Masyarakat Islam Setelah Runtuhnya Khilafah


081310_orangarabMasyarakat Islam Setelah Runtuhnya Khilafah

Jelaslah, bahwa runtuhnya Daulah Khilafah Islamiyah telah menghilangkan salah satu unsur dari masyarakat Islami (al mujtama’ al Islami), yakni adanya sistem peraturan Islam (nizham Islam) yang mengatur hubungan dan memecahkan segala problema dalam hubungan antar kaum muslimin.  Pada tanggal 28 April 1924 Musthafa Kamal menghapus Mahkamah Syari’yah (Pengadilan Agama) di Turki, yakni pengadilan yang menggunakan syari’at Islam. Musthafa Kamal yang agen kolonialis Inggris itu pun menggantikannya dengan mengundangkan Undang-undang Sipil Swiss pada tanggal 4 Oktober 1926.  Bahkan ia menghapus pasal “Agama negara adalah Islam” dari UUD Turki pada tanggal 10 April 1928.  Para Kemalis yang setia kepada Musthafa Kamal mengganti huruf Arab yang sudah menjadi kebiasaan nenek moyang mereka selama berabad-abad dengan huruf latin yang mereka impor dari Barat pada 1 November 1928 dan pada tahun itu pula mereka mengumumkan sekularisme dalam UUD mereka.10

Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah menyebabkan negeri-negeri Islam dikontrol dan diperintah langsung oleh para penjajah Barat.  Mereka segera menerapkan sistem peraturan Barat yang kufur itu di negeri-negeri Arab dan wilayah Islam lainnya.  Mereka pun menyusun kurikulum pendidikan yang mereka dasarkan atas asas peradaban dan kebudayaan mereka, yakni “fashlud din ‘anil hayah” (pemisahan agama dari kehidupan), yang konsekuensinya adalah pemisahan agama dari negara.  Dengan pendidikan tersebut penjajah Barat menjadikan kepribadian mereka sebagai standar kebudayaan kaum muslimin.  Penjajah Barat menjadikan peradaban mereka dan pemahaman-pemahaman hidup mereka, struktur negara mereka, sejarah, dan lingkungan mereka sebagai standar untuk otak kaum muslimin.  Tidak cukup sampai di situ, para penjajah itu bahkan memutar balikkan fakta dalam menanamkan kepribadian mereka. Mereka memutar balikkan fakta sedemikian rupa sehingga kaum muslimin menganggap para penjajah itu adalah orang mulia, bangsa teladan, dan sebuah kelompok kuat yang mau tidak mau kaum muslimin harus berjalan bersama mereka dalam menempuh kehidupan.  Dengan cara-cara yang kotor mereka menyembunyikan tampang kolonialis mereka yang sebenarnya. Oleh karena itu, kalangan kaum muslimin yang terpelajar itu pun sebenarnya telah mempelajari suatu tsaqafah yang merusak.  Mereka belajar bagaimana cara orang lain (penjajah Barat) berpikir.  Akibatnya kaum muslimin menjadi lemah untuk belajar bagaimana mereka sendiri (kaum muslimin) berpikir.11

Pengaruh peracunan tsaqafah Barat tersebut tidak terbatas kepada kalangan terpelajar, tapi merata kepada masyarakat secara umum.  Masyarakat kaum muslimin pun diracuni oleh para penjajah Barat dengan paham kebangsaan (nasionalisme), patriotisme, dan sosialisme, serta paham-pahama kedaerahan yang sempit.  Juga masyarakat kaum muslimin diracuni dengan kemustahilan berdirinya Daulah Islamiyah dan kemustahilan persatuan dan kesatuan negeri-negeri Islam dengan adanya perbedaan kultur, penduduk, dan bahasa, sekalipun mereka merupakan suatu umat yang terikat dengan Aqidah Islamiyah yang melahirkan sistem peraturan Islam.  Selain itu mereka diracuni dengan konsep-konsep politik yang salah seperti “kedaulatan di tangan rakyat”. Mereka juga diracuni dengan slogan-slogan yang keliru seperti: “agama milik Allah dan tanah air milik masyarakat”12

Akibat proses peracunan tersebut masyarakat di negeri-negeri Islam, termasuk negeri-negeri Arab, mengalami perubahan luar biasa.  Yang tadinya Islami, menjadi tidak Islami.  Yang tadinya diliputi pemikiran-pemikiran Islam sepenuhnya, menjadi mengadopsi banyak sekali pemikiran Barat.  Perundangan Barat pun mereka terapkan dan perjuangkan.    Sebagian besar negeri Arab dan Islam lainnya menerapkan sistem peraturan Barat.  Negeri-negeri Arab yang justru sumbernya Islam itu, sayangnya,  justru mayoritas mereka meninggalkan hukum-hukum Islam.  Tidak tersisa dari negeri-negeri tersebut selain urusan-urusan nikah, talak, cerai, rujuk dan sebagian kecil hukum Islam lainnya.  Yang menerapkan hukum Islam yang agak luas barangkali hanya Arab Saudi.  Namun untuk sistem pemeritahan Islam dan fiqih siyasah, nampaknya para penguasa kaum muslimin itu sepakat untuk meninggalkan Islam.

Masyarakat kaum muslimin tercerai-berai menjadi lebih dari 50 negara yang kecil-kecil dan lemah-lemah.  Banyak sudah krisis yang terjadi yang menimpa negeri-negeri kaum muslimin yang tak bisa mereka selesaikan sendiri.  Sebabnya, yang paling utama adalah masing-masing negara Islam tersebut senantiasa menggantungkan penyelesaian berbagai krisis politik maupun ekonomi mereka kepada negara-negara adi daya yang berkepentingan mempertahankan dominasi mereka di negeri-negeri Islam dalam berbagai bentuk.  Organisasi Konperensi Islam yang hingga kini oleh sebagian kaum muslimin diharapkan sebagai wadah persatuan masyarakat Islam dalam mengatasi berbagai krisis yang dihadapi kaum muslimin, ternyata tak bisa banyak berbuat.  Konon lantaran masing-masing negara anggotanya lebih mengutamakan kepentingan nasional mereka (Republika, 26/5/1995).  Sungguh aneh sekali, OKI (OIC) yang beranggotakan lebih dari 50 negara Islam yang total jumlah penduduknya sekitar satu milyar itu tak mampu menyelesaikan penderitaan kaum muslimin di Palestina yang diinjak-injak hak-hak dan kehormatan mereka oleh negara kecil Yahudi Israel. 

Itulah masyarakat kaum muslimin setelah runtuhnya khilafah.   Munculnya berbagai keanehan itu lantaran masyarakat tersebut telah kehilangan keunikannya.  Masyarakat kaum muslimin tersebut telah kehilangan ciri khas umat ini yang digambarkan Rasulullah saw. sebagai berikut :

“Perumpamaan seorang mukmin di dalam cinta dan kasih sayangnya seperti satu tubuh, jika mengeluh salah satu anggota tubuh, maka yang lain akan merasakan demam dan panas serta tak bisa tidur”

 

Justru masyarakat kaum muslimin yang kini jumlahnya lebih dari satu milyar itu bagaikan hidangan yang disantap dan diterkam oleh musuh-musuhnya.  Sebab mereka tidak menjadi masyarakat yang satu tubuh, yang padat dan kenyal.  Bahkan mereka bagaikan buih yang gampang diporak-porandakan !

Ini semua lantaran kaum muslimin tidak dalam kesatuan pemikiran, perasaan, dan peraturan yang Islami.  Kontradiksi terjadi di mana-mana.  Tidak jarang kita jumpai seorang muslim di dalam masyarakat yang menurut Muhammad Husain Abdullah sebagai “masyarakat tidak unik” (al mujtama’ ghairu mutamayyiz) ini, akan menempuh keharaman seperti riba dan minum khamr dimana dalam waktu bersamaan menggemborkan bahwa siapa minum khamr berarti telah menempuh haram, dan berusaha mendapatkan kebaikan dalam melarang minum khamr.  Juga, tidak mustahil adanya seorang muslim yang senang mendengar adzan dan pembacaaan Al-Quran, dan terasa dalam dirinya perasaan ruhani, akan tetapi dia tidak sholat, tidak membaca Al-Qur’an, dan tidak menerapkan hukum-hukum Al Qur`an.


Masyarakat Islam: Konsep, Sejarah, dan Metode Pembentukannya

Muhammad Shiddiq Al Jawi

10 Al Marjeh, Mouaffaq Bany, The Awakening of The Sick Man, hal. 387-388.

11 An Nabhani, Taqiyuddin, At Takattul Al Hizbi, hal. 10-11

12  An Nabhani, Taqiyuddin, At Takattul Al Hizbi, hal. 14-15

Iklan