman. “Acaranya baru dimulai 10 menit lagi, Pak,” ujar seorang ikhwan berbaju biru. “Eh, teman-teman, ini tadi beliau sedang cerita. Ternyata ada foto beliau ketika masih seusia kita, lho” ujar mahasiswa tadi. “Wah, yang bener yah.,” seru seorang dari mereka.

    Mereka berebutan untuk melihat album foto dan mengelilingi kakek itu. Terlihatlah foto-foto para aktivis kampus angkatan 1996. Ikhwan dan akhwatnya terlihat sangat kompak. Puluhan akhwat berjilbab rapi berdiri di belakang para ikhwan yang duduk berjongkok sambil memegang spanduk acara. Dan banyak lagi foto-foto yang serupa. Meski sudah 46 tahun yang lalu, namun foto-foto itu masih terjaga baik. Ya.., karena kakek itu menyimpannya.

    Seorang mahasiswa memasuki sekret dan berkata, “Pak, acaranya sudah dimulai.” Mereka semua lalu keluar bersama-sama menuju tempat acara. Kakek itu berjalan menyusuri sepanjang koridor kampus menuju ruangan seminar. Dengan berjalan lambat-lambat, didampingi para mahasiswa. Sepanjang jalan ia disapa oleh setiap mahasiswa yang berpapasan dengannya. Meski kampus swasta, tetapi terlihat lebih mirip pesantren karena hampir semua mahasiswa dan mahasiswinya berjilbab dan mahasiswanya berbaju koko. Kakek itu hadir sebagai pembicara di sebuah seminar bertema, “Menyikapi Kemenangan Da’wah” yang disambut takbir ribuan peserta ikhwan dan akhwat di kampus itu. Kampus yang telah futuh.

    Acara dibuka dengan tilawah dan diawali dengan tampilnya tim nasyid. Ketika tiba saatnya pada materi inti, sang moderator membacakan biodata pembicara. Setelah dipersilahkan untuk menyampaikan materi, kakek itu membukanya dengan basmallah. Ia sempat terdiam sesaat. Dipandanginya aula besar yang berisi ribuan mahasiswa dan mahasiswi. Matanya berkaca-kaca. Ia terkenang akan kenangan masa lalu. Pandangannya nanar.

    (Ruangan itu berubah ke tahun 1996)

    Di tempat yang sama. Ruangan itu lenggang. Terdengar suara, “Nanti kita mengadakan seminarnya di ruang ini saja, karena sound systemnya di sini bagus,” ujar Bram kepada teman-temannya. Beberapa teman yang berada di dekatnya mengangguk tanda setuju. “Tapi, apa tidak terlalu besar ya, Bram . karena pesertanya dikhawatirkan sedikit,” ujar seorang mahasiswi bernama Laras, yang rambutnya diikat ekor kuda. “Saya pikir, tidak Laras.. Tema seminar kali ini cukup menarik, insya Allah anak-anak mahasiswa baru banyak yang datang, kok.”

    Bram bersama tiga temannya berjalan bersama menuju sekret. Di sepanjang jalan menuju kampus, para mahasiswa laki-laki dan perempuan terlihat bercampur baur. Yang mahasiswinya merokok dan mahasiswanya memakai anting. Bahkan ada yang tak malu-malu berpelukan di koridor kampus.

    Bram, mahasiswa semester tiga, fakultas ekonomi di sebuah universitas swasta di Jakarta. Rambutnya lurus dibelah tengah, kulitnya sawo matang, postur tubuhnya sedang, badannya tegap, dan jago bela diri Tae Kwon Do. Ia suka memakai celana bahan dan kemeja lengan panjang. Sehingga tampak sekali keikhwanannya. Suaranya yang lembut namun tegas, membuatnya disegani, sehingga ia didaulat menjadi ketua rohis untuk masa periode itu.

    Krisis Regenerasi dan Optimisme Bram

    Suatu hari, Bang Didit dan Bram membuat janji untuk bertemu di sekret pada pukul 10.00. Di tengah kesunyian sekret, Didit yang notabene adalah DP (Dewan Pembina) senior rohis angkatan ’94, berkata kepada Bram. “Dek, kondisi angkatan ’96 seperti ini. Abang sedikit pesimis.”

    Bram tertunduk. Ia baru saja diangkat menjadi ketua dari organisasi rohis yang kualitas anggotanya, sangat jauh dari harapan, karena mereka masih belum memiliki sikap teguh pendirian dan masih sedikit jiwa berkorbannya untuk dakwah. Pun masih gemar ber-ikhktilat. Namun jauh di lubuk hatinya, Bram tetap optimis, bahwa bila Allah menghendaki, manusia pasti bisa berubah, pasti bisa..

    “Di akhwat juga tidak ada, dek..” tambah Bang Didit, ingin menekankan bahwa hanya Bram yang bisa menjadi motor penggerak dalam organisasi rohis itu. Bram berfikir keras. Amanah berat di pundaknya. Iya., memang kondisi di kampus ini sangatlah berbeda dibanding SMU-nya yang ada di daerah. Dulu di SMU, aktivis bertumpuk dan suasananya sudah sangat islami. Tapi kini, tugas yang akan diembannya sangat berat, yang sampai-sampai para DP pun, sudah di ambang pesimisme. Di lubuk hatinya, Bram memegang teguh janji Allah, intanshurullah yan shurkum wa yutsabbit aqdamakum (Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu). Surat Muhammad ayat 7 itu selalu menyemangati dirinya untuk tetap optimis berada di jalan ini. Karena hidayah Allah, siapa yang tahu? Teman-teman pasti bisa berubah..

    Andre, Aktivis Da’wah Sekolah (ADS)

    Saat tengah duduk-duduk di depan sekret rohis, Bram melihat seorang mahasiswa yang tampaknya seperti ikhwan, menuju tempat wudhu. Dan instingnya seakan memperkuat hal itu. “Assalaamu’alaikum,” kata Bram. “Wa’alaikumsalam wr wb,” jawab pemuda berjanggut tipis dan tampan itu. “Em., antum Ikhwan, ya?” tembak Bram to the point.

    “Saya.. JT,” jawabnya mantap.

    “O.. Maaf ya, Assalaaamu’alaikum” ujar Bram malu-malu dan segera ngeloyor pergi kembali ke sekret. Saat Bram berbalik beberapa langkah, pemuda itu memanggilnya. “Eh.., akhi. tunggu, maksud saya . JT itu Jamaah Tarbiyah,” ujarnya sambil tersenyum ramah. “Ooo.. Alhamdulillah..,” senyum Bram pun mengembang. Mahasiswa itu bernama Andre, mahasiswa tingkat II yang ternyata ADS juga di SMU-nya. Bram sangat senang mendengar itu. Bram mengajak Andre untuk berkomitmen di jalan dakwah. Bram menjelaskan kondisi rohis kampus yang memprihatinkan. Andre mahasiswa yang cerdas, perawakannya sedang, rambutnya ikal dan kulitnya putih dengan pipi yang kemerah-merahan. Andre mengangguk, “Maka marilah kita berjanji setia untuk berjuang di jalan-Nya,” ujar Andre menyambut ajakan Bram.

    Bram tersenyum. Dan mereka berjanji setia untuk senantiasa di jalan Allah. Sejak itu mereka senantiasa selalu bersama dan ikatan cinta diantara mereka sangatlah kuat.

    Zaid, Sang Jurnalis

    Usai shalat Zuhur, sebelum jamaah bubar, Bram segera maju ke depan, mengambil mic dan memberi kultum di masjid kampus. Ia memulainya dengan basmalah dan membacakan firman Allah SWT QS. Saba’: 46-50. Dengan semangat yang membara, kata-kata yang lugas dan tegas, lidah yang lancar, ia berkata, “Kepada para pemuda yang merindukan lahirnya kejayaan, kepada umat yang tengah kebingungan di persimpangan jalan. Kepada para pewaris peradaban yang kaya raya, yang telah menggoreskan catatan membanggakan di lembar sejarah umat manusia. Kepada setiap muslim yang yakin akan masa depan dirinya sebagai pemimpin dunia dan peraih kebahagiaan di kampung akhirat. ”

    Para jamaah yang semula hendak bubar, demi mendengar seruan Bram yang menggetarkan jiwa itu, spontan segera menoleh ke arah Bram dan mereka kembali duduk di tempatnya dikarenakan gaya bicara Bram yang sangat menarik.

    Bram melanjutkan, “Wahai pemuda! Kalian tidak lebih lemah dari generasi sebelum kalian, yang dengan perantaraan mereka Allah membuktikan kebenaran manhaj ini. Oleh karenanya, janganlah merasa resah dan jangan merasa lemah. Kita akan menempa diri, sehingga setiap kita menjadi seorang muslim sejati. Kita akan membina rumah tangga-rumah tangga kaum muslimin menuju terbangunnya rumah tangga yang islami. Setelah itu, kita akan menempa bangsa kita menjadi bangsa yang muslim, yang tertegak di dalamnya kehidupan masyarakat yang islami. Kita akan meniti langkah-langkah yang sudah pasti, dari awal hingga akhir perjalanan. Kita akan mencapai sasaran yang digariskan Allah bagi kita, bukan yang kita paksakan untuk diri kita. Allah tidak menghendaki kecuali menyempurnakan cahaya-Nya, meski orang-orang kafir tidak menyukainya,” seru Bram. “Kita pun akan mengetahui bahwa sesungguhnya memisahkan agama dari politik itu bukan dari ajaran Islam. Pemisahan itu tidak pernah dikenal oleh kaum muslimin yang jujur dalam beragama dan paham akan ruh ajarannya. Sesungguhnya agama ini adalah agama, ibadah, dan tanah air, …”

    Andre memperhatikan para jamaah. Dan ada beberapa jamaah yang terlihat sangat antusias dengan seruan Bram. Andre mendekati seorang pemuda. Setelah mengucapkan salam, mereka berkenalan. “Saya Andre.”

    Pemuda itu membalas senyum Andre dan berkata, “Saya Zaid.”

    “Zaid, nama yang bagus sekali seperti sahabat yang menjadi sekretaris nabi.” “Iya, engkau benar,” jawab Zaid.

    “Bagaimana menurutmu tentang orang di depan itu?” tanya Andre. “Em.., bagus sekali dan saya tertarik untuk menuliskannya di koran saya,” jawab Zaid.

    Andre mengerutkan keningnya. “Anda jurnalis?”

    “Ya, saya jurnalis di koran kampus.”

    Sesaat Andre baru sadar, bahwa Zaid mengenggam pena dan membawa sebuah note book kecil di tangannya. Setelah mengobrol panjang lebar, Bram berkata, “Emm.Kalau begitu bagaimana kalau engkau mengaji bersama-samaku.”

    “Mengaji?”

    “Ya, kita akan mengaji dan mengkaji lebih dalam lagi apa yang dikatakan mahasiswa itu.”

    “Ya. Tentu.., ” jawab Zaid setelah berpikir beberapa saat.

    Mahasiswa Baru

    Ospek untuk menyambut mahasiswa baru angkatan ’97 digelar di kampus tersebut. Pakaian mereka putih dan hitam. Dengan rambut diikat pita tiga, ratusan mahasiswa baru telah berkumpul di lapangan. Suasana sangat ramai. Para aktivis dari BEM dan Himpunan berjaket almamater telah bersiap-siap. Dan para aktivis rohis tengah mempersiapkan tempat shalat untuk shalat Zuhur.

    Di bawah panas terik matahari, ratusan Mahasiswa Baru duduk di lapangan dan mendengarkan instruksi dari para senior, tak jarang kata-kata kotor keluar dari mulut mereka. Bram jengah mendengarnya. Sudah mahasiswa tapi intelektualitsnya justru minus, pikirnya.

    Semua mahasiswa baru, dikumpulkan di lapangan kampus. “Siapa yang tidak bawa atribut lengkap, cepat maju ke depan dalam hitungan tiga! Kalau tidak, terima sendiri akibatnya!” seru sang senior berjaket almamater biru. Ia mulai menghitung. Beberapa junior maju ke depan. Bram berjaket almamater dan memandangi para mahasiswa baru untuk berjaga-jaga dari hal-hal yang tidak diinginkan. Tiba-tiba matanya tertuju pada seorang mahasiswi baru, berjilbab putih. Ia seperti mengingat-ingat sesuatu.. Itu.. seperti.. seperti.. Sita! Sita sudah berjilbab.? Bram terdiam dan pikirannya melayang dengan kejadian setahun lalu.

    Saat itu.. ketika ia masih kelas 3 SMU..

    “Saya tidak bisa meneruskan hubungan kita, dek. Kita akhiri sampai di sini saja…,” ujar Bram pada seorang adik kelas yang tak lain adalah kekasihnya. “Tapi.., kenapa? Bukankah selama ini hubungan kita baik-baik saja, Bang.” jawab Sita dengan memandang lekat-lekat wajah laki-laki yang sangat dicintainya itu. Air mata Sita sudah tak terbendung lagi.

    “Maafkan saya, dek. tetapi saya bukanlah Bram yang dulu lagi. Saya sudah memikirkan ini masak-masak, saya ingin berubah.” Sita dan Bram duduk berdua di pinggir lapangan basket SMU. Mereka saling terdiam beberapa saat dan memandangi pintu gerbang SMU mereka yang sudah mulai sepi. Langit berwarna merah. Rambut lurus Bram tertiup angin yang sepoi-sepoi. Azan maghrib sebentar lagi berkumandang.

    “Apa yang membuat abang berubah? Padahal dua hari lalu, abang katakan bahwa kita akan selalu bersama, apakah engkau sudah melupakan kata-kata abang sendiri.,” Suara Sita terdengar parau. Sesungguhnya jauh di lubuk hati Bram, sangatlah berat melepas Sita. Tapi.. ., ada yang jauh lebih ia cintai dari wanita yang berambut sebahu itu. Mengatakan perpisahan inipun sangat sulit baginya. Tapi.. tapi.. ia harus bisa karena ada yang lebih ia harapkan dari Sita, yaitu. ampunan dan rahmat Allah. Ia tak dapat memungkiri bahwa hatinya gelisah luar biasa bila berdekatan dengan Sita, seakan dosa yang terus menggunung tinggi.

    Azan Maghrib berkumandang.

    Bram tersigap, ia bangkit dari duduknya dan berkata, “Sudah azan, saya mau shalat. Shalat yuk.., dek.,” ajak Bram. Sita memandang Bram dengan tatapan penuh keheranan.dan bertanya-tanya dalam hati.. sejak kapan Bram shalat? Bukankah ia sendiri yang sering mengatakan tak suka dengan anak-anak rohis..

    “Abang saja yang shalat, Sita nanti aja,” jawab Sita enggan. Bram dan Sita saling berpandangan, lama sekali. Seakan banyak isi hati yang terucapkan lewat tatapan mata mereka. Hati Bram bergemuruh. Qomat berkumandang dari masjid sekolah. Bram menundukkan pandangannya, dan berkata, “Saya shalat.” Ia membawa tas ranselnya dan menuju masjid sekolahnya. Sita tertunduk dan air mata mengalir di pipinya yang kemerah-merahan.

    Usai shalat Maghrib, Bram termenung sesaat. Hatinya sedih luar biasa, ia tahu, pasti Sita saat ini sedang menangis. Apakah ia harus menemui Sita lagi dan menenangkannya, seperti yang selama ini ia lakukan. “Aku di sini untukmu.” Kata -kata itulah yang sering ia ucapkan bila Sita bersedih. Tetapi kini.. apakah ia harus menemuinya dan mengatakannya lagi.. Ah.., tidak.. Aku sudah bertekad, aku harus berubah! Harus!. Ya Allah.., istiqomahkanlah aku di jalan-Mu. Bram memanjatkan doa dengan hati bersungguh-sungguh. Tak terasa ia menitikan air mata. Ikatan yang sudah terjalin sejak mereka SMP, harus pupus di tengah jalan. Biarlah. biarlah .. kita menangis saat ini Sita, daripada kita menangis di akhirat nanti. Bram lebih memilih jalan untuk menjauhi apa yang namanya pacaran. Dan ia berkomitmen untuk selalu berada di jalan para nabi ini..

    Bram menyenandungkan syair nasyid Izzatul Islam Selamat tinggal wahai dunia duka dan selamat datang wahai dunia iman Burung yang patah sayapnya tak akan mati karena lukanya Wahai hatiku yang sedih perangainya Sungguh kesedihan itu teah meninggalkan diriku Kan terbang aku ke dunia cinta Karena Aku muslim yang membumbung dengan iman Gelarku adalah muslim dan itu cukup bagiku Dibawah naungan agama aku hidup Untuk menebus keislamanku yang nyaris sirna

    **

    “Assalaamu’alaikum, Bram. Nanti tempat wudhunya gimana?” tanya teman rohisnya, Andre. Kehadiran Andre membuyarkan lamunan Bram, “Oh.. eh.. Wa’alaikumsalam, itu sudah disiapkan, jadi nanti yang mahasiswanya wudhu di dekat gedung K,” jawab Bram mantap. Andre mengangguk dan meninggalkan Bram usai mendapat jawaban itu. Bram beristighfar dan segera kembali mempersiapkan atribut shalat, seperti spanduknya dan lain-lain. Bram bergumam, intanshurullah yan shurkum wa yutsabbit aqdamakum

    Bram duduk di masjid usai shalat Zuhur. Ia dan teman-temannya bersiap-siap menyambut mahasiswa baru. Ia memandangi orang-orang yang shalat. Dan dari kejauhan ia melihat seorang mahasiswa baru yang tengah duduk. Bram menghampirinya dan mengucapkan salam. Mahasiswa baru berambut plontos itu menjawab salam sambil tersenyum ramah.

    “Sudah shalat?” tanya Bram padanya.

    “Sudah, Bang. lagi nunggu temen, dia belum selesai,” jawabnya sedikit malu-malu. Bram lalu berkenalan lebih jauh dengan mahasiswa yang ternyata benama Andi itu. Bram berkata, “Nanti kapan-kapan kamu main ke sekret rohis aja.”

    “Ke sekret? Ngapain Bang,” tanya Andi heran.

    “Ya maen aja, belum penah ke sekret rohis, kan?” Bram kembali mengajak.

    Dan kali ini Andi mengiyakan dan berjanji akan mengunjungi sekret rohis.

    Andi berpamitan setelah temannya usai shalat. Mereka berlari menuju kelas.

    Bram Bersama Teman-Teman

    Selama kepengurusannya, Bram melakukan gebrakan-gebrakan da’wah. Dan ia memprioritaskan da’wah di atas segalanya. Totalitas Perjuangan. Ia persembahkan untuk meninggikan kalimatullah. Bram, Andre dan Zaid bekerjasama untuk berda’wah kepada para mahasiswa baru, pun kepada teman-teman mereka sendiri.

    Bram mencarikan ustadz agar mereka dapat mengkaji Islam bersama. Ini akan menjadi menthoring pertama dalam organisasi ini. Sejak itu, mereka bertiga mengadakan pertemuan mingguan bersama seorang ustadz.

    Saat kuliah, Bram, Andre dan Zaid ada di kelas yang bersebelahan. Mereka dapat dengan mudah berkoordinasi bila ada teman-teman Da’wah Fardiyah. Semuanya mereka rencanakan dengan baik. Hingga akhirnya terekrutlah beberapa orang mahasiswa dan mahasiswi, untuk semakin mengokohkan barisan da’wah.

    Perpustakaan Masjid

    Bram memasuki masjid dan melihat banyak sekali buku-buku Islam yang tak terawat. “Buku-buku adalah sumber ilmu,” ujar Bram ketika mengajak Andre untuk mendata buku-buku tersebut.

    Jumlah buku Islam itu ada 500 buku. Mereka berdua mencatat nama buku, pengarangnya, dan penerbitnya. Lalu membuat nomor-nomor buku, kemudian menempelkannya di setiap buku. Selama sebulan lebih Bram dan Andre melakukan itu. Bram bersyukur karena ada Andre yang bersedia membantunya. “Kapan nih selesai bukunya, kok ngga’ selesai-selesai,” ujar seorang anggota rohis saat memasuki sekret. Ia hanya membaca beberapa buku, dan kemudian meletakkannya. “Makanya, bantuin dong, biar cepet selesai,” ujar Andre sedikit kesal.

    Karena Andre tahu, Bram yang paling banyak berperan dalam mengurusi buku-buku itu, dan ia tidak rela bila orang hanya bicara saja tanpa membantu. Bram hanya terdiam mendengar itu. Berapa banyak orang yang sanggup bicara, tetapi sedikit yang mengerjakannya. Dan berapa banyak orang yang mau mengerjakannya, tetapi mau serius dan berkorban untuk melakukannya.

    Setelah satu bulan, pendataan buku-buku itu pun selesai. Bram dan Andre meletakkannya di perpustakaan masjid. Mereka segera membuat kartu perpustakaan, sehingga para mahasiswa dapat meminjamnya. Dan dapat beredarlah fikrah kita.

    Pengorbanan

    Bram, Andre dan Zaid terkejut sesaat, tetapi kemudian memberikan selamat kepada Laras, karena ia baru saja berjilbab. Laras tersipu-sipu, dan dari lubuk hatinya, Laras yakin bahwa inilah jalan yang lurus, jalan yang benar, jalan yang Dia ridhoi. Dengan jilbab ini, Laras berjanji untuk senantiasa di jalan ini.

    Sekret rohis itu dikunjungi oleh mahasiswa dan mahasiswi. Di sekret akhwat, sangatlah ramai oleh canda tawa para mahasiswi, sampai-sampai suara mereka terdengar di sekret ikhwan. Andre kerap kali mengetuk jendela akhwat, agar tidak terlalu berisik. Bila sudah demikian, para akhwat dan mahasiswi yang ada di dalam hanya tersenyum tertahan. Andre hanya geleng-geleng kepala.

    Dan di sekret ikhwan pun tak jauh berbeda. Bahkan mereka bermain bola di dalam sekret. Andre hanya geleng-geleng kepala (lagi). Tetapi Bram memang tidak mencegah hal itu dan membiarkannya karena anggota yang baru bergabung tidak bisa dipaksa langsung berubah total.

    Di dalam sekret itu, diadakan jadwal kultum harian. Setiap orang mendapat giliran. Laras membuat jadwal di akhwat, dan Andre membuat jadwal di ikhwan. Tilawah dan kajian, juga menjad agenda mingguan.

    Kala maghrib menjelang, ketika tak ada seorangpun di lingkungan sekret. Bram masuk ke sekretnya. Dan ia membereskan sekret yang berantakan. Hampir setiap hari ia melakukan itu, karena pengkondisian sekret bagi Bram sangat penting. Kebersihan adalah sebagian dari iman. Bagaimana mungkin hidayah Allah akan turun bila tempat ini berantakan., gumam Bram. Untuk saat ini, ia belum bisa meminta teman-temannya untuk melakukan tugas ini, karena banyak yang menolak. Dan Bram memaklumi hal ini. Ia menyapu lantai, merapihkan buku-buku, membuang sampah-sampah, dan memasang mading ataupun menempel tausiah-tausiah di sekret.

    Menghadapi Kristenisasi

    Sita bergabung dengan rohis kampus. Namun Sita yang sekarang, bukanlah Sita yang dulu, karena kini ia telah berjilbab rapi dan ia sudah membuang jauh-jauh kenangannya bersama Bram. “Ya Allah, aku ada di sini karena Engkau. Semoga Engkau luruskan niat-niat kami di jalan-Mu,” doa Sita di setiap shalat malamnya.

    “Aduh, gimana yah, temen gue ada yang mau keluar dari Islam,” kata Anita, teman sekelas Sita, suatu hari. “Hah? yang bener?” seru Sita. Sewaktu di SMU ia juga pernah menemui kristenisasi di SMU-nya. “Iya, tapi Sita jangan bilang siapa-siapa ya, rahasia,” ujar Anita yang celana jinsnya robek-robek di bagian lututnya.

    Anita berkata itu dengan mimik serius dan rokok mengepul dari mulutnya. Sita hanya mengangguk-angguk.

    Pakai jilbab, mau murtad? Tubuh Sita seakan limbung mendengar itu. Haruskah ia kehilangan lagi saudara muslim lagi. Sewaktu di SMU ia pernah menghadapi hal yang sama, pemurtadan dan saat itu teman SMU-nya murtad karena diiming-imingi harta. Sita segera membuka-buka kembali buku kristologinya. Ia membenahi jilbab putihnya. Argumen-argumen apa yang harus ia sampaikan kepada seseorang yang mau murtad. Ia mencatat semuanya dalam selembar kertas dan esok paginya, ia sudah siap dengan argumennya.

    Namun Sita tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Ia menceritakan hal itu kepada orang yang ia percaya, yang notabene pasti tak mengenal Anita. Hal ini terdengar di telinga Bram, ketua rohis, bahwa ada kristenisasi di kampus.

    Saat rapat rohis, Bram berkata, “Kita mendapat laporan dari atas, bahwa di kampus kita terjadi kristenisasi.” Sita tertunduk dalam mendengarnya. “Sebaiknya hal seperti ini tidak disembunyikan, karena bila sampai terjadi pemurtadan, dapat mencoreng wajah da’wah kita di kampus ini,” tambah Bram dengan tegas. Bram masih menunggu ikhwah yang sebenarnya mengetahui hal ini. Sitapun akhirnya angkat bicara, “Ya, sebaiknya kita mencari kristolog untuk membantu akhwat ini, karena kabarnya, dia mendapat ancaman juga dari kekasihnya yang Kristen, akh.” Hm.., Bram akhirnya tahu siapa orangnya. “Ya, sebaiknya begitu.,” jawab Bram.

    Para ikhwah mempersiapkan agenda bersama agar mahasiswi tersebut tidak murtad. Lima akhwat, diantaranya Sita dan Laras, melakukan aksi detektif. Mereka ingin mengetahui dahulu wajah sang mahasiswi yang berkudung gaul tersebut. Kejar-kejaran dari belakang. Bersembunyi kala ia menoleh. Sesekali para akhwat tersenyum bersama. Setelah mahasiswi itu berhasil diidentifikasikan, akhirnya Sita menjadi duta untuk melakukan dialog dengannya.

    Bram terus memantau perkembangannya dari hari ke hari. Dan dari Anita, Sita mengetahui bahwa mahasiswi tersebut membatalkan niatnya untuk berpindah agama dari bujukan pemuda Kristen tersebut, karena agama adalah yang paling utama. Allahu Akbar! Misi detektif akhwat selesai.

    Riska, Namanya

    Pagi hari. Di ruang kelas. Para mahasiswa tengah menunggu datangnya dosen Pengantar Akuntansi 2. Bram segera masuk ruang kelas. Dan duduk di baris kedua. Ia membuka buku Akuntansinya dan melihat-lihat lembaran buku merah tersebut. Ia tak memperhatikan bahwa sedari tadi ada mahasiswi yang mengamati dirinya. Bram menoleh ke arah kanannya dan melihat mahasiswi manis, bercelana jins, baju jungkis dan berambut keriting tengah menatapnya. Bram segera melemparkan senyumnya. Mahasiswi itu membalas senyumnya. “Kamu anak rohis ya?” tanya mahasiswi itu. “Iya, saya Bram,” jawab Bram memperkenalkan diri. “Riska, “katanya balas memperkenalkan diri. “Saya dari dulu pengen ikut rohis nih, tapi bisa ngga’ ya?” ujar Riska. “O. tentu aja bisa. Kamu maen aja ke sekret rohis,” jawab Bram. Tiba-tiba dosen masuk dan menghentikan obrolan Bram dan Riska. Kuliah berlangsung selama 2 jam. Usai kuliah, Bram mengajak Riska untuk berkunjung ke sekret rohis. Bram memperkenalkan Riska kepada beberapa akhwat rohis. Di dalam sekret, Riska melihat-lihat sekeliling sekret yang isinya begitu banyak buku-buku Islam.

    “Sejak kapan kamu pakai jilbab?” tanya Riska pada Sita.

    “Emm., kelas 3 SMU, Mbak.”

    “Wah, baru pakai ya?”

    “Iya”

    “Dulu dapat halangan ngga’ dari orangtua?” tanya Riska lagi.

    “Iya, dulu mintanya susah sekali. Tapi dengan berusaha, akhirnya orang tua mengizinkan,” jawab Sita.

    Riska mengangguk-anggukkan kepala. Mereka kemudian membicarakan banyak hal, mulai dari keluarga sampai seputar wanita. Riska mengakui bahwa wawasan Islam Sita sangat baik.

    Pers Kampus

    Zaid, semenjak bergabung dengan rohis, ia menggunakan kemampuan menulisnya untuk meninggikan kalimatullah. Tulisannya menghiasi media cetak kampus. Ia mampu menciptakan tulisan-tulisan yang universal, yang dapat diterima oleh kalangan dosen maupun mahasiswa. Sehingga Al Haq dapat tersampaikan. Dan ia kerap kali meliput kegiatan-kegiatan rohis dan memasukkannya ke koran kampus. Dengan ini, perlahan tapi pasti, terciptalah opini publik yang Islami lingkungan kampus tersebut.

    Tidak hanya itu, kemampuannya itu ia teruskan kepada teman-teman dan junior-juniornya. Misinya dalam jangka panjang adalah membentuk pers kampus. Bram pun turut men-support keberadaan pers Islam ini. Hingga terbentuklah satu divisi baru, yaitu Divisi Jurnalis. Yang bertugas mem-blow up kegiatan-kegiatan rohis dan menggalang opini publik.

    Bram Membangkitkan Semangat Teman-Teman Sekret ikhwan dan akhwat terpisah. Letaknya ada di belakang masjid kampus itu. Para aktivis ini tengah mempersiapkan acara sebagai follow up dari penyambutan mahasiswa baru. Mereka melakukan rapat. Hanya ada 8 orang, yaitu Zaid, Bram, Andre, Andi, Riska, Laras, Sita dan Riska. Tak jarang mereka harus pulang malam untuk melakukan rapat-rapat. Bahkan kuliah bagi mereka adalah nomor dua. Yang utama adalah da’wah. Namun meskipun demikian, mereka semua tetap berprestasi dalam kuliahnya, dengan IPK minimal 3. Karena mereka memiliki motto, “Ikhwah sejati harus ber-IPK minimal 3!”

    Bram selalu menjadi motor setiap event-event keislaman di kampus. Ia senantiasa memotivasi teman-temannya untuk tetap istiqomah di jalan ini. Dan di dalam sebuah organisisi, bukannya tanpa masalah, tetapi Bram dan teman-temannya berusaha memiimalisirnya, karena ukhuwah yang utama.

    **

    Roy Bergabung dengan Rohis Di kosnya, Bram memandang langit malam yang dihiasi bintang-bintang. Langit terang oleh cahaya bulan purnama. Lama sekali ia menatap langit. Terbayang di matanya. akhlak para mahasiswa di kampusnya yang merosot. Semua itu berkelebat dahsyat di pikirannya. Saat itulah, teman satu kosnya yang sedang menonton TV, menekan channel berita Metro TV, “Korban kembali jatuh di Palestina, bom bunuh diri dilakukan oleh Wafa Idris, wanita Palestina yang membawa bom. Tiga orang tentara Israel tewas dan puluhan lainnya luka-luka.” Bram segera berlari menuju TV mendengar berita itu. ketika melihat TV., Innalillah. sampai seorang wanita yang harus maju untuk berperang, kata Bram. Mata Bram berkaca-kaca menyaksikan suasana di Palestina. Terlihat, Ambulance menolong korban luka-luka orang-orag Israel. “Eh., kenapa loe..?” tanya Roy, teman satu kosnya. “Roy ., Kamu tahu.., Palestina itu tempat apa?” tanya Bram pada Roy yang tengah menghisap sepuntung rokok. “Palestina kan di Arab sana,” jawabnya cuek. Bram menggeleng, “Di Palestina ada Masjid Al Aqsha, itu adalah kiblat pertama kita dan sekarang diinjak-injak oleh zionis Israel, sudah sejak tahun 1948, sejak perjanjian Balfour,” ujar Bram dengan serius. Roy mengangguk-angguk, terbengong-bengong.”Ooh. begitchu yah..”

    Bram terbangun dari tidurnya. Ia termenung sejenak. Dilihatnya, pukul 02.00 dini hari. Ia mengambil air wudhu dan shalat malam. Dalam shalat malamnya, ia membaca surat Al Anfal, lama sekali. Roy yang kamarnya ada di sebelah Bram, tengah sibuk membuat program web site. Di depan internetnya ia meng-up load postnuke dari situs. Jari-jarinya bergerak cepat. Sesekali ia membuka situs porno, dan terkekeh sendiri. Rokok di tangan kirinya dan ada Majalah porno pula di tangan kanannya. Roy keluar dari kamarnya saat mendengar suara orang menangis terisak-isak. Roy keluar dari kamarnya dengan kaos oblong dan rambut yang berdiri dan acak-acakan.

    Ia melihat ke dalam kamar yang pintunya terbuka sedikit. Bram sedang shalat. Kepala Roy tertunduk. Dan ia masuk kembali ke kamarnya. Di dalam kamarnya, ia memandangi majalah pornonya, dan dilemparnya majalah itu ke lantai. Ditutupnya semua situs yang ia browse sedari tadi. Ia mengambil sebuah buku yang sudah berdebu, Al Qur’an. Roy teringat kata-kata Bram.”Di Palestina ad Masjid Al Aqsha, itu tempat qiblat pertama kita.” terngiang-ngiang kata-kata itu. Dan terbayang pula senyum manis Bram saat ia sering mengajaknya untuk shalat ke masjid dan biasanya Roy menolaknya mentah-mentah, tetapi Bram senantiasa bersabar mengajaknya. Dibersihkannya Al Qur’an itu dari debu dengan tangannya. Dibukanya pada surat mana saja. Dan yang terbuka olehnya adalah Surat Ar Rahman “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” Roy membacanya.. indah sekali ayat ini..

    Bram bangun di pagi hari. Dan bersiap-siap untuk shalat Subuh di masjid. Bram terkejut ketika Roy mengikutinya dari belakang. Dengan malu-malu, Roy berkata, ”Kenapa? Gue mau ke masjid juga, tidak boleh?” “Eh.. boleh.. tentu saja boleh.,: Bram cepat-cepat membuang keterkejutannya itu dan mereka melangkah bersama menuju masjid di dekat kosan mereka. Usai shalat, Bram membuka buku kecil berwarna hijau. “Itu apa? Gue liat loe sering bawa buku itu,” tanya Roy. ”Ini. Ini namanya Al Ma’tsurat, zikirnya Rasulullah SAW yang dibaca setiap pagi dan petang,” jelas Bram.

    “Gitu yah? Boleh ngga’ gue baca,” tanya Roy lagi.

    “Boleh, kita baca bareng-bareng aja ya. Nih.” ujar Bram menyerahkan buku itu.

    “Loh, terus loe baca pake apa?”

    “Insya Allah saya sudah hafal.,” kata Bram.

    “Oooo..” Roy mengangguk-angguk. Mereka membacanya bersama-sama hingga matahari menampakkan cahayanya. Di dalam kamarnya, Roy memandangi ruangannya yang berantakan seperti kapal pecah. Ia terdiam sesaat dan dengan segera membersihkan dan membereskan kamarnya. Sapu, lap pel, ada di tangannya. Ia mencopot semua poster-poster band kesayangannya. Buku-buku porno ia kumpulkan. Seketika, kamarnya bersih dan mengkilat hingga ke kaca-kaca jendela. Ia keluar dari kamar dan diluar ia menyalakan api. dilemparnya semua buku porno itu ke dalam api. Roy tersenyum penuh kemenangan.

    Roy menyisir rapi rambutnya yang lurus dan dibelah tengah. Ia melepas anting yang setia ad di telinga kananya. Ia merapikan janggutnya dan memakai wangi-wangian. Penampilannya menjadi lebih rapi.

    SEMINAR AKBAR, KEMENANGAN

    Andre yang notabene adalah Ketua Departemen Syi’ar, menjadi Ketua pula dalam acara seminar yang akan digelar. Ia membentuk struktur panitia. Acara ini tergolong besar, karena akan melibatkan dosen dan mahasiswa. Target pencapaian adalah 500 peserta. Itu berarti peserta akan memenuhi ruang auditorium di kampus tersebut.

    Zaid, yang ahli dalam membuat tulisan, membuat sebuah artikel yang sangat bagus akan pentingnya seminar ini. Ia memasukkannya dalam koran kampus yang memang independen, sehingga ia tak mendapatkan halangan yang berarti.

    Roy pun memanfaatkan keahliannya dalam dunia maya dengan menjaring massa melalui dunia cyber. Ia menggunakan email, mailis, situs, Yahoo Messenger dan Friendster untuk menyebarkan berita ini. Dan tulisan-tulisan Zaid ia muat dalam setiap pesannya dalam internet.

    Bram, yang memiliki karisma dalam dirinya, mengajak para dosen untuk berpartisipasi dalam acara seminar ini. Ia menggunakan cara-cara yang ahsan dan menawan hati.

    Sita, Laras dan Riska menjalankan amanahnya mengajak para muslimah untuk hadir dalam seminar. Mereka kerap mempublikasikannya dalam kajian keputrian yang setiap minggunya dihadiri oleh tak kurang dari 50 muslimah, di setiap Jum’at.

    Dalam mempersiapkan kegiatan ini, tak jarang, Andre dan teman-temannya harus pulang malam untuk mengadakan rapat-rapat. Dan di siang hari, mereka aktif mencari sponsor demi terselenggaranya kegiatan. Lelah. Inilah yang dirasakan Andre dan jajaran kepanitiaanya.

    “Kamu kenapa?” Bram seakan menangkap kegalauan hati saudaranya yang tengah termenung di sekret rohis. Ia memperhatikan bahwa Andre sedikit melemah semangat dakwahnya. Andre hanya terdiam. “Ingat., disana.. di Pelestina.., saudara-saudara kita tengah berjuang. Apa yang kita lakukan di sini, belumlah seberapa dibandingkan mereka,” ujar Bram sambil menatap dalam kepada Andre. Andre merasa malu, karena Bram mengetahui kegalauan hatinya. Dan ucapan Bram itu seakan menjadi air sejuk di tengah kegersangan hatinya.

    Hari H pun akhirnya datang. Andre melakukan briefing kepada panitia, saat pagi hari. Tiket telah terjual habis, bahkan masih ada yang ingin memesan tiket. Dan diperkirakan ruangan akan melebihi kapasitas. “Semoga Allah selalu meluruskan niat-niat kita saat menapaki jalannya. Hadir di sini semata-mata karena Allah,” ujar Andre untuk memotivasi panitia. Seluruh sie melaporkan tugasnya. Cek dan ricek.

    Ticketing di depan ruangan seminar telah bersiap-siap. Semua anggota rohis memakai jaket almamater. Mereka bak tentara-tentara Allah yang bersiap-siap di posnya masing-masing. Acara ini mendapat sambutan yang sangat baik dari para dosen, pun mahasiswa. Para mahasiswa berbondong-bondong tertarik untuk mengikuti program menthoring yang diselenggarakan oleh rohis.

    Kesolidan Antar Departemen

    Bram dan Andre telah menyiapkan 20 menthor. Menthoring diadakan untuk mendidik seorang muslim agar akidahnya bersih, akhlaknya solid, ibadahnya benar, pikirannya intelek, tubuhnya kuat, mampu memanfaatkan waktu, dan bermanfaat bagi orang lain. Dari seminar itu, paling tidak, terbentuklah 20 kelompok menthoring, yang masing-masing kelompok, ada 8 orang. Itu berarti ada 160 orang yang terekrut melalui seminar tersebut.

    Karena kesolidan Departemen Pengembangan Sumber Daya Muslim (DPSDM) dan Departemen Syi’ar, maka proses rekruitmen dan pembinaan berjalan lancar. Bram, Roy, Zaid dan Andre hanya bisa mengucap hamdalah akan kemenangan ini.

    Berbondong-Bondong Berjilbab

    Sita tengah sibuk mendata barang-barang di sekret. Pintu sekret terbuka dan. Sita melihat rok panjang berwarna hitam. Ia mendongak ke atas dan terlihatlah wajah Riska yang sedang tersenyum malu-malu dengan jilbab putihnya. Untuk sesaat Sita terperangah, dan kemudian cepat-cepat tersadar dan memberikan selamat kepadanya. Sita memeluk Riska erat sekali. Alhamdulillah. ujarnya.

    Semenjak itu, bagaikan kartu domino. Mahasiswi yang lainpun berjilbab. Selama sebulan, sudah ada 20 orang yang berjilbab. Bahkan sampai muncul istilah ditengah-tengah mereka bahwa ada “Taubat massal.”

    Suasana sekret akhwat kian ramai dihiasi canda tawa para akhwat. Tak jarang mereka melakukan aksi smack down, antar mereka. Mereka semua bersama-sama membantu gerak da’wah. Dan Andre senantiasa mengetuk jendela akhwat agar tidak terlalu berisik. Hi..hi..hi. para akhwat bukannya diam, tetapi semakin ramai. Andre hanya geleng-geleng kepala. Dan Bram tersenyum melihat sikap Andre.

    Persiapan Dauroh

    Rohis mengadakan dauroh (pelatihan) yang merupakan alur terakhir dari organisasi tersebut. Bram, Andre, Zaid dan Roy melakukan survey di daerah Gunung Bunder. Mereka berempat memakai ikat kepala putih dan membawa ransel besar. Persiapan untuk naik gunung.

    Mereka telah mempersiapkan dauroh ini selama satu bulan lebih. Waktu, tenaga, pikiran dan juga uang, mereka korbankan demi terselenggaranya kegiatan dauroh tersebut. Jalur-jalur yang akan dilalui peserta, mereka beri tanda. Namun tak terasa, malam telah menjelang. Dan sesuatu yang aneh terjadi, mereka tak bisa menemukan jalan pulang. Padahal seharusnya jalan yang dilalui tidaklah terlalu sulit. Mereka kembali menyusuri jalan. Hawa dingin dan malam yang pekat. Hanya berbekal dua senter.

    Pukul 22.00. Mereka kemudian sadar bahwa sedari tadi hanya berputar-putar di satu tempat. Bram berkata, “Sepertinya ini sudah bukan dunia manusia lagi, sebaiknya kita membaca ayat kursi.” Andre, Roy dan Zaid mengiyakan. Dan sepanjang perjalanan, mereka membaca ayat kursi. Dengan doa, zikir dan tawakal, mereka akhirnya dapat turun gunung dengan selamat. Allahu Akbar!

    Dauroh ini diikuti oleh 160 orang peserta. Mukhayyam selama 3 hari 2 malam. Tenda-tenda dibangun sendiri oleh peserta. Ikhwan dan akhwat berlomba mendirikan tenda masing-masing. Dauroh ini diisi dengan out bond, ceramah dan aneka games. Mendaki gunung. Dan yel-yel kelompok yang semakin menyemarakkan suasana.

    Usai kegiatan, mereka semua berfoto bersama dengan pakaian penuh lumpur. Wajah puluhan ikhwan terlihat sangat gembira, dengan ikat kepala putih dan slayer biru. Para ikhwan berfoto sendiri dan berbaris rapi. Dan puluhan akhwatpun berfoto sendiri di tempat lainnya. Jilbab-jilbab mereka yang rapi, berkibar tertiup angin gunung. Mereka semua terlihat sangat kompak. Andre mengabadikan event itu dengan kameranya.

    Bram Menikah

    Bram bercerita pada Andre bahwa ia akan menggenapkan setengah diennya dan Insya Allah dalam waktu dekat. Andre turut bahagia mendengar penuturan saudaranya itu. Namun Bram sendiri belum tahu siapa orangnya, karena ia percaya sepenuhnya kepada pilihan ustadznya. Mendengar itu, Andre percaya bahwa Allah akan memberi yang terbaik untuk Bram.

    Seminggu kemudian Bram mendapat sebuah amplop dari ustadznya. Dengan hati berdebar, namun tetap tenang, ia membuka biodata sang akhwat. Bram termangu membaca nama calonnya itu. Sita Anggraini. Ya Rabbi. Sungguh tak akan lari gunung di kejar, gumam Bram.

    Di tempat lain., Sita juga menerima amplop dari murabbiyahnya dengan perasaan tenang. Ketika ia membuka dan membaca nama calonnya.. Bram Adhiyaksa., Sita setengah berbisik menyebut nama itu. Ya Rabbi.

    Proses ta’aruf (perkenalan) Bram dan Sita berlangsung singkat. Bram datang meminang ke rumah Sita. Pernikahan berlangsung sederhana dan menggunakan hijab yang berupa tanaman-tanaman. Puluhan aktivis rohis datang pada acara yang sangat bersejarah dalam kehidupan manusia itu. Lagu-lagu nasyid diputar saat itu. Bram yang gemar dengan nasyid Izzis dan Shoutul Harakah terpaksa harus menggantinya dengan nasyid yang slow, karena tak mungkin di hari perhikahannya ia memutar nasyid genderang perang.

    Keluarga Pejuang

    “Jika bapak-bapak, anak-anak, suadara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. 9:24).

    Suatu hari Bram merasa gundah, kalau berangkat istri cemberut, padahal sudah tahu nikah dengannya risikonya tidak dapat pulang malam tapi biasanya pulang pagi, menurut bahasa Indonesia kontemporer untuk jam diatas 24.00. Dia katakan pada Sita, “Dek., kita ini dipertemukan oleh Allah dan kita menemukan cinta dalam dakwah. Apa pantas sesudah dakwah mempertemukan kita lalu kita meninggalkan dakwah. Saya cinta kamu dan kamu cinta saya, tapi kita pun cinta Allah”. Bram pergi menerobos segala hambatan dan pulang masih menemukan sang permaisuri dengan wajah masih mendung, namun membaik setelah beberapa hari.

    Aksi 12 Mei

    Kepada para mahasiswa yang merindukan kejayaan

    Kepada rakyat yang kebingungan di persimpangan jalan

    Kepada pewaris peradaban yang telah menggoreskan,

    Sebuah catatan kebanggaan di lembar sejarah manusia

    Wahai kalian yang rindu kemenangan

    Wahai kalian yang turun ke jalan

    Demi mempersembahkan jiwa dan raga

    Untuk negeri tercinta

    Rasulullah SAW bersabda, “Di hari kiamat, Allah akan menaungi pemuda yang berani mengatakan yang haq di depan penguasa yang zalim.” Berlandaskan hadits ini, aksi-aksi mahasiswa marak di berbagai daerah di tanah air.

    Dan Aksi 12 Mei. Aktivis rohis yang bergabung, berjumlah dua ratus orang lebih. Bram ikut memimpin gerakan mahasiswa untuk merobohkan rezim Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun. Bram dan aktivis rohis lainnya, mendesain sebuah aksi turun ke jalan, untuk kali yang pertama. Namun tak disangka, aparat bersikap repsesif. Mahasiswa berlari ke dalam kampus menyelamatkan diri dari tembakan aparat. Bram yang berada di depan terkena tembakan peluru di perutnya. Seorang Satgas dari Senat berhasil menariknya ke dalam kampus sebelum sempat dipukuli oleh aparat. Dan yang terjadi selanjutnya mirip dengan perjuangan intifadah rakyat Palestina. Dimana mahasiswa berusaha mempertahankan diri dengan melemparkan batu, botol aqua dan apa saja yang bisa dipungut di jalan kepada aparat yang bersenjata api.

    Balasan yang ‘sangat amat baik sekali’ dari aparat keamanan. Tiap kali terdengar letusan senapan yang keras dan menggetarkan kaca-kaca di Gedung M, massa mahasiswa spontan berteriak ‘Allahu Akbar’. Mahasiswa yang tidak kuat menahan emosi berteriak-teriak istighfar dan mengutuk perbuatan aparat bermoral binatang. Karena bantuan alat-alat medis yang kurang, korban dibawa ke Gedung I.

    Inna Lillahi Wa Ina Lillahi Roji’un, mahasiwa yang sedang berbaring ini sudah tidak bernyawa. “Tidak ada nafasnya!” seru seorang rekan ketika tidak merasakan aliran nafas dari hidungnya. Tidak kuat menahan emosi yang sedang terjadi, beberapa mahasiswa beristighfar menyebut nama Allah Swt, dan lainnya menyerukan untuk mengadakan pembalasan, sebagian lagi berusaha menahan emosi rekannya. “Tidak ada gunanya dilawan”, “Jangan ada korban lagi”, semuanya mundur, rekan kita sudah ada yang meninggal, Mundur semua!” jerit beberapa rekan mahasiwa. Mahasiswa-mahasiwa yang berada di barisan depan terus melempari petugas dan berteriak-teriak histeris. Kabar kematian rekan mahasiswa tampaknya malah membakar emosi mahasiswa barisan depan tersebut.

    Bram Meninggal Bram dalam kondisi kritis. Darah mengalir deras. Teman-teman segera membawanya ke rumah sakit. “Bram.. Bram..,” panggil Andre dengan wajah sangat cemas. Bram melihat wajah Andre, semula jelas. namun pandangannya kabur dan semuanya menjadi gelap.

    Sudah satu bulan Bram ada di rumah sakit. Banyak aktivis yang menjenguknya. Dan pada minggu ke enam, Bram sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Namun sejak penembakan itu, Bram tak bisa lagi berjalan seperti biasa. Karena pukulan keras di kepalanya dari aparat, membuatnya sering pusing. Pun tembakan di perutnya, meninggalkan luka yang membekas dan terkadang sangat sakit ia rasakan. Namun meskipun demikian, Bram masih mengontrol jalannya aktivitas da’wah di kampus melalui HPnya. Terkadang para ikhwah bertanya tentang apa yang harus mereka lakukan dalam da’wah. Ataupun sekedar ber-sms untuk bertanya tentang Islam. Dan hal itu sudah menjadi kebiasaan bagi Andre.

    Suatu hari, ada rapat mendesak yang membutuhkan kehadiran Bram. Walau sang isteri sudah berusaha mencegahnya, namun Bram tetap bersikeras. Ia dijemput Andre. Dan mereka bersama-sama menuju tempat syuro. Syuro itu berlangsung satu hari penuh.

    Pukul 02.00, Bram tiba di depan rumah. Ternyata sang isteri tercinta telah menantinya. Bram duduk di kursi tamu, melepas kepenatan. Sita berjongkok di hadapan Bram dan membukakan kaos kakinya. “Wah., Mama .. baik sekali,” ujar Bram dengan nada lembut. Sita terdiam. Ia menyunggingkan senyum. Entah mengapa, hari ini perasaan Sita tidak enak. Ia ingin selau berada di dekat suaminya. “Air panasnya sudah siap, Bang.,” Sita mengambilkan handuk. Bram terduduk di kursi sambil memegang agenda syuro. Ia segera membersihkan diri malam itu.

    Saat subuh menjelang. Suhu badan Bram sangat tinggi, ia menggigau. Sita panik, tetapi ia tetap berusaha berfikir jernih. Ia segera menghubungi abang kandungnya yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Mereka lantas bersama-sama membawa Bram pergi ke rumah sakit.

    Semua ikhwah menjenguknya. Sudah seminggu Bram ada di rumah sakit. Sita senantiasa membacakan Al Qur’an di samping Bram. Sakitnya kian memburuk.

    **

    Suatu malam di Rumah Sakit… Bram memanggil Sita. dan memberi isyarat agar Sita mendekat. Sita segera mendekatkan telinganya di dekat wajah Bram. Ia berwasiat, “Dek. jaga diri baik-baik. Dirikan shalat. Jaga anak kita nanti, didik ia menjadi mujahid di jalan Allah,” ujar Bram. Sita yang kandungannya telah berusia delapan bulan, sudah tak terbendung lagi air matanya. Ia menangis terisak-isak. Demi mendengar isakan tangis Sita, Andre terbangun dari tidurnya dan mendekati Bram. Beberapa ikhwan yang tengah menunggu di luar kamar pasien, juga terbangun. Bram menghadapi sakaratul maut. Sita dan Andre membimbing Bram agar mengucapkan “Laa illaha ilallah.”, namun lidah Bram yang setiap harinya memang tak lepas dari zikir, dapat dengan lancar mengucapkannya. “Innalilahi wa inna ilaihi raji’un..” Andre mengucapkannya dengan nada tertahan, ketika tubuh Bram sudah lemas dan terbujur kaku.

    Semua ikhwan yang menyaksikan hal itu, terdiam. Kepala mereka tertunduk.

    Sepeninggal Bram, semua yang dirintisnya membuahkan hasil. Demi mendengar kisah kegigihannya dalam menegakkan Islam, telah membangkitkan militansi puluhan aktivis lainnya. Dan dari puluhan aktivis ini, lahirlah mujahid-mujahid baru. Regenerasi terus berlanjut. Mewariskan nilai-nilai keislaman yang telah Bram tanamkan di dalam diri teman-temannya. Pun bagi Andre, Bram adalah sosok teladan yang selau memberi motivasi kepada dirinya. intanshurullah yan shurkum wa yutsabbit aqdamakum

    (Tahun 2040)

    Kakek itu masih menatap tajam para mahasiswa dan mahasiswi yang ada di hadapannya. Ia berkata, “Wahai pemuda! Kalian tidak lebih lemah dari generasi sebelum kalian, yang dengan perantaraan mereka Allah membuktikan kebenaran manhaj ini. Oleh karenanya, janganlah merasa resah dan jangan merasa lemah. Kita akan menempa diri, sehingga setiap kita menjadi seorang muslim sejati. Allah tidak menghendaki kecuali menyempurnakan cahaya-Nya, meski orang-orang kafir tidak menyukainya,” ujarnya.

    Kakek itu mengucapkan panjang lebar tentang arti kemenangan da’wah. Dan tibalah saat sesi tanya jawab. Sang moderator berkata, “Ya, telah kita dengarkan tausiah-tausiah dari syeikh kita, Syeikh Andre. Seperti kita ketahui bersama, beliau juga pernah kuliah di kampus ini dan menjadi salah satu pelopor bangkitnya Islam di kampus kita tercinta. Maka jangan sia-siakan kesempatan ini untuk bertanya.” Beberapa orang dengan serentak, berebutan dan mengangkat tangan untuk bertanya.

    Usai acara, Andre bersiap-siap shalat berjamaah di masjid kampus bersama-sama dengan para mahasiswa. Ia memandangi perpustakaan yang dulu pernah ia dan Bram susun. Terlintas kembali kenangan itu, saat Bram berkata kepadanya, “Buku- buku adalah sumber ilmu.”

    Andre kemudian menjadi imam pada shalat Zuhur itu. Ia membaca surat Muhammad. dengan khusyuk. dan ketika sampai pada ayat intanshurullah yan shurkum wa yutsabbit aqdamakum, Andre terisak. Ia mengenal betul bahwa ayat inilah yang menjadi gerak juang saudaranya, Bram. Usai mengucap salam, Andre terdiam dan melihat ada Bram, Roy dan Zaid di hadapannya. Bram tersenyum kepadanya dan Andre membalas senyumnya. Andre menatap ke langit-langit masjid dan ia melihat makhluk-makhluk yang tak pernah ia lihat sebelumnya, bukan jin dan bukan pula manusia. Dan beberapa saat kemudian, ia tersungkur di depan mimbar masjid.

    Pak Andre!.. Seru jamaah shalat. Mereka berhamburan dan membopong tubuh Andre. Dan mendudukkannya. “Innalillahi wa Inna ilaihi raji’un.,” seru seorang dari mereka ketika tak ada lagi hembusan nafas dari Andre. “Pak Andre belum meninggal, kita bawa beliau ke rumah sakit saja,” ujar yang lainnya.

    Mereka segera membawa Andre ke rumah sakit. Dengan raut wajah berduka, dokter mengatakan hal yang sama, “Mohon maaf, Pak Andre. sudah tiada.” Saat itulah semua jamaah tertunduk dan menitikkan air mata, menangisi kepergian sang mujahid.

    ***

    Ribuan jamaah ikhwan berduyun-duyun mengantar kepergian syeikh mereka ke tempat peristirahatan. Langit mendung seakan turut menangisi kepergian mujahid-mujahid Allah di muka bumi. Bram, Zaid, Roy dan Andre.. Makam mereka terletak berdampingan. Mereka bertemu karena Allah, saling mencintai karena Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Di sekitar Arsy ada menara-menara dari cahaya. Di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya dan wajah-wajah mereka bercahaya. Mereka bukan para Nabi dan syuhada’, tetapi para Nabi dan Syuhada’ iri pada mereka. “Ketika ditanya oleh para sahabat, Rosulullah saw menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah, dan saling kunjung karena Allah”(HR. Tirmidzi). Mereka telah mengukir sejarah perjuangan yang indah. Sesungguhnya dakwah ini akan terus berlanjut hingga hari kiamat.

    Saat semua pengantar Andre telah pulang, ada beberapa pemuda gagah yang masih tertegun di samping makam-makam itu. Salah seorang dari pemuda berkata, “Ayah, kami akan meneruskan perjuanganmu, hingga tak ada lagi fitnah dan agama ini hanya milik Allah.,” ujarnya mantap. (Ayat Al Akrash)

    ***

    Hudzaifah.org –

     
  • erva kurniawan 3:25 am on 9 January 2019 Permalink | Balas  

    Berita Alam Kubur: Doa Untuk Ruh 

    Berita Alam Kubur

    06: “ DOA untuk RUH “

    Segala puji semata hanya bagi Allah SWT, Dzat Yang Menunjukkan kita pada kebenaran agama-Nya, Yang Menyempurnakan serta Meridhai agama-Nya, Yang membukakan pandangan hati orang yang dicintai-Nya, Yang menguasai takdir, Yang menjadi tempat kembali segala urusan. Semoga rahmat dan salam tetap tercurahkan pada nabi Muhammad SAW, yang telah dipilih oleh Allah SWT dari sekian banyak makhluk-Nya, yang dijadikan oleh-Nya sebagai yang terpilih dari yang terbaik. Semoga terlimpah pula kepada keluarga dan keturunannya, kepada semua nabi, semua keluarga mereka,  dan kepada hamba-hamba-Nya yang salih.

    Ibnu Abbas ra meriwayatkan bahwa: Pada hari Raya, hari Asyura, hari Jum’at yang pertama pada bulan Rajab, malam pertengahan bulan Sya’ban, malam Lailatul qadar, serta setiap malam Jum’at, keluarlah ruh-ruh orang yang sudah mati.

    Mereka lalu berdiri di pintu rumahnya masing-masing seraya berkata: “ Kasihanilah kami di malam ini yang penuh berkah dengan bersedekah, atau memberikan sesuap makanan pada orang miskin yang pahalanya ditujukan kepada kami , sebab kami sangat membutuhkan sdekah. Jika kalian bhakil, tidak mau memberi sedekah, maka ingatlah kepada kami dengan banyak membaca fatihah di malam yang penuh berkah ini. Apakah ada salah seorang dari kalian yang mengasihi kami?. Apakah ada salah seorang diantara kalian yang masih ingat pengembaraan kami?. Wahai orang yang berdiam di rumah kami, wahai orang yang menikahi istri kami, wahai orang yang menempati luasnya gedung kami, kami sekarang dalam kesempitan kubur. Wahai orang yang membagi harta kami, wahai orang yang masih ingat pengembaraan kami, buku kalian masih digelar. Tidak ada pakaian bagi mayit dalam kuburnya, maka kalian jangan lupa kepada kami dengan sepotong rotimu untuk bersedekah dan doamu. Sesungguhnya kami masih membutuhkan kalian untuk selamanya “.

    Kalau ruh-ruh orang yang sudah mati mendapatkan sedekah dan doa dari keluarganya, maka ia akan kembali dengan penuh kegembiraan. Sebaliknya, jika ia tidak mendapatkan sedekah atau doa dari keluarganya, maka ia akan kembali dengan bersedih hati, seperti putusnya hubungan dengan keluarganya.

    ***

    Dikutip dari buku “ Daqa’iqul Akhbar “ yang ditulis oleh Imam Abdur Rahman bin Ahmad Al-Qadli dan diterbitkan oleh Pustaka Hikmah Perdana – Jakarta.

     
  • erva kurniawan 2:22 am on 8 January 2019 Permalink | Balas  

    Berita Alam Kubur: Ruh Orang Mukmin di Alam Kubur 

    Berita Alam Kubur

    05 : “ RUH ORANG MUKMIN DI ALAM KUBUR “

    Segala puji semata hanya bagi Allah SWT, Dzat Yang Menunjukkan kita pada kebenaran agama-Nya, Yang Menyempurnakan serta Meridhai agama-Nya, Yang membukakan pandangan hati orang yang dicintai-Nya, Yang menguasai takdir, Yang menjadi tempat kembali segala urusan. Semoga rahmat dan salam tetap tercurahkan pada nabi Muhammad SAW, yang telah dipilih oleh Allah SWT dari sekian banyak makhluk-Nya, yang dijadikan oleh-Nya sebagai yang terpilih dari yang terbaik. Semoga terlimpah pula kepada keluarga dan keturunannya, kepada semua nabi, semua keluarga mereka,  dan kepada hamba-hamba-Nya yang salih.

    Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa :

    Ketika seorang mukmin meninggal dunia, maka ruhnya berputar-putar di sekitar rumahnya selama 1 (satu) bulan. Ruh ini bisa melihat harta benda yang ditinggalkannya, bagaimana cara hartanya dibagi, dan bagaimana hutang-hutangnya dibayar.

    Ketika telah sampai masa 1 (satu) bulan, ruh kembali ke kuburnya, ia berputar-putar sampai dalam masa 1 (satu) tahun dari kematiannya, dan ia bisa melihat orang yang mendoakan dirinya, ia juga bisa melihat orang yang bersedih atas kematiannya. Setelah 1 (satu) tahun, ruh diangkat ke tempat kumpulnya para ruh sampai hari kiamat, yaitu hari ditiupkannya sangkakala.

    ***

    Dikutip dari buku “ Daqa’iqul Akhbar “ yang ditulis oleh Imam Abdur Rahman bin Ahmad Al-Qadli dan diterbitkan oleh Pustaka Hikmah Perdana – Jakarta.

     
  • erva kurniawan 2:17 am on 7 January 2019 Permalink | Balas  

    Berita Alam Kubur: Ruh di Alam Kubur 

    Berita Alam Kubur

    04: “ RUH DI ALAM KUBUR “

    Segala puji semata hanya bagi Allah SWT, Dzat Yang Menunjukkan kita pada kebenaran agama-Nya, Yang Menyempurnakan serta Meridhai agama-Nya, Yang membukakan pandangan hati orang yang dicintai-Nya, Yang menguasai takdir, Yang menjadi tempat kembali segala urusan. Semoga rahmat dan salam tetap tercurahkan pada nabi Muhammad SAW, yang telah dipilih oleh Allah SWT dari sekian banyak makhluk-Nya, yang dijadikan oleh-Nya sebagai yang terpilih dari yang terbaik. Semoga terlimpah pula kepada keluarga dan keturunannya, kepada semua nabi, semua keluarga mereka,  dan kepada hamba-hamba-Nya yang salih.

    Rasulullah SAW bersabda:

    Ketika ruh sudah keluar dari tubuh anak Adam dan telah lewat masa 3 (tiga) hari, maka ruh itu berkata: “ Wahai Tuhanku, izinkanlah aku berjalan sehingga aku bisa melihat jasadku, dimana aku pernah berada dalam jasad tersebut “.

    Allah kemudian mengizinkan pada ruh, akhirnya datanglah ruh ke kuburnya, ia melihat jasadnya dari jauh. Darah telah mengalir dari kedua hidungnya dan mulutnya, maka ruh itu menangis dengan tangisan yang lama. Kemudian ruh berkata: “ Wahai jasad yang miskin, wahai kekasihku, apakah kamu ingat hari-hari hidupmu. Ini adalah rumah, yaitu rumah duka cita dan rumah cobaan, rumah kesedihan hati, rumah kesusahan dan rumah penyesalan “. Kemudian ruh itu pergi.  Ketika lewat masa 5 (lima) hari, ruh berkata: “ Wahai tuhanku, izinkanlah aku melihat jasadku lagi “.

    Allah kemudian mengizinkan kepada ruh tadi, lalu datanglah ruh ke kuburnya, ia melihat dari jauh. Dan benar-benar telah mengalir dari hidung, mulut serta telinganya nanah kental bercampur darah, maka ruh menangis dengan tangisan yang sangat keras.

    Kemudian ruh berkata: “ Wahai jasad yang miskin, apakah kamu ingat hari-hari hidupmu?. Ini adalah rumah duka cita, rumahnya ulat, rumahnya kalajengking. Ulat-ulat itu telah memakan dan merobek-robek kulitmu dan anggota tubuhmu “. Setelah itu, ruh berlalu.

    Tatkala lewat masa 7 (tujuh) hari, ruh berkata: “ Wahai Tuhanku, izinkanlah aku untuk melihat jasadku “.

    Allah mengizinkan, maka datanglah ruh ke kuburnya, ia melihat dari jauh jasadnya telah dikerubungi oleh banyak ulat. Melihat hal itu, ruh menangis dengan tangisan yang amat keras, seraya berkata: “ Wahai tubuhku, apakah kamu ingat hari-hari hidupmu, dimana anak-anakmu?, dimana kaum kerabatmu?, dimana auratmu?, dimana saudara-saudaramu?, dimana teman dekatmu?, dimana sahabatmu?, dimana tetanggamu, yaitu orang yang ridho bertetangga denganmu. Pada hari ini, mereka menagisi kepadaku dan kepadamu “.

    ***

    Dikutip dari buku “ Daqa’iqul Akhbar “ yang ditulis oleh Imam Abdur Rahman bin Ahmad Al-Qadli dan diterbitkan oleh Pustaka Hikmah Perdana – Jakarta.

     
  • erva kurniawan 2:15 am on 6 January 2019 Permalink | Balas  

    Berita Alam Kubur: Kesaksian Ruh di Alam Kubur 

    Berita Alam Kubur

    03 : “ KESAKSIAN RUH DI ALAM KUBUR “

    Segala puji semata hanya bagi Allah SWT, Dzat Yang Menunjukkan kita pada kebenaran agama-Nya, Yang Menyempurnakan serta Meridhai agama-Nya, Yang membukakan pandangan hati orang yang dicintai-Nya, Yang menguasai takdir, Yang menjadi tempat kembali segala urusan. Semoga rahmat dan salam tetap tercurahkan pada nabi Muhammad SAW, yang telah dipilih oleh Allah SWT dari sekian banyak makhluk-Nya, yang dijadikan oleh-Nya sebagai yang terpilih dari yang terbaik. Semoga terlimpah pula kepada keluarga dan keturunannya, kepada semua nabi, semua keluarga mereka, dan kepada hamba-hamba-Nya yang salih.

    Allah SWT berfirman : “ Wahai malaikat-Ku, aku telah mengambil ruh seorang hamba, aku meninggalkan hartanya untuk yang lain, istrinya berada ditempat orang lain, jariyahnya untuk orang lain, harta bendanya juga untuk orang lain. Karena itu, bertanyalah kepada hamba-Ku itu dalam perut bumi. Hamba-Ku tidak akan rela kecuali kepada-Ku, ia tidak akan menjawab pertanyaan seseorang kecuali tentang Aku. Hamba-Ku akan berkata : “ Allah, Tuhanku, Muhammad Nabiku, dan Islam adalah Agamaku “. Apakah kalian berdua tidak mengetahui?. Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui, sebagaimana kisah yang telah disebutkan dalam kitab suci “.

    Ketika mayit sudah diletakkan di dalam kubur, maka datanglah dua malaikat yang sangat hitam, kedua matanya melotot, suaranya seperti petir dan penglihatannya bagaikan kilat yang menyambar. Kedua malaikat ini datang dari arah kepala si mayit. Maka amalan shalat berkata : “ Kalian berdua jangan datang dari arahku, karena mayit ini sering tekun shalat, baik di waktu malam maupun siang, karena rasa takutnya pada tempat ini “.

    Kemudian kedua malaikat itu datang dari arah kedua kakinya. Kedua kakinya lalu berkata : “ Kalian berdua jangan datang dari arahku, sebab mayit ini selalu mempergunakan aku untuk berjalan menuju tempat shalat berjama’ah, karena rasa takutnya pada tempat ini “.

    Kedua malaikat itu lalu datang dari arah kanannya, maka berkatalah amalan sedekah : “ Kalian jangan datang dari arahku, sebab mayit ini telah melakukan sedekah dengan aku, sebab ia takut pada tempat ini “.

    Selanjutnya kedua malaikat itu datang dari arah kirinya, maka berkatalah amalan puasanya : “ Kalian berdua jangan datang dari arahku, sebab mayit ini benar-benar telah lapar dan haus, karena rasa takutnya pada tempat ini “.

    Lalu mayit terbangun sebagaimana bangunnya orang yang tidur, seraya berkata : “ Apa yang kalian kehendaki? “. Kedua malaikat itu menjawab: “ Kami ingin menanyakan ketauhidan kepada Allah “.

    Mendengar pertanyaan demikian, si mayit langsung mengucapkan : “ Ashadu an laa ilaaha illallaah “.

    Kedua malaikat itu lalu bertanya : “ Apa yang kamu katakan kepada Muhammad SAW? “. Si mayit langsung mengucapkan : “ Ashadu anna muhammadar rasuulullaah “.

    Selanjutnya kedua malaikat berkata : “ Kamu hidup dalam keadaan mukmin, mati pun dalam keadaan mukmin “.

    ***

    Dikutip dari buku “ Daqa’iqul Akhbar “ yang ditulis oleh Imam Abdur Rahman bin Ahmad Al-Qadli dan diterbitkan oleh Pustaka Hikmah Perdana – Jakarta.

     
  • erva kurniawan 2:11 am on 5 January 2019 Permalink | Balas  

    Berita Alam Kubur: Seruan Kepada Ruh 

    Berita Alam Kubur.

    02 : “ SERUAN kepada RUH “

    Segala puji semata hanya bagi Allah SWT, Dzat Yang Menunjukkan kita pada kebenaran agama-Nya, Yang Menyempurnakan serta Meridhai agama-Nya, Yang membukakan pandangan hati orang yang dicintai-Nya, Yang menguasai takdir, Yang menjadi tempat kembali segala urusan. Semoga rahmat dan salam tetap tercurahkan pada nabi Muhammad SAW, yang telah dipilih oleh Allah SWT dari sekian banyak makhluk-Nya, yang dijadikan oleh-Nya sebagai yang terpilih dari yang terbaik. Semoga terlimpah pula kepada keluarga dan keturunannya, kepada semua nabi, semua keluarga mereka,  dan kepada hamba-hamba-Nya yang salih.

    Ketika ruh berpisah dari badan, maka ada panggilan dari langit sebanyak 3 (tiga) kali : “ Wahai anak Adam, apakah engkau meninggalkan dunia ini, atau dunia yang meninggalkan dirimu?. Apakah engkau mengumpulkan dunia, atau dunia yang mengumpulkan dirimu?. Apakah engkau yang membunuh dirimu? “.

    Ketika mayit diletakkan diatas dipan untuk dimandikan, ada panggilan dengan 3 (tiga) kali seruan : “ Wahai anak Adam, dimana badanmu yang kuat itu, dan apa yang menjadikan dirimu menjadi lemas?. Wahai anak Adam, dimana lisanmu yang fasih itu, dan apa yang menyebabkan dirimu diam?. Wahai anak Adam, dimanakah para kekasihmu, dan apa yang menyebabkan mereka tidak menyukai dirimu? “.

    Tatkala mayit diletakkan di kain kafan, mayit dipanggil dengan 3 (tiga) kali seruan : “ Wahai anak Adam, engkau akan pergi jauh tanpa membawa perbekalan. Wahai anak Adam, engkau akan keluar dari rumahmu dan tidak akan kembali lagi. Wahai anak Adam, engkau tidak akan bisa naik kuda untuk selamanya, dan engkau akan menuju tempat yang sangat menakutkan “.

    Pada saat mayit dipikul di atas keranda, mayit dipanggil dengan 3 (tiga) kali seruan : “ Wahai anak Adam, bahagialah dirimu jika engkau termasuk orang yang bertaubat. Bahagialah engkau, jika amalmu itu termasuk amal baik. Bahagialah dirimu, jika temanmu adalah keridhoan Allah. Celakalah engkau, jika temanmu adalah kemurkaan Allah Ta’ala “.

    Ketika mayit diletakkan hendak dishalati, mayit dipanggil dengan 3 (tiga) kali seruan : “ Wahai anak Adam, setiap perbuatan yang engkau lakukan pasti engkau akan melihatnya, jika perbuatan amalmu itu baik, maka engkau akan melihat suatu kebaikan. Sebaliknya, jika amal perbuatanmu itu buruk, maka engkau akan melihat keburukan “.

    Tatkala keranda diletakkan di tepi kubur, maka mayit dipanggil dengan 3 (tiga) kali seruan : “ Wahai anak Adam, engkau tidak membawa perbekalan dari tempat yang ramai menuju ke tempat yang rusak. Engkau tidak membawa kekayaanmu kepada kefakiran ini. Engkau tidak membawa cahaya ke tempat yang gelap ini “.

    Pada saat mayit diletakkan di lubang kubur, mayit dipanggil dengan 3 (tiga) kali seruan : “ Wahai anak Adam, disaat engkau berada diatas punggungku engkau banyak tertawa, sekarang engkau berada di perutku dengan menangis. Engkau berada di punggungku dengan bergembira, sekarang engkau berada di perutku dengan kesusahan. Engkau berada di atas punggungku bisa berbicara, sekarang engkau berada di perutku dengan berdiam “.

    Ketika orang-orang yang mengantar pergi meninggalkan si mayit sendirian didalam kubur, maka Allah berfirman : “ Wahai hamba-Ku, sekarang engkau tinggal sendirian dalam gelapnya kubur, sedangkan orang-orang sudah meninggalkan dirimu. Engkau telah berbuat durhaka kepada-Ku hanya karena manusia, karena istri dan anak semata. Pada hari ini, Aku lebih mengasihi dirimu dengan rahmat-Ku, dimana besarnya rahmat-Ku melebihi kecintaan makhluk. Rasa belas kasihan-Ku kepadamu jauh melebihi rasa kasih sayang seorang ibu kepada anaknya “.

    ***

    Dikutip dari buku “ Daqa’iqul Akhbar “ yang ditulis oleh Imam Abdur Rahman bin Ahmad Al-Qadli dan diterbitkan oleh Pustaka Hikmah Perdana – Jakarta.

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 4 January 2019 Permalink | Balas  

    Berita Alam Kubur: Ruh Yang Menyeru 

    Berita Alam Kubur

    01 : “ RUH yang MENYERU “

    Segala puji semata hanya bagi Allah SWT, Dzat Yang Menunjukkan kita pada kebenaran agama-Nya, Yang Menyempurnakan serta Meridhai agama-Nya, Yang membukakan pandangan hati orang yang dicintai-Nya, Yang menguasai takdir, Yang menjadi tempat kembali segala urusan. Semoga rahmat dan salam tetap tercurahkan pada nabi Muhammad SAW, yang telah dipilih oleh Allah SWT dari sekian banyak makhluk-Nya, yang dijadikan oleh-Nya sebagai yang terpilih dari yang terbaik. Semoga terlimpah pula kepada keluarga dan keturunannya, kepada semua nabi, semua keluarga mereka,  dan kepada hamba-hamba-Nya yang salih.

    Aisyah ra pernah berkata : Ketika aku sedang duduk bersila didalam rumah, tiba-tiba Rasulullah SAW masuk dengan memberi salam kepadaku. Tatkala aku hendak berdiri untuk menghormati beliau, sebagaimana adat kebiasaanku setiap kali beliau masuk rumah, maka tanpa kuduga beliau berkata : “ Tetaplah duduk di tempatmu tidak perlu engkau berdiri, wahai Ummul Mukminin “.

    Aisyah melanjutkan ceritanya : Rasulullah SAW kemudian tiduran dengan meletakkan kepalanya diatas pangkuanku, beliau tidur dengan telentang. Diatas tengkuknya aku berbuat mencari uban jenggotnya. Akhirnya aku melihat dalam jenggot beliau ada 11 rambut putih. Lalu aku berfikir, dalam hati aku mengatakan bahwa beliau ini akan wafat mendahului aku, maka tinggallah umat ini tanpa ada Nabi. Tanpa terasa aku menangis sampai airmataku mengalir di pipi sehingga menetes ke wajah Rasulullah SAW, beliau langsung terbangun dari tidurnya seraya bertanya : “ Apa yang menyebabkan dirimu menangis, wahai Ummul Mukminin ? “.

    Kemudian aku menceritakan kepada beliau suatu cerita.  Beliau lalu bertanya kepadaku : “ Saat apa yang paling pedih di alam mayit ? “.

    Aku menjawab : “ Tidak ada keadaan yang paling pedih atas diri mayit disaat mayit keluar dari rumahnya, sedangkan anak-anaknya berduka cita dibelakangnya, seraya mengatakan : … aduh… bapak… aduh … Sedangkan ibu dan bapak berkata : … aduh… anakku… aduh … “ .

    Nabi SAW lalu bersabda : “ Yang ini lebih pedih lagi “ . Kemudian aku bertanya : “ Apa yang lebih pedih dari itu ya Rasulullah ? “.  Beliau menjawab : “ Tidak ada keadaan yang paling pedih bagi si mayit ketika ia diletakkan dalam liang kubur kemudian diurug dengan tanah. Setelah itu, kembalilah para kerabatnya, anak-anaknya dan para kekasihnya, mereka semua menyerahkan si mayit kepada Allah Ta’ala beserta perbuatan amalnya. Lalu datanglah malaikat Munkar dan Nakir dalam kuburnya “ .

    Kemudian Nabi SAW bertanya : “ Saat apa yang paling pedih dari kejadian tersebut ? “ . Aku menjawab : “ Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu “ .

    Kemudian beliau bersabda :

    Wahai Aisyah, sesungguhnya keadaan yang paling pedih atas diri si mayit adalah ketika orang yang memandikan masuk kepadanya untuk memandikan dirinya, lalu orang yang memandikan mengeluarkan cincin si mayit muda dari jarinya, melepas baju pengantin dari badannya, melepas surban mayit tua atau mayit alim dari kepalanya guna dimandikan.

    Pada saat itu, ruhnya memanggil sewaktu melihat si mayit dalam keadaan telanjang, dengan suara yang bisa didengar oleh seluruh makhluk, kecuali jin dan manusia. Ruh itu mengatakan : “ Wahai orang yang memandikan, aku meminta kalian supaya mencopot bajuku dengan pelan, sebab aku pada saat ini benar-benar ingin istirahat akibat dari sakitnya tarikan Malaikat Maut tadi “ .

    Ketika orang-orang sedang memandikan mayit, maka berkatalah ruh : “ Wahai orang yang memandikan, kalian jangan memegang aku dengan kuat, sebab jasadku telah luka akibat dari keluarnya ruh “ .

    Setelah selesai dimandikan si mayit diletakkan pada kain kafan, kemudian diikat pada tempat kedua telapak kakinya. Pada saat itu si mayit memanggil-manggil : “ Wahai orang yang memandikan, kalian jangan mengikat kain kafan kepalaku sehingga aku bisa melihat wajah istriku, anak-anakku, dan kaum kerabatku, sebab pada hari ini adalah hari yang terakhir kali aku melihat mereka. Hari ini aku akan berpisah dengan mereka, aku juga tidak akan melihat mereka lagi sampai hari Kiamat tiba “ .  Ketika mayit dikeluarkan dari rumah, maka mayit berseru : “ Wahai golonganku, kutinggalkan istriku dalam keadaan janda, kalian jangan menyakitinya. Kutinggalkan anak-anakku dalam keadaan yatim, kalian jangan menyakitinya, sebab pada hari ini aku keluar rumah dan tidak akan kembali lagi pada mereka untuk selamanya “ .

    Tatkala mayit diletakkan diatas keranda, si mayit berseru : “ Wahai golonganku, kalian jangan tergesa-gesa membawaku, sehingga aku bisa mendengarkan suara istriku, anak-anakku, serta kaum kerabatku, sebab pada hari ini aku akan berpisah dengan mereka sampai hari kiamat “ .

    Pada saat mayit dipikul diatas keranda dan orang-orang yang mengantarkan sudah melangkah 3 (tiga) kali, tiba-tiba ada seruan dengan suara yang bisa didengar oleh segala sesuatu kecuali manusia dan jin. Ruh itu berkata : “ Wahai para kekasihku, wahai para saudaraku, wahai ank-anakku, jangnlah kalian terbujuk oleh tipu daya dunia, sebagaimana dunia telah menipu diriku. Janganlah kalian dipermainkan zaman, sebagaimana zaman telah mempermainkan diriku. Ambillah pelajaran yang aku alami ini, sesungguhnya aku telah meninggalkan semua harta yang telah aku kumpulkan untuk ahli warisku, dan mereka tidak mau menanggung sedikit pun dari kesalahanku. Didalam kubur, Allah menghisab aku, sedangkan kalian bersenang-senang dengan dunia. Kalian juga tidak mendoakan aku ketika kalian menshalati jenasah “ .

    Pada waktu sebagian ahlinya dan teman-temannya kembali dari tempat shalat, maka ruh berkata : “ Wahai saudaraku, aku mengetahui bahwa mayit itu lupa di kala hidupnya, tetapi kalian jangan melupakan aku secepat ini sebelum kalian menanamku, sehingga aku bisa melihat pada tempatku. Wahai saudaraku, aku mengetahui bahwa wajah mayit lebih dingin daripada air yang dingin menurut perasaan hati orang yang masih hidup, tetapi kalian janganlah kembali secepat ini “ .

    Ketika si mayit diletakkan di dekat kuburnya, ruh berkata : “ Wahai golonganku, wahai saudara-saudaraku, aku telah mendoakan kalian tetapi kalian tidak pernah mendoakan diriku “ .

    Saat mayit diletakkan dalam kuburnya, ruh berkata : “ Wahai ahli warisku, aku tidak mengumpulkan harta yang banyak kecuali aku tinggalkan untuk kalian, maka ingatlah kalian kepadaku dengan memperbanyak kebaikan seperti yang telah aku ajarkan kepada kalian tentang isi Al-Qur’an dan tatakrama, janganlah kalian lupa untuk mendoakan aku “ .

    ***

    Dikutip dari buku “ Daqa’iqul Akhbar “ yang ditulis oleh Imam Abdur Rahman bin Ahmad Al-Qadli dan diterbitkan oleh Pustaka Hikmah Perdana – Jakarta.

     
  • erva kurniawan 2:03 am on 3 January 2019 Permalink | Balas  

    Dunia Yang Mempesona 

    Dunia Yang Mempesona

    Zaid bin Arqam berkata, “Kami pernah bersama Abu Bakar ash-Shiddiq ra, kemudian ia meminta minuman, maka dibawakan kepadanya air dan madu. Ketika minuman itu didekatkan ke mulutnya, tiba-tiba ia menangis sehingga para sahabatpun ikut menangis. Para sahabat berhenti menangis tapi ia terus menangis. Abu Bakar ra tak henti menangis sehingga para sahabatnya menduga mereka takkan mampu menanyakan sebabnya. Hingga akhirnya Abu Bakar ra mengusap kedua matanya, dan segera para sahabat menanyakan padanya, “Wahai khalifah Rasulullah, apa gerangan yang menyebabkan engkau menangis?”. Abu bakar ra lantas lantas menjawab, “(Aku teringat ketika) Pernah aku bersama Rasulullah SAW, kemudian aku melihat ia menolak sesuatu dari dirinya, padahal aku tidak melihat seorangpun bersama beliau. Maka aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah sesuatu yang baru saja engkau tolak dari dirimu?” . Rasulullah menjawab, “Baru saja ‘dunia’ menjelma dalam sesuatu bentuk dari dirinya. Maka aku berkata padanya,

    ‘Menjauhlah engkau!’, lalu dunia itu pergi, namun kembali beberapa saat kemudian dan berkata padaku, ‘Sesungguhnya engkau dapat menyelamatkan diri dariku (pesona dunia), tapi niscaya orang-orang sesudahmu tidak akan dapat menyelamatkan diri dariku (pesona dunia). (diriwayatkan oleh al-Bazzar dan al-Hakim, dishahihkan sanadnya)

    Inilah pesona dunia, pesona yang telah membuat banyak orang siap menghamba pada dunia untuk mendapatkannya. Pesona pantai yang indah hingga gunung yang sejuk, pesona mobil yang nyaman hingga kapal pesiar yang mewah, pesona tanah yang luas dan rumah yang besar hingga pesona pusat-pusat hiburan keluarga yang bertebaran, pesona layanan kelas satu di restoran mewah hingga pesona menikmati perjalanan kelas satu ke kota-kota indah di dunia ini, pesona barang elektronik canggih hingga teknologi otomatisasi yang memudahkan gaya hidup manusia, pesona memiliki banyak anak hingga pesona dihormati banyak orang, pesona memiliki uang banyak yang siap membeli apapun yang kita ingini, pesona wanita cantik hingga pesona makanan dan minuman lezat, halal maupun haram, dan masih ada berjuta-juta jenis lagi pesona dunia yang siap menghibur para pecinta pesona dunia.

    Sedemikian banyak manusia yang memanfaatkan waktu dan masa sehatnya untuk menikmati pesona dunia jauh dari kebutuhan dasar / normal yang diperlukan. Harta yang berlebih digunakannya untuk menikmati fasilitas dunia atau untuk bermalas-malas di rumahnya yang nyaman, berjudi atau menikmati narkoba. Para pecinta syahwat sibuk menyenangkan syahwat perut dan kemaluannya sepuas-puasnya sesuai daya belinya, bukan lagi sesuai syariat Islam. Para pecinta kekuasaan berusaha menggunakan kekuasaan dan uangnya untuk menciptakan kekaguman dan rasa hormat orang lain pada dirinya. Para pecinta dunia yang memiliki fisik yang indah atau bakat seni atau memiliki otak yang encer berusaha memamerkan kelebihannya untuk mendapatkan pujian dan pengaruh. Para pecinta dunia yang pandai berdagang sibuk bekerja keras untuk meraih laba dan menumpuk uang sebanyak-banyaknya serta memuaskan ambisi karirnya secara berlebihan. Para pecinta dunia yang sayang anak dan keluarga sibuk mencari harta dan pengaruh untuk

    menaikkan derajat keluarga dan kehormatan keturunannya.

    Untuk mendapatkan pesona dunia tersebut manusia menghabiskan sebagian besar waktunya bekerja keras untuk dunia. Pikiran para pencinta dunia lebih terfokus pada duniawi sehingga memberi tempat yang sedikit atau bahkan tak ada tempat bagi akhirat di hatinya. Bisa jadi para pecinta dunia adalah orang-orang yang sopan, ramah, suka menolong, namun semua itu dilakukannya dalam kerangka duniawi. Mereka berbuat baik untuk mendapatkan kepercayaan dan kehormatan dunia, niatnya bukan untuk mendapatkan keridhaan Allah. Sebagian orang bahkan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan pesona dunia, yaitu dengan korupsi, merampok, mencuri, menganiaya, menipu, memperkosa atau membodohi orang lain.

    Dunia Yang Menipu dan Melalaikan

    1. Kehidupan dunia adalah kehidupan yang rendah dan sementara.

    Allah mengilustrasikannya seperti air hujan yang menyuburkan tumbuhan sampai jangka waktu tertentu dan akhirnya tumbuhan itu menjadi kering. Allah berfirman, ”Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu adalah seperti air hujan yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai pula perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan ia laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada orang-orang yang berpikir.” (QS 10: 24).

    1. Kehidupan dunia hanyalah permainan, melalaikan dan kesenangan yang menipu.

    Firman Allah SWT : ”Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS, Al-Hadid : 20)

    Firman Allah SWT : “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”. (QS, Ali Imran : 14).

    Firman Allah SWT : Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syetan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. (QS, Fathir : 5)

    1. Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sesungguhnya, kehidupan yang kekal.

    Firman Allah SWT : “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal”. (QS, Al A’la 16-17)

    Firman Allah SWT : “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”. (QS, Al-’Ankabut : 64)

    Firman Allah SWT : “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri dan dia ingat akan Tuhannya, lalu dia shalat. Tetapi kamu (orang yang ingkar) memilih dunia, padahal akhirat itu jauh lebih baik dan lebih kekal”. (QS, Al A’laa :14-17)

    Dunia Yang Dicintai dan Ancaman Allah SWT

    Inilah ancaman-ancaman Allah SWT bagi para pecinta dunia.

    Firman Allah SWT : “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan”. (QS, Yunus 7 – 8)

    Firman Allah SWT : “Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahanam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (QS, Hud 15 – 16).

    Firman Allah SWT : “Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan): “Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik”. (QS, Al-Ahqaf:20)

    Firman Allah SWT : “Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?” (QS, Hud 15-16)

    Firman Allah SWT : “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainulyaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (QS, At-Takatsur: 1-5).

    Dunia Yang Tidak Ada Nilainya

    Para pecinta dunia hanya berpikir bahwa adalah tak mungkin dan sia-sia kalau Tuhan menciptakan dunia yang sangat sempurna ini, yang luas dan lengkap ini selain untuk dinikmati. Bahkan mereka berpikir tak mungkin Tuhan akan menghancurkan dunia ciptaan-Nya sendiri yang demikian menakjubkan ini melalui suatu bencana kiamat. Pencinta dunia hanya takjub kepada dunia yang luar biasa ini dan tidak pada akhirat karena mereka tidak tahu gambaran mengenai akhirat.

    Rasulullah SAW telah menggambarkan betapa kecilnya nilai dunia ini dibanding akhirat dalam beberapa hadits sbb :

    1. Nilai dunia tidak ada artinya dibanding dengan nilai akhirat.

    Demi Allah, dunia ini dibanding akhirat ibarat seseorang yang mencelupkan jarinya ke laut; air yang tersisa di jarinya ketika diangkat itulah nilai dunia” (dari Al-Mustaurid ibn Syaddad r.a, Hadits Riwayat Muslim). Inilah penggambaran luar biasa yang menunjukkan betapa tak ada nilainya dunia ini dibanding keluarbiasaan alam akhirat.

    1. Nilai dunia lebih hina bagi Allah dibanding dari nilai bangkai seekor kambing cacat dalam pandangan manusia.

    Jabir bin Abdullah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW berjalan melewati pasar sementara orang-orang berjalan di kanan kiri beliau. Beliau melewati seekor anak kambing yang telinganya kecil dan sudah menjadi bangkai. Beliau lalu mengangkatnya dan memegang telinganya, seraya bersabda : “Siapa diantara kalian yang mau membeli ini dengan satu dirham (saja)?”. Mereka menjawab, “Kami tidak mau membelinya dengan apapun. Apa yang kami bisa perbuat dengannya?” Kemudian beliau SAW bertanya, “Apakah kamu suka ia menjadi milikmu?”. Mereka menjawab, “Demi Allah, seandainya ia hidup ia adalah aib (cacat), ia bertelinga kecil, apalagi setelah ia menjadi bangkai?”. Maka beliau SAW bersabda, “Demi Allah, dunia ini lebih hina bagi Allah daripada bangkai ini dalam pandangan kalian.” (HR Muslim). Ibarat anak kambing yang cacat dan telah jadi bangkai pula, maka tak seorangpun yang mau memilikinya bahkan memandangnya apalagi menyimpannya; demikianlah Rasulullah SAW menggambarkan

    bagaimana Allah SWT menilai dunia ini yang diibaratkan lebih rendah dan hina dari bangkai kambing.

    1. Dunia tidak ada nilainya di sisi Allah, bahkan seberat sayap nyamuk sekalipun..

    Sahal Ibn Sa’ad as-Sa’idi ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda : “Seandainya dunia itu ada nilainya disisi Allah bahkan seberat sayap nyamuk sekalipun, tentu Dia tidak akan sudi memberi minum pada orang kafir meskipun seteguk air.” (HR Tirmidzi, shahih). Hadits ini juga memberi makna bahwa rezeki dan kebahagiaan dunia juga diberikan Allah pada orang kafir maupun fasik, bahkan sering diberikan lebih banyak dibanding yang Ia berikan kepada orang-orang yang sholeh, ini karena nilai dunia yang sangat tidak ada artinya dibanding akhirat.

    Dunia Adalah Ladang Amal Bagi Akhirat

    Setiap muslim harus mempertimbangkan kepentingan akhirat dalam setiap aktivitasnya. Allah berfirman, ”Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedangkan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka, apakah kamu tidak memahaminya? Maka, apakah orang yang Kami janjikan kepadanya suatu janji yang baik (surga) lalu ia memperolehnya, sama dengan orang yang Kami berikan kepadanya kenikmatan hidup duniawi, kemudian dia pada hari kiamat termasuk orang-orang yang diseret (ke dalam neraka)?” (QS 28: 60-61).

    Rasulullah SAW bersabda: “Dunia ini adalah ladang untuk bercocok tanam (tempat melakukan amal ibadah dan amal kebajikan) yang hasilnya dipanen kelak di negeri akhirat.”

    Imam Ghozali dalam bukunya Ihya’ Ulumuddin menasihatkan bahwa cara-cara yang baik untuk mensikapi dunia secara bijaksana adalah menghindarkan diri kedalam sikap berlebih-lebihan (tafrith) ataupun serba kekurangan (ifrath) dalam segala sesuatunya. Cukup mengambil kebutuhan dunia yang sedang-sedang saja, yaitu secukupnya sesuai kebutuhan dasar yang dibutuhkan agar cukup beribadah secara baik. Gambarannya sbb :

    1. Dunia diambil seperlunya saja sesuai kebutuhan pokok Syahwat (perut dan kemaluan) dikendalikan sesuai dengan batasan-batasan syariat dan akal sehat. Tidak memperturutkan setiap syahwat, namun tidak meninggalkannya sama sekali. Jalan tengah yang adil dan sedang-sedang saja adalah yang terbaik.
    2. Ia makan sekedar bisa memperkuat badannya agar bisa melaksanakan ibadah, ia memiliki rumah sekedar terhindar dari panas, dingin dan pencurian, ia memiliki pakaian secukupnya sesuai kebutuhan dasar untuk bekerja, untuk bergaul dengan orang-orang baik, dan untuk beribadah (sholat).
    3. Bila hati sudah selesai dengan kesibukan badan (bekerja) maka ia mengisinya dengan memperbanyak mengingat Allah SWT, dengan dzikir, sholat dan ibadah lainnya. Dengan cara ini kebutuhan syahwatnya lebih terkendali penggunaannya selalu di jalan Allah.

    Disarikan dari Hakikat Dunia (Mahyudin Purwanto ), Hakikat Perilaku Zuhud (Muhammad Irfan Helmy), Kehidupan Dunia (Firdaus MA), Kitab Riyadhus Shalihin (Imam Nawawi), dll., Mensucikan Jiwa, ringkasan Ihya Ulumuddin Al Gahzali, Sa’id Hawwa.

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 2 January 2019 Permalink | Balas  

    Bolehkah Ruqyah Sebagai Profesi? 

    Bolehkah Ruqyah Sebagai Profesi?

    Pendahuluan

    Ruqyah adalah mengobati orang yang terkena kesurupan, gangguan atau kemasukan jin. Ruqyah syar`iyah adalah mengobati orang yang terkena kesurupan , gangguan atau kemasukan jin dengan cara-cara yang di syariatkan Islam, yaitu dengan ayat-ayat Alquran, Asma`ul husna, do`a- do`a yang berasal dari Alquran dan hadis. Islam melarang ruqyah dengan bantuan dukun, sihir, jin dan cara-cara lain yang bertentangan dengan Islam.

    Nabi mengizinkan ruqyah dengan Alquran, dzikir-dzikir, dan do`a-do`a selama tidak menngaundung syirik atau perkataan yang tidak bisa dimengerti maknanya. Berdasarkan hadis di bawah ini:

    Dari `Auf Bin Malik, Ia berkata, “Kami meruqyah di masa jahiliyyah , lalu kami berkata, Wahai Rasulullah! Bagaimana pendapat Anda tentang hal itu?` Beliau menjawab, Perlihatkanlah ruqyah kalian kepadaku. Tidak mengapa melakukan ruqyah selama tidak mengandung syirik.” (HR. Muslim dan Abu Dawud).

    Para ulama telah bersepakat membolehkan ruqyah, apabila menurut kategori yang disebutkan tadi, serta menyakini bahwa ia adalah sebagai sebab, tidak ada pengaruh baginya kecuali dengan taqdir Allah I. Adapun menggantungkan sesuatu di leher atau mengikatnya di salah satu anggota tubuh seseorang, jika bukan berasal dari Alquran, hukumnya haram, bahkan syirik. Berdasarkan hadits di bawah ini:

    Dari Imran bin Al Husain, bahwa Nabi melihat seseorang di tangannya ada gelang dari kuningan. Beliau bersabda,”Sesungguhnya ia tidak menambahkan anda selain kelemahan, lemparkanlah dari anda. Sesungguhnya jika anda meninggal dan dia tetap bersama anda, anda tidak akan beruntung selamanya.” (HR. Ibnu Majah, Ahmad. Dihasankan Al Bushairi dalam Az Zawaa`id).

    Dan hadis yang diriwayatkan dari Uqbah bin Nafi` dari Nabi beliau bersabda, “Barang siapa yang meanggantung tamimah, semoga Allah tidak mengabulkan keinginannya, dan barang siapa menggantung wada`ah, semoga Allah tidak mmberi ketenangan padaa dirinya.” (HR. Ahmad).

    Dari Ibnu mas`ud saya mendengar Rasulullah bersabda, “sesungguhnya ruqyah, tama`im dan tiwalah adalah syirik.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

    “Barang siapa menggantungkan tamimah, berarti dia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad).

    Jika yang digantungkan adalah dari ayat-ayat Al Quran, maka pendapat yang shahih adalah dilarang pula karena tiga alasan :

    1. Bersumber dari hadits-hadaits nabi yang melarang menggantungkan tamimah dan tidak ada dalil yang mengkhususkannya.
    2. Menutup jalan, karena hal itu bisa membawa kepada menggantungkan yang bukan dari Alquran.
    3. Jika ia menggantungkan dari yang demikian itu (Alquran), menjadi penghinaan dengan membawa serta di waktu buang air, istinja` dan jima` (bersetubuh), serta yang semisal dengannya.1

    Hukum Mengambil Upah Dari Meruqyah

    Perlu diketahui, bahwa bacaan ruqyah tidak akan berguna terhadaap orang yang sakit kecuali dengan beberapa syarat :

    1. Pantasnya orang yang meruqyah adalah seorang yang baik, shalih, istiqamah dalam melaksanakan yang wajib, sunah, menghindari yang haram dan syubhat.
    2. Tidak menentukan upah atas orang yang sakit, menjauhkan diri dari mengambil upah yang lebih dari kebutuhannya. Maka semua itu lebih mendukung kemanjuran ruqyahnya.
    3. Mengenal ruqyah-ruqyah yang dibolehkan dalam syariat.
    4. Orang yang sakit adalah orang yang sholeh ,baik , istiqamah dalam beragama dan jauh dari yang diharamkan.
    5. Orang yang sakit menyakini bahwa Al Quran adalah pernawar ,rahmat dan obat yang berguna.2

    Seharusnya Seorang raaqi/ yang meruqyah (berniat) berbuat baik dengan ruqyahnya untuk manfaat kaum muslimin dan mengharapkan pahala dari Allah dalam mngobati umat islam yang sakit, menghilangkan bahaya dari mereka, dan tidak mengharapkan upah atas ruqyahnya. Teatpi ia menyerahkan perkaranya pada pasien. Jika mereka memberikan kepadaya melebihi jerih payahnya, ia mesti bersikap zuhud dan mengembalikannya. Jika upahnya kurang dari haknya, ia mesti membiarkan kekurangannya.

    Syekh Abdullah Al Jibrin berkata, ” Tidak ada halangan mengambil upah atas ruqyah syar`iyyah dengan syarat kesembuhan dari sakit.” Dalinya adalah hadits riwayat Abu Sa`id , bahwasannya teman mereka meruqyah pemimpin suku tersebut setelah ada kesepakatan antara mereka atas upah sekelompok kambing, lalu mereka pun menepatinya. Nabi bersabda:

    “Bagilah dan tentukanlah satu bagian untukku bersama kalian.” ( H.R. Bukhari Muslim ). ” Sesungguhnya upah yang paling pantas kamu ambil adalah kitabullah (Alquran).” (HR. Bukhari).

    Beliau menetapkan kepada mereka penentuan syarat dan mereka pun memberikan bagian untuk beliau sebagai tanda kebolehannya, namun dengan syarat ia melakukan ruqyah syar`iyyah. Jika bukan ruqyah syar`iyyah maka tidak boleh. dan tidak disyariatkan melainkan setelah selamat dari sakit ( setelah sembuh ) dan hilangnya penyakit. Dan yang utama dalam membaca ruqyah adalah tidak memberi syarat, dan melakukan ruqyah untuk manfaat orang-orang beriman serta menghilangkan bahaya dan sakit. Dan jika memberikan syarat maka janganlah memberikan syarat yang ketat, namun sekadar keperluan mendesak.

    Hadits Abu Sa`id Al Khudry tersebut adalah menunjukkan bolehnya ruqyah dan mengambil upah atasnya. Syaikh Abdullah Al Jibrin juga mengatakan, ” Kami katakan bahwa sesungguhnya dokter yang mengobati, apabila mensyaratkan upah tertentu , maka harus disyaratkan sembuh dan selamat dari sakit yang ditanganinya, kecuali apabila mereka sepakat untuk memberikan senilai biaya pengobatan dan obat-oabatan. Adapun jimat semacam ini, pada dasarnya adalah ruqyah, maksudnya membacakan atas pasien serta meludah disertai sedikit air liur.

    Demikian pula penulisan ayat-ayat di kertas dan seumpamanya dengan air za`faran, boleh mengambil upah atas yang demikian sebagai imbalan obat-obatan. Dan seperti ini air bersih dan minyak. Apabila dibacakan ayat-ayat Al Quran padanya, maka boleh baginya mengambil nilai biasanya, tanpa berlebih-lebihan dalam penetapan tarif yang tidak sebanding. 3

    Hukum Ruqyah Sebagai Profesi Dan Mendirikan Tempat Prakteknya

    Syaikh Shalih Al fauzan pernah ditanya, “Apa pendapat Syaikh tentang orang yang membuka praktek pengobatan dengan bacaan ruqyah?.”

    Beliau menjawab, “Ini tidak boleh dilakukan karena ia membuka pintu fitnah, membuka pintu usaha bagi yang berusaha melakukan tipu muslihat. Ini bukanlah perbuatan As-Salafush Shalih bahwa mereka membuka rumah atau membuka tempat-tempat untuk tempat praktek. Melebarkan sayap dalam hal ini akan menimbulkan kejahatan, kerusakan masuk di dalamnya dan ikut serta di dalamnya orang yang tidak baik. Karena manusia berlari di belakang sifat tamak, ingin menarik hati manusia kepada mereka, kendati dengan melakukan hal yang diharamkan. Dan tidak boleh dikatakan,”Ini adalah orang shalih.” Karena manusia mendapat fitnah, semoga allah memberi perlindungan. Walaupun dia orang shalih maka membuka pintu ini tetap tidak boleh.” 4

    Banyak manusia berkenyakinan tentang kekhususan tertentu yang dimiliki oleh orang yang telah melakukan ruqyah (raaqi), sehingga mereka mempunyai anggapan (bersikap ghuluw/berlebihan) terhadap raaqi tentang apa-apa yang dibaca ketika sedang meruqyah. Aslinya dalam syariat Islam adalah saddu dzari`ah (mencegah bahaya) karena pekerjaan ruqyah ini kadang-kadang membuka pintu kejahatan dan kesesatan bagi ahli Islam. Cara-cara seperti ini (mengambil ruqyah sebagai profesi) tidak pernah ada (dasarnya) dari Nabi saw. dan tidak pula dikerjakan oleh satupun dari sahabatnya, serta tidak pernah dikerjakan salah seorang dari ahli ilmu dan ahli kemuliaan, walaupun mereka ada keperluan. Pada dasarnya kita harus mengikuti dan mencontoh mereka (Nabi, para sahabatnya, ahli ilmu, dan ahli kemuliaan). 5

    Pada dasarnya bila seseorang menjadikan ruqyah sebagai profesi, ia akan disibukkan oleh urusan ini dan meninggalkan urusan-urusannya yang lain. Terkecuali bila seseorang tadi mempunyai pekerjaan dan tidak menjadikan ruqyah sebagai profesinya serta tidak membuka praktek, maka hal itu boleh-boleh saja. Dan dia hanya melanyani masyarakat yang membutuhkan bantuannya untuk diruqyah karena diganggu setan. Dia niatkan ruqyahnya untuk tolong menolong dalam kebaikan, amar ma`ruf nahi munkar, memerangi setan dan jin yang mengganggu manusia dan mengharapkan ridha Allah semata. Dia tidak mengharapkan upah dari manusia dan tidak menetapkan tarif besar kecilnya dari manusia. Bila di tengah-tengah ia meruqyah ada yang ikut (maksudnya adalah diberi upah), maka bila ia memerlukan boleh diambil. Dan bila ia tidak memerlukannya karena sudah merasa cukup, maka boleh tidak diambil sebagai sikap zuhud pada apa yang ada ditangan manusia. Karena pada dasarnya ia hanya mengharapkan ridha Allah dan wajah-Nya serta menolong manusia yang membutuhkan bantuannya. Melakukan ruqyah dengan niat seperti ini adalah dibolehkan dan disyariatkan .

    Adapun bila ia melakukan ruqyah hanya dipakai sebagai profesi saja, membuka praktek, dan memasang tarif yang tinggi serta tidak ada unsur untuk membantu masyarakat yang membutuhkan pertolongannya. Maka meruqyah dengan niat seperti ini, jelas bertentangan dengan syariat. Wallahu A`lam Bish Shawab.

    Sumber:

    1. Zadul Ma`ad, Ibnu Qayyim Al Jauziyyah.
    2. Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid Syekh Muhammad bin Abdul Wahab.
    3. Al Qaul Mufid Fi Kitabut Tauhid, Syekh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
    4. Syarah Kitab Aqidah At Thawiyyah, Imam Abil Izz
    5. Fatwa-fatwa terkini, Imam Baladul Haram.
    6. Aqidah Mukmin, Syaikh Abu Bakar Al Jazaairi.
    7. Minhaj Al-Syar`i Fi `Ilaaji Al Massi Wa Al Shura`i.
    8. Fataawa Lajnah Daaimah.
    9. Alam Jin dan Manusia, Ustadz Abu Umar Abdillah.
    10. Fathul Bari, Imam Ibnu Hajar.
    11. Shahih Muslim Syarah Imam Nawawi.
    12. Idhaahu Ad Dalaalah Fii `Umuumi Al risalah.

    ***

    Sumber: alirsyad.or.id

    Lembaga Mudzakarah Al Irsyad Al Islamiyyah

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 1 January 2019 Permalink | Balas  

    Sumber Nilai Islam (3) 

    Sumber Nilai Islam (3)

    AS-SUNNAH / AL-HADITS

    1. Dasar Pengertian.

    Secara etimologis hadits bisa berarti :

    Baru, seperti kalimat : ” Allah Qadim mustahil Hadits “. Dekat, seperti : ” Haditsul ” ahli bil Islam “. Khabar, seperti : “Falya’tu bi haditsin mitslihi “.

    Dalam tradisi hukum Islam, hadits berarti : Segala Perbuatan, Perkataan, dan Keizinan Nabi Muhammad saw. ( Af ‘al, Aqwal dan Taqrir ). Pengertian hadits sebagaimana tersebut diatas adalah identik dengan Sunnah, yang secara etimologis berarti jalan atau tradisi, sebagaimana dalam Al-Qur’an : ” Sunnata man qad arsalna ” ( al-Isra :77 ). Juga dapat berarti : Undang-undang atau peraturan yang tetap berlaku; Cara yang diadakan; Jalan yang telah dijalani;.

    Ada yang berpendapat antara Sunnah dengan Hadits tersebut adalah berbeda-beda. Akan tetapi dalam kebiasaan hukum Islam antara Hadits dan Sunnah tersebut hanyalah berbeda dalam segi penggunaannya saja, tidak dalam tujuannya.

    1. As-Sunnah Sebagai Sumber Nilai.

    Sunnah adalah sumber Hukum Islam ( Pedoman Hidup Kaum Muslimin ) yang kedua setelah Al-Qur’an. Bagi mereka yang telah beriman kepada Al-Qur’an sebagai sumber hukum, maka secara otomatis harus percaya bahwa Sunnah sebagai sumber Islam juga.

    Ayat-ayat Al-Qur’an cukup banyak untuk dijadikan alasan yang pasti tentang hal ini, seperti :

    • Setiap mu’min harus taat kepada Allah dan Rasul-nya ( al-Anfal :20, Muhammad :33, an-Nisa :59, Ali-Imran :32, al-Mujadalah : 13, an-Nur : 54,al-Maidah : 92 ).
    • Kepatuhan kepada Rasul berarti patuh dan cinta kepada Allah ( an-Nisa :80, Ali-Imran :31 ).
    • Orang yang menyalahi Sunnah akan mendapatkan siksa ( an-Anfal :13, Al-Mujadalah :5, an-Nisa :115 ).
    • Berhukum terhadap Sunnah adalah tanda orang yang beriman. ( an-Nisa’:65 ). Kemudian perhatikan ayat-ayat : an-Nur : 52; al-Hasyr : 4; al-Mujadalah : 20; an-Nisa’: 64 dan 69; al-Ahzab: 36 dan 71; al-Hujurat :1; al-Hasyr : 7 dan sebagainya.

    Apabila Sunnah tidak berfungsi sebagai sumber hukum, maka kaum Muslimin akan menghadapi kesulitan-kesulitan dalam hal : cara shalat, kadar dan ketentuan zakat, cara haji dan lain sebagainya. Sebab ayat-ayat Al-Qur’an dalam hal tersebut hanya berbicara secara global dan umum, dan yang menjelaskan secara terperinci justru Sunnah Rasullullah SAW.

    Selain itu juga akan mendapatkan kesukaran-kesukaran dalam hal menafsirkan ayat-ayat yang musytarak, muhtamal dan sebagainya yang mau tidak mau memerlukan Sunnah untuk menjelaskannya. Dan apabila penafsiran-penafsiran tersebut hanya didasarkan kepada pertimbangan rasio sudah barang tentu akan melahirkan tafsiran-tafsiran yang sangat subjektif dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.

    1. Hubungan AS-Sunnah dan Al-Qur’an.

    Dalam hubungan dengan Al-Qur’an, maka as-Sunnah berfungsi sebagai penafsir, pensyarah, dan penjelas daripada ayat-ayat tertentu. Apabila disimpulkan tentang fungsi as-Sunnah dalam hubungan dengan Al-Qur’an itu adalah sebagai berikut :

    • Bayan Tafsir, yaitu menerangkan ayat-ayat yang sangat umum, mujmal dan musytarak. Seperti hadits : ” Shallu kama ro-aitumuni ushalli “. ( Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihatku shalat ) adalah merupakan tafsiran daripada ayat Al-Qur’an yang umum, yaitu : ” Aqimush- shalah “, ( Kerjakan shalat ). Demikian pula hadits: ” Khudzu ‘anni manasikakum ” ( Ambillah dariku perbuatan hajiku ) adalah tafsir dari ayat Al-Qur’an ” Waatimmulhajja ” ( Dan sempurnakanlah hajimu ).
    • Bayan Taqrir, yaitu as-Sunnah berfungsi untuk memperkokoh dan memperkuat pernyataan al-Qur’an. Seperti hadits yang berbunyi : ” Shoumu liru’yatihi wafthiru liru’yatihi ” ( Berpuasalah karena melihat bulan dan berbukalah karena melihatnya ) adalah memperkokoh ayat Al-Qur’an dalam surat Al-Baqarah : 185.
    • Bayan Taudhih, yaitu menerangkan maksud dan tujuan sesuatu ayat al-Qur’an, seperti pernyataan Nabi SAW : ” Allah tidak mewajibkan zakat melainkan supaya menjadi baik harta-hartamu yang sudah dizakati “, adalah taudhih ( penjelasan ) terhadap ayat Al-Qur’an dalam surat at-Taubah : 34 yang berbunyi sebagai berikut : ” Dan orang-orang yang menyimpan mas dan perak kemudian tidak membelanjakannya dijalan Allah maka gembirakanlah mereka dengan azab yang pedih “. Pada waktu ayat ini turun banyak para sahabat yang merasa berat untuk melaksanakan perintah ini, maka mereka bertanya kepada Nabi SAW yang kemudian dijawab dengan hadits tersebut.

    4. Perbedaan Antara Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai Sumber Hukum

    Sekalipun al-Qur’an dan as-Sunnah / al-Hadits sama-sama sebagai sumber hukum Islam, namun diantara keduanya terdapat perbedaan-perbedaan yang cukup prinsipil. Perbedaan-perbedaan tersebut antara lain ialah :

    • Al-Qur’an nilai kebenarannya adalah qath’I ( absolut ), sedangkan al-Hadits adalah zhanni ( kecuali hadits mutawatir ).
    • Seluruh ayat al-Qur’an mesti dijadikan sebagai pedoman hidup. Tetapi tidak semua hadits mesti kita jadikan sebagai pedoman hidup. Sebab disamping ada sunnah yang tasyri’ ada juga sunnah yang ghairu tasyri ‘. Disamping ada hadits yang shahih adapula hadits yang dha’if dan seterusnya.
    • Al-Qur’an sudah pasti otentik lafazh dan maknanya sedangkan hadits tidak.
    • Apabila Al-Qur’an berbicara tentang masalah-masalah aqidah atau hal-hal yang ghaib, maka setiap muslim wajib mengimaninya. Tetapi tidak harus demikian apabila masalah-masalah tersebut diungkapkan oleh hadits.

    ***

    KENALILAH AGAMA MU (3/18)

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: