Updates from November, 2014 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:52 am on 30 November 2014 Permalink | Balas  

    Bagaimana Memahami Ayat Allah di Alam 

    biji kurmaBagaimana Memahami Ayat Allah di Alam

    Dalam Alqur’an dinyatakan bahwa orang yang tidak beriman adalah mereka yang tidak menaruh kepedulian akan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah di alam semesta ciptaan-Nya. Sebaliknya, ciri menonjol pada orang yang beriman adalah kemampuan memahami tanda-tanda kekuasaan sang Pencipta. Ia mengetahui bahwa semua ini diciptakan tidak dengan sia-sia, dan ia mampu memahami kesempurnaan ciptaan Allah di segala penjuru manapun. Pemahaman ini pada akhirnya menghantarkannya pada penyerahan diri, ketundukan dan rasa takut kepada-Nya. Ia adalah termasuk golongan yang berakal, yaitu “Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali ‘Imran: 190-191).

    Di banyak ayat dalam Alqur’an, pernyataan seperti, “Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” dan “terdapat tanda-tanda (ayat) bagi orang-orang yang berakal, ” memberikan penegasan tentang pentingnya memikirkan secara mendalam tentang tanda-tanda kekuasaan Allah. Segala sesuatu yang kita saksikan dan rasakan di langit, di bumi dan segala sesuatu di antara keduanya adalah perwujudan dari kesempurnaan penciptaan oleh Allah, dan oleh karenanya menjadi bahan yang patut untuk direnungkan. Satu ayat berikut memberikan contoh akan nikmat Allah ini: “Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. An-Nahl:11).

    Sebagaimana diketahui, pohon kurma tumbuh dari sebutir biji di dalam tanah. Berawal dari biji mungil ini, yang berukuran kurang dari satu sentimeter kubik, muncul sebuah pohon besar berukuran panjang 4-5 meter dengan berat ratusan kilogram. Satu-satunya sumber bahan baku yang dapat digunakan oleh biji ini ketika tumbuh dan berkembang membentuk wujud pohon besar ini adalah tanah tempat biji tersebut berada. Bagaimanakah sebutir biji mengetahui cara membentuk sebatang pohon? Bagaimana ia dapat berpikir untuk menguraikan dan memanfaatkan zat-zat di dalam tanah yang diperlukan untuk pembentukan kayu? Bagaimana ia dapat memperkirakan bentuk dan struktur yang diperlukan dalam membentuk pohon?

    Pertanyaan yang terakhir ini sangatlah penting, sebab pohon yang pada akhirnya muncul dari biji tersebut bukanlah sekedar kayu gelondongan. Ia adalah makhluk hidup yang kompleks yang memiliki akar untuk menyerap zat-zat dari dalam tanah. Akar ini memiliki pembuluh yang mengangkut zat-zat ini dan yang memiliki cabang-cabang yang tersusun rapi sempurna. Seorang manusia akan mengalami kesulitan hanya untuk sekedar menggambar sebatang pohon. Sebaliknya sebutir biji yang tampak sederhana ini mampu membuat wujud yang sungguh sangat kompleks hanya dengan menggunakan zat-zat yang ada di dalam tanah. Pengkajian ini menyimpulkan bahwa sebutir biji ternyata sangatlah cerdas dan pintar, bahkan lebih jenius daripada kita. Mungkinkah sebutir biji memiliki kecerdasan dan daya ingat yang luar biasa? Tak diragukan lagi, pertanyaan ini memiliki satu jawaban: biji tersebut telah diciptakan oleh Dzat yang memiliki kemampuan membuat sebatang pohon. Dengan kata lain biji tersebut telah diprogram sejak awal keberadaannya.

    Dalam sebuah ayat disebutkan: “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkah tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (QS. Al-An’aam: 59).

    Dalam ayat lain Allah menyatakan: ”Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?” QS. Al-An’am: 95).

    Biji hanyalah satu dari banyak tanda-tanda kekuasaan Allah yang diciptakan-Nya di alam semesta. Ketika manusia mulai berpikir tidak hanya menggunakan akal, akan tetapi juga dengan hati mereka, dan kemudian bertanya pada diri mereka sendiri pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana”, maka mereka akan sampai pada pemahaman bahwa seluruh alam semesta ini adalah bukti kekuasaan Allah SWT.

    ***

    (Diambil dari http://www.harunyahya.com)

    Iklan
     
  • erva kurniawan 1:16 am on 29 November 2014 Permalink | Balas  

    Wasiat Rasulullah Kepada Abi Dzar Al Giffary 

    muhammad-2Wasiat Rasulullah Kepada Abi Dzar Al Giffary

    Assalamualaikum wr.wb.

    Abu Dzar Al-Giffary adalah seorang sahabat Rasulullah yang terdekat dan amat mesra dengan beliau. Ia menyebut Rasulullah lain dari sahabat yang lain, menyebut beliau ” khalilie” (Sahabatku yang akrab). Abi Dzar menonjol dalam keikhlasannya berjuang, dan ia sangat cinta dan sayang kepada kaum fakir miskin, dan karena itu ia sering disebut sebagai Bapak kaum fakir miskin, dan ada pula ia digelari orang sebagai Bapak Sosialis Islam, Ia tidak kenal kompromi dalam membela kebenaran dan mengahancurkan kebatilan dari manapun juga datangnya.

    Ia beroposisi kepada khalifah Usman bin Affan yang berkuasa saat itu, karena dianggap Pemerintahan dikala itu terlalu royal dengan uang negara, disamping terlibat praktek KKN.

    Karena sikapnya yang radikal dan tidak kenal kompromi itu, pemerintahan Usman takut kepadanya karena pengaruhnya yang besar kepada umat sebagai sahabat Nabi SAW. yang terpercaya. Usman membuangnya ke Syria yang waktu itu diperintah oleh gubernur Muawiyah yang terkenal korup itu. Disana sikap Abi Dzar tetap seperti sedia kala, menyampaikan dakwahnya dengan peringatan peringatan yang keras. Ayat ayat yang dibacakan kepada Usman dibacakan pula kepada Muawiyah bin abi Sufyan itu. Gubernur Muawiyah menyogoknya dengan uang yang banyak, dengan maksud membungkam mulutnya, tetapi Abi Dzar tidak mempan untuk diperlakukan sedemikian itu. Ia tetap bicara di depan umum sesuai dengan fungsinya sebagai Ulama, yakni menyatakan kebenaran dimana saja, kapan saja dan terhadap siapa saja tanpa mengenal ruang dan waktu, tanpa terpengaruh dengan kondisi dan situasi. Dan sebagai waratsatul Anbiya’. dengan segala keberanian dan kejujurannya yang menonjol, Abi Dzar berkata kepada para penguasa waktu itu : ” Sekiranya kamu meletakkan pedang terhunus di leherku untuk mencegah aku dari mengucapkan kata-kata yang pernah aku terima dari Nabi SAW. niscaya aku akan terus juga bicara walaupun leherku akan putus”.

    Kalau kita mengikuti bagaimana caranya Rasulullah membina Abi Zhar Al-Giffary sehingga ia merupakan kader dan sahabat kesayangan Rasulullah yang konsukwen dan matang, tentulah kita tidak akan heran bila kita melihat sikap-sikap dan sepak terjang Abi Dzar yang militan dalam gerak dan dinamis serta korektif-konstruktif dalam sikap hidupnya.

    Pada suatu ketika yang senggang, Rasulullah mengajak Abu Dzar Al-Giffari berjalan jalan keluar kota dengan Rasulullah. Diwaktu saat yang senggang dan relax itulah Rasulullah menyampaikan amanah-amanah atau pesan pesan wasiat beliau sambil membina Abi Zhar secara khusus itu. Rasulullah membinanya supaya hidup sederhana, yakni di kala keduanya berada di dekat gunung Uhud yang terkenal dalam sejarah Islam, Nabi berkata kepadanya : “Andaikata gunung Uhud itu menjadi emas dan meminta supaya aku memilikinya, pasti aku menolaknya”. Dan dengarlah selanjutnya keterangan seperti Abi Dzar sendiri tentang pesan Rasulullah kepadanya seperti dibawah ini !

    Telah memerintahkan kepadaku sahabat akrabku (Khalilie) SAW. dengan tujuh perkara.

    1. Ia memerintahkan aku untuk mencintai dan mendekati kaum fakir miskin.
    2. Ia memerintahkan aku untuk memandang kepada orang yang dibawah aku (dalam urusan dunia) dan tidak memandang kepada orang yang diatasku.
    3. Ia memerintahkan aku menghubungkan tali kasih sayang sekalipun aku telah membelakang.
    4. Ia memerintahkan aku untuk tidak meminta sesuatu apapun kepada seseorang.
    5. Ia memerintahkan aku untuk tidak menaruh takut dalam berjuang pada jalan Allah terhadap reaksi celaan kaum reaksioner.
    6. Ia memerintahkan aku untuk menyatakan kebenaran walaupun pahit.
    7. Dan ia memerintahkan aku supaya banyak menggunakan kalimah : LA HAULA WALA QUWAWTA ILLA BILLAH, karena semua itu adalah simpanan yang terletak dibawah ‘Arasy.

    Demikianlah antara lain pesan-pesan Rasulullah sebelum beliau meninggal dunia, untuk membina para sahabatnya agar berjiwa besar, memiliki iman yang murni, sebersih-bersih tauhid dan keberanian moril yang tinggi dalam melanjutkan dakwah dan jihad beliau. Sungguh tepatlah firman Allah untuk memuji sikap moral dan moril para sahabatnya yang tinggi itu di dalam kitab suci Al-Qur’an :

    “Adalah kamu sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk umat manusia, kamu menyuruh dengan yang makruf dan melarang dari yang mungkar dan kamu percaya kepada Allah”. ( Al-Qur’an, Ali Imran 110).

    ***

    Sumber : Detik detik terakhir kehidupan Rasulullah (KH. Firdaus A.N)

    Kiriman Dwi Nopitasari

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 28 November 2014 Permalink | Balas  

    Titik Es Dalam Hati 

    kedinginanTitik Es Dalam Hati

    “…dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. Yusuf(12): 87

    Di sebuah perusahaan rel kereta api ada seorang pegawai, namanya Nick. Dia sangat rajin bekerja, dan sangat bertanggung jawab,tetapi dia mempunyai satu kekurangan, yaitu dia tidak mempunyai harapan apapun terhadap hidupnya, dia melihat dunia ini dengan pandangan tanpa harapan sama sekali.

    Pada suatu hari semua karyawan bergegas untuk merayakan ulang tahun bos mereka, semuanya pergi dengan cepat sekali. Yang paling tidak sengaja adalah, Nick terkunci di sebuah mobil pengangkut es yang belum sempat dibetulkan. Nick berteriak, memukul pintu dengan keras, semua orang di kantor sudah pergi merayakan ulang tahun bosnya, maka tidak ada yang mendengarnya.

    Tangannya sudah merah kebengkak2an memukul pintu mobil itu, suaranya sudah serak akibat berteriak terus, tetapi tetap tidak ada orang yang mempedulikannya, akhirnya dia duduk di dalam sambil menghelakan nafas yang panjang.

    Semakin dia berpikir semakin dia merasa takut, dalamm hatinya dia berpikir : dalam mobil pengangkut es suhunya pasti di bawah 0 derajat, kalau dia tidak segera keluar dari situ, pasti akan mati kedinginan. Dia terpaksa dengan tangan yang gemetar, mencari secarik kertas dan sebuah bolpen, menuliskan surat wasiatnya.

    Keesokkan harinya, semua karyawan pun datang bekerja. mereka membuka pintu mobil pengangkut es tersebut, dan sangat terkejut menemukan Nick yang terbaring di dalam. Mereka segera mengantarkan Nick untuk ditolong, tetapi dia sudah tidak bernyawa lagi.

    Tetapi yang paling mereka kagetkan adalah, listrik mobil untuk menghidupkan mesin itu tidak dibuka, dalam mobil yang besar itu juga ada cukup oksigen untuknya, yang paling mereka herankan adalah suhu dalam mobil itu hanya 28 derajat saja, Tetapi Nick malah mati “kedinginan”!!~~

    Nick bukanlah mati karena suhu dalam mobil terlalu rendah, dia mati dalam titik es di dalam hatinya.Dia sudah menghakimi dirinya sebuah hukuman mati, Bagaimana dapat hidup terus?

    Percaya pada diri sendiri adalah sebuah perasaan hati.

    Orang yang mempunyai rasa percayaan diri tidak akan langsung putus asa begitu saja, dia tidak akan langsung berubah sedih terhadap keadaan hidupnya yang jalan kurang lancar.

    Tannyalah pada diri kita sendiri, apakah kita sendiri sering langsung memutuskan bahwa kita tidak mampu untuk mengerjakan suatu hal, sehingga kita kehilangan banyak kesempatan untuk menjadi sukses? kehilangan banyak kesempatan untuk belajar mandiri? untuk jadi lebih mengerti kehidupan ini?

    Yang mempengaruhi semangat kamu bukanlah faktor-faktor dari luar, melainkan hatimu sendiri.

    Sebelum berusaha sudah dikalahkan oleh diri kita sendiri , biarpun ada banyak bantuan yang tertuju pada dirimu tetap tidak akan membantu…………..

    “..dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.

    ***

    Kiriman: Annisa Riyanti

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 27 November 2014 Permalink | Balas  

    Keutamaan Ilmu 

    ilmu-adalah-pelitaKeutamaan Ilmu

    Assalamualaikum wr. wb.

    Muadz ibn Jabal pernah mengingatkan tentang arti penting ilmu pengetahuan. Kala itu Muadz mengatakn :

    1. “Pelajarilah ilmu karena hal itu merupakan perwujudan rasa takut kepada Allah. Mencarinya adalah ibadah. Mempelajarinya adalah tasbih. Membahasnya adalah jihad.Mengajarkannya kepada orang lain adalah sedekah. Mencari kepada ahlinya adalah taqarrub.
    2. Dialah teman di kala sendirian, sahabat dalam keterasingan, petunjuk dalam beragama, penolong di kala duka, penerang jalan ke surga.
    3. Allah mengangkat derajat suatu kaum dan menjadikan mereka sebagai pemimpin, tokoh dan petunjuk yang diikuti adalah karena ilmu. Tapak jejaknya diikuti, perbuatannya diperhatikan. Malaikat senang berkawan dengan mereka dan membersihkan mereka dengan kedua sayapnya.
    4. Dengan ilmu manusia bisa mentaati Allah dengan benar. Dengan ilmu pula tali silaturrahim disambung, haq dan haram diketahui. Ilmu adalah iman, amal adalah pengikutnya. Ia dianugerahkan kepada orang orang yang berbahagia, dan diharamkan untuk mereka yang celaka. Itulah segudang dari kelebihan ilmu pengetahuan.”

    HIKMAHNYA :

    1. Sumber dari segala ilmu pengetahuan adalah Tuhan, sebagai pusat dari segala pusat, hulu dari segala hulu, sumber dari segala sumber. Dengan demikian maka secara substansial ilmu pengetahuan yang hakekatnya bersumber dari Tuhan sangat luas tak terkirakan, sangat banyak jumlahnya tak terhitungkan. Bahkan Allah telah menandaskan bahwa seandainya air laut dijadikan tinta dan daun daun dijadikan kertasnya untuk mencatat semua ilmu Allah, maka semua itu tak akan mencukupinya. Sehebat apapun ilmu yang dimiliki manusia, menurut Allah itu masih sedikit jumlahnya. (“Dan tidaklah aku memberikan ilmu kepada kalian kecuali sedikit saja”).

    Dengan menyadari hal itu, maka manusia tidak sepatutnya merasa puas diri dengan pengetahuan yang dimiliki. Manusia tak sepantasnya merasa paling hebat, paling cerdas, seolah dirinya sebagai orang terhebat sejagat.Dia tak menyadari bahwa di atas langit masih ada langit. Hanya kesadaran inilah yang akhirnya mampu mendorong orang cerdas dan pandai untuk rendah hati, tidak merasa puas diri dengan pengetahuan yang dimiliki. Kerakusan yang dibolehkan hanyalah rakus terhadap ilmu pengetahuan dan kebajikan. Ketidakpuasan yang dibolehkan atas sesuatu yang dimiliki, hanyalah tak pernah merasa puas pada ilmu yang sudah dipunyai, sehingga mendorong dia untuk terus dan terus belajar dan mengkaji.

    1. Islam malah mewajibkan umatnya untuk berprinsip long life education: belajar sepanjang hidupnya. Hal ini bukan hanya berlaku bagi pria tapi juga wanita. Menuntut ilmu diwajibkan atas tiap orang islam pria dan wanita mulai dari ayunan (sejak kecil) sampai ke liang kubur. Menuntut ilmu dalam islam tak dibatasi lokasi, bahkan silahkan saja sampai ke manca negara, termasuk negeri non islam juga.

    Pada jaman Nabi Muhammad SAW misalnya, umat islam malah disuruh mencari pengetahuan dan pengalaman sampai ke negeri Cina, yang kala itu bukan sebuah negara dan bangsa Islam tapi pengetahuan Ipteknya tinggi, untuk mencapai kemajuan. (Uthlubul ‘ilma walau bisshin: Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri cina).

    1. Ilmu pengetahuan dalam islam diibaratkan cahaya (obor,pelita) sedangkan kebodohan diidentikkan dengan kegelapan. Dapat dipahami jika berjihad dalam Islam bukan hanya berperang angkat senjata, tapi mengangkat pena alias belajar mengajar adalah sebuah jihad pula. Ilmu itu cahaya. Sebab orang yang tak tahu ilmu ibadah, ibadahnya pasti ngawur, orang yang tak tahu halal dan haram, dia akan menghalalkan yang diharamkan atau mengharamkan apa yang diharamkan Tuhan. Sebab, dia memang tak tahu, tak bisa melihat (buta, gelap) mana yang benar dan salah.
    2. Aktivitas keagamaan hanya berlandas pada semangat tanpa pemahaman pengetahuan pada esensi ajaran, implementasinya bisa ngawur bahkan dapat bertentangan dengan substansi peribadatan. Orang mau sembahyang harus tahu tata cara sembahyang, harus wudhu dan tahu cara wudhu. Semua itu perlu ilmu. Bahkan Allah mengingatkan agar jangan mengatakan dan atau melakukan sesuatu yang kita tidak tahu tentang ilmunya. (“Janganlah kamu melakukan sesuatu yang kamu tidak tahu tentang ilmunya, karena sesungguhnya pendengaranmu, penglihatanmu, dan hatimu akan dimintai pertanggung jawaban.” ).
    3. Ilmu memang menempati maqam (posisi) super penting dalam ajaran Islam terutama untuk mencapai kejayaan kehidupan di dunia maupun di akhirat. Nabi Muhammad SAW menyatakan, : ” Barangsiapa menghendaki kebahagiaan hidup di dunia dapat dicapai dengan ilmu, dan barangsiapa menghendaki keduanya (kebahagian dunia dan akhirat) dapat dicapai dengan ilmu pula. Nabi Muhammad SAW. juga mengingatkan, : “Segala sesuatu ada jalannya, dan jalan untuk menuju surga adalah ilmu. Oleh karena itu, sangat dapat dimengerti jika ALLAH memerintahkan : “Taatlah kepada Allah wahai orang-orang yang menggunakan akal, yang mempunyai ilmu pengetahuan”. Oleh karena itu pula, adalah sangat aneh jika umat islam masih banyak yang kurang pengetahuannya akan ilmu, banyak yang malas belajar, dan masih memandang sebelah mata terhadap ilmu pengetahuan.

    ***

    Sumber : Kisah dan Hikmah (Dhurorudin Mashad)

    Wassalam

    Siti Nurjannah

     
  • erva kurniawan 2:55 am on 26 November 2014 Permalink | Balas  

    Menjawab Keraguan Seputar Jilbab 

    hijabMenjawab Keraguan Seputar Jilbab

    Menghias perbuatan maksiat adalah pekerjaan setan. Sehingga perbuatan dosa bisa nampak indah, yang haram menjadi suram dan yang maksiat kelihatan memikat. Begitu pula dalam masalah jilbab dan busana takwa ini. Banyak syubhat dan keraguan yang bisa jadi sengaja dihembuskan untuk menghalangi para wanita muslimah memperindah penampilannya dengan busana takwa.

    Tulisan ini akan mengupas tentang beberapa hal yang menimbulkan keraguan dan kebimbangan seputar jilbab, sekaligus menjawabnya insya Allah. Hal-hal tersebut antara lain:

    Jilbab adalah budaya Arab

    Ada sementara orang yang mengatakan bahwa jilbab adalah budaya dan tradisi pakaian wanita arab pada masa awal pertumbuhan Islam. Sekarang, setelah berlalu lebih dari 14 abad, budaya dan tradisi pun berubah. Cara orang berpakaian pun sudah tak seperti dulu. Karena jilbab adalah pakaian wanita arab saat itu, maka bukan saatnya lagi untuk dikenakan saat ini. Apalagi bagi orang yang tinggal di negara-negara non arab yang tentunya mempunyai budaya dan tradisi sendiri.

    Dari sini paling tidak ada dua hal yang perlu dijawab. Pertama, benarkah jilbab adalah tradisi berpakaian wanita arab pada awal pertumbuhan Islam? Kedua, benarkah jilbab hanya khusus untuk wanita arab dan tak wajib bagi muslimah non arab untuk mengenakannya?

    Imam Hakim meriwayatkan sebuah hadis yang menggambarkan saat-saat setelah turunnya ayat perintah menutup aurat, yaitu Surat Annur ayat 31: “dan hendaklah mereka menutupkan khumur- jilbab- nya ke dada mereka….” Riwayat lain menerangkan: “Wanita-wanita (ketika turun ayat tersebut) segera mengambil kain sarung mereka, kemudian merobek sisinya dan memakainya sebagai jilbab.” (HR. Hakim).

    Imam Bukhari juga meriwayatkan hal senada:

    “Bahwasannya ‘Aisyah RA. Berkata: “Ketika turun ayat “dan hendaklah mereka menutupkan “khumur” -jilbab- nya ke dada mereka…” maka para wanita segera mengambil kain sarung, kemudian merobek sisinya dan memakainya sebagai jilbab.” (HR. Bukhari).

    Kedua hadis ini menunjukkan kepada kita bahwa pada saat turunnya ayat tersebut para shohabiyyah (wanita dari kalangan sahabat) sedang tidak mengenakan “khumur” (jilbab) dan memang mereka belum biasa mengenakannya. Buktinya, saat itu mereka harus merobek kain sarung mereka untuk dialih-fungsikan menjadi jilbab. Jika mereka sudah biasa memakainya tentunya jilbab itu telah tersedia dan tak perlu lagi untuk menyulap kain sarung mereka menjadi jilbab “darurat.” Dari sini jelaslah bahwa jilbab bukanlah merupakan budaya dan tradisi wanita arab pada awal pertumbuhan Islam, tetapi suatu hal yang disyariatkan oleh Islam dan dilaksanakan oleh seluruh shohabiyyah. Hingga akhirnya pakaian tersebut mentradisi dan menjadi budaya Islam. Dengan ini, berarti pertanyaan pertama telah terjawab.

    Sedang pertanyaan kedua, yakni apakah jilbab hanya untuk orang arab saja, maka ini terjawab dengan keuniversalan Islam. Islam adalah agama yang diperuntukkan bagi seluruh manusia, melampaui batas waktu dan geografi. Allah berfirman:

    “Dan Kami tidak mengutus kamu melainkan kepada manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Qs. Saba’:28). Karena jilbab (busana penutup aurat) adalah bagian dari syariat Islam maka ia juga diperuntukkan bagi seluruh wanita muslimah di manapun ia berada hingga hari kiamat kelak.

    Jilbab hanya wajib bagi istri-istri Rasulullah

    Orang yang mengatakan bahwa jilbab (dikenal juga dengan sebutan hijab) hanyalah wajib bagi istri-istri Rasulullah berdalil dengan ayat 33 surat Al-Ahzab. Sebab konteks ayat tersebut ditujukan kepada mereka. Karenanya larangan untuk tabarruj dan kewajiban mengenakan jilbab hanyalah wajib bagi mereka saja.

    Pernyataan ini terjawab dengan dua hal:

    1. Para ahli tafsir memberikan komentar atas ayat tersebut bahwa meninggalkan tabarruj juga diperintahkan kepada seluruh wanita mukminah. Imam Al-Jashshas berkata: “Semua hal yang tersebut dalam ayat ini adalah petunjuk-petunjuk Allah bagi istri-istri rasulullah untuk menjaga mereka, dan semua itu juga ditujukan bagi wanita-wanita mukminah.” (lihat, Ahkamu Al-Qur’an karya Al-Jashshos). Imam Ibnu Katsir berkomentar: “Ini adalah hal-hal yang diperintahkan Allah kepada istri-istri Nabi, dan seluruh wanita mukminah dalam hal ini harus mengikuti mereka.” (lihat, Tafsir Ibnu Katsir).
    2. Sebutlah misalnya bahwa, benar ayat surat Al-Ahzab: 33 tersebut khusus untuk istri-istri Rasulullah, namun ada ayat lain yang dengan jelas mengatakan bahwa kewajiban berjilbab itu diperuntukkan bagi seluruh wanita mukminah. Yaitu Firman Allah: “Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkkan khumur (Ind: jilbab) nya ke dadanya…” (Qs.Annur: 31)

    Jilbab adalah sekedar simbol

    Sementara itu ada yang mengatakan bahwa jilbab hanyalah sebuah simbol. Sedang yang penting bagi seorang muslim adalah baiknya budi pekerti dan bersihnya hati. Dari pada berjilbab tapi kelakuannya berantakan, bukankah lebih baik tidak berjilbab tapi bertingkah laku baik.

    Kelihatannya kata-kata ini baik, namun sebenarnya rancu. Sebab dalam diri seorang muslim hendaknya tertanam keyakinan bahwa apapun yang diperintahkan oleh Allah dan Rasulnya adalah baik dan seharusnya dilakukan. Baik itu simbol atau bukan. Tidaklah hanya karena suatu hal dianggap simbol lantas kita boleh meninggalkannya. Bahkan lebih dari itu, di sana ada hal-hal yang tak bisa dilogikakan namun kita tetap wajib melakukan. Misalkan wudlu karena keluar angin. Mengapa yang harus dibasuh adalah muka, tangan, kepala dan kaki. Bukankah yang lebih pantas untuk dibasuh adalah tempat keluarnya angin tersebut. Karena alasan ini pula sayyidina Umar RA. berujar tatkala mencium hajar aswad: “Sesunguhnya aku tahu kau hanyalah sebuah batu yang tak bisa mendatangkan faedah dan tidak pula menyebabkan bahaya, namun karena aku melihat Rasulullah menciummu maka aku menciummu.”

    Sikap menerima seperti inilah yang diperintahkan Allah dalam firman-Nya:

    “Tidaklah patut bagi seorang mukmin dan tidak pula bagi seorang mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, kemudian ia memilih yang lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (Qs. Al-Ahzab: 36).

    Maka seorang muslim seharusnya memandang bahwa berjilbab juga termasuk akhlak dan perilaku yang baik. Sebab yang baik bagi seorang muslim adalah yang baik menurut Allah dan yang buruk adalah yang buruk menurut-Nya. Karenanya, menanggapi komentar di atas seharusnya seorang muslim berkata: “Lebih baik berjilbab dan mempunyai akhlak yang baik dari pada berperilaku baik tapi tidak berjilbab.” Atau: “Sayang sekali, perilakunya baik tapi kok tidak berjilbab.”

    Siapakah Yang Memikul Tanggung Jawab Ini?

    Permasalahan jilbab ini bukanlah hanya tanggung jawab para muslimah saja. Tapi setiap muslim ikut bertanggung jawab dalam hal ini. Setiap muslim berkewajiban untuk bersama-sama menciptakan situasi yang kondusif untuk pelaksanaan syariat Allah tersebut. Seorang ayah bertanggung jawab atas istri dan anak-anak putrinya. Seorang ibu bertanggung jawab atas dirinya dan anak-anak wanitanya. Dan setiap kita bertanggung jawab atas keluarga kita. Jika kita melalaikan tanggung jawab ini, secara sadar atau tidak kita telah menjerumuskan diri kita dan orang-orang yang kita cintai dalam jurang api neraka.

    Rasulullah bersabda:

    “Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim).

    Allah berfirman:

    “Wahai orang-orang yang beriman, selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kejam dan keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya dan melaksanakan apa yang diperintahkan.” (Qs. Attahrim: 6).

    Wallahu a’lam bishshowab.

    (Ahmad ulil Amin)

    Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 2:02 am on 25 November 2014 Permalink | Balas  

    Seberapa Tahankah Anda Terhadap Kritik? 

    kritikSeberapa Tahankah Anda Terhadap Kritik?

    Kalau disuruh mencela dan mengkritik orang lain, jujur saja, kita pasti ‘senang’ melakukannya kan? Tapi bagaimana kalau kita di posisi mereka? Dikritik, dicela, dianggap selalu salah…hmm… seberapa sih anda bisa tahan?

    “Bagaimana kita bisa bekerja dengan baik, kalau kamu selalu datang terlambat?”

    “Mestinya anda bisa meningkatkan kinerja. Masa’ dari dulu kualitas pekerjaan anda begini-begini saja?”

    “Bagaimana kami mau bekerja dengan baik kalau anda sebagai manager tidak mampu memberikan fasilitas yang memadai ?”

    “Sepertinya anda selalu saja meminta fasilitas lebih. Sekali-sekali, tunjukkan dong kualitas kerja yang seimbang!”

    Suatu hari, anda mungkin akan mengeluarkan kritikan semacam itu kepada rekan kerja anda, termasuk bos anda. Tapi bukan tak mungkin, di hari lain, andalah yang akan menerima kritikan itu.

    Kalau itu terjadi pada anda, bagaimana rasanya? dikecam, disindir atau dicerca di depan banyak orang, dalam rapat atau dalam perbincangan santai di kantor, bagaimanapun, bukan hal yang menyenangkan. Kesal, dongkol …bahkan marah? sangat mungkin terjadi.

    Tetapi, seberapa dewasa anda untuk bisa mengakui bahwa kritik itu justru menjadi cambuk buat anda?

    pernahkah anda sedikit berpikir positif di tengah-tengah kemarahan anda ketika sedang dikritik, bahwa sebenarnya kritik mencerminkan perhatian orang lain terhadap diri anda?

    Kalau pikiran-pikiran baik itu hampir tak pernah terlintas di benak anda, maka mungkin beberapa tips berikut ini berguna supaya anda ‘tahan’ kritik.

    Jangan terburu marah

    Siapa sih yang tidak kesal atau marah kalau mendapat kritikan menohok? Tapi jujur saja, tiap orang berhak untuk melontarkan pendapat tentang anda, begitu pula sebaliknya.

    Dan kenyataannya, objektifitas selalu lebih besar bisa kita dapat dari kaca mata orang lain. Sebab itu, tahanlah amarah anda ketika seseorang mengkritik anda.

    Dengarkan saja, bahkan kalau perlu catat dan lalu renungkanlah di rumah dengan pikiran yang dingin. Dengan marah, tak ada yang bisa anda lakukan dan tak sedikitpun anda maju ke tingkat yang lebih baik.

    Terbukalah untuk mengakui

    Pernahkah anda lihat seseorang yang bebal —sudah dikritik berulang kali, tetapi tetap saja melakukan kesalahan yang sama?. Memang, ada banyak alasan mengapa orang tak mengacuhkan kritik orang lain terhadapnya.

    Tetapi, salahsatu yang kerap menjadi sebab mengapa anda atau kita tak hirau dengan kritik, adalah karena kita menutup diri untuk secara terbuka mengakui bahwa kita salah. Atau minimal mengakui bahwa “Oh ya, dia benar. Itulah sebenarnya saya. Mestinya saya merubah sesuatu dalam diri saya,”.

    Miranti marah ketika dikritik sering telat ke kantor sesudah jam makan siang. Padahal kenyataannya, ia kerap menghabiskan waktu istirahatnya bukan untuk makan siang, tapi untuk jalan-jalan ke mal. Ketika bos memerlukannya mengerjakan sesuatu, ia beberapa kali terlihat tidak ada di mejanya.

    Dengan menyikapi kritik secara terbuka, anda akan terlihat lebih simpatik. Pahami ketidak cocokan orang lain terhadap perilaku atau sikap anda, sebagaimana kalau anda merasa tidak senang terhadap tindakan orang lain.

    Dengan kata lain, bersikaplah empatif. Dengan demikian, anda akan cenderung bisa bersikap lebih tepat menghadapi kritik itu.

    Mintalah dikritik secara spesifik

    Belajarlah mengakui bahwa kemungkinan kritik yang dilontarkan orang lain terhadap diri anda itu benar. Dengan demikian, anda punya keinginan untuk belajar bagaimana orang lain ingin anda bersikap.

    Tapi, ada baiknya anda meminta orang lain mengkritik anda lebih spesifik, agar anda benar-benar mengerti dimana sebenarnya masalah orang lain terhadap diri anda.

    Sehingga, antara anda dan rekan yang mengkritik itu bisa saling memahami dengan jelas kondisi yang sebenarnya. Dengan begitu, akan lebih mudah jalan untuk memperbaiki apa yang tidak menyenangkan terhadap diri anda, di mata orang lain.

    Jangan balas mengkritik.

    Mensikapi kritik tidak berarti dengan balas mengkritik.Ketika kita dikritik, bersikaplah sungguh-sungguh akomodatif.

    Membalas kritik dengan kritik lagi, sama saja menyulut perdebatan yang tidak perlu. Jangan biasakan diri anda menyukai debat kusir, mendramatisir kata-kata atau kondisi yang hanya akan memberi sinyal terhadap rekan kerja lain bahwa anda defensif.

    Ibaratnya, kritik adalah api. Memadamkannya adalah dengan air, bukan dengan api lagi. Menghadapi rekan kerja, berusahalah selalu akomodatif dan hindari perdebatan yang tidak substantif.

    Mintalah saran konstruktif

    Kadang, kita ingin merubah diri tapi tak tahu bagaimana caranya. Mungkin rekan anda punya jalan keluarnya. Jadi mengapa tak bertanya padanya? Satu hal, sering kita malu kalau orang lain tahu betapa kita bodoh dan tak tahu harus berbuat apa. Tapi dengan mengakuinya dengan jujur dan jiwa besar, orang lain pasti akan dengan senang hati membantu anda.

    Memperlihatkan bahwa anda membutuhkan orang lain untuk perbaikan diri anda secara positif, justru akan menimbulkan reaksi yang simpatik dari lingkungan sekeliling anda. Kalau anda tak bisa membantu diri anda, berikanlah kesempatan orang lain melakukannya untuk anda.

    ***

    Singgih Hariman

    Kompas-Group

     

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 24 November 2014 Permalink | Balas  

    Bakti Sepeda Jengki 

    sepeda jengkiBakti Sepeda Jengki

    Hari masih pagi. Aku sudah rapi, mengenakan setelan rok dan blus favoritku, berkerudung ceria bunga-bunga plus sepatu andalanku. Aku bermaksud mengunjungi pakde di kampung sebelah. Namun… niat silaturahmiku terganjal. Aku tidak kebagian alat transportasi. Dua motor dan satu sepeda mini telah beranjak dari garasinya. Yang tersisa hanya sebuah sepeda jengki jelek. Waduh, bagaimana ini? Ya sudahlah, yang penting niat silaturahmi terpenuhi. Maka kutuntun sepeda itu ke halaman, ku lap debu di badannya dan kunaiki sepeda itu.

    Di perjalanan aku terkikik geli, membayangkan tatapan orang-orang… seorang gadis berpakaian funky, menaiki sepeda butut hahaha… Sambil mencoba menghibur diri dan menikmati pemandangan pagi, aku terus menggenjot pedal sepeda, menyusuri jalanan yang membelah sawah. Tiba-tiba seekor kambing berlari melintas. Aku terkejut dan cepat-cepat meraih kedua rem di stang. Tapi ooo, sepeda tetap meluncur dan aku pun membanting stir hingga…Gubrak! aku dan sepeda terperosok ke selokan kering di sisi jalan. Aku bangkit sambil meringis. Sejenak kemudian, aku memeriksa sepeda. Ternyata, sepeda itu sudah tidak ada kawat remnya. Hanya tinggal gagangnya saja.

    Sesampainya kembali di rumah, aku bertanya kepada orangtuaku, mengapa sepeda jengki tua itu tidak dijual saja? Toh tidak ada yang menggunakannya di rumah saat aku sedang di Jakarta. Dua motor dan satu sepeda mini sudah cukup untuk anggota keluarga kami yang hanya tiga orang. Tapi ibu bilang jangan. Sepeda itu memiliki sejarah yang panjang dan memiliki makna tersendiri. “Sejarah yang manakah itu, Bu?,” tanyaku. “Tidakkah kau ingat, anakku. Sepeda itu yang mengantarkanmu ke sekolah waktu SMP dulu? Juga sebagian dari waktu SMA-mu?”

    Pelan-pelan, komentar ibu mengembalikan ingatanku tentang sepeda itu. Ya, sepeda jengki yang kini nampak tua, catnya mengelupas di sana-sini. Asesorisnya pun sudah tidak ada. Tanpa rem, tanpa lampu, tanpa gembok, tanpa bel. Hanya kerangkanya saja yang tinggal. Sepeda ini dulu bagus. Kata orang, asli RRC. Ah, benarkah ini sepedaku yang dulu mengantarku ke sekolah? Sepeda hadiah kelulusanku sebagai juara umum di SD, dan mengantarkanku jadi satu-satunya anak dari desaku yang bersekolah di SMP favorit di kota.

    Segenap kenangan itu mengalir lagi. Dulu, jam setengah enam pagi, aku sudah mengayuh pedal sepeda itu, menembus kabut, menyusuri jalan-jalan desa menuju SMPku di kota. Terbayang kembali, saat-saat aku mengayuhnya, menempuh hujan dan badai di musim hujan, hanya bertutupkan mantel yang dibuat ibuku dari plastik lebar. Sepeda ini dulu yang menemaniku pulang sekolah, berlomba bersama teman-temanku. Sepeda ini juga yang mengantarku mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, membelah petang saat sendirian pulang dalam gelap. Sepeda ini begitu akrab setiap inci bagiannya bagiku hingga aku bahkan dapat menyetirnya tanpa memegangi setang. Sepeda ini pula yang masih tetap menemaniku, saat kemudian aku memilih kos ketika SMA. Dia mengantarku ke pengajian, mengantarku bimbingan belajar dan mengantarku menjalani aktifitas ekstra kurikuler maupun kegiatan ekstra sekolah yang mulai kurambah. Dengannya aku menjelajah setiap sudut kota Solo jika aku sedang bosan, termasuk mengunjungi perpustakaan daerah yang jaraknya cukup jauh.

    ****

    Kuperhatikan lagi… Sepeda itu sudah sangat tua, lebih dari 15 tahun usianya. Namun ternyata baktinya belum usai. Saat ini, selain kadang digunakan ibu untuk pergi ke sawah, sepeda itu sering dipinjam kaum kerabat yang kebetulan membutuhkan. Belasan tahun, mungkin sepanjang masa pakainya, si sepeda telah memberikan manfaat bagi banyak orang. Si sepeda telah berbakti sepanjang hidupnya, tanpa keluh kesah dan tanpa pernah mendapat pujian. Namun ia tetap menebar manfaat. Bagaimana dengan saya? Kita? Sepanjang usia yang telah saya lalui, adakah saya telah memberi manfaat bagi agama, keluarga dan masyarakat tanpa henti??

    ***

    (Diambil dari tulisan Azimah Rahayu, http://www.eramuslim.com)

     
  • erva kurniawan 1:40 pm on 23 November 2014 Permalink | Balas  

    Flu Burung, Karunia Allah yang Perlu Disyukuri 

    siluet burungFlu Burung, Karunia Allah yang Perlu Disyukuri

    Karena Menyelamatkan Ummat Manusia Dari Mengkonsumsi Makanan Beracun Produk Rekayasa Teknologi

    Baca : Mengerikan, Sebanyak 85% Daging Ayam Broiler Mengandung Antibiotik

    Daging ayam potong dan telur ayam dari ayam petelur yang berasal dari ayam broiler atau ayam negeri, diproduksi dari hasil teknologi rekayasa manusia. Berbagai rekayasa genetik untuk memperoleh keturunan ayam yang ‘terbaik’, pakan ternak yang penuh kimia, obat, hormon-hormon pertumbuhan, serta suntikan anti-botika, telah lama diketahui menyisakan ‘residu’ di dalam daging dan telur ayam-ayam itu.

    Lalu masuk ke perut manusia, sehingga manusia telah mengkonsumsi makanan beracun tanpa disadarinya. Dalam hitungan generasi, pengaruh sisa-sisa racun itu akan berpengaruh kepada genetika manusia dan keturunannya kelak. Akan dilahirkan generasi-generasi cacat yang tak pernah disadari para konsumen daging ayam bule itu. Semua orang merasa ketakutan dan hanya berhitung kerugian sekian milyar dollar serta berapa banyak pengangguran dari restoran ‘fried chiken’ yang tutup. Semua melihat negatifnya saja.

    Cobalah lihat hikmahnya.

    Peristiwa Flu Burung itu justru untuk menyelamatkan ummat manusia dari ‘kematian’ yang lebih mengerikan dalam jangka panjang akibat ‘keracunan’ makan daging ayam broiler ini. Jumlah kerusakan genetika dan kerusakan fungsi hormonal manusia akibat mengkonsumsi ‘ayam bule’ ini akan lebih besar jumlah daripada manusia yang mati akibat kontak dengan Flu Burung itu sendiri. Kalau diperhatikan, yang paling banyak mati adalah jenis ayam peternakan (ayam petelur, ayam pedaging, dan sejenisnya). Sedangkan ayam kampung tampaknya sehat-sehat saja selama ini.

    Rekayasa untuk jenis unggas ini sudah melampaui batas, dan mengancam manusia itu sendiri sebagai konsumen akhir dari proses produksi peternakan ayam-ayam negeri itu. Rekayasa genetika untuk ayam-ayam potong dan petelur itu, lalu jenis makanannya yang penuh dengan berbagai zat kimia, hormon, dan sejenisnya. Belum lagi suntikan anti-biotika untuk menjaga si ayam tetap sehat, dan berbagai macam jenis obat-obatan yang dimasukkan ke tubuh ayam jenis ini.

    Semua obat dan racun, hormon, anti-biotika itu tidak punah dalam tubuh si ayam. Tapi dia tetap tinggal sebagai ‘residu kimia’ yang mematikan dalam dagingnya. Antara lain berkumpul di otaknya, jeroan, dan paha. Makanya di Amerika Serikat bagian ayam yang disebut terakhir, tak laku di jual dan hanya diberikan untuk makanan anjing dan babi, atau di export ke negeri-negeri miskin seperti Indonesia, Banghladesh dan Afrika.

    Nah, saya melihat, sifat Allah yang begitu sayang dan kasihnya, hendak menyelamatkan generasi yang akan datang dari kerusakan genetik akibat makanan beracun yang berasal dari daging sapi, dan daging ayam yang proses penggemukannya penuh rekayasa tidak wajar.

    Jadi kalau sekarang semua jenis ayam potong dan petelur itu dimusnahkan oleh penyakit, atau oleh peternak dan Pemerintah, seharusnya diterima baik saja. Dan disyukuri.

    Marilah kita kembali ke sedia kala, makan ayam kampung saja. Saya rasa, ayam kampung yang digoreng ala Mbok Berek atau mbok Sunarti, atau ayam bakar wong Solo, tetap lebih lezat daripada ‘fried chiken’ ala Amerika yang sebenarnya di negerinya pun disebut “junk food’ dan orang Suroboyo menyebutnya “jamput”..makanan sampah.

     
  • erva kurniawan 2:36 am on 22 November 2014 Permalink | Balas  

    Bersyukur Ketika Sehat, Bersabar Ketika Sakit 

    sakitBersyukur Ketika Sehat, Bersabar Ketika Sakit

    Hidup seorang muslim hendaknya selalu berada pada dua hal: Hal bersyukur dan sabar. Jika ia sehat, ia bersyukur dan gunakan kesehatannya untuk melakukan pekerjaan yang bermanfaat. Sebaliknya, jika sakit, ia ikhlas dan bersabar sambil terus menerus berusaha mengobatinya, disertai dengan sikap tawakal pada Allah. Ia sadar, Allah-lah zat yang mampu menyembuhkan penyakitnya. Dalam kaitan ini Allah berfirman :

    “(Yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dia-lah yang memberi petunjuk. Dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku. dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkan aku. Dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali). Dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” – Asy Syu’araa’; 26: 78 -82.

    Oleh karenanya berobat termasuk salah satu perintah dalam ajaran Islam. Rasulullah bersabda : “Setiap penyakit ada obatnya, maka berobatlah kamu sekalian, tetapi jangan berobat dengan sesuatu yang diharamkan”

    Di samping itu ada hal yang perlu diingatkan, untuk tidak berobat ke dukun mistik, paranormal yang mengerti ilmu gaib.

    Dalam sebuah hadist, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Barangsiapa yang mendatangi dukun peramal (kahin), maka sungguh dia telah kufur kepada apa (Al Qur’an) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam”

    Rasulullah sendiri tidak mampu meramalkan yang gaib, yang akan terjadi pada dirinya. Allah berfirman :

    ” Katakanlah aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula menolak kemudaratan, kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak- banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” – Al-A’raaf ; 7: 188

    Penyakit itu kadang kala datang dengan tiba-tiba, sementara penyembuhannya kadangkala membutuhkan waktu lama. Tidak ada sikap yang perlu dipegang selain bersabar dan bertawakal kepada Allah SWT. Rasulullah bersabda :

    “Jauhilah olehmu segala yang diharamkan, maka pasti engkau akan menjadi orang yang paling taat beribadah. Bersikaplah ridha terhadap segala apa yang telah Allah tetapkan kepadamu.” (HR. Imam Ahmad dari Abu Hurairah)

    Dalam hadist lain Rasulullah bersabda pula :

    ” Aku bangga dengan seorang muslim, jika menimpa kepadanya suatu musibah ia ikhlas dan bersabar. Jika mendapatkan kebaikan, ia memuji Allah dan bersyukur. Sesungguhnya muslim itu pada segala aktivitasnya selalu akan mendapatkan pahala dari Allah sekalipun pada sesuap nasi yang ia masukkan ke dalam mulutnya.” (HR Imam Baihaqi dari Sa’ad)

    Disamping kesabaran dan ketabahan, juga harus memiliki sikap husnu-zhan (berbaik sangka) kepada Allah SWT. Apa yang terjadi pada si sakit adalah kebaikan buat dirinya. Rasulullah bersabda :

    “Aku bangga dengan orang mukmin, sesungguhnya Allah SWT tidaklah menetapkan suatu keputusan, kecuali akan berakibat baik kepadanya.” (HR Ibnu Hibban dari Anas)

    “Aku heran dengan mukmin yang gelisah menghadapi penderitaan sakitnya. Jika ia mengetahui sesuatu (pahala) yang terdapat pada sakitnya, ia pasti akan mengharapkan sakit tersebut sehingga bertemu dengan Allah SWT.” (HR Thabrani dari Ibn Mas’ud)

    Berbaik sangka kepada Allah akan melahirkan persangkaan baik pula kepada sesama manusia. Prinsip semacam inilah yang akan melahirkan sikap saling mengerti, saling memahami, senasib sepenanggungan, saling merasakan (empati), serta suka dan duka dirasakan bersama.

    Menjenguk orang yang sakit adalah puncak dari rasa persaudaraan yang harus dimiliki dan dikembangkan oleh setiap muslim. Tiada iman tanpa ukhuwah (rasa persaudaraan) yang mendalam. Rasulullah bersabda :

    ” Engkau lihat orang-orang mukmin dalam sayang menyayanginya, saling mencintai dan saling mengerti, adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuhnya sakit, maka yang lainnya akan merasakan pula panas dan demamnya.” (HR Ahmad dari Abu Umamah).

    ***

    K.H. Didin Hafidhuddin, M.Sc.

    -Sakit Menguatkan Iman-

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 21 November 2014 Permalink | Balas  

    Wanita Bagi Pahlawan 

    wanitaWanita Bagi Pahlawan

    Oleh : M. Anis Matta, Lc

    Dibalik setiap pahlawan besar selalu ada seorang wanita agung. Begitu kata pepatah Arab. Wanita agung itu biasanya satu dari dua, atau dua-duanya sekaligus; sang ibu atau sang istri.

    Pepatah itu merupakan hikmah psiko-sejarah yang menjelaskan sebagian dari latar belakang kebesaran seorang pahlawan. Bahwa karya-karya besar seorang pahlawan lahir ketika seluruh energi didalam dirinya bersinergi dengan momentum diluar dirinya; tumpah ruah bagai banjir besar yang tidak terbendung. Dan tiba-tiba sebuah sosok telah hadir dalam ruang sejarah dengan tenang dan ajek.

    Apa yang telah dijelaskan oleh hikmah psiko-sejarah itu adalah sumber energi bagi para pahlawan; wanita adalah salah satunya. Wanita bagi banyak pahlawan adalah penyangga spiritual, sandaran emosional; dari sana mereka mendapat ketenangan dan kegairahan, kenyamanan dan keberanian, keamanan dan kekuatan. Laki-laki menumpahkan energi di luar rumah, dan mengumpulkannya lagi didalam rumahnya.

    Kekuatan besar yang dimiliki para wanita yang mendampingi para pahlawan adalah kelembutan, kesetiaan, cinta dan kasih sayang. Kekuatan itu sering dilukiskan seperti dermaga tempat kita menambatkan kapal, atau pohon rindang tempat sang musafir berteduh. Tapi kekuatan emosi itu sesungguhnya merupakan padang jiwa yang luas dan nyaman, tempat kita menumpahkan sisi kepolosan dan kekanakan kita, tempat kita bermain dengan lugu dan riang, saat kita melepaskan kelemahan-kelemahan kita dengan aman, saat kita merasa bukan siapa-siapa, saat kita menjadi bocah besar. Karena di tempat dan saat seperti itulah para pahlawan kita menyedot energi jiwa mereka.

    Itu sebabnya Umar bin Khattab mengatakan, “Jadilah engkau bocah di depan istrimu, tapi berubahlah menjadi lelaki perkasa ketika keadaan memanggilmu’. Kekanakan dan keperkasaan, kepolosan dan kematangan, saat lemah dan saat berani, saat bermain dan saat berkarya, adalah ambivalensi-ambivalensi kejiwaan yang justru berguna menciptakan keseimbangan emosional dalam diri para pahlawan.

    “Saya selamanya ingin menjadi bocah besar yang polos.” kata Sayyid Quthub. Para pahlawan selalu mengenang saat-saat indah ketika ia berada dalam pangkuan ibunya, dan selamanya ingin begitu ketika terbaring dalam pangkuan istrinya.

    Siapakah yang pertama kali ditemui Rasulullah SAW setelah menerima wahyu pertama dan merasakan ketakutan luar biasa? Khadijah! Maka ketika Rasulullah ditawari untuk menikah setelah Khadijah wafat, beliau mengatakan; “Dan siapakah wanita yang sanggup menggantikan peran Khadijah?”

    Itulah keajaiban dari kesederhanaan. Kesederhanaan yang sebenarnya adalah keagungan; kelembutan, kesetiaan, cinta an kasih sayang. Itulah keajaiban wanita.

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 20 November 2014 Permalink | Balas  

    Miskin Tak Menghalangi Dakwah 

    Dakwah-Islam1Miskin Tak Menghalangi Dakwah

    Assalamualaikum wr.wb.

    Rasulullah SAW. sering mengalami lapar dalam hidupnya karena sejak semula memang Beliau berniat untuk puasa. Tak jarang pula Nabi Muhammad SAW. tak bermaksud puasa, namun karena tak ada makanan di rumahnya, beliau pun lantas berpuasa. Malahan, perut Rasulullah kadangkala diganjal batu akibat menahan lapar yang mendera, sementara Beliau tak punya sesuatu yang bisa dimakan.

    Suatu hari Rasulullah SAW. bertemu Abu bakar dan Umar sahabatnya, lantas menyapa, ” Apakah yang menyebabkan kalian berdua keluar pada siang terik ini?”

    Kedua sahabat menjawab kompak, ” Kami lapar wahai Rasul.”

    Berkata Rasulullah, “Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-NYA, saat ini saya sedang lapar juga.”

    Setelah itu Rasulullah mengajak kedua sahabat nya beranjak, bermaksud mencari rizqi. Kebetulan mereka bertiga lewat di depan rumah seorang Anshor bernama Abu Hisam bin At tijihan, dan kebetulan pula istri Abu Hisam melihat Nabi SAW. yang sedang melintasi. “Ahlan Wa Sahlan,” seru sang istri Anshor tadi menegur

    Mendengar teguran ini, Nabi Muhammad SAW. bertanya menimpali, ” Kemana Abu Hisam?”

    Wanita itu menjawab, ” Ia sedang mengambil air untuk kami.”

    Lalu tak lama Abu Hisam muncul. Ketika melihat siapa tamunya, ia amat bahagia sambil berkata “Alhamdulillah, hari ini tidak ada seorangpun yang lebih mulia tamunya, selain daripada tamuku.”

    Hisam segera mempersilahkan mereka masuk, lantas iapun segera pergi mengambil kurma yang kemudian dihidangkan kepada ketiga tamunya. Sementara Rasulullah dan kedua sahabatnya menyantap kurma, Abu hisam menyembelih kambing , secepatnya dimasak, dan akhirnya dihidangkan pula. Lantas Abu Hisam bersama ketiga tamu mulia menyantap hidangan dengan secukupnya.

    Selesai bersantap Rasululllah bersabda kepada kedua sahabatnya, “Demi Allah yang jiwaku berada ditangan-NYA. Pada hari kiamat nanti, kalian pasti akan ditanya tentang nikmat yang kalian rasakan tadi. Kalian telah didorong keluar rumah oleh rasa lapar, kemudian tidaklah kalian kembali melainkan sesudah mengecap rasa nikmat tadi.”

    HIKMAHNYA :

    1. Nabi Muhammad SAW. dan kedua sahabatnya adalah orang kaya, tapi hartanya dihabiskan untuk berjihad. Ingatlah, khadijah istri Nabi Muhammad SAW. adalah konglomerat Mekkah. Sedangkan, Abu bakar adalah orang kaya yang hartanya dimanfaatkan untuk kepentingan Islam termasuk membebaskan budak belian yang masuk Islam lantas disiksa sang majikan. Bilal misalnya, dibebaskan Abu Bakar dari Umayyah bin Khalaf dengan harga berlipat ganda dari harga kebiasaan. Ketika berhijrah ke Madinah Abu Bakar membawa serta kekayaannya yang berlimpah.

    Namun, saat menjelang Perang Badar, dia menyerahkan seluruh harta untuk mobilisasi biaya perang. Kala itu Rasulullah SAW. sempat bertanya kepadanya, “Apakah yang engkau tinggalkan untuk keluargamu wahai Abu Bakar?” Dengan mantap Abu Bakar menjawab, ” Aku tinggalkan mereka Allah dan Rasul-NYA.” Singkat kata, “Kemiskinan” Rasul dan sahabatnya bukan karena mereka malas bekerja, tapi seluruh hartanya dibelanjakan untuk menyebarkan Risalah Allah SWT. Barangkali kita tak mampu mencontoh sepenuhnya sikap Nabi Muhammad SAW dan dua sahabatnya tadi. Tapi, semangat mereka tetap harus diteladani, walaupun pada level yang lebih rendah.

    1. Kemiskinan tidak menjadi penghalang untuk menyebarkan kebenaran. Nabi Muhammad SAW. dan sahabat adalah orang tak berpunya, tapi tak berhenti dakwah kepada umatnya. Kemiskinan tak boleh menjadi penghalang untuk ibadah dan berbuat kebajikan, meski dilakukan sesuai kapasitas dan kemampuan. Keberhasilan dakwah bukan ditentukan oleh kekayaan dan kepangkatan, tapi oleh keyakinan dan kesungguhan.

    Orang kaya dan berpangkat belum tentu berhasil dalam dakwah jika tak dilandasi kesungguhan dan suri tauladan. Orang tua tak cukup mendakwahi anaknya untuk beriman hanya dengan memberi segala permintaan yang bersifat kebendaan.Yang paling penting adalah keteladanan dan kasih sayang.

    1. Risqi yang diberi Allah kepada Umat-NYA dapat melalui siapa saja, dan penyebabnya bisa apa saja. Risqi bisa datang dari sumber yang tak diduga duga. Tapi yang terpenting orang harus berusaha sambil berdoa, bukan hanya duduk di rumah saja. Terkait dengan kemiskinan, Nabi Muhammad SAW memang menyatakan ” Kefakiran dapat mendekatkan pada kekufuran.” Terbukti, tak sedikit orang sampai rela menjual aqidahnya hanya untuk mendapatkan harta yang tak seberapa.

    Namun, yang lebih menakutkan Nabi Muhammad SAW. bukanlah kemiskinan, tapi justru kekayaan berlebihan sebagaimana telah disabdakan, ” Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku kwatirkan atas kamu, tetapi aku khwatir bila terhampar luas bagimu dunia ini, sebagaimana telah terhampar pada orang orang sebelum kamu. Kemudian kamu berlomba-lomba sehingga Allah membinasakan kamu, sebagaimana Dia membinasakan mereka.” (H.R. Muslim dan Bukhari).

    Ingatkah anda akan kisah Qarun dan Tsa’labah ? Jadi, harta kekayaan hakekatnya juga cobaan atau bahkan fitnah, apakah kita sabar dan bersyukur terhadap kekayaan tersebut atau malah sebaliknya kufur pada nikmat Allah dengan kekayaan yang kita miliki itu.

    1. Pemuliaan tamu adalah wujud keimanan,

    ” Barangsiapa yang mengklaim sebagai orang beriman hendaknya memuliakan tamunya, tamu dalam perspektif Islam wajib dimuliakan, namun si tamu harus pula tahu diri dan aturan. Sebab, kewajiban memuliakan dikenakan dalam waktu tiga hari, sedangkan hari keempat dan seterusnya hukumnya berubah sunah. Pemuliaan tamu diupayakan sesuai kemampuan, bukan berlebihan apalagi sampai berhutang. Jika yang dipunyai hanya air putih belaka, asalkan dalam penerimaan dan penyuguhan dengan roman berseri tanda ketulusan hati, itulah yang lebih utama dilakukan daripada hidangan lezat tanpa ketulusan hati.

    Jika punya kelebihan, suguhan hendaknya bisa lebih menyenangkan namun tetap dengan keikhlasan tanpa perhitungan. Imam Syafi’i berkata, suguhan dari orang pemurah menjadi obat, sedangkan suguhan orang pelit bin kikir dapat menjadi penyakit.

    1. Tamu mulia bukanlah mereka yang berpangkat dan berharta, tapi tamu yang shalih, baik budi pekerti, serta mempunyai hikmah kebijakan (ilmu pengetahuan) yang mumpuni.

    Tamu yang datang dari kalangan orang kaya dan bertakhta, pada umumnya topik pembicaraan lebih banyak pada kebendaan dan jabatan sehingga mendorong hati kita merasa kurang, sementara tamu ahli kebijakan (ilmuan dan ulama) yang diperbincangkan adalah kebenaran, kebajikan, dan ilmu pengetahuan yang dapat merangsang kita mendapat ketentraman.

    ***

    Sumber : Kisah dan Hikmah (Seri Khasanah Islam) Dhurorudin Mashad

    Wassalam

    Siti Nurjannah

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 19 November 2014 Permalink | Balas  

    Perempuan, Jadi Objek atau Mengobjekkan Diri? 

    Khadijah Binti KhuwailidPerempuan, Jadi Objek atau Mengobjekkan Diri?

    Oleh Iwan Hermawan, S.Pd., M.Pd.

    Seorang wanita telah dilengkapi oleh Tuhan dengan keindahan jiwa dan raga adalah sebuah kebenaran, yang sekaligus nyata dan maya, yang hanya bisa kita pahami dengan cinta kasih, dan hanya bisa kita sentuh dengan kebajikan. (Kahlil Gibran, Sayap-sayap Patah).

    POTONGAN tulisan Kahlil Gibran di atas menunjukkan, perempuan merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki daya tarik memikat serta penuh dengan misteri bagi lawan jenisnya. Keindahan tubuh dan rohaninya merupakan bagian yang mampu menarik hati dan menggoda iman kaum lelaki sehingga tidak heran jika kaum lelaki akan rela mengorbankan apa saja agar mampu menikmati dan memiliki keindahan tubuh seorang perempuan.

    Perjalanan sejarah menunjukkan, pembunuhan yang dilakukan oleh manusia pertama kali di muka bumi, yaitu pembunuhan Habil oleh Qabil, terjadi sebagai akibat rebutan perempuan. Selain itu, kisah dalam kitab suci menjelaskan Nabi Adam yang diusir oleh Tuhan dari surga juga disebabkan oleh perempuan (Siti Hawa) yang mendesaknya untuk mendekati dan memakan buah terlarang (Khuldi).

    Pada zaman Fir’aun, Nabi Musa yang saat itu masih bayi seharusnya dibunuh karena merupakan keturunan Bani Israil, tetapi tidak jadi dibunuh bahkan diangkat anak olehnya karena permintaan dari sang permaisuri. Pada zaman Cleopatra, Julius Caesar rela tidak melanjutkan ekspansinya di Mesir karena jatuh pada pelukan ratu Mesir yang terkenal karena kecantikannya. Selanjutnya, Presiden Amerika Serikat John F. Kennedi dapat takluk dan jatuh ke pelukan artis Marlyn Monroe, dan terakhir ketika Presiden Bill Clinton posisinya terancam karena ada main dengan Monica Lewinsky.

    Tidak semua perempuan hanya menjadi objek dalam kehidupan dunia, di antara mereka terdapat beberapa nama yang justru menjadi pembangkit semangat bagi orang yang mencintainya, seperti halnya Eva Duarte yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Eva Peron merupakan orang di belakang layar keberhasilan Juan Peron dalam membangun negerinya walaupun hal itu juga merupakan bagian dari ambisinya untuk menjadi orang terkenal di Argentina. Itu tercapai hingga namanya lebih dikenang oleh warga Argentina dibanding sang suami yang justru orang nomor satu di negeri itu.

    Kenyataan tersebut menunjukkan dari dulu hingga sekarang kaum laki-laki akan selalu berupaya untuk dapat meraih simpati perempuan tanpa berpikir dampak dan akibat yang akan ditanggungnya.

    Pemanfaatan perempuan

    Melihat perjalanan panjang sejarah hubungan antara laki-laki dan perempuan tidak heran jika banyak orang kemudian memanfaatkan keindahan yang dimiliki perempuan guna mencapai suatu obsesi, baik harta kekayaan, ketenaran, atau jabatan. Pada zaman dahulu, agar lurah terpakai oleh bupati, dia secara rutin harus mempersembahkan seorang perempuan yang cantik kepada bupati untuk dijadikan selir atau hanya sekadar pemuas nafsu sesaat untuk kemudian dibebaskan kembali atau dihadiahkan lagi kepada orang lain.

    Akibatnya, banyak orang tua, terutama dari golongan bawah, yang merasa bahagia jika memiliki anak perempuan yang cantik dan rupawan karena kecantikan yang dimilikinya dapat menjadi modal untuk meningkatkan taraf kehidupan ekonomi dan status keluarga.

    Di dunia modern saat ini, kedudukan perempuan tidaklah jauh berbeda dengan sebelumnya, mereka tetap dijadikan sebagai hiasan penarik laba. Bila kita perhatikan mode pakaian perempuan yang berkembang saat ini, dari hari ke hari semakin ketat melekat di tubuh dan semakin minim serta semakin bebas memperlihatkan keindahan tubuh pemakainya. Bahkan, pakaian mode untuk pakaian seragam kantor pun dibuat seseksi dan seminim mungkin agar mereka bisa memperlihatkan bagian-bagian yang menjadi daya tarik bagi lawan jenisnya. Walaupun hal itu sering kali membuat mereka risi dan tidak nyaman, mereka tidak bisa berbuat banyak karena harus menuruti apa yang telah menjadi kebijakan perusahaan atau kantor.

    Namun tidak semua perempuan yang memanfaatkan keindahan tubuhnya karena rasa terpaksa atau dimanfaatkan pihak lain. Di antara mereka ada seperti halnya Cleopatra dan Eva Peron yang memanfaatkan keindahan dan kecantikan tubuhnya guna meraih obsesi dan cita-cita agar menjadi orang terkenal dan sukses dalam menapaki jenjang karier.

    Tidak sedikit di antara mereka, terutama para pendatang baru dunia hiburan, yang dengan sengaja memanfaatkan kesintalan dan keindahan tubuhnya demi setumpuk uang dan ketenaran, bahkan tidak sedikit yang siap memberikan “servis lebih” asal tujuannya menjadi orang terkenal dapat tercapai. Dengan begitu tidak heran jika semua media kita, terutama media cetak dan elektronik dipenuhi dengan tampilan cantik seorang perempuan yang berpakaian minim atau sangat ketat, bahkan media televisi kita saat ini sudah dipenuhi dengan tayangan yang memperlihatkan goyangan pantat nakal biduanita yang mampu menarik imajinasi kaum lelaki yang menontonnya.

    Kenyataan tersebut jelas menunjukkan perempuan dengan kelemahan yang dimilikinya menjadi objek kaum laki-laki dalam memenuhi ambisinya. Namun di sisi lain, saat ini justru banyak perempuan yang memanfaatkan kelemahan laki-laki yang selalu tergoda oleh sesuatu yang indah yang dimiliki seorang perempuan guna menggapai puncak harapan.

    Penghargaan terhadap perempuan

    Para penggiat persamaan hak selalu berteriak, jangan melakukan eksploitasi perempuan guna meraih keuntungan bisnis atau berikan porsi yang sama antara perempuan dan laki-laki. Jargon-jargon tersebut selalu didengungkan di berbagai kesempatan yang tiada lain bertujuan agar perempuan memperoleh kedudukan yang sama dengan laki-laki.

    Penghargaan terhadap seorang perempuan sebenarnya harus diperlihatkan oleh perempuan itu sendiri dalam menghormati dirinya. Mereka harus mampu menghormati dirinya melalui caranya bertindak dan berperilaku dalam upayanya menggapai tujuan dan cita-cita. Mereka harus mampu mempertahankan cara hidup yang sesuai dengan norma walau persaingan untuk ke situ sangat ketat.

    Karena bagaimana mungkin seorang perempuan akan memperoleh penghargaan dari kaum lelaki jika dia sendiri tidak menghormati dan menghargai dirinya sendiri. Seperti dalam cara berpakaian di depan umum, banyak di antara mereka yang berpakaian minim dan seksi sehingga lekuk tubuhnya yang indah, seksi, dan sintal jelas terlihat dengan alasan mengikuti perkembangan mode. Kebiasaan semacam ini jelas akan mengundang lelaki iseng untuk menggodanya bahkan melecehkannya, baik melalui colekan tangan atau suitan bahkan kata-kata sapaan yang tidak senonoh.

    Jika mereka mampu berperilaku dan berpenampilan yang sesuai dengan norma yang berlaku, insya Allah, pelecehan dan kekerasan seksual yang saat ini banyak menimpa kaum perempuan dapat dihindarkan. Karena pada dasarnya, kejahatan dan pelecehan seksual banyak terjadi sebagai akibat dari penampilan si korbannya itu sendiri.

    Selain itu, melalui penghargaan terhadap diri sendiri oleh kaum perempuan diharapkan posisi perempuan yang selalu menjadi objek dalam berbagai kegiatan kaum lelaki dan dunia usaha dapat dihindarkan dan penghargaan yang layak dapat diterima oleh kaum perempuan sesuai dengan prestasi bukan rasa iba atau karena pengorbanan harga diri.

    ***

    Penulis adalah pemerhati masalah pendidikan, sosial, dan budaya

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 18 November 2014 Permalink | Balas
    Tags: Khilafah, Khilafah Islamiyah, Masyarakat Islam   

    Masyarakat Islam Setelah Runtuhnya Khilafah 

    081310_orangarabMasyarakat Islam Setelah Runtuhnya Khilafah

    Jelaslah, bahwa runtuhnya Daulah Khilafah Islamiyah telah menghilangkan salah satu unsur dari masyarakat Islami (al mujtama’ al Islami), yakni adanya sistem peraturan Islam (nizham Islam) yang mengatur hubungan dan memecahkan segala problema dalam hubungan antar kaum muslimin.  Pada tanggal 28 April 1924 Musthafa Kamal menghapus Mahkamah Syari’yah (Pengadilan Agama) di Turki, yakni pengadilan yang menggunakan syari’at Islam. Musthafa Kamal yang agen kolonialis Inggris itu pun menggantikannya dengan mengundangkan Undang-undang Sipil Swiss pada tanggal 4 Oktober 1926.  Bahkan ia menghapus pasal “Agama negara adalah Islam” dari UUD Turki pada tanggal 10 April 1928.  Para Kemalis yang setia kepada Musthafa Kamal mengganti huruf Arab yang sudah menjadi kebiasaan nenek moyang mereka selama berabad-abad dengan huruf latin yang mereka impor dari Barat pada 1 November 1928 dan pada tahun itu pula mereka mengumumkan sekularisme dalam UUD mereka.10

    Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah menyebabkan negeri-negeri Islam dikontrol dan diperintah langsung oleh para penjajah Barat.  Mereka segera menerapkan sistem peraturan Barat yang kufur itu di negeri-negeri Arab dan wilayah Islam lainnya.  Mereka pun menyusun kurikulum pendidikan yang mereka dasarkan atas asas peradaban dan kebudayaan mereka, yakni “fashlud din ‘anil hayah” (pemisahan agama dari kehidupan), yang konsekuensinya adalah pemisahan agama dari negara.  Dengan pendidikan tersebut penjajah Barat menjadikan kepribadian mereka sebagai standar kebudayaan kaum muslimin.  Penjajah Barat menjadikan peradaban mereka dan pemahaman-pemahaman hidup mereka, struktur negara mereka, sejarah, dan lingkungan mereka sebagai standar untuk otak kaum muslimin.  Tidak cukup sampai di situ, para penjajah itu bahkan memutar balikkan fakta dalam menanamkan kepribadian mereka. Mereka memutar balikkan fakta sedemikian rupa sehingga kaum muslimin menganggap para penjajah itu adalah orang mulia, bangsa teladan, dan sebuah kelompok kuat yang mau tidak mau kaum muslimin harus berjalan bersama mereka dalam menempuh kehidupan.  Dengan cara-cara yang kotor mereka menyembunyikan tampang kolonialis mereka yang sebenarnya. Oleh karena itu, kalangan kaum muslimin yang terpelajar itu pun sebenarnya telah mempelajari suatu tsaqafah yang merusak.  Mereka belajar bagaimana cara orang lain (penjajah Barat) berpikir.  Akibatnya kaum muslimin menjadi lemah untuk belajar bagaimana mereka sendiri (kaum muslimin) berpikir.11

    Pengaruh peracunan tsaqafah Barat tersebut tidak terbatas kepada kalangan terpelajar, tapi merata kepada masyarakat secara umum.  Masyarakat kaum muslimin pun diracuni oleh para penjajah Barat dengan paham kebangsaan (nasionalisme), patriotisme, dan sosialisme, serta paham-pahama kedaerahan yang sempit.  Juga masyarakat kaum muslimin diracuni dengan kemustahilan berdirinya Daulah Islamiyah dan kemustahilan persatuan dan kesatuan negeri-negeri Islam dengan adanya perbedaan kultur, penduduk, dan bahasa, sekalipun mereka merupakan suatu umat yang terikat dengan Aqidah Islamiyah yang melahirkan sistem peraturan Islam.  Selain itu mereka diracuni dengan konsep-konsep politik yang salah seperti “kedaulatan di tangan rakyat”. Mereka juga diracuni dengan slogan-slogan yang keliru seperti: “agama milik Allah dan tanah air milik masyarakat”12

    Akibat proses peracunan tersebut masyarakat di negeri-negeri Islam, termasuk negeri-negeri Arab, mengalami perubahan luar biasa.  Yang tadinya Islami, menjadi tidak Islami.  Yang tadinya diliputi pemikiran-pemikiran Islam sepenuhnya, menjadi mengadopsi banyak sekali pemikiran Barat.  Perundangan Barat pun mereka terapkan dan perjuangkan.    Sebagian besar negeri Arab dan Islam lainnya menerapkan sistem peraturan Barat.  Negeri-negeri Arab yang justru sumbernya Islam itu, sayangnya,  justru mayoritas mereka meninggalkan hukum-hukum Islam.  Tidak tersisa dari negeri-negeri tersebut selain urusan-urusan nikah, talak, cerai, rujuk dan sebagian kecil hukum Islam lainnya.  Yang menerapkan hukum Islam yang agak luas barangkali hanya Arab Saudi.  Namun untuk sistem pemeritahan Islam dan fiqih siyasah, nampaknya para penguasa kaum muslimin itu sepakat untuk meninggalkan Islam.

    Masyarakat kaum muslimin tercerai-berai menjadi lebih dari 50 negara yang kecil-kecil dan lemah-lemah.  Banyak sudah krisis yang terjadi yang menimpa negeri-negeri kaum muslimin yang tak bisa mereka selesaikan sendiri.  Sebabnya, yang paling utama adalah masing-masing negara Islam tersebut senantiasa menggantungkan penyelesaian berbagai krisis politik maupun ekonomi mereka kepada negara-negara adi daya yang berkepentingan mempertahankan dominasi mereka di negeri-negeri Islam dalam berbagai bentuk.  Organisasi Konperensi Islam yang hingga kini oleh sebagian kaum muslimin diharapkan sebagai wadah persatuan masyarakat Islam dalam mengatasi berbagai krisis yang dihadapi kaum muslimin, ternyata tak bisa banyak berbuat.  Konon lantaran masing-masing negara anggotanya lebih mengutamakan kepentingan nasional mereka (Republika, 26/5/1995).  Sungguh aneh sekali, OKI (OIC) yang beranggotakan lebih dari 50 negara Islam yang total jumlah penduduknya sekitar satu milyar itu tak mampu menyelesaikan penderitaan kaum muslimin di Palestina yang diinjak-injak hak-hak dan kehormatan mereka oleh negara kecil Yahudi Israel. 

    Itulah masyarakat kaum muslimin setelah runtuhnya khilafah.   Munculnya berbagai keanehan itu lantaran masyarakat tersebut telah kehilangan keunikannya.  Masyarakat kaum muslimin tersebut telah kehilangan ciri khas umat ini yang digambarkan Rasulullah saw. sebagai berikut :

    “Perumpamaan seorang mukmin di dalam cinta dan kasih sayangnya seperti satu tubuh, jika mengeluh salah satu anggota tubuh, maka yang lain akan merasakan demam dan panas serta tak bisa tidur”

     

    Justru masyarakat kaum muslimin yang kini jumlahnya lebih dari satu milyar itu bagaikan hidangan yang disantap dan diterkam oleh musuh-musuhnya.  Sebab mereka tidak menjadi masyarakat yang satu tubuh, yang padat dan kenyal.  Bahkan mereka bagaikan buih yang gampang diporak-porandakan !

    Ini semua lantaran kaum muslimin tidak dalam kesatuan pemikiran, perasaan, dan peraturan yang Islami.  Kontradiksi terjadi di mana-mana.  Tidak jarang kita jumpai seorang muslim di dalam masyarakat yang menurut Muhammad Husain Abdullah sebagai “masyarakat tidak unik” (al mujtama’ ghairu mutamayyiz) ini, akan menempuh keharaman seperti riba dan minum khamr dimana dalam waktu bersamaan menggemborkan bahwa siapa minum khamr berarti telah menempuh haram, dan berusaha mendapatkan kebaikan dalam melarang minum khamr.  Juga, tidak mustahil adanya seorang muslim yang senang mendengar adzan dan pembacaaan Al-Quran, dan terasa dalam dirinya perasaan ruhani, akan tetapi dia tidak sholat, tidak membaca Al-Qur’an, dan tidak menerapkan hukum-hukum Al Qur`an.


    Masyarakat Islam: Konsep, Sejarah, dan Metode Pembentukannya

    Muhammad Shiddiq Al Jawi

    10 Al Marjeh, Mouaffaq Bany, The Awakening of The Sick Man, hal. 387-388.

    11 An Nabhani, Taqiyuddin, At Takattul Al Hizbi, hal. 10-11

    12  An Nabhani, Taqiyuddin, At Takattul Al Hizbi, hal. 14-15

     
    • Candra Wiguna 9:39 pm on 22 November 2014 Permalink

      Anda menulis ini seakan pada pemerintahan Khalifah itu baik, rakyat sejahtera dan bahagia, padahal kenyataannya saat itu bangsa muslim sendiri saling berperang satu sama lain, lihat bagaimana 90 keluarga Abbasiyah dibunuh secara sadis oleh Ummayah, lihat bagaimana para pangeran Utsmani berperang satu sama lain untuk menjadi sultan. Belum permasalahan perbudakan misalnya yang masih subur di masa itu.

      Salah satu faktor mengapa Turki Utsmani itu kalah perang adalah karena dia juga diserang oleh negara Arab, artinya bahwa muslim di Arab pun tidak menyukai pemerintahan Turki dan lebih memilih bersekutu dengan Inggris. Kan lucu jika ratusan tahun setelah Turki Utsmani runtuh lantas anda membuat cerita bahwa Turki itu negara baik dan orang Inggris lah yang jahat seakan anda lebih tahu situasinya dibanding muslim yang hidup di zaman itu.

      Jangan kebanyakan baca buku HTI, cobalah baca referensi yang netral, dan anda akan sadar bahwa anda hidup di zaman yang lebih baik dengan hukum yang lebih baik dibanding pada masa kekhalifahan.

  • erva kurniawan 1:58 am on 17 November 2014 Permalink | Balas  

    Sejarah Perkembangan Ilmu Hadis 

    Khadijah Binti KhuwailidSejarah Perkembangan Ilmu Hadis

    Dikelolakan Oleh: MC YA

    Sesungguhnya ilmu hadis merupakan salah satu cabang ilmu yang diwarisi daripada ulamak-alamak silam. Ilmu hadis yang tersedia ada sekarang sebenarnya telah melalui beberapa peringkat sehinggalah ianya menjadi satu cabang ilmu yang unik dalam islam. Jika diperhatikan dengan teliti, kita dapati sejarah perkembangan ilmu Hadis merupakan satu gambaran praktikal bagaimana Allah swt.menjaga kalam suci nabi Muhammad saw. sehingga sekarang dan menjaganya daripada ditokok tambah sebagaimana dia memelihara kesucian Al-Qur’an. Penjagaan ini jelas kita perhatikan melalui para muhaddis dalam meriwayatkan hadis dengan mementingkan kepada persoalan sanad atau jalan hadis sehinggakan Ibn Salam pernah berkata “Sesungguh sanad itu sebahagian daripada agama, kalaulah tidak kerana adanya sanad nescaya mudahlah orang bercakap apa saja yang dia suka”.

    PERINGKAT PERTAMA: PERINGKAT PERTUMBUHAN

    Peringkat ini bermula daripada zaman sahabat sehinggalah ke akhir kurun pertama hijrah atau lebih jelas lagi ianya bermula selepas daripada kewafatan baginda Rasulullah saw. Pada zaman Rasulullah saw masih hidup, sudah ada usaha-usaha untuk mengumpul dan menulis hadis sebagaimana yang dilakukan oleh Abdullah bin Amru.

    Perkara ini diakui oleh Abu Hurairah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Beliau mengakui Abdullah bin Amru lebih banyak meriwayatkan hadis daripada Rasulullah hanya disebabkan beliau menulis hadis dan Abu Hurairah tidak menulis. Namun begitu ada hadis yang melarang sahabat-sahabat baginda daripada mencatit apa-apa yang berkaitan dengan Rasulullah kerana takut ianya boleh melalaikan mereka daripada al-Quran.

    Tetapi ulamak telah memberi pandangan bahawa ada hadis yang membenarkan mereka mencatat dan menulis, secara langsung ia telah memansuhkan hadis yang melarang.

    Selain itu Khalifah Umar pernah menyarankan proses mengumpul hadis, tetapi setelah beliau beristikharah salama sebulan maka natijahnya, beliau menolak cadangan mengumpul hadis dalam bentuk penulisan ekoran daripada sikap ambil beratnya terhadap Sunah takut ianya bercampur aduk dengan kalam Allah.

    Percubaan Saidina Umar ini menunjukkan kepada kita bahawa pengumpulan hadis dari sudut hukum adalah harus dan beliau tidak berbuat demikian adalah kerana dikhuatiri sahabat pada waktu itu lebih tertumpu kepada Sunnah tidak kepada kitab Allah.

    Sikap ambil berat sahabat terhadap sunnah juga dapat kita perhatikan melalui usaha mengumpul dan memastikan kesahihan hadis sehinggakan mereka sanggup bermusafir beribu batu dengan hanya menaiki unta semata-mata untuk mencari hadis sahih sebagaimana yang berlaku ke atas Jabir bin Abdullah yang bermusafir selama sebulan ke negeri Syam, mencari dengan Abdullah bin Unais al-Ansari bagi mendapatkan hadis daripada Rasulullah saw.

    Begitu juga sebelum berakhirnya zaman sahabat telah kedapatan Sunnah dalam bentuk pengumpulan dan pembukuan antaranya ” as-Sahiifah as-Saadiqah” oleh Abdullah bin Amru, ” as-Sahiifah” oleh Jabir bin Abdullah al-Ansaari, ” as-Sahiifah as-Sahiihah” oleh Hamam bin Munabbih dan ” sahiifah Ali” oleh Saidina Ali.

    Begitulah perjalanan Sunnah pada kurun pertama.

    PERINGKAT KEDUA: PERINGKAT PENGUMPULAN

    Peringkat ini bermula dari awal kurun ke dua hingga ke awal kurun ketiga hijrah. Pada peringkat ini boleh dikatakan ilmu hadis telah sempurna dikumpul dan dibukukan. Hal demikian memandangkan kepada beberapa faktor yang mendorong ulama supaya membukukan sunnah.

    Antara faktor-faktor tersebut, kurangnya daya ingatan manusia pada zaman itu tidak sebagaimana yang zaman sahabat dan taabi’iin. Ianya telah diakui oleh Imam az-Zahabi dalam kitabnya “Tazkiratul Huffaz”. Begitu juga telah lahirnya ajaran sesat serta kumpulan yang telah terpesong daripada ajaran Islam yang sebenar seperti Mu’tazilah, Khawarij dan lain-lain.

    Faktor tersebut telah mendorong Kalifah Umar bin Abdul Aziz selaku pelopor kepada pembukuan Sunnah ini, mengarahkan ulamak untuk mengumpul segala hadis dengan tujuan untuk menyelamatkan Sunnah daripada penyelewengan dan hadis-hadis Maudhu’ (hadis yang direka dan dinisbahkan kepada Rasul).

    Begitu juga pada waktu itu telah timbulnya cabang ilmu hadis iaitu ilmu ” al-Jarh wa at-Ta’diil” bagi mengkritik periwayat hadis. Hal ini penting untuk menyelamatkan Sunnah daripada tujuan buruk mereka mencipta hadis semata-mata untuk kepentingan kumpulan-kumpulan tertentu.

    Ulama telah mula berhati-hati didalam mengambil hadis daripada periwayat hadis dan tidak meriwayatkan hadis daripada periwayat hadis yang tidak dikenali peribadinya. Ulama hadis telah memberikan perhatian khusus pada isi hadis dan sanadnya.

    Begitulah berakhirnya peringkat kedua.

    PERINGKAT KETIGA: PERINGKAT PEMBUKUAN SECARA SPESIFIK

    Peringkat ini bermula dari kurun ketiga sehingga pertengahan kurun keempat Hijrah. Kurun ketiga merupakan kurun keemasan bagi Sunnah Nabawiyyah kerana jika dilihat daripada sudut perkembangan ilmu Hadis, kita nampak pada kurun ini Sunnah telah dibukukan secara keseluruhan.

    Ulama Hadis telah mempelbagaikan pembukuaan Sunnah dan ini menunjukkan kepada kita bahawa seninya Ulamak Hadis dalam membukukan Ilmu Hadis sebagai contoh: ada Ulamak membukukan hadis dalam bentuk Masaanid yang membawa maksud, kumpulan hadis-hadis Nabi yang diriwayatkan oleh para sahabat, seperti ” Musnad Imam Ahmad”.

    Manakala Imam Bukhari dan Muslim pula mengumpul hadis dalam bentuk ” al-Jaami’ as-Sahiih” yang bermaksud, kumpulan hadis-hadis yang meliputi sebahagian besar perkara-perkara penting dalam agama termasuklah fiqih, Hari Kiamat, Adab, Sirah dan lain-lain.

    Pada waktu ini juga, telah wujudnya ilmu khas tentang jenis-jenis hadis seperti Hadis sahih, Hasan, Mursal, dan sebagainya.

    PERINGKAT KEEMPAT: ZAMAN PENULISAN SENI-SENI ILMU HADIS

    Bermula dari pertengahan kurun ke empat hingga permulaan kurun ke tujuh, ulamak pada waktu ini dengan bantuan daripada apa yang telah ditinggalkan oleh ulamak-ulamak sebelum ini telah mengembangkan lagi ilmu hadis kepada keadaan yang lebih baik. Maka kita dapat lihat hasil yang dicurahkan oleh generasi ini alam buku-buku seperti:

    Hide message history

    1. al-Muhdis al-Faasil bayna ar-Raawi wal al-wa’yii — al-Qadhi Abu Muhammad al-Waamahramzi
    2. al-Kifaayah fii i’lmi il-Riwaayah –al-Khatiib al-Baghdaadi
    3. al-Ilmaa’ fii Usuul il-Riwaayah wa as-Samaa’ –al-Qaadhi I’yaadh

    Buku-buku yang dihasilkan pada zaman ini boleh dianggap sebagai sumber utama ( al-Masaadir al-Asliyyah) dalam ilmu ini. Antara ulamak yang memainkan peranan utama pada zaman ini ialah al-Khatiib al-Baghdaadi dan al–Haakim an-Niisaabuuri.

    PERINGKAT KELIMA: PERINGKAT KEMATANGAN

    Bermula dari kurun ketujuh hingga kurun kesepuluh. Pada waktu inisetiap cabang ilmu hadis telah siap dibukukan. Antara ulamak yang mengepalai perkembangan pada masa ini ialah Ibnu Solaah yang telah mengarang kitabnya yang masyhur “uluum ul-Hadiis” Buku ini adalah yang terbaik kerana mempunyai ciri-ciri :

    1. Mempunyai Istinbat yang mendalam tentang pendapat ulamak dan kaedah-kaedah mereka
    2. menyusun takrif-takrif dan istilah ilmu hadis berdasarkan kepada pandangan ulamak tedahulu.

    iii. Menyelidiki sendiri pandngan ulamak terdahulu.

    Kitab Ibnu Solaah ini menjadi panduan kepada mereka yang datang selepasnya dan ada yang meringkas balik kitab tersebut dan ada juga yang mensyarah balik dalam bentuk yang lebih terperinci.

    Antara kitab yang dihasilkan pada masa itu selain kitab ” uluum ul-Hadiis” ialah

    1. al-Irsyaad oleh Imam Nawawi
    2. al-Tabjirah wa at-Tazkirah oleh Haafiz ul-Iraaqi
    3. lain-lain

    PERINGKAT KE ENAM: PERINGKAT TERBANTUTNYA ILMU HADIS

    Bermula dari kurun ke sepuluh hingga ke awal kurun ke dua puluh. Pada waktu ini telah terhentinyazaman perkembangan ilmu hadis diaman ilmu hadis telah sempurna sebagaimana diperingkat yang sebelumnya. Begitu juga kita tengok, waktu ini telah terhenti ijtihad dalam aspek keilmuan memandangkan kepada kurangnya ulamak yang berwibawa serta tersebarnya fitnah akhir zaman. Manusia pada waktu itu hanya mengikut apa yang telah dihasilkan oleh ulamak terdahulu. Pada waktu ini ulamak hadis hanya meringkaskan dalam bentuk baru kitab-kitab lama supaya ianya mudah difahami samaada dalam bentuk Syair ataupun al-Manzuumah (prosa) ” al-Manzuumah al-Baiquuniyyah”.

    PERINGKAT KE TUJUH: PERINGKAT KEMBALI

    Bermula dari awal kurun ke dua puluh hingga sekarang. Pada masa ini, ulamak mula sedarakan bahaya yang dihadapi oleh Sunnah yang mana terdedah kepada ancaman orientalis yang cuba sedaya upaya untuk mengelirukan mata masyarakat tentang Sunnah Nabawiyyah.

    Oleh itu ulamak telah bangkit dengan penulisan serta buku-buku untuk menangkis semula pemikiran-pemikiran yang merbahaya tentang Sunnah. Antara kitab-kitab yang dihasilkan ialah:

    1. Qawaai’du ut-Tahdiith oleh Syeikh Jamaluddin al-Qaasimi
    2. al-Hadiith wa al-Muhaddithuun oleh Syikh al-Duktuur Muhammad Abu Zahrah.

    III. Lain-lain

    Begitulah turutan perkembangan ilmu hadis dari zaman Rasulullah sehinggalah kezaman kita sekarang ini. Kita bersyukur kepada Allah kerana Hadith-hadith Rasul telah dijaga oleh ulamak dengan penjagaan yang begitu rapi sehingga hadith-hadith dapat sampai kepada kita pada hari ini. Semoga usaha-usaha yang dijalankan oleh mereka mendapat tempat disisi Allah swt.. Kita sebagai generasi yang telah jauh daripada suasana ilmu yang di tunjukkan oleh salafus us-Sooleh seharusnya berusaha untuk mendekatkan diri dengan Sunnah dan beramal denganya.

    Wallahu a’lam

    ***

    Kiriman Ukhti Retno Wahyudiaty

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 16 November 2014 Permalink | Balas  

    Tujuh Kata yang Dihapus Nabi 

    muhammad2Tujuh Kata yang Dihapus Nabi

    Dalam sejarah Islam dikenal apa yang dinamai dengan “Shulh Al-Hudaibiah”, yaitu Perjanjian Perdamaian yang disepakati pada tahun ke enam Hijri. Perjanjian ini merupakan perjanjian antara Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dengan Suhail bin Amr yang ketika itu mewakili mayoritas penduduk Makkah yang masih musyrik. Perjanjian ini dinilai oleh banyak sahabat Nabi sangat menguntungkan lawan, walaupun banyak pakar Al-Qur’an yang kemudian menilai bahwa Allah SWT menamainya fath mubiin (kemenangan yang sangat jelas bagi kaum muslim).

    “Sesungguhnya kami telah memenangkan engkau dengan kemenangan yang nyata” [ QS- Al Fat-h; 48:1 ]–

    “Siapa yang mendatangi Muhammad (untuk memeluk agama Islam) maka ia harus dikembalikan, tetapi yang meninggalkannya menuju Makkah tidak dapat dikembalikan.” Demikian salah satu butir perjanjian yang sulit dipahami oleh kebanyakan sahabat Nabi. Mengapa perjanjian itu disetujui Nabi? Namun demikian, reaksi yang ditimbulkannya belum seberapa dibandingkan dengan penghapusan tujuh kata yang dilakukan oleh Nabi ketika merumuskan naskah perjanjian tersebut.

    ” Tulislah wahai Ali, Bismillaahirahmaanirrahiim.” Ali r.a. pun menulis, tetapi dengan serta merta Suhail keberatan: “Kami tidak mengenal Al-Rahman, hapuslah kata itu dan tulislah ‘dengan namamu wahai Tuhan’,”

    Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menyetujui dan memerintahkan menghapus  basmalah sambil melanjutkan: “Inilah perjanjian perdamaian antara Muhammad Rasulullah dengan Suhail bin Amr.”

    “Tidak, tidak! Kalau kami mengakuimu sebagai pesuruh Allah, niscaya kami tidak memerangimu. Hapus itu, dan tulislah ‘Muhammad putra Abdullah’,”

    Sekali lagi Rasulullah menyetujui sambil berkata: “Demi Tuhan, aku adalah pesuruh Allah walau kalian mengingkarinya, hapuslah kata tersebut wahai Ali!”

    Ali r.a. tampak ragu, sementara para sahabat yang lain menggerutu. Umar bin Kaththab berkata: “Mengapa kita harus menerima kehinaan bagi agama kita?”

    “Tenanglah wahai Umar. Aku ini pesuruh Allah.” Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam lalu mengambil naskah rancangan perjanjian tersebut dan menghapusnya dengan tangannya sendiri kata-kata “Muhammad Rasul Allah”. Demikianlah tujuh kata, yaitu Bismi, Allah, Al-Rahmaan, Al-Rahiim, Muhammad, Rasul, dan Allah, dihapus oleh Nabi.

    Betapa luwes dan sabarnya sikap beliau menghadapi kaum musyrik demi perdamaian. Beliau sadar bahwa mereka sebenarnya tidak mengerti atau tidak mau mengerti. Tetapi, setelah diskusi ilmiah mereka samakan dengan perdebatan, keluwesan mereka nilai kelemahan, perjanjian yang telah disetujui mereka langgar, ketika itulah tidak ada jalan lain kecuali ketegasan, walaupun itu masih harus selalu diliputi oleh rahmat dan kasih sayang. Ketika memasuki kota Makkah sebagai sanksi atas pelanggaran perjanjian tersebut, beliau mengingatkan untuk tidak menumpahkan darah. Dikecamnya sahabat-sahabatnya yang bermaksud menjadikan hari tersebut sebagai hari pembalasan. “Tidak!” kata beliau, “ini adalah hari kasih sayang.” Adapun ‘semboyan’ yang disetujuinya adalah: “Akhun kariim wa ibnu akhn kariim” (saudara sebangsa yang mulia dan putra saudara sebangsa yang mulia).

    Sungguh agung manusia ini. Alangkah wajar kita meneladaninya.

    ***

    1. Quraish Shihab [Lentera Hati]
     
  • erva kurniawan 1:45 am on 15 November 2014 Permalink | Balas  

    Ketukan Pintu Kematian 

    icuKetukan Pintu Kematian

    Semua karyawan di kantor kami tahu siapa itu Kamda. Lajang berperawakan gempal, tinggi besar itu sejak bekerja di perusahaan kami hanya dalam beberapa bulan saja sudah mulai menunjukkan perangai aslinya. “Mentang-mentang bos kita adalah pamannya, dia seenaknya saja berbuat sama kita!” Begitu sengit Wahid, salah satu mekanik di bengkel perusahaan kami. Kamda, begitu dia biasa kami panggil, memang masih belia, belum punya pengalaman kerja, dan sebagian besar karyawan menganggapnya masih terlalu muda untuk mengatur banyak urusan kerja di bengkel yang huni oleh lebih dari 400 karyawan. Namun itulah! Orang terkadang tidak melihat siapa dirinya. Merasa secara politik berada diatas angin, segala sesuatu yang dilakukan seolah dianggap benar, dan jadi keputusan perusahaan. Tidak ada seorangpun yang berani mempertanyakan ‘kebijakan’ nya, kecuali hanya ‘ngrasani’ saja!

    Usia Kamda tidak lebih dari 21 tahun waktu itu. Rata-rata karyawan perusahaan kami tidak pernah menyangka, karena penampilan fisiknya dia kelihatan jauh lebih tua dari pada umur yang sebenarnya. Sekali dia bicara, karena alasan security, tidak ada yang berani menentangnya. Dalam kondisi amat yunior, Kamda menduduki posisi penting di perusahaan, sebagai Technical Adviser. Padahal dia tidak memiliki pengalaman kerja sama sekali, kecuali baru saja lulus sekolah, setingkat program diploma teknik automobile.

    Apapun yang dilakukan Kamda memang tidak berpengaruh pada saya karena saya bukan dibawah departemennya. Kami berbeda unit kerja. Terkadang Kamda mengunjungi departemen kami, sekedar memberi salam. Tidak lebih dari itu. Bagi saya, sikapnya biasa-biasa saja sebagaimana karyawan lainnya yang memiliki posisi manajer semacam dia. Sungguh saya tidak mengerti kenapa banyak orang-orang yang bekerja dibawah supervisinya sering mengeluh, tidak terkecuali Wahid diatas.

    Tiap Rabu para semua karyawan unit teknik berbaris, berkumpul layaknya apel pasukan kepolisian. Itu rutin mereka laksanakan. Sebagaimana biasa Kamda yang melakukan inspeksi. Kerapian rambut, jenggot, kebersihan baju, kilatnya sepatu, dan kelengkapan peralatan bengkel yang menjadi tanggungjawab setiap mekanik, menjadi sorotan Kamda. Satu saja mekanik yang diketahui tidak menyemir sepatunya, atau rambutnya kelihatan kurang rapi, tidak tanggung-tanggung, “Pulang!!!!”Begitu hardik nya, memerintahkan sang karyawan untuk pulang. No excuse! Setiap hari Rabu, selalu ada saja karyawan yang dipulangkan karena berbagai alasan, hasil dari inspeksi Kamda.

    “Kenapa kamu Khalid? Tidak ada kerjaan ya?” Teriaknya suatu ketika lewat corong speaker yang gaungnya bisa didengar di seluruh gedung bengkel yang luasnya tidak kurang dari 5000 meter persegi. Besar kan? Orang pun takut. Bukan segan kepadanya. Nyaris tidak ada hari-hari tanpa kedengaran bentakan Kamda terhadap bawahannya. Saya menduga-duga, bahwa orang-orang kecil dibawahnya pasti sudah macam-macam doa nya untuk atasan yang satu ini. Alasannya sudah jelas: Kamda terlalu ceroboh memperlakukan bawahannya, seolah buta sama sekali akan pengetahuan manajemen perusahaan. Human Resource Management ataupun Organizational Behavior, dua hal yang wajib dipelajari sebagai bekal oleh mereka yang duduk di kursi manajer, sepertinya tidak pernah disentuh oleh Kamda. Pada akhirnya, karena begitu banyak karyawan yang menggunjingkan soal sikap kepemimpinannya yang kurang baik, saya jadi berkesimpulan bahwa Kamda sudah seharusnya ‘sekolah’ lagi, mengkaji ilmu untuk kepentingan profesinya juga kelangsungan kerja perusahaan.

    “Aku akan ke Amerika Serikat, untuk melanjutkan studi!” katanya suatu hari kepada saya dengan wajah yang cerah. Alhamdulillah! Ya! Kamda mengikuti tugas belajar atas beaya negara ke Los Angeles-AS.

    “Good!” jawabku, ikut senang mendengar berita baik ini. Dalam hati saya turut berharap semoga dia akan banyak belajar tentang hal-hal baru yang tidak diperoleh selama di perusahaan kami, terutama tentang manajemen. Hubungan kami memang baik, jadi sudah sepantasnya saya turut mendoakan demi kebaikannya. Apa yang saya rasakan terhadap penampilan Kamda, berbanding terbalik dengan apa yang dialami oleh sebagian besar orang-orang teknik. Apakah Kamda hanya melakukan kerjanya? Wallahu’alam!

    Dua tahun berlalu begitu cepat. Ceritera tentang Kamda tidak lagi terdengar di perusahaan. Sepertinya semua orang sudah melupakan keberadaannya. Padahal, belum juga aku lupa tentang bagaimana kesan para karyawan terhadapnya, tiba-tiba dia muncul di depan pintu kantor kami

    “Assalamu ‘alaikum…!” Sapanya hangat. Kamipun berdiskusi tentang hal-hal yang dialaminya selama tinggal di Los Angeles. Pergaulan bebas, beaya hidup mahal, kesediaan fasilitas hidup, fleksibilitas studi, dan lain-lain objek pembicaraan kami. Kamda ternyata datang lagi di perusahaan kami!

    Kali ini penampilannya amat beda dengan dua tahun lalu. Kamda sepertinya sudah banyak belajar tentang kehidupan, dan yang lebih penting, kepemimpinan. Sikap uring-uringannya terhadap bawahan yang hanya karena masalah sepele, tidak lagi ada. Karyawan mulai simpati. Mereka yang dua tahun lalu sering menggunjingkan keangkuhan dan kekeras-kepalaannya hampir tidak lagi terdengar.

    “Kamda berubah!!!” kata-kata itu sering masuk begitu saja ke telinga saya. Kamda jadi sering mengutamakan kepentingan anak buahnya. Mereka yang mengeluh sakit sedikit saja, acapkali disuruh istirahat di rumah, padahal tadinya sikap Kamda jauh dari yang namanya ‘belas kasih’ ini. Dalam apel setiap Rabu, Kamda lebih banyak senyum ketimbang mengamati siapa yang ‘salah’ atau kurang beres dalam berpakaian.

    Perubahan perilaku Kamda berangsur melegenda di perusahaan hingga suatu saat, belum juga genap sebulan sejak kedatangannya dari Los Angeles, di pagi hari itu kami dikejutkan dengan berita kecelakaan yang menimpanya. Dini hari di akhir pekan, karena kecepatan yang tinggi, mobil Kamda yang dikemudikan seorang rekannya menabrak sebuah bangunan di pinggir jalan besar bebas hambatan. Bukan hanya mobil Kamda saja yang ringsek, teman yang mengemudikannya juga terenggut jiwanya. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un!

    Kamda? Kondisinya parah sekali! Tidak berlebihan bila sebagian dari kami mengistilahkan pintu kematiannya terketuk. Tidur membentang tanpa sadarkan diri. Istri seorang rekan saya yang sedang bekerja di rumah sakit, di Intensive Care Unit (ICU) mengemukakan Kamda mengalami koma, sebagian bagian kepalanya terbuka, dan multiple patah tulang. Subahanallah, dalam kondisi sebagian otaknya yang keluar dan beberapa tulang rusuk yang retak hingga patah, Kamda masih diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk tetap bertahan hidup!

    Sebagai kalangan keluarga kaya, tidak sulit bagi mereka untuk mendatangkan dokter-dokter ahli bedah dari luar negeri. Hanya dalam waktu 3 hari, dokter ahli bedah tulang dan syaraf didatangkan dari India. Selama itu pula Kamda masih dalam kondisi yang sama: koma! Anehnya, terlepas dari kedudukannya sebagai pasien VIP, selama di RS tersebut tidak ada seorangpun karyawan kami yang mengunjunginya. Padahal nampaknya karyawan perusahaan selama ini sudah ‘memaafkan’ sikap angkuh Kamda yang dulu. “Betapa malang Kamda!” Begitulah piran saya ikut prihatin akan nasib yang menimpa pria yang masih muda ini. Kedua dokter ahli India tersebut ternyata ‘angkat tangan’. Kasus yang menimpa Kamda membutuhkan perawatan dan pengobatan yang lebih canggih. Di hari kelima, Kamda diterbangkan ke Jerman, dengan ditemani oleh dua orang suster dan seorang dokter. Untuk selanjutnya Kamda menjalani pengobatan dan perawatan intensive di sebuah RS di Berlin.

    Beragam komentar orang-orang perusahaan terhadap nasib buruk yang menimpanya. Ada yang mengatakan apa yang terjadi adalah ‘buah’ dari sikap Kamda terhadap anak buahnya beberapa tahun lalu yang dianggap kejam. Ada pula yang menganggap itu adalah pelajaran bagi keangkuhan. Tidak pula sedikit yang mengemukakan bahwa begitulah salah satu cara Allah SWT memberikan contoh kepada manusia agar dijadikannya sebagai ‘tauladan’, bagi orang-orang yang mau berpikir.

    Bos perusahaan kami selama beberapa minggu lamanya tidak ‘ngantor’. Beliau memang mengikuti perjalanan Kamda untuk tujuan pengobatan di Berlin. Dalam kondisi yang demikian, saya tidak melihat tanda-tanda kami, semua karyawan perusahaan, turut berduka. Business as usual, begitulah kira-kira kesannya. “Apa mau dikata, takdir berbicara demikian!” itulah rata-rata yang terdengar dari mulut para pekerja.

    Dua, tiga, empat dan enam bulan berlalu…..

    Subhanallah, Kamda kemudian muncul lagi! Kali ini amat beda. Ia tidak lagi lancar berbicara, terbata-bata, seolah-olah begitu sulit mengungkapkan rangkaian kata-kata. Sebagian ingatannya saya perhatikan sudah ‘hilang’. Ia bahkan tidak ingat lagi untuk mengatakan misalnya Aspirin C, obat yang bundar dan berwarna putih. Seringkali dia hanya tersenyum dibanding berbicara. Ucapan terimakasihnya lebih banyak muncul dibandingkan ucapan-ucapan lainnya. Suatu hari, ketika dia datang ke kantor kami, spontan seorang bawahan yang sedang duduk kemudian berdiri ingin menghormatinya, namun dicegah oleh Kamda dengan gaya bicaranya yang terputus-putus. Saya jadi terharu dibuatnya!

    Kamda yang sekarang ini jadi sering saya lihat ikut sholat Dzuhur berjamaah ditengah-tengah kesibukan kerja. Padahal dua tahun lalu kejadian semacam tidak pernah saya temui. Kamda menjadi begitu baik sekali terhadap bawahannya. Kecelakaan yang menimpanya sempat membuat sejumlah syaraf bicara dan daya ingatannya terganggu. Kamda sering tanya tak bertanya kepada saya, “Apa itu…ehm…? Apa itu..ehm…? Saya lupa…!”

    Subhanallah…! Allah SWT Mahapengasih kepada umatNya. Kamda yang sebagian jaringan otaknya sempat terkuak disaat kecelakaan, mulanya diperkirakan oleh hampir setiap orang tidak akan berumur panjang, ternyata sehat kembali. Berminggu-minggu kondisi koma yang menimpanya ternyata membawa hikmah. Kamda menjadi manusia yang pandai mensyukuri nikmat Allah sesudah diketuk pintu kematiannya, meski kondisi fisiknya tidak lagi seprima dulu: tubuh yang kekar, ingatan tajam dan berbicara lancar

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 14 November 2014 Permalink | Balas  

    Al Fatihah, (Tafsir Al Ghazali) 

    al-fatihahAl Fatihah, (Tafsir Al Ghazali)

    Sawaluddin Ukkas

    Surat Al Fatihah Mencakup Segala  Ilmu Pengetahuan

    Menurut Imam Al Ghazali bahwa Al Quran mengandung sepulauh dasar ilmu pengetahuan umum dan tiap-tiap ilmu itu membawahi beberapa macam ilmu :

    1. Ilmu untuk mengenal zat Allah swt.
    2. Ilmu untuk mengenal sifat-sifat Allah swt. Mengenai zat Allah swt, kita mengagungkan dan mensucikanNya dari segala sifat kekurangan : Dia tida serupa dengan sesuatu apapun. Adapun mengenal sifat-sifatNya yaitu : Dia Maha Kuasa, Maha Berkehendak, Maha Mengetahui, Hidup, Mendengar, Melihat dan Berbicara.
    3. Dialah Khalik alam semesta dan Penciptanya dan Dialah Yang meninggikan langit dan membentangkan bumi.
    4. Menjelaskan tempat kembali manusia seperti : syurga sebagai tempat pahala, neraka sebagai tempat siksa.
    5. Menjelaskan Siratal Mustaqim (jalan yang lurus) dengan meninggalkan segala perbuatan yang terceladan segala perbuatan yang tercela dan segala perangai yang rendah.
    6. Menghiasi diri dengan segala perbuatan yang mulia dan segala sifat yang utama.
    7. Menjelaskan orang-orang yang telah dianugerahi nikmat atas mereka dan memuji mereka itu.
    8. Menerangkan (akibat) orang-orang yang dzalim, orang-orang yang melanggar hukum-hukum agama dan orang-orang yang kafir.
    9. Menyebutkan perbantahan orang-orang kafir. 10. Menerangkan undang-undang hukum Allah.

    Inilah semuanya ilmu-ilmu yang tersebut di dalam Al Quran dan delapan diantaranya telah tercakup di dalam surat Al Fatihah.  Demikian pandangan Imam Al Ghazali.

    Untuk jelasnya adalah sebagai berikut :

    1. Zat Allah swt yang tercantum dalam kalimat : (Bismillahi) = Dengan nama Allah

    2. Sifat-sifat Allah dalam kalimat : (Arrahmaanirrahimi Malikiyaumiddiini) = Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Yang menguasai hari Pembalasan.

    Bahwasanya sifat Rahmah (Pengasih dan Penyayang) dan kekuasaan itu, keduanya menghendaki adanya Qudrat (sifat Maha Kuasa), Iradah (Maha Berkehendak) dan Ilmu (Maha Mengetahui). Itulah diantaranya sifat-sifat Allah yang tercantum didalam kebanyakan surat didalam Al Quran seperti firman-Nya :  Almalikul kudduusussalamul mu’minullmuhaeminul ‘aziizul jabbarul mutakabbiru. Artinya : “Dia Maha Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Menganugerahkan Keamanan Yang Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Agung. (Surat Al Hasyer:23).

    3 Ilmul af’al (ilmu perbuatan Allah) yaitu : ilmu yang telah kami uraikan dahulu yang tercakup dalam firman-Nya : Rabbil’alamiina = Yang Memelihara Semesta Alam.

    Dan tersirat di dalamnya berbagai macam ilmu dan kami telah jelaskan bahwa alam itu ada dua macam : alamtinggi dan alam rendah ;

    Pada kedua alam tersebutlah berhubungan berbagai macam ilmu pengetahuan dan teknologi karena semuanya itu adalah “Af’alullah” (Perbuatan Allah) yang masuk didalam pengaruh rahmat dan pendidikan-Nya bagi semesta alam. Bahwasanya ilmu pasti dan ilmu pengetahuan alam yang keduanya telah masuk di dalam “Tarbiayatul ‘alamin” (Pendidikan semesta alam) keduanya diikuti lagi oleh berbagai ilmu teknik yang diantaranya seperti : alat pengukur waktu (jam dan sebagainya), ilmu tentang mesin penggerak (penarik benda yang berat) seperti : lokomotif dan sebagainya, ilmu pengeboran air dan minyak, ilmu tentang alat-alat persenjataan yang berat seperti : roket meriam dan sebagainya. Ilmu tentang gas beracun dan sebagainya.

    Ilmu-ilmu itulah yang menggugah bangsa-bangsa yang masih tidur dan membangunkan bangsa-bangsa Timur (Asia) dari tidur nyenyak mereka. Semuanya ini termasuk di antara keajaiban pendidikan. Demikian juga ilmu pembuatan senjata berat seperti meriam yang dapat menghancurkan orang-orang yang lalai. Ilmu tentang alat pembakar, ilmu tentang alat pembakar, ilmu untuk bangunan perumahan yang kuat; ilmu pembuatan (menggali) terusan (sungai); ilmu tentang proyeksi dalam bentuk dan letaknya; ilmu gaya gravitasi; ilmu ukur ruang; ilmu kedokteran dan ilmu pertanian. Kedua ilmu terakhir ini (Kedokteran dan pertanian) termasuk dalam lingkungan ilmu pengetahuan alam, sedangkan ilmu-ilmu sebelumnya termasuk dalam lingkungan ilmu pasti (matematika) dan semuanya itu terkandung di dalam.

    Tarbiayatul ‘alamin  Artinya : “Pendidikan Alam Semesta”

    Ketahuilah bahwa semua industri yang telah ada sekarang maupun yang akan datang semuanya bersumber dari benda-benda yang telah ada (diciptakan Allah) di dunia ini.

    4. Keterangan tentang hari akhirat yang meliputi syurga, neraka, kenikmatan dan kesengsaraan, pahala dan siksa. Al Quran telah membuat segala keterangan mengenai hal tersebut dan semunya itu termasuk di dalam ayat : Maliki yaumiddiini. Artinya : “Yang memiliki hari pembalasan (hari kemudian).”

    5.6. Keterangan tentang siratal mustaqim (jalam yang lurus) ini ada dua bagian :

    a. Meninggalkan kesesatan, kefasikan dan berbagai maksiat seperti : bohong, khianat, khianat dan zina.

    b. Menghiasi diri dengan dengan segala akhlak yang mulia seperti sifat-sifat mulia, ilmu pengetahuan, tolong-menolong, menyebarkan ilmu dan sebagainya.

    7. Keterangan tentang sejarah para Nabi, orang-orang yang saleh, orang-orang mumin dan intelektual, semuanya ini termasuk dalam ayat : Allaziina an’amta ‘alaihim Artinya : “Orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat atas mereka”.

    8. Cerita orang-orang yang telah dimurkai dan orang-orang yang sesat. Di dalam Al Quran banyak tersebut cerita tentang orang-orang yang sesat dan sejarah tingkah laku dan perbuatan mereka yang membawa kepada kehancuran dan kebinasaan. Itulah berbagai ilmu yang terkandung di dalam Al Quran dan telah tersirat di dalam surat Al Fatihah.

    Wassalam

    Syawal

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 13 November 2014 Permalink | Balas  

    Orang Mukmin Tercipta Penuh Cobaan 

    al-quran 3Orang Mukmin Tercipta Penuh Cobaan

    Oleh: Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdulhamid Al-Halaby

    Kata Pengantar

    Dalam kesempatan kali ini kami hadirkan ke hadapan pembaca, uraian yang sangat bagus sekali dari seorang tokoh ‘alim Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdulhamid Al-Halaby mengenai sifat-sifat seorang mukmin. Tulisan ini diterjemahkan dari Majalah Al-Ashalah edisi 15, 16 th III -15 Dzul Qa’dah 1415H, dan dimuat di Majalah As-Sunnah edisi 07/th III/1419-1998.

    Orang Mukmin Tercipta Penuh Coba

    Terdapat riwayat yang shahih bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    “Artinya : Sesunguhnya seorang mukmin tercipta dalam keadaan Mufattan (penuh cobaan), Tawwab (senang bertaubat), dan Nassaa’ (suka lupa), (tetapi) apabila diingatkan ia segera ingat”. (Silsilah Hadits Shahih No. 2276).

    Hadist ini merupakan hadits yang menjelaskan sifat-sifat orang mukmin, sifat-sifat yang senantiasa lengket dan menyatu dengan diri mereka, tiada pernah lepas hingga seolah-olah pakaian yang selalu menempel pada tubuh mereka dan tidak pernah terjauhkan dari mereka.

    Mufattan

    Artinya : Orang yang diuji (diberi cobaan) dan banyak ditimpa fitnah. Maksudnya : (orang mukmin) adalah orang yang waktu demi waktu selalu diuji oleh Allah dengan balaa’ (bencana) dan dosa-dosa. (Faid-Qadir 5/491).

    Dalam hal ini fitnah (cobaan) itu akan meningkatkan keimanannya, memperkuat keyakinannya dan akan mendorong semangatnya untuk terus menerus berhubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebab dengan kelemahan dirinya, ia menjadi tahu betapa Maha Kuat dan Maha Perkasanya Allah, Rabb-nya.

    Menurut sebuah riwayat dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Perumpamaan orang mukmin ibarat sebatang pokok yang lentur diombang-ambing angin, kadang hembusan angin merobohkannya, dan kadang-kadang meluruskannya kembali. Demikianlah keadaannya sampai ajalnya datang. Sedangkan perumpamaan seorang munafik, ibarat sebatang pokok yang kaku, tidak bergeming oleh terpaan apapun hingga (ketika) tumbang, (tumbangnya) sekaligus”. (Bukhari : Kitab Al-Mardha, Bab I, Hadist No. 5643, Muslim No. 7023, 7024, 7025, 7026, 7027).

    Ya, demikianlah sifat seorang mukmin dengan keimanannya yang benar, dengan tauhidnya yang bersih dan dengan sikap iltizam (komitment)nya yang sungguh-sungguh.

    Tawaab Nasiyy

    “Artinya : Orang yang bertaubat kemudian lupa, kemudian ingat, kemudian bertaubat”. (Faid-Al Qadir 5/491).

    Seorang mukmin dengan taubatnya, berarti telah mewujudkan makna salah satu sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu sifat yang terkandung dalam nama-Nya : Al-Ghaffar (Dzat yang Maha Pengampun). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih, kemudian tetap di jalan yang benar”. (Thaha : 82).

    Apabila Diingatkan, Ia Segera Ingat.

    Artinya : Bila diingatkan tentang ketaatan, ia segera bergegas melompat kepadanya, bila diingatkan tentang kemaksiatan, ia segera bertaubat daripadanya, bila diingatkan tentang kebenaran, ia segera melaksanakannya, dan bila diingatkan tentang kesalahan ia segera menjauhi dan meninggalkannya.

    Ia tidak sombong, tidak besar kepala, tidak congkak dan tidak tinggi hati, tetapi ia rendah hati kepada saudara-saudaranya, lemah lembut kepada sahabat-sahabatnya dan ramah tamah kepada teman-temannya, sebab ia tahu inilah jalan Ahlul Haq (pengikut kebenaran) dan jalannya kaum mukminin yang shalihin.

    Terhadap dirinya sendiri ia berbatin jujur serta berpenampilan luhur, sedangkan terhadap orang lain ia berperasaan lembut dan berahlak mulia, bersuri tauladan kepada insan teladan paling sempurna yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang telah diberi wasiat oleh Rabb-nya dengan firman-Nya :

    “Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka …..”. (Ali Imran : 159).

    Inilah sifat seorang mukmin. Ini pula jalan hidup serta manhaj perilakunya.

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 12 November 2014 Permalink | Balas  

    Kehidupan Sehari-Hari Yang Islami 

    kisah-teladan-islamKehidupan Sehari-Hari Yang Islami

    Oleh: Syaikh Abdullah bin Jaarullah bin Ibrahim Al-Jaarullah

    Kata Pengantar.

    Saudaraku….

    Dengan penuh pengharapan bahwa  kebahagian dunia dan akhirat yang akan kita dapatkan, maka  kami sampaikan risalah  yang berisikan  pertanyaan-pertanyaan  ini  kehadapan anda untuk direnungkan dan di jawab dengan perbuatan.

    Pertanyaan-pertanyaan ini sengaja kami angkat kehadapan anda dengan harapan yang tulus dan cinta karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, supaya  kita  bisa mengambil  mannfaat dan faedah yang banyak darinya, disamping itu sebagai bahan kajian untuk melihat diri kita, sudah sejauh mana dan ada dimana posisinya selama ini.

    Saudaraku…

    Risalah ini dinukilkan dari buku saku yang sangat bagus dan menawan yaitu Zaad Al-Muslim Al-Yaumi (Bekalan Muslim Sehari-hari) dari hal. 51 – 55, bab Hayatu Yaumi Islami yang diambil dari kitab Al-Wabil Ash-Shoyyib oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dan diterjemahkan oleh saudara kita Fariq Gasim Anuz semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalasnya dengan pahala dan surganya.

    Kehidupan Sehari-hari Yang Islami :

    1. Apakah anda selalu shalat Fajar berjama’ah di masjid setiap hari?
    2. Apakah anda selalu menjaga Shalat yang lima waktu di masjid?
    3. Apakah anda hari ini membaca Al-Qur’an?
    4. Apakah anda rutin membaca Dzikir setelah selesai melaksanakan Shalat wajib?
    5. Apakah anda selalu menjaga Shalat sunnah Rawatib sebelum dan sesudah Shalat wajib?
    6. Apakah anda (hari ini) Khusyu dalam Shalat, menghayati apa yang anda baca?
    7. Apakah anda (hari ini) mengingat Mati dan Kubur?
    8. Apakah anda (hari ini) mengingat hari Kiamat, segala peristiwa dan kedahsyatannya?
    9. Apakah anda telah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebanyak tiga kali, agar memasukkan anda ke dalam Surga? Maka sesungguhnya barang siapa yang memohon demikian, Surga berkata :”Wahai Allah Subhanahu wa Ta’ala masukkanlah ia ke dalam Surga”.
    10. Apakah anda telah meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali? Maka sesungguhnya barangsiapa yang berbuat demikian, neraka berkata :”Wahai Allah peliharalah dia dari api neraka”. (Berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya :”Barangsiapa yang memohon Surga kepada Allah sebanyak tiga kali, Surga berkata :”Wahai Allah masukkanlah ia ke dalam Surga. Dan barangsiapa yang meminta perlindungan kepada Allah agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali, neraka berkata :”Wahai Allah selamatkanlah ia dari neraka”. (Hadits Riwayat Tirmidzi dan di shahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami No. 911. Jilid 6).
    11. Apakah anda (hari ini) membaca hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?
    12. Apakah anda pernah berfikir untuk menjauhi teman-teman yang tidak baik?
    13. Apakah anda telah berusaha untuk menghindari banyak tertawa dan bergurau?
    14. Apakah anda (hari ini) menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala?
    15. Apakah anda selalu membaca Dzikir pagi dan sore hari?
    16. Apakah anda (hari ini) telah memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala atas dosa-dosa (yang engkau perbuat -pen)?
    17. Apakah anda telah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan benar untuk mati Syahid? Karena sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda yang artinya :”Barangsiapa yang memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan benar untuk mati syahid, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan kedudukan sebagai syuhada meskipun ia meninggal di atas tempat tidur”. (Hadits Riwayat Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam shahihnya, Al-Hakim dan ia menshahihkannya).
    18. Apakah anda telah berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ia menetapkan hati anda atas agama-Nya. ?
    19. Apakah anda telah mengambil kesempatan untuk berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di waktu-waktu yang mustajab?
    20. Apakah anda telah membeli buku-buku agama Islam untuk memahami agama? (Tentu dengan memilih buku-buku yang sesuai dengan pemahaman yang dipahami oleh para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena banyak juga buku-buku Islam yang tersebar di pasaran justru merusak pemahaman Islam yang benar, pent).
    21. Apakah anda telah memintakan ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk saudara-saudara mukminin dan mukminah? Karena setiap mendo’akan mereka anda akan mendapat kebajikan pula.
    22. Apakah anda telah memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala (dan bersyukur kepada-Nya, pent) atas nikmat Islam?
    23. Apakah anda telah memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat mata, telinga, hati dan segala nikmat lainnya?
    24. Apakah anda hari-hari ini telah bersedekah kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkannya?
    25. Apakah anda dapat menahan marah yang disebabkan urusan pribadi, dan berusaha untuk marah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala saja?
    26. Apakah anda telah menjauhi sikap sombong dan membanggakan diri sendiri?
    27. Apakah anda telah mengunjungi saudara seagama, ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala?
    28. Apakah anda telah menda’wahi keluarga, saudara-saudara, tetangga, dan siapa saja yang ada hubungannya dengan diri anda?
    29. Apakah anda termasuk orang yang berbakti kepada orang tua?
    30. Apakah anda mengucapkan “Innaa Lillahi wa innaa ilaihi raji’uun” jika mendapatkan musibah?
    31. Apakah anda hari ini mengucapkan do’a ini : ” Allahumma inii a’uudubika an usyrika bika wa anaa a’lamu wastagfiruka limaa la’alamu = Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan Engkau sedangkan aku mengetahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap apa-apa yang tidak aku ketahui”. Barangsiapa yang mengucapkan yang demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghilangkan darinya syirik besar dan syirik kecil. (Lihat Shahih Al-Jami’ No. 3625).
    32. Apakah anda berbuat baik kepada tetangga?
    33. Apakah anda telah membersihkan hati dari sombong, riya, hasad, dan dengki?
    34. Apakah anda telah membersihkan lisan dari dusta, mengumpat, mengadu domba, berdebat kusir dan berbuat serta berkata-kata yang tidak ada manfaatnya?
    35. Apakah anda takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal penghasilan, makanan dan minuman, serta pakaian?
    36. Apakah anda selalu bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan taubat yang sebenar-benarnya di segala waktu atas segala dosa dan kesalahan?

    Saudaraku ..

    Jawablah pertanyaan-pertanyaan di atas dengan perbuatan, agar kita  menjadi orang yang beruntung di dunia dan akhirat, inysa Allah.

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 11 November 2014 Permalink | Balas  

    Raihlah Cinta Allah 

    hidayah-allahRaihlah Cinta Allah

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Sudah menjadi fitrahnya, jika manusia diciptakan Allah SWT. menjadi makluk yang sempuna diantara semua ciptaan-NYA. Namun dibalik semua kelebihan yang dimilikinya, manusia dapat terjerambab kedalam jurang kehinaan, akibat dari kekhilafan, kesalahan yang memperturutkan hawa nafsu yang ditumpuk dalam keranjang dosa dan noda.

    Tetapi manakala si hamba datang menghadapkan muka menuju Sang Khalik pemilik rahmat dan rahim, dengan penuh penyesalan mengharap ampunan atas perbuatannya, maka yang hina bisa jadi mulia, yang fasik terangkat derajat menjadi mulia.Sesuai dengan firman Allah SWT. : (QS. 42:25)

    “Dia adalah Dzat yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya yang minta ampun atas kesalahan-kesalahnnya.”

    Hikmah dapat kita ambil dari kisah-kisah dibawah ini :

    Suatu hari ketika Khalifah Umar bin Khathab ra, menyusuri jalan-jalan kota Madinah, ia bertemu seorang pemuda yang lagi membawa botol dibawah bajunya. Khalifah berkata : “Botol apa yang kau bawa dibalik bajumu!”Sesungguhnya botol itu berisi arak. Si pemudah tersebut sangat malu dan takut gemetaran, sambil merintih dalam hati. “Ya Tuhanku, janganlah engkau membuat aku malu dihadapan Umar, maka aku berjanji tidak akan minum arak lagi selamanya.”

    Kemudian si pemuda baru berani berkata, “Wahai Amirrul mukminin, botol yang kubawa ini adalah cuka.”

    “Coba perlihatkan padaku agar aku bisa melihat”. Kemudian si pemuda membuka botol dihadapan Umar ra. dan ternyata berisi cuka.

    Renungkanlah sahabatku! Makluk yang bertobat hanya karena takut kepada makluk lain, itupun Allah merubah araknya bisa berubah cuka. Itu karena ikhlasnya bertobat kepada Allah. Andaikan ada orang ahli maksiat bertobat dengan tobat nashuha (sungguh-sungguh tobat) dan menyesali dosa-dosanya, maka Allah akan mengganti semua kemaksiatannya menjadi (pahala) ketaatan, sebagaimana Allah mengganti arak menjadi cuka.

    Hikayah : Utbah Al Ghulam.

    Utbah Al-Ghulam adalah orang yang berasal dari golongan fasik. Ia sangat terkenal sebagi orang yang bejat, rusak, dan amat gemar dengan mabuk-mabukkan. Suatu hari ia memasuki pengajian Majelis Taklim Hasan Al Bashri, yang tengah membaca ayat Allah ;

    “Apakah belum datang waktunya orang-orang beriman untuk menundukkan hati mereka dalam mengingat Allah!“ (QS. 57 Al-Hadid : 16). Tidakkan hati mereka sudah sepatutnya takut!

    Suatu hari Syekh Hasan Al Bashri ra. memberikan nasehat menafsirkan ayat diatas dengan penafsiran yang amat menyentuh, sehingga banyak orang menangis. Serta merta berdirilah seorang pemuda, lalu berkata; “Wahai orang yang bertakwa dan beriman, apakah Allah masih menerima tobatnya yang lemah dan fasik seperti aku! ”

    Syekh Hasan berkata, “Bisa. Allah menerima tobat akan kejahatanmu.” Utbah Al Ghulam mendengarkan saja langsung wajahnya pucat, tubuhnya gemetar, ia berteriak keras dan langsung pingsan.

    Ketika Ghulam sadar dari pingsanya, Kyai Hasan mendekatinya dan mengucapkan syair-syair dibawah ini :

    “Wahai pemuda maksiat, kepada Tuhan yang memiliki Arsy : Mengertikah engkau balasannya orang yang berbuat maksiat! Adalah neraka syi’ir bagi mereka, ia memiliki suara nyala api : menggelegar disaat ubun-ubun terpegang. Kalau engkau menerima neraka-neraka itu, silahkan berbuat maksiat ; bila tidak. jauhilah kemaksiatan. Semua kesalahan yang engkau kerjakan ; itu berarti engkau sudah menggadaikan dirimu (di Neraka), maka bersungguh- sungguhlah untuk melepaskan diri.”

    Dan Utbah Ghulam berteriak lebih lantang, ia pun jatuh pingsan kedua kalinya. Ketika sadar, ia berkata kepada syeikh Hasan Al-Basri ra. “Wahai syeikh, apakah benar Tuhan Yang Maha Penyayang menerima tobatnya orang seperti aku!”

    Syekh menjawab, “Tiada Dzat yang mampu menerima tobat orang yang menyimpang kecuali Tuhan Yang Maha Memaafkan.”

    Kemudian Utbah Al Ghulam mengangkat kepalanya ke atas sambil melafadzkan tiga doa :

    1. Tuhanku, Engkau menerima taubatku dan mengampuni dosa dosaku, maka muliakan aku dengan mudah faham dan hafal, lalu aku bisa menghafal dan memahami yang kudengar mengenai ilmu atau Al-Qur’an.
    2. Tuhanku, muliakan aku dengan suara merdu, sehingga yang mendengar bacaanku semakin lunak hatinya sekalipun dia memiliki hati sekeras batu.
    3. Tuhanku, berikan rizki yang halal padaku dari jalan yang tidak aku duga duga.

    Allah SWT. pun mengabulkan doanya, dia mudah paham dan hafal, setiap orang yang mendengar bacaan Al-Qur’an langsung tobat, dan setiap harinya pasti ada semangkuk kuah dan dua potong roti tanpa tahu siapa yang menaruh di depan rumahnya. Hal ini terus menerus sampai ia meninggal, dalam kedaan telah menjadi seorang Aulia Allah.

    Inilah keadaan orang yang benar-benar kembali ke jalan Allah, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala kebajikan dari perbuatan bagusnya. Sebagian ulama ada yang ditanya begini, “Apakah hamba yang bertobat mengerti, adakah tobatnya diterima atau tidak!”

    Jawabnya, “Dalam hal ini tidak ada putusan hukum secara pasti, akan tetapi semuanya memiliki tanda-tanda ;

    1. Ia melihat dirinya jauh dan terhindar dari maksiat.
    2. Ia merasakan hatinya selalu gembira, dan rasanya Tuhan sangat dekat sekali.
    3. Ia dekat dengan orang orang baik dan jauh dari orang-orang yang ahli berdosa, maka ia memandang segi dunia yang sedikit sudah terlalu banyak (puas), namun segi akhirat yang sudah banyak dikerjakan masih dianggap kecil (kurang).
    4. Dia menyibukan hatinya dengan sesuatu yang diwajibkan Allah Ta’ala.
    5. Ia menjaga lisannya ( tidak berkata kotor), selalu tafakur, dan selalu menyesali dosa-dosa yang pernah dikerjakan.”

    Ya Allah himpunkan kami ke dalam orang-orang yang selalu mengingat-MU, dan jauhkan kami dari siksaan kubur dan api neraka.

    Siramilah jiwa kami dengan Rahmat dan Kasih-Mu agar kami bisa menggapai Ridhomu.Tuntunlah hati kami untuk selalu beriman kepada-Mu, hingga kami kembali kepada-MU.

    Amin…….

    ***

    Sumber : Buku Rahasia Ketajaman Hati – Imam Ghazali.

    Wassalam

    Siti Nurjannah

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 10 November 2014 Permalink | Balas  

    Dzikrullah (Bagian 3) 

    dzikir 2Dzikrullah (Bagian 3)

    Sawaluddin Ukkas

    Keutamaan Mengucapkan La Ilaha Illallah Dengan Ikhlas

    Diterima dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda: Artinya: “Setiap seorang hamba mengucapkan La ilaha illallah dengan ikhlas, akan dibukakan baginya pintu-pintu langit hingga ia akan tembus ke ‘arasy, selama dosa-dosa besar dijauhinya”. (Riwayat Turmudzi).

    Juga diterima dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw, bersabda: Artinya: “Baru-baruilah keimanmu!” Ditanyakan orang: “Ya Rasulullah, bagaimana caranya kami membaru-barui keimanan kami itu?” Ujarnya: “Perbanyaklah membaca La ilaha illallah!”

    Dan diterima dari Jabir bahwa Nabi saw bersabda: Artinya: “Dzikir yang paling utama ialah La ilaha illallah, sedang do’a yang paling utama ialahAlhamdulillah”. (Diriwayatkan oleh Nasa’i dan Ibnu Majah, juga oleh Hakim yang mengatakan isnadnya sah).

    Keutamaan Membaca Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir dan Lain-Lain.

    Diterima dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw bersabda: Artinya “Ada dua kalimat yang ringan diucapkan lisan, tetapi berat timbangan dan disukai oleh Allah Yang Rahman, Yaitu: “Subhanallahi wa bihamdihi, Subhanallahir azhim”, artinya Maha suci Allah dan puji-pujian untukNya, dan Maha suci Allah yang Maha Besar”. (Riwayat Bukhari, Muslim dan Turmudzi).

    Juga dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw, bersabda: Artinya: “Bahwa mengucapkan “Subhanallah, walhamdu lillah, wala ilaha illallah, wallahu akbar”, (Maha suci Allah dan bagi Allah puji-pujian itu, tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah Maha Besar), lebih kusukai dari apa yang disinari matahari. (Riwayat Muslim dan Turmudzi).

    Diterima dari Abu Dzar ra. bahwa Nabi saw bersabda: Artinya: “Maukah kamu saya terangkan perkataan yang lebih disukai Allah?” Kata Abu Dzar: “Terangkanlah kepadaku, ya Rasulullah!” Sabdanya: “Subhanallahi wabihamdihi” (Maha suci Allah dan puji-pujian itu untukNya).

    Diterima dari Jabir ra. bahwa Nabi saw, bersabda: Artinya: “Barangsiapa yang mengucapkan “Subhanallahil ‘azhimi wabihamdih” (Mahasuci Allah Yang Mahabesar dan puji-pujian itu untukNya), akan ditanamkan untuknya sebatang pohon kurma dalam surga”. (Riwayat Turmudzi )

    Diterima dari Abdullah ra. bahwa Nabi saw bersabda: Artinya: “Pada malam saya diisrakkan saya ketemu dengan Ibrahim, Katanya “Hai Muhammad! Sampaikan salamku kepada ummatmu!, Dan terangkanlah kepada mereka bahwa surga itu subur tanahnya dan manis airnya, dan bahwa merupakan padang-padang yang terhampar luas, sedang kayu-kayu tanamannya ialah “Subhanallah walhamdulillah, wala ilaha illallah, wallahu akbar”. (Diriwayatkan oleh Turmudzi dan juga oleh Thabrani).

    Sumber: Fikih Sunnah, Sayyid Sabiq

    Wassalam Syawal

     
    • Sri Mariana Kusumastanto 6:22 am on 11 November 2014 Permalink

      Assmlkm wr wb…bisakah saya mendptkan artikel : Detik2 terakhir wafatnya Rasulullah..yg dikutip oleh Retno Wahyudiati ? Terimakasih.. Bag ketiga saja…krn terhapus wkt akan sharing.

      Sampaikan Walau Satu Ay

  • erva kurniawan 7:45 am on 9 November 2014 Permalink | Balas  

    Dzikrullah (Bagian 2) 

    dzikir 2Dzikrullah (Bagian 2)

    Sawaluddin Ukkas

    Hinggaan Bagi Banyak Berdzikir

    Allah yang Maha Agung sebutanNya itu, menitahkan kita agar dzikir kepadaNya sebanyak-banyaknya. Orang-orang yang berakal yang dapat menarik manfaat dari merenungkan tanda-tanda kebesaranNya, dilukiskan sebagai berikut: Artinya: “Yakni orang-orang dzikir kepada Allah baik di waktu sedang berdiri, ketika duduk dan di waktu berbaring”. (Ali Imram 191)

    Dan FirmanNya pula: Artinya: “Dan terhadap orang-orang yang banyak dzikir kepada Allah, baik laki-laki maupun perempuan, Allah menyediakan keampunan dan pahala yang besar“. (Al-Ahzab 35)

    Berkata Ali bin Abi Thalhah, menceritakan ucapan Ibnu Abbas ra. mengenai ayat-ayat tersebut diatas: “Allah Ta’ala tidak mewajibkan sesuatu atas hambaNya, kecuali dengan memberikan hinggaan tertentu, sedang bagi yang ‘uzur diberiNya kelonggaran , kecuali berdzikir. Mengenai ini , Allah tidak memberikan batas dimana seseorang harus berhenti. Dan Allah tidak memberikan suatu ke’uzuran buat meninggalkannya, kecuali bila ia terpaksa. FirmanNya: “Dzikirlah kepada Allah, di kala berdiri, di waktu duduk dan diwaktu berbaring!” baik siang maupun malam, di daratan maupun di lautan, di waktu mukim atau sedang bepergian, ketika kaya atau miskin, sehat atau sakit, secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan.

    Adab Berdzikir

    Tujuan berdzikir ialah mensucikan jiwa dan membersihkan hati serta membangunkan nurani. Hal inilah yang diisyaratkan oleh Firman Allah: Artinya: “Dan dirikanlah shalat, karena shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar dan dzikir kepada Allah itu lebih utama lagi.!” (Al-Ankabut 45).

    Artinya buat mencegah perbuatan keji dan mungkar, dzikir kepada Allah itu lebih ampuh lagi dari shalat. Sebabnya ialah karena orang yang dzikir itu, demi hatinya terbuka terhadap Tuhannya dan lidahnya lancar menyebutNya, maka Allah akan mengirimkan cahayaNya, hingga keimanannya akan bertambah, keyakinan akan berlipat ganda. Dengan demikian hatinya akan aman dan tenteram dan puas menerima kebenaran, sebagai firmanNya: Artinya: “Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka aman tenteram dengan dzikir kepada Allah. Ingatlah dzikir kepada Allah, maka hatipun akan merasa aman dan tenteram!” (Ar-Ro’d 28)

    Dan jika hati telah puas dan lega menerima kebenaran, maka ia akan menghadapkan perhatian kepada contoh teladan yang lebih tinggi dan akan berusaha buat mencapainya, tanpa dapat dihalangi oleh godaan-godaan nafsu, atau oleh rongrongan syahwat. Oleh karena itu kedudukan dzikir ini bukan soal remeh, sebaliknya amat penting dalam kehidupan manusia. Dan tidak masuk akal, jika hasil-hasil ini akan dapat terwujud dalam hanya dengan menyebutnya dibibir belaka. Karena gerakan lidah itu sedikit sekali faedahnya bila tidak cocok dengan sejalan dengan hati. Allah telah memberikan bimbingan mengenai tata tertib yang harus diturui seseorang bila ia sedang berdzikir, firmanNya: Artinya, “Dan dzikirlah kepada Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan tanpa mengeraskan suaramu, baik diwaktu pagi maupun petang hari, dan janganlah kamu termasuk orang yang lalai!”. (Al-A’raf 205)

    Ayat tersebut memberi pertanda bahwa dzikir itu disunatkan secara sir, artinya dengan tidak mengeraskan suara. Rasulullah saw mendengar segolong manasia yang berdo,a dengan suara keras dalam salah satu perjalanan, maka sabdanya: Artinya: “Hai manusia! Pelan-pelanlah dalam bersuara, karena kamu tidaklah menyeru orang yang tuli atau di tempat yang jauh. Yang kamu seru itu Maha Mendengar lagi Maha Dekat, bahkan lebih dekat lagi kepadamu dari leher kendaraannmu!”

    Sebagaimana ia memberi petunjuk agar dalam berdzikir itu seseorang hendaklah bersikap dalam keadaan harap-harap cemas. Diantara tata tertibnya lagi ialah agar orang yang berdzikir itu bersih pakaian dan suci badan serta harum baunya, karena dengan demikian akan menambah kegairahan, disamping sedapat mungkin menghadap kiblat. Karena sebaik-baik majlis ialah yang menghadap ke arah Kiblat

    ***

    Sumber: Fikih Sunnah, Sayyid sabiq.

    Wassalam

    Syawal

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 8 November 2014 Permalink | Balas  

    Dzikrullah (Bagian 1) 

    dzikir 2Berdzikir Kepada Allah

    Sawaluddin Ukkas

    Dzikir atau mengingat Allah, ialah apa yang dilakukan oleh hati dan lisan berupa tasbih atau mensucikan Allah Ta’ala, memuji dan menyanjungNya, menyebutkan sifat-sifat kebesaran dan keagungan serta sifat-sifat keindahan dan kesempurnaan yang telah dimilikiNya.

    1. Allah telah menitahkan kita agar banyak berdzikir, Firman Allah Artinya : Hai orang-orang yang beriman! Berdzikir kamu kepada Allah sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah padaNya diwaktu pagi maupun petang. (Al Ahzab 41 -42)
    2. Allah menyatakan bahwa Ia akan mengingat orang yang ingat atau berdzikir kepadaNya : Firman Allah, artinya : Berdzikirlah kamu kepadaKu, niscaya Aku akan ingat pula kepadamu ! (Al Baqarah 152).

    Dan dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Allah berfirman : “Aku ini adalah menurut dugaan hambaKu, dan Aku menyertainya di mana saja ia berdzikir kepadaKu. Jika ia berdzikir atau ingat padaKu dalam hatinya, maka Aku akan ingat pula padanya dalam hatiKu dan dan kalau mengingatKu di depan umum, maka Aku akan mengingatnya pula di depan khalayak yang lebih baik. Dan seandainya ia mendekatkan dirinya kepadaKu sejengkal, Aku akan mendekatkan diriKu kepadanya sehasta, dan jika ia mendekat kepadaKu sehasta, Aku akan mendekatkan diriKu kepadanya sedepa, dan jika ia datang kepadaKu secara berjalan kaki, Aku akan datang padanya dengan berlari”.

    1. Allah SWT, telah menetapkan ahli dzikir itu sebagai golongan istimewa dan terkemuka. Sabda Rasulullah saw. : Artinya, “Telah majulah orang-orang yang istimewa !” Tanya mereka : “Siapakah orang-orang yang istimewa itu ?” Ujarnya : “Mereka ialah orang-orang yang berdzikir kepada Allah, baik laki-laki maupun wanita”. (Hadits riwayat : Muslim)
    2. Orang-orang yang berdzikir itulah pada hakikatnya orang-orang yang hidup. Diterima dari Abu Musa bahwa Nabi saw bersabda : Artinya, “Perumpamaan orang-orang yang dzikir kepada Allah dengan yang tidak, adalah seperti orang yang hidup dengan yang mati !” (Riwayat Bukhari).
    3. Berdzikir merupakan pokok pangkal amal-amal saleh, maka barang siapa diberi taufik untuk melakukannya, ia telah diberi kesempatan untuk menjadi wali Allah. Oleh sebab itulah Rasul saw selalu dzikir kepada Allah setiap saatnya, dan pernah berpesan kepada seorang laki-laki yang mengatakan kepadanya ” Mengenai syari’at-syariat Islam telah banyak anda sebutkan padaku. Sekarang sebutkan pula padaku sesuatu yang harus aku pegang teguh !” Maka ujar Nabi saw : Artinya : “Mulutmu tidak akan kering disebabkan dzikir kepada Allah”. dan kepada sahabat-sahabatnya dipesankan : “Maukan kamu saya tunjukkan yang lebih utama dan lebih suci di sisi Tuhanmu, lebih meningkatkan derajatmu dan lebih berharga dari menafkahkan emas dan perak, bahkan lebih baik dari menghadapi menghadapi musuhmu dimana kamu akan berusaha akan menebas leher mereka, sebaliknya mereka berusaha akan menebas lehermu?” “Mau”, wahai Rasulullah”, ujar mereka. Maka sabdanya : “Yaitu berdzikir kepada Allah !” (Diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, juga oleh Hakim yang menyatakan isnadnya sah).
    4. Ia juga merupakan jalan kebebasan, yakni dari siksa. Diterima dari Mu’adz ra. bahwa Nabi saw. bersabda : ” Tidak satupun amal yang dikerjakan oleh anak cucu Adam, yang lebih membebaskan dari siksa Allah dari pada dzikir kepada Allah ‘azza wajallah”. (Riwaya Ahmad).

    Sumber : Fikih Sunnah, Sayyid Sabiq

    Wassalam

    Syawal

     
  • erva kurniawan 2:44 am on 7 November 2014 Permalink | Balas  

    Keimanan Ja’far bin Abi Talib 

    Reciting-QuranKeimanan Ja’far bin Abi Talib

    Oleh: Ayah Raihan

    Bismillahirrahmanirrahiim

    Assalamu’alaikum warahhmatullahi wabarakatuhu,

    Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At Taubah 9:100)

    Dari Abu Said Al-Khudri ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Jangan kalian mencaci maki/menghina para shahabatku, karena seandainya salah seorang diantara kalian berinfaq emas sebanyak gunung Uhud tak akan dapat menyamai derajat salah seorang diantara mereka, bahkan separuhnyapun tidak”. (HSR Bukhari, HSR Muslim, HSR Ahmad, HSR Abu Dawud dan HSR Tirmidzi).

    Dan kemudian daripada itu, saya ingin menuliskan ulang suatu kisah tentang keimanan seorang Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tulisan ini merupakan rangkuman dari berbagai sumber seperti Sirah Nabawiyah karya Syaikh Safiyurrahman, Muhammad karya Muhammad Husein Haykal dan Rijal Haular Rasul karya Khalid Muhammad Khalid. Saya harapkan dengan membaca kisah ini kita dapat mengambil teladan dari keimanan seorang Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Berikut kisahnya:

    Pada permulaan Islam, umat muslim yang pada saat itu jumlahnya masih sangat sedikit selalu mengalami ganguan, siksaan dan kekejaman kaum kafir quraisi. Melihat keadaan ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan kepada sahabat-sahabatnya untuk hijrah dari kota makkah. Pada saat itu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan kepada sahabat-sahabatnya agar berhijrah ke Abisinia (Etiopia), sebuah negri kaum nasrani yang pada saat itu diperintah oleh Najasyi (Negus). “Tempat itu diperintah seorang raja dan tak ada orang yang dianiaya disitu. Itu bumi jujur; sampai nanti Allah membukakan jalan buat kita semua.” Didalam rombongan itu terdapat pula Ja’far bin Abi Talib, seorang sahabat yang mulia yang keimanannya sanggup mengalahkan kekhawatiranya tentang keselamatan jiwa dan raganya dan juga keselamatan kaum muslimin yang turut berhijrah ke Abisinia.

    Kisah keteguhan iman Ja’far bin Abi Talib ini dimulai ketika kaum quraisy tidak rela kaum muslimin bisa lepas dari cengkramannya. Mereka sangat khawatir jika kaum muslimin dibiarkan lolos ke negri lain akan mengakibatkan hal yang tidak baik bagi kedudukan mereka. Oleh karena itulah, mereka kemudian mengutus diplomat mereka yang sangat handal dan penuh dengan tipu muslihat yaitu ‘Amr bin’l-‘Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’a (pada saat itu masih musyrik).

    Kepada Najasyi (Negus) dan pembesar-pembesar Nasrani di Abisinia, mereka memberikan hadiah-hadiah yang melimpah guna memuluskan keinginan mereka agar Najasyi berkenan mengembalikan kaum muslimin ke Mekkah.

    Mereka berkata kepada Najasyi:

    “Paduka Raja, mereka datang ke negeri paduka ini adalah budak-budak kami yang tidak punya malu. Mereka meninggalkan agama bangsanya dan tidak pula menganut agama paduka; mereka membawa agama yang mereka ciptakan sendiri, yang tidak kami kenal dan tidak juga paduka. Kami diutus kepada paduka oleh pemimpin-pemimpin masyarakat mereka, oleh orang-orang tua, paman mereka dan keluarga mereka sendiri, supaya paduka sudi mengembalikan orang-orang itu kepada mereka. Mereka lebih mengetahui betapa orang-orang itu mencemarkan dan memaki-maki.”

    Kemudian Najasyi yang terkenal bijaksana ini memanggil kaum muslimin yang hijrah ke negrinya untuk dimintai keterangannya guna mendapatkan informasi yang seimbang.

    Najasyi berkata kepada kaum muslimin yang hijrah ke negrinya:

    “Agama apa ini yang sampai membuat tuan-tuan meninggalkan masyarakat tuan-tuan sendiri, tetapi tidak juga tuan-tuan menganut agamaku, atau agama lain?”

    Sebelumnya kaum muslimin telah bermusyawarah untuk memilih Ja’far bin Abi Talib sebagai juru bicara mereka. Maka kemudian dalam pertemuan dengan Najasyi itu Ja’far b. Abi Talib sebagai juru bicara kaum muslimin berkata:

    “Paduka Raja, ketika itu kami masyarakat yang bodoh, kami menyembah berhala, bangkaipun kami makan, segala kejahatan kami lakukan, memutuskan hubungan dengan kerabat, dengan tetanggapun kami tidak baik; yang kuat menindas yang lemah. Demikian keadaan kami, sampai Tuhan mengutus seorang rasul dari kalangan kami yang sudah kami kenal asal-usulnya, dia jujur, dapat dipercaya dan bersih pula. Ia mengajak kami menyembah hanya kepada Allah Yang Maha Esa, dan meninggalkan batu-batu dan patung-patung yang selama itu kami dan nenek-moyang kami menyembahnya. Ia menganjurkan kami untuk tidak berdusta untuk berlaku jujur serta mengadakan hubungan keluarga dan tetangga yang baik, serta menyudahi pertumpahan darah dan perbuatan terlarang lainnya. Ia melarang kami melakukan segalah kejahatan dan menggunakan kata-kata dusta, memakan harta anak piatu atau mencemarkan wanita-wanita yang bersih. Ia minta kami menyembah Allah dan tidak mempersekutukanNya. Selanjutnya disuruhnya kami melakukan salat, zakat dan puasa. (Lalu disebutnya beberapa ketentuan Islam). Kami pun membenarkannya. Kami turut segala yang diperintahkan Allah. Lalu yang kami sembah hanya Allah Yang Tunggal, tidak mempersekutukan-Nya dengan apa dan siapa pun juga. Segala yang diharamkan kami jauhi dan yang dihalalkan kami lakukan. Karena itulah, masyarakat kami memusuhi kami, menyiksa kami dan menghasut supaya kami meninggalkan agama kami dan kembali menyembah berhala; supaya kami membenarkan segala keburukan yang pernah kami lakukan dulu. Oleh karena mereka memaksa kami, menganiaya dan menekan kami, mereka menghalang-halangi kami dari agama kami, maka kamipun keluar pergi ke negeri tuan ini. Tuan jugalah yang menjadi pilihan kami. Senang sekali kami berada di dekat tuan, dengan harapan di sini takkan ada penganiayaan.”

    Lalu Najasyi bertanya:

    “Adakah ajaran Tuhan yang dibawanya itu yang dapat tuan-tuan bacakan kepada kami?”

    Kemudian Ja’far bin Abi Talib menjawab “YA” dan ia membacakan Alqur’an Surat Maryam dari ayat 1 sampai ayat 33.

    Setelah mendengar ayat-ayat suci Alqur’an dibacakan kepadanya, maka Najasyi-pun menyadari bahwa kata-kata itu bersumber dari sumber yang sama dengan kata-kata yang diucapkan oleh Isa bin Maryam. Maka demi didengarnya kenyataan ini Najasyi-pun menolak permintaan dua utusan kaum quraisyi untuk mengembalikan kaum muslimin ke makkah.

    Setelah mendengar penolakan Najasyi, kedua utusan kaum kafir quraisyi merasa sangat terpukul sekali. Mereka berdua kemudian berpikir keras untuk melakukan muslihat guna melunnakkan hati Najasyi. Sampai akhirnya ‘Amr bin’l-‘Ash menemukan ide yang sangat briliant yang bukan hanya bisa menyebabkan Najasyi mengusir kaum muslimin dari negrinya tetapi bisa jadi akan menyebabkan Najasyi mengambil tindakan yang sangat tegas dan keras terhadap kaum muslimin. Semula Abdullah bin Abi Rabi’a tidak setuju dengan ide rekanya tersebut, sebab ia sangat menyadari bahwa ide tersebut bisa mencelakakan kaum muslimin sementara diantara kaum muslimin tersebut terdapat juga sanak saudaranya. Tetapi akhirnya ia menjadi luluh dengan kemauan ‘Amr bin’l-‘Ash yang hendak melakukan muslihat kejam terhadap kaum muslimin. Maka keesokan harinya mereka menghadap kepada Najasyi dan melontarkan pernyataan bahwa kaum muslimin telah mengeluarkan tuduhan yang luar biasa terhadap Isa bin Maryam.

    Maka demi didengarnya hal ini oleh Najasyi, seketika itu juga Najasyi memerintahkan untuk memanggil kaum muslimin ke hadapannya guna dimintai keterangan.

    Setelah mendengar pertanyaan Najasyi tentang Isa bin Maryam, maka Ja’far bin Abi Talib menjadi sangat khawatir, beliau sangat menyadari bahwa jika beliau mengatakan yang sebenarnya tentang Isa bin Maryam seperti yang terdapat dalam Alqur’an maka bisa jadi hal ini akan dapat mencelakakan keselamatan seluruh kaum muslimin yang berhijrah ke Abisinia. Beliau sangat menyadari bahwa beliau dan juga seluruh kaum muslimin yang hijrah ke Abisinia hanyalah pengungsi yang dengan budi baik Najasyi dapat menetap secara sementara di negri Abisinia yang mayoritas beragama Nasrani. Beliau juga sangat memahami budi baik penduduk Abisinia yang telah membolehkannya mengungsi di negri Abisinia. Jika beliau berkata jujur, maka bisa jadi akan menimbulkan kemarahan yang sangat luar biasa dari Najasyi dan seluruh penduduk Abisinia yang beragama Nasrani. Tetapi sebaliknya jika beliau mengatakan sesuatu yang hanya dapat menyenangkan Najasyi maka Ia akan mendapatkan murka Allah. Kedudukan Ja’far bin Abi Talib menyebabkan dirinya menjadi sangat terpojok diantara dua pilihan yang sangat menyulitkannya. Tetapi Ja’far bin Abi Talib adalah termasuk salah seorang pendahulu yang terlebih dahulu masuk Islam, yang beriman ketika kebanyakan manusia masih kafir, maka keimanannya yang begitu tangguh ini tidak dapat diragukan lagi, maka dengan mantap dan tanpa keraguan Ia berkata kepada Najasyi:

    “Tentang dia pendapat kami seperti yang dikatakan Nabi kami: ‘Dia adalah hamba Allah dan UtusanNya, RuhNya dan FirmanNya yang disampaikan kepada Perawan Mariam.”

    Seketika itu juga seluruh pembesar-pembesar Nasrani disekeliling Najasyi menjadi hiruk pikuk setelah mendengar pernyataan dari Ja’far bin Abi Talib. Tapi Najasyi adalah seorang yang arif dan bijaksana yang tidak terpengaruh oleh hiruk pikuk pendeta-pendeta Nasrani disekelilingnya. Beliau melihat pernyataan Ja’far bin Abi Talib ini dari sisi yang sangat bijaksana bahwa memang begitulah apa yang dinyatakan Isa bin Maryam tentang dirinya. Kemudian Najasyi membuat sebuah garis seraya berkata:

    “Antara agama tuan-tuan dan agama kami sebenarnya tidak lebih dari garis ini.”

    Kemudian Najasyi kembali menolak permintaan kedua utusan quraisyi untuk mengusir kaum muslimin dari Abisinia dan beliau bahkan mengembalikan seluruh hadiah yang diperolehnya dari dua utusan tersebut.

    Maka akhirnya kaum muslimin dapat tinggal di Abisinia dengan aman dan tentram. Mereka tetap tinggal di Abisinia selama beberapa tahun sampai penaklukan khaibar. Selama tinggal di Abisinia, kaum muslimin tinggal dengan damai dengan penduduk Abisinia yang Nasrani. Kaum muslimin menjalankan ibadah sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah. Mereka tetap teguh imannya dan tak hendak mencampuri urusan agama Nasrani. Mereka juga tidak mengucapkan selamat hari raya kepada penduduk Abisinia yang Nasrani walaupun mereka adalah pengungsi yang telah mendapatkan budi baik dari penduduk Abisinia yang beragama Nasrani. Hal ini adalah karena mereka, kaum muslimin, para pendahulu yang telah lebih dulu masuk Islam ini tak hendak merusak keimanannya dengan mencampur adukkan ajaran agama walaupun hanya sebatas pada ucapan selamat hari raya sekalipun. Tidak mungkin bagi mereka yang telah mempertaruhkan keselamatannya ketika mereka menjawab pertanyaan soal Isa bin Maryam akan menjadi “lembek” hanya karena alasan “sempit” seperti “balas budi”, “toleransi”, “kerukunan hidup beragama” dan atau yang lainnya.

    Itulah penggalan kisah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, yang keimanannya sanggup mengalahkan kekhawatirannya tentang keselamatan jiwa dan raganya dan juga keselamatan seluruh kaum muslimin yang turut berhijrah ke Abisinia. Mudah-mudahan dengan membaca kisah Ja’far bin Abi Talib ini kita dapat mengambil suatu pelajaran yang sangat berharga yaitu bahwa keimanan yang sempurna itu tidak hanya dibibir saja tetapi juga harus diyakini dalam hati dan diikuti dengan perbuatan yang benar yaitu dengan mengatakan yang hak apapun keadaannya dan tidak goyah oleh alasan-alasan “sempit” seperti “balas budi”, “toleransi”, “kerukunan hidup beragama”, “pluralisme” dan lain sebagainya.

    Wallahu’alam.

    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhu,

    Hamba Allah

    Maraji’:

    1. Terjemahan Alqur’an Departement Agama RI.
    2. Sirah Nabawiyah karya Syaikh Safiyurrahman.
    3. Muhammad karya Muhammad Husein Haykal.
    4. Perihidup Enam Puluh Shahabat Rasulullah karya Khalid Muhammad Khalid.
     
  • erva kurniawan 8:41 am on 6 November 2014 Permalink | Balas  

    Berpikir 

    otak manusiaBerpikir

    Harun Yahya

    Banyak yang beranggapan bahwa untuk “berpikir secara mendalam”, seseorang perlu memegang kepala dengan kedua telapak tangannya, dan menyendiri di sebuah ruangan yang sunyi, jauh dari keramaian dan segala urusan yang ada. Sungguh, mereka telah menganggap “berpikir secara mendalam” sebagai sesuatu yang memberatkan dan menyusahkan. Mereka berkesimpulan bahwa pekerjaan ini hanyalah untuk kalangan “filosof”.

    Padahal, sebagaimana telah disebutkan dalam pendahuluan, Allah mewajibkan manusia untuk berpikir secara mendalam atau merenung. Allah berfirman bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada manusia untuk dipikirkan atau direnungkan:

    “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan (merenungkan) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS. Shaad, 38: 29).

    Yang ditekankan di sini adalah bahwa setiap orang hendaknya berusaha secara ikhlas sekuat tenaga dalam meningkatkan kemampuan dan kedalaman berpikir. Sebaliknya, orang-orang yang tidak mau berusaha untuk berpikir mendalam akan terus-menerus hidup dalam kelalaian yang sangat. Kata kelalaian mengandung arti “ketidakpedulian (tetapi bukan melupakan), meninggalkan, dalam kekeliruan, tidak menghiraukan, dalam kecerobohan”. Kelalaian manusia yang tidak berpikir adalah akibat melupakan atau secara sengaja tidak menghiraukan tujuan penciptaan diri mereka serta kebenaran ajaran agama. Ini adalah jalan hidup yang sangat berbahaya yang dapat menghantarkan seseorang ke neraka. Berkenaan dengan hal tersebut, Allah memperingatkan manusia agar tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang lalai:

    “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raaf, 7: 205)

    “Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus. Dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak (pula) beriman.” (QS. Maryam, 19: 39)

    Dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan tentang mereka yang berpikir secara sadar, kemudian merenung dan pada akhirnya sampai kepada kebenaran yang menjadikan mereka takut kepada Allah. Sebaliknya, Allah juga menyatakan bahwa orang-orang yang mengikuti para pendahulu mereka secara taklid buta tanpa berpikir, ataupun hanya sekedar mengikuti kebiasaan yang ada, berada dalam kekeliruan. Ketika ditanya, para pengekor yang tidak mau berpikir tersebut akan menjawab bahwa mereka adalah orang-orang yang menjalankan agama dan beriman kepada Allah. Tetapi karena tidak berpikir, mereka sekedar melakukan ibadah dan aktifitas hidup tanpa disertai rasa takut kepada Allah. Mentalitas golongan ini sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an:

    Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.”

    Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?”

    Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.”

    Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.”

    Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu (disihir)?”

    “Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.” (QS. Al-Mu’minuun, 23: 84-90)

    Berpikir dapat membebaskan seseorang dari belenggu sihir Dalam ayat di atas, Allah bertanya kepada manusia, “…maka dari jalan manakah kamu ditipu (disihir)?. Kata disihir atau tersihir di sini mempunyai makna kelumpuhan mental atau akal yang menguasai manusia secara menyeluruh. Akal yang tidak digunakan untuk berpikir berarti bahwa akal tersebut telah lumpuh, penglihatan menjadi kabur, berperilaku sebagaimana seseorang yang tidak melihat kenyataan di depan matanya, sarana yang dimiliki untuk membedakan yang benar dari yang salah menjadi lemah. Ia tidak mampu memahami sebuah kebenaran yang sederhana sekalipun. Ia tidak dapat membangkitkan kesadarannya untuk memahami peristiwa-peristiwa luar biasa yang terjadi di sekitarnya. Ia tidak mampu melihat bagian-bagian rumit dari peristiwa-peristiwa yang ada. Apa yang menyebabkan masyarakat secara keseluruhan tenggelam dalam kehidupan yang melalaikan selama ribuan tahun serta menjauhkan diri dari berpikir sehingga seolah-olah telah menjadi sebuah tradisi adalah kelumpuhan akal ini.

    Pengaruh sihir yang bersifat kolektif tersebut dapat dikiaskan sebagaimana berikut:

    Dibawah permukaan bumi terdapat sebuah lapisan mendidih yang dinamakan magma, padahal kerak bumi sangatlah tipis. Tebal lapisan kerak bumi dibandingkan keseluruhan bumi adalah sebagaimana tebal kulit apel dibandingkan buah apel itu sendiri. Ini berarti bahwa magma yang membara tersebut demikian dekatnya dengan kita, dibawah telapak kaki kita!

    Setiap orang mengetahui bahwa di bawah permukaan bumi ada lapisan yang mendidih dengan suhu yang sangat panas, tetapi manusia tidak terlalu memikirkannya. Hal ini dikarenakan para orang tua, sanak saudara, kerabat, teman, tetangga, penulis artikel di koran yang mereka baca, produser acara-acara TV dan professor mereka di universitas tidak juga memikirkannya.

    Ijinkanlah kami mengajak anda berpikir sebentar tentang masalah ini. Anggaplah seseorang yang telah kehilangan ingatan berusaha untuk mengenal sekelilingnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada setiap orang di sekitarnya. Pertama-tama ia menanyakan tempat dimana ia berada. Apakah kira-kira yang akan muncul di benaknya apabila diberitahukan bahwa di bawah tempat dia berdiri terdapat sebuah bola api mendidih yang dapat memancar dan berhamburan dari permukaan bumi pada saat terjadi gempa yang hebat atau gunung meletus? Mari kita berbicara lebih jauh dan anggaplah orang ini telah diberitahu bahwa bumi tempat ia berada hanyalah sebuah planet kecil yang mengapung dalam ruang yang sangat luas, gelap dan hampa yang disebut ruang angkasa. Ruang angkasa ini memiliki potensi bahaya yang lebih besar dibandingkan materi bumi tersebut, misalnya: meteor-meteor dengan berat berton-ton yang bergerak dengan leluasa di dalamnya. Bukan tidak mungkin meteor-meteor tersebut bergerak ke arah bumi dan kemudian menabraknya.

    Mustahil orang ini mampu untuk tidak berpikir sedetikpun ketika berada di tempat yang penuh dengan bahaya yang setiap saat mengancam jiwanya. Ia pun akan berpikir pula bagaimana mungkin manusia dapat hidup dalam sebuah planet yang sebenarnya senantiasa berada di ujung tanduk, sangat rapuh dan membahayakan nyawanya. Ia lalu sadar bahwa kondisi ini hanya terjadi karena adanya sebuah sistim yang sempurna tanpa cacat sedikitpun. Kendatipun bumi, tempat ia tinggal, memiliki bahaya yang luar biasa besarnya, namun padanya terdapat sistim keseimbangan yang sangat akurat yang mampu mencegah bahaya tersebut agar tidak menimpa manusia. Seseorang yang menyadari hal ini, memahami bahwa bumi dan segala makhluk di atasnya dapat melangsungkan kehidupan dengan selamat hanya dengan kehendak Allah, disebabkan oleh adanya keseimbangan alam yang sempurna dan tanpa cacat yang diciptakan-Nya.

    Contoh di atas hanyalah satu diantara jutaan, atau bahkan trilyunan contoh-contoh yang hendaknya direnungkan oleh manusia. Di bawah ini satu lagi contoh yang mudah-mudahan membantu dalam memahami bagaimana “kondisi lalai” dapat mempengaruhi sarana berpikir manusia dan melumpuhkan kemampuan akalnya.

    Manusia mengetahui bahwa kehidupan di dunia berlalu dan berakhir sangat cepat. Anehnya, masih saja mereka bertingkah laku seolah-olah mereka tidak akan pernah meninggalkan dunia. Mereka melakukan pekerjaan seakan-akan di dunia tidak ada kematian. Sungguh, ini adalah sebuah bentuk sihir atau mantra yang terwariskan secara turun-temurun. Keadaan ini berpengaruh sedemikian besarnya sehingga ketika ada yang berbicara tentang kematian, orang-orang dengan segera menghentikan topik tersebut karena takut kehilangan sihir yang selama ini membelenggu mereka dan tidak berani menghadapi kenyataan tersebut. Orang yang mengabiskan seluruh hidupnya untuk membeli rumah yang bagus, penginapan musim panas, mobil dan kemudian menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah yang bagus, tidak ingin berpikir bahwa pada suatu hari mereka akan mati dan tidak akan dapat membawa mobil, rumah, ataupun anak-anak beserta mereka. Akibatnya, daripada melakukan sesuatu untuk kehidupan yang hakiki setelah mati, mereka memilih untuk tidak berpikir tentang kematian.

    Namun, cepat atau lambat setiap manusia pasti akan menemui ajalnya. Setelah itu, percaya atau tidak, setiap orang akan memulai sebuah kehidupan yang kekal. Apakah kehidupannya yang abadi tersebut berlangsung di surga atau di neraka, tergantung dari amal perbuatan selama hidupnya yang singkat di dunia. Karena hal ini adalah sebuah kebenaran yang pasti akan terjadi, maka satu-satunya alasan mengapa manusia bertingkah laku seolah-olah mati itu tidak ada adalah sihir yang telah menutup atau membelenggu mereka akibat tidak berpikir dan merenung.

    Orang-orang yang tidak dapat membebaskan diri mereka dari sihir dengan cara berpikir, yang mengakibatkan mereka berada dalam kelalaian, akan melihat kebenaran dengan mata kepala mereka sendiri setelah mereka mati, sebagaimana yang diberitakan Allah kepada kita dalam Al-Qur’an :

    “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.” (QS. Qaaf, 50: 22)

    Dalam ayat di atas penglihatan seseorang menjadi kabur akibat tidak mau berpikir, akan tetapi penglihatannya menjadi tajam setelah ia dibangkitkan dari alam kubur dan ketika mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya di akhirat.

    Perlu digaris bawahi bahwa manusia mungkin saja membiarkan dirinya secara sengaja untuk dibelenggu oleh sihir tersebut. Mereka beranggapan bahwa dengan melakukan hal ini mereka akan hidup dengan tentram. Syukurlah bahwa ternyata sangat mudah bagi seseorang untuk merubah kondisi yang demikian serta melenyapkan kelumpuhan mental atau akalnya, sehingga ia dapat hidup dalam kesadaran untuk mengetahui kenyataan. Allah telah memberikan jalan keluar kepada manusia; manusia yang merenung dan berpikir akan mampu melepaskan diri dari belenggu sihir pada saat mereka masih di dunia. Selanjutnya, ia akan memahami tujuan dan makna yang hakiki dari segala peristiwa yang ada. Ia pun akan mampu memahami kebijaksanaan dari apapun yang Allah ciptakan setiap saat.

    Seseorang dapat berpikir kapanpun dan dimanapun Berpikir tidaklah memerlukan waktu, tempat ataupun kondisi khusus. Seseorang dapat berpikir sambil berjalan di jalan raya, ketika pergi ke kantor, mengemudi mobil, bekerja di depan komputer, menghadiri pertemuan dengan rekan-rekan, melihat TV ataupun ketika sedang makan siang. Misalnya: di saat sedang mengemudi mobil, seseorang melihat ratusan orang berada di luar. Ketika menyaksikan mereka, ia terdorong untuk berpikir tentang berbagai macam hal. Dalam benaknya tergambar penampilan fisik dari ratusan orang yang sedang disaksikannya yang sama sekali berbeda satu sama lain. Tak satupun diantara mereka yang mirip dengan yang lain. Sungguh menakjubkan: kendatipun orang-orang ini memiliki anggota tubuh yang sama, misalnya sama-sama mempunyai mata, alis, bulu mata, tangan, lengan, kaki, mulut dan hidung; tetapi mereka terlihat sangat berbeda satu sama lain. Ketika berpikir sedikit mendalam, ia akan teringat bahwa:

    Allah telah menciptakan bilyunan manusia selama ribuan tahun, semuanya berbeda satu dengan yang lain. Ini adalah bukti nyata tentang ke Maha Perkasaan dan ke Maha Besaran Allah.

    Menyaksikan manusia yang sedang lalu lalang dan bergegas menuju tempat tujuan mereka masing-masing, dapat memunculkan beragam pikiran di benak seseorang. Ketika pertama kali memandang, muncul di pikirannya: manusia yang jumlahnya banyak ini terdiri atas individu-individu yang khas dan unik. Tiap individu memiliki dunia, keinginan, rencana, cara hidup, hal-hal yang membuatnya bahagia atau sedih, serta perasaannya sendiri. Secara umum, setiap manusia dilahirkan, tumbuh besar dan dewasa, mendapatkan pendidikan, mencari pekerjaan, bekerja, menikah, mempunyai anak, menyekolahkan dan menikahkan anak-anaknya, menjadi tua, menjadi nenek atau kakek dan pada akhirnya meninggal dunia. Dilihat dari sudut pandang ini, ternyata perjalanan hidup semua manusia tidaklah jauh berbeda; tidak terlalu penting apakah ia hidup di perkampungan di kota Istanbul atau di kota besar seperti Mexico, tidak ada bedanya sedikitpun. Semua orang suatu saat pasti akan mati, seratus tahun lagi mungkin tak satupun dari orang-orang tersebut yang akan masih hidup. Menyadari kenyataan ini, seseorang akan berpikir dan bertanya kepada dirinya sendiri: “Jika kita semua suatu hari akan mati, lalu apakah gerangan yang menyebabkan manusia bertingkah laku seakan-akan mereka tak akan pernah meninggalkan dunia ini? Seseorang yang akan mati sudah sepatutnya beramal secara sungguh-sungguh untuk kehidupannya setelah mati; tetapi mengapa hampir semua manusia berkelakuan seolah-olah hidup mereka di dunia tak akan pernah berakhir?”

    Orang yang memikirkan hal-hal semacam ini lah yang dinamakan orang yang berpikir dan mencapai kesimpulan yang sangat bermakna dari apa yang ia pikirkan.

    Sebagian besar manusia tidak berpikir tentang masalah kematian dan apa yang terjadi setelahnya. Ketika mendadak ditanya,”Apakah yang sedang anda pikirkan saat ini?”, maka akan terlihat bahwa mereka sedang memikirkan segala sesuatu yang sebenarnya tidak perlu untuk dipikirkan, sehingga tidak akan banyak manfaatnya bagi mereka. Namun, seseorang bisa juga “berpikir” hal-hal yang “bermakna”, “penuh hikmah” dan “penting” setiap saat semenjak bangun tidur hingga kembali ke tempat tidur, dan mengambil pelajaran ataupun kesimpulan dari apa yang dipikirkannya.

    Dalam Al-Qur’an, Allah menyatakan bahwa orang-orang yang beriman memikirkan dan merenungkan secara mendalam segala kejadian yang ada dan mengambil pelajaran yang berguna dari apa yang mereka pikirkan.

    “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Aali ‘Imraan, 3: 190-191).

    Ayat di atas menyatakan bahwa oleh karena orang-orang yang beriman adalah mereka yang berpikir, maka mereka mampu melihat hal-hal yang menakjubkan dari ciptaan Allah dan mengagungkan Kebesaran, Ilmu serta Kebijaksanaan Allah.

    Berpikir dengan ikhlas sambil menghadapkan diri kepada Allah Agar sebuah perenungan menghasilkan manfaat dan seterusnya menghantarkan kepada sebuah kesimpulan yang benar, maka seseorang harus berpikir positif. Misalnya: seseorang melihat orang lain dengan penampilan fisik yang lebih baik dari dirinya. Ia lalu merasa dirinya rendah karena kekurangan yang ada pada fisiknya dibandingkan dengan orang tersebut yang tampak lebih rupawan. Atau ia merasa iri terhadap orang tersebut. Ini adalah pikiran yang tidak dikehendaki Allah. Jika ridha Allah yang dicari, maka seharusnya ia menganggap bagusnya bentuk rupa orang yang ia lihat sebagai wujud dari ciptaan Allah yang sempurna. Dengan melihat orang yang rupawan sebagai sebuah keindahan yang Allah ciptakan akan memberikannya kepuasan. Ia berdoa kepada Allah agar menambah keindahan orang tersebut di akhirat. Sedang untuk dirinya sendiri, ia juga meminta kepada Allah agar dikaruniai keindahan yang hakiki dan abadi di akhirat kelak. Hal serupa seringkali dialami oleh seorang hamba yang sedang diuji oleh Allah untuk mengetahui apakah dalam ujian tersebut ia menunjukkan perilaku serta pola pikir yang baik yang diridhai Allah atau sebaliknya.

    Keberhasilan dalam menempuh ujian tersebut, yakni dalam melakukan perenungan ataupun proses berpikir yang mendatangkan kebahagiaan di akhirat, masih ditentukan oleh kemauannya dalam mengambil pelajaran atau peringatan dari apa yang ia renungkan. Karena itu, sangatlah ditekankan disini bahwa seseorang hendaknya selalu berpikir secara ikhlas sambil menghadapkan diri kepada Allah. Allah berfirman dalam Al-Qur’an :

    “Dia lah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan menurunkan untukmu rezki dari langit. Dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah).” (QS. Ghaafir, 40: 13).

    ***

    hyahya.org

    Nike Fatri LisiaJan

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 5 November 2014 Permalink | Balas  

    Menikmati Buah Ibadah 

    sholat 1Menikmati Buah Ibadah Assalamualaikum wr. wb. Wahai Saudari saudaraku yang dimuliakan Allah SWT. Ibadah adalah aktifitas jasmani dan ruhani bagi orang beriman yang dimanifestasikan dalam bentuk amaliyah dan dipersembahkan kepada Allah SWT. serta mencari keridhaan- NYA. Yang dimaksud ridha adalah ketaatan yang diterima oleh Allah SWT. karena ibadah tersebut dilaksanakan semata mata untuk mendapatkan anugerah dan diniatkan penuh keikhlasan, jauh dari sifat ‘ ujub. Orang yang ridha (suka dan senang) memberikan sesuatu kepada sesamanya, adalah orang yang artinya ia menyerahkan sesuatu tersebut dilakukan dengan hati rela, tidak karena mengharapkan balasan atau ingin mendapatkan pujian. Ridha dalam ibadah berarti melaksanakan ketaatan semata mata karena Allah. Tidak ada sesuatu yang menyertainya. Orang yang ridha dalam ibadahnya, maka Allah juga ridha dalam menerima persembahan ibadahnya dan memantapkan ketaatannya murni di sisi-NYA. Orang yang ridha dalam ibadah, Allah pun ridha kepadanya. Ketika seorang hamba telah menerima keridhaan Allah dari ibadahnya yang tulus, maka ia berada dalam suasana yang membahagiakan. Tumbuh cahaya dalam hatinya, karena keridhaan Allah memberikan cahaya bagi ruhaninya. Ia akan mendapatkan kenikmatan dan kelezatan dalam ibadah sebagai anugrah pertama di saat berada di dunia. Itulah buah ibadah. Hamba Allah yang telah mendapatkan kenikmatan dari ibadahnya, adalah tanda bahwa ibadahnya telah diterima oleh SWT. Kenikmatan dari buahnya ibadah hanya dapat dirasakan tatkala si hamba sedang melaksanakannya. Jika ia belum dapat merasakan lezat dan nikmatnya ibadah, berarti ibadah yang diamalkan belum menghasilkan buah. Ibadahnya baru pada kulitnya, belum masuk kepada kedalaman isinya, sehingga buah ibadah belum dinikmatinya. Seorang ahli tasawuf berkata : ” Saya telah melaksanakan shalat lail selama dua puluh tahun, dan barulah saya mendapatkan kenikmatannya pada tahun ke dua puluh.” Seorang sufi lainnya berkata : ” Saya telah melatih diri membaca Al-Qur’an selama dua puluh tahun. Setelah dua puluh itu barulah saya merasakan dan mengenyam kenikmatannya. ” (Berarti tahun kedua puluh dari pembacaan Al-Qur’annya itu). Para Ulama salaf menjelaskan : ” Bahwasanya halawah (lezat) dan nikmatnya membaca Al-Qur’an itu akan diperoleh apabila bacaannya dilaksanakan dengan tertib, memahami maknanya, dan seakan akan berada di hadapan Rasulullah SAW, seperti beliau sedang mengajar sahabat-sahabatnya. Demikian juga apabila seseorang sedang membaca shalawat, hendaknya ia membayangkan seakan-akan sedang berada di hadapan Rasulullah SAW. Ia meresapkan bacaan shalawat itu dengan tawadhu’ seakan-akan ia sedang berdialog dengan junjungan Nabi SAW. Karena shalawat yang diucapkannya, didengar oleh Nabi SAW. di dalam kuburnya. Demikian juga apabila ia sedang membaca zikir, atau menyebut asma asma Allah dengan perasaan dan hati tulus, menghidmati kebesaran Allah dengan sifat-sifat kesempurnaan-NYA. Hendaklah merasakan di kedalaman kalbunya akan keagungan Allah. Dengan cara ini ia akan merasakan nikmatnya berzikir. Seorang sufi lain berkata: ” Apabila seorang hamba bersungguh sungguh dalam ibadahnya niscaya ia akan merasakan halawah (manis) beribadah. Amal seperti inilah yang Insyah Allah akan terkabul. Ibadah yang tidak menimbulkan rasa halawah adalah ibadah yang belum bersih. Ibadah yang masih bercampur dengan kotoran-kotoran ujub dan ria. Allah SWT. mengingatkan : ” Hanyalah Allah akan menerima (ibadah) orang orang yang takwa.” (QS.Al-Maidah ayat 27). Semua amal ibadah yang dilaksanakan dengan penuh ketaatan dan dihiasi dengan keihlasan oleh seorang hamba, niscaya akan memunculkan kelezatan halawah, serta akan dianugerahkan untuknya buah ibadah di akhirat yang benar-benar indah. Sebaliknya, amal ibadah yang dilaksanakan dengan niat yang jauh dari ridha Allah, bercampur dengan kepentingan duniawi yang kotor, kemudian dihiasi dengan ujub dan ria, niscaya tidak memperoleh apa pun di dunia dan di akhirat dia akan menjadi orang yang bangrut/merugi. Walaupun demikian janganlah seorang hamba, merasa bangga atas amal ibadahnya, atau merasa puas, sebab perasaan demikian akan menodai amal ibadah dengan ujub dan ria. Akibatnya akan merusak amal. Selanjutnya ia tidak akan merasakan halawah dan kenikmatannya. *** Sumber : Diambil dari buku karya DJamaluddin Ahmad Al-Bunny. Kiriman: Dwi Nopitasari

     
  • erva kurniawan 4:06 am on 4 November 2014 Permalink | Balas  

    Menggunakan Logika untuk mencapai keimanan 

    sholat malamMenggunakan Logika untuk mencapai keimanan

    Mencapai Keimanan Dengan Logika

    Keimanan adalah keyakinan, yang dalam Islam wajib dicapai dengan penuh kesadaran dan pengertian, karena hanya dengan inilah kesetiaan tunggal pada Islam (tauhid) bisa diharapkan, seperti halnya seorang fisikawan yang telah yakin akan keakuratan instrumennya, sehingga ia pun segera berbuat sesuatu, begitu instrumen itu mengabarkan existensi radiasi atom yang tidak pernah bisa dideteksi oleh indera fisikawan itu sendiri.

    Fitrah manusia

    Sejak adanya manusia, manusia memiliki berbagai ciri-ciri (fitrah) yang membedakannya dari mahluk lain. Manusia memiliki intuisi untuk memilih dan tidak mau menyerah pada hukum-hukum alam begitu saja. Manusia bisa mengerjakan sesuatu yang berlawanan dengan nalurinya, misal makan meski sudah kenyang (karena menghormati tuan rumah), atau tidak melawan meski disakiti (karena menjaga perasaan orang). Hal ini tidak ada pada binatang. Seekor kucing yang sudah kenyang tak mau lagi mencicipi makanan yang enak sekalipun.

    Manusia memiliki kemampuan mewariskan kepada manusia lain (atau keturunannya) hal-hal baru yang telah dipelajarinya. Inilah asal peradaban manusia. Hal ini tidak terdapat pada binatang. Seekor kera yang terlatih main musik dalam circus tidak akan mampu melatih kera lainnya. Seekor kera hanya bisa melatih seekor anak kera pada hal-hal yang memang nalurinya (memanjat, mencari buah).

    Kesamaan manusia dengan binatang hanya pada kebutuhan eksistensialnya (makan, minum, istirahat dan melanjutkan keturunan).

    Manusia mencari hakekat hidupnya

    Manusia yang telah terpenuhi kebutuhan eksistensialnya akan mulai mempertanyakan, untuk apa sebenarnya hidup itu. Hal ini karena manusia memiliki kebebasan memilih, mau hidup atau mati. Karena faktor non naluriahnya, manusia bisa putus asa dan bunuh diri, sementara tidak ada binatang yang bunuh diri kecuali hal itu dilakukannya dalam rangka mempertahankan eksistensinya juga (pada lebah misalnya).

    Pertanyaan tentang hakekat hidup ini yang memberi warna pada kehidupan manusia, yang tercermin dalam kebudayaan, yang digunakannya untuk mencapai kepuasan ruhaninya.

    Manusia membutuhkan Tuhan

    Dalam kondisi gawat yang mengancam eksistensinya (misalnya terhempas ombak di tengah samudra, sementara pertolongan hampir mustahil diharapkan), fitrah manusia akan menyuruh untuk mengharapkan suatu keajaiban.

    Demikian juga ketika seseorang sedang dihadapkan pada persoalan yang sulit, sementara pendapat dari manusia lainnya berbeda-beda, ia akan mengharapkan petunjuk yang jelas yang bisa dipegangnya. Bila manusia tersebut menemukan seseorang yang bisa dipercayainya, maka dalam kondisi dilematis ini ia cenderung merujuk pada tokoh idolanya itu.

    Dalam kondisi seperti ini, setiap manusia cenderung mencari “sesembahan”. Mungkin pada kasus pertama, sesembahan itu berupa dewa laut atau sebuah jimat pusaka. Pada kasus kedua, “sesembahan” itu bisa berupa raja (pepunden), bisa juga berupa tokoh filsafat, pemimpin revolusi bahkan seorang dukun yang sakti.

    Tanda-tanda eksistensi Tuhan

    Di luar masalah di atas, perhatian manusia terhadap alam sekitarnya membuatnya bertanya, “Mengapa bumi dan langit bisa sehebat ini, bagaimana jaring-jaring kehidupan (ekologi) bisa secermat ini, apa yang membuat semilyar atom bisa berinteraksi dengan harmoni, dan dari mana hukum- hukum alam bisa seteratur ini”.

    Pada masa lalu, keterbatasan pengetahuan manusia sering membuat mereka cepat lari pada “sesembahan” mereka setiap ada fenomena yang tak bisa mereka mengerti (misal petir, gerhana matahari). Kemajuan ilmu pengetahuan alam kemudian mampu mengungkap cara kerja alam, namun tetap tidak mampu memberikan jawaban, mengapa semua bisa terjadi.

    Ilmu alam yang pokok penyelidikannya materi, tak mampu mendapatkan jawaban itu pada alam, karena keteraturan tadi tidak melekat pada materi. Contoh yang jelas ada pada peristiwa kematian. Meski beberapa saat setelah kematian, materi pada jasad tersebut praktis belum berubah, tapi keteraturan yang membuat jasad tersebut bertahan, telah punah, sehingga jasad itu mulai membusuk.

    Bila di masa lalu, orang mengembalikan setiap fenomena alam pada suatu “sesembahan” (petir pada dewa petir, matahari pada dewa matahari), maka seiring dengan kemajuannya, sampailah manusia pada suatu fikiran, bahwa pasti ada “sesuatu” yang di belakang itu semua, “sesuatu” yang di belakang dewa petir, dewa laut atau dewa matahari, “sesuatu” yang di belakang semua hukum alam.

    “Sesuatu” itu, bila memiliki sifat-sifat ini:

    1. Maha Kuasa
    2. Tidak tergantung pada yang lain
    3. Tak dibatasi ruang dan waktu
    4. Memiliki keinginan yang absolut

    maka dia adalah Tuhan, dan berdasarkan sifat-sifat tersebut tidak mungkin zat tersebut lebih dari satu, karena dengan demikian berarti satu sifat akan tereliminasi karena bertentangan dengan sifat yang lain.

    Tuhan berkomunikasi via utusan

    Kemampuan berfikir manusia tidak mungkin mencapai zat Tuhan. Manusia hanya memiliki waktu hidup yang terhingga. Jumlah materi di alam ini juga terhingga. Dan karena jumlah kemungkinannya juga terhingga, maka manusia hanya memiliki kemampuan berfikir yang terhingga. Sedangkan zat Tuhan adalah tak terhingga (infinity). Karena itu, manusia hanya mungkin memikirkan sedikit dari “jejak-jejak” eksistensi Tuhan di alam ini. Adalah percuma, memikirkan sesuatu yang di luar “perspektif” kita.

    Karena itu, bila tidak Tuhan sendiri yang menyatakan atau “memperkenalkan” diri-Nya pada manusia, mustahil manusia itu bisa mengenal Tuhannya dengan benar. Ada manusia yang “disapa” Tuhan untuk dirinya sendiri, namun ada juga yang untuk dikirim kepada manusia-manusia lain. Hal ini karena kebanyakan manusia memang tidak siap untuk “disapa” oleh Tuhan.

    Utusan Tuhan dibekali tanda-tanda

    Tuhan mengirim kepada manusia utusan yang dilengkapi dengan tanda-tanda yang cuma bisa berasal dari Tuhan. Dari tanda-tanda itulah manusia bisa tahu bahwa utusan tadi memang bisa dipercaya untuk menyampaikan hal- hal yang sebelumnya tidak mungkin diketahuinya dari sekedar mengamati alam semesta. Karena itu perhatian yang akan kita curahkan adalah menguji, apakah tanda-tanda utusan tadi memang autentik (asli) atau tidak.

    Pengujian autentitas inilah yang sangat penting sebelum kita bisa mempercayai hal-hal yang nantinya hanyalah konsekuensi logis saja. Ibarat seorang ahli listrik yang tugas ke lapangan, tentunya ia telah menguji avometernya, dan ia telah yakin, bahwa avometer itu bekerja dengan benar pada laboratorium ujinya, sehingga bila di lapangan ia dapatkan hasil ukur yang sepintas tidak bisa dijelaskanpun, dia harus percaya alat itu. Seorang fisikawan adalah seorang manusia biasa, yang dengan matanya tak mungkin melihat atom. Tapi bila ia yakin pada instrumentasinya, maka ia harus menerima apa adanya, bila instrumen tersebut mengabarkan jumlah radiasi yang melebihi batas, sehingga misalnya reaktor nuklirnya harus segera dimatikan dulu.

    Karena yakin akan autentitas peralatannya, seorang astronom percaya adanya galaksi, tanpa perlu terbang ke ruang angkasa, seorang geolog percaya adanya minyak di kedalaman 2000 meter, tanpa harus masuk sendiri ke dalam bumi, dan seorang biolog percaya adanya dinosaurus, tanpa harus pergi ke zaman purba.

    Keyakinan pada autentitas inilah yang disebut “iman”. Sebenarnya tak ada bedanya, antara “iman” pada autentitas tanda-tanda utusan Tuhan, dengan “iman”-nya seorang fisikawan pada instrumennya. Semuanya bisa diuji. Karena bila di dunia fisika ada alat yang bekerjanya tidak stabil sehingga tidak bisa dipercaya, ada pula orang yang mengaku utusan Tuhan tapi tanda- tanda yang dibawanya tidak kuat, sehingga tidak pula bisa dipercaya.

    Menguji autentitas tanda-tanda dari Tuhan

    Tanda-tanda dari Tuhan itu hanya autentis bila menunjukkan keunggulan absolut, yang hanya dimungkinkan oleh kehendak penciptanya (yaitu Tuhan sendiri). Sesuai dengan zamannya, keunggulan tadi tidak tertandingi oleh peradaban yang ada. Dan orang pembawa keunggulan itu tidak mengakui hal itu sebagai keahliannya, namun mengatakan bahwa itu dari Tuhan !!!

    Pada zaman Nabi Musa, ketika ilmu sihir sedang jaya-jayanya, Nabi Musa yang diberi keunggulan mengalahkan semua ahli sihir, justru mengatakan bahwa ia tidak belajar sihir, namun semuanya itu hanya karena ijin Tuhan semata.

    Demikian juga Nabi Isa, yang menyembuhkan penyakit yang tidak bisa disembuhkan, meski masyarakatnya merupakan yang termaju dalam ilmu pengobatan pada masanya. Toh Nabi Isa hanya mengatakan semua itu karena kekuasaan Tuhan semata, dan ia bukan seorang tabib.

    Dan Nabi Muhammad? Tanda-tanda beliau sebagai utusan yang utama adalah Al-Quran. Pada saat itu Mekkah merupakan pusat kesusasteraan Arab, tempat para sastrawan top mengadu kebolehannya. Dan meski pada saat itu semua orang takjub pada keindahan ayat-ayat Al-Quran yang jauh mengungguli semua puisi dan prosa yang pernah ada, Nabi Muhammad hanya mengatakan, ayat itu bukan bikinannya, tapi datangnya dari Allah.

    Itu 14 abad yang lalu. Pada masa kini, ketika ilmu alam berkembang pesat, terbukti pula, bahwa kitab Al-Quran begitu teliti. Tidak ada ayat yang saling bertentangan satu sama lain. Dan tak ada pula ayat Al-Quran yang tidak sesuai dengan fakta-fakta ilmu alam.

    Di sisi lain, fenomena pembawa ajaran itu juga menunjukkan sisi autentitasnya. Meski mereka:

    • orang biasa yang tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan, juga tidak join dengan penguasa atau yang bisa menjamin kesuksesannya;
    • menyebarkan ajaran yang melawan arus, bertentangan dengan tradisi yang lazim di masyarakatnya;

    mereka berhasil dengan ajarannya, dan keberhasilan ini sudah diramalkan lebih dulu pula, dan semua itu dikatakannya karena Tuhanlah yang menolongnya.

    Konsekwensi setelah meyakini autentitas tanda-tanda kenabian Muhammad

    Setelah kita menguji autentitas tanda-tanda kenabian Muhammad dengan menggunakan segala piranti logika yang kita miliki, dan kita yakin bahwa itu asli berasal dari Tuhan, maka kita harus menerima apa adanya yang disebutkan oleh kitab Al-Quran maupun oleh hadits yang memang teruji autentis berasal dari Muhammad.

    Dan ajaran Nabi Muhammad saw ini adalah satu-satunya ajaran autentis dari Allah, yang diturunkan kepada penutup para utusan, tidak tertuju ke satu bangsa saja, tapi ke seluruh umat manusia, sampai akhir zaman.

    ***

    Sumber : Eramuslim

     
  • erva kurniawan 3:42 am on 3 November 2014 Permalink | Balas  

    Menghindar diri dari Ghibah 

    ghibahMenghindar diri dari Ghibah

    Assalamualikum wr.wb.

    Wahai Saudaraku Sesama Muslim Yang Dimuliakan Allah SWT., dalam percakapan kita sehari hari seringkali tanpa kita sadari kita terjebak dalam pembicaan yang mengarah ke perbuatan menggunjing atau ghibah. Kalau mau jujur terutama kita perempuan, apabila dua atau tiga orang perempuan berkumpul, awal pembicaraan masih terasa mencakup sesuatu yang bersifat umum seperti resep masakan, model pakaian yang sedang ngetrend, atau hal hal yang berurusan dengan masalah kecantikan dan sebagainya. Tetapi selang beberapa saat kemudian pembicaraan mulai menjurus ke pribadi seseorang. Tentunya hal ini perlu kita waspadai, kalau tidak ingin jatuh dalam perbuatan dosa.

    Sudah pasti kita tidak akan mengijinkan seseorang menghidangkan jasad saudara kita yang sudah mati untuk kita makan. Tentu kita akan merasa jijik. Bisakah kita bayangkan bahwa apabila kita mengumpat saudara kita, maka itu seperti kita memakan dagingnya yang sudah menjadi bangkai? Perbuatan menggunjing (ghibah) termasuk dosa besar. Oleh karena itu, hindarilah perbuatan menggunjing pada semua kesempatan.

    Sebagai misal, jika kita hadir disuatu majelis dimana orang orang yang hadir sedang sibuk menggunjing seseorang, maka kita harus berani mengatakan kepada mereka, tentunya dengan cara yang pantas, bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah perbuatan menggunjing dan hukumnya haram. Hal ini memang terasa berat untuk kita lakukan, tapi marilah kita sama sama belajar untuk menertibkan diri dari perbuatan ghibah ini, diawali dari kita sendiri dan berusaha menerapkan pada lingkungan dekat, seperti keluarga, teman, kerabat dan seterusnya.

    Kenyataan yang banyak terjadi ialah, sebagian orang tatkala sedang bersama sama degan orang yang sedang menggunjing, dia malah ikut melakukannya. Terutama apabila dia dengan orang yang digunjingkan itu sedang ada masalah. Ia pun berpikir, inilah saat yang tepat untuk membalas dendam kepadanya lewat ucapan.

    Salah satu kisah pelajaran yang berkaitan dengan perbuatan ghibah adalah : Diceritakan bahwa salah seorang ulama mutakadim mendatangi suatu majelis. Didalam majelis tersebut orang orang yang hadir sedang membicarakan berbagai hal yang bercampur dengan ghibah. Baru saja jubah ulama tersebut menyentuh lantai majelis, dia cepat cepat bangkit meninggalkan majelis tersebut dengan perasaan sedih, sementara air mata membasahi kedua pipinya. Serentak orang orang yang hadir merasa heran. Salah seorang dari mereka cepat-cepat menemuinya dan bertanya, “Tuan yang mulia, apa yang menyebabkan anda meninggalkan majelis dan menangis? Apakah ada salah seorang dari kami yang menyakiti hatimu atau berlaku kurang ajar kepadamu?”

    Ulama tersebut menjawab, “Sesungguhnya saya tidak bersedia hadir disuatu majelis yang di dalamnya daging manusia dimakan!”

    Demikianlah ulama saleh tersebut mengungkapkan penolakan dirinya terhadap perbuatan ghibah. Yaitu, dengan meninggalkan majelis dan menangis karena perbuatan ghibah yang dilakukan kepada orang mukmin.

    Allah SWT. berfirman didalam surah Al-Hujarat ayat (12). “Dan janganlah kamu mencari cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sudahkah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? maka tentulah kamu merasa jijik karenanya.”

    Imam ‘Ali kw berkata, “Menggunjing adalah usaha orang yang lemah.” Imam Muhammad Al-Baqir as berkata, ” Termasuk ghibah adalah engkau mengatakan sesuatu tentang saudaramu yang Allah SWT. tutupi darinya……dan, merupakan perbuatan dusta apabila engkau mengatakan sesuatu tentang saudaramu yang tidak ada pada dirinya.”

    Ada baiknya perlahan lahan kita belajar menahan diri dari perbuatan ghibah ini, walau untuk sebagian orang dianggap sah sah saja, dengan berganti nama bergosip ria, atau ada yang berkata itu mah hanya ngerumpi biasa, mungkin terinspirasi dari berbagai publikasi infotainment yang selalu disajikan dunia pertelevisian kita, ataukah sesuatu yang mulai membudaya dalam kehidupan kita? padahal hal ini sangat dikecam keras oleh Junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW.

    Wawllahu’alam bishawab

    ***

    Sumber : Buku karya Khalil Al- Musawi

    Kiriman Sahabat Dwi Nopitasari

     
  • erva kurniawan 2:39 am on 2 November 2014 Permalink | Balas  

    Amalan Yang Menyelamatkan dari Api Neraka 

    sedekah 1Amalan Yang Menyelamatkan dari Api Neraka

    Wahai Saudaraku sesama Muslim, Abu Zdar ra. pernah berkata:

    Saya pernah bertanya pada Rasulullah SAW.: “Perbuatan apa yang bisa menyelamatkan orang dari api neraka?

    Beliau menjawab: “Iman kepada Allah”.

    Saya berkata lagi: “Wahai Nabi Allah, dengan iman itu tentu ada amal perbuatan?”.

    Jawab Beliau: “Hendaklah engkau sedekahkan apa apa yang diberikan Allah.”

    Saya bertanya lagi: “Wahai Nabi Allah, kalau orang orang itu fakir miskin, tidak memiliki sesuatu?”

    Beliau menjawab: “Lakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar”.

    Saya bertanya pula: “Kalau orang itu tidak bisa melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar?”.

    Beliau bersabda pula: “Suruhlah dia mengajar orang bodoh”.

    Saya bertanya lagi: “Jika orang itu tidak bisa melakukannya?”.

    “Suruhlah dia membela orang yang dizalimi orang”, sabda Nabi pula.

    Saya bertanya lagi: “Kalau orang itu tergolong lemah, tidak sanggup membela orang yang teraniaya?”.

    Beliau menjawab seraya bertanya: “Perbuatan apa yang engkau inginkan dari rekanmu itu untuk bekal kebajikan? ! Suruhlah dia jangan menyakiti hati orang lain”.

    Saya bertanya lagi: “Wahai Rasulullah, apakah perbuatan itu akan memasukannya ke dalam Surga?”.

    Lalu jawabnya lagi menegaskan: “Seorang mukmin yang telah mengerjakan salah satu dari perbuatan itu, akan dituntun masuk kedalam Surga”.

    Kami bisa membayangkan api neraka sebagai puncak siksaan lahir atau bathin yang ditimpakan kepada penjahat. Dan Surga sebagai suatu puncak penilaian kebajikan yang merupakan ganjaran lahir atau bathin pula, bagi orang orang yang beramal saleh di jalan Allah. Dalam hadist ini terlihat Rasulullah SAW. banyak menampilkan rahmat dan amal kebajikan, dan penilaian pahala tidaklah mensyaratkan orang harus mengerjakan semuanya. Melakukan satu saja, sudah cukup baik. Ya, hanya satu saja sudah bisa membawa si pelakunya ke puncak sana (Surga). Itulah makna kata kata agung yang diucapkan beliau pada penutup hadistnya itu. Demikianlah seperti yang diuraikan oleh Abu Zdar.

    Dalam kisah lain diceritakan oleh Rasulullah SAW. bagaikan seniman jenius, dimana beliau melukiskan pengertian rahmat itu dalam bentuk kisah yang indah dan menarik.

    “Seorang rahib dari Bani Israel telah beribadat pada Allah didalam sebuah biara selama enam puluh tahun. Pada suatu hari hujan pun turun dengan lebatnya dan pemandangan sekitarnya menjadi hijau. Sang rahib melepaskan pandangannya keluar biara seraya berkata: “Kalau aku turun keluar sambil berzikir menyebut nyebut nama Allah, tentulah akan menambah kebaikanku “.

    Diapun menuruni tangga sambil membawa dua potong roti. Sesampainya dia dibawah dia disambut oleh seorang wanita. Maka berbincang bincanglah mereka, dan dimabuk cinta serta tak sadarkan diri. Kemudian sang rahib pergi mandi ke sebuah kolam, lantas datanglah seorang peminta minta. Dia menunjuk pada dua potong rotinya agar si peminta minta mengambil makanan itu. Dan tiba tiba saja sang rahib meninggal dunia. Lalu ditimbangkanlah pengabdiannya selama enam puluh tahun itu dengan perbuatannya main dengan pelacur tersebut. Perbuatannya dengan sang pelacur ternyata mengalahkan semua kebaikannya. Kemudian pahala karena memberikan dua potong roti kepada si pengemis ditambahkan ke dalam pengabdiannya itu, maka ternyata timbangan kebaikannya menjadi lebih berat. Maka diapun diampuni ! “.

    Sungguh hebatnya Rasulullah SAW. meletakkan kedudukan rahmat pada puncak yang begitu agung, sehingga kita bisa melihat betapa Allah SWT. menimbang rahmat seseorang bukan dari besarnya, akan tetapi berdasarkan penampilan spiritual dari rahmat itu sendiri.

    Tiap karya seseorang sekalipun nampaknya kecil, bisa menyelamatkan orang itu dari bencana besar, seperti yang disabdakan Rasulullah: ” Perbuatan baik dapat mencegah menangnya keburukan”.

    ***

    Sumber: Diambil dari Buku Khalid Muhammad Khalid.

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 1 November 2014 Permalink | Balas  

    Khutbah Imam Katolik Yang Menggemparkan 

    DMITRIV SMIRNOVKhutbah Imam Katolik Yang Menggemparkan

    Seorang Imam Besar Katolik Ortodoks, Dmitri Smirnov, menyampaikan sebuah khutbah gereja yang menggemparkan di depan ratusan jemaatnya.

    Dia mengatakan masa depan Rusia akan menjadi milik pemeluk Islam. Berikut ini ceramahnya kepada jemaatnya sebagaimana Muslimina beritakan:

    Kalian lihat, ketika umat Islam merayakan hari besar keagamaannya, tidak satu pun orang yang berani melewati mereka, karena di seluruh dunia di masjid-masjid dan jalan-jalan kota di padati jutaan ribu umat Islam yang sedang bersujud kepada Tuhannya.

    Saksikanlah, barisan jutaan umat manusia yang beribadah dengan sangat teratur dan mengikuti shaf mereka masing-masing, dan hal itu tidak perlu diajarkan. Mereka berbaris dengan tertib tanpa harus di perintah.

    Lalu dimana kalian bisa melihat pemeluk Kristen seluruh dunia, bisa beribadah bersama? Dan hal itu tidak ada dalam Kristen, kalian tidak akan pernah melihatnya.

    Lihatlah mereka, orang Muslim kerap membantu dengan sukarela tanpa berharap imbalan, tapi pemeluk Kristen malah sebaliknya.

    Kalian tanyakan pada wanita tua itu (sambil menunjuk wanita yang lumpuh yang berada di gerejanya). Menurut wanita tua itu, seorang pengemudi Muslim sering menyediakan jasa transportasinya untuk mngantarnya ke gereja di Moskow.

    Dan setiap wanita tua itu ingin memberinya upah, tapi pengemudi Muslim selalu menolaknya dengan alasan bahwa Islam melarang mengambil upah pada wanita lansia, jompo, dhuafa dan anak-anak yatim di berbagai panti dan yayasan.

    Dengarkanlah persaksiannya, padahal wanita tua itu bukan ibu atau kerabatnya, tapi pengemudi Muslim mengatakan dalam Islam wajib menghormati orang yang lebih tua, apalagi orang tua yang lemah dan tak berdaya tersebut.

    Keikhlasan pribadi pengemudi Muslim tersebut tidak ada ditemukan dalam pemeluk Kristen yang mengajarkan kasih, tapi pengemudi Kristen bisa tanpa belas kasih meminta upah atas jasa transportasinya pada wanita tua itu. Dia mengatakan layak mendapat upah karena itu adalah profesinya sebagai jasa transportasinya.

    Seorang Muslim justru lebih dekat dengan Sang Mesiah, tapi orang Kristen hanya ingin uang. Apakah kalian tidak merasakan?

    Bagaimana dalam prosesi penebusan dosa, siapa saja harus membayar kepada pendetamu, entah itu miskin atau manula, wajib memaharkannya sebagai ritual pengampunan dosa.

    Saksikan juga, seorang Muslim tidak tertarik untuk mngambil upah pada orang-orang lansia. Mereka begitu ikhlas dengan sukarela membawakan barang-barang serta belanjaan wanita tua itu. Sampai sang wanita tua itu hendak berdoa ke gereja, sang pengemudi Muslim setia antar jemput wanita tua itu.

    Inilah kenapa saya mengatakan masa depan Rusia akan menjadi milik mayoritas pemeluk Islam dan negeri ini akan mnjadi milik Islam. Kalian lihat pribadi yang berbudi luhur dan santun, mampu membuat dunia tercengang, ternyata akhlak Muslim lebih mulia daripada jemaat Kristen.

    Kalian mendengar bahwa Islam dituduhkan sebagai agama teroris, tapi itu hanya isu belaka yang pada kenyataannya umat Islam lebih mengedepankan tata krama serta kesopanan.

    Walau mereka di fitnah sebagai teroris, tapi populasi jumlah mualaf di Eropa dan Rusia makin ramai berdatangan ke tempat ibadah orang Muslim untuk memeluk Islam, karena para mualaf tahu betul bahwa Islam tidak sekejam yang dunia tuduhkan.

    Sekarang dan selamanya, masa depan Rusia akan menjadi milik umat Islam. Di masa depan adalah kembalinya kejayaan Islam. Lihat populasi Muslim di Rusia, telah berjumlah 23 juta dan pemeluk Kristen mngalami penurunan menjadi 18 juta, lalu sisa yang lainnya masih tetap komunis.

    Ini sebuah fakta bahwa Islam sekarang menjadi agama terbesar di Rusia. Di utara bekas pecahan negara Uni Soviet mayoritas Muslim yaitu Republik Chechnya, Tarjikistan, Kajakhstan, Uzbeckistan dan Dagestan. Lalu umat Islam telah menjamah di kota-kota besar Rusia termasuk Moskow.

    Imam Besar mengakhiri khutbahnya dan turun ke mimbarnya dengan mata yang berair, di mana para jemaatnya masih trpaku dan haru, tidak menyangka seorang Imam Besar Katolik bisa mengagungkan orang Muslim.

    Sebagian jemaat ada yang menangis melihat cara ajaran Islam, ternyata berbudi luhur dan tidak layak di sebut “teroris”.

    ***

    (HP/MediaIslamia.com)

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: