Updates from erva kurniawan Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:06 pm on 15 May 2020 Permalink | Balas  

    Mbah Penjual Pisang 

    Wong cilik yg tdk pernah dpt THR maupun gaji ke 13

    (Sebuah kontemplasi kehidupan rakyat kecil)

    “Wah…pisangnya bagus-bagus Mbah…”, kataku sembari berjongkok di depan perempuan sepuh yang berjualan di pinggir jalan depan pasar…

    “Lha monggo dipundut (dibeli) “, kata perempuan itu riang.

    Sungguh sudah sangat sepuh, rautnya penuh kerut. Kulitnya hitam. Kurus badannya. Tapi suaranya cemengkling  masih nyaring), riang. Giginya terlihat masih utuh.

    “Ini kepok kuning… bagus dikolak. Ini kepok putih kalau digoreng sangat manis. Lha kalau itu pisang pista, kulit tipis… harum manis. Tapi jangan dibeli karena belum mateng”

    Aku hanya diam memperhatikan gerak tangannya yang cekatan, meskipun telah ndredheg (gemetar). “Sudah lama jualan, Mbah…?”

    “Belum, ini ngejar rejeki buat lebaran.”

    “Putranya berapa Mbah?”

    “Kathah (banyak) pada glidik (kerja)…”_

    “Kok nggak istirahat saja to Mbah, siyam-siyam kok jualan”

    “Lha nggih, ini karena siyam niku to , nggak boleh istirahat, Mumpung Gusti Allah paring (beri) sehat…”

    Aku tercenung dengan jawaban perempuan sepuh itu. Kulihat tangannya mengelap  kening dan dahinya yang dlèwèran (bercucuran) keringat dengan selendang lusuhnya. Diantara para penjual ‘liar’ dipinggir jalan depan pasar itu, perempuan sepuh ini satu diantaranya yang menggelar dagangan tanpa iyup iyup (peneduh). Padahal hari itu panas luar biasa.

    “Kalau pulang jam berapa Mbah?”

    “Jam tiga sudah pulang ..…, lha ada kewajiban nyiapkan _wedang (minum) buat anak-anak TPA.”

    “Kok kewajiban, yang mewajibkan siapa Mbah ?”

    “Nggih kula, (ya saya sendiri) …”

    “Ooo…begitu…. Setiap hari, selama puasa?”

    “Inggih… wong cuma  anak limapuluhan…”

    “Wah _panjenengan  (anda) hebat nggih Mbah…”

    “Halah cuma wedang sama pegangan kecil-kecil, yang penting bocah-bocah rajin ngaji, mbah sudah seneng. Jangan bodoh kaya Mbah ini yang cuma bisa Fatihah…”

    Aku makin tercekat. Kumasukkan semua pisang yang ditawarkan ke dalam tas kresek.

    “Kok banyak banget… mau buat apa, mas?” Tanya si mbah heran.

    Aku hanya tersenyum, “Semua berapa Mbah?”

    Perempuan sepuh itu menyebutkan nominal yang membuatku tercengang, “Kok murah banget Mbah…”

    “Mboten (ah enggak)… itu sudah pas, ini bukan pisang kulakan (dari beli), panen kebun sendiri…”

    “Nggih…matur nuwun…” kataku sembari mengulurkan uang.

    “Aduh… nggak ada kembalian , belum _kepayon (laku)…”

    “Saya tukar dulu Mbah…”

    Aku sengaja meninggalkan perempuan sepuh itu. Pisang telah kuletakkan di mobil. Mesin mobil pun kunyalakan. Agak menjauh dari perempuan sepuh itu. Kumasukkan beberapa lembar uang sepuluh ribuan yang masih baru, ke dalam amplop. Cukup dibagi satu satu untuk anak TPA yang katanya berjumlah limapuluhan tadi. Penutup lem amplop kubuka lalu kurapatkan.

    “Ini mbah, sudah saya tukar, sudah pas nggih.”

    Perempuan sepuh itu menerima amplop masih dengan tangan dredheg gemetar. Tanpa menunggu jawaban, aku segera pergi.

    Esoknya aku mampir lagi, tapi kosong. Berikutnya aku mampir lagi, kosong juga. Penasaran kutanyakan pada ibu pedangang sebelahnya.

    “Mbahe kok nggak jualan Mbak?”

    “Oh nggak, beliau jualan kalau panen pisang aja. Sampeyan to yang kemarin ngasih amplop. Walah Mbahe nangis ngguguk (tersedu2), jare bejo, (katanya beruntung) & dapet qodaran.”

    Barangkali yang dimaksudkan adalah lailatul qodar. Malam yang konon lebih baik dari 1000 bulan. Para malaikat turun dari langit. Ke langit hati kita. Menyelesaikan segala urusan. Allah melapangkan rejeki dan kemuliannya bagi yang dikehendaki, pun mempersempit bagi yang dikehendaki pula. Rejeki sesuai kapasitas kita. Lantas siapakah yang mendapatkannya ??

    ………………..

    Barangkali perempuan sepuh inilah yang mendapatkannya. Bukan karena ia ahli ibadah. Bukan pula karena I’tikafnya yang  kuat di masjid. Tapi dialah pelaksana dari yang katanya ‘hanya’ bisa fatihah itu. Kesungguhan I’tikaf yang luar biasa. Bertindak, berlaku, dan berpasrah dalam keriangan rasa. I’tikaf di masjid yang digelar dalam keluasan yang maha.Bukan masjid yang sekedar bangunan ibadah. Kecintaannya yang sederhana dengan penyiapan wedang dan penganan bagi limapuluhan bocah selama puasa, sungguh bukan perkara mudah. Hanya cinta tuluslah yang bisa.

    ……………..

    Aku jadi teringat  pertanyaan teman, tentang pencapaian Lailatul Qadar. Benarkah memang ia turun di 10 hari terakhir malam ganjil? Maka malam terbaik dari 1000 bulan bukanlah instan. Tak bisa dijujug dengan akhiran, semua butuh proses karena karunia terindah butuh wadah. Yang dibangun dengan mengais kebaikan, sebelum, selama dan sesudah Ramadhan. Itulah sesungguhnya QODARAN

    ***

    Selamat menjemput laillatul qodar, saudara-riku tercinta…

     
  • erva kurniawan 1:31 am on 14 May 2020 Permalink | Balas  

    Siwak dan Keutamaannya 

    Siwak dan Keutamaannya

    Rosululloh Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siwak merupakan kebersihan bagi mulut dan keridhoan bagi Robb”. (HR. Ahmad)

    Siwak bermakna suatu kayu yang dipakai untuk menggosok gigi. Siwak adalah suatu perkara yang disyari’atkan, yaitu dengan menggunakan batang atau semisalnya, yang dipakai untuk membersihkan gigi dan gusi dari kekuning-kuningan dan bau

    Bersiwak adalah termasuk dari bagian dari sunnah para Rasul, sebagaimana hadits dari Abu Ayyub ra: “Ada empat hal yang termasuk dari sunnah para Rasul; Memakai minyak wangi, menikah, bersiwak dan malu.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

    Siwak memiliki beberapa faedah yang sangat besar, diantaranya yang paling besar adalah yang telah dianjurkan oleh hadits : “Siwak itu pembersih mulut dan diridhai Allah.” (HR. Ahmad)

    Bersiwak adalah dengan menggunakan batang yang lembut dari pohon arok, zaitun, urjun atau yang semisalnya yang tidak menyakiti atau melukai mulut.

    Waktu-Waktu Disunnahkannya Bersiwak

    Bersiwak disunnahkan disetiap saat, bahkan ketika berpuasa disepanjang harinya, dan menjadi sunnah muakadah pada waktu akan beribadah. Adapun waktu-waktu yang disunnahkan secara muakkad untuk bersiwak diantaranya:

    1. Setiap akan Berwudhu. “Kalau bukan karena akan memberatkan umatku maka akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan wudlu”. (HR. Bukhori dan Muslim)
    2. Setiap akan melakukan shalat. “Kalau bukan karena akan memberatkan umatku maka akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan sholat”. (HR. Bukhori dan Muslim)
    3. Setiap Bangun Tidur. “Adalah Rosululloh jika bangun dari malam dia mencuci dan menggosok mulutnya dengan siwak”. (HR. Bukhori) Termasuk tanda kecintaan Nabi Shallallahu ‘aihi wa sallam kepada kebersihan dan ketidak sukaannya terhadap bau tidak enak, tatkala bangun dari tidur malam yang panjang, yang mana saat itu di mungkinkan bau mulut sudah berubah, maka beliau menggosok giginya dengan siwak untuk menghilangkan bau tidak sedap, dan untuk menambah semangat setelah bangun tidur, karena termasuk kelebihan siwak adalah menambah daya ingat dan semangat.
    4. Setiap akan Masuk Rumah. Telah meriwayatkan Syuraih bin Hani, beliau berkata: ”Aku bertanya kepada ‘Aisyah: “Apa yang dilakukan pertama kali oleh Rosululloh jika dia memasuki rumahnya?” Beliau menjawab :”Bersiwak”. (HR. Muslim)
    5. Ketika hendak membaca Al Qur’an. Dari Ali ra. berkata : “Rasulullah memerintahkan kami bersiwak. Sesungguhnya seorang hamba apabila berdiri sholat malaikat mendatanginya kemudian berdiri dibelakangnya mendengar bacaan Al Qur’an dan ia mendekat. Maka ia terus mendengar dan mendekat sampai ia meletakkan mulutnya diatas mulut hamba itu, sehingga tidaklah dia membaca satu ayatpun kecuali berada dirongganya malaikat” (HR. Baihaqy)

    Cara Bersiwak

    Cara bersiwak tidak ada ikhtilaf antara ulama, bahwa didalam kitab Syama’il Imam Tirmidzi, dalam hadist Rasul saw, bahwa Rasul saw bersiwak dg kayu araak, dan memulainya dari pertengahan, lalu kearah kanan lalu kekiri, demikian diulangi. sebanyak 3 X.

    Imam Ghazali rahimahullah melengkapi caranya, yaitu meletakkan siwak di jajaran gigi tengah bagian atas, lalu mendorongnya kearah kanan sampai keujungnya, lalu turunkan ke jajaran bawah kanan ujung, lalu mendorongnya kembali ketengah jajaran bawah, lalu kembali naik ke tengah jajaran atas, lalu mendorongnya ke arah kiri sampai ujungnya, lalu turunkan ke jajaran bawah kiri ujung, dan mendorongnya lagi ke tengah di jajaran bawah. Untuk mudahnya, anggaplah anda menulis angka delapan yg rebah. Demikian ini untuk perhitungan 1X. lalu mengulanginya sampai 3X. Inilah cara terbaik. Namun cara apapun juga sudah mendapatkan pahala sunnah.

    Sulitkah? Jangan lupa, satu kali anda bertasbih kepada Allah dengan diawali siwak, maka dihitung 70X bertasbih. Shalat dengan diawali siwak, akan terhitung 70X shalat. Dua rakaat shalat tahajjud diawali dengan siwak, maka dihitung 140 rakaat tahajjud. Hebat bukan? Maha Suci Sang Maha Dermawan menempatkan curahan kedermawanannya pada segala hal.(Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa)

    Siwak Menurut Medis

    Dari penelitian menunjukkan bahwa kayu siwak (Salvadora persica) mengandung bahan-bahan kimiawi yang bermanfaat untuk menekan aktivitas mikrobial dan menghambat pertumbuhannya. Penelitian daya hambat kayu siwak (Salvadora persica) terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans yang patogen terhadap mulut, dapat menunjukkan kemampuan kayu siwak sebagai salah satu alternatif zat antibakterial yang memang seharusnya dikembangkan sebagai komoditas oral cleaner device (alat pembersih mulut) yang higinis dan efektif dalam mencegah periodontal disease. Penelitian terhadap Staphylococcus aureus yang merupakan patogen pada saluran pernapasan, kulit dan luka dapat pula menunjukkan bahwa kayu siwak bukan hanya efektif sebagai komponen antibakterial mulut, namun juga efektif sebagai antibakterial yang memiliki spektrum lebih luas. (Penelitian ini dikembangkan oleh Mahasiswa Biologi FMIPA ITS)

    Tujuh Puluh Kali Lipat

    Keutamaan shalat dengan memakai siwak itu, sebanding dengan 70 kali shalat dengan tidak memakai siwak. (HR. Ahmad)

    Bayangkan, di suatu Shubuh Anda keluar menuju masjid. Lalu Anda shalat Shubuh berjama’ah dengan bersiwak terlebih dahulu. Kita tahu bahwa shalat Shubuh berjama’ah pahalanya sama dengan pahala shalat sunnah sepanjang satu malam penuh. Jika didahului dengan bersiwak, maka shalat Shubuh berjama’ah kita akan berpahala seperti pahala shalat sunnah 70 malam penuh. Sedangkan shalat Isya berjama’ah tanpa bersiwak sama pahalanya dengan pahala shalat sunnah setengah malam. Bagaimana pula jika dengan didahului bersiwak? Dan bagaimana dengan shalat-shalat lain yang didahului dengan bersiwak? Tentu kita akan meraih pahala yang sangat besar dengan bersiwak.

    Jika Anda pergi ke Masjid untuk shalat berjama’ah di zaman ini, mungkin Anda melihat sedikit sekali di antara jama’ah yang bersiwak sebelum shalat. Maka ketika Anda bersiwak sebelum shalat di zaman ini, berarti Anda telah menghidupkan kembali sunnah Rasul SAW. Dan pahalanya itu seperti pahala syuhada. Setidaknya Anda akan mendapat pahala seperti orang-orang yang mengikuti Anda dalam bersiwak, tanpa mengurangi pahala orang tersebut.

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 13 May 2020 Permalink | Balas  

    Sifat dan Keadaan Qalb (Hati) 

    Sifat dan Keadaan Qalb (Hati)

    By: Prof. Dr. Achmad Mubarok MA

    Qalb mempunyai karakter tidak konsisten, oleh karena itu ia bisa terkena konflik batin. Interaksi yang terjadi antara pemenuhan fungsi memahami realita dan nilai-nilai (positif) dengan tarikan potensi negatif yang berasal dari kandungan hatinya, melahirkan satu keadaan psikologis yang menggambarkan kualitas, tipe dan kondisi dari qalb itu. Proses pencapaian kondisi qalb itu melalui tahapa-tahapan perjuangan rohaniah, dan dalam proses itu, menurut al-Qur’an, manusia mempunyai sifat tergesa-gesa, seperti yang dipaparkan dalam surat al-Anbiya / 21:37 dan Q., s. al-Isra / 17:11, dan berkeluh-kesah, seperti yang terdapat dalam surat al-Ma’arij / 70:9-20.

    Proses interaksi psikologis itu mengantar hati pada kondisi dan kualitas hati yang berbeda-beda, yaitu:

    1. Keras dan kasar hati, surat Ali Imran / 3:159,
    2. Hati yang bersih, surat al-Syuara / 26: 89,
    3. Hati yang terkunci mati, surat al-Syura / 42:24 dan surat al-Mumin / 40:35,
    4. Hati yang bertaubat, surat Qaf / 50:33,
    5. Hati yang berdosa, surat al-Baqarah / 2:283,
    6. Hati yang terdinding, surat al-Anfa / 8:24,
    7. Hati yang tetap tenang, surat al-Nahl / 16:106,
    8. Hati yang lalai, surat al-Anbiya / 21:3,
    9. Hati yang menerima petunjuk Allah SWT, surat al-Taghabun / 64:11,
    10. Hati yang teguh, surat al-Qashashsh / 28:10, dan surat Hud / 11:120,
    11. Hati yang takwa, surat al-Hajj / 22:32,
    12. Hati yang buta, surat al-Hajj / 22:46,
    13. Hati yang terguncang, surat al-Nur / 24:37,
    14. Hati yang sesak, surat al-Mu’min / 40:18,
    15. Hati yang tersumbat, surat al-Baqarah / 2:88,
    16. Hati yang sangat takut, surat al-Naziat / 79:8,
    17. Hati yang condong kepada kebaikan, surat al-Tahrim / 66:4,
    18. Hati yang keras membatu, surat al-Baqarah / 2:74,
    19. Hati yang lebih suci, surat al-Ahzab / 33:53,
    20. Hati yang hancur, surat al-Tawbah / 9:110,
    21. Hati yang ingkar, surat al-Nahl / 16:22,
    22. Hati yang takut, surat al-Mu’minun / 23:60,
    23. Hati yang kosong, surat Ibrahim / 14:43, surat al-Qashashsh / 28:10, dan
    24. Hati yang terbakar, surat al-Humazah / 104:6-7.

    Dari keterangan di atas, yang berkaitan dengan fungsi, potensi, kandungan dan kualitas hati yang disebut dalam al-Qur’an, dapat disimpulkan bahwa qalb memiliki kedudukan yang sangat menentukan dalam sistem nafsani manusia. Qalb lah yang memutuskan dan menolak sesuatu, dan qalb juga yang memikul tanggung jawab atas apa yang diputuskan. Dalam perspektif inilah tampaknya Nabi menyatakan bahwa qalb lah penentu kualitas manusia, seperti yang disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari Muslim. Dalam hadits yang  menyebutkan tentang kejelasan sesuatu yang halal dan haram serta kesamaran sesuatu yang syubhat itu di gambarkan bahwa qalb memiliki kedudukan yang sangat menentukan kualitas keputusan seorang manusia.

    Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas, tetapi di antara yang halal dan haram itu banyak perkara syubhat yang kebanyakan orang tidak mengetahuinya. Maka barang siapa menjaga diri dari yang syubhat berarti ia telah membersihkan agama dan kehormatannya, dan barang siapa yang terjerumus ke dalam syubhat berarti ia telah terjerumus ke dalam yang haram, seperti seorang pengembala yang mengembalakan ternaknya di sekeliling tanah larangan, dikhawatirkan akan masuk ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai daerah larangan, dan ketahuilah bahwa daerah larangan Allah SWT adalah hal-hal yang di haramkan. Ketahuilah bahwa dalam setiap tubuh manusia ada sepotong organ yang jika ia sehat maka seluruh tubuhnya juga sehat, tetapi jika ia rusak, maka seluruh tubuhnya terganggu, ketahuilah bahwa organ itu adalah qalb (H.R. Bukhari Muslim).

    Jika berfungsi tidaknya akal pada manusia diungkapkan al-Qur’an dengan kalimat tanya atau yang sebangsanya, maka besarnya peranan qalb dalam pengambilan keputusan diugkapkan oleh hadits riwayat ahmad dan al-Darimi dengan kalimat perintah,  yang artinya mintalah fatwa kepada qalb-mu. Qalb di sini adalah tempat bertanya bagi seseorang jika ia harus memutuskan sesuatu yang sangat penting.

    Rasyid Ridla dalam Kitab Hadits Arbain menyebutkan bahwa qalb itu ada dua macam, yaitu sepotong organ tubuh yang menjadi pusat peredaran darah, dan qalb merupakan subsistem nafs yang menjadi pusat perasaan. Bagian pertama memiliki pengaruh yang besar terhadap kesehatan badan dan bagian kedua memiliki pengaruh terhadap kesehatan jiwa.

     
  • erva kurniawan 1:22 am on 12 May 2020 Permalink | Balas  

    Jatuh Tertimpa Tangga 

    Jatuh Tertimpa Tangga

    Oleh : Abu Nabiel

    Hidup ini tidak pernah lepas dari cobaan dan ujian. Bahkan ia merupakan sunnatullah dalam kehidupan manusia, yang mau tidak mau akan dialaminya. Terkadang cobaan dan ujian yang Allah Ta’ala berikan kepada manusia, ada yang berupa kenikmatan atau kebaikan, seperti: Kekayaan; Kehormatan; Kesehatan; Kesuksesan dan lain-lain. Ada pula ujian dan cobaan tersebut yang diberikan kepada manusia berupa keburukan, seperti: Kemiskinan; Kehinaan; sakit; Kebangkrutan dan lain-lain. Sebagaimana hal tersebut difirmankan oleh Allah Ta’ala, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan(yang sebebenar-benarnya) . Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Al-Anbiya: 35)

    Ayat di atas menunjukkan bahwa ujian merupakan suatu yang niscaya dan akan ditimpakan kepada setiap manusia. karena itu, kita hendaknya mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Sehingga tidak terbetik sedikit pun di dalam diri kita untuk berburuk sangka terhadap Allah Ta’ala akan ujian yang kita alami. Apa yang Allah berikan kepada kita pasti merupakan sesuatu yang terbaik. Allah Ta’ala berfirman, artinya, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

    Seorang mukmin tatkala menghadapi ujian atau cobaan hendaknya bersikap sabar dan meyakini, bahwa di balik semua itu terdapat kebaikan dan pahala yang besar dari Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang hamba tertimpa musibah lalu dia mengucapkan, ‘Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un’ lalu berdo’a, ‘Ya Allah Berilah aku pahala dalam musibahku ini, dan berilah ganti yang lebih baik darinya,’ melainkan Allah benar-benar memberikan pahala dan memberinya ganti yang lebih baik darinya.” (HR. Muslim).

    Rasulullah Ta’ala memuji orang yang beriman yang semua urusannya mendatangkan kebaikan, lantaran sikap sabarnya ketika menyikapi dan menghadapi ujian dan cobaan yang menimpanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh mengagumkan urusan orang yang beriman. Sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan. Dan hal itu tidak akan didapati kecuali hanya pada diri seorang yang beriman. Jika dia diberikan kelapangan/ kemudahan, dia mensyukurinya, maka itulah kebaikan baginya. Dan jika keburukan menimpanya, dia menyikapinya dengan sabar, maka itulah kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

    Allah Ta’ala dan RasulNya Ta’ala juga menghibur orang-orang yang mendapatkan musibah, bencana, dan sesuatu yang tidak dia senangi, seperti Penyakit, kemiskinan, kebangkrutan, kecelakaan, bahwa semua itu dapat menghapuskan dosa-dosa yang pernah ia lakukan. Allah Ta’ala berfirman, artinya, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan mu).” (Asy-Syura: 30)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang mukmin tertimpa kelelahan, penyakit, kesusahan, kegundahan, dan tidak pula kesedihan, bahkan sampai duri yang menusuknya, melainkan dengannya, Allah akan mengapuskan dosa-dosanya.” (Muttafaq ‘alaih).

    Kenyataannya, tidak setiap orang dapat menyikapi musibah atau ujian Allah Ta’ala dengan sabar, mengharap kebaikan/ ganti yang lebih baik, dan ampunan dari Allah Ta’ala. Karena itu tidak sedikit di antara kita yang mengambil cara dan jalan “pintas” untuk menghilangkan musibah dan ujian tersebut. Cara dan jalan yang diharamkan dan mengundang murka Allah Ta’ala. Bahkan ironisnya, baru-baru ini terdapat berita yang sangat miris sekaligus menunjukkan betapa banyak kaum muslimin yang lemah aqidahnya dan tidak mampu bersabar atas musibah dan cobaan tersebut. Mereka berbondong-bondong mendatangi seorang dukun cilik yang konon memiliki batu ajaib yang dapat menyembuhkan segala macam penyakit –wal ‘iyadzu billah- keadaan itu diperparah lagi dengan munculnya fatwa-fatwa sesat sebagian “ustadz” yang membolehkan perbuatan yang demikian itu dan menyatakan, bahwa hal tersebut bukanlah kesyirikan, melainkan hanya sebab yang dapat mendatangkan kesembuhan, yang dengan itu orang-orang miskin dapat berobat dengan biaya yang relatif terjangkau. Hal itu merupakan syubhat dan virus yang perlu segera diklarifikasi sebelum menjangkit di dalam diri kaum muslimin. Bagaimana mungkin perbuatan tersebut tidak dianggap perbuatan syirik? Padahal mendatangi “dukun” saja merupakan perbuatan yang dilarang keras oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana sabda beliau Ta’ala, “Barangsiapa yang mendatangi peramal atau dukun, lalu dia percaya dengan apa yang disampaikannya, maka sungguh dia telah kufur (murtad) terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh al-Albani).

    Kemudian mempercayai suatu benda seperti batu memiliki kemampuan atau keistimewaan –padahal dia hanya sebuah benda mati- yang tidak dimiliki oleh siapa pun, kecuali hanya Allah Ta’ala, seperti mendatangkan kesembuhan yang merupakan kekhususan Allah Ta’ala, maka ini jelas merupakan kesyirikan yang besar, yang menyebabkan pelakunya keluar dari Islam. Karena berarti dia telah mensejajarkan kedudukan Allah Ta’ala dengan batu yang hina tersebut yang tidak mendatangkan manfaat dan tidak pula mampu menolak mudharat Allah Ta’ala berfirman, artinya, “Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfaatan, dan mereka berkata, ‘Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.’ Katakanlah, ‘Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di langit dan tidak (pula) di bumi.’ Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu).” (Yunus: 18).

    Kalau seandainya ada batu yang boleh diagungkan oleh kaum Muslimin dan boleh bagi mereka mengharapkan berkah darinya, tentu batu tersebut hanyalah “Hajar Aswad”, ketika kaum Muslimin disunnahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengecupnya saat melakukan Thawaf, sebagaimana dicontohkan oleh Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Pernah suatu ketika Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu mencium Hajar Aswad seraya berkata, “Sungguh aku tahu bahwa kamu hanyalah sebuah batu, tidak mendatangkan manfaat juga tidak mendatangkan mudharat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menciummu, maka aku pun tidak akan menciummu.” (HR. al-Bukhari). Beliau mencium Hajar Aswad semata-mata karena kepasrahan beliau terhadap syariat yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala dan RasulNya. Dan semata-mata ingin mencontoh apa yang diperbuat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dengan mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam inilah didapatkan barokah. Lain halnya dengan beberapa kaum muslimin yang justru malah mengusap baju-baju mereka di Hajar Aswad untuk mencari berkah! Atau mempercayai ada batu-batu tertentu yang memiliki keistimewaan yang menjadi kekhususan bagi Allah Ta’ala. Sungguh telah jelas, bahwa perbuatan di atas merupakan kesyirikan yang nyata, perbuatan yang beresiko sangat tinggi. Pelakunya tidak akan pernah diampuni oleh Allah Ta’ala, jika dia mati dan tidak bertobat dari kesyirikan yang dilakukannya. Bahkan Allah Ta’ala mengharamkan pelakunya masuk ke dalam surgaNya alias kekal di neraka selama-selamanya, serta tidak seorang pun yang mampu menolong atau mengeluarkannya dari neraka

    Allah Ta’ala berfirman, artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki- Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An-Nisa: 48)

    “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (Al-Maidah: 72).

    Semoga buletin yang singkat ini dapat bermanfaat dan menjadi hujjah bagi kaum muslimin untuk berhati-hati dari kesyirikan yang dewasa ini menjadi hal yang dianggap biasa dan wajar dilakukan oleh setiap orang. Dan tentu bagi yang terlanjur melakukannya baik dilakukan secara sengaja, ataupun karena ketidaktahuan untuk segera bertaubat darinya sebelum ajal tiba. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufikNya kepada kami dan seluruh kaum muslimin untuk dapat menjauhi dan meninggalkan kesyirikan, serta mengingatkan kaum muslimin dari bahaya kesyirikan dan konsekuensi yang diterima oleh para pelakunya. Wallahu a’alam.

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 11 May 2020 Permalink | Balas  

    Profil Imam Masjid 

    Profil Imam Masjid

    Oleh : Drs. H. Ahmad Yani

    Peran dan fungsi imam masjid yang sedemikian strategis dengan tugas-tugasnya yang amat penting membuat seorang imam harus memenuhi profil ideal. Tapi karena imam masjid kita umumnya baru sebatas bisa memimpin shalat berjamaah, maka tugas imampun baru sebatas itu. Kedudukannyapun akhirnya berada di bawah pengurus masjid, bahkan tidak sedikit yang hanya menjadi pegawai masjid yang sewaktu-waktu bisa diberhentikan oleh pengurus masjid. Oleh karena itu, ada beberapa sifat yang harus dimiliki oleh imam masjid.

    1. RABBANI

    Melaksanakan tugas-tugas imam merupakan upaya mewujudkan masyarakat yang rabbani, yakni masyarakat yang sikap dan perilakunya disesuaikan dengan nilai-nilai yang datang dari Allah sebagai rabb (tuhan). Harapan Allah agar manusia menjadi orang yang rabbani tergambar dalam firman-Nya yang artinya:

    Tidak wajar bagi manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembah ku bukan penyembah Allah,” Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya” (QS 3:79).

    Karena itu, nilai-nilai yang rabbani harus terlebih dahulu terwujud dalam diri seorang imam agar tidak terjadi kontradiksi antara pelaksanaan tugas yang dilakukan dengan sikap dan perilakunya sehari-hari, karena hal itu justeru akan mendatangkan kemurkaan dari Allah Swt, Allah berfirman yang artinya:

    Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu katakan apa yang tidak kamu kerjakan, amat besar kemurkaan di sisi Allah.kepada orang yang mengatakan apa yang tidak dikerjakannya (QS 61:2-3).

    1. IKHLAS

    Dalam setiap amal, keikhlasan merupakan modal penting. Sebanyak dan sebesar apapun amal seseorang bila tanpa keikhlasan tidak ada nilai apa-apanya di sisi Allah Swt. Dengan keikhlasan, tugas-tugas yang berat akan terasa menjadi ringan, sementara tanpa itu, jangankan yang berat, yang ringan saja terasa menjadi berat. Bila fungsi imam hendak diwujudkan secara ideal, maka tugas imam menjadi terasa berat dan keikhlasan menjadi amat penting. Disamping itu, keikhlasan juga membuat seorang imam tidak bermaksud memperoleh keuntungan materi meskipun mungkin saja dia mendapatkan imbalan materi dengan sebab waktunya yang habis digunakan untuk kepentingan masjid sehingga dia tidak sempat lagi mencari kehidupan duniawi. Allah Swt berfirman yang artinya:

    Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadanya dalam (menjalankan) agama dengan lurus (QS 98:5)

    1. SHABAR

    Keshabaran yang merupakan wujud dari menahan diri dari sikap dan perilaku emosional merupakan sesuatu yang amat diperlukan oleh seorang imam, apalagi tugas imam dalam menghadapi jamaah yang banyak dengan sikap dan perilaku yang beragam. Keshabaran Rasulullah Saw sebagai imam masjid membuat orang badui yang kencing di dalam masjid tidak dimarahinya secara emosional, karena memang orang itu tidak mengerti aturan, tapi justeru beliau mengarahkan di mana seharusnya seseorang membuang kotoran di lingkungan masjid itu. Begitu juga dengan sikapnya yang tetap lemah lembut dalam menghadapi anak-anak meskipun mereka agak “mengganggu” ketenangan beribadah, karena mereka harus menjadi orang yang senang berada di masjid untuk melaksanakan kegiatan yang positif. Allah Swt berfirman yang artinya:

    Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu (QS 3:159).

    1. ADIL DAN BIJAKSANA

    Tidak sedikit masjid yang menjadi lahan rebutan bagi kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat atau jamaahnya untuk menguasai guna mengembangkan pendapat dan pahamnya masing-masing, disamping itu terjadi juga konflik antara yang tua dengan yang muda, bahkan konflik kepentingan politik. Karena itu, imam harus bertindak adil dan bijaksana dalam menyikapi perbedaan kelompok dan berbagai kepentingan sehingga bisa mengarahkan masjid pada fungsi yang sebenar-benarnya yang salah satunya adalah sebagai pusat untuk memperkokoh ukhuwah Islamiyah, dari sini diharapkan terwujud sikap saling hormat menghormati dan menghargai perbedaan pendapat.

    Selama jamaah memiliki maksud baik, dilakukan dengan cara-cara yang baik, maka seorang imam selalu berusaha menjembatani hubungan antar kelompok-kelompok dalam masyarakat, hal ini karena memecah-belah umat melalui masjid merupakan cara-cara yang dilakukan oleh orang-orang munafik, Allah Swt berfirman yang artinya: Dan (diantara orang-orang munafik itu) ada orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mu’min) dan karena kekafiran (nya), dan untuk memecah-belah antara orang-orang mu’min serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah:

    “Kami tidak menghendaki selain kebaikan”. Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya)” (QS 9:107).

    1. JUJUR

    Salah satu pilar penting yang harus tegak dalam kehidupan masyarakat Islam adalah kejujuran. Namun hal ini harus kita sadari sebagai sesuatu yang tidak terwujud dengan sendirinya, diperlukan proses yang sungguh-sungguh, karena itu imam masjid sangat dituntut untuk memiliki sifat jujur. Apabila seorang imam telah memiliki sifat jujur, maka apa yang menjadi pesan dan programnya diwujudkan juga dalam kehidupannya sehari-hari.

    1. BERILMU

    Dalam mengurus apapun, ilmu yang banyak dan wawasan yang luas amat diperlukan, apalagi dalam kapasitas sebagain imam yang harus memimpin dan membimbing masyarakat. Ilmu keislaman merupakan sesuatu yang mutlak untuk dipahami dan dikuasai dengan baik sehingga seorang imam tidak bingung dalam menyikapi, menanggapi dan menjawab masalah-masalah yang terkait dengan bidang keagamaan atau keislaman. Wawasan kontemporer atau masalah kekinian yang berkembang juga amat perlu untuk dipahami oleh seorang imam, karena dengan demikian, persoalan yang berkembang itu bisa disikapi tanpa harus melanggar nilai-nilai Islam bahkan justeru nilai-nilai Islam bisa memberi arah yang positif. Keharusan memiliki ilmu yang banyak dan wawasan yang luas juga adalah karena seorang imam tidak boleh sembarangan bertindak karena akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah Swt kelak, Allah Swt berfirman yang artinya:

    Dan Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya (QS 17:36)

    1. MENGUASAI KONSEP MANAJEMEN MASJID

    Terwujudnya masjid yang makmur dan ideal merupakan tanggung jawab umat Islam secara bersama-sama, baik pengurus, imam maupun jamaah secara keseluruhan. Imam masjid punya peran yang sangat penting dalam upaya ini, karena itu, imam masjid seharusnya memahami dan menguasai konsep manajemen masjid sehingga dengan demikian ia bisa mengarahkan langkah pemakmuran masjid sebagaimana mestinya. Tanpa pemahaman terhadap konsep manajemen masjid akan membuat seorang imam tidak bisa melaksanakan tugas sebagaimana mestinya, dia tidak mengarahkan jamaah apalagi mengarahkan pengurus masjid dalam upaya memaksimalkan fungsi masjid. Keharusan seorang imam memahami konsep manajemen masjid bisa kita rujuk pada firman Allah pada surat 17:36 di atas.

    1. MEMAHAMI JIWA JAMAAH

    Imam masjid idealnya memahami jiwa jamaahnya yang beragam, baik beragam dari segi suku, paham keagamaan, latar belakang pendidikan, jenis kelamin, pekerjaan, usia dan sebagainya. Memahami jiwa jamaah ini akan membuat seorang imam bersikap dan bertindak yang bijaksana sehingga jamaahnya tetap mau aktif di masjid dalam upaya memakmurkannya, bukan malah menjauh dari masjid yang membuat masjidnya menjadi tidak makmur. Ketika Rasulullah Saw didatangi oleh seorang pemuda yang meminta dibolehkan melakukan perzinahan, para sahabat sangat marah pada pemuda itu, tapi Rasulullah Saw mencegah kemarahan sahabat agar tidak sampai pada tindakan yang bersifat fisik. Rasulullah justeru bertanya kepada pitu: “Bagaimana perasaanmu bila ibu atau saudara perempuanmu dizinahi orang lain?”. Maka pemuda itupun menunjukkan ketidaksukaannya. Rasulullah kemudian bersabda: “Begitu pula halnya dengan saudara laki-laki atau bapak dari wanita yang akan engkau zinahi, dia tentu akan

    marah kepadamu”.

    1. TANGGAP

    Imam masjid juga sangat dituntut untuk bersikap tanggap terhadap berbagai persoalan dan kejadian, baik di masjid maupun di lingkungan jamaahnya. Kalau mendengar apalagi mengetahui ada jamaah yang sakit atau menderita, maka imam masjid tanggap untuk menggerakkan pengurus dan jamaah guna memberikan pertolongan. Ketika ada jamaah yang nampak punya persoalan yang harus dibantu pemecahannya, maka imam masjid tanggap untuk melakukan pemecahan masalah jamaah masjid dan begitulah seterusnya. Rasulullah Saw memang sangat tanggap dalam menyikapi persoalan-persoalan jamaahnya.

    1. SEJUK DAN BERWIBAWA

    Dalam kehidupan masyarakat kita sekarang, sangat dibutuhkan adanya pemimpin dan pengayom masyarakat yang sejuk pembawaannya sehingga masyarakat memiliki kedekatan hubungan tanpa mengabaikan kewibawaan. Imam masjid idealnya memiliki sifat ini sehingga pendapat, kata-kata dan kebijakannya dipatuhi oleh jamaah karena mengandung nilai-nilai yang benar, bukan karena takut kepada pemimpin. Imam masjid memiliki kewibawaan karena kebenaran dan keshalehannya.

    Sebagai seorang imam masjid, apa yang menjadi fatwa dari Rasulullah Saw selalu didengar dan dipatuhi. Ketika seorang sahabat Abdullah bin Ummi Maktum yang buta matanya minta keringanan agar dimaklumi atau dibolehkan untuk shalat di rumah, maka Rasulullah Saw menanyakan kepadanya : “apakah engkau mendengar azan?”. Karena jawabannya “ya”, maka Rasulullah tetap menekankan kepadanya untuk datang ke masjid guna menunaikan shalat berjamaah, dan Abdullah-pun terus mendatangi masjid guna pelaksanaan shalat berjamaah.

    Demikian secara umum profil imam masjid yang perlu ditumbuhkan dan diperkokoh agar kelak imam-imam masjid kita menjadi imam yang ideal. Manakala kualitas imam tidak ditingkatkan, maka peran yang bisa dilaksanakannyapun akhirnya hanya sebatas memimpin shalat berjamaah.

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 10 May 2020 Permalink | Balas  

    Istighatsah 

    Istighatsah

    Istighatsah adalah memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongannya, untuk sebagian kelompok muslimin hal ini langsung di vonis syirik, namun vonis mereka itu hanyalah karena kedangkalan pemahamannya terhadap syariah islam, pada hakekatnya memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongannya adalah hal yang diperbolehkan selama ia seorang Muslim, Mukmin, Shalih dan diyakini mempunyai manzilah di sisi Allah swt, tak pula terikat ia masih hidup atau telah wafat, karena bila seseorang mengatakan ada perbedaan dalam kehidupan dan kematian atas manfaat dan mudharrat maka justru dirisaukan ia dalam kemusyrikan yang nyata, karena seluruh manfaat dan mudharrat berasal dari Allah swt, maka kehidupan dan kematian tak bisa membuat batas dari manfaat dan mudharrat kecuali dengan izin Allah swt, ketika seseorang berkata bahwa orang mati tak bisa memberi manfaat, dan orang hidup bisa memberi manfaat, maka ia dirisaukan telah jatuh dalam kekufuran karena menganggap kehidupan adalah sumber manfaat dan kematian adalah mustahilnya manfaat, padahal manfaat dan mudharrat itu dari Allah, dan kekuasaan Allah tidak bisa dibatasi dengan kehidupan atau kematian.

    Sama saja ketika seorang berkata bahwa hanya dokter lah yang bisa menyembuhkan dan tak mungkin kesembuhan datang dari selain dokter, maka ia telah membatasi Kodrat Allah swt untuk memberikan kesembuhan, yang bisa saja lewat dokter, namun tak mustahil dari petani, atau bahkan sembuh dengan sendirinya.

    Terkadang kita tak menyadari bahwa kita lebih banyak mengambil manfaat dalam kehidupan ini dari mereka yang telah mati daripada yang masih hidup, sungguh peradaban manusia, tuntunan ibadah, tuntunan kehidupan, modernisasi dlsb, kesemua para pelopornya telah wafat, dan kita masih terus mengambil manfaat dari mereka, muslim dan non muslim, seperti teori Einstein dan teori2 lainnya, kita masih mengambil manfaat dari yang mati hingga kini, dari ilmu mereka, dari kekuatan mereka, dari jabatan mereka, dari perjuangan mereka, Cuma bedanya kalau mereka ini kita ambil manfaatnya berupa ilmunya, namun para shalihin, para wali dan muqarrabien kita mengambil manfaat dari imannya dan amal shalihnya, dan ketaatannya kepada Allah..

    Rasul saw memperbolehkan Istighatsah, sebagaimana hadits beliau saw : “Sungguh matahari mendekat dihari kiamat hingga keringat sampai setengah telinga, dan sementara mereka dalam keadaan itu mereka ber istighatsah (memanggil nama untuk minta tolong) kepada Adam, lalu mereka beristighatsah kepada Musa, Isa, dan kesemuanya tak mampu berbuat apa apa, lalu mereka beristighatsah kepada Muhammad saw” (Shahih Bukhari hadits no.1405), juga banyak terdapat hadits serupa pada Shahih Muslim hadits no.194, shahih Bukhari hadits no.3162, 3182, 4435, dan banyak lagi hadist2 shahih yang rasul saw menunjukkan ummat manusia ber istighatsah pada para nabi dan rasul, bahkan Riwayat shahih Bukhari dijelaskan bahwa mereka berkata pada Adam, Wahai Adam, sungguh engkau adalah ayah dari semua manusai.. dst.. dst…dan Adam as berkata : “Diriku..diriku. ., pergilah pada selainku.., hingga akhirnya mereka ber Istighatsah memanggil manggil Muhammad saw, dan Nabi saw sendiri yang menceritakan ini, dan menunjukkan beliau tak mengharamkan Istighatsah.

    Maka hadits ini jelas jelas merupakan rujukan bagi istighatsah, bahwa Rasul saw menceritakan orang orang ber istighatsah kepada manusia, dan rasul saw tak mengatakannya syirik, namun jelaslah Istighatsah di hari kiamat ternyata hanya untuk Sayyidina Muhammad saw.

    Demikian pula diriwayatkan bahwa dihadapan Ibn Abbas ra ada seorang yang keram kakinya, lalu berkata Ibn Abbas ra : “Sebut nama orang yang paling kau cintai..!”, maka berkata orang itu dengan suara keras.. : “Muhammad..!”, maka dalam sekejap hilanglah sakit keramnya (diriwayatkan oleh Imam Hakim, Ibn Sunniy, dan diriwayatkan oleh Imam Tabrani dengan sanad hasan) dan riwayat ini pun diriwayatkan oleh Imam Nawawi pada Al Adzkar.

    Jelaslah sudah bahwa riwayat ini justru bukan mengatakan musyrik pada orang yang memanggil nama seseorang saat dalam keadaan tersulitkan, justru Ibn Abbas ra yang mengajari hal ini.

    Kita bisa melihat kejadian Tsunami di aceh beberapa tahun yang silam, bagaimana air laut yang setinggi 30 meter dengan kecepatan 300km dan kekuatannya ratusan juta ton, mereka tak menyentuh masjid tua dan makam makam shalihin, hingga mereka yang lari ke makam shalihin selamat, inilah bukti bahwa Istighatsah dikehendaki oleh Allah swt, karena kalau tidak lalu mengapa Allah jadikan di makam-makam shalihin itu terdapat benteng yang tak terlihat membentengi air bah itu, yang itu sebagai isyarat ilahi bahwa demikianlah Allah memuliakan tubuh yang taat pada Nya swt, tubuh tubuh tak bernyawa itu Allah jadikan benteng untuk mereka yang hidup.., tubuh yang tak bernyawa itu Allah jadikan sumber Rahmat dan perlindungan Nya swt kepada mereka mereka yang berlindung dan lari ke makam mereka.

    Kesimpulannya : mereka yang lari berlindung pada hamba hamba Allah yang shalih mereka selamat, mereka yang lari ke masjid masjid tua yang bekas tempat sujudnya orang orang shalih maka mereka selamat, mereka yang lari dengan mobilnya tidak selamat, mereka yang lari mencari tim SAR tidak selamat..

    Pertanyaannya adalah : kenapa Allah jadikan makam sebagai perantara perlindungan Nya swt?, kenapa bukan orang yang hidup?, kenapa bukan gunung?, kenapa bukan perumahan?.

    Jawabannya bahwa Allah mengajari penduduk bumi ini beristighatsah pada shalihin.

    (diambil dari Kitab Kenalilah Akidahmu karya Al Habib Munzir Bin Fuad Al Musawa)

     

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 9 May 2020 Permalink | Balas  

    Tawassul 

    Tawassul

    Saudara saudaraku masih banyak yang memohon penjelasan mengenai tawassul, waha saudaraku, Allah swt sudah memerintah kita melakukan tawassul, tawassul adalah mengambil perantara makhluk untuk doa kita pada Allah swt, Allah swt mengenalkan kita pada Iman dan Islam dengan perantara makhluk Nya, yaitu Nabi Muhammad saw sebagai perantara pertama kita kepada Allah swt, lalu perantara kedua adalah para sahabat, lalu perantara ketiga adalah para tabi’in, demikian berpuluh puluh perantara sampai pada guru kita, yang mengajarkan kita islam, shalat, puasa, zakat dll, barangkali perantara kita adalah ayah ibu kita, namun diatas mereka ada perantara, demikian bersambung hingga Nabi saw, sampailah kepada Allah swt. Allah swt berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah/ patuhlah kepada Allah swt dan carilah perantara yang dapat mendekatkan kepada Allah SWT dan berjuanglah di jalan Allah swt, agar kamu mendapatkan keberuntungan” (QS.Al- Maidah-35).

    Ayat ini jelas menganjurkan kita untuk mengambil perantara antara kita dengan Allah, dan Rasul saw adalah sebaik baik perantara, dan beliau saw sendiri bersabda : “Barangsiapa yang mendengar adzan lalu menjawab dengan doa : “Wahai Allah Tuhan Pemilik Dakwah yang sempurna ini, dan shalat yang dijalankan ini, berilah Muhammad (saw) hak menjadi perantara dan limpahkan anugerah, dan bangkitkan untuknya Kedudukan yang terpuji sebagaimana yang telah kau janjikan padanya”. Maka halal baginya syafaatku” (Shahih Bukhari hadits no.589 dan hadits no.4442) Hadits ini jelas bahwa Rasul saw menunjukkan bahwa beliau saw tak melarang tawassul pada beliau saw, bahkan orang yang mendoakan hak tawassul untuk beliau saw sudah dijanjikan syafaat beliau saw.

    Tawassul ini boleh kepada amal shalih, misalnya doa : “Wahai Allah, demi amal perbuatanku yang saat itu kabulkanlah doaku”, sebagaimana telah teriwayatkan dalam Shahih Bukhari dalam hadits yang panjang menceritakan tiga orang yang terperangkap di goad an masing masing bertawassul pada amal shalihnya.

    Dan boleh juga tawassul pada Nabi saw atau orang lainnya, sebagaimana yang diperbuat oleh Umar bin Khattab ra, bahwa Umar bin Khattab ra shalat istisqa lalu berdoa kepada Allah dengan doa : “wahai Allah.., sungguh kami telah mengambil perantara (bertawassul) pada Mu dengan Nabi kami Muhammad saw agar kau turunkan hujan lalu kau turunkan hujan, maka kini kami mengambil perantara (bertawassul) pada Mu Dengan Paman Nabi Mu (Abbas bin Abdulmuttalib ra) yang melihat beliau sang Nabi saw maka turunkanlah hujan” maka hujanpun turun dengan derasnya. (Shahih Bukhari hadits no.964 dan hadits no.3507).

    Riwayat diatas menunjukkan bahwa : – Para sahabat besar bertawassul pada Nabi saw dan dikabulkan Allah swt. – Para sahabat besar bertawassul satu sama lain antara mereka dan dikabulkan Allah swt. – Para sahabat besar bertawassul pada keluarga Nabi saw (perhatikan ucapan Umar ra : “Dengan Paman nabi” (saw). Kenapa beliau tak ucapkan namanya saja?, misalnya Demi Abbas bin Abdulmuttalib ra, namun justru beliau tak mengucapkan nama, tapi mengucapkan sebutan “Paman Nabi” dalam doanya kepada Allah, dan Allah mengabulkan doanya, menunjukkan bahwa Tawassul pada keluarga Nabi saw adalah perbuatan Sahabat besar, dan dikabulkan Allah. – Para sahabat besar bertawassul pada kemuliaan sahabatnya yang melihat Rasul saw, perhatikan ucapan Umar bin Khattab ra : “dengan pamannya yang melihatnya” (dengan paman nabi saw yang melihat Nabi saw) jelaslah bahwa melihat Rasul saw mempunyai kemuliaan tersendiri disisi Umar bin Khattab ra hingga beliau menyebutnya dalam doanya, maka melihat Rasul saw adalah kemuliaan yang ditawassuli Umar ra dan dikabulkan Allah.

    Dan boleh tawassul pada benda, sebagaimana Rasulullah saw bertawassul pada tanah dan air liur sebagian muslimin untuk kesembuhan, sebagaimana doa beliau saw ketika ada yang sakit : “Dengan Nama Allah atas tanah bumi kami, demi air liur sebagian dari kami, sembuhlah yang sakit pada kami, dengan izin tuhan kami” (shahih Bukhari hadits no.5413, dan Shahih Muslim hadits no.2194), ucapan beliau saw : “demi air liur sebagian dari kami” menunjukkan bahwa beliau saw bertawassul dengan air liur mukminin yang dengan itu dapat menyembuhkan penyakit, dengan izin Allah swt tentunya, sebagaimana dokter pun dapat menyembuhkan, namun dengan izin Allah pula tentunya, juga beliau bertawassul pada tanah, menunjukkan diperbolehkannya bertawassul pada benda mati atau apa saja karena semuanya mengandung kemuliaan Allah swt, seluruh alam ini menyimpan kekuatan Allah dan seluruh alam ini berasal dari cahaya Allah swt.

    Riwayat lain ketika datangnya seorang buta pada Rasul saw, seraya mengadukan kebutaannya dan minta didoakan agar sembuh, maka Rasul saw menyarankannya agar bersabar, namun orang ini tetap meminta agar Rasul saw berdoa untuk kesembuhannya, maka Rasul saw memerintahkannya untuk berwudhu, lalu shalat dua rakaat, lalu Rasul saw mengajarkan doa ini padanya, ucapkanlah : “Wahai Allah, Aku meminta kepada Mu, dan Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Kasih Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku menghadap demi dirimu (Muhammad saw), kepada Tuhanku dalam hajatku ini, maka kau kabulkan hajatku, wahai Allah jadikanlah ia memberi syafaat hajatku untukku” (Shahih Ibn Khuzaimah hadits no.1219, Mustadrak ala shahihain hadits no.1180 dan ia berkata hadits ini shahih dengan syarat shahihain Imam Bukhari dan Muslim).

    Hadits diatas ini jelas jelas Rasul saw mengajarkan orang buta ini agar berdoa dengan doa tersebut, Rasul saw yang mengajarkan padanya, bukan orang buta itu yang membuat buat doa ini, tapi Rasul saw yang mengajarkannya agar berdoa dengan doa itu, sebagaimana juga Rasul saw mengajarkan ummatnya bershalawat padanya, bersalam padanya.

    Lalu muncullah pendapat saudara saudara kita, bahwa tawassul hanya boleh pada Nabi saw, pendapat ini tentunya keliru, karena Umar bin Khattab ra bertawassul pada Abbas bin Abdulmuttalib ra. Sebagaimana riwayat Shahih Bukhari diatas, bahkan Rasul saw bertawassul pada tanah dan air liur.

    Adapula pendapat mengatakan tawassul hanya boleh pada yang hidup, pendapat ini ditentang dengan riwayat shahih berikut : “telah datang kepada utsman bin hanif ra seorang yang mengadukan bahwa Utsman bin Affan ra tak memperhatikan kebutuhannya, maka berkatalah Utsman bin Hanif ra : “berwudulah, lalu shalat lah dua rakaat di masjid, lalu berdoalah dengan doa : “: “Wahai Allah, Aku meminta kepada Mu, dan Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Kasih Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku menghadap demi dirimu (Muhammad saw), kepada Tuhanku dalam hajatku ini, maka kau kabulkan hajatku, wahai Allah jadikanlah ia memberi syafaat hajatku untukku” (doa yang sama dengan riwayat diatas)”, nanti selepas kau lakukan itu maka ikutlah dengan ku kesuatu tempat. Maka orang itupun melakukannya lalu utsman bin hanif ra mengajaknya keluar masjid dan menuju rumah Utsman bin Affan ra, lalu orang itu masuk dan sebelum ia berkata apa apa Utsman bin Affan lebih dulu bertanya padanya : “apa hajatmu?”, orang itu menyebutkan hajatnya maka Utsman bin Affan ra memberinya. Dan orang itu keluar menemui Ustman bin Hanif ra dan berkata : “kau bicara apa pada utsman bin affan sampai ia segera mengabulkan hajatku ya..?”, maka berkata Utsman bin hanif ra : “aku tak bicara apa2 pada Utsman bin Affan ra tentangmu, Cuma aku menyaksikan Rasul saw mengajarkan doa itu pada orang buta dan sembuh”. (Majmu’ zawaid Juz 2 hal 279).

    Tentunya doa ini dibaca setela wafatnya Rasul saw, dan itu diajarkan oleh Utsman bin hanif dan dikabulkan Allah. Ucapan : Wahai Muhammad.. dalam doa tawassul itu banyak dipungkiri oleh sebagian saudara saudara kita, mereka berkata kenapa memanggil orang yang sudah mati?, kita menjawabnya : sungguh kita setiap shalat mengucapkan salam pada Nabi saw yang telah wafat : Assalamu alaika ayyuhannabiyyu… (Salam sejahtera atasmu wahai nabi……), dan nabi saw menjawabnya, sebagaimana sabda beliau saw : “tiadalah seseorang bersalam kepadaku, kecuali Allah mengembalikan ruh ku hingga aku menjawab salamnya” (HR Sunan Imam Baihaqiy Alkubra hadits no.10.050)

    Tawassul merupakan salah satu amalan yang sunnah dan tidak pernah diharamkan oleh Rasulullah saw, tak pula oleh ijma para Sahabat Radhiyallahu’anhum, tak pula oleh para tabi’in dan bahkan oleh para ulama serta imam-imam besar Muhadditsin, bahkan Allah memerintahkannya, Rasul saw mengajarkannya, sahabat radhiyallahu’anhum mengamalkannya. Mereka berdoa dengan perantara atau tanpa perantara, tak ada yang mempermasalahkannya apalagi menentangnya bahkan mengharamkannya atau bahkan memusyrikan orang yang mengamalkannya.

    Tak ada pula yang membedakan antara tawassul pada yang hidup dan mati, karena tawassul adalah berperantara pada kemuliaan seseorang, atau benda (seperti air liur yang tergolong benda) dihadapan Allah, bukanlah kemuliaan orang atau benda itu sendiri, dan tentunya kemuliaan orang dihadapan Allah tidak sirna dengan kematian, justru mereka yang membedakan bolehnya tawassul pada yang hidup saja dan mengharamkan pada yang mati, maka mereka itu malah dirisaukan akan terjerumus pada kemusyrikan karena menganggap makhluk hidup bisa memberi manfaat, sedangkan akidah kita adalah semua yang hidup dan yang mati tak bisa memberi manfaat apa apa kecuali karena Allah memuliakannya, bukan karena ia hidup lalu ia bisa memberi manfaat dihadapan Allah, berarti si hidup itu sebanding dengan Allah?, si hidup bisa berbuat sesuatu pada keputusan Allah?, Tidak saudaraku.. Demi Allah bukan demikian, Tak ada perbedaan dari yang hidup dan dari yang mati dalam memberi manfaat kecuali dengan izin Allah swt. Yang hidup tak akan mampu berbuat terkecuali dengan izin Allah swt dan yang mati pun bukan mustahil memberi manfaat bila memang di kehendaki oleh Allah swt.

    Ketahuilah bahwa pengingkaran akan kekuasaan Allah swt atas orang yang mati adalah kekufuran yang jelas, karena hidup ataupun mati tidak membedakan kodrat Ilahi dan tidak bisa membatasi kemampuan Allah SWT. Ketakwaan mereka dan kedekatan mereka kepada Allah SWT tetap abadi walau mereka telah wafat.

    Sebagai contoh dari bertawassul, seorang pengemis datang pada seorang saudagar kaya dan dermawan, kebetulan almarhumah istri saudagar itu adalah tetangganya, lalu saat ia mengemis pada saudagar itu ia berkata “Berilah hajat saya tuan …saya adalah tetangga dekat amarhumah istri tuan…” maka tentunya si saudagar akan memberi lebih pada si pengemis karena ia tetangga mendiang istrinya, Nah… bukankah hal ini mengambil manfaat dari orang yang telah mati? Bagaimana dengan pandangan yang mengatakan orang mati tak bisa memberi manfaat?, Jelas-jelas saudagar itu akan sangat menghormati atau mengabulkan hajat si pengemis, atau memberinya uang lebih, karena ia menyebut nama orang yang ia cintai walau sudah wafat.

    Walaupun seandainya ia tak memberi, namun harapan untuk dikabulkan akan lebih besar, lalu bagaimana dengan Arrahman Arrahiim, yang maha pemurah dan maha penyantun?, istri saudagar yang telah wafat itu tak bangkit dari kubur dan tak tahu menahu tentang urusan hajat si pengemis pada si saudagar, namun tentunya si pengemis mendapat manfaat besar dari orang yang telah wafat, entah apa yang membuat pemikiran saudara saudara kita menyempit hingga tak mampu mengambil permisalan mudah seperti ini.

    Saudara saudaraku, boleh berdoa dengan tanpa perantara, boleh berdoa dengan perantara, boleh berdoa dengan perantara orang shalih, boleh berdoa dengan perantara amal kita yang shalih, boleh berdoa dengan perantara nabi saw, boleh pada shalihin, boleh pada benda, misalnya “Wahai Allah Demi kemuliaan Ka’bah”, atau “Wahai Allah Demi kemuliaan Arafat”, dlsb, tak ada larangan mengenai ini dari Allah, tidak pula dari Rasul saw, tidak pula dari sahabat, tidak pula dari Tabi’in, tidak pula dari Imam Imam dan muhadditsin, bahkan sebaliknya Allah menganjurkannya, Rasul saw mengajarkannya, Sahabat mengamalkannya, demikian hingga kini.

    (diambil dari Kitab Kenalilah Akidahmu karya Al Habib Munzir Bin Fuad Al Musawa)

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 8 May 2020 Permalink | Balas  

    Ziarah Kubur 

    Ziarah Kubur

    Ziarah kubur adalah mendatangi kuburan dengan tujuan untuk mendoakan ahli kubur dan sebagai pelajaran (ibrah) bagi peziarah bahwa tidak lama lagi juga akan menyusul menghuni kuburan sehingga dapat lebih mendekatkan diri kepada Allah swt. Ketahuilah berdoa di kuburan pun adalah sunnah Rasulullah saw, beliau saw bersalam dan berdoa di Pekuburan Baqi’, dan berkali kali beliau saw melakukannya, demikian diriwayatkan dalam shahihain Bukhari dan Muslim, dan beliau saw bersabda : “Dulu aku pernah melarang kalian menziarahi kuburan, maka sekarang ziarahlah”. (Shahih Muslim hadits no.977 dan 1977)

    Dan Rasulullah saw memerintahkan kita untuk mengucapkan salam untuk ahli kubur dengan ucapan “Assalaamu alaikum Ahladdiyaar minalmu’minin walmuslimin, wa Innaa Insya Allah Lalaahiquun, As’alullah lana wa lakumul’aafiah..” (Salam sejahtera atas kalian wahai penduduk penduduk dari Mukminin dan Muslimin, Semoga kasih sayang Allah atas yang terdahulu dan yang akan datang, dan Sungguh Kami Insya Allah akan menyusul kalian) (Shahih Muslim hadits no 974, 975, 976). Hadits ini menjelaskan bahwa Rasulullah saw bersalam pada Ahli Kubur dan mengajak mereka berbincang-bincang dengan ucapan “Sungguh Kami Insya Allah akan menyusul kalian”.

    Rasul saw berbicara kepada yang mati sebagaimana selepas perang Badr, Rasul saw mengunjungi mayat mayat orang kafir, lalu Rasulullah saw berkata : “wahai Abu Jahal bin Hisyam, wahai Umayyah bin Khalf, wahai ‘Utbah bin Rabi’, wahai syaibah bin rabi’ah, bukankah kalian telah dapatkan apa yang dijanjikan Allah pada kalian…?!, sungguh aku telah menemukan janji tuhanku benar..!”, maka berkatalah Umar bin Khattab ra : “wahai rasulullah.. , kau berbicara pada bangkai, dan bagaimana mereka mendengar ucapanmu?”, Rasul saw menjawab : “Demi (Allah) Yang diriku dalam genggamannya, engkau tak lebih mendengar dari mereka (engkau dan mereka sama sama mendengarku) , akan tetapi mereka tak mampu menjawab” (shahih Muslim hadits no.6498).

    Makna ayat : “Sungguh Engkau tak akan didengar oleh yang telah mati”. Berkata Imam Qurtubi dalam tafsirnya makna ayat ini bahwa yang dimaksud orang yang telah mati adalah orang kafir yang telah mati hatinya dengan kekufuran, dan Imam Qurtubi menukil hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim bahwa Rasul saw berbicara dengan orang mati dari kafir Quraisy yang terbunuh di perang Badr. (Tafsir Qurtubi Juz 13 hal 232).

    Berkata Imam Attabari rahimahullah dalam tafsirnya bahwa makna ayat itu : bahwa engkaua wahai Muhammad tak akan bisa memberikan kefahaman kepada orang yang telah dikunci Allah untuk tak memahami (Tafsir Imam Attabari Juz 20 hal 12, Juz 21 hal 55, )

    Berkata Imam Ibn katsir rahimahullah dalam tafsirnya : “walaupun ada perbedaan pendapat tentang makna ucapan Rasul saw pada mayat mayat orang kafir pada peristiwa Badr, namun yang paling shahih diantara pendapat para ulama adalah riwayat Abdullah bin Umar ra dari riwayat riwayat shahih yang masyhur dengan berbagai riwayat, diantaranya riwayat yang paling masyhur adalah riwayat Ibn Abdilbarr yang menshahihkan riwayat ini dari Ibn Abbas ra dengan riwayat Marfu’ bahwa : “tiadalah seseorang berziarah ke makam saudara muslimnya didunia, terkecuali Allah datangkan ruhnya hingga menjawab salamnya”, dan hal ini dikuatkan dengan dalil shahih (riwayat shahihain) bahwa Rasul saw memerintahkan mengucapkan salam pada ahlilkubur, dan salam hanyalah diucapkan pada yang hidup, dan salam hanya diucapkan pada yang hidup dan berakal dan mendengar, maka kalau bukan karena riwayat ini maka mereka (ahlil kubur) adalah sama dengan batu dan benda mati lainnya. Dan para salaf bersatu dalam satu pendapat tanpa ikhtilaf akan hal ini, dan telah muncul riwayat yang mutawatir (riwayat yang sangat banyak) dari mereka, bahwa Mayyit bergembira dengan kedatangan orang yang hidup ke kuburnya”. Selesai ucapan Imam Ibn Katsir (Tafsir Imam Ibn Katsir Juz 3 hal 439).

    Rasul saw bertanya2 tentang seorang wanita yang biasa berkhidmat di masjid, berkata para sahabat bahwa ia telah wafat, maka rasul saw bertanya : “mengapa kalian tak mengabarkan padaku?, tunjukkan padaku kuburnya” seraya datang ke kuburnya dan menyolatkannya, lalu beliau saw bersabda : “Pemakaman ini penuh dengan kegelapan (siksaan), lalu Allah menerangi pekuburan ini dengan shalatku pada mereka” (shahih Muslim hadits no.956)

    Abdullah bin Umar ra bila datang dari perjalanan dan tiba di Madinah maka ia segera masuk masjid dan mendatangi Kubur Nabi saw seraya berucap : Assalamualaika Yaa Rasulallah, Assalamualaika Yaa Ababakar, Assalamualaika Ya Abataah (wahai ayahku)”. (Sunan Imam Baihaqi Alkubra hadits no.10051)

    Berkata Abdullah bin Dinar ra : Kulihat Abdullah bin Umar ra berdiri di kubur Nabi saw dan bersalam pada Nabi saw lalu berdoa, lalu bersalam pada Abubakar dan Umar ra” (Sunan Imam Baihaqiy ALkubra hadits no.10052). Sabda Rasulullah saw : Barangsiapa yang pergi haji, lalu menziarahi kuburku setelah aku wafat, maka sama saja dengan mengunjungiku saat aku hidup (Sunan Imam Baihaqiy Alkubra hadits no.10054).

    Dan masih banyak lagi kejelasan dan memang tak pernah ada yang mengingkari ziarah kubur sejak Zaman Rasul saw hingga kini selama 14 abad (seribu empat ratus tahun lebih semua muslimin berziarah kubur, berdoa, bertawassul, bersalam dll tanpa ada yang mengharamkannya apalagi mengatakan musyrik kepada yang berziarah, hanya kini saja muncul dari kejahilan dan kerendahan pemahaman atas syariah, munculnya pengingkaran atas hal hal mulia ini yang hanya akan menipu orang awam, karena hujjah hujjah mereka Batil dan lemah.

    Dan mengenai berdoa dikuburan sungguh hal ini adalah perbuatan sahabat radhiyallahu’anhu sebagaimana riwayat diatas bahwa Ibn Umar ra berdoa dimakam Rasul saw, dan memang seluruh permukaan Bumi adalah milik Allah swt, boleh berdoa kepada Allah dimanapun, bahkan di toilet sekalipun boleh berdoa, lalu dimanakah dalilnya yang mengharamkan doa di kuburan?, sungguh yang mengharamkan doa dikuburan adalah orang yang dangkal pemahamannya, karena doa boleh saja diseluruh muka bumi ini tanpa kecuali.

    (diambil dari Kitab Kenalilah Akidahmu karya Al Habib Munzir Bin Fuad Al Musawa)

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 7 May 2020 Permalink | Balas  

    Waspada Terhadap Pujian 

    Waspada Terhadap Pujian

    Segala puji hanya milik dan hanya bagi Allah. “Alhamdulillah” , itulah kata yang senantiasa kita ucapkan untuk memuji Sang Khaliq atas limpahan karunia-Nya yang tiada berbatas. Minimal 17 kali sehari kita lafazkan kalimat itu sebagai bukti pujian kita kepada-Nya. Kata “puji” dalam kalimat tersebut sesungguhnya telah jelas menggambarkan bahwa ia menafikan segala bentuk pujian kepada selain-Nya. Faktanya, kata itu telah berubah peruntukkannya. Sebagian besar kaum Muslimin telah menggunakan berbagai macam kata pujian untuk memuji orang lain yang dikaguminya.

    Dalam berbagai pertemuan keagamaan masih terdengar ucapan saling memuji di antara mereka yang hadir. Mungkin saja sekadar basa-basi, atau untuk merendahkan diri satu sama lain, atau hanya berkelakar. Ulama yang bijak biasanya segera beristighfar ketika mendengar pujian terarah kepada dirinya. Mereka tidak suka dipuji walau hanya untuk berkelakar. Karena ulama yang bijak, tahu betul guyon atau lelucon tidak ada dalam kamusnya. Apalagi berbicara hal-hal yang tak bermanfaat sama sekali!

    Orang yang senang dipuji dan disanjung biasanya adalah orang yang hidupnya selalu bergelimang dosa. Paling tidak, orang yang sangat mencintai dunia. Imam al-Ghazali berkata bahwa memuji ternyata telah menjadi kebiasaan para pembesar dan penguasa yang menjadi budak dunia. Begitu pula dengan para pembuat kisah dan juru bicara, mereka suka memuji para hadirin, khususnya para hartawan. Dalam berbagai rapat formal yang digelar di negeri ini, sudah menjadi suatu pemandangan yang umum bila kita mendengar serangkaian pujian dikeluarkan oleh seseorang kepada pejabat yang hadir. Saking biasanya, telinga hadirin menjadi biasa ketika kata-kata “yang mulia,” atau “yang kami banggakan,” keluar dari mulut si pembicara.

    Maksudnya untuk menghormati si tamu, atau bisa jadi untuk mengambil hati atau mencari muka agar dirinya dapat memperoleh promosi jabatan. Yang lebih celaka ketika saudara-saudara Muslim kita ramai-ramai memuji, mengusung, dan menyanjung kemaksiatan di pentas hiburan tanpa tedeng aling-aling. Demi fulus, popularitas dan atas nama kebebasan berekspresi, mereka sesungguhnya telah menjerumuskan saudaranya, artis yang berwajah lugu itu (atau berlagak lugu) ke dalam jurang kemaksiatan yang dalam. Na’uudzu billahi mindzaliik!

    Saudaraku, para sahabat sangat membenci pujian. Mereka akan sangat marah kepada siapa saja yang melontarkan pujian walau jujur dan apa adanya. Mereka lebih senang mendapatkan kritikan pedas sekali pun mereka termasuk orang-orang yang berperilaku bersih. Sahabat ‘Umar bin Khaththab ra suatu ketika pernah bertanya kepada seorang lelaki tentang sesuatu hal. Lantas lelaki itu berkata, “Tentunya Anda lebih baik dan lebih tahu daripada aku wahai Amirul Mukminin.” ‘Umar ra lantas memarahi orang itu seraya berkata, “Apakah aku memerintahkan kamu untuk memuji diriku?”

    Seorang sufi, Al-Harits al-Muhasibi dalam kitabnya, ‘al-Washaya’ menuliskan bahwa, aku telah mendengar sebuah Hadits Rasulullah Saw yang sanad-nya belum aku yakini dengan pasti. Namun jika memang Hadits itu shahih maka kandungannya akan sangat bermanfaat bagi kita.

    Disebutkan bahwa ada salah seorang laki-laki memberikan pujian kepada rekannya yang sedang berada di samping Rasulullah saw. Maka beliau bersabda, “Seandainya temanmu tadi itu sedang sekarat dalam keadaan ridha dengan pujian yang kamu sampaikan kepadanya, lantas dia meninggal dunia, maka dia akan masuk Neraka.” Dalam kesempatan lain Rasulullah saw pernah bersabda kepada para sahabat, “Ingatlah, janganlah kalian saling melontarkan pujian! Jika kalian melihat ada orang-orang yang memberikan pujian, maka taburkanlah pasir ke wajah mereka!” (Hr. Ahmad, Abu Dawud, at-Turmudzi) .

    Imam al-Ghazali dalam kitabnya, ‘Kitabul Arba’in fi Ushuliddiin’ mengatakan bahwa pujian itu mengandung enam bencana. Empat bencana bagi pemuji dan dua untuk yang dipuji: Pertama, seringkali pujian tersebut dilakukan secara berlebih-lebihan, bahkan akhirnya menjurus pada dusta, karena tidak sesuai dengan kenyataan. Kedua, berpura-pura senang kepada orang yang dipuji, padahal sebenarnya tidaklah demikian, Hal ini jelas menjurus pada sifat munafik dan riya’. Ketiga, seringkali mengatakan sesuatu secara tidak obyektif dan omong kosong. Misalnya, mengatakan dia itu orang yang adil, dan dia itu wara’, padahal kenyataannya tidak.

    Keempat, dapat menjadikan pihak yang dipuji itu merasa bangga dan besar kepala. Padahal bisa jadi orang yang dipuji itu adalah orang yang zhalim, yang membuatnya semakin senang atas kedurhakaan dan kefasikannya. Padahal Rasulullah Saw telah bersabda, “Sesungguhnya Allah sangat murka bila ada orang fasik dipuji-puji. ” (al-Hadits). Kelima, kemungkinan si penerima pujian akan menjadi takabur dan ta’ajjub yang keduanya sangat membinasakan. Dan keenam, bisa jadi si penerima pujian akan bangga dan lupa akan amalnya serta merasa dirinya sudah cukup.

    Karena itu, mari periksa diri kita. Jika kebaikan yang kita lakukan selama ini mulai nampak di permukaan, biasanya akan diikuti dengan sejuta pujian dan penghormatan. Jika demikian, berhati-hatilah, karena syaitan mulai melepaskan anak panahnya agar kita terlena dalam pujian. Melayang dengan pujian dan sanjungan yang diterima, sampai lupa bahwa segala bentuk pujian hanya untuk dan milik Allah. Seorang bijak berkata, “Barangsiapa suka dipuji, maka dia telah memungkinkan syaitan untuk masuk ke dalam perutnya.”

    Begitulah. Jangan sampai kita tertipu dengan merasa telah beramal baik dengan tulus ikhlas sehingga merasa sudah layak menerima pahala dari Allah. Jangan pernah merasa sebagai ahli Surga hanya karena telah membantu dan menyantuni anak-anak yatim, atau telah memberangkatkan sejumlah orang untuk pergi haji, jika hati kecil ini masih ingin dipuji orang lain. Jangan berkecil hati hanya karena orang di sekitar tak memandang dan memperhatikan amal baik kita selama ini. Jangan bersedih ketika orang-orang tak mengakui jasa-jasa kita dalam membangun masjid atau mushala. Karena pujian, sekali lagi hanya milik dan untuk Allah, bukan milik kita!

    Saudaraku, semua ini bukan berarti kita tak berhak menerima pujian. Sebagian ulama mengatakan bahwa, suatu pujian kalau disampaikan bebas dari unsur-unsur negatif seperti di atas, maka boleh dilakukan. Sebab, dalam beberapa kesempatan, Rasulullah saw juga sering memberikan pujian dan sanjungan kepada para sahabat, bilamana menurut beliau justru akan semakin menambah semangat kerja dan daya juang mereka, bukannya semakin membuat mereka sombong.

    Misalnya ketika Nabi saw memuji Abu Bakar ash-Shaddiq ra, “Andaikata kualitas keimanan Abu Bakar dan manusia sejagad ditimbang, tentu akan lebih berat kualitas keimanan Abu Bakar.” Dan tentang ‘Umar bin Khaththab ra, Nabi saw bersabda, “Andaikata aku belum diutus tentu engkau ‘Umar yang akan diutus menjadi Rasul.”

    Ada ungkapan menarik yang disampaikan oleh al-Muhasibi, “Beribadahlah karena dan untuk Allah semata, karena niscaya burung, binatang-binatang buas, hewan melata dan para Malaikat akan memuji dirimu. Seluruh bangsa jin dan manusia yang berada di sekelilingmu juga akan turut berbahagia. Mereka akan memuji sikapmu. Lantas apakah kamu memilih untuk beribadah karena Allah atau tetap mengharapkan tipu daya berupa pujian dari mahluk. Kamu lebih memilih untuk meraih ridha Allah ataukah senang menerima azab-Nya? Kamu lebih senang mendapatkan nikmat yang abadi ataukah azab yang pedih?”

    Salah satu obat untuk menghindari sikap senang dipuji dan disanjung adalah memperbanyak syukur kepada-Nya. Karena dengan menanamkan rasa syukur, memperbanyak syukur dan khawatir kalau nikmat Allah dicabut maka kita tidak akan mempunyai waktu lagi untuk merasa tersanjung ketika dipuji. Sebab malaikat dan para nabi saja sangat khawatir jika sampai anugerah Allah dicabut dari mereka. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: “(Mereka berdoa), ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami.” (aali-‘Imraan: 8).

    Saudaraku, tak henti-hentinya al-Fakir mengingatkan, terutama bagi diri al-Fakir sendiri agar kita senantiasa saling mengingatkan satu sama lain dalam berperilaku. Mari kita teladani apa yang dilakukan oleh Imam ‘Ali bin Abi Thalib kw saat disanjung orang. Beliau biasanya berdoa: “Ya Allah, ampunilah aku dari apa yang tidak mereka ketahui, dan janganlah Engkau siksa aku dengan apa yang mereka katakan, dan jadikanlah aku lebih baik daripada dari apa yang mereka sangkakan kepadaku.” Atau meniru apa yang diucapkan oleh sebagian sufi dalam doanya ketika dipuji: “Ya Allah, sungguh hamba-Mu ini lebih layak pada murka-Mu dan aku bersaksi kepada-Mu atas kelayakan murka itu.”

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 6 May 2020 Permalink | Balas  

    Pengungkapan rasa syukur 

    Pengungkapan Rasa Syukur

    “…Dan sedikit sekali dari hamba-hamba- Ku yang bersyukur.”( QS.As-Saba: 13).

    “…Dan barang siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri .. .” (QS.An-Naml: 40)

    Ada tiga macam bentuk pengungkapan rasa syukur kepada Allah SWT yang bisa ditempuh manusia:

    PERTAMA, bersyukur dengan hati, yaitu mengakui dan menyadari sepenuhnya bahwa segala nikamt yang diperoleh berasal dariNya dan tidak ada apapun selainNya yang dapat memberikan nikmat itu.

    KEDUA, bersyukur dengan lisan, yaitu mengucapkan secara jelas ungkapan rasa bersyukur dengn kalimat alhamdulillah. Rasulullah saw, bersabda “Barangsiapa mengucapkan subhanallah, maka ia mendapatkan sepuluh kebaikan. Orang yang membaca laa ilaaha illallaah akan dibalas dua puluh kebaikan dan orang yang membaca alhamdulillah akan memperoleh tiga puluh kebaikan.”(Al- Hadits)

    KETIGA, bersyukur dengan amal perbuatan, yakni mengamalkan anggota tubuh kita untuk melakukan perbuatan baik dan memanfaatkan segala nikmatNya sesuai dengan ajaran agama. Pada tahap ini, yang dimaksud dengan mengamalkan anggota tubuh ialah mempergunakan anggota tubuh untuk mengerjakan hal-hal yang positif yang dirihoiNya sebagai perwujudan dari rasa syukur. Misalnya jika seseorang memperoleh nikmat berupa harta benda, maka ia mempergunakan hartanya untuk infak atau bersodaqoh.

    Maka syukurilah dengan apa yang sudah kita miliki. Dengan rasa syukur kita akan terjauh dari AIDS (Angkuh, Iri, Dengki dan Syirik). Semoga kita semua termasuk orang-orang yang selalu bersyukur… Amin …yarabbalamin. …

    ***

    Wassalam, Henny

     
  • erva kurniawan 2:15 pm on 5 May 2020 Permalink | Balas  

    Pelajaran Syukur dari Dua Orang Pengamen 

    Kamis minggu lalu, sore itu tepatnya di bilangan UKI – Universitas Kristen Indonesia (Jakarta), waktu telah menunjukan senja kala, matahari telah terbenam, dan sang bulan mulai perlahan menampakkan wajahnya yang cantik. Saya kala itu baru turun dari bus jemputan yang mengantar saya dari kantor di bilangan Cikarang, biasa saya terlelap dalam bus tersebut untuk mempersiapkan energi untuk melanjutkan perjalanan pulang.

    Hari itu saya sedang kesal dengan beberapa keinginan yang belum tercapai, dan dalam hati sedang mempertanyakan mengapa Allah memberi saya ujian seperti ini, saya sedang gelisah hati. Dan saat turun dari jemputan pun tiba. Waktu menunjukan sekitar pukul 17.20 menit WIB. Di tengah ramai jalanan ibukota, saya mencoba mampir ke tukang gorengan, karena saya sedang ingin makan gorengan. Khususnya penjual “combro” karena saya menyukai pangan tersebut karena terbuat dari singkong yang diberi oncom, wah buat lidah saya rasanya luar biasa sekali. Panganan tersebut sengaja saya persiapkan untuk berbuka puasa. Karena saya saat itu sedang puasa Senin-Kamis.

    Setelah membeli combro dan sebotol teh manis dalam botol atas merek tertentu, saya masukan bekal tersebut ke dalam tas saya. Tidak jauh beberapa meter dari tempat saya membeli combro tersebut saya melihat dua orang anak kecil yang sedang diam dan duduk di pinggiran terotoar di bilangan UKI tersebut.

    Saya keluarkan sebuah uang lembar ribuan, karena tangan saya reflek untuk membiasakan diri memberi, walaupun bukanlah sesuatu yang berarti. Tetapi, seorang anak yang lebih tua dengan postur yang lebih besar menolak pemberian saya tersebut. “Maaf Om kami bukan peminta-minta” tolak dari anak tersebut. “Ayo … ambil saja …” kali kuperbaiki senyumku, juga uluran tangan yang lebih ringan. Tetapi tetap dia menolaknya.

    “Lalu kenapa kamu ada di sini, Dik” tanyaku “Kami memang orang susah Om, tapi ibu kami meminta kami bekerja bukan menjadi seorang peminta-minta” jawab anak tersebut. Saya pun menghargai pendapat anak tersebut, saya juga tidak bermaksud melatihnya menjadi peminta-minta, lalu saya alihkan tatapan kepada anak yang kecil. Matanya yang sayu namun tajam itu seperti menusuk hati ini dan memaku kuat kaki ini untuk terus melangkah.

    Mata anak tersebut menerawang, seperti menahan sesuatu sepertinya rasa yang amat sangat. Rasa yang sampai sore ini ditahannya. Dan kini, dari matanya, juga gerak lemah tubuhnya, aku bisa menangkap rasa yang tertahan itu.

    “Dik, adiknya kenapa sakit ya?” tanya saya kepada anak tersebut. “Tidak Om, kami belum makan dari dua hari lalu” jawab sang kakak tersebut. “Memang kamu tidak punya orang tua, Dik” tanyaku menyelidik. “Keluarga kami baru saja kena gusur Om” jawabnya. “Astagfirullahalazi m” gumamku dalam hati berat nian derita yang diterima anak ini dan keluarganya.

    “Lalu kamu ngapain disini, kalau tidak usaha, kan tidak punya uang untuk makan” tanyaku. “Saya sudah mencoba mengamen Om, tapi hanya mendapat Rp.1000 rupiah” sambil menunjukan uang tersebut kepadaku. “Itukan cukup untuk beli gorengan dik” jawabku menyelidik. “Tidak Om uang ini untuk ibu kami yang sakit parah” ujarnya lagi. “Tadinya uang saya berjumlah 7000 , tapi barusan kami di palak preman Om, uang kami diambil.”

    Kejamnya hidup di Jakarta, anak sekecil ini pun jadi korban. Kasihan sekali pkirku, dan aku yang selama ini mencoba melakukan puasa pun ketika berbuka pasti telah tersedia makanan, setidaknya hanya combro yang aku beli tadi, tapi kedua anak ini sungguh berat bebannya. Tak terasa air mata ini menetes tanpa aku perintahkan.

    “Yuk kita mampir di warung nasi itu, kita beli nasi untuk kamu, adik kamu dan ibu kamu” aku mengajak kedua anak tersebut ke sebuah warung nasi, saya mencoba menggendong sang adik yang terlihat sangat lapar. Di warung nasi keduanya terlihat canggung dalam memilih makanan. “Sudah ambil saja, yang kalian inginkan,” ujarku saat itu.

    Betapa bahagia melihat kedua anak tersebut memakan makanannya, tiba-tiba teringat di rumah terkadang makanan selalu berlebihan, dan terbuang ke tempat sampah, tapi ternyata banyak orang yang tidak mendapat makan.

    Setelah itu, anak-anak tersebut makan, aku meminta untuk dibungkuskan nasi, untuk orang tuanya dan nanti makan malamnya. “Om terimakasih ya, tapi kata ibu kami harus bekerja untuk mendapatkan sesuatu” anak tersebut berkeras untuk menawarkan jasa. “Oke, kamu kan bisa menyanyi, sekarang saya minta untuk dinyanyikan saja,” pinta saya.

    Dan saya melihat kedua anak itu menyanyi dengan bahagia, senangnya bisa membuat orang lain bahagia. “Alhamdulillah” ucapku dalam hati. Karena Adzan mahgrib sudah memanggil kulanjutkan langkah kakiku, dan aku pamit kepada kedua sahabat kecilku itu sambil kutitipkan uang untuk berobat ibunya. Dan senangnya bisa melihat senyum diwajah mereka memancarkan rasa syukur yang tak tergambarkan, tanpa lupa mengucapkan terima kasih, ia menyambut hangat tanganku.

    Dalam hati menuju mesjid terdekat aku berdoa “Ya Allah, alangkah bijak-Nya Engkau menegur hambamu ini. Aku malu… masih ada sederet keluh kesah lagi yang bersarang di hatiku dan Engkau Maha Tahu waktu yang tepat untuk mengingatkanku. Ampuni hamba ya Allah. Segala keterbatasanku mengharapkan ke-Maha Sempurnaan-Mu. Muliakan mereka dengan keberadaannya. dan lindungilah mereka ya Allah. Aamiin.”

    Ternyata aku masih orang yang beruntung dengan segala yang aku miliki, walau kadang hati ini masih sering tidak bisa melihat keberuntungan diri atas rahmat yang diberikan Allah. Semoga setiap kejadian bisa membawa hikmah kepada kita semua. Allah sangat menyayangi kita dan kasih sayang itu bisa berwujud apa saja, tergantung kita untuk mengakuinya. Wallaahu a’alam.

    ***

    21-April-2008 Erwin Arianto

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 4 May 2020 Permalink | Balas  

    Meninggalkan Puasa Ramadan (3/3) 

    Meninggalkan Puasa Ramadan (3/3)

    Kapankah diwajibkan qada, fidyah dan kaffarah ?

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    ORANG-ORANG YANG DIWAJIBKAN KAFFARAH

    ULAMA sepakat mengenai kewajipan kaffarah bagi orang-orang yang berbuka puasa dengan melakukan persetubuhan (jimak) sama ada dengan perempuan atau binatang dengan sengaja tanpa dipaksa atau dengan maksud melanggar kehormatan dalam bulan puasa, atau bukan karena yang diharuskan berbuka puasa. Kaffarah karena persetubuhan tersebut ialah memerdekakan seorang hamba. Jika dia tidak mendapatkannya, maka hendaklah dia puasa dua bulan berturut-turut dan jika dia tidak berdaya maka dia memberi makan enam puluh orang miskin.

    Dalil kaffarah ini telah diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radiallahuanhu yang bermaksud, “Ketika kami duduk bersama Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam telah datang seorang lelaki kepada Baginda lalu berkata : “Binasalah aku!” Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda : “Kenapa dengan engkau?” Lelaki itu menjawab : “Aku telah menyetubuhi isteriku sedang aku berpuasa (Ramadan).” Lalu Nabi bersabda : “Adakah engkau berdaya memerdekakan seorang hamba?” Lelaki itu menjawab : “Tidak”. Lalu bersabda Nabi: “Adakah engkau berupaya menunaikan puasa dua bulan berturut2 ? Lelaki itu menjawab : “Tidak.” Bersabda Nabi : “Adakah engkau berdaya memberi makan enam puluh orang miskin?” Lelaki itu menjawab : “Tidak.” (Abu Hurairah) berkata : “Ketika kami duduk telah dibawakan kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dengan serumpun tamar. “Lalu Baginda bersabda: Amil (tamar) ini dan sedekahkan ….” (Hadis riwayat Al-Bukhari).

    Membatalkan puasa dengan jimak atau persetubuhan yang berlaku pada siang hari bulan Ramadan adalah haram. Akan tetapi tidak wajib kaffarah jika berlaku jimak pada bulan-bulan yang lain selain bulan Ramadan seperti ketika melakukan puasa sunat, nazar, qada atau puasa kaffarah. Perkara ini telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu Wataala yang tafsirnya :

    “Dihalalkan bagi kamu, pada malam hari puasa, bercampur (bersetubuh) dengan isteri-isteri kamu. Isteri-isteri kamu itu adalah sebagai pakaian bagi kamu dan kamu pula sebagai pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahasanya kamu mengkhianati diri sendiri, lalu Dia menerima taubat kamu dan memaafkan kamu. Maka sekarang setubuhilah isteri-isteri kamu dan carilah apa-apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kamu; dan makanlah serta minumlah sehingga nyata kepada kamu benang putih (cahaya siang) daripada benang hitam (kegelapan malam), yaitu waktu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sehingga waktu malam (Maghrib); dan janganlah kamu setubuhi isteri-isteri kamu ketika kamu sedang beriktikaf di masjid. Itulah batas-batas larangan Allah, maka janganlah kamu menghampirinya. Demikian Allah menerangkan ayat-ayat hukum-Nya kepada sekalian manusia supaya mereka bertakwa.” (Al-Baqarah : 187).

    Apabila seorang lelaki atau perempuan berbuka dengan melakukan jimak dengan sengaja, maka batal puasa dan berdosa. Begitu juga ke atasnya wajib qada puasa dan kaffarah bersama ta’zir. Jika keadaan ini berlaku kepada suami dan isteri, siapakah yang dikenakan kaffarah? Ulama berbeza pendapat tentang siapakah yang dikenakan kaffarah sama ada suami atau isteri atau kedua-duanya sekali. Menurut pendapat yang ashah di kalangan ulama Syafi’e, kaffarah hanya wajib ke atas suami saja.

    Jika berlaku jimak itu dua hari atau lebih dalam bulan Ramadan, ulama sepakat bagi setiap hari dikenakan kaffarah. Manakala bagi yang melakukan jimak beberapa kalli dalam satu hari atau pada hari yang sama, dia hanya dikenakan satu kaffarah.

    Jika berlaku jimak dalam keadaan musafir yang diharuskan, puasa terbatal dan tidak wajib kaffarah dengan jimak tersebut. Begitu juga jika dia menyangka (dzann) matahari telah masuk dan berlaku jimak, sedangkan hari masih siang (belum masuk matahari), dihukumkan tiada kaffarah karena dia tidak bermaksud untuk melakukan yang dilarang. Manakala jika dia syak di siang hari, sama ada berniat puasa di malam hari atau sebaliknya, kemudian berlaku jimak dalam keadaan syak itu, lalu dia teringat bahawa dia telah berniat, maka batal puasanya dan tidak wajib kaffarah. Begitu juga tidak wajib kaffarah jika jimak itu berlaku setelah terbatal puasa oleh perkara-perkara lain seperti makan, minum dan sebagainya.

    Berdasarkan kepada penjelasan di atas, bahawa ibadat puasa itu wajib ditunaikan kecuali bagi orang-orang yang ditentukan oleh syarak mempunyai kelonggaran-kelonggaran tertentu. Kelonggaran-kelonggaran tersebut bertujuan supaya tidak membebankan umat Islam melaksanakan tanggungjawab dan kewajipan.

    Namun ibadat puasa yang ditinggalkan sama ada dengan sebab keuzuran syari atau tanpa sebab munasabah, Islam telah mewajibkan ke atas mereka qada atau fidyah ataupun kaffarah.

    Oleh yang demikian mana-mana orang yang wajib ke atasnya kaffarah atau fidyah hendaklah mengambil perhatian tentang perkara ini. Sementara yang wajib qada pula tidak akan melengah-lengahkan atau menunda-nunda qadanya sehingga masuk Ramadan yang akan datang.

    —–wallohu a’lam bis-shawab —-

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 3 May 2020 Permalink | Balas  

    Meninggalkan Puasa Ramadan (2/3) 

    Meninggalkan Puasa Ramadan (2/3)

    Kapankah diwajibkan qada, fidyah dan kaffarah ?

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    iii) ORANG perempuan yang dalam keadaan haid dan nifas tidak wajib dan tidak sah menunaikan puasa Ramadan. Walau bagaimanapun adalah wajib ke atas mereka qada puasa yang tertinggal itu apabila perempuan tersebut suci daripada haid dan nifas. Hal ini berdasarkan riwayat Aisyah Radiallahuanha berkata yang maksudnya:

    “Kami diperintahkan mengqada puasa dan tidak diperintahkan mengqada sembahyang.” (Hadis riwayat Muslim).

    Bagi orang yang meninggalkan puasa dengan sengaja tanpa uzur syar’i adalah wajib ke atasnya mengqada puasa yang ditinggalkan itu dan dikira sebagai menderhaka kepada Allah Subhanahu Wataala karena meninggalkannya dan pemerintah berhak menghukum (ta’zir) ke atas mereka. Perbuatan meninggalkan puasa Ramadan itu sangat merugikan dirinya. Perkara ini telah dijelaskan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, Baginda bersabda yang maksudnya:

    “Sesiapa yang berbuka puasa sehari daripada bulan Ramadan dengan tiada keuzuran dan tidak sakit, dia tidak akan dapat menggantikannya dengan puasa sepanjang tahun.” (Hadis riwayat Bukhari).

    Para ulama berselisih pendapat tentang fidyah terhadap orang yang meninggalkan puasa dengan sengaja tanpa uzur. Menurut pendapat yang ashah di kalangan ulama-ulama Syafi’e orang sedemikian wajib ke atasnya fidyah. Mereka beralasan jika orang yang mempunyai keuzuran seperti perempuan yang menyusukan anak diwajibkan ke atasnya fidyah, bagaimana pula tidak wajib bagi orang yang sengaja meninggalkannya tanpa uzur?

    Wanita hamil atau wanita yang menyusukan anak juga diharuskan berbuka puasa. Jika dia takut akan mudarat ke atas dirinya maka wajib ke atasnya qada puasa yang ditinggalkannya itu. Jika dia takut akan mudarat kepada diri dan kandungannya maka hukumnya sama juga sebagaimana dikenakan ke atas orang yang sakit dan musafir.

    ORANG YANG DIWAJIBKAN QADA DAN FIDYAH

    Adalah menjadi kewajipan mengqada puasa bagi orang-orang yang meninggalkannya dengan sengaja atau dengan sebab keuzuran syar’i. Di samping itu ada juga orang-orang yang meninggalkannya ditentukan ke atasnya membayar fidyah.

    Fidyah ialah memberi makan orang miskin sebanyak satu mudd (cupak) beras atau apa-apa jua bijirin yang menjadi makanan asasi sesebuah negeri itu. Satu mudd itu adalah sebagai gantian bagi satu hari puasa yang ditinggalkan dan satu mudd itu bersamaan 15 tahil (566.85 gram).

    Bagi wanita hamil atau yang menyusukan anak, jika dia takut akan mudarat kepada anaknya disebabkan dia berpuasa, maka dia diharuskan berbuka dan wajib mengqada puasa tersebut. Selain itu dia juga wajib fidyah karena dia berbuka untuk menyelamatkan nyawa dan tidak berupaya menunaikan puasa.

    Perkara ini berdasarkan satu riwayat yang menyebutkan bahawa Abdullah bin Umar Radiallahuanhuma telah ditanya mengenai seorang perempuan hamil yang takut mudarat kepada anaknya, adakah ke atasnya berpuasa? Lalu beliau berkata yang maksudnya:

    “Berbuka dan berilah satu cupak makanan (hinthah) kepada orang miskin setiap hari.” (Hadis riwayat Malik).

    Manakala perempuan hamil dan yang menyusukan itu apabila berbuka karena niat rukhshah sakit atau musafir, maka wajib ke atasnya qada saja dan tidak wajib fidyah.

    Hukum yang sama juga (fidyah) terkena kepada orang-orang yang meninggalkan puasa dan melengah-lengah atau melambatkan qada, sedangkan dia berdaya sehingga datang bulan Ramadan yang baru. Dengan demikian dia berdosa karena melambatkannya dan wajib qada serta fidyah bagi setiap hari yang ditinggalkannya itu.

    Kecuali bagi orang-orang yang uzurnya berterusan sehingga tidak berdaya melakukan qada seperti sakit atau musafir yang berterusan, perempuan hamil atau perempuan yang menyusukan sehingga datang Ramadan yang lain maka tidak wajib ke atasnya fidyah karena melambatkan qada itu karena keuzuran sedemikian itu diharuskan.

    Begitu juga orang-orang yang sengaja meninggalkan puasa tanpa uzur syar’i, dia berdosa dan wajib qada serta dikenakan membayar fidyah.

    ORANG YANG DIWAJIBKAN MEMBAYAR FIDYAH SAJA

    Islam sebagai agama yang mudah tidak akan memberatkan umatnya dalam segala perkara yang disyariatkannya seperti puasa Ramadan yang diwajibkan ke atas setiap orang Islam.

    Bagi orang-orang yang tidak berdaya menunaikan puasa Ramadan, Islam memberikan jalan kelonggaran tertentu kepada mereka sama ada dengan mengqada puasa yang ditinggalkannya itu atau dengan mengeluarkan fidyah, atau keduanya sekali.

    Bagi orang yang sangat tua (yang tidak berdaya melakukannya) dan orang yang sangat sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh, tidak wajib ke atasnya berpuasa, tetapi diwajibkan ke atasnya membayar fidyah.

    Dalam hal ini Allah Subhanahu Wataala berfirman yang tafsirnya:

    “Dan Ia (Allah) tidak menjadikan kamu menanggung sesuatu keberatan dan susah payah dalam perkara agama.” (Al-Hajj ayat 78).

    Firman-Nya lagi yang tafsirnya:

    “Dan wajib atas orang-orang yang tidak terdaya berpuasa (karena tua dan sebagainya) membayar fidyah yaitu memberi makan orang miskin.” (Al-Baqarah ayat 184).

    Ibnu Abbas Radiallahuanhu telah meriwayatkan mengenai orang yang sangat tua yang diwajibkan ke atasnya fidyah, beliau berkata yang maksudnya:

    “Orang yang sangat tua di kalangan lelaki atau perempuan yang keduanya tidak mampu berpuasa hendaklah memberi makan orang miskin bagi setiap hari sebagai ganti.” (Hadis riwayat Al-Bukhari).

    Hukum yang sama juga terkena kepada orang yang sangat sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh dia boleh berbuka dan wajib membayar fidyah sebagai ganti puasa yang ditinggalkannya itu.

    Mengenai qada orang yang sangat tua dan orang yang sangat sakit tidak ada harapan untuk sembuh jika dia merasa mampu dan berdaya untuk berpuasa, apakah dia wajib mengqada puasa yang ditinggalkannya itu? Dalam hal ini, ulama menyatakan bahawa jika dia berdaya sebelum membayar fidyah, maka dibolehkan dia mengqada saja tetapi jika dia berdaya setelah membayar fidyah, dia tidak perlu mengqadanya. Ulama juga bersepakat adalah harus bagi orang yang sangat tua itu membayar fidyah selepas masuk fajar setiap hari.

    Manakala bagi orang yang luput menunaikan puasa Ramadan dan meninggal dunia sebelum dia mengqadanya sama ada disebabkan meninggal dunia pada bulan Ramadan, meninggal sebelum fajar 2 Syawal, sakit yang berpanjangan atau karena musafir yang diharuskan sehingga dia meninggal, maka dia tidak berdosa dan tidak wajib qada dan tidak dikenakan membayar fidyah.

    Bersambung

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 2 May 2020 Permalink | Balas  

    Meninggalkan Puasa Ramadan (1/3) 

    Meninggalkan Puasa Ramadan (1/3)

    Kapankah diwajibkan qada, fidyah dan kaffarah?

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    ISLAM tidak membebankan umatnya dalam membuat perkara ibadat. Islam memberikan kelonggaran-kelonggaran tertentu kepada umatnya yang tidak mampu dan berdaya melakukannya. Sebagai contoh sembahyang yang tidak berupaya dilakukan dengan berdiri, dibolehkan melakukannya dengan duduk. Sembahyang berbaring atau menelantang juga diharuskan jika tidak boleh dengan cara berdiri atau duduk.

    Begitu juga dengan kewajipan puasa Ramadan, jika seseorang yang tidak mampu berpuasa dengan sebab-sebab uzur yang dibenarkan seperti sakit, dalam musafir, orang-orang tua, perempuan-perempuan mengandung atau hamil dan seumpamanya adalah di antara orang-orang yang diharuskan berbuka dengan masing-masing diwajibkan qada sejumlah hari-hari yang tertinggal atau dengan membayar fidyah atau kedua-duanya. Perkara-perkara ini dijelaskan oleh Al-Quran dan hadis Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam dan pendapat ulama mengenainya.

    Berdasarkan penjelasan-penjelasan tersebut, ulama dengan ijmak berpendapat bahwa orang-orang yang meninggalkan puasa dengan uzur syar’i diwajibkan qada. Di samping itu ada juga orang-orang yang meninggalkannya ditentukan ke atasnya membayar fidyah. Perkara ini termasuklah orang-orang yang meninggalkan puasa tanpa uzur.

    Secara umumnya, qada puasa diwajibkan ke atas mereka yang meninggalkan puasa Ramadan, sama ada dengan keuzuran syar’i atau sebaliknya. Ini berdasarkan ayat Al-Quran di mana Allah Subhanahu Wataala berfirman yang maksudnya:

    “(Puasa yang diwajibkan itu ialah) beberapa hari yang tertentu; maka sesiapa di antara kamu yang sakit atau dalam musafir, (bolehlah dia berbuka) kemudian wajiblah dia berpuasa sebanyak (hari yang dibuka) itu pada hari-hari yang lain dan wajib atas orang-orang yang tidak terdaya berpuasa (karena tua dan sebagainya) membayar fidyah iaitu memberi makan orang miskin. Maka sesiapa yang dengan sukarela memberikan (bayaran fidyah) lebih daripada yang ditentukan itu, maka itu adalah suatu kebaikan baginya dan (walaupun demikian) berpuasa itu lebih baik bagi kamu (daripada memberi fidyah) kalau kamu mengetahui. (Masa yang diwajibkan kamu berpuasa itu ialah) bulan Ramadan yang padanya diturunkan Al-Quran, menjadi petunjuk bagi sekalian manusia dan menjadi keterangan-keterangan yang menjelaskan petunjuk dan (menjelaskan) perbezaan antara yang benar dengan yang salah. Oleh itu, sesiapa di antara kamu yang menyaksikan anak bulan Ramadan (atau mengetahuinya), maka hendaklah dia berpuasa bulan itu dan sesiapa yang sakit atau dalam perjalanan maka (bolehlah dia berbuka, kemudian wajiblah dia berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (Dengan ketetapan yang demikian itu) Allah menghendaki kamu beroleh kemudahan, dan Dia tidak menghendaki kamu menanggung kesukaran. Dan juga supaya kamu membesarkan Allah karena mendapat petunjuk-Nya dan supaya kamu bersyukur.” (Surah Al-Baqarah ayat 184-185).

    Berdasarkan ayat di atas, keuzuran syar’i yang mewajibkan qada puasa itu ialah seperti sakit, musafir, haid dan nifas. Bagaimanapun mereka yang sengaja tidak berpuasa pada bulan Ramadan tanpa keuzuran syari adalah melakukan dosa besar karena melanggar perintah kewajipan berpuasa dan mereka tetap wajib mengqada puasa yang ditinggalkan itu.

    Menurut hukum syarak orang yang meninggalkan puasa itu ada beberapa golongan:

    1.. Orang yang diwajibkan qada saja.

    2.. Orang yang diwajibkan qada dan fidyah.

    3.. Orang yang tidak wajib qada tetapi wajib fidyah.

    4.. Orang yang diwajibkan kaffarah.

    ORANG YANG DIWAJIBKAN QADA SAJA

    Qada puasa hanya diwajibkan kepada mereka yang berbuka puasa di bulan Ramadan, sama ada dengan keuzuran syari atau tidak. Di antara orang-orang yang diwajibkan qada puasa itu ialah :

    i.. Orang yang sakit yang ada harapan sembuh. Jika puasa itu boleh mendatangkan mudarat ke atas dirinya sama ada menambahkan sakitnya, melambatkan sembuh sakitnya atau puasa itu mengelakkan sakitnya, maka adalah harus bagi orang yang sakit itu berbuka puasa Ramadan tetapi wajib ke atasnya mengqada puasa sebanyak hari yang ditinggalkannya setelah sembuh.

    ii.. Orang yang musafir (dalam pelayaran) juga di antara orang yang diberi kelonggaran dalam menunaikan puasa. Keharusan berbuka puasa Ramadan karena musafir hanya diberikan kepada mereka yang memenuhi syarat-syarat musafir sebagaimana yang ditentukan oleh syarak seperti:

    a.. Hendaklah jarak perjalanan pergi belayar itu tidak kurang dari dua marhalah iaitu 89-91 kilometer atau 56 batu.

    b.. Hendaklah pada permulaan perjalanan itu berniat (qasad) hendak membuat pelayaran menuju ke destinasi yang diketahui serta menetapkan azam tanpa ragu-ragu untuk berjalan dalam jarak jauh tidak kurang daripada dua marhalah.

    c.. Perjalanan itu hendaklah atas tujuan yang diharuskan oleh syarak dan bukan atas tujuan untuk mengerjakan perkara-perkara yang diharamkan atau maksiat.

    d.. Pelayaran itu hendaklah sebelum masuk waktu diwajibkan puasa seperti selepas Maghrib dan sebelum fajar.

    Bagi orang musafir yang diharuskan berbuka itu adalah wajib mengqada puasa sebanyak hari yang telah ditinggalkannya.

    Orang yang sakit dan orang musafir yang diharuskan berbuka puasa di bulan Ramadan telah dijelaskan oleh Al-Quran sebagaimana Allah Subhanahu Wataala berfirman yang tafsirnya: “Maka sesiapa di antara kamu yang sakit atau dalam musafir, (bolehlah dia berbuka), kemudian wajiblah dia berpuasa sebanyak (hari yang dibuka) itu pada hari-hari yang lain.” (Surah Al-Baqarah ayat 184).

    Hukum orang yang sakit dan musafir di atas adalah sama dengan orang yang sangat lapar dan sangat dahaga. Orang seperti ini juga diharuskan berbuka dan wajib qada. Kelonggaran tersebut berdasarkan firman Allah Subhanahu Wataala yang tafsirnya:

    “Dan janganlah kamu membunuh diri kamu. Sesungguhnya Allah sentiasa Mengasihani kamu.” (Surah An-Nisaa’ ayat 29).

    Bersambung

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 30 April 2020 Permalink | Balas  

    Para Pemuda yang Sangat Dicintai oleh Rasulullah Saw 

    Para Pemuda yang Sangat Dicintai oleh Rasulullah SAW

    Pernah satu kali Sayyidina Abdurrahman bin Auf, sahabat Rasulullah Saw tatkala beliau sedang didalam barisan beliau menengok ke sebelah kanan didapati semua banyak anak – anak muda, beliau menengok ke sebelah kiri rata – rata yang ada anak – anak muda.

    Maka tiba – tiba saat sedang asyiknya sudah siap menghadapi musuh, tiba – tiba ada dikutan dari samping kanannya Sayyidina Abdurrahman bin Auf, ada yang nyolek Sayyidina Abdurrahman bin Auf maka Sayyidina Abdurrahman bin Auf menoleh ke sebelah kanannya. Ini ada anak kecil belum begitu besar, umurnya belasan tahun, “apa yang kau mau, apa yang kau inginkan wahai anak muda?”

    Anak itu berkata “wahai Abdurrahman tunjukkan padaku mana yang namanya Abu Jahal?” ini anak muda ikut perang mau mencari mana yang namanya Abu Jahal.

    “Untuk apa kau mencari Abu Jahal”, kata Sayyidina Abdurrahman bin Auf.

    Anak itu menjawab “telah sampai kepadaku kabar bahwasanya Abu Jahal itu yang selalu menyakiti Rasulullah Saw. Waktu di kota Makkah, belum hijrah ke Madinah sampai kabar kepadaku bahwasanya Abu Jahal ini orang yang selalu menyakiti Rasulullah saw, orang yang selalu mengganggu Rasulullah saw, maka tolong kau beritahu padaku ya Abdurrahman mana itu Abu Jahal, aku ingin membunuhnya?”.

    Belum selesai anak ini berbicara ada colekan lagi dari sebelah kiri “ada apa ini?”

    Sayyidina Abdurrahman menoleh anak muda juga, pertanyaannya sama dengan yang sebelah kanan. Sayyidina Abdurrahman bin Auf berkata “untuk apa kau mencari – cari Abu Jahal”, berkata sang anak “telah sampai kepadaku bahwasanya Abu Jahal ini adalah musuh Allah yang banyak menggoda dan mengganggu Rasulullah Saw di Makkah”.

    Maka Sayyidina Abdurrahman bin Auf melihat semangat dari si anak muda ini, tidak lama kemudian Sayyidina Abdurrahman bin Auf melihat, itu yang namanya Abu Jahal dikelilingi oleh para musuh – musuh yang lain. Panah disebelah kirinya dan disebelah kanannya Abu Jahal, maka tatkala Sayyidina Abdurrahman bin Auf mengatakan kepada yang di sebelah kanannya “hai anak muda itulah yang namanya Abu Jahal”.

    Belum sempat memberi saran, memberi petunjuk “hai hati – hati Abu Jahal orang jahat”, belum sempat mengatakan itu langsung anak muda itu tanpa tawar – menawar langsung terjun dihadapinya itu Abu Jahal, ia lemparkan tombaknya ke dada Abu Jahal. Si anak sebelah kiri bertanya “mana itu Abu Jahal?” Sayyidina Abdurrahman berkata “itu”. Langsung si anak terjun menghadapi Abu Jahal, ia senang ingin membunuh Abu Jahal karena kebenciannya kepada Abu Jahal karena Abu Jahal sering menyakiti Rasulullah Saw. Lihat kaum pemuda dimasa Nabi Muhammad Saw, mereka rela mengorbankan nyawa mereka demi Nabi Muhammad Saw. Mereka para pemuda – pemuda yang sangat dicintai oleh Rasulullah Saw.

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 30 April 2020 Permalink | Balas  

    Indahnya Kebaikan  

    Indahnya Kebaikan 

    By: agussyafii

    Tumbuh besar dilingkungan orang-orang yang penuh cinta membuat saya begitu mudah memahami indahnya kebaikan, seperti kemaren saya menerima tamu yaitu sahabat-sahabat saya yang berkunjung ke kantor seolah tiada henti, Mbak Maya yang hadir di siang hari untuk sekedar bertegur sapa. Kunjungan Mbak Yessy, seorang teman yang sudah lama tidak pernah bertemu. Malam hari saya bertemu dengan Kang Herry dengan untaian kasih sayang untuk Hana, putri saya yang tercinta. Itulah indahnya kebaikan buat saya.

    Seperti yang dijelaskan dalam surat al-Syam / 91:8 bahwa manusia secara fitri diciptakan Allah SWT dengan memiliki perangkat untuk mengetahui kebaikan dan keburukan, dan surat al-Balad / 90:10, menyebutkan bahwa kepada manusia diberi peluang untuk memilih satu di antara dua jalan hidup yang telah disediakan, jalan kebajikan dan jalan kejahatan. Untuk itu, pada setiap manusia terdapat faktor-faktor penggerak untuk menuju ke dua jalan itu. Jika penggerak atau motif kepada kejahatan bersumber dari hawa nafsu yang digelitik oleh waswas setan untuk segera mencari jalan pemuasannya, maka penggerak kepada kebaikan sebenarnya merupakan gabungan dari berbagai motif yang diorganisir oleh aql dan qalb.

    Meskipun manusia telah memiliki potensi kebaikan, tetapi penggerak kepada kebaikan tidak muncul dari ruang kosong, melainkan dari pengalaman perjalanan hidup seseorang, dari budaya di mana orang itu hidup, dan dari kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing orang. Orang yang berada dalam lingkungan maksiat tanpa ada stimulus kebaikan yang mengimbanginya, maka penggerak kepada keburukan akan lebih subur pada orang itu. Sebaliknya orang yang hidup di tengah lingkungan yang sehat dan baik, dan ia sendiri menempuh cara hidup yang baik seperti yang dilakukan oleh orang lain, maka penggerak kepada kebaikan akan muncul dan terpelihara. Dalam lingkungan yang kondusif pada kebaikan, akal dan qalb dapat mengorganisir tuntutan berbagai dorongan psikologis dalam dirinya untuk diarahkan sesuai dengan iklim psikologis di mana orang itu hidup.

    Orang yang mengalami penderitaan karena dizalimi oleh sistem sosial, jika dorongan kepada kejahatan (negatif)-nya yang lebih dominan, maka dorongan psikologis yang berkembang pada orang itu adalah motif balas dendam. Sedangkan bagi orang yang potensi kebaikan (positif)-nya lebih kuat, ketika mengalami penderitaan karena dizalimi oleh sistem sosial, maka dorongan psikologis yang tumbuh dalam dirinya adalah motif untuk membela sesama orang tertindas.

    Orang yang memiliki motif balas dendam, tingkah lakunya destruktif dan tidak terkendali, dan kepuasannya tercapai jika melihat lawannya menderita. Sedang orang yang tingkah lakunya tetap terkendali dan pemuasannya bukan pada melihat kekalahan lawan, tetapi pada kemampuan mengendalikan diri menahan amarah dan tidak bertindak destruktif sehinga meraih kemenangan dengan cara memuliakan orang lain sekalipun itu musuh atau orang yang paling dibencinya dimuka bumi ini.  Itulah kemenangan yang hakiki.

    Muncul dan suburnya penggerak atau motif kepada kebaikan juga berhubungan dengan cara hidup. Jika seseorang menempuh jalan hidup yang sesat, jauh dari petunjuk agama, maka penggerak kepada kebenaran terhalang pertumbuhannya, tetapi jika jalan hidupnya mengikuti petunjuk agama, beriman dan melakukan amal saleh, maka seperti yang diisyaratkan surat Yunus / 10:9, potensi iman yang ada di dalam hatinya mendesak dan mempengaruhinya untuk melakukan kebaikan.

    Sesungguhnya orang-orang beriman dan melakukan amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Allah mereka karena imannya. (QS. Yunus / 10:9).

    Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa antara motif dan perbuatannya terdapat hubungan saling isi mengisi. Motif kepada kebaikan yang merespons dengan perbuatan baik, akan menyuburkan motif kepada kebaikan. Sebaliknya amal saleh yang dilakukan terus-menerus juga akan menumbuhkan motif-motif baru kepada kebaikan. Seperti orang yang melakukan kemaksitan dapat tenggelam dalam lumpur kemaksiatan, sehingga ia tidak bisa bangkit kembali, maka terbang melayang-layang di langit kebajikan akan memperluas wilayah dan memperkuat daya jelajah dorongan kepada kebajikan.

    Sejalan dengan itu, Rasullah pernah mengatakan bahwa menempuh jalan ilmu akan memudahkan seseorang mencapai sorga.

    Orang yang berbahagia adalah orang yang merespons secara positif dorongan psikologis kepada kebaikan yang ada dalam dirinya, selanjutnya ia merasa tenang dengan pilihannya, patuh kepada perintah Allah SWT dan melakukan secara maksimal perbuatan kebajikan. Orang-orang yang mencapai tingkatan ini diterangkan oleh al-Qur’an dalam surat al-Tawbah / 9:112.

    Mereka adalah orang yang bertaubat, yang beribadat, yang bertahmid, yang mengembara, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat mungkar, ada yang memelihara hukum-hukum Allah. Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang mukmin itu (QS. al-Tawbah).

    Wassalam,

    agussyafii

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 29 April 2020 Permalink | Balas  

    Tingkatan Kualitas Nafs 

    Tingkatan Kualitas Nafs

    By: Prof. Dr. Achmad Mubarok MA

    Seperti telah dijelaskan dalam surat al-Syams 9-10 bahwa nafs itu diciptakan Allah SWT secara sempurna, tetapi ia harus tetap dijaga kesuciannya, sebab ia bisa rusak jika dikotori dengan perbuatan maksiat. Kualitas nafs tiap orang bereda-beda berkaitan dengan bagaimana usaha menjaganya dari hawa (QS al-Na-ziat/79: 40), yakni dari kecendrungannya kepada syahwat, karena menuruti dorongan syahwat itu, seperti yang dikatakan oleh al-Marâghi, merupakan tingkah laku hewan yang dengan itu manusia telah menyia-nyiakan potensi akal yang menandai keistimewaannya.

    Dalam bahasa Indonesia, syahwat yang menggoda manusia sering disebut dengan istilah hawa nafsu, yakni dorongan nafsu yang cendrung bersifat rendah.

    Al-Quran membagi tingkatan nafs pada dua kelompok besar, yaitu nafs martabat tinggi dan nafs martabat rendah. Nafs martabat tinggi memiliki oleh orang-orang takwa, yang takut kepada Allah dan berpegang teguh kepada petunjuk-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Sedangkan nafs martabat rendah memiliki oeh orang-orang yang menentang perintah Allah SWT dan yang mengabaikan ketentuan-ketentuan -Nya, serta orang-orang yang sesat, yang cenderung berperilaku menyimpang dan melakukan kekejian serta kemungkaran.

    Secara ekplisit al-Quran menyebut tiga jenis nafs, yaitu

    1. (al-nafs al-muthmainnah) ,
    2. (al-nafs al-lawwamah) , dan
    3. (al-nafs al-ammarah bi al-su)

    Ketiga jenis nafs tersebut merupakan tingkatan kualitas, dari yang terendah hingga yang tertinggi. Ayat-ayat yang secara ekplisit menyebut ketuga jenis nafs itu adalah sebagai berikut:

    Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridlai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-Ku, dan masuklah kedalam surga-Ku (QS. al-Fajr / 89-27-30).

    Aku besumpah dengan hari kiamat, dn aku bersumpah dengan jiwa amat menyesali(dirinya senderi) (QS al-Qiyamah / 75:1-2).

    Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kapada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyayang (QS Yusuf / 12:53).

    Di samping tiga penggolongan tersebut, al-Qur’an juga menyebut term pada anak yang belum dewasa, seperti tersebut dalam surat al-Kahf / 18:73:

    Maka berjalanlah keduanya hingga ketika keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka khidir membunuhnya. Musa berkata: mengapa kamu bunuh jiwa yang suci, bukan dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar (QS. al-Kahf / 18-74).

    Maka empat tingkatan itu dapat digambarkan bahwa pada mulanya, yamni ketika seorang manusia belum mukallaf, jiwamya masih suci (zakiyah). Ketika sudah mencapai mukallaf dan berinteraksi dengan lingkungan kehidupan yang menggoda, jika ia merspons secara positif terhadap lingkungan hidupnya maka nafs itu dapat meningkat menjadi nafs muthma’innah setelah terlebih dahulu memproses di dalam tingkatan nafs lawwamah telah mencapai tingkat muthma’innah pastilah ia menyandang predikat zakiyah pula. Akan tetapi jika nafs itu merespon lingkungan secara negative, maka ia dapat menurun manjadi nafs ammarah dengan segala karaterristik buruknya.

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 28 April 2020 Permalink | Balas  

    Menyantuni anak Yatim adalah Akhlak yang Mulia 

    Menyantuni anak Yatim adalah Akhlak yang Mulia

    Islam mendorong umatnya untuk  mempunyai akhak mulia. Karena kemuliaan akhlak merupakan pilar paling kokoh untuk membangun keimanan dan ketakwaan seseorang kepada Allah SWT.

    Tentunya kemulian akhlak yang dimaksud oleh islam bukan hanya sebatas kepada Allah semata, akan tetapi juga terhadap hamba-hambaNya baik sesama manusia, maupun hamba-hamba Allah dari jenis binatang dan tumbuh-tumbuhan.

    Salah satu akhlak mulia yang diajarkan oleh Islam dan dicontohkan oleh baginda Rasullulah adalah menyantuni anak-anak yatim. Dalam pandangan Islam, mereka adalah golongan pertama diantara orang-orang lemah yang paling berhak mendapatkan pertolongan dan kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya.

    Apabila kita melihat seseorang yang berhati lembut, penuh perhatian, dan memberikan kasih sayang kepada anak-anak yatim maka ketahuilah bahwa orang tersebut sungguh benar-benar orang yang mulia lagi berbudi luhur.

    Namun, tidaklah mudah menjadi seseorang yang penuh kasih sayang kepada yatim yang notabene adalah anak-anak orang lain. Di kiaskan oleh Rasullulah hendaknya kasih sayang yang diberikan sama yang diberikan seorang ayah kepada anak-anaknya sendiri.

    coba liat kisah Abdullah bin Umar, seorang yang mempunyai kemulian dan kelembutan hati. Beliau tidak pernah memakan makanan kecuali di meja makannya ada seorang anak yatim yang makan bersamanya. Sanggupkan kita untuk mencontoh apa yang dicontohkan oleh Rasullulah? Mampukan kita mempunyai kemulian semulia Abdullah bin Umar dalam menyantuni anak-anak yatim?

    Saudaraku, jika kita mendapatkan taufik dan hidayah dari Allah untuk melaksanakan ini semua, sungguh kita benar-benar manusia yang beruntung dan berhak mendapat gelar dari langit sebagai ” Manusia yang Berbudi Luhur dan Berakhlak Mulia”

    Wassalam,

    M e i d y

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 27 April 2020 Permalink | Balas  

    Rahmat Dibalik Cobaan (Ridho Menerima Ketetapan Illahi) 

    Rahmat Dibalik Cobaan (Ridho Menerima Ketetapan Illahi)

    Firman Allah SWT, pada Al-Baqarah:156- 157

    Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan : Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun (arti: sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka ialah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Al-Baqarah : 156-157)

    Tujuan musibah atau cobaan yang diturunkan Allah kepada hamba-Nya adalah :

    1. Untuk membersihkan dan memilih, mana orang mukmin yang sejati dan mana yang munafik.
    2. Untuk mengangkat derajat serta menghapuskan dosa.
    3. Untuk melihat sejauh mana kesabaran dan ketaatan seorang hamba.
    4. Untuk membentuk dan mendidik manusia, sehingga menjadi umat dgn keimanan yang tinggi.
    5. Sebagai latihan supaya manusia terbiasa menerima berbagai ujian, dengan demikian akan bertambah kesabaran, kuat cita-cita dan tetap pendiriannya.

    Bagi orang yang terkena musibah, hendaklah ia kembali kepada kalimah yang penuh dengan arti kebaikan dan keberkahan, sebab firman Allah SWT : “Inna Lillahi”

    mengandung arti ketauhidan serta pengakuan akan kehambaan, sedangkan firman-Nya : “Wa inna ilaihi raji’un” adalah sebagai pengakuan, bahwa Allah-lah yang menjadikan kita binasa dan Dia pula yang akan membangkitkan kita kembali.

    Obat Bagi Orang yang Terkena Musibah

    Firman Allah SWT, yang artinya :“Berilah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang ketika ditimpa musibah, mereka berkata :”Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya kita kembali” (Al-Baqarah : 155-156).

    Ayat diatas mengandung dua perkara yang sangat besar :

    Pertama, orang yang ditimpa musibah akan menyadari dengan sebenar-benarnya bahwa dirinya, keluarganya, hartanya, anaknya adalah milik Allah SWT.

    Kedua, sesungguhnya asal diri seorang hamba dan kembalinya adalah kepada Allah SWT semata.

    Beberapa cara untuk menyembuhkan perasaan susah ketika ditimpa musibah adalah:

    Hendaklah selalu memperhatikan Al-Quran dan Sunnah, yaitu memperhatikan apa yang terkandung dalam firman Allah SWT dan Sunnah Rasul-Nya, dimana Allah SWT akan memberikan pahala yang sangat besar terhadap orang yang sabar dan rela menerima cobaannya. Disamping itu, orang yang terkena musibah sebaiknya memandang/ mengingat orang lain yang senasib dengannya dan juga orang lain yang mengalami cobaan yang lebih berat. Selalu melihat dengan mata hati, bahwa sesungguhnya kepahitan yang dialami di dunia ini adalah kemanisan di alam akhirat dan kemanisan di dunia adalah kepahitan di akhirat. Selalu memohon kepada Allah SWT dan bertawakal kepada-Nya. Bagi orang yang terkena musibah, hendaklah ia memohon pertolongan dari Allah SWT dan bertawakal kepada-Nya, serta melihat keagungan-Nya, termasuk juga memohon pertolongan dalam menghadapi musibah dengan penuh kesabaran dan senantiasa mengerjakan sholat. Selalu mengingati musibah lama dan mengulangi ucapan Inna Lillahi Wa inna ilaihi raji’unHendaklah selalu membedakan dua macam kenikmatan, yaitu kenikmatan di dunia yang fana dan kenikmatan di akhirat yang kekal abadi.Hendaklah selalu menguatkan keyakinan diri dengan menyadari bahwa semua musibah adalah kehendak Allah dengan tujuan untuk menguji ketabahan serta keikhlasan hati seseorang saat menerima musibahHendaklah menyadari bahwa dunia adalah tempat cobaan.Memohon kepada Allah SWT dari godaan syaitan.

    Bagi orang yang dalam keadaan sakit atau kesusahan lainnya, syetan akan selalu berusaha mengganggu dan membisikkan dengan berbagai macam godaan. Tujuan syetan berbuat demikian agar seseorang merasa marah kepada Allah SWT dan enggan utk bertemu denga-Nya.bahkan sangat diinginkan oleh syetan, agar keluar ucapan atau ungkapan dari mulut seseorang, kata-kata kemarahan serta kata-kata ketidakrelaan lainnya. Jika ini berhasil, syetan akan sangat bergembira karena telah berhasil menggoda dan menyesatkan orang tersebut.Menyadari hikmah musibah, dimana jika di dunia tidak ada musibah atau cobaan yang diberikan Allah, pastilah manusia akan dihinggapi penyakit sombong, berkuasa bahkan keras hati.Senantiasa mengobati diri dengan ajaran agama. Dalam menghadapi musibah, siapkan diri dengan pengetahuan keagamaan yang baik. Dengan pengetahuan agama yang baik dan dengan keimanan yang tinggi. Pada waktu ditimpa musibah walau bagaimanapun besarnya, ia tidak akan melakukan hal yang tidak terpuji dan mengembalikan semuanya kepada Allah SWT.Selalu berzikir kepada Allah SWT

    Bagi orang yang terkena musibah, baik musibah tersebut menimpa dirinya, anaknya atau keluarganya, hendaklah ia memperbanyak berzikir kepada Allah SWT buka dengan mengeluh dan sikap negatif lainnya.Menyadari bahwa keluh kesah akan menambah musibah.

    Bagi orang yang ditimpa musibah hendaklah menyadari bahwa jika ia berkeluh kesah, akan membuat musuh-musuhnya merasa gembira, juga syetan akan menggodanya utk makin berkeluh kesah serta Allah SWT akan murka kepadanya bahkan pahalanya akan terhapus.Menyadari bahwa Allah SWT tidak mengecewakan hamba-Nya.

    Bagi orang yang ditimpa musibah hendaklah menyadari bahwa apabila ia sabar serta penuh keimanan kepada Allah SWT dan mengharapkan gantinya kepada Allah SWT terhadap sesuatu yang hilang darinya, niscaya Allah tidak akan mengecewakan harapannya itu. Mencontoh orang yang tabah pada waktu menerima musibah.

    Orang-orang yang kuat keimanannya akan meyakini betapa besarnya pahala bagi orang yang tabah dalam menerima cobaan dari Allah SWT. Dan Allah SWT akan sangat menyayangi hamba-Nya yang tabah menerima musibah. Kembalikan dan pasrahkan semuanya kepada Allah SWT….Insya Allah kita menjadi orang yang selalu di jalan-Nya…….untuk menggapai surga-Nya.

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 26 April 2020 Permalink | Balas  

    Makkah Sebagai Pusat Bumi 

    Makkah Sebagai Pusat Bumi

    Makkah—juga disebut Bakkah—tempat di mana umat Islam melaksanakan haji itu terbukti sebagai tempat yang pertama diciptakan. Telah menjadi kenyataan ilmiah bahwa bola bumi ini pada mulanya tenggelam di dalam air (samudera yang sangat luas).

    Kemudian gunung api di dasar samudera ini meletus dengan keras dan mengirimkan lava dan magma dalam jumlah besar yang membentuk `bukit’. Dan bukit ini adalah tempat Allah memerintahkan untuk menjadikannya lantai dari Ka’bah (kiblat). Batu basal Makkah dibuktikan oleh suatu studi ilmiah sebagai batu paling purba di bumi.

    Jika demikian, ini berarti bahwa Allah terus-menerus memperluas dataran dari tempat ini. Jadi, ini adalah tempat yang paling tua di dunia.

    Adakah hadits yang nabawi yang menunjukkan fakta yang mengejutkan ini? Jawaban adalah ya.

    Nabi bersabda, `Ka’bah itu adalah sesistim tanah di atas air, dari tempat itu bumi ini diperluas.’ Dan ini didukung oleh fakta tersebut.

    Menjadi tempat yang pertama diciptakan itu menambah sisi spiritual tempat tersebut. Juga, yang mengatakan nabi yang tempat di dalam dahulu kala dari waktu menyelam di dalam air dan siapa yang mengatakan kepada dia bahwa Ka’bah adalah pemenang pertama yang untuk dibangun atas potongan dari ini tempat seperti yang didukung oleh studi dari basalt mengayun-ayun di Makkah?

    Makkah Pusat Bumi

    Prof. Hussain Kamel menemukan suatu fakta mengejutkan bahwa Makkah adalah pusat bumi. Pada mulanya ia meneliti suatu cara untuk menentukan arah kiblat di kota-kota besar di dunia.

    Untuk tujuan ini, ia menarik garis-garis pada peta, dan sesudah itu ia mengamati dengan seksama posisi ketujuh benua terhadap Makkah dan jarak masing-masing. Ia memulai untuk menggambar garis-garis sejajar hanya untuk memudahkan proyeksi garis bujur dan garis lintang.

    Setelah dua tahun dari pekerjaan yang sulit dan berat itu, ia terbantu oleh program-program komputer untuk menentukan jarak-jarak yang benar dan variasi-variasi yang berbeda, serta banyak hal lainnya. Ia kagum dengan apa yang ditemukan, bahwa Makkah merupakan pusat bumi.

    Ia menyadari kemungkinan menggambar suatu lingkaran dengan Makkah sebagai titik pusatnya, dan garis luar lingkaran itu adalah benua-benuanya. Dan pada waktu yang sama, ia bergerak bersamaan dengan keliling luar benua-benua tersebut. (Majalah al-Arabiyyah, edisi 237, Agustus 1978).

    Gambar-gambar Satelit, yang muncul kemudian pada tahun 90-an, menekankan hasil yang sama ketika studi-studi lebih lanjut mengarah kepada topografi lapisan-lapisan bumi dan geografi waktu daratan itu diciptakan.

    Telah menjadi teori yang mapan secara ilmiah bahwa lempengan-lempengan bumi terbentuk selama usia geologi yang panjang, bergerak secara teratur di sekitar lempengan Arab. Lempengan-lempengan ini terus menerus memusat ke arah itu seolah-olah menunjuk ke Makkah.

    Studi ilmiah ini dilaksanakan untuk tujuan yang berbeda, bukan dimaksud untuk membuktikan bahwa Makkah adalah pusat dari bumi. Bagaimanapun, studi ini diterbitkan di dalam banyak majalah sain di Barat.

    Allah berfirman di dalam al-Qur’an al-Karim sebagai berikut:

    `Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Qura (penduduk Makkah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya. .’ (asy-Syura: 7)

    Kata `Ummul Qura’ berarti induk bagi kota-kota lain, dan kota-kota di sekelilingnya menunjukkan Makkah adalah pusat bagi kota-kota lain, dan yang lain hanyalah berada di sekelilingnya. Lebih dari itu, kata ummu (ibu) mempunyai arti yang penting di dalam kultur Islam.

    Sebagaimana seorang ibu adalah sumber dari keturunan, maka Makkah juga merupakan sumber dari semua negeri lain, sebagaimana dijelaskan pada awal kajian ini. Selain itu, kata `ibu’ memberi Makkah keunggulan di atas semua kota lain.

    Makkah atau Greenwich

    Berdasarkan pertimbangan yang seksama bahwa Makkah berada tengah-tengah bumi sebagaimana yang dikuatkan oleh studi-studi dan gambar-gambar geologi yang dihasilkan satelit, maka benar-benar diyakini bahwa Kota Suci Makkah, bukan Greenwich, yang seharusnya dijadikan rujukan waktu dunia. Hal ini akan mengakhiri kontroversi lama yang dimulai empat dekade yang lalu.

    Ada banyak argumentasi ilmiah untuk membuktikan bahwa Makkah merupakan wilayah nol bujur sangkar yang melalui kota suci tersebut, dan ia tidak melewati Greenwich di Inggris. GMT dipaksakan pada dunia ketika mayoritas negeri di dunia berada di bawah jajahan Inggris. Jika waktu Makkah yang diterapkan, maka mudah bagi setiap orang untuk mengetahui waktu shalat.

    Makkah adalah Pusat dari lapisan-lapisan langit

    Ada beberapa ayat dan hadits nabawi yang menyiratkan fakta ini. Allah berfirman, `Hai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.’ (ar-Rahman:33)

    Kata aqthar adalah bentuk jamak dari kata `qutr’ yang berarti diameter, dan ia mengacu pada langit dan bumi yang mempunyai banyak diameter.

    Dari ayat ini dan dari beberapa hadits dapat dipahami bahwa diameter lapisan-lapisan langit itu di atas diameter bumi (tujuh lempengan bumi). Jika Makkah berada di tengah-tengah bumi, maka itu berarti bahwa Makkah juga berada di tengah-tengah lapisan-lapisan langit.

    Selain itu ada hadits yang mengatakan bahwa Masjidil Haram di Makkah, tempat Ka`bah berada itu ada di tengah-tengah tujuh lapisan langit dan tujuh bumi (maksudnya tujuh lapisan pembentuk bumi)

    Nabi bersabda, `Wahai orang-orang Makkah, wahai orang-orang Quraisy, sesungguhnya kalian berada di bawah pertengahan langit.’

    Thawaf di Sekitar Makkah

    Dalam Islam, ketika seseorang thawaf di sekitar Ka’bah, maka ia memulai dari Hajar Aswad, dan gerakannya harus berlawanan dengan arah jarum jam. Hal itu adalah penting mengingat segala sesuatu di alam semesta dari atom hingga galaksi itu bergerak berlawanan dengan arah jarum jam.

    Elektron-elektron di dalam atom mengelilingi nukleus secara berlawanan dengan jarum jam. Di dalam tubuh, sitoplasma mengelilingi nukleus suatu sel berlawanan dengan arah jarum jam. Molekul-molekul protein-protein terbentuk dari kiri ke kanan berlawanan dengan arah jarum jam. Darah memulai gerakannya dari kiri ke kanan berlawanan dengan arah jarum jam.

    Di dalam kandungan para ibu, telur mengelilingi diri sendiri berlawanan dengan arah jarum jam. Sperma ketika mencapai indung telur mengelilingi diri sendiri berlawanan dengan arah jarum jam. Peredaran darah manusia mulai gerakan berlawanan dengan arah jarum jamnya. Perputaran bumi pada porosnya dan di sekeliling matahari secara berlawanan dengan arah jarum jam.

    Perputaran matahari pada porosnya berlawanan dengan arah jarum jam. Matahari dengan semua sistimnya mengelilingi suatu titik tertentu di dalam galaksi berlawanan dengan arah jarum jam. Galaksi juga berputar pada porosnya berlawanan dengan arah jarum jam.

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 25 April 2020 Permalink | Balas  

    Memahami Takdir 

    Memahami Takdir

    By: Prof. Dr Achmad Mubarok MA

    Yang berbicara dan mempersoalkan “takdir” hanyalah manusia. Mengapa? Di antara sekian banyak makhluk yang mengisi alam raya ini, hanyalah manusia yang mempunyai kemampuan memikirkan perbuatannya dan kejadian-kejadian yang berlaku di sekitarnya. Pada tahap tertentu dalam kehidupannya, daya fikirnya bekerja penuh melakukan penalaran; yaitu ketika ia sudah mencapai titik pertumbuhan jasmani dan rohani yang dewasa atau akil baliq. Ketika itu manusia merasa dirinya kuat, cakap dan cerdas, dapat mengetahui dan dapat melakukan segalanya; kemam¬puannya meluap-luap menginginkan segalanya.

    Bilamana manusia berada dalam keadaan sehat, kuat serba tahu dan serba mau, dia merasa dirinya mampu mandiri, dan tidak memerlukan siapa-siapa, maka pada gilirannya ia bisa menghina atau memperkosa orang lain, atau sekurang-kurangnya memandang remeh sesama orang lain. Kenyataan ini direkam dalam Alquran pada ayat 6 dan 7 Surah al-‘Alaq: Ketahuilah! Sesungguhnya manusia itu benar-benar melampaui batas. Karena dia melihat dirinya serba cukup.

    Namun bilamana sejenak ia mampu mengendalikan diri lalu bersedia mendengarkan suara hati nuraninya, maka dia akan diberi petunjuk untuk melihat dan mengamati sekelilingnya. Apa sesungguhnya yang terjadi? Manusia akan menemukan bahwa tidak semua apa yang dinginkannya (mau diperbuat) akan senantiasa terjadi sebagaimana ia kehendaki sendiri. Tidak sedikit hal-hal yang terjadi justeru di luar kemampuannya dan tidak sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Ketika manusia berjumpa dengan kenyataan seperti itu, maka ia akan mulai merasakan keter¬batasan dirinya itu, dan pada gilirannya akan mengenal adanya batas-batas dalam kehidupan ini. Mujurlah manusia bilamana ia sempat menoleh sejenak ke belakang, melihat masa lalu yang telah dilewatinya dalam perjalanan hidup itu. Ia akan tahu bahwa kehadirannya di atas persada bumi ini, sama sekali di luar jangkauan kemampuannya, dia sama sekali tidak mempunyai pilihan tentang hal tersebut. Siapa yang menjadi ayahnya dan siapa ibu yang melahirkannya itu? Kapan ia lahir dan di mana terjadi kelahirannya? Kenapa dia lahir sebagai laki-laki atau sebagai perempuan? Semuanya harus ia terima menurut adanya, dan semua itu tidak terjangkau oleh keinginannya dan berada di luar kemampuannya sendiri: ia tidak bebas menentukan pilihan atas hal-hal tersebut. Bukankah ini semua, menjadi kenyataan hidup manusia yang sesungguhnya?

    Barangsiapa yang memilih berangkat dari angka satu dalam menyusun bilangan ketika ia berhitung (dan memang itulah pilihan yang tepat dan logis) maka ia akan mencari jawaban teka-teki kehidupan itu, dari titik awal kehadirannya di bumi ini. Bukankah sebelumnya ia sendiri berada di angka nol, sebagaimana diungkapkan Alquran dalam Surah al-Insan: Bukankah telah berlalu atas manusia itu suatu kurun waktu dimana ia belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?

    Ketika ia belum hadir di dalam rahim ibunya, ia belum punya nama dan belum punya wujud yang nyata, bagaimana ia dapat disebut? Dan mau disebut apa ketika itu? Bukankah awal kehadirannya di bumi ini sesuatu yang sungguh misterius? Dan bukankah kehidupan itu sendiri adalah misteri yang tak kunjung terpecahkan oleh daya nalarnya sepanjang sejarah? Hal seperti ini merupakan bentuk lain dari keterbatasan manusia di dalam hal pengetahuannya. Sementara pengetahuan manusia ini (yang melahirkan ilmu dan teknologi) merupakan kebanggaan tertinggi bagi manusia itu.

    Maka apabila kita menalar kenyataan-kenyataan yang ada di sekeliling kita sebagaimana diungkap di atas, kita akan melihat bahwa masalah takdir, nasib, suratan dan perwujudan yang nyata dalam soal ajal, rezki, jodoh,

    dan lain sebagainya, kuncinya adalah bagaimana kita memahami hubungan antara manusia dengan kehidupan itu sendiri.

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 24 April 2020 Permalink | Balas  

    Tujuh Lapisan Bumi 

    Tujuh Lapisan Bumi

    Ketika para ilmuwan mulai meneliti lembah-lembah di bumi untuk mengenal struktur dan unsur-unsurnya, mereka menemukan mitos dan dongeng yang mendominasi abad-abad terakhir itu tidak memiliki dasar ilmiah. Setelah para ilmuwan menemukan bahwa bumi berbentuk bulat telur, maka mereka menduga bahwa inti bola bumi ini mempunyai suatu nukleus, dan cangkangnya adalah kerak bumi yang sangat tipis jika dibandingkan dengan ukuran bumi. Dan antara dua lapisan ini ada lapisan ketiga yang biasa disebut dengan kata mantel. Ini merupakan pengetahuan awal para ilmuwan.

    Perkembangan Fakta-fakta Ilmiah

    Teori Tiga Lapisan ini tidak cukup lama bertahan karena penemuan-penemuan yang terbaru di sistem geologi. Pengukuran-Pengukur an dan percobaan-percobaan terbaru menunjukkan bahwa Artikel yang berisi nukleus dari bumi itu berada di bawah tekanan yang sangat tinggi, tiga juta kali lebih dari permukaan bumi.

    Di bawah tekanan seperti itu, zat berubah bentuk menjadi solid, dan hal ini pada gilirannya membuat inti bumi itu sangat solid. Inti bumi ini dikelilingi suatu lapisan zat cair dengan suhu yang sangat tinggi. Ini berarti bahwa ada dua lapisan di dalam inti bumi, bukan satu. Satu lapisan di dalam pusat yang dikelilingi lapisan zat cair.

    Hal itu diketahui sesudah alat-alat pengukur dikembangkan dan memberi para ilmuwan suatu perbedaan yang jelas antar lapisan-lapisan bumi bagian dalam. Jika kita turun ke bawah bumi yang keras, kita akan menemukan lapisan batu-batu yang sangat panas, yaitu batu yang berfungsi untuk membungkus. Setelah itu ada tiga lapisan terpisah, di mana masing-masing itu berbeda kepadatan, tekanan dan suhu yang berbeda-beda.

    Oleh karena itu para ilmuwan mengklasifikasi lapisan-lapisan bumi menjadi tujuh lapisan, tidak lebih. Gambar menunjukkan lapisan-lapisan ini dengan dimensi masing (beberapa di luar skala), sesuai yang ditemukan para ilmuwan baru-baru ini dengan berbagai metode seperti menggunakan alat pengukur gempa bumi dan studi medan magnetik bumi, dan juga teknik-teknik yang lain. Berbagai studi dan penemuan tersebut saat ini diajarkan kepada para mahasiswa fisika di berbagai universitas.

    Gambar ini menunjukkan tujuh lapisan Bumi, memberitahukan bahwa kerak bumi adalah lapisan sangat tipis yang disusul dengan mantel dengan berbeda-beda ketebalannya, lalu disusul lapisan-lapsan yang terdiri zat cair, dan diakhiri dengan yang lapisan ketujuh, yaitu nukleus padat.

    Para ilmuwan juga menemukan bahwa atom terdiri dari tujuh lapisan atau tingkatan, dan hal ini membuktikan keseragaman ciptaan, di mana bumi mempunyai tujuh lapisan dan atom-atom mempunyai tujuh lapisan juga. Subhanallah.

    Tujuh lapisan bumi itu sangat berbeda-beda dari segi struktur, kepadatan, suhu dan bahannya. Oleh karena itu, tidak seorang pun menganggap bumi itu hanya mempunyai satu lapisan sebagai orang di masa lampau berpikir. Di sini kita menemukan bahwa pemikiran bahwa bumi mempunyai lapisan-lapisan merupakan berkara baru dan tidak dikenal atau yang dikemukakan pada waktu al-Qur’an itu sedang diturunkan. Penemuan-penemuan ini dikemukakan para ilmuwan abad 21 kepada kita, tetapi sejak dahulu Kitab Allah telah memberitahu kita tentang hal tersebut.

    Informasi di dalam al-Qur’an al-Karim

    Al-Qur’an al-Karim, perkataan Tuhan, menuturkan kepada kita tentang tujuh lapisan langit dan tujuh lapisan bumi di dalam dua ayat berikut:

    `Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?’ (al-Mulk: 3)

    Allah juga berfirman, `Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi.’ (ath-Thalaq: 12) Ayat pertama bericara kepada kedua tentang dua sifat langit: bilangan langit itu, yaitu tujuh, dan bentuk langit, yaitu berlapis-lapis. Inilah arti kata thibaqan yang kita temukan di dalam kitab-kitab tafsir al-Qur’an dan kamus-kamus bahasa Arab. Sedangkan ayat kedua menegaskan bahwa bumi itu menyerupai langit, dan hal itu diungkapkan dengan kalimat, `Dan seperti itu pula bumi.’ Sebagaimana langit itu berlapis-lapis, maka begitu pula bumi, dan masing-masing jumlahnya tujuh lapisan.

    Informasi dalam Sunnah

    Seandainya kita meneliti hadits-hadits Rasulullah saw, maka kita menemukan sebuah hadits yang menegaskan keberadaan tujuh lapis bumi, maksudnya tujuh lapis yang sebagiannya membungkus sebagian yang lain. Nabi saw bersabda, `Barangsiapa yang menyerobot sejengkal tanah, maka Allah akan menimbunnya dengan tujuh lapis bumi.’ (HR Bukhari) Kata menimbun di sini diungkapkan dengan kata thawwaqa yang secara bahasa berarti meliputinya dari semua sisi.

    Pertanyaannya di sini adalah: Bukankah hal ini merupakan mukjizat Nabawi yang besar? Bukankah hadits yang mulia ini telah menentukan bilangan lapisan bumi, yaitu tujuh, dan menentukan bentuk lapisan itu, yaitu meliputi dan menyelubungi. Bahkan hadits ini memuat sinyal tentang bentuk bulat atau semi-bulat. Al-Qur’an dan Sunnah telah mendahului ilmu pengetahuan modern dalam mengungkapkan fakta yang ilmiah ini. Selain itu, al-Qur’an juga telah memberi kita penjelasan yang tepat mengenai struktur bumi dengan menggunakan kata thibaqan.

     
  • erva kurniawan 1:31 am on 23 April 2020 Permalink | Balas  

    Risalah Ringkas Ramadhan Mubarak 

    Risalah Ringkas Ramadhan Mubarak

    Oleh : Abu Tauam Al Khalafy

    “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan – penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil. Karena itu, barangsiapa diantara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu supaya kamu bersyukur (Al Qur’an Surat Al Baqarah 185)

    Keutamaan Bulan Ramadhan

    Bulan diwajibkannya umat Islam berpuasa yang mana nantinya dengan Puasa Ramadhan itu mereka akan mendapatkan gelar ketakwaan dari Allah SWT sebagaimana firman-Nya,

    “Hai orang – orang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang – orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS Al Baqarah 183)

    Bulan dimana dibukanya pintu – pintu surga, ditutupnya pintu – pintu neraka dan dibelenggunya setan – setan. Rasulullah SAW bersabda,

    “Jika bulan Ramadhan tiba maka pintu – pintu surga dibuka, sedangkan pintu – pintu neraka ditutup dan setan – setan pun dibelenggu” (HR. Bukhari IV/97 dan Muslim no. 1079)

    Pada bulan ini ada satu malam yang setara dengan 1000 bulan, yaitu malam lailatul qadar. Berkenaan dengan malam lailatul qadar ini Rasulullah SAW bersabda,

    “Barangsiapa mendirikan ibadah pada malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala maka akan diberikan ampunan kepadanya atas dosa – dosa yang telah berlalu” (HR. Bukhari IV/217 dan Muslim no. 759)

    Dan disunnahkan membaca doa ini di malam – malam yang diyakini sebagai malam lailatu qadar yaitu diantara 10 malam terakhir di Bulan Ramadhan,

    “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” yang artinya “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, karena itu berilah maaf kepadaku” (HR. Tirmidzi no. 3760 dan Ibnu Majah no. 3850, hadits ini shahih)

    Keutamaan Puasa Ramadhan

    1.. Puasa Ramadhan adalah sebagai puasa untuk mengampuni dosa – dosa yang telah lalu. Rasulullah SAW bersabda,

    “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, niscaya akan diberikan ampunan kepadanya atas dosa – dosanya yang telah berlalu” (HR. Bukhari IV/99 dan Muslim no. 759)

    2.. Dikabulkannya doa dan pembebasan dari api neraka sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

    “Sesungguhnya setiap hari, Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka yaitu pada Bulan Ramadhan. Dan sesungguhnya setiap orang muslim memiliki doa yang dipanjatkan, lalu dikabulkan untuknya” (HR. Al Bazzar no. 3142, Ahmad II/254 dan Ibnu Majah no. 1643, hadits ini shahih)

    Rukun – rukun Puasa

    1.. Niat, yaitu niat berpuasa pada Bulan Ramadhan harus ada pada malam sebelum puasa karena niat ini wajib ditetapkan pada setiap ibadah dan amalan. Rasulullah SAW bersabda,

    “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung kepada niatnya. Dan sesungguhnya (balasan) bagi setiap urusan (sesuai dengan) apa yang ia niatkan” (HR. Bukhari I/22 dan Muslim VI/48)

    2.. Menahan diri dari hal – hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, berhubungan badan, haid dan nifas bagi wanita dan hal – hal yang lain yang membatalkan puasa seperti muntah dengan sengaja sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

    “Barangsiapa muntah (tanpa) sengaja, maka tidak ada kewajiban baginya untuk menqadha’nya. Tetapi barangsiapa sengaja muntah, maka wajib baginya menqadha’” (HR. Abu Dawud II/310, At Tirmidzi III/79, Ibnu Majah I/536 dan Ahmad II/498, hadits ini sanadnya shahih sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Haqiiqatush Shiyam hal. 14)

    3.. Waktu berpuasa. Orang yang berpuasa harus menahan diri dari hal – hal yang membatalkan puasa dari sejak terbit fajar (shadiq) sampai matahari tenggelam. Yang demikian itu didasarkan pada firman Allah SWT,

    “Makan dan minumlah hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam” (QS Al Baqarah 187)

    Sifat orang yang berpuasa yaitu Muslim yang sudah baligh, berakal mampu untuk mengerjakan puasa (orang yang sudah tua renta serta wanita hamil dan menyusui terlepas dari kewajiban berpuasa namun mereka harus membayar fidyah) dan terlepas dari halangan puasa seperti sakit atau berpergian yang mana puasanya harus diganti pada hari yang lain.

    Sahabat Abdullah bin Abbas ra. mengatakan, “Dan sebagai bentuk keringanan oleh Allah SWT kepada orang laki – laki dan wanita yang sudah tua sedang keduanya tidak mampu menjalankan puasa, maka keduanya boleh untuk tidak berpuasa tetapi harus mengganti hal itu dengan memberi makan kepada satu orang miskin setiap harinya. Sedangkan wanita yang hamil dan menyusui, jika keduanya khawatir terhadap anak dan dirinya, maka mereka boleh untuk tidak berpuasa tetapi harus memberi makan seorang miskin setiap hari” (Kitab Al Jaami’ li Ahkaamil Qur’an karya Al Qurthubi II/288)

    Sahabat Abdullah bin Umar ra. pernah ditanyakan tentang seorang wanita hamil dan ia khawatir terhadap kandungannya maka ia menjawab, “Dia boleh tidak berpuasa, tetapi harus memberi makan 1 mud gandum setiap hari kepada satu orang miskin” (HR. Baihaqi IV/230, hadits ini shahih)

    Satu mud itu setara dengan 562,5 gram. Jadi orang – orang yang tidak berpuasa karena tidak mampu atau karena khawatir keselamatan jiwanya atau anak yang dikandung atau yang disusuinya maka harus memberikan makanan seberat 562,5 gram kepada seorang fakir miskin selama Bulan Ramadhan setiap harinya.

    Sunnah – sunnah Puasa Ramadhan

    1.. Makan sahur dan mengakhirkan makan sahur. Rasulullah SAW bersabda,

    “Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah” (HR. Bukhari IV/120 dan Muslim no. 1095)

    Dari Zaid bin Tsabit ra., bahwa dia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Berapa lama jarak antara adzan dan sahur ?” Lalu Rasulullah SAW menjawab, “Kira – kira sama seperti bacaan 50 ayat” (HR. IV/118 dan Muslim no. 1097) – hadits ini bukan menjelaskan tentang akhir sahur tetapi awal sahur. Namun juga tidak masalah bagi kaum muslimin yang ingin lebih menyegerakan sahurnya di awal waktu.

    2.. Meninggalkan perkataan dusta. Rasulullah SAW bersabda,

    “Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata – kata palsu dan mengamalkanya maka Allah tidak memerlukan orang itu untuk meninggalkan makanan dan minumannya (puasanya)” (HR. Bukhari IV/99)

    3.. Meninggalkan kata – kata yang tidak bermanfaat dan kata – kata kotor (Ar Rafats). Rasulullah SAW bersabda,

    “Puasa itu bukan (hanya) dari makan dan minum, tetapi puasa itu dari kata – kata (yang) tidak bermanfaat dan kata – kata kotor” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1996 dan Al Hakim I/430-431, hadits ini shahih)

    4.. Menyegerakan berbuka karena menyegerakan berbuka akan mendatangkan kebaikan dan merupakan sunnah. Rasulullah SAW bersabda,

    “Umat manusia ini akan tetap baik selama mereka menyegerakan berbuka puasa” (HR. Bukhari IV/173 dan Muslim no. 1093)

    5.. Berdoa ketika berbuka dengan doa yang diajarkan Rasulullah SAW,

    “DzaHabazh zhamaa-u wabtallatil ‘uruuqu watsabatal ajru insyaa Allah” yang artinya “ Telah hilang rasa haus dan basah pula urat – urat serta telah ditetapkan pahala, insya Allah” (HR. Abu Dawud II/306, Baihaqi IV/239, Al Hakim I/422, Ibnu Sunni no. 128 dan Ad Daraquthni II/185, hadits ini hasan)

    Ibadah – ibadah pada Bulan Ramadhan

    1.. Shalat Tarawih. Sahabat Jabir bin Abdullah ra. berkata,

    “Bahwa Nabi SAW pada saat menghidupkan malam dengan orang – orang pada Bulan Ramadhan, beliau SAW mengerjakan shalat delapan rakaat dan mengerjakan shalat witir” (HR. Ibnu Hibban no. 920 dan Ath Thabrani, hadits ini hasan)

    2.. I’tikaf di Mesjid. I’tikaf berarti tekun dalam melakukan sesuatu. Sahabat Abu Hurairah ra., berkata,

    “Rasulullah SAW biasa beri’tikaf selama bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Dan pada tahun dimana beliau wafat, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari” (HR. Bukhari IV/245)

    3.. Zakat Fitrah. Mengeluarkan zakat ini merupakan kewajiban bagi kaum muslimin pada Bulan Ramadhan. Hal tersebut berdasarkan hadits Abdullah bin Umar ra.,

    “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah (kepada kaum muslimin pada Bulan Ramadhan)” (HR. Bukhari III/291 dan Muslim no. 984, perkataan yang di dalam kurung adalah perkataan Abdullah bin Umar ra.)

    Adapun besarnya zakat fitrah adalah 1 sha’ makanan (setara dengan 2,25 kg) sebagaimana hadits Abu Sa’id Al Khudri ra.,

    “Kami biasa mengeluarkan zakat fitrah berupa 1 sha’ makanan atau 1 sha’ gandum atau 1 sha’ tamr atau 1 sha’ keju atau 1 sha’ anggur kering (kismis)” (HR. Bukhari III/294 dan Muslim no. 985)

    Demikianlah risalah ringkas tentang ibadah dan keutamaan di Bulan Ramadhan, dan semoga apa yang kami tulis ini dapat diambil manfaatnya bagi pembaca untuk dapat mencapai ketakwaan kepada Allah SWT. Akhirnya kami ucapkan Selamat Berpuasa dan Semoga Allah SWT memberikan balasan berlipat ganda bagi kita semua. Amin.

    Sumber Rujukan :

    1.. Meneladani Shaum Rasulullah SAW, Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali dan Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali Abdul Hamid, Pustaka Imam Syafi’i, Bogor, Cetakan Kedua Agustus 2005 M

    2.. Meraih Puasa Sempurna, Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath Thayyar, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, September 2004.

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 22 April 2020 Permalink | Balas  

    Nafs pada Orang Meninggal Dunia 

    Nafs pada Orang  Meninggal Dunia

    By: Prof. Dr. Achmad Mubarok MA

    Pengertian mati dan hidup harus dibedakan antara pengertian medis dan pengertian eskatologis. Secara medik, mati mengandung arti kebalikan dari hidup, sedangkan dalam konsep eskatologis seperti yang dianut al-Quran, disamping ada hidup di alam dunia, mamsih ada kehidupan setelah kematian, dan bahkan al-Quran menyatakan dalam surat al- Ankabut / 29:64 bahwa kehidupan setelah mati itulah kehidupan yang sebenarnya.

    Tentang jasad orang mati yang hancur menjadi tanah pun, al-Quran menyatakan dalam surat Yasin / 36:78-79 bahwa kelak Allah akan menghidupkan kembali tulang belulang yang sudah hancur  dan nafs akan dipertemukan dengan tubuhnya, seperti yang dipaparkan dalam surat al-Takwir / 81:7. Al-Quran juga menggunakan term nafs untuk menyebut totalitas manusia dalam arti jiwa dan raga seperti yang tersebut dalam surat al-ma idah / 52:32  dan totalitas manusia dalam arti yang harus mempertanggungjawab kan perbuatannya di akhirat seperti yang disebutkan dalam surat Yasin / 36:54.

    Dengan demikian, menurut al-Quran, nafs itu dengan sistemnya tetap berada pada manusia pemiliknya, baik ketika ia berada bersama jasadnya dalam alam kehidupan dunia maupun ketika setelah berada dalam alam kematian (kehidupan di akhirat). Yang membedakan ialah bahwa dalam alam kehidupan dunia, nafs dalam status usaha, sementara nafs di alam akhirat hanya tinggal menerima pahala atau azab.

    Adapun roh, ia ditiupkan Allah ke dalam jasad yang sudah memenuhi syarat kesempurnaan seperti yang diisyaratkan dalam surat al-Sajdah / 32:7-9, dan ketika ajal telah tiba, roh dipisahkan dengan jasad oleh malaikat maut, seperti yang diisyaratkan surat al-Anam / 6:93. Jadi, dalam keadaan mati, jasad seseorang sudah tidak ada rohnya yang mmenyebabkan ia hidup. Al-Quran tidak berbicara tentang perjalanan roh setelah kematian seseorang, apakah roh pindah ke alam baqa atau hilang kembali ke asalnya. Al-Quran surat al-Isra / 17:85 telah menutup peluang untuk mengetahui lebih banyak tentang roh dengan kalimat roh itu urusan Allah SWT dan manusia hanya diberi sedikit pengetahuan itu.

    Al-Quran menyebutkan bahwa manusia akan dikembalikan kepada Allah. Tentang kembalinya manusia kepada Allah SWT, al-Quran menggunakan tiga term, yaitu:

    1) Bahwa setiap yang berjiwa akan merasakan mati dan kemudian akan dikembalikan kepada Allah, disebut dalam surat al-Ankabut / 29:57

    2) Bahwa manusia akan kembali kepada Allah, disebutkan dalam surat al-Baqarah / 2:156

    3) Bahwa Allah adalah tempat kembalinya manusia, disebut dalam surat Alu ‘Imran / 3:55 .

    Tentang siapa yang kembali kepada-Nya, apakah rohnya, nafs-nya, akal dan hatinya atau totalitas jiwa raganya, al-Quran menyebut bahwa jiwa manusia harus mempertanggungjawab kan amalnya kepada Allah SWT kelak, yakni:

    1) Nafs-nya, seperti yang disebutkan dalam surat Yasin / 36:54,

    2) Qalb-nya, seperti yang diisyaratkan surat al-Baqarah / 2:225, dan

    3) Fungsi-fungsi jiwanya, pendengaran, penglihatan dan fuad-nya, seperti yang disebut dalam surat al-Isra / 17:36.

     
  • erva kurniawan 1:32 am on 21 April 2020 Permalink | Balas  

    Harta yang Halal 

    Harta yang Halal

    Rasulullah SAW bersabda: “Akan tiba suatu zaman di mana orang tidak peduli lagi terhadap harta yang diperoleh, apakah ia halal atau haram.” (HR Bukhari). Empat belas abad lebih, setelah Rasulullah menyatakan hadist ini, kini kita sedang menyaksikan sebuah kenyataan dimana orang sangat berani melakukan korupsi, penipuan, penggelembungan nilai proyek, pemerasan, penyuapan, pengoplosan BBM, produksi barang bajakan, bermain valas, dsb. Sehingga banyak orang yang menjadi korban karenanya. Bahkan tak jarang orang mengatakan “mencari yang haram aja sulit apalagi yang halal”.

    Allah SWT sebenarnya telah memanggil hamba-Nya yang mukmin untuk mencari harta yang halal dan tidak makan kecuali yang halal: “Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik, yang Kami berikan kepadamu, dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu benar-benar menyembah kadapa-Nya (QS. 2:172). Dalam ayat lain Allah berfirman: “Wahai manusia! Makanlah yang halal dan baik dari makanan yang ada di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan,sungguh setan itu musuh yang nyata bagimu (QS. 2:168).

    Ada beberapa hal yang bisa disimpulkan dari ayat-ayat di atas:

    1. Allah yang menciptakan manusia tentu Dialah yang paling tahu apa yang terbaik bagi manusia. Barang-barang yang Allah haramkan itu bisa dipastikan bila dilanggar akan merusak tubuh kita. Dan kita telah menyaksikan betapa orang yang korupsi, meski sedikit, telah menghancurkan negara dan nasib berjuta rakyat, sebagaimana orang yang mabuk-mabukan telah merusak dirinya, akalnya, dan masa depannya.
    2. Harta yang haram ada dua macam: pertama, haram secara zat, seperti daging babi, bangkai, meniuman yang memabukkan. Kedua, haram secara proses pendapatan, seperti harta hasil korupsi, curian, judi, penipuan, dsb. Kedua macam harta ini sama-sama membawa malapetaka bagi manusia dan kemanusiaan.
    3. Memperoleh harta secara halal adalah perjuangan yang sangat mulia, karena pada ayat di atas, Allah menganggapnya sebagai ekspresi keimanan dan bukti mensyukuri nikmat-Nya.

    Rasulullah SAW pernah bercerita tentang seorang yang sedang dalam perjalanan panjang, rambutnya kusut, pakaiannya kotor, ia menadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata: Ya Rabb! Ya Rabb! Sedangkan makanan, minuman, dan pakaiannya haram. Mana mungkin, kata abi, permohonannya akan dikabulkan oleh Allah (HR Muslim). Ketika menyebut hadist ini Ibnu Katsir mengatakan: makanan halal adalah penyebab diterimanya doa dan ibadah, sebagaimana makanan haram penyebab ditolaknya doa dan ibadah.

    Mengingat saat ini begitu banyak makanan yang terkontaminasi oleh zat yang diharamkan, bahkan coklat dan ice cream sekalipun, maka sudah selayaknya kita lebih memperhatikan siapa produsen/pededagang nya, apakah ada label/sertifikat halal atau tidak, dan bagaimanana komposisinya. Semoga kita diberikan kelapangan dan kekuatan oleh Allah untuk mendapatkan rizki dengan jalan yang halal. Dan semoga kita juga bisa saling mengingatkan ketika akan mengkonsumsi makanan maupun minuman sehingga terhindar dari zat yang diharamkan.

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 20 April 2020 Permalink | Balas  

    8 Prinsip Tazkiyyat an Nafs   

    8 Prinsip Tazkiyyat an Nafs  

    By: Prof. Dr. Achmad Mubarok MA

    Jiwa manusia oleh Tuhan didesain sempurna, dianugerahi kapasitas tertentu, berfitrah suci dan bisa ditingkatkan kesuciannya, tetapi bisa juga menjadi kotor jika dikotori.

    Prinsip-prinsip kesucian jiwa tersebut dipaparkan oleh Alquran sebagai berikut.

    1. Ada Nafs yang suci secara fitri, yakni suci sejak mula kejadiannya, yaitu nafs anak-anak yang belum mukallaf dan belum pernah melakukan perbuatan dosa seperti yang disebut dalam surat Alkahfi 74 dan surat Maryam 19.

    Artinya : maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidir membunuhnya. Musa pun berkata, “Mengapa kamu bunuh jiwa yang suci, bukan karena dia membunuh orang lain?” sesungguhnya kamu telah melakukan yang mungkar.” (Q/18 : 74).

    Artinya : Ia (Jibril) berkata : “Sesungguhnya aku ini haruslah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” (Q/19 : 19).

    1. Nafs yang suci jika tidak dipelihara kesuciannya bisa berubah menjadi kotor, seperti tersebut dalam surat Assyams, 10.

    Artinya : … dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotori (jiwa) nya (Q/91:10).

    1. Manusia bisa melakukan usaha penyucian jiwa seperti disebut dalam surat annazi’at : 18, al Fatir : 18 dan surat Al a’la : 1.

    Artinya : … dan katakanlah (kepada Fir’aun) adalah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan) (Q/79:18).

    … dan barang siapa yang menyucikan dirinya, sesungguhnya ia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah lah kembali (mu) (Q/35 : 18).

    Artinya : Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman) (Q/87 : 14).

    1. Proses penyucian jiwa itu bisa melalui usaha, yakni dengan mengeluarkan zakat seperti tersebut dalam surat attaubah : 103, dan menjalankan pergaulan hidup secara terhormat seperti yang diisyaratkan dalam surat Annur : 28 dan 30.

    Artinya : Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan (hati dari kekikiran dan cinta harta) dan menyucikan mereka (dengan tumbuhnya sifat-sifat terpuji dalam jiwa mereka) (Q/9 : 103).

    Artinya : Jika kamu tidak menemui seorang pun di dalam rumah (yang bukan rumahmu) itu, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: “Kembali (saja) lah,” maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu dan Allah maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Q/24 : 28).

    Artinya : Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan” (Q/24 : 30).

    1. Penyucian nafs juga bisa dilakukan dengan proses pendidikan seperti yang dilakukan oleh para Nabi kepada umatnya. Hal ini ditegaskan Alquran dalam surat Albaqarah : 129, 151, surat Al-Imran : 164 dan surat Jum’ah 2.

    Artinya : “Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Q/62 :2).

    1. Di samping melalui usaha dan pendidikan, penyucian jiwa bisa juga terjadi karena karunia dan rahmat Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendaki oleh-Nya, seperti disebutkan dalam surat Annur : 21 dan surat Annisa : 49.

    Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki- Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Q/24 : 21).

    1. Perbuatan menyucikan jiwa (tazkiyyat an nafs) merupakan perbuatan terpuji dan dihargai Tuhan seperti disebut dalam surat Taha : 75-76, Q/91 : 9, Q/87 : 14, dan Q/92 : 18.

    Artinya : (yaitu) surge ‘And yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan) (Q/20 : 76).

    1. Bahwa perbuatan mengaku jiwanya telah suci merupakan hal yang tercela, seperti yang tersurat dalam surat Annajm/53 : 32, dan Q/4 : 49.

    Artinya : … maka, janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa (Q/53 : 32).

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 19 April 2020 Permalink | Balas  

    Tazkiyyat an Nafs 

    Tazkiyyat an Nafs

    By: Prof. Dr Achmad Mubarok MA

    Pada dasarnya nafsu itu diciptakan Allah SWT dalam keadaan sempurna (Q/91 : 7-8). Akan tetapi, ia dapat tercemar menjadi kotor jika tidak dijaga (Q/91 : 9-10). Tentang Nafs yang masih suci disebutkan dalam surat Alkahfi/18 : 74, dalam rangkaian kisah Nabi Khidir yang teks ayatnya telah ditulis di bagian depan.

    Istilah zakiyyah pada ayat tersebut di atas (nafsan zakiyyatan) merupakan sifat dari nafs sehingga nafs zakiyyah artinya jiwa yang suci. Dalam konteks ayat tersebut, pemiliki nafs yang suci itu adalah anak kecil sebagaimana juga disebut dalam surat Maryam : 19 ghulâman zakiyyan. Jadi, nafs yang secara fitri masih suci adalah nafs dari anak yang belum mukallaf, yang dalam hhal ini belum berdosa.

    Fakhr ar Razi mengutip perbedaan makna dari kalimat zakiyyah dan zâkiyah. Sebagian Mufasir memandang sama arti kedua kalimat itu. Akan tetapi sebagian membedakannya, seperti Abu ‘Amr Ibn al ‘Ala. Menurutnya, nafs zâkiyyah (dengan alif) adalah jiwa yang suci secara fitri, yakni belum pernah melakukan dosa, sedang nafs zakiyyah adalah jiwa yang suci setelah melalui proses tazkiyyatan nafs dengan bertobat dari perbuatan dosa.

    Kesucian nafs bersifat manusiawi, maka kotornya pun bersifat maknawi. Seseorang dapat memelihara kesucian nafs-nya manakala ia konsisten dalam ketakwaan. Sebaliknya, nafs berubah menjadi kotor jika pemiliknya menempuh jalan dosa atau fujur.

    Surat Assyams/91 : 7-10 menyebutkan bahwa sungguh rugi orang yang telah mengotori jiwanya (wa qod khôba man dassâhâ) kata dassa berasal dari kata dassa-yadussu yang arti lughowinya menyembunyikan sesuatu di dalam sesuatu. Dalam konteks ayat ini, orang mengotori jiwanya dengan perbuatan dosa yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

    Oleh karena itu, sebagain mufasir berpendapat bahwa ayat Alquran ini (Q/91 : 10) berkenaan dengan nafs orang saleh yang melakukan kefasikan, bukan jiwa orang kafir. Pasalnya, orang saleh, meski ia melakukan dosa, tetapi ia malu dengan perbuatannya itu sehingga ia lakukan dengan cara sembunyi-sembunyi. Berbeda dengan orang ingkar yang melakukannya dengan terang-terangan.

    Alquran mengisyaratkan bahwa jiwa yang tercemar masih dapat diusahakan untuk menjadi suci kembali, baik dengan usaha sendiri, memalui pendidikan atau karena anugerah dan rahmat Allah seperti yang diisyaratkan oleh surat Q/9 : 103, Q/3: 164.

    Artinya : Sungguh Allah telah member karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Alkitab dan Alhikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan nabi) itu mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata (Q/3 : 164).

    Ayat Alquran tersebut mengisyaratkan bahwa orang yang sesat masih dimungkinkan untuk dibersihkan jiwanya. Usaha atau proses penyucian jiwa itu disebut tazkiyyat an nafs.

     
  • erva kurniawan 10:25 am on 18 April 2020 Permalink | Balas  

    Keajaiban Kasih Sayang 

    Keajaiban Kasih Sayang

    “Maka disebabkan kasih sayang dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” . (QS.Ali Imran :159)

    Indonesia sebagai bangsa timur mewarisi kelembutn budaya yang menakjubkan. Hanya saja ujian sejarah berupa krisis multi dimensi telah mencabik-cabik kepribadian yang berharga. Tiba-tib kita menjadi bangsa yang menghadapi setiap masalah dengan luapan amarah.

    Sebagai contoh hanya Gara-gara uang recehan, nyawa bisa melayang. Perbedaan pendapat tidak bisa lagi diterima dengan lapang dada, yang keluar malahan caci maki dan perilaku kekerasan. Rasa saling curiga membuat kinerja otak jadi macet setelah emosi lekas meledak. Ruangan musyawarah malah menjadi ajang pengadilan jalanan. Usai sholat jamaah kita bersalam ukhuwah, malamnya di tempat kerja kita berpacu dalam aroma nafsu persaingan.. .???

    “Kamu senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah dan biarkanlah merek. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”(QS. Al Maidah: 13)

    Dari sabang sampai merauke berjajar penderitaan. Sambung menyambung menjadi satu itulah elegi yang mencengkeram bumi pertiwi. Padahal mayoritas penduduk negeri ini mengusung identitas muslim, agama yang kaya kasih sayang. Lantas kemanakh lenyapnya pribadi marhamah yang dipuja sejarah!!

    Ibnu Khaldun menyatakan al-insan madayyun bi al-thab’iy, secara tabiatnya manusia adalah makhluk berperadaban yang berjiwa sosial. Dengan sendirinya manusia jelas saling membutuhkan satu sama lain. Dan, sikap kasih sayang merupakan salah satu bentuk dari kecerdasan sosial.

    Allah telah menurunkan kehalusan rasa di haati manusia. Sebuas apapun orang, ia tetap punya getar-getar nurani. Cuma kepekaan tersebut menjadi kropos disebabkan kurangnya kepedulian. Egoisme sempit serta ketamakn nafsu mencederai putihnya hati. Maka merugilah mereka yang kehilangan anugerah kasih sayang.

    Dalam hadistnya, secara tegas Rasul SAW. menyatakan, “Ada dua jenis manusia yang Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat, Pertama ialah orang yang memutuskan tali kasih sayang dan yang kedua adalah mereka yang jahat kepada tetangganya. “( HR.Dailamy)

    Kasih sayang mampu menyulap banyak keajaiban, merapatkan hati yang renggang, menyatukan jiwa yang terbelah, serta melembutkan kekasaran. Masyarakat berperadaban selalu memilih jalan kasih sayang apalagi terhadap saudara seiman. Tidak cukup menjalin kehangatan dengan Tuhan semata, sebab menjalin hubungan kasih sayang dengan makhlukNya juga bernilai ibadah. Wallahu’alam bilshawab

    ***

    Henny Chrisnawati

     
  • erva kurniawan 1:32 am on 17 March 2020 Permalink | Balas  

    Syarat Maksiat 

    Syarat Maksiat

    Suatu hari seorang lelaki menemui Ibrahim bin Adham. Dia berkata, ‘Wahai Aba Ishak! Saya selalu melakukan maksiat, tolong berikan aku nasihat’.

    Ibrahim berkata, ‘Jika kamu mau menerima lima syarat dan mampu melaksanakannya, maka kamu boleh teruskan melakukan maksiat.’

    1. Jika kamu maksiat kepada Allah, jangan makan rezekiNya.” Lelaki itu seraya berkata, ‘Aku mau makan dari mana? Bukankah semua yang ada di bumi ini rezeki Allah? “Ya,” tegas Ibrahim bin Adham. “Kalau kamu sudah memahaminya, masih pantaskah memakan rezekinya, sementara kamu selalu berkeinginan melanggar larangan-Nya? “
    2. “Yang kedua,” kata Ibrahim, “kalau mau bermaksiat, jangan tinggal dibumi-Nya! Syarat ini membuat lelaki itu kaget setengah mati. Ibrahim kembali berkata kepadanya, “Wahai Abdullah, pikirkanlah, apakah kau layak memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sementara kamu melanggar segala larangan-Nya? ‘“’Ya, Anda benar,” kata lelaki itu.
    3. Dia kemudian menanyakan syarat yang ketiga. Ibrahim menjawab,”Kalau kamu masih mau bermaksiat, carilah tempat tersembunyi yang tidak dapat terlihat oleh-Nya!” Lelaki itu kembali terperanjat dan berkata, “Wahai Ibrahim, ini nasihat macam apa? Mana mungkin Allah tidak melihat kita? “Nah, kalau memang yakin demikian, apakah kamu masih berkeinginan berlaku maksiat?” kata Ibrahim. Lelaki itu mengangguk dan meminta syarat yang keempat.
    4. Ibrahim melanjutkan, “Kalau malaikat maut datang hendak mencabut rohmu,katakanlah kepadanya, ‘Mundurkan kematianku dulu. Aku masih mau bertobat dan melakukan amal saleh’.” Kembali lelaki itu menggelengkan kepala dan segera tersadar, “Wahai Ibrahim, mana mungkin malaikat maut akan memenuhi permohonanku? “Wahai Abdullah, kalau kamu sudah meyakini bahwa kamu tidak bisa menunda dan mengundurkan datangnya kematianmu, lalu bagaimana engkau bisa lari dari murka Allah?“Baiklah, apa syarat yang kelima?”
    5. Ibrahim pun menjawab, “Wahai Abdullah kalau malaikat Zabaniyah datang hendak menggiringmu ke api neraka di hari kiamat nanti, jangan engkau mau ikut bersamanya. ”Perkataan tersebut membuat lelaki itu tersadar. Dia berkata, “Wahai Aba Ishak, sudah pasti malaikat itu tidak membiarkan aku menolak kehendaknya. “ Dia tidak tahan lagi mendengar perkataan Ibrahim. Air matanya bercucuran. “Mulai saat ini aku bertobat kepada Allah,” katanya sambil terisak.
     
  • erva kurniawan 1:29 am on 16 March 2020 Permalink | Balas  

    Potensi Diri 

    Potensi Diri

    By: agussyafii

    Setiap Manusia memiliki potensi diri. Dalam bentuk fisik, intelektual, emosional dan spiritual yang berbeda-beda kapasitasnya. Ada orang yang sangat intelek, tetapi emosinya tidak stabil. Yang lain emosinya sangat terkendali tetapi intelektualitasnya kurang. Ada juga orang yang menonjol justeru potensi spiritualitasnya . Perilaku manusia dalam keseharian mencerminkan aktualitas dari potensi itu.

    Ada orang yang berwajah garang tetapi hatinya lembut, ada orang yang fisiknya kecil dan nampak lemah tetapi hatinya bergejolak penuh dengan kebencian dan dendam. Demikian juga halnya dengan corak cinta, ada seorang lelaki yang jika jatuh cinta kepada seorang wanita, ia merasa harus menguasai dan memonopoli secara total lahir batin, tidak boleh sedikitpun si wanita memiliki perhatian kepada selain dirinya. Ia sangat pecemburu, dan jika ia gagal memiliki wanita yang dicintainya itu maka ia memilih menghancurkan sang kekasih daripada harus melihat ia dimiliki oleh orang lain. Di sisi lain, ada seorang lelaki pecinta yang sangat penuh pengertian, ia sangat memaklumi dan sangat memaafkan atas kekurangan sang kekasih.

    Ia bukan saja tidak bermaksud menguasai tetapi justeru selalu ingin memberi kepada kekasihnya apa yang menjadi keinginannya, . Ia sangat berbahagia jika bisa memberikan kesenangan kepada kekasihnya, meski untuk itu ia menderita. Nah cinta itu ada di dalam hati. Hadis Nabi menyebutkan bahwa di dalam tubuh setiap manusia ada qalbu (hati) yang

    menjadi penentu kualitas manusia, jika qalbu nya baik maka seluruh ekpressinya baik, sebaliknya jika qalbu nya buruk maka buruk pula ekpressi orang itu. Orang suka berkata; dalamnya laut dapat di duga, dalamnya hati siapa yang tahu ?

    Isi hati manusia sungguh sangat sangat banyak dan beragam, diantaranaya adalah cinta. Dapat dipastikan bahwa tidak ada satupun keterangan yang obyektip tentang hati manusia yang berasal dari manusia, karena semua manusia bersifat subyektif, oleh karena itu keterangan yang paling obyektif tentang hati manusia hanya yang berasal dari sang Pencipta hati itu sendiri, yaitu Alloh SWT, dan keterangan itu ada di dalam kitab suci Al Quran.

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 15 March 2020 Permalink | Balas  

    Jangan Memanfaatkan Mereka 

    Jangan Memanfaatkan Mereka

    by: Meidy

    Kasus-kasus “memanfaatkan” anak yatim kadang terjadi, bila niatan pengurusnya telah bergeser. Sekilas ini wajar, mengingat mengurus anak-anak yg begitu banyak juga membutuhkan tenaga dan pikiran ekstra. Fenomena seperti ini sudah lazim terjadi di masyarakat kita. Kalau hal ini sudah terjadi tentu si pengurus tidak lagi bisa menjadi tempat bergantung bagi mereka.

    Apabila hal ini yang terjadi, maka berarti ada kegagalan dalam diri sipengurus, sekaligus lampu kuning dari Allah, bahwa ambang bencana bagi si pengurus yang bersangkutan sudah dekat. Ini musibah yang semestinya segera dikembalikan kepada niat semula. Adakah musibah kemanusiaan yang melebihi orang-orang yang melepaskan tanggung jawabnya terhadap anak-anak yatim??? Anak-anak yatim sudah nestapa, apakah harus ditambah lagi dengan derita pula? Bukankah Allah telah berfirman dalam surat adh-Dhuha : ” Dan terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang? ”

    “Sungguh orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu telah memakan api neraka sepenuh perutnya” (QS. an-Nisa:10)

    Kesewenang-wenangan terhadap alam dan lingkungan adalah dengan merusak kelangsungan ekosistemnya, sedangkan kesewenang -wenangan terhadap anak yatim berarti menelantarkan mereka dengan memperlakukan secara tidak adil.

    Sungguh keliru kalau ada pergeseran anggapan bahwa mengurus anak yatim adalah suatu kerugian karena tidak bisa melakukan aktivitas produktif lainnya.

    Coba tengok Halimah as-Sa’diyah, beliau adalah contoh “Ibu Panti” yang pertama. Berkat ketulusannya memelihara Si Yatim Muhammad, Halimah yang semula hidup serba pas-pasan, justru kemudian serba berkecukupan. Rezeki si yatim memang Allah sendiri yang menitipkannya kepada siapa yang memeliharanya dengan ketulusan hati. Adakah perlu bukti lain selain yang telah dicontohkan oleh manusia Agung Rasulullah ini untuk kita….???

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 14 March 2020 Permalink | Balas  

    Pemimpin 

    Pemimpin

    By: Prof. Dr. AChmad Mubarok MA

    Manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan antara yang satu dengan yang lain. Arti Masyarakat itu sendiri yang berasal dari bahasa Arab musyarakah adalah saling bersekutu. Jadi masyarakat adalah wujud dari kesepakatan umum bagaimana setiap warganya dijamin peluangnya untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam sistem masyarakat, diatur yang kecil tidak dizalimi oleh yang besar, yang lemah dijamin memperoleh keadilan, yang memiliki kelebihan dijamin penghargaannya. Masyarakat juga sepakat untuk memberikan perlindungan kepada hak-hak azazi manusia, fisiknya, hartanya, fikirannya, jiwanya dan keyakinannya. Untuk itulah maka masyarakat membangun tradisi, membangun kebudayaan, membangun institusi seperti negara dan bahkan membangun badan dunia seperti Persatuan Bangsa Bangsa (PBB).

    Cita-cita bangsa Indonesia dengan mendirikan negara Republik Indonesia misalnya, seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD 45 adalah untuk: (1) melindungi segenap warga negara, (2) hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh warganya, (3) menghargai kedaulatan rakyat, dan (4) berketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

    Manusia secara pribadi adalah makhluk yang di satu sisi berfikir positif dan menyukai kebaikan, tetapi di sisi lain terkadang berfikir negatif dan kemudian melakukan perbuatan yang bukan saja merusak dirinya tetapi juga merusak atau mengganggu orang lain. Perilaku manusia juga ada yang bersifat individual dan terkadang bersifat sosial. Ada orang yang secara pribadi adalah pendiam, penakut dan cenderung patuh, tetapi ketika ia menjadi bagian dari perilaku sosial yang bringas maka ia bisa berubah menjadi pemberani, nekad dan agresif, satu perilaku yang sangat berbeda dengan perilaku individualnya.

    Untuk menjamin terlaksananya kesepakatan sosial, maka masyarakat mengenal struktur pemimpin dan yang dipimpin. Pemimpin diberi kewenangan oleh orang banyak untuk mengorganisir dan mengatur strategi pencapaian tujuan, dan orang banyak harus membantu dan mentaati pemimpin yang telah disepakati. Manusia mengenal sistem kepemimpinan (leadership) pada setiap lapisan. Setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya (kullukum ra‘in). Kemudian suami adalah pemimpin dalam rumah tangga, lurah adalah pemimpin satu desa dan seterusnya Presiden adalah pemimpin dari satu negara. Tipologi pemimpin itu bermacam-macam, tetapi kontrak pemimpin dan yang dipimpin bersifat “universal”. Kepemimpinan akan efektif jika rakyat yang dipimpin merasa memperoleh sesuatu dari pemimpinnya; memperoleh rasa keadilan, rasa aman, dan bimbingan menuju masa depan yang menjanjikan. Oleh karena itu seorang pemimpin haruslah orang yang memiliki banyak kelebihan dibanding yang

    dipimpin, karena seorang pemimpin harus bisa memberi. Jika tiga hal itu tidak bisa diberikan oleh seorang pemimpin, maka kepemimpinannya tidak akan efektif. Jika kepemimpinan tidak efektif maka kesepakatan umum bermasyarakat akan rusak, tatanan kehidupan menjadi tidak tertib, dan masyarakat manusia yang semestinya berbudaya tinggi akan berubah menjadi kerumunan binatang yang saling menyerang, apa yang sekarang disebut sebagai anarki.

    Sebab-sebab terjadinya anarki

    Al Mawardi merumuskan sebab-sebab terjadinya anarki pada suatu masyarakat dengan kalimat yang sangat pendek tetapi jelas; La yashluhu al qaumu faudla la surata lahum, wala surata idza juhhaluluhum sadu. Artinya; Suatu bangsa tidak akan eksis jika masyarakatnya anarkis. Anarkisme terjadi karena mereka tidak memiliki tokoh teladan yang dapat dijadikan panutan dalam hidup sehari-hari. Dan masyarakat akan kehilangan panutan jika orang-orang yang menjadi pemimpin terdiri dari orang-orang bodoh. Kata juhhal tidak mesti berarti bodoh dengan IQ rendah, tetapi juga bermakna, orang pandai yang melakukan perbuatan bodoh, bisa karena egois, karena buruk akhlaknya atau karena keliru cara berfikirnya.

    Kekeliruan yang dilakukan oleh rakyat biasa, paling-paling hanya dicibirkan orang lain, tetapi kekeliruan dari seorang pemimpin (apalagi jika berulang kali dilakukan, karena kebodohannya) akan berdampak pada rusaknya tatanan sosial. Oleh karena itu periksalah seteliti mungkin sebelum mengangkat seseorang menjadi pemimpin. Wallahu a‘lam.

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 13 March 2020 Permalink | Balas  

    Air Mata Singa Padang Pasir 

    Air Mata Singa Padang Pasir

    Pernahkah anda membaca dalam riwayat akan Umar bin Khatab menangis? Umar bin Khatab terkenal gagah perkasa sehingga disegani lawan maupun kawan. Bahkan konon, dalam satu riwayat, Nabi menyebutkan kalau Syeitan pun amat segan dengan Umar sehingga kalau Umar lewat di suatu jalan, maka Syeitan pun menghindar lewat jalan yang lain. Terlepas dari kebenaran riwayat terakhir ini, yang jelas keperkasaan Umar sudah menjadi buah bibir di kalangan umat Islam. Karena itu kalau Umar sampai menangis tentulah itu menjadi peristiwa yang menakjubkan.

    Mengapa “singa padang pasir” ini sampai menangis?

    Umar pernah meminta izin menemui rasulullah. Ia mendapatkan beliau sedang berbaring di atas tikar yang sangat kasar. Sebagian tubuh beliau berada di atas tanah. Beliau hanya berbantal pelepah kurma yang keras. Aku ucapkan salam kepadanya dan duduk di dekatnya. Aku tidak sanggup menahan tangisku.

    Rasul yang mulia bertanya, “mengapa engkau menangis ya Umar?” Umar menjawab, “bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau, padahal Engkau ini Nabi Allah dan kekasih-Nya. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Sedangkan Kisra dan kaisar duduk di singgasana emas dan berbantalkan sutera”.

    Nabi berkata, “mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga; sebuah kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang yang bepergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya. ”

    Indah nian perumpamaan Nabi akan hubungan beliau dengan dunia ini. Dunia ini hanyalah tempat pemberhentian sementara, hanyalah tempat berteduh sejenak, untuk kemudian kita meneruskan perjalanan yang sesungguhnya.

    Ketika anda pergi ke Belanda, biasanya pesawat akan transit di Singapura. Atau anda pulang dari Saudi Arabia, biasanya pesawat anda mampir sejenak di Abu Dhabi. Anggap saja tempat transit itu, Singapura dan Abu Dhabi, merupakan dunia ini. Apakah ketika transit anda akan habiskan segala perbekalan anda? Apakah anda akan selamanya tinggal di tempat transit itu?

    Ketika anda sibuk shopping ternyata pesawat telah memanggil anda untuk segera meneruskan perjalanan anda. Ketika anda sedang terlena dan sibuk dengan dunia ini, tiba-tiba Allah memanggil anda pulang kembali ke sisi-Nya. Perbekalan anda sudah habis, tangan anda penuh dengan bungkusan dosa anda, lalu apa yang akan anda bawa nanti di padang Mahsyar. Sisakan kesenangan anda di dunia ini untuk bekal anda di akherat. Dalam tujuh hari seminggu, mengapa tak anda tahan segala nafsu, rasa lapar dan rasa haus paling tidak dua hari dalam seminggu. Lakukan ibadah puasa senin-kamis. Dalam dua puluh empat jam sehari, mengapa tak anda sisakan waktu barang satu-dua jam untuk sholat dan membaca al-Qur’an. Delapan jam waktu tidur kita….mengapa tak kita buang 15 menit saja untuk sholat tahajud.

    “Celupkan tanganmu ke dalam lautan,” saran Nabi ketika ada sahabat yang bertanya tentang perbedaan dunia dan akherat, “air yang ada di jarimu itulah dunia, sedangkan sisanya adalah akherat”

    Bersiaplah, untuk menyelam di “lautan akherat”. Siapa tahu Allah sebentar lagi akan memanggil kita,dan bila saat panggilan itu tiba, jangankan untuk beribadah, menangis pun kita tak akan punya waktu lagi.

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 12 March 2020 Permalink | Balas  

    Kapasitas Kejiwaan Pada Anak 

    Kapasitas Kejiwaan Pada Anak

    By: agussyafii

    Dalam konsep pendidikan Amalia, yang paling penting adalah memberikan tanggungjawab. Anak haruslah diberikan kesempatan untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawab untuk mengurus dirinya sendiri sebab itu bentuk pelatihan yang perlu pembiasaan agar kelak mereka menjadi manusia yang bertanggungjawab. Tentunya tugas dan tanggungjawab anak disesuaikan dengan kapasitas dirinya.

    Menurut Alquran, Allah menciptakan manusia baik individu maupun sosial, dari keadaan lemah, kemudian berproses menjadi kuat, dan kemudian lemah kembali (Q / 30:54). Kelemahan itu berupa keterbatasan fisik, psikis, intelektual, dan spiritual.

    Tiap orang memiliki kapasitas fisik, psikis, intelektual dan spiritual yang berbeda-beda. Deskripsinya sebagai berikut:

    1. Kelemahan fisik mewujud pada ketergantungan dengan unsur lain seperti makanan, minuman, istirahat, pengobatan dan lainnya, dan berujung pada kematian. Proses dari lemah menjadi kuat dan kembali menjadi lemah adalah hukum kehidupan yang juga dialami oleh tumbuh-tumbuhan, dari biji, bersemi, menjadi pohon, merindang, berbuah, kembali layu dan kering (Q / al Waqi’ah:63-70).
    2. Kelemahan dan keterbatasan psikis manusia mewujud dalam bentuk tidak mampu mengendalikan diri (tidak sabar), emosi, takut, terkejut, dan sedih. Alquran menyebutkan bahwa manusia diciptakan dengan memiliki keluh kesah dan kikir; jika ditimpa kesusahan ia mengeluh, jika ia memperoleh keberuntungan ia malah kikir (Q / 70:19-21). Jika sedang senang ia berpaling dan sombong, tetapi ketika sedang susah ia putus asa (Q / 17:83).
    3. Kelemahan intelektual mewujud pada keterbatasan pengetahuan manusia atas realitas. Ada manusia yang mampu memilah-milah banyak masalah, tetapi ada yang sangat terbatas; ada yang mampu melihat masalah untuk tiga-empat dimensi, tetapi ada yang hanya mampu melihat satu dimensi. Dalam surat Luqman disebutkan bahwa ada lima hal yang tidak bisa diketahui oleh intelektual manusia, yaitu:

    (1) Kapan terjadi hari kiamat;

    (2) Kapasitas hujan;

    (3) Masa depan janin manusia yang masih dalam kandungan; dan

    (4) Apa yang akan diperoleh di hari esok, dan (5) dimana manusia akan mati (Q / 31:34).

    Alquran juga menyebutkan bahwa manusia tidak akan mampu mengetahui ruh, karena ruh itu urusan Allah SWT dan manusia hanya diberi sedikit pengetahuan tentangnya, misalnya fenomena (Q / 17:85).

    1. Keterbatasan kekuatan spiritual mewujud dalam ketidak mampuan manusia memandang dimensi gaib, apa yang akan terjadi di masa depan, apa yang ada pada ilmu Allah (Q / Yunus:49) dan Q / al An’am:50). Dalam perspektif spiritualitas, seseorang bisa mencapai tingkat dekat dengan Allah hingga ia bisa melihat dengan “penglihatan” Allah, bisa mendengar dengan “telinga” Allah. Akan tetapi, spiritual adalah olah rasa. Oleh karena itu, hal ini merupakan pengalaman subjektif spiritual seorang muslim, kendati mereka justru merasakan sebagai hal yang paling objektif.

    Sebagaimana tersebut di atas, kapasitas setiap manusia, (fisik, psikis, intelektual, dan spiritual) kenyataannya berbeda-beda. Perbedaan kapasitas ini membawa implikasi kepada perbedaaan tanggung jawab dan bobot kewajiban. Sudah barang tentu tidak adil jika kewajiban manusia disamakan sementara kapasitas mereka berbeda-beda. Oleh karena itu, Alquran menyebutkan bahwa Allah tidak membebani kewajiban kepada seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya, la yukallifa Allah nafsan ila wus’aha (Q / 2:286). Allah tidak membebani kewajiban kepada seseorang kecuali sekadar apa yang telah Allah berikan kepadanya, la yukallifa Allah nafsan illa ma ataha (Q / 65:7). Orang juga tidak akan memikul dosa yang diperbuat orang lain, wala taziru waziratun wizra ukhra (Q / 6:164).

    Prinsip hubungan ini kemudian mewujud dalam hukum fiqh; dalam hal ini, orang yang sakit dibedakan keharusannya dengan orang sehat; orang miskin dibedakan kewajibannya dengan orang kaya; orang gila dibedakan dengan tanggung jawabnya dengan orang waras; anak kecil dibedakan tanggung jawabnya dengan orang dewasa; orang tidur dan orang lupa dibedakan tanggung jawabnya dengan orang jaga atau orang yang sadar; dan orang yang berbuat secara sengaja dibedakan dengan yang tidak sengaja.

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 11 March 2020 Permalink | Balas  

    Hubungan antara Taqwa dan Kemudahan Rezeki 

    Hubungan antara Taqwa dan Kemudahan Rezeki

    By: agussyafii

    Insan Mulia ketika menghadapi kesulitan dalam hidupnya niscaya berusaha mencari jalan pemecahannya (problem solving). Dalam hal ini ada yang tetap memperhatikan nilai-nilai moral, tetapi ada juga yang menghalalkan segala cara. Menurut Alquran, sesulit apapun keadaan, jika dalam pemecahan masalah itu mengikuti jalan takwa, niscaya Alloh SWT akan memberikan jalan keluar yang aman, dan bahkan ditanggung akan memperoleh rezeki dari jalan yang tidak diperhitungkan; wa man yattaqillah yaj’al lahu makhraja wa yarzuqhu min haytsu la yahtasib (Q / 65:2).

    Ayat ini berhubungan dengan problem keluarga. Dalam problem bangsa atau masyarakat luas, sumberdaya alam menjadi tidak relevan dengan kemakmuran, jumlah senjata menjadi tidak relevan dengan kelancaran pekerjaan. Menurut Alquran hal ini disebabkan dicabutnya keberkahan dari masyarakat atau bangsa itu.

    Berkah adalah terkumpulnya kebaikan ilahiyyah pada sesuatu, pada seseorang, pada suatu waktu, pada suatu tempat, sehinggga nikmat Alloh SWT terdayaguna secara optimal. Menurut Alquran, hilangnya keberkahan itu berkaitan dengan perilaku masyarakat yang tidak lagi mencerminkan iman dan taqwa adalah kejujuran, tanggung jawab, amanah dan keadilan. Jika nilai-nilai tersebut diabaikan oleh masyarakat maka sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan sumberdaya lainnya tidak akan fungsional bagi kesejahteraan hidup manusia.

    Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi; tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu; maka, kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 10 March 2020 Permalink | Balas  

    Halaqah dan Ilmu pengetahuan 

    Halaqah dan Ilmu pengetahuan

    By: agussyafii

    Istilah halaqah bukanlah sesuatu yang asing. Dalam bahasa Arab, halaqah artinya lingkaran, tetapi sebagai istilah, halaqah  digunakan untuk menyebut  sebuah forum atau majlis. Pada zaman klassik Islam, majlis pengajian Imam Ghazali misalnya juga disebut halaqah Imam Ghazali, dinisbahkan kepada bentuk dimana guru duduk di tengah dan murid-muridnya duduk melingkar di sekelilingnya.

    Bentuk halaqah juga diberlakukan di pesantren-pesantren salafi Jawa sebelum dikenal sistem kelas pada pengajian bandungan, dimana kyai duduk di tengah dan para santri duduk melingkari guru. Dalam konsep pendidikan salafi, belajar itu bukan transfer pengetahuan dari guru ke murid, tetapi lebih merupakan proses mencari berkah guru (tabarrukan) . Oleh karena itu masa belajar tidak dibatasi oleh jenjang-jenjang kelas hingga tammat, tetapi sepuas-puas murid hingga merasa memperoleh berkah ilmu dari sang guru.  tidaklah heran jika di pesantren ada murid yang menammatkan ngaji satu kitab hingga mengulang tiga kali, karena pada kali tammat pertama dan kedua rasanya belum memperoleh berkah kyai.

    Berkah itu sendiri artinya terdayagunanya anugerah Tuhan  secara optimal (al barakatu tajammu` al khair al ilahiy katajammu` al ma’ fi al birkati). Menurut paradigma pendidikan Islam klassik, ilmu itu bukan sekedar pengetahuan, tetapi juga bermakna cahaya ketuhanan, oleh karena itu, cahaya ketuhanan (ilmu yang membawa berkah) tidak mungkin dicapai oleh orang yang durhaka kepada Tuhan, seperti yang tertulis dalam kitab Ta`lim al Muta`alim; wa akhbarani bi anna al `ilma nurun- wa nurullahi la yuhda li`ashi.  Selanjutnya bagi santri yang dipandang sudah layak mengajarkan ilmu dari guru, diberi ijazah atau diijazahi oleh kyai. Ijazahnya bukan berujud selembar kertas, tetapi berupa  akad dimana dengan bersalaman guru membolehkan murid untuk mengajar. Kata ijazah itu sendiri berasal dari kata ajaza-yujizu- ijazatan artinya membolehkan atau perkenan, sama seperti konsep magister (guru) dalam tradisi keilmuan Eropa.

    Sejalan dengan perkembangan zaman, forum halaqah juga berkembang, bukan saja lingkaran dalam satu ruang, tetapi juga lingkaran pembaca (koran), lingkaran pemirsa (TV), lingkaran pendengar (radio) dan lingkaran pengunjung (internet).

    Al Qur’an banyak sekali mengingatkan manusia agar menggunakan akalnya untuk berfikir dan bertafakkur; afala tatafakkarun, afala ta`qilun, awala yatadabbarun. Manusia memang adalah hewan yang berfikir ( al insanu hayawanun nathiqun). Pada manusia, berfikir merupakan proses keempat setelah sensasi, persepsi dan memori yang mempengaruhi penafsiran terhadap suatu stimulus. Dalam berfikir orang melibatkan sensasi, persepsi dan memori sekaligus (istilah psikologi). Dalam kehidupan, berfikir diperlukan untuk (a) memecahkan masalah atau problem solving, (2) untuk mengambil keputusan, decision making, dan (3) untuk melahirkan sesuatu yang baru (creatifity) .

    Semakin tinggi ilmu seseorang maka semakin rumit cara berfikirnya. Ada orang yang hanya bisa melamun, ada yang berfikir tetapi tidak realistis, dan ada yang berfikir realistis, ada yang berfikir ngawur, ada yang berfikir nalar (dari kata Arab nadzara). Ada orang yang selalu berfikir (failasuf), ada orang yang hanya mau berfikir jika merasa perlu (tehnokrat), dan ada yang kadang-kadang saja berfikir (penganggur) .

    Orang pandai berfikir secara bersistem, misalnya berfikir deduktif (mengambil kesimpulan khusus dari pernyataan umum), atau sebaliknya berfikir induktip (mengambil kesimpulan  umum dari pernyataan khusus. Tetapi terkadang ada masalah yang tidak bisa dipecahkan dengan berfikir, maka bagi orang yang sangat pintar ia memakai metode yang disebut berfikir kreatip (creatip thinking).

    Berfikir kreatif adalah berfikir dengan menggunakan metode baru, konsep baru, penemuan baru, paradigma baru dan seni yang baru pula. Urgensi pemikiran kreatip bukan pada kebaruannya tetapi pada relefansinya dengan pemecahan masalah. Karena kebaruan dan tidak konvensional, maka orang yang kreatip sering tidak difahami oleh orang kebanyakan, tak jarang dianggap aneh atau bahkan dianggap gila (berfikir gila). Orang besar sering mengemukakan ide-ide gila karena jarak orang besar dengan orang gila memang sangat tipis. Proses berfikir kreatip itu melalui lima tahapan : (1) orienstasi, yakni merumuskan dan mengidentifikasi masalah.(2) preparasi, yakni mengumpulkan sebanyak mungkin informasi, (3) inkubasi, yaitu berhenti dulu, tidur dulu, cooling dawn dulu.(4) iluminasi, yakni mencari ilham, dan (5) verifikasi, yakni menguji dan menilai secara kritis.

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 9 March 2020 Permalink | Balas  

    Nasib Manusia 

    Nasib Manusia

    By: Prof. Dr. Achmad Mubarok MA

    Nasib manusia sering disebut dengan kalimat suratan nasib atau suratan tangan, atau suratan takdir, yang menggambarkan bahwa nasib manusia telah tertulis di lauh mahfudz sebagai takdir, dan manusia tak berdaya mengubahnya. Jika kita menengok al Qur’an maka kita jumpai bahwa penjelasan tentang takdir dan nasib itu tidaklah hitam putih, karena di satu sisi diungkapkan bahwa setiap peristiwa yang terjadi di alam raya hingga selembar daun yang jatuh pasti bertitik tolak dari kehendak Allah (qudrat iradat Allah) dan tidak terlepas dari kendali pengawasan Allah serta tersurat dalam ketetapan yang jelas (fi kitabin mubin).

    Sementara di sisi lain diungkapkan bahwa manusia memiliki daya pilih dan daya upaya, bebas menentukan perbuatannya dan mampu mempengaruhi masa depan dan nasibnya dan dapat pula mengubahnya sendiri. Al Qur’an surat al Kahfi ayat 29 misalnya memberi kebebasan memilih kepada manusia untuk beriman atau kafir, faman sya’a fal yu’min, waman sya’a fal yakfur.

    Dua pola ungkapan al Qur’an itu kemudian melahirkan pola-pola pemikiran yang berlainan. Pertama pola kepercayaan “Jabbbariah” yang mengata-kan bahwa nasib manusia telah ditentukan secara pasti dan tetap oleh Allah Yang Maha Pencipta dimana manusia tinggal menjalani ketentuan-ketentuan itu sepenuhnya tanpa daya pilih dan tanpa daya upaya.

    Pola kedua adalah kepercayaan “Qadariyah” yang mengatakan bahwa manusialah yang menentukan segala-galanya, nasibnya tergantung pada pilihan dan usahanya karena manusia memiliki kebebasan untuk menentukan kebebasannya. Pola ketiga disebut kepercayaan “Ahlussunnah wal Jamaah”, yang mengata-kan bahwa ada keterbatasan dalam diri manusia, sehingga daya pilih dan daya upaya yang dimilikinya menjadi tidak mutlak, sekalipun keduanya sangat penting artinya sebagai landasan taklif (penunaian tugas yang diamanatkan Allah kepada manusia).

    Kepercayaan yang benar tentang takdir itu adalah bagian dari ilmu yang utuh, yang mendorong manusia untuk bekerja keras, cermat dan tertib dengan segala daya dan dana yang ada padanya berdasarkan pilihannya yang timbul dari kesadaran akan amanah taklif yang diembannya untuk meningkatkan kualitas dirinya dalam menggapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Wallohu a‘lam.

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 8 March 2020 Permalink | Balas  

    Fitrah Kesucian Nafs 

    Fitrah Kesucian Nafs

    By: Prof. Dr. Achmad Mubarok MA

    Telah disebutkan dalam uraian sebelumnya bahwa pada dasarnya nafsu itu diciptakan Tuhan dalam keadaan sempurna (Q/91 : 7-8). Akan tetapi, ia dapat tercemar menjadi kotor jika tidak dijaga (Q/91: 9-10). Tentang Nafs yang masih suci disebutkan dalam surat Alkahfi/18 : 74, dalam rangkaian kisah Nabi Khidir yang teks ayatnya telah ditulis di bagian depan.

    Istilah zakiyyah pada ayat tersebut di atas (nafsan zakiyyatan) merupakan sifat dari nafs sehingga nafs zakiyyah artinya jiwa yang suci. Dalam konteks ayat tersebut, pemiliki nafs yang suci itu adalah anak kecil sebagaimana juga disebut dalam surat Maryam : 19 ghulâman zakiyyan. Jadi, nafs yang secara fitri masih suci adalah nafs dari anak yang belum mukallaf, yang dalam hhal ini belum berdosa.

    Fakhr ar Razi mengutip perbedaan makna dari kalimat zakiyyah dan zâkiyah. Sebagian Mufasir memandang sama arti kedua kalimat itu. Akan tetapi sebagian membedakannya, seperti Abu ‘Amr Ibn al ‘Ala. Menurutnya, nafs zâkiyyah (dengan alif) adalah jiwa yang suci secara fitri, yakni belum pernah melakukan dosa, sedang nafs zakiyyah adalah jiwa yang suci setelah melalui proses tazkiyyatan nafs dengan bertobat dari perbuatan dosa.

    Kesucian nafs bersifat manusiawi, maka kotornya pun bersifat maknawi. Seseorang dapat memelihara kesucian nafs-nya manakala ia konsisten dalam ketakwaan. Sebaliknya, nafs berubah menjadi kotor jika pemiliknya menempuh jalan dosa atau fujur. Surat Assyams/91 : 7-10 menyebutkan bahwa sungguh rugi orang yang telah mengotori jiwanya (wa qod khôba man dassâhâ) kata dassa berasal dari kata dassa-yadussu yang arti lughowinya menyembunyikan sesuatu di dalam sesuatu. Dalam konteks ayat ini, orang mengotori jiwanya dengan perbuatan

    dosa yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Oleh karena itu, sebagain mufasir berpendapat bahwa ayat Alquran ini (Q/91 : 10) berkenaan dengan nafs orang saleh yang melakukan kefasikan, bukan jiwa orang kafir. Pasalnya, orang saleh, meski ia melakukan dosa, tetapi ia malu dengan perbuatannya itu sehingga ia lakukan dengan cara sembunyi-sembunyi. Berbeda dengan orang kafir yang melakukannya dengan terang-terangan.

    Alquran mengisyaratkan bahwa jiwa yang tercemar masih dapat diusahakan untuk menjadi suci kembali, baik dengan usaha sendiri, memalui pendidikan atau karena anugerah dan rahmat Allah seperti yang diisyaratkan oleh surat Q/9 : 103, Q/3: 164.

    Artinya : Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Alkitab dan Alhikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan nabi) itu mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata (Q/3 : 164).

    Ayat Alquran tersebut mengisyaratkan bahwa orang yang sesat masih dimungkinkan untuk dibersihkan jiwanya. Usaha atau proses penyucian jiwa itu disebut tazkiyyat an nafs.

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 7 March 2020 Permalink | Balas  

    Waktu Shalat Adalah Mukjizat 

    Waktu Shalat Adalah Mukjizat

    Pernahkan Anda bertanya mengapa shalat lima waktu itu harus dikerjakan pada waktunya? Ternyata ada kaitannya dengan siklus energi tubuh kita.

    Siklus Enegi Tubuh Kita

    Sebuah penelitian yang dilakukan oleh para ilmuan, terutama di Jepang, Eropa, dan Amerika. Penelitian itu menyimpulkan bahwa energi tubuh manusia mengalami rotasi yang sangat teratur; naik dan turun, kemudian naik lagi, begitu seterusnya. Para ilmuan itu membagi siklus energi tubuh menjadi beberapa fase:

    • Fase peningkatan. Fase ini ditandai dengan bertambahnya semangat dan energi tubuh, sehingga tubuh terasa lebih energik, dan rasa percaya diri pun meningkat.
    • Fase penurunan. Pada fase ini seseorang akan merasa badan atau jiwanya penat. Karena itu, ia membutuhkan istirahat yang cukup.
    • Fase transisi. Fase ini merupakan masa negatif bagi energi tubuh manusia. Keadaan pada fase mirip dengan fase transisi dalam tidur ke jaga.

    Banyak studi akademis dan bukti yang ditunjukkan oleh pakar biologi di Cina, Eropa, dan Amerika membuktikan bahwa ritme energi tubuh manusia mencapai puncaknya dua kali dalam 24 jam, masing-masing terjadi setiap 12 jam. Derajat energi dan kebugaran tubuh manusia mencapai puncaknya secara bertahap sejak pukul 04.00. dan peningkatan energi tubuh juga terjadi pada pukul 16.00. Para ilmuan menegaskan bahwa energi tubuh manusia pada pukul 02.00 sama dengan energi tubuh pada pukul 14.00., tetapi kadarnya lebih rendah dari energi pada fase yang pertama. Maksudnya, puncak kekuatan dan kebugaran tubuh terjadi antara pukul 04.00 dan pukul 11.00. Peningkatan energi kembali berlangsung tubuh yang terjadi antara pukul 16.00 hingga pukul 18.00.

    Derajat terendah energi tubuh terjadi sekitar pukul 14.00 dan sekitar pukul 02.00, untuk kemudian Dan proses itu mulai pada pukul 04.00 hingga derajat energi tubuh mencapai puncak keseimbangannya pada sekitar pukul 10.00 atau 11.00., rentang waktu kurang lebih enam hingga tujuh jam. Tempo tersebut sudah sangat cukup untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup dengan berbagai jenis tugas dan pekerjaan. Selanjutnya derajat energi tubuh menurun secara bertahap sekitar pukul 14.00, saat tubuh kita sangat membutuhkan suplay energi dari makanan dan istirahat selama tidak kurang dari dua jam.

    Setelah itu energi dan kebugaran tubuh manusia akan kembali naik secara bertahap dan bisa menopang aktivitas selama tiga hingga empat jam. Namun energi tubuh pada pada fase yang kedua ini lebih rendak daripada energi tubuh pada pagi hari. Kemudian energi mulai menurun kembali secara bertahap sekitar pukul 20.00 atau pukul 21.00, untuk kemudian benar-benar menurun sekitar pukul 23.00 atau 24.00, yang mana tubuh sangat membutuhkan tidur dan istirahat, hingga kekuatan energi tubuh mencapai keseimbangan terendahnya pada pukul 01.00 atau 02.00, -saat tubuh membutuhkan pemenuhan kekuatan dan pembaruan sel-sel- kemudian kekuatan tubuh memulai siklus baru untuk hari berikutnya. Demikian seterusnya.

    Korelasinya dengan waktu shalat?

    • Waktu Shalat Subuh

    Pada masa ini energi tubuh manusia mulai meningkat secara bertahap. Ketika seorang muslim melaksanakan shalat subuh, berarti ia telah memulai hari itu dengan semangat yang tentu berpengaruh terhadap tubuh secara menyeluruh. Pengaruh itu nampak jelas setelah 1,5 atau 2 jam shalat subuh. Masa tersebut merupakan waktu yang telah ditentukan untuk memulai rutinitas harian. Dengan demikian, kondisi kita berada dalam kondisi yang fit, baik dari segi fisik, pikiran, maupun psikologis, yang tentu saja sangat berpengaruh terhadap kemampuan kita menunaikan tugas dan meningkatkan produktivitas perkerjaan kita.

    • Waktu Shalat Zuhur

    Pada pukul 10.00 atau 11.00 grafik energi tubuh akan mencapai puncak keseimbangannya, artinya tubuh berada dalam kondisi terbaik untuk menyelesaikan pekerjaan. Aktivitas selama seharian tentu saja melelahkan, sehingga tubuh perlu diistirahatkan agar setelah itu tubuh dapat kembali melaksanakan tugasnya secara maksimal. Waktu shalat Zuhur masuk ketika matahari sudah bergeser dari garis lurus dengan bumi. Di sinilah shalat Zuhur memainkan perannya untuk memenuhi kebutuhan istirahat itu dengan cara yang paling baik, pemenuhan dan memperbarui energi tubuh.

    • Waktu Shalat Ashar

    Setelah shalat Zuhur, energi tubuh mulai menurun secara bertahap, selama kurang lebih dua atau tiga jam. kemudian energi tubuh mulai meningkat secara bertahap ketika waktu shalat Ashar tiba. Ketika bayangan suatu benda separuh dari bayangannya. Alhasil melaksanakan shalat pada waktu ini bisa dikatakan sebagai warming up yang ideal untuk mendukung energi tubuh serta menjaga keseimbangannya untuk menyelsaikan tugas-tugas harian dengan baik dan maksimal.

    • Waktu Shalat Maghrib

    Setelah kurang lebih tiga jam setelah shalat Ashar, secara biologis pada masa ini grafik energi tubuh meningkat, tetapi peningkatannya lebih rendah daripada peningkatan yang dicapai pada pagi harinya. Oleh karena itu, masa ini khusus untuk menyelesaikan tugas yang belum rampung atau untuk melaksanakan aktivitas yang beragam. Sehingga, shalat Maghrib dilaksanakan, agar tubuh dapat beristirahat secara positif dan baik untuk memenuhi kekuatan dan menyuplai energi tubuh. Hal itu agar tubuh dapat melangsungkan aktivitas dengan energik dan menyenangkan.

    • Waktu Shalat Isya

    Pada waktu ini biasanya rutinitas harian sudah berakhir, dibarengi dengan menurunnya grafik energi tubuh. Dari sini kita bisa mengetahui urgensi shalat isya. Atau bisa diibaratkan sebagai cooling down dari seluruh kesibukan harian untuk kemudian menyudahi kepenatan fisik dan hati, reaksi serta tekanan psikologis agar seluruh tubuh betul-betul siap untuk menongsumsi hidangan makan malam dengan tenang, dan menyenangkan. Dengan demikian tubuh berada dalam kondisi terbaik dan bisa beristirahat/ tidur nyenyak samapai pagi hari untuk melaksanakan shalat subuh, sehingga tubuh berada dalam kondisi yang ideal untuk memulai rutinitas dengan energik dan mnyenangkan.

    ***

    (Dikutip dan diterjemahkan dari “ash-Shalah Riyadhatun Nafs wal Jasad”).

     
  • erva kurniawan 1:46 pm on 6 March 2020 Permalink | Balas  

    Larangan Makan dan Minum Sambil Berdiri 

    Larangan Makan dan Minum Sambil Berdiri

    Dari Anas dan Qatadah, Rasulullah saw bersabda:

    Sesungguhnya beliau melarang seseorang minum sambil berdiri, Qotadah berkata:”Bagaimana dengan makan?” beliau menjawab: “Itu lebih buruk lagi”. (HR. Muslim dan Turmidzi)

    bersabda Nabi dari Abu Hurairah,“Jangan kalian minum sambil berdiri ! Apabila kalian lupa, maka hendaknya ia muntahkan !” (HR. Muslim)

    Rahasia Medis

    Dr. Abdurrazzaq Al-Kailani berkata: “Minum dan makan sambil duduk, lebih sehat, lebih selamat, dan lebih sopan, karena apa yang diminum atau dimakan oleh seseorang akan berjalan pada dinding usus dengan perlahan dan lembut. Adapun minum sambil berdiri, maka ia akan menyebabkan jatuhnya cairan dengan keras ke dasar usus, menabraknya dengan keras, jika hal ini terjadi berulang-ulang dalam waktu lama maka akan menyebabkan melar dan jatuhnya usus, yang kemudian menyebabkan pernah sekali minum sambil disfungsi pencernaan. Adapun Rasulullah berdiri, maka itu dikarenakan ada sesuatu yang menghalangi beliau untuk duduk, seperti penuh sesaknya manusia pada tempat-tempat suci, bukan merupakan kebiasaan. Ingat hanya sekali karena darurat!

    Begitu pula makan sambil berjalan, sama sekali tidak sehat, tidak sopan, tidak etis dan tidak pernah dikenal dalam Islam dan kaum muslimin.

    Dr. brahim Al-Rawi melihat bahwa manusia pada saat berdiri, ia dalam keadaan tegang, organ keseimbangan dalam pusat saraf sedang bekerja keras, supaya mampu mempertahankan semua otot pada tubuhnya, sehingga bisa berdiri stabil dan dengan sempurna. Ini merupkan kerja yang sangat teliti yang melibatkan semua susunan syaraf dan otot secara bersamaan, yang menjadikan manusia tidak bisa mencapai ketenangan yang merupakan syarat tepenting pada saat makan dan minum. Ketenangan ini bisa dihasilkan pada saat duduk, dimana syaraf berada dalam keadaan tenang dan tidak tegang, sehingga sistem pencernaan dalam keadaan siap untuk menerima makanan dan minum dengan cara cepat.

    Dr. Al-rawi menekankan bahwa makanan dan minuman yang disantap pada saat berdiri, bisa berdampak pada refleksi saraf yang dilakukan oleh reaksi saraf kelana (saraf otak kesepuluh) yang banyak tersebar pada lapisan endotel yang mengelilingi usus.

    Refleksi ini apabila terjadi secara keras dan tiba-tiba, bisa menyebabkan tidak berfungsinya saraf (Vagal Inhibition) yang parah, untuk menghantarkan detak mematikan bagi jantung, sehingga menyebabkan pingsan atau mati mendadak.

    Begitu pula makan dan minum berdiri secara terus –menerus terbilang membahayakan dinding usus dan memungkinkan terjadinya luka pada lambung. Para dokter melihat bahwa luka pada lambung 95% terjadi pada tempat-tempat yang biasa bebenturan dengan makanan atau minuman yang masuk.

    Air yang masuk dengan cara duduk akan disaring oleh sfringer. Sfringer adalah suatu struktur maskuler (berotot) yang bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup. Setiap air yang kita minum akan disalurkan pada ‘pos-pos’ penyaringan yang berada di ginjal. Nah, jika kita minum berdiri air yang kita minum tanpa disaring lagi. Langsung menuju kandung kemih. Ketika langsung menuju kandung kemih, maka terjadi pengendapan disaluran ureter. Karena banyak limbah-limbah yang menyisa di ureter. Inilah yang bisa menyebabkan penyakit kristal ginjal. Salah satu penyakit ginjal yang berbahaya. Susah kencing itu penyebabnya.

    Sebagaimana kondisi keseimbangan pada saat berdiri disertai pengerutan otot pada tenggorokan yang menghalangi jalannya makanan ke usus secara mudah, dan terkadang menyebabkan rasa sakit yang sangat yang mengganggu fungsi pencernaan, dan seseorang bisa kehilangan rasa nyaman saat makan dan minum.

    Oleh karena itu marilah kita kembali hidup sehat dan sopan dengan kembali ke pada adab dan akhlak Islam, jauh dari sikap meniru-niru gaya orang-orang yang tidak mendapat hidayah Islam.

    Sumber: Qiblati edisi 04 tahun II. Judul: Larangan Minum sambil berdiri, Hal 16

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 1 March 2020 Permalink | Balas  

    Sayangnya ALLAH pada Wanita 

    Masya ALLAH ! Demikian sayangnya ALLAH pada wanita

    Kaum feminis bilang susah jadi wanita (baca: muslimah), lihat saja peraturan dibawah ini:

    1. Wanita auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak) dibanding lelaki
    2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya..
    3. Wanita saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding lelaki
    4. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki
    5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak
    6. Wanita wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat pada isterinya
    7. Talak terletak di tangan suami dan bukan isteri
    8. Wanita kurang dalam beribadat karena adanya masalah haid dan nifas yang tak ada pada lelaki

    Itu sebabnya mereka tidak henti-hentinya berpromosi untuk”MEMERDEKAKAN WANITA”

    Pernahkah kita lihat sebaliknya (kenyataannya) ?

    1. Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan di tempat teraman dan terbaik.Sudah pasti intan permata tidak akan dibiarkan terserak bukan? Itulah perbandingannya dengan seorang wanita
    2. Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada bapaknya?
    3. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi tahukah harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, sementara apabila lelaki menerima warisan, Ia perlu/wajib juga menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anak
    4. Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi tahukah bahwa setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini, dan tahukah jika ia mati karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya
    5. Di akhirat kelak, seorang lelaki akan mempertanggungjawab -kan terhadap 4 wanita, yaitu : isterinya,ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya. Artinya, bagi seorang wanita tanggung-jawabterha dapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki, yaitu : suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya
    6. Seorang wanita boleh memasuki pintu syurga melalui pintu surga yang mana saja yang disukainya, cukup dengan 4 syarat saja, yaitu : shalat 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat kepada suaminya dan menjaga kehormatannya
    7. Seorang lelaki wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi wanita jika taat akan suaminya, serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH, maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata

    Masya ALLAH ! Demikian sayangnya ALLAH pada wanita

    Ingat firman-Nya, bahwa mereka tidak akan berhenti melakukan segala upaya, sampai kita ikut / tunduk kepada cara-cara / peraturan buatan mereka (emansipasi Ala western)

    Yakinlah, bahwa sebagai dzat yang Maha Pencipta, yang menciptakan kita, maka sudah pasti Ia yang Maha Tahu akan manusia, sehingga segala hukumNya / peraturanNya, adalah YANG TERBAIK bagi manusia dibandingkan dengan segala peraturan/hukum buatan manusia

    Jagalah isterimu karena dia perhiasan, pakaian dan ladangmu, sebagaimana Rasulullah pernah mengajarkan agar kita (kaum lelaki) berbuat baik selalu (gently) terhadap isterimu

    Adalah sabda Rasulullah bahwa ketika kita memiliki dua atau lebih anak perempuan, mampu menjaga dan mengantarkannya menjadi muslimah Yang baik, maka surga adalah jaminannya (untuk anak laki2 berlaku kaidah yang berbeda)

    Berbahagialah wahai para muslimah. Jangan risau hanya untuk apresiasi absurd dan semu di dunia ini Tunaikan dan tegakkan kewajiban agamamu, niscaya surga menantimu..! !

     
    • LM Taufiqurrahman 2:01 am on 3 Maret 2020 Permalink

      Ass wr wb. Mas Erva, penulis artikel ini siapa ya. Kok tidak ditampilkan ??

    • LM Taufiqurrahman 2:45 am on 3 Maret 2020 Permalink

      Kami sudah tayangkan melalui laman https://www.timurmerdeka.com harap di koreksi. Terima kasih.

    • erva kurniawan 9:28 am on 3 Maret 2020 Permalink

      Waalaikum salam wr.wb
      Tulisan ini kami dapatkan dari grup eramuslim, kiriman Saudara Yayan Suryana kepada Saudari Lina Tusofiah, sedangkan siapa penulisnya tidak disampaikan, silahkan ditayangkan

  • erva kurniawan 1:34 am on 29 February 2020 Permalink | Balas  

    Syahid di Hari Pernikahan 

    Syahid di Hari Pernikahan

    *** Syahdan, di Madinah, tinggallah seorang pemuda bernama Zulebid. Dikenal sebagai pemuda yang baik di kalangan para sahabat. Juga dalam hal ibadahnya termasuk orang yang rajin dan taat. Dari sudut ekonomi dan finansial, ia pun tergolong berkecukupan. Sebagai seorang yang telah dianggap mampu, ia hendak melaksanakan sunnah Rasul yaitu menikah. Beberapa kali ia meminang gadis di kota itu, namun selalu ditolak oleh pihak orang tua ataupun sang gadis dengan berbagai alasan.

    Akhirnya pada suatu pagi, ia menumpahkan kegalauan tersebut kepada sahabat yang dekat dengan Rasulullah. “Coba engkau temui langsung Baginda Nabi, semoga engkau mendapatkan jalan keluar yang terbaik bagimu”, nasihat mereka.

    Zulebid kemudian mengutarakan isi hatinya kepada Baginda Nabi. Sambil tersenyum beliau berkata: “Maukah engkau saya nikahkan dengan putri si Fulan?”

    “Seandainya itu adalah saran darimu, saya terima. Ya Rasulullah, putri si Fulan itu terkenal akan kecantikan dan kesholihannya, dan hingga kini ayahnya selalu menolak lamaran dari siapapun.

    “Katakanlah aku yang mengutusmu”, sahut Baginda Nabi.

    “Baiklah ya Rasul”, dan Zulebid segera bergegas bersiap dan pergi ke rumah si Fulan.

    Sesampai di rumah Fulan, Zulebid disambut sendiri oleh Fulan

    “Ada keperluan apakah hingga saudara datang ke rumah saya?” Tanya Fulan.

    “Rasulullah saw yang mengutus saya ke sini, saya hendak meminang putrimu si A.” Jawab Zulebid sedikit gugup.

    “Wahai anak muda, tunggulah sebentar, akan saya tanyakan dulu kepada putriku.” Fulan menemui putrinya dan bertanya, “bagaimana pendapatmu wahai putriku?”

    Jawab putrinya, “Ayah, jika memang ia datang karena diutus oleh Rasulullah saw, maka terimalah lamarannya, dan aku akan ikhlas menjadi istrinya.”

    Akhirnya pagi itu juga, pernikahan diselenggarakan dengan sederhana. Zulebid kemudian memboyong istrinya ke rumahnya. Sambil memandangi wajah istrinya, ia berkata,” duhai Anda yang di wajahnya terlukiskan kecantikan bidadari, apakah ini yang engkau idamkan selama ini? Bahagiakah engkau dengan memilihku menjadi suamimu?”

    Jawab istrinya, ” Engkau adalah lelaki pilihan rasul yang datang meminangku. Tentu Allah telah menakdirkan yang terbaik darimu untukku. Tak ada kebahagiaan selain menanti tibanya malam yang dinantikan para pengantin.”

    Zulebid tersenyum. Dipandanginya wajah indah itu ketika kemudian terdengar pintu rumah diketuk. Segera ia bangkit dan membuka pintu. Seorang laki-laki mengabarkan bahwa ada panggilan untuk berkumpul di masjid, panggilan berjihad dalam perang.

    Zulebid masuk kembali ke rumah dan menemui istrinya. “Duhai istriku yang senyumannya menancap hingga ke relung batinku, demikian besar tumbuhnya cintaku kepadamu, namun panggilan Allah untuk berjihad melebihi semua kecintaanku itu. Aku mohon keridhoanmu sebelum keberangkatanku ke medan perang. Kiranya Allah mengetahui semua arah jalan hidup kita ini.”

    Istrinya menyahut, “Pergilah suamiku, betapa besar pula bertumbuhnya kecintaanku kepadamu, namun hak Yang Maha Adil lebih besar kepemilikannya terhadapmu. Doa dan ridhoku menyertaimu”

    ***

    Zulebid lalu bersiap dan bergabung bersama tentara muslim menuju ke medan perang. Gagah berani ia mengayunkan pedangnya, berkelebat dan berdesing hingga beberapa orang musuh pun tewas ditangannya. Ia bertarung merangsek terus maju sambil senantiasa mengumandangkan kalimat Tauhi…ketika sebuah anak panah dari arah depan tak sempat dihindarinya. Menancap tepat di dadanya.

    Zulebid terjatuh, berusaha menghindari anak panah lainnya yang berseliweran di udara. Ia merasa dadanya mulai sesak, nafasnya tak beraturan, pedangnya pun mulai terkulai terlepas dari tangannya. Sambil bersandar di antara tumpukan korban, ia merasa panggilan Allah sudah begitu dekat. Terbayang wajah kedua orangtuanya yang begitu dikasihinya. Teringat akan masa kecilnya bersama-sama saudaranya. Berlari-larian bersama teman sepermainannya. Berganti bayangan wajah Rasulullah yang begitu dihormati, dijunjung dan dikaguminya. Hingga akhirnya bayangan rupawan istrinya.

    Istrinya yang baru dinikahinya pagi tadi. Senyum yang begitu manis menyertainya tatkala ia berpamitan. Wajah cantik itu demikian sejuk memandangnya sambil mendoakannya. Detik demi detik, syahadat pun terucapkan dari bibir Zulebid. Perlahan-lahan matanya mulai memejam, senyum menghiasinya….Zulebid pergi menghadap Ilahi, gugur sebagai syuhada.

    ***

    Senja datang Angin mendesau, sepi… Pasir-pasir beterbangan… Berputar-putar…

    Rasulullah dan para sahabat mengumpulkan syuhada yang gugur dalam perang. Di antara para mujahid tersebut terdapatlah tubuh Zulebid yang tengah bersandar di tumpukan mayat musuh. Akhirnya dikuburkanlah jenazah zulebid di suatu tempat. Berdampingan dengan para syuhada lain. Tanpa dimandikan… Tanpa dikafankan…

    Tanah terakhir ditutupkan ke atas makam Zulebid. Rasulullah terpekur di samping pusara tersebut. Para sahabat terdiam membisu. Sejenak kemudian terdengar suara Rasulullah seperti menahan isak tangis. Air mata berlinang di dari pelupuk mata beliau Lalu beberapa waktu kemudian beliau seolah-olah menengadah ke atas sambil tersenyum. Wajah beliau berubah menjadi cerah. Belum hilang keheranan shahabat, tiba-tiba Rasulullah menolehkan pandangannya ke samping seraya menutupkan tangan menghalangi arah pandangan mata beliau.

    Akhirnya keadaan kembali seperti semula. Para shahabat lalu bertanya-tanya, ada apa dengan Rasulullah. “Wahai Rasulullah, mengapa di pusara Zulebid engkau menangis?” Jawab Rasul, “Aku menangis karena mengingat Zulebid. Oo..Zulebid, pagi tadi engaku datang kepadaku minta restuku untuk menikah dan engkau pun menikah hari ini juga. Ini hari bahagia. Seharusnya saat ini Engkau sedang menantikan malam Zafaf, malam yang ditunggu oleh para pengantin.”

    “Lalu mengapa kemudian Engkau menengadah dan tersenyum?” Tanya sahabat lagi. ” Aku menengadah karena kulihat beberapa bidadari turun dari langit dan udara menjadi wangi semerbak dan aku tersenyum karena mereka datang hendak menjemput Zulebid,” Jawab Rasulullah.

    “Dan lalu mengapa kemudian Engkau memalingkan pandangannya dan menoleh ke samping?” Tanya mereka lagi.

    “Aku mengalihkan pandangan menghindar karena sebelumnya kulihat, saking banyaknya bidadari yang menjemput Zulebid, beberapa diantaranya berebut memegangi tangan dan kaki Zulebid. Hingga dari salah satu gaun dari bidadari tersebut ada yang sedikit tersingkap betisnya….”

    ***

    Di rumah, istri Zulebid menanti sang suami yang tak kunjung kembali. Ketika terdengar kabar suaminya telah menghadap sang ilahi Rabbi, Pencipta segala Maha Karya.

    Malam menjelang… Terlelap ia, sejenak berada dalam keadaan setengah mimpi dan dan nyata. Lamat-lamat ia seperti melihat Zulebid datang dari kejauhan. Tersenyum, namun wajahnya menyiratkan kesedihan pula. Terdengar Zulebid berkata, “Istriku, aku baik-baik saja. Aku menunggumu disini. Engkaulah bidadari sejatiku. Semua bidadari disini apabila aku menyebut namamu akan menggumamkan cemburu padamu…. “Dan kan kubiarkan engkau yang tercantik di hatiku.

    Istri Zulebid, terdiam. Matanya basah… Ada sesuatu yang menggenang disana.. Seperti tak lepas ia mengingat acara pernikahan tadi pagi.. Dan bayangan suaminya yang baru saja hadir.. Ia menggerakkan bibirnya.. “Suamiku, aku mencintaimu… Dan dengan semua ketentuan Allah ini bagi kita.. Aku ikhlas….”

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 28 February 2020 Permalink | Balas  

    Bencana Banjir 

    Berhati hatilah wahai saudaraku dengan Bencana Banjir

    Allah SWT menciptakan semua bencana dimuka bumi ini sudah pasti sebagai “peringatan” bagi kita semua, karena kesalahan dan ketidak pedulian kita diantaranya terhadap sampah dan limbah rumah tanggal.

    Allah SWT Maha Agung dengan kekuasaan Nya yang tiada terbatas dan Maha Menguasai segala sesuatunya.

    Allah SWT berfirman dalam  Al-Qur’an surat Al An’aam (6) ayat: 65

    “Dia-lah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas atau dari bawah kakimu,……”

    Dengan berbagai bencana, yang kita lihat kita alami dan kita dengar serta kita rasakan hanya dalam hitungan detik, Allah SWT dapat mengambil kembali apa saja yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita.

    Malapetaka dapat menyerang di mana saja, kapan saja. Ini merupakan sebuah petunjuk jelas bahwa tidak ada tempat di dunia yang dapat menjamin keamanan seseorang, sebagaimana yang telah Allah SWT katakan dalam Al-Qur’an :

    “Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?

    “Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?

    “Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. (QS. Al A’raaf, 7: 97-99)

    Air, yang dikaruniakan Nya kepada kita, dapat saja suatu waktu menjadi bencana dengan kehendak Allah, maka dari itu mari biasakan tidak membuang sampai di aliran sungai karena sama sama kita tahu bahwa sungai bukan untuk menghantarkan sampah dari satu titik ketitik lain melainkan untuk menghantarkan air jernih agar semua merasakan betapa nikmatnya serta betapa indahnya dengan pembagian pemerataan air dari hulu sampai ilir sungai dan betapa indahnya bila kita dapat sama sama merasakan keindahan , kejernihan serta melihat sungai dengan ikan ikan segar yang tidak tercemar dengan berbagai kotoran akibat proses pembusukan sampah yang dibuang dialiran sungai.

     
  • erva kurniawan 2:18 pm on 27 February 2020 Permalink | Balas  

    7 Keajaiban dalam Islam 

    7 Keajaiban dalam Islam

    Menara Pisa, Tembok Cina, Candi Borobudur, Taaj Mahal, Ka’bah, Menara Eiffel, dan Piramida di mesir, inilah semua keajaiban dunia yang kita kenal. Namun sebenarnya semua itu belum terlalu ajaib, karena di sana masih ada tujuh keajaiban dunia yang lebih ajaib lagi. Mungkin para pembaca bertanya-tanya, keajaiban apakah itu?

    Memang tujuh keajaiban lain yang kami akan sajikan di hadapan pembaca sekalian belum pernah ditayangkan di TV, tidak pernah disiarkan di radio-radio dan belum pernah dimuat di media cetak. Tujuh keajaiban dunia itu adalah:

    • Hewan Berbicara di Akhir Zaman

    Maha suci Allah yang telah membuat segala sesuatunya berbicara sesuai dengan yang Ia kehendaki. Termasuk dari tanda-tanda kekuasaanya adalah ketika terjadi hari kiamat akan muncul hewan melata yang akan berbicara kepada manusia sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an, surah An-Naml ayat 82,

    “Dan apabila perkataan Telah jatuh atas mereka, kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa Sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami”.

    Mufassir Negeri Syam, Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy berkomentar tentang ayat di atas, “Hewan ini akan keluar diakhir zaman ketika rusaknya manusia, dan mulai meninggalkan perintah-perintah Allah, dan ketika mereka telah mengganti agama Allah. Maka Allah mengeluarkan ke hadapan mereka hewan bumi. Konon kabarnya, dari Makkah, atau yang lainnya sebagaimana akan datang perinciannya. Hewan ini akan berbicara dengan manusia tentang hal itu”.[Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/498)]

    Hewan aneh yang berbicara ini akan keluar di akhir zaman sebagai tanda akan datangnya kiamat dalam waktu yang dekat. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Sesungguhnya tak akan tegak hari kiamat, sehingga kalian akan melihat sebelumnya 10 tanda-tanda kiamat: Gempa di Timur, gempa di barat, gempa di Jazirah Arab, Asap, Dajjal, hewan bumi, Ya’juj & Ma’juj, terbitnya matahari dari arah barat, dan api yang keluar dari jurang Aden, akan menggiring manusia”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2901), Abu Dawud dalam Sunan-nya (4311), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2183), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (4041)]

    • Pohon Kurma yang Menangis

    Adanya pohon kurma yang menangis ini terjadi di zaman Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , mengapa sampai pohon ini menangis? Kisahnya, Jabir bin Abdillah-radhiyallahu ‘anhu- bertutur, “Jabir bin Abdillah -radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Adalah dahulu Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- berdiri (berkhutbah) di atas sebatang kurma, maka tatkala diletakkan mimbar baginya, kami mendengar sebuah suara seperti suara unta dari pohon kurma tersebut hingga Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- turun kemudian beliau meletakkan tangannya di atas batang pohon kurma tersebut” .[HR.Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (876)]

    Ibnu Umar-radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Dulu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkhuthbah pada batang kurma. Tatkala beliau telah membuat mimbar, maka beliau berpindah ke mimbar itu. Batang korma itu pun merintih. Maka Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mendatanginya sambil mengeluskan tangannya pada batang korma itu (untuk menenangkannya)”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (3390), dan At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (505)]

    • Untaian Salam Batu Aneh

    Mungkin kalau seekor burung yang pandai mengucapkan salam adalah perkara yang sering kita jumpai. Tapi bagaimana jika sebuah batu yang mengucapkan salam. Sebagai seorang hamba Allah yang mengimani Rasul-Nya, tentunya dia akan membenarkan seluruh apa yang disampaikan oleh Rasul-Nya, seperti pemberitahuan beliau kepada para sahabatnya bahwa ada sebuah batu di Mekah yang pernah mengucapkan salam kepada beliau sebagaimana dalam sabdanya, Dari Jabir bin Samurah dia berkata, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Mekah yang mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diutus, sesungguhnya aku mengetahuinya sekarang”.[HR.Muslim dalam Shohih-nya (1782)].

    • Pengaduan Seekor Onta

    Manusia adalah makhluk yang memiliki perasaan. Dari perasaan itu timbullah rasa cinta dan kasih sayang di antara mereka. Akan tetapi ketahuilah, bukan hanya manusia saja yang memiliki perasaan, bahkan hewan pun memilikinya. Oleh karena itu sangat disesalkan jika ada manusia yang tidak memiliki perasaan yang membuat dirinya lebih rendah daripada hewan. Pernah ada seekor unta yang mengadu kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mengungkapkan perasaannya. Abdullah bin Ja’far-radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Pada suatu hari Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah memboncengku dibelakangnya, kemudian beliau membisikkan tentang sesuatu yang tidak akan kuceritakan kepada seseorang di antara manusia. Sesuatu yang paling beliau senangi untuk dijadikan pelindung untuk buang hajatnya adalah gundukan tanah atau kumpulan batang kurma. lalu beliau masuk kedalam kebun laki-laki Anshar. Tiba tiba ada seekor onta. Tatkala Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melihatnya, maka onta itu merintih dan bercucuran air matanya. Lalu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mendatanginya seraya mengusap dari perutnya sampai ke punuknya dan tulang telinganya, maka tenanglah onta itu. Kemudian beliau bersabda, “Siapakah pemilik onta ini, Onta ini milik siapa?” Lalu datanglah seorang pemuda Anshar seraya berkata, “Onta itu milikku, wahai Rasulullah”.

    Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dalam binatang ini, yang telah dijadikan sebagai milikmu oleh Allah, karena ia (binatang ini) telah mengadu kepadaku bahwa engkau telah membuatnya letih dan lapar”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (1/400), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (2/99-100), Ahmad dalam Al-Musnad (1/204-205), Abu Ya’la dalam Al-Musnad (3/8/1), Al-Baihaqiy dalam Ad-Dala’il (6/26), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqa (9/28/1). Lihat Ash-Shahihah (20)]

    • Kesaksian Kambing Panggang

    Kalau binatang yang masih hidup bisa berbicara adalah perkara yang ajaib, maka tentunya lebih ajaib lagi kalau ada seekor kambing panggang yang berbicara. Ini memang aneh, akan tetapi nyata. Kisah kambing panggang yang berbicara ini terdapat dalam hadits berikut:

    Abu Hurairah-radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menerima hadiah, dan tak mau makan shodaqoh. Maka ada seorang wanita Yahudi di Khoibar yang menghadiahkan kepada beliau kambing panggang yang telah diberi racun. Lalu Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun memakan sebagian kambing itu, dan kaum (sahabat) juga makan. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Angkatlah tangan kalian, karena kambing panggang ini mengabarkan kepadaku bahwa dia beracun”. Lalu meninggallah Bisyr bin Al-Baro’ bin MA’rur Al-Anshoriy. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengirim (utusan membawa surat), “Apa yang mendorongmu untuk melakukan hal itu?” Wanita itu menjawab, “Jika engkau adalah seorang nabi, maka apa yang aku telah lakukan tak akan membahayakan dirimu. Jika engkau adalah seorang raja, maka aku telah melepaskan manusia darimu”. Kemudian Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan untuk membunuh wanita itu, maka ia pun dibunuh. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda ketika beliau sakit yang menyebabkan kematian beliau,”Senantiasa aku merasakan sakit akibat makanan yang telah aku makan ketika di Khoibar. Inilah saatnya urat nadi leherku terputus”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4512). Di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Shohih Sunan Abi Dawud (hal.813), dengan tahqiq Masyhur Hasan Salman]

    • Batu yang Berbicara

    Setelah kita mengetahu adanya batu yang mengucapkan salam, maka keajaiban selanjutnya adalah adanya batu yang berbicara di akhir zaman. Jika kita pikirkan, maka terasa aneh, tapi demikianlah seorang muslim harus mengimani seluruh berita yang disampaikan oleh Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, baik yang masuk akal, atau tidak. Karena Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidaklah pernah berbicara sesuai hawa nafsunya, bahkan beliau berbicara sesuai tuntunan wahyu dari Allah Yang Mengetahui segala perkara ghaib.

    Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Kalian akan memerangi orang-orang Yahudi sehingga seorang diantara mereka bersembunyi di balik batu. Maka batu itu berkata, “Wahai hamba Allah, Inilah si Yahudi di belakangku, maka bunuhlah ia”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (2767), dan Muslim dalam Shohih-nya (2922)]

    Al-Hafizh Ibnu Hajar-rahimahullah- berkata, “Dalam hadits ini terdapat tanda-tanda dekatnya hari kiamat, berupa berbicaranya benda-benda mati, pohon, dan batu. Lahiriahnya hadits ini (menunjukkan) bahwa benda-benda itu berbicara secara hakikat”.[Lihat Fathul Bari (6/610)]

    • Semut Memberi Komando

    Mungkin kita pernah mendengar cerita fiktif tentang hewan-hewan yang berbicara dengan hewan yang lain. Semua itu hanyalah cerita fiktif belaka alias omong kosong. Tapi ketahuilah wahai para pembaca, sesungguhnya adanya hewan yang berbicara kepada hewan yang lain, bahkan memberi komando, layaknya seorang komandan pasukan yang memberikan perintah. Hewan yang memberi komando tersebut adalah semut. Kisah ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Qur’an,

    “Dan Sulaiman Telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai manusia, kami Telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) Ini benar-benar suatu kurnia yang nyata”.Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.Maka dia (Sulaiman) tersenyum dengan tertawa Karena (mendengar) perkataan semut itu. dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah Aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang Telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah Aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (QS.An-Naml: 16-19).

    Inilah beberapa perkara yang lebih layak dijadikan “Tujuh Keajaiban Dunia” yang menghebohkan, dan mencengangkan seluruh manusia. Orang-orang beriman telah lama meyakini dan mengimani perkara-perkara ini sejak zaman Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sampai sekarang. Namun memang kebanyakan manusia tidak mengetahui perkara-perkara itu. Oleh karena itu, kami mengangkat hal itu untuk mengingatkan kembali, dan menanamkan aqidah yang kokoh di hati kaum muslimin

    Diambil dari http://www.almakassari.com

     
  • erva kurniawan 1:02 am on 16 February 2020 Permalink | Balas  

    Jenghis Khan, Menziarahi yang Dipilih Langit Abadi 

    Jenghis Khan, Menziarahi yang Dipilih Langit Abadi

    Oleh Katamsi Ginano*

    Sumber: Ruang Baca Koran Tempo (Edisi 57, Januari 2009)

    MONGOLIA adalah hamparan padang rumput sejauh mata memandang. Tersuruk di jantung Asia, berbatasan dengan Rusia di Utara dan Republik Rakyat Cina di Selatan, wilayah ini bukanlah kawasan yang ramah dihuni. Dikepung pengunungan di Barat dan Utara serta Gurun Gobi di Selatan, mayoritas penduduknya menjalani kehidupan pengembara sebagai pengembala dan pemburu.

    Alam yang keras menempa orang-orang Mongol. Siksaan lalat yang menyerbu di musim panas, atau gigil menembus sumsum di musim dingin, hanya ujian kecil bagi ketangguhan mereka. Di banyak kisah, orang Mongol dilukiskan sangat mahir menunggang kuda dan melesatkan anak panah dari busur berujung lengkung paduan tanduk, kayu, dan otot hewan.

    Dari hamparan padang rumput yang kini dikenal sebagai Avraga (di kaki pengunungan Khenti, dialiri dua sungai, Onon dan Kherlen) di Mongolia Tengah, di bawah pimpinan Temujin yang kelak dikenal dengan nama Jenghis Khan–atau Genghis Khan–lebih delapan abad silam para prajurit Mongol menyerbu wilayah sekitar. Menancapkan kekuasan, mendirikan kerajaan daratan terbesar yang pernah dikenal peradaban, yang di abad ke-21 ini meliputi negara-negara di Asia Tengah, Cina, Tibet, Rusia, Iran, Afganistan, Turki, Syiria, Ukraina, Hungaria, hingga Polandia.

    Apakah rahasianya karena busur yang di zamannya tergolong temuan jenius dipadu kepiawaian menunggang kuda? Ketangguhan hasil tempaan budaya padang rumput? Ataukah bangsa Mongol, lewat Temujin, memang ditakdirkan oleh kekuasaan Langit Abadi menjadi penguasa dunia? Berbekal manuskrip Sejarah Rahasia Bangsa Mongol (The Secret History of the Mongols) yang diperkirakan ditulis pada 1228 oleh Shigi, di musim panas 2002 sejarawan dan travel writer Inggris, John Man, menjejak ibu kota Mongolia, Ulan Bator, lalu ke Avraga mengawali napak-tilas jejak Jenghis Khan dan sejarah penalukkan yang dipatri bangsanya.

    Di kalangan yang meminati studi tentang Mongol dan Asia umumnya (terutama Cina), Man adalah sejarawan dan penulis yang dihormati. Buku-buku yang dia tulis, semisal Gobi: Tracking the Desert (Yale University Press, 2001) atau Gutenberg: How One Man Remade the World with Words (Wiley, 2002), dipuji karena penulisannya yang menjalinkan masa lalu lewat riset pustaka saksama dengan kenyataan in situ hari ini di mana peristiwa sejarahnya terjadi. Boleh dibilang, di tangan Man fakta sejarah tetap dingin dan rigid, tapi peristiwa yang mengiringinya menjadi hidup dan berwarna.

    Jenghis Khan: Legenda Sang penakluk dari Mongolia ditulis dengan pendekatan yang kurang lebih sama. Man memang menjadikan Sejarah Rahasia Bangsa Mongol sebagai rujukan utama, namun dengan ditopang sejumlah literatur kredibel, termasuk riset terakhir pemetaan DNA yang tersebar di seluruh Eurasia. Dan yang terpenting: napak-tilasnya menelusuri jejak Temujin dari bayi yang lahir dengan segumpal darah di tangan, menjadi Jenghis Khan, hingga kematian dan makamnya yang tetap jadi misteri.

    Man membawa kita memasuki dunia Mongol dan padang rumputnya, tempat Temujin dilahirkan sekitar 1206 dari pasangan Yesugai dan Hoelun, dengan menggambarkan langit biru tenang yang sesekali dipecah oleh nyanyian burung skylark, sekumpulan ger (tenda khas Mongol), kuda-kuda, dan hewan gembalaan. Yang makanan terlezat adalah Kaserol Marmut dipadu vodka.

    Kehilangan ayah yang tewas diracun di usia delapan tahun, Temujin bersama lima saudaranya hanya diasuh sang Ibu dalam tekanan kemiskinan dan kelaparan. Begitu miskinnya, bahkan hanya karena memperebutkan burung lark dan ikan kecil tangkapannya, diusia 11 tahun Temujin tega membunuh saudara seayahnya, Begter.

    Di usia 12 tahun dia nyaris tewas saat melarikan diri dari penahanan suku lawan. Keberuntungan yang sama berulang saat berusia 20 tahun sukunya diserang salah satu suku terkuat, Merkit. Kendati Temujin berhasil meloloskan diri, istrinya, Borte, ditangkap dan ditawan.

    Peristiwa itu menjadi titik balik lahirnya Jenghis Khan, yang dalam pelariannya mendaki puncak Burkhan Kaldun, mengakui, “Aku adalah seekor kutu…. Tapi aku dilindungi.” Sang “Kutu” inilah yang lalu mengumpulkan pengikut dan menyerang balik Suku Merkit, memorak-porandakan mereka, membebaskan Borte, dan mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin klan kedua terkuat di Mongolia di usia 30 tahun.

    Setelah itu Temujin bagai tak terhentikan. Bersama para sekutu dia menaklukkan dan menyatukan klan-klan lain lewat pertempuran yang sekali lagi hampir membuatnya terbunuh. Penyatuan inilah yang kemudian manahbiskan dia sebagai pemimpin tertinggi bangsa Mongol dengan gelar Jenghis Khan.

    Sukses menyatukan seluruh suku di Mongolia, Jenghis Khan memalingkan sasaran ke Kerajaan Xi Xia, yang terletak di sisi lain Gurun Gobi. Sejaran mencatat, kutip Man, penaklukkan Xi Xia adalah etnosida sangat sukses karena nyaris berhasil menghilangkan jejak apa pun yang berkaitan dengan kerajaan ini, termasuk bahasanya.

    Usai memapas Xi Xia, Jenghis Khan melabrak Kerajaan Jin yang berpusat di Beijing. Bergerak cepat dengan kuda-kuda kecil tapi gesit, bersenjata panah busur lengkung, pasukan Mongol mendesak penguasa Jin melarikan diri, meninggalkan kota-kota yang porak-poranda dan tumpukan mayat menggunung.

    Dari Beijing, Jenghis Khan menoleh ke dunia muslim yang ketika itu berpusat di Baghad, ke kerajaan yang dikenal dengan nama Khwarezm (saat ini meliputi sebagian besar wilayah perbatasan antara Uzbekistan dan Turkmenistan serta sebagian Iran dan Afganistan). Tak terhentikan, terutama karena kebodohan dan kepongahan penguasa, tentara Mongol menginvasi kota-kota utama pusat peradaban Islam: Samarkand, Bukhara, Urgench, Khojend, Merv, Nishapur, dan Gurganj.

    Di Merv pasukan Mongol bukan hanya membumi-hanguskan kota ini, tetapi juga membantai tak kurang dari 1,3 juta penduduknya. Jumlah yang kurang lebih sama juga menimpa Urgench. Begitu besarnya jumlah manusia yang tewas, dengan motivasi bukan karena ras atau agama, melainkan bersifat lokal dan strategis, Man mendifinisikan pembantaian jutaan pemeluk Islam itu bukan genosida, melainkan urbisida.

    Setelah menaklukkan Khwarezm, Jenghis Khan berpaling ke Eropa, menginvasi kota-kota utama di Rusia, Polandia, dan Hungaria, mendominasi wilayah yang membentang dari Samudera Pasifik hingga Laut Kaspia. Hanya kematiannyalah (diperkirakan terjadi pada 1227) yang sejenak menghentikan operasi penalukkan Mongol — kemudian dilanjutkan pewarisnya, Ogedei, kemudian cucunya, Kublai (Khubilai) Khan, yang nantinya menjadi pendiri salah satu dinasti terbesar Cina, Dinasti Yuan.

    Kematian dan juga tempat Jenghis Khan dikuburkan diakui Man tetap merupakan teka-teki tak terpecahkan. Konon dia tewas oleh sebab luka tikam dari perempuan yang dipersembahkan untuknya. Versi lain menyebut Jenghis Khan pralaya karena diare akut.

    Penyebab kematian Jenghis Khan tak beda dengan kesimpang-siuran letak makamnya. Salah satu versi menyebutkan, kemungkinan dia dikubur di Ordos, di sebelah selatan lengkungan besar Sungai Kuning, di mana saat ini berdiri Mausoleum Jenghis Khan. Spekulasi lain adalah di Burkhan Khaldun.

    Misteri di balik kematian dan makamnya justru memperkokoh kepercayaan orang Mongol, terutama para penganut “Sekte Jenghis Khan”, yang kini memujanya sebagai Nabi atau Manusia Setengah Dewa. Mengutip teolog Sekte Jenghis Khan, Sharaldai, Man menulis: “Jenghis Khan adalah ruh bagi kita semua. Kita diciptakan oleh Langit Abadi. Jika kita mengikuti jalannya, kita semua akan menjadi abadi.”

    Man, tak pelak, memang mengajak kita bertamasya memahami Mongolia, budaya, spiritualismenya, dan akhirnya menemukan jawaban mengapa “sang Kutu” Temujin akhirnya bermetamorfosis menjadi Nabi Langit Abadi. Mengapa Jenghis Khan menjadi sejarah, legenda, mitos, hingga dongeng bukan hanya bagi bangsa Mongol. Mengapa dia jadi sosok paradoksal: antara kejam, disiplin, cerdas, ahli strategis, sederhana, bersahaya, dan visioner. Dan mengapa Rusia dan Cina yang bergantian menguasai Mongolia modern tak kuasa mengurangi pengaruh Jenghis Khan, berabad setelah kematiannya.

    Dari kualitas riset, buku ini belum sebanding dengan 1421: Saat China Menemukan Dunia (Alvabet, 2007) yang ditulis Gavin Menzies. Namun keunggulan Man adalah pada pilihan gaya penulisan yang membuat buku ini sama indahnya dengan sejarah Nabi Muhammad yang ditulis Martin Lings, Muhammad (Serambi, Cetakan V, 2008) atau riwayat penderita skizofrenia penerima Nobel Ekonomi 1994, John Forbes Nash, Jr., karya Sylvia Nasar, A Beautiful Mind (Gramedia Pustaka Utama, 2005).

    Keunggulan lain Man adalah dia masih terus mengekplorasi Jenghis Khan dan para penerusnya. Yang terakhir–semoga tak lama lagi beredar dalam edisi Indonesia–tentang sang cucu pendiri Dinasti Yuan, Kublai Khan, yang diterbitkan Bantam Press pada 2007.

    • Katamsi Ginano, praktisi komunikasi dan business development, juga pecinta buku.
     
  • erva kurniawan 1:54 am on 15 February 2020 Permalink | Balas  

    Nasihat Untuk Wanita 

    Nasihat Untuk Wanita

    Untuk membentuk bibir yang menawan, ucapkan kata-kata kebaikan. Untuk mendapatkan mata yang indah, carilah kebaikan pada setiap orang yang anda jumpai. Untuk mendapatkan bentuk badan yang langsing, berbagilah makanan dengan mereka yang kelaparan.

    Untuk mendapatkan sikap tubuh yang indah, berjalanlah dengan segala ilmu pengetahuan dan anda tidak akan pernah berjalan sendirian. Manusia, jauh melebihi segala ciptaan lain, perlu senantiasa berubah, diperbaharui, dibentuk kembali, dan diampuni. Jadi, jangan pernah kucilkan seseorang dari hati anda.

    Apabila anda sudah melakukan semuanya itu, ingatlah senantiasa, jika suatu ketika anda membutuhkan pertolongan, akan senantiasa ada tangan terulur. Dan dengan bertambahnya usia anda, anda akan semakin mensyukuri telah diberi dua tangan, satu untuk menolong diri anda sendiri dan satu lagi untuk menolong orang lain.

    Kecantikan wanita bukan terletak pada pakaian yang dikenakannya, bukan pada bentuk tubuhnya, atau cara dia menyisir rambutnya. Kecantikan wanita terdapat pada matanya, cara dia memandang dunia. Karena di matanyalah terletak gerbang menuju ke setiap hati manusia, di mana cinta dapat berkembang.

    Kecantikan wanita, bukan pada kehalusan wajahnya, Tetapi kecantikan yang murni, terpancar pada jiwanya, Yang dengan penuh kasih memberikan perhatian dan cinta yang dia berikan. Dan kecantikan itu akan tumbuh sepanjang waktu.

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 14 February 2020 Permalink | Balas  

    4 Konsep Dakwah 

    4 Konsep Dakwah

    Berbicara tentang hakikat adalah berbicara sesuatu secara mendasar. Seorang penyanyi dangdut dengan lenggak lenggok erotik  di atas panggung menyanyikan lagu ajakan berbakti kepada Alloh SWT, adakah ia seorang da’i ? Jawabannya jelas, yaitu bahwa penyanyi itu membawakan lirik-lirik dakwah, tetapi pada hakikatnya ia tidak sedang berdakwah.  Dakwah bukan hanya bunyi kata-kata, tetapi ajakan psikologis yang  bersumber dari jiwa da’i. Gebyar-gebyar aktifitas dakwah banyak kita jumpai, tetapi hakikinya, itu belum tentu suatu dakwah, sebaliknya boleh jadi justeru kontra dakwah. Lalu dakwah itu apa? Hakikat dakwah bisa dilihat dari sang da’i, bisa juga dari makna yang dipersepsi oleh masyarakat yang menerima dakwah.

    1. Dakwah sebagai tabligh. Tabligh artinya menyampaikan, orangnya disebut muballigh. Dakwah sebagai tabligh wujudnya adalah muballigh menyampaikan materi dakwah (ceramah) kepada masyarakat. Materi dakwah bisa berupa keterangan, informasi, ajaran, seruan atau gagasan. Tabligh biasanya dilakukan dari atas mimbar, baik di masjid, di majlis taklim atau di tempat lain. Pusat perhatian tabligh adalah pada menyampaikan, illa al balagh, setelah itu bagaimana respond masyarakat sudah tidak lagi menjadi tanggungjawab muballigh. Bagi masyarakat, tabligh yang tidak jelas hanya bermakna bunyi-bunyian, tabligh berupa informasi akan menghasilkan pengertian, tabligh berupa renungan bisa menjadi penghayatan, dan dakwah berupa gagasan bisa menggelitik masyarakat untuk terus berfikir.

    Bagi muballigh, menyampaikan materi pesan Islam yang ia sendiri tidak faham, pada hakikatnya ia adalah kaset yang tak berjiwa. Kekuatan tabligh adalah jika sang muballigh benar-benar menjadi fa‘il (subyek), menjadi pelaku yang merasa ter¬panggil tanggung jawabnya untuk melakukan tabligh. Banyak muballigh yang tidak menjadi fa‘il, tetapi menjadi maf‘ul (obyek), Ia tidak memiliki program tetapi diprogram oleh orang lain. Ia hanya bekerja memenuhi pesanan pasar, yakni menunggu undangan tabligh. Fa‘il jelas prestasinya, tetapi maf‘ul susah diukur prestasinya.

    1. Dakwah Sebagai Ajakan. Orang akan tertarik kepada ajakan jika tujuannya menarik. Oleh karena itu da’i harus bisa merumuskan tujuan kemana masyarakat akan diajak. Ada dua tujuan, makro dan mikro. Tujuan makro cukup jelas yaitu mengajak manusia kepada kebahagiaan dunia akhirat. Da’i dan muballigh pada umumnya tidak pandai merumuskan tujuan mikro, tujuan jangka pendek yang mudah terjangkau, yang menarik hati masyarakatnya.
    2. Dakwah sebagai pekerjaan menanam. Berdakwah juga mengandung arti mendidik manusia agar mereka bertingkahlaku sesuai dengan nilai-nilai Islam. Mendidik adalah pekerjaan menanamkan nilai-nilai ke dalam jiwa manusia. Nilai-nilai yang ditanam dalam dakwah adalah keimanan, kejujuran, keadilan, kedisiplinan, kasih sayang, rendah hati dan nilai-akhlak mulia lainnya. Laiknya pekerjaan menanam, benihnya harus unggul, tanahnya harus subur, disiram dan dijauhkan dari hama serta butuh waktu lama hingga benih itu tumbuh berkembang menjadi rumput hijau yang indah atau menjadi pohon tinggi yang rindang dan berbuah.

    Guru di sekolah (dan lembaga pendidikkannya)  adalah da’i yang berdakwah berupa menanam. Sudah barang tentu tidak semua guru menjadi da’i. Guru yang da’i adalah guru yang sudah bisa menjadi pendidik, bukan guru yang sekedar menjadi pengajar. Pengajar hanya mentransfer pengetahuan, sedangkan pendidik mentranfer pola tingkah laku atau kebudayaan.

    1. Dakwah berupa akulturasi budaya. Dakwahnya Wali Songo di Pulau Jawa merupakan contoh konkrit dakwah akulturasi budaya. Para Wali tidak mengubah bentuk-bentuk tradisi masyarakat Jawa, tetapi mengganti isinya. Tradisi selamatan tiga hari, tujuh hari, seratus hari, dulunya adalah tradisi masyarakat Jawa jika ada keluarganya yang meninggal dunia. Dalam acara itu diisi dengan begadang, makan, judi dan minuman keras.

    Oleh para wali, bentuknya dipertahankan, makannya dipertahankan tetapi yang maksiat diganti dengan hal-hal yang Islami, yakni membaca kalimah-kalimah tahlil. Makananyapun diganti berupa nasi tumpeng yang melambangkan tauhid, dan setiap orang pulang dari tahlilan dengan membawa brekat (berkah). Dengan akulturasi budaya, orang Jawa tanpa disadari kemudian telah menjadi Islam. Kelemahannya, sinkretisme tidak bisa dihindar.

    1. Dakwah berupa pekerjaan membangun. Secara makro dakwah juga bermakna membangun, membangun apa? Sebagaimana dicontohkan dalam sejarah, dakwah juga bisa dimaksud untuk membangun tata dunia Islam (daulah Islamiyah), lebih kecil lagi membangun negara Islam (nasional), lebih kecil lagi membangun masyarakat Islam atau Islami, dan lebih kecil lagi membangun komunitas Islam.

    Dalam membangun sering tak bisa menghindar dari membongkar bangunan lama, dan ini sering bermakna konflik. Laiknya pekerjaan mendirikan bangunan, dakwah dalam bentuk membangun harus melalui tahapannya. Pertama ada desain atau maket dari bangunan yang akan didirikan. Kedua, harus dilakukan uji tata guna tanah (land use), dalam hal ini budaya setempat, yang akan menjadi pijakan berdirinya sebuah bangunan.

    Pekerjaan pertama dan kedua bisa bertukar tempat urutannya, artinya ada konsep dulu baru mencari tempat atau konsep dibangun sesuai dengan keadaan tanah. Ketiga, harus ada tenaga ahli, dari arsitek hingga kenet tukang batu, dan keempat tersedianya bahan bangunan. Membangun negara Islam tanpa konsep yang telah diuji sahih hanya akan melahirkan madlarrat, sebagaimana juga membangun tanpa tenaga ahli dan biaya. Bagi kaum muslimin Indonesia, yang paling relevan adalah membangun komunitas Islam dan masyarakat Islam atau masyarakat Islami, karena Indonesia tanahnya (budayanya) kondusif, konsepnya tinggal menyempurnakan, tenaga SDM nya relatif ada dan biaya tidak terlalu mahal. Wallohu a‘lam.

    ***

    By: agussyafii

     

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 13 February 2020 Permalink | Balas  

    Pengertian Ukhuwah 

    Pengertian Ukhuwah

    By: Prof. Dr. Achmad Mubarok MA

    Sungguh bahwa Allah telah menempatkan manusia secara keseluruhan sebagai Bani Adam dalam kedudukan yang mulia, walaqad karramna bani Adam (Q/17:70). Manusia diciptakan Allah SWT dengan  identitas yang berbeda-beda agar mereka saling mengenal dan saling memberi manfaat antara yang satu dengan yang lain (Q/49:13). Tiap-tiap ummat diberi aturan dan jalan (yang berbeda), padahal seandainya Allah mau, seluruh manusia bisa disatukan dalam kesatuan ummat.

    Allah SWT menciptakan perbedaan itu untuk memberi peluang berkompetisi secara sehat dalam menggapai kebajikan, fastabiqul khairat (Q/5;48). Oleh karena itu sebagaimana dikatakan oleh Rasul, agar seluruh manusia itu menjadi saudara antara yang satu dengan yang lain, wakunu ‘ibadallahi ikhwana. (Hadis Bukhari)

    Dalam bahasa Arab, ada kalimat ukhuwwah (persaudaraan) , ikhwah (saudara seketurunan) dan ikhwan (saudara tidak seketurunan) .  Dalam al Qur’an  kata akhu (saudara) digunakan untuk menyebut saudara kandung atau seketurunan (Q/4:23), saudara sebangsa (Q/7:65),  saudara semasyarakat walau berselisih faham (Q/38;23) dan saudara seiman (Q/49;10). Al Qur’an bukan hanya menyebut persaudaraan kemanusiaan (ukhuwwah insaniyyah), tetapi bahkan menyebut binatang dan burung sebagai ummat seperti ummat manusia (Q/6;38) sebagai saudara semakhluk (ukhuwwah makhluqiyyah) .

    Istilah ukhuwwah Islamiyyah bukan bermakna persaudaraan  antara orang-orang Islam, tetapi persaudaraan yang didasarkan pada ajaran Islam atau persaudaraan yang bersifat Islami. Oleh karena cakupan ukhuwwah Islamiyyah bukan hanya menyangkut sesama orang Islam tetapi juga menyangkut persaudaraan dengan non muslim, bahkan dengan makhluk yang lain. Seorang pemilik kuda misalnya, tidak boleh membebani kudanya dengan beban yang melampaui batas kewajaran. Ajaran ini termasuk dalam ajaran ukhuwwah Islamiyyah bagaimana seorang muslim bergaul dengan hewan kuda yang dimilikinya.

    Dari ayat-ayat tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa Al Qur’an (dan Hadis) sekurang-kurangnya memperkenalkan empat macam ukhuwwah; yaitu;

    1. Ukhuwwah ‘ubudiyyah; persaudaraan karena sama-sama makhluk yang tunduk kepada Allah.
    2. Ukhuwwah insaniyyah atau basyariyyah, persau¬daraan karena sama-sama sebagai manusia secara keseluruhan.
    3. Ukhuwwah wathaniyyah wa an nasab. Persaudaraan karena keterikatan keturunan dan kebangsaan.
    4. Ukhuwwah diniyyah, persaudaraan karena seagama.

    Bagaimana  ukhuwwah berlangsung, tak lepas dari faktor penunjang. Faktor penunjang yang signifi¬kan membentuk persaudaraan adalah persamaan. Semakin banyak persamaannya, baik persamaan rasa maupun persamaan cita-cita maka semakin kokoh ukhuwwahnya. Ukhuwwah biasanya melahirkan aksi solidaritas. Contohnya, di antara kelompok masyarakat yang sedang berselisih, segera terjalin persaudaraan ketika semuanya menjadi korban banjir, karena banjir menyatukan  perasaan, yakni sama-sama merasa menderita.Kesamaan perasaan itu kemudian memunculkan kesadaran untuk saling membantu.

    Petunjuk Al Qur’an Tentang Ukhuwwah

    1. Tetaplah berkompetisi secara sehat dalam mela¬kukan kebajikan, meski mereka berbeda-beda agama, ideologi, status; fastabiqul khairat (Q/5;48). Jangan berfikir menjadikan manusia dalam keseragaman, memaksa orang lain untuk ber¬pendirian seperti kita misalnya, karena Tuhan menciptakan perbedaan itu sebagai rahmat, untuk menguji mereka siapa diantara mereka yang mmberikan kontribusi terbesar dalam kebajikan.
    2. Memelihara amanah ( tanggung jawab) sebagai khalifah Allah di bumi, di mana manusia dibebani keharusan menegakkan kebenaran dan keadilan (Q/38;26), serta memelihara keseimbangan lingkungan alam (Q/30:41).
    3. Kuat pendirian tetapi menghargai pendirian orang lain. Lakum dinukum waliya din (Q/112;4), tidak perlu bertengkar dengan asumsi bahwa kebenaran akan terbuka nanti di hadapan Tuhan (Q/42:15).
    4. Meski berbeda ideologi dan pandangan, tetapi harus berusaha mencari titik temu, kalimatin sawa, tidak bermusuhan, seraya mengakui eksistensi masing-masing (Q;3;64).
    5. Tidak mengapa bekerjasama dengan pihak yang berbeda pendirian, dalam hal kemaslahatan umum, atas dasar saling menghargai eksistensi, berkeadilan dan tidak saling menimbulkan kerugian (Q/60;8). Dalam hal kebutuhan pokok, (mengatasi kelaparan, bencana alam, wabah penyakit dsb) solidaritas sosial dilaksanakan tanpa memandang agama, etnik atau identitas lainya (Q/2:272).
    6. Tidak memandang rendah (mengolok-olok) kelompok lain, tidak pula meledek atau membenci mereka (Q/49:11).
    7. Jika ada perselisihan diantara kaum beriman, maka islahnya haruslah merujuk kepada petunjuk Al Qur’an dan Sunnah Nabi (Q/4;59).

    Al Qur’an menyebut bahwa sanya pada hakekat¬nya orang mu’min itu bersaudara (seperti saudara sekandung), innamal mu’minuna ikhwah (Q/49;10). Hadis Nabi bahkan memisalkan hubungan antara mukmin itu bagaikan hubungan anggauta badan dalam satu tubuh dimana jika ada satu anggauta badan menderita sakit, maka seluruh anggauta badan lainnya solider ikut merasakan sakitnya dengan gejala demam dan tidak bisa tidur. Nabi juga mengingatkan bahwa  hendaknya diantara sesama manusia tidak mengem¬bangkan fikiran negatif (buruk sangka), tidak mencari-cari kesalahan orang lain, tidak saling mendengki, tidak saling membenci, tidak saling membelakangi, tetapi kembangkanlah persaudaraan. (H R Abu Hurairah).

    Meski demikian, persaudaraan dan solidaritasnya harus berpijak kepada kebenaran, bukan mentang-mentang saudara lalu buta terhadap masalah. Al Qur’an mengingatkan kepada orang mu’min; agar tidak tergoda untuk melakukan perbuatan melampaui batas ketika orang lain melakukan hal yang sama kepada mereka. Sesama mukmin diperintakan untuk bekerjasama dalam hal kebajikan dan taqwa dan dilarang bekerjasama dalam membela perbuatan dosa dan permusuhan, Ta‘awanu ‘alal birri wat taqwa wala ta‘awanu ‘alal itsmi wal ‘udwan. (Q/5;2). Wallohu a‘lamu bissawab.

     
  • erva kurniawan 9:48 am on 12 February 2020 Permalink | Balas  

    Manfaat Shalawat 

    Manfaat Shalawat

    Shalat dan shalawat terjemahan harfiahnya sebenarnya sama yaitu doa, tetapi shalat dalam arti ritual ibadah (shalat maghrib misalnya) adalah ritual ibadah yang terdiri dari gerak, bacaan dan doa. Sedangkan shalawat Nabi adalah doa yang secara khusus diperuntukkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan keluarganya.

    Mengapa Nabi Muhammad yang sudah dibebaskan dari dosa (ma`shum) masih harus didoakan segala oleh kita, bukankah itu sudah tidak perlu ?  Konsep shalawat adalah konsep syafa`at. Dalam teologi Islam dikatakan bahwa Nabi Muhammad memiliki  “otoritas” syafa`at, yakni perlindungan kepada ummatnya kelak nanti di hari kiamat, ketika tidak ada lagi yang bisa memberikan perlindungan.

    Orang yang berpeluang memperoleh syafa’at Nabi adalah orang yang mencintainya. Wujud dari cinta Rasul dibuktikan dengan  membaca salawat itu. Nabi sendiri secara konsepsional sudah tidak memerlukan doa dari ummatnya, jadi shalawat itu bukan untuk kepentingan Nabi, tetapi kepentingan kita. Jika Nabi diibaratkan sebuah gelas, ia sudah penuh dengan air putih bersih, nah orang yang membaca shalawat Nabi ibarat menambahkan air ke dalam gelas yang sudah penuh itu dengan harapan memperoleh luberannya, yakni luberan syafa`atnya. Jangankan kita manusia, menurut al Qur’an, Allah dan malaikatpun membaca salawat kepada Nabi sehingga orang beriman juga diperintahkan untuk bersalawat dan salam kepadanya; Innalloha wa mala’ikatahu yushalluna `alan nabiy, ya ayyuhalladzina amanu shallu `alaihi wa sallimu taslima (Q/33:56).

    Pembacaan shalawat Nabi sebagai ekpressi cinta kepada Rasul kemudian melahirkan kreatifitas seni. Bukan saja dalam teks-teks doa shalawat dibaca, tetapi juga dalam nasyid, dalam syair, dalam lagu.  Dalam teks doa, banyak sekali format salawat dibuat, misalnya ada shalawat Nariyah, shalawat tunjina, shalawat anti kezaliman.

    Dalam seni ada sebuah karya epik sejarah Nabi , terkenal dengan Barzanji atau orang Betawi menyebutnya Rawi. Di dalam kitab Barzanzi, riwayat Nabi dikisahkan dalam kalimat yang sangat indah, enak dibaca dan enak di dengar. Demikian juga kasidah Barzanji yang berisi shalawat dan pujian kepada Nabi disusun dalam karya seni yang sangat tinggi kualitasnya.

    Buku kasidah Barzanji atau Rawi adalah karya seni yang   terbanyak pembacanya dan karya seni yang tidak pernah basi hingga hari ini, hingga pada segmen masyarakat tertentu, kitab Barzanji bagaikan kitab suci kedua… Barzanji dibaca oleh bangsa-bangsa muslim di Asia dan Afrika, ritmenya bisa didendangkan dengan berbagai lagu. Mari bersalawat dan bersalam kepada Nabi:

    Ya Nabi salam `alaika –ya Rasul salam `alaika –

    ya habib salam `alaika—shalawaatulllah `alaikaaaaaa……….

    ***

    Kiriman: Sahabat Agus Syafii

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 11 February 2020 Permalink | Balas  

    Makna Imam 

    Makna Imam

    By: Prof. Dr. Achmad Mubarok MA

    Imam berarti orang yang diikuti, baik sebagai kepala, jalan, atau sesuatu yang membuat lurus dan memperbaiki perkara. Selain itu, ia juga bisa berarti Al-Qur’an, Nabi Muhammad, khalifah, panglima tentara, dan sebagainya. Dengan demikian, jelaslah bahwa kata imam memiliki banyak makna. Yaitu, bisa bermakna: maju ke depan, petunjuk dan bimbingan, kepantasan seseorang menjadi uswah hasanah, dan kepemimpinan.

    Kata imam banyak disebutkan dalam Al-Qur’an. Misalnya; “(Ingatlah) pada suatu hari (yang pada hari itu) kami memanggil setiap umat dengan pemimpinnya ….” (Al-Isra’: 71); “… dan sebelum Al-Qur’an itu telah ada Kitab Musa sebagai imam (pedoman) dan rahmat …?” (Hud: 17); “… dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

    (Al-Furqan: 74); “Dan (ingatlah) tatkala Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya.

    Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku ingin menjadikan kami imam (pemimpin) bagi seluruh manusia ….” (Al-Baqarah: 124); “Dan kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishaq dan Ya’qub sebagai suatu anugerah (dari Kami) dan masing-masing Kami jadikan orang-orang saleh. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan Kami telah wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan salat, menunaikan zakat ….” (Al-Anbiya’: 72-73); “Dan Kami ingin memberikan karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang yang mewarisi (bumi)” (Al-Qashash: 5); “dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka, dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.” (Al-Qashash: 41); dan “…, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang kafir, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar mereka berhenti.” (Al-Tawbah: 12)

    Menurut Dhiauddin Rais, dari ayat-ayat Al-Qur’an di atas, kita bisa memetik dua pengertian dari makna imam, yaitu: (1) Kata imam tersebut yang sebagian besar digunakan dalam Al-Qur’an membuktikan adanya indikasi yang bermakna “kebaikan”. Pada sisi lain—pada dua ayat terakhir di atas, bahwa kata imam menunjukkan makna jahat. Karena itu, imam berarti seorang pemimpin yang diangkat oleh beberapa orang dalam suatu kaum. Pengangkatan imam tersebut mengabaikan dan tidak memperdulikan, apakah ia akhirnya akan berjalan ke arah yang lurus atau arah yang sesat. (2) Kata imam dalam ayat-ayat Al-Qur’an itu bisa mengandung makna penyifatan kepada nabi-nabi: Ibrahim, Ishaq, Ya’qub, dan Musa—sebagaimana juga menunjukkan kepada orang-orang yang bertakwa.

    Kedua, Al-Khalifah. Gelar ini sangat berkaitan dengan sejarah pertumbuhan dan perkembangan Islam. Setelah Nabi Muhammad wafat, para sahabat berkumpul untuk memilih dan memutuskan seorang yang akan menjadi pengganti kepemimpinannya. Dan, Abu Bakar terpilih untuk menggantikan Rasulullah dalam memimpin dan memelihara kemaslahatan umat Islam pada masa-masa berikutnya. Abu Bakar diangkat menjadi khalifah, yang berarti penerus atau pengganti untuk mengurus masalah umat Islam.

    Para ulama berbeda pendapat mengenai penamaan khalifah: apakah khalifah saja (tanpa embel-embel) , atau khalifah Rasulullah dan khalifah Allah? Sebagian ulama membolehkan penggunaan gelar khalifah Allah, dengan merujuk kepada ayat Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa “Dia menjadikanmu khalifah-khalifah atau pewaris bumi.” Namun, jumhur ulama tidak membolehkan penanaman gelar khalifah Allah—karena ayat Al-Qur’an tidak berkaitan dengan pengangkatan Abu Bakar. Bahkan, Abu Bakar sendiri telah melarang pemanggilan dirinya dengan khalifah Allah. Abu Bakar menegaskan, “Aku bukan khalifah Allah, melainkan khalifah Rasulullah.” Jadi, Abu Bakar diangkat oleh para sahabat sebagai pengganti dan penerus kepemimpinan Rasulullah. Menurut Dhiauddin, gelar khalifah setelah Rasulullah digunakan untuk menjadi antitesis dari sistem kekisraan dan kekaisaran—sebuah pemerintahan individu yang otoriter, zalim dan keji, yang berkembang pada saat itu.

    Ketiga, Amir Al-Mu’minin. Gelar ini diberikan kepada khalifah kedua: Umar ibn Khathtab—setelah menggantikan Khalifah Abu Bakar yang wafat. Dalam bukunya, Al-Muqaddimah, Ibnu Khaldun menjelaskan sebab pemberian nama ini. Ia menulis, “Itu adalah bagian dari ciri khas kekhalifahan dan itu diciptakan sejak masa para khalifah. Mereka telah menamakan para pemimpin delegasi dengan nama amir; yaitu wazan (bentuk kata) fa’il dari imarah. Para sahabat pun memanggil Sa’ad ibn Abi Waqqash dengan Amir Al-Mu’minin karena ia memimpin tentara Islam dalam Perang Qadisiyyah. Pada waktu itu, sebagian sahabat memanggil Umar ibn Khathtab dengan sebutan yang sama juga: Amir Al-Mu’minin.

    Secara umum, ketiga gelar di atas menunjukkan keharusan adanya kepemimpinan dalam Islam. Bagi suatu kaum atau ummat, keberadaan seorang pemimpin merupakan suatu keharusan yang tak mungkin dipungkiri. Menurut Imam Al-Mawardi dalam karyanya Al-Ahkam Al-Sulthaniyyah wa Al-Wilayat Al-Diniyyah, dalam lembaga negara dan pemerintahan, seorang kepala atau pemimpin wajib hukumnya menurut ijma’. Alasannya, karena kepala lembaga dan pemerintah dijadikan sebagai pengganti fungsi kenabian dan menjaga agama serta mengatur urusan dunia.

    Al-Mawardi menyebut tujuh syarat yang harus dipenuhi calon kepala negara (seorang pemimpin). Syarat-syarat itu, antara lain: keseimbangan atau keadilan (al-‘adalah); punya ilmu pengetahuan untuk berijtihad; punya panca indera lengkap dan sehat; anggota tubuhnya tidak kurang untuk menghalangi gerak dan cepat bangun; punya visi pemikiran yang baik untuk mendapatkan kebijakan yang baik; punya keberanian dan sifat menjaga rakyat; dan punya nasab dari suku Quraisy.

    Secara umum Al-Qur’an tidak menentukan corak kepemimpinan politik tertentu yang harus diambil oleh ummat Islam, oleh karena itu pada era modern, Pemerintahan negeri-negeri Islam mengambil bentuk yang berbeda-beda sesuai dengan keadaan dan probabilitasnya. Negeri-negeri Sunni kebanyakan memilih bentuk Republik seperti negeri kita, sebagian memilih bentuk kerajaan, baik dalam bentuk mamlakah yang dipimpin oleh malik, atau kesultanan di bawah seorang sulthan, atau emirat di bawah seorang amir. Sedangkan Iran sebagai satu-satunya negeri kaum Syi’ah, memiliki sistem politik yang didasarkan atas konsep wilayat al faqih dimana ayatollah ‘uzma memiliki otoritas keagamaan dan politik sekaligus.

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 10 February 2020 Permalink | Balas  

    Cukupkah Anda? 

    Cukupkah Anda?

    Beberapa kali memperhatikan seorang bayi kecil menyusu, bayi kecil itu meminum susu sesuai dengan takaran yang ada entah itu asi atau susu formula, ketika kita berusaha memberi lebih jumlah susu kepada bayi tersebut ternyata dia akan terbuang secara alami melalui muntahan yang keluar dari mulutnya. Dalam hal ini kita belajar kita manusia sebenarnya harus merasa cukup dengan apa yang kita miliki, tidak berlebihan dalam kehidupan, apapun yang berlebihan akan terbuang percuma.

    Pada dasarnya manusia selalu merasa tidak pernah cukup akan apa yang dimilikinya, Rasa tidak puas atas apa yang diterima dalam kehidupan seringkali menjadikan manusia melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai dan norma yang di anut. Terkadang, ukuran kecukupan dalam perolehan apapun di dunia ini dipandang begitu relatif, kecuali bagi orang-orang yang sadar dan mencukupkan dirinya dengan segala hal yang telah ia terima.

    Ada suatu hukum yang namanya kenikmatan yang berkurang, Coba anda bayangkan ketika anda suatu hari sehabis perjalanan jauh dan anda sangat haus dan anda membeli kelapa muda, ketika tegukan pertama, rasa puas yang anda dapatkan sangatlah luar biasa bila diberi nilai akan mendapat nilai 7 (sekala 1-10), dan anda mencoba menambah 1 gelas kelapa muda lagi, apa yang akan anda rasakan kenikmatan yang anda rasakan tidak senikmat kelapa muda yang pertama dan kepuasan tersebut akan mendapat nilai 6, bila anda teruskan untuk menambah gelas kelapa berkali-kali maka nilai kenikmatan air kelapa muda itu akan semakin berkurang, sehingga pada akhirnya akan melewati angka 0, atau tidak nikmat sama sekali, bahkan menjadi minus dan anda akan memuntahkan kembali air kelapa tersebut.

    Orang yang merasa cukup hidupnya senantiasa bersyukur. orang yang merasa cukup Makan dengan apa adanya akan terasa nikmat tiada terhingga jika dilandasi dengan rasa syukur. Sebab, pada saat seperti itu ia tidak pernah memikirkan apa yang tidak ada di hadapannya. Justru, ia akan berusaha membagi kenikmatan yang diterimanya itu dengan keluarga, kerabat, teman atau pun tetangganya, dan semangat cukup serta keinginan untuk berbagi inilah yang akan menuntun anda mencapai sebuah kenikmatan atau kebahagian hidup.

    Kenapa manusia itu tidak merasa cukup karena kurangnya kemampuan kita mensyukuri apa yang kita miliki, kurangnya kemampuan mengendalikan keinginan, kemampuan menepatkan logika di atas ego. Mungkin perasaan itu tersemat dalam diri manusia sebagai pendorong untuk berjuang menggapai impian namun kadang menjadi tak terkendali ketika penepatannya kurang tepat. rasa tidak puas atau tidak cukup terkadang bersalah dari kebiasaan kita membanding-bandingk an sesuatu yang kita peroleh dengan apa yang telah diperoleh oleh orang lain. Bak di halaman rumah kita terbentang rumput yang hijau, namun kita masih saja memandang bahwa rumput tetangga jauh lebih hijau.

    Berbeda jika kita mampu melihat segala kelebihan yang terdapat pada diri seseorang sebagai sebuah hal yang menjadikan diri kita terpacu dalam semangat berbuat yang terbaik dalam rangka peningkatan kualitas diri dalam hal-hal yang positif serta sesuai kebutuhan, dengan berjalan dalam kerangka ikhtiar berupa usaha yang nyata, tanpa harus kecewa dikarenakan akhirnya tidak mampu berbuat dan mendapatkan hasil semaksimal apa yang diperoleh oleh orang lain tersebut.

    Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya. Cukup adalah persoalan kepuasan hati. Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa mensyukuri. Tak perlu takut berkata cukup. Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya. “Cukup” jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandeg dan berpuas diri. Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan.. Jangan biarkan kerakusan manusia membuat kita sulit berkata cukup. Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia.

    Maka mulailah berani untuk “membuat diri anda cukup” Kita sederhanakan sebagai prinsip hidupyang “sederhana”. Kian sederhana, maka kian cukup kian sejahteralah kita. Ukurannya? Yang paling sederhana, usul: semakin tinggi senjang jumlah konsumsi dibanding jumlah produksi kita sehari-hari, makin sederhana, makin cukup dan sejahteralah kita. apakah anda orang yang cukup…

    “Karena Didalam perasaan Cukup terdapat Kebahagiaan”

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 9 February 2020 Permalink | Balas  

    Pengertian Adab 

    Pengertian Adab

    Adab adalah satu istilah bahasa Arab yang berarti adat kebiasaan. Kata ini menunjuk pada suatu kebiasaan, etiket, pola tingkah laku yang dianggap sebagai model.

    Selama dua abad petama setelah kemunculan Islam, istilah adab membawa implikasi makna etika dan sosial. Kata dasar Ad mempunyai arti sesuatu yang mentakjubkan, atau persiapan atau pesta. Adab dalam pengertian ini sama dengan kata latin urbanitas, kesopanan, keramahan, kehalusan budi pekerti masyarakat kota sebagai kebalikan dari sikap kasar orang badui.

    Dengan demikian adab sesuatu berarti sikap yang baik dari sesuatu tersebut. Bentuk jamaknya adalah Âdâb al-Islam, dengan begitu, berarti pola perilaku yang baik yang ditetapkan oleh Islam berdasarkan pada ajaran-ajarannya. Dalam pengertian seperti inilah kata adab.

    Sumber Adab

    Adat kebiasaan di dalam banyak kebudayaan selain kebudayaan Islam sangat ditentukan oleh kondisi-kondisi lokal dan oleh karena itu tunduk pada perubahan-perubahan yang terjadi di dalam kondisi-kondisi tersebut. Menurut W.G. Summer, dari berbagai kebutuhan yang timbul secara berulang-ulang pada satu waktu tertentu tumbuh kebiasaan-kebiasaan individual dan adat kebiasaan kelompok. Tetapi kebiasaan-kebiasaan yang muncul ini adalah konsekuensi-konsekuensi yang timbul secara tidak disadari, dan tidak diperkirakan lebih dulu atau tidak direncanakan.

    Ahlak dan adab Islam tidaklah bersifat “tanpa sadar” seperti dalam pengertian di atas. Adab dan kebiasaan-kebiasaan Islam itu berasal dari dua sumber utama Islam, yaitu al-Qur’an dan Sunnah, perbuatan-perbuatan dan kata-kata Nabi serta perintah-perintahnya yang tidak langsung. Oleh karena itu akhlak Islam itu jelas berdasarkan pada wahyu Alloh SWT.

    ***

    By: agussyafii

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 8 February 2020 Permalink | Balas  

    Keadaan Batin Pada Setiap Tahapan Sholat 

    Keadaan Batin Pada Setiap Tahapan Sholat

    Adzan

    Ketika anda mendengar panggilan sholat oleh muadzin, maka berusahalah membayangkan hingar bingar teriakan di hari kiamat. Persiapkan diri, lahir dan batin untuk menjawabnya. Mereka yang segera menjawab ajakan tersebut, niscaya akan menjadikan dirinya orang yang mendapat perlakuan lemah lembut di hari pembalasan nanti. Untuk itu ingatlah sekarang: Jika Anda menjawab seruan dengan rasa senang dan gembira, didorong oleh keinginan memenuhi panggilan adzan, percayalah di hari pengadilan kelak Anda akan bersuka ria dengan kabar gembira dan kemenangan. Itulah mengapa Rasulullah saw. Sering berkata, “Gembirakanlah kami wahai Bilal!” demikianlah karena Bilal seorang muadzin, dan shoalt itu sendiri merupakan kegembiraan dan kesenangan bagi Rasulullah saw.

    Bersuci Diri

    Ketika hendak menyucikan sesuatu yang ada disekitar anda secara cepat ruangan, pakaian, hingga akhirnya kulit anda maka jangan sampai mengabaikan keadaan batin, ayng merupakan tempat bersemayamnya hati, tempat bersemayamnya segala sesuatu. Bersungguh-sungguhl ah untuk menyucikan dengan bertobat dan menyesali diri, serta janji untuk meninggalkannya di masa mendatang. Bersihkanlah batin anda dengan cara ini, karena batin merupakan tempat yang diawasi oleh Dzat yang anda sembah.

    Menutup Aurat

    Menutup aurat berarti anda menutup bagian-bagian tubuh dari pandangan manusia. Tetapi bagaimana mengenai aurat batin dan rahasia pribadi anda yang keji, dimana hanya Allah swt. Sajalah yang menyaksikannya? Sadarilah kesalahan-kesalah ini. Tutupilah semuanya, tetapi ingat bahwa tiada sesuatupun yang dapat disembunyikan dari penglihatanNya. Hanya dengan tobat, malu serta takut, niscaya Allah akan memaafkannya.

    Menghadap Kiblat

    Menghadap kiblat berarti anda memalingkan wajah lahiriyah dari segala arah selain ke arah Rumah Allah swt. (Ka’bah). Apakah anda mengira bahwa tidak akan diminta untuk memalingkan hati dari segala sesuatu, lalu hanya menghadapkan diri kepada Allah swt. Semata? Tentu saja tidak benar, karena Ka’bah ini merupakan tujuan dan seluruh gerak sholat! Nabi Muhammad pernah bersabda, “Ketika seseorang sholat, dimana keinginan, wajah dan hatinya hanya tertuju kepada Allah Azza wa jalla, maka seusai sholat akan menjadikan dirinya bagaikan bayi yang baru dilahirkan ibunya.”

    Berdiri Tegak

    Berdiri tegak, maksudnya beridir lurus lahir dan batin di hadapan Allah Azza wa jalla. Kepala anda, yang merupakan bagian tertinggi dari tubuh, supaya sedikit membungkuk sebagai tanda kerendahan hati serta melepaskan diri dari keangkuhan dan kesombongan.

    Niat

    Ketika bernia, bayangkan bahwa diri anda tengah memenuhi pangilanNya, dengan melaksanakan sholat dalam rangka kepatuhan terhadap perintahNya, dengan cara melaksanakan sholat secara tepat serta menghindarkan dan meniadakan segala sesuatu yang akan mengganggu dan merusakkannya. Dan dengan melakukan semuanya secara tulusdan ikhlas semata-mata karena Allah Azza wa jalla, demi mengharap ganjaran dari Nya dan dijauhkan dari siksaNya, mencari kasih dan sayangNya

    Takbir

    Ketika mengucapkan takbir, hati anda tidak boleh menyangkal apa yang tengah diucapkan oleh bibir anda. Bila di dalam hati anda merasa bahwa ada sesuatu yang lebih dari Allah swt, walau apa yang anda ucapkan benar, maka Allah swt, akan menggolongkan anda seorang penipu.

    Doa Iftitah

    Ketika mengucapkan doa iftitah (pembuka), anda tengah mewaspadai kemusyrikan yang ada di dalam diri. Ini berkenaan dengan mereka yang beribadah demi mansuia, ataupun yang mengharapkan rahmat Allah Azza wa jalla semata. DifirmankanNya “maka barangsiapa mengharapkan pertemuan denagn Tuhannya, hendaklah mengerjakan amal kebaikan. Dan dalam beribadah kepadaNya, jangan mempersekutukan Dia dengan sesuatupun.” (QS.18:110)

    Ketika anda mengucapkan “Auszu billahi minasy syaithanirrajim” (Aku berlindung kepada Allah swt dari godaan setan ayng terkutuk), maka sesungguhnya harus disadari bahwa setan adalah musuh sejati, dan ia selalu mencari celah dan kesempatan untuk memisahkan anda dan Allah Azza wa jalla. Setan akan selalu menghalangi anda dalam melakukan munajat kepada Allah swt. Dan untuk bersujud kepadaNya

    Membaca Ayat Al-Qur’an

    Mengenai membaca Al-Qur’an, maka dapat dibedakan dalam tiga kategori, yaitu: 1. Mereka yang menggerakkan lidahnya tanpa kesadaran (artinya tidak memahami apa yang dilafalkan oleh lidah) 2. Mereka yang secara sadar memahami apa yang dilafalkan oleh lidah, memahami maknanya dan seolah mendengarkannya sebagai ucapan orang lain, inilah derajat yang dicapai “golongan kanan” 3. Mereka yang bermula dari menyadari makna, menjadikan lidah sebagai juru bahasa bagi kesadaran batin. Lidah memang dapat berperan sebagai penerjemah batin dan sekaligus guru sejati bagi hati. Bagi mereka yang sangat dekat dengan Tuhan, maka lidah berperan sebagai penerjemah

    Rukuk

    Allah swt. Menyaksikan hambaNya yang tengah berdiri, rukuk dan sujud. Sebagaimana Dia berfirman, “Yang melihatmu ketika berdiri dan melihat gerak gerikmu di tengah orang-orang yang bersujud” (QS 26:218) Rukuk dan sujud yang disertai pengakuan akan keagungan Allah Azza wa jalla. Di dalam rukuk, Anda memperbarui penyerahan diri dan rasa rendah hati, serta selalu menyebarkan kesadaran betapa ketidak mampuan dan ketidak bermaknaan kita dihadapan Dzat Yang Maha Agung. Untuk menegaskan hal ini, anda memerlukan (mencari) bantuan lidah, dengan mengagungkan asma Tuhan serta berulang kali mengakui keagungan kekuasaanNya, baik secara lahirah ataupun batiniah.

    Kemudian anda bangkit dari rukuk, berharap bahwa Dia (Allah) akan mencurahkan rahmatNya kepada anda. Untuk mempertegas harapan ini dalam diri anda mengucapkan, “”Sami’allahu liman hamidah” (Allah mendengar siapa saja yang memujiNya). Untuk menyatakan syukur, anda segera menambah, “Rabbana lakal hamdu” (Wahai Tuhan, hanya bagiMu lah segala pujian). Untuk menunjukkan banyaknya atau memperbanyak pujian, anda juga mengucapkan, “mil as samawati wa milal ardhi” (yang memenuhi seluruh langit dan bumi).

    Sujud

    Selanjutnya anda bersujud. Ini adalah tingkatan pengungkapan penyerahan diri tertinggi, yang mana anda menyentuhkan bagian termulia dari badan, wajah ke wujud yang rendah, tanah. Apabila mungkin, akan lebih baik bersujud tanpa alas, yang tentu saja hal ini lebih menggambarkan sikap kerendahan hati dan berserah diri.

    Apabila anda meletakkan diri dalam posisi yang sedemikian rendah, maka akan lebih menyadari dengan siapa anda berhadapan. Anda telah mengembalikan cabang pada akarnya, karena anda berasal dari tanah dan kelak akan kembali ke tanah pula. Pada saat yang sama anda juga memperbarui kesadaran batin akan keagungan Tuhan, seraya berkata, “Subhana rabbiyal a’la” (Mahasuci Tuhan Yang Mahatinggi). Pengulangan ucapan ini hanya akan lebih memperkuat pengakuan anda, karena mengucapkannya hanya sekali saja dirasa tidak memadai.

    Ketika batin anda merasa terpuaskan dalam mengharapkan kasih sayang Ilahi, yakinlah bahwa Tuhan akan selalu mengaruniakan kasih dan sayang Nya. Bahwa kasih dan sayangNya selalu mengalir kepada mereka yang lemah dan rendah, tidak bagi yang sombong dan congkak.

    Selanjutnya anda mulai mengangkat kepala kemudian bertakbir, “Allahu Akbar” (Allah Maha Agung) dan mintalah apa yang anda perlukan, mohonlah hajat anda, seperti, “Rabbigh fir war ham wa tajaa waz’ amma ta’lam” (Ya Allah, ampuni dan kasihanilah aku! dan lepaskanlah dari dosa yang Engkau ketahui). Selanjutnya anda sujud untuk yang kedua kalinya, yang memperkuat penyerahan diri kepada Allah swt.

    Duduk dan Tasyahud

    Ketika anda duduk untuk mengucapkan pengakuan (tasyahud), duduklah dengan sopan. Ungkapkan bahwa sholat dan seluruh amal sholeh yang anda lakukan itu semua semata-mata demi mengharap kasih sayangNya, dan segala sesuatu hanyalah milikNya. Itulah ayng dimaksudkan bahwa segala kehormatan (at tahiyyat) adalah milik Allah swt. “Assalamu’alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh”. (Salam sejahtera semoga selalu terlimpah bagi Rasul saw. Serta rahmat dan berkah Allah atasnya).

    Yakin bahwa salam yang anda ucapkan akan sampai kepada beliau. Dan beliau juga akan menjawab, bahkan dengan salam yang lebih sempurna bagi anda. Kemudian ucapkan pula salam bagi diri anda serta seluruh hamba Allah yang sholeh. Kemudian persaksikan bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusanNya. Dengan mengulang dua kali kesaksian tersebut, anda telah mengulang kembali pengakuan atas kasih sayang Allah Azza wa jalla, dan meyakinkan diri akan perlindunganNya.

    Doa Penutup

    Pada akhir sholat, hendaknya anda berdoa memohon kepadaNya penuh harap secara santun dan disertai kerendahan hati, dengan yakin bahwa permohonan itu didengar. Tunjukkan doa anda termasuk kepada orang tua serta orang-orang beriman lainnya.

    Salam

    Akhirnya, dengan maksud mengakhiri sholat anda, ucapkan salam kepada para malaikat dan mereka yang hadir. Rasakan semua itu sebagai ungkapan syukur kepada Allah swt. Atas segala karuniaNya karena anda dapat menyelesaikan sholat. Bayangkan bahwa anda tengah mengatakan selamat berpisah pada ibadah sholat, dan bahwa mungkin anda meninggal hingga tidak bisa lagi melakukan seperti ini.

     
  • erva kurniawan 7:51 am on 7 February 2020 Permalink | Balas  

    Jenaka dalam Kecerdasan 

    Jenaka dalam Kecerdasan

    By: Prof. Dr. Achmad Mubarok MA

    Semua kita pasti sudah pernah mendengar nama Abu Nawas. Jika orang menyebut nama Abu Nawas maka langsung terbayang sosok pelawak kesohor atau tentang fikiran akal bulus yang sangat lembut,- tetapi konotasinya  negatip. Sesungguhnya tokoh Abu Nawas atau Abu Nuwas adalah seorang ahli hukum dan kritikus social yang sangat cerdas yang hidup pada zaman Daulah Abbasiyyah di Bagdad, dan sempat bertemu dengan dua khalifah (raja) pada periode hidupnya, yaitu Harun Al Rasyid dan al Ma`mun.

    Ia juga seorang penyair sufi , tetapi kekhasan Abu Nawas adalah kemampuannya mengekpressikan kecerdasannya secara jenaka,bahkan termasuk kepada Tuhan.. Kumpulan puisinya tercantum dalam buku Diwan- Abu Nuwas yang di Fakultas sastra Arab bukunya dijejerkan bersama dengan kumpulan puisi Imam Syafi`i ,Diwan al Imam al Syafi`i dan puisi Ali bin Abi Thalib,Diwan al Imam ~Ali, Diwan Syi`r Imam al Bulagha. Kecerdasan dan kejenakaan Abu Nuwas dapat dirasakan dari kisah-kisah sebagai berikut.

    Pertama

    Suatu hari Raja iseng-iseng uji nyali staf di kerajaannya. Di halaman depan kerajaan ada pohon jambu yang sedang berbuah. Raja mengikat seekor orang utan yang besar dan galak di pohon itu, lalu Raja mengumumkan; barang siapa bisa mengambil sebutir saja jambu dari pohon itu akan diberi hadiah seribu dinar. Orang banyak berusaha untuk mengambilnya, tetapi tidak ada seorangpun yang bisa, karena setiapkali mendekat pohon,orang utan yang galak itu segera menyongsongnya. Abu Nawas yang kala itu sedang bertamu ditawari ikut. Abu Nawas pun bersedia dan dengan santai ia mengambil beberapa batu kecil. Dengan cermat Abu Nawas melempari orang utan itu dengan batu-batu kecil. Sudah barang tentu orang utan yang galak itupun marah, tetapi ia tidak bisa menjangkau Abu Nawas karena kakinya terikat rantai ke pohon.  Puncak kemarahan orang utan itu terjadi, ia petik jambu didekatnya dan dibalas melemparnya ke Abu Nawas. Nah Abu Nawas tinggal menangkap jambu itu, dan Abu Nawas memenangkan hadiah Raja sebesar seribu dinar.

    Kedua

    Pada suatu hari, salah seorang keponakan Raja yang bernama Jafar berceritera kepada Raja,bahwa ia bermimpi menikahi seorang gadis yang bernama Zainab, seorang gadis yang terkenal di Bagdad karena kecerdasan dan kecantikannya. Raja dengan tanpa berfikir mendalam langsung mengomentari ceritera mimpi ponakannya. Wah itu mimpi yang baik, mimpimu itu isyarat petunjuk Tuhan. Begini saja, kalau kamu memang mau menikah dengan Zainab, serahkan pada pamanmu ini, biar aku yang urus. Sudah barang tentu Jafar, sang keponakan sangat gembira. Esoknya, Zainab dan kedua orang tuanya dipanggil menghadap raja, dan kepada mereka disampaikan bahwa ada isyarat Tuhan yang harus dilaksanakan , yaitu menjodohkan Jafar, keponakannya dengan Zainab. Biarlah kerajaan yang menyelenggarakan hajatannya.

    Kedua orang tua Zainab sudah barang tentu bersukacita, tetapi Zainab sendiri tidak bisa menerimanya. Hatinya menolak keras dijodohkan, apalagi hanya berdasar mimpi, tetapi mulutnya terkunci rapat. Kerajaan dengan bersukacita mengumumkan rencana pernikahan itu, dan tak lupa Raja pun menceriterakan kepada publik mimpi ponakanya yang ia fahami sebagai isyarat dari Tuhan yang harus dilaksanakan.

    Di rumah, Zainab  bingung tak tahu harus berbuat apa. Kedua orang tuanya dan bahkan segenap keluarganya dalam suasana bahagia menyongsong hari perkawinan dirinya, tapi dia sendiri hatinya hancur karena tidak menyukai Jafar, ponakan raja yang ia ketahui perilakunya tidak terpuji. Inginnya ia kabur dari rumah, tetapi itu pasti mencelakakan keluarga karena mempermalukan kerajaan.

    Sekedar mencari ketenangan Zainab mengadu kepada Abu Nawas. Abu Nawas bertanya. Kamu ingin pernikahanmu dengan Jafar berlangsung atau inginya gagal?  Pokoknya Saya tidak ingin menikah dengan Jafar, paman , jawab Zainab. Abu Nawas melanjutkan. Jika engkau ingin perkawinan itu gagal,engkau harus segera menghadap raja dan mengucapkan terima kasih karena Paduka telah menjalankan isyarat Tuhan melalui mimpi Jafar. Tapi, tapi bagaimana ? Zainab protes. Pokoknya, kata Abu Nawas, jika engkau ingin perkawinan itu gagal,laksanakan kata-kata saya.

    Dengan tidak begitu faham jalan fikiran Abu Nawas, Zainab menghadap Raja dan mengucapkan terimakasih. Sudah barang tentu Raja sangat senang mendengar kata-kata Zainab.

    Suatu pagi, ketika halaman kerajaan sudah didirikan tenda untuk acara pernikahan , Abu Nawas berada di atap istana raja, mencabuti genting-2 dan melemparkannya ke halaman. Sudah barang tentu gegerlah  istana. Abu Nawas di tangkap dan langsung di sidang di depan raja untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya–. Abu Nawas diancam dengan hukuman berat.

    Ketika Abu Nawas ditanya  oleh raja tentang motivasi dari apa yang dilakukan, dengan sangat sopan Abu Nawas menjawab. Paduka tuanku junjungan kami, ampunilah hamba orang kecil ini,hamba adalah orang kecil yang selalu mengidolakan baginda. Apapun yang menjadi kehendak paduka,kami selalu mengikutinya. Paduka junjungan kami,tiga malam berturut hamba bermimpi menaiki atap istana tempat paduka bersemayam. Hamba gelisah, dan akhirnya hamba yakin bahwa mimpi hamba adalah isyarat dari Tuhan untuk menyelamatkan paduka, dari ancaman yang kita belum tahu. Jangan-jangan di atap ada ancaman terhadap baginda. Oleh karena itu sebelum bencana itu menimpa baginda,hamba segera naik atap untuk melaksanakan isyarat Tuhan yang kami dapati dalam mimpi kami.Mohon ampun baginda.

    Sang Raja tercenung mendengar jawaban Abu Nawas. Raja sadar bahwa Abu Nawas itu orang cerdas. Raja pun sadar bahwa mengambil keputusan berdasar mimpi Jafar, keponakannya adalah sangat tidak bijaksana, bahkan berbahaya. Terbayang dalam fikiran Raja, apa lagi yang akan dilakukan Abu Nawas besok-besoknya dengan alasan mimpi. Sungguh berbahaya. Akhirnya Raja membatalkan rencana menikahkan Zainab dengan keponakannya.

    Ketiga

    Suatu hari Raja yang repressip itu melakukan kunjungan incognito meninjau proyek pembangunan taman di pinggir sungai Tigris. Ketika berada di pinggir sungai dan jauh dari rumah tiba-tiba sang raja ingin buang hajat. Rupanya raja sedang kena diare karena salah makan. Dengan sigap pengawal melakukan langkah darurat, yaitumembuyat WC tenda di pinggir sungai. Rajapun apa boleh buat masuk ke WC darurat itu.

    Melihat pemandangan itu, Abu nawas tiba-tiba lari ke arah hulu sungai dan langsung buang hajat di situ. Sudah barang tentu raja marah, karena tahi Abu Nawas pelan-pelan mendekati raja mengikuti arus air. Usai buang hajat, raja langsung memerintahkan pengawal untuk menangkap Abu Nawas. Abu Nawas di sidang dengan tuduhan menghina raja karena buang air besar di depan raja. Tetapi dengan amat sopan Abu Nawas menjawab. Aduh mohon ampun paduka junjungan kami. Sama sekali tidak ada setitikpun niat hamba menghina paduka. Hamba ini  orang yang sangat mengidolakan paduka. Dalam keadaan apapun paduka adalah pemimpin kami. Hamba selalu patuh berada di belakang paduka. Sedikitpun kami tidakberani mendahului paduka. Tetapi kamu buang hajat di depanku, bentak Raja.

    Adapun tentang buang hajat, mohon maaf paduka. Semula kami berada di belakang paduka, tiba-tiba hamba terkena diare.. Seandainya hamba langsung buang hajat di tempat, maka pasti tahi hamba akan mendahului tahi paduka yang mulia.Ini tidak boleh karena ini adalah satu penghinaan. Oleh karena itu paduka, dengan sangat berat kami—buru-buru lari ke depan untuk buang air di sana,agar tahi hamba tidak mendahului tahi paduka.

    Mendengar keterangan Abu Nawas, raja manggut-manggut dan bisa menerima alasan Abu Nawas. Abu Nawas bukan saja tidak dihukum,malah raja memberinya hadiah seribu dinar.

    Keempat,

    Abu Nawas jenaka bukan hanya kepada sesama manusia,kepada Tuhan pun ia suka bercanda. Salah satu candanya terekam dalam teks doa yang hingga kini banyak dihafal orang. Kata Abu Nawas,Ilahy,lastu lil firdausi ahla. Wala aqwa `alannar aljahimi. Fahabl itaubatan waghfir dzunubi.fa innaka ghofirun dzambil`adzimi. Artinya.Ya Tuhanku, rasanya hamba tak pantas masuk surgamu. Tetapi untuk masuk neraka, waduh sorry,hamba tak kuaaaat. Oleh karena itu ya Tuhan,mudahkanlah hamba untuk bertaubat dan ampunilah dosa kami. Bukankah Engkau Maha Pengampun bahkan terhadap dosa-dosa besar?.

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 6 February 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Ayyasy Bin Abi Rabiah Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Ayyasy Bin Abi Rabiah Radhiyallahu Anhu

    Ayyasy bin Abi Rabiah masih kerabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan memeluk Islam pada masa-masa awal. Ketika akan hijrah ke Madinah, ia berencana berangkat bertiga dengan Umar bin Khattab dan Hisyam bin Ash, dan bertemu di lembah Tanadhib, 6 mil dari Makkah. Tetapi Hisyam dihalangi dan disiksa oleh kaum kafir Quraisy, sehingga mereka hanya berangkat berdua.

    Setelah beberapa saat tiba di Quba, Abu Jahal bin Hisyam dan Harits bin Hisyam, yang masih saudara sepupunya datang membawa berita bahwa ibunya bersumpah tidak akan menyisir rambutnya bertemu dengannya, tidak akan berteduh dari panas matahari hingga melihat wajahnya. Mendengar hal itu, Ayyasy menjadi kasihan dengan ibunya, iapun bermaksud kembali ke Makkah. Tetapi Umar mengingatkannya, bahwa itu hanyalah tipu muslihat orang kafir agar ia meninggalkan agama Islam. Karena cintanya kepada sang ibu, Ayyasy berkata, “Aku akan kembali dan melaksanakan sumpah ibuku itu, sekaligus aku akan mengambil hartaku yang kutinggalkan di Makkah.”

    Sekali lagi Umar mengingatkan akan kelicikan muslihat orang kafir Quraisy, bahkan ia menjanjikan membagi dua hartanya dengan Ayyasy asalkan tidak kembali ke Makkah. Tetapi Ayyasy telah berketetapan hati kembali demi ibunya yang sangat dicintai dan dihargainya. Akhirnya Umar merelakan sahabatnya tersebut kembali, tetapi ia memberikan untanya yang penurut kepada Ayyasy, dengan pesan, jika sewaktu-waktu ia melihat gelagat tidak baik, hendaknya ia memacu unta tersebut kembali ke Madinah.

    Mereka bertiga kembali ke Makkah. Dan seperti yang dikhawatirkan Umar, Abu Jahal dan Harits memperdaya Ayyasy, tidak lama setelah mereka meninggalkan batas Madinah. Abu Jahal berkata, “Wahai keponakanku, demi Allah, ontaku ini sudah sangat kepayahan. Maukah engkau memboncengkan aku di punggung ontamu??”

    “Boleh!!” Kata Ayyasy, tanpa prasangka apapun.

    Kemudian ia menderumkan untanya, dan Abu Jahal naik di belakang Ayyasy. Tetapi seketika itu ia mendekap tubuh Ayyasy dengan erat, dan Hisyam mengeluarkan tali yang telah dipersiapkannya, dan mengikat Ayyasy dengan erat. Mereka membawanya ke Makkah dalam keadaan terikat. Sampai di Makkah, ia disiksa dengan hebat dan dipaksa untuk murtad, sehingga akhirnya ia menuruti kemauan mereka. Hal yang sama terjadi pada Hisyam bin Ash yang terpaksa murtad karena beratnya siksaan yang ditimpakan kepada mereka.

    Saat itu ada anggapan, orang yang murtad tidak akan diterima lagi taubatnya dan tidak berarti lagi keislamannya. Karena itu keduanya selalu dirundung kesedihan walaupun dalam keadaan bebas bergerak di Makkah. Tetapi kemudian turun wahyu Allah, surat az Zumar ayat 53-55, yang berisi larangan berputus asa dari Rahmat Allah, bahwa Allah mengampuni semua dosa-dosa. Umar mengirim seorang utusan dengan membawa surat kepada dua sahabatnya itu, yang memberitahukan turunnya wahyu Allah tersebut. Kemudian keduanya mengikuti utusan Umar tersebut ke Madinah dengan sembunyi-sembunyi, dan kembali ke pangkuan Islam.

    Sebagian riwayat menyebutkan, mereka berdua tidak sampai murtad, karena itu mereka diikat dan dipenjarakan di suatu tempat. Suatu ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda kepada para sahabat yang sedang berkumpul, “Siapakah yang sanggup mempertemukan aku dengan Ayyasy (bin Abi Rabiah) dan Hisyam (bin Amr)??”

    Walid bin Walid, yakni saudara Khalid bin Walid yang telah memeluk Islam sejak awal didakwahkan, berkata, “Wahai Rasulullah, sayalah yang akan membawa keduanya ke hadapan engkau!!”

    Setelah berpamitan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, Walid segera memacu untanya menuju Makkah. Ia memasuki kota Makkah dengan sembunyi-sembunyi, dan secara kebetulan ia bertemu dengan wanita yang ditugaskan mengantar makanan untuk Hisyam dan Ayyasy. Iapun mengikuti wanita tersebut, hingga mengetahui tempat penahanan keduanya, yakni sebuah rumah tanpa atap, tetapi pintunya dikunci dengan kuat.

    Ketika keadaan sepi dan aman, Walid memanjat tembok rumah tersebut untuk memasukinya. Setelah melepaskan ikatan yang membelenggu Hisyam dan Ayyasy, ketiganya keluar dengan memanjat tembok juga, dan meninggalkan Makkah dengan menunggang unta milik Walid yang memang cukup kuat, sehingga mampu membawa tiga orang tersebut hingga sampai di Madinah dengan selamat.

    Dalam perang Yarmuk di masa Khalifah Umar, Ayyasy terluka parah, begitu juga dengan Harits bin Hisyam dan Ikrimah bin Abu Jahl. Harits meminta dibawakan air, tetapi kemudian menyuruhnya untuk diberikan kepada Ikrimah. Sebelum sempat minum, Ikrimah meminta agar air diberikan kepada Ayyasy. Tetapi Ayyasy wafat sebelum sempat minum air tersebut. Ketika dibawa kembali ke Ikrimah, ia telah meninggal. Begitu juga ketika dibawa kepada Harits, ia telah wafat sebelum air minum itu kembali kepadanya.

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 5 February 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Thulaib Bin Umair Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Thulaib Bin Umair Radhiyallahu Anhu

    Thulaib bin Umair masih saudara sepupu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, ia memeluk Islam ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam masih berdakwah secara sembunyi-sembunyi di Darul Arqam, sehingga bisa dikatakan ia sebagai kelompok as Sabiqunal Awwalin. Setelah keislamannya, ia menemui ibunya, Arwa binti Abdul Muthalib, dan mengatakan kalau dirinya telah menjadi pengikut Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan berserah diri kepada Allah. Menanggapi pengakuannya tersebut, sang ibu berkata, “Sesungguhnya yang lebih berhak kamu bantu adalah anak pamanmu itu (Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam), demi Allah jika kami mampu melakukan seperti yang dilakukan oleh kaum lelaki, sudah pasti aku akan mengikuti dan melindunginya.”

    Saat itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memang banyak mengalami halangan, cacian dan penyiksaan dalam mendakwahkan Islam. Mendengar jawaban ibunya tersebut, Thulaib berkata, “Apakah yang menghalangi ibu mengikutinya, padahal saudara laki-laki ibu, Hamzah, telah memeluk Islam?”

    “Aku akan menunggu apa yang dilakukan oleh saudara-saudara perempuanku, kemudian aku akan menjadi seperti mereka,” Kata Arwa.

    Tetapi Thulaib tidak puas dengan jawaban ibunya ini, ia terus mendesak dan berkata, “Sesungguhnya aku meminta dengan nama Allah, agar ibu menemuinya (yakni Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam), mengucapkan salam dan membenarkannya, dan mengucapkan kesaksian kepadanya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.”

    Melihat tekad dan kesungguhan Thulaib dalam mengajaknya kepada Islam, akhirnya Arwa luluh juga. Pada dasarnya ia memang ingin membela Nabi  Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang masih keponakannya sendiri, ketika begitu banyak orang yang memusuhi dan menyakitinya. Ia akhirnya berkata, “Jika memang begitu, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah pesuruh-Nya.”

    Thulaib merasa gembira dengan keputusan ibunya, apalagi ia selalu didorong untuk membantu Nabi  Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan juga menyiapkan kebutuhan Nabi  Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dalam perjuangannya.

    Di riwayatkan bahwa Thulaib Bin Umair adalah Muslim pertama yang melukai seorang Musyrik yang bersikap lancang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.

    Suatu ketika Auf Bin Sabrah as-Sahmi tengah melontarkan caci-maki kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam lalu Thulaib Bin Umair mengangkat tulang rahang unta dan memukulkannya kepadanya sehingga luka. Ada yang mengadukan hal itu kepada ibu beliau. Ibunya menjawab, “Thulaib telah membantu sepupunya, ia telah bersikap simpatik dengan perantaraan darahnya dan hartanya.”

    Sebagian berpendapat bahwa orang yang dipukul itu bernama Abu Ihab bin Aziz ad-Darimi. Sedangkan sebagian lagi berpendapat orang itu adalah Abu Lahab atau Abu Jahal. Menurut riwayat lain, ketika perbuatan itu diadukan kepada Ibunya , Ibunya  mengatakan, “Hari terbaik dalam kehidupan Thulaib adalah pada saat membela sepupunya. Dia Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang telah datang dengan kebenaran dari Allah Ta’ala.”

    Thulaib termasuk Muslim yang berhijrah ke Habasyah. Namun ketika sebuah kabar burung dari Makkah sampai ke Habasyah yang menyatakan bahwa Quraisy telah masuk Islam, beberapa Muhajirin Muslim kembali ke Makkah tanpa mengkonfirmasi kebenaran kabar itu. Salah satu dari mereka adalah Thulaib.

    Sekembalinya ke Makkah, mereka meminta perlindungan kepada para tokoh Makkah.

    Setelah Thulaib hijrah dari Makkah ke Madinah, dia tinggal di rumah Abdullah Bin Salamah al-Ajlani. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengikat persaudaraan antara Thulaib dengan Mundzir Bin Amru.

    Thulaib ikut serta pada perang Badar.

    Thulaib juga ikut serta pada perang Ajnadain yang terjadi pada bulan Jumadil Ula 13 Hijri. Pada perang tersebut beliau syahid pada usia 35 tahun. Ajnadain adalah nama tempat di Syria, di sana terjadi peperangan antara pasukan Muslim dengan Romawi, namun sebagian berpendapat bahwa beliau wafat pada perang Yarmuk.

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 4 February 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Abdullah Bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu (3) 

    Kisah Abdullah Bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu (3)

    Secara penampilan fisik, mungkin Abdullah bin Mas’ud tidak meyakinkan. Perawakan tubuhnya kurus dan kecil, tidak terlalu tinggi, kedua betisnya kecil dan kempes sehingga pernah menjadi bahan tertawaan beberapa sahabat. Hal itu terjadi ketika ia sedang memanjat dan memetik dahan pohon arak untuk digunakan sikat gigi (siwak) oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Melihat sikap mereka ini, beliau bersabda, “Tuan-tuan mentertawakan kedua betis Ibnu Mas’ud, padahal di sisi Allah, timbangan (kebaikan) keduanya lebih berat daripada gunung Uhud….”

    Abdullah bin Mas’ud tidak pernah tertinggal mengikuti pertempuran bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, begitu juga beberapa pertempuran pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar.

    Ketika perang Badar usai, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam ingin mengetahui keadaan Abu Jahal, maka Abdullah bin Mas’ud pun beranjak pergi mencarinya, begitu juga beberapa sahabat lainnya. Sebenarnya saat pertempuran berlangsung, beliau telah didatangi dua pemuda Anshar, Mu’adz bin Amr bin Jamuh dan Muawwidz bin Afra. Mereka berdua mengaku telah membunuh Abu Jahal. Setelah memeriksa pedang kedua pemuda tersebut, beliau pun membenarkan pengakuan mereka. Hanya saja beliau ingin memperoleh kejelasan informasinya dan kepastian kematiannya.

    Ibnu Mas’ud bergerak di antara mayat yang bergelimpangan, dan akhirnya menemukan tubuh Abu Jahal, yang masih sekarat, nafasnya tinggal satu-satu. Tubuh Ibnu Mas’ud yang kecil berdiri di atas tubuh Abu Jahal yang kokoh kekar terkapar. Ia menginjak leher Abu Jahal dan memegang jenggotnya untuk mendongakkan kepalanya, dan berkata, “Apakah Allah telah menghinakanmu, wahai musuh Allah!!”

    “Dengan apa ia menghinakan aku? Apakah aku menjadi hina karena menjadi orang yang kalian bunuh? Atau justru orang yang kalian bunuh itu lebih terhormat? Andai saja bukan pembajak tanah yang telah membunuhku…”

    Memang, dua pemuda Anshar yang membunuhnya adalah para pekerja kebun kurma. Mungkin ia merasa lebih berharga jika saja yang membunuhnya adalah seorang pahlawan perang seperti Hamzah atau Umar. Kemudian ia berkata kepada Ibnu Mas’ud yang masih menginjak lehernya, “Aku sudah naik tangga yang sulit, wahai penggembala kambing….”

    Ibnu Mas’ud mengerti maksud Abu Jahal, ia melepaskan injakan pada lehernya. Tak berapa lama kemudian Abu Jahal tewas, ia memenggal kepala Abu Jahal dan membawanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Sampai di hadapan beliau, ia berkata, “Wahai Rasulullah, ini kepala musuh Allah, Abu Jahal…!”

    “Demi Allah yang tiada Ilah selain Dia,” Beliau mengucap tiga kali, kemudian bersabda lagi, “Allahu Akbar, segala puji bagi Allah yangtelah memenuhi janjiNya, menolong hambaNya dan mengalahkan pasukan musuhNya…”

    Ada suatu peristiwa berkesan pada Perang Tabuk yang selalu menjadi keinginan dan angan-angan Abdullah bin Mas’ud. Suatu malam ia terbangun dan ia melihat ada nyala api di arah pinggir perkemahan. Ia berjalan ke perapian tersebut, dan ia melihat tiga orang bersahabat, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, Abu Bakar dan Umar bin Khaththab sedang memakamkan jenazah salah seorang sahabat, Abdullah Dzulbijadain al Muzanni. Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam berada di lubang kuburan, Abu Bakar dan Umar berada di atas. Ia mendengar beliau bersabda, “Ulurkanlah kepadaku lebih dekat…!!”

    Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menerima jenazah Abdullah tersebut dan meletakkan di liang lahat, kemudian beliau berdo’a, “Ya Allah, aku telah ridha padanya, maka ridhai pula ia olehMu..!!”

    Melihat pemandangan tersebut, Ibnu Mas’ud berkata, “Alangkah baiknya jika akulah pemilik liang kubur itu….”

    Namun ternyata keinginannya tidak terpenuhi karena tiga orang mulia yang terbaik tersebut mendahuluinya menghadap Allah. Ia wafat pada zaman khalifah Utsman, dan dalam satu riwayat disebutkan, yang memimpin (mengimami) shalat jenazahnya adalah sahabat Ammar bin Yasir.

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 3 February 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Abdullah Bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu (2) 

    Kisah Abdullah Bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu (2)

    Suatu ketika Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam ingin ada seseorang yang membacakan Al Qur’an kepada orang-orang Quraisy karena mereka belum pernah mendengarnya, dan ternyata Abdullah bin Mas’ud yang mengajukan dirinya. Tetapi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengkhawatirkan keselamatannya, beliau ingin orang lain saja, yang mempunyai kerabat kaum Quraisy, yang bisa memberikan perlindungan jika ia disiksa. Tetapi Ibnu Mas’ud tetap mengajukan diri, bahkan setengah memaksa, sambil berkata, “Biarkanlah saya, ya Rasulullah, Allah pasti akan membela saya…!!”

    Sungguh suatu semangat besar yang didorong jiwa muda yang berapi-api, sehingga kurang mempertimbangkan keselamatan dirinya. Dan tanpa menunggu lagi, ia berjalan ke majelis pertemuan kaum Quraisy di dekat Ka’bah, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam membiarkannya. Sampai di sana, ia berdiri di panggung atau mimbar di mana orang-orang Quraisy biasanya melantunkan syair-syair mereka, dan mulai membaca ayat-ayat Qur’an dengan mengeraskan suaranya. Yang dibacanya adalah Surah ar Rahman. Orang-orang kafir itu memperhatikan dirinya sambil bertanya, “Apa yang dibaca oleh Ibnu Ummi Abdin itu?”

    Saat itu mereka belum mengetahui kalau Ibnu Mas’ud telah memeluk Islam, jadi mereka membiarkannya saja untuk beberapa saat lamanya.

    Salah satu dari orang Quraisy itu tiba-tiba berkata, “Sungguh, yang dibacanya itu adalah apa yang dibaca oleh Muhammad…!!”

    Merekapun bangkit menghampiri, dan memukulinya hingga babak belur. Namun selama dipukuli, ia tidak segera menghentikan bacaannya sebatas ia masih mampu melantunkannya. Ketika mereka berhenti memukulinya, ia segera kembali ke tempat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan para sahabat berkumpul. Melihat keadaan tubuhnya yang tidak karuan akibat pukulan-pukulan tersebut, salah seorang sahabat berkata, “Inilah yang kami khawatirkan akan terjadi pada dirimu!!”

    Tetapi dengan tegar Ibnu Mas’ud berkata, “Sekarang ini tak ada lagi yang lebih mudah bagiku daripada menghadapi musuh-musuh Allah tersebut. Jika tuan-tuan menghendaki, esok saya akan mendatangi mereka lagi dan membacakan lagi surah lainnya…”

    Mereka berkata, “Cukuplah sudah, engkau telah membacakan hal yang tabu atas mereka…!!”

    Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam hanya tersenyum melihat perbincangan di antara sahabat-sahabat beliau, tanpa banyak memberikan komentar apa-apa.

    Peristiwa tersebut menjadi pertanda awal dari apa yang diramalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, ia akan menjadi seorang yang terpelajar, yakni dalam bidang Al Qur’an dan ilmu keislaman lainnya. Sungguh suatu lompatan besar, dari seorang buruh upahan penggembala kambing, miskin dan terlunta-lunta, tiba-tiba menjadi seseorang yang ilmunya dibutuhkan banyak orang, khususnya dalam bidang Al Qur’an.

    Ia memang hampir tidak pernah terpisah dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, pengetahuannya terus tumbuh dan berkembang dalam bimbingan beliau. Ia mendengar 70 surah Al Qur’an langsung dari mulut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, dan tidak ada sahabat lainnya yang sebanyak itu mendengar langsung dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Ia juga selalu merekam (mengingat) peristiwa demi peristiwa yang berhubungan dengan surah-surah Al Qur’an. Jika ia mendengar kabar tentang seseorang yang mengetahui suatu peristiwa yang berhubungan dengan Al Qur’an, yang ia belum mengetahuinya, segera saja ia memacu untanya untuk menemui orang tersebut demi melengkapi pemahamannya.

    Tentang kemampuannya di bidang Al Qur’an, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Barang siapa yang ingin mendengar Al Qur’an tepat seperti ketika diturunkannya, hendaknya ia mendengar bacaan Al Qur’an Ibnu Ummi Abdin (yakni, Abdullah bin Mas’ud). Barang siapa ingin membaca Al Qur’an tepat seperti saat diturunkan, hendaklah ia membaca seperti bacaan Ibnu Ummi Abdin…” Beliau juga pernah bersabda, “Berpegang teguhlah kalian kepada ilmu yang diberikan oleh Ibnu Ummi Abdin…”

    Bahkan tak jarang Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memerintahkan Abdullah bin Mas’ud untuk membacakan suatu surah untuk beliau, dan beliau akan memerintahkannya berhenti setelah beliau tak dapat menahan tangis karena mendengar bacaannya. Beliau seolah dibawa “bernostalgia” dengan suasana ketika ayat tersebut diturunkan, karena bacaannya memang tepat seperti saat ayat-ayat Al Qur’an itu diturunkan.

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 2 February 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Abdullah Bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu (1) 

    Kisah Abdullah Bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu (1)

    Abdullah bin Mas’ud adalah seorang sahabat Muhajirin dari Bani Zahrah, termasuk dalam sahabat as sabiqunal awwalin, sahabat yang memeluk Islam pada masa awal didakwahkan. Perawakan tubuhnya pendek dan kurus, tidak seperti umumnya orang-orang Arab di masanya. Tetapi dalam hal ilmu-ilmu keislaman, khususnya dalam hal Al Qur’an, ia jauh melampaui para sahabat pada umumnya.

    Kisah keislamannya cukup unik, karena ia melihat dan mengalami secara langsung mu’jizat Rasulullah SAW.

    Ketika masih remaja, Abdullah bin Mas’ud bekerja mengembalakan kambing milik Uqbah bin Abi Mu’aith, salah seorang tokoh Quraisy yang sangat memusuhi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Suatu ketika saat sedang bekerja di suatu padang, dia didatangi oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan Abu Bakar yang sedang kehausan dan meminta susu. Tetapi karena hanya melaksanakan amanah menggembalakan, Abdullah bin Mas’ud pun tidak bisa memenuhi permintaan itu. Karena memang sedang kehausan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam meminta/meminjam anak kambing betina yang belum digauli pejantan, yang tentunya tidak mungkin mengeluarkan air susu.

    Ibnu Mas’ud remaja memenuhi permintaan beliau tersebut. Setelah anak kambing itu diletakkan di depan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau mengikat dan mengusap susunya dan berdoa dengan kata-kata yang tidak difahami Ibnu Mas’ud. Sungguh ajaib, kantung susunya jadi penuh dengan air susu, Abu Bakar datang dengan membawa batu cekung, dan memerah air susunya, Abu Bakar meminum susu tersebut sampai kenyang, kemudian memerah lagi dan memberikan kepada Ibnu Mas’ud. Dan terakhir Abu Bakar memerah lagi untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Setelah selesai minum, beliau berkata, “Mengempislah!!”

    Seketika kantung susu anak kambing itu mengempis kembali seperti semula, dan ia berlari kembali ke kumpulannya.

    Ibnu Mas’ud sangat takjub melihat pemandangan tersebut, ia mendekati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan minta diajarkan kata-kata yang diucapkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam tersebut. Maka beliau menyampaikan tentang risalah Islamiah yang beliau bawa, dan seketika itu Abdullah bin Mas’ud memeluk Islam.

    Nabi Shallallahu  ‘Alaihi Wassalam memandang cukup dalam kepadanya, kemudian bersabda, “Engkau akan menjadi seorang yang terpelajar..!!”

    Tentu saja Ibnu Mas’ud tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, apalagi saat itu ia hanyalah seorang miskin yang mencari upah dengan menggembala kambing milik orang lain. Tetapi di sela-sela waktu senggangnya, ia selalu mendatangi majelis pengajaran Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, sejak sebelum beliau menggunakan rumah Arqam bin Abi Arqam. Sedikit demi sedikit pengetahuannya makin bertambah, bahkan dengan cepat ia mampu menghafal dan menguasai wahyu-wahyu, yakni Al Qur’an.

     

     
  • erva kurniawan 1:33 am on 1 February 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Ja’far Bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu (2) 

    Kisah Ja’far Bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu (2)

    Ja’far-pun menyebutkan berbagai macam perintah Islam yang harus dilaksanakan dan juga larangan-larangan yang harus ditinggalkan. Kemudian ia meneruskan, “….Tetapi kaum kami memusuhi kami, menyiksa dan menimbulkan berbagai cobaan dengan tujuan mengembalikan kami kepada penyembahan berhala dan menghalalkan berbagai macam keburukan seperti dahulu. Mereka menekan dan mempersempit ruang gerak kami, menghalangi kami dari melaksanakan ajaran agama kami sehingga Nabi kami Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memerintahkan kami pergi ke negeri tuan, dan memilih tuan daripada orang lainnya…!! Kami gembira mendapat perlindungan tuan, dan kami berharap agar kami tidak didzalimi di sisi tuan, Wahai tuan Raja!!”

    Najasyi terdiam beberapa saat, merenungi penjelasan Ja’far yang panjang lebar tersebut. Kemudian ia berkata, “Apakah kalian bisa membacakan sedikit dari ajaran kalian kepadaku??”

    “Bisa, tuan Raja, ” Kata Ja’far.

    Kemudian ia membacakan beberapa ayat-ayat awal dari Surah Maryam. Najasyi dan beberapa orang uskup dengan ta’dhim mendengar bacaan Ja’far, tanpa terasa mereka berurai air mata sehingga membasahi jenggotnya.

    “Cukup,” Kata Najasyi, “Sesungguhnya ini dan apa yang dibawa Isa benar-benar keluar dari misykat yang sama…”

    Misykat adalah lubang di tembok tempat menaruh lampu, yang dari tempat itu cahaya menerangi seluruh ruangan. Dengan perkataannya itu berarti Najasyi mengakui bahwa Islam adalah agama wahyu, sebagaimana agama Nashrani yang dipeluknya.

    Kemudian Najasyi berpaling kepada dua utusan Quraisy tersebut dan berkata, “Pergilah kalian! Sungguh aku tidak akan pernah menyerahkan mereka kepada kalian, tidak akan pernah !!”

    Tak ada pilihan bagi keduanya kecuali pergi dari hadapan Najasyi. Tetapi Amr bin Ash sempat berkata pelan, “Demi Allah, besok aku akan mendatangkan mereka lagi dengan sesuatu yang bisa membinasakan mereka.”

    “Jangan lakukan itu,” Kata Ibnu Abi Rabiah, “Bagaimanapun mereka masih kerabat kita walaupun mereka menentang kita…!!”

    Tetapi Amr bin Ash tidak memperdulikan saran temannya tersebut. Esoknya ia menghadap Najasyi dan berkata, “Wahai tuan Raja, sesungguhnya mereka menyampaikan perkataan yang menyalahi Tuan dalam masalah Isa bin Maryam!!”

    Sekali lagi Najasyi mengirim utusan memanggil kaum muhajirin tersebut untuk menjelaskan masalah Isa. Mereka menjadi kaget dan risau, bagaimanapun juga mengenai Isa bin Maryam menjadi masalah yang krusial karena jelas-jelas Islam menolak ketuhanan Isa bin Maryam. Sempat terpikir untuk mencari jawaban yang bisa menyenangkan Najasyi, tetapi akhirnya semua ditepiskan, tidaklah mereka akan mengatakan sesuatu kecuali kebenaran semata.

    Ketika mereka dihadapkan dan Najasyi menanyakan hal tersebut, Ja’far berkata diplomatis, “Mengenai Isa bin Maryam, kami katakan seperti apa yang dinyatakan oleh Nabi kami Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, bahwa Isa adalah hamba Allah, Rasul-Nya, Roh-Nya dan Kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam, sang Perawan Suci…”

    Sebenarnya sama saja dan juga lebih mudah kalau dikatakan, “Isa bin Maryam bukan Tuhan”. Tetapi itu akan langsung menghantam keyakinan Raja dan para pengikutnya. Di sinilah tampak kemampuan diplomatis yang dimiliki Ja’far bin Abu Thalib. Mereka telah siap dan pasrah atas keputusan dan kemarahan Raja Najasyi. Tetapi reaksi yang terjadi jauh di luar dugaan. Tiba-tiba Najasyi turun dari tahtanya, ia mengambil sepotong ranting yang ada di tanah dan berkata, “Demi Allah, Isa bin Maryam tidak melebihi apa yang kamu katakan, walaupun hanya sepanjang ranting ini. Kalian aman di sini, jika ada orang yang menghina dan mencerca kalian, dia akan menanggung denda. Aku tidak suka seandainya memiliki gunung emas, sedangkan aku menyakiti salah satu dari kalian.”

    Sebagian pembesar dan panglimanya tampak tidak senang dengan perkataan Najasyi, mereka mendengus marah. Najasyipun berkata, “Aku tidak perduli jika kalian marah, kembalikan hadiah yang diberikan oleh kedua orang itu (utusan Quraisy), Demi Allah, Allah tidak menerima suap dariku ketika Dia memberikan amanat kerajaan ini, karena itu aku tidak perlu menerima suap dalam urusan-Nya. Tidak juga Allah menuruti kemauan orang banyak dalam urusanku, sehingga aku tidak perlu menuruti kemauan kalian dalam urusanNya.”

    Dengan terpaksa mereka mengembalikan hadiah-hadiah tersebut kepada dua utusan Quraisy, dan keduanya keluar dari majelis Najasyi dengan terhina.

    Ja’far dan para muhajirin lainnya tetap tinggal di Habasyah sampai datang perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam agar mereka segera berhijrah lagi ke Madinah, itu terjadi di bulan Dzulhijjah 6 H, atau Muharam 7 H. Tetapi sebelum mereka meninggalkan bumi Habasyah, Raja an Najasyi menyatakan dirinya memeluk Islam, sesuai dengan seruan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, di hadapan Ja’far bin Abu Thalib.

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 31 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Ja’far Bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu (1) 

    Kisah Ja’far Bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu (1)

    Ja’far bin Abu Thalib masih saudara sepupu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, putra dari Abu Thalib, paman yang mengasuh beliau dari kecil, dan menjadi pelindung Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan dakwah Islamiah ketika masih di Makkah, walaupun akhirnya meninggal dalam kekafiran.

    Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sangat menyayangi Ja’far karena ia termasuk sahabat yang paling mirip dengan beliau. Beliau sendiri pernah bersabda kepadanya, “Engkau adalah yang paling mirip dengan akhlak dan rupaku!!”

    Ja’far dan istrinya, Amma binti Umais memeluk Islam pada masa-masa awal di Makkah. Tak pelak lagi mereka mendapat tekanan dan siksaan dari para pembesar kafir Quraisy. Memang tidak seberat dialami para budak seperti Bilal, Ammar bin Yasir, Khabbab bin Aratt dan beberapa lainnya. Tetapi kehidupan mereka di tanah kelahirannya sendiri menjadi tidak nyaman dan tidak bisa bebas melaksanakan ajaran agama barunya tersebut. Karena itu, ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menghimbau sahabat-sahabatnya untuk berhijrah ke Habasyah (Ethiopia), Ja’far dan istrinya segera menyambut seruan tersebut. Bahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengangkatnya sebagai pimpinan rombongan Muhajirin pertama ini.

    Kaum kafir Quraisy merasa kecolongan karena beberapa orang muslim (sebanyak 83 lelaki dan 18/19 perempuan) lolos dari pengawasan mereka, dan berhasil hijrah ke Habasyah. Tetapi mereka tidak berdiam diri begitu saja, mereka berupaya keras bagaimana bisa mengembalikan mereka ke Makkah. Dikirimlah dua orang ahli diplomasi, Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabiah. untuk mempengaruhi Najasyi agar bersedia mengembalikan kaum muhajirin tersebut ke Makkah. Mereka menyiapkan berbagai macam hadiah dan bingkisan untuk memuluskan rencana tersebut. Setibanya di Habasyah, Amr bin Ash menemui para uskup terlebih dahulu dan memberikan berbagai hadiah, dengan harapan mereka memberikan dukungan kepadanya.

    Tiba waktu yang ditentukan, Amr bin Ash dan Ibnu Abi Rabiah menyampaikan hadiah dan bingkisan yang disiapkan untuk Najasyi, Raja Habasyah, kemudian menyampaikan maksud kedatangannya dengan gaya diplomasi yang manis dan memikat. Para uskuppun ikut berbicara, “Benar apa yang dikatakan mereka berdua, wahai Baginda Raja. Serahkan saja mereka kepada keduanya agar mereka bisa dikembalikan ke negerinya dan kepada kaum kerabatnya.”

    Tetapi Ashamah an Najasyi adalah seorang raja yang adil, berilmu dan beriman kuat (pada agama Nashrani yang dipeluknya) dan berakhlak mulia, persis seperti yang digambarkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam kepada para sahabat yang akan berhijrah ke Habasyah. Ia tidak akan mengambil keputusan apapun hanya berdasarkan apa yang disampaikan oleh Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabiah. Karena itu ia memerintahkan agar rombongan muhajirin tersebut dibawa menghadap kepadanya.

    Kaum muslimin pun mendatangi majelis Najasyi dengan hati was-was. Mereka memang telah mengetahui kehadiran dua utusan Quraisy dan sepak terjangnya dalam upaya mengembalikan mereka ke Makkah. Merekapun menunjuk Ja’far bin Abu Thalib sebagai juru bicara menghadapi Najasyi. Setibanya di majelis itu, Najasyi berkata, “Agama seperti apakah yang kalian pegangi itu, sehingga karena agama tersebut kalian memecah belah kaum kalian, dan kalian tidak juga memeluk agama kami atau agama lainnya yang kami kenali?”

    Sebagai juru bicara kaum muhajirin yang ditunjuk, Ja’far maju menghadap ke Najasyi. Apa yang dikatakannya akan menjadi penentu, apakah mereka akan tetap tinggal di Habasyah dan dengan tenang bisa melaksanakan ibadah, atau apakah mereka akan kembali ke Makkah dan menjadi sasaran siksaan dan pengejaran untuk memaksa mereka kembali ke agama jahiliahnya?

    Ja’far berkata, “Wahai Tuan Raja, dulu kami pemeluk agama jahiliah yang menyembah berhala-berhala, memakan bangkai, berbuat mesum, yang kuat menindas yang lemah, memutuskan tali persaudaraan dan berbagai pekerti buruk lainnya. Lalu Allah mengutus seorang rasul dari kalangan kami sendiri, yang sangat kami kenali nasab, kejujuran, amanah dan kesucian hatinya. Beliau menyeru kami untuk hanya menyembah Allah dan tidak menyekutukannya. Beliau juga memerintahkan kami untuk berbuat jujur, amanah…..”

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 30 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Utsman Bin Mazh’un Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Utsman Bin Mazh’un Radhiyallahu Anhu

    Utsman bin Mazh’un merupakan golongan awal yang masuk Islam, sebelum mencapai dua puluh orang, sehingga ia termasuk dalam golongan as sabiqunal awwalin. Pada awal keislamannya, ia pernah berhijrah ke Habasyah sampai dua kali untuk menghindari siksaan kaum kafir Quraisy. Ketika berhembus kabar bahwa orang-orang Quraisy telah menerima Islam, ia kembali ke Makkah. Tetapi ternyata itu hanya kabar bohong, bahkan mereka telah bersiap untuk menangkap dan menyiksa para sahabat yang baru kembali dari Habasyah tersebut. Untung bagi Utsman, pamannya Walid bin Mughirah (ayah Khalid bin Walid), menyatakan memberikan perlindungan keamanan kepadanya, sehingga orang-orang kafir Quraisy tidak bisa menyiksanya.

    Utsman bebas bergerak dan berjalan dimana saja di Makkah karena perlindungan Walid tersebut, tetapi ia melihat kaum muslimin lainnya dalam ketakutan, sebagian dalam derita penyiksaan. Ia jadi merasa tidak nyaman walau dalam keamanan, karena itu ia mengembalikan jaminan perlindungan pamannya tersebut, sehingga bisa merasakan seperti yang dirasakan oleh saudara muslim lainnya. Ketika Walid menanyakan alasannya, ia berkata, “Aku hanya ingin berlindung kepada Allah dan tidak suka kepada yang lain-Nya…”

    Suatu ketika ia melewati majelis orang kafir Quraisy yang sedang mendengarkan lantunan syair dari seorang penyair bernama Labid bin Rabiah. Seperti biasanya, para hadirin akan memberi applaus. Utsman bin Madz’un ikut memberi applaus ketika Labid menyampaikan salah satu baitnya, “Ingatlah, segala sesuatu selain Allah akan binasa.”

    Labidpun meneruskan bait syairnya, “Dan semua nikmat niscaya pasti sirna.”

    Spontan Utsman berteriak, “Dusta…!! Nikmat surga tidak akan pernah sirna…”

    Mendengar ada orang yang membantah syairnya, Labid jadi marah, ia meminta agar orang Quraisy bertindak karena ada yang mulai berani merusak forum mereka. Seseorang bangkit untuk memukul Utsman, tetapi ia membalas pukulannya tersebut, akibatnya salah satu matanya bengkak karena terpukul. Pamannya, Walid bin Mughirah, yang berada di sebelahnya berkata, “Kalau saja engkau masih berada dalam perlindunganku, matamu tidak akan mendapat musibah seperti itu!!”

    Mendengar komentar pamannya itu, Utsman justru menjawab dengan semangat, “Bahkan aku merindukan ini terjadi padaku, dan mataku yang satunya menjadi iri dengan apa yang dialami oleh saudaranya. Aku berada dalam perlindungan Dzat yang lebih mulia daripada kamu!”

    Ketika telah tinggal di Madinah, Utsman bin Mazh’un meninggal karena sakit, tidak gugur dalam pertempuran sebagai syahid. Hal ini sempat menimbulkan prasangka yang buruk, bahkan Umar bin Khaththab sempat berkata, “Lihatlah orang ini (yakni Utsman) yang sangat menjauhi kebesaran dunia (yakni zuhud), tetapi ia mati tidak dibunuh (mati syahid) !!”

    Persangkaan seperti itu terus bersemayam dalam pikiran banyak orang sampai akhirnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam wafat karena sakit dan tidak dalam pertempuran. Umar-pun berkata, “Alangkah sedihnya, orang yang paling mulia di antara kita telah meninggal dunia.”

    Prasangka seperti itupun jadi hilang, mereka tidak lagi memandang remeh kematiannya yang tidak dibunuh atau syahid di medang perang. Dan hal itu makin menguat ketika Khalifah Abu Bakar-pun meninggal juga karena sakit, tidak terbunuh di medan pertempuran. Kali ini Umar berkata, “Alangkah sedihnya, orang yang paling baik di antara kita telah meninggal dunia.”

    Utsman merupakan sahabat yang pertama meninggal di Madinah dan orang muslim pertama yang pertama kali dimakamkan di Baqi. Beberapa waktu kemudian putri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang juga istri Utsman bin Affan, Ruqayyah binti Muhammad meninggal, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Pergilah, wahai putriku, susullah saudara kita yang saleh, Utsman bin Mazh’un..!!”

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 29 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Khabbab Bin Arats Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Khabbab Bin Arats Radhiyallahu Anhu

    Khabbab bin Arats adalah seorang sahabat Muhajirin yang memeluk Islam pada masa-masa awal, ketika umat Islam belum mencapai dua puluh orang. Ia berasal dari golongan lemah, yakni hanya seorang budak yang bertugas membuat pedang atau peralatan dari besi lainnya. Sebagaimana sahabat-sahabat yang masuk Islam pada periode awal, ia mengalami penyiksaan yang tidak tanggung-tanggung. Statusnya sebagai budak membuat tuannya, Ummu Anmar bebas menyiksa dirinya. Ia diseterika dengan besi panas yang merah menyala, dipakaikan baju besi kemudian dijemur di panas padang pasir, juga pernah diseret di atas timbunan bara sehingga lemak dan darahnya mengalir mematikan bara tersebut.

    Khabbab pernah mengeluhkan beratnya siksaan yang dialaminya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau yang saat itu tengah bersandar pada Ka’bah beralaskan burdah, bersabda, “Wahai Khabbab, orang-orang yang sebelum kalian pernah disisir kepalanya dengan sisir besi, sehingga terlepas tulang dari dari daging dan uratnya, tetapi ia tidak berpaling dari agamanya. Ada pula yang dipenggal lehernya hingga kepalanya putus, namun ia tetap teguh dengan agamanya. Sungguh Allah Subhanahu Wata’ala akan memenangkan perjuangan agama ini sehingga suatu saat nanti, orang akan berkendaraan dari Shan’a hingga Hadramaut tanpa merasa takut kecuali hanya kepada Allah, sampai serigala bisa berdampingan dengan kambing (tanpa memangsanya). Namun sungguh kalian adalah orang yang suka tergesa-gesa.”

    Mendengar penuturan beliau itu, Khabbab pun ikhlas dengan penderitaannya dan berteguh dengan keimanannya. Ketika Islam telah mengalami kejayaan dan berbagai harta kekayaan melimpah, Khabbab justru duduk menangis sambil berkata, “Tampaknya Allah telah memberikan ganjaran atas segala penderitaan yang kita alami, aku khawatir tidak ada lagi ganjaran yang kita terima di akhirat, setelah kita terima berbagai macam kemewahan ini!!”

    Setelah itu Khabbab meletakkan seluruh hartanya pada bagian rumahnya yang terbuka, dan mengumumkan agar siapa saja yang memerlukan untuk mengambilnya tanpa meminta ijin dirinya. Ia berkata, “Demi Allah aku tidak akan mengikatnya dengan tali (yakni, tidak mempertahankan hartanya tersebut), dan tidak akan melarang orang yang akan meminta/mengambilnya!!”

    Setelah Khabbab terbebas dari perbudakannya karena ditebus dan dimerdekakan oleh Abu Bakar, ia berkhidmad untuk belajar Al Qur’an dan akhirnya menjadi salah seorang yang ahli (Qari) dalam Al Qur’an. Ia tengah mengajarkan Al Qur’an kepada Fathimah binti Khaththab dan suaminya ketika Umar datang menghajar keduanya karena keislamannya. Tetapi peristiwa itu justru menjadi pemicu Umar memeluk Islam.

    Khabbab hampir tidak tertinggal dalam berbagai pertempuran di medan jihad. Pada Perang Badr, ia bertugas menjaga kemah Rasulullah pada malam sebelum perang, dan ia melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam shalat semalaman hingga menjelang fajar. Ketika Khabbab bertanya tentang shalat yang sangat panjang itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menjawab, “Itu adalah shalat yang penuh harapan dan ketakutan, aku berdoa kepada Allah dengan tiga permintaan, dua dikabulkan dan satu lagi dicegahNya. Aku berdoa : Ya Allah, janganlah umatku Engkau binasakan sampai habis karena kelaparan, dan Dia mengabulkannya. Aku berdoa : Ya Allah, Janganlah umatku engkau binasakan sampai habis karena serangan musuh, dan Dia mengabulkannya. Aku berdoa : Ya Allah, janganlah terjadi perpecahan dan perselisihan di antara umatku, maka Dia mencegah doaku ini.”

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 28 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Sa’id Bin Zaid Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Sa’id Bin Zaid Radhiyallahu Anhu

    Sa’id bin Zaid al Adawy Radhiyallahu ‘Anhu merupakan kelompok sahabat yang memeluk Islam pada masa-masa awal, sehingga ia termasuk dalam kelompok as Sabiqunal Awwalun. Ia memeluk Islam bersama istrinya, Fathimah binti Khaththab, adik dari Umar bin Khaththab. Sejak masa remajanya di masa jahiliah, ia tidak pernah mengikuti perbuatan-perbuatan yang umumnya dilakukan oleh kaum Quraisy, seperti menyembah berhala, bermain judi, minum minuman keras, main wanita dan perbuatan nista lainnya. Sikap dan pandangan hidupnya ini ternyata diwarisi dari ayahnya, Zaid bin Amru bin Naufal.

    Sejak lama Zaid bin Amru telah meyakini kebenaran agama Ibrahim, tetapi tidak mengikuti Agama Yahudi dan Nashrani yang menurutnya telah jauh menyimpang dari agama Ibrahim. Ia tidak segan mencela cara-cara peribadatan dan perbuatan jahiliah dari kaum Quraisy tanpa rasa takut sedikitpun. Ia pernah bersandar di dinding Ka’bah ketika kaum Quraisy sedang melakukan ritual-ritual penyembahannya, dan ia berkata, “Wahai kaum Quraisy, apakah tidak ada di antara kalian yang menganut agama Ibrahim selain aku??”

    Zaid bin Amru juga sangat aktif menentang kebiasaan kaum Quraisy mengubur hidup-hidup anak perempuannya, karena dianggap sebagai aib, seperti yang pernah dilakukan Umar bin Khaththab di masa jahiliahnya. Ia selalu menawarkan diri untuk mengasuh anak perempuan tersebut. Ia juga selalu menolak memakan daging sembelihan yang tidak disebutkan nama Allah saat penyembelihannya, dan juga penyembelihan untuk berhala-berhala.

    Seakan-akan ia memperoleh ilham, ia pernah berkata kepada sahabat dan kerabatnya, “Aku sedang menunggu seorang Nabi dari keturunan Ismail, hanya saja, rasanya aku tidak akan sempat melihatnya, tetapi saya beriman kepadanya dan meyakini kebenarannya…..!!”

    Zaid bin Amru sempat bertemu dan bergaul dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sebelum beliau dikukuhkan sebagai Nabi dan Rasul, sosok pemuda ini (yakni, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam) sangat mengagumkan bagi dirinya, di samping akhlaknya yang mulia, pemuda ini juga mempunyai pandangan yang sama dengan dirinya tentang kebiasaan dan ritual jahiliah kaum Quraisy.

    Tetapi Zaid meninggal ketika Kaum Quraisy sedang memperbaiki Ka’bah, yakni, ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam berusia 35 tahun.

    Dengan didikan seperti itulah Sa’id bin Zaid tumbuh dewasa, maka tak heran ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menyampaikan risalahnya, ia dan istrinya langsung menyambut seruan beliau. Tak ada ketakutan dan kekhawatiran walau saat itu kaum Quraisy melancarkan siksaan yang tak terperikan kepada para pemeluk Islam, termasuk Umar bin Khatthab, kakak iparnya sendiri yang merupakan jagoan duel di pasar Ukadz. Hanya saja ia masih menyembunyikan keislamannya dan istrinya. Sampai suatu ketika Umar yang bertemperamen keras itu mengetahuinya juga.

    Ketika itu Sa’id dan istrinya sedang mendapatkan pengajaran al Qur’an dari sahabat Khabbab bin Arats, tiba-tiba terdengar ketukan, atau mungkin lebih tepat gedoran di pintu rumahnya. Ketika ditanyakan siapa yang mengetuk tersebut, terdengar jawaban yang garang, “Umar..!!”

    Suasana khusyu’ dalam pengajaran al Qur’an tersebut menjadi kacau, Khabbab segera bersembunyi sambil terus berdoa memohon pertolongan Allah untuk mereka. Sa’id dan istrinya menuju pintu sambil menyembunyikan lembaran-lembaran mushaf di balik bajunya. Begitu pintu dibuka oleh Sa’id, Umar melontarkan pernyataan keras dengan sorot mata menakutkan, “Benarkan desas-desus yang kudengar, bahwa kalian telah murtad?”

    Sebelum kejadian itu, sebenarnya Umar telah membulatkan tekad untuk membunuh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Kemarahannya telah memuncak karena kaum Quraisy jadi terpecah belah, mengalami kekacauan dan kegelisahan, penyebab kesemuanya itu adalah dakwah Islamiah yang disampaikan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Dalam pemikiran Umar, jika ia menyingkirkan/membunuh beliau, tentulah kaum Quraisy kembali tenang seperti semula. Tetapi di tengah perjalanan, ia bertemu dengan Nu’aim bin Abdulah yang memberitahukan kalau adiknya, Fathimah dan suaminya telah memeluk Islam. Nu’aim menyarankan agar ia mengurus kerabatnya sendiri saja, sebelum mencampuri urusan orang lain. Karena itu, tak heran jika kemarahan Umar itu tertumpah kepada keluarga adiknya ini.

    Sebenarnya Sa’id melihat bahaya yang tampak dari sorot mata Umar. Tetapi keimanan yang telah merasuk seolah memberikan tambahan kekuatan yang terkira. Bukannya menolak tuduhan, ia justru berkata, “Wahai Umar, bagaimana pendapat anda jika kebenaran itu ternyata berada di pihak mereka ??”

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 27 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Abu Ubaidah Bin Harits Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Abu Ubaidah Bin Harits Radhiyallahu Anhu

    Sebelum perang Badar mulai pecah dan dua pasukan sedang berhadapan, tokoh kafir Quraisy, Utbah bin Rabiah, menantang duel satu persatu.

    Majulah putranya, Walid bin Utbah dan Ali bin Abi Thalib maju menghadapinya dan Ali berhasil membunuhnya.

    Kemudian majulah saudaranya Syaibah bin Rabiah dan paman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, Hamzah bin Abdul Muthalib melayani tantangannya dan dengan mudah membunuhnya pula.

    Melihat anak dan saudaranya tewas di hadapannya, Utbah sendiri yang maju menuntut balas. Kali ini ia dihadapi oleh Ubaidah bin Harits. Mereka laksana dua tiang yang kokoh, saling beradu pukulan dan tampaknya kekuatan mereka seimbang. Ubaidah berhasil memukul pundak Utbah hingga patah, tetapi Utbah berhasil memotong betis kaki Ubaidah, keduanya tampak sekarat.

    Ali dan Hamzah maju membunuh Utbah, dan mereka membawa Ubaidah ke tempat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sedang berteduh.

    Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam meletakkan kepala Ubaidah di paha beliau, beliau mengusap wajahnya yang penuh debu. Ubaidah memandang beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah, jika Abu Thalib melihat keadaanku ini, ia pasti akan mengetahui bahwa aku lebih berhak atas kata-kata yang pernah diucapkannya tersebut.

    Ubaidah memang masih paman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan sepupu dari Abu Thalib. Ketika kaum kafir Quraisy berniat untuk membunuh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, bahkan mereka menawarkan seorang anak muda sebagai pengganti. Abu Thalib dengan tegas berkata, “(Kalian berdusta jika mengatakan) bahwa kami akan menyerahkannya (yakni Muhammad, tanpa kami melindunginya) sampai kami terkapar di sekelilingnya dan bahkan (untuk itu akan) menelantarkan anak-anak dan istri-istri kami sendiri.”

    Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam tersenyum mendengar perkataannya, dan Ubaidah bertanya, “Apakah aku syahid, ya Rasulullah?””Ya,” Kata beliau, “Dan aku akan menjadi saksi untukmu!!”

    Sesaat kemudian Ubaidah meninggal, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menguburkannya di Shafra’, sebuah wadi antara Badar dan Madinah. Beliau sendiri yang turun ke kuburnya, dan beliau tidak pernah turun ke kuburan siapapun sebelumnya kecuali pada pemakaman Ubaidah bin Harits ini.

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 26 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Abu Salamah Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Abu Salamah Radhiyallahu Anhu

    Abu Salamah Radhiyallahu ‘Anhu, atau nama aslinya Abdullah bin Abdul Asad, memeluk Islam pada masa permulaan Islam, begitu juga dengan istrinya, Ummu Salamah. Sebagian riwayat menyebutkan, ia orang ke sepuluh yang memeluk Islam.

    Karena tekanan dan gangguan yang begitu hebat dari kaum Quraisy, mereka berdua ikut hijrah ke Habasyah. Disanalah lahir anak mereka yang pertama Salamah.

    Setelah beberapa waktu di Habasyah, mereka kembali lagi ke Makkah.

    Ketika datang perintah hijrah ke Madinah, Abu Salamah dan Istrinya, Ummu Salamah pun memenuhi perintah ini, mereka berangkat menaiki onta. Anak satu-satunya yang masih kecil, Salamah dalam gendongan ibunya di dalam sekedup.

    Tetapi kaum kerabat Ummu Salamah, Bani Mughirah, tidak rela jika salah satu anggota kaumnya pergi ke Madinah, karena itu beberapa orang mengejar Abu Salamah dan merebut kendali onta yang membawa istri dan anaknya, mereka berkata, “Ini jiwamu, engkau memenangkannya atas kami. Tidakkah engkau tahu, atas dasar apa kami membiarkanmu berjalan dengannya di negeri ini?”

    Abu Salamah pun tidak bisa berbuat apa-apa. Tetapi tidak cukup sampai disitu, kerabat Abu Salamah dari Banu Abdul Asad ternyata tidak rela kalau Salamah sebagai bagian dari kaumnya berada di Banu Mughirah, karena itu mereka merebutnya dari Ummu Salamah. Setelah berhasil, ternyata mereka tidak membiarkan Salamah untuk ikut ayahnya hijrah ke Madinah.

    Walau kecintaannya begitu besar terhadap istri dan anaknya, perintah Allah dan RasulNya di atas segalanya. Abu Salamah tetap meneruskan hijrah ke Madinah tanpa orang-orang yang dicintainya. Setelah sekitar satu tahun berpisah, barulah Ummu Salamah dibiarkan kaumnya menyusul suaminya ke Madinah. Salamahpun diberikan bani Abdul Asad pada Ummu Salamah untuk dibawa ke Madinah.

    Abu Salamah ikut terjun dalam perang Badar dan Uhud. Pada perang Uhud, ia mengalami luka parah, yang berakibat ia menderita berkepanjangan.

    Ketika lukanya belum sembuh sepenuhnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menunjuk dirinya untuk memimpin pasukan kecil berkekuatan 150 orang sahabat, untuk menyerang Bani Asad bin Khuzaimah.

    Bani Asad menghimpun kekuatan secara rahasia untuk menyerang Madinah, yang dikoordinasikan oleh dua orang bersaudara, Thalhah dan Salamah bin Khuwailid.

    Pasukan yang dipimpin Abu Salamah ini berhasil melumpuhkan Bani Asad. Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharam tahun 4 Hijriah. Tetapi akibat pertempuran ini, luka-lukanya pada perang Uhud yang belum sepenuhnya sembuh, menjadi kambuh kembali, bahkan semakin parah, sehingga akhirnya ia menemui syahid pada bulan Jumadil Akhir tahun 4 Hijriah.

    Dari pernikahannya dengan Ummu Salamah, ia mempunyai empat anak. Selain Salamah, anak lainnya adalah Umar, Durah, dan Zainab. Zainab ini masih di dalam kandungan ketika Abu Salamah wafat.

    Ketika masih hidupnya, Ummu Salamah pernah menginginkan agar mereka saling berjanji untuk tidak menikah lagi, jika salah satu dari mereka meninggal terlebih dahulu. Tetapi Abu Salamah menginginkan agar Ummu Salamah taat kepadanya sebagai suaminya, dan ia berkata, “Jika aku meninggal dahulu, menikahlah engkau.”

    Setelah itu Abu Salamah berdoa, “Ya Allah, apabila saya meninggal nanti, nikahkanlah Ummu Salamah dengan lelaki yang lebih baik daripada saya, yang tidak akan menjadikan hatinya bersedih, yang tidak akan memberikan kesulitan kepadanya.”

    Allah mengabulkan doa Abu Salamah ini, dan sepeninggal dirinya, ternyata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam berkenan untuk menikahi Ummu Salamah.

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 25 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Abu Ubaidah Bin Jarrah Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Abu Ubaidah Bin Jarrah Radhiyallahu Anhu

    Ketika itu waktunya shalat dhuhur, Umar berusaha menampilkan dirinya di dekat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Namun walau Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam telah melihat dirinya, beliau masih mencari-cari seseorang. Ketika pandangan beliau jatuh pada Abu Ubaidah, beliau bersabda, “Wahai Abu Ubaidah, pergilah berangkat bersama mereka, dan selesaikan apabila terjadi perselisihan di antara mereka….!”

    Inilah dia orang terpercaya itu, dan para sahabat lainnya tidak heran kalau ternyata Abu Ubaidah yang dimaksudkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Beberapa kali, dalam beberapa kesempatan berbeda, beliau menyebut Abu Ubaidah sebagai ‘Amiinul Ummah’, orang kepercayaan ummat Islam ini.

    Abu Ubaidah-pun menyertai rombongan tersebut kembali ke Najran, sebagaimana diperintahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Sebagian riwayat menyebutkan, dua dari tiga pemimpinnya masuk Islam setelah mereka tiba di Najran, Yakni Al Aqib atau Abdul Masih, pemimpin yang mengendalikan roda pemerintahan, dan As Sayyid atau Al Aiham atau Syurahbil, pemimpin yang mengendalikan masalah peradaban dan politik. Lambat laun Islam menyebar di Najran berkat bimbingan ‘Amiinul Ummah’ ini. Bahkan akhirnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengirimkan Ali bin Thalib untuk membantu Abu Ubaidah dalam urusan Shadaqah dan Jizyah dari masyarakat Najran yang makin banyak yang memeluk Islam.

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 24 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Al Arqam Bin Abil Arqam Radhiyallahu Anhu… 

    Kisah Al-Arqam Bin Abil Arqam Radhiyallahu Anhu

    Al-Arqam bin Abil Arqam termasuk orang – orang yang pertama memeluk Islam. Ada ulama yang mengatakan ia termasuk orang ketujuh yang memeluk Islam, sementara ulama yang lain mengatakan ia termasuk orang kesebelas. Namun yang jelas, rumah Al-Arqam adalah rumah tempat pusat dakwah pertama. Di rumah yang penuh berkah inilah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengajarkan Islam secara diam – diam kepada para pemeluk Islam pertama.

    Di saat Islam baru mulai diajarkan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memerlukan sebuah tempat yang tenang untuk mengajarkan agama Allah ini. Maklumlah, saat itu seperti pemeluk Islam dimusuhi dan disiksa kaum musyrik. Akhirnya beliau memutuskan bahwa rumah Al-Arqam bin Abil Arqam yang terletak di dataran Shafa ini adalah tempat yang cocok. Tempat ini letaknya agak terpencil dan tak meimbulkan kecurigaan. Terbukti selama rumah itu digunakan tak ada satu pun tindakan penggerebekan dilakukan orang kafir.

    Banyak sekali orang memeluk Islam di rumah Al-Arqam yang diberkahi itu. Salah satu orang terakhir yang memeluk Islam di tempat itu adalah Umar bin Khattab. Setelah Umar memeluk Islam, dakwah mulai dilakukan secara terang – terangan. Ketika itu jumlah Kaum Muslimin telah mencapai 40 orang. Jadi sebelum itu, rumah Arqam telah menjadi sekolah dan tempat berlindung bagi 40 orang pemeluk Islam pertama.

    Ke – 40 orang pemeluk Islam pertama itu dikenal dengan nama Assabiqunal Awwalun. Mereka beriman ketika semua orang lain masih ingkar. Kelak mereka harus akan mengalami hijrah ke seberang lautan di Habasyah dan menempuh berbagai ujian berat lainnya.

    Al-Arqam bin Abil Arqam termasuk kelompok Muhajirin pertama yang hijrah ke Madinah. Ia juga terjun dalam Pertempuran Badar. Di perang ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memberikan rampasan perang berupa pedang kepada Al-Arqam. Baktinya kepada Islam diteruskan dengan terjun ke semua pertempuran genting yang lain.

    Para sejarawan masih berselisih tentang kapan Al-Arqam wafat. Ada yang bilang ia wafat pada hari yang sama dengan wafatnya Abu Bakar Ash-Shidiq. Ada juga yang mengatakan ia wafat setelah Abu Bakar di usia 80 tahun lebih. Ketika wafat, salah satu yang hadir dalam menshalatkan jenazahnya adalah Sa’ad bin Abi Waqqash. Rupanya wasiat Al-Arqam kepada Sa’ad adalah bila ia wafat, Sa’ad diminta menshalati dan mendoakan jenazahnya.

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 23 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Abdurrahman Bin Auf Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Abdurrahman Bin Auf Radhiyallahu Anhu

    Abdurrahman bin Auf termasuk dalam kelompok sahabat as Sabiqunal Awwalun, ia memeluk Islam pada hari-hari pertama Islam didakwahkan, yakni lewat perantaraan Abu Bakar ash Shiddiq. Ia juga termasuk dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga ketika masih hidupnya. Sembilan orang lainnya adalah empat khalifah Khulafaur Rasyidin, Abu Bakar, Umar Utsman dan Ali, kemudian Abu Ubaidah bin Jarrah, Sa’d bin Abi Waqqash, Sa’id bin Zaid, Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam Radhiyallahu ‘Anhuma.

    Abdurrahman bin Auf termasuk seorang sahabat yang selalu berhasil dalam perniagaannya, sehingga hartanya selalu berlimpah. Apapun bidang usaha yang ditekuninya selalu memberikan keuntungan, sehingga ia sempat takjub atas dirinya sendiri, dan berkata, “Sungguh mengherankan diriku ini, seandainya aku mengangkat batu tentulah kutemukan emas dan perak di bawahnya.”

    Namun kekayaannya yang melimpah tidak menjadikannya takabur. Orang yang belum pernah mengenalnya, bila bertemu untuk pertama kali, mereka tidak akan bisa membedakan antara dirinya sebagai tuan dan pelayan/pegawainya, karena kesederhanaan penampilannya.

    Pernah ia dipusingkan dengan hartanya yang begitu berlimpah sehingga ia begitu gelisah dan tidak bisa tidur. Istrinya yang bijak dan penuh keimanan memberikan saran yang bisa menentramkan hatinya. Sang istri berkata, “Hendaknya hartamu engkau bagi tiga, dengan sepertiganya, engkau carilah saudaramu seiman yang berhutang dan lunasilah hutang mereka. Sepertiganya lagi, carilah saudaramu seiman yang memerlukan uang dan berilah mereka pinjaman. Dan sepertiganya lagi, engkau pakai sebagai modal perniagaanmu…”

    Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menyeru agar umat Islam bersedekah untuk mendanai Perang Tabuk, Abdurrahman bin Auf menyedekahkan seluruh hartanya yang berjumlah sekitar 200 uqiyah atau 8000 dirham. Umar bin Khaththab mengadukan sikap Abdurrahman kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam karena tidak menyisakan apapun untuk keluarganya, sedangkan ia sendiri menyedekahkan separuh hartanya sebanyak 100 uqiyah, separuhnya lagi ditingalkan untuk keperluan keluarganya.

    Karena pengaduan Umar ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memanggilnya, kemudian bertanya, “Wahai Abdurrahman, apakah engkau meninggalkan sesuatu untuk keluarga yang engkau tinggalkan!”

    “Benar, ya Rasulullah!” Kata Abdurrahman, “Aku telah meninggalkan untuk keluargaku sesuatu yang lebih baik dan lebih banyak daripada apa yang kusedekahkan!”

    “Berapa?” Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bertanya.

    “Kebaikan dan rezeqi yang dijanjikan oleh Allah dan RasulNya!”

    Rasulullah Shallallahu’ ‘Alaihi Wassalam membenarkan sikapnya dan menerima alasan Abdurrahman tersebut.

    ***

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 22 January 2020 Permalink | Balas  

    Sunnah Wudhu’ 

    Sunnah Wudhu’

    Berikut sunnah-sunnah wudhu’:

    1. Bersiwak

    Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

    “Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya kuperintahkan mereka bersiwak tiap kali berwudhu” (HR. Abu Dawud no. 46, At Tirmidzi no. 22 dan lainnya, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih At Tirmidzi no. 21)

    1. Membasuh kedua telapak tangan tiga kali pada awal wudhu’ dan menyela-nyela jari jemarinya.

    Dasarnya adalah hadits Utsman bin Affan ra. tentang tata cara wudhu’ Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam, “Utsman bin Affan minta diambilkan air wudhu lalu berwudhu. Dia basuh kedua telapak tangannya tiga kali“. (HR. Muslim no. 226 dan lainnya)

    1. Mengabungkan berkumur dan menghirup air ke dalam hidung dengan segenggam air sebanyak tiga kali.

    Abdullah bin Zaid berkata, “Beliau ShallallaHu alaiHi wa sallam berkumur dan menghirup air ke dalam hidung dari satu genggam tangan. Dan beliau melakukannya sebanyak tiga kali” (HR. Muslim no. 235)

    1. Mendahulukan yang kanan dari pada yang kiri.

    Aisyah ra. berkata, “Rasulullah suka mendahulukan bagian kanan saat memakai sandal, menyisir rambut, bersuci dan dalam semua hal” (HR. Al Bukhari, Muslim no. 4122 dan An Nasa-i I/78)

    1. Menggosok

    Abdullah bin Zaid berkata, “Nabi diberi tiga mudd air, beliau lalu berwudhu dan menggosok kedua tangannya” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Ibni Khuzaimah no. 118)

    1. Membasuh 3 kali.

    Membasuh tiga kali merupakan sunnah. Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam juga pernah berwudhu satu kali-satu kali (HR. Al Bukhari no. 157, dari Ibnu Abbas ra.) dan dua kali-dua kali (HR. Abu Dawud no. 136, At Tirmidzi no. 430 dan lainnya, dari Abu Hurairah ra.)

    1. Berdoa setelah selesai.

    Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang diantara kalian berwudhu, lalu menyempurnakan wudhunya, kemudian berdoa,

    ‘AsyHadu al-laa ilaaHa illallaHu wahdaHu laa syariikalaH wa asyHadu anna muhammadan ‘abduHu wa rasullluHu’

    Melainkan dibukakan baginya delapan pintu surga, dia memasukinya dari arah mana saja yang ia kehendaki” (HR. Muslim no. 234)

    1. Shalat dua raka’at setelah wudhu

    Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam berkata kepada Bilal ra. ketika hendak shalat shubuh,

    “Wahai Bilal beritahukanlah kepadaku, amalan apa yang paling engkau harapkan yang engkau kerjakan di dalam Islam, karena sesungguhnya aku mendengar suara kedua sandalmu di hadapanku di Surga”

    Dia (Bilal ra.) menjawab,

    “Tidaklah aku melakukan amalan yang paling aku harapkan (pahalanya), hanya saja aku tidaklah bersuci, baik saat petang maupun siang, melainkan aku shalat (sunnah) dengan apa-apa yang sudah dituliskan tentang shalatku” (HR. Al Bukhari no. 1149 dan Muslim no. 2458)

    Maraji’:

    Panduan Fiqh Lengkap Jilid 1, Abdul ‘Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 21 January 2020 Permalink | Balas  

    Rukun Wudhu’ 

    Rukun Wudhu’

    Allah Ta’ala berfirman,

    “Hai orang-orang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki” (QS Al Maa-idah : 6)

    Berikut Rukun-rukun wudhu,

    1. Berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung.

    Berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung termasuk bagian dari muka atau wajah hingga wajiblah keduanya. (As Sa-iluul Jarraar I/81)

    Tentang berkumur kumur dalam berwudhu Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam telah memerintahkan,

    “Idzaa tawadhdha’ famadhmidh” yang artinya “Jika engkau berwudhu, maka berkumurlah” (HR. Abu Dawud no. 142, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan Abi Dawud no. 129)

    Begitu pula dengan menghirup air ke dalam hidung, Beliau ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Jika salah seorang diantara kalian berwudhu, jadikanlah (hiruplah) air ke dalam hidungnya, lalu semburkanlah” (HR. Abu Dawud no. 140 dan An Nasa-i I/66, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih al Jaami’ush Shaghiir)

    1. Membasuh muka.
    2. Menyela-nyela jenggot.

    Dari Anas bin Malik ra., ia berkata, “Jika Rasulullah berwudhu, beliau ambil segenggam air lalu memasukkannya ke bawah dagunya, dengan air itu belia menyela-nyelai jenggotnya. Beliau lantas bersabda, ‘Begitulah Rabbku memerintahkanku’” (HR. Abu Dawud no. 145 dan lainnya, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Irwaa’ al Ghaliil no. 92)

    1. Membasuh kedua tangan hingga siku

    Imam Asy Syafi’i berkata dalam kitabnya Al Umm I/25, “Membasuh kedua tangan tidaklah cukup kecuali dengan membasuh antara ujung-ujung jemari hingga siku. Dan tidaklah cukup kecuali dengan membasuh sisi luar, dalam dan samping kedua tangan, hingga sempurnalah membasuh keduanya. Jika meninggalkan sedikit saja dari bagian ini, maka tidak boleh”

    1. Mengusap kepala, termasuk mengusap kedua telinga.

    Wajib mengusap kepala secara merata, karena perintah mengusap kepala dalam Al Qur’an masih global maka penjelasannya dikembalikan ke sunnah. Disebutkan dalam Kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dan yang lainnya bahwa Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam mengusap kepala beliau secara merata. Disini terdapat dalil atas wajibnya mengusap kepala secara sempurna.

    [Imam Al Bukhari memberikan bab tentang mengusap kepala secara keseluruhan atau sempurna pada Kitab Shahihnya yaitu bab mashir ra’si kulliHi liqaulillaHi ta’alaa wamsahuu biru-uusikum (bab mengusap kepala seluruhnya karena firman Allah Ta’ala, “Dan usaplah kepalamu”)]

    Lalu bagaimana dengan hadits dari Al Mughirah bin Syu’bah ra. yang menyebutkan bahwa Nabi ShallallaHu alaiHi wa sallam mengusap bagian ubun-ubun dan bagian atas sorban beliau ?

    [Berkata Al Mughirah bin Syu’bah ra., “Bahwa Nabi berwudhu’, maka disapunya ubun-ubun serta serbannya, begitu pun kedua sepatunya” (HR. Muslim)]

    Jawabannya, “Beliau ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam mencukupkan mengusap ubun-ubun saja karena telah membasuh sisa kepala dengan sempurna, yaitu dengan cara mengusap bagian atas sorban. Inilah pendapat kami. Bukan berarti ini adalah dalil atas bolehnya mencukupkan mengusap ubun-ubun atau sebagian kepala tanpa menyempurnakannya dengan mengusap bagian atas sorban” (Kitab Tafsiir Ibni Katsiir II/24, dengan pengubahan)

    Begitu pula dengan kedua telinga, karena ia merupakan bagian dari kepala maka wajiblah untuk mengusapnya. Dasarnya adalah sabda Beliau ShallallaHu alaiHi wa sallam,

    “Al udzunaani minar ra’si” yang artinya “Kedua telinga adalah bagian dari kepala” (HR. Ibnu Majah no. 443, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan Ibni Majah no. 357)

    1. Membasuh kedua kaki dari jari kaki hingga ke mata kaki dan menyela-nyela jari jemarinya, berdasarkan sabda Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam,

    “Wa khallil baynal ashaabi’” yang artinya “Dan sela-selailah jari-jemari” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan Abi Dawud no. 629)

    Maraji’:

    Panduan Fiqh Lengkap Jilid 1, Abdul ‘Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 20 January 2020 Permalink | Balas  

    Syarat Sah Wudhu 

    Syarat Sah Wudhu

    Ada 3 syarat sah Wudhu, yaitu :

    1. Niat

    Berdasarkan sabda Beliau ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam, “Innamal a’maalu binniyyaat” yang artinya “Sesungguhnya perbuatan itu tergantung niat” (HR. Al Bukhari no. 1, Muslim no. 1907, Abu Dawud no. 2186, At Tirmidzi no. 1698, Ibnu Majah no. 4227 dan An Nasa-i I/59)

    Tidak disyari’atkan mengucapkannya, karena Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam tidak pernah mengerjakannya.

    1. Mengucap basmalah

    Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

    “Laa shalaata liman laa wudhuu-a laHu wa laa wudhuu-a liman lam yadzkurismallaHu ‘alaiHi” yang artinya “Tidak sah shalat seseorang tanpa wudhu. Dan tidak ada wudhu untuk seseorang yang tidak menyebut nama Allah” (HR. Abu Dawud no. 101 dan Ibnu Majah no. 399, dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan Ibni Majah no. 320)

    1. Berkesinambungan (tidak terputus)

    Berdasarkan hadits Khalid bin Ma’dan,

    “Nabi melihat seorang laki-laki sedang melakukan shalat, sedangkan pada punggung telapak kakinya ada bagian sebesar uang dirham yang tidak terkena air. Nabi lantas menyuruhnya mengulang wudhu dan shalatnya” (HR. Abu Dawud no. 173, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan Abi Dawud no. 161)

    Maraji’ :

    Panduan Fiqh Lengkap Jilid 1, Abdul ‘Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 19 January 2020 Permalink | Balas  

    Tidak Berbuat Adil di Antara Para Istri 

    Tidak Berbuat Adil di Antara Para Istri

    Oleh : Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Di antara yang diwasiatkan Allah kepada kita dalam kitabNya yang mulia adalah berbuat adil di antara para istri. Allah Tabaroka wata’ala berfirman:

    “Dan kamu sekali–kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian. Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai) sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecenderungan) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (An Nisa’: 129).

    Keadilan yang dituntut adalah dalam membagi giliran menginap di masing –masing istri, dalam memberikan hak nafkah, pakaian, dan tempat tinggal.

    Jadi keadilan yang dituntut bukanlah dalam soal perasaan cinta yang ada di hati, sebab seorang hamba tidak akan mampu menguasai perasaan hatinya.

    Sebagian orang yang berpoligami ada yang lebih cenderung dan berat kepada salah seorang istrinya, sehingga tak mengacuhkan yang lain. Seperti memberinya giliran menginap atau nafkah lebih banyak dari pada istrinya yang lain. Ini jelas suatu perbuatan haram. Pada hari kiamat orang tersebut akan mendapati dirinya sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam :

    “barangsiapa memiliki dua istri dan ia cenderung kepada salah seorang dari keduanya, niscaya ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan sisi badannya condong” (HR Abu Dawud, 2/601; shahihul jami’ hadits No : 6491)

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 18 January 2020 Permalink | Balas  

    Mengauli Istri Lewat Dubur (Anal Seks) 

    Mengauli Istri Lewat Dubur (Anal Seks)

    Oleh : Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Sebagian orang yang memiliki kelainan (abnormal) dari kalangan orang-orang yang lemah iman tidak segan-segan menggauli istrinya lewat dubur (tempat keluarnya kotoran).

    Perbuatan tersebut termasuk dosa besar. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melaknat para pelaku perbuatan keji tersebut.

    Dalam hadits marfu’ dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu disebutkan:

    “(Sungguh) terlaknat orang yang menggauli istrinya lewat duburnya” (HR Ahmad,2/479; dalam shahihul jam’ hadits no: 5865)

    Bahkan lebih dari itu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

    “Barangsiapa yang menggauli istri (yang sedang haid) atau menggauli diduburnya atau mendatangi dukun maka ia telah kufur (mengingkari) dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad” (HR At Tirmmidzi, dari Abu Hurairah dalam shahihul jami’, hadits No:5918)

    Meskipun wanita normal enggan melayani kelainan suaminya, tapi pada akhirnya banyak yang tak berdaya, sebab tak jarang suami mengancam akan menceraikannya jika ia menolak.

    Sebagian lain menipu istrinya yang malu bertanya tentang hukum masalah tersebut dengan mengatakan, hal itu halal dan dibolehkan. Mereka berdalil:

    “Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu ini bagaimana saja kamu kehendaki” (Al Baqarah: 223).

    Padahal kita tidak boleh menafsirkan maksud ayat di atas sesuai dengan keinginan kita, tetapi kita harus merujuk kepada sunnah. Sebab sebagaimana telah dimaklumi bersama, sunnah adalah penjelas Al Qur’an. Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan, suami beleh sekehendaknya menggauli istri, dari arah depan atau belakang selama di tempat jalan kelahiran anak (vagina). Dan tak diragukan lagi dubur atau anus bukanlah jalan kelahiran anak tetapi jalan keluarnya kotoran manusia.

    Di antara sebab tejadinya perbuatan dosa ini adalah saat memasuki kehidupan rumah tangga yang suci, mereka masih membawa warisan jahiliyah yang kotor berupa berbagai adegan menyimpang yang diharamkan. Atau masih membawa ingatan dan imajinasi adegan film-film porno tanpa taubat kepada Allah.

    Perbuatan ini tetap haram, meskipun dilakukan atas dasar suka sama suka oleh suami istri. Karena saling merelakan untuk mengerjakan perbuatan haram tidak menjadikannya sebagai berbuatan halal.

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 17 January 2020 Permalink | Balas  

    Menggauli Istri Saat Haid 

    Menggauli Istri Saat Haid

    Oleh: Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

    “Mereka bertanya kepadamu tentang haid, katakanlah: haid itu adalah kotoran. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka, sehingga mereka suci” (Al Baqarah: 222).

    Karena itu seorang suami tidak halal menggauli istrinya sehingga ia mandi setelah darah haidnya berhenti. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

    “Apabila mereka telah suci, maka gaulilah mereka di tempat yang diperintahkan oleh Allah kepadamu, sesungguhnya Allah senang kepada orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang berbuat suci” (Al Baqarah: 222).

    Mengenai kotornya perbuatan menggauli istri saat haid itu disebutkan dalam sabda nabi Shallallahu’alaihi wasallam:

    “Barangsiapa menggauli istri (yang sedang) haid atau menggauli di duburnya atau mendatangi dukun maka ia telah kufur (mengingkari) dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad” (HR Al Tirmidzi dari Abu Hurairah:1/243; dalam shahihul jami’ hadits No: 5918)

    Tetapi orang yang melakukannya dengan tanpa disengaja serta tidak mengetahui kondisi sang istri maka ia tidak berdosa. Berbeda jika ia melakukannya dengan sengaja serta mengetahui kondisi sang istri maka wajib baginya membayar kaffarat, menurut sebagian ulama yang menganggap shahih hadits tentang kaffarat. Yakni dengan membayar satu dinar atau setengahnya.

    Dalam penerapan kafarat ini, para ulama juga berbeda pendapat, sebagian berkata, ia boleh memilih antara keduanya (satu atau setengah dinar). Sebagian lain berpendapat, jika ia menggauli di awal haid (ketika darah haid masih banyak keluar) maka ia membayar satu dinar, dan jika ia menggaulinya di akhir haid saat darah haid tinggal sedikit atau sebelum mandi dari haid maka ia membayar setengah dinar.

    Menurut ukuran umum, satu dinar adalah 4,25 gram emas, orang yang bersangkutan boleh bersedekah dengannya atau dengan uang yang senilai dengannya.

    Berkata Syaikh Ibn Baz: Yang benar adalah dia boleh memilih antara membayar kaffarat satu dinar atau setengahnya. Baik di awal haid atau di akhirnya. Adapun dinar adalah senilai 4/6 junaih Saudi, sebab satu junaih Saudi sama dendan 1, ¾ dinar.

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 16 January 2020 Permalink | Balas  

    Dhihar 

    Dhihar

    Oleh: Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Di antara ungkapan jahiliyah yang masih tersebar di kalangan umat ini adalah ungkapan yang menjerumuskan kepada persoalan zhihar. Seperti ucapan seorang suami kepada istrinya:

    “Bagiku, engkau seperti punggung ibuku; atau engkau haram bagiku sebagaimana haramnya saudara perempuanku”. Atau ucapan-ucapan kotor lain yang dibenci syariat, karena di dalamnya mengandung penganiayaan terhadap wanita.

    Dalam hal ini Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Orang-orang yang menzhihar istrinya di antara kamu (menganggap istrinya seperti ibunya, padahal) tiadalah istri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun” (Al Mujadilah: 2)

    Syariat Islam menjadikan Kaffarat zhihar demikian berat, yakni hampir menyerupai kaffarat pembunuhan yang tidak disengaja demikian pula menyerupai kaffarat senggama pada siang hari di bulan Ramadhan.

    Seorang yang telah menzhihar istrinya, tidak boleh ia mendekati istrinya kecuali setelah membayar kaffarat tersebut.

    Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Orang-orang yang menzhihar istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Barang siapa yang tidak mendapatkan (budak) maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajib atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan RasulNya. Dan itulah hukum-hukum Allah. Dan bagi orang yang kafir ada siksaan yang sangat pedih (Al Mujadilah: 3-4).

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 15 January 2020 Permalink | Balas  

    Orang – orang yang Didoakan oleh Malaikat 

    Orang – orang yang Didoakan oleh Malaikat

    Oleh : Syaikh Dr. Fadhl Ilahi

    Allah SWT berfirman, “Sebenarnya (malaikat – malaikat itu) adalah hamba – hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah – perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafa’at melainkan kepada orang – orang yang diridhai Allah, dan mereka selalu berhati – hati karena takut kepada-Nya” (QS Al Anbiyaa’ 26-28)

    Inilah orang – orang yang didoakan oleh para malaikat :

    1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci. Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci'” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)
    2. Orang yang duduk menunggu shalat. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia'” (Shahih Muslim no. 469)
    3. Orang – orang yang berada di shaf bagian depan di dalam shalat. Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin ‘Azib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)
    4. Orang – orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalm shaf). Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang – orang yang menyambung shaf – shaf” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)
    5. Para malaikat mengucapkan ‘Amin’ ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu” (Shahih Bukhari no. 782)
    6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia'” (Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)
    7. Orang – orang yang melakukan shalat shubuh dan ‘ashar secara berjama’ah. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat'” (Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)
    8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan'” (Shahih Muslim no. 2733)
    9. Orang – orang yang berinfak. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit'” (Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)
    10. Orang yang makan sahur. Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang – orang yang makan sahur” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)
    11. Orang yang menjenguk orang sakit. Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh” (Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, “Sanadnya shahih”)
    12. Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain” (dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

    Maraji’ :

    Disarikan dari Buku Orang – orang yang Didoakan Malaikat, Syaikh Fadhl Ilahi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 14 January 2020 Permalink | Balas  

    Penolakan Istri Terhadap Ajakan Suami. 

    Penolakan Istri Terhadap Ajakan Suami.

    Oleh : Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Dari Abi Hurairah Radhiallahu’anhu bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

    “Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur (untuk melakukan senggama) ia menolak, sehingga suami marah atasnya maka Malaikat malaknat perempuan itu hingga datang pagi” (HR Al Bukhari, lihat fathul bari : 6/314).

    Manakala terjadi perselisian dengan suami banyak perempuan yang menghukum suaminya (menurut dugaannya) dengan menolak melakukan hubungan suami istri. Padahal perbuatan semacam itu bisa mendatangkan masalah yang lebih besar. Misalnya terperosoknya suami pada perbuatan yang haram. Bahkan masalahnya bisa menjadi berbalik sehingga bisa lebih menyusahkan istri; misalnya suami berusaha menikahi perempuan lain.

    Karena itu manakala suami memanggil, hendaknya sang istri memenuhi ajakannya. Realisasi dari sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam:

    “Jika seorang laki-laki mengajak istrinya ke tempat tidur hendaknya ia memenuhi panggilannya, meskipun itu berada di atas sekedup (sesuatu yang diletakkan di atas punggung onta. Digunakan oleh penunggangnya sebagai tempat duduk, berlindung diri dan berteduh) (lihat zawaidul Bazzar, 2/181, dalam shahihul jami’, hadits no: 547.

    Meski begitu, hendaknya sang suami memperhatikan kondisi istrinya. Misalnya apakah sang istri dalam keadaan sakit, hamil, atau dirundung kesedihan, sehingga tak terjadi perpecahan dan keharmonisan rumah tangga tetap terjaga.

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 13 January 2020 Permalink | Balas  

    Permintaan Agar Ditalak Suami Tanpa Sebab yang Dibolehkan Syara’. 

    Permintaan Agar Ditalak Suami Tanpa Sebab yang Dibolehkan Syara’.

    Oleh : Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Ketika terjadi percekcokan dengan suami, banyak di antara para istri yang langsung mengambil jalan pintas, yaitu minta cerai. Ada juga perceraian itu disebabkan sang suami tak mampu memberi nafkah seperti yang diinginkan istri.

    Padahal, terkadang keputusan itu di ambil hanya pengaruh dari sebagian keluarganya atau tetangga yang memang hendak merusak keluarga orang lain. Bahkan tak jarang yang menantang sang suami dengan kata-kata yang menegangkan urat leher. Misalnya, “kalau kamu memang laki-laki, ceraikan saya!!”

    Semua mengetahui, talak melahirkan banyak kerugian besar antara lain terputusnya tali keluarga, lepasnya kendali anak dan terkadang disudahi dengan menyesal pada saat penyesalan tak lagi berguna dan sebagainya.

    Dengan akibat-akibat seperti disebutkan di atas, menjadi nyatalah hikmat syariat mengharamkan perbuatan tersebut, dalam sebuah hadits marfu, riwayat Tsauban Radhiallahu’anhu disebutkan :

    “Siapa saja wanita yang minta diceraikan suaminya tanpa alasan yang dibolehkan maka haram baginya bau surga” (HR Ahmad: 5/277, dalam shahihul jami’ :2703)

    Hadits marfu’ lain riwayat Uqbah bin Amir Radhiallahu’anhu menyebutkan :

    “Sesungguhnya wanita-wanita yang melepaskan dirinya dan memberikan harta kepada suaminya agar diceraikan, mereka adalah orang-orang munafik” (HR Thabrani dalam Al Kabir : 17/339, dalam shahihul jami’ hadits No : 1934)

    Adapun jika memang ada sebab-sebab yang dibolehkan menurut syara’, seperti suaminya suka meninggalkan shalat, suka minum-minuman keras dan narkotika, atau memaksa istrinya berbuat haram, suka menyiksanya dan menolak memberikan hak-hak istri, tidak mau lagi mendengar nasihat dan tak berguna lagi upaya ishlah (perbaikan) maka tidak mengapa bagi sang istri meminta cerai sehingga ia tetap dapat memelihara diri dan agamanya.

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 12 January 2020 Permalink | Balas  

    Mimbar Jumat: Puncak Kesuksesan 

    Mimbar Jumat: Puncak Kesuksesan

    Assalamu’alaikum wr.wb.

    Allah berfirman, bismillahirrahmaanirrahiim,

    “Barangsiapa yang menghendaki keuntungan /sukses di dunia saja (maka sesungguhnya dia merugi) karena di sisi Allah ada keuntungan dunia dan akhirat. Dan Allah maha mendengar lagi maha melihat. Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah meskipun terhadap dirimu sendiri atau ibu-bapak dan kerabatmu. Jika ia kaya atau miskin, maka Allah lebih mengetahui kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsumu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar-balikkan (fakta) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan” (QS An Nisaa’ 134-135).

    “Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang (banyak) memberi (di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya keuntungan yang terbaik, maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan kemudahan. Dan bagi orang-orang yang pelit dan merasa diri cukup (sombong) serta mendustakan keuntungan yang terbaik, maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan kesukaran. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya ketika ia telah binasa” (QS Al Lail 4-11).

    Maha benar segala firman Allah, tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah yang maha esa dan maha kuasa atas segala sesuatu, Rab pencipta, pemilik dan penguasa seluruh alam jagat raya, yang tidak terbatas kekuasaanNya, yang mengatur dan menguasai seluruh isi alam, termasuk manusia penghuni bumi. Dia yang telah menciptakan luasnya langit dan dan kecilnya bumi beserta segala apa yang ada di antaranya, dan semuanya itu tidak ada yang sia-sia. Atas perkenaan Allah pula kita masih diberi kesempatan untuk mengarungi kehidupan dunia dengan berbagai kenikmatan dan anugerahNya, yang tidak pernah kita ketahui sampai batas waktu kapan kita dipanggil untuk kembali kepadaNya. Bersyukur kita masih dipertemukan melalui mimbar yang hadir pada pagi hari Jum’at 24 Shafar 1427 H, bertepatan dengan tanggal 24 Maret 2006 ini, yang akan membahas masih tentang kesuksesan melanjutkan bahasan beberapa mimbar sebelumnya, dan pada seri terakhir ini, kita akan membicarakan tentang “Puncak Kesuksesan” dalam kehidupan dunia, yang dapat terus berlanjut pada kesuksesan berikutnya di alam barzah dan akhirat kelak. Namun sebelumnya, selaku umat Nabi Muhammad salallahu alaihi wassalam, kita bermohon semoga shalawat dan salam senentiasa tercurah kepada beliau, seluruh keluarga dan para sahabatnya, juga semua pengikutnya yang selalu setia melanjutkan perjuangannya untuk tegaknya Islam di muka bumi, dari jaman ke jaman hingga dunia ini berakhir nanti.

    Muslimin dan muslimat dimana saja berada,

    Pada usia 20 tahunan, Steve Jobs bersama temannya Steven Wozniac membangun cikal bakal komputer Macintosh di garasi rumah orang tuanya. Pada tahun 1976, mereka berhasil mempopulerkan konsep personnal computer (PC) pada dunia. Dan dalam kurun waktu 10 tahun, dua sekawan ini berhasil membangun Apple menjadi perusahaan beraset dua milyar dolar dan memiliki lebih dari 4000 karyawan. Tetapi disaat Steve Jobs berusia 30 tahun, ia harus menerima kenyataan pahit, karena dipecat oleh board of director dari perusahaan yang dirintisnya itu disebabkan oleh kegagalan visinya dan kejatuhan Apple pada saat itu. Ketika itu, Steve Jobs merasa hancur, malu, impiannya hilang dan tidak mampu melakukan apa-apa selama berbulan-bulan. Sampai suatu saat ia bertemu David Packard dan Bob Noyce yang mau memaafkan kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya. Jobs kemudian bekerja sama dengan mereka. Karena ia sangat mencintai pekerjaannya, maka ia berusaha bangkit dan memulai sesuatunya dari awal. Lima tahun kemudian, Steve Jobs mendirikan perusahaan Pixar Animation Studios yang membuat film animasi komputer pertama di dunia “Toy Story” dan berhasil memenangkan penghargaan Oscar sebagai film animasi terbaik. Beberapa tahun kemudian, Apple membeli Pixar dan Steve Jobs pun kembali menduduki jabatannya kembali pada perusahaan yang dulu pernah ia dirikan. Sedangkan teknologi yang ia bangun di Pixar menjadi jantung kebangkitan Apple di masa kini. Dan Apple menjadi pemimpin inovasi dalam dunia desktop dan notebook, operating system, musik digital, toko musik online. Sedangkan Pixar menjadi penghasil film-film animasi box office dan pemenang Oscar seperti Toy Story, A Bug’s Life, Monsters Inc. Finding Nemo dan the Incredibles.

    Seperti halnya keberhasilan Steve Jobs, kita juga bisa menyebutkan keberhasilan Bill Gates pendiri Microsoft Inc., Jerry Yang pendiri Yahoo, Gordon Moore pendiri Intel. Atau Walt Disney penggagas Disneyland, meskipun dia sendiri tidak melihat keberhasilan gagasannya itu karena keburu dipanggil Tuhan. Mereka adalah orang-orang sukses dalam bisnis. Mereka mencapai kesuksesannya karena memilki visi ke masa depan yang jelas dan memiliki motivasi kerja yang tinggi untuk mencapai visinya itu. Itulah kunci kesuksesannya. Begitu juga mereka yang dapat mencapai puncak kekuasaan, sebagai pemimpin umat, sebagai pemimpin bangsa atau negara, jalan yang ditempuh untuk mencapai kesuksesan juga penuh liku, bahkan penuh intrik politik. Namun mereka juga memiliki visi yang jelas dan usaha keras untuk mencapainya. Kita bisa membaca autobiografi para pemimpin bagaimana mereka bisa sampai pada puncak kekuasaan tersebut. Atau juga para selebritis yang mencapai puncak kepopulerannya, seperti yang pernah dijelaskan pada mimbar yang lalu tentang Gito Rolis. Betapa mereka yang merupakan sosok-sosok yang sangat populer, dipuja dan dielu-elukan, dan berlimpah dengan kekayaan materi, namun akhirnya tidak menemukan kebahagiaan. Pada saat mereka berada di puncak kesuksesan karirnya itu, mereka didera rasa takut melihat ke depan ketika mereka tidak lagi populer atau ketika mereka tidak lagi mempunyai kekuasaan atau mengalami kebangkrutan. Mereka membayangkan ketidakberdayaan dan hidup tanpa arti. Karena kesuksesan yang menjadi visinya adalah duniawi belaka. Dan biasanya ketika mereka berada di puncak kesuksesan, mereka cenderung arogan. Hal ini dicirikan bahwa kebanyakan dari mereka ambisius untuk mencapai visinya, agresif dan cenderung menafikan hak orang lain atau menghalalkan segala cara, senang melihat lawannya atau saingannya kalah tapi tidak senang melihat lawan atau saingannya itu dapat mengunggulinya. Ketika berada di puncak kesuksesan, mereka cenderung mempertahankan statusquo, anti kritik, mudah tersinggung, gampang emosi dan jiwanya mudah terguncang.

    Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah,

    Ketika kita hendak mendaki sebuah gunung, maka untuk bisa mencapai puncaknya tentu harus memiliki informasi tentang gunung tersebut dan mempersiapkan diri segala keperluannya yang disesuaikan dengan kondisi gunung tersebut agar bisa selamat sampai di puncak dan kembali ke tempat asal dengan selamat pula. Untuk mencapai puncak gunung tersebut tentunya diperlukan usaha gigih karena medan yang akan di lalui berat dengan jalan yang mendaki, belum lagi adanya rintangan alam berupa kabut atau jalan licin karena hujan atau bersalju. Oleh karenanya, diperlukan perhitungan waktu yang tepat dan perlengkapan dan bekal yang memadai agar bisa mencapai puncak. Ketika sampai di puncak gunung yang kita daki, akan merasakan begitu puas dan bahagianya saat itu, dan rasa capai karena tenaga yang terkuras untuk mendaki pun hilang. Maka pada saat kita berada di puncak tersebut, lihatlah ke bawah, betapa kecilnya diri kita dan betapa maha besarnya Pencipta alam ini. Jika cuaca bagus, kita bisa melihat kota atau dusun yang berada di kaki gunung tersebut. Gedung yang tinggi menjulang ke langit pun akan tampak kecil, sehingga manusia yang menjadi penghuni gedung itu tak akan terlihat karena sangat kecilnya. Kita juga bisa melihat sungai yang mengalir berasal dari gunung itu menuju muara, memanjang meliuk-liuk seperti ular, dari ujung yang kecil pada sumbernya, menjadi besar menuju muara. Fenomena alam tersebut sebenarnya merupakan gambaran kehidupan kita di alam dunia ini, jika saja kita mau memahaminya. Namun kebanyakan manusia tidak mengerti tentang visi hidupnya sehingga mudah tergiur oleh pesona gemerlapnya keindahan kenikmatan dunia yang bersifat sementara. Dan itulah kelemahan manusia, cenderung mencintai dunia, sehingga Allah pun memperingatkan manusia agar tidak terpedaya bahwa semua itu merupakan ujian atau cobaan, dan kesenangan hidup yang sering melalikan, seperti pada firmanNya : “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada dunia, wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari emas dan perak, kuda (kendaraan) pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik” (QS Ali Imran 34).

    Dengan mengibaratkan pendakian sebuah gunung seperti pada uraian di atas, begitu pula untuk mencapai kesuksesan hidup kita. Maka untuk mencapai puncak kesuksesan hidup tersebut, yang pertama adalah harus mengetahui apa visi hidup kita, apakah hanya sekedar untuk sukses kehidupan dunia saja atau sukses dunia-akhirat. Untuk mencapai visi tersebut, tentu diperlukan persiapan sarana dan bekal yang memadai agar bisa mencapai puncak kesuksesan hidup tersebut. Jika visi hidupnya hanya untuk sukses dunia saja, maka sarana dan bekal yang harus dipersipakan hanya materi belaka tanpa bersangkutan dengan aspek ukhrawi. Tetapi jika visi hidup kita adalah dunia dan akhirat, maka sarana dan bekal yang harus dipersiapkan bukan hanya materi saja, namun yang paling penting adalah iman dan amal saleh yang benar di sisi Tuhan, dalam menjalani kehidupan dunia dari awal menapaki hidup sampai saat terakhir kehidupan kita untuk meninggalkan dunia ini dan berpindah ke alam barzah untuk selanjutnya menuju akhirat. Visi yang kedua inilah yang seharusnya menjadi visi setiap manusia, meskipun dalam pelaksanaannya menyimpang, sehingga seolah-olah visi yang pertama yang dipilihnya. Oleh karena itu, untuk mencapai sukses dunia dan akhirat diperlukan sarana-sarana pencapaiannya, seperti yang telah diuraikan pada Mimbar Jum’at 247 : “Sarana Mraih Kesuksesan” dua pekan lalu. Sedangkan bekal yang harus dibawa untuk bisa sampai sukses di akhirat adalah iman dan amal saleh sesuai yang telah ditetapkan sesuai aturan Allah, yang dilaksanakan secara ikhlas dan kuncinya adalah sabar dan syukur, seperti yang telah diuraikan pada mimbar pekan lalu. Untuk sampai pada kesuksesan di akhirat, maka puncak kesuksesannya adalah mempertahankan kesuksesan dunia sampai pada titik akhir perjalanan dunia, dengan akhir kehidupan yang baik (husnul khatimah). Itulah puncak kesuksesan, yang setiap orang akan berbeda.

    Firman Allah QS An Nisaa’ 134-135 yang terjemahannya dikutipkan pada awal mukadimah mimbar ini, mengingatkan kita bahwa jika kita menginginkan keuntungan atau kesuksesan dunia dan akhirat, wajib bersikap adil, dalam artian kita menempatkan segala sesuatu itu pada tempatnya atau sesuai porsinya. Dan untuk bisa bersikap adil, maka harus mampu mengendalikan diri atau tidak mengikuti hawa nafsunya. Jalan setiap orang untuk mencapai kesusesan itu berbeda karena memang usaha setiap orang itu berbeda, seperti yang ditegaskan oleh Allah pada QS Al Lail yang terjemahannya dikutipkan pada mimbar ini. Bagi orang yang bertakwa dan memahami visi hidupnya serta yakin akan adanya kesuksesan di akhirat yang ditentukan dari segala usahanya di dunia, maka puncak keusksesan itu adalah pada saat akan meninggalkan kehidupan dunia, dengan akhir hidupnya yang benar-benar baik dan dalam keadaan pasrah kepada Allah, sehingga Allah memudahkan jalan baginya dan tercermin pada wajah atau senyuman bahagia ketika ruh meninggalkan jasadnya. Sebaliknya bagi orang yang mendustakan akan keusksesan di akhirat, yang dicirikan dengan sikap arogan dan kikir ketika menjalani kehidupan dunia, meskipun telah merintis kesuksesan dengan modal iman dan amal saleh yang dianggapnya benar, maka pada saat akhir hidupnya akan mendapat kesulitan untuk mencapai puncak kesuksesan, sehingga kegagalanlah yang ia dapatkan atau su’ul khatimah. Dan akan gagal pula di akhirat kelak. Oleh karena itu, mari kita berusaha merintis kesuksesan dunia sesaui dengan aturan Allah dan mempertahankannya sampai akhir hidup kita, sehingga kita dapat mencapai puncak kesuksesan dunia pada saat ruh meninggalkan jasad kita dengan husnul khatimah, dan Allah memudahkan kita untuk meretas jalan mencapai sukses di akhirat. Semoga kita termasuk orang-orang yang sukses di dunia dengan puncaknya pada akhir hayat kita, dan akan sukses pula di akhirat kelak, amien. Kita akhiri mimbar ini, alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin.

    Wassalamu’alaikum wr.wb.

    Nana Djumhana

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 11 January 2020 Permalink | Balas  

    Mendapatkan Ruku’ berarti Mendapat 1 Raka’at 

    Mendapatkan Ruku’ berarti Mendapat 1 Raka’at

    Membaca Al Faatihah merupakan rukun di dalam shalat, dari Ubadah bin ash Shamit ra., Nabi ShalallaHu alaiHi wa sallam bersabda, “Laa Shalaata liman lam yaqra’ bifaatihatil kitaab” yang artinya “Tidak (sah) shalat orang yang tidak membaca fatihatul kitab (al faatihah)” (HR. Bukhari no. 756, Muslim no. 394, At Tirmidzi no. 247, An Nasa’I II/137, Ibnu Majah no. 837 dan Abi Dawud no. 807)

    Namun dalil di atas adalah dalil yang sifatnya umum, dan jika terdapat dalil khusus yang berkaitan dengan dalil umum maka kaidahnya adalah dalil khusus yang didahulukan.

    Berkaitan dengan terlambatnya makmum untuk mengikuti shalat berjama’ah, maka Rasulullah ShalallaHu alaiHi wa sallam memberikan beberapa tuntunannya yaitu:

    Mengikuti imam shalat dalam keadaan apa pun.

    Dari Ali bin Abi Thalib ra. dan Mu’adz bin Jabal ra., mereka mengatakan bahwa Nabi ShalallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Jika salah seorang diantara kalian mendatangi shalat jama’ah pada saat imam sedang berada pada suatu keadaan, maka hendaklah ia melakukan gerakan sebagaimana yang dilakukan imam” (HR. At Tirmidzi no. 588, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan At Tirmidzi no. 484)

    Mendapatkan ruku’ berarti mendapatkan 1 raka’at.

    Dari Abu Hurairah ra., ia mengatakan bahwa Nabi ShalallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Jika kalian mendatangi shalat jama’ah pada saat kami sedang sujud, maka sujudlah dan itu jangan dihitung (satu raka’at). Dan barangsiapa mendapati (imam) sedang ruku’, maka dia mendapatkan satu raka’at shalat” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiihul Jaami’ush Shaghiir no. 468)

    Maraji’:

    Panduan Fiqih Lengkap Jilid 1, Syaikh Abdul Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 10 January 2020 Permalink | Balas  

    Penyelenggaraan Jenazah & Pembagian Harta Warisan (2-Tamat) 

    Penyelenggaraan Jenazah & Pembagian Harta Warisan (2-Tamat)

    Wasiat Allah

    Apabila si wafat tidak meninggalkan suatu wasiat, maka pembagian harta warisan dilakukan menurut wasiat Allah. Demikian pula apabila ada sisa harta yang tidak diatur pembagiannya di dalam wasiat, maka ia dibagi menurut ketentuan wasiat Allah.

    Terdapat tiga ayat yang mengatur ketentuan tentang wasiat Allah ini yaitu:

    “Allah mewasiatkan kamu mengenai anak-anak kamu; bagian anak laki- laki sama dengan bagian dua perempuan, dan jika mereka semuanya perempuan yang lebih dari dua, maka bagi mereka dua per tiga dari harta yang ditinggalkan; tapi jika anak perempuan itu seorang saja, maka baginya separuh harta. Dan untuk ibu dan bapak, kepada masing- masing satu per enam dari harta yang ditinggalkan, jika dia ada anak; tetapi jika dia tidak ada anak, dan waris-warisnya ialah ibu dan bapaknya, maka satu per tiga bagi ibunya, atau jika dia ada saudara-saudara laki-laki, maka bagi ibunya satu per enam, sesudah dipenuhi wasiat yang dia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya…” [Q.S. 4:11]

    “Dan bagi kamu (suami), separuh dari apa yang isteri-isteri kamu tinggalkan, jika mereka tidak mempunyai anak. Tapi jika mereka mempunyai anak, maka bagi kamu satu per empat dari yang ditinggalkannya, sesudah dipenuhi wasiat mereka, atau (dan) dibayar hutangnya. Dan bagi mereka (istri-istri), satu per empat dari apa yang kamu tinggalkan jika kamu mempunyai anak. Tapi jika kamu mempunyai anak, maka bagi mereka satu per delapan dari apa yang kamu tinggalkan, sesudah dipenuhi wasiat atau (dan) dibayar hutangnya. Jika seorang laki-laki atau seorang perempuan tidak mempunyai pewaris langsung (ibu bapak dan anak), tapi mempunyai saudara laki- laki atau saudara perempuan, maka bagi masing-masing dari keduanya, satu per enam harta. Tapi jika mereka lebih banyak dari itu, maka mereka bersekutu dalam satu per tiga, sesudah dipenuhi wasiatnya, atau (dan) dibayar hutang yang tidak memudaratkan. (Yang demikian) wasiat dari Allah, dan Allah Mengetahui, Penyantun”. [Q.S. 4:12]

    “Mereka meminta satu keputusan kepada kamu. Katakanlah, “Allah memutuskan kepada kamu mengenai waris yang tidak langsung (selain ibu bapak dan anak). Jika seorang laki-laki mati tanpa seorang anak, tetapi dia mempunyai saudara perempuan, maka dia (saudara perempuan) menerima separuh dari apa yang dia tinggalkan; dan dia (saudara laki- laki) adalah pewaris harta saudara perempuannya jika dia (perempuan) tidak mempunyai anak. Jika ada dua saudara perempuan, mereka menerima dua per tiga dari harta yang dia (saudara laki-laki) tinggalkan. Dan jika ada beberapa orang saudara, laki-laki dan perempuan, yang laki-laki menerima sama dengan dua bagian perempuan. Allah menjelaskan kepada kamu supaya kamu tidak sesat; Allah mengetahui segala sesuatu”. [Q.S. 4:176]

    Sebagai catatan, umumnya Al-Qur’an terjemahan bahasa Indonesia menggunakan frasa “Allah syariatkan…” pada awal ayat 4:11 yang dikutip di atas. Namun apabila kita konsisten dengan terjemahan kata dalam bahasa aslinya (Arab), maka yang lebih tepat adalah frasa “Allah wasiatkan…”.

    Ayat-ayat tentang wasiat Allah di atas dapat diuraikan sebagai berikut:

    Bagian anak-anak – Pada dasarnya, bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan. – Jika anak perempuan berjumlah lebih dari dua, maka mereka mendapatkan 2/3, dan berarti anak laki-laki mendapat 1/3. – Jika anak perempuan hanya satu orang, dan anak laki-laki juga satu orang, maka masing-masing mereka mendapatkan separuh (1/2). – Jika anak laki-laki lebih dari 1 orang, dan anak perempuan hanya 1 orang, maka perhitungannya kembali ke prinsip awal bahwa bagian satu orang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. – Pendapat kami, apabila orang yang wafat hanya meninggalkan anak laki-laki saja (tidak ada anak perempuan), maka warisan yang diperuntukkan bagi anak diserahkan semuanya kepada anak laki-laki tersebut, demikian pula sebaliknya.

    Bagian Istri/ Suami

    • Jika tidak ada anak, istri mendapatkan 1/4 bagian.
    • Jika ada anak, istri mendapatkan 1/8 bagian.
    • Jika tidak ada anak, suami mendapatkan 1/2 bagian.
    • Jika ada anak, suami mendapatkan 1/4 bagian.

    Bagian Orang Tua

    • Jika ada anak, ibu dan bapak masing-masing mendapatkan 1/6 bagian.
    • Jika tidak ada anak, ibu mendapatkan 1/3 bagian.
    • Jika tidak anak tapi ada saudara-saudara laki-laki, ibu kembali mendapatkan 1/6 bagian.

    Bagian Saudara (pewaris tidak langsung)

    • Jika tidak ada pewaris langsung (ibu, bapak, anak), saudara- saudara laki-laki dan perempuan mendapat masing-masing 1/6. Apabila jumlah mereka lebih dari 6 orang, mereka semua berbagi dalam 1/3 bagian. Bagian saudara laki-laki sama dengan dua bagian saudara perempuan.
    • Jika orang yang meninggal adalah laki-laki yang tidak mempunyai pewaris langsung (ibu, bapak, anak), maka saudara perempuannya mendapatkan 1/2 bagian.
    • Jika orang yang meninggal adalah laki-laki yang tidak mempunyai pewaris langsung (ibu, bapak, anak), namun mempunyai dua orang saudara perempuan, maka mereka mendapatkan 2/3 bagian.
    • Jika orang yang meninggal adalah perempuan yang tidak mempunyai pewaris langsung (ibu, bapak, anak), maka saudara laki- laki mewarisi seluruh harta.

    Contoh ilustrasi, seorang laki-laki wafat dan meninggalkan seorang istri, ibu, dan anak-anak. Prosentase pembagiannya:

    Istri => 1/8 (3/24) = 12,50%

    Ibu => 1/6 (4/24) = 16,66%

    Anak-anak => Sisa (17/24) = 70,83%

    Pada kasus tertentu, harta yang dibagi dengan rumus di atas ternyata masih bersisa. Hemat kami, sisa harta tersebut dibagikan kepada orang-orang yang terikat sumpah dengan si meninggal sebagaimana telah disinggung sebelumnya (anak asuh, anak tiri, kerabat yang miskin, pembantu, anak yatim, dll).

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 9 January 2020 Permalink | Balas  

    Liwath (Homoseksual) 

    Liwath (Homoseksual)

    Oleh: Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Kemungkaran yang dilakukan oleh kaum nabi Luth pada zaman dahulu adalah menggauli laki-laki (homoseksual).

    Allah Tabaroka wata’ala berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seseorangpun dari umat-umat sebelum kamu. Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuan?” (Al Ankabut: 28-29)

    Karena keji, buruk dan amat berbahayanya kemungkaran tersebut, sehingga Allah Subhanahu wata’ala menghukum pelaku homoseksual tersebut dengan empat macam siksaan sekaligus. Suatu bentuk siksa yang belum pernah ditimpakan kepada kaum lain. Keempat siksaan tersebut adalah: kebutaan, menjungkir balikkan mereka, menghujani mereka dengan batu-batu kerikil dari neraka serta mengirim kepada mereka halilintar.

    Adapun dalam syariat Islam, hukuman pelaku homoseksual dan teman kencannya jika atas dasar suka sama suka -menurut pendapat yang kuat- adalah dipenggal lehernya dengan pedang.

    Dalam sebuah hadits marfu’ dari ibnu Abbas Radhiallahu’anhu disebutkan: “Barangsiapa yang kalian dapati sedang melakukan perbuatan kaum Luth (hamoseksual) maka bunuhlah pelaku dan teman kencannya” (HR Ahmad, 1/ 300 dalam shahihul jami’ no: 6565)

    Timbulnya berbagai penyakit -yang pada zaman nenek moyang tak dikenal, sebagai hukuman atas merajalelanya kemaksiatan- sebagaimana kita saksikan sekarang seperti tha’un (sejenis penyakit pes yang menjadikan kelenjar-kelenjar bengkak dan lebih banyak menghantar penderitanya kepada kematian) dan macam-macam penyakit yang sulit disembuhkan bahkan belum ditemukan penawarnya, seperti penyakit AIDS yang mematikan, ini semuanya menunjukkan salah satu hikmah; mengapa begitu keras hukuman yang diberikan Allah untuk pelaku homoseksual.

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 8 January 2020 Permalink | Balas  

    Zina 

    Zina

    Oleh : Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Di antara tujuan syariat adalah menjaga kehormatan dan keturunan, karena itu syariat Islam mengharamkan zina, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

    “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu sesuatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (Al Isra’: 32)

    Bahkan syariat menutup segala pintu dan sarana yang mengundang perbuatan zina. Yakni dengan mewajibkan hijab, menundukkan pandangan, juga dengan melarang khalwat (berduaan di tempat yang sepi) dengan lawan jenis bukan mahram dan sebagainya.

    Pezina muhshan (yang telah beristri) dihukum dengan hukuman yang paling berat dan menghinakan. Yaitu dengan merajam (melemparnya dengan batu hingga mati). hukuman ini ditimpakan agar merasakan akibat dari perbuatannya yang keji, juga agar setiap anggota tubuhnya kesakitan, sebagaiman dengannya ia menikmati yang haram.

    Adapun pezina yang belum pernah melakukan senggama melalui nikah yang sah, maka ia dicambuk sebanyak seratus kali. Suatu bilangan yang paling banyak dalam hukuman cambuk yang dikenal dalam Islam. Hukuman ini harus disaksikan sekelompok kaum mukminin. Suatu bukti betapa hukuman ini amat dihinakan dan dipermalukan. Tidak hanya itu, pezina tersebut selanjutnya harus dibuang dan diasingkan dari tempat ia melakukan perzinaan, selama satu tahun penuh.

    Adapun siksaan para pezina -baik laki-laki maupun perempuan- di alam barzakh adalah ditempatkan di dapur api yang atasnya sempit dan bawahnya luas. Dari bawah tempat tersebut, api dinyalakan. Sedang mereka berada didalamnya dalam keadaan talanjang. Jika dinyalakan mereka teriak, malolong-lolong dan memanjat keatas hingga hampir-hampir saja mereka bisa keluar, tapi bila api dipadamkan, mereka kembali lagi ke tempatnya semula (di bawah) lalu api kembali lagi dinyalakan. Demikian terus berlangsung hingga datangnya hari kiamat.

    Keadaannya akan lebih buruk lagi jika laki-laki tersebut sudah tua tapi terus saja berbuat zina, padahal kematian hampir menjemputnya, tetapi Allah Tabaroka wata’ala masih memberinya tenggang waktu.

    Dalam hadits marfu’ dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu disebutkan:

    “Tiga (jenis manusia) yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, juga Allah tidak akan menyucikan mereka dan tidak pula memandang kepada mereka, sedang bagi mereka siksa yang pedih, yaitu laki-laki tua yang suka berzina, seorang raja pendusta, dan orang miskin yang sombong”. (HR Muslim: 1/102-103).

    Di antara cara mencari rizki yang terburuk adalah mahrul baghyi. yaitu upah yang diberikan kepada wanita pezina oleh laki-laki yang menzinainya.

    Pezina yang mencari rizki dengan dengan menjajakan kemaluannya tidak diterima doanya. Walaupun do’a itu dipanjatkan ditengah malam, saat pintu-pintu langit dibuka. (Hadits masalah ini terdapat dalam shahihul jami’: 2971)

    Kebutuhan dan kemiskinan bukanlah suatu alasan yang dibenarkan syara’ sehingga seseorang boleh melanggar ketentuan dan hukum-hukum Allah. Orang Arab dulu berkata: seorang wanita merdeka kelaparan, tetapi tidak makan dengan menjajakan kedua buah dadanya, bagaimana mungkin dengan menjajakan kemaluannya.

    Di zaman kita sekarang, segala pintu kemaksiatan di buka lebar-lebar. Setan mempermudah jalan (menuju kemaksiatan) dengan tipu dayanya dan tipu daya pengikutnya. Para tukang maksiat dan ahli kemungkaran membeo setan. Maka bertebarlah para wanita yang pamer aurat dan keluar rumah tanpa mengenakan pakaian yang diperintahkan agama. Tatapan yang berlebihan dan pandangan yang diharamkan menjadi fenomena umum. Pergaulan bebas antara laki-laki dengan perempuan merajalela. Rumah-rumah mesum semua laku. Demikian pula dengan film-film yang membangkitkan nafsu hewani. Banyak orang-orang melancong ke negeri-negeri yang menjanjikan kebebasan maksiat. Disana-sini berdiri bursa sex. Pemerkosaan terjadi di mana-mana. Jumlah anak haram meningkat tajam. Demikian halnya dengan aborsi (pengguguran kandungan) akibat kumpul kebo dan sebagainya.

    Ya Allah, kami mohon padaMu, bersihkanlah segenap hati kami dan pelihara serta bentengilah kemaluan dan kehormatan kami. Jadikanlah antara kami dengan hal-hal yang diharamkan dinding pembatas. Hanya kepadamulah kami mengadu…..Laa khawla wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adhim.

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 7 January 2020 Permalink | Balas  

    Bab Perkara Fithrah 

    Bab Perkara Fithrah

    Dari Aisyah ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Sepuluh (perilaku fithrah), mencukur kumis, memanjangkan jenggot, bersiwak, menghirup air ke hidung (istinsyaq), memotong kuku, membasuh sela-sela jari, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, bersuci dengan air (al istinjaa’) [Zakaria bin Abi Za-idah, salah seorang perawi hadits ini, berkata kepada Mush’ab bin Syaibah, “Aku lupa yang kesepuluh, mungkin berkumur-kumur’]” (HR. Muslim no. 261, Abu Dawud no. 52, At Tirmidzi no. 2906, An Nasa’i VIII/126 dan Ibnu Majah no. 293)

    Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Lima (perilaku) fithrah, mencukur bulu kemaluan, khitan, mencukur kumis, mencabut bulu ketiak dan memotong kuku” (HR. Al Bukhari no. 5889, Muslim no. 257, Abu Dawud no. 4180, At Tirmidzi no. 2905, An Nasa’i I/14 dan Ibnu Majah no. 292)

    Berikut penjelasan beberapa perilaku fithrah :

    1. Khitan

    Khitan wajib bagi pria dan wanita karena ia merupakan ciri ke-Islaman. Nabi ShallallaHu alaiHi wa sallam berkata kepada seorang laki-laki yang baru memeluk Islam,

    “Alqi “anka sya’ral kufri wakhtatin” yang artinya “Campakkanlah rambut kekufuran darimu dan berkhitanlah” (HR. Abu Dawud no. 352, dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih al Jaami’ush Shaghiir no. 1251)

    Perbuatan khitan ini termasuk ajaran Nabi Ibrahim alaiHis sallam. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Ibrahim, khalilurrahman berkhitan setelah berumur delapan puluh tahun” (HR. Al Bukhari no. 6298 dan Muslim no. 370)

    1. Memanjangkan Jenggot

    Memanjangkan Jenggot hukumnya wajib dan mencukurnya termasuk perbuatan yang haram karena Nabi ShallallaHu alaiHi wa sallam memerintahkannya. Sedangkan perintah menunjukkan kewajiban. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Juzzusy syawaariba wa akhulliha khaaliful majuusa” yang artinya “Pangkaslah kumis dan panjangkan jenggot. Selisihilah orang-orang majusi” (HR. Muslim no. 260)

    Dari Ibnu Umar ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Selisihilah orang-orang musyrik, panjangkan jenggot dan potonglah kumis” (HR. Al Bukhari no. 5892 dan Muslim no. 259)

    1. Siwak

    Bersiwak disukai pada semua keadaan namun lebih disukai ketika wudhu, shalat, membaca Al Qur’an, memasuki rumah dan ketika shalat malam berikut beberapa dalil yang menjelaskan hal tersebut,

    Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku suruh mereka bersiwak setiap wudhu” (HR. Ahmad dalam al Fathur Rabbaani no. 171, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih al Jaami’ush Shaghiir no. 5316)

    Dari Hudzaifah ra., ia berkata,

    “Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam apabila hendak shalat tahajud, beliau membersihkan mulutnya dengan siwak” (HR. Al Bukhari no. 245, ini lafazhnya, Muslim no. 255, Abu Dawud no 54 dan An Nasa’i I/8)

    1. Dimakruhkan mencabut uban

    Dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya. Dia mengatakan bahwa Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Janganlah kalian mencabut uban, karena tidaklah seorang muslim beruban dalam Islam walaupun sehelai, melainkan ia akan menjadi cahaya baginya di hari kiamat” (HR. Abu Dawud no. 4184 dan An Nasa’i VIII/136, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Al Jaami’ush Shaghiir no. 7463)

    1. Menyemir rambut kecuali dengan warna hitam

    Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak menyemir rambut mereka, maka selisihilah mereka” (HR. Al Bukhari no. 5899, Muslim no. 2103, Abu Dawud no. 4185 dan An Nasa’i VIII/137)

    Dari Jabir ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Rubahlah (rambut) ini dengan sesuatu, tetapi hindarilah warna hitam” (HR. Muslim no. 2102, Abu Dawud no. 4186, An Nasa’i VIII/138 dan Ibnu Majah no. 3624)

    Maraji’

    Panduan Fiqh Lengkap Jilid 1, Syaikh Abdul “Azhim bin Badawi al Khalfi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H-Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 6 January 2020 Permalink | Balas  

    An Najaasaat 

    An Najaasaat

    An Najasaat adalah bentuk plural dari najasah, yaitu semua yang dianggap menjijikan oleh orang yang bertabiat normal. Mereka menjaga diri darinya dan mencuci pakaian mereka jika terkena olehnya seperti kotoran dan air seni (Ar Raudhah An Nadiyyah I/12 oleh Syaikh Shidiq Hasan Khan)

    Hukum asal segala sesuatu adalah boleh dan suci. Barangsiapa menyatakan nasjisnya suatu materi, maka ia harus mendatangkan dalil. Namun bila ia tidak bisa membawakan suatu hujjah maka wajib mengikuti hukum asal, yaitu segala sesuatu boleh dan suci.

    Maka tidak boleh mengatakan tentang najisnya sesuatu kecuali dengan dalil (Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan Abu Dawud no. 834 dan Syaikh Shidiq Hasan Khan dalam Ar Raudhah An Nadiyyah I/15).

    Hal-hal yang terdapat dalil tentang kenajisan serta cara menyucikannya adalah:

    Air seni.

    Dari Anas ra., “Seorang Arab Badui buang air di Mesjid, lalu segolongan orang menghampirinya. Rasulullah ShallallaHu alaihi wa sallam lantas bersabda, “Biarkanlah ia jangan kalian hentikan kencingnya”. Lalu Anas ra. melanjutkan, “Tatkala ia sudah menyelesaikan kencingnya, beliau ShallallaHu alaiHi wa sallam memerintahkan agar dibawakan setimba air lalu diguyurkan di atasnya” (HR. Al Bukhari no. 6025 dan Muslim no. 284)

    [Secara umum, zat untuk membersihkan diri dari najis adalah dengan menggunakan air, kecuali syariat membolehkan membersihkannya dengan selain air, seperti menggunakan tanah]

    Adapun cara menyucikan pakaian yang terkena kencing bayi yang masih menyusu adalah sebagaimana sabda Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam, “Air kencing bayi perempuan dicuci, sedangkan air kencing bayi diperciki” (HR. An Nasa’i I/158 dan Abu Dawud no. 372, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan an Nasa’i no. 293)

    Kotoran manusia.

    Dari Hudzaifah ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang diantara kalian menginjak al adzaa dengan sandalnya, maka tanah adalah penyucinya” (HR. Abu Dawud no. 381, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 834)

    Al Adzaa adalah segala sesuatu yang engkau merasa tersakiti olehnya, seperti najis, kotoran dan sebagainya (“Aunul Ma’buud II/44).

    Madzi.

    Madzi adalah cairan bening, encer dan lengket yang keluar ketika naiknya syahwat. Dialami pria maupun wanita.

    Ali ra. berkata, “Aku adalah laki-laki yang sering keluar madzi. Aku malu menanyakannya pada Nabi ShallallaHu alaiHi wa sallam karena kedudukan putri beliau. Lalu kusuruh al Miqdad bin al Aswad untuk menanyakannya. Beliau ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda, “Dia harus membasuh kemaluannya dan berwudhu” (HR Al Bukhari no. 132 dan Muslim no. 303)

    Untuk pakaian yang terkena madzi Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam memberikan panduannya,

    “Cukup ambil segenggam air lalu guyurkan pada pakaianmu yang terkena olehnya” (HR. Abu Dawud no. 207, At Tirmidzi no. 115 dan Ibnu Majah no. 506, dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan Ibni Majah no. 409)

    Wadi

    Wadi adalah cairan bening dan kental yang keluar setelah buang air. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata, “Mani, wadi dan madzi. Adapun mani maka wajib mandi. Sedangkan untuk wadi dan madzi beliau ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Basulah dzakar atau kemaluanmu dan wudhulah sebagaimana engkau berwudhu untuk shalat” (HR. Abu Dawud dan Al Baihaqi I/115, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 190)

    Kotoran hewan yang tidak halal dimakan dagingnya.

    Dari Abdullah ra., ia berkata, “Ketika Nabi ShallallaHu alaiHi wa sallam hendak buang hajat, beliau berkata, “Bawakan aku 3 batu’. Aku menemukan dua batu dan sebuah kotoran keledai. Lalu beliau mengambil kedua batu itu dan membuang kotoran tadi lalu berkata, “(Kotoran) itu najis” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah no. 2530)

    Darah haidh

    Dari Asma’ binti Abi Bakar ra. ra, ia berkata, “Seorang wanita datang kepada kepada Nabi ShallallaHu alaiHi wa sallam lalu berkata, “Baju seorang diantara kami terkena darah haidh, apa yang ia lakukan ?’

    Beliau ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda, “Keriklah, kucek dengan air, lalu guyurlah. Kemudian shalatlah dengan (baju) itu” (HR. Al Bukhari no. 307 dan Muslim no. 291)

    Air liur anjing.

    Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda, “(Cara) menyucikan bejana salah seorang diantara kalian jika dijilat anjing adalah membasuhnya tujuh kali. Yang pertama dengan tanah” (HR. Muslim no. 276)

    Bangkai

    Yaitu segala sesuatu yang mati tanpa disembelih secara syar’i. Dasarnya adalah sabda Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam, “Kulit bangkai apa saja jika disamak, maka ia suci” (HR. Ibnu Majah, Ahmad dalam Al Fathur Rabbani no. 49, At Tirmidzi no. 1782, Ibnu Majah no. 3609 dan An Nasa’iVII/173, dari Ibnu Abbas ra., dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah no. 2907)

    Maraji:

    Panduan Fiqh Lengkap Jilid 1, Abdul “Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 5 January 2020 Permalink | Balas  

    Air 

    Air

    Thaharah secara bahasa berarti suci dan bersih dari hadats. Sedangkan menurut istilah bermakna menghilangkan hadats dan najis (Al Majmuu’ Syarhul Muhadzdzab I/79).

    Semua air yang turun dari langit dan keluar dari Bumi adalah suci dan menyucikan. Dasarnya adalah firman Allah Ta’ala,

    “Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira yang dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan) dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih” (QS Al Furqaan : 48)

    Sabda Nabi ShallallaHu alaiHi wa sallam tentang air laut, “Huwath thaHuuru maa-uHu al hillu maytatuHu” yang artinya “Air laut itu suci dan menyucikan serta halal bangkainya” (HR. Abu Dawud no. 83, At Tirmidzi no. 69, Ibnu Majah no. 386 dan An Nasa’i I/176, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan Ibnu Majah no. 309)

    Air tetap dalam kesuciannya meskipun bercampur dengan sesuatu yang suci selama tidak keluar dari keasliannya. Dasarnya adalah sabda beliau shallallaHu alaiHi wa sallam kepada wanita yang memandikan jenasah putri beliau, “Mandikanlah ia tiga kali, lima kali atau lebih dengan air dan bidara jika menurut kalian perlu. Dan jadikanlah basuhan terakhir dengan kapur barus atau sedikit dengannya” (HR. Al Bukhari no. 1253 dan Muslim no. 939)

    Maraji’:

    Panduan Fiqh Lengkap Jilid 1, Syaikh Abdul ‘Azhim bin Badawi al Khalfi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H-Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 4 January 2020 Permalink | Balas  

    Penyelenggaraan Jenazah dan Pembagian Warisan (1) 

    Penyelenggaraan Jenazah dan Pembagian Warisan (1)

    Demi kebersihan dan kepantasan maka umumnya jenazah dimandikan dan diberi wewangian. Setelah itu terhadapnya dikenakan pakaian yang baik sehingga tidak menjatuhkan kehormatannya meskipun yang bersangkutan telah wafat.

    Sebagaimana petunjuk Allah, selain berfungsi sebagai penutup aurat pakaian juga diturunkan-Nya kepada manusia untuk membawa keindahan.

    “Wahai Bani Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi bagian-bagian aib kamu, dan (pakaian indah sebagai) perhiasan…” [Q.S. 7:26]

    Bagaimana pakaian yang baik untuk jenazah tidak berbeda dengan pakaian yang baik untuk orang hidup. Mungkin ia berupa setelan kemeja, atau batik, atau jas, atau baju kurung, dan sebagainya.

    Penulis tidak berpikir bahwa pembungkusan jenazah dengan kain kafan sebagaimana tradisi selama ini bisa dikatakan sebagai “baik” apalagi “memuliakan” bagi si wafat.

    Setelah jenazah dipakaikan dengan pakaian yang baik, selanjutnya dari ayat-ayat Allah kita mendapati petunjuk bahwa jenazah dikuburkan, bukan diperlakukan dengan cara lain seperti misalnya dikremasi (dibakar).

    “Kemudian Allah kirimkan seekor burung gagak mencakar-cakar di atas bumi, untuk memperlihatkan kepada dia bagaimana dia akan menyembunyikan mayat saudaranya yang menimbulkan aib. Dia berkata: `Celakalah aku! Tidakkah aku mampu untuk menjadi seperti burung gagak ini, untuk menyembunyikan mayat saudaraku yang menimbulkan aib?’ Dan dia menjadi diantara orang-orang yang menyesal”. [Q.S. 5:31]

    “Kemudian mematikannya, dan menguburkannya”. [Q.S. 80:21]

    Sesaat setelah jenazah dikuburkan, pada sebagian masyarakat ada kebiasaan untuk melakukan “talqin”, yaitu suatu pengajaran kepada jenazah tentang apa yang harus dijawabnya atas pertanyaan malaikat di alam kubur. Padahal ayat Allah dalam hal ini sangat jelas:

    “…kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang di dalam kubur untuk mendengar”. [Q.S. 35:22]

    Karena talqin adalah pekerjaan yang sia-sia belaka, maka tidak usah kita ikut-ikutan melakukannya. Sebagai gantinya, kita bisa mendoakan kebaikan untuk si wafat. Ayat di bawah ini mengisyaratkan kepada kita bahwa mendoakan maupun menziarahi jenazah (kubur) orang beriman adalah perbuatan yang dibenarkan oleh Allah.

    “Dan janganlah kamu mendoakan seorang yang mati antara mereka, dan jangan juga berdiri di kuburnya. Sesungguhnya mereka tidak beriman kepada Allah dan rasul-Nya, dan mereka mati dalam keadaan fasik”. [Q.S. 9:84]

    Satu pesan lagi dari ayat di atas adalah, sebagai bentuk penghormatan atas si wafat maka ketika melakukan ziarah kubur hendaknya kita berdiri, bukan duduk atau jongkok.

    Pembagian Harta Warisan

    Wasiat Allah memerintahkan kepada kita membuat wasiat untuk ibu, bapak, dan sanak saudara. Saking pentingnya membuat wasiat ini, Allah mengaitkannya dengan ketakwaan.

    “Dikitabkan bagi kamu, apabila seseorang antara kamu didatangi kematian, dan dia meninggalkan kebaikan (harta), supaya membuat wasiat untuk ibu bapaknya, dan sanak saudara dengan baik – sebagai suatu kewajiban atas orang-orang yang bertakwa”. [Q.S. 2:180]

    Apabila ternyata isi wasiat dirasakan tidak adil atau berdosa apabila dilaksanakan, maka para pihak yang terlibat dapat memperbaikinya agar adil.

    “Jika seseorang takut akan penyimpangan dari jalan yang benar, atau dosa dari orang yang berwasiat itu, lalu dia mengadakan perbaikan antara mereka, maka tidaklah ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Pengampun, Pengasih”. [Q.S. 2:182]

    Allah tetapkan pula agar di dalam wasiat itu dicantumkan pemberian uang belanja dan hak untuk tetap mendiami rumah bagi istri selama satu tahun. Apabila rumah yang dimaksud adalah rumah sewaan, maka pembayaran sewa rumahnya selama satu tahun harus diwasiatkan.

    “Dan orang-orang antara kamu yang mati dan meninggalkan isteri- isteri, hendaklah mereka membuat wasiat untuk isteri-isteri mereka nafkah untuk setahun tanpa mengeluarkannya (dari rumah)…”. [Q.S. 2:240]

    Turut dimasukkan sebagai pewaris di dalam wasiat adalah orang-orang yang terikat sumpah dengan si wafat. “Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu, bapak dan sanak saudara Kami jadikan pewaris-pewarisnya. Dan orang- orang yang terikat sumpah dengan kamu, berilah mereka bagiannya…” [Q.S. 4:33] Hemat penulis, yang dimaksud dengan orang-orang yang terikat sumpah ini adalah orang-orang kepada siapa si wafat ketika hidupnya berkomitmen untuk memberi nafkah. Masuk ke dalam kategori ini adalah: anak asuh, anak tiri, pembantu, kerabat yang miskin, anak yatim, dll. Wasiat hendaknya disaksikan oleh dua orang saksi yang adil. Saksi dapat merupakan orang yang dipercayai atau orang lain jika kebetulan maut mendatangi sedang kita dalam perjalanan. “Wahai orang-orang yang beriman, kesaksian antara kamu apabila salah seorang daripada kamu ditimpa maut, apabila dia berwasiat, ialah dua orang yang adil antara kamu, atau dua orang selain kamu jika kamu berpergian di bumi dan bencana maut menimpa kamu…” [Q.S. 5:106]

    Apabila ragu terhadap kejujuran saksi-saksi, kita minta agar mereka melafazkan sumpah dengan menyebut nama Allah setelah shalat dengan bunyi sebagaimana disebutkan oleh ayat berikut.

    “…Kemudian kamu tahan mereka sesudah shalat, dan mereka akan bersumpah dengan nama Allah, jika kamu ragu-ragu: ‘Kami tidak akan menjualnya untuk suatu harga, walaupun ia sanak saudara yang dekat, dan kami tidak juga akan menyembunyikan kesaksian Allah, karena jika demikian, tentu kami termasuk orang-orang yang berdosa'”. [Q.S. 5:106]

    Pada zaman sekarang kita dapat menggunakan jasa notaris untuk penyaksian wasiat ini.

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 3 January 2020 Permalink | Balas  

    Diam Itu Emas 

    Diam Itu Emas

    Aa. Gym.

    Dalam upaya mendewasakan diri kita, salah satu langkah awal yang harus kita pelajari adalah bagaimana menjadi pribadi yang berkemampuan dalam menjaga juga memelihara lisan dengan baik dan benar. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata benar atau diam.”, hadits diriwayatkan oleh Bukhari.

    1. Jenis-jenis Diam

    Sesungguhnya diam itu sangat bermacam-macam penyebab dan dampaknya. Ada yang dengan diam jadi emas, tapi ada pula dengan diam malah menjadi masalah. Semuanya bergantung kepada niat, cara, situasi, juga kondisi pada diri dan lingkungannya. Berikut ini bisa kita lihat jenis-jenis diam:

    • Diam Bodoh

    Yaitu diam karena memang tidak tahu apa yang harus dikatakan. Hal ini bisa karena kekurangan ilmu pengetahuan dan ketidakmengertiannya, atau kelemahan pemahaman dan alasan ketidakmampuan lainnya. Namun diam ini jauh lebih baik dan aman daripada memaksakan diri bicara sok tahu.

    • Diam Malas

    Diam jenis merupakan keburukan, karena diam pada saat orang memerlukan perkataannya, dia enggan berbicara karena merasa sedang tidak mood, tidak berselera atau malas.

    • Diam Sombong

    Ini pun termasuk diam negatif karena dia bersikap diam berdasarkan anggapan bahwa orang yang diajak bicara tidak selevel dengannya.

    • Diam Khianat

    Ini diamnya orang jahat karena dia diam untuk mencelakakan orang lain. Diam pada saat dibutuhkan kesaksian yang menyelamatkan adalah diam yang keji.

    • Diam Marah

    Diam seperti ini ada baiknya dan adapula buruknya, baiknya adalah jauh lebih terpelihara dari perkataan keji yang akan lebih memperkeruh suasana. Namun, buruknya adalah dia berniat bukan untuk mencari solusi tapi untuk memperlihatkan kemurkaannya, sehingga boleh jadi diamnya ini juga menambah masalah.

    • Diam Utama (Diam Aktif)

    Yang dimaksud diam keutamaan adalah bersikap diam hasil dari pemikiran dan perenungan niat yang mem