Updates from Desember, 2016 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:46 am on 27 December 2016 Permalink | Balas  

    Pengalaman Jurnalis Meliput Tsunami Aceh 

    Pengalaman Jurnalis Meliput Tsunami Aceh

    Senin 27 desember lalu saya berangkat ke banda aceh untuk liputan buat associated press television news (salah satu media tempat saya menjadi kontributor) ternyata apa yang saya saksikan disana jauh lebih mengenaskan daripada sekedar menyaksikannya lewat layar kaca.

    Di sini saya bisa berinteraksi langsung dengan pada korban, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Dengan yang hidup saya masih bisa berbincang-bincang seadanya (tak etis rasanya saya menanyai mereka panjang lebar karena mereka baru tertimpa bencana, dan saya tau mungkin mereka belum makan sejak minggu pagi saat bencana itu terjadi). Saya juga bisa merasakan langsung kesedihan yang terpancar dari wajah-wajah kuyu yang kecapaian dan masih trauma itu. Mungkin kalau saya mengerti bahasa aceh kesedihan itu bisa jadi berlipat- lipat. Sedangkan dengan si mati! Saya bisa melihat langsung kondisi mereka yang sangat mengenaskan, mencium aroma yang konon bisa “melekat” di tubuh anda selama sepekan. Saya mendapat informasi ini dari seorang dokter yang kebetulan sering berurusan dengan mayat.

    Dalam kunjungan singkat itu (sekitar 2,5 jam saja, sekitar satu jam saya habiskan dengan terbengong di bandara iskandar muda karena tak adanya alat transportasi ke kota) saya sempat menyaksikan kepanikan luar biasa dari warga kota serambi mekah itu. Beberapa tenda militer didirikan tak jauh dari pintu keluar bandara. Di jalan-jalan warga bersileweran seperti orang ling-lung. Mungkin masih trauma, atau mungkin ada keluarganya yang hilang. Atau malah sudah mati… Kondisi ini memaksa kendaraan yang melintas untuk berjalan pelan. Waktu biasa sekitar 20 menit dalam perjalan dari bandara ke kantor gubernuran terasa menjadi lebih lama.

    Di lambaro saya bersama rombongan (3 dokter dari medan, seora! ng anggota DPR RI asal aceh, kadis kesehatan pemprov. NAD, dan 2 jurnalis kantor berita xinhua beijing) singgah di lokasi pemakaman massal. saat tiba disana, areal sekitar 20 m x 15 m itu sedang digali dengan menggunakan excavator. Penggalian belum selesai, 5 kantong berisi mayat teronggok di pinggir lubang raksasa itu. sekitar 5 menit mengambil gambar, kami melanjutkan perjalanan.

    Semakin jauh mendekati kota suasana chaos semakin terasa. Crowd manusia yang kebingungan semakin banyak terlihat. Tak sedikit dari mereka yang membawa buntalan-buntalan besar. Mungkin pakaian, atau harta yang tersisa. Mobil-mobil dan sepeda motor lalu lalang dengan lampu dihidupkan. Sesekali ambulans melintas kencang. Entah membawa korban yang masih hidup, atau mayat yang sudah mulai membengkak. Saya tidak sempat memeriksa.

    Sebelumnya saya dengar banyak beredar rumor bakalan terjadi gempa dan tsunami susulan. Berita-berita seperti ini! Tentu menyesatkan karena bisa saja menimbulkan hal tak diinginkan. Entah siapa yang menghembuskan, yang jelas banyak warga yang menjadi korban. Mungkin karena mereka masih trauma. Sedikit saja terdengar jeritan, “air…” niscaya orang-orang langsung berlarian menyelamatkan diri. Si anggota DPR RI sempat bercerita kalau dia juga sempat menjadi korban.

    Mendekati bundaran lambaro di aceh besar aura kehancuran dan kematian semakin terasa. Beberapa kali saya melihat mayat teronggok di pinggir jalan. Aroma udara yang terhirup juga mulai tak sedap. Saya menduga pasti ada konsentrasi pengumpulan mayat. Dugaan saya benar. Di sebelah kiri simpang lambaro yang dikenal dengan sebutan bundaran itu, tepatnya di depan kantor PMI teronggok sekitar 700 an mayat dari berbagai tempat di kota banda aceh.

    Ya tuhan… Saya hampir tak percaya dengan penglihatan sendiri. Selama saya bekerja sebagai jurnalis inilah konsentrasi mayat terb! Anyak yang saya lihat! Mayat-mayat itu membusuk lebih cepat karena terendam air. Saya sempat terbodoh sebentar, apalagi saat melihat jejeran mayat anak kecil (mungkin berusia 5 tahunan). Ada lagi mayat anggota polisi yang masih berpakaian lengkap. Ada mayat seorang wanita yang biji matanya hampir mencelat. Ada mayat yang mulutnya masih mengeluarkan darah dan buih… Ah… Saya tidak tahu kenapa saya begitu kuat siang itu. Entah dimana air mata saya. Sebelumnya saya mendengar cerita seorang kameramen sctv yang menangis sambil mengambil gambar. Ada juga cerita seorang jurnalis lain yang sampai tak sanggup mengambil gambar. Bisa anda bayangkan?

    Tapi saya teringat saya tidak punya waktu banyak disitu. Apalagi si pemilik mobil kijang yang kami tumpangi juga sedang tergesa-gesa hendak melanjutkan perjalanan mengantarkan 3 orang dokter yang bersama saya itu. Akhirnya camcorder saya hidupkan dan lensa kamera mulai saya arahkan dengan beberapa variasi shoot. Kamera saya juga sempat merekam seorang bapak yang berusaha mengenali sesosok mayat anak kecil dengan meraba-raba bagian belakang kepalanya. Mungkin dia berharap bisa mengenali si anak dari tanda lahir di belakang kepala itu. Sejenak dia seperti tidak yakin kalau itu putranya. Dia terdiam. Tapi tiba-tiba dia menangis kencang dan terisak. Sayang saya tidak mengerti ucapannya. Mata saya sempat berkaca-kaca…

    Sore itu orang-orang hilir mudik berusaha mengenali mayat demi mayat. Sedangkan tentara dan relawan palang merah indonesia mengangkati mayat ke truk untuk diantarkan ke tempat pemakaman. Truk lain masuk ke lokasi mengantarkan mayat baru. Entah dari mana. Pasokan mayat sepeti tak berhenti. Sinar matahari yang lumayan terik membuat aroma tak sedap semakin menyeruak. Untunglah seorang teman yang terbiasa dengan liputan yang berhubungan dengan orang mati pernah memberikan resep. Saat saya coba! Ternyata memang mujarab.

    “Kalau berada di dekat mayat, bagaimanapun kondisi dan bau nya, jangan sekali-kali membuang ludahmu. Karena itu bisa memancing muntah. Sebaiknya telanlah ludahmu kalau merasa ingin muntah, bagaimanapun mualnya. Mudah-mudahan kau tak akan muntah,” kata si teman.

    Teman yang memberikan resep adalah stringer salah satu kantor berita asing di NAD. Ingat dia saya sempat kuatir karena saya belum melihat seorangpun jurnalis yang saya kenal disana. Ada cerita kalau kebanyakan para jurnalis tinggal di daerah dekat pantai. Padahal itulah lokasi yang paling ringsek dihantam tsunami. saya ngeri membayangkan kalau dia ikut menjadi korban.

    Perjalanan lalu berlanjut. Konsentrasi orang semakin banyak. Di sebuah spbu saya melihat antrian panjang orang. Tak sedikit dari mereka membawa jirigen plastik. Antrian itu semakin tak tertib. Petugas spbu sepertinya sengaja menjatah karena persediaan tak banyak. Di sebelah kiri dan kanan jalan saya melihat gedung permanen bertingkat yang rubuh karena gempa. Kalau tidak salah, bangunan yang di sebelah kiri gedung keuangan dan yang di sebelah kanan bangunan gedung asuransi. Saya ngeri membayangkan seandainya bencana terjadi pada saat hari kerja. Berapa banyak korban yang bakalan tertimpa?

    Oia, si Kadis Kesehatan yang menyetir mobil yang kami tumpangi cerita kalau air (bah) sampai ke lokasi yang saya lihat. Padahal jarak bibir pantai dengan tempat tersebut hampir mencapai 15 kilometer. Sebegitu jauh, tapi air sampai kesitu. Tinggi pula lagi. Saya bisa melihat bekas air bercampur lumpur dari tembok-tembok itu…

    sampah-sampah dan kayu-kayu teronggok di pinggir jalan membuat pemandangan semakin kumuh. “Tadi pagi sampah-sampah masih di tengah jalan. Tapi barusan dibersihkan pakai buldoser,” tambah si Kadis.

    Beberapa mayat masih teronggok di pinggir jalan. Sayang saya tak ! Bisa melihat detail ke seluruh tempat karena duduk terjepit di tengah-tengah mobil. Saya juga tak bisa mengambil gambar dengan posisi seperti itu. Ah, seandainya tadi saya bisa mencarter/ menyewa sebuah sepeda motor untuk berjalan sendiri. Tentu gambar yang saya dapat bisa jauh lebih bagus. Tapi saya ingat juga tak punya waktu lama karena paling tidak mesti mengirimkan kaset untuk segera dikirimkan ke jakarta.

    Mobil kami lalu berbelok mengarah ke kantor gubernuran. Si Kadis rupanya hendak bertemu seseorang di sana sehingga tak sempat membawa kami berkeliling lebih jauh. Di Pendopo Gubernuran sudah banyak warga yang mengungsi. Tempat itu memang jauh lebih manusiawi dibanding tempat-tempat yang saya lihat sebelumnya.

    Dalam sekian menit itu saya sempat menimbang-nimbang untuk terus jalan sendirian atau ikut balik ke bandara dengan rombongan Wapres Jusuf Kalla. Tapi tenggat waktu memaksa saya mengambil keputusan cepat. Apalagi cuma ada satu bus yang bisa saya tumpangi untuk kembali ke bandara.

    Pertimbangannya, kalau saya tinggal saya mesti mencari sepeda motor untuk dicarter. Jangan berharap ada angkot atau taksi disana. Kalau saya tinggal, saya pasti akan kesusahan mencari penginapan dan makanan. Jangankan untuk saya, warga setempat saja sudah 2 hari tidak makan. Belum lagi saya betul-betul dengan medan banda aceh. Saya pernah ke kota ini hampir 17 tahun lalu. Banyak perubahan bukan?

    Melihat orang-orang mulai menaiki bus yang akan kembali ke bandara naluri saya memaksa untuk ikut. Sempat saya kuatir, bagaimana kalau Paspampres memaksa saya untuk turun? Tapi saya teringat deadline untuk mengirimkan kaset hasil rekaman. Tanpa berpikir panjang lagi saya ikut naik ke bus. Di dalam saya melihat Najwa Shihab (Presenter Metro TV), beberapa wartawan dan fotografer lain dan seorang reporter perempuan yang membawa-bawa camcorder berstiker TV7. belakangan saya tahu kalau dia ternyata unit lubis.

    Perjalanan setengah jam kembali ke bandara ternyata belum berbeda dengan saat saya menuju gubernuran tadi, selain orang-orang semakin banyak dan jalanan semakin padat.

    Saat melintas dari lokasi pemakaman massal saya sempat melihat kalau pemakaman belum dilakukan. Padahal sore itu rencananya mesti dikuburkan karena mayat bertambah dan yang jelas semakin menebar bau tak sedap. Saya berharap iring-iringan mobil wapres singgah di situ. Tapi rombongan jalan terus.

    Rombongan akhirnya berhenti di hanggar lanud iskandar muda. Rupanya wapres mau melihat pasokan bantuan yang baru tiba dari medan. Sore itu, 1 pesawat Hercules baru saja landing membawa ratusan kardus makanan dan obat-obatan. Prajurit tni tampak hilir mudik mengangkuti kardus-kardus itu dari lambung pesawat. Tak lama Wapres berangkat naik helikopter untuk meninjau beberapa lokasi yang tak terjangkau lewat jalan darat.

    Kesempatan itu lalu saya manfaatkan dengan berbincang-bincang dengan Kapolda NAD Irjen Bachrumsyah.

    “Bencana ini memang sangat mengerikan dik. Saya juga turut menjadi korban. Saya kehilangan kontak dengan banyak saudara-saudara saya. Saya tak bisa berharap banyak. Kalau mereka masih hidup tentu mujizat. Kalaupun sudah tak ada, saya tak bisa berbuat apa-apa,” katanya pada saya.

    Polisi berbintang dua dan berkumis lebat itu sepertinya memang sedang depresi ringan. Wajar-wajar saja karena dia mesti berkeliling kesana- kemari. Belum lagi laporan banyak anak buahnya yang hilang. Termasuk sekitar 1 kompi saat mereka mau apel pagi di minggu naas itu. Kelelahan terpancar dari wajahnya. Celana lapangan yang dikenakannya belepotan lumpur. Sangat jarang saya melihat pemandangan seperti itu. Menyadari itu saya urungkan untuk menanyai hal-hal lain.

    Sore Menjelang Malam Itu Juga, Sekitar Pukul 18.30 Akhirnya Saya Jadi Terbang Ke Medan Menumpang Pesawat pelita air yang disulap menjadi pesawat RI-2. Sebelumnya saya sempat cemas, bagaimana saya mengirimkan kaset saya. Untuk menumpang di pesawat Wapres rasanya mustahil karena saya belum diregistrasi.

    Sambil mencari akal bagaimana caranya untuk ikut pulang tiba-tiba seorang bapak menegur saya. Saya tidak mengenalnya, selain baju safari coklat yang dikenakannya dan pin kecil di ujung kerahnya. Seingat saya, seluruh anggota pasukan pengamanan Presiden/ Wakil Presiden mengenakan pin tersebut. Tapi, dia terlihat lebih tua dari anggota paspampres lainnya.

    “Mau pulang dik?” katanya sambil menepuk pundak saya.

    “Iya pak, kalau memang ada seat,” kata saya ragu-ragu.

    “Ya udah, kalau mau pulang ikut saja. Jangan berlama-lama lagi. Ayo ikut aja,” katanya ramah.

    Mendengar tawaran tersebut saya berbinar dan melangkah pasti ke tangga pesawat. Akhirnya pikiran! Saya soal bagaimana mengirimkan kaset mendapat jawaban.

    Jam 19.00 pesawat meninggalkan banda aceh. Saya masih kepingin kembali kesana, mungkin dalam waktu dekat. Rasanya saya ingin menebus kesalahan tidak sempat melakukan reportase lengkap. Selain kaset berdurasi sekitar 20 menit. Sebagai seorang jurnalis ini sebenarnya kesalahan yang tak bisa ditolerir.

    Satu pertanyaan terus membayangi saya selama 45 menit di udara, bahkan sampai hari ini saat saya mengetik di sebuah warnet tak jauh dari rumah saya setelah seharian menongkrongi posko bencana di Lanud Auri Medan.

    Kenapa pemerintah cenderung lambat menangani bencana ini? Apalagi setelah beberapa pengungsi yang selamat dan pindah ke medan yang curhat mengatakan belum makan dan mendapat air bersih hampir 3 hari belakangan. Jangankan makanan, snack pun hampir tidak ada.

    “kami sampai mesti mengorek-ngorek lumpur siapa tau ada makanan yang terbenam,” kata si pengungsi tadi siang kepada saya. Ucapannya tentu membuat saya terhenyak, apalagi setahu saya pasokan makanan sudah mulai dikirimkan sejak sehari sebelumnya. Buat apa makanan itu sampai ke sana kalau tak segera didistribusikan?

    Sampai tadi malam pasokan makanan dan obat-obatan masih terus masuk ke posko dan “tertimbun” disitu.

    Kenapa semuanya terasa sangat lambat? Sikap pemerintahan srilangka membuat saya iri. Mereka cepat tanggap walau cuma sebuah negara kecil. Militer dikerahkan untuk mengevakuasi korban. Baik yang masih hidup atau sudah mati. Mereka juga dikerahkan untuk mendistribusikan pasokan bantuan makanan dan obat-obatan. Mereka bisa kenapa kita tidak? Ayo kita bantu mereka yang jadi korban sebisa kita.

    Sayang saya tak sempat menanyakannya kepada mr President saat beliau megunjungi Posko SATKORLAK bencana Aceh di Lanud Auri Medan selasa malam tadi.

    ***

    Lia Achmadi

    1. Radio Delta Insani
    Iklan
     
  • erva kurniawan 1:46 am on 26 December 2016 Permalink | Balas  

    Kisah Korban Tsunami Aceh 

    masjid_2_utuh_tsunami_acehKisah Korban Tsunami Aceh

    Pada hari minggu pagi 26 Desember 2004 sekira pukul 8.00 WIB saya bersama istri berniat belanja makanan kepasar, dalam perjalanan terjadilah gempa yang sangat dasyat (8,9 SR). Saya bersama istri melihat langsung bangunan ruko yang roboh rata dengan tanah, istri saya terjatuh dan muntah-muntah. Kira kira 10 menit gempa terjadi banyak penduduk yang keluar rumah dan terjadi kepanikan yang luar biasa. Lalu kami langsung pulang kerumah orang tua saya untuk melihat anak2 yang kami titip sama orang tua dan alhamdulillah kami semua selamat.

    Karena ada rasa empati yang dalam kami berdua ingin melihat kawan-kawan yang lain terutama yang berada dipinggir laut, akan tetapi ditengah jalan kami melihat gelombang laut yang sangat besar dan tinggi lebih dari 20 meter melimpah keruas jalan, diwaktu ini semua penduduk turun ke jalan berlari tanpa tujuan dan kembali terjadi kepanikan yang sangat luar biasa (lebih ngeri bila dibandingkan kepanikan di film Titanic). Ada yang jatuh, anak-anak terinjak-injak, kami turun dari motor karena jalanan penuh dengan orang.

    Kemudian air laut mulai sampai dijalan dengan sangat cepat dan deras dan dalam hitungan detik air laut telah mencapai 1 meter, alhamdulillah secara kebetulan didepan kami ada truk reo TNI dan kami berdua naik akan tetapi kami melihat air mulai masuk kedalam truk reo lalu kami naik keatas atap truk reo disini kami selamat dan kami melihat banyak orang tua, wanita dan anak2 hanyut terbawa arus dan sebagian ada yang tenggelam (ini terjadi di Jl. T. Umar meulaboh).

    Sebagian penduduk naik ketoko2 namun air yang begitu deras menghantam pintu2 toko hingga jebol sebagian terkurung didalam took, saya perkirakan lebih setengah penduduk meninggal tenggelam dan hanyut kelaut. Dikarenakan diatas atap reo telah penuh dangan orang maka yang lelaki sepakat untuk lompat ke air dan berenang mencari atap-atap toko, disini juga ada yang tenggelam Karena terantuk dengan kayu yang hanyut. Alhamdulliah saya bisa berenang lebih kurang 50 meter kesebuah atap toko Tunggal Menara, sedangkan istri saya masih diatas atap truk reo. Saya melihat mobil, minibus dan rumah hanyut (saya perkirakan truk reo tidak hanyut karena berat). Saat ini terdengar takbir dimana-mana semua bagai sudah kiamat, semua telah pasrah dengan apa yang akan terjadi. Saya perkirakan yang meninggal yang hanyut dan meninggal lebih dari 2000 orang. Lebih kurang dua jam air sudah mulai surut, diwaktu ini kami berdua berenang lebih kurang 3 km untuk mencapai rumah orang tua. Saat berenang inilah saya melihat langsung banyak mayat yang bergelimpangan dijalan, dipinggir toko, dan dimana-mana. Secara kebetulan rumah orang tua saya agak tinggi dan air disini tidak terlalu kencang. Orang tua dan anak-anak mengungsi ke mesjid terdekat.

    Alhamdulillah kami sekeluarga di Meulaboh selamat, tetapi banyak istri dan anak-anak kawan dan kerabat kita yang meninggal dan hanyut ke laut, hanya kepada-Nya kita berdo’a yang hanyut kelaut agar ada yang menolongnya. Amin.

    Kisah ini dialami oleh Agus Maidi, Kepala Afdeling OB PT KTS

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 18 December 2016 Permalink | Balas  

    Menikmati Kritik Dan Celaan 

    kritikMenikmati Kritik Dan Celaan

    KH Abdullah Gymnastiar

    Kejernihan dan kekotoran hati seseorang akan tampak jelas tatkala  dirinya ditimpa kritik, celaan atau penghinaan orang lain.  Bagi orang yg lemah akal dan imannya, niscaya akan mudah goyah & resah. Ia akan sibuk menganiaya diri sendiri dgn memboroskan waktu untuk memikirkan kemungkinan melakukan pembalasan. Mungkin dg cara  mengorek-ngorek aib lawannya atau mencari dalih dalih untuk membela diri, yg ternyata ujung dari perbuatannya tsb hanya akan membuat dirinya semakin tenggelam dalam kesengsaraan bathin dan kegelisahan.

    Lain halnya dengan orang yang memiliki kejernihan hati dan ketinggian  akhlak. Ketika datang badai kritik, celaan serta penghinaan seberat  atau sedahsyat apapun, dia tetap tegar tak goyah sedikitpun. Malah ia  menikmatinya karena yakin bahwa semua musibah yang menimpa semata-mata  terjadi dengan seijin ALLOH Azza wa Jalla.

    ALLOH tahu persis segala aib dan cela hamba-Nya dan Dia berkenan  memberitahunya dengan cara apa saja dan melalui siapa saja yang  dikehendaki-Nya. Terkadang berbentuk nasihat yg halus, adakalanya lewat  obrolan dan guyonan seorang teman, bahkan tak jarang berupa cacian teramat  pedas dan menyakitkan. Ia pun bisa muncul melalui lisan seorang guru, ulama,  orang tua, adik atau siapa saja. Terserah ALLOH.

    Jadi mengapa kita harus merepotkan diri membalas orang-orang yg menjadi  jalan keuntungan bagi kita? padahal seharusnya kita bersyukur dengan  sebesar-besar syukur karena mereka sudi meluangkan waktu memberitahukan segala kejelekan dan aib yang mengancam amal-amal shaleh kita di akhirat kelak. Karenanya, jangan aneh jika kita saksikan orang-orang mulia dan ulama  yang saleh ketika dihina dan dicaci, sama sekali tidak menunjukkan perasaan sakit hati dan keresahan.Sebaliknya mereka bersikap penuh kemuliaan dengan berterima kasih atas pemberitahuan ihwal aib yang justeru tidak sempat terlihat oleh diri sendiri.

    Sahabat, bagi kita yang berlumur dosa ini, haruslah senantiasa waspada  terhadap pemberitahuan dari ALLOH yang setiap saat bisa datang dengan  berbagai bentuk.

    ALLOH SWT berfirman :”Dan janganlah engkau berduka cita karena perkataan mereka. Sesungguhnya kekuatan itu bagi ALLOH semuanya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.(QS Yunus (10):65)

    Manusia memang sering lupa bahwa qudrah dan iradah ALLOH itu berada diatas segalanya, sehingga menjadi sombong dan takabur, seakan-akan dunia dan isinya ini berada dalam genggaman tangannya. Na’udzubillah.

    Timbulnya keresahan didalam hati, pembelaan diri atau keinginan membalas  menyakiti adalah karena pikiran kita terlampau terfokus pada makhluk. Padahal mereka hanyalah jalan bagi sampainya pemberitahuan ALLOH kepada  kita.

    Nah Sahabat mudah-mudahan ALLOH memberikan kekuatan kepada kita untuk  dapat melakukan semua ini karena mau tidak mau kejadian itu akan datang  juga menimpa diri kita suatu saat.

    ***

    Sumber : isnet.org

     
    • GAYA HIDUP ISLAMI 9:01 pm on 25 Desember 2016 Permalink

      Mencoba bersyukur dengan menahan emosi saat orang lain mencela kita memang sebuah usaha yang takmudah. Tapi justru di sanalah cobaanya …

      Terima kasih sudah berbagi artikel tentang menikmati kritik dan celaan di atas.

  • erva kurniawan 1:52 am on 17 December 2016 Permalink | Balas  

    AA GYM : Mursyid yang Arifbillah. 

    Reciting-QuranAA GYM : Mursyid yang Arifbillah.

    Mursyid yang mengandung arti, yang memberikan bimbingan atau petunjuk dengan cara tepat. Jadi kalau ada seseorang yang disebut mursyid, berarti orang tersebut adalah orang yang tepat untuk menunjukkan ke jalan yang tepat dengan cara yang tepat pula. Kata ini bermakna pula kekuatan dan keteguhan. Rasyadah berarti batu karang, suatu benda yang menunjukkan kekuatan dan keteguhan. Kalau orang bernama rasyid, maka orang tersebut harus memiliki karakter tangguh, kuat, dan mampu bertindak tepat.

    Kita bisa bertindak tepat dan bijaksana apabila kita memiliki ilmu yang luas ilmu dan mencapai tingkat ma’rifatullah. Karena Allah SWT memiliki sifat Ar Rasyid, maka semua tindakan Allah pasti tepat, cermat, dan tidak akan meleset. Ketentuan Allah tidak akan terlambat dan tidak pula terlalu cepat. Tidak kebesaran, tidak kekecilan. Tidak kelebihan, dan tidak kekurangan.

    Semoga Allah Yang Mahatepat tindakan-Nya, menganugerahi kita ilmu yang luas, hati yang lapang, dan kebijaksanaan, sehingga kita mampu bertindak secara tepat dalam segala situasi.

    **

    Kita bisa bertindak tepat dan bijaksana apabila kita memiliki ilmu yang luas. Sangat sulit bagi orang yang sedikit ilmunya untuk menyikapi hidup ini dengan tepat.Semoga Allah Yang Mahatepat tindakan-Nya, menganugerahi kita ilmu yang luas, hati yang lapang, dan kebijaksanaan, sehingga kita mampu bertindak secara tepat dalam segala situasi.

    Allah SWT memiliki nama Ar Rasyid atau Allah Yang Mahatepat Tindakan-Nya. Menurut Dr Quraish Shihab, semoga Allah meridhainya, kata ar-rasyid tersusun dari huruf ra’, syin, dan dal, yang makna dasarnya adalah ketepatan dan lurusnya jalan. Dari makna ini lahirlah kata rusyd atau manusia yang sempurna akal dan jiwanya hingga ia mampu bertindak dan bersikap secara tepat.

    Lahir pula kata mursyid yang mengandung arti yang memberikan bimbingan atau petunjuk dengan cara tepat. Jadi kalau ada seseorang yang disebut mursyid, berarti orang tersebut adalah orang yang tepat untuk menunjukkan ke jalan yang tepat dengan cara yang tepat pula.

    Kata ini bermakna pula kekuatan dan keteguhan. Rasyadah berarti batu karang, suatu benda yang menunjukkan kekuatan dan keteguhan. Kalau orang bernama rasyid, maka orang tersebut harus memiliki karakter tangguh, kuat, dan mampu bertindak tepat.

    Karena Allah SWT memiliki sifat Ar Rasyid, maka semua tindakan Allah pasti tepat, cermat, dan tidak akan meleset. Ketentuan Allah tidak akan terlambat dan tidak pula terlalu cepat. Tidak kebesaran, tidak kekecilan. Tidak kelebihan, dan tidak kekurangan.

    Allah membalas manusia (baik dengan kenikmatan atau pun siksaan) dengan ukuran yang tepat dan sebanding dengan kapasitas amal yang dilakukan manusia bersangkutan. “Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu” (QS Al Baqarah: 284).

    Sayangnya, karena terbatasnya ilmu dan tingkat ma’rifatullah, kita sering kecewa terhadap semua ketentuan Allah. Kita sering merasa bahwa keinginan kita lebih tepat daripada ketentuan Allah, sehingga kita sering kecewa tatkala keinginan tidak terkabul. Padahal, menurut ilmu Allah, apa yang kita inginkan tidak baik atau bahkan berbahaya bagi kita.

    Allah SWT berfirman, Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu. Sesungguhnya Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS Al Baqarah: 216).

    Karena itu, kita meyakini bahwa Allah itu selalu tepat tindakan, waktu, dan momentum-Nya. Meski manusia bermilyar jumlahnya di dunia ini, tapi balasan Allah pasti tepat kepada orang per orang sesuai kadar keimanan dan kekufurannya. Balasannya pun tidak akan tertukar. Maka kita tidak usah khawatir menghadapi semua ketentuan Allah. Yang penting niat kita lurus dan ikhtiar kita maksimal.

    Allah bertindak tepat karena ilmu Allah sangat luas, tidak bertepi. Ketepatan itu berbanding lurus dengan pengetahuan yang Dia miliki. Bukankah Ia adalah Al ‘Alim; Dzat Yang Maha Mengetahu i?

    Seorang hakim bisa memutuskan suatu perkara dengan tepat, karena ia memiliki pengetahuan dan bukti yang lengkap. Semakin lengkap data yang dia miliki, maka akan semakin tepat pula keputusan yang diambil.

    Apa hikmahnya bagi kita ?.

    Pertama, kita bisa bertindak tepat dan bijaksana apabila kita memiliki ilmu yang luas. Sebagai ilustrasi, kita akan bicara tepat dan lancar apabila kita memiliki kekayaan kata-kata. Sangat sulit bagi orang yang sedikit ilmunya untuk menyikapi hidup ini dengan tepat. Seorang ibu yang hamil dan tidak memiliki ilmu memadai akan cenderung tersiksa dengan kehamilannya tersebut. Seorang ayah yang tidak memiliki ilmu mengurus rumah tangga, akan sulit bertindak bijak dalam membina rumah tangga.

    Kunci kedua agar kita bisa bertindak tepat adalah pengendalian diri dan kesabaran. Seorang pemanah yang tepat, kuncinya adalah tenang. Tindakan yang emosional cenderung tidak tepat untuk menghasilkan sebuah solusi. Sikap yang emosional lebih banyak menghasilkan masalah daripada menyelesaikan masalah. Dengan sikap sabar, jernih, dan pengendalian diri, insya Allah setiap masalah dapat diselesaikan dengan cara yang tepat dan bijaksana. Dengan tindakan yang tepat, risiko pun bisa diminimalisasi dan hidup pun akan lebih mudah.

    Wallahu a’lam bish-shawab.

    Meneladani Allah yang Mahatepat Tindakannya

    ***

    KH Abdullah Gymnastiar

    Republika

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 16 December 2016 Permalink | Balas  

    Busuknya Kebencian 

    kentangBusuknya Kebencian

    Seorang Ibu Guru taman kanak-kanak ( TK ) tersebut mengadakan “permainan”.

    Ibu Guru menyuruh anak tiap-tiap muridnya membawa kantong plastik transparan 1 buah dan kentang. Masing-masing kentang tersebut diberi nama berdasarkan nama orang yang dibenci, sehingga jumlah kentangnya tidak ditentukan berapa tergantung jumlah orang-orang yang dibenci.

    Pada hari yang disepakati masing-masing murid membawa kentang dalam kantong plastik. Ada yang berjumlah 2, ada yang 3 bahkan ada yang 5.

    Seperti perintah guru mereka tiap-tiap kentang di beri nama sesuai nama orang yang dibenci. Murid-murid harus membawa kantong plastik berisi kentang tersebut kemana saja mereka pergi, bahkan ke toilet sekalipun, selama 1 minggu.

    Hari berganti hari, kentang-kentang pun mulai membusuk, murid-murid mulai mengeluh, apalagi yang membawa 5 buah kentang, selain berat baunya juga tidak sedap.

    Setelah 1 minggu murid-murid TK tersebut merasa lega karena penderitaan mereka akan segera berakhir.

    Ibu Guru : ” Bagaimana rasanya membawa kentang selama 1 minggu ?”

    Keluarlah keluhan dari murid-murid TK tersebut, pada umumnya mereka tidak merasa nyaman harus membawa kentang-kentang busuk tersebut ke manapun mereka pergi. Guru pun menjelaskan apa arti dari ” permainan ” yang mereka lakukan.

    Ibu Guru : ” Seperti itulah kebencian yang selalu kita bawa-bawa apabila kita tidak bisa Memaafkan orang lain. Sungguh sangat tidak menyenangkan membawa kentang busuk kemana pun kita pergi. Itu hanya 1 minggu. Bagaimana jika kita membawa kebencian itu seumur hidup? Alangkah tidak nyamannya …”

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:49 am on 15 December 2016 Permalink | Balas  

    Permasalahan Daging Korban (3/3) 

    kambing-kurban-300x225Permasalahan Daging Korban (3/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Hukum Berwakil Membeli Dan Menyembelih Korban

    Sepertimana kebiasaan di negara kita ibadat korban itu dilaksanakan dengan berkumpulan sama ada atas nama kementerian, jabatan, persatuan kampung dan sebagainya. Kadang-kadang ibadat korban itu sudah menjadi projek tahunan bagi pihak-pihak yang berkenaan itu.

    Jika dilihat daripada amalan kebiasaan bagi perlaksanaan ibadah korban itu, kumpulan tersebut akan menentukan wakil mereka untuk mengurus pembelian, penyembelihan binatang korban dan pengagihan dagingnya di pusat-pusat penyembelihan. Jika ditinjau dari segi hukum, perlaksanaan yang sedemikian itu melibatkan hukum wakalah iaitu berwakil.

    Huraian Umum Mengenai Wakalah

    Wakalah dari segi bahasa bererti menyerahkan kuasa, pengawasan, penjagaan dan pemeliharaan. Dari segi istilah fiqh pula ialah seseorang itu menyerahkan sesuatu perkara ketika hidupnya kepada orang lain agar melakukannya dalam hal-hal yang boleh diwakilkan.

    Hukum wakalah adalah harus berdasarkan Al-Qur’an, sunnah dan ijma’ ulama. Wakalah mempunyai empat rukun iaitu:

    1. Muwakkil (orang yang berwakil)
    2. Muwakkal (orang yang dijadikan wakil)

    iii. Muwakkal fihi (sesuatu yang diwakilkan)

    1. Shighah (ijab dan qabul). (I’anah At-Thalibin: 3/100-101)

    Shighah Dalam Wakalah

    Apa yang ingin dihuraikan di sini ialah rukun yang keempat iaitu shighah di mana perkara ini sangat penting diketahui demi menjaga keshahihan ibadah korban berkenaan.

    Disyaratkan ijab ke atas orang yang berwakil itu dengan melafazkan sesuatu perkataan sama ada secara sharih (jelas atau terang) ataupun kinayah (yang tidak terang atau tidak jelas) seperti dalam kitabah (penulisan), persuratan atau dengan isyarat jika yang berwakil itu orang bisu yang boleh difahami, yang menyatakan bahawa orang yang berwakil itu adalah dengan keredhaan hatinya. (Majmuk: 14/197)

    Ini bererti ada interaksi antara orang yang berwakil dengan orang yang diwakilkan yang dinamakan aqad. Namun orang yang dijadikan wakil itu tidak disyaratkan baginya qabul (ucap terima), kecuali di dalam keadaan tertentu seperti jika dalam perwakilan itu dengan upah. Contohnya orang yang berwakil itu mewakilkan seseorang untuk menjualkan sebidang tanahnya dengan harga sekian dan memberi upah kepada wakilnya itu. Maka dalam keadaan ini, wakil itu hendaklah melafazkan qabulnya sama ada dia menerimanya ataupun tidak. Adapun yang disyaratkan bagi orang yang dijadikan wakil itu ialah dia tidak menolak ucapan atau lafaz orang yang berwakil itu. Jika orang yang dijadikan wakil itu menolak ucapan tersebut, seperti dia berkata: “aku tidak terima” atau seumpamanya, maka batal dan tidak sah akad perwakilan itu.

    Jika dilihat ketentuan hukum dalam bab wakalah dan dipraktikkan dengan cara kebiasaan yang tersebut di atas oleh sebahagian kumpulan yang berkorban itu ditakuti tidak menepati kehendak sebenar hukum wakalah. Pada kebiasaannya, orang-orang yang hendak menyertai ibadat korban akan mendaftarkan namanya dan membayar kadar tertentu bagi tujuan tersebut tanpa disertai dengan lafaz tawkil kepada wakil yang dilantik.

    Amalan tersebut tidak memenuhi kehendak hukum berwakil kerana jika dilihat kepada tuntutan bab wakalah orang yang berwakil itu wajib melafazkan tawkilnya (akad) sama ada dengan lafaz yang sharih atau kinayah kepada wakil yang ditentukan bagi tujuan seperti membeli dan menyembelih binatang korban serta mengagihkan daging korban tersebut.

    Melantik Wakil Kedua

    Dalam bab wakil ini, para ulama fiqh juga berpendapat bahawa orang yang dijadikan wakil itu harus mewakilkan lagi kepada orang lain untuk menjadi wakil yang kedua tanpa perlu mendapat izin daripada orang yang berwakil. Itu pun jika perkara yang diwakilkan itu tidak dapat dikerjakan oleh wakil itu sendiri, disebabkan dia tidak layak melakukannya atau tidak berkemampuan mengerjakannya. Akan tetapi jika sebaliknya, iaitu dia mampu untuk melaksanakan perkara yang diwakilkan ke atasnya itu, maka tidak harus baginya melantik orang lain menjadi wakil yang kedua melainkan dengan izin orang yang berwakil. (Majmuk: 14/218)

    Mewakilkan Sembelihan Binatang Korban

    Menurut hukum asal berkorban itu bahawa sunat binatang yang hendak dijadikan korban itu disembelih oleh orang yang berkorban itu sendiri, kiranya dia pandai menyembelih. Walaupun begitu boleh juga dia mewakilkan orang lain untuk menyembelih korban itu dan hadir ketika penyembelihannya. Afdhalnya wakil itu ialah orang Islam yang mengetahui akan hukum-hakam mengenai korban.

    Keharusan berwakil dalam ibadah korban itu diambil daripada perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah berkorban dengan seratus ekor unta, di mana Baginda sendiri menyembelih – dengan tangan Baginda yang mulia – enam puluh tiga ekor, kemudian Baginda menyerahkan pisau penyembelih itu kepada Sayyidina Ali Karramallahu wajhah untuk menyembelih bakinya.

    Persoalan Niat

    Disyaratkan orang yang berkorban itu berniat kerana korban ketika menyembelih, kerana ia ibadat dan harus juga mendahulukan niat itu sebelum menyembelih mengikut pendapat yang ashah.

    Adalah memadai jika orang yang berwakil itu berniat ketika wakilnya menyembelih korbannya dengan hadir orang yang berwakil ketika itu. Dalam hal ini, niat orang yang berwakil itu adalah memadai dan wakil tidak perlu lagi berniat. Walau bagaimanapun adalah lebih baik orang yang berwakil itu, ketika menyerahkan korban, menyuruh wakilnya berniat bagi pihak dirinya ketika dia menyembelih korban tersebut.

    Apa yang mesti diambil perhatian dalam hal berniat korban ini, ada baiknya ditentukan niat itu umpamanya sebagai korban sunat ———–bagi mengelakkan niat itu menjadi korban wajib, kerana haram bagi yang berkorban itu makan daripada daging korban wajib, bahkan wajib disedekahkan semua daging tersebut kepada fakir miskin.

    Lafaz Niat Dan Tawkil Dalam Korban

    Niat itu tempatnya di hati dan sunat melafazkannya dengan lidah. Niat bagi korban sunat itu ialah seperti berikut:

    Maksudnya: “Sahaja aku melakukan korban yang sunat”

    Contoh lafaz berwakil:

    “Buatkan korban/udhhiyyah sunat untuk saya”, atau

    “Belikan korban sunat untuk saya”, yang bermakna: “Sembelihkan untuk saya, niatkan untuk saya.”

    Contoh terima wakalah:

    “Aku terima.”

    Menyembelih Binatang Korban Di Luar Negeri Dan Dagingnya Dialihkan Ke Negeri Yang Lain

    Apa yang dimaksudkan dengan memindahkan daging korban itu ialah memindahkan daging korban dari negeri tempat penyembelihannya ke negeri lain, supaya daging korban itu dibahagi-bahagikan kepada mereka yang berhak di negeri berkenaan itu.

    Adakah harus bagi orang-orang tempatan berwakil untuk berkorban di luar negeri dan daging korban itu dipindahkan daripada tempat korban ke negeri atau daerah lain?

    As-Sayyid Al-Bakri Ad-Dumyathi, Pengarang Hasyiah I’anah At-Thalibin menjelaskan bahawa telah dijazamkan dalam An-Nihayah bahawa haram memindahkan daging korban daripada tempat berkorban itu seperti mana juga zakat, sama ada korban sunat atau wajib. Adapun yang dimaksudkan daripada korban sunat itu ialah bahagian yang wajib disedekahkan kepada fakir miskin.

    Manakala memindahkan wang daripada satu negeri ke negeri yang lain untuk membeli binatang korban adalah di haruskan seperti mana katanya yang ertinya :

    “Adapun memindah wang dirham daripada satu negeri ke negeri yang lain untuk membeli dengannya binatang korban di negeri tersebut maka ia adalah harus.”

    (I’anat At-Thalibin: 2/380)

    As-Syeikh Mohammad bin Sulaiman Al-Kurdi pernah ditanya :

    “Sudah menjadi kebiasaan orang-orang Jawi (kepulauan Melayu) berwakil kepada seseorang untuk membeli na’am (seperti lembu dan kambing) di Mekkah untuk dijadikan aqiqah dan korban sedangkan orang yang hendak beraqiqah atau berkorban itu berada di negeri Jawi. Adakah sah perbuatan sedemikian atau tidak, mohon fatwakan kepada kami.

    Jawapan: Ya! Sah yang demikian itu dan harus berwakil membeli binatang korban dan aqiqah dan begitu juga untuk menyembelihnya sekalipun di negeri yang bukan negeri orang yang berkorban dan beraqiqah itu.”

    (I’anah At-Thalibin: 2/381)

    Dalam perkara ini pengarang Kitab Sabil Al-Muhtadin pula menyebutkan:

    Kata Syeikhi Muhammad bin Sulaiman: Harus berwakil pada membeli na’am akan korban pada negeri yang lain dan pada menyembelih dia dan pada membahagikan dagingnya bagi segala miskin negeri itu intaha. Maka iaitu zahir sama ada negeri Mekkah atau lainnya tetapi jangan dipindahkan dagingnya daripada negeri tempat berkorban kepada negeri yang lain maka iaitu haram lagi akan datang kenyataannya dan sayuginya hendaklah yang berwakil menyerahkan niat korban kepada wakil pada masalah ini wallahu ‘alam. (Sabil Al-Muhtadin: 214)

    Katanya lagi jikalau berwakil seorang akan seorang pada berkorban di negeri lain kerana menghasilkan murah umpamanya hendaklah disedekahkan oleh wakil akan dagingnya bagi fakir miskin negeri itu dan janganlah dipindahkannya akan sesuatu daripada dagingnya daripada negeri itu kepada negeri yang berwakil melainkan sekadar yang sunat ia memakan dia itupun jika ada korban itu sunat (adapun) jika ada korban itu wajib maka wajiblah atas wakil mensedekahkan sekeliannya kepada fakir di dalam negeri tempat berkorban itu (dan haram) atasnya memindahkan suatu daripadanya ke negeri yang lain. (Sabil Al-Muhtadin: 216)

    Berdasarkan perkataan para ulama seperti yang dinukilkan di atas, adalah jelas bahawa hukumnya harus berwakil untuk membeli binatang korban di negeri yang lain dan menyembelihnya serta membahagikan daging tersebut kepada fakir miskin di negeri berkenaan.

    Adapun memindahkan daging korban daripada tempat sembelihan Ke negeri yang lain itu adalah berhubungkait dengan hukum menyedekahkan daging korban itu:

    Jika korban itu adalah korban wajib yang mana kesemua dagingnya wajib disedekahkan kepada fakir miskin dalam keadaan mentah, maka haram hukumnya memindahkan daging korban berkenaan daripada tempat sembelihan. Inilah pendapat jumhur ulama Syafi’eyah.

    Jika korban itu korban sunat di mana sebahagian daripada daging korban itu harus dihadiahkan atau dimakan oleh orang yang berkorban, maka bahagiannya (hak orang yang berkorban) itu sahaja yang harus dipindahkan ke negeri lain. Manakala bahagian yang wajib disedekahkan kepada fakir miskin itu wajib disedekahkan di tempat berkorban itu juga dan haram dipindahkan ke negeri lain. (I’anah At-Thalibin: 2:380)

    Penutup

    Mengingatkan hukum berkorban itu sunat mu’akkadah dan mempunyai kelebihan-kelebihannya yang banyak, sayugia jangan dilepaskan peluang untuk membuat amalan korban ini.

    Supaya korban itu sempurna, fahamilah hukum-hakam yang berkaitan dengan ibadah korban itu. Begitu juga mengambil perhatian dalam memenuhi tuntutan-tuntutan lain yang berkaitan seperti berwakil membeli dan menyembelih sebagaimana yang dijelaskan di atas supaya amalan berkorban itu benar-benar menepati syara’.

    wallohu a’lam bish-shawab,-

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 14 December 2016 Permalink | Balas  

    Permasalahan Daging Korban (2/3) 

    kambing-kurban-300x225Permasalahan Daging Korban (2/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Isu-Isu Daging Korban Sunat

    Sebagaimana yang kita ketahui berkorban itu hukumnya sunat mu’akkadah (sunat yang sangat dituntut). Jumhur ulama juga mengatakan ia adalah sunat bagi orang yang mampu. Makruh bagi orang yang mampu itu jika dia tidak melakukan korban. Walau bagaimanapun jika ditinggalkannya tanpa sebarang keuzuran, tidaklah dia berdosa dan tidak wajib dia mengqadhanya.

    Terdapat beberapa isu yang perlu diambil perhatian berhubung dengan korban sunat seperti berikut:

    (1) Memakan Daging Korban Sunat

    Sunat bagi orang yang empunya korban itu memakan sebahagian daripadanya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tafsirnya :

    “Maka makanlah daripadanya dan beri makanlah kepada orang-orang yang sangat fakir”.

    (Surah Al-Hajj: 28)

    Afdhalnya yang dimakan itu ialah hatinya, kerana telah diriwayatkan bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah makan sebahagian daripada hati binatang korbannya, tetapi makan di sini bukanlah bererti dia wajib memakannya.

    (2) Menyedekahkan Daging Korban Sunat

    Berdasarkan kepada ayat di atas, para ulama berpendapat bahawa selain daripada sunat dimakan, wajib pula disedekahkan sebahagian daripada daging korban sunat itu dalam keadaan mentah lagi basah kepada orang-orang fakir atau miskin yang Islam.

    Ini bererti setiap orang yang berkorban sunat itu wajib menyediakan sebahagian daripada daging korbannya itu untuk disedekahkan kepada orang fakir dan miskin. Tidak memadai jika daging-daging korban itu dihadiahkan keseluruhannya kepada orang-orang kaya misalnya. Hal inilah yang wajib diketahui oleh setiap orang yang berkorban.

    (3) Cara Pembahagian (Menyedekahkan)

    Harus bagi orang yang berkorban itu membahagikan daging korbannya kepada tiga bahagian; satu pertiga untuk dimakan, satu pertiga untuk disedekahkan kepada fakir dan miskin dan satu pertiga lagi untuk dihadiahkan kepada orang kaya.

    (4) Afdhal disedekahkan Kesemuanya

    Namun yang afdhalnya adalah disedekahkan semuanya, melainkan dimakannya sedikit sahaja iaitu kadar beberapa suap untuk mengambil berkat daripadanya, kerana yang demikian itu lebih mendekatkan diri kepada taqwa dan jauh daripada sifat mementingkan diri sendiri.

    (5) Jika Dimakan Kesemuanya

    Sekalipun sah korban sunat seseorang itu, jika dimakan kesemua daging korbannya dan tiada sedikit pun disedekahkan kepada orang fakir atau miskin, tetapi wajib didapatkan atau dibeli daging-daging yang lain kadar yang wajib disedekahkan sebagai ganti.

    (6) Daging Korban Untuk Hadiah

    Memberikan daging korban sunat sebagai hadiah kepada orang kaya Islam adalah harus. Walau bagaimanapun hadiah itu setakat untuk dimakan sahaja, bukan untuk tujuan memilikinya. Ini bererti dia tidak boleh menjualnya, menghibahkannya atau sebagainya kecuali menyedekahkannya kepada fakir atau miskin. Berlainan halnya dengan orang fakir dan miskin, di mana daging yang disedekahkan kepadanya itu adalah menjadi milik mereka. Mereka diharuskan menjual daging tersebut atau menghibahkan (memberikan) kepada orang lain.

    (7) Menghadiahkan Daging Korban Kepada Orang Kafir

    Satu perkara lagi yang wajib kita ketahui ialah hukum haram menyedekah dan menghadiahkan daging korban kepada orang kafir sekalipun dia kaum kerabat, sama ada ia korban wajib atau sunat sekalipun sedikit kerana ia adalah perkara yang berhubung dengan ibadat.

    (8) Daging Korban Dijadikan Upah

    Kulit atau daging binatang korban itu haram dijadikan upah kepada penyembelih, tetapi harus diberikan kepadanya dengan jalan sedekah jika penyembelih itu orang miskin atau hadiah jika dia bukan orang miskin.

    (9) Daging Korban Dijadikan Jamuan Bagi Fakir Miskin

    Sepertimana yang dijelaskan di atas, bahagian yang wajib disedekahkan itu hendaklah ia daging yang masih basah dan mentah. Ini bererti tidak memadai jika bahagian yang disedekahkan itu bukan daging seperti kulit, hati, tanduk dan sebagainya. Begitu juga tidak memadai jika daging tersebut dimasak kemudian dipanggil orang-orang fakir dan miskin untuk memakannya kerana hak fakir dan miskin itu bukan pada makan daging tersebut, tetapi adalah memiliki daging berkenaan dan bukan memilikinya dalam keadaan yang telah dimasak.

    (10) Berkorban Bagi Pihak Orang

    Tidak sah dibuat korban bagi orang yang hidup melainkan dengan izinnya, dan tidak sah juga dibuat korban bagi orang yang telah mati jika simati tidak berwasiat untuk berbuat demikian.

    Bersambung

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 13 December 2016 Permalink | Balas  

    Permasalahan Daging Korban (1/3) 

    kambing-kurban-300x225Permasalahan Daging Korban (1/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Suasana ‘Idul Adha atau dikenal juga sebagai Hari Raya Korban tidaklah sehebat ‘Idul Fitri. ‘Idul Fitri disambut dengan ‘bermati-matian’ di mana persediaan menyambut kedatangannya dibuat lebih awal dan ada orang sanggup ‘berbelanja besar’ kerananya. Inilah suatu hakikat yang tidak selaras dengan agama.

    ‘Idul Adha mengingatkan kita kepada peristewa penyembelihan Nabi Ismail. Sejak dari saat itulah penyembelihan binatang korban menjadi salah satu syiar dalam Islam.

    Kalau ada orang sanggup ‘berbelanja besar’ kerana Hari Raya Fitri, maka inilah saatnya kita ‘berbelanja besar’ kerana menyertai amalan berkorban binatang, kerana ia menjanjikan pahala yang besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang antaranya:

    1. Orang yang berkorban itu akan dikurniakan kebajikan (hasanah) sebanyak bulu binatang yang dikorban.
    2. Titisan darah korban yang pertama adalah pengampunan bagi dosa-dosa yang telah lalu.

    iii. Darah korban itu jika tumpah ke bumi, maka ia akan mengambil tempat yang mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Tidak syak lagi menyembelih binatang korban itu tanda bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh kerana itu, jika seseorang itu mempunyai harta sebanyak nilai harga binatang korban, selepas ditolak keperluannya dan keperluan orang-orang di bawah tanggungannya pada hari raya dan hari-hari Tasyrik, maka dia dianggap telah memenuhi syarat-syarat boleh berkorban.

    Meninggalkan ibadah korban walaupun tidak berdosa, namun seseorang itu bukan hanya kehilangan pahala-pahala besar yang dijanjikan dan tidak mendapat pahala sunnah, bahkan dihukum pula sebagai makruh.

    Yang demikian itu, rebutlah peluang berkorban ini yang datangnya hanya setahun sekali, itupun jika ada umur yang lebih, sambil itu sama-samalah kita memerhatikan hukum-hakam mengenainya supaya bertambah sempurna amalan korban itu dan dalam waktu yang sama terjauh daripada segala yang boleh mencacatkannya.

    Isu-Isu Daging Korban Wajib

    Udhhiyyah atau korban itu terbahagi kepada dua iaitu udhhiyyah wajibah (korban wajib) dan udhhiyyah mandubah (korban sunat).

    Binatang sembelihan bagi ibadat korban itu menjadi wajib apabila ia dinazarkan, sama ada nazar itu nazar yang sebenar (nazar hakikat) ataupun nazar dari segi hukum sahaja, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya : “Sesiapa yang bernazar untuk mentaati Allah, maka hendaklah dia mentaatinya”.

    (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

    Apa yang dimaksudkan dengan nazar yang sebenar itu adalah dengan menyebut nama Allah atau menggunakan perkataan ‘nazar’. Sebagai contoh orang yang berkorban itu berkata: “Demi Allah wajib ke atasku menyembelih kambing ini sebagai korban”, ataupun dia berkata: “Aku bernazar untuk menyembelih kambing sebagai korban pada Hari Raya Haji nanti”.

    Adapun bernazar dari segi hukum sahaja seperti seseorang itu berkata: “Aku jadikan kambing ini untuk korban”, ataupun dia berkata: “Ini adalah korban”, maka dianggap sama seperti bernazar yang sebenar kerana dia telah menentukan (ta’ayin) binatang tersebut.

    Maka yang demikian itu wajib disedekahkan semua daging sembelihan itu termasuk kulit dan tanduknya. Untuk lebih jelasnya lagi disebutkan beberapa isu berhubung dengan korban wajib yang perlu diambil perhatian seperti berikut:

    (1) Hukum Memakan Daging Korban Wajib

    Haram atas orang yang berkorban wajib itu memakan daging tersebut walaupun sedikit. Jika dimakannya daging tersebut, wajib diganti kadar yang dimakannya itu, tetapi tidak wajib dia menyembelih binatang lain sebagai ganti.

    (2) Makan Daging Korban Yang Diwasiatkan

    Jika daging korban itu ialah korban disebabkan wasiat daripada seseorang yang telah meninggal dunia, maka tidak boleh dimakan dagingnya oleh orang yang membuat korban untuknya dan tidak boleh dihadiahkan kepada orang kaya kecuali ada izinnya.

    (3) Menukar Binatang Korban Wajib Dengan Yang Lebih Baik

    Binatang korban wajib itu tidak boleh ditukar dengan yang lain walaupun dengan yang lebih baik. Apatah lagi dijual, disewakan atau dihibahkan (diberikan).

    (4) Melambat-lambatkan Pembahagian Daging Korban

    Jika orang yang berkorban itu melambat-lambatkan pembahagian daging korban wajib tersebut sehingga rosak, maka wajib ke atas orang yang berkorban itu bersedekah dengan harga daging itu dan tidaklah wajib dia membeli yang baharu sebagai gantinya kerana telah dikira memadai dengan sembelihan tersebut.

    (5) Menjual Binatang Korban Wajib

    Sekiranya binatang korban wajib itu dijual oleh orang yang berkoban, maka hendaklah dia mendapatkannya semula daripada orang yang telah membelinya jika masih ada di tangan pembeli dan dia hendaklah memulangkan harga belian yang diterimanya. Jika tiada lagi di tangan pembeli, umpamanya sudah disembelihnya, maka wajib baginya mengadakan nilaian harga yang lebih mahal daripada harga waktu dia memiliki yang dahulu, dan hendaklah dia membeli semula dengan nilaian itu binatang korban yang sama jenisnya dan sama umurnya untuk disembelih pada tahun itu juga. Jika luput dia daripada menyembelihnya, maka wajib ke atasnya menyembelih binatang korban wajib itu pada tahun hadapannya sebagai qadha yang luput itu. Jika harga binatang korban itu (yang sama jenis dan umur dengan yang dahulu) lebih mahal kerana naik harga dan harga nilaian itu tidak mencukupi untuk membeli binatang yang sama dengan yang dahulu itu hendaklah ditambahnya dengan hartanya yang lain. Begitulah juga hukumnya jika binatang itu tidak disembelih setelah masuk Hari Raya Adha dan binatang itu binasa dalam tempoh tersebut.

    (6) Binatang Korban Dicuri Dan Dibinasakan Orang Lain

    Jika binatang korban wajib itu rosak, umpamanya mati atau dicuri orang sebelum masuk waktu berkorban dan bukan kerana kecuaiannya, tidaklah wajib dia menggantinya.

    Manakala jika ia dibinasakan oleh orang lain, maka hendaklah orang yang membinasakan itu mengganti harga binatang korban wajib itu kepada orang yang punya korban dan dia hendaklah membeli semula binatang yang sama seperti yang dahulu, jika tidak diperolehi binatang yang sama, hendaklah dibelinya yang lain sahaja sebagai ganti.

    (7) Disembelih Sebelum Masuk Waktu

    Adapun jika binatang korban wajib itu disembelih sebelum masuk waktu korban, wajiblah disedekahkan kesemua dagingnya dan tidak boleh bagi orang yang berkorban wajib itu memakan dagingnya walaupun sedikit dan wajib pula menyembelih yang sama dengannya pada hari korban itu sebagai ganti.

    (8) Kecacatan Binatang Korban Wajib

    Jika binatang korban yang telah ditentukan dalam korban wajib itu menjadi cacat (‘aib) setelah dinazarkan dan sebelum masuk waktu menyembelihnya dan kecacatan binatang itu adalah cacat yang tidak boleh dibuat korban pada asalnya, maka tidaklah disyaratkan menggantinya dan tidaklah terputus hukum wajib menyembelihnya dengan adanya cacat tersebut. Bahkan jika disembelihnya pada Hari Raya Adha adalah memadai (boleh dibuat) sebagai korban.

    (9) Binatang Cacat Disembelih Sebelum Masuk Waktunya

    Sekiranya binatang yang dalam keadaan cacat itu disembelih sebelum Hari Raya Adha hendaklah disedekahkan dagingnya itu dan tidak wajib menggantinya dengan binatang yang sama untuk disembelih pada Hari Raya Adha itu. Tetapi wajib bersedekah nilaian harga binatang yang disembelih itu.

    (10) Cacat Setelah Masuk Waktu Menyembelih

    Jika kecacatan itu berlaku setelah Hari Raya Adha dan disembelih dalam keadaan yang demikian, maka tidaklah ia memadai (tidak memenuhi syarat) sebagai korban, kerana ia telah menjadi barang jaminan selagi belum disembelih, dan wajib diganti dengan yang baru.

    Bersambung

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 12 December 2016 Permalink | Balas  

    Apa Hukumnya Merayakan Maulid Nabi? 

    maulid-nabi-muhammadAPA HUKUMNYA MERAYAKAN MAULID NABI ?

    Oleh: Imam Muhammad bin Ali bin Muhammad Asy Syaukani ( 1173 – 1250 H )

    Kandungan buku

    “RISALAH TENTANG HUKUM MEMPERINGATI MAULID NABI -shallallahu ‘alaihi wa sallam- ”

    Beliau-rahimahullah- telah ditanya tentang hukum maulid:

    Maka dia menjawab: saya tidak mendapatkan sampai sekarang dalil (argumentasi) didalam Al Qur’an, Sunnah, Ijma’, Qiyas dan Istidlal yang menjelaskan landasan amalan maulid, bahkan kaum muslimin telah sepakat, bahwa perayaan maulid nabi tidak ada pada masa qurun yang terbaik (para shahabat, pent), juga orang yang datang sesudah mereka (para tabi’in) dan yang datang sesudah mereka (tabi’ tabi’in). Dan mereka juga sepakat bahwa yang pertama sekali melakukan maulid ini adalah Sulthan Al Muzhaffar abu Sa’id Kukburi, anak Zainuddin Ali bin Baktakin, pemilik kota Irbil dan yang membangun mesjid Al Muzhaffari di Safah Qaasiyyun, pada tahun tujuh ratusan, dan tidak seorangpun dari kaum muslimin yang tidak mengatakan bahwa maulid tersebut bukan bid’ah.

    Dan apabila telah tetap hal ini, jelaslah bagi yang memperhatikan (para pembaca) bahwasanya orang yang membolehkan maulid tersebut setelah dia mengakuinya sebagai bid’ah dan setiap yang bid’ah itu adalah sesat, berdasarkan perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidaklah dia (yang membolehkan maulid) mengatakan kecuali apa yang bertentangan dengan syari’at yang suci ini, dan tidak ada tempat dia berpegang kecuali hanya taqlid kepada orang yang membagi bid’ah tersebut kepada beberapa macam, yang sama sekali tidak berlandasakan kepada ilmu.

    Dan kesimpulannya kita tidak bisa menerima dari seseorang yang mengatakan bolehnya suatu amalan kecuali setelah dia sebutkan argumentasi yang mengkhususkan bid’ah yang dilakukannya tersebut keluar dari keumuman (hadits yang mengatakan: setiap yang baru itu adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah adalah sesat, pent) yang tidak dia ingkari, adapun semata-mata ungkapan yang mengatakan “kata sipulan atau pendapat sipulan” ini sama sekali tidak bermanfaat, sebab kebenaran itu lebih besar (agung) dari setiap orang, dan jikalau seandainya kita percaya (berpegang) kepada perkatan manusia dan kembali berpegang kepada omongan belaka, tiada lain orang yang membolehkan bid’ah tersebut kecuali orang yang menyimpang dari jalan kaum muslimin.

    Adapun al ‘atirah (para keluarga rasulullah) dan para pengikutnya tidak kita temukan satu perkataan pun dari mereka yang membolehkan maulid tersebut, bahkan perkataan mereka seakan sepakat mengatakan: bid’ah ini muncul jauh di belakangan hari, dan ia merupakan sarana yang paling jelek untuk timbulnya kerusakan (kemungkaran), oleh karena itu kamu melihat negeri ini (Yaman) bersih dari segala tipu daya orang-orang sufi, dan maulid nabi ini merupakan salah satu dari tipu daya mereka -Alhamdulillah-, dan khalifah yang terakhir yang membela (memperjuangkan) yang demikian itu adalah al Mahdi Lidinillah Al ‘Abbas bin Al Manshur, sesungguhnya dia telah melarang perayaan mulid dan memerintahkan untuk penghancuran sebagian kuburan yang diyakini oleh orang-orang awan, semoga Allah ta’ala memberikan ilham (taufig) kepada khalifah kita sekarang Al Manshur Billah -semogah Allah memeliharanya- untuk mengikuti as salafus sholeh (para shahabat, tabi’in, tabi’ tabi’in dan yang mengikuti jejak mereka, pent). Karena permasalahannya sebagaimana yang ungkapkan dalam gubahan berikut ini:

    Saya melihat kilatan bara api dicela-cela abu

    Hampir saja bara tersebut akan menyala.

    Bertebarnya bid’ah itu lebih cepat dari menyebarnya api, betapa lagi bid’ah maulid, karena diri orang yang awam sangat menyukainya (merindukanya), ditambah lagi jikalau yang hadir bersama mereka orang-orang yang berilmu, terhormat dan yang berpangkat, sesudah itu mereka (orang yang awam) akan memahami bahwasanya “ perbuatan ini (maulid) merupakan tujuan dan bukanlah suatu bid’ah”, sebagaimana yang diungkapkan dalam gubahan ini:

    Orang yang berilmu yang tidak peduli dengan kesalahannya adalah kerusakan yang besar

    Dan lebih rusak lagi orang yang bodoh yang banyak beribadah

    Keduanya merupakan fitnah yang besar bagi alam ini

    Bagi orang yang menjadikan mereka panutan didalam agamanya

    Dan tidak diragukan lagi bahwasanya masyarakat awam merupakan orang yang paling cepat menerima segala bentuk sarana yang membawa kepada kerusakan, yang bisa mereka dengan sarana tersebut melakukan hal-hal yang diharamkan, seperti maulid dan semisalnya, apalagi jika ditambah dengan kehadiran orang yang yang dikenal keilmuan, kehormatan dan kedudukannya, mereka melakukan yang terlarang dengan bentuk ketaatan, tenggelam dalam jurang kebodohan dan kesesatan, sehingga mereka (orang awam) akan berlepas diri dari pelarangan sambil berkata: “Telah hadir bersama kami sayyid (tuan) si pulan, sipulan dan sipulan”.

    Jangankan orang yang awam, sebagian orang yang menuntut ilmupun juga telah duduk di depan saya untuk membaca (mempelajari) sebagian dari ilmu-ilmu ijtihad, lalu dia memberitahukan kepada saya: “bahwa dia telah hadir pada malan perayaan maulid tersebut, pada bulan ini (Rabiul awwal, pent)” maka saya ingkari perbuatannya, lantas dia berkata: “ telah hadir bersama kami tuan sipulan, sipulan dan sipulan”, lalu saya bertanya: “ bagaimana bentuk pelaksanaannya didepan mereka para tuan itu”, maka dia menjawab: ‘yang membaca maulid tersebut seorang laki-laki yang bodoh, sementara para tuan-tuan tersebut memukul gendang sambil menyanyi dan mendengarkannya, sampai dia berdiri seolah-olah lepas dari ikatan sambil mengucapkan: “ Selamat datang wahai cahaya mataku, selamat datang” dan berdiri pula bersamanya seluruh yang hadir termasuk para tuan tersebut dan yang lainnya, lalu dia bersuara sambil berdiri, begitu juga mereka yang hadir, tatkala capek sebagian yang hadir lalu dia duduk, lalu sebagian para tuan tersebut melarangnya sambil berkata yang dimukanya terlihat kemarahan-: “berdiri wahai sibodoh”, (dengan lafazd seperti ini), dan mereka tidak ragu lagi bahwasanya Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam telah sampai kepada mereka pada waktu itu, kemudian mereka saling bersalaman dan sebagian orang yang awam dengan segera memberikan bermacam-macam wangian ketangan mereka, seolah-olah mereka sedang mempergunakan kesempatan bertemu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallm, innalillahi wainnailaihi raji’un !! lalu mana kehormatan (kemuliaan) agama ini ?, jikalau sudah hilang, mana rasa malu dan akal yang sehat ? .

    Seandainya tidak ada terjadi dihadapan mereka para tuan tersebut satupun dari bentuk kemungkaran, -sabagaimana persangkaan baik kita terhadap mereka,- tapi apakah mereka tidak tahu bahwa orang awam menjadikan yang demikian itu sebagai sarana untuk kemungkaran, menutupi dengan kehadiran mereka segala bentuk kemungkaran, melakukan pada perayaan maulid mereka- yang tidak dihadirinya- setiap kemungkaran, sambil berkata: telah hadir dalam perayaan maulid sipulan, sipulan dan sipulan, mereka berpegang dengan nama maulid.

    Maka disini jelaslah bagimu rusaknya I’tidzar (dalil) sebagian orang yang membolehkannya dengan alasan ” apabilah tidak terjadi dalam perayaan tersebut kecuali berkumpul untuk makan dan dzikir, maka tidak apa-apa, dan ini tidak mengharuskan haramnya hal-hal yang terlarang yang menyertai maulid tersebut”.

    Karena kita katakan: Perayaan maulid dalam posisinya sebagai bid’ah –sesuai dengan pengakuanmu- biasanya disertai dengan banyak bentuk kemungkaran dan sudah menjadi sarana untuk melakukan kemaksiatan yang banyak. Dan adanya perayaan maulid seperti ini yang tidak mencakup selain makanan dan dzikir labih baik dari kibriit (permata) yang merah.

    Dan telah tetap bahwa “saddudz dzarai’ (menutupi jalan-jalan)) dan melarang seluruh sarana yang menjurus kepada sesuatu yang terlarang” merupakan Qaedah Syariat yang amat penting, yang dianggap wajib oleh para jumhur (ulama). Dan jikalau seandainya masih ada dalam dirimu rasa inshof janganlah kamu ingkari permasalahan ini.

    Dan jika telah jelas bagi anda bahwa tiada seorangpun dari ahli bait dan para pengikut mereka yang membolehkan perayaan Maulid, dan anda ingin juga mengetahui pendapat ulama selain ahli bait, maka keterangannya sebagai berikut :

    Kami telah jelaskan pada anda bahwa semua kaum muslimin telah bersepakat bahwasanya ia adalah bid’ah, hanya saja para penguasa berpengaruh besar dalam menghidupkan bid’ah atau menghancurkannya. Maka tatkala sang pencetus perbuatan bid’ah ini adalah seorang raja yaitu saaidah bin dihyah(), dimana beliau menyusun sebuah karangan dalam masalah itu yang dinamakannya :

    “Penjelasan Gamlang Tentang Maulid Sang Pemberi Kabar Gembira Dan Penakut”, meskipun beliau ahli dalam masalah ilmu hadits, tetapi kitab tersebut kosong dari dalil-dalil yang kuat, tidak dapat diingkari, ia membolehkan nya dengan imbalan seribu dinar –sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Khallakaan – dan cinta dunia, bisa berbuat lebih dari ini.

    Kemudian setelah terjadi perayaan maulid ini, tegaklah perselisihan yang besar, dan bermunculanlah karangan-karangan tentang masalah ini, antara yang melarang dan yang membolehkan, diantara pengarang-pengarang tersebut ialah Alfakihany Almaliky menulis sebuah kitab yang berjudul : “Pendapat Yang Mendasar Dalam Pelaksanaan Maulid” di dalamnya beliau mencela dan mencaci, dan diantara gubahan dalam kitab itu yang ditujukan kepada gurunya Al-Qusyairy :

    Kemunkaran telah dianggap baik.

    Dan kebaikan menjadi munkar di zaman yang pelik.

    Para ulama tak bernilai lagi.

    Sedangkan orang-orang bodoh mendapat kedudukan tinggi

    Mereka menyeleweng dari kebenaran.

    Dulunya pemimpin-pemimpin mereka tak diperhatikan

    Maka kukatakan kepada orang-orang baik lagi bertaqwa

    Dan beragama, tatkala memuncaknya kesedihan

    Janganlah kalian menyesali keadaan, telah tiba

    Giliran mu pada masa yang asing.

    Kemudian juga Al-Imam Abdillah bin Al-Haaj dengan nama kitabnya : “Pintu Masuk Dalam Mengamalkan Maulid”, dan Imam Ahli Qiro-at Al-Jazary dengan nama kitabnya: “Pengenalan Terhadap Maulid Yang Mulia”, dan juga Imam Al-Hafidz Ibnu Naashir() dengan kitabnya: “Sumber Utama Dalam Pelaksanaan Maulid Sang Pembawa Petunjuk”, dan Imam Suyuthi dengan kitabnya : “Tujuan Yang Baik Dalam Melaksanakan Maulid” di antara mereka ada yang benar-benar tidak membolehkan, dan ada juga yang membolehkan dengan bersyarat kalau tidak dicampuri oleh hal-hal yang munkar, meskipun mereka mengakui bahwasanya itu merupakan perbuatan bid’ah, namun mereka tidak mampu untuk memberikan argumentasi yang kuat, adapun dalil mereka dengan hadits bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dikala sampai di Madinah beliau mendapati orang-orang yahudi berpuasa pada hari asyura, lalu beliau menanyakan sebabnya, hari tersebut adalah hari dimana Allah menyelamatkan Nabi Musa dan membinasakan Fir’aun, lalu kami berpuasa pada hari itu sebagai rasa syukur kepada Allah ta’ala sebagaimana yang dilakukan Ibnu Hajar(), atau dengan hadits bahwasanya Rasulullah e mengaqiqahkan dirinya sendiri setelah kenabian(), sebagaimana yang dilakukan suyuthi, ini merupakan suatu yang sangat aneh dimana itu terjadi karena keinginan untuk menegakkan bid’ah.

    Walhasil bahwa sesungguhnya orang-orang yang membolehkan – yang mereka itu segelintir kalau dibandingkan dengan orang-orang yang mengharamkan – mereka sepakat bahwasanya tidak boleh kecuali dengan syarat hanya untuk makan-makan dan berdzikir. Telah kita jelaskan bahwasanya ia sudah menjadi wacana untuk hal-hal yang munkar. Hal ini tidak satu pun yang bisa mengingkarinya. Dan adapun peringatan maulid seperti ini yang terjadi sekarang semuanya bersepakat bahwa ia tidak boleh. Rasanya semua ini sudah cukup bagi kita, meskipun semestinya membutuhkan penjelasan yang panjang lebar, membeberkan pendapat-pendapat orang yang membolehkan kemudian dibantah, hal yang demikian tentu akan menghasilkan beberapa buah buku. Dan Allah tentu akan mengilhamkan kepada salah seorang petinggi negara untuk mencegah perbuatan ini, maka ia akan mudah dikikis habis, yaitu dengan mencegah generasi yang akan diajak untuk melakukan perayaan maulid serta mengecamnya. Cara seperti ini bisa dilakukan oleh setiap orang.

    Adapun pertanyaan anda tentang kejadian besar yang terjadi di Qotor Tuhamy, di mana mereka menghiasi batu-batu, lalu mereka tawaf di sekelilingnya, sebagai mana tawaf di sekeliling Ka’bah, telah sampai kepada orang yang mencintai anda – yaitu pengarang (pent)- pertanyaan sebagian pemuka penduduk Tuhamah, yang ditulis oleh Sayyid Muhammad Ahmad An-Nu’amy, pertanyaan itu telah saya jawab dengan panjang lebar, maka bacalah ia kalau memungkinkan, dan pertanyaan itu memuat keyakinan mereka terhadap orang-orang yang telah mati, dan batu-batu itu, bahwasanya dia dapat memberikan mudharat dan manfaat, hal ini adalah perbuatan kufur() yang tidak diragukan lagi, bahkan ia lebih dari kekufuran penyembah-penyembah berhala dulu, karena orang-orang itu berkata: kami mengibadati berhala-berhala itu agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya. Sedangkan mereka ini berkata: kami ibadati mereka supaya dapat memberikan mudharat dan manfaat, maka musibah mana yang lebih keji dari pada kekufuran, dan kemungkaran mana yang lebih dahsyat dari nya ?! dan bagaimana bisa orang yang sanggup untuk melaksanakan perintah-perintah beranggapan bahwasanya ia termasuk orang-orang yang beriman, sedangkan saudara-saudara sesama muslim telah terjerumus kedalam kekufuran yang nyata ? Innalillahi wa inna ilaihi rooji’uun, dan semoga Allah merahmati Al-Mahdy lidinillah Al-Abbas bin Mansur Beliau telah berusaha menghancurkan kemungkaran di setiap tempat, dan semoga Allah mengilhami pemimpin zaman sekarang untuk melakukan kewajiban yang sangat penting ini.

    Sebagai kesimpulan, tidak ada seorangpun yang membutuhkan dalil tentang jeleknya amalan ini, tiada seorang muslimpun yang ragu akan kufurnya perbuatan ini, dan tiada seorangpun yang menyelisihi tentang buruknya kekufuran, Alquran dan sunnah penuh oleh dalil-dalil yang menetapkan jeleknya kekufuran, yang membeberkan kepada orang kafir apa-apa yang mereka yakini. Siapa yang membaca satu lembar saja dari Al-quran niscaya ia akan menemukan dalil-dalil tentang tauhid, dan tentang jeleknya syirik dan kufur, apa yang membuatnya puas dan merasa cukup, maka tidak akan ada faedahnya kalau kita berpanjang lebar, jikalau ada orang yang ingin menyebutkan secara detil dalil-dalil tentang itu baik naql ataupun akal, pasti akan mengeluarkan kitab yang berjilid-jilid.

    Ya Allah sesungguh Engkau mengetahui bahwa kemampuan kami terbatas untuk melawan kerusakan-kerusakan ini dan menghancurkan kemungkaran-kemungkaran ini, tidaklah ada yang bisa kami lakukan kecuali hanya memberi peringatan dan menyampaikan, dan itu telah kami lakukan. Ya Allah turunkan murka Mu karena agama Mu, dan sucikanlah ia dari noda-noda para syetan yaitu mereka-mereka yang menyembah kubur, dan selamatkanlah kami dari kotoran-kotoran yang mengeruhkan kesucian agama yang kokoh ini.

    Ditulis oleh penjawab Muhammad bin Ali As-Syaukany pada subuh hari kamis Bulan Rabiul awwal 1306 H.

    Tamat

    [Disalin dari buku “Maa hukmul Ihtifal bi maulidin –Naby”, ditulis oleh Imam Syaukani, editor Abu Ahmad Abdul Aziz bin Ahmad bin Muhammad bin Hamuud Al Musyaiqih, diterjemahkan oleh Ali Musri Lc, Aspri Rahmat Lc, Arifin Badri Lc, dan M. Nur Ihsan Lc.]

     
    • cholidahmad 4:45 pm on 30 Desember 2016 Permalink

      yang penting pegang teguh pendirian. lana a’maluna walakum a’malukum. mari orang islam bersatu padu. jangan kaya gitu.

  • erva kurniawan 9:04 am on 11 December 2016 Permalink | Balas  

    Peringatan Maulid Nabi s.a.w. dan Bid’ah 

    maulid-nabi-muhammadPeringatan Maulid Nabi s.a.w. dan Bid’ah

    ======= Tanya : =======

    Assalaamu’alaikum Wr.Wb.

    Ustadz yang saya hormati:

    Saya pernah membaca dari buku terbitan kementrian agama Arab Saudi bahwa Peringatan Maulid Nabi tidak pernah dilakukan dan dicontohkan pada masa Nabi Muhammad SAW maupun pada masa sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW.

    Dalam buku tersebut diperkuat pula dengan hadist-hadist shahih. Yang ingin saya tanyakan adalah: “Bagaimana dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia apakah ada hadist yang membenarkannya dan bagaimana sikap kita untuk menghadapi sesuatu yang dikatagorikan bid’ah?”

    Wassalaamu’alaikum

    ======= Jawab : =======

    Assalamua’alikum wr. wb.

    Ada tradisi umat Islam di banyak negara, seperti Indonesia, Malaysia, Brunai, Mesir, Yaman, Aljazair, Maroko, dan lain sebagainya, untuk senantiasa melaksanakan kegiatan-kegiatan seperti Peringatan Maulid Nabi SAW, peringatan Isra’ Mi’raj, peringatan Muharram, dan lain-lain. Bagaimana sebenarnya aktifitas-aktifitas itu?

    Secara khusus, Nabi Muhammad SAW memang tidak pernah menyuruh hal-hal demikian. Karena tidak pernah menyuruh, maka secara spesial pula, hal ini tidak bisa dikatakan “masyru'” [disyariatkan], tetapi juga tidak bisa dikatakan berlawanan dengan teologi agama.

    Yang perlu kita tekankan dalam memaknai aktifitas-aktifitas itu adalah “mengingat kembali hari kelahiran beliau –atau peristiwa-peristiwa penting lainnya– dalam rangka meresapi nilai-nilai dan hikmah yang terkandung pada kejadian itu”. Misalnya, hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Itu bisa kita jadikan sebagai bentuk “mengingat kembali diutusnya Muhammad SAW” sebagai Rasul. Jika dengan mengingat saja kita bisa mendapatkan semangat-semangat khusus dalam beragama, tentu ini akan mendapatkan pahala. Apalagi jika peringatan itu betul-betul dengan niat “sebagai bentuk rasa cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW”.

    Dalam Shahih Bukhari diceritakan, sebuah kisah yang menyangkut tentang Tsuwaibah. Tsuwaibah adalah budak [perempuan] Abu Lahab [paman Nabi Muhammad [SAW]. Tsuwaibah memberikan kabar kepada Abu Lahab tentang kelahiran Muhammad [keponakannya], tepatnya hari Senin tanggal 12 Robiul Awwal tahun Gajah. Abu Lahab bersuka cita sekali dengan kelahiran beliau. Maka, dengan kegembiraan itu, Abu Lahab membebaskan Tsuwaibah.

    Dalam riwayat disebutkan, bahwa setiap hari Senin, di akhirat nanti, siksa Abu Lahab akan dikurangi karena pada hari itu, hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, Abu Lahab turut bersuka cita. Kepastian akan hal ini tentu kita kembalikan kepada Allah SWT, yang paling berhak tentang urusan akhirat.

    Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW secara seremonial sebagaimana yang kita lihat sekarang ini, dimulai oleh Imam Shalahuddin Al-Ayyubi, komandan Perang Salib yang berhasil merebut Jerusalem dari orang-orang Kristen. Akhirnya, setelah terbukti bahwa kegiatan ini mampu membawa umat Islam untuk selalu ingat kepada Nabi Muhammad SAW, menambah ketaqwaan dan keimanan, kegiatan ini pun berkembang ke seluruh wilayah-wilayah Islam, termasuk Indonesia.

    Kita tidak perlu merisaukan aktifitas itu. Aktifitas apapun, jika akan menambah ketaqwaan kita, perlu kita lakukan.

    Tentang pendapat Ulama dan Pemerintah Arab Saudi itu, memang benar, sebagaimana yang kami tulis di atas. Tetapi, jika kita ingin 100% seperti zaman Nabi Muhammad SAW, apapun yang ada di sekeliling kita, jelas tidak ada di zaman Nabi. Yang menjadi prinsip kita adalah esensi. Esensi dari suatu kegiatan itulah yang harus kita utamakan.

    Nabi Muhammad SAW bersabda : ‘Barang siapa yang melahirkan aktifitas yang baik, maka baginya adalah pahala dan [juga mendapatkan] pahala orang yang turut melakukannya’ (Muslim dll). Makna ‘aktifitas yang baik’ –secara sederhananya–adalah aktifitas yang menjadikan kita bertambah iman kepada Allah SWT dan Nabi-Nabi-Nya, termasuk Nabi Muhammad SAW, dan lain-lainnya.

    Masalah Bid’ah: Ibnu Atsir dalam kitabnya “Annihayah fi Gharibil Hadist wal-Atsar” pada bab Bid’ah dan pada pembahasan hadist Umar tentang Qiyamullail (sholat malam) Ramadhan “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”, bahwa bid’ah terbagi menjadi dua : bid’ah baik dan bid’ah sesat. Bid’ah yang bertentangan dengan perintah qur’an dan hadist disebut bid’ah sesat, sedangkan bid’ah yang sesuai dengan ketentuan umum ajaran agama dan mewujudkan tujuan dari syariah itu sendiri disebut bid’ah hasanah.

    Ibnu Atsir menukil sebuah hadist Rasulullah “Barang siapa merintis jalan kebaikan maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang orang yang menjalankannya dan barang siapa merintis jalan sesat maka ia akan mendapat dosa dan dosa orang yang menjalankannya”. Rasulullah juga bersabda “Ikutilah kepada teladan yang diberikan oleh dua orang sahabatku Abu Bakar dan Umar”. Dalam kesempatan lain Rasulullah juga menyatakan “Setiap yang baru dalam agama adala Bid’ah”.

    Untuk mensinkronkan dua hadist tersebut adalah dengan pemahaman bahwa setiap tindakan yang jelas bertentangan dengan ajaran agama disebut “bid’ah”.

    Izzuddin bin Abdussalam bahkan membuat kategori bid’ah sbb :

    1) wajib seperti meletakkan dasar-dasar ilmu agama dan bahasa Arab yang belum ada pada zaman Rasulullah. Ini untuk menjaga dan melestarikan ajaran agama.Seperti kodifikasi al-Qur’an misalnya.

    2) Bid’ah yang sunnah seperti mendirikan madrasah di masjid, atau halaqah-halaqah kajian keagamaan dan membaca al-Qur’an di dalam masjid.

    3) Bid’ah yang haram seperti melagukan al-Qur’an hingga merubah arti aslinya,

    4) Bid’ah Makruh seperti menghias masjid dengan gambar-gambar

    5) Bid’ah yang halal, seperti bid’ah dalam tata cara pembagian daging Qurban dan lain sebagainya.

    Syatibi dalam Muwafawat mengatakan bahwa bid’ah adalah tindakan yang diklaim mempunyai maslahah namun bertentangan dengan tujuan syariah. Amalan-amalan yang tidak ada nash dalam syariah, seperti sujud syukur menurut Imam Malik, berdoa bersama-sama setelah shalat fardlu, atau seperti puasa disertai dengan tanpa bicara seharian, atau meninggalkan makanan tertentu, maka ini harus dikaji dengan pertimbangan maslahat dan mafsadah menurut agama. Manakala ia mendatangkan maslahat dan terpuji secara agama, ia pun terpuji dan boleh dilaksanakan. Sebaliknya bila ia menimbulkan mafsadah, tidak boleh dilaksanakan.(2/585)

    Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa bid’ah terjadi hanya dalam masalah-masalah ibadah. Namun di sini juga ada kesulitan untuk membedakan mana amalan yang masuk dalam kategori masalah ibadah dan mana yang bukan.

    Memang agak rumit menentukan mana bid’ah yang baik dan tidak baik dan ini sering menimbulkan percekcokan dan perselisihan antara umat Islam, bahkan saling mengkafirkan.

    Selayaknya kita tidak membesar-besarkan masalah seperti ini, karena kebanyakan kembalinya hanya kepada perbedaan cabang-cabang ajaran (furu’iyah).

    Kita diperbolehkan berbeda pendapat dalam masalah cabang agama karena ini masalah ijtihadiyah (hasil ijtihad ulama). Sikap yang kurang terpuji dalam mensikapi masalah furu’iyah adalah menklaim dirinya dan pendapatnya yang paling benar.

    Demikian, semoga membantu

    1. Luthfi Thomafi
     
  • erva kurniawan 7:49 am on 10 December 2016 Permalink | Balas  

    Maulid Nabi SAW. 

    maulid-nabi-muhammadMaulid Nabi SAW.

    1. Pengertian Maulid

    “Maulud Nabi” yang kadang disebut “Maulid Nabi” dari bahasa asalnya Arab berarti “kelahiran Nabi”, dalam hal ini Nabi Muhammad SAW.

    Muhammad SAW dilahirkan tanggal 12 Rabi’ul awwal atau 21 April 571 M. Tahun kelahiran Nabi, oleh bangsa Arab, disebut “tahun gajah”, karena pada tahun itu tentara Abrahah yang berkendaraan gajah dari Yaman menyerbu Kota Makkah untuk menghancurkan ka’bah. Tentara itu, akhirnya, lari tunggang langgang lantaran dilempari dengan kerikil tajam yang panas oleh gerombolan burung Ababil dari berbagai penjuru di luar perhitungan Abrahah.

    Dalam sejarah hidup Muhammad SAW, 12 Rabi’ul awwal memiliki arti tersendiri. Selain menandai kelahiran, tanggal itu juga Nabi hijrah ke Madinah, bahkan Nabi wafat pada 12 Rabi’ul- awwal.

    Di zaman Khulafaur Rasyidin dan daulat Umaiyah serta Abbasiyah, belum berkembang ide memperingati kelahiran atau Maulid Nabi. Nanti di zaman daulat Khilafat Fathimiyah abad IV hijriah, peringatan Maulid dimulai.

    Raja Abu Sa’id Muzaffar, ipar Sultan Salahuddin AI-Ayubi, adalah orang pertama yang memperingati Maulid Nabi secara besar-besaran. Walaupun Raja yang memerintah kerajaan Arbil (Arbelles), sebelah timur Mosul Irak, itu sehari-harinya hidup sederhana, namun untuk peringatan Maulid Nabi, beliau tidak segan-segan mengeluarkan sampai 300 ribu dinar.

    Di zaman itu, raja Mongolia Zengis Khan mengganas dan melabrak negeri tetangga. Raja Muzaffar membayangkan apabila rakyat tidak memiliki ketahanan mental yang tinggi, tentu mereka akan menjadi korban keganasan nafsu ekspansionisme itu. Pada saat semangat rakyat melemah, Raja menemukan gagasan untuk membangkitkan kembali semangat rakyat dengan mengungkapkan riwayat kehidupan Muhammad SAW, yang penuh heroisme dan patriatisme dalam menegakkan kebenaran, serta melindungi hak kaum lemah dan golongan tertindas.

    Kajian mengenai hidup dan kehidupan Nabi itu ternyata mampu membangun kembali semangat rakyat serta menumbuhkan ketahanan nasional yang tinggi sehingga Zengis Khan tidak berhasil melabrak kerajaan kecil itu.

    Salahuddin AI-Ayubi juga menggunakan pendekatan Maulid Nabi sebagai upaya membangkitkan semangat rakyat dalam menghadapi perang salib yang cukup lama itu.

    Ummat Islam, terutama di Indonesia, secara resmi memperingati 12 Rabiul awwal sebagai hari kelahiran atau mauludin Nabi. Karena peringatan itu telah menjadi sesuatu yang sangat berarti dalam peradaban Islam Indonesia, mereka tidak saja memperingati 12 Rabiul awwal tetapi juga hari-hari sebelum dan sesudah tanggal itu.

    Pada bulan Rabiul akhir, yang oleh sementara daerah di Indonesia disebut Maulid kedua, ummat Islam masih menyelenggarakan peringatan hari besar itu. Pada sementara masyarakat kita, berkembang pula budaya membaca Maulid/Rawi sebagai awal pekerjaan yang baik, sehingga membaca riwayat Nabi tidak dilakukan pada bulan Rabi’ul awal saja, tetapi juga pada sembarang bulan. Orang yang akan menunaikan ibadah haji, umpamanya, sering mengadakan Maulid. Upacara akad nikah, pihak keluarga mengadakan Maulid. Upacara memandikan anak pun dikaitkan dengan peringatan Maulid.

    Peringatan Maulid memang tidak dapat dipisahkan dari tata kehidupan dan tata nilai bangsa Indonesia. Di Jogyakarta, peringatan Maulid diselenggarakan besar-besaran. Mereka menyebutnya Sekaten., berasal dari kata Syahadatain, yang berarti dua kalimat syahadat. Pada kesempatan itu digelar berbagai seni budaya Islam serta ceramah keagamaan. Di kalangan masyarakat kita tersebar luas berbagai kitab Maulid berbahasa Arab, seperti kitab barzanji, yang dibaca secara khas dengan lagu.

    Peringatan Maulid, sebagai tradisi keagamaan, berlangsung dari kota sampai desa dengan berbagai acara sakral. Di Masjid, mushalla, pesantren, kantor, bahkan di perumahan, Maulid diselenggarakan melalui berbagai cara. Terkadang dikaitkan dengan perlombaan kesenian dan olahraga serta ceramah agama dan santunan terhadap fakir miskin.

    Peringatan Maulid merupakan sasaran dakwah yang relevan dengan tata cara kehidupan ummat Islam di Indonesia. Pada dasarnya, Peringatan Maulid merupakan manifestasi kecintaan ummat kepada junjungannya, Muhammad SAW, yang disertai doa semoga kelak di hari kiamat mendapat syafaatnya.

    1. Masyarakat Arab Jahiliyah

    Muhammad SAW berhadapan dengan struktur sosial yang rusak. Orang kaya menindas orang miskin; penguasa bertindak semena-mena; yang kuat mempermainkan yang lemah; dan yang lebih tragis adalah posisi kaum wanita yang diperlakukan hanya sebagai pemuas hawa nafsu seksual kaum laki-laki.

    Kehidupan mental spiritual masyarakat Arab sebelum Islam ditandai berbagai kemusyrikan penyembahan berhala atau patung ciptaan sendiri. Masyarakat seperti itu disebut masyarakat Jahiliyah, artinya masyarakat yang diliputi kebodohan dan kejahilan. Nabi diutus kepada masyarakat itu untuk menegakkan nilai moral yang tinggi atau akhlaqul karimah (akhlak yang mulia) Nabi bersabda:

    “Sesungguhnya aku diutus untuk kesempurnaan akhlak orang mulia”. (Hadist Riwayat Imam Ahmad).

    Pikiran mereka sangat dipengaruhi berbagai kemusyrikan yang berkembang di masyarakat. Memang mereka percaya pada Allah, Tuhan yang menguasai langit dan bumi serta yang mengatur segala sesuatunya, tetapi mereka tidak dapat memahami ajaran tauhid yang jernih sebagaimana yang diajarkan para rasul terdahulu.

    Lantaran itu, mereka mencari perantara yang dapat mendekatkan mereka kepada Allah. Mereka menganggap tuhan-tuhan itu sanggup memberi manfaat dan mendatangkan kemudaratan.

    Masyarakat Arab Jahiliyah mempunyai berbagai kepercayaan dengan bermacam tuhan kecil. Ada yang mempertuhankan malaikat, bulan, bintang, jin, binatang, dll. Mereka percaya bahwa malaikat adalah anak perempuan tuhan, karena itu mereka sembah untuk mendapatkan syafa’at dan sebagai perantara dengan Allah. Mereka juga mempersekutukan jin dengan Allah.

    Sementara itu, akhlak mereka sangat parah. Minuman keras yang berakibat sampingan dalam kehidupan mental spiritual menjadi kegemaran utama. Pesta dan jamuan makan kaum bangsawan dirasa tidak sempurna tanpa menyajikan minuman keras. Kebiasaan membangga-banggakan hamar banyak terdapat dalam syair Arab Jahiliyah. Kedai-kedai minuman dibuka sepanjang hari dan di depannya dikibarkan Ghayah, bendera kebanggaan.

    Judi merupakan salah satu kebanggaan dan pekerjaan bergengsi dalam kehidupan. Tidak turut dalam perjudian akan dipandang hina, yang menjatuhkan martabat dan harga diri seseorang. Sedemikian gemarnya mereka berjudi sehingga istri sendiri pun dijadikan taruhan. Jika kalah, mereka akan menyaksikan istri sendiri dibawa orang.

    Perbuatan zina bukan hal aneh, malahan umum terjadi. Kumpul kebo dianggap wajar, bahkan tidak sedikit suami yang menyuruh istrinya berbuat zina, baik untuk persahabatan maupun untuk disewakan. Ibnu Abbas mengatakan: “Pada zaman jahiliyah, banyak laki-laki memaksa hamba sahayanya melakukan zina untuk mengambil upahnya”.

    Kaum wanita merupakan sasaran empuk penipuan kezaliman dan kesewenang-wenangan. Hak warisnya ditiadakan, malah wanita diperjual-belikan seperti ternak. Fanatisme kesukuan sangat menonjol. Motto hidup mereka yang terkenal adalah “Bela saudaramu salah atau benar”.

    Demikianlah gambaran umum masyarakat Arab sebelum Islam. Masyarakat itulah yang hendak diubah oleh Nabi melalui risalahnya. Tetapi kiranya perlu dicatat bahwa dari gambaran umum tersebut barangkali kita dapat melakukan analisa atas masyarakat modern saat ini: sejauh manakah praktek jahiliyah terselubung dalam kehidupan modern. Itulah barangkali yang pernah disinyalir sebagai “Jahiliyah Modern yang berkembang dalam diri manusia yang mengaku modern.

    1. Risalah lslamiyah

    Mulanya Nabi Muhammad SAW mengajak manusia beriman kepada Allah SWT dan meninggalkan berhala. Tugas ini sangat mendasar. Iman adalah dasar atas segalanya. Di atas itulah dibangun keber-agamaan seseorang.

    Perjuangan Nabi menegakkan risalah, walaupun hanya selama batas yang relatif singkat, yaitu 23 tahun, namun hasilnya luar biasa. Ketika yang mulia itu wafat, seluruh jazirah Arab telah memeluk Islam.

    Melalui ajaran keimanan dan pendidikan yang cermat, tekun dan bijaksana, Rasulullah berhasil membangun masyarakat baru dalam akidah, syariah, akhlak, tatanan sosial dan struktur pemerintahan, yang kesemuanya berdasar wahyu Ilahi yang diturunkan kepadanya.

    Rasul membangun kehidupan baru di atas puing kemanusiaan yang sudah hancur. Manusia syirik menjadi beriman; yang berakhlak bejat menjadi baik; yang sombong menjadi tahu diri serta sadar akan kelemahan dan kekurangannya di hadapan Allah SWT.

    Rasul yang mulia itu juga berhasil menyegarkan kembali sisa-sisa kemanusiaan yang sudah layu dan memberinya roh baru, sehingga seolah menyalakan kembali api yang telah padam. Kemanusiaan yang telah mati kini hidup kembali, bahkan dapat memberikan sinar terang kepada dunia. Pola hidup, yang meraba-raba dalam gelap, kini memperleh cahaya yang memandu umat kepada jalan yang haq. Rasul itu pembawa obor yang memberikan sinar terang.

    Nabi Muhammad SAW benar-benar berhasil menghujamkan risalah Islamiyah ke jantung dan urat nadi masyarakat, sehingga dari masyarakaat jahiliyah dilahirkan masyarakat beradab dan berkepribadian tinggi.

    1. Panutan Umat

    Sesungguhnya, kunci keberhasilan Nabi Muhammad SAW terletak pada akhlak yang sempurna, tutur kata menyenangkan, selalu sesuai, kata dengan perbuatan dan bijaksana dalam tindakan. Kesemuanya itu terpancar dalam keseharian beliau yang patut dijadikan panutan dan idola sepanjang masa, sebagaimana firman Allah dalam kitab suci-Nya:

    “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah“. (QS. AI- Ahzab: 21).

    Ayat ini menekan agar kaum muslimin menjadikan Muhammad SAW sebagai ikutan dalam segala hal, dalam cara bicara, bergaul, bersikap dan bertingkah laku. Karena itu, kita harus mempelajari sejarah hidup beliau, agar mengerti dan memahami bagaimana akhlak, kepribadian, sikap dan tingkah laku yang mulia itu. Salah satu upayanya adalah memperingati Maulud.

    Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menyatakan bahwa yang dimaksud dengan ikutan yang baik dalam ayat di atas terhimpun dalam tiga hal: 1. Fii aqwaalihi (pada perkataannya), artinya perkataan Rasul menjadi ikutan dan pegangan, sehingga mempribadi dalam diri kita. Rasul tidak berbicara yang tidak perlu, itupun dilakukan dengan bahasa yang komunikatif, mudah dimengerti dan dipahami. Rasul tidak berbicara dengan bahasa yang sulit dipahami, baik oleh ummat di masa itu maupun di kemudian hari.

    Jika perlu, Rasul mengulang tiga kali agar pembicaraannya itu benar-benar dipahami dan tidak menimbulkan salah pengertian. Beliau berbicara berdasarkan kata hatinya. Dengan kata lain:

    1. Nabi berbicara jujur dan benar. Kepada ummatnya beliau ingatkan :

    “Barangsiapa beriman dengan Allah dan hari akhir hendaklah ia berbicara yang baik atau ia diam”. (HR. Bukhari dan Muslim).

    1. Fii Af’aalihi (pada perbuatannya). Maksudnya hendaknya kita jadikan perbuatan Rasul sebagai suri tauladan. Perkataan dengan perbuatan Rasul selalu sesuai, artinya tidak hanya sekadar pandai berbicara tetapj juga dibuktikan dalam praktek. Jika menyuruh berbuat baik, beliaulah yang memulai lebih dahulu.

    Bila melarang sesuatu, beliau juga tidak melakukannya. Bukan hanya sekadar melarang orang lain, tetapi lebih dahulu melarang dirinya sendiri. Bahkan dalam banyak hal, Rasul berbuat dahulu baru berkata. Misalnya, Shalat. Beliau shalat dulu, kemudian baru berkata.

    “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” (HR. Bukhari dan Muslim).

    1. Fii ahwaalihi (akhlak dan tingkah lakunya). Akhlak Rasulullah mendapat pujian Allah SWT :

    “Sesungguhnya engkau (hai Muhammad) memiliki akhlak yang agung”. (QS. AI- Kalam: 4).

    Karena itu, pantas bila kita pelajari akhlak Nabi sebagai pemimpin, kepala negara, panglima, suami, bapak dan teman bicara. Setelah itu, kita berusaha mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik kehidupan pribadi maupun dalam bermasyarakat.

    Demikianlah wujud cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW. Barangsiapa mencintai Nabi Muhammad SAW, pasti akan mendapat tempat dalam surga yang penuh nikmat. Beliau bersabda :

    “Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku maka sesungguhnya ia mencintaiku, dan barangsiapa yang mencintaiku, maka ia bersamaku nanti di dalam surga”. (HR. As-Sijzi dari Anas).

    RASUL TERAKHIR DAN PENUTUP SEGALA NABI

    Nabi Muhammad SAW adalah rasul terbesar dan penutup segala Nabi. Tidak ada lagi rasul dan nabi sesudahnya. Dan beliau merupakan Rasul terbesar sepanjang zaman.

    Karena itu, ajaran yang dibawanya bersifat permanen. Berbeda dengan rasul-rasul terdahulu, mereka diutus untuk golongan, ummat serta jangka waktu tertentu. Ajaran -ajarannya tidak abadi. Karena itu, para rasul terdahulu menyeru dengan kalimat: Yaa Qaumi (hai kaumku). Demikian yang dilakukan Nabi Nuh, Nabi Saleh, Nabi Musa, dan para rasul lainnya.

    Adapun Nabi Muhammad SAW ketika mulai menyebarkan Islam, diperintahkan Allah SWT agar menyeru dengan kalimat: “Yaa Ayyuhannasu., yang berarti “Wahai manusia”. Ini diungkapkan Allah dalam firman-Nya sebagai berikut:

    “Katakanlah: ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua” (QS. AI-Araf: 158).

    Bahkan pada ayat lain ditegaskan lagi :

    “Dan tidaklah kami mengutus engkau (hai Muhammad) melainkan menjadi rahmat bagi semesta alam” (OS. AI-Anbiyaa: 107).

    Jelaslah bahwa kerasulan Nabi Muhammad SAW. bersifat universal. Ajaran yang dibawanya berlaku tetap dan sesuai sepanjang masa, tempat dan keadaan.

    Karena itu, kehadiran Nabi Muhammad SAW sebagal penutup segala nabi dan rasul merupakan anugerah Allah SWT yang sangat tinggi nilainya, sebagai rahmat bagi semesta alam, bukan bagi makhluk manusia saja, tetapi juga bagi makhluk-makhluk lain yang menjadi penghuni alam semesta ini.

    Wallohu a’lam bis-showab,-

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 9 December 2016 Permalink | Balas  

    Jika Allah Menetapkan Yang Tidak Disukainya 

    siluet bicaraJika Allah Menetapkan Yang Tidak Disukainya

    Sesuatu yang dicintai itu ada dua macam.

    [1] Dicintasi karena dzatnya.

    [2] Dicintai karena ada faktor lainnya

    Yang dicintai karena ada faktor lain terkadang dzatnya dibenci, akan tetapi ia dicintai karena di dalamnya terdapat kemaslahatan. Ketika demikian, ia dicintai dari satu sisi dan dibenci dari sisi lainnya.

    Contoh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    “Artinya : Dan telah kami tetapkan kepada Bani Israil di dalam al-Kitab ; Sesunguhnya kalian akan membuat kerusakan di muka bumi dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar” [Al-Israa : 4]

    Kerusakan di muka bumi dzatnya dibenci oleh Allah Ta’ala karena Allah tidak menyukai kerusakan dan orang-orang yang melakukannya. Tetapi hukum yang dikandungnya disukai oleh Allah Azza wa Jalla dari satu sisi, demikian juga berlaku sombong di muka bumi. Misalnya kekurangan hujan, paceklik, sakit dan fakir yang ditetapkan Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya tidak disukai oleh Allah pada dzatnya, karena Allah tidak suka menyakiti hamba-hamba-Nya dengan sesuatu dari hal-hal itu, sebaliknya Dia menghendaki kemudahan bagi hamba-hamba-Nya. Tetapi Dia mentaqdirkan hukum yang timbul karena musibah tadi, sehingga dicintai Allah dari satu sisi dan dibenci dari sisi yang lain. Allah Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan karena perbuatan tangan-tangan manusia, agar Dia merasakan kepada mereka sebahagian yang mereka kerjakan mudah-mudahan mereka kembali”

    Jika ada yang bertanya : bagaimana bentuk sesuatu yang disatu sisi dicintai sedangkan di sisi lainnya dibenci ?

    Saya jawab : Perkara ini benar-benar terjadi, akal tidak menolaknya dan perasaanpun tidak menyangkalnya. Contohnya, orang yang sakit, ia diberi seteguk obat yang pahit rasanya dan baunya tidak enak serta warnanya tidak menarik. Orang sakit itu meminumnya meskipun ia tidak menyukainya karena pahit, warnanya jelek dan bau tidak sedap.

    Ia menyukainya karena obat itu dapat menyembuhkan. Demikian pula seorang tabib yang meng-kay (salah satu cara pengobatan tradisional) orang sakit dengan besi yang dipanaskan di atas api. orang yang sakit itu tentu merasakan sakitnya akibat di-‘kay’ ini. Rasa sakit itu dibenci di satu sisi, disukai dari sisi lainnya.

    ***

    [Disalin kitab Al-Qadha’ wal Qadar edisi Indonesia Tanya Jawab Tentang Qadha dan Qadar, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin’, terbitan Pustaka At-Tibyan, penerjemah Abu Idris]

    Sumber : almanhaj.or.id

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 8 December 2016 Permalink | Balas  

    Bila Ditimpa Musibah 

    musibahBila Ditimpa Musibah

    Manusia terbagi menjadi empat tingkatan dalam menghadapi musibah.

    Tingkatan Pertama : Marah-Marah

    Ini terbagi kepada beberapa macam:

    [1] Terjadi di dalam hati, misalnya jengkel terhadap Rabb-nya karena taqdir buruk menimpanya. Ini haram hukumnya, terkadang bisa menjerumuskan kepada kekufuran. Allah Ta’ala berfirman. :

    “Artinya : Di antara manusia ada yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka jika memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keaadaan itu, dan jika ditimpa suatu bencana berbaliklah ia ke belakang. Ia rugi dunia dan akhirrat” [Al-Hajj : 11]

    [2] Dengan lidah, misalnya meminta celaka dan binasa dan yang semisal itu. Ini juga haram.

    [3] Dengan anggota tubuh seperti menampar pipi, merobek saku, menjambak rambut dan semisalnya. Semua ini haram karena bertentangan dengan sabar yang merupakan kewajiban.

    Tingkatan Kedua : Bersabar

    Seperti diucapkan oleh seorang penyair ; sabar seperti namanya, pahit rasanya tetapi lebih manis akibatnya dari pada madu. Maka orang ini akan melihat bahwa suatu musibah itu berat, namun ia tetap menjaga imannya sehingga tidak marah-marah, meski ia berpandangan bahwa adanya musibah itu dan ketiadaannya tidaklah sama. Ini hukumnya wajib karena Allah Ta’ala memerintahkan untuk bersabar.

    Dia berfirman :

    “Artinya : Bersabarlah kalian, sesunguhnya Allah berserta orang-orang yang sabar” [ Al-Anfa : 46]

    Tingkatan Ketiga : Ridha

    Yakni manusia ridha dengan musibah yang menimpanya. Ia berpandangan bahwa ada dan tidaknya musibah sama saja baginya, sehingga adanya musibah tadi tidak memberatkannya. ia pun tidak merasa berat memikulnya. Ini dianjurkan dan tidak wajib menurut pendapat yang kuat. Perbedaan tingkatan ini dengan tingkatan sebelumnya nampak jelas karena adanya musibah dan tidak adanya sama saja dalam tingkatan ridha. Adapun pada tingkatan sebelumnya, jika ada musibah dia merasakan berat, namun ia tetap bersabar.

    Tingkatan Keempat : Bersyukur

    Ini merupakan tingkatan yang paling tinggi. Di sini seseorang bersyukur atas musibah yang menimpanya karena ia memahami bahwa musibah ini menjadi sebab pengampunan kesalahan-kesalahannya bahkan mungkin malah menambah kebaikannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Tidaklah satu musibah menimpa seorang muslim kecuali dengannya Allah mengampuni dosa-dosanya sampai sebuah duripun yang menusuknya”

    ***

    [Disalin kitab Al-Qadha’ wal Qadar edisi Indonesia Tanya Jawab Tentang Qadha dan Qadar, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin’, terbitan Pustaka At-Tibyan, penerjemah Abu Idris]

    Sumber : almanhaj.or.id

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 7 December 2016 Permalink | Balas  

    Masjid Raya Baituarrahman 

    masjid-baitul-rahmanMasjid Raya Baituarrahman

    Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, adalah keindahan dan keelokan arsitektur.  Sejarah dan masa depan sepertinya sedang bercakap-cakap di masjid itu  sekarang. Masjid dengan tiang 280 buah ini, adalah saksi perjalanan sejarah  Aceh. Terakhir menjadi saksi tsunami yang dahsyat itu. Rekaman video amatir  tentang tsunami yang ditayangkan Metro TV hari-hari terakhir ini,  memperlihatkan kepada kita bahwa tsunami yang ganas itu, tiba-tiba seperti  orang kepayahan begitu mendekati masjid.

    Karenanya mereka yang lari ke masjid selamat dari terjangan gelombang yang  mengamuk. Jika orang India bangga dengan Taj Mahal, orang Aceh bangga dengan  masjid mereka: Baiturrahman. Inilah masjid sejarah dan saksi bisu perjalanan  Islam di Nusantara. Saksi bisu perjuangan rakyat Aceh. Menurut sejumlah  literatur, masjid ini dibangun pertama kali pada 1292 M atau 691 H, oleh  Sultan Alaidin Mahmud Syah I, cucu Sultan Alaidin Johan Syah. Namun ada yang  menyebut, usianya jauh lebih muda, karena dibangun di zaman Sultan Iskandar  Muda (1607-1636).

    Namun, pendapat yang terakhir diimbuhi pendapat lain, bahwa Iskandar Muda  hanya melakukan perbaikan-perbaikan. Baiturrahman pernah dipakai untuk  musyawarah bersejarah. Misalnya pada 22 Maret 1873, sebuah pertemuan yang  diprakarsai Sultan Alaidin Mahmud, Aceh menolak kehadiran Belanda. Seminggu  kemudian, Belanda pun memaklumkan perang untuk Aceh.

    Bulan berikutnya, Kutaradja pun diserang dari laut oleh Belanda. Pimpinan  perang, Mayjen Kohler mengepung Masjid Baiturrahman karena menurut intel  Belanda, dari masjid itulah perlawanan digerakkan. Malah saking kesalnya,  Belanda sempat membakar masjid itu hingga dua kali. Meski dibakar, tapi  bangunan masjid secara keseluruhan tetap bisa diselamatkan.

    Pejuang-pejuang Aceh bahu membahu memadamkan api yang berkobar. Belanda  membakar masjid ini pertama kali 10 April 1873, tatkala serangan cepat dan  besar-besaran mereka lakukan terhadap pejuang Aceh. Karena tak bisa merebut,  Belanda pun membakarnya. Pejuang Aceh kemudian berusaha merebut kembali masjid  yang menjadi simbol Islam di negeri tersebut.

    Menurut buku Masjid-masjid Bersejarah di Indonesia (1999) upaya itu dilakukan  pada 14 April 1873. Menurut Abdul Baqir Zein penulis buku ini, dalam  pertempuran tersebut Belanda mengalami kerugian yang sangat besar. Mayjen  Kohler tewas berikut delapan perwira lainnya dan 397 orang prajurit, 405 orang  luka-luka, termasuk 23 orang perwira.

    Masjid ini kembali dibakar Belanda pada 6 Januari 1874. Kali ini Belanda  membakar ibukota. Api berkobar di mana-mana. Tak pelak, masjid bersejarah ini  habis terkabar. Selain itu, dua masjid lainnya juga habis dibakar Belanda,  yaitu Masjid Baitul Musyahadah, dan Masjid Baiturrahim. Rakyat Aceh  benar-benar berkabung. Sejak itu Belanda mengibarkan benderanya di Tanah  Rencong.

    Aceh benar-benar terluka karena perangai Belanda. Belanda mencium hal itu.  Maka 9 Oktober 1879, masjid ini direhabilitasi berat kembali oleh Gubernur  Militer Aceh Jenderal K Van Der Heijden. Peletakan batu pertama dilakukan oleh  Teungku Kadhi Malikul Adil. Masjid selesai dikerjakan pada 1881 dengan satu  kubah.

    Pada 1935 masjid diperluas dengan tambahan dua kubah pada kedua sisi. Tahun  1957 dibangun lagi dua kubah di belakang dan selesai 1967. Karena itulah  Masjid Baiturrahman yang Anda lihat sekarang memiliki lima kubah dan dua  menara. Bagi warga kota Banda Aceh, Masjid Baiturrahman adalah simpul kota.  Masjid ini menjadi bangunan paling mewah di sana. Sepanjang malam bermandikan  pendaran cahaya listrik. Lampu merkurinya, berkilau disapu angin.

    Tak lengkap kalau ke Aceh, jika tidak mampir atau shalat di masjid ini. Jika  masuk ke dalam, kesejukan dengan cepat menjalari tubuh kita. Masjid yang bisa  menampung 10 ribu sampai 13 ribu jamaah itu. Bagi anak-anak masjid ini,  sekaligus dijadikan lokasi bermain seusai mengaji di TPA masjid yang sama.  Anak-anak Aceh mendapat “bimbingan” karena kehadiran masjid cantik tersebut di  tengah-tengah mereka.

    Ketika gelombang tsunami menyapu kota Banda Aceh, masjid ini selamat. Umat  Islam meyakini bahwa sebagai Rumah Tuhan, masjid memang senantiasa selamat  dari musibah. Pemulihan Aceh, untuk pertama kali ditandai dengan  dibersihkannya masjid itu. Shalat Jumat pertama seusai tsunami di Masjid  Baiturrahman, menjadi sangat religius dan menjadi tonggak sejarah bagi Aceh  untuk melangkah ke depan.

    (khairul jasmi)

    republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 6 December 2016 Permalink | Balas  

    Menunaikan Haji Dengan Berhutang 

    hajiMenunaikan Haji Dengan Berhutang

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Ibadat haji adalah merupakan salah satu daripada rukun Islam yang lima. Ia diwajibkan ke atas setiap orang Islam yang memenuhi syarat-syarat wajib haji. Antara syarat-syarat wajib haji itu ialah istitha’ah. Istitha’ah bererti berkuasa atau ada kemampuan.

    Istitha’ah (berkuasa) mengerjakan haji itu ada dua bahagian iaitu:

    1. Berkuasa pergi melaksanakan haji dengan dirinya sendiri.
    2. Berkuasa menunaikan haji dengan perantaraan orang lain.

    Apa yang menarik perhatian kita untuk ditonjolkan dalam perbincangan ini mengenai kedua-dua jenis istitha’ah di atas ialah berkenaan “berkuasa pergi melaksanakan haji dengan dirinya sendiri.”

    Menurut para ulama, berkuasa mengerjakan haji dengan dirinya sendiri itu mempunyai syarat-syarat tertentu iaitu:

    1. Mempunyai perbelanjaan yang cukup untuk dirinya semasa dalam perjalanan pergi dan balik serta semasa melaksanakan fardhu haji, dan juga sara/biaya hidup bagi orang yang wajib dibelanjainya semasa dalam pelayarannya, serta perbelanjaannya itu melebihi dari hutangnya.
    2. Mempunyai kenderaan seperti kapal terbang, kapal laut, bas dan seumpamanya sama ada miliknya sendiri atau dia mampu menyewanya dengan sewaan biasa menurut tempat dan masa.

    Syarat mempunyai kenderaan bagi yang hendak mengerjakan haji itu hanya dikenakan kepada orang yang jauh tempat tinggalnya daripada Mekkah iaitu sejauh dua marhalah atau lebih iaitu jarak jauh yang membolehkan sembahyang diqashar. Kedua-dua syarat iaitu bekalan dan kenderaan itu disebut dalam hadits riwayat Ibnu ‘Umar dengan katanya:

    Maksudnya: “Seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata (bertanya): “Ya Rasulullah, apakah yang mewajibkan haji itu?

    Baginda bersabda: “Bekalan dan kenderaan”.

    (Hadis riwayat at-Tirmidzi)

    Berdasarkan hadis di atas, dapat difahami bahawa orang yang tidak mempunyai bekalan dan kenderaan itu belum diwajibkan ke atasnya mengerjakan haji.

    Menurut Ibnu Hajar, tidak wajib di atas orang Islam mencari bekalan dan kenderaan untuk pergi haji dengan cara meminta-minta kepada orang lain atau menerima pemberian daripada orang lain atau dengan cara berhutang, kecuali dia mendapat bekalan dan seumpamanya itu daripada harta yang sedia ada di tangannya.

    Bagi orang yang memiliki belanja yang melebihi dari keperluan dirinya dan tanggunggannya sepanjang pemergiaannya untuk mengerjakan haji maka haji adalah wajib ke atas orang tersebut. Demikianlah sebaliknya sekiranya belanja tersebut tidak melebihi keperluan diri dan tanggunggannya maka tiadalah wajib haji ke atasnya.

    Adapun orang yang memiliki harta yang memberi hasil kepadanya dan hasil tersebut tidak melebihi kadar keperluan diri dan tanggunggannya, seperti tanah atau rumah sewa dan seumpamanya, tetapi apabila dijual harta berkenaan, hasil jualan tersebut akan membolehkan dia mengerjakan haji dan melebihi keperluan tanggunggannya sepanjang pemergian haji, maka menurut qaul yang ashah dalam mazhab Syafi’e haji adalah wajib ke atas orang tersebut.

    Walau bagaimanapun tidak wajib menjual rumah tempat kediamannya dan perkakas rumah untuk mengerjakan haji, pada fikiran kita termasuk juga tidak menjual tanah, kerana semua perkara itu adalah merupakan keperluan yang sangat dihajati (dharuri). Malahan ia mesti diberikan prioriti sebagai perkara asas untuk membolehkan seseorang menjalani kehidupan.

    Oleh itu Islam tidak membebankan umatnya untuk menunaikan haji jika belum berkemampuan dan cukup syarat-syaratnya.

    Orang Berhutang Untuk Mengerjakan Haji

    Apa yang kadang-kadang berlaku, walaupun mengerjakan haji itu wajib terdapat sebahagian orang memaksa dirinya berhutang untuk tujuan tersebut. Berhutang itu mengandungi risiko yang tinggi yang boleh menyusahkan bukan sahaja di dunia bahkan juga di akhirat.

    Antara hadits yang memperkatakan masalah hutang dan orang yang berhutang sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Malik:

    Maksudnya: “Dan jauhkanlah diri kamu dari hutang, kerana sesungguhnya (hutang itu) awalnya adalah dukacita dan akhirnya pula mengambil harta orang dengan tiada mengembalikannya.”

    (Hadis riwayat Malik)

    Dalam hadis yang lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Roh seseorang mukmin itu tergantung-gantung dengan hutangnya sehinggalah hutangnya itu dibayar.”

    (Hadis riwayat at-Tirmidzi)

    Di dalam sebuah atsar diriwayatkan daripada Tariq, beliau berkata:

    Maksudnya: “Aku pernah mendengar Ibnu Abi Awfa (salah seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam) ditanya berkenaan seorang laki-laki yang berhutang untuk pergi menunaikan haji, beliau berkata: “Mohonlah rezeki kepada Allah dan jangan berhutang.”

    (Dikeluarkan oleh al-Baihaqi)

    Imam an-Nawawi menjelaskan pendapat para ulama mazhab Syafi’e bahawa sekalipun orang yang memberi hutang itu rela supaya hutang itu dibayar semula pada tempoh selepas menunaikan haji, haji tetap tidak wajib ke atas orang yang berhutang itu. (Al-Majmu’ : 7/56)

    Agama Islam adalah agama yang mudah dan tidak menyusahkan. Dalam hal mengerjakan haji para ulama telah menjelaskan syarat-syarat tertentu yang amat padat, kemas dan ringkas berdasarkan al-Qur’an, hadis dan ijma’. Jika syarat-syarat itu tidak dapat dipenuhi oleh seseorang, maka haji tidak wajib baginya, walaupun haji itu salah satu daripada rukun Islam. Ini membuktikan bahawa agama Islam itu agama rahmat dan tidak menyusahkan umatnya.

    Oleh yang demikian, bagi orang yang ingin mengerjakan haji yang wajib ke atasnya, tidaklah perlu menyusahkan dirinya dengan berhutang. Lebih-lebih lagi bagi haji yang dikerjakan itu kali kedua atau seterusnya. Berhutang kerana tujuan ini adalah dilarang oleh agama kerana hutang itu akan menjadi bebanan dan menyusahkannya sebagaimana yang disebut oleh hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam.

    wallohu a’lam bish-shawab,-

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 11:18 am on 5 December 2016 Permalink | Balas  

    Belajar Dari Wajah 

    topeng_homeBelajar Dari Wajah

    Subhanallah, walaupun kulitnya tidak putih, tetapi ketika memandang wajahnya… sejuk sekali! Senyumnya begitu tulus meresap ke relung kalbu yang paling dalam. Menarik sekali jika kita terus-menerus belajar tentang fenomena apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini. Salah satunya adalah wajah. Wajah? Ya, wajah. Wajah bukan hanya masalah bentuk, yang utama adalah pancaran yang tersemburat dari si pemilik wajah tersebut.  Ketika pagi menyingsing misalnya, tekadkan dalam diri, ”Saya ingin tahu wajah yang paling menenteramkan hati itu seperti apa ? Wajah yang paling menggelisahkan itu bagaimana?” Karena, pasti hari ini kita akan banyak bertemu dengan wajah orang per orang.

    Saat berjumpa dengan orang, kita bisa belajar ilmu tentang wajah, karena setiap wajah memberikan dampak yang berbeda-beda kepada kita. Ada yang menenteramkan, ada yang menyejukkan, ada yang menggelikan, ada yang menggelisahkan, dan ada pula yang menakutkan. Menakutkan? Mengapa? Apakah karena bentuk hidungnya? Tentu saja tidak! Sebab ada yang hidungnya mungil, tapi menenteramkan. Ada yang sorot matanya tajam menghunjam, tapi menyejukkan. Ada yang kulitnya hitam, tapi penuh wibawa.

    Aa pernah berjumpa dengan seorang ulama dari Afrika di Masjidil Haram. Subhanallah, walaupun kulitnya tidak putih, tidak kuning, tetapi ketika memandang wajahnya… sejuk sekali! Senyumnya begitu tulus meresap ke relung kalbu yang paling dalam. Sungguh bagai disiram air menyegarkan pada siang hari.

    Kalau hari ini kita berhasil menemukan wajah seseorang yang menenteramkan, maka cari tahu mengapa dia bisa memiliki wajah seperti itu. Tentu kita akan menaruh hormat kepada dia. Betapa senyumannya yang tulus, pancaran wajahnya tampak sekali ia ingin membahagiakan siapa pun yang menatapnya. Sebaliknya, bagaimana kalau kita menatap raut wajah yang berlawanan? Wajahnya bengis, struktur katanya ketus, sorot matanya kejam, senyumannya sinis, dan sikapnya pun tidak ramah. Ini pun perlu kita pelajari.

    Ambillah kelebihan dari wajah yang menenteramkan dan menyejukkan tadi menjadi bagian dari wajah kita, dan buang jauh-jauh raut wajah yang tidak menenteramkan. Tidak ada salahnya jika kita evalusi diri di depan cermin. Tanyalah, raut seperti apakah yang ada di wajah ini?  Memang, ada di antara hamba-hamba Allah yang bibirnya didesain agak berat ke bawah. Kadang-kadang menyangkanya dia kurang senyum, sinis, atau kurang ramah. Subhanallah, bentuk seperti ini pun karunia Allah yang patut disyukuri dan bisa jadi ladang amal bagi siapa pun yang memilikinya untuk berusaha senyum ramah lebih maksimal lagi.  Bagi wajah yang untuk seulas senyum itu sudah ada, maka tinggal meningkatkan lagi kualitas senyum tersebut, agar lebih ikhlas lagi.

    Karena senyum bukan sekadar mengangkat ujung bibir saja, tapi yang utama adalah keinginan membahagiakan orang lain. Rasulullah SAW memberikan perhatian yang luar biasa kepada setiap orang yang ditemuinya sehingga orang itu merasa puas. Diriwayatkan, bila ada orang yang menyapanya, Rasul menganggap orang tersebut adalah orang yang paling utama, sesuai kadar kemampuannya.

    Walhasil, ketika Rasul berbincang dengan siapa pun, maka orang yang diajak berbincang itu senantiasa menjadi curahan perhatian. Tak heran bila cara memandang dan bersikap, ternyata menjadi atribut kemuliaan yang ia contohkan. Hal itu berpengaruh besar terhadap sikap dan perasaan orang yang diajak bicara.

    Kemuramdurjaan, ketidakenakan, dan kegelisahan itu muncul karena kita belum menganggap orang yang ada dihadapan kita sebagai yang paling utama. Makanya, kita sering melihat seseorang itu hanya separuh mata, berbicara hanya separuh perhatian. Misalnya, ketika ada seseorang yang datang menghampiri, kita sapa orang itu sambil baca koran. Padahal, kalau kita sudah tidak mengutamakan orang lain, maka curahan kata-kata, cara memandang, cara bersikap, itu tidak akan punya daya sentuh dan daya pancar yang kuat.

    Karena itu, marilah kita berlatih diri meneliti wajah. Tentu bukan untuk meremehkan, tapi mengambil teladan wajah yang baik dan menghindari yang tidak baik. Lalu praktikkan dalam perilaku sehari-hari. Selain itu, belajarlah untuk mengutamakan orang lain, walaupun hanya sesaat saja. Wallahu a’lam.

    ***

    KH Abdullah Gymnastiar

    http://www.republika.co.id

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: