Updates from November, 2016 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:38 am on 21 November 2016 Permalink | Balas  

    Termasuk Iman Kepada Allah: Sabar Atas Segala Takdirnya 

    imanTermasuk Iman Kepada Allah: Sabar Atas Segala Takdirnya

    Oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

    Firman Allah Ta’ala (artinya): “Tiada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (At-Taghabun: 11)

    ‘Alqamah (‘Alqamah bin Qais bin ‘Abdullah bin Malik An-Nakha’i. Salah seorang tokoh dari ulama tabi’in. Dilahirkan pada masa hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Meninggal th. 62 H / 681M) menafsirkan iman yang tersebut dalam ayat ini dengan mengatakan: “Yaitu: orang ketika ditimpa musibah ia meyakini bahwa itu semua dari Allah, maka ia pun ridha dan pasrah (atas takdir-Nya).”

    Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada dua perkara masih dilakukan orang, padahal kedua-duanya adalah kufur, yaitu: mencela keturunan dan meratapi orang mati.”

    Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits marfu’ dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu: “Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek pakaian dan menyeru dengan seruan jahiliyah.”

    Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba-Nya maka Dia menyegerakan hukuman baginya di dunia; sedang apabila Allah menghendaki keburukan pada seorang hamba-Nya maka Dia menangguhkan dosanya sampai Dia penuhi balasannya nanti di hari Kiamat.” (HR At-Tirmidzi dan Al-Hakim)

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh, besarnya pahala setimpal dengan besarnya cobaan; dan sungguh, Allah Ta’ala apabila mencintai suatu kaum, diuji-Nya mereka dengan cobaan. Untuk itu, barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan dari Allah, sedang barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan dari Allah.” (Hadits hasan, menurut At-Tirmidzi)

    Kandungan tulisan ini:

    • Tafsiran ayat dalam surah At-Taghabun. Ayat ini menunjukkan keutamaan sabar atas segala takdir Allah yang pahit, seperti musibah; dan menunjukkan pula bahwa amal termasuk dalam pengertian iman.
    • Sabar terhadap segala cobaan termasuk iman kepada Allah.
    • Disebutkan hukum tentang perbuatan mencela keturunan.
    • Ancaman keras terhadap orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek pakaian dan menyeru dengan seruan jahiliyah (karena meratapi orang mati).
    • Tanda apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya.
    • Tanda apabila Allah menghendaki keburukan kepada hamba-Nya.
    • Tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya.
    • Dilarang bersikap marah dan tidak sabar atas cobaan yang diujikan Allah.
    • Pahala bagi orang yang ridha atas cobaannya.

    ***

    Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

    Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

    Sumber : assunnah.or.id

    Iklan
     
  • erva kurniawan 1:29 am on 20 November 2016 Permalink | Balas  

    Dalam Alkohol Ada Tinat al-Khabal 

    miras arakDalam Alkohol Ada Tinat al-Khabal

    Rasulullah menyamakan alkohol dengan keringat yang berasal dari penghuni neraka. Seorang pedagang asal Yaman pada suatu hari bertanya kepada Rasulullah. Dia bertanya tentang kebiasaan masyarakat di tempat tinggalnya yang suka minum minuman keras terbuat dari bahan padi-padian yang disebutnya mizr. Rasul menjawab pertanyaan itu dengan pertanyaan pula,”Apakah minuman itu memabukkan?”

    Dan setelah dijawab “ya” oleh pedagang tadi, maka Rasul pun bersabda,”Setiap yang memabukkan sangatlah dilarang. Allah sudah membuat ketentuan bahwa bagi mereka yang meminum minuman memabukkan, maka di dalam minumannya itu akan berisi tinat al-khabal.”

    Orang tadi kembali bertanya apa yang dimaksudkan tinat al-khabal dan Rasulullah menjawab.”Itu merupakan keringat yang berasal dari penghuni neraka.” Begitulah peringatan Rasulullah terhadap mereka yang suka meminum minuman memabukkan. Sebagai hukumannya nanti di akherat, orang-orang itu akan diberi minuman racun dari asawida (sejenis ular hitam yang sangat berbisa) yang menyebabkan seluruh kulit serta daging di wajahnya luntur.

    Selain itu, Allah SWT pun tidak akan menerima segala amalan ibadah puasa, shalat dan haji dari seorang peminum alkohol atau yang menjual alkohol hingga dia benar-benar bertobat dan tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

    Abdullah bin Umar menyatakan, Rasulullah pernah bersabda, “Jangan duduk di dekat seorang peminum khamr, atau menjenguknya kala dia sakit, dan jangan pula menghadiri pemakamannya. Orang yang suka minum minuman keras akan muncul di hari akhir dengan wajah berwarna hitam dan lidahnya miring ke samping. Maka setiap yang melihat wajah seperti itu akan langsung mengetahui bahwa mereka peminum.”

    Demikian pula Wa’il al-Hadrami berkata bahwa Tariq bin Suwaid pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang minuman anggur yang hanya dia pergunakan sebagai obat. Muslim lantas meriwayatkan Rasulullah bersabda, “Itu bukan obat tapi penyakit.” Jabir juga menyatakan tentang pesan Rasul,”Dalam jumlah yang banyak, itu (minuman keras) akan memabukkan, adapun dalam jumlah sedikit tetap dilarang.”

    Larangan agama Islam agar umat menjauhi meminum khamr bukan tanpa dasar maupun alasan. Di tinjau dari segala sisi, tidak ada yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh apabila seseorang menjadi pencandu minuman alkohol. Yang ada hanyalah kemudaratan.

    Allah SWT dalam Alquran jauh-jauh hari sudah mengingatkan: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termauk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS Al-Maidah [3]:90)

    Dan, peringatan itu benar adanya. Di jaman serba modern ini, ditengarai alkohol merupakan penyebab nomor satu kecelakaan lalu lintas dan ketidak harmonisan rumah tangga. Negara adidaya Amerika Serikat (AS) punya catatan buruk mengenai hal ini. Selama tahun 1996, dari 17.126 jiwa meninggal akibat kecelakaan lalu lintas, 3.732 berhubungan dengan alkohol.

    Masih ada lagi dampak negatif alkohol. Penelitian menunjukkan, setiap konsumsi 2-3 gelas alkohol per hari, pada akhirnya dapat menganggu fungsi jantung. Studi lain bahkan menyatakan alkohol bisa menimbulkan efek negatif terhadap fisik bayi yang baru lahir.

    Berdasarkan hasil penelitian American Medical Association (AMA) tahun 1988, menyebutkan bahwa angka 100 ribu kematian serta uang berjumlah 85,8 miliar dolar berkaitan langsung dengan akibat alkohol, dengan 25 hingga 40 persen ruang inap rumah sakit berisikan pasien penyakit komplikasi karena alkohol. Jumlah tersebut masih lebih besar dari akibat obat-obatan terlarang dan rokok, walau digabung sekalipun.

    AMA juga melaporkan, faktor gaya hidup dan problem sosial telah menghabiskan biaya 171 miliar dolar anggaran kesehatan negara. Dr Daniel Johnson Jr, juru bicara AMA, mengatakan setiap tahunnya miliaran dolar harus disisihkan untuk perawatan akibat kekerasan, penyalahgunaan narkoba, rokok, serta alkohol.

    Data statistik AMA menyebut dari tahun 1988 hingga 1996, tercatat 500 ribu kasus kematian lantaran dampak merokok dan biaya perawatan mencapai 22 miliar dolar. Angka 100 ribu kematian dan 85,8 miliar dolar bagi kasus alkohol, dan penyalahgunaan narkoba menghabiskan dana 58,3 miliar dolar guna rehabilitasi dan perawatan.

    Meski sudah terpampang angka-angka semacam itu, tak hanya di AS tapi juga dibanyak negara, kasus akibat alkohol tidak lantas menyusut. Kini di sejumlah negara, memang batasan usia untuk boleh minum alkohol ditambah menjadi 21 tahun. Tapi terbukti hal tersebut tidak dapat memecahkan persoalan.

    Fakta membuktikan, banyaknya angka kecelakaan lalu lintas yang melibatkan peminum remaja. Ironisnya, hukum pun seolah tak berdaya untuk menekan angka-angka tadi. Lantas apa yang harus dilakukan masyarakat, dan umat, agar bisa terhindar dari bahaya kecanduan alkohol? Tumbuhkan kesadaran di dalam diri untuk menjauhi alkohol dan efek negatifnya. Masing-masing individu juga harus memelihara kesehatan diri serta yang tua memberikan suri tauladan kepada yang muda. Gampang saja, kan?

    ***

    (yus/berbagai sumber )

    republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 19 November 2016 Permalink | Balas  

    Air Zamzam (2/2) 

    zam-zamAir Zamzam (2/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Adab Meminum Air Zamzam

    Adab ketika minum air zamzam itu sebagaimana yang disebutkan oleh sebahagian Fuqaha adalah termasuk dalam hukum sunat, antaranya:

    1. Menghadap kiblat.
    2. Menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelum minum.
    3. Bernafas sebanyak tiga kali ketika minum dan ketika bernafas itu hendaklah di luar bekas atau gelas itu (yakni tidak minum dengan sekali teguk sehingga habis, bahkan minum dengan berhenti sebanyak tiga kali).
    4. Minum sehingga kenyang, karena orang munafiq tidak meminumnya sehingga kenyang.
    5. Mengucapkan syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala setelah selesai minum. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Majah:

    Maksudnya: “Daripada Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Abu Bakr katanya: “Ketika aku duduk di sisi Ibnu ‘Abbas datang seorang lelaki kepadanya, lalu berkata Ibnu ‘Abbas: “Dari mana engkau datang?”

    Lelaki itu berkata: “Dari perigi zamzam.”

    Ibnu ‘Abbas berkata: “Apakah engkau minum dari perigi itu sebagaimana yang sepatutnya.”

    Lelaki itu berkata: “Bagaimana?”

    Ibnu ‘Abbas berkata: “Apabila engkau minum air zamzam, maka menghadaplah ke kiblat, sebut nama Allah dan bernafaslah tiga kali (waktu minum). Minumlah air zamzam sehingga kenyang dan jika sudah selesai maka pujilah Allah ‘azza wajalla. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya tanda yang membezakan antara kita dengan orang-orang munafiq, sesungguhnya mereka tidak minum air zamzam itu sehingga kenyang.”

    (Hadis riwayat Ibnu Majah)

    Antara adabnya lagi:

    1. Setiap kali mengambil nafas ketika minum air zamzam, melihat ke arah Kaabah.
    2. Sunat masuk ke tempat perigi zamzam dan melihatnya. Kemudian menggunakan timba yang ada di sana lalu meminumnya serta memercikkan air zamzam itu ke kepala, muka dan dada.
    3. Memperbanyakkan doa ketika minum dan mengharapkan kebaikan di dunia dan akhirat. Sunat dibaca seperti di bawah ini:

    Artinya: “Ya Allah Ya Tuhanku, sesungguhnya telah sampai kepadaku NabiMu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Air zamzam itu diminum untuk keperluan apa saja.” Dan aku meminumnya supaya…..”

    Sesudah membaca seperti di atas, berdoalah lagi untuk memohon kebaikan di dunia dan akhirat, kemudian membaca bismillah, lalu minum dan mengambil nafas sebanyak tiga kali. ‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiallallahu ‘anhuma berdoa ketika minum air zamzam:

    Artinya: “Ya Allah Ya Tuhanku, aku mohon padaMu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas dan sembuh daripada segala penyakit.”

    Untuk memohon keampunan atau kesembuhan daripada penyakit, bacalah doa seperti di bawah:

    Artinya: “Ya Allah Ya Tuhanku, sesungguhnya telah sampai kepadaku bahawa RasulMu Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Air zamzam itu diminum untuk keperluan apa saja.” Ya Allah Ya Tuhanku, sesungguhnya aku meminumnya supaya Engkau ampuni dosaku, Ya Allah ampunilah aku. Ya Allah Ya Tuhanku, sesungguhnya aku meminumnya supaya Engkau sembuhkan sakitku, Ya Allah sembuhkanlah aku.”

    Selain berdoa untuk kepentingan diri sendiri bagi memohon kebaikan di dunia dan akhirat, memohon juga untuk orang lain seperti anak atau sanak saudara misalnya, akan tercapai permohonan itu juga jika dia meminum air zamzam tersebut dengan niat yang betul.

    Memindahkan Air Zamzam

    Memindahkan air zamzam daripada Makkah atau tanah haram kepada tanah halal atau keluar daripada Makkah adalah harus. Daripada ‘Urwah bin Az-Zubair katanya:

    Maksudnya: “Sesungguhnya ‘Aisyah membawa air zamzam dan dikhabarkan bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan yang demikian itu.”

    (Hadis riwayat Al-Baihaqi)

    Penggunaan Air Zamzam Selain Untuk Diminum

    Beristinja’ (bersuci daripada dua jalan qubul dan dubur), menurut Al-Khatib dan Ibnu Hajar, makruh beristinja’ dengan menggunakan air zamzam. Sementara pendapat Syaikhuna adalah khilaful Awla (bertentangan dengan yang lebih utama). Karena air zamzam itu mempunyai kehormatan. Menurut Al-Bulqini, air zamzam itu lebih afdhal daripada air Kawtsar.

    Termasuklah dalam hukum makruh dan khilaful awla di atas, air yang keluar daripada jari-jari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, air Kawtsar dan air yang dirampas.

    Dikatakan juga, sesiapa beristinja’ dengan air zamzam, nescaya dia akan mewarisi penyakit bawasir. Jika dia beristinja’ juga dengan air zamzam tersebut, maka dengan air itu dia suci (dia dapat membersihkan najisnya).

    Harus menggunakan air zamzam itu untuk mandi dan berwudhu. Adapun menggunakan air zamzam bagi memandikan mayat hendaklah dielakkan.

    Berjual Beli Dengan Air Zamzam

    Setakat ini kita belum jumpa keterangan khusus mengenai hukum jual beli air zamzam itu. Bagaimanapun berdasarkan kaedah:

    Artinya: “Asal suatu perkara itu adalah harus, sehingga ada dalil syara’ yang mengharamkannya.”

    Maka berdasarkan kaedah ini, harus air zamzam itu diperdagangkan atau dijual dan dibeli.

    Demikianlah beberapa penjelasan mengenai air zamzam dan kelebihannya, rahasia serta manfaat yang boleh kita perolehi. Di samping itu juga, ia adalah sebagai tanda kebesaran Allah di mana air zamzam itu masih dapat kita nikmati dan tidak kering sampai saat ini.

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 18 November 2016 Permalink | Balas  

    Air Zamzam (1/2) 

    zamzam1Air Zamzam (1/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Zamzam ialah nama sebuah telaga yang terletak di tengah-tengah Masjidil Haram yang dahulunya bersebelahan dengan makam Hambali, tetapi sekarang ini makam ini tiada lagi dan tidak jauh dari bangunan Kaabah di Makkah kira-kira tiga puluh lapan hasta letaknya daripada Kaabah Musyarrafah atau lebih tepat lagi bersetentang dengan Hajarul Aswad yang terletak di bahagian penjuru tenggara Kaabah. Telaga ini sangat dalam dan besar walaupun kelihatan kecil di permukaannya. Buktinya ialah airnya tidak pernah kering walaupun ramai dan setiap masa orang menggunakannya. Telaga ini berdindingkan simen dan berbumbungkan marmar yang bertatah indah dan berwarna-warni, tingginya 1.5 meter dan luasnya kira-kira tiga meter.

    Air zamzam digunakan untuk minum dan wudhu dan boleh juga dijadikan sebagai penawar (jikalau diniatkan sedemikian) dan ia boleh mencerahkan pandangan jikalau dimasukkan ke dalam mata karena airnya sangat hening dan bersih. Air zamzam dianggap air yang suci dan berkat. Penduduk di Makkah sentiasa berbuka puasa dengan air zamzam atau dengan buah kurma sebagai mengikut sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hampir setiap orang yang menunaikan fardhu haji ke Makkah tidak lupa membawa pulang air zamzam, khususnya orang yang datang dari sebelah timur untuk diagihkan kepada kaum keluarga.

    Dinamakan air itu sebagai zamzam karena terlalu banyak air tersebut. Sebagaimana kita maklumi air itu sudah wujud pada zaman Nabi Isma’il ‘alaihissalam sehinggalah sekarang. Betapa besarnya kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Sejarah Air Zamzam

    Zamzam adalah sebuah perigi Nabi Isma’il ‘alaihissalam. Menurut para ahli sejarah, kisah air zamzam itu bermula dari peristiwa yang dialami oleh Siti Hajar dan anaknya Isma’il ‘alaihissalam. Mereka berdua ditinggalkan oleh suaminya Ibrahim ‘alaihissalam di suatu tempat yang sepi dan tandus. Di tempat itu tidak ada air untuk diminum, tidak ada makanan untuk dimakan dan tidak ada orang untuk meminta pertolongan.

    Setelah bekalan mereka habis, Isma’il pun menangis karena lapar dan dahaga. Melihat keadaan anaknya sedemikian, Siti Hajar pun pergi mencari air. Dia berjalan menuju ke Bukit Safa dan Marwah kira-kira lima ratus meter jarak antara kedua bukit tersebut, dengan harapan menemui kafilah pedagang yang membawa air. Setelah berulang-alik sebanyak tujuh kali antara dua bukit itu, namun Siti Hajar tidak menemui sesiapa pun.

    Berkata Ibnu ‘Abbas: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maka itulah sa’ie manusia (orang haji dan umrah) antara keduanya (Safa dan Marwah).”

    Apabila Siti Hajar naik ke Bukit Marwah, dia terdengar suatu suara lalu dia berkata di dalam hati: “Sesungguhnya aku mendengarmu, jika engkau dapat memberi pertolongan, maka tolonglah kami.” Tiba-tiba dia ternampak Malaikat di samping anaknya Isma’il. Malaikat itu pun menggali tanah dengan tumit atau sayapnya sehingga terpancutlah air yaitu air zamzam.

    Setelah beberapa tahun berlalu, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam datang menemui mereka berdua. Pada waktu inilah, Baginda mendirikan rumah suci (Ka’bah). Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    Tafsirnya: “Sesungguhnya rumah ibadat yang mula-mula dibina untuk manusia (beribadat kepada Tuhannya) ialah Baitullah yang di Makkah, yang berkat dan (dijadikan) petunjuk hidayat bagi umat manusia. Di situ ada tanda-tanda keterangan yang nyata (yang menunjukkan kemuliaannya, di antaranya ialah) Makam Nabi Ibrahim. Dan siapa yang masuk ke dalamnya aman tenteramlah dia. Dan Allah mewajibkan manusia mengerjakan ibadah Haji dengan mengujungi Baitullah, yaitu sesiapa yang mampu dan berkuasa sampai kepadanya. Dan sesiapa yang kufur (ingkar akan kewajipan ibadah haji itu), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak berhajatkan sesuatu pun) daripada sekalian makhluk.”

    (Surah Ali ‘Imran: 96-97)

    Ketika Makkah didiami oleh kaum Jurhum (kabilah daripada Syam) dengan kemajuan dan kemewahan hidup mereka sehingga tidak mengendahkan kehormatan Ka’abah tersebut. Menurut ahli sejarah, kaum Jurhum memakan harta Ka’abah dan melakukan perkara dosa besar sehinggalah perigi zamzam itu kering kontang dan lama kelamaan ia tertimbus dan tidak diketahui lagi kedudukannya.

    Setelah pemerintahan daerah itu dipegang oleh Abdul Muthallib (nenek Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam). Suatu ketika beliau telah bermimpi mendapat petunjuk untuk menggali perigi zamzam itu, lalu dia mengarahkan orang lain untuk menggali perigi tersebut sehinggalah kedudukan perigi itu ditemui.

    Hukum Meminum Air Zamzam

    Para Fuqaha bersepakat bahawa sunat bagi orang-orang yang mengerjakan ibadah Haji dan Umrah minum air zamzam, karena Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam minum air zamzam tersebut.

    Berdasarkan nas asy-Syafi’eyah, bahawa air zamzam itu sunat diminum dalam apa keadaan sekalipun. Hukum sunat itu tidak hanya khusus selepas mengerjakan tawaf, bahkan ia sunat diminum bagi setiap orang walaupun bukan pada waktu mengerjakan ibadah haji atau umrah. Disebutkan dalam hadis Jabir bin ‘Abdullah katanya:

    Maksudnya: “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Air zamzam itu diminum untuk keperluan apa saja.”

    (Hadis riwayat Ibnu Majah)

    Dalam erti kata yang lain, jika ia meminumnya dengan maksud menghilangkan rasa haus, maka Allah akan menghilangkan rasa hausnya, jika ia meminumnya untuk menghilangkan rasa lapar, maka Allah akan mengenyangkannya, dan jika ia meminumnya untuk menyembuhkan penyakit, maka Allah akan menyembuhkan penyakitnya.

    Kelebihan Air Zamzam

    Banyak kelebihan yang terdapat pada air zamzam itu, sebagaimana disebutkan di dalam hadis-hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, antara kelebihan itu:

    Ada keberkatan padanya, boleh mengenyangkan seperti makanan dan sebagai penawar penyakit. Disebutkan dalam hadis Abu Dzar Radhiallahu ‘anhu, bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang air zamzam:

    Maksudnya: “Sesungguhnya air zamzam itu penuh berkat, sesungguhnya ia makanan yang mengenyangkan.” Dan Abu Daud Ath-Thayalisi menambah dalam musnadnya: “Dan penyembuh penyakit.”

    (Hadis riwayat Muslim)

    Perihal air zamzam menjadi penawar penyakit itu, banyak disebut mengenainya, antaranya:

    Maksudnya: “Daripada Abu Jamrah Adh-Dhuba’ie katanya: “Aku duduk bersama Ibnu ‘Abbas di Makkah, lalu aku terkena demam panas. Berkata Ibnu ‘Abbas: “Dinginkanlah panasmu itu dengan air zamzam, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demam panas itu daripada bahang neraka jahannam, maka dinginkanlah ia dengan air, (atau sabda Baginda: “Dengan air zamzam” , si Hammam syak).

    (Hadis riwayat Al-Bukhari)

    Kisah seorang perempuan Maghribi yang disembuhkan Allah Subhanahu wa Ta’ala daripada penyakit kanser dengan meminum air zamzam. Di mana doktor menyatakan, bahawa dia tidak ada harapan untuk hidup dalam masa tiga bulan. Perempuan itu pun pergi menunaikan umrah, beri’tikaf di Masjidil Haram, minum air zamzam sepuas-puasnya dan menghabiskan masanya dengan bersembahyang, membaca al-Qur’an dan berdoa. Setelah beberapa hari bintik-bintik merah yang tumbuh di badannya sudah tiada lagi, lalu dia menemui doktor dengan menerima keputusan bahawa penyakitnya sudah sembuh.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dibersihkan dadanya dengan air zamzam bagi menguatkan Baginda melihat Malakut langit dan bumi, syurga dan neraka. Dengan ini, ada keistimewaan dalam air zamzam itu yaitu menguatkan hati dan menghilangkan ketakutan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Dibukalah atap rumahku ketika aku berada di Makkah. Lalu turun Jibril membelah dadaku, kemudian dicucinya dengan air zamzam. Setelah itu dia (Jibril) membawa mangkuk besar dari emas yang penuh dengan hikmat dan keimanan, lalu ditumpahkannya ke dalam dadaku kemudian ditutupnya kembali dadaku. Setelah itu dia menarik tanganku lalu membawaku naik ke langit dunia (dimi’irajkan).”

    bersambung

     
  • erva kurniawan 1:33 am on 17 November 2016 Permalink | Balas  

    Telaah Kitab: Persoalan Seputar Mazhab 

    mazhabTelaah Kitab: Persoalan Seputar Mazhab

    Oleh: M. Shiddiq Al-Jawi

    Pengantar Redaksi:

    Umat Islam sering menghadapi beberapa persoalan dan pertanyaan di seputar mazhab (fikih), misalnya: bagaimana sejarah lahirnya mazhab; apakah bermazhab itu dibolehkan atau tidak; bagaimanakah bermazhab secara benar; apakah Hizbut Tahrir suatu mazhab atau bukan?

    Tulisan ini bertujuan menjawab beberapa persoalan seputar mazhab tersebut. Maka dari itu, di sini akan ditelaah kitab Asy-Syakhshiyah Al-Islâmiyyah Jilid I karya Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani (1994) serta beberapa referensi lain yang terkait.

    Pengertian Mazhab

    Mazhab menurut bahasa Arab adalah isim makan (kata benda keterangan tempat) dari akar kata dzahab (pergi) (Al-Bakri, I’ânah ath-Thalibin, I/12). Jadi, mazhab itu secara bahasa artinya, “tempat pergi”, yaitu jalan (ath-tharîq) (Abdullah, 1995: 197; Nahrawi, 1994: 208).

    Sedangkan menurut istilah ushul fiqih, mazhab adalah kumpulan pendapat mujtahid yang berupa hukum-hukum Islam, yang digali dari dalil-dalil syariat yang rinci serta berbagai kaidah (qawâ’id) dan landasan (ushûl) yang mendasari pendapat tersebut, yang saling terkait satu sama lain sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh (Nahrawi, 1994: 208; Abdullah, 1995: 197). Menurut Muhammad Husain Abdullah (1995:197), istilah mazhab mencakup dua hal: (1) sekumpulan hukum-hukum Islam yang digali seorang imam mujtahid; (2) ushul fikih yang menjadi jalan (tharîq) yang ditempuh mujtahid itu untuk menggali hukum-hukum Islam dari dalil-dalilnya yang rinci.

    Dengan demikian, kendatipun mazhab itu manifestasinya berupa hukum-hukum syariat (fikih), harus dipahami bahwa mazhab itu sesungguhnya juga mencakup ushul fikih yang menjadi metode penggalian (tharîqah al-istinbâth) untuk melahirkan hukum-hukum tersebut. Artinya, jika kita mengatakan mazhab Syafi’i, itu artinya adalah, fikih dan ushul fikih menurut Imam Syafi’i. (Nahrawi, 1994: 208).

    Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menegaskan dua unsur mazhab ini dengan berkata, “Setiap mazhab dari berbagai mazhab yang ada mempunyai metode penggalian (tharîqah al-istinbâth) dan pendapat tertentu dalam hukum-hukum syariat.” (Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah, II/395).

    Lahirnya Mazhab

    Berbagai mazhab fikih lahir pada masa keemasan fikih, yaitu dari abad ke-2 H hingga pertengahan abad ke-4 H dalam rentang waktu 250 tahun di bawah Khilafah Abbasiyah yang berkuasa sejak tahun 132 H (Al-Hashari, 1991: 209; Khallaf, 1985:46; Mahmashani, 1981: 35). Pada masa ini, tercatat telah lahir paling tidak 13 mazhab fikih (di kalangan Sunni) dengan para imamnya masing-masing, yaitu: Imam Hasan al-Bashri (w. 110 H), Abu Hanifah (w. 150 H), al-Auza’i (w. 157 H), Sufyan ats-Tsauri (w. 160 H), al-Laits bin Sa’ad (w. 175 H), Malik bin Anas (w. 179 H), Sufyan bin Uyainah (w. 198 H), asy-Syafi’i (w. 204 H), Ahmad bin Hanbal (w. 241 H), Dawud azh-Zhahiri (w. 270 H), Ishaq bin Rahawaih (w. 238 H), Abu Tsaur (w. 240 H), dan Ibn Jarir ath-Thabari (w. 310 H) (Lihat: al-’Alwani, 1987: 88; as-Sayis, 1997: 146).

    Bagaimana mazhab-mazhab itu lahir di tengah masyarakat dalam kurun sejarah saat itu? Seperti dijelaskan Nahrawi (1994: 164-168), terdapat berbagai faktor dalam masyarakat yang mendorong aktivitas keilmuan yang pada akhirnya melahirkan berbagai mazhab fikih, antara lain:

    Pertama, kestabilan politik dan kesejahteraan ekonomi.

    Kedua, kesungguhan para ulama dan fukaha.

    Ketiga, perhatian para khalifah terhadap fikih dan fukaha.

    Keempat, pembukuan ilmu-ilmu (tadwîn al-’ulûm). Pada masa ini telah dilakukan pembukuan berbagai cabang ilmu seperti hadis, fikih, dan tafsir yang memudahkan tersedianya rujukan untuk mengembangkan ilmu fikih.

    Kelima, adanya berbagai perdebatan dan diskusi (munâzharât) di antara ulama. Ini merupakan faktor terbesar yang merangsang perkembangan ilmu fikih (Nahrawi, 1994: 164-168. Lihat juga: Al-Hudhari Bik, 1981: 174-182; Khallaf, 1985: 46-48; Al-Hashari, 1991: 209-213).

    Terbentuknya Mazhab

    Bagaimana terbentuknya mazhab-mazhab itu sendiri? Menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani (1994: 386), berbagai mazhab itu terbentuk karena adanya perbedaan (ikhtilâf) dalam masalah ushûl maupun furû’ sebagai dampak adanya berbagai diskusi (munâzharât) di kalangan ulama. Ushul terkait dengan metode penggalian (tharîqah al-istinbâth), sedangkan furû’ terkait dengan hukum-hukum syariat yang digali berdasarkan metode istinbâth tersebut.

    Lebih jauh An-Nabhani menerangkan bagaimana dapat terjadi perbedaan metode penggalian (tharîqah al-istinbâth) hukum tersebut. Ini disebabkan adanya perbedaan dalam 3 (tiga) hal, yaitu: (1) perbedaan dalam sumber hukum (mashdar al-ahkâm); (2) perbedaan dalam cara memahami nash; (3) perbedaan dalam sebagian kaidah kebahasaan untuk memahami nash (An-Nabhani, 1994: 387-392). Penjelasannya sebagai berikut:

    Mengenai perbedaan sumber hukum, hal itu terjadi karena ulama berbeda pendapat dalam 4 (empat) perkara berikut, yaitu:

    1. Metode mempercayai as-Sunnah serta kriteria untuk menguatkan satu riwayat atas riwayat lainnya. Para mujtahidin Irak (Abu Hanifah dan para sahabatnya), misalnya, berhujjah dengan sunnah mutawâtirah dan sunnah masyhûrah; sedangkan para mujtahidin Madinah (Malik dan sahabat-sahabatnya) berhujjah dengan sunnah yang diamalkan penduduk Madinah. (Khallaf, 1985: 57-58).
    2. Fatwa sahabat dan kedudukannya. Abu Hanifah, misalnya, mengambil fatwa sahabat dari sahabat siapa pun tanpa berpegang dengan seorang sahabat, serta tidak memperbolehkan menyimpang dari fatwa sahabat secara keseluruhan. Sebaliknya, Syafi’i memandang fatwa sahabat sebagai ijtihad individual sehingga boleh mengambilnya dan boleh pula berfatwa yang menyelisihi keseluruhannya. (Khallaf, 1985: 58-59).
    3. Kehujjahan Qiyas. Sebagian mujtahidin seperti ulama Zhahiriyah mengingkari kehujahan Qiyas sebagai sumber hukum, sedangkan mujtahidin lainnya menerima Qiyas sebagai sumber hukum sesudah al-Quran, as-Sunnah, dan Ijma. (Khallaf, 1985: 59).
    4. Subyek dan hakikat kehujjahan Ijma. Para mujtahidin berbeda pendapat mengenai subyek (pelaku) Ijma dan hakikat kehujjahannya. Sebagian memandang Ijma Sahabat sajalah yang menjadi hujjah. Yang lain berpendapat, Ijma Ahlul Bait-lah yang menjadi hujah. Yang lainnya lagi menyatakan, Ijma Ahlul Madinah saja yang menjadi hujah. Mengenai hakikat kehujjahan Ijma, sebagian menganggap Ijma menjadi hujjah karena merupakan titik temu pendapat (ijtimâ’ ar-ra’yi); yang lainnya menganggap hakikat kehujjahan Ijma bukan karena merupakan titik temu pendapat, tetapi karena menyingkapkan adanya dalil dari as-Sunnah. (An-Nabhani, 1994: 388-389).

    Mengenai perbedaan dalam cara memahami nash, sebagian mujtahidin membatasi makna nash syariat hanya pada yang tersurat dalam nash saja. Mereka disebut Ahl al-Hadîts (fukaha Hijaz). Sebagian mujtahidin lainnya tidak membatasi maknanya pada nash yang tersurat, tetapi memberikan makna tambahan yang dapat dipahami akal (ma’qûl). Mereka disebut Ahl ar-Ra’yi (fukaha Irak). Dalam masalah zakat fitrah, misalnya, para fukaha Hijaz berpegang dengan lahiriah nash, yakni mewajibkan satu sha’ makanan secara tertentu dan tidak membolehkan menggantinya dengan harganya. Sebaliknya, fukaha Irak menganggap yang menjadi tujuan adalah memberikan kecukupan kepada kaum fakir (ighnâ’ al-faqîr), sehingga mereka membolehkan berzakat fitrah dengan harganya, yang senilai satu sha’ (1 sha’= 2,176 kg takaran gandum). (Khallaf, 1985: 61; Az-Zuhaili, 1996: 909-911).

    Mengenai perbedaan dalam sebagian kaidah kebahasaan untuk memahami nash, hal ini terpulang pada perbedaan dalam memahami cara pengungkapan makna dalam bahasa Arab (uslûb al-lughah al-’arabiyah). Sebagian ulama, misalnya, menganggap bahwa nash itu dapat dipahami menurut manthûq (ungkapan eksplisit)-nya dan juga menurut mafhûm mukhâlafah (pengertian implisit yang berkebalikan dari makna eksplisit)-nya. Sebagian ulama lainnya hanya berpegang pada makna manthûq dari nash dan menolak mengambil mafhûm mukhâlafah dari nash. (Khallaf, 1985: 64).

    Tentang Bermazhab

    Bolehkan kita bertaklid (mengikuti) mazhab tertentu? Menjawab pertanyaan ini, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani (1994:232) menyatakan, sesungguhnya Allah Swt. tidak memerintahkan kita mengikuti seorang mujtahid, seorang imam, ataupun suatu mazhab. Yang diperintahkan Allah Swt. kepada kita adalah mengikuti hukum syariat dan mengamalkannya. Itu berarti, kita tidak diperintahkan kecuali mengambil apa saja yang dibawa Rasulullah saw. kepada kita dan meninggalkan apa saja yang dilarangnya atas kita. (QS al-Hasyr [59]: 7).

    Karena itu, An-Nabhani menandaskan, secara syar’î kita tidak dibenarkan kecuali mengikuti hukum-hukum Allah; tidak dibenarkan kita mengikuti pribadi-pribadi tertentu. (An-Nabhani, 1994: 232).

    Akan tetapi, fakta menunjukkan, tidak semua orang mempunyai kemampuan menggali hukum syariat sendiri secara langsung dari sumber-sumbernya (Al-Quran dan as-Sunnah). Karena itu, di tengah-tengah umat kemudian banyak yang bertaklid pada hukum-hukum yang digali oleh seorang mujtahid. Mereka pun menjadikan mujtahid itu sebagai imam mereka dan menjadikan hukum-hukum hasil ijtihadnya sebagai mazhab mereka (An-Nabhani, 1994: 232). Persoalannya, apakah bermazhab ini sesuatu yang dibenarkan syariat Islam?

    An-Nabhani menjawab, hal itu bergantung pada persepsi umat terhadap masalah ini. Jika mereka berpaham bahwa yang mereka ikuti adalah hukum-hukum syariat yang digali oleh seorang mujtahid maka bermazhab adalah sesuatu yang sahih dalam pandangan syariat Islam. Sebaliknya, jika umat berpaham bahwa yang mereka ikuti adalah pribadi mujtahid (syakhsh al-mujtahid), bukan hukum hasil ijtihad mujtahid itu, maka bermazhab seperti ini adalah sesuatu yang bertolak belakang dengan syariat Islam (An-Nabhani, 1994: 232).

    Walhasil, para pengikut mazhab wajib memperhatikan hal ini dengan sangat seksama; sekali lagi, sangat seksama, yaitu bahwa yang mereka ikuti hanyalah hukum syariat yang digali oleh mujtahid, bukan pribadi mujtahid yang bersangkutan. Kalau seseorang bermazhab Syafi’i, misalnya, maka wajiblah dia mempunyai persepsi, bahwa yang dia ikuti bukanlah Imam Syafi’i sebagai pribadi (taqlîd asy-syaksh), melainkan hukum syariat yang digali oleh Imam Syafi’i (taqlîd al-ahkâm). Jika persepsinya tidak demikian, maka para pengikut mazhab pada Hari Kiamat kelak akan ditanya oleh Allah Azza wa Jalla, mengapa mereka meninggalkan hukum Allah dan mengikuti pribadi-pribadi yang statusnya juga sesama hamba-Nya seperti halnya para pengikut mazhab itu? (An-Nabhani, 1994: 232 & 394).

    Bermazhab Secara Benar

    Para pengikut mazhab, di samping wajib mempunyai persepsi yang benar tentang bermazhab (seperti diuraikan sebelumnya), wajib memahami setidaknya 2 (dua) prinsip penting lainnya dalam bermazhab (Abdullah, 1995: 372), yaitu:

    Pertama, wajib atas muqallid suatu mazhab untuk tidak fanatik (ta’âshub) terhadap mazhab yang diikutinya (Ibn Humaid, 1995: 54). Tidaklah benar, ketika Syaikh Abu Hasan Abdullah al-Karkhi (w. 340 H), seorang ulama mazhab Hanafi, berkata secara fanatik, “Setiap ayat al-Quran atau hadis yang menyalahi ketetapan mazhab kita bisa ditakwilkan atau dihapus (mansûkh).” (Abdul Jalil Isa, 1982: 74).

    Karena itu, jika terbukti mazhab yang diikutinya salah dalam suatu masalah, dan pendapat yang benar (shawâb) ada dalam mazhab lain, maka wajib baginya untuk mengikuti pendapat yang benar itu menurut dugaan kuatnya. Para imam mazhab sendiri mengajarkan agar kita tidak bersikap fanatik. Ibnu Abdil Barr meriwayatkan, bahwa Imam Abu Hanifah pernah berkata, “Idzâ shaha al-hadîts fahuwa madzhabî (Jika suatu hadis/pendapat telah dipandang sahih maka itulah mazhabku).” (Al-Bayanuni, 1994: 90).

    Al-Hakim dan Al-Baihaqi juga meriwayatkan, bahwa Imam Syafi’i pernah mengatakan hal yang sama. Dalam satu riwayat, Imam Syafi’i juga pernah berkata, “Jika kamu melihat ucapanku menyalahi hadis, amalkanlah hadis tersebut dan lemparkanlah pendapatku ke tembok.” (Al-Dahlawi, 1989: 112).

    Kedua, sesungguhnya perbedaan pendapat (khilâfiyah) di kalangan mazhab-mazhab adalah sesuatu yang sehat dan alamiah, bukan sesuatu yang janggal atau menyimpang dari Islam, sebagaimana sangkaan sebagian pihak. Sebab, kemampuan akal manusia berbeda-beda, sebagaimana nash-nash syariat juga berpotensi memunculkan perbedaan pemahaman. Perbedaan ijtihad di kalangan sahabat telah terjadi sejak zaman Rasulullah saw. Beliau pun membenarkan hal tersebut dengan taqrîr-nya. (Abdullah, 1995: 373).

    Hizbut Tahrir Sebuah Mazhab?

    Satu persoalan yang juga menarik adalah, apakah Hizbut Tahrir itu suatu mazhab atau bukan? Jawabnya, Hizbut Tahrir bukanlah sebuah mazhab, melainkan sebuah partai politik yang berideologi Islam. Hizbut Tahrir adalah sebuah kelompok yang berdiri di atas dasar ideologi Islam yang diyakini para anggotanya, yang diperjuangkan untuk menjadi pengatur interaksi masyarakat dalam segala aspek kehidupan.

    Disebutkan dalam kitab Hizbut Tahrir (1995: 22) bab Keanggotaan Hizbut Tahrir, bahwa Hizbut Tahrir adalah partai bagi seluruh kaum Muslim tanpa melihat lagi faktor kebangsaan, warna kulit, dan mazhab mereka, karena Hizbut Tahrir memandang mereka semua dengan pandangan Islam. (Lihat: Hizbut Tahrir, 1995: 22).

    Namun demikian, jika umat Islam menaruh kepercayaan (tsiqah) kepada kualitas keilmuan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, radhiyallâhu ‘anhu, pendiri Hizbut Tahrir, maka dimungkinkan akan dapat terwujud mazhab An-Nabhani—bukan mazhab Hizbut Tahrir—pada masa mendatang. Sebab, beliau adalah mujtahid mutlak yang memiliki metode istinbâth (ushul fikih) tersendiri dan meng-istinbâth hukum-hukum syariat berdasarkan ushul fikih tersebut. Ihsan Sammarah dalam kitabnya Mafhûm Al-’Adalah Al-Ijtima’iyah (1991: 267) berkata, “Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani adalah seorang mujtahid yang mengikuti metode para fukaha dan mujtahidin, namun beliau tidak mengikuti satu mazhab dari mazhab-mazhab yang telah dikenal. Sebaliknya, beliau mengadopsi ushul fikih yang khas bagi beliau dan menggali hukum-hukum syariat berdasarkan ushul fikih tersebut.”

    Wallâhu a’lam.

    Daftar Pustaka

    1. Abdullah, M. Husain. 1995. Al-Wadhîh fî Ushûl sl-Fiqh. Beirut: Darul Bayariq.
    2. Ad-Dahlawi, Syah Waliyullah. 1989. Lahirnya Mazhab-Mazhab Fiqh (Al-Inshâf fî Bayân Asbâb al-Ikhtilâf). Terjemahan oleh Mujiyo Nurkholis. Bandung: CV Rosda.
    3. Al-’Alwani, Thaha Jabir. 1987. Adâb Al-Ikhtilâf fî al-Islâm. Washington: Al-Ma’had Al-’Alami li Al-Fikr Al-Islami (IIIT).
    4. Al-Bakri, As-Sayyid. T.t. I’ânah ath-Thâlibîn. Jld. I. Semarang: Maktabah wa Mathba’ah Toha Putera.
    5. Al-Bayanuni, M. Abul Fath. 1994. Studi Tentang Sebab-Sebab Perbedaan Mazhab (Dirâsât fî al-Ikhtilâfât al-Fiqhiyah). Terjemahan oleh Zaid Husein Al-Hamid. Surabaya: Mutiara Ilmu.
    6. Al-Hashari, Ahmad. 1991. Târîkh al-Fiqh al-Islami Nasy’atuhu, Mashâdiruhu, Adwâruhu, Madârisuhu. Beirut: Darul Jil.
    7. An-Nabhani, Taqiyuddin. 1994. Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyah. Jld. I. Beirut: Darul Ummah
    8. As-Sayis, M. Ali. 1997. Fiqih Ijtihad Pertumbuhan dan Perkembangannya (Nasy’ah al-Fiqh al-Ijtihâdi wa Athwâruhu). Terjemahan oleh M. Muzamil. Solo: CV Pustaka Mantiq.
    9. Az-Zuhaili, Wahbah. 1996. Al-Fiqh al-Islâmî wa Adillatuhu. Jld. II. Beirut: Darul Fikr.
    10. Bik, M. Al-Hudhari. 1981. Târîkh Tasyrî’ al-Islâmi. T.tp.: Maktabah Dar Ihya’ al-Kutub al-’Arabiyah.
    11. Ibn Humaid, Shalih Abdullah. 1995. Adab Berselisih Pendapat (Adab al-Khilâf). Terjemahan oleh Abdul Rosyad Shiddiq. Solo: Khazanah Ilmu.
    12. Isa, Abdul Jalil. 1982. Masalah-Masalah Keagamaan Yang Tidak Boleh Diperselisihkan Antar Sesama Umat Islam (Mâ Lâ Yajûzu fîhi al-Khilâf bayna al-Muslimîn). Terjemahan oleh M. Tolchah Mansoer & Masyhur Amin. Bandung: PT Alma’arif.
    13. Khallaf, Abdul Wahhab. 1985. Ikhtisar Sejarah Hukum Islam (Khulâshah Târîkh at-Tasyrî’ al-Islâmî). Terjemahan oleh Zahri Hamid & Parto Djumeno. Yogyakarta: Dua Dimensi.
    14. Mahmashani, Subhi. 1981. Filsafat Hukum Dalam Islam (Falsafah at-Tasyrî’ fî al-Islâm). Terjemahan oleh Ahmad Sudjono. Bandung: PT Alma’arif.
    15. Nahrawi, Ahmad. 1994. Al-Imâm asy-Syâfi’i fî Mazhabayhi al-Qadîm wa al-Jadîd. Kairo: Darul Kutub.
    16. Sammarah, Ihsan. 1991. Mafhûm al-’Adalah al-Ijtimâ’yah fî al-Fikri al-Islâmî al- Mu’âshir. Beirut: Dar An-Nahdhah Al-Islamiyah.
     
  • erva kurniawan 1:21 am on 16 November 2016 Permalink | Balas  

    Mensyukuri Nikmat Melalui Aqiqah 

    kambing-aqiqahMensyukuri Nikmat Melalui Aqiqah

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Para ulama telah berselisih pendapat dalam mengertikan aqiqah. Dari segi bahasa terdapat empat pendapat yang diberikan yaitu:

    1. Aqiqah ialah rambut yang di atas kepala anak ketika dia dilahirkan.
    2. Perkataan aqiqah diambil daripada kata dasar ‘al-‘aqq’ yang membawa erti memutuskan (al-qath’).
    3. Aqiqah adalah perbuatan menyembelih itu sendiri. Hujahnya, bahwa makna asal ‘al-‘aqq’ itu adalah dari perkataan ‘al-qath” (memutus atau memotong).
    4. Mengandungi makna kedua-duanya sekali yaitu dengan makna rambut dan menyembelih, dan ini merupakan pendapat yang lebih baik dipegang.

    Manakala dari segi syara’ pula, aqiqah ialah binatang ternakan yang berkaki empat yang disembelih ketika hendak mencukur rambut di kepala anak yang baru dilahirkan, sama ada disembelih pada hari ketujuh atau selepasnya.

    Hukum Aqiqah Dan Tujuannya

    Jumhur ulama mengatakan bahwa hukum aqiqah itu adalah sunat muakkadah yaitu sunat yang sangat digalakkan oleh Islam. Dasar kepada tuntutan ini ialah hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Anak-anak tergadai (terikat) dengan aqiqahnya, disembelih (aqiqah) untuknya pada hari ketujuh (kelahirannya) dan diberi namanya serta dicukur rambutnya.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Terdapat dua pendapat dalam menghuraikan maksud “anak-anak tergadai dengan aqiqahnya”. Pendapat pertama mengatakan bahwa jika tidak diaqiqahkan, anak itu akan terbantut atau terhalang pertumbuhannya, tidak seperti anak- anak lain yang diaqiqahkan. Pendapat kedua mengatakan bahwa maksudnya ialah anak itu tidak akan memberi syafaat kepada kedua ibu bapanya pada Hari Kiamat kelak jika dia tidak diaqiqahkan. Pendapat kedua ini adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal, dan pendapat ini adalah pendapat yang terbaik.

    Keguguran anak yang sudah bernyawa (ditiupkan roh) juga dituntut supaya dibuatkan aqiqah untuknya.

    Aqiqah dituntut oleh Islam bukan saja bertujuan untuk menghidupkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bagi mencari keredaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tetapi juga dituntut bagi melahirkan kesyukuran ibu bapa kepada Allah di atas anugerah cahaya mata atau zuriat keturunannya. Di samping itu, ia juga merupakan latihan untuk umat Islam dalam melakukan sedikit pengorbanan.

    Selain daripada itu, pelaksanaan aqiqah juga adalah bagi melahirkan kegembiraan ibu bapa di atas nikmat yang besar itu. Adalah dianggap kurang sopan kepada ibu bapa yang telah dikurniakan nikmat yang begitu besar, tidak bersyukur kepada Allah dengan melaksanakan aqiqah itu, sedangkan dia mempunyai kemampuan dari segi kewangan dan kelapangan.

    Orang Yang Berhak Melakukan Aqiqah

    Orang yang disunatkan membuat aqiqah untuk anak yang baru dilahirkan itu ialah orang yang wajib memberi nafkah kepada anak tersebut yaitu bapa atau ibunya sekalipun mereka itu orang fakir atau papa.

    Aqiqah tidak boleh dilakukan oleh orang yang tidak wajib ke atasnya memberi nafkah kepada anak tersebut melainkan dengan izin daripada orang yang wajib memberi nafkah (bapa atau ibunya).

    Belanja untuk aqiqah itu hendaklah diambil dari wang atau harta bapa atau ibu itu sendiri dan tidak boleh diambil dari harta anak yang hendak diaqiqahkan karena aqiqah adalah tabarru’ (sedekah). Jika diambil dari wang atau harta anak, aqiqah yang dibuat itu tidak sah dan ibu bapa tersebut wajib menggantinya.

    Bagi ibu bapa yang berkemampuan, hukum sunat melakukan aqiqah untuk anak mereka itu berkekalan sehinggalah anaknya itu baligh atau cukup umur. Jika anak itu sudah baligh tetapi tiada dibuat aqiqah untuknya, maka sunat ke atasnya melakukan aqiqah untuk dirinya sendiri.

    Adapun yang dimaksudkan dengan berkemampuan yang merupakan syarat untuk melakukan aqiqah itu ialah orang yang hendak melakukan aqiqah itu mempunyai wang belanja yang lebih untuk dirinya dan orang-orang yang di bawah tanggungannya sebelum berlalu jangka masa terpanjang bagi perempuan bernifas yaitu enam puluh hari. Jika kemampuannya itu wujud selepas berlalu masa tersebut (sebelum itu dia tidak mampu, kemudian selepas enam puluh hari baharulah dia mampu), maka tidaklah disunatkan ke atasnya beraqiqah.

    Al-Syeikh Muhammad Al-Khathib Al-Syarbini di dalam kitabnya Mughni Al-Muhtâj mengatakan bahwa jika wali anak tersebut tidak mampu untuk beraqiqah sebaik saja anak itu dilahirkan, kemudian dia mampu sebelum umur anak itu genap tujuh hari, maka sunat ke atas wali itu beraqiqah untuk anaknya itu.

    Jika kemampuannya itu ada selepas hari ketujuh dari hari kelahiran anaknya dalam masa isterinya sudah melalui semaksima hari-hari nifasnya (enam puluh hari), maka kebanyakan ulama muta’akhirîn berpendapat tidak disunatkan ke atasnya aqiqah.

    Adapun jika kemampuan itu wujud selepas hari ketujuh dari hari kelahiran anaknya sedang isterinya masih dalam nifas, maka dalam hal ini, para ulama berbeda pendapat. Menurut pendapat Yusuf Al-Ardabili di dalam kitabnya Al-Anwâr li A’mâli Al-Abrâr, beliau mentarjîhkan (lebih cenderung kepada) pendapat yang mengatakan sunat ke atasnya aqiqah.

    Dalam arti kata lain, jika wali itu tidak mampu sehingga habis masa nifas isterinya, maka gugurlah daripadanya hukum sunat melakukan aqiqah.

    Dalam masalah menentukan hukum melakukan aqiqah untuk anak zina pula, menurut Ibnu Hajar sebagaimana tersebut dalam kitabnya Tuhfah Al-Muhtâj bahwa hukumnya adalah sunat ke atas ibunya melakukan aqiqah untuk anak zinanya itu, akan tetapi hendaklah dilakukan aqiqah itu secara sembunyi-sembunyi (tidak dizahirkan).

    Masa Aqiqah

    Aqiqah sunat dilakukan sebaik-baik saja anak dilahirkan dan berterusan sehinggalah anak itu baligh. Ini adalah pendapat yang paling râjih. Apabila anak itu sudah baligh, gugurlah hukum sunat itu daripada walinya dan ketika itu hukum sunat berpindah ke atas anak itu sendiri dalam melakukan aqiqah untuk dirinya sendiri.

    Walaupun masa yang disunatkan untuk beraqiqah itu panjang, tetapi yang afdhalnya hendaklah dilakukan pada hari ketujuh dari hari kelahirannya. Termasuk dalam kiraan tujuh hari itu, hari anak itu dilahirkan. Jika anak itu dilahirkan pada waktu siang sebelum terbenam matahari, maka hari itu dikira satu hari. Sebaliknya jika dia dilahirkan pada waktu malam, maka malam dia dilahirkan itu tidak dikira sebagai satu hari, bahkan kiraan tujuh hari itu bermula dari hari selepasnya (siang berikutnya).

    Jika tidak sempat disembelih aqiqah pada hari ketujuh, digalakkan disembelih pada hari yang keempat belas dari hari kelahiran anaknya, jika tidak sempat pada hari tersebut, disembelih pada hari yang kedua puluh satu. Begitulah seterusnya, boleh dilakukan selepas itu setiap kali berlalu tujuh hari yang berikutnya, seperti pada hari yang kedua puluh lapan, tiga puluh lima dan seterusnya.

    Di dalam kitab Kifâyah Al-Akhyâr ada menyebutkan bahwa masa untuk menyembelih aqiqah (bagi yang mampu) itu hendaklah jangan melebihi tempoh sehingga kering darah nifas ibu yang bersalin. Jika tidak dilakukan aqiqah setelah kering darah nifas ibunya, maka bolehlah dilakukan selepas itu, tetapi sepatutnya janganlah terlewat sehingga anak itu berhenti menyusu (dalam tempoh dua tahun dari tarikh lahir). Jika tidak dilakukan juga, maka bolehlah dilakukan selepas itu, tetapi janganlah terlewat sehingga anak itu berumur tujuh tahun. Jika tidak dilakukan juga sehingga anak itu berumur tujuh tahun, boleh lagi dilakukan selepas itu, tetapi hendaknya sebelum anak itu sampai umur (baligh). Jika anak itu telah sampai umur baligh, maka pada masa itu diberi pilihan kepada anak tersebut melakukan aqiqah untuk dirinya sendiri.

    Masa yang afdhal untuk menyembelih aqiqah itu ialah setelah terbit matahari, dan semasa penyembelihan itu dilakukan hendaklah dibaca:

    Artinya: “Dengan nama Allah dan Allah Maha Besar (kerajaanNya), ya Allah, mohon kurniakan selawat, rahmat dan kebesaran kepada Sayyidina Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabat Baginda, ya Allah, ini aqiqah si Polan.”

    Semasa menyembelih itu juga disyaratkan berniat dengan niat bahwa binatang yang disembelih itu adalah untuk aqiqah.

    Bilangan Binatang Yang Hendak Disembelih

    Bagi anak lelaki, yang afdhalnya disunatkan menyembelih dua ekor kambing yang sama keadaan keduanya (besarnya). Manakala bagi anak perempuan, memadai dengan seekor kambing saja. Ini berdasarkan kepada hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Sayyidatina ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha:

    Maksudnya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh kami beraqiqah untuk anak lelaki dengan (menyembelih) dua ekor kambing dan untuk anak perempuan dengan (menyembelih) seekor kambing.”

    (Hadits riwayat Ibnu Majah)

    Jika tidak mampu menyembelih dua ekor kambing untuk anak lelaki, maka memadailah dengan seekor kambing atau satu pertujuh dari seekor unta atau dari seekor lembu atau kerbau saja, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri membuat aqiqah untuk cucunda Baginda, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain dengan menyembelih seekor kambing bagi tiap-tiap seorang.

    Bagi anak yang khuntsâ yaitu anak yang mempunyai dua kemaluan pula, para ulama berbeda pendapat dalam menentukan bilangan binatang aqiqah yang hendak disembelih untuknya. Ibnu Hajar berpendapat bahwa anak khuntsâ sama seperti anak perempuan yaitu memadai disembelih seekor kambing saja. Manakala Imam Al-Ramli mengatakan bahwa bagi anak khuntsâ disunatkan disembelih dua ekor kambing, sama seperti anak lelaki.

    Pada perkara membuat aqiqah itu, yang lebih afdhal ialah dengan tujuh ekor kambing, kemudian seekor unta, kemudian dengan seekor lembu atau kerbau, kemudian dengan seekor kibasy, kemudian dengan seekor kambing, kemudian dengan satu pertujuh unta dan seterusnya dengan satu pertujuh lembu atau kerbau.

    Oleh karena itu, jika seseorang itu mempunyai harta yang banyak, yang paling afdhal sekali, dituntut supaya dia beraqiqah bagi seorang anak dengan tujuh ekor kambing atau dengan seekor unta atau seekor lembu.

    Binatang Aqiqah Dan Dagingnya

    Binatang yang sah disembelih untuk aqiqah sama seperti binatang-binatang yang sah dibuat korban yaitu binatang ternakan berkaki empat seperti unta, lembu, kerbau, kambing, biri-biri dan kibasy yang telah sampai umurnya dan sihat badannya, tidak berpenyakit dan tidak ada sebarang kecacatan yang boleh mengurangkan daging atau lemaknya atau mengurangkan anggota-anggota yang boleh dimakan.

    Oleh Karena itu, binatang yang sangat kurus, yang kudung, yang patah kaki atau pincang, yang buta, yang terpotong telinga atau seumpamanya, tidak sah dibuat aqiqah.

    Manakala daging aqiqah digalakkan supaya tidak disedekahkan dalam keadaan mentah, bahkan disunatkan dimasak dengan sedikit rasa manis.Tujuannya ialah untuk menaruh harapan baik (optimis) terhadap keelokan perangai dan budi pekerti anak yang diaqiqahkan.

    Kemudian daging yang dimasak itu diberi makan kepada fakir miskin, sama ada dengan dihantar masakan itu ke rumah-rumah mereka atau dijemput mereka hadir makan ke rumah tempat beraqiqah, tetapi jika dihantar masakan itu ke rumah-rumah mereka adalah lebih afdhal.

    Adapun kaki hingga ke pangkal paha kambing tersebut adalah dikecualikan dari dimasak yaitu dibiarkan ia mentah, dan disunatkan disedekahkan kaki kanannya kepada bidan yang menyambut kelahiran anak tersebut. Ini karena Sayyidatina Fatimah Radhiallahu ‘anha, puteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri melakukan demikian dengan suruhan Baginda.

    Sementara itu, orang yang beraqiqah digalakkan memakan sebagian kecil daripada daging binatang yang diaqiqahkan selama mana aqiqahnya itu bukan aqiqah wajib (aqiqah nazar).

    Begitu juga daging aqiqah itu harus dihadiahkan kepada orang kaya, dan dia memiliki apa yang dihadiahkan kepadanya itu, dengan maksud bahwa dia boleh memakannya atau menjualnya.

    Akan tetapi daging aqiqah haram diberikan kepada orang kafir dan juga haram dijual.

    Semasa memotong daging disunatkan supaya jangan dipecah-pecah atau dikerat-kerat tulang binatang yang diaqiqah itu, bahkan dikehendaki supaya diasing-asingkan tulang-tulang itu antara satu sama lain melalui sendi-sendinya saja, ini bertujuan untuk mengambil sempena baik supaya tulang anak-anak nanti tidak pecah dan tidak patah sebagaimana tidak pecah dan tidak patahnya tulang-tulang binatang aqiqahnya. Kalau sekiranya tulang-tulang binatang aqiqah itu dipecah-pecah atau dipotong-potong dan dikerat sebagaimana yang biasa dilakukan kepada binatang sembelihan biasa, maka tidaklah menjadi makruh, akan tetapi hanyalah menyalahi yang utama (khilâf al-awlâ).

    Sebagai kesimpulan, aqiqah merupakan ibadat yang antara lain sebagai tanda mensyukuri nikmat Allah subhanahu wa ta’ala, oleh itu adalah perlu ianya dilakukan menurut sebagaimana yang digariskan oleh syara’.

    Wallohu a’lam bish-shawab.

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 15 November 2016 Permalink | Balas  

    Abul Wafa Muhammad Al Buzjani Peletak Dasar Rumus Trigonometri 

    abul-wafa-muhammad-al-buzjaniAbul Wafa Muhammad Al Buzjani Peletak Dasar Rumus Trigonometri

    Laporan: YUS/BERBAGAI SUMBER

    Masa kejayaan Islam tempo dulu antara lain ditandai dengan maraknya tradisi  ilmu pengetahuan. Para sarjana Muslim, khususnya yang berada di Baghdad dan  Andalusia, memainkan peran cukup penting bagi tumbuh berkembangnya ilmu  kedokteran, matematika, kimia, dan bidang ilmu lain yang sekarang berkembang.  Selama berabad-abad sarjana-sarjana Muslim tadi menuangkan buah pikiran dan  hasil penelitian ke dalam kitab-kitab pengetahuan untuk kemudian menjadi  rujukan ilmu pengetahuan modern. Kini, dunia telah dapat mengambil manfaat  dari pengembangan ilmu yang dirintis oleh para ilmuwan serta sarjana Muslim.

    Abul Wafa Muhammad Ibn Muhammad Ibn Yahya Ibn Ismail al-Buzjani, merupakan  satu di antara sekian banyak ilmuwan Muslim yang turut mewarnai khazanah  pengetahuan masa lalu. Dia tercatat sebagai seorang ahli di bidang ilmu  matematika dan astronomi. Kota kecil bernama Buzjan, Nishapur, adalah tempat  kelahiran ilmuwan besar ini, tepatnya tahun 940 M. Sejak masih kecil,  kecerdasannya sudah mulai nampak dan hal tersebut ditunjang dengan minatnya  yang besar di bidang ilmu alam. Masa sekolahnya dihabiskan di kota  kelahirannya itu.

    Setelah berhasil menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah, Abul Wafa lantas  memutuskan untuk meneruskan ke jenjang lebih tinggi di ibukota Baghdad tahun  959 M. Di sana, dia pun belajar ilmu matematika. Sejarah mencatat, di kota  inilah Abul Wafa kemudian menghabiskan masa hidupnya. Tradisi dan iklim  keilmuan Baghdad benar-benar amat kondusif bagi perkembangan pemikiran Abul  Wafa. Berkat bimbingan sejumlah ilmuwan terkemuka masa itu, tak berapa lama  dia pun menjelma menjadi seorang pemuda yang memiliki otak cemerlang.

    Dia pun lantas banyak membantu para ilmuwan serta pula secara pribadi  mengembangkan beberapa teori penting di bidang matematika, utamanya geometri  dan trigonometri. Di bidang ilmu geometri, Abul Wafa memberikan kontribusi  signifikan bagipemecahan soal-soal geometri dengan menggunakan kompas;  konstruksi ekuivalen untuk semua bidang, polyhedral umum; konstruksi hexagon  setengah sisi dari segitiga sama kaki; konstruksi parabola dari titik dan  solusi geometri bagi persamaan.

    Konstruksi bangunan trigonometri versi Abul Wafa hingga kini diakui sangat  besar kemanfaatannya. Dia adalah yang pertama menunjukkan adanya teori relatif  segitiga parabola. Tak hanya itu, dia juga mengembangkan metode baru tentang  konstruksi segi empat serta perbaikan nilai sinus 30 dengan memakai delapan  desimal. Abul Wafa pun mengembangkan hubungan sinus dan formula 2 sin2 (a/2) =  1 – cos a dan juga sin a = 2 sin (a/2) cos (a/2)

    Di samping itu, Abul Wafa membuat studi khusus menyangkut teori tangen dan  tabel penghitungan tangen. Dia memperkenalkan secan dan cosecan untuk pertama  kalinya, berhasil mengetahui relasi antara garis-garis trigonometri yang mana  berguna untuk memetakannya serta pula meletakkan dasar bagi keberlanjutan  studi teori conic. Abul Wafa bukan cuma ahli matematika, namun juga piawai  dalam bidang ilmu astronomi. Beberapa tahun dihabiskannya untuk mempelajari  perbedaan pergerakan bulan dan menemukan “variasi”. Dia pun tercatat sebagai  salah satu dari penerjemah bahasa Arab dan komentator karya-karya Yunani.

    Banyak buku dan karya ilmiah telah dihasilkannya dan mencakup banyak bidang  ilmu. Namun tak banyak karyanya yang tertinggal hingga saat ini. Sejumlah  karyanya hilang, sedang yang masih ada, sudah dimodifikasi. Kontribusinya  dalam bentuk karya ilmiah antara lain dalam bentuk kitab Ilm al-Hisab (Buku  Praktis Aritmatika), Al-Kitab Al-Kamil (Buku Lengkap), dan Kitab al-Handsa  (Geometri Terapan). Abul Wafa pun banyak menuangkan karya tulisnya di jurnal  ilmiah Euclid, Diophantos dan al-Khawarizmi, tetapi sayangnya banyak yang  telah hilang.

    Kendati demikian, sumbangsihnya bagi teori trigonometri amatlah signifikan  terutama pengembangan pada rumus tangen, penemuan awal terhadap rumus secan  dan cosecan. Maka dari itu, sejumlah besar rumus trigomometri tak bisa  dilepaskan dari nama Abul Wafa. Seperti disebutkan dalam Alquran maupun hadis,  agama Islam menganjurkan kepada umatnya untuk senantiasa belajar dan  mengembangkan ilmu pengetahuan. Inilah yang dihayati oleh sang ilmuwan Muslim,  Abul Wafa Muhammad hingga segenap kehidupannya dia abdikan demi kemajuan ilmu.  Dia meninggal di Baghdad tahun 997 M.

    ***

    republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 14 November 2016 Permalink | Balas  

    Riya Penghapus Amal 

    adab-sedekahRiya Penghapus Amal

    Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jalan Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda:

    ”Sesungguhnya orang yang pertama akan diadili oleh Allah adalah seorang yang mati syahid (di mata manusia), maka orang ini didatangkan (menghadap Allah), diberitahukan kepadanya nikmat-nikmatnya dan iapun mengetahuinya. Maka Allah bertanya kepadanya, ”Apa yang engkau lakukan di dalam nikmat tersebut?” Maka ia menjawab, ”Sungguh aku telah berperang karena Engkau, sehingga aku mati syahid.” Maka Allah berfirman, ”Engkau dusta. Akan tetapi, engkau berperang supaya dikatakan pemberani, dan pujian itu telah engkau dapatkan,” kemudian orang ini diperintahkan agar dicampakkan wajahnya ke dalam api neraka.

    Kemudian orang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an, maka orang ini didatangkan (menghadap Allah), maka diberitahukan kepadanya nikmat-nikmatNya, dan iapun mengetahuinya. Maka Allah bertanya kepadanya, ”Apa yang telah engkau lakukan di dalam nikmat tersebut?” Orang ini menjawab, ”Sesungguhnya aku telah mempelajari ilmu dan mengajarkannya, dan aku membaca Al-Qur’an karena Engkau.” Maka Allah berfirman, ”Engkau berdusta, akan tetapi engkau belajar ilmu agar dikatakan ‘alim dan membaca Al-Qur’an supaya dikatakan qarri’, dan pujian itu telah engkau dapatkan.” Kemudian orang ini diperintahkan agar dicampakkan wajahnya ke dalam api neraka.

    Kemudian orang yang diberi keluasan rizki oleh Allah, maka Allah memberikan kepadanya berbagai macam harta. Maka orang ini didatangkan (menghadap Allah). Diberitahukan kepadanya nikmat-nikmatNya, dan iapun mengetahuinya. Maka Allah bertanya kepadanya, ”Apa yang telah engkau lakukan di dalam nikmat tersebut?” Orang ini menjawab, ”Tidaklah aku meninggalkan satu jalan yang Engkau cintai atau diinfakkan di dalamnya, kecuali aku menginfakkan di jalan tersebut karena Engkau,” maka Allah berfirman, ”Engkau dusta, akan tetapi engkau berinfak supaya dikatakan dermawan, dan pujian itu telah dikatakan.” Kemudian orang ini diperintahkan agar dicampakkan wajahnya ke dalam api neraka. (HR Muslim)

    Apa yang menyebabkan tiga orang ini dicampakkan Allah ke dalam neraka jahannam? Bukankah mereka telah melakukan amalan-amalan yang mulia? Bukankah mereka telah bersusah payah melakukannya? Tiada lain karena mereka melakukan semua itu bukan karena Allah, tapi karena ingin dipandang oleh manusia.

    Jihad di Jalan Allah

    Jihad, merupakan amalan yang mulia, bahkan sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa salam,

    ”Dan puncak agama adalah jihad fi sabilillah.” (HR Tirmidzi)

    Dan sebagaimana yang difirmankan oleh Allah:

    ”Dan janganlah kamu mengatakan bahwa orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS Al-Baqarah: 154)

    Dan masih banyak lagi ayat maupun hadits yang menjelaskan keutamaan jihad dan orang yang mati syahid. Akan tetapi, tatkala amalan yang agung ini dicampuri dengan perbuatan riya’, maka hilanglah pahalanya. Dari sini, maka kita perlu mengetahui yang disebut dengan jihad fi sabilillah dan ciri-cirinya.

    Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari jalan sahabat Abu Musa Al Asy’ari, ia berkata: Seorang Badui datang kepada Rasulullah dan bertanya, ”Wahai Rasulullah, seseorang berperang karena harta rampasan, seseorang berperang karena ingin terkenal, dan seseorang berperang agar dilihat oleh manusia. Siapakah yang di jalan Allah?” Maka Rasulullah menjawab,

    ”Barangsiapa yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah, maka ia berada di jalan Allah. (muttafaqun ‘alaih).

    Inilah jihad yang sebenarnya, yaitu tidak ada tujuan lain, kecuali dalam rangka menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini.

    Mencari dan Mengajarkan Ilmu serta Membaca Al-Qur’an

    Selanjutnya diantara orang yang pertama akan dihakimi oleh Allah adalah seseorang yang mencari ilmu dan mengajarkannya, serta orang yang membaca Al-Qur’an. Tiga amalan ini merupakan amalan yang sangat mulia dan banyak pahalanya. Akan tetapi, tatkala tiga amalan tersebut bukan karena Allah semata, maka menjadi hilanglah pahalanya, bahkan pelakunya diancam oleh Allah dengan neraka. Dalam sabdanya, Rasulullah mengancam seseorang yang mencari ilmu bukan karena Allah,

    ”Barangsiapa yang mempelajari ilmu yang dengannya diharapkan wajah Allah, kemudian dia tidak mempelajarinya, kecuali karena ingin mendapatkan dunia, maka dia tidak akan mencium bau surga dan pada hari kiamat. (HR Abu Dawud).

    Berinfaq di Jalan Allah

    Adapun orang yang ketiga adalah orang yang berinfak. Banyak ayat-ayat maupun hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan berinfak. Di antaranya firman Allah:

    ”Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipatgandakan ganjaran bagi siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas karunia-Nya, lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Baqarah: 261)

    Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda,

    ”Baransiapa yang bersedekah dengan seukuran buah kurma dari hasil usaha yang halal -dan Allah tidak menerima kecuali yang baik-, maka Allah akan menerima dengan tangan kanannya, kemudian akan mengembangkan (shadaqah tersebut) untuk pemiliknya, sebagaimana salah seorang diantara kalian mengembangkan anak kudanya, sehingga menjadi seukuran gunung uhud (muttafaqun alaih).

    Ini merupakan keutamaan besar yang Allah berikan kepada orang-orang yang mau bersedekah. Akan tetapi, apabila seseorang menginfakkan hartanya bukan karena Allah, yang karena ingin mendapatkan pujian manusia, maka didapat bukan pahala, tetapi siksa dari Allah.

    Khatimah

    Hadits yang disebutkan di atas menunjukkan pentingnya masalah ikhlas dalam beribadah, dan menunjukkan betapa berbahayanya perbuatan riya’, hingga dapat menghapus amalan yang dilakukan oleh seseorang. Oleh karena itu, riya’ termasuk perbuatan yang sangat ditakutkan Rasullah, sebagaimana sabda Beliau shalallahu alaihi wa salam:

    ”Sesungguhnya yang paling aku takutkan akan menimpa kalian adalah syirik kecil. Beliau ditanya tentangnya, maka Beliau mejawab, yaitu riya’ (HR Ahmad).

    Rasulullah shalallahu alaihi wa salam juga memerintahkan kepada umatnya agar selalu meminta perlindungan Allah dari perbuatan syirik, baik yang besar maupun yang kecil. Ketahuilah, bahwa ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya ibadah seseorang. Allah tidak akan menerima ibadah seseorang, kecuali jika hanya diberikan kepada Allah.

    Semoga amalan Allah melindungi kita dari perbuatan riya’ dan menjadikan kita sebagai orang yang ikhlas. Aamiin

    Sumber: Bonus Khutbah Jum’at Majalah As Sunnah Edisi 02/VII/1424 H – 2004 M

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 13 November 2016 Permalink | Balas  

    Tata Cara Penyembelihan Kurban 

    kambing-kurban-300x225Tata Cara Penyembelihan Kurban

    Oleh Shidiq Hasan Khan

    Kata Pengantar

    Sehubungan dengan hadirnya bulan Dzul Hijjah, maka pada sajian kali ini kami angkat permasalahan tentang Tata Cara Penyembelihan Kurban, yang diterjemahkan dari Kitab Ar-Raudhatun Nadhiyyah Syarh Ad-Durar Al-Bahiyyah, karangan Abu-At-Thayyib Shidiq Hasan bin Ali Al-Hushaini Al-Qanuji Al-Bukhari oleh Abu Abdirrahman Asykari bin Jamaluddin Al-Bugisy, dan dimuat di Majalah As-Sunnah edisi 22/II/1417H-1997M.

    1. Disyaria’tkan bagi setiap Keluarga

    Berdasarkan hadits Abu Ayyub Al-Anshary, ia berkata:”Artinya: Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada seorang berkurban dengan seekor kambing untuknya dan keluarganya. 1) (Dikeluarkan Ibnu Majah dan At-Tirmidzi dan di shahihkannya dan dikeluarkan Ibnu Majah semisal hadits Abu Sarihah 2) dengan sanad shahih).

    Dan dikeluarkan juga oleh Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa’i dari hadits Mikhna bin Salim, bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”Artinya: Wahai sekalian manusia atas setiap keluarga pada setiap tahun wajib ada sembelihan (udhiyah) 3). (Di dalam sanadnya terdapat Abu Ramlah dan namanya adalah ‘Amir. Al-Khaththabi berkata: majhul) 4)

    Jumhur berpendapat bahwa hukum berkurban adalah sunnah, bukan wajib. Demikianlah yang dikatakan oleh Imam Malik. Dan (beliau) berkata: “Saya tidak menyukai seseorang yang kuat (sanggup) untuk membelinya (binatang kurban) lalu dia meninggalkannya.” 5) Dan demikian pula Imam Syafi’i berpendapat.

    Adapun Rabi’ah dan Al-Auza’i dan Abu Hanifah dan Al-Laits, dan sebagian pengikut Malikiyah berpendapat bahwa hukumnya wajib terhadap yang mampu. Demikian pula yang diceritakan dari Imam Malik dan An-Nakha’iy. 6)

    Orang-orang yang berpendapat akan wajibnya (berkurban) berpegang pada hadits:”Artinya:Tiap-tiap ahli bait (keluarga) harus ada sembelihan (udhiyah). “Yaitu hadits yang terdahulu, dan juga hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Ibnu Majah serta di dishahihkan Al-Hakim. Ibnu Hajar dalam kitabnya Fath-Al-Bari berkata:”Para perawinya tsiqah (terpercaya) namun diperselisihkan marfu’ dan mauquf-nya. Tetapi lebih benar (jika dikatakan) mauquf.

    Dikatakan Imam Thahawi dan lainnya, 7) berkata: “Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,”Artinya: Barangsiapa yang mempunyai keleluasaan (untuk berkurban) lalu dia tidak berkurban maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami.”

    Diantara dalil yang mewajibkan (berkurban) adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Artinya : Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu dan berkurbanlah.”8)Dan perintah menunjukkan wajib. Dikatakan pula bahwa yang dimaksudkan adalah mengkhususkan penyembelihan hanya untuk Rabb, bukan untuk patung-patung.9)

    Diantaranya juga adalah hadits Jundub bin Sufyan Al-Bajaly dalam shahihain 10) dan lainnya, berkata: Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Artinya: Siapa yang menyembelih sebelum dia shalat maka hendaklah dia menyembelih sekali lagi sebagai gantinya. Dan barang siapa yang belum menyembelih hingga kami selesai shalat, maka hendaklah dia menyembelih dengan (menyebut) nama Allah.”Dan disebutkan dari hadits Jabir semisalnya. 11)

    Berdasarkan dengan hadits:”Artinya: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban untuk orang yang tidak berkurban dari umatnya dengan seekor gibas.” 12)Sebagaimana terdapat pada hadits Jabir yang diriwayatkan Ahmad dan Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan dikeluarkan semisalnya oleh Ahmad dan At-Thabrani dan Al-Bazzar dari hadits Abu Rafi’ dengan sanad yang hasan. Jumhur berpendapat untuk menjadikan hadits ini sebagai qarinah (keterangan) yang memalingkan dalil-dalil yang mewajibkan.

    Tidak diragukan lagi bahwa (keduanya) mungkin untuk dijamak (gabung). Yaitu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban untuk orang-orang yang tidak memiliki (tidak mampu menyembelih) sembelihan dari umatnya, sebagaimana dijamaknya hadits:”Artinya: Orang yang tidak menyembelih dari umatnya. “Dengan hadits, “Artinya: Atas setiap keluarga ada kurban.”

    Adapun hadits:”Artinya: Aku diperintahkan berkurban dan tidak diwajibkan atas kalian.” 13)Dan yang semisal hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah, karena pada sanad-sanadnya ada yang tertuduh berdusta dan ada yang dha’if sekali.

    1. Kurban Dilakukan Paling Sedikit Seekor Kambing

    Berdasarkan hadits yang terdahulu. Al-Mahally berkata:”onta dan sapi cukup untuk tujuh orang. Sedangkan seekor kambing mencukupi untuk satu orang. Tapi apabila mempunyai keluarga, maka (dengan seekor kambing itu) mencukupi untuk keseluruhan mereka. Demikian pula dikatakan bagi setiap orang diantara tujuh orang yang ikut serta dalam penyembelihan onta dan sapi. Jadi berkurban hukumnya sunnah kifayah (sudah mencukupi keseluruhan dengan satu kurban) bagi setiap keluarga, dan sunnah ‘ain (setiap orang) bagi yang tidak memiliki rumah (keluarga).

    Menurut (ulama) Hanafiah, seekor kambing tidak mencukupi melainkan untuk seorang saja. Sedangkan sapi dan onta tidak mencukupi melainkan untuk tiap tujuh orang. Mereka tidak membedakan antara yang berkeluarga dan tidak. Menurut mereka berdasarkan penakwilan hadits itu maka berkurban tidaklah wajib kecuali atas orang-orang yang kaya. Dan tidaklah orang tersebut dianggap kaya menurut keumuman di zaman itu kecuali orang yang memiliki rumah. Dan dinisbatkannya kurban tersebut kepada keluarganya dengan maksud bahwa mereka membantunya dalam berkurban dan mereka memakan dagingnya serta mengambil manfa’atnya.14)

    Dan dibenarkan mengikutsertakan tujuh orang pada satu onta atau sapi, meskipun mereka adalah dari keluarga yang berbeda-beda. Ini merupakan pedapat para ulama. Dan mereka mengqiyaskan kurban tersebut dengan al-hadyu. 15)

    Dan tidak ada kurban untuk janin (belum lahir). Ini adalah perkataan ulama. 16)

    1. Waktunya Setelah Melaksanakan Shalat Iedul Kurban

    Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Artinya: Barangsiapa menyembelih sebelum shalat hendaklah menyembelih sekali lagi sebagai gantinya, dan siapa yang belum menyembelih hingga kami selesai shalat maka menyembelihlah dengan bismillah.”

    Terdapat dalam Shahihain 17) Dan di dalam shahihain dari hadits Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Artinya: Siapa yang menyembelih sebelum shalat maka hendaklah dia mengulangi.” 18)

    Berkata Ibnul Qayyim: “Dan tidak ada pendapat seseorang dengan adanya (perkataan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang ditanya oleh Abu Burdah bin Niyar tentang seekor kambing yang disembelihnya pada hari Ied, lalu beliau berkata:”Artinya: Apakah (dilakukan) sebelum shalat? Dia menjawab: Ya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Itu adalah kambing daging (yakni bukan kambing kurban).” (Al-Hadits)

    Ibnu Qayyim berkata: “Hadits ini shahih dan jelas menunjukkan bahwa sembelihan sebelum shalat tidak dianggap (kurban), sama saja apakah telah masuk waktunya atau belum. Inilah yang kita jadikan pegangan secara qath’i (pasti) dan tidak diperbolehkan (berpendapat) yang lainnya. Dan pada riwayat tersebut terdapat penjelasan bahwa yang dijadikan patokan (berkurban) adalah shalatnya Imam.”

    1. Akhir Waktunya Adalah Di Akhir Hari-hari Tasyriq

    Berdasarkan hadits Jubair bin Mut’im dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda:”Artinya: Pada setiap hari-hari tasyriq ada sembelihan.” 20) (Dikeluarkan Imam Ahmad dan Ibnu Hibban dalam shahihnya dan Al-Baihaqi. Dan terdapat jalan lain yang menguatkan antara satu dengan riwayat yang lainnya. Dan juga diriwayatkan dari hadits Jabir dan lainnya. Dan ini diriwayatkan segolongan dari shahabat. Dan perselisihan dalam perkara ini adalah ma’ruf).

    Di dalam Al-Muwatha’ dari Ibnu Umar:”Artinya: Al-Adha (berkurban) dua hari setelah dari Adha. 21)Demikian pula dari Ali bin Abi Thalib. Dan ini pendapat Al-Hanafiah dan madzhab Syafi’iyah bahwa akhir waktunya sampai terbenamnya matahari dari akhir hari-hari tasyriq berdasarkan hadits Imam Al-Hakim yang menunjukan hal tersebut.22)

    1. Sembelihan yang Terbaik adalah yang Paling Gemuk.

    Berdasarkan hadits Abu Rafi’:”Artinya: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bila berkurban, membeli dua gibas yang gemuk” 23) (Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan lainnya dengan sanad Hasan).

    Dan dikeluarkan oleh Imam Bukhari dari hadits Abu Umamah bin Sahl berkata:”Artinya: Adalah kami menggemukkan hewan kurban di Madinah dan kaum Muslimin menggemukkan (hewan kurbannya).” 24)

    Saya katakan, bahwa kurban yang paling afdhal (utama) adalah gibas (domba jantan) yang bertanduk. Sebagaimana yang terdapat pada suatu hadits dari Ubadah bin Ash-Shamit dalam riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Hakim dan Al-Baihaqi secara marfu’ dengan lafadzh:”Artinya: Sebaik-baik hewan kurban adalah domba jantan yang bertanduk.” 25) (Dan juga dikeluarkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Baihaqi dari hadits Abu Umamah dan di dalam sanadnya terdapat ‘Ufair bin Mi’dan dan dia Dha’if.26)

    Al-Udhiyah (sembelihan kurban) yang dimaksud bukanlah Al-Hadyu. Dan terdapat pula nash pada riwayat Al-Udhiyah, maka nash wajib didahulukan dari qiyas (mengqiyaskan udhiyah dengan Al-Hadyu), dan hadits: “Domba jantan yang bertanduk.” adalah nash diantara perselisihan ini.

    Apabila dikhususkan berkurban dengan domba berdasarkan zhahir hadits, dan bila meliputi yang lainnya, maka termasuk yang dikebiri. Tetapi yang utama tidaklah dikhususkan dengan hewan yang dikebiri. Adapun penyembelihan kurban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa hewan yang dikebiri tidak menunjukkan lebih afdhal dari yang lainnya, namun yang ditujuk pada riwayat tersebut bahwa berkurban dengan hewan yang dikebiri adalah boleh. 27)

    1. Tidak Mencukupi Kurban Ada yang di bawah Al-Jadz’u 28)

    Berdasarkan hadits Jabir dalam riwayat Muslim dan selainnya berkata : Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Artinya: Janganlah engkau menyembelih melainkan musinnah (kambing yang telah berumur dua tahun) kecuali bila kalian kesulitan maka sembelihlah Jadz’u (kambing yang telah berumur satu tahun).29)

    Dan dikeluarkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzi dari Abu Hurairah berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersbada, “Artinya: Sebaik-baik sembelihan adalah kambing Jadz’u.” 30)

    Dikeluarkan pula oleh Ahmad dan Ibnu Majah, Al-Baihaqi dan At-Thabrani dari hadits Ummu Bilal binti Hilal dari bapaknya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Artinya: Boleh berkurban dengan kambing Jadz’u.” 31)

    Di dalam shahihain dari hadits ‘Uqbah bin ‘Amir berkata, “Artinya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi-bagi hewan kurban pada para shahabatnya, dan ‘Uqbah mendapatlan Jadz’ah. Lalu saya bertanya: Wahai Rasulullah, saya mendapatkan Jadz’u. Lalu beliau menjawab: Berkurbanlah dengannya.” 32)

    Jumhur berpendapat bahwa boleh berkurban dengan kambing Jadz’u. Dan barang siapa yang beranggapan bahwa kambing tidak memenuhi kecuali untuk satu atau tiga orang saja, atau beranggapan bahwa selainnya lebih utama maka hendaklah membawakan dalil. Dan tidaklah cukup menggunakan hadits Al-Hadyu sebab itu adalah bab yang lain. 33)

    1. Dan Tidak Mencukupi Selain Dari Ma’zun

    Berdasarkan hadits Abu Burdah dalam shahihain dan lainnya bahwa dia berkata, “Artinya: Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya mempunyai hewan ternak ma’zun jadz’u (Sejenis Kambing Yang Kurang Dua Tahun). Lalu beliau berkata: Sembelihlah, dan tidak boleh untuk selainmu.” 34)

    Adapun yang diriwayatkan dalam Shahihain dan lainnya dari hadits ‘Uqbah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membagikan kambing kepada para shahabatnya sebagai hewan kurban, lalu yang tersisa adalah ‘Atud (anak ma’az). Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diberitahu, lalu beliau menjawab: “Artinya: Berkurbanlah engkau dengan ini.”Al-‘Atud adalah anak ma’az yang umurnya sampai setahun.

    Dikeluarkan pula oleh Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih bahwa ‘Uqbah berkata:”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membagikan kambing kepada para shahabatnya sebagai hewan kurban, lalu tersisa ‘atud. Maka beliau berkata:”Artinya: Berkurbanlah engkau dengannya dan tidak ada rukhsah (keringanan) terhadap seseorang setelah engkau.” 35)

    Sedangkan Al-Imam An-Nawawy menukil kesepakatan bahwa tidak mencukupi Jadz’u dari ma’az. 36)

    Saya (Shidiq Hasan Khan) katakan:”Mereka sepakat bahwa tidak boleh ada onta, sapi dan ma’az kurang dari dua tahun. Dan kambing Jadz’u boleh menurut mereka dan tidak boleh hewan yang terpotong telinganya. Namun Abu Hanifah berkata: “Apabila yang terpotong itu kurang dari separuh, maka boleh.” 37)

    1. Hewan Kurban Tidak Buta Sebelah, Sakit, Pincang dan Kurus, Hilang Setengah Tanduk atau Telinganya.

    Berdasarkan hadits Al-Barra 38) dalam riwayat Ahmad dan Ahlu Sunan serta dishahihkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al-Hakim, berkata: Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Artinya: Empat yang tidak diperbolehkan dalam berkurban,(hewan kurban) buta sebelah yang jelas butanya, sakit yang jelas sakitnya, pincang yang jelas bengkoknya dan tidak sanggup berjalan, dan yang tidak mempunyai lemak (kurus).” (Dalam riwayat lain dengan lafazh-lafazh Al-Ajfaa’/kurus pengganti Al-Kasiirah)

    Dan dikeluarkan oleh Ahmad, Ahlu Sunan dan dishahihkan At-Tirmidzi dari hadist Ali, berkata:”Artinya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang berkurban dengan hewan yang terpotong setengah dari telinganya.” 39)

    Qatadah berkata:”Al-‘Adhab, adalah (yang terpotong) setengah dan lebih dari itu.” Dan di keluarkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Al-Hakim dan Bukhari dalam tarikhnya, berkata, “Artinya: Hanyasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari Mushfarah, Al-Musta’shalah, Al-Bakhqaa’, Al-Musyaya’ah dan Al-Kasiirah. Al-Mushafarah adalah yang dihilangkan telinganya dari pangkalnya. Al-Musta’shalah adalah yang hilang tanduknya dari pangkalnya, Al-Bukhqa’ adalah yang hilang penglihatannya dan Al-Musyaya’ah adalah yang tidak dapat mengikuti kelompok kambing karena kurus dan lemahnya, dan Al-Kasiirah adalah yang tidak berlemak.” 40)

    Penafsiran ini adalah asal riwayat, dan dalam bab ini terdapat beberapa hadits. Adapun hewan kurban yang kehilangan pantat, sebagaimana hadits yang dikeluarkan oleh Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Baihaqi dari hadits Abu Sa’id, berkata:”Artinya: Saya membeli seekor domba untuk berkurban, lalu srigala menganiyayanya dan mengambil pantatnya. Lalu aku tanyakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau bersabda: Berkurbanlah dengannya.” 41) (Di dalam sanadnya terdapat Jabir Al-Ju’fy dan dia sangat lemah)42)

    1. Bersedekah dari Udhiyah, Memakan dan Menyimpan Dagingnya

    Berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha, “Artinya: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Makanlah, simpanlah dan bersedekahlah.” (Diriwayatkan dalam shahihain 43) dan dalam bab ini terdapat beberapa hadits)

    10.Menyembelih di Mushalla (tanah lapang yang digunakan untuk Shalat Ied) Lebih Utama.

    Untuk menampakkan syi’ar agama, berdasarkan hadist Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Artinya: Bahwa beliau menyembelih dan berkurban di Mushala.” 44) (Diriwayatkan oleh Bukhari)

    1. Bagi yang Memiliki Kurban, jangan Memotong Rambut dan Kukunya setelah Masuknya 10 Dzul Hijjah hingga Dia Berkurban.

    Berdasarkan hadits Ummu Salamah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Artinya: Apabila engkau melihat bulan Dzul Hijjah dan salah seorang kalian hendak berkurban, maka hendaklah dia menahan diri dari rambut dan kukunya.”

    Dan didalam lafazh Muslim dan lainnya, “Artinya: Barangsiapa yang punya sembelihan untuk disembelih, maka apabila memasuki bulan Dzul Hijjah, jangan sekali-kali mengambil (memotong) dari rambut dan kukunya hingga dia berkurban.” 46)

    Dan para ulama berbeda pendapat dalam permasalahan ini. Sa’id bin Al-Musayyib, Rabi’ah, Ahmad, Ishaq, Dawud dan sebagian pendukung Syafi’i berpendapat, bahwa diharamkan mengambil (memangkas/memotong) rambut dan kukunya sampai dia (menyembelih) berkurban pada waktu udhiyah. Imam Syafi’i dan murid-muridnya berkata: “Makruh tanzih.” Al-Mahdi menukil dalam kitab Al-Bahr dari Syafi’i dan selainnya, bahwa meninggalkan mencukur dan memendekkan rambut bagi orang yang hendak berkurban adalah disukai. Berkata Abu Hanifah: Tidak Makruh. 47)

    Wallahu a’lam

    Fote Note.

    1. Diriwayatkan oleh At-Tarmidzi, kitab Al-Adhahi V/8/1541 dalam Tuhfah-Al-Ahwadzi, dan Ibnu Majah, kitab Al-Adhahi bab Orang yang menyembelih seekor kambing untuk keluarganya II/3147. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih AT-Tirmidzi II/1216, dan Shahih Ibnu Majah II/2546.
    2. Di dalam kitab Ar-Raudhatun Nadiyah tertulis “syariihah” dengan hurup syin. Ini adalah salah, yang benar adalah “Sariihah” dengan hurup siin, seperti yang terdapat pada kitab Sunan Ibnu Majah. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah II/2547 dengan lafadz : Keluargaku membawaku kepada sikap meremehkan setelah aku tahu bahwa itu termasuk sunnah. Ketika itu penghuni rumah menyembelih kurban dengan satu dan dua ekor kambing, dan sekarang tetangga kami menuduh kami bakhil.
    3. Berkata Al-Jauhary : Berkata Al-Ashmi’iy : Terdapat 4 bahasa dalam penyebutan Udhiyah dan Idhiyah …. dst (-disingkat) (Lihat Syarah Shahih Muslim oleh An-Nawawi VIII/13, hal. 93 Cet. Daarul Kutub Al-Ilmiyah, Beirut-Lebanon.
    4. Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani : Tidak dikenal …. (Lihat : Taqrib At-Tahdzib, oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, No. 3130 hl. 479, pentahqiq : Abul Asybaal Shaghir Ahmad Syaqif Al-Baqistani, penerbit : Daarul ‘Ashimah, Al-Mamla kah Al-‘Arabiyah As-Su’udiyah).
    5. Muwatha ‘ Imam Malik, Juz II, hal. 38, Syarh Muwatha’ Tanwir Al-Hawaalik, pen. Daarul Kutub Al-Ilmiyah.
    6. Lihat perselisihan para ulama dan ahli dalil mereka dalam kitab : Bidayah Al-Mujtahid oleh Ibnu Rasyd I/314 dan Al-Fiqh Al-Islami wa Adilatuhu oleh Dr. Wahbad Al-juhaili, Juz III/595-597. cet. Darul fikr.
    7. Fath Al-Bari, Ibnu Hajar, jilid X, halaman 5, cet. Daar Ar-Rayyan li at Turats. Dan beliau juga berkata dalam Bulughul Maram : Namun para Imam mentarjihnya mauquf. (Bulughul Maram, bab : Adhahiy, No. 1349, bersama Ta’liq Al- Mubarakfuri, cet. Jam’iyah Ihya At-Turats Al-Islami). Namun hadits ini tidak menunjukkan wajib menurut jumhur. Wallahu a’lam.
    8. Al-Qur’an Surat Al-Kautsar: 2
    9. Kedua tafsiran ini disyaratkan oleh Ibnu Katsir di dalam tafsirnya, namun Ibnu Katsir merajihkan maknanya menyembelih hewan kurban, wallahu a’laam. (Tafsir Ibnu Katsir, jilid IV, hal. 559-560 cet. Al-Maktabah At-tijariyah, Makkah)

    10.Riwayat Bukhari kitab Al-Adhahiy, bab : Man Dzabaha qobla as-shalah a’aada, X/12 No. 5562, dan Muslim kitab Al- Adhahi, bab : Waqtuha : XIII/35 No. 1960, Syarh Nawawi. Dan Lafazh ini adalah Lafzh Muslim.

    11.Saya belum mendapatkan ada yang semakna dengan hadits tersebut. Diriwayatkan dari Al-Barra’ bin ‘Azib seperti dalam Shahihain dan kitab-kitab Sunan.

    12.Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi bab : maa jaa’a anna asy-syah al-wahidah tujzi’u’an ahlil bait : V No. 1541 dalan At-Tuhfah dan Abu Dawud bab : Fisy-syaah Yuhadhahhi Biha ‘An Jama’ah, No. 2810, dan dishahihkan Al-Albani dalam shahih Abu-Dawud : II/2436, dan Irwa’ al-ghalil, IV/1138.

    13.Dijelaskan oleh Ibnu Hajar Asqalani dalam Fath Al-Bari X/6, dan kitab beliau Al-Khasa-is fi Takhrij Ahadits Ar-Rafi’. dan demikian juga Asy-Syaukani di kitabnya Nailul Authar V/126.

    14.Lihat kitab Bidayah Al-Mujtahid I/317.

    15.Al-Hadyu yang disembelih di tanah haram dari hewan ternak, dalam Al-Qur’an. (Lihat Al-Mu’jam Al-Wasith : 978)

    16.Adapun berkurban bagi anak kecil yang belum baligh, menurut Hanafiah dan Malikiyah : Disukai berkurban dari harta walinya, dan tidak disukai menurut madzhab Syafi’iyah dan Hanabilah. (Al-Fath Al-Islami, oleh Wahbah Al-Jihaili III/604)

    Fote Note. 17. Lihat No. 10

    1. Riwayat Bukhari, kitab Al-Adhahi, bab : Man dzahaba qubla as-shalah a’aada X/12/5561 dengan Fath Al-Bari. Dan Muslim, kitab Al-Adhahi, bab : Waqtuha XIII/35/No. 1962, dengan Syarh Nawawi, ini merupakan potongan hadits yang panjang.
    2. Riwayat Muslim, bab : Waqt a-Adhahi XIII/35?no. 1961 dan lainnya. 20. Hadit ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad IV/82 dan lainnya. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Arnauth dalam tahqih Zaadul Maad oleh Ibnul Qayyim, dan beliau menyebutkan beberapa jalan dari riwayat ini. (Lihat Zaadul Maad II/318 cetakan Muasasah Risalah).

    21 Riwayat Imam Malik di dalam Al-Muwatha’, kitab Adh-Dhahaya, bab Adh-Dhahiyatu ‘amma fil batnil mar’ah wa dzikir ayyamil adhaa II/38, At-Tanwir, dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar.

    22 Perselisihan ulama dalam hal ini ma’ruf, lihat Subulus Salam IV/92. cet. Daarul Fikr.

    23 Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya VI hal 391,dari Abu ‘Amir dari Zuhair dari Abdullah bin Muhammad dari Ali bin Husain dari Abu Rafi’, bahwa Rasulullah bila hendak berkurban, membeli dua domba yang gemuk, ber- tanduk, dan sangat putih…” al-hadits. Pada sanadnya terdapat perawi yang bernama Abdullah bin Muhammad bin Uqail, perawi ini dibicarakan oleh para ulama (Lihat : Tahdzibu At-Tahdzib VI/13). Berkata Al-Hafidz : Shaduq, dalam haditsnya ada kelemahan dan dikatakan pula : berubah pada akhir (hayat)nya. (Taqrib At-Tahdzib 3617).

    24 Dikeluarkan oleh Bukhari dalam shahihnya secara ta’liq X/7 bab: Udhiyatun Nabi bi kabsyaini aqranain. Dan atsar ini disambung sanadnya oleh Abu Nu’aim dalam Mustakhrij dari jalan Ahmad bin Hanbal dari Ubbad bin Al-‘Awwam ber- kata : Mengabarkan kepadaku Yahya bin Sa’id Al-Anshari dari lafadznya : Adalah kaum muslimin salah seorang mereka membeli kurban, lalu menggemukkan (mengebiri)nya dan menyembelihnya pada akhir Dzul Hijjah. (Fath al Bari).

    25 Diriwayatkan oleh Abu Dawud, bab : Karahiyatul Mughalah fil kafan III/3156, dari Ubadah bin Ash-Shamit. Dan Diriwa- yatkan pula oleh yang lainnya. Hadits ini di dha’ifkan Al-Abani dalam Dha’if al-Jami’ ash-Shagir No. 2881.

    26 Ibnu Hajar mengatakan : dha’if (Taqrib at-Tahdzib, No. 4660) tahqiq Abul Asybaal Al-Baakistani.

    27 Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar : Setelah menyebutkan beberapa riwayat : Padanya terdapat dalil bolehnya mengebiri dalam berkurban, dan sebagian ahli ilmu membencinya karena mengurangi anggota badan. Namun ini bukanlah cacat karena mengebiri menjadikan dagingnya baik, dengan menghilangkan bau busuk. (Fath al-Bari X/12).

    28 Al-Jadz’u, berkata Al-Hafidz : Yaitu sifat bagi umur tertentu dari hewan ternak. Maka dari kambing adalah yang ber- umur satu tahun menurut jumhur. Dan dikatakan pula, kurang dari itu. Kemudian berbeda pendapat dalam penetuan- nya. Dikatakan : berumur 6 bulan dan ada yang berkata 8 bulan dan dikatakan pula 10 bulan. At-Tirmidzi menukilkan dari Waki’ bahwa yang dimaksud adalah 6 atau 7 bulan (Fath al-Bari X/7). Berkata An-Nawawi : Al-Jadzu’ dari kambing adalah yang berumur setahun penuh. Ini yang shahih menurut madzhab kami. Ini yang paling masyhur menurut ahli bahasa dan lainnya (Syarh Muslim XIII/100). Dan Al-Hafidz berkata pula : Al-Jadz’u dari Ma’az adalah berumur masuk pada tahun kedua, sapi (lembu) berumur 3 tahun penuh dan onta berumur lima tahun (Fath al-Bari X/7). Adh-Dha’n, berkata Ibnul Atsir dalam An-Nihayah : Adh-Dhawa’in : Jamak dari dha’inah, yaitu kambing yang berbeda dengan Ma’z (An-Nihayah fi gharibil hadits, III/69, cet. Al-Maktabah Al-Islamiyah). Di sini saya menyebut Dha’n dengan kam- bing sebagai pembeda dengan ma’z (di Jawa, maz itu disebut sebagai kambing jawa).

    29 Riwayat Muslim, bab sinnul Udhiyah XIII/35/1963, Syarh Nawawi. Dan Ibnu Majah, bab : maa Tafzi’u minal adhahi No. 3141. Namin hadits ini di dha’ifkan oleh syaikh Al-Albani karena pada sanadnya terdapat perawi yang bernama Abu Zuhair dan ia mudallis, riwayatnya tidak diterima kecuali bila menjelaskan bahwa dia mendengar dari syaikhnya Lihat penjelasan panjang di Dha’if Ibnu Majah No. 676, hal 248, dan Irwa’ul Ghallil 1145, Silsilah Hadits Dha’ifah juz I halaman 91. Al-Musinnah : adalah gigi seri dari tiap sesuatu, berupa onta, lembu, kambing dan lainnya. (Syarh Nawawi XIII/99).

    30 Hadits ini di Dha’ifkan oleh Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil IV/1143 dan silsilah hadits dha’ifah I/64.

    31 Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, bab :maa Tajzi’u minal adhahi II/7/No. 3139 dan lainnya. Hadist ini di dha’ifkan oleh Al-Albani dalam dha’if Ibnu Majah No. 3139.

    32 Bukhari, bab : Qismatul Imam Al-Adhahi bainan naas X/2/No. 5547, Al-Fath dan Muslim, bab : Sinnul Udhiyah XIII/2/No. 1965, An-Nawawi.

    33 Al-Hadyu adalah apa yang disembelih menuju tanah haram dari binatang ternak. Di dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah : 196 (Mu’jam Al-Wasith 978).

    Fote Note 34 Diriwayatkan oleh Bukhari X/8/No. 5556, Muslim XIII/35/1961, Syarh Nawawi

    35 Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam As-Sunnan Al-Kubra IX/270 No. 19062 dan sanadnya shahih. Atud adalah anak dari ma’z. Berkata Ibnu Baththa: Al-‘Atul adalah Al-Jadz’u dari ma’z berumur lima bulan (Fath al-Bari X/14)

    36 Lihat Syarh Muslim An-Nawawi, juz XIII hal. 99

    37 Lihat Al-Ifsah ‘an ma’anish shihah, oleh Abul Mudzhfir, I/308 cet. Muassasah As-Sa’idiyan di Riyadh 38 Diriwayatkan oleh seluruh kitab sunan dan lainnya, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil IV/1149

    39 Sayikh Al-Alabni mengatakan bahwa hadits ini mungkar, lihat Irwa’ul Ghalil IV/1149

    40 Diriwayatkan oleh Abu Dawud, bab;maa yukrahi min adh-dhahaya V/No. 2800 dan ini lafazhnya, dan riwayat ini didhaifkan oleh Al-Albani dalam dha’if Abu Dawud No. 599 hal. 274

    41 Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, bab manisy syifaraa udhiyah shahihah faashabaha ‘indahu syaiun, No. 3146 hadits ini di dhaifkan oleh Al-Albani No. 679 dalam dhaif Ibnu Majah

    42 Namanya Jabir bin Yazid bin Al-Harits Al-Ju’fy, Abu Abdillah Al-Kuufi, dha’if rafidhi (Taqrib At-Tahdzib, No. 886)

    43 Diriwayatkan oleh Imam Muslim, bab : An-Nahyu ‘an luhum al-adhahy ba’da tsalats , juz XII No. 197 dari ‘Aisyah sedangkan dalam riwayat Bukhari, saya tidak menemukan hadits dari ‘Aisyah, yang ada adalah dari Salamah bin Al-Akwa X/No. 5569, dengan yang bebeda, wallahu ‘alam.

    44 Bukhari, bab : Al-Adhaa wan nahr bil mushala . X/No. 5552. Al-Fath

    45 HR Muslim, bab . Nahyu Murid At-Tadhiyah an ya’khudza min sya’rihi wa adzfaarihi stai’an XIII/No. 1977 dari Ummu Salamah.

    46 Riwayat Muslim, hadits berikutnya setelah hadits No. catatan kaki No. 45 pada shahih muslim

    47 Nailul Authar, Al-Imam ASy-Syaukani, jilid V. hal. 128 cet. Syarikah maktabah wa matba’ah, Mustafa Al-Baby Al-Halaby, tanpa tahun.

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 12 November 2016 Permalink | Balas  

    Kesengsaraan Dalam Neraka 

    taubatKesengsaraan Dalam Neraka

    Allah telah menciptakan bagi manusia untuk diakhirat nanti dua tempat tinggal, yaitu “SURGA” dan “NERAKA”. Masing-masingnya akan dihuni oleh penghuni-penghuni yang telah ditentukan baginya.

    Yang akan menjadi penghuni surga antara lain ialah manusia-manusia yang menta’ati Allah dan Rasul-Nya, menjalankan segala perintah agama dan menjauhkan / menjahui segala larangan agama.

    Firman Allah SWT: “Dan orang-orang yang menta’ati Allah dan Rasul-Nya niscaya Ia (Allah) masukkan dia kedalam surga“. (QS. An Nisa’ ayat 13).

    Atau manusia-manusia yang beriman dan beramal saleh, sebagaimana firman Allah SWT: “Dan beri kabar gembiralah orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bahwasanya bagi mereka adalah surga” (QS.Al Baqarah: 25).

    Firman Allah SWT: “Sesungguhnya bagi orang-orang yang taqwa disisi Tuhan mereka adalah surga na’im“. (QS. Al Qalm ayat 34

    Yang menjadi penghuni neraka antara lain ialah:

    Manusia-manusia yang “Fasiq”, yaitu antara lain orang-orang Islam yang tidak melaksanakan perintah Allah atau mengerjakan larangan Allah, sebagaimana difirmankan Allah: “Dan adapun orang-orang yang fasiq (kafir), maka tempat mereka adalah neraka. Setiap kali mereka hendak ke luar daripadanya, mereka dikembalikan (lagi) kedalamnya dan dikatakan kepada mereka: “Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya”. (QS. As Sajadah ayat 20). Bahkan kamu menganggapnya enteng (pen).

    Orang-orang “Munafiq”, yaitu orang-orang yang mengaku beragama Islam dengan mulutnya, dengan pengakuannya, (KTP-nya) dan mungkin juga mengerjakan sebahagian ajaran Islam, mengerti ajaran Islam namun tidak mendirikan shalat, shalatnya hari Jum’at saja, tidak membayar zakat, tetapi hatinya anti Islam, sebagaimana firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang munafiq itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka“. (QS. An Nisa’ ayat 145).

    Orang-orang kafir dan orang-orang musyrik, Firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang kafir dan orang-orang musyrik tempat mereka di dalam neraka Jahanam; mereka kekal didalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk“. (QS. Al Bayinah ayat 6). Lebih hina dari binatang (pen).

    Orang-orang Islam bisa pula jadi musyrik tersebut, seperti orang-orang Islam yang menggantungkan azimat di lehernya, ditangannya, dikakinya atau dirumahnya, ke kuburan para wali minta berkah, perdukunan, dsb. Tentang menggantungkan azimat itu syirik, Nabi Muhammad SAW menyabdakan sebagai berikut: “Sesungguhnya jampi-jampi, azimat dan sihir adalah syirik”. (Hadits Riwayat: Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan Hakim). Jadi orang-orang yang fasiq, munafiq, musyrik, berselingkuh, korupsi, maling, musyrik, yang melanggar larangan agama, yang melalaikan sholatnya, juga menjadi penghuni neraka.

    Kesengsaraan yang akan dialami oleh manuasia di dalam neraka antara lain:

    1. Tempatnya berdesak-desakan, sebab walaupun isinya sudah penuh sesak, namun akan ditambahi terus. Firman Allah SWT: “Pada hari Kami bertanya kepada neraka jahanam: Apakah engkau sudah penuh sesak? Neraka jahanam menjawab: Masih adakah tambahan ? (QS.Qaf ayat 30)
    2. Makanannya dari pohon zaqqum, yaitu sebangsa pohon yang tumbuh di neraka, yang amat jelek dan rasanya sangat pahit, sampai dalam perut seperti minyak atau air yang mendidih. Firman Allah SWT: “Sesungguhnya pohon zaqqum itu makanan orang yang banyak berdosa. Ia (pohon zaqqum) sebagai kotoran minyak yang mendidih didalam perut. Seperti mendidihnya air yang sangat panas”. QS. Ad Dukhaan ( Kabut) ayat 43 -44, 45 dan 46.

    Buah pohon zaqqum makanan ahli neraka. Firman Allah SWT: “Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zalim. Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar neraka jahim. Mayangnya seperti kepala syaitan-syaitan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu. Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas“. QS. Ash Shaaffaat ayat 63, 64, 65, 66, dan 67.

    Allah berfirman: “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya”. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. Maka tiada seorang temanpun baginya pada hari ini di sini. Dan tiada pula makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa. (Qs-Al Haaqqah (69) ayat 25 s/d 37).

    1. Minumanya air mendidih dan air nanah. Firman Allah SWT: “Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak pula mendapat minuman, selain air yang mendidih dan nanah“. QS.An Naba’ ayat 24 & 25.

    Firman Allah SWT: “Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zhalim itu neraka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi dengan air seperti besi mendidih menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek”. (QS.Al Kahfi ayat 29).

    1. Pakaiannya dari api. Firman Allah SWT: “Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit mereka“. QS. Al Hajj (Haji) ayat 19 & 20.
    2. Dikelilingi oleh api. Firman Allah SWT: “Bagi mereka lapisan-lapisan dari api diatas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan dari api. Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku hai hamba-hamba-Ku“. QS. Az Zumar ayat 16
    3. Tidak akan mati dan tidak pula akan hidup. Firman Allah SWT: ” Orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya (peringatan), yaitu orang yang celaka yang terpanggang di dalam api yang amat besar (neraka). Kemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak pula hidup“. QS.Al A’laa ayat 11, 12 dan 13.
    4. Setiap kali kulitnya sudah hangus akan diganti lagi dengan kulit yang baru. Firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami panggang mereka kedalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan pedihnya azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. QS. An Nisaa’ ayat 56.
    5. Tertutup sama sekali dari rahmat Allah. Firman Allah SWT: “Sekali-kali tidak, maksudnya sekali-kali tidak seperti apa yang mereka katakan, bahwa mereka dekat pada sisi Tuhan. Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Kemudian, dikatakan kepada mereka: Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan“. QS.Al Muthaffiffiin ayat 15, 16 & 17. (Kamu sepelekan, kamu anggap enteng, kamu remehkan, kamu anggap keciil-pen).
    6. Sehingga sewaktu mereka meminta kepada penghuni surga sedikit air, penghuni surga menjawab: Allah mengharamkannya atas kamu. Firman Allah SWT: “Penghuni neraka berseru kepada penghuni surga: “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah di rezikikan Allah kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab: “Sesungguhnya Allah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir. QS.Al A’raaf ayat 50.
    7. Azab mereka yang paling ringan ialah bersandal dari api. Tetapi begitu dipakai (di injak) otak pemakainya menjadi mendidih. Sabda Nabi Muhammad SAW: “Seringan-ringan azab bagi manusia ( di neraka) ialah memakai sandal dan ikatannya dari api, mendididh otaknya karenanya, sebagai mendidihnya air di dalam kuali, ia tidak melihat ada orang lain yang (dianggapnya) lebih berat azabnya dari dia, padahal dialah orang yang paling ringan azabnya. (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).

    Itulah yang kami dapat kutibkan dari kitab Al Qur’an, bisa dicek langsung ke Al Qur’an, Al Qur’an adalah kitab Allah yang paling sempurna dan mutlak kebenarannya. Yang tersebut diatas sebahagian dari kesengsaraan yang akan diderita oleh penghuni-penghuni neraka. Tetapi walaupun demikian sudah sangat mengerikan sekali. Oleh sebab itu seharusnya hal ini mendorong kita untuk menghindarinya dengan segala kemampuan yang kita miliki.

    Kalau kiranya kita sudah terlanjur mengerjakan perbuatan-perbuatan yang akan membawa kita ke dalam neraka tersebut, seperti perbuatan syirik (musyrik) menyekutukan Allah, membunuh orang atau menyuruh membunuh orang yang dilarang untuk dibunuh, berzina, melacur, berselingkuh, berghibah (ghosib), korupsi, ingkar janji, berdusta, berbohong, memakan yang diharamkan dimakan, fasiq, kafir, munafiq, riya, sihir, dsb yang dilarang oleh agama, maka hendaklah kita cepat-cepat bertaubat nasuha (bertaubat atas perbuatannya dan berjanji tidak akan diulanginya lagi), memperbaiki iman dan beramal saleh sebanyak-banyaknya. Karena kalau kita sudah taubat, iman sudah baik dan amal saleh sudah banyak, maka dosa-dosa kita yang lalu itu akan diampuni oleh Allah dan diganti oleh Allah dengan kebaikan, sungguh Allah itu Maha (Amat) Pengampun dan Maha (amat besar sekali) kasih sayang-Nya kepada kita, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada semua makhluk-Nya.

    Firman Allah SWT: “Dan orang-orang yang tidak menyeru Tuhan yang lain beserta Allah, dan tidak membunuh jiwa yang Allah haramkan, kecuali dengan jalan yang benar dan tidak berzina dan barangsiapa yang mengerjakan yang demikian itu ia akan bertemu dosa (neraka). Dilipat gandakan baginya azab pada hari kiaamat dan ia kekal di dalamnya dengan sangat hina. Kecuali orang-orang yang bertaubat dan beriman dan beraamal saleh, maka Allah akan menggantikan kejahatan-kejahatan mereka itu dengan kebaikan-kebaikan, karena Allah itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“. QS. Al Furqan ayat 68 s/d. 70.

    Marilah kita berdo’a, semoga Allah SWT senantiasa selalu membimbing kita kejalan yang diridhoi-Nya, kejalan yang benar dan semoga Allah memberi kekuatan iman kita untuk menjauhkan dari segala perbuatan-perbuatan yang dilarang-Nya dan agar kita senantiasa dapat melaksanakan segala perintah-Nya dengan hati yang tulus, yang ikhlas, ridho, jadikan hidup ini sebagai ibadah, agar kita semua terhindar dari siksa neraka, dan mendapat surga yang telah dijanjikan-Nya. Insya Allah, Amien ya Rabbal ‘alamiin.

    ***

    Kiriman Sahabat Indra Subhni

     
  • erva kurniawan 8:35 am on 11 November 2016 Permalink | Balas  

    Keutamaan Sabar Menghadapi Cobaan 

    sabar (1)KEUTAMAAN SABAR MENGHADAPI COBAAN

    Majdi As-Sayyid Ibrahim

    Kata Pengantar.

    Insya Allah untuk Masalah-47 s/d Masalah-50, kami akan mengangkat seruan-seruan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ditujukan kepada wanita-wanita Mukminah, baik berupa peringatan ataupun berupa perintah-perintah yang dikhususkan bagi mereka. Dan artikel-artikel tersebut kami ambil dari buku 50 Wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi Wanita, oleh Majdi As-Sayyid Ibrahim, terbitan Pustaka Al-Kautsar, cetakan kelima.

    KEUTAMAAN SABAR MENGHADAPI COBAAN

    “Artinya : Dari Ummu Al-Ala’, dia berkata :”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjengukku tatkala aku sedang sakit, lalu beliau berkata. ‘Gembirakanlah wahai Ummu Al-Ala’. Sesungguhnya sakitnya orang Muslim itu membuat Allah menghilangkan kesalahan-kesalahan, sebagaimana api yang menghilangkan kotoran emas dan perak”.(Isnadnya Shahih, ditakhrij Abu Daud, hadits nomor 3092).

    Wahai Ukhti Mukminah .! Sudah barang tentu engkau akan menghadapi cobaan di dalam kehidupan dunia ini. Boleh jadi cobaan itu menimpa langsung pada dirimu atau suamimu atau anakmu ataupun anggota keluarga yang lain. Tetapi justru disitulah akan tampak kadar imanmu. Allah menurunkan cobaan kepadamu, agar Dia bisa menguji imanmu, apakah engkau akan sabar ataukah engkau akan marah-marah, dan adakah engkau ridha terhadap takdir Allah?

    Wasiat yang ada dihadapanmu ini disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala menasihati Ummu Al-Ala’ Radhiyallahu anha, seraya menjelaskan kepadanya bahwa orang mukmin itu diuji Rabb-nya agar Dia bisa menghapus kesalahan dan dosa-dosanya.

    Selagi engkau memperhatikan kandungan Kitab Allah, tentu engkau akan mendapatkan bahwa yang bisa mengambil manfaat dari ayat-ayat dan mengambil nasihat darinya adalah orang-orang yang sabar, sebagaimana firman Allah.

    “Artinya : Dan, di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah kapal-kapal (yang berlayar) di laut seperti gunung-gunung. Jikalau Dia menghendaki, Dia akan menenangkan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan) -Nya bagi setiap orang yang bersabar dan banyak bersyukur”. (Asy-Syura : 32-33)

    Engkau juga akan mendapatkan bahwa Allah memuji orang-orang yang sabar dan menyanjung mereka. Firman-Nya.

    “Artinya : Dan, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”. (Al-Baqarah : 177).

    Engkau juga akan tahu bahwa orang yang sabar adalah orang-orang yang dicintai Allah, sebagaimana firman-Nya.

    “Artinya : Dan, Allah mencintai orang-orang yang sabar”. (Ali Imran : 146).

    Engkau juga akan mendapatkan bahwa Allah memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan balasan yang lebih baik daripada amalnya dan melipat gandakannya tanpa terhitung. Firman-Nya.

    “Artinya : Dan, sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan”. (An-Nahl : 96).

    “Artinya : Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (Az-Zumar : 10).

    Bahkan engkau akan mengetahui bahwa keberuntungan pada hari kiamat dan keselamatan dari neraka akan mejadi milik orang-orang yang sabar. Firman Allah.

    “Artinya : Sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (sambil mengucapkan) :’Salamun ‘alaikum bima shabartum’. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu” (Ar-Ra’d : 23-24).

    Benar. Semua ini merupakan balasan bagi orang-orang yang sabar dalam menghadapi cobaan. Lalu kenapa tidak ? Sedangkan orang mukmin selalu dalam keadaan yang baik ?.

    Dari Shuhaib radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Apabila mendapat kelapangan, maka dia bersyukur dan itu kebaikan baginya. Dan, bila ditimpa kesempitan, maka dia bersabar, dan itu kebaikan baginya”. (Ditakhrij Muslim, 8/125 dalam Az-Zuhud).

    Engkau harus tahu bahwa Allah mengujimu menurut bobot iman yang engkau miliki. Apabila bobot imanmu berat, Allah akan memberikan cobaan yang lebih keras. Apabila ada kelemahan dalam agamamu, maka cobaan yang diberikan kepadamu juga lebih ringan. Perhatikalah riwayat ini.

    “Artinya : Dari Sa’id bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu, dia berkata. ‘Aku pernah bertanya : Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling keras cobaannya ?. Beliau menjawab. Para nabi, kemudian orang pilihan dan orang pilihan lagi. Maka seseorang akan diuji menurut agamanya. Apabila agamanya merupakan (agama) yang kuat, maka cobaannya juga berat. Dan, apabila di dalam agamanya ada kelemahan, maka dia akan diuji menurut agamanya. Tidaklah cobaan menyusahkan seorang hamba sehingga ia meninggalkannya berjalan di atas bumi dan tidak ada satu kesalahan pun pada dirinya”. (Isnadnya shahih, ditakhrij At-Tirmidzy, hadits nomor 1509, Ibnu Majah, hadits nomor 4023, Ad-Darimy 2/320, Ahmad 1/172).

    “Artinya : Dari Abu Sa’id Al-Khudry Radhiyallahu anhu, dia berkata. ‘Aku memasuki tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau sedang demam. Lalu kuletakkan tanganku di badan beliau. Maka aku merasakan panas ditanganku di atas selimut. Lalu aku berkata.’Wahai Rasulullah, alangkah kerasnya sakit ini pada dirimu’. Beliau berkata :’Begitulah kami (para nabi). Cobaan dilipatkan kepada kami dan pahala juga ditingkatkan bagi kami’. Aku bertanya.’Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat cobaannya ?. Beliau menjawab.’Para nabi. Aku bertanya.’Wahai Rasulullah, kemudian siapa lagi?. Beliau menjawab.’Kemudian orang-orang shalih. Apabila salah seorang di antara mereka diuji dengan kemiskinan, sampai-sampai salah seorang diantara mereka tidak mendapatkan kecuali (tambalan) mantel yang dia himpun. Dan, apabila salah seorang diantara mereka sungguh merasa senang karena cobaan, sebagaimana salah seorang diantara kamu yang senang karena kemewahan”. (Ditakhrij Ibnu Majah, hadits nomor 4024, Al-Hakim 4/307, di shahihkan Adz-Dzahaby).

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :

    “Artinya : Cobaan tetap akan menimpa atas diri orang mukmin dan mukminah, anak dan juga hartanya, sehingga dia bersua Allah dan pada dirinya tidak ada lagi satu kesalahanpun”. (Isnadnya Hasan, ditakhrij At-Tirmidzy, hadits nomor 2510. Dia menyatakan, ini hadits hasan shahih, Ahmad 2/287, Al-Hakim 1/346, dishahihkan Adz-Dzahaby).

    Selagi engkau bertanya :”Mengapa orang mukmin tidak menjadi terbebas karena keutamaannya di sisi Rabb.?”.

    Dapat kami jawab :”Sebab Rabb kita hendak membersihan orang Mukmin dari segala maksiat dan dosa-dosanya. Kebaikan-kebaikannya tidak akan tercipta kecuali dengan cara ini. Maka Dia mengujinya sehingga dapat membersihkannya. Inilah yang diterangkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ummul ‘Ala dan Abdullah bin Mas’ud. Abdullah bin Mas’ud pernah berkata.”Aku memasuki tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau sedang demam, lalu aku berkata.’Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau sungguh menderita demam yang sangat keras’.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata.”Benar. Sesungguhnya aku demam layaknya dua orang diantara kamu yang sedang demam”.

    Abdullah bin Mas’ud berkata.”Dengan begitu berarti ada dua pahala bagi engkau ?”

    Beliau menjawab. “Benar”. Kemudian beliau berkata.”Tidaklah seorang muslim menderita sakit karena suatu penyakit dan juga lainnya, melainkan Allah menggugurkan kesalahan-kesalahannya dengan penyakit itu, sebagaimana pohon yang menggugurkan daun-daunnya”. (Ditakhrij Al-Bukhari, 7/149. Muslim 16/127).

    Dari Abi Sa’id Al-Khudry dan Abu Hurairah Radhiyallahu anhuma, keduanya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata.

    “Artinya : Tidaklah seorang Mukmin ditimpa sakit, letih, demam, sedih hingga kekhawatiran yang mengusiknya, melainkan Allah mengampuni kesalahan-kesalahannya”. (Ditakhrij Al-Bukhari 7/148-149, Muslim 16/130.)

    Sabar menghadapi sakit, menguasai diri karena kekhawatiran dan emosi, menahan lidahnya agar tidak mengeluh, merupakan bekal bagi orang mukmin dalam perjalanan hidupnya di dunia. Maka dari itu sabar termasuk dari sebagian iman, sama seperti kedudukan kepala bagi badan. Tidak ada iman bagi orang yang tidak sabar, sebagaimana badan yang tidak ada artinya tanpa kepala. Maka Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu anhu berkata. “Kehidupan yang paling baik ialah apabila kita mengetahuinya dengan berbekal kesabaran”. Maka andaikata engkau mengetahui tentang pahala dan berbagai cobaan yang telah dijanjikan Allah bagimu, tentu engkau bisa bersabar dalam menghadapi sakit. Perhatikanlah riwayat berikut ini.

    “Artinya : Dari Atha’ bin Abu Rabbah, dia berkata. “Ibnu Abbas pernah berkata kepadaku. ‘Maukah kutunjukkan kepadamu seorang wanita penghuni sorga .?. Aku menjawab. ‘Ya’. Dia (Ibnu Abbas) berkata. “Wanita berkulit hitam itu pernah mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seraya berkata.’Sesungguhnya aku sakit ayan dan (auratku) terbuka. Maka berdoalah bagi diriku. Beliau berkata.’Apabila engkau menghendaki, maka engkau bisa bersabar dan bagimu adalah sorga. Dan, apabila engkau menghendaki bisa berdo’a sendiri kepada Allah hingga Dia memberimu afiat’. Lalu wanita itu berkata. ‘Aku akan bersabar. Wanita itu berkata lagi. ‘Sesungguhnya (auratku) terbuka. Maka berdo’alah kepada Allah bagi diriku agar (auratku) tidak terbuka’. Maka beliau pun berdoa bagi wanita tersebut”. (Ditakhrij Al-Bukhari 7/150. Muslim 16/131)

    Perhatikanlah, ternyata wanita itu memilih untuk bersabar menghadapi penyakitnya dan dia pun masuk sorga. Begitulah yang mestinya engkau ketahui, bahwa sabar menghadapi cobaan dunia akan mewariskan sorga. Diantara jenis kesabaran menghadapi cobaan ialah kesabaran wanita muslimah karena diuji kebutaan oleh Rabb-nya. Disini pahalanya jauh lebih besar.

    Dari Anas bin Malik, dia berkata.”Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata.

    “Artinya : Sesungguhnya Allah berfirman.’Apabila Aku menguji hamba-Ku (dengan kebutaan) pada kedua matanya lalu dia bersabar, maka Aku akan mengganti kedua matanya itu dengan sorga”. (Ditakhrij Al-Bukhari 7/151 dalam Ath-Thibb. Menurut Al-Hafidz di dalam Al-Fath, yang dimaksud habibatain adalah dua hal yang dicintai. Sebab itu kedua mata merupakan anggota badan manusia yang paling dicintai. Sebab dengan tidak adanya kedua mata, penglihatannya menjadi hilang, sehingga dia tidak dapat melihat kebaikan sehingga membuatnya senang. dan tidak dapat melihat keburukan sehingga dia bisa menghindarinya).

    Maka engkau harus mampu menahan diri tatkala sakit dan menyembunyikan cobaan yang menimpamu. Al-Fudhail bin Iyadh pernah mendengar seseorang mengadukan cobaan yang menimpanya. Maka dia berkata kepadanya.”Bagaimana mungkin engkau mengadukan yang merahmatimu kepada orang yang tidak memberikan rahmat kepadamu .?”

    Sebagian orang Salaf yang shalih berkata :”Barangsiapa yang mengadukan musibah yang menimpanya, seakan-akan dia mengadukan Rabb-nya”.

    Yang dimaksud mengadukan di sini bukan membeberkan penyakit kepada dokter yang mengobatinya. Tetapi pengaduan itu merupakan gambaran penyesalan dan penderitaan karena mendapat cobaan dari Allah, yang dilontarkan kepada orang yang tidak mampu mengobati, seperti kepada teman atau tetangga.

    Orang-orang Salaf yang shalih dari umat kita pernah berkata. “Empat hal termasuk simpanan sorga, yaitu menyembunyikan musibah, menyembunyikan (merahasiakan) shadaqah, menyembunyikan kelebihan dan menyembunyikan sakit”.

    Ukhti Muslimah ! Selanjutnya perhatikan perkataan Ibnu Abdi Rabbah Al-Andalusy : “Asy-Syaibany pernah berkata.’Temanku pernah memberitahukan kepadaku seraya berkata.’Syuraih mendengar tatkala aku mengeluhkan kesedihanku kepada seorang teman. Maka dia memegang tanganku seraya berkata.’Wahai anak saudaraku, janganlah engkau mengeluh kepada selain Allah. Karena orang yang engkau keluhi itu tidak lepas dari kedudukannya sebagai teman atau lawan. Kalau dia seorang teman, berarti engkau berduka dan tidak bisa memberimu manfaat. Kalau dia seorang lawan, maka dia akan bergembira karena deritamu. Lihatlah salah satu mataku ini,’sambil menunjuk ke arah matanya’, demi Allah, dengan mata ini aku tidak pernah bisa melihat seorangpun, tidak pula teman sejak lima tahun yang lalu. Namun aku tidak pernah memberitahukannya kepada seseorang hingga detik ini. Tidakkah engkau mendengar perkataan seorang hamba yang shalih (Yusuf) :”Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku”. Maka jadikanlah Allah sebagai tempatmu mengadu tatkala ada musibah yang menimpamu. Sesungguhnya Dia adalah penanggung jawab yang paling mulia dan yang paling dekat untuk dimintai do’a”. (Al-Aqdud-Farid, 2/282).

    Abud-Darda’ Radhiyallahu anhu berkata. “Apabila Allah telah menetapkan suatu takdir,maka yang paling dicintai-Nya adalah meridhai takdir-Nya”. (Az-Zuhd, Ibnul Mubarak, hal. 125).

    Perbaharuilah imanmu dengan lafazh la ilaha illallah dan carilah pahala di sisi Allah karena cobaan yang menimpamu. Janganlah sekali-kali engkau katakan :”Andaikan saja hal ini tidak terjadi”, tatkala menghadapi takdir Allah. Sesungguhnya tida ada taufik kecuali dari sisi Allah.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 7 November 2016 Permalink | Balas  

    Belajar Dari Keledai 

    keledaiBelajar Dari Keledai

    Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam, semetara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, Ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun (ditutup karena berbahaya); jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya. mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.

    Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya.

    Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu

    Sementara tetangga2 si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati teri sumur dan melarikan diri !

    Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepadamu, segala macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari ‘sumur’ (kesedihan, masalah, dsb) adalah dengan menguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita (pikiran, dan hati kita) dan melangkah naik dari ‘sumur’ dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan.

    Setiap masalah-masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari ‘sumur’ yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah ! Guncangkanlah hal negatif yang menimpa dan melangkahlah naik !!! ”

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 6 November 2016 Permalink | Balas  

    Segeralah Bertaubat 

    TaubatSegeralah Bertaubat

    Muhammad Haryono

    Assalaamu’alaikum Wr Wb

    Dalam renungan ini kita akan mengkaji sebuah ayat yang apabila iblis mendengarnya ia akan segera menangis dan menyesal. Sebuah ayat yang menyenangkan hati orang yang berdosa yang telah bertaubat, ajakan bagi orang yang lalai dan berlebih-lebihan agar segera berhenti dari perbuatan maksiatnya itu. Mari kita bersama-sama membaca ayat tersebut (yang artinya):

    “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri mereka sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Rabb mereka dan Surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (Ali-‘Imraan: 135-136)

    Saudaraku yang tercinta, siapa di antara kita yang tidak pernah berbuat dosa? Siapa di antara kita yang tidak pernah bersalah terhadap Rabbnya? Dan apakah engkau mengira kesalahan-kesalahan kita hanya kita sendiri yang melakukannya dan belum pernah dilakukan orang lain? Sama sekali tidak. Sehari pun kita tidak bisa seperti malaikat yang sama sekali tidak pernah berbuat maksiat terhadap Allah subhaanahu wa ta’ala dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya. Akan tetapi kita adalah manusia yang sangat mungkin berbuat kesalahan.

    Setiap hamba Allah yang shalih yang pernah engkau temui pastilah ia pernah berbuat kesalahan dan dosa. Ibnu Mas’ud radhiyalahu ‘anhu berkata kepada para sahabatnya yang mengikutinya,

    “Kalau kalian mengetahui dosa-dosaku tentulah kalian akan melempariku dengan batu.”

    Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan menggantikanmu dengan suatu kaum yang berbuat dosa, hingga mereka memohon ampunan dan Allah mengampuni mereka.” (H.R. Muslim)

    Kita tidak luput dari kesalahan-kesalahan tersebut, bahkan kita tidak bakal terhindar darinya. Karena itu, marilah kita usir setan dengan istighfar yang bersumber dari hati kita atas kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa kita yang telah lalu.

    Marilah kita perbaiki taubat kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Hendaknya taubat kita benar-benar bersumber dari hati yang bersih, hingga sesuai dengan firman Allah (yang artinya):

    “Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni diri kami dan tidak memberi rahmat kepada kami niscaya kami pasti termasuk orang-orang yang merugi.”( Al-A’raaf: 23)

    dan seorang penyair berkata,  “Wahai Dzat yang tempat bertumpu segala harapan dan tempat berlindung dari segala yang menakutkan, manusia tidak mampu membetulkan tulang yang Engkau patahkan dan tidak kuasa meretakkan tulang yang Engkau betulkan.”

    Ketahuilah wahai orang yang dijaga oleh Allah, bahwasannya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang telah terpelihara dari dosa, masih bertaubat kepada Allah ‘azza wa jalla dan memohon ampunan-Nya dalam sehari lebih dari seratus kali. Diriwayatkan dari Ibnu “Umar radhiyallahu ‘anhumaa ia berkata, “Terhitung Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sebelum berdiri dari majelis, beliau mengucapkan seratus kali .”Yaa Allah, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat dan Maha Pengampun.”(H.R. Tirmidzi, hasan shahih).

    Sedangkan kalian wahai orang yang telah berlebihan dalam berbuat dosa dan maksiat, hingga sebagian dari kalian menganggap bahwasannya Allah tidak menerima taubatnya apabila ia bertaubat, saya katakan kepada kalian, jangan khawatir, pintu taubat masih terbuka untuk kalian semua.

    Saya katakan ini kepada kalian dari lubuk hati yang mengharapkan kebaikan atas diri kalian dan orang-orang semacam kalian. Dengarkanlah, Allah subhaanahu wa ta’ala telah menyeru kepadamu dalam firman-Nya (yang artinya):

    “Wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputu asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Rabbmu dan berserahdirilah kepada-Nya.” (Az-zumar: 53-54),  justru ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta’ala senang dengan taubatmu.

    “Allah sangat senang dengan taubat hamba-Nya di kala bertaubat daripada salah seorang di antara kalian yang sedang naik kudanya di tanah yang tandus. Kemudian kuda itu melarikan diri dengan membawa perbekalannya, berupa makanan dan minumannya sehinga ia berputus asa. Kemuian ia mendatangi sebuah pohon dan merebahkan dirinya di bawah naungan pohon dan sudah dihinggapi putus asa memikiran kudanya. Di saat kalut seperti itu, tiba-tiba kudanya sudah berdiri di hadapannya. Dengan segera ia mengambil tali kekang kudanya, dan dengan gembira ia berkata,” Yaa Allah Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhan-Mu”, ia salah ucap karena kegembiraannya yang meluap.”(H.R. Bukhari dan Muslim).

    Suatu hari ada seseorang yang datang kepada Nabi shalallahu ‘alahi wa sallam dan bertanya kepada beliau, “Bagaimana jika seseorang melakukan semua perbuatan dosa tanpa satu pun dosa yang belum pernah ia lakukan, apakah ia masih bisa mendapat pengampunan? Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam balik bertanya, “Sudahkah engkau masuk Islam?” Orang itu menjawab, “Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak untuk disembah selain Allah dan engkau adalah utusan-Nya.  Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Mulailah engkau mengerjakan berbagai kebajikan dan meninggalkan segala kejahatan, niscaya Allah akan menjadikan semua itu sebagai kebajikan bagimu.” Orang itu bertanya lagi, “Apakah kesalahan dan kejahatan saya diampuni?” Beliau menjawab , “Ya!” Orang itu segera bertakbir berulang-ulang hingga ia meninggalkan Nabi shalallahu ‘alahi wa sallam. *)

    Wahai orang yang fakir di hadapan Tuhan, meski engkau kaya di duniamu, apalagi yang engkau inginkan setelah datangnya kabar gembira ini? Kembalilah kepada Tuhanmu, karena kembali kepada Tuhan itu lebih terpuji bagimu di dunia maupun di akherat. Di dunia mendapatkan ketenangan hati, kelapangan dan kemudahan rezeki.

    “Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3).

    Bila ia tidak mendapatkan rezeki berbentuk harta , ia akan mendapatkan rezeki berbentuk bertambahnya keimanan. Sedang di akherat, ia mendapatkan:

    “Surga ‘Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka. Di dalamnya mereka bertelekan (di atas dipan-dipan) sambil meminta buah-buahan yang banyak dan minuman di Surga itu. Dan pada sisi mereka (ada bidadari-bidadari) yang tidak liar pandangannya lagi sebaya umurnya. Inilah yang dijanjikan kepadamu pada hari hisab. Sesungguhnya ini adalah benar-benar rezeki dari Kami yang tiada habis-habisnya.” (Shaad: 50-54).

    Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsi:  “Wahai para hambaku, kalian semua tersesat kecuali yang aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepadaKu, niscaya Aku akan beri petunjuk.” (H.R.Muslim).

    Saudaraku,–semoga Allah menerima taubat kita renungkan cerita berikut ini. Ambillah hikmah dan pelajaran daripadanya, tetapi sebelumnya renungkanlah ayat berikut ini (yang artinya):  “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepada mereka, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasiq.” (Al-Hadid: 16).

    Saya pernah bertemu dengan seorang Syaikh yang shalih dan jujur, beliau ini berkata kepadaku, “Di samping kami ada sebuah keluarga kecil, di antara anggota keluarganya ada seorang pemuda yang usianya baru mencapai sekitar duapuluh tahun. Ia sangat menyenangi lagu-lagu hingga ia jatuh cinta dengan seorang penyanyi perempuan.

    Saya seringkali menasihatinya bila ada kesempatan. Kadang-kadang saya menakut-nakutinya dengan siksa Neraka, bila saya selesai menasihatinya, kadang air matanya mengalir, bahkan kadang-kadang menangis, lalu ia berjanji untuk tidak melakukan perbuatannya itu. Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama, karena kemudian ia mengingkari janjinya.”

    Pada suatu malam, saya ceritakan kepadanya tenang Surga dan siksa Neraka, kemudian ia menangis sekeras-kerasnya hingga saya merasa kasihan kepadanya. Seorang penyair berkata,

    “Mataku berlinang, menangisi diriku yang telah bermaksiat kepada Tuhan, siapa yang lebih berhak dari diriku dengan bersedih hati dari berbagai dosa yang terputus ujungnya kau tak kuasa menghalangi maksiat dan dirimu tak takut terhadap Tuhanmu kau bertaubat di pagi hari dan kau batalkan di sore hari kau batalkan janji-Nya dari waktu ke waktu seakan-akan Allah tidak melihatnya.”

    Saya merasa kali ini nasihat saya akan mampu mempengaruhinya, maka saya katakan kepadanya,” Kemarikan tanganmu!”, Ia pun memberikan tangannya kepada saya, dan saya katakan kepadanya, “ Berjanjilah kepada Allah kemudian kepadaku untuk tidak mengulangi lagi perbuatan itu!”, Ia pun berkata , “Saya berjanji kepada Allah kemudian kepada anda untuk tidak mengulangi lagi perbuatan itu.”

    Pada pagi harinya ia datang kepada saya sambil membawa kaset-kaset lagu dan berkata kepada saya, “Ambillah kaset-kaset ini dan bakarlah, hancurkanlah atau terserah mau anda apakan, yang penting, bebaskan saya dari kaset-kaset ini, bebaskanlah saya dari penyakit hati yang telah melalaikan saya dari shalat dan mengingat Rabb bumi dan langit.” Saya pun berkata, “Maha suci Dzat yang membalikkan hati, katakan apa yang terjadi?”

    Anak muda itu pun berkata kepada saya, “Setelah saya meninggalkanmu tadi malam, saya langsung pulang ke rumah lalu tidur. Dalam tidur itu saya bermimpi berjalan di sebuah pantai. Tiba-tiba saya bertemu dengan salah seorang teman yang berkata kepada saya, “Apakah engkau suka seorang wanita Fulanah?”, Saya pun menjawab, “Ya!”, Ia berkata , “Ia di sana sedang menyanyi.”, Saya pun segera berlari, berlari dan berlari karena ingin segera melihatnya, karena saya sangat mencintainya, ketika saya sudah kelelahan, saya sampai dan melihatnya sedang menyanyi. Saya sangat terkesan dengan wanita itu dan suaranya.

    Ketika dalam keadaan demikian, tiba-tiba saya merasakan sebuah tangan yang memegang pundak saya, saya pun menoleh, yang terlihat adalah sebuah wajah yang bersinar seperti bulan purnama, dihiasi jenggot yang indah, tampak pada wajahnya cahaya kebaikan. Ia membacakan sebuah ayat kepadaku (yang artinya),

    “Maka apakah orang yang berjalan di atas mukanya itu lebih banyak mendapat petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?” (Al-Mulk: 22).

    Dia mengulang-ngulang ayat tersebut dengan suara merdu, dan mulai menangis hingga saya terpengaruh olehnya, maka mulailah saya menangis sambil mengulang-ngulang ayat itu, tiba-tiba saya terbangun sembari mengulang-ngulang ayat tersebut. Saya pun menangis kemudian ibu saya masuk. Sewaktu melihat saya menangis seperti itu ia pun terpengaruh dan ikut menangis bersama saya.

    Syaikh berkata, “Setelah itu, anak muda tadi menjadi sangat benci dengan nyanyian dan mulai menyenangi membaca Al-Qur’an dan menikmatinya, saya bisa melihatnya dari air matanya yang mengalir dari kedua matanya ketika membaca membaca Al-Qur’an.”

    Saudaraku catatlah baik-baik kisah taubat ini dengan pena kerinduan dan tinta air mata, berusahalah selalu mengutamakan untuk rendah hati menuju pintu ketenangan, mohonlah peningkatannya, terkadang permintaan itu dikabulkan. Menangislah atas segala dosa maupun sedikit syukur.

    Maka ketahuilah bahwa seseorang itu mungkin saja berbuat dosa, namun ia akhirnya masuk Surga karena dosanya itu. Tahukah engkau, bagaiman hal itu bisa terjadi? Yang demikian itu bisa saja terjadi karena ia melakukan suatu perbuatan dosa, namun ia menyesali, menangis karena perbuatan itu, dan ia malu terhadap Rabbnya, menundukkan kepala di hadapan Rabbnya dengan hati yang hancur. Dosa sedemikian inilah yang menjadikan kebahagian seorang hamba dan keberuntungannya, bahkan bisa jadi lebih bermanfaat dari berbagai macam kebajikan, karena taubatnya dari dosa ini telah menjadikannya masuk Surga.

    Wahai pendamba Surga, wahai orang yang takut akan siksa Neraka, inilah sekelompok cerita orang yang telah bertaubat, adakah engkau akan berjalan di belakang mereka?. Inilah sekumpulan orang-orang yang telah bertaubat, adakah hatimu juga bersama mereka?. Inilah orang yang memohon ampunan yang air matanya mengalir di wajah-wajah mereka, adakah wajahmu juga basah oleh air mata yang menjadikanmu segolongan dengan mereka?

    Saudaraku, ini adalah ajakan yang jujur dari Allah ‘azza wa jalla, yang telah berfirman (yang artinya),

    “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang beriman supaya kamu beruntung.” (An-Nuur: 31).

    Sesuatu yang harus saya peringatkan juga kepada kalian, sebenarnya tidak ada manfaatnya bagi kalian untuk menghibur kesedihan kalian ini dengan cara mendengar lagu-lagu, atau melihat pertandingan sepak bola yang kadang kalah kadang menang, atau jalan-jalan keluar rumah, apalagi mencari kesenangan dengan perbuatan haram, sama sekali tidak ada manfaatnya, saudaraku itu bukanlah caramu. Itu cara-cara orang yang telah Allah ceritakan tentang mereka dalam ayat-Nya,

    “Dan orang-orang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang dan Neraka adalah tempat tinggal mereka.” (Muhammad: 12)

    Saudaraku, engkau jauh masih lebih baik dari mereka!, engkau diciptakan di dunia ini untuk suatu perkara yang agung, engkau dipersiapkan untuk menerima tanggung jawab yang besar. Seorang penyair berkata,

    “Mereka telah mempersiapkan untukmu suatu perkara, jika engkau pintar, maka jauhkan dirimu dari kesia-siaan.”

    Saudaraku,

    Jika tujuanmu sekarang tak lain dan tak bukan adalah keridhaan Yang Maha Esa dan Maha Perkasa, maka lihatlah kepada amal perbuatanmu, apakah amalmu itu menjadikan Rabbmu meridhaimu atau tidak? Jika keinginanmu sekarang adalah Surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, maka perhatikanlah apa yang telah engkau lakukan untuk menjadikanmu masuk Surga?

    Renungkanlah dengan jujur dan ketahuilah bahwasannya mungkin saja engkau tidur dan tidak akan bangun lagi, atau mungkin saja engkau keluar dari rumahmu dan engkau tidak kembali lagi, atau kau kenakan pakaian yang tidak akan pernah kau buka lagi. Maka keadaan seperti apa yang engkau inginkan di saat engkau harus meninggalkan duniamu?

    Saudarakau,

    Pada akhir renungan ini, saya ungkapkan kepadamu apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam,

    “Sesungguhnya Allah membuka tangan-Nya pada malam hari agar orang yang berbuat kejahatan pada siang hari mau bertaubat, dan Dia membuka tangan-Nya pada siang hari, agar orang yang berbuat kejahatan pada malam hari mau bertaubat.” (H.R. Muslim) *) Akan tetapi ia mengamalkan syahadat dengan semua konsekuensinya, tidak sekedar mengucapkan dengan lisannya saja. hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bazaar dan Ath-Thabraani terdapat dalam kitab At-Targhib wa Tarhib karya Al-Mundziri.  Wassalaamu’alaikum Wr Wb

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 5 November 2016 Permalink | Balas  

    Menggerakan Jari Saat Tasyahud 

    tahiyatMenggerakan Jari Saat Tasyahud

    Sunnah hukumnya mengangkat jari telunjuk dan menggerakannya saat tasyahud dalam shalat. Sebagaimana hadist Nabi Saw: “kemudian beliau mengangkat telunjuknya dan saya melihat beliau menggerakannya dan berdoa”(HR: Ahmad).

    Imam Baihaqi berkata : “Mungkin saja yang dimaksud ‘menggerakan’ dengan isyarat dengan telunjuk’ tidak berarti menggerakan berkali-kali, sesuai dengan hadist riwayat Ibnu Zubair: bahwa Nabi SAW memberi isyarat dengan jarinya jika membaca do’a dan tidak menggerakannya”(HR:Abu Dawud dengan isnad shohih).

    Dari hadist tersebut, dan hadist lainnya, terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama tentang menggerakan jari telunjuk saat tasyahud:

    1. Ulama Al syafi’i berpendapat bahwa memberi Isyarat jari telunjuk hanya sekali saat mengucapkan “illalah”yang terdapat dalam tasyahud.
    2. Ulama Hanafi berpendapat mengangkat jari telunjuk ketika lafadz nafi atau” laa” dan meletakannya kembali saat membaca “illalah”(itsbat).
    3. Ulama Malik berpendapat mengerakannya kekiri dan kekanan hingga selesai shalat.
    4. Ulama Hambali berpendapat; memberi isyarat setiap kali mengucap lafadz Jalalah (allah) sebagai isyarat tauhid, dan tidak menggerak-gerakannya.

    ***

    (Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah)

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 4 November 2016 Permalink | Balas  

    Anak Sebagai Amanah dan Lahan Tafakur 

    ibu dan anak lelakinya berdoaAnak Sebagai Amanah dan Lahan Tafakur

    Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

    Kondisi bangsa kita yang sedang sakit ini adalah sebuah cerminan bahwa keluarga-keluarga yang membentuk bangsa kita ini kurang sehat karena siapapun yang menjadi penyebab rusaknya negeri ini dulunya pasti anak-anak yang sempat dididik dalam sebuah keluarga.

    Dua hal yang bisa kita ambil hikmah mengapa negeri kita diuji seperti ini. Pertama, nila-nilai yang berlaku di keluarga-keluarga yang ada di bangsa kita tidak tepat. Kedua, sistem pendidikan yang diterapkan di negeri ini juga belum tepat, sehingga harus dievaluasi ulang.

    Menyalahkan, mengutuk dan mencaci tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah. Kalau kita belum bisa mengubah negara, marilah kita mulai dari mengubah keluarga kita. Peran anak bagi orang tua adalah sebagai amanah, cobaan, lahan tafakur, investasi pahala, dan indikator kesuksesan dunia akhirat.

    Pertama anak itu adalah amanah, bukan milik kita. Milik Allah segala yang ada di langit dan di bumi, termasuk anak-anak kita. Kita jangankan membuat anak, menggambar anak saja belum tentu sanggup, bahkan membuat satu helai saja rambut tidak sanggup. Bagusnya jangan membuat sombong dan kekurangannya jangan membuat minder, kemudian melihat anak orang lain jangan iri, karena semuanya milik Allah.

    Umurnya Allah yang menentukan. Mati-matian kita ingin anak panjang umur, kita tak berdaya kalau pemiliknya akan mengambil. Walaupun penguasa negara, tak dapat menguasainya kalau Allah tak menghendaki. Yang penting bagi kita adalah menyikapi amanah ini dengan sebaik- baiknya.

    Kedua, anak sebagai cobaan (sudah diuraikan minggu kemarin). Ketiga, anak sebagai lahan tafakkur. Alangkah bahagianya jikalau Allah mengaruniakan kepada kita hati yang bening. Gelas bening yang berisi air bening, jika ada satu butir debu saja di dalamnya, maka kita mudah melihatnya. Begitu pula orang tua yang memiliki hati yang bersih, kalau melakukan kesalahan, maka ia bisa merasakannya, tidak sibuk menyalahkan anak, tetapi sibuk mengevaluasi diri.

    Alangkah beruntungnya orang yang berhati bersih, seperti gelas bening yang di dalamnya ada cahaya. Selain bisa menerangi seisi gelas, juga bisa menerangi sekitarnya. Kalau kita ingin selalu mendapatkan ilmu, maka rahasianya adalah bersihkan hati kita.

    Begitupula orang tua yang berhati bersih, setiap kejadian apapun senantiasa menjadi ilmu yang merupakan cahaya bagi dirinya dan sekitarnya. Ilmu tidak datang dari orang yang lebih tua saja, bahkan bisa datang dari anak-anak kecil.

    Betapa banyak yang bisa kita tafakuri dari perilaku anak-anak kita. Mereka jangan hanya dijadikan objek untuk mengekspresikan harapan kita kepada mereka, tetapi perilaku mereka pun harus menjadi pelajaran bagi kita. Banyak yang bisa kita renungkan dari sikap anak kecil itu, baik sisi positif maupun negatifnya.

    Pertama, anak kecil itu tidak panik dengan rezekinya, tetapi mengapa setelah dewasa banyak yang menjadi licik bahkan ada yang korupsi. Kita tidak usah risau dengan rezeki. Yang harus dirisaukan itu benar tidaknya cara kita menjemput rezeki kita.

    Kedua, anak kecil itu memiliki semangat pantang menyerah. Ketika anak belajar berjalan, dia jatuh bangkit. Tidak ada anak yang menyerah, hingga akhirnya bisa berjalan. Ini ilmu buat kita. Kegagalan itu bukan jatuh, tetapi kegagalan yang sebenarnya adalah kalau kita tidak pernah mau berbuat. Ketiga, anak kecil itu pemaaf. Mereka begitu mudah untuk memaafkan dan berdamai, tetapi mengapa banyak orang yang semakin tua semakin pendendam.

    Keempat, polos (apa adanya). Anak kecil itu tidak banyak beban dalam hidupnya karena mereka jujur sehingga merdeka hidupnya. Kita banyak menderita dalam hidup ini karena sering ingin kelihatan lebih baik dari kenyataan yang sebenarnya, sehingga malah menimbulkan masalah baru. Selain itu, kita juga bisa menafakuri kelakuan jelek anak-anak kita untuk melihat apakah kita kekanak-kanakan atau tidak. Ada beberapa perilaku anak kecil yang jangan ditiru, misalkan anak kecil itu senang pamer. Ini banyak yang terbawa sampai tua.

    Anak kecil juga suka memaksa dan ingin menang sendiri. Kalau mempunyai keinginan harus diikuti, jika tidak maka ia akan memaksanya tanpa mempedulikan apapun.

    Menurut pengakuan beberapa koruptor kecil-kecilan mereka melakukannya karena dipaksa oleh istrinya. Ini perilaku anak kecil. Ya Allah, muliakan bangsa ini dengan Engkau muliakan keluarga- keluarganya. Cahayai rumah tangga bangsa ini dengan cahaya hidayah- Mu. Jadikan bangsa ini bangsa rahmatan lil alamiin, bukti dari kebenaran agama-Mu.

    ***

    Sumber : http://republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 3 November 2016 Permalink | Balas  

    Anak Sebagai Investasi 

    nasehat ibundaAnak Sebagai Investasi

    Oleh : KH Abdullah Gimnastiar

    Rasulullah SAW bersabda, “Apabila anak Adam telah meninggal dunia (mati) maka terputuslah seluruh amalnya, kecuali tiga perkara, yaitu shadaqah jariyah (yang ia berikan) atau ilmu yang ia manfaatkan kebaikan) atau anak shalih yang mendoakan dirinya.” (HR Muslim) Artinya anak itu adalah investasi. Anak-anak keturunan kita itu adalah bagian dari keselamatan dunia akhirat kita. Karenanya kita harus serius menanamkan keshalihan pada anak-anak kita.

    Kalau kita ingin menikmati masa depan kita, maka berapapun pengeluaran yang dikeluarkan untuk mendidik anak agar menjadi shalih, untuk belajar, sekolah dan lainnya, itu bukan biaya, melainkan investasi (modal) yang akan mendatangkan keuntungan suatu saat kelak.

    Saya pernah bertanya pada seseorang yang menyekolahkan anaknya ke luar negeri. Ia menjawab, “Karena sebentar lagi perdagangan bebas, kita perlu mempunyai anak-anak yang memiliki visi ke depan untuk mengarungi era globalisasi.”

    Kemudian saya bertanya lagi, “Bagaimana kondisi ibadahnya di sana?”

    “Nanti saja kalau dia kembali ke Indonesia akan diperbaiki lagi.”

    “Bagaimana kalau sebelum lulus kuliah sudah diambil nyawanya oleh Allah? Apakah dia siap untuk pulang ke akhirat?”

    Belum tentu anak kita panjang umur. Berapa banyak anak yang mendahului orang tuanya pulang ke akhirat. Mereka jangan hanya dipersiapkan agar bisa hidup kaya di dunia saja, tetapi juga harus dipersiapkan agar bisa pulang dengan selamat, hidup mulia di akhirat.

    Dari Umar bin Khattab ketika ditanya (semoga Allah ridha kepadanya), “Ya Umar, apakah sama pahalanya jika saya mengurus orang tua seperti orang tua mengurus saya di waktu kecil?”

    “Tidak.”

    “Mengapa tidak?”

    “Karena orang tua mengurus kamu supaya kamu panjang umur.” Setelah kita meninggal, mudah-mudahan anak-anak kita yang mengurus, menyalatkan dan mengiringi jasad kita. Setelah kita dikubur, mudah- mudahan mereka sering mendoakan kita dalam munajat-munajatnya.

    Kasihan orang tua yang anaknya tidak tahu agama, sehingga tidak mengerti bagaimana mengurus jasad ibu bapaknya, tidak tahu shalat jenazah, dan setelah dikubur tidak mengerti bagaimana mendoakan orang tuanya.

    Warisan dipakai maksiat, vila dipakai zina, sehingga hancur dan perih orang tuanya. Tidak sedikit orang yang hidupnya terlunta-lunta di dunia karena anaknya, di akhirat tersiksa pula.

    Jangan sampai orang tua belum meninggal, anak-anak sudah menghitung warisannya. Bahkan ada anak yang mengurus orang tuanya yang sudah jompo, tetapi dalam benaknya, “Kenapa lama sekali sakitnya?” karena dia membutuhkan warisannya. Ini anak yang tidak shalih. Naudzubillahi min dzalik.

    Oleh karena itu, mengurus anak itu jangan pernah hanya dengan sisa waktu, tenaga, dan pikira. Bayangkan jika membangun investasi dengan sesuatu yang serba sisa. Berembuklah dengan istri bagaimana mengupayakan agar anak-anak kita menjadi hamba Allah yang bermanfaat di dunia dan akhirat.

    Para pemimpin sekarang adalah anak hasil investasi keluarga-keluarga beberapa puluh tahun yang lalu, sedangkan anak-anak sekarang merupakan investasi untuk para pemimpin masa depan. Karenanya jika kita merindukan kebangkitan bangsa ini, maka harus diawali dengan kebangkitan dari keluarga-keluarga di rumah.

    Jika sang anak menjadi pemimpin, tentu tata nilai yang ditanamkan dalam keluarganya yang akan digunakannya kelak. Jika pada masa kecilnya tata nilai yang didapatkan di rumahnya hanya sibuk memamerkan harta kekayaan, maka jangan heran kalau setelah menjadi pemimpin dia hanya sibuk meraup harta.

    Sekarang investasi apa yang akan ditanamkan terhadap anak-anak kita di rumah? Kita perlu mengubah tata nilai seperti itu dengan melatih anak-anak kita agar hidup bersahaja, mencari uang sebanyak mungkin untuk dishadaqahkan. Sehingga setelah dewasa, dia makin kaya, makin banyak orang yang tertolong. Dia makin berkuasa, makin banyak orang yang terangkat martabatnya. Dia makin berani, makin banyak orang yang terlindungi karena keberaniannya.

    Ya Allah, titipkan kepada kami anak-anak keturunan yang lebih baik dari pada kami, yang menjadi jalan kebahagiaan dan keselamatan bagi dunia akhirat kami. Lindungi kami dari keturunan yang durhaka dan durjana.

    ***

    Sumber : http://republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 2 November 2016 Permalink | Balas  

    Pengertian Iman Menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. 

    Lemah ImanPengertian Iman Menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

    [Iman dapat bertambah atau berkurang]

    Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Pengertian Iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah ; ikrar dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota badan. Jadi, Iman itu mencakup tiga hal :

    [1] Ikrar dengan hati.

    [2] Pengucapan dengan lisan.

    [3] Pengamalan dengan anggota badan

    Jika keadaannya demikian, maka iman itu akan bisa bertambah atau bisa saja berkurang. Lagi pula nilai ikrar itu tidak selalu sama. Ikrar atau pernyataan karena memperoleh satu berita, tidak sama dengan jika langsung melihat persoalan dengan kepala mata sendiri. Pernyataan karena memperoleh berita dari satu orang tentu berbeda dari pernyataan dengan memperoleh berita dari dua orang. Demikian seterusnya. Oleh karena itu, Ibrahim ‘Alaihis Sallam pernah berkata seperti yang dicantumkan oleh Allah dalam Al-Qur’an.

    “Arrtinya : Ya Rabbku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang yang mati. Allah berfirman : ‘Apakah kamu belum percaya’. Ibrahim menjawab :’Saya telah percaya, akan tetapi agar bertambah tetap hati saya”. [Al-Baqarah : 260]

    Iman akan bertambah tergantung pada pengikraran hati, ketenangan dan kemantapannya. Manusia akan mendapatkan hal itu dari dirinya sendiri, maka ketika menghadiri majlis dzikir dan mendengarkan nasehat di dalamnya, disebutkan pula perihal surga dan neraka ; maka imannya akan bertambah sehingga seakan-akan ia menyaksikannya dengan mata kepala. Namun ketika ia lengah dan meninggalkan majlis itu, maka bisa jadi keyakinan dalam hatinya akan berkurang.

    Iman juga akan bertambah tergantung pada pengucapan, maka orang berdzikir sepuluh kali tentu berbeda dengan yang berdzikir seratus kali. Yang kedua tentu lebih banyak tambahannya.

    Demikian halnya dengan orang yang beribadah secara sempurna tentunya akan lebih bertambah imannya ketimbang orang yang ibadahnya kurang.

    Dalam hal amal perbuatan pun juga demikian, orang yang amalan dengan anggota badannya jauh lebih banyak daripada orang lain, maka ia akan lebih bertambah imannya daripada orang yang tidak melakukan perbuatan seperti dia.

    Tentang bertambah atau berkurangnya iman, ini telah disebutkan di dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Allah Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab yakin dan supaya orang-orang yang beriman bertambah imannya”. [Al-Mudatstsir : 31]

    “Artinya : Dan apabila diturunkan suatu surat, maka diantara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata :’Siapa di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini ?’. Adapun orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir”. [At-Taubah : 124-125]

    Dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah bersabda bahwa kaum wanita itu memiliki kekurangan dalam soal akal dan agamanya. Dengan demikian, maka jelaslah kiranya bahwa iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang.

    Namun ada masalah yang penting, apa yang menyebabkan iman itu bisa bertambah ? Ada beberapa sebab, di antaranya.

    [1] Mengenal Allah (Ma’rifatullah) dengan nama-nama (asma’) dan sifat-sifat-Nya. Setiap kali marifatullahnya seseorang itu bertambah, maka tak diragukan lagi imannya akan bertambah pula. Oleh karena itu para ahli ilmu yang mengetahui benar-benar tentang asma’ Allah dan sifat-sifat-Nya lebih kuat imannya dari pada yang lain.

    [2] Memperlihatkan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah yang berupa ayat-ayat kauniyah maupun syar’iyah. Seseorang jika mau memperhatikan dan merenungkan ayat-ayat kauniyah Allah, yaitu seluruh ciptaan-Nya, maka imannya akan bertambah. Allah Ta’ala berfirman. :

    “Artinya : Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan” [Adz-Dzariyat : 20-21].

    Ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa jika manusia mau memperhatikan dan merenungkan alam ini, maka imannya akan semakin bertambah.

    [3] Banyak melaksanakan ketaatan. Seseorang yang mau menambah ketaatannya, maka akan bertambah pula imannya, apakah ketaatan itu berupa qauliyah maupun fi’liyah. Berdzikir -umpamanya- akan menambah keimanan secara kuantitas dan kualitas. Demikian juga shalat, puasa dan haji akan menambah keimanan secara kuantitas maupun kualitas.

    Adapun penyebab berkurangnya iman adalah kebalikan daripada penyebab bertambahnya iman, yaitu :

    [1] Jahil terhadap asma’ Allah dan sifat-sifat-Nya. Ini akan menyebabkan berkurangnya iman. Karena, apabila mari’fatullah seseorang tentang asma’ dan sifat-sifat-Nya itu berkurang, tentu akan berkurang juga imannya.

    [2] Berpaling dari tafakkur mengenai ayat-ayat Allah yang kauniyah maupun syar’iyah. Hal ini akan menyebabkan berkurangnya iman, atau paling tidak membuat keimanan seseorang menjadi statis tidak pernah berkembang.

    [3] Berbuat maksiat. Kemaksiatan memiliki pengaruh yang besar terhadap hati dan keimanan seseorang. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :”Artinya : Tidaklah seseorang itu berbuat zina ketika melakukannnya sedang ia dalam keadaan beriman”. [Al-Hadits].

    [4] Meninggalkan ketaatan. Meninggalkan keta’atan akan menyebabkan berkurangnya keimanan. Jika ketaatan itu berupa kewajiban lalu ditinggalkannya tanpa udzur, maka ini merupakan kekurangan yang dicela dan dikenai sanksi. Namun jika ketaatan itu bukan merupakan kewajiban, atau berupa kewajiban namun ditinggalkannya dengan udzur (alasan), maka ini juga merupakan kekurangan, namun tidak dicela. Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menilai kaum wanita sebagai manusia yang kurang akal dan kurang agamanya. Alasan kurang agamanya adalah karena jika ia sedang haid tidak melakukan shalat dan puasa. Namun ia tidak dicela karena meninggalkan shalat dan puasa itu ketika sedang haid, bahkan memang diperintahkan meninggalkannya. Akan tetapi jika hal ini dilakukan oleh kaum laki-laki, maka jelas akan mengurangi keimannya dari sisi yang satu ini.

    [Disalin dari kitab Soal Jawab Masalah Iman dan Tauhid terbitan At-Tibyan Solo]

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 1 November 2016 Permalink | Balas  

    Berdzikir 

    dzikir 2Berdzikir

    Sawaluddin Ukkas

    Dzikir atau mengingat Allah, ialah apa yang dilakukan oleh hati dan lisan berupa tasbih atau mensucikan Allah Ta’ala, memuji dan menyanjungNya, menyebutkan sifat-sifat kebesaran dan keagungan serta sifat-sifat keindahan dan kesempurnaan yang telah dimilikiNya.

    1. Allah telah menitahkan kita agar banyak berdzikir,

    Firman Allah “Hai orang-orang yang beriman! Berdzikir kamu kepada Allah sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah padaNya diwaktu pagi maupun petang.” (Al Ahzab 41 -42)

    1. Allah menyatakan bahwa Ia akan mengingat orang yang ingat atau berdzikir kepadaNya :

    Firman Allah, “Berdzikirlah kamu kepadaKu, niscaya Aku akan ingat pula kepadamu” (Al Baqarah 152).

    Dan dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Allah berfirman :

    “Aku ini adalah menurut dugaan hambaKu, dan Aku menyertainya dimana saja ia berdzikir kepadaKu. Jika ia berdzikir atau ingat padaKu dalam hatinya, maka Aku akan ingat pula padanya dalam hatiKu dan dan kalau mengingatKu di depan umum, maka Aku akan mengingatnya pula di depan khalayak yang lebih baik. Dan seandainya ia mendekatkan dirinya kepadaKu sejengkal, Aku akan mendekatkan diriKu kepadanya sehasta, dan jika ia mendekat kepadaKu sehasta, Aku akan mendekatkan diriKu kepadanya sedepa, dan jika ia datang kepadaKu secara berjalan kaki, Aku akan datang padanya dengan berlari”.

    1. Allah SWT, telah menetapkan ahli dzikir itu sebagai golongan istimewa dan terkemuka.

    Sabda Rasulullah saw. : “Telah majulah orang-orang yang istimewa !” Tanya mereka : “Siapakah orang-orang yang istimewa itu ?” Ujarnya : “Mereka ialah orang-orang yang berdzikir kepada Allah, baik laki-laki maupun wanita”. (Hadits riwayat : Muslim)

    1. Orang-orang yang berdzikir itulah pada hakikatnya orang-orang yang hidup.

    Diterima dari Abu Musa bahwa Nabi saw bersabda : “Perumpamaan orang-orang yang dzikir kepada Allah dengan yang tidak, adalah seperti orang yang hidup dengan yang mati !” (Riwayat Bukhari).

    1. Berdzikir merupakan pokok pangkal amal-amal saleh, maka barang siapa diberi taufik untuk melakukannya, ia telah diberi kesempatan untuk menjadi wali Allah. Oleh sebab itulah Rasul saw selalu dzikir kepada Allah setiap saatnya, dan pernah berpesan kepada seorang laki-laki yang mengatakan kepadanya ” Mengenai syari’at-syariat Islam telah banyak anda sebutkan padaku. Sekarang sebutkan pula padaku sesuatu yang harus aku pegang teguh !”

    Maka ujar Nabi saw : “Mulutmu tidak akan kering disebabkan dzikir kepada Allah”. dan kepada sahabat-sahabatnya dipesankan : “Maukan kamu saya tunjukkan yang lebih utama dan lebih suci di sisi Tuhanmu, lebih meningkatkan derajatmu dan lebih berharga dari menafkahkan emas dan perak, bahkan lebih baik dari menghadapi menghadapi musuhmu dimana kamu akan berusaha akan menebas leher mereka, sebaliknya mereka berusaha akan menebas lehermu?” “Mau”, wahai Rasulullah”, ujar mereka. Maka sabdanya : “Yaitu berdzikir kepada Allah !”

    (Diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, juga oleh Hakim yang menyatakan isnadnya sah).

    1. Ia juga merupakan jalan kebebasan, yakni dari siksa.

    Diterima dari Mu’adz ra. bahwa Nabi saw. bersabda : ” Tidak satupun amal yang dikerjakan oleh anak cucu Adam, yang lebih membebaskan dari siksa Allah dari pada dzikir kepada Allah ‘azza wajallah”. (Riwaya Ahmad).

    Sumber : Fikih Sunnah, Sayyid Sabiq

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: