Updates from November, 2013 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 3:58 am on 30 November 2013 Permalink | Balas  

    Menjadi Manusia Kreatif 

    siluet-pemudaMenjadi Manusia Kreatif

    Pernah nonton film Mission Impossible? Film layar lebar yang dibintangi oleh Tom Cruise itu sebenarnya pernah menjadi film seri yang diputar setiap minggu di sebuah TV swasta di tahun 1990-an. Satu hal yang menarik dari film tersebut, se-impossible apapun misi yang diemban oleh Ethan Hawk (diperankan oleh Tom) namun endingnya selalu saja mengisahkan keberhasilan. Satu hal yang tergambarkan dengan jelas dalam film tersebut (baik layar lebar maupun seri-nya) adalah kebiasaan para tokoh yang tergabung dalam tim pengemban ‘misi yang tidak mungkin’ alias ‘mustahil’ dicapai itu untuk senantiasa memiliki plan A, plan B, bahkan plan C, sehingga hampir setiap film itu diakhiri dengan keberhasilan menjalankan misi.

    Norman Vincent Peal, menuliskan buku best seller, You Can If You Think You Can (Anda bisa jika Anda berpikir bahwa Anda bisa), sebuah buku yang memberikan motivasi besar kepada para pembacanya untuk optimis meraih hal-hal yang sesungguhnya ‘bisa’ diraih.

    Antara Norman (dan bukunya) dengan film Mission Impossible memang tidak ada kaitannya, hanya saja jika kita mau melihat sisi pelajaran yang mau diambil, tentu ada kaitannya. Roger Von Oech, lewat bukunya A Whack on Side of the Head, bisa menjelaskan keterkaitan antara keduanya. Karena lewat buku tersebut, Von Oech mengetengahkan sepuluh kebiasaan manusia kreatif, dimana tertulis “suka mencari jawaban kedua” sebagai kebiasaan pertama seorang yang kreatif. Menurut Oech, Anda jangan hanya punya satu solusi yang berati hanya punya satu pilihan. Kreativitas meminta Anda menemukan jawaban kedua yang mungkin lebih tepat. Nah, kesuksesan Ethan Hawk mengemban misi yang dianggap tidak mungkin dicapai itu adalah karena kebiasaan timnya untuk menyiapkan lebih dari satu solusi. Dan Norman menguatkannya dengan satu motivasi, bahwa tidak satupun yang ada dihadapan manusia itu tidak bisa diraih.

    Dan yang perlu diketahui, Allah dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat terakhir telah jauh terlebih dulu memberikan motivasi kepada setiap mukmin, bahwa Dia tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Masalahnya adalah sifat manusia yang sering kali memperturutkan hawa nafsunya, yang dalam hal ini salah satunya adalah sifat malas, dan enggan berusaha keras. Sehingga kemudian yang tampak didepannya adalah sebuah gunung batu menjulang tinggi yang tak mungkin dilewati, sebuah tembok raksasa yang mustahil ditembus.

    Padahal sejarah pun mencatat, Rasulullah dengan 300 pasukan mukmin mampu memukul mundur pasukan kafir Quraisy yang jumlahnya tiga kali lebih banyak dalam perang Badar. Orang dulu berpikir ruang angkasa adalah sesuatu yang invisible, namun para ahli Rusia membuktikan dengan mengirimkan Yuri Gagarin ke luar angkasa menggunakan Sputnik. Bahkan sekarang, orang sudah menjajaki pariwisata luar angkasa meski harus merogoh kocek yang tak sedikit. Sejarah lain juga ditorehkan oleh George Leigh Mallory dan Andrew Irvine yang disebut-sebut sebagai orang pertama menapakkan kakinya di puncak tertinggi dunia, Mount Everest pada 1924. Kini ribuan pendaki sudah membuktikan bahwa puncak tertinggi itu bisa ditapaki.

    Menjadi manusia kreatif, tambah Oech, tidak cukup hanya dengan memiliki satu kebiasaan diatas. Oech juga memaparkan tentang kebiasaan lainnya, yakni suka berpikir lunak. “Kreativitas adalah pengembangan hasil otak kiri yang bersikap keras terhadap ide oleh otak kanan yang lunak yang mengabaikan batasan dan lunak terhadap berbagai ide,” kata Oech.

    Kebiasaan ketiga adalah Suka menggugat aturan. Jika aturan telah membatasi pilihan maka Anda harus mencari tahu mengapa suatu aturan dibuat. Mungkin alasan itu tidak relevan lagi. Mungkin sekarang ada pemecahannya yang lebih efektif. Suka mencoba kemustahilan, adalah yang selanjutnya. Oleh karena itu, jangan sekali pun pernah membuang ide sepintas yang kelihatan mustahil. Merenungkan lagi ide yang muncul dapat memicu berbagai kemungkinan baru.

    Toleran terhadap hal dilematis, disebut sebagai kebiasaan kelima. Dalam kenyataan, sering ide kretif lahir dari situasi dilematis atau kepepet. Adalah jarang inovasi muncul dari pola pikir yang tunggal, linier dan pasti. Kemudian yang keenam adalah, Melihat kesalahan sebagai peluang. Ada orang yang suka mencari aman dan menghindari dari kemungkinan salah atau gagal. Sesungguhnya kesalahan justru menempatkan kita memperoleh hal yang tak didapat bila melakukan dengan benar.

    Gede Prama, pernah menyebut Dedi ‘Miing’ Gumelar sebagai satu dari sekian orang yang dijadikan sahabatnya. Alasannya, tidak banyak orang yang bisa membuat orang lain tertawa, meski tidak meninggalkan aspek kecerdasannya. Nampaknya, untuk yang satu ini, Oech juga sepakat, karena ia menempatkan Suka humor dan santai sebagai kebiasaan orang kreatif pada urutan selanjutnya. Memang ide kreatif muncul ketika terdesak situasi, tapi lebih banyak ide brilian dan segar lahir dari suasana santai dan gembira. Saat kita santai dan gembira pertahanan mental jadi longgar sehingga tidak pusing terhadap aturan, hal mustahil maupun yang keliru.

    Orang yang sibuk melihat dunia dalamnya sendiri akan kehilangan banyak ide. Meninjau dunia luar adalah wahana meraih ide baru untuk dunia dalam kita. Maka dari itu, Suka meninjau dunia luar sebaiknya menjadi satu kebiasaan tersendiri bagi orang-orang kreatif. Selain itu, Berani berpikir beda seolah menjadi ciri yang paling khas dari orang kreatif. Umumnya orang berusaha menyesuaikan dengan budaya organisasinya. Padahal tekanan organisasi bisa memasung kretaivitas. Jadi, beranilah pro terhadap hal yang tidak disetujui mayoritas walau tidak harus terlalu terbuka. Dalam hal ini, bukan berarti mengesampingkan kebenaran, karena disini akan lebih bernilai jika sikap satu ini untuk berbeda terhadap mayoritas ketidakbenaran. Dan yang terakhir disebutkan Oech, adalah senantiasa Terbuka terhadap gagasan baru. Orang yang mengaku bukan orang yang kreatif berarti telah memasung diri sendiri. Ingatlah, bahwa ide akan berkembang bila kita memberinya ruang. Baik dengan tambahan dari luar diri Anda atau tidak menekan ide yang telah dipunyai.

    Sudahkah menjadi orang kreatif? Mulailah hari ini juga! Wallaahu a’lam bishshowaab

    ***

    Oleh: Bayu Gautama-Eramuslim

    Iklan
     
  • erva kurniawan 1:49 am on 29 November 2013 Permalink | Balas  

    15 Dosa di Kepala Wanita 

    wanita15 Dosa di Kepala Wanita

    1. Tidak berhijab (menutup aurat).

    Allah berfirman, yang artinya: “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu , anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min:”Hendakl ah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka“. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, kerana itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.”

    (QS. Al-Ahzab: 59).

    “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nuur: 24).

    2. Menyambung rambut / memakai konde.

    Dari Asma’ binti Abi Bakr, ada seorang perempuan yang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Telah kunikahkan anak gadisku setelah itu dia sakit sehingga semua rambut kepalanya rontok dan suaminya memintaku segera mempertemukannya dengan anak gadisku, apakah aku boleh menyambung rambut kepalanya. Rasulullah lantas melaknat perempuan yang menyambung rambut dan perempuan yang meminta agar rambutnya disambung” (HR Bukhari-Muslim)

    3. Mewarnai / menyemir rambut dengan warna hitam.

    Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada akhir zaman nanti akan muncul suatu kaum yang bersemir dengan warna hitam seperti tembolok merpati. Mereka itu tidak akan mencium bau surga.” (HR. Abu Daud)

    Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, ”Pada hari penaklukan Makkah, Abu Quhafah (ayah Abu Bakar) datang dalam keadaan kepala dan jenggotnya telah memutih (seperti kapas, artinya beliau telah beruban). Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ubahlah uban ini dengan sesuatu, tetapi hindarilah warna hitam.” (HR. Muslim).

    4. Mencabut uban.

    Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah mencabut uban. Tidaklah seorang muslim yang beruban dalam Islam walaupun sehelai, melainkan uban tersebut akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat nanti.” (HR. Abu Daud)

    5. Memakai bulu mata palsu.

    Fatwa: “…Menurut kami, tidak diperbolehkan memasang bulu mata buatan (palsu) pada kedua matanya, kerana hal tersebut sama dengan memasang rambut palsu, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melaknat wanita yang memasang dan yang minta dipasangi rambut palsu. Jika Nabi telah melarang menyambungkan rambut dengan rambut lainnya (memasang rambut palsu) maka memasang bulu mata pun tidak boleh.

    Juga tidak boleh memasang bulu mata palsu kerana alasan bulu mata yang asli tidak lentik atau pendek. Selayaknya seorang wanita muslimah menerima dengan penuh kerelaan sesuatu yang telah ditakdirkan Allah dan tidak perlu melakukan tipu daya atau merekayasa kecantikan, sehingga tampak kepada sesuatu yang tidak dimilikinya, seperti memiliki pakaian yang tidak patut dipakai oleh seorang wanita muslimah…”

    6. Bertabarruj.

    Allah Azza wa Jalla berfirman, yang artinya: “Dan janganlah kalian (para wanita) bertabarruj (keluar rumah dengan berhias dan bertingkah laku) seperti (kebiasaan) wanita-wanita Jahiliyah yang dahulu” [al-Ahzaab:33].

    7. Merenggangkan / mengikir gigi.

    Dari Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang orang mencukur alis, mengkikir gigi, menyambung rambut, dan mentato, kecuali kerana penyakit. (HR. Ahmad).

    Dari ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Semoga Allah melaknat orang yang mentato, yang minta ditato, yang mencabut alis, yang minta dikerok alis, yang merenggangkan gigi, untuk memperindah penampilan, yang mengubah ciptaan Allah. (HR. Bukhari)

    8. Membuat tatto. (Lihat point ke-7)

    9. Memakai jilbab gaul / tidak memenuhi syarat hijab.

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahkan telah memperingatkan kita dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:

    “Ada dua golongan penghuni Neraka yang belum pernah aku lihat sebelumnya, yaitu suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor-ekor sapi betina yang mereka pakai untuk mencambuk manusia; wanita-wanita yang berpakaian (namun) telanjang, yang kalau berjalan berlenggak-leng gok menggoyang-goya ngkan kepalanya lagi durhaka (tidak ta’at), kepalanya seperti punuk-punuk unta yang meliuk-liuk. Mereka tidak akan masuk Surga dan tidak dapat mencium bau wanginya, padahal bau wanginya itu sudah tercium dari jarak sekian dan sekian.”

    (HR Muslim/HR Ahmad)

    10. Memakai rambut palsu.

    “Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan minta disambungkan rambutnya.” (HR. Bukhari-Muslim)

    11. Mencukur rambut menyerupai laki-laki atau wanita kafir.

    a. Potongan yang menyerupai potongan laki-laki maka hukumnya haram dan dosa besar, sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kaum wanita yang menyerupai kaum pria. Sebagaimana disebutkan dalam hadis, dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, bahwa beliau mengatakan:

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat kaum lelaki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai lelaki.” (HR Bukhari)

    b. Potongan yang menyerupai potongan khas wanita kafir, maka hukumnya juga haram, karena tidak boleh menyerupai orang-orang kafir. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Ibn Umar radliallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Siapa yang meniru-niru (kebiasaan) suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut” (HR Abu Daud)

    12. Mencukur / mencabut bulu alis. (Lihat point ke-7)

    13. Memakai lensa kontak berwarna untuk tabarruj.

    Syaikh Muhammad shalih Al-Munajjid hafidzahullah berkata: Kepada Fp Dzikir Cinta“…lensa kontak berwana untuk perhiasan (untuk bergaya). Maka hukumnya sama dengan perhiasan, jika digunakan untuk berhias bagi suaminya maka tidak mengapa.

    Jika digunakan untuk yang lain maka hendaknya tidak menimbulkan fitnah. Dipersyaratkan juga tidak menimbulkan bahaya (misalnya iritasi dan alergi pada mata, pent) atau menimbulkan unsur penipuan dan kebohongan misalnya menampakkan pada laki-laki yang akan melamar. Dan juga tidak ada unsur menyia-nyiakan harta (israaf) karena Allah melarangnya.”

    14. Operasi plastik untuk kecantikan.

    Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya, “Bagaimana hukum melaksanakan operasi kecantikan dan hukum mempelajari ilmu kecantikan?”

    Jawaban beliau,”Operasi kecantikan (plastik) ini ada dua macam. Pertama, operasi kecantikan untuk menghilangkan cacat yang kerana kecelakaan atau yang lainnya. Operasi seperti ini boleh dilakukan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan izin kepada seorang lelaki–yang terpotong hidungnya dalam peperangan–untuk membuat hidung palsu dari emas.

    Kedua, operasi yang dilakukan bukan untuk menghilangkan cacat, namun hanya untuk menambah kecantikan (supaya bertambah cantik). Operasi ini hukumnya haram, tidak boleh dilakukan, karena dalam sebuah hadis (disebutkan), ‘Rasulullah melaknat orang yang menyambung rambut, orang yang minta disambung rambutnya, orang yang membuat tato, dan orang yang minta dibuatkan tato.’ (HR Bukhari).

    15. Memakai kawat gigi untuk kecantikan / tabarruj.

    Syaikh Ibnu Utsaimin pernah ditanya, “Apa hukumnya memperbaiki gigi?” Syaikh menjawab, “Memperbaiki gigi ini dibagi menjadi dua kategori:

    Pertama, jika tujuannya supaya bertambah cantik atau indah, maka ini hukumnya haram. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita yang menata giginya agar terlihat lebih indah yang merubah ciptaan Allah. Padahal seorang wanita membutuhkan hal yang demikian untuk estetika (keindahan), dengan demikian seorang laki-laki lebih layak dilarang daripada wanita.

    Kedua, jika seseorang memperbaikinya karena ada cacat, tidak mengapa ia melakukannya. Sebagian orang ada suatu cacat pada giginya, mungkin pada gigi serinya atau gigi yang lain. Cacat tersebut membuat orang merasa jijik untuk melihatnya. Keadaan yang demikian ini dimaklumi untuk membenarkannya. Hal ini dikategorikan sebagai menghilangkan aib atau cacat bukan termasuk menambah kecantikan. Dasar argumentasinya (dalil), Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan seorang laki-laki yang hidungnya terpotong agar menggantinya dengan hidung palsu dari emas, yang demikian ini termasuk menghilangkan cacat bukan dimaksudkan untuk mempercantik diri.”

    … Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci …

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 2:39 am on 28 November 2013 Permalink | Balas  

    Lima Penyakit Masyarakat 

    cahaya-kebenaranLima Penyakit Masyarakat

    Maasyiral Muslimin Rahimakumullahu!

    Dalam suatu hadis dari Abdullah bin Umar ra berkata, “Rasulullah saw menghadap ke arah kami seraya bersabda, ‘Wahai kaum muhajirin, ada lima hal yang aku berlindung kepada Allah agar kalian tidak menjumpainya: tidaklah menyebarkan perbuatan keji (zina) pada suatu kaum hingga mereka berterang-terangan melakukannya, melainkan mereka akan ditimpa wabah-wabah penyakit dan kelaparan yang belum menimpa orang-orang sebelum mereka; tidaklah suatu kaum yang mengurangi takaran, melainkan mereka akan ditimpa paceklik, sulit mendapat makanan, dan jahatnya penguasa; tidaklah suatau kaum yang enggan mengeluarkan zakat dari harta mereka, melainkan akan terhalang hujan dari langit, kalau saja bukan karena binatang, niscaya tidak diturunkan hujan; tidaklah suatu kaum mengingkari janji, melainkan Allah akan menguasakan atas mereka musuh-musuh yang bukan dari golongan mereka , mereka mengambil harta yang ada di tangan mereka. Dan, selama pemimpin-pemimpin mereka tidak menerapkan hukum Allah dan memilih-milih apa yang Allah turunkan di dalam kitab-Nya, niscaya Allah akan menjadikan kekerasan (keributan) di antara mereka’.” (HR. Ibnu Maajah dan Hakim).

    Maasyiral Muslimin Rahimakumullahu!

    Kita yang hidup pada zaman sekarang ini telah menemui apa-apa yang ditakutkan oleh Nabi saw dan para sahabatnya tentang lima perkara yang ada dalam hadis di atas. Nabi saw telah memberi rumusan kepada kita dengan jelas dan gamblang lima penyakit masyarakat yang dapat membawa kehancuran. Lima penyakit yang akan membawa azab, kerusakan dan kemurkaan Allah terhadap pelakunya, juga manusia yang hidup di sekitarnya. Maka, dalam kesempatan yang singkat ini, marilah kita kaji satu persatu apa rumusan itu, sehingga kita dapat mengetahuinya dan menghindar, jangan sampai terjadi pada diri kita, keluarga kita, lingkungan kita, atau dalam negara kita ini.

    Pertama, Perzinaan yang Tersebar dan Terang-terangan

    Kita tidak dapat menutup mata dari bentuk penyakit ini. Perzinaan dalam bentuk pelacuran, baik yang dilokalisasi ataupun yang ilegal, sudah merupakan kewajaran yang tidak wajar. Bahkan, pemerintah pun terkesan merasa diuntungkan dengan adanya bisnis esek-esek ini, yaitu dengan adanya pemasukan pajak. Padahal, akibat dari kegiatan atau perbuatan keji ini adalah sangat besar bagi masyarakat. belum lagi selesai penanganannya, akibat yang ditimbulkannya sudah sekian jauh menjalar dan menular ke pelosok-pelosok daerah dan tempat-tempat yang subur untuk praktek pelacuran ini. Yang lebih mengerikan lagi adalah bahwa perzinaan ini telah menimpa anak-anak di bawah umur, anak-anak kaum muslimin yang miskin dan jahil, anak-anak yang seharusnya duduk manis di bangku-bangku sekolah, anak-anak yang seharusnya tidak terbebani mencari nafkah. Berapa banyak surat kabar, TV dan media lainnya memberitakan kasus orang tua menjual anaknya menjadi pelacur untuk untuk menopang hidupnya. Anak-anak sebagai generasi penerus dan tulang punggung masa depan rusak dan terjerumus dalam lembah perzinaan yang akan menjadi penyesalan seumur hidup baginya. Di antara akibat yang telah nyata dan jelas adalah menyebarnya virus AIDS ke seluruh dunia.

    Maka, tungggulah apa yang terjadi jika kita hanya berpangku tangan dengan keadaan ini, sebab Allah menyatakan dalam firman-Nya yang bermakna, “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (Al-Anfaal: 25)

    Benarlah apa yang dinyatakan Nabi saw, “Tidaklah menyebar perbuatan keji (zina) pada suatu kaum hingga mereka berterang-terangan melakukannya, melainkan mereka akan ditimpa wabah-wabah penyakit dan kelaparan yang belum menimpa orang-orang sebelum mereka.”

    Kedua, Penipuan terhadap Timbangan

    Karena keimanan yang lemah dan tidak percaya adanya jaminan rezeki dari Allah, membuat para pedagang dan usahawan berbuat curang, yaitu mengurangi timbangan. Perbuatan curang dalam hal ini kian membudaya. Banyak penjual yang menipu melalui timbangan dan takaran. Tidak ahanya penjual, pembeli pun ikut mencari celah untuk tidak dirugikan, bahkan kadang kala dengan bentuk penipuan lain terhadap pedagang.

    Allah sudah mengingatkan dalam firman-Nya yang artinya: “Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun dia adalah kerabatmu, dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.” (Al- An’aam:152)

    Kecurangan dan penipuan dalam jual beli termasuk hal yang diharamkan Allah, dan merupakan suatu penyakit masyarakat yang membawa akibat yang buruk bagi masyarakat. Jika hal ini terus berlarut-larut di kalangan masyarakat atau di suatu negeri, maka tunggulah ancaman Allah sebagaimana yang dinyatakan Nabi saw, “Tidaklah suatu kaum mengurangi takaran, melainkan mereka akan ditimpa paceklik, sulit mendapat makanan dan jahatnya penguasa.” Kalau kita lihat dan rasakan keadaan kita sekarang, maka akan kita sadari bahwa kita dalam kondisi ini, entah sampai kapan penyakit dan akibat dari keadaan ini akan berlalu.

    Ketiga, Tidak Mau Menunaikan Zakat

    Ketimpangan sosial tidak akan selesai penanganannya dengan teori ekonomi apa pun dari manusia. Kita sudah lihat hasil dari sosialisme, leberalisme, dll. Allah telah membekali manusia dengan suatu bentuk solusi yang ampuh dan telah teruji pada zaman-zaman kejayaan khilafah Islamiyah. Zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz, orang -orang fakir miskin terangkat nasibnya sampai mereka menolak harta dari baitul mal. Pada saat ini jumlah orang kaya tidak sedikit, bahkan di antara mereka ada yang mempunyai gunung, pulau, dll. Mengapa fakir miskin semakin banyak dan tak terkendalikan? Karena, orang-orang yang mampu dan berhak membayar zakat semakin sedikit dan rapuh kesadarannya. Maka, tunggulah akibatnya yang dijanjikan Allah melalui lisan Nabi- Nya, “Tidaklah suatu kaum yang enggan mengeluarkan zakat dari harta mereka, melainkan akan terhalang hujan dari langit, kalau saja bukan karena binatang niscaya tidak akan diturunkan hujan.”

    Kalau sampai saat ini masih ada hujan, bahkan sampai banjir, maka kita jangan merasa bahwa masih banyak orang-orang kaya kita yang membayar zakat, tetapi masih banyak hewan-hewan di sekitar kita yang Allah masih kasihi dengan menurunkan hujan kepada mereka. Sebab, jika kita menyatakan banyaknya orang kaya yang membayar zakat, maka tandanya adalah hujan dan tidak adanya ketimpangan sosial.

    Keempat, Melanggar Janji Allah dan Rasul-Nya

    “Tidaklah suatu kaum mengingkari janji, melainkan Allah akan menguasakan atas mereka musuh-musuh yang bukan dari golongan mereka, mereka mengambil harta yang ada di tangan mereka.” Fenomena ini ada di berbagai negara Islam di dunia. Banyak negara-negara yang mayoritas Islam, ketika berjuang melawan penjajah dengan pekik Allah Akbar, dan berikrar menegakkan kalimat Allah, tetapi apabila kemerdekaan itu telah dicapai justru yang mereka pakai adalah hukum manusia, atau mengambil aturan-aturan manusia dan mengingkari janji mereka kepada Allah dan Rasul-Nya, maka jadilah negara-negara tersebut tetap dalam kekuasaan musuh-musuh Islam, yang selalu memeras dan menggali hasil bumi dan kekayaan negara tersebut.

    Kelima, Para Pemimpin Tidak Berhukum dengan Hukum Allah

    Penyakit yang kelima ini sangat kronis dan parah, kalau diibaratkan penyakit kanker sudah mencapai stadium akhir yang menjelang ajal, mengapa? Jawabannya, kita dapat lihat sendiri dari beberapa negara yang mayoritas Islam di dunia ini. Al-Jazair memakai hukum Prancis, Malaysia memakai hukum Inggris, Indonesia memakai hukum Belanda, dllnya. Maka jangan heran, jika ancaman Allah mengenai mereka yang para pemimpinnya tidak mau berhukum dengan Alquran dan Sunnah, yaitu dengan adannya perpecahan di kalangan mereka, pertentangan di kalangan elit politik, dan suburnya kekerasan di antara mereka dalam mencari posisi penting masing-masing.

    Dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia, yang notabene adalah mayoritas Muslim tetapi tidak menggunakan hukum yang berdasarkan Alquran dan as-Sunnah, terdapat kejadian-kejadian besar tentang kekerasan dan keributan, baik dari kalangan masyarakat bawah maupun samapai elit politik. Jatuhnya presiden-presiden kita, sejak Presiden Soekarno hingga Presiden Gusdur, dengan tidak wajar merupakan bukti bahwa apa yang telah difirmankan oleh Allah memang benar, dan memang pasti benar.

    Maasyiral Muslimin Rahimakumullahu!

    Sudah menjadi kewajiban kita dalam menghadapi keadaan seerti sekarang ini bahwa kita harus tetap istiqamah, sabar, dan jangan berputus asa. Kita harus bangkit untuk berupaya memperbaiki keadan ini. Sebab, jika kita hanya berpangku tangan dan tidak mau mencegah dan memerintahkan yang ma’ruf, maka resiko bagi umat ini akan semakin berat.

    “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dzalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (Al-Anfaal: 25).

    Dalam tafsir Ibnu katsir dan Qurtubi, ayat ini dikaitkan dengan suatu hadis dari Aisyah ra yang maknanya, “Apabila telah tersebar luas kemaksiatan, maka Allah akan menurunkan kesusahan (balasan) pada penghuni negeri itu. Berkata aku: ‘bukankah di antara mereka ada yang ta’at’? Nabi saw menjawab, ‘Mereka nanti akan dikumpulkan dalam naungan rahmat Allah (mereka yang taat)’.”

    Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami, jika kami lupa atau kami bersalah! Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami!

    Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya! Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami! Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami atas kaum yang kafir!

    Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia). Aamin.

    ***

    Sumber: Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 4:44 am on 27 November 2013 Permalink | Balas  

    Nabi Muhammad SAW 

    muhammad 3Nabi Muhammad SAW

    Mari kita lihat beberapa nama orang-orang yang mengagumi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam:

    1. “Muhammad adalah suatu jiwa yang bijaksana dan pengaruhnya dirasakan dan tak akan dilupakan oleh orang orang di sekitarnya.” (Diwan Chand Sharma, seorang sarjana beragama Hindu, dalam bukunya The Prophets of the East (Nabi-nabi dari Timur), Calcutta 1935, halaman 122.)

    2. “Empat tahun setelah kematian justinian, 569 m, lahir di Makkah di tanah Arab, seorang yang memberikan pengaruh yang terbesar bagi umat manusia. Orang itu adaIah … Muhammad …. ” (John William Draper, M.D., LLD., dalam bukunya A History of the Intellectual De-velopment of Europe (Sejarah Perkembangan Intelektual di Eropa), London 1875.)

    3. “Saya ragu apakah ada orang lain yang bisa merubah kondisi manusia begitu besar seperti yang dilakukan oleh dia (Muhammad SAW).” (R.V.C. Bodley dalam The Messenger (Sang Utusan), London 1946, halaman 9.).

    4. “Saya telah mempelajari dia (Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam) laki-laki yang luar biasa- dan menurut saya, terlepas dari pemikiran anti kristen, dia adalah penyelamat umat manusia.” (George Bernard Shaw dalam The Genuine of Islam (Islam yang Murni), volume I no. 81936).

    5. “Dengan sebuah keberuntungan yang sangat unik dalam sejarah, Muhammad adalah pendiri dari suatu negara, suatu kerajaan dan suatu agama.” (R.Bosworth-Smith dalam Mohammed and Mohammedanism, 1946).

    6. “Muhammad adalah pribadi religius yang paling sukses” (Encyclopedia Britannica, edisi ke-11).

    **

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:40 am on 26 November 2013 Permalink | Balas  

    Tawakal kepada Allah 

    bekerjaTawakal kepada Allah

    Oleh : Ustadz Diaudin

    Tawakal artinya mempercayakan, sedangkan yang dimaksud tawakal kepada Allah berarti mempercayakan kepada Allah dalam urusan yang seharusnya kita tangani kemudian kita pasrahkan kepada Allah untuk menanganinya. Tawakal kepada Allah artinya mempercayakan kepada Allah untuk menentukan suatu ketentuan yang mana kita percayakan pada Allah bahwa ketentuan itu adalah ketentuan yang terbaik buat kita karena kita tidak mengetahui apa yang hendak kita capai ini apakah dampaknya positif bagi kita ataukah dampaknya negatif.

    Ada contoh sahabat nabi yang bernama Ta’labah yang bertujuan ingin menjadi orang kaya dan apabila ia kaya maka ia merencanakan untuk beribadah serius kepada Allah akan tetapi setelah yang diingininya tercapai namun setelah kaya ternyata Ta’labah semakin jauh kepada Allah bahkan ia tidak berbibadah kepada Allah lagi.

    Ini menunjukkan kadang-kadang apa yang hendak kita capai setelah tercapai bisa jadi berdampak negatif pada diri kita oleh karena itu setiap kita hendak mencapai suatu apa yang kita capai maka sebaiknya dipercayakan kepada Allah untuk menentukannya apakah nanti tercapai apa yang kita capai ataukah digagalkan oleh Allah sebab kita tidak mengetahui dampak positif dan dampak negatifnya setelah kita mencapai segala sesuatu itu.

    Allah berfirman dalam QS Al Baqarah 216 ….Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui

    Boleh jadi keingininan kita umpamanya ingin menjadi orang kaya dan disukai oleh kita bisa jadi itu sebenarnya tidak baik buat kita. Yang tahu yang terbaik cuma Allah, oleh karena itu jika kita hendak mencapai sesuatu yang akan kita capai haruslah kita bertawakal kepada Allah mempercayakan kepada Allah untuk menentukan sebaiknya apa yang hendak kita capai itu tercapai ataukah gagal sebab Allah Yang Maha Mengetahui. Bisa jadi yang hendak kita capai telah tercapai berdampak negatif maka tentunya Allah akan menggagalkannya kalau kita bertawakal kepadaNya. Kalau kita mempercayakan Allah untuk menentukannya mana yang terbaik buat kita. Itulah tawakal kepada Allah.

    Muncul pertanyaan buat kita, kapan tawakal itu dibicarakan dan dipikirkan dan kapan tawakal dimasukkan kedalam hati sebagai prinsip ? Kita tidak boleh membicarakan dan memikirkan tawakal kalau masih dalam proses ikhtiar sebab kalau kita membicarakan dan memikirkan tawakal maka tawakal tersebut akan membunuh ide-ide, inisiatif, kreatifitas pikir solutif, daya semangat juang kita untuk mencapai sesuatu olehkarena itu kita harus menempatkan tawakal pada tempatnya. Jika salah menempatkan maka akan sangat fatal akibatnya.

    Kapan tawakal itu bisa dibicarakan dan dipikirkan? Ada seseorang yang datang pada Nabi Saw dan bertanya: Ya Nabi apakah saya harus lepas untaku dan kemudian aku bertawakal kepada Allah ataukah saya ikat untaku kemudian aku bertawakal kepada Allah ?

    Nabi Saw menjawab ikatlah untamu itu kemudian baru bertawakal kepada Allah. Hadist ini memberikan isyarat bahwa menempatkan tawakal setelah ikhtiar maksimal. Jika ikhtiar itu sudah maksimal baru boleh kemudian berpikir tawakal. Janganlah ikhtiar belum maksimal kita sudah berpikir tawakal.

    Kalau misalnya dalam mencapai sesuatu kemudian kita menemui persolan dan kita berusaha untuk menghadapi persoalan tsb dan persoalan tsb umpamanya sangat sulit untuk diatasinya Kalau seandainya disaat demikian kemudian terpikir oleh kita untuk bertawakal kepada Allah maka tawakalnya akan membunuh kreatifitas solutif kita, tawakalnya akan membunuh kreatifitas pikir kita untuk mencari solusi untuk menghadapi persoalan yang dihadapinya dan kalau sudah demikian fatal akibatnya. Olehkarena itu kalau kita berbicara tawakal bicaralah setelah ikhtiar maksimal kalau kita berpikir tawakal pikirkanlah tawakal itu setelah ikhtiar maksimal setelah usaha maksimal. Disaat kita menjalankan suatu usaha pikirkanlah masalah usaha itu fokuskanlah pikiran kita kepada usaha itu jangan sampai dimasuki pikiran tawakal karena tawakal tempatnya bukan dalam proses usaha tetapi tawakal tempatnya adalah setelah ikhtiar maksimal.

    Kemudian juga muncul pertanyaan kapan tawakal dimasukkan dalam hati sebagai prinsip. Tawakal dimasukkan dalam hati sebagai prinsip ditegaskan dalam firman Allah QS Al Imran 159 ……Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepadaNya.

    Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad (berazam, merencanakan perencanaaan yang sudah matang) untuk dilaksanakan maka setelah punya rencana yang matang dan siap untuk dilaksanakan maka masukkanlah dalam hati prinsip bertawakal kepada Allah. Tawakal dimasukkan dalam hati sebagai prinsip setelah adanya rencana yang matang dari kita yang siap untuk dilaksanakan. Sebab jika manusia sudah punya rencana yang matang yang siap dilaksanakan apabila hatinya telah diisi prinsip tawakal kepada Allah maka bisa diwujudkan dalam usaha yang telah matang tadi maka umpamanya diakhirnya kemudian gagal maka hati telah terisi dengan prinsip tawakal kepada Allah. Kalau hamba itu telah menemui suatu kegagalan setelah punya rencana yang matang dan akhirnya gagal maka kemanusiaan hamba tidak akan kecewa. Kemanusiaan hamba ia tidak bisa menerima tentang kegagalan tersebut kemanusiaan hamba akan protes akan kegagalan tersebut tetapi kegagalan yang diterima oleh manusia dimana kemanusiaannya protes dimana kemanusiaannya tidak bisa menerima dimana kemanusiaannya tersebut bergejolak menolak kenyataan kegagalannya, tetapi gejolak kemanusiaan tersebut tidak bisa mempengaruhi hati karena hati telah diisi dengan prinsip bertawakal kepada Allah. Maka kalau hati sudah tidak bisa dipengaruhi oleh reaksi dari kemanusiaannya atas kegagalannya maka hati tersebut akan tetap bersih disisi Allah Swt. Dan kalau hati sudah punya prinsip bertawakal kepada Allah maka kekuatan hati bisa mengalahkan seluruh diri manusia termasuk seluruh kemanusiaan manusia maka gejolak protes kemanusiaan manusia dinetralisir oleh prinsip bertawakal kepada Allah yang ada dalam hati. Maka begitu kemanusiaan itu kecewa maka kekecewaannya itu dinetralisir oleh prinsip yang ada dalam hati yang berupa tawakal kepada Allah maka hilanglah kekecewaan hamba sebab karena hati telaah diisi dengan prinsip bertawakal kepada Allah maka bahagialah hidup manusia walaupun ia menemui kegagalan.

    Jika sudah demikian maka kegagalan yang dialami oleh manusia tidak akan membawa tekanan dalam hatinya sehingga tidak akan mendatangkan stress karena hati telah diisi dengan prinsip tawakal kepada Allah maka prinsip tawakal kepada Allah yang ada dalam hati diantaranya secara duniawiyahnya akan menetralisir stress kemanusiaan

    Oleh karena itu jika kita menginginkan kebahagiaan dunia akhirat diantaranya harus berprinsip dengan prinsip agama termasuk didalamnya adalah bertawakal kepada Allah.

    Melalui tasawuf kita mensucikan hati yang sesuci- sucinya untuk mencapai kedekatan diri pada Allah sedekat-dekatnya sampai seakan-akan menyatu dengan diri Allah Swt

    Kalau di hati kita ada prinsip bertawakal maka begitu yang kita ingini tidak tercapai yang mana kemanusiaan kita tidak ridho takdir Allah tersebut tetapi hati kita bisa menerima takdir Allah tersebut. Kalau seandainya hati kita tidak diisi dengan prinsip tawakal kepada Allah begitu kemanusiaan kita menolak tidak bisa menerima takdir Allah yang berupa kegagalan maka dia akhirnya akan mempengaruhi hati kita dan akhirnya hati kita juga turut menolaknya. Maka hati kita menjadi tidak ridho atas takdir Allah jika hati tidak ridho akan takdir Allah maka kotorlah hati kita dan Allah tidak senang terhadap hati hambanya yang tidak ridho atas takdir Allah.

    Berdasarkan sabda Nabi Saw “Barangsiapa yang tidak ridho terhadap keputusanKu dan kekuasaanKu maka hendaklah ia mencari Tuhan selain Aku”.

    Begitu kerasnya Allah memperingati hambanya seandainya hambaNya tidak ridho akan takdir Allah tentu Allah benci kepada hambaNya yang hatinya tidak ridho atas takdir Allah dan kalau Allah benci kepada hambaNya karena hatinya ada kekotoran maka sulit kita untuk bisa dekat kepada Allah. Untuk menjadi hamba yang dekat kepada Allah jangan sampai Allah benci kepada kita, tetapi yang dikejar adalah Allah cinta kepada kita.

    Karena itu kalau kita berusaha untuk bertasawuf maka tawakal tidak bisa ditawar lagi harus tertanam dihati kita sebagai prinsip dalam merencanakan suatu rencana yang harus kita capai masukkanlah tawakal dalam hati kita

    Dengan bertawakal kepada Allah semua takdir yang ditakdirkan kepada kita maka hati akan ridho menerimanya dan kalau hati sudah ridho menerimanya maka Allah tidak murka kepada hambaNya tapi cintai kepada hambaNya.

    Allah berfirman dalam Al Imron 159 “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertawakal”

    Allah cinta kepada hambaNya yang bertawakal tetapi tawakalnya bukan cuma ada dipikirannya tawakalnya bukan cuma dibicarakan tetapi tawakalnya masuk dalam hati sebagai prinsip.

    Keistimewaan tawakal tercantum dalam QS At Talaq 3 ……..Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya

    Allah akan mencukupi kebutuhan kita baik kebutuhan lahiriah maupun kebutuhan batiniah Karena Allah mencukupi kita maka itu adalah hak Allah kita tidak boleh intervensi akan hak Allah tersebut. Silahkan Allah yang menentukan kapan Allah akan mencukupkan kebutuhan kita tersebut. Bisa jadi saat sekarang kita bertawakal kepada Allah tetapi Allah mencukupi kebutuhan kita di lain waktu sesuai dengan situasi dan kondisi yangada pada diri kita. Dan yang paling penting bila kita tawakal kepada Allah maka diakhiratnya kita akan dicukupi kebutuhannya oleh Allah maka tempatnya tidak ada lain kecuali syurga karena syurga lah tempat dimana seluruh kebutuhan tercukupi sedangkan neraka adalah suatu tempat dimana kebutuhan tidak tercukupi oleh Allah. Jika kita bertawakal maka pastilah kita akan masuk syurga. Oleh karena itu orang yang bertasawuf yang dikejar adalah mencapai kedekatan diri kepada Allah diantaranya dengan bertawakal kepada Allah. Yang paling penting penting adalah tawakal dimasukkan dalam diri kita sebagai prinsip dan waktu memasukkan sebagai prinsip setelah kita punya rencana yang sudah matang yang siap untuk dilaksanakan. Dengan kita bertawakala kepad Allah akhirnya hati kita akan selamat dari tidak ridho atas takdir Allah karena dengan tidak ridho pada Allah adalah sangat mengotori hati kita maka Allah mengecamnya silahkan cari Tuhan yang lain (Nauudzubillahi min Dzalik)

    Tanya-Jawab Pada fase apa saja tawakal ditempatkan sehingga kita tidak salah menempatkan? Tahap I : Tempatkan tawakal dalam hati sebagai prinsip Jika dalam proses usaha maka jangan berpikir tawakal karena akan membunuh berpikir solutif kita Tahap II: Tawakal ditempatkan setelah usaha yang maksimal Tahap III: Tawakal ditempatkan setelah takdir ditentukan oleh Allah

    Apakah kita pernah kecewa apabila menerima kegagalan? Kita sering merasa kecewa yang berkepanjangan atas kegagalan yang kita temui. Ini dikarenakan kita tidak memasukkan prinsip bertawakal dalam hati kita. Kita juga sering mempertanyaan takdir Allah yang telah ditetapkan kepada kita akan kegagalan tersebut maka hal ini akan memunculkan titik-titik hitam dihati kita dan kotorlah hati kita. Jika hati kita kotor maka kita tidak akan dekat dengan Allah.

    Apakah kita bisa disebut tawakal apabila kita berusaha ke pengobatan alternatif ? Jika masih dalam jalur keislaman pengobatan tersebut masih boleh dilakukan namun tetap harus ditanamkan prinsip bertawakal kepada Allah. Melalui tawakal pada Allah jika terjadi hal-hal yang tidak berkenan maka kita tidak akan menyalahkan orang yang mengobati tersebut

    Bagaimana kita bisa tahu bahwa usaha kita sudah maksimal atau belum ? Awali dengan perencanaan yang matang. Kadang-kadang perencanaan yang kita buat tidak matang sehingga hasilnya pun kurang maksimal. Azam = Perencanaan yang matang. Setelah itu lakukan usaha maksimal untuk mewujudkan secara menyeluruh oleh karenanya disebut usahanya sudah maksimal

    Jika sering berusaha tapi gagal apakah ada hubungan Allah tidak merestui? Gagal itu ada 2 pandangan dari segi kemanusiaan rugi terus namun dari segi keimanan kegagalan bisa mengumpulkan tawakal

    Jika kita hendak menjual sesuatu dan pihak pembeli mantap dan kita berniat jika terjual maka sebagian keuntungan akan diinfakkan namun akhirnya tidak terjual, apakah ini artinya tidak diridhoi Allah? Kita ridho atas tidak terjualnya karena ada segi kebaikan akan tidak terjualnya tersebut

    Beda tawakal dengan sabar ? Tawakal artinya mempercayakan kepada Allah sedangkan Sabar artinya menahan

    Dalam proses tawakal kadang tidak mampu menahan emosi kita dan prosesnya melalui jatuh bangun hal apa yang perlu dilatih? Usaha memproses diri untuk bertawakal sudah digolongkan sebagai orang yang bertawakal. Bertawakal awalnya bisa dimulai dari ucapan kita sebelum berangkat kita membaca Bismillahitawakaltu Allahllah. kemudian langkah selanjutnya ucapan bertawakal tersebut meresap dalam hati caranya, hati berbicara mulut ditutup dan pikiran merenungi makna tawakal dan percaya pada Allah untuk menangani dan menentukan sesuatu urusan jika terus- terus dilakukan maka prinsip bertawakal akan masuk dalam hati maka punya kekuatan menetralisir kemanusiaan yang tidak menerima takdir Allah

    Alhamdulillahirabbil Alamin

    Daarut Tauhiid Cipaku

     
  • erva kurniawan 5:44 am on 25 November 2013 Permalink | Balas  

    SHAZIA 

    2003-january-shazia-mirza2SHAZIA

    Namanya Shazia Mirza. Dia seorang komedian perempuan yang hidup di London. Dengan bersahaja, dia memberi kontribusi non-konvensional untuk Islam dan kemaslahatan umat Islam: dengan humor. Dari panggung ke panggung perempuan berjilbab asal India ini mencoba mencairkan kebencian; meminimalisir stereotipe Islam dan citra Muslim di Inggris khususnya. Praktis, pasca 11 September di AS, Islam dan umat Islam remuk-redam diterpa kecurigaan dan kebencian. Menurut Shazia, people (di Barat) think that all muslims are extreme and dangerous. Apa akal? Dengan caranya, Shazia mengocok perut warga Inggris. Dalam suasana kalut yang mendalam, tak mudah membuat orang tersenyum, apalagi tertawa terpingkal-pingkal. Rupanya, banyak jalan untuk berjihad. Salah satunya seperti disebut oleh Karen Armstrong, apologis untuk Islam. Maksudnya, jihad dengan menggunakan media. Dari sederet cara itu, Shazia mengambil cara nonkonvensional yang disebut tadi.

    Shazia cukup sukses. Dalam tulisannya di ISIM Newsletter edisi 10, menuturkan: “Mereka yang datang dengan beragam keyakinan, membanjiriku dengan rupa-rupa pertanyaan. Mereka sangat terkesan dengan pola hidup seorang perempuan muslim. Sebagian pikiran dan persepsi mereka tentang Islam dan Muslim pasca 11 September, berangsur-angsur berubah.”

    ISIM adalah jurnal kajian keislaman yang terbit di Nederland.

    Namun demikian, Shazia menyoal apa sebab Islam sangat sulit diasosiasikan dengan humor. Sebatas yang dia tahu, Nabi Muhammad banyak tertawa dan membuat gurauan-gurauan segar. Bagi seorang Shazia, “jika keyakinanmu, keagamaanmu kuat, kamu akan dapat tertawa dengannya.” Tapi nyatanya, dalam hal keyakinan, jangankan tertawa, senyum pun orang tak sudi. Itu bentuk pelecehan, paling tidak ketidakbersungguhan. Sementara, keyakinan bagi sementara orang adalah kesungguhan, ketegasan, sekali-sekali kemarahan.

    Tawa dalam keyakinan itu tentu saja sulit. Kalau dirujuk ke doktrin agama, tertawa mungkin menjadi makruh, kurang terpuji. Dalam sebuah hadits menyebut tawa yang overdosis sebagai pembunuh hati (fainna katsrat al-dlahik tumît al-qalb). Lebih dari itu, sebuah pepatah mengatakan, “Temanmu adalah yang membawamu terisak, bukan yang menggiringmu tertawa (shadiquka man abkâka lâ man adlhakaka). Yang perlu diingat, tentu saja teks dan realitas Shazia berlainan. Kalau tidak begitu, teks-teks menjadi tidak banyak bermakna. Sebab, menurut Shazia, “As comedian, I believe that laugther is strongest tool for communicating with people who shut the door in my face, because I am muslim. Tawa orang sangat penting bagi Shazia, ia menjadi instrumen terkuat untuk berkomunikasi dengan orang yang membanting pintu di depan mukanya, sebab ia muslim.

    Mungkin tak ada korelasi secara doktrinal antara tawa dengan agama. Tertawa, hanyalah ekspresi kemanusiaan yang umum saja. Ia tanda kebahagiaan, meskipun sekali-kali orang menyebut tangis (juga) tanda kebahagiaan. Tapi, bila pemikir Fahmi Huwaidi menyebut pola keberagamaan yang pemberang (al-tadayyun al-ghâdib), tak ada salahnya kita menghubungkan keberagamaan dengan humor. Tarolah kita menyebutnya keberagamaan yang humoris (al-tadayyun al-fukâhî), atau keberagamaan yang “uhuy”, meminjam istilah Komeng.

    Bisa jadi, keberagamaan yang ramah, santun, toleran bisa lahir dari tingkat humor yang tinggi. Siapa tahu? Itu sah-sah saja sebagai harapan. Toh Shazia yang sudah melakoni itu juga punya harapan. “One day, I hope we can all laught together.” Demikian harapan Shazia. [Novriantoni]

    ***

    source : http://www.islamlib.com/EDITORIAL/novri%20shazia.html

     
    • assa 1:11 pm on 25 November 2013 Permalink

      Bisa berikan contoh dari “komedi”nya. Soal saya masih gamang dengan “bentuk” tawa yang ia sajikan.

  • erva kurniawan 4:21 am on 24 November 2013 Permalink | Balas  

    Keuletan 

    kerja keras 2Keuletan

    Allah berfirman dalam alqur’an: “didalam setiap kesulitan ada kemudahan” Alam nashroh… Eh Seorang genius bernama Albert Einstein pernah berkata yang mirip-mirip: In the Middle of Difficulty Lies Opportunity. Terjemahannya secara bebas bisa diartikan sebagai berikut : Di dalam setiap kesulitan terdapat kesempatan. Bila direnungkan kata-kata mutiara tersebut di atas dengan lebih seksama, sungguh merupakan sebuah kata-kata yang mengandung pengertian dan mempunyai bobot motivasi yang dalam.

    Ya, memang benar !.. Disetiap kesulitan yang mampu kita atasi, maka bersamaan itu pula akan muncul kesempatan-kesempatan yang memungkinkan kita untuk melanjutkan usaha dan perjuangan sehingga tercapai kemajuan dan kesuksesan.

    Tetapi, yang sering terjadi pada saat kita dihadapkan dengan Rintangan, Cobaan, Kesulitan, Problem yang bermunculan, semangat perjuangan menjadi turun dan mudah menyerah. Terkadang di saat-saat tertentu, kesulitan-kesulitan itu terasa begitu berat dan sangat membebani mental, bahkan tidak jarang sampai membuat kita merasa gagal, frustasi, depresi, putus asa menganggap ini semua merupakan suratan nasib kita.

    Mengapa kita mudah menyerah?. Mengapa kita cepat merasa gagal? Sebenarnya perasaan di atas ini adalah akibat dari hasil pikiran atau kesadaran tentang proses hidup ini yang belum matang. Kita perlu menyadari bahwa kesulitan adalah bagian dari kehidupan kita. Setiap kesulitan pasti akan membawa hikmahnya yang setimpal. Kesuksesan sejati adalah kristalisasi dari berbagai macam kesulitan-kesulitan yang mampu kita atasi. Untuk itu tidak terkecuali bagi kita yang bergerak di Ahadnet, pasti akan menemui berbagai macam kesulitan sebagai Tantangan yang harus kita hadapi.

    Maka jelas sekali, kita dituntut mempunyai Keuletan Extra. Keuletan yang berarti: tidak sekedar Sabar Bertahan, Apatis, Pasif, Pasrah, tetapi Keuletan yang didalamnya mengandung sikap Pantang putus asa, Tetap bersemangat, Kegigihan, Ketegaran, Keberanian untuk Bereaksi terus menerus dan Pantang menyerah.

    Jika sikap mental KEULETAN diatas dapat dipraktekkan disetiap tantangan yang muncul, sampai menjadi kebiasaan dikehidupan kita, maka kita akan sadar bahwa hanya melalui, Kelemahan, Kesulitan, Kesalahan, bahkan Kegagalan, barulah kita mempunyai kesempatan untuk meningkatkan kualitas kehidupan ini melalui BELAJAR DALAM ARTI YANG SEBENARNYA.

    Istilah Zainuddin: Mundur hancur, berhenti diinjak orang..! so what? Maju terus…!

    ***

    Oleh: Zamah Saari

     
    • assa 1:14 pm on 25 November 2013 Permalink

      Maka ciptakanlah “kesulitan” dan engkau akan temukan “kemudahan” didalamnya. :)

  • erva kurniawan 3:08 am on 23 November 2013 Permalink | Balas  

    Kisah Seorang Ulama Buntung 

    ayahKisah Seorang Ulama Buntung

    Oleh Sabrur R Soenardi

    Beberapa abad silam, di sudut distrik terpencil Zamakhsyar, seorang bocah mungil asyik bermain-main dengan seekor burung. Ketika ibunya memanggil, si bocah tetap saja asyik bermain hingga akhirnya terjadilah sebuah tragedi : Bocah ini mematahkan kedua kaki burung. Binatang malang ini mencicit kesakitan, tetapi si bocah malah terbahak-bahak melihatnya.

    Merasa panggilannya tak digubris, sang ibu menghampiri dengan marah. Dia bertambah murka ketika tahu anaknya berbuat dosa pada sang burung yang hampir putus kakinya. “Oh, anakku, bagaimana kau bisa seenaknya mematahkan kaki burung kecil itu? Itu berdosa anakku. Ia sangat kesakitan. Coba pikirkan jika itu terjadi padamu. Kamu akan menderita anakku, Kamu sungguh keterlaluan.” Si bocah menggigil ketakutan. Baru kali ini ia melihat ibunya demikian marah, mengeluarkan kata-kata kasar dan mengerikan.

    Beberapa belas tahun kemudian, si bocah itu sudah menjadi remaja yang matang. Ia tengah melakukan perjalanan pulang selepas menyelesaikan belajarnya di sebuah madrasah di Iran. Malang, tiba-tiba seekor kalajengking menyengat kudanya. Sang kuda meringkik, terhuyung, kemudian terjerembat dan sang penunggang jatuh terjungkal.

    Singkat cerita, sesampai remaja ini di rumah, ternyata kedua kakinya terkilir hebat dan menurut tabib setempat, tidak bisa dipulihkan. Satu-satunya jalan keluar adalah mengamputasinya. Ia pun mesti menerima takdir Allah itu dengan ikhlas dan pasrah, menjadi manusia berkaki buntung.

    Sang Ibu benar-benar terpukul atas nasib yang menimpa anaknya itu. Namun suatu malam sehabis shalat tahajjud, sang ibu tersadar bahwa “kata-kata buruk” yang dia ucapkan belasan tahun lalu kepada si bocah kecil yang mematahkan kaki burung itu rupanya kini jadi kenyataan. Dalam larut atas rasa berdosa yang tak terkendali, ia pun berdoa pada Allah agar di kemudian hari, meski cacat tubuh, sang anak bisa menjadi manusia yang berguna bagi Islam dan kaum Muslim.

    Doa baik sang ibu dikabulkan Allah. Anak itulah yang di kemudian hari kita kenal sebagai Abu Qasim Azzamakhsyari, seorang ulama paling brillian di zamannya, sekaligus cendikiawan garda depan Muktazilah dengan karya tafsirnya yang terkenal Alkasysyaf.

    Dialah satu-satunya ulama yang buntung kedua kakinya, dan itu diyakini buah dari “kata-kata buruk” sang ibu. Ia menjadi tokoh ternama, dan itu juga diyakini sebagai buah dari “kata-kata mulia” sang ibu. Benar sabda Nabi SAW bahwa salah satu doa yang pasti dikabulkan Allah adalah yang terucap dari mulut orang tua (demi nasib anaknya). Maka, berhati-hatilah berucap untuk anak-anak kita.

    Wallahu a’lam

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 2:14 am on 22 November 2013 Permalink | Balas  

    Naluri Kembali Ke Asal 

    berlayarNaluri Kembali Ke Asal

    Oleh: Cak Nur

    Naluri manusia untuk berbakti melahirkan naluri keinginan untuk kembali ke asal. Dalam pandangan para filosof Muslim, bukan hanya manusia yang ingin kembali ke asal, tetapi semua alam ini. Keinginan alam untuk kembali ke asal mencari Tuhan ini menyebabkan ada gerak putar. Semua alam bergerak berputar, seperti rembulan berputar mengelilingi bumi, bumi mengelilingi matahari, matahari mengelilingi bima sakti dan sebagainya. Inilah thawaf. Sebenarnya thawaf dalam haji adalah meniru thawaf-nya alam. Thawaf adalah gerak untuk mencari kembali ke asal. Hajar aswad kemudian dijadikan simbol permulaan, dan akhirnya inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (kita semuanya dariAllah dan kembali kepada-Nya).

    Semuanya ingin kembali, kita juga begitu. Kita merindukan ibu, kita sekeluarga merindukan kampung halaman, oleh karena itu ada gerak mudik setiap tahun, seperti pada setiap idul fitri. Secara psikologis, mudik tiap tahun itu tidak dapat dibendung karena merupakan naluri manusia. Mudik bukan semata tradisi di Indonesia, apalagi hanya tradisi pembantu. Di Amerika saja tradisi mudik saat thanksgiving day luar biasa.

    Sebetulnya haji juga merupakan gerak ke asal karena manusia mempunyai konsep tentang tanah suci. Tanah suci mewakili sentralitas dan Ka’bah hanya sebagai simbol sentralitas dari keputusan yang kita anggap sebagai bayt Allah (rumah Tuhan). Karena itu sebenarnya dengan zikir kita kembali kepada Tuhan. Laksana bayi yang tenteram berada dalam dekapan ibunya, dengan zikir seolah-olah kita pun didekap Tuhan sehingga menjadi tenteram, ala bi dzikr Allah tathma’inn al-qulub (ketahuilah bahwa dengan mengingat Allah, maka hati menjadi tenteram {Q. 13:30}). Maka kalau pergi ke Makkah dan terharu melihat Ka’bah itu adalah psikologi dari orang yang menemukan asal, psikologi dari orang yang merasa kembali ke sentral (center).

    Sebenarnya seluruh ibadat kita adalah untuk ingat Tuhan dalam arti di atas. Memang “mengingat Tuhan” itu kemudian disistematisir melalui zikir formal seperti yang diajarkan oleh tarekat, tetapi itu semata institusionalisasi dari budaya dzikir. Karena lukisan dzikir dalam al-Qur’an adalah suatu kegiatan yang tidak mengenal tempat dan waktu, qiyaman wa qu’udan wa’ala junibihim (pada waktu berdiri pada waktu duduk dan pada waktu berbaring{Q. 3:191}), tidak ada henti. Perintah salat adalah perintah untuk berzikir, aqim al-shalata lidzikri (tegakkanlah salat supaya kamu ingat kepada-Ku {Q. 20: 13}). Semua pekerjaan kita menjadi zikir asal kita tarik dimensinya dari kita kepada Tuhan. Inilah yang namanya al-shirath al-mustaqim (jalan lurus); tidak harus lurus horizontal tetapi juga lurus vertikal, karenanya sering juga diterjemahkan dengan tegak lurus.

    Penyebutan jalan lurus, menurut Buya Hamka, karena merupakan jarak antara dua tempat yang paling dekat dan yang jalannya paling dekat. Disebut jalan lurus adalah juga dengan maksud tersedianya banyak jalan bagi orang yang ingin kembali kepada Tuhan, meskipun sebagian jalan itu menyimpang.

    Kalau orang tidak bisa kembali kepada asal sama saja dengan orang yang keluar rumah dan tidak bisa pulang, itulah sesat (tidak bisa kembali ke asal). Bisa dibayangkan kalau kita keluar rumah tetapi tiba-tiba tidak tahu jalan pulang dan gelap di mana-mana, itu menimbulkan kesengsaraan (dlalalah). Karena itu secara khusus kita berdo’a dalam al-Fatihah ghayr al-maghdlubi ‘alayhim wala al-dlallin (bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan jalan mereka yang sesat). Menurut Ibn Taymiyah, Tuhan masih bisa memaafkan orang yang sesat, tetapi tidak ada maaf bagi orang yang dimurkai karena dia sendiri yang tidak mau kembali.

    Ingat kepada Allah yang disebut zikir sebenarnya lebih merupakan sikap batin daripada sikap lahir. Wadzkur rabbaka fi nafsika tadlarru’an wa khifatan wa duna al-jahri min al-qawl bil ghuduwwi wal ashal (berzikirlah kepada Tuhanmu dalam dirimu dengan penuh haru dan takut dan tidak dengan mengeraskan suara baik pagi maupun petang, dan janganlah kamu termasuk mereka yang lalai pada Tuhan {Q. 7:205}). Perasaan takut di sini dalam arti merasakan keagungan Tuhan. Karena itu sangat tepat kalau dikatakan bahwa sebetulnya zikir adalah suatu cara untuk menyadarkan kita bahwa Tuhan hadir dalam hidup kita. Karena memang Tuhan beserta kita di mana pun kita berada huwa ma’akum ayna ma kuntum (Dia beserta kamu di manapun kamu berada), wa lillahi al-masyriq wa al-maghrib fa ayna ma tuwallu fatsamma wajhu Allah (Barat dan Timur itu milik Tuhan maka ke mana pun kamu menghadap di sanalah wajah Tuhan {Q. 2:115}). Ayat ini menegaskan bahwa Tuhan Maha Hadir. Itulah sebabnya kenapa ketika Abu Bakar ketakutan hampir ketahuan oleh orang Quraisy dalam persembunyiannya di gua Tsur, dengan tenang Nabi berkata: la tahzan inna Allaha ma’ana (jangan khawatir karena Allah beserta kita).

    Kedekatan Tuhan dengan kita mestinya tidak membuat kita lupa kepada Tuhan sebagai asal dan tujuan hidup, inna lillahi wa inna ilayhi raji’un. Lupa kepada Tuhan berarti kita dijadikan Tuhan lupa kepada diri kita sendiri. Peringatan Allah wala takunu ka al-ladzina nasharullah fa ansahum (janganlah kamu seperti mereka yang lupa akan diri mereka sendiri), metafor yang dipergunakan untuk melukiskan orang dalam kegelapan. Ibarat sebuah nur, agama kemudian mengeluarkan orang dari kegelapan kepada terang. Terang ini diperlukan untuk kebahagiaan.

    Berada dalam kegelapan adalah kesengsaraan yang amat-sangat, karena itu mestinya kita tidak lupa kepada Tuhan dan kepada diri sendiri. Maka Allah mengingatkan ud’u rabbakum tadlarra’an wa khufyah (berdoalah kepada Tuhanmu dengan penuh haru, dan dengan rahasia {Q. 7:55}). Perlu digarisbawahi di sini bahwa zikir sebenarnya merupakan masalah pribadi, masalah pribadi antara kita dengan Allah. Dengan merujuk kapada ayat di atas, sebenarnya penggunaan loud speaker dalam berzikir adalah problem, atau lebih tegasnya tidak boleh. Al-Qur’an mengajarkan kita supaya khusyu’ dengan penuh haru dan penuh privacy dalam berzikir, karena hanya dengan begitu kita akan merasakan kehadiran Tuhan. Meskipun benar efek kebersamaan dalam zikir berpengaruh secara psikologis, tetapi yang paling penting dalam zikir adalah dalam hati. Itu yang disebut zikir khafi.

    Dilihat dari namanya yang khafi, rahasia, sebenarnya zikir ini merupakan sesuatu yang sangat rahasia, sangat pribadi, berada dalam lubuk hati masing-masing. Dalam bahasa Arab hal itu disebut lubb, dan itu bisa tidak berbahasa, tanpa bahasa, karena yang penting adalah menghayati kehadiran Tuhan dalam diri kita. Rasakanlah bahwa Allah sendiri berfirman, bahwa Allah lebih dekat kepada kita daripada urat leher kita sendiri.

     
  • erva kurniawan 4:19 am on 21 November 2013 Permalink | Balas  

    Jalan Lurus 

    berjalan menapakiJalan Lurus

    Oleh: Cak Nur

    Dalam shalat, salah satu bacaan paling penting adalah al-Fatihah, yang puncaknya memohon petunjuk pada Allah: ihdina al-shirath al-mustaqim (tunjukilah kami jalan yang lurus). Permohonan ini menandakan bahwa kita tidak tahu jalan yang lurus itu yang mana. Kalau kita berdoa memohon ditunjukkan jalan yang lurus, tetapi merasa sudah tahu, itu som-bong namanya. Karena itulah dalam agama -misalnya dalam tasawuf- kita diajarkan tahalli (mengosongkan diri) sehingga tidak ada pretensi, dan siap untuk didikte hanya oleh Tuhan.

    Sebelum meminta petunjuk kita membaca iyyaka na’budu (hanya kepada Engkau kami menyembah). Menurut kaum sufi, ayat ini mengindikasikan bahwa kita masih merasa atau masih sempat mengaku kalau kita menyembah Tuhan. Ini artinya, kita mengklaim bahwa pekerjaan menyembah itu ada pada kita; kita aktif menyembah Tuhan dengan mengharap pahala. Inilah yang disebut ‘ibadah al-‘abidin. Yang demikian ini memang tidak salah, tetapi dilihat dari segi keruhanian, tingkatnya masih bersi-fat lahiriah. Karena itu harus diteruskan dengan wa iyyaka nas-ta’in (dan kepada Engkau aku mohon pertolongan), yang berarti bahwa kita tidak mampu dan karena itu melepaskan klaim kita dalam beribadah.

    Oleh karena itulah, terutama dalam perspektif tasawuf shalat bukan diartikan sebagai kita telah menyembah Tuhan, tetapi Tuhan-lah yang telah menggerakkan kita untuk shalat. Ini berkaitan erat dengan la hawla wa la quwwata illa billahi ‘aliyy-il azhim (tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah), ter-masuk dalam kita menyembah itu. Karena itulah kita memohon kepada Allah agar kita digerakkan untuk bisa berbuat baik. Inilah yang disebut ‘ibadah al-shalihin, ibadahnya orang-orang shalihin, orang yang sudah tidak lagi mengklaim bahwa dia berbuat baik, sebab sebenarnya Tuhan-lah yang menggerakkan-nya. Pada tingkat ini orang menjadi ikhlas, pasrah, tawakal kepada Allah. Dan inilah sebetulnya Islam dalam arti yang sebenarnya: yaitu sikap pasrah hanya kepada Allah. Maka menarik apa yang dikatakan Rabi’ah Adawiyah dalamn sebuah syairnya yang terkenal. “Ya Tuhan/Kalau aku menyembah Engkau hanya karena takut neraka-Mu/Masukkanlah saja aku ke nereka/Kalau aku menyembah Engkau karena ingin surga-Mu/Bakar saja surga itu untukku/Tapi kalau aku menyembah karena ridla-Mu/Maka terimalah aku.

    Inilah pencerahan dalam keberagamaan seperti diajarkan dalam tasawuf, yaitu keberhasilan keluar dari kegelapan menuju pada terang, atau cahaya. Kalau kita baru sampai pada iyyaka na’budu berarti kita masih mengklaim diri kita mampu dan aktif menyembah. Tetapi kalau sudah wa iyyaka nasta’in, maka kita lebur. Menyatu dengan Tuhan. Persis seperti pemaknaan ini, ihram dalam haji, terutama pada laki-laki, dengan memakai pakaian terdiri dari dua potong kain putih, dan bahan yang kasar dan sederhana sebenarnya merupakan upacara melepaskan pre-tensi dan klaim, melepaskan simbol dan melepaskan topeng yang berupa pakaian. Idealnya di hadapan Allah memang tanpa pakaian, telanjang. Tetapi itu tidak mungkin karena dapat menimbulkan kekacauan. Makanya diganti dengan pakaian ihram yang serba sederhana dan apa adanya. Inilah pasrah. Dan justeru itu yang lebih tinggi nilai spiritualnya daripada yang punya pretensi.

    Orang yang pasrah kepada Allah tidak pernah mengkalim bahwa dia yang berbuat baik. Kalau pun ternyata ada kebaikan, al-hamd li `L-Lah, yaitu Allah yang diberi kredit. Ucapan al-hamd li `l-Lah adalah untuk memupus egoisme dan kesombongan kita. Supaya diingat bahwa dosa makhluk yang pertama adalah kesombogan, yaitu ketika iblis menolak untuk sujud kepada Adam. Dia ingkar dan sombong, dengan begitu dia termasuk orang yang kafir. Kesombongan adalah dosa kesetanan. Rasulullah pernah bersabda, tidak akan masuk sorga orang yang dalam hatinya terdapat seberat atom dari perasaan sombong.

    Perlu diberi catatan di sini mengenai sifat sombong (al-mutak-abbir) Allah dalam asmaul husna, yang kita malah diperintah menirunya. Memang kita harus punya juga sifat sombong, tapi porsinya tidak besar, hanya sampai pada tingkat kita punya harga diri. Ini yang disebut ta’affuf (perwira), yaitu orang yang tidak mudah merendahkan diri pada orang lain, apalagi sampai meminta belas kasihan. Perwira artinya punya harga diri, tetapi tidak boleh sombong.

    Oleh karena itu zikir dalam agama sebenarnya merupakan suatu bentuk penyadaran bahwa kita hanyalah makhluk yang tidak mempunyai harga apa-apa, kecuali dengan pengakuan Allah sendiri. “Barang’ siapa mencari kemuliaan dan kekuatan, kepunyaan Allah segala kemuliaan dan kekuatan. Kepada-Nya naik kata yang baik; dan Dia-lah yang mengangkat amal yang baik. Tetapi mereka yang merencanakan kejahatan, akan menda-pat azab yang mengerikan. Dan rencana mereka akan sia-sia.” (Q. 35: 10).

    Inilah yang menjadi pokok dalam agama, yatiu kesediaan untuk menyesuaikan keberadaan diri di bawah cahaya kesa-daran akan kehadiran Tuhan dalam hidup, yang berarti kesedi-aan untuk menjalani hidup itu dengan standar akhlaq yang setin-gi-tingginya. Dan ini terjadi dengan melakukan hal-hal yang sekiranya akan mendapatkan perkenan atau ridla Tuhan, yaitu amal saleh, tindakan-tindakan bermoral dan berprikemanusiaan. Dalam semangat kesadaran akan adanya Tuhan Yang Mahahadir dan Mahatahu itu, hidup berakhlak bukan lagi masalah kesedia-an, tetapi keharusan. Sementara itu, dalam analisa selanjutnya, hidup berakhlak seseorang pada hakikatnya bukanlah untuk “kepentingan” Tuhan, melainkan justeru untuk kepentingan orang itu sendiri, sesuai dengan tabiat alamiah atau fitrah keja-diannya sebagai manusia. Karena itu, jika kita menolak pesan Tuhan itu, maka hendaknya kita ketahui bahwa Dia, sebagai pemilik dan penguasa langit dan bumi, adalah Maha Kaya (tidak perlu kepada siapapun), dan Maha Terpuji (perbuatan baik ataupun buruk kita tidak menambah ataupun mengurangi atribut yang Maha Kuasa itu) (Q. 4:131).

    Relevan sekali dengan pandangan ini adalah kutipan dari A. Yusuf Ali dalam memberi penjelasan tentang makna yang amat fundamental firman Ilahi itu. Katanya: “Eksistensi Tuhan adalah eksistensi yang mutlak. Ia tidak tergantung kepada siapapun atau apapun yang lain. Ia berhak atas segala pujian, karena ia adalah segala kebaikan dan terdiri dari setiap keutamaan yang manapun. Penting menekankan hal ini untuk menunjukkan bahwa hukum akhlaq manusia bukan hanya perkara perintah transendental tetapi benar-benar berpijak kepada kebutuhan-kebutuhan esensial umat manusia sendiri. Karena itu, jika teori-teori aliran pikiran tertentu seperti Behaviorisme terbukti sepe-nunhya, hal itu tidak berpengaruh sedikit pun kepada Islam. Standar etis yang tertinggi diajarkan Islam tidak sebagai perin-tah-perintah dogmatis, tapi karena bisa dibuktikan merupakan kelanjutan dari kebutuhan tabiat alami manusia dan hasil pe-ngalaman manusia.” (A. Yusuf Ali, h. 222, cat. 641).

    Karena pesan Tuhan itu tidak lain adalah kelanjutan wajar tabiat alami manusia, maka pesan itu pada prinsipnya sama untuk sekalian umat manusia dari segala zaman dan tempat. Pesan itu adalah universal sifatnya, baik secara temporal (untuk segala zaman) maupun secara spasial (untuk segala tempat). Oleh karena itu terdapat kesatuan esensial semua pesan Tuhan, khususnya pesan yang disampaikan kepada umat manusia lewat agama-agama “samawi” (“berasal dari langit”, yaitu mempunyai kitab suci yang diwahyukan Tuhan kepada seorang Nabi atau Rasul).

    ***

    Dari Sahabat

     
    • budihartono 7:27 am on 21 November 2013 Permalink

      Bilakah kita ditunjuki shirothol mustaqim tersebut?

  • erva kurniawan 4:17 am on 20 November 2013 Permalink | Balas  

    Dosa Struktural 

    Emha Ainun Najib

    Emha Ainun Najib

    Dosa Struktural

    Emha Ainun Nadjib

    Dosa struktural dipahami sesudah diketahui dan dialami bahwa sesudah kehidupan ini dibangun dan dilaksanakan dengan menggunakan institusi yang bernama Negara, dengan susunan dan tatanan unsur-unsur kehidupan bermasyarakat – di bawah negara – yang dialektis dan terkait satu sama lain, bahkan ada keterkaitan komprehensif antara Negara dengan Negara, antara masyarakat dengan masyarakat. Fenomena globalisasi membuat inter-relasi antara Negara dan masyarakat di sebagai bidang menjadi hampir tak ada dindingnya lagi.

    Kalau ada suatu Negara dijajah oleh Negara lain dan itu membuat masyarakat Negara yang dijajah itu menjadi miskin, tidak percaya diri dan serta tidak tertata hidupnya; dan kalau dalam Islam dikenal adagium “kaadal faqru an-yakuuna kufron”, kemiskinan itu cenderung mendorong pelakunya ke perbuatan-perbuatan kufur – maka tidakkah logis kalau disimpulkan bahwa para inisiator dan pelaku penjajahan itu turut bertanggung jawab atas kekufuran masyarakat yang dijajah? Bahkan lebih dari itu, tidak mungkinkah masyarakat penjajah menanggung dosa lebih besar karena justru merekalah penyebab utama kekufuran masyarakat yang terjajah?

    Kalau dominasi produk budaya tertentu – umpamanya melalui media televisi — membuat anak-anak kita rusak mentalnya, tidak terjaga iman dan jiwa religiousnya, bahkan lantas memiliki kebiasaan-kebiasaan hidup yang menjauhkannya dari Allah – apakah anak-anak kita yang paling besar menanggung dosanya, ataukah produser budaya itu yang akan lebih dihisab oleh Allah? Dan ini juga berlaku pada semua sektor kehidupan di mana pemegang mainstream pelaku destruksi-destruksi moral dan kemanusiaan. Anak-anak muda yang rusak hidupnya, yang nyandu narkoba, yang cengengesan karena tontonan-tontonan memang hanya mendidik mereka untuk cengengesan, yang kehilangan masa depan, yang tidak perduli pada kebenaran dan tidak menomer-satukan Tuhan – apakah mereka berdosa sendirian?

    Ini juga bisa terjadi pada skala yang lebih kecil dalam kehidupan sehari-hari. Orang mencuri ada sebabnya, orang menjadi rusak ada asal usulnya, bahkan tidak ada wanita yang bercita-cita menjadi pelacur dan tidak ada lelaki yang berdegam-degam hatinya karena punya cita-cita untuk merampok. Juga banyak kejadian-kejadian kecil sehari-hari yang kita akrabi yang jika berupa keburukan atau kejahatan – tidak serta merta kita hakimi sebagai suatu perbuatan yang berdiri sendiri.

    Anak-anak mengemis di perempatan jalan, anak-anak menghisap narkoba, pemuda-pemudi melakukan seks bebas: bisakah mereka disalahkan sendirian dan dihukum sendirian. Bukankah ada keterkaitan struktural antara perbuatan mereka dengan segala sesuatu, termasuk orang-orang dan system, yang menjadikan mereka seperti itu. Bukankah sederhana saja untuk mengarifi itu: kalau ada pejalan kaki terpeleset kakinya oleh kulit pisang, bisakah kita yakin bahwa orang yang membuat kulit pisang itu bebas dari tanggung jawab atas jatuhnya orang itu?

    ….

    Sesungguhnya hanya para faqih, fuqaha, para ahli hukum Agama – dan saya sama sekali bukan — yang memiliki keabsahan untuk berbicara tentang dosa.

    Seandainyapun saya pernah menulis buku lebih dari 60 buah, seandainyapun saya seorang ilmuwan yang berderajat tinggi di kalangan dunia ilmiah, kalau saya bukan faqih – tidak ada satu kata dari uraian saya mengenai dosa yang boleh serta merta dipercaya oleh siapapun. Oleh karena itu tulisan yang dimintakan kepada saya ini lebih banyak berupa pertanyaan.

    Setiap faqih adalah juga sekaligus seorang ahli filosofi tentang segala segi kehidupan, tentang sangkan-paran setiap nilai dan kenyataan, tentang keterkaitan antara Allah dengan setetes embun dan seekor semut yang ketika lahir dan tatkala mati tak diketahui oleh manusia. Seorang faqih tidak hanya berangkat dari ushulul fiqh, tapi juga ushulul hayat, ushulul ‘alamin, ushulul asyya’.

    Faqih, atau lazim disebut Ulama Fiqih, mempelajari seluruh kehidupan ini secara bulat, total tapi juga tartil. Dari petani menanam jagung hingga astronout pergi ke luar angkasa. Dari tukang ojek mengantarkan pelacur ke komplek prostitusi hingga akibat satu kata ucapan seorang Presiden bagi nasib sekumpulan masyarakat di lereng bukit yang tak pernah dikenal oleh pemimpinnya. Dari seorang suami yang tak punya jalan lain kecuali mencuri untuk membiayai kelahiran anaknya hingga kultus individu atau mitologisasi seorang tokoh oleh kalangan tertentu rakyat yang sebenarnya tidak tahu apa-apa mengenai pemimpin yang dipuji da dijunjungnya secara fanatik.

    Para Fuqaha mendatangi, meneliti, menilai, mempertimbangkan keadaan masyarakat Blandong yang menjadi buruh pencurian kayu-kayu hutan, hingga parpol yang berwajah Islam tapi berperilaku seakan-akan tak pernah mengenal Islam. Para ahli fiqih menghayati para pelacur berharga beberapa ratus rupiah dan penjudi lewat tengah malam sampai pagi di kampung liar barat stasiun, juga mendalami berapa masing-masing kelompok penjudi harus bayar upeti tiap malam kepada aparat keamanan.

    Para ahli hukum Islam mendalami kenyataan sejumlah pemuda yang menjadi perampok karena kampung mereka direndam air untuk pembangunan. Mengamati dan menimbang-nimbang apakah diridhai Allah seseorang yang naik haji lebih dari sepuluh kali sementara sangat banyak saudara-saudaranya sesama Muslim dan sesama manusia yang sangat miskin dan membutuhkan uluran tangan kasih sayangnya. Kalau seseorang berangkat ke Masjid untuk bersembahyang Jum’at lantas di tengah jalan ada orang ditabrak mobil: mana yang lebih disayang Allah – terus pergi ke Masjid mengacuhkan saudaranya yang kecelakaan, ataukah menolongnya, membawanya ke Rumah Sakit sehingga ia berkorban tidak shalat Jum’at.

    Para fuqaha bukan hanya menafsirkan kejadian, mengambil istimbat – ia juga memiliki akal yang jeli, logika yang cerdas, juga kearifan. Mereka memiliki kesanggupan untuk menentukan hukum seseorang yang akan berwudlu untuk shalat Ashar, menimba air di sumur Masjid, tapi dijumpainya ratusan semut mengambang di air timbanya ; lantas dengan jari-jarinya ia mengambil semut itu satu persatu dari air timba diletakkan di tanah – sedemikian rupa sehingga ketika ia selesai menolong semut yang teakhir: terdengar adzan maghrib.

    Seorang faqih membutuhkan lebih dari wacana hukum teknis untuk mengambil keputusan tentang apa ketentuan hukum Islam atas orang tersebut. Manakah yang lebih mashlahat di hadapan Allah, menolong semut ataukah bersembahyang – pada momentum yang berbenturan itu. Bagaimana kalau seseorang berkata demikian: “Aku bersedia mendapatkan dosa karena tidak shalat, asalkan karena itu makhluk Allah itu bisa kutolong”. Bagaimana kalau Rabiah Al-Adawiyah bersedia memenuhi neraka dengan badannya sehingga tak ada orang lain yang bisa dimasukkan ke dalamnya. Tentu ini bersifat simbolik, tetapi pasti filsafat hukum sanggup mengambil kearifan dari pernyataan Rabiah itu.

    Kalau suatu hari kita bertamu ke rumah seorang pejabat dan disuguhi segelas air, kemudian kita bertanya-tanya: uang untuk membeli segelas air ini uang korupsi atau bukan, pabrik air mineral ini modalnya hasil KKN atau bukan, pejabat yang kita tamui ini jumlah gajinya logis atau tidak terhadap besar dan mewah rumahnya, mahal mobil dan mebelnya dst – ahli fiqh yang bisa mengambil keputusan apakah meminum segelas air dari hasil – seandainya – korupsi ini halalkah, haramkah, makruhkah?

    Kalau kita shalat di Masjid yang dibangun dengan uang yang dihasilkan dari meminta para pengendara di jalan selama beberapa tahun, seberapa halalkah shalat kita itu? Sebab uang yang masuk ke dalam kotak amal untuk membangun masjid ini mungkin dari pedagang biasa, mungkin dari pencuri dan perampok, mungkin dari koruptor, mungkin dari orang yang beragama bukan Islam, mungkin ada yang memberi uang dengan niat tidak baik, dengan hati jengkel atau menghina tradisi mengemis Kaum Muslimin?

    Bagaimana kalau Masjid yang kita tempati shalat itu memang sepenuhnya dibangun dari subsidi yayasan nasional yang asal usul biayanya secara struktural tidak bisa dijamin kehalalannya? Bagaimana kalau karpetnya dibeli dari perusahaan besar yang secara struktural membunuh usaha-usaha tikar pandan rakyat kecil? Apakah membeli produk dari perusahaan yang mematikan usaha banyak orang secara struktural berarti mendukung kedhaliman struktural pula?

    Dosa itu konsep Agama: sekularisme dan atheisme hanya mengenal ‘kesalahan’, yang berskala horisontal. Sementara ‘dosa’ berskala horisontal sekaligus vertikal. Kalau digambar, horisontal-vertikal itu berbentuk salib.

    Salib itu suatu tahap pencapaian ilmu dan pengetahuan tentang kebenaran. Kalau Anda mendirikan sebatang kayu di atas tanah, kayu itu akan gampang jatuh kecuali Anda tancapkan. Tancapan kayu adalah garis bawah salib. Kalau Anda ingin berdirinya kayu itu lebih kokoh, letakkan dua kayu lain di bagian kanan dan kiri kayu yang berdiri, tempelkan, disambung dengan paku, sehingga mengukuhkan tegaknya kayu yang berdiri di atas tanah.

    Ilmu Salib memberi hikmah bahwa segala mekanisme sosial yang dilangsungkan hanya dengan kesadaran horisontal, tidak memiliki kekokohan sejarah, lambat atau cepat akan oleng dan ambruk. Kesadaran dan kepekaan dan terhadap dosa adalah tancapan ke bawah kayu salib: ia memberi bekal kepada manusia untuk menyelamatkan kehidupannya dari ancaman keambrukan. Kayu yang tegak ke atas sesungguhnya secara intelektual dan spiritual mengarah tak terbatas ke atas – seorang Muslim ketika bersujud mengucapkan “Subhana robbiyal a’la wabihamdih”: maha suci Allah yang Maha Tinggi. Panjang kayu salib ke bawah paling jauh sebatas bulatan bumi, namun yang ke atas jaraknya tak terukur kecuali dengan kerinduan rohani.

    Kalau memakai perspektif lain: kayu yang memanjang ke kanan dan ke kiri adalah lambang persaudaraan basyariyah, cinta kasih sosial atau hablun minannas. Kayu vertikal ke bawah adalah kematangan kultural setiap manusia yang bergaul, sedang kayu yang ke atas adalah kadar dan kesabaran manusia dalam melakukan thariqat yang dipandu oleh syari’at, mencapai tahap demi tahap ma’rifat sesuai dengan pencapaian demi pencapaian haqiqat-nya.

    Gambar salib itu menggambarkan struktur dasar bangunan hidup manusia di bawah sunnah Allah. Dalam perspektif kebersamaan, kayu kiri kanan itu tak terbatas jumlahnya karena kiri kanan berada dalam skala ‘lingkaran’. Bahkan kemudian skalanya ‘bulatan’: kumpulan lingkaran-lingkaran tak terhingga. Jadi, salib menjadi ka’bah, kemudian di-thariqat-i oleh manusia dengan aktivitas thawaf – menciptakan bulatan inna lillahi wainna ilaihi roji’un. Thowaf adalah puncak ilmu Islam.

    Tetapi sebagai wacana dasar, salib sangat menjelaskan dialektika horisontal-vertikal setiap kejadian dan perilaku manusia. Kalau Anda mencuri sebatang jarum dari rumah tetangga, yang berposisi di-dholim-i bukan hanya tetangga Anda melainkan juga Allah. Dengan kata lain, Anda tidak hanya melakukan kesalahan kepada tetangga, tetapi juga berdosa kepada Allah.

    Saya ingin memberi satu contoh kongkret. Di tengah riuhnya hari-hari awal reformasi, saya bersepakat dengan Pak Harto mantan Presiden RI untuk membawa beliau ke Masjid DPR di Senayan, melakukan “Ikrar Husnul Khatimah” di hadapan Allah di rumahNya. Sebelumnya saya katakana kepada beliau: ‘Pak Harto omong apa saja sekarang ini tidak akan dipercaya oleh siapapun. Tinggal satu yang menyediakan pintu, yakni Allah. Pak Harto pergi ke Masjid, mengaji, berwirid, kemudian mengemukakan ikrar untuk akhir yang baik”.

    Ikrar yang akan beliau bacakan memuat empat (4) point. Pertama, berikrar kepada Allah tidak akan berusaha untuk menjadi presiden lagi. Kedua, berikrar kepada Allah tidak akan melakukan apapun yang ada hubungannya dengan pencalonan presiden siapapun. Ketiga, berikrar kepada Allah bersedia diadili oleh Pengadilan Negara untuk mempertanggung-jawabkan kesalahan-kesalahannya. Keempat, berikrar kepada Allah bersedia mengembalikan harta di tangannya yang milik rakyat kepada rakyat.

    Akan tetapi niatan taubah nasuha ini di media massa hari-hari itu dipahami dari sisi yang berbeda. Seorang pengamat politik mengatakan bahwa saya adalah mesin politiknya Suharto, yang dengan rekayasa acara Ikrar Husnul Khatimah ini berusaha menghindarkan Suharto dari pengadilan Negara.

    Pandangan seperti itu muncul dari cara berpikir politik yang atheistik dan sekularistik. Tuhan tidak ada, sehingga tidak ada pula logika horisontal vertikal. Agama dan Masjid dipandang sebagai hasil kebudayaan manusia, tidak membedakan antara religiousitas dan religi, tidak bisa mencerap perbedaan dan jarak antara Agama sebagai informasi nilai langsung dari Tuhan dengan perilaku manusia yang berusaha mencerap dan melaksanakan informasi nilai itu.

    Kalau Pak Harto berkata kepada Allah: “Ya Allah, hamba mohon ampun atas segala dosa-dosa hamba.”, menurut logika Islam, Allah menjawab: “Bereskan dulu urusanmu dengan sesama makhlukKu terutama dengan rakyat Indonesia. Kalau sudah beres dan orang-orang yang engkau salahi telah memaafkanmu, maka baru Aku ampuni engkau.”. Bahasa jelasnya: supaya Pak Harto memiliki kemungkinan untuk diampuni oleh Allah, beliau harus bersedia diadili oleh hukum Negara dlsb. Semakin cepat Pak Harto diadili, semakin cepat pula pintu ampunan Allah dibukakan.

    Dan oleh karena wacana horisontal-vertikal itu tidak hidup di alam pikiran perpolitikan kita, bahkan rencana acara Ikrar itu malah menambah mudlarat bagi khalayak ramai – akhirnya tanggal 21 Pebruari 1999 pagi hari itu saya menelpon Pak Harto agar beliau tak usah datang ke Masjid DPR. Kepada wartawan saya katakan bahwa acara saya batalkan, biarkan Pak Harto kontak langsung di rumahnya kepada Tuhan, dan kepada Republik Indonesia saya persilahkan segera mengadili mantan Presiden 32 tahun ini. Kalau wacana horisontal-vertikal ini diremehkan, silahkan mengalami krisis tanpa cita-cita untuk akan pernah bisa disembuhkan.

    Tentu saja fokus cerita ini bukanlah Suharto, melainkan bahwa satu kesalahan keputusan dalam satu menit, melalui struktur waktu ia bisa mengakibatkan keburukan-keburukan yang besar dan berkepanjangan. Sebuah dosa dilakukan oleh Bapak, oleh Kepala, oleh Presiden, oleh pemimpin reformasi, atau siapapun — pada suatu detik, melalui susunan perjalanan waktu ia bisa membuahkan kemudlaratan yang serius. Krisis total yang dialami oleh Bangsa Indonesia bisa jadi bersumber dari hanya kejadian dua tiga hari di awal-awal euforia reformasi.

    Kaum Fuqaha memiliki kredibilitas ilmu dan kearifan untuk tidak menghukumi sesuatu hal dalam suatu penggalan. Hampir setiap kejadian tidak berdiri sendiri, ia memiliki struktur hubungan secara ruang maupun secara waktu.

    Kaum Fuqaha terus menerus meneliti dan merangkum seluruh kejadian sejarah, melihat dan menemukan mana kemashlahatan dan mana kemudharatan. Dua dimensi itu bersifat nilai. Para ahli fiqih menterjemahkan nilai itu menjadi norman-norma : Yang sangat mashlahat mereka sebut wajib. Yang lumayan mashlahat disebut sunnah. Yang tidak ada masalah disebut halal. Yang agak musharat disebut makruh. Yang sangat mudharat disebut haram. Betapa luas dan kompleksnya tugas para Fuqaha, sehingga afdhal kita mendoakan semoga Allah meninggikan derajat beliau-beliau di dunia dan di akhirat.

    ***

    (selesai)

    Jogja 8 Agustus 2002.

     
    • lazione budy 4:45 am on 29 November 2013 Permalink

      Jadi kangen pak Harto.
      Piye kabare? Enak zamanku to?

  • erva kurniawan 4:09 am on 19 November 2013 Permalink | Balas  

    Hakikat Teori Evolusi Darwin: Perang Terhadap Agama 

    darwin_xrayHakikat Teori Evolusi Darwin: Perang Terhadap Agama

    HARUN YAHYA

    Di jaman ini, sejumlah kalangan berpandangan bahwa teori evolusi yang dirumuskan oleh Charles Darwin tidaklah bertentangan dengan agama. Ada juga yang sebenarnya tidak meyakini teori evolusi tersebut akan tetapi masih juga ikut andil dalam mengajarkan dan menyebarluaskannya. Hal ini tidak akan terjadi seandainya mereka benar-benar memahami teori tersebut. Ini adalah akibat ketidakmampuan dalam memahami dogma utama Darwinisme, termasuk pandangan paling berbahaya dari teori tersebut yang diindoktrinasikan kepada masyarakat. Oleh karenanya, bagi mereka yang beriman akan adanya Allah sebagai satu-satunya Pencipta makhluk hidup, namun pada saat yang sama berpandangan bahwa “Allah menciptakan beragam makhluk hidup melalui proses evolusi,” hendaklah mempelajari kembali dogma dasar teori tersebut.

    Tulisan ini ditujukan kepada mereka yang mengaku beriman akan tetapi salah dalam memahami teori evolusi. Di sini diuraikan sejumlah penjelasan ilmiah dan logis yang penting yang menunjukkan mengapa teori evolusi tidak sesuai dengan Islam dan fakta adanya penciptaan. Dogma dasar Darwinisme menyatakan bahwa makhluk hidup muncul menjadi ada dengan sendirinya secara spontan sebagai akibat peristiwa kebetulan. Pandangan ini sama sekali bertentangan dengan keyakinan terhadap adanya penciptaan alam oleh Allah. Kesalahan terbesar dari mereka yang meyakini bahwa teori evolusi tidak bertentangan dengan fakta penciptaan adalah anggapan bahwa teori evolusi adalah sekedar pernyataan bahwa makhluk hidup muncul menjadi ada melalui proses evolusi dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Oleh karenanya, mereka mengatakan: “Bukankah tidak ada salahnya jika Allah menciptakan semua makhluk hidup melalui proses evolusi dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain; apa salahnya menolak hal ini?”

    Akan tetapi, sebenarnya terdapat hal yang sangat mendasar yang telah diabaikan: perbedaan mendasar antara para pendukung evolusi (=evolusionis) dan pendukung penciptaan (=kreasionis) bukanlah terletak pada pertanyaan apakah “makhluk hidup muncul masing-masing secara terpisah atau melalui proses evolusi dari bentuk satu ke bentuk yang lain. Pertanyaan yang pokok adalah “apakah makhluk hidup muncul menjadi ada dengan sendirinya secara kebetulan akibat rentetan peristiwa alam, atau apakah makhluk hidup tersebut diciptakan secara sengaja?”

    Teori evolusi, sebagaimana yang diketahui, mengklaim bahwa senyawa-senyawa kimia inorganik dengan sendirinya datang bersama-sama pada suatu tempat dan waktu secara kebetulan dan sebagai akibat dari fenomena alam yang terjadi secara acak. Mula-mula senyawa-senyawa ini membentuk molekul pembentuk kehidupan, seterusnya terjadi rentetan peristiwa yang pada akhirnya membentuk kehidupan. Oleh sebab itu, pada intinya anggapan ini menerima waktu, materi tak hidup dan unsur kebetulan sebagai kekuatan yang memiliki daya cipta. Orang biasa yang sempat membaca dan mengerti literatur teori evolusi, paham bahwa inilah yang menjadi dasar klaim kaum evolusionis. Tidak mengherankan jika Pierre Paul Grassé, seorang ilmuwan evolusionis, mengakui evolusi sebagai teori yang tidak masuk akal. Dia mengatakan apa arti dari konsep “kebetulan” bagi para evolusionis: “…'[Konsep] kebetulan’ seolah telah menjadi sumber keyakinan [yang sangat dipercayai] di bawah kedok ateisme. Konsep yang tidak diberi nama ini secara diam-diam telah disembah.” (Pierre Paul Grassé, Evolution of Living Organisms, New York, Academic Press, 1977, p.107)

    Akan tetapi pernyataan bahwa kehidupan adalah produk samping yang terjadi secara kebetulan dari senyawa yang terbentuk melalui proses yang melibatkan waktu, materi dan peristiwa kebetulan, adalah pernyataan yang tidak masuk akal dan tidak dapat diterima oleh mereka yang beriman akan adanya Allah sebagai satu-satunya Pencipta seluruh makhluk hidup. Kaum mukmin sudah sepatutnya merasa bertanggung jawab untuk menyelamatkan masyarakat dari kepercayaan yang salah dan menyesatkan ini; serta mengingatkan akan bahayanya.

    Pernyataan tentang “adanya kebetulan” yang dikemukakan teori evolusi dibantah oleh ilmu pengetahuan. Fakta lain yang patut mendapat perhatian khusus dalam hal ini adalah bahwa berbagai penemuan ilmiah ternyata malah sama sekali bertentangan dengan klaim-klaim kaum evolusionis yang mengatakan bahwa “kehidupan muncul sebagai akibat dari serentetan peristiwa kebetulan dan fenomena alamiah.” Ini dikarenakan dalam kehidupan terdapat banyak sekali contoh adanya rancangan (design) yang disengaja dengan bentuk yang sangat rumit dan telah sempurna. Bahkan sel pembentuk suatu makhluk hidup memiliki rancangan yang sangat menakjubkan yang dengan telak mematahkan konsep “kebetulan.” Perancangan dan perencanaan yang luar biasa dalam kehidupan ini sudah pasti merupakan tanda-tanda penciptaan Allah yang khas dan tak tertandingi, serta ilmu dan kekuasaan-Nya yang Tak Terhingga. Usaha para evolusionis untuk menjelaskan asal-usul kehidupan dengan menggunakan konsep kebetulan telah dibantah oleh ilmu pengetahuan abad 20. Bahkan kini, di abad 21, mereka telah mengalami kekalahan telak. (Silahkan baca buku Blunders of Evolutionists, karya Harun Yahya, terbitan Vural Publishing).

    Jadi, alasan mengapa mereka tetap saja menolak adanya penciptaan oleh Allah kendatipun telah melihat fakta ini adalah adanya keyakinan buta terhadap atheisme.

    Allah tidak menciptakan makhluk hidup melalui proses evolusi Oleh karena fakta yang menunjukkan adanya penciptaan atau rancangan yang disengaja pada kehidupan adalah nyata, satu-satunya pertanyaan yang masih tersisa adalah “melalui proses yang bagaimanakah makhluk hidup diciptakan.” Di sinilah letak kesalahpamahaman yang terjadi di kalangan sejumlah kaum mukmin. Logika keliru yang mengatakan bahwa “Makhluk hidup mungkin saja diciptakan melalui proses evolusi dari satu bentuk ke bentuk lain” sebenarnya masih berkaitan dengan bagaimana proses terjadinya penciptaan makhluk hidup berlangsung.

    Sungguh, jika Allah menghendaki, Dia bisa saja menciptakan makhluk hidup melalui proses evolusi yang berawal dari sebuah ketiadaan sebagaimana pernyataan di atas. Dan oleh karena ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa makhluk hidup berevolusi dari satu bentuk ke bentuk yang lain, kita bisa mengatakan bahwa, “Allah menciptakan kehidupan melalui proses evolusi.” Misalnya, jika terdapat bukti bahwa reptil berevolusi menjadi burung, maka dapat kita katakan,”Allah merubah reptil menjadi burung dengan perintah-Nya “Kun (Jadilah)!”. Sehingga pada akhirnya kedua makhluk hidup ini masing-masing memililiki tubuh yang dipenuhi oleh contoh-contoh rancangan yang sempurna yang tidak dapat dijelaskan dengan konsep kebetulan. Perubahan rancangan ini dari satu bentuk ke bentuk yang lain – jika hal ini memang benar-benar terjadi – akan sudah barang tentu bukti lain yang menunjukkan penciptaan. Akan tetapi, yang terjadi ternyata bukan yang demikian. Bukti-bukti ilmiah (terutama catatan fosil dan anatomi perbandingan) justru menunjukkan hal yang sebaliknya: tidak dijumpai satu pun bukti di bumi yang menunjukkan proses evolusi pernah terjadi. Catatan fosil dengan jelas menunjukkan bahwa spesies makhluk hidup yang berbeda tidak muncul di muka bumi dengan cara saling berevolusi dari satu spesies ke spesies yang lain. Tidak ada perubahan bentuk sedikit demi sedikit dari makhluk hidup yang satu ke makhluk hidup yang lain dalam jangka waktu yang lama. Sebaliknya, spesies makhluk hidup yang berbeda satu sama lain muncul secara serentak dan tiba-tiba dalam bentuknya yang telah sempurna tanpa didahului oleh nenek moyang yang mirip dengan bentuk-bentuk mereka. Burung bukanlah hasil evolusi dari reptil, dan ikan tidak berevolusi menjadi hewan darat. Tiap-tiap filum makhluk hidup diciptakan masing-masing secara terpisah dengan ciri-cirinya yang khas. Bahkan para evolusionis yang paling terkemuka sekalipun telah terpaksa menerima kenyataan tersebut dan mengakui bahwa hal ini membuktikan adanya fakta penciptaan.

    Misalnya, seorang ahli palaentologi yang juga seorang evolusionis, Mark Czarnecki mengaku sebagaimana berikut: “Masalah utama yang menjadi kendala dalam pembuktian teori evolusi adalah catatan fosil; yakni sisa-sisa peninggalan spesies punah yang terawetkan dalam lapisan-lapisan geologis Bumi. Catatan [fosil] ini belum pernah menunjukkan bukti-bukti adanya bentuk-bentuk transisi antara yang diramalkan Darwin – sebaliknya spesies [makhluk hidup] muncul dan punah secara tiba-tiba, dan keanehan ini telah memperkuat argumentasi kreasionis [=mereka yang mendukung penciptaan] yang mengatakan bahwa tiap spesies diciptakan oleh Tuhan (Mark Czarnecki, “The Revival of the Creationist Crusade”, MacLean’s, 19 January 1981, p. 56)

    Khususnya selama lima puluh tahun terakhir, perkembangan di berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti palaentologi, mikrobiologi, genetika dan anatomi perbandingan, dan berbagai penemuan menunjukkan bahwa teori evolusi tidak lah benar. Sebaliknya makhluk hidup muncul di muka bumi secara tiba-tiba dalam bentuknya yang telah beraneka ragam dan sempurna. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa Allah menggunakan proses evolusi dalam penciptaan. Allah telah menciptakan setiap makhluk hidup masing-masing secara khusus dan terpisah, dan pada saat yang sama, dengan perintah-Nya “Kun (Jadilah)!” Dan ini adalah sebuah fakta yang nyata dan pasti.

    Kesimpulan Sungguh sangat penting bagi orang-orang yang beriman untuk senantiasa waspada dan berhati-hati terhadap sistem ideologi yang ditujukan untuk melawan Allah dan din-Nya. Selama 150 tahun, teori evolusi atau Darwinisme telah menjadi dalil serta landasan berpijak bagi semua ideologi anti agama yang telah menyebabkan tragedi bagi kemanusiaan seperti fasisme, komunisme dan imperialisme; serta melegitimasi berbagai tindak kedzaliman tak berperikemanusiaan oleh mereka yang mengadopsi berbagai filsafat ini. Oleh karenanya, tidak sepatutnya kenyataan dan tujuan yang sesungguhnya dari teori ini diabaikan begitu saja. Bagi setiap orang yang mengaku muslim, ia memiliki tanggung jawab utama dalam membuktikan kebohongan setiap ideologi anti agama yang menolak keberadaan Allah dengan perjuangan pemikiran dalam rangka menghancurkan kebatilan dan menyelamatkan masyarakat dari bahayanya.

     
  • erva kurniawan 4:01 am on 18 November 2013 Permalink | Balas  

    Kerelaan Berkorban 

    ikhlasKerelaan Berkorban

    Seorang pemuda serta merta berdiri dan mempersilahkan seorang ibu setengah baya untuk menempati tempat duduknya di sebuah bis kota, tidak peduli sebelumnya ia pun harus berlari dan berdesakkan untuk mendapatkan tempat duduk tersebut. Sepuluh tahun yang lalu, pemandangan seperti itu bukanlah hal mengagumkan yang dilakukan orang muda terhadap orang-orang yang lebih tua, wanita atau penyandang cacat. Namun seiring pergeseran budaya dan perubahan tatanan nilai dalam masyarakat kita, seolah hal seperti itu saat ini menjadi barang langka yang jarang ditemui, lihat saja bahwa ternyata masih banyak pelajar, mahasiwa atau orang-orang yang sebenarnya masih sanggup untuk berdiri tetap tenang meski seorang jompo atau ibu hamil berdiri menahan beban tubuh disampingnya.

    Kejadian diatas hanyalah satu dari sekian banyak contoh pergeseran nilai yang semakin terasa nampak sebagai hal yang lumrah di masyarakat kita. Namun tentu bergesernya budaya dan nilai seperti itu jelas ada penyebabnya. Hilangnya semangat kerelaan berkorban misalnya, bisa karena hilangnya kepekaan sosial, rasa kebersamaan, budaya saling tolong atau bahkan memudarnya sifat-sifat humanis di kalangan masyarakat, terutama di perkotaan. Maka tidaklah aneh, misalnya lagi, seseorang akan jauh lebih marah ketika ditegor orang lain yang merasa terganggu oleh asap rokoknya di dalam kendaraan umum.

    Kita tentu merindukan orang-orang yang memiliki jiwa dan semangat rela berkorban (asketis) seperti yang pernah diajarkan sekaligus dicontohkan Rasulullah, sehingga sikap-sikap itu pun tercermin dalam diri sahabat-sahabat rasul. Kerelaan berkorban (asketisme) yang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib, misalnya, saat menggantikan Rasul tidur di ranjangnya pada malam ketika Rasulullah ditemani Abu Bakar hendak melakukan hijrah. Atau keberanian Asma binti Abu bakar mengantar makanan untuk Rasulullah dan ayahandanya di tempat persembunyian di gua Tsur. Sikap-sikap serupa juga dicontohkan sahabat lainnya seperti Abu Bakar yang dengan lantang mengatakan, cukuplah Allah dan Rasul-Nya untuk menjawab pertanyaan Rasulullah tentang apa yang ditinggalkan untuk keluarganya. Pada saat itu, Abu Bakar menyerahkan seluruh harta kekayaannya untuk perjuangan Islam.  Semangat kerelaan berkorban merupakan wujud dari kecintaan kepada Allah, yang karena itu mereka mau melakukan apapun untuk menolong agama Allah. Intanshurullaaha yanshurkum wa yutsabbit aqdaamakum, barang siapa menolong agama Allah maka Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. Dari kecintaan terhadap Sang Khalik itu berlanjut pada kecintaan yang begitu mendalam terhadap sosok manusia yang dimuliakan Allah, yakni kecintaan terhadap Rasulullah. Bentuk kecintaaan inilah yang ditunjukkan oleh Ali bin Abi Thalib dan juga para sahabat lainnya.

    Dengan segenap cintanya, Rasulullah mampu menurunkan perasaan cinta Allah dan Rasul-Nya itu menjadi sebuah cinta yang bertebaran menyentuh seluruh ummat, sesama mukmin bahkan menjadi rahmat seluruh alam.

    Sesungguhnya, saat ini kita tidak kehilangan momentum-momentum untuk kembali memiliki atau memperbaiki jiwa dan semangat asketis yang pernah dicontohkan oleh orang-orang mukmin terdahulu itu. Ruang publik kita masih cukup terbuka untuk melakukannya, bahwa masih banyak para fakir miskin yang memerlukan sisihan sebagian dari harta kita, bahwa ada orang-orang lemah yang perlu huluran tangan, dan juga mereka yang sangat membutuhkan sekedar sandaran atau penyangga berdiri, dimana kelebihan dari kekuatan yang kita miliki akan sangat berharga bagi mereka. Tentu saja, kerelaan berkorban itu tercermin dalam sikap-sikap saling bantu, menyisihkan waktu dan tenaga untuk kepentingan banyak orang sebagai wujud dari Islam rahmat bagi seluruh alam, serta tidak egois dan semena-mena menggunakan hak tanpa mempedulikan hak orang lainnya. Hanya saja, sikap-sikap seperti itu akan lebih terasa jika menjadi sebuah kesadaran kolektif dalam menerapkannya, meski bukan menjadi alasan untuk tidak melakukannya mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang!

    Satu wujud yang cukup membuat kita tersenyum misalnya, ketika sekelompok mahasiswa yang insya Allah terjaga kemurnian perjuangannya merasa terusik saat orang-orang yang dipercaya rakyat untuk memimpin dan mengelola negeri ini justru mengkhianati rakyat. Kesadaran kolektif yang dimiliki itu tentu menjadi contoh bahwa semangat kerelaan berkorban jika dilakukan secara kolektif akan memberikan hasil yang luar biasa bagi sebuah perubahan bahkan peradaban.

    Maka patutlah sesegera mungkin kita melongok kedalam diri ini, adakah besarnya cinta yang bersemayam didalam diri ini masih lebih menguasai rasa akan pemenuhan kepentingan diri sendiri. Jika demikian, tak perlu menunggu waktu lama untuk memperbaiki sisi-sisi cinta itu dengan membetulkannya kearah yang pernah diajarkan Rasulullah, bahwa kecintaan terhadap Allah, Rasul-Nya, dan seluruh mukmin sebagai wujud persaudaraan diatas segala kecintaan dan kepentingan terhadap diri sendiri.

    Karena bisa jadi kedepan, bukan sekedar kecerdasan intelektual tapi juga kecerdasan emosi berupa sikap kerelaan berkorban inilah yang jauh lebih dibutuhkan, jauh lebih penting dimiliki oleh setiap calon pemimpin, para wakil rakyat pengemban amanah ummat selain prinsip-prinsip berkeadilan yang juga mesti dihasung.

    Wallahu a’lam bishshowaab (Abi Hufha)

    ***

    eramuslim – Nasihin Ahmad

     
  • erva kurniawan 5:02 am on 17 November 2013 Permalink | Balas  

    Toko dalam Toko Kelontong 

    bekerjaToko dalam Toko Kelontong

    Dalam forum Maiyahan, tempat pemeluk berbagai agama berkumpul melingkar, sering saya bertanya kepada forum:

    “Apakah anda punya tetangga?”.

    Biasanya dijawab: “Tentu punya”

    “Punya istri enggak tetangga Anda?”

    “Ya,punya dong”

    “Pernah lihat kaki istri tetangga Anda itu?”

    “Secara khusus, tak pernah melihat ”

    ” Jari-jari kakinya lima atau tujuh? ”

    “Tidak pernah memperhatikan”

    “Body-nya sexy enggak?”

    Hadirin biasanya tertawa.

    Dan saya lanjutkan tanpa menunggu jawaban mereka: “Sexy atau tidak bukan urusan kita, kan? Tidak usah kita perhatikan, tak usah kita amati, tak usah kita dialogkan, diskusikan atau perdebatkan. Biarin saja”.

    Keyakinan keagamaan orang lain itu ya ibarat istri orang lain. Ndak usah diomong-omongkan, ndak usah dipersoalkan benar salahnya, mana yang lebih unggul atau apapun. Tentu, masing-masing suami punya penilaian bahwa istrinya begini begitu dibanding istri tetangganya, tapi cukuplah disimpan didalam hati.

    Bagi orang non-Islam, agama Islam itu salah. Dan itulah sebabnya ia menjadi orang non-Islam. Kalau dia beranggapan atau meyakini bahwa Islam itu benar, ngapain dia jadi non-Islam? Demikian juga, bagi orang Islam, agama lain itu salah. Justru berdasar itulah maka ia menjadi orang Islam.

    Tapi, sebagaimana istri tetangga, itu disimpan saja didalam hati, jangan diungkapkan, diperbandingkan, atau dijadikan bahan seminar atau pertengkaran. Biarlah setiap orang memilih istri sendiri-sendiri, dan jagalah kemerdekaan masing-masing orang untuk menghormati dan mencintai istrinya masing-masing, tak usah rewel bahwa istri kita lebih mancung hidungnya karena Bapaknya dulu sunatnya pakai calak dan tidak pakai dokter,umpamanya.

    Dengan kata yang lebih jelas, teologi agama-agama tak usah dipertengkarkan, biarkan masing-masing pada keyakinannya. Sementara itu orang muslim yang mau melahirkan padahal motornya gembos, silakan pinjam motor tetangganya yang beragama Katolik untuk mengantar istrinya ke rumah sakit. Atau, Pak Pastor yang sebelah sana karena baju misanya kehujanan, padahal waktunya mendesak, ia boleh pinjam baju koko tetangganya yang NU maupun yang Muhamadiyah.

    Atau ada orang Hindu kerjasama bikin warung soto dengan tetangga Budha, kemudian bareng-bareng bawa colt bak ke pasar dengan tetangga Protestan untuk kulakan bahan-bahan jualannya. Tetangga-tetangga berbagai pemeluk agama, warga Berbagai parpol, golongan, aliran, kelompok, atau apapun, silakan bekerja sama di bidang usaha perekonomian, sosial, kebudayaan, sambil saling melindungi koridor teologi masing-masing. Bisa memperbaiki pagar bersama-sama, bisa gugur gunung membersihi kampung, bisa pergi mancing bareng bisa main gaple dan remi bersama. Tidak ada masalah lurahnya Muslim, cariknya Katolik, kamituwonya Hindu, kebayannya Gatholoco, atau apapun.

    Jangankan kerja sama dengan sesama manusia, sedangkan dengan kerbau dan sapi pun kita bekerja sama nyingkal dan nggaru sawah. Itulah lingkaran tulus hati dengan hati. Itulah Maiyah. Wasallam. (Emha Ainun Nadjib)

     
  • erva kurniawan 3:14 am on 16 November 2013 Permalink | Balas  

    Syukur 

    bersyukurSyukur

    AKU TAK SELALU MENDAPATKAN APA YANG KUSUKAI, OLEH KARENA ITU AKU SELALU MENYUKAI APAPUN YANG AKU DAPATKAN.

    Kata-Kata Diatas merupakan wujud syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tentram dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.

    Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur. Pertama : Kita sering memfokuskan diri pada apa yang ita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. Katakanlah anda telah memiliki sebuah rumah,kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Tapi anda masih merasa kurang. Pikiran anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapapun banyaknya harta yang kita miliki, kita tak pernah menjadi “KAYA” dalam arti yang sesungguhnya.

    Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang ”kaya”. Orang yang ”kaya” bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki.

    Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup.

    Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, dan orang-orang di sekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan. Seorang pengarang pernah mengatakan, ”Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.” Ini perwujudan rasa syukur.

    Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.

    Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita.

    Saya ingat, pertama kali bekerja saya senantiasa membandingkan penghasilan saya dengan rekan-rekan semasa kuliah. Perasaan ini membuat saya resah dan gelisah. Sebagai mantan mahasiswa teladan di kampus, saya merasa gelisah setiap mengetahui ada kawan satu angkatan yang memperoleh penghasilan di atas saya. Nyatanya, selalu saja ada kawan yang penghasilannya melebihi saya. Saya menjadi gemar berganta-ganti pekerjaan, hanya untuk mengimbangi rekan-rekan saya. Saya bahkan tak peduli dengan jenis pekerjaannya, yang penting gajinya lebih besar. Sampai akhirnya saya sadar bahwa hal ini tak akan pernah ada habisnya. Saya berubah dan mulai mensyukuri apa yang saya dapatkan. Kini saya sangat menikmati pekerjaan saya.

    Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri. Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, ”Lulu, Lulu.”

    Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini. Si dokter menjawab, ”Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu.”

    Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, ”Lulu, Lulu”.

    ”Orang ini juga punya masalah dengan Lulu? ” tanyanya keheranan.

    Dokter kemudian menjawab, ”Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu.”

    Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki.

    Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi. Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan cerita mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab, ”Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.”

    ***

    Wassalamualaykum wR.wB

    abi ammar

     
  • erva kurniawan 4:11 am on 15 November 2013 Permalink | Balas  

    30 Jalan Menuju Surga 

    cahaya-kebenaran30 Jalan Menuju Surga

    Semua kita insyaallah ingin masuk surga, namun sayangnya banyak yang tidak berbuat apa-apa untuk mencapai keinginan tersebut.Atau ada juga yang merasa berbuat banyak tetapi dengan cara yang tidak sesuai tuntunan.Nah berikut saya sarikan isi buku kecil karya Dr. Adullah Abdurrahman berjudul “Thirty Ways To Enter Paradise”Terbitan Al-Firdous Ltd. London ,2001, mudah-mudahan bermanfaat bagi semua yang mengidam-idamkan surga.

    Sebelum kita berbuat sesuatu, sudah seharusnya kita memiliki dasar untuk apa/siapa kita melakukannya dan mengapa pula kita lakukan. Untuk permburu surga ada tiga prasyarat yang harus dipenuhi agar segala perbuatannya memberikan hasil yang diharapkan yaitu dengan rakhmat Allah diijinkan untuk masuk surga. Prasyarat tersebut adalah : Pertama ia harus Islam, Kedua harus ikhlas karena Allah, Ketiga harus sesuai tuntunan Rasulullah, s.a.w.

    Islam insyaallah kita sudah, Ikhlas adanya di hati kita dan hanya Allah-lah yang tahu, sedangkanperbuatan baik yang ada tuntunannya (Al-qur’an dan Al’hadits) yang insyaAllah akan membawa kita ke surga -dengan rakhmatNya tentu saja- diringkaskan dibawah ini:

    1. Iman
    2. Amal Sholeh
    3. Taqwa
    4. Mengikuti Perintah Allah dan Rasulnya
    5. Jihad di Jalan Allah
    6. Taubat
    7. Berpegang teguh pada agama Allah
    8. Menuntut Ilmu karena Allah
    9. Membangun Masjid
    10. Akhlaq Mulia
    11. Menghindari perdebatan meskipun benar
    12. Menghindari berbohong meskipun dalam canda
    13. Berwudlu ketika batal dan Sholat dua raka’at sehabis adzan
    14. Pergi ke Masjid untuk Sholat Jamaah
    15. Banyak Mengingat Allah
    16. Haji yang Mabrur
    17. Membaca Ayat Kursi setiap sehabis Sholat fardhlu, membaca Sayyidul Istighfar pagi dan petang (bagi yang belum tahu sayyidul istighfar adalah bacaan “Allahumma anta rabbi la Ilaha illa anta, Anta khalaqtani wa ana Abduka, wa ana ‘ala ahdika wa wa’dika mastata’tu, A’udhu bika min Sharrima sana’tu, abu’u Laka bini’matika ‘alaiya, wa Abu’u Laka bidhanbi faghfirli innahu la yaghfiru adhdhunuba illa anta.”)
    18. Melaksanakan 12 rakaat sholat sunat (4 sebelum dhuhur, 2 sesudah dhuhur,2 sesudah magrib, 2 sesudah isya; dan 2 sebelum subuh)
    19. Menyebarkan salam, memberi makan fakir miskin, berbuat baik terhadap saudara dekat dan sholat malam
    20. Memenuhi enam perkara (Berkata benar, memenuhi janji, jaga kepercayaan, menghindari zina,menundukkan pandangan, menahan tangan dari perbuatan yang tidak adil)
    21. Khusus wanita : Sholat, Puasa, Menjaga kehormatan dan Taat Pada Suami
    22. Menjaga tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan
    23. Sabar ketika ditinggal mati anak atau sahabat
    24. Memelihara anak yatim
    25. Mengunjungi orang sakit, atau Mengunjungi saudara dalam Islam
    26. Melaksanakan dua hal. Pertama Setiap habis sholat membaca Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar masing-masing sepuluh kali. Kedua ketika akan tidur membaca Allahuakbar (34x), Alhamdulillah (33x) dan Subhanallah (33x) , total 100x
    27. Mudah dalam menjual dan mudah dalam membeli
    28. Mema’afkan orang yang berhutang apabila yang berhutang tersebut dalam kesulitan
    29. Melaksanakan 4 perbuatan baik dalm satu hari yaitu : Puasa, Mengantar jenazah, memberi makan fakir miskin dan menjenguk orang sakit
    30. Menunjukkan ketabahan dan mencari pahala dari Allah apabila kehilangan penglihatan.

    Kalau ada salah dan keliru dari saya saya pribadi– tetapi kalau ada kebenaran tentu datangnya dari Allah semata. Wallahu a’lam Bi showab.

    [1] Di sarikan dari Buku “Thirty Ways To Enter Paradise” Karya Dr. Abdullah Abdurrahman” Terbitan Al-Firdous Ltd. London ,2001

     
    • lazione budy 4:16 am on 15 November 2013 Permalink

      Melaksanakan dua hal. Pertama Setiap habis sholat membaca Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar masing-masing sepuluh kali. Kedua ketika akan tidur membaca Allahuakbar (34x), Alhamdulillah (33x) dan Subhanallah (33x) , total 100x

      Koreksi:
      Setahu saya kebalik. Kalau mau tidur 10x dan setelah sholat 33x. CMIIW

  • erva kurniawan 4:38 am on 14 November 2013 Permalink | Balas  

    Tulang Rusuk 

    pasangan_serasiTulang Rusuk (Renungan)

    Jangankan lelaki biasa, Nabi pun terasa sunyi tanpa wanita. Tanpa mereka, hati, fikiran, perasaan lelaki akan resah. Masih mencari walaupun sudah ada segala-galanya. Apalagi yang tidak ada di syurga, namun Nabi Adam a.s. tetap merindukan siti hawa.

    Kepada wanitalah lelaki memanggil ibu, istri atau puteri. Dijadikan mereka dari tulang rusuk yang bengkok untuk diluruskan oleh lelaki, tetapi kalau lelaki sendiri yang tidak lurus, tidak mungkin mampu hendak meluruskan mereka.

    Tak logis kayu yang bengkok menghasilkan bayang-bayang yang lurus. Luruskanlah wanita dengan cara petunjuk Allah, karena mereka diciptakan begitu rupa oleh mereka. Didiklah mereka dengan panduan dariNya:

    Jangan coba jinakkan mereka dengan harta, nanti mereka semakin liar, jangan hiburkan mereka dengan kecantikan, nanti mereka semakin menderita.

    Yang sementara itu tidak akan menyelesaikan masalah, Kenalkan mereka kepada Allah, zat yang kekal, disitulah kuncinya.

    Akal setipis rambutnya, tebalkan dengan ilmu, hati serapuh kaca, kuatkan dengan iman, perasaan selembut sutera, hiasilah dengan akhlak .

    Suburkanlah karena dari situlah nanti merka akan nampak penilaian dan keadilan Tuhan. Akan terhibur dan berbahagialah mereka, walaupun tidak jadi ratu cantik dunia, presiden ataupun perdana mentri negara atau women gladiator. Bisikkan ke telinga mereka bahwa kelembutan bukan suatu kelemahan. Itu bukan diskriminasi Tuhan. Sebaliknya disitulah kasih sayang Tuhan, karena rahim wanita yang lembut itulah yang mengandungkan lelaki2 wajah: negarawan, karyawan, jutawan dan wan-wan lain.

    Tidak akan lahir superman tanpa superwoman. Wanita yang lupa hakikat kejadiannya, pasti tidak terhibur dan tidak menghiburkan.

    Tanpa ilmu, iman dan akhlak, mereka bukan saja tidak bisa diluruskan, bahkan mereka pula membengkokkan.

    Lebih banyak lelaki yang dirusakkan oleh perempuan daripada perempuan yang dirusakkan oleh lelaki. Sebodoh-bodoh perempuan pun bisa menundukkan sepandai-pandai lelaki.

    Itulah akibatnya apabila wanita tidak kenal Tuhan. Mereka tidak akan kenal diri mereka sendiri, apalagi mengenal lelaki. Kini bukan saja banyak boss telah kehilangan secretary, bahkan anakpun akan kehilangan ibu, suami kehilangan istri dan bapa akan kehilangan puteri.

    Bila wanita durhaka dunia akan huru-hara. Bila tulang rusuk patah, rusaklah jantung, hati dan limpa. Para lelaki pula jangan hanya mengharap ketaatan tetapi binalah kepemimpinan.

    Pastikan sebelum memimpin wanita menuju Allah PIMPINLAH DIRI SENDIRI DAHULU KEPADA-NYA. jinakan diri dengan Allah, niscaya jinaklah segala-galanya dibawah pimpinan kita.

    Jangan mengharap istri seperti siti fatimah, kalau pribadi belum lagi seperti sayidina ali

    Wallahu a’lam bisshawwab

    ***

    Dari Sahabat

     
    • lazione budy 5:07 am on 14 November 2013 Permalink

      Orang baik hanya untuk orang baik, orang beriman hanya untuk orang beriman. Begitu juga sebaiknya…

  • erva kurniawan 3:55 am on 13 November 2013 Permalink | Balas  

    Mahardika 

    siluet-pemudaMahardika

    Musa termangu mendengarkan jlentrehan Nabi Khaidir, ketika waktu tlah mendekati ujung perpisahan keduanya.”…..inilah hikmah kenapa saya berbuat demikian, sehingga kamu tidak bisa sabar bersamaku…..” kata Khaidir.

    Dalam gerbong kereta api Senja Utama – Jogja Jakarta, aku sengaja menyediakan berpuluh puluh pecahan uang ratusan perak, karena kata mbakyu nanti banyak pengamen dan pengemis di sepanjang perjalanan .Satu persatu dhuwit recehan kukeluarkan seiring naik turunnya para pengamen dan pengemis.Ada rasa gembira ketika kita bisa memberinya.Dan aku ingin mengajarkan kepada anak istri yang ada disampingku bahwa mereka punya hak juga yang semestinya harus kita penuhi, meskipun hanya sedikit yang bisa kita berikan.

    Mungkin sekali sekali kita coba rihlah- robbaniyah/ spiritual, untuk menyelami dinamika kehidupan manusia sembari melihat lihat kebesaran Allah lewat karya karyaNya.

    Begitulah kira kira pentas dunia ini, hanya sebentar persis seperti anak kecil yang bermain ..Cilub…Baa…… Sebentar…..bahkan sebentar sekali.

    “Berapa kamu hidup di dunia??” Pertanyaan itu diajukan kepada seorang yang telah sampai di akhirat. ” Aku hanya hidup sekejap mata…” begitu jawabannya.

    Sunan Kalijogo pernah membuat syair, hidup di dunia ini seperti: “Sluku sluku bathok, Bathoke ela elo” (anak kecil yang bermain tempurung–ke sana kemari kesana kemari) “Si Rama menyang Solo- Leh olehe payung motha” ( Seberapapun jauh perjalanan manusia, ujung ujungnya hanya kematianlah akhirnya) “Mak jenthit lo lo lobah” (Orang hidup di dunia ini seperti anak kecil bermain cilub ba) “wong mati ora obah” (Kematian memutus kesempatan beramal). Dan lain lain.

    Ketika orang mampu membaca bahwa hidupnya tidak seberapa lama dibandingkan abadanya akhirat, atau sedikitnya ilmu pengetahuan dibandingkan kemaha luasan IlmuNya, saat itulah dia sedang menjadi insan mahardika. Yakni insan yang mampu memberdayan fasilitas fasilitas kudianiawiaannya, pangkat drajat, bondho dunyo, untuk meraih suatu keperluan yang jauh lebih penting yakni meraih ridhoNya baik lewat amaliyah ritual maupun amaliyah sosial kemanusiaan.

    Inna sholati, wanusuki, wamahyaya, wamamati, lillahi robbil ‘alamiin. La syarikalahu wabidzalikal umirtu wa anna minal muslimiin.

    Setiap orang, mau tidak mau, suka tidak suka sedang digiring oleh perjalanan waktu pada perjumpaan pada Allah Swt. Nggak percaya?

    Ambillah cermin, lihatlah kerut kerut di wajah kita. Bandingkan dengan wajah kita waktu kita berumur sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu, dan bayangkan wajah apalagi setelah dua puluh tiga puluh tahun ke depan pada wajah kita.

    Barang siapa yang senang berjumpa dengan Allah, maka Allah pun senang berjumpa dengannya. Dan barang siapa yang tidak suka berjumpa dengan Allah, maka Allah pun tidak suka berjumpa dengannya.

    ***

    Dari: Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:42 am on 12 November 2013 Permalink | Balas  

    Pelayan Hotel 

    waldorf-astoria-hotel 2Pelayan Hotel

    Bertahun-tahun dahulu, pada malam hujan badai, seorang laki-laki tua dan istrinya masuk ke sebuah lobby hotel kecil di Philadelphia. Mencoba menghindari hujan, pasangan ini mendekati meja resepsionis untuk mendapatkan tempat bermalam.

    “Dapatkah anda memberi kami sebuah kamar disini ?” tanya sang suami. Sang pelayan, seorang laki-laki ramah dengan tersenyum memandang kepada pasangan itu dan menjelaskan bahwa ada tiga acara konvensi di kota.

    “Semua kamar kami telah penuh,” pelayan berkata. “Tapi saya tidak dapat mengirim pasangan yang baik seperti anda keluar kehujanan pada pukul satu dini hari. Mungkin anda mau tidur di ruangan milik saya? Tidak terlalu bagus, tapi cukup untuk membuat anda tidur dengan nyaman malam ini.”

    Ketika pasangan ini ragu-ragu, pelayan muda ini membujuk. “Jangan khawatir tentang saya. Saya akan baik- baik saja,” kata sang pelayan. Akhirnya pasangan ini setuju. Ketika pagi hari saat tagihan dibayar, laki-laki tua itu berkata kepada sang pelayan, “Anda seperti seorang manager yang baik yang seharusnya menjadi pemilik hotel terbaik di Amerika. Mungkin suatu hari saya akan membangun sebuah hotel untuk anda.”

    Sang pelayan melihat mereka dan tersenyum. Mereka bertiga tertawa.

    Saat pasangan ini dalam perjalanan pergi, pasangan tua ini setuju bahwa pelayan yang sangat membantu ini sungguh suatu yang langka, menemukan sesorang yang ramah bersahabat dan penolong bukanlah satu hal yang mudah.

    Dua tahun berlalu. Sang pelayan hampir melupakan kejadian itu ketika ia menerima surat dari laki-laki tua tersebut. Surat tersebut mengingatkannya pada malam hujan badai dan disertai dengan tiket pulang-pergi ke New York, meminta laki-laki muda ini datang mengunjungi pasangan tua tersebut.

    Laki-laki tua ini bertemu dengannya di New York, dan membawa dia ke sudut Fifth Avenue and 34th Street. Dia menunjuk sebuah gedung baru yang megah di sana, sebuah istana dengan batu kemerahan, dengan menara yang menjulang ke langit

    “Itu,” kata laki-laki tua, “adalah hotel yang baru saja saya bangun untuk engkau kelola”.

    “Anda pasti sedang bergurau,” jawab laki-laki muda.

    “Saya jamin, saya tidak,” kata laki-laki tua itu, dengan tersenyum lebar.

    Nama laki-laki tua itu adalah William Waldorf Astor, dan struktur bangunan megah tersebut adalah bentuk asli dari Waldorf-Astoria Hotel.

    Laki-laki muda yang kemudian menjadi manager pertama adalah George C. Boldt.

    Pelayan muda ini tidak akan pernah melupakan kejadian yang membawa dia untuk menjadi manager dari salah satu jaringan hotel paling bergengsi di dunia.

    Pelajarannya adalah perlakukanlah semua orang dengan kasih, kemurahan dan hormat, dan anda tidak akan gagal.

    ***

    Dari: Sahabat

     
    • lazione budy 5:05 am on 12 November 2013 Permalink

      Lakukan yg terbaik tanpa pamrih. Itu saja, biar Tuhan yang mengatur segalanya.

  • erva kurniawan 3:33 am on 11 November 2013 Permalink | Balas  

    Pengantin Sederhana 

    pengantin muslimPengantin Sederhana

    Oleh: Syaefudin Simon

    Ketika Nabi Muhammad menikahkan Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib, beliau mengundang Abu Bakar, Umar, dan Usamah untuk membawakan “persiapan” Fatimah. Mereka bertanya-tanya, apa gerangan yang dipersiapkan Rasulullah untuk putri kinasih dan keponakan tersayangnya itu? Ternyata bekalnya cuma penggilingan gandum, kulit binatang yang disamak,kendi, dan sebuah piring.

    Mengetahui hal itu, Abu Bakar menangis. “Ya Rasulullah. Inikah persiapan untuk Fatimah?” tanya Abu Bakar terguguk. Nabi Muhammad pun menenangkannya, “Wahai Abu Bakar. Ini sudah cukup bagi orang yang berada di dunia.”

    Fatimah, sang pengantin itu, kemudian keluar rumah dengan memakai pakaian yang cukup bagus, tapi ada 12 tambalannya. Tak ada perhiasan,apalagi pernik-pernik mahal.

    Setelah menikah, Fatimah senantiasa menggiling gandum dengan tangannya, membaca Alquran dengan lidahnya, menafsirkan kitab suci dengan hatinya, dan menangis dengan matanya.  Itulah sebagian kemuliaaan dari Fatimah. Ada ribuan atau jutaan Fatimah yang telah menunjukkan kemuliaan akhlaknya. Dari mereka kelak lahir ulama-ulama ulung yang menjadi guru dan rujukan seluruh imam, termasuk Imam Maliki, Hanafi, Syafi’i, dan Hambali.

    Bagaimana gadis sekarang? Mereka, memang tak lagi menggiling gandum, tapi menekan tuts-tuts komputer. Tapi bagaimana lidah, hati, dan matanya? Bulan lalu, ada seorang gadis di Bekasi, yang nyaris mati karena bunuh diri. Rupanya ia minta dinikahkan dengan pujaan hatinya dengan pesta meriah. Karena ayahnya tak mau, dia pun nekat bunuh diri dengan minum Baygon. Untung jiwanya terselamatkan. Seandainya saja tak terselamatkan, naudzubillah min dzalik! Allah mengharamkan surga untuk orang yang mati bunuh diri.  Si gadis tadi rupanya menjadikan kemewahan pernikahannya sebagai sebuah prinsip hidup yang tak bisa dilanggar. Sayang, gadis malang itu mungkin belum menghayati cara Rasulullah menikahkan putrinya. Pesta pernikahan putri Rasulullah itu menggambarkan kepada kita, betapa kesederhanaan telah menjadi “darah daging” kehidupan Nabi yang mulia. Bahkan ketika “pesta pernikahan” putrinya, yang selayaknya diadakan dengan meriah, Muhammad tetap menunjukkan kesederhanaan.

    Bagi Rasulullah, membuat pesta besar untuk pernikahan putrinya bukanlah hal sulit. Tapi, sebagai manusia agung yang suci, “kemegahan” pesta pernikahan putrinya, bukan ditunjukkan oleh hal-hal yang bersifat duniawi. Rasul justru menunjukkan “kemegahan” kesederhanaan dan “kemegahan” sifat qanaah, yang merupakan kekayaan hakiki. Rasululllah bersabda, “Kekayaan yang sejati adalah kekayaan iman, yang tecermin dalam sifat qanaah”.

    Iman, kesederhanaan, dan qanaah adalah suatu yang tak bisa dipisahkan. Seorang beriman, tecermin dari kesederhanaan hidupnya dan kesederhanaan itu tecermin dari sifatnya yang qanaah. Qanaah adalah sebuah sikap yang menerima ketentuan Allah dengan sabar; dan menarik diri dari kecintaan pada dunia. Rasulullah bersabda, “Qanaah adalah harta yang tak akan hilang dan tabungan yang tak akan lenyap.”

    Wallahu ‘alam bish-shawab.

     
  • erva kurniawan 3:07 am on 10 November 2013 Permalink | Balas  

    Meja Kayu 

    keluarga-muslimMeja Kayu

    Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.

    Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu, ” ujar sang suami. “Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini.” Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.

    Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.

    Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?”. Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

    Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.

    Teman, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka ada peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap “bangunan jiwa” yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.

    Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk mereka lah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.

    Baaraka-llahu fiekum – wa shalla-llahu wa-ssallamuh ‘alaa nabiyyinaa muhammad, subhanaka-llahumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atuubuilaik. wa ssalaam ‘alaikum wa rahmatu-llahi wa-barakatuh.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:01 am on 9 November 2013 Permalink | Balas  

    Kematian 

    sholat-jenazah-1Kematian

    Assalam’mualaikum

    Kematian mestinya tak perlu menjadi sesuatu yang ditakuti malah sebaliknya harus senantiasa dirindukan, karena barang siapa membenci pertemuan dengan Allah, maka Allah akan benci bertemu dengannya, demikian sabda Rasulullah SAW. Namun bukan pula berarti kita dianjurkan untuk selalu mengharap kematian. Cukuplah sepanjang hayat ini, kita selalu mengingat-ingat maut, dengan cara bertakziah, menengok jenazah, atau ikut menyaksikan penguburan, karena dengan “sekedar” itu saja, Allah akan memberikan pahala-Nya.

    Alkisah menurut sirah (sejarah kehidupan Nabi), pernah Nabi Ibrahim AS berdialog dengan malaikat Maut soal sakaratul maut. Nabi Ibrahim bertanya kepada malaikat maut, “Dapatkah engkau memperlihatkan rupamu saat engkau mencabut nyawa manusia yang gemar berbuat dosa?”. Malaikat menjawab pendek, “Engkau takkan sanggup”. “Aku pas! ti sanggup”, timpal Ibrahim. “Baiklah, berpalinglah dariku”, ujar sang malaikat.

    Saat Nabi Ibrahim AS berpaling kembali, dihadapannya telah berdiri sosok berkulit legam dengan rambut berdiri, berbau busuk dan berpakaian serba hitam. Dari hidung dan mulutnya tersembur jilatan api. Seketika itu pula Nabi Ibrahim AS jatuh pingsan !

    Ketika tersadar kembali, berkata beliau kepada malaikat maut, “Wahai Malaikat Maut, SEANDAINYA PARA PENDOSA ITU TAK MENGHADAPI SESUATU YANG LAIN DARI WAJAHMU DISAAT KEMATIANNYA, NISCAYA CUKUPLAH ITU MENJADI HUKUMAN UNTUKNYA.”

    Di kesempatan lain, kisah yang diriwayatkan oleh ‘Ikrimah dari Ibn ‘Abbas ini, Nabi Ibrahim AS meminta Malaikat Maut mengubah wujudnya saat mencabut nyawa orang-orang beriman. Dengan mengajukan syarat yang sama kepada Ibrahim AS sang malaikat kemudian mengubah wujudnya. Dihadapan Nabi yang telah membalikkan badannya kembali, telah berdiri seorang pemuda tampan,gagah, berpakaian indah yang darinya tersebar harum wewangian. “SEANDAINYA ORANG BERIMAN MELIHAT RUPAMU DISAAT KEMATIANNYA, NISCAYA CUKUPLAH ITU SEBAGAI IMBALAN AMAL BAIKNYA”, komentarnya.

    Dari nukilan kisah itu, apakah bisik-bisik misteri tentang penampakkan Malaikat Maut menjelang ajal seseorang benar adanya? Dalam pergaulan sehari-hari, kadang sering kita mendengar dari mulut ke mulut, misalnya salah satu anggota kelaurga dari orang yang tengah menghadapi maut bercerita bahwa saudaranya itu melihat sesuatu. Apakah itu berupa bayangan hitam, putih atau hanya gumaman dialog mirip seperti orang yang tengah mengigau.

    Namun yang pasti dari beberapa riwayat, selain Nabi Ibrahim AS., Nabi Daud AS. dan Nabi Isa AS. juga pernah dihadapkan pada fenomena penampakkan Malaikat Maut itu. Kisah pra sakaratul maut itu belum seberapa dibandingkan dengan peristiwa sakaratul mautnya itu sendiri. SAKARATUL MAUT ADALAH SEBUAH UNGKAPAN UNTUK MENGGAMBARKAN RASA SAKIT YANG MENYERANG INTI JIWA DAN MENJALAR KE SELURUH BAGIAN TUBUH, SEHINGGA TAK SATUPUN BAGIAN YANG TERBEBAS DARI RASA SAKIT ITU. Malapetaka paling dahsyat di kehidupan paripurna manusia ini memberi rasa sakit yang berbeda-beda pada setiap orang.

    Untuk menggambarkan rasa itu, pernah Rasulullah SAW. bersabda: “Kematian yang paling mudah adalah serupa dengan sebatang duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang terkoyak?”

    Di bagian lain Rasulullah seperti yang dikisahkan Al-Hasan pernah menyinggung soal kematian, cekikan dan rasa pedihnya. “Sakitnya sama dengan tiga ratus tusukan pedang”. Diriwayatkan, pernah Nabi Ibrahim AS. ketika ruhnya akan dicabut, Allah SWT bertanya kepada Ibrahim: “Bagaimana engkau merasakan kematian wahai kawanku?”. Beliau menjawab, “Seperti sebuah pengait yang dimasukkan kedalam gumpa! lan bulu basah yang kemudian ditarik”. “Yang seperti itulah, sudah kami ringankan atas dirimu”, firman-Nya.

    Tentang sakaratul maut, Nabi SAW bersabda, “Manusia pasti akan merasakan derita dan rasa sakit kematian dan sesungguhnya sendi-sendinya akan mengucapkan selamat tinggal satu sama lain seraya berkata: “Sejahteralah atasmu; sekarang kita saling berpisah hingga datang hari kiamat kelak”.

    Tentang sakaratul maut itu Rasulullah SAW sendiri menjelang akhir hayatnya berdo’a: “Ya Allah ringankanlah aku dari sakitnya sakaratul maut” berulang hingga tiga kali. Padahal telah ada jaminan dari Allah SWT bahwa beliau akan segera masuk surga. MULAI DETIK INI MARILAH KITA KOMPARASIKAN KEKHAWATIRAN BELIAU YANG MEMILIKI TINGKAT KEIMANAN DAN KESHALEHAN SEDEMIKIAN SEMPURNANYA, DENGAN KITA YANG HANYA MANUSIA BIASA INI.

    KEMATIAN MESTINYA TAK PERLU MENJADI SESUATU YANG DITAKUTI, MALAH SEBALIKNYA HARUS SENANTIASA DIRINDUK! AN. Jika sesuatu itu begitu dirindukan, logikanya berarti ingin cepat-cepat pula ditemui. “Barang siapa membenci pertemuan dengan Allah, maka Allah akan benci bertemu dengannya” sabda Rasulullah SAW.

    Ini bukan berarti, kita dianjurkan untuk selalu mengharap kematian. Bukhari meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah seorang diantaramu mengharap kematian”.

    Cukuplah sepanjang hayat ini, kita selalu mengingat-ingat maut. Caranya dengan senantiasa tanpa lelah memerangi hawa nafsu, merenung dan melindungi hati dari silaunya kemegahan duniawi.

    UNTUK SEKEDAR MENGINGAT MAUT SAJA, ALLAH TELAH MENDATANGKAN PAHALA DAN KEBAIKAN. Ikut bertakziah mendoakan kematian orang lain, menengok jenazah atau ikut menyaksikan penguburan; bukankah ritual itu mendatangkan pahala?.

    Orang yang mengingat maut dua puluh kali dalam sehari semalam, pesan Nabi Muhammad SAW, di hari akhir nanti akan dibangkitkan bersama-sama d! engan golongan syuhada.

    *IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA*

    Al-Hubb Fillah wa Lillah,

    Wasalam

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Istanamurah 11:04 am on 15 November 2013 Permalink

      benar sekali bahwa kita tidak perlu takut untuk mati, karena pada umumnya kita nantinya juga akan berhadapan dengan yang namanya maut. jalankan yang baik dan perkecil yang buruk. :d

  • erva kurniawan 3:29 am on 8 November 2013 Permalink | Balas  

    Yang Menanti Uluran Tangan Dari Langit 

    sedekahYang Menanti Uluran Tangan Dari Langit

    Serasa mendapat pertolongan dari langit, begitulah perasaan ‘Mpok Enah ketika mendapat bantuan uang dan makanan dari tetangganya, Ibu Sali. Bagaimana tidak senang? Maemunah yang lebih dikenal dengan panggilan ’Mpok Enah itu, adalah seorang janda miskin beranak tiga. Penghasilannya hanya mengandalkan menerima cucian beberapa orang tetangganya. Pekerjaan itu pun tidak selamanya berjalan mulus. Jika ia sakit, ya… tidak ada penghasilan yang masuk. Waktu Bu Sali datang menenteng “bawaan” ke rumahnya, ’Mpok Enah memang sudah 3 hari sakit.

    Walaupun tampak pucat, Maemunah memaksakan diri melepaskan senyumnya seceria mungkin, tatkala menerima bingkisan dari Ibu Sali yang nama panjangnya Salimah. Tak putus-putusnya ia mengucapkan syukur dan terima kasih pada tetangganya yang baik hati itu. Padahal ia nyaris keluar rumah untuk menyambangi lagi para tetangga yang butuh tenaganya, seandainya Bu Sali tidak bertandang ke rumahnya. Walaupun sebetulnya badannya masih lemah. Sebab ketiga anaknya sudah ribut lapar, sementara persediaan uangnya sudah habis. Anaknya yang paling besar (kelas II SD) pun, ia belum lunasi SPP-nya selama 3 bulan berturut-turut.

    Maka di saat-saat menghadapi situasi amat kritis seperti itu, Bu Sali baginya seperti malaikat penolong yang turun dari langit. Ini untuk kesekian kalinya Bu Sali menolong dirinya, saat dia menghadapi kesulitan. Entah, kenapa orang itu begitu berbaik hati pada dirinya, pikir Maemunah. Padahal tetangga-tetangganya yang lain belum pernah ada yang mau tau tentang keadaan rumah tangganya. Pernah ketiga anaknya sakit, tapi ia tak punya uang sama sekali untuk berobat. Sementara, tak satupun tetangga yang mau mengunjunginya. Akhirnya ia terpaksa menjual kalung emas seberat 3 gram warisan dari almarhum suaminya untuk biaya berobat anaknya.

    Kalau badannya fit, dan anak-anaknya sehat, Maemunah tak begitu bingung dan resah. Seribu dua ribu rupiah biasanya masih ada di tangan untuk sekadar jajan sekolah anaknya. Tapi jika ia sakit, apalagi anaknya juga sakit, perasaannya pasti sangat tidak karuan. Sedih, bingung, dan nyaris putus asa jika menghadapi situasi kritis seperti itu. Celakanya, keadaan stabil dimana diri dan anak-anaknya sehat, lalu ia punya sedikit tabungan, justru tak pernah berlangsung lama. Ia malah relatif lebih sering mengalami fase-fase kritis, khususnya ketika ia tak sanggup menerima cucian selama beberapa hari. Maklum belakangan ini tubuhnya dirasakan cepat letih, tidak setegar ketika masih ada sang suami di sampingnya dua tahun lalu.

    Fenomena ’Mpok Enah mungkin juga ada di sekitar rumah kita. Sebagai seorang Muslim/Muslimah sepatutnyalah kita tidak menutup mata dengan berbagai fenomena sosial yang ada. Mungkin ada satu atau lebih tetangga kita yang nasibnya tidak seberuntung kita. Tak usah menunggu mereka datang kepada kita untuk minta pertolongan. Tapi kitalah yang semestinya pro-aktif menyinggahi saudara-saudara kita yang nasibnya kurang beruntung itu. Karena Allah menakdirkan kita diberikan kelebihan rezekiNya, sehingga kitalah yang mestinya menjadi pelayan orang-orang dhu’afa itu. Percayalah pemberian seribu dua ribu rupiah atau sepiring makanan, mungkin tak berarti bagi kita. Tapi bagi yang butuh pertolongan, pemberian itu sungguh sangat berarti.

    Bukankah Islam juga mengajarkan kita untuk senantiasa mengasah ketajaman sense of social kita? Mengajarkan kita menjadi khodimul ummah (pelayan umat) yang baik? Al Qur’an mengisyaratkan, bahwa yang disebut kebaktian (al birr) tidaklah cukup hanya dengan beriman kepada Allah, Hari Akhir, Malaikat, Kitab-Kitab dan Nabi-NabiNya. Kebaktian juga harus diikuti dengan menunjukkan perilaku sosial yang baik.

    ”Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian. Akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), orang yang meminta-minta, serta (memerdekakan) hamba sahaya, menegakkan shalat dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila dia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan merekalah itulah orang-orang yang bertaqwa.” (QS 2 : 177)

    Sebaliknya Allah swt mengancam orang-orang yang kikir dan tak peduli dengan nasib orang miskin dan anak yatim dengan menyediakan bagi mereka neraka jahannam. Betapapun mereka rajin mengerjakan shalat (QS 2 : 107).

    Sedangkan Nabi mulia mengingatkan, bahwa tidak beriman seseorang yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya kelaparan. Kita berlindung kepada Allah swt agar tidak tergolong ke dalam kelompok orang-orang yang dimaksud Al Qur’an dan hadits Rasul di atas.

    Semoga Allah ‘Azza wa Jalla melapangkan hati kita untuk bisa menjadi Salimah-Salimah di lingkungan kita. Yakinlah saudaraku, masih banyak ’Mpok Enah – ‘Mpok Enah yang bertebaran di sekeliling kita, baik yang kelihatan maupun yang tersembunyi.

    ***

    Oleh: Sulthoni – eramuslim

     
  • erva kurniawan 4:37 am on 7 November 2013 Permalink | Balas  

    Meriahkan Dunia Dengan Menikah 

    nikah erva kurniawan vs titik rahayuningsih 3Meriahkan Dunia Dengan Menikah

    Oleh : Ir. Drs. Abu Ammar, MM

    Islam adalah agama yang syumul (universal). Agama yang mencakup semua sisi kehidupan. Tidak ada suatu masalahpun dalam kehidupan ini yang tidak dijelaskan. Dan tidak ada satupun masalah yang tidak disentuh nilai Islam, walau masalah tersebut nampak kecil dan sepele (ringan). Itulah Islam, agama yang memberi rahmat bagi sekalian alam.

    Dalam masalah pernikahan, Islam telah berbicara banyak. Mulai dari bagaimana mencari kriteria bakal calon pendamping hidup hingga bagaimana memperlakukannya kala resmi menjadi sang penyejuk hati. Islam menuntunnya. Begitupula Islam mengajarkan bagaimana mewujudkan sebuah pesta pernikahan yang meriah, namun tetap mendapatkan berkah dan tidak melanggar tuntunan sunnah Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam. Begitupula dengan pernikahan yang sederhana namun tetap penuh dengan pesona. Islam mengajarkannya.

    Menikah merupakan jalan yang paling bermanfa’at dan paling afdhal dalam upaya merealisasikan dan menjaga kehormatan. Dengan menikah seseorang bisa terjaga dirinya dari apa yang diharamkan Allah SWT. Oleh sebab itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong untuk mempercepat nikah, mempermudah jalan untuknya dan memberantas kendala-kendalanya.

    Nikah merupakan jalan fitrah yang bisa menuntaskan gejolak biologis dalam diri manusia. Nikah mengangkat cita-cita luhur yang kemudian dari persilangan syar’i tersebut sepasang suami istri dapat menghasilkan keturunan. Melalui perannya bumi ini menjadi semakin semarak.

    Melalui risalah (tulisan) singkat ini, anda saya ajak untuk bisa mempelajari dan menyelami tata cara pernikahan Islam yang begitu agung nan penuh nuansa. Anda akan diajak untuk meninggalkan tradisi-tradisi masa lalu yang penuh dengan upacara-upacara dan adat istiadat yang berkepanjangan dan melelahkan. Mestikah kita bergelimang dengan kesombongan dan kedurhakaan hanya lantaran sebuah pernikahan ..? Na’udzu billahi tsumma na’udzu billahi min dzalik. Wallahu musta’an.

    Muqaddimah

    Persoalan pernikahan adalah persoalan yang selalu aktual dan selalu menarik untuk dibicarakan serta dibahas. Persoalan ini bukan hanya menyangkut tabiat dan hajat hidup manusia yang asasi saja tetapi juga menyentuh suatu lembaga yang luhur dan sentral yaitu rumah tangga. Luhur, karena lembaga ini merupakan benteng bagi pertahanan martabat manusia dan nilai-nilai akhlaq.

    Lembaga ini merupakan pusat bagi lahir dan tumbuhnya Bani Adam yang kelak mempunyai peranan kunci dalam mewujudkan kedamaian dan kemakmuran di muka bumi ini. Menurut Islam, Bani Adamlah yang memperoleh kehormatan untuk memikul amanah Illahi sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana firman Allah Ta’ala: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat : “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata : “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau ?. Allah berfirman : “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Al-Baqarah: 30).

    Pernikahan merupakan persoalan penting dan besar. ‘Aqad nikah (pernikahan) adalah sebagai suatu perjanjian yang kokoh dan suci (MIITSAAQON GHALIIZHOO), sebagaimana firman Allah Ta’ala: Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami istri dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat”. (An-Nisaa’ : 21). Karena itu, diharapkan semua pihak yang terlibat di dalamnya, khususnya suami istri, memelihara dan menjaganya secara sunguh-sungguh dengan penuh tanggung jawab.

    Agama Islam telah memberikan petunjuk yang lengkap dan rinci terhadap persoalan pernikahan. Mulai dari anjuran menikah, cara memilih pasangan yang ideal, melakukan ‘khitbah’ (peminangan), mendidik anak, memberikan jalan keluar jika terjadi kemelut dalam rumah tangga, sampai dalam proses nafaqah (memberikan nafkah) dan harta waris, semua diatur oleh Islam secara rinci dan detail.

    Selanjutnya untuk memahami konsep Islam tentang pernikahan, maka rujukan yang paling sah dan benar adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah Shahih (yang sesuai dengan pemahaman Salafus Shalih). Melalui rujukan ini kita akan dapati kejelasan tentang aspek-aspek pernikahan maupun beberapa penyimpangan dan pergeseran nilai pernikahan yang terjadi di masyarakat.Tentu saja semua persoalan tersebut tidak dapat saya (penulis) tuangkan dalam tulisan ini. Hanya beberapa persoalan yang perlu dibahas yaitu tentang : Fitrah Manusia, Tujuan Perkawinan dalam Islam, Tata Cara Perkawinan dan Penyimpangan Dalam Perkawinan.

    Pernikahan adalah Fitrah Kemanusiaan

    Agama Islam adalah agama fithrah dan manusia diciptakan Allah Ta’ala cocok dengan fitrah ini. Karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh manusia menghadapkan diri ke agama fithrah agar tidak terjadi penyelewengan dan penyimpangan. Dengan demikian manusia dapat berjalan di atas fitrahnya tersebut.

    Pernikahan adalah fitrah kemanusiaan (‘gharizah insaniyah’/naluri kemanusiaan). Karena itu Islam menganjurkan untuk menikah. Bila gharizah ini tidak dipenuhi dengan jalan yang sah yaitu pernikahan, maka ia akan mencari jalan-jalan syetan yang banyak menjerumuskan ke lembah hitam.

    Firman Allah Ta’ala: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah) ; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus ; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Ar-Ruum :30).

    Islam telah menjadikan ikatan pernikahan yang sah berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagi satu-satunya sarana untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang sangat asasi serta sarana untuk membina keluarga yang Islami. Penghargaan Islam terhadap ikatan pernikahan besar sekali, sampai-sampai ikatan itu ditetapkan sebanding dengan separuh agama. Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu berkata: “Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi”. (Hadist Riwayat Thabrani dan Hakim).

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menikah dan melarang keras kepada orang yang tidak mau menikah. Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk nikah dan melarang kami membujang dengan larangan yang keras”. Dan beliau bersabda: “Artinya : Nikahilah perempuan yang banyak anak dan penyayang. Karena aku akan berbanggga dengan banyaknya umatku dihadapan para Nabi kelak di hari kiamat”. (Hadits Riwayat Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban).

    Pernah suatu ketika tiga orang shahabat datang bertanya kepada istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang peribadatan beliau. Setelah mendapat penjelasan, masing-masing ingin meningkatkan peribadatan mereka. Salah seorang berkata: “Adapun saya, akan puasa sepanjang masa tanpa putus”. Yang lain berkata: “Adapun saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan kawin selamanya”….

    Ketika hal itu didengar oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau keluar seraya bersabda: “Benarkah kalian telah berkata begini dan begitu ?. Demi Allah, sesungguhnya akulah yang paling takut dan taqwa di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku berbuka, aku shalat dan aku juga tidur dan aku juga mengawini perempuan. Maka barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku”. (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).

    Orang yang mempunyai akal dan bashirah tidak akan mau menjerumuskan dirinya ke jalan kesesatan dengan memilih hidup membujang. Menurut Syaikh Hussain Muhammad Yusuf: “Hidup membujang adalah suatu kehidupan yang kering dan gersang. Hidup yang tidak mempunyai makna dan tujuan. Suatu kehidupan yang hampa dari berbagai keutamaan insani yang pada umumnya ditegakkan atas dasar egoisme dan mementingkan diri sendiri serta ingin terlepas dari semua tanggung jawab”.

    Orang yang membujang pada umumnya hanya hidup untuk dirinya sendiri. Mereka membujang bersama hawa nafsu yang selalu bergelora, hingga kemurnian semangat dan rohaninya menjadi keruh. Mereka selalu berada dalam pergolakan melawan fitrahnya. Kendati ketaqwaan mereka dapat diandalkan, namun pergolakan yang terjadi secara terus menerus lama kelamaan akan melemahkan iman dan ketahanan jiwa serta mengganggu kesehatan dan akan membawanya ke lembah kenistaan.

    Jadi orang yang enggan menikah baik laki-laki atau wanita, maka mereka itu sebenarnya tergolong orang yang paling sengsara dalam hidup ini. Mereka itu adalah orang yang paling tidak menikmati kebahagian hidup, baik kesenangan bersifat sensual maupun spiritual. Mungkin mereka kaya, namun mereka miskin dari karunia Allah.

    Islam menolak sistem ke-‘rahib-an’ karena sistem tersebut bertentangan dengan fitrah kemanusiaan. Sikap itu melawan sunnah dan kodrat Allah Ta’ala yang telah ditetapkan bagi semua mahluknya. Sikap enggan membina rumah tangga karena takut miskin adalah sikap orang jahil (bodoh), karena semua rezeki sudah diatur oleh Allah sejak manusia berada di alam rahim. Manusia tidak bisa menteorikan rezeki yang dikaruniakan Allah, misalnya ia berkata : “Bila saya hidup sendiri gaji saya cukup, tapi bila punya istri tidak cukup ?!”.

    Perkataan ini adalah perkataan yang batil dan bertentangan dengan ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah memerintahkan untuk nikah. Seandainya mereka fakir pasti Allah akan membantu dengan memberi rezeki kepadanya. Allah menjanjikan suatu pertolongan kepada orang yang nikah. Firman-Nya: “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui“. (An-Nur : 32).

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menguatkan janji Allah itu dengan sabdanya: “Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka, dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (Hadits Riwayat Ahmad, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim dari shahabat Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu).

    Para salafus shalih sangat menganjurkan untuk nikah. Mereka anti membujang dan tidak suka berlama-lama hidup sendiri. Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu pernah berkata : “Jika umurku tinggal sepuluh hari lagi, sungguh aku lebih suka menikah daripada aku harus menemui Allah SWT sebagai seorang bujangan”. (Ihya Ulumuddin hal. 20).

    Tujuan Pernikahan dalam Islam

    1. Untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang asasi.

    Pernikahan adalah fitrah manusia, maka jalan yang sah untuk memenuhi kebutuhan ini yaitu dengan aqad nikah (melalui jenjang pernikahan). Bukan dengan cara yang amat kotor menjijikan seperti cara-cara orang sekarang seperti: berpacaran, kumpul kebo, melacur, berzina, lesbi, homo, dan lain sebagainya yang telah menyimpang jauh dan diharamkan oleh Islam.

    2. Untuk membentengi ahlak yang luhur.

    Sasaran utama dari disyari’atkannya pernikahan dalam Islam di antaranya ialah untuk membentengi martabat manusia dari perbuatan kotor dan keji yang telah menurunkan dan meninabobokan martabat manusia yang luhur. Islam memandang pernikahan dan pembentukan keluarga sebagai sarana efektif untuk memelihara pemuda dan pemudi dari kerusakan serta melindungi masyarakat dari kekacauan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai para pemuda ! Barangsiapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih Menundukan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat membentengi dirinya”. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).

    3. Untuk menegakkan rumah tangga yang islami.

    Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Islam membenarkan adanya Thalaq (perceraian). Jika suami istri sudah tidak sanggup lagi menegakkan batas-batas Allah, sebagaimana firman Allah: “Thalaq (yang dapat dirujuki) dua kali, setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zhalim”. (Al-Baqarah : 229).

    Yakni keduanya sudah tidak sanggup melaksanakan syari’at Allah. Dan dibenarkan rujuk (kembali nikah lagi) bila keduanya sanggup menegakkan batas-batas Allah. Sebagaimana yang disebutkan dalam lanjutan ayat di atas: “Kemudian jika si suami menthalaqnya (sesudah thalaq yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dinikahkan dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami yang pertama dan istri) untuk nikah kembali, jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah, diterangkannya kepada kaum yang (mau) mengetahui”. (Al-Baqarah: 230).

    Jadi tujuan yang luhur dari pernikahan adalah agar suami istri melaksanakan syari’at Islam dalam rumah tangganya. Hukum ditegakkannya rumah tangga berdasarkan syari’at Islam adalah WAJIB. Oleh karena itu setiap muslim dan muslimah yang ingin membina rumah tangga yang Islami, ajaran Islam telah memberikan beberapa kriteria tentang calon pasangan yang ideal yaitu: (a) sesuai kafa’ah; dan (b) shalih dan shalihah.

    a. Kafa’ah menurut konsep islam

    Pengaruh materialisme telah banyak menimpa orangtua. Tidak sedikit pada zaman sekarang ini orang tua yang memiliki pemikiran, bahwa di dalam mencari calon jodoh putra-putrinya, selalu mempertimbangkan keseimbangan kedudukan, status sosial dan keturunan saja. Sementara pertimbangan agama kurang mendapat perhatian. Masalah Kufu’ (sederajat, sepadan) hanya diukur lewat materi saja.

    Menurut Islam, kafa’ah (atau kesamaan/kesepadanan/ sederajat dalam pernikahan) dipandang sangat penting karena dengan adanya kesamaan antara kedua suami istri itu, maka usaha untuk mendirikan dan membina rumah tangga yang Islami Insya Allah akan terwujud. Tetapi kafa’ah menurut Islam hanya diukur dengan kualitas iman dan taqwa serta akhlaq seseorang. Allah memandang sama derajat seseorang baik itu orang Arab maupun non Arab, miskin atau kaya. Tidak ada perbedaan dari keduanya kecuali derajat taqwanya. Firman Allah: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang-orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Al-Hujurat : 13).

     Dan mereka tetap sekufu’ dan tidak ada halangan bagi mereka untuk menikah satu sama lainnya. Wajib bagi para orangtua, pemuda, pemudi untuk meninggalkan faham materialis dan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang Shahih. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wanita dikawini karena empat hal : Karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih karena agamanya (ke-Islamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan celaka”. (Hadits Shahih Riwayat Bukhari, Muslim).

    b. Memilih yang shalih dan shalihah

    Lelaki yang hendak menikah harus memilih wanita yang shalihah dan wanita harus memilih laki-laki yang shalih. Menurut Al-Qur’an: “Wanita yang shalihah ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, olkeh karena Allah telah memelihara (mereka)”. (An-Nisaa : 34). Menurut Al-Qur’an dan Al-Hadits yang Shahih di antara ciri-ciri wanita yang shalihah ialah : “Ta’at kepada Allah, ta’at kepada Rasul, memakai jilbab (pakaian) yang menutup seluruh auratnya dan tidak untuk pamer kecantikan (tabarruj) seperti wanita jahiliyah (Al-Ahzab : 32). Tidak berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan mahram, ta’at kepada orangtua dalam kebaikan, ta’at kepada suami dan baik kepada tetangganya dan lain sebagainya”.

    Bila kriteria ini dipenuhi Insya Allah rumah tangga yang Islami akan terwujud. Sebagai tambahan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk memilih wanita yang peranak dan penyayang agar dapat melahirkan generasi penerus umat.

    4. Untuk meningkatkan ibadah kepada Allah.

    Menurut konsep Islam, hidup sepenuhnya untuk beribadah kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama manusia. Dari sudut pandang ini, rumah tangga adalah salah satu lahan subur bagi peribadatan dan amal shalih di samping ibadah dan amal-amal shalih yang lain. Sampai-sampai bersetubuh (berhubungan suami-istri) pun termasuk ibadah (sedekah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika kalian bersetubuh dengan istri-istri kalian termasuk sedekah!.” Mendengar sabda Rasulullah itu para shahabat keheranan dan bertanya: “Wahai Rasulullah, seorang suami yang memuaskan nafsu birahinya terhadap istrinya akan mendapat pahala ?” Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab: “Bagaimana menurut kalian jika mereka (para suami) bersetubuh dengan selain istrinya, bukankah mereka berdosa .? “Jawab para shahabat : “Ya, benar”. Beliau bersabda lagi : “Begitu pula kalau mereka bersetubuh dengan istrinya (di tempat yang halal), mereka akan memperoleh pahala!”. (Hadits Shahih Riwayat Muslim, Ahmad dan Nasa’i dengan sanad yang Shahih).

    5. Untuk mencari keturunan yang shalih dan shalihah.

    Tujuan pernikahan diantaranya ialah untuk melestarikan dan mengembangkan bani Adam. Allah berfirman: “Allah telah menjadikan dari diri-diri kamu itu pasangan suami istri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?”. (An-Nahl : 72).

    Yang tak kalah pentingnya, dalam pernikahan bukan hanya sekedar memperoleh anak, tetapi berusaha mencari dan membentuk generasi yang berkualitas yaitu mencetak anak yang shalih dan Shalihah serta bertaqwa kepada Allah SWT. Keturunan yang shalih tidak akan diperoleh melainkan dengan tarbiyah Islam (pendidikan Islam) yang benar. Disebutkan demikian karena banyak “Lembaga Pendidikan Islam”, tetapi isi dan metodanya tidak Islami. Sehingga banyak terlihat anak-anak kaum muslimin tidak memiliki ahlaq Islami sebagai akibat pendidikan yang salah. Oleh karena itu suami istri bertanggung jawab mendidik, mengajar, dan mengarahkan anak-anaknya ke jalan yang benar.

    Islam memandang bahwa pembentukan keluarga merupakan salah satu jalan untuk merealisasikan tujuan-tujuan yang lebih besar yang meliputi berbagai aspek kemasyarakatan berdasarkan Islam yang akan mempunyai pengaruh besar dan mendasar terhadap kaum muslimin dan eksistensi umat Islam.

    Tatacara Pernikahan Dalam Islam

    Islam telah memberikan konsep yang jelas tentang tatacara pernikahan berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah yang shahih (sesuai dengan pemahaman para Salafus Shalih). Secara singkat saya (penulis) sebutkan tahapannya dan jelaskan seperlunya:

    1. Khitbah (meminang).

    Seorang muslim yang akan menikahi seorang muslimah hendaknya ia meminang terlebih dahulu, karena dimungkinkan ia sedang dipinang oleh orang lain. Islam melarang seorang muslim meminang wanita yang sedang dipinang oleh orang lain (Muttafaq ‘alaihi). Dalam khitbah disunnahkan melihat wajah yang akan dipinang (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Darimi).

     2. Aqad nikah.

    Dalam aqad nikah ada beberapa syarat dan kewajiban yang harus dipenuhi yaitu:

    a. Adanya suka sama suka dari kedua calon mempelai.

    b. Adanya Ijab Qabul.

    c. Adanya Mahar.

    d. Adanya Wali.

    e. Adanya Saksi-saksi.

    Dan menurut sunnah sebelum aqad nikah diadakan ‘khutbah’ terlebih dahulu yang dinamakan ‘Khutbatun Nikah atau Khutbatul Hajat’.

    3. Walimah ‘urusy (resepsi pernikahan).

    Walimatul ‘urusy hukumnya wajib dan diusahakan sesederhana mungkin. Hendaknya diundang juga orang-orang miskin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Makanan paling buruk adalah makanan dalam walimah yang hanya mengundang orang-orang kaya saja untuk makan, sedangkan orang-orang miskin tidak diundang. Barangsiapa yang tidak menghadiri undangan walimah, maka ia durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya”. (Hadits Shahih Riwayat Muslim dan Baihaqi dari Abu Hurairah).

    Sebagai catatan penting hendaknya yang diundang itu orang-orang shalih, baik kaya maupun miskin. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Janganlah kamu bergaul melainkan dengan orang-orang mukmin dan jangan makan makananmu melainkan orang-orang yang taqwa”. (Hadist Shahih Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, Hakim dan Ahmad dari Abu Sa’id Al-Khudri).

    Sebagian Penyelewengan Seputar Pernikahan

    1. Pacaran.

    Kebanyakan orang sebelum melangsungkan pernikahan biasanya “berpacaran” terlebih dahulu. Hal ini biasanya dianggap sebagai masa perkenalan individu, atau masa penjajakan atau di anggap sebagai perwujudan rasa cinta kasih terhadap lawan jenisnya. Adanya anggapan seperti ini melahirkan konsensus (persepsi) bersama antar berbagai pihak untuk menganggap masa berpacaran sebagai sesuatu yang lumrah dan wajar-wajar saja. Anggapan seperti ini adalah anggapan yang salah dan keliru. Dalam berpacaran sudah pasti tidak bisa dihindarkan dari berintim-intim dua insan yang berlainan jenis. Terjadi saling pandang, saling sentuh antara lawan jenis yang sudah jelas haram hukumnya menurut syari’at Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ” Jangan sekali-kali seorang laki-laki bersendirian dengan seorang perempuan, melainkan si perempuan itu bersama mahramnya”. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim). Jadi dalam Islam tidak ada kesempatan untuk berpacaran dan berpacaran itu hukumnya haram.

    2. Tukar cincin.

    Dalam peminangan biasanya ada tukar cincin sebagai tanda ikatan, hal ini bukan dari ajaran Islam. (Lihat Adabuz-Zafat, nashiruddin Al-Bani)

    3. Menuntut mahar yang tinggi.

    Menurut Islam sebaik-baik mahar adalah yang murah dan mudah, tidak mempersulit atau mahal. Memang mahar itu hak wanita, tetapi Islam menyarankan agar mempermudah dan melarang menuntut mahar yang tinggi.

    4. Mengikuti upacara adat.

    Ajaran dan peraturan Islam harus lebih tinggi dari segalanya. Setiap acara (upacara dan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam) maka wajib untuk dihilangkan. Umumnya umat Islam dalam cara perkawinan selalu meninggikan dan menyanjung adat istiadat setempat, sehingga sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang benar dan shahih telah mereka matikan dan padamkan (sesuai pengamatan dan perbincangan penulis). Sungguh sangat ironis…!. Kepada mereka yang masih menuhankan adat istiadat jahiliyah dan melecehkan konsep Islam, berarti mereka belum yakin kepada Islam.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”. (Al-Maaidah : 50). Orang-orang yang mencari konsep, peraturan, dan tatacara selain Islam, maka semuanya tidak akan diterima oleh Allah dan kelak di akhirat mereka akan menjadi orang-orang yang merugi, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (Ali-Imran : 85).

    5. Mengucapkan ucapan selamat ala jahiliyah.

    Kaum jahiliyah selalu menggunakan kata-kata ‘Birafa’ Wal Banin’, ketika mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Ucapan Birafa’ Wal Banin (semoga mempelai murah rezeki dan banyak anak) dilarang oleh Islam. Dari Al-Hasan, bahwa ‘Aqil bin Abi Thalib nikah dengan seorang wanita dari Jasyam. Para tamu mengucapkan selamat dengan ucapan jahiliyah : ‘Birafa’ Wal Banin’. ‘Aqil bin Abi Thalib melarang mereka seraya berkata : “Janganlah kalian ucapkan demikian !. Karena Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam melarang ucapan demikian”. Para tamu bertanya :”Lalu apa yang harus kami ucapkan, wahai Abu Zaid ?”. ‘Aqil menjelaskan : “Ucapkanlah : Barakallahu lakum wa Baraka ‘Alaiykum” (mudah-mudahan Allah memberi kalian keberkahan dan melimpahkan atas kalian keberkahan). Demikianlah ucapan yang diperintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”. (Hadits Shahih Riwayat Ibnu Abi Syaibah, Darimi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad, dan lain-lain).

    Do’a yang biasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ucapkan kepada seorang mempelai ialah : “Baarakallahu laka wa baarakaa ‘alaiyka wa jama’a baiynakumaa fii khoir” Do’a ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah: ‘Artinya : Dari Abu hurairah, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika mengucapkan selamat kepada seorang mempelai, beliau mengucapkan do’a : Baarakallahu laka wabaraka ‘alaiyka wa jama’a baiynakuma fii khoir (mudah-mudahan Allah mencurahkan keberkahan atasmu dan mudah-mudahan Dia mempersatukan kamu berdua dalam kebaikan). (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Tirmidzi, Darimi 2:134, Hakim, Ibnu Majah dan Baihaqi).

    6. Adanya ikhtilath (bercampur baur antara laki-laki dan wanita).

    Ikhtilath adalah bercampurnya laki-laki dan wanita hingga terjadi pandang memandang, sentuh menyentuh, jabat tangan antara laki-laki dan wanita. Menurut Islam antara mempelai laki-laki dan wanita harus dipisah, sehingga apa yang kita sebutkan di atas dapat dihindari semuanya. (untuk yang satu ini masyarakat kita belum terbiasa dengan sunnah Rasulullah SAW, bahkan sangat asing dengan nilai-nilai yang dibawa oleh ajaran Islam)

    7. Pelanggaran lain.

    Pelanggaran-pelanggaran lain yang sering dilakukan di antaranya adalah musik yang hingar bingar, memakan hidangan yang disediakan sambil berdiri, dsb.

    Khatimah Rumah Tangga yang ideal menurut ajaran Islam adalah rumah tangga yang diliputi ‘sakinah’ (ketentraman jiwa), ‘mawaddah’ (rasa cinta) dan ‘rahmah’ (kasih sayang). Allah berfirman: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu hidup tentram bersamanya. Dan Dia (juga) telah menjadikan di antaramu (suami, istri) rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”. (Ar-Ruum : 21).

    Dalam rumah tangga yang Islami, suami-istri harus saling memahami kekurangan dan kelebihannya serta harus tahu pula hak dan kewajibannya serta memahami tugas dan fungsinya masing-masing yang harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Dengan demikian upaya untuk mewujudkan pernikahan dan rumah tangga yang mendapat keridha’an Allah SWT dapat terealisir.

    Tetapi mengingat kondisi manusia yang tidak bisa lepas dari kelemahan dan kekurangan, sementara ujian dan cobaan selalu mengiringi kehidupan manusia, maka tidak jarang pasangan yang sedianya hidup tenang, tentram dan bahagia mendadak dilanda “kemelut” perselisihan dan percekcokan. Bila sudah diupayakan untuk damai (sebagaimana disebutkan dalam surat An-Nisaa : 34-35) namun tetap gagal, maka Islam memberikan jalan terakhir, yaitu “perceraian”.

     Marilah kita berupaya untuk merealisasikan pernikahan secara Islam dan membina rumah tangga yang Islami. Disamping itu wajib bagi kita meninggalkan aturan, tatacara, upacara dan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam. Hanya Islam satu-satunya ajaran yang benar dan diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala (Ali-Imran : 19). “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan yang menyejukkan hati kami, dan jadikanlah kami Imam bagi orang-orang yang bertaqwa”. (Al-Furqan ; 25:74 ). Amiin.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:57 am on 6 November 2013 Permalink | Balas  

    Minum Air Putih 

    air-putihMengapa harus minum air putih banyak-banyak..?”

    Well, sebenarnya jawabannya cukup “mengerikan” tetapi karena sebuah pertanyaan jujur harus dijawab dengan jujur, maka topik tersebut saya tampilkan dalam rubrik De Facto hari ini.

    Kira-kira 80% tubuh manusia terdiri dari air. Malah ada beberapa bagian tubuh kita yang memiliki kadar air di atas 80%. Dua organ paling penting dengan kadar air di atas 80% adalah : Otak dan Darah.

    Otak memiliki komponen air sebanyak 90%, sementara darah >memiliki Komponen air 95%. Jatah minum manusia normal sedikitnya adalah 2 liter sehari atau 8 gelas sehari. Jumlah di atas harus ditambah bila anda seorang perokok.

    Air sebanyak itu diperlukan untuk mengganti cairan yang keluar dari tubuh kita lewat air seni, keringat, pernapasan, dan sekresi. Apa yang terjadi bila kita mengkonsumsi kurang dari 2 liter sehari…?

     Tentu tubuh akan menyeimbangkan diri. Caranya…? Dengan jalan “menyedot” air dari komponen tubuh sendiri. Dari otak…? Belum sampai segitunya (wihh…bayangkan otak kering gimana jadinya…), melainkan dari sumber terdekat : Darah.

    Darah yang disedot airnya akan menjadi kental. Akibat >pengentalan darah ini, maka perjalanannya akan kurang lancar ketimbang yang encer. Saat melewati ginjal (tempat menyaring racun dari darah) ginjal akan bekerja extra keras menyaring darah. Dan karena saringan dalam ginjal halus, tidak jarang darah yang kental bisa menyebabkan perobekan pada glomerulus ginjal. Akibatnya, air seni anda berwarna kemerahan, tanda mulai bocornya saringan ginjal. Bila dibiarkan terus menerus, anda mungkin suatu saat harus  menghabiskan 400.000 rupiah seminggu untuk cuci darah

    Eh, tadi saya sudah bicara tentang otak ‘kan…? Nah saat darah kental mengalir lewat otak, perjalanannya agak terhambat. Otak tidak lagi “encer”, dan karena sel-sel otak adalah yang paling boros mengkonsumsi makanan dan oksigen, lambatnya aliran darah ini bisa menyebabkan sel-sel otak cepat mati atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya..(ya wajarlah namanya juga kurang makan…)

    Bila ini ditambah dengan penyakit jantung (yang juga kerjanya tambah berat bila darah mengental…), maka serangan stroke bisa lebih lekas datang.

    Sekarang tinggal anda pilih : melakukan “investasi” dengan minum  sedikitnya 8 gelas sehari – atau “membayar bunga” lewat sakit ginjal atau stroke. Anda yang pilih…! 

     
  • erva kurniawan 5:45 am on 5 November 2013 Permalink | Balas  

    Garam dan Telaga 

    danau-siluetGaram dan Telaga

    Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Pemuda itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Pemuda itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak mendengarkan dengan seksama. Beliau lalu mengambil segenggam garam dan segelas air. Dimasukkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduk perlahan.

    “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya, “ujar Pak tua itu. “Asin. Asin sekali, “jawab sang tamu, sambil meludah kesamping. Pak Tua tersenyum kecil mendengar jawaban itu. Beliau lalu mengajak sang pemuda ke tepi telaga di dekat tempat tinggal Beliau. Sesampai di tepi telaga, Pak Tua menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, diaduknya air telaga itu. “Coba, ambil air dari telaga ini dan minumlah.”

    Saat pemuda itu selesai mereguk air itu, Beliau bertanya, “Bagaimana rasanya?”

    “Segar,” sahut sang pemuda. “Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?” tanya Beliau lagi.

    “Tidak,” jawab si anak muda. Dengan lembut Pak Tua menepuk-nepuk punggung si anak muda.

    “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam tadi, tak lebih dan tak kurang. Jumlah garam yang kutaburkan sama, tetapi rasa air yang kau rasakan berbeda. Demikian pula kepahitan akan kegagalan yang kita rasakan dalam hidup ini, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

    Beliau melanjutkan nasehatnya. “Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu Adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan bahagiaan.”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:57 am on 4 November 2013 Permalink | Balas  

    Izinkan Aku Menciummu, Ibu 

    ibu-anak-siluetIzinkan Aku Menciummu, Ibu 

    Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku ‘dipaksa’ membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.

    Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu.

    Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku. Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu. Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi.

    Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga. Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya. Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.

    Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.

    Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi do’a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang. Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu.

    Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku Kubersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini. Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang shaleh dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada Ibu.

    Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.

    ***

    Dari Sahabat – eramuslim

     
  • erva kurniawan 3:35 am on 4 November 2013 Permalink | Balas  

    Arti Sebuah Kehadiran 

    Arti Sebuah Kehadiran

    Seorang laki-laki pergi ke luar negesuratri untuk bekerja dan meninggalkan gadis tunangannya tersedu-sedu. “Jangan khawatir, aku akan menulis surat untukmu setiap hari”, katanya. Selama ber-tahun laki-laki itu memang menulis surat untuk tunangannya. Tetapi karena dia senang dengan pekerjaannya, dia tidak merencanakan untuk pulang dalam waktu dekat.

    Suatu hari, dia menerima undangan pernikahan. Ternyata kekasihnya akan segera menikah. Dengan siapa? Dengan tukang pos yang tiap hari mengantar surat yang dia tulis. Jarak pemisah telah membuat hati berubah.

    Lelaki malang itu merenung, “Lho, apa salahku. Aku mengiriminya surat, coklat, dan bahkan bunga-bunga”. Ketika dalam suatu hubungan terjadi masalah, daftar barang yang telah diberikan atau hal yang telah dilakukan untuk seseorang, akan tiba-tiba muncul untuk dipermasalahkan. Kita akan berkata: “Saya telah memberimu ini dan itu… Saya telah melakukan semuanya demi kamu”. Tampaknya cinta dapat dibuktikan secara mudah hanya dengan pemberian hadiah dan perbuatan baik.

    Namun, walaupun hadiah itu penting juga, cinta memerlukan hal yang mendasar: KEHADIRAN. Kehadiran sang kekasih, kehadiran orang yang dicintai. Pengamatan saya terhadap anggrek ibu saya dapat dijadikan contoh. Saat ibu saya pergi agak lama, bunga itu tampak tak subur dan banyak diantaranya yang layu. Tapi saat ia kembali hadir,bunga itu mekar dengan indahnya. Padahal ibu saya tidak melakukan hal yang luar biasa. Ia hanya memberikan banyak waktunya untuk berbicara dan merawat mereka.

    Saya kira, orang lebih memerlukan kehadiran perhatian dan kepedulian.Cinta secara fundamental adalah sebuah komitmen terhadap seseorang. Kita dapat mempunyai komitmen terhadap bisnis, pekerjaan, hobi, olahraga, maupun keanggotaan di klub, tetapi dapat dikatakan dengan tegas: semua itu tidak dapat mencintai kita. Hanya orang lain yang dapat membalas cinta kita, dan untuk itu, komitmen tertinggi sebagai manusia adalah memberikan waktu kita dengan orang yang kita cintai. Dan karena manusia memerlukan kasih sayang dan makanan, hadiah material hanya dapat – secara terbatas – membantu untuk mengembangkan cinta.

    Tapi itu semua tidak dapat menggantikan kehadiran pribadi,yang merupakan hadiah terbesar!

    Martha sedang sibuk dengan pekerjaannya. Dia yakin harus bekerja keras,karena ia mencintai ayahnya yang sedang sakit kanker. Dia harus membeli obatan yang mahal. Saudaranya yang lain tetap tinggal dengan ayah mereka hampir setiap saat. Mereka memandikannya, bernyanyi untuknya, menyuapi makan, ataupun sekedar menemani sang ayah.

    Suatu hari Martha sakit hati. Dia mendengar sang ayah berkata kepada ibunya, “Semua anak kita mencintaiku kecuali Martha”.”Bagaimana mungkin?”, pikir Martha. “Bukankah aku yang bekerja matian untuk mendapatkan uang guna membeli semua obatan? Saudaraku bahkan tidak berbagi sebesar yang aku berikan”.

    Suatu hari, Martha pulang larut malam seperti biasanya. Dia mengintip untuk pertama kalinya, ke dalam kamar dimana ayahnya berbaring. Dia melihat ayahnya masih terjaga, maka dia memutuskan untuk datang mendekat di samping tempat tidur ayahnya. Ayahnya memegang kedua tangan Martha dan berkata, “Aku merindukanmu. Aku sudah tidak punya banyak waktu lagi. Tinggalah dan temani aku”. Dan itu yang ia lakukan, semalaman ia tinggal menemani ayahnya, berpegang, menggenggam tangannya.

    Pagi harinya martha berkata pada semua orang, “Aku mengambil cuti. Aku ingin menemani Ayah. Mulai saat ini aku akan memandikan dan bernyanyi untuknya”. Sebuah senyum bahagia muncul menghias wajah ayahnya. Kali ini ia tahu Martha mencintainya.

    ***

    Dari: Sandman

     
  • erva kurniawan 3:25 am on 3 November 2013 Permalink | Balas  

    Dengarlah Bunga Sedang Bicara 

    Taman-bungaDengarlah Bunga Sedang Bicara

    Oleh: Gede Prama

    Kesenangan dan hobi untuk memelihara taman, bagi saya adalah salah satu obat kehidupan yang amat membantu. Hampir setiap pagi sebelum memulai kegiatan setiap hari, saya menyempatkan diri untuk melihat dan memegang-megang pohon dan bunga-bunga yang mekar di taman.

    Demikian juga di hampir setiap sore yang melelahkan. Ada sejenis dahaga tertentu yang terobati setelah memandangi dan memegang bunga atau pepohonan. Dalam kedalaman renungan tertentu, kadang terasa ada bunga yang sedang mau ‘berbicara’ ke arah manusia.

    Cobalah Anda perhatikan, setiap bunga mengenal siklus tumbuh, mekar, layu dan kemudian mati. Mirip dengan api, setelah menyala, beberapa lama kemudian ia mati.

    Semua ini menimbulkan pertanyaan, kemanakah perginya bunga dan api setelah ia mati ? Bunga memang lebih jelas, karena setelah layu ia jatuh ke tanah, untuk memenuhi panggilan tugas dari sang Ibu untuk menjadi pupuk.Namun api, ia amat misterius. Begitu mati, menghilang tidak ketahuan jejaknya.

    Anda bebas menafsirkan semua ini. Dan bagi saya, bunga dan api sedang ‘membisikkan’ kebijakan yang amat berguna bagi kita manusia.

    Bunga sebagaimana juga kita mengenal siklus lahir, tumbuh, layu dan kemudian mati. Ini hukum besi yang berlaku bagi bunga maupun manusia yang manapun. Bedanya, kalau bunga setelah mati selalu menunaikan tugas sebagai pupuk buat sang ‘Ibu’, adakah kita manusia juga mewariskan ‘pupuk-pupuk’ yang menyuburkan ?

    Api juga ‘membisikkan’ sesuatu ke kita. Sebelum mati dan menghilang, ia senantiasa memberikan sinar yang menerangi.

    Namun manusia, sudahkah kita hidup dengan konsep-konsep menerangi ? Inilah rangkaian renungan yang perlu kita endapkan dari bunga dan api.

    Di titik ini, kerap saya merasa demikian bodoh dan tulinya. Baik bunga dan api, sudah kita temukan sejak pertama kali mengenal dunia. Tetapi, kenapa butuh waktu demikian lama untuk bisa ‘mendengarkan’ bisikan-bisikan bunga dan api ?

    Mungkin benar keyakinan banyak orang tua, lebih baik terlambat dibandingkan tuli sama sekali. Untuk itulah, saya sedang mengajak Anda untuk mempertajam kepekaan pendengaran akan bisikan-bisikan bunga dan api.

    Bukan untuk menjadi manusia aneh dan kemudian dicurigai gila. Melainkan, memetik indahnya bunga melalui kebijakan yang dicoba untuk dikatakan ke kita manusia. Atau menikmati terangnya api, lewat kearifan penerangan yang telah dihadirkan.

    Sebagaimana bau harumnya bunga, serta terangnya sinar api, demikianlah wajah kehidupan orang yang telinganya peka pada bisikan-bisikan bunga dan api.

    Mari kita mulai dengan pesan bunga yang senantiasa mengakhiri hidupnya sebagai pupuk. Lama saya sempat merenung tentang kearifan bunga. Tubuh kita memang akan membusuk jadi pupuk setelah melewati kematian. Bedanya dengan bunga yang hanya memiliki badan kasar, kita manusia memiliki jauh lebih banyak dari badan kasar. Keteladanan, cinta, kasih sayang, doa, pengabdian hanyalah sebagian dari pupuk-pupuk lain yang bernilai jauh lebih berguna dari sekadar badan kasar yang membusuk. Kalau pembusukan badan kasar, dibatasi ruang dan waktu, pupuk-pupuk manusia tadi bisa menembus ruang dan waktu.

    Sebutlah nama-nama manusia yang telah tiada dan meninggalkan pupuk kehidupan yang jauh lebih besar dari sekadar badan kasar yang membusuk. Dari Baharudin Lopa, Mohammad Hatta, John Lennon sampai dengan Kahlil Gibran. Saya tidak tahu, apakah mereka dulu mendengarkan bisikan bunga dan api. Yang jelas, rangkaian pupuk kehidupan yang diwariskan mereka ke kita, memberi inspirasi dalam kurun waktu dan bentangan ruang yang tidak terbatas.

    Mirip dengan bunga yang mengharumi ketika mekar, api yang menyinari ketika masih hidup, demikianlah inti-inti kebijakan yang mereka wariskan ke kita. Lebih dari itu, setelah matipun mereka masih ‘mendengarkan’ bisikan bunga dan api. Pupuk-pupuknya demikian menyuburkan. Dan berbeda dengan api yang sinarnya lenyap ketika mati, mereka masih bersinar tatkala badan kasarnya sudah ditelan bumi.

    Putera bungsu saya yang masih balita pernah bertanya, kemanakah bunga dan api pergi ketika mereka sudah mati ? Pertanyaan ini memang kedengaran innocent, namun relevan untuk ditanyakan pada diri kita manusia.

    Anda bebas untuk percaya atau tidak percaya, seorang hypnotherapist bernama Michael Newton pernah melakukan eksperimen yang menarik. Sejumlah pasien yang dihipnotis dibawa oleh Newton ke dalam rangkaian pengalaman jauh ke belakang.

    Dari pengalamannya pernah meninggal di kehidupan sebelumnya, sampai dengan perjalanan-perjalanan jiwa yang lain. Sebagaimana yang dia tulis dalam buku karyanya yang berjudul Journey of Souls : Case Studies of Life Between Lives, diperlihatkan dengan metode wawancara, bagaimana orang-orang dalam keadaan terhipnotis bisa bertutur tentang perjalanan jiwa mereka yang amat unik dan berbeda.

    Newton memang bukan seorang pakar agama dan hanya seorang terapis. Dia juga mengakui menjaga jarak terhadap konsep reinkarnasi. Tetapi apa yang dia temukan, memberikan sebuah pandangan, bahwa kita ini lebih dari sekadar gumpalan-gumpalan daging yang riwayatnya tamat ketika kematian telah menjemput.

    Saya tidak tahu, apakah bunga dan api riwayatnya tamat setelah mati. Namun manusia sebagaimana dituturkan Newton, masih memiliki riwayat panjang setelah beberapa kali dijemput kematian. Sekaligus memberikan bahan perenungan, kemanakah kita sedang dan telah mengarahkan perjalanan jiwa ini?.

    Bunga dan api memang diam selamanya kalau kita menggunakan konsep berbicara ala manusia. Namun, rangkaian renungan di atas, membuat saya terdiam sejenak setiap kali melihat bunga dan api. Untuk kemudian, melalui kepekaan-kepekaan mencoba membuka telinga hati yang kadang dibuat bersembunyi oleh kehidupan masa kini.

    Wasalam, Saudara Muslim

     
  • erva kurniawan 3:46 am on 2 November 2013 Permalink | Balas  

    Berpikir Sederhana 

    pasangan_serasiBerpikir Sederhana

    Terpetik sebuah kisah, seorang pemburu berangkat ke hutan dengan membawa busur dan tombak. Dalam hatinya dia berkhayal mau membawa hasil buruan yang paling besar, yaitu seekor rusa. Cara berburunya pun tidak pakai anjing pelacak atau jaring penyerat, tetapi menunggu di balik sebatang pohon yang memang sering dilalui oleh binatang-binatang buruan.

    Tidak lama ia menunggu, seekor kelelawar besar kesiangan terbang hinggap di atas pohon kecil tepat di depan si pemburu. Dengan ayunan parang atau pukulan gagang tombaknya, kelelawar itu pasti bisa diperolehnya. Tetapi si pemburu berpikir, “untuk apa merepotkan diri dengan seekor kelelawar? Apakah artinya dia dibanding dengan seekor rusa besar yang saya incar?”

    Tidak lama berselang, seekor kancil lewat. Kancil itu sempat berhenti di depannya bahkan menjilat-jilat ujung tombaknya tetapi ia berpikir, “Ah, hanya seekor kancil, nanti malah tidak ada yang makan, sia-sia.” Agak lama pemburu menunggu. Tiba-tiba terdengar langkah-langkah kaki binatang mendekat, pemburupun mulai siaga penuh,tetapi ternyata, ah… kijang. Ia pun membiarkannya berlalu. Lama sudah ia menunggu, tetapi tidak ada rusa yang lewat, sehingga ia tertidur.

    Baru setelah hari sudah sore, rusa yang ditunggu lewat. Rusa itu sempat berhenti di depan pemburu, tetapi ia sedang tertidur. Ketika rusa itu hampir menginjaknya, ia kaget. Spontan ia berteriak, Rusa!!!” sehingga rusanya pun kaget dan lari terbirit-birit sebelum sang pemburu menombaknya. Alhasil ia pulang tanpa membawa apa-apa.

    Banyak orang yang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memperoleh sesuatu yang diinginkannya. Ia berpikir yang tinggi-tinggi dan bicaranya pun terkadang sulit dipahami. Tawaran dan kesempatan-kesempatan kecil dilewati begitu saja, tanpa pernah berpikir bahwa mungkin di dalamnya ia memperoleh sesuatu yang berharga. Tidak jarang orang orang seperti itu menelan pil pahit karena akhirnya tidak mendapatkan apa-apa.

    Demikian juga dengan seseorang yang mengidamkan pasangan hidup, yang mengharapkan seorang gadis cantik atau perjaka tampan yang alim, baik, pintar dan sempurna lahir dan batin, harus puas dengan tidak menemukan siapa-siapa.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:33 am on 1 November 2013 Permalink | Balas  

    Kritik dan Komentar 

    akalKritik dan Komentar

    Entah mengapa rasanya mulut ini mudah sekali berkomentar. Apa yang dilihat, didengar, dirasa, rasa-rasanya amat menggelitik, sehingga dengan disadari atau tidak, terlontar kata kata yang begitu mungil dan ringan diucapkan tapi begitu besar dan berat dampak dunia akheratnya. Bahkan celetukan spontan selain bisa memperlihatkan kualitas kepribadian kita juga bisa menentukan nasib baik kita atau sebaliknya.

    Kalau tak berhati-hati, komentar kita bisa melukai hati orang lain, karena yang bersangkutan bisa merasa dihina atau dipermalukan atau merasa diejek, (walau kita tak bermaksud buruk) namun begitulah, celoteh iseng kadang bagai pisau yang mengiris, menyakiti dan membuat luka, tentu seperti yang kita tahu sakit hati akan menimbulkan benih kebencian, benci menggiring kepada dengki dan permusuhan, memiliki musuh berarti mempersempit kehidupan kita serta memersiapkan ranjau yang akan mencelakakan diri.

    Komentar juga bisa menandakan kufur nikmat, yang bisa menghapus nikmat yang ada dan menutup pintu pemberian Alloh lainnya yaitu ketika lontaran kata spontan hanya berupa keluh kesah, kekecewaan, cemoohan terhadap keadaan, atau menggerutu penuh kekesalan, padahal semua nikmat dari Alloh tak ada yang mengecewakan, jikalau disyukuri niscaya akan sangat terasa kenikmatannya dan tentu akan mengundang pelbagai karunia lainya sesuai dengan janjiNya.

    Komentar juga akan memperlihatkan kebodohan kita, yaitu ketika kita gemar mengomentari segala hal agar kita nampak serba tahu dan dianggap pintar, padahal jelas sekali orang yang pandai akan sangat berhati-hati dalam ucapannya, lebih banyak diamnya dan tak sungkan untuk mengakui ketidak-tahuannya, serta tak malu dianggap bodoh, sebetulnya hanya orang yang bodoh sungguhan yang sok pintar dan sok tahu.

    Dan berkomentar spontan yang mengerikan adalah ketika, ucapannya penuh dengan riya, takabur, ujub, penyakit hati yang membinasakan, komentar yang sering menceritakan amalnya sendiri dengan tujuan dipuji, pamer jasa dan kebaikan, berarti efektif akan menghanguskan pahala yang dikumpulkannya.

    Komentar yang selalu merendahkan orang lain, plus mencemooh orang yang menasehati serta menolak orang yang mengkritik akan termasuk ke dalam komentar ciri orang yang sombong alias takabbur, seperti fir’aun, abu jahal, abu lahab, yaitu kelompok orang yang terhina dan terkutuk justru karena kesombongannya. Juga ujub yaitu komentar takjub kepada diri sendiri yang membuat diri ingin tampak paling super dalam segala hal, akan menunjukan dengan meyakinkan bahwa memang dirinya paling kurang dalam hal apapun,

    Oleh karena itu, menahan diri untuk tidak mudah berkomentar adalah pintu keselamatan. Komentar dari hasil perenungan yang dalam, pengamatan yang seksama, berpikir yang jernih, kehati-hatian serta ketulusan niat yang mengiringi kesungguhan untuk membawa manfaat dari setiap kata yang terucap, ditambah rasa takut kepada Alloh yang maha mendengar dan yang akan menuntut pertanggungjawaban dari setiap kalimat, akan menjadikan komentar kita menjadi mutiara yang indah dan berharga, tidak hanya bagi yang berucap namun juga bagi yang menyimak, tak pula hanya untuk dunia namun bisa pula menjadi bekal pulang di akherat kelak. InsyaAlloh.

    ***

    Dari Sahabat

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: