Updates from erva kurniawan Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:19 am on 17 February 2019 Permalink | Balas  

    Shalawat-Shalawat Bid’ah 

    Shalawat-Shalawat Bid’ah

    Kita banyak mendengar lafazh-lafazh bacaan shalawat untuk Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Salam yang diada-adakan (bid’ah) yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam , para sahabat, tabi’in, juga tidak oleh para imam mujtahid. Tetapi semua itu hanyalah buatan sebagian masyayikh (para tuan guru) di kurun belakangan ini. Lafazh-lafazh shalawat itu kemudian menjadi terkenal dikalangan orang awam dan ahli ilmu, sehingga mereka membacanya lebih banyak daripada membaca shalawat tuntunan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam. Bahkan mungkin mereka malah meninggalkan lafazh shalawat yang benar, lalu menyebarluaskan lafazh shalawat ajaran para syaikh mereka.

    Jika kita renungkan mendalam makna shalawat-shalawat tersebut, niscaya kita akan menemukan di dalamnya pelanggaran terhadap petunjuk Rasul, orang yang kita shalawati. Di antara shalawat-shalawat bid’ah tersebut adalah:

    1.. Shalawat yang berbunyi: “Ya Allah, curahkanlah keberkahan dan keselamatan atas Muhammad, penawar hati dan obatnya, penyehat badan dan penyembuhnya, cahaya mata dan sinarnya, juga atas keluarga-nya.”

    Sesungguhnya yang menyembuhkan, menyehatkan badan, hati dan mata hanyalah Allah semata. Dan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam tidak memiliki manfaat untuk dirinya, juga tidak untuk orang lain. Lafazh shalawat di atas menyelisihi firman Allah, “Katakanlah, ‘Aku tidak berkuasa menank kemanfa’atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah.” (AI-A’raaf: 188)

    Juga menyelisihi sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam: “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Aku hanyalah seorang hamba. Maka katakanlah Abdullah (hamba Allah) danRasulNya.” (HR. Al-Bukhari)

    Makna “ithra” yaitu melampaui batas dan berlebih-lebihan dalam memuji, (ini hukumnya haram).

    2.. Penulis pernah membaca kitab tentang keutamaan shalawat, karya seorang syaikh shufi besar dari Libanon.

    Di dalamnya terdapat lafazh shalawat berikut: “Ya Allah limpahkanlah keberkahan untuk Muhammad, sehingga Engkau menjadikan daripadanya (sifat) keesaan dan (sifat) terus menerus mengurus (makhluk).”

    Sifat Al-Ahadiyyah dan Al-Qayyumiyyah adalah bagian dan sifat-sifat Allah, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an. Kemudian oleh syaikh tersebut, keduanya dijadikan sebagai sifat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam.

    3.. Penulis melihat dalam kitab Ad’iyatush Shabaahi wal Masaa’i, karya seorang syaikh besar dari Suriah. Ia mengatakan, “Ya Allah, limpahkanlah keberkahan untuk Muhammad, yang dari cahayanya Engkau ciptakan segala sesuatu.”

    “Segala sesuatu”, berarti termasuk di dalamnya Adam, lblis, kera, babi, lalat, nyamuk dan sebagainya. Adakah seorang yang berakal akan mengatakan bahwa semua itu diciptakan dari cahaya Muhammad?

    Bahkan setan sendiri mengetahui dari apa ia diciptakan, juga mengetahui dari apa Adam diciptakan, sebagaimana dikisahkan dalam AI-Qur’an, “Iblis berkata, ‘Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau cip-takan aku dari api, sedangkan dia engkau ciptakan dari tanah.” (Shaad: 76)

    Ayat di atas mendustakan dan membatalkan ucapan syaikh tersebut.

    4.. Termasuk lafazh shalawat bid’ah adalah ucapan mereka, “Semoga keberkahan dan keselamatan dilimpahkan untukmu wa-hai Rasulullah. Telah sempit tipu dayaku maka perkenankanlah (hajatku) wahai kekasih Allah.”

    Bagian pertama dari shalawat ini adalah benar, tetapi yang berbahaya dan merupakan syirik adalah pada bagian kedua. Yakni dari ucapannya:

    Hal ini bertentangan dengan firman Allah, “Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepadaNya?” (An-Naml: 62)

    Dan firman Allah, “Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri.” (Al-An’am: 17)

    Sedangkan Rasulullah sendiri, manakala beliau ditimpa suatu kedukaan atau kesusahan, beliau berdo’a,

    “Wahai Dzat Yang Maha Hidup, yang terus menerus mengurus (makhlukNya), dengan rahmatMu aku Memohon pertolongan-Mu.” (HR. At-Tirmidzi, hadits hasan)

    Jika demikian halnya, bagaimana mungkin kita diperbolehkan mengatakan kepada beliau, “Perkenankanlah hajat kami, dan tolonglah kami?”

    Lafazh ini bertentangan dengan sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam: “Jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih)

    5.. Shalawat AI-Fatih, lafazhnya: “Ya Allah, limpahkanlah keberkahan untuk Muhammad, Sang Pembuka terhadap apa yang tertutup”

    Orang yang mengucapkan shalawat ini menyangka, bahwa barangsiapa membacanya maka baginya lebih utama daripada membaca khatam Al-Qur’an sebanyak enam ribu kali. Demikian, seperti dinukil oleh Syaikh Ahmad Tijani, pemimpin thariqah Tijaniyah.

    Sungguh amat bodoh jika terdapat orang yang berakal mempercayai hal tersebut, apatah lagi jika ia seorang muslim. Sungguh amat tidak mungkin, bahwa membaca shalawat bid’ah tersebut lebih utama daripada membaca Al-Qur’an sekali, apatah lagi hingga enam ribu kali. Suatu ucapan yang tak mungkin diucapkan oleh seorang muslim.

    Adapun menyifati Rasulullah dengan “Sang Pembuka terhadap apa yang tertutup” secara muthlak, tanpa membatasinya dengan kehendak Allah, maka adalah suatu kesalahan. Karena Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam tidak membuka kota Makkah kecuali dengan kehendak Allah. Beliau juga tidak mampu membuka hati pamannya sehingga beriman kepada Allah, bahkan ia mati dalam keadaan menyekutukan Allah. Bahkan dengan tegas Al-Qur’an menyeru kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi,tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya, …” (Al-Qashash: 56)

    “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.” (AI-Fath: 1)

    6.. Pengarang kitab Dalaa ‘ilul Khairaat, pada bagian ke tujuh dari kitabnya mengatakan, “Ya Allah, limpahkanlah keberkahan untuk Muhammad selama burung-burung merpati berdengkur dan jimat-jimat bermanfaat.”

    Tamimah yaitu tulang, benang atau lainnya yang dikalungkan di leher anak-anak atau lainnya untuk menangkal atau menolak ‘ain (kena mata). Perbuatan tersebut tidak memberi manfaat kepada orang yang mengalungkannya, juga tidak terhadap orang yang dikalungi, bahkan ia adalah di antara perbuatan orang-orang musyrik.

    Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa mengalungkan jimat maka dia telah berbuat syirik”. (HR. Ahmad, hadits shahih)

    Lafazh bacaan shalawat di atas, dengan demikian, secara jelas bertentangan dengan kandungan hadits, karena lafazh tersebut menjadikan syirik dan tamimah sebagai bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah.

    7.. Dalam kitab Dalaa ‘ilul Khairaat, terdapat lafazh bacaan shalawat sebagai berikut:

    “Ya Allah limpahkanlah keberkahan atas Muhammad, sehingga tak tersisa lagi sedikit pun dari keberkahan, dan rahmatilah Muhammad, sehingga tak tersisa sedikit pun dari rahmat.”

    Lafazh bacaan shalawat di atas, menjadikan keberkahan dan rahmat, yang keduanya merupakan bagian dari sifat-sifat Allah, bisa habis dan binasa. Allah membantah ucapan mereka dengan firman-Nya, “Katakanlah, ‘Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (AI-Kahfi: 109)

    8.. Shalawat Basyisyiyah. lbnu Basyisy berkata, “Ya Allah, keluarkanlah aku dari lumpur tauhid. Dan tenggelamkanlah aku dalam mata air lautan keesaan. Dan lemparkanlah aku dalam sifat keesaan sehingga aku tidak melihat, mendengar atau merasakan kecuali dengannya.”

    Ini adalah ucapan orang-orang yang menganut paham Wahdatul Wujud. Yaitu suatu paham yang mendakwakan bahwa Tuhan dan makhIukNya bisa menjadi satu kesatuan.

    Mereka menyangka bahwa tauhid itu penuh dengan lumpur dan kotoran, sehingga mereka berdo’a agar dikeluarkan daripadanya. Selanjutnya, agar ditenggelamkan dalam lautan Wahdatul Wujud. sehingga bisa melihat Tuhannya dalam segala sesuatu. Bahkan hingga seorang pemimpin mereka berkata,

    “Dan tiadalah anjing dan babi itu, melainkan keduanya adalah tuhan kita. Dan tiadalah Allah itu,melainkan pendeta di gereja.”

    Orang-orang Nasrani menyekutukan Allah (musyrik) ketika mereka mengatakan bahwa Isa bin Maryam adalah anak Allah. Adapun mereka, menjadikan segenap makhluk secara keseluruhan sebagai sekutu-sekutu Allah! Mahatinggi Allah dan apa yang diucapkan oleh orang-orang musyrik.

    Oleh karena itu, wahai saudaraku sesama muslim, berhati-hatilah terhadap lafazh-lafazh bacaan shalawat bid’ah, karena akan menjerumuskanmu dalam perbuatan syirik. Berpegangteguhlah dengan apa yang datang dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam, seorang yang tidak mengatakan sesuatu menurut kehendak hawa nafsunya. Dan janganlah engkau menyeli-sihi petunjuknya,

    “Barangsiapa melakukan suatu amalan (dalam agama) yang tidak ada perintah dari kami, maka ia tertolak.” (HR. Muslim)

    Taken from kitab Al Firqotun Naajiyah JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT karya Syaikh Muhammad Ibn Jamil Zainu

    Iklan
     
  • erva kurniawan 1:58 am on 16 February 2019 Permalink | Balas  

    Keutamaan Membaca Shalawat Untuk Nabi 

    Keutamaan Membaca Shalawat Untuk Nabi

    Allah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam berfirman, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah ka-mu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepada-nya.” (Al-Ahzab: 56)

    Imam Al-Bukhari meriwayatkan, Abu ‘Aliyah berkata, “Shalawat Allah adalah berupa pujianNya untuk nabi di hadapan para malaikat. Adapun shalawat para malaikat adalah do’a (untuk beliau).”

    Ibnu Abbas berkata, “Bershalawat artinya mendo’akan supaya diberkati.”

    Maksud dari ayat di atas, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya yaitu, “Sesungguhnya Allah Subhannahu wa Ta’ala menggambarkan kepada segenap hambaNya tentang kedudukan seorang hamba-Nya, nabi dan kekasihNya di sisiNya di alam arwah, bahwa sesungguhnya Dia memujinya di hadapan para malaikat. Dan sesungguhnya para malaikat bershalawat untuknya. Kemudian Allah memerintahkan kepada penghuni alam dunia agar bershalawat untuknya, sehingga berkumpullah pujian baginya dari segenap penghuni alam semesta.”

    1.. Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan kita agar mendo’akan dan bershalawat untuk Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam. Bukan sebaliknya, memohon kepada beliau, sebagai sesembahan selain Allah, atau mem-bacakan Al-Fatihah untuk beliau, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian manusia.

    2.. Bacaan shalawat untuk Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam yang paling utama adalah apa yang beliau ajarkan kepada para sahabat, ketika beliau bersabda, “Katakanlah, Ya Allah limpahkanlah rahmat untuk Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat untuk Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, limpahkanlah berkah untuk Muhammad dan keluarga Muhammad sebagai-mana Engkau telah melimpahkan berkah untuk Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

    3.. Shalawat di atas, juga shalawat-shalawat lain yang ada di dalam kitab-kitab hadits dan fiqih yang terpercaya, tidak ada yang menyebutkan kata “sayyidina” (penghulu kita), yang hal itu ditambahkan oleh kebanyakan manusia. Memang benar, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam adalah penghulu kita, “sayyiduna”, tetapi berpegang teguh dengan sabda dan tuntunan Rasul adalah wajib. Dan, ibadah itu dilakukan berdasarkan keterangan nash syara’, tidak berdasarkan akal.

    4.. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam bersabda, “Jika kalian mendengar muadzin maka ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan, kemudian bershalawatlah untukku. Karena sesungguhnya barangsiapa yang bershalawat untukku satu kali, Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Kemudian mohonkanlah kepada Allah wasilah untukku. Sesungguhnya ia adalah suatu tempat (derajat) di Surga. Ia tidak pantas kecuali untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah. Aku berharap bahwa hamba itu adalah aku. Barangsiapa memintakan wasilah untukku, maka ia berhak menerima syafa’atku.” (HR. Muslim)

    Do’a memintakan wasilah seperti yang diajarkan Rasulullah dibaca dengan suara pelan. Ia dibaca seusai adzan dan setelah membacakan shalawat untuk nabi. Do’a yang diajarkan beliau yaitu:

    “Ya Allah, Tuhan yang memiliki seruan yang sempurna ini. Dan shalat yang akan didirikan. Berikanlah untuk Muhammad wasilah (derajat) dan keutamaan. Dan tempatkanlah ia di tempat terpuji sebagaimana yang telah Engkau janjikan.” (HR. Al-Bukhari)

    5.. Membaca shalawat atas Nabi ketika berdo’a, sangat dianjukan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah: “Setiap do’a akan terhalang, sehingga disertai bacaan shalawat untuk Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Salam.” (HR. AI-Baihaqi, hadits hasan)

    Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berpetualang di bumi, mereka menyampaikan kepadaku salam dari umatku.” (HR Ahmad, hadits shahih)

    Bershalawat untuk Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Salam sangat dianjurkan, terutama pada hari Jum’at. Dan ia termasuk amalan yang paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bertawassul dengan shalawat ketika berdo’a adalah dianjurkan. Sebab ia termasuk amal shalih. Karena itu, sebaiknya kita mengucapkan, “Ya Allah, dengan shalawatku untuk Nabimu, bukakanlah dariku kesusahanku… Semoga Allah melimpahkan berkah dan keselamatan untuk Muhammad dan keluarganya.”

    Taken from kitab Al Firqotun Naajiyah JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT karya Syaikh Muhammad Ibn Jamil Zainu

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 15 February 2019 Permalink | Balas  

    Kebahagiaan Tidak Ditentukan oleh Banyaknya Harta 

    Kebahagiaan Tidak Ditentukan oleh Banyaknya Harta

    Oleh : Abu Tauam

    Allah SWT berfirman, “Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal” (QS Al A’la : 17)

    “Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu adalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (QS Al Hadid : 20)

    Dari Aisyah ra, dia berkata, “Nabi SAW keluar dari dunia, dan beliau tidak pernah kenyang karena roti dan gandum” (HR. Imam Muslim)

    Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, “Allahummaj ‘al rizqa aali muhammadin quutaa” yang artinya “Yaa Allah, jadikanlah rizki keluarga Muhammad sekedar kebutuhan pokok” (HR. Imam Muslim)

    Juga dari Abu Hurairah ra., dia berkata, “Tikar Rasulullah SAW itu terbuat dari kulit yang diisi oleh ijuk (sabut)” (HR. Bukhari-Muslim)

    Di hadits lain Rasulullah SAW juga bersabda, “Jadilah kamu di dunia seolah-olah kamu perantau atau seperti penyebrang jalan” (HR. Bukhari 5/2358, dari sahabat Abdullah bin Umar ra.)

    Coba sesaat kita lihat sebagian orang-orang yang hidup mewah, memiliki rumah yang besar, mobil yang banyak, tabungan yang melimpah. Apakah mereka dapat mengatakan bahwa mereka hidup bahagia !? Ataukah mereka dapat mengatakan, “baytii jannatii” yang artinya “rumahku surgaku” !? Belumlah tentu…

    Mungkin kita sering mendengar bahwa banyak orang yang hidup bermewah-mewahan akhirnya bunuh diri, keluarganya berantakan, pasangannya berselingkuh dan sebagainya. Dan hal itu menunjukan bahwa harta tidak akan menjamin kebahagiaan bahkan dapat menyebabkan hal yang sebaliknya yaitu dengan harta yang melimpah maka fitnah dan cobaan akan datang bertubi-tubi.

    Ingatlah selalu akan hadits ini saudaraku,

    Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Qad aflaha man aslama waruziqa kafaafan wa qanna’atuLLaHu bimaa ataahu” yang artinya “Beruntunglah orang yang masuk Islam dan diberi rizki secukupnya (oleh Allah) dan Allah membuatnya puas dengan apa yang diberikan kepadanya” (HR. Muslim 2/370, Ahmad 2/168 dan Al Baihaqi 4/196)

    Jadi kebahagiaan itu tidak ditentukan oleh banyaknya harta, tetapi kebahagian itu diperoleh karena seseorang menjadi muslim dan kemudian hatinya selalu puas dengan apa yang telah Allah SWT berikan padanya baik itu dalam jumlah banyak ataupun sedikit.

    Dan betapa berbahagianya orang-orang miskin di akhirat kelak karena perhitungan hisab mereka lebih cepat dibandingkan dengan orang-orang kaya sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

    “Orang-orang miskin akan masuk surga 500 tahun lebih dahulu daripada orang-orang kaya” (HR. Tirmidzi, dia berkata, “Hadits shahih”, dari Abu Hurairah ra.)

    Disamping itu, merekalah penghuni mayoritas surga yang penuh kenikmatan dan kebaikan sebagaimana ucapan Nabi SAW. dari Usamah bin Zaid ra.,

    “Qumtu ‘alaa baabil jannati faidzan ‘aammatu man dakhalahaal masaakiinu” yang artinya “Aku pernah berdiri di pintu surga, ternyata kebanyakan orang-orang yang masuk kedalamnya adalah orang-orang miskin” (HR. Bukhari-Muslim)

    Dan akhirnya dapat kita mengerti mengapa Rasulullah SAW berdoa seperti ini,

    “Allahumma, wahsyurnii fii zumratil masaakiin” yang artinya “Ya Allah, kumpulkanlah aku (pada hari kiamat) bersama rombongan orang-orang miskin” (HR. Ibnu Majah no. 4126, dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Al Irwa no. 861 dan Ash Shahihah no. 308)

    Dunia itu tidak bernilai di sisi allah, walaupun seberat sayap nyamuk, jika pun bernilai seberat itu, tak seteguk pun air akan dirasakan oleh orang-orang kafir itu.

    (Silahkan lihat matan haditsnya pada Kitab Riyadush Shalihin, HR Tirmidzi, dia berkata, “Hadits hasan shahih”)

    Catatan :

    Sebagian hadits – hadits di atas diambil dari Ringkasan Shahih Muslim oleh Imam Al Mundziri dan Riyadush Shalihin oleh Imam An Nawawi.

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 14 February 2019 Permalink | Balas  

    Tanda-Tanda Kiamat 

    Tanda-Tanda Kiamat

    Oleh : Armansyah.

    Rasulullah Muhammad Saw al-Amin sang Paraclete telah bersabda: “Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga matahari terbit dari arah barat. Maka apabila matahari sudah terbit dari arah barat, lalu para manusiapun akan beriman seluruhnya. Tetapi kelakuan mereka yang demikian pada waktu itu sudah tidak berguna lagi, keimanan seseorang yang belum pernah beriman sebelum peristiwa tersebut atau memang belum pernah berbuat kebaikan dengan keimanan yang sudah dimilikinya itu.” (Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Abu Daud dari Abu Hurairah)

    Hadist diatas, menceritakan salah satu tanda-tanda dari sudah mendekatnya hari kiamah, hari dimana pengadilan Allah akan segera berlaku bagi para makhluk-Nya. Hari dimana semua makhluk bernyawa akan diminta pertanggungan jawab atas seluruh perbuatan yang pernah dilakukan selama hidupnya.

    Berkaitan erat dengan hadist diatas kita bisa melihat dalam sabda Rasul dalam dua buah hadistnya yang lain: “Tiada seorang Nabi-pun yang diutus Allah, melainkan Nabi tersebut akan menakut-nakuti kepada umatnya perkara Dajjal. Dajjal itu akan keluar kepada kamu semua, kemudian tidak samar-samar lagi bagimu semua akan hal-ihwalnya dan tidak samar-samar untukmu semua, bahwa Tuhanmu itu tidak bermata sebelah. Sesungguhnya Dajjal itu bermata sebelah yang tidak dapat digunakan yang sebelah kanannya, seolah-olah matanya itu menonjol kemuka.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

    “Demi dzat yang jiwaku berada dalam genggaman kekuasaan-Nya, niscaya, sudah amat dekat sekali saat turunnya ‘Isa putra Maryam dikalangan kamu semua yang bertindak sebagai seorang hakim yang adil. Dia akan memecahkan semua kayu salib dan membunuh babi.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

    “al-Mahdi akan muncul dari ummatku, Tuhan akan menurunkan hujan untuk manusia, ummat akan merasa senang, ternak hidup (dengan aman), dan bumi menumbuhkan tumbuh-tumbuhannya dan harta akan diberikan dengan merata.” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan al-Hakim dari Abu Sa’id r.a)

    Hadist-hadist diatas menurut hemat penulis, tidak bisa kita tafsirkan sambil lalu saja, disaat-saat seperti sekarang ini, mungkin kita bisa sama-sama memberikan pemahaman dan makna yang baru terhadapnya sesuai dengan situasi dan kondisi jaman yang berlaku.

    Nabi Muhammad Saw menceritakan bahwa kiamat itu sudah sangat dekat, dan beliau Saw juga telah memberikan beberapa nubuat mengenai tanda-tanda semakin mendekatnya hari tersebut, dan dalam kesempatan kali ini, kita akan membahas 4 diantaranya terlebih dahulu.

    1. Terbitnya matahari dari arah barat
    2. Keluarnya al-Masih Dajjal
    3. Turunnya ‘Isa al-Masih putera Maryam
    4. Datangnya al-Mahdi

    Bahwa dalam semua jaman yang telah berlalu kita mengenal terbitnya matahari yang terlihat oleh manusia setiap paginya selalu dari arah timur, matahari merupakan satu sumber energi yang bisa menerangi bumi dari kegelapan, membangkitkan pertumbuhan makhluk-makhluk hidup baik itu manusia, hewan hingga tumbuh-tumbuhan atau mungkin pula didalamnya termasuk makhluk-makhluk halus sebangsa Jin.

    Matahari dalam kaitan dengan Hadist diatas memiliki kesamaan dengan ajaran agama yang membimbing manusia dari jalan kesesatan, kegelapan pandangan maupun pemikiran kearah pencerahan, kearah hidayah atau cahaya kebenaran.

    Agama yang mampu membangkitkan pertumbuhan makhluk hidup, membina mental dan spiritual agar dapat berperan aktif didalam menjalankan roda kehidupan diatas dunia sebagai satu tugas yang diembankan oleh sang Pencipta, menjadi Khalifah dibumi.

    Matahari yang selama ini terbit dari arah Timur bisa kita tafsirkan sebagai munculnya ajaran-ajaran Allah yang mempengaruhi umat manusia dari sebagian besar bagian timur dunia seperti tanah Yerusalem, Palestina hingga semenanjung Arabia.

    Cahaya Allah sebagaimana yang pernah disinggung oleh Nabi Musa dalam kitab Ulangan 33:2, telah pernah terbit dari pegunungan Sinai, Seir dan pegunungan Paran didalam kawasan Timur Tengah.

    Ajaran yang berisikan petunjuk, pembimbing serta pencerahan kepada manusia untuk menjadi pedoman hidupnya bergerak dan berputar, muncul tenggelam sebagaimana cahaya matahari yang terkadang tampak maupun terhalang.

    Ajaran para Nabi yang telah begitu banyak pudar karena nafsu keserakahan manusia terhadap dunia dan emosi yang mendorong rasa fanatisme berlebihan terkadang lebih banyak membuat ajaran-ajaran kebenaran itu terpuruk, terpecah dan berkesan membingungkan.

    Arah perpindahan terbitnya matahari dari timur kebarat didalam sabda Nabi Muhammad Saw diatas bisa juga kita berikan penafsiran bahwa cahaya kemenangan Islam, kebangkitan Islam akan muncul dari negeri-negeri Barat.

    Negeri-negeri yang kita kenal memiliki pengikut mayoritas penyembah berhala dan pendewaan terhadap manusia yang didalam kacamata orang-orang terdahulu adalah sangat mustahil bisa terjadi justru akan menjadi cikal-bakal bersinarnya kembali Islam keseantero dunia.

    Sebagaimana yang kita ketahui, merupakan satu kenyataan yang tidak terbantahkan bahwa jumlah pengunjung gereja diberbagai negeri-negeri dibarat semakin menunjukkan prosentasi yang menurun, padahal dinegeri-negeri tersebut berbagai sarana telah melimpah-limpah untuk menjadi seorang Nasrani sejati.

    Orang-orang Eropa dan Barat sudak tidak dapat diharap lagi untuk menjadi bumi yang subur bagi perkembangan ajaran Nasrani, yang dewasa inipun telah menjadi hanya seperti adat, bukan sebagai suatu ajaran agama yang harus dimengerti dan disadari secara jelas. Begitulah tampaknya ajaran Nasrani telah dan akan kehilangan tempat berpijak serta basis yang amat kuat dan kaya raya karena umumnya orang-orang disana telah mampu bersikap kritis dan mau terbuka terhadap akal pikirannya mengenai kebenaran yang ditunjang oleh penemuan-penemuan ilmu pengetahuan modern.

    Negeri-negeri yang dahulunya merupakan ajang kebiadaban dunia, penuh sentimen ras, pendeskreditan wanita dan lokalisasi kemaksiatan lainnya kini telah berubah menjadi satu negeri yang memiliki tim ahli, memiliki orang-orang pandai, peneliti dan segudang ilmuwan yang kelak akan menghantarkan mereka dan umat Islam lainnya kepada kebenaran ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad Saw hampir 15 abad yang silam.

    Dari sejarah kita ketahui bahwa sekian banyak para ahli dari bidang Astronomi, Geologi, Kedokteran, Biologi dan seterusnya yang berasal dari negeri barat menemukan fakta-fakta kevalidan al-Qur’an yang tidak mungkin bisa ditulis dan dikarang oleh seorang anak manusia ditengah gurun pasir yang hampa ilmu pengetahuan terhadap tantangan dunia ilmiah abad 20-an.

    Pencerahan yang diberikan Allah terhadap para penduduk dinegeri barat ditamsilkan oleh Nabi Muhammad Saw sebagai munculnya matahari dari arah barat yang akan menyinari bumi kepada keterangan, kepada cahaya kebenaran yang berlandaskan wahyu dan ilmu pengetahuan.

    Saat itulah orang-orang akan menyadari bahwa betapa mereka selama ini sebenarnya sudah terlalu jauh mengadakan penyimpangan-penyimpangan dari ajaran para Nabi dan mereka bermaksud untuk kembali kepada ajaran Islam yang hakiki, Islam yang dianut oleh Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Ishaq, Nabi Musa, Nabi ‘Isa dan Nabi Muhammad Saw.

    Namun Rasul menggambarkan bahwa saat itu sudah akan sangat terlambat bagi mereka untuk menyadari kebenaran itu, kebiasaan yang sudah mengurat akar didalam hati dan keyakinan mereka selama ini telah membuat kebanyakan dari mereka bingung dan memakan buah simalakama. Tidak mudah untuk membunuh pemahaman dan doktrin-doktrin yang melekat didalam diri mereka sejak dari anak-anak.

    Hal ini telah difirmankan oleh Allah didalam al-Qur’an :

    “Dan sesungguhnya Kami telah menjadikan isi Neraka itu beberapa banyak dari Jin dan Manusia, yang mempunyai hati tetapi tidak untuk mengerti dengannya, mempunyai mata tidak untuk melihat dengannya dan mempunyai telinga tidak dipergunakan untuk mendengarkan; mereka itu seperti binatang, malah mereka lebih sesat.” (Qs. 7:179)

    Bahkan didalam kitab Bible sendiri kita dapati pernyataan ‘Isa al-Masih :

    “Sekalipun melihat, mereka tidak melihat. Sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti.” (Matius 13:13)

    Hal ikhwal Hadist Nabi mengenai perpindahan arah sang matahari dari arah terbitnya yang di Timur menjadi ke wilayah Barat disambung dengan kemunculan raja angkara murka yang disebut Dajjal yang akan menimbulkan huru-hara diatas dunia.

    Rasanya tidak mungkin bila kita bayankan sosok Dajjal seperti monster dalam film-film Power Rangers dan Ultraman.

    Dajjal pasti merupakan satu lambang kejahatan yang akan melanda setiap jamannya sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw bahwa semua Nabi terdahulu-pun telah mengingatkan umatnya akan keberadaan dan ulah Dajjal-dajjal yang merusak.

    Dajjal digambarkan oleh Rasulullah Muhammad Saw sebagai satu perwujudan yang hanya bisa memandang dengan sebelah mata adalah sebuah bentuk dari kezoliman, ke-egoisan, keculasan serta kepicikan yang akan melanda umat manusia.

    Dalam satu Hadistnya, Rasul menjelaskan perihal Dajjal ini secara lebih luas :

    “Sesungguhnya Dajjal itu keluar dan bersamanya adalah air dan api; maka apa-apa yang dilihat oleh orang banyak sebagai air, sebenarnya adalah api yang membakar, sedangkan apa yang dilihat oleh orang banyak sebagai api, maka sebenarnya itu adalah air yang dingin dan tawar. Maka barangsiapa yang bertemu dengannya, hendaklah menjatuhkan dirinya kedalam apa yang dilihatnya sebagai api itu, sebab sesungguhnya yang ini adalah air yang tawar dan nyaman.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

    Hadist diatas memberikan refleksi kepada kita, betapa akan datang suatu masa dimana orang yang berpegang pada kebenaran akan dianggap telah berhadapan dengan sesuatu yang menggerahkan, sesuatu yang membakar dan dapat menghanguskan.

    Suatu jaman dimana fitnah merajalela, kebenaran bisa dibeli, hal yang putih bisa dibalikkan menjadi hitam dan begitupun sebaliknya, abad dimana perzinahan telah dianggap biasa, wanita telah memakai pakaian namun tidak ubahnya seperti telanjang, perampokan, pembunuhan serta makar dianggap sesuatu yang biasa, sebaliknya mereka yang giat menekuni ilmu-ilmu agama, mereka yang sholat dan mengadakan pengajian maupun tablig keagamaan malah dianggap sesuatu yang lucu dan kekanak-kanakan malah tidak jarang dicap sebagai orang-orang fundamentalis dalam konotasi negatif.

    Pada saat itu Nabi menyarankan agar orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, tetap beristiqomah, memiliki pendirian yang mantap dan tegas didalam berakidah, beramaliah serta beragama sebab hal itu akan menghantarkan mereka kepada jalan Allah yang lurus, menjadi hamba-hamba Allah yang bertaqwa yang syurga dan kenikmatan Allah telah menantikannya.

    Berpindahnya kebesaran Islam dari Timur ke Barat yang dilambangkan oleh Rasul sebagai perpindahan arah terbit matahari akan disusul dengan kemunculan orang-orang yang berlaku sombong, picik dan culas yang disymbolkan sebagai Dajjal yang berusaha menjatuhkan ajaran Allah yang haq akan diikuti dengan munculnya kembali sosok ‘Isa al-Masih dan al-Mahdi yang bahu membahu didalam menumpas kebatilan dan keberadaan Dajjal.

    Kehadiran ‘Isa al-Masih pada periode akhir jaman bisa merupakan satu makna figuratif atau kiasan dari pemahaman dan kesadaran manusia terhadap ajaran ‘Isa al-Masih yang hakiki, pengajaran yang tidak pernah menyimpang dari hukum Nabi-nabi sebelumnya dan mempunyai satu relevansi yang erat sekali terhadap pengajaran Nabi Muhammad Saw yang datang setelah berakhirnya masa kenabian ‘Isa al-Masih kepada Bani Israil sekitar 600 tahun sebelum diutusnya sang Paraclete agung itu.

    Kita lihat dari kacamata sejarah, betapa banyaknya Ahli Kitab yang mulai merenungi ajaran agamanya dengan membuka pintu objektivitas dan keterbukaan atas doktrin-doktrin yang ada didalam kitab sucinya.

    Berapa banyak para pemikir dan cendikiawan Nasrani mulai tidak bisa menerima perbedaan pemahaman antara pengajaran ‘Isa yang sejati dengan yang mereka hadapi didalam dakwahan gereja yang bersumberkan kepada Paulus, inilah salah satu bentuk penafsiran bahwa kehadiran ‘Isa al-Masih tersebut akan mematahkan kepercayaan akan penyaliban dan kematiannya serta menghilangkan kebiasaan memakan babi.

    Beragam studi dan perbandingan telah dilakukan dalam kalangan Yahudi dan Nasrani untuk mendapatkan nilai kebenaran yang sesungguhnya, dan kebanyakan dari mereka akhirnya beralih untuk mengedepankan kelimuwanan dan kecendikiawanan masing-masing didalam menelaah dan mengkaji hingga rata-rata dari mereka akan sampai pada satu titik pemberhentian kepada ajaran yang dibawa oleh Muhammad Saw.

    Munculnya pemahaman Saksi Yehovah, Kaum Essenes serta ditemukannya gulungan laut mati yang lebih dikenal dengan sebutan Dead Sea Scroll didalam gua Qumran adalah salah satu contoh kecil dari kembalinya ajaran Nabi ‘Isa al-Masih putera Maryam.

    Kita lihat dalam hal ini Rasulullah Saw bersabda :

    “Segolongan ummatku akan selalu berperang membela kebenaran, sehingga turunlah ‘Isa ibn Maryam pada saat fajar terbit di Baitul-Maqdis (Palestina). Ia turun pada al-Mahdi, maka dikatakan: “Majulah hai Nabi Allah! dan salatlah bersama kami.” Maka ia berkata: “Ummat ini menjadi pemimpin (amir) sebagian yang satu pada sebagian yang lain.” (Diriwayatkan oleh Ibn Amr ad-Dani dari Jabir ibn ‘Abdillah)

    Umat Muhammad Saw senantiasa berhadapan dengan orang-orang yang ingin melepaskan mereka dari keyakinan dan keteguhan akidahnya yang umumnya disebabkan oleh mereka-mereka yang menganut ajaran Nasrani (baca: Kristenisasi), sebagai suatu pertolongan dari Allah terhadap orang-orang yang beriman ini yaitu dengan dikembalikannya kebenaran yang pernah disampaikan oleh ‘isa al-Masih yang merupakan dasar dan tokoh utama yang menjadi panutan kaum Masehi.

    Kehadiran risalah ‘Isa yang sejati ini bertepatan disaat terbit fajar dari Baitul Maqdis, yaitu mulai tercerahkannya orang-orang cendikiawan dan ahli kitab akan kesalahan keyakinan yang telah mereka anut selama ini.

    Waktu terbit fajar adalah saat dimana matahari mulai muncul menyinari bumi, yaitu dikala kesadaran mulai menyelimuti para penganut kitab Bible terhadap kandungan-kandungan yang ada didalamnya dan berganti dengan memahami kandungan ajaran Muhammad Saw.

    Tampilnya keberadaan ‘Isa al-Masih ini menurut Hadist Nabi diatas akan turun kepada al-Mahdi, sebelum kita berbicara mengenai hal ini, mari terlebih dahulu kita mengerti apa yang dimaksud dengan al-Mahdi itu sendiri.

    Kata al-Mahdi sering dipasangkan oleh orang dengan perkataan Imam yang berarti Pemimpin, jadi bila disebut sebagai Imam al-Mahdi (baca: Imam Mahdi) maka berarti orang atau pemimpin yang telah mendapat hidayah atau petunjuk dari Allah.

    Dengan demikian bisalah kita tarik garis lurus pengertian ini dengan kriteria apa yang disebut al-Qur’an terhadap orang yang telah mendapatkan petunjuk Allah ini :

    “Itulah petunjuk Allah yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Qs. Al-An’am 6:88)

    Berdasarkan ayat diatas terdapatlah kesimpulan, bahwa siapapun bisa menjadi al-Mahdi. Karena petunjuk dan bimbingan dari Allah itu bisa ada pada manusia manapun diantara hamba-hambaNya yang dikehendaki oleh Allah sendiri tanpa mesti terikat dengan satu individu tertentu.

    Ayat diatas tidak menunjukkan pengecualian petunjuk dan bimbingan Allah itu hanya ditujukan kepada orang-orang yang beriman saja, sebab keadilan Allah itu tidak terbataskan dan sangat susah untuk bisa kita tebak.

    Dalam bukunya yang berjudul Islam Aktual, Jalaludin Rakhmat meriwayatkan bahwa Imam Ali bin Abu Thalib ra pernah berkata : “Hikmah itu barang berharga yang hilang dari seorang Mukmin, karena itu, dimanapun orang Mukmin menemukan hikmah, maka harus memungutnya. Ambillah hikmah itu walaupun dari orang munafik!”

    Begitupun Nabi Muhammad Saw sendiri pernah bersabda: “Ambillah hikmah dan jangan merisaukan kamu darimaka hikmah itu keluar.”

    Jadi bisa saja seorang yang kafir mendapatkan bimbingan oleh Allah dalam hal ilmu duniawi, akan tetapi dia hampa dari bimbingan Allah untuk ilmu akhirat. Sebaliknya melalui tangan-tangan orang-orang kafir inilah Allah membuktikan kebesaran-Nya sekaligus mengajarkan kepada kaum Muslimin atas kebenaran risalah Rasul-Nya.

    Sebagaimana bunyi dari bagian terakhir ayat tersebut : “Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.”

    Ini merupakan penerangan kepada kita, bahwa cendikiawan manapun itu dan berasal dari agama apapun dia tidak menutup kemungkinan bagi Allah untuk membagikan ilmu dunia-Nya kepada mereka, untuk berlaku sebagai al-Mahdi, sebagai orang yang dibimbing Allah.

    Akan tetapi jika dalam urusan ke-Tuhanan al-Mahdi ini berlaku ingkar, berlaku menyekutukan Allah terhadap yang lain maka seluruh ilmu dan bimbingan yang diberikan oleh Allah untuknya tidak akan memberikan pengaruh apa-apa bagi kehidupan akhiratnya kelak.

    Dan berdasarkan Hadist yang diriwayatkan oleh Ibn Amr ad-Dani dari Jabir ibn ‘Abdillah yang telah kita kutip diatas, bahwa ‘Isa al-Masih akan turun kepada al-Mahdi adalah satu perwujudan dari kembalinya ajaran ‘Isa yang sejati kepada orang-orang yang telah dibimbing oleh Allah dalam urusan agama yang tidak akan menyalahi satu titikpun terhadap apa-apa yang sudah diajarkan oleh Muhammad Saw.

    Kita lihat kembali satu Hadist dibawah ini :

    “Manusia akan keluar dari arah timur menyerahkan kekuasaan kepada al-Mahdi.” (Diriwayatkan oleh Ibn Majah dan Tabrani dari ‘Abdullah ibn Sa’id az-Zubaidi)

    Ini juga menjadi satu tambahan nubuat yang jelas, bahwa cahaya kebesaran Islam akan beralih kepada kaum cendikiawan dari negeri barat yang telah mendapatkan hidayah Allah untuk berakidahkan Islam.

    Nabi Muhammad Saw memberikan tamsilan bahwa pada masa itu manusia akan keluar dari arah timur, yaitu dari arah umumnya matahari terbit setiap harinya kemudian menyerahkan kekuasaan kepada al-Mahdi yang memiliki pengertian tenggelamnya cendikiawan-cendikiawan Muslim dari asal kelahiran Islam kedalam perpecahan dan kebodohannya telah menghantarkan kemegahan dan kebenaran risalah Allah kepada orang-orang Barat.

    Kita kenal orang-orang semacam Maurice Bucaille, Napoleon Bonaparte, Will Durant, Ahmad Deedat, Prof. Dr. Joe Leigh Simpson, Proffesor Moore, Thomas Muhammad Clayton, Thomas Irving, Dr. Umar Rolf Baron Ehrenfels, Sir Jalaludin Louder Brunton adalah sederetan kecil dari daftar nama-nama orang yang telah membuktikan kebenaran agama Allah yang berasal dari negeri Barat.

    Dan kaum muslimin bersama ‘Isa al-Masih akan bahu membahu bersama al-Mahdi didalam menumpas Dajjal, bahwa para pakar ilmu pengetahuan bersama-sama dengan Ahli Kitab yang tercerahkan dan segenap kaum Muslimin akan mengadakan perlawanan terhadap para pembangkang agama, para pimpinan dan masyarakat dinegara zionis yang menawarkan racun dalam bentuk madu kepada masyarakat Islam, menjual neraka dengan nama syurga kepada orang-orang yang beriman.

    Semoga kita semua dapat terhindar dari Dajjal-dajjal ini dan bersama mencerahkan kembali bumi Timur dengan ajaran Islam yang sejati, mengembalikan kebenaran dari ajaran ‘Isa al-Masih yang telah diselewengkan, menjadi Mahdi-mahdi yang siap bertempur dijalan Allah dengan segenap jiwa, raga dan harta.

    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang percaya kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (Qs. 49:15)

    Wassalam.

    Armansyah

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 13 February 2019 Permalink | Balas  

    Hukum Cium Tangan Oleh Syaikh Abdullah bin Abdurrahman… 

    Hukum Cium Tangan

    Oleh : Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin*

    Menurut kami, mencium tangan orang yang memiliki keutamaan seperti orang tua, ulama, guru dan lainnya adalah boleh, dalam rangka menghormati dan bersikap sopan kepada mereka.

    Ibnu Al Arabi (bukan Ibnu Arabi tokoh sufi/filsafat !) telah menulis risalah tentang hukum cium tangan dan sejenisnya, dan sebaiknya merujuk kepada risalahnya.

    Bila mencium tangan itu dilakukan terhadap kerabat-kerabat yang lebih tua atau orang-orang yang memiliki keutamaan, ini berarti sebagai penghormatan, bukan menghinakan diri bukan pula pengagungan.

    Kami dapati sebagian Syaikh kami mengingkari dan melarangnya, hal itu karena sikap rendah hati mereka, bukan berarti mereka mengharamkannya. Wallahu a’lam.

    ***

    Maraji’: Fatwa-fatwa Terkini Jilid 3, Darul Haq, Jakarta, Cetakan Pertama, September 2004 M, hal. 91-92

    *Beliau salah satu murid Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 12 February 2019 Permalink | Balas  

    Berbuat Baik Kepada Kedua Orang Tua dan Memberikannya Nafkah 

    Berbuat Baik Kepada Kedua Orang Tua dan Memberikannya Nafkah

    Oleh : Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

    Berbakti kepada kedua orang tua adalah berbuat baik kepada keduanya dengan harta, bantuan fisik, kedudukan dan sebagainya, termasuk juga dengan perkataan. Allah SWT telah menjelaskan bakti ini dalam firmannya :

    “Immaa yablughonna ‘indaka al kibara ahaduhumaa au kilaa humaa falaa taqullahumaa uffin wa laa tanhar humaa waqullahumaa qoulan kariima” yang artinya “Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkatan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (QS. Al Isra’ : 23)

    Demikian ini terhadap orang tua yang sudah lanjut usia. Biasanya orang yang sudah lanjut usia perilakunya tidak normal, namun Allah SWT menyebutkan :

    “Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’”

    Yakni sambil merasa tidak senang kepada keduanya,

    “Dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”.

    Bentuk perbuatan, hendaknya seseorang bersikap santun dihadapan mereka serta bersikap sopan dan penuh kepatuhan karena statusnya adalah sebagai kedua orang tuanya, demikian berdasarkan firman Allah SWT :

    “Wakhfidh lahumaa janaahadz dzulli minarahmah wa qurrabbirhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa” yang artinya “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidiku di waktu kecil’” (QS Al Isra’ : 24).

    Lain dari itu, hendaknya pula berbakti dengan memberikan harta, karena kedua orang tua berhak memperoleh nafkah, bahkan hak nafkah mereka merupakan hak yang paling utama, sampai-sampai Rasulullah SAW pernah bersabda :

    “Anta wa maaluka liabiika” yang artinya “Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu” (HR. Abu Daud dalam Al Buyu’ dan HR Ibnu Majah dalam At Tijarah)

    Semoga bermanfaat

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 11 February 2019 Permalink | Balas  

    Pengenalan Diri melalui Surah al-Qur’an 

    Pengenalan Diri melalui Surah al-Qur’an

    Oleh : Armansyah

    Assalamu’alaykum Wr. Wb.

    Dalam tulisan kali ini, saya mengajak kita semua merenung mengenai hakikat diri masing-masing, tanpa bermain ayat dan tanpa harus bersusah payah berpikir dengan semua dalil dan teori yang memusingkan kepala. Saya mencoba memperkenalkan metode pengenalan diri melalui nama surah (khususnya 5 surah pertama) dari al-Qur’an dengan semua kesederhanaan kalimatnya. Semoga bermanfaat.

    Surah pertama dalam al-Qur’an adalah al-Fatihah, surah ini juga dikenal sebagai surah pembuka, ummul Qur’an, surah 7 ayat berulang dan sebagainya. Inilah inti dari al-Qur’an, tanpa surah ini maka sebuah kitab tidak bisa disebut al-Qur’an, tanpa membaca surah ini pula maka tidak syah sholat seorang muslim bahkan tanpa membaca surah ini pula menurut perhitungan matematis Dr. Rasyad Khalifah (lihat : http://www.submission.org/salat19.html) berarti seorang muslim sudah menghilangkan kata sandi senilai 608, karena setiap huruf dalam al-Fatihah memiliki nilai tersendiri.

    Setiap manusia, siapapun itu didalam sejarah hidupnya pasti melalui surah al-Fatihah, artinya kita-kita ini pasti pernah memulai dari awal, dari dasar. Apa awal dari manusia ? nutfahkah ? mungkin jawaban ini benar, tetapi nutfah adalah pembentuk awal kemanusiaan dan bukan awal dari manusia itu sendiri. Awal kehidupan manusia dimulai sejak ia dilahirkan ibunya kedunia ini. Detik pertama dia menghirup udara maka detik itupulalah sejarah manusia tersebut dimulai.

    Bahkan seorang ‘Isa al-Masih yang proses kejadiannya tampak begitu istimewa, tidak terkecuali untuk memulai hidupnya dari seorang bayi merah. Sama seperti yang lain. (lihat rujukan Qs. Ali Imran 3 ayat 59)

    Dari surah ini kita diajar banyak hal, bahwa semua ayat baik yang panjang maupun yang pendek didalam al-Qur’an akhirnya akan kembali pada surah al-Fatihah, karena dalam surah inilah semua pujian dan doa serta pentauhidan Tuhan terintegrasi menjadi satu.

    Begitupula manusia, dia hakekatnya adalah bayi, semua kedudukan sosial serta harta benda yang ia miliki akan kembali pada kekerdilan dirinya dimata sang Khaliq yang serba Maha.

    Sosok manusia tidak ubahnya bagaikan bulatan kecil bumi ditengah samudra galaksi yang Maha Luas dan tak hingga (alpha dan omega). Kenapa manusia masih banyak yang berlaku sombong atas semua yang dia miliki ? Dilihat secara ultraviolet, manusia itu telanjang, tanpa pakaian, tanpa kedudukan, tanpa apa-apa. Begitulah kira-kira cara Tuhan memandang kita (lihat rujukan Surah al-A’raaf 7 ayat 26)

    Jikapun kita berkuasa, apakah iya kita berkuasa atas nafas kita ? atas udara yang kita hisap ? apa iya kita berkuasa atas setan yang ada didiri kita ? – Rasanya kok nggak ya.

    Bahkan satu contoh yang paling ringan bahwa kita tidak berkuasa untuk menahan rasa kebelet untuk buang air. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang akan kita dustakan ? (lihat rujukan Surah an-Najm 53 ayat 55)

    Artinya, semua anggota tubuh kita ini bukanlah milik kita, apalagi harta dan kedudukan. Kita ini bayi, kita ini al-Fatihah, seharusnya kita menjadi ayat yang berfungsi sebagai pujian terhadap Allah, sebagai alat pengabdian, penyebar petunjuk bagi orang lain kepada jalan yang lurus sekaligus penolak pada nilai-nilai kebatilan, keterpurukan dan kesesatan.

    Surah kedua adalah al-Baqarah, yang secara harfiah berarti Sapi Betina.

    Seorang bayi yang baru lahir, dia memerlukan asupan susu, entah itu berupa ASI atau susu olahan.

    Jika sebagai penyambung al-Fatihah tertulis al-Baqarah, ini tidak serta merta satu petunjuk bahwa seorang bayi harus minum susu sapi.

    Penyebutan sapi betina merujuk pada satu kebutuhan yang ada pada seorang bayi, dia perlu kehangatan, dia perlu nutrisi awal, nutrisi satu-satunya yang bisa ia cerna, karena tidak mungkin dia bisa mengkonsumsi coca cola atau fanta, dia perlu susu, perlu hal yang putih, bersih dan sehat.

    Inilah gambaran kita, membutuhkan nilai-nilai yang lurus, yang bisa memenuhi gizi kejiwaan sebagai satu-satunya sumber asupan yang bisa kita terima agar bisa tumbuh menjadi kepribadian yang dewasa dan tangguh.

    Kita perlu nilai-nilai yang sehat dan benar untuk sampai pada satu pemahaman tertentu, hati dan niat ini harus bersih dan akal kita harus bisa berpikir realistis obyektif. Inilah makna ayat al-Qur’an : hendaklah engkau berlaku adil, jangan karena kebencianmu pada sesuatu hal membuatmu gelap mata, membuatmu menjadi subyektif. (Lihat rujukan Surah al-Maidah 5 ayat 8).

    Surah al-Baqarah merupakan satu-satunya surah terpanjang didalam al-Qur’an, ini merefleksikan bahwa manusia itu akan terus memerlukan nilai-nilai yang bersih dan sehat tadi sepanjang masa, tidak ada batasan, karenanya Nabi bersabda : menuntut ilmu itu wajib bagi seorang muslim sampai ia mendatangi kuburnya sendiri.

    Selanjutnya surah al-Baqarah disambung dengan ali Imran dan an-Nisaa’, masing-masing mewakili kedua orang tua kita, yang satu laki-laki dan yang lainnya wanita. Bahwa didalam hidup, kita tidak hanya membutuhkan nilai tetapi juga memerlukan bantuan lingkungan disekitar kita, butuh keberadaan sosok bapak dan ibu yang membuat kita menjadi aman, tentram dan damai. Secara lebih luas, kita perlu melakukan interaksi dengan semua komponen masyarakat (pria dan wanita pada ali Imron dan an-Nisaa’ menggambarkan adanya keragaman).

    Kita tidak bisa hidup sendiri, kita adalah makhluk sosial yang saling berinteraksi antar sesama kita (lihat rujukan Surah al-Hujuraat 49 ayat 13).

    Orang yang hanya mau bergaul dengan sekelompok kaum tertentu saja, bertaklid pada satu jemaah tertentu dan meninggalkan kaum atau jemaah yang lainnya sama seperti seorang anak yang hanya memerlukan ibunya saja atau bapaknya saja, dan jelas ini satu kepincangan.

    Bersikaplah yang wajar, bergaullah dengan semua komponen masyarakat tanpa membedakan apakah mereka sama jemaahnya dengan kita, sama jalan pemikirannya dengan kita atau sebaliknya. Apalagi jika ini menyangkut hubungan sesama muslim, malah al-Qur’an berkata, satukan hubungan yang retak antar sesama saudaramu seiman, jauhi prasangka yang jahat kepadanya (lihat rujukan Surah al-Hujuraarat 49 ayat 12).

    Surah kelima, surah al-Maaidah yang berarti hidangan.

    Hidangan disini adalah suatu sajian makanan, seorang bayi dia memerlukan asupan susu dan belaian kasih sayang kedua orang tuanya, seorang manusia perlu belajar nilai-nilai kebenaran yang obyektif dan melakukan silaturahhim terhadap sesamanya, dan dia perlu berbagi.

    Saat sudah menjelang dewasa usia, kita tidak lagi menjadi bayi, kebutuhan gizi kita sudah lebih besar dari susu putih didalam botol. Kita menuntut menu lain, kita mulai belajar memakan makanan yang lebih keras, lebih kejal dan lebih berasa.

    Semakin kita banyak belajar dan berinteraksi maka kepribadian kita seharusnya semakin meningkat, semakin menuntut lebih banyak dari sebelumnya, semakin kita belajar semakin kita merasa ilmu ini teramat sedikit, semua kekayaan pemikiran, khasanah pengetahuan harus bertambah demikian juga dengan ketakwaan maupun kesederhanaan jiwa.

    Inilah inti dari sabda Nabi : Sesungguhnya siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka dia orang yang beruntung, tetapi orang yang hari ini lebih buruk dari sebelumnya maka dia termasuk orang yang merugi (lihat rujukan Surah al-Ashar 103 ayat 1 s/d 3).

    Masihkah kita belum mengnal siapa diri kita sejauh ini ?

    Haruskah pembahasan ini dilanjutkan pada surah-surah lainnya?

    Untuk sementara ini, biarlah tulisan ini berhenti sampai disini agar dapat direnungkan dan mencari kedalam inti diri, siapa aku?

    Wassalam,

    Mohon maaf lahir dan batin, semoga Allah mengampuni.

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 10 February 2019 Permalink | Balas  

    Relikui Rasulullah di Istana Topkapi 

    Relikui Rasulullah di Istana Topkapi

    Jejak-jejak Nabi Muhammad Saw dalam bentuk relikui (peninggalan barang atau benda suci-Red) tak hanya bis dijumpai di Makkah atau Madinah di Arab Saudi, kita pun bisa menjumpainya di wilayah yang agak jauh dari situ. Misalnya di Turki, atau tepatnya di Istana Topkapi.

    Istana Topkapi suatu istana 24 raja dari Dinasti Ottoman Turki yang sangat terkenal. Istana tersebut berfungsi selama sekitar 400 tahun sejak mulai dibangun pada tahun 1453 Masehi, atau pada masa pemerintahan Sultan Mehmet II. Selama itu pula, pembangunan dan pembaharuan istana dilangsungkan tanpa henti hingga tahun 1850.

    Istana yang berluas 700 meter persegi dan dikelilingi tembok sepanjang 5 kilometer itu berada di titik pertemuan Selat Bosphorus, Tanjung Tanduk Emas (Golden Horn), dan Laut Marmara. Topkapi dalam bahasa Turki yang artinya “Gerbang Meriam” yang merupakan salah satu pintu masuk ke dalam istana.

    Jadi, mengunjungi istana tersebut, terlebih-lebih saat memasuki ruangan yang menyimpan relikui Rasulullah, saya seperti dibawa ke masa Nabi hidup. Dan tempat itu bisa menjadi tujuan berwisata agama yang sangat mencerahkan batin.

    Ada banyak sekali relikui yang tersimpan di istana tersebut. Di antara yang paling menarik adalah relikui Rasulullah dan 4 sahabatnya. Benda-benda itu ditempatkan di ruangan yang terpisah dari bangunan utama Istana Topkapi dan berada di ruang yang disebut Paviliun Relikui Suci. Selain menjadi bukti kebesaran Islam, Dinasti Ottoman itu sendiri adalah sebuah lambang kejayaan Islam di wilayah yang sekarang masuk ke dalam wilayah Eropa tersebut.

    Bagaimana relikui Rasulullah bisa sampai jauh dari tanah asal tempat Nabi hidup? Sejarah dimulainya pengumpulan relikui tersebut bermula dari masa pemerintahan Sultan Selim I (1512-1520). Taj al-Tawarikh (Catatan Kejadian Para Raja) yang ditulis Sadeddin Effendi menyebutkan, ketika itu Sultan Selim hampir tiap malam tidak dapat tidur. Dalam kondisi seperti itu, dia selalu ditemani Hasan Can (ayah Sadeddin Effendi). Mereka selalu terlibat diskusi yang serius.

    Pada suatu hati Hasan Can sangat mengantuk dan tertidur. Pagi harinya sang raja menanyakan mimpi lelaki itu. Awalnya pertanyaan itu mengagetkan Hasan. Tapi anehnya, mimpi Hasan Can serupa dengan mimpi Hasan Aga si Penjaga Pintu Raja. Dalam mimpi mereka, mereka melihat sekelompok orang Arab dengan wajah berkilauan sedang berdiri di dekat pintu. Orang-orang itu bersenjata dan memegang bendera. Salah seorang yang memegang bendera kesultanan yang berwarna putih mengetuk pintu. Ketika Hasan Aga membuka pintu, sang tamu berkata, “Mereka ini pendamping Rasulullah. Beliau mengirimkan salam dan berkata Katakan pada rajamu, bangkit dan datanglah. Penjaga Haramain (Kota suci Makkah dan Madinah-Red), menganugerahkan padamu. Ini Abubakar al-Siddiq, Ini Umar al-Faruq, dan ini Uthman Zinnurayn. Saya Ali bin Abu Thalib. Sampaikan salamku untuk Selim Khan.”

    Ketika Sultan Selim mendengar hal itu, wajahnya memerah dan mulai menangis. Kemudian dia berkata pada Hasan Can, “Saya telah mengatakan padamu bahwa saya tidak akan bertindak tanpa perintah. Nenek moyang saya sekarang telah merestui dengan kebijakan suci. Saya tidak bisa menyamai mereka”.

    Setelah mimpi spiritual tersebut, Sultan Selim I mulai melakukan invasi ke Kesultanan Mamluk yang berpusat di Mesir. Tak lama kemudian, Mesir dan Hijaz (Arab Saudi sekarang) menjadi bagian dari Kesultanan Turki. Penaklukan Mesir ditandai dengan klaim atas wilayah itu oleh Sultan Selim pada 20 Pebruari 1517 di Masjid Mallik Muayyad, Kairo.

    Hijaz yang ketika itu juga wilayah Kesultanan Mamluk diklaim Sultan Selim dengan menyebut dirinya sebagai “Pelayan Haramain”. Abu Numay, anak Sharif Barakat (Gubernur Makkah saat itu) segera menyerahkan kunci Makkah dan Madinah.

    Penaklukan itulah awal kisah keberadaan relikui di Istana Topkapi. Saat kembali ke Turki, Sultan Selim membawa serta relikui Nabi Muhammad yang sekian lama disimpan Kesultanan Mamluk. Relikui itu adalah mantel, tongkat, gigi (yang tanggal pada Perang Uhud), segenggam janggut, bendera, pena, sajadah, tasbih kayu, bakiak atau terompah, pedang hitam (Pedang Nabawi), busur panah, serban, dan sabuk. selain itu, masih ada beberapa relikui lainnya, termasuk pedang-pedang milik 4 sahabat Nabi.

    Berlanjut

    Pengumpulan relikui tersebut terus berlanjut. Setelah Sultan Selim I, para penggantinya pun dengan antusias melakukan hal serupa. Wilayah pengumpulannya pun meluas hingga Oran, Baghdad, dan banyak wilayah lainnya. Dari Kairo dan Makkah pun masih banyak lagi yang dibawa ke Turki.

    Salah satu yang mengagumkan adalah cetakan telapak kaki Nabi Muhammad. Benda itu diboyong dari Tripoli, Libya. Telapak kaki itu dipercaya tercetak saat Rasulullah melakukan Mi’raj dari Masjidil Aqsa. Atas kuasa Allah, saat hendak naik ke langit, pada batu tempat berpijaknya tercetak telapak kaki beliau. Yang tersimpan di istana Topkapi hanya cetakan telapak kaki kanan, sedangkan cetakan telapak kaki kiri masih tersimpan di Masjidil Aqsa sampai sekarang.

    Tak kalah pentingnya adalah beberapa surat dan segel peninggalan nabi. Surat-surat itu ditujukan pada beberapa orang. Bisa dinukilkan di sini bunyi surat yang ditujukan kepada Muqawqis, pemimpin Kaum Kopts, sebagai berikut: “Dengan nama Allah yang Mahapengasih dan Mahapenyayang. Dari Muhammad, pelayan Allah dan pembawa berita-Nya kepada Muqawqis, Pemimpin Kopts. Aman dan damai bagi mereka yang berjalan di sisi yang benar. Karena itu, saya mengundang Anda untuk menerima Islam. Jika Anda menerima, Anda akan menemukan kedamaian. Anda akan menyelamatkan takhta Anda, dan Anda akan mendapatkan keuntungan dua kali lipat untuk membiarkan takhta Anda dimuliakan oleh Islam. Jika Anda membalikkan badan pada tawaran ini, tanggung jawab untuk kerusakan dengan jatuh dari takhta oleh sebab Anda sendiri. O, Rakyat Book, kemarilah dan jadilah satu berkumpul dalam satu bahasa. Jangan memuja apa pun selain Allah. Jangan mempersekutukan apa pun dengan-Nya. Jangan meninggalkan Allah dan saling menyembah satu sama lain. Jika Anda memalingkan undangan ini, Anda akan tahu bahwa kami Muslim.”

    Tegas dan bernas isi surat itu. Surat dengan ketegasan dan kebernasan serupa bisa dibaca pada surat yang ditujukan pada Musaylima si Pembohong. “Dengan nama Allah yang Mahapengasih dan Mahapenyayang. Dari Muhammad, pelayan Allah dan pembawa berita-Nya kepada Musaylima si Pembohong. Aman dan damai bagi mereka yang berjalan di sisi yang benar. Mulai sekarang, bumi milik Allah. Dia memberikannya pada siapa saja yang Dia kehendaki. Yang terindah adalah milik Allah. Jika Anda dan mereka menyesal, Allah akan mengampuni Anda dan mereka yang menyesal bersama Anda.”

    Perlu dicatat, pada bagian bawah surat-surat itu selalu tertera segel yang bertuliskan Muhammad Rasullulah. Segel tersebut terbuat dari batu merah Cornelian. Tadinya segel tersebut berbentuk bulat, diikat dengan perak, dan dipakai sebagai cincin di jari Nabi. Saat Muhammad wafat, cincin segel itu diwariskan pada Abubakar, kemudian ke Umar bin al-Khattab, dan Usman bin Affan. Usman secara tidak sengaja menjatuhkannya ke dalam Sumur Eris dan mencarinya hingga beberapa hari tetapi tidak ditemukan.

    Maka selanjutnya Usman membuat segel dengan kalimat yang sama dan diwariskan kepada Dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Segel tersebut ditemukan di Baghdad dan dibawa ke Topkapi. Dengan begitu boleh diasumsikan bahwa segel tersebut dipakai oleh para pemimpin Dinasti Abbasiyah yang bermukim di Irak. Asumsi itu mendapat pembuktian jika kita mencermati bentuk teraan segel pada surat-surat yang ada di Topkapi. Pada surat-surat Nabi, teraan segelnya bulat dan itu dibuat sebelum segelnya dijatuhkan Usman, sementara segel yang disimpan di Topkapi berbentuk kotak.

    Peninggalan penting lainnya adalah manuskrip Alquran yang pertama. Sebelum Alquran disatukan menjadi kitab, manuskrip pertama Alquran dituliskan di atas lembaran kulit binatang. Salah satu yang tersimpan di Topkapi menyuratkan Surat Al Qadar.

    Tak hanya relikui Rasulullah, Topkapi juga menyimpan banyak relikui tokoh-tokoh lainnya yang dikenal dalam sejarah Islam. Beberapa bisa disebutkan antara lain potongan serban Syeh Abdul Qodir Jaelani, mangkuk Nabi Ibrahim, tongkat Nabi Musa, pedang Nabi Daud, serban Nabi Yusuf, jubah dan sajadah Fatimah al Zahra.

    Dari semua itu, yang paling mengejutkan adalah relikui potongan tangan kanan milik Yohannes Pembaptis yang dikenal dalam sejarah kristiani. Tangan kanan itulah yang dulu membaptis Yesus di Sungai Yordan. Cerita sejarah memang menyebutkan bahwa Yohannes Pembaptis dipenggal oleh Raja Herodes dari Kerajaan Romawi. Relikui tersebut ke Istanbul dari Antiokia pada saat Konstantin VII (Kerajaan Katolik penguasa Turki sebelum Dinasti Turki Ottoman).

    Tadinya sejak abad ke-12, relikui itu disimpan di Kapel Konstantin sebelum dipindah ke Gereja Perawan Maria, hingga akhirnya pindah ke Gereja Periblebtos. Saat Turki dikuasai Dinasti Ottoman, relikui itu jatuh ke tangan orang Islam.

    Masih banyak lagi relikui yang belum disebutkan. Yang pasti, berkunjung ke situ, Anda seperti tengah berpesiar ke alam spiritual para tokoh agama. Lebih menarik lagi, pada Paviliun Relikui Suci, kita bisa mendengar alunan bacaan Alquran oleh 24 orang Hafiz Quran secara bergantian 24 jam nonstop. Dan bayangkan, lantunan ayat suci itu sudah berlangsung tanpa jeda sejak tahun 1517.

    ***

    (Arya H-13)

    Sumber: SuaraMerdeka

     
  • erva kurniawan 2:06 am on 9 February 2019 Permalink | Balas  

    Hajar Aswad Batu Surga Saksi Kita di Akhirat 

    Hajar Aswad Batu Surga Saksi Kita di Akhirat

    Diyakini sebagai batu surga, Hajar Aswad bakal menjadi saksi kita di akhirat kelak. Karena itulah, meski sunah hukumnya, ribuan jamaah haji berupaya sekuat tenaga untuk dapat menciumnya. Meski hanya sunah, setiap jamah haji selalu berupaya untuk sebisa mungkin dapat mencium Hajar Aswad (batu hitam). Selain diyakini sebagai batu surga, konon, Hajar Aswad kelak akan menjadi saksi kita di akhirat.

    Terletak di sudut selatan Kabah pada ketinggian 1,10 meter dari lantai Masjidil Haram, batu hitam berukuran 25 x 17 cm ini selalu menyedot perhatian jamaah haji. Mereka berusaha untuk dapat menciumnya, atau paling tidak dapat ber-ihtilam (menyalaminya atau mencium tangan ketika tawaf).

    Meski demikian, untuk melakukan ritual ini (mencium Hajar Aswad), setiap orang dituntut kesabarannya, mengingat banyaknya jamaah haji yang memiliki niat serupa. Karena itu, tidak dibenarkan jika kita memaksakan untuk menciumnya sembari menyakiti jemaah yang lainnya. Apalagi jika hal itu memicu keributan dengan sesama jamaah. Di lain pihak, karena hukumnya bukan wajib melainkan sunah, sejauh ini Pemerintah Arab Saudi tidak menyediakan sarana sebagaimana tawaf dan sa’i.

    Apa makna di balik prosesi mencium Hajar Aswad? Konon, mencium Hajar Aswad adalah lambang perjanjian kita dengan Allah SWT. Hajar Aswad melambangkan “tangan Allah”. Mencium Hajar Aswad-baik dari dekat maupun dari jauh melambangkan perjanjian kita dengan “menjabat” tangan Allah. Seakanakan kita berkata: “Ya Allah, saya berjanji bahwa mulai saat ini saya telah masuk ke dalam lingkaran-Mu, dan tidak akan pernah keluar dari lingkaran-Mu ini”. Karena itu, jika ada kesempatan dan kemampuan, setiap jamaah disunahkan untuk mencium Hajar Aswad.

    Mulanya Putih

    Menurut sejarahnya, Hajar Aswad adalah batu yang diberikan Malaikat Jibril kepada Nabi Ismail AS ketika diperintah mencari batu oleh ayahnya, Nabi Ibrahim AS yang hendak meninggikan Kabah. Kala itu, Hajar Aswad menyala-nyala karena saking putihnya. Cahayanya menyinari Barat dan Timur.

    Tapi mengapa Hajar Aswad sekarang berwarna hitam? Ada beberapa versi mengenai hal ini. Hajar Aswad itu berubah warnanya menjadi hitam pekat karena diduga kuat akibat peristiwa kebakaran yang terjadi di zaman Quraisy dan di era Ibnu Zubair. Akibatnya Hajar Aswad mengalami keretakkan yang kemudian diikat oleh Ibnu Zubair dengan perak ketika ia merenovasinya.

    Versi lainnya menyebutkan, berubahnya warna Hajar Aswad dari semula abyad (putih) menjadi aswad (hitam) karena dosa-dosa anak cucu Adam. Dalam kaitan ini ada sabda Rasulullah SAW yang artinya:

    “Hajar Aswad itu diturunkan dari surga, berwarna lebih putih dari susu. Dosa-dosa anak cucu Adam-lah yang menjadikannya hitam”. Mana yang benar? Wallaahua’lam.

    Dalam kaitan versi kedua, Ibnu Zhahirah mengingatkan bahwa dosa-dosa anak manusia saja bisa menghitamkan batu, apalagi pengaruhnya terhadap hati manusia. Ini jelas sebagai peringatan kepada anak cucu Adam agar hanya kepada Allah SWT sajalah kita bertumpu.

    Hajar Aswad yang sekarang adalah 8 bongkahan kecil akibat pecahnya batu yang semula besar. Kedelapan bongkahan itu masih tersusun rapi pada tempatnya seperti sekarang. Pecahnya batu itu terjadi pada zaman Qaramithah, yaitu sekte dari Syi’ah Al-Bathiniyyah dari pengikut Abu Thahir Al-Qaramathi yang mencabut Hajar Aswad dan membawanya ke Ihsa’ pada tahun 319 Hijriyah. Tetapi batu itu dikembalikan lagi pada tahun 339 Hijriah.

    Gugusan yang terbesar berukuran sebuah kurma yang tertanam di batu besar lain dan dikelilingi oleh ikatan perak inilah yang senantiasa dirindui setiap muslim untuk dapat menciumnya. Batu yang terletak dalam lingkaran perak itulah yang diusahakan jamaah haji untuk dapat menciumnya, bukan batu yang berada di sekitarnya.

    Dalam perkembangannya, Hajar Aswad pernah mengalami renovasi pada zaman Raja Fahd, tepatnya pada bulan Rabiul Awal 1422 Hijriyah. Kini, setiap tahun menjelang musim haji, Hajar Aswad senantiasa dibersihkan berbarengan dengan pencucian Kabah. Pada saat inilah, biasanya Pemerintah Arab Saudi memberi kesempatan kepada tamu-tamu kerajaan untuk menyaksikan pencucian Kabah sekaligus mencium Hajar Aswad. TC Nar

    Sumber: Majalah Travel Club

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 8 February 2019 Permalink | Balas  

    Berapakah umur Aisyah ? 

    Berapakah umur Aisyah ?

    Artikel ini saya terjemahkan bagi yang suka malas baca artikel bahasa inggris, dari : The Ancient Myth Exposed By T.O. Shanavas , di Michigan. (c) 2001 Minaret from The Minaret Source: http://www.iiie.net/

    Seorang teman kristen suatu kali bertanya ke saya, ” Akankah anda menikahkan saudara perempuanmu yang berumur 7 tahun dengan seorang tua berumur 50 tahun?” Saya terdiam. Dia melanjutkan,” Jika anda tidak akan melakukannya, bagaimana bisa anda menyetujui pernikahan gadis polos berumur 7 tahun, Aisyah, dengan Nabi anda?” Saya katakan padanya,” Saya tidak unya jawaban untuk pertanyaan anda pada saat ini.” Teman saya tersenyum dan meninggalkan saya dengan guncangan dalam batin saya akan agama saya. Kebanyakan muslim menjawab bahwa pernikahan seperti itu diterima masyarakat pada saat itu. Jika tidak, Orang-orang akan merasa keberatan dengan pernikahan Nabi saw dengan Aisyah.

    Bagaimanapun, penjelasan seperti ini akan mudah menipu bagi orang-orang yang naif dalam mempercayainya. Tetapi, saya tidak cukup puas dengan penjelasan seperti itu.

    Nabi merupakan manusia tauladan, Semua tindakannya paling patut dicontoh sehingga kita, Muslim dapat meneladaninya. Bagaimaanpun, kebanyakan orang di Islamic Center of Toledo, termasuk saya, Tidak akan berpikir untuk menunangkan saudara perempuan kita yang berumur 7 tahun dengan seorang laki-laki berumur 50 tahun. Jika orang tua setuju dengan pernikahan seperti itu, kebanyakan orang, walaupun tidak semuanya, akan memandang rendah thd orang tua dan suami tua tersebut.

    Tahun 1923, pencatat pernikahan di Mesir diberi intruksi untuk menolak pendaftaran dan menolak mengeluarkan surat nikah bagi calon suami berumur dibawah 18 tahun , dan calon isteri dibawah 16 tahun. Tahun 1931, Sidang dalam oraganisasi-oraganisi hukum dan syariah menetapkan untuk tidak merespon pernikahan bagi pasangan dengan umur diatas (Women in Muslim Family Law, John Esposito, 1982). Ini memperlihatkan bahwa walaupun di negara Mesir yang mayoritas Muslim pernikahan usia anak-anak adalah tidak dapat diterima.

    Jadi, Saya percaya, tanpa bukti yang solidpun selain perhormatan saya thd Nabi, bahwa cerita pernikahan gadis brumur 7 tahun dengan Nabi berumur 50 tahun adalah mitos semata. Bagaimanapun perjalanan panjang saya dalam menyelelidiki kebenaran atas hal ini membuktikan intuisi saya benar adanya.

    Nabi memang seorang yang gentleman. Dan dia tidak menikahi gadis polos berumur 7 atau 9 tahun. Umur Aisyah telah dicatat secara salah dalam literatur hadist. Lebih jauh, Saya pikir bahwa cerita yang menyebutkan hal ini sangatlah tidak bisa dipercaya. Beberapa hadist (tradisi Nabi) yang menceritakan mengenai umur Aisyah pada saat pernikahannya dengan Nabi, hadist-hadist tsb sangat bermasalah. Saya akan menyajikan beberapa bukti melawan khayalan yang diceritakan Hisyanm ibnu `Urwah dan untuk membersihkan nama Nabi dari sebutan seorang tua yang tidak bertanggung jawab yang menikahi gadis polos berumur 7 tahun.

    BUKTI #1: PENGUJIAN THD SUMBER

    Sebagaian besar riwayat yang menceritakan hal ini yang tercetak di hadist yang semuanya diriwayatkan hanya oleh Hisham ibn `Urwah, yang mencatat atas otoritas dari Bapaknya,Yang mana seharusnya minimal 2 atau 3 orang harus mencatat hadist serupa juga. Adalah aneh bahwa tak ada seorangpun yang di Medinah, dimana Hisham ibn `Urwah tinggal, sampai usia 71 tahun baru menceritakan hal ini, disamping kenyataan adanya banyak murid-murid di Medinah termasuk yang kesohor Malik ibn Anas, tidak menceritakan hal ini. Asal dari riwayat ini adalah dari orang-orang Iraq, dimana Hisham tinggal disana dan pindah dari Medinah ke Iraq pada usia tua.

    Tehzibu’l-Tehzib, salah satu buku yang cukup terkenal yang berisi catatan para periwayat hadist, menurut Yaqub ibn Shaibah mencatat : ” Hisham sangat bisa dipercaya, riwayatnya dapat diterima, kecuali apa-apa yang dia ceritakan setelah pindah ke Iraq ” (Tehzi’bu’l-tehzi’b, Ibn Hajar Al- `asqala’ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, 15th century. Vol 11, p.50). Dalam pernyataan lebih lanjut bahwa Malik ibn Anas menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq: ” Saya pernah dikasih tahu bahwa Malik menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq” (Tehzi’b u’l-tehzi’b, IbnHajar Al- `asqala’ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, Vol.11, p. 50).

    Mizanu’l-ai`tidal, buku lain yang berisi uraian riwayat hidup pada periwayat hadist Nabi saw mencatat: “Ketika masa tua, ingatan Hisham mengalami kemunduran yang mencolok” (Mizanu’l-ai`tidal, Al-Zahbi, Al-Maktabatu’l-athriyyah, Sheikhupura, Pakistan, Vol. 4, p. 301).

    KESIMPULAN: berdasarkan referensi ini, Ingatan Hisham sangatlah jelek dan riwayatnya setelah pindha ke Iraq sangat tidak bisa dipercaya, sehingga riwayatnya mengenai umur pernikahan Aisyah adalah tidak kredibel.

    KRONOLOGI: Adalah vital untuk mencatat dan mengingat tanggal penting dalam sejarah Islam:

    pra-610 M: Jahiliya (pra-Islamic era) sebelum turun wahyu

    610 M: turun wahyu pertama AbuBakr menerima Islam

    613 M: Nabi Muhammad mulai mengajar ke Masyarakat

    615 M: Hijrah ke Abyssinia.

    616 M: Umar bin al Khattab menerima Islam.

    620 M: dikatakan Nabi meminang Aisyah

    622 M: Hijrah ke Yathrib, kemudian dinamai Medina

    623/624 M: dikatakan Nabi saw berumah tangga dengan Aisyah

    BUKTI #2: MEMINANG

    Menurut Tabari (juga menurut Hisham ibn `Urwah, Ibn Hunbal and Ibn Sad), Aisyah dipinang pada usia 7 tahun dan mulai berumah tangga pada usia 9 tahun.

    Tetapi, di bagian lain, Al-Tabari mengatakan: “Semua anak Abu Bakr (4 orang) dilahirkan pada masa jahiliyah dari 2 isterinya ” (Tarikhu’l-umam wa’l-mamlu’k, Al-Tabari (died 922), Vol. 4,p. 50, Arabic, Dara’l-fikr, Beirut, 1979).

    Jika Aisyah dipinang 620M (Aisyah umur 7 tahun) dan berumah tangga tahun 623/624 M (usia 9 tahun), ini mengindikasikan bahwa Aisyah dilahirkan pada 613 M. Sehingga berdasarkan tulisan Al- Tabari, Aisyah seharusnya dilahirkan pada 613M, Yaitu 3 tahun sesudah masa jahiliyah usai (610 M). Tabari juga menyatakan bahwa Aisyah dilahirkan pada saat jahiliyah. Jika Aisyah dilahirkan pada era Jahiliyah, seharusnya minimal Aisyah berumur 14 tahun ketika dinikah. Tetapi intinya Tabari mengalami kontradiksi dalam periwayatannya.

    KESIMPULAN: Al-Tabari tak reliable mengenai umur Aisyah ketika menikah.

    BUKTI # 3: Umur Aisyah jika dihubungkan dengan umur Fatimah

    Menurut Ibn Hajar, “Fatima dilahirkan ketika Ka`bah dibangun kembali, ketika Nabi saw berusia 35 tahun… Fatimah 5 tahun lebih tua dari Aisyah ” (Al-isabah fi tamyizi’l-sahabah, Ibn Hajar al-Asqalani, Vol. 4, p. 377, Maktabatu’l-Riyadh al-haditha, al-Riyadh,1978).

    Jika Statement Ibn Hajar adalah factual, berarti Aisyah dilahirkan ketika Nabi berusia 40 tahun. Jika Aisyah dinikahi Nabi pada saat usia Nabi 52 tahun, maka usia Aisyah ketika menikah adalah 12 tahun.

    KESIMPULAN: Ibn Hajar, Tabari, Ibn Hisham, dan Ibn Humbal kontradiksi satu sama lain. Tetapi tampak nyata bahwa riwayat Aisyah menikah usia 7 tahun adalah mitos tak berdasar.

    BUKTI #4: Umur Aisyah dihitung dari umur Asma’

    Menurut Abda’l-Rahman ibn abi zanna’d: “Asma lebih tua 10 tahun dibanding Aisyah (Siyar A`la’ma’l-nubala’, Al-Zahabi, Vol. 2, p. 289, Arabic, Mu’assasatu’l-risalah, Beirut, 1992).

    Menurut Ibn Kathir: “Asma lebih tua 10 tahun dari adiknya [Aisyah]” (Al-Bidayah wa’l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 371,Dar al-fikr al-`arabi, > Al-jizah, 1933). Menurut Ibn Kathir: “Asma melihat pembunuhan anaknya pada tahun 73 H, dan 5 hari kemudian Asma meninggal. Menurut iwayat lainya, dia meninggal 10 atau 20 hari kemudian, atau bebrapa hari lebih dari 20 hari, atau 100 hari kemudian. Riwayat yang paling kuat adalah 100 hari kemudian. Pada waktu Asma Meninggal, dia berusia 100 tahun” (Al-Bidayah wa’l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 372, Dar al-fikr al-`arabi, Al- jizah, 1933)

    Menurut Ibn Hajar Al-Asqalani: “Asma hidup sampai 100 tahun dan meninggal pada 73 or 74 H.” (Taqribu’l-tehzib, Ibn Hajar Al-Asqalani,p. 654, Arabic, Bab fi’l-nisa’, al-harfu’l-alif, Lucknow).

    Menurut sebagaian besar ahli sejarah, Asma, Saudara tertua dari Aisyah berselisuh usia 10 tahun. Jika Asma wafat pada usia 100 tahun dia tahun 73 H, Asma seharusnya berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (622M).

    Jika Asma berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (ketika Aisyah berumah tangga), Aisyah seharusnya berusia 17 atau 18 tahun. Jadi, Aisyah, berusia 17 atau 18 tahun ketika hijrah pada taun dimana Aisyah berumah tangga.

    Berdasarkan Hajar, Ibn Katir, and Abda’l-Rahman ibn abi zanna’d, usia Aisyah ketika beliau berumah tangga dengan Rasulullah adalah 19 atau 20 tahun.

    Dalam bukti # 3, Ibn Hajar memperkirakan usia Aisyah 12 tahun dan dalam bukti #4 Ibn Hajar mengkontradiksi dirinya sendiri dengan pernyataannya usia Aisyah 17 atau 18 tahun. Jadi mana usia yang benar ? 12 atau 18..? kesimpulan: Ibn Hajar tidak valid dalam periwayatan usia Aisyah.

    BUKTI #5: Perang BADAR dan UHUD

    Sebuah riwayat mengenai partisipasi Aisyah dalam perang Badr dijabarkan dalam hadist Muslim, (Kitabu’l-jihad wa’l-siyar, Bab karahiyati’l-isti`anah fi’l-ghazwi bikafir). Aisyah, ketika menceritakan salah satu moment penting dalam perjalanan selama perang Badar, mengatakan: “ketika kita mencapai Shajarah”. Dari pernyataan ini tampak jelas, Aisyah merupakan anggota perjalanan menuju Badar. Sebuah riwayat mengenai pastisipasi Aisyah dalam Uhud tercatat dalam Bukhari (Kitabu’l-jihad wa’l-siyar, Bab Ghazwi’l-nisa’ wa qitalihinnama`a’lrijal): “Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, Orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. [pada hari itu,] Saya melihat Aisyah dan Umm-i-Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan sedikit pakaian-nya [untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb].” Lagi-lagi, hal ini menunjukkan bahwa Aisyah ikut berada dalam perang Uhud and Badr.

    Diriwayatkan oleh Bukhari (Kitabu’l-maghazi, Bab Ghazwati’l-khandaq wa hiya’l-ahza’b): “Ibn `Umar menyatakan bahwa Rasulullah tidak mengijinkan dirinya berpastisispasi dalam Uhud, pada ketika itu, Ibnu Umar berusia 14 tahun. Tetapi ketika perang Khandaq, ketika berusia 15 tahun, Nabi mengijinkan Ibnu Umar ikut dalam perang tsb.”

    Berdasarkan riwayat diatas, (a) anak-anak berusia dibawah 15 years akan dipulangkan dan tidak diperbolehkan ikut dalam perangm, dan (b) Aisyah ikut dalam perang badar dan Uhud

    KESIMPULAN: Aisyah ikut dalam perang Badar dan Uhud jelas mengindikasikan bahwa beliau tidak berusia 9 tahun ketika itu, tetapi minimal berusia 15 tahun. Disamping itu, wanita-wanita yang ikut menemani para pria dalam perang sudah seharusnya berfungsi untuk membantu, bukan untuk menambah beban bagi mereka. Ini merupakan bukti lain dari kontradiksi usia pernikahan Aisyah.

    BUKTI #6: Surat al-Qamar (Bulan)

    Menurut beberapa riwayat, Aisyah dilahirkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah. Tetapi menurut sumber lain dalam Bukhari, Aisyah tercatat mengatakan hal ini: “Saya seorang gadis muda(jariyah dalam bahasa arab)” ketika Surah Al-Qamar diturunkan(Sahih Bukhari, kitabu’l-tafsir, Bab Qaulihi Bal al-sa`atu Maw`iduhum wa’l-sa`atu adha’ wa amarr).

    Surat 54 dari Quran diturunkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah(The Bounteous Koran, M.M. Khatib, 1985), menunjukkan bahwa surat tsb diturunkan pada tahun 614 M. jika Aisyah memulai berumahtangga dengan Rasulullah pada usia 9 di tahun 623 M or 624 M, Aisyah masih bayi yang baru lahir (sibyah in Arabic) pada saat Surah Al-Qamar diturunkan. Menurut riwayat diatas, secara aktual tampak bahwa Aisyah adalah gadis muda, bukan bayi yang baru lahir ketika pewahyuan Al-Qamar. Jariyah berarti gadis muda yang masih suka bermain (Lane’s Arabic English Lexicon). Jadi, Aisyah, telah menjadi jariyah bukan sibyah (bayi), jadi telah berusia 6-13 tahun pada saat turunnya surah Al-Qamar, dan oleh karean itu sudah pasti berusia 14-21 tahun ketika dinikah Nabi.

    Kesimpulan: riwayat ini juga mengkontra riwayat pernikahan Aisyah yang berusia 9 tahun.

    BUKTI #7: Terminologi bahasa Arab

    Menurut riwayat dari Ahmad ibn Hanbal, sesudah meninggalnya isteri pertama Rasulullah, Khadijah, Khaulah datang kepada Nabi dan menasehati Nabi untuk menikah lagi, Nabi bertanya kepada nya ttg pilihan yang ada di pikiran Khaulah. Khaulah berkata: “Anda dapat menikahi seorang gadis (bikr) atau seorang wanita yang pernah menikah (thayyib)”. Ketika Nabi bertanya ttg identitas gadis tsb (bikr), Khaulah menyebutkan nama Aisyah.

    Bagi orang yang paham bahasa Arab akan segera melihat bahwa kata bikr dalam bahasa Arab tidak digunakan untuk gadis belia berusia 9 tahun. Kata yang tepat untuk gadis belia yangmasih suka bermain-main adalah, seperti dinyatakan dimuka, adalah jariyah. Bikr disisi lain, digunakan untuk seorang wanita yang belum menikah serta belum punya pertautan pengalaman dengan pernikahan, sebagaiaman kita pahami dalam bahasa Inggris “virgin”. Oleh karean itu, tampak jelas bahwa gadis belia 9 tahun bukanlah “wanita” (bikr) (Musnad Ahmad ibn Hanbal, Vol. 6, p. .210,Arabic, Dar Ihya al-turath al-`arabi, Beirut).

    Kesimpulan: Arti literal dari kata, bikr (gadis), dalam hadist diatas adalah “wanita dewasa yang belum punya pengalaman sexual dalam pernikahan.” Oleh karean itu, Aisyah adalah seorang wanita dewasa pada waktu menikahnya.

    BUKTI #8. Text Qur’an

    Seluruh muslim setuju bahwa Quran adalah buku petunjuk. Jadi, kita perlu mencari petunjuk dari Qur’an untuk membersihkan kabut kebingungan yang diciptakan oleh para periwayat pada periode klasik Islam mengenai usia Aisyah dan pernikahannya. Apakah Quran mengijinkan atau melarang pernikahan dari gadis belia berusia 7 tahun?

    Tak ada ayat yang secara eksplisit mengijinkan pernikahan seperti itu. Ada sebuah ayat , yang bagaimanapun, yang menuntun muslim dalam mendidik dan memperlakukan anak yatim. Petunjuk Qur’an mengenai perlakuan anak Yatim juga valid doaplikasikan ada anak kita sendiri sendiri. Ayat tsb mengatakan : Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. (Qs. 4:5) Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. ?? (Qs. 4:6)

    Dalam hal seorang anak yang ditingal orang tuanya, Seorang muslim diperintahkan untuk (a) memberi makan mereka, (b) memberi pakaian, (c) mendidik mereka, dan (d) menguji mereka thd kedewasaan “sampai usia menikah” sebelum mempercayakan mereka dalam pengelolaan keuangan.

    Disini, ayat Qur’an menyatakan ttg butuhnya bukti yang teliti terhadap tingkat kedewasaan intelektual dan fisik melalui hasil test yang objektif sebelum memasuki usia nikah dan untuk mempercayakan pengelolaan harta-harta kepada mereka.

    Dalam ayat yang sangat jelas diatas, tidak ada seorangpun dari muslim yang bertanggungjawab akan melakukan pengalihan pengelolaan keuangan pada seorang gadis belia berusia 7 tahun. Jika kita tidak bisa mempercayai gadis belia berusia 7 tahun dalam pengelolaan keuangan, Gadis tsb secara tidak memenuhi syarat secara intelektual maupun fisik untuk menikah. Ibn Hambal (Musnad Ahmad ibn Hambal, vol.6, p. 33 and 99) menyatakan bahwa Aisyah yang berusia 9 tahun lebih tertarik untuk bermain dengan mainannya daripada mengambi tugas sebagai isteri. Oleh karean itu sangatlah sulit untuk mempercayai, bahwa AbuBakar,seorang tokoh muslim, akan menunangkan anaknya yang masih belia berusia 7 taun dengan Nabi yang berusia 50 tahun.. Sama sulitnya untuk membayangkan bahwa Nabi menikahi seorang gadis belia berusia 7 tahun.

    Sebuah tugas penting lain dalam menjaga anak adalah mendidiknya. Marilah kita memunculkan sebuah pertanyaan,” berapa banyak di antara kita yang percaya bahwa kita dapat mendidik anak kita dengan hasil memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 atau 9 tahun?” Jawabannya adalah Nol besar. Logika kita berkata, adalah tidak mungkin tugas mendidik anak kita dengan memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 tahun, lalu bagaimana mana mungkin kita percaya bahwa Aisyah telah dididik secara sempurna pada usia 7 tahun seperti diklaim sebagai usia pernikahannya?

    AbuBakr merupakan seorang yang jauh lebih bijaksana dari kita semua, Jadi dia akan merasa dalam hatinya bahwa Aisyah masih seorang anak-anak yang belum secara sempurna sebagaimana dinyatakan Qur’an. Abu Bakar tidak akan menikahkan Aisyah kepada seorangpun. Jika sebuah proposal pernikahan dari gadis belia dan belum terdidik secara memuaskan datang kepada Nabi, Beliau akan menolak dengan tegas karean itu menentang hukum-hukum Quran.

    Kesimpulan: Pernikahan Aisyah pada usia 7 tahun akan menentang hukum kedewasaan yang dinyatakan Quran. Oleh karean itu, Cerita pernikahan Aisyah gadis belia berusia 7 tahun adalah mitos semata.

    BUKTI #9: Ijin dalam pernikahan

    Seorang wanita harus ditanya dan diminta persetujuan agar pernikahan yang dia lakukan menjadi syah (Mishakat al Masabiah, translation by James Robson, Vol. I, p. 665). Secara Islami, persetujuan yang kredible dari seorang wanita merupakan syarat dasar bagi kesyahan sebuah pernikahan.

    Dengan mengembangkan kondisi logis ini, persetujuan yang diberikan oleh gadis belum dewasa berusia 7 tahun tidak dapat diautorisasi sebagai validitas sebuah pernikahan.

    Adalah tidak terbayangkan bahwa AbuBakr, seorang laki-laki yang cerdas, akan berpikir dan mananggapi secara keras ttg persetujuan pernikahan gadis 7 tahun (anaknya sendiri) dengan seorang laki-laki berusia 50 tahun.

    Serupa dengan ini, Nabi tidak mungkin menerima persetujuan dari seorang gadis yang menurut hadith dari Muslim, masih suka bermain-main dengan bonekanya ketika berumah tangga dengan Rasulullah. kesimpulan: Rasulullah tidak menikahi gadis berusia 7 tahun karena akan tidak memenuhi syarat dasar sebuah pernikahan islami ttg klausa persetujuan dari pihak isteri. Oleh karean itu, hanya ada satu kemungkinan Nabi menikahi Aisyah seorang wanita yang dewasa secara intelektual maupun fisik.

    SUMMARY:

    Tidak ada tradisi Arab untuk menikahkan anak perempuan atau laki-laki yang berusia 9 tahun, Demikian juga tidak ada pernikahan Rasulullah saw dan Aisyah ketika berusia 9 tahun. Orang-orang arab tidak pernha keberatan dengan pernikahan seperti ini, karean ini tak pernah terjadi sebagaimana isi beberapa riwayat.

    Jelas nyata, riwayat pernikahan Aisyah pada usia 9 tahun oleh Hisham ibn `Urwah tidak bisa dianggap sebagai kebenaran, dan kontradisksi dengan riwayat-riwayat lain. Lebih jauh, tidak ada alasan yang nyata untuk menerima riwayat Hisham ibn `Urwah sebagai kebenaran ketika para pakar lain, termasuk Malik ibn Anas, melihat riwayat Hisham ibn `Urwah selama di Iraq adalah tidak reliable. Pernyataan dari Tabari, Bukhari dan Muslim menunjukkan mereka kontradiksi satu sama lain mengenai usia menikah bagi Aisyah. Lebih jauh, beberapa pakar periwayat mengalami internal kontradiksi dengan riwayat-riwayatnya sendiri. Jadi, riwayat usia Aisyah 9 tahun ketika menikah adalah tidak reliable karean adanya kontradiksi yang nyata pada catatan klasik dari pakar sejarah Islam.

    Oleh karean itu, tidak ada alasan absolut untuk menerima dan mempercayai usia Aisyah 9 tahun ketika menikah sebagai sebuah kebenaran disebabkan cukup banyak latar belakang untuk menolak riwayat tsb dan lebih layak disebut sebagai mitos semata. Lebih jauh, Qur’an menolak pernikahan gadis dan lelaki yang belum dewasa sebagaimana tidak layak membebankan kepada mereka tanggung jawab-tanggung jawab.

    ***

    Diterjemahkan oleh : cahyo_prihartono@…

     
  • erva kurniawan 9:50 am on 7 February 2019 Permalink | Balas  

    Siapakah Sebenarnya Yang Lebih Pandai? 

    Siapakah Sebenarnya Yang Lebih Pandai?

    Ada seorang laki-laki yang sedang memangkaskan rambutnya di sebuah rumah pangkas yang letaknya tak jauh dari kantornya. Dari dinding kaca mereka melihat seorang anak kecil gelandangan yang sedang bermain berlompat-lompatan, berlari-larian di halaman perpakiran, persis di depan mereka.

    “Itu Fulan, dia anak paling bodoh sedunia,” kata si pemangkas sambil terus bekerja.

    “Apa iya?” Tanya laki-laki yang tampak perlente itu.

    “Lihat saja, kalau tidak percaya….saya buktikan!”

    Lalu si pemangkas rambut itu memanggil Fulan. Kemudian ia mengambil uang dari saku kemejanya. Selembar uang 1.000-an dan selembar 5.000-an, dan menyodorkannya ke Fulan.

    “Ayo, kamu boleh ambil salah satu uang ini. Terserah kamu pilih yang mana.”

    Dengan cepat Fulan mengambil lembaran uang 1.000-an. Si pemangkas dengan perasaan benar dan menang kembali melakukan kerjanya dan berkata : “Benar kan, yang saya katakan tadi. Fulan itu anak paling bodoh yang pernah saya temui. Sudah tak terhitung berapa kali saja, saya melakukan tes seperti itu, dan ia selalu mengambil uang yang nilainya kecil.”

    Setelah laki-laki itu selesai memangkaskan rambutnya, dalam perjalanan menuju kantornya ia bertemu dengan Fulan. Merasa penasaran dengan apa yang ia lihat sebelumnya, iapun memanggil Fulan lalu bertanya : “Fulan, mengapa tadi waktu Pak Pemangkas menawarkan lembaran 1.000-an dan 5.000-an, saya lihat kamu mengambil yang 1.000-an bukan yang 5.000-an? 5.000-an kan nilainya lebih besar, lima kali lipat dari yang 1.000-an?”

    Fulan memandang wajah laki-laki itu seperti menyelidik, Fulan tampak ragu-ragu untuk mengatakannya. “Ayo beritahu saya , mengapa kamu ambil yang 1.000-an?” Desak laki-laki itu sambil tersenyum.

    Akhirnya Fulan berkata : ” Kalau saya ambil yang 5.000-an, berarti permainannya akan selesai….”

    Kata sebuah ungkapan : Jangan menilai sebuah buku dari sampulnya. Kisah di atas mungkin tidak sesuai dengan apa yang kita pikirkan, tapi setidaknya jangan menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya. Penampilan terkadang menipu.

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 3 February 2019 Permalink | Balas  

    Doa Malam yang Mustajab 

    Doa Malam yang Mustajab

    Oleh : Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu*

    Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa bangun pada malam hari dan berkata, “Laa ilaHa illallaHu wahdaHu laa syariikalaH, laHul mulku wa laHul hamdu, yuhyii wa yumiitu biyadiHil khairu, wa Huwa “alaa kulli syai-in qadiir, subhaanallaH wal hamdulillaH wa laa ilaHa illallaHu wallaHu akbar, wa laa haula wa laa quwwata illa billaH”

    [Tiada ilah kecuali Allah satu- satunya tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nyalah seluruh kerajaan dan seluruh pujian. Dia menghidupkan dan mematikan dengan di tangan-Nyalah segala kebaikan, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada ilah kecuali Allah dan Allah Maha Besar. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah]

    kemudian dia berkata,

    “Allahummaghfirlii” [Ya Allah ampunilah aku]

    atau dia berdoa, maka akan dikabulkan doanya. Dan jika dia bangun lalu shalat maka diterimalah shalatnya” (HR. Bukhari 1/387 dan Abu Dawud 4/314)

    Aku telah membaca doa ini agar aku sembuh dari sakit kemudian Allah SWT menyembuhkanku. Dan aku membacanya agar pekerjaan-pekerjaan yang melelahkan menjadi mudah, kemudian Allah memudahkannya untukku.

    Aku menasehatkan kepada seluruh kaum muslimin yang sedang mengalami kesulitan, terutama saudara-saudaraku di Palestina, Afghanistan dan di negeri-negeri muslim lainnya, agar mereka berserah diri kepada Allah SWT saja dan membaca doa ini, dibarengi dengan usaha sebagai perantara seperti mempersiapkan diri untuk berjihad dengan harta dan senjata.

    Dan juga kepada saudara-saudaraku sesama muslim di seluruh dunia agar mereka mendoakan saudara-saudara kita sesama muslim yang terusir dari kampung halaman mereka, semoga Allah menolong dan menguatkan mereka serta mengembalikan mereka ke negeri mereka yang semula, terutama saudara-saudara kita di Palestina.

    Sebab doa seorang muslim kepada saudaranya secara diam-diam adalah termasuk doa yang mustajab sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda” ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata “aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan” (Kitab Shahih Muslim no. 2733), terutama doa yang penuh berkah di atas yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan yang telah mendatangkan manfaat bagi banyak orang.

    Semoga Bermanfaat

    *Beliau Murid Syaikh Albani

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 2 February 2019 Permalink | Balas  

    Masjid Qiblatain Masjid Berkiblat Dua 

    Masjid Qiblatain Masjid Berkiblat Dua

    Sebuah peristiwa penting berupa perpindahan arah kiblat dialami Rasulullah SAW dan para sehabat daat sedang melakukan shalat dzuhur berjamaah di Masjid Qiblatain. Itulah mengapa masjid ini dinamai Qiblatain yang berarti dua kiblat.

    Syahdan ketika Rasulullah SAW sedang melakukan salat dzuhur (riwayat lain menyebutkan salat ashar) berjamaah di Masjid Qiblatain, mendadak turun wahyu (Q.S. Al-Bagarah:114) yang memerintahkan mengubah arah kiblat dari Masjidil Aqsa di Palestina (utara) ke Ka’bah di Masjidil Haram di Mekkah (selatan).

    “Sungguh Kami melihat mukamu, menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Al Kitab memang mengetahui, bahwu berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”

    Padahal, ketika turun wahyu tersebut shalat telah berlangsung dua rakaat. Maka begitu mendengar wahyu tersebut, serta merta Rasulullah SAW dan para shahabat langsung memindahkan arah kiblatnya atau memutar arah 180 derajat. Dan peristiwa perpindahan kiblat itu dilakukan sama sekali tanpa membatalkan shalat. Juga tidak dengan mengulangi shalat dua rakaat sebelumnya. Ayat itu sendiri adalah ayat yang diturunkan kepada Rasulullah SAW yang telah lama mengharapkan dipindahkannya kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram.

    Peristiwa yang terjadi pada bulan Rajah 12 H itulah yang menjadi cikal bakal pemberian nama Masjid Qiblatain yang berarti dua kiblat. Sebelum dinamai Qiblatain karena perubahan arah kiblat itu, masjid yang terletak di atas bukit kecil di utara Harrah Wabrah, Madinah, itu bernama Masjid Bani Salamah.

    Tadinya di dekat Masjid Qiblatain ada telaga yang diberi nama Sumur Raumah, sebuah sumber air milik orang Yahudi. Mengingat pentingnya air untuk masjid, maka atas anjuran Rasulullah SAW, Usman bin Affan kemudian menebus telaga tersebut seharga 20 ribu dirham dan menjadikannya sebagai wakaf. Air telaga tersebut hingga sekarang masih berfungsi untuk bersuci dan mengairi taman di sekeliling masjid, serta kebutuhan minum penduduk sekitar. Hanya bentuk fisiknya sudah tidak kelihatan, karena ditutup dengan tembok.

    Dalam perkembangannya, pemugaran Masjid Qiblatain terus-menerus dilakukan, sejak zaman Umayyah, Abbasiyah, Utsmani, hingga zaman pemerintahan Arab Saudi sekarang ini. Pada pemugaran-pemugaran terdahulu, tanda kiblat pertama masih jelas kelihatan. Di situ diterakan bunyi QS. AlBaqarah: 114, ditambah larangan bagi siapa saja yang shalat agar tidak menggunakan kiblat lama itu.

    Berziarah ke Masjid Qiblatain mengandung banyak hikmah. Selain ibadah shalat wajib dan sunat di sana, jamaah dapat juga memetik ibrah (suri teladan) dari para pejuang Islam periode awal (as-sabiqunal awwalun) yang begitu gigih menyebarkan risalah Islamiyah, melaksanakan perintah Allah SWT baik dalam segi ibadah mahdlab (ritual), seperti berjamaah, mengganti kiblat, dan menyucikan diri, maupun dalam segi ibadah ghair mahdlah (sosial) seperti menyisihkan harta untuk kepentingan umat, untuk memugar masjid dan lain sebagainya.

    Bila mengacu pada peristiwa di atas, maka kita perlu memberitahukan arah kiblat yang sebenarnya meski kepada orang yang sedang shalat. Dan baginya boleh merubah atau membetulkan arah posisi kiblat meski dalam shalat, tanpa perlu mengulangi rakaat yang salah arahnya. TC Nar

    Sumber: Majalah Travel Club

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 1 February 2019 Permalink | Balas  

    Kejamnya Waktu Subuh 

    Kejamnya Waktu Subuh

    Saudaraku…

    Saya yakin di antara kita sudah mengetahui keistimewaan waktu Subuh. Hari ini ada baiknya kita melihat waktu Subuh dengan kacamata yang lain, yaitu dari bahaya waktu Subuh bila kita tidak dapat memanfaatkannya.

    Allah bersumpah dalam Al Fajr : “Demi fajar (waktu subuh)”.

    Kemudian dalam Al Falaq, Allah mengingatkan: “Katakanlah! Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh”.

    Ada apa di balik waktu Subuh? Mengapa Allah bersumpah demi waktu Subuh? Mengapa harus berlindung kepada yang menguasai waktu Subuh? Apakah waktu Subuh sangat berbahaya? Ya, ternyata waktu Subuh benar-benar sangat berbahaya! Waktu Subuh lebih kejam dari sekawanan perampok bersenjata api.

    Waktu Subuh lebih menyengsarakan dari derita kemiskinan.

    Jika ada sekawanan perampok menyatroni rumah kita, dan mengambil paksa semua barang kita: uang dan semua perhiasan emas digondolnya. Uang cash puluhan juta ditilepnya. Laptop, yang berisi data-data penting kita juga diembatnya. Eh, mobil yang belum lunas juga diembatnya dan rumah kita dibakarnya. Bagaimana rasa pedih hati kita menerima kenyataan ini?

    Ketahuilah, bahwa waktu Subuh lebih kejam dari perampok itu.  Karena jika kita tergilas sang waktu Subuh sampai melalaikan shalat fajar, maka kita akan menderita kerugian lebih besar dari sekedar kehilangan seluruh harta kita. Kita kehilangan dunia dan segala isinya. Ingat sabda Rasulullah Shallallahu  alaihi wasallam : “Dua rakaat fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya” (HR Muslim).

    Waktu Subuh juga lebih menyengsarakan dari sekedar kemiskinan dunia. Karena bagi orang2 yang tergilas waktu Subuh hingga mengabaikan shalat Subuh berjamaah di masjid, maka hakikatnya, merekalah orang2 miskin sejati yang hanya mendapatkan upah 1/150 (0,7%) saja pahala shalatnya.

    “…dan barangsiapa yang shalat Subuh berjamaah, maka ia bagaikan shalat semalam suntuk” (HR Muslim).

    Shalat semalam suntuk adalah shalat yang dikerjakan mulai dari tenggelamnya matahari sampai terbit fajar. Fantastis!

    Shalat selama sepuluh jam, atau kurang lebih 150 kali shalat! Betapa agung fadhilah shalat Subuh berjamaah ini. Sebaliknya betapa malangnya orang yang tergilas waktu Subuh, orang2 yang mengabaikan shalat subuh berjamaah di masjid.

    Waktu Subuh juga lebih berbahaya dari kobaran api yang disiram bensin.

    Mengapa demikian? Tahukah Anda bahwa Nabi Muhammad Shalallhu alaihi wassalam  menyetarakan dengan orang Munafik bagi yang tidak mampu melaksanakan shalat Subuh berjamaah di mesjid ?

    Rasulullah Shalallhu alaihi wassalam bersabda : “Sesungguhnya tiada yang dirasa berat oleh seorang Munafik, kecuali melaksanakan shalat Isya dan shalat Subuh berjamaah. Sekiranya mereka tahu akan keagungan pahalanya, niscaya mereka bakal mendatanginya (ke masjid, shalat berjamaah) sekalipun harus berjalan merangkak-rangkak” (HR Bukhari Muslim).

    Agar tidak merasakan gilasan waktu Subuh yang lebih kejam dari perampokan, agar tidak terkena gilasan waktu Subuh yang lebih menyengsarakan dari derita kemiskinan, dan panasnya kobaran api, maka: “Katakanlah! Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh.” (Al Falaq:1).

    Yaitu dengan bersegera memanfaatkan waktu Subuh sebaik-baiknya. Lakukan shalat sunnah qabliyah Shubuh (shalat fajar) dan shalat Shubuh berjamaah di masjid – bagi pria, di rumah – bagi wanita di awal waktu setelah azan berkumandang.

    Ayo jadi pejuang shubuh…!!!

    Barakallah…

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 31 January 2019 Permalink | Balas  

    Garam Alias Uyah 

    Garam Alias Uyah

    Takut akan penyakit yang timbul dari garam? Ini cara Rasul mengkonsumsi garam. Nabi Muhammad Sholallohi ‘alaihi wassallam  bersabda : “Sebaik-baik lauk adalah garam” (Al-Baihaqi).

    Sebaik baik lauk adalah garam.

    Sangat bertentangan dengan dunia medis saat ini yang mengatakan bahwa makan garam bisa menyebabkan berbagai penyakit seperti darah tinggi, dehidrasi, keropos tulang dan penyakit empedu, namun hal itu tidak akan terjadi jika Anda mengetahui cara mengkonsumsi garam dengan baik dan secara benar. Sesuai Sunnah Rasul.

    Begini Cara Mengkonsumsi Garam Agar Terhindar Dari Penyakit (Ala Rasul)

    Jadi sesuai dengan hadist diatas yang menyatakan Garam bukanlah penyebab penyakit, tapi malah obat yang paling mujarab seandainya digunakan dengan cara yang betul. Kuncinya adalah Garam tidak boleh dimasak !!!.                  

    Ingat tidak boleh dimasak !!!

    Kesalahan kita (kebanyakan orang  Indonesia) ialah kita memasak garam yaitu memasukkan garam ke dalam masakan ketika masakan sedang MENDIDIH/ PANAS. Hal tersebut akan menyebabkan garam menjadi racun/toksik. Jika garam dimasak dengan cara di atas, garam akan menyebabkannya ber-asid dan membahayakan kesehatan serta mengundang berbagai penyakit, selain itu kandungan yodium pada garam juga akan hilang dengan percuma. Ingat yodium sangat bermanfaat untuk kesehatan tubuh kita.

    Begini cara yang betul penggunaan garam agar garam benar-benar menjadi obat bagi Anda, bukan jadi Penyakit. Masaklah makanan yang ingin dimasak sehingga selesai. Contohnya: sayur masukkan garam dalam masakan apabila makanan dan airnya sudah berangsur dingin,atau dalam keadaan dingin. Ingat  makanan yang dimasak harus tanpa garam ingat tanpa garam. Selagi makan, sediakan semangkuk garam dan taburkan di atas makanan yang ingin dimakan sesuai selera masing2.

    Garam adalah mineral bagi tubuh, “Banyak amalan yang dilakukan oleh para Salafus soleh ialah dengan mengambil garam sebelum memulai makan”. Garam digunakan sebagai pembuka makan dengan mengambilnya dengan ujung jari dan dimasukkan ke mulut.

    Ingat garam adalah mineral !!!!          

    Kelebihannya atau manfaatnya mengkonsumsi garam antara lain ialah:

    Mengobati lebih dari 70 penyakit, antara lain Darah tinggi, Diabetes, Tulang keropos, Gondokan, Pusing sakit kepala dll serta tidak akan mengalami keadaan mati mendadak.

    Silakan sebarkan, sekiranya anda ingin orang-orang yang anda cintai menjadi sehat.

    Berbagai penyakit yang disinyalir timbul akibat garam seperti gejala jantung dan tekanan darah tinggi adalah akibat dari penggunaan garam yang salah. Karena kalau memasak jangan dikasih garam.. Ingat garam jangan dimasak. Insyaallah penyakit darah tinggi,  jantung   bisa dihindari dengan cara makan yg baik. Jadi kesimpulannya yg benar garam itu adanya dimeja makan bukan didapur.

    Marilah berubah agar sehat semua. Orang asing lebih awal menggunakan garam selalu di meja

    Semoga bermanfaat.

    #COPAS

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 30 January 2019 Permalink | Balas  

    Membaca Al Qur’an 

    Ayo Gemar Membaca  Al Quran

    Apakah orang yang meninggal sadar bahwa dirinya sudah mati

    Orang yang mati  awalnya tidak menyadari bahwa dirinya mati. Dia merasa dirinya sedang bermimpi mati. Dia melihat dirinya ditangisi, dimandikan, dikafani, disholati hingga diturunkan ke dalam kubur. Dia merasa dirinya sedang bermimpi saat dirinya ditimbun tanah. Dia berteriak-teriak tapi tidak ada yang mendengar teriakannya

    Beberapa waktu kemudian

    Saat semua sudah pulang meninggalkannya sendirian di bawah tanah. Allah kembalikan ruhnya. Dia membuka mata, dan terbangun dari “mimpi” buruknya.

    Dia senang dan bersyukur, bahwa ternyata apa yang dia alami hanyalah sebuah mimpi buruk, dan kini dia sudah bangun dari tidurnya.

    Kemudian dia meraba badannya yang hanya diselimuti kain sambil bertanya kaget,

    “Dimana bajuku? Kemana celanaku?” Lalu dia meraba sekelilingnya yang berupa tanah “Dimanakah aku?” “Tempat apa ini? Kenapa bau tanah dan lumpur?” Kemudian dia mulai menyadari bahwa dia ada di bawah tanah, dan sebenarnya apa yang dialaminya bukanlah mimpi! Ya, dia sadar bahwa dirinya benar-benar telah mati.

    Berteriak lah dia sekeras-kerasnya, memanggil orang-orang terdekatnya yang dianggap bisa menyelamatkannya:

    “Ibuuuuu….!!!!

    “Ayaaaaaah…!!!!”

    “Kakeeeeek!!!”

    “Neneeeek!!”

    “Kakaaaaak!!!”

    “Sahabaaaaat!!!”

    Tidak ada seorang pun yang menjawabnya. Dia yang selama ini lupa pada Allah pun ingat bahwa ALLAH adalah satu-satunya harapan.

    Menangis lah dia sambil meminta ampun,

    “Ya, Allaaaaaaah…. Ya Allaaaaaaah…. Ampuni aku ya Allaaaaaaah….!!!”

    Dia berteriak dalam ketakutan yang luar biasa yang belum pernah dirasakan sebelumnya sepanjang hidupnya.

    Jika dia orang baik, maka muncullah dua malaikat dengan wajah tersenyum akan mendudukkannya dan menenangkannya, menghiburnya dan melayaninya dengan pelayanan yang terbaik.

    Jika dia orang buruk, maka dua malaikat akan menambah ketakutannya dan akan menyiksanya sesuai keburukannya.

    **

    Pertolongan Al-Quran di Alam Kubur

    Dari Sa’id bin Sulaim ra, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

    “Tiada penolong yang lebih utama derajatnya di sisi Allah pada hari Kiamat daripada Al-Qur’an. Bukan nabi, bukan malaikat dan bukan pula yang lainnya.” (Abdul Malik bin Habib-Syarah Ihya)

    Al Bazzar meriwayatkan dalam kitab La’aali Masnunah bahwa jika seseorang meninggal dunia, ketika orang – orang sibuk dengan kain kafan dan persiapan pengebumian di rumahnya, tiba-tiba seseorang yang sangat tampan berdiri di kepala mayat. Ketika kain kafan mulai dipakaikan, dia berada di antara dada dan kain kafan.

    Setelah dikuburkan dan orang – orang mulai meninggalkannya, datanglah 2 malaikat. Yaitu Malaikat Munkar dan Nakir yang berusaha memisahkan orang tampan itu dari mayat agar memudahkan tanya jawab.

    Tetapi si tampan itu berkata: ”Ia adalah sahabat karibku. Dalam keadaan bagaimanapun aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian ditugaskan utk bertanya kepadanya, lakukanlah pekerjaan kalian. Aku tidak akan berpisah dari orang ini sehingga ia dimasukkan ke dalam syurga.”

    Lalu ia berpaling kepada sahabatnya dan berkata, “Aku adalah Al quran yang terkadang kamu baca dengan suara keras dan terkadang dengan suara perlahan.

    Jangan khawatir setelah menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir ini, engkau tidak akan mengalami kesulitan.”

    Setelah para malaikat itu selesai memberi pertanyaan, ia menghamparkan tempat tidur dan permadani sutera yang penuh dengan kasturi dari Mala’il A’la (Himpunan Fadhilah Amal : 609)

    Allahu Akbar, selalu saja ada getaran haru selepas membaca hadits ini. Getaran penuh pengharapan sekaligus kekhawatiran. Getaran harap karena tentu saja mengharapkan Al-Quran yang kita baca dapat menjadi pembela kita di hari yang tidak ada pembela. Sekaligus getaran takut, kalau-kalau Al-Quran akan menuntut kita.

    Banyak riwayat yang menerangkan bahwa Al-Quran adalah pemberi syafa’at yang pasti dikabulkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Ya Allah, ampunilah dosaku, dosa ibu bapakku, keluargaku, saudaraku dan seluruh kaum muslimin, Ya Allah, jangan Engkau cabut nyawa kami saat tubuh kami tak pantas berada di SurgaMu. Aamiin.

    Sobat sekarang anda memiliki dua pilihan,

    1. Membiarkan sedikit pengetahuan ini hanya dibaca disini
    2. Membagikan pengetahuan ini kesemua teman mu , insyallah bermanfaat dan akan menjadi pahala bagimu. Aamiin..

    Boleh di SHARE sebanyak mungkin!

    Siapakah sahabatku selama di alam kubur dialah AL – QUR’ANNUL KARIM

     
    • hasanijun 5:54 am on 1 Februari 2019 Permalink

      Menghidupkan waktu antara maghrib dan Isya Di zaman skrg sptnya sdh tidak ada lagi , lain halnya dengan jaman kita kecil dahulu, org tua bersama dgn kita tadarusan al quran, skrg alquran sdh di gantikan dgn hp , mungkin sebab itulah keberkahan dinegri kita ini sdh tidak ada lg.

  • erva kurniawan 1:17 am on 29 January 2019 Permalink | Balas  

    Bahlul Bahlul adalah kata yang biasa kita… 

    Bahlul

    “Bahlul” adalah kata yang biasa kita gunakan untuk mensifati orang yang bodoh, tapi tahukah dari mana asal kata itu..?

    Dikisahkan, sesungguhnya BAHLUL seorang yang dikenal sebagai orang gila di zaman Raja Harun Al-Rasyid (Dinasti Abbasiyah).

    Pada suatu hari Harun Al-Rasyid lewat di pekuburan, dilihatnya Bahlul sedang duduk disana.

    Berkata Harun Al-Rasyid kepadanya :

    “Wahai Bahlul, kapankah kamu akan berakal/sembuh dari gila.. ?”

    Mendengar itu Bahlul beranjak dari tempatnya dan naik keatas pohon, lalu dia memanggil Harun Al-Rasyid dengan sekuat suaranya dari atas pohon,

    ” Wahai Harun yang gila, kapankah engkau akan sadar….? “,

    Maka Harun Al-Rasyid menghampiri pohon dengan menunggangi kudanya dan berkata : “Siapa yang gila, aku atau engkau yg selalu duduk dikuburan…?”

    Bahlul berkata :

    “Aku berakal dan engkau yang gila”,

    Harun : “Bagaimana itu bisa…?”,

    Bahlul : “Karena aku tau bahwa istanamu akan hancur dan kuburan ini akan tetap ada, maka aku memakmurkan kubur sebelum istana, dan engkau memakmurkan istanamu dan menghancurkan kuburmu, sampai- sampai engkau takut untuk dipindahkan dari istanamu ke kuburanmu, padahal engkau tahu bahwa kamu pasti masuk dalam kubur, maka katakan wahai Harun siapa yang gila di antara kita…?”.

    Bergetarlah hati Harun, lalu menangis dengan tangisan yang sampai membasahi jenggotnya, lalu Harun berkata : “Demi ALLAH engkau yang benar, Tambahkan nasehatmu untukku wahai Bahlul”.

    Bahlul : “Cukup bagimu Al-Qur’an maka jadikanlah pedoman”.

    Harun : “Apa engkau memiliki permintaan wahai Bahlul….? Aku akan penuhi”.

    Bahlul : “Iya aku punya 3 permintaan, jika engkau penuhi aku akan berterima kasih padamu”.

    Harun : “mintalah…”

    Bahlul : 1. “Tambahkan umurku”.

    Harun : “Aku tak mampu”,

    Bahlul: 2. “Jaga aku dari Malaikat maut”.

    Harun : “Aku tak mampu”,

    Bahlul: 3. “Masukkan aku kedalam surga dan jauhkan aku dari api Neraka”.

    Harun : “Aku tak mampu”.

    Bahlul : “Ketahuilah bahwa engkau dimiliki (seorang hamba) dan bukan pemilik (Tuhan), maka aku tidak perlu padamu”.

    *Kisah ini dikutip dari kitab yang berjudul ﻋﻘﻼﺀ ﺍﻟﻤﺠﺎﻧﻴﻦ “Orang-orang Gila Yang Berakal”

    Tetapi kita menggunakan perkataan BAHLUL untuk mengatakan seseorang itu bodoh sedangkan ia adalah merupakan nama Ulama yang hebat.

    Makam Syech Bahlul Majnun Di Baghdad Irak.

     
  • erva kurniawan 2:35 am on 28 January 2019 Permalink | Balas  

    Tips Memulai Hari dengan Cerah 

    Tips Memulai Hari dengan Cerah

    Hari yang cerah bukan ditandai dengan matahari yang bersinar terang atau udara yang sejuk, melainkan dari hati dan pikiran yang segar. Kecerahan suatu hari dimulai dari diri anda sendiri. Kita tahu bahwa sesuatu yang dimulai dengan baik merupakan separuh dari pencapaian tujuan.

    Karena itu, memulai aktivitas hari ini dengan kecerahan suasana adalah modal besar untuk menyelesaikan hari dengan baik pula. Bagaimana memulai hari dengan cerah sangat dipengaruhi oleh pola hidup kita.

    Berikut beberapa tips ringan agar kita bisa memulai hari dengan cerah.

    1–Mulailah dari malam hari. Kita tak bisa berharap bangun dengan segar jika di malam harinya tak cukup tidur nyenyak. Hari esok yang cerah dimulai dari malam ini. Bila anda masih mempunyai masalah, yakinlah masih ada waktu esok untuk menyelesaikannya lebih baik lagi. Malam ini, beristirahatlah sebaik-baiknya.

    2–Bangun pagi lebih pagi. Bangunlah lebih pagi daripada terbitnya matahari. Jumpai keheningan dan kesunyian. Pagi buta adalah saat yang tepat untuk menemukan sisi damai dalam diri anda.

    3–Damaikan pikiran dan tentramkan jiwa Jangan terburu melakukan aktivitas. Resapi saja suasana pagi yang damai ini. Berdoa,sampaikan syukur atas hidup yang masih diberikan pada kita dan bersaat teduh.

    4–Segarkan tubuh. Minum air. Hirup aroma tea atau kopi yang menyegarkan. Berjalan-jalanlah keluar. Pompa udara banyak-banyak ke dalam paru-paru. Lakukan olahraga ringan, Mandi dengan air segar. Bersihkan tubuh baik-baik. Tetaplah mengingat janji anda tadi pagi untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi semesta hari ini.

    5–Dapatkan sarapan secukupnya. Isi perut anda secukupnya. Sarapan yang baik adalah modal untuk kebugaran tubuh anda sepanjang hari. Jangan asal kenyang, namun cukupkan kebutuhan energi dan gizi.

    6–Sapalah orang-orang yang anda jumpai. Terbarkan senyum. Tak peduli apakah matahari bersinar cerah atau mendung menggayut, sapalah orang-orang yang anda jumpai. Tanyakan kabar mereka, maka jangan terkejut jika mereka pun akan membalas senyum anda.

    7–Jangan mengeluh. Apa pun yang terjadi, entah itu hari hujan, jalanan macet, kereta datang terlambat, kendaraan mogok, atau apa pun yang terjadi, terimalah semua itu apa adanya. In everything, give thanks. Selamat bekerja serta selamat bercerah hari.

    ***

    Kiriman Sahabat Setiawan

     
  • erva kurniawan 2:13 am on 27 January 2019 Permalink | Balas  

    Macam-Macam Syirik Kecil 

    Macam-Macam Syirik Kecil

    Syirik kecil yaitu setiap perantara yang mungkin menyebabkan kepada syirik besar, ia belum mencapai tingkat ibadah, tidak menjadikan pelakunya keluar Islam, akan tetapi ia termasuk dosa besar.

    Macam-macam Syirik kecil:

    Riya’ dan melakukan suatu perbuatan karena makhluk:

    Seperti seorang muslim yang beramal dan shalat karena Allah, tetapi ia melakukan shalat dan amalnya dengan baik agar dipuji manusia. Allah I berfirman:

    “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhan-nya.” (Al-Kahfi: 100)

    Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

    “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu sekalian adalah syirik kecil, riya’. Pada hari Kiamat, ketika memberi balasan manusia atas perbuatannya, Allah berfirman, “Pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian tujukan amalanmu kepada mereka di dunia. Lihatlah, apakah engkau dapati balasan di sisi mereka?” (HR. Ahmad, hadits shahih)

    Bersumpah dengan nama selain Allah:

    Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

    “Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka dia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad, hadits shahih)

    Bisa jadi bersumpah dengan nama selain Allah termasuk syirik besar. Yaitu jika orang yang bersumpah tersebut meyakini bahwa sang wali memiliki kemampuan untuk menimpakan bahaya atas dirinya, jika ia bersumpah dusta dengan namanya.

    Syirik khafi :

    Ibnu Abbas menafsirkan syirik khafi dengan ucapan seseorang kepada temannya, “Atas kehendak Allah dan atas kehendak kamu.”

    Termasuk syirik khafi adalah ucapan seseorang, “Seandainya bukan karena Allah, kemudian (seandainya bukan karena) si fulan.”

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam,

    “Jangan mengatakan, ‘Atas kehendak Allah, dan atas kehendak si fulan.’ Tetapi katakanlah, ‘Atas kehendak Allah, kemudian atas kehendak si fulan’.” (HR. Ahmad dan lainnya, hadits shahih)

    ***

    Taken from kitab Al Firqotun Naajiyah JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT karya Syaikh Muhammad Ibn Jamil Zainu

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 26 January 2019 Permalink | Balas  

    Orang Yang Mengesakan Allah 

    Orang Yang Mengesakan Allah

    Barangsiapa menafikan ketiga macam syirik tersebut dari Allah, kemudian ia mengesakan Allah dalam DzatNya, dan dalam menyembah dan berdo’a kepadaNya, juga dalam sifat-sifatNya, maka dia adalah seorang muwahhid (yang mengesakan Allah) yang bakal memiliki berbagai keutamaan yang khusus dijanjikan bagi orang-orang muwahhidin.

    Sebaliknya, jika ia melakukan salah satu dari ketiga macam syirik di atas, maka dia bukanlah seorang muwahhid, tetapi ia tergolong seperti yang disebutkan dalam firman Allah:

    “Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am: 88)

    “Jika kamu mempersekutukan Tuhan, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Az-Zumar: 65)

    Hanya jika ia bertaubat dan menafikan sekutu dari Allah maka ia termasuk golongan orang-orang muwahhidin.

    Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengesakanMu dan janganlah Engkau jadikan kami termasuk golongan orang-orang yang menyekutukanMu.

    ***

    Taken from kitab Al Firqotun Naajiyah JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT karya Syaikh Muhammad Ibn Jamil Zainu

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 25 January 2019 Permalink | Balas  

    Tahap Awal Alam Akhirat 

    Tahap Awal Alam Akhirat

    Segala puji semata hanya bagi Allah SWT, Dzat Yang Menunjukkan kita pada kebenaran agama-Nya, Yang Menyempurnakan serta Meridhai agama-Nya, Yang membukakan pandangan hati orang yang dicintai-Nya, Yang menguasai takdir, Yang menjadi tempat kembali segala urusan. Semoga rahmat dan salam tetap tercurahkan pada nabi Muhammad SAW, yang telah dipilih oleh Allah SWT dari sekian banyak makhluk-Nya, yang dijadikan oleh-Nya sebagai yang terpilih dari yang terbaik. Semoga terlimpah pula kepada keluarga dan keturunannya, kepada semua nabi, semua keluarga mereka, dan kepada hamba-hamba-Nya yang salih.

    Suatu ketika Ustman bin Affan ra berhenti didekat sebuah kuburan, ia menangis sampai janggutnya basah. Ustman ra kemudian ditanya mengenai hal itu: “Mengapa anda tidak menangis ketika menyebut surga dan neraka, tetapi anda malah menangis ketika berhenti didekat kuburan?’. Ustman bin Affan ra lalu menjawab bahwa pada suatu ketika ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya kuburan adalah tahap pertama akhirat. Jika penghuninya selamat darinya, maka yang datang sesudahnya akan lebih mudah. Tetapi jika dia tidak selamat darinya, maka yang datang sesudahnya akan lebih sukar”.

    Jenasah itu sesungguhnya merupakan pelajaran bagi orang yang memiliki mata hati, dan padanya terdapat nasihat serta peringatan bagi semua orang, kecuali orang-orang yang lalai. Ketika seorang hamba melihat keranda jenasah yang diusung, hendaklah dia tidak lupa bahwa suatu saat dia sendirilah yang akan diusung. Mungkin esok hari, atau mungkin lusa, atau mungkin esok lusanya lagi, bisa jadi akan terjadi tak lama lagi.

    Pada masa sekarang ini, tidak jarang dijumpai sekelompok orang yang justru tertawa-tawa dan bersendau-gurau ketika mereka menghadiri suatu pemakaman. Bahkan tak jarang terjadi keributan diantara ahli warisnya perihal harta warisan yang ditinggalkannya. Sesungguhnya hanya Allah SWT saja yang mampu memberikan hidayah dan kemampuan untuk menyadari semua kelalaian dan kelemahan serta kekerasan hati kita.

    Al-Turmidzi dalam A-Hakim menyebutkan bahwa Al-Nu’man bin Basyir pernah mendengar Rasulullah SAW berkhutbah diatas mimbar dan bersabda: “Ketahuilah bahwa tak ada yang tersisa dari dunia ini kecuali yang setara dengan lalat-lalat yang beterbangan di udara. Oleh karena itu, demi Allah aku berpesan kepadamu agar mengingat saudara-saudaramu yang telah meninggal dunia, sebab amal-amalmu diperlihatkan kepada mereka”.

    Ibn Hanbal dalam Musnad menyebutkan bahwa Abu Sa’id Al-Khuduri berkata bahwa suatu ketika mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang mati itu mengetahui siapa yang memandikannya, mengusungnya, dan meletakkannya ke liang lahat”.

    Abu Dzarr berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ziarahilah kubur, pasti kalian akan mengingat akhirat, mandikanlah jenasah, sebab dalam menyentuh jenasah terdapat pelajaran yang sangat berharga. Dan kerjakanlah shalat atas jenasah, agar kalian bisa bersedih, sebab orang yang bersedih berada didalam lindungan Allah SWT”.

    Aisyah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seseorang berziarah ke kuburan saudaranya dan duduk didekatnya, kecuali hal itu akan menyenangkan saudaranya dan membalas salamnya hingga dia berdiri”.

    Ibn Abi Mulaikah juga berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ziarahilah kubur orang-orang yang mati diantara kalian, dan ucapkanlah salam kepada mereka, sebab pada mereka terdapat pelajaran bagi kalian”.

    Disunahkan bagi seseorang yang berziarah ke kubur untuk membelakangi kiblat dengan wajah menghadap ke jenasah, dan memberi salam kepadanya. Namun hendaklah dia tidak mengusap-usap dan tidak menciumi kuburannya. Peziarah hendaknya berdoa untuk dirinya dan untuk orang yang telah meninggal itu, serta mengambil pelajaran.

    Ibn Abi al-Dunya dalam Al-Maut menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan seorang mukmin di dunia bagaikan seorang bayi di dalam perut ibunya, yang menangis ketika dilahirkan, tapi ketika dia melihat cahaya dana mulai menyusu, maka dia tak lagi berkehendak untuk kembali ke tempat tinggalnya yang lama. Demikian pula halnya orang beriman, dia menderita pada saat kematian, tapi ketika dia dibawa ke hadirat Allah SWT, dia tak lagi ingin kembali ke dunia seperti halnya seorang bayi yang tak ingin kembali ke dalam perut ibunya”.

    Imam Bukhari dalam Jana’iz dan imam Muslim dalam Jannah, menyebutkan bahwa Anas ra meriwayatkan sabda Rasulullah SAW: “Kematian adalah kiamat, barangsiapa mati berarti kiamatnya telah tiba. Jika salah seorang dari kalian mati, maka tempat duduknya (yang akan datang) diperlihatkan kepadanya pagi dan petang. Jika dia termasuk penghuni surga, maka tempat duduknya itu ditempatkan di penghuni surga, dan jika dia termasuk penghuni neraka, maka tempat duduknya itu ditempatkan di neraka. Dan kepadanya dikatakan: “Inilah tempat kalian hingga kalian dibangkitkan untuk menemui Dia pada hari kebangkitan’ “.

    Kematian berarti perubahan keadaan dimana ruh sama sekali tidak lagi efektif bagi jasadnya. Semasa hidup, badan jasad adalah alat ruh untuk menggerakkan anggota badannya, mendengarkan dengan telinganya, melihat dengan matanya. Setelah kematian, jasad badannya tak lagi tunduk kepada perintah-perintah ruh. Kematian adalah ungkapan tentang tak berfungsinya semua anggota badan yang merupakan alat-alat ruh.Tak lagi berfungsi jasadnya setelah kematian sama dengan tak berfungsinya anggota badan tertentu semasa hidup seseorang dikarenakan telah rusaknya daya keseimbangan atau kehancuran pada urat syaraf sehingga menghalangi ruh untuk meresap kedalamnya.

    Pada hakikatnya, ruh mampu mengetahui pelbagai hal tanpa harus berperantaraan alat tertentu. Kematian yang telah menghilangkan daya kerja badan jasadnya, tidaklah mengakibatkan rusaknya pengetahuan dan pemahaman serta kemampuannya mencerap rasa gembira, sedih, atau rasa sakit. Itulah sebabnya maka ruh bisa mengenyam rasa sedih dan duka nestapa, mengecap rasa senang dan gembira. Karenanya itu maka disebutkan bahwa ruh adalah esensi manusia yang bersifat abadi.

    Pada saat kematian, ruh akan mengalami dua macam perubahan. Perubahan pertama adalah terpisahnya ruh dari mata, telinga, kaki, dan semua bagian anggota tubuhnya, seperti halnya dia terpisah dari keluarga, anak-anak, kerabat, semua kenalannya, dan semua hal kekayaan benda duniawi yang pernah menjadi miliknya. Bergejolaklah didalam dirinya perpisahan dengan semua hal fana yang pernah menentramkan hatinya. Pada saat itulah dikatakan kepada dirinya: “Cukup dirimu sendiri sebagai penghitung bagimu !’.

    Perubahan kedua adalah terungkapnya segala hal yang tidak terungkapkan kepadanya di masa hidup, seperti halnya seseorang yang terbangun dari tidurnya. Pertama kali yang terungkap baginya adalah tentang manfaat dan mudharat dari apa yang menjadi akibat dari perbuatannya semasa hidup. Setiap orang yang meninggal dunia akan diperlihatkan kepadanya amal baiknya dan buruknya, dia akan menatap amal baiknya dan dia akan merasa malu terhadap amal-amal buruknya.

    Kemudian ia akan mengarungi masa penantian yang panjang di alam barzakh dengan segala kondisinya tergantung amal perbuatannya, sampai tiba datangnya tiupan Sangkakala. Lalu ia akan dibangkitkan dan dikumpulkan di Padang Mahsyar, berdiri dihadapan Yang Maha Kuasa, ditegakkannya Mizan untuk menimbang amalnya, berjalan diatas Shirath yang kecil dan tajam.

    Setelah itu, menanti seruan menuju pengadilan akhir, dan penetapan apakah ia termasuk seseorang yang akan berbahagia kekal di surga?, ataukah termasuk seseorang yang akan menderita kekal di neraka?, ataukah termasuk golongan yang berhak menghuni surga akan tetapi harus melewati “tahap penyucian’ dengan disiksa di neraka?.

    Berkaitan dengan kematian sebagai tahap awal dunia akhirat yang kekal itu, ada baiknya kita menyimak penuturan Ibn Umar ra yang mengatakan: Suatu ketika aku datang kepada Nabi SAW dan mendapati beliau sedang berada ditengah-tengah jamaah yang jumlahnya sepuluh orang. Seseorang dari kalangan Anshar bertanya: “Siapakah orang yang paling cerdas dan pemurah, wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Yaitu orang yang paling rajin mengingat mati dan orang yang paling baik persiapannya dalam menghadapinya. Itulah orang yang paling cerdas, yang akan memperoleh kehormatan di dunia ini dan kemuliaan di akhirat kelak”.

    Rasulullah SAW juga bersabda: “Cukuplah maut sebagai pemisah”, dan beliau juga bersabda: “cukuplah maut sebagai pemberi peringatan”.

    Wallahu’alambishawab.

    ***

    Dikutip dari “Remembrance of Death and the Afterlife” yang ditulis oleh Al-Ghazali dan diterjemahkan oleh Ahsin Mohamad yang diterbitkan oleh Mizan, Bandung dengan judul sampul “Metode Menjemput Maut”.

     
  • erva kurniawan 2:55 am on 24 January 2019 Permalink | Balas  

    Muhammad Yusuf: Islam Sudah Mengubah Hidup Saya 

    Muhammad Yusuf: Islam Sudah Mengubah Hidup Saya

    Pemain Cricket Pakistan Yousuf Youhana yang sekarang berganti nama menjadi Muhammad Yusuf, mengaku dirinya mengalami ‘perubahan-perubahan yang revolusioner’ setelah memeluk agama Islam.

    “Saya merahasiakan ke-Islaman saya selama dua tahun karena tekanan dari kerabat saya. Saya sekarang merasakan perubahan yang revolusioner dalam diri saya. Islam betul-betul sudah mengubah hidup saya,” kata Yusuf yang sebelumnya beragama Kristen.

    Ia menempuh perjalanan panjang sebelum akhirnya memutuskan memeluk agama Islam. Selama tiga tahun terakhir, ia kerapkali berkunjung ke perkumpulan Jamaah Tabligh di Raiwind dan mendapatkan bimbingan agama Islam di sana.

    Dijumpai di Qaddafi Stadium, Lahore, Yusuf mengaku merasakan kepuasan batin dan lebih tenang dengan melakukan sholat lima waktu. “Saya tidak bisa menjelaskan perasaan saya. Dengan memeluk agama Islam, kehidupan saya sudah berubah,” katanya seperti dikutip Arab News.

    Sebelum masuk Islam, Yusuf adalah satu-satunya anggota tim cricket Pakistan yang beragama Kristen dan terlihat sering membuat ‘tanda salib’ apabila ia berhasil membuat pukulan yang bagus.

    Yousuf menyatakan, ia mendapat tekanan keras dari anggota keluarganya sehingga ia memutuskan untuk menyembunyikan ke-Islamannya untuk sementara waktu.

    ***

    Sumber: eramuslim

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 23 January 2019 Permalink | Balas  

    Cara Menghilangkan Syirik 

    Cara Menghilangkan Syirik

    Menghilangkan syirik kepada Allah, belum akan sempurna kecuali dengan menghilangkan tiga macam syirik:

    Syirik dalam perbuatan Tuhan:

    Yaitu beri’tikad bahwa di samping Allah, terdapat pencipta dan pengatur yang lain. Sebagaimana yang diyakini sebagian orang-orang shufi, bahwa Allah menguasakan sebagian urusan kepada beberapa waliNya untuk mengaturnya. Suatu keyakinan, yang hingga orang-orang musyrik sebelum Islam pun tidak pernah mengatakannya. Bahkan ketika Al-Qur’an menanyakan siapa yang mengatur segala urusan, mereka menjawab: “Allah”. Seperti ditegaskan dalam firmanNya:

    “Dan siapakah yang mengatur segala urusan? Mereka menja-wab ‘Allah’.” (Yunus: 31)

    Penulis pernah membaca kitab “Al-Kaafii Firrad alal Wahabi” yang pengarangnya seorang shufi. Di antara isinya adalah, “Sesung-guhnya Allah memiliki beberapa hamba yang bila mengatakan kepada sesuatu; Jadilah! Maka ia akan terjadi.”

    Sungguh dengan tegas Al-Qur’an mendustakan apa yang ia dak-wahkan itu. Allah berfirman:

    “Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, “Jadilah!” maka terjadilah ia.” (Yaasiin: 82)

    “Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah.” (Al-A’raaf: 54)

    Syirik dalam ibadah dan do’a:

    Yaitu di samping ia beribadah dan berdo’a kepada Allah, ia beribadah dan berdo’a pula kepada para nabi dan orang-orang shalih.

    Seperti istighatsah (meminta pertolongan) kepada mereka, berdo’a kepada mereka di saat kesempatan atau kelapangan. Ironinya, justru hal ini banyak kita jumpai di kalangan umat Islam. Tentu, yang menanggung dosa terbesarnya adalah sebagian syaikh (guru) yang mendukung perbuatan syirik ini dengan dalih tawassul.

    Mereka menamakan perbuatan tersebut dengan selain nama yang sebenarnya. Karena tawassul adalah memohon kepada Allah dengan perantara yang disyari’atkan. Adapun apa yang mereka lakukan ada-lah memohon kepada selain Allah. Seperti ucapan mereka:

    “Tolonglah kami wahai Rasulullah, wahai Jaelani, wahai Badawi …”

    Permohonan seperti di atas adalah ibadah kepada selain Allah, sebab ia merupakan do’a (permohonan). Sedangkan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

    “Do’a adalah ibadah.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, hadits hasan shahih)

    Di samping itu pertolongan tidak boleh dimohonkan kecuali kepada Allah semata. Allah berfirman:

    “Dan (Allah) membanyakkan harta dan anak-anakmu,” (Nuh: 12)

    Termasuk syirik dalam ibadah adalah “syirik hakimiyah”. Yaitu jika sang hakim, penguasa atau rakyat meyakini bahwa hukum Allah tidak sesuai lagi untuk diterapkan, atau dia membolehkan diberlaku-kannya hukum selain hukum Allah.

    Syirik dalam sifat:

    Yaitu dengan menyifati sebagian makhluk Allah, baik para nabi, wali atau lainnya dengan sifat-sifat yang khusus milik Allah. Mengetahui hal-hal yang ghaib, misalnya. Syirik semacam ini banyak terjadi di kalangan shufi dan orang-orang yang terpengaruh oleh mereka. Seperti ucapan Bushiri, ketika memuji Nabi Shallallahu’alaihi wasallam:

    “Sesungguhnya, di antara kedermawananmu adalah dunia dan kekayaan yang ada di dalamnya Dan di antara ilmumu adalah ilmu Lauhul Mahfuzh dan Qalam.

    Dari sinilah kemudian terjadi kesesatan para dajjal (pembohong) yang mendakwakan dirinya bisa melihat Rasulullah dalam keadaan jaga. Lalu menurut pengakuan para dajjal itu mereka menanyakan kepada beliau tentang rahasia jiwa orang-orang yang bergaul dengannya. Para dajjal itu ingin menguasai sebagian urusan manusia. Padahal Rasulullah semasa hidupnya saja, tidak mengetahui hal-hal yang ghaib tersebut, sebagaimana ditegaskan oleh Al-Qur’an:

    “Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku mem-buat kebajikan yang sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan.” (Al-A’raaf: 188)

    Jika semasa hidupnya saja beliau tidak mengetahui hal-hal yang ghaib, bagaimana mungkin beliau bisa mengetahuinya setelah beliau wafat dan berpindah ke haribaan Tuhan Yang Maha Tinggi? “Ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mendengar salah seorang budak wanita mengatakan, ‘Dan di kalangan kita terdapat Nabi yang mengetahui apa yang terjadi besok hari.’ Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam berkata kepadanya,

    “Tinggalkan (ucapan) ini dan berkatalah dengan yang dahulu-nya (biasa) engkau ucapkan’.” (HR. Al-Bukhari)

    Kepada para rasul itu, memang terkadang ditampakkan sebagian masalah-masalah ghaib, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah:

    “(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada rasul yang diridhaiNya.” (Al-Jin: 26-27)

    ***

    Taken from kitab Al Firqotun Naajiyah JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT karya Syaikh Muhammad Ibn Jamil Zainu

     
  • erva kurniawan 2:46 am on 22 January 2019 Permalink | Balas  

    Perumpamaan Orang Yang Berdo’a Kepada Selain Allah 

    Perumpamaan Orang Yang Berdo’a Kepada Selain Allah

    Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

    “Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” (Al-Hajj: 73)

    Allah menyeru kepada segenap umat manusia agar mendengarkan perumpamaan agung yang telah dibuatNya, dengan mengatakan:

    “Sesungguhnya para wali dan orang-orang shalih serta lainnya yang kamu berdo’a kepadanya agar menolongmu saat kamu berada dalam kesulitan, sungguh mereka tak mampu melakukannya. Meskipun sekedar menciptakan makhluk yang sangat kecil pun mereka tidak bisa. Menciptakan lalat, misalnya. Bahkan jika lalat itu mengambil dari mereka sejumput makanan atau minuman, mereka tak mampu merebutnya kembali. Ini merupakan bukti atas kelemahan mereka, juga kelemahan lalat. Jika demikian halnya, bagaimana mungkin engkau berdo’a kepada mereka, sebagai sesembahan selain Allah?”

    Perumpamaan di atas merupakan pengingkaran dan penolakan yang amat keras terhadap orang yang berdo’a dan bermohon kepada selain Allah, baik kepada para nabi atau wali.

    Allah berfirman:

    “Hanya bagi Allah lah(hak mengabulkan) do’a yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan do’a (ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.” (Ar-Ra’ad: 14)

    Ayat di atas mengandung pengertian bahwa do’a, yang ia merupakan ibadah, wajib hanya ditujukan kepada Allah semata.

    Orang-orang yang berdo’a dan memohon kepada selain Allah, tidak mendapatkan manfaat dari orang-orang yang mereka sembah. Mereka tidak bisa memperkenankan do’a barang sedikitpun.

    Menurut riwayat dari Ali bin Abi Thalib, menjelaskan perumpamaan orang yang berdo’a kepada selain Allah yaitu seperti orang yang ingin mendapatkan air dari tepi sumur (hanya) dengan tangannya. Maka hanya dengan tangannya itu, tentu dia tidak akan mendapatkan air selama-lamanya, apatah lagi lalu air itu bisa sampai ke mulutnya?”

    Menurut Mujahid,” (seperti orang yang) meminta air dengan lisannya sambil menunjuk-nunjuk air tersebut (tanpa berikhtiar selainnya), maka selamanya air itu tak akan sampai padanya.”

    Selanjutnya Allah menetapkan, bahwa hukum orang-orang yang berdo’a kepada selain Allah adalah kafir, do’a mereka hanya sia-sia belaka. Allah berfirman:

    “Dan do’a (ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.” (Ar-Ra’ad: 14)

    Maka dari itu, wahai saudaraku sesama muslim, jauhilah dari berdo’a dan memohon kepada selain Allah. Karena hal itu akan menjadikanmu kafir dan tersesat. Berdo’alah hanya kepada Allah semata, sehingga engkau termasuk orang-orang beriman yang mengesakan-Nya.

    ***

    Taken from kitab Al Firqotun Naajiyah JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT karya Syaikh Muhammad Ibn Jamil Zainu

     
  • erva kurniawan 2:43 am on 21 January 2019 Permalink | Balas  

    Sakaratul Maut 

    Sakaratul Maut

    Segala puji semata hanya bagi Allah SWT, Dzat Yang Menunjukkan kita pada kebenaran agama-Nya, Yang Menyempurnakan serta Meridhai agama-Nya, Yang membukakan pandangan hati orang yang dicintai-Nya, Yang menguasai takdir, Yang menjadi tempat kembali segala urusan. Semoga rahmat dan salam tetap tercurahkan pada nabi Muhammad SAW, yang telah dipilih oleh Allah SWT dari sekian banyak makhluk-Nya, yang dijadikan oleh-Nya sebagai yang terpilih dari yang terbaik. Semoga terlimpah pula kepada keluarga dan keturunannya, kepada semua nabi, semua keluarga mereka, dan kepada hamba-hamba-Nya yang salih.

    Seandainya dihadapan manusia tak ada kemalangan ataupun siksaan, maka kedahsyatan saat menjelang maut, sakaratulmaut, cukuplah untuk menghalangi kegembiraan serta mengusir kelengahan dan kealpaan. Disetiap saat disetiap tempat, malaikat maut dapat saja menimpakan dirinya derita pencabutan nyawa. Nabi SAW bersabda: “Kematian yang tiba-tiba adalah rahmat bagi orang yang beriman, dan nestapa bagi pendosa”.

    Yazid Al-Ruqasyi bercerita bahwa ketika seorang penguasa tiran yang lalim dari bani Israil sedang duduk ditemani oleh istrinya, masuklah seorang laki-laki melalui pintu istana.

    Penguasa itu marah dan berkata: “Siapa engkau?, siapa yang mengizinkanmu masuk kedalam rumahku?”. Orang itu menjawab: “Yang mengizinkan aku masuk kedalam rumah ini adalah pemilik rumah ini. Sedangkan aku adalah yang tak bisa dihalangi oleh seorang pengawal pun dan tidak pernah meminta izin untuk masuk, bahkan kepada raja-raja sekalipun, tidak pernah takut kepada kekuatan raja-raja yang perkasa dan tidak pernah diusir oleh penguasa tiran yang keras kepala ataupun setan pembangkang”.

    Mendengar itu, penguasa tersebut menutup mukanya dan dengan tubuh gemetar dia jatuh tersungkur. Kemudian dia bangkit dengan wajah memelas: “Jadi engkau adalah Malaikat Maut?”. “Ya”, jawab laki-laki itu.

    Penguasa itu menghiba: “Sudikah engkau memberiku kesempatan agat aku bisa memperbaiki kelakuanku?”. Malaikat Maut menjawab: “Alangkah bodohnya engkau, waktumu telah habis, napasmu dan masa hidupmu telah berakhir, tidak ada jalan lagi untuk memperoleh penangguhan”.

    Penguasa itu lalu bertanya: “Kemana engkau akan membawaku?”. “Kepada amal-amalmu yang telah engkau kerjakan sebelumnya, dan juga ke tempat tinggal yang telah engkau dirikan sebelumnya”, jawab Malaikat Maut. Sang penguasa berkata: “Bagaimana mungkin, aku belum pernah mempersiapkan amal baik dan rumah baik yang bagaimanapun”. Malaikat pun menjawab: “Kalau begitu, ke neraka, yang menggigit hingga ke pinggir-pinggir tulang”.

    Kemudian malaikat mencabut nyawa penguasa itu, dan dia pun jatuh mati ditengah-tengah keluarganya, ditengah-tengah mereka yang meratap dan menjerit.

    Yazid Al-Ruqasyi menambahkannya bahwa seandainya mereka mengetahui bagaimana buruknya neraka itu, tentu mereka akan menangis lebih keras lagi.

    Sakaratulmaut adalah ungkapan tentang rasa sakit yang menyerang inti jiwa dan menjalar keseluruh bagian jiwa, sehingga tidak ada lagi satu pun bagian jiwa yang terbebas dari rasa sakit itu. Kedahsyatan rasa sakit yang dialami pada saat sakaratulmaut tak dapat diketahui dengan pasti kecuali oleh orang yang telah merasakannya, orang yang belum pernah merasakannya hanya bisa menganalogikannya saja.

    Rasa sakit akibat tertusuk duri hanya menjalar pada bagian jiwa yang terletak pada anggota badan yang tertusuk duri, luka karena terbakar maka efeknya dirasakan oleh bagian-bagian jiwa yang mengalir pada bagian dagingnya itu. Akan tetapi, rasa sakit sakaratulmaut menghujam jiwa dan menyebar keseluruh anggota badan, hingga serasa dirinya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap urat nadi, urat saraf, persendian, setiap akar rambut dan kulit kepala hingga ujung kaki. Rasa sakit sakaratul maut yang tak teperikan itu diibaratkan bahwa seandainya setetes dari rasa sakit kematian itu diletakkan diatas semua gunung di bumi, maka niscaya gunung-gunung itu akan meleleh.

    Hujaman pedang, rasa sakitnya masih menyisakan sisa tenaga dalam hati dan lidahnya untuk berteriak kesakitan. Sedangkan dalam sakaratulmaut, suara dan dan jeritan akibat rasa sakitnya itu telah terputuskan oleh dahsyatnya rasa sakitnya itu sendiri, sehingga jikalau masih tersisa tinggallah suara lenguhan dan gemertak saja. Jikalau manusia tak memohon perlindungan darinya dan tidak memandangnya dengan penuh rasa gentar, itu karena ketidaktahuannya saja, bahkan Rasulullah SAW sendiri pun pernah berdoa berkaitan dengan sakaratulmaut ini: “Ya Allah Tuhanku, ringankanlah sakaratulmaut bagi Muhammad”.

    Suatu ketika, Rasulullah SAW ditanya perihal pedihnya sakaratulmaut, beliau menjawab bahwa: “Kematian yang paling mudah adalah serupa dengan sebatang pohon duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang terkoyak?”.

    Diriwayatkan tentang nabi Musa as bahwa ketika ruhnya akan menuju ke hadirat Allah SWT, Dia bertanya kepadanya: “Wahai Musa, bagaimana engkau merasakan kematian?. Nabi Musa as menjawab: “Kurasakan diriku seperti seekor burung yang dipanggang hidup-hidup, tak mati untuk terbebas dari rasa sakit dan tak bisa terbang untuk menyelamatkan diri”.

    Diriwayatkan bahwa ketika Nabi Ibrahim as meninggal dunia, Allah SWT bertanya kepadanya: “Bagaimana engkau merasakan kematian?”, dan nabi Ibrahim as menjawab: “Seperti sebuah pengait yang dimasukkan kedalam gumpalan bulu yang basah, kemudian ditarik”. “Yang seperti itu sudah Kami ringankan atas dirimu”, firman-Nya.

    Seandainya seorang yang sudah mati dihidupkan kembali untuk menceritakan tentang rasa sakit sakaratulmaut, maka niscaya mereka tidak mempunyai gairah hidup dan tidak akan bisa merasakan nikmat tidur. Diriwayatkan bahwa pada suatu ketika sekelompok kaum bani Israil berjalan melewati pekuburan, dan salah seorang diantaranya berkata kepada yang lainnya: “Bagaimana jika kalian berdoa kepada Allah SWT, agar Dia menghidupkan satu mayat dari pekuburan ini, dan kalian bisa mengajukan pertanyaan kepadanya?”. Mereka pun lalu berdoa kepada Allah SWT. Tiba-tiba mereka berhadapan dengan seorang laki-laki dengan tanda-tanda sujud diantara kedua matanya yang muncul dari satu kuburan. “Wahai manusia”, katanya, “Apa yang kalian kehendaki dariku?, lima puluh tahun yang lalu aku mengalami kematian, namun hingga kini rasa pedihnya belum juga hilang dari hatiku !”.

    Zaid bin Aslam meriwayatkan bahwa suatu ketika ayahnya berkata: “Jika bagi seorang beriman masih ada derajat tertentu yang belum berhasil dicapainya melalui amal perbuatannya, maka kematian yang dijadikan sangat berat dan menyakitkan agar dia bisa mencapai kesempurnaan derajatnya di surga. Sebaliknya, jika seorang kafir mempunyai amal baik yang belum memperoleh balasan, maka kematian akan dijadikan ringan atas dirinya sebagai balasan atas kebaikannya, dan dia akan langsung mengambil tempatnya di neraka”.

    Bersamaan dengan sakaratul maut, berturut-turut datang petaka kepada dirinya. Peristiwa petaka pertama adalah kedahsyatan peristiwa dicabutnya ruh. Selanjutnya adalah menyaksikan wujud dari Malaikat Maut dengan disertai timbulnya rasa takut dalam hatinya. Kemudian adalah pertemuannya dengan Malaikat Pencatat Amal. Lalu ketika peristiwa penyaksian tempatnya di akhirat kelak.

    Wujud dari Malaikat Pencabut Nyawa saat menjalankan tugasnya mencabut nyawa manusia yang penuh dosa, niscaya tak akan sanggup dilihat sekalipun oleh manusia yang paling kuat sekalipun. Diriwayatkan, suatu ketika nabi Ibrahim as, bertanya kepada Malaikat Maut: “Dapatkah engkau memperlihatkan rupamu ketika mencabut nyawa manusia yang gemar melakukan perbuatan jahat?”. Malaikat pun menjawab: “Engkau tidak akan sanggup”. Beliau menjawab: “Aku pasti sanggup”. “Baiklah, berpalinglah dariku”, kata Malaikat Maut. Maka nabi Ibrahim as pun berpaling darinya. Kemudian ketika berbalik kembali, maka yang ada dihadapannya adalah seorang berkulit legam dengan rambut berdiri, berbau busuk, dan mengenakan pakaian berwarna hitam. Dari mulut dan lubang hidungnya keluar jilatan api.

    Melihat pemandangan itu, nabi Ibrahim as jatuh pingsan, dan ketika beliau sadar kembali, Malaikat Maut telah berubah dalam wujud semula. Nabi Ibrahim as pun berkata: “Wahai Malaikat Maut, seandainya seorang pelaku kejahatan pada saat kematiannya tidak menghadapi sesuatu lain kecuali wajahmu, niscaya cukuplah itu sebagai hukuman atas dirinya”.

    Akan tetapi, wujud Malaikat Pencabut Nyawa saat menjalankan tugas mencabut nyawa manusia yang bertakwa, akan terlihat dalam rupa yang paling indah.

    Diriwayatkan, pada suatu hari nabi Ibrahim as pulang kerumah, beliau melihat seorang laki-laki didalamnya.

    Lalu beliau bertanya: “Siapa yang mengizinkanmu masuk ke rumahku?”. Orang itu menjawab: “Aku diizinkan masuk oleh Pemiliknya”. Lalu nabi Ibrahim berkata: “Tapi, akulah pemilik rumah ini”. Orang itu menjawab lagi: “Aku diizinkan masuk oleh Dia yang lebih berhak atas rumah ini daripada engkau atau aku”.

    Beliau lalu bertanya: “Kalau begitu Malaikat apa engkau ini?”. Orang itu menjawab: “Aku adalah Malaikat Maut”.

    Selanjutnya nabi Ibrahim as berkata: “Dapatkah engkau perlihatkan kepadaku rupamu ketika mencabut nyawa orang beriman?”. “Baiklah, berpalinglah dariku”, kata Malaikat Maut. Maka nabi Ibrahim as pun berpaling darinya.

    Ketika beliau berbalik kembali ke arah malaikat itu, maka berdiri didepannya adalah pemuda gagah dan tampan, berpakaian indah dan menyebarkan bau harum wewangian.

    Nabi Ibrahim as pun berkata: “Wahai Malaikat Maut, seandainya orang beriman melihat rupamu saja pada saat kematiannya, niscaya cukuplah itu sebagai imbalan atas amal baiknya”.

    Peristiwa selanjutnya adalah tak seorang pun manusia yang mati kecuali akan diperlihatkan kepadanya dua Malaikat yang bertugas mencatat amalnya.

    Jika dia seorang saleh, maka kedua malaikat itu akan berkata: “Semoga Allah memberikan ganjaran yang baik kepadamu sebab engkau telah menyatakan kami untuk duduk ditengah-tengah kebaikan, dan membawa kami hadir menyaksikan banyak perbuatan baikmu”.

    Akan tetapi, jika dia adalah seorang pelaku kejahatan, maka mereka akan berkata kepadanya: “Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik sebab engkau telah hadirkan kami ke tengah-tengah perbuatan yang keji, dan membuat kami hadir menyaksikan banyak perbuatan buruk, memaksa kami mendengar ucapan-ucapan yang buruk. Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik”.

    Selanjutnya orang pendosa yang sekarat itu menatap lesu ke arah kedua malaikat itu dan selamanya dia tidak akan pernah kembali ke dunia ini lagi.

    Selanjutnya adalah peristiwa diperlihatkannya tempat kembalinya di neraka atau surga. Bukan kematian yang ditakuti, namun rasa takut terhadap kematian yang su”ul khatimah telah mengoyak hati orang-orang yang arif.

    Berkaitan dengan ini, nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Tak seorang pun di antara kalian yang akan meninggalkan dunia ini kecuali telah diberikan tempat kembalinya dan diperlihatkan kepadanya tempatnya di surga atau neraka”.

    Rasulullah SAW juga bersabda: “Barangsiapa mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah pun akan senang bertemu dengannya, dan barangsiapa membenci pertemuan dengan-Nya, maka Dia-pun tidak senang bertemu dengannya”.

    Namun peristiwa ini merupakan petaka bagi manusia-manusia pendosa, hati mereka gentar ketika kepadanya diperlihatkan tempat mereka di neraka. Ruh mereka para pendosa tidaklah keluar kecuali setelah mereka mendengar suara Malaikat Maut menyampaikan kabar: ““Rasakanlah, wahai musuh Allah, siksaan neraka !”.

    Raut wajah yang paling disukai dari orang yang sedang sekarat adalah raut wajah yang mencerminkan ketentraman dan ketenangan, serta dari lidahnya terucap dua kalimah Syahadat. Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Suatu ketika Malaikat Maut mendatangi orang yang sedang sekarat. Setelah melihat ke dalam hatinya dan tidak menemukan apa pun disitu, Malaikat itu lalu membuka janggut orang itu dan mendapati ujung lidahnya melekat pada langit-langit mulutnya selagi dia mengucapkan, “Tidak ada Tuhan selain Allah”. Dosa-dosanya diampuni akrena kalimat ikhlas yang telah diucapkannya”.

    Rasulullah SAW bersabda: “Perhatikanlah tiga tanda pada orang yang sekarat, Jika keningnya berkeringat, matanya basah oleh air mata, dan bibirnya mengering, berarti rahmat Allah SWT telah turun kepadanya. Akan tetapi, jika dia kelihatan seperti orang yang dicekik-cekik, warna kulitnya memerah dan mulutnya berbusa, maka itu adalah akibat siksaan Allah yang ditimpakan atas dirinya”.

    Wallahu”alambishawab.

    ***

    Dikutip dari “Remembrance of Death and the Afterlife” yang ditulis oleh Al-Ghazali dan diterjemahkan oleh Ahsin Mohamad yang diterbitkan oleh Mizan, Bandung dengan judul sampul “Metode Menjemput Maut”.

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 20 January 2019 Permalink | Balas  

    Ziarah Alam Kubur Dan Ziarah Kubur 

    Ziarah Alam Kubur dan Ziarah Kubur

    Segala puji semata hanya bagi Allah SWT, Dzat Yang Menunjukkan kita pada kebenaran agama-Nya, Yang Menyempurnakan serta Meridhai agama-Nya, Yang membukakan pandangan hati orang yang dicintai-Nya, Yang menguasai takdir, Yang menjadi tempat kembali segala urusan. Semoga rahmat dan salam tetap tercurahkan pada nabi Muhammad SAW, yang telah dipilih oleh Allah SWT dari sekian banyak makhluk-Nya, yang dijadikan oleh-Nya sebagai yang terpilih dari yang terbaik. Semoga terlimpah pula kepada keluarga dan keturunannya, kepada semua nabi, semua keluarga mereka, dan kepada hamba-hamba-Nya yang salih.

    Ibn Abi ad-Dunya dan Al-Bayhaqi menuturkan riwayat dari Utsman ibn Sawrah. Ibunya adalah seorang yang taat beribadah, ia dikenal dengan nama Rahibah. Utsman ibn Sawrah bertutur: Setelah ibuku meninggal dunia, aku senantiasa mendatangi kuburannya setiap malam jumat. Aku berdoa dan memohonkan ampunan untuknya dan untuk semua ahli kubur.

    Pada suatu malam aku bermimpi bertemu ibuku, aku bertanya: “Ibu, bagaimana keadaan ibu?”.

    “Anakku, sesungguhnya kesedihan akibat kematian itu amat mendalam. Alhamdulillah, aku berada ditempat yang terpuji, tidur berkasur rayhan serta berbantalkan sutera kasar dan sutera halus”.

    Aku bertanya lagi: “Apakah ibu mempunyai keperluan tertentu?”.

    “Ya”, jawab ibuku.

    “Apakah keperluan ibu?”, sahutku lebih lanjut.

    Beliau menjawab: “Janganlah engkau meninggalkan ziarah dan doa yang pernah engkau lakukan kepada kami. Sesungguhnya aku merasa terhibur dengan kedatanganmu pada hari jumat. Jika engkau datang, akan dikatakan kepadaku “Ya Rahibah, telah datang kepadamu seorang dari keluargamu”. Aku merasa gembira karenanya dan demikian juga dengan mayat-mayat yang berada disekelilingku”.

    Ibn Abi ad-Dunya dan Al-Bayhaqi juga menuturkan riwayat dari Basyar ibn Manshur, dia bertutur:

    Ada seorang yang pulang dan pergi ke pemakaman dan senantiasa mengerjakan shalat jenasah. Jika sore hari tiba, dia berdiri di pintu kuburan seraya mengucapkan: “Semoga Allah menghibur kalian, menyayangi kesendirian kalian, mengampuni dosa-dosa kalian, dan menerima semua kebaikan kalian”.

    Pada suatu malam, dia pulang ke rumah menemui keluarganya dan tidak mendatangi kuburan. Ketika tidur, tiba-tiba dia bermimpi berada bersama orang banyak yang sengaja mendatanginya.

    Dia kemudian bertanya: “Siapakah kalian ini?, apa pula keperluan kalian?.

    Mereka menjawab: “Kami adalah penghuni kubur”. Dia bertanya lagi: “Apa yang menyebabkan kalian datang kepadaku?”. Mereka menjawab: “Engkau sudah membiasakan memberi sesuatu kepada kami pada saat kepulanganmu menemui keluargamu”.

    Dia bertanya: “Pemberian apa itu?”.

    Mereka berucap: “Doa-doa yang engkau panjatkan”. Setelah itu, orang itu lalu membiasakannya kembali dan tidak pernah meninggalkan doa-doa tersebut.

    Dalam Al-Firdaus disebutkan bahwa Abu ad-Darda bertutur bahwa jika seseorang meninggal dunia, dia akan dibawa mengitari rumahnya selama satu bulan dan sekeliling kuburnya selama satu tahun. Selanjutnya dia akan dibawa naik ke suatu sebab yang mempertemukan arwah orang yang sudah meninggal dunia dengan arwah orang yang masih hidup.

    Ibn Mundah dalam Ar-Ruh dan Ath-Thabrani dalam Al-Awsath, melalui Sa’id Ibn Jubair menuturkan riwayat dari Ibn Abbas, bahwa arwah orang yang masih hidup dan arwah orang yang sudah mati saling bertemu di dalam tidur, lalu Allah SWT menahan arwah orang-orang yang sudah meninggal dunia dan mengirimkan arwah orang-orang yang masih hidup ke jasadnya masing-masing.

    Dalam suatu riwayat dari An-Nasa’i mengatakan Khuzaymah berkata bahwa dirinya pernah menyampaikan mimpinya kepada Rasulullah SAW, dalam mipinya itu seakan-akan bersujud diatas dahi Nabi SAW. Rasulullah SAW kemudian bersabda bahwa sesungguhnya ruh itu dapat bertemu dengan ruh yang lainnya.

    Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan Al-Baihaqi dalam Dala’il an-Nubuwwah menuturkan riwayat dari Katsir ibn ash-Shilat, bahwa Ustman bin Affan ra pernah pingsan pada hari ketika dia terbunuh, lalu dia tersadar dan berkata: “Sesungguhnya aku telah melihat Rasulullah SAW dalam tidurku tadi”.

    Ath-Thabrani dalam Al-Awsath dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak menuturkan riwayat dari Al-Uqayli. Ibn Umar ra bercerita bahwa pada suatu saat Umar ibn al-Khaththab ra pernah bertemu dengan Ali ibn Abi Thalib ra dan berkata: “Abu al-Hasan, ada seseorang yang bermimpi, sebagiannya benar dan sebagiannya lagi ada yang tidak benar”. Ali pun menjawab: “Benar, aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda bahwa seorang hamba baik laki-laki maupun perempuan yang tidur dengan nyenyak , ruhnya dibawa naik ke Arsy, itulah mimpi yang benar, sedangkan yang bangun sebelum ruhnya sampai di Arsy, itu adalah mimpi yang bohong”.

    Dalam suatu riwayat dari Al-Baihaqi mengatakan Abdullah ibn Amr ibn al-Ash berkata bahwa arwah orang hidup dibawa naik ke langit ketika sedang tidur, dia diperintahkan bersujud di Arsy, barangsiapa berada dalam keadaan suci maka ia akan bersujud, jika tidak suci maka dia akan bersujud ditempat yang jauh dari Arsy.

    Sedangkan Ibn al-Mubarak menuturkan riwayat dari Abu ad-Darda bahwa jika manusia tidur, ruhnya dibawa naik sehingga sampai di Arsy, jika dalam keadaan suci maka diizinkan baginya bersujud, jika dalam keadaan junub maka tidak diizinkan baginya bersujud.

    Ikrimah dan Mujahid mengatakan bahwa jika seseorang itu tidur, ada jalan padanya yang menjadi tempat bagi ruh keluar dari jasadnya, sehingga ruh itu akan sampai ke mana saja sesuai dengan kehendak Allah SWT. Selama ruh itu masih belum kembali, dia akan terus tidur, jika telah kembali ke jasadnya maka dia pun akan terjaga. Kedudukannya itu sama seperti sinar matahari, sinar itu sampai ke bumi padahal sebenarnya matahari masih tetap ada pada tempatnya.

    Ibn Mundah juga menuturkan riwayat dari beberapa ulama bahwa jika ruh itu keluar dari badannya secara keseluruhan maka dia akan mati, sebagaimana lampu tempel akan padam jika sumbunya dicabut secara keseluruhan. Begitupun dengan ruh orang yang tidur, ruh berjalan-jalan menelusuri alam jagat raya ini, dan malaikat menjaga arwah manusia ini, setelah itu ia akan kembali ke badannya lagi.

    Syaikh Izzuddin ibn Abdissalam dalam Ruh al-Yaqazah mengatakan bahwa sesungguhnya Allah SWT telah memberlakukan tatkala ruh berada didalam jasad seseorang maka dia dalam keadaan terjaga, jika ruh itu keluar dari jasad maka dia dalam keadaan tidur. Ruh yang berpisah dari jasad itu akan mengalami berbagai mimpi, jika ruh itu berada di langit maka mimpinya itu benar karena tidak ada jalan bagi setan untuk sampai ke langit, jika berada dibawah langit maka mimpinya itu adalah ulah setan. Kemudian jika ruh itu kembali ke jasadnya maka orang itu akan bangun seperti sediakala.

    Ibn al-Qayyim mengatakan bahwa arwah itu terdapat dua macam, yang mendapat nikmat dan yang mendapat siksa. Arwah yang mendapatkan siksa tidak dapat melakukan kunjungan dan pertemuan, sementara arwah yang mendapatkan nikmat, sama sekali tidak terikat. Mereka senantiasa mengadakan kunjungan dan pertemuan antar sesamanya, saling mengingat apa yang mereka lakukan di dunia. Di sana setiap ruh memiliki teman yang sejajar sesuai dengan amal perbuatan yang dilakukannya. Ruh para nabi berada pada tempat tertinggi. Persahabatan pun berlaku selamanya, baik di dunia, di alam barzakh, dan di akhirat kelak. Ketika orang berziarah ke kuburan, penghuninya dapat mengetahui peziarahnya, mendengar ucapannya, merasa senang dengannya, serta menjawab salam yang diucapkannya.

    Sesungguhnya, tidaklah ada pertentangan antara dalil-dalil yang ada, dan dari dalil-dali itu tak dapat diputuskan benar-salahnya, karena arwah-arwah itu saling berbeda satu dengan lainnya di tempat persemayamannya di alam barzakh, melainkan ditempatkan sesuai dengan tingkat kesejahteraan dan kesengsaraannya.

    Keadaan hubungan ruh dengan badan terdapat berbagai macam hubungan, antara lain hubungan ketika tidur dimana disatu sisi ruh itu mempunyai hubungan namun disisi lain sebenarnya terpisah, hubungan dialam barzakh dimana meskipun ruh telah dipisahkan dari badan oleh kematian namun sebenarnya tidak dipisahkan secara menyeluruh, hubungan pada hari kebangkitan dimana merupakan hubungan yang paling sempurna.

    Ibn al-Qayyim juga mengatakan bahwa orang yang masih hidup dapat melihat arwah orang mati dalam tidurnya, lalu orang yang sudah mati itu memberitahukan mengenai sesuatu sehingga orang yang masih hidup mendapatkan apa yang diberitahukannya itu.

    Al-Yafi’i mengatakan bahwa diperlihatkannya oleh Allah SWT orang yang sudah meninggal dunia baik dalam suatu kebaikan atau kejahatan termasuk bagian dari kasyf, penyingkapan alam gaib, sebagai peringatan sekaligus nasihat dan juga untuk kepentingan si mayat tersebut guna mendapatkan kebaikan, membayar utang, dan lain-lain. Kasyf ini lebih sering dialami pada saat sedang tidur, kadang juga dalam keadaan terjaga. Semua itu juga termasuk bagian dari karamah para wali.

    Imam Ahmad dalam Al-Zuhd dan Ibn Sa’ad dalam Ath-Thabaqat menuturkan riwayat dari Abbas ibn Abdul Muthallib ra, dia berkata: “Umar ibn Kththab ra adalah teman dekatku, sepeninggalnya selama satu tahun penuh aku berdoa agar dia diperlihatkan padaku dalam tidurku. Akhirnya, aku berhasil melihatnya melalui mimpi setelah setahun penuh, tatkala dia terlihat membasuh peluh dari dahinya, kutanyakan kepadanya: “Amirul Mukminin, apa yang diperbuat Tuhanmu kepadamu?”. Dia menjawab: “Ini adalah waktu luangku (tidak dihisab), hampir saja keteguhanku goyang, untung aku mendapatkan Tuhanku sangat Pengasuh lagi Penyayang”.

    Yazid ibn al-Madz”ur berkisah bahwa pernah dalam bertemu dengan Ibn al-Mubarak, lalu bertanya: “Abu Amr, tolong tunjukkan sesuatu kepadaku yang dapat aku jadikan bahan untuk ber-taqarrub kepada Allah SWT. Lalu ia menjawab bahwa ia disana tidak melihat derajat yang lebih tinggi daripada derajat para ulama, setelah itu adalah derajat mereka yang bersedih”.

    Abdullah ibn Shalih as-Shuffi bercerita bahwa sebagian perawi hadis dalam mimpinya pernah diperlihatkan kepadanya. Ia bertanya kepada mereka: “Bagaimana perlakuan Allah terhadapmu?”, mereka menjawab: “Allah memberikan ampunan “. Lalu ia bertanya lagi: “Dengan apa Dia mengampunimu?”, mereka menjawab: “Dengan shalawat yang aku panjatkan kepada Rasulullah SAW didalam buku-bukuku”.

    Abdul Aziz ibn Amr ibn Abdul Aziz berkisah: “Aku pernah bermimpi melihat ayahku dalam tidurku setelah beliau meninggal dunia, aku bertanya kepadanya: “Amal apa yang ayah lihat paling afdhal?”, lalu ia menjawab: “Istighfar, puteraku”.

    At-Turmudzi dalam Nawadir al-Ushul, meriwayatkan bahwa Abdul Ghafur ibn Abdul Aziz menuturkan bahwa ayahnya menerima riwayat dari kakeknya yang bercerita bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Amal-amal perbuatan itu diperlihatkan pada hari Senin dan Kamis kepada Allah, kepada para nabi, serta kepada ibu dan bapak mereka pada hari Jumat. Mereka senang dengan kebaikan-kebaikan mereka dan wajah mereka pun semakin cerah. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kalian menyakiti orang-orang yang sudah meninggal diantara kalian”.

    Abu Dawud dan Ibn Hibban meriwayatkan bahwa Abu Usayd menuturkan bahwa ada seseorang yang datang kepada Rasulullah SAW seraya bertanya: “Ya Rasulullah, apakah masih mungkin berbakti kepada orang tua yang dapat saya lakukan setelah kematian mereka?”. Beliau menjawab: “Ya, ada empat kriteria yang tersisa untukmu, yaitu doa, memenuhi janji keduanya, memuliakan teman-teman mereka, serta menyambung silaturahmi yang menjadikan engkau tidak akan mendapatkan kasih-sayang melainkan dari keduanya”.

    Abu Nu”aym menuturkan riwayat dari Ibn Mas”ud, dia berkata: “Sambunglah hubungan dengan orang yang pernah menjalin hubungan dengan ayahmu. Karena hubungan seorang mayat itu masih terus bersambung di alam kuburnya, jika engkau menjalin hubungan dengan orang yang pernah menjalin hubungan dengannya”.

    Ibn Hibban juga menuturkan riwayat dari Ibn Umar yang mengatakan bahwa Rasullah SAW pernah bersabda: “Barangsiapa ingin menjalin hubungan dengan ayahnya yang berada di alam kuburnya, hendajlah dia menjalin hubungan dengan saudara-saudara ayahnya setelah kematian ayahnya”.

    Ath-Thabrani dan Al-Bayhaqi, dan Al-Asbahani, menuturkan riwayat dari Samrah ibn Jundab yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah pada saat usai mengerjakan salat subuh bertanya: “Apakah disini ada seseorang dari Bani Fulan?. Sesungguhnya sahabat kalian ini ditahan di pintu surga karena utangnya. Jika kalian berkehendak, tebuslah. Jika kalian berkehendak, kalian dapat menyerahkannya kepada azab Allah”.

    Al-Bazzar dan Ath-Thabrani menuturkan juga riwayat dari Ibn Abbas bahwa Rasulullah SAW pernah mengerjakan salah subuh setelah itu beliau mengatakan: “Apakah disini ada seseorang dari kabilah Hudzayl? Sesungguhnya sahabat kalian ditahan di pintu surga karena utangnya”.

    Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Sa’id ibn al-Athwa yang berkisah bahwa ayahnya meninggal dunia dengan meninggalkan tiga ratus dirham, juga keluarga dan utangnya. Aku bermaksud memberikan nafkah kepada keluarganya, lalu Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya ayahmu tertahan oleh utangnya. Oleh karena itu, bayarlah utangnya itu”.

    Aisyah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Barangsiapa yang meninggal dunia sedangkan dia masih mempunyai utang puasa, walinyalah yang harus membayar utang puasa itu”.

    Ath-Thabrani menuturkan, Ibn Umar pernah diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Jika salah seorang diantara kalian bersedekah secara sukarela dengan meniatkannya untuk kedua orangtuanya, bagi keduanya ada pahala dari sedekah tersebut tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang mengeluarkannya”.

    Imam Ahmad dan At-Turmudzi meriwayatkan bahwa Anas ibn Malik menuturkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa sesungguhnya amal-amal kalian itu diperlihatkan kepada kaum kerabat dan keluarga kalian yang sudah meninggal. Jika amal-amal itu baik, mereka pun akan merasa senang, jika sebaliknya, mereka akan mengatakan: “Ya Allah, janganlah Engkau mematikan mereka sehingga Engkau memberikan petunjuk kepada mereka, sebagaimana Engkau telah memberikan petunjuk kepada kami”.

    Ath-Thayalusi meriwayatkan dari Jabir ibn Abdillah bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa sesungguhnya amal-amal kalian diperlihatkan kepada keluarga dan kaum kerabat kalian didalam kuburan mereka. Jika baik, mereka akan senang hati. Jika sebaliknya, mereka akan berdoa: “Ya Allah, berikanlah ilham kepada mereka agar berbuat taat kepada-Mu”.

    Ibn Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, dan juga At-Turmudzi, menuturkan riwayat dari Ibrahim ibn Maysarah. Dia bercerita bahwa Abu Ayyub al-Qasthanthiniyyah pernah pergi berperang, lalu dia bertemu dengan seseorang yang berkata kepadanya: “Jika seorang hamba berbuat suatu amalan pada tengah hari, akan diperlihatkan kepada orang-orang yang mengenalnya yang sudah meninggal dunia pada sore harinya. Jika ia berbuat amalan pada akhir siang hari, akan diperlihatkan pagi harinya kepada orang-orang yang dikenalnya yang sudah meninggal dunia”.

    Abdullah ibn Shalih as-Shuffi juga menceritakan bahwa pernah bertemu dengan Abu Nuwas dalam tidurnya. Abdullah bertanya: “Bagaimana perlakuan Allah terhadapmu?”, lalu Abu Nuwas menjawab: “Dia telah mengampuniku dan memberiku semua nikmat ini”. Kemudia ia bertanya lagi: “Dengan apa padahal engkau telah mencampurkan antara amal salih dan perbuatan jahat?”, dijawabnya: “Sebagian orang salih pernah datang ke beberapa kuburan pada suatu malam, lalu mereka membentangkan tikarnya, kemudian mengerjakan shalat dua rakaat, didalam shalatnya mereka membaca dua ribu kali surah al-Ikhlas, dan mereka berniat memberikan pahalanya untuk para penghuni kubur. Sehingga Allah pun memberikannya kepada para penghuni kubur, sementara aku termasuk bagian dari penghuni kubur tersebut”.

    Al-Wakidi menuturkan bahwa Rasulullah SAW senantiasa mengunjungi kuburan para syuhada di gunung Uhud setiap tahunnya. Ketika sampai pada sebuah jalan di gunung itu, beliau nabi SAW mengangkat tangannya seraya mengucapkan salam: “Keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian, alangkah baiknya tempat kesudahan itu”. Selanjutnya hal itu dilanjutkan oleh Abu Bakar, Umar ibn al-Kaththab, dan Ustman bin Affan. Selain itu, Fatimah ibn Rasulullah SAW juga mengunjunginya dan berdoa.

    Sa’ad ibn Abi Waqah juga mengucapkan salam kepada mereka. Setelah itu, dia mengarahkan pandangannya kepada para sahabatnya seraya berucap: “Mengapa kalian tidak mengucapkan salam kepada orang-orang yang akan menjawab salam kalian?”.

    Abu Hurairah ra menuturkan bahwa Abu Razin bertanya kepada Rasulullah SAW: “Ya Rasulullah, sesungguhnya dalam perjalananku ini, aku melewati kuburan orang-orang yang meninggal dunia. Apakah ada ucapan yang harus aku ucapkan ketika aku berjalan melewatinya?. Beliau nabi SAW lalu menjawab: “Ucapkanlah “As-Salam alaykum ya Ahl al-Qubur min al-muslimin wa al-mu’minin”. Kalian telah mendahului kami, kami akan mengikuti kalian. Insya Allah, kami akan menyusul kalian”. Kemudian Abu Razin kembali bertanya: “Ya Rasulullah, apakah mereka itu mendengar?”. Beliau menjawab: “Mereka itu mendengar, tetapi mereka tidak dapat menjawab”. Lebih lanjut beliau bersabda: “Ya Abu Razin, tidakkah engkau meridhai jika malaikat sebanyak jumlah merekalah yang menjawab salam kepadamu?”.

    Dalam hadis riwayat Muslim dituturkan dari Abu Hurairah ra yang meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah mendatangi suatu kuburan seraya mengucapkan: “Salam sejahtera kepada kalian yang menempati tempat orang-orang yang beriman ini. Jika Allah menghendaki, kami akan menyusul kalian”.

    Al-Hafizh ibn Rajab menerima kabar dari Ali ibn Abdushshamad yang diterimanya dari Ahmad al-Baghdadi. Ayah Ahmad al-Baghdadi menuturkan bahwa Qastantin ibn Abdillah ar-Rumi menerima kabar dari Al-Asad ibn Musa. Dia berkata: “Aku memiliki seorang teman yang sudah meninggal, lalu aku bermimpi bertemu dengannya. Dia berkata kepadaku:

    “Subhanallah, engkau telah datang kepada temanmu, si Fulan., dan berdoa untuknya serta memohonkan rahmat baginya. Sedangkan aku engkau biarkan, tidak engkau datangi dan dekati”. Kutanyakan: “Tahukah engkau apa yang aku kerjakan?”, dia menjawab: “Engkau mendatangi kuburan temanmu, si Fulan, dan aku melihatmu”. Lalu aku bertanya: “Bagaimana mungkin engkau melihatku sedangkan kuburanmu tertutup oleh tanah?, dia menyahut: “Bukankah engkau tidak dapat melihat air yang berada di dalam gelas?”, aku menjawab: “Ya”. Kemudian ia mengatakan: “Demikianlah kami melihat orang-orang berziarah kepada kami”. Ath-Thabrani meriwayatkan dari Taswban yang menuturkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Aku pernah melarang kalian berziarah kubur, sekarang berziarahlah, jadikanlah ziarah kubur kalian sebagai doa sekaligus permohonan ampunan bagi mereka”. Ibn Abi ad-Dunya menuturkan riwayat dari Aisyah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seseorang berziarah ke kuburan saudaranya dan duduk disisinya, melainkan saudara yang telah meninggal itu akan menyambut dan menjawab salamnya hingga dia berdiri”.

    Ibn Abi ad-Dunya menuturkan riwayat dari Abu Hurairah ra, bahwa jika seseorang melewati kuburan orang yang dikenalnya, lalu dia mengucapkan salam kepadanya, niscaya penghuninya akan menjawab salamnya dan mengetahui kehadirannya. Jika seseorang melewati kuburan orang yang tidak dikenalnya, lalu dia mengucapkan salam, niscaya penghuninya itu pun akan menjawab salamnya itu.

    Ibn Abi ad-Dunya menuturkan riwayat dari Ibnu Abbas ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seseorang melewati kuburan saudaranya yang beriman yang dikenalnya di dunia, lalu dia mengucapkan salam kepadanya, melainkan dia mengetahui dan menjawab salamnya”.

    Dalam Al-Arba’in ath-Tha’iyah menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Seorang mayat akan merasa senang di dalam kuburnya jika dikunjungi oleh orang yang dicintainya di dunia”.

    Hadis riwayat Ath-Thabrani yang meriwayatkan dari Ibn Amr menyebutkan, bahwa Rasulullah SAW ketika pulang dari perang Uhud melewati kuburan Mush’ab ibn Umar, lalu beliau Nabi SAW berhenti pada kuburannya dan kuburan para sahabat lainnya, seraya bersabda: “Aku bersaksi bahwa kalian hidup di sisi Allah, oleh karena itu, hendaklah kalian ziarahi mereka dan ucapkan salam kepada mereka. Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang mengucapkan salam kepada mereka melainkan mereka akan menjawabnya sampai hari Kiamat”.

    Abu Al-Qasim Sa’ad ibn Ali al-Zunjani menuturkan riwayat dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang masuk pekuburan, lalu membaca surah Al-Fatihah, surah Al-Ikhlas, surah at-Takatsur, kemudian berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya aku berniat memberikan pahala atas apa yang aku baca ini kepada penghuni kubur yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan”, maka mereka akan menjadi pemohon syafaat kepada Allah SWT baginya”.

    Abdul Aziz menuturkan riwayat dari Anas ibn Malik ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang masuk kuburan, lalu ia membaca surah Yasin, Allah akan memberikan keringanan kepada mereka, sedangkan dia akan memperoleh kebaikan sejumlah penghuni kubur yang ada disitu”.

    Amr ibn Jarir pernah manyampaikan bahwa jika seorang hamba berdoa untuk saudaranya yang sudah meninggal dunia, dengan doa itu akan datang malaikat ke kuburnya seraya mengatakan: “Wahai penghuni kubur ini, inilah hadiah dari saudaramu yang menaruh kasihan terhadapmu”.

    Dalam Al-Awsath, Ath-Thabrani meriwayatkan dari Anas ibn Malik bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Umatku adalah umat yang disayang, mereka masuk ke kubur mereka dengan penuh dosa dan keluar darinya dalam keadaan bersih dari dosa, yang demikian itu karena istighfar orang-orang mukmin”.

    Al-Bayhaqi dalam Syu’ab al-Iman mengatakan bahwa Ibn Abbas menuturkan Rasulullah SAW pernah bersabda: “Tidaklah seorang mayat didalam kuburnya melainkan seperti orang tenggelam yang memohon bantuan, yang menunggu doa dari ayah, ibu, anak, atau temannya. Jika doa itu telah dipanjatkan, yang demikian itu lebih dicintainya daripada dunia dan seisinya. Sesungguhnya Allah SWT akan memasukkan kepada ahli kubur doa dari orang yang masih hidup yang menyerupai gunung. Sesungguhnya hadiah yang dapat diberikan orang yang masih hidup kepada orang yang sudah meninggal adalah istighfar”.

    Imam Ahmad, juga At-Turmudzi, meriwayatkan bahwa Ibn Umar pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan”.

    Abu Nashr Khalaf al-Wizan bertutur: Yusuf ibn al-Husayn ar-Razi ash-Shufi pernah diperlihatkan didalam mimpinya, dikatakan kepadanya: “Bagaimana perlakuan Allah terhadapmu?”, dijawabnya: “Dia mengampuni dan mengasihiku”. Kemudian aku bertanya: “Dengan apa?”, dijawabnya: “Dengan satu kalimat yang aku ucapkan ketika meninggal”. Setelah itu, aku pun memanjatkan doa: “Ya Allah, aku telah menasihati orang-orang yang mengucapkan sesuatu, tetapi aku mengkhianati diriku sendiri dengan tidak melakukannya”.

    Wallahu’alam bishawab.

    ***

    Dikutip dari “Syarh ash-Shudur bi Syarh Hal al-Mawta wa al-Qubur” yang ditulis oleh al-Imam Jalaluddin as-Suyuthi dan diterjemahkan oleh Muhammad Abdul Ghoffar yang diterbitkan oleh Pustaka Hidayah, Bandung dengan judul sampul “Ziarah ke Alam Barzakh”.

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 19 January 2019 Permalink | Balas  

    Mbah Jum 

    Mbah Jum

    Oleh : Irene Radjiman

    Begitulah beliau dipanggil. Aku sempat bertemu dengannya 5 tahun yang lalu saat berlibur di Kasian Bantul Yogyakarta. Nama desanya saya lupa.

    Mbah Jum seorang tuna netra yang berprofesi sebagai pedagang tempe. Setiap pagi beliau dibonceng cucunya ke pasar untuk berjualan tempe. Sesampainya dipasar tempe segera digelar. Sambil menunggu pembeli datang, disaat pedagang lain sibuk menghitung uang dan ngerumpi dengan sesama pedagang, mbah Jum selalu bersenandung sholawat. Cucunya meninggalkan mbah Jum sebentar, karena ia juga bekerja sebagai kuli panggul dipasar itu. Dua jam kemudian, cucunya datang kembali untuk mengantar simbahnya pulang kerumah. Tidak sampai 2 jam dagangan tempe mbah Jum sudah habis ludes. Mbah Jum selalu pulang paling awal dibanding pedagang lainnya. Sebelum pulang mbah Jum selalu meminta cucunya menghitung uang hasil dagangannya dulu. Bila cucunya menyebut angka lebih dari 50 ribu rupiah, mbah Jum selalu minta cucunya mampir ke masjid untuk memasukkan uang lebihnya itu ke kotak amal.

    Saat kutanya : “kenapa begitu ?”

    “karena kata simbah modal simbah bikin tempe Cuma 20 ribu. Harusnya simbah paling banyak dapetnya yaa 50 ribu. Kalau sampai lebih berarti itu punyanya gusti Allah, harus dikembalikan lagi. Lha rumahnya gusti Allah kan dimasjid mbak, makanya kalau dapet lebih dari 50 ribu, saya diminta simbah masukkin uang lebihnya kemasjid.”

    “Lho, kalo sampai lebih dari 50 ribu, itukan hak simbah, kan artinya simbah saat itu bawa tempe lebih banyak to ?” Tanyaku lagi

    “Nggak mbak. Simbah itu tiap hari bawa tempenya ga berubah-ubah jumlahnya sama.” Cucunya kembali menjelaskan padaku.

    “Tapi kenapa hasil penjualan simbah bisa berbeda-beda ?” tanyaku lagi

    “Begini mbak, kalau ada yang beli tempe sama simbah, karena simbah tidak bisa melihat, simbah selalu bilang, ambil sendiri kembaliannya. Tapi mereka para pembeli itu selalu bilang, uangnya pas kok mbah, ga ada kembalian. Padahal banyak dari mereka yang beli tempe 5 ribu, ngasih uang 20 ribu. Ada yang beli tempe 10 ribu ngasih uang 50 ribu. Dan mereka semua selalu bilang uangnya pas, ga ada kembalian. Pernah suatu hari simbah dapat uang 350 ribu. Yaaa 300 ribu nya saya taruh dikotak amal masjid.” Begitu penjelasan sang cucu.

    Aku melongo terdiam mendengar penjelasan itu. Disaat semua orang ingin semuanya menjadi uang, bahkan kalau bisa kotorannya sendiripun disulap menjadi uang, tapi ini mbah Jum…?? Aahhh…. Logikaku yang hidup di era kemoderenan jahiliyah ini memang belum sampai.

    Sampai rumah pukul 10:00 pagi beliau langsung masak untuk makan siang dan malam. Ternyata mbah Jum juga seorang tukang pijat bayi (begitulah orang dikampung itu menyebutnya). Jadi bila ada anak-anak yang dikeluhkan demam, batuk, pilek, rewel, kejang, diare, muntah-muntah dan lain-lain, biasanya orang tua mereka akan langsung mengantarkan ke rumah mbah Jum. Bahkan bukan hanya untuk pijat bayi dan anak-anak, mbah Jum juga bisa membantu pemulihan kesehatan bagi orang dewasa yang mengalami keseleo, memar, patah tulang, dan sejenisnya. Mbah Jum tidak pernah memberikan tarif untuk jasanya itu, padahal beliau bersedia diganggu 24 jam bila ada yang butuh pertolongannya. Bahkan bila ada yang memberikan imbalan untuk jasanya itu, ia selalu masukan lagi 100% ke kotak amal masjid. Ya! 100%! anda kaget? sama, saya juga kaget.

    Ketika aku kembali bertanya : “kenapa harus semuanya dimasukkan ke kotak amal ?”

    mbah Jum memberi penjelasan sambil tersenyum :

    “Kulo niki sakjane mboten pinter mijet. Nek wonten sing seger waras mergo dipijet kaleh kulo, niku sanes kulo seng ndamel seger waras, niku kersane gusti Allah. Lha dadose mbayare mboten kaleh kulo, tapi kaleh gusti Allah.” (Saya itu sebenarnya nggak pinter mijit. Kalau ada yang sembuh karena saya pijit, itu bukan karena saya, tapi karena gusti Allah. Jadi bayarnya bukan sama saya, tapi sama gusti Allah).

    Lagi-lagi aku terdiam. Lurus menatap wajah keriputnya yang bersih. Ternyata manusia yang datang dari peradaban kapitalis akan terkaget-kaget saat dihadapkan oleh peradaban sedekah tingkat tinggi macam ini. Dimana di era kapitalis orang sekarat saja masih bisa dijadikan lahan bisnis. Jangankan bicara GRATIS dengan menggunakan kartu BPJS saja sudah membuat beberapa oknum medis sinis.

    Mbah Jum tinggal bersama 5 orang cucunya. Sebenarnya yang cucu kandung mbah Jum hanya satu, yaitu yang paling besar usia 20 tahun (laki-laki), yang selalu mengantar dan menemani mbah Jum berjualan tempe dipasar. 4 orang cucunya yang lain itu adalah anak-anak yatim piatu dari tetangganya yang dulu rumahnya kebakaran. Masing-masing mereka berumur 12 tahun (laki-laki), 10 tahun (laki-laki), 8 tahun (laki-laki) dan 7 tahun (perempuan).

    Dikarenakan kondisinya yang tuna netra sejak lahir, membuat mbah Jum tidak bisa membaca dan menulis, namun ternyata ia hafal 30 juz Al-Quran. Subhanallah…!! Cucunya yang paling besar ternyata guru mengaji untuk anak-anak dikampung mereka. Ke-4 orang cucu-cucu angkatnya ternyata semuanya sudah qatam Al-Quran, bahkan 2 diantaranya sudah ada yang hafal 6 juz dan 2 juz.

    “Kulo niki tiang kampong. Mboten saget ningali nopo-nopo ket bayi. Alhamdulillah kersane gusti Allah kulo diparingi berkah, saget apal Quran. Gusti Allah niku bener-bener adil kaleh kulo.” (saya ini orang kampong. Tidak bisa melihat apapun dari bayi. Alhamdulillah kehendak gusti Allah, saya diberi keberkahan, bisa hafal Al-Quran. Gusti Allah itu benar-benar adil sama saya).

    Itu kata-kata terakhir mbah Jum, sebelum aku pamit pulang. Kupeluk erat dia, kuamati wajahnya. Kurasa saat itu bidadari surga iri melihat mbah Jum, karena kelak para bidadari itu akan menjadi pelayan bagi mbah Jum.

    Matur nuwun mbah Jum, atas pelajaran sedekah tingkat tinggi 5 tahun yang lalu yang sudah simbah ajarkan pada saya di pelosok desa Yogyakarta.

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 18 January 2019 Permalink | Balas  

    Apa Pantas Berharap Surga? 

    Apa Pantas Berharap Surga?

    Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudahlah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek saja agar lekas selesai. Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, terlipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan: “Kalau tidak terlambat” atau “Asal nggak bangun kesiangan”. Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?

    Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya. Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan, kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.

    Baca Qur’an sesempatnya, tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar, padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah hatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas. Yang begini ngaku beriman?

    Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka untuk meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi.

    Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, itu pun dipilih mata uang terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudah lah jarang beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa sih susahnya senyum? Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah?

    Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata miliki Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepada musuhnya sekali pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.

    Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, ya tetangga sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh temeh, tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri. Detik demi detik dada ini terus jengkel setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka atau mendapatkan bencana. Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini? Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak?

    Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orang beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu? Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri?

    Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalah lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apa pun selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka besarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah. Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?

    Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yang disebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Bukankah Rasulullah yang tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah? Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka? Jangan tunggu penyesalan.

    Astaghfirullaah .

    Oleh/ Kiriman Sahabat: Bayu Gautama

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 17 January 2019 Permalink | Balas  

    Mereka Yang Dilaknat Allah SWT 

    Mereka Yang Dilaknat Allah SWT

    Segala puji bagi Allah SWT, hanya kepada-Nya kita bersyukur dan memohon pertolongan-Nya serta memohon ampunan-Nya. Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari kejahatan nafsu kita dan kejahatan perbuatan kita. Barangsiapa memperoleh hidayah-Nya, maka tiada sesuatu yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkan-Nya maka tiada sesuatu yang dapat memberinya hidayah.

    Kita bersaksi bahwa nabi Muhammad SAW itu adalah hamba dan Rasul-Nya, kekasih dan kesayangan-Nya. Ia adalah manusia utama dan termulia, baik yang dahulu maupun sekarang. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan shalawat dan salam kepadanya, kepada keluarganya, dan kepada semua nabi-Nya, kepada semua keluarga mereka, juga kepada hamba-hamba-Nya yang shalih.

    Allah SWT menciptakan manusia tiada lain maksud dan tujuannya hanya untuk menyembah-Nya. Allah SWT menegaskan itu dalam firman-Nya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS:Az-Zariyat: 56).

    Oleh sebab itu setiap kita shalat, selalu kita tegaskan lagi kesaksian pengabdian kita: “Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil-’alamiin”. “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku, dan matiku, semata hanya untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam”.

    Pertama-tama manusia itu harus selalu menyembah-Nya dan itu berarti manusia harus senatiasa patuh kepada perintah-Nya dengan melaksanakannya dalam bentuk amal perbuatan, serta tidak mengingkari ayat-ayat yang disampaikan-Nya melalui Rasul-Nya, nabi Muhammad SAW. Mengingkarinya berarti telah kufur lagi kafir.

    Termasuk dalam kufur dan kafir ini adalah mereka yang mengingkari ajaran Rasul-Nya, menutup-nutupi ajaran-Nya. Kufur ucapan ditandai dengan meyakini kepercayaan lain yang bukan dari Allah SWT, serta mengejek ajaran Dienullah. Kufur perbuatan ditandai dengan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan Islam , justru mendukung kepercayaan lain selain Islam. Segala macam bentuk kekufuran apabila dilakukan oleh seorang muslim, maka pada hakikatnya dia telah tergolong ingkar serta murtad. Dan orang yang sampai matinya tetap berada dalam kekufuran itu akan dilaknati oleh Allah Ta’ala. Laknat Allah SWT berarti dikutuk dan dijauhkan-Nya dari rahmat-Nya. Sedangkan laknat manusia berarti dimaki oleh manusia karena keburukan dan kejahatan perbuatannya itu.

    Allah SWT menegaskan hal itu dalam firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu akan mendapat laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya. Mereka kekal didalam laknat itu; tidak akan diringankan siksa itu dari mereka dan tidak (pula) mereka diberi tangguh”. (QS:Al-Baqarah:161-162). Yang pertama kali mendapat laknat Allah SWT adalah iblis. Iblis patut dilaknat karena kesombongannya dan tekadnya untuk melakukan seluruh upaya agar manusia terjerumus ke syirik dengan menyembah kepada selain-Nya.

    Allah SWT berfirman: “Iblis menjawab:”Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)”. (QS:Al-Araf:16-17).

    Apabila iblis tak berhasil mencapai tujuannya itu, maka dia akan merayu seraya membujuk manusia agar berbuat kejahatan, kekejian, dan dusta terhadap Allah SWT.

    Allah SWT berfirman: “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan dari pada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) laga Maha Mengetahui”. (QS:Al-Baqarah:268).

    Allah SWT juga mengutuk mereka yang mempunyai ilmu tetapi tidak disampaikan atau disebarkan malah disembunyikannya. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati. Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang“. (QS:Al-Baqarah:159-160).

    Sebagian ulama berpendapat bahwa segala segala ”ibrah berlaku secara umum, dan bukan berlaku khusus terhadap asbabun nuzulnya saja. Sehingga dengan demikian yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah siapa saja yang menyembunyikan hak dan kebenaran, serta mencampakkannya ke belakang punggung mereka apa-apa yang diperlukan umat dari ajaran Diennullah yang benar. Termasuk juga bagi para ulama yang telah menyembunyikan kebenaran ayat Allah karena kepentingannya dan didorong oleh nafsu syahwatnya.

    Kemudian, orang yang zalim adalah orang yang dikutuk oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman: “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat dusta terhadap Allah?. Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi akan berkata: ”Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka’. Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim”. (QS: Huud: 18).

    Selain itu, orang yang mengabaikan hukum yang diturunkan Allah SWT serta menolak pelaksanaannya termasuk orang-orang yang zalim. Allah SWT berfirman: “Dan kami telah tetapkan terhadap mereka didalamnya (At-Taurat) bahwasanya jiwa(dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qishashnya. Barangsiapa melepaskan (hak qishashnya) maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim”. (QS:Al-Maidah:45).

    Begitu juga orang-orang yang memberikan kekuasaan dan menyerahkan kepemimpinan dirinya kepada orang musyrik, maka dia termasuk orang yang zalim. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa diantara kamu yang menjadikan mereka pemimpim-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (QS:At-Taubah:23).

    Kita sering berpura-pura tidak mengerti terhadap segala kekufuran dan kejahatan yang telah kita lakukan. Selama ini sebenarnya sudah banyak teguran yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita, namun diri kita membutakan mata menulikan telinga, serta menutup mata batin kita akan kebenaran itu. Bahkan kita ikutan mencoba menutup-nutupi dan menyembunyikan kebenaran itu, semata karena memperturutkan dorongan nafsu syahwat kita. Sesungguhnya kita harus jujur terhadap apa yang sebenarnya ada dalam diri kita, karena sekali pun itu tak diketahui oleh orang lain, tetapi ingatlah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala perbuatan dan rahasia kita.

    Wallahu’alambishawab.

    • * *

    Disadur dari Al Mai’unin wal Mal’unat Minarrijaali wannisa’ yang ditulis oleh Majid Assayyid Ibrahim dan diterbitkan oleh Gema Insani Pers.

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 16 January 2019 Permalink | Balas  

    Renungan Kisah Kematian 

    Renungan Kisah Kematian

    Barangsiapa yang mengharapkan mati syahid dgn sepenuh hati, maka ALLAH akan memberikan mati syahid kepadanya meskipun ia mati ditempat tidur (hadis).

    Dunia hanya satu terminal dari seluruh fase kehidupan. Hanya Allah yang tahu rentang usia seorang manusia.

    **

    Saya, Khadijah sebut saja demikian, menikah dengan Muhammad, 3 Oktober 1993. Muhammad adalah kakak kelas saya di IPB. Selama menikah, suami sering mengingatkan saya tentang kematian, tentang syurga, tentang syahid, dan sebagainya. Setiap kami bicara tentang sesuatu, ujung2nya bicara tentang kematian dan indahnya syurga itu bagaimana. Kalau kita bicara soal nikmatnya materi, suami mengaitkannya dengan kenikmatan syurga yang lebih indah. Bahkan, berulang-ulang dia mengatakan, nanti kita ketemu lagi di syurga. Itu mempunyai makna yang dalam bagi saya.

    Hari itu, 16 Januari 1996, kami ke rumah orang tua di Jakarta. Seolah suami mengembalikan saya kepada orang tua. Malam itu juga, suami saya mengatakan harus kembali ke Bogor, karena harus mengisi diklat besok paginya. Menurutnya, kalau berangkat pagi dari Jakarta khawatir terlambat.

    Mendekati jam 12 malam, saya bangun dari tidur, perut saya sakit, keringat dingin mengucur, rasanya ingin muntah. Saya bilang pada ibu saya, untuk diobati. Saya kira maag saya kambuh. Saya sempat berpikir suami saya di sana sudah istirahat, sudah senang, sudah sampai karena berangkat sejak maghrib. Saya juga berharap kalau ada suami saya mungkin saya dipijitin atau bagimana. Tapi rupanya pada saat itulah terjadi peristiwa tragis menimpa suami saya.

    Jam tiga malam, saya terbangun. Kemudian saya shalat. Entah kenapa, meskipun badan kurang sehat, saya ingin ngaji. Lama sekali saya menghabiskan lembar demi lembar mushaf kecil saya. Waktu shubuh rasanya lama sekali. Badan saya sangat lelah dan akhirnya tertidur hingga subuh. Pagi harinya, saya mendapat berita dari seorang akhwat di Jakarta, bahwa suami saya dalam kondisi kritis. Karena angkutan yang ditumpanginya hancur ditabrak truk tronton di jalan raya Parung. Sebenarnya waktu itu suami saya sudah meninggal. Mungkin sengaja beritanya dibuat begitu biar saya tidak kaget. Namun tak lama kemudian, ada seorang teman di Jakarta yang memberitahukan bahwa beliau sudah meninggal. Inna lillahi wainna ilaihi rajiun.

    Entah kenapa, mendengar berita itu hati saya tetap tegar. Saya sendiri tidak menyangka bisa setegar itu. Saya berusaha membangun keyakinan bahwa suami saya mati syahid. Saya bisa menasihati keluarga dan langsung ke Bogor. Disana, suami saya sudah dikafani. Sambil menangis saya menasihati ibu, bahwa dia bukan milik kita. Kita semua bukan milik kita sendiri tapi milik ALLAH.

    Alhamdulillah ALLAH memberi kekuatan. Kepada orang2 yang bertakziah waktu itu, saya mengatakan : “Doakan dia supaya syahid.. doakan dia supaya syahid”. Sekali lagi ketabahan saya waktu itu semata datang dari ALLAH, kalau tidak, mungkin saya sudah pingsan. Seperti tuntunan Islam, segala hutang orang yang meninggal harus ditunaikan. Meski tidak ada catatannya, tapi tanpa disadari, saya ingat sekali hutang2 suami. Saya memang sering bercanda sama suami, “Mas kalau ada hutang, catat. Nanti kalau Mas meninggal duluan saya tahu saya harus bayar berapa.” Canda itu memang se! ring muncul ketika kami bicara masalah kematian. Sampai saya pernah bilang pada suami saya, “kalau mas meninggal duluan, saya yang mandiin. Kalau mas meninggal duluan, saya kembali lagi ke ummi, jadi anaknya lagi.” Semua itu akhirnya menjadi kenyataan.

    Beberapa hari setelah musibah itu, saya harus kembali ke rumah kontrakan di Bogor untuk mengurus surat2. Saat saya buka pintunya, tercium bau harum sekali. Hampir seluruh ruangan rumah itu wangi. Saya sempat periksa barangkali sumber wangi itu ada pada buah-buahan, atau yang lainnya. Tapi tidak ada. Ruangan yang tercium paling wangi, tempat tidur suami dan tempat yang biasa ia gunakan bekerja.

    Beberapa waktu kemudian, dalam tidur, saya bermimpi bersalaman dengan dia. Saya cium tangannya. Saat itu dia mendoakan saya: “Zawadakillahu taqwa waghafara dzanbaki, wa yassara laki haitsu ma kunti” (Semoga Allah menambah ketakwaan padamu, mengampuni dosamu, dan mempermudah segala urusanmu di manasaja). Sambil menangis, saya balas doa itu dengan doa serupa.

    Semasa suami masih hidup, doa itu memang biasa kami ucapkan ketika kami akan berpisah. Saya biasa mencium tangan suami bila ia ingin keluar rumah. Ketika kami saling mengingatkan, kami juga saling mendoakan.

    Banyak doa-doa yang diajarkan suami saya. Ketika saya sakit, suami saya menulis doa di white board. Sampai sekarang saya selalu baca doa itu. Anak saya juga hafal. Saya banyak belajar darinya. Dia guru saya yang paling baik. Dia juga bisa menjelaskan bagaimana indahnya syurga. Bagaimana indahnya syahid.

    Waktu saya wisuda, 13 Januari 1996 saya sempat bertanya pada suami, “Mas nanti saya kerja di mana?” Suami diam sejenak. Akhirnya suami saya mengatakan supaya wanita itu memelihara jati diri. Saya bertanya, “Maksudnya apa?”, “Beribadah, bekerja membantu suaminya, dan bermasyarakat”. Saya berpikir bahwa saya harus mengurus rumah tangga dengan baik. Tidak usah memikir! kan pekerjaan. Sekarang, setiap bulan saya hidup dari pensiun pegawai negeri suami. Meskipun sedikit, tapi saya merasa cukup. Dan rejeki dari ALLAH tetap saja mengalir. ALLAH memang memberi rejeki pd siapa saja, dan tidak tergantung kepada siapa saja. Katakanlah meski suami saya tidak ada,tapi rejeki ALLAH itu tidak akan pernah habis.

    Insya ALLAH saya optimis dengan anak2 saya. Saya ingat sabda Nabi : “Aku dan pengasuh anak yatim seperti ini”, sambil mendekatkan kedua buah jari tangannya. Saya bukan pengasuh anak yatim, tapi ibunya anak yatim. Meski masih kecil-kecil, saya sudah merasakan kedewasaan mereka. Kondisi yang mereka alami, membuat mereka lebih cepat mengerti tentang kematian, neraka, syurga bahkan tentang syahid. Rezeki yang saya terima, tak mustahil lantaran keberkahan mereka.

    ***

    Kiriman Sahabat Satriyo

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 15 January 2019 Permalink | Balas  

    Usai Menyaksikan Jenazah Raja Fahd, Seorang Pendeta Italia Masuk Islam 

    Usai Menyaksikan Jenazah Raja Fahd, Seorang Pendeta Italia Masuk Islam

    Hidayah Allah datangnya tidak bisa diraba-raba. Apabila Allah menghendaki maka ia akan mendatangi hamba yang berbahagia itu. Demikianlah kisah seorang pendeta asal Italia. Seorang pendeta terkenal di Italia mengumumkan masuk Islam setelah menyaksikan jenazah raja Arab Saudi, Fahd bin Abdul Aziz, untuk kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat. Hal itu terjadi setelah ia melihat betapa sederhananya prosesi pemakaman jenazah yang jauh dari pengeluaran biaya yang mahal dan berlebihan.

    Sang mantan pendeta telah mengikuti secara seksama prosesi pemakaman sang Raja yang bersamaan waktunya dengan jenazah yang lain. Ia melihat tidak ada perbedaan sama sekali antara kedua jenazah tersebut. Keduanya sama-sama dishalatkan dalam waktu yang bersamaan. Pemandangan ini meninggalkan kesan mendalam tersendiri pada dirinya sehingga gambaran persamaan di dalam Islam dan betapa sederhananya prosesi pemakaman yang disaksikan oleh seluruh dunia di pekuburan ‘el-oud’ itu membuatnya masuk Islam dan merubah kehidupannya. Tidak ada perbedaan sama sekali antara kuburan seorang raja dan penguasa besar dengan kuburan rakyat jelata. Karena itulah, ia langsung mengumumkan masuk Islam.

    Salah seorang pengamat masalah dakwah Islam mengatakan, kisah masuk Islamnya sang pendeta tersebut setelah sekian lama perjalanan yang ditempuh mengingatkan pada upaya besar yang telah dikerahkan di dalam mengenalkan Islam kepada sebagian orang-orang Barat. Ada seorang Da’i yang terus berusaha sepanjang 15 tahun untuk berdiskusi dengan pendeta ini dan mengajaknya masuk Islam. Tetapi usaha itu tidak membuahkan hasil hingga ia sendiri menyaksikan prosesi pemakaman Raja Fahd yang merupakan pemimpin yang dikagumi dan brilian. Baru setelah itu, sang pendeta masuk Islam.

    Sang Muslim baru yang mengumumkan keislamannya itu pada hari prosesi pemakaman jenazah pernah berkata kepada Dr al-Malik, “Buku-buku yang kalian tulis, surat-surat kalian serta diskusi dan debat yang kalian gelar tidak bisa mengguncangkanku seperti pemandangan yang aku lihat pada pemakaman jenazah raja Fahd yang demikian sederhana dan penuh toleransi ini.” Ia menambahkan, “Pemandangan para hari Selasa itu akan membekas pada jiwa banyak orang yang mengikuti prosesi itu dari awal seperti saya ini.”

    Ia meminta agar kaum Muslimin antusias untuk menyebarkan lebih banyak lagi gambaran toleransi Islam dan keadilannya agar dapat membekas pada jiwa orang lain. Ia menegaskan, dirinya telah berjanji akan mengerahkan segenap daya dan upaya dari sisa usianya yang 62 tahun in untuk menyebarkan gambaran Islam yang begitu ideal. Semoga Allah menjadikan keislamannya berkah bagi alam semesta.(istod/AH) Netter Al-Sofwa yang dimuliakan Allah Ta’ala, Menyampaikan Kebenaran adalah kewajiban setiap Muslim. Kesempatan kita saat ini untuk berdakwah adalah dengan menyampaikan buletin ini kepada saudara-saudara kita yang belum mengetahuinya.

    Semoga Allah Ta’ala Membalas ‘Amal Ibadah Kita. Aamiin Waassalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 14 January 2019 Permalink | Balas  

    Sakaratul Maut Orang-orang Yang Bertaqwa 

    Sakaratul Maut Orang-orang Yang Bertaqwa

    Sebaliknya Imam Ghozali mengatakan bahwa orang beriman akan melihat rupa Malaikatul Maut sebagai pemuda tampan, berpakaian indah dan menyebarkan wangi yang sangat harum.

    Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab: “(Allah telah menurunkan) kebaikan”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa, (yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Assalamu alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. (QS, An-Nahl, 16 : 30-31-32)

    Dan saat terakhir sakaratul mautnya, malaikatpun akan menunjukkan surga yang akan menjadi rumahnya kelak di akhirat, dan berkata padanya, “Bergembiaralah, wahai sahabat Allah, inilah rumahmu kelak, bergembiralah dalam masa menunggumu”

    Wallahu a’lam bish-shawab.

    Semoga kita yang masih hidup dapat selalu dikaruniai hidayah-Nya, berada dalam jalan yang benar, selalu istiqomah dalam keimanan, dan termasuk umat yang dimudahkan-Nya, selama hidup di dunia, di akhir hidup, ketika sakaratul maut, di alam barzakh, di Padang Mahsyar, di jembatan jembatan Sirath-al mustaqim, dan seterusnya.

    Amin !

    ***

    Kiriman Sahabat ABDI Mu

    “Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sekejab, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri” (Imam Ghozali mengutip atsar Al-Hasan).

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 13 January 2019 Permalink | Balas  

    Sakaratul Maut Orang-orang Zhalim 

    Sakaratul Maut Orang-orang Zhalim

    Imam Ghozali mengutip sebuah riwayat yang menceritakan tentang keinginan Ibrahim as untuk melihat wajah Malaikatul Maut ketika mencabut nyawa orang zhalim. Allah SWT pun memperlihatkan gambaran perupaan Malaikatul Maut sebagai seorang pria besar berkulit legam, rambut berdiri, berbau busuk, memiliki dua mata, satu didepan satu dibelakang, mengenakan pakaian serba hitam, sangat menakutkan, dari mulutnya keluar jilatan api, ketika melihatnya Ibrahim as pun pingsan tak sadarkan diri. Setelah sadar Ibrahim as pun berkata bahwa dengan memandang wajah Malaikatul Maut rasanya sudah cukup bagi seorang pelaku kejahatan untuk menerima ganjaran hukuman kejahatannya, padahal hukuman akhirat Allah jauh lebih dahsyat dari itu.

    Kisah ini menggambarkan bahwa melihat wajah Malakatul Maut saja sudah menakutkan apalagi ketika sang Malaikat mulai menyentuh tubuh kita, menarik paksa roh dari tubuh kita, kemudian mulai menghentak-hentak tubuh kita agar roh (yang masih enggan meninggalkan dunia) lepas dari tubuh kita ibarat melepas akar serabut-serabut baja yang tertanam sangat dalam di tanah yang terbuat dari timah keras.

    Itulah wajah Malaikatul Maut yang akan mendatangi kita kelak dan memisahkan roh dari tubuh kita. Itulah wajah yang seandainya kita melihatnya dalam mimpi sekalipun maka kita tidak akan pernah lagi bisa tertawa dan merasakan kegembiraan sepanjang sisa hidup kita.

    Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (QS Al-An’am 6:93)

    (Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat lalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); “Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatan pun”. (Malaikat menjawab): “Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan”. Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu. (QS, An-Nahl, 16 : 28-29)

    Di akhir sakaratul maut, seorang manusia akan diperlihatkan padanya wajah dua Malaikat Pencatat Amal. Kepada orang zhalim, si malaikat akan berkata, “Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik, engkaulah yang membuat kami terpaksa hadir kami ke tengah-tengah perbuatan kejimu, dan membuat kami hadir menyaksikan perbuatan burukmu, memaksa kami mendengar ucapan-ucapan yang burukmu. Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik ! “ Ketika itulah orang yang sekarat itu menatap lesu ke arah kedua malaikat itu.

    Ketika sakaratul maut hampir selesai, dimana tenaga mereka telah hilang dan roh mulai merayap keluar dari jasad mereka, maka tibalah saatnya Malaikatul Maut mengabarkan padanya rumahnya kelak di akhirat. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tak seorangpun diantara kalian yang akan meninggalkan dunia ini kecuali telah diberikan tempat kembalinya dan diperlihatkan padanya tempatnya di surga atau di neraka”.

    Dan inilah ucapan malaikat ketika menunjukkan rumah akhirat seorang zhalim di neraka, “Wahai musuh Allah, inilah rumahmu kelak, bersiaplah engkau merasakan siksa neraka”. Naudzu bila min dzalik!

    ***

    Kiriman Sahabat ABDI Mu

    “Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sekejab, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri” (Imam Ghozali mengutip atsar Al-Hasan).

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 12 January 2019 Permalink | Balas  

    Dahsyatnya Rasa Sakit Saat Sakaratul Maut 

    Dahsyatnya Rasa Sakit Saat Sakaratul Maut

    Sabda Rasulullah SAW : “Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR Tirmidzi)

    Sabda Rasulullah SAW : “Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?” (HR Bukhari)

    Atsar (pendapat) para sahabat Rasulullah SAW : Ka’b al-Ahbar berpendapat : “Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan kedalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itupun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa”

    Imam Ghozali berpendapat : “Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut menghujam jiwa dan menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bagian orang yang sedang sekarat merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki”.

    Imam Ghozali juga mengutip suatu riwayat ketika sekelompok Bani Israil yang sedang melewati sebuah pekuburan berdoa pada Allah SWT agar Ia menghidupkan satu mayat dari pekuburan itu sehingga mereka bisa mengetahui gambaran sakaratul maut. Dengan izin Allah melalui suatu cara tiba-tiba mereka dihadapkan pada seorang pria yang muncul dari salah satu kuburan. “Wahai manusia!”, kata pria tersebut. “Apa yang kalian kehendaki dariku? Limapuluh tahun yang lalu aku mengalami kematian, namun hingga kini rasa perih bekas sakaratul maut itu belum juga hilang dari hatiku.”

    Proses sakaratul maut bisa memakan waktu yang berbeda untuk setiap orang, dan tidak dapat dihitung dalam ukuran detik seperti hitungan waktu dunia ketika kita menyaksikan detik-detik terakhir kematian seseorang. Mustafa Kemal Attaturk, bapak modernisasi (sekularisasi) Turki, yang mengganti Turki dari negara bersyariat Islam menjadi negara sekular, dikabarkan mengalami proses sakaratul maut selama 6 bulan, seperti dilaporkan oleh salah satu keturunannya melalui sebuah mimpi.

    Rasa sakit sakaratul maut dialami setiap manusia, dengan berbagai macam tingkat rasa sakit, ini tidak terkait dengan tingkat keimanan atau kezhaliman seseorang selama ia hidup. Sebuah riwayat bahkan mengatakan bahwa rasa sakit selama kita hidup dan saat sakaratul maut bisa jadi merupakan suatu proses pengurangan kadar siksaan akhirat kita kelak. Demikianlah rencana Allah. Wallahu a’lam bis shawab.

    ***

    Kiriman Sahabat ABDI Mu

    “Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sekejab, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri” (Imam Ghozali mengutip atsar Al-Hasan).

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 11 January 2019 Permalink | Balas  

    Datangnya Kematian Menurut Al Qur’an 

    Datangnya Kematian Menurut Al Qur’an

    1. Kematian bersifat memaksa dan siap menghampiri manusia walaupun kita berusaha menghindarkan resiko-resiko kematian.

    Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. (QS Ali Imran, 3:154)

    1. Kematian akan mengejar siapapun meskipun ia berlindung di balik benteng yang kokoh atau berlindung di balik teknologi kedokteran yang canggih serta ratusan dokter terbaik yang ada di muka bumi ini.

    Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun? (QS An-Nisa 4:78)

    1. Kematian akan mengejar siapapun walaupun ia lari menghindar

    Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS al-Jumu’ah, 62:8)

    1. Kematian datang secara tiba-tiba

    Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS, Luqman 31:34)

    1. Kematian telah ditentukan waktunya, tidak dapat ditunda atau dipercepat

    Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS, Al-Munafiqun, 63:11)

    ***

    Kiriman Sahabat ABDI Mu

    “Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sekejab, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri” (Imam Ghozali mengutip atsar Al-Hasan).

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 10 January 2019 Permalink | Balas  

    Cerpen: Kisah Cinta dari Masjid Kampus 

    Kisah Cinta dari Masjid Kampus

    Oleh : Ayat Al Akrash (0719)

    (Tahun 2040). Seorang kakek-kakek duduk di sebuah sekret rohis kampus. Sekret itu berukuran 3×3 meter. Kecil, tapi sangat nyaman. Lantainya dialasi karpet coklat. Ada lemari file, kaca besar di sampingnya. Buku-buku Islam tersusun rapi di hadapan kakek itu duduk. Jendela terbuka lebar. Terdengar kicauan dari burung yang ada di dalam sangkar.

    Kerut-kerut di wajahnya sangat kentara. Rambutnya sudah memutih. Ia termenung. Kepalanya tertunduk. Ia tengah memandangi sebuah album foto. Tak jauh darinya, ada setumpuk album foto lainnya. Lama sekali ia memandangi album foto itu.

    Seorang mahasiswa berbaju koko, masuk ke sekret dan sebelum duduk di sebelahnya, ia mengucap salam, sambil mengulurkan tangannya, mencium tangan kakek itu dan mencium pipi kiri dan kanan. “Wa’alaikumsalam Wr Wb,” jawab sang kakek. Untuk beberapa saat mereka saling terdiam. Kakek itu masih asyik menatapi foto-foto tersebut. Membuka-buka halamannya. “Saya suka melihat foto-foto ini, dan saya tak kan pernah bosan melihatnya,” ujar kakek itu memecah kesunyian. Matanya terlihat sayu dan memendam kerinduan yang mendalam. Mahasiswa itu terlihat tak mengerti, tapi kemudian ia berujar, “Ya, Pak saya pernah melihat foto-foto itu, sepertinya orang-orang di dalam foto itu sangat kompak ya.” Mahasiswa itu mendekat dan ikut melihat foto-foto itu. “Lihatlah ikhwan-ikhwan ini, mereka semua sangat kompak,” kata kakek itu sambil menunjuk sebuah foto dan tiba-tiba wajah kakek itu terlihat sumringah. “Tahukah kamu,. untuk mewujudkan ikhwan-ikhwan yang kompak seperti ini, ada pengorbanan dari para senior-senior kami dahulu dan juga dari teman-teman kami sendiri,” kakek itu menjelaskan.

    Mahasiswa itu kemudian bertanya “Bapak sendiri yang mana?” “Saya., yang ini. Bersama teman-teman saya dulu.,” ujar kakek itu sambil menunjuk ke sebuah foto ikhwan yang memakai ikat kepala putih dan slayer biru saat mukhayyam di gunung.

    Tiba-tiba pintu sekret terbuka dan ada enam orang ikhwan berbaju koko, memasuki sekret sambil tertawa riang dan bercerita panjang lebar. Begitu melihat kakek itu, mereka segera mengucap salam, dan bersalaman. “Acaranya baru dimulai 10 menit lagi, Pak,” ujar seorang ikhwan berbaju biru. “Eh, teman-teman, ini tadi beliau sedang cerita. Ternyata ada foto beliau ketika masih seusia kita, lho” ujar mahasiswa tadi. “Wah, yang bener yah.,” seru seorang dari mereka.

    Mereka berebutan untuk melihat album foto dan mengelilingi kakek itu. Terlihatlah foto-foto para aktivis kampus angkatan 1996. Ikhwan dan akhwatnya terlihat sangat kompak. Puluhan akhwat berjilbab rapi berdiri di belakang para ikhwan yang duduk berjongkok sambil memegang spanduk acara. Dan banyak lagi foto-foto yang serupa. Meski sudah 46 tahun yang lalu, namun foto-foto itu masih terjaga baik. Ya.., karena kakek itu menyimpannya.

    Seorang mahasiswa memasuki sekret dan berkata, “Pak, acaranya sudah dimulai.” Mereka semua lalu keluar bersama-sama menuju tempat acara. Kakek itu berjalan menyusuri sepanjang koridor kampus menuju ruangan seminar. Dengan berjalan lambat-lambat, didampingi para mahasiswa. Sepanjang jalan ia disapa oleh setiap mahasiswa yang berpapasan dengannya. Meski kampus swasta, tetapi terlihat lebih mirip pesantren karena hampir semua mahasiswa dan mahasiswinya berjilbab dan mahasiswanya berbaju koko. Kakek itu hadir sebagai pembicara di sebuah seminar bertema, “Menyikapi Kemenangan Da’wah” yang disambut takbir ribuan peserta ikhwan dan akhwat di kampus itu. Kampus yang telah futuh.

    Acara dibuka dengan tilawah dan diawali dengan tampilnya tim nasyid. Ketika tiba saatnya pada materi inti, sang moderator membacakan biodata pembicara. Setelah dipersilahkan untuk menyampaikan materi, kakek itu membukanya dengan basmallah. Ia sempat terdiam sesaat. Dipandanginya aula besar yang berisi ribuan mahasiswa dan mahasiswi. Matanya berkaca-kaca. Ia terkenang akan kenangan masa lalu. Pandangannya nanar.

    (Ruangan itu berubah ke tahun 1996)

    Di tempat yang sama. Ruangan itu lenggang. Terdengar suara, “Nanti kita mengadakan seminarnya di ruang ini saja, karena sound systemnya di sini bagus,” ujar Bram kepada teman-temannya. Beberapa teman yang berada di dekatnya mengangguk tanda setuju. “Tapi, apa tidak terlalu besar ya, Bram . karena pesertanya dikhawatirkan sedikit,” ujar seorang mahasiswi bernama Laras, yang rambutnya diikat ekor kuda. “Saya pikir, tidak Laras.. Tema seminar kali ini cukup menarik, insya Allah anak-anak mahasiswa baru banyak yang datang, kok.”

    Bram bersama tiga temannya berjalan bersama menuju sekret. Di sepanjang jalan menuju kampus, para mahasiswa laki-laki dan perempuan terlihat bercampur baur. Yang mahasiswinya merokok dan mahasiswanya memakai anting. Bahkan ada yang tak malu-malu berpelukan di koridor kampus.

    Bram, mahasiswa semester tiga, fakultas ekonomi di sebuah universitas swasta di Jakarta. Rambutnya lurus dibelah tengah, kulitnya sawo matang, postur tubuhnya sedang, badannya tegap, dan jago bela diri Tae Kwon Do. Ia suka memakai celana bahan dan kemeja lengan panjang. Sehingga tampak sekali keikhwanannya. Suaranya yang lembut namun tegas, membuatnya disegani, sehingga ia didaulat menjadi ketua rohis untuk masa periode itu.

    Krisis Regenerasi dan Optimisme Bram

    Suatu hari, Bang Didit dan Bram membuat janji untuk bertemu di sekret pada pukul 10.00. Di tengah kesunyian sekret, Didit yang notabene adalah DP (Dewan Pembina) senior rohis angkatan ’94, berkata kepada Bram. “Dek, kondisi angkatan ’96 seperti ini. Abang sedikit pesimis.”

    Bram tertunduk. Ia baru saja diangkat menjadi ketua dari organisasi rohis yang kualitas anggotanya, sangat jauh dari harapan, karena mereka masih belum memiliki sikap teguh pendirian dan masih sedikit jiwa berkorbannya untuk dakwah. Pun masih gemar ber-ikhktilat. Namun jauh di lubuk hatinya, Bram tetap optimis, bahwa bila Allah menghendaki, manusia pasti bisa berubah, pasti bisa..

    “Di akhwat juga tidak ada, dek..” tambah Bang Didit, ingin menekankan bahwa hanya Bram yang bisa menjadi motor penggerak dalam organisasi rohis itu. Bram berfikir keras. Amanah berat di pundaknya. Iya., memang kondisi di kampus ini sangatlah berbeda dibanding SMU-nya yang ada di daerah. Dulu di SMU, aktivis bertumpuk dan suasananya sudah sangat islami. Tapi kini, tugas yang akan diembannya sangat berat, yang sampai-sampai para DP pun, sudah di ambang pesimisme. Di lubuk hatinya, Bram memegang teguh janji Allah, intanshurullah yan shurkum wa yutsabbit aqdamakum (Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu). Surat Muhammad ayat 7 itu selalu menyemangati dirinya untuk tetap optimis berada di jalan ini. Karena hidayah Allah, siapa yang tahu? Teman-teman pasti bisa berubah..

    Andre, Aktivis Da’wah Sekolah (ADS)

    Saat tengah duduk-duduk di depan sekret rohis, Bram melihat seorang mahasiswa yang tampaknya seperti ikhwan, menuju tempat wudhu. Dan instingnya seakan memperkuat hal itu. “Assalaamu’alaikum,” kata Bram. “Wa’alaikumsalam wr wb,” jawab pemuda berjanggut tipis dan tampan itu. “Em., antum Ikhwan, ya?” tembak Bram to the point.

    “Saya.. JT,” jawabnya mantap.

    “O.. Maaf ya, Assalaaamu’alaikum” ujar Bram malu-malu dan segera ngeloyor pergi kembali ke sekret. Saat Bram berbalik beberapa langkah, pemuda itu memanggilnya. “Eh.., akhi. tunggu, maksud saya . JT itu Jamaah Tarbiyah,” ujarnya sambil tersenyum ramah. “Ooo.. Alhamdulillah..,” senyum Bram pun mengembang. Mahasiswa itu bernama Andre, mahasiswa tingkat II yang ternyata ADS juga di SMU-nya. Bram sangat senang mendengar itu. Bram mengajak Andre untuk berkomitmen di jalan dakwah. Bram menjelaskan kondisi rohis kampus yang memprihatinkan. Andre mahasiswa yang cerdas, perawakannya sedang, rambutnya ikal dan kulitnya putih dengan pipi yang kemerah-merahan. Andre mengangguk, “Maka marilah kita berjanji setia untuk berjuang di jalan-Nya,” ujar Andre menyambut ajakan Bram.

    Bram tersenyum. Dan mereka berjanji setia untuk senantiasa di jalan Allah. Sejak itu mereka senantiasa selalu bersama dan ikatan cinta diantara mereka sangatlah kuat.

    Zaid, Sang Jurnalis

    Usai shalat Zuhur, sebelum jamaah bubar, Bram segera maju ke depan, mengambil mic dan memberi kultum di masjid kampus. Ia memulainya dengan basmalah dan membacakan firman Allah SWT QS. Saba’: 46-50. Dengan semangat yang membara, kata-kata yang lugas dan tegas, lidah yang lancar, ia berkata, “Kepada para pemuda yang merindukan lahirnya kejayaan, kepada umat yang tengah kebingungan di persimpangan jalan. Kepada para pewaris peradaban yang kaya raya, yang telah menggoreskan catatan membanggakan di lembar sejarah umat manusia. Kepada setiap muslim yang yakin akan masa depan dirinya sebagai pemimpin dunia dan peraih kebahagiaan di kampung akhirat. ”

    Para jamaah yang semula hendak bubar, demi mendengar seruan Bram yang menggetarkan jiwa itu, spontan segera menoleh ke arah Bram dan mereka kembali duduk di tempatnya dikarenakan gaya bicara Bram yang sangat menarik.

    Bram melanjutkan, “Wahai pemuda! Kalian tidak lebih lemah dari generasi sebelum kalian, yang dengan perantaraan mereka Allah membuktikan kebenaran manhaj ini. Oleh karenanya, janganlah merasa resah dan jangan merasa lemah. Kita akan menempa diri, sehingga setiap kita menjadi seorang muslim sejati. Kita akan membina rumah tangga-rumah tangga kaum muslimin menuju terbangunnya rumah tangga yang islami. Setelah itu, kita akan menempa bangsa kita menjadi bangsa yang muslim, yang tertegak di dalamnya kehidupan masyarakat yang islami. Kita akan meniti langkah-langkah yang sudah pasti, dari awal hingga akhir perjalanan. Kita akan mencapai sasaran yang digariskan Allah bagi kita, bukan yang kita paksakan untuk diri kita. Allah tidak menghendaki kecuali menyempurnakan cahaya-Nya, meski orang-orang kafir tidak menyukainya,” seru Bram. “Kita pun akan mengetahui bahwa sesungguhnya memisahkan agama dari politik itu bukan dari ajaran Islam. Pemisahan itu tidak pernah dikenal oleh kaum muslimin yang jujur dalam beragama dan paham akan ruh ajarannya. Sesungguhnya agama ini adalah agama, ibadah, dan tanah air, …”

    Andre memperhatikan para jamaah. Dan ada beberapa jamaah yang terlihat sangat antusias dengan seruan Bram. Andre mendekati seorang pemuda. Setelah mengucapkan salam, mereka berkenalan. “Saya Andre.”

    Pemuda itu membalas senyum Andre dan berkata, “Saya Zaid.”

    “Zaid, nama yang bagus sekali seperti sahabat yang menjadi sekretaris nabi.” “Iya, engkau benar,” jawab Zaid.

    “Bagaimana menurutmu tentang orang di depan itu?” tanya Andre. “Em.., bagus sekali dan saya tertarik untuk menuliskannya di koran saya,” jawab Zaid.

    Andre mengerutkan keningnya. “Anda jurnalis?”

    “Ya, saya jurnalis di koran kampus.”

    Sesaat Andre baru sadar, bahwa Zaid mengenggam pena dan membawa sebuah note book kecil di tangannya. Setelah mengobrol panjang lebar, Bram berkata, “Emm.Kalau begitu bagaimana kalau engkau mengaji bersama-samaku.”

    “Mengaji?”

    “Ya, kita akan mengaji dan mengkaji lebih dalam lagi apa yang dikatakan mahasiswa itu.”

    “Ya. Tentu.., ” jawab Zaid setelah berpikir beberapa saat.

    Mahasiswa Baru

    Ospek untuk menyambut mahasiswa baru angkatan ’97 digelar di kampus tersebut. Pakaian mereka putih dan hitam. Dengan rambut diikat pita tiga, ratusan mahasiswa baru telah berkumpul di lapangan. Suasana sangat ramai. Para aktivis dari BEM dan Himpunan berjaket almamater telah bersiap-siap. Dan para aktivis rohis tengah mempersiapkan tempat shalat untuk shalat Zuhur.

    Di bawah panas terik matahari, ratusan Mahasiswa Baru duduk di lapangan dan mendengarkan instruksi dari para senior, tak jarang kata-kata kotor keluar dari mulut mereka. Bram jengah mendengarnya. Sudah mahasiswa tapi intelektualitsnya justru minus, pikirnya.

    Semua mahasiswa baru, dikumpulkan di lapangan kampus. “Siapa yang tidak bawa atribut lengkap, cepat maju ke depan dalam hitungan tiga! Kalau tidak, terima sendiri akibatnya!” seru sang senior berjaket almamater biru. Ia mulai menghitung. Beberapa junior maju ke depan. Bram berjaket almamater dan memandangi para mahasiswa baru untuk berjaga-jaga dari hal-hal yang tidak diinginkan. Tiba-tiba matanya tertuju pada seorang mahasiswi baru, berjilbab putih. Ia seperti mengingat-ingat sesuatu.. Itu.. seperti.. seperti.. Sita! Sita sudah berjilbab.? Bram terdiam dan pikirannya melayang dengan kejadian setahun lalu.

    Saat itu.. ketika ia masih kelas 3 SMU..

    “Saya tidak bisa meneruskan hubungan kita, dek. Kita akhiri sampai di sini saja…,” ujar Bram pada seorang adik kelas yang tak lain adalah kekasihnya. “Tapi.., kenapa? Bukankah selama ini hubungan kita baik-baik saja, Bang.” jawab Sita dengan memandang lekat-lekat wajah laki-laki yang sangat dicintainya itu. Air mata Sita sudah tak terbendung lagi.

    “Maafkan saya, dek. tetapi saya bukanlah Bram yang dulu lagi. Saya sudah memikirkan ini masak-masak, saya ingin berubah.” Sita dan Bram duduk berdua di pinggir lapangan basket SMU. Mereka saling terdiam beberapa saat dan memandangi pintu gerbang SMU mereka yang sudah mulai sepi. Langit berwarna merah. Rambut lurus Bram tertiup angin yang sepoi-sepoi. Azan maghrib sebentar lagi berkumandang.

    “Apa yang membuat abang berubah? Padahal dua hari lalu, abang katakan bahwa kita akan selalu bersama, apakah engkau sudah melupakan kata-kata abang sendiri.,” Suara Sita terdengar parau. Sesungguhnya jauh di lubuk hati Bram, sangatlah berat melepas Sita. Tapi.. ., ada yang jauh lebih ia cintai dari wanita yang berambut sebahu itu. Mengatakan perpisahan inipun sangat sulit baginya. Tapi.. tapi.. ia harus bisa karena ada yang lebih ia harapkan dari Sita, yaitu. ampunan dan rahmat Allah. Ia tak dapat memungkiri bahwa hatinya gelisah luar biasa bila berdekatan dengan Sita, seakan dosa yang terus menggunung tinggi.

    Azan Maghrib berkumandang.

    Bram tersigap, ia bangkit dari duduknya dan berkata, “Sudah azan, saya mau shalat. Shalat yuk.., dek.,” ajak Bram. Sita memandang Bram dengan tatapan penuh keheranan.dan bertanya-tanya dalam hati.. sejak kapan Bram shalat? Bukankah ia sendiri yang sering mengatakan tak suka dengan anak-anak rohis..

    “Abang saja yang shalat, Sita nanti aja,” jawab Sita enggan. Bram dan Sita saling berpandangan, lama sekali. Seakan banyak isi hati yang terucapkan lewat tatapan mata mereka. Hati Bram bergemuruh. Qomat berkumandang dari masjid sekolah. Bram menundukkan pandangannya, dan berkata, “Saya shalat.” Ia membawa tas ranselnya dan menuju masjid sekolahnya. Sita tertunduk dan air mata mengalir di pipinya yang kemerah-merahan.

    Usai shalat Maghrib, Bram termenung sesaat. Hatinya sedih luar biasa, ia tahu, pasti Sita saat ini sedang menangis. Apakah ia harus menemui Sita lagi dan menenangkannya, seperti yang selama ini ia lakukan. “Aku di sini untukmu.” Kata -kata itulah yang sering ia ucapkan bila Sita bersedih. Tetapi kini.. apakah ia harus menemuinya dan mengatakannya lagi.. Ah.., tidak.. Aku sudah bertekad, aku harus berubah! Harus!. Ya Allah.., istiqomahkanlah aku di jalan-Mu. Bram memanjatkan doa dengan hati bersungguh-sungguh. Tak terasa ia menitikan air mata. Ikatan yang sudah terjalin sejak mereka SMP, harus pupus di tengah jalan. Biarlah. biarlah .. kita menangis saat ini Sita, daripada kita menangis di akhirat nanti. Bram lebih memilih jalan untuk menjauhi apa yang namanya pacaran. Dan ia berkomitmen untuk selalu berada di jalan para nabi ini..

    Bram menyenandungkan syair nasyid Izzatul Islam Selamat tinggal wahai dunia duka dan selamat datang wahai dunia iman Burung yang patah sayapnya tak akan mati karena lukanya Wahai hatiku yang sedih perangainya Sungguh kesedihan itu teah meninggalkan diriku Kan terbang aku ke dunia cinta Karena Aku muslim yang membumbung dengan iman Gelarku adalah muslim dan itu cukup bagiku Dibawah naungan agama aku hidup Untuk menebus keislamanku yang nyaris sirna

    **

    “Assalaamu’alaikum, Bram. Nanti tempat wudhunya gimana?” tanya teman rohisnya, Andre. Kehadiran Andre membuyarkan lamunan Bram, “Oh.. eh.. Wa’alaikumsalam, itu sudah disiapkan, jadi nanti yang mahasiswanya wudhu di dekat gedung K,” jawab Bram mantap. Andre mengangguk dan meninggalkan Bram usai mendapat jawaban itu. Bram beristighfar dan segera kembali mempersiapkan atribut shalat, seperti spanduknya dan lain-lain. Bram bergumam, intanshurullah yan shurkum wa yutsabbit aqdamakum

    Bram duduk di masjid usai shalat Zuhur. Ia dan teman-temannya bersiap-siap menyambut mahasiswa baru. Ia memandangi orang-orang yang shalat. Dan dari kejauhan ia melihat seorang mahasiswa baru yang tengah duduk. Bram menghampirinya dan mengucapkan salam. Mahasiswa baru berambut plontos itu menjawab salam sambil tersenyum ramah.

    “Sudah shalat?” tanya Bram padanya.

    “Sudah, Bang. lagi nunggu temen, dia belum selesai,” jawabnya sedikit malu-malu. Bram lalu berkenalan lebih jauh dengan mahasiswa yang ternyata benama Andi itu. Bram berkata, “Nanti kapan-kapan kamu main ke sekret rohis aja.”

    “Ke sekret? Ngapain Bang,” tanya Andi heran.

    “Ya maen aja, belum penah ke sekret rohis, kan?” Bram kembali mengajak.

    Dan kali ini Andi mengiyakan dan berjanji akan mengunjungi sekret rohis.

    Andi berpamitan setelah temannya usai shalat. Mereka berlari menuju kelas.

    Bram Bersama Teman-Teman

    Selama kepengurusannya, Bram melakukan gebrakan-gebrakan da’wah. Dan ia memprioritaskan da’wah di atas segalanya. Totalitas Perjuangan. Ia persembahkan untuk meninggikan kalimatullah. Bram, Andre dan Zaid bekerjasama untuk berda’wah kepada para mahasiswa baru, pun kepada teman-teman mereka sendiri.

    Bram mencarikan ustadz agar mereka dapat mengkaji Islam bersama. Ini akan menjadi menthoring pertama dalam organisasi ini. Sejak itu, mereka bertiga mengadakan pertemuan mingguan bersama seorang ustadz.

    Saat kuliah, Bram, Andre dan Zaid ada di kelas yang bersebelahan. Mereka dapat dengan mudah berkoordinasi bila ada teman-teman Da’wah Fardiyah. Semuanya mereka rencanakan dengan baik. Hingga akhirnya terekrutlah beberapa orang mahasiswa dan mahasiswi, untuk semakin mengokohkan barisan da’wah.

    Perpustakaan Masjid

    Bram memasuki masjid dan melihat banyak sekali buku-buku Islam yang tak terawat. “Buku-buku adalah sumber ilmu,” ujar Bram ketika mengajak Andre untuk mendata buku-buku tersebut.

    Jumlah buku Islam itu ada 500 buku. Mereka berdua mencatat nama buku, pengarangnya, dan penerbitnya. Lalu membuat nomor-nomor buku, kemudian menempelkannya di setiap buku. Selama sebulan lebih Bram dan Andre melakukan itu. Bram bersyukur karena ada Andre yang bersedia membantunya. “Kapan nih selesai bukunya, kok ngga’ selesai-selesai,” ujar seorang anggota rohis saat memasuki sekret. Ia hanya membaca beberapa buku, dan kemudian meletakkannya. “Makanya, bantuin dong, biar cepet selesai,” ujar Andre sedikit kesal.

    Karena Andre tahu, Bram yang paling banyak berperan dalam mengurusi buku-buku itu, dan ia tidak rela bila orang hanya bicara saja tanpa membantu. Bram hanya terdiam mendengar itu. Berapa banyak orang yang sanggup bicara, tetapi sedikit yang mengerjakannya. Dan berapa banyak orang yang mau mengerjakannya, tetapi mau serius dan berkorban untuk melakukannya.

    Setelah satu bulan, pendataan buku-buku itu pun selesai. Bram dan Andre meletakkannya di perpustakaan masjid. Mereka segera membuat kartu perpustakaan, sehingga para mahasiswa dapat meminjamnya. Dan dapat beredarlah fikrah kita.

    Pengorbanan

    Bram, Andre dan Zaid terkejut sesaat, tetapi kemudian memberikan selamat kepada Laras, karena ia baru saja berjilbab. Laras tersipu-sipu, dan dari lubuk hatinya, Laras yakin bahwa inilah jalan yang lurus, jalan yang benar, jalan yang Dia ridhoi. Dengan jilbab ini, Laras berjanji untuk senantiasa di jalan ini.

    Sekret rohis itu dikunjungi oleh mahasiswa dan mahasiswi. Di sekret akhwat, sangatlah ramai oleh canda tawa para mahasiswi, sampai-sampai suara mereka terdengar di sekret ikhwan. Andre kerap kali mengetuk jendela akhwat, agar tidak terlalu berisik. Bila sudah demikian, para akhwat dan mahasiswi yang ada di dalam hanya tersenyum tertahan. Andre hanya geleng-geleng kepala.

    Dan di sekret ikhwan pun tak jauh berbeda. Bahkan mereka bermain bola di dalam sekret. Andre hanya geleng-geleng kepala (lagi). Tetapi Bram memang tidak mencegah hal itu dan membiarkannya karena anggota yang baru bergabung tidak bisa dipaksa langsung berubah total.

    Di dalam sekret itu, diadakan jadwal kultum harian. Setiap orang mendapat giliran. Laras membuat jadwal di akhwat, dan Andre membuat jadwal di ikhwan. Tilawah dan kajian, juga menjad agenda mingguan.

    Kala maghrib menjelang, ketika tak ada seorangpun di lingkungan sekret. Bram masuk ke sekretnya. Dan ia membereskan sekret yang berantakan. Hampir setiap hari ia melakukan itu, karena pengkondisian sekret bagi Bram sangat penting. Kebersihan adalah sebagian dari iman. Bagaimana mungkin hidayah Allah akan turun bila tempat ini berantakan., gumam Bram. Untuk saat ini, ia belum bisa meminta teman-temannya untuk melakukan tugas ini, karena banyak yang menolak. Dan Bram memaklumi hal ini. Ia menyapu lantai, merapihkan buku-buku, membuang sampah-sampah, dan memasang mading ataupun menempel tausiah-tausiah di sekret.

    Menghadapi Kristenisasi

    Sita bergabung dengan rohis kampus. Namun Sita yang sekarang, bukanlah Sita yang dulu, karena kini ia telah berjilbab rapi dan ia sudah membuang jauh-jauh kenangannya bersama Bram. “Ya Allah, aku ada di sini karena Engkau. Semoga Engkau luruskan niat-niat kami di jalan-Mu,” doa Sita di setiap shalat malamnya.

    “Aduh, gimana yah, temen gue ada yang mau keluar dari Islam,” kata Anita, teman sekelas Sita, suatu hari. “Hah? yang bener?” seru Sita. Sewaktu di SMU ia juga pernah menemui kristenisasi di SMU-nya. “Iya, tapi Sita jangan bilang siapa-siapa ya, rahasia,” ujar Anita yang celana jinsnya robek-robek di bagian lututnya.

    Anita berkata itu dengan mimik serius dan rokok mengepul dari mulutnya. Sita hanya mengangguk-angguk.

    Pakai jilbab, mau murtad? Tubuh Sita seakan limbung mendengar itu. Haruskah ia kehilangan lagi saudara muslim lagi. Sewaktu di SMU ia pernah menghadapi hal yang sama, pemurtadan dan saat itu teman SMU-nya murtad karena diiming-imingi harta. Sita segera membuka-buka kembali buku kristologinya. Ia membenahi jilbab putihnya. Argumen-argumen apa yang harus ia sampaikan kepada seseorang yang mau murtad. Ia mencatat semuanya dalam selembar kertas dan esok paginya, ia sudah siap dengan argumennya.

    Namun Sita tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Ia menceritakan hal itu kepada orang yang ia percaya, yang notabene pasti tak mengenal Anita. Hal ini terdengar di telinga Bram, ketua rohis, bahwa ada kristenisasi di kampus.

    Saat rapat rohis, Bram berkata, “Kita mendapat laporan dari atas, bahwa di kampus kita terjadi kristenisasi.” Sita tertunduk dalam mendengarnya. “Sebaiknya hal seperti ini tidak disembunyikan, karena bila sampai terjadi pemurtadan, dapat mencoreng wajah da’wah kita di kampus ini,” tambah Bram dengan tegas. Bram masih menunggu ikhwah yang sebenarnya mengetahui hal ini. Sitapun akhirnya angkat bicara, “Ya, sebaiknya kita mencari kristolog untuk membantu akhwat ini, karena kabarnya, dia mendapat ancaman juga dari kekasihnya yang Kristen, akh.” Hm.., Bram akhirnya tahu siapa orangnya. “Ya, sebaiknya begitu.,” jawab Bram.

    Para ikhwah mempersiapkan agenda bersama agar mahasiswi tersebut tidak murtad. Lima akhwat, diantaranya Sita dan Laras, melakukan aksi detektif. Mereka ingin mengetahui dahulu wajah sang mahasiswi yang berkudung gaul tersebut. Kejar-kejaran dari belakang. Bersembunyi kala ia menoleh. Sesekali para akhwat tersenyum bersama. Setelah mahasiswi itu berhasil diidentifikasikan, akhirnya Sita menjadi duta untuk melakukan dialog dengannya.

    Bram terus memantau perkembangannya dari hari ke hari. Dan dari Anita, Sita mengetahui bahwa mahasiswi tersebut membatalkan niatnya untuk berpindah agama dari bujukan pemuda Kristen tersebut, karena agama adalah yang paling utama. Allahu Akbar! Misi detektif akhwat selesai.

    Riska, Namanya

    Pagi hari. Di ruang kelas. Para mahasiswa tengah menunggu datangnya dosen Pengantar Akuntansi 2. Bram segera masuk ruang kelas. Dan duduk di baris kedua. Ia membuka buku Akuntansinya dan melihat-lihat lembaran buku merah tersebut. Ia tak memperhatikan bahwa sedari tadi ada mahasiswi yang mengamati dirinya. Bram menoleh ke arah kanannya dan melihat mahasiswi manis, bercelana jins, baju jungkis dan berambut keriting tengah menatapnya. Bram segera melemparkan senyumnya. Mahasiswi itu membalas senyumnya. “Kamu anak rohis ya?” tanya mahasiswi itu. “Iya, saya Bram,” jawab Bram memperkenalkan diri. “Riska, “katanya balas memperkenalkan diri. “Saya dari dulu pengen ikut rohis nih, tapi bisa ngga’ ya?” ujar Riska. “O. tentu aja bisa. Kamu maen aja ke sekret rohis,” jawab Bram. Tiba-tiba dosen masuk dan menghentikan obrolan Bram dan Riska. Kuliah berlangsung selama 2 jam. Usai kuliah, Bram mengajak Riska untuk berkunjung ke sekret rohis. Bram memperkenalkan Riska kepada beberapa akhwat rohis. Di dalam sekret, Riska melihat-lihat sekeliling sekret yang isinya begitu banyak buku-buku Islam.

    “Sejak kapan kamu pakai jilbab?” tanya Riska pada Sita.

    “Emm., kelas 3 SMU, Mbak.”

    “Wah, baru pakai ya?”

    “Iya”

    “Dulu dapat halangan ngga’ dari orangtua?” tanya Riska lagi.

    “Iya, dulu mintanya susah sekali. Tapi dengan berusaha, akhirnya orang tua mengizinkan,” jawab Sita.

    Riska mengangguk-anggukkan kepala. Mereka kemudian membicarakan banyak hal, mulai dari keluarga sampai seputar wanita. Riska mengakui bahwa wawasan Islam Sita sangat baik.

    Pers Kampus

    Zaid, semenjak bergabung dengan rohis, ia menggunakan kemampuan menulisnya untuk meninggikan kalimatullah. Tulisannya menghiasi media cetak kampus. Ia mampu menciptakan tulisan-tulisan yang universal, yang dapat diterima oleh kalangan dosen maupun mahasiswa. Sehingga Al Haq dapat tersampaikan. Dan ia kerap kali meliput kegiatan-kegiatan rohis dan memasukkannya ke koran kampus. Dengan ini, perlahan tapi pasti, terciptalah opini publik yang Islami lingkungan kampus tersebut.

    Tidak hanya itu, kemampuannya itu ia teruskan kepada teman-teman dan junior-juniornya. Misinya dalam jangka panjang adalah membentuk pers kampus. Bram pun turut men-support keberadaan pers Islam ini. Hingga terbentuklah satu divisi baru, yaitu Divisi Jurnalis. Yang bertugas mem-blow up kegiatan-kegiatan rohis dan menggalang opini publik.

    Bram Membangkitkan Semangat Teman-Teman Sekret ikhwan dan akhwat terpisah. Letaknya ada di belakang masjid kampus itu. Para aktivis ini tengah mempersiapkan acara sebagai follow up dari penyambutan mahasiswa baru. Mereka melakukan rapat. Hanya ada 8 orang, yaitu Zaid, Bram, Andre, Andi, Riska, Laras, Sita dan Riska. Tak jarang mereka harus pulang malam untuk melakukan rapat-rapat. Bahkan kuliah bagi mereka adalah nomor dua. Yang utama adalah da’wah. Namun meskipun demikian, mereka semua tetap berprestasi dalam kuliahnya, dengan IPK minimal 3. Karena mereka memiliki motto, “Ikhwah sejati harus ber-IPK minimal 3!”

    Bram selalu menjadi motor setiap event-event keislaman di kampus. Ia senantiasa memotivasi teman-temannya untuk tetap istiqomah di jalan ini. Dan di dalam sebuah organisisi, bukannya tanpa masalah, tetapi Bram dan teman-temannya berusaha memiimalisirnya, karena ukhuwah yang utama.

    **

    Roy Bergabung dengan Rohis Di kosnya, Bram memandang langit malam yang dihiasi bintang-bintang. Langit terang oleh cahaya bulan purnama. Lama sekali ia menatap langit. Terbayang di matanya. akhlak para mahasiswa di kampusnya yang merosot. Semua itu berkelebat dahsyat di pikirannya. Saat itulah, teman satu kosnya yang sedang menonton TV, menekan channel berita Metro TV, “Korban kembali jatuh di Palestina, bom bunuh diri dilakukan oleh Wafa Idris, wanita Palestina yang membawa bom. Tiga orang tentara Israel tewas dan puluhan lainnya luka-luka.” Bram segera berlari menuju TV mendengar berita itu. ketika melihat TV., Innalillah. sampai seorang wanita yang harus maju untuk berperang, kata Bram. Mata Bram berkaca-kaca menyaksikan suasana di Palestina. Terlihat, Ambulance menolong korban luka-luka orang-orag Israel. “Eh., kenapa loe..?” tanya Roy, teman satu kosnya. “Roy ., Kamu tahu.., Palestina itu tempat apa?” tanya Bram pada Roy yang tengah menghisap sepuntung rokok. “Palestina kan di Arab sana,” jawabnya cuek. Bram menggeleng, “Di Palestina ada Masjid Al Aqsha, itu adalah kiblat pertama kita dan sekarang diinjak-injak oleh zionis Israel, sudah sejak tahun 1948, sejak perjanjian Balfour,” ujar Bram dengan serius. Roy mengangguk-angguk, terbengong-bengong.”Ooh. begitchu yah..”

    Bram terbangun dari tidurnya. Ia termenung sejenak. Dilihatnya, pukul 02.00 dini hari. Ia mengambil air wudhu dan shalat malam. Dalam shalat malamnya, ia membaca surat Al Anfal, lama sekali. Roy yang kamarnya ada di sebelah Bram, tengah sibuk membuat program web site. Di depan internetnya ia meng-up load postnuke dari situs. Jari-jarinya bergerak cepat. Sesekali ia membuka situs porno, dan terkekeh sendiri. Rokok di tangan kirinya dan ada Majalah porno pula di tangan kanannya. Roy keluar dari kamarnya saat mendengar suara orang menangis terisak-isak. Roy keluar dari kamarnya dengan kaos oblong dan rambut yang berdiri dan acak-acakan.

    Ia melihat ke dalam kamar yang pintunya terbuka sedikit. Bram sedang shalat. Kepala Roy tertunduk. Dan ia masuk kembali ke kamarnya. Di dalam kamarnya, ia memandangi majalah pornonya, dan dilemparnya majalah itu ke lantai. Ditutupnya semua situs yang ia browse sedari tadi. Ia mengambil sebuah buku yang sudah berdebu, Al Qur’an. Roy teringat kata-kata Bram.”Di Palestina ad Masjid Al Aqsha, itu tempat qiblat pertama kita.” terngiang-ngiang kata-kata itu. Dan terbayang pula senyum manis Bram saat ia sering mengajaknya untuk shalat ke masjid dan biasanya Roy menolaknya mentah-mentah, tetapi Bram senantiasa bersabar mengajaknya. Dibersihkannya Al Qur’an itu dari debu dengan tangannya. Dibukanya pada surat mana saja. Dan yang terbuka olehnya adalah Surat Ar Rahman “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” Roy membacanya.. indah sekali ayat ini..

    Bram bangun di pagi hari. Dan bersiap-siap untuk shalat Subuh di masjid. Bram terkejut ketika Roy mengikutinya dari belakang. Dengan malu-malu, Roy berkata, ”Kenapa? Gue mau ke masjid juga, tidak boleh?” “Eh.. boleh.. tentu saja boleh.,: Bram cepat-cepat membuang keterkejutannya itu dan mereka melangkah bersama menuju masjid di dekat kosan mereka. Usai shalat, Bram membuka buku kecil berwarna hijau. “Itu apa? Gue liat loe sering bawa buku itu,” tanya Roy. ”Ini. Ini namanya Al Ma’tsurat, zikirnya Rasulullah SAW yang dibaca setiap pagi dan petang,” jelas Bram.

    “Gitu yah? Boleh ngga’ gue baca,” tanya Roy lagi.

    “Boleh, kita baca bareng-bareng aja ya. Nih.” ujar Bram menyerahkan buku itu.

    “Loh, terus loe baca pake apa?”

    “Insya Allah saya sudah hafal.,” kata Bram.

    “Oooo..” Roy mengangguk-angguk. Mereka membacanya bersama-sama hingga matahari menampakkan cahayanya. Di dalam kamarnya, Roy memandangi ruangannya yang berantakan seperti kapal pecah. Ia terdiam sesaat dan dengan segera membersihkan dan membereskan kamarnya. Sapu, lap pel, ada di tangannya. Ia mencopot semua poster-poster band kesayangannya. Buku-buku porno ia kumpulkan. Seketika, kamarnya bersih dan mengkilat hingga ke kaca-kaca jendela. Ia keluar dari kamar dan diluar ia menyalakan api. dilemparnya semua buku porno itu ke dalam api. Roy tersenyum penuh kemenangan.

    Roy menyisir rapi rambutnya yang lurus dan dibelah tengah. Ia melepas anting yang setia ad di telinga kananya. Ia merapikan janggutnya dan memakai wangi-wangian. Penampilannya menjadi lebih rapi.

    SEMINAR AKBAR, KEMENANGAN

    Andre yang notabene adalah Ketua Departemen Syi’ar, menjadi Ketua pula dalam acara seminar yang akan digelar. Ia membentuk struktur panitia. Acara ini tergolong besar, karena akan melibatkan dosen dan mahasiswa. Target pencapaian adalah 500 peserta. Itu berarti peserta akan memenuhi ruang auditorium di kampus tersebut.

    Zaid, yang ahli dalam membuat tulisan, membuat sebuah artikel yang sangat bagus akan pentingnya seminar ini. Ia memasukkannya dalam koran kampus yang memang independen, sehingga ia tak mendapatkan halangan yang berarti.

    Roy pun memanfaatkan keahliannya dalam dunia maya dengan menjaring massa melalui dunia cyber. Ia menggunakan email, mailis, situs, Yahoo Messenger dan Friendster untuk menyebarkan berita ini. Dan tulisan-tulisan Zaid ia muat dalam setiap pesannya dalam internet.

    Bram, yang memiliki karisma dalam dirinya, mengajak para dosen untuk berpartisipasi dalam acara seminar ini. Ia menggunakan cara-cara yang ahsan dan menawan hati.

    Sita, Laras dan Riska menjalankan amanahnya mengajak para muslimah untuk hadir dalam seminar. Mereka kerap mempublikasikannya dalam kajian keputrian yang setiap minggunya dihadiri oleh tak kurang dari 50 muslimah, di setiap Jum’at.

    Dalam mempersiapkan kegiatan ini, tak jarang, Andre dan teman-temannya harus pulang malam untuk mengadakan rapat-rapat. Dan di siang hari, mereka aktif mencari sponsor demi terselenggaranya kegiatan. Lelah. Inilah yang dirasakan Andre dan jajaran kepanitiaanya.

    “Kamu kenapa?” Bram seakan menangkap kegalauan hati saudaranya yang tengah termenung di sekret rohis. Ia memperhatikan bahwa Andre sedikit melemah semangat dakwahnya. Andre hanya terdiam. “Ingat., disana.. di Pelestina.., saudara-saudara kita tengah berjuang. Apa yang kita lakukan di sini, belumlah seberapa dibandingkan mereka,” ujar Bram sambil menatap dalam kepada Andre. Andre merasa malu, karena Bram mengetahui kegalauan hatinya. Dan ucapan Bram itu seakan menjadi air sejuk di tengah kegersangan hatinya.

    Hari H pun akhirnya datang. Andre melakukan briefing kepada panitia, saat pagi hari. Tiket telah terjual habis, bahkan masih ada yang ingin memesan tiket. Dan diperkirakan ruangan akan melebihi kapasitas. “Semoga Allah selalu meluruskan niat-niat kita saat menapaki jalannya. Hadir di sini semata-mata karena Allah,” ujar Andre untuk memotivasi panitia. Seluruh sie melaporkan tugasnya. Cek dan ricek.

    Ticketing di depan ruangan seminar telah bersiap-siap. Semua anggota rohis memakai jaket almamater. Mereka bak tentara-tentara Allah yang bersiap-siap di posnya masing-masing. Acara ini mendapat sambutan yang sangat baik dari para dosen, pun mahasiswa. Para mahasiswa berbondong-bondong tertarik untuk mengikuti program menthoring yang diselenggarakan oleh rohis.

    Kesolidan Antar Departemen

    Bram dan Andre telah menyiapkan 20 menthor. Menthoring diadakan untuk mendidik seorang muslim agar akidahnya bersih, akhlaknya solid, ibadahnya benar, pikirannya intelek, tubuhnya kuat, mampu memanfaatkan waktu, dan bermanfaat bagi orang lain. Dari seminar itu, paling tidak, terbentuklah 20 kelompok menthoring, yang masing-masing kelompok, ada 8 orang. Itu berarti ada 160 orang yang terekrut melalui seminar tersebut.

    Karena kesolidan Departemen Pengembangan Sumber Daya Muslim (DPSDM) dan Departemen Syi’ar, maka proses rekruitmen dan pembinaan berjalan lancar. Bram, Roy, Zaid dan Andre hanya bisa mengucap hamdalah akan kemenangan ini.

    Berbondong-Bondong Berjilbab

    Sita tengah sibuk mendata barang-barang di sekret. Pintu sekret terbuka dan. Sita melihat rok panjang berwarna hitam. Ia mendongak ke atas dan terlihatlah wajah Riska yang sedang tersenyum malu-malu dengan jilbab putihnya. Untuk sesaat Sita terperangah, dan kemudian cepat-cepat tersadar dan memberikan selamat kepadanya. Sita memeluk Riska erat sekali. Alhamdulillah. ujarnya.

    Semenjak itu, bagaikan kartu domino. Mahasiswi yang lainpun berjilbab. Selama sebulan, sudah ada 20 orang yang berjilbab. Bahkan sampai muncul istilah ditengah-tengah mereka bahwa ada “Taubat massal.”

    Suasana sekret akhwat kian ramai dihiasi canda tawa para akhwat. Tak jarang mereka melakukan aksi smack down, antar mereka. Mereka semua bersama-sama membantu gerak da’wah. Dan Andre senantiasa mengetuk jendela akhwat agar tidak terlalu berisik. Hi..hi..hi. para akhwat bukannya diam, tetapi semakin ramai. Andre hanya geleng-geleng kepala. Dan Bram tersenyum melihat sikap Andre.

    Persiapan Dauroh

    Rohis mengadakan dauroh (pelatihan) yang merupakan alur terakhir dari organisasi tersebut. Bram, Andre, Zaid dan Roy melakukan survey di daerah Gunung Bunder. Mereka berempat memakai ikat kepala putih dan membawa ransel besar. Persiapan untuk naik gunung.

    Mereka telah mempersiapkan dauroh ini selama satu bulan lebih. Waktu, tenaga, pikiran dan juga uang, mereka korbankan demi terselenggaranya kegiatan dauroh tersebut. Jalur-jalur yang akan dilalui peserta, mereka beri tanda. Namun tak terasa, malam telah menjelang. Dan sesuatu yang aneh terjadi, mereka tak bisa menemukan jalan pulang. Padahal seharusnya jalan yang dilalui tidaklah terlalu sulit. Mereka kembali menyusuri jalan. Hawa dingin dan malam yang pekat. Hanya berbekal dua senter.

    Pukul 22.00. Mereka kemudian sadar bahwa sedari tadi hanya berputar-putar di satu tempat. Bram berkata, “Sepertinya ini sudah bukan dunia manusia lagi, sebaiknya kita membaca ayat kursi.” Andre, Roy dan Zaid mengiyakan. Dan sepanjang perjalanan, mereka membaca ayat kursi. Dengan doa, zikir dan tawakal, mereka akhirnya dapat turun gunung dengan selamat. Allahu Akbar!

    Dauroh ini diikuti oleh 160 orang peserta. Mukhayyam selama 3 hari 2 malam. Tenda-tenda dibangun sendiri oleh peserta. Ikhwan dan akhwat berlomba mendirikan tenda masing-masing. Dauroh ini diisi dengan out bond, ceramah dan aneka games. Mendaki gunung. Dan yel-yel kelompok yang semakin menyemarakkan suasana.

    Usai kegiatan, mereka semua berfoto bersama dengan pakaian penuh lumpur. Wajah puluhan ikhwan terlihat sangat gembira, dengan ikat kepala putih dan slayer biru. Para ikhwan berfoto sendiri dan berbaris rapi. Dan puluhan akhwatpun berfoto sendiri di tempat lainnya. Jilbab-jilbab mereka yang rapi, berkibar tertiup angin gunung. Mereka semua terlihat sangat kompak. Andre mengabadikan event itu dengan kameranya.

    Bram Menikah

    Bram bercerita pada Andre bahwa ia akan menggenapkan setengah diennya dan Insya Allah dalam waktu dekat. Andre turut bahagia mendengar penuturan saudaranya itu. Namun Bram sendiri belum tahu siapa orangnya, karena ia percaya sepenuhnya kepada pilihan ustadznya. Mendengar itu, Andre percaya bahwa Allah akan memberi yang terbaik untuk Bram.

    Seminggu kemudian Bram mendapat sebuah amplop dari ustadznya. Dengan hati berdebar, namun tetap tenang, ia membuka biodata sang akhwat. Bram termangu membaca nama calonnya itu. Sita Anggraini. Ya Rabbi. Sungguh tak akan lari gunung di kejar, gumam Bram.

    Di tempat lain., Sita juga menerima amplop dari murabbiyahnya dengan perasaan tenang. Ketika ia membuka dan membaca nama calonnya.. Bram Adhiyaksa., Sita setengah berbisik menyebut nama itu. Ya Rabbi.

    Proses ta’aruf (perkenalan) Bram dan Sita berlangsung singkat. Bram datang meminang ke rumah Sita. Pernikahan berlangsung sederhana dan menggunakan hijab yang berupa tanaman-tanaman. Puluhan aktivis rohis datang pada acara yang sangat bersejarah dalam kehidupan manusia itu. Lagu-lagu nasyid diputar saat itu. Bram yang gemar dengan nasyid Izzis dan Shoutul Harakah terpaksa harus menggantinya dengan nasyid yang slow, karena tak mungkin di hari perhikahannya ia memutar nasyid genderang perang.

    Keluarga Pejuang

    “Jika bapak-bapak, anak-anak, suadara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. 9:24).

    Suatu hari Bram merasa gundah, kalau berangkat istri cemberut, padahal sudah tahu nikah dengannya risikonya tidak dapat pulang malam tapi biasanya pulang pagi, menurut bahasa Indonesia kontemporer untuk jam diatas 24.00. Dia katakan pada Sita, “Dek., kita ini dipertemukan oleh Allah dan kita menemukan cinta dalam dakwah. Apa pantas sesudah dakwah mempertemukan kita lalu kita meninggalkan dakwah. Saya cinta kamu dan kamu cinta saya, tapi kita pun cinta Allah”. Bram pergi menerobos segala hambatan dan pulang masih menemukan sang permaisuri dengan wajah masih mendung, namun membaik setelah beberapa hari.

    Aksi 12 Mei

    Kepada para mahasiswa yang merindukan kejayaan

    Kepada rakyat yang kebingungan di persimpangan jalan

    Kepada pewaris peradaban yang telah menggoreskan,

    Sebuah catatan kebanggaan di lembar sejarah manusia

    Wahai kalian yang rindu kemenangan

    Wahai kalian yang turun ke jalan

    Demi mempersembahkan jiwa dan raga

    Untuk negeri tercinta

    Rasulullah SAW bersabda, “Di hari kiamat, Allah akan menaungi pemuda yang berani mengatakan yang haq di depan penguasa yang zalim.” Berlandaskan hadits ini, aksi-aksi mahasiswa marak di berbagai daerah di tanah air.

    Dan Aksi 12 Mei. Aktivis rohis yang bergabung, berjumlah dua ratus orang lebih. Bram ikut memimpin gerakan mahasiswa untuk merobohkan rezim Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun. Bram dan aktivis rohis lainnya, mendesain sebuah aksi turun ke jalan, untuk kali yang pertama. Namun tak disangka, aparat bersikap repsesif. Mahasiswa berlari ke dalam kampus menyelamatkan diri dari tembakan aparat. Bram yang berada di depan terkena tembakan peluru di perutnya. Seorang Satgas dari Senat berhasil menariknya ke dalam kampus sebelum sempat dipukuli oleh aparat. Dan yang terjadi selanjutnya mirip dengan perjuangan intifadah rakyat Palestina. Dimana mahasiswa berusaha mempertahankan diri dengan melemparkan batu, botol aqua dan apa saja yang bisa dipungut di jalan kepada aparat yang bersenjata api.

    Balasan yang ‘sangat amat baik sekali’ dari aparat keamanan. Tiap kali terdengar letusan senapan yang keras dan menggetarkan kaca-kaca di Gedung M, massa mahasiswa spontan berteriak ‘Allahu Akbar’. Mahasiswa yang tidak kuat menahan emosi berteriak-teriak istighfar dan mengutuk perbuatan aparat bermoral binatang. Karena bantuan alat-alat medis yang kurang, korban dibawa ke Gedung I.

    Inna Lillahi Wa Ina Lillahi Roji’un, mahasiwa yang sedang berbaring ini sudah tidak bernyawa. “Tidak ada nafasnya!” seru seorang rekan ketika tidak merasakan aliran nafas dari hidungnya. Tidak kuat menahan emosi yang sedang terjadi, beberapa mahasiswa beristighfar menyebut nama Allah Swt, dan lainnya menyerukan untuk mengadakan pembalasan, sebagian lagi berusaha menahan emosi rekannya. “Tidak ada gunanya dilawan”, “Jangan ada korban lagi”, semuanya mundur, rekan kita sudah ada yang meninggal, Mundur semua!” jerit beberapa rekan mahasiwa. Mahasiswa-mahasiwa yang berada di barisan depan terus melempari petugas dan berteriak-teriak histeris. Kabar kematian rekan mahasiswa tampaknya malah membakar emosi mahasiswa barisan depan tersebut.

    Bram Meninggal Bram dalam kondisi kritis. Darah mengalir deras. Teman-teman segera membawanya ke rumah sakit. “Bram.. Bram..,” panggil Andre dengan wajah sangat cemas. Bram melihat wajah Andre, semula jelas. namun pandangannya kabur dan semuanya menjadi gelap.

    Sudah satu bulan Bram ada di rumah sakit. Banyak aktivis yang menjenguknya. Dan pada minggu ke enam, Bram sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Namun sejak penembakan itu, Bram tak bisa lagi berjalan seperti biasa. Karena pukulan keras di kepalanya dari aparat, membuatnya sering pusing. Pun tembakan di perutnya, meninggalkan luka yang membekas dan terkadang sangat sakit ia rasakan. Namun meskipun demikian, Bram masih mengontrol jalannya aktivitas da’wah di kampus melalui HPnya. Terkadang para ikhwah bertanya tentang apa yang harus mereka lakukan dalam da’wah. Ataupun sekedar ber-sms untuk bertanya tentang Islam. Dan hal itu sudah menjadi kebiasaan bagi Andre.

    Suatu hari, ada rapat mendesak yang membutuhkan kehadiran Bram. Walau sang isteri sudah berusaha mencegahnya, namun Bram tetap bersikeras. Ia dijemput Andre. Dan mereka bersama-sama menuju tempat syuro. Syuro itu berlangsung satu hari penuh.

    Pukul 02.00, Bram tiba di depan rumah. Ternyata sang isteri tercinta telah menantinya. Bram duduk di kursi tamu, melepas kepenatan. Sita berjongkok di hadapan Bram dan membukakan kaos kakinya. “Wah., Mama .. baik sekali,” ujar Bram dengan nada lembut. Sita terdiam. Ia menyunggingkan senyum. Entah mengapa, hari ini perasaan Sita tidak enak. Ia ingin selau berada di dekat suaminya. “Air panasnya sudah siap, Bang.,” Sita mengambilkan handuk. Bram terduduk di kursi sambil memegang agenda syuro. Ia segera membersihkan diri malam itu.

    Saat subuh menjelang. Suhu badan Bram sangat tinggi, ia menggigau. Sita panik, tetapi ia tetap berusaha berfikir jernih. Ia segera menghubungi abang kandungnya yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Mereka lantas bersama-sama membawa Bram pergi ke rumah sakit.

    Semua ikhwah menjenguknya. Sudah seminggu Bram ada di rumah sakit. Sita senantiasa membacakan Al Qur’an di samping Bram. Sakitnya kian memburuk.

    **

    Suatu malam di Rumah Sakit… Bram memanggil Sita. dan memberi isyarat agar Sita mendekat. Sita segera mendekatkan telinganya di dekat wajah Bram. Ia berwasiat, “Dek. jaga diri baik-baik. Dirikan shalat. Jaga anak kita nanti, didik ia menjadi mujahid di jalan Allah,” ujar Bram. Sita yang kandungannya telah berusia delapan bulan, sudah tak terbendung lagi air matanya. Ia menangis terisak-isak. Demi mendengar isakan tangis Sita, Andre terbangun dari tidurnya dan mendekati Bram. Beberapa ikhwan yang tengah menunggu di luar kamar pasien, juga terbangun. Bram menghadapi sakaratul maut. Sita dan Andre membimbing Bram agar mengucapkan “Laa illaha ilallah.”, namun lidah Bram yang setiap harinya memang tak lepas dari zikir, dapat dengan lancar mengucapkannya. “Innalilahi wa inna ilaihi raji’un..” Andre mengucapkannya dengan nada tertahan, ketika tubuh Bram sudah lemas dan terbujur kaku.

    Semua ikhwan yang menyaksikan hal itu, terdiam. Kepala mereka tertunduk.

    Sepeninggal Bram, semua yang dirintisnya membuahkan hasil. Demi mendengar kisah kegigihannya dalam menegakkan Islam, telah membangkitkan militansi puluhan aktivis lainnya. Dan dari puluhan aktivis ini, lahirlah mujahid-mujahid baru. Regenerasi terus berlanjut. Mewariskan nilai-nilai keislaman yang telah Bram tanamkan di dalam diri teman-temannya. Pun bagi Andre, Bram adalah sosok teladan yang selau memberi motivasi kepada dirinya. intanshurullah yan shurkum wa yutsabbit aqdamakum

    (Tahun 2040)

    Kakek itu masih menatap tajam para mahasiswa dan mahasiswi yang ada di hadapannya. Ia berkata, “Wahai pemuda! Kalian tidak lebih lemah dari generasi sebelum kalian, yang dengan perantaraan mereka Allah membuktikan kebenaran manhaj ini. Oleh karenanya, janganlah merasa resah dan jangan merasa lemah. Kita akan menempa diri, sehingga setiap kita menjadi seorang muslim sejati. Allah tidak menghendaki kecuali menyempurnakan cahaya-Nya, meski orang-orang kafir tidak menyukainya,” ujarnya.

    Kakek itu mengucapkan panjang lebar tentang arti kemenangan da’wah. Dan tibalah saat sesi tanya jawab. Sang moderator berkata, “Ya, telah kita dengarkan tausiah-tausiah dari syeikh kita, Syeikh Andre. Seperti kita ketahui bersama, beliau juga pernah kuliah di kampus ini dan menjadi salah satu pelopor bangkitnya Islam di kampus kita tercinta. Maka jangan sia-siakan kesempatan ini untuk bertanya.” Beberapa orang dengan serentak, berebutan dan mengangkat tangan untuk bertanya.

    Usai acara, Andre bersiap-siap shalat berjamaah di masjid kampus bersama-sama dengan para mahasiswa. Ia memandangi perpustakaan yang dulu pernah ia dan Bram susun. Terlintas kembali kenangan itu, saat Bram berkata kepadanya, “Buku- buku adalah sumber ilmu.”

    Andre kemudian menjadi imam pada shalat Zuhur itu. Ia membaca surat Muhammad. dengan khusyuk. dan ketika sampai pada ayat intanshurullah yan shurkum wa yutsabbit aqdamakum, Andre terisak. Ia mengenal betul bahwa ayat inilah yang menjadi gerak juang saudaranya, Bram. Usai mengucap salam, Andre terdiam dan melihat ada Bram, Roy dan Zaid di hadapannya. Bram tersenyum kepadanya dan Andre membalas senyumnya. Andre menatap ke langit-langit masjid dan ia melihat makhluk-makhluk yang tak pernah ia lihat sebelumnya, bukan jin dan bukan pula manusia. Dan beberapa saat kemudian, ia tersungkur di depan mimbar masjid.

    Pak Andre!.. Seru jamaah shalat. Mereka berhamburan dan membopong tubuh Andre. Dan mendudukkannya. “Innalillahi wa Inna ilaihi raji’un.,” seru seorang dari mereka ketika tak ada lagi hembusan nafas dari Andre. “Pak Andre belum meninggal, kita bawa beliau ke rumah sakit saja,” ujar yang lainnya.

    Mereka segera membawa Andre ke rumah sakit. Dengan raut wajah berduka, dokter mengatakan hal yang sama, “Mohon maaf, Pak Andre. sudah tiada.” Saat itulah semua jamaah tertunduk dan menitikkan air mata, menangisi kepergian sang mujahid.

    ***

    Ribuan jamaah ikhwan berduyun-duyun mengantar kepergian syeikh mereka ke tempat peristirahatan. Langit mendung seakan turut menangisi kepergian mujahid-mujahid Allah di muka bumi. Bram, Zaid, Roy dan Andre.. Makam mereka terletak berdampingan. Mereka bertemu karena Allah, saling mencintai karena Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Di sekitar Arsy ada menara-menara dari cahaya. Di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya dan wajah-wajah mereka bercahaya. Mereka bukan para Nabi dan syuhada’, tetapi para Nabi dan Syuhada’ iri pada mereka. “Ketika ditanya oleh para sahabat, Rosulullah saw menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah, dan saling kunjung karena Allah”(HR. Tirmidzi). Mereka telah mengukir sejarah perjuangan yang indah. Sesungguhnya dakwah ini akan terus berlanjut hingga hari kiamat.

    Saat semua pengantar Andre telah pulang, ada beberapa pemuda gagah yang masih tertegun di samping makam-makam itu. Salah seorang dari pemuda berkata, “Ayah, kami akan meneruskan perjuanganmu, hingga tak ada lagi fitnah dan agama ini hanya milik Allah.,” ujarnya mantap. (Ayat Al Akrash)

    ***

    Hudzaifah.org –

     
  • erva kurniawan 3:25 am on 9 January 2019 Permalink | Balas  

    Berita Alam Kubur: Doa Untuk Ruh 

    Berita Alam Kubur

    06: “ DOA untuk RUH “

    Segala puji semata hanya bagi Allah SWT, Dzat Yang Menunjukkan kita pada kebenaran agama-Nya, Yang Menyempurnakan serta Meridhai agama-Nya, Yang membukakan pandangan hati orang yang dicintai-Nya, Yang menguasai takdir, Yang menjadi tempat kembali segala urusan. Semoga rahmat dan salam tetap tercurahkan pada nabi Muhammad SAW, yang telah dipilih oleh Allah SWT dari sekian banyak makhluk-Nya, yang dijadikan oleh-Nya sebagai yang terpilih dari yang terbaik. Semoga terlimpah pula kepada keluarga dan keturunannya, kepada semua nabi, semua keluarga mereka,  dan kepada hamba-hamba-Nya yang salih.

    Ibnu Abbas ra meriwayatkan bahwa: Pada hari Raya, hari Asyura, hari Jum’at yang pertama pada bulan Rajab, malam pertengahan bulan Sya’ban, malam Lailatul qadar, serta setiap malam Jum’at, keluarlah ruh-ruh orang yang sudah mati.

    Mereka lalu berdiri di pintu rumahnya masing-masing seraya berkata: “ Kasihanilah kami di malam ini yang penuh berkah dengan bersedekah, atau memberikan sesuap makanan pada orang miskin yang pahalanya ditujukan kepada kami , sebab kami sangat membutuhkan sdekah. Jika kalian bhakil, tidak mau memberi sedekah, maka ingatlah kepada kami dengan banyak membaca fatihah di malam yang penuh berkah ini. Apakah ada salah seorang dari kalian yang mengasihi kami?. Apakah ada salah seorang diantara kalian yang masih ingat pengembaraan kami?. Wahai orang yang berdiam di rumah kami, wahai orang yang menikahi istri kami, wahai orang yang menempati luasnya gedung kami, kami sekarang dalam kesempitan kubur. Wahai orang yang membagi harta kami, wahai orang yang masih ingat pengembaraan kami, buku kalian masih digelar. Tidak ada pakaian bagi mayit dalam kuburnya, maka kalian jangan lupa kepada kami dengan sepotong rotimu untuk bersedekah dan doamu. Sesungguhnya kami masih membutuhkan kalian untuk selamanya “.

    Kalau ruh-ruh orang yang sudah mati mendapatkan sedekah dan doa dari keluarganya, maka ia akan kembali dengan penuh kegembiraan. Sebaliknya, jika ia tidak mendapatkan sedekah atau doa dari keluarganya, maka ia akan kembali dengan bersedih hati, seperti putusnya hubungan dengan keluarganya.

    ***

    Dikutip dari buku “ Daqa’iqul Akhbar “ yang ditulis oleh Imam Abdur Rahman bin Ahmad Al-Qadli dan diterbitkan oleh Pustaka Hikmah Perdana – Jakarta.

     
  • erva kurniawan 2:22 am on 8 January 2019 Permalink | Balas  

    Berita Alam Kubur: Ruh Orang Mukmin di Alam Kubur 

    Berita Alam Kubur

    05 : “ RUH ORANG MUKMIN DI ALAM KUBUR “

    Segala puji semata hanya bagi Allah SWT, Dzat Yang Menunjukkan kita pada kebenaran agama-Nya, Yang Menyempurnakan serta Meridhai agama-Nya, Yang membukakan pandangan hati orang yang dicintai-Nya, Yang menguasai takdir, Yang menjadi tempat kembali segala urusan. Semoga rahmat dan salam tetap tercurahkan pada nabi Muhammad SAW, yang telah dipilih oleh Allah SWT dari sekian banyak makhluk-Nya, yang dijadikan oleh-Nya sebagai yang terpilih dari yang terbaik. Semoga terlimpah pula kepada keluarga dan keturunannya, kepada semua nabi, semua keluarga mereka,  dan kepada hamba-hamba-Nya yang salih.

    Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa :

    Ketika seorang mukmin meninggal dunia, maka ruhnya berputar-putar di sekitar rumahnya selama 1 (satu) bulan. Ruh ini bisa melihat harta benda yang ditinggalkannya, bagaimana cara hartanya dibagi, dan bagaimana hutang-hutangnya dibayar.

    Ketika telah sampai masa 1 (satu) bulan, ruh kembali ke kuburnya, ia berputar-putar sampai dalam masa 1 (satu) tahun dari kematiannya, dan ia bisa melihat orang yang mendoakan dirinya, ia juga bisa melihat orang yang bersedih atas kematiannya. Setelah 1 (satu) tahun, ruh diangkat ke tempat kumpulnya para ruh sampai hari kiamat, yaitu hari ditiupkannya sangkakala.

    ***

    Dikutip dari buku “ Daqa’iqul Akhbar “ yang ditulis oleh Imam Abdur Rahman bin Ahmad Al-Qadli dan diterbitkan oleh Pustaka Hikmah Perdana – Jakarta.

     
  • erva kurniawan 2:17 am on 7 January 2019 Permalink | Balas  

    Berita Alam Kubur: Ruh di Alam Kubur 

    Berita Alam Kubur

    04: “ RUH DI ALAM KUBUR “

    Segala puji semata hanya bagi Allah SWT, Dzat Yang Menunjukkan kita pada kebenaran agama-Nya, Yang Menyempurnakan serta Meridhai agama-Nya, Yang membukakan pandangan hati orang yang dicintai-Nya, Yang menguasai takdir, Yang menjadi tempat kembali segala urusan. Semoga rahmat dan salam tetap tercurahkan pada nabi Muhammad SAW, yang telah dipilih oleh Allah SWT dari sekian banyak makhluk-Nya, yang dijadikan oleh-Nya sebagai yang terpilih dari yang terbaik. Semoga terlimpah pula kepada keluarga dan keturunannya, kepada semua nabi, semua keluarga mereka,  dan kepada hamba-hamba-Nya yang salih.

    Rasulullah SAW bersabda:

    Ketika ruh sudah keluar dari tubuh anak Adam dan telah lewat masa 3 (tiga) hari, maka ruh itu berkata: “ Wahai Tuhanku, izinkanlah aku berjalan sehingga aku bisa melihat jasadku, dimana aku pernah berada dalam jasad tersebut “.

    Allah kemudian mengizinkan pada ruh, akhirnya datanglah ruh ke kuburnya, ia melihat jasadnya dari jauh. Darah telah mengalir dari kedua hidungnya dan mulutnya, maka ruh itu menangis dengan tangisan yang lama. Kemudian ruh berkata: “ Wahai jasad yang miskin, wahai kekasihku, apakah kamu ingat hari-hari hidupmu. Ini adalah rumah, yaitu rumah duka cita dan rumah cobaan, rumah kesedihan hati, rumah kesusahan dan rumah penyesalan “. Kemudian ruh itu pergi.  Ketika lewat masa 5 (lima) hari, ruh berkata: “ Wahai tuhanku, izinkanlah aku melihat jasadku lagi “.

    Allah kemudian mengizinkan kepada ruh tadi, lalu datanglah ruh ke kuburnya, ia melihat dari jauh. Dan benar-benar telah mengalir dari hidung, mulut serta telinganya nanah kental bercampur darah, maka ruh menangis dengan tangisan yang sangat keras.

    Kemudian ruh berkata: “ Wahai jasad yang miskin, apakah kamu ingat hari-hari hidupmu?. Ini adalah rumah duka cita, rumahnya ulat, rumahnya kalajengking. Ulat-ulat itu telah memakan dan merobek-robek kulitmu dan anggota tubuhmu “. Setelah itu, ruh berlalu.

    Tatkala lewat masa 7 (tujuh) hari, ruh berkata: “ Wahai Tuhanku, izinkanlah aku untuk melihat jasadku “.

    Allah mengizinkan, maka datanglah ruh ke kuburnya, ia melihat dari jauh jasadnya telah dikerubungi oleh banyak ulat. Melihat hal itu, ruh menangis dengan tangisan yang amat keras, seraya berkata: “ Wahai tubuhku, apakah kamu ingat hari-hari hidupmu, dimana anak-anakmu?, dimana kaum kerabatmu?, dimana auratmu?, dimana saudara-saudaramu?, dimana teman dekatmu?, dimana sahabatmu?, dimana tetanggamu, yaitu orang yang ridho bertetangga denganmu. Pada hari ini, mereka menagisi kepadaku dan kepadamu “.

    ***

    Dikutip dari buku “ Daqa’iqul Akhbar “ yang ditulis oleh Imam Abdur Rahman bin Ahmad Al-Qadli dan diterbitkan oleh Pustaka Hikmah Perdana – Jakarta.

     
  • erva kurniawan 2:15 am on 6 January 2019 Permalink | Balas  

    Berita Alam Kubur: Kesaksian Ruh di Alam Kubur 

    Berita Alam Kubur

    03 : “ KESAKSIAN RUH DI ALAM KUBUR “

    Segala puji semata hanya bagi Allah SWT, Dzat Yang Menunjukkan kita pada kebenaran agama-Nya, Yang Menyempurnakan serta Meridhai agama-Nya, Yang membukakan pandangan hati orang yang dicintai-Nya, Yang menguasai takdir, Yang menjadi tempat kembali segala urusan. Semoga rahmat dan salam tetap tercurahkan pada nabi Muhammad SAW, yang telah dipilih oleh Allah SWT dari sekian banyak makhluk-Nya, yang dijadikan oleh-Nya sebagai yang terpilih dari yang terbaik. Semoga terlimpah pula kepada keluarga dan keturunannya, kepada semua nabi, semua keluarga mereka, dan kepada hamba-hamba-Nya yang salih.

    Allah SWT berfirman : “ Wahai malaikat-Ku, aku telah mengambil ruh seorang hamba, aku meninggalkan hartanya untuk yang lain, istrinya berada ditempat orang lain, jariyahnya untuk orang lain, harta bendanya juga untuk orang lain. Karena itu, bertanyalah kepada hamba-Ku itu dalam perut bumi. Hamba-Ku tidak akan rela kecuali kepada-Ku, ia tidak akan menjawab pertanyaan seseorang kecuali tentang Aku. Hamba-Ku akan berkata : “ Allah, Tuhanku, Muhammad Nabiku, dan Islam adalah Agamaku “. Apakah kalian berdua tidak mengetahui?. Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui, sebagaimana kisah yang telah disebutkan dalam kitab suci “.

    Ketika mayit sudah diletakkan di dalam kubur, maka datanglah dua malaikat yang sangat hitam, kedua matanya melotot, suaranya seperti petir dan penglihatannya bagaikan kilat yang menyambar. Kedua malaikat ini datang dari arah kepala si mayit. Maka amalan shalat berkata : “ Kalian berdua jangan datang dari arahku, karena mayit ini sering tekun shalat, baik di waktu malam maupun siang, karena rasa takutnya pada tempat ini “.

    Kemudian kedua malaikat itu datang dari arah kedua kakinya. Kedua kakinya lalu berkata : “ Kalian berdua jangan datang dari arahku, sebab mayit ini selalu mempergunakan aku untuk berjalan menuju tempat shalat berjama’ah, karena rasa takutnya pada tempat ini “.

    Kedua malaikat itu lalu datang dari arah kanannya, maka berkatalah amalan sedekah : “ Kalian jangan datang dari arahku, sebab mayit ini telah melakukan sedekah dengan aku, sebab ia takut pada tempat ini “.

    Selanjutnya kedua malaikat itu datang dari arah kirinya, maka berkatalah amalan puasanya : “ Kalian berdua jangan datang dari arahku, sebab mayit ini benar-benar telah lapar dan haus, karena rasa takutnya pada tempat ini “.

    Lalu mayit terbangun sebagaimana bangunnya orang yang tidur, seraya berkata : “ Apa yang kalian kehendaki? “. Kedua malaikat itu menjawab: “ Kami ingin menanyakan ketauhidan kepada Allah “.

    Mendengar pertanyaan demikian, si mayit langsung mengucapkan : “ Ashadu an laa ilaaha illallaah “.

    Kedua malaikat itu lalu bertanya : “ Apa yang kamu katakan kepada Muhammad SAW? “. Si mayit langsung mengucapkan : “ Ashadu anna muhammadar rasuulullaah “.

    Selanjutnya kedua malaikat berkata : “ Kamu hidup dalam keadaan mukmin, mati pun dalam keadaan mukmin “.

    ***

    Dikutip dari buku “ Daqa’iqul Akhbar “ yang ditulis oleh Imam Abdur Rahman bin Ahmad Al-Qadli dan diterbitkan oleh Pustaka Hikmah Perdana – Jakarta.

     
  • erva kurniawan 2:11 am on 5 January 2019 Permalink | Balas  

    Berita Alam Kubur: Seruan Kepada Ruh 

    Berita Alam Kubur.

    02 : “ SERUAN kepada RUH “

    Segala puji semata hanya bagi Allah SWT, Dzat Yang Menunjukkan kita pada kebenaran agama-Nya, Yang Menyempurnakan serta Meridhai agama-Nya, Yang membukakan pandangan hati orang yang dicintai-Nya, Yang menguasai takdir, Yang menjadi tempat kembali segala urusan. Semoga rahmat dan salam tetap tercurahkan pada nabi Muhammad SAW, yang telah dipilih oleh Allah SWT dari sekian banyak makhluk-Nya, yang dijadikan oleh-Nya sebagai yang terpilih dari yang terbaik. Semoga terlimpah pula kepada keluarga dan keturunannya, kepada semua nabi, semua keluarga mereka,  dan kepada hamba-hamba-Nya yang salih.

    Ketika ruh berpisah dari badan, maka ada panggilan dari langit sebanyak 3 (tiga) kali : “ Wahai anak Adam, apakah engkau meninggalkan dunia ini, atau dunia yang meninggalkan dirimu?. Apakah engkau mengumpulkan dunia, atau dunia yang mengumpulkan dirimu?. Apakah engkau yang membunuh dirimu? “.

    Ketika mayit diletakkan diatas dipan untuk dimandikan, ada panggilan dengan 3 (tiga) kali seruan : “ Wahai anak Adam, dimana badanmu yang kuat itu, dan apa yang menjadikan dirimu menjadi lemas?. Wahai anak Adam, dimana lisanmu yang fasih itu, dan apa yang menyebabkan dirimu diam?. Wahai anak Adam, dimanakah para kekasihmu, dan apa yang menyebabkan mereka tidak menyukai dirimu? “.

    Tatkala mayit diletakkan di kain kafan, mayit dipanggil dengan 3 (tiga) kali seruan : “ Wahai anak Adam, engkau akan pergi jauh tanpa membawa perbekalan. Wahai anak Adam, engkau akan keluar dari rumahmu dan tidak akan kembali lagi. Wahai anak Adam, engkau tidak akan bisa naik kuda untuk selamanya, dan engkau akan menuju tempat yang sangat menakutkan “.

    Pada saat mayit dipikul di atas keranda, mayit dipanggil dengan 3 (tiga) kali seruan : “ Wahai anak Adam, bahagialah dirimu jika engkau termasuk orang yang bertaubat. Bahagialah engkau, jika amalmu itu termasuk amal baik. Bahagialah dirimu, jika temanmu adalah keridhoan Allah. Celakalah engkau, jika temanmu adalah kemurkaan Allah Ta’ala “.

    Ketika mayit diletakkan hendak dishalati, mayit dipanggil dengan 3 (tiga) kali seruan : “ Wahai anak Adam, setiap perbuatan yang engkau lakukan pasti engkau akan melihatnya, jika perbuatan amalmu itu baik, maka engkau akan melihat suatu kebaikan. Sebaliknya, jika amal perbuatanmu itu buruk, maka engkau akan melihat keburukan “.

    Tatkala keranda diletakkan di tepi kubur, maka mayit dipanggil dengan 3 (tiga) kali seruan : “ Wahai anak Adam, engkau tidak membawa perbekalan dari tempat yang ramai menuju ke tempat yang rusak. Engkau tidak membawa kekayaanmu kepada kefakiran ini. Engkau tidak membawa cahaya ke tempat yang gelap ini “.

    Pada saat mayit diletakkan di lubang kubur, mayit dipanggil dengan 3 (tiga) kali seruan : “ Wahai anak Adam, disaat engkau berada diatas punggungku engkau banyak tertawa, sekarang engkau berada di perutku dengan menangis. Engkau berada di punggungku dengan bergembira, sekarang engkau berada di perutku dengan kesusahan. Engkau berada di atas punggungku bisa berbicara, sekarang engkau berada di perutku dengan berdiam “.

    Ketika orang-orang yang mengantar pergi meninggalkan si mayit sendirian didalam kubur, maka Allah berfirman : “ Wahai hamba-Ku, sekarang engkau tinggal sendirian dalam gelapnya kubur, sedangkan orang-orang sudah meninggalkan dirimu. Engkau telah berbuat durhaka kepada-Ku hanya karena manusia, karena istri dan anak semata. Pada hari ini, Aku lebih mengasihi dirimu dengan rahmat-Ku, dimana besarnya rahmat-Ku melebihi kecintaan makhluk. Rasa belas kasihan-Ku kepadamu jauh melebihi rasa kasih sayang seorang ibu kepada anaknya “.

    ***

    Dikutip dari buku “ Daqa’iqul Akhbar “ yang ditulis oleh Imam Abdur Rahman bin Ahmad Al-Qadli dan diterbitkan oleh Pustaka Hikmah Perdana – Jakarta.

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 4 January 2019 Permalink | Balas  

    Berita Alam Kubur: Ruh Yang Menyeru 

    Berita Alam Kubur

    01 : “ RUH yang MENYERU “

    Segala puji semata hanya bagi Allah SWT, Dzat Yang Menunjukkan kita pada kebenaran agama-Nya, Yang Menyempurnakan serta Meridhai agama-Nya, Yang membukakan pandangan hati orang yang dicintai-Nya, Yang menguasai takdir, Yang menjadi tempat kembali segala urusan. Semoga rahmat dan salam tetap tercurahkan pada nabi Muhammad SAW, yang telah dipilih oleh Allah SWT dari sekian banyak makhluk-Nya, yang dijadikan oleh-Nya sebagai yang terpilih dari yang terbaik. Semoga terlimpah pula kepada keluarga dan keturunannya, kepada semua nabi, semua keluarga mereka,  dan kepada hamba-hamba-Nya yang salih.

    Aisyah ra pernah berkata : Ketika aku sedang duduk bersila didalam rumah, tiba-tiba Rasulullah SAW masuk dengan memberi salam kepadaku. Tatkala aku hendak berdiri untuk menghormati beliau, sebagaimana adat kebiasaanku setiap kali beliau masuk rumah, maka tanpa kuduga beliau berkata : “ Tetaplah duduk di tempatmu tidak perlu engkau berdiri, wahai Ummul Mukminin “.

    Aisyah melanjutkan ceritanya : Rasulullah SAW kemudian tiduran dengan meletakkan kepalanya diatas pangkuanku, beliau tidur dengan telentang. Diatas tengkuknya aku berbuat mencari uban jenggotnya. Akhirnya aku melihat dalam jenggot beliau ada 11 rambut putih. Lalu aku berfikir, dalam hati aku mengatakan bahwa beliau ini akan wafat mendahului aku, maka tinggallah umat ini tanpa ada Nabi. Tanpa terasa aku menangis sampai airmataku mengalir di pipi sehingga menetes ke wajah Rasulullah SAW, beliau langsung terbangun dari tidurnya seraya bertanya : “ Apa yang menyebabkan dirimu menangis, wahai Ummul Mukminin ? “.

    Kemudian aku menceritakan kepada beliau suatu cerita.  Beliau lalu bertanya kepadaku : “ Saat apa yang paling pedih di alam mayit ? “.

    Aku menjawab : “ Tidak ada keadaan yang paling pedih atas diri mayit disaat mayit keluar dari rumahnya, sedangkan anak-anaknya berduka cita dibelakangnya, seraya mengatakan : … aduh… bapak… aduh … Sedangkan ibu dan bapak berkata : … aduh… anakku… aduh … “ .

    Nabi SAW lalu bersabda : “ Yang ini lebih pedih lagi “ . Kemudian aku bertanya : “ Apa yang lebih pedih dari itu ya Rasulullah ? “.  Beliau menjawab : “ Tidak ada keadaan yang paling pedih bagi si mayit ketika ia diletakkan dalam liang kubur kemudian diurug dengan tanah. Setelah itu, kembalilah para kerabatnya, anak-anaknya dan para kekasihnya, mereka semua menyerahkan si mayit kepada Allah Ta’ala beserta perbuatan amalnya. Lalu datanglah malaikat Munkar dan Nakir dalam kuburnya “ .

    Kemudian Nabi SAW bertanya : “ Saat apa yang paling pedih dari kejadian tersebut ? “ . Aku menjawab : “ Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu “ .

    Kemudian beliau bersabda :

    Wahai Aisyah, sesungguhnya keadaan yang paling pedih atas diri si mayit adalah ketika orang yang memandikan masuk kepadanya untuk memandikan dirinya, lalu orang yang memandikan mengeluarkan cincin si mayit muda dari jarinya, melepas baju pengantin dari badannya, melepas surban mayit tua atau mayit alim dari kepalanya guna dimandikan.

    Pada saat itu, ruhnya memanggil sewaktu melihat si mayit dalam keadaan telanjang, dengan suara yang bisa didengar oleh seluruh makhluk, kecuali jin dan manusia. Ruh itu mengatakan : “ Wahai orang yang memandikan, aku meminta kalian supaya mencopot bajuku dengan pelan, sebab aku pada saat ini benar-benar ingin istirahat akibat dari sakitnya tarikan Malaikat Maut tadi “ .

    Ketika orang-orang sedang memandikan mayit, maka berkatalah ruh : “ Wahai orang yang memandikan, kalian jangan memegang aku dengan kuat, sebab jasadku telah luka akibat dari keluarnya ruh “ .

    Setelah selesai dimandikan si mayit diletakkan pada kain kafan, kemudian diikat pada tempat kedua telapak kakinya. Pada saat itu si mayit memanggil-manggil : “ Wahai orang yang memandikan, kalian jangan mengikat kain kafan kepalaku sehingga aku bisa melihat wajah istriku, anak-anakku, dan kaum kerabatku, sebab pada hari ini adalah hari yang terakhir kali aku melihat mereka. Hari ini aku akan berpisah dengan mereka, aku juga tidak akan melihat mereka lagi sampai hari Kiamat tiba “ .  Ketika mayit dikeluarkan dari rumah, maka mayit berseru : “ Wahai golonganku, kutinggalkan istriku dalam keadaan janda, kalian jangan menyakitinya. Kutinggalkan anak-anakku dalam keadaan yatim, kalian jangan menyakitinya, sebab pada hari ini aku keluar rumah dan tidak akan kembali lagi pada mereka untuk selamanya “ .

    Tatkala mayit diletakkan diatas keranda, si mayit berseru : “ Wahai golonganku, kalian jangan tergesa-gesa membawaku, sehingga aku bisa mendengarkan suara istriku, anak-anakku, serta kaum kerabatku, sebab pada hari ini aku akan berpisah dengan mereka sampai hari kiamat “ .

    Pada saat mayit dipikul diatas keranda dan orang-orang yang mengantarkan sudah melangkah 3 (tiga) kali, tiba-tiba ada seruan dengan suara yang bisa didengar oleh segala sesuatu kecuali manusia dan jin. Ruh itu berkata : “ Wahai para kekasihku, wahai para saudaraku, wahai ank-anakku, jangnlah kalian terbujuk oleh tipu daya dunia, sebagaimana dunia telah menipu diriku. Janganlah kalian dipermainkan zaman, sebagaimana zaman telah mempermainkan diriku. Ambillah pelajaran yang aku alami ini, sesungguhnya aku telah meninggalkan semua harta yang telah aku kumpulkan untuk ahli warisku, dan mereka tidak mau menanggung sedikit pun dari kesalahanku. Didalam kubur, Allah menghisab aku, sedangkan kalian bersenang-senang dengan dunia. Kalian juga tidak mendoakan aku ketika kalian menshalati jenasah “ .

    Pada waktu sebagian ahlinya dan teman-temannya kembali dari tempat shalat, maka ruh berkata : “ Wahai saudaraku, aku mengetahui bahwa mayit itu lupa di kala hidupnya, tetapi kalian jangan melupakan aku secepat ini sebelum kalian menanamku, sehingga aku bisa melihat pada tempatku. Wahai saudaraku, aku mengetahui bahwa wajah mayit lebih dingin daripada air yang dingin menurut perasaan hati orang yang masih hidup, tetapi kalian janganlah kembali secepat ini “ .

    Ketika si mayit diletakkan di dekat kuburnya, ruh berkata : “ Wahai golonganku, wahai saudara-saudaraku, aku telah mendoakan kalian tetapi kalian tidak pernah mendoakan diriku “ .

    Saat mayit diletakkan dalam kuburnya, ruh berkata : “ Wahai ahli warisku, aku tidak mengumpulkan harta yang banyak kecuali aku tinggalkan untuk kalian, maka ingatlah kalian kepadaku dengan memperbanyak kebaikan seperti yang telah aku ajarkan kepada kalian tentang isi Al-Qur’an dan tatakrama, janganlah kalian lupa untuk mendoakan aku “ .

    ***

    Dikutip dari buku “ Daqa’iqul Akhbar “ yang ditulis oleh Imam Abdur Rahman bin Ahmad Al-Qadli dan diterbitkan oleh Pustaka Hikmah Perdana – Jakarta.

     
  • erva kurniawan 2:03 am on 3 January 2019 Permalink | Balas  

    Dunia Yang Mempesona 

    Dunia Yang Mempesona

    Zaid bin Arqam berkata, “Kami pernah bersama Abu Bakar ash-Shiddiq ra, kemudian ia meminta minuman, maka dibawakan kepadanya air dan madu. Ketika minuman itu didekatkan ke mulutnya, tiba-tiba ia menangis sehingga para sahabatpun ikut menangis. Para sahabat berhenti menangis tapi ia terus menangis. Abu Bakar ra tak henti menangis sehingga para sahabatnya menduga mereka takkan mampu menanyakan sebabnya. Hingga akhirnya Abu Bakar ra mengusap kedua matanya, dan segera para sahabat menanyakan padanya, “Wahai khalifah Rasulullah, apa gerangan yang menyebabkan engkau menangis?”. Abu bakar ra lantas lantas menjawab, “(Aku teringat ketika) Pernah aku bersama Rasulullah SAW, kemudian aku melihat ia menolak sesuatu dari dirinya, padahal aku tidak melihat seorangpun bersama beliau. Maka aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah sesuatu yang baru saja engkau tolak dari dirimu?” . Rasulullah menjawab, “Baru saja ‘dunia’ menjelma dalam sesuatu bentuk dari dirinya. Maka aku berkata padanya,

    ‘Menjauhlah engkau!’, lalu dunia itu pergi, namun kembali beberapa saat kemudian dan berkata padaku, ‘Sesungguhnya engkau dapat menyelamatkan diri dariku (pesona dunia), tapi niscaya orang-orang sesudahmu tidak akan dapat menyelamatkan diri dariku (pesona dunia). (diriwayatkan oleh al-Bazzar dan al-Hakim, dishahihkan sanadnya)

    Inilah pesona dunia, pesona yang telah membuat banyak orang siap menghamba pada dunia untuk mendapatkannya. Pesona pantai yang indah hingga gunung yang sejuk, pesona mobil yang nyaman hingga kapal pesiar yang mewah, pesona tanah yang luas dan rumah yang besar hingga pesona pusat-pusat hiburan keluarga yang bertebaran, pesona layanan kelas satu di restoran mewah hingga pesona menikmati perjalanan kelas satu ke kota-kota indah di dunia ini, pesona barang elektronik canggih hingga teknologi otomatisasi yang memudahkan gaya hidup manusia, pesona memiliki banyak anak hingga pesona dihormati banyak orang, pesona memiliki uang banyak yang siap membeli apapun yang kita ingini, pesona wanita cantik hingga pesona makanan dan minuman lezat, halal maupun haram, dan masih ada berjuta-juta jenis lagi pesona dunia yang siap menghibur para pecinta pesona dunia.

    Sedemikian banyak manusia yang memanfaatkan waktu dan masa sehatnya untuk menikmati pesona dunia jauh dari kebutuhan dasar / normal yang diperlukan. Harta yang berlebih digunakannya untuk menikmati fasilitas dunia atau untuk bermalas-malas di rumahnya yang nyaman, berjudi atau menikmati narkoba. Para pecinta syahwat sibuk menyenangkan syahwat perut dan kemaluannya sepuas-puasnya sesuai daya belinya, bukan lagi sesuai syariat Islam. Para pecinta kekuasaan berusaha menggunakan kekuasaan dan uangnya untuk menciptakan kekaguman dan rasa hormat orang lain pada dirinya. Para pecinta dunia yang memiliki fisik yang indah atau bakat seni atau memiliki otak yang encer berusaha memamerkan kelebihannya untuk mendapatkan pujian dan pengaruh. Para pecinta dunia yang pandai berdagang sibuk bekerja keras untuk meraih laba dan menumpuk uang sebanyak-banyaknya serta memuaskan ambisi karirnya secara berlebihan. Para pecinta dunia yang sayang anak dan keluarga sibuk mencari harta dan pengaruh untuk

    menaikkan derajat keluarga dan kehormatan keturunannya.

    Untuk mendapatkan pesona dunia tersebut manusia menghabiskan sebagian besar waktunya bekerja keras untuk dunia. Pikiran para pencinta dunia lebih terfokus pada duniawi sehingga memberi tempat yang sedikit atau bahkan tak ada tempat bagi akhirat di hatinya. Bisa jadi para pecinta dunia adalah orang-orang yang sopan, ramah, suka menolong, namun semua itu dilakukannya dalam kerangka duniawi. Mereka berbuat baik untuk mendapatkan kepercayaan dan kehormatan dunia, niatnya bukan untuk mendapatkan keridhaan Allah. Sebagian orang bahkan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan pesona dunia, yaitu dengan korupsi, merampok, mencuri, menganiaya, menipu, memperkosa atau membodohi orang lain.

    Dunia Yang Menipu dan Melalaikan

    1. Kehidupan dunia adalah kehidupan yang rendah dan sementara.

    Allah mengilustrasikannya seperti air hujan yang menyuburkan tumbuhan sampai jangka waktu tertentu dan akhirnya tumbuhan itu menjadi kering. Allah berfirman, ”Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu adalah seperti air hujan yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai pula perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan ia laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada orang-orang yang berpikir.” (QS 10: 24).

    1. Kehidupan dunia hanyalah permainan, melalaikan dan kesenangan yang menipu.

    Firman Allah SWT : ”Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS, Al-Hadid : 20)

    Firman Allah SWT : “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”. (QS, Ali Imran : 14).

    Firman Allah SWT : Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syetan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. (QS, Fathir : 5)

    1. Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sesungguhnya, kehidupan yang kekal.

    Firman Allah SWT : “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal”. (QS, Al A’la 16-17)

    Firman Allah SWT : “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”. (QS, Al-’Ankabut : 64)

    Firman Allah SWT : “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri dan dia ingat akan Tuhannya, lalu dia shalat. Tetapi kamu (orang yang ingkar) memilih dunia, padahal akhirat itu jauh lebih baik dan lebih kekal”. (QS, Al A’laa :14-17)

    Dunia Yang Dicintai dan Ancaman Allah SWT

    Inilah ancaman-ancaman Allah SWT bagi para pecinta dunia.

    Firman Allah SWT : “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan”. (QS, Yunus 7 – 8)

    Firman Allah SWT : “Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahanam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (QS, Hud 15 – 16).

    Firman Allah SWT : “Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan): “Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik”. (QS, Al-Ahqaf:20)

    Firman Allah SWT : “Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?” (QS, Hud 15-16)

    Firman Allah SWT : “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainulyaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (QS, At-Takatsur: 1-5).

    Dunia Yang Tidak Ada Nilainya

    Para pecinta dunia hanya berpikir bahwa adalah tak mungkin dan sia-sia kalau Tuhan menciptakan dunia yang sangat sempurna ini, yang luas dan lengkap ini selain untuk dinikmati. Bahkan mereka berpikir tak mungkin Tuhan akan menghancurkan dunia ciptaan-Nya sendiri yang demikian menakjubkan ini melalui suatu bencana kiamat. Pencinta dunia hanya takjub kepada dunia yang luar biasa ini dan tidak pada akhirat karena mereka tidak tahu gambaran mengenai akhirat.

    Rasulullah SAW telah menggambarkan betapa kecilnya nilai dunia ini dibanding akhirat dalam beberapa hadits sbb :

    1. Nilai dunia tidak ada artinya dibanding dengan nilai akhirat.

    Demi Allah, dunia ini dibanding akhirat ibarat seseorang yang mencelupkan jarinya ke laut; air yang tersisa di jarinya ketika diangkat itulah nilai dunia” (dari Al-Mustaurid ibn Syaddad r.a, Hadits Riwayat Muslim). Inilah penggambaran luar biasa yang menunjukkan betapa tak ada nilainya dunia ini dibanding keluarbiasaan alam akhirat.

    1. Nilai dunia lebih hina bagi Allah dibanding dari nilai bangkai seekor kambing cacat dalam pandangan manusia.

    Jabir bin Abdullah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW berjalan melewati pasar sementara orang-orang berjalan di kanan kiri beliau. Beliau melewati seekor anak kambing yang telinganya kecil dan sudah menjadi bangkai. Beliau lalu mengangkatnya dan memegang telinganya, seraya bersabda : “Siapa diantara kalian yang mau membeli ini dengan satu dirham (saja)?”. Mereka menjawab, “Kami tidak mau membelinya dengan apapun. Apa yang kami bisa perbuat dengannya?” Kemudian beliau SAW bertanya, “Apakah kamu suka ia menjadi milikmu?”. Mereka menjawab, “Demi Allah, seandainya ia hidup ia adalah aib (cacat), ia bertelinga kecil, apalagi setelah ia menjadi bangkai?”. Maka beliau SAW bersabda, “Demi Allah, dunia ini lebih hina bagi Allah daripada bangkai ini dalam pandangan kalian.” (HR Muslim). Ibarat anak kambing yang cacat dan telah jadi bangkai pula, maka tak seorangpun yang mau memilikinya bahkan memandangnya apalagi menyimpannya; demikianlah Rasulullah SAW menggambarkan

    bagaimana Allah SWT menilai dunia ini yang diibaratkan lebih rendah dan hina dari bangkai kambing.

    1. Dunia tidak ada nilainya di sisi Allah, bahkan seberat sayap nyamuk sekalipun..

    Sahal Ibn Sa’ad as-Sa’idi ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda : “Seandainya dunia itu ada nilainya disisi Allah bahkan seberat sayap nyamuk sekalipun, tentu Dia tidak akan sudi memberi minum pada orang kafir meskipun seteguk air.” (HR Tirmidzi, shahih). Hadits ini juga memberi makna bahwa rezeki dan kebahagiaan dunia juga diberikan Allah pada orang kafir maupun fasik, bahkan sering diberikan lebih banyak dibanding yang Ia berikan kepada orang-orang yang sholeh, ini karena nilai dunia yang sangat tidak ada artinya dibanding akhirat.

    Dunia Adalah Ladang Amal Bagi Akhirat

    Setiap muslim harus mempertimbangkan kepentingan akhirat dalam setiap aktivitasnya. Allah berfirman, ”Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedangkan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka, apakah kamu tidak memahaminya? Maka, apakah orang yang Kami janjikan kepadanya suatu janji yang baik (surga) lalu ia memperolehnya, sama dengan orang yang Kami berikan kepadanya kenikmatan hidup duniawi, kemudian dia pada hari kiamat termasuk orang-orang yang diseret (ke dalam neraka)?” (QS 28: 60-61).

    Rasulullah SAW bersabda: “Dunia ini adalah ladang untuk bercocok tanam (tempat melakukan amal ibadah dan amal kebajikan) yang hasilnya dipanen kelak di negeri akhirat.”

    Imam Ghozali dalam bukunya Ihya’ Ulumuddin menasihatkan bahwa cara-cara yang baik untuk mensikapi dunia secara bijaksana adalah menghindarkan diri kedalam sikap berlebih-lebihan (tafrith) ataupun serba kekurangan (ifrath) dalam segala sesuatunya. Cukup mengambil kebutuhan dunia yang sedang-sedang saja, yaitu secukupnya sesuai kebutuhan dasar yang dibutuhkan agar cukup beribadah secara baik. Gambarannya sbb :

    1. Dunia diambil seperlunya saja sesuai kebutuhan pokok Syahwat (perut dan kemaluan) dikendalikan sesuai dengan batasan-batasan syariat dan akal sehat. Tidak memperturutkan setiap syahwat, namun tidak meninggalkannya sama sekali. Jalan tengah yang adil dan sedang-sedang saja adalah yang terbaik.
    2. Ia makan sekedar bisa memperkuat badannya agar bisa melaksanakan ibadah, ia memiliki rumah sekedar terhindar dari panas, dingin dan pencurian, ia memiliki pakaian secukupnya sesuai kebutuhan dasar untuk bekerja, untuk bergaul dengan orang-orang baik, dan untuk beribadah (sholat).
    3. Bila hati sudah selesai dengan kesibukan badan (bekerja) maka ia mengisinya dengan memperbanyak mengingat Allah SWT, dengan dzikir, sholat dan ibadah lainnya. Dengan cara ini kebutuhan syahwatnya lebih terkendali penggunaannya selalu di jalan Allah.

    Disarikan dari Hakikat Dunia (Mahyudin Purwanto ), Hakikat Perilaku Zuhud (Muhammad Irfan Helmy), Kehidupan Dunia (Firdaus MA), Kitab Riyadhus Shalihin (Imam Nawawi), dll., Mensucikan Jiwa, ringkasan Ihya Ulumuddin Al Gahzali, Sa’id Hawwa.

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 2 January 2019 Permalink | Balas  

    Bolehkah Ruqyah Sebagai Profesi? 

    Bolehkah Ruqyah Sebagai Profesi?

    Pendahuluan

    Ruqyah adalah mengobati orang yang terkena kesurupan, gangguan atau kemasukan jin. Ruqyah syar`iyah adalah mengobati orang yang terkena kesurupan , gangguan atau kemasukan jin dengan cara-cara yang di syariatkan Islam, yaitu dengan ayat-ayat Alquran, Asma`ul husna, do`a- do`a yang berasal dari Alquran dan hadis. Islam melarang ruqyah dengan bantuan dukun, sihir, jin dan cara-cara lain yang bertentangan dengan Islam.

    Nabi mengizinkan ruqyah dengan Alquran, dzikir-dzikir, dan do`a-do`a selama tidak menngaundung syirik atau perkataan yang tidak bisa dimengerti maknanya. Berdasarkan hadis di bawah ini:

    Dari `Auf Bin Malik, Ia berkata, “Kami meruqyah di masa jahiliyyah , lalu kami berkata, Wahai Rasulullah! Bagaimana pendapat Anda tentang hal itu?` Beliau menjawab, Perlihatkanlah ruqyah kalian kepadaku. Tidak mengapa melakukan ruqyah selama tidak mengandung syirik.” (HR. Muslim dan Abu Dawud).

    Para ulama telah bersepakat membolehkan ruqyah, apabila menurut kategori yang disebutkan tadi, serta menyakini bahwa ia adalah sebagai sebab, tidak ada pengaruh baginya kecuali dengan taqdir Allah I. Adapun menggantungkan sesuatu di leher atau mengikatnya di salah satu anggota tubuh seseorang, jika bukan berasal dari Alquran, hukumnya haram, bahkan syirik. Berdasarkan hadits di bawah ini:

    Dari Imran bin Al Husain, bahwa Nabi melihat seseorang di tangannya ada gelang dari kuningan. Beliau bersabda,”Sesungguhnya ia tidak menambahkan anda selain kelemahan, lemparkanlah dari anda. Sesungguhnya jika anda meninggal dan dia tetap bersama anda, anda tidak akan beruntung selamanya.” (HR. Ibnu Majah, Ahmad. Dihasankan Al Bushairi dalam Az Zawaa`id).

    Dan hadis yang diriwayatkan dari Uqbah bin Nafi` dari Nabi beliau bersabda, “Barang siapa yang meanggantung tamimah, semoga Allah tidak mengabulkan keinginannya, dan barang siapa menggantung wada`ah, semoga Allah tidak mmberi ketenangan padaa dirinya.” (HR. Ahmad).

    Dari Ibnu mas`ud saya mendengar Rasulullah bersabda, “sesungguhnya ruqyah, tama`im dan tiwalah adalah syirik.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

    “Barang siapa menggantungkan tamimah, berarti dia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad).

    Jika yang digantungkan adalah dari ayat-ayat Al Quran, maka pendapat yang shahih adalah dilarang pula karena tiga alasan :

    1. Bersumber dari hadits-hadaits nabi yang melarang menggantungkan tamimah dan tidak ada dalil yang mengkhususkannya.
    2. Menutup jalan, karena hal itu bisa membawa kepada menggantungkan yang bukan dari Alquran.
    3. Jika ia menggantungkan dari yang demikian itu (Alquran), menjadi penghinaan dengan membawa serta di waktu buang air, istinja` dan jima` (bersetubuh), serta yang semisal dengannya.1

    Hukum Mengambil Upah Dari Meruqyah

    Perlu diketahui, bahwa bacaan ruqyah tidak akan berguna terhadaap orang yang sakit kecuali dengan beberapa syarat :

    1. Pantasnya orang yang meruqyah adalah seorang yang baik, shalih, istiqamah dalam melaksanakan yang wajib, sunah, menghindari yang haram dan syubhat.
    2. Tidak menentukan upah atas orang yang sakit, menjauhkan diri dari mengambil upah yang lebih dari kebutuhannya. Maka semua itu lebih mendukung kemanjuran ruqyahnya.
    3. Mengenal ruqyah-ruqyah yang dibolehkan dalam syariat.
    4. Orang yang sakit adalah orang yang sholeh ,baik , istiqamah dalam beragama dan jauh dari yang diharamkan.
    5. Orang yang sakit menyakini bahwa Al Quran adalah pernawar ,rahmat dan obat yang berguna.2

    Seharusnya Seorang raaqi/ yang meruqyah (berniat) berbuat baik dengan ruqyahnya untuk manfaat kaum muslimin dan mengharapkan pahala dari Allah dalam mngobati umat islam yang sakit, menghilangkan bahaya dari mereka, dan tidak mengharapkan upah atas ruqyahnya. Teatpi ia menyerahkan perkaranya pada pasien. Jika mereka memberikan kepadaya melebihi jerih payahnya, ia mesti bersikap zuhud dan mengembalikannya. Jika upahnya kurang dari haknya, ia mesti membiarkan kekurangannya.

    Syekh Abdullah Al Jibrin berkata, ” Tidak ada halangan mengambil upah atas ruqyah syar`iyyah dengan syarat kesembuhan dari sakit.” Dalinya adalah hadits riwayat Abu Sa`id , bahwasannya teman mereka meruqyah pemimpin suku tersebut setelah ada kesepakatan antara mereka atas upah sekelompok kambing, lalu mereka pun menepatinya. Nabi bersabda:

    “Bagilah dan tentukanlah satu bagian untukku bersama kalian.” ( H.R. Bukhari Muslim ). ” Sesungguhnya upah yang paling pantas kamu ambil adalah kitabullah (Alquran).” (HR. Bukhari).

    Beliau menetapkan kepada mereka penentuan syarat dan mereka pun memberikan bagian untuk beliau sebagai tanda kebolehannya, namun dengan syarat ia melakukan ruqyah syar`iyyah. Jika bukan ruqyah syar`iyyah maka tidak boleh. dan tidak disyariatkan melainkan setelah selamat dari sakit ( setelah sembuh ) dan hilangnya penyakit. Dan yang utama dalam membaca ruqyah adalah tidak memberi syarat, dan melakukan ruqyah untuk manfaat orang-orang beriman serta menghilangkan bahaya dan sakit. Dan jika memberikan syarat maka janganlah memberikan syarat yang ketat, namun sekadar keperluan mendesak.

    Hadits Abu Sa`id Al Khudry tersebut adalah menunjukkan bolehnya ruqyah dan mengambil upah atasnya. Syaikh Abdullah Al Jibrin juga mengatakan, ” Kami katakan bahwa sesungguhnya dokter yang mengobati, apabila mensyaratkan upah tertentu , maka harus disyaratkan sembuh dan selamat dari sakit yang ditanganinya, kecuali apabila mereka sepakat untuk memberikan senilai biaya pengobatan dan obat-oabatan. Adapun jimat semacam ini, pada dasarnya adalah ruqyah, maksudnya membacakan atas pasien serta meludah disertai sedikit air liur.

    Demikian pula penulisan ayat-ayat di kertas dan seumpamanya dengan air za`faran, boleh mengambil upah atas yang demikian sebagai imbalan obat-obatan. Dan seperti ini air bersih dan minyak. Apabila dibacakan ayat-ayat Al Quran padanya, maka boleh baginya mengambil nilai biasanya, tanpa berlebih-lebihan dalam penetapan tarif yang tidak sebanding. 3

    Hukum Ruqyah Sebagai Profesi Dan Mendirikan Tempat Prakteknya

    Syaikh Shalih Al fauzan pernah ditanya, “Apa pendapat Syaikh tentang orang yang membuka praktek pengobatan dengan bacaan ruqyah?.”

    Beliau menjawab, “Ini tidak boleh dilakukan karena ia membuka pintu fitnah, membuka pintu usaha bagi yang berusaha melakukan tipu muslihat. Ini bukanlah perbuatan As-Salafush Shalih bahwa mereka membuka rumah atau membuka tempat-tempat untuk tempat praktek. Melebarkan sayap dalam hal ini akan menimbulkan kejahatan, kerusakan masuk di dalamnya dan ikut serta di dalamnya orang yang tidak baik. Karena manusia berlari di belakang sifat tamak, ingin menarik hati manusia kepada mereka, kendati dengan melakukan hal yang diharamkan. Dan tidak boleh dikatakan,”Ini adalah orang shalih.” Karena manusia mendapat fitnah, semoga allah memberi perlindungan. Walaupun dia orang shalih maka membuka pintu ini tetap tidak boleh.” 4

    Banyak manusia berkenyakinan tentang kekhususan tertentu yang dimiliki oleh orang yang telah melakukan ruqyah (raaqi), sehingga mereka mempunyai anggapan (bersikap ghuluw/berlebihan) terhadap raaqi tentang apa-apa yang dibaca ketika sedang meruqyah. Aslinya dalam syariat Islam adalah saddu dzari`ah (mencegah bahaya) karena pekerjaan ruqyah ini kadang-kadang membuka pintu kejahatan dan kesesatan bagi ahli Islam. Cara-cara seperti ini (mengambil ruqyah sebagai profesi) tidak pernah ada (dasarnya) dari Nabi saw. dan tidak pula dikerjakan oleh satupun dari sahabatnya, serta tidak pernah dikerjakan salah seorang dari ahli ilmu dan ahli kemuliaan, walaupun mereka ada keperluan. Pada dasarnya kita harus mengikuti dan mencontoh mereka (Nabi, para sahabatnya, ahli ilmu, dan ahli kemuliaan). 5

    Pada dasarnya bila seseorang menjadikan ruqyah sebagai profesi, ia akan disibukkan oleh urusan ini dan meninggalkan urusan-urusannya yang lain. Terkecuali bila seseorang tadi mempunyai pekerjaan dan tidak menjadikan ruqyah sebagai profesinya serta tidak membuka praktek, maka hal itu boleh-boleh saja. Dan dia hanya melanyani masyarakat yang membutuhkan bantuannya untuk diruqyah karena diganggu setan. Dia niatkan ruqyahnya untuk tolong menolong dalam kebaikan, amar ma`ruf nahi munkar, memerangi setan dan jin yang mengganggu manusia dan mengharapkan ridha Allah semata. Dia tidak mengharapkan upah dari manusia dan tidak menetapkan tarif besar kecilnya dari manusia. Bila di tengah-tengah ia meruqyah ada yang ikut (maksudnya adalah diberi upah), maka bila ia memerlukan boleh diambil. Dan bila ia tidak memerlukannya karena sudah merasa cukup, maka boleh tidak diambil sebagai sikap zuhud pada apa yang ada ditangan manusia. Karena pada dasarnya ia hanya mengharapkan ridha Allah dan wajah-Nya serta menolong manusia yang membutuhkan bantuannya. Melakukan ruqyah dengan niat seperti ini adalah dibolehkan dan disyariatkan .

    Adapun bila ia melakukan ruqyah hanya dipakai sebagai profesi saja, membuka praktek, dan memasang tarif yang tinggi serta tidak ada unsur untuk membantu masyarakat yang membutuhkan pertolongannya. Maka meruqyah dengan niat seperti ini, jelas bertentangan dengan syariat. Wallahu A`lam Bish Shawab.

    Sumber:

    1. Zadul Ma`ad, Ibnu Qayyim Al Jauziyyah.
    2. Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid Syekh Muhammad bin Abdul Wahab.
    3. Al Qaul Mufid Fi Kitabut Tauhid, Syekh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
    4. Syarah Kitab Aqidah At Thawiyyah, Imam Abil Izz
    5. Fatwa-fatwa terkini, Imam Baladul Haram.
    6. Aqidah Mukmin, Syaikh Abu Bakar Al Jazaairi.
    7. Minhaj Al-Syar`i Fi `Ilaaji Al Massi Wa Al Shura`i.
    8. Fataawa Lajnah Daaimah.
    9. Alam Jin dan Manusia, Ustadz Abu Umar Abdillah.
    10. Fathul Bari, Imam Ibnu Hajar.
    11. Shahih Muslim Syarah Imam Nawawi.
    12. Idhaahu Ad Dalaalah Fii `Umuumi Al risalah.

    ***

    Sumber: alirsyad.or.id

    Lembaga Mudzakarah Al Irsyad Al Islamiyyah

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 1 January 2019 Permalink | Balas  

    Sumber Nilai Islam (3) 

    Sumber Nilai Islam (3)

    AS-SUNNAH / AL-HADITS

    1. Dasar Pengertian.

    Secara etimologis hadits bisa berarti :

    Baru, seperti kalimat : ” Allah Qadim mustahil Hadits “. Dekat, seperti : ” Haditsul ” ahli bil Islam “. Khabar, seperti : “Falya’tu bi haditsin mitslihi “.

    Dalam tradisi hukum Islam, hadits berarti : Segala Perbuatan, Perkataan, dan Keizinan Nabi Muhammad saw. ( Af ‘al, Aqwal dan Taqrir ). Pengertian hadits sebagaimana tersebut diatas adalah identik dengan Sunnah, yang secara etimologis berarti jalan atau tradisi, sebagaimana dalam Al-Qur’an : ” Sunnata man qad arsalna ” ( al-Isra :77 ). Juga dapat berarti : Undang-undang atau peraturan yang tetap berlaku; Cara yang diadakan; Jalan yang telah dijalani;.

    Ada yang berpendapat antara Sunnah dengan Hadits tersebut adalah berbeda-beda. Akan tetapi dalam kebiasaan hukum Islam antara Hadits dan Sunnah tersebut hanyalah berbeda dalam segi penggunaannya saja, tidak dalam tujuannya.

    1. As-Sunnah Sebagai Sumber Nilai.

    Sunnah adalah sumber Hukum Islam ( Pedoman Hidup Kaum Muslimin ) yang kedua setelah Al-Qur’an. Bagi mereka yang telah beriman kepada Al-Qur’an sebagai sumber hukum, maka secara otomatis harus percaya bahwa Sunnah sebagai sumber Islam juga.

    Ayat-ayat Al-Qur’an cukup banyak untuk dijadikan alasan yang pasti tentang hal ini, seperti :

    • Setiap mu’min harus taat kepada Allah dan Rasul-nya ( al-Anfal :20, Muhammad :33, an-Nisa :59, Ali-Imran :32, al-Mujadalah : 13, an-Nur : 54,al-Maidah : 92 ).
    • Kepatuhan kepada Rasul berarti patuh dan cinta kepada Allah ( an-Nisa :80, Ali-Imran :31 ).
    • Orang yang menyalahi Sunnah akan mendapatkan siksa ( an-Anfal :13, Al-Mujadalah :5, an-Nisa :115 ).
    • Berhukum terhadap Sunnah adalah tanda orang yang beriman. ( an-Nisa’:65 ). Kemudian perhatikan ayat-ayat : an-Nur : 52; al-Hasyr : 4; al-Mujadalah : 20; an-Nisa’: 64 dan 69; al-Ahzab: 36 dan 71; al-Hujurat :1; al-Hasyr : 7 dan sebagainya.

    Apabila Sunnah tidak berfungsi sebagai sumber hukum, maka kaum Muslimin akan menghadapi kesulitan-kesulitan dalam hal : cara shalat, kadar dan ketentuan zakat, cara haji dan lain sebagainya. Sebab ayat-ayat Al-Qur’an dalam hal tersebut hanya berbicara secara global dan umum, dan yang menjelaskan secara terperinci justru Sunnah Rasullullah SAW.

    Selain itu juga akan mendapatkan kesukaran-kesukaran dalam hal menafsirkan ayat-ayat yang musytarak, muhtamal dan sebagainya yang mau tidak mau memerlukan Sunnah untuk menjelaskannya. Dan apabila penafsiran-penafsiran tersebut hanya didasarkan kepada pertimbangan rasio sudah barang tentu akan melahirkan tafsiran-tafsiran yang sangat subjektif dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.

    1. Hubungan AS-Sunnah dan Al-Qur’an.

    Dalam hubungan dengan Al-Qur’an, maka as-Sunnah berfungsi sebagai penafsir, pensyarah, dan penjelas daripada ayat-ayat tertentu. Apabila disimpulkan tentang fungsi as-Sunnah dalam hubungan dengan Al-Qur’an itu adalah sebagai berikut :

    • Bayan Tafsir, yaitu menerangkan ayat-ayat yang sangat umum, mujmal dan musytarak. Seperti hadits : ” Shallu kama ro-aitumuni ushalli “. ( Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihatku shalat ) adalah merupakan tafsiran daripada ayat Al-Qur’an yang umum, yaitu : ” Aqimush- shalah “, ( Kerjakan shalat ). Demikian pula hadits: ” Khudzu ‘anni manasikakum ” ( Ambillah dariku perbuatan hajiku ) adalah tafsir dari ayat Al-Qur’an ” Waatimmulhajja ” ( Dan sempurnakanlah hajimu ).
    • Bayan Taqrir, yaitu as-Sunnah berfungsi untuk memperkokoh dan memperkuat pernyataan al-Qur’an. Seperti hadits yang berbunyi : ” Shoumu liru’yatihi wafthiru liru’yatihi ” ( Berpuasalah karena melihat bulan dan berbukalah karena melihatnya ) adalah memperkokoh ayat Al-Qur’an dalam surat Al-Baqarah : 185.
    • Bayan Taudhih, yaitu menerangkan maksud dan tujuan sesuatu ayat al-Qur’an, seperti pernyataan Nabi SAW : ” Allah tidak mewajibkan zakat melainkan supaya menjadi baik harta-hartamu yang sudah dizakati “, adalah taudhih ( penjelasan ) terhadap ayat Al-Qur’an dalam surat at-Taubah : 34 yang berbunyi sebagai berikut : ” Dan orang-orang yang menyimpan mas dan perak kemudian tidak membelanjakannya dijalan Allah maka gembirakanlah mereka dengan azab yang pedih “. Pada waktu ayat ini turun banyak para sahabat yang merasa berat untuk melaksanakan perintah ini, maka mereka bertanya kepada Nabi SAW yang kemudian dijawab dengan hadits tersebut.

    4. Perbedaan Antara Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai Sumber Hukum

    Sekalipun al-Qur’an dan as-Sunnah / al-Hadits sama-sama sebagai sumber hukum Islam, namun diantara keduanya terdapat perbedaan-perbedaan yang cukup prinsipil. Perbedaan-perbedaan tersebut antara lain ialah :

    • Al-Qur’an nilai kebenarannya adalah qath’I ( absolut ), sedangkan al-Hadits adalah zhanni ( kecuali hadits mutawatir ).
    • Seluruh ayat al-Qur’an mesti dijadikan sebagai pedoman hidup. Tetapi tidak semua hadits mesti kita jadikan sebagai pedoman hidup. Sebab disamping ada sunnah yang tasyri’ ada juga sunnah yang ghairu tasyri ‘. Disamping ada hadits yang shahih adapula hadits yang dha’if dan seterusnya.
    • Al-Qur’an sudah pasti otentik lafazh dan maknanya sedangkan hadits tidak.
    • Apabila Al-Qur’an berbicara tentang masalah-masalah aqidah atau hal-hal yang ghaib, maka setiap muslim wajib mengimaninya. Tetapi tidak harus demikian apabila masalah-masalah tersebut diungkapkan oleh hadits.

    ***

    KENALILAH AGAMA MU (3/18)

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 31 December 2018 Permalink | Balas  

    Sumber Nilai Islam (2) 

    Sumber Nilai Islam (2)

    1. Sejarah Kodifikasi dan Perkembangan Al-Qur’an

    Allah SWT akan menjamin kemurnian dan kesucian Al-Qur’an, akan selamat dari usaha-usaha pemalsuan, penambahan atau pengurangan-pengurangan. (15:9;75:17-19). Dalam catatan sejarah dapat dibuktikan bahwa proses kodifikasi dan penulisan Qur’an dapat menjamin kesuciannya secara meyakinkan. Al-Qur’an ditulis sejak Nabi SAW masih hidup. Begitu wahyu turun kepada Nabi SAW, Nabi langsung memerintahkan para sahabat penulis wahyu untuk menuliskannya secara hati-hati. Begitu mereka tulis, kemudian mereka hafalkan sekaligus mereka amalkan.

    Pada awal pemerintahan khalifah yang pertama dari Khulafaur Rasyidin, yaitu Abu Bakar Shiddiq, Qur’an telah dikumpulkan dalam mushhaf tersendiri. Dan pada zaman khalifah yang ketiga, ‘Utsman bin ‘Affan, Qur’an telah sempat diperbanyak. Alhamdulillah Qur’an yang asli itu sampai saat ini masih ada.

    Dalam perkembangan selanjutnya, tumbuh pula usaha-usaha untuk menyempurnakan cara-cara penulisan dan penyeragaman bacaan, dalam rangka menghindari adanya kesalahan-kesalahan bacaan maupun tulisan. Karena penulisan Qur’an pada masa pertama tidak memakai tanda baca (tanda titik dan harakat). Maka Al-Khalil mengambil inisiatif untuk membuat tanda-tanda yang baru,yaitu huruf waw yang kecil diatas untuk tanda dhammah, huruf alif kecil diatas sebagai tanda fat-hah, huruf alif yang kecil dibawah untuk tanda kasrah, kepala huruf syin untuk tanda shiddah, kepala ha untuk sukun, dan kepala ‘ain untuk hamzah.

    Kemudian tanda-tanda ini dipermudah, dipotong, dan ditambah sehingga menjadi bentuk yang sekarang ada. Dalam perkembangan selanjutnya tumbuhlah beberapa macam tafsir Qur’an yang ditulis oleh ulama-ulama Islam, yang sampai saat ini tidak kurang dari 50 macam tafsir Qur’an. Juga telah tumbuh pula berbagai macam disiplin ilmu untuk membaca dan membahas Qur’an.

    1. Ilmu-ilmu yang Membahas Hal-hal yang Berhubungan dengan al-Qur’an antara lain :
    • Ilmu Mawathin Nuzul, yaitu ilmu yang membahas tentang tempat-tempat turunnya ayat Qur’an.
    • Ilmu Asbabun Nuzul, yaitu ilmu yang membahas sebab-sebab turunnya ayat Al-qur’an.
    • Ilmu Tajwid, yaitu ilmu yang membahas tentang teknik membaca Al-Qur’an.
    • Gharibil Qur’an, yaitu ilmu yang membahas tentang kalimat-kalimat yang asing artinya dalam Al-Qur’an.
    • Ilmu Wajuh wa Nadhar, yaitu ilmu yang membahas tentang kalimat yang mempunyai banyak arti dan makna apa yang dikehendaki oleh sesuatu ayat dalam Al-Qur’an.
    • Ilmu Amtsalil Qur’an, yaitu ilmu yang membahas tentang perumpamaan-perumpamaan dalam Al-Qur’an.
    • Ilmu Aqsamil Qur’an, yaitu ilmu yang mempelajari tentang maksud-maksud sumpah Tuhan dalam Al-Qur’an.
    • Dan masih banyak lagi.

    4. Pembagian Isi al-Qur’an

    Al-Qur’an terdiri dari 114 surat; 91 surat turun di Makkah dan 23 surat turun di Madinah. Ada pula yang berpendapat, 86 turun di Makkah, dan 28 di Madinah. Surat yang turun di Makkah dinamakan surat Makkiyyah, pada umumnya suratnya pendek-pendek, menyangkut prinsip-prinsip keimanan dan akhlaq, panggilannya ditujukan kepada manusia.

    Sedangkan yang turun di Madinah disebut surat Madaniyyah, pada umumnya suratnya panjang-panjang, menyangkut peraturan-peraturan yang mengatur hubungan seseorang dengan Tuhan atau seseorang dengan lainnya ( syari’ah ). Diperkirakan 19/30 juz turun di Madinah.

    Atas inisiatif para ulama maka kemudian Al-Qur’an dibagi-bagi menjadi 30 juz. Dalam tiap juz dibagi-bagi kepada setengah juz, seperempat juz, maqra dan lain-lain.

    1. Nama-nama al-Qur’an

    Al-Kitab = Tulisan yang Lengkap ( 2:2 ).

    Al-Furqan = Memisahkan yang Haq dari yang Bathil ( 25:1 ).

    Al-Mau’idhah = Nasihat ( 10:57 ).

    Asy-Syifa’ = Obat ( 10:57 ).

    Al-Huda = Yang Memimpin ( 72:13 ).

    Al-Hikmah = Kebijaksanaan ( 17:39 ).

    Al-Hukmu = Keputusan ( 13:37 ).

    Al-Khoir = Kebaikan ( 3:103 ).

    Adz-Dzikru = Peringatan ( 15:9 ).

    Ar-Ruh = Roh ( 42:52 ).

    Al-Muthohharoh = Yang Disucikan ( 80:14 ).

    1. Nama-nama Surat Berdasarkan Urutan Turunnya

    Makkiyah.

    Al-‘Alaq, Al-Qalam, Al-Muzammil, Al-Muddatstsir, Al-Fatihah, Al-Masad (Al-Lahab), At-Takwir, Al-A’la, Al-Lail, Al-Fajr, Adh-Dhuha, Alam Nasyrah (Al-Insyirah), Al-‘Ashr, Al-‘Adiyat, Al-Kautsar, At-Takatsur, Al-Ma’un, Al-Kafirun, Al-Fil, Al-Falaq, An-Nas, Al-Ikhlas, An-Najm, ‘Abasa, Al-Qadar, Asy-Syamsu, Al-Buruj, At-Tin, Al-Quraisy, Al-Qari’ah, Al-Qiyamah, Al-Humazah, Al-Mursalah, Qaf, Al-Balad, Ath-Thariq, Al-Qamar, Shad, Al-A’raf, Al-Jin, Yasin, Al-furqan, Fathir, Maryam, Thaha, Al-Waqi’ah, Asy-Syu’ara, An-Naml, Al-Qashash, Al-Isra, Yunus, Hud, Yusuf, Al-Hijr, Al-An’am, Ash-Shaffat, Lukman, Saba’, Az-Zumar, Ghafir, Fushshilat, Asy-Syura, Az-Zukhruf, Ad-Dukhan, Al-Jatsiyah, Al-Ahqaf, Adz-Dzariyah, Al-Ghasyiah, Al-Kahf, An-Nahl, Nuh, Ibrahim, Al-Anbiya, Al-Mu’minun, As-Sajdah, Ath-Thur, Al-Mulk, Al-Haqqah, Al-Ma’arij, An-Naba’, An-Nazi’at, Al-Infithar, Al-Insyiqaq, Ar-Rum, Al-Ankabut, Al-Muthaffifin, Az-Zalzalah, Ar-Ra’d, Ar-Rahman, Al-Insan, Al-Bayyinah.

    Turunnya surah-surah Makkiyyah lamanya 12 tahun, 5 bulan, 13 hari, dimulai pada 17 Ramadhan 40 tahun usia Nabi. ( Febr.610 M ).

    Madaniyyah.

    Al-Baqarah, Al-Anfal, Ali-Imran, Al-Ahzab, Al-Mumtahanah, An-Nisa’, Al-Hadid, Al-Qital, Ath-Thalaq, Al-Hasyr, An-Nur, Al-Haj, Al-Munafiqun, Al-Mujadalah, Al-Hujurat, At-Tahrim, At-Taghabun, Ash-Shaf, Al-Jum’at, Al-Fath, Al-Maidah, At-Taubah dan An-Nashr (1).

    1. Susunan Al-Qur’an dalam Sistematika yang ada Sekarang.

    Al-Fatihah, Al-Baqarah, Ali-Imran, An-Nisaa’, Al-Maa-idah, Al-An’aam, Al-A’raaf, Al-Anfaal, At-Taubah, Yunus, Hud, Yusuf, Ar-Ra’d, Ibrahim, Al-Hijr, An-Nahl, Al-Isra’, Al-Kahfi, Maryam, Thaha, Al-Anbiyaa’, Al-Hajj, Al-Mu’minun, An-Nuur, Al-Furqaan, Asy-Syu’ara’, An-Naml, Al-Qashash, Al-Ankabut, Ar-Ruum, Luqman, As-Sajadah, Al-Ahzab, Saba’, Faathir, Yaa Siin, Ash-Shaffaat, Shaad, Az-Zumar, Al-Mu’min, Fushshilat, Asy-Syuura, Az-Zukhruf, Ad-Dukhaan, Al-Jaatsiyah, Al-Ahqaaf, Muhammad, Al-Fat-h, Al-Hujurat, Qaaf, Adz-Dzaariyaat, Ath-Thuur, An-Najm, Al-Qamar, Ar-Rahmaan, Al-Waaqi’ah, Al-Hadiid, Al-Mujaadilah, Al-Hasyr, Al-Mumtahanah, Ash-Shaff, Al-Jumu’ah, Al-Munaafiquun, At-Taghaabun, Ath-Thalaq, At-Tahrim, Al-Mulk, Al-Qalam, Al-Haaqqah, Al-Ma’aarij, Nuh, Al-Jin, Al-Muzzammil, Al-Muddatstsir, Al-Qiyaamah, Al-Insaan, Al-Mursalaat, An-Naba’, An-Naazi’aat, ‘Abasa, At-Takwiir, Al-Infithar, Al-Muthaffifiin, Al-Insyiqaaq, Al-Buruuj, Ath-Thaariq, Al-A’laa, Al-Ghaasyiyah,Al-Fajr, Al-Balad, Asy-Syams, Al-Lail, Adh-Dhuhaa, Alam Nasyrah, At-Tiin, Al-‘Alaq, Al-Qadar, Al-Bayyinah, Al-Zalzalah, Al-‘Aadiyaat, Al-Qaari’ah, At-Takaatsur, Al-‘Ashr, Al-Humazah, Al-Fiil, Al-Quraisy, Al-Maa’un, Al-Kautsar, Al-Kaafiruun, An-Nashr, Al-Lahab, Al-Ikhlash, Al-Falaq, An-Naas.

    ***

    KENALILAH AGAMA MU (2/18)

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 31 December 2018 Permalink | Balas  

    Sumber Nilai Islam (1) 

    Sumber Nilai Islam

    Ketika Rasulullah saw mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, beliau bertanya kepada Mu’adz, ” Dengan pedoman apa anda memutuskan suatu urusan ?”.

    Jawab Mu’adz : Dengan Kitabullah.

    Tanya Rasul : Kalau tidak ada dalam al Qur’an ?

    Jawab Mu’adz : DenganSunnah Rasulullah.

    Tanya Rasul : Kalau dalam Sunnah juga tidak ada?

    Jawab Mu’adz :Saya berijtihad dengan fikiran saya.

    Tanya Rasul : Maha Suci Allah yang telah memberikan bimbingan kepada utusan Rasul-NYA, dengan satu sikap yang disetujui Rasul-NYA (HR. Abu Dawud dan Tarmudzi).

    Dari peristiwa ini dapat diambil kesimpulan tentang nilai dan sumber nilai Islam, yaitu al-Qur’an, Sunnah dan ijtihad. Ayat-ayat al-Qur’an yang mendukung bahwa al-Qur’an, as-Sunnah, dan ijtihad merupakan nilai dan sumber nilai seorang Muslim, dapat kita temukan dalam banyak surat.

    Kesimpulan lain yang dapat diambil dari peristiwa tsb. diatas ialah bahwa penggunaan tiga sumber nilai itu hendaknya; diprioritaskan yang pertama, kemudian yang kedua dan selanjutnya baru yang ketiga. Konsekwensinya adalah apabila bertentangan satu dengan yang lain, maka hendaknya dipilih al-Qur’an terlebih dahulu, kemudian yang kedua al-Hadits.

    Yang perlu dicatat adalah bahwa, sekalipun ketiga-tiganya adalah sumber nilai, akan tetapi antara satu dengan yang lainnya mempunyai tingkat kualitas dan bobot yang berbeda-beda dengan pengaruh hukum yang berbeda-beda pula, namun harus tetap berpokok pada yang pertama.

    A. AL-QUR’AN

    1. Fungsi dan Peranan al-Qur’an

    Al-Qur’an adalah wahyu Allah (7:2) yang berfungsi sebagai mu’jizat bagi Rasulullah Muhammad saw (17:88; 10:38) sebagai pedoman hidup bagi setiap Muslim (4:105; 5:49,50; 45:20) dan sebagai korektor dan penyempurna terhadap kitab-kitab Allah yang sebelumnya (5:48,15; 16:64), dan bernilai abadi.

    Sebagai mu’jizat, Al-Qur’an telah menjadi salah satu sebab penting bagi masuknya orang-orang Arab di zaman Rasulullah ke dalam agama Islam, dan menjadi sebab penting pula bagi masuknya orang-orang sekarang, dan (insya Allah) pada masa-masa yang akan datang.

    Ayat-ayat yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dapat meyakinkan kita bahwa Al-Qur’an adalah firman-firman Allah, tidak mungkin ciptaan manusia apalagi ciptaan Nabi Muhammad saw yang ummi (7:158) yang hidup pada awal abad ke enam Masehi (571 – 632 M). Diantara ayat-ayat tersebut umpamanya : 39:6; 6:125; 23:12,13,14; 51:49; 41:11-41; 21:30-33; 51:7,49 dan lain-lain.

    Demikian juga ayat-ayat yang berhubungan dengan sejarah seperti tentang kekuasaan di Mesir, Negeri Saba’. Tsamud, ‘Ad, Yusuf, Sulaiman, Dawud, Adam, Musa dan lain-lain dapat memberikan keyakinan kepada kita bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah bukan ciptaan manusia.

    Ayat-ayat yang berhubungan dengan ramalan-ramalan khusus yang kemudian dibuktikan oleh sejarah seperti tentang bangsa Romawi, berpecah-belahnya Kristen dan lain-lain juga menjadi bukti lagi kepada kita bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah SWT. (30:2,3,4;5:14).

    Bahasa Al-qur’an adalah mu’jizat besar sepanjang masa, keindahan bahasa dan kerapihan susunan katanya tidak dapat ditemukan pada buku-buku bahasa Arab lainnya. Gaya bahasa yang luhur tapi mudah dimengerti adalah merupakan ciri dari gaya bahasa Al-Qur’an. Karena gaya bahasa yang demikian itulah ‘Umar bin Khattab masuk Islam setelah mendengar Al-Qur’an awal surat Thaha yang dibaca oleh adiknya Fathimah.

    Abul Walid, diplomat Quraisy waktu itu, terpaksa cepat-cepat pulang begitu mendengar beberapa ayat dari surat Fushshilat yang dikemukakan Rasulullah SAW sebagai jawaban atas usaha-usaha bujukan dan diplomasinya.

    Bahkan Abu Jahal musuh besar Rasulullah SAW, sampai tidak jadi membunuh Nabi SAW karena mendengar surat adh-Dhuha yang dibaca Nabi SAW.

    Tepat apa yang dinyatakan Al-Qur’an, bahwa sebab seorang tidak menerima kebenaran Al-Qur’an sebagai wahyu Ilahi adalah salah satu diantara dua sebab, yaitu :

    1. Tidak berpikir dengan jujur dan sungguh-sungguh.
    2. Tidak sempat mendengar dan mengetahui Al-Qur’an secara baik (67:10, 4:82). Oleh Al-Qur’an disebut Al-Maghdhub (dimurkai Allah) karena tahu kebenaran tetapi tidak mau menerima kebenaran itu, dan disebut adh-dhollin (orang sesat) karena tidak menemukan kebenaran itu. Sebagai jaminan bahwa Al-Qur’an itu wahyu Allah, maka Al-Qur’an sendiri menantang setiap manusia untuk membuat satu surat saja yang senilai dengan Al-Qur’an (2:23, 24, 17:88). Sebagai pedoman hidup, Al-Qur’an banyak mengemukakan pokok-pokok serta prinsip-prinsip umum pengaturan hidup dalam hubungan antara manusia dengan Allah dan mahluq lainnya.

    Didalamnya terdapat peraturan-peraturan seperti :

    • beribadah langsung kepada Allah (2:43,183,184,196,197; 11:114),
    • berkeluarga (4:3, 4,15,19,20,25; 2:221; 24:32; 60:10,11),
    • bermasyarakat (4:58; 49:10,13; 23:52; 8:46; 2:143),
    • berdagang (2:275,276,280; 4:29),
    • utang-piutang (2:282),
    • kewarisan (2:180; 4:7-12,176; 5:106),
    • pendidikan dan pengajaran (3:159; 4:9,63; 31:13-19; 26:39,40),
    • pidana (2:178; 4:92,93; 5:38; 10:27; 17:33; 26:40),
    • dan aspek-aspek kehidupan lainnya yang oleh Allah SWT dijamin dapat berlaku dan dapat sesuai pada setiap tempat dan setiap waktu (7:158; 34:28; 21:107).

    Setiap Muslim diperintahkan untuk melakukan seluruh tata nilai tersebut dalam kehidupannya (2:208; 6:153; 9:51). Dan sikap memilih sebagian dan menolak sebagian tata nilai itu dipandang Al-Qur’an sebagai bentuk pelanggaran dan dosa (33:36). Melaksanakannya dinilai ibadah (4:69; 24:52; 33:71), memperjuangkannya dinilai sebagai perjuangan suci (61:10-13; 9:41), mati karenanya dinilai sebagai mati syahid (3:157, 169), hijrah karena memperjuangkannya dinilai sebagai pengabdian yang tinggi (4:100, 3:195), dan tidak mau melaksanakannya dinilai sebagai zhalim, fasiq, dan kafir (5:44,45,47).

    Sebagai korektor Al-Qur’an banyak mengungkapkan persoalan-persoalan yang dibahas oleh kitab-kitab Taurat, Injil, dan lain-lain yang dinilai Al-Qur’an sebagai tidak sesuai dengan ajaran Allah yang sebenarnya. Baik menyangkut segi sejarah orang-orang tertentu, hukum-hukum, prinsip-prinsip ketuhanan dan lain sebagainya.

    Sebagai contoh koreksi-koreksi yang dikemukakan Al-Qur’an tersebut antara lain sebagai berikut :

    1. Tentang ajaran Trinitas (5:73).
    2. Tentang Isa (3:49, 59; 5:72, 75).
    3. Tentang penyaliban Nabi Isa (4:157,158).
    4. Tentang Nabi Luth (29:28-30; 7:80-84) perhatikan, (Genesis : 19:33-36).
    5. Tentang Harun (20:90-94), perhatikan, (keluaran : 37:2-4).
    6. Tentang Sulaiman (2:102; 27:15-44), perhatikan (Raja-raja 21:4-5) dan lain-lain.

    ***

    KENALILAH AGAMA MU (1/18)

     
  • erva kurniawan 2:23 am on 30 December 2018 Permalink | Balas  

    Mengatasi Penyakit Dalih 

    Mengatasi Penyakit Dalih

    Sembilan puluh sembilan persen kegagalan datang dari orang yang punya kebiasaan suka membuat alasan, begitu kata George Washington Carver. Daripada mencari jalan keluar, mereka memilih untuk membuat 1001 dalih mengenai kegagalan mereka. Alhasil, kesempatan belajar pun terlewatkan begitu saja.

    Dalam buku The Magic of Thinking Big, David J. Schwartz menjelaskan mengenai penyakit pikiran yang mematikan alias penyakit dalih (excuisitis). Orang-orang gagal senantiasa berdalih mengenai kegagalan mereka. Penyakit dalih tersebut biasanya muncul 4 bentuk, yaitu: dalih kesehatan, dalih inteligensi, dalih usia dan dalih nasib.

    Dalih kesehatan biasanya ditandai dengan ucapan, “Kondisi fisik saya tidak sempurna”, “Saya tidak enak badan”, “Jantung saya lemah”, dan sejenisnya. Orang sukses tidak pernah menganggap cacatnya itu sebagai hambatan. Saya punya sahabat dekat yang menderita polio namun dikenal sebagai dokter spesialis ginjal sukses dan murah hati. Sejumlah besar tokoh-tokoh dunia bahkan punya cacat fisik. Presiden Amerika ke-32 Franklin Delano Roosevelt menderita polio, Shakespeare lumpuh, Beethoven tuli, Napoleon Bonaparte memiliki postur tubuh yang sangat pendek.

    Dalih inteligensi diitandai dengan ucapan, “Saya kan tidak pintar”, “Saya kan bukan rangking teratas”, “Dia lebih pandai”, dan sejenisnya. Inilah dalih yang paling umum ditemukan. Tanpa bermaksud mengecilkan arti sekolah, saya ingin mengatakan kepa Anda bahwa tidak perlu jadi profesor agar Anda bisa sukses. Selanjutnya, dalih usia yang ditandai dengan ucapan, “Saya terlalu tua”, “Saya masih terlalu muda”, “Biarkan yang lebih tua yang duluan”, dan sejenisnya. Padahal tidak ada batasan usia dalam meraih sukses. Kolonel Sanders memulai usahanya di usia 65 tahun. Berikutnya adalah dalih nasib, misalnya dengan mengatakan , “Aduh, nasib saya memang selalu jelek”, “Itu sudah nasibku”, “Itu memang takdir” Memang amat mudah untuk selalu menyalahkan nasib. Padahal nasib kita ditentukan oleh kita sendiri. Tuhan telah memberikan hidup dengan sejumlah pilihan.

    Baru-baru ini, hati saya tertegun ketika menyaksikan siaran televisi tentang seorang anak kecil yang ahli memainkan drum dalam kebaktian rutin setiap minggunya pada sebuah gereja di Thailand. Titi, nama bocah yang baru berusia 3 tahun itu memang layak dijuluki “drummer cilik”. Bertubuh mungil dengan 2 jari yang tidak sempurna, Titi yang masih suka nge-dot ini menunjukkan kebolehannya menabuh drum. Tak berlebihan jika banyak yang menyarankan agar ia dimasukkan dalam Guiness Book of Record.

    Prestasi yang diraih Titi sungguh menggugah kesadaran saya. Lihatlah betapa banyaknya orang yang memilih berdiam diri daripada melakukan apa yang bisa mereka perbuat. Padahal apapun yang layak diraih layak diupayakan dengan seluruh kemampuan yang kita miliki. Sayangnya, potensi diri ini kerap hanya terkubur karena kebiasan kita membuat dalih jika apa yang kita kerjakan tidak berjalan sesuai harapan kita atau hasilnya tidak segera kelihatan. Gaya hidup modern yang serba instant secara tidak langsung membuat kita sering mengharapkan hasil yang instant pula. Kita kepengen sekali makan durian tanpa mau menanam, menyiram, memupuki dan merawat pohonnya.

    Saya sendiri sempat terkejut membaca cerita tentang ilmuwan besar seperti Albert Einstein yang pernah diusir dari sekolah karena dianggap lamban. Ia bahkan mendapat nilai buruk dalam pelajaran bahasa Yunani karena ingatannya yang lemah. “Tak peduli apa pun yang kamu lakukan, kamu takkan dapat melakukan apa-apa,” kata gurunya. Guru lainnya menimpali, “Kamu Cuma merusak kelas saya!”. Bahkan kepala sekolahnya mengatakan kalau Einstein tidak akan sukses dalam apa pun yang dikerjakannya.

    Saya juga teringat kepada Thomas Alfa Edison yang hanya bersekolah beberapa bulan namun tercatat sebagai pencipta terbesar sepanjang jaman dengan lebih dari 1.000 hak paten. “Saya mempunyai banyak ide tapi hanya sedikit waktu,” ujarnya. Edison gagal di sekolah. Gurunya merasa Edison tidak punya minat belajar, pemimpi dan mudah sekali terpecah konsentrasinya. Yang sungguh membuat saya terharu adalah sikap Ibu Edison terhadap putranya. Ia terus mengajari Edison di rumah dan setiap kali Edison gagal, ibunya memberi harapan dan mendorongnya untuk terus berusaha.

    Kalau orang gagal senantiasa berkata “itu tidak mungkin berhasil” maka orang sukses lebih suka berkata “mengapa tidak mencobanya dulu?”. Daripada membuat alasan, orang sukses memilih untuk mencari cara mewujudkan impian mereka. Daripada berdiam diri dan menunggu datangnya kesempatan, mereka memilih pergi keluar dan menemukan kesempatan itu. Bahkan mereka mampu menciptakan kesempatan dalam kesempitan. E.M. Gray menegaskan, orang-orang sukses mempunyai kebiasaan melakukan hal-hal yang tidak suka dilakukan orang gagal. Jika saat ini Anda masih suka membuat dalih, buatlah komitmen untuk mengubah kebiasaan itu. Jangan biarkan potensi diri Anda dibelenggu oleh dalih-dalih Anda. Ingat selalu nasihat Theodore Roosevelt, “Lakukan apa yang Anda bisa, dengan apa yang Anda miliki, di mana pun Anda berada.”

    Sebagai akhir, ijinkanlah saya membagikan kepada Anda sebuah syair dari Afrika berjudul Perlombaan Saat Matahari Terbit. Setiap pagi di Afrika, seekor rusa bangun. Ia tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat daripada singat tercepat. Jika tidak, ia akan terbunuh. Setiap pagi seekor singa bangun, ia tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat daripada rusa terlamban. Jika tidak, ia akan mati kelaparan. Tidak penting apakah Anda adalah sang rusa atau sang singa. Saat matahari terbit, Anda sebaiknya mulai berlari.

    ***

    Sumber: Mengatasi Penyakit Dalih oleh Paulus Winarto.

    Paulus Winarto adalah pemegang dua Rekor Indonesia dari MURI (Museum Rekor Indonesia), yakni sebagai pembicara seminar pertama yang berbicara dalam seminar di angkasa dan penulis buku yang pertama kali bukunya diluncurkan di angkasa.

    Kiriman Sahabat Setiawan

     
  • erva kurniawan 2:20 am on 29 December 2018 Permalink | Balas  

    Merit Dulu, Pacaran Kemudian 

    Merit Dulu, Pacaran Kemudian

    “Wahai sekalian pemuda… barangsiapa di antara kalian berkesanggupan (sudah mampu) maka hendaklah menikah. Karena sesungguhnya ia (menikah) dapat memejamkan mata dan menjaga kemaluan. Dan barangsiapa belum mampu, maka berpuasalah. Maka sesungguhnya puasa itu benteng baginya.” [HR Bukhari dan Muslim]

    Seorang kakak kelas saya waktu sekolah dulu, punya pacar yang kalo dari segi fisik cukup bagus. Mereka pasangan yang serasi banget. Ibarat panci dengan tutupnya. Klop. Maklum, yang cowok selain pandai di bidang akademik, ia juga terampil berorganisasi dan yang wanitanya cerdas. Dua sejoli ini setahu saya, cukup akrab dan akur. Sampe-sampe banyak teman yang meramalkan bahwa pasangan ini bakalan terus langgeng sampe ke pelaminan.

    Ternyata, ramalan tinggal ramalan, mereka berpisah alias putus ketika sama-sama lulus sekolah dan masing-masing menikah dengan pasangan lain. Yah, kita emang nggak bisa meramal. Dukun sekali pun nggak bisa meramal, mereka cuma nebak. Buktinya, waktu zamannya judi nomer buntut (atau sekarang togel), banyak orang sampe bertanya ke dukun. Hmm… kalo dukun tersebut tahu nomor buntut, pasti bakalan masang sendiri, nggak bakal ngasih tahu. Tul nggak? Eh, kok jadi ngomongin dukun sih? Hehehe… iya saya cuma ingin membuat alur logika aja. Bahwa kita nggak bisa memprediksi. Intinya begitu. Jadi kalo pun sekarang semangat pacaran dengan tujuan ingin menikahinya, itu pun tetap masih gelap. Nah, pelajaran yang bisa diambil adalah kita harus pandai memilih jalur dan tentunya kudu akur bin klop dengan panduan hidup kita, yakni ajaran Islam. Setuju kan?

    Ada juga sih memang, teman saya yang pacaran sejak bangku SMP sampe lulus SMU (karena kebetulan bareng terus dua sejoli itu), bahkan sampe masing-masing bekerja mereka tetap awet menjalin hubungan. Hingga akhirnya mengucap ijab-kabul di depan wali dan petugas pencatat pernikahan dari KUA. Mereka pasangan yang cukup bahagia. Model yang seperti ini juga nggak sedikit di lapangan. Mereka berhasil membina keluarga, yang saling dikenalnya sejak SMP melalui pacaran.

    Tapi kenapa saya tetep ngotot ingin membahas masalah ini? Kenapa pula ingin mempersoalkan pacaran sebelum menikah? Ya, karena saya punya tanggung jawab untuk menyampaikan kebenaran. Memangnya pacaran sebelum menikah nggak benar? Memang pacaran nggak boleh? Memangnya kita bisa langsung menikah tanpa pacaran dulu? Memang lidah tak bertulang…(eh, malah nyanyi!).

    Coba deh SMART!

    Dalam ilmu manajemen dikenal istilah SMART. Apa tuh? Itu rumusan dari Specific, Measurable, Achievable, Reasonable, Time-phased. Walah, masa’ sih untuk menentukan apakah memilih pacaran atau menikah aja kudu pake istilah-istilah yang bikin ribet kayak gini?

    Tenang sobat, saya mencoba mengenalkan rumusan ini karena menurut saya ini berlaku umum. Untuk tujuan apa saja. Tapi biasanya ini akan memberikan dampak yang cukup bagus untuk membuat komitmen bagi diri sendiri dan juga orang yang kita ajak membuat sebuah komitmen. Yuk, kita bahas satu per satu formula SMART ini.

    Spesifik artinya tertentu atau khusus. Boleh dibilang tujuan kita harus tertentu, khusus, dan bila perlu jelas dan khas. Misalnya untuk apa kita pacaran? Tanamkan baik-baik pertanyaan itu dalam diri kamu. Sama seperti halnya untuk apa kita belajar. Tiap orang mestinya akan berbeda-beda menjawabnya karena sesuai tujuan. Ada yang pacaran mungkin sebatas ikutan tren, ada yang menjawab sekadar iseng, ada pula yang menjawab sebagai sarana mengenal pasangan yang akan dinikahi. Eh, saya kok malah ragu kalo pada usia yang masih ABG ini kita berkomitmen bahwa pacaran untuk mengenal pasangan yang akan dinikahi. Tul nggak? Menurut kamu gimana?

    Jujur saja. Saya nggak nuduh, cuma saya sendiri sampe usia sekarang masih merasakan masa-masa ABG dulu, bahwa tuntutan untuk memiliki kekasih (pacar) lebih karena panas akibat dikomporin teman yang udah punya gandengan atau karena kebutuhan untuk berbagi rasa dengan lawan jenis. Tapi sejatinya, kalo ditanya tentang nikah, pasti bingung dan langsung kehilangan kata-kata. Bahkan nggak memikirkan sedikit pun, kecuali mungkin kalo yang ditanya udah dewasa ada yang langsung mantap menjawab sebagai upaya mengenal pasangan untuk menikah. Jadi intinya, kalo sekadar iseng percuma aja. Nggak punya tujuan yang jelas dan khas serta tertentu bisa berabe nantinya.

    Nah, rumus yang kedua sebuah tujuan itu harus Measurable alias bisa terukur. Kalo tujuan belajar adalah untuk ibadah dan ingin mendapat wawasan, maka itu pun harus terukur. Misalnya, apa yang bisa didapatkan dari belajar. Kira-kira memuaskan nggak kalo sudah dapat sampe level tertentu yang sudah direncanakan. Ada tingkat keberhasilan yang bisa terukur. Begitu pun dengan membina hubungan seperti pacaran, bisa nggak terukur kegiatan itu. Jangan asal aja. Hubungan seperti apa yang bisa dijalin, dan tolong dinilai apakah dengan mengetahui karakter dia sudah dianggap terukur dari tujuan semula atau belum, apakah pertemuan dan kualitas curhat dianggap sebagai bentuk hasil hubungan yang bisa terukur untuk menentukan kelayakan hubungan tersebut bisa dilanjutkan atau tidak. Jadi, kalo cuma main-main dan sekadar iseng, enaknya lakukan kegiatan lain aja yang tak berisiko tinggi. Karena ujungnya mesti nggak bisa dipertanggungjawabkan.

    Ketiga, soal Achievable alias dapat dicapai. Tentukan pencapaiannya. Misalnya, kalo belajar sekian minggu kita bisa apa. Kalo pacaran selama dua tahun sudah tahu apa aja dari pasangan kita. Masalah apa aja yang bisa diketahui dan kita kenal dari pasangan yang kita pacari. Tentukan target pencapaiannya. Nggak asal melakukan aja. Nah, kalo kira-kira proyek pacaran itu nggak bisa dicapai hasil-hasilnya, buat apa dilakukan. Betul ndak?

    Terus tentang Reasonable itu bisa diartikan layak, pantas, dan masuk akal. Oke jika pacaran dianggap layak, pantas, dan masuk akal, tentu harus ada ukurannya dong. Apa yang membuat pacaran itu pantas, apa yang membuat pacaran itu masuk akal. Jika memang ada, coba tunjukkan kepada orang-orang. Soalnya, kalo pacaran itu dianggap sebuah proyek yang bisa memuluskan proses mengenal pasangan untuk dinikahi, maka harus jelas juga apakah ini termasuk proyek padat karya atau padat modal (idih, kayak usaha aja?). Iya, maksudnya kita kudu merinci dengan detail sebelum melakukan pacaran apakah masuk akal atau cuma proyek fiktif dan bahkan termasuk ekonomi berbiaya tinggi? Silakan dipikirin.

    Nah, yang terakhir adalah Time-phased, ini artinya kita kudu menentukan tahapan-tahapan waktunya. Kapan memulai, kapan mencapai klimaks, dan kapan mengakhiri. Ini kudu jelas, bila perlu dibuat grafik supaya jelas tergambar semua urutan waktunya. Kayak kalo kerja di bidang penerbitan media massa, pasti ada urutan waktu: mulai dari rapat redaksi, membagi tugas kepada para reporter, para jabrik menulis hasil kerja koresponden dan reporter, editing oleh tim editor bahasa, kapan setting, tanggal berapa naik cetak, sampe hari apa harus edar ke pembaca. Semua urutan waktu itu punya makna.

    Bagaimana dengan pacaran, mungkin bisa dirinci: pada usia berapa saya berani pacaran, kapan kenalannya, dengan siapa, orang yang kayak gimana, tujuannya apa, kapan bisa mengetahui isi hati dan perilakunya, kapan bisa mengenal keluarganya, tahun berapa punya modal, kapan serius memikirkan nikah, dan kapan waktu harus menikah. Semua itu harus jelas urutannya. Jangan sampe pas ditanya sama calon mertua, “Kapan bisa menikah dengan anak saya?”, kamu jawabnya, “Ya, sekarang mah mau main-main dulu aja, Pak. Saya juga masih kuliah. Belum kerja!” Waduh, belum siap kok nekat?

    Main-main terus, atau mulai serius?

    Oke deh, semoga kamu paham dengan paparan formula yang saya tulis. Ini sekadar ingin ngajak kamu merenung aja. Apakah selama ini apa yang kamu lakukan dengan memilih pacaran dulu sebelum merit menguntungkan atau tidak secara ekonomi, sosial, dan juga politik (eh, secara politis orang tua itu suka kepada anak-anak yang mandiri dan bertanggung jawab, kalo cuma iseng aja atau masih perlu milih-milih dan apalagi tanpa ikatan jelas dan kuat, maka bisa meruntuhkan keyakinan dan kepercayaan mereka kepada kita. Suer!).

    Sobat muda muslim, kalo dalam proyek pacaran kamu nggak bisa mempertanggungjawabkan formula SMART ini, jangan harap bisa benar pacarannya. Ini baru dilihat dari sudut pandang manajemen lho. Belum hukum Islam. Karena kalo bicara hukum, meskipun terpenuhi unsur lain, misalnya sudah sesuai formula SMART, tapi dalam hubungannya melanggar batasan-batasan yang ditetapkan Islam, maka tetap tertolak dan diberi label dosa.

    Gimana, masih tetep pengen pacaran dulu? Saran saya sih, jangan dikalahkan oleh nafsu, jangan rela akal sehat dijajah gerombolan setan yang menutup mata dan hati kita dari kebenaran. Oke deh, lanjutin ke bagian berikutnya. Insya Allah soal nyari pasangan yang pas dengan formula SMART dan sekaligus sesuai syariat akan kita bahas juga. Tetep semangat![]

    ***

    Di sadur dari buku: Loving You, Merit Yuk

    Penulis : O.Solihin & G.Hafidz

    Penerbit : Gema Insani

     
  • erva kurniawan 2:02 am on 28 December 2018 Permalink | Balas  

    Mangkuk Tak Beralas 

    MANGKUK TAK BERALAS

    ——————————————

    Seorang raja bersama pengiringnya keluar dari istananya untuk menikmati udara pagi. Di keramaian, ia berpapasan dengan seorang pengemis. Sang raja menyapa pengemis ini:

    — Apa yang engkau inginkan dari dariku?

    Si pengemis itu tersenyum dan berkata:

    — Tuanku bertanya, seakan-akan tuanku dapat memenuhi permintaan hamba.

    Sang raja terkejut, ia merasa tertantang:

    — Tentu saja aku dapat memenuhi permintaanmu. Apa yang engkau minta, katakanlah!

    Maka menjawablah sang pengemis:

    — Berpikirlah dua kali, wahai tuanku, sebelum tuanku menjanjikan apa-apa.

    Rupanya sang pengemis bukanlah sembarang pengemis. Namun raja tidak merasakan hal itu.

    Timbul rasa angkuh dan tak senang pada diri raja, karena mendapat nasihat dari seorang pengemis.

    — Sudah aku katakan, aku dapat memenuhi permintaanmu. Apapun juga! Aku adalah raja yang paling berkuasa dan kaya-raya.

    Dengan penuh kepolosan dan kesederhanaan si pengemis itu mengangsurkan mangkuk penadah sedekah:

    — Tuanku dapat mengisi penuh mangkuk ini dengan apa yang tuanku inginkan.

    Bukan main! Raja menjadi geram mendengar ‘tantangan’ pengemis dihadapannya. Segera ia memerintahkan bendahara kerajaan yang ikut dengannya untuk mengisi penuh mangkuk pengemis kurang ajar ini dengan emas! Kemudian bendahara menuangkan emas dari pundi-pundi besar yang di bawanya ke dalam mangkuk sedekah sang pengemis. Anehnya, emas dalam pundi-pundi besar itu tidak dapat mengisi penuh mangkuk sedekah.

    Tak mau kehilangan muka di hadapan rakyatnya, sang raja terus memerintahkan bendahara mengisi mangkuk itu. Tetapi mangkuk itu tetap kosong. Bahkan seluruh perbendaharaan kerajaan: emas, intan berlian, ratna mutumanikam telah habis dilahap mangkuk sedekah itu. Mangkuk itu seolah tanpa dasar, berlubang.

    Dengan perasaan tak menentu, sang raja jatuh bersimpuh di kaki si pengemis bukan pengemis biasa, terbata-bata ia bertanya :

    — Sebelum berlalu dari tempat ini, dapatkah tuan menjelaskan terbuat dari apakah mangkuk sedekah ini?

    Pengemis itu menjawab sambil tersenyum:

    — Mangkuk itu terbuat dari keinginan manusia yang tanpa batas. Itulah yang mendorong manusia senantiasa bergelut dalam hidupnya. Ada kegembiraan, gairah memuncak di hati, pengalaman yang mengasyikkan kala engkau menginginkan sesuatu. Ketika akhirnya engkau telah mendapatkan keinginan itu, semua yang telah kau dapatkan itu, seolah tidak ada lagi artinya bagimu. Semuanya hilang ibarat emas intan berlian yang masuk dalam mangkuk yang tak beralas itu. Kegembiraan, gairah, dan pengalaman yang mengasyikkan itu hanya tatkala dalam proses untuk mendapatkan keinginan. Begitu saja seterusnya, selalu kemudian datang keinginan baru. Orang tidak pernah merasa puas. Ia selalu merasa kekurangan. Anak cucumu kelak mengatakan : power tends to corrupt; kekuasaan cenderung untuk berlaku tamak.

    Raja itu bertanya lagi :

    — Adakah cara untuk dapat menutup alas mangkuk itu?

    — Tentu ada, yaitu rasa syukur kepada Allah SWT. Jika engkau pandai bersyukur, Allah akan menambah nikmat padamu*) Ucap sang pengemis itu, sambil ia berjalan kemudian menghilang dari mata khalayak.

    *) [dari QS Ibraahiim; 14:7]

    ***

    Berdasarkan penuturan H. Muh. Nur Abdurrahman, WAHYU DAN AKAL – IMAN DAN ILMU, Kolom Tetap Harian Fajar – Makassar

     
  • erva kurniawan 2:59 am on 27 December 2018 Permalink | Balas  

    Ingat Mati Tapi Lupa Diri 

    Ingat Mati Tapi Lupa Diri

    Sebuah hadist Qudsi yang cukup, panjang menggelitik hati kita, Sangat baik kita simak.

    “Aku (Allah) heran terhadap orang yang yakin akan datangnya kematian tetapi ia masih membanggakan diri ?

    Aku heran terhadap orang yang yakin dengan hari perhitungan (hisab), kenapa ia masih sibuk menimbun harta benda?

    Aku heran terhadap orang yang yakin akan masuk pintu kubur, kenapa mereka masih tertawa terbahak-bahak?

    Aku heran terhadap orang yang yakin terhadap hari akhirat, kenapa mereka masih bersenang-senang dan lalai tidak beramal?

    Aku heran terhadap orang yang yakin akan lenyapnya dunia ini, kenapa dia masih menambatkan hati kepadanya?

    Aku heran terhadap orang alim yang pintar bicara tetapi bodoh dalam paham pengertian.

    Aku heran terhadap orang yang sibuk menyelidiki aib orang lain, tetapi lupa cacat/cela dirinya sendiri.

    Aku heran terhadap orang yang tahu bahwa Allah memperhatikan tingkah lakunya, mengapa ia masih durhaka kepada Allah?

    Aku heran terhadap orang yang mengerti bahwa ia akan mati sendirian dan masuk kubur sendirian, kenapa ia masih asyik bersenda gurau dengan orang banyak?

    Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, Muhammad itu benar-benar hamba-Ku dan rasulKu”

    Diakui atau tidak, banyak orang yang tidak sempat mengadakan perenungan. Dengan kesibukan yang padat, rasanya sulit mencari waktu yang tepat untuk berpikir mendalam. Hari-hari hanya diisi dengan kerja dan kerja. Semua waktu habis sekadar untuk mencari nafkah. Kesibukan seperti ini sudah menjadi ciri atau malah menjadi bagian dari kehidupan modern.

    Malam hari yang semestinya waktu paling cocok untuk melakukan perenungan ternyata juga tersita untuk sekedar urusan dunia. Malam, utamanya dikota-kota besar tidak lagi ada bedanya dengan siang, Tetap ramai, tetap sibuk. Lampu-lampu kota kini telah menjadi ‘pengganti’ matahari. Malam pun tetap terang benderang, Itulah sebabnya kemudian bermunculan manusia ‘kelelawar’ yang jadwal hidupnya justru terbalik, Di siang hari mereka tidur, malam hari mulai menampakkan tanda-tanda kehidupannya bekerja. Tentu saja hal ini menyalahi sunnah, menyelisih fitrah.

    Firman Allah,”Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.” (QS Al-Furdan 47 ).

    Karena manusia sudah merasa tidak lagi cukup waktunya untuk mencari kehidupan di siang hari saja, maka malam harinya mereka gunakan juga untuk bekerja. Akibatnya jam istirahat berkurang. Apalagi jam untuk tafakkur, mengadakan perenungan, muhasabah (menghitung diri), muroqobah (mendekatkan diri pada Allah), hampir tiada lagi sama sekali. Jangankan shalat malam, sedang shalat Isya saja dikerjakan sambil ngantuk, pikirannya masih tertuju pada lain yang sifatnya keduniaan. Apalagi disaat shalat, TV tidak dimatikan, sebab anak istri sedang menonton, Bagaimana bisa khusyu’ sedang ingat bacaannya sudah kesulitan. Terlebih kini semakin banyak saja acara yang menarik, yang melalaikan manusia dari memikirkan arti hidupnya sendiri. Semestinya sebelum pergi tidur diluangkan waktu sejenak untuk berzikir. Kalau bisa, shalat dua rakaat. Kalau masih bisa, baca Al Qur’an minimal tiga surat terakhir atau tiga Qul, yaitu Qul Huwallahu ahad, Qul a’udzubirabbil falaq, dan Qul a’udzu birabbinnas, lalu ditutup dengan do’a tidur. Tapi alangkah banyaknya orang yang pergi tidur tanpa sengaja. Sambil menonton TV keterusan. Lupa berzikir, lupa shalat, lupa berdo’a ataupun mengadakan perenungan. Malah mengatur posisi tidurnya saja tidak sempat untuk bangun tengah malam apalagi.

    Kurangnya mengadakan perenungan berakibat sangat fatal, Manusia tak lagi mengerti untuk apa mereka bekerja. Mereka bekerja sekedar untuk mencari harta. Setelah harta didapat digunakan sekenanya. Tidak ada waktu lagi untuk berfikir, darimana harta didapat.

    Tidak ada kesempatan untuk merenung, apakah yang lain juga mendapat, Tak juga sempat menilai, halal atau haram pendapatannya dan sebaliknya digunakan untuk apa saja itu semua. Dalam benaknya hanya ada satu pikiran, pokoknya saya dapat. Mestinya berfikir, darimana didapat, dan kemana dibelanjakan. Orang yang sudah pada taraf seperti ini hidupnya hanyalah sekedar untuk memenuhi hidup. Mereka bekerja, berjuang, berkorban, berdamai dan berperang, hanya untuk hidup, bahkan mereka mempertaruhkan hidupnya sekedar untuk hidup.

    Mereka ini disindir Allah dalam firman-Nya “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah. Mereka mempunyai mata, tetapi tidak dimanfaatkan untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah, mereka mempunyai telinga, tapi tidak dipakai untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu bagai binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi, Mereka itulah orang-orang yang lalai,” (QS Al A’raaf: 179 ).

    Telinga mereka berlubang dan bisa mendengar, tapi tidak mau mendengarkan nasehat, anjuran, perintah dan larangan Dzat yang menciptakan telinga. Inilah yang disebut telinga pasif oleh Allah. Bukan berarti telinga ini tak aktif terhadap yang lain. Begitu musik disetel, nyanyian diperdengarkan, fitnah digunjingkan, telinga itu menjadi normal kembali, Mata mereka juga melek, tapi untuk membaca kalimat Allah mata itu menjadi rabun, malah buta sama sekali, Berbeda bila melihat lenggak lenggok artis, baik di pentas terbuka maupun di layar televisi, mata itu tiba-tiba jernih, sejernih kaca TV. Mereka juga punya hati, tapi sekedar gumpalan daging yang terbalut rongga dada, Hati yang

    berupa qolb tak lagi mereka punyai, paling tidak sudah lama tak terpakai. Usang, sulit dicari. Jika harus diaktifkan, masih perlu dibersihkan, diservis, bahkan mungkin dibongkar pasang dulu.

    “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” kata Allah dalam surah Al -israa’ 36.

    Sebelum hari pertanggungjawaban itu, sebaiknya kita memanfaatkanya untuk merenung, adakah ketiga-tiganya sudah berfungsi sebagaimana yang diharapkan oleh Yang Menciptakan? Atau kita masih beralasan, belum ada waktu untuk merenungkan?

    ***

    Kiriman Sahabat Agus Nadi

     
  • erva kurniawan 2:01 am on 26 December 2018 Permalink | Balas  

    Amalan-Amalan Pamungkas 

    Amalan-Amalan Pamungkas

    Rabu, 20 April 05

    Mukaddimah

    Mencapai kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat merupakan cita-cita setiap muslim tentunya, namun hal itu tidak bisa hanya sebatas cita-cita dan angan-angan. Harus ada aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari sehingga cita-cita itu benar-benar dapat teralisasi.

    Salah satu cara untuk merelisasikannya adalah dengan menjalankan amalan-amalan yang sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, khususnya amalan-amalan pamungkas dan pilar utamanya. Nah, apakah amalan-amalan itu? Mari ikuti kajian berikut ini!

    Naskah Hadits

    Dari Mu’adz bin Jabal RA, ia berkata, “Dalam suatu perjalanan, pernah aku bersama Rasululah SAW. Pada suatu hari saat sedang berjalan-jalan, aku mendekat kepadanya, lalu berkata, Wahai Rasulullah, informasikan kepadaku akan suatu amalan yang dapat menyebabkan aku masuk surga dan jauh dari neraka.” Beliau menjawab, “Engkau telah menanyakan suatu perkara yang amat besar namun sebenarnya ringan bagi orang yang dimudahkan oleh Allah; hendaklah kamu menyembah Allah dan tidak berbuat syirik terhadap-Nya dengan sesuatu apapun, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadlan dan melakukan haji.” Kemudian beliau bersabda lagi, “Maukah kamu aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan; puasa merupakan penjaga (pelindung) dari api neraka, sedekah dapat memadamkan kesalahan (dosa kecil) sebagaimana air dapat memadamkan api, dan shalat seseorang di tengah malam seraya membaca ayat ‘Tatajaafa Junuubuhum ‘Anil Madlaaji’i yad’uuna rabbahum.. [hingga firman-Nya]. Ya’maluun.’ (as-Sajdah:16) Kemudian beliau juga mengatakan, “Dan maukah kamu aku tunjukkan kepala (pangkal) semua perkara, tiang dan puncaknya.?” Aku menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.!” Beliau bersabda, “Kepala (Pangkal) dari semua perkara itu adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad.” Kemudian beliau bersabda lagi, “Maukah kamu aku tunjukkan pilar dari semua hal itu.?” Aku menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.!” Lalu beliau memegang lisan (lidah) nya seraya berkata, “Jagalah ini olehmu.” Lantas aku bertanya, “Wahai Nabiyyullah, apakah kami akan disiksa atas apa yang kami bicarakan.?” Beliau bersabda, “Celakalah engkau wahai Mu’adz! Tidakkah wajah dan leher manusia dijerembabkan ke dalam api neraka kecuali akibat apa yang diucapkan lidah-lidah mereka.?” (HR.at-Turmduzy, dia berkata, “Hadits Hasan Shahih”)

    Kosakata

    • Hashaa`id Alsinatihim : kejelekan dan kekejian yang dibicarakan oleh lidah-lidah mereka seperti syirik kepada Allah, ghibah, adu domba, dst’
    • Tsaqilatka Ummuka (Celakalah Engkau) : secara zhahirnya, kalimat ini tampak seperti doa agar orang yang didoakan mati akan tetapi yang dimaksud sebenarnya bukan makna zhahirnya tersebut tetapi lebih kepada ucapan yang sudah terbiasa oleh lidah bangsa Arab.

    Pesan-Pesan Hadits

    1. Hadits tersebut menunjukkan betapa perhatian para shahabat, di antaranya Mu’adz bin Jabal terhadap amal-amal shalih dan hal-hal yang dapat mendekatkan diri mereka kepada Allah. Mereka selalu memanfa’atkan keberadaan Rasulullah dengan baik untuk bertanya kepadanya, lalu kemudian mengaplikasikan jawaban beliau. Demikianlah seharusnya seorang Muslim, wajib menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya, mencari hal-hal yang berguna dan menjadi kepentingannya serta dapat membuatnya masuk surga.
    2. Hendaknya kemauan seorang Muslim itu begitu tinggi dengan memikirkan hal-hal besar yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah sehingga kemudian target utamanya adalah akhirat yang harus diupayakannya. Dengan begitu, ia akan sangat berhati-hati dan menghindar dari kemauan yang murahan dan sesaat. Makanya, Rasullah mengatakan kepada Mu’adz dalam hadits di atas, “Engkau telah menanyakan suatu perkara yang amat besar.”
    3. Tujuan akhir keinginan manusia di dalam kehidupan ini adalah ‘surga’, masuk ke dalamnya dan hal yang dapat menunjukkannya masuk ke sana. Karena itu, hendaklah ia mencari semua sarana yang dapat menyebabkannya masuk surga dan menjauhkannya dari neraka.
    4. Dien ini mencakup hal-hal wajib dan sunnah; hal-hal wajib (faraidl) wajib diamalkan Muslim, dijalankan secara konsisten dan tidak diterima dari siapa pun alasan tidak tahu mengenainya, sementara hal-hal sunnah, harus antusias dilakukannya selama mampu melakukannya.
    5. Atas karunia Allah Ta’ala, Dia menjadikan pintu-pintu kebaikan demikian banyaknya, sebagiannya dijelaskan dalam hadits ini, yaitu amalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, membuat sampai kepada kecintaan dan ridla-Nya. Di dalam hadits Qudsi, Dia berfirman, “Dan tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya dan senantiasalah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku melalui amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya.” (HR.Bukhari, 6137)
    6. Puasa merupakan ibadah Sirriyyah (yang bersifat rahasia) antara seorang hamba dan Rabbnya. Bila seorang Muslim memperbanyak puasa sunnah, maka hal itu dapat menjadi penjaga dan pelindung dirinya dari api neraka.
    7. Sedekah dapat memadamkan kesalahan (dosa kecil) sebagaimana air dapat memadamkan api. Ini merupakan pintu yang begitu agung sebab sedekah sunnah selalu terbuka sekali pun sedikit. Di dalam hadits yang lain disebutkan, “Bertakwalah kamu walau pun dengan sekeping satu buah kurma.” (HR.Bukhari dan Muslim)
    8. Adalah sangat penting bila seorang Muslim bersungguh-sungguh di dalam melakukan shalat wajib namun terlebih lagi dengan melakukan shalat malam di mana keheningan malamnya, jauh dari kebisingan-kebisingan, bermunajat kepada sang Pencipta secara sendirian dan kehina-dinaannya di hadapan-Nya akan memberikannya kenikmatan iman yang spesial seperti halnya kondisi para shahabat ketika Allah berfirman mengenai mereka, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka.” (as-Sajdah:16) Dalam firman-Nya yang lain ketika memuji mereka, “Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).” (adz-Dzariat:17-18)
    9. Rasulullah SAW kembali mengulang-ulang untuk menjelaskan urgensi amalan-amalan khusus di dalam agama ini, yaitu:
    10. Bahwa kepala (pangkal) semua urusan ini, di mana jasad tidak akan hidup tanpa kepala, adalah tauhid dan syahadat ‘Tiada tuhan -yang haq disembah- selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah.’ Tanpa tauhid seperti ini, tidak akan benar keislaman seseorang, tidak akan lurus kondisinya dan tidak akan selamat pada hari Kiamat.
    11. Tiang, pilar dan pondasinya adalah mendirikan shalat sebab suatu bangunan tidak akan mungkin bisa tegak tanpa adanya tiang. Ia merupakan rukun-rukun ilmiah paling penting, yaitu jalinan antara seorang hamba dan Rabbnya.
    12. Yang paling tinggi dan puncaknya di mana karenanya agama ini menjadi tinggi dan tersebar adalah jihad di jalan Allah. Dengan jihad, telaga Islam dan kehormatan kaum Muslimin akan terjaga, wibawa mereka akan menjadi bertambah, ‘izzah (rasa bangga keislaman) akan nampak dan para musuh dapat ditaklukkan.
    13. Dalam penutup wasiatnya, Rasulullah SAW mengingatkan suatu perkara yang amat penting sekali namun selalu disepelekan oleh banyak orang, yang merupakan pintu besar bagi amal-amal baik dan buruk. Perkara ini adalah lisan (mulut) yang merupakan senjata tajam yang bila digunakan untuk kebaikan dan keta’aan, maka ia akan menjadi pintu besar menuju surga dan bila digunakan untuk kejahatan dan kemaksiatan, mak ia akan menjadi penggiring ke neraka.
    14. Seorang Muslim wajib menggunakan lisannya untuk hal-hal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah seperti dzikir, membaca al-Qur’an, memberi nasehat, amar ma’ruf, menunjukkan kepada kebaikan, berdakwah kepada Allah, nahi munkar, menunjukkan jalan bagi orang yang tersesat dan sebagainya. Demikian pula, wajib baginya untuk menghindari penggunaannya pada hal-hal yang dapat menyebabkannya masuk neraka seperti syirik kepada Allah, berdusta, bicara atas nama Allah tanpa ilmu, ghibah, namimah (adu domba) dan persaksian palsu. Lidah yang seperti ini akan menyeret pemiliknya ke dalam neraka, na’uudzu billaahi min dzaalik.

    ***

    (SUMBER; Silsilah Manaahij Dawraat al-‘Uluum asy-Syar’iyyah- al-Hadiits-Fi`ah an-Naasyi`ah karya Prof Dr Falih bin Muhammad ash-Shaghir, et.ali, h.143-147)

     
  • erva kurniawan 2:55 am on 25 December 2018 Permalink | Balas  

    Perempuan Wajib Berkhitan 

    Perempuan Wajib Berkhitan

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Amma ba’du…

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Berkhitan ialah memotong selaput kulit yang menutupi kepala zakar lelaki atau memotong sedikit hujung daging yang ada di sebelah atas faraj perempuan.

    Berkhitan termasuk di antara amalan-amalan yang telah disyariatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap hambaNya. Ia adalah sebagai pelengkap fitrah yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada mereka. Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Fitrah (sifat semula jadi) itu lima perkara: Berkhitan, mencukur bulu ari-ari, menggunting misai, memotong kuku dan mencabut bulu ketiak.” (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)

    Hukum Berkhitan

    Sebagaimana yang tersebut dalam kitab al-Majmu’ dan kitab Hawasyi Tuhfah al-Muhtaj, berkhitan itu wajib ke atas lelaki dan perempuan yang dilahirkan tanpa berkhitan. Ini berdasarkan kepada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    Tafsirnya: “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (wahai Muhammad): Hendaklah engkau menurut agama Nabi Ibrahim, yang berdiri teguh di atas jalan yang benar.” (Surah an-Nahl: 123)

    Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam supaya mengikut ajaran-ajaran agama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, dan di antara ajaran-ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihissalam itu ialah berkhitan. Perkara ini jelas dikuatkan lagi dengan perbuatan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam itu sendiri yang mengkhitan dirinya pada masa umurnya delapan puluh tahun, sebagaimana riwayat Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Berkhitan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika Baginda berumur delapan puluh tahun dengan alat qadum.” (Hadis riwayat al-Bukhari)

    Menurut kitab Syarh al-Muhadzdzab ulama berkata, salah satu perkara dalam agama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ialah berkhitan. Berkhitan itu adalah wajib dalam agamanya.

    Sementara itu, dalil dari hadis yang menunjukkan wajib berkhitan itu ialah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Buanglah rambut-rambut kamu yang ada ketika kamu kufur dan berkhitanlah.” (Hadis riwayat Abu Daud)

    Dalam mengambil dalil dengan hadis ini, para ulama Syafi’e mengatakan bahwa jika berkhitan itu tidak wajib, maka tidaklah diharuskan membuka aurat ketika berkhitan dan tidaklah diharuskan tukang khitan melihat aurat orang yang dikhitan, karena kedua-duanya itu adalah haram. Jadi apabila kedua-dua yang diharamkan itu diharuskan bagi tujuan berkhitan, ini menunjukkan bahwa berkhitan itu hukumnya adalah wajib.

    Asy-Syirazi, al-Ghazali (kedua-duanya dari ulama mazhab asy-Syafi’e) dan sebahagian ulama pula berdalil dengan qiyâs. Mereka mengatakan bahwa berkhitan itu ialah dengan memotong anggota yang sejahtera. Jika berkhitan itu tidak wajib, maka tidaklah boleh memotongnya (memotong selaput kulit zakar) sebagaimana tidak boleh memotong jari, karena tidak harus memotong anggota yang sehat melainkan jika karena dijatuhkan qishâsh.

    Cara Berkhitan Bagi Lelaki

    Cara bagaimana berkhitan itu, yang wajib bagi lelaki ialah dengan memotong selaput kulit yang menutupi kepala zakar sehingga nampak (terdedah) kepala zakar itu keseluruhannya. Jika dipotong sebahagian saja daripada selaput kulit itu, wajib dipotong bakinya sekali lagi.

    Cara Berkhitan Bagi Perempuan

    Cara yang wajib bagi perempuan ialah dengan memotong daging yang ada di sebelah atas faraj yang seakan-akan bonggolan atau jambul di kepala ayam jantan. Yang lebih afdhal ialah dengan memotong sedikit saja dari daging itu.

    Ini berdasarkan kepada sebuah hadis daripada Anas bin Malik bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menegur Ummu ‘Athiah Radhiallahu ‘anha dengan bersabda:

    Maksudnya: “Apabila engkau mengkhitan maka khitanlah (dengan memotong sebahagian al-bazhr) dan jangan engkau berlebih-lebihan (dalam memotong), karena yang demikian itu menjernihkan air muka perempuan dan mendatangkan kesukaan kepada suami (boleh menambah kelazatan bersetubuh).” (Hadis riwayat ath-Thabrani)

    Masa Atau Waktu Berkhitan

    Tersebut dalam kitab al-Majmu’, menurut ulama-ulama Syafi’eyah masa wajib untuk berkhitan itu ialah selepas baligh dan berakal. Namun begitu adalah sunat dan digalakkan kepada ibu bapa untuk mengkhitankan anak-anak mereka semasa mereka masih kecil lagi karena ini lebih memberi manfaat kepada mereka, luka berkhitan lebih cepat sembuh dan bentuk zakar akan lebih sempurna.

    Sunat dikhitankan anak pada hari ketujuh dari hari kelahirannya, melainkan jika dia lemah, tidak berdaya (tidak tahan) menahan kesakitan berkhitan apabila dijalankan ke atasnya. Maka dalam hal ini hendaklah ditangguhkan berkhitan itu sehingga dia berdaya menanggungnya, dan makruh dikhitankan anak sebelum hari ketujuh dari hari kelahirannya.

    Jika tidak dapat dikhitan pada hari ketujuh, sunat dikhitan pada hari keempat puluh. Jika terlewat (tidak dikhitankan) juga, sunat dikhitankan pada masa umurnya tujuh tahun. Dalam hal menentukan masa berkhitan ini, anak lelaki dan anak perempuan adalah sama.

    Perlulah ditekankan di sini, bahwa hukum berkhitan pada masa-masa yang disebutkan sebelum ini (masa sebelum baligh) adalah sunat dan bukannya wajib. Ini adalah pendapat yang shahîh yang masyhûr yang dipegang oleh jumhur ulama.

    Sebagaimana yang dijelaskan terdahulu, bahwa kewajipan berkhitan itu bermula dari sesudah anak itu baligh. Sekiranya dia sudah baligh, maka kewajipan itu berjalan dengan serta merta. Namun begitu jika orang yang sudah baligh itu lemah kejadiannya, di mana jika dia dikhitankan, ditakuti akan mendatangkan kemudaratan kepadanya, maka dalam hal ini tidaklah harus dia dikhitan, bahkan hendaklah ditunggu sehingga keadaannya selamat atau mengizinkan untuk berkhitan.

    Kenduri Khitan

    Sunat mengadakan walimah (kenduri) bagi pengkhitanan lelaki, karena ia termasuk dalam salah satu yang sunat diadakan kenduri, seperti kenduri kahwin, selepas melahirkan anak, selesai membina bangunan, orang yang terkena musibah, orang yang balik daripada musafir dan kenduri karena hafaz dan khatam al-Qur’an.

    Menurut al-Adzra’ie, bahwa hukum sunat mengadakan kenduri pengkhitanan itu adalah bagi pengkhitanan lelaki dan bukan untuk pengkhitanan perempuan, karena pengkhitanan bagi perempuan itu sunat disembunyikan dan hal yang memalukan jika berterang-terangan. Diihtimalkan juga bahwa hukum sunat mengadakan kenduri bagi pengkhitanan perempuan itu hanyalah khusus bagi sesama perempuan saja tanpa ada jemputan lelaki.

    Meninggal Dunia Sebelum Berkhitan

    Jika seseorang itu meninggal dunia sedang dia belum lagi berkhitan, maka menurut pendapat yang shahih jangan dikhitan si mati tersebut.

    Hikmah Dan Kelebihan Berkhitan

    Islam menuntut umatnya supaya berkhitan karena terdapat beberapa hikmah dan kelebihan yang tersendiri yang tidak akan diperolehi mereka yang tidak berkhitan. Hikmah dan kelebihan itu boleh kita lihat pada dua sudut iaitu sudut keagamaan dan sudut kesehatan. Pada sudut keagamaan, antaranya:

    (i) Berkhitan merupakan tuntutan fitrah dan salah satu syiar Islam.

    (ii) Sebagai menyempurnakan tuntutan syara’ yang berasaskan kepada sunnah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

    (iii) Untuk membezakan antara orang-orang Islam dengan penganut-penganut agama lain. Namun begitu sekarang ini orang-orang bukan Islam ada juga yang sudah mula berkhitan.

    (iv) Sebagai suatu ikrar kesetiaan penghambaan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan patuh segala perintahNya dan tunduk di bawah hukum dan kekuasaanNya.

    Dari sudut kesehatan pula:

    (i) Untuk membersihkan zakar, memperelokkannya, mencantikkan bentuknya dan menambahkan kelazatan semasa hubungan kelamin.

    (ii) Untuk mengawasi kesehatan tenaga batin serta memelihara diri daripada dihinggapi penyakit kelamin, kanser dan lain-lain penyakit.

    Demikianlah di antara hikmah dan kelebihan yang diperolehi oleh orang-orang yang berkhitan. Dengan ini juga tergambar kepada kita akan keindahan Islam serta rahasia-rahasia di balik syariatnya.

    Wallohu a’lam bish-shawab.-

     
  • erva kurniawan 2:33 am on 24 December 2018 Permalink | Balas  

    Syarat-Syarat Doa Dimakbulkan 

    Syarat-Syarat Doa Dimakbulkan

    Assalamu ‘alaikum wr. wb.

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Amma ba’du…

    Doa yang diminta oleh seseorang hamba kepada ALLAH SWT hanya akan dimakbulkan dengan segera atau ditangguhkanNya, adalah berdasarkan syarat tertentu, diantaranya yang utama ialah :

    1. Menjauhi perkara yang mungkar dan maksiat ketika berdoa.
    2. Menepati adab-adab serta rukun-rukun berdoa.
    3. Melakukan kebajikan sebelum dan selepas berdoa.
    4. Menyakini bahwa ALLAH SWT berkehendak dan mendengar setiap doa dan akan diperkenankan oleh ALLAH SWT apakah dengan segera atau ditangguhkan, karena ALLAH SWT itu Maha Adil.
    5. Berdoa bukan untuk tujuan maksiat atau untuk melakukan pendurhakaan kepada ALLAH SWT.
    6. Bukan berdoa terhadap perkara atau sesuatu yang mustahil diperolehi atau dicapai.
    7. Hendaklah sentiasa melaksanakan segala kewajiban dan perintah ALLAH SWT.
    8. Sentiasa menjauhi segala maksiat atau mencegah diri dari maksiat kepada ALLAH SWT.
    9. Meyakini kekuasaan ALLAH SWT serta berdoa dengan penuh keikhlasan.
    10. Berusaha serta berikhtiar sesuai dengan apa yang dimohonkan, misalnya: seseorang yang memohon supaya dilapangkan rezeki, maka wajiblah ia berusaha untuk mendapatkan rezeki yang halal semampu mungkin dan berdoa serta bertawakal tanpa rasa putus asa.
    11. Permohonan itu hendaklah dihadapkan dan dimohonkan kepada ALLAH SWT semata-mata.
    12. Senantiasa berdoa untuk melakukan kebajikan dan mencegah diri dari kemungkaran.

    Wallahu ‘Alam Bisowab

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 2:24 am on 23 December 2018 Permalink | Balas  

    Adab-Adab dalam Berdoa 

    ADAB-ADAB DALAM BERDOA

    Assalamu ‘alaikum wr. wb.

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Amma ba’du…

    Doa adalah permohonan seseorang hamba kepada ALLAh SWT untuk mendapatkan kebaikan atau mencegah kemudaratan. Berdoa merupakan suatu ibadat tambahan yang dapat menguatkan iman. Amalan ini wajib diamalkan oleh setiap muslimin dan muslimat karena do’a merupakan senjata yang paling ampuh dan mujarab bagi setiap mukmin.

    Ketika berdoa, seseorang itu harus yakin dan tawaddu’ bahwa ALLAH SWT yang Maha Esa dan Maha pengasih lagi Maha Penyayang sajalah tempat meminta sesuatu pertolongan. ALLAH SWT sajalah yang berhak memperkenankan doa seseorang itu apakah secara cepat ataupun lambat dikabulkanNya. Mudah-mudahan dengan cara serta keberkatan seseorang itu berdoa dan ketetapan yang tercatat di sisi ALLAH SWT, maka permohonan itu akan dimakbulkan.

    Namun begitu, apa yang perlu diketahui oleh setiap umat Islam, dalam berdoa itu mestilah mengikuti landasan atau syarat-syarat tertentu yang telah digariskan dalam syariat Islam. Justru, berdoalah dan minta sesuatu hajat hanya kepada ALLAH SWT semata-mata disertai niat yang tulus ikhlas. Yakinlah bahwa doa yang dimohon itu suatu saat nanti pasti akan dimakbulkan. Insya-Allah….

    ADAB-ADAB BERDOA

    1. Ketika berdoa, hendaklah dimulai dengan memuji-muji ALLAH SWT. Kemudian diiringi dengan selawat dan salam kepada junjungan besar Nabi Muhammad SAW dan diakhiri dengan kedua-duanya.
    2. Hendaknya tekun dan terus-menerus berdoa serta tidak berputus asa.
    3. Berdoa dengan suara yang perlahan atau sederhana antara kuat dengan perlahan.

    “Berdoalah kepada TUHAN kamu dengan merendah diri dan (dengan suara) perlahan-lahan.” (al-A’raf 55)

    1. Mengakui bahwa diri kita sentiasa berdosa, bertaubat kepadaNya dan mengakui segala nikmat dan kurniaan ALLAH SWT serta bersyukur atas nikmat-nikmat pemberian itu.
    2. Tidak menggunakan bahasa yang berbelit-belit atau sukar difahami dalam berdoa.
    3. Mengulangi permohonan doa sebanyak 3 kali.
    4. Mengadap Kiblat.
    5. Mengangkat kedua-dua belah tangan ketika berdoa.
    6. Berwhudu’ terlebih dahulu sebelum berdoa.
    7. Jika seseorang itu berdoa untuk orang lain, hendaknya dia berdoa untuk dirinya terlebih dahulu, baru kemudian mendo’akan orang lain.
    8. Berdoa dengan bertawassul menggunakan nama-nama ALLAH SWT yang mulia dan sifat-Nya yang Maha Tinggi atau dengan amal soleh yang dilakukan oleh orang yang sedang berdo’a itu.
    9. Hendaklah ketika berdoa itu memakai pakaian yang bersih, memakan makanan dan minuman yang halal. Sebagaimana sabda Baginda SAW :

    “Tidak akan masuk Syurga setiap daging yang tumbuh daripada yang haram.” (Ahmad, al-Tarmizi, al-Darimi)

    Perintah memakan makanan yang baik sebagaimana firman ALLAH SWT:

    “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada ALLAH SWT, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.” (al-Baqarah 172)

    1. Ketika berdoa, hendaklah membaca syahadah dan meminta ampun terlebih dahulu atau beristighfar.
    2. Rendah diri, tawaddu’, gigih serta senantiasa bertakwa.
    3. Memilih tempat dan waktu yang sesuai dan mustajab.
    4. Berdoa dengan doa yang pernah diamalkan oleh Baginda.
    5. Sebaiknya berdoa dalam Bahasa Arab atau menggunakan Bahasa Arab, namun demikian Allah Subhanahu wata’ala itu Maha Mengetahui….

    Wallahu ‘alam

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 2:50 am on 22 December 2018 Permalink | Balas  

    Dampak Medis Shalat Tahajjud 

    Dampak Medis Shalat Tahajjud

    Sholat Tahajjud ternyata tak hanya membuat seseorang yang melakukannya mendapatkan tempat (maqam) terpuji di sisi Allah (Qs Al-Isra:79) tapi juga sangat penting bagi dunia kedokteran. Menurut hasil penelitian Mohammad Sholeh, dosen IAIN Surabaya, salah satu shalat sunah itu bisa membebaskan seseorang dari serangan infeksi dan penyakit kanker.

    Tidak percaya? Cobalah Anda rajin-rajin sholat tahajjud. “Jika anda melakukannya secara rutin, benar, khusuk, dan ikhlas, niscaya Anda terbebas dari infeksi dan kanker”. Ucap Sholeh. Ayah dua anak itu bukan’tukang obat’ jalanan. Dia melontarkan pernyataanya itu dalam desertasinya yang berjudul ‘Pengaruh Sholat tahajjud terhadap peningkatan Perubahan Response ketahanan Tubuh Imonologik: Suatu Pendekatan Psiko-neuroimunologi” Dengan desertasi itu, Sholeh berhasil meraih gelar doktor dalam bidang ilmu kedokteran pada Program Pasca Sarjana Universitas Surabaya, yang dipertahankannya Selasa pekan lalu.

    Selama ini, menurut Sholeh, tahajjud dinilai hanya merupakan ibadah salat tambahan atau sholat sunah. Padahal jika dilakukan secara kontinu, tepat gerakannya, khusuk dan ikhlas, secara medis sholat itu menumbuhkan respons ketahannan tubuh (imonologi) khususnya pada imonoglobin M, G, A dan limfosit-nya yang berupa persepsi dan motivasi positif, serta dapat mengefektifkan kemampuan individu untuk menanggulangi masalah yang dihadapi (coping).

    Sholat tahajjud yang dimaksudkan Sholeh bukan sekedar menggugurkan status sholat yang muakkadah (Sunah mendekati wajib). Ia menitikberatkan pada sisi rutinitas sholat, ketepatan gerakan, kekhusukan, dan keikhlasan.

    Selama ini, kata dia, ulama melihat masalah ikhlas ini sebagai persoalan mental psikis. Namun sebetulnya soal ini dapat dibuktikan dengan tekhnologi kedokteran. Ikhlas yang selama ini dipandang sebagai misteri,dapat dibuktikan secara kuantitatif melalui sekresi hormon kortisol. Parameternya, lanjut Sholeh, bisa diukur dengan kondisi tubuh. Pada kondisi normal, jumlah hormon kortisol pada pagi hari normalnya antara 38-690 nmol/liter. Sedang pada malam hari-atau setelah pukul 24:00 normalnya antara 69-345 nmol/liter. “Kalau jumlah hormon kortisolnya normal, bisa diindikasikan orang itu tidak ikhlas karena tertekan.

    Begitu sebaliknya. Ujarnya seraya menegaskan temuannya ini yang membantah paradigma lama yang menganggap ajaran agama (Islam) semata-mata dogma atau doktrin.

    Sholeh mendasarkan temuannya itu melalui satu penelitian terhadap 41 responden sisa SMU Luqman Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah, Surabaya. Dari 41 siswa itu, hanya 23 yang sanggup bertahan menjalankan sholat tahajjud selama sebulan penuh. Setelah diuji lagi, tinggal 19 siswa yang bertahan sholat tahjjud selama dua bulan. Sholat dimulai pukul 02-00-3:30! sebanyak 11* rakaat, masing masing dua rakaat empat kali salam plus tiga rakaat. Selanjutnya, hormon kortisol mereka diukur di tiga laboratorium di Surabaya (paramita, Prodia dan Klinika).

    Hasilnya, ditemukan bahwa kondisi tubuh seseorang yang rajin bertahajjud secara ikhlas berbeda dengan orang yang tidak melakukan tahajjud. Mereka yang rajin dan ikhlas bertahajud memiliki ketahanan tubuh dan kemampuanindividual untuk menaggulangi masalah-masalah yang dihadapi dengan stabil. “Jadi sholat tahajjud selain bernilai ibadah, juga sekaligus sarat dengan muatan psikologis yang dapat mempengaruhi kontrol kognisi.

    Dengan cara memperbaiki persepsi dan motivasi positif dan coping yang efectif, emosi yang positif dapat menghindarkan seseorang dari stress, “Nah, menurut Sholeh, orang stress itu biasanya rentan sekali terhadap penyakit kanker dan infeksi. Dengan sholat tahajjud yang dilakukan secara rutin dan disertai perasaan ikhlas serta tidak terpa! ksa, seseorang akan memiliki respons imun yang baik, yang kemungkinan besar akan terhindar dari penyakit infeksi dan kanker. Dan, berdasarkan hitungan tekhnik medis menunjukan, sholat tahajjud yang dilakukan seperti itu membuat orang mempunyai ketahanan tubuh yang baik.

    Sebuah bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampu mengetahui semua rahasia atas rahmat, nikmat,anugrah yang diberikan oleh ALLAH kepadanya. Haruskah kita menunggu untuk bisa masuk diakal kita?

    Seorang Doktor di Amerika telah memeluk Islam karena beberapa keajaiban yang di temuinya di dalam penyelidikannya. Ia amat kagum dengan penemuan tersebut sehingga tidak dapat diterima oleh akal fikiran. Dia adalah seorang Doktor Neurologi. Setelah memeluk Islam dia amat yakin pengobatan secara Islam dan oleh sebab itu ia telah membuka sebuah klinik yang bernama “Pengobatan Melalui Al Qur’an” Kajian pengobatan melalui Al-Quran menggunakan obat-obatan yang digunakan seperti yang terdapat didalam Al-Quran. Di antara berpuasa, madu, biji hitam (Jadam) dan sebagainya.

    Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam maka Doktor tersebut memberitahu bahwa sewaktu kajian saraf yang dilakukan, terdapat beberapa urat saraf di dalam otak manusia ini tidak dimasuki oleh darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara yang lebih normal. Setelah membuat kajian yang memakan waktu akhirnya dia menemukan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak tersebut melainkan ketika seseorang tersebut bersembahyang yaitu ketika sujud. Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikut kadar sembahyang 5 waktu yang diwajibkan oleh Islam.

    Begitulah keagungan ciptaan Allah. Jadi barang siapa yang tidak menunaikan sembahyang maka otak tidak dapat menerima darah yang secukupn! ya untuk berfungsi secara normal. Oleh karena itu kejadian manusia ini sebenarnya adalah untuk menganut agama Islam “sepenuhnya” karena sifat fitrah kejadiannya memang telah dikaitkan oleh Allah dengan agamanya yang indah ini.

    Kesimpulannya: Makhluk Allah yang bergelar manusia yang tidak bersembahyang apalagi bukan yang beragama Islam walaupun akal mereka berfungsi secara normal tetapi sebenarnya di dalam sesuatu keadaan mereka akan hilang pertimbangan di dalam membuat keputusan secara normal. Justru itu tidak heranlah manusia ini kadang-kadang tidak segan-segan untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan fitrah kejadiannya walaupun akal mereka mengetahui perkara yang akan dilakukan tersebut adalah tidak sesuai dengan kehendak mereka karena otak tidak bisa untuk mempertimbangkan secara lebih normal. Maka tidak heranlah timbul bermacam-macam gejala-gejala sosial masyarakat saat ini.

    Anda ingin beramal shaleh? Tolong k! irimkan kepada rekan-rekan muslim lainnya yang anda kenal.

    ***

    Kiriman: Edy Purwanto

     
  • erva kurniawan 2:38 am on 21 December 2018 Permalink | Balas  

    Etika Bertetangga 

    Etika Bertetangga

    Menghormati tetangga dan berprilaku baik terhadap mereka. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, sebagaimana di dalam hadits Abu Hurairah Radhiallaahu anhu : “….Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia memu-liakan tetangganya”. Dan di dalam riwayat lain disebutkan: “hendaklah ia berprilaku baik terhadap tetangganya”. (Muttafaq’alaih).

    Bangunan yang kita bangun jangan mengganggu tetangga kita, tidak membuat mereka tertutup dari sinar mata hari atau udara, dan kita tidak boleh melampaui batasnya, apakah merusak atau mengubah miliknya, karena hal tersebut menyakiti perasaannya.

    Hendaknya Kita memelihara hak-haknya di saat mereka tidak di rumah. Kita jaga harta dan kehormatan mereka dari tangan-tangan orang jahil; dan hendaknya kita ulurkan tangan bantuan dan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan, serta memalingkan mata kita dari wanita mereka dan merahasiakan aib mereka.

    Tidak melakukan suatu kegaduhan yang mengganggu mereka, seperti suara radio atau TV, atau mengganggu mereka dengan melempari halaman mereka dengan kotoran, atau menutup jalan bagi mereka. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “Demi Allah, tidak beriman; demi Allah, tidak beriman; demi Allah, tidak beriman! Nabi ditanya: Siapa, wahai Rasulullah? Nabi menjawab: “Adalah orang yang tetangganya tidak merasa tentram karena perbuatan-nya”. (Muttafaq’alaih).

    Jangan kikir untuk memberikan nasihat dan saran kepada mereka, dan seharusnya kita ajak mereka berbuat yang ma`ruf dan mencegah yang munkar dengan bijaksana (hikmah) dan nasihat baik tanpa maksud menjatuhkan atau menjelek-jelekkan mereka.

    Hendaknya kita selalu memberikan makanan kepada tetangga kita. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda kepada Abu Dzarr: “Wahai Abu Dzarr, apabila kamu memasak sayur (daging kuah), maka perbanyaklah airnya dan berilah tetanggamu”. (HR. Muslim).

    Hendaknya kita turut bersuka cita di dalam kebahagiaan mereka dan berduka cita di dalam duka mereka; kita jenguk bila ia sakit, kita tanyakan apabila ia tidak ada, bersikap baik bila menjumpainya; dan hendaknya kita undang untuk datang ke rumah. Hal-hal seperti itu mudah membuat hati mereka jinak dan sayang kepada kita.

    Hendaknya kita tidak mencari-cari kesalahan/kekeliruan mereka dan jangan pula bahagia bila mereka keliru, bahkan seharusnya kita tidak memandang kekeliruan dan kealpaan mereka.

    Hendaknya kita sabar atas prilaku kurang baik mereka terhadap kita. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Ada tiga kelompok manusia yang dicintai Allah…. –Disebutkan di antaranya- :Seseorang yang mempunyai tetangga, ia selalu disakiti (diganggu) oleh tetangganya, namun ia sabar atas gangguannya itu hingga keduanya dipisah oleh kematian atau keberangkatannya”. (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).

    ***

    [Taken From Kitab “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari” By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 20 December 2018 Permalink | Balas  

    Buah Pendidikan Kedisiplinan Di Rumah 

    Buah Pendidikan Kedisiplinan Di Rumah

    Kisah berikut ini adalah tentang apa yang terjadi di rumah tangga. Seorang putra tidak suka tinggal di rumah, karena ayah ibunya selalu ‘ngomel’, ia tak suka bila ayahnya mengomelinya untuk hal-hal kecil ini.

    “Nak ! Kalau keluar kamar matikan kipas anginnya.”

    “Matikan TV, jangan biarkan hidup tapi tak ada yang menonton !

    “Simpan pena yang jatuh ke kolong meja di tempatnya !”

    Tiap hari dia harus ta’at pada hal-hal ini sejak kecil, saat bersama keluarga di rumah. Maka tibalah hari ini, saat dia menerima panggilan untuk wawancara kerja.

    Dalam hati dia berkata : “Begitu mendapat pekerjaan, saya akan sewa rumah sendiri. Tak akan ada lagi omelan ibu ayah,” begitu pikirnya.

    Ketika hendak pergi untuk interview, ayahnya berpesan : “Nak ! Jawablah pertanyaan yang diajukan tanpa ragu-ragu.

    Bahkan jika engkau tidak tahu jawabannya, katakan sejujurnya dengan percaya diri.”

    Ayahnya memberinya uang lebih banyak dari ongkos yang dibutuhkan untuk menghadiri wawancara. Setiba di pusat wawancara, diperhatikannya bahwa tidak ada penjaga keamanan di gerbang. Meskipun pintunya terbuka, gerendelnya menonjol keluar, dan bisa membuat yang lewat pintu itu menabrak atau bajunya tersangkut grendel.

    Dia geser gerendel ke posisi yang benar, menutup pintu dan masuk menuju kantor. Di kedua sisi jalan dia lihat tanaman bunga yang indah. Tapi ada air mengalir dari selang dan tak ada seorang pun disekitar situ. Air meluap ke jalan setapak. Diangkatnya selang dan diletakkannya di dekat salah satu tanaman dan melanjutkan kembali langkahnya. Tak ada seorang pun di area resepsionis. Namun, ada petunjuk bahwa wawancara di lantai dua. Dia perlahan menaiki tangga. Lampu yang dinyalakan semalam masih menyala, padahal sudah pukul 10 pagi.

    Peringatan ayahnya terngiang di telinganya : “Mengapa kamu meninggalkan ruangan tanpa mematikan lampu ?”

    Dia merasa agak jengkel oleh pikiran itu, namun dia tetap mencari saklar dan mematikan lampu. Di lantai atas di aula besar dia lihat banyak calon duduk menunggu giliran. Melihat banyaknya pelamar, dia bertanya-tanya, apakah masih ada peluang baginya untuk diterima? Diapun menuju aula dengan sedikit gentar dan menginjak karpet dekat pintu bertuliskan “Selamat Datang” .

    Diperhatikannya bahwa karpet itu terbalik. Spontan saja dia betulkan, walau dengan sedikit kesal. Dilihatnya di beberapa baris di depan banyak yang menunggu giliran, sedangkan barisan belakang kosong. Terdengar suara kipas angin, dimatikannya kipas yang tidak dimanfaatkan dan duduk di salah satu kursi yang kosong. Banyak pria memasuki ruang wawancara dan segera pergi dari pintu lain. Sehingga tak mungkin ada yang bisa menebak apa yang ditanyakan dalam wawancara. Tibalah gilirannya, dia masuk dan berdiri di hadapan pewawancara dengan agak gemetar dan pesimis.

    Sesampainya di depan meja, pewawancara langsung mengambil sertifikat, dan tanpa bertanya langsung berkata : “Kapan Anda bisa mulai bekerja ?”

    Dia terkejut dan berpikir, “apakah ini pertanyaan jebakan, atau tanda bahwa telah diterima untuk bekerja disitu ?”

    Dia bingung.

    “Apa yang Anda pikirkan ?” tanya sang boss lalu melanjutkan : “Kami tidak mengajukan pertanyaan kepada siapa pun di sini. Sebab hanya dengan mengajukan beberapa pertanyaan, kami tak akan dapat menilai siapa pun. Tes kami adalah untuk menilai sikap orang tersebut.Kami melakukan tes tertentu berdasarkan sikap para calon.Kami mengamati setiap orang melalui CCTV, apa saja yg dilakukannya ketika melihat gerendel di pintu, selang air yang mengalir, keset “selamat datang”, kipas atau lampu yang tak perlu. Anda satu-satunya yang melakukan. Itu sebabnya kami memutuskan untuk memilih Anda !”

    Hatinya terharu, dia ingat ayahnya. Dia yg selalu merasa jengkel terhadap disiplin dan omelan ibu ayahnya. Kini dia menyadari bahwa justru omelan dan disiplin yg ditanamkan orang tuanyalah yang membuatnya diterima pada perusahaan yang diinginkannya. Kekesalan dan kemarahannya pada ayahnya seketika sirna.

    “Hanya Anda satu-satunya yang melakukan apa yang kami harapkan dari seorang manajer, maka kami putuskan menerima Anda bekerja disini.”

    Ayah ! Ma’afkan anakmu, bisiknya dalam hati penuh rasa haru dan bersyukur. Dia akan minta maaf kepada ayahnya, dia akan ajak ayahnya melihat tempat kerjanya.

    Dia pulang ke rumah dengan bahagia. Apapun yang orang tua katakan pada anaknya, adalah demi kebaikan anak-anak itu sendiri, untuk menyiapkan masa depan yang baik !

    “Batu karang tak akan menjadi patung yang indah bernilai tinggi, jika tak dapat menahan rasa sakit saat pahat bekerja memotongnya”.

    Untuk menjadi pribadi yang indah, kita perlu menerima dan mematuhi nasehat yang baik. Kebiasaan baik akan muncul dari perilaku buruk yang dipahat dan dibuang dari diri kita. Ibu menggendong anak di pinggangnya untuk memeluk, memberi makan dan untuk membuatnya tidur.

    Tetapi ayah mengangkat anak dan mendudukkan di pundaknya, untuk membuatnya melihat dunia yang tidak bisa dilihat anaknya. Ayah dan ibu adalah pahlawan, yang kasih sayangnya layaknya guru yang mendampingi anak sepanjang kehidupan. Perlakukanlah orangtua sebaik-baiknya, agar jadi contoh dan bimbingan dari generasi ke generasi, yang menerima estafet kehidupan.

    Untuk dibagikan ke para orang tua dan anak-anak tercinta.

    Semoga bermanfaat !

    ***

    Kiriman Grup Wa

     
  • erva kurniawan 7:15 am on 19 December 2018 Permalink | Balas  

    Etika Berkomunikasi Lewat Telepon 

    Etika Berkomunikasi Lewat Telepon

    Ceklah dengan baik nomor telepon yang akan anda hubungi sebelum anda menelpon agar anda tidak mengganggu orang yang sedang tidur atau mengganggu orang yang sedang sakit atau merisaukan orang lain.

    Pilihlah waktu yang tepat untuk berhubungan via telepon, karena manusia mempunyai kesibukan dan keperluan, dan mereka juga mempunyai waktu tidur dan istirahat, waktu makan dan bekerja.

    Jangan memperpanjang pembicaraan tanpa alasan, karena khawatir orang yang sedang dihubungi itu sedang mempunyai pekerjaan penting atau mempunyai janji dengan orang lain.

    hendaknya wanita tidak memperindah suara di saat ber-bicara (via telpon) dan tidak berbicara melantur dengan laki-laki. Allah berfirman yang artinya: “Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik”. (Al-Ahzab: 32).

    Maka hendaknya wanita berhati-hati, jangan berbicara diluar kebiasaan dan tidak melantur berbicara dengan lawan jenisnya via telepon, apa lagi memperpanjang pembicaraan, memperindah suara, memperlembut dan lain sebagainya.

    Hendaknya penelpon memulai pembicaraannya dengan ucapan Assalamu`alaikum, karena dia adalah orang yang datang, maka dari itu ia harus memulai pembicaraannya dengan salam dan juga menutupnya dengan salam.

    Tidak memakai telpon orang lain kecuali seizin pemilik-nya, dan itupun bila terpaksa.

    Tidak merekam pembicaraan lawan bicara kecuali seizin darinya, apapun bentuk pembicaraannya. Karena hal tersebut merupakan tindakan pengkhianatan dan mengungkap rahasia orang lain, dan inilah tipu muslihat. Dan apabila rekaman itu kamu sebarluaskan maka itu berarti lebih fatal lagi dan merupakan penodaan terhadap amanah. Dan termasuk di dalam hal ini juga adalah merekam pembicaraan orang lain dan apa yang terjadi di antara mereka. Maka, ini haram hukumnya, tidak boleh dikerjakan!

    Tidak menggunakan telepon untuk keperluan yang negatif, karena telepon pada hakikatnya adalah nikmat dari Allah yang Dia berikan kepada kita untuk kita gunakan demi memenuhi keperluan kita. Maka tidak selayaknya jika kita menjadikannya sebagai bencana, menggunakannya untuk mencari-cari kejelekan dan kesalahan orang lain dan mencemari kehormatan mereka, dan menyeret kaum wanita ke jurang kenistaan. Ini haram hukumnya, dan pelakunya layak dihukum.

    ***

    [Taken From Kitab “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari” By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 18 December 2018 Permalink | Balas  

    Etika Safar (Bepergian Jauh) 

    Etika Safar (Bepergian Jauh)

    Disunnatkan bagi orang yang berniat untuk melakukan perjalan jauh (safar) beristikharah terlebih dahulu kepada Allah mengenai rencana safarnya itu, dengan sholat dua raka`at di luar shalat wajib, lalu berdo`a dengan do`a istikharah.

    Hendaknya bertobat kepada Allah Shallallaahu alaihi wa Sallam dari segala kemak-siatan yang pernah ia lakukan dan meminta ampun kepada-Nya dari segala dosa yang telah diperbuatnya, sebab ia tidak tahu apa yang akan terjadi di balik kepergiannya itu.

    Hendaknya ia mengembalikan barang-barang yang bukan haknya dan amanat-amanat kepada orang-orang yang berhak menerimanya, membayar hutang atau menyerah-kannya kepada orang yang akan melunasinya dan berpesan kebaikan kepada keluarganya.

    Membawa perbekalan secukupnya, seperti air, makanan dan uang.

    Disunnatkan bagi musafir pergi dengan ditemani oleh teman yang shalih selama perjalanannya untuk meringankan beban diperjalananya dan menolongnya bila perlu. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “Kalau sekiranya manusia mengetahui apa yang aku ketahui di dalam kesendirian, niscaya tidak ada orang yang menunggangi kendaraan (musafir) yang berangkat di malam hari sendirian”. (HR. Al-Bukhari)

    Disunnatkan bagi para musafir apabila jumlah mereka lebih dari tiga orang mengangkat salah satu dari mereka sebagai pemimpin (amir), karena hal tersebut dapat memper-mudah pengaturan urusan mereka. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila tiga orang keluar untuk safar, maka hendaklah mereka mengangkat seorang amir dari mereka”. (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani).

    Disunnatkan berangkat safar pada pagi (dini) hari dan sore hari, karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Ya Allah, berkahilah bagi ummatku di dalam kediniannya”. Dan juga bersabda: “Hendaknya kalian memanfaatkan waktu senja, karena bumi dilipat di malam hari”. (Keduanya diriwayat-kan oleh Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani).

    Disunatkan bagi musafir apabila akan berangkat mengu-capkan selamat tinggal kepada keluarga, kerabat dan teman-temannya, sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam dan dia sabdakan: “Aku titipkan kepada Allah agamamu, amanatmu dan penutup-penutup amal perbuatanmu”. (HR. At-Turmudzi, dishahihkan oleh Al-Albani).

    Apabila si musafir akan naik kendaraannya, baik berupa mobil atau lainnya, maka hendaklah ia membaca basmalah; dan apabila telah berada di atas kendaraannya hendaklah ia bertakbir tiga kali, kemudian membaca do`a safar berikut ini:

    “Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami; Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepadamu di dalam perjalanan kami ini kebajikan dan ketaqwaan, dan amal yang Engkau ridhai; Ya Allah, mudahkanlah perjalannan ini bagi kami dan dekatkanlah kejauhannya; Ya Allah, Engkau adalah Penyerta kami di dalam perjalanan ini dan Pengganti kami di keluarga kami; Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari bencana safar dan kesedihan pemandangan, dan keburukan tempat kembali pada harta dan keluarga”. (HR. Muslim).

    Disunnatkan bertakbir di saat jalan menanjak dan bertasbih di saat menurun, karena ada hadits Jabir yang menuturkan: “Apabila (jalan) kami menanjak, maka kami bertakbir, dan apabila menurun maka kami bertasbih”. (HR. Al-Bukhari).

    Disunnatkan bagi musafir selalu berdo`a di saat perjala-nannya, karena do`anya mustajab (mudah dikabulkan).

    Apabila si musafir perlu untuk bermalam atau beristirahat di tengah perjalanannya, maka hendaknya menjauh dari jalan; karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila kamu hendak mampir untuk beristirahat, maka menjauhlah dari jalan, karena jalan itu adalah jalan binatang melata dan tempat tidur bagi binatang-binatang di malam hari”. (HR. Muslim).

    Apabila musafir telah sampai tujuan dan menunaikan keperluannya dari safar yang ia lakukan, maka hendaknya segera kembali ke kampung halamannya. Di dalam hadits Abu Hurairah Radhiallaahu anhu disebutkan diantaranya: “……Apabila salah seorang kamu telah menunaikan hajatnya dari safar yang dilakukannya, maka hendaklah ia segera kembali ke kampung halamannya”. (Muttafaq’ alaih).

    Disunnatkan pula bagi si musafir apabila ia kembali ke kampung halamannya untuk tidak masuk ke rumahnya di malam hari, kecuali jika sebelumnya diberi tahu terlebih dahulu. Hadits Jabir menuturkan :”Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang seseorang mengetuk rumah (membangunkan) keluarganya di malam hari”. (Muttafaq’alaih).

    Disunnatkan bagi musafir di saat kedatangannya pergi ke masjid terlebih dahulu untuk shalat dua rakaat. Ka`ab bin Malik meriwayatkan: “Bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam apabila datang dari perjalanan (safar), maka ia langsung menuju masjid dan di situ ia shalat dua raka`at”. (Muttafaq’ alaih).

    ***

    [Taken From Kitab “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari” By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 17 December 2018 Permalink | Balas  

    Etika Pengantin dan Pergaulan Suami-Istri 

    Etika Pengantin dan Pergaulan Suami-Istri

    Merayu istri dan bercanda dengannya di saat santai berduaan. Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam selalu bercanda, tertawa dan merayu istri-istrinya.

    Meletakkan tangan di kepala istri dan mendo`akannya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila salah seorang kamu menikahi seorang wanita, maka hendaklah ia memegang ubun-ubunnya, dan bacalah bimillah lalu mohon berkahlah kepada Allah, dan hendaknya ia membaca:

    “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dari kebaikannya dan kebaikan sifat yang ada padanya; dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukanya dan keburukan sifat yang ada padanya)” (HR. Abu Daud dan dihasankan oleh Al-Albani).

    Disunnahkan bagi kedua mempelai melakukan shalat dua raka`at bersama, karena hal tersebut dinukil dari kaum salaf.

    Membaca basmalah sebelum melakukan jima`. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Kalau sekiranya seorang di antara kamu hendak bersenggama dengan istrinya membaca :

    “(Dengan menyebut nama Alllah, ya Allah, jauhkanlah setan dari kami dan jauhkan syetan dari apa yang Engkau rizkikan kepada kami), maka sesungguhnya jika keduanya dikaruniai anak dari persenggamaannya itu, niscaya ia tidak akan dibahayakan oleh setan selama-lamanya” (Muttafaq alaih).

    Jika sang suami ingin bersenggama lagi, maka dianjurkan berwudhu terlebih dahulu, karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila salah seorang kamu telah bersetubuh dengan istrinya, lalu ingin mengulanginya kembali maka hendaklah ia berwudhu”. (HR. Muslim).

    Disunatkan bagi kedua suami istri berwudhu sebelum tidur sesudah melakukan jima`, karena hadits Aisyah menuturkan :”Adalah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam apabila beliau hendak makan atau tidur sedangkan ia junub, maka beliau mencuci kemaluannya dan berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat” (Muttafaq’alaih).

    Haram bagi suami menyetubuhi istrinya di saat ia sedang haid atau menyetubuhi duburnya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: Barangsiapa yang melakukan persetubuhan terhadap wanita haid atau wanita pada duburnya, atau datang kepada dukun (tukang sihir) lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad”. (HR. Al-Arba`ah dan dishahihkan oleh Al-Alnbani).

    Haram bagi suami-istri menyebarkan tentang rahasia hubungan keduanya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguh-nya manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari Kiamat adalah orang lelaki yang berhubungan dengan istrinya (jima`), kemudian ia menyebarkan rahasianya”. (HR. Muslim).

    Hendaknya masing-masing saling bergaul dengan baik, dan melaksanakan kewajiban masing-masing terhadap yang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Dan para istri mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut yang ma`ruf”. (Al-Baqarah: 228).

    Hendaknya suami berlaku lembut dan bersikap baik terhadap istrinya dan mengajarkan sesuatu yang dipan-dang perlu tentang masalah agamanya, serta menekankan apa-apa yang diwajib Allah terhadapnya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “Ingatlah, berpesan baiklah selalu kepada istri, karena sesungguhnya mereka adalah tawanan disisi kalian….” (HR. Turmudzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

    Hendaknya istri selalu ta`at kepada suaminya sesuai kemampuannya asal bukan dalam hal kemaksiatan, dan hendaknya tidak mematuhi siapapun dari keluarganya bila tidak disukai oleh suami dan bertentangan dengan kehendaknya, dan hendaknya istri tidak menolak ajakan suami bila mengajaknya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila suami mengajak istrinya ke tempat tidutrnya lalu ia tidak memenuhi ajakannya, lalu sang suami tidur dalam keadaan marah kepadanya, maka malaikat melaknat wanita tersebut hingga pagi”. (Muttafaq alaih).

    Hendaknya suami berlaku adil terhadap istri-istrinya di dalam masalah-masalah yang harus bertindak adil. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa mempunyai dua istri, lalu ia lebih cenderung kepada salah satunya, niscaya ia datang di hari Kiamat kelak dalam keadaan sebelah badannya miring”. (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani).

    ***

    [Taken From Kitab “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari” By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]

     
  • erva kurniawan 1:59 am on 16 December 2018 Permalink | Balas  

    Etika di Pasar 

    Etika di Pasar

    Hendaknya berdzikir kepada Allah di saat masuk ke pasar, karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang masuk ke pasar lalu membaca:

    “(Tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah kerajaan, dan kepunyaan-Nyalah segala pujian, Dia yang menghidupkan dan yang mematikan, dan Dia Maha Hidup tidak akan mati; di tangan-Nyalah segala kebaikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu), maka Allah mencatat sejuta kebajikan baginya, dan menghapus sejuta dosa darinya, dan Dia tinggikan baginya sejuta derajat dan Dia bangunkan satu istana baginya di dalam surga”. (HR. Ahmad dan At-Turmudzi, di nilai hasan oleh Al-Albani).

    Tidak menyaringkan suara dengan berbagai pertengkaran dan perdebatan. Di antara sifat kepribadian Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam adalah Bahwasanya beliau bukanlah seorang yang keras kepala atau keras hati dan bukan pula orang yang suka teriak-teriak di pasar dan juga bukan orang yang membalas keburukan dengan keburukan, akan tetapi ia mema`afkan dan mengampuni’. (HR. Al-Bukhari).

    Menjaga kebersihan pasar. Pasar tidak boleh dicemari dengan kotoran dan sampah, karena hal tersebut dapat melumpuhkan arus jalanan dan menjadi sumber bau busuk yang mengganggu.

    Menjaga agar selalu memenuhi akad dan janji serta kesepakatan-kesepakatan di antara dua belah fihak (pembeli dan penjual). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu”. (Al-Ma’idah : 1)

    Mengukuhkan jual beli dengan persaksian atau catatan (dokumentasi), karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman yang artinya: “Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli”. (Al-Baqarah: 282).

    Bersikap ramah dan memberikan kemudahan di dalam proses jual beli. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Allah akan belas kasih kepada seorang hamba yang ramah apabila menjual, ramah apabila membeli dan ramah apabila memberikan keputusan”. (HR. Al-Bukhari).

    Jujur, terbuka dan tidak menyembunyikan cacat barang jualan. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Seorang muslim itu adalah saudara muslim lainnya, maka tidak halal bagi seorang muslim membeli dari saudaranya suatu pembelian yang ada cacatnya kecuali telah dijelaskannya terlebih dahulu”. (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).

    Jangan mudah mengobral sumpah di dalam berjual beli. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Hindarilah banyak bersumpah di dalam berjual-beli, karena sumpah itu dapat menghabiskan (barang) kemudian membatalkan (barakahnya)”. (HR. Muslim).

    Menghindari penipuan, kecurangan dan pengkaburan serta berlebih-lebihan di dalam menarik keuntungan. Telah diriwayatkan bahwa sesungguhnya Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam pernah menjumpai setumpuk makanan, maka Nabi memasukkan tangannya ke dalam tumpukan tersebut, maka jari-jemarinya basah. Maka beliau bersabda: “Apa ini, wahai si pemilik makanan?” Pemilik makanan menjawab :Terkena hujan, wahai Rasulullah. Maka Nabi bersabda: “Kenapa bagian yang basah tidak kamu letakkan di paling atas agar dilihat oleh manusia? Barangsiapa yang curang terhadap kami, maka ia bukan dari golongan kami”. (HR. Muslim).

    Menghindari perbuatan curang di dalam menakar atau menimbang barang dan tidak menguranginya. Allah berfirman yang artinya: “Celakalah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi”. (Al-Muthaffifin : 1-3).

    Menghindari riba, penimbunan barang dan segala per-buatan yang dapat merugikan orang banyak. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Allah mengutuk (melaknat) pemakan riba, pemberinya, saksi dan penulisnya”. (HR. Ahmad, dan dishahihkan oleh Al-Albani). Dan Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak akan menimbun barang kecuali orang yang salah “. (HR. Muslim).

    Membersihkan pasar dari segala barang yang haram diperjual-belikan.

    Menghindari promosi-promosi palsu yang bertujuan menarik perhatian pembeli dan mendorongnya untuk membeli, karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah melarang najasy. (Muttafaq’alaih). Najasy adalah semacam promosi palsu.

    Hindarilah penjulan barang rampasan (hasil ghashab) dan curian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesama kamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu”. (Al-Nisa: 29).

    Menundukkan pandangan mata dari wanita dan menghindar dari percampurbauran dan berdesak-desakan dengan mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; (An-Nur: 30-31).

    Selalu menjaga syi`ar-syi`ar agama (shalat berjama`ah, dll.), tidak melalaikan shalat berjama`ah karena berjual-beli. Maka sebaik-baik manusia adalah orang yang keduniaannya tidak membuatnya lalai terhadap masalah-masalah akhiratnya atau sebaliknya. Allah berfirman yang artinya: “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) menunaikan zakat”. (An-Nur: 37).

    [Taken From Kitab “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari” By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 15 December 2018 Permalink | Balas  

    Kitab Rahasia Zakat (8/8) 

    Kitab Rahasia Zakat (8/8)

    ======================

    Keutamaan sedekah yang disembunyikan

    Allah telah berfirman:

    “Jika kamu menampakkan sedekah itu, maka itu pun baik juga. Tetapi jika kamu menyembunyikan sedekah itu dan kamu memberikannya kepada orang-orang fakir, itu adalah lebih utama.” (al-Baqarah: 271)

    Dalam mengeluarkan sedekah secara bersembunyi-sembunyi itu ada lima maksud:

    Pertama: Memberikannya secara bersembunyi itu akan menutupi rahsia orang yang menerimanya. Jika ia mengambilnya secara terang-terangan akan jatuhlah marwahnya di muka ramai, dan terdedahlah keperluannya di mata mereka. Dengan itu terkeluarlah ia dari golongan orang-orang yang hidupnya ‘afif, yaitu tidak suka meminta-minta dan memelihara diri dari menunjukkan kesusahan di hadapan orang ramai sebagaimana yang dianjurkan oleh agama, hingga ke derajat orang yang tak tahu bila melihatnya, disangkanya ia tidak memerlukan apa-apa.

    Kedua: Memberikanya secara sembunyi-sembunyi itu akan menyelamatkannya dari sangkaan tak baik di dalam hati orang ramai, atau dari bencana lidah mereka. Sebab mungkin mereka akan menaruh hasad terhadapnya atau mengumpatnya, atau menyangka orang itu berani mengambil meskipun ia tidak perlu. Padahal hasad, sangkaan yang buruk dan mengumpat itu adalah di antara dosa-dosa besar, sedangkan memelihara orang ramai dari dosa-dosa ini adalah lebih utama.

    Berkata Ayub as-Sakhtiani: Aku tidak suka memakai pakaian yang baru, karena bimbang kalau-kalau akan berlaku hasad pada diri jiranku. Dan pada riwayat yang lain: karena takut kalau-kalau saudara-maraku akan berkata: Dari mana dia dapat pakaian baru itu?

    Ketiga: Menggalakkan si pemberi untuk merahsiakan pemberian itu, sebab keutamaan memberi secara rahsia atau bersembunyi-sembunyi adalah lebih banyak pahalanya dari memberi secara terang-terangan dan menggalakkan untuk meyempurnakan sesuatu yang baik adalah baik.

    Adalah diceritakan bahawa ada seorang telah membawa sesuatu pemberian kepada seorang alim dan berikannya secara terang-terangan maka orang alim itu menolak pemberian itu. Kemudian di masa yang lain, datang pula seorang lain memberinya sesuatu pemberian secara rahsia, dia pun menerimanya. Bila ditanya tentang sebabnya orang alim itu berkata: Orang ini telah menyempurnakan pemberiannya dengan penuh adab, sebab diberinya aku dengan rahsia, maka aku terimalah pemberian itu daripadanya. Tetapi orang yang pertama itu tidak tahu menjaga kesopanan bila dia memberikan pemberiannya di muka ramai maka aku tidak mau menerimanya.

    Setengah orang pula, bila diberikan kepadanya sesuatu pemberian secara terang-terangan di muka orang ramai, dia akan mengembalikannya seraya berkata: Engkau telah mengsyariatkan pemberian ini dengan selain dari Allah Azzawajalla dan engkau tidak memadai dengan Allah semata-mata karena itu aku akan kembalikan kepadamu kesyirikanmu itu.

    Keempat: Sesungguhnya mengambil zakat atau sedekah di muka khalayak ramai adalah suatu penghinaan dan kerendahan moral dan tidak seharusnya seorang Mu’min menghina saudaranya dengan pemberian zakat serupa itu.

    Kelima: Untuk memelihara diri dari syubhat pengongsian, karena ada sebuah Hadis yang berbunyi: “Barangsiapa yang menerima sesuatu hadiah di hadapan khalayak ramai, maka orang-orang itu berkongsi dalam hadiah itu.”

    Maksudnya: Memberikannya bukan semata-mata karena Allah, tetapi meminta kepujian orang ramai.

    Setiap amalan itu adalah bergantung dengan niat maka sewajarnyalah seseorang yang benar-benar ikhlas di dalam amalannya itu berhati-hati terhadap kelakuan dirinya supaya tidak terkecoh oleh rasa kemegahan yang membendung diri atau terganggu oleh tipu daya syaitan.

    Kita memohon kepada Allah yang Maha Mulia supaya memberikan kita pertolongan dari taufiqNya yang sempurna, Amin….

    WALLOHU A’LAM BIS-SHAWAB

    TAMAT

    KITAB RAHASIA ZAKAT

    ***

    INTISARI KITAB

    Mau’izhatul Mu’minin min “IHYA’ ULUMIDDIN”

    ==Hujjatul Islam Al Imam Al Ghazali==

    (Bimbingan Mu’min dari Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama)

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 14 December 2018 Permalink | Balas  

    Kitab Rahasia Zakat (7/8) 

    KITAB RAHASIA ZAKAT (7/8)

    ***

    Sedekah tathawwu’ dan keutamaannya

    Di antara Hadis yang menyebutkan tentang keutamaan sedekah ialah: “Bersedekah walau dengan sebutir kurma.”

    Dalam riwayat lain: “Takutilah api neraka itu (yakni selamatkanlah dirimu dari api neraka), walaupun dengan bersedekah setengah butir kurma. Jika kamu tiada dapat berbuat demikian, maka dengan perkataan yang baik.”

    Sabdanya lagi: “Setiap manusia di dalam naungan sedekahnya, sehinggalah saat diputuskan Allah antara sekalian manusia (yakni pada Hari Kiamat).”

    Sabdanya yang lain: “Sedekah secara bersembunyi-sembunyi itu memadamkan kemarahan Allah azzawajalla”.

    Apabila Rasulullah s.a.w. ditanya: Mana satu sedekah yang lebih utama? Baginda menjawab: Bilamana engkau bersedekah sedangkan engkau masih sihat, serta kikir, engkau mengharap jadi kaya dan takut jadi miskin. Dan janganlah engkau menangguhkan sedekah itu, sehingga nyawa telah sampai di kerongkong, maka ketika itu engkau katakan untuk si Fulan sekian banyak, dan untuk si Fulan sekian pula, padahal sememangnya semua itu untuk mereka.

    Yakni: Kalau dia tidak bilang sekian si A. Atau sekian untuk si B. Memang akan menjadi hak mereka bila sudah tercabut nyawanya.

    Sabdanya lagi: “Bukanlah seorang miskin itu yang ditolak ketika meminta sebutir atau dua butir kurma, ataupun yang ditolak ketika sesuap atau dua suap makanan. Tetapi yang dikatakan seorang miskin itu ialah orang yang terlalu susah, malah tidak suka meminta-minta. Jika perlu bacalah: (ayat) mereka tiada meminta-minta orang berulang kali.”

    Sabdanya lagi: “Tiada seseorang Muslim yang memberi pakaian kepada Muslim yang lain, melainkan Allah memelihara orang itu, selagi pakaian itu masih digunakan, sekalipun sampai menjadi secarik kain buruk.”

    Dari atsar-atsar cerita lama ialah apa yang dikatakan oleh ‘Urwah; bahawasanya Saiyidatina Aisyah r.a telah bersedekah sebanyak lima puluh ribu dirham, padahal bajunya masih koyak-koyak. Saiyidina Umar Ibnul-Khattab r.a pula berdoa: Ya Allah! Ya Tuhanku! Limpahkanlah karunia kelebihan itu pada orang-orang yang terbaik di antara kami, semoga mereka akan mengembalikan karunia-karunia itu kepada orang-orang yang mempunyai hajat di antara kami.

    Berkata Ibnu Abil-Ja’ad: Sesungguhnya sedekah itu akan menolak tujuh puluh pintu dari kecelakaan dan keutamaan mengeluarkannya secara sembunyi-sembunyi adalah tujuh puluh kali lebih utama daripada mengeluarkannya secara terang-terangan.

    (BERSAMBUNG)

    ***

    INTISARI KITAB

    Mau’izhatul Mu’minin min “IHYA’ ULUMIDDIN”

    ==Hujjatul Islam Al Imam Al Ghazali==

    (Bimbingan Mu’min dari Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama)

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 13 December 2018 Permalink | Balas  

    Kitab Rahasia Zakat (6/8) 

    Kitab Rahasia Zakat (6/8)

    ***

    Tugas-tugas penerima zakat

    Orang yang menerima zakat mempunyai empat tugas:

    (1) Hendaklah ia mengetahui bahawa Allah Azzawajalla mewajibkan pemberian itu untuk mencukupi keperluannya supaya menjadi pertolongan kepadanya untuk mengerjakan ketaatan. Jika dipergunakannya untuk maksiat, seolah-olah ia telah mengkufuri nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepadanya. Dengan itu terjauhlah ia dari rahmat Allah dan mendapat kutukan pula daripadanya.

    (2) Hendaklah ia mensyukuri orang yang memberikan zakat itu sambil mendoakan baginya dan memujinya tetapi hendaklah jangan sampai terkeluar dari menganggapnya sebagai pengantara saja, atau sebagai jalan di mana menerusinya disampaikan nikmat Allah tadi, tidak lebih dari itu, Sebab bagi pengantara atau jalan atau wasitah itu, ada haknya juga dari segi hanya dijadikan pengantara atau wasitah. Dan tiadalah menafikan bahawa asal nikmat itu daripada Allah s.w.t.

    Telah bersabda Rasullullah s.a.w. “Barangsiapa yang tiada menyukuri manusia, maka tiadalah ia mensyukuri Allah.”

    Allah s.w.t. juga telah memuji hamba-hambaNya, karena amalan-amalan baik mereka dalam beberapa ayat di dalam kitabNya, tetapi Dia telah menentukan bahawa Dialah yang mentakdirkan semua itu, diantaranya firman Allah: “Sebaik-baik hamba itu adalah yang banyak taubatnya,” (Shad: 30)

    Bersabda Rasulullah s.a.w.: “Barangsiapa memberikan kepadamu sesuatu kebaikan (bantuan), maka hendaklah kamu membalasnya Kiranya kamu tidak mampu maka doakan baginya (dengan baik) sehinga kamu yakin bahawa kamu telah pun membalasnya.”

    Di antara cara menyempurnakan kesyukuran ialah menutupi aib atau cacat-cacat pemberian itu kalaulah ada cacatnya dan janganlah sampai ia menghina atau mencacinya. Jika ia tiada mahu menerimanya karena keaiban itu maka janganlah ia mengatakan nista orang yang memberinya, bahkan handaklah ia menunjukkan besar hati terhadap pemberian itu dan menganggapnya sangat besar ertinya di hadapan orang ramai, Jelasnya tugas pemberi hendaklah memandang kecil segala pemberiannya, manakala tugas si penerima hendaklah menghargakan kenikmatan itu dan membesar-besarkannya. Dan sewajarnya atas setiap satu dari keduanya menunaikan tugas masing-masing. Semua itu tiadalah berlawanan dengan menganggap bahawa nikmat itu datangnya dari Allah Azzawajalla, sebab barangsiapa yang tiada memandang kepada pengantara atau wasitah, maka oarang itu sebenarnya bodoh. Begitu juga orang yang menganggap pemberian itu berasal dari pengantara, maka orang itu telah ingkar.

    (3) Hendaklah ia meneliti zakat yang diterimanya itu, apakah dari harta yang halal atau tidak. Jika ia bukan dari harta yang halal, maka hendaklah ia bersikap wara’. Janganlah menerima zakat dari orang yang kebanyakan perusahaannya dari hasil yang haram, melainkan bila amat terdesak, maka bolehlah diambil sekadar keperluan saja. Ataupun jika zakat yang diberinya itu dari harta yang serupa itu memang wajib dikeluarkan zakatnya. Pendek kata dalam keadaan-keadaan seperti di atas boleh diterima zakatnya sekiranya memang sukar untuk mendapat dari yang halal seratus persen.

    (4) Hendaklah ia memelihara dari jangan sampai tergelincir ke dalam keraguan dan kesyubhatan dalam kadar zakat yang diambilnya itu, yakni jangan ia menerima, melainkan dalam kadar yang harus diterimanya. Jangan ia menerima juga, melainkan sesudah ia yakin, bahawa ia mempunyai salah satu sifat dari sifat-sifat asnaf yang kedelapan yang telah di tentukan itu. Apabila ia telah meyakini ini, maka hendaklah jangan mengambil atau menerima kadar yang banyak melainkan mengambil sekadar keperluannya saja. Paling banyak boleh diambil untuk menckupi sara hidupnya dalam masa setahun saja. Itulah kadar yang paling tinggi yang dibenarkan oleh syara’ baginya untuk menerima, sebab Rasulullah s.a.w. sendiri hanya menyimpan perbelanjaan untuk tanggungjawabnya hanya untuk masa setahun saja.

    Ada pendapat setengah ulama pula yang mengharuskan si fakir untuk mengambil dari harta zakat sekadar membolehkan ia membeli sebidang tanah yang sederhana, sehingga dengan tanah itu, ia boleh mendapat hasil untuk menampung sara hidup sepanjang umurnya dan tidak perlu lagi meminta-minta atau mengambil zakat dari orang lain. Ada yang berpendapat boleh juga mengambil sekadar untuk dijadikan modal perniagaan agar ia tiadalah akan menerima zakat lagi sesudah itu, sebab ketika itu ia telah terkira sebagai orang yang tidak memerlukannya lagi.

    Saiyidina Umar Ibnul-Khattab r.a telah berkata: Apabila kamu memberi, maka hendaklah kamu memberi sekadar mencukupi hajat orang itu, sehingga ia tiada memerlukan lagi. Dengan pengertian ini, ada pendapat yang mengatakan boleh mengambil sekadar yang boleh memulihkan semula keadaan asal orang yang memerlukannya itu, sekalipun ia mengambil sampai sepuluh ribu dirham.

    Sekali peristiwa Abu Talhah melahirkan keinginannya kepada Rasulullah s.a.w. untuk menderma-baktikan kebun kurmanya, maka Rasulullah s.a.w. telah bersabda:

    “Jadikanlah pemberian itu kepada kaum kerabatmu, maka itu adalah lebih utama.”

    Maka Abu Talhah pun memberikannya kepada Hassan dan Abu Qatadah. Sebenarnya sebidang kebun kurma yang didermakan untuk dua orang saja itu adalah suatu pemberian yang besar dan lebih dari mencukupi.

    (BERSAMBUNG)

    ***

    INTISARI KITAB

    Mau’izhatul Mu’minin min “IHYA’ ULUMIDDIN”

    ==Hujjatul Islam Al Imam Al Ghazali==

    (Bimbingan Mu’min dari Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama)

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 12 December 2018 Permalink | Balas  

    Kitab Rahasia Zakat (5/8) 

    Kitab Rahasia Zakat (5/8)

    ***

    Pembahagian zakat dan asnaf-asnaf penerimanya.

    Ketahuilah, bahawa tiada berhak untuk menerima zakat itu melainkan seorang  Muslim yang ada padanya salah satu dari sifat-sifat asnaf delapan yang  tersebut di dalam al-Quran al-Karim:

    (1) Fakir: yaitu orang yang tiada harta dan tiada mampu pula bekerja.

    Barangsiapa yang boleh bekerja akan terkeluarlah ia dari kategori seorang  fakir. Jika ia sedang menuntut ilmu dan yang demikian itu telah  menghalangnya dari bekerja maka dikiralah ia seorang fakir dan  kekuasaannya untuk bekerja itu tiada dikira. Tetapi kalau ia seorang ‘abid  (beribadat), sehingga ibadatnya itu menghalangnya dari bekerja disebabkan  terlalu banyak ibadatnya dan semua waktunya dihabiskan karena berwirid  maka hendaklah ia disuruh supaya bekerja. Sebab membuat pekerjaan untuk  mendapatkan sara hidup itu, adalah lebih penting daripada menghabiskan  kesemua masanya pada ibadat dan wirid semata-mata.

    (2) Miskin: yaitu orang yang pendapatannya tidak mencukupi perbelanjaan  yang mesti dikeluarkan. Seseorang itu boleh jadi memiliki seribu dirham,  padahal ia boleh dikira miskin sedangkan orang yang tidak memiliki apa-apa  kecuali sebilah kapak dan sepotong tali, padahal ia boleh dikira kaya.  Demikian pula pondok kecil yang dimilikinya dan sepasang pakaian yang  membalut badannya sekadar hal saja, itu semua tidak dapat merampas darinya  nama seorang miskin. Begitu juga dengan perkakas-perkakas rumahtangga yang  diperlukan di rumah menurut keadaan atau kebiasaan tidak dapat  mengeluarkan namanya dari kategori seorang miskin. Termasuk juga kalau ia  mempunyai kitab-kitab fiqh yang banyak, karena tentulah dia berhajat  kepadanya untuk mengetahui hukum-hukum agama.

    (3) Para amil: yaitu orang-orang yang bekerja untuk mengumpulkan zakat, termasuk dalam senarai ini semua orang yang bekerja sebagai kerani,  jurukira penyimpan harta zakat dan orang yang bertugas untuk memindahkan  harta zakat.

    (4) Orang yang dibujuk hatinya menganut Islam atau yang dipanggil  muallaf; yaitu seorang ketua sesuatu puak yang memeluk Islam, sedangkan ia  ditaati oleh kaumnya. Sebab diberikan kepadanya sebahagian daripada zakat,  ialah untuk mengukuhkan kepercayaannya kepada Agama Islam dan menggalakkan  pula pengikut-pengikutnya dan orang lain sepertinya untuk memeluk Agama  Islam.

    (5) Hamba abdi: yaitu untuk maksud menebus dirinya daripada perhambaan,  sama ada dibayarkan harganya kepada tuan punyaanya untuk dimerdekakan,  ataupun diberikan bahagian perhambaan (sekiranya ia hamba mukatab –  pent.).

    (6) Gharim atau orang yang dibebani oleh hutang: yaitu kiranya ia  berhutang karena tujuan-tujuan ketaatan ataupun karena sebab yang mubah  (harus) seperti perbelanjaan ke atas anak-isteri misalnya sedangkan ia di  dalam keadaan fakir, tak punya daya untuk membayar hutang itu. Kiranya ia  berhutang karena tujuan maksiat maka tiadalah ia diberikan dari bahagian  zakat itu, melainkan jika ia telah bertaubat dengan sebenar-benar taubat.  Kiranya ia seorang yang kaya (misalnya mempunyai harta benda – pent.),  maka tiadalah boleh ditunaikan hutangnya itu dari bahagian zakat, kecuali  jika ia berhutang itu karena faedah dan maslahat orang ramai, ataupun  karena tujuan memadamkan fitnah dan huru-hara.

    (7) Orang mujahid atau yang berperang fi-sabilillah: yaitu orang yang  tiada menerima apa-apa bayaran berupa upahan atau gaji dari negara, maka  diberikan kepada mereka itu satu bahagian dari zakat, meskipun mereka itu  tergolong orang-orang yang kaya-raya, karena pemberian itu adalah untuk  menggalakkan mereka supaya terus berperang.

    (8) Ibnu sabil: yaitu orang yang meninggalkan negerinya untuk mengembara  ke negeri orang bukan karena maksiat, atau karena terlantar di negeri  orang dan tak punya wang untuk kembali, maka bolehlah diberikan kepadanya  bahagian zakat, kiranya ia seorang fakir ataupun kiranya ia mempunyai  harta di negeri lain, diberikan sekadar belanja untuk sampai ke negeri itu  saja.

    (BERSAMBUNG)

    ***

    INTISARI KITAB

    Mau’izhatul Mu’minin min “IHYA’ ULUMIDDIN”

    ==Hujjatul Islam Al Imam Al Ghazali==

    (Bimbingan Mu’min dari Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama)

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 11 December 2018 Permalink | Balas  

    Kitab Rahasia Zakat (4/8) 

    Kitab Rahasia Zakat (4/8)

    ======================

    Tugas-tugas mengeluarkan zakat

    Kelima :

    Hendaklah anda memandang pemberian itu amat kecil sekali, sebab jika anda merasakan pemberian itu besar; atau banyak kelak mungkin anda merasa ujub (bermegah diri). Dan sifat ujub itu adalan di antara sifat-sifat yang membinasakan dan tentu sekali anda akan mensia-siakan amalan, bererti menghilangkan pahalanya.

    Adn pendapat yang mengatakan bahawa tidak akan sempurna sesuatu kebajikan melainkan tiga perkara:

    (1) merasakan amalam itu kecil

    (2) menyegerakan amalan itu.

    (3) merahasiakan amalan itu, atau melakukannya secara sembunyi-sembunyi.

    Keenam :

    hendaklah anda memilih dari harta bendamu yang paling bagus sekali dan yang paling dicintainya; yakni yang berharga dan terindah karena Allah Ta’ala tu ZatNya Maha Bagus dan Dia tidak akan menerima malainkan yang bagus pula.

    Sekiranya anda mengeluarkan bukan dari harta yang bagus, maka samalah seperti anda kurang ajar terhadap Allah s.w.t. sebab anda telah memilih yang bagus bagi dirimu atau bagi keluargamu dan memberikan yang tak bagus kepada Allah s.w.t

    Perbuatan ini samalah seperti anda melebihkan dirimu daripada Allah Azzawajalla, padahal segala hartamu itu, Allah yang memberikan kepadamu. Cuba anda buat serupa ini kepada tetamumu; yakni menghidangkan makanan yang busuk, atau tidak enak, tentulah kelakuan itu akan menimbulkan rasa marah di dalam hati si tetamu itu.

    Allah telah berfirman:

    “Wahai orang-orang yang beriman belanjakanlah dari sebaik-baik harta yang kamu perolehi dan dari segala benda yang Kami (Allah) keluarkan dari bumi untuk kamu, dan janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu membelanjakannya, sedangkan kamu sendiri tiada ingin mengambilnya lagi, melainkan dengan memejamkan mata kamu.” (al-Baqarah: 267)

    Maksudnya: Kamu tidak ingin mengambilnya melainkan secara terpaksa atau malu, Itulah yang diartikan dengan makna memejam mata.

    Ketujuh :

    Dalam mengeluarkan sedekah itu, hendaklah anda memilih orang yang benar-benar boleh membersihkan hartamu dengan sedekah itu. Janganlah hendaknya memadai dengan memilih delapan asnaf yang ada secara umum saja, sebab dalam umum asnaf-asnaf yang delapan itu, ada yang mempunyai sifat-sifat yang khusus. Maka hendaklah anda mendahului orang-orang yang mempunyai sifat-sifat yang khusus itu, yaitu kepada enam macam:

    (1) Hendaklah anda memilih dari para Salihin orang-orang penuh taqwa karena sedekah yang didapati mereka itu dapat digunakan untuk jalan taqwa kepada Allah s.w.t. Dengan itu anda akan mengongsi pahala-pahala mereka dalam ketaatan disebabkan pertolonganmu kepada mereka.

    (2) Hendaklah orang yang menerima sedekah itu dari golongan orang-orang ahli ilmu pengetahuan agama, ataupun dari para alim-ulama khasnya, karena memberikan sedekah itu kepadanya samalah seperti menolong mereka memperkembangkan ilmu pengetahuan agama. Manakala ilmu pengetahuan agama itu adalah semulia-mulia ibadat di sisi Tuhan, kiranya disertakan dengan niat yang suci.

    Ibnui-Mubarak sentiasa mengkhususkan bantuannya kepada ahli-ahli ilmu pengetahuan agama. Maka ada orang yang berkata: Mengapa tidak engkau umumkan bantuanmu itu kepada selain mereka. Beliau menjawab: Saya tiada mengetahui ada suatu maqam (kedudukan) yang lebih utama sesudah maqam para Nabi, selain dari maqam alim-ulama. Sebab mereka itu jika dipaksakan untuk mencari keperluan hidup, tentulah mereka tidak dapat menumpukan sepenuh perhatian kepada ilmu pengetahuan, dan tiada mampu untuk meneruskan pelajarannya maka penumpuan mereka kepada ilmu pengetahuan itu adalah lebih utama oleh itu sayugialah hendaknya kita tolong mereka.

    (3) Hendaklah si penerima itu benar-benar dalam taqwanya kepada Allah Ta’ala dan mendalam ilmu pengetahuannya mengenai tauhid. Maksud di sini, hendaklah bila ia menerima pemberian serta-mertalah ia memuji Allah dan bersyukur kepadaNya. Dan hendaklah ia menganggap bahawa nikmat pemberian itu datangnya dari Allah, dan bahawasanya si pemberi itu adalah wasitah atau pengantara yang ditunjuk oleh Allah dengan kekuasaannya sebab hanya Allah s.w.t sajalah merangsangkannya untuk melakukan perbuatan baik itu, Barangsiapa kebatinannya tiada dapat mensifatkan pandangannya terhadap pengantara itu sebagai hanya pengantara semata-mata, maka tentulah ia belum lagi terlepa dari maksud keisyikian yang tersembunyi.

    Oleh itu hendaklah ia memperbanyak taqwa kepada Allah s.w.t. dalam jalan membersihkan ketauhidannya dari daki-daki syirik dan kekotorannya.

    (4) Hendaklah si penerima sedekah itu merahasiakan keperluannya, jangan terlalu banyak mengadu atau merayu. Hendaklah mereka itu dari orang-orang yang menjaga maruahnya seperti halnya orang yang pernah hidup mewah, lalu oleh karena sesuatu sebab atau yang lain, tiba-tiba dia jatuh miskin, tetapi keadaannya tetap seperti biasa juga, tiada pernah meratapi nasibnya, bahkan sentiasa hidup menahan diri.

    Allah telah berfirman :

    “Orang jahil (yang tiada mengetahui halnya) menyangkakan mereka itu kaya raya, sebeb mereka tiada pernah meminta-minta Engkau dapat mengenal mereka itu dengan tanda-tandanya. Mereka tiada suka meminta kepada orang lain secara berulang-ulang.” (al-Baqarah: 273)

    Yakni mereka tiada mahu berulang-ulang meminta sebab mereka sebenarnya kaya raya dengan keyakinan kepada Allah dan termulia dengan kesabaran yang ada pada diri mereka.

    Sayugialah seseorang yang hendak memberikan sedekahnya itu hendaklah terlebih dulu mencari-cari akan ahli-ahli agama di merata-rata tempat, di samping menyingkap rahasia kebatinan orang-orang yang selalu cenderung pada kebaikan dan kesabaran. Sebab pahala memberikan sedekah kepada orang-orang yang selalu meminta-minta di khalayak ramai.

    (5) Hendaklah si pemberi sedekah itu memilih pula orang-orang yang banyak tanggungannya ataupun orang-orang yang terlantar karena sakit ataupun karena sebab-sebab yang lain, menurut pengertian firman Allah Ta’ala berikut:

    “Untuk orang-orang fakir yang terkepung di jalan Allah, yang tiada berkuasa lagi untuk mengusahakan rezekinya di muka bumi.” (al-Baqarah : 273)

    Maksud dari perkataan uh shiruu fi sabillah di sini ialah mereka yang terkurung pada jalan akhirat tidak dapat mengusahakan lagi rezeki anak-isterinya ataupun dikarenakan kesempitan hidup atau kebaikan hati, sehingga seolah-olahnya sayap mereka telah terpotong dan tangan mereka telah terbelenggu.

    Dan atas sebab inilah, Saiyidina Umar Ibnul-Khattab r.a. memberi kepada ahlul-bait, yakni keluarga Rasullullah s.a.w. sekelompok kambing 10 ekor ke atas. Dalam masa hayatnya Rasulullah s.a.w. sendiri telah menguruskan kerja-kerja membahagikan pemberian ini menurut kadar keluarga.

    Saiyidina Umar Ibnul-Khattab apabila ditanya tentang maksud jahdul-bala’ (bencana yang berat) telah menjawab: Maksudnya ialah terlampau banyak tanggungan (keluarga) dan terlalu sedikit wang pula.

    Hendaklah diutamakan pemberian itu kepada kaum kerabat dan keluarga, sehingga pemberian itu merupakan sebagai sedekah dan menyambung silatur-rahim antara keluarga, sedang pahala silatur-rahim ini adalah amat besar sekali.

    Saiyidina Ali r.a telah berkata: Jika aku mempereratkan hubungan salah seorang dari saudara maraku dengan memberinya satu dirham saja, adalah lebih aku utamakan daripada aku menderma 20 dirham kepada selain mereka.

    Sahabat-sahabat dan rakan-rakan seperjuangan dalam melakukan kebaikan kepada orang ramai hendaklah diutamakan dari kenalan-kenalan biasa yang lain. Sebagaimana diutamakan kaum kerabat dari orang-orang yang asing. Semua ini harus diperhatikan dengan sebaik-baiknya. Itulah sifat-sifat yang dituntut oleh agama dan pada setiap sifat itu ada darjat-darjat keutamaannya. Oleh itu janganlah dituntut melainkan darjat yang paling tinggi sekali.

    Kalau ada pula orang yang dapat mengumpulkan semua sifat-sifat keutamaan ini sekaligus maka itulah yang dikatakan simpanan yang paling terbesar dan keuntungan yang amat teragung.

    (BERSAMBUNG)

    ***

    INTISARI KITAB

    Mau’izhatul Mu’minin min “IHYA’ ULUMIDDIN”

    ==Hujjatul Islam Al Imam Al Ghazali==

    (Bimbingan Mu’min dari Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama)

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 10 December 2018 Permalink | Balas  

    Kitab Rahasia Zakat (3/8) 

    Kitab Rahasia Zakat (3/8)

    ***

    Tugas-tugas mengeluarkan zakat

    Pertama :

    Menyegerakan pengeluarannya sebelum waktu kewajibannya, karena melahirkan tanda kesenangan diri, untuk menjujung perintah Allah, dan karena keinginan untuk menimbulkan rasa kegembiraann di dalam hati para fakir-miskin.

    Tindakan mempercepatkan pengeluaran zakat ini boleh menolak halangan-halangan atau gangguan-gangguan masa; mana tahu nanti kelebihan-kelebihan yang ada itu akan lenyap karena sesuatu sebab yang tak terduga. Kemudian kita juga tentu maklum bahawa dalam menangguhkan pengeluaran zakat itu ada beberapa bencana, selain kita akan berdosa karena melanggar perintah Tuhan, sebab melewatkan pengeluaran zakat itu dari waktu kewajibannya.

    Jadi sayugianya diingatkan, apabila tergerak di dalam hati niat yang baik untuk menyegerakan zakat, maka jangan sampai menangguh-nangguhkan lagi, bahkan hendaklah menggunakan kesempatan itu sepenuhnya karena yang demikian itu adalah bisikan Malaikat kepada kita. Kalau tidak, dikhuatiri hati itu akan bertukar tujuan, dan manakala syaitan sentiasa menunggu di pintu hati menjanjikan kita kefakiran, yakni menakut-nakutkan kita menjadi papa-kedana, sebagaimana firman Allah:

    “Syaitan itu menjanjikan (menakut-nakutkan) kamu akan kefakiran dan menggalakkan kamu melakukan kekejian dan kemungkaran.” (al-Baqarah: 268)

    Sebagaimana Malaikat sentiasa membisikkan kepada kita dengan perkara-perkara yang baik-baik, syaitan pula membisikkan sebaliknya. Dan bisikan syaitan itu tidak pernah terputus, sesudah satu tidak berjaya datang pula yang lainnya secara terus-menerus maka hendaklah kita berjaga-jaga daripadanya. Jadi bila ada keinginan yang baik timbul di dalam hati, maka janganlah ditinggalkan peluang itu berlalu begitu saja.

    Kedua :

    Mengeluarkan zakat secara rahasia, tidak dihebahkan ke sana ke mari, karena yang demikian itu akan menjauhkan amalan itu daripada ria’ dan minta dipuji ramai.

    Allah berfirman:

    “Jika sekiranya kamu rahasiakan (sedekah) dan kamu memberikannya kepada para fakir, maka itu adalah lebih utama bagimu.” (al-Baqarah: 271)

    Sebahagian pengeluar zakat yang ingin mendapatkan keutamaan merahasiakan pengeluarannya, sehingga mereka mencuba agar orang yang menerima zakat itu tidak mengetahui siapakah pemberinya. Ada juga yang memberi zakat dengan perantaraan orang lain, supaya si fakir yang menerima itu tiada mengetahui si kaya yang mengeluarkannya. Paling kurang ia akan memesan orang yang akan menyampaikan zakat itu, supaya merahasiakan pemberian itu, dan jangan dibocorkan rahasianya; semuanya itu dilakukan tiada lain, karena mencari keredhaan Allah Ta’ala dan memelihara diri dari perasaan ria’, atau bermegah diri. Tetapi apabila amalannya itu diisytiharkan untuk menuntut kemasyuran, maka hancur-leburlah amalan itu, tanpa apa pahala lagi padanya.

    Ketiga :

    Patut juga anda mengisytiharkan pengeluaran zakat itu, kiranya anda yakin dalam pengisytiharan itu ada tanda-tanda akan menggalakkan orang lain untuk mengikuti jejak langkahmu, tetapi harus pula memelihara jangan sampai di dalam hati terbungkus perasaan ria’ atau rasa bermegah diri.

    Allah telah berfirman:

    “Kiranya kamu menampakkan sedekah-sedekah itu, itu pun baik juga.” (al-Baqarah: 271)

    Maksudnya ialah apabila keadaan memaksa untuk menampakkan sedekah-sedekah itu, sama ada supaya menjadi contoh tauladan bagi orang lain untuk mengikutinya ataupun karena si peminta sedekah itu telah meminta anda di hadapan khalayak ramai, maka tidak sewajarnya anda meninggalkan pemberian sedekah tersebut dengan alasan memberi sedekah secara terang-terangan itu akan menimbulkan ria’ di dalam hati.

    Tidak begitu tetapi hendaklah anda memelihara hati daripada ria’ sekadar yang termampu. Sebab di dalam keadaan yang serupa itu ada larangan yang ketiga, selain dari menampakkan budi dan ria’ yaitu mengecilkan hati si peminta itu, karena mungkin sekali ia akan merasa terhina atau pedih, sebab kelihatan sebagai serang yang perlu dan berhajat di hadapan khalayak ramai.

    Barangsiapa yang meminta-minta di hadapan ramai maka sebenarnya dia telah mendedahkan rahasia dirinya, maka janganlah sampai si pemberi pula melanggar kehormatannya lagi. Yakni karena alasan takutkan ria’ dalam memberi secara terang-terangan itu, dia lalu menolak dan tiada memberinya pula.

    Allah telah berfirman:

    “dan belanjakanlah dari harta yang Kami (Allah) rezekikan kepadamu secara rahasia atau terang-terangan.” (ar-Ra’ad: 22)

    Ayat ini menunjukkan keharusan untuk memberi secara terang-terangan disebabkan adanya faedah untuk mendorong orang lain menurut jejak-langkahnya.

    Oleh karena itu hendaklah kita pandai-pandai meneliti dan menimbang-menimbang faedah yang tersebut itu dan memperbandingkannya dengan bahaya yang kita bimbangkan itu. Barangsiapa yang sudah kenal mana satu yang dikatakan berfaedah dan mana pula yang mengandungi bahaya, tentulah cara yang pertama yang akan dipilih, karena ia adalah yang utama dan yang patut dipilihnya dalam hal ini.

    Keempat :

    Janganlah anda merosakkan sedekahmu itu dengan menyebutkannya ke sana ke mari atau dengan menyakiti hati orang yang menerima sedekah itu.

    Allah berfirman:

    “Janganlah kamu merosakkan sedekah-sedekah kamu itu dengan memuji diri dan cercaan.” (al-Baqarah: 264)

    Perkataan al-Manni di dalam ayat di atas tadi, ialah menyebutkan ke sana ke mari dan memberitahu orang lain, bahawa dia telah memberikan si Fulan itu sekian-sekian dari sedekahnya. Ataupun dia memberikan sedekahnya kepada si Fulan, kemudian menyuruh Fulan itu membuat sesuatu kerja. Ataupun dia memberikannya secara menyombong diri. Dan perkataan al-Adza pula diertikan dengan maksud menampakkan sedekahnya kepada orang ramai, ataupun mencerca Fulan yang menerima sedekah itu karena kefakirannya atau memakinya atau memburukkan-burukkan keadaannya. Karena selalu saja meminta-minta.

    Asal makna perkataan al-Manni ialah menganggap dirinya berbudi kepada si fakir dan memberinya kenikmatan. Tetapi makna yang sebenarnya ialah sebaliknya; yaitu hendaklah ia memandang si fakir itu berbudi kepadanya dengan menerima hak Allah Azzawajalla daripadanya, yang mana dengan itu akan tersucilah dirinya dan terselamatlah ia dari api neraka.

    Renungkanlah andaikata tidak ada orang yang mahu menerima sedekah itu, tentulah kewajipan itu masih tergantung di atas pundaknya. Maka seharusnya dia menganggap dari tanggungjawab yang berat itu.

    Walau bagaimanapun barangsiapa telah mengenal dan mengetahui tiga macam pengertian yang telah berlalu sebutannya itu, akan merasa dirinya tidak berbudi apa-apa kepada siapa pun, melainkan kepada dirinya sendiri. Sebab dengan menunaikan zakat itu dia telah mengeluarkan hartanya, sama ada karena menyatakan kecintaannya kepada Allah s.w.t ataupun karena membersihkan dirinya dari celaan sifat kikir dan lokek, ataupun karena kesyukuran terhadap kenikmatan harta yang dimilikinya, mudah-mudahan Allah Ta’ala akan menambah lagi.

    Adapun asal makna perkataan Al-Adza, ialah mengganggap dirinya lebih utama dari diri si fakir, dan ini ternyata sekali suatu kebodohan. Sebab kiranya ia mengetahui keutamaan si fakir dalam perkara zakat itu, dan berapa beratnya bahaya orang kaya dalam perkara yang sama, tentu sekali ia tidak akan menghina atau merendahkan diri si fakir itu, malah sebaliknya ia akan mengharap-harapkan untuk memperoleh darjat si fakir itu. Apa sebabnya? Karena Allah s.w.t. telah menjadikan kaum fakir-miskin itu tempat orang kaya memperdagangkan nasibnya agar ia terselamat dari tanggungjawabnya; yaitu dengan penerimaan kaum fakir-miskin zakat atau sedekah yang wajib dikelurkan itu.

    (BERSAMBUNG)

    ***

    INTISARI KITAB

    Mau’izhatul Mu’minin min “IHYA’ ULUMIDDIN”

    ==Hujjatul Islam Al Imam Al Ghazali==

    (Bimbingan Mu’min dari Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama)

    (BERSAMBUNG)

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 9 December 2018 Permalink | Balas  

    Kitab Rahasia Zakat (2/8) 

    Bismillah, Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah

    amma ba’du…

    KITAB RAHASIA ZAKAT (2/8)

    ======================

    Rahasia zakat sebagai sendi Agama Islam

    Dalam membincangkan rahasia-rahasia zakat itu ada tiga pengertian:

    Pengertian 1 rahasia-rahasia zakat :

    Penyebutan dua kalimah syahadat itu mengartikan suatu pengakuan terhadap wajibnya sifat keesaan bagi Allah s.w.t. dan sebagai penyaksian akan satunya Tuhan yang disembah. Syarat bagi penyempurnaan pengakuan ini, hendaklah jangan sampai ada bagi orang mengEsakan Allah tadi suatu zat lain yang amat dikasihinya atau dicintainya lagi selain dari Zat yang Maha Esa dan Maha Satu itu. Sebab kecintaan yang sempurna itu tidak mengakui adanya persekutuan dengan yang lain. Mengakui keesaan dengan lidah semata-mata kurang kesannya pada diri, akan tetapi seseorang yang mengakui kecintaan itu akan diduga tingkatan kecintaanya dengan terpisahnya orang yang dicintai itu.

    Harta kekayaan pula adalah barang yang amat dicintai oleh manusia, sebab ia merupakan mata benda yang boleh menyenangkan mereka dalam kehidupan di dunia dan dengan adanya harta kekayaan itu manusia akan merasa kelapangan hidup di dalam alam yang fana ini, dan mereka akan melarikan diri dari maut, padahal hanya dengan maut sajalah akan bertemu pengasih dengan kekasihnya; yaitu Allah s.w.t. lalu mereka itu di duga tentang kebenaran pengakuan mereka terhadap Zat yang dicintainya itu sama ada benar atau palsu; yaitu melalui harta kekayaan yang dikejar dan disanjungnya dalam kehidupan yang fana’ ini.

    Allah Ta’ala berfirman:

    “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah membeli dari kaum Mu’minin itu diri mereka dan harta kekayaan mereka dengan janji akan memberikan mereka syurga”. (at-Taubah: 111)

    Yang demikian itu akan terhasilnya dengan berjihad; yaitu menukar gantikan dengan nyawa, karena sangat cinta untuk bertemu dengan Allah yang dicintaiNya itu, tetapi ini hanya menukar ganti dengan harta benda saja, dan ia adalah lebih ringan dari pertama tadi.

    Apabila pengertian serupa ini diumumkan pada membelanjakan harta kekayaan, maka orang ramai pun terbagi kepada tiga bahagian:

    Bahagian 1:

    Suatu puak mengutamakan tauhid atau keesaan Allah, lalu membelanjakan semua harta kekayaan mereka, tiada sedinar ataupun sedirham pun yang tinggal lagi. Termasuk dalam puak ini ialah Saiyidina Abu Bakar as-Sidiq yang telah membawa semua hartanya kepada Rasulullah s.a.w. untuk dibahagi-bahagikan.

    Bahagian 2:

    Sepuak lagi yang rendah sedikit tingkatannya dari puak yang pertama tadi; yaitu orang-orang yang menahan hartanya untuk dibelanjakan pada waktu-waktu keperluan dan masa-masa mengeluarkan khairat atau sedekah. Jadi maksudnya menyimpan wang itu adalah untuk membelanjakan ke atas kadar keperluannya saja tanpa bersenang-senang dengannya dan selebih dari kadar keperluannya itu dibelanjakan kesemuanya kepada perkara-perkara kebajikan tidak kira apa saja rupanya.

    Orang-orang dari puak ini tiada memandang cukup dengan mengeluarkan zakat semata-mata, malah sedekah-sedekah yang lain pun turrut dikeluarkan sama. Sebahagian terbesar dari para tabi’in menentukan, bahawa dalam harta benda itu ada hak-hak yang lain selain dari hak zakat. Mereka itu termasuklah Imam-imam as Nakha’I as-Sya’bi, Atha’ dan Mujahid.

    Lihatlah apa kata as-Sya’bi apabila ditanya: Apakah dalam harta benda itu ada lagi hak selain zakat, beliau menjawab: Memang ada lagi hak selain zakat, beliau menjawab: Memang ada lagi hak yang lain. Tidak pernahkan engkau mendengar firman Allah Ta’ala.

    “Dan dia memberikan pula hartanya yang dikasihinya kepada kaum kerabat.”

    (al-Baqarah:177)

    Dan mereka itu mengambil dalilnya dari: firman Allah Ta’ala

    “Dan mereka membelanjakan dari apa yang Kami (Allah) rezekinya kepada mereka.”

    (al-Baqarah: 3)

    Begitu pula dengan firman yang berikut:

    “Dan belanjakanlah dari apa yang Kami (Allah) memberi rezeki kepada kamu.”

    (al-Munafiqun:10)

    Ayat ini pula umum termasuk dalam hak seorang Muslim kepada Muslim yang lain. Yakni wajib atas orang yang berkelebihan membantu saudaranya yang berhajat dan menutup keperluannya dari wang yang selain zakat.

    Bahagian 3:

    Puak atau golongan yang berpegang dengan yang wajib semata-mata, tiada lebh dan tiada kurang. Mereka inilah yang berada di tingkat yang paling rendah sekali. Kebanyakan orang berada di tingkat yang paling rendah sekali. Kebanyakan orang terkira dalam golongan ini disebabkan mereka itu terlalu lokek dengan harta kekayaan yang mereka amat mencintainya itu, dan oleh karena lemahnya kecintaan mereka terhadap akhirat.

    Pengertian 2 rahasia-rahasia zakat :

    Membersihkan jiwa dari sifat lokek dan bakhil karena ia adalah salah satu dari sifat-sifat yang membinasakan.

    Allah telah berfirman:

    “Barangsiapa terselamat dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang berbahagia.” (al-Hashr: 9)

    Ketahuilah sifat kikir atau lokek itu tidak akan lenyap dari diri seseorang, melainkan dengan membiasakan diri membelanjakan harta kepada jalan kebajikan, karena kasih kita kepada sesuatu benda itu tidak akan terputus, melainkan dengan memaksa diri untuk berpisah dengannya, sehingga lama-lama menjadi kebiasaan. Menurut pengertian ini, zakat itu menjadi pensuci diri; yaitu ia akan membersihkan diri seseorang itu dari buruknya sifat lokek atau kikir yang membinasakan itu. Dan kadar pensucian itu adalah diukur banyak sedikitnya dengan kadar perbelanjaannya dari harta itu, dan dengan kadar rasa gembiranya karena mengeluarkan wang itu, atau merasa puas hati, sebab dia telah membelanjakannya semata-mata karena mencari keredhaan Allah s.w.t.

    Pengertian 3 rahasia-rahasia zakat :

    Mensyukuri nikmat, karena setiap manusia adalah terhutang nikmat kepada Allah s.w.t. pada dirinya dan pada hartanya.

    Oleh itu ibadat yang dilakukan oleh anggota badan ini merupakan suatu kesyukuran terhadap kenikmatan tubuh. Begitu juga membelanjakan wang dalam jalan Allah itu merupakan suatu kesyukuran terhadap kenikmatan harta pula. Alangkah jeleknya seseorang yang melihat si fakir yang sedang dalam kesempitan rezeki dan amat perlu kepada bantuan wang, sedangkan ia tiada mengindahkannya dan tiada memberatkan untuk menunaikan kesyukuran terhadap Allah s.w.t. yaitu dengan menyelamatkannya dari meminta-minta untuk mencukupi keperluannya dan keperluan orang-orang yang ditanggungnya, dengan membelanjakan seperempatpuluh (2.5%) ataupun sepersepuluh (10%) dari hartanya.

    (BERSAMBUNG)

    ***

    INTISARI KITAB

    Mau’izhatul Mu’minin min “IHYA’ ULUMIDDIN”

    ==Hujjatul Islam Al Imam Al Ghazali==

    (Bimbingan Mu’min dari Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama)

    (BERSAMBUNG)

     
  • erva kurniawan 2:18 am on 8 December 2018 Permalink | Balas  

    Kitab Rahasia Zakat (1/8) 

    Bismillah, Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah

    amma ba’du…

    KITAB RAHASIA ZAKAT (1/8)

    **

    Allah s.w.t. telah menjadikan zakat itu salah satu sendi bagi bangunan Islam, dan diikutkan sertakan sebutan zakat pula dengan sebutan sembahyang yang menjadi setinggi-tinggi panji-panji agama Islam.

    Allah berfirman:

    “Dirikanlah sembahyang dan keluarkanlah zakat” (al-Baqarah: 110)

    Rasulullah s.a.w. telah bersabda:

    “Islam itu didirikan atas lima perkara (1) Penyaksian bahawasanya tiada tuhan melainkan Allah dan bahawasnya Muhammad itu hambaNya dan RasulNya, (2) mendirikan sembahyang, (3) Mengeluarkan zakat, (4) Berpuasa Ramadhan, dan (5) Berhaji ke Baitullah (Ka’bah) bagi sesiapa yang berkuasa menuju kepadanya.”

    Allah Ta’ala telah mengancam dengan sekeras-kerasnya terhadap orang-orang yang melalaikan perintah-perintahNya dengan berfirman:

    “Orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tiada membelanjakan pada jalan Allah, maka beritahukanlah mereka itu akan ditimpa azab yang amat pedih.”

    (at-Taubah: 34)

    Maksud dari membelanja pada jalan Allah ialah mengeluarkan zakat.

    Al-Ahnaf bin Qais berkata: Pada suatu masa saya sedang duduk-duduk bersama-sama beberapa orang Quraish, lalu Abu Zar melintas seraya berkata: Beritahukanlah kepada orang-orang yang mendamkan hartanya (tiada mengeluarkan zakat) bahawa mereka akan diselar dengan api dari tengkuknya menembusi dahinya pula.

    Dengan adanya ancaman yang begitu keras itu, maka adalah menjadi satu tugas- yang penting bagi Agama Islam untuk mendedahkan rahasia-rahasia zakat dan maksud-maksudnya yang lahir dan batin. Dalam hal ini ada beberapa fasal.

    Menunaikan zakat dan syarat-syaratnya.

    Ketahuilah bahawa atas orang-orang yang mengeluarkan zakat itu beberapa perkara yang harus diperhatikan:

    Pertama:

    Menyegerakan pengeluaran zakat sesudah cukup haulnya (yaitu kiraan setahun) dan di dalam zakat fitrah, tiada boleh ditangguhkan hingga hari terbuka, yaitu Hari Raya. Waktu kewajipan zakat fitrah bermula dari tenggelamnya matahari hari terakhir dari Ramadhan dan boleh disegerakan pengeluarannya pada sepanjang bulan Ramadhan.

    Orang yang sengaja melambatkan pengeluaran zakatnya padahal ia berkuasa adalah berdosa besar, dan kewajipan itu tidaklah gugur daripadanya sekiranya hartanya binasa sesudah itu. Kiranya ia lambat mengeluarkannya karena mencari orang-orang yang berhak menerimanya, tidaklah terkira dalam pengertian sengaja melambatkan dan karena itu tidak ia berdosa.

    Menyegerakan pengeluaran zakat umumnya adalah harus.

    Kedua:

    Tiada boleh memindahkan sedekah atau zakat itu ke negeri yang lain, sebab kaum fakir miskin di setiap negeri sentiasa mengharap-harapkan kepada harta benda dari zakat. Apabila harta benda zakat itu dipindahkan ke tempat lain akan kecewalah harapan mereka itu. Andaikata dipindahkan juga harta benda zakat itu, maka hukumnya sah juga dengan khilaf setengah ulama. Tetapi meninggalkan perkara yang ada khilaf ulama itu adalah lebih utama; yaitu sebaik-baiknya ia mengeluarkan zakat hartanya itu dinegerinya sendiri. Dan tiada mengapalah kalau ia memberikan sebahagian dari zakatnya itu kepada orang-orang gharib (orang-orang asing yang datang ke situ) yang berada di negerinya itu juga.

    Ketiga:

    Hendaklah ia mengeluarkan kepada sebilangan orang dari asnaf-asnaf delapan yang ada di negerinya itu. Yang biasanya pada tiap-tiap negeri hanya yang ada empat asnaf saja yaitu: (1) Fakir, (2) Miskin, (3) Ghaarim atau orang yang dibebani oleh hutang, dan (4) Orang yang terlantar, yakni Ibnu Sabil yang terkandas di negeri orang.

    Tiada wajib atasnya untuk membahagikan zakatnya itu sama rata menurut bilangan asnaf.

    INTISARI KITAB

    Mau’izhatul Mu’minin min “IHYA’ ULUMIDDIN”

    ==Hujjatul Islam Al Imam Al Ghazali==

    (Bimbingan Mu’min dari Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama)

     

    (BERSAMBUNG)

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 7 December 2018 Permalink | Balas  

    Dampak Negatif Riba Bagi Pribadi dan Masyarakat 

    Dampak Negatif Riba Bagi Pribadi dan Masyarakat

    Sebagai bentuk maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam bersabda, “Setiap umatku dijamin masuk surga kecuali yang enggan”. Para shahabat bertanya, “Siapa yang enggan masuk surga wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Barangsiapa yang ta’at kepadaku pasti masuk surga dan barangsiapa yang berbuat maksiat (tidak ta’at) kepadaku itulah orang yang enggan (masuk surga)”. (HR.al-Bukhari)

    Ibadah haji, shadaqah dan infak dalam bentuk apapun tidak diterima oleh Allah subhanahu wata’ala kalau berasal dari hasil riba, Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam bersabda dalam hadits yang shahih, “Sesunguhnya Allah itu baik dan Dia tidak menerima kecuali dari hasil yang baik”.

    Allah subhanahu wata’ala tidak mengabulkan doa orang yang memakan riba, Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam bersabda, “Ada seorang yang menengadahkan tangannya ke langit berdo’a, “Ya Rabbi, Ya Rabbi, sementara makanannya haram, pakaiannya haram, dan daging yang tumbuh dari hasil yang haram, maka bagaimana mungkin do’anya dikabulkan.” (HR.Muslim)

    Hilangnya keberkahan umur dan membuat pelakunya melarat, Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam bersabda, “Tidaklah seseorang memperbanyak harta kekayaan dari hasil riba, melainkan berakibat pada kebangkrutan dan melarat.” (HR.Ibnu Majah).

    Sistim riba menjadi sebab utama kebangkrutan negara dan bangsa. Realita menjadi saksi bahwa negara kita ini mengalami krisis ekonomi dan keamanannya tidak stabil karena menerapkan sistim riba, karena para petualang riba memindahkan simpanan kekayaan mereka ke negara-negara yang memiliki ekonomi kuat untuk memperoleh bunga ribawi tanpa memikirkan maslahat di dalam negeri sendiri, sehingga negara ini bangkrut.

    Pengembangan keuangan dan ekonomi dengan sistim riba merupakan penjajahan ekonomi secara sistimatis dan terselubung oleh negara-negara pemilik modal, dengan cara pemberian pinjaman lunak. Dan karena merasa berjasa menolong negara-negara berkembang, maka dengan kebijakan-kebijakan tertentu mereka mendikte negara yang dibantu tersebut atau mereka akan mencabut bantuannya.

    Memakan riba menjadi sebab utama su`ul khatimah, karena riba merupakan bentuk kezhaliman yang menyengsarakan orang lain, dengan cara menghisap “darah dan keringat” pihak peminjam, itulah yang disebut rentenir atau lintah darat.

    Pemakan riba akan bangkit di hari Kiamat kelak seperti orang gila dan kesurupan. Ayat yang menyebut kan tentang hal ini, menurut Syaikh Muhammad al-Utsaimin memiliki dua pengertian, yakni di dunia dan di hari Kiamat kelak. Beliau menjelaskan bahwa jika ayat itu mengandung dua makna, maka dapat diartikan dengan keduanya secara bersamaan.

    Yakni mereka di dunia seperti orang gila dan kesurupan serta bertingkah layaknya orang kerasukan setan (tidak peduli, nekat dan ngawur, red). Demikian pula nanti di Akhirat mereka bangun dari kubur juga dalam keadaan seperti itu.

    Sedangkan mengenai ayat, “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah,” maka beliau mengatakan kehancuran materi (hakiki) dan maknawi. Kehancuran materi seperti tertimpa bencana dalam hartanya sehingga habis, misalya sakit yang parah dan mengharuskan berobat ke sana-sini, atau keluarganya yang sakit, kecurian (dirampok), terbakar dan lain-lain, ini merupakan hukuman dunia. Atau binasa secara maknawi, dalam arti dia memiliki harta yang bertumpuk-tumpuk tetapi seperti orang fakir karena hartanya tidak memberi manfaat apa-apa.

    Apakah orang seperti ini kita katakan memiliki harta? Tentu tidak, bahkan ia lebih buruk daripada orang fakir, sebab harta bertumpuk-tumpuk yang ada di sisinya, dia simpan untuk ahli warisnya saja. Sementara dia tidak dapat mengambil manfaat darinya sedikit pun.

    Inilah kebinasaan harta riba secara maknawi. Wallahu a’lam bish shawab. (Abu Abdillah Dzahabi Isnen Azhar)

    Sumber:

    -Majalah as-Sunnah edisi 02/VII/1424/2003 (dengan menyadur)

    -Syarah Riyadhus Shalihin jilid 2, Syaikh Muhammad al-Utsaimin.

     
  • erva kurniawan 2:04 am on 6 December 2018 Permalink | Balas  

    Bekerja di Tempat/Lembaga Riba 

    Bekerja di Tempat/Lembaga Riba

    Syaikh Shalih al-Fauzan ketika ditanya tentang bekerja di perusahaan yang bertransaksi dengan riba berkata, “Bertransaksi dengan riba haram hukumnya bagi perusahaan, bank dan individu. Tidak boleh seorang muslim bekerja pada tempat yang bertransaksi dengan riba meskipun persentase transaksinya minim sekali sebab pegawai pada instansi dan tempat yang bertransaksi dengan riba berarti telah bekerja sama dengan mereka di atas perbuatan dosa dan melampaui batas. Orang-orang yang bekerja sama dan pemakan riba, sama-sama tercakup dalam laknat yang disabdakan oleh Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam, “Allah telah melaknat pemakan riba, orang yang memberi makan dengan (hasil) riba, pencatatnya serta kedua saksinya”. (HR.Muslim). Beliau bersabda lagi, “Mereka itu semua sama saja.” (dalam andil menjalankan riba, red).

    Jadi di sini, Allah melaknat orang yang memberi makan dengan (hasil) riba, saksi dan pencatat karena mereka bekerja sama dengan pemakan riba itu. Karenanya wajib bagi anda untuk mencari pekerjaan yang jauh dari hal itu. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya), “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan menganugerahi nya rizki yang tidak dia sangka-sangka”. (Q,.s.ath-Thalaq: 2).

    Dan sabda Nabi shallahu ‘alahi wasallam, “Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah Ta’ala maka Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik darinya”. (HR. Ahmad). (Al-Muntaqa Min Fatawa Syaikh Shalih al-Fauzan, Jld.IV, Hal. 142-143, No. 148)

    Sumber:

    -Majalah as-Sunnah edisi 02/VII/1424/2003 (dengan menyadur)

    -Syarah Riyadhus Shalihin jilid 2, Syaikh Muhammad al-Utsaimin.

     
  • erva kurniawan 2:03 am on 5 December 2018 Permalink | Balas  

    Bentuk Riba 

    Bentuk Riba

    Riba dibagi menjadi dua bentuk;

    1. Riba Nasi`ah, yang berarti mengakhirkan masa pembayaran, ini terbagi menjadi dua;

    Pertama; Seseorang atau perusahaan tertentu memberikan pinjaman kepada seorang nasabah dengan membayar bunga sekian persen dalam kurun waktu tertentu dan dibayar dalam bentuk angsuran. Misalnya; seorang nasabah meminjam uang ke salah satu bank sebanyak Rp.100 juta dengan bunga 10% dalam jangka waktu 10 bulan, maka setiap bulan pihak nasabah harus mencicil hutangnya Rp.11 juta, jadi selama 10 bulan itu dia harus membayar Rp.110 juta.

    Ke dua; Pihak nasabah membayar tambahan bunga baru dari bunga sebelumnya disebabkan karena tertundanya pembayaran pinjaman setelah jatuh tempo. Semakin lama tertunda pinjaman itu, maka semakin banyak tumpukan hutang yang harus ditanggung oleh pihak nasabah. Dalam kacamata Islam riba ini disebut riba jahiliyyah. Misalnya si A meminjam uang ke bank B sebanyak Rp. 100 juta dengan bunga 10% dalam jangka waktu 10 bulan, setiap bulannya pihak peminjam harus mencicil Rp. 11 juta, maka selama 10 bulan itu dia paling tidak harus membayar Rp. 110 juta, jika dia tidak menunda pembayaran (ini sudah jelas riba). Tapi jika sudah jatuh tempo dan dia belum bisa melunasi hutangnya maka hutangnya berbunga 15% dan begitu seterusnya (dalam kondisi seperti ini telah terhimpun dua bentuk riba sekaligus yaitu riba nasi`ah dan riba fadhl), dan inilah yang berlaku di bank-bank konvesional yang disebut dengan istilah bunga.

    1. Riba Fadhl, yaitu jual beli dengan sistim barter pada barang yang sejenis tapi timbangannya berbeda, misalnya si A menjual 15 gram emas”perhiasan” kepada si B dengan 13 gram emas “batangan”, ini adalah riba karena jenis barangnya sama tapi timbangannya berbeda. Contoh kedua; menjual dengan sistim barter 1 lembar uang kertas senilai Rp.100.000,- dengan uang kertas pecahan seribu senilai Rp.95.000,- atau 110.000,-.

    Sumber:

    -Majalah as-Sunnah edisi 02/VII/1424/2003 (dengan menyadur)

    -Syarah Riyadhus Shalihin jilid 2, Syaikh Muhammad al-Utsaimin.

     
  • erva kurniawan 2:02 am on 4 December 2018 Permalink | Balas  

    Dosa dan Bahaya Riba 

    Dosa dan Bahaya Riba

    Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallahu

    ‘alahi wasallam bersabda, “Allah melaknat orang yang memakan (pemakai) riba, orang yang memberi riba, dua orang saksi dan pencatat (dalam transaksi riba), mereka sama saja”. (HR. Muslim dan Ahmad)

    Hadits yang mulia ini menjelaskan secara tegas tentang keharaman riba, bahaya yang ditimbulkan bagi pribadi dan masyarakat, serta ancaman bagi mereka yang berkecimpung dalam kubangan dosa riba, sebab Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam menyebutkan laknat bagi orang-orang yang bersyerikat di dalamnya.

    Akibat dari dosa riba ini telah dirasakan oleh banyak kalangan baik muslim maupun non muslim, karena riba merupakan kezhaliman yang sangat jelas dan nyata. Sehingga wajar kalau Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya shallahu ‘alahi wasallam mengancam orang-orang yang telibat di dalamnya dengan berbagai ancaman. Di antaranya adalah dengan azab yang pedih, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala,

    “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya,

    lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Dan barang siapa yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”.(QS. Al-Baqarah:275).

    Allah subhanahu wata’ala juga menghilangkan keberkahan harta dari hasil riba dan pelakunya dicap melakukan tindakan kekufuran, sebagaimana firman-Nya, “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa”. (QS. Al-Baqarah:276)

    Allah subhanahu wata’ala memerangi riba dan pelakunya, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya, “Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasulnya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”. (QS. Al-Baqarah:279)

    Selain ancaman dari Al-Qur’an di atas, Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam juga menjelaskan bahaya riba dan sekaligus mengancam pelakunya, sebagaimana telah dijelaskan dalam hadits Jabir di atas.

    Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam juga bersabda, “Jauhilah tujuh dosa besar yang membawa kepada kehancuran,” lalu beliau sebutkan salah satunya adalah memakan riba. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

    Dalam hadits yang lain Nabi shallahu ‘alahi wasallam mengancam pelaku riba dengan lebih tegas, beliau bersabda, “Dosa riba memiliki 72 pintu, dan yang paling ringan adalah seperti seseorang berzina dengan ibu kandungnya sendiri.” (Shahih, Silsilah Shahihah no.1871)

    Dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Hakim dan dishahihkan oleh beliau sendiri, dijelaskan, “Bahwa satu dirham dari hasil riba jauh lebih besar dosanya daripada berzina 33 kali”.

    Dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dengan sanad yang shahih dijelaskan, “Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari hasil riba dan dia paham bahwa itu adalah hasil riba maka lebih besar dosanya daripada berzina 36 kali”.

    Sumber:

    -Majalah as-Sunnah edisi 02/VII/1424/2003 (dengan menyadur)

    -Syarah Riyadhus Shalihin jilid 2, Syaikh Muhammad al-Utsaimin.

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 3 December 2018 Permalink | Balas  

    Bisa Jadi Warna Putih Disebut Warna Hitam 

    Bisa Jadi Warna Putih Disebut Warna Hitam

    Seorang guru wanita sedang bersemangat mengajarkan sesuatu kepada murid-muridnya. Ia duduk menghadap murid-muridnya. Di tangan nya ada berlembar-lembar kertas. Sang guru berkata, “Saya punya permainan… Caranya begini, saya memiliki dua kata yang yang bertuliskan “HITAM” dengan cat warna hitam & “PUTIH” dengan cat warna putih. Saya akan menunjuk kata-kata tersebut secara bergantian, dan silahkan sebutkan warnanya. Demikian sang guru menunjuk dengan cepat dan para murid menyebutkannya dengan benar lagi lancar.

    Tapi, tanpa sepengetahuan murid2, tiba-tiba muncul kata “HITAM” dengan cat warna putih & “PUTIH” dengan cat warna hitam. Tentu saja murid-murid kerepotan dan kelabakan, dan sangat sulit untuk merubahnya, karena yang diperintahkan adalah menyebutkan warnanya. Namun lambat laun, mereka bisa beradaptasi dan tidak lagi sulit. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.

    “Anak-anak, begitulah kita ummat Islam. Mulanya yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Kita begitu jelas membedakannya. Namun kemudian, musuh-musuh kita memaksakan kepada kita lewat berbagai cara, untuk membalik sesuatu, dari yang haq menjadi bathil, dan sebaliknya.

    Pertama-tama mungkin akan sulit bagi kita menerima hal tersebut, tapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik nilai.”

    Selingkuh dan zinah menjadi gaya hidup yang mengasyikkan, pakaian mini menjadi hal yang lumrah, sex before married menjadi suatu hiburan, materialistis dan permisive kini menjadi suatu gaya hidup pilihan, dan lain-lain , dan lain – lain .”

    “Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disadari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?” tanya Ibu Guru kepada murid-muridnya. “Paham buu…”

    “Baik, permainan kedua…” begitu Bu Guru melanjutkan. “Bu Guru punya Qur’an, Ibu letakkan di tengah karpet. Nah, sekarang kalian berdiri di luar karpet. Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur’an yang ada di tengah tanpa menginjak karpet?”

    Nah, nah, nah. Murid-muridnya berpikir keras. Ada yang punya alternatif dengan tongkat, dan lain-lain. Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, ia gulung karpetnya, dan ia ambil Qur’annya. Ia memenuhi syarat, tidak menginjak karpet.

    “Anak-anak, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya… Musuh-musuh Islam tidak akan menginjak-injak kalian dengan terang-terangan… Karena tentu kalian akan menolaknya mentah-mentah. Preman pun tak akan rela kalau Islam dihina di hadapan mereka. Tapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar.

    “Jika seseorang ingin membangun rumah yang kuat, maka dibangunnyalah pondasi yang kuat. Begitulah Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau membongkar pondasinya dulu, tentu saja hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dulu, kursi dipindahkan dulu, lemari disingkirkan dulu satu persatu, baru rumah dihancurkan…”

    “Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kita. Ia tidak akan menghantam terang-terangan, tapi ia akan perlahan-lahan mencopot kalian. Mulai dari perangai kalian, cara hidup kalian, model pakaian kalian, dan lain-lain, sehingga meskipun kalian muslim, tapi kalian telah meninggalkan ajaran Islam dan mengikuti cara mereka… Dan itulah yang mereka inginkan.”

    “Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (perang pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh – musuh kalian…

    Paham anak-anak?”

    “Paham buu!”

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 2 December 2018 Permalink | Balas  

    Etika Janazah dan Ta’ziah 

    Etika Janazah dan Ta’ziah

    Segera merawat janazah dan mengebumikannya untuk meringankan beban keluarganya dan sebagai rasa belas kasih terhadap mereka. Abu Hurairah Radhiallaahu anhu di dalam haditsnya menyebutkan bahwasanya Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “Segeralah (di dalam mengurus) jenazah, sebab jika amal-amalnya shalih, maka kebaikanlah yang kamu berikan kepadanya; dan jika sebaliknya, maka keburukan-lah yang kamu lepaskan dari pundak kamu”. (Muttafaq alaih).

    Tidak menangis dengan suara keras, tidak meratapinya dan tidak merobek-robek baju. Karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “Bukan golongan kami orang yang memukul-mukul pipinya dan merobek-robek bajunya, dan menyerukan kepada seruan jahiliyah”. (HR. Al-Bukhari).

    Disunatkan mengantar janazah hingga dikubur. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersada: “Barangsiapa yang menghadiri janazah hingga menshalatkannya, maka baginya (pahala) sebesar qirath; dan barangsiapa yang menghadirinya hingga dikuburkan maka baginya dua qirath”. Nabi ditanya: “Apa yang disebut dua qirath itu?”. Nabi menjawab: “Seperti dua gunung yang sangat besar”. (Muttafaq’alaih).

    Memuji si mayit (janazah) dengan mengingat dan menyebut kebaikan-kebaikannya dan tidak mencoba untuk menjelek-jelekkannya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda:”Janganlah kamu mencaci-maki orang-orang yang telah mati, karena mereka telah sampai kepada apa yang telah mereka perbuat”. (HR. Al-Bukhari).

    Memohonkan ampun untuk janazah setelah dikuburkan. Ibnu Umar Radhiallaahu anhu pernah berkata: “Adalah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam apabila selesai mengubur janazah, maka berdiri di atasnya dan bersabda:”Mohonkan ampunan untuk saudaramu ini, dan mintakan kepada Allah agar ia diberi keteguhan, karena dia sekarang akan ditanya”. (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Albani).

    Disunatkan menghibur keluarga yang berduka dan memberikan makanan untuk mereka. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja`far, karena mereka sedang ditimpa sesuatu yang membuat mereka sibuk”. (HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

    Disunnatkan berta`ziah kepada keluarga korban dan menyarankan mereka untuk tetap sabar, dan mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya milik Allahlah apa yang telah Dia ambil dan milik-Nya jualah apa yang Dia berikan; dan segala sesuatu disisi-Nya sudah ditetapkan ajalnya. Maka hendaklah kamu bersabar dan mengharap pahala dari-Nya”. (Muttafaq’alaih).

    ***

    [Taken From Kitab “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari” By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 1 December 2018 Permalink | Balas  

    Etika Menjenguk Orang Sakit 

    Etika Menjenguk Orang Sakit

    Untuk orang yang berkunjung (menjenguk):

    • Hendaknya tidak lama di dalam berkunjung, dan mencari waktu yang tepat untuk berkunjung, dan hendaknya tidak menyusahkan si sakit, bahkan berupaya untuk menghibur dan membahagiakannya.
    • Hendaknya mendekat kepada si sakit dan menanyakan keadaan dan penyakit yang dirasakannya, seperti mengata-kan: “Bagaimana kamu rasakan keadaanmu?”. Sebagai-mana pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam.
    • Mendo`akan semoga cepat sembuh, dibelaskasihi Allah, selamat dan disehatkan. Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu telah meriwayat-kan bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam apabila beliau menjenguk orang sakit, ia mengucapkan: “Tidak apa- Sehat (bersih) insya Allah”. (HR. Al-Bukhari). Dan berdo`a tiga kali sebagai-mana dilakukan oleh Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam.
    • Mengusap si sakit dengan tangan kanannya, dan berdo`a: “Hilangkanlah kesengsaraan (penyakitnya) wahai Tuhan bagi manusia, sembuhkanlah, Engkau Maha Penyembuh, tiada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit”. (Muttafaq’alaih).
    • Mengingatkan si sakit untuk bersabar atas taqdir Allah Subhanahu wa Ta’ala dan jangan mengatakan “tidak akan cepat sembuh”, dan hendaknya tidak mengharapkan kematiannya sekalipun penyakitnya sudah kronis.
    • Hendaknya mentalkinkan kalimat Syahadat bila ajalnya akan tiba, memejamkan kedua matanya dan mendo`akan-nya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “Talkinlah orang yang akan meninggal di antara kamu “La ilaha illallah”. (HR. Muslim).

    Untuk orang yang sakit:

    • Hendaknya segera bertobat dan bersungguh-sungguh beramal shalih.
    • Berbaik sangka kepada Allah, dan selalu mengingat bahwa ia sesungguhnya adalah makhluk yang lemah di antara makhluk Allah lainnya, dan bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membutuhkan untuk menyiksanya dan tidak mem-butuhkan ketaatannya
    • Hendaknya cepat meminta kehalalan atas kezhaliman-kezhaliman yang dilakukan olehnya, dan segera membayar/menunaikan hak-hak dan kewajiban kepada pemiliknya, dan menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.
    • Memperbanyak zikir kepada Allah, membaca Al-Qur’an dan beristighfar (minta ampun).
    • Mengharap pahala dari Allah dari musibah (penyakit) yang dideritanya, karena dengan demikian ia pasti diberi pahala. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apa saja yang menimpa seorang mu’min baik berupa kesedihan, kesusahan, keletihan dan penyakit, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah meninggikan karenanya satu derajat baginya dan mengampuni kesalahannya karenanya”. (Muttafaq’alaih).
    • Berserah diri dan tawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berkeyakinan bahwa kesembuhan itu dari Allah, dengan tidak melupakan usaha-usaha syar`i untuk kesembuhan-nya, seperti berobat dari penyakitnya.

    ***