Updates from April, 2019 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 2:04 pm on 30 April 2019 Permalink | Balas  

    Mandi Wajib 

    Tata Cara Mandi Wajib

    Hal-hal yang menyebabkan diwajibkannya mandi :

    Keluar air mani, baik saat terjaga ataupun tidur

    Berdasarkan sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya air (mandi) itu disebabkan air (keluarnya mani)” (HR. Muslim no. 343 dan Abu Dawud no. 214)

    Jima’ (berhubungan badan).

    Walaupun tidak keluar air mani. Dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika ia telah duduk diantara ke empat cabang istrinya … (kiasan untuk bersetubuh), maka ia wajib mandi meskipun tidak keluar air mani” (HR. Muslim no. 348)

    Masuk Islamnya orang kafir.

    Dari Qais bin ‘Ashim, ia menceritakan bahwa ketika ia masuk Islam, Nabi SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR. At Tirmidzi no. 602 dan Abu Dawud no. 351, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Irwaa’ul Ghaliil no. 128)

    Terputusnya haidh dan nifas.

    Dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah SAW berkata kepada Fathimah binti Abi Khubaisy,

    “Jika datang haidh, maka tinggalkanlah shalat. Dan jika telah lewat, maka mandi dan shalatlah” (HR. Al Bukhari no. 320, Muslim no. 333, Abu Dawud no. 279, At Tirmidzi no. 125 dan An Nasa’i I/186)

    Hari Jum’at.

    Dari Abu Sa’id Al Khudri ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Mandi Jum’at wajib bagi setiap orang yang telah baligh” (HR. Al Bukhari no. 879, Muslim no. 346, Abu Dawud no. 337, An Nasa’i III/93 dan Ibnu Majah no. 1089)

    Adapun tata caranya adalah berdasarkan hadits dari jalan Aisyah ra., ia berkata, “Dahulu, jika Rasulullah SAW hendak mandi janabah (junub), beliau membasuh kedua tangannya. Kemudian menuangkan air dari tangan kanan ke tangan kirinya lalu membasuh kemaluannya. Lantas berwudhu sebagaimana berwudhu untuk shalat. Lalu beliau mengambil air dan memasukan jari-jemarinya ke pangkal rambut. Hingga beliau menganggap telah cukup, beliau tuangkan ke atas kepalanya sebanyak 3 kali tuangan. Setelah itu beliau guyur seluruh badannya. Kemudian beliau basuh kedua kakinya” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

    Pada riwayat lain dikatakan, “dan dimasukannya jari-jari ke dalam urat rambut hingga bila dirasanya air telah membasahi kulit [kepala], disauknya dua telapak tangan lagi dan disapukannya ke kepalanya sebanyak 3 kali, kemudian dituangkan ke seluruh tubuh” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

    Dari hadits yang mulia di atas maka urutan tata cara mandi wajib adalah :

    1. Membasuh kedua tangan
    2. Membasuh kemaluan
    3. Berwudhu sebagaimana berwudhu untuk shalat [Boleh menangguhkan menangguhkan membasuh kedua kaki sampai selesai mandi
    4. Mencuci rambut dengan cara memasukan jari-jemari ke pangkal rambut
    5. Menuangkan air ke atas kepala sebanyak 3x atau mengambil air dengan kedua tangan kemudian menyapukannya ke kepalanya.
    6. Menguyur seluruh badan
    7. Membasuh kaki

    Sedangkan rukun dari mandi wajib ini menurut pandangan fiqh ada 2 yaitu :

    • Karena inilah yang memisahkan antara ibadah dengan kebiasaan dan adat.
    • Membasuh seluruh anggota tubuh. Karena Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika kamu junub hendaklah bersuci”, maksudnya adalah mandi.

    Maraji’:

    Fikih Sunnah Jilid 1, Sayyid Sabiq, PT. Al Ma’arif, Bandung, Cetakan Kedelapan belas, 1997 M.

    Panduan Fiqih Lengkap Jilid 1, Abdul Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.

    Iklan
     
  • erva kurniawan 1:04 am on 27 April 2019 Permalink | Balas  

    Walimatul Ursy 

    Walimatul Ursy

    Seputar bulan Dzulhijjah adalah bulannya orang menikah. Banyak walimatul ‘ursy yang diadakan. Tentang hal ini Rasulullah saw memberikan tuntunan : “Adakan walimah, walau dengan seekor kambing…..” Buraidah menceritakan, “Ketika Ali datang melamar Fatimah, bersabdalah Nabi Muhammad saw. ‘Sesungguhnya harus, untuk pesta perkawinan ada walimahnya.'” (HR. Ahmad)

    Seperti apa, dan bagaimana menyelenggarakan walimah yang Islami, berikut ini adalah beberapa kiatnya.

    1.. Niatnya.

    Jangan sampai salah memasang niat, karena segala sesuatu itu tergantung niatnya. Penyelenggaraan walimah pernikahan di dalam Islam memiliki tujuan suci, yaitu untuk mengabarkan kepada khalayak umum tentang pelaksanaan sebuah ijab qabul. Terjadinya ijab qabul tak boleh disembunyikan dari masyarakat, karena akan menyebabkan terjadinya fitnah dan kemudharatan. Hindari penyelenggaraan walimah dengan niat memamerkan harta yang dimiliki, atau saling bersaing dengan keluarga lain. Hindari pula pelaksanaan walimah karena niat mencari sensasi, mencari popularitas. Bahkan ada yang berniat menyakiti hati orang lain dengan cara mengadakan walimah besar-besaran.

    2.. Waktunya.

    Sebenarnya tak ada ketentuan khusus mengenai pilihan waktu penyelenggaraan. Bisa di saat ijab qabul atau sesudahnya. Boleh di hari pertama pengantin berkumpul. Boleh pula beberapa hari sesudahnya. Biasanya, pilihan waktu ini disesuaikan dengan adat dan kebiasaan yang berlaku di satu tempat, juga ketersediaan anggaran.

    3.. Undangannya.

    Mengundang sanak kerabat, teman dan tetangga sangat bermanfaat untuk menyambung tali silaturrahim. Mengundang siapa saja pun boleh seperti Rasulullah saw yang berpesan kepada sahabat untuk mengundang ‘siapa saja yang kau temui’ pada saat pernikahan beliau. Tetapi hendaknya tidak membeda-bedakan undangan, seperti dipesankan beliau, “Sejelek-jelek makanan ialah makanan walimah yang hanya mengundang orang-orang kaya akan tetapi meninggalkan orang-orang miskin.” (HR Bukhari)

    4.. Penjagaan Syariahnya.

    Keinginan mengadakan walimah pernikahan yang meriah tak jarang membuat orang mengabaikan nilai-nilai syariah dalam Islam. Pendapat ‘hanya sekali dalam hidup’ sering dijadikan alasan untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran. Beberapa hal yang sering terjadi antara lain:

    • Memajang Pengantin.

    Dengan berbagai macam alasan, orang suka mendudukkan pengantin yang telah berdandan dan berpakaian menarik bersanding berdua di atas kursi pengantin. Kursi ini diletakkan persis di depan menghadap ke para undangan. Dengan dihiasi dekorasi yang sangat menarik, jadilah pasangan pengantin sebagai pusat perhatian seluruh undangan.

    Memang benar tujuan utama walimah pernikahan adalah mengabarkan terjadinya sebuah akad nikah, namun tidaklah berarti harus mempertontonkan pengantin putri kepada undangan pria, dan pengantin putra kepada undangan wanita. Dalam salah satu pernikahan Rasulullah saw, beliau mengundang para sahabat datang berkunjung. Pada saat itu beliau berada bersama istri beliau, namun sang istri membalikkan badan, tidak menghadap kepada para sahabat. Jika kita berkeinginan sekadar memperkenalkan pengantin juga tidak mengapa, tetapi tidaklah perlu sepanjang acara berlangsung, dari awal sampai akhir.

    Akan lebih baik jika memperkenalkan pengantin di tempat terpisah. Pengantin putra diperkenalkan kepada undangan pria dan pengantin putri diperkenalkan kepada undangan wanita di tempat tersendiri. Kalau toh terpaksa harus diperkenalkan bersama-sama, bisa dipilih waktu secukupnya, misalkan di akhir acara, saat undangan hendak memberikan ucapan selamat, atau pada saat berfoto.

    • Busana pengantin.

    Iming-iming untuk bisa tampil istimewa dengan dandanan khas pengantin cukup merangsang. Para pengantin, terutama pengantin putri perlu waspada. Jangan terjebak bujukan ‘sekali seumur hidup’ untuk bersedia memperlihatkan aurat pada saat ini. Bagaimana jika pada saat seperti itu kita meninggal?

    Alhamdulillah, busana pengantin muslimah sekarang sudah mulai disukai. Desainnya pun bervariasi dan menarik. Ada pula yang dipadukan dengan ciri kedaerahan sehingga nampak mirip busana daerah. Namun perlu juga hati-hati memilih model, karena ada busana pengantin muslim yang begitu bagusnya, tetapi menggunakan kain yang menerawang, masih memperlihatkan leher, memakai sanggul palsu atau terlalu ketat ke badan. Yang seperti ini sebaiknya disempurnakan lagi.

    • Hijab undangan.

    Memisahkan tempat duduk para undangan adalah upaya menegakkan hijab dengan baik. Tentunya tidak harus dengan tabir tinggi yang begitu ketat sehingga mengurangi nilai keindahan. Batas antara tempat undangan pria dan wanita bisa dirancang yang indah dan menarik, misalkan dengan tatanan taman bunga yang indah. Ini terutama jika diperkirakan para undangan banyak terdiri dari mereka yang belum sepenuhnya mengerti makna hijab.

    Bila undangan lebih spesifik, dengan pemahaman terhadap hijab yang cukup, maka memisahkan ruang para undangan adalah alternatif terbaik.

    • Rangkaian Acara.

    Banyak alternatif rangkaian acara bisa dipilih, asalkan tidak sampai melanggar nilai-nilai Islam. Adat daerah dalam walimah pernikahan hendaknya diseleksi terlebih dahulu. Yang dikhawatirkan menyimpang dari nilai Islam lebih baik ditinggalkan. Adat yang tidak menyimpang, melinkan sekadar sebuah kebiasaan bisa dilaksanakan dengan lebih dititikberatkan kepada pengambilan hikmahnya.

    Beberapa acara yang tidak perlu diperlihatkan kepada undangan bisa dilaksanakan hanya di antara keluarga dekat saja. Seperti acara ijab qabul, pemberian do’a pengantin putra kepada istrinya, pemberian mahar dan sungkem kepada ayah-ibu.

    • Acara foto bersama.

    Berfoto bersama keluarga besar pengantin diperbolehkan, dengan tetap memperhatikan hijab. Perlu diperhatikan bahwa dalam keluarga besar sekalipun ada yang tidak satu muhrim dengan pengantin. Boleh berfoto antara mereka dengan tetap memperhatikan aturan hijab seperti tidak bergandengan tangan.

    • Acara hiburan.

    Tidak ada tujuan lain dari penyelenggaraan acara hiburan selain menggembirakan undangan dan memeriahkan acara. Hukumnya hanya mubah. Jika disepakati mengadakan acara ini, hendaknya dicari acara yang diperbolehkan dalam Islam. Tidak menimbulkan kemudharatan, tidak merangsang nafsu birahi dan menimbulkan fitnah.

    1. TIDAK BERMEWAH-MEWAH.

    Segala sesuatu yang berlebih-lebihan akan membawa kemudharatan. Begitu pula pengadaan walimah. Menghabiskan uang jutaan adalah hal yang lumrah untuk orang sekarang. Tetapi sebaiknya kita pun instrospeksi kembali, sebesar itukah keperluan sebuah walimah? Sedangkan kriteria dari Rasulullah tak lebih dari seekor kambing.

    Sumber : Ummu Itqon

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 26 April 2019 Permalink | Balas  

    Tata Cara Penyembelihan Kurban (Bagian 3) 

    Tata Cara Penyembelihan Kurban (Bagian 3)

    Oleh: Shidiq Hasan Khan

    7.. Dan Tidak Mencukupi Selain Dari Ma’zun

    Berdasarkan hadits Abu Burdah dalam shahihain dan lainnya bahwa dia berkata, “Artinya: Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya mempunyai hewan ternak ma’zun jadz’u (Sejenis Kambing Yang Kurang Dua Tahun). Lalu beliau berkata: Sembelihlah, dan tidak boleh untuk selainmu.” 34)

    Adapun yang diriwayatkan dalam Shahihain dan lainnya dari hadits ‘Uqbah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membagikan kambing kepada para shahabatnya sebagai hewan kurban, lalu yang tersisa adalah ‘Atud (anak ma’az). Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diberitahu, lalu beliau menjawab: “Artinya: Berkurbanlah engkau dengan ini.”Al-‘Atud adalah anak ma’az yang umurnya sampai setahun.

    Dikeluarkan pula oleh Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih bahwa ‘Uqbah berkata:”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membagikan kambing kepada para shahabatnya sebagai hewan kurban, lalu tersisa ‘atud. Maka beliau berkata:”Artinya: Berkurbanlah engkau dengannya dan tidak ada rukhsah (keringanan) terhadap seseorang setelah engkau.” 35)

    Sedangkan Al-Imam An-Nawawy menukil kesepakatan bahwa tidak mencukupi Jadz’u dari ma’az. 36)

    Saya (Shidiq Hasan Khan) katakan:”Mereka sepakat bahwa tidak boleh ada onta, sapi dan ma’az kurang dari dua tahun. Dan kambing Jadz’u boleh menurut mereka dan tidak boleh hewan yang terpotong telinganya. Namun Abu Hanifah berkata: “Apabila yang terpotong itu kurang dari separuh, maka boleh.” 37)

    8.. Hewan Kurban Tidak Buta Sebelah, Sakit, Pincang dan Kurus, Hilang Setengah Tanduk atau Telinganya.

    Berdasarkan hadits Al-Barra 38) dalam riwayat Ahmad dan Ahlu Sunan serta dishahihkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al-Hakim, berkata: Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Artinya: Empat yang tidak diperbolehkan dalam berkurban,(hewan kurban) buta sebelah yang jelas butanya, sakit yang jelas sakitnya, pincang yang jelas bengkoknya dan tidak sanggup berjalan, dan yang tidak mempunyai lemak (kurus).” (Dalam riwayat lain dengan lafazh-lafazh Al-Ajfaa’/kurus pengganti Al-Kasiirah)

    Dan dikeluarkan oleh Ahmad, Ahlu Sunan dan dishahihkan At-Tirmidzi dari hadist Ali, berkata:”Artinya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang berkurban dengan hewan yang terpotong setengah dari telinganya.” 39)

    Qatadah berkata:”Al-‘Adhab, adalah (yang terpotong) setengah dan lebih dari itu.” Dan di keluarkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Al-Hakim dan Bukhari dalam tarikhnya, berkata, “Artinya: Hanyasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari Mushfarah, Al-Musta’shalah, Al-Bakhqaa’, Al-Musyaya’ah dan Al-Kasiirah. Al-Mushafarah adalah yang dihilangkan telinganya dari pangkalnya. Al-Musta’shalah adalah yang hilang tanduknya dari pangkalnya, Al-Bukhqa’ adalah yang hilang penglihatannya dan Al-Musyaya’ah adalah yang tidak dapat mengikuti kelompok kambing karena kurus dan lemahnya, dan Al-Kasiirah adalah yang tidak berlemak.” 40)

    Penafsiran ini adalah asal riwayat, dan dalam bab ini terdapat beberapa hadits. Adapun hewan kurban yang kehilangan pantat, sebagaimana hadits yang dikeluarkan oleh Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Baihaqi dari hadits Abu Sa’id, berkata:”Artinya: Saya membeli seekor domba untuk berkurban, lalu srigala menganiyayanya dan mengambil pantatnya. Lalu aku tanyakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau bersabda: Berkurbanlah dengannya.” 41) (Di dalam sanadnya terdapat Jabir Al-Ju’fy dan dia sangat lemah)42)

    9.. Bersedekah dari Udhiyah, Memakan dan Menyimpan Dagingnya

    Berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha, “Artinya: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Makanlah, simpanlah dan bersedekahlah.” (Diriwayatkan dalam shahihain 43) dan dalam bab ini terdapat beberapa hadits)

    10.. Menyembelih di Mushalla (tanah lapang yang digunakan untuk Shalat Ied) Lebih Utama.

    Untuk menampakkan syi’ar agama, berdasarkan hadist Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Artinya: Bahwa beliau menyembelih dan berkurban di Mushala.” 44) (Diriwayatkan oleh Bukhari)

    11.. Bagi yang Memiliki Kurban, jangan Memotong Rambut dan Kukunya setelah Masuknya 10 Dzul Hijjah hingga Dia Berkurban.

    Berdasarkan hadits Ummu Salamah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Artinya: Apabila engkau melihat bulan Dzul Hijjah dan salah seorang kalian hendak berkurban, maka hendaklah dia menahan diri dari rambut dan kukunya.”

    Dan didalam lafazh Muslim dan lainnya, “Artinya: Barangsiapa yang punya sembelihan untuk disembelih, maka apabila memasuki bulan Dzul Hijjah, jangan sekali-kali mengambil (memotong) dari rambut dan kukunya hingga dia berkurban.” 46)

    Dan para ulama berbeda pendapat dalam permasalahan ini. Sa’id bin Al-Musayyib, Rabi’ah, Ahmad, Ishaq, Dawud dan sebagian pendukung Syafi’i berpendapat, bahwa diharamkan mengambil (memangkas/memotong) rambut dan kukunya sampai dia (menyembelih) berkurban pada waktu udhiyah. Imam Syafi’i dan murid-muridnya berkata: “Makruh tanzih.” Al-Mahdi menukil dalam kitab Al-Bahr dari Syafi’i dan selainnya, bahwa meninggalkan mencukur dan memendekkan rambut bagi orang yang hendak berkurban adalah disukai. Berkata Abu Hanifah: Tidak Makruh. 47)

    Wallahu a’lam

    Fote Note

    1. Diriwayatkan oleh Bukhari X/8/No. 5556, Muslim XIII/35/1961, Syarh Nawawi
    2. Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam As-Sunnan Al-Kubra IX/270 No. 19062 dan sanadnya shahih. Atud adalah anak dari ma’z. Berkata Ibnu Baththa: Al-‘Atul adalah Al-Jadz’u dari ma’z berumur lima bulan (Fath al-Bari X/14)
    3. Lihat Syarh Muslim An-Nawawi, juz XIII hal. 99
    4. Lihat Al-Ifsah ‘an ma’anish shihah, oleh Abul Mudzhfir, I/308 cet. Muassasah As-Sa’idiyan di Riyadh 38. Diriwayatkan oleh seluruh kitab sunan dan lainnya, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil IV/1149
    5. Sayikh Al-Alabni mengatakan bahwa hadits ini mungkar, lihat Irwa’ul Ghalil IV/1149
    6. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, bab;maa yukrahi min adh-dhahaya V/No. 2800 dan ini lafazhnya, dan riwayat ini didhaifkan oleh Al-Albani dalam dha’if Abu Dawud No. 599 hal. 274
    7. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, bab manisy syifaraa udhiyah shahihah faashabaha ‘indahu syaiun, No. 3146 hadits ini di dhaifkan oleh Al-Albani No. 679 dalam dhaif Ibnu Majah
    8. Namanya Jabir bin Yazid bin Al-Harits Al-Ju’fy, Abu Abdillah Al-Kuufi, dha’if rafidhi (Taqrib At-Tahdzib, No. 886)
    9. Diriwayatkan oleh Imam Muslim, bab : An-Nahyu ‘an luhum al-adhahy ba’da tsalats , juz XII No. 197 dari ‘Aisyah sedangkan dalam riwayat Bukhari, saya tidak menemukan hadits dari ‘Aisyah, yang ada adalah dari Salamah bin Al-Akwa X/No. 5569, dengan yang bebeda, wallahu ‘alam.
    10. Bukhari, bab : Al-Adhaa wan nahr bil mushala . X/No. 5552. Al-Fath
    11. HR Muslim, bab . Nahyu Murid At-Tadhiyah an ya’khudza min sya’rihi wa adzfaarihi stai’an XIII/No. 1977 dari Ummu Salamah.
    12. Riwayat Muslim, hadits berikutnya setelah hadits No. catatan kaki No. 45 pada shahih muslim
    13. Nailul Authar, Al-Imam ASy-Syaukani, jilid V. hal. 128 cet. Syarikah maktabah wa matba’ah, Mustafa Al-Baby Al-Halaby, tanpa tahun.
     
  • erva kurniawan 1:07 am on 25 April 2019 Permalink | Balas  

    Tata Cara Penyembelihan Kurban (Bagian 2) 

    Tata Cara Penyembelihan Kurban (Bagian 2)

    Oleh: Shidiq Hasan Khan

    3.. Waktunya Setelah Melaksanakan Shalat Iedul Kurban

    Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Artinya: Barangsiapa menyembelih sebelum shalat hendaklah menyembelih sekali lagi sebagai gantinya, dan siapa yang belum menyembelih hingga kami selesai shalat maka menyembelihlah dengan bismillah.”

    Terdapat dalam Shahihain 17) Dan di dalam shahihain dari hadits Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Artinya: Siapa yang menyembelih sebelum shalat maka hendaklah dia mengulangi.” 18)

    Berkata Ibnul Qayyim: “Dan tidak ada pendapat seseorang dengan adanya (perkataan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang ditanya oleh Abu Burdah bin Niyar tentang seekor kambing yang disembelihnya pada hari Ied, lalu beliau berkata:”Artinya: Apakah (dilakukan) sebelum shalat? Dia menjawab: Ya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Itu adalah kambing daging (yakni bukan kambing kurban).” (Al-Hadits)

    Ibnu Qayyim berkata: “Hadits ini shahih dan jelas menunjukkan bahwa sembelihan sebelum shalat tidak dianggap (kurban), sama saja apakah telah masuk waktunya atau belum. Inilah yang kita jadikan pegangan secara qath’i (pasti) dan tidak diperbolehkan (berpendapat) yang lainnya. Dan pada riwayat tersebut terdapat penjelasan bahwa yang dijadikan patokan (berkurban) adalah shalatnya Imam.”

    4.. Akhir Waktunya Adalah Di Akhir Hari-hari Tasyriq

    Berdasarkan hadits Jubair bin Mut’im dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda:”Artinya: Pada setiap hari-hari tasyriq ada sembelihan.” 20) (Dikeluarkan Imam Ahmad dan Ibnu Hibban dalam shahihnya dan Al-Baihaqi. Dan terdapat jalan lain yang menguatkan antara satu dengan riwayat yang lainnya. Dan juga diriwayatkan dari hadits Jabir dan lainnya. Dan ini diriwayatkan segolongan dari shahabat. Dan perselisihan dalam perkara ini adalah ma’ruf).

    Di dalam Al-Muwatha’ dari Ibnu Umar:”Artinya: Al-Adha (berkurban) dua hari setelah dari Adha. 21)Demikian pula dari Ali bin Abi Thalib. Dan ini pendapat Al-Hanafiah dan madzhab Syafi’iyah bahwa akhir waktunya sampai terbenamnya matahari dari akhir hari-hari tasyriq berdasarkan hadits Imam Al-Hakim yang menunjukan hal tersebut.22)

    5.. Sembelihan yang Terbaik adalah yang Paling Gemuk.

    Berdasarkan hadits Abu Rafi’:”Artinya: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bila berkurban, membeli dua gibas yang gemuk” 23) (Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan lainnya dengan sanad Hasan).

    Dan dikeluarkan oleh Imam Bukhari dari hadits Abu Umamah bin Sahl berkata:”Artinya: Adalah kami menggemukkan hewan kurban di Madinah dan kaum Muslimin menggemukkan (hewan kurbannya).” 24)

    Saya katakan, bahwa kurban yang paling afdhal (utama) adalah gibas (domba jantan) yang bertanduk. Sebagaimana yang terdapat pada suatu hadits dari Ubadah bin Ash-Shamit dalam riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Hakim dan Al-Baihaqi secara marfu’ dengan lafadzh:”Artinya: Sebaik-baik hewan kurban adalah domba jantan yang bertanduk.” 25) (Dan juga dikeluarkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Baihaqi dari hadits Abu Umamah dan di dalam sanadnya terdapat ‘Ufair bin Mi’dan dan dia Dha’if.26)

    Al-Udhiyah (sembelihan kurban) yang dimaksud bukanlah Al-Hadyu. Dan terdapat pula nash pada riwayat Al-Udhiyah, maka nash wajib didahulukan dari qiyas (mengqiyaskan udhiyah dengan Al-Hadyu), dan hadits: “Domba jantan yang bertanduk.” adalah nash diantara perselisihan ini.

    Apabila dikhususkan berkurban dengan domba berdasarkan zhahir hadits, dan bila meliputi yang lainnya, maka termasuk yang dikebiri. Tetapi yang utama tidaklah dikhususkan dengan hewan yang dikebiri. Adapun penyembelihan kurban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa hewan yang dikebiri tidak menunjukkan lebih afdhal dari yang lainnya, namun yang ditujuk pada riwayat tersebut bahwa berkurban dengan hewan yang dikebiri adalah boleh. 27)

    6.. Tidak Mencukupi Kurban Ada yang di bawah Al-Jadz’u 28)

    Berdasarkan hadits Jabir dalam riwayat Muslim dan selainnya berkata : Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Artinya: Janganlah engkau menyembelih melainkan musinnah (kambing yang telah berumur dua tahun) kecuali bila kalian kesulitan maka sembelihlah Jadz’u (kambing yang telah berumur satu tahun).29)

    Dan dikeluarkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzi dari Abu Hurairah berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersbada, “Artinya: Sebaik-baik sembelihan adalah kambing Jadz’u.” 30)

    Dikeluarkan pula oleh Ahmad dan Ibnu Majah, Al-Baihaqi dan At-Thabrani dari hadits Ummu Bilal binti Hilal dari bapaknya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Artinya: Boleh berkurban dengan kambing Jadz’u.” 31)

    Di dalam shahihain dari hadits ‘Uqbah bin ‘Amir berkata, “Artinya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi-bagi hewan kurban pada para shahabatnya, dan ‘Uqbah mendapatlan Jadz’ah. Lalu saya bertanya: Wahai Rasulullah, saya mendapatkan Jadz’u. Lalu beliau menjawab: Berkurbanlah dengannya.” 32)

    Jumhur berpendapat bahwa boleh berkurban dengan kambing Jadz’u. Dan barang siapa yang beranggapan bahwa kambing tidak memenuhi kecuali untuk satu atau tiga orang saja, atau beranggapan bahwa selainnya lebih utama maka hendaklah membawakan dalil. Dan tidaklah cukup menggunakan hadits Al-Hadyu sebab itu adalah bab yang lain. 33)

    Fote Note. 17. Lihat No. 10

    1. Riwayat Bukhari, kitab Al-Adhahi, bab : Man dzahaba qubla as-shalah a’aada X/12/5561 dengan Fath Al-Bari. Dan Muslim, kitab Al-Adhahi, bab : Waqtuha XIII/35/No. 1962, dengan Syarh Nawawi, ini merupakan potongan hadits yang panjang.
    2. Riwayat Muslim, bab : Waqt a-Adhahi XIII/35?no. 1961 dan lainnya.
    3. Hadit ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad IV/82 dan lainnya. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Arnauth dalam tahqih Zaadul Maad oleh Ibnul Qayyim, dan beliau menyebutkan beberapa jalan dari riwayat ini. (Lihat Zaadul Maad II/318 cetakan Muasasah Risalah).
    4. Riwayat Imam Malik di dalam Al-Muwatha’, kitab Adh-Dhahaya, bab Adh-Dhahiyatu ‘amma fil batnil mar’ah wa dzikir ayyamil adhaa II/38, At-Tanwir, dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar.
    5. Perselisihan ulama dalam hal ini ma’ruf, lihat Subulus Salam IV/92. cet. Daarul Fikr.
    6. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya VI hal 391,dari Abu ‘Amir dari Zuhair dari Abdullah bin Muhammad dari Ali bin Husain dari Abu Rafi’, bahwa Rasulullah bila hendak berkurban, membeli dua domba yang gemuk, ber- tanduk, dan sangat putih…” al-hadits. Pada sanadnya terdapat perawi yang bernama Abdullah bin Muhammad bin Uqail, perawi ini dibicarakan oleh para ulama (Lihat : Tahdzibu At-Tahdzib VI/13). Berkata Al-Hafidz : Shaduq, dalam haditsnya ada kelemahan dan dikatakan pula : berubah pada akhir (hayat)nya. (Taqrib At-Tahdzib 3617).
    7. Dikeluarkan oleh Bukhari dalam shahihnya secara ta’liq X/7 bab: Udhiyatun Nabi bi kabsyaini aqranain. Dan atsar ini disambung sanadnya oleh Abu Nu’aim dalam Mustakhrij dari jalan Ahmad bin Hanbal dari Ubbad bin Al-‘Awwam ber- kata : Mengabarkan kepadaku Yahya bin Sa’id Al-Anshari dari lafadznya : Adalah kaum muslimin salah seorang mereka membeli kurban, lalu menggemukkan (mengebiri)nya dan menyembelihnya pada akhir Dzul Hijjah. (Fath al Bari).
    8. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, bab : Karahiyatul Mughalah fil kafan III/3156, dari Ubadah bin Ash-Shamit. Dan Diriwa- yatkan pula oleh yang lainnya. Hadits ini di dha’ifkan Al-Abani dalam Dha’if al-Jami’ ash-Shagir No. 2881.
    9. Ibnu Hajar mengatakan : dha’if (Taqrib at-Tahdzib, No. 4660) tahqiq Abul Asybaal Al-Baakistani.
    10. Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar : Setelah menyebutkan beberapa riwayat : Padanya terdapat dalil bolehnya mengebiri dalam berkurban, dan sebagian ahli ilmu membencinya karena mengurangi anggota badan. Namun ini bukanlah cacat karena mengebiri menjadikan dagingnya baik, dengan menghilangkan bau busuk. (Fath al-Bari X/12).
    11. Al-Jadz’u, berkata Al-Hafidz : Yaitu sifat bagi umur tertentu dari hewan ternak. Maka dari kambing adalah yang ber- umur satu tahun menurut jumhur. Dan dikatakan pula, kurang dari itu. Kemudian berbeda pendapat dalam penetuan- nya. Dikatakan : berumur 6 bulan dan ada yang berkata 8 bulan dan dikatakan pula 10 bulan. At-Tirmidzi menukilkan dari Waki’ bahwa yang dimaksud adalah 6 atau 7 bulan (Fath al-Bari X/7). Berkata An-Nawawi : Al-Jadzu’ dari kambing adalah yang berumur setahun penuh. Ini yang shahih menurut madzhab kami. Ini yang paling masyhur menurut ahli bahasa dan lainnya (Syarh Muslim XIII/100). Dan Al-Hafidz berkata pula : Al-Jadz’u dari Ma’az adalah berumur masuk pada tahun kedua, sapi (lembu) berumur 3 tahun penuh dan onta berumur lima tahun (Fath al-Bari X/7). Adh-Dha’n, berkata Ibnul Atsir dalam An-Nihayah : Adh-Dhawa’in : Jamak dari dha’inah, yaitu kambing yang berbeda dengan Ma’z (An-Nihayah fi gharibil hadits, III/69, cet. Al-Maktabah Al-Islamiyah). Di sini saya menyebut Dha’n dengan kam- bing sebagai pembeda dengan ma’z (di Jawa, maz itu disebut sebagai kambing jawa).
    12. Riwayat Muslim, bab sinnul Udhiyah XIII/35/1963, Syarh Nawawi. Dan Ibnu Majah, bab : maa Tafzi’u minal adhahi No. 3141. Namin hadits ini di dha’ifkan oleh syaikh Al-Albani karena pada sanadnya terdapat perawi yang bernama Abu Zuhair dan ia mudallis, riwayatnya tidak diterima kecuali bila menjelaskan bahwa dia mendengar dari syaikhnya Lihat penjelasan panjang di Dha’if Ibnu Majah No. 676, hal 248, dan Irwa’ul Ghallil 1145, Silsilah Hadits Dha’ifah juz I halaman 91. Al-Musinnah : adalah gigi seri dari tiap sesuatu, berupa onta, lembu, kambing dan lainnya. (Syarh Nawawi XIII/99).
    13. Hadits ini di Dha’ifkan oleh Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil IV/1143 dan silsilah hadits dha’ifah I/64.
    14. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, bab :maa Tajzi’u minal adhahi II/7/No. 3139 dan lainnya. Hadist ini di dha’ifkan oleh Al-Albani dalam dha’if Ibnu Majah No. 3139.
    15. Bukhari, bab : Qismatul Imam Al-Adhahi bainan naas X/2/No. 5547, Al-Fath dan Muslim, bab : Sinnul Udhiyah XIII/2/No. 1965, An-Nawawi.
    16. Al-Hadyu adalah apa yang disembelih menuju tanah haram dari binatang ternak. Di dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah : 196 (Mu’jam Al-Wasith 978).
     
  • erva kurniawan 1:03 am on 24 April 2019 Permalink | Balas  

    Tata Cara Penyembelihan Kurban (Bagian 1) 

    Tata Cara Penyembelihan Kurban

    Oleh Shidiq Hasan Khan

    Kata Pengantar

    Sehubungan dengan hadirnya bulan Dzul Hijjah, maka pada sajian kali ini kami angkat permasalahan tentang Tata Cara Penyembelihan Kurban, yang diterjemahkan dari Kitab Ar-Raudhatun Nadhiyyah Syarh Ad-Durar Al-Bahiyyah, karangan Abu-At-Thayyib Shidiq Hasan bin Ali Al-Hushaini Al-Qanuji Al-Bukhari oleh Abu Abdirrahman Asykari bin Jamaluddin Al-Bugisy, dan dimuat di Majalah As-Sunnah edisi 22/II/1417H-1997M.

    1.. Disyaria’tkan bagi setiap Keluarga

    Berdasarkan hadits Abu Ayyub Al-Anshary, ia berkata:”Artinya: Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada seorang berkurban dengan seekor kambing untuknya dan keluarganya. 1) (Dikeluarkan Ibnu Majah dan At-Tirmidzi dan di shahihkannya dan dikeluarkan Ibnu Majah semisal hadits Abu Sarihah 2) dengan sanad shahih).

    Dan dikeluarkan juga oleh Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa’i dari hadits Mikhna bin Salim, bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”Artinya: Wahai sekalian manusia atas setiap keluarga pada setiap tahun wajib ada sembelihan (udhiyah) 3). (Di dalam sanadnya terdapat Abu Ramlah dan namanya adalah ‘Amir. Al-Khaththabi berkata: majhul) 4)

    Jumhur berpendapat bahwa hukum berkurban adalah sunnah, bukan wajib. Demikianlah yang dikatakan oleh Imam Malik. Dan (beliau) berkata: “Saya tidak menyukai seseorang yang kuat (sanggup) untuk membelinya (binatang kurban) lalu dia meninggalkannya.” 5) Dan demikian pula Imam Syafi’i berpendapat.

    Adapun Rabi’ah dan Al-Auza’i dan Abu Hanifah dan Al-Laits, dan sebagian pengikut Malikiyah berpendapat bahwa hukumnya wajib terhadap yang mampu. Demikian pula yang diceritakan dari Imam Malik dan An-Nakha’iy. 6)

    Orang-orang yang berpendapat akan wajibnya (berkurban) berpegang pada hadits:”Artinya:Tiap-tiap ahli bait (keluarga) harus ada sembelihan (udhiyah). “Yaitu hadits yang terdahulu, dan juga hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Ibnu Majah serta di dishahihkan Al-Hakim. Ibnu Hajar dalam kitabnya Fath-Al-Bari berkata:”Para perawinya tsiqah (terpercaya) namun diperselisihkan marfu’ dan mauquf-nya. Tetapi lebih benar (jika dikatakan) mauquf.

    Dikatakan Imam Thahawi dan lainnya, 7) berkata: “Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,”Artinya: Barangsiapa yang mempunyai keleluasaan (untuk berkurban) lalu dia tidak berkurban maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami.”

    Diantara dalil yang mewajibkan (berkurban) adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Artinya : Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu dan berkurbanlah.”8)Dan perintah menunjukkan wajib. Dikatakan pula bahwa yang dimaksudkan adalah mengkhususkan penyembelihan hanya untuk Rabb, bukan untuk patung-patung.9)

    Diantaranya juga adalah hadits Jundub bin Sufyan Al-Bajaly dalam shahihain 10) dan lainnya, berkata: Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Artinya: Siapa yang menyembelih sebelum dia shalat maka hendaklah dia menyembelih sekali lagi sebagai gantinya. Dan barang siapa yang belum menyembelih hingga kami selesai shalat, maka hendaklah dia menyembelih dengan (menyebut) nama Allah.”Dan disebutkan dari hadits Jabir semisalnya. 11)

    Berdasarkan dengan hadits:”Artinya: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban untuk orang yang tidak berkurban dari umatnya dengan seekor gibas.” 12)Sebagaimana terdapat pada hadits Jabir yang diriwayatkan Ahmad dan Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan dikeluarkan semisalnya oleh Ahmad dan At-Thabrani dan Al-Bazzar dari hadits Abu Rafi’ dengan sanad yang hasan. Jumhur berpendapat untuk menjadikan hadits ini sebagai qarinah (keterangan) yang memalingkan dalil-dalil yang mewajibkan.

    Tidak diragukan lagi bahwa (keduanya) mungkin untuk dijamak (gabung). Yaitu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban untuk orang-orang yang tidak memiliki (tidak mampu menyembelih) sembelihan dari umatnya, sebagaimana dijamaknya hadits:”Artinya: Orang yang tidak menyembelih dari umatnya. “Dengan hadits, “Artinya: Atas setiap keluarga ada kurban.”

    Adapun hadits:”Artinya: Aku diperintahkan berkurban dan tidak diwajibkan atas kalian.” 13)Dan yang semisal hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah, karena pada sanad-sanadnya ada yang tertuduh berdusta dan ada yang dha’if sekali.

    2.. Kurban Dilakukan Paling Sedikit Seekor Kambing

    Berdasarkan hadits yang terdahulu. Al-Mahally berkata:”onta dan sapi cukup untuk tujuh orang. Sedangkan seekor kambing mencukupi untuk satu orang. Tapi apabila mempunyai keluarga, maka (dengan seekor kambing itu) mencukupi untuk keseluruhan mereka. Demikian pula dikatakan bagi setiap orang diantara tujuh orang yang ikut serta dalam penyembelihan onta dan sapi. Jadi berkurban hukumnya sunnah kifayah (sudah mencukupi keseluruhan dengan satu kurban) bagi setiap keluarga, dan sunnah ‘ain (setiap orang) bagi yang tidak memiliki rumah (keluarga).

    Menurut (ulama) Hanafiah, seekor kambing tidak mencukupi melainkan untuk seorang saja. Sedangkan sapi dan onta tidak mencukupi melainkan untuk tiap tujuh orang. Mereka tidak membedakan antara yang berkeluarga dan tidak. Menurut mereka berdasarkan penakwilan hadits itu maka berkurban tidaklah wajib kecuali atas orang-orang yang kaya. Dan tidaklah orang tersebut dianggap kaya menurut keumuman di zaman itu kecuali orang yang memiliki rumah. Dan dinisbatkannya kurban tersebut kepada keluarganya dengan maksud bahwa mereka membantunya dalam berkurban dan mereka memakan dagingnya serta mengambil manfa’atnya.14)

    Dan dibenarkan mengikutsertakan tujuh orang pada satu onta atau sapi, meskipun mereka adalah dari keluarga yang berbeda-beda. Ini merupakan pedapat para ulama. Dan mereka mengqiyaskan kurban tersebut dengan al-hadyu. 15)

    Dan tidak ada kurban untuk janin (belum lahir). Ini adalah perkataan ulama. 16)

    Fote Note.

    1. Diriwayatkan oleh At-Tarmidzi, kitab Al-Adhahi V/8/1541 dalam Tuhfah-Al-Ahwadzi, dan Ibnu Majah, kitab Al-Adhahi bab Orang yang menyembelih seekor kambing untuk keluarganya II/3147. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih AT-Tirmidzi II/1216, dan Shahih Ibnu Majah II/2546.
    2. Di dalam kitab Ar-Raudhatun Nadiyah tertulis “syariihah” dengan hurup syin. Ini adalah salah, yang benar adalah “Sariihah” dengan hurup siin, seperti yang terdapat pada kitab Sunan Ibnu Majah. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah II/2547 dengan lafadz : Keluargaku membawaku kepada sikap meremehkan setelah aku tahu bahwa itu termasuk sunnah. Ketika itu penghuni rumah menyembelih kurban dengan satu dan dua ekor kambing, dan sekarang tetangga kami menuduh kami bakhil.
    3. Berkata Al-Jauhary : Berkata Al-Ashmi’iy : Terdapat 4 bahasa dalam penyebutan Udhiyah dan Idhiyah …. dst (-disingkat) (Lihat Syarah Shahih Muslim oleh An-Nawawi VIII/13, hal. 93 Cet. Daarul Kutub Al-Ilmiyah, Beirut-Lebanon.
    4. Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani : Tidak dikenal …. (Lihat : Taqrib At-Tahdzib, oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, No. 3130 hl. 479, pentahqiq : Abul Asybaal Shaghir Ahmad Syaqif Al-Baqistani, penerbit : Daarul ‘Ashimah, Al-Mamla kah Al-‘Arabiyah As-Su’udiyah).
    5. Muwatha ‘ Imam Malik, Juz II, hal. 38, Syarh Muwatha’ Tanwir Al-Hawaalik, pen. Daarul Kutub Al-Ilmiyah.
    6. Lihat perselisihan para ulama dan ahli dalil mereka dalam kitab : Bidayah Al-Mujtahid oleh Ibnu Rasyd I/314 dan Al-Fiqh Al-Islami wa Adilatuhu oleh Dr. Wahbad Al-juhaili, Juz III/595-597. cet. Darul fikr.
    7. Fath Al-Bari, Ibnu Hajar, jilid X, halaman 5, cet. Daar Ar-Rayyan li at Turats. Dan beliau juga berkata dalam Bulughul Maram : Namun para Imam mentarjihnya mauquf. (Bulughul Maram, bab : Adhahiy, No. 1349, bersama Ta’liq Al- Mubarakfuri, cet. Jam’iyah Ihya At-Turats Al-Islami). Namun hadits ini tidak menunjukkan wajib menurut jumhur. Wallahu a’lam.
    8. Al-Qur’an Surat Al-Kautsar: 2
    9. Kedua tafsiran ini disyaratkan oleh Ibnu Katsir di dalam tafsirnya, namun Ibnu Katsir merajihkan maknanya menyembelih hewan kurban, wallahu a’laam. (Tafsir Ibnu Katsir, jilid IV, hal. 559-560 cet. Al-Maktabah At-tijariyah, Makkah)
    10. Riwayat Bukhari kitab Al-Adhahiy, bab : Man Dzabaha qobla as-shalah a’aada, X/12 No. 5562, dan Muslim kitab Al- Adhahi, bab : Waqtuha : XIII/35 No. 1960, Syarh Nawawi. Dan Lafazh ini adalah Lafzh Muslim.
    11. Saya belum mendapatkan ada yang semakna dengan hadits tersebut. Diriwayatkan dari Al-Barra’ bin ‘Azib seperti dalam Shahihain dan kitab-kitab Sunan.
    12. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi bab : maa jaa’a anna asy-syah al-wahidah tujzi’u’an ahlil bait : V No. 1541 dalan At-Tuhfah dan Abu Dawud bab : Fisy-syaah Yuhadhahhi Biha ‘An Jama’ah, No. 2810, dan dishahihkan Al-Albani dalam shahih Abu-Dawud : II/2436, dan Irwa’ al-ghalil, IV/1138.
    13. Dijelaskan oleh Ibnu Hajar Asqalani dalam Fath Al-Bari X/6, dan kitab beliau Al-Khasa-is fi Takhrij Ahadits Ar-Rafi’. dan demikian juga Asy-Syaukani di kitabnya Nailul Authar V/126.
    14. Lihat kitab Bidayah Al-Mujtahid I/317.
    15. Al-Hadyu yang disembelih di tanah haram dari hewan ternak, dalam Al-Qur’an. (Lihat Al-Mu’jam Al-Wasith : 978)
    16. Adapun berkurban bagi anak kecil yang belum baligh, menurut Hanafiah dan Malikiyah : Disukai berkurban dari harta walinya, dan tidak disukai menurut madzhab Syafi’iyah dan Hanabilah. (Al-Fath Al-Islami, oleh Wahbah Al-Jihaili III/604)
     
  • erva kurniawan 1:58 am on 23 April 2019 Permalink | Balas  

    Dari Mana dan Ke Mana Harta Kita? 

    Dari Mana dan Ke Mana Harta Kita?

    Oleh Gede H. Cahyana

    Adakah orang yang tak perlu harta? Jangankan kita yang hidup pada zaman supramodern ini, pada zaman nabi Muhammad saja orang-orang begitu giat berdagang. Ada yang merantau sampai ke Cina, malah. Tentu mereka juga menyinggahi negeri-negeri di antara Arab dan Cina, yaitu Asia Tengah. Apa tujuan mereka berdagang? Dapat uang! Dengan uang, mereka bisa membeli kebutuhan yang tak dimilikinya. Seorang tukang tenun akan membutuhkan dan membeli makanan ke penjual makanan. Begitu sebaliknya. Artinya, sejak zaman dulu posisi uang begitu tinggi. Sebelum ada uang mereka tukar-tukaran barang atau barter. Bahkan Nabi Muhammad pun berdagang yang hasilnya digunakan sebagai mahar ketika menikahi Khadijah. Ujudnya, 100 ekor unta. Bukan main, kaya sekali beliau.

    Bagaimana kita? Dengan cepat bisa dijawab, kita sangat perlu harta. Bisa berupa uang, tanah, rumah atau kendaraan. Banyak lagi jenis-jenis harta lainnya. Tapi umumnya kita mencari uang dulu sebagai alat tukar lalu membeli benda apapun keinginan atau kebutuhan kita. Untuk mencarinya perlu pengorbanan waktu, tenaga, pikiran dan juga harta. Istilahnya, orang bisa habis-habisan dalam mengejar harta. Rambu-rambu halal pun sering dilanggar dan malah menganggap zaman sekarang sudah tak perlu lagi berpikir halal-haram. Yang haram saja sulit didapat apalagi yang halal, begitu ujaran yang terdengar. Betulkah demikian?

    Sumber harta, menurut Prof. Dr. Hamka, ada dua macam. Yang pertama, harta dari hasil kerja sendiri. Yang kedua dari pemberian orang lain, warisan atau hadiah yang tak disangka-sangka. Harta yang didapat dari hasil kerja sendiri masih dibagi menjadi dua lagi yaitu, harta halal dan harta haram. Andaikata sudah jelas bahwa harta itu halal, maka ambillah. Sebaliknya, kalau jelas harta itu haram, jauhilah. Jangan sekali-kali didekati sebelum menjadi terbiasa, apalagi sampai ketagihan. Sebab, kalau tidak dicegah maka kebiasaan itu akan mendarah daging dan sangat sulit ditinggalkan. Banyak orang terjerat seperti ini. Malah lingkungan kerjanya langsung membencinya kalau ingin tobat dan keluar dari lingkaran setan.

    Yang jadi masalah adalah ketika harta itu dalam status, menurut pandangan kita, -pertengahan- alias ragu-ragu atau syubhat. Kalau demikian, sebaiknya juga ditinggalkan. Namun, prinsip dasarnya, jika sulit diputuskan apakah diambil atau tidak maka caranya dengan berpatokan pada yang paling sedikit haramnya dan paling banyak halalnya. Yang jadi acuan adalah hati kita, nurani kita. Sebab, nurani atau mata hati pasti tak bisa bohong. Hati harus bersih dan caranya adalah dengan dekat kepada Allah.

    Setelah sumber harta itu bersih, selanjutnya jagalah ke mana saja dibelanjakan. Barang-barang yang dibeli hendaklah yang jelas-jelas halal zatnya. Jangan membeli dan menjual barang haram zatnya seperti minuman keras, narkotika, obat-obatan terlarang. Pendeknya, janganlah harta yang diperoleh dengan halal itu dibelikan sesuatu yang mengundang dan mengandung mudarat. Dibelikan televisi, kulkas, radio, HP, rumah, mobil, sepeda, dll. tentu sah-sah saja. Kalau memang butuh dua televisi, lalu membeli tiga maka yang satunya mubazir. Apalagi barang-barang yang dibeli itu sekadar untuk pamer gagah-gagahan. Inilah salah satu penggunaan harta yang menyimpang dari hakikat harta.

    Yang wajib diingat, keluarkanlah zakat dari harta yang diperoleh. Sekecil apapun harta yang didapat, sisihkan paling sedikit 2,5 % untuk zakat. Kini sudah banyak lembaga amil zakat sehingga tak sulit lagi menitipkan zakat. Bisa juga diberikan langsung untuk memakmurkan masjid. Dan tak harus semata-mata untuk pembangunan fisik masjid. Bisa juga untuk perangkat lunak (software) masjid seperti buku-buku dan teknologi informasi. Zakat boleh saja dibelikan perangkat komputer (hardware) yang dilengkapi software penunjang kegiatan masjid.

    Kita bisa membeli alat-alat presentasi untuk masjid seperti Overhead Projector (OHP) atau proyektor semacam Infocus yang lebih canggih lagi. Semuanya bisa digunakan untuk pengajian rutin ataupun untuk sarana belajar bagi santri masjid bersangkutan. Zakat juga bisa digunakan untuk memperkaya khazanah perpustakaan masjid. Tak harus mushaf Qur’an saja yang dibeli, tapi boleh saja membeli kaset, CD dan lain-lain yang berisi ilmu pengetahuan. Juga bisa membeli buku-buku yang mendukung keilmuan jamaah masjid dan santri termasuk sewa internet. Situs-situs kaya manfaat banyak bertebaran dan ini pun sumber ilmu.

    Lebih dari semua itu, agar mampu berzakat dan membantu kegiatan masjid maka kita perlu harta. Selain ibadah ritual (mahdhah) kita pun wajib ibadah ghair mahdhah seperti bekerja. Mari simak firman Allah dalam surat Qashash ayat 77. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

    Semoga kita menjadi orang-orang yang mampu mencari harta secara halal dan membelanjakannya di jalan Allah. Aamiin.

    Gede H. Cahyana, -muallaf- yang menulis buku -Mencari Allah. Dari Kuta Bali Ke Salman ITB-.

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 22 April 2019 Permalink | Balas  

    Masjid Nabawi Di Madinah 

    Masjid Nabawi Di Madinah

    “Shalat di Masjidku lebih utama dari pada shalat di Masjid manapun kecuali Masjidil Haram”, Hadis Nabi SAW

    Masjid ini disebuat Masjid Nabawi atau Masjid Nabi, karena Nabi SAW sering menyebutnya dengan “Masjidku”

    Sebagaimana terlihat pada gambar-gambarnya, Masjid Nabawi sangat anggun dan indah. Seluruh bangunannya dibuat dengan bahan bngunan dan aksesori berkualitas tinggi. Masjid ini juga mempunyai desain interior yang sangat indah dan artistik tanpa kehilangan suasana religius dan populis.

    Ketika pertama kali dibangun oleh Nabi dan para sahabatnya tidak lama setelah beliau tiba berhijrah dari Mekah ke Medinah, masjid ini masih berbentuk bangunan yang sangat sederhana: pondasinya terbuat dari batu, temboknya terbuat dari bata mentah (yang belum dibakar), tiangnya dari pohon kurma dan atapnya dari pelepah kurma, Masjid yang terletak di sebelah Barat rumah Nabi hanya mempunyai luas 1050 meter persegi. Setelah diperluas berkali-kali, terakhir oleh Raja Fahd dalam tahun 1995, Masjid Nabawi saat ini mempunyai luas lantai dasar lebih kurang 98.000 meter persegi yang dapat menampung 167.000 jemaah, dan lantai atas dengan luas 67.000 meter persegi yang dapat menampung 90.000 jemaah.

    Berikut halamannya yang mempunyai luas 207.000 meter persegi, Masjid Nabawi dapat menampung sebanyak 600.000 jemaah shalat di luar musim haji, dan satu juta orang dalam musim haji dan bulan Ramadhan. Untuk ventilasi bangunan yang demikian besar dan luas itu, dibuat 27 ruang terbuka dengan ukuran 18 x 18 meter yang ditutup dengan kubah-kubah yang dapat ditutup dan dibuka secara elektronik atau manual. Kubah-kubah yang terbuat dari kerangka baja dan beton yang dilapisi dengan kayu pilihan dengan berat 80 ton itu dihiasi dengan relif-relif bertatahkan batu mulia sejenis phyrus yang sangat indah. Sementara pada bagian tengah terdapat dua ruang terbuka, yang setiap ruangnya dilengkapi dengan enam buah “payung” dari fiberglass berkualitas tinggi dengan desain tenda yang artistik yang ditutup dibuka dibuka dengan sistem komputer pada tiang-tiang penyangganya yang artistik. Atap fiberglass itu tertutup pada siang hari dan terbuka pada malam hari, kecuali pada saat cuaca terlalu dingin

    Bangunan Masjid waktu ini mencakup bekas rumah Nabi yang sangat-sangat sederhana itu, yang kemudian menjadi makam beliau beserta dua dari empat khulafaur-rasyidin Abu Bakar Siddiq r.a. dan Umar bin Khatab r.a..

    Bentangan antara rumah dan mimbar beliau yang pernah beliau sebut sebagai Raudah, taman syurga, yang sekarang disekat dan dihiasi dengan ornamen khusus berlatar belakang dan karpet lantai berwarna hijau, selalu dipadati oleh jemaah untuk berdoa dan melakukan shalat sunat. Makam Nabi dan kedua sahabatnya itu belakangan tidak terlihat dari luar karena tertutup oleh rak-rak berisi Al Qur’an, guna mencegah pemujaan dan tangis histeris para penziarah yang melihat makam beliau.

    Sebagaimana halnya dengan Masjidil Haram, walaupun sudah diperluas beberapa kali, kecuali bagian yang diperluas dan direnovasi Khalifah Umar bin Abdul Azis (Raudah dan Makam Rasullulah terletak di bagian ini), Masjid terlihat sebagai kesatuan fisik dan arsitektur yang utuh.

    Masjid Nabawi mempunyai 10 buah menara setinggi 104 meter yang dirancang dengan sangat artistik dan dipuncaknya terdapat ornamen dari bulan sabit dari bahan perunggu yang dilapisi dengan mas 24 karat. Di ketinggian 87 meter pada menara terdapat sistem pencahayaan laser yang pada waktu-waktu tertentu memancarkan sinar laser sepanjang 60 km ke arah Mekah untuk menunjukkan arah Ka’bah.

    Penyejuk udaranya dibangkitkan dari sebuah unit AC sentral raksasa di atas tanah seluas 70.000 meter persegi yang terletak 7 km di sebelah Barat Masjid. Dari sini hawa dingin dialirkan melalui pipa bawah tanah yang diterima oleh mesin-mesin di basement dan didistribusikan ke pipa-pipa yang terletak di bawah lantai Masjid dan pot-pot marmer di kaki-kaki kokoh pilar Masjid yang tersusun rapi dengan jarak 6 meter atau 13 meter. Pilar-pilar tersebut yang seluruhnya berjumlah 2104 buah, terbuat dari beton berdiameter 64 cm yang dilapisi marmer tebal berwarna putih susu. Di kiri dan kanan kanan kaki-kaki pilar tersebut, secara berselang seling terdapat rak-rak Kitab Suci Al Qur’an dan rak-rak bercat putih dan bernomor tempat sendal jemaah. Di pinggir lorong-lorong dan gang-gang di dalam Masjid terdapat tong-tong air Zam-Zam dingin yang dilengkapi dengan gelas-gelas plastik untuk minum jemaah

    Tinggi dari lantai dasar sampai lengkungan lantai atas 5,6 meter dan pada batas-batas lengkungan itu dipajang lampu-lampu indah yang dikurung dengan ornamen yang terbuat dari keping-keping emas.

    Masjid ini terbuka sepanjang hari dan ditutup (kalau tidak salah) satu jam sesudah selesai shalat Isya dan dua jam sebelum waktu waktu Shubuh untuk dibersihkan. Selain itu antara waktu shalat lorong-lorong, gang-gang dan ruang-ruang tertentu yang tidak ada jemaahnya juga selalu disapu dan dipel, sehingga walaupun di antara waktu shalat Masjid tidak pernah sepi dari jemaah yang berzikir, bertadarus, tidur-tidur dan tidur benaran, Masjid selalu terlihat rapih dan bersih.

    Halaman Masjid yang luasnya 206.000 meter persegi yang dapat menampung 400.000 jemaah shalat berlantai marmar dan granit, yang di sana sini didirikan pilar-pilar penyangga lampu-lampu cantik.

    Di bawah halaman ini terletak konstruksi raksasa dua lantai yang dimanfatkan untuk tempat tempat parkir seluas 392.000 meter persegi serta 2 outlet tempat wudhuk bagi jemaah laki-laki dan perempuan yang pintu masuknya terletak di bagian depan Masjid, dengan jumlah toilet/kamar mandi 2.500 unit dan 6.800 pancuran untuk berwudhuk yang terbuat dari bahan-bahan berkualitas tinggi yang bersih dan terawat baik.

    Tahun ini Masjid ini akan kembali diperluas dan menurut pedagang perhiasan yang terletak di depan Masjid Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia sudah membeli bangunan-bangunan yang ada didepan Masjid untuk keperluan perluasan tersebut.

    (Sumber: ”Mekah, Madinah dan Sekitarnya”, H. Ahmad Junaidi Halim. Lc, yang diterbitkan ICMI Cabang Madinah, tidak untuk diperdagangkan, 1995, beberapa sumber lainnya dan hasil observasi langsung)

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 21 April 2019 Permalink | Balas  

    Ummi 

    Ummi

    Kata Ummi dalam kamus Bahasa Arab artinya tidak bisa baca dan tidak bisa tulis. Namun kata itu akan berubah maknanya jika sudah menjadi sebuah kalimat yang berkaitan dengan kandungan maksud yang lain.atau bisa menjadi alat bantu untuk idiom sebuah kandungan arti yang lebih dari kata tersebut. misalnya kata “makan”, arti harfiahnya adalah memasukkan sesuatu (makanan) kedalam mulut lalu menelannya. Akan tetapi bisa berubah arti jika kata makan dimasukkan kedalam kalimat “senjata makan tuan”, artinya senjata yang dia miliki telah menjadi alat membunuh dirinya sendiri.

    Kata “An yadhriba” dalam surat Al Baqarah : 26 asal katanya adalah dharaba-yadhribu-dharban artinya telah memukul, akan tetapi berubah arti setelah masuk kedalam sebuah kalimat, ” Sesungguhnya Allah tiada segan membuat (an yadhriba) perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih dari itu (Al baqarah: 26) kita tidak bisa mengartikan “Allah tiada segan memukul nyamuk atau lebih dari itu…”

    Menyimak alasan-alasan dalam pertanyaan diatas saya akan membahas soal ayat yang di kemukakan. Perhatikan ayat berikut ini :

    Diantara Ahli kitab ada orang yang jika kamu mempercayakannya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu, dan diantara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dirham tidak dikembalikannya kepadamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: Tidak ada dosa bagi kamu terhadap orang-orang ummi. (QS. Ali Imran: 75)

    Ada sebagian orang-orang Yahudi (Ahli kitab) apabila diberi amanah harta, mereka akan mengembalikannya karena takut terhadap hukum Tuhan. Sebagian lagi berpendapat tidak perlu mengembalikan uang (harta) amanah, karena tidak ada hukum yang berlaku bagi orang-orang arab. Karena itu mereka menyebutnya sebagai orang yang ummi (orang yang tidak tahu hukum /buta hukum/ tidak diturunkan Al kitab). Mereka menganggap rendah derajat orang-orang arab disebabkan tidak tahu hukum.

    Memang sebutan (julukan) itu sering diungkapkan oleh bangsa yang peradabannya lebih tinggi, sehingga menganggap bangsa lain primitif (terbelakang). Dahulu, bangsa Jerman menganggap dirinya sebagai bangsa Arya yang memiliki peradaban lebih tinggi sehingga orang-orang yahudi dianggap rendah. Orang-orang kulit putih di Eropa maupun di Afrika memperlakukan kaum yang berkulit hitam seperti tidak mempunyai hak sebagai manusia yang bebas, sehingga mereka menindas dan memperbudak bahkan dijual belikan. Itulah watak orang kafir yang justru tidak beradab. Kata ummi yang dilontarkan orang-orang yahudi itu hanyalah pelecehan dan penghinaan terhadap kaum yang belum memiliki kitab, sehingga mereka berani berpendapat dan memperlakukan orang-orang Arab dengan menipu atau tidak mengembalikan uang yang diamanatkan kepadanya.

    Tuduhan-tuduhan palsu dari orang-orang kafir terhadap Al Qur’an

    Firman Allah :

    Dan orang-orang kafir berkata : Al qur’an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad, dan dia dibantu oleh kaum yang lain. Maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezaliman dan dusta yang besar.

    Dan mereka berkata: Dongengan-dongengan orang-orang terdahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang.

    Katakanlah : Al Qur’an itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan dibumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.

    (QS. Al Furqan: 4-6)

    Orang-orang kafir telah menuduh Nabi Muhammad dengan sangat menyakitkan, bahwa Alquran itu hanyalah hasil dongeng-dongeng orang-orang terdahulu yang dikumpulkan bersama orang lain yang dimintakan untuk menulis dan Muhammad yang membacakannya. Hal ini dibantah sendiri oleh Allah bahwa itu bukan hasil karangan Muhammad apalagi bekerja sama dengan orang lain ” Al qur’an itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan dibumi ”

    Ayat diatas bukan menjelaskan Muhammad mampu menulis atau membaca. Akan tetapi penjelasan atas tuduhan orang-orang kafir yang mengatakan Al qur’an merupakan hasil karangan Muhammad kemudian ditulis bersama orang-orang terdekatnya.

    Jadi tidak tepat mengatakan Muhammad bisa membaca dengan mengutarakan ayat ini. Karena kata Muhammad “membaca” disini, merupakan sangkaan orang-orang kafir. Tidak bisa dijadikan landasan dalil.

    Dalil diatas sering digunakan untuk menjatuhkan argumentasi orang Islam bahwa Al qur’an bukanlah wahyu yang telah diturunkan kepada Muhammad. Dengan alasan Muhammad pernah membaca dan menulis kitab-kitab sebelumnya. Dengan meyakini Muhammad bisa membaca huruf berupa rangkaian hijaiyyah, kita telah terjebak kepada perangkap orang-orang kafir. Maka kita akan turut membenarkan bahwa Muhammad sebenarnya hanyalah orang yang meniru (Plagiator) atau terinspirasi oleh apa yang telah dibacanya dan dipelajarinya. Sehingga muncul gagasan untuk membuat kitab baru. Hal ini akan berbahaya bagi kebenaran Al qur’an dan sangat meragukan, kalau difahami sebagaimana tuduhan orientalis. Justru Allah menjaga Muhammad dari tuduhan tersebut dengan ditakdirkan ummi (tidak bisa membaca huruf dan menulis). Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala :

    Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al qur’an) sesuatu kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu. Andaikata (kamu pernah membaca dan menulis) benar-benar ragulah orang yang mengingkarimu. (QS. Al Ankabut : 48)

    Marilah kita perhatikan sebuah peristiwa bersejarah yang menentukan kebenaran Al qur’an. Ketika beliau sudah berbulan-bulan berkhalwat disebuah Goa seorang diri, lalu tiba-tiba ada getaran yang menyesakkan dadanya yang terasa berat sekali. Sehingga menjadilah jelas apa penyebabnya. Seorang malaikat sang utusan yang memerintahkan untuk membaca: Bacalah Ya Muhammad…Aku tidak bisa membaca, bacalah ya Muhammad..Aku tidak bisa membaca, bacalah Ya Muhammad.Aku tidak bisa membaca ! setelah tiga kali mengatakan tidak bisa, tiba-tiba dengan lancar beliau mengikuti apa yang diperintahkan oleh Sang Utusan (Jibril). Sebuah kalam yang tidak keluar dari mulut dan fikiran masuk kedalam sukma Muhammad.

    Iqra’ bismirabbikal ladzi khalaq..khlaqal insaana min ‘alaq, iqra’ qarabbukal akram, alladzi ‘allama bil qalam, ‘allamal insaana maa lam ya’lam..(QS. Al ‘Alaq :1-5)

    Dengan tegas Muhammad mengatakan tidak bisa membaca, karena mengira perintah membaca adalah membaca huruf-huruf hijaiyyah atau tulisan, beliau menyadari hal itu sehingga malaikat menyampaikan wahyu yang disusupkan kedalam hatinya.

    Ditegaskan juga dalam surat Al A’laa :6

    Sanuqriuka falaa tansaa…Kami akan membacakan (Alqur’an) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa.

    Muhammad tidak membaca rangkaian huruf hijaiyyah (Arab), akan tetapi beliau menerima wahyu yang disusupkan kedalam hati sanubari yang bukan berupa suara maupun huruf (laa shatun wa laa harfun). Maka fahamlah Muhammad sebagaimana lebah yang difahamkan oleh Allah untuk membuat sarangnya. Wa auhaa rabbuka ila an nahli (An Nahl 16:17). Allah yang mengajarkan Muhammad apa-apa yang tidak diketahuinya (Allamal insaana ma lam ya’lam).

    Dalam surat Al ‘Alaq tidak disebutkan objek yang dibaca berupa rangkaian huruf atau sebuah kitab, akan tetapi objeknya adalah prosesi penciptaan manusia dari ‘alaq. Tertulis kata perintah ” Iqra”, tetapi objeknya apa ? apa yang dibaca ? Mengapa tidak,” Iqra’ kitaban ” (bacalah Al kitab). Dan Al qur’an itupun turun berangsur-angsur sampai 23 tahun, tepatnya 22 tahun 2 bulan 22 hari.

    Muhammad membaca Al qur’an bukan karena beliau pandai membaca huruf hijaiyyah, akan tetapi muhammad dibacakan oleh Allah (sanuqriuka falaa tansaa) sehingga beliau tidak akan lupa selamanya. Sedangkan bahasa Allah bukanlah berupa tulisan dan bukan berupa suara (laisa kamistlihi syaiun,tidak serupa dengan makhluknya).Karena Allah menghimpun pengertian itu kedalam hati Nabi dengan sangat cepat. (arti wahyu dalam kamus bahasa Arab), bukan proses berfikir dan proses belajar. Inilah hikmah keadaan Rasulullah Ummi (Baca: Tidak bisa baca dan tulis). bukanlah menghina Rasulullah akan tetapi justru mengangkat derajat kebenaran Rasulullah. Seorang yang tidak mampu menulis dan membaca bisa menghasilkan ilmu yang sangat tinggi dan modern. Dan tidak mungkin berasal dari gagasan cerdas Muhammad karena dia adalah seorang yang UMMI. Hal ini terbukti ketika Allah menantang untuk membuat ayat yang serupa dengan Alqur’an. Ternyata mereka tidak mampu menciptakan tandingan Alqur’an yang berasal dari Muhammad yang tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis.

    Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Alqur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah. jika kamu orang-orang yang benar. (QS. Al baqarah : 23)

    Membaca

    Seorang yang ummi (tidak bisa baca dan menulis) bukan berarti orang tersebut bodoh atau dungu (jahil), sebab selama ini banyak orang terjebak dengan kata ” membaca ” dengan pengertian sempit, yaitu membaca rangkaian huruf-huruf. Padahal banyak sekali pengertian membaca dengan makna yang lebih luas, seperti membaca situasi, membaca raut muka (aura), membaca getaran cinta, membaca perasaan, membaca alam semesta, membaca arah angin, membaca diri sendiri. Hal ini dinyatakan dalam Al qur’an dengan tegas bahwa Allah mengajarkan manusia (Muhammad) membaca dalam bentuk bukan berupa tulisan, yaitu ayat kauniyah.

    Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat ayat-ayat Allah bagi orang-orang yang beriman. Dan pada penciptaan kamu dan binatang-binatang yang melata yang tersebar (dimuka bumi) terdapat ayat-ayat kekuasaan Allah bagi kaum yang yakin, dan pada pergantian malam dan siang serta hujan yang diturunkan Allah dari langit sebagai rizki lalu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya dengan air hujan itu, dan pada perkisaran angin terdapat pula ayat-ayat kekuasaaan Allah bagi mereka yang berakal. Itulah ayat-ayat Allah, kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya, maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan ayat-ayat-Nya” (QS: Al jaatsiyah, 45: 3-6)

    Seorang ilmuwan pada prinsipnya tidak membaca tulisan pada saat mereka meneliti fenomena alam baik binatang, manusia, tanaman. Karena pada diri alam tersebut sudah terdapat sistem yang bisa berbicara kepada orang yang mengamati atas dirinya (tidak menggunakan kata-kata). Seandainya dua atom hidrogen itu bisa bicara dia akan mengatakan kalau aku bersenyawa (bersetubuh) dengan oksigen (satu) maka aku akan menjadi air. Demikian juga jantung akan berkata : Aku yang memompa darah sehingga bergerak dan nutrisi bisa disuplai keseluruh organ tubuh maka manusia menjadi tumbuh berkembang. Apabila diriku (jantung) sebagai pemompa ini rusak, maka kiriman nutrisi akan terhambat, akibatnya manusia akan jatuh sakit dan bisa mati.

    Akan lebih jelas lagi kalau kita khususkan pengamatan kita atas ayat Allah berupa peristiwa kejadian manusia. Kita akan lebih banyak mengetahui berbagai hal yang tadinya merupakan sebuah misteri. Bagaimana sebuah sel telur atau ovum, atau sel reproduksi wanita yang telah dewasa ditempatkan dalam jaringan yang berbentuk bisul di permukaan indung telur. Lalu kemudian terbukalah pintu, dan ovum itu bergerak maju ke bagian ruang peranakan. Kemudian terus berjalan hingga ke ujung saluran indung telur, yaitu satu pipa saluran menuju kandungan. Begitu seterusnya hingga ovum siap dibuahi, hingga muncullah zigote, janin, bayi dan seterusnya.

    Itu baru sebuah proses awal, dimana itupun mendorong kepada munculnya pengetahuan lain. Misalnya komposisi cairan di dalam saluran indung telur dalam kandungan, lalu proses gerak dari ovum sendiri. dengan cara demikian Allah berkomunikasi memberikan ajarannya melalui perantara kalam sehingga manusia menjadi faham dan berilmu. Dari setiap sistem yang berlaku dalam penciptaan tersebut, Allah sekaligus mengilhamkan sebuah pengertian atau kefahaman bagi si ” Pembaca”. (bukan membaca huruf).

    Firman Allah dalam surat Al mukminun, 23 ayat: 12-14

    Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati (ekstrak) tanah, kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim), kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang. Lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging, kemudian Kami jadikan dia makhluk (berbentuk) lain. Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik

    Sorang pemerhati penciptaan alam telah tertarik dengan sebuah gundukan tanah yang menjulang kelangit. Sebuah sarang rayap yang penuh keajaiban. Yang kelihatannya sepele (remeh) ternyata menyimpan sebuah kecerdasan yang mengalir pada diri para penghuninya. Bagaimana tidak, saat suhu udara diluar bergerak antara 35 derajat fahrenheit (pada malam hari) hingga 104 derajat Fahrenheit (pada siang hari), suhu didalam sarang tetap stabil, kira-kira hanya 87 derajat Fahrenheit. Ternyata ada sebuah lubang angin dibawah gundukan sehingga udara yang hangat di siang hari mengalir keseluruh ruang, sementara ruang-ruang itu telah basah oleh lumpur yang dibawa rayap dari genangan dibawah tanah sehingga kelembaban udara di dalam sarang tetap terjaga. Tak heran jika jamur yang dibutuhkan rayap sebagai makanan tumbuh subur disini.

    Kehebatan ini yang membuat arsitek di Zimbabwe berguru kepada rayap. Mereka ingin membuat rumah yang dingin seperti rumah rayap. Belajar dari melihat dan memperhatikan apa yang dilakukan rayap, para arsitek Pearce Partnership di Harare, Zimbabwe, menerapkan ide yang sama untuk membangun sebuah komplek perkantoran dan Real Estate, maka berdirilah bangunan Eastgate. Bangunan tersebut sebenarnya terdiri dari dua bangunan. Di bagian atapnya dihubungkan oleh semacam jembatan miring berbahan kaca, sehingga angin menjadi bebas masuk pada malam hari. Kipas-kipas yang dipasang disetiap ruangan mengalirkan udara dingin dari luar atrium, udara masuk rongga di lantai dasar, persis seperti lubang rayap. Di bagian dasar ini, udara segar mengalir ke setiap ruang perkantoran melalui ventilasi lantai, sementara udara panas di siang hari akan keluar gedung melalui cerobong di atas atap.

    Masya Allah keajaiban yang luar biasa. Kita tidak usah malu memiliki seorang Nabi yang Ummi (tidak bisa baca tulisan), dan tidaklah hina bersikap seperti para arsitek Pearce Partnership. Bahkan mereka mendapatkan penghargaan yang tinggi karena gagasannya menciptakan gedung yang hebat. Archimides terangkat derajatnya karena memperhatikan telur nyamuk yang mengapung diatas air (innallaha laa yastahyi an yadhriba matslan ba’uudhatan.QS.2: 26). Thomas Alfa Edison terangkat derajatnya karena mengamati ledakan petir yang dahsyat, lalu dunia menjadi terang benderang setelah ledakan itu dibuatnya mini (kecil) di dalam bola kaca (qulin dhuruu madza fissamaai wal ardh….QS.10:101). Sigmund Freud terkenal karena mengamati jiwanya (wa fii anfusikum afala tubshiruun…QS.45:3,QS.91:7-9), Albert Enstein dihormati diseluruh dunia karena menemukan relativitas waktu (wal Ashri innal insaana lafi husrin,QS.103:1-2), dan banyak lagi orang-orang yang membaca fenomena alam ahirnya menjadi profesor.

    Namun sungguh disayang para pembaca yang budiman itu bukanlah dari kalangan orang-orang yang suka membaca Alqur’an. Mungkin kebanyakan ummat Islam menyangka Al Qur’an itu hanya sekedar bacaan yang berpahala, kemudian untuk musabaqah tilawah sehingga terlena dengan lagu-lagu yang indah. Ahirnya melupakan pesan-pesan didalamnya.

    Demikian semoga Allah Allah menuntun hati kita, amin.

    Abu Sangkan Paraning Wisesa.

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 20 April 2019 Permalink | Balas  

    Rumah Tangga Dalam Islam (3) Tamat 

    Rumah Tangga Dalam Islam (3)

    *Perceraian*

    Perceraian di dalam rumah tangga meskipun pahit, namun kadang menjadi kenyataan yang harus dialami.

    Allah tidak pernah membenci perceraian, apalagi sampai memaksa suami istri untuk tetap bersatu sampai maut menjemput. Dia memahami adanya kenyataan perceraian tersebut.

    “Tetapi jika keduanya bercerai, Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari limpahan karunia-Nya” [4:130]

    Ajaran Islam itu sangat realistis. Dalam kondisi tertentu, bisa jadi perceraian lebih mendatangkan kebaikan dari pada sama-sama tersiksa dan menyiksa di dalam sebuah ikatan perkawinan.

    Perceraian selain disebabkan oleh pernyataan cerai (talak) dari suami bisa juga terjadi secara otomatis karena suami meninggalkan istrinya selama lebih dari empat bulan.

    “Bagi orang-orang yang bersumpah memantangkan diri dari perempuan- perempuan mereka, diberi tangguh empat bulan. Jika mereka kembali (kepada istrinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Pengasih. Tetapi jika mereka memutuskan untuk bercerai, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Q.S. 2:226- 227]

    Istri pun dimungkinkan mengambil inisiatif untuk bercerai dengan suatu penebusan. Penebusan ini bermaksud bahwa istri membayarkan kembali segala pemberian suami untuk menebus dirinya dari ikatan perkawinan.

    “Jika kamu khawatir bahwa keduanya tidak dapat menjalankan batasan- batasan Allah, maka tidak bersalah atas istri untuk menebus dirinya” [2:229]

    Cerai dalam bahasa Arab disebut talak. Jadi, istilah talak satu berarti bercerai pertama kali. Istilah talak dua berarti bercerai untuk kedua kalinya (dengan istri yang sama). Karenanya, menyebut “talak tiga” pada perceraian yang pertama adalah keliru dan tidak pada tempatnya.

    *Masa tunggu (iddah)*

    Di dalam proses perceraian ada masa tunggu (iddah) yang harus diperhatikan oleh kaum muslim. Ketentuan Allah tentang masa tunggu (iddah) tersebut adalah sebagai berikut:

    1.. Secara umum, masa tunggu adalah selama tiga kali haid. “Perempuan-perempuan yang diceraikan hendaklah menunggu sendiri selama tiga kali haid, dan tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah di dalam rahim mereka” [2:228]

    2.. Tidak ada masa tunggu bagi istri yang diceraikan sebelum dicampuri. “… apabila kamu mengawini perempuan-perempuan beriman, dan kemudian menceraikan mereka sebelum mencampurinya, maka tiadalah masa tunggu (iddah)” [33:49]

    3.. Bagi perempuan yang tidak haid lagi masa tunggunya adalah tiga bulan. Sedangkan bagi perempuan yang sedang hamil, masa tunggunya adalah sampai ia melahirkan.

    “Bagi perempuan-perempuan yang kamu berputus asa tentang haid selanjutnya, jika kamu ragu-ragu, maka masa tunggu mereka ialah tiga bulan, dan begitu pula mereka yang tidak datang haid lagi (monopause). Dan mereka yang hamil, masa tunggu mereka adalah sampai mereka melahirkan kandungannya…” [65:4]

    4.. Bagi perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya, masa tunggu sebelum ia dapat kawin lagi adalah selama empat bulan dan sepuluh hari. “Dan orang-orang yang meninggal di antaramu dan meninggalkan istri-istri, mereka (istri-istri) menunggu sendiri selama empat bulan dan sepuluh hari” [2:234]

    5.. Perempuan yang sedang dalam masa tunggu untuk bercerai harus tetap diberi tempat tinggal dan nafkah sesuai dengan kemampuan suami. Kewajiban mengadakan penyusuan bagi anak-anak ada di pundak suami, karenanya dalam hal anak-anak disusukan oleh istri yang sudah diceraikan maka suami berkewajiban membayar upahnya.

    “Tempatkanlah mereka di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu, dan janganlah menekan mereka untuk menyempitkan keadaan mereka. Jika mereka sedang mengandung, nafkahilah mereka sampai mereka melahirkan. Jika mereka menyusukan (anak-anak) untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya” [65:6]

    *Saksi*

    Apabila masa tunggu (iddah) berakhir akan ada dua kemungkinan keputusan: memutuskan untuk rujuk kembali, atau akhirnya resmi berpisah. Apapun keputusannya hendaknya disaksikan oleh dua orang saksi. Saksi tersebut bisa saja majelis hakim pengadilan agama, atau kerabat, atau pengacara, atau notaris dan sebagainya.

    “Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah” [65:2] Pemberian

    1.. Ketika perceraian terjadi, mantan suami memberikan suatu pemberian yang patut untuk istrinya. Ini memperlihatkan sekalipun dalam kasus perceraian Islam menghendaki agar diakhiri dengan manis. “kepada perempuan-perempuan yang diceraikan, diberi pemberian (hadiah) dengan baik sebagai suatu kewajiban bagi orang- orang yang bertakwa” [2:241]

    2.. Untuk istri yang diceraikan sebelum dicampuri dan belum ditetapkan maharnya, suami memberi suatu pemberian yang patut.

    “Tidak ada kesalahan atasmu jika kamu menceraikan istri-istrimu sedang kamu belum mencampuri mereka, dan belum juga kamu tetapkan suatu bagian untuk mereka. Namun hendaklah kamu berikan suatu pemberian untuk mereka – orang yang mewah menurut kemampuannya, dan orang yang miskin menurut kemampuannya – suatu pemberian yang patut. Yang demikian suatu kewajiban bagi orang-orang yang berbuat baik”. [2:236]

    3.. Untuk istri yang diceraikan sebelum dicampuri namun sudah ditetapkan maharnya, suami memberi setengah dari jumlah yang sudah ditetapkan itu.

    Kalau istrinya merelakan, suami terbebas dari pembayaran mahar yang telah ditentukan. Sebaliknya kalau si suami yang merelakan, ia membayar penuh mahar yang telah ditetapkan. Allah katakan, merelakan (memaafkan) adalah lebih dekat kepada takwa.

    “Dan jika kamu menceraikan mereka sebelum mencampuri mereka, sedangkan kamu sudah menetapkan bagi mereka bagian yang ditentukan (mahar), maka berilah setengah dari apa yang telah kamu tetapkan, kecuali jika mereka memaafkan, atau dimaafkan oleh yang memegang ikatan perkawinan. Dan pemaafan kamu adalah lebih dekat kepada takwa” [2:237]

    ***

    Kiriman Sahabat Debu Semesta

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 19 April 2019 Permalink | Balas  

    Rumah Tangga Dalam Islam (2) 

    Rumah Tangga Dalam Islam (2)

    Pergaulan Suami Istri

    *Bercampur*

    Salah satu kenikmatan hidup berumah tangga diperoleh dalam hubungan seksual (bercampur). Tentang tatagaya bercampur antara suami istri sepenuhnya terpulang pada masing-masing pasangan. Allah membuka kebebasan dalam hal ini.

    “Istri-istrimu adalah ladang bagimu; maka datangilah ladang kamu bagaimana saja yang kamu kehendaki” [2:223]

    Bagaimanapun, ada batasan-batasan tertentu yang ditetapkan Allah dimana percampuran suami istri menjadi terlarang. Batasan-batasan dimaksud adalah:

    1.. Ketika bertekun di mesjid (iktikaf). “tetapi janganlah kamu campuri mereka sedang kamu bertekun (iktikaf) di dalam mesjid” [2:187]

    2.. Ketika menjalani haji. “barang siapa yang menetapkan niat untuk haji pada bulan itu, maka tidak boleh bercampur” [2:197]

    3.. Ketika istri haid. “hendaklah kamu menjauhkan diri dari perempuan-perempuan di waktu haid, dan janganlah mendekati mereka sehingga mereka bersih” [2:222]

    Selain larangan bercampur suami istri, ketentuan Al-Qur’an mengenai perempuan haid berkaitan dengan masa tunggu ketika akan bercerai untuk memastikan bahwa si perempuan tidak sedang hamil [Q.S. 2:228, 65:4]. Ajaran Allah tidak pernah melarang perempuan haid untuk shalat, berpuasa, atau menyentuh dan membaca Al-Qur’an.

    4.. Suami memantangkan diri dari istrinya lewat dari empat bulan. Lewat masa empat bulan percampuran diharamkan, dan mereka dianggap telah bercerai.

    “Bagi orang-orang yang bersumpah memantangkan diri dari perempuan- perempuan mereka, diberi tangguh empat bulan. Jika mereka kembali (kepada istrinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Pengasih. Tetapi jika mereka memutuskan untuk bercerai, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Q.S. 2:226- 227]

    5.. Menzihar istri (berkata kepada istri: “Kamu bagiku adalah seperti punggung ibuku”) dan belum menunaikan tebusan untuk menarik kembali ucapan mungkarnya tersebut.

    “Orang-orang yang menzihar istri-istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali ucapannya, mereka (wajib) memerdekakan seorang hamba sahaya sebelum keduanya bercampur satu sama lain… Barang siapa yang tidak mendapatkannya (hamba sahaya), maka hendaklah dia berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur satu sama lain. Dan barang siapa yang tidak sanggup (berpuasa dua bulan), maka hendaklah dia memberi makan enam puluh orang miskin” [58:3-4]

    *Poligami*

    Poligami pada dasarnya adalah halal. Konteks poligami di dalam Al- Qur’an adalah mengawini perempuan-perempuan untuk mengasuh anak-anak yatim sehingga diharapkan anak-anak yatim tersebut mendapatkan perlakuan yang adil.

    “Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap anak-anak yatim, maka kawinilah perempuan-perempuan yang nampak baik bagimu: dua, tiga, atau empat” [4:3]

    Lanjutan dari ayat di atas memberikan peringatan untuk mewaspadai ketidakadilan dalam berpoligami. “tetapi jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka (kawini) satu saja … itu lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” [4:3]

    Kenyataannya, seorang suami tidak akan mampu berbuat adil terhadap istri-istrinya. Ketidakadilan yang biasanya terjadi adalah, suami condong kepada istri muda dan membiarkan istri tua terkatung-katung.

    “Kamu sekali-kali tidak akan bisa berbuat adil di antara istri- istrimu walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu condong (kepada salah satu) dan kamu biarkan yang lain terkatung-katung” [4:129]

    Karena lebih dekat kepada berbuat aniaya, maka poligami sebaiknya dihindari.

    *Percekcokan*

    Menyatukan dua orang di dalam sebuah ikatan perkawinan tentu membawa gesekan-gesekan perbedaan tersendiri. Al-Qur’an memberi contoh- contoh perselisihan di dalam rumah tangga dan cara-cara menyelesaikannya:

    1.. Menuduh istri melakukan zina. “Dan orang-orang yang menuduh istri-istrinya (berzina) tanpa ada saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu adalah empat kali bersumpah dengan nama Allah bahwa dia termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya jika dia termasuk orang-orang yang berdusta. Istri akan terhindar dari hukuman, jika dia (istri) bersumpah empat kali atas nama Allah bahwa suaminya adalah termasuk orang-orang yang berdusta. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya (istri) jika dia (suami) termasuk orang-orang yang benar” [24:6-9]

    2.. Kedurhakaan suami atau istri. Bagi kedurhakaan suami Allah menjelaskan dengan ayat yang berbunyi: “Jika seorang perempuan khawatir akan kedurhakaan atau sikap tidak acuh suaminya, tidak bersalah bagi keduanya mengadakan perdamaian di antara mereka; dan perdamaian itu adalah lebih baik, walaupun jiwa cenderung pada kekikiran” [4:128]

    Bagi istri yang durhaka, tindakan yang diambil oleh suami adalah seperti pada ayat yang berbunyi: “perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan kedurhakaannya, nasihatilah mereka, dan pisahkanlah mereka dari tempat tidur mereka, dan pukullah mereka” [4:34]

    Sejenak kita perhatikan kata “pukul” (wadribu) pada ayat di atas. Sebuah terjemahan, AL-QUR’AN a contemporary translation, oleh Ahmed Ali (1984), pada catatan kakinya halaman 78 menulis: “wadribu , in the original, translated here `have intercourse’ “ see Raghib, Lisan al-`Arab and “. daraba metaphorically means to have intercourse, and quote the expression darab al-fahl an-naqah, ‘the stud camel covered the she-camel,’ which is also quoted by Lisan al-`Arab. It cannot be taken here to mean `to strike them (women).'”

    Maka, kata “pukul” pada ayat di atas adalah kata kiasan untuk bercampur (have intercourse). Ini berarti istri yang durhaka pun harus dicampuri, bukan ditempeleng, atau ditendang, dan sebagainya. Selain di dalam bahasa Arab sebagaimana kata “daraba” yang kita bahas, bahasa Jerman juga menggunakan kata “pukul” (focken) untuk mengekspresikan hubungan seksual. Kata focken ini telah diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi (maaf) fuck.

    *Pendamai*

    Sebelum percekcokan bertambah parah dan mengarah pada perceraian, sebaiknya dilakukan upaya perdamaian oleh wakil kedua belah pihak. “Jika kamu khawatir akan persengketaan antara keduanya, maka bangkitkanlah seorang pendamai dari keluarga laki-laki, dan seorang pendamai dari keluarga perempuan. Jika mereka menghendaki perbaikan, Allah akan memberi taufik kepada keduanya” [4:35].

    ***

    Kiriman Sahabat Debu Semesta

     
  • erva kurniawan 1:02 am on 18 April 2019 Permalink | Balas  

    Rumah Tangga Dalam Islam (1) 

    Rumah Tangga Dalam Islam (1)

    “Dan di antara tanda-tanda-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu cinta dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”. [Q.S. 30:21]

    Rasa cinta dan sayang yang muncul antara laki-laki dan perempuan di dalam Islam ditindaklanjuti di dalam ikatan perkawinan. Tentang perkawinan ini Islam memberikan tuntunan sebagai berikut:

    Hukum Perkawinan

    *Halal*

    Orang-orang yang halal untuk dikawini disebutkan di dalam Al-Qur’an sebagai berikut:

    1.. Lajang. “Kawinlah orang-orang yang tanpa teman hidup di kalangan kamu” [24:32]

    2.. Janda. “Tidak ada kesalahan atas kamu meminang perempuan- perempuan (janda) dengan sindiran” [2:235]

    3.. Ahli Kitab (Yahudi, Nasrani). “.. dan menikahi perempuan- perempuan yang diberi al-Kitab sebelum kamu” [5:5]

    Catatan: Keputusan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) nomor : 4/Munas VII/MUI/8/2005 Tentang Perkawinan Beda Agama telah mengharamkan perkawinan laki-laki muslim dengan perempuan ahli kitab. Fatwa MUI tersebut jelas menyesatkan dan telah keluar dari ajaran Islam.

    4.. Hamba sahaya yang beriman. “ia boleh mengawini wanita-wanita beriman, dari budak-budak yang kamu miliki” [4:25]

    5.. Anak tiri dari istri yang belum dicampuri. “… dan (diharamkan mengawini) anak-anak tiri dalam pemeliharaan kamu dari isteri-isteri yang telah kamu campuri – tapi jika kamu belum mencampuri mereka (istri), maka tidaklah bersalah atas kamu” [4:23]

    6.. Bekas istri anak angkat. “tidak ada kesalahan atas orang-orang mukmin dalam hal (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka” [33:37]

    7.. Wanita mukmin yang lari dari suami yang kafir. “…dan tiada kesalahan atas kamu untuk mengawini mereka (yang lari dari suami yang kafir), apabila kamu telah memberi mahar mereka” [60:10]

    *Haram*

    Disamping orang-orang yang halal dikawini sebagaimana telah dijelaskan di atas, Allah juga menetapkan adanya orang-orang yang haram dikawini. Berikut uraiannya:

    1.. Yang enggan (tidak rela/ dipaksa). “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai perempuan-perempuan dengan paksa” [4:19]

    2.. Bekas istri ayah. “Dan janganlah kamu kawini perempuan- perempuan yang telah dikawini oleh ayahmu” [4:22]

    3.. Ibu, ayah, anak-anak perempuan, saudara-saudara perempuan, saudara perempuan ayah, saudara perempuan ibu, dan anak-anak perempuan saudara. “Diharamkan atas kamu ibu-ibumu, anak-anak perempuanmu, saudara-saudara perempuanmu, saudara perempuan ayahmu, saudara perempuan ibumu, dan anak-anak perempuan saudara laki-laki maupun anak-anak perempuan saudara perempuanmu” [4:23]

    4.. Perempuan yang menyusukan, dan perempuan yang sepersusuan. “ dan ibu-ibu yang menyusukan kamu, dan saudara-saudara perempuan kamu yang sepersusuan” [4:23]

    5.. Ibu mertua, dan anak-anak tiri yang ibunya sudah dicampuri. “ dan ibu-ibu istrimu, anak-anak tiri perempuanmu yang dalam pemeliharaanmu dari istri-istrimu yang telah kamu campuri” [4:23]

    6.. Menantu. “dan istri-istri anak-anak kandungmu” [4:23]

    7.. Dua kakak-beradik. “dan kamu himpunkan dua perempuan kakak- beradik” [4:23]

    8.. Istri orang. “Dan perempuan-perempuan yang bersuami, kecuali hamba sahaya yang kamu miliki” [4:24]

    Ayat di atas sekaligus menjadi dalil haramnya perempuan bersuami lebih dari satu orang (“poliandri”).

    9.. Pezina bagi yang bukan pezina. “Laki-laki yang berzina tidak mengawini kecuali perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina, tidak dikawini kecuali oleh laki-laki yang berzina, atau laki-laki yang musyrik; yang demikian itu diharamkan atas orang-orang beriman” [24:3]

    10.. Yang keji bagi yang baik. “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji; wanita-wanita yang baik adalah untuk laki- laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik” [24:26]

    11.. Yang telah ditalak (dicerai) dua kali, sampai ia (bekas istri) kawin lagi dengan orang lain lalu bercerai. “Jika dia menceraikannya (setelah kali kedua), dia (isteri) tidak halal baginya sesudah sampai dia kawin dengan laki-laki yang lain” [2:230]

    12.. Orang yang musyrik (yang menyekutukan selain Allah untuk menetapkan sesuatu dalam agama). “Janganlah mengawini perempuan- perempuan musyrik sampai mereka beriman; hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan yang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah mengawini laki-laki yang musyrik sebelum mereka beriman. Hamba sahaya yang beriman adalah lebih baik daripada orang yang musyrik walaupun dia menarik hatimu” [2:221]

    13.. Orang yang tidak percaya (kafir) kepada Allah dan Kitab- Nya. “Mereka (yang beriman) tidak halal bagi orang-orang kafir, dan tidak juga orang-orang kafir itu halal bagi mereka” [60:10]

    Proses Perkawinan

    *Persetujuan Perempuan*

    Pertama kali harus dipastikan bahwa calon mempelai perempuan menyetujui rencana perkawinan yang akan dilangsungkan. Sama sekali tidak dibenarkan mengawinkan perempuan tanpa persetujuannya. “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai perempuan- perempuan dengan paksa” [4:19]

    *Akad*

    Selanjutnya akad nikah dilakukan antara keluarga si perempuan dengan calon mempelai laki-laki. Lafaz akad berisikan (1)maksud dari keluarga perempuan untuk mengawinkan anaknya dan (2)mahar (mas kawin) yang harus dibayarkan oleh laki-laki atas perkawinan tersebut.

    Sebagai contoh yang diceritakan Al-Qur’an adalah lafaz akad bapak mertua Nabi Musa tatkala dia menyerahkan anaknya untuk dikawinkan dengan Musa: “Aku bermaksud mengawinkan kamu dengan salah seorang dari kedua anak perempuanku ini, dengan kamu bekerja padaku selama delapan tahun” [28:27]

    Dalam kasus Nabi Musa mas kawinnya adalah berupa “kerja”. Hal ini mungkin karena kondisi Nabi Musa yang sedang dalam pelarian sehingga tidak memiliki harta yang mencukupi.

    Perlu ditambahkan bahwa bisa saja ketika perkawinan dilangsungkan maharnya belum ditetapkan. Apabila seperti itu yang terjadi tentunya ketetapan mahar tidak dimasukkan ke dalam lafaz akad.

    “Tidak ada kesalahan atasmu jika kamu menceraikan istri-istrimu sedang kamu belum mencampuri mereka, dan belum juga kamu tetapkan suatu bagian (mahar) untuk mereka”. [2:236] *Mahar*

    Mahar /mas kawin adalah pemberian wajib dari seorang laki-laki untuk perempuan dalam ikatan perkawinan [4:24]. Termasuk juga bila perempuan yang dikawini adalah seorang hamba sahaya [4:25].

    Adapun besarnya mahar adalah sesuai kerelaan kedua belah pihak. Dan meskipun mahar tersebut adalah pemberian suami yang sudah menjadi milik istri, namun suami tetap boleh ikut menikmatinya bila sang istri menawarkan. “Berikanlah mahar kepada perempuan-perempuan (yang dinikahi) sebagai suatu pemberian yang penuh kerelaan. Kemudian jika mereka dengan senang hati menawarkan sebagian darinya kepadamu, maka makanlah pemberian itu dengan sedap” [Q.S. 4:4]

    Harta, termasuk mahar, yang telah diberikan oleh suami kepada istrinya tidak boleh diminta kembali. “Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka (istri)” [2:229]

    ***

    Kiriman Sahabat Debu Semesta

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 17 April 2019 Permalink | Balas  

    Kematian, Alam Barzakh, Dan Kebangkitan 

    Kematian, Alam Barzakh, Dan Kebangkitan

    Kematian

    Semua yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Seseorang yang sedang tekun meniti jalan spiritual biasanya sering merenungi kematian. Renungan tersebut dapat berujung pada phobia (ketakutan yang tidak pada tempatnya) tatkala informasi yang didapatkan tentang kematian keliru adanya.

    Bagaimana tidak akan ketakutan, kalau diceritakan bahwa seringan- ringannya rasa sakit pada saat kematian adalah seperti sakit yang dirasakan oleh seekor kambing yang dikuliti hidup-hidup? Sebagai catatan, metafora kambing yang dikuliti hidup-hidup ini sama sekali tidak dikenal di dalam Al-Qur’an.

    Memang ada manusia yang nyawanya dicabut malaikat dengan cara yang kasar, disamping ada pula yang nyawanya dikeluarkan dengan lembut. Sepanjang kita termasuk orang-orang yang beriman maka tidak perlu merasa takut karena perlakuan yang kasar tersebut hanya diperbuat terhadap orang-orang yang tidak beriman.

    “Demi yang merengggut dengan keras, dan yang mengeluarkan dengan lembut.” [Q.S. 79:1,2]

    “Kalau kamu dapat melihat ketika para malaikat mematikan orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka, `Rasakanlah azab yang membakar'” [Q.S. 8:50]

    Derita kematian untuk orang-orang yang tidak beriman adalah salah satu bentuk siksaan di dunia sebelum mendapat siksaan yang kekal di Hari Akhir nanti.

    Alam Barzakh

    Setelah mati, jiwa kita meninggalkan dunia ini menuju sebuah dimensi yang disebut alam kubur atau biasa juga disebut alam barzakh untuk tidur panjang. Barzakh berarti dinding. Di alam barzakh ini kita terdinding dari kesempatan untuk berbalik ke dunia.

    “Sehingga apabila kematian datang kepada seorang dari mereka, dia berkata: `Wahai Rabbku, kembalikanlah aku, supaya aku membuat amal kebaikan yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak, itu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di belakang mereka ada dinding (barzakh) sampai hari mereka dibangkitkan”. [Q.S. 23:99,100]

    Setelah mati dan ditempatkan di alam barzakh, jiwa manusia tidak bisa mendengar apapun. Jadi, jangan sekali-kali minta didoakan kepada orang yang sudah mati karena hal tersebut adalah perbuatan sia-sia.

    “Tidaklah sama yang hidup dengan yang mati. Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tidak sanggup menjadikan orang-orang yang di dalam kubur dapat mendengar”. [Q.S. 35:22]

    Kebangkitan

    Ketika tiba Waktunya, seluruh manusia dibangkitkan dari kuburnya. Kebangkitan tersebut terasa seperti baru bangun tidur saja.

    “Dan sesungguhnya Saat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya; dan Allah membangkitkan semua orang yang di dalam kubur”. [Q.S. 22:7]

    “Mereka berkata: `Celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami? Inilah yang dijanjikan Yang Maha Pemurah, dan benarlah rasul-rasul.” [Q.S. 36:52]

    Pada fase kehidupan kembali ini kita akan dibalas seadil-adilnya atas segala apa yang telah kita perbuat di dunia.

    “Pada hari ini tiap-tiap jiwa dibalas dengan apa yang diusahakannya; tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah cepat membuat perhitungan.” [Q.S. 40:17]

    Apakah logis manusia yang sudah mati bahkan tulang belulangnya pun telah hancur terurai dapat dibangkitkan hidup kembali utuh seperti sedia kala??

    Kita perlu fakta empiris untuk menjawab pertanyaan di atas.

    Mari lihat diri kita. Kita adalah makhluk hidup berjenis manusia. Dulu, kita hanyalah setetes air yang tersembur ketika ayah mendatangi ibu. Air itu berasal dari saripati makanan, dan makanan itu berasal dari saripati tanah. Dari setetes air yang benda MATI tersebut akhirnya hadirlah diri kita yang HIDUP ini.

    Allah yang telah menciptakan kita. Bukan ayah dan ibu. Mereka tidak punya daya untuk menentukan mana dari ribuan sel sperma yang akan melekat ke sel telur; mereka tidak sanggup memastikan agar kita terlahir rupawan meskipun siang malam surat Yusuf dibacakan; mereka pun tidak bisa campur tangan menetapkan jenis kelamin kita.

    Mari lihat lingkungan kita. Petani menabur benih padi yang MATI ke sebidang tanah yang juga MATI. Tanah tersebut kemudian disirami air yang juga MATI. Dengan kekuasaan Allah bangkitlah di lahan tersebut makhluk HIDUP bernama batang padi. Bila Dia kehendaki, batang padi itu bisa tidak tumbuh sama sekali.

    Karena premis-premis penciptaan di atas memang telah terbukti secara empiris, maka adalah logis kalau dinyatakan bahwa Allah yang telah mengeluarkan yang hidup dari yang mati dapat pula membangkitkan manusia yang sudah mati hidup kembali.

    Kematian dan kehidupan adalah pasangan sebagaimana halnya siang dan malam. Dulu kita adalah benda mati, sekarang kita hidup. Besok kita mati, maka tentu akan hidup kembali. Abadi.

    “Wahai Rabb kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan menghidupkan kami dua kali;…” [Q.S. 40:11]

    ***

    Kiriman Sahabat Debu Semesta

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 16 April 2019 Permalink | Balas  

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu (Bagian 8) 

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu (Bagian 8)

    Atmosfir Bumi

    Dalam beberapa aspek yang mengenai langit secara khusus dan yang telah kita bicarakan dalam posting-posting yang lalu, Qur’an memuat beberapa paragraf yang ada hubunnnya dengan fenomena-fenomena yang terjadi dalam atmosfir.

    Mengenai hubungannya paragraf-paragraf Qur’an tersebut dengan hasil-hasil Sains Modern, kita dapatkan seperti yang sudah-sudah dilain persoalan tidak adanya kontradiksi dengan pengetahuan ilmiah yang sudah dikuasai manusia sekarang tentang fenomena-fenomena yang disebutkan.

    Ketinggian (Altitude)

    Sesungguhnya ini adalah pemikiran sederhana terhadap rasa, ‘tidak enak’ yang dirasakan orang ditempat yang tinggi, dan yang akan bertambah-tambah jika orang itu berada dalam tempat yang lebih tinggi lagi, hal ini dijelaskan dalam Surah Al-An’aam ayat 125:

    “…niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki kelangit….” (QS. 6:125)

    Bila Muhammad bukan utusan Allah, pasti ia tidak mengetahui bahwa kalau diluar angkasa tidak ada udara yang mengandung oksigen.

    Benda apapun yang dilemparkan tinggi-tinggi akan jatuh kembali kebumi, begitu juga bila seorang peloncat tinggi meloncar, ia akan jatuh kembali kebumi. Burung dapat terbang karena dengan susah payah harus menggerakkan sayapnya untuk mendorong udara, sekalipun berat badannya cukup ringan.

    Semua ini karena adanya gaya tarik bumi yang disebut gravitasi. Besar atau kecilnya gaya tarik bumi dipengaruhi oleh besar kecilnya berat jenis suatu benda. Dengan demikian semakin ringan suatu benda, maka semakin kecil gaya tarik bumi pada benda tersebut, karena berat ringan suatu benda yang sama volumenya ditentukan oleh besar kecil berat jenisnya.

    “Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. sesungguhnya pada yang demikian itu benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman.” (QS. 16:79)

    “Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu.” (QS. 6:38)

    Air yang verat jenisnya lebih besar daripada minyak tanah, selalu berada dibagian bawah bila dicampurkan, karena gaya tarik bumi terhadap air lebih besar dibandingkan minyak tanah. Helium yang ringan mempunyai gaya tarik bumi kecil sekali, sehingga bila dimasukkan kedalam balon mainan anak-anak, balon akan terbang tinggi karena masih banyak udara lain yang berebutan ingin lebih kebumi ditarik bumi.

    Batu yang dilemparkan keatas akan mengalami perlambatan sampai mencapai puncaknya dengan kecepatan sama dengan 0 (nol). Selanjutnya jatuh kembali kebumi mengalami percepatan. Kecepatan benda terbesar adalah pada saat pertama sewaktu benda jatuh kebumi apabila tepat jatuh dan tempat melempar sama tinggi dan tanpa pengaruh lain. Semakin kuat tenaga yang dimiliki untuk melemparkan benda semakin tinggi pula titik puncak yang dicapai. Dan kekuatan yang diperlukan tersebut adalah kekuatan untuk melawan gravitasi bumi.

    Dapat dibayangkan betapa banyaknya tenaga dan kekuatan yang diperlukan untuk melepaskan pesawat luar angkasa meninggalkan atmosfir. Bahkan Challenger yang meledak pada percobaan penerbangan angkasa luar Amerika Serikat, tenaganya melebihi ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki di Jepang pada waktu perang Dunia kedua.

    Pesawat luar angkasa pertama milik Amerika Serikat yang mencapai bulan, yaitu Apollo 11, memerlukan kekuatan sedemikian besarnya untuk dapat mencapai bulan, sehingga tidak cukup hanya kekuatan ledakan pertama di Cape Kenedy, tetapi beberapa kali harus melepaskan alasnya untuk kekuatan baru. Begitu juga Lunix dan Soyuz miliki Uni Soviet (Rusia).

    Sejak nuklir ditemukan manusia, para pembuat pesawat luar angkasa semakin bergairah karena kekuatannya dapat dipergunakan lebih maksimal. Benda biasa yang dibakar umumnya menjadi abu, menguap keudara dan sisanya menjadi energi, tetapi nuklir dapat habis seluruhnya untuk menciptakan energi (tenaga) ataupun kekuatan. Begitu besarnya perhatian dan keinginan para ahli luar angkasa, untuk memperoleh kekuatan agar dapat mengimbangi gaya tarik bumi (gravitas), lepas landas keluar angkasa menembus penjuru langit.

    Ini semua sudah dibicarakan dalam Al-Qur’an :

    “Hai jama’ah jin dan manusia,jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan”. (QS. 55:33)

    “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang ?. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang ?” (QS. 67:3)

    Listrik di Atmosfir

    Listrik yang ada diatmosfir dan akibat-akibatnya seperti guntur dan butir-butir es disebutkan dalam beberapa ayat sbb :

    “Dia-lah yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan mendung. Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia-lah Tuhan Yang Maha keras siksa-Nya.” (QS. 13:12-13)

    Surah An-nur ayat 43.

    “Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatan olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.” (QS. 24:43)

    Dalam dua ayat tersebut digambarkan hubungan yang erat antara terbentuknya awan-awan berat yang mengandung hujan atau butiran-butiran es dan terbentuknya guntur. Yang pertama sangat dicari orang karena manfaatnya dan yang kedua ditolak orang. Turunnya guntur adalah keputusan Allah. Hubungan antara kedua fenomena atmosfir sesuai dengan pengetahuan tentang listrik atmosfir yang sudah dimiliki oleh manusia sekarang.

    Bayangan

    Fenomena yang sangat luar biasa dijaman kita, yaitu bayangan dan pergeserannya disebutkan dalam ayat-ayat berikut :

    “Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang; dan kalau Dia menghendaki niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu.” (QS. 25:45)

    “Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang dilangit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya diwaktu pagi dan petang hari.” (QS. 13:15)

    “Dan apakah mereka tidak memperhatikan segala sesuatu yang telah diciptakan Allah yang bayangannya berbolak-balik ke kanan dan ke kiri dalam keadaan sujud kepada Allah, sedang mereka berendah diri.” (QS. 16:48)

    Diluar hal-hal yang menunjukkan tunduknya segala ciptaan Tuhan termasuk bayangan, kepada penciptanya Yang Maha Kuasa, dan disamping Tuhan memperlihatkan kekuasaanNya, ayat-ayat Qur’an juga menyebutkan hubungan antara bayangan dan matahari.

    ***

    Taken From : Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu, Drs. Inu Kencana Syafiie, Gema Insani Press, Jakarta, 1996

    Bibel, Qur’an dan Sains Modern, Dr. Maurice Bucaille, Bulan Bintang 1984

    Dari Sains ke Stand AlQur’an, Dr. Imaduddin Khalil, Arista 1993

    Asal Usul Manusia Menurut Bibel, Al-Qur’an dan Sains Modern, Dr. Maurice Bucaille, Penerbit Mizan 1996

     

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 15 April 2019 Permalink | Balas  

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu (Bagian 7) 

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu (Bagian 7)

    Lautan

    Sebagaimana ayat-ayat Qur’an telah memberikan bahan perbandingan dengan ilmu pengetahuan modern mengenai siklus air dalam alam pada umumnya, hal tersebutakan kita rasakan juga mengenai lautan.

    Tidak ada ayat AL-Qur’an yang mengisahkan mengenai kelautan yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Begitu juga perlu digaris bawahi bahwa tidak ada ayat Qur’an yang membicarakan tentang lautan menunjukkan hubungan dengan kepercayaan-kepercayaan atau mitos atau takhayul yang terdapat pada jaman Qur’an diwahyukan.

    Beberapa ayat yang mengenai lautan dan pelayaran mengemukakan tanda-tanda kekuasaan Tuhan yang nampak dalam pengamatan sehari-hari, dimana semua itu untuk dipikirkan.

    Ayat-ayat tersebut adalah:

    “Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.” (QS. 14:32)

    “Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.” (QS. 16:14)

    “Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur.” (QS. 31:31)

    “Dan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan, dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu. Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka diselamatkan, kecuali karena Rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai pada waktu tertentu.” (QS. 36:41-44)

    Pada dini hari para nelayan bertolak kelaut mencari ikan, mereka mengembangkan layar perahunya karena mengharapkan angin darat meniup perahu mereka kelaut. Begitu pula sebaliknya bila mereka hendak pulang, mereka mengembangkan layar perahunya mengharapkan angin laut menghantarkan mereka kedarat. Begitulah pertolongan Allahus Shamad (Allah tempat bergantung segala sesuatu), karena Allah juga Rabbul Mustadh’afin.

    Peristiwa diatas ini telah dimuat dalam Al-Qur’an dengan manis :

    “…bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia…” (QS. 2:164)

    Hal ini terjadi karena memang udara didarat pada siang hari terasa panas, menjadikan udara tersebut memuai (mengembang) sehingga karena kepadatannya udara tersebut bergerak ketempat yang relatif lebih renggang dilaut. Sedangkan panasnya laut pada malam hari membuat udara memuai (mengembang) sehingga karena kepadatannya pula udara tersebut bergerak ketempat yang relatif lebih renggang didarat, sesuai sifatnya.

    Udara yang bergerak disebut angin, membawa serta awan yang mengundang air atau butir-butir es (bila membatu). Hal ini menjadi keterangan AL-Qur’an pada potongan ayat selanjutnya, sebagai berikut :

    “…dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi (atmosfir)..” (QS. 2:164)

    Secara lengkap penulis cantumkan keseluruhan Surah Al-Baqarah ayat 164 tersebut sbb :

    “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi (atmosfir); sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. 2:164)

    Perjalanan awan tersebut dalam ayat diatas adalah merupakan salah satu dari proses siklus air, air yang berasal dari manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan maupun dari alam sekitarnya seperti sungai, danau, kolom, got, selokan, parit, WC dam kamar mandi bergerak dari tempat yang tinggi ketempat yang relatif lebih rendah, sehingga pada akhirnya sebagian bisa sampai kelaut.

    Dilautlah udara (disamping penguapan pada tempat-tempat lain), uap air diudara berkumpul membentuk awan. Bersama angin gumpalan-gumpalan awan tersebut terbawa, dan oleh kelembaban tertentu (misalnya oleh gunung atau hutan) berubah kembali menjadi bintik-bintik hujan.

    Peristiwa perjalanan awan lebih lengkap difirmankan oleh Allah dalam Surah An-Nuur 24 ayat 43 berikut ini :

    “Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatan olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.” (QS. 24:43)

    Ada lagi fakta mengenai lautan untuk diamati, fakta tersebut dapat diambil dari ayat-ayat Qur’an tentang lautan dan fakta tersebut menunjukkan suatu aspek yang khusus. Tiga ayat membicarakan sifat-sifat sungai yang besar jika sungai itu menuang kedalam lautan.

    Suatu fenomena yang sering kita dapatkan adalah bahwa air lautan yang asin, dengan air sungai-sungai besar yang tawar tidak bercampur seketika. Orang mengira bahwa Qur’an membicarakan sungai Euphrat dan Tigris yang setelah bertemu dalam muara, kedua sungai itu membentuk semacam lautan yang panjangnya lebih dari dari 150 Km, dan dinamakan Syath al Arab.

    Didalam teluk pengaruh pasang surutnya air menimbulkan suatu fenomena yang bermanfaat yaitu masuknya air tawar kedalam tanah sehingga menjamin irigasi yang memuaskan. Untuk memahami teks ayat, kita harus ingat bahwa lautan adalah terjemahan kata bahasa Arab ‘Bahr’ yang berarti sekelompok air yang besar, sehingga kata itu dapat dipakai untuk menunjukkan lautan atau sungai yang besar seperti Nil, Tigris dan Euphrat.

    Tiga ayat yang memuat fenomena tersebut adalah sbb :

    “Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (QS. 25:53)

    “Dan tiada sama (antara) dua laut; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit.Dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya, dan pada masing-masingnya kamu lihat kapal-kapal berlayar membelah laut supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan supaya kamu bersyukur.” (QS. 35:12)

    “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.” (QS. 55:19, 20 & 22)

    Selain menunjukkan fakta yang pokok, ayat-ayat tersebut menyebutkan kekayaan-kekayaan yang dikeluarkan dari air tawar dan air asin yaitu ikan-ikan dan hiasan badan : Batu-batu perhiasan dan mutiara. Mengenai fenomena tidak campurnya air sungai dengan air laut dimuara-muara hal tersebut tidak khusus untuk Tigris dan Euphrat yang memang tidak disebutkan namanya dalam ayat walaupun ahli-ahli tafsir mengira bahwa dua sungai besar itulah yang dimaksudkan.

    Sungai-sungai besar yang menuang kelaut seperti Missisipi dan Yang Tse menunjukkan keistimewaan yang sama; campurnya kedua macam air itu tidak terlaksa seketika tetapi memerlukan waktu.

    ***

    Taken From : Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu, Drs. Inu Kencana Syafiie, Gema Insani Press, Jakarta, 1996

    Bibel, Qur’an dan Sains Modern, Dr. Maurice Bucaille, Bulan Bintang 1984

    Dari Sains ke Stand AlQur’an, Dr. Imaduddin Khalil, Arista 1993

    Asal Usul Manusia Menurut Bibel, Al-Qur’an dan Sains Modern, Dr. Maurice Bucaille, Penerbit Mizan 1996

     

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 14 April 2019 Permalink | Balas  

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu (Bagian 6) 

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu (Bagian 6)

    Siklus Air dan Lautan

    Jika pada waktu ini kita membaca ayat-ayat Qur’an yang mengenai air dan kehidupan manusia, ayat demi ayat, semuanya akan nampak kepada kita sebagai ayat-ayat yang menunjukkan hal yang sudah jelas. Sebabnya adalah sederhana; pada jaman kita sekarang ini, kita semua mengetahui siklus air dalam alam, meskipun pengetahuan kita itu tidak tepat keseluruhannya.

    Tetapi jika kita memikirkan konsep-konsep lama yang bermacam-macam mengenai hal ini, kita akan mengetahui bahwa ayat-ayat Qur’an tidak menyebutkan hal-hal yang ada hubungannya dengan konsep mistik yang tersiar dan mempengaruhi pemikiran filsafat secara lebih besar daripada hasil-hasil pengamatan. Jika orang-orang jaman dulu telah dapat memperoleh pengetahuan praktis yang bermanfaat, untuk memperbaiki pengairan air, walaupun pengetahuan itu terbatas.

    Dengan cara pemikiran orang dahulu itu, mudahlah bagi seseorang untuk menggambarkan bahwa air dibawah tanah itu dapat diperoleh karena terjadinya gugusan dalam tanah. Orang menyebutkan konsep Vitruvius Polio Marcus yang pada abad 1 SM mempertahankan ide tersebut di Roma. Dengan begitu, selama beberapa abad, dan juga setelah Qur’an diwahyukan banyak orang yang mengikuti ide yang salah tentang regime air.

    Konsepsi tentang siklus air yang jelas untuk pertama kali diutarakan oleh Bernard Palissy pada tahun 1580. Konsepsi ini mengatakan bahwa air dibawah tanah asalnya dari infiltrasi air hujan dalam tanah. Teori ini kemudian dibenarkan oleh E. Mariotte dan P. Perrault pada abad XVII M.

    Dalam ayat-ayat Qur’an tidak terdapat konsepsi yang salah, malah semakin ilmiah saja.

    “Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfa’atnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rezki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan.” (QS. 50:9-11)

    “Dan kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkan. Lalu dengan air itu, Kami tumbuhkan untuk kamu kebun-kebun kurma dan anggur; di dalam kebun-kebun itu kamu peroleh buah-buahan yang banyak dan sebahagian dari buah-buahan itu kamu makan.” (QS. 23:18-19)

    “Dan Kami telah mengirimkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turnkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (QS. 15:22)

    Ada dua cara untuk menafsirkan ayat yang terakhir ini, angin yang menyuburkan dapat dianggap sebagai penyubur tanam-tanaman dengan jalan membawa Pollen (benih buah dari tumbuh-tumbuhan lain). Tetapi dapat juga ditafsirkan sebagai ekspresi kiasan yang menggambarkan peranan angin yang membawa awan yang tidak mendatangkan hujan atau awan yang membawa hujan. Peranan ini sering disebut dalam ayat, seperti berikut :

    “Dan Allah, Dialah yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan, maka kami halau awan itu ke suatu negeri yang mati lalu kami hidupkan bumi setelah matinya dengan hujan itu. Demikianklah kebangkitan itu.” (QS. 35:9)

    “Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan ke luar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambaNya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira.” (QS. 30:48)

    “Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab angin itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (QS. 7:57)

    “Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih, agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak.” (QS. 25:48-49)

    “Dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkanNya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.” (QS. 45:5)

    “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang.” (QS. 13:17)

    “Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?”. (QS. 67:30)

    “Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diatur-Nya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanaman-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu ia menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. 39:21)

    “Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air.” (QS. 36:34)

    Pentingnya sumber-sumber dan diisinya dengan air hujan yang digiring kearah sumber itu digaris bawahi dengan tiga ayat terakhir. Kita perlu memperhatikan hal ino, untuk mengingat konsepsi yang tersiar pada abad pertengahan seperti konsepsi Aristotelis yang mengatakan bahwa sumber-sumber itu mendapat air dari danau-danau dibawah bumi.

    Dalam artikel ‘Hidrologie’ dalam Encyclopedia Universalis, M.R. Remenieras, Guru Besar pada Ecolenationale du Genie rural, des Eaux et Forets (sekolah nasional untuk pertahanan desa, pertahanan air dan hutan), menerangkan tahap-tahap pokok dari pada hidrologi dan menyebutkan proyek-proyek irigasi kuno, khususnya di Timur Tengah.

    Ia mengatakan bahwa empirisme telah mendahului ide pada waktu itu dan konsepsi-konsepsi yang salah. Kemudian ia meneruskan : Perlu manusia menunggu jaman Renaissance (antara tahun 1400 – 1600) untuk melihat konsep-konsep filsafat mundur dan memberikan tempatnya kepada penyelidikan-penyelidikan fenomena hidrologi yang didasarkan atas pengamatan (observasi).

    Leonardo da vinci (1452-1519) menentang pernyataan Aristoteles. Bernard Palissy dalam bukunya ‘Penyelidikan yang mengagumkan tentang watak air dan air mancur, yang alamiah dan yang buatan), memberikan interprestasi yang benar tentang siklus air dan khususnya pengisian sumber-sumber air daripada air hujan.

    Surah Az-Zumar ayat 21 yang menyebutkan bahwa air hujan itu mengarah kepada sumber-sumber air, bukankah ini tepat sekali seperti apa yang ditulis oleh Palissy tahun 1570.

    Kemudian Al-Qur’an membicarakan butiran-butiran es dalam surah An-Nuur ayat 43:

    “Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatan olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.” (QS. 24:43)

    ***

    Taken From :

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu, Drs. Inu Kencana Syafiie, Gema Insani Press, Jakarta, 1996

    Bibel, Qur’an dan Sains Modern, Dr. Maurice Bucaille, Bulan Bintang 1984

    Dari Sains ke Stand AlQur’an, Dr. Imaduddin Khalil, Arista 1993

    Asal Usul Manusia Menurut Bibel, Al-Qur’an dan Sains Modern, Dr. Maurice Bucaille, Penerbit Mizan 1996

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 13 April 2019 Permalink | Balas  

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu (Bagian 5) 

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu (Bagian 5)

    Bumi

    Berbicara mengenai bumi, maka sama seperti pokok-pokok yang dibicarakan mengenai penciptaan benda-benda lainnya, ayat yang mengenai bumi ini adalah tersebar diseluruh Qur’an. Untuk mengelompokkannya tidaklah mudah.

    Untuk terangnya pembahasan ini, pertama kita dapat memisahkan ayat-ayat yang biasanya membicarakan bermacam-macam persoalan akan tetapi ayat-ayat tersebut mempunyai ciri umum, yaitu mengajak manusia untuk memikirkan nikmat-nikmat Tuhan dengan memakai contoh-contoh.

    Ada lagi kelompok ayat-ayat yang dapat dipisahkan, yaitu ayat-ayat yang membicarakan soal-soal khusus seperti :

    • Siklus (peredaran) air dan lautan * Dataran Bumi * Atmosfir bumi
    1. Ayat-ayat yang bersifat umum ——————————–

    Ayat-ayat yang mengajak manusia untuk memikirkan nikmat-nikmat Tuhan kepada ciptaan-Nya, mengandung disana sini pernyataan-pernyataan yang baik sekali untuk dihadapkan dengan Sains Modern.

    Dari segi pandangan ini ayat-ayat tersebut malah lebih penting karena tidak menyebutkan kepercayaan-kepercayaan yang bermacam-macam mengenai fenomena alamiah, yaitu kepercayaan yang digemari oleh manusia pada jaman turunnya wahyu yang sekarang ini terbukti salah oleh Ilmu Pengetahuan dan Tekonologi.

    Disatu pihak, ayat-ayat itu memajukan ide sederhana yang dapat dimengerti dengan mudah oleh mereka yang diajak bicara oleh Qur’an berhubung dengan kedudukan geografis mereka, yaitu penduduk Mekkah dan Madinah, serta orang-orang Badui di Jazirah Arabia.

    Dilain pihak ayat-ayat itu menyajikan pemikiran-pemikiran umum yang dapat dimanfaatkan masyarakat luas yang terpelajar disegala tempat dan disegala waktu. Hal ini salah satu hal yang menunjukkan bahwa Qur’an itu suatu buku universil (untuk segala manusia sepanjang jaman).

    Oleh karena tak ada pengelompokan ayat-ayat tersebut dalam Al-Qur’an, maka ayat-ayat itu kita sajikan menurut urut-urutan Surah.

    “Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. 2:22)

    “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. 2:164)

    “Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. 13:3)

    “Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezki kepadanya. Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu.” (QS. 15:19-21)

    “Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam.

    Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.” (QS. 20:53-54)

    “Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung (mengkokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada Tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.” (QS. 27:61)

    Disini terdapat isyarat kepada stabilitas umum dari pada muka bumi. Kita sudah dapat mengetahui bahwa pada periode-periode permulaan dari pada bumi, maka bumi sebelum dingin tidak stabil.

    Stabilitas muka bumi tidak mutlak, karena terdapat zone (daerah) dimana gempa bumi sering terjadi. Adapun pemisah antara dua lautan, hal ini merupakan gambaran (image) tentang tidak tercampurnya air sungai dan air laut pada muara-muara yang besar seperti yang akan kita lihat nanti.

    (Maha Suci Allah, jauh sebelum manusia sadar bahwa diantara dua lautan itu ada suatu pemisah, Nabi Muhammad Saw yang bahkan tidak pernah berlayar sama sekali berkat petunjuk Allah, dapat menjabarkan sedemikian baiknya mengenai masalah ini).

    Ada lagi ayat yang menjelaskan hal serupa :

    “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.” (QS. 55:19-20)

    Muhammad tidak pernah sekolah, meskipun dia orang jenius tetapi apabila tidak pernah mengadakan penelitian atau pengamatan, dia pasti mengetahui apa-apa, kecuali mendapat petunjuk dari Allah Swt.

    Air laut (Asin) bertemu dengan air tawar, namun keduanya tidak bisa bercampur aduk menjadi satu macam air. Kebenaran ayat ini terbukti dengan menggunakan ilmu pengetahuan modern. Bisakah Muhammad mengetahui hal tersebut tanpa petunjuk dari Allah yang Maha Menciptakan ?

    Mari kita teruskan pembahasan ilmiah kita terhadap ayat-ayat Qur’an ini…

    “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezkinya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. 67:15)

    “Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.” (QS. 79:30-33)

    Dalam beberapa ayat diatas, pentingnya air serta akibat praktis dari adanya air terhadap tanah dan kesuburan tanah, digaris bawahi. Dalam negeri-negeri bersahara, air adalah unsur nomor satu yang mempengaruhi kehidupan manusia.

    Tetapi disebutkannya hal ini dalam Qur’an melampau keadaan geografis yang khusus. Keadaan planet yang kaya akan air, keadaan yang unik dalam sistem matahari seperti yang dibuktikan oleh Sains Modern, disini ditonjolkan. Tanpa air, bumi akan menjadi planet mati seperti bulan. Al-Qur’an memberi kepada air tempat yang pertama dalam menyebutkan fenomena alamiah daripada bumi. Siklus air telah mendapatkan gambaran yang sangat tepat didalam kitab suci ini.

    ***

    Taken From :

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu, Drs. Inu Kencana Syafiie, Gema Insani Press, Jakarta, 1996

    Bibel, Qur’an dan Sains Modern, Dr. Maurice Bucaille, Bulan Bintang 1984

    Dari Sains ke Stand AlQur’an, Dr. Imaduddin Khalil, Arista 1993

    Asal Usul Manusia Menurut Bibel, Al-Qur’an dan Sains Modern, Dr. Maurice Bucaille, Penerbit Mizan 1996

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 12 April 2019 Permalink | Balas  

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu (Bagian 4) 

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu (Bagian 4)

    Ilmu Falak

    Sesuatu ayat Al-Qur’an diturunkan selain untuk meng-Esakan Allah, juga untuk memberikan peraturan (syari’at) dan untuk lain-lain, diantaranya juga untuk memperkenalkan isi alam raya ini kepada manusia, jauh sebelum para ilmuwan menemukan rahasianya.

    Hal ini sesuai dengan fungsi penurunan Al-Qur’an & diutusnya nabi Muhammad Saw sendiri yang membawa rahmat kepada seluruh alam :

    “Dan kamu (wahai Muhammad) sekali-kali tidak meminta upah kepada mereka (terhadap seruanmu ini), itu tidak lain hanyalah pengajaran bagi semesta alam.” (QS. 12:104)

    “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. 21:107)

    “Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam.” (QS. 38:87)

    Dr. Maurice Bucaille, dalam bukunya Bibel, Qur’an dan Sains Modern menyayangkan penterjemahan Al-Qur’an yang kurang memperhatikan segi ilmiahnya. Penterjemahan Al-Qur’an selama ini biasanya hanya cenderung memperhatikan sisi sastranya saja.

    Sebagai contoh ayat berikut ini :

    “Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan *menutupkan* siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. 39:5)

    Kata *menutupkan* dalam surah Az-Zumar diatas, berasal dari kata ‘Kawwiru’. Oleh para penterjemah Al-Qur’an di Indonesia kata ‘Kawwiru’ ini diterjemahkan dengan berbagai arti yang beraneka ragam.

    Berikut menurut masing-masing penterjemah yang berusaha mengartikan kata ‘Kawwiru’ :

    Menurut Bachtiar Surin dalam ‘Terjemahan Al-Qur’an’ mengartikan ‘Kawwiru’ dengan kata ‘Menyungkupkan’.

    Departemen Agama RI didalam Al-Qur’an terjemahannya mengartikan ‘Kawwiru’ dengan kata ‘Menutupkan’.

    Menurut H. Oemar Bakry dalam ‘Tafsir Rahmat’ mengartikan ‘Kawwiru’ dengan kata ‘Mengganti’.

    Menurut A. Hassan dalam ‘Tafsir Al Furqan’ mengartikan kata ‘Kawwiru’ dengan kata ‘Putarkan’.

    Menurut H.B. Jassin dalam ‘Bacaan Mulia’ mengartikan ‘Kawwiru’ sebagai ‘Mengalihkan’.

    Menurut K.H. Ramli dalam ‘Al Kitabul Mubin Tafsir AlQur’an Bahasa Sunda’ mengartikan ‘Kawwiru’ dengan ‘Muterkeun’ atau ‘Ngagulungkeun’ (Dalam bahasa Indonesia berarti memutarkan atau menggulungkan).

    Menurut Prof. Dr. Hamka dalam ‘Tafsir Al Azhar’ mengartikan kata ‘Kawwiru’ dengan kata ‘Menutupkan’ (sama seperti Depag).

    Menurut H. Fachruddin HS dan H. Zainuddin Hamidy dalam ‘Al-Quran dan Terjemahan Bahasa Indonesia’ mengartikan kata ‘Kawwiru’ dengan kata ‘Dijadikan-Nya’.

    Menurut hal-hal tersebut diatas menunjukkan keutamaan Al-Qur’an, yaitu andaikata dalam setiap terjemahan Al-Qur’an tidak ditemukan lagi teks aslinya dalam bahasa Arab, penterjemahan akan semakin menjauh. Tetapi Al-Qur’an walaupun terjemahan disesuaikan dengan cerita, situasi dan kondisi cerita secara fleksibel, orang-orang masih dapat memeriksa masing-masing kata tersebut dengan melihat aslinya, Kitab Suci Al-Qur’an dalam bahasa Arab tersebut, dan menguraikannya secara harfiah.

    Bucaille menganggap bahwa hanya R. Blachere yang paling tepat menterjemahkan kata ‘Kawwiru’ kedalam bahasa Prancis, yaitu kata ‘Enrouler’ (Menggulung). Memang arti lain daripada kata ini ada, namun arti yang sebenarnya adalah serban bulat yang biasanya dipakai oleh orang-orang Arab dengan menggulungkan kain tersebut berputar-putar kekepala mereka.

    Jadi sebagaimana kita ketahui bahwa ‘Malam’ disebabkan oleh keadaan bumi membelakangi matahari sehingga gelap, sedangkan ‘siang’ disebabkan oleh keadaan bumi menghadapkan tanah tempat kita berpijak kepada matahari sehingga terang benderang.

    Pergantian2 siang dan malam berputar-putar ini diibaratkan serban orang Arab yang berputar-putar dikepala, ini tampak terlihat bila kita berada pada pesawat ruang angkasa yang sedang meninggalkan ataupun sedang kembali kebumi.

    Dengan begitu, melalui potongan ayat 5 Surah Az-Zumar yang berbunyi :

    ‘…. Dia menggulungkan malam atas siang dan menggulungkan siang atas malam….”

    Seakan-akan Allah Swt menjelaskan kepada umat manusia bahwa : 1. Bumi berotasi (berputar) pada sumbunya 2. Bumi bulat adanya

    Sebab apabila saja terjadi misalnya kejadian bumi tidak bulat ataupun bumi tidak berotasi pada sumbunya, maka salah satu hal tersebut terjadi, maka sebagai tempat dipermukaan bumi yang berada di Khatulistiwa sekalipun akan mengalami keadaan malam berkepanjangan, sebaliknya lokasi yang tegak lurus dengan tempat tersebut akan mengalami keadaan siang berkepanjangan.

    (Pada buku aslinya ada gambar 5 yang memperjelas terjadinya siang dan malam pada bumi, yang menjelaskan peristiwa Kawwiru itu.)

    Lebih jauh mengenai rotasi bumi pada sumbunya ini dijelaskan dalam Surah An-Naml 88:

    “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan….” (QS. 27:88)

    Terjadinya malam berkepanjangan atau siang berkepanjangan seperti yang telah kita uraikan, adalah karena apabila terjadi tidak adanya rotasi salah satu planet pada sumbunya, sehingga dapat terus menerus melihat matahari, atau terus menerus membelakangi matahari, atau juga terus menerus menyamping terhadap matahari, tergantung posisinya dalam membuat gerakan melingkar (edar) pada matahari.

    Hal ini tentu membuat sisi yang menghadap matahari terus menerus akan kering kerontang dengan suhu asngat tinggi, sebaliknya sisi yang membelakangi matahari terus menerus akan dingin membeku dengan suhu rendah (Menurut penelitian planet Venus mengalami keadaan seperti ini).

    Semua peristiwa diatas dengan terperinci sudah diceritakan dalam Al-Qur’an surah 28 ayat 71 sampai dengan 73 sbb :

    (71) Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu maka apakah kamu tidak mendengar?”

    (72) Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya, Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”

    (73) Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.

    (QS. Al-Qashash 71-73)

    ***

    Taken From : Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu, Drs. Inu Kencana Syafiie, Gema Insani Press, Jakarta, 1996

     
  • erva kurniawan 1:23 am on 11 April 2019 Permalink | Balas  

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu (Bagian 3) 

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu (Bagian 3)

    Al-Qur’an sebagai dasar Ilmu

    A.. Al-Qur’an dengan ilmu Eksakta

    1.. Ilmu kesehatan Anak.

    Dalam pidato pengukuhan gelar Guru Besar mata pelajaran ilmu kesehatan dan anak pada fakultas Kedokteran Universitas Airlangga di Surabaya, Prof. dr. Haroen Noerasid menyampaikan bahwa dalam keadaan diare sekalipun seorang bayi tetap boleh minum air susu ibu (ASI). Karena air susu ibu merupakan susu alamiah yang paling baik terutama untuk bayi yang baru lahir, lebih-lebih bila bayi tersebut prematur.

    Dengan menyusu pada ibunya, bayi yang baru lahir mendapat air susu ibu yang mengandung colostrum, yang mengakibatkan bayi tersebut jarang terserang infeksi, terutama infeksi pada usus. Pengamatan membuktikan bahwa air susu ibu yang diterima bayi akan melindungi bayi tersebut dari infeksi usus dan anggota badan lainnya.

    Selanjutnya dr. Haroen Noerasid yang mengepalai Laboratorium/UPF Ilmu Kesehatan anak dan kepala seksi gastroenterologi anak RSUD dr. Soetomo Surabaya tersebut menjelaskan bahwa air susu ibu tidak perlu diragukan baik harganya maupun faedahnya.

    Air susu ibu adalah susu yang paling gampang diperoleh, kapan saja dan dimana saja. Lebih instant dari susu yang manapun juga serta dapat diberikan secara hangat dengan suhu yang optimal dan bebas kontaminasi.

    Statistik menunjukkan bahwa morbiditas (angka keadaan sakit pada suatu tempat) karena infeksi pada saluran pernafasan dan pencernaan bayi yang diberi susu ibu, lebih jarang dan sedikit terjadi dibandingkan dengan bayi yang diberi susu formula, oleh karena sering tercemar atau tidak memenuhi kebutuhan.

    Di Philipina, sejak digalakkannya promosi air susu ibu, yang dilaporkan CLAVANO pada tahun 1981 dengan rawat gawat dan larangan kampanye susu formula, dirumah-rumah sakit dijumpai penurunan yang dramatis kejadian infeksi (terutama diare) dari 15% menjadi 1.5%.

    Dari segi lain, pemberian air susu ibu juga menguntungkan bagi ibu-ibu, oleh karena berfungsi untuk merenggangkan kelahiran anak. (Prof. Dr. Haroen Noerasid. Penanggulangan Diare pada anak dalam rangka pelaksanaan sistem kesehatan nasional, Unair Surabaya 1986 hal. 11 s/d 12).

    Segala apa yang diuraikan oleh dr. Haroen tersebut diatas bersesuaian dengan pernyataan Al-Qur’an yang telah diturunkan empat belas abad yang lalu. Kendati Nabi Muhammad Saw tidak pernah kuliah pada satu fakultas kedokteranpun atau melakukan penelitian di laboratorium kesehatan, bahkan sebagaimana diketahui beliau dikenal sebagai seorang yang ummi sama sekali.

    Selain dari itu, Al-Qur’an juga menentukan lamanya seorang bayi menyusu dengan air susu ibu, dan kemungkinan bagi bayi untuk disusukan kepada ibu-ibu lain sebagaimana dinyatakan dalam ayat berikut:

    “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan pernyusuan.

    Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf.

    Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.

    Janganlah seorang itu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya.

    Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu bila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertaqwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. 2:233)

    Agama Islam memberikan penghormatan besar kepada para ibu-ibu susuan ini, bahkan bila telah sama-sama dewasa, anak kandung dari ibu yang pernah menyusukan seseorang, maka tidak boleh menikah dengan sianak yang pernah disusukan tersebut. Sejarah Islam mencatat bagaimana Nabi Muhammad Saw menghargai saudara-saudaranya sesusuan, dan menganggap mereka sebagai saudara kandung (Hamzah, Singa Gurun Pasir adalah salah satunya).

    Hubungan2 Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan ini yang menjadikan salah satu bukti bahwa Al-Qur’an bukan berasal dari karangan Nabi Muhammad Saw tetapi berasal dari Allah Swt, Tuhan semesta alam sebagai sumber segala ilmu. Lebih jauh hak tersebut memperbanyak pemikir Islam semakin yakin dan semakin mempertebal keimanan dan keislaman.

    Ayat-ayat lain selain ayat 233 Surah Al-Baqarah tersebut tentang ASI dan penyapihan adalah sbb :

    “dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa:”Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?” (QS. 28:12)

    “…kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya; dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu), dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.” (QS. 65:6)

    “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan…” (QS. 46:15)

    “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibubapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. 31:14)

    ***

    Taken From : Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu, Drs. Inu Kencana Syafiie, Gema Insani Press, Jakarta, 1996

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 10 April 2019 Permalink | Balas  

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu (Bagian 2) 

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu (Bagian 2)

    Al-Qur’an dan penelitian Ilmiah

    Penelitian dapat dilakukan dalam segala disiplin ilmu, jadi tempat penelitian/laboratorium bukan hanya milik ilmu kedokteran yang meneliti dan mengamati kegiatan bakteri, dan bukan juga hanya milik ilmu kimia yang meneliti dan mengamati reaksi zat-zat yang dicampur di tabung reaksi. Tetapi juga milik ilmu-ilmu lain, sehingga dikenal sekarang adanya laboratorium bahasa, laboratorium pemerintahan, laboratorium politik dsb.

    Istilah yang menyebutkan ‘Lain teori lain pula prakteknya’ tidak tepat lagi karena teori dan pendapat ilmiah dari seorang ahli itu muncul setelah ybs melakukan penelitian, dengan demikian selalu didukung oleh kenyataan empiris. Meskipun kadang-kadang teori itu spekulatif namun demikian teori itu dekat dengan kenyataan.

    Tujuan teori yaitu secara umum mempersoalkan pengetahuan dan menjelaskan hubungan antara gejala-gejala sosial dengan observasi yang dilakukan. Teori juga bertujuan untuk meramalkan fungsi dari pada gejala-gejala sosial yang diamati itu berdasarkan pengetahuan-pengetahuan yang secara umum telah dipersoalkan oleh teori.

    Dalam berbagai model penelitian untuk menemukan kebenaran ilmiah, ada yang memakai hipotesa, yaitu untuk penelitian yang uji hipotesa atau disebut juga penelitian analisis verifikatif, namun ada pula yang non hipotesis, seperti penelitian deskriptif, yang terdiri dari deskriptif developmental dan deskriptif eksploratif dan lain-lain.

    Hipotesa harus dibuktikan, tidak dapat menjadi praduga dan persangkaan belaka. Bila tidak dibuktikan dan diuji, sipeneliti sudah barang tentu tidak mengetahui sejauh mana kebenaran ilmiahnya.

    Hal ini bersesuaian dengan apa yang di Firmankan Allah dalam Al-Qur’an sbb:

    “Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.” (QS. 53:28)

    “…dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS. 45:24)

    Kata “persangkaan” dan “Duga-duga” dalam ayat diatas berarti hipotesa yang harus diuji dan dibuktikan kebenaran ilmiahnya.

    Pada gambar yang telah saya cantumkan, menunjukkan hubungan antara variabel dengan hipotesa. Dari dua atau lebih variabel dapat dibuat hipotesa untuk penelitian analisis verifikatip.

    Penelitian analisis verifikatip ditandai dengan penempatan kata “Pengaruh” atau “Peranan” didepan variabel bebas, selanjutnya memerlukan perhitungan statistik untuk menentukan ramalan (prediction) perubahan variabel tergantung, atas tindakan yang sudah dilakukan variabel bebas. Sehingga antara variabel dengan variabel tergantung diletakkan kata “Terhadap” dan “Dalam” sebagai penghubung, misalnya :

    1.. Pengaruh Promosi ASI terhadap berkurangnya penderita diare pada anak.

    2.. Peranan Administrasi Pemerintahan Desa dalam Pembangunan Desa.

    Lebih rendah gradiasinya dari pemakaian kata “Pengaruh” dan “Peranan” dipakai kata “Hubungan” dengan meletakkan kata “Dengan” sebagai penghubung, misalnya :

    1.. Hubungan disiplin Islam secara mendasar dengan berkurangnya tindak kejahatan.

    2.. Hubungan pengarsipan dengan pengambilan keputusan.

    Variabel dibagi menjadi sub-sub variabel, untuk masing-masing dapat diuji sebagai hipotesa minor.

    Penelitian seperti apa yang diuraikan diatas, baik analisis verifikatif maupun deskriptif (developmental atau eksploratif) dan lain-lain, sangat diperlukan oleh setiap cendikiawan dan intelektual Muslim, sebagai realisasi Firman Allah sbb :

    “Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfa’at tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”.” (QS. 10:101)

    Kata “Perhatikanlah” dapat ditafsirkan sebagai “Lakukanlah Penelitian” karena merupakan perintah untuk para ilmuwan untuk lebih mendalami dan melakukan penelitian dibidang disiplin ilmunya masing-masing. Dengan demikian ayat tersebut dapat lebih jauh ditafsirkan sbb :

    Lakukanlah penelitian dilaboratorium2 berbagai disiplin ilmu pengetahuan, terhadap apa yang ada dan terjadi dari alam raya sampai pada dasar bumi. Jika tidak, maka tidak akan bermanfaat bagi manusia tanda-tanda kebesaran Allah Rabbul ‘Alamin, dan Rasul-rasulNya yang memberi peringatan, yaitu bagi orang-orang yang tidak mempergunakan akal pikirannya dan memiliki keyakinan akan kebesaran agama Islam.

    Nabi Muhammad Saw sendiri juga memerintahkan agar umat Islam melakukan penelitian dan beliau juga menyebut-nyebut tentang ilmu pengetahuan sebagaimana diriwayatkan hadits-hadist berikut ini :

    “Mencari ilmu pengetahuan itu wajib bagi setiap Muslimin dan Muslimat”

    “Tuntutlah ilmu pengetahuan sejak dari buaian sampai keliang lahad.”

    “Bahwasanya ilmu itu menambah mulia bagi orang yang sudah mulia dan meninggikan seorang budak sampai ketingkat raja-raja.”

    “Apabila wafat seorang anak Adam, putuslah amal perbuatannya, kecuali tiga perkara, yaitu Ilmu yang membawa manfaat, sedekah Jariyah dan doa anak yang saleh.”

    “Tidak wajar bagi orang yang bodoh berdiri atas kebodohannya, dan tidak wajar bagi orang yang berilmu berdiam diri atas ilmunya.”

    “Yang binasa dari umatku ialah, orang berilmu yang zalim dan orang beribadah yang bodoh. Kejahatan yang paling jahat ialah kejahatan orang yang berilmu dan kebaikan yang paling baik ialah kebaikan orang yang berilmu.”

    “Jadilah kamu orang yang mengajar dan belajar atau pendengar atau pencinta ilmu, dan janganlah engkau jadi orang yang kelima (tidak mengajar, tidak belajar, tidak suka mendengar pelajaran dan tidak mencintai ilmu), nanti kamu akan binasa”

    “Barang siapa menghendaki dunia, maka dia harus mencapainya dengan ilmu. Barang siapa menghendaki akhirat, maka dia harus mencapainya dengan ilmu. Dan barang siapa menghendaki keduanya, maka dia harus mencapainya dengan ilmu.”

    “Ma’rifat adalah modalku, akal pikiran adalah sumber agamaku, cinta adalah dasar hidupku, rindu adalah kendaraanku, berdzikir adalah kawan dekatku, keteguhan adalah perbendaharaanku, duka adalah kawanku, ilmu adalah senjataku, ketabahan adalah pakaianku, kerelaan adalah sasaranku, faqr adalah kebanggaanku, menahan diri adalah pekerjaanku, keyakinan adalah makananku, kejujuran adalah perantaraku, ketaatan adalah ukuranku, berjihad adalah perangaiku, hiburanku adalah dalam bersembahyang.”

    ***

    Taken From : Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu, Drs. Inu Kencana Syafiie, Gema Insani Press, Jakarta, 1996

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 9 April 2019 Permalink | Balas  

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu (Bagian 1) 

    Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu (Bagian 1)

    1. Pengertian Al-Qur’an

    Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan Allah Swt, Tuhan alam semesta, kepada Rasul dan NabiNya yang terakhir, Muhammad Saw melalui malaikat Jibril as untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia sampai akhir jaman.

    Al-Qur’an berarti bacaan, nama-nama lain dari kitab suci ini adalah Al-Furqaan (Pembeda), Adz Dzikir (Pengingat) dan lain-lain, tetapi yang paling terkenal adalah Al-Qur’an.

    Sebagai kitab suci terakhir, Al-Qur’an bagaikan miniatur alam raya yang memuat segala disiplin ilmu, Al-Qur’an merupakan karya Allah Swt yang Agung dan Bacaan mulia serta dapat dituntut kebenarannya oleh siapa saja, sekalipun akan menghadapai tantangan kemajuan ilmu pengetahuan yang semakin canggih (sophisticated).

    Kata pertama dalam wahyu pertama (The First Revelation) bahkan menyuruh manusia membaca dan menalari ilmu pengetahuan, yaitu Iqra’.

    Adalah merupakan hal yang sangat mengagumkan bagi para sarjana dan ilmuwan yang bertahun-tahun melaksanakan penelitian di laboratorium mereka, menemukan keserasian ilmu pengetahuan hasil penyelidikan mereka dengan pernyataan-pernyataan Al-Qur’an dalam ayat-ayatnya.

    Setiap ilmuwan yang melakukan penemuan pembuktian ilmiah tentang hubungan Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan akan menyuburkan perasaan yang melahirkan keimanan kepada Allah Swt, dorongan untuk tunduk dan patuh kepada Kehendak-Nya dan pengakuan terhadap Kemaha Kuasaan-Nya.

    Tidak pada tempatnya lagi orang-orang memisahkan ilmu-ilmu keduniawian yang dianggap sekuler, seperti ilmu-ilmu sosial dengan segala cabangnya, dengan ilmu-ilmu Al-Qur’an. Para ilmuwan dapat sekuler, tetapi ilmu tidak sekuler.

    Bila penyelidikan tentang alam raya ini adalah ilmiah, mana mungkin Pencipta Alam Raya ini tidak ilmiah. Bila percampuran dan persenyawaan unsur-unsur adalah ilmiah, mana mungkin Pencipta setiap unsur itu tidak ilmiah. Begitu pula pembicaraan hal-hal kenegaraan adalah ilmiah, mana mungkin Pencipta perbedaan watak individu yang menjadikan beraneka ragam ideologi tidak ilmiah.

    Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, sehingga bahasa Arab menjadi bahasa kesatuan umat Islam sedunia. Peribadatan dilakukan dalam bahasa Arab sehingga menimbulkan persatuan yang dapat dilihat diwaktu ‘shalat-shalat massal’ dan ibadah haji. Selain daripada itu, bahasa Arab tidak berubah, sangat mudah diketahui bila Al-Qur’an hendak ditambah atau dikurangi, banyak orang yang buta huruf terhadap bahasa nasionalnya, tetapi mahir membaca Al-Qur’an bahkan sanggup menghafal Al-Qur’an keseluruhan.

    Al-Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat (QS. 68:52), sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah peringatan bagi seluruh umat (QS. 38:87), petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (QS. 2:2), korektor dari semua kitab sebelumnya yang telah terdistorsi (QS. 5:48).

    Al-Qur’an dalam bahasa Arab mempunyai gaya tarik dan keindahan yang deduktif. Didapatkan dalam gaya yang singkat dan cemerlang, bertenaga ekspresif, berenergi eksplosif dan bermakna kata demi kata. (Dr. John Maish MA, The Wisdom Of The Koran. Oxford 1937)

    1. Pengertian Ilmu

    Bila seseorang memiliki pengertian (understanding) atau sikap (attitude) tertentu, yang diperolehnya melalui pendidikan dan pengalaman sendiri, maka oleh banyak orang dianggap yang bersangkutan tahu atau berpengetahuan.

    Begitu juga bila seseorang memiliki ketrampilan atau ketangkasan (aptitude) yang diperolehnya melalui latihan dan praktek, maka kemampuan tersebut disebut kebiasaan atau keahlian.

    Namun keahlian atau kebiasaan ini, sekalipun karena keterbiasaan melakukan sesuatu, juga karena yang bersangkutan sebelumnya tahu itu adalah tahu mengerjakan (know to do), tahu bagaimana (know how) dan tahu mengapa (know why) sesuatu itu.

    Jadi sekalipun menurut Peter Drucker (The Effective Executive), kebiasaan yang berurat berakar yang tanpa dipikirkan (in thinking habit) telah menjadi kondisi tak sadar (reflex condition), tetap sebelumnya harus merupakan pengetahuan yang dipelajari dan dibiasakan.

    Tetapi E.J. Gladden dalam bukunya The Essentials of Public Administration menganggap ilmu sama dengan ketrampilan, hanya ketrampilan diperoleh melalui latihan dan belajar.

    Sekarang sebenarnya dimana letaknya ilmu ? Ilmu adalah bagian dari pengetahuan, sebaliknya, setiap pengetahuan belum tentu ilmu. Untuk itu ada syarat-syarat yang membedakan ilmu (Science) dengan pengetahuan (knowledge), yaitu sbb :

    Menurut Prof. Dr. Prajudi Atmosudirdjo, Administrasi dan Management Umum 1982, Ilmu harus ada obyeknya, terminologinya, metodologinya, filosofinya dan teorinya yang khas.

    Menurut Prof. Dr. Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial 1985, Ilmu juga harus memiliki obyek, metode, sistimatika dan mesti bersifat universal.

    Menurut Prof. Dr. Sondang Siagian, Filsafat Administrasi 1985 :

    Ilmu pengetahuan dapat didefenisikan sebagai suatu obyek ilmiah yang memiliki sekelompok prinsip, dalil, rumus yang melalui percobaan yang sistimatis dilakukan berulang kali telah teruji kebenarannya, prinsip-prinsip, dalil-dalil dan rumus-rumus mana dapat diajarkan dan dipelajari.

    Menurut Prof. Drs. Sutrisno Hadi, Metodologi Reserach 1 1969 :

    Ilmu pengetahuan sebenarnya tidak lain adalah kumpulan dari pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang-orang yang dipadukan secara harmonik dalam suatu bangunan yang teratur.

    Dari pendapat2 diatas terlihat bahwa ilmu pengetahuan itu kongkrit sehingga dapat diamati, dipelajari dan diajarkan secara teratur, teruji, bersifat khas atau khusus, dalam arti mempunyai metodologi, obyek, sistimatika dan teori sendiri.

    Disamping itu dalam pengajian ilmu-ilmu agama Islam, sementara ini meliputi antara lain yaitu berbagai ilmu Nahwu (seperti persoalan Fi’il dan Ijim), berbagai ilmu Tafsir (seperti tafsir Hadits dan Al-Qur’an dengan persoalan Nasikh, Mansukh, Mutasyabih, Tanzil dan Ta’wil), berbagai ilmu Tajwid (pronunciation), Qira’ah dan Balaghah (seperti Bayan, Ma’ani dan Badii), berbagai ilmu Fiqih dan Ushul Fiqih, berbagai ilmu Hadits (seperti kandungan dan perawi Hadits), berbagai ilmu tasawuf (seperti pengetahuan tentang Sufi, Tarekat, Mistisme dalam Islam, Filsafat Islam), berbagai ilmu Qalam (bentuk huruf Al-Qur’an), berbagai ilmu Arudh (poets) atau syair-syair Al-Qur’an dan berbagai ilmu Sharf (grammar, kata-kata dan morfologinya).

    Pembagian fakultas dan jurusan yang ada pada perguruan tinggi Islam seperti IAIN, kita temui Fakultas Syariah (meliputi Tafsir baik Al-Qur’an sendiri maupun Al-Hadits, Perbandingan Mahzab, Bahasa Arab), Tarbiyah (meliputi Pendidikan Agama Islam, Bahasa Arab dan lain-lain), Ushuluddin meliputi Perbandingan Agama (muqdranatul addien), bahasa Arab dan lain-lain, Fakultas Adab dan Fakultas Da’wah.

    Hal ini adalah karena pengetahuan keIslaman itu sendiri digolongkan atas Ibadah (yaitu tata cara peribadatan kepada Allah, dalam arti hubungan manusia dengan Allah atau Hablum Minallah, Muamalah (tata cara pergaulan sesama manusia, dalam arti hubungan antar manusia atau Hablum Minannas), persoalan Munakahaat dan persoalan Jinayaat.

    Dalam Al-Qur’an ada lebih dari 854 ayat-ayat yang menanyakan mengapa manusia tidak mempergunakan akal(afala ta’kilun), yang menyuruh manusia bertafakur/memikirkan (tafakurun) terhadap Al-Qur’an dan alam semesta serta menyuruh manusia mencari ilmu pengetahuan.

    Jadi kata yang identik dengan akal dalam Al-Qur’an tersebut 49 kali seperti kala Yatadabbarun dan Yatazakkarun, kata yang menganjurkan manusia menjadi ahli pikir, para sarjana, para ilmuwan dan para intelektual Islam (ulul albab) dalam Al-Qur’an disebut 16 kali, sehingga jumlah keseluruhan diatas adalah lebih kurang 854 kali.

    Beberapa diantaranya adalah sbb :

    “…Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS. 16:43)

    “Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al-Qu’ran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami..” (QS. 7:52)

    “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang yang berilmu.” (QS. 29:43)

    “Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. 58:11)

    “Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan.” (QS. 16:44)

    “Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (memikirkannya).” (QS. 16:12)

    “Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui ?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. 39:9)

    “…Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata:”Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (QS. 3:7)

    “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. 39:18)

    “…Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS. 2:197)

    “…Dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (QS. 59:21)

    ***

    Taken From : Al-Qur’an Sumber Segala Disiplin Ilmu, Drs. Inu Kencana Syafiie, Gema Insani Press, Jakarta, 1996

     
  • erva kurniawan 2:59 am on 8 April 2019 Permalink | Balas  

    Jumatan 

    Jumatan

    “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada yaumil jumu’ati, maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [Q.S. 62:9]

    Kata yaumil jumu’at secara harfiah berarti “hari berkumpul” atau “hari keramaian”. Secara lebih gamblang yaumil jumu’at adalah hari disaat orang-orang mengadakan keramaian baik untuk jual-beli maupun hiburan. Pada masa sekarang hari yang dimaksudkan itu dapat berwujud hari pasar; hari ketika ada pertunjukan; hari ketika ada pertandingan olahraga; dan semacamnya di mana pada saat-saat itu terdapat satu atau dua waktu shalat yang wajib dilaksanakan.

    Secara umum nama-nama hari dalam bahasa Arab adalah mengikuti urutan angka sebagaimana berikut:

    1 = ahad = minggu

    2 = isnaini = senin

    3 = thalasa = selasa

    4 = arba’a = rabu

    5 = khamis = kamis

    6 = sittah = jumat

    7 = saba’ah = sabtu

    Namun hari ke-enam tidak disebut dengan `sittah’ melainkan `jumuah’. Hemat penulis, digunakannya kata jum’at untuk menamakan hari ke-enam adalah karena hari tersebut disepakati sebagai hari pasar / hari pekan bagi masyarakat Arab zaman dahulu. Kini, hari sesudah Kamis lazim disebut dengan hari Jum’at.

    Tidak masalah apakah kita akan mengartikan yaumil jumu’ah sebagai hari keramaian atau mengartikannya sebagai hari sesudah Kamis. Yang pasti, ayat tersebut di atas sama sekali bukan dasar pembenar bagi pelaksanaan shalat Jum’at sebagaimana yang sudah menjadi tradisi selama ini.

    Mengapa demikian, karena shalat adalah kewajiban yang sudah ditetapkan Allah waktu-waktunya. Di dalam Al-Qur’an Allah hanya menetapkan 3 waktu shalat yaitu pada dua pinggir hari dan pada awal malam. Shalat pada pinggir hari pertama (terbit matahari) dinamakan shalat Fajar, shalat pada pinggir hari yang ke dua (terbenam matahari) dinamakan shalat Wusta, dan shalat pada awal malam dinamakan shalat Isya’.

    “Dan lakukanlah shalat pada dua tepi hari, dan pada awal malam.” [Q.S. 11:114]

    Waktu pertengahan hari (dzuhur) yang merupakan waktu bagi pelaksanaan tradisi jumatan sama sekali tidak pernah ditetapkan Allah sebagai waktu shalat.

    Mungkin menjadi pertanyaan “Kalaulah tidak ada perkara khusus semacam tradisi shalat jumat yang selama ini dilakukan, untuk apa Allah memerintahkan melaksanakan shalat pada hari Jum’at. Tokh setiap hari pun kita memang wajib melaksanakan shalat?” Dari pola sejenis yang terdapat di dalam Al-Qur’an disimpulkan bahwa ketentuan shalat Jumat sifatnya sebagai penekanan karena pada hari ketika ada pertunjukan, ada pasar malam, ada resepsi, atau ada pertandingan, godaan untuk melalaikan shalat lebih kuat dibandingkan hari-hari biasa.

    Contoh yang sama tentang perintah Allah yang diberi penekanan dapat kita temukan pada ayat berikut:

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengejek kaum (yang lain), boleh jadi mereka (yang diejek) lebih baik dari mereka (yang mengejek). Dan jangan pula wanita-wanita (mengejek) wanita- wanita lain, boleh jadi wanita (yang diejek) lebih baik dari wanita (yang mengejek)…” [Q.S. 49:11]

    Pada kalimat pertama Allah melarang suatu kaum (golongan) mengejek kaum (golongan) lain, pada kalimat berikutnya Allah melarang para wanita mengejek para wanita lain. Sebenarnya dari kalimat pertama pun kita mafhum bahwa larangan mengejek ini mencakup semua orang beriman, termasuk kaum wanita. Namun, Allah tetap memberikan penekanan khusus kepada para wanita di dalam kalimat berikutnya.

    Kembali ke masalah shalat. Jadi, baik itu hari Jum’at, hari Sabtu, hari Minggu, hari Senin, hari Selasa, hari Rabu, maupun hari Kamis, wajib bagi kita untuk mendirikan shalat. Pada waktu yang telah ditetapkan Allah tentunya (pagi, petang, awal malam).

     
  • erva kurniawan 1:49 am on 7 April 2019 Permalink | Balas  

    Ilmu Tentang Para Rawi 

    Ilmu Tentang Para Rawi

    Pembahasan tentang rawi sangat penting dalam kaitannya dengan pengetahuan derajat hadits, yakni shahih, hasan, dha’if, dapat diterima atau ditolaknya suatu hadits. Oleh karena itu, pembahasan tentang para rawi menjadi teramat penting dalam Mushthalah al-Hadits.

    Rawi adalah orang yang menerima hadits dan menyampaikannya dengan salah satu bahasa penyampaiannya. Para ulama mengklasifikasikan para rawi –dari segi banyak dan sedikitnya hadits yang mereka riwayatkan serta peran mereka dalam bidang ilmu hadits– menjadi beberapa tingkatan. Dan setiap tingkat diberi julukan secara khusus, yaitu:

    1. al-Musnid, adalah orang yang meriwayatkan hadits beserta sanadnya, baik ia mengetahui kandungan hadits yang diriwayatkannya atau sekedar meriwayatkan tanpa memahami isi kandungannya.
    2. al-Muhaddits. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Sayyid an-Nas, al-Muhaddits adalah orang yang mencurahkan perhatiannya terhadap hadits, baik dari segi riwayah maupun dirayah, hapal identitas dan karakteristik para rawi, mengetahui keadaan mayoritas rawi di setiap jamannya beserta hadits-hadits yang mereka riwayatkan; tambahan dia juga memiliki keistimewaan sehingga dikenal pendiriannya dan ketelitiannya[2]. Dengan kata lain ia menjadi tumpuan pertanyaan umat tentang hadits dan para rawinya, sehingga menjadi masyhur dalam hal ini dan pendapatnya menjadi dikenal karena banyak keterangan yang ia sampaikan lalu ditulis oleh para penanyanya. Ibnu al-jazari berkata, “al-Muhaddits adalah orang menguasai hadits dari segi riwayah dan mengembangkannya dari segi dirayah.”[3]
    3. al-Hafidh, secara bahasa berarti ‘penghapal’ Gelar ini lebih tinggi daripada gelar al-Muhaddits. Para ulama menjelaskan bahwa al-Hafidh adalah gelar orang yang sangat luas pengetahuannya tentang hadits beserta ilmu-ilmunya, sehingga hadits yang diketahuinya lebih banyak daripada yang tidak diketahuinya.”[4] Ibnu al-Jazari berkata, “al-Hafidh adalah orang yang meriwayatkan seluruh hadits yang diterimanya dan hapal akan hadits yang dibutuhkan darinya.”
    4. al-Hujjah, gelar ini diberikan kepada al-Hafidh yang terkenal tekun. Bila seorang hafidh sangat tekun, kuat dan rinci hapalannya tentang sanad dan matan hadits, maka ia diberi gelar al-Hujjah. Ulama mutaakhkhirin mendefinisikan al-Hujjah sebagai orang yang hapal tiga ratus ribu hadits, termasuk sanad dan matannya. Bilangan jumlah hadits yang berada dalam hapalan ulama, sebagaimana yang mereka sebutkan itu, mencakup hadits yang matannya sama tetapi sanadnya berbilang; dan yang berbeda redaksi/matannya. Sebab, perubahan suatu hadits oleh suatu kata–baik pada sanad atau pada matan–akan dianggap sebagai suatu hadits tersendiri. Dan seringkali para muhadditsin berijtihad dan mengadakan perlawatan ke berbagai daerah karena adanya perubahan suatu kalimat dalam suatu hadits seperti itu.
    5. al-Hakim adalah rawi yang menguasai seluruh hadits sehingga hanya sedikit saja hadits yang terlewatkan.
    6. Amir al-Mu’minin fi al-Hadits (baca: Amirul Mukminin fil Hadits) adalah gelar tertinggi yang diberikan kepada orang yang kemampuannya melebihi semua orang di atas tadi, baik hapalannya maupun kedalaman pengetahuannya tentang hadits dan ‘illat-‘illatnya, sehingga ia menjadi rujukan bagi para al-Hakim, al-Hafidh, serta yang lainnya. Di antara ulama yang memiliki gelar ini adalah Sufyan ats-Tsawri, Syu’bah bin al-Hajjaj, Hammad bin Salamah, Abdullah bin al-Munarak, Ahmad bin Hanbal, al-Bukhari, dan Muslim. Dan dari kalangan ulama mutaakhkhirin ialah al-Hafidh Ahmad bin Ali bin Hajar al-‘Asqalani dan lainnya.[5] Jadi yang menjadi ukuran tingkat keilmuan para ulama hadits adalah daya hapal mereka, bukan banyaknya kitab yang mereka miliki, sehingga orang yang memiliki banyak kitab namun tidak hapal isinya, TIDAK DAPAT disebut sebagai al-Muhaddits.

    Sayangnya, sebagian umat Islam dewasa ini telah menganggap ringan terhadap hadits dan mereka tidak memahaminya kecuali dengan membuka-buka lembaran demi lembaran kitab berdasarkan petunjuk daftar isinya, sehingga sebagian mereka tanpa memikirkan risikonya merendahkan penghapalan al-Qur’an dan hadits dengan hanya mengandalkan bertambahnya naskah kitab. Hal ini menunjukkan rendahnya batas pengetahuan mereka terhadap kelebihan para ulama terdahulu.

    Tercatatlah nama-nama para perawi Hadist ini seperti:

    • Bukhari, yang meninggal tahun 256 Hijriah atau 870 Masehi
    • Abu Daud, meninggal tahun 275 Hijriah atau 888 Masehi
    • Masa’i, meninggal tahun 303 Hijriah atau 915 Masehi
    • Muslim, meninggal tahun 261 Hijriah atau 875 Masehi
    • Tarmidzi, meninggal tahun 279 Hijriah atau 892 Masehi
    • Ibnu Majah, meninggal tahun 279 Hijriah atau 892 Masehi

    Catatan Kaki:

    [1] al-Manhaj al-Hadits karya as-Simahi pada bagian rawi, hal. 5

    [2] Tadrib ar-Rawi, hal. 11; pada bagian rawi, hal. 197

    [3] Syarh asy-Syarh karya Mullah Ali al-Qari’i, hal. 3

    [4] Sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Sayyid an-Nas dan al-Hafidh al-Mizzi. Lihat Tadrib ar-Rawi, hal. 10-11.

    [5] Dijelaskan oleh Syaikhuna al-‘Allamah Muhammad as-Simahi dalam kitab al-Manhaj al-Hadits bagian rawi, hal. 199-200, dan kami merujuk kepadanya menulis definisi-definisi di atas. adz-Dzahabi telah menulis kitab Tadzkirat al-Huffadh guna menghimpun para rawi yang bergelar al-Hafidh dengan arti mencakup pula para rawi yang bergelar al-Hujjah dan yang lebih tinggi lagi.

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 6 April 2019 Permalink | Balas  

    Imam Muslim 

    Imam Muslim

    Keharuman namanya tak akan pernah hilang sepanjang zaman. Dalam setiap ceramah, hampir semua ustadz selalu mengutip karya-karyanya. Beliau adalah ulama kenamaan, terutama dalam bidang dan ilmu hadits. Nama lengkap berikut silsilahnya adalah Imam Abu al-Husain Muslim bin Muslim bin Kausyaz al-Qusyairi al-Naisaburi. Lahir tahun 204 H/ 820 M atau menurut riwayat lain 206 H/ 822 M.

    Beliau dinisbahkan kepada nenek moyangnya, Qusyair bin Ka’ab bin Rabiah bin Sha’sha’ah, suatu keluarga bangsawan besar di wilayah Arab. Di samping (penisbahan) kepada Qusyair, beliau juga dinisbahkan kepada Naisapur. Hal ini karena beliau putera kelahiran Naisapur, yakni kota kecil di Iran bagian timur laut.

    Pengembaraan

    Semenjak berusia kanak-kanak, Imam Muslim telah rajin menuntut ilmu. Didukung kecerdasan luar biasa, kekuatan ingatan, kemauan yang membaja, dan ketekunan yang mengagumkan, konon ketika berusia 10 tahun, beliau telah hafal al-Qur’an seutuhnya serta ribuan hadits berikut sanadnya. Sungguh prestasi yang teramat mengagumkan.

    Seperti halnya Imam al-Bukhari, Imam Muslim juga mengadakan pengembaraan intelektual ke berbagai negeri Islam, seperti Hijaz, Iraq, Syam, Mesir, Baghdad, dan lain-lain guna memburu hadits dan berguru pada ulama-ulama kenamaan. Beliau telah mengunjungi hampir seluruh pusat pengkajian hadits yang ada pada saat itu, bahkan terkadang dilakukannya berkali-kali, seperti ke Baghdad. Semua ini merupakan bukti konkret bahwa perhatian Imam Muslim terhadap peninggalan Nabi saw yang monumental ini sangat besar.

    Pengembaraan perdananya dimulai ke Makkah pada tahun 220 H sekaligus menunaikan ibadah haji. Kemudian pada tahun 230 H beliau melakukan pengembaraan intelektual yang secara spesifik untuk kepentingan hadits. Sedang lawatannya yang terakhir terjadi pada tahun 259 H ke Baghdad saat usianya mencapai 53 tahun. Dalam pengembaraannya itu, beliau tidak mengenal usia. Semenjak usia yang relatif masih sangat muda sampai berusia senja, beliau tidak pernah berhenti apalagi putus asa dalam pengembaraannya mengejar dan memburu Hadits Nabi saw.

    Guru dan muridnya

    Dalam lawatan intelektualnya, Imam Muslim tercatat banyak mengunjungi ulama-ulama kenamaan, tentunya dalam rangka mencari hadits. Beliau berguru kepada Yahya dan Ishak bin Rahawaih di Khurasan, Muhammad bin Mahran dan Abu Ghassan di Ray, Ahmad bin Hanbal dan Abdullah bin Maslamah di Iraq, Said bin Manshur dan Abu MasUab di Hijaz, Tamr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya di Mesir. Beliau juga belajar dari Usman dan Abu Bakar (keduanya putra Abu Syaibah), Syaiban bin Farwakh, Abu Kamil al-Jury, Zuhair bin Harb, Amr al-Naqid, Muhammad bin al-Mutsanna, Muhammad bin Yasar, Harun bin Said al-UAili, Qutaibah bin Sa’id, dan yang tak boleh terlupakan beliau juga berguru pada Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari.

    Tidak sedikit para ulama yang meriwayatkan hadits dari Imam Muslim. Di antaranya terdapat ulama-ulama besar yang sederajat dengannya, seperti Abu Hafidh al-Razi, Musa bin Harun, Ahmad bin Salamah, Abu Bakar bin Khuzaimah, Yahya bin Said, Abu Tawwanah al-Ishfiroyini, dan Abu Isa al-Tirmidzi. Selain ulama-ulama di atas, yang juga tercatat sebagai murid Imam Muslim antara lain; Ahmad bin Mubarak al-Mustamli, Abu al-Abbas Muhammad bin Ishak bin al-Siraj. Di antara sekian banyak muridnya itu, yang paling istimewa adalah Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan, seorang ahli fiqih lagi zahid. Ia adalah perawat utama kitab Shahih Muslim.

    Selain karya besar Imam Muslim yang sangat monumental, yaitu kitab Shahih Muslim, beliau juga tercatat mempunyai buah karya lebih dari 20; antara lain: al-Ullal, al-Aqran, al-IntifaUbi Uhub al-Siba, Kitab Man Laisa Lahu Illa Rawin Wahid, Aulad al-Shahabah, Al-Musnad al-Kabir, Al-Thabaqat (Thabaqat al-Kubra), Kitab al-Mukhadramin, Al-JamiUal-Kabir, Kitab al-Tamyiz, Kitab al-Asma wa al-Kuna, Kitab Su’alatihi Ahmad bin Hanbal, dan sebagainya.

    Banyak ulama yang memandang Imam Muslim sebagai ulama hadits nomor dua setelah Imam al-Bukhari. Hal yang tidak mengherankan, mengingat Imam Muslim merupakan murid Imam al-Bukhari.

    Al Khatib al-Baghdadi mengatakan, Muslim telah mengikuti jejak al-Bukhari, memperhatikan ilmunya dan menempuh jalan yang dilaluinya. Pernyataan ini tidaklah berarti Imam Muslim hanyalah figur yang hanya mampu bertaqlid pada al-Bukhari, sebab Imam Muslim mempunyai ciri dan pandangan tersendiri dalam menyusun kitabnya. Beliau juga mempunyai metode baru yang belum pernah diperkenalkan ulama sebelumnya.

    Imam Muslim banyak menerima pujian dan pengakuan dari para ulama hadits maupun ulama lainnya. Al-Khatib al-Baghdadi meriwayatkan dengan sanad lengkap dari Ahmad bin Salamah, katanya “Saya melihat Abu Zur’ah dan Abu Hatim senantiasa mengistimewakan dan mendahulukan Muslim bin al-Hajjaj di bidang pengetahuan hadits sahih atas guru-guru mereka.”

    Ishaq bin Rahawaih pernah memuji Imam Muslim dengan perkataannya “Adakah orang yang seperti Muslim?” Demikian pula Ibn Abi Hatim menyatakan “Muslim adalah seorang hafidh (ahli hadis). Saya menulis hadits yang diterima dari dia di Ray.” Selanjutnya Abu Quraisy al-Hafidh menyatakan bahwa di dunia ini, orang yang benar-benar ahli di bidang hadits hanya empat, salah satunya adalah Muslim. Tentunya, yang dimaksud dengan pernyataan ini adalah ahli-ahli hadits terkemuka yang hidup pada masa Abu Quraisy.

    Dengan munculnya berbagai komentar dari para ulama terhadap kepakaran Imam Muslim dalam disiplin ilmu Hadits ini, cukuplah kiranya menjadi bukti awal bahwa beliau memang figur yang pantas mendapat sanjungan yang demikian, dan tentunya setelah al-Bukhari.

    Karya monumental

    Sejarah mencatat bahwa Imam Muslim merupakan ulama kedua yang berhasil menyusun kitab al-Jami’ al-shahih yang di kemudian hari terkenal dengan sebutan Shahih Muslim. Kitab ini berisi 10.000 hadits yang disebutkan secara berulang-ulang (mukarrar) atau sebanyak 3.030 buah hadits tanpa pengulangan. Hadits sejumlah itu disaring dengan sangat ketat dari 300.000 buah hadits selama kurun waktu 15 tahun.

    Berdasarkan kualitas keshahihannya, para ulama memasukkan karya Imam Muslim ini pada peringkat kedua setelah karya monumental Imam al-Bukhari (Shahih al-Bukhari). Hal ini karena syarat yang ditetapkan oleh Imam Muslim relatif lebih longgar daripada syarat yang ditetapkan Imam al-Bukhari. Dalam persambungan sanad (ittisal al-sanad) antara yang meriwayatkan (rawi) dengan yang menerimanya (marwi’anhu) atau antara murid dan guru menurut Imam Muslim hanya cukup syarat mu’asharah (semasa), tidak harus terjadi liqa’ (pertemuan) antara keduanya. Sementara Imam Al-Bukhari mensyaratkan terjadinya liqa ‘untuk menyatakan terjadinya persambungan sanad.

    Shahih Muslim merupakan hasil dari sebuah kehidupan yang penuh berkah. Pasalnya, ia dikerjakan secara terus-menerus oleh penulisnya, baik ketika berada di suatu tempat, dalam perjalanan pengembaraan, dalam situasi sulit maupun lapang, serta melalui proses pengumpulan, penghafalan, penulisan, dan penyaringan yang ekstra ketat. Sehingga kitab ini sebagaimana kita lihat, merupakan sebuah kitab shahih yang teramat baik dan sistematis. Oleh karena itu, tidak heran rasanya jika Imam Muslim sangat menyanjung dan mengagungkan kitab monumentalnya. Sebagai wujud kegembiraan atas karunia Allah yang diterimanya, beliau pernah bertutur “Apabila penduduk bumi ini menulis hadits selama 200 tahun, maka usaha mereka hanya akan berputar-putar di sekitar kitab musnad ini.” Maksud beliau adalah kitab Shahih Muslim itu.

    Adapun ketelitian, kecermatan, dan kehati-hatian beliau terhadap hadits yang dituangkan dalam kitab Shahih-nya itu dapat disimak dari penuturannya sebagai berikut:

    “Aku tidak mencamtumkan sesuatu hadits dalam kitabku ini melainkan dengan alasan. Aku juga tiada menggugurkan sesuatu hadits dari kitabku ini melainkan dengan alasan pula.”

    Spesifikasi Shahih Muslim

    Secara eksplisit, Imam Muslim tidak menegaskan syarat-syarat tertentu yang diterapkan dalam kitab Shahih-nya. Kendati demikian, para ulama telah menggali dan mengkaji syarat-syarat itu melalui penelitian yang serius terhadap kitab itu. Penelitian dan pengkajian ini membuahkan kesimpulan bahwa syarat-syarat yang diterapkan Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya adalah antara lain:

    Pertama, beliau tidak meriwayatkan hadits kecuali dari para periwayat yang adil, dlabith (kuat hafalan), dan dapat dipertanggungjawabkan kejujurannya.

    Kedua, beliau sama sekali tidak meriwayatkan hadits kecuali hadits-hadits musnad lengkap dengan sanad-nya), muttashil (sanad-nya bersambung), dan marfu’ (berasal dari Nabi saw). Keterangan Imam Muslim dalam muqaddimah kitab Shahih-nya akan lebih memberikan gambaran yang cukup jelas kepada kita mengenai syarat-syarat yang diterapkan Imam Muslim dalam karya besarnya. Beliau mengklasifikasikan hadits menjadi tiga katagori: hadits-hadits yang diriwayatkan oleh rawi adil dan kuat hafalan; hadits-hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang tidak diketahui keadaannya (majhul al-hal) dan sedang-sedang saja kekuatan hafalan dan ingatannya; hadits-hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lemah (hafalan dan ingatan) dan rawi yang haditsnya ditinggalkan orang .

    Untuk hadits katagori ketiga, Imam Muslim tidak meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya. Sementara apabila Imam Muslim meriwayatkan hadits katagori pertama, beliau senantiasa menyertakan pula hadits katagori kedua.

    Sebagai buah karya yang monumental, kitab Shahih Muslim memiliki beberapa ciri khusus, di antaranya; beliau menghimpun matan-matan hadits yang satu tema lengkap dengan sanad-nya pada satu tempat (bab), tidak memisahkannya dalam tempat yang berbeda, serta tidak mengulang-ulangnya, kecuali dalam kondisi yang mengharuskan, seperti untuk menambah faedah pada sanad atau matan hadits.

    Ketelitian dan kecermatan dalam menyampaikan kata-kata selalu dipertahankannya secara optimal, sehingga apabila seorang rawi berbeda dengan rawi lain dalam penggunaan redaksi yang berbeda, padahal makna (substansi) dan tujuannya sama ;yang satu meriwayatkan dengan suatu redaksi dan rawi lain meriwayatkan dengan redaksi yang lain pula; maka dalam hal ini Imam Muslim menjelaskannya. Selain itu, beliau berusaha menampilkan hadits-hadits musnad (hadits yang sanad-nya Muttashil) dan marfu’ (hadits yang dinisbahkan kepada Nabi saw). Karenanya, beliau tidak memasukkan perkataan-perkataan sahabat dan tabiin.

    Imam Muslim juga tidak banyak meriwayatkan hadits muallaq (hadits yang sanad-nya tidak ditulis secara lengkap). Di dalam kitab Shahih-nya hanya memuat 12 Hadis muallaq yang kesemuanya difungsikan sebagai mutabi’ atau penguat, bukan sebagai hadits utama (inti).

    Begitulah, akhirnya setelah mencapai usia 55 tahun, Imam Muslim menghembuskan nafas yang terakhir pada Ahad sore, 25 Rajab 261 H. Jenazahnya dikebumikan di salah satu daerah di luar Naisapur pada hari Senin. Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun. Semoga Allah merahmati dan meridhainya, serta menerima jerih payahnya dalam menyebar luaskan ilmu-ilmu keislaman. Amin.

    ***

    Ali Mustofa Yaqub, Pengasuh Pesantren Darus-Sunnah, Guru besar Ilmu Hadis Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 5 April 2019 Permalink | Balas  

    Tata Cara Shalat Di Dalam Al-Qur’an 

    Tata Cara Shalat Di Dalam Al-Qur’an

    Dalam upaya menyerukan apa yang diturunkan Allah (Al-Qur’an) pertanyaan tantangan yang paling sering dilontarkan adalah “Bagaimana caranya shalat kalau hanya berbekal Al-Qur’an? Mana ada tata cara shalat di dalam Al-Qur’an!”

    Untuk menjawab pertanyaan yang menantang tersebut berikut penulis paparkan apa yang ditetapkan Allah tentang shalat. Apabila terdapat perbenturan dengan apa yang selama ini diyakini, marilah kita berhakim kepada apa yang telah diturunkan Allah saja (Al-Qur’an) dan berpaling dari selain itu.

    Waktu Shalat

    Awal sekali kita harus tahu kapan waktu-waktu shalat itu. Allah menetapkan ada 3 waktu shalat bagi manusia dalam sehari semalam.

    “Dan lakukanlah shalat pada dua tepi siang, dan pada awal malam.” [Q.S. 11:114]

    Tepi siang yang pertama adalah pada awal hari (pagi), Shalat pada waktu ini dinamakan shalat Fajar [Q.S. 24:58].

    Tepi siang yang kedua adalah pada akhir hari (petang), shalat pada waktu ini dinamakan shalat Wusta [Q.S. 2:238]. Kita biasa mengenal waktu ini dengan istilah “maghrib”.

    Khusus mengenai rentang waktu shalat Wusta dijelaskan di dalam ayat berikut:

    “Lakukanlah shalat dari terbenam matahari sampai kegelapan malam” [Q.S. 17:78]

    Shalat pada awal malam dinamakan shalat Isya [Q.S. 24:58].

    Walaupun nama-nama lain yang umum digunakan untuk shalat seperti “shubuh”, “dzuhur” yang berarti tengah hari, “ashar” yang berarti masa/ waktu, dan “maghrib” yang berarti barat tercantum di dalam Al-Qur’an, tidak satupun dari nama-nama tersebut yang berhubungan dengan shalat ataupun dengan waktu shalat.

    Menjamak Shalat

    Shalat haruslah dilakukan pada waktu-waktu yang telah ditentukan oleh Allah sebagaimana di atas.

    “Sesungguhnya shalat itu adalah suatu kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” [Q.S. 4:103] Tidak terdapat satu ayat pun di dalam Al-Qur’an yang membolehkan menjamak shalat. Dalam keadaan apapun shalat harus tetap dilakukan.

    “Jika kamu dalam ketakutan, maka (shalatlah) sambil berjalan kaki, atau berkendaraan”. [Q.S. 2:239]

    MEMBERSIHKAN DIRI Setelah mengetahui kapan shalat harus dilakukan, yang perlu dilakukan sebelum shalat adalah membersihkan diri atau yang biasa kita kenal dengan istilah wudhu’. Bagian tubuh yang perlu dibersihkan ada empat, yaitu: muka, tangan hingga siku, kepala, dan kaki hingga mata kaki.

    “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berdiri untuk shalat, basuhlah mukamu, dan tanganmu sampai siku, dan sapulah kepalamu, dan kaki-kaki kamu sampai kedua mata kaki” [Q.S. 5:6]

    Ada kondisi-kondisi dimana kita diperbolehkan untuk tidak membasuh diri dengan air. Kondisi-kondisi itu adalah ketika sakit, ketika dalam perjalanan, atau ketika tidak mendapatkan air. Dalam kondisi tersebut kita diperintahkan bertayamum dengan debu tanah yang baik. Bagian tubuh yang disapu ketika tayamum adalah muka dan tangan.

    “tetapi jika kamu sakit, atau dalam perjalanan, atau jika salah seorang antara kamu kembali dari kakus, atau kamu menyentuh perempuan, dan kamu tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah dengan debu tanah yang baik, dan sapulah muka kamu, dan tangan kamu dengannya” [Q.S. 5:6]

    Perlu dijelaskan bahwa frasa “menyentuh perempuan” pada ayat di atas bukanlah dimaksudkan bersentuhan kulit secara harfiah seperti apabila kita berjabat tangan. Frasa tersebut adalah istilah penghalusan dari “berhubungan seksual”. Allah berkali-kali menggunakan istilah “menyentuh” untuk memaksudkan “berhubungan seksual” di dalam Al-Qur’an, beberapa diantaranya terdapat pada surat 2:236-237, 19:20, 33:49, dan 58:3.

    Pakaian

    Setelah membersihkan diri, berikutnya kita gunakan pakaian yang bagus untuk bermunajat kepada-Nya. Allah menyuruh kita agar mengenakan perhiasan di setiap tempat sujud (mesjid), termasuk perhiasan adalah pakaian yang bagus.

    “Wahai anak Adam, kenakanlah perhiasanmu di setiap masjid” [Q.S. 7:31]

    Kiblat

    Untuk memulai ritual shalat kita berdiri menghadap kiblat. Kiblat menurut Al-Qur’an adalah Masjidil Haram, yang di tengahnya terletak Ka’bah.

    “Sungguh Kami melihat kamu membalik-balikkan wajah kamu ke langit, sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu berpuas hati. Maka palingkanlah muka kamu ke arah Masjidil Haram, dan di mana saja kamu berada, palingkanlah muka kamu ke arahnya. Orang- orang yang diberi al-Kitab mengetahui bahwa itu adalah yang benar dari Tuhan mereka. Dan Allah tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” [Q.S. 2:144]

    Seruan

    Karena pada dasarnya shalat adalah sebuah media komunikasi antara hamba dan Tuhannya, maka awal sekali si hamba akan memanggil Tuhannya. Al-Qur’an mengajarkan kita untuk memanggil “Allah” (ya Allah/ wahai Allah), atau “Ar-Rahman” (ya Rahman/ wahai Yang Pemurah) atau nama-nama-Nya yang terbaik (asma al-husna) yang diajarkan di dalam Al-Qur’an.

    “Serulah Allah, atau serulah Ar-Rahman, mana saja yang kamu seru, bagi-Nya nama-nama yang paling baik”. [Q.S. 17:110]

    Sesudah kita memanggil Nama-Nya, Allah menyuruh kita agar memuji- Nya. Lafaz pujian tersebut diajarkan Allah pada ayat berikutnya.

    “Dan katakanlah: `Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu dalam kerajaan-Nya, dan tidak ada baginya pelindung dari kehinaan” [Q.S. 17:111]

    Bacaan

    Setelah memuji-Nya kita dapat memilih untuk menambah bacaan lain ataupun langsung ruku’. Tentang apa lagi yang kita baca di dalam shalat baik ketika berdiri, ruku’, maupun sujud terpulang kepada masing-masing orang.

    Allah memerintahkan agar kita memohon pertolongan kepada-Nya di dalam shalat. Maka, mohonlah pertolongan sesuai dengan apa yang anda hajatkan.

    “Dan mohonlah pertolongan dalam kesabaran dan shalat” [Q.S. 2:45]

    Shalat didirikan juga untuk mengingat/ menyebut nama Allah seperti Ya Allah, atau Ya Malik, atau Ya Ghaffar, atau nama-nama-Nya yang lain. “dan dirikanlah shalat untuk mengingat/ menyebut Aku”. [Q.S. 20:14]

    Di akhir sujud menjelang selesai shalat kita disuruh untuk melafalkan sanjungan kepada-Nya.

    “Dan sanjunglah Dia pada malam hari, dan pada ujung-ujung sujud”. [Q.S. 50:40]

    Contoh lafal sanjungan adalah “Allah disanjung” /Subhanallah [12:108], atau “Engkau disanjung ya Allah” /Subhanakallahumma [Q.S. 10:10].

    Sebagai catatan tambahan, untuk kepantasan berkomunikasi dengan Allah, sepatutnya kita tidak mengucapkan kata “qul” atau “katakanlah” pada ayat-ayat yang diawali dengan kata “qul” atau “katakanlah” seperti yang terdapat di dalam surat Al-Ikhlas, Al- Falaq maupun An-Nas.

    Bahasa

    Bahasa bukanlah hal penting dalam menyembah Allah. Dia tidak pernah memerintahkan agar bahasa Arab dijadikan sebagai bahasa pengantar dalam shalat untuk semua kaum. Islam itu mudah, orang-orang yang karena keterbatasan pendidikan ataupun karena usianya tidak sanggup menguasai bahasa Arab tetap dapat bermunajat kepada-Nya dengan menggunakan bahasa yang mereka mengerti.

    Membaca ayat-ayat yang tidak kita pahami artinya bisa jadi menyeret kita ke dalam kedurhakaan. Bagaimana tidak durhaka kalau misalnya ayat yang kita ucapkan ketika menghadap-Nya adalah salah satu dari ayat di bawah ini:

    “Wahai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut”. [Q.S. 2:40]

    “Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, kecuali pada masa yang lalu; sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci dan seburuk-buruk jalan”. [Q.S. 4:22]

    “Sesungguhnya Akulah Allah; tidak ada Tuhan selain Aku; maka sembahlah Aku, dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”. [Q.S. 20:14]

    Meskipun ayat-ayat di atas diambil dari Al-Qur’an, ia tidak pantas diucapkan di dalam shalat. Itulah pentingnya kita mengerti apa yang kita ucapkan. Seiring dengan perkara ini, Allah melarang kita mendekati shalat ketika dalam keadaan mabuk sampai kita mengerti apa yang kita ucapkan.

    “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah mendekati shalat apabila kamu sedang mabuk, sampai kamu mengerti apa yang kamu ucapkan” [Q.S. 4:43]

    Suara

    Suara di dalam shalat tidak dilantangkan dan tidak pula didiamkan. Allah menyuruh kita agar mengambil suara yang pertengahan, dan ini berlaku untuk keseluruhan shalat.

    “Dan janganlah kamu melantangkan suara dalam shalat kamu, dan jangan juga mendiamkannya, tetapi carilah pertengahan di antara yang demikian itu.” [Q.S. 17:110]

    Gerakan

    Berdiri, rukuk, dan sujud disebut berulang kali di dalam Al-Qur’an dan ini adalah gerakan ritual shalat.

    ” Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Aku, dan bersihkanlah Rumah-Ku untuk orang-orang yang mengelilinginya (haji), dan orang-orang yang berdiri, dan orang-orang yang ruku’, orang- orang yang sujud (shalat)” [Q.S. 22:26]

    “Tuhan kami,sesungguhnya aku telah menempatkan keturunanku di sebuah lembah gersang dekat Rumah Engkau yang dihormati, ya Tuhan kami, agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati manusia cenderung kepada mereka…” [Q.S. 14:37]

    Kedua ayat di atas menjelaskan kaitan antara perbuatan berdiri, ruku’, dan sujud dengan shalat.

    Tentang bagaimana cara berdiri, ruku’, dan sujud seseorang terpulang pada dirinya sendiri. Orang yang pincang berdirinya mungkin tidak tegak lurus; orang yang sakit pinggang atau sudah lemah mungkin ruku’ dengan tidak terlampau menukikkan badan; orang yang keningnya ada penyakit mungkin sujud dengan pelipisnya. Kesemua itu tidak mengurangi kesempurnaan ibadah shalat yang dilakukan.

    Rakaat

    Al-Qur’an sama sekali tidak pernah menetapkan adanya rakaat shalat seperti yang umum diketahui. Dari ayat di bawah ini kita akan maklumi bahwa shalat berawal dari berdiri dan berakhir setelah selesai sujud.

    “Apabila kamu di kalangan mereka dan melakukan shalat bersama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri bersamamu dan menyandang senjata mereka. Apabila mereka sujud, hendaklah mereka berada di belakang kamu (berjaga-jaga), dan hendaklah segolongan lain yang belum shalat datang, dan shalat bersamamu” [Q.S. 4:102]

    Memendekkan Shalat

    Apabila kita berada dalam perjalanan atau dalam kondisi membahayakan, maka kita dapat menyingkat shalat kita.

    “Dan apabila kamu berpergian di bumi, tidak bersalah atas kamu untuk memendekkan shalat, jika kamu takut dianiaya orang-orang yang tidak beriman…” [Q.S. 4:101]

    Menyingkat shalat ini dilakukan dengan cara mengurangi atau meniadakan bagian “menyebut/ mengingat Allah” sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya. Setelah kita berada dalam keadaan aman, maka kita kembali menyebut/ mengingat Allah.

    “Apabila kamu telah aman, ingatlah/ sebutlah Allah sebagaimana Dia telah mengajar kamu apa yang kamu tidak tahu”. [Q.S. 2:239]

    Memendekkan shalat dapat pula dilakukan dengan cara mengurangi doa- doa yang ingin dipanjatkan.

    Akhir Shalat

    Kalau tadi kita telah mengawali seruan kepada-Nya dengan “Ya Allah” ataupun “Ya Rahman”, maka Al-Qur’an mengajarkan bahwa akhir dari seruan kepada-Nya adalah pujian yang berbunyi “Alhamdulillahirabbil’alamiin” atau “Segala puji bagi Allah, Pemelihara semesta alam”.

    “Dan akhir seruan mereka: `Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.'” [Q.S. 10:10]

    Menyuruh Keluarga

    Tidak cukup kita hanya memastikan bahwa diri kita pribadi telah melakukan shalat. Allah perintahkan kita untuk juga menyuruh keluarga kita melakukan shalat, termasuklah di dalamnya istri/ suami dan anak-anak.

    “Dan suruhlah keluarga kamu shalat dan bersabarlah padanya” [Q.S. 20:132]

    Wanita Haid

    Al-Qur’an tidak pernah melarang wanita yang sedang haid untuk masuk ke dalam mesjid maupun untuk melakukan shalat. Ketentuan Al-Qur’an tentang wanita haid hanyalah berkaitan dengan larangan melakukan hubungan suami isteri [Q.S. 2:222] dan waktu tunggu ketika akan bercerai untuk memastikan bahwa si wanita tidak sedang hamil [Q.S. 2:228, 65:4]

    Larangan-Larangan

    Kita dilarang mendekati shalat ketika dalam keadaan mabuk sampai kita mengerti apa yang kita ucapkan, dan dilarang juga ketika dalam keadaan junub sampai kita mandi.

    “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah mendekati shalat apabila kamu sedang mabuk, sampai kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, dan jangan pula dalam junub kecuali sekadar berlalu, sampai kamu mandi” [Q.S. 4:43]

    Selain itu, kita dilarang pula menyeru (memanggil) nama selain nama Allah. Ketentuan ini mencakup juga larangan menyeru (memanggil) nama nabi-nabi semisal Nabi Muhammad.

    “Bahwasanya masjid-masjid adalah kepunyaan Allah, maka janganlah menyeru kepada selain Allah di dalamnya” [Q.S. 72:18]

    Sekian uraian singkat tentang tata cara shalat di dalam Al-Qur’an. Sangat mungkin tidak sesuai dengan cara shalat yang kita anggap benar, namun demikianlah yang ditetapkan Allah di dalam Kitab-Nya. Dan apa yang ditetapkan Allah itulah yang benar.

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 4 April 2019 Permalink | Balas  

    Riwayat Hidup: Al Imam Bukhari Rahimahullah (Bagian 7) 

    Riwayat Hidup: Al Imam Bukhari Rahimahullah (Bagian 7)

    Karyanya

    Sebagaimana kita ketahui Imam Bukhari bersungguh-sungguh menyampaikan ilmu melalui percakapan dan penulisan, beliau juga bersungguh-sungguh menulis berbagai ilmu. Allah telah menjadikannya bermanfaat bagi ummat selama kehidupan beliau. Setelah kematian beliau, banyak kitab yang telah dikarangnya dan kebanyakan telah sampai kepada kita. Di antaranya telah di cetak berulang kali. Manakala kitab beliau (At-Taarikh Al-Ausat) makhtuutaat yaitu masih lagi dalam bentuk Kitab ilmu Islam yang terdahulu. Begitu juga masih banyak karya-karya beliau yang masih belum terhitung jumlahnya.

    Pertama: Karya-karya beliau yang telah sampai kepada kita ialah:

    1- Al-Jaami’ As-Sahih:

    Dikenal dengan (Sahih Bukhari).

    2- At-Tarikh Al-Kabir:

    Ini merupakan karya yang paling indah dan baik menurut bab dan juga topiknya: Perawi-perawi Hadits semenjak dari zaman sahabat sampai ke zaman beliau serta mengandung pembahasan tentang kecacatan- kecacatan Hadits, Jarah, Ta’dil dan sebagainya. Ia telah dicetak di Hyderabad di India pada tahun 1691 M oleh Al-Allaamah Abdul Rahman Al-Mu’allimi Rahimahullah.

    3- At-Taarikh Al-Ausat:

    Kitab ini disusun selama beberapa tahun dan sampai kepada kita berbentuk Kitab ilmu Islam yang terdahulu.

    4- At-Taarikh As-Soghir:

    Kitab ini juga disusun selama beberapa tahun dan telah dicetak beberapa kali.

    5- Kitab Al-Kuna:

    Kitab ini dicetak sebagai lampiran kitab At-Taarikh Al-Kabir di percetakan Hyderabad.

    6- Adh-Dhu’afa’:

    Ternyata Imam Bukhari mempunyai dua buah kitab dengan nama tersebut, salah satu daripadanya Soghir (kecil) dan satu lagi Kabir (besar) juga telah sampai kepada kita (Ad-Dhu’afa’ As-Soghir). Kitab ini mengandung sejumlah perawi-perawi Hadits yang lemah dan ia pun telah dicetak.

    7- Al-Adab Al-Mufrad:

    Merupakan kitab adab dan akhlak yang baik menurut bab dengan cara terbaru dan telah dicetak sebanyak beberapa kali.

    8- Al-Qiraat Khalfa Al-Imam (Bacaan di belakang imam):

    Kitab ini dikenali sebagai (Juz Al-Qiraat). Imam Bukhari membentangkan di dalamnya masalah bacaan makmun di belakang imam dan menyokong hujah tentang diwajibkan membaca Al-Fatihah pada setiap rakaat dalam apapun keadaannya sekalipun orang yang mendirikan shalat tersebut sebagai imam, makmun atau bersendirian, baik di dalam shalat yang tidak dikeraskan bacaannya ataupun yang tidak dan tidak dihitung rakaat tanpanya. Ia telah dicetak lebih dari satu kali.

    9- Mengangkat kedua-dua tangan di dalam shalat:

    Ia dikenali dengan (Juz Raf’ul Yadain) Imam Bukhari membentangkan masalah orang shalat mengangkat kedua-dua tangan ketika melakukan Takbiratul-ihram dan sewaktu berpindah rukun. Ia telah dicetak.

    10- Kejadian Perbuatan-perbuatan Hamba:

    Kandungannya adalah tentang masalah pegangan (akidah) yaitu perbuatan-perbuatan hamba adalah merupakan makhluk dan kalam Allah yaitu Al-Quran adalah bukan makhluk. Kitab ini telah dicetak berulang kali.

    Kedua: Karya-karya beliau yang belum diterbitkan :

    1- Berbuat Baik Terhadap Kedua Orang tua:

    Terdapat juga Haditsnya yang diriwayatkan oleh Ibnu Hajar dan perawi-perawi lain dari kalangan

    mutaakhirin.

    2- Al-Jami’ Al-Kabir:

    Telah disebut oleh Ibnu Tahir Al-Muqaddasi.

    3- Al-Musnad Al-Kabir:

    Telah disebut oleh Al-Farabri.

    4- At-Tafsir Al-Kabir:

    Juga telah disebut oleh Al-Farabri.

    5- Al-Asyribah (minuman):

    Telah disebut oleh Ad-Daaruqutni di dalam kitabnya (Al-Mu’talaf Wal Mukhtalaf).

    6- Al-Hibah (pemberian):

    Telah disebut oleh Waraqah Muhammad bin Abi Hatim.

    7- Usama As-Sahabah (Nama-nama Sahabat):

    Telah disebut oleh Abu Al-Qasim bin Mundah dan juga yang lain.

    8- Al-Mabsut:

    Telah disebut oleh A-Khalili di dalam kitabnya (Al-Irsyad) yaitu petunjuk.

    9- Al-Wihdan:

    Pokok pembahasannya: Orang yang hanya meriwayatkan satu Hadits saja dari kalangan sahabat dan telah diceritakan oleh Ibnu Mundah di dalam (Al-Makrifah).

    10- Al-Ilal (Kecacatan-kecacatan):

    Telah disebut oleh Abu Qasim bin Mundah.

    11- Al-Fawaid (faedah-faedah):

    Telah disebut oleh At-Tirmizi di dalam (Sunannya).

    12- Masalah Sahabat dan Tabi’in:

    Yaitu karya beliau yang pertama.

    13- Guru-guru beliau:

    Di dalamnya beliau telah menyebut tentang guru-gurunya yang menjadi tempat beliau berguru atau menerima ijazah dan ia telah disebut oleh Ibnu As-Subki.

    Kematiannya

    Setelah Imam Bukhari menerima ujian dari pemerintah Bukhara dan telah selamat darinya, beliau tidak tinggal lama di sana. Beliau telah pergi ke Kharatnak (sebuah desa di Samarkand) karena beliau mempunyai kerabat di sana dan beliau tinggal bersama mereka. Pada suatu malam telah kedengaran beliau berdoa selanjut melakukan shalat malam: (Ya Allah sesungguhnya bumi yang telah diluaskan untukku ini telah menyempitkan aku, maka bawalah aku kepadamu) Hampir sebulan setelah itu beliau meninggal dunia. Kejadian itu terjadi pada malam sabtu, malam Hari Raya Aidil Fitri tahun (256 H). Umur beliau ketika itu ialah 62 tahun kurang 13 hari, semoga beliau dirahmati dan diridhai oleh Allah.

    ***

    Sumber : CD Program Al Qur’an HARF Production.

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 3 April 2019 Permalink | Balas  

    Riwayat Hidup: Al Imam Bukhari Rahimahullah (Bagian 6) 

    Riwayat Hidup: Al Imam Bukhari Rahimahullah (Bagian 6)

    Ujiannya

    Imam Imam Bukhari tidak luput dari ditimpa ujian yang merupakan sunnah Allah s.w.t terhadap orang-orang soleh yang mengikuti jalan para rasul. Dua ujian besar dalam hidupnya:

    Ujian pertama: Berhubung dengan Al-Quran.

    Allah telah menganugerahkan ilmu dan ma’rifat kepada Imam Bukhari melebihi teman sepengajiannya menyebabkan beliau dikenali dan masyhur. Ini telah menimbulkan perasaan dengki di kalangan rekan-rekan beliau, lalu mereka menuduh Imam Bukhari mengatakan (Lafadz ayat Al-Quran yang kita ucapkan adalah makhluk) dan mereka menyebarkan perkara tersebut di Naisabur dan tempat lain supaya Ummat tidak lagi mendekati beliau. Orang yang mengetuai kumpulan itu ialah Al-Hafiz Muhammad bin Yahya Az-Zuhli. Abu Hamid Al-A’masyi berkata:

    Aku telah melihat Muhammad bin Ismail menghadiri jenazah Abu Usman bin Said bin Marwan, ketika itu Muhammad bin Yahya bertanya beliau tentang nama-nama dan gelaran-gelaran serta cacat yang

    tersembunyi dalam Hadits. Imam Bukhari menjawabnya dengan cepat seperti anak panah seolah-olah beliau membaca surah Al-Ikhlas, hampir sebulan kemudian Muhammad bin Yahya berkata: Sesiapa yang menghadiri majelis ilmu Bukhari jangan datang ke majelis pengajian kami, sesungguhnya ada orang yang menulis kepada kami dari Baghdad: Bahwa Bukhari telah berbicara sehubungan dengan beberapa perkara lalu kami melarang dia tetapi dia tidak menghiraukan larangan kami, kamu semua jangan mendekatinya, sesiapa yang mendekatinya jangan mendekati kami.

    Imam Bukhari berkata: Muhammad bin Yahya begitu iri hati terhadapku dengan apa yang aku peroleh dari ilmu. Sedangkan ilmu itu adalah pemberian Allah, Dia berikan kepada siapapun yang Dia kehendaki. Tuduhan yang dilemparkan kepada Imam Bukhari lebih kurang sama dengan apa yang difahamkan oleh Az-Zuhli. Disebabkan kebatilan yang memecah-belahkan masyarakat, Imam Bukhari menulis kitabnya [KHALQA AF’AALUL IBAAD] yaitu kejadian perbuatan hamba di mana beliau menerangkan dalam kitab ini perbedaan antara perbuatan hamba dengan perbuatan Kalamullah yaitu Al-Quran. Perbuatan hamba adalah makhluk, manakala Al-Quran yang tertulis dalam mushaf, dibaca dengan lidah, diturunkan melalui Jibril dengan lafadz dan hurufnya merupakan Kalamullah dan bukan makhluk. Ahli Sunnah telah bersepakat dengan Imam Bukhari dan tuduhan serta fitnahan tersebut adalah batal.

    Ujian kedua:

    Ketika berhadapan dengan ketua Bukhara Khalid bin Ahmad Az-Zuhli. Ketua Bukhara telah mengutus Ahmad bin Khalid berjumpa dengan Imam Bukhari: Silakan datang kepadaku dengan membawa kitab Al-Jami’, sejarah dan selain dari keduanya supaya aku dapat belajar dengan kamu, lalu beliau berkata kepada utusan Khalid: Aku tidak akan merendahkan martabat ilmu dan aku tidak memamerkannya di khalayak banyak. Sekiranya kamu memerlukan sesuatu dariku yang berhubungan dengan ilmu datanglah ke masjidku atau ke rumahku, sekiranya kamu tidak senang hati, kamu adalah sultan, kamu dapat menahan aku dari menyampaikan ilmu supaya keuzuranku itu menjadi hujah bagiku di hadapan Allah pada Hari Kiamat. Aku tidak akan menyembunyikan ilmu karena Rasulullah s.a.w bersabda:

    (Barang siapa yang ditanya tentang sesuatu ilmu dan dia menyembunyikan ilmu tersebut niscaya mulutnya akan dikengkang dengan besi dari neraka).

    Ketegangan yang terjadi antara kedua pihak telah menyebabkan ketua Bukhara meminta pertolongan Huraith bin Abu Al-Warqa’ dan selainnya supaya berbicara tentang mazhab Imam Bukhari dan menyebabkan beliau telah ditimpa dengan ujian sebagaimana yang telah lalu. Selanjutnya ketua Bukhara menghalau Imam Bukhari keluar dari negerinya. Imam Bukhari berdoa kepada Allah supaya membalas kejahatan mereka. Sebulan setelah itu terjadilah satu peristiwa seorang yang bernama At-Thohiriah. Manakala keluarga Huraith ditimpa kesulitan yang dahsyat sehingga tidak dapat digambarkan, adapun orang lain ditimpa kesulitan serta masalah anak masing-masing. Allah telah menimpakan berbagai bala bagi mereka.

     
  • erva kurniawan 1:02 am on 2 April 2019 Permalink | Balas  

    Riwayat Hidup: Al Imam Bukhari Rahimahullah (Bagian 5) 

    Riwayat Hidup: Al Imam Bukhari Rahimahullah (Bagian 5)

    Sifat-sifat Terpujinya

    Di samping menuntut ilmu serta menyebarkannya Imam Bukhari juga beramal dengan ilmunya juga benar-benar taat kepada Allah. Dia adalah di antara para auliya’ yang terpilih dan orang-orang soleh serta dari kalangan orang yang baik-baik. Kebaikan yang beliau lakukan menimbulkan rasa kagum dalam hati ummat terhadapnya serta dipuji oleh mereka.

    Beliau banyak mengerjakan shalat, khusyuk dan banyak membaca Al-Quran. Penulis beliau Muhammad bin Abi Hatim berkata: Sesungguhnya Imam Bukhari shalat pada waktu bersahur sebanyak 13 rakaat termasuk 1 rakaat shalat witir. Penulis lain menyebut pula: Pada awal malam bulan Ramadan Imam Bukhari mengerjakan shalat bersama sahabatnya dengan membaca dua puluh ayat pada setiap rakaat sehingga khatam Al-Quran. Manakala pada waktu sahur beliau membaca dari pertengahan hingga satu pertiga Al-Quran serta mengkhatamkannya pada setiap tiga malam ketika waktu sahur. Al-Quran yang dibaca pada siang hari beliau mengkhatamkannya pada waktu berbuka. Dia berkata lagi: (Setiap kali waktu khatam Al-Quran beliau membaca doa).

    Satu cerita mengenainya: Suatu hari ketika beliau shalat, tiba-tiba seekor lebah menyengatnya sebanyak tujuh belas sengatan. Ketika selesai shalat beliau bertanya: Apakah yang membuatku sakit sewaktu aku shalat tadi. Para makmum memberitahu bahwa seekor lebah menyengatnya menyebabkan terdapat tujuh belas bagian yang bengkak. Sebelum meneruskan shalatnya dia berkata: Ketika aku disengat aku ingin sekali menyempurnakan ayat yang aku baca.

    Beliau banyak bersedekah, terlalu baik, sangat memuliakan orang lain, seorang yang suka merendah diri dan wara’. Antara kisah yang menunjukkan sifat-sifat tersebut ialah:

    1- Ketika beliau ingin membuat sesuatu, orang banyak yang datang membantunya. Dia mengangkat kayu yang belum selesai, lalu Ummat berkata kepadanya: Wahai ayah Abdullah, cukuplah (biarkan orang lain membuatnya) lantas beliau menjawab: Inilah yang memberi kebaikan kepadaku.

    Beliau menyembelih seekor lembu untuk Ummat. Ketika makanan masak beliau menjemput Ummat hampir seratus orang atau lebih datang bersamanya. Beliau tidak sangka mereka semua berkumpul sebegitu banyak. Semua orang yang hadir dijamunya, akhirnya hanya tinggal sekeping roti.

    2- Beliau diberi barang dagangan, lalu para pedagang bertemu dengannya pada waktu Isya dan mereka meminta untuk membeli barang dagangan tersebut dari beliau dengan keuntungan lima ribu dirham. Imam Bukhari berkata kepada mereka: Kamu mesti bertolak pada malam ini juga. Keesokannya datang rombongan pedagang yang lain, mereka meminta supaya barang itu dijual kepada mereka dengan keuntungan sebanyak sepuluh ribu dirham, tetapi beliau menolak permintaan tersebut dan berkata: Aku telah berniat untuk menjual barang ini kemarin kepada rombongan yang pertama. Lalu Imam Bukhari menyerahkan barangan itu kepada rombongan pertama. Beliau berkata: Aku tidak suka membatalkan niatku.

    3- Telah disebut bahwa beliau amat takut untuk mengatakan keburukan orang lain di belakang mereka dan beliau telah berkata: Aku tidak sekali-kali mengatakan aib seseorang di belakang mereka setelah aku ketahui bahwa ia adalah haram.

    4- Beliau tidak menjual atau membeli secara langsung karena takut melakukan perkara yang dilarang, beliau berkata: Aku tidak mengurusi membeli sesuatu barang secara langsung demikian juga menjualnya, aku menyuruh seseorang membeli untukku. Orang bertanya kepadanya: Kenapa? Beliau menjawab: Karena sewaktu proses jual beli terdapat penambahan, pengurangan dan bercampur-aduk antara yang benar dan salah.

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 1 April 2019 Permalink | Balas  

    Riwayat Hidup: Al Imam Bukhari Rahimahullah (Bagian 4) 

    Riwayat Hidup: Al Imam Bukhari Rahimahullah (Bagian 4)

    Guru-gurunya

    Imam Bukhari dapat mengetahui ada sekumpulan Atba’ At-Tabi’in lalu beliau meriwayatkan Hadits dari mereka begitu juga beliau meriwayatkan dari banyak lagi guru selain daripada mereka. Imam Bukhari pernah berkata: Aku telah menulis dari seribu delapan puluh orang. Mereka semuanya Ulama Hadits.

    Di antara guru-guru Imam Bukhari yang terkemuka ialah:

    1- Abu Asim An-Nabil.

    2- Makkiy bin Ibrahim.

    3- Muhammad bin Isa At-Tabba’.

    4- Ubaidullah bin Musa.

    5- Muhammad bin Salam Al-Bikandi.

    6- Ahmad bin Hambal.

    7- Ishak bin Mansur.

    8- Khalad bin Yahya bin Safuan.

    9- Ayub bin Sulaiman bin Bilal.

    10- Ahmad bin Isykab.

    dan masih banyak lagi selain daripada mereka yang menjadi tempat Imam Bukhari mengambil Hadits.

     

    Murid-muridnya

    Allah s.w.t mengaruniakan ingatan yang kuat kepada Imam Bukhari sebagaimana karunia Allah kepada penghafal Hadits, ilmu serta pengetahuan yang mendalam, beliau bersungguh-sungguh dalam menunaikan hak-hak Allah s.w.t melalui pemberianNya itu, maka beliau menumbuhkan majelis-majelis pengajian ilmu di mana beliau bersama dengan ummat membincangkan masalah mereka dan begitulah keadaan beliau biasanya apabila masuk ke sebuah negeri. Beliau akan dihadiri oleh banyak dari golongan manusia. Di kalangan mereka itu terdapat Hafiz-hafiz, ahli-ahli Fiqih dan lain-lain.

    Al-Hafiz Soleh Jazarah berkata: Sewaktu Muhammad bin Ismail berada di Baghdad, di mana aku menuntut ilmu dengannya dan majelis beliau juga dihadiri oleh lebih daripada dua puluh ribu orang manusia, dan hasil dari keadaan itu telah melahirkan berbagai golongan manusia cerdik pandai, di antara mereka ialah golongan para ilmuwan dan cendikiawan yang menggariskan manhaj beliau dan mereka menuruti jejak langkah beliau dari segi ilmu dan beristiqamah. Mereka ialah:

    1- Al-Imam Abu Al-Husin Muslim bin Hajjaj An-Naisaburi (204 – 261).

    Beliau ialah pengarang kitab (As-Sahih) yang terkenal. Sesungguhnya Ad-Daruqutni telah berkata: (Kalaulah bukan karena Imam Bukhari tentu Muslim tidak pergi dan datang)

    2- Al-Imam Abu Isa Muhammad bin Isa At-Tirmizi (210 – 279).

    Beliau ialah pengarang kitab (As-Sunan) yang terkenal.

    3- Al-Imam Soleh bin Muhammad, yang bergelar (Jazarah), (205 – 293).

    4- Al-Imam Abu Bakar Muhammad bin Ishak bin Khuzaimah (223 – 311)

    pengarang kitab (As-Sahih Al-Masyhur).

    5- Al-Imam Abu Al-Fadli Ahmad bin Salamah An-Naisaburi (000 – 286).

    Beliau merupakan teman Imam Muslim dan beliau juga mempunyai kitab Sahih seperti (Sahih Muslim).

    6- Al-Imam Muhammad bin Nasri Al-Maruzi (202 – 294).

    Beliau adalah di antara ulama-ulama fiqih dari ahli Hadits.

    7- Al-Hafiz Abu Bakar bin Abu Daud Sulaiman bin Al-Asy’ath (230 – 316).

    8- Al-Hafiz Abu Al-Qasim Abdullah bin Muhammad bin Abdul Aziz Al-Baghawi (214 – 317).

    9- Al-Hafiz Al-Qadhi Abu Abdullah Al-Husin bin Ismail Al-Mahamili (235 – 330).

    10- Al-Hafiz Abu Ishak Ibrahim bin Mu’aqqal An-Nasafi (*** – 295)

    salah seorang perawi kitab (As-Sahih) daripada Imam Bukhari.

    11- Al-Imam Abi Hamad bin Syakir An-Nasafi (*** – 311).

    Beliau juga merupakan salah seorang perawi kitab (As-Sahih).

    12- Al-Imam Abu Abdullah Muhammad bin Yusuf bin Matari Al-Farabri (231 – 320).

    Beliau merupakan salah seorang perawi kitab (As-Sahih) dan dari beliaulah tersebarnya di kalangan ummat.

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: