Updates from September, 2016 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:08 am on 30 September 2016 Permalink | Balas  

    Bapak… aku ingin sekolah 

    anak_dhuafaBapak, Aku Ingin Sekolah

    Segelas air putih terletak di meja kayu. Lelaki itu mengangkatnya untuk terakhir kali. Diteguk habis. Sejak kemarin siang belum ada satu butir nasipun yang singgah di perutnya. Hanya air putih. Itupun hanya air sumur di belakang. Kata orang air itu kotor. Tidak layak untuk diminum.

    Tapi apakah orang masih bisa berpikir kesehatan, higienis atau tidak, ketika tidak ada lagi pilihan? Tadi pagi dia hanya memanasi air itu dengan alat pemanas kecil yang diperolehnya beberapa waktu lalu dari seseorang.

    Dipandangnya gelas kosong. Baginya hanya minum air masih bisa bertahan.

    Bagaimana dengan dua anak dan istrinya? Dihela nafas panjang. Sejak kemarin persediaan beras sudah habis. Mau hutang pada tetangga sudah tidak mungkin lagi. Sudah banyak tetangga yang dimintai tolong untuk meminjaminya uang atau beras. Satupun belum ada yang dia bayar. Dia malu bila harus datang lagi ke salah satu dari mereka untuk meminjam uang atau beras.

    Lelaki itu berjalan keluar. Berdiri diambang pintu rumah kontrakkan.

    Sebuah pintu yang sempit dari sebuah kamar ukuran 3X4. Inilah rumahnya.

    Satu dari sekian deretan rumah petak. Dilihatnya beberapa anak bersiap-siap berangkat ke sekolah. Maria, anaknya yang tertua masih duduk di kelas II SD. Dia baru selesai mandi di kamar mandi umum.

    Sebentar lagi dia akan berangkat ke sekolah juga. Lelaki itu menghela nafas kembali. Apakah Maria akan bolos sekolah lagi? Keluh hatinya.

    Kemarin Maria sudah bolos 3 hari. Bukan karena sakit atau malas, melainkan tidak ada uang saku untuk naik angkot. Sekali jalan dia harus bayar Rp 1000.

    Kalau pergi pulang sudah Rp 2000. Darimana dia dapat uang Rp 2000?

    Sekolah Maria cukup jauh. Dulu dia sengaja menyekolahkan Maria di sekolah ini, sebab dia ingin anaknya memperoleh pendidikan yang bermutu. Ketika masih bekerja semua bisa diatasi. Setelah tidak bekerja dia sudah dua kali memohon keringanan dari kepala sekolah, sekarang Maria tinggal membayar separo dari uang sekolahnya semula. Namun ini masih sangat terasa berat sekali. Sekarang sudah 2 bulan Maria belum membayar uang sekolah.

    Pernah dia meminta bantuan pada seseorang ternyata tidak diberi, melainkan mendapatkan jawaban yang sangat menyakitkan hati. Dengan angkuh dia mengatakan kalau memang tidak mempunyai uang mengapa disekolahkan disana?

    Siapakah yang tahu bahwa dia akan ter PHK? Siapakah yang tidak ingin menyekolahkan anaknya di tempatnya. Sekali lagi lelaki itu menghembuskan nafas kesal. Dia kesal pada diri sendiri.

    Mengapa tidak bisa menemukan pekerjaan? Sudah hampir 6 bulan dia menganggur. Semula dia bekerja di sebuah perusahaan yang cukup baik. Tapi karena pemimpinnya korupsi, maka perusahaan menjadi bangkrut. Semua karyawan di PHK tanpa pesangon. Mau menuntut pada pemilik perusahaan tampaknya tidak mungkin sebab dia sekarang masuk dalam penjara. Hartanya disita. Dia dituduh menggelapkan uang milik seseorang dan terjerat hutang di sebuah bank.

    Selama 6 bulan ini sudah banyak kertas lamaran dibuat. Sudah banyak perusahaan dimasukinya, tapi semua jawabannya sama. Tidak ada lowongan atau yang lebih agak halus tunggu panggilan. Satu demi satu apa yang dimilikinya dari hasil bekerja sekian tahun telah dijualnya. Rumah dari kontrakan satu rumah menjadi sebuah kamar. Makan pun kini sudah semakin susah. Setiap hari hanya berpikir kepada siapa dia akan hutang lagi?

    Dilihatnya matahari yang cerah menyinari genting yang berjajar rapat.

    Apakah kalau dia pulang ke daerah asal semua akan beres? Apakah disana ada pekerjaan? Bukankah dia sampai merantau ke kota sebab di daerahnya tidak ada lagi yang bisa dijadikan peganggan untuk hidup? Orang tuanya hanya mewariskan sepetak tanah gersang yang sangat minim hasilnya. Di desa dia akan semakin tidak berdaya. Belum lagi pendidikan anak-anaknya. Pasti disana tidak akan terjamin.

    Lelaki itu terus termenung di depan pintu. Mau kemana lagi hari ini?

    Apakah yang bisa dimakan hari ini? Dia melihat Maria sudah berpakaian seragam. Hatinya pedih kalau melihat Maria dengan pakaian seragam dan siap berangkat sekolah. “Lebih baik kamu tidak masuk saja hari ini.” Kata lelaki itu sambil menatap Maria. “Aku malu diolok-olok temanku kalau aku bolos sekolah.” Maria mulai menangis minta sekolah. Hati lelaki itu bagai diremas. Hancur luluh. Semua kata tercekat ditenggorokan.

    Maria semakin keras menangis. Dia ngotot mau sekolah sebab malu diejek teman-teman di kampung dan di sekolah. Istrinya datang dari sumur. Dia marah ketika mendengar Maria menangis. Maria yang sudah sedih hati semakin sedih. Tangisnya semakin keras. Istrinya merasa tidak didengarkan maka dia mulai berteriak-teriak agar Maria berhenti menangis. Lelaki itu hanya mampu terdiam di ambang pintu. Teriakan istrinya dan tangis Maria seperti dua besi yang menjepit kepalanya sehingga mau pecah.

    Semua tidak salah. Istrinya pun jengkel akan situasi hidup yang membuat tegang. Maria yang belum faham dengan kesulitan orang tuanya hanya mampu menangis. Kamar menjadi ribut. Istrinya mulai mengomel panjang lebar.

    Suaranya keras menusuk jiwa. Lelaki itu hanya membisu. Di dekatinya Maria dan digendong keluar.

    Dia tidak ingin anaknya semakin disakiti dengan perkataan istrinya.

    Permintaan Maria sangat wajar. Dia ingin berangkat sekolah. Dia tidak meminta apa-apa selain sekolah. Maria dan adiknya memang anak yang baik.

    Mereka tidak pernah menuntut. Makan hanya dengan nasi dan garampun mereka diam saja, meski banyak temannya makan nasi dengan lauk dan sayur. Mereka jarang sekali meminta jajan. Mereka seolah faham dengan aneka kesulitan yang dialami oleh orang tuanya. Kini dia menangis sebab sudah tidak tahan diolok-olok temannya sebagai pemalas yang suka membolos. Namun dia tidak mungkin menerangkan pada Maria tentang kesulitan hidupnya.

    Maria terus menangis dalam gendongan. Dia meronta-ronta ingin turun dan berangkat ke sekolah. Lelaki itu berjalan ke tetangga siapa tahu masih ada orang yang berbaik hati mau memberi pinjaman uang Rp 2000 untuk ongkos angkot. Seorang tetangga akhirnya menyodorkan dua lembar ribuan. Maka dengan segala bujuk rayu akhirnya Maria mau diam dan bersiap ke sekolah.

    Namun dia belum makan. Di rumah hanya ada air putih dari sumur. Apakah dia akan kuat belajar sampai siang nanti?

    Ingin sekali lelaki itu berteriak untuk melepaskan beban di hatinya. Dia bisa gila melihat semua ini setiap hari. Bukan dia malas. Dia punya ijasah SMA.

    Dia sudah berusaha mencari pekerjaan meski hanya kuli bangunan. Namun pada jaman seperti ini, sebuah lowongan sudah dinanti sekian ratus pengangguran.

    Faktor usia dan ijasah membuatnya selalu kalah bersaing.

    Lelaki itu melambaikan tangan pada Maria yang berlari menuju jalan besar untuk mencegat angkot. Lelaki itu berjalan gontai menuju rumahnya yang kecil. Sayup-sayup dia mendengar seorang sedang membacakan berita di radio.

    Dengan jelas sekali dia mendengar bahwa terdakwa penggelapan uang negara sebesar 40 M dibebaskan. Ingin rasanya mengambil batu dan melempar radio itu. Ini sepertinya sebuah penghinaan pada kaum miskin.

    40 M bukan uang yang sedikit. Dan mereka mengatasnamakan rakyat menggunakan uang itu untuk memperkaya diri. Memang suara kelaparan dan kegelisahan yang muncul dari dalam dirinya belum menggema di masyarakat. Namun apakah dia diberi ruang dan kesempatan untuk bersuara? Kalau toh sudah bersuara apakah akan membuka hati para koruptor? Apakah ada rasa peduli dari mereka?.

    Lelaki itu hanya salah satu dari jutaan masyarakat yang hidup jauh dibawah garis kemiskinan. Dia hanya bagian sebuah masyarakat yang sering dihina oleh sikap orang berkuasa yang dengan wewenang-wenang menggunakan uang rakyat demi kepentingan pribadi. Lelaki itu berjalan gontai. Perutnya sudah sangat lapar. Dia harus keluar untuk mencari pekerjaan. Masihkah ada pintu terbuka untukku sehingga aku bisa menyekolahkan anak-anakku? Siang semakin terik membakar hati yang gersang…

    Jika Anda tergerak dengan tulisan diatas, kirimkan hal ini kepada kerabat-kerabat Anda, dan tidak ada salahnya juga kita mau menengok dan memberikan bantuan kepada orang-orang disekeliling kita yang mungkin mempunyai pengalaman yang hampir mirip dengan tulisan diatas.

    Have nice day &

    Best Regards

    ***

    Kiriman Sahabat Tri Lestari

    Iklan
     
  • erva kurniawan 1:29 am on 29 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (14) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (14)

    Zakat Harta Haram

    1. Harta haram adalah semua harta yang secara hukum syariat dilarang dimiliki atau memanfaatkannya, baik haram karena bendanya mengandung mudarat atau kotoran seperti mayit dan minuman keras, atau haram karena faktor luar, seperti adanya kesalahan dalam cara pengalihan milik, seperti mengambil sesuatu dari pemiliknya tanpa izin (merampok), mengambil dari pemilik dengan cara yang tidak dibenarkan hukum, meskipun dengan kerelaan pemiliknya, seperti transaksi riba dan sogok.
    2. Pemegang harta haram yang mendapat harta dengan cara yang tidak beres, tidak dianggap pemilik barang tersebut selama-lamanya. Dia diwajibkan mengembalikannya kepada pemilik aslinya atau kepada ahli warisnya jika diketahui.
    • Jika tidak diketahui lagi, dia diwajibkan mendermakan harta tersebut kepada kepentingan sosial dengan meniatkan bahwa derma tersebut adalah atas nama pemilik aslinya.
    • Jika ia mendapatkan harta haram itu sebagai upah dari pekerjaan yang diharamkan maka ia harus mendermakannya untuk kepentingan sosial dan tidak boleh dikembalikan kepada orang yang memberinya.
    • Harta haram tidak dikembalikan kepada pemilik semula, selama dia masih tetap melakukan transaksi yang tidak legal tersebut, seperti harta yang diperoleh dari transaksi riba, akan tetapi diharuskan mendermakannya kepada kepentingan sosial.
    • Bila terdapat kesulitan dalam mengembalikan harta, pemegangnya diwajibkan mengembalikan nilainya kepada pemiliknya semula jika diketahui, bila tidak, maka nilai tersebut didermakan kepada kepentingan sosial dengan meniatkan derma tersebut atas nama pemilik semula.
    1. Harta yang haram karena zatnya sendiri, tidak wajib dibayar zakatnya, karena menurut hukum tidak dianggap harta yang berharga. Untuk menyelesaikannya harus dilalui cara-cara yang dibenarkan dalam agama.
    • Pemegang harta yang haram karena terdapat ketidakberesan dalam cara mendapatkannya tidak wajib membayar zakatnya, karena tidak memenuhi kriteria “dimiliki dengan sempurna” yang merupakan syarat wajib zakat. Bila sudah kembali kepada pemiliknya semula, yang bersangkutan wajib membayar zakatnya untuk satu tahun yang telah lalu, walaupun hilangnya sudah berlalu beberapa tahun. Hal ini sesuai dengan pendapat yang lebih kuat.
    • Pemegang harta haram yang tidak mengembalikannya kepada pemilik aslinya, kemudian membayarkan sejumlah zakat dari harta tersebut, masih tetap berdosa menyimpan dan menggunakan sisa harta tersebut dan tetap diwajibkan mengembalikan keseluruhannya kepada pemiliknya selama diketahui, bila tidak, maka dia diwajibkan mendermakan sisanya. Adapun harta yang dibayarkan itu tidak dinamakan zakat.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 28 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (13) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (13)

    Zakat Perusahaan Dagang Dan Industri

    1. Zakat perusahaan industri disamakan dengan perdagangan dengan pertimbangan sama-sama subjek hukum abstrak dalam kondisi-kondisi sebagai berikut :
    • Adanya peraturan yang mengharuskan pembayaran zakat perusahaan tersebut.
    • Aturan Dasar perusahaan memuat hal tersebut.
    • Dewan Umum mengeluarkan keputusan yang berkaitan dengan hal itu.
    • Kerelaan para pemegang saham menyerahkan pengeluaran zakat sahamnya kepada dewan direksi perusahaan.

    Pendapat ini berdasarkan prinsip usaha bersama yang diterangkan dalam hadis Nabi saw. tentang zakat binatang ternak yang penerapannya digeneralisasikan oleh beberapa mazhab fikih dan yang disetujui pula dalam Muktamar Zakat I. Sebaiknya perusahaan yang bersangkutan itulah yang membayar zakat dalam keempat kondisi yang disebutkan di atas. Jika tidak, maka perusahaan harus menghitung seluruh zakat kekayaannya kemudian memasukkan ke dalam anggaran tahunan catatan yang menerangkan nilai zakat setiap saham untuk mempermudah pemegang saham mengetahui berapa zakat sahamnya.

    1. Perusahaan yang bersangkutan menghitung zakat kekayaannya dengan cara yang sama seperti zakat individu biasa.

    Sehingga masing-masing jenis kekayaan dikeluarkan zakatnya sesuai dengan volume yang ditentukan baik berupa uang, hewan ternak, hasil pertanian, komoditas atau pun yang lainnya.

    Namun perlu diketahui bahwa saham yang dimiliki oleh negara, badan wakaf, lembaga zakat atau yayasan sosial lainnya, tidak wajib dizakati.

    Zakat Pendapatan Dan Propesi

    Hasil pendapatan ialah harta yang menjadi milik si pembayar zakat yang sebelumnya tidak dia miliki. Jika seorang pembayar zakat telah memiliki suatu harta yang mencukupi nisab kemudian sebelum sampai haul dia mendapatkan harta dari jenis yang sama, seperti keuntungan dagang atau produksi hewan ternak, maka harta yang didapatkan tersebut digabung dengan modal pokok saat sampai haulnya, kemudian dizakati, baik harta yang didapat berasal dari pertumbuhan dan penambahan dari modal pokok atau bukan.

    Pendapat ini diadopsi dari pendapat mazhab Hanafi, dalam upaya menghindari kesulitan akibat dari berpencarnya harta yang wajib dizakati, perbedaan waktu pembayaran zakat dan untuk memudahkan mengetahui volume zakat dari setiap bagian dari harta miliknya. Jika pendapatan tersebut berasal dari jenis yang berbeda, bukan sejenis modal pokok, seperti dia memiliki uang kemudian dia mendapatkan penghasilan hewan ternak, maka penghasilan ini tidak digabungkan untuk melengkapi nisab modal pokok, jika masih kurang dan tidak digabungkan ke haul modal pokok tersebut, jika haulnya belum lengkap tetapi haulnya dimulai di saat ia memperoleh pendapatan tersebut dan telah sampai nisab.

    Hasil pendapatan yang diperoleh dari selain pertambahan modal pokok atau karena sebab lain, tetapi jenisnya sama dengan jenis harta pokok, seperti upah dan gaji (berupa uang), semuanya digabung dengan kekayaan pokok milik si wajib zakat untuk melengkapi nisab dan haul, kemudian dizakati.

    Bagi orang yang ingin kehati-hatian, dapat mengalkulasikan jumlah yang diperkirakan akan melebihi kebutuhan keluarganya satu tahun, kemudian membayar zakatnya, (dalam catatan). Artinya mempercepat pembayaran zakat sebelum haul, dengan syarat nanti dia akan tetap mengalkulasikan hartanya di akhir haul, berapa yang wajib dizakati secara real, kemudian membayar kekurangannya. Jika ternyata lebih, maka lebihnya menjadi sedekah suka rela.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 2:15 am on 27 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (12) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (12)

    Bagaimana Seorang Pedagang Menaksir Aset Dagangnya?

    Setiap pedagang harus menaksir kekayaan niaganya dengan harga pasaran yang berlaku ketika itu baik lebih rendah dari harga pembelian atau pun lebih tinggi karena harga saat itulah yang dijadikan standar. Yang dimaksud dengan harga pasaran ialah harga penjualan pada saat kewajiban zakat itu tiba.

    Di sini tidak diterapkan prinsip akuntansi lama yang memperhitungkan biaya atau harga pasaran yang lebih murah karena hal itu hanya berlaku dalam usaha bersama di mana para partner yang berserikat berhak memilih apakah akan menghitung seluruh keuntungan untuk dibagikan atau akan menyisihkan sebagiannya dengan cara memilih biaya atau harga pasar yang lebih rendah. Sedangkan zakat bukan hak si pembayar zakat namun hak mustahik di antara delapan golongan masyarakat yang telah ditentukan. Dari situ, maka harus diyakinkan bahwa kewajiban itu dibayarkan dengan memperhitungkan harga pasaran yang telah mencakup biaya produksi dan keuntungan yang dikandungnya.

    Apabila harga pasaran lebih rendah dari biaya produksi, maka untuk mencegah kerugian si pembayar zakat, harta perniagaan itu ditaksir dengan harga grosir meskipun nanti akan dijual secara grosir atau eceran sebagaimana yang diputuskan oleh Lembaga Fikih di Mekah.

    Mengeluarkan Zakat Dalam Bentuk Barang Atau Harganya

    Pada dasarnya zakat komoditas dagang, dibayar dalam bentuk uang berdasarkan harga yang berlaku pada waktu kewajiban zakat itu tiba, bukan berupa barang. Pendapat ini berdasarkan riwayat dari Umar bin Khatthab r.a. yang berkata kepada Hammas, “Bayarlah zakat hartamu!” Hammas menjawab, “Saya hanya memiliki beberapa buah kantong kulit.” Umar menyuruh, “Taksir harganya lalu bayar zakatnya.” Pendapat ini lebih berguna bagi kaum fakir supaya mereka dapat memenuhi hajat hidupnya yang bermacam-macam.

    Walau demikian, boleh mengeluarkan zakat dalam bentuk barang untuk mempermudah dan meringankan si pembayar zakat ketika kondisi perdagangan sedang lesu atau arus likuidasi lemah, dengan syarat barang tersebut harus dapat dimanfaatkan oleh kaum miskin.

    Piutang Pedagang Di Tangan Orang Lain

    Piutang seperti ini dibagi ke dalam dua bagian .

    1. Piutang yang diharapkan dapat dilunasi:

    Yaitu piutang yang berada pada seorang yang mengaku berutang dan mampu melunasinya atau mengingkari utang tersebut namun terdapat bukti dan dalil jika seandainya perkara itu dihadapkan ke pengadilan niscaya si pedagang akan berhasil memenangkannya. Piutang ini dikenal dengan istilah piutang baik. Piutang seperti ini harus dibayar zakatnya setiap tahun oleh pedagang atau pun perusahaan.

    1. Piutang yang tidak diharapkan dapat dilunasi:

    Yaitu piutang yang ada di tangan orang yang mengingkari utangnya dan tidak terdapat bukti apa pun. Atau piutang yang terdapat pada seseorang yang mengakui dirinya berutang tetapi senantiasa menunda pembayaran atau dalam keadaan kesulitan keuangan sehingga tidak mampu melunasinya. Piutang ini dikenal dengan istilah piutang yang diragukan dapat dilunasi. Piutang yang seperti ini tidak wajib dizakati oleh pedagang atau pun perusahaan kecuali setelah benar-benar diterima, ketika itu, wajib dizakati untuk satu tahun, walaupun sudah berada di tangan si pengutang beberapa tahun lamanya.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 26 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (11) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (11)

    Definisi Komoditas Dagang

    Yang dimaksud dengan komoditas dagang ialah seluruh barang yang dibeli dengan tujuan untuk diperdagangkan, baik dengan cara mengimpor dari luar negeri atau dibeli dari pasar setempat. Komoditas itu bisa berupa real estate, bahan makanan, bahan pertanian, hewan ternak dan lain sebagainya, baik dilakukan oleh perseorangan atau beberapa orang dalam sebuah usaha bersama.

    Perbedaan Antara Barang Milik Pribadi Dan Komoditas Dagang

    Yang dimaksud dengan barang milik pribadi ialah semua barang yang dibeli untuk digunakan secara pribadi, bukan untuk diperdagangkan yang dalam ilmu akuntansi dinamakan aset tetap, yaitu yang dibeli oleh seorang pedagang atau pengusaha dengan niat untuk ditahan sebagai alat produksi, seperti mesin, bangunan, mobil, peralatan, areal tanah, perabotan, gudang, rak pajang, meja dan perlengkapan kantor dan lain-lain yang tidak untuk diperjualbelikan. Seluruh benda-benda itu merupakan aset yang tidak wajib dizakati dan tidak termasuk harta zakat.

    Sedangkan komoditas dagang adalah barang-barang yang sengaja dipersiapkan untuk diperjualbelikan yang di dalam istilah akuntansi dinamakan dengan aset berkembang. Yaitu segala sesuatu yang dibeli oleh seorang pedagang atau pengusaha dengan niat untuk diperdagangkan. Seperti barang dagangan, alat-alat, mobil, tanah dan lain-lain. Semua komoditas itu harus dizakati bila telah memenuhi syarat wajibnya.

    Syarat Wajib Zakat Komoditas Dagang

    Syarat wajib zakat komoditas dagang sama dengan syarat wajib zakat kekayaan uang ditambah dua syarat lain yaitu usaha dan niat.

    1. Usaha, yaitu memiliki komoditas dagang dengan cara transaksi pertukaran.

    Baik melalui transaksi pembelian kontan atau barter, atau dengan utang biasa dan berjangka. Seperti seorang wanita yang memperoleh suatu komoditas sebagai mahar kawin atau pengganti khuluk.

    Tetapi bila komoditas itu diperoleh dengan cara warisan, hibah, menarik kembali barang yang cacat atau memanfaatkan tanah yang dimiliki untuk pertanian, maka berarti ia tidak menzakatinya sebagai komoditas dagang namun sebagai barang-barang ekploitasi karena diperoleh tidak dengan proses pertukaran.

    1. Niat, yaitu dengan merencanakan akan memperdagangkan komoditas yang telah diperoleh.

    Berdagang ialah menjual komoditas yang telah dibeli dengan tujuan mendapatkan keuntungan. Agar niat dapat dianggap sah harus dikukuhkan ketika pertama kali membeli suatu komoditas. Seandainya seseorang membeli sebuah mobil dengan niat untuk pemakaian pribadi tetapi akan dijual juga bila mendatangkan keuntungan, maka mobil itu tidak termasuk komoditas dagang yang wajib dizakati. Berbeda dengan seandainya ia membeli beberapa unit mobil dengan niat diperdagangkan dan untuk mencari laba lalu salah satu dipakai sendiri, maka mobil tersebut tetap sebagai komoditas dagang yang wajib dizakati, karena yang dijadikan tolak ukur adalah niat pertama ketika membeli.

    Dengan demikian segala barang yang dibeli dengan niat untuk dimanfaatkan sendiri, tidak bisa dianggap sebagai komoditas dagang hanya karena ingin menjual jika mendatangkan laba. Segala barang yang diniatkan untuk diniagakan tidak akan berubah menjadi barang milik pribadi hanya karena digunakan untuk pemakaian sendiri sewaktu-waktu.

    Namun bila seorang telah membeli suatu barang dengan niat untuk diperdagangkan kemudian sebelum dijual ia merubah niat dan memanfaatkannya buat kepentingan pribadi, maka niat itu telah cukup untuk merubah status barang di atas dari komoditas dagang menjadi barang milik pribadi sehingga tidak wajib dizakati. Begitu juga sebaliknya, jika ia membeli sebuah barang untuk dipakai sendiri kemudian berubah niat untuk diniagakan, maka barang itu wajib dizakati.

    Termasuk komoditas dagang yang wajib dizakati adalah laba yang dihasilkan dari kegiatan-kegiatan berikut :

    1. Praktek jual beli dengan tujuan mencari keuntungan yang mencakup proyek-proyek perdagangan baik berupa usaha individual atau pun mudarabah, atau perusahaan pribadi atau pun perseroan dan lain sebagainya.
    2. Praktek mediasi antara pedagang, seperti para broker dan makelar yang mendapatkan komisi.
    3. Praktek tukar-menukar mata uang dan berbagai macam bentuk investasi.

    Cara Membayar Zakat Komoditas Dagang

    Apabila waktu pembayaran zakat telah tiba, maka wajib bagi seorang pedagang muslim atau pemilik suatu perusahaan menginventarisir aset usahanya yang berupa komoditas dagang lalu menggabungkannya dengan kekayaan uang lain, baik yang dikembangkan dalam perniagaan maupun tidak, ditambah dengan piutang-piutang yang kemungkinan besar dapat dilunasi lalu dikurangi utang-utang yang harus dilunasi kepada pihak lain kemudian sisanya dizakati sebesar 2,5% (lihat kembali: haul sebagai syarat wajib zakat).

    Dalam masalah ini Imam Abu Ubaid telah meriwayatkan pendapat Maimun bin Mahran sebagai berikut: “(Bila telah tiba waktu pembayaran zakat, maka hitunglah kekayaan uang dan barang perniagaan yang kamu miliki kemudian taksir seluruhnya dalam bentuk uang setelah ditambah dengan piutang yang ada dan dikurangi dengan utang yang harus dilunasi kemudian zakatilah sisanya).”

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 25 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (10) 

    Management Dan Audit Zakat (10)

    Pengauditan Zakat Berbagai Jenis Pendapatan (Kalkulasi Untung Rugi)

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Daftar pendapatan adalah salah satu daftar keuangan yang dibuat oleh akuntan di akhir setiap priode atau secara umum pada akhir tahun anggaran. Daftar ini disebut dengan kalkulasi untung rugi. Daftar ini mencakup semua pemasukan dan pengeluaran yang terjadi pada priode tahun anggaran. Dengan daftar ini dapat diproyeksikan jumlah keuntungan atau kerugian yang akan dialami perusahaan.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Semua pemasukan harus ditaksir harganya dengan benar sesuai dengan aturan kegiatan yang dibenarkan hukum Islam. Di antara hal yang perlu diperhatikan adalah halal haramnya pemasukan tersebut. Bila pemasukan mencakup harta yang haram atau kotor, maka wajib disisihkan terlebih dahulu. Demikian juga dengan perbelanjaan harus ditaksir dengan baik dan benar sesuai dengan aturan yang dibolehkan dalam hukum Islam. Di antara hal-hal yang perlu diperhatikan adalah perbelanjaan yang tidak mubazir, tidak mewah dan tidak berlebih-lebihan. Zakat tidak terpengaruh secara langsung dengan point-point daftar pendapatan tetapi barang-barang zakat akan terpengaruh akibat tagihan-tagihan yang harus dipotong dari pendapatan. Hal ini akan lebih jelas pada penjelasan berikut.

    1. Pengauditan zakat pendapatan.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Pemasukan adalah gelombang dana yang masuk kepada perusahaan dalam tahun anggaran tertentu yang berpengaruh besar terhadap barang-barang modal. Di antara point-point pemasukan adalah; hasil penjualan, hasil penyewaan barang tak bergerak, penghasilan investasi dan komisi. Semua ini diatur menurut kaidah hak milik dalam konsep akuntansi konvensional.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Pemasukan dalam barang-barang zakat termasuk penambahan agen dan debitor atau penambahan jumlah uang di bank atau di kas. Dana ini tidak digabungkan dengan barang-barang zakat, sehingga tidak kena zakat dua kali.

    1. Pengauditan zakat perbelanjaan (umum).

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan perbelanjaan adalah semua jenis biaya yang dibayarkan untuk memperlancar jalannya kegiatan perusahaan, seperti gaji, sewa, transportasi, pengangkutan dll. Perbelanjaan dapat dibagi kepada:

    • Perbelanjaan langsung, seperti biaya-biaya produksi
    • Perbelanjaan tidak langsung, seperti biaya pemasaran dan biaya administratif.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Perbelanjaan ini tergolong biaya jasa, tidak ada hubungan sama sekali dengan benda barang produksi, oleh sebab itu tidak termasuk dalam barang-barang zakat. Hal ini sesuai dengan penjelasan dalam kalkulasi zakat atas kegiatan yang sedang dalam penyelesaian atau barang yang masih dalam proses produksi. Di segi lain, sewaktu membayar biaya-biaya ini terkadang mengalami pemotongan dari barang-barang zakat, oleh sebab itu tidak dapat dipotong lagi dari barang zakat, sehingga tidak terjadi dua kali pemotongan yang mengakibatkan penurunan volume zakat yang dibayar.

    1. Pengauditan zakat keuntungan yang telah diterima.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Hasil yang diperoleh dari deposito, tabungan investasi dan sebagainya dianggap pemasukan yang dapat dilihat dalam daftar pemasukan atau dalam kalkulasi untung rugi. Dalam sistem akuntansi konvensional tidak dibedakan antara pemasukan yang halal dan pemasukan yang haram, oleh sebab itu semuanya digabungkan dalam satu paket.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Islam menganggap bahwa penghasilan yang diperoleh dari deposito dan rekening investasi adalah riba yang diharamkan oleh Alquran dan hadis. Penghasilan seperti ini dianggap hasil usaha kotor yang harus disingkirkan dan harus segera didermakan kepada kegiatan kebajikan, kecuali untuk pencetakan Alquran dan pembangunan mesjid. Harta ini tidak boleh dimasukkan ke dalam hak milik si wajib zakat. Paling boleh dibayarkan sejumlah zakatnya saja, malah sebagian besar ulama berpendapat tidak boleh dizakati sama sekali, karena Allah bersih, tidak menerima yang kotor-kotor. Bila harta seperti ini masuk ke dalam barang-barang zakat, harus segera disingkirkan dengan mendermakannya kepada kegiatan-kegiatan kebajikan sosial, sedangkan yang tersisa dibayarkan zakatnya.

    Fatwa Komite Fikih Islam, Organisasi Konperensi Islam, Jeddah

    1. Zakat Utang (Keputusan No. 1 Tahun 2)

    Setelah memperhatikan dan mendiskusikan masalah zakat utang dari berbagai seginya, Komite menyatakan sbb :

    • Tidak ada teks dalam Alquran atau hadis Nabi saw. yang menjelaskan masalah zakat utang.
    • Banyak dijumpai info klasik dari para sahabat dan tabiin r.a. yang menjelaskan tentang cara pembayaran zakat utang
    • Persepsi tentang zakat utang terdapat perbedaan di kalangan mazhab-mazhab keislaman.
    • Perbedaan tersebut barang kali didasari oleh perbedaan persepsi tentang kaidah penyebutan istilah “pendapatan” terhadap sejumlah uang yang mungkin diperoleh sebagai pembayaran utang.

    Bila debitor berkecukupan dan selalu membayar utang tepat waktu, maka zakat utang wajib dibayar oleh pemberi piutang setiap tahun.

    Bila debitor tergolong orang susah atau suka menunda-nunda pembayaran utang, maka zakat utang wajib dibayar oleh pemberi piutang setelah memenuhi kurun waktu satu tahun (haul) dari saat penerimaan bayaran,.

    1. Zakat Barang Tidak Bergerak Dan Tanah (non-pertanian) Sewaan (keputusan No.2 Tahun 2)

    Setelah membaca kajian yang dibuat tentang (zakat barang tidak bergerak dan tanah non-pertanian sewaan), dan setelah mendiskisukan permasalah secara detil, Komite memutuskan sbb:

    • Tidak diperoleh teks yang jelas yang mewajibkan pembayaran zakat atas barang tidak bergerak dan tanah sewaan.
    • Demikian juga tidak diperoleh teks yang jelas yang mewajibkan pembayaran segera zakat hasil barang tidak bergerak dan sewa tanah non-pertanian. Oleh sebab itu, Komite memutuskan :

    Zakat tidak diwajibkan atas modal barang tidak bergerak dan tanah sewaan

    Zakat hanya diwajibkan atas penghasilannya sebesar 2,5 % setelah cukup haul terhitung dari saat penerimaannya dengan mempertimbangkan syarat-syarat dan penghalang lainnya.

    3. Zakat Aset Perusahaan (Keputusan No. 3 Tahun 3)

    Setelah memperhatikan kajadian tentang zakat modal perusahaan, Komite memutuskan sbb :

    • Saham perusahaan wajib dizakati oleh pemilik saham. Perusahaan dapat bertindak sebagai wakil pemilik saham untuk menyalurkan zakatnya atas nama mereka.
    • Dewan manejerial dapat menyalurkan zakat saham perusahaan bagaikan subjek hukum konkrit membayar zakatnya, dengan artian bahwa semua saham yang terdapat dalam perusahaan tertentu dianggap bagaikan sebuah harta milik seorang. Dengan demikian wajib dibayar zakatnya sesuai dengan jenis harta, nisab, volume zakatnya dan ketentuan lain dalam zakat harta pribadi. Hal ini diputuskan atas kaidah “harta campuran” yang menurut sebagian ulama boleh digeneralisasikan terhadap semua jenis harta. Saham yang tidak dikenakan zakat, harus dipotong, termasuk saham tabungan umum, wakaf, badan kebajikan dan saham non-muslim.
    • Bila perusahaan tidak membayar zakat sahamnya, maka para pemegang saham wajib membayar zakat sahamnya masing-masing. Bila pemilik saham memperoleh keterangan tentang pembayaran zakat sahamnya pada perusahaan tersebut, maka berarti kewajiban zakatnya telah selesai, sesuai dengan prosedur yang seharusnya. Bila pemegang saham tidak mendapatkan keterangan tersebut, maka dilihat niat pemegang saham tersebut, kalau niatnya sewaktu mendepositkan saham hanya untuk memperoleh penghasilan tahunan dari deposit tersebut, maka dia membayar zakatnya atas dasar zakat eksploitasi, yaitu sebesar 2,5 % dari keuntungan (di luar modal) dengan mempertimbangkan haul terhitung dari saat penerimaan keuntungan tersebut dan syarat serta penghalang lainnya. Hal ini sesuai dengan keputusan Komite Fikih Islam pada sidang tahun kedua tentang zakat barang tidak bergerak dan tanah non-pertanian sewaan.

     

    Bila pemilik saham mendepositkan modalnya dengan maksud dagang, maka ia wajib membayar zakatnya atas dasar modal perdagangan, ia wajib membayar sebesar 2,5 % dari modal dan keuntungan setelah cukup haul yang nilainya dihitung atas dasar harga pasaran sedang berjalan atau penentuan seorang ahli.

    • Bila seorang pemilik saham menjual sahamnya di tengah-tengah haul, dia diharuskan menggabungkan harga saham tersebut dengan harta kekayaannya yang lain, seterusnya membayar zakatnya sekalian, bila haulnya sempurna. Pembeli diharuskan membayar zakat saham yang baru di beli tersebut sesuai ketentuan di atas.
    1. Penyaluran Zakat

    Penginvestasian zakat dalam proyek-proyek yang menguntungkan

    Setelah membaca dan mendengarkan pendapat peserta dan tenaga ahli tentang kajian yang dibuat seputar penginvestasian zakat dalam proyek-proyek yang menguntungkan bukan atas nama pribadi mustahik, Komite memutuskan sbb:

    Secara prinsip dobolehkan menginvestasikan zakat dalam proyek-proyek investasi yang menguntungkan bukan atas nama mustahak zakat atau atas nama pihak resmi yang bertugas mengumpulkan dan menyalurkan zakat dengan catatan : proyek ini dilakukan setelah memenuhi semua kebutuhan pokok para mustahak dan terdapat jaminan yang cukup bonafid untuk menghindari terjadinya kemungkinan kerugian.

    1. Mustahik Zakat

    Penyaluran zakat kepada Dana Solidaritas Islam.

    Setelah membaca nota penjelasan tentang Dana Solidaritas Islam dan aktifitasnya yang disampaikan pada Seminar Dewan Zakat III serta kajian yang dibuat seputar penyaluran zakat kepada Dana Solidaritas Islam, Komite menghimbau :

    Dalam upaya membantu Dana Solidaritas Islam merealisir targetnya (sesuai dengan AD) dan memperhatikan keputusan Pertemuan Puncak Islam II yang menyebutkan pendirian Dana ini dengan pembiayaannya dari sumbangan negara-negara anggota, mengingat bahwa sebagian anggota tidak mengirimkan sumbangannya secara rutin, maka Komite menghimbau seluruh negara-negara anggota dan yayasan-yayasan keislaman lainnya untuk memberikan bantuan dana kepada yayasan di atas guna dapat merealisir target mulianya dalam melayani kepentingan ummat Islam.

    Memutuskan :

    Pertama. Tidak diperkenankan menyalurkan uang zakat untuk membantu aktifitas Dana Solidaritas Islam, karena hal tersebut akan menghambat mustahak zakat lainnya yang tertera dalam Alquran mendapatkan hak mereka.

    Kedua. Dana Solidaritas Islam seharusnya meminta keagenan baik dari pribadi-pribadi, instansi-instansi untuk menyalurkan zakat harta mereka kepada mustahak yang legal dengan syarat-syarat sbb :

    • Masing-masing wakil dan pemberi wakil memenuhi kriteria resmi.
    • Dana Solidaritas memasukkan masalah ini ke dalam AD & ART dan tujuan organisasinya serta mengadakan revisi seperlunya agar dapat melakukan kegiatan seperti dimaksud.
    • Dana Solidaritas membuat kotak khusus penampungan zakat sehingga tidak bercampur dengan dana lain yang dapat dipergunakan di luar mustahak zakat seperti kepentingan umum dll.
    • Dana Solidaritas tidak diperkenankan menggunakan dana zakat untuk keperluan administrasi, gaji pegawai dan pengeluaran lainnya yang tidak termasuk dalam mustahak zakat yang delapan.
    • Dalam menyalurkan zakat, Dana Solidaritas harus memperhatikan syarat-syarat yang ditentukan untuk mustahak zakat yang delapan.
    • Dana Solidaritas harus konsekwen menyalurkan zakat tersebut secepat mungkin, paling lama satu tahun, agar mustahak dapat mempergunakannya.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 24 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (9) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (9)

    Pengauditan Zakat Hak Milik

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan hak milik adalah hak milik bersih pemegang saham (pemilik perusahaan) yaitu perbedaan antara total nilai barang-barang modal dikurangi dengan total tagihan-tagihan dan potongan-potongan. Ini dapat digambarkan dalam persamaan berikut:

    Hak milik = barang-barang modal – (tagihan dan potongan).

    Hak milik dapat mencakup point-point berikut:

    1. Modal
    2. Biaya-biaya persediaan (cadangan)
    3. Keuntungan yang belum dibagi-bagikan

    Definisinya menurut hukum Islam:

    Hak milik disebut juga dengan tanggungan keuangan bersih. Materi ini telah dibicarakan oleh pakar fikih secara panjang lebar dalam buku-buku fikih, bab modal.

    Point-point hak milik di atas akan dijelaskan berikut, baik dari segi definisi, cara kalkulasinya menurut sistem akuntansi konvensional berikut cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam dari kaca mata pengauditan zakat.

    1. Pengauditan zakat saham (modal)

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah sejumlah dana yang diinvestasikan oleh pemegang saham dalam suatu perusahaan modal yang terdiri dari banyak saham. Setiap saham dianggap sebagai satu kuota dari modal perusahaan secara keseluruhan. Saham tersebut adalah berbentuk nilai nominal yang harus dibayar.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Modal yang harus dibayar adalah merupakan hak milik pemegang saham yang terlihat dalam bentuk nilai nominal yang harus dibayar masing-masing. Modal ini adalah merupakan sumber pendanaan perusahaan untuk jangka panjang yang secara hukum tidak dianggap sebagai utang atas perusahaan, oleh sebab itu tidak dapat dipotong dari barang-barang zakat.

    1. Pengauditan zakat biaya-biaya cadangan

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah sejumlah dana yang disisihkan dari penghasilan bersih yang dapat didistribusikan untuk menunjang kondisi perusahaan atau untuk pendanaan kegiatannya di masa mendatang ataupun untuk mengimplementasikan peraturan pemerintah.

    Di antara contoh cadangan tersebut adalah sbb:

    • Cadangan untuk suatu peraturan yang bersifat mengikat
    • Cadangan untuk peraturan yang bersifat opsional
    • Cadangan untuk penggantian barang-barang modal
    • Cadangan untuk modal dasar.

    Dalam pelaksanaan biaya-biaya cadangan ini harus diperhatikan aturan-aturan pelaksanaan dan kaidah-kaidah akuntansi yang berlaku umum. Biaya-biaya ini akan nampak dalam daftar keuangan pusat pada point hak milik.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Biaya-biaya cadangan ini dianggap sebagai hak milik para pemegang saham, karena bersumber dari keuntungan yang sudah merupakan hak mereka, sesuai dengan jumlah aset yang tertulis dalam daftar. Biaya-biya cadangan ini tidak dapat dipotong dari barang-barang zakat, karena termasuk keuntungan yang disisihkan untuk para pemegang saham, pemilik perusahaan atau untuk perusahaan itu sendiri, oleh sebab itu tidak termasuk dalam ikatan-ikatan yang harus dibayar.

    1. Pengauditan zakat modal tambahan

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah sejumlah dana yang dibayar oleh para pemegang saham sebagai penambahan saham baru. Jumlah ini dapat terlihat dari perbedaan antara nilai saham nominal dengan nilai saham sewaktu pencatatan. Dana ini diperlakukan sebagai dana cadangan modal dan kadang-kadang dianggap sebagai hak milik.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Dana ini dianggap sebagai dana cadangan, oleh sebab itu tidak dapat dipotong dari barang-barang zakat.

    1. Pengauditan zakat keuntungan yang belum didistribusikan

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah sejumlah dana yang dihasilkan oleh perusahaan pada tahun-tahun yang lalu, karena satu dan lain hal belum didistribusikan kepada pemegang saham. Pengauditannya dilakukan setelah dewan umum menyetujui pelaksanaan kegiatan pembagian keuntungan yang dibuat sepengetahuan ketua dewan direksi perusahaan modal tersebut.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Dana yang belum didistribusikan dianggap sebagai hak milik para pemegang saham yang tidak bisa dipotong dari barang-barang zakat, karena dari segi pemilikan tidak berbeda dari dana cadangan.

    1. Pengauditan zakat kerugian yang belum didistribusikan

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah kerugian yang terjadi dalam priode anggaran tahun berjalan atau tahun-tahun sebelumnya, karena satu dan lain hal belum didistribusikan kepada para pemegang saham.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    • Kerugian yang belum didistribusikan dianggap pengurangan terhadap hak milik.
    • Kerugian ini tidak mempengaruhi barang-barang zakat dalam point-point daftar pendapatan (kalkulasi untung rugi).
     
  • erva kurniawan 1:03 am on 23 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (8) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (8)

    Pengauditan Zakat Dari Alokasi

    Alokasi biaya tak terduga adalah sejumlah dana yang disisihkan dari pendapatan di akhir tahun anggaran. Dana tersebut diperuntukkan buat menutupi penyusutan barang-barang modal atau untuk pembayaran tagihan dari perusahaan lain yang belum dapat ditentukan sebelumnya.

    Ada beberapa macam alokasi untuk biaya tak terduga, di antaranya:

    1. Alokasi biaya penyusutan atau kerusakan barang-barang modal.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah sejumlah biaya yang disisihkan dari pendapatan setiap tahun anggaran untuk menutupi penyusutan barang-barang modal guna kelangsungan pemakaiannya, kelangsungan pekerjaan, meraih keuntungan dan untuk membantu penggantian atau perbaikannya.

    Cara menaksir nilainya dilakukan dengan berbagai teknis akuntansi yang sesuai dengan keadaan dan kondisi barang itu.

    Penaksiran dan hukum syariatnya:

    Dalam hukum Islam, alokasi ini tidak termasuk kebutuhan yang perlu dipotong dari barang-barang zakat, karena barang-barang modal tersebut tidak termasuk barang yang dizakati.

    1. Alokasi biaya sarana usaha yang sedang beroperasi.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah sejumlah biaya yang disisihkan dari pendapatan untuk menutupi perbedaan antara harga registrasi dan harga sekarang. Hal ini dilakukan sebagai aplikasi dari kaidah kehati-hatian.

    Penaksiran harga dilakukan atas dasar biaya terendah antara pemakaian standar biaya atau standar harga pasar. Di antara contoh alokasi seperti ini adalah :

    • Alokasi biaya untuk menutupi penurunan harga mata uang.
    • Alokasi biaya untuk menutupi penurunan harga barang tak bergerak yang dibuat sebagai modal dagang.
    • Alokasi biaya untuk menutupi utang-utang yang diragukan kebenarannya.

    Penaksiran dan hukum syariatnya:

    Mengingat bahwa cara menentukan nilai barang-barang modal yang sedang beroperasi (aktif) untuk tujuan zakat dilakukan atas dasar harga pasaran, maka potongan semacam ini tidak termasuk kebutuhan yang harus dipotong dari barang-barang zakat.

    Namun bila harga barang-barang yang sedang beroperasi tersebut ditaksir (karena satu dan lain hal) atas dasar harga registrasi dan ternyata lebih besar dari harga pasaran, maka alokasi semacam ini dapat dikeluarkan (dipotong) dari barang-barang zakat.

    1. Alokasi biaya untuk menutupi ikatan dengan pihak lain yang belum ditentukan sebelumnya.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah keterikatan perusahaan dengan pihak lain yang belum ditentukan secara pasti sebelumnya. Contohnya; alokasi biaya mengakhiri masa kerja pegawai (pensiun dan PHK), alokasi biaya liburan, alokasi pembayaran pajak, alokasi pembayaran denda-denda dll.

    Nilai alokasi biaya ini ditaksir oleh tenaga ahli sesuai dengan volume kewajiban keuangan, kontrak, aturan-aturan dan ketentuan yang dilakukan dengan pihak lain. Nilai alokasi ini dianggap sebagai beban yang harus dipikul perusahaan dan selalu muncul dalam kalkulasi untung rugi.

    Penaksiran dan hukum syariatnya:

    Kewajiban-kewajiban keuangan seperti ini harus diperhitungkan nilainya dengan teliti dan detil tanpa berlebih-lebihan, sehingga tidak beralih menjadi anggaran persediaan (cadangan) rahasia. Nilai ini dianggap sebagai utang yang telah jatuh tempo yang dapat dipotong dari barang-barang zakat. Bila ternyata terdapat penaksiran yang berlebihan, maka perbedaan perhitungan tersebut harus ditarik kembali. Bila dalam kalkulasi tersebut terdapat bunga (denda keterlambatan) atas pembayaran tagihan yang sudah diperhitungkan sebelumnya, maka bunga tersebut tidak termasuk utang yang wajib dibayar, oleh sebab itu tidak dapat dipotong dari penghasilan barang-barang zakat tetapi yang dapat dipotong hanyalah tagihan-tagihan yang telah jatuh tempo (mesti dibayar).

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 22 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (7) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (7)

    Pengauditan Zakat Hasil Tagihan

    Yang dimaksud dengan tagihan adalah kewajiban materi yang harus dibayar oleh perusahaan kepada pihak lain, tagihan-tagihan seperti ini sering juga disebut dengan istilah potongan-potongan. Di antara jenis-jenis tagihan adalah, kredit jangka pendek, kredit jangka panjang, utang-utang, surat tanda pembayaran, rekening bank, penarikan, pembayaran yang telah jatuh tempo, pemasukan yang telah diterima terlebih dahulu, pajak-pajak tahun berjalan, deposit yang telah dibayarkan oleh pihak lain dll.

    Berikut ini akan disajikan definisi dan penaksiran nilai unit-unit di atas menurut sistem akuntansi konvensional berikut cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam apakah dipotong dari barang-barang zakat atau tidak.

    1. Tagihan jangka panjang.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Termasuk dalam unit ini semua kewajiban-kewajiban materi yang harus dibayar oleh perusahaan kepada pihak lain yang tidak dituntut pengembaliannya kecuali setelah berlalu satu tahun atau lebih dari tahun anggaran yang sedang berjalan, seperti kredit jangka panjang, rekening dan surat pembayaran jangka panjang. Cara menaksir nilainya dilakukan atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak termasuk penghasilannya bila belum dibayarkan secara tersendiri. Tagihan-tagihan seperti ini dapat dilihat dalam daftar hak milik atau daftar tagihan-tagihan yang sedang beroperasi (aktif).

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Secara umum nilainya ditaksir atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak. Ketentuan hukum tentang tagihan ini berbeda-beda sesuai dengan sistem pengoperasiannya:

    • Bila cicilan tahun berjalan dari tagihan jangka panjang tersebut dipergunakan untuk pendanaan barang-barang yang sedang beroperasi, maka semuanya dipotong dari barang-barang zakat, kalau perusahaan tersebut tidak memiliki kekayaan lain yang melebihi dari kebutuhan pokok yang dapat menutupi semua tagihan tahun berjalan tersebut.
    • Bila cicilan jangka panjang tersebut dipergunakan untuk pendanaan barang-barang modal tetap, maka cicilan tahun berjalan dapat dipotong dari barang-barang zakat. Bila jatuh temponya terjadi setelah berakhirnya tahun anggaran, maka tidak boleh dipotong dari barang-barang zakat.

    Secara umum dapat dikatakan bahwa semua tagihan-tagihan tahun berjalan dapat dipotong dari barang-barang zakat.

    1. Tagihan-tagihan bergerak.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua kewajiban-kewajiban yang telah jatuh tempo yang harus dilunasi dalam waktu singkat, kurang dari satu tahun, seperti utang dan surat tanda pembayaran dll. Berikut ini akan disampaikan keterangan detil:

    • Utang-utang.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua kewajiban-kewajiban yang telah jatuh tempo yang harus dilunasi dalam waktu singkat, kurang dari satu tahun. Tagihan ini timbul akibat pembelian barang dan keperluan produksi lainnya. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar aset yang tercatat dalam kontrak di akhir tahun anggaran.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilai utang-utang ditaksir berdasarkan nilai yang tercatat dalam kontrak. Utang-utang ini dianggap merupakan tagihan tahun berjalan yang boleh dipotong dari barang-barang zakat.

    • Surat-surat tanda pembayaran (giral pembayaran).

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Surat-surat pembayaran dibuat sesuai dengan obligasi atau rekening yang ada. Surat pembayaran ini merupakan hak suplier barang atau jasa dari sebuah perusahaan. Surat pembayaran ini biasanya harus dapat dicairkan dalam tempo yang singkat, kurang dari satu tahun. Cara penaksiran nilainya adalah berdasarkan aset yang tercatat di dalam daftar di akhir tahun anggaran.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilai surat pembayaran ditaksir atas dasar nilai yang tercatat di dalam daftar. Surat pembayaran ini dianggap sebagai tagihan tahun berjalan yang dapat dipotong dari barang-barang zakat. Bila tagihan tersebut mempunyai keuntungan karena penundaan, maka tidak dapat dipotongkan, karena keuntungan tersebut tidak diakui dalam hukum.

    1. Kredit bank.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah sejumlah dana yang dipinjam oleh perusahaan dari bank yang harus dikembalikan dalam tempo yang singkat, tidak melebihi dari satu tahun. Cara penaksiran nilai kredit bank ini dilakukan atas dasar aset yang tercatat dalam daftar pada akhir tahun anggaran.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Tagihan tahun berjalan ditaksir atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak dan dapat dipotong dari barang-barang zakat. Bila kredit tersebut mempunyai keuntungan, maka tidak boleh dipotongkan dari barang-barang zakat, karena keuntungan tersebut tidak diakui dalam agama.

    1. Pembayaran di muka

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua pengeluaran yang dikeluarkan pada tahun berjalan sedangkan penagihannya baru dapat dilakukan pada tahun anggaran mendatang. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar aset yang tercatat dalam kontrak di akhir tahun anggaran.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Pembayaran di muka ditaksir nilainya atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak dan dapat dipotong dari barang-barang zakat, karena dianggap tagihan tahun berjalan.

    1. Penghasilan yang telah diterima terlebih dahulu (penerimaan di muka).

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua dana yang telah diterima secara praktis pada tahun anggaran berjalan pada hal dana tersebut berhubungan dengan transaksi tahun mendatang. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak, karena dana tersebut dianggap sebagai kewajiban perusahaan terhadap pihak lain sebagai imbalan dari kontrak transaksi barang produksi atau jasa yang akan dipersembahkan.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilainya ditaksir atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak, tanpa ditambah atau dikurangi. Adapun ketentuan hukumnya, terdapat perbedaan sesuai dengan tempo yang diberlakukan:

    • Bila penghasilan yang telah diterima tersebut adalah imbalan dari harga barang yang belum diserahkan (barang tersebut tidak termasuk dalam barang-barang zakat), maka tidak boleh dipotong dari barang-barang zakat, akan tetapi bila barang tersebut sudah termasuk dalam daftar barang-barang yang dizakati, maka boleh dipotong dari barang-barang zakat.
    • Bila penghasilan yang telah diterima tersebut termasuk cicilan pertama dari jasa yang belum dilakukan, maka cicilan tersebut dianggap utang kepada orang lain, oleh sebab itu dapat dipotong dari barang-barang zakat, karena cicilan tersebut tidak terdapat pemiliknya yang pasti dimana ada kemungkinan kontrak tersebut dibatalkan kemudian hari.
    1. Hak-hak orang lain.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua hak-hak yang wajib dibayarkan kepada pihak lain, seperti tagihan pajak, asuransi sosial dll. Hak-hak seperti ini dianggap sebagai kewajiban yang harus dibayarkan oleh perusahaan. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilainya yang tercatat dalam kontrak yang dalam banyak hal dapat bertambah dengan keuntungan atau berkurang akibat denda keterlambatan pembayaran.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilainya ditaksir atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak, tanpa penambahan dan pengurangan. Hak-hak orang lain seperti ini dianggap sebagai tagihan tahun berjalan yang dapat dipotong dari barang-barang zakat.

    1. Keuntungan yang telah direncanakan pendistribusiannya.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah usul pendistribusian materi yang telah diumumkan oleh Dewan Direksi sebuah perusahaan, akan tetapi usul tersebut belum mendapat persetujuan dari sidang umum pemegang saham, sehingga kegiatan pendistribusian belum dapat dilakukan secara praktis. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar jumlah yang disebutkan dalam usul Dewan Direksi yang dapat dilihat dalam anggaran keuangan pada point keuntungan yang telah diusulkan pendistribusiannya.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilainya ditaksir sesuai dengan nilai yang tercatat dalam kontrak yang dapat dilihat dalam kalkulasi pembagian keuntungan. Dana ini tidak dapat dipotong dari barang-barang zakat, karena belum mendapat persetujuan dari sidang umum pemegang saham, sehingga belum dapat dianggap hak dari para pemegang saham.

    1. Keuntungan transaksi spekulasi.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional Yang dimaksud dengan istilah ini adalah keuntungan bersih yang diperoleh perusahaan dari transaksi spekulasi sampai akhir tahun anggaran. Keuntungan ini dibagi antara pemilik modal dan pelaksana sesuai dengan kesepakatan yang telah disetujui sebelumnya.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Zakat usaha spekulasi wajib dibayar oleh pemilik harta, sedangkan bagian pelaksana (pekerja) dianggap sebagai tagihan tahun berjalan yang boleh dipotong dari barang-barang zakat.

    1. Deposit.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah kewajiban yang wajib dibayar kepada pihak lain sebagai jaminan atau perjanjian untuk melaksanakan sebuah kegiatan tertentu. Penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilainya ditaksir atas dasar nilai yang tercantum dalam daftar. Dana ini dianggap sebagai tagihan tahun berjalan yang dapat dipotong dari barang-barang zakat. Bila tagihan tersebut tidak diharuskan pembayarannya pada tahun berjalan, maka tidak boleh dipotong dari barang-barang zakat tahun berjalan, akan tetapi akan dipotong pada saat jatuh tempo.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 21 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (6) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (6)

    Pengauditan Zakat Atas Barang Bergerak

    Yaitu aset yang dimiliki untuk dikelola dalam bentuk usaha jual beli sehingga menghasilkan keuntungan dan tidak digunakan untuk menghasilkan income (disewa) sebagaimana halnya dengan aset tetap.

    Di antara jenis aset bergerak ialah stok barang yang masih digudangkan (barang yang telah di akhir masa temponya, piutang, kwitansi penerimaan, asuransi pada pihak lain, perjanjian dengan pihak lain, cicilan kontrak yang telah dibayarkan terlebih dahulu, pendapatan yang telah pasti, deposito dan saldo rekening berjalan yang ada di   bank serta kekayaan uang yang telah ada).

    Selanjutnya akan diterangkan definisi dan cara penghitungannya menurut sistem akuntansi konvensional serta hukum syariatnya dari sudut pandang zakat harta.

    1. Barang-barang yang telah selesai diproduksi (barang jadi).

    Definisi dan penghitungan akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah barang-barang yang diperuntukkan buat jual beli yang dimiliki perusahaan di akhir tahun anggaran. Istilah populer untuk pengertian di atas adalah barang-barang jadi.

    Barang-barang jadi dapat berbentuk materi dan non-materi.

    Dalam sistem kalkulasinya diperlakukan sama yaitu dengan menentukan harga yang paling rendah antára harga pasaran dan harga modal dengan membuat alokasi dana untuk penurunan harga, kedaluarsaan atau kekurang lancaran. Bila harga pasaran ternyata lebih rendah, dibuat juga alokasi dana untuk menanggulangi penurunan harga.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Untuk barang-barang yang dibeli untuk dijual kembali, cara penaksiran nilainya adalah atas dasar harga pasar, bila dijual eceran, maka ditentukan menurut harga eceran, bila dijual grosiran, ditentukan menurut harga grosiran.

    Harga tersebut digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya sesuai dengan fatwa Simposium Masalaè Zakat Kontemporer I tahun 1409 H/ 1994 M. Untuk barang-barang yang diproduk langsung oleh perusahaan untuk dijual, maka penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga pasaran bahan bakunya bçrikut dengan harga bahan tambahcn lain yang materinya kelihatan, kemudian digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

    Mengenai alokasi dana yang disåbutkan di atas, tidak dapat diterima dalam pengalkulasian zakat yang berdasar atas harga pasaran, namun bila dilakukan pengalkulasian atas dasar harga modal sedangkan harga pasaran ternyata lebih rendah, maka alokasi dana untuk penurunan harga dapat dipotong dari barang-barang zakat.

    Barang-barang non materi mempunyai ketentuan hukum dan diperlakukan sama dengan barang-barang materi.

    1. Barang-barang yang sedang dalam proses produksi.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua barang-barang yang masih dalam proses pembuatan dan belum siap. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar biaya produksi yang terdiri dari:

    harga bahan baku, biaya-biaya lain seperti upah dan gaji pegawai, pengeluaran produksi baik secara langsung ataupun tidak.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga pasaran bahan baku dan bahan-bahan tambahan lainnya (yang nampak dalam produksi saja) kemudian digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

    1. Bahan baku utama.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Bahan baku utama adalah semua bahan baku utama yang masuk ke dalam produksi. Cara penaksiran nilainya adalah atas dasar harga bahan yang terdiri dari harga pembelian bahan ditambah dengan semua pengeluaran dari pengangkutan sampai penggudangan.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Bahan baku utama dapat dibagi dua bagian:

    • Bahan baku asli dan utama. Bahan ini ditaksir nilainya atas dasar harga pasaran kemudian digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.
    • Bahan baku yang larut. Seperti bahan pencuci, pengepakan dll. Bahan ini tidak termasuk dalam barang-barang zakat, karena tidak termasuk barang-barang perdagangan.
    1. Suku cadang modal tetap.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Termasuk dalam bidang ini semua suku cadang alat-alat dan perlengkapan yang dipergunakan dalam kegiatan produksi, bukan untuk tujuan dagang. Unit-unit ini kadang-kadang dapat terlihat dalam kelompok barang-barang tetap, kadang-kadang dalam kelompok barang-barang khusus. Cara penaksiran harganya dilakukan atas dasar harga produksi setelah dikeluarkan dana alokasi untuk suku cadang yang kedaluarsa.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Unit ini dianggap termasuk dalam kelompok barang-barang modal tetap, oleh sebab itu tidak dikenakan zakat.

    1. Suku cadang yang diperuntukkan untuk dagang.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Termasuk dalam unit ini semua jenis suku cadang yang masih dalam stok dengan tujuan untuk diperjual belikan, oleh sebab itu unit ini diperlakukan sebagai barang-komoditi dagang.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga pasaran dan digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

    1. Barang-barang yang masih dalam perjalanan.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua barang-barang yang telah dibeli, dibayar harganya dan sedang dalam proses pengangkutan tetapi belum sampai di gudang pembeli sampai akhir tahun anggaran. Penaksiran nilai barang-barang seperti ini adalah berdasarkan harga beli ditambah dengan biaya-biaya lain.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Barang-barang seperti ini ditaksir nilainya berdasarkan harga pasaran di saat dan tempat pembelian, kemudian digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya. Bila barang-barang dibeli atas dasar dokumen kredit, maka harga yang tertera dalam dokumen kredit tersebut sebelum dibayar tunai adalah merupakan nilai barang yang kelak akan digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

    1. Barang-barang yang dialihkan kepada pihak lain.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua barang-barang yang telah diserahkan oleh pemilik kepada diler (agen) untuk dijual. Penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga modal.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Barang-barang seperti ini ditaksir nilainya atas dasar harga pasaran di tempat barang, kemudian nilai tersebut digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya yang dimiliki si wajib zakat.

    1. Piutang (tagihan atas pihak lain).

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua tagihan atas pihak lain, sebagi imbalan dari harga barang, transaksi, jasa atau tagihan lainnya. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga bersih yang dapat ditagih. Jumlah ini termasuk ke dalam kelompok alokasi piutang yang pengembaliannya diragukan.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Piutang dapat dibagi tiga macam:

    • Piutang yang kemungkinan besar dapat ditagih. Piutang seperti ini digabungkan ke dalam kelompok barang-barang zakat yang nilainya ditaksir atas nilai nominal.
    • Piutang yang tidak diharap dapat ditagih. Piutang seperti ini tidak digabungkan ke dalam kelompok barang-barang zakat. Zakatnya baru dibayar ketika menerimanya dan hanya untuk tahun berjalan saja, walaupun piutang tersebut telah berlalu beberapa tahun.
    • Piutang yang dianggap gugur. Piutang seperti ini tidak diharap dapat ditagih lagi, oleh sebab itu tidak wajib dibayar zakatnya.

    Mengenai alokasi piutang yang penagihannya diragukan, boleh dipotong dari barang-barang zakat, bila telah digabungkan sebelumnya, bila piutang tersebut belum digabungkan ke dalam barang-barang zakat, maka tidak perlu dipotong dari barang-barang zakat.

    1. Obligasi penerimaan (surat tanda terima).

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah surat-surat berharga yang berlaku dalam kegiatan dagang akan tetapi waktu pencairannya belum sampai, seperti surat-surat obligasi, rekening dll. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga pasaran sekarang.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Surat-surat seperti ini ditaksir nilainya berdasarkan nilai nominal dari surat-surat berharga tersebut, tanpa menambahkan bunga. Bila surat-surat berharga tersebut berasal dari harga barang yang telah dijual dengan pembayaran kemudian, maka selisih harga antara harga tunai dengan harga kemudian dimasukkan ke dalam harga dan diperlakukan sebagai piutang berjangka lama dan digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

    1. Deposit yang berada di tangan pihak lain.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Termasuk ke dalam unit ini semua uang yang ditahan oleh pihak lain sebagai deposit (jaminan) atas kelangsungan transaksi, janji-janji atau komitmen perusahaan untuk melakukan sesuatu kegiatan yang tertera dalam suatu kontrak. Cara penaksiran nilainya adalah berdasarkan nilai nominal yang tercatat dalam kontrak/ kontrak.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Deposit yang merupakan jaminan suatu transaksi seperti ini dianggap sebagai hak milik bersyarat, oleh sebab itu tidak dikenakan zakat kecuali ketika penerimaannya dan hanya dibayar untuk tahun berjalan saja walaupun deposit tersebut telah berlangsung beberapa tahun. Dengan demikian, maka deposit hanya dianggap sebagai barang zakat untuk tahun penerimaannya saja.

    1. Cicilan yang dibayar terlebih dahulu.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Termasuk dalam unit ini semua dana yang dibayarkan terlebih dahulu kepada langganan, seperti pemborong, industri dan semacamnya untuk dapat melancarkan kegiatan kerjanya yang sedang dalam proses. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai nominal yang tercatat dalam kontrak.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Dana semacam ini dianggap telah keluar dari tangan pemilik pertama dan telah menjadi milik bersyarat sesuai dengan kontrak yang telah ditanda tangani ke dua belah pihak. Oleh sebab itu dana ini tidak termasuk dalam barang-barang zakat lagi.

    1. Biaya yang dibayarkan terlebih dahulu.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah dana yang dibayarkan terlebih dahulu pada tahun anggaran berjalan untuk pengeluaran tahun anggaran berikut, seperti sewa gedung dan asuransi untuk tahun berikut yang dibayar terlebih dahulu. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga yang tercatat dalam kontrak.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Dana seperti ini tidak dikenakan zakat lagi, karena telah keluar dari tangan pemilik pertama dan menjadi dana bersyarat yang dapat dimanfaatkan kemudian hari.

    1. Penghasilan yang sudah jatuh tempo.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua penghasilan/ pemasukan yang mempunyai tempo pada tahun anggaran berjalan akan tetapi belum ditagih sampai akhir tahun, seperti penghasilan investasi dan sewa yang telah jatuh tempo. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Dana ini dianggap sebagai piutang, oleh sebab itu ketentuan hukumnya sama dengan ketentuan hukum tentang piutang. Bila piutang tersebut tergolong piutang yang diharap dapat ditagih, maka digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya, bila termasuk dalam piutang yang tidak diharap dapat ditagih, maka tidak dikenakan kewajiban zakat sampai diterima secara praktis.

    1. Dokumen kredit untuk pembayaran barang dagang (LC).

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Termasuk dalam unit ini, semua dana yang dibayarkan kepada pihak bank sebagai pembayaran harga komoditi impor atau barang modal tetap lainnya.

    Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak yang benar-benar dibayar.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilainya ditaksir atas dasar nilai yang memang betul-betul telah dibayar dari dokumen tersebut, kemudian digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

    1. Dokumen kredit untuk pembelian barang-barang konsumsi atau sumber pencaharian.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua dana yang dibayarkan kepada pihak bank sebagai pembayaran harga komoditi impor atau barang modal tetap lainnya.

    Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak yang benar-benar dibayar.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilainya ditaksir atas dasar nilai yang memang betul-betul telah dibayar dari dokumen tersebut. Dana ini tidak dikenakan zakat.

    1. Dana surat jaminan (LG).

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah dana yang dibayarkan kepada pihak bank untuk menutupi surat jaminan yang disampaikan kepada pihak lain, di mana pihak bank memberikan jaminannya bahwa pemilik dana akan melaksanakan transaksi atau kontrak yang telah ditanda tangani. Bila ternyata pihak pemilik dana tidak menepati kontrak atau transaksinya, maka dana yang dibayarkan tersebut akan dicairkan untuk pihak pelanggan.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilai surat jaminan ditaksir atas dasar nilai yang memang benar-benar telah dibayarkan kepada pihak counterpart. Dana ini tidak dikenakan zakat, karena merupakan milik bersyarat yang belum terlaksana. Bila nilai surat jaminan tersebut ditarik kembali, maka dana tersebut digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya dan dibayarkan zakatnya untuk tahun berjalan saja.

    1. Deposito bank.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua dana yang didepositkan di bank, baik dalam bentuk rekening berjalan, rekening investasi atau jenis lain. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai yang tercatat dalam daftar setelah dicocokkan dengan daftar rekening yang dikeluarkan oleh pihak bank.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Dana ini digabungkan dengan nilai barang-barang zakat, tanpa memasukkan keuntungan yang bersifat riba, karena keuntungan riba tersebut harus didermakan kepada pihak kebajikan dan kegiatan sosial di luar pembangunan mesjid dan pencetakan Alquran. Adapun penghasilan yang tidak bersifat riba (halal), harus digabungkan dengan modal pokok dan digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

    1. Uang kas.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua dana yang disimpan di kas perusahaan, baik dalam bentuk emas, perak, obligasi, surat berharga ataupun dalam bentuk mata uang kertas. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai uangnya di akhir tahun anggaran.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Penaksirannya dilakukan atas dasar nilainya di saat tercapainya haul, kemudian nilai tersebut digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

    1. Pembayaran terlebih dahulu biaya kegiatan yang akan menghasilkan kemudian.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah dana-dana yang telah dibayarkan oleh sebuah perusahaan terlebih dahulu dan kelak akan menghasilkan pemasukan beberapa tahun kemudian, seperti biaya iklan, biaya pendirian perusahaan, biaya-biaya sebelum beroperasi yang biasanya berkisar antara 3 s/d 5 tahun. Cara penaksiran nilainya adalah atas dasar modal setelah dipotong alokasi konsumsi.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Dana seperti ini tidak dikenakan zakat, karena berkaitan dengan penggunaan dan pengoperasian, begitu juga konsumsi yang telah dialokasikan tidak dipotong dari barang-barang zakat.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 20 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (5) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (5)

    Pengauditan Zakat Dari Proyek Yang Sedang Dalam Taraf Pelaksanaan

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua proyek pembangunan yang masih dan sedang dilaksanakan dan belum selesai, seperti proyek pembangunan gedung, proyek reparasi dan lain-lain. Barang-barang tersebut bila telah selesai bisa dimasukkan dalam aset tetap atau pun aset beredar sesuai dengan tujuan proyek tersebut. Proyek itu ditaksir berdasarkan biaya pembangunannya sejak tanggal penetapan anggaran termasuk harga tanah, desain arsitekturnya, izin bangunan, bahan material dan gaji buruh. Aset itu tidak bisa dipakai kecuali setelah selesai dan mulai dipergunakan.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Bila proyek itu dibuat untuk dipergunakan dalam operasi, maka tidak wajib dizakati. Namun bila diniatkan untuk dijadikan komoditas dagang, maka penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga pasaran tanah dan bahan bakunya saja kemudian digabungkan dengan barang-barang lain yang harus dizakatkan.

    Pengauditan Zakat Dari Investasi Jangka Panjang

    Yang dimaksud dengan istilah ini ialah segala kekayaan yang diinvestasikan ke dalam berbagai macam aset. Hal ini dilakukan oleh suatu perusahaan jika ia memiliki surplus anggaran untuk membiayai kegiatan pokoknya. Tujuan investasi ini adalah untuk menghasilkan income ataupun dengan tujuan niaga.

    Investasi jangka panjang dapat berupa:

    • Investasi surat-surat obligasi.
    • Investasi real estate.

    Penaksiran akuntansi dan hukum syariatnya berbeda sesuai dengan jenisnya.

    Investasi saham

    Definisi dan cara penghitungan akuntansi konvensional:

    Saham adalah bagian dari modal suatu perusahaan di mana seorang pemegang saham itu termasuk pemilik aset perusahaan. Sebuah saham memiliki beberapa macam nilai/harga:

    Harga nominal:

    Yaitu harga yang ditentukan pertama kali ketika dikeluarkan.

    Harga pasaran:

    Yaitu harga yang ditentukan berdasarkan kondisi permintaan dan persediaan di bursa obligasi yang ditaksir atas dasar harga yang terkecil apakah produksi ataukah pasar dengan menyediakan dana penurunan harga saham jika harga pasarannya lebih rendah daripada harga belinya.

    Penaksiran dan hukum syariatnya:

    Saham-saham itu ditaksir dengan harga pasarannya ketika akan dizakatkan. Jika perusahaan yang mengeluarkan saham itu bergerak dalam bidang yang halal maka sahamnya boleh dimiliki namun jika bidangnya itu haram maka diharamkan pula pemilikan sahamnya.

    Cara pembayaran zakatnya:

    Jika perusahaan yang mengeluarkan saham itu telah membayarkan zakatnya, maka tidak ada lagi kewajiban zakat atas pemilik saham. Tetapi jika belum maka si pemilik harus menzakatkannya sesuai dengan tujuan apa ia memiliki saham tersebut.

    1. Investasi saham untuk tujuan menghasilkan income.

    Definisi dan penaksiran akuntansi konvensionalnya:

    Yaitu investasi berupa saham yang dimiliki dengan tujuan untuk mengembangkan kekayaan dan memberikan kemasukan yang dinamakan juga dengan istilah investasi jangka panjang. Investasi itu bisa masuk dalam kelompok aset tetap dan aset beredar yang ditaksir berdasarkan harga terendah di antara harga beli (harga tercatat) atau pun harga pasarannya dan harus disediakan dana penurunan harga saham bila harga pasarannya lebih rendah daripada harga tercatatnya.

    Penaksiran dan hukum syariatnya:

    • Bila pemilik saham dapat mengetahui nilai setiap saham dari aset zakat perusahaan yang mengeluarkannya, maka ia harus mengeluarkan zakatnya sebesar 2,5%.
    • Jika tidak diketahui, maka ia harus menggabungkan income yang dihasilkan dari saham itu dengan kekayaan lain yang harus dizakatkan kemudian membayarkan zakatnya sebesar 2,5%.

    Catatan:

    Penghitungan dalam pembayaran zakat didasarkan atas harga pasarannya sehingga dana yang dialokasikan untuk penurunan harga obligasi itu tidak diambil dari aset-aset yang harus dizakatkan.

    1. Investasi berupa saham untuk tujuan niaga.

    Definisi dan penaksiran akuntansi konvesional:

    Yaitu investasi berupa saham yang dibeli untuk tujuan diperdagangkan atau dijual kembali agar menghasilkan keuntungan. Saham yang seperti ini ditaksir berdasarkan harga terendah di antara harga tercatat atau pun harga pasarannya dengan menyediakan dana apabila harga pasarannya itu lebih rendah daripada harga tercatatnya.

    Penaksiran dan hukum syariatnya:

    • Investasi saham yang diperdagangkan ini ditaksir dengan harga pasaran ketika telah tiba haulnya dan digabungkan dengan kekayaan lain yang harus dizakatkan.
    1. Investasi dalam bentuk saham anak perusahaan (untuk menghasilkan income)

    Definisi dan penaksiran akuntansi konvensionalnya:

    Yang dimaksud dengan anak perusahaan ialah perusahaan yang secara langsung atau pun tidak langsung dimiliki oleh perusahaan induknya lebih dari 50% sahamnya yang mempunyai hak suara. Saham ini ditaksir berdasarkan harga terendah di antara harga beli atau pun harga pasarannya dengan menyediakan dana jika harga pasarannya lebih rendah daripada harga tercatatnya (produksinya).

    Penghitungan zakat dan hukum syariatnya:

    Zakat anak perusahaan itu dihitung secara terpisah kemudian ditentukan berapa besarkah jatah perusahaan induknya berdasarkan besar saham yang dimiliki. Incomenya digabungkan dengan aset lain milik perusahaan induk yang harus dizakatkan bila anak perusahaannya belum membayarkan zakatnya secara langsung.

    1. Investasi berupa saham perusahaan asosiasi.

    Definisi dan penghitungan akuntansi konvensional:

    Perusahaan assosiasi ialah yang tidak merupakan anak perusahaan. Investasi berupa saham perusahaan seperti ini dianggap termasuk investasi jangka panjang. Investasi ini dihitung berdasarkan harga terendah di antara harga beli dan pasarannya dengan menyediakan dana bila harga pasaran lebih rendah daripada harga tercatatnya (produksi).

    Penghitungan dan hukum syariatnya:

    • Pada investasi seperti ini diterapkan hukum yang sama dengan investasi saham dengan tujuan menghasilkan income di mana dana penurunan harganya tidak diambil dari aset yang harus dizakatkan.
    1. Investasi dalam saham perusahaan yang dibeli.

    Definisi dan penghitungan akuntansi konvensionalnya:

    Terkadang suatu perusahaan itu diberikan wewenang untuk membeli sahamnya dari bursa obligasi dalam batas tertentu berdasarkan syarat-syarat yang telah ditentukan oleh hukum. Tujuannya adalah untuk diperdagangkan bukan untuk menghasilkan income di mana saham tersebut akan dijual kembali ketika perusahaan itu membutuhkan dana likuidasi. Saham itu dihitung dengan harga pembeliannya.

    Penghitungan dan hukum syariatnya:

    Dihitung berdasarkan harga pasaran yang berlaku ketika haulnya tiba lalu disatukan dengan aset lain yang harus dizakatkan.

    1. Investasi berupa efek.

    Definisi dan penghitungan akuntansi konvensionalnya:

    Efek merupakan alat keuangan yang dikeluarkan bagi pemegangnya yang menjadi hubungan utang-piutang dan mengandung suku bunga yang harus dibayarkan pada waktu tertentu. Pihak debitor (yang mengeluarkan efek) berkewajiban membayar suku bunga itu di samping jumlah asli uang yang dipinjam (harga efek) pada saat jatuh temponya. Efek itu dihitung dengan harga beli ditambah diskon ataupun dikurangi pertambahan harga. Bila efek itu beredar di pasaran maka dihitung berdasarkan harga yang terendah dengan menyediakan dana penurunan harganya bila harga pasaran lebih rendah daripada harga belinya.

    Cara penghitungan dan hukum syariatnya:

    • Efek itu dihitung dengan harga nominalnya. Haram bertransaksi dengan efek karena mengandung suku bunga riba yang diharamkan oleh syariat Islam namun si pemilik harus membayarkan zakat dari harga belinya dan digabungkan dengan kekayaan lain yang harus dizakatkan. Sedangkan suku bunga yang dihasilkan dari efek itu harus didermakan untuk kepentingan sosial selain pembangunan mesjid dan mencetak Alquran untuk menghindari penghasilan haram.
    1. Investasi dalam obligasi kas negara.

    Definisi dan penghitungan akuntansi konvensional:

    Sebagian pemerintah suatu negara meminjam modal dari pasar domestiknya dengan cara mengeluarkan surat obligasi berbunga yang dikenal dengan istilah obligasi kas negara. Obligasi tidak berbeda dengan obligasi yang lain yang dihitung berdasarkan harga belinya yang disesuaikan pemotongan harga sejak tanggal pembelian.

    Cara penghitungan dan hukum syariatnya:

    • Obligasi kas negara ini dinilai dengan harga nominal ketika pertama kali dikeluarkan. Diharamkan melakukan transaksi dengan obligasi kas negara ini karena mengandung suku bunga riba dan diterapkan padanya hukum-hukum syariat yang berlaku terhadap surat obligasi lain secara umum.
    1. Investasi dalam real estate dengan tujuan menghasilkan pemasukan (income).

    Definisi dan cara penghitungan akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah di atas ialah kekayaan yang diinvestasikan dalam bentuk berbagai macam real estate seperti areal tanah dan gedung/bangunan yang dimiliki untuk tujuan menghasilkan pemasukan.

    Kekayaan investasi itu dinilai berdasarkan kaedah dasar akuntansi yaitu harga yang terendah di antara harga beli atau harga pasarannya.

    Cara penghitungan dan hukum syariatnya:

    • Investasi di atas tidak dikenakan kewajiban zakat pada bendanya tetapi pada income bersihnya yang disatukan dengan kekayaan lain yang harus dizakatkan lalu dibayarkan zakat seluruhnya sebesar 2,5%.
    1. Investasi dalam real estate dengan tujuan niaga.

    Definisi dan penghitungan akuntansi konvensional:

    Yaitu harta kekayaan yang diinvestasikan dalam bentuk areal tanah dan bangunan/gedung atau berbagai macam real estate lainnya yang dimiliki untuk tujuan niaga.

    Investasi di atas dinilai berdasarkan harga terendah di antara harga beli atau pun harga pasarannya.

    Cara penghitungan dan hukum syariatnya:

    • Dinilai berdasarkan harga pasarannya lalu disatukan dengan kekayaan lain yang harus dizakatkan.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 19 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (4) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (4)

    Klasifikasi Harta Dalam Fikih Islam Dan Hubungannya Dengan Pengauditan Zakat

    Harta kekayaan dalam fikih Islam dapat diklasifikasikan kepada:

    1. Uang, alat penukar dalam suatu transaksi yang sekaligus merupakan harga suatu barang. Uang dapat dibagi dua bagian, masing-masing:
    • Mata uang mutlak, seperti emas dan perak.
    • Mata uang terbatas, seperti uang kertas (kartal dan giral) dan uang logam.

    2. Barang, yaitu harta yang dapat dimanfaatkan sesuai fungsinya. Barang ini dapat dibagi dua bagian, sbb:

    • Barang yang dipakai, yaitu barang-barang yang dimiliki untuk tujuan pemanfaatannya dalam berbagai jenis kegiatan, seperti alat-alat bangunan, binatang ternak. Barang-barang seperti ini mirip dengan barang-barang eksploitasi (barang-barang yang tidak bergerak).
    • Modal perdagangan, yaitu barang yang diperuntukkan buat diperjual belikan, yaitu barang-barang yang dapat ditransaksikan yang dibeli atau diproduksi untuk tujuan dagang. Modal perdagangan ini disebut juga dengan istilah modal aktif (modal yang sedang beroperasi).

    3. Binatang ternak, yaitu unta, sapi, kambing dan semacamnya. Binatang ternak dapat dibagi tiga bagian, masing-masing:

    • Binatang perahan atau bibit.
    • Binatang pekerja, yaitu binatang yang dimiliki untuk dieksploitasi.
    • Binatang ternak dagangan.

    4. Tanam-tanaman dan buah-buahan, yaitu hasil pertanian. Kekayaan ini dapat dibagi dua, masing-masing:

    • Pertanian yang diairi dengan alat irigasi bermodal
    • Pertanian yang diairi dengan air hujan, tanpa modal.

    Penjelasan lebih lanjut sekitar kewajiban zakat hasil pertanian akan disampaikan kemudian.

    Pengauditan Zakat Dari Aset Tidak Bergerak

    Yang dimaksud dengan modal tetap adalah semua barang modal yang dipakai untuk jangka panjang, seperti areal tanah, gedung, furniture, mobil dan sebagainya yang dimiliki tanpa niat memperjual belikannya. Barang modal ini dapat dibagi ke dalam dua bagian, yaitu:

    • Aset tetap yang diperuntukkan buat pemakaian dan pengoperasian.
    • Modal tetap yang dipergunakan untuk menarik keuntungan.

    Berikut ini disampaikan definisi dan cara menaksir nilainya dalam sistem akuntansi konvensional, kemudian sistem penaksiran nilai dan ketentuan hukum Islam tentang kewajiban zakat dari kekayaan di atas:

    1. Aset tetap material yang diperuntukkan buat pemakaian dan operasi

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Aset tetap adalah semua barang yang dimiliki untuk tujuan pemakaian tidak untuk diperjualbelikan dan mencari keuntungan secara langsung. Contoh, real estate, alat-alat pertukangan, mobil, furniture, perlengkapan dsb. Cara menaksir nilainya adalah atas dasar harga beli dikurangi penurunan nilai (depresiasi) karena pemakaian yang terus-menerus.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Barang-barang seperti ini tidak dikenakan kewajiban zakat karena tidak termasuk harta yang harus dizakatkan. Demikian juga dana yang dialokasikan untuk biaya pemakaiannya tidak boleh dipotong dari barang-barang zakat.

    1. Aset tetap material yang menghasilkan keuntungan

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah benda kekayaan yang dimiliki dengan niat untuk menghasilkan keuntungan, seperti real estate, mobil yang disewakan. Cara menaksir nilainya adalah atas dasar harga pembelian dikurangi penurunan harga karena pemakaian yang terus-menerus.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Benda-benda seperti di atas tidak terkena kewajiban zakat. Yang dikenakan zakat adalah hasil bersih penyewaannya yang harus digabungkan dengan kekayaan si pembayar zakat yang lainnya. Volume zakatnya adalah 2,5% sesuai dengan pendapat yang lebih kuat yang diputuskan oleh Lembaga Fikih Islam Jeddah.

    1. Aset tetap abstrak untuk dipakai dan dioperasikan

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua hak milik abstrak yang dapat dimanfaatkan dan membantu dalam operasi di berbagai bidang usaha, seperti hak cipta, hak cetak, hak merek dagang dan sebagainya.

    Cara menaksir nilainya adalah dengan menaksir harga (biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh hak tersebut) ditambah dengan biaya-biaya keperluan lainnya, dikurangi dengan alokasi dana pemakaian.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Modal seperti ini tidak dikenakan kewajiban zakat karena berkaitan dengan aset tetap lainnya yang ditujukan untuk membantu jalannya operasi usaha. Bila niat memilikinya untuk diperdagangkan, maka cara kalkulasinya adalah dengan menaksir harga pasarnya kemudian dizakati seperti barang-barang perdagangan.

    1. Aset tetap abstrak yang menghasilkan income.

    Yaitu hak-hak abstrak yang dimiliki untuk menghasilkan suatu income, seperti hak mengarang dan hak cipta yang disewakan dalam masa tertentu dengan imbalan tertentu pula.

    Penaksiran dan hukum syariatnya:

    Hak-hak tersebut tidak dikenakan kewajiban zakat namun hasil bersih kemasukannya digabungkan dengan harta zakat lainnya dan dizakatkan sebesar 2,5%.

    Penjelasan tentang aset tetap:

    1. Dana yang dialokasikan untuk biaya pemakaian aset tetap adalah merupakan penurunan harga yang terjadi akibat pemakaian dan berkurangnya masa validitas barang tersebut. Pengurangan nilai tahunan itu dihitung berdasarkan berbagai macam sistem akuntansi.

    Hukumnya: Anggaran dana ini tidak termasuk dana yang boleh dipotong/diambil dari harta-harta zakat lainnya karena asetnya tidak termasuk barang yang wajib dizakatkan.

    1. Suku bunga pinjaman yang dipergunakan untuk membiayai/membeli aset tetap: Sebagian para ahli akuntan berpendapat bahwa suku bunga itu disatukan dengan harga beli aset tersebut.

    Adapun hukum syariatnya: Suku bunga tersebut dianggap termasuk riba yang jika telah dibayarkan maka berarti telah keluar dari harta yang harus dizakati. Tetapi jika belum dibayar maka tidak boleh dipotong dari harta yang harus dizakatkan karena suku bunga tersebut tidak termasuk utang yang harus dilunasi dalam pandangan syariat meskipun telah disepakati dan mempunyai kekuatan hukum.

    1. Dana yang dialokasikan untuk perawatan dan pemeliharaan barang-barang aset tetap yang dipakai sewaktu-waktu.

    Hukum syariatnya adalah tidak boleh dipotong/diambil dari harta yang harus dizakatkan karena memang kenyataannya belum dikeluarkan.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 18 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (3) 

    Management Dan Audit Zakat (3)

    Kaidah Pengauditan Dan Penyaluran Zakat

    Ada beberapa prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam penentuan, penaksiran dan pembuatan laporan zakat. Prinsip-prinsip tersebut digali dari sumber-sumber hukum Islam dan dari ilmu akuntansi sehingga antara kedua sumber di atas tidak ada kontradiksi.

    Di antara prinsip-prinsip tersebut adalah :

    1. Prinsip haul

    Fikih Islam menganggap satu tahun kamariah (hijriah) adalah tenggang waktu yang sudah cukup untuk pengembangan suatu harta. Oleh sebab itu para mukallaf wajib mengalkulasikan harta kekayaan yang dimilikinya dengan harga pasaran, bila telah cukup satu tahun kamariah.

    Dalam kitab Syarhus Shagir dapat dibaca sebagai berikut:

    (Taksirlah harta kekayaanmu per jenis setiap tahun atas dasar harga di kala itu (harga pasaran) dengan harga yang adil dan pembelian yang baik).

    Prinsip ini tidak diaplikasikan untuk zakat hasil pertanian, buah-buahan, hasil tambang dan barang galian. Dalam kaitan ini Imam Syafii mengatakan “haul adalah salah satu syarat wajib zakat, bila haul tidak cukup walaupun sebentar, harta tidak kena kewajiban zakat.

    Haul ini merupakan syarat wajib zakat untuk harta kekayaan selain biji-bijian, barang tambang dan barang galian”. Ulama-ulama mazhab Maliki mengatakan, “Haul merupakan salah satu syarat wajib zakat kecuali kekayaan tambang, barang galian dan tanam-tanaman.”

    1. Prinsip independensi tahun anggaran

    Sesuai dengan prinsip haul diatas, pengauditan zakat harus berdasar pada prinsip independensi tahun anggaran. Hal ini telah dijelaskan oleh Ibnu Rusyd sbb: “Harta yang dibelanjakan sebelum cukup haul (sebentar atau lama), kemudian mengalami kerusakan, maka harta itu tidak kena kewajiban zakat, yang kena kewajiban adalah harta yang masih tertinggal jika masih memenuhi nisab dan telah cukup haul. Adapun harta yang kena kewajiban zakat yang dibelanjakan setelah haul (sebentar atau lama), masih tetap kena kewajiban zakat berikut dengan harta kekayaan yang masih tinggal.”

    1. Prinsip berkembang, baik real atau pun estimasi

    Pengauditan zakat berdasar pada prinsip harta yang dapat berkembang baik secara real atau estimasi, baik barang tersebut dicairkan di pertengahan haul atau tidak, baik perkembangan tersebut berlaku kontinu atau terputus-putus.

    Dr. Syauki Ismail Sahata menjelaskan hal ini sebagai berikut: “Laba dalam akuntansi Islam adalah perkembangan harta yang berlaku dalam haul, baik harta tersebut dicairkan menjadi uang atau masih tetap sebagai mana adanya, karena tidak terjadi transaksi jual beli. Dalam kedua kondisinya dapat dilihat adanya keuntungan, sedangkan transaksi jual beli fungsinya tidak lebih hanya sekedar pengalihan bentuk harta dari bentuk aslinya kepada bentuk lain yang dapat menampakkan realita keuntungan.

    Oleh sebab itu bila sudah saatnya acara kalkulasi, tidak perlu ditunggu sampai nilai itu terjadi dalam bentuk realita, karena yang menjadi pertimbangan dalam penaksiran nilai adalah terjadinya keuntungan bukan munculnya suatu keuntungan yang ditandai dengan transaksi jual beli, karena jual beli tidak berfungsi membuat keuntungan, tetapi hanya memunculkan keuntungan.”

    1. Prinsip kemampuan biaya

    Pengauditan zakat harus memperhatikan kemampuan biaya dari seorang wajib zakat, prinsip ini lebih dikenal dalam fikih Islam dengan istilah nisab zakat.

    Dalam Alquran prinsip ini banyak disebut, antara lain firman Allah yang artinya: “Kamu akan ditanya tentang harta yang akan dibelanjakan, katakanlah harta yang melebihi kebutuhan.” (Q.S. Al-Baqarah:219) Hasan Basyri menafsirkan ayat di atas dengan, “Jangan bayarkan hartamu, kemudian kamu duduk meminta-minta.”

    Prinsip ini lebih jelas lagi dari penjelasan Rasulullah saw kepada seorang yang datang menanya, “Mulailah dari dirimu, bayarkan sedekah kepada dirimu, jika masih ada sisa belanja keluargamu, bersedekahlah kepada keluarga dekatmu, bila masih lebih, bersedekahlah kepada .. dst.” (H.R. Muslim dari Abu Hurairah)

    Prinsip ini diterapkan dalam fikih Islam adalah dengan target untuk tidak memaksa umat Islam di satu pihak dan menganjurkan mereka untuk selalu meningkatkan produksi di pihak lain. Ukuran kemampuan biaya dalam kalkulasi zakat mempunyai nilai unifikasi yaitu 20 Dinar atau 200 Dirham untuk kekayaan uang.

    1. Prinsip zakat dipungut dari penghasilan bersih (neto) dan jumlah kotor (bruto) sesuai dengan bentuk dan jenis harta kekayaan yang ada

    Sebagai implementasi dari prinsip kemampuan biaya, zakat harus berdasar pada prinsip pemotongan utang-utang yang telah jatuh tempo dan biaya-biaya lainnya dari total penghasilan atau kekayaan, sebagai upaya untuk meringankan beban ummat Islam.

    Dalil hukum dari prinsip ini cukup banyak, di antaranya adalah nukilan Abu Ubaid dari ulama lain “bila hartamu telah cukup haul, lihatlah harta-harta kekayaanmu, baik uang atau barang-barang yang dapat dijual, seterusnya taksirlah harganya dengan uang. Bila kamu mempunyai piutang dari orang yang dapat diharapkan pembayarannya, hitunglah bersama dengan kekayaan itu. Bila kamu mempunyai utang, potonglah dari hartamu, seterusnya bayarlah zakat sisa kekayaanmu itu”.

    Data ini menunjukkan bahwa utang-utang dipotong dari barang-barang zakat sebelum diadakan kalkulasi. Hal ini persis dengan nukilan dari seorang ulama klasik yang mengatakan, “Bayarlah utang-utang dan pajak-pajakmu, jika sisanya masih mencukupi 5 watsaq, bayarlah zakatnya.” (Yahya bin Adam Al-Qurasyi, Kitab Al-Kharaj, hal. 59)

    Di pihak lain Rasulullah saw. selalu memesankan kepada pegawai yang ditugaskan mengadakan penaksiran harta kekayaan pertanian dan buah-buahan untuk menentukan dan menaksir barang-barang yang wajib zakat, beliau mengatakan, “Bila kamu mengadakan penaksiran, ambillah dan sisakan sepertiga atau seperempat.” (H.R. Ahmad)

    Dari penjelasan di atas jelas bahwa kalkulasi zakat mempertimbangkan betul-betul utang-utang dan biaya-biaya yang diperlukan untuk memperoleh suatu penghasilan berikut dengan kondisi personil dan kekeluargaan si wajib zakat.

    1. Prinsip penggabungan harta kekayaan

    Ketika mengadakan pengumpulan dan penentuan harta-harta yang wajib zakat, harus diperhatikan semua harta kekayaan yang dimiliki oleh si wajib zakat, baik yang terdapat di dalam negeri atau di luar negeri. Dalam hal ini semua harta kekayaan harus digabungkan menjadi satu, kemudian dipotong dengan utang-utang dan biaya-biaya lain, seterusnya dibayar zakat dari barang-barang yang tersisa bila masih mencukupi nisab.

    Ibnu Qayim menjelaskan prinsip ini sbb: “Barang perdagangan yang telah mencukupi haul yang terdapat di dalam negeri (tempat barang), walaupun sudah dikirimkan ke negara lain, nilainya harus ditaksir bersama-sama dengan barang barang lain ketika menaksir zakatnya walaupun jenis barang itu berbeda-beda.”

    1. Prinsip penaksiran harga dilakukan berdasarkan harga pasaran

    Akuntansi Islam dalam menaksir barang-barang zakat di akhir tahun selalu berdasar pada prinsip penaksiran nilai barang dengan harga pasaran.

    Dalam sebuah nukilan dari Jabir bin Zaid, beliau mengatakan, “Taksirlah barang itu sesuai dengan harganya di saat zakat sudah wajib (akhir haul) kemudian bayarlah zakatnya.” Data ini mengandung suatu arti bahwa penaksiran harga suatu barang untuk tujuan pembayaran zakat harus dilakukan berdasarkan harga di akhir haul.

    Prinsip ini didukung oleh mayoritas pakar fikih. Dalam sebuah nukilan dari Maimun bin Mahran dia mengatakan: (Bila hartamu telah cukup haul, lihatlah harta-bendamu yang lain, baik uang ataupun barang yang dapat diperjual belikan, kemudian taksirlah harganya dengan uang, bila kamu mempunyai piutang atas orang yang mampu, hitunglah bersama-sama, bila kamu mempunyai utang potonglah dari harta tersebut seterusnya bayarlah zakat sisanya).

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 17 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (2) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (2)

    Penentuan Volume Yang Diterima Mustahik

    Dalam masalah ini terdapat beberapa pendapat ulama fikih sebagai berikut:

    1. Untuk masing-masing golongan mustahik zakat dialokasikan sebesar seperdelapan (1/8 atau 12,5%) dari total harta zakat yang terkumpul. Jika dana yang telah dialokasikan bagi suatu golongan itu tidak mencukupi, maka dapat diambil dari sisa dana yang dialokasikan untuk golongan mustahik lain. Bila tidak ada juga maka diambil dari sumber lain kas negara atau dengan cara mewajibkan pajak baru untuk menutupi kekurangan itu atas mereka yang kaya sesuai dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan dalam syariat Islam.
    2. Bagi setiap golongan mustahik zakat dialokasikan dana sesuai dengan kebutuhannya tanpa terikat dengan seperdelapannya. Bila harta zakat yang terkumpul itu tidak mencukupi maka diambil dari sumber lain kas negara atau dengan cara mewajibkan pungutan baru atas harta orang-orang yang kaya untuk menutupi kekurang itu dengan syarat-syarat yang telah ditentukan oleh syariat Islam.

    Proses Pengauditan Zakat

    Prosedur pengauditan zakat dapat disimpulkan dalam point-point berikut:

    1. Menentukan tanggal haul, yaitu tanggal mulainya dihitung zakat. Tanggal ini berbeda-beda sesuai dengan kondisi si wajib zakat, kecuali dalam hal zakat hasil pertanian, buah-buahan, barang tambang dan barang galian serta kekayaan laut yang harus dibayar zakatnya di saat panen atau mendapatkan hasil.
    2. Menentukan dan menaksir harta kekayaan si wajib zakat serta penjelasan tentang kekayaan yang kena kewajiban zakat (barang-barang zakat).
    3. Menentukan dan menaksir jumlah tagihan tahun berjalan atau tagihan yang telah jatuh tempo yang akan menjadi potongan dari barang-barang zakat.
    4. Menyisihkan tagihan tahun berjalan dan tagihan yang telah jatuh tempo untuk menentukan barang-barang zakat.
    5. Menentukan nisab zakat sesuai dengan jenis barang-barang zakat yang ada.
    6. Membandingkan antara total barang-barang yang wajib zakat dengan nisab zakat (antara point no. 4 dengan point no. 5) untuk mengetahui apakah barang-barang zakat tersebut kena kewajiban zakat atau tidak. Bila barang-barang zakat tersebut telah mencapai nisab, zakatnya ditarik.
    7. Menentukan volume (rate) zakat yang akan dibayar dari barang-barang zakat. Volume ini ada kalanya :

    2,5% untuk zakat uang, perdagangan, eksploitasi, hasil usaha, harta perolehan demikian juga zakat hasil tambang menurut mayoritas ulama.

    5% untuk zakat hasil pertanian dan buah-buahan yang diairi dengan irigasi dan alat-alat yang menelan biaya.

    10% untuk zakat hasil pertanian dan buah-buahan yang diairi dengan air hujan yang tidak menelan biaya.

    20% untuk zakat barang galian.

    8. Mengalkulasikan jumlah zakat yang harus dibayar dengan mengalikan volume zakat.

    9. Membebankan kewajiban zakat sbb:

    • Perorangan atau perusahaan pribadi, memikul semua jumlah zakat secara pribadi.
    • Perusahaan partnership, jumlah zakat dibagi kepada semua partner sesuai dengan persentase kuota masing-masing dalam modal perusahaan. Dengan demikian akan dapat diketahui kewajiban masing-masing partner.
    • Perusahaan sero (saham), jumlah zakat dibagi-bagi sesuai dengan jumlah sero, untuk menentukan jumlah zakat yang merupakan beban masing-masing sero, kemudian dikalkulasikan dengan jumlah sero yang dimiliki masing-masing pemegang saham, untuk mengetahui jumlah zakat yang merupakan kewajiban masing-masing pesero.

    10. Menyalurkan zakat kepada mustahak yang ada sesuai dengan aturan yang ditentukan dalam fikih zakat.

    11. Membuat laporan tentang jumlah zakat dan cara penyalurannya yang dibuat dalam bentuk list dan laporan keuangan dengan berbagai bentuknya.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:32 am on 16 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (1) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (1)

    Pengertian Pengauditan Zakat

    Pengauditan (kalkulasi) zakat banyak berkaitan dengan penentuan dan penaksiran volume zakat, ketentuan penyalurannya kepada para mustahak serta penjelasan masing-masing point di atas sesuai dengan aturan yang berlaku dalam fikih zakat.

    Tugas pengauditan zakat terdiri dari:

    1. Mengumpulkan, menentukan dan menaksir nilai barang-barang zakat.
    2. Mengumpulkan, menentukan dan menaksir nilai potongan-potongan dari zakat.
    3. Menghitung volume zakat dan jumlah yang wajib dibayar.
    4. Memberikan penjelasan tentang penyaluran zakat kepada para mustahik.
    5. Membuat catatan tentang sumber dan mustahik zakat secara priodik.

    Penentuan Mustahik Zakat

    Allah swt. telah menentukan orang-orang yang berhak menerima zakat sebagai berikut:

    1. Fakir
    2. Miskin
    3. Amil zakat
    4. Mualaf
    5. Budak
    6. Orang yang berutang
    7. Orang yang berjuang fisabilillah
    8. Ibnu sabil

    Kaidah Pengauditan Zakat

    Pemerintah atau pihak yang mendapat wewenang dari Pemerintah untuk mengumpulkan dan mendistribusikan zakat dapat mempergunakan kaidah-kaidah berikut:

    Kaidah pokok penyaluran zakat harta.

    Allah swt telah menentukan mustahik zakat lewat firman-Nya dalam surat At-Taubah ayat 60 yang berarti, “(Zakat hanya disalurkan kepada fakir, miskin, amil, muallaf, memerdekaan budak, orang yang berutang, fi sabilillah dan ibn sabil. Hal tersebut merupakan kewajiban dari Allah swt, sesungguhnya Allah maha tahu lagi maha bijaksana).”

    Atas dasar ini, pemerintah tidak diperkenankan menyalurkan hasil pemungutan zakat kepada pihak lain di luar mustahik yang delapan di atas. Di sini terdapat sebuah kaidah umum, bahwa pemerintah dalam melakukan pengalokasian harus mempertimbangkan kemaslahatan umat Islam semampunya.

    Dalam kaitan ini pemerintah menghadapi beberapa masalah yang perlu dijelaskan, yaitu;

    Bagaimana mendistribusikan zakat kepada mustahik yang delapan?

    Dalam hal ini, para pakar fikih telah membuat beberapa kaidah yang dapat membantu Pemerintah dalam menyalurkan zakat, di antaranya adalah sbb:

    A. Alokasi atas dasar kecukupan dan keperluan.

    Sebagian ulama fikih berpendapat bahwa pengalokasian zakat kepada mustahik yang delapan haruslah berdasarkan tingkat kecukupan dan keperluannya masing-masing.

    Dengan menerapkan kaidah ini maka akan terdapat surplus pada harta zakat seperti yang terjadi pada masa pemerintahan Umar bin Khatthab, Usman bin Affan dan Umar bin Abdul Aziz. Jika hal itu terjadi maka didistribusikan kembali sehingga dapat mewujudkan kemaslahan kaum muslimin seluruhnya. Atau mungkin juga akan mengalami defisit (kekurangan) di mana pada saat itu pemerintah boleh menarik pungutan tambahan dari orang-orang yang kaya dengan syarat tertentu sebagai berikut:

    1. Kebutuhan yang sangat mendesak di samping tidak adanya sumber lain.
    2. Mendistribusikan pungutan tambahan tersebut dengan cara yang adil.
    3. Harus disalurkan demi kemaslahan umat Islam.
    4. Mendapat restu dari tokoh-tokoh masyarakat Islam.

    B. Berdasarkan harta zakat yang terkumpul.

    Sebagian ulama fikih berpendapat harta zakat yang terkumpul itu dialokasikan kepada mustahik yang delapan sesuai dengan kondisi masing-masing. Kaidah ini akan mengakibatkan masing-masing mustahik tidak menerima zakat yang dapat mencukupi kebutuhannya dan menjadi wewenang pemerintah dalam mempertimbangkan mustahik mana saja yang lebih berhak daripada yang lain. Setiap kaidah yang disimpulkan dari sumber syariat Islam ini dapat diterapkan tergantung pada pendapatan zakat dan kondisi yang stabil.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 15 September 2016 Permalink | Balas  

    Pernahkah Terpikir Atau Ini Saja Cukup ? 

    mushola-malPernahkah Terpikir Atau Ini Saja Cukup ?

    Seorang warga negara asing yang baru bertugas di Indonesia sempat terheran-heran. Setiap dia parkir di basement kantornya dia melihat sebuah ruangan yang di dalamnya ada orang-orang sedang berdiri, ada yang duduk, ada yang sedang ‘berjajar-berbaris’. Hal yang sama dia temukan juga di tempat parkir di banyak mall-mall di Jakarta.

    Karena penasaran dia bertanya pada temannya yang telah lama bertugas di Indonesia. Dia sangat terkejut ketika tahu bahwa ruangan itu adalah tempat ibadah (musholla). Dan orang-orang yang ada di dalam itu sedang sholat. Dan dia lebih terkejut lagi ketika tahu bahwa tidak ada tempat sholat di kantornya selain di basement tadi.

    Ketika rapat di kantornya, dia menyinggung masalah ini. Dia berkata, bagaimana Anda bisa bekerja dengan baik untuk bertemu dengan klien kita, jika untuk bertemu dengan Tuhan saja Anda tidak pernah memikirkan tempat yang layak? Bukankah seharusnya tempat ibadah menjadi prioritas di kantor ini? Mulai saat ini ruangan tempat kita rapat, kita jadikan tempat anda untuk bertemu dengan Tuhan Anda!

    Ironis memang , kita yang mengaku negara berpenduduk muslim terbesar di dunia tidak pernah memikirkan tempat sholat di kantor kita. Kita akan protes keras kalau ruangan kita kecil, sempit dan kotor tapi kita tidak pernah protes jika untuk sholat kita harus berada diruangan yang ala kadarnya sekedar tempat disudut-sudut kantor yang sedikit kosong. Untuk berjamaah, sujud dan rukuk saja sulit.

    Bukti nyata yang lain adalah hampir seluruh mushola di kantor pemerintah, swasta, mal, terminal hanyalah tempat yang keberadaannya dipikirkan belakangan. Bahkan banyak kantor yang tidak memiliki tempat sholat dengan alasan tidak ada tempat lagi. Namun gudang-gudang, pantry dan (maaf) toilet selalu mejadi prioritas utama. Jika kita berkesempatan jalan-jalan di mal, terminal atau tempat umum lainnya cobalah cari musholla , 99,999 % kalau Anda temukan pasti ada di basement, dekat toilet umum dan di ruangan yang untuk mencarinya perlu perjuangan!. Dengan kondisi yang ‘jorok’ dan bau.

    Lalu dengan enaknya dan cueknya kita berdoa agar rejeki yang kita dapat semoga barokah dan manfaat? Padahal kita tidak pernah memikirkan tempat dimana barokah dan manfaat itu akan dicurahkan oleh Allah? Ironis!.

    Wallahua’lam

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 14 September 2016 Permalink | Balas  

    Kembalikan Keranjang Itu! 

    ibu dan anak lelakinya berdoaKembalikan Keranjang Itu!

    Suatu kali ada sepasang suami istri yang hidup serumah dengan ayah sang suami. Orang tua ini sangat rewel karena cepat tersinggung dan tak henti-hentinya mengeluh. Akhirnya suami istri itu memutuskan untuk mengenyahkannya. Sang suami memasukkan orang tua itu ke dalam keranjang yang dipanggul di bahunya. Ketika ia sedang bersiap-siap meninggalkan rumah, anak laki-lakinya yang baru berusia sepuluh tahun muncul dan bertanya, “Ayah, kakek hendak dibawa ke mana?”

    Sang Ayah menjawab bahwa ia bermaksud membawa kakek anak itu ke gunung agar ia bisa belajar hidup sendiri. Anak itu terdiam, namun pada waktu ayahnya sudah berlalu, ia berteriak, “Ayah, jangan lupa membawa keranjangnya pulang.”

    Ayahnya merasa aneh, sehingga ia berhenti dan bertanya mengapa. Anak itu menjawab, “Aku memerlukannya untuk membawa ayah nanti kalau ayah sudah tua.”

    Orang itu segera membatalkan niatnya membawa ayahnya ke gunung. Sejak saat itu suami istri itu memperhatikan orang tua sang suami dengan penuh kasih sayang dan memenuhi semua kebutuhannya.

    Jika anak hidup dengan saling pengertian, ia belajar menjadi sabar

    Jika anak hidup dengan dorongan, ia belajar percaya diri

    Jika anak hidup dengan pujian, ia belajar menghargai

    Jika anak hidup dengan kejujuran, ia belajar menjadi adil

    Jika anak hidup dalam rasa aman, ia belajar memiliki kepercayaan

    Jika anak hidup dalam dukungan, ia belajar menyukai dirinya sendiri

    Jika anak diterima dan hidup dalam persahabatan, ia belajar menemukan cinta di dunia

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 13 September 2016 Permalink | Balas  

    Menjaga Kehormatan Diri 

    itikaf 2Menjaga Kehormatan Diri

    Oleh : Abdullah Gymnastiar

    Semoga Allah SWT memberikan kemampuan kepada kita untuk membaca potensi yang telah Allah berikan. Menggali dan mengembangkan diri kita dengan baik sehingga hidup yang sekali-kalinya ini tidak menjadi beban bagi orang lain, bahkan hidup terhormat karena bisa meringankan beban orang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling banyak manfaatnya.

    Saudaraku, kehormatan dan kemuliaan yang sebenarnya adalah ketika hati kita bebas dari bergantung kepada selain Allah. Perjuangan kita untuk menjaga harga diri dari meminta-minta kepada selain Allah adalah bukti kemuliaan kta. Jiwa mandiri adalah kunci harga diri.

    Benar, dalam  hidup ini kita pasti membutuhkan orang  lain. Itu pasti! Tapi menikmati hidup dengan membebani orang lain adalah hidup yang tidak mulia. Menjadi manusia mandiri adalah manusia yang akan memiliki harga diri. Mandiri adalah sumber percaya diri. Mandiri membuat kita lebih tenteram diri. Bangsa mandiri adalah bangsa yang akan mempunyai harga diri.

    Dalam Al Quran ditegaskan, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu gigih mengubah nasibnya sendiri. Kita diberi kemampuan oleh Allah untuk mengubah nasib kita. Berarti kemampuan kita mandiri untuk mengarungi hidup ini merupakan kunci yang diberikan Allah untuk sukses dunia dan insya Allah di akhirat kelak.

    Keuntungan mandiri kita akan punya wibawa sendiri. Sehebat-hebat peminta-minta pasti tidak akan punya wibawa. Misal, seorang aparat yang berpenampilan gagah tetapi gemar melakukan pungutan yang tak semestinya pasti akan jatuh wibawanya.

    Keuntungan lain, kita makin percaya diri dalam menghadapi hidup ini. Orang-orang yang terlatih menghadapi masalah sendiri akan berbeda  semangatnya dalam mengarungi hidup ini dibanding orang yang selalu bersandar kepada orang lain. Sebab, kalau kita bersandar kepada selain Allah, kita akan takut sandarannya hilang. Maka orang-orang yang mandiri cenderung lebih tenang dan lebih tenteram dalam menghadapi hidup ini. Selain dia siap mengarungi, dia juga akan memiliki mental yang mantap. Ingat! Mandiri itu adalah sikap mental

    Lantas dari mana kita mengawali menjadi mandiri? Pertama, mandiri diawali dafi mental. Harus memiliki tekad yang kuat, “Saya harus menjadi manusia terhormat, tidak boleh menjadi benalu!”. Dulu, pernah ada seorang anak kecil yang terseranng demam. Ketika itu dia tidak banyak bicara. Dia ambil gayung dan washlap. Lalu naik ke tempat tidur, menarik selimut, dan mengompres dirinya sendiri. Tiap orang kagum, kecil-kecil sudah mandiri,. Subhanallah, belum juga tamat sekolah sudah dihormati.

    Kisah lain, ada pengalaman pada suatu kesempatan saya berada di Madinah, tepatnya di masjid Nabawi. Saya melihat ada seorang laki-laki tuna netra, telinganya ditutup kapas, dan raut wajahnya sederhana. Dia duduk di atas tikar yang lusuh dan di depannya ada  beberapa botol minyak wangi. Kala itu kami tergerak untuk memberinya sedekah. Namun apa yang terjadi, ia menolak jika diberi uang sebagai sedekah. Ia hanya mau menerima uang jika saya membeli minyak wanginya. Dan itu pun hanya mau menerima setara dengan harga minyak wangi yang dibeli, tidak mau dilebihkan. Subhanallah, sungguh pun memiliki keterbatasan fisik, ternyata beliau pantang meminta-minta.

    Jadi jiwa mandiri ini benar-benar harus ditanamkan sejak kecil. Kita harus mulai merindukan anak-anak kita tumbuh tidak sekedar menjadi pekerja, namun menjadi orang yang mampu menciptakan pekerjaan. Ini penting, karena begitu banyak potensi pada bangsa ini yang tak tergali. Namun ini tentu tidak berarti bahwa mereka yang bekerja pada orang lain tidak mandiri. Para karyawan, buruh, atau pekerja lainnya jelas merupakan sosok yang mandiri. Sebab penekanannya adalah kesungguhan berikhtiar agar tidak menjadi beban orang lain.

    Kedua, kita harus memiliki keberanian mencoba dan memikul resiko. Jadi kemandirian itu hanya milik pemberani. Orang yang bermental mandiri tidak akan menganggap kesulitan sebagai kesulitan, melainkan sebagai tantangan dan peluang. Kalau kita tidak berani mencoba, itulah gagal. Kalau sudah dicoba jatuh. Itu biasa.

    Kegagalan itu tidak pernah terjadi pada orang-orang yang mencoba. Yang gagal itu yang tak pernah mencoba. Bahkan pengalaman bangkrut juga dapat menjadi keuntungan. Artinya, dari kebangkrutan itulah dia akan belajar memperbaiki lagi usahanya, pengalaman itu dapat membuatnya lebih waspada dan lebih semangat agar tidak jatuh pada lubang yang sama. Tidak ada kata gagal dalam bisnis, yang gagal itu yang tidak berani mencoba.

    Kunci ketiga bila ingin mandiri adalah tingkat keyakinan kepada Allah. Kita  harus yakin, Allah yang menciptakan kita, Allah yang memberikan rezeki. Manusia tak mempunyai apa-apa kecuali yang Allah titipkan. Barang siapa serius menggebu untuk taat kepada Allah, Allah berjanji akan diberi jalan keluar dari setiap kesulitannya.

    Saudaraku, di antara kunci menjaga harga diri, marilah kita hindari merasa nikmat mendapatkan sesuatu. Tapi nikmatilah diri kita ketika memberikan sesuatu. Jangan merasa kaya dengan banyak orang yang memberi, tapi merasalah bahagia ketika kita bisa banyak memberi.

    Terakhir, semoga  jerih payah kita membuahkan rezeki yang melimpah, sehingga bisa menolong orang yang membutuhkan. Hendaklah niat kita tidak hanya untuk kepentingan sendiri dan keluarga saja, tetapi saudah melebar untuk kepentingan umat. Subhanallah! Hendaklah kita  tidak termasuk orang-orang yang ragu untuk mewakafkan diri bagi kepentingan agama Allah. “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS Al Fatihah 5-6)

    Wallahu a’lam

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 12 September 2016 Permalink | Balas  

    Implikasi Risywah (Budaya Suap) Di Tengah Masyarakat 

    Implikasi Risywah (Budaya Suap) Di Tengah Masyarakat

    Oleh : Syaikh Abdul Aziz bin Baz

    Pertanyaan.

    Syaikh Abdul Azi bin Baz ditanya : Bagaimana jadinya kondisi suatu masyarakat ketika budaya suap menyebar di tengah mereka.?

    Jawaban.

    Tidak dapat disangkal lagi bahwa munculnya berbagai perbuatan maksiat akan menyebabkan keretakan dalam hubungan masyarakat, terputusnya tali kasih sayang diantara individu-individunya dan timbulnya kebencian, permusuhan serta tidak saling tolong menolong dalam berbuat kebajikan. Di antara impikasi paling buruk dari merajalelanya budaya suap dan perbuatan-perbuatan maksiat lainnya di dalam lingkungan masyarakat adalah muculnya dan tersebarnya prilaku-prilaku nista, lenyapnya prilaku-prilkaku utama (akhlaq yang baik) dan sebagian anggota masyarakat suka menganiaya sebagian yang lainnya. Hal ini sebagai akibat dari pelecehan terhadap hak-hak melalui perbuatan suap, mencuri, khianat, kecurangan di dalam mu’amalat, kesaksian palsu dan jenis-jenis kezhaliman dan perbuatan melampui batas semisalnya.

    Semua jenis-jenis ini adalah tindakan kejahatan yang paling buruk. Ia termasuk salah satu dari sebab-sebab mendapatkan kemurkaan Allah, timbulnya kebencian dan permusuhan antar sesama Muslim dan sebab-sebab terjadinya adzab menyeluruh lainnya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Artinya : Sesungguhnya bila manusia telah melihat kemungkaran lantas tidak mengingkarinya, maka telah dekatklah Allah meratakan adzabNya terhadap mereka”

    [Hadits Riwayat Imam Ahmad (1,17,30,54) dengan sanad Shahih dari Abu Bakar As-Shidiq Radhiyallahu ‘anhu, dan Abu Daud, kitab Al-Malahim (4338), At-Tirmidzi, kitab At-Tafsir (3057) dan Ibnu Majah, kitab Al-Fitan (4005) semisalnya]

    [Kitab Ad-Da’wah dari fatwa Syaikh Ibnu Baz]

    [Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, hal 3 Darul Haq]

    Sumber” almanhaj.or.id

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 11 September 2016 Permalink | Balas  

    Hukum Syari’at Terhadap Suap 

    korupsiHukum Syari’at Terhadap Suap

    Oleh: Syaikh Abdul Aziz bin Baz

    Pertanyaan.

    Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Apa hukum syari’at terhadap risywah (suap) ?

    Jawaban.

    Risywah (suap) haram hukumnya berdasarkan nash (teks syari’at) dan ijma’ (kesepakatan para ulama). Ia adalah sesuatu yang diberikan kepada seorang Hakim dan selainnya untuk melencengkan dari al-haq dan memberikan putusan yang berpihak kepada pemberinya sesuai dengan keinginan nafsunya.

    Dalam hal ini, terdapat hadits yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau : “Artinya : Melaknat penyuap dan orang yang disuap” [Hadits Riwayat Abu Dawud, kitab Al-Aqdiiyah 3580, At-Tirmidzi, kitab Al-Ahkam 1337 dan Ibnu Majah, kitab Al-Ahkam 2313]

    Terdapat riwayat yang lain, bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat Ar-Ra’isy juga [1]. Yakni, perantara antara keduanya. Dan, tidak dapat diragukan lagi bahwa dia berdosa dan berhak mendapatkan cacian, celaan dan siksaan karena membantu di dalam melakukan perbuatan dosa dan melampui batas, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertawaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya” [Al-Ma’idah : 2]

    [Kitab Ad-Da’wah, Juz I ,hal 156 dari Fatwa Syaikh Ibn Baz]

    [Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, hal 5-6 Darul Haq]

    ***

    Foote Note.

    [1] Hadits Riwayat Ahmad 21893, Al-Bazzar 1353, Ath-Thabrani di dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 1415, Al-Haitsamiy berkata di dalam Majma’ Az-Zawa’id (IV : 199), “Di dalam riwayat tersebut terdapat Abul Haththab, seorang yang tidak diketahui identitasnya (anonym)”.

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 10 September 2016 Permalink | Balas  

    Jejak Sejarah : Gua Hira dan Nuzulul Qur’an 

    gua hiroJejak Sejarah : Gua Hira dan Nuzulul Qur’an

    Gua Hira-Jabal Nur termasuk obyek wisata di Mekah. Gua ini sangat terkenal dalam sejarah Islam, karena di dalam gua itulah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wasallam diangkat menjadi rasul, di situ pula turunnya ayat Al-Qur’an yang pertama [Al ‘Alaq 1-5]. Gua kecil ini terletak di puncak gunung Jabal Nur, di bagian utara Mekah, sekitar 5 km dari Masjidil-Haram, di sebelah kiri perjalanan menuju Arafah. Tinggi puncak Jabal Nur sekitar 200 m. Bentuk gunung ini terlihat berdiri tajam. Disekelilingnya terdapat sejumlah gunung, bukit batu dan jurang.

    Bentuk Gua Hira agak memanjang, terletak di belakang 2 batu raksasa yang sangat dalam dan sempit, tidak dapat dilalui lebih dari satu orang. Di dalam gua hanya bisa didiami sekitar 5 orang saja, dan sekedar cukup untuk tidur 3 orang berdampingan. Tinggi gua hanya sebatas orang berdiri, atau sekitar 2 meter. Seandainya tidak ada bangunan yang tinggi di Masjidil-Haram, dari mulut gua bagian belakang dapat dilihat Ka’bah (Masjidil Haram). Meskipun dalam syariat berhaji tidak ditemukan perintah untuk mendatangi Gua Hira, namun pada musim haji banyak jamaah haji menyempatkan diri untuk naik ke Jabal Nur, menyaksikan Gua Hira. Di kawasan gunung ini tidak ditemui tanaman sedikitpun juga. Gersang. Hanya terdiri dari batu-batu besar. Mendaki puncak Gua Hira membutuhkan waktu paling tidak 2 jam. Keadaan di puncaknya sangat sunyi dan senyap hingga terasa menakutkan.

    Beberapa tahun sebelum dan setelah menikah dengan Khadijah binti Khuwalid, Rasulullah telah menjadikan Gua Hira sebagai tempat menyepi untuk ber tafakur, mengasingkan diri dari berbagai kerusakan moral penduduk Mekah. Selama itu Beliau juga bekerja membantu para jamaah haji yang datang ke Ka’bah dengan menyediakan air minum buat mereka. Namun Beliau tidak pernah beribadah menurut kepercayaan orang Arab kala itu, menyembah berhala yang ada di Ka’bah. Rasulullah sering memisahkan diri dari keramaian untuk menemukan jalan keluar- cara agar masyarakat tidak menyembah berhala.

    Di gua ini menjelang usia 40, Rasulullah yang selalu bertafakur, beribadah menurut agama Ibrahim selama berjam-jam bahkan berhari-hari hanya dengan membawa bekal makan dan minum secukupnya. Beliau pulang hanya untuk mengambil perbekalan dan kembali lagi ke gua. Sepanjang bulan Ramadhan digunakan Beliau untuk beribadah. Pada malam 17 Ramadhan 41H atau 6 Agustus 610, Beliau melihat “cahaya” terang benderang memenuhi ruangan gua. Tiba-tiba Malaikat Jibril muncul dihadapan Beliau menyampaikan wahyu Allah Yang Maha Tinggi, yang pertama, Al ‘Alaq (1-5) Setelah itu dengan perasaan takut dan gelisah, Beliau bergegas pulang dan berkata pada Khadijah : “Selimutilah Aku, selimutilah Aku.” Khadijah menyelimuti dan mendampingi Beliau hingga hilang rasa takutnya. Setelah mendengar kisah yang sangat ganjil dialami suaminya di Gua Hira, Khadijah segera menemui Waraqah bin Naufal, anak paman Khadijah, seorang pemeluk agama Nasrani di jaman Jahiliyah. Waraqah pandai menulis kitab Injil dengan bahasa Ibrani. Melalui dia, Muhammad tahu bawa Dirinya akan diangkat menjadi Nabi dan Rasul sebagaimana Nabi Musa, menerima wahyu Allah Yang Maha Tinggi melalui Jibril.

    Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wasallam ketika itu berusia sekitar 40 tahun. Beliau telah dipilih Allah Yang Maha Tinggi sebagai Rasul. Rasul terakhir yang membawa manusia dari alam kegelapan ke alam yang terang benderang.

     

    Kiriman Sahabat Meilany

     
  • erva kurniawan 2:18 am on 9 September 2016 Permalink | Balas  

    Prasangka Baik 

    prasangkaPrasangka Baik

    Ulasan Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi

    Duhai… alangkah indahnya husnuzhzhon (prasangka baik). Dengan prasangka baik kita bisa menangkap asrôr (rahasia-rahasia) makhluk tanpa mereka sadari. Namun kini ikatan (rowâbith) telah lepas, dan kita hanya memandang basyariah (sisi lahiriah) saja. Jika seseorang melihat orang lain melakukan maksiat, ia lalu berprasangka buruk kepadanya. Serahkanlah urusan makhluk kepada Kholiq (Allah), jika mau Dia akan menyiksanya; jika mau Dia akan mengampuninya.

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain syirik, bagi siapa pun yang Dia kehendaki.” (QS An-Nisa, 4:48)

    Bisa jadi dia termasuk orang yang diampuni Allah sesuai kehendak-Nya. Syeikh Ibn Arabi berkata, “Andaikata aku melihat seseorang bermaksiat kepada Allah, kemudian dia menghilang sejenak dari pandanganku, aku akan meyakini bahwa ia seorang wali Allah. Sebab, mungkin ia telah bertobat, dan Allah kemudian menerima tobatnya dan memilihnya.”

    Tidak ada seorang pun dapat mencegah Allah membuka pintu pengampunan. Allah selalu membuka pintu pengampunan lebar-lebar untuk manusia. Seseorang boleh jadi kafir, tapi sesaat kemudian telah jadi wali. Berprasangka baiklah kepada manusia. Jika kau ingin meneliti, maka telitilah dirimu sendiri. Curigailah dirimu sendiri, meskipun ia sedang berbuat ketaatan.

    Waspadailah tipu muslihat, yang ditimbulkan rasa lapar dan kenyang. Boleh jadi perut yang lapar, lebih buruk dari yang kenyang.

    Pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.

    Ya Allah, tunjukkanlah aku kepada sebaik-baik akhlak, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat menunjukkkan kepada sebaik-baik akhlak selain Engkau. Dan singkirkan dariku akhlak yang tercela, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat menyingkirkannya dariku selain Engkau.

    Dikatakan bahwa tasawuf adalah akhlak. Barang siapa mengunggulimu dalam akhlak, maka ia telah mengunggulimu dalam tasawuf. Ibrahim bin Adham berkata, “Aku tidak pernah merasakan kebahagiaan sepanjang hidupku seperti dalam dua kejadian ini:

    Pertama, sewaktu aku menumpang perahu dan seluruh penumpang menjadikanku sebagai bahan olok-olok mereka. Dalam pandangan mereka aku sangat hina.

    Aku lalu mengucapkan Alhamdulillâh.

    Kedua, ketika aku sedang berbaring, tiba-tiba datang seekor anjing mengencingiku.”

    Kita diterpa kemerosotan akhlak, dan penyebabnya adalah nafs yang sangat kuat. Semoga Allah mensucikan nafs kita. Sungguh beruntung orang yang mensucikan (jiwa)-nya dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.(QS Asy-Samsy, 91:9-10)

    Para ulama tidak menuliskan contoh-contoh akhlak mulia, kecuali untuk diamalkan. Perangilah nafs-mu sekuat tenaga agar dapat berperilaku dengan akhlak As-Sayidul Ma’shûm (Nabi saw). Kita butuh obat, karena penyakit telah terlalu banyak.

    Wahai Penyembuh, sembuhkanlah. Wahai Yang memperbaiki, perbaikilah. (L:315)

    (Sekilas tentang Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, Putera Riyadi)

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 8 September 2016 Permalink | Balas  

    Memandang Sisi yang Baik 

    amalan baikMemandang Sisi yang Baik

    Ulasan Al-Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr Al-Jufri

    Seorang hamba dituntut untuk meminta kepada Tuhannya agar dapat melihat kebaikan-kebaikan para makhluk-Nya, juga agar dapat menutupi aib-aib mereka.

    Jika ia telah menyaksikan kebaikan-kebaikan mereka, maka ia akan berprasangka baik (husnuddhon) kepada mereka. Jika ternyata ia belum melaksanakan kebajikan yang telah mereka lakukan , maka hendaknya ia berusaha dengan sungguh-sungguh, dan bertawajjuh kepada Allah agar Ia menganugerahkan kebaikan-kebaikan itu kepadanya, karena ia tidak akan memperoleh apa pun kecuali dengan pertolongan Tuhannya. Dengan berbuat demikian, Allah akan memudahkan dan menyampaikannya pada kebaikan tersebut. Karena barang siapa memohon pertolongan kepada Allah,niscaya ia akan diberi petunjuk ke jalan yang lurus.

    “Kalian semua sesat kecuali yang telah Kuberi petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku, nanti Aku akan memberi petunjuk kepada.” (HR Muslim, Turmudzi, Ibnu Majah, Ahmad, baihaqi dan Darimi)

    Jika kebaikan yang ia miliki ternyata lebih baik dan lebih sempurna, maka hendaknya ia meminta agar Allah menambah kebaikannya, bersyukur atas taufik yang diberikan Allah kepadanya, dan bersyukur karena Allah telah mengkhususkannya untuk memperoleh kebaikan itu. Jika ia berbuat demikian, ia akan memperoleh kebaikan tambahan.

    Jangan sampai kebaikan itu membuatnya merasa ujub (berbangga diri). Jangan sampai ia memandang dirinya lebih baik dari yang lain, jangan sampai karunia yang diberikan Allah kepadanya menimbulkan perasaan sombong. Karena, sesungguhnya dirinya dan juga orang lain berada dalam tawanan kekuasaan dan kehendak Allah. Ia seharusnya merasa takut jika suatu waktu Allah mencabut kebaikan-kebaikannya kemudian memberikannya kepada orang-orang lain, dan sebagai gantinya, ia melaksanakan keburukan-keburukan mereka.

    Jika Allah menunjukkan keburukan seseorang, maka ia dituntut untuk berakhlak dengan akhlak Tuhannya Yang Maha Pengasih, yakni mengasihi mereka dan menutupi aib-aibnya. Karena sesungguhnya keburukan yang Allah tampakkan adalah rahasia yang dipercayakan Allah kepadanya dengan tujuan agar ia dapat menyimpan rahasia itu, kemudian dengan penuh kasih sayang dan lemah lembut memberikan nasihat kepada orang itu, atau melalui sindiran, atau dengan cara lain yang baik sebagaimana teguran Rasulullah SAW kepada para sahabatnya:

    “Mengapa sekelompok orang berbuat demikian, hendaknya mereka menghentikan perbuatannya.” (C:13)

    (Salatnya Para Wali, Nûrun Lil Qulûb Yudhî`, Putera Riyadi)

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 7 September 2016 Permalink | Balas  

    Memahami Hawa Nafsu 

    amalan baikMemahami Hawa Nafsu

    Ulasan Al-Habib Muhammad bin Abdullah bin Syeikh Alaydrus

    Ketika seorang hamba melihat dengan akalnya tanpa terpengaruh oleh hawa, maka segala sesuatu akan tampak sebagaimana hakikatnya. Namun jarang yang dapat melihat dengan cara demikian, karena hawa terlalu menguasai nafs, dan nafs sangat sulit untuk melepaskan diri dari kekuasaan hawa. Bahkan karena demikian tersembunyi dan sulit dipahami, maka manusia tidak dapat merasakan kehadiran hawa. Hanya orang-orang yang berakal unggul (superior) yang dapat mengetahui keberadaan hawa dalam nafs-nya.

    Hawa adalah makanan nafs. Hal ini membuat nafs sangat bergantung dan sulit melepaskan diri dari cengkeraman hawa. Oleh karena itu, jauhilah hawa dan bebaskanlah nafs-mu darinya. Sebab, hawa akan menodai agama dan murûah -mu, sebagaimana dikatakan dalam syair:

    Jika kau ikuti hawa, ia akan menuntunmu menuju semua perbuatan yang tercela bagimu.

    Jika kamu perhatikan dan beda-bedakan semua peristiwa yang terjadi, maka akan kamu temukan bahwa hawa-lah yang menjadi sumber segala fitnah dan bencana dalam peristiwa-peristiwa itu. Karena, hawa merupakan sumber kebatilan dan kesesatan. Hawa bak minuman memabukkan. Seseorang yang meneguknya akan dikuasai oleh minuman itu, dan akan hilang akal sehatnya. Oleh karena itu, seorang yang pandai harus menyadari hal ini dan berusaha mematikan hawa-nya dengan mujâhadah dan mukhôlafah (penentangan).

    Hakikat hawa adalah kecenderungan pada sesuatu yang batil. Hawa adalah perilaku dan tabiat nafs. Semua kecenderungan nafs pada kebatilan disebut hawa.

    Hawa terbagi dua:

    Pertama, ajakan-ajakan syahwat yang terdapat dalam diri seseorang, misalnya berbagai hal di atas, yang menipu dan menguasai nafs serta diperebutkan oleh manusia. Ajakan-ajakan syahwat tersebut hina dan buruk, karena itulah orang-orang yang memiliki murûah menjauhinya demi menjaga agama, menyucikan murûah, melindungi kehormatan, dan menjaga akal mereka. Orang-orang berakal, jika menghadapi tipu daya hawa dan penentangan nafsu, mereka tetap kokoh, tidak goyah.

    Mereka mempertimbangkan akibatnya dengan hati-hati dan tidak gegabah. Lain halnya dengan orang-orang yang akal dan jiwanya lemah, mereka akan dikuasai nafs hingga tak dapat berkutik. Hawa akan menjerumuskan mereka ke dalam perbuatan-perbuatan yang buruk dan tercela.

    Namun karena hatinya telah buta, hanyut dimabuk hawa, mereka tidak menyadari berbagai keburukan yang telah dilakukannya.

    Kedua, hawa yang timbul ketika seseorang marah (ghodhob). Hawa jenis ini merupakan jenis hawa yang paling buruk. Sebab hawa yang timbul ketika seseorang sedang marah (ghodhob) bersifat memaksa dan sulit diajak kompromi. Hanya kaum ksatria (abthôl), orang-orang yang berakal sehatlah yang mampu mengetahui keberadaan hawa ini.

    Jenis hawa yang lain adalah (perasaan) yang timbul ketika seseorang bersikap sombong (kibr) dan congkak. Jenis hawa ini juga buruk, merusak agama dan menghancurkan amal. Namun pengaruh buruknya lebih ringan dibandingkan dengan hawa yang timbul ketika marah. Hawa yang timbul ketika marah menggoncangkan nafs dan menghilangkan akal sehatnya. Nafs menjadi bodoh.

    Ketahuilah, marah adalah jenis hawa yang paling berat. Para abdâl pilihan memperoleh kedudukan di sisi Allah karena mereka benar-benar menjauhi semua jenis hawa. Sebab, semua jenis hawa adalah buruk. Para ashâbul Haq Ta’âlâ selalu berpijak pada kebenaran. Sebab, kebenaran adalah lawan kebatilan.

    Mereka sadar bahwa seberapa besar mereka mendekati hawa, maka sebesar itu pula mereka menjadi jauh dari Allah. Karena itu dalam semua perilakunya (makan, tidur, berbicara, dan lain-lain) mereka hanya melakukannya sebatas kebutuhan (dharûri) saja. Dalam pandangan mereka segala sesuatu yang melebihi batas kebutuhan merupakan bagian dari hawa.

    (Memahami Hawa Nafsu, Îdhôhu Asrôri ‘Ulûmil Muqorrobîn, Putera Riyadi)

    Catatan:

    Muruah: Usaha seseorang untuk melaksanakan semua hal yang dianggap baik oleh masyarakat dan menjauhi semua hal yang dianggap buruk olehnya, misalnya duduk-duduk di pinggir jalan, dll.

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 6 September 2016 Permalink | Balas  

    Penjelasan Zakat Atas Gaji / Penghasilan 

    zakatPenjelasan Zakat Atas Gaji / Penghasilan

    Assalamu’alaikum wr.wb

    Berikut ini penjelasan tentang zakat gaji/penghasilan dari profesi

    (Dari Buku Panduan Zakat Praktis karya Drs. H. Hasan Rifa’i Al Faridly-Dewan Syariah Dompet Dhuafa Republika)

    Dasar hukum :

    Firman Allah SWT :

    ‘Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian’ (Q.S. Adz-Dzariyat : 19)

    ‘…………..Dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya ……..’ (Q.S. Al Hadid : 7)

    ‘Wahai orang-orang yang beriman, infaqkanlah (zakat) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik ……..’ (Q.S. Al Baqarah : 267)

    Hadits Nabi SAW :

    Bila suatu kaum enggan mengeluarkan zakat, Allah akan menguji mereka dengan kekeringan dan kelaparan (H.R. Thabrani)

    Hasil Profesi :

    Hasil profesi (pegawai negeri, pegawai swasta, konsultan, dokter, notaris dll) merupakan sumber pendapatan (kasab) yang tidak banyak dikenal di masa salaf (generasi terdahulu-jaman Rasulullah). Oleh karenanya bentuk kasab ini tidak banyak dibahas, khususnya yang berkaitan dengan zakat. Lain halnya dengan bentuk kasab yang lebih populer saat itu, seperti pertanian, peternakan dan perniagaan yang mendapat porsi pembahasan yang sangat  memadai dan detail.

    Meskipun demikian bukan berarti harta yang didapat dari hasil profesi tersebut bebas dari zakat, sebab zakat pada hakekatnya adalah pungutan harta yang diambil dari orang-orang kaya untuk dibagikan kepada orang-orang miskin di antara mereka (sesuai dengan ketentuan syara’/syariat). Dengan dmeikian apabila seseorang dengan hasil profesinya ia menjadi kaya, maka wajib atas kekayaannya itu zakat.

    Akan tetapi jika hasilnya tidak mencukupi kebutuhan hidup (dan keluarga) nya, maka ia menjadi mustahiq (orang yang menerima zakat), sedang jika hasilnya sekedar untuk menutupi kebutuhan hidupnya, atau lebih sedikit, maka bagiannya tidak wajib zakat.

    Kebutuhan hidup yang dimaksud adalah kebutuhan pokok, yaitu pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan dan biaya yang diperlukan untuk menjalankan profesinya.

    Ketentuan Zakat Penghasilan (Profesi) :

    Zakat profesi memang tidak dikenal dalam khasanah keilmuan Islam, sedangkan hasil profesi yang berupa harta dikategorikan berdasarkan qiyas/analogi atas kemiripan (syabbah) terhadap karakteristik harta zakat yang ada, yaitu :

    1. Model memperoleh harta penghasilan/profesi mirip dengan panen (hasil pertanian), sehingga harta ini dapat diqiyaskan ke dalam zakat pertanian berdasarkan nishab (653 kg gabah kering giling atau setara dengan 552 kg beras) dan waktu pengeluaran zakatnya (setiap kali panen – untuk zakat penghasilan setiap terima gaji bulanan atau disetahunkan).
    2. Model harta yang diterima sebagai penghasilan berupa uang, sehingga harta ini dapat dianalogikan ke dalam zakat harta (kelompok harta simpanan/kekayaan wajib zakat berupa uang simpanan, emas, perak, surat berharga) berdasarkan kadar zakat yang harus dibayarkan (2,5%). Dengan demikian hasil profesi/gaji seseorang jika telah memenuhi ketentuan wajib zakat, maka wajib baginya untuk menunaikan zakat.

    Hikmah Zakat :

    Zakat merupakan ibadah yang memiliki dimensi ganda, transendental dan horisontal. Oleh sebab itu, zakat memiliki banyak arti dalam kehidupan umat manusia, terutama umat Islam. Zakat memiliki banyak hikmah, baik yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhannya, maupun hubungan sosial kemasyarakatan di antara manusia, yaitu :

    1. Menolong, membantu, membina dan membangun kaum dhuafa dan lemah papa, untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya. Dengan kondisi tersebut mereka akan mampu melaksanakan kewajiban-kewajibannya terhadap Allah SWT.
    2. Memberantas penyakit iri hati, rasa benci dan dengki dari diri manusia yang biasa timbul di kala ia melihat orang-orang di sekitarnya berkehidupan cukup, jika mewah. Sedang ia sendiri tak punya apa-apa dan tidak ada uluran tangan dari mereka (orang kaya) kepadanya.
    3. Dapat mensucikan diri (pribadi) dari kotoran dosa, memurnikan jiwa (menumbuhkan akhlaq mulia, menjadi murah hati, memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi) dan mengikis sifat bakhil (kikir) dan serakah yang menjadi tabiat manusia sehingga dapat merasakan ketenangan batin karena terbebas dari tuntutan Allah dan tuntutan kewajiban kemasyarakatan.
    4. Dapat menunjang terwujudnya sistem kemasyarakatan Islam yang berdiri di atas prinsip-prinsip : Ummatan Wahidan (umat yang satu), Musawah (persamaan derajat, hak dan kewajiban), Ukhuwah Islamiyah (Persaudaraan Islam) dan Takaful Ijtimai (tanggung jawab bersama).
    5. Menjadi unsur penting dalam mewujudkan keseimbangan dalam distribusi harta (social distribution), kesimbangan dalam kepemilikan harta (social ownership) dan keseimbangan tanggung jawab individu dalam masyarakat.
    6. Zakat adalah ibadah maaliyah yang mempunyai dimensi dan fungsi ekonomi atau pemerataan karunia Allah dan merupakan perwujudan solidaritas sosial, pembuktian persaudaraan Islam, pengikat persaudaraan umat dan bangsa sebagai penghubung antara golongan kuat dan lemah.
    7. Dapat mewujudkan tatanan masyarakat yang sejahtera dimana hubungan seorang dengan lainnya rukun, damai dan harmonis yang dapat menciptakan situasi yang tenteram dan aman lahir dan batin. Dalam masyarakat seperti itu akan tumbuh lagi bahaya komunisme (Atheis) dan paham atau ajaran yang sesat dan menyesatkan. Sebab, dengan dimensi dan fungsi ganda zakat, persoalan yang dihadapi kapitalisme sudah dijawab. Akhirnya sesuai janji Allah, akan tercipta sebuah masyarakat baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur.

    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    Jazakumullah Khairan Katsiran

    Fendy

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 5 September 2016 Permalink | Balas  

    Isa anak Allah? (Bagian 2) 

    nasehat-quran1Isa anak Allah?

    A=Muslim B=Kristen

    Malam 2.

    Yesus Adalah Utusan (Rasul) Tuhan

    A: Sebagaimana kita telah rembuk kemarin malam, apakah akan dilanjutkan juga musyawarah kita ini?

    B: Memang demikian, karena kedatangan kami kemari khususnya untuk melanjutkan pertemuan kita kemarin malam.

    A: Kalau tidak khilaf, pembicaraan kita masih berkisar dalam soal ketuhanan Yesus dalam Bibel.

    B: Betul begitu. Kemarin malam saya mengharapkan agar Bapak menunjukkan ayat-ayat dalam Kitab Injil apakah Yesus itu Tuhan atau bukan.

    A: Kemarin malam telah saya tunjukkan. Agar berurutan sebaiknya kita ulangi lagi ayat-ayat Injil tersebut, lalu akan saya tunjukkan lagi ayat-ayatnya yang lain, setujukah Saudara pendapat saya ini?

    B: Memang sebaiknya begitu, agar berurutan dan bertambah jelas, baiklah diulangi lagi.

    A: Silahkan Buka Matius pasal 1 ayat 16.

    B: Baik, dalam pasal dan ayat tersebut menyebutkan: “Dan Yakub memperanakkan Yusuf, yaitu suami Maria ialah yang melahirkan Yesus, yang disebut Kristus”.

    A: Di sini jelas, ayat ini menyebutkan sendiri, bahwa Yesus diperanakkan oleh Maria. Jadi Yesus adalah anak manusia, bukan anak Tuhan, sebagaimana telah saya terangkan dalam pertemuan pertama. Makna: “Yesus” dan “Kristus”

    B: Ya, pada pertemuan pertama Bapak telah terangkan dan saya telah mengerti. Menurut pendapat Bapak, apakah sebenarnya yang dimaksudkan dengan kata: “Yesus dan Kristus”.

    A: Apakah Saudara belum mengetahui arti daripada dua buah kata tersebut?

    B: Saya mengerti. Tetapi hanya untuk mencocokkan saja dengan penafsiran Bapak.

    A: Baik, Yesus adalah bahasa Yunani, yang berarti: “Melepaskan”, melepaskan manusia daripada dosa.

    B: Dari manakah adanya keterangan bahwa Yesus itu berarti melepaskan dosa?

    A: Sebetulnya susunan pertanyaan itu timbul dari saya. Tetapi saya mengerti mungkin Saudara akan menguji saya tentang Injil, walaupun begitu saya penuhi juga pengharapan Saudara. Silahkan periksa di Matius pasal 1 ayat 21.

    B: Di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Maka ia akan beranakkan seorang anak laki-laki, dan hendaklah engkau namakan Dia, Yesus, karena ialah yang akan melepaskan kaumnya daripada segala dosanya”.

    A: Itulah ayatnya, Arti Kristus ialah Almasih, Sang Sabda, Adil, Ratu Salem dan ada beberapa lagi artinya yang lain: Kata Almasih dalam Injil bahasa Inggris disebut: “Christ the Lord” di dalam Injil bahasa Arab disebut: “Almasih Ar-Robb”. Kata “Lord dan Robb” artinya tuanku, paduka tuan, dan ada juga dengan arti Tuhan, dan lain-lain lagi. Akan tetapi karena Yesus sendiri mengaku bahwa ia bukan Tuhan melainkan utusanNya bagaimana tersebut dalam Kitab Injil Johanes pasal 17 ayat 23, dan ia diperanakkan oleh manusia, sebagaimana tersebut dalam Injil Matius pasal 1 ayat 16 dan 21, malah ia sendiri yang berkata dan mengakui bahwa Tuhan itu Esa (Tunggal), sebagaimana disebutkan dalam Injil Markus, pasal 12 ayat 29 dan di ayat-ayat Injil yang lain-lain, maka berdasarkan pengakuan Yesus itu, jelas Yesus itu bukan Tuhan dan bukan anak Tuhan.

    B: Benar yang Bapak maksudkan itu.

    Sekali lagi: Tuhan itu Esa (Tunggal)

    A: Selanjutnya harap periksa lagi di Markus pasal 12 ayat 29.

    B: Di sini menyebutkan: “Maka jawab Yesus kepadanya: “Hukum yang terutama inilah: dengarlah olehmu hai Israil, adapun Allah Tuhan Kita, ialah Tuhan Yang Esa”.

    A: Jelas bahwa Tuhan itu Esa, artinya satu, Tunggal, jadi Yesus bukan Tuhan sebagaimana telah saya terangkan.

    B: Ya, sudah Bapak terangkan kemarin malam.

    A: Periksa lagi Ulangan pasal 4 ayat 35.

    B: Di sini menyebutkan: “Maka kepadamulah Ia itu ditunjuk, supaya diketahui olehmu bahwa Tuhan itu Allah, dan kecuali Tuhan yang Esa tiadalah yang lain lagi”.

    A: Kitab Injil Saudara sendiri yang menyebutkan dan Yesus sendiri yang menyampaikan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah yang Esa. Jadi tegas sekali Yesus sendiri tidak mengaku menjadi Tuhan. Ini pun telah saya terangkan pada pertemuan kita kemarin malam.

    B: Ya, saya sudah mengerti dan menerimanya.

    A: Periksa lagi di Ulangan pasal 6 ayat 4.

    B: Di Ulangan pasal dan ayat tersebut menyebutkan demikian: “Dengarlah olehmu hai Israil! Sesungguhnya Hua Allah kita, Hua itu Esa adanya”.

    A: Jelas di Kitab Injil sendiri menyebutkan Allah itu Esa, Tunggal. Yesus telah mengakui sendiri bahwa dia bukan Tuhan. Bagaimana pendapat Saudara? Kaum Kristen mengatakan Yesus itu Tuhan, sedangkan Yesus sendiri menolak disebut dirinya Tuhan.

    B: Ya, saya tidak mengerti dan tambah bingung.

    A: Biarlah tidak apa-apa. Marilah kita teruskan lagi. Periksa di Matius pasal 27 ayat 1.

    B: Baik, di sini menyebutkan: “Setelah hari siang, maka segala kepala iman dan orang tua-tua kaumpun berundinglah atas hal Yesus, supaya dibunuh Dia”.

    A: Kalau betul Yesus itu Tuhan, mustahil ada manusia merencanakan untuk membunuh Dia. Silahkan buka lagi di Matius pasal 26 ayat 38.

    B: Di ayat ini ada menyebutkan: “Kemudian kata Yesus kepada mereka itu: “Hatiku amat sangat berdukacita, hampir mati rasaku; tinggallah kamu di sini dan berjagalah sertaku”.

    A: Di ayat ini menyebutkan bahwa Yesus amat sangat berduka cita pantaskah ada Tuhan berduka cita? Ini menunjukkan bahwa Yesus bukan Tuhan. Periksa lagi di Lukas pasal 2 ayat 11.

    B: Baik di ayat ini menyebutkan: “Sebab pada hari ini sudah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus Tuhan itu di dalam negeri Daud”.

    A: Wajarkah Tuhan dilahirkan oleh manusia (Maria)? Terus periksa di Johanes pasal 5 ayat 30. Tuhan Tidak Berkuasa Berbuat Sekehendaknya?

    B: Baik, di sini menyebutkan: “Maka aku tidak boleh berbuat satu apa dari mauku sendiri, seperti aku dengar begitu aku hukumkan, dan hukumku itu adil adanya, karena tidak aku coba turut mauku sendiri, melainkan maunya Bapa yang sudah mengutus aku”.

    A: Ayat itu Yesus sendiri yang berkata bahwa ia tidak berkuasa berbuat sekehendaknya. Wajarkah Tuhan tidak berkuasa berbuat sekehendaknya? Di ayat itu pun Yesus mengaku sendiri bahwa kehendaknya itu menurut kehendak Tuhan yang mengutus dia. Kalau Yesus betul Tuhan, tentu tidak dapat diperintah oleh siapa pun. Di ayat ini juga Yesus mengaku, bahwa dia bukan Tuhan melainkan diutus oleh Tuhan. Yang diutus itu tentu bukan Tuhan.

    B: Kalau berdasarkan ayat tersebut, memang benar keterangan Bapak.

    A: Kalau begitu jelas bahwa: 1. Yesus datang ke dunia ini bukan kemauannya sendiri tetapi utusan Tuhan atas kehendak Tuhan, sebagaimana juga Tuhan telah mengutus nabi-nabi dan rasul-rasul yang lain. 2. Yesus menghidupkan orang mati bukan maunya sendiri melainkan atas kehendak Tuhan, sebagaimana juga Ilyas [Ilyas = Elisa, pent.] dapat menghidupkan orang mati. 3. Yesus dapat menyembuhkan penyakit kusta (lepra), bukan kehendaknya sendiri, melainkan atas kehendak Tuhan sebagaimana Ilyas dapat menyembuhkan penyakit lepra.

    Keterangan saya ini berdasarkan pengakuan Yesus sendiri di ayat tadi bahwa “tidak aku coba mauku sendiri, melainkan maunya Bapa yang sudah mengutus Aku”.

    Apakah Saudara memerlukan lagi ayat-ayat Bibel yang menerangkan pengakuan Yesus sendiri bahwa Ia bukan Tuhan?

    B: Buat saya masih memerlukan lagi, bukankah telah saya sampaikan kepada Bapak, bahwa saya ingin mencari kepuasan dalam meneliti ajaran-ajaran agama, terutama dalam hal Ketuhanan yang hakiki. Tetapi saya ingin bertanya, dan maaf sebelumnya, bagaimanakah Bapak bisa hafal di luar kepala tentang ayat-ayat Bibel, dan keistimewaan Bapak ini saya merasa kagum.

    A: Itu adalah petunjuk Tuhan. Alhamdulillah saya memang mempelajari bermacam agama, akhirnya saya bertambah yakin akan kebenaran agama Islam. Kalau Saudara merasa kagum kepada saya, maka saya pun lebih merasa kagum lagi kepada Saudara selaku pemeluk agama Kristen berhasrat meneliti ajaran-ajaran agamanya. Juga dengan bantuan Bapak Markam ini. Baiklah kita lanjutkan, periksa lagi di Ulangan pasal 4 ayat 39. “Laa ilaaha illa Allaah” = “Tidak ada Tuhan melainkan Allah” dalam Bible

    B: Baik, di pasal dan ayat ini disebutkan sebagai berikut: “Maka sekarang ketahuilah olehmu dan perhatikanlah ini baik-baik, bahwa Tuhan itulah Allah, baik di langit yang di atas, baik di bumi yang di bawah, dan kecuali Ia tiadalah lain lagi.”

    A: Tegas sekali, di Kitab Injil sendiri yang menyebutkan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan Yesus sendiri pula yang berkata bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. Jadi Yesus pun bukan Tuhan. Ayat ini tentu tidak dapat diputar-putar lagi. Kalau ada penganut agama Kristen mengakui Yesus itu Tuhan, maka pengakuannya bertentangan dengan kitab sucinya sendiri, dan bertentangan pula dengan ajaran Yesus.

    B: Tetapi dalam Injil Johanes pasal 10 ayat 38 ada menyebutkan: “Supaya kamu dapat tahu dan percaya, yang Bapa ada di dalam aku, dan aku ada di dalam Bapa”. Ayat ini menunjukkan bahwa Yesus di dalam Tuhan dan Tuhan di dalam Yesus, maksudnya Tuhan dan Yesus itu satu adanya atau singkatnya bahwa Yesus pun Tuhan. Juga dalam Johanes pasal 14 ayat 11 ada menyebutkan: “Percayalah yang aku ini dalam Bapa, dan Bapa dalam aku”.

    A: Kalau Saudara berpegang dengan ayat tersebut, bahwa Yesus itu Tuhan, maka Saudara harus mengakui juga bahwa Tuhan itu Yesus dan Yesus itu Tuhan.

    B: Tidak demikian, tetapi Yesus dan Tuhan itu satu.

    A: Kalau begitu, saya ingin bertanya: “Di ayat itu ada dua rangkaian kata ialah “Yesus dan Tuhan”. Siapakah yang lebih berkuasa di antara keduanya. Tuhan Bapakah atau Yesus?

    B: Tentu Tuhan Bapa. “Bapaku itu lebih dari aku … “, ” … Dia yang MENGUTUS aku” Yesus adalah UTUSAN (RASUL) Allah

    A: Kalau masih ada yang lebih berkuasa dari Yesus, maka Yesus tentu bukan Tuhan, lebih jelas periksa di Injil Johanes pasal 14 ayat 28.

    B: Baik, di ayat ini ada menyebutkan: “Kamu sudah dengar aku bilang, yang aku pergi serta datang kembali sama kamu. Coba kamu cinta sama aku, hati, sebab aku sudah bilang: “Yang aku pergi sama Bapa, karena Bapaku itu lebih dari aku”.

    [Karena kalimat di atas agak membingungkan, berikut adalah kutipan dari “Al-Kitab

    Terjemahan Baru”, pent.] [“Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapaku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.”]

    [dan versi “Al-Kitab Terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari”, pent.: Kalian sudah mendengar Aku berkata, ‘Aku akan pergi, tetapi Aku akan datang kembali kepadamu’. Kalau kalian mengasihi Aku, kalian akan senang Aku pergi kepada Bapa, sebab Bapa lebih besar daripadaku.]

    A: Di ayat ini Yesus sendiri mengatakan: “Bapaku itu lebih dari aku”, ini menunjukkan bahwa, kalau Yesus itu Tuhan, maka ialah Tuhan yang tidak sempurna, oleh karena masih ada yang melebihi tingkatnya. Yang tidak sempurna itu tentu bukan Tuhan. Harap Saudara periksa lagi di Injil Johanes pasal 12 ayat 45.

    B: Baik, di pasal dan ayat tersebut menyebutkan sebagai berikut: “Dan barang siapa yang melihat aku, dia melihat sama Dia yang mengutus aku”.

    A: Pantaskah Tuhan diutus? Kalau Yesus itu Tuhan, mengapa ada Tuhan yang di utus? Maksud ayat tersebut siapa yang melihat Yesus, seolah-olah ia melihat Tuhan yang mengutus Yesus. Jadi perkataan Yesus di atas menunjukkan bahwa ia bukan Tuhan, melainkan utusan Tuhan. Makna: “Bapa dalam aku dan aku dalam Bapa”

    B: Saya belum meneliti maksud ayat di Johanes pasal 10 ayat 38 dan pasal 14 ayat 11 yang menyebutkan bahwa “Bapa dalam aku dan aku dalam Bapa” seperti yang telah saya bacakan tadi. Akan tetapi dalam ayat ini saya berpendapat ada dua macam penafsiran: 1. Yesus adalah Tuhan. 2. Berdasarkan Injil Johanes pasal 12 ayat 45 yang kita baca itu menyebutkan, Yesus itu adalah utusan Tuhan. Utusan di sini maksudnya selaku Tuhan ia menyampaikan sendiri ajarannya kepada manusia.

    A: Ayat itu bukan berarti mempunyai dua macam penafsiran, tetapi di antara dua ayat tersebut yakni di Johanes pasal 10 ayat 38, dan pasal 14 ayat 11 dan Johanes pasal 12 ayat 45 itu adalah bertentangan. Di satu ayat ditafsirkan Yesus itu Tuhan, dan di ayat lain disebutkan bahwa Yesus itu utusan Tuhan. Jadi di dalam Injil sendiri terdapat ayat-ayatnya antara yang satu dengan yang lain bertentangan. Kita perlu ingat kembali pada pembicaraan kita semula kalau ada kitab suci yang isinya berselisih antara satu ayat dengan ayat yang lain, maka apakah kitab suci itu masih akan dipertahankan kesuciannya…?

    B: Betul, kita telah bicarakan hal itu pada pertemuan yang lalu.

    A: Andaikan Saudara masih juga mempertahankan ketuhanan Yesus dengan berdasarkan ayat Bibel yang menyebutkan: “Yesus dalam Bapa dan Bapa dalam Yesus” sebagaimana tersebut dalam Johanes pasal 10 ayat 38 dan pasal 14 ayat 11 itu, maka Saudara pun akan dijawab oleh Kitab Injil Saudara sendiri, bahwa penafsiran Saudara itu tidak benar.

    B: Di manakah menyebutkan demikian?

    A: Silahkan Saudara periksa di Injil Johanes pasal 17 ayat 21. Sekali lagi: Yesus hanyalah UTUSAN (RASUL) Tuhan

    B: Di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Supaya semua jadi satu, ia Bapa! seperti Bapa dalam saya dan saya dalam Bapa dan supaya dia orang jadi satu dalam kita, biar dunia percaya Bapa sudah mengutus saya”.

    A: Jelas di ayat ini kalau Yesus sendiri berkata bahwa Yesus dalam Bapa dan Bapa dalam Yesus dan muridnya pun ada dalam Bapa. Kalau begitu harus Saudara akui bahwa murid-murid Yesus pun Tuhan juga.

    B: Kalau begitu bagaimana arti yang sebenarnya ayat itu menurut Bapak?

    A: Kalimat: “Bapa dalam saya” dan muridnya jadi satu dengan kita (Allah dan Yesus) di ayat tersebut maksudnya, supaya Yesus senantiasa tidak melupakan Allah (Bapa) demikian juga muridnya tidak melupakan Yesus dan Allah (Bapa). Dan di akhir ayat tersebut Yesus berkata “biar dunia percaya yang Bapa mengutus saya”. Rangkaian kata-kata ini tegas sekali Yesus mengakui bahwa ia bukan Anak Allah, melainkan utusannya, dan teruskan Saudara baca di Johanes pasal 17 ayat 23.

    B: Baik, ayat tersebut menyebutkan: “Saya dalam dia orang, dan Bapa dalam saya, supaya dunia boleh tahu yang Bapa sudah mengutus saya”.

    A: Apakah susunan ayat tersebut belum jelas bahwa Yesus sendiri yang berkata dan mengaku bahwa ia bukan Tuhan, melainkan utusan Tuhan. Apakah Saudara masih belum puas tentang ayat-ayat Injil yang menunjukkan bahwa Yesus bukan Tuhan, karena saya anggap telah cukup banyak tunjukkan kepada Saudara.

    B: Sebagaimana telah saya sampaikan kepada Bapak, saya ingin kepuasan. Sebetulnya keterangan-keterangan Bapak telah memuaskan saya, namun demikian kalau masih ada ayat-ayatnya lagi harap Bapak tunjukkan. Sekali lagi: “Laa ilaaha illa Allaah” dalam Bible

    A: Baik saya penuhi pengharapan Saudara silahkan Saudara periksa di kitab Samuel yang kedua pasal 7 ayat 22.

    B: Pasal dan ayat tersebut menyebutkan sebagai berikut: “Maka sebab itu besarlah Engkau, ya Tuhan Allah karena tiada yang dapat disamakan dengan dikau dan tiada Allah melainkan Engkau sekedar yang telah kami dengar dari telinga kami”.

    A: Di ayat ini jelas bahwa Yesus sendiri menghadapkan kata-katanya kepada Allah, bahwa tiada yang dapat disamakan dengan Allah. Jadi Yesus sendiri mengakui bahwa dirinya tidak sama dengan Tuhan, dengan kata lain ia bukan Tuhan dan di tengah-tengah ayat itu Yesus sendiri berkata: “Tiada Allah melainkan engkau”. Jadi Yesus termasuk yang lain, yakni ia bukan Tuhan Allah. Rangkaian ayat tersebut, Yesus sendiri yang berkata bahwa, “tiada Tuhan melainkan Allah”. Mengapa kaum Kristen mengangkat Yesus selaku Tuhan? Silahkan periksa lagi Injil Yahya pasal 17 ayat 8.

    B: Baik, sebutan ayat tersebut adalah sebagai berikut: “Karena segala firman yang telah Engkau firmankan kepadaku, itulah aku sampaikan kepada mereka itu, dan mereka itu sudah menerima dia, dan mengetahui dengan sesungguhnya bahwa aku datang dari ada-Mu, dan lagi mereka itu percaya bahwa Engkau yang menyuruh aku.

    A: Di ayat ini Yesus sendiri berkata bahwa ia menerima firman dari Allah. Kalau Yesus Tuhan, tentunya tidak membutuhkan firman dari siapa pun juga. Di akhir ayat itu juga Yesus sendiri berkata bahwa “Engkaulah yang menyuruh aku”. Jadi Yesus itu bukan Tuhan, melainkan pesuruh Tuhan, sebagaimana nabi-nabi dan utusan-utusan Allah yang lain-lain juga. Teruskan Saudara periksa Injil Matius pasal 26 ayat 2.

    B: Baik, di sini menyebutkan: “Kamu memang mengetahui bahwa dua hari lagi akan ada hari raya Paskah, dan Anak manusia akan diserahkan supaya ia disalibkan”.

    A: Yang dimaksud dengan anak manusia di ayat itu ialah Yesus sendiri. Jadi jelas Yesus mengakui bahwa ia bukan anak Tuhan, melainkan anak manusia. Lanjutkan periksa Injil Matius pasal 5 ayat 45. Sekali lagi: makna “Anak Allah” dalam Bible

    B: Baik, ayat ini menyebutkan: “Supaya kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga…”

    A: Cukup sampai di situ. Di ayat ini Saudara saksikan sendiri, bahwa Yesus sendiri yang berkata kepada murid-muridnya, supaya kamu menjadi anak-anak bapamu yang di surga; yakni apabila murid-muridnya taat atas perintah-perintah Tuhan, menurut Yesus mereka akan jadi anak Tuhan juga. Berdasarkan ayat Bibel tersebut tentunya Anak Tuhan akan menjadi banyak jumlahnya, bukan Yesus saja.

    B: Tetapi di Injil Johanes pasal 1 ayat 34 menyebutkan: “Maka aku sudah melihat itu, serta bersaksi yang dia inilah Anak Allah”. Juga di Injil Matius pasal 3 ayat 17 menyebutkan: “Maka suatu suara dari langit mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepadanya Aku berkenan” Di Injil Lukas pasal 1 ayat 32 juga menyebutkan: “Maka ia akan menjadi besar, dan ia akan dikatakan Anak Allah Yang Maha Tinggi, maka Allah, Tuhan kita akan mengaruniakan kepadanya takhta Daud, nenek moyangnya itu”. Di Ibrani pasal 4 ayat 14 menyebutkan: “Sedangkan ada kepada kita seorang Imam Maha Besar yang sudah melintas segala langit, yaitu Yesus Anak Allah, maka hendaklah kita memegang pengakuan itu”. Dan masih banyak lagi ayat-ayat Bibel yang menerangkan bahwa Yesus Anak Allah. Kalau Bapak memerlukan akan saya tunjukkan ayat-ayatnya.

    A: Saya mengerti, bahwa ayat-ayat Bibel yang menyebutkan Yesus Anak Allah sebagaimana tersebut di:

    Matius: Pasal 3 ayat 17, pasal 4 ayat 3, pasal 14 ayat 33, pasal 26 ayat 63 dan Pasal 16 ayat 17.

    Johanes: Pasal 3 ayat 16, pasal 1 ayat 34 dan 40, pasal 17 ayat 1, pasal 19 ayat 7, pasal 16 ayat 27 dan ayat 30, pasal 15 ayat 23 dan beberapa ayat lainnya di Johanes.

    Rum: Pasal 1 ayat 9, pasal 5 ayat 10, pasal 8 ayat 3, pasal 29 ayat 32.

    Galitiah: Pasal 1 ayat 16, pasal 4 ayat 4 dan 6.

    Lukas: Pasal 1 ayat 32 dan 35, pasal 3 ayat 22, pasal 4 ayat 3 dan 9, pasal 4 ayat 43 dan 41.

    Ibrani: Pasal 1 ayat 2, 5 dan 8, pasal 3 ayat 6, pasal 4 ayat 14, pasal 5 ayat 5 dan 8.

    Matius: pasal 2 ayat 15, pasal 3 ayat 17, pasal 4 ayat 3 dan ayat 6, pasal 14 ayat 33, pasal 26 ayat 63, pasal 16 ayat 17.

    Korintus: Pasal 1 ayat 9.

    Dan masih ada beberapa ayat lain di Kitab Injil yang menyebutkan Yesus itu Anak Allah tetapi maksudnya bukan Anak Allah yang sebenarnya, karena Yesus sendiri mengaku di Kitab Injil bahwa ia adalah utusan Allah, bukan Anak Allah. Dan ia sendiri berkata: “anak manusia” bukan anak Tuhan, Jadi jumlah ayat-ayat di Kitab Injil yang menyebutkan Yesus itu Anak Allah tidak menjamin kebenarannya bahwa ia Anak Allah betul-betul, sebagaimana kita sering mendengar ucapan-ucapan “Anak Kapal” “Anak Sekolah” tidak berarti bahwa kapal dan sekolah itu beranak, melainkan mempunyai arti bahwa orang itu selalu terikat oleh peraturan-peraturan kapal dan pelajaran-pelajaran di sekolah. Periksa lagi Yahya pasal 5 ayat 30.

    B: Ayat tersebut demikian bunyinya: “Suatu pun tidak aku dapat berbuat menurut kehendakku sendiri melainkan aku menjalankan hukum sebagaimana yang aku dengar, dan hukumku itu adil adanya, karena bukannya aku mencari kehendak diriku, melainkan kehendak Dia yang menyuruhkan aku.

    A: Di sini jelas sekiranya Yesus itu Tuhan, tentu dapat berbuat sekehendaknya sendiri. Tetapi di Bibel sendiri menyebutkan bahwa perbuatan Yesus itu adalah kehendak Tuhan. Dan sekiranya Yesus itu Tuhan, tentunya tidak ada yang mengutus. Mustahil Tuhan menjadi utusan Tuhan, atau dengan lain kata “Utusan Tuhan itu adalah Tuhan”. Bisakah terjadi demikian?

    B: Sudah jelas dan terima kasih.

    A: Silahkan periksa lagi di Yahya pasal 3 ayat 13.

    B: Baik, di sini menyebutkan: “Seorang pun tiada naik ke surga, kecuali ia yang sudah turun dari surga, yaitu anak manusia”.

    A: Jelas di Bibel sendiri menyebutkan bahwa Yesus sendiri adalah anak manusia, bukan anak Tuhan.

    B: Betul berdasarkan ayat tersebut Yesus adalah anak manusia.

    A: Periksa lagi di Matius pasal 27 ayat 30.

    B: Baik, di sini menyebutkan: “Maka mereka itupun meludahi dia, serta mengambil buluh itu memalu kepalanya”.

    A: Kalau Yesus itu betul Tuhan, bagaimana Tuhan bisa diludahi dan diperolok-olokkan? Mengapa ada Tuhan yang begitu lemah? Sesuai dengan pengharapan Saudara supaya puas dengan soal ketuhanan Yesus menurut Bibel dan perkataan Yesus sendiri ada menyebutkan Ia bukan Tuhan, sekali lagi periksa di Matius pasal 21 ayat 18 dan 19.

    B: Baik, di sini menyebutkan: “Pada pagi-pagi harinya, apabila Ia kembali ke negeri itu, ia merasa lapar”. Serta dipandangnya sepohon ara di sisi jalan, pergilah ia ke situ dan didapatinya suatu apa pun tiada di pohon itu, melainkan daun sahaja. Lalu berkatalah ia kepadanya: Janganlah jadi buah daripadamu lagi selama-lamanya. Maka dengan seketika itu juga layulah pohon ara itu”.

    A: Kalau Yesus itu Tuhan tentu ia tidak akan mengutuk pohon itu supaya tidak berbuah melainkan ia akan menciptakan buah pada pohon itu dengan kekuasaannya selaku Tuhan. Akan tetapi pohon yang tidak berbuat kesalahan apa-apa kepada Yesus dan pohon yang tidak tahu apa-apa itu malah dikutuk oleh Yesus. Wajarkah Tuhan mengutuk makhluk yang tidak bersalah? Padahal kalau betul Yesus itu Tuhan tentu ia berkuasa menciptakan pohon itu supaya mengeluarkan buahnya seketika itu juga, tidak lalu mengutuknya.

    B: Bapak hafal betul tentang ayat-ayat di Kitab Injil, jadi sudah jelas berdasarkan ayat-ayat Injil yang Bapak sebutkan dan dikuatkan lagi dengan beberapa ayat lainnya, nyatalah bahwa Yesus itu bukan anak Tuhan.

    A: Persoalan Yesus anak Tuhan itu telah kita bicarakan pada pertemuan pertama, dan sudah dibereskan oleh Injil sendiri yang menyebutkan bahwa selain Yesus masih banyak lagi beberapa manusia yang harus diakui anak Tuhan, dan seharusnya mereka itu diakui juga oleh golongan Kristen, menjabat anak tuhan, bukan Yesus saja, karena berdasarkan Kitab Injil sendiri anak Tuhan itu banyak.

    B: Ya betul kita telah bicarakan tentang itu. Siapakah “Anak SULUNG Allah” yang sebenarnya dari “Anak SULUNG”-“Anak SULUNG” yang disebutkan dalam Bible?

    A: Supaya lebih Jelas, baiklah saya ulangi, di Injil ada menyebutkan bahwa: 1. Daud anak Allah yang sulung (Mazmur, pasal 89 ayat 27) 2. Yakub (Israil) adalah anak Allah yang Sulung (Keluaran pasal 4 ayat 22 dan 23) 3. Afraim adalah anak Allah yang Sulung (Yeremia pasal 31 ayat 9) Jadi Daud anak Allah yang sulung, Yakub anak Allah yang sulung, dan Afraim juga anak Allah yang sulung. Ketiga-tiganya atau kesemuanya adalah anak sulung. Yang manakah yang betul-betul sulung? Apakah ayat ini benar semuanya atau salah semuanya? Karena itu saya jelaskan bahwa anak Allah yang tersebut dalam Bibel itu, tidak berarti anak Allah yang sebenarnya melainkan maksudnya ialah kekasih Allah, atau mereka yang taat kepada perintah-perintah tuhan.

    B: Saya sudah mengerti, terima kasih. Makna: “Anak” dan “Bapa” dalam Bible

    A: Tetapi Saudara mungkin belum mengerti betul tentang arti “Anak dan Bapa” dalam bahasa Ibrani, atau susunan bahasa yang terpakai dalam Bibel.

    B: Kalau begitu bagaimanakah arti yang sebenarnya?

    A: Dalam bahasa Ibrani kata “Bapa” itu dipakai buat Tuhan, sedangkan kata “anak” dipakai buat mereka yang dihormati, seperti para Nabi dan para Rasul.

    B: Dasar apakah yang dipergunakan oleh Bapak tentang keterangan itu?

    A: Saya sudah sebutkan pada pertemuan yang pertama ialah tersebut dalam Injil Matius.

    B: Saya tidak ingat, di pasal dan ayat berapa?

    A: Silahkan buka Matius, pasal 5 ayat 9.

    B: Baik, di sini disebutkan: “Berbahagialah segala orang yang mendamaikan orang karena mereka itu akan disebut anak Allah”.

    A: Jelas siapa saja mendamaikan manusia akan disebut akan menjabat “anak Allah” kalau begitu anak Allah itu ratusan, ribuan malah mungkin jutaan orang, jadi bukan Yesus saja.

    ***

    Wallahualam..

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 4 September 2016 Permalink | Balas  

    Isa anak Allah? 

    al quranIsa anak Allah?

    A=Muslim B=Kristen

    Malam 1.

    Ketuhanan Yesus

    A: Sejak kapan Saudara beragama Kristen?

    B: Sejak saya dilahirkan.

    A: Apakah Saudara benar-benar mempelajari bahwa agama Kristen itu suatu agama yang paling benar?

    B: Ya, memang saya menyadari.

    A: Apakah Saudara berkeyakinan bahwa Kitab Injil itu suci?

    B: Ya, saya yakin sekali.

    A: Dari siapakah pengertian Saudara bahwa Bibel itu dari Tuhan Yang Maha Suci?

    B: Guru saya menerangkan bahwa Bibel adalah Kitab Suci berisi pengajaran Tuhan Yesus, yang dicatat oleh Rasul-Rasul Matius, Lukas, Yohanes dan Rasul Markus.

    A: Apakah yang dimaksud suci pada Bibel itu mempunyai arti bahwa Bibel bersih daripada kesalahan-kesalahan?

    B: Betul demikian. Tetapi kesalahan yang bagaimana yang Bapak maksudkan?

    A: Misalnya pada suatu saat ada orang mengabarkan pada Saudara si A sakit, sedangkan orang lain memberitahukan bahwa pada saat itu si A tidak sakit. Kedua berita itu apakah benar semuanya atau salah semuanya, atau salah satunya yang benar?

    B: Diantara keduanya itu tentu salah satu yang benar atau keduanya salah dan mustahil kedua-duanya benar.

    A: Satu misal lain, si A mempunyai 3 orang anak dan orang lain mengatakan si A mempunyai 10 anak. Apakah dua perkataan itu benar semuanya atau salah semuanya atau salah satu yang benar?

    B: Tidak mungkin benar semuanya, melainkan salah satunya yang benar atau salah semuanya.

    A: Kalau saya mengatakan benar semuanya, bagaimana pendapat saudara?

    B: Itu adalah mustahil, karena ternyata ada perselisihan di antara keduanya.

    A: Andaikata ada suatu kitab suci, akan tetapi ayat-ayat di dalamnya di antara yang satu dengan yang lain terdapat perselisihan, apakah kitab itu akan dinamakan kitab suci?

    B: Tentu bukan kitab suci, karena yang dinamakan kitab suci itu adalah ilham (wahyu) dari Tuhan, yang mustahil terdapat kesalahan atau perselisihan.

    A: Jadi kalau begitu bukan kitab suci lagi?

    B: Betul, kesuciannya telah batal.

    A: Kalau demikian, tentu isinya tidak dapat dipercaya, kesuciannya atau kebenarannya, karena di antara ayat-ayatnya terdapat perselisihan.

    B: Yang jelas di antara ayat-ayatnya pasti bukan dari Tuhan, atau sudah dicampuradukkan dengan karangan manusia, sehingga kesuciannya ternoda. Ringkasnya sudah tidak suci lagi.

    A: Kalau misalnya Bibel terdapat selisih antara satu ayat dengan ayat lain apakah Saudara masih berkeyakinan Bibel itu kitab suci?

    B: Saya tidak yakin kalau Kitab Bibel tidak suci. Terkecuali kalau ada bukti-bukti nyata yang menunjukkan ayat-ayatnya berselisih antara yang satu dengan yang lain, yang dapat menimbulkan keraguan saya tentang kesuciannya. Menurut penelitian Bapak, apakah ayat-ayat Bibel ada yang berselisih?

    A: Ya, banyak yang berselisih.

    B: Di Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru?

    A: Dua-duanya terdapat beberapa perselisihan antara satu ayat dengan ayat yang lain.

    B: Di bab apa dan pasal serta ayat berapa?

    A: Supaya berurutan saya atur dalam beberapa pasal: Pertama soal Ketuhanan Yesus, karena soal Ketuhanan adalah termasuk kepercayaan pokok pada tiap-tiap agama. Jadi soal ini perlu sekali didahulukan. Sesudah itu kita berpindah kepada soal yang lain yang berhubungan dengan soal agama Kristen yang termaktub dalam Kitab Bibel. Bagaimana pendapat Saudara?

    B: Baik, saya menyetujui pendapat Bapak. Siapa Sajakah “Anak Allah” Itu?

    A: Sekarang saya ingin bertanya, apakah alasan Saudara bahwa Yesus menjadi anak Tuhan?

    B: Dalam “Matius” pasal 3 ayat 17 menyebutkan demikian : “Maka suatu suara dari langit mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi. KepadaNya Aku berkenan”. Juga di Lukas pasal 4 ayat 41, bahwa “Yesus itu Anak Allah.”

    A: Kalau begitu silahkan buka “Matius” pasal 5 ayat 9.

    B: Baik, Dalam pasal dan ayat itu menyebutkan: “Berbahagialah segala orang yang mendamaikan orang, karena mereka itu akan disebut anak-anak Allah”.

    A: Berdasarkan ayat tersebut, yang dimaksudkan “Anak Allah” itu ialah orang yang dihormati seperti Nabi. Kalau Yesus dianggap anak Allah, maka semua orang yang mendamaikan manusia pun menjadi anak-anak Allah juga. Jadi bukan Yesus saja Anak Allah tetapi ada terlalu banyak.

    B: Dalam “Yohanes” pasal 14 ayat 9 disebutkan: “Siapa yang sudah nampak Aku, ia sudah nampak Bapa”, dan di ayat 10 disebutkan: “Tiadakah engkau percaya bahwa Aku ini di dalam Bapa, dan Bapa pun di dalam Aku? Segala perkataan yang Aku ini katakan kepadamu, bukanlah Aku katakan dengan kehendak sendiri, melainkan Bapa itu yang tinggal di dalam Aku. Ia mengadakan segala perbuatan itu.” Tritunggal atau 15Tunggal?

    A: Baiklah. Silahkan Saudara periksa “Yohanes” pasal 17 ayat 23.

    B: Baik, di pasal ini disebutkan bahwa: “Aku di dalam mereka itu, dan Engkau di dalam Aku, supaya mereka itu sempurna di dalam persekutuan.”

    A: Perhatikan di ayat ini ada tersusun kata “Aku di dalam mereka”. Kata “mereka” di ayat ini ialah sahabat Yesus. Sedang yang dimaksudkan dengan “Aku” ialah Yesus. Jadi kata “Aku” beserta mereka artinya Yesus beserta sahabat-sahabatnya. Jadi Tuhan itu beserta Yesus dan para sahabatnya. Kalau Saudara percaya hal kesatuan Yesus dengan Bapa maka Saudara pun harus percaya tentang kesatuan Bapa itu dengan semua sahabat Yesus yang berjumlah 12 orang itu. Jadi bukan Yesus dan Roh Suci saja yang menjadi satu dengan Tuhan, melainkan harus ditambah 12 orang lagi. Ini namanya persatuan Tuhan atau Tuhan persatuan bukan hanya Tritunggal tetapi 15tunggal. Jadi berdasarkan perselisihan ayat-ayat tersebut, yang manakah yang benar? Tiga menjadi Tunggal atau 15 menjadi Tunggal? Ayat manakah yang akan Saudara yakini, yang tiga menjadi tunggal ataukah yang 15 itu? Allah itu Esa (Tunggal)

    B: Tunggu dulu Pak, ini agak membingungkan saya.

    A: Tentu akan lebih membingungkan Saudara kalau saya tunjukkan ayat yang lain. Silahkan periksa “Yohanes” pasal 17 ayat 3.

    B: Baik, di sini menyebutkan “Inilah hidup yang kekal, yaitu supaya mereka mengenal Engkau, Allah yang Esa dan Yesus kristus yang telah Engkau suruhkan itu”.

    A: Di ayat ini menyebutkan Tuhan adalah Esa. Dalam Kamus bahasa Indonesia oleh E. St. Harahap, cetakan ke II disebutkan bahwa Esa itu berarti satu, pertama (tunggal) dan di ayat itu juga disebutkan bahwa Yesus Kristus adalah Pesuruh Allah (Utusan/Rasul). Kalau demikian, manakah yang benar? Di satu ayat menyebutkan Tuhan dengan Yesus menjadi satu, di lain ayat 15 menjadi satu dan yang lain lagi Tuhan itu Tunggal, sedangkan di ayat itu pula menyebutkan bahwa Yesus itu pesuruh Allah, bukan Tuhan. Menurut pengakuan Saudara suatu kitab suci yang kandungan ayat-ayatnya bertentangan antara yang satu dengan yang lain tentu sulit sekali dipercaya kesuciannya, karena yang disebut suci itu bersih dari kekeliruan dan perselisihan.

    B: Masih adakah ayat yang menyebutkan demikian?

    A: Ayat yang bagaimana yang Saudara maksudkan?

    B: Ayat yang menyebutkan bahwa Tuhan itu Esa (Tunggal), bukan tiga menjadi satu.

    A: Silahkan buka di “Ulangan” pasal 4 ayat 35.

    B: Baik, di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Maka kepadamulah ia itu ditunjuk, supaya diketahui olehmu bahwa Tuhan itulah Allah, dan kecuali Tuhan yang Esa tiadalah yang lain lagi”.

    A: Jelas di dalam Bibel sendiri menerangkan bahwa Tuhan itu Esa, Tunggal.

    B: Tetapi itu di dalam Kitab Perjanjian Lama. Apakah terdapat juga di Perjanjian Baru?

    A: Saudara minta di Perjanjian Baru, baiklah. Silahkan Saudara buka Markus pasal 12 ayat 29.

    B: Baik, di pasal dan ayat tersebut menyebutkan “Maka jawab Yesus kepadanya, hukum yang terutama ialah: Dengarlah olehmu hai Israel, adapun Allah Tuhan kita ialah Tuhan yang Esa.”

    A: Periksa lagi di Perjanjian Lama di “Ulangan” pasal 6 ayat 4.

    B: Baik, di sini disebutkan: “Dengarlah olehmu hai Israel, sesungguhnya Hua Allah kita, Hua itu Esa adanya.”

    A: Apakah belum jelas bahwa Bibel sendiri yang menjadi kitab sucinya orang Kristen menyebutkan seterang-terangnya bahwa Tuhan itu tunggal, bukan tiga menjadi satu atau satu menjadi tiga. Taruh kata di Bibel ada ayat yang menyebutkan Tuhan itu tiga menjadi satu, saya ingin bertanya yang manakah di antara kedua ayat itu yang benar, yang Tunggalkah atau yang tiga menjadi Tunggal? Jadi salah satu dari dua ayat tersebut pasti ada yang benar, karena sudah jelas dua ayat itu tidak sama. Kalau salah satu atau dua-duanya salah, maka kandungan kitab suci itu ada yang salah, jadi bukan kitab suci namanya.

    B: Betul, salah satu pasti salah atau kedua-duanya salah.

    A: Kalau demikian apakah dapat diyakini kebenarannya sebagai kitab suci, kalau kitab suci itu mengandung kesalahan atau tidak benar isinya?

    B: Ya, yang disebut kitab suci itu harus bersih dari kesalahan-kesalahan kalau tidak demikian maka batallah kesucian kitab suci itu.

    Apakah Yesus Bersatu dengan Allah?

    A: Menurut kepercayaan Saudara, apakah Yesus bersatu dengan Allah?

    B: Ya demikian.

    A: Kalau demikian tentu Yesus adalah selalu bersama Allah dan Allah selalu bersama Yesus.

    B: Betul demikian sebagaimana tersebut dalam “Yohanes” 10, 30 yang bunyinya sebagai berikut: “Aku dan Bapa itu satu adanya”. Demikian juga Roh Suci, sebab Roh Suci itu menjadi satu dengan Yesus, sebagaimana tersebut dalam Injil, ialah setelah Yesus berumur 30 tahun turun Roh Suci kepadanya dan dibaptiskan oleh pembaptis yaitu Yohanes. Jadi jelas bahwa Yesus, Roh Suci, Tuhan adalah Tunggal. Eli, Eli, Lama Sabakhtani … (Ya Tuhan, Ya Tuhan, Mengapa Engkau Meninggalkan Aku?)

    A: Kalau begitu silahkan buka “Matius” pasal 27 ayat 46.

    B: Baik, di pasal dan ayat tersebut menyebutkan: “Maka sekira-kira pukul tiga itu berserulah Yesus dengan suara yang nyaring katanya: “Eli, Eli, lama sabakhtani”, artinya: “Ya Tuhan, apakah sebabnya Engkau meninggalkan Aku.”

    A: Berdasarkan seruan Yesus di ayat itu, jelas bahwa Yesus tidak bersatu dengan Tuhan, yakni Tuhan meninggalkan Yesus, waktu akan disalibkan. Mestinya kalau Tuhan menjadi satu dengan Yesus, di saat itulah saat tepat untuk menolong Yesus, tetapi kenyataannya Tuhan tidak bersatu dengan Yesus sehingga Yesus sendiri minta tolong.

    B: Tetapi Yesus itu hidupnya memang untuk disalib guna menebus dosa manusia.

    A: Kalau hidupnya Yesus memang untuk disalib, mengapa Yesus tidak bersedia dan menolak untuk disalib? Buktinya ia berseru dengan suara nyaring minta tolong pada Tuhan agar ia terlepas dari disalibkan. Dengan kata lain Yesus tidak bersedia selaku penebus dosa.

    B: Betul, saya lantas tidak mengerti mengapa ayat-ayat Bibel ada yang simpang siur.

    Apakah Manusia-Manusia yang Menyalibkan Yesus Itu Dilaknat atau Mendapat Pahala?

    A: Dari sebab itulah mengapa Saudara menyembah Yesus selaku Tuhan yang tidak berkuasa menyelamatkan dirinya sendiri, malah minta tolong. Pantaskah ada Tuhan demikian? Dan saya lanjutkan pertanyaan, apakah manusia-manusia yang menyalibkan Yesus itu dilaknat?

    B: Pasti dilaknat.

    A: Mestinya tidak dilaknat, malah Yesus harus berterima kasih kepada mereka yang menyalibkan dia, bahkan mereka itu seharusnya mendapatkan ganjaran, karena menurut keterangan Saudara, kehidupan Yesus itu harus disalib untuk menebus dosa-dosa. Jika tidak ada manusia yang bersedia menyalibkan Yesus, maka dosa-dosa manusia tentu tidak ada yang menebusnya. Jadi manusia-manusia yang telah menyalib Yesus itu berjasa kepada Yesus dan penganut-penganut Kristen. Akan tetapi mereka yang sudah terbukti berjasa itu malah dilaknat. Mestinya mereka itu masuk surga dan dipuji-puji atas jasanya.

    B: Ini memang tidak masuk akal atau sekurang-kurangnya memang sulit dimengerti, akan tetapi Roh Tuhan bersatu dengan Yesus itu tidak mustahil sebagaimana banyak manusia yang kesurupan hantu, jin, malaikat atau makhluk-makhluk halus lainnya sehingga tindakan tindakan dan perbuatannya menurut kehendak makhluk halus tersebut. Demikian juga ada yang kemasukan Roh Suci seperti roh malaikat sehingga tindakan-tindakan dan perbuatannya adalah suci.

    A: Kalau demikian baiklah saya bikin pertanyaan: Manusia yang bersatu (kesurupan) jin itu apakah dia disebut jin?

    B: Tidak.

    A: Yesus yang bersatu (menerima) Roh Tuhan itu apakah ia disebut Tuhan?

    B: Mestinya tidak juga.

    A: Seharusnya begitu. Jadi jelas bahwa Yesus yang menerima Roh Ketuhanan tentunya bukan Tuhan. Manusia yang menerima wahyu Tuhan itu bukan Tuhan melainkan adalah utusan (pesuruh) Tuhan. Sesuai dengan pengakuan Yesus sendiri sebagaimana tersebut dalam “Yohanes” pasal 17 ayat 3 yang berbunyi: “Supaya mereka itu mengenal Engkau. Allah Yang Maha Esa dan Benar, dan Yesus Kristus yang telah Engkau suruhkan itu”.

    B: Saya lantas tambah tidak mengerti tentang Ketuhanan Yesus itu.

    A: Menurut keterangan Saudara tadi, bahwa manusia yang bersatu dengan (kesurupan) makhluk halus seperti roh-roh, jin dan malaikat, maka tindakan dan perbuatannya pasti menurut kehendak atau menyerupai perbuatan makhluk-makhluk halus itu.

    B: Benar begitu.

    A: Kalau demikian maka Yesus yang Saudara akui bersatu dengan Tuhan mestinya tindakan-tindakan dan perbuatannya menyerupai perbuatan Tuhan.

    B: Mestinya begitu.

    A: Akan tetapi kenyataannya tidak demikian. Tuhan tidak tidur tetapi Yesus tidur, Tuhan tidak makan tetapi Yesus makan, Tuhan tidak sakit tetapi Yesus sakit, Tuhan tidak menyembah kepada siapa pun tetapi Yesus menyembah Tuhan. Tuhan tidak mati tetapi Yesus mati, walaupun menurut i’tikat Kristen hidup kembali, tetapi ia mati. Yesus Tidak Mengetahui Yang Gaib

    B: Menurut anggapan orang Kristen salah satu yang mneyebabkan Yesus bersatu dengan Tuhan, karena ia mengetahui yang gaib.

    A: Kalau begitu silahkan buka “Markus” pasal 13 ayat 31, 32.

    B: Baik, ayat itu menyebutkan: “Sesungguhnya langit dan bumi akan lenyap tetapi perkataan-Ku kekal. Tetapi akan harinya atau ketikanya itu tidak diketahui oleh seorang jua pun, baik segala malaikat yang di sorga pun tidak, Anak itu pun tidak, hanyalah Bapa saja.”

    A: Jelas di Bibel sendiri tertulis, Yesus sendiri mengaku tidak ada yang tahu kapan hari kiamat, melainkan hanya Tuhan sendiri. Jadi tegas Yesus sendiri tidak mengetahui waktunya hari kiamat, yang termasuk suatu yang gaib. Yang tidak tahu itu pasti bukan Tuhan.

    Siapa Anak Sulung Allah?

    B: Tetapi Yesus menyebutkan dirinya di ayat ini dengan kata: “Anak”, yang berarti ia anak Tuhan.

    A: Silahkan buka “Matius” pasal 1 ayat 16.

    B: Baik, di situ disebutkan: “dan Yakub memperanakkan Yusuf, yaitu suami Maria, ialah yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.”

    A: Jelas bahwa yang diperanakkan itu pasti bukan Tuhan sebagaimana tersebut dalam ayat tersebut. Silahkan periksa lagi “Keluaran” pasal 4 ayat 22.

    B: Baik, di situ disebutkan: “Maka pada masa itu hendaklah katamu kepada Fir’aun demikian: “Inilah firman Tuhan: Bahwa Israil itulah anak-Ku laki-laki, yaitu anak-Ku yang sulung”.

    A: Di ayat ini disebutkan bahwa Israil adalah anak Tuhan yang sulung, sedangkan Yesus tidak disebutkan anak yang ke berapa. Silahkan buka lagi “Yeremia” pasal 31 ayat 9.

    B: Ayat ini menyebutkan, “Akulah Bapak bagi Israil, dan Afraim itulah anak yang sulung.”

    A: Jelas sekali bahwa berdasarkan Bibel sendiri anak Tuhan itu banyak, bukan Yesus saja, padahal sebenarnya yang dimaksudkan dengan “Anak” dalam ayat itu ialah mereka yang dikasihi oleh Tuhan, termasuk Yesus jadi bukan anak yang sebenarnya.

    B: Tetapi dalam “Matius” pasal 1 ayat 18, menyebutkan sebagai berikut: “Adapun kelahiran Yesus Kristus demikian adanya: Tatkala Maria, yaitu ibunya, bertunangan dengan Yusuf, sebelum keduanya bersetubuh, maka nyatalah Maria itu hamil daripada Roh Kudus. Roh Kudus artinya Roh Tuhan. Oleh karenanya maka Yesus itu adalah anak Tuhan, sebagaimana juga di “Matius” pasal 1 ayat 20 menyebutkan: “Yusuf bermimpi seorang malaikat, Tuhan berkata: “Hai Yusuf, anak Daud, janganlah engkau kuatir menerima Maria itu menjadi istrimu karena kandungan itu terbitnya daripada Roh Kudus.” Apa Maksud Roh Kudus dalam Bible?

    A: Kalau begitu silahkan buka: “Kisah Rasul” pasal 6 ayat 5.

    B: Baik, ayat itu menyebutkan: “Maka perkataan ini diperkenankan oleh sekalian orang banyak itu, lalu memilih Stephanus, yaitu seorang yang penuh dengan iman, dan Roh Kudus, dan lagi Philippus, dan Prokhorus dan Nikanor dan Simion dan Parmenas dan Nikolaus yaitu mualaf asalnya dari negeri Antiochia.

    A: Jadi berdasarkan ayat Bibel sendiri menunjukkan bahwa Roh Kudus itu bukan pada Yesus saja. Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus itu Roh Suci, atau Roh Kesucian yang maksudnya roh yang bersih dari roh-roh kotor, bukan seperti roh setan atau hantu. Sebagaimana halnya para Nabi lainnya dengan roh sucinya. Menurut Al Qur’an, Roh Kudus (roh suci) itu berarti “Jibril”. Di Bibel sendiri menyebutkan bahwa para nabi yang terdahulu adalah Kudus.

    B: Di Bibel pasal berapa menyebutkan demikian?

    A: Silahlan periksa surat Petrus yang kedua pasal 3 ayat 2.

    B: Baik, pasal dan ayat ini menyebutkan: “Supaya kamu ingat perkataan yang sudah disabdakan dahulu oleh nabi yang kudus dan akan hukum Tuhan lagi juru selamat, dengan jalan rasul-rasul yang disuruhkan kepadamu”.

    A: Jelas di Bibel sendiri menyebutkan bahwa Roh Kudus itu bukan Tuhan dengan kata lain bahwa Yesus dalam kandungan Maria itu bukan Tuhan atau Roh Tuhan, melainkan adalah roh bersih, suci, dengan izin atau perintah Allah yang dikaruniakan kepada hamba yang dikehendakinya. Lebih jelas harap Saudara periksa dalam “Kisah Rasul”, pasal 5 ayat 32.

    B: Ayat tersebut menyebutkan: “Dan kami inilah saksi atas segala perkara itu, ” demikian juga Roh Kudus yang dikaruniakan Allah kepada sekalian orang yang menurut Dia.”

    A: Silahkan periksa lagi dalam “Lukas” pasal 1 ayat 41.

    B: Pasal ini menyebutkan bahwa: “Maka berlakulah tatkala Elisabet mendengar salam Maria itu, meloncatlah kanak-kanak yang di dalam rahimnya itu dan Elisabet penuh Roh Kudus.

    A: Sudah jelas sekali bahwa arti Roh Kudus adalah Roh Suci yang dikaruniakan oleh Allah kepada siapa pun yang dikehendakinya. Kalau sekiranya Roh Kudus itu diartikan dengan Allah atau Roh Allah maka bukan Yesus saja menjadi Tuhan atau anak Tuhan, melainkan segala orang yang taat kepada Tuhan, para Nabi dan Elisabet (istri Zakaria) pun mestinya Tuhan juga.

    Kesamaan Yesus dan Elisa (Ilyas): Bisa Menghidupkan Orang Mati (Atas Kehendak Allah)

    B: Yesus dianggap Tuhan oleh karena ia mempunyai Roh Ketuhanan, terbukti dengan pangkat Ketuhanannya sehingga ia dapat menghidupkan orang mati. Inilah kesamaan Allah dengan Yesus.

    A: Kalau begitu, silahkan periksa di “Kitab Raja-raja yang kedua” pasal 13 ayat 21.

    B: Baik, di sini ada menyebutkan: “Maka sekali peristiwa apabila dikuburkannya seorang Anu, tiba-tiba terlihat mereka itu suatu pasukan lalu dicampakkannya orang mati itu ke dalam kubur Elisa, maka baru orang mati itu dimasukkan ke dalamnya dan kena mayat Elisa itu, maka hiduplah orang itu pula, lalu bangun berdiri”.

    [Elisa = Ilyas, dalam Islam, pent.]

    A: Di sini menyebutkan malah tulang-tulang Elisa dapat menghidupkan orang mati. Jadi bukan Yesus saja dapat menghidupkan orang mati bahkan tulang-tulang Elisa dapat menghidupkan orang mati. Yang berarti tulang-tulang Elisa adalah tulang-tulang ketuhanan. Kalau Yesus di waktu hidupnya dapat menghidupkan orang mati, akan tetapi Elisa di waktu tak bernyawa, malah hanya dengan tulang-tulangnya, yang di dalam kubur dapat menghidupkan orang mati. Kalau perbuatan Yesus dikatakan ajaib maka Elisa lebih ajaib dari pada Yesus. Jadi seharusnya Elisa pun dianggap Tuhan juga. Periksa lagi di “Kitab Raja-Raja yang pertama” pasal 17 ayat 22.

    B: Ya, di sini menyebutkan: “Maka didengar akan Do’a Elisa itu, lalu kembalilah nyata kanak-kanak itu ke dalamnya sehingga hiduplah ia pula”.

    A: Kalau secara adil, seharusnya Elisa dianggap Tuhan juga.

    Kesamaan Yesus dan Elisa (Ilyas): Bisa Menyembuhkan Orang Buta (Atas Kehendak Allah)

    B: Tetapi Yesus dapat menyembuhkan orang buta sehingga melihat.

    A: Kalau begitu periksa “Kitab Raja-Raja yang kedua” pasal 6 ayat 17 dan 30.

    B: Ya di pasal itu menyebutkan yang maksudnya bahwa Elisa dapat menyembuhkan orang buta, sehingga dapat melihat.

    A: Kalau begitu, Elisa pun harus dianggap Tuhan juga, karena menyamai Yesus dan menyamai sifat Tuhan.

    Kesamaan Yesus dan Elisa (Ilyas): Bisa Menyembuhkan Penyakit Lepra (Atas Kehendak Allah)

    B: Sekali lagi Yesus dapat menyembuhkan penyakit lepra (penyakit kusta)

    A: Silahkan periksa kitab “Raja-Raja yang kedua” pasal 5 ayat 10 dan 11.

    B: Baik, di pasal dan ayat itu menyebutkan yang maksudnya bahwa Elisa dapat menyembuhkan orang sakit kusta bernama Naaman.

    A: Jadi Elisa pun dapat menyembuhkan orang buta dan penyakit kusta malah dapat menghidupkan orang mati. Mengapa tidak diangkat juga menjadi Tuhan?

    B: Akan tetapi pasal kejadian Yesus tanpa pencampuran laki-laki dengan istrinya. Inilah kelebihan rohnya Yesus daripada rohnya Elisa.

    A: Asal kejadian Nabi Adam tanpa bapak dan ibu. Mengapa Adam tidak dianggap Tuhan? Juga Hawa asal kejadiannya tanpa ibu, ia pun bisa dianggap juga Tuhan Wanita.

    B: Tetapi Adam dan Hawa kedua-duanya berdosa.

    A: Kalau begitu Yesus pun berdosa, karena Yesus keturunan Maria, sedang Maria keturunan Adam dan Hawa. Yesus sendiri pernah dibawa oleh Iblis ke puncak gunung. Pantaskah Tuhan dibawa oleh Iblis?

    B: Di mana cerita itu disebutkan? Yesus Dibawa Iblis ke Puncak Gunung

    A: Di Bibel. Silahkan Saudara periksa “Lukas” pasal 4 ayat 5.

    B: Baik, di situ menyebutkan: “Maka Iblis pun membawa dia ke puncak gunung.”

    A: Nah, suatu kejadian aneh, Tuhan dibawa iblis yang berarti ia tunduk kepada kemauan iblis.

    B: Walaupun demikian Yesus tetap suci daripada dosa.

    A: Para Nabi lainnya pun suci daripada dosa. Akan tetapi mereka tidak menganggap dirinya selaku Tuhan, malah Yesus sendiri pun tidak juga mengaku Tuhan, sedangkan pengikut-pengikutnya mempertuhankan dia.

    B: Tidak demikian, nabi-nabi berbuat dosa, tetapi Yesus tidak.

    A: Nabi-nabi yang berbuat dosa atau kesalahan itu telah bertobat, lalu diberi ampun oleh Tuhan, sebagaimana juga Yesus pernah minta ampun dan diberi ampun oleh Tuhan. Mereka para Nabi diberi ampun, artinya dosanya telah habis karenanya, lalu mereka disebut bersih dari dosa dan kesalahan-kesalahan.

    Yesus pun Berdosa

    B: Di manakah menyebutkan bahwa Yesus merasa ia minta ampun kepada Tuhan?

    A: Silahkan Saudara periksa sendiri di “Matius” pasal 6 ayat 12.

    B: Baik, di pasal dan ayat tersebut menyebutkan: “Dan ampunilah kiranya kami segala kesalahan kami, seperti kami ini sudah mengampuni orang yang berkesalahan kepada kami.

    A: Jelas Yesus sendiri meminta ampun akan kesalahannya. Jadi dia pernah berbuat kesalahan.

    B: Tetapi di ayat ini juga ada menyebutkan bahwa Yesus suka memberikan ampun semua kesalahan orang kepadanya.

    A: Kalau hanya begitu, kitapun bisa. Kitapun bersedia memberikan ampun kepada orang-orang yang berbuat kesalahan kepada kita.

    Misteri Malkisedik

    B: Tetapi tidak ada manusia selain Adam yang dilahirkan ke dunia ini tanpa bapak, melainkan Yesus saja. Jadi masih dapat dibenarkan kalau Yesus disebut “Putera Tuhan” atau “Tuhan Anak”.

    A: Kalau misalnya ada seorang manusia yang dilahirkan tanpa bapak dan ibu, maka orang itu pasti akan diakui oleh Saudara bahwa ia lebih berhak menduduki jabatan Tuhan daripada Yesus dilahirkan tanpa bapak saja.

    B: Tetapi dalam sejarah manusia belum pernah ada, dan mustahil adanya.

    A: Kalau kiranya ada, maka yang manakah di antara keduanya yang lebih tinggi derajat Ketuhanannya antara Yesus yang dilahirkan hanya tanpa bapak saja dengan manusia yang dilahirkan tanpa bapak dan ibu?

    B: Menurut akal tentunya manusia yang dilahirkan tanpa bapak dan ibu itu lebih tinggi derajat ketuhanannya. Oleh karena ia dilahirkan lebih ajaib keadaannya daripada kelahiran Yesus.

    A: Benarkah demikian pendapat Saudara?

    B: Ya, saya akui, manusia yang demikian lebih ajaib daripada Yesus, akan tetapi saya minta supaya Bapak tunjukkan di Kitab, dan Bapak harus mengambil dari Kitab yang terkenal, bukan dari buku-buku dongengan atau ceritera-ceritera khayalan saja.

    A: Supaya lekas beres urusan ini, silahkan Saudara periksa di Kitab Bibel atau Injil, Kitab Suci Saudara sendiri.

    B: Di Bab dan pasal berapakah ada menyebutkan?

    A: Silahkan Saudara periksa di “Ibrani” pasal 7 ayat 1, 2 dan 3.

    B: Baik, di pasal dan ayat ini menyebutkan seperti berikut: “Adapun Malkisedik itu, yaitu raja di Salem dan Imam Allah taala, yang sudah berjumpa dengan Ibrahim tatkala Ibrahim kembali daripada menewaskan raja-raja, lalu diberkatinya Ibrahim”. “Kepadanya juga Ibrahim sudah memberi bahagian sepuluh Esa. Makna Malkisedik itu kalau diterjemahkan, pertama-tama artinya raja keadilan, kemudian pula raja di Salem, yaitu raja damai”. Yang tiada berbapak dan tiada beribu dan tiada bersilsilah, dan tiada berawal…”.

    A: Cukup, Saudara telah membaca di kitab suci Saudara sendiri, bahwa Malkisedik seorang raja di Salem tanpa bapak dan ibu, malah tiada silsilahnya. Sesuai dengan pendapat Saudara, apakah cerita yang disebutkan dalam kitab suci Saudara ini berupa dongengan atau cerita-cerita khayalan? Kalau dikatakan dongeng atau cerita khayalan, maka apakah Saudara akan terima kalau ada yang mengatakan bahwa kitab suci Saudara ada mengandung cerita-cerita khayalan atau dongengan yang dibuat-buat? Dan kalau Saudara masih mempertahankan kesucian kitab Saudara itu mengapakah Saudara tidak mengangkat Malkisedik menjabat Tuhan juga, malah jabatan ketuhanannya tentunya lebih tinggi daripada Yesus. Dan berpegang dengan pendirian Saudara sendiri bahwa kelahiran Malkisedik itu lebih ajaib dari Yesus, oleh karena Yesus dilahirkan tanpa bapak sedangkan Malkisedik dilahirkan tanpa bapak dan ibu. Selain itu Malkisedik masih mempunyai kelebihan lagi daripada Yesus, oleh karena Yesus dilahirkan dengan bersilsilah, yaitu dari Maria, sedangkan menurut Bibel sendiri Malkisedik dilahirkan tanpa silsilah sama sekali. Apakah Saudara masih akan mempertahankan ketuhanan Yesus…?

    B: Saya lantas tidak mengerti dan menjadi bingung!

    A: Tidak mengerti itu tidak apa-apa, dan bingung sebenarnya tidak apa-apa, karena kalau sudah mengerti rasa bingung akan lenyap dengan sendirinya.

    B: Ya, saya membenarkan keterangan Bapak. Tetapi dalam Kitab Injil Johanes pasal 1 ayat 1 dan 2 menyebutkan: “Maka pada mulanya ada itu Kalam, maka Kalam itu serta dengan Allah, dan Kalam itu Allah. Ia itu pada mulanya serta dengan Allah. Kata “Ia” di ayat ini maksudnya ialah “Yesus”. Jadi Yesus beserta dengan Allah.

    A: Dalam susunan ayat tersebut di atas ada kata penghubung ialah: “serta” atau beserta. Kalau ada orang berkata “Si Salim dengan si Amin”, maka susunan kalimat ini semua orang dapat mengerti bahwa si Salim tetap si Salim bukan si Amin jadi berdasarkan ayat Bibel yang Saudara baca dengan susunan “Ia” (Yesus) beserta Allah, langsung dapat dimengerti bahwa Yesus bukan Allah, dan Allah bukan Yesus. Jelaslah bahwa Yesus tidak sama dengan Allah, dengan kata lain kata Yesus bukan Tuhan. Dan di ayat itu juga disebutkan bahwa Kalam itu Allah. Padahal Kalam itu bukan Allah dan Allah bukan Kalam. Jadi Allah dan Kalam pun lain.

    B: Bagaimana kalau Yesus disebut saja anak Tuhan?

    A: Saya sudah jelaskan tentang itu pada Saudara dalam pembicaraan kita yang lalu. Dan Saudara telah mengakui kebenaran keterangan saya. Sekarang saya tambah, Kalau Tuhan itu beranak, baik anaknya berupa manusia seperti Yesus atau lainnya, maka ke-Esa-an Tuhan sudah ternoda karenanya. Sedang kita pun tidak mungkin menodai ke-Esa-an Tuhan.

    B: Tetapi dalam kitab: “Wahyu” pasal 22 ayat 13 menyebutkan: “Maka Aku inilah Alif dan Ya, yang terdahulu dan yang kemudian. Yang Awal dan Yang Akhir”.

    A: Rangkaian perkataan itu bukan perkataan Yesus sendiri, melainkan firman Allah kepada Yesus. Bukti kebenaran perkataan saya ini silahkan Saudara periksa di Kitab “Wahyu” tersebut pasal 21 ayat 6.

    B: Baik, pasal dan ayat ini menyebutkan: “Maka firmannya kepadaku: “Sudahlah genap; Aku inilah Alif dan Ya, yaitu Yang Awal dan Yang Akhir”.

    A: Jelas di ayat itu menyebutkan: “Maka firmannya kepadaku” Siapakah yang berfirman kepadaku (kepada Yesus) di ayat ini?

    B: Tentu Allah yang berfirman.

    A: Jadi yang berfirman Aku inilah Alif dan Ya, Yang Awal dan Yang Akhir, bukan perkataan Yesus sendiri, tetapi firman Allah kepada Yesus.

    B: Di Johanes pasal 8 ayat 58 Yesus berkata: “Sebelumnya Ibrahim aku sudah ada”. Jadi bisa dianggap Yesus itu permulaan.

    A: Kalau Yesus dikatakan “Permulaan”, maka diapun tidak benar. Karena pada mulanya Yesus itu tidak ada, lalu diperanakkan oleh Maria dan sesudah itu Yesus mati. Walaupun ia dikatakan hidup lagi. Dan orang sudah mati itu tidak bisa dikatakan: “seorang yang terkemudian” dan kalau Yesus itu hidup lagi, tidak bisa dikatakan: “Permulaan” bukan pula “Yang Terkemudian” bukan “Yang Awal” maupun “Yang Akhir”.

    B: Saya lantas makin tidak mengerti, malah tambah membingungkan saya karena pada mulanya Yesus itu tidak ada, lalu diperanakkan oleh Maria dan sesudah itu Yesus mati. Yang pada mulanya tidak ada, tidak bisa disebut: “Permulaan”. Kalau Yesus diperanakkan, mustahil bisa disebut “Permulaan”. dan kalau Yesus pernah mati, mustahil bisa disebut “Yang Terkemudian”

    A: Supaya lebih jelas kepada Saudara maka saya hadapkan pertanyaan: Andaikata Yesus itu disebut “Permulaan” maka apa dengan dasar inikah Saudara mengakui Yesus itu Tuhan?

    B: Ya, betul begitu.

    A: Kalau demikian, bagaimanakah anggapan Saudara, kalau sekiranya dalam kitab suci Saudara ada menyebutkan bahwa ada seseorang manusia Yesus, yang tidak ada permulaannya dan tidak ada kesudahannya. Apakah manusia itu akan diakui Tuhan juga oleh Saudara?

    B: Di pasal manakah menyebutkan demikian.

    A: Sebelum saya tunjukkan, apakah Saudara masih tetap berpendirian akan mengakui Tuhan kepada seorang yang tidak ada permulaan dan kesudahannya, sebagaimana Saudara bertuhan kepada Yesus?

    B: Kalau betul ada, tentu saya bimbang atau sekurang-kurangnya meragukan saya atas kebenaran Yesus selaku Tuhan.

    A: Mestinya Saudara mengakui Tuhan dua-duanya, dengan lain kata disamping Yesus ada lagi Tuhan Tambahan.

    B: Ya, bisa juga begitu. Akan tetapi tentu saja keyakinan saya lantas tambah tidak karuan. Di pasal manakah ada menyebutkan ada seorang manusia yang tidak ada permulaan dan kesudahannya.

    A: Saya telah katakan di kitab suci Saudara sendiri. Silahkan buka Ibrani pasal 7 ayat 2 dan 3.

    B: Baik, seperti tadi sudah saya bacakan sampai baris pertama ayat ketiga dari pasal tersebut sebagai berikut: “Malkisedik yang tiada berbapa dan tiada beribu dan tiada bersilsilah dan tiada berawal dan berkesudahan hidupnya, melainkan ia diserupakan Anak Allah, maka kekallah ia selama-salamanya”.

    A: Bagaimana perasaan Saudara dengan susunan ayat ini. Berdasarkan ayat ini bukan Yesus saja yang menjadi permulaan tetapi juga Malkisedik.

    B: Keyakinan saya memang jadi bimbang terhadap Ketuhanan Yesus.

    A: Bimbang atau tidaknya terserah Saudara, yang jelas tidak ada niat sama sekali untuk mengajak Saudara meninggalkan agama Kristen. Yang penting adalah rembukan dan penelitian semata-mata. Meneliti dan menganalisa terhadap sesuatu adalah hak semua orang, asalkan penelitian itu benar-benar tidak mengganggu ketentraman umum.

    B: Terimakasih, dan saya masih akan bertanya lagi pada Bapak, maklumlah saya ini sedang mencari kepuasan yang dapat menimbulkan keyakinan saya dalam memeluk agama.

    A: Silahkan Saudara bertanya, keyakinan itu timbul setelah menyelidiki dan meneliti dengan kepuasan. Di dalam agama Islam tidak ada paksaan. Yang penting menyampaikan (da’wah), tidak lebih dari itu. Teruskanlah pertanyaan Saudara.

    B: Setelah kita bersoal jawab tentang Ketuhanan Yesus timbullah keraguan dalam hati saya, namun apakah Bapak masih bersedia menunjukkan ayat-ayat Bibel yang menyatakan bahwa Yesus itu bukan anak Tuhan?

    A: Walau telah saya tunjukkan ayat-ayat Bibel sendiri, tentang pengakuan Yesus sendiri bahwa Tuhan itu Tunggal, namun demi pengharapan Saudara akan saya penuhi juga. Akan tetapi apakah tidak sebaiknya kita lanjutkan besok malam saja oleh karena waktu sudah malam (Jam 12.25).

    B: Ya, terima kasih, besok malam saja kita lanjutkan.

    Bersambung.

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 3 September 2016 Permalink | Balas  

    Pemahaman N. Isa dan Maryam Menurut The Holy Qur’an 

    quranPemahaman N. Isa dan Maryam Menurut The Holy Qur’an

    Oleh Hedi Rachdiana

    Tulisan ini tidak bermaksud lain, ini sekedar bahan renungan. Benarkah Nabi (N).Isa bisa menghidupkan orang mati?, Berdasarkan tafsir Qur’an Suci terjemahan dari The Holy Qur’an, antara lain disebutkan sebagai berikut:

    Sepintas Tentang Maryam (Bunda Maria)

    Maryam diserahkan ke rumah suci sejak umur 3 sampai umur 12 tahun. Ia adalah termasuk golongan Pendeta yang saleh, ayahnya bernama Imran, dan Ia diasuh oleh N. Zakaria.

    Injil Lukas 1:26-27 menjelaskan, bahwa Maryam menerima khabar baik tentang kelahiran Isa (Yesus), setelah beliau menikah dengan Yusuf (bukan Nabi Yusuf) melalui suatu undian, hal ini dilakukan mengingat Maryam sejak kecil berada di rumah suci, hanya dengan cara ini beliau dapat dilepaskan untuk menikah.

    Memang sejarah Maryam dan N.Isa diselubungi kegelapan, namun dengan turunnya Qur’an mengumumkan kedudukan mereka sebenarnya sebagai hamba Tuhan yang tulus dan sekaligus menolak pandangan ekstrim, yakni pandangan kaum Yahudi bahwa Isa dikandung dalam dosa dan anak haram hasil hubungan gelap Maryam dengan Panther, dan pandangan kaum Nasrani sebagai anak Tuhan penebus dosa.

    Ketika Maryam dikhabarkan akan melahirkan seorang putera, beliau belum diberitahukan tentang pernikahannya, sehingga beliau berkata `pria belum pernah menyentuhku’, namun beliau pun mendapatkan jawabannya sendiri bahwa anak pasti akan lahir dengan jalan Allah membuat keadaan begitu rupa. Kata-kata ini bukanlah berarti bahwa beliau akan mengandung secara tidak wajar (kun fayakun lahir tanpa ayah), karena Maryam pun mempunyai anak lagi.

    Sepintas Tentang Nabi Isa (Yesus)

    N.Isa mempunyai sebutan lain yaitu Al-Masih atau Ibnu Maryam, makna Al-Masih lebih tepat disebut julukan, karena mempunyai arti orang yang suka bepergian, bepergian ini sudah merupakan kebiasaan beliau untuk berda’wah. Isa (bahasa Arab), bahasa Ibraninya Yosyua dan bahasa Yunaninya Yesus.

    Qur’an tak menyebut-nyebut suami Maryam (ayah N.Isa), hal ini mirip dengan peristiwa N.Musa. Oleh karena itu, tak disebutnya ayah N.Musa kita sepakat tidak mempersoalkan status N.Musa, dan N.Isa pun bukan berarti tidak mem-punyai ayah. Kasus ini dimungkinkan karena Maryam jauh lebih terkenal daripada Yusuf ayah N.Isa tersebut.

    “Eli, Eli, lama sabbahtani” (Tuhanku, Tuhanku mengapa Engkau tinggalkan aku), N.Isa berdo’a dengan menangis ketika disalib dan ditusuk lambungnya, ini menandakan beliau tidak ada bedanya dengan manusia biasa, mengeluarkan darah dan sakit. Beliau tidak mati konyol di palang salib, melainkan mendapat pertolongan Allah dengan cara disamarkan (ada seorang dari golongan musuhnya yang mirip beliau), beliau disembunyikan muridnya di suatu makam, berkat do’anya beliau selamat dan sembuh.

    Beliau tidak naik ke langit dan akan dibangkitkan pada hari kiamat, beliau pergi ke Galilea beserta 2 orang muridnya, mengungsi ke tempat aman dari kejaran Yahudi, beliau meninggal/dimakamkan di Kasmir yang lebih dikenal dengan nama Yuz Asaf. N.Isa tidak meninggal dalam usia 33 tahun, juga bukan lahir pada tanggal 25 Desember, melainkan hidup sampai usia 120 tahun dan meninggal secara wajar.

    N.Isa dapat bicara selagi buaian dan sesudah tua, ini hanya menunjukan tamsil/ibarat bahwa keadaan beliau akan mengalami perubahan dari bayi menjadi tua. Hendaklah direnungkan bahwa ciri- ciri ucapan beliau ialah bahwa beliau selalu berbicara dengan tamsil, marilah kita simak tentang tamsil-tamsil di bawah ini:

    Tentang Pembuatan Seekor Burung dari Tanah dan Meniupnya hingga Hidup

    Mustahil secara logika, namun mudah dipahami secara tamsil, karena derajat nabi itu jauh lebih tinggi daripada pembuat mainan burung, di lain pihak hak mencipta tidak diberikan kepada siapapun selain Allah SWT sendiri.

    N.Isa meniupkan ruh dalam manusia, artinya beliau meningkatkan derajat manusia di atas orang-orang yang condong ke duniawi, dan para murid beliau yang awalnya hina (tamsil dimisalkan tanah) setelah mendapat ajaran beliau ibarat burung terbang untuk menyebarkan kebenaran.

    Tentang Penyembuhan Orang Sakit (Buta)

    Tidak mustahil secara logika, namun hendaklah dipahami bahwa N.Isa adalah akhli menyembuhkan penyakit rohani bukan penyakit jasmani. Jadi menurut keterangan, buta di sini bukanlah buta mata lahirnya, melainkan buta hatinya, lihatlah kembali tafsir Qur’an (pada ayat- ayat lainnya) yang membicarakan tentang orang buta dan tuli.

    Tentang Menghidupkan Orang Mati

    Mustahil, karena Qur’an menerangkan sejelasnya-jelasnya bahwa orang mati tidak akan kembali lagi ke dunia, Qur’an Surat 39:42 menerangkan bahwa “Allah mencabut jiwa (manusia) pada waktu matinya, dan yang tak mati pada waktu tidurnya lalu ia menahan (jiwa) yang ia pastikan mati, dan ia kirim kembali (jiwa) yang lain, sampai waktu yang ditentukan”, atau Qur’an Surat 23:100 yang menerangkan bahwa “Dan di belakang mereka adalah tabir (barzakh), sampai hari mereka dibangkitkan”.

    Ada 3 golongan manusia yang disebut-sebut dalam Qur’an sebagai yang dihidupkan kembali, yakni:

    -Orang yang kodratnya seperti tanah (tak ubahnya seperti keadaan tanah yakni mati dan hina), lalu berserah diri kepada perilaku nabi dan akhirnya terbang tinggi ke ruang angkasa rohani yang mulia. -Orang yang sakit rohaninya lalu diobati dan sembuh. -Orang yang sungguh-sungguh mati dan dihidupkan lagi rohaninya

    Wabillahi taufik wal hidayah,

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 2 September 2016 Permalink | Balas  

    Untuk Yang Slalu Setia 

    cincinUntuk Yang Slalu Setia

    Hari itu di pemakaman, siang begitu terik dan menyengat. Para pelayat yang kebanyakan berbaju hitam memadati lokasi pemakaman. Di antara begitu banyak orang, wanita cantik itu berdiri mengenakan pakaian dan kerudung berwarna putih, ekspresi tenang terlihat di raut wajah yang tersaput kesedihan.

    Pada saat penguburan berlangsung, sebelum jenazah dimasukkan ke liang lahat, wanita itu mendekati jenazah yang terbungkus kain kafan kemudian mencium bagian kening jenazah dan membisikkan kata-kata tak terdengar dengan perasaan dan suasana yang sulit kulukiskan. Aku melihat keharuan di antara para pelayat menyaksikan adegan itu.

    Wanita itu adalah istri dari laki-laki yang pada hari itu dikubur. Setelah acara penguburan selesai satu persatu pelayat mengucapkan kalimat duka cita kepada wanita tersebut yang menyambut ucapan itu dengan senyuman manis dan kesedihan yang telah hilang dari wajahnya, seolah-olah pada saat yang seharusnya menyedihkan itu dia merasa bahagia.

    Kudekati wanita itu.

    “Kak, yang sabar ya, insya Allah abang diterima dengan baik di sisi-Nya,” ujarku perlahan. Dia menatapku dengan senyuman tanpa kata-kata. Rasa penasaran menyeruak dalam hatiku melihat ekspresinya. Tapi perasaan itu tidak kuungkapkan.

    Beberapa hari setelah pemakaman itu, aku datang ke rumah wanita itu. Kudapati ia sedang mengurus kembang mawar putih seperti apa yang sering dilakukannya. Kusapa dia dengan wajar, “Assalaamu’alaikum, sedang sibuk kak?” tanyaku

    “Wa’alaikusallam… Oh adik, ayo duduk dulu,” jawabnya seraya membereskan perlengkapan tanaman.

    “Saya mengganggu kak?” tanyaku lagi,

    “Kenapa harus mengganggu dik, ini kakak sedang menyiapkan bunga untuk dzikir nanti malam,” jawabnya.

    Sesaat setelah jawaban terakhir suasana hening terjadi di antara kami. Dengan hati-hati kuajukan perasaan yang selama beberapa hari mengganjal di hatiku. “Kak, apakah kakak tidak merasa sedih dengan kepergian abang?” tanyaku.

    Dia menatapku dan berkata, “Kenapa adik bertanya seperti itu?”

    Aku tidak segera menjawab karena takut dia tersinggung, dan, “Karena kakak justru terlihat bahagia menurut adik, kakak tersenyum pada saat pemakaman dan bahkan tidak mencucurkan airmata pada saat kepergian abang,” ujarku.

    Dia menatapku lagi dan menghela nafas panjang. “Apakah kesedihan selalu berwujud air mata?” Sebuah pertanyaan yang tidak sanggup kujawab. Kemudian dia meneruskan kembali perkataanya. “Kami telah bersama sekian lama, sebagai seorang wanita aku sangat kehilangan laki-laki yang kucintai, tapi aku juga seorang istri yang memiliki kewajiban terhadap seorang suami. Dan kegoisanku sebagai seorang wanita harus hilang ketika berhadapan dengan tugasku sebagai seorang istri,” katanya tenang.

    “Maksud kakak?” aku tambah penasaran.

    “Sebuah kesedihan tidak harus berwujud air mata, kadang kesedihan juga berwujud senyum dan tawa. Kakak sedih sebagai seorang wanita tapi bahagia sebagai seorang istri. Abang adalah seorang laki-laki yang baik, yang tidak hanya selalu memberikan pujian dan rayuan tapi juga teguran. Dia selalu mendidik kakak sepanjang hidupnya. Abang mengajarkan kakak banyak hal. Dulu abang selalu mengatakan sayang pada kakak setiap hari bahkan dalam keadaan kami tengah bertengkar. Kadang ketika kami tidak saling menyapa karena marah, abang menyelipkan kata sayang pada kakak di pakaian yang kakak gunakan. Ketika kakak bertanya kenapa? abang menjawab, karena abang tidak ingin kakak tidak mengetahui bahwa abang menyayangi kakak dalam kondisi apapun, abang ingin kakak tau bahwa ia menyayangi kakak. Jawaban itu masih kakak ingat sampai sekarang. Wanita mana yang tidak sedih kehilangan laki-laki yang begitu menyayanginya? Tapi …”

    Dia menghentikan kata-katanya.

    “Tapi apa kak?” kejarku.

    ” Tapi sebagai seorang istri, kakak tidak boleh menangis,” katanya tersenyum.

    “Kenapa?” tanyaku tidak sabar. Perlahan kulihat matanya menerawang.

    “Sebagai seorang istri, kakak tidak ingin abang pergi dengan melihat kakak sedih, sepanjang hidupnya dia bukan hanya laki-laki tapi juga seorang suami dan guru bagi kakak. Dia tidak melarang kakak bersedih, tapi dia selalu melarang kakak meratap, kata abang, Allah tidak suka melihat hamba yang cengeng, dunia ini hanya sementara dan untuk apa ditangisi.”

    Wanita itu melanjutkan, “pada satu malam setelah kami sholat malam berjamaah, abang menangis, tangis yang tidak pernah kakak lupakan, abang berkata pada kakak bahwa jika suatu saat di antara kami meninggal lebih dahulu, masing-masing tidak boleh menangis, karena siapa pun yang pergi akan merasa tidak tenang dan sedih, sebagai seorang istri, kakak wajib menuruti kata-kata abang.”

    “Pemakaman bukanlah akhir dari kehidupan tapi adalah awal dari perjalanan, kematian adalah pintu gerbang dari keabadian. Saat di dunia ini kakak mencintai abang dan kita selalu ingin berada bersama dengan orang yang kita cintai, abang adalah orang baik. Dalam perjalanan waktu abang lah yang pertama kali dicintai Allah dan diminta untuk menemui-Nya, abang selalu mengatakan bahwa baginya Allah SWT adalah sang Kekasih dan abang selalu mengajarkan kakak untuk mencintai-Nya. Saat seorang Kekasih memanggil apakah kita harus bersedih? Abang bahagia dengan kepergiannya. Dalam syahadatnya abang tersenyum dan sungguh egois jika kakak sedih melihat abang bahagia,” sambungnya.

    Tanpa memberikan kesempatan untuk aku berkata, serangkaian kata terus mengalir dari wanita itu,

    “Kakak bahagia melihat abang bahagia dan kakak ingin pada saat terakhir kakak melihat abang, kakak ingin abang tau bahwa baik abang di dunia maupun di akhirat kakak mencintainya dan berterima kasih pada abang karena abang telah meninggalkan sebuah harta yang sangat berharga untuk kakak yaitu cinta pada Allah SWT. Dulu abang pernah mengatakan pada kakak jika kita tidak bisa bersama di dunia ini kakak tidak perlu bersedih karena sebagai suami istri, kakak dan abang akan bertemu dan bersama di akhirat nanti bahkan di surga selama kami masih berada dalam jalan Allah. Dan abang telah memulai perjalanannya dengan baik, doakanlah kakak ya dik semoga kakak bisa memulai perjalanan itu dengan baik pula. Kakak sayang abang dan kakak ingin bertemu abang lagi.”

    Kali ini kulihat kakak tersenyum dan dalam keheningan taman aku tak mampu berkata-kata lagi.

    ***

    Kiriman Jingga

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 1 September 2016 Permalink | Balas  

    Puasanya Ikan Salem Merah 

    salem merahPuasanya Ikan Salem Merah

    Puasanya ikan salem merah adalah puasa alami, yang menggambarkan tanda-tanda kebesaran Allah SWT dan sebagai contoh keunikan ragam kehidupan hayati yang ada di alam sekitar kita.

    Pada masa awal hidupnya ikan salem merah hidup di air tawar. Lalu setelah dewasa, mereka bermigrasi ke lautan luas. Ikan salem merah menghabiskan sebagian hidupnya di laut, sekitar 4- 7 tahun. Ketika ikan salem merah cukup dewasa untuk berpijah mereka akan berkumpul bersama di suatu tempat di lautan. Setelah berkumpul dalam jumlah puluhan ribu, mereka akan membagi dirinya berdasarkan spesies masing-masing, dan bersama-sama kembali ke sungai tempat menetasnya dahulu. Mereka kerap harus melompati air terjun dan berbagai kesulitan lainnya, yang jaraknya bisa sejauh 1.600 kilometer dari tempat mereka hidup di lautan. Dengan rintangan yang sangat besar, ikan salem merah terus berusaha keras melawan arus sungai yang deras, dengan berbagai macam halangan kayu-kayu, batu-batu kali, kemungkinan dimangsa predator atau jatuh ke jaring nelayan. [lm: ikan ini sangat lezat dagingnya, sering dibuat juga sebagai ikan kalengan]

    Perjalanan ini terkadang membutuhkan waktu beberapa bulan lamanya. Yang mengagumkan, bahwa sejak awal perjalanan panjang ini mereka sudah mulai berpuasa. Berdasarkan penelitian para ahli, ternyata lama puasa para ikan inilah yang berguna sebagai standar naluriah untuk menuntun mereka mengenali sungai mana para ikan itu berasal. Juga kandungan lemak yang cukup tinggi pada ikan salem merah ternyata bermanfaat sebagai cadangan makanan selama migrasi balik ini. Luput dari para pemangsa dan nelayan, akhirnya dengan tubuh penuh luka dan kelelahan para ikan ini bisa mencapai hulu sungai tempat mereka ditetaskan pertama kali. Subhanallah…Maha Besar Allah !!!.

    Ketika mereka tiba di hulu sungai inilah, mereka akan otomatis bekerjasama antara pasangan jantan dan betina. Dengan sirip kecil dibelakang sirip punggungnya yang besar mereka menggali lubang kedalaman sekitar 45 cm, sebagai tempat penetasan calon telur-telur ikan. Untuk penggalian ini diperlukan waktu beberapa minggu lamanya

    Jika telah siap, sang betina akan meletakkan telur-telur yang berjumlah ribuan, dan sang jantan mengeluarkan sperma untuk membuahi telur-telur betinanya. Setelah proses ini selesai, sang calon ibu ikan akan menutup lubang tempat telur ini dengan lumpur yang cukup tebal. Kemudian pasangan ikan ini akan tetap berenang-renang di sekitar lubang telur, menunggu beberapa waktu hingga telur-telur ini menetas.

    Saat bayi-bayi ikan salem merah mendorong dirinya keluar dari lubang penetasan, sang orang tua ikan akan melihat anak-anaknya pertama dan untuk terakhir kalinya. Lalu matilah mereka, dalam keadaan berpuasa. Ikan-ikan yang mati ini akan mengapung di permukaan, kemudian berangsur turun ke dasar sungai, membusuk.

    Sebenarnya ini adalah bagian dari proses menjaga keseimbangan alam di dasar sungai.

    Mereka mati setelah meninggalkan sekelompok generasi baru, yang harus mengalami proses ‘kesulitan’ – kembali ke lautan.

    Kemudian setelah dewasa, anak-anak ikan salem merah ini akan mengulangi siklus yang sama seperti orangtuanya, dan mati dalam keadaan berpuasa.

    Subhanallah…Maha Besar Allah !!!

    Dwitra Zaky Reston

    Diambil dari tulisan Dr. `Abd Al-Hakam `Abd Al-Latif As-Sa`idi Lecturer of Entomology – Faculty of Agriculture – Al-Azhar University

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: