Menghindar diri dari Ghibah


ghibahMenghindar diri dari Ghibah

Assalamualikum wr.wb.

Wahai Saudaraku Sesama Muslim Yang Dimuliakan Allah SWT., dalam percakapan kita sehari hari seringkali tanpa kita sadari kita terjebak dalam pembicaan yang mengarah ke perbuatan menggunjing atau ghibah. Kalau mau jujur terutama kita perempuan, apabila dua atau tiga orang perempuan berkumpul, awal pembicaraan masih terasa mencakup sesuatu yang bersifat umum seperti resep masakan, model pakaian yang sedang ngetrend, atau hal hal yang berurusan dengan masalah kecantikan dan sebagainya. Tetapi selang beberapa saat kemudian pembicaraan mulai menjurus ke pribadi seseorang. Tentunya hal ini perlu kita waspadai, kalau tidak ingin jatuh dalam perbuatan dosa.

Sudah pasti kita tidak akan mengijinkan seseorang menghidangkan jasad saudara kita yang sudah mati untuk kita makan. Tentu kita akan merasa jijik. Bisakah kita bayangkan bahwa apabila kita mengumpat saudara kita, maka itu seperti kita memakan dagingnya yang sudah menjadi bangkai? Perbuatan menggunjing (ghibah) termasuk dosa besar. Oleh karena itu, hindarilah perbuatan menggunjing pada semua kesempatan.

Sebagai misal, jika kita hadir disuatu majelis dimana orang orang yang hadir sedang sibuk menggunjing seseorang, maka kita harus berani mengatakan kepada mereka, tentunya dengan cara yang pantas, bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah perbuatan menggunjing dan hukumnya haram. Hal ini memang terasa berat untuk kita lakukan, tapi marilah kita sama sama belajar untuk menertibkan diri dari perbuatan ghibah ini, diawali dari kita sendiri dan berusaha menerapkan pada lingkungan dekat, seperti keluarga, teman, kerabat dan seterusnya.

Kenyataan yang banyak terjadi ialah, sebagian orang tatkala sedang bersama sama degan orang yang sedang menggunjing, dia malah ikut melakukannya. Terutama apabila dia dengan orang yang digunjingkan itu sedang ada masalah. Ia pun berpikir, inilah saat yang tepat untuk membalas dendam kepadanya lewat ucapan.

Salah satu kisah pelajaran yang berkaitan dengan perbuatan ghibah adalah : Diceritakan bahwa salah seorang ulama mutakadim mendatangi suatu majelis. Didalam majelis tersebut orang orang yang hadir sedang membicarakan berbagai hal yang bercampur dengan ghibah. Baru saja jubah ulama tersebut menyentuh lantai majelis, dia cepat cepat bangkit meninggalkan majelis tersebut dengan perasaan sedih, sementara air mata membasahi kedua pipinya. Serentak orang orang yang hadir merasa heran. Salah seorang dari mereka cepat-cepat menemuinya dan bertanya, “Tuan yang mulia, apa yang menyebabkan anda meninggalkan majelis dan menangis? Apakah ada salah seorang dari kami yang menyakiti hatimu atau berlaku kurang ajar kepadamu?”

Ulama tersebut menjawab, “Sesungguhnya saya tidak bersedia hadir disuatu majelis yang di dalamnya daging manusia dimakan!”

Demikianlah ulama saleh tersebut mengungkapkan penolakan dirinya terhadap perbuatan ghibah. Yaitu, dengan meninggalkan majelis dan menangis karena perbuatan ghibah yang dilakukan kepada orang mukmin.

Allah SWT. berfirman didalam surah Al-Hujarat ayat (12). “Dan janganlah kamu mencari cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sudahkah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? maka tentulah kamu merasa jijik karenanya.”

Imam ‘Ali kw berkata, “Menggunjing adalah usaha orang yang lemah.” Imam Muhammad Al-Baqir as berkata, ” Termasuk ghibah adalah engkau mengatakan sesuatu tentang saudaramu yang Allah SWT. tutupi darinya……dan, merupakan perbuatan dusta apabila engkau mengatakan sesuatu tentang saudaramu yang tidak ada pada dirinya.”

Ada baiknya perlahan lahan kita belajar menahan diri dari perbuatan ghibah ini, walau untuk sebagian orang dianggap sah sah saja, dengan berganti nama bergosip ria, atau ada yang berkata itu mah hanya ngerumpi biasa, mungkin terinspirasi dari berbagai publikasi infotainment yang selalu disajikan dunia pertelevisian kita, ataukah sesuatu yang mulai membudaya dalam kehidupan kita? padahal hal ini sangat dikecam keras oleh Junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW.

Wawllahu’alam bishawab

***

Sumber : Buku karya Khalil Al- Musawi

Kiriman Sahabat Dwi Nopitasari

Iklan