Keutamaan Ilmu


ilmu-adalah-pelitaKeutamaan Ilmu

Assalamualaikum wr. wb.

Muadz ibn Jabal pernah mengingatkan tentang arti penting ilmu pengetahuan. Kala itu Muadz mengatakn :

  1. “Pelajarilah ilmu karena hal itu merupakan perwujudan rasa takut kepada Allah. Mencarinya adalah ibadah. Mempelajarinya adalah tasbih. Membahasnya adalah jihad.Mengajarkannya kepada orang lain adalah sedekah. Mencari kepada ahlinya adalah taqarrub.
  2. Dialah teman di kala sendirian, sahabat dalam keterasingan, petunjuk dalam beragama, penolong di kala duka, penerang jalan ke surga.
  3. Allah mengangkat derajat suatu kaum dan menjadikan mereka sebagai pemimpin, tokoh dan petunjuk yang diikuti adalah karena ilmu. Tapak jejaknya diikuti, perbuatannya diperhatikan. Malaikat senang berkawan dengan mereka dan membersihkan mereka dengan kedua sayapnya.
  4. Dengan ilmu manusia bisa mentaati Allah dengan benar. Dengan ilmu pula tali silaturrahim disambung, haq dan haram diketahui. Ilmu adalah iman, amal adalah pengikutnya. Ia dianugerahkan kepada orang orang yang berbahagia, dan diharamkan untuk mereka yang celaka. Itulah segudang dari kelebihan ilmu pengetahuan.”

HIKMAHNYA :

  1. Sumber dari segala ilmu pengetahuan adalah Tuhan, sebagai pusat dari segala pusat, hulu dari segala hulu, sumber dari segala sumber. Dengan demikian maka secara substansial ilmu pengetahuan yang hakekatnya bersumber dari Tuhan sangat luas tak terkirakan, sangat banyak jumlahnya tak terhitungkan. Bahkan Allah telah menandaskan bahwa seandainya air laut dijadikan tinta dan daun daun dijadikan kertasnya untuk mencatat semua ilmu Allah, maka semua itu tak akan mencukupinya. Sehebat apapun ilmu yang dimiliki manusia, menurut Allah itu masih sedikit jumlahnya. (“Dan tidaklah aku memberikan ilmu kepada kalian kecuali sedikit saja”).

Dengan menyadari hal itu, maka manusia tidak sepatutnya merasa puas diri dengan pengetahuan yang dimiliki. Manusia tak sepantasnya merasa paling hebat, paling cerdas, seolah dirinya sebagai orang terhebat sejagat.Dia tak menyadari bahwa di atas langit masih ada langit. Hanya kesadaran inilah yang akhirnya mampu mendorong orang cerdas dan pandai untuk rendah hati, tidak merasa puas diri dengan pengetahuan yang dimiliki. Kerakusan yang dibolehkan hanyalah rakus terhadap ilmu pengetahuan dan kebajikan. Ketidakpuasan yang dibolehkan atas sesuatu yang dimiliki, hanyalah tak pernah merasa puas pada ilmu yang sudah dipunyai, sehingga mendorong dia untuk terus dan terus belajar dan mengkaji.

  1. Islam malah mewajibkan umatnya untuk berprinsip long life education: belajar sepanjang hidupnya. Hal ini bukan hanya berlaku bagi pria tapi juga wanita. Menuntut ilmu diwajibkan atas tiap orang islam pria dan wanita mulai dari ayunan (sejak kecil) sampai ke liang kubur. Menuntut ilmu dalam islam tak dibatasi lokasi, bahkan silahkan saja sampai ke manca negara, termasuk negeri non islam juga.

Pada jaman Nabi Muhammad SAW misalnya, umat islam malah disuruh mencari pengetahuan dan pengalaman sampai ke negeri Cina, yang kala itu bukan sebuah negara dan bangsa Islam tapi pengetahuan Ipteknya tinggi, untuk mencapai kemajuan. (Uthlubul ‘ilma walau bisshin: Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri cina).

  1. Ilmu pengetahuan dalam islam diibaratkan cahaya (obor,pelita) sedangkan kebodohan diidentikkan dengan kegelapan. Dapat dipahami jika berjihad dalam Islam bukan hanya berperang angkat senjata, tapi mengangkat pena alias belajar mengajar adalah sebuah jihad pula. Ilmu itu cahaya. Sebab orang yang tak tahu ilmu ibadah, ibadahnya pasti ngawur, orang yang tak tahu halal dan haram, dia akan menghalalkan yang diharamkan atau mengharamkan apa yang diharamkan Tuhan. Sebab, dia memang tak tahu, tak bisa melihat (buta, gelap) mana yang benar dan salah.
  2. Aktivitas keagamaan hanya berlandas pada semangat tanpa pemahaman pengetahuan pada esensi ajaran, implementasinya bisa ngawur bahkan dapat bertentangan dengan substansi peribadatan. Orang mau sembahyang harus tahu tata cara sembahyang, harus wudhu dan tahu cara wudhu. Semua itu perlu ilmu. Bahkan Allah mengingatkan agar jangan mengatakan dan atau melakukan sesuatu yang kita tidak tahu tentang ilmunya. (“Janganlah kamu melakukan sesuatu yang kamu tidak tahu tentang ilmunya, karena sesungguhnya pendengaranmu, penglihatanmu, dan hatimu akan dimintai pertanggung jawaban.” ).
  3. Ilmu memang menempati maqam (posisi) super penting dalam ajaran Islam terutama untuk mencapai kejayaan kehidupan di dunia maupun di akhirat. Nabi Muhammad SAW menyatakan, : ” Barangsiapa menghendaki kebahagiaan hidup di dunia dapat dicapai dengan ilmu, dan barangsiapa menghendaki keduanya (kebahagian dunia dan akhirat) dapat dicapai dengan ilmu pula. Nabi Muhammad SAW. juga mengingatkan, : “Segala sesuatu ada jalannya, dan jalan untuk menuju surga adalah ilmu. Oleh karena itu, sangat dapat dimengerti jika ALLAH memerintahkan : “Taatlah kepada Allah wahai orang-orang yang menggunakan akal, yang mempunyai ilmu pengetahuan”. Oleh karena itu pula, adalah sangat aneh jika umat islam masih banyak yang kurang pengetahuannya akan ilmu, banyak yang malas belajar, dan masih memandang sebelah mata terhadap ilmu pengetahuan.

***

Sumber : Kisah dan Hikmah (Dhurorudin Mashad)

Wassalam

Siti Nurjannah