Updates from erva kurniawan Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:32 am on 17 March 2020 Permalink | Balas  

    Syarat Maksiat 

    Syarat Maksiat

    Suatu hari seorang lelaki menemui Ibrahim bin Adham. Dia berkata, ‘Wahai Aba Ishak! Saya selalu melakukan maksiat, tolong berikan aku nasihat’.

    Ibrahim berkata, ‘Jika kamu mau menerima lima syarat dan mampu melaksanakannya, maka kamu boleh teruskan melakukan maksiat.’

    1. Jika kamu maksiat kepada Allah, jangan makan rezekiNya.” Lelaki itu seraya berkata, ‘Aku mau makan dari mana? Bukankah semua yang ada di bumi ini rezeki Allah? “Ya,” tegas Ibrahim bin Adham. “Kalau kamu sudah memahaminya, masih pantaskah memakan rezekinya, sementara kamu selalu berkeinginan melanggar larangan-Nya? “
    2. “Yang kedua,” kata Ibrahim, “kalau mau bermaksiat, jangan tinggal dibumi-Nya! Syarat ini membuat lelaki itu kaget setengah mati. Ibrahim kembali berkata kepadanya, “Wahai Abdullah, pikirkanlah, apakah kau layak memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sementara kamu melanggar segala larangan-Nya? ‘“’Ya, Anda benar,” kata lelaki itu.
    3. Dia kemudian menanyakan syarat yang ketiga. Ibrahim menjawab,”Kalau kamu masih mau bermaksiat, carilah tempat tersembunyi yang tidak dapat terlihat oleh-Nya!” Lelaki itu kembali terperanjat dan berkata, “Wahai Ibrahim, ini nasihat macam apa? Mana mungkin Allah tidak melihat kita? “Nah, kalau memang yakin demikian, apakah kamu masih berkeinginan berlaku maksiat?” kata Ibrahim. Lelaki itu mengangguk dan meminta syarat yang keempat.
    4. Ibrahim melanjutkan, “Kalau malaikat maut datang hendak mencabut rohmu,katakanlah kepadanya, ‘Mundurkan kematianku dulu. Aku masih mau bertobat dan melakukan amal saleh’.” Kembali lelaki itu menggelengkan kepala dan segera tersadar, “Wahai Ibrahim, mana mungkin malaikat maut akan memenuhi permohonanku? “Wahai Abdullah, kalau kamu sudah meyakini bahwa kamu tidak bisa menunda dan mengundurkan datangnya kematianmu, lalu bagaimana engkau bisa lari dari murka Allah?“Baiklah, apa syarat yang kelima?”
    5. Ibrahim pun menjawab, “Wahai Abdullah kalau malaikat Zabaniyah datang hendak menggiringmu ke api neraka di hari kiamat nanti, jangan engkau mau ikut bersamanya. ”Perkataan tersebut membuat lelaki itu tersadar. Dia berkata, “Wahai Aba Ishak, sudah pasti malaikat itu tidak membiarkan aku menolak kehendaknya. “ Dia tidak tahan lagi mendengar perkataan Ibrahim. Air matanya bercucuran. “Mulai saat ini aku bertobat kepada Allah,” katanya sambil terisak.
     
  • erva kurniawan 1:29 am on 16 March 2020 Permalink | Balas  

    Potensi Diri 

    Potensi Diri

    By: agussyafii

    Setiap Manusia memiliki potensi diri. Dalam bentuk fisik, intelektual, emosional dan spiritual yang berbeda-beda kapasitasnya. Ada orang yang sangat intelek, tetapi emosinya tidak stabil. Yang lain emosinya sangat terkendali tetapi intelektualitasnya kurang. Ada juga orang yang menonjol justeru potensi spiritualitasnya . Perilaku manusia dalam keseharian mencerminkan aktualitas dari potensi itu.

    Ada orang yang berwajah garang tetapi hatinya lembut, ada orang yang fisiknya kecil dan nampak lemah tetapi hatinya bergejolak penuh dengan kebencian dan dendam. Demikian juga halnya dengan corak cinta, ada seorang lelaki yang jika jatuh cinta kepada seorang wanita, ia merasa harus menguasai dan memonopoli secara total lahir batin, tidak boleh sedikitpun si wanita memiliki perhatian kepada selain dirinya. Ia sangat pecemburu, dan jika ia gagal memiliki wanita yang dicintainya itu maka ia memilih menghancurkan sang kekasih daripada harus melihat ia dimiliki oleh orang lain. Di sisi lain, ada seorang lelaki pecinta yang sangat penuh pengertian, ia sangat memaklumi dan sangat memaafkan atas kekurangan sang kekasih.

    Ia bukan saja tidak bermaksud menguasai tetapi justeru selalu ingin memberi kepada kekasihnya apa yang menjadi keinginannya, . Ia sangat berbahagia jika bisa memberikan kesenangan kepada kekasihnya, meski untuk itu ia menderita. Nah cinta itu ada di dalam hati. Hadis Nabi menyebutkan bahwa di dalam tubuh setiap manusia ada qalbu (hati) yang

    menjadi penentu kualitas manusia, jika qalbu nya baik maka seluruh ekpressinya baik, sebaliknya jika qalbu nya buruk maka buruk pula ekpressi orang itu. Orang suka berkata; dalamnya laut dapat di duga, dalamnya hati siapa yang tahu ?

    Isi hati manusia sungguh sangat sangat banyak dan beragam, diantaranaya adalah cinta. Dapat dipastikan bahwa tidak ada satupun keterangan yang obyektip tentang hati manusia yang berasal dari manusia, karena semua manusia bersifat subyektif, oleh karena itu keterangan yang paling obyektif tentang hati manusia hanya yang berasal dari sang Pencipta hati itu sendiri, yaitu Alloh SWT, dan keterangan itu ada di dalam kitab suci Al Quran.

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 15 March 2020 Permalink | Balas  

    Jangan Memanfaatkan Mereka 

    Jangan Memanfaatkan Mereka

    by: Meidy

    Kasus-kasus “memanfaatkan” anak yatim kadang terjadi, bila niatan pengurusnya telah bergeser. Sekilas ini wajar, mengingat mengurus anak-anak yg begitu banyak juga membutuhkan tenaga dan pikiran ekstra. Fenomena seperti ini sudah lazim terjadi di masyarakat kita. Kalau hal ini sudah terjadi tentu si pengurus tidak lagi bisa menjadi tempat bergantung bagi mereka.

    Apabila hal ini yang terjadi, maka berarti ada kegagalan dalam diri sipengurus, sekaligus lampu kuning dari Allah, bahwa ambang bencana bagi si pengurus yang bersangkutan sudah dekat. Ini musibah yang semestinya segera dikembalikan kepada niat semula. Adakah musibah kemanusiaan yang melebihi orang-orang yang melepaskan tanggung jawabnya terhadap anak-anak yatim??? Anak-anak yatim sudah nestapa, apakah harus ditambah lagi dengan derita pula? Bukankah Allah telah berfirman dalam surat adh-Dhuha : ” Dan terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang? ”

    “Sungguh orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu telah memakan api neraka sepenuh perutnya” (QS. an-Nisa:10)

    Kesewenang-wenangan terhadap alam dan lingkungan adalah dengan merusak kelangsungan ekosistemnya, sedangkan kesewenang -wenangan terhadap anak yatim berarti menelantarkan mereka dengan memperlakukan secara tidak adil.

    Sungguh keliru kalau ada pergeseran anggapan bahwa mengurus anak yatim adalah suatu kerugian karena tidak bisa melakukan aktivitas produktif lainnya.

    Coba tengok Halimah as-Sa’diyah, beliau adalah contoh “Ibu Panti” yang pertama. Berkat ketulusannya memelihara Si Yatim Muhammad, Halimah yang semula hidup serba pas-pasan, justru kemudian serba berkecukupan. Rezeki si yatim memang Allah sendiri yang menitipkannya kepada siapa yang memeliharanya dengan ketulusan hati. Adakah perlu bukti lain selain yang telah dicontohkan oleh manusia Agung Rasulullah ini untuk kita….???

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 14 March 2020 Permalink | Balas  

    Pemimpin 

    Pemimpin

    By: Prof. Dr. AChmad Mubarok MA

    Manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan antara yang satu dengan yang lain. Arti Masyarakat itu sendiri yang berasal dari bahasa Arab musyarakah adalah saling bersekutu. Jadi masyarakat adalah wujud dari kesepakatan umum bagaimana setiap warganya dijamin peluangnya untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam sistem masyarakat, diatur yang kecil tidak dizalimi oleh yang besar, yang lemah dijamin memperoleh keadilan, yang memiliki kelebihan dijamin penghargaannya. Masyarakat juga sepakat untuk memberikan perlindungan kepada hak-hak azazi manusia, fisiknya, hartanya, fikirannya, jiwanya dan keyakinannya. Untuk itulah maka masyarakat membangun tradisi, membangun kebudayaan, membangun institusi seperti negara dan bahkan membangun badan dunia seperti Persatuan Bangsa Bangsa (PBB).

    Cita-cita bangsa Indonesia dengan mendirikan negara Republik Indonesia misalnya, seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD 45 adalah untuk: (1) melindungi segenap warga negara, (2) hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh warganya, (3) menghargai kedaulatan rakyat, dan (4) berketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

    Manusia secara pribadi adalah makhluk yang di satu sisi berfikir positif dan menyukai kebaikan, tetapi di sisi lain terkadang berfikir negatif dan kemudian melakukan perbuatan yang bukan saja merusak dirinya tetapi juga merusak atau mengganggu orang lain. Perilaku manusia juga ada yang bersifat individual dan terkadang bersifat sosial. Ada orang yang secara pribadi adalah pendiam, penakut dan cenderung patuh, tetapi ketika ia menjadi bagian dari perilaku sosial yang bringas maka ia bisa berubah menjadi pemberani, nekad dan agresif, satu perilaku yang sangat berbeda dengan perilaku individualnya.

    Untuk menjamin terlaksananya kesepakatan sosial, maka masyarakat mengenal struktur pemimpin dan yang dipimpin. Pemimpin diberi kewenangan oleh orang banyak untuk mengorganisir dan mengatur strategi pencapaian tujuan, dan orang banyak harus membantu dan mentaati pemimpin yang telah disepakati. Manusia mengenal sistem kepemimpinan (leadership) pada setiap lapisan. Setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya (kullukum ra‘in). Kemudian suami adalah pemimpin dalam rumah tangga, lurah adalah pemimpin satu desa dan seterusnya Presiden adalah pemimpin dari satu negara. Tipologi pemimpin itu bermacam-macam, tetapi kontrak pemimpin dan yang dipimpin bersifat “universal”. Kepemimpinan akan efektif jika rakyat yang dipimpin merasa memperoleh sesuatu dari pemimpinnya; memperoleh rasa keadilan, rasa aman, dan bimbingan menuju masa depan yang menjanjikan. Oleh karena itu seorang pemimpin haruslah orang yang memiliki banyak kelebihan dibanding yang

    dipimpin, karena seorang pemimpin harus bisa memberi. Jika tiga hal itu tidak bisa diberikan oleh seorang pemimpin, maka kepemimpinannya tidak akan efektif. Jika kepemimpinan tidak efektif maka kesepakatan umum bermasyarakat akan rusak, tatanan kehidupan menjadi tidak tertib, dan masyarakat manusia yang semestinya berbudaya tinggi akan berubah menjadi kerumunan binatang yang saling menyerang, apa yang sekarang disebut sebagai anarki.

    Sebab-sebab terjadinya anarki

    Al Mawardi merumuskan sebab-sebab terjadinya anarki pada suatu masyarakat dengan kalimat yang sangat pendek tetapi jelas; La yashluhu al qaumu faudla la surata lahum, wala surata idza juhhaluluhum sadu. Artinya; Suatu bangsa tidak akan eksis jika masyarakatnya anarkis. Anarkisme terjadi karena mereka tidak memiliki tokoh teladan yang dapat dijadikan panutan dalam hidup sehari-hari. Dan masyarakat akan kehilangan panutan jika orang-orang yang menjadi pemimpin terdiri dari orang-orang bodoh. Kata juhhal tidak mesti berarti bodoh dengan IQ rendah, tetapi juga bermakna, orang pandai yang melakukan perbuatan bodoh, bisa karena egois, karena buruk akhlaknya atau karena keliru cara berfikirnya.

    Kekeliruan yang dilakukan oleh rakyat biasa, paling-paling hanya dicibirkan orang lain, tetapi kekeliruan dari seorang pemimpin (apalagi jika berulang kali dilakukan, karena kebodohannya) akan berdampak pada rusaknya tatanan sosial. Oleh karena itu periksalah seteliti mungkin sebelum mengangkat seseorang menjadi pemimpin. Wallahu a‘lam.

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 13 March 2020 Permalink | Balas  

    Air Mata Singa Padang Pasir 

    Air Mata Singa Padang Pasir

    Pernahkah anda membaca dalam riwayat akan Umar bin Khatab menangis? Umar bin Khatab terkenal gagah perkasa sehingga disegani lawan maupun kawan. Bahkan konon, dalam satu riwayat, Nabi menyebutkan kalau Syeitan pun amat segan dengan Umar sehingga kalau Umar lewat di suatu jalan, maka Syeitan pun menghindar lewat jalan yang lain. Terlepas dari kebenaran riwayat terakhir ini, yang jelas keperkasaan Umar sudah menjadi buah bibir di kalangan umat Islam. Karena itu kalau Umar sampai menangis tentulah itu menjadi peristiwa yang menakjubkan.

    Mengapa “singa padang pasir” ini sampai menangis?

    Umar pernah meminta izin menemui rasulullah. Ia mendapatkan beliau sedang berbaring di atas tikar yang sangat kasar. Sebagian tubuh beliau berada di atas tanah. Beliau hanya berbantal pelepah kurma yang keras. Aku ucapkan salam kepadanya dan duduk di dekatnya. Aku tidak sanggup menahan tangisku.

    Rasul yang mulia bertanya, “mengapa engkau menangis ya Umar?” Umar menjawab, “bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau, padahal Engkau ini Nabi Allah dan kekasih-Nya. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Sedangkan Kisra dan kaisar duduk di singgasana emas dan berbantalkan sutera”.

    Nabi berkata, “mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga; sebuah kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang yang bepergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya. ”

    Indah nian perumpamaan Nabi akan hubungan beliau dengan dunia ini. Dunia ini hanyalah tempat pemberhentian sementara, hanyalah tempat berteduh sejenak, untuk kemudian kita meneruskan perjalanan yang sesungguhnya.

    Ketika anda pergi ke Belanda, biasanya pesawat akan transit di Singapura. Atau anda pulang dari Saudi Arabia, biasanya pesawat anda mampir sejenak di Abu Dhabi. Anggap saja tempat transit itu, Singapura dan Abu Dhabi, merupakan dunia ini. Apakah ketika transit anda akan habiskan segala perbekalan anda? Apakah anda akan selamanya tinggal di tempat transit itu?

    Ketika anda sibuk shopping ternyata pesawat telah memanggil anda untuk segera meneruskan perjalanan anda. Ketika anda sedang terlena dan sibuk dengan dunia ini, tiba-tiba Allah memanggil anda pulang kembali ke sisi-Nya. Perbekalan anda sudah habis, tangan anda penuh dengan bungkusan dosa anda, lalu apa yang akan anda bawa nanti di padang Mahsyar. Sisakan kesenangan anda di dunia ini untuk bekal anda di akherat. Dalam tujuh hari seminggu, mengapa tak anda tahan segala nafsu, rasa lapar dan rasa haus paling tidak dua hari dalam seminggu. Lakukan ibadah puasa senin-kamis. Dalam dua puluh empat jam sehari, mengapa tak anda sisakan waktu barang satu-dua jam untuk sholat dan membaca al-Qur’an. Delapan jam waktu tidur kita….mengapa tak kita buang 15 menit saja untuk sholat tahajud.

    “Celupkan tanganmu ke dalam lautan,” saran Nabi ketika ada sahabat yang bertanya tentang perbedaan dunia dan akherat, “air yang ada di jarimu itulah dunia, sedangkan sisanya adalah akherat”

    Bersiaplah, untuk menyelam di “lautan akherat”. Siapa tahu Allah sebentar lagi akan memanggil kita,dan bila saat panggilan itu tiba, jangankan untuk beribadah, menangis pun kita tak akan punya waktu lagi.

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 12 March 2020 Permalink | Balas  

    Kapasitas Kejiwaan Pada Anak 

    Kapasitas Kejiwaan Pada Anak

    By: agussyafii

    Dalam konsep pendidikan Amalia, yang paling penting adalah memberikan tanggungjawab. Anak haruslah diberikan kesempatan untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawab untuk mengurus dirinya sendiri sebab itu bentuk pelatihan yang perlu pembiasaan agar kelak mereka menjadi manusia yang bertanggungjawab. Tentunya tugas dan tanggungjawab anak disesuaikan dengan kapasitas dirinya.

    Menurut Alquran, Allah menciptakan manusia baik individu maupun sosial, dari keadaan lemah, kemudian berproses menjadi kuat, dan kemudian lemah kembali (Q / 30:54). Kelemahan itu berupa keterbatasan fisik, psikis, intelektual, dan spiritual.

    Tiap orang memiliki kapasitas fisik, psikis, intelektual dan spiritual yang berbeda-beda. Deskripsinya sebagai berikut:

    1. Kelemahan fisik mewujud pada ketergantungan dengan unsur lain seperti makanan, minuman, istirahat, pengobatan dan lainnya, dan berujung pada kematian. Proses dari lemah menjadi kuat dan kembali menjadi lemah adalah hukum kehidupan yang juga dialami oleh tumbuh-tumbuhan, dari biji, bersemi, menjadi pohon, merindang, berbuah, kembali layu dan kering (Q / al Waqi’ah:63-70).
    2. Kelemahan dan keterbatasan psikis manusia mewujud dalam bentuk tidak mampu mengendalikan diri (tidak sabar), emosi, takut, terkejut, dan sedih. Alquran menyebutkan bahwa manusia diciptakan dengan memiliki keluh kesah dan kikir; jika ditimpa kesusahan ia mengeluh, jika ia memperoleh keberuntungan ia malah kikir (Q / 70:19-21). Jika sedang senang ia berpaling dan sombong, tetapi ketika sedang susah ia putus asa (Q / 17:83).
    3. Kelemahan intelektual mewujud pada keterbatasan pengetahuan manusia atas realitas. Ada manusia yang mampu memilah-milah banyak masalah, tetapi ada yang sangat terbatas; ada yang mampu melihat masalah untuk tiga-empat dimensi, tetapi ada yang hanya mampu melihat satu dimensi. Dalam surat Luqman disebutkan bahwa ada lima hal yang tidak bisa diketahui oleh intelektual manusia, yaitu:

    (1) Kapan terjadi hari kiamat;

    (2) Kapasitas hujan;

    (3) Masa depan janin manusia yang masih dalam kandungan; dan

    (4) Apa yang akan diperoleh di hari esok, dan (5) dimana manusia akan mati (Q / 31:34).

    Alquran juga menyebutkan bahwa manusia tidak akan mampu mengetahui ruh, karena ruh itu urusan Allah SWT dan manusia hanya diberi sedikit pengetahuan tentangnya, misalnya fenomena (Q / 17:85).

    1. Keterbatasan kekuatan spiritual mewujud dalam ketidak mampuan manusia memandang dimensi gaib, apa yang akan terjadi di masa depan, apa yang ada pada ilmu Allah (Q / Yunus:49) dan Q / al An’am:50). Dalam perspektif spiritualitas, seseorang bisa mencapai tingkat dekat dengan Allah hingga ia bisa melihat dengan “penglihatan” Allah, bisa mendengar dengan “telinga” Allah. Akan tetapi, spiritual adalah olah rasa. Oleh karena itu, hal ini merupakan pengalaman subjektif spiritual seorang muslim, kendati mereka justru merasakan sebagai hal yang paling objektif.

    Sebagaimana tersebut di atas, kapasitas setiap manusia, (fisik, psikis, intelektual, dan spiritual) kenyataannya berbeda-beda. Perbedaan kapasitas ini membawa implikasi kepada perbedaaan tanggung jawab dan bobot kewajiban. Sudah barang tentu tidak adil jika kewajiban manusia disamakan sementara kapasitas mereka berbeda-beda. Oleh karena itu, Alquran menyebutkan bahwa Allah tidak membebani kewajiban kepada seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya, la yukallifa Allah nafsan ila wus’aha (Q / 2:286). Allah tidak membebani kewajiban kepada seseorang kecuali sekadar apa yang telah Allah berikan kepadanya, la yukallifa Allah nafsan illa ma ataha (Q / 65:7). Orang juga tidak akan memikul dosa yang diperbuat orang lain, wala taziru waziratun wizra ukhra (Q / 6:164).

    Prinsip hubungan ini kemudian mewujud dalam hukum fiqh; dalam hal ini, orang yang sakit dibedakan keharusannya dengan orang sehat; orang miskin dibedakan kewajibannya dengan orang kaya; orang gila dibedakan dengan tanggung jawabnya dengan orang waras; anak kecil dibedakan tanggung jawabnya dengan orang dewasa; orang tidur dan orang lupa dibedakan tanggung jawabnya dengan orang jaga atau orang yang sadar; dan orang yang berbuat secara sengaja dibedakan dengan yang tidak sengaja.

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 11 March 2020 Permalink | Balas  

    Hubungan antara Taqwa dan Kemudahan Rezeki 

    Hubungan antara Taqwa dan Kemudahan Rezeki

    By: agussyafii

    Insan Mulia ketika menghadapi kesulitan dalam hidupnya niscaya berusaha mencari jalan pemecahannya (problem solving). Dalam hal ini ada yang tetap memperhatikan nilai-nilai moral, tetapi ada juga yang menghalalkan segala cara. Menurut Alquran, sesulit apapun keadaan, jika dalam pemecahan masalah itu mengikuti jalan takwa, niscaya Alloh SWT akan memberikan jalan keluar yang aman, dan bahkan ditanggung akan memperoleh rezeki dari jalan yang tidak diperhitungkan; wa man yattaqillah yaj’al lahu makhraja wa yarzuqhu min haytsu la yahtasib (Q / 65:2).

    Ayat ini berhubungan dengan problem keluarga. Dalam problem bangsa atau masyarakat luas, sumberdaya alam menjadi tidak relevan dengan kemakmuran, jumlah senjata menjadi tidak relevan dengan kelancaran pekerjaan. Menurut Alquran hal ini disebabkan dicabutnya keberkahan dari masyarakat atau bangsa itu.

    Berkah adalah terkumpulnya kebaikan ilahiyyah pada sesuatu, pada seseorang, pada suatu waktu, pada suatu tempat, sehinggga nikmat Alloh SWT terdayaguna secara optimal. Menurut Alquran, hilangnya keberkahan itu berkaitan dengan perilaku masyarakat yang tidak lagi mencerminkan iman dan taqwa adalah kejujuran, tanggung jawab, amanah dan keadilan. Jika nilai-nilai tersebut diabaikan oleh masyarakat maka sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan sumberdaya lainnya tidak akan fungsional bagi kesejahteraan hidup manusia.

    Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi; tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu; maka, kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 10 March 2020 Permalink | Balas  

    Halaqah dan Ilmu pengetahuan 

    Halaqah dan Ilmu pengetahuan

    By: agussyafii

    Istilah halaqah bukanlah sesuatu yang asing. Dalam bahasa Arab, halaqah artinya lingkaran, tetapi sebagai istilah, halaqah  digunakan untuk menyebut  sebuah forum atau majlis. Pada zaman klassik Islam, majlis pengajian Imam Ghazali misalnya juga disebut halaqah Imam Ghazali, dinisbahkan kepada bentuk dimana guru duduk di tengah dan murid-muridnya duduk melingkar di sekelilingnya.

    Bentuk halaqah juga diberlakukan di pesantren-pesantren salafi Jawa sebelum dikenal sistem kelas pada pengajian bandungan, dimana kyai duduk di tengah dan para santri duduk melingkari guru. Dalam konsep pendidikan salafi, belajar itu bukan transfer pengetahuan dari guru ke murid, tetapi lebih merupakan proses mencari berkah guru (tabarrukan) . Oleh karena itu masa belajar tidak dibatasi oleh jenjang-jenjang kelas hingga tammat, tetapi sepuas-puas murid hingga merasa memperoleh berkah ilmu dari sang guru.  tidaklah heran jika di pesantren ada murid yang menammatkan ngaji satu kitab hingga mengulang tiga kali, karena pada kali tammat pertama dan kedua rasanya belum memperoleh berkah kyai.

    Berkah itu sendiri artinya terdayagunanya anugerah Tuhan  secara optimal (al barakatu tajammu` al khair al ilahiy katajammu` al ma’ fi al birkati). Menurut paradigma pendidikan Islam klassik, ilmu itu bukan sekedar pengetahuan, tetapi juga bermakna cahaya ketuhanan, oleh karena itu, cahaya ketuhanan (ilmu yang membawa berkah) tidak mungkin dicapai oleh orang yang durhaka kepada Tuhan, seperti yang tertulis dalam kitab Ta`lim al Muta`alim; wa akhbarani bi anna al `ilma nurun- wa nurullahi la yuhda li`ashi.  Selanjutnya bagi santri yang dipandang sudah layak mengajarkan ilmu dari guru, diberi ijazah atau diijazahi oleh kyai. Ijazahnya bukan berujud selembar kertas, tetapi berupa  akad dimana dengan bersalaman guru membolehkan murid untuk mengajar. Kata ijazah itu sendiri berasal dari kata ajaza-yujizu- ijazatan artinya membolehkan atau perkenan, sama seperti konsep magister (guru) dalam tradisi keilmuan Eropa.

    Sejalan dengan perkembangan zaman, forum halaqah juga berkembang, bukan saja lingkaran dalam satu ruang, tetapi juga lingkaran pembaca (koran), lingkaran pemirsa (TV), lingkaran pendengar (radio) dan lingkaran pengunjung (internet).

    Al Qur’an banyak sekali mengingatkan manusia agar menggunakan akalnya untuk berfikir dan bertafakkur; afala tatafakkarun, afala ta`qilun, awala yatadabbarun. Manusia memang adalah hewan yang berfikir ( al insanu hayawanun nathiqun). Pada manusia, berfikir merupakan proses keempat setelah sensasi, persepsi dan memori yang mempengaruhi penafsiran terhadap suatu stimulus. Dalam berfikir orang melibatkan sensasi, persepsi dan memori sekaligus (istilah psikologi). Dalam kehidupan, berfikir diperlukan untuk (a) memecahkan masalah atau problem solving, (2) untuk mengambil keputusan, decision making, dan (3) untuk melahirkan sesuatu yang baru (creatifity) .

    Semakin tinggi ilmu seseorang maka semakin rumit cara berfikirnya. Ada orang yang hanya bisa melamun, ada yang berfikir tetapi tidak realistis, dan ada yang berfikir realistis, ada yang berfikir ngawur, ada yang berfikir nalar (dari kata Arab nadzara). Ada orang yang selalu berfikir (failasuf), ada orang yang hanya mau berfikir jika merasa perlu (tehnokrat), dan ada yang kadang-kadang saja berfikir (penganggur) .

    Orang pandai berfikir secara bersistem, misalnya berfikir deduktif (mengambil kesimpulan khusus dari pernyataan umum), atau sebaliknya berfikir induktip (mengambil kesimpulan  umum dari pernyataan khusus. Tetapi terkadang ada masalah yang tidak bisa dipecahkan dengan berfikir, maka bagi orang yang sangat pintar ia memakai metode yang disebut berfikir kreatip (creatip thinking).

    Berfikir kreatif adalah berfikir dengan menggunakan metode baru, konsep baru, penemuan baru, paradigma baru dan seni yang baru pula. Urgensi pemikiran kreatip bukan pada kebaruannya tetapi pada relefansinya dengan pemecahan masalah. Karena kebaruan dan tidak konvensional, maka orang yang kreatip sering tidak difahami oleh orang kebanyakan, tak jarang dianggap aneh atau bahkan dianggap gila (berfikir gila). Orang besar sering mengemukakan ide-ide gila karena jarak orang besar dengan orang gila memang sangat tipis. Proses berfikir kreatip itu melalui lima tahapan : (1) orienstasi, yakni merumuskan dan mengidentifikasi masalah.(2) preparasi, yakni mengumpulkan sebanyak mungkin informasi, (3) inkubasi, yaitu berhenti dulu, tidur dulu, cooling dawn dulu.(4) iluminasi, yakni mencari ilham, dan (5) verifikasi, yakni menguji dan menilai secara kritis.

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 9 March 2020 Permalink | Balas  

    Nasib Manusia 

    Nasib Manusia

    By: Prof. Dr. Achmad Mubarok MA

    Nasib manusia sering disebut dengan kalimat suratan nasib atau suratan tangan, atau suratan takdir, yang menggambarkan bahwa nasib manusia telah tertulis di lauh mahfudz sebagai takdir, dan manusia tak berdaya mengubahnya. Jika kita menengok al Qur’an maka kita jumpai bahwa penjelasan tentang takdir dan nasib itu tidaklah hitam putih, karena di satu sisi diungkapkan bahwa setiap peristiwa yang terjadi di alam raya hingga selembar daun yang jatuh pasti bertitik tolak dari kehendak Allah (qudrat iradat Allah) dan tidak terlepas dari kendali pengawasan Allah serta tersurat dalam ketetapan yang jelas (fi kitabin mubin).

    Sementara di sisi lain diungkapkan bahwa manusia memiliki daya pilih dan daya upaya, bebas menentukan perbuatannya dan mampu mempengaruhi masa depan dan nasibnya dan dapat pula mengubahnya sendiri. Al Qur’an surat al Kahfi ayat 29 misalnya memberi kebebasan memilih kepada manusia untuk beriman atau kafir, faman sya’a fal yu’min, waman sya’a fal yakfur.

    Dua pola ungkapan al Qur’an itu kemudian melahirkan pola-pola pemikiran yang berlainan. Pertama pola kepercayaan “Jabbbariah” yang mengata-kan bahwa nasib manusia telah ditentukan secara pasti dan tetap oleh Allah Yang Maha Pencipta dimana manusia tinggal menjalani ketentuan-ketentuan itu sepenuhnya tanpa daya pilih dan tanpa daya upaya.

    Pola kedua adalah kepercayaan “Qadariyah” yang mengatakan bahwa manusialah yang menentukan segala-galanya, nasibnya tergantung pada pilihan dan usahanya karena manusia memiliki kebebasan untuk menentukan kebebasannya. Pola ketiga disebut kepercayaan “Ahlussunnah wal Jamaah”, yang mengata-kan bahwa ada keterbatasan dalam diri manusia, sehingga daya pilih dan daya upaya yang dimilikinya menjadi tidak mutlak, sekalipun keduanya sangat penting artinya sebagai landasan taklif (penunaian tugas yang diamanatkan Allah kepada manusia).

    Kepercayaan yang benar tentang takdir itu adalah bagian dari ilmu yang utuh, yang mendorong manusia untuk bekerja keras, cermat dan tertib dengan segala daya dan dana yang ada padanya berdasarkan pilihannya yang timbul dari kesadaran akan amanah taklif yang diembannya untuk meningkatkan kualitas dirinya dalam menggapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Wallohu a‘lam.

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 8 March 2020 Permalink | Balas  

    Fitrah Kesucian Nafs 

    Fitrah Kesucian Nafs

    By: Prof. Dr. Achmad Mubarok MA

    Telah disebutkan dalam uraian sebelumnya bahwa pada dasarnya nafsu itu diciptakan Tuhan dalam keadaan sempurna (Q/91 : 7-8). Akan tetapi, ia dapat tercemar menjadi kotor jika tidak dijaga (Q/91: 9-10). Tentang Nafs yang masih suci disebutkan dalam surat Alkahfi/18 : 74, dalam rangkaian kisah Nabi Khidir yang teks ayatnya telah ditulis di bagian depan.

    Istilah zakiyyah pada ayat tersebut di atas (nafsan zakiyyatan) merupakan sifat dari nafs sehingga nafs zakiyyah artinya jiwa yang suci. Dalam konteks ayat tersebut, pemiliki nafs yang suci itu adalah anak kecil sebagaimana juga disebut dalam surat Maryam : 19 ghulâman zakiyyan. Jadi, nafs yang secara fitri masih suci adalah nafs dari anak yang belum mukallaf, yang dalam hhal ini belum berdosa.

    Fakhr ar Razi mengutip perbedaan makna dari kalimat zakiyyah dan zâkiyah. Sebagian Mufasir memandang sama arti kedua kalimat itu. Akan tetapi sebagian membedakannya, seperti Abu ‘Amr Ibn al ‘Ala. Menurutnya, nafs zâkiyyah (dengan alif) adalah jiwa yang suci secara fitri, yakni belum pernah melakukan dosa, sedang nafs zakiyyah adalah jiwa yang suci setelah melalui proses tazkiyyatan nafs dengan bertobat dari perbuatan dosa.

    Kesucian nafs bersifat manusiawi, maka kotornya pun bersifat maknawi. Seseorang dapat memelihara kesucian nafs-nya manakala ia konsisten dalam ketakwaan. Sebaliknya, nafs berubah menjadi kotor jika pemiliknya menempuh jalan dosa atau fujur. Surat Assyams/91 : 7-10 menyebutkan bahwa sungguh rugi orang yang telah mengotori jiwanya (wa qod khôba man dassâhâ) kata dassa berasal dari kata dassa-yadussu yang arti lughowinya menyembunyikan sesuatu di dalam sesuatu. Dalam konteks ayat ini, orang mengotori jiwanya dengan perbuatan

    dosa yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Oleh karena itu, sebagain mufasir berpendapat bahwa ayat Alquran ini (Q/91 : 10) berkenaan dengan nafs orang saleh yang melakukan kefasikan, bukan jiwa orang kafir. Pasalnya, orang saleh, meski ia melakukan dosa, tetapi ia malu dengan perbuatannya itu sehingga ia lakukan dengan cara sembunyi-sembunyi. Berbeda dengan orang kafir yang melakukannya dengan terang-terangan.

    Alquran mengisyaratkan bahwa jiwa yang tercemar masih dapat diusahakan untuk menjadi suci kembali, baik dengan usaha sendiri, memalui pendidikan atau karena anugerah dan rahmat Allah seperti yang diisyaratkan oleh surat Q/9 : 103, Q/3: 164.

    Artinya : Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Alkitab dan Alhikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan nabi) itu mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata (Q/3 : 164).

    Ayat Alquran tersebut mengisyaratkan bahwa orang yang sesat masih dimungkinkan untuk dibersihkan jiwanya. Usaha atau proses penyucian jiwa itu disebut tazkiyyat an nafs.

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 7 March 2020 Permalink | Balas  

    Waktu Shalat Adalah Mukjizat 

    Waktu Shalat Adalah Mukjizat

    Pernahkan Anda bertanya mengapa shalat lima waktu itu harus dikerjakan pada waktunya? Ternyata ada kaitannya dengan siklus energi tubuh kita.

    Siklus Enegi Tubuh Kita

    Sebuah penelitian yang dilakukan oleh para ilmuan, terutama di Jepang, Eropa, dan Amerika. Penelitian itu menyimpulkan bahwa energi tubuh manusia mengalami rotasi yang sangat teratur; naik dan turun, kemudian naik lagi, begitu seterusnya. Para ilmuan itu membagi siklus energi tubuh menjadi beberapa fase:

    • Fase peningkatan. Fase ini ditandai dengan bertambahnya semangat dan energi tubuh, sehingga tubuh terasa lebih energik, dan rasa percaya diri pun meningkat.
    • Fase penurunan. Pada fase ini seseorang akan merasa badan atau jiwanya penat. Karena itu, ia membutuhkan istirahat yang cukup.
    • Fase transisi. Fase ini merupakan masa negatif bagi energi tubuh manusia. Keadaan pada fase mirip dengan fase transisi dalam tidur ke jaga.

    Banyak studi akademis dan bukti yang ditunjukkan oleh pakar biologi di Cina, Eropa, dan Amerika membuktikan bahwa ritme energi tubuh manusia mencapai puncaknya dua kali dalam 24 jam, masing-masing terjadi setiap 12 jam. Derajat energi dan kebugaran tubuh manusia mencapai puncaknya secara bertahap sejak pukul 04.00. dan peningkatan energi tubuh juga terjadi pada pukul 16.00. Para ilmuan menegaskan bahwa energi tubuh manusia pada pukul 02.00 sama dengan energi tubuh pada pukul 14.00., tetapi kadarnya lebih rendah dari energi pada fase yang pertama. Maksudnya, puncak kekuatan dan kebugaran tubuh terjadi antara pukul 04.00 dan pukul 11.00. Peningkatan energi kembali berlangsung tubuh yang terjadi antara pukul 16.00 hingga pukul 18.00.

    Derajat terendah energi tubuh terjadi sekitar pukul 14.00 dan sekitar pukul 02.00, untuk kemudian Dan proses itu mulai pada pukul 04.00 hingga derajat energi tubuh mencapai puncak keseimbangannya pada sekitar pukul 10.00 atau 11.00., rentang waktu kurang lebih enam hingga tujuh jam. Tempo tersebut sudah sangat cukup untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup dengan berbagai jenis tugas dan pekerjaan. Selanjutnya derajat energi tubuh menurun secara bertahap sekitar pukul 14.00, saat tubuh kita sangat membutuhkan suplay energi dari makanan dan istirahat selama tidak kurang dari dua jam.

    Setelah itu energi dan kebugaran tubuh manusia akan kembali naik secara bertahap dan bisa menopang aktivitas selama tiga hingga empat jam. Namun energi tubuh pada pada fase yang kedua ini lebih rendak daripada energi tubuh pada pagi hari. Kemudian energi mulai menurun kembali secara bertahap sekitar pukul 20.00 atau pukul 21.00, untuk kemudian benar-benar menurun sekitar pukul 23.00 atau 24.00, yang mana tubuh sangat membutuhkan tidur dan istirahat, hingga kekuatan energi tubuh mencapai keseimbangan terendahnya pada pukul 01.00 atau 02.00, -saat tubuh membutuhkan pemenuhan kekuatan dan pembaruan sel-sel- kemudian kekuatan tubuh memulai siklus baru untuk hari berikutnya. Demikian seterusnya.

    Korelasinya dengan waktu shalat?

    • Waktu Shalat Subuh

    Pada masa ini energi tubuh manusia mulai meningkat secara bertahap. Ketika seorang muslim melaksanakan shalat subuh, berarti ia telah memulai hari itu dengan semangat yang tentu berpengaruh terhadap tubuh secara menyeluruh. Pengaruh itu nampak jelas setelah 1,5 atau 2 jam shalat subuh. Masa tersebut merupakan waktu yang telah ditentukan untuk memulai rutinitas harian. Dengan demikian, kondisi kita berada dalam kondisi yang fit, baik dari segi fisik, pikiran, maupun psikologis, yang tentu saja sangat berpengaruh terhadap kemampuan kita menunaikan tugas dan meningkatkan produktivitas perkerjaan kita.

    • Waktu Shalat Zuhur

    Pada pukul 10.00 atau 11.00 grafik energi tubuh akan mencapai puncak keseimbangannya, artinya tubuh berada dalam kondisi terbaik untuk menyelesaikan pekerjaan. Aktivitas selama seharian tentu saja melelahkan, sehingga tubuh perlu diistirahatkan agar setelah itu tubuh dapat kembali melaksanakan tugasnya secara maksimal. Waktu shalat Zuhur masuk ketika matahari sudah bergeser dari garis lurus dengan bumi. Di sinilah shalat Zuhur memainkan perannya untuk memenuhi kebutuhan istirahat itu dengan cara yang paling baik, pemenuhan dan memperbarui energi tubuh.

    • Waktu Shalat Ashar

    Setelah shalat Zuhur, energi tubuh mulai menurun secara bertahap, selama kurang lebih dua atau tiga jam. kemudian energi tubuh mulai meningkat secara bertahap ketika waktu shalat Ashar tiba. Ketika bayangan suatu benda separuh dari bayangannya. Alhasil melaksanakan shalat pada waktu ini bisa dikatakan sebagai warming up yang ideal untuk mendukung energi tubuh serta menjaga keseimbangannya untuk menyelsaikan tugas-tugas harian dengan baik dan maksimal.

    • Waktu Shalat Maghrib

    Setelah kurang lebih tiga jam setelah shalat Ashar, secara biologis pada masa ini grafik energi tubuh meningkat, tetapi peningkatannya lebih rendah daripada peningkatan yang dicapai pada pagi harinya. Oleh karena itu, masa ini khusus untuk menyelesaikan tugas yang belum rampung atau untuk melaksanakan aktivitas yang beragam. Sehingga, shalat Maghrib dilaksanakan, agar tubuh dapat beristirahat secara positif dan baik untuk memenuhi kekuatan dan menyuplai energi tubuh. Hal itu agar tubuh dapat melangsungkan aktivitas dengan energik dan menyenangkan.

    • Waktu Shalat Isya

    Pada waktu ini biasanya rutinitas harian sudah berakhir, dibarengi dengan menurunnya grafik energi tubuh. Dari sini kita bisa mengetahui urgensi shalat isya. Atau bisa diibaratkan sebagai cooling down dari seluruh kesibukan harian untuk kemudian menyudahi kepenatan fisik dan hati, reaksi serta tekanan psikologis agar seluruh tubuh betul-betul siap untuk menongsumsi hidangan makan malam dengan tenang, dan menyenangkan. Dengan demikian tubuh berada dalam kondisi terbaik dan bisa beristirahat/ tidur nyenyak samapai pagi hari untuk melaksanakan shalat subuh, sehingga tubuh berada dalam kondisi yang ideal untuk memulai rutinitas dengan energik dan mnyenangkan.

    ***

    (Dikutip dan diterjemahkan dari “ash-Shalah Riyadhatun Nafs wal Jasad”).

     
  • erva kurniawan 1:46 pm on 6 March 2020 Permalink | Balas  

    Larangan Makan dan Minum Sambil Berdiri 

    Larangan Makan dan Minum Sambil Berdiri

    Dari Anas dan Qatadah, Rasulullah saw bersabda:

    Sesungguhnya beliau melarang seseorang minum sambil berdiri, Qotadah berkata:”Bagaimana dengan makan?” beliau menjawab: “Itu lebih buruk lagi”. (HR. Muslim dan Turmidzi)

    bersabda Nabi dari Abu Hurairah,“Jangan kalian minum sambil berdiri ! Apabila kalian lupa, maka hendaknya ia muntahkan !” (HR. Muslim)

    Rahasia Medis

    Dr. Abdurrazzaq Al-Kailani berkata: “Minum dan makan sambil duduk, lebih sehat, lebih selamat, dan lebih sopan, karena apa yang diminum atau dimakan oleh seseorang akan berjalan pada dinding usus dengan perlahan dan lembut. Adapun minum sambil berdiri, maka ia akan menyebabkan jatuhnya cairan dengan keras ke dasar usus, menabraknya dengan keras, jika hal ini terjadi berulang-ulang dalam waktu lama maka akan menyebabkan melar dan jatuhnya usus, yang kemudian menyebabkan pernah sekali minum sambil disfungsi pencernaan. Adapun Rasulullah berdiri, maka itu dikarenakan ada sesuatu yang menghalangi beliau untuk duduk, seperti penuh sesaknya manusia pada tempat-tempat suci, bukan merupakan kebiasaan. Ingat hanya sekali karena darurat!

    Begitu pula makan sambil berjalan, sama sekali tidak sehat, tidak sopan, tidak etis dan tidak pernah dikenal dalam Islam dan kaum muslimin.

    Dr. brahim Al-Rawi melihat bahwa manusia pada saat berdiri, ia dalam keadaan tegang, organ keseimbangan dalam pusat saraf sedang bekerja keras, supaya mampu mempertahankan semua otot pada tubuhnya, sehingga bisa berdiri stabil dan dengan sempurna. Ini merupkan kerja yang sangat teliti yang melibatkan semua susunan syaraf dan otot secara bersamaan, yang menjadikan manusia tidak bisa mencapai ketenangan yang merupakan syarat tepenting pada saat makan dan minum. Ketenangan ini bisa dihasilkan pada saat duduk, dimana syaraf berada dalam keadaan tenang dan tidak tegang, sehingga sistem pencernaan dalam keadaan siap untuk menerima makanan dan minum dengan cara cepat.

    Dr. Al-rawi menekankan bahwa makanan dan minuman yang disantap pada saat berdiri, bisa berdampak pada refleksi saraf yang dilakukan oleh reaksi saraf kelana (saraf otak kesepuluh) yang banyak tersebar pada lapisan endotel yang mengelilingi usus.

    Refleksi ini apabila terjadi secara keras dan tiba-tiba, bisa menyebabkan tidak berfungsinya saraf (Vagal Inhibition) yang parah, untuk menghantarkan detak mematikan bagi jantung, sehingga menyebabkan pingsan atau mati mendadak.

    Begitu pula makan dan minum berdiri secara terus –menerus terbilang membahayakan dinding usus dan memungkinkan terjadinya luka pada lambung. Para dokter melihat bahwa luka pada lambung 95% terjadi pada tempat-tempat yang biasa bebenturan dengan makanan atau minuman yang masuk.

    Air yang masuk dengan cara duduk akan disaring oleh sfringer. Sfringer adalah suatu struktur maskuler (berotot) yang bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup. Setiap air yang kita minum akan disalurkan pada ‘pos-pos’ penyaringan yang berada di ginjal. Nah, jika kita minum berdiri air yang kita minum tanpa disaring lagi. Langsung menuju kandung kemih. Ketika langsung menuju kandung kemih, maka terjadi pengendapan disaluran ureter. Karena banyak limbah-limbah yang menyisa di ureter. Inilah yang bisa menyebabkan penyakit kristal ginjal. Salah satu penyakit ginjal yang berbahaya. Susah kencing itu penyebabnya.

    Sebagaimana kondisi keseimbangan pada saat berdiri disertai pengerutan otot pada tenggorokan yang menghalangi jalannya makanan ke usus secara mudah, dan terkadang menyebabkan rasa sakit yang sangat yang mengganggu fungsi pencernaan, dan seseorang bisa kehilangan rasa nyaman saat makan dan minum.

    Oleh karena itu marilah kita kembali hidup sehat dan sopan dengan kembali ke pada adab dan akhlak Islam, jauh dari sikap meniru-niru gaya orang-orang yang tidak mendapat hidayah Islam.

    Sumber: Qiblati edisi 04 tahun II. Judul: Larangan Minum sambil berdiri, Hal 16

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 1 March 2020 Permalink | Balas  

    Sayangnya ALLAH pada Wanita 

    Masya ALLAH ! Demikian sayangnya ALLAH pada wanita

    Kaum feminis bilang susah jadi wanita (baca: muslimah), lihat saja peraturan dibawah ini:

    1. Wanita auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak) dibanding lelaki
    2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya..
    3. Wanita saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding lelaki
    4. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki
    5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak
    6. Wanita wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat pada isterinya
    7. Talak terletak di tangan suami dan bukan isteri
    8. Wanita kurang dalam beribadat karena adanya masalah haid dan nifas yang tak ada pada lelaki

    Itu sebabnya mereka tidak henti-hentinya berpromosi untuk”MEMERDEKAKAN WANITA”

    Pernahkah kita lihat sebaliknya (kenyataannya) ?

    1. Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan di tempat teraman dan terbaik.Sudah pasti intan permata tidak akan dibiarkan terserak bukan? Itulah perbandingannya dengan seorang wanita
    2. Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada bapaknya?
    3. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi tahukah harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, sementara apabila lelaki menerima warisan, Ia perlu/wajib juga menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anak
    4. Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi tahukah bahwa setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini, dan tahukah jika ia mati karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya
    5. Di akhirat kelak, seorang lelaki akan mempertanggungjawab -kan terhadap 4 wanita, yaitu : isterinya,ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya. Artinya, bagi seorang wanita tanggung-jawabterha dapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki, yaitu : suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya
    6. Seorang wanita boleh memasuki pintu syurga melalui pintu surga yang mana saja yang disukainya, cukup dengan 4 syarat saja, yaitu : shalat 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat kepada suaminya dan menjaga kehormatannya
    7. Seorang lelaki wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi wanita jika taat akan suaminya, serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH, maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata

    Masya ALLAH ! Demikian sayangnya ALLAH pada wanita

    Ingat firman-Nya, bahwa mereka tidak akan berhenti melakukan segala upaya, sampai kita ikut / tunduk kepada cara-cara / peraturan buatan mereka (emansipasi Ala western)

    Yakinlah, bahwa sebagai dzat yang Maha Pencipta, yang menciptakan kita, maka sudah pasti Ia yang Maha Tahu akan manusia, sehingga segala hukumNya / peraturanNya, adalah YANG TERBAIK bagi manusia dibandingkan dengan segala peraturan/hukum buatan manusia

    Jagalah isterimu karena dia perhiasan, pakaian dan ladangmu, sebagaimana Rasulullah pernah mengajarkan agar kita (kaum lelaki) berbuat baik selalu (gently) terhadap isterimu

    Adalah sabda Rasulullah bahwa ketika kita memiliki dua atau lebih anak perempuan, mampu menjaga dan mengantarkannya menjadi muslimah Yang baik, maka surga adalah jaminannya (untuk anak laki2 berlaku kaidah yang berbeda)

    Berbahagialah wahai para muslimah. Jangan risau hanya untuk apresiasi absurd dan semu di dunia ini Tunaikan dan tegakkan kewajiban agamamu, niscaya surga menantimu..! !

     
    • LM Taufiqurrahman 2:01 am on 3 Maret 2020 Permalink

      Ass wr wb. Mas Erva, penulis artikel ini siapa ya. Kok tidak ditampilkan ??

    • LM Taufiqurrahman 2:45 am on 3 Maret 2020 Permalink

      Kami sudah tayangkan melalui laman https://www.timurmerdeka.com harap di koreksi. Terima kasih.

    • erva kurniawan 9:28 am on 3 Maret 2020 Permalink

      Waalaikum salam wr.wb
      Tulisan ini kami dapatkan dari grup eramuslim, kiriman Saudara Yayan Suryana kepada Saudari Lina Tusofiah, sedangkan siapa penulisnya tidak disampaikan, silahkan ditayangkan

  • erva kurniawan 1:34 am on 29 February 2020 Permalink | Balas  

    Syahid di Hari Pernikahan 

    Syahid di Hari Pernikahan

    *** Syahdan, di Madinah, tinggallah seorang pemuda bernama Zulebid. Dikenal sebagai pemuda yang baik di kalangan para sahabat. Juga dalam hal ibadahnya termasuk orang yang rajin dan taat. Dari sudut ekonomi dan finansial, ia pun tergolong berkecukupan. Sebagai seorang yang telah dianggap mampu, ia hendak melaksanakan sunnah Rasul yaitu menikah. Beberapa kali ia meminang gadis di kota itu, namun selalu ditolak oleh pihak orang tua ataupun sang gadis dengan berbagai alasan.

    Akhirnya pada suatu pagi, ia menumpahkan kegalauan tersebut kepada sahabat yang dekat dengan Rasulullah. “Coba engkau temui langsung Baginda Nabi, semoga engkau mendapatkan jalan keluar yang terbaik bagimu”, nasihat mereka.

    Zulebid kemudian mengutarakan isi hatinya kepada Baginda Nabi. Sambil tersenyum beliau berkata: “Maukah engkau saya nikahkan dengan putri si Fulan?”

    “Seandainya itu adalah saran darimu, saya terima. Ya Rasulullah, putri si Fulan itu terkenal akan kecantikan dan kesholihannya, dan hingga kini ayahnya selalu menolak lamaran dari siapapun.

    “Katakanlah aku yang mengutusmu”, sahut Baginda Nabi.

    “Baiklah ya Rasul”, dan Zulebid segera bergegas bersiap dan pergi ke rumah si Fulan.

    Sesampai di rumah Fulan, Zulebid disambut sendiri oleh Fulan

    “Ada keperluan apakah hingga saudara datang ke rumah saya?” Tanya Fulan.

    “Rasulullah saw yang mengutus saya ke sini, saya hendak meminang putrimu si A.” Jawab Zulebid sedikit gugup.

    “Wahai anak muda, tunggulah sebentar, akan saya tanyakan dulu kepada putriku.” Fulan menemui putrinya dan bertanya, “bagaimana pendapatmu wahai putriku?”

    Jawab putrinya, “Ayah, jika memang ia datang karena diutus oleh Rasulullah saw, maka terimalah lamarannya, dan aku akan ikhlas menjadi istrinya.”

    Akhirnya pagi itu juga, pernikahan diselenggarakan dengan sederhana. Zulebid kemudian memboyong istrinya ke rumahnya. Sambil memandangi wajah istrinya, ia berkata,” duhai Anda yang di wajahnya terlukiskan kecantikan bidadari, apakah ini yang engkau idamkan selama ini? Bahagiakah engkau dengan memilihku menjadi suamimu?”

    Jawab istrinya, ” Engkau adalah lelaki pilihan rasul yang datang meminangku. Tentu Allah telah menakdirkan yang terbaik darimu untukku. Tak ada kebahagiaan selain menanti tibanya malam yang dinantikan para pengantin.”

    Zulebid tersenyum. Dipandanginya wajah indah itu ketika kemudian terdengar pintu rumah diketuk. Segera ia bangkit dan membuka pintu. Seorang laki-laki mengabarkan bahwa ada panggilan untuk berkumpul di masjid, panggilan berjihad dalam perang.

    Zulebid masuk kembali ke rumah dan menemui istrinya. “Duhai istriku yang senyumannya menancap hingga ke relung batinku, demikian besar tumbuhnya cintaku kepadamu, namun panggilan Allah untuk berjihad melebihi semua kecintaanku itu. Aku mohon keridhoanmu sebelum keberangkatanku ke medan perang. Kiranya Allah mengetahui semua arah jalan hidup kita ini.”

    Istrinya menyahut, “Pergilah suamiku, betapa besar pula bertumbuhnya kecintaanku kepadamu, namun hak Yang Maha Adil lebih besar kepemilikannya terhadapmu. Doa dan ridhoku menyertaimu”

    ***

    Zulebid lalu bersiap dan bergabung bersama tentara muslim menuju ke medan perang. Gagah berani ia mengayunkan pedangnya, berkelebat dan berdesing hingga beberapa orang musuh pun tewas ditangannya. Ia bertarung merangsek terus maju sambil senantiasa mengumandangkan kalimat Tauhi…ketika sebuah anak panah dari arah depan tak sempat dihindarinya. Menancap tepat di dadanya.

    Zulebid terjatuh, berusaha menghindari anak panah lainnya yang berseliweran di udara. Ia merasa dadanya mulai sesak, nafasnya tak beraturan, pedangnya pun mulai terkulai terlepas dari tangannya. Sambil bersandar di antara tumpukan korban, ia merasa panggilan Allah sudah begitu dekat. Terbayang wajah kedua orangtuanya yang begitu dikasihinya. Teringat akan masa kecilnya bersama-sama saudaranya. Berlari-larian bersama teman sepermainannya. Berganti bayangan wajah Rasulullah yang begitu dihormati, dijunjung dan dikaguminya. Hingga akhirnya bayangan rupawan istrinya.

    Istrinya yang baru dinikahinya pagi tadi. Senyum yang begitu manis menyertainya tatkala ia berpamitan. Wajah cantik itu demikian sejuk memandangnya sambil mendoakannya. Detik demi detik, syahadat pun terucapkan dari bibir Zulebid. Perlahan-lahan matanya mulai memejam, senyum menghiasinya….Zulebid pergi menghadap Ilahi, gugur sebagai syuhada.

    ***

    Senja datang Angin mendesau, sepi… Pasir-pasir beterbangan… Berputar-putar…

    Rasulullah dan para sahabat mengumpulkan syuhada yang gugur dalam perang. Di antara para mujahid tersebut terdapatlah tubuh Zulebid yang tengah bersandar di tumpukan mayat musuh. Akhirnya dikuburkanlah jenazah zulebid di suatu tempat. Berdampingan dengan para syuhada lain. Tanpa dimandikan… Tanpa dikafankan…

    Tanah terakhir ditutupkan ke atas makam Zulebid. Rasulullah terpekur di samping pusara tersebut. Para sahabat terdiam membisu. Sejenak kemudian terdengar suara Rasulullah seperti menahan isak tangis. Air mata berlinang di dari pelupuk mata beliau Lalu beberapa waktu kemudian beliau seolah-olah menengadah ke atas sambil tersenyum. Wajah beliau berubah menjadi cerah. Belum hilang keheranan shahabat, tiba-tiba Rasulullah menolehkan pandangannya ke samping seraya menutupkan tangan menghalangi arah pandangan mata beliau.

    Akhirnya keadaan kembali seperti semula. Para shahabat lalu bertanya-tanya, ada apa dengan Rasulullah. “Wahai Rasulullah, mengapa di pusara Zulebid engkau menangis?” Jawab Rasul, “Aku menangis karena mengingat Zulebid. Oo..Zulebid, pagi tadi engaku datang kepadaku minta restuku untuk menikah dan engkau pun menikah hari ini juga. Ini hari bahagia. Seharusnya saat ini Engkau sedang menantikan malam Zafaf, malam yang ditunggu oleh para pengantin.”

    “Lalu mengapa kemudian Engkau menengadah dan tersenyum?” Tanya sahabat lagi. ” Aku menengadah karena kulihat beberapa bidadari turun dari langit dan udara menjadi wangi semerbak dan aku tersenyum karena mereka datang hendak menjemput Zulebid,” Jawab Rasulullah.

    “Dan lalu mengapa kemudian Engkau memalingkan pandangannya dan menoleh ke samping?” Tanya mereka lagi.

    “Aku mengalihkan pandangan menghindar karena sebelumnya kulihat, saking banyaknya bidadari yang menjemput Zulebid, beberapa diantaranya berebut memegangi tangan dan kaki Zulebid. Hingga dari salah satu gaun dari bidadari tersebut ada yang sedikit tersingkap betisnya….”

    ***

    Di rumah, istri Zulebid menanti sang suami yang tak kunjung kembali. Ketika terdengar kabar suaminya telah menghadap sang ilahi Rabbi, Pencipta segala Maha Karya.

    Malam menjelang… Terlelap ia, sejenak berada dalam keadaan setengah mimpi dan dan nyata. Lamat-lamat ia seperti melihat Zulebid datang dari kejauhan. Tersenyum, namun wajahnya menyiratkan kesedihan pula. Terdengar Zulebid berkata, “Istriku, aku baik-baik saja. Aku menunggumu disini. Engkaulah bidadari sejatiku. Semua bidadari disini apabila aku menyebut namamu akan menggumamkan cemburu padamu…. “Dan kan kubiarkan engkau yang tercantik di hatiku.

    Istri Zulebid, terdiam. Matanya basah… Ada sesuatu yang menggenang disana.. Seperti tak lepas ia mengingat acara pernikahan tadi pagi.. Dan bayangan suaminya yang baru saja hadir.. Ia menggerakkan bibirnya.. “Suamiku, aku mencintaimu… Dan dengan semua ketentuan Allah ini bagi kita.. Aku ikhlas….”

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 28 February 2020 Permalink | Balas  

    Bencana Banjir 

    Berhati hatilah wahai saudaraku dengan Bencana Banjir

    Allah SWT menciptakan semua bencana dimuka bumi ini sudah pasti sebagai “peringatan” bagi kita semua, karena kesalahan dan ketidak pedulian kita diantaranya terhadap sampah dan limbah rumah tanggal.

    Allah SWT Maha Agung dengan kekuasaan Nya yang tiada terbatas dan Maha Menguasai segala sesuatunya.

    Allah SWT berfirman dalam  Al-Qur’an surat Al An’aam (6) ayat: 65

    “Dia-lah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas atau dari bawah kakimu,……”

    Dengan berbagai bencana, yang kita lihat kita alami dan kita dengar serta kita rasakan hanya dalam hitungan detik, Allah SWT dapat mengambil kembali apa saja yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita.

    Malapetaka dapat menyerang di mana saja, kapan saja. Ini merupakan sebuah petunjuk jelas bahwa tidak ada tempat di dunia yang dapat menjamin keamanan seseorang, sebagaimana yang telah Allah SWT katakan dalam Al-Qur’an :

    “Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?

    “Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?

    “Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. (QS. Al A’raaf, 7: 97-99)

    Air, yang dikaruniakan Nya kepada kita, dapat saja suatu waktu menjadi bencana dengan kehendak Allah, maka dari itu mari biasakan tidak membuang sampai di aliran sungai karena sama sama kita tahu bahwa sungai bukan untuk menghantarkan sampah dari satu titik ketitik lain melainkan untuk menghantarkan air jernih agar semua merasakan betapa nikmatnya serta betapa indahnya dengan pembagian pemerataan air dari hulu sampai ilir sungai dan betapa indahnya bila kita dapat sama sama merasakan keindahan , kejernihan serta melihat sungai dengan ikan ikan segar yang tidak tercemar dengan berbagai kotoran akibat proses pembusukan sampah yang dibuang dialiran sungai.

     
  • erva kurniawan 2:18 pm on 27 February 2020 Permalink | Balas  

    7 Keajaiban dalam Islam 

    7 Keajaiban dalam Islam

    Menara Pisa, Tembok Cina, Candi Borobudur, Taaj Mahal, Ka’bah, Menara Eiffel, dan Piramida di mesir, inilah semua keajaiban dunia yang kita kenal. Namun sebenarnya semua itu belum terlalu ajaib, karena di sana masih ada tujuh keajaiban dunia yang lebih ajaib lagi. Mungkin para pembaca bertanya-tanya, keajaiban apakah itu?

    Memang tujuh keajaiban lain yang kami akan sajikan di hadapan pembaca sekalian belum pernah ditayangkan di TV, tidak pernah disiarkan di radio-radio dan belum pernah dimuat di media cetak. Tujuh keajaiban dunia itu adalah:

    • Hewan Berbicara di Akhir Zaman

    Maha suci Allah yang telah membuat segala sesuatunya berbicara sesuai dengan yang Ia kehendaki. Termasuk dari tanda-tanda kekuasaanya adalah ketika terjadi hari kiamat akan muncul hewan melata yang akan berbicara kepada manusia sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an, surah An-Naml ayat 82,

    “Dan apabila perkataan Telah jatuh atas mereka, kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa Sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami”.

    Mufassir Negeri Syam, Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy berkomentar tentang ayat di atas, “Hewan ini akan keluar diakhir zaman ketika rusaknya manusia, dan mulai meninggalkan perintah-perintah Allah, dan ketika mereka telah mengganti agama Allah. Maka Allah mengeluarkan ke hadapan mereka hewan bumi. Konon kabarnya, dari Makkah, atau yang lainnya sebagaimana akan datang perinciannya. Hewan ini akan berbicara dengan manusia tentang hal itu”.[Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/498)]

    Hewan aneh yang berbicara ini akan keluar di akhir zaman sebagai tanda akan datangnya kiamat dalam waktu yang dekat. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Sesungguhnya tak akan tegak hari kiamat, sehingga kalian akan melihat sebelumnya 10 tanda-tanda kiamat: Gempa di Timur, gempa di barat, gempa di Jazirah Arab, Asap, Dajjal, hewan bumi, Ya’juj & Ma’juj, terbitnya matahari dari arah barat, dan api yang keluar dari jurang Aden, akan menggiring manusia”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2901), Abu Dawud dalam Sunan-nya (4311), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2183), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (4041)]

    • Pohon Kurma yang Menangis

    Adanya pohon kurma yang menangis ini terjadi di zaman Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , mengapa sampai pohon ini menangis? Kisahnya, Jabir bin Abdillah-radhiyallahu ‘anhu- bertutur, “Jabir bin Abdillah -radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Adalah dahulu Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- berdiri (berkhutbah) di atas sebatang kurma, maka tatkala diletakkan mimbar baginya, kami mendengar sebuah suara seperti suara unta dari pohon kurma tersebut hingga Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- turun kemudian beliau meletakkan tangannya di atas batang pohon kurma tersebut” .[HR.Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (876)]

    Ibnu Umar-radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Dulu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkhuthbah pada batang kurma. Tatkala beliau telah membuat mimbar, maka beliau berpindah ke mimbar itu. Batang korma itu pun merintih. Maka Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mendatanginya sambil mengeluskan tangannya pada batang korma itu (untuk menenangkannya)”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (3390), dan At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (505)]

    • Untaian Salam Batu Aneh

    Mungkin kalau seekor burung yang pandai mengucapkan salam adalah perkara yang sering kita jumpai. Tapi bagaimana jika sebuah batu yang mengucapkan salam. Sebagai seorang hamba Allah yang mengimani Rasul-Nya, tentunya dia akan membenarkan seluruh apa yang disampaikan oleh Rasul-Nya, seperti pemberitahuan beliau kepada para sahabatnya bahwa ada sebuah batu di Mekah yang pernah mengucapkan salam kepada beliau sebagaimana dalam sabdanya, Dari Jabir bin Samurah dia berkata, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Mekah yang mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diutus, sesungguhnya aku mengetahuinya sekarang”.[HR.Muslim dalam Shohih-nya (1782)].

    • Pengaduan Seekor Onta

    Manusia adalah makhluk yang memiliki perasaan. Dari perasaan itu timbullah rasa cinta dan kasih sayang di antara mereka. Akan tetapi ketahuilah, bukan hanya manusia saja yang memiliki perasaan, bahkan hewan pun memilikinya. Oleh karena itu sangat disesalkan jika ada manusia yang tidak memiliki perasaan yang membuat dirinya lebih rendah daripada hewan. Pernah ada seekor unta yang mengadu kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mengungkapkan perasaannya. Abdullah bin Ja’far-radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Pada suatu hari Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah memboncengku dibelakangnya, kemudian beliau membisikkan tentang sesuatu yang tidak akan kuceritakan kepada seseorang di antara manusia. Sesuatu yang paling beliau senangi untuk dijadikan pelindung untuk buang hajatnya adalah gundukan tanah atau kumpulan batang kurma. lalu beliau masuk kedalam kebun laki-laki Anshar. Tiba tiba ada seekor onta. Tatkala Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melihatnya, maka onta itu merintih dan bercucuran air matanya. Lalu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mendatanginya seraya mengusap dari perutnya sampai ke punuknya dan tulang telinganya, maka tenanglah onta itu. Kemudian beliau bersabda, “Siapakah pemilik onta ini, Onta ini milik siapa?” Lalu datanglah seorang pemuda Anshar seraya berkata, “Onta itu milikku, wahai Rasulullah”.

    Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dalam binatang ini, yang telah dijadikan sebagai milikmu oleh Allah, karena ia (binatang ini) telah mengadu kepadaku bahwa engkau telah membuatnya letih dan lapar”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (1/400), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (2/99-100), Ahmad dalam Al-Musnad (1/204-205), Abu Ya’la dalam Al-Musnad (3/8/1), Al-Baihaqiy dalam Ad-Dala’il (6/26), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqa (9/28/1). Lihat Ash-Shahihah (20)]

    • Kesaksian Kambing Panggang

    Kalau binatang yang masih hidup bisa berbicara adalah perkara yang ajaib, maka tentunya lebih ajaib lagi kalau ada seekor kambing panggang yang berbicara. Ini memang aneh, akan tetapi nyata. Kisah kambing panggang yang berbicara ini terdapat dalam hadits berikut:

    Abu Hurairah-radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menerima hadiah, dan tak mau makan shodaqoh. Maka ada seorang wanita Yahudi di Khoibar yang menghadiahkan kepada beliau kambing panggang yang telah diberi racun. Lalu Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun memakan sebagian kambing itu, dan kaum (sahabat) juga makan. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Angkatlah tangan kalian, karena kambing panggang ini mengabarkan kepadaku bahwa dia beracun”. Lalu meninggallah Bisyr bin Al-Baro’ bin MA’rur Al-Anshoriy. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengirim (utusan membawa surat), “Apa yang mendorongmu untuk melakukan hal itu?” Wanita itu menjawab, “Jika engkau adalah seorang nabi, maka apa yang aku telah lakukan tak akan membahayakan dirimu. Jika engkau adalah seorang raja, maka aku telah melepaskan manusia darimu”. Kemudian Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan untuk membunuh wanita itu, maka ia pun dibunuh. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda ketika beliau sakit yang menyebabkan kematian beliau,”Senantiasa aku merasakan sakit akibat makanan yang telah aku makan ketika di Khoibar. Inilah saatnya urat nadi leherku terputus”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4512). Di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Shohih Sunan Abi Dawud (hal.813), dengan tahqiq Masyhur Hasan Salman]

    • Batu yang Berbicara

    Setelah kita mengetahu adanya batu yang mengucapkan salam, maka keajaiban selanjutnya adalah adanya batu yang berbicara di akhir zaman. Jika kita pikirkan, maka terasa aneh, tapi demikianlah seorang muslim harus mengimani seluruh berita yang disampaikan oleh Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, baik yang masuk akal, atau tidak. Karena Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidaklah pernah berbicara sesuai hawa nafsunya, bahkan beliau berbicara sesuai tuntunan wahyu dari Allah Yang Mengetahui segala perkara ghaib.

    Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Kalian akan memerangi orang-orang Yahudi sehingga seorang diantara mereka bersembunyi di balik batu. Maka batu itu berkata, “Wahai hamba Allah, Inilah si Yahudi di belakangku, maka bunuhlah ia”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (2767), dan Muslim dalam Shohih-nya (2922)]

    Al-Hafizh Ibnu Hajar-rahimahullah- berkata, “Dalam hadits ini terdapat tanda-tanda dekatnya hari kiamat, berupa berbicaranya benda-benda mati, pohon, dan batu. Lahiriahnya hadits ini (menunjukkan) bahwa benda-benda itu berbicara secara hakikat”.[Lihat Fathul Bari (6/610)]

    • Semut Memberi Komando

    Mungkin kita pernah mendengar cerita fiktif tentang hewan-hewan yang berbicara dengan hewan yang lain. Semua itu hanyalah cerita fiktif belaka alias omong kosong. Tapi ketahuilah wahai para pembaca, sesungguhnya adanya hewan yang berbicara kepada hewan yang lain, bahkan memberi komando, layaknya seorang komandan pasukan yang memberikan perintah. Hewan yang memberi komando tersebut adalah semut. Kisah ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Qur’an,

    “Dan Sulaiman Telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai manusia, kami Telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) Ini benar-benar suatu kurnia yang nyata”.Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.Maka dia (Sulaiman) tersenyum dengan tertawa Karena (mendengar) perkataan semut itu. dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah Aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang Telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah Aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (QS.An-Naml: 16-19).

    Inilah beberapa perkara yang lebih layak dijadikan “Tujuh Keajaiban Dunia” yang menghebohkan, dan mencengangkan seluruh manusia. Orang-orang beriman telah lama meyakini dan mengimani perkara-perkara ini sejak zaman Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sampai sekarang. Namun memang kebanyakan manusia tidak mengetahui perkara-perkara itu. Oleh karena itu, kami mengangkat hal itu untuk mengingatkan kembali, dan menanamkan aqidah yang kokoh di hati kaum muslimin

    Diambil dari http://www.almakassari.com

     
  • erva kurniawan 1:02 am on 16 February 2020 Permalink | Balas  

    Jenghis Khan, Menziarahi yang Dipilih Langit Abadi 

    Jenghis Khan, Menziarahi yang Dipilih Langit Abadi

    Oleh Katamsi Ginano*

    Sumber: Ruang Baca Koran Tempo (Edisi 57, Januari 2009)

    MONGOLIA adalah hamparan padang rumput sejauh mata memandang. Tersuruk di jantung Asia, berbatasan dengan Rusia di Utara dan Republik Rakyat Cina di Selatan, wilayah ini bukanlah kawasan yang ramah dihuni. Dikepung pengunungan di Barat dan Utara serta Gurun Gobi di Selatan, mayoritas penduduknya menjalani kehidupan pengembara sebagai pengembala dan pemburu.

    Alam yang keras menempa orang-orang Mongol. Siksaan lalat yang menyerbu di musim panas, atau gigil menembus sumsum di musim dingin, hanya ujian kecil bagi ketangguhan mereka. Di banyak kisah, orang Mongol dilukiskan sangat mahir menunggang kuda dan melesatkan anak panah dari busur berujung lengkung paduan tanduk, kayu, dan otot hewan.

    Dari hamparan padang rumput yang kini dikenal sebagai Avraga (di kaki pengunungan Khenti, dialiri dua sungai, Onon dan Kherlen) di Mongolia Tengah, di bawah pimpinan Temujin yang kelak dikenal dengan nama Jenghis Khan–atau Genghis Khan–lebih delapan abad silam para prajurit Mongol menyerbu wilayah sekitar. Menancapkan kekuasan, mendirikan kerajaan daratan terbesar yang pernah dikenal peradaban, yang di abad ke-21 ini meliputi negara-negara di Asia Tengah, Cina, Tibet, Rusia, Iran, Afganistan, Turki, Syiria, Ukraina, Hungaria, hingga Polandia.

    Apakah rahasianya karena busur yang di zamannya tergolong temuan jenius dipadu kepiawaian menunggang kuda? Ketangguhan hasil tempaan budaya padang rumput? Ataukah bangsa Mongol, lewat Temujin, memang ditakdirkan oleh kekuasaan Langit Abadi menjadi penguasa dunia? Berbekal manuskrip Sejarah Rahasia Bangsa Mongol (The Secret History of the Mongols) yang diperkirakan ditulis pada 1228 oleh Shigi, di musim panas 2002 sejarawan dan travel writer Inggris, John Man, menjejak ibu kota Mongolia, Ulan Bator, lalu ke Avraga mengawali napak-tilas jejak Jenghis Khan dan sejarah penalukkan yang dipatri bangsanya.

    Di kalangan yang meminati studi tentang Mongol dan Asia umumnya (terutama Cina), Man adalah sejarawan dan penulis yang dihormati. Buku-buku yang dia tulis, semisal Gobi: Tracking the Desert (Yale University Press, 2001) atau Gutenberg: How One Man Remade the World with Words (Wiley, 2002), dipuji karena penulisannya yang menjalinkan masa lalu lewat riset pustaka saksama dengan kenyataan in situ hari ini di mana peristiwa sejarahnya terjadi. Boleh dibilang, di tangan Man fakta sejarah tetap dingin dan rigid, tapi peristiwa yang mengiringinya menjadi hidup dan berwarna.

    Jenghis Khan: Legenda Sang penakluk dari Mongolia ditulis dengan pendekatan yang kurang lebih sama. Man memang menjadikan Sejarah Rahasia Bangsa Mongol sebagai rujukan utama, namun dengan ditopang sejumlah literatur kredibel, termasuk riset terakhir pemetaan DNA yang tersebar di seluruh Eurasia. Dan yang terpenting: napak-tilasnya menelusuri jejak Temujin dari bayi yang lahir dengan segumpal darah di tangan, menjadi Jenghis Khan, hingga kematian dan makamnya yang tetap jadi misteri.

    Man membawa kita memasuki dunia Mongol dan padang rumputnya, tempat Temujin dilahirkan sekitar 1206 dari pasangan Yesugai dan Hoelun, dengan menggambarkan langit biru tenang yang sesekali dipecah oleh nyanyian burung skylark, sekumpulan ger (tenda khas Mongol), kuda-kuda, dan hewan gembalaan. Yang makanan terlezat adalah Kaserol Marmut dipadu vodka.

    Kehilangan ayah yang tewas diracun di usia delapan tahun, Temujin bersama lima saudaranya hanya diasuh sang Ibu dalam tekanan kemiskinan dan kelaparan. Begitu miskinnya, bahkan hanya karena memperebutkan burung lark dan ikan kecil tangkapannya, diusia 11 tahun Temujin tega membunuh saudara seayahnya, Begter.

    Di usia 12 tahun dia nyaris tewas saat melarikan diri dari penahanan suku lawan. Keberuntungan yang sama berulang saat berusia 20 tahun sukunya diserang salah satu suku terkuat, Merkit. Kendati Temujin berhasil meloloskan diri, istrinya, Borte, ditangkap dan ditawan.

    Peristiwa itu menjadi titik balik lahirnya Jenghis Khan, yang dalam pelariannya mendaki puncak Burkhan Kaldun, mengakui, “Aku adalah seekor kutu…. Tapi aku dilindungi.” Sang “Kutu” inilah yang lalu mengumpulkan pengikut dan menyerang balik Suku Merkit, memorak-porandakan mereka, membebaskan Borte, dan mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin klan kedua terkuat di Mongolia di usia 30 tahun.

    Setelah itu Temujin bagai tak terhentikan. Bersama para sekutu dia menaklukkan dan menyatukan klan-klan lain lewat pertempuran yang sekali lagi hampir membuatnya terbunuh. Penyatuan inilah yang kemudian manahbiskan dia sebagai pemimpin tertinggi bangsa Mongol dengan gelar Jenghis Khan.

    Sukses menyatukan seluruh suku di Mongolia, Jenghis Khan memalingkan sasaran ke Kerajaan Xi Xia, yang terletak di sisi lain Gurun Gobi. Sejaran mencatat, kutip Man, penaklukkan Xi Xia adalah etnosida sangat sukses karena nyaris berhasil menghilangkan jejak apa pun yang berkaitan dengan kerajaan ini, termasuk bahasanya.

    Usai memapas Xi Xia, Jenghis Khan melabrak Kerajaan Jin yang berpusat di Beijing. Bergerak cepat dengan kuda-kuda kecil tapi gesit, bersenjata panah busur lengkung, pasukan Mongol mendesak penguasa Jin melarikan diri, meninggalkan kota-kota yang porak-poranda dan tumpukan mayat menggunung.

    Dari Beijing, Jenghis Khan menoleh ke dunia muslim yang ketika itu berpusat di Baghad, ke kerajaan yang dikenal dengan nama Khwarezm (saat ini meliputi sebagian besar wilayah perbatasan antara Uzbekistan dan Turkmenistan serta sebagian Iran dan Afganistan). Tak terhentikan, terutama karena kebodohan dan kepongahan penguasa, tentara Mongol menginvasi kota-kota utama pusat peradaban Islam: Samarkand, Bukhara, Urgench, Khojend, Merv, Nishapur, dan Gurganj.

    Di Merv pasukan Mongol bukan hanya membumi-hanguskan kota ini, tetapi juga membantai tak kurang dari 1,3 juta penduduknya. Jumlah yang kurang lebih sama juga menimpa Urgench. Begitu besarnya jumlah manusia yang tewas, dengan motivasi bukan karena ras atau agama, melainkan bersifat lokal dan strategis, Man mendifinisikan pembantaian jutaan pemeluk Islam itu bukan genosida, melainkan urbisida.

    Setelah menaklukkan Khwarezm, Jenghis Khan berpaling ke Eropa, menginvasi kota-kota utama di Rusia, Polandia, dan Hungaria, mendominasi wilayah yang membentang dari Samudera Pasifik hingga Laut Kaspia. Hanya kematiannyalah (diperkirakan terjadi pada 1227) yang sejenak menghentikan operasi penalukkan Mongol — kemudian dilanjutkan pewarisnya, Ogedei, kemudian cucunya, Kublai (Khubilai) Khan, yang nantinya menjadi pendiri salah satu dinasti terbesar Cina, Dinasti Yuan.

    Kematian dan juga tempat Jenghis Khan dikuburkan diakui Man tetap merupakan teka-teki tak terpecahkan. Konon dia tewas oleh sebab luka tikam dari perempuan yang dipersembahkan untuknya. Versi lain menyebut Jenghis Khan pralaya karena diare akut.

    Penyebab kematian Jenghis Khan tak beda dengan kesimpang-siuran letak makamnya. Salah satu versi menyebutkan, kemungkinan dia dikubur di Ordos, di sebelah selatan lengkungan besar Sungai Kuning, di mana saat ini berdiri Mausoleum Jenghis Khan. Spekulasi lain adalah di Burkhan Khaldun.

    Misteri di balik kematian dan makamnya justru memperkokoh kepercayaan orang Mongol, terutama para penganut “Sekte Jenghis Khan”, yang kini memujanya sebagai Nabi atau Manusia Setengah Dewa. Mengutip teolog Sekte Jenghis Khan, Sharaldai, Man menulis: “Jenghis Khan adalah ruh bagi kita semua. Kita diciptakan oleh Langit Abadi. Jika kita mengikuti jalannya, kita semua akan menjadi abadi.”

    Man, tak pelak, memang mengajak kita bertamasya memahami Mongolia, budaya, spiritualismenya, dan akhirnya menemukan jawaban mengapa “sang Kutu” Temujin akhirnya bermetamorfosis menjadi Nabi Langit Abadi. Mengapa Jenghis Khan menjadi sejarah, legenda, mitos, hingga dongeng bukan hanya bagi bangsa Mongol. Mengapa dia jadi sosok paradoksal: antara kejam, disiplin, cerdas, ahli strategis, sederhana, bersahaya, dan visioner. Dan mengapa Rusia dan Cina yang bergantian menguasai Mongolia modern tak kuasa mengurangi pengaruh Jenghis Khan, berabad setelah kematiannya.

    Dari kualitas riset, buku ini belum sebanding dengan 1421: Saat China Menemukan Dunia (Alvabet, 2007) yang ditulis Gavin Menzies. Namun keunggulan Man adalah pada pilihan gaya penulisan yang membuat buku ini sama indahnya dengan sejarah Nabi Muhammad yang ditulis Martin Lings, Muhammad (Serambi, Cetakan V, 2008) atau riwayat penderita skizofrenia penerima Nobel Ekonomi 1994, John Forbes Nash, Jr., karya Sylvia Nasar, A Beautiful Mind (Gramedia Pustaka Utama, 2005).

    Keunggulan lain Man adalah dia masih terus mengekplorasi Jenghis Khan dan para penerusnya. Yang terakhir–semoga tak lama lagi beredar dalam edisi Indonesia–tentang sang cucu pendiri Dinasti Yuan, Kublai Khan, yang diterbitkan Bantam Press pada 2007.

    • Katamsi Ginano, praktisi komunikasi dan business development, juga pecinta buku.
     
  • erva kurniawan 1:54 am on 15 February 2020 Permalink | Balas  

    Nasihat Untuk Wanita 

    Nasihat Untuk Wanita

    Untuk membentuk bibir yang menawan, ucapkan kata-kata kebaikan. Untuk mendapatkan mata yang indah, carilah kebaikan pada setiap orang yang anda jumpai. Untuk mendapatkan bentuk badan yang langsing, berbagilah makanan dengan mereka yang kelaparan.

    Untuk mendapatkan sikap tubuh yang indah, berjalanlah dengan segala ilmu pengetahuan dan anda tidak akan pernah berjalan sendirian. Manusia, jauh melebihi segala ciptaan lain, perlu senantiasa berubah, diperbaharui, dibentuk kembali, dan diampuni. Jadi, jangan pernah kucilkan seseorang dari hati anda.

    Apabila anda sudah melakukan semuanya itu, ingatlah senantiasa, jika suatu ketika anda membutuhkan pertolongan, akan senantiasa ada tangan terulur. Dan dengan bertambahnya usia anda, anda akan semakin mensyukuri telah diberi dua tangan, satu untuk menolong diri anda sendiri dan satu lagi untuk menolong orang lain.

    Kecantikan wanita bukan terletak pada pakaian yang dikenakannya, bukan pada bentuk tubuhnya, atau cara dia menyisir rambutnya. Kecantikan wanita terdapat pada matanya, cara dia memandang dunia. Karena di matanyalah terletak gerbang menuju ke setiap hati manusia, di mana cinta dapat berkembang.

    Kecantikan wanita, bukan pada kehalusan wajahnya, Tetapi kecantikan yang murni, terpancar pada jiwanya, Yang dengan penuh kasih memberikan perhatian dan cinta yang dia berikan. Dan kecantikan itu akan tumbuh sepanjang waktu.

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 14 February 2020 Permalink | Balas  

    4 Konsep Dakwah 

    4 Konsep Dakwah

    Berbicara tentang hakikat adalah berbicara sesuatu secara mendasar. Seorang penyanyi dangdut dengan lenggak lenggok erotik  di atas panggung menyanyikan lagu ajakan berbakti kepada Alloh SWT, adakah ia seorang da’i ? Jawabannya jelas, yaitu bahwa penyanyi itu membawakan lirik-lirik dakwah, tetapi pada hakikatnya ia tidak sedang berdakwah.  Dakwah bukan hanya bunyi kata-kata, tetapi ajakan psikologis yang  bersumber dari jiwa da’i. Gebyar-gebyar aktifitas dakwah banyak kita jumpai, tetapi hakikinya, itu belum tentu suatu dakwah, sebaliknya boleh jadi justeru kontra dakwah. Lalu dakwah itu apa? Hakikat dakwah bisa dilihat dari sang da’i, bisa juga dari makna yang dipersepsi oleh masyarakat yang menerima dakwah.

    1. Dakwah sebagai tabligh. Tabligh artinya menyampaikan, orangnya disebut muballigh. Dakwah sebagai tabligh wujudnya adalah muballigh menyampaikan materi dakwah (ceramah) kepada masyarakat. Materi dakwah bisa berupa keterangan, informasi, ajaran, seruan atau gagasan. Tabligh biasanya dilakukan dari atas mimbar, baik di masjid, di majlis taklim atau di tempat lain. Pusat perhatian tabligh adalah pada menyampaikan, illa al balagh, setelah itu bagaimana respond masyarakat sudah tidak lagi menjadi tanggungjawab muballigh. Bagi masyarakat, tabligh yang tidak jelas hanya bermakna bunyi-bunyian, tabligh berupa informasi akan menghasilkan pengertian, tabligh berupa renungan bisa menjadi penghayatan, dan dakwah berupa gagasan bisa menggelitik masyarakat untuk terus berfikir.

    Bagi muballigh, menyampaikan materi pesan Islam yang ia sendiri tidak faham, pada hakikatnya ia adalah kaset yang tak berjiwa. Kekuatan tabligh adalah jika sang muballigh benar-benar menjadi fa‘il (subyek), menjadi pelaku yang merasa ter¬panggil tanggung jawabnya untuk melakukan tabligh. Banyak muballigh yang tidak menjadi fa‘il, tetapi menjadi maf‘ul (obyek), Ia tidak memiliki program tetapi diprogram oleh orang lain. Ia hanya bekerja memenuhi pesanan pasar, yakni menunggu undangan tabligh. Fa‘il jelas prestasinya, tetapi maf‘ul susah diukur prestasinya.

    1. Dakwah Sebagai Ajakan. Orang akan tertarik kepada ajakan jika tujuannya menarik. Oleh karena itu da’i harus bisa merumuskan tujuan kemana masyarakat akan diajak. Ada dua tujuan, makro dan mikro. Tujuan makro cukup jelas yaitu mengajak manusia kepada kebahagiaan dunia akhirat. Da’i dan muballigh pada umumnya tidak pandai merumuskan tujuan mikro, tujuan jangka pendek yang mudah terjangkau, yang menarik hati masyarakatnya.
    2. Dakwah sebagai pekerjaan menanam. Berdakwah juga mengandung arti mendidik manusia agar mereka bertingkahlaku sesuai dengan nilai-nilai Islam. Mendidik adalah pekerjaan menanamkan nilai-nilai ke dalam jiwa manusia. Nilai-nilai yang ditanam dalam dakwah adalah keimanan, kejujuran, keadilan, kedisiplinan, kasih sayang, rendah hati dan nilai-akhlak mulia lainnya. Laiknya pekerjaan menanam, benihnya harus unggul, tanahnya harus subur, disiram dan dijauhkan dari hama serta butuh waktu lama hingga benih itu tumbuh berkembang menjadi rumput hijau yang indah atau menjadi pohon tinggi yang rindang dan berbuah.

    Guru di sekolah (dan lembaga pendidikkannya)  adalah da’i yang berdakwah berupa menanam. Sudah barang tentu tidak semua guru menjadi da’i. Guru yang da’i adalah guru yang sudah bisa menjadi pendidik, bukan guru yang sekedar menjadi pengajar. Pengajar hanya mentransfer pengetahuan, sedangkan pendidik mentranfer pola tingkah laku atau kebudayaan.

    1. Dakwah berupa akulturasi budaya. Dakwahnya Wali Songo di Pulau Jawa merupakan contoh konkrit dakwah akulturasi budaya. Para Wali tidak mengubah bentuk-bentuk tradisi masyarakat Jawa, tetapi mengganti isinya. Tradisi selamatan tiga hari, tujuh hari, seratus hari, dulunya adalah tradisi masyarakat Jawa jika ada keluarganya yang meninggal dunia. Dalam acara itu diisi dengan begadang, makan, judi dan minuman keras.

    Oleh para wali, bentuknya dipertahankan, makannya dipertahankan tetapi yang maksiat diganti dengan hal-hal yang Islami, yakni membaca kalimah-kalimah tahlil. Makananyapun diganti berupa nasi tumpeng yang melambangkan tauhid, dan setiap orang pulang dari tahlilan dengan membawa brekat (berkah). Dengan akulturasi budaya, orang Jawa tanpa disadari kemudian telah menjadi Islam. Kelemahannya, sinkretisme tidak bisa dihindar.

    1. Dakwah berupa pekerjaan membangun. Secara makro dakwah juga bermakna membangun, membangun apa? Sebagaimana dicontohkan dalam sejarah, dakwah juga bisa dimaksud untuk membangun tata dunia Islam (daulah Islamiyah), lebih kecil lagi membangun negara Islam (nasional), lebih kecil lagi membangun masyarakat Islam atau Islami, dan lebih kecil lagi membangun komunitas Islam.

    Dalam membangun sering tak bisa menghindar dari membongkar bangunan lama, dan ini sering bermakna konflik. Laiknya pekerjaan mendirikan bangunan, dakwah dalam bentuk membangun harus melalui tahapannya. Pertama ada desain atau maket dari bangunan yang akan didirikan. Kedua, harus dilakukan uji tata guna tanah (land use), dalam hal ini budaya setempat, yang akan menjadi pijakan berdirinya sebuah bangunan.

    Pekerjaan pertama dan kedua bisa bertukar tempat urutannya, artinya ada konsep dulu baru mencari tempat atau konsep dibangun sesuai dengan keadaan tanah. Ketiga, harus ada tenaga ahli, dari arsitek hingga kenet tukang batu, dan keempat tersedianya bahan bangunan. Membangun negara Islam tanpa konsep yang telah diuji sahih hanya akan melahirkan madlarrat, sebagaimana juga membangun tanpa tenaga ahli dan biaya. Bagi kaum muslimin Indonesia, yang paling relevan adalah membangun komunitas Islam dan masyarakat Islam atau masyarakat Islami, karena Indonesia tanahnya (budayanya) kondusif, konsepnya tinggal menyempurnakan, tenaga SDM nya relatif ada dan biaya tidak terlalu mahal. Wallohu a‘lam.

    ***

    By: agussyafii

     

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 13 February 2020 Permalink | Balas  

    Pengertian Ukhuwah 

    Pengertian Ukhuwah

    By: Prof. Dr. Achmad Mubarok MA

    Sungguh bahwa Allah telah menempatkan manusia secara keseluruhan sebagai Bani Adam dalam kedudukan yang mulia, walaqad karramna bani Adam (Q/17:70). Manusia diciptakan Allah SWT dengan  identitas yang berbeda-beda agar mereka saling mengenal dan saling memberi manfaat antara yang satu dengan yang lain (Q/49:13). Tiap-tiap ummat diberi aturan dan jalan (yang berbeda), padahal seandainya Allah mau, seluruh manusia bisa disatukan dalam kesatuan ummat.

    Allah SWT menciptakan perbedaan itu untuk memberi peluang berkompetisi secara sehat dalam menggapai kebajikan, fastabiqul khairat (Q/5;48). Oleh karena itu sebagaimana dikatakan oleh Rasul, agar seluruh manusia itu menjadi saudara antara yang satu dengan yang lain, wakunu ‘ibadallahi ikhwana. (Hadis Bukhari)

    Dalam bahasa Arab, ada kalimat ukhuwwah (persaudaraan) , ikhwah (saudara seketurunan) dan ikhwan (saudara tidak seketurunan) .  Dalam al Qur’an  kata akhu (saudara) digunakan untuk menyebut saudara kandung atau seketurunan (Q/4:23), saudara sebangsa (Q/7:65),  saudara semasyarakat walau berselisih faham (Q/38;23) dan saudara seiman (Q/49;10). Al Qur’an bukan hanya menyebut persaudaraan kemanusiaan (ukhuwwah insaniyyah), tetapi bahkan menyebut binatang dan burung sebagai ummat seperti ummat manusia (Q/6;38) sebagai saudara semakhluk (ukhuwwah makhluqiyyah) .

    Istilah ukhuwwah Islamiyyah bukan bermakna persaudaraan  antara orang-orang Islam, tetapi persaudaraan yang didasarkan pada ajaran Islam atau persaudaraan yang bersifat Islami. Oleh karena cakupan ukhuwwah Islamiyyah bukan hanya menyangkut sesama orang Islam tetapi juga menyangkut persaudaraan dengan non muslim, bahkan dengan makhluk yang lain. Seorang pemilik kuda misalnya, tidak boleh membebani kudanya dengan beban yang melampaui batas kewajaran. Ajaran ini termasuk dalam ajaran ukhuwwah Islamiyyah bagaimana seorang muslim bergaul dengan hewan kuda yang dimilikinya.

    Dari ayat-ayat tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa Al Qur’an (dan Hadis) sekurang-kurangnya memperkenalkan empat macam ukhuwwah; yaitu;

    1. Ukhuwwah ‘ubudiyyah; persaudaraan karena sama-sama makhluk yang tunduk kepada Allah.
    2. Ukhuwwah insaniyyah atau basyariyyah, persau¬daraan karena sama-sama sebagai manusia secara keseluruhan.
    3. Ukhuwwah wathaniyyah wa an nasab. Persaudaraan karena keterikatan keturunan dan kebangsaan.
    4. Ukhuwwah diniyyah, persaudaraan karena seagama.

    Bagaimana  ukhuwwah berlangsung, tak lepas dari faktor penunjang. Faktor penunjang yang signifi¬kan membentuk persaudaraan adalah persamaan. Semakin banyak persamaannya, baik persamaan rasa maupun persamaan cita-cita maka semakin kokoh ukhuwwahnya. Ukhuwwah biasanya melahirkan aksi solidaritas. Contohnya, di antara kelompok masyarakat yang sedang berselisih, segera terjalin persaudaraan ketika semuanya menjadi korban banjir, karena banjir menyatukan  perasaan, yakni sama-sama merasa menderita.Kesamaan perasaan itu kemudian memunculkan kesadaran untuk saling membantu.

    Petunjuk Al Qur’an Tentang Ukhuwwah

    1. Tetaplah berkompetisi secara sehat dalam mela¬kukan kebajikan, meski mereka berbeda-beda agama, ideologi, status; fastabiqul khairat (Q/5;48). Jangan berfikir menjadikan manusia dalam keseragaman, memaksa orang lain untuk ber¬pendirian seperti kita misalnya, karena Tuhan menciptakan perbedaan itu sebagai rahmat, untuk menguji mereka siapa diantara mereka yang mmberikan kontribusi terbesar dalam kebajikan.
    2. Memelihara amanah ( tanggung jawab) sebagai khalifah Allah di bumi, di mana manusia dibebani keharusan menegakkan kebenaran dan keadilan (Q/38;26), serta memelihara keseimbangan lingkungan alam (Q/30:41).
    3. Kuat pendirian tetapi menghargai pendirian orang lain. Lakum dinukum waliya din (Q/112;4), tidak perlu bertengkar dengan asumsi bahwa kebenaran akan terbuka nanti di hadapan Tuhan (Q/42:15).
    4. Meski berbeda ideologi dan pandangan, tetapi harus berusaha mencari titik temu, kalimatin sawa, tidak bermusuhan, seraya mengakui eksistensi masing-masing (Q;3;64).
    5. Tidak mengapa bekerjasama dengan pihak yang berbeda pendirian, dalam hal kemaslahatan umum, atas dasar saling menghargai eksistensi, berkeadilan dan tidak saling menimbulkan kerugian (Q/60;8). Dalam hal kebutuhan pokok, (mengatasi kelaparan, bencana alam, wabah penyakit dsb) solidaritas sosial dilaksanakan tanpa memandang agama, etnik atau identitas lainya (Q/2:272).
    6. Tidak memandang rendah (mengolok-olok) kelompok lain, tidak pula meledek atau membenci mereka (Q/49:11).
    7. Jika ada perselisihan diantara kaum beriman, maka islahnya haruslah merujuk kepada petunjuk Al Qur’an dan Sunnah Nabi (Q/4;59).

    Al Qur’an menyebut bahwa sanya pada hakekat¬nya orang mu’min itu bersaudara (seperti saudara sekandung), innamal mu’minuna ikhwah (Q/49;10). Hadis Nabi bahkan memisalkan hubungan antara mukmin itu bagaikan hubungan anggauta badan dalam satu tubuh dimana jika ada satu anggauta badan menderita sakit, maka seluruh anggauta badan lainnya solider ikut merasakan sakitnya dengan gejala demam dan tidak bisa tidur. Nabi juga mengingatkan bahwa  hendaknya diantara sesama manusia tidak mengem¬bangkan fikiran negatif (buruk sangka), tidak mencari-cari kesalahan orang lain, tidak saling mendengki, tidak saling membenci, tidak saling membelakangi, tetapi kembangkanlah persaudaraan. (H R Abu Hurairah).

    Meski demikian, persaudaraan dan solidaritasnya harus berpijak kepada kebenaran, bukan mentang-mentang saudara lalu buta terhadap masalah. Al Qur’an mengingatkan kepada orang mu’min; agar tidak tergoda untuk melakukan perbuatan melampaui batas ketika orang lain melakukan hal yang sama kepada mereka. Sesama mukmin diperintakan untuk bekerjasama dalam hal kebajikan dan taqwa dan dilarang bekerjasama dalam membela perbuatan dosa dan permusuhan, Ta‘awanu ‘alal birri wat taqwa wala ta‘awanu ‘alal itsmi wal ‘udwan. (Q/5;2). Wallohu a‘lamu bissawab.

     
  • erva kurniawan 9:48 am on 12 February 2020 Permalink | Balas  

    Manfaat Shalawat 

    Manfaat Shalawat

    Shalat dan shalawat terjemahan harfiahnya sebenarnya sama yaitu doa, tetapi shalat dalam arti ritual ibadah (shalat maghrib misalnya) adalah ritual ibadah yang terdiri dari gerak, bacaan dan doa. Sedangkan shalawat Nabi adalah doa yang secara khusus diperuntukkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan keluarganya.

    Mengapa Nabi Muhammad yang sudah dibebaskan dari dosa (ma`shum) masih harus didoakan segala oleh kita, bukankah itu sudah tidak perlu ?  Konsep shalawat adalah konsep syafa`at. Dalam teologi Islam dikatakan bahwa Nabi Muhammad memiliki  “otoritas” syafa`at, yakni perlindungan kepada ummatnya kelak nanti di hari kiamat, ketika tidak ada lagi yang bisa memberikan perlindungan.

    Orang yang berpeluang memperoleh syafa’at Nabi adalah orang yang mencintainya. Wujud dari cinta Rasul dibuktikan dengan  membaca salawat itu. Nabi sendiri secara konsepsional sudah tidak memerlukan doa dari ummatnya, jadi shalawat itu bukan untuk kepentingan Nabi, tetapi kepentingan kita. Jika Nabi diibaratkan sebuah gelas, ia sudah penuh dengan air putih bersih, nah orang yang membaca shalawat Nabi ibarat menambahkan air ke dalam gelas yang sudah penuh itu dengan harapan memperoleh luberannya, yakni luberan syafa`atnya. Jangankan kita manusia, menurut al Qur’an, Allah dan malaikatpun membaca salawat kepada Nabi sehingga orang beriman juga diperintahkan untuk bersalawat dan salam kepadanya; Innalloha wa mala’ikatahu yushalluna `alan nabiy, ya ayyuhalladzina amanu shallu `alaihi wa sallimu taslima (Q/33:56).

    Pembacaan shalawat Nabi sebagai ekpressi cinta kepada Rasul kemudian melahirkan kreatifitas seni. Bukan saja dalam teks-teks doa shalawat dibaca, tetapi juga dalam nasyid, dalam syair, dalam lagu.  Dalam teks doa, banyak sekali format salawat dibuat, misalnya ada shalawat Nariyah, shalawat tunjina, shalawat anti kezaliman.

    Dalam seni ada sebuah karya epik sejarah Nabi , terkenal dengan Barzanji atau orang Betawi menyebutnya Rawi. Di dalam kitab Barzanzi, riwayat Nabi dikisahkan dalam kalimat yang sangat indah, enak dibaca dan enak di dengar. Demikian juga kasidah Barzanji yang berisi shalawat dan pujian kepada Nabi disusun dalam karya seni yang sangat tinggi kualitasnya.

    Buku kasidah Barzanji atau Rawi adalah karya seni yang   terbanyak pembacanya dan karya seni yang tidak pernah basi hingga hari ini, hingga pada segmen masyarakat tertentu, kitab Barzanji bagaikan kitab suci kedua… Barzanji dibaca oleh bangsa-bangsa muslim di Asia dan Afrika, ritmenya bisa didendangkan dengan berbagai lagu. Mari bersalawat dan bersalam kepada Nabi:

    Ya Nabi salam `alaika –ya Rasul salam `alaika –

    ya habib salam `alaika—shalawaatulllah `alaikaaaaaa……….

    ***

    Kiriman: Sahabat Agus Syafii

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 11 February 2020 Permalink | Balas  

    Makna Imam 

    Makna Imam

    By: Prof. Dr. Achmad Mubarok MA

    Imam berarti orang yang diikuti, baik sebagai kepala, jalan, atau sesuatu yang membuat lurus dan memperbaiki perkara. Selain itu, ia juga bisa berarti Al-Qur’an, Nabi Muhammad, khalifah, panglima tentara, dan sebagainya. Dengan demikian, jelaslah bahwa kata imam memiliki banyak makna. Yaitu, bisa bermakna: maju ke depan, petunjuk dan bimbingan, kepantasan seseorang menjadi uswah hasanah, dan kepemimpinan.

    Kata imam banyak disebutkan dalam Al-Qur’an. Misalnya; “(Ingatlah) pada suatu hari (yang pada hari itu) kami memanggil setiap umat dengan pemimpinnya ….” (Al-Isra’: 71); “… dan sebelum Al-Qur’an itu telah ada Kitab Musa sebagai imam (pedoman) dan rahmat …?” (Hud: 17); “… dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

    (Al-Furqan: 74); “Dan (ingatlah) tatkala Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya.

    Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku ingin menjadikan kami imam (pemimpin) bagi seluruh manusia ….” (Al-Baqarah: 124); “Dan kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishaq dan Ya’qub sebagai suatu anugerah (dari Kami) dan masing-masing Kami jadikan orang-orang saleh. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan Kami telah wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan salat, menunaikan zakat ….” (Al-Anbiya’: 72-73); “Dan Kami ingin memberikan karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang yang mewarisi (bumi)” (Al-Qashash: 5); “dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka, dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.” (Al-Qashash: 41); dan “…, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang kafir, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar mereka berhenti.” (Al-Tawbah: 12)

    Menurut Dhiauddin Rais, dari ayat-ayat Al-Qur’an di atas, kita bisa memetik dua pengertian dari makna imam, yaitu: (1) Kata imam tersebut yang sebagian besar digunakan dalam Al-Qur’an membuktikan adanya indikasi yang bermakna “kebaikan”. Pada sisi lain—pada dua ayat terakhir di atas, bahwa kata imam menunjukkan makna jahat. Karena itu, imam berarti seorang pemimpin yang diangkat oleh beberapa orang dalam suatu kaum. Pengangkatan imam tersebut mengabaikan dan tidak memperdulikan, apakah ia akhirnya akan berjalan ke arah yang lurus atau arah yang sesat. (2) Kata imam dalam ayat-ayat Al-Qur’an itu bisa mengandung makna penyifatan kepada nabi-nabi: Ibrahim, Ishaq, Ya’qub, dan Musa—sebagaimana juga menunjukkan kepada orang-orang yang bertakwa.

    Kedua, Al-Khalifah. Gelar ini sangat berkaitan dengan sejarah pertumbuhan dan perkembangan Islam. Setelah Nabi Muhammad wafat, para sahabat berkumpul untuk memilih dan memutuskan seorang yang akan menjadi pengganti kepemimpinannya. Dan, Abu Bakar terpilih untuk menggantikan Rasulullah dalam memimpin dan memelihara kemaslahatan umat Islam pada masa-masa berikutnya. Abu Bakar diangkat menjadi khalifah, yang berarti penerus atau pengganti untuk mengurus masalah umat Islam.

    Para ulama berbeda pendapat mengenai penamaan khalifah: apakah khalifah saja (tanpa embel-embel) , atau khalifah Rasulullah dan khalifah Allah? Sebagian ulama membolehkan penggunaan gelar khalifah Allah, dengan merujuk kepada ayat Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa “Dia menjadikanmu khalifah-khalifah atau pewaris bumi.” Namun, jumhur ulama tidak membolehkan penanaman gelar khalifah Allah—karena ayat Al-Qur’an tidak berkaitan dengan pengangkatan Abu Bakar. Bahkan, Abu Bakar sendiri telah melarang pemanggilan dirinya dengan khalifah Allah. Abu Bakar menegaskan, “Aku bukan khalifah Allah, melainkan khalifah Rasulullah.” Jadi, Abu Bakar diangkat oleh para sahabat sebagai pengganti dan penerus kepemimpinan Rasulullah. Menurut Dhiauddin, gelar khalifah setelah Rasulullah digunakan untuk menjadi antitesis dari sistem kekisraan dan kekaisaran—sebuah pemerintahan individu yang otoriter, zalim dan keji, yang berkembang pada saat itu.

    Ketiga, Amir Al-Mu’minin. Gelar ini diberikan kepada khalifah kedua: Umar ibn Khathtab—setelah menggantikan Khalifah Abu Bakar yang wafat. Dalam bukunya, Al-Muqaddimah, Ibnu Khaldun menjelaskan sebab pemberian nama ini. Ia menulis, “Itu adalah bagian dari ciri khas kekhalifahan dan itu diciptakan sejak masa para khalifah. Mereka telah menamakan para pemimpin delegasi dengan nama amir; yaitu wazan (bentuk kata) fa’il dari imarah. Para sahabat pun memanggil Sa’ad ibn Abi Waqqash dengan Amir Al-Mu’minin karena ia memimpin tentara Islam dalam Perang Qadisiyyah. Pada waktu itu, sebagian sahabat memanggil Umar ibn Khathtab dengan sebutan yang sama juga: Amir Al-Mu’minin.

    Secara umum, ketiga gelar di atas menunjukkan keharusan adanya kepemimpinan dalam Islam. Bagi suatu kaum atau ummat, keberadaan seorang pemimpin merupakan suatu keharusan yang tak mungkin dipungkiri. Menurut Imam Al-Mawardi dalam karyanya Al-Ahkam Al-Sulthaniyyah wa Al-Wilayat Al-Diniyyah, dalam lembaga negara dan pemerintahan, seorang kepala atau pemimpin wajib hukumnya menurut ijma’. Alasannya, karena kepala lembaga dan pemerintah dijadikan sebagai pengganti fungsi kenabian dan menjaga agama serta mengatur urusan dunia.

    Al-Mawardi menyebut tujuh syarat yang harus dipenuhi calon kepala negara (seorang pemimpin). Syarat-syarat itu, antara lain: keseimbangan atau keadilan (al-‘adalah); punya ilmu pengetahuan untuk berijtihad; punya panca indera lengkap dan sehat; anggota tubuhnya tidak kurang untuk menghalangi gerak dan cepat bangun; punya visi pemikiran yang baik untuk mendapatkan kebijakan yang baik; punya keberanian dan sifat menjaga rakyat; dan punya nasab dari suku Quraisy.

    Secara umum Al-Qur’an tidak menentukan corak kepemimpinan politik tertentu yang harus diambil oleh ummat Islam, oleh karena itu pada era modern, Pemerintahan negeri-negeri Islam mengambil bentuk yang berbeda-beda sesuai dengan keadaan dan probabilitasnya. Negeri-negeri Sunni kebanyakan memilih bentuk Republik seperti negeri kita, sebagian memilih bentuk kerajaan, baik dalam bentuk mamlakah yang dipimpin oleh malik, atau kesultanan di bawah seorang sulthan, atau emirat di bawah seorang amir. Sedangkan Iran sebagai satu-satunya negeri kaum Syi’ah, memiliki sistem politik yang didasarkan atas konsep wilayat al faqih dimana ayatollah ‘uzma memiliki otoritas keagamaan dan politik sekaligus.

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 10 February 2020 Permalink | Balas  

    Cukupkah Anda? 

    Cukupkah Anda?

    Beberapa kali memperhatikan seorang bayi kecil menyusu, bayi kecil itu meminum susu sesuai dengan takaran yang ada entah itu asi atau susu formula, ketika kita berusaha memberi lebih jumlah susu kepada bayi tersebut ternyata dia akan terbuang secara alami melalui muntahan yang keluar dari mulutnya. Dalam hal ini kita belajar kita manusia sebenarnya harus merasa cukup dengan apa yang kita miliki, tidak berlebihan dalam kehidupan, apapun yang berlebihan akan terbuang percuma.

    Pada dasarnya manusia selalu merasa tidak pernah cukup akan apa yang dimilikinya, Rasa tidak puas atas apa yang diterima dalam kehidupan seringkali menjadikan manusia melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai dan norma yang di anut. Terkadang, ukuran kecukupan dalam perolehan apapun di dunia ini dipandang begitu relatif, kecuali bagi orang-orang yang sadar dan mencukupkan dirinya dengan segala hal yang telah ia terima.

    Ada suatu hukum yang namanya kenikmatan yang berkurang, Coba anda bayangkan ketika anda suatu hari sehabis perjalanan jauh dan anda sangat haus dan anda membeli kelapa muda, ketika tegukan pertama, rasa puas yang anda dapatkan sangatlah luar biasa bila diberi nilai akan mendapat nilai 7 (sekala 1-10), dan anda mencoba menambah 1 gelas kelapa muda lagi, apa yang akan anda rasakan kenikmatan yang anda rasakan tidak senikmat kelapa muda yang pertama dan kepuasan tersebut akan mendapat nilai 6, bila anda teruskan untuk menambah gelas kelapa berkali-kali maka nilai kenikmatan air kelapa muda itu akan semakin berkurang, sehingga pada akhirnya akan melewati angka 0, atau tidak nikmat sama sekali, bahkan menjadi minus dan anda akan memuntahkan kembali air kelapa tersebut.

    Orang yang merasa cukup hidupnya senantiasa bersyukur. orang yang merasa cukup Makan dengan apa adanya akan terasa nikmat tiada terhingga jika dilandasi dengan rasa syukur. Sebab, pada saat seperti itu ia tidak pernah memikirkan apa yang tidak ada di hadapannya. Justru, ia akan berusaha membagi kenikmatan yang diterimanya itu dengan keluarga, kerabat, teman atau pun tetangganya, dan semangat cukup serta keinginan untuk berbagi inilah yang akan menuntun anda mencapai sebuah kenikmatan atau kebahagian hidup.

    Kenapa manusia itu tidak merasa cukup karena kurangnya kemampuan kita mensyukuri apa yang kita miliki, kurangnya kemampuan mengendalikan keinginan, kemampuan menepatkan logika di atas ego. Mungkin perasaan itu tersemat dalam diri manusia sebagai pendorong untuk berjuang menggapai impian namun kadang menjadi tak terkendali ketika penepatannya kurang tepat. rasa tidak puas atau tidak cukup terkadang bersalah dari kebiasaan kita membanding-bandingk an sesuatu yang kita peroleh dengan apa yang telah diperoleh oleh orang lain. Bak di halaman rumah kita terbentang rumput yang hijau, namun kita masih saja memandang bahwa rumput tetangga jauh lebih hijau.

    Berbeda jika kita mampu melihat segala kelebihan yang terdapat pada diri seseorang sebagai sebuah hal yang menjadikan diri kita terpacu dalam semangat berbuat yang terbaik dalam rangka peningkatan kualitas diri dalam hal-hal yang positif serta sesuai kebutuhan, dengan berjalan dalam kerangka ikhtiar berupa usaha yang nyata, tanpa harus kecewa dikarenakan akhirnya tidak mampu berbuat dan mendapatkan hasil semaksimal apa yang diperoleh oleh orang lain tersebut.

    Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya. Cukup adalah persoalan kepuasan hati. Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa mensyukuri. Tak perlu takut berkata cukup. Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya. “Cukup” jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandeg dan berpuas diri. Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan.. Jangan biarkan kerakusan manusia membuat kita sulit berkata cukup. Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia.

    Maka mulailah berani untuk “membuat diri anda cukup” Kita sederhanakan sebagai prinsip hidupyang “sederhana”. Kian sederhana, maka kian cukup kian sejahteralah kita. Ukurannya? Yang paling sederhana, usul: semakin tinggi senjang jumlah konsumsi dibanding jumlah produksi kita sehari-hari, makin sederhana, makin cukup dan sejahteralah kita. apakah anda orang yang cukup…

    “Karena Didalam perasaan Cukup terdapat Kebahagiaan”

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 9 February 2020 Permalink | Balas  

    Pengertian Adab 

    Pengertian Adab

    Adab adalah satu istilah bahasa Arab yang berarti adat kebiasaan. Kata ini menunjuk pada suatu kebiasaan, etiket, pola tingkah laku yang dianggap sebagai model.

    Selama dua abad petama setelah kemunculan Islam, istilah adab membawa implikasi makna etika dan sosial. Kata dasar Ad mempunyai arti sesuatu yang mentakjubkan, atau persiapan atau pesta. Adab dalam pengertian ini sama dengan kata latin urbanitas, kesopanan, keramahan, kehalusan budi pekerti masyarakat kota sebagai kebalikan dari sikap kasar orang badui.

    Dengan demikian adab sesuatu berarti sikap yang baik dari sesuatu tersebut. Bentuk jamaknya adalah Âdâb al-Islam, dengan begitu, berarti pola perilaku yang baik yang ditetapkan oleh Islam berdasarkan pada ajaran-ajarannya. Dalam pengertian seperti inilah kata adab.

    Sumber Adab

    Adat kebiasaan di dalam banyak kebudayaan selain kebudayaan Islam sangat ditentukan oleh kondisi-kondisi lokal dan oleh karena itu tunduk pada perubahan-perubahan yang terjadi di dalam kondisi-kondisi tersebut. Menurut W.G. Summer, dari berbagai kebutuhan yang timbul secara berulang-ulang pada satu waktu tertentu tumbuh kebiasaan-kebiasaan individual dan adat kebiasaan kelompok. Tetapi kebiasaan-kebiasaan yang muncul ini adalah konsekuensi-konsekuensi yang timbul secara tidak disadari, dan tidak diperkirakan lebih dulu atau tidak direncanakan.

    Ahlak dan adab Islam tidaklah bersifat “tanpa sadar” seperti dalam pengertian di atas. Adab dan kebiasaan-kebiasaan Islam itu berasal dari dua sumber utama Islam, yaitu al-Qur’an dan Sunnah, perbuatan-perbuatan dan kata-kata Nabi serta perintah-perintahnya yang tidak langsung. Oleh karena itu akhlak Islam itu jelas berdasarkan pada wahyu Alloh SWT.

    ***

    By: agussyafii

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 8 February 2020 Permalink | Balas  

    Keadaan Batin Pada Setiap Tahapan Sholat 

    Keadaan Batin Pada Setiap Tahapan Sholat

    Adzan

    Ketika anda mendengar panggilan sholat oleh muadzin, maka berusahalah membayangkan hingar bingar teriakan di hari kiamat. Persiapkan diri, lahir dan batin untuk menjawabnya. Mereka yang segera menjawab ajakan tersebut, niscaya akan menjadikan dirinya orang yang mendapat perlakuan lemah lembut di hari pembalasan nanti. Untuk itu ingatlah sekarang: Jika Anda menjawab seruan dengan rasa senang dan gembira, didorong oleh keinginan memenuhi panggilan adzan, percayalah di hari pengadilan kelak Anda akan bersuka ria dengan kabar gembira dan kemenangan. Itulah mengapa Rasulullah saw. Sering berkata, “Gembirakanlah kami wahai Bilal!” demikianlah karena Bilal seorang muadzin, dan shoalt itu sendiri merupakan kegembiraan dan kesenangan bagi Rasulullah saw.

    Bersuci Diri

    Ketika hendak menyucikan sesuatu yang ada disekitar anda secara cepat ruangan, pakaian, hingga akhirnya kulit anda maka jangan sampai mengabaikan keadaan batin, ayng merupakan tempat bersemayamnya hati, tempat bersemayamnya segala sesuatu. Bersungguh-sungguhl ah untuk menyucikan dengan bertobat dan menyesali diri, serta janji untuk meninggalkannya di masa mendatang. Bersihkanlah batin anda dengan cara ini, karena batin merupakan tempat yang diawasi oleh Dzat yang anda sembah.

    Menutup Aurat

    Menutup aurat berarti anda menutup bagian-bagian tubuh dari pandangan manusia. Tetapi bagaimana mengenai aurat batin dan rahasia pribadi anda yang keji, dimana hanya Allah swt. Sajalah yang menyaksikannya? Sadarilah kesalahan-kesalah ini. Tutupilah semuanya, tetapi ingat bahwa tiada sesuatupun yang dapat disembunyikan dari penglihatanNya. Hanya dengan tobat, malu serta takut, niscaya Allah akan memaafkannya.

    Menghadap Kiblat

    Menghadap kiblat berarti anda memalingkan wajah lahiriyah dari segala arah selain ke arah Rumah Allah swt. (Ka’bah). Apakah anda mengira bahwa tidak akan diminta untuk memalingkan hati dari segala sesuatu, lalu hanya menghadapkan diri kepada Allah swt. Semata? Tentu saja tidak benar, karena Ka’bah ini merupakan tujuan dan seluruh gerak sholat! Nabi Muhammad pernah bersabda, “Ketika seseorang sholat, dimana keinginan, wajah dan hatinya hanya tertuju kepada Allah Azza wa jalla, maka seusai sholat akan menjadikan dirinya bagaikan bayi yang baru dilahirkan ibunya.”

    Berdiri Tegak

    Berdiri tegak, maksudnya beridir lurus lahir dan batin di hadapan Allah Azza wa jalla. Kepala anda, yang merupakan bagian tertinggi dari tubuh, supaya sedikit membungkuk sebagai tanda kerendahan hati serta melepaskan diri dari keangkuhan dan kesombongan.

    Niat

    Ketika bernia, bayangkan bahwa diri anda tengah memenuhi pangilanNya, dengan melaksanakan sholat dalam rangka kepatuhan terhadap perintahNya, dengan cara melaksanakan sholat secara tepat serta menghindarkan dan meniadakan segala sesuatu yang akan mengganggu dan merusakkannya. Dan dengan melakukan semuanya secara tulusdan ikhlas semata-mata karena Allah Azza wa jalla, demi mengharap ganjaran dari Nya dan dijauhkan dari siksaNya, mencari kasih dan sayangNya

    Takbir

    Ketika mengucapkan takbir, hati anda tidak boleh menyangkal apa yang tengah diucapkan oleh bibir anda. Bila di dalam hati anda merasa bahwa ada sesuatu yang lebih dari Allah swt, walau apa yang anda ucapkan benar, maka Allah swt, akan menggolongkan anda seorang penipu.

    Doa Iftitah

    Ketika mengucapkan doa iftitah (pembuka), anda tengah mewaspadai kemusyrikan yang ada di dalam diri. Ini berkenaan dengan mereka yang beribadah demi mansuia, ataupun yang mengharapkan rahmat Allah Azza wa jalla semata. DifirmankanNya “maka barangsiapa mengharapkan pertemuan denagn Tuhannya, hendaklah mengerjakan amal kebaikan. Dan dalam beribadah kepadaNya, jangan mempersekutukan Dia dengan sesuatupun.” (QS.18:110)

    Ketika anda mengucapkan “Auszu billahi minasy syaithanirrajim” (Aku berlindung kepada Allah swt dari godaan setan ayng terkutuk), maka sesungguhnya harus disadari bahwa setan adalah musuh sejati, dan ia selalu mencari celah dan kesempatan untuk memisahkan anda dan Allah Azza wa jalla. Setan akan selalu menghalangi anda dalam melakukan munajat kepada Allah swt. Dan untuk bersujud kepadaNya

    Membaca Ayat Al-Qur’an

    Mengenai membaca Al-Qur’an, maka dapat dibedakan dalam tiga kategori, yaitu: 1. Mereka yang menggerakkan lidahnya tanpa kesadaran (artinya tidak memahami apa yang dilafalkan oleh lidah) 2. Mereka yang secara sadar memahami apa yang dilafalkan oleh lidah, memahami maknanya dan seolah mendengarkannya sebagai ucapan orang lain, inilah derajat yang dicapai “golongan kanan” 3. Mereka yang bermula dari menyadari makna, menjadikan lidah sebagai juru bahasa bagi kesadaran batin. Lidah memang dapat berperan sebagai penerjemah batin dan sekaligus guru sejati bagi hati. Bagi mereka yang sangat dekat dengan Tuhan, maka lidah berperan sebagai penerjemah

    Rukuk

    Allah swt. Menyaksikan hambaNya yang tengah berdiri, rukuk dan sujud. Sebagaimana Dia berfirman, “Yang melihatmu ketika berdiri dan melihat gerak gerikmu di tengah orang-orang yang bersujud” (QS 26:218) Rukuk dan sujud yang disertai pengakuan akan keagungan Allah Azza wa jalla. Di dalam rukuk, Anda memperbarui penyerahan diri dan rasa rendah hati, serta selalu menyebarkan kesadaran betapa ketidak mampuan dan ketidak bermaknaan kita dihadapan Dzat Yang Maha Agung. Untuk menegaskan hal ini, anda memerlukan (mencari) bantuan lidah, dengan mengagungkan asma Tuhan serta berulang kali mengakui keagungan kekuasaanNya, baik secara lahirah ataupun batiniah.

    Kemudian anda bangkit dari rukuk, berharap bahwa Dia (Allah) akan mencurahkan rahmatNya kepada anda. Untuk mempertegas harapan ini dalam diri anda mengucapkan, “”Sami’allahu liman hamidah” (Allah mendengar siapa saja yang memujiNya). Untuk menyatakan syukur, anda segera menambah, “Rabbana lakal hamdu” (Wahai Tuhan, hanya bagiMu lah segala pujian). Untuk menunjukkan banyaknya atau memperbanyak pujian, anda juga mengucapkan, “mil as samawati wa milal ardhi” (yang memenuhi seluruh langit dan bumi).

    Sujud

    Selanjutnya anda bersujud. Ini adalah tingkatan pengungkapan penyerahan diri tertinggi, yang mana anda menyentuhkan bagian termulia dari badan, wajah ke wujud yang rendah, tanah. Apabila mungkin, akan lebih baik bersujud tanpa alas, yang tentu saja hal ini lebih menggambarkan sikap kerendahan hati dan berserah diri.

    Apabila anda meletakkan diri dalam posisi yang sedemikian rendah, maka akan lebih menyadari dengan siapa anda berhadapan. Anda telah mengembalikan cabang pada akarnya, karena anda berasal dari tanah dan kelak akan kembali ke tanah pula. Pada saat yang sama anda juga memperbarui kesadaran batin akan keagungan Tuhan, seraya berkata, “Subhana rabbiyal a’la” (Mahasuci Tuhan Yang Mahatinggi). Pengulangan ucapan ini hanya akan lebih memperkuat pengakuan anda, karena mengucapkannya hanya sekali saja dirasa tidak memadai.

    Ketika batin anda merasa terpuaskan dalam mengharapkan kasih sayang Ilahi, yakinlah bahwa Tuhan akan selalu mengaruniakan kasih dan sayang Nya. Bahwa kasih dan sayangNya selalu mengalir kepada mereka yang lemah dan rendah, tidak bagi yang sombong dan congkak.

    Selanjutnya anda mulai mengangkat kepala kemudian bertakbir, “Allahu Akbar” (Allah Maha Agung) dan mintalah apa yang anda perlukan, mohonlah hajat anda, seperti, “Rabbigh fir war ham wa tajaa waz’ amma ta’lam” (Ya Allah, ampuni dan kasihanilah aku! dan lepaskanlah dari dosa yang Engkau ketahui). Selanjutnya anda sujud untuk yang kedua kalinya, yang memperkuat penyerahan diri kepada Allah swt.

    Duduk dan Tasyahud

    Ketika anda duduk untuk mengucapkan pengakuan (tasyahud), duduklah dengan sopan. Ungkapkan bahwa sholat dan seluruh amal sholeh yang anda lakukan itu semua semata-mata demi mengharap kasih sayangNya, dan segala sesuatu hanyalah milikNya. Itulah ayng dimaksudkan bahwa segala kehormatan (at tahiyyat) adalah milik Allah swt. “Assalamu’alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh”. (Salam sejahtera semoga selalu terlimpah bagi Rasul saw. Serta rahmat dan berkah Allah atasnya).

    Yakin bahwa salam yang anda ucapkan akan sampai kepada beliau. Dan beliau juga akan menjawab, bahkan dengan salam yang lebih sempurna bagi anda. Kemudian ucapkan pula salam bagi diri anda serta seluruh hamba Allah yang sholeh. Kemudian persaksikan bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusanNya. Dengan mengulang dua kali kesaksian tersebut, anda telah mengulang kembali pengakuan atas kasih sayang Allah Azza wa jalla, dan meyakinkan diri akan perlindunganNya.

    Doa Penutup

    Pada akhir sholat, hendaknya anda berdoa memohon kepadaNya penuh harap secara santun dan disertai kerendahan hati, dengan yakin bahwa permohonan itu didengar. Tunjukkan doa anda termasuk kepada orang tua serta orang-orang beriman lainnya.

    Salam

    Akhirnya, dengan maksud mengakhiri sholat anda, ucapkan salam kepada para malaikat dan mereka yang hadir. Rasakan semua itu sebagai ungkapan syukur kepada Allah swt. Atas segala karuniaNya karena anda dapat menyelesaikan sholat. Bayangkan bahwa anda tengah mengatakan selamat berpisah pada ibadah sholat, dan bahwa mungkin anda meninggal hingga tidak bisa lagi melakukan seperti ini.

     
  • erva kurniawan 7:51 am on 7 February 2020 Permalink | Balas  

    Jenaka dalam Kecerdasan 

    Jenaka dalam Kecerdasan

    By: Prof. Dr. Achmad Mubarok MA

    Semua kita pasti sudah pernah mendengar nama Abu Nawas. Jika orang menyebut nama Abu Nawas maka langsung terbayang sosok pelawak kesohor atau tentang fikiran akal bulus yang sangat lembut,- tetapi konotasinya  negatip. Sesungguhnya tokoh Abu Nawas atau Abu Nuwas adalah seorang ahli hukum dan kritikus social yang sangat cerdas yang hidup pada zaman Daulah Abbasiyyah di Bagdad, dan sempat bertemu dengan dua khalifah (raja) pada periode hidupnya, yaitu Harun Al Rasyid dan al Ma`mun.

    Ia juga seorang penyair sufi , tetapi kekhasan Abu Nawas adalah kemampuannya mengekpressikan kecerdasannya secara jenaka,bahkan termasuk kepada Tuhan.. Kumpulan puisinya tercantum dalam buku Diwan- Abu Nuwas yang di Fakultas sastra Arab bukunya dijejerkan bersama dengan kumpulan puisi Imam Syafi`i ,Diwan al Imam al Syafi`i dan puisi Ali bin Abi Thalib,Diwan al Imam ~Ali, Diwan Syi`r Imam al Bulagha. Kecerdasan dan kejenakaan Abu Nuwas dapat dirasakan dari kisah-kisah sebagai berikut.

    Pertama

    Suatu hari Raja iseng-iseng uji nyali staf di kerajaannya. Di halaman depan kerajaan ada pohon jambu yang sedang berbuah. Raja mengikat seekor orang utan yang besar dan galak di pohon itu, lalu Raja mengumumkan; barang siapa bisa mengambil sebutir saja jambu dari pohon itu akan diberi hadiah seribu dinar. Orang banyak berusaha untuk mengambilnya, tetapi tidak ada seorangpun yang bisa, karena setiapkali mendekat pohon,orang utan yang galak itu segera menyongsongnya. Abu Nawas yang kala itu sedang bertamu ditawari ikut. Abu Nawas pun bersedia dan dengan santai ia mengambil beberapa batu kecil. Dengan cermat Abu Nawas melempari orang utan itu dengan batu-batu kecil. Sudah barang tentu orang utan yang galak itupun marah, tetapi ia tidak bisa menjangkau Abu Nawas karena kakinya terikat rantai ke pohon.  Puncak kemarahan orang utan itu terjadi, ia petik jambu didekatnya dan dibalas melemparnya ke Abu Nawas. Nah Abu Nawas tinggal menangkap jambu itu, dan Abu Nawas memenangkan hadiah Raja sebesar seribu dinar.

    Kedua

    Pada suatu hari, salah seorang keponakan Raja yang bernama Jafar berceritera kepada Raja,bahwa ia bermimpi menikahi seorang gadis yang bernama Zainab, seorang gadis yang terkenal di Bagdad karena kecerdasan dan kecantikannya. Raja dengan tanpa berfikir mendalam langsung mengomentari ceritera mimpi ponakannya. Wah itu mimpi yang baik, mimpimu itu isyarat petunjuk Tuhan. Begini saja, kalau kamu memang mau menikah dengan Zainab, serahkan pada pamanmu ini, biar aku yang urus. Sudah barang tentu Jafar, sang keponakan sangat gembira. Esoknya, Zainab dan kedua orang tuanya dipanggil menghadap raja, dan kepada mereka disampaikan bahwa ada isyarat Tuhan yang harus dilaksanakan , yaitu menjodohkan Jafar, keponakannya dengan Zainab. Biarlah kerajaan yang menyelenggarakan hajatannya.

    Kedua orang tua Zainab sudah barang tentu bersukacita, tetapi Zainab sendiri tidak bisa menerimanya. Hatinya menolak keras dijodohkan, apalagi hanya berdasar mimpi, tetapi mulutnya terkunci rapat. Kerajaan dengan bersukacita mengumumkan rencana pernikahan itu, dan tak lupa Raja pun menceriterakan kepada publik mimpi ponakanya yang ia fahami sebagai isyarat dari Tuhan yang harus dilaksanakan.

    Di rumah, Zainab  bingung tak tahu harus berbuat apa. Kedua orang tuanya dan bahkan segenap keluarganya dalam suasana bahagia menyongsong hari perkawinan dirinya, tapi dia sendiri hatinya hancur karena tidak menyukai Jafar, ponakan raja yang ia ketahui perilakunya tidak terpuji. Inginnya ia kabur dari rumah, tetapi itu pasti mencelakakan keluarga karena mempermalukan kerajaan.

    Sekedar mencari ketenangan Zainab mengadu kepada Abu Nawas. Abu Nawas bertanya. Kamu ingin pernikahanmu dengan Jafar berlangsung atau inginya gagal?  Pokoknya Saya tidak ingin menikah dengan Jafar, paman , jawab Zainab. Abu Nawas melanjutkan. Jika engkau ingin perkawinan itu gagal,engkau harus segera menghadap raja dan mengucapkan terima kasih karena Paduka telah menjalankan isyarat Tuhan melalui mimpi Jafar. Tapi, tapi bagaimana ? Zainab protes. Pokoknya, kata Abu Nawas, jika engkau ingin perkawinan itu gagal,laksanakan kata-kata saya.

    Dengan tidak begitu faham jalan fikiran Abu Nawas, Zainab menghadap Raja dan mengucapkan terimakasih. Sudah barang tentu Raja sangat senang mendengar kata-kata Zainab.

    Suatu pagi, ketika halaman kerajaan sudah didirikan tenda untuk acara pernikahan , Abu Nawas berada di atap istana raja, mencabuti genting-2 dan melemparkannya ke halaman. Sudah barang tentu gegerlah  istana. Abu Nawas di tangkap dan langsung di sidang di depan raja untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya–. Abu Nawas diancam dengan hukuman berat.

    Ketika Abu Nawas ditanya  oleh raja tentang motivasi dari apa yang dilakukan, dengan sangat sopan Abu Nawas menjawab. Paduka tuanku junjungan kami, ampunilah hamba orang kecil ini,hamba adalah orang kecil yang selalu mengidolakan baginda. Apapun yang menjadi kehendak paduka,kami selalu mengikutinya. Paduka junjungan kami,tiga malam berturut hamba bermimpi menaiki atap istana tempat paduka bersemayam. Hamba gelisah, dan akhirnya hamba yakin bahwa mimpi hamba adalah isyarat dari Tuhan untuk menyelamatkan paduka, dari ancaman yang kita belum tahu. Jangan-jangan di atap ada ancaman terhadap baginda. Oleh karena itu sebelum bencana itu menimpa baginda,hamba segera naik atap untuk melaksanakan isyarat Tuhan yang kami dapati dalam mimpi kami.Mohon ampun baginda.

    Sang Raja tercenung mendengar jawaban Abu Nawas. Raja sadar bahwa Abu Nawas itu orang cerdas. Raja pun sadar bahwa mengambil keputusan berdasar mimpi Jafar, keponakannya adalah sangat tidak bijaksana, bahkan berbahaya. Terbayang dalam fikiran Raja, apa lagi yang akan dilakukan Abu Nawas besok-besoknya dengan alasan mimpi. Sungguh berbahaya. Akhirnya Raja membatalkan rencana menikahkan Zainab dengan keponakannya.

    Ketiga

    Suatu hari Raja yang repressip itu melakukan kunjungan incognito meninjau proyek pembangunan taman di pinggir sungai Tigris. Ketika berada di pinggir sungai dan jauh dari rumah tiba-tiba sang raja ingin buang hajat. Rupanya raja sedang kena diare karena salah makan. Dengan sigap pengawal melakukan langkah darurat, yaitumembuyat WC tenda di pinggir sungai. Rajapun apa boleh buat masuk ke WC darurat itu.

    Melihat pemandangan itu, Abu nawas tiba-tiba lari ke arah hulu sungai dan langsung buang hajat di situ. Sudah barang tentu raja marah, karena tahi Abu Nawas pelan-pelan mendekati raja mengikuti arus air. Usai buang hajat, raja langsung memerintahkan pengawal untuk menangkap Abu Nawas. Abu Nawas di sidang dengan tuduhan menghina raja karena buang air besar di depan raja. Tetapi dengan amat sopan Abu Nawas menjawab. Aduh mohon ampun paduka junjungan kami. Sama sekali tidak ada setitikpun niat hamba menghina paduka. Hamba ini  orang yang sangat mengidolakan paduka. Dalam keadaan apapun paduka adalah pemimpin kami. Hamba selalu patuh berada di belakang paduka. Sedikitpun kami tidakberani mendahului paduka. Tetapi kamu buang hajat di depanku, bentak Raja.

    Adapun tentang buang hajat, mohon maaf paduka. Semula kami berada di belakang paduka, tiba-tiba hamba terkena diare.. Seandainya hamba langsung buang hajat di tempat, maka pasti tahi hamba akan mendahului tahi paduka yang mulia.Ini tidak boleh karena ini adalah satu penghinaan. Oleh karena itu paduka, dengan sangat berat kami—buru-buru lari ke depan untuk buang air di sana,agar tahi hamba tidak mendahului tahi paduka.

    Mendengar keterangan Abu Nawas, raja manggut-manggut dan bisa menerima alasan Abu Nawas. Abu Nawas bukan saja tidak dihukum,malah raja memberinya hadiah seribu dinar.

    Keempat,

    Abu Nawas jenaka bukan hanya kepada sesama manusia,kepada Tuhan pun ia suka bercanda. Salah satu candanya terekam dalam teks doa yang hingga kini banyak dihafal orang. Kata Abu Nawas,Ilahy,lastu lil firdausi ahla. Wala aqwa `alannar aljahimi. Fahabl itaubatan waghfir dzunubi.fa innaka ghofirun dzambil`adzimi. Artinya.Ya Tuhanku, rasanya hamba tak pantas masuk surgamu. Tetapi untuk masuk neraka, waduh sorry,hamba tak kuaaaat. Oleh karena itu ya Tuhan,mudahkanlah hamba untuk bertaubat dan ampunilah dosa kami. Bukankah Engkau Maha Pengampun bahkan terhadap dosa-dosa besar?.

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 6 February 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Ayyasy Bin Abi Rabiah Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Ayyasy Bin Abi Rabiah Radhiyallahu Anhu

    Ayyasy bin Abi Rabiah masih kerabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan memeluk Islam pada masa-masa awal. Ketika akan hijrah ke Madinah, ia berencana berangkat bertiga dengan Umar bin Khattab dan Hisyam bin Ash, dan bertemu di lembah Tanadhib, 6 mil dari Makkah. Tetapi Hisyam dihalangi dan disiksa oleh kaum kafir Quraisy, sehingga mereka hanya berangkat berdua.

    Setelah beberapa saat tiba di Quba, Abu Jahal bin Hisyam dan Harits bin Hisyam, yang masih saudara sepupunya datang membawa berita bahwa ibunya bersumpah tidak akan menyisir rambutnya bertemu dengannya, tidak akan berteduh dari panas matahari hingga melihat wajahnya. Mendengar hal itu, Ayyasy menjadi kasihan dengan ibunya, iapun bermaksud kembali ke Makkah. Tetapi Umar mengingatkannya, bahwa itu hanyalah tipu muslihat orang kafir agar ia meninggalkan agama Islam. Karena cintanya kepada sang ibu, Ayyasy berkata, “Aku akan kembali dan melaksanakan sumpah ibuku itu, sekaligus aku akan mengambil hartaku yang kutinggalkan di Makkah.”

    Sekali lagi Umar mengingatkan akan kelicikan muslihat orang kafir Quraisy, bahkan ia menjanjikan membagi dua hartanya dengan Ayyasy asalkan tidak kembali ke Makkah. Tetapi Ayyasy telah berketetapan hati kembali demi ibunya yang sangat dicintai dan dihargainya. Akhirnya Umar merelakan sahabatnya tersebut kembali, tetapi ia memberikan untanya yang penurut kepada Ayyasy, dengan pesan, jika sewaktu-waktu ia melihat gelagat tidak baik, hendaknya ia memacu unta tersebut kembali ke Madinah.

    Mereka bertiga kembali ke Makkah. Dan seperti yang dikhawatirkan Umar, Abu Jahal dan Harits memperdaya Ayyasy, tidak lama setelah mereka meninggalkan batas Madinah. Abu Jahal berkata, “Wahai keponakanku, demi Allah, ontaku ini sudah sangat kepayahan. Maukah engkau memboncengkan aku di punggung ontamu??”

    “Boleh!!” Kata Ayyasy, tanpa prasangka apapun.

    Kemudian ia menderumkan untanya, dan Abu Jahal naik di belakang Ayyasy. Tetapi seketika itu ia mendekap tubuh Ayyasy dengan erat, dan Hisyam mengeluarkan tali yang telah dipersiapkannya, dan mengikat Ayyasy dengan erat. Mereka membawanya ke Makkah dalam keadaan terikat. Sampai di Makkah, ia disiksa dengan hebat dan dipaksa untuk murtad, sehingga akhirnya ia menuruti kemauan mereka. Hal yang sama terjadi pada Hisyam bin Ash yang terpaksa murtad karena beratnya siksaan yang ditimpakan kepada mereka.

    Saat itu ada anggapan, orang yang murtad tidak akan diterima lagi taubatnya dan tidak berarti lagi keislamannya. Karena itu keduanya selalu dirundung kesedihan walaupun dalam keadaan bebas bergerak di Makkah. Tetapi kemudian turun wahyu Allah, surat az Zumar ayat 53-55, yang berisi larangan berputus asa dari Rahmat Allah, bahwa Allah mengampuni semua dosa-dosa. Umar mengirim seorang utusan dengan membawa surat kepada dua sahabatnya itu, yang memberitahukan turunnya wahyu Allah tersebut. Kemudian keduanya mengikuti utusan Umar tersebut ke Madinah dengan sembunyi-sembunyi, dan kembali ke pangkuan Islam.

    Sebagian riwayat menyebutkan, mereka berdua tidak sampai murtad, karena itu mereka diikat dan dipenjarakan di suatu tempat. Suatu ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda kepada para sahabat yang sedang berkumpul, “Siapakah yang sanggup mempertemukan aku dengan Ayyasy (bin Abi Rabiah) dan Hisyam (bin Amr)??”

    Walid bin Walid, yakni saudara Khalid bin Walid yang telah memeluk Islam sejak awal didakwahkan, berkata, “Wahai Rasulullah, sayalah yang akan membawa keduanya ke hadapan engkau!!”

    Setelah berpamitan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, Walid segera memacu untanya menuju Makkah. Ia memasuki kota Makkah dengan sembunyi-sembunyi, dan secara kebetulan ia bertemu dengan wanita yang ditugaskan mengantar makanan untuk Hisyam dan Ayyasy. Iapun mengikuti wanita tersebut, hingga mengetahui tempat penahanan keduanya, yakni sebuah rumah tanpa atap, tetapi pintunya dikunci dengan kuat.

    Ketika keadaan sepi dan aman, Walid memanjat tembok rumah tersebut untuk memasukinya. Setelah melepaskan ikatan yang membelenggu Hisyam dan Ayyasy, ketiganya keluar dengan memanjat tembok juga, dan meninggalkan Makkah dengan menunggang unta milik Walid yang memang cukup kuat, sehingga mampu membawa tiga orang tersebut hingga sampai di Madinah dengan selamat.

    Dalam perang Yarmuk di masa Khalifah Umar, Ayyasy terluka parah, begitu juga dengan Harits bin Hisyam dan Ikrimah bin Abu Jahl. Harits meminta dibawakan air, tetapi kemudian menyuruhnya untuk diberikan kepada Ikrimah. Sebelum sempat minum, Ikrimah meminta agar air diberikan kepada Ayyasy. Tetapi Ayyasy wafat sebelum sempat minum air tersebut. Ketika dibawa kembali ke Ikrimah, ia telah meninggal. Begitu juga ketika dibawa kepada Harits, ia telah wafat sebelum air minum itu kembali kepadanya.

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 5 February 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Thulaib Bin Umair Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Thulaib Bin Umair Radhiyallahu Anhu

    Thulaib bin Umair masih saudara sepupu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, ia memeluk Islam ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam masih berdakwah secara sembunyi-sembunyi di Darul Arqam, sehingga bisa dikatakan ia sebagai kelompok as Sabiqunal Awwalin. Setelah keislamannya, ia menemui ibunya, Arwa binti Abdul Muthalib, dan mengatakan kalau dirinya telah menjadi pengikut Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan berserah diri kepada Allah. Menanggapi pengakuannya tersebut, sang ibu berkata, “Sesungguhnya yang lebih berhak kamu bantu adalah anak pamanmu itu (Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam), demi Allah jika kami mampu melakukan seperti yang dilakukan oleh kaum lelaki, sudah pasti aku akan mengikuti dan melindunginya.”

    Saat itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memang banyak mengalami halangan, cacian dan penyiksaan dalam mendakwahkan Islam. Mendengar jawaban ibunya tersebut, Thulaib berkata, “Apakah yang menghalangi ibu mengikutinya, padahal saudara laki-laki ibu, Hamzah, telah memeluk Islam?”

    “Aku akan menunggu apa yang dilakukan oleh saudara-saudara perempuanku, kemudian aku akan menjadi seperti mereka,” Kata Arwa.

    Tetapi Thulaib tidak puas dengan jawaban ibunya ini, ia terus mendesak dan berkata, “Sesungguhnya aku meminta dengan nama Allah, agar ibu menemuinya (yakni Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam), mengucapkan salam dan membenarkannya, dan mengucapkan kesaksian kepadanya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.”

    Melihat tekad dan kesungguhan Thulaib dalam mengajaknya kepada Islam, akhirnya Arwa luluh juga. Pada dasarnya ia memang ingin membela Nabi  Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang masih keponakannya sendiri, ketika begitu banyak orang yang memusuhi dan menyakitinya. Ia akhirnya berkata, “Jika memang begitu, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah pesuruh-Nya.”

    Thulaib merasa gembira dengan keputusan ibunya, apalagi ia selalu didorong untuk membantu Nabi  Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan juga menyiapkan kebutuhan Nabi  Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dalam perjuangannya.

    Di riwayatkan bahwa Thulaib Bin Umair adalah Muslim pertama yang melukai seorang Musyrik yang bersikap lancang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.

    Suatu ketika Auf Bin Sabrah as-Sahmi tengah melontarkan caci-maki kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam lalu Thulaib Bin Umair mengangkat tulang rahang unta dan memukulkannya kepadanya sehingga luka. Ada yang mengadukan hal itu kepada ibu beliau. Ibunya menjawab, “Thulaib telah membantu sepupunya, ia telah bersikap simpatik dengan perantaraan darahnya dan hartanya.”

    Sebagian berpendapat bahwa orang yang dipukul itu bernama Abu Ihab bin Aziz ad-Darimi. Sedangkan sebagian lagi berpendapat orang itu adalah Abu Lahab atau Abu Jahal. Menurut riwayat lain, ketika perbuatan itu diadukan kepada Ibunya , Ibunya  mengatakan, “Hari terbaik dalam kehidupan Thulaib adalah pada saat membela sepupunya. Dia Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang telah datang dengan kebenaran dari Allah Ta’ala.”

    Thulaib termasuk Muslim yang berhijrah ke Habasyah. Namun ketika sebuah kabar burung dari Makkah sampai ke Habasyah yang menyatakan bahwa Quraisy telah masuk Islam, beberapa Muhajirin Muslim kembali ke Makkah tanpa mengkonfirmasi kebenaran kabar itu. Salah satu dari mereka adalah Thulaib.

    Sekembalinya ke Makkah, mereka meminta perlindungan kepada para tokoh Makkah.

    Setelah Thulaib hijrah dari Makkah ke Madinah, dia tinggal di rumah Abdullah Bin Salamah al-Ajlani. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengikat persaudaraan antara Thulaib dengan Mundzir Bin Amru.

    Thulaib ikut serta pada perang Badar.

    Thulaib juga ikut serta pada perang Ajnadain yang terjadi pada bulan Jumadil Ula 13 Hijri. Pada perang tersebut beliau syahid pada usia 35 tahun. Ajnadain adalah nama tempat di Syria, di sana terjadi peperangan antara pasukan Muslim dengan Romawi, namun sebagian berpendapat bahwa beliau wafat pada perang Yarmuk.

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 4 February 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Abdullah Bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu (3) 

    Kisah Abdullah Bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu (3)

    Secara penampilan fisik, mungkin Abdullah bin Mas’ud tidak meyakinkan. Perawakan tubuhnya kurus dan kecil, tidak terlalu tinggi, kedua betisnya kecil dan kempes sehingga pernah menjadi bahan tertawaan beberapa sahabat. Hal itu terjadi ketika ia sedang memanjat dan memetik dahan pohon arak untuk digunakan sikat gigi (siwak) oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Melihat sikap mereka ini, beliau bersabda, “Tuan-tuan mentertawakan kedua betis Ibnu Mas’ud, padahal di sisi Allah, timbangan (kebaikan) keduanya lebih berat daripada gunung Uhud….”

    Abdullah bin Mas’ud tidak pernah tertinggal mengikuti pertempuran bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, begitu juga beberapa pertempuran pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar.

    Ketika perang Badar usai, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam ingin mengetahui keadaan Abu Jahal, maka Abdullah bin Mas’ud pun beranjak pergi mencarinya, begitu juga beberapa sahabat lainnya. Sebenarnya saat pertempuran berlangsung, beliau telah didatangi dua pemuda Anshar, Mu’adz bin Amr bin Jamuh dan Muawwidz bin Afra. Mereka berdua mengaku telah membunuh Abu Jahal. Setelah memeriksa pedang kedua pemuda tersebut, beliau pun membenarkan pengakuan mereka. Hanya saja beliau ingin memperoleh kejelasan informasinya dan kepastian kematiannya.

    Ibnu Mas’ud bergerak di antara mayat yang bergelimpangan, dan akhirnya menemukan tubuh Abu Jahal, yang masih sekarat, nafasnya tinggal satu-satu. Tubuh Ibnu Mas’ud yang kecil berdiri di atas tubuh Abu Jahal yang kokoh kekar terkapar. Ia menginjak leher Abu Jahal dan memegang jenggotnya untuk mendongakkan kepalanya, dan berkata, “Apakah Allah telah menghinakanmu, wahai musuh Allah!!”

    “Dengan apa ia menghinakan aku? Apakah aku menjadi hina karena menjadi orang yang kalian bunuh? Atau justru orang yang kalian bunuh itu lebih terhormat? Andai saja bukan pembajak tanah yang telah membunuhku…”

    Memang, dua pemuda Anshar yang membunuhnya adalah para pekerja kebun kurma. Mungkin ia merasa lebih berharga jika saja yang membunuhnya adalah seorang pahlawan perang seperti Hamzah atau Umar. Kemudian ia berkata kepada Ibnu Mas’ud yang masih menginjak lehernya, “Aku sudah naik tangga yang sulit, wahai penggembala kambing….”

    Ibnu Mas’ud mengerti maksud Abu Jahal, ia melepaskan injakan pada lehernya. Tak berapa lama kemudian Abu Jahal tewas, ia memenggal kepala Abu Jahal dan membawanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Sampai di hadapan beliau, ia berkata, “Wahai Rasulullah, ini kepala musuh Allah, Abu Jahal…!”

    “Demi Allah yang tiada Ilah selain Dia,” Beliau mengucap tiga kali, kemudian bersabda lagi, “Allahu Akbar, segala puji bagi Allah yangtelah memenuhi janjiNya, menolong hambaNya dan mengalahkan pasukan musuhNya…”

    Ada suatu peristiwa berkesan pada Perang Tabuk yang selalu menjadi keinginan dan angan-angan Abdullah bin Mas’ud. Suatu malam ia terbangun dan ia melihat ada nyala api di arah pinggir perkemahan. Ia berjalan ke perapian tersebut, dan ia melihat tiga orang bersahabat, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, Abu Bakar dan Umar bin Khaththab sedang memakamkan jenazah salah seorang sahabat, Abdullah Dzulbijadain al Muzanni. Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam berada di lubang kuburan, Abu Bakar dan Umar berada di atas. Ia mendengar beliau bersabda, “Ulurkanlah kepadaku lebih dekat…!!”

    Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menerima jenazah Abdullah tersebut dan meletakkan di liang lahat, kemudian beliau berdo’a, “Ya Allah, aku telah ridha padanya, maka ridhai pula ia olehMu..!!”

    Melihat pemandangan tersebut, Ibnu Mas’ud berkata, “Alangkah baiknya jika akulah pemilik liang kubur itu….”

    Namun ternyata keinginannya tidak terpenuhi karena tiga orang mulia yang terbaik tersebut mendahuluinya menghadap Allah. Ia wafat pada zaman khalifah Utsman, dan dalam satu riwayat disebutkan, yang memimpin (mengimami) shalat jenazahnya adalah sahabat Ammar bin Yasir.

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 3 February 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Abdullah Bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu (2) 

    Kisah Abdullah Bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu (2)

    Suatu ketika Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam ingin ada seseorang yang membacakan Al Qur’an kepada orang-orang Quraisy karena mereka belum pernah mendengarnya, dan ternyata Abdullah bin Mas’ud yang mengajukan dirinya. Tetapi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengkhawatirkan keselamatannya, beliau ingin orang lain saja, yang mempunyai kerabat kaum Quraisy, yang bisa memberikan perlindungan jika ia disiksa. Tetapi Ibnu Mas’ud tetap mengajukan diri, bahkan setengah memaksa, sambil berkata, “Biarkanlah saya, ya Rasulullah, Allah pasti akan membela saya…!!”

    Sungguh suatu semangat besar yang didorong jiwa muda yang berapi-api, sehingga kurang mempertimbangkan keselamatan dirinya. Dan tanpa menunggu lagi, ia berjalan ke majelis pertemuan kaum Quraisy di dekat Ka’bah, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam membiarkannya. Sampai di sana, ia berdiri di panggung atau mimbar di mana orang-orang Quraisy biasanya melantunkan syair-syair mereka, dan mulai membaca ayat-ayat Qur’an dengan mengeraskan suaranya. Yang dibacanya adalah Surah ar Rahman. Orang-orang kafir itu memperhatikan dirinya sambil bertanya, “Apa yang dibaca oleh Ibnu Ummi Abdin itu?”

    Saat itu mereka belum mengetahui kalau Ibnu Mas’ud telah memeluk Islam, jadi mereka membiarkannya saja untuk beberapa saat lamanya.

    Salah satu dari orang Quraisy itu tiba-tiba berkata, “Sungguh, yang dibacanya itu adalah apa yang dibaca oleh Muhammad…!!”

    Merekapun bangkit menghampiri, dan memukulinya hingga babak belur. Namun selama dipukuli, ia tidak segera menghentikan bacaannya sebatas ia masih mampu melantunkannya. Ketika mereka berhenti memukulinya, ia segera kembali ke tempat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan para sahabat berkumpul. Melihat keadaan tubuhnya yang tidak karuan akibat pukulan-pukulan tersebut, salah seorang sahabat berkata, “Inilah yang kami khawatirkan akan terjadi pada dirimu!!”

    Tetapi dengan tegar Ibnu Mas’ud berkata, “Sekarang ini tak ada lagi yang lebih mudah bagiku daripada menghadapi musuh-musuh Allah tersebut. Jika tuan-tuan menghendaki, esok saya akan mendatangi mereka lagi dan membacakan lagi surah lainnya…”

    Mereka berkata, “Cukuplah sudah, engkau telah membacakan hal yang tabu atas mereka…!!”

    Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam hanya tersenyum melihat perbincangan di antara sahabat-sahabat beliau, tanpa banyak memberikan komentar apa-apa.

    Peristiwa tersebut menjadi pertanda awal dari apa yang diramalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, ia akan menjadi seorang yang terpelajar, yakni dalam bidang Al Qur’an dan ilmu keislaman lainnya. Sungguh suatu lompatan besar, dari seorang buruh upahan penggembala kambing, miskin dan terlunta-lunta, tiba-tiba menjadi seseorang yang ilmunya dibutuhkan banyak orang, khususnya dalam bidang Al Qur’an.

    Ia memang hampir tidak pernah terpisah dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, pengetahuannya terus tumbuh dan berkembang dalam bimbingan beliau. Ia mendengar 70 surah Al Qur’an langsung dari mulut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, dan tidak ada sahabat lainnya yang sebanyak itu mendengar langsung dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Ia juga selalu merekam (mengingat) peristiwa demi peristiwa yang berhubungan dengan surah-surah Al Qur’an. Jika ia mendengar kabar tentang seseorang yang mengetahui suatu peristiwa yang berhubungan dengan Al Qur’an, yang ia belum mengetahuinya, segera saja ia memacu untanya untuk menemui orang tersebut demi melengkapi pemahamannya.

    Tentang kemampuannya di bidang Al Qur’an, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Barang siapa yang ingin mendengar Al Qur’an tepat seperti ketika diturunkannya, hendaknya ia mendengar bacaan Al Qur’an Ibnu Ummi Abdin (yakni, Abdullah bin Mas’ud). Barang siapa ingin membaca Al Qur’an tepat seperti saat diturunkan, hendaklah ia membaca seperti bacaan Ibnu Ummi Abdin…” Beliau juga pernah bersabda, “Berpegang teguhlah kalian kepada ilmu yang diberikan oleh Ibnu Ummi Abdin…”

    Bahkan tak jarang Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memerintahkan Abdullah bin Mas’ud untuk membacakan suatu surah untuk beliau, dan beliau akan memerintahkannya berhenti setelah beliau tak dapat menahan tangis karena mendengar bacaannya. Beliau seolah dibawa “bernostalgia” dengan suasana ketika ayat tersebut diturunkan, karena bacaannya memang tepat seperti saat ayat-ayat Al Qur’an itu diturunkan.

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 2 February 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Abdullah Bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu (1) 

    Kisah Abdullah Bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu (1)

    Abdullah bin Mas’ud adalah seorang sahabat Muhajirin dari Bani Zahrah, termasuk dalam sahabat as sabiqunal awwalin, sahabat yang memeluk Islam pada masa awal didakwahkan. Perawakan tubuhnya pendek dan kurus, tidak seperti umumnya orang-orang Arab di masanya. Tetapi dalam hal ilmu-ilmu keislaman, khususnya dalam hal Al Qur’an, ia jauh melampaui para sahabat pada umumnya.

    Kisah keislamannya cukup unik, karena ia melihat dan mengalami secara langsung mu’jizat Rasulullah SAW.

    Ketika masih remaja, Abdullah bin Mas’ud bekerja mengembalakan kambing milik Uqbah bin Abi Mu’aith, salah seorang tokoh Quraisy yang sangat memusuhi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Suatu ketika saat sedang bekerja di suatu padang, dia didatangi oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan Abu Bakar yang sedang kehausan dan meminta susu. Tetapi karena hanya melaksanakan amanah menggembalakan, Abdullah bin Mas’ud pun tidak bisa memenuhi permintaan itu. Karena memang sedang kehausan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam meminta/meminjam anak kambing betina yang belum digauli pejantan, yang tentunya tidak mungkin mengeluarkan air susu.

    Ibnu Mas’ud remaja memenuhi permintaan beliau tersebut. Setelah anak kambing itu diletakkan di depan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau mengikat dan mengusap susunya dan berdoa dengan kata-kata yang tidak difahami Ibnu Mas’ud. Sungguh ajaib, kantung susunya jadi penuh dengan air susu, Abu Bakar datang dengan membawa batu cekung, dan memerah air susunya, Abu Bakar meminum susu tersebut sampai kenyang, kemudian memerah lagi dan memberikan kepada Ibnu Mas’ud. Dan terakhir Abu Bakar memerah lagi untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Setelah selesai minum, beliau berkata, “Mengempislah!!”

    Seketika kantung susu anak kambing itu mengempis kembali seperti semula, dan ia berlari kembali ke kumpulannya.

    Ibnu Mas’ud sangat takjub melihat pemandangan tersebut, ia mendekati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan minta diajarkan kata-kata yang diucapkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam tersebut. Maka beliau menyampaikan tentang risalah Islamiah yang beliau bawa, dan seketika itu Abdullah bin Mas’ud memeluk Islam.

    Nabi Shallallahu  ‘Alaihi Wassalam memandang cukup dalam kepadanya, kemudian bersabda, “Engkau akan menjadi seorang yang terpelajar..!!”

    Tentu saja Ibnu Mas’ud tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, apalagi saat itu ia hanyalah seorang miskin yang mencari upah dengan menggembala kambing milik orang lain. Tetapi di sela-sela waktu senggangnya, ia selalu mendatangi majelis pengajaran Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, sejak sebelum beliau menggunakan rumah Arqam bin Abi Arqam. Sedikit demi sedikit pengetahuannya makin bertambah, bahkan dengan cepat ia mampu menghafal dan menguasai wahyu-wahyu, yakni Al Qur’an.

     

     
  • erva kurniawan 1:33 am on 1 February 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Ja’far Bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu (2) 

    Kisah Ja’far Bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu (2)

    Ja’far-pun menyebutkan berbagai macam perintah Islam yang harus dilaksanakan dan juga larangan-larangan yang harus ditinggalkan. Kemudian ia meneruskan, “….Tetapi kaum kami memusuhi kami, menyiksa dan menimbulkan berbagai cobaan dengan tujuan mengembalikan kami kepada penyembahan berhala dan menghalalkan berbagai macam keburukan seperti dahulu. Mereka menekan dan mempersempit ruang gerak kami, menghalangi kami dari melaksanakan ajaran agama kami sehingga Nabi kami Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memerintahkan kami pergi ke negeri tuan, dan memilih tuan daripada orang lainnya…!! Kami gembira mendapat perlindungan tuan, dan kami berharap agar kami tidak didzalimi di sisi tuan, Wahai tuan Raja!!”

    Najasyi terdiam beberapa saat, merenungi penjelasan Ja’far yang panjang lebar tersebut. Kemudian ia berkata, “Apakah kalian bisa membacakan sedikit dari ajaran kalian kepadaku??”

    “Bisa, tuan Raja, ” Kata Ja’far.

    Kemudian ia membacakan beberapa ayat-ayat awal dari Surah Maryam. Najasyi dan beberapa orang uskup dengan ta’dhim mendengar bacaan Ja’far, tanpa terasa mereka berurai air mata sehingga membasahi jenggotnya.

    “Cukup,” Kata Najasyi, “Sesungguhnya ini dan apa yang dibawa Isa benar-benar keluar dari misykat yang sama…”

    Misykat adalah lubang di tembok tempat menaruh lampu, yang dari tempat itu cahaya menerangi seluruh ruangan. Dengan perkataannya itu berarti Najasyi mengakui bahwa Islam adalah agama wahyu, sebagaimana agama Nashrani yang dipeluknya.

    Kemudian Najasyi berpaling kepada dua utusan Quraisy tersebut dan berkata, “Pergilah kalian! Sungguh aku tidak akan pernah menyerahkan mereka kepada kalian, tidak akan pernah !!”

    Tak ada pilihan bagi keduanya kecuali pergi dari hadapan Najasyi. Tetapi Amr bin Ash sempat berkata pelan, “Demi Allah, besok aku akan mendatangkan mereka lagi dengan sesuatu yang bisa membinasakan mereka.”

    “Jangan lakukan itu,” Kata Ibnu Abi Rabiah, “Bagaimanapun mereka masih kerabat kita walaupun mereka menentang kita…!!”

    Tetapi Amr bin Ash tidak memperdulikan saran temannya tersebut. Esoknya ia menghadap Najasyi dan berkata, “Wahai tuan Raja, sesungguhnya mereka menyampaikan perkataan yang menyalahi Tuan dalam masalah Isa bin Maryam!!”

    Sekali lagi Najasyi mengirim utusan memanggil kaum muhajirin tersebut untuk menjelaskan masalah Isa. Mereka menjadi kaget dan risau, bagaimanapun juga mengenai Isa bin Maryam menjadi masalah yang krusial karena jelas-jelas Islam menolak ketuhanan Isa bin Maryam. Sempat terpikir untuk mencari jawaban yang bisa menyenangkan Najasyi, tetapi akhirnya semua ditepiskan, tidaklah mereka akan mengatakan sesuatu kecuali kebenaran semata.

    Ketika mereka dihadapkan dan Najasyi menanyakan hal tersebut, Ja’far berkata diplomatis, “Mengenai Isa bin Maryam, kami katakan seperti apa yang dinyatakan oleh Nabi kami Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, bahwa Isa adalah hamba Allah, Rasul-Nya, Roh-Nya dan Kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam, sang Perawan Suci…”

    Sebenarnya sama saja dan juga lebih mudah kalau dikatakan, “Isa bin Maryam bukan Tuhan”. Tetapi itu akan langsung menghantam keyakinan Raja dan para pengikutnya. Di sinilah tampak kemampuan diplomatis yang dimiliki Ja’far bin Abu Thalib. Mereka telah siap dan pasrah atas keputusan dan kemarahan Raja Najasyi. Tetapi reaksi yang terjadi jauh di luar dugaan. Tiba-tiba Najasyi turun dari tahtanya, ia mengambil sepotong ranting yang ada di tanah dan berkata, “Demi Allah, Isa bin Maryam tidak melebihi apa yang kamu katakan, walaupun hanya sepanjang ranting ini. Kalian aman di sini, jika ada orang yang menghina dan mencerca kalian, dia akan menanggung denda. Aku tidak suka seandainya memiliki gunung emas, sedangkan aku menyakiti salah satu dari kalian.”

    Sebagian pembesar dan panglimanya tampak tidak senang dengan perkataan Najasyi, mereka mendengus marah. Najasyipun berkata, “Aku tidak perduli jika kalian marah, kembalikan hadiah yang diberikan oleh kedua orang itu (utusan Quraisy), Demi Allah, Allah tidak menerima suap dariku ketika Dia memberikan amanat kerajaan ini, karena itu aku tidak perlu menerima suap dalam urusan-Nya. Tidak juga Allah menuruti kemauan orang banyak dalam urusanku, sehingga aku tidak perlu menuruti kemauan kalian dalam urusanNya.”

    Dengan terpaksa mereka mengembalikan hadiah-hadiah tersebut kepada dua utusan Quraisy, dan keduanya keluar dari majelis Najasyi dengan terhina.

    Ja’far dan para muhajirin lainnya tetap tinggal di Habasyah sampai datang perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam agar mereka segera berhijrah lagi ke Madinah, itu terjadi di bulan Dzulhijjah 6 H, atau Muharam 7 H. Tetapi sebelum mereka meninggalkan bumi Habasyah, Raja an Najasyi menyatakan dirinya memeluk Islam, sesuai dengan seruan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, di hadapan Ja’far bin Abu Thalib.

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 31 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Ja’far Bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu (1) 

    Kisah Ja’far Bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu (1)

    Ja’far bin Abu Thalib masih saudara sepupu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, putra dari Abu Thalib, paman yang mengasuh beliau dari kecil, dan menjadi pelindung Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan dakwah Islamiah ketika masih di Makkah, walaupun akhirnya meninggal dalam kekafiran.

    Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sangat menyayangi Ja’far karena ia termasuk sahabat yang paling mirip dengan beliau. Beliau sendiri pernah bersabda kepadanya, “Engkau adalah yang paling mirip dengan akhlak dan rupaku!!”

    Ja’far dan istrinya, Amma binti Umais memeluk Islam pada masa-masa awal di Makkah. Tak pelak lagi mereka mendapat tekanan dan siksaan dari para pembesar kafir Quraisy. Memang tidak seberat dialami para budak seperti Bilal, Ammar bin Yasir, Khabbab bin Aratt dan beberapa lainnya. Tetapi kehidupan mereka di tanah kelahirannya sendiri menjadi tidak nyaman dan tidak bisa bebas melaksanakan ajaran agama barunya tersebut. Karena itu, ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menghimbau sahabat-sahabatnya untuk berhijrah ke Habasyah (Ethiopia), Ja’far dan istrinya segera menyambut seruan tersebut. Bahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengangkatnya sebagai pimpinan rombongan Muhajirin pertama ini.

    Kaum kafir Quraisy merasa kecolongan karena beberapa orang muslim (sebanyak 83 lelaki dan 18/19 perempuan) lolos dari pengawasan mereka, dan berhasil hijrah ke Habasyah. Tetapi mereka tidak berdiam diri begitu saja, mereka berupaya keras bagaimana bisa mengembalikan mereka ke Makkah. Dikirimlah dua orang ahli diplomasi, Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabiah. untuk mempengaruhi Najasyi agar bersedia mengembalikan kaum muhajirin tersebut ke Makkah. Mereka menyiapkan berbagai macam hadiah dan bingkisan untuk memuluskan rencana tersebut. Setibanya di Habasyah, Amr bin Ash menemui para uskup terlebih dahulu dan memberikan berbagai hadiah, dengan harapan mereka memberikan dukungan kepadanya.

    Tiba waktu yang ditentukan, Amr bin Ash dan Ibnu Abi Rabiah menyampaikan hadiah dan bingkisan yang disiapkan untuk Najasyi, Raja Habasyah, kemudian menyampaikan maksud kedatangannya dengan gaya diplomasi yang manis dan memikat. Para uskuppun ikut berbicara, “Benar apa yang dikatakan mereka berdua, wahai Baginda Raja. Serahkan saja mereka kepada keduanya agar mereka bisa dikembalikan ke negerinya dan kepada kaum kerabatnya.”

    Tetapi Ashamah an Najasyi adalah seorang raja yang adil, berilmu dan beriman kuat (pada agama Nashrani yang dipeluknya) dan berakhlak mulia, persis seperti yang digambarkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam kepada para sahabat yang akan berhijrah ke Habasyah. Ia tidak akan mengambil keputusan apapun hanya berdasarkan apa yang disampaikan oleh Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabiah. Karena itu ia memerintahkan agar rombongan muhajirin tersebut dibawa menghadap kepadanya.

    Kaum muslimin pun mendatangi majelis Najasyi dengan hati was-was. Mereka memang telah mengetahui kehadiran dua utusan Quraisy dan sepak terjangnya dalam upaya mengembalikan mereka ke Makkah. Merekapun menunjuk Ja’far bin Abu Thalib sebagai juru bicara menghadapi Najasyi. Setibanya di majelis itu, Najasyi berkata, “Agama seperti apakah yang kalian pegangi itu, sehingga karena agama tersebut kalian memecah belah kaum kalian, dan kalian tidak juga memeluk agama kami atau agama lainnya yang kami kenali?”

    Sebagai juru bicara kaum muhajirin yang ditunjuk, Ja’far maju menghadap ke Najasyi. Apa yang dikatakannya akan menjadi penentu, apakah mereka akan tetap tinggal di Habasyah dan dengan tenang bisa melaksanakan ibadah, atau apakah mereka akan kembali ke Makkah dan menjadi sasaran siksaan dan pengejaran untuk memaksa mereka kembali ke agama jahiliahnya?

    Ja’far berkata, “Wahai Tuan Raja, dulu kami pemeluk agama jahiliah yang menyembah berhala-berhala, memakan bangkai, berbuat mesum, yang kuat menindas yang lemah, memutuskan tali persaudaraan dan berbagai pekerti buruk lainnya. Lalu Allah mengutus seorang rasul dari kalangan kami sendiri, yang sangat kami kenali nasab, kejujuran, amanah dan kesucian hatinya. Beliau menyeru kami untuk hanya menyembah Allah dan tidak menyekutukannya. Beliau juga memerintahkan kami untuk berbuat jujur, amanah…..”

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 30 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Utsman Bin Mazh’un Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Utsman Bin Mazh’un Radhiyallahu Anhu

    Utsman bin Mazh’un merupakan golongan awal yang masuk Islam, sebelum mencapai dua puluh orang, sehingga ia termasuk dalam golongan as sabiqunal awwalin. Pada awal keislamannya, ia pernah berhijrah ke Habasyah sampai dua kali untuk menghindari siksaan kaum kafir Quraisy. Ketika berhembus kabar bahwa orang-orang Quraisy telah menerima Islam, ia kembali ke Makkah. Tetapi ternyata itu hanya kabar bohong, bahkan mereka telah bersiap untuk menangkap dan menyiksa para sahabat yang baru kembali dari Habasyah tersebut. Untung bagi Utsman, pamannya Walid bin Mughirah (ayah Khalid bin Walid), menyatakan memberikan perlindungan keamanan kepadanya, sehingga orang-orang kafir Quraisy tidak bisa menyiksanya.

    Utsman bebas bergerak dan berjalan dimana saja di Makkah karena perlindungan Walid tersebut, tetapi ia melihat kaum muslimin lainnya dalam ketakutan, sebagian dalam derita penyiksaan. Ia jadi merasa tidak nyaman walau dalam keamanan, karena itu ia mengembalikan jaminan perlindungan pamannya tersebut, sehingga bisa merasakan seperti yang dirasakan oleh saudara muslim lainnya. Ketika Walid menanyakan alasannya, ia berkata, “Aku hanya ingin berlindung kepada Allah dan tidak suka kepada yang lain-Nya…”

    Suatu ketika ia melewati majelis orang kafir Quraisy yang sedang mendengarkan lantunan syair dari seorang penyair bernama Labid bin Rabiah. Seperti biasanya, para hadirin akan memberi applaus. Utsman bin Madz’un ikut memberi applaus ketika Labid menyampaikan salah satu baitnya, “Ingatlah, segala sesuatu selain Allah akan binasa.”

    Labidpun meneruskan bait syairnya, “Dan semua nikmat niscaya pasti sirna.”

    Spontan Utsman berteriak, “Dusta…!! Nikmat surga tidak akan pernah sirna…”

    Mendengar ada orang yang membantah syairnya, Labid jadi marah, ia meminta agar orang Quraisy bertindak karena ada yang mulai berani merusak forum mereka. Seseorang bangkit untuk memukul Utsman, tetapi ia membalas pukulannya tersebut, akibatnya salah satu matanya bengkak karena terpukul. Pamannya, Walid bin Mughirah, yang berada di sebelahnya berkata, “Kalau saja engkau masih berada dalam perlindunganku, matamu tidak akan mendapat musibah seperti itu!!”

    Mendengar komentar pamannya itu, Utsman justru menjawab dengan semangat, “Bahkan aku merindukan ini terjadi padaku, dan mataku yang satunya menjadi iri dengan apa yang dialami oleh saudaranya. Aku berada dalam perlindungan Dzat yang lebih mulia daripada kamu!”

    Ketika telah tinggal di Madinah, Utsman bin Mazh’un meninggal karena sakit, tidak gugur dalam pertempuran sebagai syahid. Hal ini sempat menimbulkan prasangka yang buruk, bahkan Umar bin Khaththab sempat berkata, “Lihatlah orang ini (yakni Utsman) yang sangat menjauhi kebesaran dunia (yakni zuhud), tetapi ia mati tidak dibunuh (mati syahid) !!”

    Persangkaan seperti itu terus bersemayam dalam pikiran banyak orang sampai akhirnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam wafat karena sakit dan tidak dalam pertempuran. Umar-pun berkata, “Alangkah sedihnya, orang yang paling mulia di antara kita telah meninggal dunia.”

    Prasangka seperti itupun jadi hilang, mereka tidak lagi memandang remeh kematiannya yang tidak dibunuh atau syahid di medang perang. Dan hal itu makin menguat ketika Khalifah Abu Bakar-pun meninggal juga karena sakit, tidak terbunuh di medan pertempuran. Kali ini Umar berkata, “Alangkah sedihnya, orang yang paling baik di antara kita telah meninggal dunia.”

    Utsman merupakan sahabat yang pertama meninggal di Madinah dan orang muslim pertama yang pertama kali dimakamkan di Baqi. Beberapa waktu kemudian putri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang juga istri Utsman bin Affan, Ruqayyah binti Muhammad meninggal, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Pergilah, wahai putriku, susullah saudara kita yang saleh, Utsman bin Mazh’un..!!”

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 29 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Khabbab Bin Arats Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Khabbab Bin Arats Radhiyallahu Anhu

    Khabbab bin Arats adalah seorang sahabat Muhajirin yang memeluk Islam pada masa-masa awal, ketika umat Islam belum mencapai dua puluh orang. Ia berasal dari golongan lemah, yakni hanya seorang budak yang bertugas membuat pedang atau peralatan dari besi lainnya. Sebagaimana sahabat-sahabat yang masuk Islam pada periode awal, ia mengalami penyiksaan yang tidak tanggung-tanggung. Statusnya sebagai budak membuat tuannya, Ummu Anmar bebas menyiksa dirinya. Ia diseterika dengan besi panas yang merah menyala, dipakaikan baju besi kemudian dijemur di panas padang pasir, juga pernah diseret di atas timbunan bara sehingga lemak dan darahnya mengalir mematikan bara tersebut.

    Khabbab pernah mengeluhkan beratnya siksaan yang dialaminya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau yang saat itu tengah bersandar pada Ka’bah beralaskan burdah, bersabda, “Wahai Khabbab, orang-orang yang sebelum kalian pernah disisir kepalanya dengan sisir besi, sehingga terlepas tulang dari dari daging dan uratnya, tetapi ia tidak berpaling dari agamanya. Ada pula yang dipenggal lehernya hingga kepalanya putus, namun ia tetap teguh dengan agamanya. Sungguh Allah Subhanahu Wata’ala akan memenangkan perjuangan agama ini sehingga suatu saat nanti, orang akan berkendaraan dari Shan’a hingga Hadramaut tanpa merasa takut kecuali hanya kepada Allah, sampai serigala bisa berdampingan dengan kambing (tanpa memangsanya). Namun sungguh kalian adalah orang yang suka tergesa-gesa.”

    Mendengar penuturan beliau itu, Khabbab pun ikhlas dengan penderitaannya dan berteguh dengan keimanannya. Ketika Islam telah mengalami kejayaan dan berbagai harta kekayaan melimpah, Khabbab justru duduk menangis sambil berkata, “Tampaknya Allah telah memberikan ganjaran atas segala penderitaan yang kita alami, aku khawatir tidak ada lagi ganjaran yang kita terima di akhirat, setelah kita terima berbagai macam kemewahan ini!!”

    Setelah itu Khabbab meletakkan seluruh hartanya pada bagian rumahnya yang terbuka, dan mengumumkan agar siapa saja yang memerlukan untuk mengambilnya tanpa meminta ijin dirinya. Ia berkata, “Demi Allah aku tidak akan mengikatnya dengan tali (yakni, tidak mempertahankan hartanya tersebut), dan tidak akan melarang orang yang akan meminta/mengambilnya!!”

    Setelah Khabbab terbebas dari perbudakannya karena ditebus dan dimerdekakan oleh Abu Bakar, ia berkhidmad untuk belajar Al Qur’an dan akhirnya menjadi salah seorang yang ahli (Qari) dalam Al Qur’an. Ia tengah mengajarkan Al Qur’an kepada Fathimah binti Khaththab dan suaminya ketika Umar datang menghajar keduanya karena keislamannya. Tetapi peristiwa itu justru menjadi pemicu Umar memeluk Islam.

    Khabbab hampir tidak tertinggal dalam berbagai pertempuran di medan jihad. Pada Perang Badr, ia bertugas menjaga kemah Rasulullah pada malam sebelum perang, dan ia melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam shalat semalaman hingga menjelang fajar. Ketika Khabbab bertanya tentang shalat yang sangat panjang itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menjawab, “Itu adalah shalat yang penuh harapan dan ketakutan, aku berdoa kepada Allah dengan tiga permintaan, dua dikabulkan dan satu lagi dicegahNya. Aku berdoa : Ya Allah, janganlah umatku Engkau binasakan sampai habis karena kelaparan, dan Dia mengabulkannya. Aku berdoa : Ya Allah, Janganlah umatku engkau binasakan sampai habis karena serangan musuh, dan Dia mengabulkannya. Aku berdoa : Ya Allah, janganlah terjadi perpecahan dan perselisihan di antara umatku, maka Dia mencegah doaku ini.”

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 28 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Sa’id Bin Zaid Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Sa’id Bin Zaid Radhiyallahu Anhu

    Sa’id bin Zaid al Adawy Radhiyallahu ‘Anhu merupakan kelompok sahabat yang memeluk Islam pada masa-masa awal, sehingga ia termasuk dalam kelompok as Sabiqunal Awwalun. Ia memeluk Islam bersama istrinya, Fathimah binti Khaththab, adik dari Umar bin Khaththab. Sejak masa remajanya di masa jahiliah, ia tidak pernah mengikuti perbuatan-perbuatan yang umumnya dilakukan oleh kaum Quraisy, seperti menyembah berhala, bermain judi, minum minuman keras, main wanita dan perbuatan nista lainnya. Sikap dan pandangan hidupnya ini ternyata diwarisi dari ayahnya, Zaid bin Amru bin Naufal.

    Sejak lama Zaid bin Amru telah meyakini kebenaran agama Ibrahim, tetapi tidak mengikuti Agama Yahudi dan Nashrani yang menurutnya telah jauh menyimpang dari agama Ibrahim. Ia tidak segan mencela cara-cara peribadatan dan perbuatan jahiliah dari kaum Quraisy tanpa rasa takut sedikitpun. Ia pernah bersandar di dinding Ka’bah ketika kaum Quraisy sedang melakukan ritual-ritual penyembahannya, dan ia berkata, “Wahai kaum Quraisy, apakah tidak ada di antara kalian yang menganut agama Ibrahim selain aku??”

    Zaid bin Amru juga sangat aktif menentang kebiasaan kaum Quraisy mengubur hidup-hidup anak perempuannya, karena dianggap sebagai aib, seperti yang pernah dilakukan Umar bin Khaththab di masa jahiliahnya. Ia selalu menawarkan diri untuk mengasuh anak perempuan tersebut. Ia juga selalu menolak memakan daging sembelihan yang tidak disebutkan nama Allah saat penyembelihannya, dan juga penyembelihan untuk berhala-berhala.

    Seakan-akan ia memperoleh ilham, ia pernah berkata kepada sahabat dan kerabatnya, “Aku sedang menunggu seorang Nabi dari keturunan Ismail, hanya saja, rasanya aku tidak akan sempat melihatnya, tetapi saya beriman kepadanya dan meyakini kebenarannya…..!!”

    Zaid bin Amru sempat bertemu dan bergaul dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sebelum beliau dikukuhkan sebagai Nabi dan Rasul, sosok pemuda ini (yakni, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam) sangat mengagumkan bagi dirinya, di samping akhlaknya yang mulia, pemuda ini juga mempunyai pandangan yang sama dengan dirinya tentang kebiasaan dan ritual jahiliah kaum Quraisy.

    Tetapi Zaid meninggal ketika Kaum Quraisy sedang memperbaiki Ka’bah, yakni, ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam berusia 35 tahun.

    Dengan didikan seperti itulah Sa’id bin Zaid tumbuh dewasa, maka tak heran ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menyampaikan risalahnya, ia dan istrinya langsung menyambut seruan beliau. Tak ada ketakutan dan kekhawatiran walau saat itu kaum Quraisy melancarkan siksaan yang tak terperikan kepada para pemeluk Islam, termasuk Umar bin Khatthab, kakak iparnya sendiri yang merupakan jagoan duel di pasar Ukadz. Hanya saja ia masih menyembunyikan keislamannya dan istrinya. Sampai suatu ketika Umar yang bertemperamen keras itu mengetahuinya juga.

    Ketika itu Sa’id dan istrinya sedang mendapatkan pengajaran al Qur’an dari sahabat Khabbab bin Arats, tiba-tiba terdengar ketukan, atau mungkin lebih tepat gedoran di pintu rumahnya. Ketika ditanyakan siapa yang mengetuk tersebut, terdengar jawaban yang garang, “Umar..!!”

    Suasana khusyu’ dalam pengajaran al Qur’an tersebut menjadi kacau, Khabbab segera bersembunyi sambil terus berdoa memohon pertolongan Allah untuk mereka. Sa’id dan istrinya menuju pintu sambil menyembunyikan lembaran-lembaran mushaf di balik bajunya. Begitu pintu dibuka oleh Sa’id, Umar melontarkan pernyataan keras dengan sorot mata menakutkan, “Benarkan desas-desus yang kudengar, bahwa kalian telah murtad?”

    Sebelum kejadian itu, sebenarnya Umar telah membulatkan tekad untuk membunuh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Kemarahannya telah memuncak karena kaum Quraisy jadi terpecah belah, mengalami kekacauan dan kegelisahan, penyebab kesemuanya itu adalah dakwah Islamiah yang disampaikan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Dalam pemikiran Umar, jika ia menyingkirkan/membunuh beliau, tentulah kaum Quraisy kembali tenang seperti semula. Tetapi di tengah perjalanan, ia bertemu dengan Nu’aim bin Abdulah yang memberitahukan kalau adiknya, Fathimah dan suaminya telah memeluk Islam. Nu’aim menyarankan agar ia mengurus kerabatnya sendiri saja, sebelum mencampuri urusan orang lain. Karena itu, tak heran jika kemarahan Umar itu tertumpah kepada keluarga adiknya ini.

    Sebenarnya Sa’id melihat bahaya yang tampak dari sorot mata Umar. Tetapi keimanan yang telah merasuk seolah memberikan tambahan kekuatan yang terkira. Bukannya menolak tuduhan, ia justru berkata, “Wahai Umar, bagaimana pendapat anda jika kebenaran itu ternyata berada di pihak mereka ??”

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 27 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Abu Ubaidah Bin Harits Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Abu Ubaidah Bin Harits Radhiyallahu Anhu

    Sebelum perang Badar mulai pecah dan dua pasukan sedang berhadapan, tokoh kafir Quraisy, Utbah bin Rabiah, menantang duel satu persatu.

    Majulah putranya, Walid bin Utbah dan Ali bin Abi Thalib maju menghadapinya dan Ali berhasil membunuhnya.

    Kemudian majulah saudaranya Syaibah bin Rabiah dan paman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, Hamzah bin Abdul Muthalib melayani tantangannya dan dengan mudah membunuhnya pula.

    Melihat anak dan saudaranya tewas di hadapannya, Utbah sendiri yang maju menuntut balas. Kali ini ia dihadapi oleh Ubaidah bin Harits. Mereka laksana dua tiang yang kokoh, saling beradu pukulan dan tampaknya kekuatan mereka seimbang. Ubaidah berhasil memukul pundak Utbah hingga patah, tetapi Utbah berhasil memotong betis kaki Ubaidah, keduanya tampak sekarat.

    Ali dan Hamzah maju membunuh Utbah, dan mereka membawa Ubaidah ke tempat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sedang berteduh.

    Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam meletakkan kepala Ubaidah di paha beliau, beliau mengusap wajahnya yang penuh debu. Ubaidah memandang beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah, jika Abu Thalib melihat keadaanku ini, ia pasti akan mengetahui bahwa aku lebih berhak atas kata-kata yang pernah diucapkannya tersebut.

    Ubaidah memang masih paman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan sepupu dari Abu Thalib. Ketika kaum kafir Quraisy berniat untuk membunuh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, bahkan mereka menawarkan seorang anak muda sebagai pengganti. Abu Thalib dengan tegas berkata, “(Kalian berdusta jika mengatakan) bahwa kami akan menyerahkannya (yakni Muhammad, tanpa kami melindunginya) sampai kami terkapar di sekelilingnya dan bahkan (untuk itu akan) menelantarkan anak-anak dan istri-istri kami sendiri.”

    Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam tersenyum mendengar perkataannya, dan Ubaidah bertanya, “Apakah aku syahid, ya Rasulullah?””Ya,” Kata beliau, “Dan aku akan menjadi saksi untukmu!!”

    Sesaat kemudian Ubaidah meninggal, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menguburkannya di Shafra’, sebuah wadi antara Badar dan Madinah. Beliau sendiri yang turun ke kuburnya, dan beliau tidak pernah turun ke kuburan siapapun sebelumnya kecuali pada pemakaman Ubaidah bin Harits ini.

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 26 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Abu Salamah Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Abu Salamah Radhiyallahu Anhu

    Abu Salamah Radhiyallahu ‘Anhu, atau nama aslinya Abdullah bin Abdul Asad, memeluk Islam pada masa permulaan Islam, begitu juga dengan istrinya, Ummu Salamah. Sebagian riwayat menyebutkan, ia orang ke sepuluh yang memeluk Islam.

    Karena tekanan dan gangguan yang begitu hebat dari kaum Quraisy, mereka berdua ikut hijrah ke Habasyah. Disanalah lahir anak mereka yang pertama Salamah.

    Setelah beberapa waktu di Habasyah, mereka kembali lagi ke Makkah.

    Ketika datang perintah hijrah ke Madinah, Abu Salamah dan Istrinya, Ummu Salamah pun memenuhi perintah ini, mereka berangkat menaiki onta. Anak satu-satunya yang masih kecil, Salamah dalam gendongan ibunya di dalam sekedup.

    Tetapi kaum kerabat Ummu Salamah, Bani Mughirah, tidak rela jika salah satu anggota kaumnya pergi ke Madinah, karena itu beberapa orang mengejar Abu Salamah dan merebut kendali onta yang membawa istri dan anaknya, mereka berkata, “Ini jiwamu, engkau memenangkannya atas kami. Tidakkah engkau tahu, atas dasar apa kami membiarkanmu berjalan dengannya di negeri ini?”

    Abu Salamah pun tidak bisa berbuat apa-apa. Tetapi tidak cukup sampai disitu, kerabat Abu Salamah dari Banu Abdul Asad ternyata tidak rela kalau Salamah sebagai bagian dari kaumnya berada di Banu Mughirah, karena itu mereka merebutnya dari Ummu Salamah. Setelah berhasil, ternyata mereka tidak membiarkan Salamah untuk ikut ayahnya hijrah ke Madinah.

    Walau kecintaannya begitu besar terhadap istri dan anaknya, perintah Allah dan RasulNya di atas segalanya. Abu Salamah tetap meneruskan hijrah ke Madinah tanpa orang-orang yang dicintainya. Setelah sekitar satu tahun berpisah, barulah Ummu Salamah dibiarkan kaumnya menyusul suaminya ke Madinah. Salamahpun diberikan bani Abdul Asad pada Ummu Salamah untuk dibawa ke Madinah.

    Abu Salamah ikut terjun dalam perang Badar dan Uhud. Pada perang Uhud, ia mengalami luka parah, yang berakibat ia menderita berkepanjangan.

    Ketika lukanya belum sembuh sepenuhnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menunjuk dirinya untuk memimpin pasukan kecil berkekuatan 150 orang sahabat, untuk menyerang Bani Asad bin Khuzaimah.

    Bani Asad menghimpun kekuatan secara rahasia untuk menyerang Madinah, yang dikoordinasikan oleh dua orang bersaudara, Thalhah dan Salamah bin Khuwailid.

    Pasukan yang dipimpin Abu Salamah ini berhasil melumpuhkan Bani Asad. Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharam tahun 4 Hijriah. Tetapi akibat pertempuran ini, luka-lukanya pada perang Uhud yang belum sepenuhnya sembuh, menjadi kambuh kembali, bahkan semakin parah, sehingga akhirnya ia menemui syahid pada bulan Jumadil Akhir tahun 4 Hijriah.

    Dari pernikahannya dengan Ummu Salamah, ia mempunyai empat anak. Selain Salamah, anak lainnya adalah Umar, Durah, dan Zainab. Zainab ini masih di dalam kandungan ketika Abu Salamah wafat.

    Ketika masih hidupnya, Ummu Salamah pernah menginginkan agar mereka saling berjanji untuk tidak menikah lagi, jika salah satu dari mereka meninggal terlebih dahulu. Tetapi Abu Salamah menginginkan agar Ummu Salamah taat kepadanya sebagai suaminya, dan ia berkata, “Jika aku meninggal dahulu, menikahlah engkau.”

    Setelah itu Abu Salamah berdoa, “Ya Allah, apabila saya meninggal nanti, nikahkanlah Ummu Salamah dengan lelaki yang lebih baik daripada saya, yang tidak akan menjadikan hatinya bersedih, yang tidak akan memberikan kesulitan kepadanya.”

    Allah mengabulkan doa Abu Salamah ini, dan sepeninggal dirinya, ternyata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam berkenan untuk menikahi Ummu Salamah.

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 25 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Abu Ubaidah Bin Jarrah Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Abu Ubaidah Bin Jarrah Radhiyallahu Anhu

    Ketika itu waktunya shalat dhuhur, Umar berusaha menampilkan dirinya di dekat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Namun walau Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam telah melihat dirinya, beliau masih mencari-cari seseorang. Ketika pandangan beliau jatuh pada Abu Ubaidah, beliau bersabda, “Wahai Abu Ubaidah, pergilah berangkat bersama mereka, dan selesaikan apabila terjadi perselisihan di antara mereka….!”

    Inilah dia orang terpercaya itu, dan para sahabat lainnya tidak heran kalau ternyata Abu Ubaidah yang dimaksudkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Beberapa kali, dalam beberapa kesempatan berbeda, beliau menyebut Abu Ubaidah sebagai ‘Amiinul Ummah’, orang kepercayaan ummat Islam ini.

    Abu Ubaidah-pun menyertai rombongan tersebut kembali ke Najran, sebagaimana diperintahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Sebagian riwayat menyebutkan, dua dari tiga pemimpinnya masuk Islam setelah mereka tiba di Najran, Yakni Al Aqib atau Abdul Masih, pemimpin yang mengendalikan roda pemerintahan, dan As Sayyid atau Al Aiham atau Syurahbil, pemimpin yang mengendalikan masalah peradaban dan politik. Lambat laun Islam menyebar di Najran berkat bimbingan ‘Amiinul Ummah’ ini. Bahkan akhirnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengirimkan Ali bin Thalib untuk membantu Abu Ubaidah dalam urusan Shadaqah dan Jizyah dari masyarakat Najran yang makin banyak yang memeluk Islam.

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 24 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Al Arqam Bin Abil Arqam Radhiyallahu Anhu… 

    Kisah Al-Arqam Bin Abil Arqam Radhiyallahu Anhu

    Al-Arqam bin Abil Arqam termasuk orang – orang yang pertama memeluk Islam. Ada ulama yang mengatakan ia termasuk orang ketujuh yang memeluk Islam, sementara ulama yang lain mengatakan ia termasuk orang kesebelas. Namun yang jelas, rumah Al-Arqam adalah rumah tempat pusat dakwah pertama. Di rumah yang penuh berkah inilah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengajarkan Islam secara diam – diam kepada para pemeluk Islam pertama.

    Di saat Islam baru mulai diajarkan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memerlukan sebuah tempat yang tenang untuk mengajarkan agama Allah ini. Maklumlah, saat itu seperti pemeluk Islam dimusuhi dan disiksa kaum musyrik. Akhirnya beliau memutuskan bahwa rumah Al-Arqam bin Abil Arqam yang terletak di dataran Shafa ini adalah tempat yang cocok. Tempat ini letaknya agak terpencil dan tak meimbulkan kecurigaan. Terbukti selama rumah itu digunakan tak ada satu pun tindakan penggerebekan dilakukan orang kafir.

    Banyak sekali orang memeluk Islam di rumah Al-Arqam yang diberkahi itu. Salah satu orang terakhir yang memeluk Islam di tempat itu adalah Umar bin Khattab. Setelah Umar memeluk Islam, dakwah mulai dilakukan secara terang – terangan. Ketika itu jumlah Kaum Muslimin telah mencapai 40 orang. Jadi sebelum itu, rumah Arqam telah menjadi sekolah dan tempat berlindung bagi 40 orang pemeluk Islam pertama.

    Ke – 40 orang pemeluk Islam pertama itu dikenal dengan nama Assabiqunal Awwalun. Mereka beriman ketika semua orang lain masih ingkar. Kelak mereka harus akan mengalami hijrah ke seberang lautan di Habasyah dan menempuh berbagai ujian berat lainnya.

    Al-Arqam bin Abil Arqam termasuk kelompok Muhajirin pertama yang hijrah ke Madinah. Ia juga terjun dalam Pertempuran Badar. Di perang ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memberikan rampasan perang berupa pedang kepada Al-Arqam. Baktinya kepada Islam diteruskan dengan terjun ke semua pertempuran genting yang lain.

    Para sejarawan masih berselisih tentang kapan Al-Arqam wafat. Ada yang bilang ia wafat pada hari yang sama dengan wafatnya Abu Bakar Ash-Shidiq. Ada juga yang mengatakan ia wafat setelah Abu Bakar di usia 80 tahun lebih. Ketika wafat, salah satu yang hadir dalam menshalatkan jenazahnya adalah Sa’ad bin Abi Waqqash. Rupanya wasiat Al-Arqam kepada Sa’ad adalah bila ia wafat, Sa’ad diminta menshalati dan mendoakan jenazahnya.

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 23 January 2020 Permalink | Balas  

    Kisah Abdurrahman Bin Auf Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Abdurrahman Bin Auf Radhiyallahu Anhu

    Abdurrahman bin Auf termasuk dalam kelompok sahabat as Sabiqunal Awwalun, ia memeluk Islam pada hari-hari pertama Islam didakwahkan, yakni lewat perantaraan Abu Bakar ash Shiddiq. Ia juga termasuk dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga ketika masih hidupnya. Sembilan orang lainnya adalah empat khalifah Khulafaur Rasyidin, Abu Bakar, Umar Utsman dan Ali, kemudian Abu Ubaidah bin Jarrah, Sa’d bin Abi Waqqash, Sa’id bin Zaid, Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam Radhiyallahu ‘Anhuma.

    Abdurrahman bin Auf termasuk seorang sahabat yang selalu berhasil dalam perniagaannya, sehingga hartanya selalu berlimpah. Apapun bidang usaha yang ditekuninya selalu memberikan keuntungan, sehingga ia sempat takjub atas dirinya sendiri, dan berkata, “Sungguh mengherankan diriku ini, seandainya aku mengangkat batu tentulah kutemukan emas dan perak di bawahnya.”

    Namun kekayaannya yang melimpah tidak menjadikannya takabur. Orang yang belum pernah mengenalnya, bila bertemu untuk pertama kali, mereka tidak akan bisa membedakan antara dirinya sebagai tuan dan pelayan/pegawainya, karena kesederhanaan penampilannya.

    Pernah ia dipusingkan dengan hartanya yang begitu berlimpah sehingga ia begitu gelisah dan tidak bisa tidur. Istrinya yang bijak dan penuh keimanan memberikan saran yang bisa menentramkan hatinya. Sang istri berkata, “Hendaknya hartamu engkau bagi tiga, dengan sepertiganya, engkau carilah saudaramu seiman yang berhutang dan lunasilah hutang mereka. Sepertiganya lagi, carilah saudaramu seiman yang memerlukan uang dan berilah mereka pinjaman. Dan sepertiganya lagi, engkau pakai sebagai modal perniagaanmu…”

    Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menyeru agar umat Islam bersedekah untuk mendanai Perang Tabuk, Abdurrahman bin Auf menyedekahkan seluruh hartanya yang berjumlah sekitar 200 uqiyah atau 8000 dirham. Umar bin Khaththab mengadukan sikap Abdurrahman kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam karena tidak menyisakan apapun untuk keluarganya, sedangkan ia sendiri menyedekahkan separuh hartanya sebanyak 100 uqiyah, separuhnya lagi ditingalkan untuk keperluan keluarganya.

    Karena pengaduan Umar ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memanggilnya, kemudian bertanya, “Wahai Abdurrahman, apakah engkau meninggalkan sesuatu untuk keluarga yang engkau tinggalkan!”

    “Benar, ya Rasulullah!” Kata Abdurrahman, “Aku telah meninggalkan untuk keluargaku sesuatu yang lebih baik dan lebih banyak daripada apa yang kusedekahkan!”

    “Berapa?” Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bertanya.

    “Kebaikan dan rezeqi yang dijanjikan oleh Allah dan RasulNya!”

    Rasulullah Shallallahu’ ‘Alaihi Wassalam membenarkan sikapnya dan menerima alasan Abdurrahman tersebut.

    ***

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 22 January 2020 Permalink | Balas  

    Sunnah Wudhu’ 

    Sunnah Wudhu’

    Berikut sunnah-sunnah wudhu’:

    1. Bersiwak

    Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

    “Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya kuperintahkan mereka bersiwak tiap kali berwudhu” (HR. Abu Dawud no. 46, At Tirmidzi no. 22 dan lainnya, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih At Tirmidzi no. 21)

    1. Membasuh kedua telapak tangan tiga kali pada awal wudhu’ dan menyela-nyela jari jemarinya.

    Dasarnya adalah hadits Utsman bin Affan ra. tentang tata cara wudhu’ Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam, “Utsman bin Affan minta diambilkan air wudhu lalu berwudhu. Dia basuh kedua telapak tangannya tiga kali“. (HR. Muslim no. 226 dan lainnya)

    1. Mengabungkan berkumur dan menghirup air ke dalam hidung dengan segenggam air sebanyak tiga kali.

    Abdullah bin Zaid berkata, “Beliau ShallallaHu alaiHi wa sallam berkumur dan menghirup air ke dalam hidung dari satu genggam tangan. Dan beliau melakukannya sebanyak tiga kali” (HR. Muslim no. 235)

    1. Mendahulukan yang kanan dari pada yang kiri.

    Aisyah ra. berkata, “Rasulullah suka mendahulukan bagian kanan saat memakai sandal, menyisir rambut, bersuci dan dalam semua hal” (HR. Al Bukhari, Muslim no. 4122 dan An Nasa-i I/78)

    1. Menggosok

    Abdullah bin Zaid berkata, “Nabi diberi tiga mudd air, beliau lalu berwudhu dan menggosok kedua tangannya” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Ibni Khuzaimah no. 118)

    1. Membasuh 3 kali.

    Membasuh tiga kali merupakan sunnah. Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam juga pernah berwudhu satu kali-satu kali (HR. Al Bukhari no. 157, dari Ibnu Abbas ra.) dan dua kali-dua kali (HR. Abu Dawud no. 136, At Tirmidzi no. 430 dan lainnya, dari Abu Hurairah ra.)

    1. Berdoa setelah selesai.

    Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang diantara kalian berwudhu, lalu menyempurnakan wudhunya, kemudian berdoa,

    ‘AsyHadu al-laa ilaaHa illallaHu wahdaHu laa syariikalaH wa asyHadu anna muhammadan ‘abduHu wa rasullluHu’

    Melainkan dibukakan baginya delapan pintu surga, dia memasukinya dari arah mana saja yang ia kehendaki” (HR. Muslim no. 234)

    1. Shalat dua raka’at setelah wudhu

    Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam berkata kepada Bilal ra. ketika hendak shalat shubuh,

    “Wahai Bilal beritahukanlah kepadaku, amalan apa yang paling engkau harapkan yang engkau kerjakan di dalam Islam, karena sesungguhnya aku mendengar suara kedua sandalmu di hadapanku di Surga”

    Dia (Bilal ra.) menjawab,

    “Tidaklah aku melakukan amalan yang paling aku harapkan (pahalanya), hanya saja aku tidaklah bersuci, baik saat petang maupun siang, melainkan aku shalat (sunnah) dengan apa-apa yang sudah dituliskan tentang shalatku” (HR. Al Bukhari no. 1149 dan Muslim no. 2458)

    Maraji’:

    Panduan Fiqh Lengkap Jilid 1, Abdul ‘Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 21 January 2020 Permalink | Balas  

    Rukun Wudhu’ 

    Rukun Wudhu’

    Allah Ta’ala berfirman,

    “Hai orang-orang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki” (QS Al Maa-idah : 6)

    Berikut Rukun-rukun wudhu,

    1. Berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung.

    Berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung termasuk bagian dari muka atau wajah hingga wajiblah keduanya. (As Sa-iluul Jarraar I/81)

    Tentang berkumur kumur dalam berwudhu Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam telah memerintahkan,

    “Idzaa tawadhdha’ famadhmidh” yang artinya “Jika engkau berwudhu, maka berkumurlah” (HR. Abu Dawud no. 142, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan Abi Dawud no. 129)

    Begitu pula dengan menghirup air ke dalam hidung, Beliau ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Jika salah seorang diantara kalian berwudhu, jadikanlah (hiruplah) air ke dalam hidungnya, lalu semburkanlah” (HR. Abu Dawud no. 140 dan An Nasa-i I/66, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih al Jaami’ush Shaghiir)

    1. Membasuh muka.
    2. Menyela-nyela jenggot.

    Dari Anas bin Malik ra., ia berkata, “Jika Rasulullah berwudhu, beliau ambil segenggam air lalu memasukkannya ke bawah dagunya, dengan air itu belia menyela-nyelai jenggotnya. Beliau lantas bersabda, ‘Begitulah Rabbku memerintahkanku’” (HR. Abu Dawud no. 145 dan lainnya, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Irwaa’ al Ghaliil no. 92)

    1. Membasuh kedua tangan hingga siku

    Imam Asy Syafi’i berkata dalam kitabnya Al Umm I/25, “Membasuh kedua tangan tidaklah cukup kecuali dengan membasuh antara ujung-ujung jemari hingga siku. Dan tidaklah cukup kecuali dengan membasuh sisi luar, dalam dan samping kedua tangan, hingga sempurnalah membasuh keduanya. Jika meninggalkan sedikit saja dari bagian ini, maka tidak boleh”

    1. Mengusap kepala, termasuk mengusap kedua telinga.

    Wajib mengusap kepala secara merata, karena perintah mengusap kepala dalam Al Qur’an masih global maka penjelasannya dikembalikan ke sunnah. Disebutkan dalam Kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dan yang lainnya bahwa Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam mengusap kepala beliau secara merata. Disini terdapat dalil atas wajibnya mengusap kepala secara sempurna.

    [Imam Al Bukhari memberikan bab tentang mengusap kepala secara keseluruhan atau sempurna pada Kitab Shahihnya yaitu bab mashir ra’si kulliHi liqaulillaHi ta’alaa wamsahuu biru-uusikum (bab mengusap kepala seluruhnya karena firman Allah Ta’ala, “Dan usaplah kepalamu”)]

    Lalu bagaimana dengan hadits dari Al Mughirah bin Syu’bah ra. yang menyebutkan bahwa Nabi ShallallaHu alaiHi wa sallam mengusap bagian ubun-ubun dan bagian atas sorban beliau ?

    [Berkata Al Mughirah bin Syu’bah ra., “Bahwa Nabi berwudhu’, maka disapunya ubun-ubun serta serbannya, begitu pun kedua sepatunya” (HR. Muslim)]

    Jawabannya, “Beliau ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam mencukupkan mengusap ubun-ubun saja karena telah membasuh sisa kepala dengan sempurna, yaitu dengan cara mengusap bagian atas sorban. Inilah pendapat kami. Bukan berarti ini adalah dalil atas bolehnya mencukupkan mengusap ubun-ubun atau sebagian kepala tanpa menyempurnakannya dengan mengusap bagian atas sorban” (Kitab Tafsiir Ibni Katsiir II/24, dengan pengubahan)

    Begitu pula dengan kedua telinga, karena ia merupakan bagian dari kepala maka wajiblah untuk mengusapnya. Dasarnya adalah sabda Beliau ShallallaHu alaiHi wa sallam,

    “Al udzunaani minar ra’si” yang artinya “Kedua telinga adalah bagian dari kepala” (HR. Ibnu Majah no. 443, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan Ibni Majah no. 357)

    1. Membasuh kedua kaki dari jari kaki hingga ke mata kaki dan menyela-nyela jari jemarinya, berdasarkan sabda Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam,

    “Wa khallil baynal ashaabi’” yang artinya “Dan sela-selailah jari-jemari” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan Abi Dawud no. 629)

    Maraji’:

    Panduan Fiqh Lengkap Jilid 1, Abdul ‘Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 20 January 2020 Permalink | Balas  

    Syarat Sah Wudhu 

    Syarat Sah Wudhu

    Ada 3 syarat sah Wudhu, yaitu :

    1. Niat

    Berdasarkan sabda Beliau ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam, “Innamal a’maalu binniyyaat” yang artinya “Sesungguhnya perbuatan itu tergantung niat” (HR. Al Bukhari no. 1, Muslim no. 1907, Abu Dawud no. 2186, At Tirmidzi no. 1698, Ibnu Majah no. 4227 dan An Nasa-i I/59)

    Tidak disyari’atkan mengucapkannya, karena Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam tidak pernah mengerjakannya.

    1. Mengucap basmalah

    Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

    “Laa shalaata liman laa wudhuu-a laHu wa laa wudhuu-a liman lam yadzkurismallaHu ‘alaiHi” yang artinya “Tidak sah shalat seseorang tanpa wudhu. Dan tidak ada wudhu untuk seseorang yang tidak menyebut nama Allah” (HR. Abu Dawud no. 101 dan Ibnu Majah no. 399, dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan Ibni Majah no. 320)

    1. Berkesinambungan (tidak terputus)

    Berdasarkan hadits Khalid bin Ma’dan,

    “Nabi melihat seorang laki-laki sedang melakukan shalat, sedangkan pada punggung telapak kakinya ada bagian sebesar uang dirham yang tidak terkena air. Nabi lantas menyuruhnya mengulang wudhu dan shalatnya” (HR. Abu Dawud no. 173, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan Abi Dawud no. 161)

    Maraji’ :

    Panduan Fiqh Lengkap Jilid 1, Abdul ‘Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 19 January 2020 Permalink | Balas  

    Tidak Berbuat Adil di Antara Para Istri 

    Tidak Berbuat Adil di Antara Para Istri

    Oleh : Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Di antara yang diwasiatkan Allah kepada kita dalam kitabNya yang mulia adalah berbuat adil di antara para istri. Allah Tabaroka wata’ala berfirman:

    “Dan kamu sekali–kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian. Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai) sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecenderungan) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (An Nisa’: 129).

    Keadilan yang dituntut adalah dalam membagi giliran menginap di masing –masing istri, dalam memberikan hak nafkah, pakaian, dan tempat tinggal.

    Jadi keadilan yang dituntut bukanlah dalam soal perasaan cinta yang ada di hati, sebab seorang hamba tidak akan mampu menguasai perasaan hatinya.

    Sebagian orang yang berpoligami ada yang lebih cenderung dan berat kepada salah seorang istrinya, sehingga tak mengacuhkan yang lain. Seperti memberinya giliran menginap atau nafkah lebih banyak dari pada istrinya yang lain. Ini jelas suatu perbuatan haram. Pada hari kiamat orang tersebut akan mendapati dirinya sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam :

    “barangsiapa memiliki dua istri dan ia cenderung kepada salah seorang dari keduanya, niscaya ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan sisi badannya condong” (HR Abu Dawud, 2/601; shahihul jami’ hadits No : 6491)

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 18 January 2020 Permalink | Balas  

    Mengauli Istri Lewat Dubur (Anal Seks) 

    Mengauli Istri Lewat Dubur (Anal Seks)

    Oleh : Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Sebagian orang yang memiliki kelainan (abnormal) dari kalangan orang-orang yang lemah iman tidak segan-segan menggauli istrinya lewat dubur (tempat keluarnya kotoran).

    Perbuatan tersebut termasuk dosa besar. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melaknat para pelaku perbuatan keji tersebut.

    Dalam hadits marfu’ dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu disebutkan:

    “(Sungguh) terlaknat orang yang menggauli istrinya lewat duburnya” (HR Ahmad,2/479; dalam shahihul jam’ hadits no: 5865)

    Bahkan lebih dari itu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

    “Barangsiapa yang menggauli istri (yang sedang haid) atau menggauli diduburnya atau mendatangi dukun maka ia telah kufur (mengingkari) dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad” (HR At Tirmmidzi, dari Abu Hurairah dalam shahihul jami’, hadits No:5918)

    Meskipun wanita normal enggan melayani kelainan suaminya, tapi pada akhirnya banyak yang tak berdaya, sebab tak jarang suami mengancam akan menceraikannya jika ia menolak.

    Sebagian lain menipu istrinya yang malu bertanya tentang hukum masalah tersebut dengan mengatakan, hal itu halal dan dibolehkan. Mereka berdalil:

    “Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu ini bagaimana saja kamu kehendaki” (Al Baqarah: 223).

    Padahal kita tidak boleh menafsirkan maksud ayat di atas sesuai dengan keinginan kita, tetapi kita harus merujuk kepada sunnah. Sebab sebagaimana telah dimaklumi bersama, sunnah adalah penjelas Al Qur’an. Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan, suami beleh sekehendaknya menggauli istri, dari arah depan atau belakang selama di tempat jalan kelahiran anak (vagina). Dan tak diragukan lagi dubur atau anus bukanlah jalan kelahiran anak tetapi jalan keluarnya kotoran manusia.

    Di antara sebab tejadinya perbuatan dosa ini adalah saat memasuki kehidupan rumah tangga yang suci, mereka masih membawa warisan jahiliyah yang kotor berupa berbagai adegan menyimpang yang diharamkan. Atau masih membawa ingatan dan imajinasi adegan film-film porno tanpa taubat kepada Allah.

    Perbuatan ini tetap haram, meskipun dilakukan atas dasar suka sama suka oleh suami istri. Karena saling merelakan untuk mengerjakan perbuatan haram tidak menjadikannya sebagai berbuatan halal.

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 17 January 2020 Permalink | Balas  

    Menggauli Istri Saat Haid 

    Menggauli Istri Saat Haid

    Oleh: Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

    “Mereka bertanya kepadamu tentang haid, katakanlah: haid itu adalah kotoran. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka, sehingga mereka suci” (Al Baqarah: 222).

    Karena itu seorang suami tidak halal menggauli istrinya sehingga ia mandi setelah darah haidnya berhenti. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

    “Apabila mereka telah suci, maka gaulilah mereka di tempat yang diperintahkan oleh Allah kepadamu, sesungguhnya Allah senang kepada orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang berbuat suci” (Al Baqarah: 222).

    Mengenai kotornya perbuatan menggauli istri saat haid itu disebutkan dalam sabda nabi Shallallahu’alaihi wasallam:

    “Barangsiapa menggauli istri (yang sedang) haid atau menggauli di duburnya atau mendatangi dukun maka ia telah kufur (mengingkari) dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad” (HR Al Tirmidzi dari Abu Hurairah:1/243; dalam shahihul jami’ hadits No: 5918)

    Tetapi orang yang melakukannya dengan tanpa disengaja serta tidak mengetahui kondisi sang istri maka ia tidak berdosa. Berbeda jika ia melakukannya dengan sengaja serta mengetahui kondisi sang istri maka wajib baginya membayar kaffarat, menurut sebagian ulama yang menganggap shahih hadits tentang kaffarat. Yakni dengan membayar satu dinar atau setengahnya.

    Dalam penerapan kafarat ini, para ulama juga berbeda pendapat, sebagian berkata, ia boleh memilih antara keduanya (satu atau setengah dinar). Sebagian lain berpendapat, jika ia menggauli di awal haid (ketika darah haid masih banyak keluar) maka ia membayar satu dinar, dan jika ia menggaulinya di akhir haid saat darah haid tinggal sedikit atau sebelum mandi dari haid maka ia membayar setengah dinar.

    Menurut ukuran umum, satu dinar adalah 4,25 gram emas, orang yang bersangkutan boleh bersedekah dengannya atau dengan uang yang senilai dengannya.

    Berkata Syaikh Ibn Baz: Yang benar adalah dia boleh memilih antara membayar kaffarat satu dinar atau setengahnya. Baik di awal haid atau di akhirnya. Adapun dinar adalah senilai 4/6 junaih Saudi, sebab satu junaih Saudi sama dendan 1, ¾ dinar.

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 16 January 2020 Permalink | Balas  

    Dhihar 

    Dhihar

    Oleh: Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Di antara ungkapan jahiliyah yang masih tersebar di kalangan umat ini adalah ungkapan yang menjerumuskan kepada persoalan zhihar. Seperti ucapan seorang suami kepada istrinya:

    “Bagiku, engkau seperti punggung ibuku; atau engkau haram bagiku sebagaimana haramnya saudara perempuanku”. Atau ucapan-ucapan kotor lain yang dibenci syariat, karena di dalamnya mengandung penganiayaan terhadap wanita.

    Dalam hal ini Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Orang-orang yang menzhihar istrinya di antara kamu (menganggap istrinya seperti ibunya, padahal) tiadalah istri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun” (Al Mujadilah: 2)

    Syariat Islam menjadikan Kaffarat zhihar demikian berat, yakni hampir menyerupai kaffarat pembunuhan yang tidak disengaja demikian pula menyerupai kaffarat senggama pada siang hari di bulan Ramadhan.

    Seorang yang telah menzhihar istrinya, tidak boleh ia mendekati istrinya kecuali setelah membayar kaffarat tersebut.

    Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Orang-orang yang menzhihar istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Barang siapa yang tidak mendapatkan (budak) maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajib atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan RasulNya. Dan itulah hukum-hukum Allah. Dan bagi orang yang kafir ada siksaan yang sangat pedih (Al Mujadilah: 3-4).

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 15 January 2020 Permalink | Balas  

    Orang – orang yang Didoakan oleh Malaikat 

    Orang – orang yang Didoakan oleh Malaikat

    Oleh : Syaikh Dr. Fadhl Ilahi

    Allah SWT berfirman, “Sebenarnya (malaikat – malaikat itu) adalah hamba – hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah – perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafa’at melainkan kepada orang – orang yang diridhai Allah, dan mereka selalu berhati – hati karena takut kepada-Nya” (QS Al Anbiyaa’ 26-28)

    Inilah orang – orang yang didoakan oleh para malaikat :

    1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci. Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci'” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)
    2. Orang yang duduk menunggu shalat. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia'” (Shahih Muslim no. 469)
    3. Orang – orang yang berada di shaf bagian depan di dalam shalat. Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin ‘Azib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)
    4. Orang – orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalm shaf). Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang – orang yang menyambung shaf – shaf” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)
    5. Para malaikat mengucapkan ‘Amin’ ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu” (Shahih Bukhari no. 782)
    6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia'” (Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)
    7. Orang – orang yang melakukan shalat shubuh dan ‘ashar secara berjama’ah. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat'” (Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)
    8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan'” (Shahih Muslim no. 2733)
    9. Orang – orang yang berinfak. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit'” (Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)
    10. Orang yang makan sahur. Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang – orang yang makan sahur” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)
    11. Orang yang menjenguk orang sakit. Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh” (Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, “Sanadnya shahih”)
    12. Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain” (dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

    Maraji’ :

    Disarikan dari Buku Orang – orang yang Didoakan Malaikat, Syaikh Fadhl Ilahi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 14 January 2020 Permalink | Balas  

    Penolakan Istri Terhadap Ajakan Suami. 

    Penolakan Istri Terhadap Ajakan Suami.

    Oleh : Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Dari Abi Hurairah Radhiallahu’anhu bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

    “Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur (untuk melakukan senggama) ia menolak, sehingga suami marah atasnya maka Malaikat malaknat perempuan itu hingga datang pagi” (HR Al Bukhari, lihat fathul bari : 6/314).

    Manakala terjadi perselisian dengan suami banyak perempuan yang menghukum suaminya (menurut dugaannya) dengan menolak melakukan hubungan suami istri. Padahal perbuatan semacam itu bisa mendatangkan masalah yang lebih besar. Misalnya terperosoknya suami pada perbuatan yang haram. Bahkan masalahnya bisa menjadi berbalik sehingga bisa lebih menyusahkan istri; misalnya suami berusaha menikahi perempuan lain.

    Karena itu manakala suami memanggil, hendaknya sang istri memenuhi ajakannya. Realisasi dari sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam:

    “Jika seorang laki-laki mengajak istrinya ke tempat tidur hendaknya ia memenuhi panggilannya, meskipun itu berada di atas sekedup (sesuatu yang diletakkan di atas punggung onta. Digunakan oleh penunggangnya sebagai tempat duduk, berlindung diri dan berteduh) (lihat zawaidul Bazzar, 2/181, dalam shahihul jami’, hadits no: 547.

    Meski begitu, hendaknya sang suami memperhatikan kondisi istrinya. Misalnya apakah sang istri dalam keadaan sakit, hamil, atau dirundung kesedihan, sehingga tak terjadi perpecahan dan keharmonisan rumah tangga tetap terjaga.

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 13 January 2020 Permalink | Balas  

    Permintaan Agar Ditalak Suami Tanpa Sebab yang Dibolehkan Syara’. 

    Permintaan Agar Ditalak Suami Tanpa Sebab yang Dibolehkan Syara’.

    Oleh : Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Ketika terjadi percekcokan dengan suami, banyak di antara para istri yang langsung mengambil jalan pintas, yaitu minta cerai. Ada juga perceraian itu disebabkan sang suami tak mampu memberi nafkah seperti yang diinginkan istri.

    Padahal, terkadang keputusan itu di ambil hanya pengaruh dari sebagian keluarganya atau tetangga yang memang hendak merusak keluarga orang lain. Bahkan tak jarang yang menantang sang suami dengan kata-kata yang menegangkan urat leher. Misalnya, “kalau kamu memang laki-laki, ceraikan saya!!”

    Semua mengetahui, talak melahirkan banyak kerugian besar antara lain terputusnya tali keluarga, lepasnya kendali anak dan terkadang disudahi dengan menyesal pada saat penyesalan tak lagi berguna dan sebagainya.

    Dengan akibat-akibat seperti disebutkan di atas, menjadi nyatalah hikmat syariat mengharamkan perbuatan tersebut, dalam sebuah hadits marfu, riwayat Tsauban Radhiallahu’anhu disebutkan :

    “Siapa saja wanita yang minta diceraikan suaminya tanpa alasan yang dibolehkan maka haram baginya bau surga” (HR Ahmad: 5/277, dalam shahihul jami’ :2703)

    Hadits marfu’ lain riwayat Uqbah bin Amir Radhiallahu’anhu menyebutkan :

    “Sesungguhnya wanita-wanita yang melepaskan dirinya dan memberikan harta kepada suaminya agar diceraikan, mereka adalah orang-orang munafik” (HR Thabrani dalam Al Kabir : 17/339, dalam shahihul jami’ hadits No : 1934)

    Adapun jika memang ada sebab-sebab yang dibolehkan menurut syara’, seperti suaminya suka meninggalkan shalat, suka minum-minuman keras dan narkotika, atau memaksa istrinya berbuat haram, suka menyiksanya dan menolak memberikan hak-hak istri, tidak mau lagi mendengar nasihat dan tak berguna lagi upaya ishlah (perbaikan) maka tidak mengapa bagi sang istri meminta cerai sehingga ia tetap dapat memelihara diri dan agamanya.

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 12 January 2020 Permalink | Balas  

    Mimbar Jumat: Puncak Kesuksesan 

    Mimbar Jumat: Puncak Kesuksesan

    Assalamu’alaikum wr.wb.

    Allah berfirman, bismillahirrahmaanirrahiim,

    “Barangsiapa yang menghendaki keuntungan /sukses di dunia saja (maka sesungguhnya dia merugi) karena di sisi Allah ada keuntungan dunia dan akhirat. Dan Allah maha mendengar lagi maha melihat. Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah meskipun terhadap dirimu sendiri atau ibu-bapak dan kerabatmu. Jika ia kaya atau miskin, maka Allah lebih mengetahui kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsumu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar-balikkan (fakta) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan” (QS An Nisaa’ 134-135).

    “Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang (banyak) memberi (di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya keuntungan yang terbaik, maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan kemudahan. Dan bagi orang-orang yang pelit dan merasa diri cukup (sombong) serta mendustakan keuntungan yang terbaik, maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan kesukaran. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya ketika ia telah binasa” (QS Al Lail 4-11).

    Maha benar segala firman Allah, tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah yang maha esa dan maha kuasa atas segala sesuatu, Rab pencipta, pemilik dan penguasa seluruh alam jagat raya, yang tidak terbatas kekuasaanNya, yang mengatur dan menguasai seluruh isi alam, termasuk manusia penghuni bumi. Dia yang telah menciptakan luasnya langit dan dan kecilnya bumi beserta segala apa yang ada di antaranya, dan semuanya itu tidak ada yang sia-sia. Atas perkenaan Allah pula kita masih diberi kesempatan untuk mengarungi kehidupan dunia dengan berbagai kenikmatan dan anugerahNya, yang tidak pernah kita ketahui sampai batas waktu kapan kita dipanggil untuk kembali kepadaNya. Bersyukur kita masih dipertemukan melalui mimbar yang hadir pada pagi hari Jum’at 24 Shafar 1427 H, bertepatan dengan tanggal 24 Maret 2006 ini, yang akan membahas masih tentang kesuksesan melanjutkan bahasan beberapa mimbar sebelumnya, dan pada seri terakhir ini, kita akan membicarakan tentang “Puncak Kesuksesan” dalam kehidupan dunia, yang dapat terus berlanjut pada kesuksesan berikutnya di alam barzah dan akhirat kelak. Namun sebelumnya, selaku umat Nabi Muhammad salallahu alaihi wassalam, kita bermohon semoga shalawat dan salam senentiasa tercurah kepada beliau, seluruh keluarga dan para sahabatnya, juga semua pengikutnya yang selalu setia melanjutkan perjuangannya untuk tegaknya Islam di muka bumi, dari jaman ke jaman hingga dunia ini berakhir nanti.

    Muslimin dan muslimat dimana saja berada,

    Pada usia 20 tahunan, Steve Jobs bersama temannya Steven Wozniac membangun cikal bakal komputer Macintosh di garasi rumah orang tuanya. Pada tahun 1976, mereka berhasil mempopulerkan konsep personnal computer (PC) pada dunia. Dan dalam kurun waktu 10 tahun, dua sekawan ini berhasil membangun Apple menjadi perusahaan beraset dua milyar dolar dan memiliki lebih dari 4000 karyawan. Tetapi disaat Steve Jobs berusia 30 tahun, ia harus menerima kenyataan pahit, karena dipecat oleh board of director dari perusahaan yang dirintisnya itu disebabkan oleh kegagalan visinya dan kejatuhan Apple pada saat itu. Ketika itu, Steve Jobs merasa hancur, malu, impiannya hilang dan tidak mampu melakukan apa-apa selama berbulan-bulan. Sampai suatu saat ia bertemu David Packard dan Bob Noyce yang mau memaafkan kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya. Jobs kemudian bekerja sama dengan mereka. Karena ia sangat mencintai pekerjaannya, maka ia berusaha bangkit dan memulai sesuatunya dari awal. Lima tahun kemudian, Steve Jobs mendirikan perusahaan Pixar Animation Studios yang membuat film animasi komputer pertama di dunia “Toy Story” dan berhasil memenangkan penghargaan Oscar sebagai film animasi terbaik. Beberapa tahun kemudian, Apple membeli Pixar dan Steve Jobs pun kembali menduduki jabatannya kembali pada perusahaan yang dulu pernah ia dirikan. Sedangkan teknologi yang ia bangun di Pixar menjadi jantung kebangkitan Apple di masa kini. Dan Apple menjadi pemimpin inovasi dalam dunia desktop dan notebook, operating system, musik digital, toko musik online. Sedangkan Pixar menjadi penghasil film-film animasi box office dan pemenang Oscar seperti Toy Story, A Bug’s Life, Monsters Inc. Finding Nemo dan the Incredibles.

    Seperti halnya keberhasilan Steve Jobs, kita juga bisa menyebutkan keberhasilan Bill Gates pendiri Microsoft Inc., Jerry Yang pendiri Yahoo, Gordon Moore pendiri Intel. Atau Walt Disney penggagas Disneyland, meskipun dia sendiri tidak melihat keberhasilan gagasannya itu karena keburu dipanggil Tuhan. Mereka adalah orang-orang sukses dalam bisnis. Mereka mencapai kesuksesannya karena memilki visi ke masa depan yang jelas dan memiliki motivasi kerja yang tinggi untuk mencapai visinya itu. Itulah kunci kesuksesannya. Begitu juga mereka yang dapat mencapai puncak kekuasaan, sebagai pemimpin umat, sebagai pemimpin bangsa atau negara, jalan yang ditempuh untuk mencapai kesuksesan juga penuh liku, bahkan penuh intrik politik. Namun mereka juga memiliki visi yang jelas dan usaha keras untuk mencapainya. Kita bisa membaca autobiografi para pemimpin bagaimana mereka bisa sampai pada puncak kekuasaan tersebut. Atau juga para selebritis yang mencapai puncak kepopulerannya, seperti yang pernah dijelaskan pada mimbar yang lalu tentang Gito Rolis. Betapa mereka yang merupakan sosok-sosok yang sangat populer, dipuja dan dielu-elukan, dan berlimpah dengan kekayaan materi, namun akhirnya tidak menemukan kebahagiaan. Pada saat mereka berada di puncak kesuksesan karirnya itu, mereka didera rasa takut melihat ke depan ketika mereka tidak lagi populer atau ketika mereka tidak lagi mempunyai kekuasaan atau mengalami kebangkrutan. Mereka membayangkan ketidakberdayaan dan hidup tanpa arti. Karena kesuksesan yang menjadi visinya adalah duniawi belaka. Dan biasanya ketika mereka berada di puncak kesuksesan, mereka cenderung arogan. Hal ini dicirikan bahwa kebanyakan dari mereka ambisius untuk mencapai visinya, agresif dan cenderung menafikan hak orang lain atau menghalalkan segala cara, senang melihat lawannya atau saingannya kalah tapi tidak senang melihat lawan atau saingannya itu dapat mengunggulinya. Ketika berada di puncak kesuksesan, mereka cenderung mempertahankan statusquo, anti kritik, mudah tersinggung, gampang emosi dan jiwanya mudah terguncang.

    Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah,

    Ketika kita hendak mendaki sebuah gunung, maka untuk bisa mencapai puncaknya tentu harus memiliki informasi tentang gunung tersebut dan mempersiapkan diri segala keperluannya yang disesuaikan dengan kondisi gunung tersebut agar bisa selamat sampai di puncak dan kembali ke tempat asal dengan selamat pula. Untuk mencapai puncak gunung tersebut tentunya diperlukan usaha gigih karena medan yang akan di lalui berat dengan jalan yang mendaki, belum lagi adanya rintangan alam berupa kabut atau jalan licin karena hujan atau bersalju. Oleh karenanya, diperlukan perhitungan waktu yang tepat dan perlengkapan dan bekal yang memadai agar bisa mencapai puncak. Ketika sampai di puncak gunung yang kita daki, akan merasakan begitu puas dan bahagianya saat itu, dan rasa capai karena tenaga yang terkuras untuk mendaki pun hilang. Maka pada saat kita berada di puncak tersebut, lihatlah ke bawah, betapa kecilnya diri kita dan betapa maha besarnya Pencipta alam ini. Jika cuaca bagus, kita bisa melihat kota atau dusun yang berada di kaki gunung tersebut. Gedung yang tinggi menjulang ke langit pun akan tampak kecil, sehingga manusia yang menjadi penghuni gedung itu tak akan terlihat karena sangat kecilnya. Kita juga bisa melihat sungai yang mengalir berasal dari gunung itu menuju muara, memanjang meliuk-liuk seperti ular, dari ujung yang kecil pada sumbernya, menjadi besar menuju muara. Fenomena alam tersebut sebenarnya merupakan gambaran kehidupan kita di alam dunia ini, jika saja kita mau memahaminya. Namun kebanyakan manusia tidak mengerti tentang visi hidupnya sehingga mudah tergiur oleh pesona gemerlapnya keindahan kenikmatan dunia yang bersifat sementara. Dan itulah kelemahan manusia, cenderung mencintai dunia, sehingga Allah pun memperingatkan manusia agar tidak terpedaya bahwa semua itu merupakan ujian atau cobaan, dan kesenangan hidup yang sering melalikan, seperti pada firmanNya : “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada dunia, wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari emas dan perak, kuda (kendaraan) pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik” (QS Ali Imran 34).

    Dengan mengibaratkan pendakian sebuah gunung seperti pada uraian di atas, begitu pula untuk mencapai kesuksesan hidup kita. Maka untuk mencapai puncak kesuksesan hidup tersebut, yang pertama adalah harus mengetahui apa visi hidup kita, apakah hanya sekedar untuk sukses kehidupan dunia saja atau sukses dunia-akhirat. Untuk mencapai visi tersebut, tentu diperlukan persiapan sarana dan bekal yang memadai agar bisa mencapai puncak kesuksesan hidup tersebut. Jika visi hidupnya hanya untuk sukses dunia saja, maka sarana dan bekal yang harus dipersipakan hanya materi belaka tanpa bersangkutan dengan aspek ukhrawi. Tetapi jika visi hidup kita adalah dunia dan akhirat, maka sarana dan bekal yang harus dipersiapkan bukan hanya materi saja, namun yang paling penting adalah iman dan amal saleh yang benar di sisi Tuhan, dalam menjalani kehidupan dunia dari awal menapaki hidup sampai saat terakhir kehidupan kita untuk meninggalkan dunia ini dan berpindah ke alam barzah untuk selanjutnya menuju akhirat. Visi yang kedua inilah yang seharusnya menjadi visi setiap manusia, meskipun dalam pelaksanaannya menyimpang, sehingga seolah-olah visi yang pertama yang dipilihnya. Oleh karena itu, untuk mencapai sukses dunia dan akhirat diperlukan sarana-sarana pencapaiannya, seperti yang telah diuraikan pada Mimbar Jum’at 247 : “Sarana Mraih Kesuksesan” dua pekan lalu. Sedangkan bekal yang harus dibawa untuk bisa sampai sukses di akhirat adalah iman dan amal saleh sesuai yang telah ditetapkan sesuai aturan Allah, yang dilaksanakan secara ikhlas dan kuncinya adalah sabar dan syukur, seperti yang telah diuraikan pada mimbar pekan lalu. Untuk sampai pada kesuksesan di akhirat, maka puncak kesuksesannya adalah mempertahankan kesuksesan dunia sampai pada titik akhir perjalanan dunia, dengan akhir kehidupan yang baik (husnul khatimah). Itulah puncak kesuksesan, yang setiap orang akan berbeda.

    Firman Allah QS An Nisaa’ 134-135 yang terjemahannya dikutipkan pada awal mukadimah mimbar ini, mengingatkan kita bahwa jika kita menginginkan keuntungan atau kesuksesan dunia dan akhirat, wajib bersikap adil, dalam artian kita menempatkan segala sesuatu itu pada tempatnya atau sesuai porsinya. Dan untuk bisa bersikap adil, maka harus mampu mengendalikan diri atau tidak mengikuti hawa nafsunya. Jalan setiap orang untuk mencapai kesusesan itu berbeda karena memang usaha setiap orang itu berbeda, seperti yang ditegaskan oleh Allah pada QS Al Lail yang terjemahannya dikutipkan pada mimbar ini. Bagi orang yang bertakwa dan memahami visi hidupnya serta yakin akan adanya kesuksesan di akhirat yang ditentukan dari segala usahanya di dunia, maka puncak keusksesan itu adalah pada saat akan meninggalkan kehidupan dunia, dengan akhir hidupnya yang benar-benar baik dan dalam keadaan pasrah kepada Allah, sehingga Allah memudahkan jalan baginya dan tercermin pada wajah atau senyuman bahagia ketika ruh meninggalkan jasadnya. Sebaliknya bagi orang yang mendustakan akan keusksesan di akhirat, yang dicirikan dengan sikap arogan dan kikir ketika menjalani kehidupan dunia, meskipun telah merintis kesuksesan dengan modal iman dan amal saleh yang dianggapnya benar, maka pada saat akhir hidupnya akan mendapat kesulitan untuk mencapai puncak kesuksesan, sehingga kegagalanlah yang ia dapatkan atau su’ul khatimah. Dan akan gagal pula di akhirat kelak. Oleh karena itu, mari kita berusaha merintis kesuksesan dunia sesaui dengan aturan Allah dan mempertahankannya sampai akhir hidup kita, sehingga kita dapat mencapai puncak kesuksesan dunia pada saat ruh meninggalkan jasad kita dengan husnul khatimah, dan Allah memudahkan kita untuk meretas jalan mencapai sukses di akhirat. Semoga kita termasuk orang-orang yang sukses di dunia dengan puncaknya pada akhir hayat kita, dan akan sukses pula di akhirat kelak, amien. Kita akhiri mimbar ini, alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin.

    Wassalamu’alaikum wr.wb.

    Nana Djumhana

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 11 January 2020 Permalink | Balas  

    Mendapatkan Ruku’ berarti Mendapat 1 Raka’at 

    Mendapatkan Ruku’ berarti Mendapat 1 Raka’at

    Membaca Al Faatihah merupakan rukun di dalam shalat, dari Ubadah bin ash Shamit ra., Nabi ShalallaHu alaiHi wa sallam bersabda, “Laa Shalaata liman lam yaqra’ bifaatihatil kitaab” yang artinya “Tidak (sah) shalat orang yang tidak membaca fatihatul kitab (al faatihah)” (HR. Bukhari no. 756, Muslim no. 394, At Tirmidzi no. 247, An Nasa’I II/137, Ibnu Majah no. 837 dan Abi Dawud no. 807)

    Namun dalil di atas adalah dalil yang sifatnya umum, dan jika terdapat dalil khusus yang berkaitan dengan dalil umum maka kaidahnya adalah dalil khusus yang didahulukan.

    Berkaitan dengan terlambatnya makmum untuk mengikuti shalat berjama’ah, maka Rasulullah ShalallaHu alaiHi wa sallam memberikan beberapa tuntunannya yaitu:

    Mengikuti imam shalat dalam keadaan apa pun.

    Dari Ali bin Abi Thalib ra. dan Mu’adz bin Jabal ra., mereka mengatakan bahwa Nabi ShalallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Jika salah seorang diantara kalian mendatangi shalat jama’ah pada saat imam sedang berada pada suatu keadaan, maka hendaklah ia melakukan gerakan sebagaimana yang dilakukan imam” (HR. At Tirmidzi no. 588, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan At Tirmidzi no. 484)

    Mendapatkan ruku’ berarti mendapatkan 1 raka’at.

    Dari Abu Hurairah ra., ia mengatakan bahwa Nabi ShalallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Jika kalian mendatangi shalat jama’ah pada saat kami sedang sujud, maka sujudlah dan itu jangan dihitung (satu raka’at). Dan barangsiapa mendapati (imam) sedang ruku’, maka dia mendapatkan satu raka’at shalat” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiihul Jaami’ush Shaghiir no. 468)

    Maraji’:

    Panduan Fiqih Lengkap Jilid 1, Syaikh Abdul Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 10 January 2020 Permalink | Balas  

    Penyelenggaraan Jenazah & Pembagian Harta Warisan (2-Tamat) 

    Penyelenggaraan Jenazah & Pembagian Harta Warisan (2-Tamat)

    Wasiat Allah

    Apabila si wafat tidak meninggalkan suatu wasiat, maka pembagian harta warisan dilakukan menurut wasiat Allah. Demikian pula apabila ada sisa harta yang tidak diatur pembagiannya di dalam wasiat, maka ia dibagi menurut ketentuan wasiat Allah.

    Terdapat tiga ayat yang mengatur ketentuan tentang wasiat Allah ini yaitu:

    “Allah mewasiatkan kamu mengenai anak-anak kamu; bagian anak laki- laki sama dengan bagian dua perempuan, dan jika mereka semuanya perempuan yang lebih dari dua, maka bagi mereka dua per tiga dari harta yang ditinggalkan; tapi jika anak perempuan itu seorang saja, maka baginya separuh harta. Dan untuk ibu dan bapak, kepada masing- masing satu per enam dari harta yang ditinggalkan, jika dia ada anak; tetapi jika dia tidak ada anak, dan waris-warisnya ialah ibu dan bapaknya, maka satu per tiga bagi ibunya, atau jika dia ada saudara-saudara laki-laki, maka bagi ibunya satu per enam, sesudah dipenuhi wasiat yang dia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya…” [Q.S. 4:11]

    “Dan bagi kamu (suami), separuh dari apa yang isteri-isteri kamu tinggalkan, jika mereka tidak mempunyai anak. Tapi jika mereka mempunyai anak, maka bagi kamu satu per empat dari yang ditinggalkannya, sesudah dipenuhi wasiat mereka, atau (dan) dibayar hutangnya. Dan bagi mereka (istri-istri), satu per empat dari apa yang kamu tinggalkan jika kamu mempunyai anak. Tapi jika kamu mempunyai anak, maka bagi mereka satu per delapan dari apa yang kamu tinggalkan, sesudah dipenuhi wasiat atau (dan) dibayar hutangnya. Jika seorang laki-laki atau seorang perempuan tidak mempunyai pewaris langsung (ibu bapak dan anak), tapi mempunyai saudara laki- laki atau saudara perempuan, maka bagi masing-masing dari keduanya, satu per enam harta. Tapi jika mereka lebih banyak dari itu, maka mereka bersekutu dalam satu per tiga, sesudah dipenuhi wasiatnya, atau (dan) dibayar hutang yang tidak memudaratkan. (Yang demikian) wasiat dari Allah, dan Allah Mengetahui, Penyantun”. [Q.S. 4:12]

    “Mereka meminta satu keputusan kepada kamu. Katakanlah, “Allah memutuskan kepada kamu mengenai waris yang tidak langsung (selain ibu bapak dan anak). Jika seorang laki-laki mati tanpa seorang anak, tetapi dia mempunyai saudara perempuan, maka dia (saudara perempuan) menerima separuh dari apa yang dia tinggalkan; dan dia (saudara laki- laki) adalah pewaris harta saudara perempuannya jika dia (perempuan) tidak mempunyai anak. Jika ada dua saudara perempuan, mereka menerima dua per tiga dari harta yang dia (saudara laki-laki) tinggalkan. Dan jika ada beberapa orang saudara, laki-laki dan perempuan, yang laki-laki menerima sama dengan dua bagian perempuan. Allah menjelaskan kepada kamu supaya kamu tidak sesat; Allah mengetahui segala sesuatu”. [Q.S. 4:176]

    Sebagai catatan, umumnya Al-Qur’an terjemahan bahasa Indonesia menggunakan frasa “Allah syariatkan…” pada awal ayat 4:11 yang dikutip di atas. Namun apabila kita konsisten dengan terjemahan kata dalam bahasa aslinya (Arab), maka yang lebih tepat adalah frasa “Allah wasiatkan…”.

    Ayat-ayat tentang wasiat Allah di atas dapat diuraikan sebagai berikut:

    Bagian anak-anak – Pada dasarnya, bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan. – Jika anak perempuan berjumlah lebih dari dua, maka mereka mendapatkan 2/3, dan berarti anak laki-laki mendapat 1/3. – Jika anak perempuan hanya satu orang, dan anak laki-laki juga satu orang, maka masing-masing mereka mendapatkan separuh (1/2). – Jika anak laki-laki lebih dari 1 orang, dan anak perempuan hanya 1 orang, maka perhitungannya kembali ke prinsip awal bahwa bagian satu orang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. – Pendapat kami, apabila orang yang wafat hanya meninggalkan anak laki-laki saja (tidak ada anak perempuan), maka warisan yang diperuntukkan bagi anak diserahkan semuanya kepada anak laki-laki tersebut, demikian pula sebaliknya.

    Bagian Istri/ Suami

    • Jika tidak ada anak, istri mendapatkan 1/4 bagian.
    • Jika ada anak, istri mendapatkan 1/8 bagian.
    • Jika tidak ada anak, suami mendapatkan 1/2 bagian.
    • Jika ada anak, suami mendapatkan 1/4 bagian.

    Bagian Orang Tua

    • Jika ada anak, ibu dan bapak masing-masing mendapatkan 1/6 bagian.
    • Jika tidak ada anak, ibu mendapatkan 1/3 bagian.
    • Jika tidak anak tapi ada saudara-saudara laki-laki, ibu kembali mendapatkan 1/6 bagian.

    Bagian Saudara (pewaris tidak langsung)

    • Jika tidak ada pewaris langsung (ibu, bapak, anak), saudara- saudara laki-laki dan perempuan mendapat masing-masing 1/6. Apabila jumlah mereka lebih dari 6 orang, mereka semua berbagi dalam 1/3 bagian. Bagian saudara laki-laki sama dengan dua bagian saudara perempuan.
    • Jika orang yang meninggal adalah laki-laki yang tidak mempunyai pewaris langsung (ibu, bapak, anak), maka saudara perempuannya mendapatkan 1/2 bagian.
    • Jika orang yang meninggal adalah laki-laki yang tidak mempunyai pewaris langsung (ibu, bapak, anak), namun mempunyai dua orang saudara perempuan, maka mereka mendapatkan 2/3 bagian.
    • Jika orang yang meninggal adalah perempuan yang tidak mempunyai pewaris langsung (ibu, bapak, anak), maka saudara laki- laki mewarisi seluruh harta.

    Contoh ilustrasi, seorang laki-laki wafat dan meninggalkan seorang istri, ibu, dan anak-anak. Prosentase pembagiannya:

    Istri => 1/8 (3/24) = 12,50%

    Ibu => 1/6 (4/24) = 16,66%

    Anak-anak => Sisa (17/24) = 70,83%

    Pada kasus tertentu, harta yang dibagi dengan rumus di atas ternyata masih bersisa. Hemat kami, sisa harta tersebut dibagikan kepada orang-orang yang terikat sumpah dengan si meninggal sebagaimana telah disinggung sebelumnya (anak asuh, anak tiri, kerabat yang miskin, pembantu, anak yatim, dll).

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 9 January 2020 Permalink | Balas  

    Liwath (Homoseksual) 

    Liwath (Homoseksual)

    Oleh: Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Kemungkaran yang dilakukan oleh kaum nabi Luth pada zaman dahulu adalah menggauli laki-laki (homoseksual).

    Allah Tabaroka wata’ala berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seseorangpun dari umat-umat sebelum kamu. Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuan?” (Al Ankabut: 28-29)

    Karena keji, buruk dan amat berbahayanya kemungkaran tersebut, sehingga Allah Subhanahu wata’ala menghukum pelaku homoseksual tersebut dengan empat macam siksaan sekaligus. Suatu bentuk siksa yang belum pernah ditimpakan kepada kaum lain. Keempat siksaan tersebut adalah: kebutaan, menjungkir balikkan mereka, menghujani mereka dengan batu-batu kerikil dari neraka serta mengirim kepada mereka halilintar.

    Adapun dalam syariat Islam, hukuman pelaku homoseksual dan teman kencannya jika atas dasar suka sama suka -menurut pendapat yang kuat- adalah dipenggal lehernya dengan pedang.

    Dalam sebuah hadits marfu’ dari ibnu Abbas Radhiallahu’anhu disebutkan: “Barangsiapa yang kalian dapati sedang melakukan perbuatan kaum Luth (hamoseksual) maka bunuhlah pelaku dan teman kencannya” (HR Ahmad, 1/ 300 dalam shahihul jami’ no: 6565)

    Timbulnya berbagai penyakit -yang pada zaman nenek moyang tak dikenal, sebagai hukuman atas merajalelanya kemaksiatan- sebagaimana kita saksikan sekarang seperti tha’un (sejenis penyakit pes yang menjadikan kelenjar-kelenjar bengkak dan lebih banyak menghantar penderitanya kepada kematian) dan macam-macam penyakit yang sulit disembuhkan bahkan belum ditemukan penawarnya, seperti penyakit AIDS yang mematikan, ini semuanya menunjukkan salah satu hikmah; mengapa begitu keras hukuman yang diberikan Allah untuk pelaku homoseksual.

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 8 January 2020 Permalink | Balas  

    Zina 

    Zina

    Oleh : Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Di antara tujuan syariat adalah menjaga kehormatan dan keturunan, karena itu syariat Islam mengharamkan zina, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

    “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu sesuatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (Al Isra’: 32)

    Bahkan syariat menutup segala pintu dan sarana yang mengundang perbuatan zina. Yakni dengan mewajibkan hijab, menundukkan pandangan, juga dengan melarang khalwat (berduaan di tempat yang sepi) dengan lawan jenis bukan mahram dan sebagainya.

    Pezina muhshan (yang telah beristri) dihukum dengan hukuman yang paling berat dan menghinakan. Yaitu dengan merajam (melemparnya dengan batu hingga mati). hukuman ini ditimpakan agar merasakan akibat dari perbuatannya yang keji, juga agar setiap anggota tubuhnya kesakitan, sebagaiman dengannya ia menikmati yang haram.

    Adapun pezina yang belum pernah melakukan senggama melalui nikah yang sah, maka ia dicambuk sebanyak seratus kali. Suatu bilangan yang paling banyak dalam hukuman cambuk yang dikenal dalam Islam. Hukuman ini harus disaksikan sekelompok kaum mukminin. Suatu bukti betapa hukuman ini amat dihinakan dan dipermalukan. Tidak hanya itu, pezina tersebut selanjutnya harus dibuang dan diasingkan dari tempat ia melakukan perzinaan, selama satu tahun penuh.

    Adapun siksaan para pezina -baik laki-laki maupun perempuan- di alam barzakh adalah ditempatkan di dapur api yang atasnya sempit dan bawahnya luas. Dari bawah tempat tersebut, api dinyalakan. Sedang mereka berada didalamnya dalam keadaan talanjang. Jika dinyalakan mereka teriak, malolong-lolong dan memanjat keatas hingga hampir-hampir saja mereka bisa keluar, tapi bila api dipadamkan, mereka kembali lagi ke tempatnya semula (di bawah) lalu api kembali lagi dinyalakan. Demikian terus berlangsung hingga datangnya hari kiamat.

    Keadaannya akan lebih buruk lagi jika laki-laki tersebut sudah tua tapi terus saja berbuat zina, padahal kematian hampir menjemputnya, tetapi Allah Tabaroka wata’ala masih memberinya tenggang waktu.

    Dalam hadits marfu’ dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu disebutkan:

    “Tiga (jenis manusia) yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, juga Allah tidak akan menyucikan mereka dan tidak pula memandang kepada mereka, sedang bagi mereka siksa yang pedih, yaitu laki-laki tua yang suka berzina, seorang raja pendusta, dan orang miskin yang sombong”. (HR Muslim: 1/102-103).

    Di antara cara mencari rizki yang terburuk adalah mahrul baghyi. yaitu upah yang diberikan kepada wanita pezina oleh laki-laki yang menzinainya.

    Pezina yang mencari rizki dengan dengan menjajakan kemaluannya tidak diterima doanya. Walaupun do’a itu dipanjatkan ditengah malam, saat pintu-pintu langit dibuka. (Hadits masalah ini terdapat dalam shahihul jami’: 2971)

    Kebutuhan dan kemiskinan bukanlah suatu alasan yang dibenarkan syara’ sehingga seseorang boleh melanggar ketentuan dan hukum-hukum Allah. Orang Arab dulu berkata: seorang wanita merdeka kelaparan, tetapi tidak makan dengan menjajakan kedua buah dadanya, bagaimana mungkin dengan menjajakan kemaluannya.

    Di zaman kita sekarang, segala pintu kemaksiatan di buka lebar-lebar. Setan mempermudah jalan (menuju kemaksiatan) dengan tipu dayanya dan tipu daya pengikutnya. Para tukang maksiat dan ahli kemungkaran membeo setan. Maka bertebarlah para wanita yang pamer aurat dan keluar rumah tanpa mengenakan pakaian yang diperintahkan agama. Tatapan yang berlebihan dan pandangan yang diharamkan menjadi fenomena umum. Pergaulan bebas antara laki-laki dengan perempuan merajalela. Rumah-rumah mesum semua laku. Demikian pula dengan film-film yang membangkitkan nafsu hewani. Banyak orang-orang melancong ke negeri-negeri yang menjanjikan kebebasan maksiat. Disana-sini berdiri bursa sex. Pemerkosaan terjadi di mana-mana. Jumlah anak haram meningkat tajam. Demikian halnya dengan aborsi (pengguguran kandungan) akibat kumpul kebo dan sebagainya.

    Ya Allah, kami mohon padaMu, bersihkanlah segenap hati kami dan pelihara serta bentengilah kemaluan dan kehormatan kami. Jadikanlah antara kami dengan hal-hal yang diharamkan dinding pembatas. Hanya kepadamulah kami mengadu…..Laa khawla wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adhim.

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 7 January 2020 Permalink | Balas  

    Bab Perkara Fithrah 

    Bab Perkara Fithrah

    Dari Aisyah ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Sepuluh (perilaku fithrah), mencukur kumis, memanjangkan jenggot, bersiwak, menghirup air ke hidung (istinsyaq), memotong kuku, membasuh sela-sela jari, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, bersuci dengan air (al istinjaa’) [Zakaria bin Abi Za-idah, salah seorang perawi hadits ini, berkata kepada Mush’ab bin Syaibah, “Aku lupa yang kesepuluh, mungkin berkumur-kumur’]” (HR. Muslim no. 261, Abu Dawud no. 52, At Tirmidzi no. 2906, An Nasa’i VIII/126 dan Ibnu Majah no. 293)

    Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Lima (perilaku) fithrah, mencukur bulu kemaluan, khitan, mencukur kumis, mencabut bulu ketiak dan memotong kuku” (HR. Al Bukhari no. 5889, Muslim no. 257, Abu Dawud no. 4180, At Tirmidzi no. 2905, An Nasa’i I/14 dan Ibnu Majah no. 292)

    Berikut penjelasan beberapa perilaku fithrah :

    1. Khitan

    Khitan wajib bagi pria dan wanita karena ia merupakan ciri ke-Islaman. Nabi ShallallaHu alaiHi wa sallam berkata kepada seorang laki-laki yang baru memeluk Islam,

    “Alqi “anka sya’ral kufri wakhtatin” yang artinya “Campakkanlah rambut kekufuran darimu dan berkhitanlah” (HR. Abu Dawud no. 352, dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih al Jaami’ush Shaghiir no. 1251)

    Perbuatan khitan ini termasuk ajaran Nabi Ibrahim alaiHis sallam. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Ibrahim, khalilurrahman berkhitan setelah berumur delapan puluh tahun” (HR. Al Bukhari no. 6298 dan Muslim no. 370)

    1. Memanjangkan Jenggot

    Memanjangkan Jenggot hukumnya wajib dan mencukurnya termasuk perbuatan yang haram karena Nabi ShallallaHu alaiHi wa sallam memerintahkannya. Sedangkan perintah menunjukkan kewajiban. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Juzzusy syawaariba wa akhulliha khaaliful majuusa” yang artinya “Pangkaslah kumis dan panjangkan jenggot. Selisihilah orang-orang majusi” (HR. Muslim no. 260)

    Dari Ibnu Umar ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Selisihilah orang-orang musyrik, panjangkan jenggot dan potonglah kumis” (HR. Al Bukhari no. 5892 dan Muslim no. 259)

    1. Siwak

    Bersiwak disukai pada semua keadaan namun lebih disukai ketika wudhu, shalat, membaca Al Qur’an, memasuki rumah dan ketika shalat malam berikut beberapa dalil yang menjelaskan hal tersebut,

    Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku suruh mereka bersiwak setiap wudhu” (HR. Ahmad dalam al Fathur Rabbaani no. 171, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih al Jaami’ush Shaghiir no. 5316)

    Dari Hudzaifah ra., ia berkata,

    “Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam apabila hendak shalat tahajud, beliau membersihkan mulutnya dengan siwak” (HR. Al Bukhari no. 245, ini lafazhnya, Muslim no. 255, Abu Dawud no 54 dan An Nasa’i I/8)

    1. Dimakruhkan mencabut uban

    Dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya. Dia mengatakan bahwa Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Janganlah kalian mencabut uban, karena tidaklah seorang muslim beruban dalam Islam walaupun sehelai, melainkan ia akan menjadi cahaya baginya di hari kiamat” (HR. Abu Dawud no. 4184 dan An Nasa’i VIII/136, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Al Jaami’ush Shaghiir no. 7463)

    1. Menyemir rambut kecuali dengan warna hitam

    Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak menyemir rambut mereka, maka selisihilah mereka” (HR. Al Bukhari no. 5899, Muslim no. 2103, Abu Dawud no. 4185 dan An Nasa’i VIII/137)

    Dari Jabir ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Rubahlah (rambut) ini dengan sesuatu, tetapi hindarilah warna hitam” (HR. Muslim no. 2102, Abu Dawud no. 4186, An Nasa’i VIII/138 dan Ibnu Majah no. 3624)

    Maraji’

    Panduan Fiqh Lengkap Jilid 1, Syaikh Abdul “Azhim bin Badawi al Khalfi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H-Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 6 January 2020 Permalink | Balas  

    An Najaasaat 

    An Najaasaat

    An Najasaat adalah bentuk plural dari najasah, yaitu semua yang dianggap menjijikan oleh orang yang bertabiat normal. Mereka menjaga diri darinya dan mencuci pakaian mereka jika terkena olehnya seperti kotoran dan air seni (Ar Raudhah An Nadiyyah I/12 oleh Syaikh Shidiq Hasan Khan)

    Hukum asal segala sesuatu adalah boleh dan suci. Barangsiapa menyatakan nasjisnya suatu materi, maka ia harus mendatangkan dalil. Namun bila ia tidak bisa membawakan suatu hujjah maka wajib mengikuti hukum asal, yaitu segala sesuatu boleh dan suci.

    Maka tidak boleh mengatakan tentang najisnya sesuatu kecuali dengan dalil (Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan Abu Dawud no. 834 dan Syaikh Shidiq Hasan Khan dalam Ar Raudhah An Nadiyyah I/15).

    Hal-hal yang terdapat dalil tentang kenajisan serta cara menyucikannya adalah:

    Air seni.

    Dari Anas ra., “Seorang Arab Badui buang air di Mesjid, lalu segolongan orang menghampirinya. Rasulullah ShallallaHu alaihi wa sallam lantas bersabda, “Biarkanlah ia jangan kalian hentikan kencingnya”. Lalu Anas ra. melanjutkan, “Tatkala ia sudah menyelesaikan kencingnya, beliau ShallallaHu alaiHi wa sallam memerintahkan agar dibawakan setimba air lalu diguyurkan di atasnya” (HR. Al Bukhari no. 6025 dan Muslim no. 284)

    [Secara umum, zat untuk membersihkan diri dari najis adalah dengan menggunakan air, kecuali syariat membolehkan membersihkannya dengan selain air, seperti menggunakan tanah]

    Adapun cara menyucikan pakaian yang terkena kencing bayi yang masih menyusu adalah sebagaimana sabda Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam, “Air kencing bayi perempuan dicuci, sedangkan air kencing bayi diperciki” (HR. An Nasa’i I/158 dan Abu Dawud no. 372, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan an Nasa’i no. 293)

    Kotoran manusia.

    Dari Hudzaifah ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang diantara kalian menginjak al adzaa dengan sandalnya, maka tanah adalah penyucinya” (HR. Abu Dawud no. 381, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 834)

    Al Adzaa adalah segala sesuatu yang engkau merasa tersakiti olehnya, seperti najis, kotoran dan sebagainya (“Aunul Ma’buud II/44).

    Madzi.

    Madzi adalah cairan bening, encer dan lengket yang keluar ketika naiknya syahwat. Dialami pria maupun wanita.

    Ali ra. berkata, “Aku adalah laki-laki yang sering keluar madzi. Aku malu menanyakannya pada Nabi ShallallaHu alaiHi wa sallam karena kedudukan putri beliau. Lalu kusuruh al Miqdad bin al Aswad untuk menanyakannya. Beliau ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda, “Dia harus membasuh kemaluannya dan berwudhu” (HR Al Bukhari no. 132 dan Muslim no. 303)

    Untuk pakaian yang terkena madzi Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam memberikan panduannya,

    “Cukup ambil segenggam air lalu guyurkan pada pakaianmu yang terkena olehnya” (HR. Abu Dawud no. 207, At Tirmidzi no. 115 dan Ibnu Majah no. 506, dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan Ibni Majah no. 409)

    Wadi

    Wadi adalah cairan bening dan kental yang keluar setelah buang air. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata, “Mani, wadi dan madzi. Adapun mani maka wajib mandi. Sedangkan untuk wadi dan madzi beliau ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Basulah dzakar atau kemaluanmu dan wudhulah sebagaimana engkau berwudhu untuk shalat” (HR. Abu Dawud dan Al Baihaqi I/115, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 190)

    Kotoran hewan yang tidak halal dimakan dagingnya.

    Dari Abdullah ra., ia berkata, “Ketika Nabi ShallallaHu alaiHi wa sallam hendak buang hajat, beliau berkata, “Bawakan aku 3 batu’. Aku menemukan dua batu dan sebuah kotoran keledai. Lalu beliau mengambil kedua batu itu dan membuang kotoran tadi lalu berkata, “(Kotoran) itu najis” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah no. 2530)

    Darah haidh

    Dari Asma’ binti Abi Bakar ra. ra, ia berkata, “Seorang wanita datang kepada kepada Nabi ShallallaHu alaiHi wa sallam lalu berkata, “Baju seorang diantara kami terkena darah haidh, apa yang ia lakukan ?’

    Beliau ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda, “Keriklah, kucek dengan air, lalu guyurlah. Kemudian shalatlah dengan (baju) itu” (HR. Al Bukhari no. 307 dan Muslim no. 291)

    Air liur anjing.

    Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda, “(Cara) menyucikan bejana salah seorang diantara kalian jika dijilat anjing adalah membasuhnya tujuh kali. Yang pertama dengan tanah” (HR. Muslim no. 276)

    Bangkai

    Yaitu segala sesuatu yang mati tanpa disembelih secara syar’i. Dasarnya adalah sabda Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam, “Kulit bangkai apa saja jika disamak, maka ia suci” (HR. Ibnu Majah, Ahmad dalam Al Fathur Rabbani no. 49, At Tirmidzi no. 1782, Ibnu Majah no. 3609 dan An Nasa’iVII/173, dari Ibnu Abbas ra., dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah no. 2907)

    Maraji:

    Panduan Fiqh Lengkap Jilid 1, Abdul “Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 5 January 2020 Permalink | Balas  

    Air 

    Air

    Thaharah secara bahasa berarti suci dan bersih dari hadats. Sedangkan menurut istilah bermakna menghilangkan hadats dan najis (Al Majmuu’ Syarhul Muhadzdzab I/79).

    Semua air yang turun dari langit dan keluar dari Bumi adalah suci dan menyucikan. Dasarnya adalah firman Allah Ta’ala,

    “Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira yang dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan) dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih” (QS Al Furqaan : 48)

    Sabda Nabi ShallallaHu alaiHi wa sallam tentang air laut, “Huwath thaHuuru maa-uHu al hillu maytatuHu” yang artinya “Air laut itu suci dan menyucikan serta halal bangkainya” (HR. Abu Dawud no. 83, At Tirmidzi no. 69, Ibnu Majah no. 386 dan An Nasa’i I/176, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan Ibnu Majah no. 309)

    Air tetap dalam kesuciannya meskipun bercampur dengan sesuatu yang suci selama tidak keluar dari keasliannya. Dasarnya adalah sabda beliau shallallaHu alaiHi wa sallam kepada wanita yang memandikan jenasah putri beliau, “Mandikanlah ia tiga kali, lima kali atau lebih dengan air dan bidara jika menurut kalian perlu. Dan jadikanlah basuhan terakhir dengan kapur barus atau sedikit dengannya” (HR. Al Bukhari no. 1253 dan Muslim no. 939)

    Maraji’:

    Panduan Fiqh Lengkap Jilid 1, Syaikh Abdul ‘Azhim bin Badawi al Khalfi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H-Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 4 January 2020 Permalink | Balas  

    Penyelenggaraan Jenazah dan Pembagian Warisan (1) 

    Penyelenggaraan Jenazah dan Pembagian Warisan (1)

    Demi kebersihan dan kepantasan maka umumnya jenazah dimandikan dan diberi wewangian. Setelah itu terhadapnya dikenakan pakaian yang baik sehingga tidak menjatuhkan kehormatannya meskipun yang bersangkutan telah wafat.

    Sebagaimana petunjuk Allah, selain berfungsi sebagai penutup aurat pakaian juga diturunkan-Nya kepada manusia untuk membawa keindahan.

    “Wahai Bani Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi bagian-bagian aib kamu, dan (pakaian indah sebagai) perhiasan…” [Q.S. 7:26]

    Bagaimana pakaian yang baik untuk jenazah tidak berbeda dengan pakaian yang baik untuk orang hidup. Mungkin ia berupa setelan kemeja, atau batik, atau jas, atau baju kurung, dan sebagainya.

    Penulis tidak berpikir bahwa pembungkusan jenazah dengan kain kafan sebagaimana tradisi selama ini bisa dikatakan sebagai “baik” apalagi “memuliakan” bagi si wafat.

    Setelah jenazah dipakaikan dengan pakaian yang baik, selanjutnya dari ayat-ayat Allah kita mendapati petunjuk bahwa jenazah dikuburkan, bukan diperlakukan dengan cara lain seperti misalnya dikremasi (dibakar).

    “Kemudian Allah kirimkan seekor burung gagak mencakar-cakar di atas bumi, untuk memperlihatkan kepada dia bagaimana dia akan menyembunyikan mayat saudaranya yang menimbulkan aib. Dia berkata: `Celakalah aku! Tidakkah aku mampu untuk menjadi seperti burung gagak ini, untuk menyembunyikan mayat saudaraku yang menimbulkan aib?’ Dan dia menjadi diantara orang-orang yang menyesal”. [Q.S. 5:31]

    “Kemudian mematikannya, dan menguburkannya”. [Q.S. 80:21]

    Sesaat setelah jenazah dikuburkan, pada sebagian masyarakat ada kebiasaan untuk melakukan “talqin”, yaitu suatu pengajaran kepada jenazah tentang apa yang harus dijawabnya atas pertanyaan malaikat di alam kubur. Padahal ayat Allah dalam hal ini sangat jelas:

    “…kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang di dalam kubur untuk mendengar”. [Q.S. 35:22]

    Karena talqin adalah pekerjaan yang sia-sia belaka, maka tidak usah kita ikut-ikutan melakukannya. Sebagai gantinya, kita bisa mendoakan kebaikan untuk si wafat. Ayat di bawah ini mengisyaratkan kepada kita bahwa mendoakan maupun menziarahi jenazah (kubur) orang beriman adalah perbuatan yang dibenarkan oleh Allah.

    “Dan janganlah kamu mendoakan seorang yang mati antara mereka, dan jangan juga berdiri di kuburnya. Sesungguhnya mereka tidak beriman kepada Allah dan rasul-Nya, dan mereka mati dalam keadaan fasik”. [Q.S. 9:84]

    Satu pesan lagi dari ayat di atas adalah, sebagai bentuk penghormatan atas si wafat maka ketika melakukan ziarah kubur hendaknya kita berdiri, bukan duduk atau jongkok.

    Pembagian Harta Warisan

    Wasiat Allah memerintahkan kepada kita membuat wasiat untuk ibu, bapak, dan sanak saudara. Saking pentingnya membuat wasiat ini, Allah mengaitkannya dengan ketakwaan.

    “Dikitabkan bagi kamu, apabila seseorang antara kamu didatangi kematian, dan dia meninggalkan kebaikan (harta), supaya membuat wasiat untuk ibu bapaknya, dan sanak saudara dengan baik – sebagai suatu kewajiban atas orang-orang yang bertakwa”. [Q.S. 2:180]

    Apabila ternyata isi wasiat dirasakan tidak adil atau berdosa apabila dilaksanakan, maka para pihak yang terlibat dapat memperbaikinya agar adil.

    “Jika seseorang takut akan penyimpangan dari jalan yang benar, atau dosa dari orang yang berwasiat itu, lalu dia mengadakan perbaikan antara mereka, maka tidaklah ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Pengampun, Pengasih”. [Q.S. 2:182]

    Allah tetapkan pula agar di dalam wasiat itu dicantumkan pemberian uang belanja dan hak untuk tetap mendiami rumah bagi istri selama satu tahun. Apabila rumah yang dimaksud adalah rumah sewaan, maka pembayaran sewa rumahnya selama satu tahun harus diwasiatkan.

    “Dan orang-orang antara kamu yang mati dan meninggalkan isteri- isteri, hendaklah mereka membuat wasiat untuk isteri-isteri mereka nafkah untuk setahun tanpa mengeluarkannya (dari rumah)…”. [Q.S. 2:240]

    Turut dimasukkan sebagai pewaris di dalam wasiat adalah orang-orang yang terikat sumpah dengan si wafat. “Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu, bapak dan sanak saudara Kami jadikan pewaris-pewarisnya. Dan orang- orang yang terikat sumpah dengan kamu, berilah mereka bagiannya…” [Q.S. 4:33] Hemat penulis, yang dimaksud dengan orang-orang yang terikat sumpah ini adalah orang-orang kepada siapa si wafat ketika hidupnya berkomitmen untuk memberi nafkah. Masuk ke dalam kategori ini adalah: anak asuh, anak tiri, pembantu, kerabat yang miskin, anak yatim, dll. Wasiat hendaknya disaksikan oleh dua orang saksi yang adil. Saksi dapat merupakan orang yang dipercayai atau orang lain jika kebetulan maut mendatangi sedang kita dalam perjalanan. “Wahai orang-orang yang beriman, kesaksian antara kamu apabila salah seorang daripada kamu ditimpa maut, apabila dia berwasiat, ialah dua orang yang adil antara kamu, atau dua orang selain kamu jika kamu berpergian di bumi dan bencana maut menimpa kamu…” [Q.S. 5:106]

    Apabila ragu terhadap kejujuran saksi-saksi, kita minta agar mereka melafazkan sumpah dengan menyebut nama Allah setelah shalat dengan bunyi sebagaimana disebutkan oleh ayat berikut.

    “…Kemudian kamu tahan mereka sesudah shalat, dan mereka akan bersumpah dengan nama Allah, jika kamu ragu-ragu: ‘Kami tidak akan menjualnya untuk suatu harga, walaupun ia sanak saudara yang dekat, dan kami tidak juga akan menyembunyikan kesaksian Allah, karena jika demikian, tentu kami termasuk orang-orang yang berdosa'”. [Q.S. 5:106]

    Pada zaman sekarang kita dapat menggunakan jasa notaris untuk penyaksian wasiat ini.

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 3 January 2020 Permalink | Balas  

    Diam Itu Emas 

    Diam Itu Emas

    Aa. Gym.

    Dalam upaya mendewasakan diri kita, salah satu langkah awal yang harus kita pelajari adalah bagaimana menjadi pribadi yang berkemampuan dalam menjaga juga memelihara lisan dengan baik dan benar. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata benar atau diam.”, hadits diriwayatkan oleh Bukhari.

    1. Jenis-jenis Diam

    Sesungguhnya diam itu sangat bermacam-macam penyebab dan dampaknya. Ada yang dengan diam jadi emas, tapi ada pula dengan diam malah menjadi masalah. Semuanya bergantung kepada niat, cara, situasi, juga kondisi pada diri dan lingkungannya. Berikut ini bisa kita lihat jenis-jenis diam:

    • Diam Bodoh

    Yaitu diam karena memang tidak tahu apa yang harus dikatakan. Hal ini bisa karena kekurangan ilmu pengetahuan dan ketidakmengertiannya, atau kelemahan pemahaman dan alasan ketidakmampuan lainnya. Namun diam ini jauh lebih baik dan aman daripada memaksakan diri bicara sok tahu.

    • Diam Malas

    Diam jenis merupakan keburukan, karena diam pada saat orang memerlukan perkataannya, dia enggan berbicara karena merasa sedang tidak mood, tidak berselera atau malas.

    • Diam Sombong

    Ini pun termasuk diam negatif karena dia bersikap diam berdasarkan anggapan bahwa orang yang diajak bicara tidak selevel dengannya.

    • Diam Khianat

    Ini diamnya orang jahat karena dia diam untuk mencelakakan orang lain. Diam pada saat dibutuhkan kesaksian yang menyelamatkan adalah diam yang keji.

    • Diam Marah

    Diam seperti ini ada baiknya dan adapula buruknya, baiknya adalah jauh lebih terpelihara dari perkataan keji yang akan lebih memperkeruh suasana. Namun, buruknya adalah dia berniat bukan untuk mencari solusi tapi untuk memperlihatkan kemurkaannya, sehingga boleh jadi diamnya ini juga menambah masalah.

    • Diam Utama (Diam Aktif)

    Yang dimaksud diam keutamaan adalah bersikap diam hasil dari pemikiran dan perenungan niat yang membuahkan keyakinan bahwa engan bersikap menahan diri (diam) maka akan menjadi maslahat lebih besardibanding dengan berbicara.

    1. Keutamaan Diam Aktif
    • Hemat Masalah

    Dengan memilih diam aktif, kita akan menghemat kata-kata yang berpeluang menimbulkan masalah.

    • Hemat dari Dosa

    Dengan diam aktif maka peluang tergelincir kata menjadi dosapun menipis, terhindar dari kesalahan kata yang menimbulkan kemurkaan Allah.

    • Hati Selalu Terjaga dan Tenang

    Dengan diam aktif berarti hati akan terjaga dari riya, ujub, takabbur atau aneka penyakit hati lainnya yang akan mengeraskan dan mematikan hati kita.

    • Lebih Bijak

    Dengan diam aktif berarti kita menjadi pesdengar dan pemerhati yang baik, diharapkan dalam menghadapi sesuatu persoalan, pemahamannya jauh lebih mendaam sehingga pengambilan keputusan pun jauh lebih bijak dan arif.

    • Hikmah Akan Muncul

    Yang tak kalah pentingnya, orang yang mampu menahan diri dengan diam aktif adalah bercahayanya qolbu, memberikan ide dan gagasan yang cemerlang, hikmah tuntunan dari Allah swtakan menyelimuti hati, lisan, serta sikap dan perilakunya.

    • Lebih Berwibawa

    Tanpa disadari, sikap dan penampilan orang yang diam aktif akan menimbulkan wibawa tersendiri. Orang akan menjadi lebih segan untuk mempermainkan atau meremehkan.

    Selain itu, diam aktif merupakan upaya menahan diri dari beberapa hal, seperti:

    1. Diam dari perkataan dusta
    2. Diamdari perkataan sia-sia
    3. Diam dari komentar spontan dan celetukan
    4. Diam dari kata yang berlebihan
    5. Diam dari keluh kesah
    6. Diam dari niat riya dan ujub
    7. Diam dari kata yang menyakiti
    8. Diam dari sok tahu dan sok pintar

    Mudah-mudahan kita menjadi terbiasa berkata benar atau diam. Semoga pula Allah ridha hingga akhir hayat nanti, saat ajal menjemput, lisan ini diperkenankan untuk mengantar kepergian ruh kita dengan sebaik-baik perkataan yaitu kalimat tauhiid “laa ilaha illallah” puncak perkataan yang menghantarkan ke surga. Aamiin

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 2 January 2020 Permalink | Balas  

    Bunga Rampai Nasihat 

    Bunga Rampai Nasihat

    Aa. Gym.

    Mudah-mudahan Allah yang Maha Menguasai segala-galanya selalu membukakan hati kita agar bisa melihat hikmah dibalik setiap kejadian apapun yang terjadi. Yakinlah tidak ada satu kejadian pun yang sia-sia, tidak ada suatu kejadian pun yang tanpa makna, sangat rugi kalau kita menghadapi hidup ini sampai tidak mendapat pelajaran dari apa yang sedang kita jalani. Hidup ini adalah samudera hikmah tiada terputus. Seharusnya apapun yang kita hadapi, efektif bisa menambah ilmu, wawasan, khususnya lagi bisa menambah kematangan, kedewasaan, kearifan diri kita sehingga kalau kita mati besok lusa atau kapan saja, maka warisan terbesar kita adalah kehormatan pribadi kita, bukan hanya harta semata. Rindukanlah dan selalu berharap agar saat kepulangan kita nanti, saat kematian kita adalah saat yang paling indah.

    Harusnya saat malaikat maut menjemput, kita benar-benar dalam keadaan siap, benar-benar dalam keadaan khusnul khatimah. Harus sering dibayangkan kalau saat meninggal nanti kita sedang bagus niat, sedang bersih hati, keringat sedang bercucuran di jalan Allah SWT. Syukur-syukur kalau nanti kita meninggal, kita sedang bersujud atau sedang berjuang di jalan Allah. Jangan sampai kita mati sia-sia, seperti yang diberitakan koran-koran tentang seorang yang meninggal sedang nonton di bioskop. Terang saja buruk sekali orang yang meninggal di bioskop, apalagi misalnya film yang ditontonnya film (maaf) “Gairah Membara”, film maksiat, na’ udzubillah. Dia akan “membara” betulan di neraka nanti. Ingat maut adalah hal yang sangat penting.

    Tiada kehormatan dan kemuliaan kecuali dari Engkau wahai Allah pemilik alam semesta, yang mengangkat derajat siapa pun yang Engkau kehendaki dan menghinakan siapa pun yang Engkau kehendaki, segala puji hanyalah bagi-Mu dan milik-Mu. Shalawat semoga senantiasa terlimpah bagi kekasih Allah, panutan kita semua Rasulullah SAW.

    Sahabat, percayalah sehebat apapun harta, gelar, pangkat, kedudukan, atau atribut duniawi lainnya tak akan pernah berharga jikalau kita tidak memiliki harga diri. Apalah artinya harta, gelar, dan pangkat, kalau pemiliknya tidak punya harga diri.

    Hidup di dunia hanya satu kali dan sebentar saja. Kita harus bersungguh-sungguh meniti karier kehidupan kita ini menjadi orang yang memiliki harga diri dan terhormat dalam pandangan Allah SWT juga terhormat dalam pandangan orang-orang beriman. Dan kematian kita pun harus kita rindukan menjadi sebaik-baik kematian yang penuh kehormatan dan kemuliaan dengan warisan terpenting kehidupan kita adalah nama baik dan kehormatan kita yang tanpa cela, kehinaan.

    Langkah awal yang harus kita bangun dalam karier kehidupan ini adalah tekad untuk menjadi seorang muslim yang sangat jujur dan terpercaya sampai mati. Seperti halnya Rasulullah SAW memulai karier kehidupannya dengan gelar kehormatan Al Amin (seorang yang sangat terpercaya).

    Kita harus berjuang mati-matian untuk memelihara harga diri kehormatan kita menjadi seorang muslim yang terpercaya, sehingga tidak ada keraguan sama sekali bagi siapapun yang bergaul dengan kita, baik muslim maupun non muslim, baik kawan atau lawan, tidak boleh ada keraguan terhadap ucapan, janji, maupun amanah yang kita pikul.

    Oleh karena itu, pertama, jaga lisan kita. Jangan pernah berbohong dalam hal apapun. Sekecil dan sesederhana apapun, bahkan betapa pun terhadap anak kecil atau dalam senda gurau sekalipun. Harus benar-benar bersih dan meyakinkan, tidak ada dusta, pastikan tidak pernah ada dusta! Lebih baik kita disisihkan karena kita tampil apa adanya, daripada kita diterima karena berdusta. Sungguh tidak akan pernah bahagia dan terhormat menjadi seorang pendusta. (Tentu saja bukan berarti harus membeberkan aib-aib diri yang telah ditutupi Allah, ada kekuasaan tersendiri, ada kekhususan tersendiri. Jujur bukan berarti bebas membeberkan aib sendiri).

    Kedua, jaga lisan, jangan pernah menambah-nambah, mereka-reka, mendramatisir berita, informasi, atau sebaliknya meniadakan apa yang harus disampaikan. Sampaikanlah berita atau informasi yang mesti disampaikan seakurat mungkin sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Kita terkadang suka ingin menambah-nambah sesuatu atau bahkan merekayasa kata-kata atau cerita. Jangan lakukan! Sama sekali tidak akan menolong kita, nanti ketika orang tahu informasi yang sebenarnya, akan runtuhlah kepercayaan mereka kepada kita.

    Ketiga, jangan sok tahu atau sok pintar dengan menjawab setiap dan segala pertanyaan. Nah, orang yang selalu menjawab setiap pertanyaan bila tanpa ilmu akan menunjukkan kebodohan saja. Yakinlah kalau kita sok tahu tanpa ilmu itulah tanda kebodohan kita. Yang lebih baik adalah kita harus berani mengatakan “tidak tahu” kalau memang kita tidak mengetahuinya, atau jauh lebih baik disebut bodoh karena jujur apa adanya, daripada kita berdusta dalam pandangan Allah.

    Keempat, jangan pernah membocorkan rahasia atau amanat, terlebih lagi membeberkan aib orang lain. Jangan sekali-kali melakukannya. Ingat setiap kali kita ngobrol dengan orang lain, maka obrolan itu jadi amanah buat kita. Bagi orang yang suka membocorkan rahasia akan jatuhlah harga dirinya. Padahal justru kita harus jadi kuburan bagi rahasia dan aib orang lain. Yang namanya kuburan tidak usah digali-gali lagi kecuali pembeberan yang sah menurut syariat dan membawa kebaikan bagi semua pihak. Ingat, bila ada seseorang datang dengan menceritakan aib dan kejelekan orang lain kepada kita, maka jangan pernah percayai dia, karena ketika berpisah dengan kita, maka dia pun akan menceritakan aib dan kejelekan kita kepada yang lain lagi.

    Kelima, jangan pernah mengingkari janji dan jangan mudah mengobral janji. Pastikan setiap janji tercatat dengan baik dan selalu ada saksi untuk mengingatkan dan berjuanglah sekuat tenaga dan semaksimal mungkin untuk menepati janji walaupun dengan pengorbanan lahir batin yang sangat besar dan berat. Ingat, semua pengorbanan menjadi sangat kecil dibandingkan dengan kehilangan harga diri sebagai seorang pengingkar janji, seorang munafik, na’udzubillah. Tidak artinya. Semua pengorbanan itu kecil dibanding jika kita bernama si pengingkar janji. Rasulullah SAW pernah sampai tiga hari menunggu orang yang menjanjikannya untuk bertemu, beliau menunggu karena kehormatan bagi beliau adalah menepati janji.

    ***

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 1 January 2020 Permalink | Balas  

    Etika Berwirausaha 

    Etika Berwirausaha

    Aa. Gym

    Hikam: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya.” (QS. Al-Maidah: 2)

    Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT suka kepada hamba yang berkarya dan terampil. Barang siapa bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya, maka dia serupa dengan seorang mujahid fisabilillah.” (HR.Imam Ahmad)

    Rasul Adalah seorang entrepreunership atau wirausahawan. Mulai usia 8 tahun 2 bulan sudah mulai menggembalakan kambing. Pada usia 12 tahun berdagang sebagai kafilah ke negeri Syiria dan pada usia 25 tahun Rasul menikahi Khadijah dengan mahar 20 ekor unta muda. Ini menunjukan bahwa Rasul merupakan seorang wirausahawan yang sukses.

    Jiwa wirausaha harus benar-benar ditanamkan dari kecil, karena kalau tidak maka potensi apapun tidak bisa dibuat menjadi manfaat. Prinsip dari wirausahawan adalah memanfaatkan segala macam benda menjadi bermanfaat. Tidak ada kegagalan dalam berusaha, yang gagal yaitu yang tidak pernah mencoba berusaha.

    Gagal merupakan informasi menuju sukses, keuntungan bukan hanya untung untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain. Kredibilitas diri kita adalah modal utama dalam berwira usaha, dengan menahan diri untuk tidak menikmati kebahagiaan orang lain sebagai keberuntungan kita. Jual beli bukan hanya transaksi uang dan barang, tapi jual beli harus dijadikan amal soleh yaitu dengan niat dan cara yang benar.

    Uang yang tidak barokah tidak akan dapat memberi ketenangan, walau sebanyak apapun akan tetap kekurangan dan akan membuat kita hina. Berjualan dengan akhlak yang mulia, pembeli tidak hanya mendapat fasilitas dan tidak hanya mendapatkan barang tapi juga melihat kemuliaan akhlak seorang penjual.

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 31 December 2019 Permalink | Balas  

    Bersandar Hanya Kepada Allah 

    Bersandar Hanya Kepada Allah

    Aa. Gym

    Tiada keberuntungan yang sangat besar dalam hidup ini, kecuali orang yang tidak memiliki sandaran, selain bersandar kepada Allah. Dengan meyakini bahwa memang Allah-lah yang menguasai segala-galanya; mutlak, tidak ada satu celah pun yang luput dari kekuasaan Allah, tidak ada satu noktah sekecil apapun yang luput dari genggaman Allah. Total, sempurna, segala-galanya Allah yang membuat, Allah yang mengurus, Allah yang menguasai.

    Adapun kita, manusia, diberi kebebasan untuk memilih, “Faalhamaha fujuraha wataqwaaha”, “Dan sudah diilhamkan di hati manusia untuk memilih mana kebaikan dan mana keburukan”. Potensi baik dan potensi buruk telah diberikan, kita tinggal memilih mana yang akan kita kembangkan dalam hidup ini. Oleh karena itu, jangan salahkan siapapun andaikata kita termasuk berkelakuan buruk dan terpuruk, kecuali dirinyalah yang memilih menjadi buruk, naudzubillah.

    Sedangkan keberuntungan bagi orang-orang yang bersandarnya kepada Allah mengakibatkan dunia ini, atau siapapun, terlampau kecil untuk menjadi sandaran baginya. Sebab, seseorang yang bersandar pada sebuah tiang akan sangat takut tiangnya diambil, karena dia akan terguling, akan terjatuh. Bersandar kepada sebuah kursi, takut kursinya diambil. Begitulah orang-orang yang panik dalam kehidupan ini karena dia bersandar kepada kedudukannya, bersandar kepada hartanya, bersandar kepada penghasilannya, bersandar kepada kekuatan fisiknya, bersandar kepada depositonya, atau sandaran-sandaran yang lainnya.

    Padahal, semua yang kita sandari sangat mudah bagi Allah (mengatakan ‘

    sangat mudah’ juga ini terlalu kurang etis), atau akan ‘sangat mudah sekali’ bagi Allah mengambil apa saja yang kita sandari. Namun, andaikata kita hanya bersandar kepada Allah yang menguasai setiap kejadian, “laa khaufun alaihim walahum yahjanun’, kita tidak pernah akan panik, Insya Allah.

    Jabatan diambil, tak masalah, karena jaminan dari Allah tidak tergantung jabatan, kedudukan di kantor, di kampus, tapi kedudukan itu malah memperbudak diri kita, bahkan tidak jarang menjerumuskan dan menghinakan kita. kita lihat banyak orang terpuruk hina karena jabatannya. Maka, kalau kita bergantung pada kedudukan atau jabatan, kita akan takut kehilangannya. Akibatnya, kita akan berusaha mati-matian untuk mengamankannya dan terkadang sikap kita jadi jauh dari kearifan.

    Tapi bagi orang yang bersandar kepada Allah dengan ikhlas, ‘ya silahkan … Buat apa bagi saya jabatan, kalau jabatan itu tidak mendekatkan kepada Allah, tidak membuat saya terhormat dalam pandangan Allah?’ tidak apa-apa jabatan kita kecil dalam pandangan manusia, tapi besar dalam pandangan Allah karena kita dapat mempertanggungjawabkannya. Tidak apa-apa kita tidak mendapatkan pujian, penghormatan dari makhluk, tapi mendapat penghormatan yang besar dari Allah SWT. Percayalah walaupun kita punya gaji 10 juta, tidak sulit bagi Allah sehingga kita punya kebutuhan 12 juta. Kita punya gaji 15 juta, tapi oleh Allah diberi penyakit seharga 16 juta, sudah tekor itu.

    Oleh karena itu, jangan bersandar kepada gaji atau pula bersandar kepada tabungan. Punya tabungan uang, mudah bagi Allah untuk mengambilnya. Cukup saja dibuat urusan sehingga kita harus mengganti dan lebih besar dari tabungan kita. Demi Allah, tidak ada yang harus kita gantungi selain hanya Allah saja. Punya bapak seorang pejabat, punya kekuasaan, mudah bagi Allah untuk memberikan penyakit yang membuat bapak kita tidak bisa melakukan apapun, sehingga jabatannya harus segera digantikan.

    Punya suami gagah perkasa. Begitu kokohnya, lalu kita merasa aman dengan bersandar kepadanya, apa sulitnya bagi Allah membuat sang suami muntaber, akan sangat sulit berkelahi atau beladiri dalam keadaan muntaber. Atau Allah mengirimkan nyamuk Aides Aigepty betina, lalu menggigitnya sehingga terjangkit demam berdarah, maka lemahlah dirinya. Jangankan untuk membela orang lain, membela dirinya sendiri juga sudah sulit, walaupun ia seorang jago beladiri karate.

    Otak cerdas, tidak layak membuat kita bergantung pada otak kita. Cukup dengan kepleset menginjak kulit pisang kemudian terjatuh dengan kepala bagian belakang membentur tembok, bisa geger otak, koma, bahkan mati.

    Semakin kita bergantung pada sesuatu, semakin diperbudak. Oleh karena itu, para istri jangan terlalu bergantung pada suami. Karena suami bukanlah pemberi rizki, suami hanya salah satu jalan rizki dari Allah, suami setiap saat bisa tidak berdaya. Suami pergi ke kanotr, maka hendaknya istri menitipkannya kepada Allah.

    “Wahai Allah, Engkaulah penguasa suami saya. Titip matanya agar terkendali, titip hartanya andai ada jatah rizki yang halal berkah bagi kami, tuntun supaya ia bisa ikhtiar di jalan-Mu, hingga berjumpa dengan keadaan jatah rizkinya yang barokah, tapi kalau tidak ada jatah rizkinya, tolong diadakan ya Allah, karena Engkaulah yang Maha Pembuka dan Penutup rizki, jadikan pekerjaannya menjadi amal shaleh.”

    Insya Allah suami pergei bekerja di back up oleh do’a sang istri, subhanallah. Sebuah keluarga yang sungguh-sungguh menyandarkan dirinya hanya kepada Allah. “Wamayatawakkalalallah fahuwa hasbu”, (QS. At Thalaq [65] : 3). Yang hatinya bulat tanpa ada celah, tanpa ada retak, tanpa ada lubang sedikit pun ; Bulat, total, penuh, hatinya hanya kepada Allah, maka bakal dicukupi segala kebutuhannya. Allah Maha Pencemburu pada hambanya yang bergantung kepada makhluk, apalagi bergantung pada benda-benda mati. Mana mungkin? Sedangkan setiap makhluk ada dalam kekuasaan Allah. “Innallaaha ala kulli sai in kadir”.

    Oleh karena itu, harus bagi kita untuk terus menerus meminimalkan penggantungan. Karena makin banyak bergantung, siap-siap saja makin banyak kecewa. Sebab yang kita gantungi, “Lahaula wala quwata illa billaah” (tiada daya dan kekuatan yang dimilikinya kecuali atas kehendak Allah). Maka, sudah seharusnya hanya kepada Allah sajalah kita menggantungkan, kita menyandarkan segala sesuatu, dan sekali-kali tidak kepada yang lain, Insya Allah.

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 30 December 2019 Permalink | Balas  

    Belajar Dari Wajah 

    Belajar Dari Wajah

    Aa. Gym

    Menarik sekali jikalau kita terus menerus belajar tentang fenomena apapun yang terjadi dalam hiruk-pikuk kehidupan ini. Tidak ada salahnya kalau kita buat semacam target. Misalnya : hari ini kita belajar tentang wajah. Wajah? Ya, wajah. Karena masalah wajah bukan hanya masalah bentuknya, tapi yang utama adalah pancaran yang tersemburat dari si pemilik wajah tersebut.

    Ketika pagi menyingsing, misalnya, tekadkan dalam diri : “Saya ingin tahu wajah yang paling menenteramkan hati itu seperti apa? Wajah yang paling menggelisahkan itu seperti bagaimana?” karena pastilah hari ini kita akan banyak bertemu dengan wajah orang per orang. Ya, karena setiap orang pastilah punya wajah. Wajah irtri, suami, anak, tetangga, teman sekantor, orang di perjalanan, dan lain sebagainya. Nah, ketika kita berjumpa dengan siapapun hari ini, marilah kita belajar ilmu tentang wajah.

    Subhanallaah, pastilah kita akan bertemu dengan beraneka macam bentuk wajah. Dan, tiap wajah ternyata dampaknya berbeda-beda kepada kita. Ada yang menenteramkan, ada yang menyejukkan, ada yang menggelikan, ada yang menggelisahkan, dan ada pula yang menakutkan. Lho, kok menakutkan? Kenapa? Apa yang menakutkan karena bentuk hidungnya? Tentu saja tidak! Sebab ada yang hidungnya mungil tapi menenteramkan. Ada yang sorot matanya tajam menghunjam, tapi menyejukkan. Ada yang kulitnya hitam, tapi penuh wibawa.

    Pernah suatu ketika berjumpa dengan seorang ulama dari Afrika di Masjidil Haram, subhanallaah, walaupun kulitnya tidak putih, tidak kuning, tetapi ketika memandang wajahnya… sejuk sekali! Senyumnya begitu tulus meresap ke relung qolbu yang paling dalam. Sungguh bagai disiram air sejuk menyegarkan di pagi hari. Ada pula seorang ulama yang tubuhnya mungil, dan diberi karunia kelumpuhan sejak kecil. Namanya Syekh Ahmad Yassin, pemimpin spiritual gerakan Intifadah, Palestina. Ia tidak punya daya, duduknya saja di atas kursi roda. Hanya kepalanya saja yang bergerak. Tapi, saat menatap wajahnya, terpancar kesejukan yang luar biasa. Padahal, beliau jauh dari ketampanan wajah sebagaimana yang dianggap rupawan dalam versi manusia. Tapi, ternyata dibalik kelumpuhannya itu beliau memendam ketenteraman batin yang begitu dahsyat, tergambar saat kita memandang sejuknya pancaran rona wajahnya.

    Nah, saudaraku, kalau hari ini kita berhasil menemukan struktur wajah seseorang yang menenteramkan, maka caru tahulah kenapa dia sampai memiliki wajah yang menenteramkan seperti itu. Tentulah, benar-benar kita akan menaruh hormat. Betapa senyumannya yang tulus; pancaran wajahnya, nampak ingin sekali ia membahagiakan siapapun yang menatapnya. Dan sebaliknya, bagaimana kalau kita menatap wajah lain dengan sifat yang berlawanan; (maaf, bukan bermaksud meremehkan) ada pula yang wajahnya bengis, struktur katanya ketus, sorot matanya kejam, senyumannya sinis, dan sikapnya pun tidak ramah. Begitulah, wajah-wajah dari saudara-saudara kita yang lain, yang belum mendapat ilmu; bengis dan ketus. Dan ini pun perlu kita pelajari.

    Ambillah kelebihan dari wajah yang menenteramkan, yang menyejukkan tadi menjadi bagian dari wajah kita, dan buang jauh-jauh raut wajah yang tidak ramah, tidak menenteramkan, dan yang tidak menyejukkan.

    Tidak ada salahnya jika kita evalusi diri di depan cermin. Tanyalah; raut seperti apakah yang ada di wajah kita ini? Memang ada diantara hamba-hamba Allah yang bibirnya di desain agak berat ke bawah. Kadang-kadang menyangkanya dia kurang senyum, sinis, atau kurang ramah. Subhanallaah, bentuk seperti ini pun karunia Allah yang patut disyukuri dan bisa jadi ladang amal bagi siapapun yang memilikinya untuk berusaha senyum ramah lebih maksimal lagi.

    Sedangkan bagi wajah yang untuk seulas senyum itu sudah ada, maka tinggal meningkatkan lagi kualitas senyum tersebut, yaitu untuk lebih ikhlas lagi. Karena senyum di wajah, bukan hanya persoalan menyangkut ujung bibir saja, tapi yang utama adalah, ingin tidak kita membahagiakan orang lain? Ingin tidak kita membuat di sekitar kita tercahayai? Nabi Muhammad SAW, memberikan perhatian yang luar biasa kepada setiap orang yang bertemu dengan beliau sehingga orang itu merasa puas. Kenapa puas? Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW – bila ada orang yang menyapanya – menganggap orang tersebut adalah orang yang paling utama di hadapan beliau. Sesuai kadar kemampuannya.

    Walhasil, ketika Nabi SAW berbincang dengan siapapun, maka orang yang diajak berbincang ini senantiasa menjadi curahan perhatian. Tak heran bila cara memandang, cara bersikap, ternyata menjadi atribut kemuliaan yang beliau contohkan. Dan itu ternyata berpengaruh besar terhadap sikap dan perasaan orang yang diajak bicara.

    Adapun kemuramdurjaan, ketidakenakkan, kegelisahan itu muncul ternyata diantara akibta kita belum menganggap orang yang ada dihadapan kita orang yang paling utama. Makanya, terkadang kita melihat seseorang itu hanya separuh mata, berbicara hanya separuh perhatian. Misalnya, ketika ada seseorang yang datang menghampiri, kita sapa orang itu sambil baca koran. Padahal, kalau kita sudah tidak mengutamakan orang lain, maka curahan kata-kata, cara memandang, cara bersikap, itu tidak akan punya daya sentuh. Tidak punya daya pancar yang kuat.

    Orang karena itu, marilah kita berlatih diri meneliti wajah, tentu saja bukan maksud untuk meremehkan. Tapi, mengambil tauladan wajah yang baik, menghindari yang tidak baiknya, dan cari kuncinya kenapa sampai seperti itu? Lalu praktekkan dalam perilaku kita sehari-hari. Selain itu belajarlah untuk mengutamakan orang lain!

    Mudah-mudahan kita dapat mengutamakan orang lain di hadapan kita, walaupun hanya beberapa menit, walaupun hanya beberapa detik, subhanallaah.

    ***

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 29 December 2019 Permalink | Balas  

    Dasyatnya Sedekah 

    Dasyatnya Sedekah

    AA.Gym

    Dimanakah letak kedahsyatan hamba-hamba Allah yang bersedekah? Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut :

    Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? “Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?”

    Allah menjawab, “Ada, yaitu besi” (Kita mafhum bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi).

    Para malaikat pun kembali bertanya, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?”

    Allah yang Mahasuci menjawab, “Ada, yaitu api” (Besi, bahkan baja bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api).

    Bertanya kembali para malaikat, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?”

    Allah yang Mahaagung menjawab, “Ada, yaitu air” (Api membara sedahsyat apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air).

    “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?” Kembali bertanya para malaikta.

    Allah yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab, “Ada, yaitu angin” (Air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat).

    Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, “Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?”

    Allah yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya menjawab, “Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya.”

    Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.

    Inilah gambaran yang Allah berikan kepada kita bagaimana seorang hamba yang ternyata mempunyai kekuatan dahsyat adalah hamba yang bersedekah, tetapi tetap dalam kondisi ikhlas. Karena naluri dasar kita sebenarnya selalu rindu akan pujian, penghormatan, penghargaan, ucapan terima kasih, dan sebagainya. Kita pun selalu tergelitik untuk memamerkan segala apa yang ada pada diri kita ataupun segala apa yang bisa kita lakukan. Apalagi kalau yang ada pada diri kita atau yang tengah kita lakukan itu berupa kebaikan.

    Karenanya, tidak usah heran, seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas adalah orang-orang yang mempunyai kekuatan dahsyat. Sungguh ia tidak akan kalah oleh aneka macam selera rendah, yaitu rindu pujian dan penghargaan.

    Apalagi kedahsyatan seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas?

    Pada suatu hari datang kepada seorang ulama dua orang akhwat yang mengaku baru kembali dari kampung halamannya di kawasan Jawa Tengah. Keduanya kemudian bercerita mengenai sebuah kejadian luar biasa yang dialaminya ketika pulang kampung dengan naik bis antar kota beberapa hari sebelumnya. Di tengah perjalanan bis yang ditumpanginya terkena musibah, bertabrakan dengan dahsyatnya. Seluruh penumpang mengalami luka berat. Bahkan para penumpang yang duduk di kurs-kursi di dekatnya meninggal seketika dengan bersimbah darah. Dari seluruh penumpang tersebut hanya dua orang yang selamat, bahkan tidak terluka sedikit pun. Mereka itu, ya kedua akhwat itulah. Keduanya mengisahkan kejadian tersebut dengan menangis tersedu-sedu penuh syukur.

    Mengapa mereka ditakdirkan Allah selamat tidak kurang suatu apa? Menurut pengakuan keduanya, ada dua amalan yang dikerjakan keduanya ketika itu, yakni ketika hendak berangkat mereka sempat bersedekah terlebih dahulu dan selama dalam perjalanan selalu melafazkan zikir.

    Sahabat, tidaklah kita ragukan lagi, bahwa inilah sebagian dari fadhilah (keutamaan) bersedekah. Allah pasti menurunkan balasannya disaat-saat sangat dibutuhkan dengan jalan yang tidak pernah disangka-sangka.

    Allah Azza wa Jalla adalah Zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada semua hamba-Nya. Bahkan kepada kita yang pada hampir setiap desah nafas selalu membangkang terhadap perintah-Nya pada hampir setiap gerak-gerik kita tercermin amalan yang dilarang-Nya, toh Dia tetap saja mengucurkan rahmat-Nya yang tiada terkira.

    Segala amalan yang kita perbuat, amal baik ataupun amal buruk, semuanya akan terpulang kepada kita. Demikian juga jika kita berbicara soal harta yang kini ada dalam genggaman kita dan kerapkali membuat kita lalai dan alpa. Demi Allah, semua ini datangnya dari Allah yang Maha Pemberi Rizki dan Mahakaya. Dititipkan-Nya kepada kita tiada lain supaya kita bisa beramal dan bersedekah dengan sepenuh ke-ikhlas-an semata-mata karena Allah. Kemudian pastilah kita akan mendapatkan balasan pahala dari pada-Nya, baik ketika di dunia ini maupun saat menghadap-Nya kelak.

    Dari pengalaman kongkrit kedua akhwat ataupun kutipan hadits seperti diuraikan di atas, dengan penuh kayakinan kita dapat menangkap bukti yang dijanjikan Allah SWT dan Rasul-Nya, bahwa sekecil apapun harta yang disedekahkan dengan ikhlas, niscaya akan tampak betapa dahsyat balasan dari-Nya.

    Inilah barangkali kenapa Rasulullah menyerukan kepada para sahabatnya yang tengah bersiap pergi menuju medan perang Tabuk, agar mengeluarkan infaq dan sedekah. Apalagi pada saat itu Allah menurunkan ayat tentang sedekah kepada Rasulullah SAW, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir; seratus biji Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui,” demikian firman-Nya (QS. Al-Baqarah [2] : 261).

    Seruan Rasulullah itu disambut seketika oleh Abdurrahman bin Auf dengan menyerahkan empat ribu dirham seraya berkata, “Ya, Rasulullah. Harta milikku hanya delapan ribu dirham. Empat ribu dirham aku tahan untuk diri dan keluargaku, sedangkan empat ribu dirham lagi aku serahkan di jalan Allah.”

    “Allah memberkahi apa yang engkau tahan dan apa yang engkau berikan,” jawab Rasulullah.

    Kemudian datang sahabat lainnya, Usman bin Affan. “Ya, Rasulullah. Saya akan melengkapi peralatan dan pakaian bagi mereka yang belum mempunyainya,” ujarnya.

    Adapun Ali bin Abi Thalib ketika itu hanya memiliki empat dirham. Ia pun segera menyedekahkan satu dirham waktu malam, satu dirham saat siang hari, satu dirham secara terang-terangan, dan satu dirham lagi secara diam-diam.

    Mengapa para sahabat begitu antusias dan spontan menyambut seruan Rasulullah tersebut? Ini tiada lain karena yakin akan balasan yang berlipat ganda sebagaimana telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Medan perang adalah medan pertaruhan antara hidup dan mati. Kendati begitu para sahabat tidak ada yang mendambakan mati syahid di medan perang, karena mereka yakin apapun yang terjadi pasti akan sangat menguntungkan mereka. Sekiranya gugur di tangan musuh, surga Jannatu na’im telah siap menanti para hamba Allah yang selalu siap berjihad fii sabilillaah. Sedangkan andaikata selamat dapat kembali kepada keluarga pun, pastilah dengan membawa kemenangan bagi Islam, agama yang haq!

    Lalu, apa kaitannya dengan memenuhi seruan untuk bersedekah? Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala dan pelipat ganda rizki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. Masya Allah!

    Sahabat, betapa dahsyatnya sedekah yang dikeluarkan di jalan Allah yang disertai dengan hati ikhlas, sampai-sampai Allah sendiri membuat perbandingan, sebagaimana tersurat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, seperti yang dikemukakan di awal tulisan ini.

    ***

    Bundel by UGLY — Jan ’02

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 28 December 2019 Permalink | Balas  

    Budaya Bersahaja 

    Budaya Bersahaja

    Oleh: AA. Gym

    Kecenderungan manusia berperilaku boros terhadap harta memang sudah ada di dalam dirinya. Ditambah lagi perilaku boros adalah salah satu tipu daya setan terkutuk yang membuat harta yang kita miliki tidak efektif mengangkat derajat kita. Harta yang dimiliki justru efektif menjerumuskan, membelenggu, dan menjebak kita dalam kubangan tipu daya harta karena kita salah dalam menyikapinya.

    Hal ini dapat kita perhatikan dalam hidup keseharian kita. Orang yang punya harta, kecenderungan untuk menjadi pecinta harta cenderung lebih besar. Makin bagus, makin mahal, makin senang, maka makin cintalah ia kepada harta yang dimilikinya. Lebih dari itu, maka ingin pulalah ia untuk memamerkannya. Terkadang apa saja ingin dipamer-pamerkan. Ada yang pamer kendaraan, pamer rumah, pamer mebel, pamer pakaian, dan lain-lain. Sifat ini muncul karena salah satunya kita ini ingin tampil lebih wah, lebih bermerek, atau lebih keren dari orang lain. Padahal, makin bermerek barang yang dimiliki justru akan menyiksa diri.

    Suatu pengalaman ketika seseorang memberi sebuah ballpoint. Dari tampangnya ballpoint ini saya pikir sangat bagus, mengkilat, dan ketika dipakai untuk menulis pun enak. Tapi tiba-tiba ballpoint ini menjadi barang yang menyengsarakan ketika ada yang memberi tahu bahwa ballpoint yang mereknya “MP” itu adalah sebuah merek terkenal untuk ukuran sebuah benda bernama ballpoint. Mulanya tidak mengerti sama sekali. Tadinya saya kira harganya paling cuma ribuan rupiah saja. Nah, gara-gara tahu itu ballpoint mahal, sikap pun jadi berubah. Tiba-tiba jadi takut hilang, ketika dibawa takut jatuh, ketika dipinjam takut cepat habis tintanya karena tintanya pun mahal, mau disimpan takut jadi mubazir, mau dikasihkan ke orang lain sayang, ditambah lagi saat dipakai pun malu, mungkin nanti ada yang komentar “Wah, Aa ballpoint-nya ballpoint mahal!”. Begitulah, nasib punya barang bermerek, tersiksa!

    Sebaliknya, kalau kita terbiasa dengan barang yang biasa-biasa, dapat dipastikan hidup pun akan lebih ringan. Karenanya, hati-hatilah saudaraku. Apalagi dalam kondisi ekonomi bangsa kita yang sedang terpuruk seperti saat ini. Kita harus benar-benar mengendalikan penuh keinginan-keinginan kita jikalau ingin membeli suatu barang. Ingat, yang paling penting adalah bertanya pada diri apa yang paling bermamfaat dari barang yang kita beli tersebut. Buat pula skala prioritas, misalnya, haruskah membeli sepatu seharga 1 juta rupiah padahal keperluan kita hanya sebentuk sepatu olahraga. Apalagi dihadapan tersedia aneka pilihan harga, mulai dari yang 700 ribu, 400 ribu, 200 ribu, sampai yang 50 ribu rupiah. Mereknya pun beragam, tinggal dipilih mana kira-kira yang paling sesuai. Nah, kalau kita ada dalam posisi seperti ini, maka carilah sepatu yang paling tidak membuat kita sombong ketika memakainya, yang paling tidak menyikasa diri dalam merawatnya, dan yang paling bisa bermamfaat

    sesuai tujuan utama dari pembelian sepatu tersebut. Hati-hatilah, sebab yang biasa kita beli adalah mereknya, bukan awetnya, karena kalau terlalu awet pun akan bosan pula memakainya. Jangan pula tergesa-gesa, dan ketahuilah bahwa pemboros-pemboros itu adalah saudaranya setan.

    Dalam hal ini Allah SWT berfirman, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu saudaranya setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhan-Nya” (QS. Al Israa [17] : 26-27). Dalam ayat lain Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak pula mereka kikir. Dan adalah pembelanjaan itu ditengah-tengah yang demikian itu”. (QS. Al Furqan [25] : 67)

    Jelaslah kiranya bahwa sikap boros lebih dekat kepada perilaku setan, naudzubillaah. Karenanya, budaya bersahajalah salah satu budaya yang harus kita tanamkan kuat-kuat dalam diri. Memilih hidup dengan budaya bersahaja bukan berarti tidak boleh membeli barang-barang yang bagus, mahal, dan bermerek. Silahkan saja! Tapi ternyata kalau kita berlaku boros, sama sekali tidak akan menjadi amal kebaikan bagi kita. Saya kira hikmah dari krisis ekonomi yang menimpa bangsa kita, salah satunya kita harus benar-benar mengendalikan keinginan kita. Tidak setiap keinginan harus dipenuhi. Karena jikalau kita ingin membeli sesuatu karena ingin dan senang, ketahuilah bahwa keinginan itu cepat berubah. Kalau kita membeli sesuatu karena suka, maka ketika melihat yang lebih bagus, akan hilanglah selera kita pada barang yang awalnya lebih bagus tadi. Belilah sesuatu hanya karena perlu dan mampu saja. Sekali lagi, hanya karena perlu! Perlukah saya beli barang ini? Matikah saya kalau tidak ada

    barang ini? Kalau tidak ada barang ini saya hancur tidak? Itulah yang harus selalu kita tanyakan ketika akan membeli suatu barang. Kalau saja kita masih bisa bertahan dengan barang lain yang lebih bersahaja, maka lebih bijak jika kita tidak melakukan pembelian.

    Misalnya, ketika tersirat ingin membeli motor baru, tanyakan; perlukah kita membeli motor baru? Sudah wajibkah kita membelinya? Nah, ketika alasan pertanyaan tadi sudah logis dan dapat diterima akal sehat, maka kalau pun jadi membeli pilihlah yang skalanya paling irit, paling hemat, dan paling mudah perawatannya. Jangan berpikir dulu tentang keren atau mereknya. Cobalah renungkan; mending keren tapi menderita atau irit tapi lancar? Tahanlah keinginan untuk berlaku boros dengan sekuat tenaga, yakinlah makin kita bisa mengendalikan keinginan kita, Insya Allah kita akan makin terpelihara dari sikap boros. Sebaliknya, jika tidak dapat kita kendalikan, maka pastilah kita akan disiksa oleh barang-barang kita sendiri. Kita akan disiksa oleh kendaraan kita dan disiksa oleh harta kita yang kita miliki. Rugi, sangat rugi orang yang memperturutkan hidupnya karena sesuatu yang dianggap keren atau bermerek. Apalagi, keren menurut kita belum tentu keren menurut orang lain, bahkan

    sebaliknya bisa jadi malah dicurigai. Karena ada pula orang yang ketika memakai sesuatu yang bermerek, justru disangka barang temuan.

    Seperti kisah santri di sebuah pesantren. Saat ada santri yang memakai sepatu yang sangat bagus dengan merek terkenal, justru disangka sepatu jamaah yang ketika berkunjung ke pesantren tersebut tertinggal di mesjid. Lain waktu, ada juga yang memakai arloji sangat bagus dengan merek terkenal buatan dari negeri Swiss sana, tapi orang lain justru malah berprasangka kalau arloji itu barang temuan dari tempat wudhu. Begitulah, bagi orang yang maqam-nya murah meriah, ketika memakai barang mahal justru malah dicurigai.

    Karenanya, biasakanlah untuk senantiasa bersahaja dalam setiap yang kita lakukan. Dan mudah-mudahan dalam kondisi ekonomi sulit seperti ini Allah mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk menjadi orang yang terpelihara dari perbuatan sia-sia dan pemborosan.

    ***

    Bundel by UGLY — Jan ’02

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 27 December 2019 Permalink | Balas  

    Masuk Masjid Sehabis Makan Bawang Merah, Bawang Putih Atau Sesuatu Yang Berbahu Tak Sedap. 

    Masuk Masjid Sehabis Makan Bawang Merah, Bawang Putih Atau Sesuatu Yang Berbahu Tak Sedap.

    Oleh : Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

    “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki Masjid (Al A’raf: 31)

    Jabir Radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

    “Barangsiapa makan bawang putih atau bawang merah hendaknya ia menjauhi kami, atau beliau bersabda: hendaknya ia menjauhui mesjid kami dan diam di rumahnya” (HR Al Bukhari, lihat Fathul Bari: 2/339)

    Dalam riwayat Muslim disebutkan:

    “Barangsiapa makan bawang merah dan bawang putih dan bawang bakung maka janganlah mendekati masjid kami, sesungguhnya malaikat merasa terganggu dengan sesuatu yang anak Adam merasa terganggu dengannya” (HR Muslim:1/395)

    Suatu ketika Umar bin Khathab Radhiallahu’anhu berkhutbah Jum’at, dalam khutbahnya ia berkata:

    “kemudian kalian wahai manusia, memakan dua pohon yang aku tidak memandangnya kecuali dua hal yang buruk (baunya) yakni bawang merah dan bawang putih. Sungguh aku melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam apabila mendapatkan bau keduanya dari seseorang dalam masjid, beliau memerintah orang tersebut keluar ke padang luas. Karena itu barangsiapa memakannya hendaknya mematikan (bau) keduanya dengan memasaknya” (HR Muslim: 1/396)

    Termasuk dalam hal ini adalah mereka yang langsung masuk masjid usai bekerja, lalu ketiak dan kaos kaki mereka menyebarkan bau tak sedap.

    Lebih buruk lagi adalah orang-orang yang membiasakan diri merokok yang hukumnya adalah haram. Kemudian mereka masuk masjid dan menebarkan bau yang mengganggu hamba-hamba Allah, para malaikat dan mereka yang shalat.

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 26 December 2019 Permalink | Balas  

    Mendahului Imam Secara Sengaja Dalam Shalat 

    Mendahului Imam Secara Sengaja Dalam Shalat

    Oleh: Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Di antara tabiat manusia adalah tergesa-gesa dalam tindakannya, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

    “Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (Al Isra’: 11)

    Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

    Pelan-pelan adalah dari Allah, dan tergesa-gesa adalah dari syaitan” [Hadits riwayat Baihaqi dalam As Sunanul kubra: 10/ 104; dalam As Silsilah As Shahihah hadits no: 1795]

    Dalam shalat jamaah, sering orang menyaksikan di kanan kirinya banyak orang yang mendahului imam dalam ruku’ dan sujud takbir perpindahan bahkan hingga mendahului salam imam. Mungkin dengan tak disadari, hal itu juga tarjadi pada dirinya sendiri.

    Perbuatan yang barangkali dianggap persoalan remeh oleh sebagian besar umat Islam itu oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam diperingatkan dan diancam secara keras, dalam sabdanya:

    “Tidakkah takut orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, bahwa Allah akan mengubah kepalanya menjadi kapala keledai” (HR Muslim: 1/320-321)

    Jika saja orang yang hendak melakukan shalat dituntut untuk mendatanginya dengan tenang, apalagi dengan shalat itu sendiri.

    Tetapi terkadang orang memahami larangan mendahului imam itu dengan harus terlambat dari gerakan imam. Hendaknya dipahami, para fuqaha telah menyebutkan kaidah yang baik dalam masalah ini, yaitu hendaknya makmum segera bergerak ketika imam telah selesai mengucapkan takbir. Ketika imam selesai melafadzkan huruf (ra’)dari kalimat Allahu Akbar, saat itulah makmum harus segera mengikuti gerak imam, tidak mendahului dari batasan tersebut atau mengakhirkannya. Jika demikian maka batasan itu menjadi jelas.

    Dahulu para sahabat Nabi Radhiallahu Anhum sangat berhati–hati sekali untuk tidak mendahului Nabi Shallallahu’alaihi wasallam. Salah seorang sahabat bernama Al Barra’ Bin Azib Radhiallahu’anhu berkata:

    “Sungguh mereka (para shahabat) shalat di belakang Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. Maka, jika beliau mengangkat kepalanya dari ruku’, saya tak melihat seorangpun yang membungkukkan punggungnya sehingga Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam meletakkan keningnya di atas bumi, lalu orang yang ada di belakangnya bersimpuh sujud (bersamanya)” (HR Muslim, hadits No: 474)

    Ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mulai udzur, dan geraknya tampak pelan, beliau mengingatkan orang-orang yang shalat di belakangnya:

    Wahai sekalian manusia, sungguh aku telah gemuk [lanjut usia], maka janganlah kalian mendahuluiku dalam ruku’ dan sujud “ (HR Baihaqi 2/93 dan hadits tersebut dihasankan di Irwa’ul ghalil: 2/290)

    Dalam shalatnya, Imam hendaknya melakukan sunahnya takbir. Yakni sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah Radhiallahu’anhu:

    “Bila Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam berdiri untuk shalat, beliau bertakbir ketika berdiri, kemudian bertakbir ketika ruku’ kemudian bertakbir ketika turun (hendak sujud) kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya, kemudian bertakbir ketika sujud, kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya, demikian beliau lakukan dalam semua shalatnya sampai selesai dan bertakbir ketika bangkit dari dua (rakaat) setelah duduk (tasyahhud pertama)”

    Jika imam menjadikan takbirnya bersamaan dan beriringan dengan gerakannya, sedang makmum memperhatikan ketentuan dan cara mengikuti imam sebagaimana disebutkan di muka maka jamaah shalat tersebut menjadi sempurna.

     
  • erva kurniawan 2:59 am on 25 December 2019 Permalink | Balas  

    Kisah Zubair Bin Awwam Radhiyallahu Anhu (2) 

    Kisah Zubair Bin Awwam Radhiyallahu Anhu (2)

    Inilah memang dahsyatnya bahaya fitnah, sehingga orang-orang terpilih di masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam saling berperang satu sama lainnya.

    Ada perbedaan pendapat tentang syahidnya Zubair. Satu riwayat menyebutkan, ketika pertempuran mulai berlangsung dan dari kedua pihak berjatuhan korban tewas, Ali menangis dan menghentikan pertempuran, padahal saat itu posisinya dalam keadaan memang. Ali meminta kehadiran Thalhah dan Zubair untuk melakukan islah. Ali mengingatkan Thalhah dan Zubair berbagai hal ketika bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, termasuk ramalan-ramalan beliau tentang mereka bertiga. Thalhah dan Zubair menangis mendengar penjabaran Ali dan seolah diingatkan akan masa-masa indah bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, apalagi saat itu mereka melihat Ammar bin Yasir ikut bergabung dalam pasukan Ali. Masih jelas terngiang sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam ketika ‘kerja bakti’ membangun masjid Nabawi, “Aduhai Ibnu Sumayyah (yakni, Ammar bin Yasir), ia akan terbunuh oleh kaum pendurhaka…..!!”

    Zubair dan Thalhah memutuskan menghentikan pertempuran dan ia menyarungkan senjatanya, kemudian berbalik menemui pasukannya. Tetapi ada anggota pasukan yang tidak puas dengan keputusan ini dan mereka memanah keduanya hingga tewas. Sebagian riwayat menyebukan pembunuhnya dari pasukan Ali, riwayat lain dari pasukan Bashrah sendiri.

    Sedangkan riwayat lain menyebutkan, pertempuran berlangsung seru dan pasukan Bashrah dikalahkan oleh pasukan Ali, Thalhah dan Zubair bin Awwam gugur menemui syahidnya. Sedangkan Ummul Mukminin Aisyah dikirimkan lagi ke Madinah dengan pengawalan saudaranya, Muhammad bin Abu Bakar yang ada di fihak Ali.

    Zubair meninggal dalam usia 64 tahun, dan jenazahnya di makamkan di suatu tempat yang disebut Waadis Sibba, sekitar 7,5 km dari kota Bashrah, di Irak sekarang ini.

    Usai pertempuran, ketika Ali sedang beristirahat, datang salah seorang prajuritnya dan berkata, “Amr bin Jurmuz at Tamimi, pembunuh Zubair bin Awwam menunggu di luar, minta ijin untuk menghadap!!”

    Ali mengijinkannya. Amr masuk dengan pongahnya, ia mengira akan memperoleh pujian dan penghargaan karena telah membunuh seseorang yang memusuhi khalifah Ali. Tapi begitu bertatap muka, Ali membentaknya dengan keras, dan berkata, “Apakah pedang yang kamu bawa itu pedang Zubair??”

    Dengan gemetar ketakutan, ia berkata, “Benar, ini pedang Zubair, saya merampasnya setelah saya membunuhnya!”

    Ali mengambil pedang tersebut dari tangannya dan menggenggamnya penuh perasaan dan khusyu, diciumnya pedang yang pernah didoakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam tersebut penuh rindu dan haru, hingga air mata membasahi pipinya, kemudian Ali berkata, “Pedang ini, Demi Allah, adalah pedang yang selama ini digunakan pemiliknya untuk membebaskan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dari berbagai marabahaya…..!!”

    Setelah itu Ali memandang Amr bin Jurmuz dengan mata menyala, “Mengenai dirimu, wahai pembunuh Zubair, bergembiralah dengan masuk neraka, atas apa yang kamu lakukan kepada putra Shafiyah ini….!”

    Amr berlalu dengan dongkol karena maksudnya tidak tercapai, sambil ia bergumam, “Aneh sekali tuan-tuan ini, telah kami bunuh musuh tuan, tetapi tuan katakan saya akan masuk neraka….!!”

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 24 December 2019 Permalink | Balas  

    Kisah Zubair Bin Awwam Radhiyallahu Anhu (1) 

    Kisah Zubair Bin Awwam Radhiyallahu Anhu (1)

    Sebagaimana para sahabat pada masa awal, keislamannya membawanya kepada penyiksaan dari kaum Quraisy, walau sebenarnya ia dari keluarga terhormat dan sangat disegani.

    Pamannya sendiri, Naufal bin Khuwailid yang dikenal dengan nama “Singa Quraisy”, pernah menggulungnya dengan tikar dan menggantungnya terbalik dalam keadaan terikat, dan di bawahnya ada api sehingga asapnya menyesakkan dadanya. Berbagai siksaan ditimpakan oleh kaum kerabatnya sendiri, tetapi semua itu tidak mampu mengembalikannya ke agama jahiliahnya.

    Karena makin kerasnya tekanan dan siksaan yang ditimpakan kaum kafir Quraisy pada orang-orang yang memeluk Islam, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengijinkan mereka untuk berhijrah ke Habasyah, dan Zubair termasuk di antaranya.

    Raja Habasyah, Najasyi memberikan perlindungan kepada para muhajirin ini, dan memberikan kebebasan untuk melaksanakan ibadahnya sendiri. Hal itu menimbulkan sekelompok orang melakukan pemberontakan, tidak setuju dengan sikap Najasyi tersebut. Sempat terjadi pertempuran, yang dalam pertempuran tersebut Zubair ikut berperan serta sebagai mata-mata untuk kepentingan Najasyi dan kaum muhajirin lainnya. Jika ternyata Najasyi kalah, ia harus segera memberitahukan agar kaum muslimin bisa segera meninggalkan bumi Habasyah. Tetapi Allah menghendaki kemenangan ada di pihak Najasyi, sehingga kaum muslimin dengan tenang tinggal di negeri Nashrani tersebut.

    Walau hidup dalam keadaan damai dan tenang melaksanakan ibadah, tetapi hati Zubair selalu gelisah. Sejak ia memeluk Islam, hatinya seolah terikat dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Ada kerinduan menggejolak untuk selalu bersama beliau, walau ada juga kekhawatiran. Karena itu, begitu mendengar keislaman Hamzah dan Umar bin Khaththab, yang membuat posisi kaum muslimin lebih kuat, ia segera kembali ke Makkah untuk bisa selalu bertemu dan melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, kapan saja kerinduannya itu datang.

    Zubair juga dikenal sebagai penunggang kuda yang handal. Dialah salah satu dari hanya dua penunggang kuda pasukan muslim pada Perang Badar, dan ia diserahi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memimpin front/sisi kanan. Satu lagi adalah Miqdad bin Aswad, diserahi untuk memimpin front kiri. Dengan pedang yang pernah didoakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, jiwa kepahlawanannya jadi makin menonjol. Dalam perang Badar tersebut ia mampu membunuh jagoan-jagoan Quraisy yang jadi andalan, seperti Naufal bin Khuwailid, Si Singa Quraisy yang masih pamannya sendiri, Ubaidah bin Said, Ibnul Ash bin Umayyah, dan lain-lain.

    Pada awal perang Uhud, Nabi Shallallahu  ‘Alaihi Wassalam mengangkat sebuah pedang dan berkata, “Siapa yang mau mengambil pedang ini dengan memberikan haknya??”

    Beberapa sahabat yang berkumpul tidak segera memberikan kesanggupan, maka Zubair bin Awwam segera menyahutnya, “Saya, ya Rasulullah.”

    Tetapi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam hanya memandangnya sekilas, kemudian mengulangnya hingga tiga kali, dan hanya Zubair yang dengan segera menyanggupinya. Namun demikian beliau tidak menyerahkan pedang tersebut kepadanya. Ketika Abu Dujanah yang menyanggupinya, beliau langsung menyerahkannya. Ini bukan berarti Nabi Shallallahu  ‘Alaihi Wassalam tidak mempercayainya, tetapi Zubair telah memiliki pedang yang pernah didoakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sehingga ia tidak memerlukan pedang lainnya. Biarlah pedang tersebut dipegang dan dimiliki sahabat lain untuk mengukirkan kepahlawanannya kepada Islam.

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 23 December 2019 Permalink | Balas  

    Kisah Sa’d Bin Abu Waqash (3) 

    Kisah Sa’d Bin Abu Waqash (3)

    Pada masa Khalifah Utsman bin Affan, dunia Islam dilanda badai fitnah dan telah membawa korban dengan syahidnya Utsman sendiri. Disusul ketika Khalifah ke-4 Ali bin Abi Thalib, badai fitnah belum juga reda. Banyak orang yang ambisius tampil ke gelanggang untuk merebut kedudukan Khalifah.

    Sa’d sebagai sahabat yang waktu itu masih hidup pun tidak urung ditampilkan orang untuk merebut kedudukan Khalifah Ali. Bahkan Hasyim bin Utbah, keponakannya sendiri mengusulkan agar Sa’d tampil dan merebut kekuasaan Ali. Dengan pongah, Hasyim berkata kepadanya : “Paman, di sini telah siap 100.000 pedang yang mengagap paman adalah orang yang lebih berhak duduk dalam kursi Khalifah. Bangkitlah wahai Paman dan rebutlah kursi kepemimpinan Khalifah itu”

    Sa’d terperanjat dan dengan tegas berkata kepada Hasyim :

    “Dari 100 ribu pedang yang akan kau berikan kepadaku, aku hanya ingin sebuah saja. Dan sebuah itu pun bila kutebaskan kepada sesama mukmin tidak akan mempan sedikit juga. Tapi sebaliknya bila kutebaskan ke leher orang musyrik pastilah putus batang lehernya”

    Mendengar jawaban sang paman, Hasyim mundur, ia memahami bahwa pamannya bukan orang yang gila pangkat atau jabatan. Apalagi untuk merebut kedudukan Ali, pantang baginya. Sa’d memang orang yang sederhana, meski kekayaannya melimpah dan banyak jabatan disodorkan kepadanya. Dalam usianya yang makin menua, hanya satu keinginannya, yaitu bisa menghadap Allah Subhanahu Wata’ala dengan tenang, membawa ketenangan manis dalam membela Islam.

    Pernah suatu ketika seblum Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam wafat, dalam suatu majlis Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam duduk bersama sahabatnya, tiba-tiba beliau berkata:

    “Tunggulah, sekarang akan datang di hadapan kalian seorang laki-laki penduduk Surga”

    Para sahabat kaget bercampur bingung, menoleh ke kanan dan ke kiri, siapa yang dimaksudkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, “Laki-laki penduduk Surga”. Ketika para sahabat sedang memikirkan maksud ucapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam itu, datanglah Sa’d. Para sahabat pun gembira menyambut kedatangannya.

    Hadiah berupa doa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, muncul lantaran keikhlasan mematuhi segala perintah Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasul-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ia memang dikenal seorang ahli ibadah dalam pengertian luas, bukan semata-mata ibadah khusus seperti Sholat, puasa, zakat dan haji, tapi setiap amal perbuatannya itu semata-mata dilandasi oleh semangat pengabdian kepada Allah Subhanahu Wata’ala, yang berkobar-kobar di lubuk hatinya.

    Abdullah bin Amru bin Ash pernah datang menemuinya, menanyakan jenis ibadat dan amal perbuatan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala, Sa’d menjawab sederhana: “Aku beribadah seperti yang biasa kita sama-sama lakukan, hanya saja aku tak pernah menaruh dendam atau niat jahat terhadap siapapun selagi ia masih sama-sama muslim”

    Cita-citanya itu terkabulkan, Ia wafat hanya dikafani oleh kain putih yang pernah dipakaikannya sewaktu ikut perang Badar, Peperangan yang sangat dasyat yang untuk pertama kalinya dihadapi kaum muslimin.

    Dalam perang itu, Sa’d mengenakan kain (lusuh) yang sampai akhir hayatnya disimpan baik-baik dan sekarang digunakan untuk mengkafani jasadnya.

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 22 December 2019 Permalink | Balas  

    Kisah Sa’d Bin Abu Waqash Radhiyallahu Anhu (2) 

    Kisah Sa’d Bin Abu Waqash Radhiyallahu Anhu (2)

    Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam pernah menyatakan ada sepuluh sahabat yang dijamin pasti masuk surga, ketika mereka masih hidup. Selain empat sahabat Khulafaur Rasyidin, mereka adalah Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa’id bin Zaid, Abdurrahman bin Auf, Abu Ubaidah bin Jarrah dan tentunya Sa’d bin Abi Waqqash sendiri. Ia memang tidak pernah tertinggal berjuang bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, bahkan ia adalah orang Arab pertama yang memanah di jalan Allah. Ia pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dalam suatu pasukan tanpa bahan makanan yang mencukupi, kecuali hanya daun-daun pohon hublah dan pohon samurah. Akibatnya ada beberapa anggota pasukan yang kotorannya seperti kotoran kambing karena sangat keringnya.

    Suatu ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam merasa begitu senang dan berkenan dengan perilaku Sa’d, beliaupun berdoa, “Ya Allah, tepatkanlah panahnya, dan kabulkanlah doanya.”

    Sejak saat itu, panah Sa’d merupakan senjata andalan dan sangat ditakuti oleh musuh. Siapapun yang menjadi sasaran panahnya, ia tidak akan lolos dan selamat lagi. Begitu juga dengan doanya, apapun yang dipanjatkannya seolah tak ada penghalang antara dirinya dengan Allah Subhanahu Wata’ala.

    Pernah suatu ketika ada seseorang yang memaki Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bib Awwam. Sa’d menasehatinya untuk menghentikan perbuatannya tersebut, tetapi orang tersebut masih terus saja memaki tiga orang sahabat utama tersebut. Sa’d pun mengancam akan mendoakan kepada Allah, tetapi dengan sinis ia berkata kepada Sa’d, “Kamu menakut-nakuti aku seolah engkau seorang Nabi saja….!”

    Sa’d pun akhirnya pergi ke masjid, ia berwudhu dan shalat dua rakaat, kemudian berdoa, “Ya Allah, kiranya menurut ilmu-MU, orang ini telah memaki sekelompok orang yang telah memperoleh kebaikan dari Engkau, dan sekiranya sikapnya tersebut mengundang kemurkaan-MU, aku mohon Engkau tunjukkan suatu pertanda yang akan menjadi pelajaran bagi yang lainnya….”

    Tidak lama kemudian, ada seekor unta yang menjadi liar masuk kerumunan orang. Anehnya ia seolah-olah mencari seseorang, dan ketika ditemukan lelaki yang memaki tiga sahabat tersebut, ia menerjang, menyepak dan menginjak-injak lelaki tersebut hingga tewas.

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 21 December 2019 Permalink | Balas  

    Kisah Sa’d Bin Abi Waqash Radhiyallahu Anhu (1) 

    Kisah Sa’d Bin Abi Waqash Radhiyallahu Anhu (1)

    Sa’d bin Malik az Zuhri, atau lebih dikenal sebagai Sa’d bin Abi Waqqash masih termasuk paman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, tetapi usianya jauh lebih muda daripada beliau. Ia memeluk Islam ketika berusia 17 tahun, dan termasuk as sabiqunal awwalun. Sebagian riwayat menyatakan ia orang ke tiga, ke empat atau ke tujuh dari kalangan lelaki remaja/dewasa, yang jelas ia memeluk Islam lewat informasi dan pengaruh Abu Bakar.

    Hidayah itu datang berawal dari sebuah mimpi. Sa’d bermimpi matahari tidak muncul lagi sehingga dunia diliputi kegelapan. Tidak ada lagi bedanya siang dan malam. Tetapi kemudian muncul seberkas cahaya, yang di antara cahaya tersebut ada wajah-wajah yang dikenalinya, Abu Bakar, Zaid bin Haritsah dan Ali bin Abi Thalib. Ia bertanya, “Kapan kalian datang, tiba-tiba saja sudah ada di sini?”

    Mereka berkata, “Ya saat ini kami datang….”

    Setelah itu mereka lenyap dan Sa’d terbangun dari mimpinya. Ia gelisah memikirkan mimpinya sehingga fajar menjelang. Pagi harinya ia berangkat ke tempat pekerjaannya seperti biasa, tetapi tidak ada kegairahan kerja seperti hari-hari sebelumnya. Dalam keadaan yang demikian, Abu Bakar muncul. Mereka berbincang-bincang dan Abu Bakar menceritakan tentang risalah yang dibawa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, Abu Bakar mengajaknya untuk memeluk Islam seperti dirinya. Tiba-tiba saja suasana hatinya berubah menjadi cerah, seperti suasana mimpinya ketika berkas cahaya muncul menyibak kegelapan tanpa matahari. Tanpa pikir panjang ia menerima ajakan Abu Bakar, mereka berdua berjalan menuju tempat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, dan Sa’d berba’iat memeluk Islam.

    Ketika diketahui Sa’d bin Abi Waqqash masuk Islam, ibunya sangat tidak menyetujuinya, padahal Sa’d orang yang sangat menghormati dan menyantuni ibunya. Sang ibu menyuruh Sa’d untuk meninggalkan Islam, dan mengancam, “Wahai Sa’d, agama apa yang kamu peluk itu? Sekarang kau harus pilih, kau kembali ke agama nenek moyangmu, atau aku tidak akan makan dan minum sampai aku mati karena perbuatanmu itu?”

    Sa’d hanya berkata, “Jangan kau lakukan itu wahai Ibu, tetapi aku tidak akan meninggalkan agamaku ini.”

    Ibunya pun melaksanakan ancamannya, ia tidak makan dan minum. Hingga hari ketiga, ketika keadaan ibunya sudah sangat payah dan mengkhawatirkan, Orang-orang menjemput Sa’d dan menghadapkan pada ibunya. Sa’d akhirnya berkata, “Demi Allah, jika ibu mempunyai seribu nyawa, dan keluar satu persatu, aku tidak akan meninggalkan agama Islam ini.”

    Melihat tekad anaknya yang begitu kuat, tidak bisa ditawar-tawar lagi, akhirnya sang ibu mengalah dan makan minum lagi seperti biasanya, dan Sa’d pun tetap dengan baik bergaul dengan ibunya, walau tetap dalam agama jahiliahnya. Sebagian riwayat menyebutkan, peristiwa Sa’d dengan ibunya ini menjadi asbabun nuzul dari Surah Luqmanayat 14-15, tentang bagaimana bergaul dengan orang tua.

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 20 December 2019 Permalink | Balas  

    Kisah Zaid Bin Haritsah Radhiyallahu Anhu 

    Kisah Zaid Bin Haritsah Radhiyallahu Anhu

    Keluarga Zaid bin Haritsah keluarga Arab biasa, yang ketika itu sedang mengunjungi kerabatnya di kampung Kabilah Bani Ma’an, dan Zaid kecil diajak serta. Takdir Allah menghendaki akan mengangkat derajadnya setinggi-tingginya, tetapi melalui jalan musibah. Tiba-tiba sekelompok perampok badui menjarah perkampungan Bani Ma’an tersebut, harta bendanya dikuras habis dan sebagian penduduknya ditawan untuk dijual sebagai budak, termasuk di antaranya adalah Zaid bin Haritsah.

    Zaid bin Haritsah yang masih kecil itu dijual di pasar Ukadz di Makkah, ia dibeli oleh Hakim bin Hizam. Oleh Hakim, ia diberikan kepada bibinya, Khadijah binti Khuwailid, yang tak lain adalah istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, dan akhirnya ia diberikan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam untuk menjadi khadam (pelayan) beliau. Walau saat itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam belum diangkat menjadi Nabi dan Rasul, tetapi pendidikan yang diperoleh Zaid dari beliau merupakan pendidikan berbasis akhlak mulia, didikan yang berbasis kenabian yang menaikkan derajadnya, dan mengantarnya menjadi salah seorang kelompok sahabat as sabiqunal awwalin.

    Ketika ayahnya, Haritsah mendengar kabar bahwa putranya dimiliki olekeluarga bangsawan Quraisy di Makkah, ia bergegas mengumpulkan harta semampunya untuk menebusnya dari perbudakan. Ia mengajak saudaranya untuk menemaninya ke Makkah. Sesampainya di Makkah, ia menemui Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan berkata, “Kami datang kepada anda untuk meminta anak kami, kami mohon anda bersedia mengembalikannya kepada kami dan menerima uang tebusan yang tidak seberapa banyaknya ini!!”

    “Tidak harus seperti itu,” Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, “Biarlah ia memilih sendiri. Jika ia memilih anda, saya akan mengembalikannya kepada anda tanpa tebusan apapun. Tetapi jika ia memilih saya, maka saya tidak bisa menolak orang yang dengan sukarela mengikuti saya…!”

    Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menyuruh seseorang untuk memanggil Zaid. Sementara itu tampak kegembiraan Haritsah dengan penjelasan beliau. Ia akan memperoleh kembali anaknya tanpa tebusan apapun, begitu pikirnya. Ketika Zaid telah datang, beliau berkata kepadanya, “Tahukah engkau, siapa dua orang ini?”

    “Ya, saya tahu,” Kata Zaid, “Yang ini ayahku, satunya lagi adalah pamanku…”

    Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menjelaskan permintaan ayahnya, dan juga tentang pilihan yang beliau berikan kepadanya. Tanpa berfikir panjang, Zaid berkata, “Tak ada pilihanku kecuali anda, andalah ayahku, dan andalah juga pamanku…!”

    Mendengar jawaban Zaid ini ayah dan pamannya terkejut, tetapi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam tampak berlinang air mata karena haru dan syukur. Beliau memang sangat menyayanginya seperti anak sendiri, sehingga bagaimanapun secara manusiawi, beliau akan merasa kehilangan jika Zaid memutuskan untuk kembali kepada keluarganya sendiri. Segera saja Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam membawa Zaid ke Ka’bah dimana biasanya para pembesar Quraisy berkumpul, kemudian beliau berkata lantang, “Saksikanlah oleh kalian semua, mulai hari ini Zaid adalah anakku, ia ahli warisku dan aku ahli warisnya…”

    Memang, budaya Arab saat itu membenarkan mengangkat anak yang statusnya sama seperti anak kandung. Sejak itu, Zaid dikenal dengan nama Zaid bin Muhammad.

    Setelah hijrah ke Madinah, Zaid tidak pernah terlewat berjuang bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq dan lain-lainnya, semua diterjuninya tanpa kenal menyerah. Jika Nabi Shallallahu  ‘Alaihi Wassalam mengirim suatu pasukan sementara beliau sendiri tidak mengikutinya, pastilah Zaid yang ditunjuk sebagai pemimpinnya. Misalnya perang al Jumuh, at Tharaf, al Ish, al Hismi dan beberapa peperangan lainnya.

    Tibalah pertempuran Mu’tah, sebuah pertempuran tidak berimbang antara pasukan muslim yang hanya 3.000 orang melawan pasukan Romawi dan sekutunya sebanyak 200.000 orang. Pemicu pertempuran ini adalah terbunuhnya utusan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam ke Bushra, Harits bin Umair oleh Syurahbil bin Amr, pemimpin Balqa yang berada di bawah kekuasaan kaisar Romawi. Pasukan muslim 3.000 orang saat itu adalah yang terbesar yang pernah dipersiapkan beliau, dan beliau tidak pernah menyangka bahwa pasukan Romawi akan menghadapinya dengan prajurit sebanyak itu. Tetapi seperti memperoleh pandangan ke depan (vision), beliau menunjuk tiga orang sebagai komandan secara berturutan, pertama Zaid bin Haritsah, kedua Ja’far bin Abi Thalib dan ketiga Abdullah bin Rawahah.

    Ketika pasukan tiba di Mu’an, tidak jauh dari Mu’tah, mereka baru memperoleh informasi bahwa pasukan Romawi sebanyak 200.000 orang. Mereka bermusyawarah tentang jalan terbaik, sebab kalau nekad bertempur, sama saja dengan bunuh diri. Setelah banyak pendapat yang masuk, diputuskan untuk memberitahukan Nabi Shallallahu  ‘Alaihi Wassalam jumlah pasukan yang harus dihadapi. Setelah itu terserah petunjuk beliau, apa akan terus melawan? Menunggu bantuan? Atau apa nanti, terserah perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.

    Tetapi pendapat tersebut ditentang oleh komandan lapis ke tiga, Abdullah bin Rawahah. Menurutnya, pertempuran ini adalah karena Allah dan Agama-Nya, bukan karena jumlah pasukan yang dihadapinya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam telah memerintahkan dan tugas mereka melaksanakannya. Apapun hasilnya adalah kebaikan semata, yakni kemenangan, atau gugur sebagai syahid. Pendapat Ibnu Rawahah tersebut seolah menyadarkan mereka, dan menggelorakan semangat berjihad kaum muslimin tersebut, bukan semata-mata takut dan bunuh diri.

    Pertempuran hebat antara 3.000 pasukan melawan 200.000 pasukan, sangat mudah diramalkan bagaimana kesudahannya. Dan seperti “diramalkan” Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, Zaid bin Haritsah gugur dengan luka-luka yang tidak bisa dibayangkan bagaimana parahnya, jauh lebih parah daripada luka-lukanya sepulang dari Thaif. Namun demikian tampak sesungging senyum di bibirnya, karena sesungguhnya-lah ia tak sempat melihat dan mengamati medan pertempuran. Kebun-kebun surga dan bidadari-bidadari yang jelita seolah menyerunya untuk segera datang, sehingga apapun dan siapapun yang menghalangi jalannya, ditebasnya habis dengan pedang dan tombaknya. Dan ia benar-benar telah merasa gembira dan ridha ketika tubuhnya roboh tak bergerak karena luka-luka yang dialaminya, sementara ruh-nya terbang tinggi memenuhi panggilan kasih sayang Ilahi. “Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah, irji-‘ii ilaa robbiki roodhiyatan mardhiyyah, fadhkhuuli fii ‘ibaadii, wadhkhuulii jannatii….!!”

     
  • erva kurniawan 1:33 am on 19 December 2019 Permalink | Balas  

    Biografi Kehidupan Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu (2) 

    Biografi Kehidupan Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu (2)

    Penulis: Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah As Suhaim hafizhahullah

    Sebagian Kisah Pancaran Akhlak Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu

    Salah satu bentuk didikan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang jelas-jelas mencerminkan kepribadian beliau pada diri Ali adalah kesederhanaan (zuhud)-nya. Beberapa orang sahabat sering melihat Ali bin Abi Thalib menangis pada malam-malamnya, sambil berbicara sendiri, “Wahai dunia, apakah engkau hendak menipuku? Apakah kamu mengawasiku? Jauh sekali…jauh sekali… Godalah orang selain aku, sesungguhnya aku telah menceraikanmu dengan thalak tiga. Umurmu pendek, majelis-majelismu sangat hina, kemuliaan dan kedudukanmu sangat sedikit dan tidak berarti (akan habis). Alangkah sengsaranya aku, bekalku sedikit sedangkan perjalanan sangat jauh dan jalannya sangat berbahaya.”

    Itulah prinsip-prinsip mendasar dari akhlak Ali bin Abi Thalib, yang secara umum mewarnai jalan kehidupannya, termasuk ketika ia menjabat sebagai khalifah.

    Bekerja pada Orang Yahudi

    Suatu ketika Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengunjungi kedua cucunya, Hasan dan Husain, tetapi di sana beliau hanya menjumpai putrinya, Fathimah. Ketika beliau bertanya tentang keberadaan kedua cucunya, Fathimah berkata kalau keduanya sedang mengikuti ayahnya, Ali bin Abi Thalib, yang sedang bekerja menimba air pada orang Yahudi karena pada hari itu memang tidak ada persediaan makanan bagi mereka sekeluarga.

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menjumpai Ali di kebun orang Yahudi itu, ia menimba air untuk menyiram tanaman di kebun tersebut dengan upah satu butir kurma untuk satu timba air. Hasan dan Husain sendiri sedang bermain-main di suatu ruang sementara tangannya sedang menggenggam sisa-sisa kurma. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam berkata kepada Ali, “Wahai Ali, apa tidak sebaiknya engkau bawa pulang anak-anakmu sebelum terik matahari akan menyengat mereka?”

    Ali menjawab, “Wahai Rasulullah, pagi ini kami tidak memiliki sesuatu pun untuk dimakan, karena itu biarkanlah kami disini hingga bisa mengumpulkan lebih banyak kurma untuk Fathimah.”

    Rasulullah Shallallahu  ‘Alaihi Wassalam akhirnya ikut menimba air bersama Ali, hingga terkumpul beberapa butir kurma untuk bisa dibawa pulang.

    Pengadilan Atas Kepemilikan Baju Besi

    Ketika menjadi khalifah, Ali bin Abi Thalib telah kehilangan baju besinya pada perang Jamal. Suatu ketika ia berjalan-jalan di pasar, ia melihat baju besinya ada pada seorang lelaki Yahudi. Ali menuntut haknya atas baju besi itu dengan menunjukkan ciri-cirinya, tetapi si Yahudi bertahan bahwa itu miliknya.

    Ali mengajak si Yahudi menemui kadhi (hakim) untuk memperoleh keputusan yang adil. Yang menjadi kadhi adalah Shuraih, seorang muslim. Ali menyampaikan kepada kadhi tuntutan kepemilikannya atas baju besi yang sedang dibawa oleh si Yahudi. Ia menunjukkan ciri-cirinya, dan membawa dua orang saksi, Hasan putranya sendiri dan hambanya yang bernama Qanbar.

    Mendengar penuturan Ali, yang tak lain adalah Amirul Mukminin yang menjadi ‘Presiden’ kaum muslimin saat itu, Shuraih berkata dengan tegas, “Gantikan Hasan dengan orang lain sebagai saksi, dan kesaksian Qanbar saja tidak cukup!”

    “Apakah engkau menolak kesaksian Hasan?” Tanya Ali kepada Shuraih, “Padahal Rasulullah pernah bersabda Hasan dan Husain adalah penghulu pemuda di surga?”

    “Bukan begitu Ali,” Kata Shuraih, ia sengaja tidak menyebut Amirul Mukminin, karena begitulah kedudukannya di depan hukum, ia meneruskan, “Engkau sendiri pernah berkata bahwa tidak sah kesaksian anak untuk bapaknya.”

    Karena Ali tidak bisa menunjukkan saksi lain yang menguatkan kepemilikannya atas baju besi itu, Shuraih memutuskan baju besi itu milik si Yahudi, dan Ali menerima keputusan tersebut dengan lapang dada.

    Si Yahudi begitu takjub dengan peristiwa ini. Ia-pun mengakui kalau baju itu ditemukannya di tengah jalan, mungkin terjatuh dari unta milik Ali. Ia langsung mengucapkan syahadat, menyatakan dirinya masuk Islam, dan mengembalikan baju besinya kepada Ali. Tetapi karena keislamannya ini, justru Ali menghadiahkan baju besi tersebut kepadanya, dan menambahkan beberapa ratus uang dirham. Lelaki ini selalu menyertai Ali sehingga ia terbunuh syahid dalam perang Shiffin.

    Menjadi Khalifah

    Peristiwa pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan yang menurut berbagai kalangan waktu itu kurang dapat diselesaikan karena fitnah yang sudah terlanjur meluas dan sudah diisyaratkan (akan terjadi) oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam ketika dia masih hidup, dan diperparah oleh hasutan-hasutan para pembangkang yang ada sejak zaman Utsman bin Affan, menyebabkan perpecahan di kalangan kaum muslim sehingga menyebabkan perang tersebut. Tidak hanya selesai di situ, konflik berkepanjangan terjadi hingga akhir pemerintahannya. Pertempuran Shiffin yang melemahkan kekhalifannya juga berawal dari masalah tersebut. Ali bin Abi Thalib, seseorang yang memiliki kecakapan dalam bidang militer dan strategi perang, mengalami kesulitan dalam administrasi negara karena kekacauan luar biasa yang ditinggalkan pemerintahan sebelumya.

    Pembunuhan Ali di Kufah

    Pada tanggal 19 Ramadan 40 Hijriyah, atau 27 Januari 661 Masehi, saat sholat di Masjid Agung Kufah, Ali diserang oleh seorang Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam. Dia terluka oleh pedang yang diracuni oleh Abdurrahman bin Muljam saat ia sedang bersujud ketika sholat subuh. Ali memerintahkan anak-anaknya untuk tidak menyerang orang Khawarij tersebut, Ali malah berkata bahwa jika dia selamat, Abdurrahman bin Muljam akan diampuni sedangkan jika dia meninggal, Abdurrahman bin Muljam hanya diberi satu pukulan yang sama (terlepas apakah dia akan meninggal karena pukulan itu atau tidak). Ali meninggal dua hari kemudian pada tanggal 29 Januari 661 (21 Ramadan 40 Hijriyah) pada usia 59 tahun.

    Hasan bin Ali memenuhi Qisas dan memberikan hukuman yang sama kepada Abdurrahman bin Muljam atas kematian Ali.

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 18 December 2019 Permalink | Balas  

    Biografi Kehidupan Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu (1) 

    Biografi Kehidupan Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu (1)

    Penulis: Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah As Suhaim hafizhahullah

    Tumbuh dalam Didikan Kenabian Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam

    Ali bin Abi Thalib masih sepupu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, putra dari Abi Thalib bin Abdul Muthalib, paman yang mengasuh beliau sejak usia delapan tahun. Pamannya ini bersama Khadijah, istri beliau menjadi pembela utama beliau untuk mendakwahkan Islam selama tinggal di Makkah, walau Abi Thalib sendiri meninggal dalam kekafiran.

    Ali bin Abi Thalib lahir sepuluh tahun sebelum kenabian, tetapi telah diasuh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sejak usia 6 tahun.

    Sebagian riwayat menyebutkan ia orang ke dua yang memeluk Islam, yakni setelah Khadijah, riwayat lainnya menyebutkan ia orang ke tiga, setelah Khadijah dan putra angkat beliau Zaid bin Haritsah. Bisa dikatakan ia tumbuh dan dewasa dalam didikan akhlakul karimah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan bimbingan wahyu. Maka tidak heran watak dan karakter Ali bin Abi Thalib mirip dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Dan secara keilmuan, ia mengalahkan sebagian besar sahabat lainnya, sehingga beliau Shallallahu ‘Alaihi Wassalam pernah bersabda, “Ana madinatul ilmu, wa Ali baabuuha…”(Saya kotanya ilmu dan Ali adalah pintunya).

    Apalagi, ia kemudian dinikahkan dengan putri kesayangan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam , Fathimah az Zahra, sehingga bimbingan pembentukan kepribadian Ali bin Abi Thalib oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam terus berlanjut hingga kewafatan beliau.

    Jiwa Perjuangan dan Kepahlawanan Ali bin Abi Thalib

    Salah satu yang terkenal dari Ali bin Abi Thalib adalah sifat ksatria dan kepahlawanannya. Bersama pedang kesayangannya yang diberi nama Dzul Fiqar, sebagian riwayat menyatakan pedangnya tersebut mempunyai dua ujung lancip, ia menerjuni hampir semua medan jihad tanpa sedikitpun rasa khawatir dan takut. Walau secara penampilan fisiknya Ali tidaklah kekar dan perkasa seperti Umar bin Khattab misalnya, tetapi dalam setiap duel dan pertempuran dengan pedangnya itu ia hampir selalu memperoleh kemenangan. Tidak berarti bahwa ia tidak pernah terluka dan terkena senjata musuh, hanya saja luka-luka yang dialaminya tidak pernah menyurutkan semangatnya.

    Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam seolah mengokohkan kepahlawanannya dengan sabda beliau, “Tiada pedang (yang benar-benar hebat) selain pedang Dzul Fiqar, dan tiada pemuda (yang benar-benar ksatria dan gagah berani) selain Ali bin Abi Thalib…” (Laa fatan illaa aliyyun).

    Ali bin Abi Thalib tidak pernah ketinggalan berjuang bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menerjuni medan pertempuran. Ketika perang Badar akan dimulai, tiga penunggang kuda handal dari kaum musyrik Quraisy maju menantang duel. Mereka dari satu keluarga, Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rab’iah dan Walid bin Utbah. Tampillah tiga pemuda Anshar menyambut tantangan mereka, Auf bin Harits al Afra, Muawwidz bin Harits al Afra dan Abdullah bin Rawahah. Tetapi tokoh Quraisy ini menolak ketiganya, dan meminta orang terpandang dari golongan Quraisy juga. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memerintahkan Ubaidah bin Harits, Hamzah dan Ali bin Abi Thalib. Ali menghadapi Walid, sebagian riwayat menyatakan ia menghadapi Syaibah. Ini adalah pertempuran pertamanya, tetapi dengan mudah Ali mengalahkan lawannya, yang jauh lebih terlatih dan berpengalaman.

    Pada perang Uhud, ketika pemegang panji Islam, Mush’ab bin Umair menemui syahidnya, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memerintahkan Ali menggantikan kedudukannya. Tangan kiri memegang panji, tangan kanan mengerakkan pedang Dzul Fiqarnya, menghadapi serangan demi serangan yang datang. Tiba-tiba terdengar tantangan duel dari pemegang panji pasukan musyrik, yakni pahlawan Quraisy Sa’ad bin Abi Thalhah. Karena masing-masing sibuk menghadapi lawannya, tantangan tersebut tidak ada yang menanggapi, ia pun makin sesumbar, dan Ali tidak dapat menahan dirinya lagi. Setelah mematahkan serangan lawannya, ia meloncat menghadapi orang yang sombong tersebut, ia berkata, “Akulah yang akan menghadapimu, wahai Sa’ad bin Abi Thalhah. Majulah wahai musuh Allah…!!”

    Merekapun terlibat saling serang dengan pedangnya, di sela-sela dua pasukan yang bertempur rapat. Pada suatu kesempatan, Ali berhasil menebas kaki lawannya hingga jatuh tersungkur. Ketika akan memberikan pukulan terakhir untuk membunuhnya, Sa’ad membuka auratnya dan Ali-pun berpaling dan berlalu pergi, tidak jadi membunuhnya. Ketika seorang sahabat menanyakan alasan mengapa tidak membunuhnya, ia berkata, “Ia memperlihatkan auratnya, sehingga saya malu dan kasihan kepadanya…”

    Pada perang Khandaq, sekelompok kecil pasukan musyrik Quraisy berhasil menyeberangi parit, mereka ini antara lain, Amr bin Abdi Wudd, Ikrimah bin Abu Jahl dan Dhirar bin Khaththab. Segera saja Ali bin Abi Thalib dan sekelompok sahabat yang berjaga pada sisi tersebut mengepung mereka. Amr bin Abdi Wudd adalah jagoan Quraisy yang jarang memperoleh tandingan. Siapapun yang melawannya kebanyakan akan kalah. Ia melontarkan tantangan duel, dan segera saja Ali bin Abi Thalib menghadapinya. Amr bin Wudd sempat meremehkan Ali karena secara fisik memang ia jauh lebih besar dan gagah. Setelah turun dari kudanya, ia menunjukkan kekuatannya, ia menampar kudanya hingga roboh. Namun semua itu tidak membuat Ali gentar, bahkan dengan mudah Ali merobohkan dan membunuhnya. Melihat keadaan itu, anggota pasukan musyrik lainnya lari terbirit-birit sampai masuk parit untuk menyelamatkan diri.

    Menjelang perang Khaibar, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda sambil memegang bendera komando (panji peperangan), “Sesungguhnya besok aku akan memberikan bendera ini pada seseorang, yang Allah akan memberikan kemenangan dengan tangannya. Ia sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya, Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya”

    Esoknya para sahabat berkumpul di sekitar Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan sangat berharap dialah yang akan ditunjuk Beliau untuk memegang bendera tersebut. Alasannya jelas, ‘Sangat Mencintai Allah dan Rasul-Nya, Allah dan Rasul-Nya juga mencintainya’, derajad apalagi yang lebih tinggi daripada itu, dan itu diucapkan sendirioleh beliau. Pandangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam berkeliling untuk mencari seseorang, para sahabat mencoba menunjukkan diri dengan harapan akan ditunjuk beliau. Tetapi beliau tidak menemukan yang dicari, maka beliau bersabda, “Dimanakah Ali bin Abi Thalib?”

    Seorang sahabat menjelaskan kalau Ali sedang mengeluhkan matanya yang sakit. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menyuruh seseorang untuk menjemputnya, dan ketika Ali telah sampai di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau mengusap mata Ali dengan ludah beliau dan mendoakan, seketika sembuh. Sejak saat itu Ali tidak pernah sakit mata lagi. Beliau menyerahkan panji peperangan kepada Ali. Ali berkata, “Wahai Rasulullah, aku akan memerangi mereka hingga mereka sama seperti kita!!”

    “Janganlah terburu-buru,” Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, “Turunlah kepada mereka, serulah mereka kepada Islam. Demi Allah, lebih baik Allah memberi hidayah mereka melalui dirimu, daripada ghanimah berupa himar yang paling elok sekalipun!!”

    Sebagian riwayat menyebutkan, pemilihan Ali sebagai pemegang komando atau panji, setelah dua hari sebelumnya pasukan muslim gagal merebut atau membobol benteng Na’im, benteng terluar dari Khaibar. Khaibar sendiri memiliki delapan lapis benteng pertahanan yang besar, dan beberapa benteng kecil lainnya.

    Ketika perisainya pecah pada peperangan ini, Ali menjebol pintu kota Khaibar untuk menahan serangan panah yang bertubi-tubi, sekaligus menjadikannya sebagai tameng untuk terus menyerang musuh. Usai perang, Abu Rafi dan tujuh orang lainnya mencoba membalik pintu tersebut tetapi mereka tidak kuat. Dalam peperangan ini benteng Khaibar dapat ditaklukkan dan orang-orang Yahudi yang berniat menghabisi Islam justru terusir dari jazirah Arabia.

    Begitulah, hampir tidak ada peperangan yang tidak diterjuninya, dan Ali bin Abi Thalib selalu menunjukkan kepahlawanan dan kekesatriaannya, sekaligus kualitas akhlaknya sebagai didikan wahyu, didikan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 17 December 2019 Permalink | Balas  

    Biografi Kehidupan Utsman Bin Affan Radhiyallahu Anhu 

    Biografi Kehidupan Utsman Bin Affan Radhiyallahu Anhu

    Penulis: Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah As Suhaim hafizhahullah

    Utsman bin Affan, adalah sahabat Nabi Muhammad yang termasuk Khulafaur Rasyidin  (khalifah rasyid) yang ke-3. beliau dijuluki dzu nurain, yang berarti pemiliki dua cahaya, Julukan ini didapat karena Utsman telah menikahi puteri kedua dan ketiga dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Ruqayah dan Ummu Kaltsum. Beliau juga dikenal sebagai pedagang kaya raya dan ekonom yang handal dan sangat dermawan. Banyak bantuan ekonomi yang diberikannya kepada umat Islam di awal dakwah Islam.

    Nasab

    Beliau adalah Utsman bin Affan bin Abi al-Ash bin Umayyah bin Abdu asy-Syam bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luwai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’addu bin Adnan (ath-Thabaqat al-Kubra, 3: 53).

    Amirul mukminin, dzu nurain, telah berhijrah dua kali, dan suami dari dua orang putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibunya bernama Arwa binti Kuraiz bin Rabiah bin Hubaib bin Abdu asy-Syams dan neneknya bernama Ummu Hakim, Bidha binti Abdul Muthalib, bibi Rasulullah. Dari sisi nasab, orang Quraisy satu ini memiliki kekerabatan yang sangat dekat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain sebagai keponakan Rasulullah, Utsman juga menjadi menantu Rasulullah dengan menikahi dua orang putrinya.

    Utsman bin Affan termasuk di antara sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk surga, beliau juga menjadi enam orang anggota syura, dan salah seorang khalifah al-mahdiyin, yang diperintahkan untuk mengikuti sunahnya.

    Sifat

    Utsman bin Affan adalah sahabat nabi yang memiliki sifat yang sangat pemalu, seperti dalam hadis berikut ini:

    “Orang yang paling penyayang di antara umatku adalah Abu Bakar, yang paling tegas dalam menegakkan agama Allah adalah Umar, yang paling pemalu adalah Utsman, yang paling mengetahui tentang halal dan haram adalah Muadz bin Jabal, yang paling hafal tentang Alquran adalah Ubay (bin Ka’ab), dan yang paling mengetahui ilmu waris adalah Zaid bin Tsabit. Setiap umat mempunyai seorang yang terpercaya, dan orang yang terpercaya di kalangan umatku adalah Abu Ubaidah bin al-Jarrah.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya 3:184)

    Utsman adalah seorang yang rupawan, lembut, mempunyai janggut yang lebat, berperawakan sedang, mempunyai tulang persendirian yang besar, berbahu bidang, rambutnya lebat, dan bentuk mulutnya bagus.

    Az-Zuhri mengatakan, “Beliau berwajah rupawan, bentuk mulut bagus, berbahu bidang, berdahi lebar, dan mempunyai telapak kaki yang lebar.”

    Sejarah

    Usman bin Affan lahir pada 574 Masehi dari golongan Bani Umayyah. Ia masuk Islam atas ajakan Abu Bakar dan termasuk golongan As-Sabiqun al-Awwalun (golongan yang pertama-tama masuk Islam).  Rasulullah sendiri menggambarkan Utsman bin Affan sebagai pribadi yang paling jujur dan rendah hati di antara kaum muslimin. Diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Aisyah bertanya kepada Rasulullah, ‘Abu Bakar masuk tapi engkau biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus, lalu Umar masuk engkau pun biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus. Akan tetapi ketika Utsman masuk engkau terus duduk dan membetulkan pakaian, mengapa?’ Rasullullah menjawab, “Apakah aku tidak malu terhadap orang yang malaikat saja malu kepadanya?”

    Ikut hijrah

    Pada saat seruan hijrah pertama oleh Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam ke Habbasyiah karena meningkatnya tekanan kaum Quraisy terhadap umat Islam, Utsman bersama istri dan kaum muslimin lainnya memenuhi seruan tersebut dan hijrah ke Habasyiah hingga tekanan dari kaum Quraisy reda. Tak lama tinggal di Mekah, Utsman mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam untuk hijrah ke Madinah. Pada peristiwa Hudaibiyah, Utsman dikirim oleh Rasullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam untuk menemui Abu Sofyan di Mekkah. Utsman diperintahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam untuk menegaskan bahwa rombongan dari Madinah hanya akan beribadah di Ka’bah, lalu segera kembali ke Madinah, bukan untuk memerangi penduduk Mekkah.

    Dermawan

    Pada saat Perang Dzatirriqa dan Perang Ghatfahan berkecamuk, dimana Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi memimpin perang, Utsman dipercaya menjabat walikota Madinah. Saat Perang Tabuk, Utsman mendermakan 950 ekor unta dan 70 ekor kuda, ditambah 1000 dirham sumbangan pribadi untuk perang Tabuk, nilainya sama dengan sepertiga biaya perang tersebut. Utsman bin Affan juga menunjukkan kedermawanannya tatkala membeli mata air yang bernama Rumah dari seorang lelaki suku Ghifar seharga 35.000 dirham. Mata air itu ia wakafkan untuk kepentingan rakyat umum. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Utsman juga pernah memberikan gandum yang diangkut dengan 1000 unta untuk membantu kaum miskin yang menderita di musim kering.

    Terpilih Menjadi khalifah ketiga

    Setelah wafatnya Umar bin Khattab sebagai khalifah kedua, diadakanlah musyawarah untuk memilih khalifah selanjutnya. Ada enam orang kandidat khalifah yang diusulkan yaitu Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdul Rahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah. Selanjutnya Abdul Rahman bin Auff, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah  mengundurkan diri hingga hanya Utsman dan Ali yang tertinggal. Suara masyarakat pada saat itu cenderung memilih Utsman menjadi khalifah ketiga. Maka diangkatlah Utsman yang berumur 70 tahun menjadi khalifah ketiga dan yang tertua, serta yang pertama dipilih dari beberapa calon. Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharram 24H. Utsman menjadi khalifah di saat pemerintah Islam telah betul-betul mapan dan terstruktur.

    Peran setelah terpilih menjadi khalifah ketiga

    Utsman bin Affan adalah khalifah kali pertama yang melakukan perluasan masjid al-Haram (Mekkah) dan masjid Nabawi (Madinah) karena semakin ramai umat Islam yang menjalankan rukun Islam kelima (haji). Ia mencetuskan ide polisi keamanan bagi rakyatnya; membuat bangunan khusus untuk mahkamah dan mengadili perkara yang sebelumnya dilakukan di masjid; membangun pertanian, menaklukan Syiria, Afrika Utara, Persia, Khurasan, Palestina, Siprus, Rodhes, dan juga membentuk angkatan laut yang kuat. Jasanya yang paling besar adalah saat mengeluarkan kebijakan untuk mengumpulkan Al-Quran dalam satu mushaf.

    Selama masa jabatannya, Utsman banyak mengganti gubernur wilayah yang tidak cocok atau kurang cakap dan menggantikaannya dengan orang-orang yang lebih kredibel. Namun hal ini banyak membuat sakit hati pejabat yang diturunkan sehingga mereka bersekongkol untuk membunuh khalifah.

    Wafat

    Selama masa jabatannya, Utsman banyak mengganti gubernur wilayah yang tidak cocok atau kurang cakap dan menggantikaannya dengan orang-orang yang lebih kredibel. Namun hal ini banyak membuat sakit hati pejabat yang diturunkan sehingga mereka bersekongkol untuk membunuh khalifah.

    Khalifah Utsman dikepung oleh pemberontak selama 40 hari dimulai dari bulan Ramadhan hingga Dzulhijah. Beliau diberi 2 ulimatum oleh pemberontak (Ghafiki dan Sudan), yaitu mengundurkan diri atau dibunuh. Meski Utsman mempunyai kekuatan untuk menyingkirkan pemberontak, namun ia berprinsip untuk tidak menumpahkan darah umat Islam. Utsman akhirnya wafat sebagai syahid pada bulan Dzulhijah 35 H ketika para pemberontak berhasil memasuki rumahnya dan membunuh Utsman saat sedang membaca Al-Quran. Persis seperti apa yang disampaikan Rasullullah perihal kematian Utsman yang syahid nantinya, peristiwa pembunuhan usman berawal dari pengepungan rumah Utsman oleh para pemberontak selama 40 hari. Utsman wafat pada hari Jumat 18 Dzulhijjah 35 H. Ia dimakamkan di kuburan Baqi di Madinah.

    ***

    Disebutkan sebuah riwayat yang shahih dari Abu Bakar ash-Shiddiq   bahwa beliau mendikte ‘Utsman   untuk menuliskan wasiatnya ketika akan meninggal dunia. Ketika sampai pada masalah tentang kekhalifahan, Abu Bakar   jatuh pingsan. Maka, ‘Utsman   menuliskan nama ‘Umar  . Ketika Abu Bakar siuman, ia berkata, “Nama siapa yang ditulis?”, ‘Utsman menjawab, “‘Umar.”. Abu Bakar berkata, “Seandainya kamu menulis namamu sendiri, maka sebenar-nya kamu layak untuk menjabatnya.”.

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 16 December 2019 Permalink | Balas  

    Biografi Kehidupan Umar Bin Khatab Radhiyallahu Anhu 

    Biografi Kehidupan Umar Bin Khatab Radhiyallahu Anhu

    Penulis: Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah As Suhaim hafizhahullah

    “Ya Allah…buatlah Islam ini kuat dengan masuknya salah satu dari kedua orang ini. Amr bin Hisham atau Umar bin Khattab.” Salah satu dari doa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam pada saat Islam masih dalam tahap awal penyebaran dan masih lemah. Doa itu segera dikabulkan oleh Allah. Allah memilih Umar bin Khattab sebagai salah satu pilar kekuatan Islam, sedangkan Amr bin Hisham meninggal sebagai Abu Jahal.

    Umar bin Khattab dilahirkan 12 tahun setelah kelahiran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Ayahnya bernama Khattab dan ibunya bernama Khatmah. Perawakannya tinggi besar dan tegap dengan otot-otot yang menonjol dari kaki dan tangannya, jenggot yang lebat dan berwajah tampan, serta warna kulitnya coklat kemerah-merahan.

    Beliau dibesarkan di dalam lingkungan Bani Adi, salah satu kaum dari suku Quraisy. Beliau merupakan khalifah kedua didalam islam setelah Abu Bakar As Siddiq.

    Nasabnya adalah Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qarth bin Razah bin ‘Adiy bin Ka’ab binLu’ay bin Ghalib.

    Nasab beliau bertemu dengan nasab Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam pada kakeknya Ka’ab. Antara beliau dengan Nabi selisih 8 kakek. lbu beliau bernama Hantamah binti Hasyim bin al-Mughirah al-Makhzumiyah. Rasulullah memberi beliau “kun-yah” Abu Hafsh (bapak Hafsh) karena Hafshah adalah anaknya yang paling tua; dan memberi “laqab” (julukan) al Faruq.

    Umar bin Khattab masuk Islam

    Sebelum masuk Islam, Umar bin Khattab dikenal sebagai seorang yang keras permusuhannya dengan kaum Muslimin, bertaklid kepada ajaran nenek moyangnya, dan melakukan perbuatan-perbuatan jelek yang umumnya dilakukan kaum jahiliyah, namun tetap bisa menjaga harga diri. Beliau masuk Islam pada bulan Dzulhijah tahun ke-6 kenabian, tiga hari setelah Hamzah bin Abdul Muthalib masuk Islam.

    Ringkas cerita, pada suatu malam beliau datang ke Masjidil Haram secara sembunyi-sembunyi untuk mendengarkan bacaan shalat Nabi. Waktu itu Nabi membaca surat al-Haqqah. Umar bin Khattab kagum dengan susunan kalimatnya lantas berkata pada dirinya sendiri- “Demi Allah, ini adalah syair sebagaimana yang dikatakan kaum Quraisy.” Kemudian beliau mendengar Rasulullah membaca ayat 40-41 (yang menyatakan bahwa Al Qur’an bukan syair), lantas beliau berkata, “Kalau begitu berarti dia itu dukun.” Kemudian beliau mendengar bacaan Nabi ayat 42, (Yang menyatakan bahwa Al-Qur’an bukan perkataan dukun.) akhirnya beliau berkata, “Telah terbetik lslam di dalam hatiku.” Akan tetapi karena kuatnya adat jahiliyah, fanatik buta, pengagungan terhadap agama nenek moyang, maka beliau tetap memusuhi Islam.

    Kemudian pada suatu hari, beliau keluar dengan menghunus pedangnya bermaksud membunuh Nabi. Dalam perjalanan, beliau bertemu dengan Nu`aim bin Abdullah al ‘Adawi, seorang laki-laki dari Bani Zuhrah. Lekaki itu berkata kepada Umar bin Khattab, “Mau kemana wahai Umar?” Umar bin Khattab menjawab, “Aku ingin membunuh Muhammad.” Lelaki tadi berkata, “Bagaimana kamu akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhrah, kalau kamu membunuh Muhammad?” Maka Umar menjawab, “Tidaklah aku melihatmu melainkan kamu telah meninggalkan agama nenek moyangmu.” Tetapi lelaki tadi menimpali, “Maukah aku tunjukkan yang lebih mencengangkanmu, hai Umar? Sesungguhnya adik perampuanmu dan iparmu telah meninggalkan agama yang kamu yakini.”

    Kemudian dia bergegas mendatangi adiknya yang sedang belajar Al Qur’an, surat Thaha kepada Khabab bin al Arat. Tatkala mendengar Umar bin Khattab datang, maka Khabab bersembunyi. Umar bin Khattab masuk rumahnya dan menanyakan suara yang didengarnya. Kemudian adik perempuan Umar bin Khattab dan suaminya berkata, “Kami tidak sedang membicarakan apa-apa.” Umar bin Khattab menimpali, “Sepertinya kalian telah keluar dari agama nenek moyang kalian.”

    Iparnya menjawab, “Wahai Umar, apa pendapatmu jika kebenaran itu bukan berada pada agamamu?”

    Mendengar ungkapan tersebut Umar bin Khattab memukulnya hingga terluka dan berdarah, karena tetap saja saudaranya itu mempertahankan agama Islam yang dianutnya, Umar bin Khattab berputus asa dan menyesal melihat darah mengalir pada iparnya.

    Umar bin Khattab berkata, ‘Berikan kitab yang ada pada kalian kepadaku, aku ingin membacanya.’ Maka adik perempuannya berkata,” Kamu itu kotor. Tidak boleh menyentuh kitab itu kecuali orang yang bersuci. Mandilah terlebih dahulu!” lantas Umar bin Khattab mandi dan mengambil kitab yang ada pada adik perempuannya. Ketika dia membaca surat Thaha, dia memuji dan muliakan isinya, kemudian minta ditunjukkan keberadaan Rasulullah.

    Tatkala Khabab mendengar perkataan Umar bin Khattab, dia muncul dari persembunyiannya dan berkata, “Aku akan beri kabar gembira kepadamu, wahai Umar! Aku berharap engkau adalah orang yang didoakan Rasulullah pada malam Kamis, ‘Ya Allah, muliakan Islam. Dengan Umar bin Khatthab atau Abu Jahl (Amru) bin Hisyam.’ Waktu itu, Rasulullah berada di sebuah rumah di daerah Shafa.” Umar bin Khattab mengambil pedangnya dan menuju rumah tersebut, kemudian mengetuk pintunya. Ketika ada salah seorang melihat Umar bin Khattab datang dengan pedang terhunus dari celah pintu rumahnya, dikabarkannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Lantas mereka berkumpul. Hamzah bin Abdul Muthalib bertanya, “Ada apa kalian?” Mereka menjawab, ‘Umar (datang)!” Hamzah bin Abdul Muthalib berkata, “Bukalah pintunya. Kalau dia menginginkan kebaikan, maka kita akan menerimanya, tetapi kalau menginginkan kejelekan, maka kita akan membunuhnya dengan pedangnya.” Kemudian Nabi menemui Umar bin Khattab dan berkata kepadanya. “… Ya Allah, ini adalah Umar bin Khattab. Ya Allah, muliakan Islam dengan Umar bin Khattab.” Dan dalam riwayat lain: “Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Umar.”

    Seketika itu pula Umar bin Khattab bersyahadat, dan orang-orang yang berada di rumah tersebut bertakbir dengan keras. Menurut pengakuannya dia adalah orang yang ke-40 masuk Islam. Abdullah bin Mas’ud berkomentar, “Kami senantiasa berada dalam kejayaan semenjak Umar bin Khattab masuk Islam.

    Kepemimpinan Umar bin Khattab

    Keislaman beliau telah memberikan andil besar bagi perkembangan dan kejayaan Islam. Beliau adalah pemimpin yang adil, bijaksana, tegas, disegani, dan selalu memperhatikan urusan kaum muslimin. Pemimpin yang menegakkan ketauhidan dan keimanan, merobohkan kesyirikan dan kekufuran, menghidupkan sunnah dan mematikan bid’ah. Beliau adalah orang yang paling baik dan paling berilmu tentang al-Kitab dan as-Sunnah setelah Abu Bakar As Siddiq.

    Kepemimpinan Umar bin Khattab tak seorangpun yang dapat meragukannya. Seorang tokoh besar setelah Rasulullah SAW dan Abu Bakar As Siddiq. Pada masa kepemimpinannya kekuasaan islam bertambah luas. Beliau berhasil menaklukkan Persia, Mesir, Syam, Irak, Burqah, Tripoli bagian barat, Azerbaijan, Jurjan, Basrah, Kufah dan Kairo.

    Dalam masa kepemimpinan sepuluh tahun Umar bin Khattab itulah, penaklukan-penaklukan penting dilakukan Islam. Tak lama sesudah Umar bin Khattab memegang tampuk kekuasaan sebagai khalifah, pasukan Islam menduduki Suriah dan Palestina, yang kala itu menjadi bagian Kekaisaran Byzantium. Dalam pertempuran Yarmuk (636), pasukan Islam berhasil memukul habis kekuatan Byzantium. Damaskus jatuh pada tahun itu juga, dan Darussalam menyerah dua tahun kemudian. Menjelang tahun 641, pasukan Islam telah menguasai seluruh Palestina dan Suriah, dan terus menerjang maju ke daerah yang kini bernama Turki. Tahun 639, pasukan Islam menyerbu Mesir yang juga saat itu di bawah kekuasaan Byzantium. Dalam tempo tiga tahun, penaklukan Mesir diselesaikan dengan sempurna.

    Penyerangan Islam terhadap Irak yang saat itu berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Persia telah mulai bahkan sebelum Umar bin Khattab naik jadi khalifah. Kunci kemenangan Islam terletak pada pertempuran Qadisiya tahun 637, terjadi di masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Menjelang tahun 641, seseluruh Irak sudah berada di bawah pengawasan Islam. Dan bukan hanya itu, pasukan Islam bahkan menyerbu langsung Persia dan dalam pertempuran Nehavend (642), mereka secara menentukan mengalahkan sisa terakhir kekuatan Persia. Menjelang wafatnya Umar bin Khattab di tahun 644, sebagian besar daerah barat Iran sudah terkuasai sepenuhnya. Gerakan ini tidak berhenti tatkala Umar bin Khattab wafat. Di bagian timur mereka dengan cepat menaklukkan Persia dan bagian barat mereka mendesak terus dengan pasukan menyeberang Afrika Utara.

    Selain pemberani, Umar bin Khattab juga seorang yang cerdas. Dalam masalah ilmu diriwayatkan oleh Al Hakim dan Thabrani dari Ibnu Mas’ud berkata, ”Seandainya ilmu Umar bin Khattab diletakkan pada tepi timbangan yang satu dan ilmu seluruh penghuni bumi diletakkan pada tepi timbangan yang lain, niscaya ilmu Umar bin Khattab lebih berat dibandingkan ilmu mereka. Mayoritas sahabatpun berpendapat bahwa Umar bin Khattab menguasai 9 dari 10 ilmu. Dengan kecerdasannya beliau menelurkan konsep-konsep baru, seperti menghimpun Al Qur’an dalam bentuk mushaf, menetapkan tahun hijriyah sebagai kalender umat Islam, membentuk kas negara (Baitul Maal), menyatukan orang-orang yang melakukan sholat sunah tarawih dengan satu imam, menciptakan lembaga peradilan, membentuk lembaga perkantoran, membangun balai pengobatan, membangun tempat penginapan, memanfaatkan kapal laut untuk perdagangan, menetapkan hukuman cambuk bagi peminum “khamr” (minuman keras) sebanyak 80 kali cambuk, mencetak mata uang dirham, audit bagi para pejabat serta pegawai dan juga konsep yang lainnya.

    Namun dengan begitu beliau tidaklah menjadi congkak dan tinggi hati. Justru beliau seorang pemimpin yang zuhud lagi wara’. Beliau berusaha untuk mengetahui dan memenuhi kebutuhan rakyatnya.

    Dalam satu riwayat Qatadah berkata, ”Pada suatu hari Umar bin Khattab memakai jubah yang terbuat dari bulu domba yang sebagiannya dipenuhi dengan tambalan dari kulit, padahal waktu itu beliau adalah seorang khalifah, sambil memikul jagung ia lantas berjalan mendatangi pasar untuk menjamu orang-orang.” Abdullah, puteranya berkata, ”Umar bin Khattab berkata, ”Seandainya ada anak kambing yang mati di tepian sungai Eufrat, maka Umar merasa takut diminta pertanggung jawaban oleh Allah Subhanahu Wata’ala.”

    Beliaulah yang lebih dahulu lapar dan yang paling terakhir kenyang. Beliau berjanji tidak akan makan minyak samin dan daging hingga seluruh kaum muslimin kenyang memakannya…

    Tidak diragukan lagi, khalifah Umar bin Khattab adalah seorang pemimpin yang arif, bijaksana dan adil dalam mengendalikan roda pemerintahan. Bahkan ia rela keluarganya hidup dalam serba kekurangan demi menjaga kepercayaan masyarakat kepadanya tentang pengelolaan kekayaan negara. Bahkan Umar bin Khattab sering terlambat salat Jum’at hanya menunggu bajunya kering, karena dia hanya mempunyai dua baju.

    Kebijaksanaan dan keadilan Umar bin Khattab ini dilandasi oleh kekuatirannya terhadap rasa tanggung jawabnya kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Sehingga jauh-jauh hari Umar bin Khattab sudah mempersiapkan penggantinya jika kelak dia wafat. Sebelum wafat, Umar berwasiat agar urusan khilafah dan pimpinan pemerintahan, dimusyawarahkan oleh enam orang yang telah mendapat ridha Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.  Mereka adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, Thalhah bin Ubaidilah, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin Auf.

    Umar menolak menetapkan salah seorang dari mereka, dengan berkata, aku tidak mau bertanggung jawab selagi hidup sesudah mati. Kalau AIlah menghendaki kebaikan bagi kalian, maka Allah akan melahirkannya atas kebaikan mereka (keenam orang itu) sebagaimana telah ditimbulkan kebaikan bagi kamu oleh Nabimu.

    Wafatnya Umar bin Khattab

    Pada hari Rabu bulan Dzulhijah tahun 23 H Umar Bin Kattab wafat, Beliau ditikam ketika sedang melakukan Shalat Subuh oleh seorang Majusi yang bernama Abu Lu’luah, budak milik al-Mughirah bin Syu’bah diduga ia mendapat perintah dari kalangan Majusi. Umar bin Khattab dimakamkan di samping Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan Abu Bakar as Siddiq. Beliau wafat dalam usia 63 tahun.

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 15 December 2019 Permalink | Balas  

    Biografi Kehidupan Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu (3) 

    Biografi Kehidupan Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu (3)

    Penulis: Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah As Suhaim hafizhahullah

    Keutamaan

    Tidak ada lelaki yang memiliki keutamaan sebanyak keutamaan Abu Bakar Radhiallahu’anhu

    1. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah salah seorang mufti di masa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam

    Oleh karena itu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menugasi beliau sebagai Amirul Hajj pada haji sebelum haji Wada’. Diriwayatkan Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu:

    “Abu Bakar Ash Shiddiq mengutusku untuk dalam sebuah ibadah haji yang terjadi sebelum haji Wada’, dimana beliau ditugaskan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam untuk menjadi Amirul Hajj. Ia mengutusku untuk mengumumkan kepada sekelompok orang di hari raya idul adha bahwa tidak boleh berhaji setelah tahunnya orang musyrik dan tidak boleh ber-thawaf di ka’bah dengan telanjang”

    Abu Bakar juga sebagai pemegang bendera Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketika perang Tabuk.

    1. Abu Bakar Ash Shiddiq menginfaqkan seluruh hartanya ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menganjurkan sedekah

    Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu berkata:

    “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan kami untuk bersedekah, maka kami pun melaksanakannya. Umar berkata: ‘Semoga hari ini aku bisa mengalahkan Abu Bakar’. Aku pun membawa setengah dari seluruh hartaku. Sampai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bertanya: ‘Wahai Umar, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?’. Kujawab: ‘Semisal dengan ini’. Lalu Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lalu bertanya: ‘Wahai Abu Bakar, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?’. Abu Bakar menjawab: ‘Ku tinggalkan bagi mereka, Allah dan Rasul-Nya’. Umar berkata: ‘Demi Allah, aku tidak akan bisa mengalahkan Abu Bakar selamanya’” (HR. Tirmidzi)

    1. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah orang yang paling dicintai Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam

    ‘Amr bin Al Ash Radhiallahu’anhu bertanya kepada Nabi Shallallahu’alahi Wasallam:

    “Siapa orang yang kau cintai?. Rasulullah menjawab: ‘Aisyah’. Aku bertanya lagi: ‘Kalau laki-laki?’. Beliau menjawab: ‘Ayahnya Aisyah’ (yaitu Abu Bakar)” (HR. Muslim)

    1. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah khalil bagi Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam

    Imam Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu’anhu, ia berkata:

    “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkhutbah kepada manusia, beliau berkata: ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala memilih hamba di antara dunia dan apa yang ada di dalamnya. Namun hamba tersebut hanya dapat memilih apa yang Allah tentukan’. Lalu Abu Bakar menangis. Kami pun heran dengan tangisan beliau itu, hanya karena Rasulullah mengabarkan tentang hamba pilihan. Padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lah orangnya, dan Abu Bakar lebih paham dari kami. Lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    ‘Sesungguhnya orang yang sangat besar jasanya padaku dalam kedekatan dan kerelaan mengeluarkan harta, ialah Abu Bakar. Andai saja aku diperbolehkan mengangkat seorang kekasihku selain Rabbku pastilah aku akan memilih Abu Bakar, namun cukuplah persaudaraan se-Islam dan kecintaan karenanya. Maka jangan ditinggalkan pintu kecil di masjid selain pintu Abu Bakar saja’”

    1. Allah Ta’ala mensucikan Abu Bakar Ash Shiddiq

    Allah Ta’ala berfirman:

    “Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, Padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan” (QS. Al Lail: 17-21)

    Ayat ini turun berkenaan dengan Abu Bakar Ash Shiddiq. Selain itu beliau juga termasuk as sabiquunal awwalun, dan Allah Ta’ala berfirman:

    “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.  Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah: 100)

    1. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memberi tazkiyah kepada Abu Bakar

    Ketika Abu Bakar bertanya kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

    “Barangsiapa yang membiarkan kainnya terjulur karena sombong, tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat. Abu Bakar berkata: ‘Sesungguhnya salah satu sisi sarungku melorot kecuali jika aku ikat dengan baik. Rasulullah lalu berkata: ‘Engkau tidak melakukannya karena sombong”” (HR. Bukhari dalam Fadhail Abu Bakar Radhiallahu’anhu)

    1. Abu Bakar Ash Shiddiq didoakan oleh Nabi untuk memasuki semua pintu surga

    “Orang memberikan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: “Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah” (HR. Al Bukhari – Muslim)

    1. Abu Bakar Ash Shiddiq melakukan banyak perbuatan agung dalam sehari

    Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    “Siapa yang hari ini berpuasa? Abu Bakar menjawab: ‘Saya’”

    “Siapa yang hari ini ikut mengantar jenazah? Abu Bakar menjawab: ‘Saya’”

    “Siapa yang hari ini memberi makan orang miskin? Abu Bakar menjawab: ‘Saya’”

    “Siapa yang hari ini menjenguk orang sakit? Abu Bakar menjawab: ‘Saya’”

    “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lalu bersabda: ‘Tidaklah semua ini dilakukan oleh seseorang kecuali dia akan masuk surga’”

    1. Orang musyrik mensifati Abu Bakar Ash Shiddiq sebagaimana Khadijah mensifati Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam

    Mereka berkata tentang Abu Bakar:

    “Apakah kalian mengusir orang yang suka bekerja untuk mereka yang tidak berpunya, menyambung silaturahim, menanggung orang-orang yang lemah, menjamu tamu dan selalu menolong di jalan kebenaran?” (HR. Bukhari)

    1. Ali Radhiallahu’anhu mengenal keutamaan Abu Bakar Ash Shiddiq

    Muhammad bin Al Hanafiyyah berkata, aku bertanya kepada ayahku, yaitu Ali bin Abi Thalib:

    “Manusia mana yang terbaik sepeninggal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam? Ali menjawab: Abu Bakar. Aku berkata: ‘Kemudian siapa lagi?’. Ali berkata: ‘Lalu Umar’. Aku lalu khawatir yang selanjutnya adalah Utsman, maka aku berkata: ‘Selanjutnya engkau?’. Ali berkata: ‘Aku ini hanyalah orang muslim biasa’” (HR. Bukhari)

     

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 14 December 2019 Permalink | Balas  

    Biografi Kehidupan Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu (2) 

    Biografi Kehidupan Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu (2)

    Penulis: Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah As Suhaim hafizhahullah

    Keutamaan

    Tidak ada lelaki yang memiliki keutamaan sebanyak keutamaan Abu Bakar Radhiallahu’anhu

    1. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah manusia terbaik setelah Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam dari golongan umat beliau.

    Ibnu ‘Umar Radhiallahu’anhu berkata:

    “Kami pernah memilih orang terbaik di masa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Kami pun memilih Abu Bakar, setelah itu Umar bin Khattab, lalu ‘Utsman bin Affan Radhiallahu’anhu” (HR. Bukhari)

    Dari Abu Darda Radhiallahu’anhu, ia berkata:

    “Aku pernah duduk di sebelah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Tiba-tiba datanglah Abu Bakar menghadap Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sambil menjinjing ujung pakaiannya hingga terlihat lututnya. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam berkata: ‘Sesungguhnya teman kalian ini sedang gundah‘. Lalu Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, antara aku dan Ibnul Khattab terjadi perselisihan, aku pun segera mendatanginya untuk meminta maaf, kumohon padanya agar memaafkan aku namun dia enggan memaafkanku, karena itu aku datang menghadapmu sekarang’. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam lalu berkata: ‘“Semoga Allah mengampunimu wahai Abu Bakar‘. Sebanyak tiga kali, tak lama setelah itu Umar menyesal atas perbuatannya, dan mendatangi rumah Abu Bakar sambil bertanya, “Apakah di dalam ada Abu Bakar?” Namun keluarganya menjawab, tidak. Umar segera mendatangi Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Sementara wajah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam terlihat memerah karena marah, hingga Abu Bakar merasa kasihan kepada Umar dan memohon sambil duduk di atas kedua lututnya, “Wahai Rasulullah Demi Allah sebenarnya akulah yang bersalah”, sebanyak dua kali. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya ketika aku diutus Allah kepada kalian, ketika itu kalian mengatakan, ”Engkau pendusta wahai Muhammad”, Sementara Abu Bakar berkata, ”Engkau benar wahai Muhammad”. Setelah itu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya. Lalu apakah kalian tidak jera menyakiti sahabatku?‘ sebanyak dua kali. Setelah itu Abu Bakar tidak pernah disakiti” (HR. Bukhari)

    Beliau juga orang yang paling pertama beriman kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, menemani Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan membenarkan perkataannya. Hal ini terus berlanjut selama Rasulullah tinggal di Mekkah, walaupun banyak gangguan yang datang. Abu Bakar juga menemani Rasulullah ketika hijrah.

    1. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah orang yang menemani Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam di gua ketika dikejar kaum Quraisy

    Allah Ta’ala berfirman,

    “Salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita” (QS. At Taubah: 40)

    As Suhaili berkata: “Perhatikanlah baik-baik di sini Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam  berkata ‘janganlah kamu bersedih’ namun tidak berkata ‘janganlah kamu takut’ karena ketika itu rasa sedih Abu Bakar terhadap keselamatan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sangat mendalam sampai-sampai rasa takutnya terkalahkan.”

    Dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari hadits Anas bin Malik Radhiallahu’anhu, Abu Bakar berkata kepadanya:

    “Ketika berada di dalam gua, aku melihat kaki orang-orang musyrik berada dekat dengan kepala kami. Aku pun berkata kepada Rasulullah: ‘Wahai Rasulullah, kalau di antara mereka ada yang melihat kakinya, mereka akan melihat kita di bawah kaki mereka’. Rasulullah berkata: ‘Wahai Abu Bakar, engkau tidak tahu bahwa bersama kita berdua yang ketiga adalah Allah’”

    Ketika hendak memasuki gua pun, Abu Bakar masuk terlebih dahulu untuk memastikan tidak ada hal yang dapat membahayakan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Juga ketika dalam perjalanan hijrah, Abu Bakar terkadang berjalan di depan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, terkadang di belakangnya, terkadang di kanannya, terkadang di kirinya.

    Oleh karena itu ketika masa pemerintahan Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu ada sebagian orang yang menganggap Umar lebih utama dari Abu Bakar, maka Umar Radhiallahu’anhu pun berkata:

    “Demi Allah,  satu malamnya Abu Bakar lebih baik dari satu malamnya keluarga Umar, satu harinya Abu Bakar masih lebih baik dari seharinya keluarga Umar. Abu Bakar bersama Rasulullah pergi ke dalam gua. Ketika berjalan, dia terkadang berada di depan Rasulullah dan terkadang di belakangnya. Sampai-sampai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam heran dan berkata: ‘Wahai Abu Bakar mengapa engkau berjalan terkadang di depan dan terkadang di belakang?’. Abu Bakar berkata: ‘Ya Rasulullah, ketika saya sadar kita sedang dikejar, saya berjalan di belakang. Ketika saya sadar bahwa kita sedang mengintai, maka saya berjalan di depan’. Rasulullah lalu berkata: ‘Wahai Abu Bakar, kalau ada sesuatu yang aku suka engkau saja yang melakukannya tanpa aku?’ Abu Bakar berkata: ‘Demi Allah, tidak ada yang lebih tepat melainkan hal itu aku saja yang melakukan tanpa dirimu’. Ketika mereka berdua sampai di gua, Abu Bakar berkata: ‘Ya Rasulullah aku akan berada di tempatmu sampai memasuki gua. Kemudian mereka masuk, Abu Bakar berkata: Turunlah wahai Rasulullah. Kemudian mereka turun. Umar berkata: ‘Demi Allah, satu malamnya Abu Bakar lebih baik dari satu malamnya keluarga Umar’‘” (HR. Al Hakim, Al Baihaqi dalam Dalail An Nubuwwah)

    1. Ketika kaum muslimin hendak berhijrah, Abu Bakar Ash Shiddiq menyumbangkan seluruh hartanya. (Dalilnya disebutkan pada poin 8, pent.)
    2. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah khalifah pertama

    Dan kita diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam untuk meneladani khulafa ar rasyidin, sebagaimana sabda beliau:

    “Hendaknya kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah khulafa ar rasyidin setelahku. Gigitlah dengan gigi geraham kalian” (HR. Ahmad, At Tirmidzi dan lainnya. Hadits ini shahih dengan seluruh jalannya)

    1. Abu Bakar Ash Shiddiq dipilih sebagai khalifah berdasarkan nash

    Ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sakit keras, beliau memerintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam shalat berjama’ah. Dalam Shahihain, dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha ia berkata:

    “Ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sakit menjelang wafat, Bilal datang meminta idzin untuk memulai shalat. Rasulullah bersabda: ‘Perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan shalatlah’. ‘Aisyah berkata: ‘Abu Bakar itu orang yang terlalu lembut, kalau ia mengimami shalat, ia mudah menangis. Jika ia menggantikan posisimu, ia akan mudah menangis sehingga sulit menyelesaikan bacaan Qur’an. Nabi tetap berkata: ‘Perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan shalatlah’. ‘Aisyah lalu berkata hal yang sama, Rasulullah pun mengatakan hal yang sama lagi, sampai ketiga atau keempat kalinya Rasulullah berkata: ‘Sesungguhnya kalian itu (wanita) seperti para wanita pada kisah Yusuf, perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan shalatlah’”

    Oleh karena itu Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu berkata:

    “Apakah kalian tidak ridha kepada Abu Bakar dalam masalah dunia, padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah ridha kepadanya dalam masalah agama?”

    Juga diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha, ia berkata:

    “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkata kepadaku ketika beliau sakit, panggilah Abu Bakar dan saudaramu agar aku dapat menulis surat. Karena aku khawatir akan ada orang yang berkeinginan lain (dalam masalah khilafah) sehingga ia berkata: ‘Aku lebih berhak’. Padahal Allah dan kaum mu’minin menginginkan Abu Bakar (yang menjadi khalifah). Kemudian datang seorang perempuan kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengatakan sesuatu, lalu Nabi memerintahkan sesuatu kepadanya. Apa pendapatmu wahai Rasulullah kalau aku tidak menemuimu? Nabi menjawab: ‘Kalau kau tidak menemuiku, Abu Bakar akan datang’” (HR. Bukhari-Muslim)

    1. Umat Muhammad diperintahkan untuk meneladani Abu Bakar Ash Shiddiq

    Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

    “Ikutilah jalan orang-orang sepeninggalku yaitu Abu Bakar dan Umar” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Maajah, hadits ini shahih)

     
  • erva kurniawan 1:02 am on 13 December 2019 Permalink | Balas  

    Biografi Kehidupan Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu (1) 

    Biografi Kehidupan Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu (1)

    Penulis: Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah As Suhaim hafizhahullah

    Nama

    Nama beliau -menurut pendapat yang shahih- adalah Abdullah bin ‘Utsman bin ‘Amir bin ‘Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taiym bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay Al Qurasyi At Taimi.

    Kun-yah

    Beliau memiliki kun-yah: Abu Bakar

    Laqb (Julukan)

    Beliau dijuluki dengan ‘Atiq (عتيق) dan Ash Shiddiq (الصدِّيق).

    Sebagian ulama berpendapat bahwa alasan beliau dijuluki ‘Atiq karena beliau tampan. Sebagian mengatakan karena beliau berwajah cerah. Pendapat lain mengatakan karena beliau selalu terdepan dalam kebaikan. Sebagian juga mengatakan bahwa ibu beliau awalnya tidak kunjung hamil, ketika ia hamil maka ibunya berdoa,

    “Ya Allah, jika anak ini engkau bebaskan dari maut, maka hadiahkanlah kepadaku”

    Dan ada beberapa pendapat lain.

    Sedangkan julukan Ash Shiddiq didapatkan karena beliau membenarkan kabar dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dengan kepercayaan yang sangat tinggi. Sebagaimana ketika pagi hari setelah malam Isra Mi’raj, orang-orang kafir berkata kepadanya: ‘Teman kamu itu (Muhammad) mengaku-ngaku telah pergi ke Baitul Maqdis dalam semalam’. Beliau menjawab:

    “Jika ia berkata demikian, maka itu benar”

    Allah Ta’ala pun menyebut beliau sebagai Ash Shiddiq:

    “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan yang membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa” (QS. Az Zumar: 33)

    Tafsiran para ulama tentang ayat ini, yang dimaksud ‘orang yang datang membawa kebenaran’ (جَاء بِالصِّدْقِ) adalah Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam dan yang dimaksud ‘orang yang membenarkannya’ (صَدَّقَ بِهِ) adalah Abu Bakar Radhiallahu’anhu.

    Beliau juga dijuluki Ash Shiddiq karena beliau adalah lelaki pertama yang membenarkan dan beriman kepada Nabi Muhammad  Shallallahu’alaihi Wasallam. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam telah menamai beliau dengan Ash Shiddiq sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari:

    “Dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menaiki gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar dan ‘Utsman. Gunung Uhud pun berguncang. Nabi lalu bersabda: ‘Diamlah Uhud, di atasmu ada Nabi, Ash Shiddiq (yaitu Abu Bakr) dan dua orang Syuhada’ (‘Umar dan ‘Utsman)”

    Kelahiran

    Beliau dilahirkan 2 tahun 6 bulan setelah tahun gajah.

    Ciri Fisik

    Beliau berkulit putih, bertubuh kurus, berambut lebat, tampak kurus wajahnya, dahinya muncul, dan ia sering memakai hinaa dan katm.

    Jasa-jasa

    Jasanya yang paling besar adalah masuknya ia ke dalam Islam paling pertama.

    Hijrahnya beliau bersama Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam

    Ketegaran beliau ketika hari wafatnya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam

    Sebelum terjadi hijrah, beliau telah membebaskan 70 orang yang disiksa orang kafir karena alasan bertauhid kepada Allah. Di antara mereka adalah Bilal bin Rabbaah, ‘Amir bin Fahirah, Zunairah, Al Hindiyyah dan anaknya, budaknya Bani Mu’ammal, Ummu ‘Ubais

    Salah satu jasanya yang terbesar ialah ketika menjadi khalifah beliau memerangi orang-orang murtad

    Abu Bakar adalah lelaki yang lemah lembut, namun dalam hal memerangi orang yang murtad, beliau memiliki pendirian yang kokoh. Bahkan lebih tegas dan keras daripada Umar bin Khattab yang terkenal akan keras dan tegasnya beliau dalam pembelaan terhadap Allah. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits Abu Hurairah Radhiallahu’anhu:

    “Ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam wafat, dan Abu Bakar menggantikannya, banyak orang yang kafir dari bangsa Arab. Umar berkata: ‘Wahai Abu Bakar, bisa-bisanya engkau memerangi manusia padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan Laa ilaaha illallah, barangsiapa yang mengucapkannya telah haram darah dan jiwanya, kecuali dengan hak (jalan yang benar). Adapun hisabnya diserahkan kepada Allah?’ Abu Bakar berkata: ‘Demi Allah akan kuperangi orang yang membedakan antara shalat dengan zakat. Karena zakat adalah hak Allah atas harta. Demi Allah jika ada orang yang enggan membayar zakat di masaku, padahal mereka menunaikannya di masa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, akan ku perangi dia’. Umar berkata: ‘Demi Allah, setelah itu tidaklah aku melihat kecuali Allah telah melapangkan dadanya untuk memerangi orang-orang tersebut, dan aku yakin ia di atas kebenaran‘”

    Begitu tegas dan kerasnya sikap beliau sampai-sampai para ulama berkata:

    “Allah menolong Islam melalui Abu Bakar di hari ketika banyak orang murtad, dan melalui Ahmad (bin Hambal) di hari ketika terjadi fitnah (khalqul Qur’an)”

    Abu Bakar pun memerangi orang-orang yang murtad dan orang-orang yang enggan membayar zakat ketika itu

    Musailamah Al Kadzab dibunuh di masa pemerintahan beliau

    Beliau mengerahkan pasukan untuk menaklukan Syam, sebagaimana keinginan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Dan akhirnya Syam pun di taklukan, demikian juga Iraq.

    Di masa pemerintahan beliau, Al Qur’an dikumpulkan. Beliau memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkannya.

    Abu Bakar adalah orang yang bijaksana. Ketika ia tidak ridha dengan dilepaskannya Khalid bin Walid, ia berkata:

    “Demi Allah, aku tidak akan menghunus pedang yang Allah tujukan kepada musuhnya sampai Allah yang menghunusnya” (HR. Ahmad dan lainnya)

    Ketika masa pemerintahan beliau, terjadi peperangan. Beliau pun bertekad untuk pergi sendiri memimpin perang, namun Ali bin Abi Thalib memegang tali kekangnya dan berkata: ‘Mau kemana engkau wahai khalifah? Akan kukatakan kepadamu perkataan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika perang Uhud:

    ‘Simpanlah pedangmu dan janganlah bersedih atas keadaan kami. Kembalilah ke Madinah. Demi Allah, jika keadaan kami membuatmu sedih Islam tidak akan tegak selamanya‘. Lalu Abu Bakar Radhiallahu’anhu pun kembali dan mengutus pasukan.

    Beliau juga sangat mengetahui nasab-nasab bangsa Arab.

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 12 December 2019 Permalink | Balas  

    Banyak Melakukan Gerakan Sia-Sia Dalam Shalat 

    Banyak Melakukan Gerakan Sia-Sia Dalam Shalat

    Oleh : Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Sebagian umat Islam hampir tak terelakkan dari bencana ini, yakni melakukan gerakan yang tak ada gunanya dalam shalat. Mereka tidak mematuhi perintah Allah dalam firmanNya :

    “Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’ (Al baqarah : 238)

    juga tidak memahami firman Allah Ta’ala:

    “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya” (Al Mu’minuun : 1-2)

    Suatu saat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam ditanya tentang hukum meratakan tanah ketika sujud. Beliau Shallallahu’alaihi wasallam menjawab :

    “Jangan engkau mengusap sedang engkau dalam keadaan shalat, jika (terpaksa) harus melakukannya maka (cukup) sekali meratakan kerikil [Hadits riwayat Abu Dawud 1/ 581; dalam shahihil jami’ hadist no : 7452 (Imam Muslim meriwayatkan hadits senada dari Muaiqib, ket : Syaikh Bin Baz)]

    Para ulama menyebutkan, banyak gerakan secara berturut-turut tanpa dibutuhkan dapat membatalkan shalat. Apa lagi jika yang dilakukan tidak ada gunanya dalam shalat. Berdiri di hadapan Allah Subhanahu wata’ala sambil melihat jam tangan, membetulkan pakaian, memasukkan jari ke dalam hidung, melempar pandangan ke kiri, kanan, atau ke atas langit. Ia tidak takut kalau-kalau Allah mencabut penglihatannya, atau syaitan melalaikannya dari ibadah shalat.

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 11 December 2019 Permalink | Balas  

    Hanya Allah Ta’ala yang Mengetahui Hal yang Ghaib 

    Hanya Allah Ta’ala yang Mengetahui Hal yang Ghaib

    Allah Ta’ala berfirman,

    “Katakanlah, ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah’” (QS. An Naml : 65)

    “(Dia adalah Allah) Yang Mengetahui yang ghaib, maka dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya” (QS Al Jin : 26-27)

    Dari 2 ayat di atas maka dapat dijelaskan bahwa hanya Allah Ta’ala sajalah yang mengetahui hal-hal yang ghaib, dan Dia memberitahukan hal-hal yang ghaib itu kepada Rasul-Nya yang Ia ridhai. Bahkan bangsa jin pun tidak mengetahui hal-hal yang ghaib tersebut sebagaimana firman-Nya,

    “Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan” (QS Saba’ : 14)

    Jadi jika ada manusia selain Rasulullah yang telah diridhai-Nya yang mengaku hal-hal ghaib maka dapat disimpulkan :

    Pertama, bahwa manusia itu berdusta karena hanya Allah Ta’ala saja yang mengetahui hal yang ghaib.

    Yang Kedua, dia telah menyekutukan Allah Ta’ala, karena ia menanggap dirinya sama dengan Allah Ta’ala, na’udzubillahi min dzalik, bahwa dia mengetahui yang ghaib padahal hanya Allah Ta’ala saja yang mengetahui hal yang ghaib.

    Maka dari itu Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam dengan tegas melarang umatnya untuk mendatangi kaahiin (dukun, peramal) sebagaimana sabdanya,

    “Man ataa ‘arraafan fasa-alaHu ‘an syai-in lam tuqbal laHu shalaatun arba’iina laylatan” yang artinya “Barang siapa mendatangi dukun/peramal, lalu ia bertanya kepadanya tentang sesuatu, niscaya tidak diterima shalatnya selama 40 malam” (HR. Muslim no. 2230)

    “Man ataa kaaHinan fashaddaqaHu bimaa yaquulu faqad kafara bimaa unzila ‘alaa muhammadin” yang artinya “Barangsiapa mendatangi dukun/peramal lalu ia membenarkan ucapannya, berarti ia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad” (HR. Ahmad no. 9252 dan Abu Dawud no. 3904, hadits ini jayyid)

    Para shahabat pernah bertanya kepada Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam, “Yaa Rasulullah, sesungguhnya mereka (kaahiin) itu kadang-kadang menceritakan sesuatu yang ternyata benar !?”

    Jawab Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam,

    “Itu adalah kalimat yang haq yang dicuri oleh bangsa Jin, lalu dipatukkan (dibisikkan)nya ke telinga pembantunya (yaitu para kaahiin) seperti patukan ayam betina, kemudian mereka (para jin) mencampurkan kalimat yang haq itu dengan lebih dari seratus (kalimat dusta)” (HR. Al Bukhari 7/28 dan Muslim 7/36, dari Aisyah ra.)

    Maraji’ :

    Al Masaa-il Jilid 6, Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, Darrus Sunnah Press, Jakarta, Cetakan Pertama, April 2006.

    Fatwa-fatwa Terkini Jilid 3, Darul Haq, Jakarta, Cetakan Pertama, September 2004 M. hal. 217.

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 10 December 2019 Permalink | Balas  

    Tidak Thuma’ninah Dalam Shalat 

    Tidak Thuma’ninah dalam Shalat

    Oleh : Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Di antara kejahatan pencurian terbesar adalah pencurian dalam shalat. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :.

    “Sejahat-jahat pencuri adalah orang yang mencuri dalam shalatnya, mereka bertanya : “ bagaimana ia mencuri dalam shalatnya? Beliau menjawab : (Ia) tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya [Hadits riwayat Imam Ahmad, 5 / 310 dan dalam Shahihul jami’ hadits no : 997]

    Thuma’ninah adalah diam beberapa saat setelah tenangnya anggota-anggota badan. Para Ulama memberi batasan minimal dengan lama waktu yang diperlukan ketika membaca tasbih. Lihat fiqhus sunnah, sayyid sabiq : 1/ 124 (pent)

    Meninggalkan Thuma’ninah, tidak meluruskan dan mendiamkan punggung sesaat ketika ruku’ dan sujud, tidak tegak ketika bangkit dari ruku’ serta ketika duduk antara dua sujud, semuanya merupakan kebiasaan yang sering dilakukan oleh sebagian besar kaum muslimin. Bahkan hampir bisa dikatakan, tak ada satu masjid pun kecuali di dalamnya terdapat orang-orang yang tidak thuma’ninah dalam shalatnya.

    Thuma’ninah adalah rukun shalat, tanpa melakukannya shalat menjadi tidak sah. Ini sungguh persoalan yang sangat serius. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

    “Tidak sah shalat seseorang, sehingga ia menegakkan (meluruskan) punggungnya ketika ruku’ dan sujud “ (HR. Abu Dawud : 1/ 533, dalam shahih jami’ hadits No :7224)

    Tak diragukan lagi, ini suatu kemungkaran, pelakunya harus dicegah dan diperingatkan akan ancamannya.

    Abu Abdillah Al Asy’ari berkata : “ (suatu ketika) Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam shalat bersama shahabatnya kemudian Beliau duduk bersama sekelompok dari mereka. Tiba-tiba seorang laki-laki masuk dan berdiri menunaikan shalat. Orang itu ruku’ lalu sujud dengan cara mematuk, maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam barsabda :

    “Apakah kalian menyaksikan orang ini ? barang siapa meninggal dalam keadaan seperti ini (shalatnya) maka dia meninggal dalam keadaan di luar agama Muhammad. Ia mematuk dalam shalatnya sebagaiman burung gagak mematuk darah. Sesungguhnya perumpamaan orang yang shalat dan mematuk dalam sujudnya bagaikan orang lapar yang tidak makan kecuali sebutir atau dua butir kurma, bagaimana ia bisa merasa cukup (kenyang) dengannya. [Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahihnya : 1/ 332, lihat pula shifatus shalatin Nabi, Oleh Al Albani hal : 131]

    Sujud dengan cara mematuk maksudnya : sujud dengan cara tidak menempelkan hidung dengan lantai, dengan kata lain, sujud itu tidak sempurna, sujud yang sempurna adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas bahwasanya ia mendengar Nabi Shallallahu’alaihi wasallam besabda : “jika seseorang hamba sujud maka ia sujud denga tujuh anggota badan (nya), wajah, dua telapak tangan, dua lutut dan dua telapak kakinya”. [HR Jamaah, kecuali Bukhari, lihat fiqhus sunnah, sayyid sabiq : 1/ 124]

    Zaid bin wahb berkata : Hudzaifah pernah melihat seorang laki-laki tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, ia lalu berkata : kamu belum shalat, seandainya engkau mati (dengan membawa shalat seperti ini) niscaya engkau mati di luar fitrah (Islam) yang sesuai dengan fitrah diciptakannya Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam.

    Orang yang tidak thuma’ninah dalam shalat, sedang ia mengetahui hukumnya, maka wajib baginya mengulangi shalatnya seketika dan bertaubat atas shalat-shalat yang dia lakukan tanpa thuma’ninah pada masa-masa lalu. Ia tidak wajib mengulangi shalat-shalatnya di masa lalu, berdasarkan hadits :

    “Kembalilah, dan shalatlah, sesungguhnya engkau belum shalat.”

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 9 December 2019 Permalink | Balas  

    Duduk Bersama Orang-Orang Munafik Atau Fasik Untuk Beramah Tamah. 

    Duduk Bersama Orang-Orang Munafik atau Fasik untuk Beramah Tamah.

    Oleh : Muhammad Ibn Shalih Al Munajjid

    Banyak orang lemah iman bergaul dengan sebagian orang fasik dan ahli maksiat, bahkan mungkin bergaul pula dengan sebagian orang yang menghina syariat Islam, melecehkan Islam dan para penganutnya.

    Tidak diragukan lagi, perbuatan semacam itu adalah haram dan membuat cacat akidah, Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

    “Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain, dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka jangnlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah teringat (akan larangan itu)” (Al An’am : 68).

    Karenanya, jika keadaan mereka sebagaimana yang disebutkan oleh ayat di muka, betapapun hubungan kekerabatan, keramahan dan manisnya mulut mereka, kita dilarang duduk bersama mereka, kecuali bagi orang yang ingin berdakwah kepada mereka, membantah kebatilan atau mengingkari mereka, maka hal itu dibolehkan. Adapun bila hanya dengan diam, atau malah rela dengan keadaan mereka maka hukumnya haram. Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

    “Jika sekiranya kamu ridha kepada mereka maka sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik” (At Taubah : 96)

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 8 December 2019 Permalink | Balas  

    Bersumpah dengan nama selain Allah. 

    Bersumpah Dengan Nama Selain Allah.

    Allah bersumpah dengan nama apa saja yang Ia kehendaki dari segenap makhlukNya. Sedangkan makhluk, mereka tidak di bolehkan bersumpah dengan nama selain Allah. Namun bila kita saksikan kenyataan sehari-hari, betapa banyak orang yang bersumpah dengan nama selain Allah.

    Sumpah salah satu bentuk pengagungan. Karenanya ia tidak layak diberikan kecuali kepada Allah Tabaroka wata’ala. Dalam sebuah hadits marfu’ dari Ibnu Umar diriwayatkan :

    “Ketahuilah, sesungguhnya Allah melarang kalian bersumpah dengan nama nenek moyangmu. Barang siapa bersumpah hendaknya ia bersumpah dengan nama Allah atau diam [Hadits riwayat Al Bukhari, lihat Fathul Bari : 11/ 530]

    Dan dalam hadits Ibnu Umar yang lain :

    “Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah maka dia telah berbuat syirik” (HR Imam Ahmad:2/ 125, lihat pula shahihil jami’:6204)

    Dalam hadits lain Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

    “barang siapa bersumpah demi amanat maka dia tidak termasuk golonganku” (HR abu Dawud :no: 3253 dan silsilah Ash Shahihah :94)

    Karena itu tidak boleh sumpah demi Ka’bah, demi amanat, demi kemuliaan, dan demi pertolongan. Juga tidak boleh bersumpah dengan berkah atau hidup seseorang. Tidak pula dengan kemuliaan Nabi, para wali, nenek moyang, atau anak tertua. Semua hal tersebut adalah haram.

    Barangsiapa terjerumus melakukan sumpah tersebut maka kaffaratnya (tebusannya) adalah membaca : Laa Ilaaha Illallah sebagaimana tersebut dalam hadits shahih :

    “barangsiapa bersumpah, kemudian dalam sumpahnya ia berkata: demi latta dan ‘uzza maka hendanya ia mengucapkan: Laa Ilaaha Illallaah” (HR Bukhari, fathul Bari :11/546)

    Termasuk dalam bab ini adalah beberapa lafadz syirik dan lafadz yang diharamkan, yang biasa diucapkan oleh sebagian kaum muslimin. Di antaranya adalah : Aku berlindung kepada Allah dan kepadamu, saya bertawakkal kepada Allah dan kepadamu, ini adalah dari Allah dan darimu, tak ada yang lain bagiku selain Allah dan kamu, di langit cukup bagiku Allah dan di bumi cukup bagiku kamu, kalau bukan karena Allah dan fulan, saya terlepas diri dari Islam, wahai waktu yang sial, alam berkehendak lain, dan lain sebagainya.

    [Yang benar hendaknya diucapkan dengan kata kemudian. Misalnya, saya berhasil karena Allah kemudian karena kamu. Dan dalam lafadz-lafadz yang lain. Syaikh Bin Baz]

    [Demikian pula dengan setiap kalimat yang mengandumg pencelaan terhadap waktu seperti, ini zaman edan, ini saat yang penuh kesialan, zaman yang memperdaya, dll. Sebab pencelaan kepada masa akan kembali kepada Allah, karena Dialah yang menciptakan masa tersebut. Syaikh Bin Baz]

    Termasuk dalam bab ini pula adalah menamakan seseorang dengan nama-nama yang dihambakan kepada selain Allah seperti Abdul Masih, Abdun Nabi, Abdur Rasul, Abdul Husain.

    Di Antara istilah dan semboyan modern yang bertentangan dengan tauhid adalah : Islam sosialis, demokrasi Islam, kehendak rakyat adalah kehendak Tuhan, agama untuk Allah dan tanah air untuk semua, atas nama arabisme, atau nama revolusi dsb.

    Termasuk hal yang diharamkan adalah memberikan gelar raja diraja, hakim para hakim atau gelar sejenisnya kepada seseorang. Memanggil dengan nama sayyid (tuan) atau yang semakna kepada orang munafik atau kafir, dengan bahasa arab atau bahasa lainnya.

    Termasuk di dalamnya menggunakan kata “andaikata” yang menunjukkan penyesalan dan kebencian sehingga membuka pintu bagi syaitan.

    Termasuk juga yang dilarang adalah ucapan “Ya Allah ampunilah aku jika Engkau menghendaki” [Untuk pembahasan yang lebih luas, lihat mu’jamul manahi Al Lafdziyyah, syaikh Bakr Abu Zaid]

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 7 December 2019 Permalink | Balas  

    Siapakah Ahlus Sunnah wal Jama’ah? 

    Siapakah Ahlus Sunnah wal Jama’ah?

    Oleh : Abu Tauam

    Istilah ahlus sunnah wal jama’ah ada dalam Kitab Tafsir Al Qur’an Al Azhim yang disusun oleh Al Hafizh Ibnu Katsir yaitu ketika sahabat Abdullah bin Abbas ra. mengomentari ayat,

    “Pada Hari Perhitungan ada orang-orang yang wajahnya putih berseri-seri dan yang berwajah hitam suram” (QS Ali Imran 106).

    Lalu Abdullah bin Abbas ra. berkata, “Orang-orang yang wajahnya putih berseri-seri adalah ahlus sunnah wal jama’ah dan orang-orang yang berwajah hitam suram adalah ahlul bid’ah wal firqah”. Jadi istilah ahlus sunnah wal jama’ah sudah ada semenjak zaman sahabat ridwanullahu ‘alaihim.

    Jika kita cermati perkataan Ibnu Abbas ra. tersebut maka lawan dari ahlus sunnah adalah ahlul bid’ah dan lawan dari al jama’ah adalah al firqah.

    Kita bahas yang pertama dulu. Ahlus Sunnah adalah orang yang mengikuti sunnah Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam dan ahlul bid’ah adalah orang yang secara sengaja mengerjakan bid’ah, dan apakah bid’ah itu? Mari kita lihat definisi bid’ah menurut Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam,

    “Dan seburuk-buruknya urusan adalah yang muhdats (yang baru) dan setiap yang muhdats adalah bid’ah” (HR. Ahmad 3/371, Muslim 3/11, An Nasa’i no. 1578, dan Ibnu Majah no.45, lafazh ini milik Ahmad, dari Jabir ra.)

    Jadi orang-orang yang secara sengaja mengamalkan sesuatu yang baru dalam Dinul Islam yang tidak disandarkan kepada Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam maka orang tersebut mengamalkan bid’ah.

    Shalat shubuh adalah sunnah bukan bid’ah dan hukumnya wajib, shalat tahiyyatul mesjid adalah sunnah bukan bid’ah dan hukumnya sunnah mu’akkad, berbakti kepada kedua orang tua adalah sunnah bukan bid’ah dan hukumnya wajib Tapi shalat menggunakan dua bahasa bukanlah sunnah maka ia bid’ah dan setiap yang bid’ah hukumnya haram untuk dikerjakan.

    Maka di dalam Islam antara sunnah dan bid’ah tidak akan pernah bersatu selamanya.

    Lalu apakah definisi al jama’ah, dan mengapa sahabat Ibnu Abbas ra. menyebut al firqah sebagai lawan dari al jama’ah?

    Saya mengangkat 2 definisi al jama’ah yang rajih berdasarkan pemahaman salafush shalih, kita lihat definisi yang pertama dahulu, bahwa Al Jama’ah adalah kelompok asal, yaitu jama’ahnya Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam beserta para sahabat yang semoga Allah Ta’ala meridhai mereka semua.

    Namun ketika sepeninggal Nabi ShallallaHu alaiHi wa sallam, maka ada sebagian kaum muslimin memisahkan diri dari al jama’ah dan melepas ikatan kesetiaannya terhadap Imam kaum muslimin. Kelompok yang memisahkan diri itulah yang disebut al firqah.

    Al Firqah yang pertama kali memisahkan diri dari jama’ah muslimin dan melepas ketaatan terhadap Imam kaum muslimin adalah Khawarij yang kemudian disusul firqah-firqah yang lain seperti Syi’ah Rafidhah, Qadariyyah, Jahmiyah dan lain sebagainya yang jumlahnya cukup banyak.

    Sepeninggal Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam tongkat estafet Al Jama’ah berikutnya dipegang oleh Khulafa’ur Rasyidin, lalu oleh raja-raja Bani Umayyah, kemudian oleh raja-raja Bani Abbasiyyah dan terakhir dipegang oleh dinasti Turki Utsmani, wallahu a’lam. Dan diantara Imam kaum muslimin atau yang disebut Amirul Mukminin, ada yang baik dan ada yang tidak sebagaimana sabda Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam,

    “Sesungguhnya akan diangkat untuk kalian beberapa penguasa dan kalian akan mengetahui kemunkarannya. Maka siapa saja yang benci bebaslah ia, dan siapa saja yang mengingkarinya, maka selamatlah ia, tetapi orang yang senang dan mengikutinya maka tersesatlah ia” Para sahabat bertanya, “Apakah tidak sebaiknya kita memerangi mereka?” Beliau bersabda, “Jangan ! Selama mereka masih mengerjakan shalat bersamamu” (HR. Muslim, dari Ummu Salamah ra.)

    Dan di hadits lain Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,

    “Patuh dan taatilah pemimpinmu walaupun dia memukul punggungmu dan mengambil hartamu, patuhilah dan taatilah” (HR. Muslim 12/236-237)

    Artinya, walaupun amirul mukminin berlaku zhalim terhadap rakyatnya maka haram hukumnya untuk memberontak, memerangi ataupun memisahkan diri karena mereka itulah al jama’ah. Dan barangsiapa memerangi, memberontak ataupun memisahkan diri amirul mukminin tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat (seperti amirul mukminin tidak lagi melakukan shalat yang wajib) maka mereka itulah yang disebut sebagai al firqah.

    Lalu saat ini apakah ada yang disebut al jama’ah semenjak keruntuhan Al Khilafah Al Islamiyyah Turki Utsmani tahun 1924. Masya Allah, Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam telah menduga bahwa kaum muslimin pada suatu saat akan mengalami masa ketiadaan Al Jama’ah (definisi yang pertama), sebagaimana hadits dari Hudzaifah ra.,

    “…Saya (Hudzaifah ra.) bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah yang harus kulakukan jika aku mendapatkan situasi seperti itu?’, Beliau ShallallaHu alaiHi wa sallam menjawab, ‘Kamu wajib melazimi jamaah umat Islam dan pemimpin mereka’. Saya bertanya lagi, ‘Bagaimana jika tidak ada jama’ah umat Islam dan juga tidak ada pemimpinnya?’, Beliau menjawab, ‘Menjauhlah kamu dari semua golongan itu walaupun kamu menggigit akar batang pohon sampai maut menemuimu dan kamu (tetap) dalam kondisi seperti itu” (HR. Imam Muslim, hadits pada Kitab Shahih Muslim 6/20 atau no. 1231 pada Kitab Ringkasan Shahih Muslim oleh Al Mundziri)

    Dari hadits di atas sangat jelas bahwa ketika terjadi masa dimana tidak ada al jama’ah yaitu umat Islam yang dipimpin oleh seorang Amirul Mukminin, maka seorang muslim harus menjauh dan meninggalkan seluruh firqah dan golongan apapun karena demikianlah Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam memberikan panduannya. (Betapa benar Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam, bahwa semenjak ketiadaan al jama’ah-definisi pertama maka yang ada hanyalah firqah-firqah yang jumlahnya cukup banyak dan berbilang)

    Dan apakah ketika masa itu terjadi (yaitu masa tanpa kepemimpinan amirul mukminin) istilah al jama’ah tidak ada lagi !? Tidak, istilah itu tetap ada, namun disini kita menggunakan definisi yang kedua yaitu definisi yang diberikan oleh sahabat Abdullah bin Mas’ud ra. bahwa al jama’ah adalah,

    “Kamu bersama kebenaran walaupun kamu sendirian” (Ibnul Qayyim dalam Kitab Ighatsatul Lahfan min Mashayid Asy Syaithan I/70, lihat juga Syarh Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah Wal Jama’ah 160 oleh Al Lalikaa-i dan Tarikh Dimasyqi 13/322 oleh Ibnu Asaakir). Artinya walaupun kita seorang diri sekalipun tetapi jika kita berada di atas kebenaran maka kita yang sendirian itu dapat disebut sebagai al jama’ah.

    (Perhatikan, bahwa tidak ada kontradiksi antara definisi al jama’ah yang pertama dengan yang kedua)

    Akhirnya dari penjelasan ringkas di atas maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud ahlus sunnah wal jama’ah pada saat ini adalah orang-orang yang mengerjakan sunnah dan menjauhi bid’ah walaupun mereka hanya sendirian saja mengamalkannya.

    Dan salah satu bagian dari ahlus sunnah wal jama’ah itu adalah al ghuraba’ atau orang yang dianggap asing, orang yang dianggap aneh, orang yang dianggap menyendiri, namun sebenarnya merekalah orang-orang yang beruntung, sebagaimana sabda Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam,

    “Islam mulai (muncul) dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah bagi orang-orang yang dianggap asing itu” (HR. Muslim)

    Demikian juga perkataan seorang tabi’in besar Sufyan Ats Tsauri rhm. yang menjelaskan tentang ahlus sunnah wal jama’ah, “Jagalah ahlus sunnah wal jama’ah dengan baik karena mereka Al Ghurabaa’” (Al Laalikai, Kitab Ushul Al I’tiqaadi jilid 1 hlm. 64)

     

    Telah ada hadits tentang keterasingan Islam

    Maka hendaknya para pencinta menangis

    Karena terasing dan orang-orang yang dicintainya

    Allahlah yang melindungi kita

    Yang menjaga agama kita

    “Pada Hari Perhitungan ada orang-orang yang wajahnya putih berseri-seri …” (QS Ali Imran 106)

    Semoga Allah Ta’ala memasukan kita semua ke dalam barisan ahlus sunnah wal jama’ah.

    Maraji’

    Dari berbagai sumber, silahkan kepada kaum muslimin untuk merujuk kepada Kitab Tafsir Al Qur’an Al Azhim Ibnu Katsir dan Kitab Hadits Shahih Muslim.

    Semoga Bermanfaat.

     

     

    Dari Abu Dzar ra., Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Jibril berkata kepadaku, ‘Barangsiapa diantara umatmu yang meninggal dunia dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka pasti dia masuk surga'” (HR. Bukhari) [Hadits ini terdapat pada Kitab Shahih Bukhari]

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 6 December 2019 Permalink | Balas  

    Banjir Nabi Nuh 

    Banjir Nabi Nuh

    Agama dan Kebudayaan yang Menceritakan Banjir Nabi Nuh

    Peristiwa Banjir Nuh tersebut disebarluaskan ke hampir semua manusia (kaum) lewat lesan para Nabi yang menyampaikan Agama yang Benar, tetapi akhirnya cerita itu menjadi legenda-legenda berbagai kaum-kaum itu, dan kisah itu mengalami penambahan-penambahan dan juga pengurangan-pengurangan dalam periwayatannya.

    Allah telah menyampaikan kisah tentang Banjir Nuh kepada manusia melalui para rasul dan kitab-kitab yang Dia turunkan kepada berbagai masyarakat agar hal itu menjadi peringatan atau permisalan. Dalam setiap masa teks atau kitab-kitab tersebut telah dirubah dari aslinya, dan penuturan tentang banjir Nuh itu juga telah ditambah-tambahai dengan unsur-unsur yang mistis. Hanyalah al-Qur’an lah sumber yang masih memiliki kesamaan yang mendasar dengan temuan-temuan dan observasi empiris. Hal ini hanya tidak lain karena Allah menjaga al-Qur’an dari perubahan, meski hanya sebuah perubahan kecil sekalipun, dan Dia tidak mengizinkan al-Qur’an itu terkurangi. Menurut padangan al-Qur’an berikut ini “Kami telah dengan tanpa keraguan menurunkan risalah, dan Kami dengan pasti akan menjaganya (dari pengurangan)”( QS.Al-Hijr: 9), al-Qur’an berada di bawah pengawasan khusus Allah.

    Dalam bagian terakhir dari bab ini yang berkaitan dengan banjir, kita akan melihat, bagaimana insiden banjir itu diilustrasikan -meski telah terjadi manipulasi/pengurangan – dalam berbagai kebudayaan dan di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

    Banjir Nabi Nuh dalam Perjanjian Lama

    Kitab yang sebenarnya diwahyukan kepada nabi Musa adalah Taurat. Hampir semua sisa-sisa wahyu dan buku-buku yang berkaitan dengan Injil “Pentateuch (lima buku pertama dari Kitab perjanjian Lama)”, seiring dengan berjalannya waktu, telah lama kehilangan hubungannya dengan wahyu yang asli. Bahkan, kemudian bagian yang paling meragukan tersebut telah diubah oleh para rabi (pendeta) dari masyarakat Yahudi. Sama halnya dengan wahyu-wahyu yang dikirimkan kepada nabi-nabi lain yang diutus kepada Bani Israel setelah nabi Musa, juga mendapat perlakuan yang sama dan mengalami perubahan yang luar biasa. Inilah sebab yang menjadikan kita untuk menyebut buku-buku itu sebagai “Pentateuch yang telah dirubah (Altered Pentateuch)” dikarenakan telah kehilangan hubungannya dengan aslinya, membawa kita untuk menganggapnya lebih hanya sebagai bikinan manusia semata yang berupaya untuk mencatat sejarah suku bangsanya daripada menganggapnya sebagai sebuah kitab suci. Tidaklah mengherankan jika ciri-ciri dari Pentateuch yang telah dirubah itu dan berbagai kontradiksi yang terkandung didalamnya bisa dengan mudah terungkap dalam pemaparannya terhadap cerita tentang nabi Nuh meskipun mempunyai berbagai kesaman dalam sebagian yang diceritakan dengan al-Qur’an.

    Menurut Perjanjian Lama, Tuhan memerintahkan kepada Nuh bahwa semua orang kecuali para pengikutnya akan dihancurkan karena bumi telah penuh dengan berbagai macam tindak kekerasan. Dan akhirnya Tuhan memerintahkan mereka untuk membuat sebuah Perahu dan menyebutkan secara detail bagaimana cara mengerjakannya. Tuhan juga mengatakan kepadanya (Musa) untuk membawa keluarganya, tiga orang anaknya, istri-istri anaknya, dua (sepasang) dari setiap mahkluk hidup dan berbagai persedian bahan pangan.

    Tujuh hari kemudian, ketika waktu banjir telah tiba, semua sumber yang ada di dalam tanah mendadak terbuka lebar, pintu-pintu surga terbuka dan sebuah banjir besar menenggelamkan semuanya. Hal ini berlangsung selama empat puluh hari dan empat puluh malam. Kapal yang dtumpangi Nuh beserta pengikutnya berlayar diatas air yang menutupi semua pegunungan dan dataran tinggi. Mereka yang berada di dalam kapal bersama Nuh diselamatkan dan mereka yang tidak ikut ke dalam kapal dan terbawa oleh air bah tersebut ditenggelamkan hingga mati. Hujan berhenti setelah banjir terjadi, yang terjadi selama 40 hari 40 malam, dan airpun mulai surut 150 hari kemudian.

    Setelah berada pada hari ke tujuh belas dari bulan ke tujuh, kapal tersebut berhenti di gunung Ararat (Agri). Nuh memerintahkan seekor merpati untuk melihat apakah air telah benar-benar surut atau tidak, dan ketika akhirnya merpati tersebut tidak kembali lagi, ia menyadari bahwa air telah benar-benar surut. Tuhan memerintahkannya untuk keluar dari kapal dan menyebar ke seluruh penjuru bumi.

    Salah satu kontradiksi yang terdapat dalam kisah yang terdapat dalam perjanjian Lama ini adalah; berdasarkan ringkasan ini, dalam versi tulisan yang “berbau Yahudi”, dikatakan bahwa Tuhan memerintahkan kepda Nuh untuk membawaa tujuh dari binatang-binatang tersebut, jantan dan betina, Ia (Tuhan) menyebut-Nya “clean(halal)” dan hanya pasangan-pasangan binaang-binaang tersebut Ia sebut “unclean(haram)”. Hal ini bertentangan dengan teks dibawah ini. Disamping itu dalam Perjanjian Lama, jangka waktu terjadinya banjir juga berbeda. Menurut versi yang berbau Yahudi itu, peristiwa naiknya air akibat banjir terjadi selama 40 hari, sedangkan berdasarkan pendapat orang-orang awam, dikatakan terjadinya selama 150.

    Sebagian dari Perjanjian Lama yang menceritakan tentang banjir Nuh mengatakan ; Dan Tuhan berkata kepada Nuh, akhir dari semua jasad manusia adalah menghadap kepadaKu; dan karena bumi telah penuh dengan kekerasan; maka lihatlah Aku akan menghancurkan mereka bersama dengan bumi. Maka kamu buatlah perahu dari kayu gopher;”..

    ..Dan, lihatlah meskipun Aku memberikan banjir yang membanjiri seluruh bumi untuk menghancurkan semua manusia, dimana semua yang bernafas, dari bawah surga; (dan)setiap yang ada dibumi akan mati. Namun bersamamu Aku akan menetapkan janjiKu; dan kamu akan masuk ke dalam perahu, kau dan anakmu, dan istrimu, dan istri-istri anak-anak mu. Dan semua mahkluk hidup, dua (sepasang) dari setiap mahkluk kamu bawa ke dalam perahu, untuk tetap menjaga mereka hidup bersamamu; mereka haruslah jantan dan betina”

    “demikianlah yang dilakuka