Updates from Mei, 2011 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:17 am on 31 May 2011 Permalink | Balas  

    Kembalinya Seekor Rusa 

    Kembalinya Seekor Rusa

    Dalam kitab Alhilyah, Abu Naim meriwayatkan ; Ada seorang berjlan di depan Nabi SAW dengan membawa rusa yang baru didapat dari berburu, tiba-tiba rusa itu berkata ; Ya Rasulullah sesungguhnya aku mempunyai beberapa anak yang masih menetek, dan mereka kini lapar, karena itu suruhlah orang ini untuk melepaskanku untuk meneteki anak-anaku, kemudian aku kembali. Kemudian Nabi SAW bertanya, jika engkau tidak kembali bagaimana?

    Jawab si rusa ; Jika aku tak kembali maka Allah akan mengutuk aku bagaikan orang yang disebut namamu disebut padanya tiba-tiba ia tidak membaca sholawat kepadamu.

    Lalu Nabi SAW menyuruh orang itu ; lepaskan rusa itu dan aku yang menjamin akan kembalinya rusamu itu. Kemudian pergilah rusa itu menemui anak-anaknya, tak berapa lam ia kembali lagi.

    Maka seketika itu turunlah malaikat Jibril as dan berkata ; Ya Muhammad, Allah menyampaikan salam padamu dan berfirman ; Demi kemulyaan dan KebesaranKu, sungguh Aku lebih kasih pada ummatmu lebih dari rusa itu terhadap anak-anaknya, dan Aku akan mengembalikan mereka padamu sebagaimana kembalinya rusa padamu.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 30 May 2011 Permalink | Balas
    Tags: keperawanan, keperjakaan   

    Alasan Kenapa Remaja Harus Jaga Keperawanan dan Keperjakaan 

    Alasan Kenapa Remaja Harus Jaga Keperawanan dan Keperjakaan

    Masalah keperawanan atau keperjakaan dalam budaya populer bukan lagi dianggap hal yang sakral. Tapi meski begitu, himbauan klasik untuk menjaga keperawanan dan keperjakaan tak hanya terkait norma tapi lebih dari itu punya manfaat kesehatan yang besar.

    Anak-anak remaja biasanya paling sering menanyakan mengapa harus menjaga keperawanan atau keperjakaan? Survei di Amerika bahkan menemukan anak remaja kadang mempunyai kecurigaan yang berlebihan bahwa teman sebayanya sudah aktif secara seksual terutama anak laki-laki.

    Tapi survei juga menunjukkan remaja yang melakukan seks lebih dini kebanyakan menyesal karena tidak menunggu lebih lama untuk menjaga keperawanan atau keperjakaanya.

    Dokter J. Thomas Fitch dalam buku Questions Kids Ask About Sex, yang diterbitkan ANDI, Kamis (23/12/2010) mengatakan ada sejumlah alasan yang baik mengapa remaja harus menjaga keperawanan atau keperjakaannya:

    1. Potensi hamil atau menghamili orang lain yang harus ditanggung tapi secara mental belum siap.
    2. Ancaman Infeksi Menular Seksual (IMS) sudah merajalela sehingga membuat seseorang rentan terinfeksi.
    3. Menjaga keperawanan atau keperjakaan adalah cara yang 100 persen efektif untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan atau penyakit  infeksi seks.
    4. Beberapa penyakit menular seksual bisa menyebabkan kemandulan akibat kerusakan pada saluran indung telur. Hal ini bisa membuat seseorang mustahil untuk hamil kelak.
    5. Ancaman penyakit IMS akibat human papillomavirus (HPV) bisa mengakibatkan kanker leher rahim.
    6. Masalah emosional akhirnya menjadi lebih labil
    7. Seks bebas bisa mempengaruhi hubungan pernikahan di masa depan.
    8. Sebagian besar remaja, khususnya perempuan tidak menilai dirinya menjadi lebih baik setelah terlibat kegiatan seks.
    9. Remaja yang aktif secara seksual cenderung lebih mudah depresi, terlibat minuman keras, merokok dan narkoba.
    10. Berhubungan seks terlalu dini bisa mempengaruhi reputasi serta hubungan dengan orangtua.
    11. Dua dari tiga remaja yang melakukan hubungan seks menyatakan penyesalan dan berandai-andai jika ia mau menunggu hingga waktu yang tepat. (ver/ir)

    ***

    Vera Farah Bararah – detikHealth

    http://www.detikhealth.com/read/2010/12/23/110122/1531443/764/alasan-kenapa-remaja-harus-jaga-keperawanan-dan-keperjakaan?l993306763

     

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 29 May 2011 Permalink | Balas
    Tags: alasan menikah   

    6 Alasan Kesehatan Kenapa Orang Perlu Menikah 

    6 Alasan Kesehatan Kenapa Orang Perlu Menikah

    Jakarta, Slogan menikah bisa membuat seseorang hidup lebih lama mungkin ada benarnya. Karena ada alasan-alasan kesehatan tertentu yang membuat pernikahan menjadikan orang berusia panjang.

    Menikah adalah menyatukan dua kepribadian orang yang berbeda-beda. Seperti dikutip dari AOLHealth, Kamis (23/12/2010) ada beberapa alasan kesehatan yang membuat seseorang harus menikah, yaitu:

    1. Menikah bisa mengurangi stres

    Studi dari University of California menemukan bahwa orang yang menikah akan lebih bahagia dan mampu mengurangi kadar stresnya dibandingkan dengan orang yang tak menikah. Peneliti mengambil sampel air liur partisipan untuk menguji tingkat kortisol (hormon stres), diketahui orang yang menikah memiliki kadar kortisol yang lebih rendah sehingga tingkat stresnya lebih kurang.

    2. Menikah bisa mengurangi kemungkinan terkena stroke

    Studi trebaru yang dilakukan oleh Tel Aviv University menunjukkan pernikahan bahagia bisa membantu mencegah stroke fatal pada laki-laki. Didapatkan laki-laki yang tidak menikah memiliki risiko 64 persen lebih tinggi terkena stroke fatal dibandingkan dengan laki-laki menikah.

    3. Menikah mengurangi risiko terkena demensia

    Orang setengah baya yang hidup sendiri dua kali lebih mungkin mengalami demensia dan penyakit Alzheimer dibandingkan dengan orang yang menikah. Sedangkan orang yang bercerai pada usia setengah baya akan membuatnya memiliki risiko 3 kali lipat. Hasil ini berdasarkan penelitian yang dipimpin oleh Miia Kivipelto dari Swedish Medical University Karolinska Institutet.

    4. Menikah dapat menurunkan tekanan darah

    Berdasarkan penelitian dari Brigham Young University diketahui laki-laki dan perempuan yang menikah akan memiliki tekanan darah lebih rendah dibandingkan dengan lajang. Hal ini karena pada umumnya orang-orang tersebut memiliki sistem yang lebih teratur dan tidak terlalu cuek lagi dengan kesehatan dirinya sendiri.

    5. Menikah menjauhkan seseorang dari depresi

    Pernikahan umumnya memberikan dukungan sosial dan juga emosional sehingga dapat mengurangi depresi serta kecemasan seseorang. Bahkan sebuah studi menunjukkan orang yang sudah memiliki depresi akan mendapatkan dorongan psikologis dari pernikahannya. Hasil studi ini dilaporkan dalam Journal of Health and Social Behavior.

    6. Menikah bisa menjauhkan seseorang dari tindakan berisiko

    Sebelum menikah umumnya seseorang tidak terlalu memperhatikan kondisi tubuhnya dan bertindak sesuka hati. Tapi studi menunjukkan pernikahan bisa membuat seseorang lebih sedikit terlibat dalam perilaku berisiko seperti mengonsumsi alkohol, sering pulang malam dan juga tidak merawat diri. Hal ini karena ada orang-orang yang harus ia perhatikan selain dirinya sendiri. Selain itu jika ia sudah memiliki anak umumnya akan lebih jauh berperilaku sehat. (ver/ir)

    ***

    Vera Farah Bararah – detikHealth

    http://www.detikhealth.com/read/2010/12/23/125153/1531598/766/6-alasan-kesehatan-kenapa-orang-perlu-menikah?l993306763

     

     
    • Tati kusmiati 7:27 pm on 14 Agustus 2011 Permalink

      Luar biasa manfaat, jadi ingin menikah.

  • erva kurniawan 1:10 am on 28 May 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Perjalanan Seekor Burung Pipit 

    Perjalanan Seekor Burung Pipit

    Ketika musim kemarau baru saja mulai, seekor Burung Pipit mulai merasakan tubuhnya kepanasan, lalu mengumpat pada lingkungan yang dituduhnya tidak bersahabat. Dia lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sejak dahulu menjadi habitatnya, terbang jauh ke utara yang konon kabarnya, udara disana selalu dingin dan sejuk.

    Benar, pelan-pelan dia merasakan kesejukan udara, makin ke utara makin sejuk, dia semakin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara lagi. Terbawa oleh nafsu, dia tak merasakan sayapnya yang mulai tertempel salju, makin lama makin tebal, dan akhirnya dia jatuh ke tanah karena tubuhnya terbungkus salju. Sampai ke tanah, salju yang menempel di sayapnya justru bertambah tebal. Si Burung pipit tak mampu berbuat apa apa, menyangka bahwa riwayatnya telah tamat.

    Dia merintih menyesali nasibnya. Mendengar suara rintihan, seekor Kerbau yang kebetulan lewat datang menghampirinya. Namun si burung kecewa mengapa yang datang hanya seekor Kerbau, dia menghardik si Kerbau agar menjauh dan mengatakan bahwa makhluk yang tolol tak mungkin mampu berbuat sesuatu untuk menolongnya.

    Si Kerbau tidak banyak bicara, dia hanya berdiri, kemudian kencing tepat diatas burung tersebut. Si Burung Pipit semakin marah dan memaki-maki si Kerbau. Lagi-lagi si Kerbau tidak bicara, dia maju satu langkah lagi, dan mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung. Seketika itu si Burung tidak dapat bicara karena tertimbun kotoran kerbau. Si Burung mengira lagi bahwa dia akan mati karena tak bisa bernapas.

    Namun perlahan lahan, dia merasakan kehangatan, salju yang membeku pada bulunya pelan-pelan meleleh oleh hangatnya kotoran kerbau, dia dapat bernapas lega dan melihat kembali langit yang cerah. Si Burung Pipit berteriak kegirangan, bernyanyi keras sepuas puas-puasnya.

    Mendengar ada suara burung bernyanyi, seekor anak kucing menghampiri sumber suara, mengulurkan tangannya, mengais tubuh si burung dan kemudian menimang nimang, menjilati, mengelus dan membersihkan sisa-sisa salju yang masih menempel pada bulu si burung. Begitu bulunya bersih, si Burung bernyanyi dan menari kegirangan, dia mengira telah mendapatkan teman yang ramah dan baik hati.

    Namun apa yang terjadi kemudian, seketika itu juga dunia terasa gelap gulita bagi si Burung, dan tamatlah riwayat si Burung Pipit ditelan oleh si Kucing.

    ***

    Dari kisah ini, banyak pesan moral yang dapat dipakai sebagai pelajaran, diantaranya :

    1. Halaman tetangga yang nampak lebih hijau, belum tentu cocok buat kita.
    2. Baik dan buruknya penampilan, jangan dipakai sebagai satu-satunya ukuran.
    3. Apa yang pada mulanya terasa pahit dan tidak enak, kadang-kadang bisa berbalik membawa hikmah yang menyenangkan, dan demikian pula sebaliknya.
    4. Ketika kita baru saja mendapatkan kenikmatan, jangan lupa dan jangan terburu nafsu, agar tidak kebablasan.
    5. Waspadalah terhadap orang yang memberikan janji yang berlebihan

    ***

    Sumber : Dari Sahabat (myQuran.org)

     
    • bayu 3:38 pm on 8 Februari 2012 Permalink

      izin copas y!

  • erva kurniawan 1:03 am on 27 May 2011 Permalink | Balas  

    Pengucapan ‘ALLAH’ dan Kesehatan 

    Pengucapan ‘ALLAH’ dan Kesehatan

    Sumber : Indonesian Moslem Student Association of North America

    FENOMENA – Dalam sebuah penelitian di Belanda yang dilakukan oleh seorang profesor psycologist yang bernama Vander Hoven (VH), dimana telah mengadakan sebuah survey terhadap pasien di rumah sakit belanda yg kesemuanya non muslim selama tiga tahun. Dalam penelitian tersebut VH melatih para pasien untuk mengucapkan kata ALLAH (Islamic pronouncing) dengan jelas dan berulang-ulang.

    Hasil dari penelitian tersebut sangat mengejutkan, terutama sekali untuk pasien yang mengalami gangguan pada fungsi hati dan orang yang mengalami stress / ketegangan (tension). AL Watan, surat kabar Saudi sebagaimana telah mengutip dari peryataan profesor VH tsb, yang mengatakan bahwa seorang muslim yang biasa membaca Al-Qur’an secara rutin dapat melindungi mereka dari penyakit mental dan penyakit-penyakit yang ada hubungannya (psychological diseases).

    VH juga menerangkan bagaimana pengucapan kata ALLAH tsb sebagai solusi dari kesehatan , ia menekankan dalam penelitiannya bahwa huruf pertama dalam kata ALLAH yaitu ‘A’ dapat melonggarkan (melancarkan) pada jalur pernafasan (espiratory system), dan mengontrol pernafasan (controls breathing). dan untuk huruf konsonan ‘ L ‘ dimana lidah menyentuh bagian atas rahang dapat memberikan efek relax, juga VH menambahkan bahwa huruf ‘H’ pada kata ALLAH tsb dapat menghubungkan antara Paru-paru dan Jantung dimana dapat mengontrol sistem dari denyut jantung (heart beat).

    Subhanallah, sungguh luar biasa kebesaran Allah SWT ini, dimana penelitian yang dilakukan oleh seorang profesor non muslim yang tertarik dan meneliti akan rahasia Al-Qur’an ini sangat mengejutkan para ahli kesehatan di Belanda.

    Sekarang bagaimana dengan kita sebagai seorang muslim yang meyakini akan kebesaran kitab Suci Al Qur’an, sudahkan membaca dan mengamalkannya. .? Allah says : We will show them our signs in the universe and in their own selves, until it becomes manifest to them that this (Quran) is the truth.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • bekti 10:48 am on 5 Agustus 2011 Permalink

      Subhanallah….

    • karmila mansur 6:29 am on 10 Agustus 2011 Permalink

      subhanallah….maha telitinya pd tiap ciptaanNya…

    • Abdit 12:10 pm on 26 Agustus 2011 Permalink

      Subhanalalahh..
      super sekali…

  • erva kurniawan 1:57 am on 26 May 2011 Permalink | Balas  

    Islam Itu Agama Yang Mudah 

    Islam Itu Agama Yang Mudah

    Islam mempunyai karakter sebagai agama yang penuh kemudahan seperti telah ditegaskan langsung oleh Allah Swt. dalam firmanNya: “.dan Dia tidak menjadikan kesukaran dalam agama atas diri kalian.

    Sementara dalam sebuah haditsnya, Nabi Saw. pun bersabda: “Sesungguhnya Allah Swt. tidak mengutusku untuk mempersulit atau memperberat, melainkan sebagai seorang pengajar yang memudahkan.” (HR. Muslim, dari ‘Aisyah ra.)

    Visi Islam sebagai agama yang mudah di atas termanifestasi secara total dalam setiap syari’atnya. Sampai-sampai, Imam Ibn Qayyim menyatakan, “Hakikat ajaran Islam semuanya mengandung rahmah dan hikmah. Kalau ada yang keluar dari makna rahmah menjadi kekerasan, atau keluar dari makna hikmah menjadi kesia-siaan, berarti itu bukan termasuk ajaran Islam. Kalaupun dimasukkan oleh sebagian orang, maka itu adalah kesalahkaprahan.”

    Ada beberapa prinsip yang secara kuat mencerminkan betapa Islam merupakan agama yang mudah, diantaranya :

    Pertama, menjalankan syari’at Islam boleh secara gradual (bertahap).

    Dalam hal ini, seorang muslim tidak serta-merta diharuskan menjalankan kewajiban agama dan amalan-amalan sunnah secara serentak. Ada tahapan yang mesti dilalui: mulanya kita hanya diperintahkan untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban pokok agama. Setelah yang pokok-pokok berhasil dilakukan dengan baik dan rapi, kalau punya kekuatan dan kesempatan, maka dianjurkan untuk menambah dengan amalan-amalan sunnah.

    Izin untuk mengamalkan syari’at Islam secara bertahap ini telah dicontohkan oleh RasululLah Saw. sendiri. Suatu hari, seorang Arab Badui yang belum lama masuk Islam datang kepada RasululLah Saw. Ia dengan terus-terang meminta izin untuk sementara menjalankan kewajiban-kewajiban Islam yang pokok saja, tidak lebih dan tidak kurang.

    Beberapa Sahabat Nabi menunjukkan kekurang-senangannya karena menilai si Badui enggan mengamalkan yang sunnah. Tapi dengan tersenyum, Nabi Saw. mengiyakan permintaan orang Badui tersebut. Bahkan beliau bersabda: “Dia akan masuk surga kalau memang benar apa yang dikatakannya.”

    Kedua, adanya anjuran untuk memanfaatkan aspek rukhshah (keringanan dalam praktek beragama).

    Aspek Rukhshah ini terdapat dalam semua praktek ibadah, khususnya bagi mereka yang lemah kondisi tubuhnya atau berada dalam situasi yang tidak leluasa. Bagi yang tidak kuat shalat berdiri, dianjurkan untuk shalat sambil duduk. Dan bagi yang tidak kuat sambil duduk, dianjurkan untuk shalat rebahan. Begitu pula, bagi yang tidak kuat berpuasa karena berada dalam perjalanan, maka diajurkan untuk berbuka dan mengganti puasanya di hari-hari yang lain.

    Dalam sebuah hadits Qudsi Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya Allah suka kalau keringanan-keringananNya dimanfaatkan, sebagaimana Dia benci kalau kemaksiatan terhadap perintah-perintahNya dilakukan.” (HR. Ahmad, dari Ibn ‘Umar ra.)

    Dalam sebuah perjalanan jauh, RasululLah Saw. pernah melihat seorang Sahabatnya tampak lesu, lemah, dan terlihat berat. Beliau langsung bertanya apa sebabnya. Para Sahabat yang lain menjawab bahwa orang itu sedang berpuasa. Maka RasululLah Saw. langsung menegaskan: “Bukanlah termasuk kebajikan untuk berpuasa di dalam perjalanan (yang jauh).” (HR. Ibn Hibbân, dari Jâbir bin ‘AbdilLâh ra.)

    Ketiga, Islam tidak mendukung praktek beragama yang menyulitkan.

    Disebutkan dalam sebuah riwayat, ketika sedang menjalankan ibadah haji, RasululLâh Saw. memperhatikan ada Sahabat beliau yang terlihat sangat capek, lemah dan menderita. Maka beliau pun bertanya apa sebabnya. Ternyata, menurut cerita para sahabat yang lain, orang tersebut bernadzar akan naik haji dengan berjalan kaki dari Madinah ke Mekkah. Maka RasululLâh Saw. langsung memberitahukan, “Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan tindakan penyiksaan diri sendiri, seperti yang dilakukan oleh orang itu.” (HR. Bukhâri dan Muslim, dari Anas ra.)

    Demikianlah, Islam sebagai agama yang rahmatan lil’ ‘alamin secara kuat mencerminkan aspek hikmah dan kemudahan dalam ajaran-ajarannya. Dan kita sebagai kaum muslimin, telah dipilih oleh Allah Swt. untuk menikmati kemudahan-kemudahan tersebut. Diceritakan oleh ‘Aisyah ra. bahwa RasululLâh Saw. sendiri dalam kesehariaannya, ketika harus menentukan antara dua hal, beliau selalu memilih salah satunya yang lebih mudah, selama tidak termasuk dalam dosa. (HR. Bukhâri dan Muslim)

    Akan tetapi, kemudahan dalam Islam bukan berarti media untuk meremehkan dan melalaikan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan. Rukhshah tidak untuk dijadikan apologi, keringanan-keringanan dari Allah bagi kita jangan sampai membuat kita justru menjadi jauh dariNya. Karakter Islam sebagai agama yang mudah merupakan manifestasi nyata bahwa ajaran Islam bukanlah sekumpulan larangan yang intimidatif, melainkan ajaran yang menyebarkan kasih-sayang.

    Sehingga dengan demikian, ketika kita menjalankan ajaran-ajaran Islam, motivasinya sebaiknya bukan karena kita takut kepada Allah Swt., tapi lebih karena kita rindu dan ingin lebih dekat denganNya. Bukan karena kita ngeri akan nerakaNya, namun lebih karena kita ingin bersimpuh di haribaanNya -di dalam surga yang abadi.

    ***

    Sumber tulisan oleh : Abdullah Hakam Shah, Lc

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 25 May 2011 Permalink | Balas
    Tags: bahaya hp, , penyebab mandul, pria mandul   

    Mengantongi Ponsel di Celana Bisa Bikin Pria Mandul 

    Mengantongi Ponsel di Celana Bisa Bikin Pria Mandul

    Penyebab pria mandul sangat beragam mulai dari cemaran bisphenol A dalam struk belanja hingga suhu tinggi di sekitar buah zakar saat memangku laptop. Ponsel juga bisa jadi pemicu, terutama jika sering dikantongi di celana.

    Fakta ini terungkap dalam Fertility and Reproductive Medicine yang digelar di Dubai, Uni Emirat Arab baru-baru ini. Acara tersebut digelar oleh Lifeway Specialised Medical Centre dan diikuti sejumlah dokter ahli kesuburan dari berbagai negara.

    Dalam simposium tersebut terungkap, tingkat kesuburan pria dalam 60 tahun terakhir mengalami penurunan cukup tajam yakni sekitar 50 persen. Penyebabnya tak lain adalah gaya hidup moderen yang telah menggeser gaya hidup sehat warisan nenek moyang.

    Gaya hidup moderen menghasilkan banyak polusi berbahaya yang menurunkan kualitas sperma yang diproduksi oleh pria. Di antaranya adalah asap rokok, racun bisphenol A (BPA) dalam struk belanja dan plastik, pestisida dan asap kendaraan bermotor.

    Selain itu, ponsel juga dituding sebagai produk gaya hidup moderen yang menyebabkan banyak pria zaman sekarang menjadi mandul. Ketika dikantongi di celana, radiasi yang dipancarkannya konon bisa mempengaruhi produksi sperma.

    “Dibandingkan pada wanita, kesuburan pria lebih mudah terpengaruh oleh gelombang elektromagnet. Perbedaannya ada pada struktur organ reproduksinya,” ungkap peserta simposium, Dr Ashok Agarwal dari Cleveland Clinic seperti dikutip dari Khaleejtimes, Kamis (23/12/2010).

    Dr Ashok memperkirakan pertumbuhan pengguna ponsel di seluruh dunia mencapai 40 persen tiap tahunnya. Peningkatan tertinggi terjadi di negara-negara yang mengalami pertumbuhan ekonomi cukup pesat termasuk Uni Emirat Arab.

    Sedangkan faktor lain yang juga berpengaruh adalah obesitas yang makin hari makin banyak menyerang pria di seluruh dunia. Dr Ashok mengatakan peningkatan indeks massa tubuh berkaitan erat dengan penurunan kualitas sperma yang diproduksi oleh pria. (up/ir)

    ***

    AN Uyung Pramudiarja – detikHealth

    http://www.detikhealth.com/read/2010/12/23/161659/1531872/763/mengantongi-ponsel-di-celana-bisa-bikin-pria-mandul?881104755

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 24 May 2011 Permalink | Balas
    Tags: putus asa   

    Putus Asa 

    Putus Asa

    Oleh : Hidayatul Karomah

    Manusiawi apabila seseorang merasakan sedih atau kecewa atas sesuatu. Rasulullah SAW pun demikian, dalam doanya beliau senantiasa memohon supaya Abu Tholib, sang paman yang amat dicintai, dibukakan pintu hidayah untuk beriman dan memeluk Islam. Namun apa mau dikata, hingga ajal menjemput sang paman tidak juga mengucap syahadat sebagai ikrar seorang Muslim.

    Segala daya upaya telah dilakukan diiringi doa telah dipanjatkan pula, namun apa yang diharapkan tak juga menjadi kenyataan. Namun, tentu tidak tepat apabila memvonis usaha kita sia-sia.

    ”Katakanlah, Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Az-Zumar [39]: 53).

    Di tengah upaya yang kita rasa telah maksimal, alangkah bijak apabila senantiasa menata batin menghadapi segala kemungkinan yang akan kita dapatkan. Kemungkinan terbaik maupun terburuk, kemungkinan berhasil maupun tidak berhasil. Ingatlah, ”Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS Al Baqarah [2]: 216).

    Menata hati untuk bisa menerima apa yang tengah kita hadapi, akan lebih berarti daripada berlarut-larut dalam kesedihan yang bisa membuat jatuh dalam keputusasaan.

    Apabila seseorang telah jatuh dalam keputusasaan, pikiran menjadi kosong, hidup terasa hampa dan tak berguna lagi. Hal ini memudahkan setan menjerumuskan dalam tindakan yang sangat fatal dan berbahaya. Fatal dunia dan akhirat. Na’udzubillahi min dzalik.

    Dengan menerima secara legowo dan senantiasa berpikir positif akan membuka pikiran mencari solusi, mengurai berbagai masalah atau cobaan. Karena sesungguhnya berputus asa tak mendatangkan manfaat apa pun kecuali tumpukan kerugian demi kerugian.

    Bagaimana mengatasi keputusasaan yang telanjur datang? Ingatlah selalu Allah tidak akan menimpakan cobaan di luar kesanggupan hamba-hamba-Nya. Apa yang kita terima, mungkin terasa berat di awalnya, namun kita tak tahu hikmah apa yang terkandung di dalamnya, yang mungkin justru akan menjadi ‘penyelamat’ kita di kemudian hari. Jadi, optimislah, karena Allah selalu beserta kita.

    ***

    Sumber: Dari Sahabat (Republika.co.id)

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 23 May 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Sabarnya Nabiullah AS 

    Sabarnya Ayub AS, sabarnya Sulaiman AS, sabarnya Yusuf AS, dan sabarnya Musa AS

    Ini bukan untuk membandingkan tingkat kesabaran diantara tiap nabi tersebut, tapi sebuah ilustrasi yang memudahkan kita untuk memahami jenis-jenis kesabaran.

    Sabar ujian kesusahan Nabi Ayub as

    Sungguh Ayub as seorang yang sangat sabar melawan godaan kesusahan yang berniat mematahkan keteguhan imannya? Allah telah mengujinya dengan berbagai penderitaan sakit fisik luar dan dalam yang sangat dahsyat dan menjijikkan, dan itu terjadi hampir sepanjang usianya.

    Sabar ujian kesenangan Nabi Sulaiman as

    Sanggupkah kita sesabar Sulaiman as ketika ia melawan godaan kesenangan dunia yang ingin menutup hatinya? Bukankah kesenangan lebih mudah membuat kita melupakan Sang Pencipta Kesenangan ? Sungguh Sulaiman as tetap tegar dalam keimanan, walau Allah mengujinya dengan kerajaan yang besar, pasukan yang besar, kekayaan yang melimpah, istri yang cantik dan sebagainya.

    Sabar ujian kemaksiatan Nabi Yusuf as

    Hamba sahaya mana yang sanggup menolak godaan wanita yang punya kekuasaan dan cantik rupawan, kalau bukan seorang Yusuf as. Dialah yang sanggup mengatakan tidak pada Zulaika ketika Allah mengujinya kesabarannya untuk berbuat maksiat bahkan ketika Allah telah menyediakan sarana yang memudahkannya untuk berbuat maksiat.

    Sabar ujian ketaatan seorang Nabi Musa as

    Inilah kesabaran seorang Musa as, yang mengeluarkan energi keberaniannya namun tetap tegar ketika berkali-kali ia mengajak Firaun untuk bertobat. Ujian ketaatan bukan sesuatu yang datang seibarat ujian kesusahan atau kesenangan, tidak pula merupakan pilihan seibarat pilihan berbuat maksiat atau menolak maksiat. Ujian ketaatan adalah ujian yang diciptakan sendiri oleh seorang manusia di jalan Allah akibat keinginannya yang kuat untuk menjalankan perintah dan larangan Allah, atau karena ingin amar makruf nahi munkar atau karena ingin sekedar beribadah secara lebih baik. Sungguh membutuhkan kesabaran yang besar ketika kita sedang berjuang ingin konsisten menjalankan sholat secara khusyuk atau ketika kita ingin memperjuangkan hak-hak umat Islam misalnya.

    Wallahu ‘alam bish shawab

    Catatan tambahan, ciri kesabaran :

    1. tidak terburu-buru mengambil keputusan
    2. tegar dengan tujuan yang ditetapkan
    3. tuntas sesuai kemampuan
    4. tidak gampang pasrah
    5. hati tetap senang ketika diuji

    ***

    Hak cipta adalah milik Allah semata. Hak kita sebagai manusia adalah berlomba-lomba menyebarluaskan kata-kata kebaikan kepada seluruh umat manusia.

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 22 May 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    10 Jenis Siksaan Yang Menimpa Wanita Penghuni Neraka 

    10 Jenis Siksaan Yang Menimpa Wanita Penghuni Neraka

    Inilah sepuluh jenis siksaan yang menimpa wanita yang diperlihatkan kepada Nabi Muhammad SAW ketika melalui peristiwa Isra dan Mikraj, inilah peristiwa yang membuat Rasulullah menangis setiap kali mengenangkannya.

    Dalam perjalanan itu, antaranya Rasulullah SAW diperlihatkan (1) perempuan yang digantung dengan rambutnya, sementara itu otak di kepalanya mendidih. Mereka adalah perempuan yang tidak mau melindungi rambutnya agar tidak dilihat lelaki lain.

    Siksaan lain yang diperlihatkan Rasulullah SAW ialah (2) perempuan yang digantung dengan lidahnya dan (3) tangannya dikeluarkan dari punggungnya dan (4) minyak panas dituangkan ke dalam kerongkongnya. Mereka adalah perempuan yang suka menyakiti hati suami dengan kata-katanya.

    Rasulullah SAW juga melihat bagaimana (5) perempuan digantung buah dadanya dari arah punggung dan air pohon zakum dituang ke dalam kerongkongnya. Mereka adalah perempuan yang menyusui anak orang lain tanpa keizinan suaminya.

    Ada pula (6) perempuan diikat dua kakinya serta dua tangannya sampai ke ubun dan dibelit beberapa ular dan kala jengking. Mereka adalah perempuan yang mampu sholat dan berpuasa tetapi tidak mau mengerjakannya, tidak berwudhu dan tidak mau mandi junub. Mereka sering keluar rumah tanpa mendapat izin suaminya terlebih dulu dan tidak mandi yaitu tidak bersuci selepas habis haid dan nifas.

    Selain itu, Rasulullah SAW melihat (7) perempuan yang makan daging tubuhnya sendiri sementara di bawahnya ada api yang menyala. Mereka adalah perempuan yang berhias untuk dilihat lelaki lain dan suka menceritakan aib orang lain.

    Rasulullah SAW juga melihat (8) perempuan yang memotong badannya sendiri dengan gunting neraka. Mereka adalah perempuan yang suka mencari perhatian orang lain agar melihat perhiasan dirinya.

    Siksaan lain yang dilihat Rasulullah SAW ialah (9) perempuan yang kepalanya seperti kepala babi dan badannya pula seperti keledai. Mereka adalah perempuan yang suka mengadu domba dan sangat suka berdusta.

    Ada pula perempuan yang Rasulullah SAW lihat (10) bentuk rupanya seperti anjing dan beberapa ekor ular serta kala jengking masuk ke dalam mulutnya dan keluar melalui duburnya. Mereka adalah perempuan yang suka marah kepada suaminya dan memfitnah orang lain.

    Tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan wanita atau menempatkan wanita sebagai sumber dosa. Inilah keadaan seadanya yang sesuai riwayat yang ada.

    ***

    Sumber : Dari Sahabat (Diambil dari kebunhikmah.com)

     
    • Hendi 1:48 pm on 30 Mei 2011 Permalink

      APAKAH ADA DHALIL DARI ARTIKEL INI..AGAR BISA DI PERTANGGUNG JAWAB KAN,,DAN BILA ADA HARUS DI SERTAKAN PADA ARTIKEL….

    • Hendi 1:53 pm on 30 Mei 2011 Permalink

      saya pernah baca artiekl ini sebelumnya hanya saya ingin tahu..apakah ada dalilnya?atau hadist yang menyangkut artikel ini,,

    • pungkiningrum 2:37 pm on 1 Juni 2011 Permalink

      InsyaAllah ada di buku durratunnashihin. saya pernah baca, tp lupa dalilnya.

  • erva kurniawan 1:44 am on 21 May 2011 Permalink | Balas  

    Menghindari Kematian yang Sia-sia 

    Kematian memang akan dialami oleh setiap makhluk hidup. Tapi sebagai makhluk yang berakal, manusia wajib berusaha untuk hidup sehat agar hidup tidak sia-sia.

    Dilansir dari Howstuffworks, Rabu (6/10/2010), setidaknya ada 10 cara agar manusia terhindar dari kematian yang sia-sia yaitu:

    1. Waspadai berat badan

    Anda akan sehat dan hidup lebih lama dengan indeks massa tubuh (BMI) di bawah 25 atau tidak lebih dari 29. Orang dengan BMI di atas 29 (obesitas atau kegemukan) akan mengalami efek kesehatan yang merugikan berlipat ganda.

    Orang yang obesitas sangat mungkin memiliki glukosa darah yang tinggi. Konsekuensi dari glukosa darah tinggi (diabetes) tidak hanya menyebabkan plak yang akhirnya mempersempit pembuluh darah khususnya arteri koroner, tetapi juga merusak saraf, ginjal, mata dan sistem kekebalan tubuh.

    Orang dengan berat badan berlebih juga sangat mungkin mengalami hipertensi, serangan jantung, stroke atau gagal ginjal.

    2. Dengarkan tubuh Anda

    Jangan pernah meremehkan apapun tanda atau sinyal yang diberikan tubuh Anda. Jika Anda merasa ada sesuatu yang aneh atau sakit, berusahalah proaktif untuk mencari tahu penyebabnya sehingga dapat mencari bantuan medis lebih dini. Lakukan pemeriksaan fisik secara teratur dan jalani skrining dengan tepat.

    3. Ikuti petunjuk yang ada

    Begitu banyak petunjuk dan instruksi yang diberikan untuk alasan yang baik. Petunjuk akan memberitahu bagaimana melakukan hal yang benar sehingga seseorang tidak akan terluka atau melukai orang lain. Untuk meningkatkan peluang hidup panjang, ikutilah setiap petunjuk yang ada, misalnya aturan minum obat dan lain-lain.

    4. Hiduplah dengan bersih

    Studi menunjukkan bahwa semakin sering Anda mencuci tangan, semakin kecil kemungkinan Anda untuk sakit. Menjaga tangan tetap bersih adalah salah satu cara terbaik untuk menghindari penyakit.

    5. Mengemudilah dengan hati-hati

    Kecenderungan untuk mengemudi secara ugal-ugalan di jalan raya membuat Anda memiliki risiko besar untuk berada di kamar mayat. Mengemudilah dengan hati-hati, perhatikan rambu, gunakan sabuk pengaman atau helm saat berkendara dan jangan mengonsumsi alkohol, narkoba saat Anda akan mengemudi.

    6. Katakan tidak!

    Katakan tidak untuk rokok, alkohol, obat-obatan terlarang dan panyalahgunaan resep obat. Semua hal-hal tersebut adalah cara terbaik untuk memastikan Anda berada di kamar mayat. Segeralah cari bantuan untuk bisa berhenti bila Anda sudah terlanjur menjadi pecandu.

    7. Perhatikan apa yang Anda lakukan

    Pikirkan tentang konsekuensi dari semua tindakan yang Anda lakukan. Memang kematian bisa menimpa siapa saja dan dimana saja, tapi setidaknya Anda bisa mencegah dengan hal yang sederhana dari apa yang Anda lakukan. Setidaknya ada empat perilaku yang bisa menyebabkan kematian, yaitu pembunuhan, bunuh diri, alam dan kecelakaan.

    8. Nikmati waktu Anda

    Nikmatilah setiap waktu yang Anda miliki. Jalani kehidupan dengan optimistis tetapi tidak menghilangkan kualitas waktu yang Anda miliki. Banyaklah tersenyum dan bersyukur untuk meringankan beban pikiran.

    9. Hindari kesepian

    Hubungan pertemanan, sosial dan asmara merupakan hal yang penting untuk kesehatan. Orang yang memiliki banyak teman dan hubungan sosial yang baik akan hidup lebih sehat dan berumur panjang.

    10. Tetapkan prioritas hidup

    Semua orang perlu memiliki hal-hal penting dalam hidupnya dan menetapkan prioritas yang masuk akal bagi dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Orang yang memiliki daftar prioritas akan menjalani hidup dengan optimistis dan bersemangat.

    ***

    Merry Wahyuningsih – detikHealth

    http://www.detikhealth.com/read/2010/10/06/180553/1457310/763/menghindari-kematian-yang-sia-sia

     
    • surya 11:41 am on 2 Juni 2011 Permalink

      apakah mengunakan narkoba sama dgn membunuh diri sendiri

  • erva kurniawan 1:39 am on 20 May 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kisah Sepotong Kain Putih 

    Kisah Sepotong Kain Putih

    Hari ini ada ribuan gulung kain, diperjual-belikan di pasar-pasar di kota ini. Hari ini ada sedemikian banyak kain putih, yang sedang dibeli, diukur dan dipotong. Hari ini ada sedemikian banyak kain putih yang siap digunakan sebagai kain kafan. Hari ini ada sedemikian banyak kain kafan yang seolah bertanya untuk siapa ia akan dibeli.

    Esok hari, siapa gerangan pembeli berikutnya. Bisa jadi kain putih itu akan dibeli orang yang tidak kita kenal, Bisa jadi kain putih itu kita sendiri yang membelinya untuk tetangga atau keluarga terdekat kita. Bisa jadi seseorang sedang membelikannya untuk jenazah kita yang sedang menunggu dikubur,

    Engkau boleh saja tertawa, tapi bisa jadi kain kafanmu ada di truk pengirim barang yang sedang diparkir di pinggir toko kain itu. Engkau boleh saja berencana, tapi bisa jadi kain kafanmu sedang dipesan si pemilik toko. Engkau boleh saja tidur nyenyak, tapi bisa jadi seorang penenun sedang memintal kain kafanmu. Engkau boleh saja menikmati keindahan alam pertanian, tapi boleh jadi seorang petani sedang memanen kapas bahan kain kafanmu.

    Kita tidak tahu kapan hidup kita berakhir. Kita juga tidak tahu kain kafan mana yang akan menemani kita di kuburan. Tapi yang jelas kain itu ada di suatu tempat,

    Kain putih itu sendiri tidak pernah tahu kepada siapa ia akan digunakan. Seandainya ia bisa berbicara, tentu ia akan meminta agar digunakan pada orang soleh yang selalu mempersiapkan diri untuk kehidupan berikutnya.

    ***

    Sumber : Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 19 May 2011 Permalink | Balas  

    Salah Berdoa 

    Salah Berdoa

    Assalamualaikum wr wb.

    Ini kejadian nyata yang dilihat oleh Istri saya.

    Sekitar seminggu yang lalu ketika setelah selesai sholat magrib. Istri saya berdiri di depan rumah. Di depan rumah saya ada sebuah gang kecil yang menghubungkan jalan satu ke jalan lainnya dan kondisinya agak gelap.

    Dari arah mushola dekat rumah, muncul serombongan anak-anak berumur kelas 1 sampai kelas 5 SD kurang lebih ada 5 orang. Mereka akan pulang dari mushola ke rumah masing masing dan harus melewati gang tersebut.

    Istri saya memperhatikan kejadian tersebut. Mereka tiba-tiba berhenti bergerak dan saling berbicara:

    “Wah ngeri nih lewat gang ini. Takut ada setannya,” kata seorang anak

    “Iya nih…takut gelap banget sih jalannya,” timpal yang lain.

    “Ya udah kita berdoa aja terus kita lari timpal anak yang lainnya. Yuk kita berdoa…..satu….dua…tiga…. Bismika allohuma ahya wabismika amuut..(doa sebelum tidur)….,” kata mereka serentak seraya mereka lari secepat cepatnya melewati gang tersebut.

    Istri saya hanya tersenyum melihat kejadian tersebut.

    Wassalamualaikum wr wb.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • annisa 1:52 pm on 27 Mei 2011 Permalink

      hehe.. lucu.., tuh anak2 lagi panik jadi do’anya salah deh..

    • kresnakrenz 1:23 pm on 10 September 2011 Permalink

      itu teh bukan salah ngedoa, tapi ngedoain biar setannya cepet tidur, jadi ga nongol, ckckck

    • didik 9:52 pm on 14 September 2011 Permalink

      om, Q ambil gambarmu eah buat artikelQ, thanks sebelumnya

    • Sonya Cahayu 4:18 pm on 20 Mei 2017 Permalink

      haha salah doa anjir , ini add aku ya
      PINBBM-7-B-3-1-3-0-B-F, whatsapp : +6281326993756 “id303”

  • erva kurniawan 1:41 am on 18 May 2011 Permalink | Balas  

    10 Keunikan Manusia Dibanding Spesies Lain 

    Tidak ada satupun manusia yang mau disamakan dengan binatang, baik kera maupun spesies yang lain. Di antara semua makhluk hidup, manusia mempunyai keunikan-keunikan yang membuatnya sangat istimewa.

    Berikut ini adalah 10 di antara banyak keistimewaan yang dimiliki oleh manusia, seperti dikutip dari LiveScience, Kamis (7/10/10).

    1. Punya masa menopause

    Berbeda dengan sebagian besar binatang yang akan terus bereproduksi hingga akhir hayatnya, manusia khususnya wanita hanya akan bereproduksi sampai tiba pada suatu masa yang disebut menopause.

    Begitu memasuki masa menopause, wanita akan berhenti dari kodratnya untuk bereproduksi dan menjalankan fungsi baru sebagai nenek yang akan mengasuh cucunya. Selain manusia, hanya beberapa spesies ikan paus saja yang mengenal menopause.

    2. Melewati masa kecil lebih lama

    Dibandingkan primata maupun binatang yang lain, manusia menghabiskan waktu yang lebih lama untuk tinggal bersama dan mengasuh keturunannnya. Beberapa ahli menduga hal ini dipicu oleh ukuran otak manusia yang lebih besar, sehingga butuh waktu lebih lama untuk berkembang dengan sempurna.

    3. Wajah memerah saat tersipu

    Dari semua bentuk ekspresi, wajah yang memerah saat tersipu malu adalah yang paling unik dan hanya terjadi pada manusia. Tidak diketahui pasti bagaimana hal ini terjadi, namun hal ini dinilai telah banyak membantu manusia untuk bersikap jujur.

    4. Bisa menciptakan api

    Kemampuan manusia untuk membuat api adalah bekal penting dalam memenangkan seleksi alam. Ancaman predator nokturnal yang mengintai ketika hari mulai gelap menjadi mudah bagi manusia untuk ditanggulangi.

    Bukan itu saja, kemampuan membuat api juga mengubah diet manusia purba dari kulit kayu yang keras menjadi makanan olahan yang lebih mudah dicerna. Diduga hal inilah yang membuat ukuran gigi dan organ-organ pencernaan lain pada manusia modern makin mengecil.

    5. Mengenal pakaian

    Tidak seperti kera yang tubuhnya tertutup bulu (rambut), secara alami manusia tidak punya pelindung terhadap perubahan suhu di permukaan kulitnya. Namun dengan kecerdasan yang dimiliki, manusia bisa membuat pakaian yang menggantikan fungsi bulu pada beberapa jenis binatang.

    Kemampuan manusia untuk membuat pakaian bahkan telah memicu terjadinya evolusi pada spesies lain, salah satunya kutu. Jika sebelumnya kutu hidup menempel pada bulu, kini sebagian di antaranya lebih memilih hidup menempel di baju.

    6. Berbicara

    Sejak kurang lebih 35.000 tahun yang lalu, manusia memiliki tenggorokan yang posisinya lebih rendah dibandingkan pada simpanse. Ditunjang dengan tulang hyoid berbentuk tapal kuda yang terletak di bawah lidah, manusia mampu mengontrol suara yang dihasilkan sehingga bisa berbicara.

    7. Jemari tangan yang fleksibel

    Manusia adalah satu-satunya spesies yang bisa memutar jempol tangannya ke berbagai arah hinggga 360 derajat. Jari-jari yang lain juga lebih fleksibel dibandingkan primata, sehingga manusia menjadi spesies paling terampil dalam memanfaatkan peralatan.

    8. Jumlah folikel rambut sama dengan primata berbulu

    Meski sekilas tampak tidak banyak memiliki bulu (rambut) di permukaan kulitnya, manusia memiliki jumlah folikel atau kelenjar rambut yang sama seperti primata lain yang badannya berbulu. Hanya saja rambut yang dihasilkan lebih tipis dan pendek sehingga tidak terlalu kelihatan.

    9. Mampu berjalan dengan tegak

    Manusia adalah satu-satunya spesies yang mampu berjalan dengan tegak di atas kedua kaki. Namun demikian, postur yang konon merupakan bentukan dari proses evolusi ini menghadirkan kelebihan dan kekurangan sekaligus.

    Di satu sisi postur yang tegak banyak memudahkan berbagai aktivitas manusia. Namun perubahan cara berjalan membuat tulang panggul makin menyempit, sehingga sering menjadi masalah saat melahirkan karena di sisi lain otak manusia terus membesar dan kadang terlalu besar untuk bisa melalui panggul dengan mudah.

    10. Otak paling sempurna

    Otak manusia bukan yang paling besar karena masih jauh lebih kecil dibandingkan otak paus-sperma. Bukan pula yang paling besar proporsinya karena hanya 2,5 persen dari massa tubuh, kalah besar dari burung yang memiliki otak 8 persen dari massa tubuhnya.

    Kelebihan otak manusia memang bukan terletak pada ukurannya yang tak lebih dari 1,3 kg, melainkan pada perkembangannya yang sangat sempurna. Oleh karena itu manusia bisa berpikir dan membangun peradaban yang tidak dimiliki oleh binatang.

    ***

    AN Uyung Pramudiarja – detikHealth

    http://www.detikhealth.com/read/2010/10/07/180137/1458394/766/10-keunikan-manusia-dibanding-spesies-lain?l991101755

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 17 May 2011 Permalink | Balas
    Tags: ,   

    Surga Punya Harga! 

    Surga Punya Harga!

    Kaum Muslimin seharusnya tidak pernah membuat Jannah hanya sebagai satu-satunya tujuan hidupnya. Sungguh, kensekuensi dari hal yang demikian itu akan mengakibatkan seorang individu tidak lagi lebih mementingkan apakah Allah akan ridho atau tidak kepada mereka. Tentu saja, mereka akan selalu lebih memperhatikan tentang impian untuk masuk kedalam jannah daripada memikirkan tentang apakah mereka benar-benar memenuhi syarat-syaratnya atau tidak, dan apa yang mereka telah kerjakan agar mereka pantas untuk mendapatkannya.

    Satu-satunya Ghayaah (keinginan dan target) bagi seorang Muslim seharusnya adalah untuk mencari keridhoan Allah, sambil berharap balasan dari Tuhannya (surga). Selanjutnya, surga adalah bukan satu-satunya objek dalam hidupnya; tetapi lebih baik untuk mencari keridoan Allah (swt). Namun, surga ini yang kita bicarakan membutuhkan sejumlah pengorbanan dan tekat yang sangat besar, serta ini telah dikonfirmasikan oleh Rasulullah (saw) yang berkata dalam sebuah hadits yang cukup terkenal:

    Pada saat Allah menciptakan surga dan neraka, dia mengutus Jibril untuk masuk kedalam surga, Allah berkata : ‘pergi dan lihatlah berbagai hal yang telah Aku sediakan di tempat itu untuk para penghuninya.’ Maka Jibril pun pergi dan melihat-lihat pada apa yang Allah telah sediakan bagi para penghuninya. Dia kemudian datang kembali dan berkata: ‘demi kemuliaanmu, siapa saja yang akan mendengar tentangnya akan merindukan untuk memasukinya.’ Kemudian Dia memerintahkan untuk mengelilingi surga itu dengan berbagai kesukaran/ penderitaan, dan berkata pada Jibril: ‘pergilah kembali dan lihatlah apa yang telah aku siapkan didalamnya bagi para penghuninya.’ Kemudian dia datang kembali dan berkata: ‘demi kemulianmu, aku takut bahwa tidak ada seorangpu yang akan memasukinya.’

    Kemudian Dia mengutus Jibril untuk masuk kedalam neraka dengan berkata: ‘pergilah dan lihtlah apa yang telah aku siapkan bagi para penghuninya.’ Kemudian Jibril kembali dan berkata: ‘demi kemulianmua, siapa saja yang mendengarnya tidak akan pernah untuk mencoba memasukinya.’ Kemudia Dia memerintahkan Jibril untuk mengelilinginya dengan hasrat dan kesenangan, dan berkata: ‘pergi dan lihatlah apa yang telah Aku persiapkan didalamnya bagi para penghuninya.’ Kemudian Jibril pun pergi dan melihatnya, kemudian datang dan berkata, ‘demi kemuliaanmu, aku takut bahwa tidak ada seorangpun bisa luput untuk memasukinya.” (HR Muslim, Abu Daud dan Imaam Ahmad)

    Dan Rasulullah (saw) juga bersabda: “Neraka itu dikelilingi oleh kesenangan, dan surga itu dikelilingi oleh kesukaran.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Selanjutnya kepada saudara dan saudariku, setelah mengetahui Hadits-hadits ini bagaimana bisa kita mengharapkan jalan kepada surga dengan sederhana, mudah atau bahkan tanpa ujian? Kita mengetahui dengan baik bahwa satu-satunya jalan untuk mendapatkan keridhoan dan memasuki surga adalah dengan mengikuti Rasulullah (saw) dan para Shahabat-shahabatnya, namun apakah sudah sama perjuangan kita sekarang ini dengan perjuangan mereka telah lakukan untuk mendapatkan keridhoan Tuhan mereka? Rasulullah (saw) dan para Shahabat-shahabatnya telah menyerahkan tanah air mereka, kemudian diejek, disiksa, ditertawakan, diboikot, dibunuh, diserang dan di fitnah – berapa banyakkah dari penderitaan-penderitaan ini yang telah kita dapatkan? Pada waktu kita kehilangan sedikit harta, di caci oleh orangtua kita, dilabeli oleh kuffar atau menghadapi sedikit kritikan dari orang-orang yang disebut ‘Muslim’, kita dengan sepenuhnya memberikan dakwah kita, Aqidah dan semangat untuk berjuang demi Dien Allah, dan tetap tabah dalam menghadapi segala ujian yang menghadap.

    Ini adalah sesuatu yang sangat penting bagi kita untuk memahami konsep ini secara benar dengan tujuan untuk mengingatkan kita agar tetap teguh dan memegang dien ini. Allah (swt) akan selalu menguji orang-orang yang beriman; kadang-kadang Dia mungkin menguji kita dengan keluarga kita atau kekayaan, dan di lain waktu Dia mungkin menguji kita dengan Kuffar, munafiqun, kaum Muslimin yang menyimpang tau bahkan dengan teman dekat kita. Ini adalah janji dari Allah (swt); selanjutnya, kita harus selalu berserah diri kepadaNya.

    Kepada kaum Muslimin, kita tidak akan kehilangan harapan dari Allah. ingatlah selalu bahwa setiap ujian yang kita hadapai, para Shahabat telah menghadapi dengan scenario yang lebh buruk lagi. Ibnu Taimiyah, Abu Hanifah, Ahmad bin Hambal dan masih banyak lagi ulama terbaik yang telah menghadapi berbagai rintangan, tetapi mereka tidak pernah mau mengkompromikan seruannya. ‘Ammar bin Yasir (ra) yang telah menyaksikan dengan matanya sendiri siksaan dan pembunuhan yang dilakukan atas ibunya; Hamzah telah di bunuh; Bilal telah disiksa; Utsman telah dibunuh. Apakah macam-macam kesukaran yang dihadapai oleh para Shahabat pernah kita hadapi dalam hidup kita karena Allah semata?

    Jika kita mendengar seorang munafiq atau pembuat kerusakan mereka berkata, “Ya tetapi itu adalah pada waktu mereka. Faktanya sekrang berbeda dan kita hidup dalam situasi yang berbeda saat ini”, sebaiknya jangan pernah mendengarkan perkataan mereka, karena mereka punya sebuah penyakit dalam hati mereka. Tidak ada seorangpun akan masuk kedalam surga tanpa berhadapan dengan ujian yang sangat hebat dari Allah (swt) di setiap lingkaran kehidupan, karena Allah akan menguji orang-orang yang mencintaiNya:

    “Pada saat Allah ingin memberikan kebaikan kepada seseorang Dia akan mengujinya.” (HR Bukhari)

    Kita telah mendengar banyak orang-orang yang memepunyai karakteristik dari munafiqun sering kali berkata untuk ‘menghargai’ mujahidien dan orang-orang mukhlis yang telah kehilangan anggota tubuhnya karena Allah atau kaum Muslimin yang ditangkap (dipenjara): “ Allah akan menghukum orang-orang ini.” Kita akan memperingati mereka tentang salah satu ayat Allah:

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang: “Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh.” Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam hati mereka. Allah menghidupkan dan mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan” (QS Ali Imran 3: 156)

    Suatu saat mungkin kita tidak mempunyi makanan untuk dimakan, tidak mempunyai pakaian untuk digunakan, tidak ada rumah untuk ditempati, tidak ada keluarga yang dimintai pertolongan, dan tidak ada anggota tubuh untuk membantu pekerjaan kita. Jika kita pernah merasakan ujian dari Allah (swt) dan kita akan menemukan diri kita dalam situasi-situasi ini, maka hal terbaik yang hanya bisa katakana adalah, “al hamdulillah.” Seharusnya kita menjadi orang-orang yang bersyukur dalam keadaan susah dan senang. Sungguh, seseorang yang tidak bersyukur kepada Tuhannya akan mendapatkan kesengsaraan hidup di dunia, dan di hari akhir dia akan dipermalukan dan dihinakan.

    “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS Al Baqarah 2: 214)

    “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS Al Ankabut 29: 2-3)

    “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al Baqarah 2: 155-157)

    ***

    Dari Sahabat

     
    • annisa 2:05 pm on 27 Mei 2011 Permalink

      Subhanallah… begitu dalam maknanya…, semoga Allah meridhoi kehidupan kita di dunia.. aammiiinn…

    • pirdaus 8:13 am on 10 Maret 2012 Permalink

      asslm, terimakasih buat artikel’a yang bisa menjadi renungan bagi saia dan org’a yang membaca’a, semoga artikel ini bisa membuat kita menjadi seorang yangbaik amalan’aamin,,

  • erva kurniawan 1:00 am on 16 May 2011 Permalink | Balas
    Tags: Siapakah Tuhan Kita?   

    Siapakah Tuhan Kita? 

    Siapakah Tuhan Kita?

    Assalamu’alaikum wr wb,

    Tidak dapat dipungkiri, bahwa sesungguhnya Tuhan itu hanya satu. Meski demikian, banyak orang yang menyembah Tuhan yang berbeda-beda. Ada yang menyembah matahari sebagai Tuhannya. Ada yang menyembah Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan sebagainya. Ada juga yang hanya menyembah Allah semata.

    Lalu, manakah Tuhan yang benar menurut Islam? Bagaimana ciri-cirinya? Sesungguhnya, kita tidak mengetahui sedikit pun tentang Tuhan, meski demikian, dalam Al Qur’an, Tuhan menjelaskan sifat-sifatnya.

    Menurut ajaran Islam, Tuhan adalah pencipta segalanya:

    “Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”. Lalu jadilah ia.” [Al Baqoroh:117]

    “Sesungguhnya misal (penciptaan) `Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.” [Ali Imran:59]

    ”Katakanlah: “Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali?” katakanlah: “Allah-lah yang memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali; maka bagaimanakah kamu dipalingkan (kepada menyembah yang selain Allah)?” [Yunus:34]

    Tuhan juga memiliki semua yang ada, baik di bumi, langit, mau pun yang ada di antara keduanya:

    “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?” Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [Al Maaidah:17]

    Tuhan juga telah ada sebelum segala sesuatu ada (awal). Tuhan juga akan tetap ada, ketika yang lain telah musnah (akhir):

    “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” [Al Hadiid:3]

    Oleh karena itu, tidak mungkin Tuhan lahir, ketika makhluk lain sudah ada, atau pun meninggal, ketika makhluk lain masih ada. Jika ada, itu tidak lain hanyalah makhluk ciptaan Tuhan belaka.

    Hanya ada satu Tuhan, yaitu: Allah.

    “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” [Al Maa-idah:73]

    Allah tidak punya sekutu.

    “Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah.” Katakanlah: “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?”. Katakanlah: “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”. [Ar Ra’d:16]

    “Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” [Al Israa:111]

    Maha Suci Allah dari mempunyai anak dan sekutu.

    “Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu,” [Al Mu’minuun]

    “dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. [Al Ikhlas:4]

    Allah Maha Mengetahui, baik yang zahir mau pun yang ghaib.

    “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” [Al An’aam:59]

    Allah Maha Kuasa. Sering kita terpukau akan kegagahan/keperkasaan seseorang. Namun mereka semua tidak ada yang kekal. Orang-orang yang besar dan ditakuti seperti Jengis Khan, Hitler, Roosevelt, semua musnah di tangan Allah yang Maha Kuasa dan Maha Mematikan.

    “Jika Allah menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu wahai manusia, dan Dia datangkan umat yang lain (sebagai penggantimu). Dan adalah Allah Maha Kuasa berbuat demikian.” [An Nisaa:133]

    “Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) sesuatu kemanfa`atanpun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.” [Al Furqaan:3]

    Allah Maha Mengatur. Sering kita lihat jembatan yang telah dirancang oleh para ahli dan dibangun ratusan tukang dengan tiang-tiang yang kuat, roboh seketika. Atau lalu-lintas udara yang diatur dengan radar, pengawas udara, serta pilot dan co-pilot, tetap selalu mengalami kecelakaan setiap tahunnya.

    Namun tidak pernah sekalipun langit yang tanpa tiang ambruk menimpa bumi. Matahari tidak pernah menabrak bulan atau bumi, meski semuanya telah beredar selama milyaran tahun. Itulah bukti bahwa keteraturan itu terjadi karena adanya Sang Maha Pengatur: Allah.

    “Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.” [Ar Ra’d:2]

    Allah juga telah memberikan banyak nikmatnya kepada manusia:

    “Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” [Al Baqarah:22]

    “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” [Al Baqarah:164]

    Maha Benar Allah dengan segala firmannya.

    Wassalamualaikum wr wb.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 15 May 2011 Permalink | Balas  

    Bokong Besar Pertanda Jantung Sehat 

    Memiliki bokong besar bukan sekadar menampilkan kesan seksi. Studi terbaru mengungkap, timbunan lemak di bagian bokong dan paha dapat meningkatkan harapan hidup pemiliknya.

    Berdasar studi yang dilakukan sejumlah pakar kesehatan dari Mayo Clinic, di Rochester, Minnesota, lemak yang terakumulasi di bokong dan pangkal kaki bagian atas justru mengurangi risiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes. Tidak seperti lemak di perut yang meningkatkan risiko tiga penyakit tersebut.

    Tim peneliti yang dipimpin Dr Michael Jensen melibatkan 28 pria dan wanita sebagai partisipan. Selama delapan minggu, mereka memberi perlakuan dan pola makan yang sama terhadap seluruh partisipan. Mereka ingin melihat pertumbuhan lemak di tubuh para partisipan.

    Mayoritas partisipan memiliki lemak sekitar 2,45 kg di bagian tubuh atas seperti perut dan dada. Sementara di bagian tubuh bawah seperti bokong, pinggul, dan paha sekitar 1,5 kg. Pengukuran ini dilakukan sebelum dan setelah ‘masa karantina’.

    Dalam penelitian terungkap, ada perbedaan sel-sel lemak yang melilit bagian tubuh atas dan bawah. Sel-sel lemak di bagian tubuh bawah mengandung agen anti-inflamasi alami yang dapat menghentikan penyumbatan arteri.

    Seperti dikutip dari Daily Mail, Jensen mengatakan, temuan ini menantangnya untuk mencari cara meningkatkan produksi lemak di bagian tubuh bagian bawah tanpa menambah timbunan lemak di bagian tubuh bagian atas. “Ini penting untuk membentuk perlindungan tubuh dan membantu mencegah penyakit.”

    Temuan yang dipublikasikan pada Proceedings of the National Academy of Sciences mungkin bisa menjelaskan manfaat memiliki tubuh berbentuk buah pir. (pet)

    ***

    http://id.news.yahoo.com/viva/20101007/tls-bokong-besar-pertanda-jantung-sehat-34dae5e.html

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 14 May 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    Taubat (bagian ke-3): Macam-Macam Dosa dan Jalan Menuju Taubat 

    Taubat (bagian ke-3): Macam-Macam Dosa dan Jalan Menuju Taubat

    Oleh: Abu Nu’man Mubarok

    Macam-Macam Dosa

    1. Dosa Besar. Yaitu dosa yang disertai ancaman hukuman di dunia, atau ancaman hukuman di akhirat. Abu Tholib Al-Makki berkata: Dosa besar itu ada 17 macam:

    • 4 macam di hati, yaitu: 1. Syirik. 2. Terus menerus berbuat maksiat. 3. Putus asa. 4. Merasa aman dari siksa Allah.
    • 4 macam pada lisan, yaitu: 1. Kesaksian palsu. 2. Menuduh berbuat zina pada wanita baik-baik. 3. Sumpah palsu. 4. mengamalkan sihir.
    • 3 macam di perut. 1. Minum Khamer. 2. memakan harta anak yatim. 3. memakan riba.
    • 2 macam di kemaluan. 1. zina. 2. Homo seksual.
    • 2 macam di tangan. 1. membunuh. 2. mencuri.
    • 1 di kaki, yaitu lari dalam peperangan
    • 1 di seluruh badan, yaitu durhaka terhadap orang tua.

    2. Dosa kecil. Yaitu dosa-dosa yang tidak tersebut diatas.

    3. Dosa kecil yang menjadi besar ·

    • Dilakukan terus menerus. Rasulullah bersabda: tidak ada dosa kecil apabila dilakukan dengan terus menerus dan tidak ada dosa besar apabila disertai dengan istighfar. Allah juga berfirman: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran [3]: 135)
    • Menganggap remeh akan dosa. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seorang mu’min dalam melihat dosanya, bagaikan seorang yang berada di puncak gunung, yang selalu khawatir tergelincir jatuh. Adapun orang fasik dalam melihat dosanya, bagaikan seseorang yang dihinggapi lalat dihidungnya, maka dia usir begitu saja.” (HR. Bukhori Muslim)
    • Bergembira dengan dosanya. Allah berfirman: “Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.” (QS. Al Baqarah [2]: 206) · Merasa aman dari makar Allah. Allah berfirman: “Apakah tiada kamu perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu dan mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul. Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu. Dan mereka mengatakan pada diri mereka sendiri: “Mengapa Allah tiada menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?” Cukuplah bagi mereka neraka Jahannam yang akan mereka masuki. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al Mujadilah [58]: 7)
    • Terang-terangan dalam berbuat maksiat. Rasulullah bersabda: “Semua ummatku akan diampunkan dosanya kecuali orang yang mujaharah (terang-terangan dalam berbuat dosa) dan yang termasuk mujaharah adalah: Seorang yang melakukan perbuatan dosa di malam hari, kemudian hingga pagi hari Allah telah menutupi dosa tersebut, kemudian dia berkata: wahai fulan semalam saya berbuat ini dan berbuat itu. Padahal Allah telah menutupi dosa tersebut semalaman, tapi di pagi hari dia buka tutup Allah tersebut.” (HR. Bukhori Muslim)
    • Yang melakukan perbuatan dosa itu adalah seorang yang menjadi teladan. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang memberi contoh di dalam Islam dengan contoh yang jelek, dia akan mendapat dosanya dan dosa orang yang mengikutinya setelah dia tanpa dikurangi dosa tersebut sedikitpun.” (HR. Muslim)

    Jalan Menuju Taubat

    1. Mengetahui hakikat taubat. Hakikat taubat adalah: Menyesal, meninggalkan kemaksiatan tersebut dan berazam untuk tidak mengulanginya lagi. Sahal bin Abdillah berkata: “Tanda-tanda orang yang bertaubat adalah: Dosanya telah menyibukkan dia dari makan dan minum-nya. Seperti kisah tiga sahabat yang tertinggal perang”.
    2. Merasakan akibat dosa yang dilakukan. Ulama salaf berkata: “Sungguh ketika saya maksiat pada Allah, saya bisa melihat akibat dari maksiat saya itu pada kuda dan istri saya.”
    3. Menghindar dari lingkungan yang jelek. Seperti dalam kisah seorang yang membunuh 100 orang. Gurunya berkata: “Pergilah ke negeri sana … sesungguhnya disana ada orang-orang yang menyembah Allah dengan baik, maka sembahlah Allah disana bersama mereka dan janganlah kamu kembali ke negerimu, karena negerimu adalah negeri yang jelek.”
    4. Membaca Al-Qur’an dan mentadabburinya.
    5. Berdo’a. Allah berfirman mengkisahkan Nabi Ibrahim: “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” Al Maraghi berkata: “Yang dimaksud ”terimalah taubat kami” adalah: Bantulah kami untuk bertaubat agar kami bisa bertaubat dan kembali kepada-Mu.”
    6. Mengetahui keagungan Allah yang Maha Pencipta. Para ulama salaf berkata: “Janganlah engkau melihat akan kecilnya maksiat, tapi lihatlah keagungan yang engkau durhakai.”
    7. Mengingat mati dan kejadiannya yang tiba-tiba.
    8. Mempelajari ayat-ayat dan hadis-hadis yang menakuti orang-orang yang berdosa.
    9. Membaca sejarah orang-orang yang bertaubat.

    [] (Tamat)

    Sumber: Al-ikhwan.net

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 13 May 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    Taubat (bagian ke-2): Syarat-Syarat Taubat 

    Taubat (bagian ke-2): Syarat-Syarat Taubat

    Oleh: Abu Nu’man Mubarok

    Allah berfirman: “dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah [9]: 118 )

    1. Meninggalkan dosa tersebut. Ibnul-Qoyyim berkata: ”Taubat mustahil terjadi, sementara dosa tetap dilakukan”.
    2. Menyesal atas perbuatannya. Rasulullah bersabda: ”Menyesal adalah taubat”.
    3. Berazzam untuk tidak mengulangi lagi. Ibnu Mas’ud berkata: ”Taubat yang benar adalah: Taubat dari kesalahan yang tidak akan diulangi kembali, bagaikan mustahilnya air susu kembali pada kantong susunya lagi.”
    4. Mengembalikan kedzaliman kepada pemiliknya, atau meminta untuk diha-lalkan. Imam Nawawi berkata: ”Diantara syarat taubat adalah mengembalikan kedzoliman kepada pemiliknya, atau meminta untuk dihalakan”.
    5. Ikhlash. Ibnu hajar berkata: “Taubat tidak sah kecuali dengan ikhlash”. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya” (QS. At Tahrim [66]: 8 ). Yang dimaksud taubat yang murni adalah taubat yang ikhlash.
    6. Taubat dilakukan pada masa diterima-nya taubat. Masa diterimanya taubat adalah: · Sebelum saat sakarotul maut. · Sebelum Matahari terbit dari barat. Allah berfirman: “Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang” (QS. An-Nisaa [4]: 18).

    Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba, selama belum dalam sakarotul-maut” (HR. Tirmidzi).

    Dalam hadis yang lain Rasululloh bersabda: “Sesungguhnya Alloh membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat orang-orang yang melakukan kesalahan di siang hari. Dan Allah membentangkan Tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat orang-orang yang melakukan kesalahan pada malam hari” (HR. Muslim).

    Dalam hadist yang lain Rasululloh bersabda: “Barang siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, Allah akan menerima taubatnya” (HR. Muslim).

    (bersambung, insya Allah)

    ***

    Sumber: Al-ikhwan.net

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 12 May 2011 Permalink | Balas  

    Bagian Terhangat dan Terdingin Tubuh Manusia 

    Tubuh manusia menyimpan berbagai misteri yang mengagumkan. Semua koordinasi sel dan organ membuat tubuh menjalankan fungsi yang sempurna. Tapi ternyata suhu tubuh tidak menyebar secara merata. Bagian tubuh mana saja yang paling hangat dan paling dingin?

    Suhu tubuh dipengaruhi oleh aliran darah yang menuju ke bagian tubuh tertentu. Semakin banyak darah yang mengalir ke bagian tubuh, maka bagian tersebut akan semakin hangat. Sebaliknya, jika semakin dikit akan makin dingin.

    Dilansir Ehow, Jumat (24/9/2010), dengan hasil pengambilan gambar inframerah dari tubuh manusia bagian tubuh terhangat adalah:

    1. Daerah genital (kelamin)
    2. Dada
    3. Ketiak dan kepala

    Bagian-bagian ini mendapatkan pasokan darah yang banyak sehingga membuatnya selalu hangat.

    Sedangkan bagian yang terdingin dari tubuh manusia adalah:

    1. Jari kaki
    2. Kaki
    3. Tangan

    Bagian tubuh terdingin tersebut merupakan bagian tubuh yang paling sedikit mendapatkan pasokan darah. Ujung atau jari kaki merupakan bagian tubuh yang paling cepat merasakan dingin, karena merupakan bagian yang paling jauh dari jantung, yang memasok darah.

    Selain aliran darah, suhu tubuh juga tergantung pada posisi tubuh. Seseorang yang sedang duduk atau menekuk kaki, maka jari kakinya akan terasa lebih dingin ketimbang orang yang sedang berdiri.

    Posisi-posisi tubuh tertentu membuat aliran darah menuju bagian tubuh menjadi terhambat dan membuatnya lebih dingin ketimbang bagian tubuh yang mudah terjangkau oleh pembuluh darah.

    Cara yang baik untuk mengatasi perubahan suhu di dalam tubuh adalah dengan melakukan beberapa peregangan ringan, berjalan cepat, menyentuh air yang hangat atau mengubah posisi tubuh agar aliran darah dapat berjalan lancar.

    ***

    health.detik.com/read/2010/09/24/143026/1447523/766/bagian-terhangat-dan-terdingin-tubuh-manusia?l993306763

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 11 May 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    Taubat (bagian ke-1): Definisi, Urgensi, dan Buah-Buah Taubat 

    Taubat (bagian ke-1): Definisi, Urgensi, dan Buah-Buah Taubat

    Oleh:  Abu Nu’man Mubarok

    1. Definisi

    • Menurut bahasa: Kembali – Menurut istilah: Kembali mendekat pada Allah setelah menjauh dari-Nya. Hakikat taubat adalah: Menyesal terhadap apa yang telah terjadi, meninggalkan perbuatan tersebut saat ini juga, dan ber-azam yang kuat untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut dimasa yang akan datang.

    2. Urgensi Taubat

    • Banyak yang tidak tahu akan hakikat taubat, syarat, dan adab-adabnya. Oleh karena itu banyak yang bertaubat hanya dengan lisan saja, sedangkan hati mereka kosong. Para ulama mengatakan: Taubatnya para pembohong adalah taubat dengan ujung lidah mereka, mereka mengatakan: “Saya mohon ampun dan bertaubat pada Alloh”. Tapi mereka tidak berhenti melakukan maksiat.
    • Allah memerintahkan untuk bertaubat. Allah mengulang perintah tersebut 87 kali. Allah juga memerintahkan Rasulullah untuk bertaubat. Allah berfirman: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS. 24:31). Dalam ayat yang lain Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya” (QS. 66: 8 ). Rasulullah bersabda: “Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah sesungguhnya saya bertaubat kepada Allah dalam sehari 100 kali” (HR. Muslim).
    • Siapa yang tidak bertaubat kepada Allah berarti dzalim terhadap dirinya. Allah berfirman: “Barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (QS. 49:11).
    • Taubat adalah ibadah yang paling utama. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (QS. 2: 222). Dalam sebuah hadist dikatakan: “Demi Allah, Allah lebih bergembira dari pada seorang mu’min ………” dst.

    3. Buah-Buah Taubat

    • Taubat itu jalan menuju keberuntungan. Allah berfirman: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS. 24:31). Ibnul Qoyyim berkata: “Janganlah mengharapkan keberuntungan kecuali orang-orang yang bertaubat”.
    • Malaikat berdo’a untuk orang-orang yang bertaubat. Allah berfirman: “(Malaikat-malaikat) yang memikul `Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): ‘Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala’” (QS. 40:7).
    • Mendapat kemudahan hidup dan rizki yang luas. Allah berfirman: “dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan” (QS. 11:3). Dan firman Allah: “Dan (dia berkata): ‘Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa’” (QS. 11:52).

    Dan Allah berfirman: “maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu – sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun – niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepada-mu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.’”

    • Penghapus kesalahan dan pengampun dosa. Dalam hadis qudsi, Rasulullah bersabda: “Wahai anak adam, sesungguhnya engkau telah berdo’a pada-Ku dan mengharap pada-Ku, Aku telah ampunkan dosa-dosamu dan Aku tak menghiraukan. Wahai anak adam, andaikan dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau meminta ampunan pada-Ku, Aku akan mengampunimu, dan Aku tidak menghiraukan. Wahai anak Adam, andaikan kamu datang pada-Ku dengan kesalahan sebesar Bumi, kemudian engkau tidak pernah mensekutukan pada-Ku dengan suatu apapun, Aku akan datang padamu dengan ampunan sebesar bumi pula.” Dan Rasulullah bersabda: “Orang yang bertaubat dari kesalahan bagaikan orang yang tidak punya dosa.” Dalam hadis yang lain: “Taubat itu menghapuskan dosa-dosa yang lalu.”
    • Hati menjadi bersih dan bersinar. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seorang mu’min jika melakukan perbuatan dosa, maka akan terjadi titik hitam di dalam kalbunya, jika dia bertaubat dan minta ampun pada Allah, kembali cemerlang hatinya, jika dosanya bertambah, bertambah pula titik hitam tersebut, hingga menutupi hatinya. Itulah “ar-ron” yang disebut oleh Alloh dalam firman-Nya: ‘Sekali-kali tidak (demikian) sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’” (HR. Tirmidzi).
    • Dicintai Allah. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”

    (bersambung Insya Allah..)

    ***

    Sumber: Al-ikhwan.net

     
  • erva kurniawan 1:23 am on 10 May 2011 Permalink | Balas  

    Kemaksiatan dan Pengaruhnya 

    Kemaksiatan dan Pengaruhnya

    Oleh: Tim dakwatuna.com

    Sesungguhnya seorang hamba jika melakukan dosa, maka terbentuklah noda hitam dalam hatinya. Jika ia melepaskan dosa, istighfar dan taubat, bersihlah hatinya. Ketika mengulangi dosa lagi, bertambahlah noda hitamnya, sehingga menguasai hati. Itulah Roon (rona) yang disebutkan dalam Al-Qur’an, “Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (HR At-Tirmidzi).

    Maksiat dan dosa mempunyai pengaruh yang sangat dahsyat dalam kehidupan umat manusia. Bahayanya bukan hanya berpengaruh di dunia tetapi sampai dibawa ke akhirat. Bukankah Nabi Adam a.s. dan istrinya Siti Hawwa dikeluarkan dari surga dan diturunkan ke dunia karena dosa yang dilakukannya? Dan demikianlah juga yang terjadi pada umat-umat terdahulu.

    Disebabkan karena dosa, penduduk dunia pada masa Nabi Nuh a.s. dihancurkan oleh banjir yang menutupi seluruh permukaan bumi. Karena maksiat, kaum ‘Aad diluluhlantakkan oleh angin puting beliung. Karena ingkar pada Allah, kaum Tsamud ditimpa oleh suara yang sangat keras memekakkan telinga sehingga memutuskan urat-urat jantung mereka dan mati bergelimpangan. Karena perbuatan keji kaum Luth, buminya dibolak-balikkan dan semua makhluk hancur, sampai malaikat mendengar lolongan anjing dari kejauhan. Kemudian diteruskan dengan hujan bebatuan dari langit yang melengkapi siksaan bagi mereka. Dan kaum yang lain akan mendapatkan siksaan yang serupa. Jika tidak terjadi di dunia, maka di akhirat akan lebih pedih lagi. (Al-An’am: 6)

    Desember 2005 dunia juga baru menyaksikan musibah yang maha dahsyat terjadi di Asia: Tsunami menghancurkan ratusan ribu umat manusia. Terbesar menimpa Aceh. Semua itu harus menjadi pelajaran yang mendalam bagi seluruh umat manusia, bahwa Allah Maha Kuasa. Disebutkan dalam musnad Imam Ahmad dari hadits Ummu Salamah, Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Jika kemaksiatan sudah mendominasi umatku, maka Allah meratakan adzab dari sisi-Nya”. Saya berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah di antara mereka ada orang-orang shalih?” Rasulullah menjawab, ”Betul.” “Lalu bagaimana dengan mereka?” Rasul menjawab, “Mereka akan mendapat musibah sama dengan yang lain, kemudian mereka mendapatkan ampunan dan keridhaan Allah.”

    Akar Kemaksiatan

    Semua kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia, baik yang besar maupun yang kecil, bermuara pada tiga hal. Pertama; terikatnya hati pada selain Allah, kedua; mengikuti potensi marah, dan ketiga; mengikuti hasrat syahwat. Ketiganya adalah syirik, zhalim, dan keji. Puncak seseorang terikat pada selain Allah adalah syirik dan menyeru pada selain Allah.

    Puncak seseorang mengikuti amarah adalah membunuh; dan puncak seseorang menuruti syahwat adalah berzina. Demikianlah Allah swt. menggabungkan pada satu ayat tentang sifat ‘Ibadurrahman, ”Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).” (Al-Furqaan: 68)

    Dan ciri khas kemaksiatan itu saling mengajak dan mendorong untuk melakukan kemaksiatan yang lain. Orang yang berzina maka zina itu dapat menyebabkan orang melakukan pembunuhan; dan pembunuhan dapat menyebabkan orang melakukan kemusyrikan. Dan para pembuat kemaksiatan saling membantu untuk mempertahankan kemaksiatannya. Setan tidak akan pernah diam untuk menjerumuskan manusia untuk melakukan dosa dan kemaksiatan. Setan senantiasa mengupayakan tempat-tempat yang kondusif untuk menjadi sarang kemaksiatan.

    Oleh karena itu agar terhindar dari jebakan kemaksiatan, manusia harus melakukan lawan dari ketiganya, yaitu: pertama; menguatkan keimanan dan hubungan hati dengan Allah swt. dengan senantiasa mengikhlaskan segala amal perbuatan hanya karena Allah. Kedua; mengendalikan rasa marah, karena marah merupakan pangkal sumber dari kezhaliman yang dilakukan oleh manusia. Dan ketiga; menahan diri dari syahwat yang menggoda manusia sehingga tidak jatuh pada perbuatan zina.

    Pengaruh Maksiat

    Seluruh manusia mengakui bahwa kesalahan yang terkait dengan hubungan antar manusia di dunia secara umum dapat mengakibatkan kerusakan secara langsung. Orang-orang yang membabat hutan hingga gundul akan menyebabkan kerusakan lingkungan, longsor, dan kebanjiran. Sopir yang mengendalikan mobilnya secara ugal-ugalan dan melintasi rel kereta yang dilalui kereta, berakibat sangat parah, ditabrak oleh kereta. Orang yang membunuh orang tanpa hak, maka dia akan senantiasa dalam kegelisahan dan penderitaan. Orang yang senantiasa bohong, hidupnya tidak akan merasa tenang.

    Dan pada dasarnya pengaruh kesalahan, dosa, dan kemaksiatan bukan saja yang terkait antar sesama manusia, tetapi antara manusia dengan Allah. Siapakah orang yang paling zhalim, ketika mereka diberi rezki oleh Allah dan hidup di bumi Allah kemudian menyekutukan Allah, tidak mentaati perintah-Nya, dan melanggar larangan-Nya. Jika kesalahan yang dibuat antar sesama manusia akan menimbulkan bahaya, maka kesalahan akibat tidak melaksanakan perintah Allah atau melanggar larangan-Nya, maka akan lebih berbahaya lagi, di dunia sengsara dan di akhirat disiksa. “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”

    Beberapa pengaruh maksiat diantaranya:

    1. Lalai dan keras hati

    Al-Qur’an menyebut bahwa orang-orang yang bermaksiat hatinya keras membatu. “Karena mereka melanggar janjinya, kami kutuki mereka, dan kami jadikan hati mereka keras membatu. mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka Telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), Maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ma-idah: 13)

    Berkata Ibnu Mas’ud r.a., “Saya menyakini bahwa seseorang lupa pada ilmu yang sudah dikuasainya, karena dosa yang dilakukan.”

    Orang yang banyak berbuat dosa, hatinya keras, tidak sensitif, dan susah diingatkan. Itu suatu musibah besar. Bahkan disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa orang yang senantiasa berbuat dosa, hatinya akan dikunci mati, sehingga keimanan tidak dapat masuk, dan kekufuran tidak dapat keluar.

    2. Terhalang dari ilmu dari rezeki

    Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba diharamkan mendapat rezeki karena dosa yang dilakukannya” (HR Ibnu Majah dan Hakim)

    Berkata Imam As-Syafi’i, “Saya mengadu pada Waqi’i tentang buruknya hafalanku. Beliau menasihatiku agar meninggalkan maksiat. Dan memberitahuku bahwa ilmu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang bermaksiat.”

    Orang yang banyak melakukan dosa waktunya banyak dihabiskan untuk hal-hal yang sepele dan tidak berguna. Tidak untuk mencari ilmu yang bermanfaat, tidak juga untuk mendapatkan nafkah yang halal. Banyak manusia yang masuk dalam model ini. Banyak yang menghabiskan waktunya di meja judi dengan menikmati minuman haram dan disampingnya para wanita murahan yang tidak punya rasa malu. Sebagian yang lain asyik dengan hobinya. Ada yang hobi memelihara burung atau binatang piaraan yang lain. Sebagian lain, ada yang hobi mengumpulkan barang antik meski harus mengeluarkan biaya tak sedikit. Sebagian yang lain hobi belanja atau sibuk bolak-balik ke salon kecantikan. Seperti itulah kualitas hidup mereka.

    3. Kematian hati dan kegelapan di wajah

    Berkata Abdullah bin Al-Mubarak, “Saya melihat dosa-dosa itu mematikan hati dan mewariskan kehinaan bagi para pelakunya. Meninggalkan dosa-dosa menyebabkan hidupnya hati. Sebaik-baiknya bagi dirimu meninggalkannya. Bukankah yang menghancurkan agama itu tidak lain para penguasa dan ahli agama yang jahat dan para rahib.”

    Sungguh suatu musibah besar jika hati seseorang itu mati disebabkan karena dosa-dosa yang dilakukannya. Dan perangkap dosa yang dikejar oleh mayoritas manusia adalah harta dan kekuasaan. Mereka mengejar harta dan kekuasaan seperti laron masuk ke kobaran api unggun.

    Tanda seorang bergelimangan dosa terlihat di wajahnya. Wajah orang-orang yang jauh dari air wudhu dan cahaya Al-Qur’an adalah gelap tidak enak dipandang.

    4. Terhalang dari penerapan hukum Allah

    Penerapan hukum Allah berupa syariat Islam di muka bumi adalah rahmat dan karunia Allah dan memberikan keberkahan bagi penduduknya. Ketika masyarakat banyak yang melakukan kemaksiatan, maka mereka akan terhalang dari rahmat Islam tersebut. (Lihat Al-Maa-idah: 49 dan Al-A’raaf: 96)

    5. Hilangnya nikmat Allah dan potensi kekuatan

    Di antara nikmat yang paling besar yang diberikan Allah kepada hamba-Nya adalah pertolongan dan kemenangan. Sejarah telah membuktikan bahwa pertolongan Allah dan kemenangan-Nya diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang taat. Sebaliknya, kekalahan dan kehancuran disebabkan karena maksiat dan ketidaktaatan.

    Kisah Perang Uhud harus menjadi pelajaran bagi orang-orang beriman. Ketika sebagian pasukan perang sibuk mengejar harta rampasan dan begitu juga pasukan pemanah turun gunung ikut memperebutkan harta rampasan. maka terjadilah musibah luar biasa. Korban berjatuhan di kalangan umat Islam. Rasulullah saw. pun berdarah-darah.

    Kisah penghancuran Kota Baghdad oleh pasukan Tartar juga terjadi karena umat Islam bergelimang kemaksiatan. Khilafah Islam pun runtuh, selain dari faktor adanya konspirasi internasional yang melibatkan Inggris, Amerika Serikat, dan Israel, karena umat Islam berpecah belah dan kemaksiatan yang mereka lakukan.

    Umar bin Khattab berwasiat ketika melepas tentara perang: ”Dosa yang dilakukan tentara (Islam) lebih aku takuti dari musuh mereka. Sesungguhnya umat Islam dimenangkan karena maksiat musuh mereka kepada Allah. Kalau tidak demikian kita tidak mempunyai kekuatan, karena jumlah kita tidak sepadan dengan jumlah mereka, perlengkapan kita tidak sepadan dengan perlengkapan mereka. Jika kita sama dalam berbuat maksiat, maka mereka lebih memiliki kekuatan. Jika kita tidak dimenangkan dengan keutamaan kita, maka kita tidak dapat mengalahkan mereka dengan kekuatan kita.”

    Oleh karena itu umat Islam dan para pemimpinnya harus berhati-hati dari jebakan-jebakan cinta dunia dan ambisi kekuasaan. Jauhi segala harta yang meragukan apalagi yang jelas haramnya. Karena harta yang syubhat dan meragukan, tidak akan membawa keberkahan dan akan menimbulkan perpecahan serta fitnah. Kemaksiatan yang dilakukan oleh individu, keluarga, dan masyarakat akan menimbulkan hilangnya nikmat yang telah diraih dan akan diraih. Dan melemahkan segala potensi kekuatan. Waspadalah!

    ***

    Sumber: Dakwatuna.com

    Dari Sahabat

     
    • yuli susanto 1:41 pm on 20 Mei 2011 Permalink

      trima kASIH artikelnya……(Dr sobat pelaut)

  • erva kurniawan 1:14 am on 9 May 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kisah: Pemuda Dililit Utang 

    Kisah: Pemuda Dililit Utang

    Malang benar nasib pemuda ini, dililit utang sehingga tidak mampu lagi membayarnya, akhirnya dia berpikir bahwa bunuh diri adalah jalan terbaik baginya. Ditengah malam yang gelap gulita, dia mengambil tali untuk gantung diri dipohon nangka dibelakang rumahnya. Diam-diam dia memanjat pohon nangka tersebut, mengalungkan tali dilehernya, kemudian mengikatkannya di tangkai, lalu menjatuhkan dirinya kebawah. Ternyata ajalnya belum ditetapkan disini, karena tangkai tempat mengikatkan tali tidak kuat menahan beban tubuhnya sehingga tangkai pohon itu patah dan akhirnya jatuh kebawah, dan lucunya lagi dia jatuh tepat diatas tumpukan kotoran kerbau.

    Tidak puas dengan cara pertama, dia mencari cara lain. Pemuda tersebut berjalan menyusuri jalan, kemudian berhenti di tikungan tajam dimana banyak dilalui kendaraan, namun karena larut malam akibatnya kendaraan yang lewat agak jarang sehingga pemuda ini agak lama juga menunggu kendaraan yang lewat.

    Setelah menunggu agak lama akhirnya datang juga sebuah bus yang mengangkut banyak penumpang, pemuda ini lalu mengambil ancang-ancang. Selang beberapa meter jaranknya dari bus, pemuda tersebut langsung melemparkan tubuhnya ke tengah jalan, namun karena Sopir Bus itu terlalu mwas sehingga ketika melihat sesuatu ditengah jalan dia langsung membanting setir ke kiri, dan akhir-nya Pemuda tersebut terbebas dari maut, namun malangnya karena sopir bus tersebut terlalu tajam membanting setir ke kiri, akhirnya bus tersebut tidak mampu dikendalikan dan akhirnya jatuh ke jurang sehingga seluruh penumpang bus tewas saat itu juga (Inna lillah wa innaa ilaihi rooji`uun).

    Tidak puas dengan dua kali kegagalan bunuh dirinya, dia tetap bertekad bulat untuk bunuh diri, dia terus menyusuri jalan ditengah keremangan malam sambil mencari cara agar bisa bunuh diri. Beberapa jam berjalan akhirnya diapun menemukan jurang didepannya, akhirnya diapun pun memutuskan untuk menjatuhkan dirinya dan kali ini pasti berhasil pikirnya.

    Pemuda tersebut mengambil ancang-ancang, mundur beberapa langkah kebelakang dan kemudian berlari kedepan melompat ke dalam jurang, dan akhirnya meluncurlah ia kebawah, dengan harapan agar tubuhnya terhempas diatas bebatuan sehingga ia dapat mengahiri hidupnya.

    Subhaanallah, apa yang terjadi ?.., dibawah jurang sana ternyata sebuah kebun yang subur dan rimbun, tubuh pemuda itu jatuh tepat diatas pepohonan itu yang ternyata pemiliknya adalah seorang Janda yang cantik dan kaya raya. Akhirnya Janda tersebut mengambil pemuda itu di pagi hari di kebunnya dan ditemukan dalam keadaan siuman, dan pada tubuh pemuda itu hanya terdapat luka lecet kecil dan juga sedikit memar. Dan baiknya lagi Janda cantik tersebut bersedia menjadi Istri si-Pemuda dan juga bersedia melunasi hutang-hutang pemuda tersebut. Akhirnya pemuda tersebut terbebas dari hutang-hutangnya, memiliki istri cantik serta hidup serba kecukupan. Pemuda tersebut menjadi kaya raya, serta hidup mewah, akhirnya pemuda itu lupa untuk bunuh diri.

    Beberapa tahun kemudian, terjadilah peristiwa yang sangat menakutkan, disuatu malam, hujan turun lebat sekali. Pemuda tersebut bermimpi didatangi seseorang dan mengatakan kepadanya bahwa Nyawanya akan dicabut nanti tepat jam 05:00 subuh. Dia langsung bangun dengan kagetnya, dan merasakan takut yang amat sangat, tubuhnya gemetaran, dia langsung lari mengambil kunci mobil dan melarikan diri dari rumah agar terhindar dari maut. Dia menancap gas mobil dengan kencang-nya ditengah hujan yang lebat, sesekali ia melihat jam di tangan yang sudah mendekati jam 05:00 seperti yang telah ditetapkan dalam mimpinya. Jam semakin mendekati pukul 05:00, dia semakin gugup, sambil menyetir mobil dengan kencang, semakin takut, terus diperhatikan jam di tangannya yang tinggal beberapa detik lagi menunjukkan pukul 05:000. Karena semakin takutnya, dan kelamaan melihat jam di tangannya tanpa memperhatikan jalan yang dilaluinya, akhirnya mobil yang digunakannya jatuh ke jurang persis ditempat bus terguling sewaktu ia hendak bunuh diri dulu, dan tepat jam 05:00 subuh, ia meninggal dunia. Na`uuzu billah.

    –=[# Hai orang-orang yang beriman, janganlah kami saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu MEMBUNUH DIRIMU ; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. [QS.an-nisa:29] #]=–

    –=[# Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat”. [QS.al-hijr : 56] #]=–

    –=[# Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mereka putus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu mendapat azab yang pedih. [QS.al-`ankabuut : 23] #]=–

    ***

    Salam rindu buat saudaraku se-iman,

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:32 am on 8 May 2011 Permalink | Balas  

    Tombol Lift 40 Kali Lebih Kotor Dibanding Toilet Umum 

    Mulai sekarang, sebaiknya dibiasakan mencuci tangan setelah keluar dari lift. Penelitian membuktikan, jumlah bakteri di tombol lift ternyata 40 kali lebih banyak dibandingkan permukaan kloset duduk di toilet umum.

    Penelitian tersebut dilakukan oleh ilmuwan dari Microban Europe, untuk University of Arizona. Lift di sejumlah restoran, hotel, bank, gedung perkantoran dan bandar udara di Amerika menjadi obyek penelitian tersebut.

    Dalam setiap area seluas 1 centimeter persegi, peneliti mendapati 313 unit pembentuk koloni (UPK) bakteri. Jumlah ini 40 kali lipat lebih banyak dibanding kloset duduk di toilet umum yang hanya memiliki 8 UPK untuk setiap luas area yang sama.

    Jenis bakteri yang ditemukan di tombol lift cukup bervariasi. Salah satunya adalah Escherichia coli, bakteri penyebab diare yang secara alami dapat ditemukan di dalam perut dan kotoran manusia.

    “Di gedung perkantoran yang sangat sibuk, tiap jam tombol lift bisa disentuh oleh puluhan orang. Meski sering dibersihkan, bakteri bisa tumbuh di sana,” ungkap Dr Nicholas Moon yang memimpin penelitian tersebut.

    Temuan ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Dikutip dari Dailymail, Sabtu (25/9/2010), sejumlah penelitian terdahulu telah membuktikan bahwa toilet justru termasuk salah satu tempat terbersih karena sering dibersihkan.

    Jumlah bakteri yang terdapat di meja kerja bahkan 400 kali lebih banyak dibandingkan di toilet. Sementara keyboard komputer juga tidak lebih bersih dari toilet, karena ditumbuhi bakteri 4 kali lebih banyak.

    Namun Dr Moon membantah bahwa semua bakteri itu jahat dan selalu berbahaya untuk kesehatan. Yang terpenting menurutnya adalah, biasakan untuk selalu mencuci tangan sebelum memegang makanan. (up/ir)

    ***

    AN Uyung Pramudiarja – detikHealth

    http://apps.facebook.com/inthemafia/?auth_token=e5aa513e07909a0fb5d1ea9b9e42fd38

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 7 May 2011 Permalink | Balas
    Tags: amanah   

    Amanah 

    Amanah

    Oleh: Tim dakwatuna.com

    Rasulullah saw. bersabda, “Tiada iman pada orang yang tidak menunaikan amanah; dan tiada agama pada orang yang tidak menunaikan janji.” (Ahmad dan Ibnu Hibban)

    Amanah adalah kata yang sering dikaitkan dengan kekuasaan dan materi. Namun sesungguhnya kata amanah tidak hanya terkait dengan urusan-urusan seperti itu. Secara syar’i, amanah bermakna: menunaikan apa-apa yang dititipkan atau dipercayakan. Itulah makna yang terkandung dalam firman Allah swt.: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah-amanah kepada pemiliknya; dan apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kalian menetapkan hukum dengan adil.” (An-Nisa: 58)

    Ayat di atas menegaskan bahwa amanah tidak melulu menyangkut urusan material dan hal-hal yang bersifat fisik. Kata-kata adalah amanah. Menunaikan hak Allah adalah amanah. Memperlakukan sesama insan secara baik adalah amanah. Ini diperkuat dengan perintah-Nya: “Dan apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kalian menetapkan hukum dengan adil.” Dan keadilan dalam hukum itu merupakan salah satu amanah besar.

    Itu juga diperjelas dengan sabda Rasulullah saw., “Setiap kalian adalah pemimpin dan karenanya akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Amir adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Lelaki adalah pemimpin di tengah keluarganya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan atas anak-anaknya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentangnya. Seorang hamba adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentang itu. Dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya.” (Muttafaq ‘Alaih)

    Dan Allah swt. berfirman: “Sesungguhnya Kami menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Namun mereka menolak dan khawatir untuk memikulnya. Dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim lagi amat bodoh.” (Al-Ahzab 72)

    Dari nash-nash Al-Qur’an dan sunnah di atas nyatalah bahwa amanah tidak hanya terkait dengan harta dan titipan benda belaka. Amanah adalah urusan besar yang seluruh semesta menolaknya dan hanya manusialah yang diberikan kesiapan untuk menerima dan memikulnya. Jika demikian, pastilah amanah adalah urusan yang terkait dengan jiwa dan akal. Amanah besar yang dapat kita rasakan dari ayat di atas adalah melaksanakan berbagai kewajiban dan menunaikannya sebagaimana mestinya.

    Amanah dan Iman

    Amanah adalah tuntutan iman. Dan khianat adalah salah satu ciri kekafiran. Sabda Rasulullah saw. sebagaimana disebutkan di atas menegaskan hal itu, “Tiada iman pada orang yang tidak menunaikan amanah; dan tiada agama pada orang yang tidak menunaikan janji.” (Ahmad dan Ibnu Hibban)

    Barang siapa yang hatinya kehilangan sifat amanah, maka ia akan menjadi orang yang mudah berdusta dan khianat. Dan siapa yang mempunyai sifat dusta dan khianat, dia berada dalam barisan orang-orang munafik. Disia-siakannya amanah disebutkan oleh Rasulullah saw. sebagai salah satu ciri datangnya kiamat. Sebagaimana disampaikan Abu Hurairah –semoga Allah meridhainya–, Rasulullah saw. bersabda, “Jika amanah diabaikan maka tunggulah kiamat.” Sahabat bertanya, “Bagaimanakah amanah itu disia-siakan, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab, “Jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran.” (Al-Bukhari)

    Macam-macam Amanah

    Pertama, amanah fitrah. Dalam fitrah ada amanah. Allah menjadikan fitrah manusia senantiasa cenderung kepada tauhid, kebenaran, dan kebaikan. Karenanya, fitrah selaras betul dengan aturan Allah yang berlaku di alam semesta. Allah swt. berfirman: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul, (Engkau Tuhan kami) kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (Al-A’raf: 172)

    Akan tetapi adanya fitrah bukanlah jaminan bahwa setiap orang akan selalu berada dalam kebenaran dan kebaikan. Sebab fitrah bisa saja terselimuti kepekatan hawa nafsu dan penyakit-penyakit jiwa (hati). Untuk itulah manusia harus memperjuangkan amanah fitrah tersebut agar fitrah tersebut tetap menjadi kekuatan dalam menegakkan kebenaran.

    Kedua, amanah taklif syar’i (amanah yang diembankan oleh syari’at). Allah swt. telah menjadikan ketaatan terhadap syariatnya sebagai batu ujian kehambaan seseorang kepada-Nya. Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menetapkan fara-idh (kewajiban-kewajiban), maka janganlah kalian mengabaikannya; menentukan batasan-batasan (hukum), maka janganlah kalian melanggarnya; dan mendiamkan beberapa hal karena kasih sayang kepada kalian dan bukan karena lupa.” (hadits shahih)

    Ketiga, amanah menjadi bukti keindahan Islam. Setiap muslim mendapat amanah untuk menampilkan kebaikan dan kebenaran Islam dalam dirinya. Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang menggariskan sunnah yang baik maka dia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang rang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.” (Hadits shahih)

    Keempat, amanah dakwah. Selain melaksanakan ajaran Islam, seorang muslim memikul amanah untuk mendakwahkan (menyeru) manusia kepada Islam itu. Seorang muslim bukanlah orang yang merasa puas dengan keshalihan dirinya sendiri. Ia akan terus berusaha untuk menyebarkan hidayah Allah kepada segenap manusia. Amanah ini tertuang dalam ayat-Nya: “Serulah ke jalan Rabbmu dengan hikmah dan nasihat yang baik.” (An-Nahl: 125)

    Rasulullah saw. juga bersabda, “Jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang dengan usaha Anda, maka hal itu pahalanya bagi Anda lebih dibandingkan dengan dunia dan segala isinya.” (al-hadits)

    Kelima, amanah untuk mengukuhkan kalimatullah di muka bumi. Tujuannya agar manusia tunduk hanya kepada Allah swt. dalam segala aspek kehidupannya. Tentang amanah yang satu ini, Allah swt. menegaskan: “Allah telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wahyukan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah-belah tentangnya.” (Asy-Syura: 13)

    Keenam, amanah tafaqquh fiddin (mendalami agama). Untuk dapat menunaikan kewajiban, seorang muslim haruslah memahami Islam. “Tidaklah sepatutnya bagi orang-orang yang beriman itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama.” (At-Taubah: 122)

    “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 55)

    ***

    Sumber: Dakwatuna.com

     
    • murniati 9:03 am on 8 Mei 2011 Permalink

      Subhanalloh……berat juga ya pengemban amanah.Tp Subhanalloh justru manusia lah yg telah diberi ALLOH SWT amanah tsb.Sebenarnya manusia juga akan bisa mengemban amanah2 tsb asal manusia2 nya mau berhati2,menjaga dari bisikan syaitan.

  • erva kurniawan 1:06 am on 6 May 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Bukti Tuhan itu Ada 

    Bukti Tuhan itu Ada

    Assalamu’alaikum wr wb,

    Beriman bahwa Tuhan itu ada adalah iman yang paling utama. Jika seseorang sudah tidak percaya bahwa Tuhan itu ada, maka sesungguhnya orang itu dalam kesesatan yang nyata.

    Benarkah Tuhan itu ada? Kita tidak pernah melihat Tuhan. Kita juga tidak pernah bercakap-cakap dengan Tuhan. Karena itu, tidak heran jika orang-orang atheist menganggap Tuhan itu tidak ada. Cuma khayalan orang belaka.

    Ada kisah zaman dulu tentang orang atheist yang tidak percaya dengan Tuhan. Dia mengajak berdebat seorang alim mengenai ada atau tidak adanya Tuhan. Di antara pertanyaannya adalah: “Benarkah Tuhan itu ada” dan “Jika ada, di manakah Tuhan itu?”

    Ketika orang atheist itu menunggu bersama para penduduk di kampung tersebut, orang alim itu belum juga datang. Ketika orang atheist dan para penduduk berpikir bahwa orang alim itu tidak akan datang, barulah muncul orang alim tersebut.

    “Maaf jika kalian menunggu lama. Karena hujan turun deras, maka sungai menjadi banjir, sehingga jembatannya hanyut dan saya tak bisa menyeberang. Alhamdulillah tiba-tiba ada sebatang pohon yang tumbang. Kemudian, pohon tersebut terpotong-potong ranting dan dahannya dengan sendirinya, sehingga jadi satu batang yang lurus, hingga akhirnya menjadi perahu. Setelah itu, baru saya bisa menyeberangi sungai dengan perahu tersebut.” Begitu orang alim itu berkata.

    Si Atheist dan juga para penduduk kampung tertawa terbahak-bahak. Dia berkata kepada orang banyak, “Orang alim ini sudah gila rupanya. Masak pohon bisa jadi perahu dengan sendirinya. Mana bisa perahu jadi dengan sendirinya tanpa ada yang membuatnya!” Orang banyak pun tertawa riuh.

    Setelah tawa agak reda, orang alim pun berkata, “Jika kalian percaya bahwa perahu tak mungkin ada tanpa ada pembuatnya, kenapa kalian percaya bahwa bumi, langit, dan seisinya bisa ada tanpa penciptanya? Mana yang lebih sulit, membuat perahu, atau menciptakan bumi, langit, dan seisinya ini?”

    Mendengar perkataan orang alim tersebut, akhirnya mereka sadar bahwa mereka telah terjebak oleh pernyataan mereka sendiri.

    “Kalau begitu, jawab pertanyaanku yang kedua,” kata si Atheist. “Jika Tuhan itu ada, mengapa dia tidak kelihatan. Di mana Tuhan itu berada?” Orang atheist itu berpendapat, karena dia tidak pernah melihat Tuhan, maka Tuhan itu tidak ada.

    Orang alim itu kemudian menampar pipi si atheist dengan keras, sehingga si atheist merasa kesakitan.

    “Kenapa anda memukul saya? Sakit sekali.” Begitu si Atheist mengaduh.

    Si Alim bertanya, “Ah mana ada sakit. Saya tidak melihat sakit. Di mana sakitnya?”

    “Ini sakitnya di sini,” si Atheist menunjuk-nunjuk pipinya.

    “Tidak, saya tidak melihat sakit. Apakah para hadirin melihat sakitnya?” Si Alim bertanya ke orang banyak.

    Orang banyak berkata, “Tidak!”

    “Nah, meski kita tidak bisa melihat sakit, bukan berarti sakit itu tidak ada. Begitu juga Tuhan. Karena kita tidak bisa melihat Tuhan, bukan berarti Tuhan itu tidak ada. Tuhan ada. Meski kita tidak bisa melihatNya, tapi kita bisa merasakan ciptaannya.” Demikian si Alim berkata.

    Sederhana memang pembuktian orang alim tersebut. Tapi pernyataan bahwa Tuhan itu tidak ada hanya karena panca indera manusia tidak bisa mengetahui keberadaan Tuhan adalah pernyataan yang keliru.

    Berapa banyak benda yang tidak bisa dilihat atau didengar manusia, tapi pada kenyataannya benda itu ada?

    Betapa banyak benda langit yang jaraknya milyaran, bahkan mungkin trilyunan cahaya yang tidak pernah dilihat manusia, tapi benda itu sebenarnya ada?

    Berapa banyak zakat berukuran molekul, bahkan nukleus (rambut dibelah 1 juta), sehingga manusia tak bisa melihatnya, ternyata benda itu ada? (manusia baru bisa melihatnya jika meletakan benda tersebut ke bawah mikroskop yang amat kuat).

    Berapa banyak gelombang (entah radio, elektromagnetik. Listrik, dan lain-lain) yang tak bisa dilihat, tapi ternyata hal itu ada.

    Benda itu ada, tapi panca indera manusia lah yang terbatas, sehingga tidak mengetahui keberadaannya.

    Kemampuan manusia untuk melihat warna hanya terbatas pada beberapa frekuensi tertentu, demikian pula suara. Terkadang sinar yang amat menyilaukan bukan saja tak dapat dilihat, tapi dapat membutakan manusia. Demikian pula suara dengan frekuensi dan kekerasan tertentu selain ada yang tak bisa didengar juga ada yang mampu menghancurkan pendengaran manusia. Jika untuk mengetahui keberadaan ciptaan Allah saja manusia sudah mengalami kesulitan, apalagi untuk mengetahui keberadaan Sang Maha Pencipta!

    Memang sulit membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Tapi jika kita melihat pesawat terbang, mobil, TV, dan lain-lain, sangat tidak masuk akal jika kita berkata semua itu terjadi dengan sendirinya. Pasti ada pembuatnya.

    Jika benda-benda yang sederhana seperti korek api saja ada pembuatnya, apalagi dunia yang jauh lebih kompleks.

    Bumi yang sekarang didiami oleh sekitar 8 milyar manusia, keliling lingkarannya sekitar 40 ribu kilometer panjangnya. Matahari, keliling lingkarannya sekitar 4,3 juta kilometer panjangnya.

    Matahari, dan 9 planetnya yang tergabung dalam Sistem Tata Surya, tergabung dalam galaksi Bima Sakti yang panjangnya sekitar 100 ribu tahun cahaya (kecepatan cahaya=300 ribu kilometer/detik!) bersama sekitar 100 milyar bintang lainnya. Galaksi Bima Sakti, hanyalah 1 galaksi di antara ribuan galaksi lainnya yang tergabung dalam 1 “Cluster”. Cluster ini bersama ribuan Cluster lainnya membentuk 1 Super Cluster. Sementara ribuan Super Cluster ini akhirnya membentuk “Jagad Raya” (Universe) yang bentangannya sejauh 30 Milyar Tahun Cahaya! Harap diingat, angka 30 Milyar Tahun Cahaya baru angka estimasi saat ini, karena jarak pandang teleskop tercanggih baru

    Bayangkan, jika jarak bumi dengan matahari yang 150 juta kilometer ditempuh oleh cahaya hanya dalam 8 menit, maka seluruh Jagad Raya baru bisa ditempuh selama 30 milyar tahun cahaya. Itulah kebesaran ciptaan Allah! Jika kita yakin akan kebesaran ciptaan Tuhan, maka hendaknya kita lebih meyakini lagi kebesaran penciptanya.

    Dalam Al Qur’an, Allah menjelaskan bahwa Dialah yang menciptakan langit, bintang, matahari, bulan, dan lain-lain:

    “Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.” [Al Furqoon:61]

    Ada jutaan orang yang mengatur lalu lintas jalan raya, laut, dan udara. Mercusuar sebagai penunjuk arah di bangun, demikian pula lampu merah dan radar. Menara kontrol bandara mengatur lalu lintas laut dan udara. Sementara tiap kendaraan ada pengemudinya. Bahkan untuk pesawat terbang ada Pilot dan Co-pilot, sementara di kapal laut ada Kapten, juru mudi, dan lain-lain. Toh, ribuan kecelakaan selalu terjadi di darat, laut, dan udara. Meski ada yang mengatur, tetap terjadi kecelakaan lalu lintas.

    Sebaliknya, bumi, matahari, bulan, bintang, dan lain-lain selalu beredar selama milyaran tahun lebih (umur bumi diperkirakan sekitar 4,5 milyar tahun) tanpa ada tabrakan. Selama milyaran tahun, tidak pernah bumi menabrak bulan, atau bulan menabrak matahari. Padahal tidak ada rambu-rambu jalan, polisi, atau pun pilot yang mengendarai. Tanpa ada Tuhan yang Maha Mengatur, tidak mungkin semua itu terjadi. Semua itu terjadi karena adanya Tuhan yang Maha Pengatur. Allah yang telah menetapkan tempat-tempat perjalanan (orbit) bagi masing-masing benda tersebut. Jika kita sungguh-sungguh memikirkan hal ini, tentu kita yakin bahwa Tuhan itu ada.

    “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” [Yunus:5]

    “Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” [Yaa Siin:40]

    Sungguhnya orang-orang yang memikirkan alam, insya Allah akan yakin bahwa Tuhan itu ada:

    “Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.” [Ar Ra’d:2]

    “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” [Ali Imron:191]

    Terhadap manusia-manusia yang sombong dan tidak mengakui adanya Tuhan, Allah menanyakan kepada mereka tentang makhluk ciptaannya. Manusiakah yang menciptakan, atau Tuhan yang Maha Pencipta:

    “Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan. Kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya?” [Al Waaqi’ah:58-59]

    “Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya?” [Al Waaqi’ah:63-64]

    “Kamukah yang menjadikan kayu itu atau Kamikah yang menjadikannya?” [Al Waaqi’ah:72]

    Di ayat lain, bahkan Allah menantang pihak lain untuk menciptakan lalat jika mereka mampu. Manusia mungkin bisa membuat robot dari bahan-bahan yang sudah diciptakan oleh Allah. Tapi untuk menciptakan seekor lalat dari tiada menjadi ada serta makhluk yang bisa bereproduksi (beranak-pinak), tak ada satu pun yang bisa menciptakannya kecuali Allah:

    “…Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” [Al Hajj:73]

    Sesungguhnya, masih banyak ayat-ayat Al Qur’an lainnya yang menjelaskan bahwa sesungguhnya, Tuhan itu ada, dan Dia lah yang Maha Pencipta

    Wassalamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokatuhu

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 5 May 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Calon Buat Ajeng 

    CERPEN: Calon Buat Ajeng

    Penulis : Asma Nadia

    **

    Calon Suami????!!!!!

    Pfui, kuhembuskan nafasku kuat-kuat. Bosan aku. Lagi-lagi calon suami yang dibicarakan. Bayangin, sudah dua bulan ini tidak ada topik yang lebih trend di rumah, selain soal suami.

    Mulai dari Papi yang selalu nyindir, sudah pengen menimang cucu. Mami yang berulang-ulang menasihatiku agar jangan terlalu pilih-pilih tebu. Lalu Bambang, adikku, yang kuharap bisa menetralisir suasana, tak urung ikut menggoda. Bahkan si kembar Rani-Rano, yang masih es em pe pun, ikut-ikutan menceramahiku.

    ”Mbak Ajeng kan udah jadi insinyur, udah waktunya dong, mikirin berkeluarga. Lagian, Rani sama Rano kan udah pengen dipanggil ’Tante dan Oom’. Tika aja yang baru kelas enam, keponakannya udah empat!”

    ”Iya, Mbak. Jaman sekarang, perempuan itu harus agresif. Mbak Ajeng sih, kerjanya belajar ama ngaji melulu!” Rano menimpali kata-kata kembarnya.

    Aku hanya bisa melotot, nemu di mana lagi pendapat kayak gitu.

    ”Udah sana kalian belajar!” hardikku agak keras.

    ”Tuh, kaaaan?!?” seru mereka berdua kompak. Huhh, dasar kembar!

    ***

    ”Ajeng…!”

    Kudengar panggilan Mami dari depan. Pelan aku bangkit dari meja belajar. Setelah merapikan jilbab, aku keluar.

    ”Ada apa, Mi?” tanyaku lunak. Sekilas sempat kulihat sosok seorang lelaki, duduk di sudut ruangan.

    Kedua bola mata Mami tampak bersinar-sinar. Oo…Oo…! Pasti ada yang nggak beres, gumamku dalam hati. Iiih..su’udzon! Tapi…. Benar saja.

    “Ajeng, kenalin. Ini tangan kanan Papi di kantor. Hebat, ya! Masih muda sudah jadi Wakil Presiden Direktur. Ayo, kenalin dulu. Ini Nak Bui….”

    ”Boy, Tante!”

    ”Eh, iya. Boi!” Aku hanya bisa menahan geli. Mami…Mami…!

    Rasa geliku mendadak hilang, ketika selama dua jam berikutnya aku harus mendengarkan obrolan Mami dengan Si Boi tadi. Bukan main, lagaknya! Batinku menggerutu sendiri, mendengar cerita-ceritanya yang melulu berbau luar negeri.

    ”Jadi, Tante, selama belajar di Harvard, saya sudah coba-coba berbisnis sendiri. Hasilnya lumayan. Saya bisa jalan-jalan keliling Amerika, bahkan Eropa setiap kali holiday!”

    Hihhh, gemas aku! Terlebih melihat pancaran kagum di wajah Mami. Benar-benar nggak peka nih anak. Kok bisa sih nggak merasa dicuekin? Tetap aja ngomong. Tak perduli aku yang cuma diam dan sesekali manggut. Kupanjatkan syukur yang tak terkira ketika akhirnya Si Boi pulang.

    Alhamdulillah!

    ***

    Kulihat Bambang tertawa. Kesal, kulemparkan bantal ke arahnya. Orang cerita panjang lebar minta advise, kok cuma diketawain?!?

    ”Bang, serius, dong! Pokoknya kalau nanti Mami nanyain kamu soal Boy, awass kalau kamu setuju!” ancamku serius.

    Bambang masih cengar-cengir.

    ”Mbak Ajeng gimana, sih? Biasanya Mbak yang nyuruh aku sabar menghadapi segala sesuatu. Lho, kok sekarang malah panasan gini? Tenang aja, Mbak, sabar! Innallaha ma’ashshabirin!” balasnya sambil mengutip salah satu ayat di Al-Quran.

    Iya, ya. Kenapa aku jadi nggak sabaran gini. Baru juga ngadepin si Boy. Astaghfirullah!

    ”Mbak bingung, Bang! Habis serumah pada mojokin semua. Kamu ngerti, kan, milih suami itu nggak mudah. Nyari yang shalih sekarang susah. Mbak nggak pengen gambling. Salah-salah pilih, resikonya besar. Nggak main-main, dunia akhirat!” Sekejap, kulihat keseriusan di matanya. Cuma sekejap, sebelum ia kembali menggodaku.

    ”Apa perlu Bambang yang nyariin???!” Lemparan bantalku kembali melayang.

    ***

    Kriiiiing…!!!

    Ups, kumatikan bunyi weker yang membangunkanku. Jam tiga lebih seperempat. Aku bangun dari tempat tidur, bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu. Kuperhatikan lampu kamar Bambang masih menyala. Sayup-sayup suara kaset murattal terdengar. Tercapai juga niatnya untuk begadang malam ini, pikirku. Heran, kebiasaan menghadapi ujian dengan pola SKS (Sistem Kebut Semalam) masih membudaya rupanya.

    Cepat kuhapuskan pikiran tentang Bambang dan ujiannya. Mataku nanar menyaksikan pantulan wajahku di cermin. Kuhapus tetesan air wudhu yang tersisa dengan handuk kecil.

    Oooohh, begini rupanya gadis di penghujung usia dua puluh sembilan? Kuperhatikan bentuk wajahku yang makin tirus. Baru kusadari, betapa pucatnya wajah itu. Entah kemana perginya rona merah yang biasa hadir di sana. Mungkin hilang termakan usia. Ya Rabbi, pantas saja Papi dan Mami begitu khawatir. Sudah sulung mereka tak cantik, menjelang tua, lagi!

    ”Ir. Ajeng Prihartini.” Kueja namaku sendiri.

    ”Jangan cemas ya ukhti, ini bukan nasib buruk!” Bisikku menghibur. Bagaimana pun aku harus tetap tawakkal pada Allah. Jodoh, rizki, dan maut, Dia yang menentukan. Berjodoh di dunia bukanlah satu kepastian yang akan kita raih dalam hidup. Tidak, ada hal lain yang lebih penting, lebih pasti. Ada kematian, maut yang pasti kita hadapi. Sesuatu yang selama ini sering kuucapkan kepada saudaraku muslimah yang lain, ketika mereka ramai meresahkan calon suami yang tak kunjung datang.

    ”Sebetulnya kita ini lucu, ya? Lebih sering mempermasalahkan pernikahan, hal yang belum tentu terjadi. Maksud Ajeng, bergulirnya waktu dan usia, nggak seharusnya membuat kita lupa untuk berpikir positif terhadap Allah. Boleh jadi calon kita ini nggak buat di dunia, tapi disediakan di surga. Mungkin Allah ingin memberikan yang lebih baik, who knows?” ujarku optimis, dua tahun yang lalu.

    Astaghfirullah! Ishbiri ya ukhti, isbiri…. Tanganku masih menengadah, berdoa, saat kudengar azan Subuh berkumandang. Hari baru kembali hadir. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, untuk satu hari lagi kesempatan beramal dan taubat, yang masih Kau berikan.

    ***

    Selesai berurusan dengan Mami untuk masalah Boy, gantian aku harus menghadapi Tante Ida yang siap mempromosikan calonnya. Duhh! Lagi-lagi aku cuma bisa manggut-manggut.

    ”Tante sih terserah Ajeng. Pokoknya lihat aja dulu. Syukur-syukur Ajeng suka. Dia anak lurah. Bapaknya termasuk juragan kerbau yang paling kaya di Jawa. Tapi nggak kampungan, kok. Anak kuliahan juga seperti kamu!” promosi Tante Ida bersemangat.

    Dua hari kemudian, Tanteku itu kembali datang dengan ’balon’nya.

    ”Junaedi. Panggil aja Juned!” Aku hanya mengangguk. Tak membalas uluran tangan yang diajukannya. Selama pembicaraan berikutnya, berkali-kali aku harus menahan diri, untuk tidak lari ke dalam. Aku tidak ingin menyinggung perasaan Tante Ida. Apalagi beliau bermaksud baik. Hanya saja, asap rokok Juned benar-benar membuatku mual. Malah nggak berhenti-henti. Habis sebatang, sambung sebatang. Persis lokomotif uap jaman dulu! Dengan berani pula ia mengomentari penampilanku.

    ”Eng…jangan tersinggung ya, Jeng. Aku suka bingung sendiri ngeliat perempuan yang memakai kerudung. Kenapa sih tidak pintar-pintar memilih warna dan mode?! Aku kalau punya isteri, pasti tak suruh beli baju yang warna-warnanya cerah, menyala. Sekaligus yang bervariasi. Seperti yang dipakai artis-artis kita yang beragama Islam itu lho, sekarang. Ndak apa-apa toh sedikit kelihatan leher atau betis?! Maksudku biar tidak terlihat seperti karung berjalan gitu lho, Jeng! Hahaha….”

    Kontan raut mukaku berubah. Tanpa menunggu rokok keenamnya habis, aku mohon diri ke dalam. Tak lama kudengar suara Juned pamitan. Alhamdulillah. Ketika Tante Ida menanyakan pendapatku, hati-hati aku menjawab.

    ”Maaf ya, Tan…, rasanya Ajeng nggak sreg. Terutama asap rokoknya itu, lho. Soalnya Ajeng punya alergi sama asap rokok. Mana kelihatannya Juned perokok berat, lagi. Maaf ya, Tan…, udah ngerepotin.” Bayang kekecewaan tampak menghiasi raut muka Tante Ida.

    ”Bener, nih…nggak nyesel? Tante cuma berusaha bantu. Ajeng juga mesti memikirkan perasaan Mami sama Papi. Susah lho, nyari yang seperti Juned. Udah ganteng, dokterandes lagi! Terlebih kamu juga sudah cukup berumur.” Bujukan Tante Ida tak mampu menggoyahkanku.

    Dengan masih kecewa, beliau beranjak keluar. Sempat kudengar Tante Ida berbicara dengan Papi dan Mami. Sempat pula kudengar komentar-komentar mereka yang bernada kecewa, sedih.

    Ya Allah, kuatkan hamba-Mu! Hari berangsur malam. Aku masih di kamar, mematung. Beragam perasaan bermain di hatiku. Sementara itu, hujan turun rintik-rintik.

    ***

    Siang begitu terik. Langkahku lesu menghampiri rumah. Capek rasanya jalan setengah harian, dari satu perpustakaan ke perpustakaan IPB lainnya. Namun buku yang kucari belum juga ketemu. Padahal buku itu sangat kuperlukan untuk menghadapi ujian pasca sarjanaku sebentar lagi. Sia-sia harapanku untuk bisa beristirahat pulang ke Depok. Kereta yang kutumpangi benar-benar penuh. Sudah untung bisa berdiri tegak, dan tidak doyong ke sana ke mari, terdesak penumpang yang lain.

    ”Assalamu’alaikum!” perasaanku kembali tidak enak, melihat Mami yang tidak sendirian. Seorang lelaki berjeans, dengan sajadah di pundak, dan kopiah di kepala, tampak menemani beliau. Jangan…jangan….

    ”Wa’alaikumussalam. Nah, ini Ajengnya sudah pulang. Ajeng, sini sayang. Kenalkan, Saleh. Putera Pak Camat yang baru lulus dari pondok pesantren di Kalimantan. Kalian pasti bisa bekerja sama mengelola kegiatan masjid di sini. Lho, Ajeng…, kok malah diam? Maaf Nak Saleh, Ajeng memang pemalu orangnya.”

    Duhh, Mami! Kali ini Mami membiarkanku berdua dengan tamunya itu. Risih, kuminta Rani mendampingiku. Dia setuju setelah aku janji akan menemaninya mendengar ceramah di Wali Songo, pekan depan. Selama Saleh berbicara, aku menunduk terus. Bisa kurasakan pandangannya yang jelalatan ke arahku. Dengan gaya bahasa yang tinggi, Saleh bercerita tentang berbagai kitab berbahasa Arab yang telah dia kuasai. Bukan main. Lalu ia mulai membahas satu persatu perbedaan pendapat di kalangan umat Islam. Soal doa qunut, perbedaan doa iftitah, masalah posisi telunjuk ketika tahiyat, dan lain-lain yang senada. Terus terang, aku tidak begitu setuju dengan caranya. Betul bahwa semuanya harus kita ketahui. Tapi bagiku, dengan makin meributkannya, hanya akan memperuncing perbedaan yang ada. Cukuplah bahwa masing-masing berpegang pada sunnah Rasulullah. Tentunya akan lebih baik, jika kita justru berusaha mencari titik temu atau persamaan, dan bukan malah memperlebar jurang perbedaan.

    ”Kalau menurut Saleh, kasus Bosnia itu bagaimana?” tanyaku mengalihkan perhatian.

    ”Oooh, itu. Ane sangat tidak setuju. Menurut pendapat dan analisa ane, tidak seharusnya masalah Bosnia itu digembar-gemborkan. Itu akan membuat sikap tersebut kian membudaya. Sudah saatnya pola sikap ngebos, dan penghargaan masyarakat terhadap orang-orang yang punya kedudukan, diarahkan sewajarnya. Agar tidak berlebihan.” ulasnya panjang lebar. Gantian aku yang bingung.

    ”Saya…saya tidak paham apa yang Saleh maksudkan.” ujarku sedikit gagap.

    ”Kenapa? Apa karena bahasa yang ane gunakan terlalu tinggi atau bagaimana, hingga Ajeng sulit memahami?” Aku tambah melongo.

    ”Bukan itu, ini…, Bosnia yang mana, yang Saleh maksudkan?” tanyaku makin bingung.

    ”Lha, yang nanya kok malah bingung?! Yang ane bicarakan tadi ya tentang Bosnia, Boss-Mania, kan maksud Ajeng?!!” Ufh, kutahan tawa yang nyaris meledak.

    Bingung aku, ternyata masih saja ada orang yang meributkan hal-hal yang relatif lebih kecil, dan melupakan masalah lain yang lebih besar. Dari sudut mataku, kulihat Rani pringas-pringis menahan geli, sambil mempermainkan kerudung pink-nya. Lucu sekali.

    ”Bukan, yang Ajeng maksudkan adalah penindasan yang terjadi pada saudara-saudara muslim kita di Negara Bosnia.” aku berusaha menjelaskan dengan sabar. Tampak Saleh manggut-manggut.

    ”Ooooh, yang itu. Ya…jelas penindasan itu tidak bisa dibenarkan. Tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan keadilan,” ujar Saleh optimis, lalu….

    ”Ngomong-ngomong, Bosnia itu di mana, sih?” Tawa Rani meledak. Duhhh, Mami!!!

    ***

    Malamnya, waktu aku protes ke Mami, soal calon-calon itu, tanpa diduga, malah Mami yang marah.

    ”Lho, kamu itu gimana toh? Kata Bambang kamu maunya sama Saleh. Pas Mami temuin, kamu bilang bukan yang seperti itu yang kamu inginkan. Jadi sebenarnya, Saleh yang mana calon kamu itu?” suara Mami meninggi.

    Aku terhenyak. Bambang yang duduk di kursi makan tersenyum simpul. Awas, kamu de’! Bisikku gemas.

    ”Bukan yang namanya Saleh, Mi. Ajeng ingin orang yang saleh, yang taat beribadah. Orang yang punya pemahaman paling tidak mendekati menyeluruhlah, tentang Islam. Yang Islamnya nggak cuma teori, tapi ada bukti. Yang nggak jelalatan memandang Ajeng terus-terusan dari ujung jilbab sampai kaos kaki, seperti hendak menawar barang dagangan. Ajeng tahu, usia Ajeng sudah jauh dari cukup. Ajeng juga pengen segera menikah. Perempuan mana sih, yang tidak ingin berkeluarga, dan punya anak?” lanjutku hampir menangis.

    ”Tapi…, tolong. Jangan menyudutkan Ajeng. Tolong Mami bantu Ajeng agar bisa tetap sabar, tetap tawakkal sama Allah. Kita memang harus berusaha, tapi jangan memaksakan diri. Biar Ajeng mesti nunggu sampai tua, Ajeng siap. Daripada bersuamikan orang yang akhlaknya tidak Islami. Tolong Ajeng, Mi…tolong!” Kusaksikan mata Mami berkaca-kaca.

    Diraihnya aku ke dalam pelukannya. Berdua kami berisakan. Papi turut menghampiri, menepuk-nepuk pundakku. Rani dan Reno terdiam di kursinya.

    ”Maafin Mami, sayang….” suara Mami lirih, memelukku makin erat.

    ***

    Kesibukanku menulis diary terhenti.

    ”Mbak Ajeng…telepon tuh!” pekik Rano keras.

    ”Dari siapa? Kalau dari Anto Boy, Didin, Juned, atau Saleh, Mbak nggak mau terima!” balasku agak keras.

    Hening, tidak ada panggilan lanjutan dari Rano. Aku lega. Alhamdulillah, sejak kejadian malam itu, perlahan topik trend kami bergeser. Mami tidak lagi menyodorkan calon-calonnya, sebelum menanyakan kesediaanku. Beberapa Oom dan Tante yang datang, harus pulang dengan kecewa karena promosi dibatalkan. Aku masih ingin menenangkan diri dulu. Kuraih pena. Dengan hati seringan kapas, aku mulai menulis:

    Kepada Calon Suamiku….

    Usiaku hari ini bertambah setahun lagi. Tiga puluh tahun sudah.

    Alhamdulillah.

    Kuharap, tahun-tahun yang berlalu, meski memudarkan keremajaanku, namun tidak akan pernah memudarkan ghirah Islamiah yang ada. Mudah-mudahan aku bisa tetap istiqamah di jalan-Nya. Ujian pasca sarjanaku sudah selesai. Sebentar lagi, satu embel-embel gelar kembali menghiasi namaku. Belum lama ini aku juga mengambil kursus jahit dan memasak. Dengan besar hati pula, Mami mesti mengakui, bahwa kemahirannya di dapur, kini sudah tersaingi.

    Alhamdulillah, sekarang aku lebih bisa berkonsentrasi untuk menulis, dan memberikan berbagai ceramah di beberapa kampus dan masjid. Baru sedikit itulah, yang bisa kulakukan sebagai perwujudan syukurku atas nikmat-Nya yang tak terhitung.

    Calon suamiku….

    Aku maklum, bila sampai detik ini kau belum juga hadir. Permasalahan yang menimpa kaum muslimin begitu banyak. Kesemuanya membentuk satu daftar panjang dalam agenda kita. Aku yakin ketidakhadiranmu semata-mata karena kesibukan dakwah yang ada. Satu kerja mulia, yang hanya sedikit orang terpanggil untuk ikut merasa bertanggung jawab. Insya Allah, hal itu akan membuat penantian ini seakan tidak pernah ada.

    Calon suamiku….

    Namun jika engkau memang disediakan untukku di dunia ini, bila kau sudah siap untuk menambah satu amanah lagi dalam kehidupan ini, yang akan menjadi nilai plus di hadapan Allah (semoga), maka datanglah. Tak usah kau cemaskan soal kuliah yang belum selesai, atau pekerjaan yang masih sambilan. Insya Allah, iman akan menjawab segalanya. Percayakan semuanya pada Allah. Jika Dia senantiasa memberikan rizki, padahal kita tidak dalam keadaan jihad di jalan-Nya, lalu bagaimana mungkin Allah akan menelantarkan kita, sedangkan kita senantiasa berjihad di sabil-Nya?! Banyaklah berdoa, Calon Suamiku, di manapun engkau berada. Insya Allah, doaku selalu menyertai usahamu.

    Wassalam, Adinda

    NB: Ngomong-ngomong, nama kamu siapa, sih?

    ”Syahril… Nama saya Syahril.”

    Deg!

    Aku tersentak. Pena yang kugenggam jatuh. Rasa-rasanya kudengar satu suara. Sedikit berjingkat, aku melangkah ke depan. Sebelum aku sempat menyibak tirai yang membatasi ruang makan dengan ruang tamu, kudengar suara Papi memanggilku.

    ”Ajeng…!” Hampir aku terjatuh, saking tergesanya menghampiri beliau. Sekilas mataku menyapu bayangan seorang lelaki berkaca mata, yang berdiri tak jauh dari Papi, dengan wajah tertunduk, rapat ke dada. Di belakangnya, Bambang berdiri dengan senyum khasnya.

    ”Nah, Nak Syahril, kenalkan, ini yang namanya Ajeng. Puteri sulung Oom. Lho, kok malah nunduk?” suara ngebas Papi kembali terdengar. Aku menoleh sesaat, yang dipanggil Syahril tetap menunduk.

    ”Ayo, salaman. Ini lho, Jeng…puteranya Mas Wismoyo, sahabat Papi sejak jaman revolusi dulu, sekaligus Ass Dos-nya Bambang di FISIP. Baru lulus ya Nak?” Syahril mengangguk. Tapi, tetap tak ada uluran tangan.

    ”Assalamu’alaikum, Ajeng. Saya Syahril.” Masya Allah! Aku masih melongo, terpana.

    “Insya Allah, hari ini saya akan berta’aruf dengan Ajeng. Kalau Ajeng setuju, khitbahnya bisa dilaksanakan besok. Sesudah itu…mudah-mudahan kita bisa jihad bareng….”

    Agak samar kudengar kalimatnya yang terakhir. Kulihat Papi tersenyum lebar, melirikku.

    ”Apa, Jeng …..khitbah? Ngelamar, ya…??”

    Aku mengangguk pendek, tersipu. Tawa Papi makin lebar. Aku masih terpana. Masya Allah, calon suamiku…eng…engng…ups, apakah…apakah…ini, kamu??? *

    ***

    Pemenang Harapan I LMCPI Annida.

    Sumber : Majalah Annida, No. 12 1415 H/1994 M

     
    • annisa 2:55 pm on 11 Mei 2011 Permalink

      walaupun hanya cerita.. tetapi kenyataannya banyak muslimah yang kesulitan mencari pendamping yang mempunyai tujuan yang sama..para ikwan,
      karena sedikitnya jumlah remaja putra yang rajin mencari ilmu agama.. so.solusinya..? tingkatkan kegiatan Rohis di sekolah dan Universitas dan buat kegiatan yang menarik..

    • sylvia 8:06 am on 12 Mei 2011 Permalink

      Subhanallah..mantap ceritanya :D

    • asfi 6:57 am on 28 Mei 2011 Permalink

      ceritanya nyentuh banget…..

    • asha gusti 7:17 am on 4 November 2011 Permalink

      ceritanya menyentuh sekali…..

  • erva kurniawan 1:37 am on 4 May 2011 Permalink | Balas  

    Cegah Kanker pada Anak Sejak Dalam Kandungan 

    Pertumbuhan sel kanker dalam tubuh anak ternyata bisa dicegah sejak dalam kandungan. Sebuah laporan medis terbaru memberikan informasi tentang penyebab kanker, terutama pada anak. Yaitu, berkaitan dengan risiko dan kebiasaan, baik ayah maupun ibu, bahkan sebelum pembuahan.

    Tanda-tanda genetik bisa meningkatkan risiko kanker muncul pada telur dan dibawa melalui perkembangan janin hingga lahir. “Risiko seseorang mengalami kanker bisa dicegah bahkan sebelum terjadinya pembuahan. Faktor risiko ini sudah ada dalam sel telur ibu,” kata profesor Ricardo Uauy, penasihat kesehatan PBB dan WHO, seperti dikutip dari Bable.com.

    Risiko yang ada sebenarnya bisa dikurangi jika calon ibu menerapkan dengan kebiasaan hidup sehat. Untuk mengurangi risiko terjadinya kanker pada bayi atau anak ada tiga langkah yang bisa dilakukan para calon ibu.

    1. Berhenti merokok

    Asap rokok satu dari sekian banyak penyebab utama kanker yang hampir sepenuhnya berada dalam kontrol baik calon ibu maupun calon ayah. Sebenarnya, jika ingin memiliki bayi sehat dan kehamilan tidak bermasalah, bukan hanya calon ibu yang harus berhenti merokok tetapi juga calon ayah. Cukup sulit memang, terutama jika calon ayah perokok berat, tetapi setidaknya harus diusahakan.

    2. Kurangi konsumsi makanan kaleng

    Kaleng mengandung Bisphenol A dan bahan kimia lain yang bisa luluh ke dalam makanan. Hal ini bisa menjadi pencetus perkembangan sel kanker. Makanan kaleng juga ada yang belum terlalu matang dan mengandung lebih sedikit nutrisi daripada makanan segar atau beku.

    3. Pilih bahan makanan bebas pestisida

    Sayuran segar mengandung senyawa antioksidan dan zat anti-kanker lainnya. Sayuran seperti brokoli, bunga kol, kubis, kecambah dianggap pelawan zat kanker yang cukup kuat. Banyak sayuran memiliki tingkat pestisida yang rendah atau tanpa pestisida.

    Tumbuhan yang terpapar pestisida biasanya ditandai dengan banyak lubang di daun karena serangga pemakan tumbuhan bisa hidup di daun dan batang. Untuk itu, pintar-pintarlah dalam memilih buah dan sayuran.

    ***

    VIVAnews, By Petti Lubis, Mutia Nugraheni – Kamis, 23 September

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 3 May 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Di Atas Sajadah Cinta 

    CERPEN: Di Atas Sajadah Cinta

    Penulis: Habiburrahman El Shirazy

    KOTA KUFAH terang oleh sinar purnama. Semilir angin yang bertiup dari utara membawa hawa sejuk. Sebagian rumah telah menutup pintu dan jendelanya. Namun geliat hidup kota Kufah masih terasa.

    Di serambi masjid Kufah, seorang pemuda berdiri tegap menghadap kiblat. Kedua matanya memandang teguh ke tempat sujud. Bibirnya bergetar melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Hati dan seluruh gelegak jiwanya menyatu dengan Tuhan, Pencipta alam semesta. Orang-orang memanggilnya “Zahid” atau “Si Ahli Zuhud”, karena kezuhudannya meskipun ia masih muda. Dia dikenal masyarakat sebagai pemuda yang paling tampan dan paling mencintai masjid di kota Kufah pada masanya. Sebagian besar waktunya ia habiskan di dalam masjid, untuk ibadah dan menuntut ilmu pada ulama terkemuka kota Kufah. Saat itu masjid adalah pusat peradaban, pusat pendidikan, pusat informasi dan pusat perhatian.

    Pemuda itu terus larut dalam samudera ayat Ilahi. Setiap kali sampai pada ayat-ayat azab, tubuh pemuda itu bergetar hebat. Air matanya mengalir deras. Neraka bagaikan menyala-nyala dihadapannya. Namun jika ia sampai pada ayat-ayat nikmat dan surga, embun sejuk dari langit terasa bagai mengguyur sekujur tubuhnya. Ia merasakan kesejukan dan kebahagiaan. Ia bagai mencium aroma wangi para bidadari yang suci.

    Tatkala sampai pada surat Asy Syams, ia menangis,

    “fa alhamaha fujuuraha wa taqwaaha. qad aflaha man zakkaaha. wa qad khaaba man dassaaha …” (maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaan, sesungguhnya, beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya …)

    Hatinya bertanya-tanya. Apakah dia termasuk golongan yang mensucikan jiwanya. Ataukah golongan yang mengotori jiwanya? Dia termasuk golongan yang beruntung, ataukah yang merugi?

    Ayat itu ia ulang berkali-kali. Hatinya bergetar hebat. Tubuhnya berguncang. Akhirnya ia pingsan.

    ***

    Sementara itu, di pinggir kota tampak sebuah rumah mewah bagai istana. Lampu-lampu yang menyala dari kejauhan tampak berkerlap-kerlip bagai bintang gemintang. Rumah itu milik seorang saudagar kaya yang memiliki kebun kurma yang luas dan hewan ternak yang tak terhitung jumlahnya.

    Dalam salah satu kamarnya, tampak seorang gadis jelita sedang menari-nari riang gembira. Wajahnya yang putih susu tampak kemerahan terkena sinar yang terpancar bagai tiga lentera yang menerangi ruangan itu. Kecantikannya sungguh memesona. Gadis itu terus menari sambil mendendangkan syair-syair cinta,

    “in kuntu ‘asyiqatul lail fa ka’si musyriqun bi dhau’ wal hubb al wariq …” (jika aku pencinta malam maka gelasku memancarkan cahaya dan cinta yang mekar …)

    ***

    Gadis itu terus menari-nari dengan riangnya. Hatinya berbunga-bunga. Di ruangan tengah, kedua orangtuanya menyungging senyum mendengar syair yang didendangkan putrinya. Sang ibu berkata, “Abu Afirah, putri kita sudah menginjak dewasa. Kau dengarkanlah baik-baik syair-syair yang ia dendangkan.”

    “Ya, itu syair-syair cinta. Memang sudah saatnya dia menikah. Kebetulan tadi siang di pasar aku berjumpa dengan Abu Yasir. Dia melamar Afirah untuk putranya, Yasir.”

    “Bagaimana, kau terima atau…?”

    “Ya jelas langsung aku terima. Dia ‘kan masih kerabat sendiri dan kita banyak berhutang budi padanya. Dialah yang dulu menolong kita waktu kesusahan. Di samping itu Yasir itu gagah dan tampan.”

    “Tapi bukankah lebih baik kalau minta pendapat Afirah dulu?”

    “Tak perlu! Kita tidak ada pilihan kecuali menerima pinangan ayah Yasir. Pemuda yang paling cocok untuk Afirah adalah Yasir.”

    “Tapi, engkau tentu tahu bahwa Yasir itu pemuda yang tidak baik.”

    “Ah, itu gampang. Nanti jika sudah beristri Afirah, dia pasti juga akan tobat! Yang penting dia kaya raya.”

    ***

    Pada saat yang sama, di sebuah tenda mewah, tak jauh dari pasar Kufah. Seorang pemuda tampan dikelilingi oleh teman-temannya. Tak jauh darinya seorang penari melenggak lenggokan tubuhnya diiringi suara gendang dan seruling.

    “Ayo bangun, Yasir. Penari itu mengerlingkan matanya padamu!” bisik temannya.

    “Be…benarkah?”

    “Benar. Ayo cepatlah. Dia penari tercantik kota ini. Jangan kau sia-siakan kesempatan ini, Yasir!”

    “Baiklah. Bersenang-senang dengannya memang impianku.”

    Yasir lalu bangkit dari duduknya dan beranjak menghampiri sang penari. Sang penari mengulurkan tangan kanannya dan Yasir menyambutnya. Keduanya lalu menari-nari diiringi irama seruling dan gendang. Keduanya benar-benar hanyut dalam kelenaan. Dengan gerakan mesra penari itu membisikkan sesuatu ketelinga Yasir,

    “Apakah Anda punya waktu malam ini bersamaku?” Yasir tersenyum dan menganggukan kepalanya. Keduanya terus menari dan menari. Suara gendang memecah hati. Irama seruling melengking-lengking. Aroma arak menyengat nurani. Hati dan pikiran jadi mati.

    ***

    Keesokan harinya.

    Usai shalat dhuha, Zahid meninggalkan masjid menuju ke pinggir kota. Ia hendak menjenguk saudaranya yang sakit. Ia berjalan dengan hati terus berzikir membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Ia sempatkan ke pasar sebentar untuk membeli anggur dan apel buat saudaranya yang sakit.

    Zahid berjalan melewati kebun kurma yang luas. Saudaranya pernah bercerita bahwa kebun itu milik saudagar kaya, Abu Afirah. Ia terus melangkah menapaki jalan yang membelah kebun kurma itu. Tiba-tiba dari kejauhan ia melihat titik hitam. Ia terus berjalan dan titik hitam itu semakin membesar dan mendekat. Matanya lalu menangkap di kejauhan sana perlahan bayangan itu menjadi seorang sedang menunggang kuda. Lalu sayup-sayup telinganya menangkap suara,

    “Toloong! Toloong!!”

    Suara itu datang dari arah penunggang kuda yang ada jauh di depannya. Ia menghentikan langkahnya. Penunggang kuda itu semakin jelas.

    “Toloong! Toloong!!”

    Suara itu semakin jelas terdengar. Suara seorang perempuan. Dan matanya dengan jelas bisa menangkap penunggang kuda itu adalah seorang perempuan. Kuda itu berlari kencang.

    “Toloong! Toloong hentikan kudaku ini! Ia tidak bisa dikendalikan!”

    Mendengar itu Zahid tegang. Apa yang harus ia perbuat. Sementara kuda itu semakin dekat dan tinggal beberapa belas meter di depannya. Cepat-cepat ia menenangkan diri dan membaca shalawat. Ia berdiri tegap di tengah jalan. Tatkala kuda itu sudah sangat dekat ia mengangkat tangan kanannya dan berkata keras,

    “Hai kuda makhluk Allah, berhentilah dengan izin Allah!”

    Bagai pasukan mendengar perintah panglimanya, kuda itu meringkik dan berhenti seketika. Perempuan yang ada dipunggungnya terpelanting jatuh. Perempuan itu mengaduh. Zahid mendekati perempuan itu dan menyapanya,

    “Assalamu’alaiki. Kau tidak apa-apa?”

    Perempuan itu mengaduh. Mukanya tertutup cadar hitam. Dua matanya yang bening menatap Zahid. Dengan sedikit merintih ia menjawab pelan,

    “Alhamdulillah, tidak apa-apa. Hanya saja tangan kananku sakit sekali. Mungkin terkilir saat jatuh.”

    “Syukurlah kalau begitu.”

    Dua mata bening di balik cadar itu terus memandangi wajah tampan Zahid. Menyadari hal itu Zahid menundukkan pandangannya ke tanah. Perempuan itu perlahan bangkit. Tanpa sepengetahuan Zahid, ia membuka cadarnya. Dan tampaklah wajah cantik nan memesona,

    “Tuan, saya ucapkan terima kasih. Kalau boleh tahu siapa nama Tuan, dari mana dan mau ke mana Tuan?”

    Zahid mengangkat mukanya. Tak ayal matanya menatap wajah putih bersih memesona. Hatinya bergetar hebat. Syaraf dan ototnya terasa dingin semua. Inilah untuk pertama kalinya ia menatap wajah gadis jelita dari jarak yang sangat dekat. Sesaat lamanya keduanya beradu pandang. Sang gadis terpesona oleh ketampanan Zahid, sementara gemuruh hati Zahid tak kalah hebatnya. Gadis itu tersenyum dengan pipi merah merona, Zahid tersadar, ia cepat-cepat menundukkan kepalanya. “Innalillah. Astagfirullah,” gemuruh hatinya.

    “Namaku Zahid, aku dari masjid mau mengunjungi saudaraku yang sakit.”

    “Jadi, kaukah Zahid yang sering dibicarakan orang itu? Yang hidupnya cuma di dalam masjid?”

    “Tak tahulah. Itu mungkin Zahid yang lain.” kata Zahid sambil membalikkan badan. Ia lalu melangkah.

    “Tunggu dulu Tuan Zahid! Kenapa tergesa-gesa? Kau mau kemana? Perbincangan kita belum selesai!”

    “Aku mau melanjutkan perjalananku!”

    Tiba-tiba gadis itu berlari dan berdiri di hadapan Zahid. Terang saja Zahid gelagapan. Hatinya bergetar hebat menatap aura kecantikan gadis yang ada di depannya. Seumur hidup ia belum pernah menghadapi situasi seperti ini.

    “Tuan aku hanya mau bilang, namaku Afirah. Kebun ini milik ayahku. Dan rumahku ada di sebelah selatan kebun ini. Jika kau mau silakan datang ke rumahku. Ayah pasti akan senang dengan kehadiranmu. Dan sebagai ucapan terima kasih aku mau menghadiahkan ini.”

    Gadis itu lalu mengulurkan tangannya memberi sapu tangan hijau muda. “Tidak usah.”

    “Terimalah, tidak apa-apa! Kalau tidak Tuan terima, aku tidak akan memberi jalan!”

    Terpaksa Zahid menerima sapu tangan itu. Gadis itu lalu minggir sambil menutup kembali mukanya dengan cadar. Zahid melangkahkan kedua kakinya melanjutkan perjalanan.

    ***

    Saat malam datang membentangkan jubah hitamnya, kota Kufah kembali diterangi sinar rembulan. Angin sejuk dari utara semilir mengalir.

    Afirah terpekur di kamarnya. Matanya berkaca-kaca. Hatinya basah. Pikirannya bingung. Apa yang menimpa dirinya. Sejak kejadian tadi pagi di kebun kurma hatinya terasa gundah. Wajah bersih Zahid bagai tak hilang dari pelupuk matanya. Pandangan matanya yang teduh menunduk membuat hatinya sedemikian terpikat. Pembicaraan orang-orang tentang kesalehan seorang pemuda di tengah kota bernama Zahid semakin membuat hatinya tertawan. Tadi pagi ia menatap wajahnya dan mendengarkan tutur suaranya. Ia juga menyaksikan wibawanya. Tiba-tiba air matanya mengalir deras. Hatinya merasakan aliran kesejukan dan kegembiraan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dalam hati ia berkata,

    “Inikah cinta? Beginikah rasanya? Terasa hangat mengaliri syaraf. Juga terasa sejuk di dalam hati. Ya Rabbi, tak aku pungkiri aku jatuh hati pada hamba-Mu yang bernama Zahid. Dan inilah untuk pertama kalinya aku terpesona pada seorang pemuda. Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta. Ya Rabbi, izinkanlah aku mencintainya.”

    Air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Ia teringat sapu tangan yang ia berikan pada Zahid. Tiba-tiba ia tersenyum,

    “Ah sapu tanganku ada padanya. Ia pasti juga mencintaiku. Suatu hari ia akan datang kemari.”

    Hatinya berbunga-bunga. Wajah yang tampan bercahaya dan bermata teduh itu hadir di pelupuk matanya.

    ***

    Sementara itu di dalam masjid Kufah tampak Zahid yang sedang menangis di sebelah kanan mimbar. Ia menangisi hilangnya kekhusyukan hatinya dalam shalat. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Sejak ia bertemu dengan Afirah di kebun kurma tadi pagi ia tidak bisa mengendalikan gelora hatinya. Aura kecantikan Afirah bercokol dan mengakar sedemikian kuat dalam relung-relung hatinya. Aura itu selalu melintas dalam shalat, baca Al-Quran dan dalam apa saja yang ia kerjakan. Ia telah mencoba berulang kali menepis jauh-jauh aura pesona Afirah dengan melakukan shalat sekhusyu’-khusyu’-nya namun usaha itu sia-sia.

    “Ilahi, kasihanilah hamba-Mu yang lemah ini. Engkau Mahatahu atas apa yang menimpa diriku. Aku tak ingin kehilangan cinta-Mu. Namun Engkau juga tahu, hatiku ini tak mampu mengusir pesona kecantikan seorang makhluk yang Engkau ciptakan. Saat ini hamba sangat lemah berhadapan dengan daya tarik wajah dan suaranya Ilahi, berilah padaku cawan kesejukan untuk meletakkan embun-embun cinta yang menetes-netes dalam dinding hatiku ini. Ilahi, tuntunlah langkahku pada garis takdir yang paling Engkau ridhai. Aku serahkan hidup matiku untuk-Mu.” Isak Zahid mengharu biru pada Tuhan Sang Pencipta hati, cinta, dan segala keindahan semesta.

    Zahid terus meratap dan mengiba. Hatinya yang dipenuhi gelora cinta terus ia paksa untuk menepis noda-noda nafsu. Anehnya, semakin ia meratap embun-embun cinta itu semakin deras mengalir. Rasa cintanya pada Tuhan. Rasa takut akan azab-Nya. Rasa cinta dan rindu-Nya pada Afirah. Dan rasa tidak ingin kehilangannya. Semua bercampur dan mengalir sedemikian hebat dalam relung hatinya. Dalam puncak munajatnya ia pingsan.

    Menjelang subuh, ia terbangun. Ia tersentak kaget. Ia belom shalat tahajjud. Beberapa orang tampak tengah asyik beribadah bercengkerama dengan Tuhannya. Ia menangis, ia menyesal. Biasanya ia sudah membaca dua juz dalam shalatnya.

    “Ilahi, jangan kau gantikan bidadariku di surga dengan bidadari dunia. Ilahi, hamba lemah maka berilah kekuatan!”

    Ia lalu bangkit, wudhu, dan shalat tahajjud. Di dalam sujudnya ia berdoa,

    “Ilahi, hamba mohon ridha-Mu dan surga. Amin. Ilahi lindungi hamba dari murkamu dan neraka. Amin. Ilahi, jika boleh hamba titipkan rasa cinta hamba pada Afirah pada-Mu, hamba terlalu lemah untuk menanggung-Nya. Amin. Ilahi, hamba memohon ampunan-Mu, rahmat-Mu, cinta-Mu, dan ridha-Mu. Amin.”

    ***

    Pagi hari, usai shalat dhuha Zahid berjalan ke arah pinggir kota. Tujuannya jelas yaitu melamar Afirah. Hatinya mantap untuk melamarnya. Di sana ia disambut dengan baik oleh kedua orangtua Afirah. Mereka sangat senang dengan kunjungan Zahid yang sudah terkenal ketakwaannya di seantero penjuru kota. Afiah keluar sekejab untuk membawa minuman lalu kembali ke dalam. Dari balik tirai ia mendengarkan dengan seksama pembicaraan Zahid dengan ayahnya. Zahid mengutarakan maksud kedatangannya, yaitu melamar Afirah.

    Sang ayah diam sesaat. Ia mengambil nafas panjang. Sementara Afirah menanti dengan seksama jawaban ayahnya. Keheningan mencekam sesaat lamanya. Zahid menundukkan kepala ia pasrah dengan jawaban yang akan diterimanya. Lalu terdengarlah jawaban ayah Afirah,

    “Anakku Zahid, kau datang terlambat. Maafkan aku, Afirah sudah dilamar Abu Yasir untuk putranya Yasir beberapa hari yang lalu, dan aku telah menerimanya.”

    Zahid hanya mampu menganggukan kepala. Ia sudah mengerti dengan baik apa yang didengarnya. Ia tidak bisa menyembunyikan irisan kepedihan hatinya. Ia mohon diri dengan mata berkaca-kaca. Sementara Afirah, lebih tragis keadaannya. Jantungnya nyaris pecah mendengarnya. Kedua kakinya seperti lumpuh seketika. Ia pun pingsan saat itu juga.

    ***

    Zahid kembali ke masjid dengan kesedihan tak terkira. Keimanan dan ketakwaan Zahid ternyata tidak mampu mengusir rasa cintanya pada Afirah. Apa yang ia dengar dari ayah Afirah membuat nestapa jiwanya. Ia pun jatuh sakit. Suhu badannya sangat panas. Berkali-kali ia pingsan. Ketika keadaannya kritis seorang jamaah membawa dan merawatnya di rumahnya. Ia sering mengigau. Dari bibirnya terucap kalimat tasbih, tahlil, istigfhar dan … Afirah.

    Kabar tentang derita yang dialami Zahid ini tersebar ke seantero kota Kufah. Angin pun meniupkan kabar ini ke telinga Afirah. Rasa cinta Afirah yang tak kalah besarnya membuatnya menulis sebuah surat pendek,

    =======================================

    Kepada Zahid,

    Assalamu’alaikum

    Aku telah mendengar betapa dalam rasa cintamu padaku. Rasa cinta itulah yang membuatmu sakit dan menderita saat ini. Aku tahu kau selalu menyebut diriku dalam mimpi dan sadarmu. Tak bisa kuingkari, aku pun mengalami hal yang sama. Kaulah cintaku yang pertama. Dan kuingin kaulah pendamping hidupku selama-lamanya. Zahid, Kalau kau mau. Aku tawarkan dua hal padamu untuk mengobati rasa haus kita berdua. Pertama, aku akan datang ke tempatmu dan kita bisa memadu cinta. Atau kau datanglah ke kamarku, akan aku tunjukkan jalan dan waktunya.

    Wassalam Afirah

    =======================================

    Surat itu ia titipkan pada seorang pembantu setianya yang bisa dipercaya. Ia berpesan agar surat itu langsung sampai ke tangan Zahid. Tidak boleh ada orang ketiga yang membacanya. Dan meminta jawaban Zahid saat itu juga.

    Hari itu juga surat Afirah sampai ke tangan Zahid. Dengan hati berbunga-bunga Zahid menerima surat itu dan membacanya. Setelah tahu isinya seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ia menarik nafas panjang dan beristighfar sebanyak-banyaknya. Dengan berlinang air mata ia menulis untuk Afirah :

    =======================================

    Kepada Afirah,

    Salamullahi’alaiki,

    Benar aku sangat mencintaimu. Namun sakit dan deritaku ini tidaklah semata-mata karena rasa cintaku padamu. Sakitku ini karena aku menginginkan sebuah cinta suci yang mendatangkan pahala dan diridhai Allah ‘Azza Wa Jalla’. Inilah yang kudamba. Dan aku ingin mendamba yang sama. Bukan sebuah cinta yang menyeret kepada kenistaan dosa dan murka-Nya. Afirah, Kedua tawaranmu itu tak ada yang kuterima. Aku ingin mengobati kehausan jiwa ini dengan secangkir air cinta dari surga. Bukan air timah dari neraka. Afirah, “Inni akhaafu in ‘ashaitu Rabbi adzaaba yaumin ‘adhim!” ( Sesungguhnya aku takut akan siksa hari yang besar jika aku durhaka pada Rabb-ku. Az Zumar : 13 ) Afirah, Jika kita terus bertakwa. Allah akan memberikan jalan keluar. Tak ada yang bisa aku lakukan saat ini kecuali menangis pada-Nya. Tidak mudah meraih cinta berbuah pahala. Namun aku sangat yakin dengan firmannya : “Wanita-wanita yang tidak baik adalah untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah buat wanita-wanita yang tidak baik (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka. Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (yaitu surga).” Karena aku ingin mendapatkan seorang bidadari yang suci dan baik maka aku akan berusaha kesucian dan kebaikan. Selanjutnya Allahlah yang menentukan. Afirah, Bersama surat ini aku sertakan sorbanku, semoga bisa jadi pelipur lara dan rindumu. Hanya kepada Allah kita serahkan hidup dan mati kita.

    Wassalam, Zahid

    =======================================

    Begitu membaca jawaban Zahid itu Afirah menangis. Ia menangis bukan karena kecewa tapi menangis karena menemukan sesuatu yang sangat berharga, yaitu hidayah. Pertemuan dan percintaannya dengan seorang pemuda saleh bernama Zahid itu telah mengubah jalan hidupnya.

    Sejak itu ia menanggalkan semua gaya hidupnya yang glamor. Ia berpaling dari dunia dan menghadapkan wajahnya sepenuhnya untuk akhirat. Sorban putih pemberian Zahid ia jadikan sajadah, tempat dimana ia bersujud, dan menangis di tengah malam memohon ampunan dan rahmat Allah SWT. Siang ia puasa malam ia habiskan dengan bermunajat pada Tuhannya. Di atas sajadah putih ia menemukan cinta yang lebih agung dan lebih indah, yaitu cinta kepada Allah SWT. Hal yang sama juga dilakukan Zahid di masjid Kufah. Keduanya benar-benar larut dalam samudera cinta kepada Allah SWT.

    Allah Maha Rahman dan Rahim. Beberapa bulan kemudian Zahid menerima sepucuk surat dari Afirah :

    =======================================

    Kepada Zahid,

    Assalamu’alaikum,

    Segala puji bagi Allah, Dialah Tuhan yang memberi jalan keluar hamba-Nya yang bertakwa. Hari ini ayahku memutuskan tali pertunanganku dengan Yasir. Beliau telah terbuka hatinya. Cepatlah kau datang melamarku. Dan kita laksanakan pernikahan mengikuti sunnah Rasululullah SAW. Secepatnya.

    Wassalam, Afirah

    =======================================

    Seketika itu Zahid sujud syukur di mihrab masjid Kufah. Bunga-bunga cinta bermekaran dalam hatinya. Tiada henti bibirnya mengucapkan hamdalah.

    ***

    Diambil dari buku dengan judul yang sama karya Habiburrahman El Shirazy.

    Penerbit: 1. Penerbit Republika 2. Pesantren Basmala Indonesia 3. MD Entertainment Cetakan VII, Juni 2006

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 2 May 2011 Permalink | Balas  

    Syaitan, Sepak Terjangnya dan Kiat Menyelamatkan Diri Dari Tipu Dayanya 

    Syaitan, Sepak Terjangnya dan Kiat Menyelamatkan Diri Dari Tipu Dayanya

    Penulis: Ustad Afifi Abdul Wadud (Makalah Studi Islam Intensif 2005 Mushola Teknik UGM)

    Syaitan, sampai hari kiamat akan selalu menggoda bani Adam. Bahkan Alloh subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan manusia untuk menjadikannya sebagai musuh. Tulisan berikut (yang aslinya merupakan makalah kegiatan Studi Islam Intensif) akan membahas tentang makar yang diperbuat oleh syaitan dalam menggelincirkan manusia ke dalam jurang kebinasaan. Semoga Alloh melindungi kita dari setiap godaan syaitan…

    Pergolakan Sepanjang Zaman Pergolakan antara iblis dan bani Adam terus berlangsung hingga terbitnya matahari dari sebelah barat. Sudah tak terhitung korban yang berjatuhan dan terus akan menunggu giliran siapa saja yang tidak waspada. Dendam kesumat iblis terhadap bani Adam membuat dia terus memasang ranjau-ranjau penjerat, seakan tak akan melepaskan buruannya. Itulah yang menjadi sumpah serapahnya, Alloh berfirman: “Iblis berkata,’Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya” (QS. Al Hijr: 39)

    Syubhat dan Syahwat, Ranjau yang Paling Berbahaya Syubhat dan syahwat senjata bermata dua yang telah membinasakan komunitas bani Adam. Dan inilah yang telah dibenarkan Alloh subhanahu wa ta’ala “Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman” (QS. Saba’: 20)

    Dengan syubhat, iblis akan merusak pikiran manusia sehingga kabur dalam memandang kebenaran. Dengan syahwat, iblis akan merusak hati manusia, sehingga sulit mewujudkan amal saleh yang penuh dengan keikhlasan. Keduanya bertemu dalam satu titik kesamaan yaitu mengekor dan mengagungkan hawa nafsu.

    Alloh berfirman: “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Alloh membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Alloh telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya ? Maka siapakah yang akan memberikannya petunjuk sesudah Alloh (membiarkannya sesat) . Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran” (QS. Al Jaatsiyah: 23)

    Korban pertama adalah Adam ‘alaihi salam, dengan jeratan syubhat yang bernuansa syahwat, “Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, ‘Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan pernah binasa ?” (Thahaa: 120)

    Dan akan terus membidik sasaran-sasaran berikutnya dari bani Adam. Coba perhatikan hadits di bawah ini, betapa berbahayanya hawa nafsu bila telah menjalar di hati manusia.

    “Dan akan muncul di tengah-tengah umat ini beberapa kaum yang hawa nafsu meresap di tubuh mereka sebagaimana virus rabies menjalar di tubuh penderitanya. Tidak tersisa urat dan persendian kecuali sudah dijalarinya” (HR. Abu Dawud, Ahmad, Ad Darimi, Al Haakim dan disahihkan oleh Al Albani)

    Hadits ini merupakan penggalan hadits Iftiroq (perpecahan umat) yang sangat populer, hal ini menunjukkan bahwa sangat erat sekali kaitan antara perpecahan umat dengan mengekor hawa nafsu. Dan bila hawa nafsu telah menyetirnya, keadaannya akan persis dengan orang yang terkena rabies/penyakit anjing gila. Nah perhatikan di sini!! Betapa miripnya hawa nafsu dan rabies. Hawa nafsu mematikan jiwa dan fitroh, rabies membinasakan jasad menuju kematian.

    Sebab Munculnya Syubhat Akar munculnya syubhat adalah perdebatan dan perbantahan. Melalui perdebatan dan perbantahanlah dilontarkannya berbagai syubhat. Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah sesat suatu kaum setelah datang hidayah kepadanya kecuali dengan jatuhnya mereka dalam perdebatan, lalu beliau membaca ayat, “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu kecuali dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar”.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah)

    Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang Quraisy ketika dibacakan, “Sesungguhnya kamu dan sesembahan–sesembahan yang kamu sembah selain Alloh adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya” (QS. Al Anbiyaa’ : 98)

    Maka orang kafir Quraisy membantah, bagaimana dengan sesembahan orang-orang Nasrani. Maka benarlah perkataan Al Imam Al Barbahari dalam Syarhus Sunnah-nya: “Dan ketahuilah bahwasanya tidak ada kezindiqan dan kekufuran, keraguan, bid’ah dan kesesatan dan kebingungan dalam hal agama kecuali berasal dari ilmu kalam, ahli kalam, tukang debat, tukang bantah, tukang protes serta kagum terhadap diri sendiri.”

    Jelaslah dari perkataan beliau, bahwa bid’ah dan zindiq menyebabkan kekufuran, kesesatan, keraguan, serta kebingungan dalam agama. Dan ini ada pada ahlul kalam, tukang debat, protes dan bantah yang sering menelurkan pemikiran yang kontradiktif dengan agama, yang terkadang membuat terkecohnya orang awam, yang sebenarnya itulah syubhat.

    Cara yang Sering Ditempuh ahlul ahwaa’: Mempertentangkan Al Quran dengan hadits Nabi

    Rasul bersabda, “Jangan sampai aku mendapati salah seorang di antara kamu, yang sedang bertelekan pada sofanya, ketika datang kepadanya salah satu perkara dariku (hadits) dia katakan, ‘Saya tidak mendapatkannya ada dalam Kitabullah’ …” (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi dan Ibnu Majah).

    Ketika Sa’id bin Zubair membawakan hadits lalu ada orang yang menyeletuk, “Sesungguhnya Alloh berfirman dalam kitab-Nya begini dan begini”. Maka kata beliau, “Aku lihat kamu mempertentangkan hadits dengan Al Quran, sedangkan Rasululloh lebih tahu tentang Kitabulloh” Mempertentangkan satu ayat dengan ayat yang lain Dari Abdulloh bin ‘Umar rodhiallohu ‘anhu beliau berkata, “Rosululloh mendengar suatu kaum sedang berbantahan tentang Al Quran. Maka beliau bersabda, “Bahwa umat sebelum kamu binasa karena ini; mengadu kitab Alloh satu dengan yang lain, padahal kitab Alloh itu saling membenarkan satu dengan yang lain, maka jangan kamu dustakan yang satu dengan yang lain, jika kamu tahu tentangnya maka katakanlah, bila tidak tahu serahkan pada yang tahu perkaranya” Bermain dengan ayat mutasyabih, yaitu ayat yang bisa memiliki makna ganda bisa ditarik ulur, hanya akan jelas bila dikembalikan pada ayat yang muhkam. ‘Aisyah mengatakan, “Rosululloh membaca ayat ini: “Dia lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara isinya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Quran dan yang lain ayat-ayat mutasyabihaat. Adapun orang-orang yang hatinya condong kepada kesesatan maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat mutasyabihaat untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya kecuali Alloh” (QS. Ali Imran: 7).

    Ketika membaca ayat ini beliau bersabda, “Jika kamu melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihaat mereka itulah yang Alloh maksud, maka hati-hatilah terhadap mereka.”

    ‘Umar mengatakan, “Akan muncul kaum yang mendebat kamu dengan ayat-ayat mutasyabih maka gempurlah mereka dengan As Sunnah karena Ashabus Sunnah lebih tahu tentang Kitabulloh”. Lihat kisah Subaigh yang dihajr/diboikot oleh Umar akibat mempertanyakan ayat mutasyabih.

    Perhatikanlah:

    • Sesatnya mereka yang menolak seluruh sifat Alloh karena ayat Laisa kamitslihi syai’un
    • Berdalil dengan ayat atau hadits sembarangan untuk menguatkan hawa nafsunya
    • Berdalil dengan hadits dha’if maupun maudhu’ (palsu)
    • Mereka yang sangat mengagungkan akal/mendahulukan akal
    • Berlindung di balik kesalahan ulama’
    • Berpegang dengan makna bahasa semata

    Inilah pintu-pintu syaitan yang telah mengantarkan lahirnya banyak syubhat.

    Tenggelam Dalam Syahwat, Pelajaran Umat Terdahulu Alloh ta’ala berfirman, “Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang sebelum mereka (yaitu) kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan, penduduk negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka rosul-rosul dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata; maka Alloh tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri” (At Taubah: 70)

    Alloh ta’ala berfirman: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Alloh lah tempat kembali yang baik (surga)” (QS. Ali Imran: 14)

    Nabi bersabda, “Dua perkara yang senantiasa membuat hati orang yang sudah tua tetap merasa muda : cinta dunia dan panjang angan-angan.”

    Ini semua asalnya adalah pemberian Alloh sebagai karunia dan nikmat-Nya tatkala salah menempatkannya, karena untuk hawa nafsu penuh syahwat berubahlah menjadi petaka dan itulah yang diinginkan oleh syaitan.

    Dua Pintu Penyelamat Itulah secara global perangkap syaitan dalam menjerat mangsanya, kebodohan dan ketiadaan takwa adalah pintu utama yang mengantarkan seseorang tenggelam dalam syubhat dan syahwat. Al Imam Ibnul Jauzi mengatakan, “Ketahuilah bahwa pintu terbesar masuknya iblis pada manusia adalah melalui kebodohan. Iblis masuk dan menjerat orang-orang bodoh dengan aman. Adapun orang yang berilmu tidaklah iblis bisa masuk padanya kecuali dengan cara halus dan sembunyi-sembunyi. Alangkah seringnya iblis menjerat ahli ibadah dengan sedikitnya ilmu mereka, mayoritas mereka sibuk dengan ibadah dan lalai terhadap ilmu” (Talbis iblis).

    Dengan demikian penyelamat dari kebinasaan ini ada dua perkara :

    1. Ilmu, yang dengannya kegelapan kebodohan akan menjadi sirna
    2. Takwalloh (rasa takutnya kepada Alloh), dengannya akan bisa meredam gejolak syahwat

    Inilah yang diisyaratkan oleh ayat dan hadits berikut: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang berilmulah yang takut kepada Alloh” (QS. Faathir: 29).

    Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya dunia dan seisinya itu terlaknat kecuali dzikrullah dan mendekatkan diri kepada-Nya, orang ‘aalim serta orang yang belajar”.

    Inilah dua pintu utama yang bisa mengantarkan hamba menuju keselamatan.

    ***

    Sumber : http://muslim.or.id/

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 1 May 2011 Permalink | Balas
    Tags: lebah   

    Jadilah Seperti Lebah 

    Jadilah Seperti Lebah

    Oleh: Tim dakwatuna.com

    Rasulullah saw. bersabda, “Perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih dan tidak merusak atau mematahkan (yang dihinggapinya).” (Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Bazzar)

    Seorang mukmin adalah manusia yang memiliki sifat-sifat unggul. Sifat-sifat itu membuatnya memiliki keistimewaan dibandingkan dengan manusia lain. Sehingga di mana pun dia berada, kemana pun dia pergi, apa yang dia lakukan, peran dan tugas apa pun yang dia emban akan selalu membawa manfaat dan maslahat bagi manusia lain. Maka jadilah dia orang yang seperti dijelaskan Rasulullah saw., Manusia paling baik adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia lain.”

    Kehidupan ini agar menjadi indah, menyenangkan, dan sejahtera membutuhkan manusia-manusia seperti itu. Menjadi apa pun, ia akan menjadi yang terbaik; apa pun peran dan fungsinya maka segala yang ia lakukan adalah hal-hal yang membuat orang lain, lingkungannya menjadi bahagia dan sejahtera.

    Nah, sifat-sifat yang baik itu antara lain terdapat pada lebah. Rasulullah saw. dengan pernyataanya dalam hadits di atas mengisyaratkan agar kita meniru sifat-sifat positif yang dimiliki oleh lebah. Tentu saja, sifat-sifat itu sendiri memang merupakan ilham dari Allah swt. seperti yang Dia firmankan, “Dan Rabbmu mewahyukan (mengilhamkan) kepada lebah: ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabbmu yang telah dimudahkan (bagimu).’ Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan.” (An-Nahl: 68-69)

    Sekarang, bandingkanlah apa yang dilakukan lebah dengan apa yang seharusnya dilakukan seorang mukmin, seperti berikut ini:

    Hinggap di tempat yang bersih dan menyerap hanya yang bersih.

    Lebah hanya hinggap di tempat-tempat pilihan. Dia sangat jauh berbeda dengan lalat. Serangga yang terakhir amat mudah ditemui di tempat sampah, kotoran, dan tempat-tempat yang berbau busuk. Tapi lebah, ia hanya akan mendatangi bunga-bunga atau buah-buahan atau tempat-tempat bersih lainnya yang mengandung bahan madu atau nektar.

    Begitulah pula sifat seorang mukmin. Allah swt. berfirman: “Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah: 168)

    (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu- belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang- orang yang beruntung. (Al-A’raf: 157)

    Karenanya, jika ia mendapatkan amanah dia akan menjaganya dengan sebaik-baiknya. Ia tidak akan melakukan korupsi, pencurian, penyalahgunaan wewenang, manipulasi, penipuan, dan dusta. Sebab, segala kekayaan hasil perbuatan-perbuatan tadi adalah merupakan khabaits (kebusukan).

    Mengeluarkan yang bersih.

    Siapa yang tidak kenal madu lebah. Semuanya tahu bahwa madu mempunyai khasiat untuk kesehatan manusia. Tapi dari organ tubuh manakah keluarnya madu itu? Itulah salah satu keistimewaan lebah. Dia produktif dengan kebaikan, bahkan dari organ tubuh yang pada binatang lain hanya melahirkan sesuatu yang menjijikan. Belakangan, ditemukan pula produk lebah selain madu yang juga diyakini mempunyai khasiat tertentu untuk kesehatan: liurnya!

    Seorang mukmin adalah orang yang produktif dengan kebajikan. “Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (Al-Hajj: 77)

    Al-khair adalah kebaikan atau kebajikan. Akan tetapi al-khair dalam ayat di atas bukan merujuk pada kebaikan dalam bentuk ibadah ritual. Sebab, perintah ke arah ibadah ritual sudah terwakili dengan kalimat “rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu” (irka’u, wasjudu, wa’budu rabbakum). Al-khair di dalam ayat itu justru bermakna kebaikan atau kebajikan yang buahnya dirasakan oleh manusia dan makhluk lainnya.

    Segala yang keluar dari dirinya adalah kebaikan. Hatinya jauh dari prasangka buruk, iri, dengki; lidahnya tidak mengeluarkan kata-kata kecuali yang baik; perilakunya tidak menyengsarakan orang lain melainkan justru membahagiakan; hartanya bermanfaat bagi banyak manusia; kalau dia berkuasa atau memegang amanah tertentu, dimanfaatkannya untuk sebesar-besar kemanfaat manusia.

    Tidak pernah merusak

    Seperti yang disebutkan dalam hadits yang sedang kita bahas ini, lebah tidak pernah merusak atau mematahkan ranting yang dia hinggapi. Begitulah seorang mukmin. Dia tidak pernah melakukan perusakan dalam hal apa pun: baik material maupun nonmaterial. Bahkan dia selalu melakukan perbaikan-perbaikan terhadap yang dilakukan orang lain dengan cara-cara yang tepat. Dia melakukan perbaikan akidah, akhlak, dan ibadah dengan cara berdakwah. Mengubah kezaliman apa pun bentuknya dengan cara berusaha menghentikan kezaliman itu. Jika kerusakan terjadi akibat korupsi, ia memberantasnya dengan menjauhi perilaku buruk itu dan mengajukan koruptor ke pengadilan.

    Bekerja keras

    Lebah adalah pekerja keras. Ketika muncul pertama kali dari biliknya (saat “menetas”), lebah pekerja membersihkan bilik sarangnya untuk telur baru dan setelah berumur tiga hari ia memberi makan larva, dengan membawakan serbuk sari madu. Dan begitulah, hari-harinya penuh semangat berkarya dan beramal. Bukankah Allah pun memerintahkan umat mukmin untuk bekerja keras?

    “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (Alam Nasyrah: 7)

    Kerja keras dan semangat pantang kendur itu lebih dituntut lagi dalam upaya menegakkan keadilan. Karena, meskipun memang banyak yang cinta keadilan, namun kebanyakan manusia –kecuali yang mendapat rahmat Allah– tidak suka jika dirinya “dirugikan” dalam upaya penegakkan keadilan.

    Bekerja secara jama’i dan tunduk pada satu pimpinan

    Lebah selalu hidup dalam koloni besar, tidak pernah menyendiri. Mereka pun bekerja secara kolektif, dan masing-masing mempunyai tugas sendiri-sendiri. Ketika mereka mendapatkan sumber sari madu, mereka akan memanggil teman-temannya untuk menghisapnya. Demikian pula ketika ada bahaya, seekor lebah akan mengeluarkan feromon (suatu zat kimia yang dikeluarkan oleh binatang tertentu untuk memberi isyarat tertentu) untuk mengudang teman-temannya agar membantu dirinya. Itulah seharusnya sikap orang-orang beriman.

    Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaff: 4)

    Tidak pernah melukai kecuali kalau diganggu

    Lebah tidak pernah memulai menyerang. Ia akan menyerang hanya manakala merasa terganggu atau terancam. Dan untuk mempertahankan “kehormatan” umat lebah itu, mereka rela mati dengan melepas sengatnya di tubuh pihak yang diserang. Sikap seorang mukmin: musuh tidak dicari. Tapi jika ada, tidak lari.

    Itulah beberapa karakter lebah yang patut ditiru oleh orang-orang beriman. Bukanlah sia-sia Allah menyebut-nyebut dan mengabadikan binatang kecil itu dalam Al-Quran sebagai salah satu nama surah: An-Nahl.

    Allahu a’lam.

    ***

    Sumber: Dakwatuna.com

     
    • murniati 3:15 pm on 1 Mei 2011 Permalink

      Subhanalloh,wal hamdulillah wala ila ha’illalloh wa allohu akbar.sangat indah sekali.Benar2 jelas firman Alloh swt.Marilah kita saling berusaha meniru dari sifat lebah yg sangat indah

    • annisa 3:33 pm on 3 Mei 2011 Permalink

      nice info..
      yuuk.. kita mencoba spt lebah…

    • ROZI.P. 10:02 am on 5 Mei 2011 Permalink

      LEBAH BINATANG YANG PALING SUCI DARI BINATANG-BINATANG YANG LAIN???
      SUBHANALLAH…

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: