Updates from November, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:50 am pada 30 November 2012 Permalink | Balas  

    Bertuhan Kepada Siapa?

    Kepada siapakah manusia mesti bertuhan? Semuanya sangat bergantung pada kecerdasan akalnya. Apakah dia bisa menemukan Tuhan yang paling Perkasa atau tidak. Apakah dia bisa menemukan Tuhan yang Paling Baik ataukah tidak. Apakah dia bisa bertemu Tuhan yang Paling Besar di antara segala eksistensi alam semesta ataukah tidak.

    Banyak orang memilih Tuhan yang begitu sepele dan lemah. Misalnya, berupa kalung azimat. Atau, patung sesembahan. Atau, Dewi Keberuntungan. Atau, bahkan dirinya sendiri yang dijadikan Tuhan. Kita bisa berdiskusi panjang untuk menunjukkan betapa lemah dan sepelenya Tuhan-Tuhan yang mereka pilih itu. Dan sungguh tidak pantas menjadi Tuhan bagi orang-orang yang memiliki akal dan kecerdasan cukup baik. Apalagi kecerdasan tinggi.

    Seseorang yang memiliki kecerdasan cukup baik, pasti akan memilih Tuhan yang layak dijadikan tempat bergantung. Bukan Tuhan yang ‘tidak layak’, yang justru bergantung kepada kita. Tuhan yang ‘memberikan manfaat’ ketika disembah. Bukan Tuhan yang justru ‘memanfaatkan’ kita, atau kita yang memberikan manfaat kepada dia. Tuhan yang jauh lebih Perkasa dari kita, Bukan Tuhan yang kalah perkasa oleh kita. Tuhan yang mampu memberikan pertolongan ketika kita butuhkan, bukan Tuhan yang justru membutuhkan pertolongan kita.

    Sayangnya banyak manusia tidak melakukan pemikiran seperti itu di dalam mencari Tuhan yang pantas dia ‘sembah’ dan agung-agungkan. Entahlah, kenapa banyak manusia lebih suka bertuhan secara untung-untungan, ikut-ikutan, menduga-duga, dan bahkan asal-asalan.

    Jarang yang sengaja melakukan pencarian dengan melewati pemikiran panjang yang terstruktur dengan baik. Sehingga dia memperoleh kesimpulan meyakinkan, yang bisa dipertanggung jawabkan.

    Saya lebih suka melakukan pendekatan yang terakhir ini, dalam mencari Tuhan. Saya juga tidak mau sekadar ikut-ikutan dalam bertuhan. Sebab, semua akibatnya adalah saya sendiri yang menanggungnya. Bahagia maupun derita. Dunia maupun akhirat.

    Kepada siapakah kita sebaiknya bertuhan? Tentu pertanyaan ini sangat relevan untuk diajukan kepada siapa pun. Termasuk kepada saya dan Anda. Ya, cobalah Anda pikirkan jawabannya. Menurut Anda, kepada siapakah Anda ingin bertuhan?

    Kepada ‘sesuatu’ yang lemah ataukah yang kuat dan perkasa? Pasti Anda akan menjawabnya: ya, pastilah kepada yang kuat dan perkasa. Masa iya, kita mau bertuhan kepada yang lemah?!

    Kepada siapakah Anda ingin bertuhan, kepada yang pintar ataukah yang bodoh? Pastilah juga Anda akan menjawab: tentu saja kepada yang pintar bahkan sangat pintar!! Tahu segala macam sehingga bisa menjadi tempat bertanya dan berkonsultasi!

    Kepada siapakah juga Anda ingin bertuhan, kepada yang besar ataukah yang kecil? Tentu pula Anda akan menjawab: saya kira kita semua ingin bertuhan kepada sesuatu yang besar Jauh lebih besar dari kita. Bahkan sangat besar, sehingga lebih besar dari apa pun yang pernah kita pahami!

    Kepada siapakah Anda ingin bertuhan, kepada yang suka ngasih rezeki atau yang malah moroti rezeki kita? Sudah juga bisa dipastikan, bahwa Anda akan bertuhan kepada yang suka ngasih rezeki.

    Dan seterusnya. Dan seterusnya. Anda bisa menginventarisasi spesifikasi Tuhan yang Anda inginkan, beratus-ratus spesifikasi lagi.

    Tapi intinya, pasti Anda ingin memiliki Tuhan yang bisa dibanggakan. Tuhan yang bisa dijadikan tempat bergantung ketika butuh pertolongan. Tuhan yang bisa ngajari ilmu pengetahuan dan kepahaman tentang segala sesuatu. Tuhan yang selalu menjaga kesehatan kita dan selalu mencukupi kebutuhan hidup kita. Ya, Tuhan yang menyayangi dan sekaligus ‘menarik’ untuk kita cintai dan kita sayangi.

    Pokoknya Tuhan yang banyak memberikan manfaat dan kebahagiaan kepada kita! Bukan Tuhan yang menyusahkan kita. Anda setuju??! Sudah pasti setuju. Karena, saya juga ingin bertuhan kepada Tuhan yang demikian itu.

    Bahkan saya juga ingin Tuhan itu begitu dekatnya dengan saya, sehingga dimana pun dan kapan pun saya memerlukan pertolonganNya, saya bisa langsung bertemu denganNya. Dan pasti, DIA mengabulkan permintaan-permintaan kita dengan penuh kasih sayang.

    Bukan Tuhan yang begitu jauh dan tak jelas ‘keberadaannya” sehingga sulit dihubungi. Apalagi, Tuhan yang cuek terhadap kita. Tentu tidak masuk dalam kriteria Tuhan yang kita inginkan. Dan, sulit untuk menjadi klangenan kita, alias menjadi yang selalu kita rindukan.

    Ya, ringkas kata, tuhan yang pantas dijadikan Tuhan adalah DIA yang penuh perhatian kepada kita, sebagai hambaNya. Tuhan yang tidak membutuhkan kita untuk membangun kepentinganNya, tapi justru DIA menjadi kebutuhan kita, dan selalu memenuhi kepentingan kita. Tuhan yang ‘menguntungkan’ untuk disembah dan dijadikan pusat dari segala orientasi kehidupan kita!

    Wah, adakah eksistensi yang bisa memenuhi spesifikasi yang berat itu? Benarkah ada ‘Sosok Sempurna’ yang demikian hebat? Itulah yang mesti kita cari, kalau kita memang membutuhkan Tuhan dalam kehidupan kita. (Tapi, sebagaimana telah kita bahas di depan, kenyataannya manusia selalu butuh Tuhan, bukan?!)

    Kalau Anda tanya saya, pasti saya katakan dengan sejujurnya bahwa saya butuh Tuhan! Sebab saya sangat menyadari betapa ternyata saya memiliki banyak kekurangan dan kelemahan. Sehingga kalau saya hidup di atas kekuatan saya sendiri sepenuhnya, saya bakal menemui banyak problem yang tidak terselesaikan.

    Saya bakal mengalami stress berkepanjangan, karena saya sangat menyadari ternyata begitu banyaknya persoalan dalam hidup ini yang berada di luar kemampuan saya. Meskipun beberapa kawan mengatakan bahwa saya ini termasuk orang yang tidak bodoh-bodoh banget, punya wawasan dan skill lumayan, kemampuan manajerial yang cukup, dan sebagainya dan sebagainya. Tapi, itu kan pandangan orang luar.

    Saya sangat tahu diri saya. Bahwa saya seringkali menjadi demikian bodoh dalam menghadapi banyak persoalan. Apalagi yang berat-berat dan di luar dugaan.

    Saya juga sering mengalami stress, ketika tidak mampu mencapai sasaran-sasaran pekerjaan saya. Dan tidak jarang, itu menjadi stress berkepanjangan yang sangat menekan jiwa.

    Dulu, saya juga suka khawatir terhadap rezeki. Bukan ketika sedang lapang. Tapi ketika sedang terjepit. Saya tak jarang, juga risau dengan kesehatan.

    Lebih gelisah lagi, kalau saya ingat usia. Saya sedang antri menuju kematian. Sementara saya tidak tahu ada apakah di balik kematian itu?! Saya menjadi sangat ngeri terhadap kematian. Cerita-cerita mistis di sekitar saya menjadi penambah kegelisahan.

    Dan seterusnya. Dan seterusnya. Puluhan, atau mungkin ratusan daftar kelemahan, kekhawatiran, kegelisahan, dan problem saling silang dalam kehidupan saya.

    Saya butuh ‘Teman’ yang kuat. Yang kalau saya perlukan, IA selalu siap menolong tanpa pamrih dan memberatkan saya. Saya juga butuh ‘Konsultan’ yang hebat, karena begitu banyak pekerjaan besar yang harus saya lakukan dan selesaikan dalam hidup ini.

    Disamping itu, saya butuh pula ‘Psikiater’ yang handal. Yang ketika saya menemui masalah, saya bisa curhat sepuas-puasnya. Didengarkan dengan penuh perhatian dan bisa memberikan solusi yang tepat dan menentramkan.

    Dalam hal rezeki, saya memerlukan ‘Partner Bisnis’ bermodal raksasa. Karena saya ingin hidup sejahtera. Begitu pula saudara-saudara saya yang butuh pertolongan bisa datang kapan saja kepada saya karena saya punya ‘backing Eyang demikian dermawan. Apalagi, saya juga ingin membuka lapangan kerja seluas-luasnya bagi orang-orang yang tidak beruntung, padahal mereka sebenarnya punya skill dan ingin bekerja keras dalam hidupnya.

    Ya, dan akhirnya saya butuh seorang ‘Sahabat’ yang selalu mendampingi dalam berbagai kondisi, suka dan duka, sedih dan gembira.

    Adakah ‘orang’ yang bisa memenuhi segala keinginan itu? Apakah diri saya sendiri bisa memenuhi segala yang saya sebut di atas? Saya tahu pasti jawabannya: Tidak! Apakah kawan-kawan dan orang di sekeliling saya mau memenuhi semua keinginan ‘gila’ tersebut? Pasti malah ditertawakan oleh orang sedunia!

    Kalau begitu, siapakah yang mau menjadi ‘Sahabat’ dari orang yang egois menang sendiri  seperti saya ini? Orang yang maunya cuma menerima pertolongan atas kepentingannya sendiri. Sementara itu, orang lain yang menolongnya tidak memperoleh imbalan sedikitpun dari apa yang kita minta darinya. Jawabnya cuma satu: TUHAN! Lho, Tuhan yang mana? Tuhan yang Sesungguhnya … !!

    Begitulah Al Qur’an ngajari kita. Kalau bertuhan itu mbok ya jangan kepada hal-hal yang remeh-temeh. Tapi bertuhanlah kepada yang hebat sekalian. Jangan tanggung-tanggung! Masa iya bertuhan kepada patung, kepada azimat, kepada sesama manusia, dan kepada segala sesuatu yang jelas-jelas tidak hebat dan tidak bisa menolong kita.

    QS. Ahqaf (46) : 28

    Maka mengapa yang mereka sembah selain Allah sebagai Tuhan untuk mendekatkan diri, tidak dapat menolong mereka? Bahkan tuhan-tuhan itu telah lenyap dari mereka? Itulah akibat kebohongan mereka dan apa yang dahulu mereka ada-adakan.

    QS. Al A’raaf (7) : 197

    Dan berhala-berhala yang kamu seru selain Allah tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri.”

    QS. Al Anbiyaa (21) : 43

    Atau adakah, mereka mempunyai tuhan-tuhan yang dapat memelihara mereka dari (azab) Kami. Tuhan-tuhan itu tidak sanggup menolong diri Mereka sendiri dan tidak (pula) mereka dilindungi dari (azab) Kami itu?

    QS. Maryam (19) : 42

    Ingatlah ketika la (Ibrahim) berkata kepada bapaknya: “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?

    Betapa telaknya Allah berfirman di dalam Al Qur’an terhadap orang-orang yang bertuhan secara tidak masuk akal. Masa iya, kita bertuhan kepada sesuatu yang tidak bisa menolong kita. Lha untuk apa kita bertuhan kepadanya.

    Wong, menolong dirinya sendiri pun tidak bisa. Ya nggak usah bertuhan aja lah! Ngrepoti! Buang- buang waktu dan energi!

    Apakah yang disebut berhala? Allah menjelaskan dalam ayatNya yang lain bahwa berhala adalah segala sesuatu selain ‘Tuhan yang Sesungguhnya’. Jadi tidak selalu berupa patung. Dalam contoh di atas, kebetulan yang dimaksud berhala adalah patung-patung yang dibuat oleh orang tua nabi Ibrahim. Hal itu dikemukakan oleh Allah dalam ayat berikut ini.

    QS. An Nisaa (4) : 117

    Yang mereka sembah selain DIA itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka,

    Di era modern ini berhala bisa berarti segala macam selain Tuhan yang mendominasi hidup dan kehidupan kita. Mulai dari kesombongan terhadap diri sendiri, harta benda, kekuasaan, sampai kebergantungan kepada benda-benda supranatural atau pun mistik.

    Tapi begitulah memang cara bertuhan orang yang tidak menggunakan akal. Sekadar ikut-ikutan orang-orang di sekitarnya atau apa yang dilakukan nenek moyangnya saja.

    Al Qur’an mengkritik habis-habisan cara bertuhan yang demikian. Sebab, akan sangat mudah terjerumus kepada sesuatu yang salah. Allah telah memberikan akal kepada kita untuk menimbang dan menyeleksi informasi dari sekitar. Kita akan mempertanggung jawabkan segala keputusan itu.

    QS. Al Baqarah (2) : 170

    Dan apabila dikatakan kepada mereka: Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab:  ETidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”

    Sehingga dalam ayat yang lain lagi, Allah mengingatkan dengan nada ‘mengejek tapi menyadarkan’ bahwa berhala-berhala yang mereka jadikan Tuhan itu sebenarnya tidak berpengaruh apa pun bagi mereka. Sama saja mereka berdoa kepada berhala itu ataupun tidak, tidak ada dampaknya!

    QS. Al A’raaf (7) : 193

    Dan jika kamu menyerunya (berhala) untuk memberi Petunjuk kepadamu, tidaklah berhala-berhala itu dapat memperkenankan seruanmu; sama saja buat kamu menyeru mereka ataupun kamu berdiam diri.

    QS. Ar Ra’d (13) : 14

    Hanya bagi Allah lah do’a yang benar Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan do’a (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.

    Kenapa Mesti Allah?

    Lantas, kalau begitu : Siapakah ‘Tuhan Sebenarnya’ yang memenuhi kriteria tersebut? Marilah kita cari bersama. Tidak sulit untuk menemukannya, karena dalam sejarah kemanusiaan kita sudah mengenal berbagai macam Tuhan, dari berbagai bangsa dan berbagai agama.

    Islam sendiri tidaklah turun di zaman rasul Muhammad saja. Melainkan sejak zaman pertama kali ada manusia, Allah telah menamakan agamaNya sebagai Islam. Dan Pemeluknya disebut sebagai musslimuun alias orang yang berserah diri. Hal itu bisa kita temukan dalam berbagai ayat Al Qur’an al Karim.

    QS. Al Baqarah : 132

    Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”

    Ayat di atas telah memberikan gambaran kepada kita bahwa sejak zaman nabi Ibrahim, beliau telah menyebut agamanya sebagai agama Islam. Padahal kita tahu, bahwa anak cucu Ibrahim inilah yang menurunkan agama-agama besar yang sekarang kita kenal, yaitu Yahudi, Kristen dan Islam. Semua itu sebenarnya hanya berasal dari satu agama saja, yaitu agama Ibrahim, Islam.

    QS. Ali 1mran (3) : 19

    Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam, Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab Nya.

    QS. Al Hajj (22) : 78

    Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.

    Ayat ini juga menegaskan bahwa sejak dulu yang namanya Agama yang turun dari Allah itu adalah Islam, yang bermakna ‘berserah diri’ kepadaNya. Bahwa kemudian ada yang mengubah nama, itu baru terjadi di kemudian hari karena adanya perbedaan-perbedaan kepentingan dari penganutnya. Tapi, ‘berserah diri’ menjadi makna utama dari ‘Islam’

    Bahkan, Al Qur’an juga memberikan gambaran bahwa yang disebut ‘Islam’ itu sebenarnya adalah makna universal dari sikap ‘berserah diri’. Bukan hanya sekadar atribut, simbol, dan lambang-lambang. Bukan hanya untuk manusia, tetapi semua makhluk berakal. Baik yang di langit maupun di bumi. Hal itu digambarkan dalam ayat berikut ini.

    QS. Ali Imran : 83

    Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri siapa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.

    Maka, ‘Tuhan yang sebenarnya’ itu sesungguhnya adalah Tuhan yang satu. Tuhannya siapa saja. Tuhan dari semua makhluk yang berakal. Tidak ada yang berhak mengklaim bahwa Tuhan yang benar itu adalah Tuhan golongan atau kelompok tertentu.

    Selama kita mengacu kepada sifat-sifat yang benar dari Dzat ketuhanan itu, maka kita telah mengacu kepada Tuhan yang sama. Apa pun namanya. Dalam konteks Al Qur’an itulah yang kita sebut sebagai Allah.

    Akan lain halnya, ketika kita mengacu kepada substansi dan sifat-sifat yang berbeda. Tentu saja Tuhan yang kita maksudkan lantas berbeda pula. Al Qur’an sendiri menegaskan hal itu. Bahwa Tuhan para penganut Al Kitab sejak dulu kala, sesungguhnya adalah Tuhan yang sama. Dan kepadaNya sepatutnya setiap kita berserah diri. Sekali lagi, asalkan substansi sifat-sifatNya layak disebut Tuhan.

    QS. Al Ankabut : 46

    Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan hanya kepada-Nya kami berserah diri”

    Ayat di atas mengingatkan kepada kita, bahwa kita dilarang ‘berdebat kusir’ dengan para penganut kitab lainnya dalam hal ketuhanan. Apalagi sampai menimbulkan pertengkaran. Yang dianjurkan adalah berdiskusi secara baik untuk mencari kebenaran. Kecuali dengan orang-orang yang memang zalim, mau menang sendiri. Percuma, tidak akan menemukan solusinya. Lebih baik hentikan saja.

    Sebenarnya ‘Tuhanku dan Tuhanmu adalah Tuhan yang satu’ kata Al Qur’an. Dan kepadaNya kita semua berserah diri.

    Jadi persoalan pokoknya sebenarnya bukan pada nama penyebutannya, tetapi pada sifat-sifatNya. Meskipun kita menyebut nama Tuhan yang sama, tetapi sifat yang kita maksudkan berbeda, maka sesungguhnya kita telah bertuhan kepada Dzat yang berbeda. Sebaliknya, ketika kita menyebut nama yang berbeda, tetapi mengacu kepada sifat-sifatNya yang sama, maka sebenarnya kita telah menyembah kepada Tuhan yang sama.

    Sayangnya, kebanyakan manusia menyembah Tuhan yang namanya berbeda, dengan sifat yang berbeda pula. Sehingga, Tuhan yang dimaksudkan pun menjadi berbeda. Dan, ketika sifat-sifat itu tidak sesuai dengan kriteria ‘Tuhan Yang Sempurna’, maka Allah mengatakan itu sebagai ‘nama kosong’ belaka.

    QS. Yusuf (12) : 40

    Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,

    QS. An Najm (53) : 23

    Itu tidak lain hanyalah nama-nama Yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuknya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan  sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.

    Coba bayangkan, Allah dengah sangat tegas mengatakan, bahwa orang yang menyembah Tuhan yang karakternya tidak mengarah kepada Allah, disebutNya sebagai hanya menyembah ‘nama’. Bukan menyembah Dzat!

    Allah tidak pernah mempermasalahkan nama-nama. Karena yang lebih substansial adalah Dzat. ‘Nama’ hanyalah pepesan kosong. Dengan kata lain, Allah ingin menegaskan bahwa Tuhan di alam semesta ini tidak bisa tidak ya cuma satu saja. Apa pun namaNya, jika Ia benar-benar Tuhan, maka pasti akan mengarah kepada Dzat yang Tunggal, yaitu Allah.

    Karena itu, meskipun Allah memperkenalkan dirinya di dalam Al Qur’an ribuan kali tidak kurang dari 2500 kali namun Allah memperbolehkan kita menyebut Nya dengan nama apa saja yang kita suka, selama sesuai dengan sifat-sifatNya.

    QS. Israa’(17): 110

    Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar Rahman, Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”

    Inilah yang diamalkan oleh para sufi sejak lama. Mereka lebih suka menyebut Allah dengan Huwa (DIA). Sedangkan Nama-NamaNya lebih menunjukkan Sifat-Sifat, yang seketika mengisi ‘makna’ dalam jiwa sang sufi ketika menyebut Huwa.

    Ayah saya pernah mengajarkan kepada saya, bahwa Allah hadir di setiap nafas kita. Karena itu, ‘barengilah tarikan dan hembusan nafasmu dengan kata Huwa’ dalam hati, tanpa bersuara, katanya.

    Ketika menarik nafas,’HU’ Ketika menghembuskan nafas,’WA’ ‘ Maka, keluar masuknya nafas adalah sebuah dzikir yang tiada pernah terputus. Sementara itu, batinnya langsung mengarah kepada Allah yang SATU, dengan segala Sifat Ketuhanan yang terdapat dalam Asmaaul Husna. Ada juga yang menyebut asma ‘Allah Eketika menghembuskan nafas atau menarik nafas. Hal ini sesuai dengan firman-Nya

    Ali Imron : 191.

    (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

    QS. An Nisaa’ (4): 103

    “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

    Dengan tegas Allah swt memerintahkan kita agar selalu berdzikir (mengingatNya), baik itu di waktu berdiri, duduk, maupun berbaring. Karena kelak di Yaumul Hisab Allah menghisab setiap manusia dengan sangat teliti, sehingga hembusan dan tarikan nafaspun dimintai pertanggungan jawab.

    Maka, kita melihat korelasi yang jelas antara Islam sebagai agama universal yang bermakna ‘berserah diri’ dengan Allah sebagai Tuhan yang juga universal – Tuhannya seluruh umat manusia. Bahkan Tuhan bagi segala yang ada di dalam alam semesta.

    Coba telaah kembali ayat-ayat di atas. Bahwa Islam adalah agama universal bagi siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Bagi mereka yang menggunakan akal dalam beragama. Bukan orang-orang yang sekadar ikut-ikutan, dikarenakan nenek moyang dan orang-orang di sekitarnya berlaku demikian.

    Sementara itu, Allah sebagai Tuhannya orang-orang Islam juga bersifat universal. Tuhan yang menyediakan diri menjadi Tuhan umat manusia. Bukan hanya menjadi Tuhan bagi orang-orang yang berKTP dan beratribut Islam. Puluhan ayat dalam Al Qur’an bercerita demikian. Di antaranya adalah berikut ini.

    QS. An Nas : 1 -3

    Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia. Rajanya manusia. Sesembahan manusia.

    QS. Al A’raaf (7) : 67

    Hud berkata: “Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikitpun, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam.

    QS. Az Zumar (39) : 38

    Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Eniscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmatNya? Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku “. Kepada Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.

    Begitulah, dengan sangat meyakinkan Allah mengatakan bahwa dirinyalah satu-satunya Tuhan alam semesta dengan segala isinya. Bukan hanya karena namaNya, melainkan karena sifat-sifatNya yang Maha Sempurna. Maha Suci dari segala kekurangan. Satu-satunya Dzat yang pantas disebut Tuhan…

    QS. At Hasyr (S9) 24

    Dia lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:24 am pada 29 November 2012 Permalink | Balas  

    Menit-Menit Sangat Berharga Dalam Hidup

    “Tempat mengadu, meminta, dan kembali segala urusan bagi orang beriman hanyalah Allah, Rasulullah memberitahukan menit-menit yang sangat berharga untuk menghadap dan memohon kepada Allah”

    1. Waktu sepertiga malam terakhir saat orang lain terlelap dalam tidurnya, Allah SWT berfirman:

    “….Mereka para muttaqin sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir malam, mereka memohon ampun kepada Allah.” (QS Adz Dzariyat: 18-19).

    Rasulullah SAW bersabda: “Rabb (Tuhan) kita turun disetiap malam ke langit yang terendah, yaitu saat sepertiga malam terakhir, maka Dia berfirman: Siapa yang berdoa kepadaKu maka Aku kabulkan, siapa yang meminta kepadaKu maka Aku berikan kepadanya, dan siapa yang meminta ampun kepadaKu maka Aku ampunkan untuknya.” (HR Al Bukhari)

    Dari Amr bin Ibnu Abasah mendengar Nabi SAW bersabda: “tempat yang paling mendekatkan seorang hamba dengan Tuhannya adalah saat ia dalam sujudnya dan jika ia bangun melaksanakan sholat pada sepertiga malam yang akhir. Karena itu, jika kamu mampu menjadi orang yang berzikir kepada Allah pada saat itu maka jadilah.” (HR At Tirmidzi dan Ahmad)

    2. Waktu antara adzan dan iqamah, saat menunggu shalat berjamaah

    Rasulullah SAW bersabda: “Doa itu tidak ditolak antara adzan dan iqamah, maka berdoalah!” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban)

    Hadits Abdullah bin Amr Ibnul Ash ra, bahwa ada seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya para muadzin itu telah mengungguli kita,” maka Rasulullah SAW bersabda: “Ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh para muadzan itu dan jika kamu selesai (menjawab), maka memohonlah, kamu pasti diberi”.

    (HR Abu Dawud dan Ibnu Hibban)

    3. Pada waktu sujud, yaitu sujud dalam shlat atau sujud-sujud lain ang diajarkan Islam. (seperti sujud syukur, sujud tilawah dan sujud sahwi)

    “Kedudukan hamba yang paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika ia dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah doa.” (HR Muslim)

    Dan dalam hadits Ibnu Abbas ra, ia berkata: “Rasulullah SAW membuka tabir (ketika beliau sakit), sementara orang-orang sedang berbaris (sholat ) dibelakang Abu Bakar ra, maka Rasulullah SAW bersabda; “”Wahai sekalian manusia, sesungguhnya tidak tersisa dari mubasysyirat nubuwwah (kabar gembira lewat kenabian) kecuali mimpi baik yang dilihat oleh seorang muslim atau diperlihatkan untuknya. Ingatlah bahwasanya aku dilarang untuk membaca Al Qur’an ketika ruku’ atau ketika sujud. Adapun didalam ruku’, maka agungkanlah Allah dan adapun di salam sujud, maka bersungguh-sunguhlah berdoa, sebab (hal itu) pantas dimaqbulkan bagi kamu semua.” (HR Muslim)

    4. Setelah sholat fardhu. Yaitu setelah melaksanakan sholat-sholat wajib yang lima waktu, termasuk sehabis sholat Jumat.

    Allah berfirman: “dan bertasbihlah kamu kepadaNya di malam hari dan selesai sholat” (QS Qaaf: 40)

    “Rasulullah SAW ditanya tentang kapan doa yang paling didengar (oleh Allah), maka beliau bersabda: “Tengah malam terakhir dan setelah sholat-sholat yang diwajibkan.” (HR At Tirmidzi)

    5. Waktu-waktu khusus, tetapi tidak diketahui dengan pasti batasan-batasannya.

    “Sesungguhnya di malam hari ada satu saat (yang mustajab), tidak ada seorang muslim pun yang bertepatan pada waktu itu meminta kepada Allah kebaikan urusan dunia dan akhirat melainkan Allah pasti memberi kepadanya.” (HR Muslim)

    Dalam kitab Al JAwabul Kafi dijelaskan: “…Jika doa itu disertai dengan hadirnya kalbu dan dalam penuh khusyu’ terhadap apa yang diminta dan bertepatan dengan salah satu dari waktu-waku yang ijabah yang enam itu yaitu: (1). sepertiga akhir dari wakt malam, (2). ketika adzan, (3). waktu antara adzan dan iqamah, (4). setelah sholat-sholat fardhu, (5) ketika imam naik ke atas mimbar pada hari Jumat sampai selesainya sholat Jumat pada hari itu, (6). waktu terakhir setelah Ashar”.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:54 am pada 28 November 2012 Permalink | Balas  

    Perlukah Kita Bertuhan?

    Tidak semua kita menganggap perlu untuk bertuhan. Meskipun, ia termasuk orang yang percaya kepada adanya Tuhan. Banyak hal yang melatarbelakangi seseorang sehingga ia memilih tidak bertuhan. Sehingga, bisa jadi, muncul pertanyaan di dalam benak Anda: “Ya, sebenarnya perlukah kita bertuhan?”.

    Sejarah peradaban manusia menunjukkan, bahwa hampir di seluruh penjuru bumi manusia memiliki kebergantungan kepada sesuatu yang supranatural. Coba saja datang ke berbagai suku primitif di seluruh dunia, pasti mereka memiliki agama atau semacam agama, yang mengajarkan adanya kekuatan-kekuatan supranatural di luar kuasa manusia.

    Itulah Tuhan mereka. Apa pun bentuknya. Ada yang bertuhan kepada nenek moyangnya. Atau bertuhan kepada patung-patung. Atau bertuhan kepada ‘penghuni’ pohon. Bertuhan kepada berbagai macam azimat. Dan lain sebagainya.

    Dan sebenarnya bukan hanya pada kalangan primitif, masyarakat modern pun tidak ada yang tidak bertuhan. Meskipun, sebagian mereka menyatakan bahwa mereka tidak percaya kepada adanya Tuhan alias atheis. Pada kenyataannya mereka seringkali meminta bantuan dan bahkan bergantung kepada sesuatu, yang dianggapnya jauh lebih kuat dari dirinya. Kenapa demikian? Karena setiap kita menyadari betapa manusia ini demikian lemah. Nah, ketika seseorang telah bergantung dan bersandar kepada ‘Sesuatu yang Lebih Kuat’ itulah sebenarnya dia telah mengakui ada dan perlunya bertuhan. Apa pun namanya.

    Boleh jadi, masyarakat modern menyebutnya sebagai faktor X, kekuatan supranatural, dewi keberuntungan, dan lain sebagainya. Tapi intinya, setiap kita memerlukan adanya Tuhan dalam kehidupan kita.

    Pada skala kecerdasan yang lebih tinggi pun, tidak sedikit orang yang mengaku tidak mempercayai Tuhan. Katakanlah para ilmuwan. Baik ilmu kealaman maupun ilmu ilmu sosial, atau filsafat sekali pun.

    Sebagiannya telah saya bahas dalam diskusi sebelum ini : ‘Jiwa & Ruh. EMereka adalah orang-orang yang terlalu bertumpu pada ‘Kesadaran Inderawi’. Atau, sedikit lebih tinggi, adalah ‘Kesadaran Rasional’.

    Orang-orang yang membangun kesadarannya hanya bertumpu pada keduanya, hanya akan memperoleh kesadaran yang bersifat materialistik alias lahiriah. Mereka tidak menyangka bahwa ada eksistensi yang bersifat batiniah, yang juga nyata. Tapi, mereka tidak mampu ‘menangkapnya E

    Yang tertangkap olehnya hanya sebagian saja dari sifat ketuhanan: yang bersifat lahiriah. Dan mereka tidak menganggap itu sebagai Tuhan. Karena bagi mereka, Tuhan haruslah bersifat batiniah.

    Yang lebih jelek lagi, mereka malah menganggap Tuhan tidak perlu ada karena menurut mereka hukum alam ini sudah bisa berfungsi dengan sendirinya tanpa melibatkan eksistensi Tuhan.

    Padahal, Tuhan meliputi segala-galanya. Baik yang bersifat lahiriah maupun yang bersifat batiniah. Termasuk, hukum alam yang mereka sebut-sebut berjalan dengan sendirinya itu sebenarnya adalah perwujudan dari ‘sebagian’ sifat-sifat Ketuhanan yang bisa kita observasi secara lahiriah. Sedangkan secara holistik, eksistensi Ketuhanan itu meliputi yang lahir maupun yang batin.

    Hal ini akan kita bahas lebih jauh pada bab yang lain, ketika kita berusaha mengenal Allah, Tuhan paling sempurna yang disembah oleh manusia.

    Jadi, setiap kita sebenarnya telah mengakui keberadaan Tuhan, dan sekaligus membutuhkanNya. Karena, itu memang telah menjadi fitrah manusia. Hal itu, telah Dia firmankan di dalam KitabNya, Al Qur’an al Karim.

    QS. Al A’raaf : 172

    Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

    Jadi, jelas sekali, bahwa setiap manusia memiliki naluri ketuhanan. Persoalannya adalah, apakah mereka merasa membutuhkan kehadiranNya ataukah tidak. Dalam hal interaksi dengan Tuhan ini, mereka terdiri dari beberapa kelompok, yaitu :

    1. Orang yang tidak mau melakukan interaksi dengan Tuhan, karena merasa tidak butuh. Itulah orang-orang yang kafir alias ingkar. Mengakui keberadaanNya, tetapi tidak mau menjadikan sebagai Tuhannya. Begitulah sifat yang ditunjukkan oleh Iblis dalam kisah penciptaan manusia pertama : Adam dan Hawa.

    2. Orang yang malas berinteraksi denganNya. Mereka anggap bahwa bertuhan merepotkan saja. Mereka tidak paham tentang konsep ketuhanan, dan perlunya bertuhan dalam kehidupannya. Itulah orang-orang yang dalam istilah Qur’an disebut sebagai orang yang lalai dan bodoh. Mereka harus lebih banyak lagi membangun wacana kehidupan. Jangan sampai usianya habis, menemui ajalnya, tapi belum tahu makna kehidupan yang sesungguhnya.

    3. Orang yang melakukan interaksi dengah Tuhan secara terpaksa. Mereka menjalankan agama secara ikut-ikutan, dan menganggap Tuhan sebagai Dzat yang harus disembah. Yang kalau tidak disembah bakal menjatuhkan sanksi neraka. Dan kalau disembah bakal memberikan surga. Inilah orang yang belum tahu makna agama dan makna ibadahnya. Kelompok inilah yang disinyalir oleh rasulullah saw sebagai orang-orang yang melakukan puasa tanpa memperoleh makna puasanya kecuali lapar dan dahaga. Atau seperti orang yang sudah mengerjakan shalat, tetapi disuruh mengulangi shalatnya, karena sesungguhnya dia tidak menegakkan shalat di dalam ritual shalat. Atau seperti orang-orang yang riya’ alias pamer di dalam zakat dan infaqnya. Atau seperti orang yang berhaji tanpa memahami makna hajinya, kecuali sekadar tour ke tanah suci. Atau lebih mendasar lagi, bagaikan orang yang membaca syahadat tapi tidak pernah menyaksikan makna syahadat di dalam kesehariannya.

    4. Orang yang merasakan manfaat dalam berinteraksi dengan Tuhan. Ia menemukan bahwa Tuhan adalah ‘Sesuatu’ yang Hidup, Berkehendak, Berkuasa, Adil, Sangat Penyayang, Suka Memberi, dan Sumber Segala Kenikmatan. Maka ia selalu merindukan untuk bisa selalu berinteraksi denganNya. Orang yang demikian ini, akhirnya melakukan interaksi dengan Tuhannya secara suka rela dan bahkan mencintaiNya. Inilah orang yang disebut sebagai muslimuun, yang telah berserah diri dan bergantung sepenuhnya kepada Dzat Yang paling Sempurna, Penguasa alam semesta.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:52 am pada 27 November 2012 Permalink | Balas  

    Benarkah Tuhan Ada?

    Tidak semua kita yakin bahwa Tuhan benar-benar ada! Apalagi yakin tentang keberadaan Allah sebagai Tuhan satu-satunya di alam semesta. Kalau pun yakin, biasanya, tingkatnya tidak ‘benar-benar yakin’. Cuma sekadar percaya! Lho, memang apa beda antara ‘yakin’ dengan ‘percaya’? Dan apa pula bedanya Tuhan dengan Allah?

    Ada beberapa tingkatan orang ber keyakinan tentang keberadaan Tuhan. Tapi secara garis besar, kita bisa membaginya hanya dalam dua kelompok saja yaitu : mereka yang tidak percaya bahwa Tuhan ada, dan mereka yang mempercayai keberadaanNya. Masing-masing memiliki derajat ketidakpercayaan atau kepercayaan yang berbeda-beda.

    1. Tidak percaya bahwa Tuhan ada

    Dalam sejarah kemanusiaan, kita mengetahui ada sekelompok orang yang tidak percaya terhadap adanya Tuhan. Mereka sering kita sebut sebagai kelompok Atheis alias orang-orang yang tidak bertuhan.

    Mereka terdiri dari berbagai macam golongan masyarakat dan strata kecerdasan. Ada yang mampu secara ekonomi atau sebaliknya. Ada juga yang mampu secara intelektual dan sebaliknya. Sangat menarik untuk memahami bahwa mereka bisa mencapai kesimpulan tentang tidak adanya Tuhan. Lebih jauh, kalau dilihat latar belakangnya, mereka bisa dikelompokkan lagi ke dalam beberapa golongan.

    a. Orang yang tidak percaya kepada Tuhan karena kesombongan. Misalnya, mereka merasa tidak perlu bertuhan karena ‘merasa’ bisa mengatasi segala kebutuhannya sendiri.

    b. Orang yang tidak percaya kepada Tuhan, karena kebodohan dan ketidakmampuannya. Ini, tentu saja, sangat memprihatinkan. Karena biasanya mereka hanya menjadi korban dari orang-orang yang dianggapnya pintar dan memiliki otoritas tertentu.

    c. Orang yang tidak percaya kepada Tuhan, karena malas berpikir dan tidak mau repot karenanya. Bertuhan, menurut mereka malah dianggap sebagai kegiatan yang merepotkan saja. Karena, lantas harus melakukan upacara-upacara tertentu sebagai konsekuensi bertuhan. Jadi lebih baik tidak bertuhan saja.

    Namun, pada dasarnya, tidak ada seorang pun yang benar-benar tidak bertuhan. Dulu, kini maupun nanti. Sebab makna bertuhan, sebenarnya adalah menempatkan ‘sesuatu’ menjadi pusat dan tujuan bagi kehidupan seseorang.

    Jadi, ketika kita menempatkan ‘kekuasaan’ sebagai ‘pusat dan tujuan’ hidup kita, maka kita sebenarnya telah bertuhan pada kekuasaan. Dan ini terjadi sejak zaman dulu, kini, maupun nanti.

    Diantaranya, yang diceritakan di dalam Qur’an adalah Fir’aun dengan kekuasaannya yang besar. Sehingga, dia lantas menuhankan dirinya. Ini adalah contoh dari tipikal orang yang sombong. Dia merasa dirinya mampu mengatasi berbagai macam hal dalam kehidupannya. Bahkan dia menjadi tempat bergantung orang lain. Maka, dia merasa menjadi penguasa atas segala yang ada di sekitarnya. Kekuasaannya telah mendorong dirinya untuk bertuhan kepada dirinya sendiri. Yang kemudian, justru membawanya kepada kehancuran.

    Yang semacam Fir’aun ini bukan hanya terjadi pada zaman dulu. Sekarang pun banyak terjadi di berbagai belahan bumi. Sampai kapan pun.

    Ketika seorang presiden dari sebuah negara adikuasa menempatkan diri dan negaranya sebagai penguasa tertinggi dalam kehidupan manusia, maka ia sebenarnya telah menempatkan dirinya sebagai Tuhan. Padahal, sebenarnya tidak ada hak sedikit pun bagi seorang manusia, atau kelompok, untuk menguasai orang lain dan kelompok lain. Sungguh, ia telah menjadi Fir’aun, dalam dunia modern.

    QS. A’ A’raaf (7) : 54

    Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.

    Ayat di atas dengan sangat gamblang mengatakan itu. Bahwa menciptakan dan memerintah itu hanyalah hak Allah saja. Sedangkan manusia dengan manusia lainnya cuma saling mengingatkan dan berkoordinasi untuk membentuk kehidupan yang harmonis dan sejahtera, secara adil. Karena, setiap kita memang memiliki derajat yang sama. Tidak boleh ada yang merendahkan dan menghina satu sama lain.

    Jadi kembali kepada konsep bertuhan setiap manusia yang telah menempatkan ‘sesuatu’ sebagai pusat orientasi kehidupannya, maka ia telah menciptakan Tuhan dalam kehidupannya.

    Itu bisa berupa apa pun. Seseorang bisa bertuhan kepada diri sendiri, pada kekuasaan, pada harta benda, pada wanita cantik, pada kesenangan duniawi, dan berbagai orientasi kehidupan yang mungkin.

    Kalau begitu definisinya, maka bisa dipastikan tidak ada orang yang tidak bertuhan di dalam kehidupannya. Persoalannya tinggal, kepada apa atau siapa dia bertuhan … !

    Namun demikian, banyak juga orang yang mengatakan tidak bertuhan karena tidak paham dengan definisi ini. Termasuk orang yang sombong tersebut. Mereka tidak mau bertuhan kepada sesuatu di luar dirinya, karena menganggap dirinya sudah cukup bisa mengatasi dan memenuhi berbagai kebutuhan dalam hidupnya. Ya, sebenarnya dia telah bertuhan kepada dirinya sendiri.

    Atau ada juga, kelompok lain, yang malas bertuhan karena dianggap merepotkan saja. Maka, dia sudah bertuhan kepada kemalasannya. Atau, orang yang lain lagi, mereka yang tidak berpengetahuan dan lantas ikut-ikutan, maka mereka telah bertuhan kepada orang lain. Atau bahkan bertuhan pada ‘kebodohannya’. Jadi sekali lagi, tidak ada orang yang tidak bertuhan. Karena setiap kita memiliki kepentingan dan orientasi kehidupan yang mendominasi. Dan itulah Tuhan kita…

    2. Mereka yang percaya keberadaan Tuhan.

    Sementara itu, kelompok yang lain adalah mereka yang mempercayai bahwa Tuhan ada. Tentu saja dengan berbagai alasan dan latar belakangnya. Yang jika dikelompokkan lagi, maka orang-orang yang percaya terhadap keberadaan Tuhan ini pun ada beberapa golongan.

    a. Orang yang percaya pada Tuhan karena doktrin. Sejak kecil ia telah didoktrin oleh sekitarnya, termasuk oleh orang tua dan guru-gurunya, bahwa Tuhan memang ada. Meskipun, boleh jadi dia tidak paham alasannya. Atau tidak mengerti maksudnya. Karena banyak orang di sekitarnya percaya Tuhan itu ada, maka ia pun sepantasnya percaya bahwa Tuhan memang ada.

    b. Orang yang percaya kepada Tuhan karena logika dan rasio. Akalnya mengatakan Tuhan mesti ada. Inilah orang-orang yang mencari keberadaan Tuhan lewat kecerdasannya. Akalnya, justru tidak bisa menerima jika ada yang mengatakan bahwa Tuhan tidak ada dalam kehidupannya. Karena dia bisa benar-benar ‘melihat’ dan merasakan hadirnya ‘Suatu Kekuasaan Super’ dalam kehidupannya. Dan itulah Tuhan.

    c. Orang-orang yang percaya kepada Tuhan karena merasa membutuhkan kehadiranNya. Yang tanpa kehadiranNya, mereka merasa tidak berdaya. Inilah orang-orang yang melakukan pendekatan kepada tuhannya menggunakan Kesadaran Spiritual.

    d. Orang-orang yang memperoleh kesimpulan bahwa Tuhan yang ada di alam semesta ini sebenarnya adalah Tuhan Yang Satu. Bukan bermacam-macam seperti yang dianut oleh berbagai agama. Kita harus mencari ‘Siapakah’ sebenarnya Tuhan yang Satu itu. Dimanakah Dia berada. Bagaimanakah Dia. Dan sebagainya. Inilah orang-orang yang menggunakan Kesadaran Tauhidnya untuk mencari eksistensi Ketuhanan. Sang Penguasa Tunggal Jagad Semesta Raya.

    Jadi, bagi orang-orang yang percaya terhadap keberadaan Tuhan pun, belum tentu ia telah bertuhan secara benar. Karena, memang latar belakangnya bisa sangat beragam. Setidak-tidaknya mereka memiliki tingkat-tingkat kualitas yang berbeda-beda di dalam mempersepsi dan berinteraksi dengan Tuhannya.

    Ketika seseorang hanya ikut-ikutan dalam bertuhan kepada sesuatu yang dianggapnya Tuhan, maka kita patut mempertanyakan apakah ia telah bertuhan secara benar. Apakah ia telah memiliki persepsi yang juga benar tentang Tuhan yang diimajinasikannya. Atau lebih jauh, apakah ia telah berinteraksi secara benar pula dengan Tuhannya itu.

    Jika, mereka merasa risau dengan pertanyaan itu, barangkali akan terjadi stimulasi untuk mencari Tuhan. Baik dalam mempersepsi maupun dalam hal berinteraksi. Jika ini yang terjadi, maka kualitas bertuhan orang itu akan meningkat. Ia mulai berpikir dan menggunakan akalnya untuk mempersepsi Tuhan dan melakukan kontak-kontak denganNya.

    Pada tingkatan yang lebih tinggi, orang yang sudah percaya pada keberadaan Tuhan akan menemukan sosok Tuhan yang dia butuhkan. Pada tingkat ini ia akan melakukan interaksi lebih intensif. Apalagi, jika interaksi itu telah terasa terjadi dalam 2 arah: dialogis. Maka, ia telah menemukan Tuhannya!

    Puncaknya, orang yang demikian ini akan bertemu dengan Tuhan yang Satu. Dialah Tuhan yang menguasai segala yang ada di dalam semesta. Tuhan yang menciptakan sekaligus memelihara. Tuhan yang Maha mengasihi, Maha Menyayangi. Tuhan yang Penuh Kesempumaan dalam eksistensiNya…

    Jadi, pada bagian ini, kita boleh membuat kesimpulan sementara bahwa Tuhan adalah sesuatu yang pasti ada dalam kehidupan seseorang. Tidak mungkin seseorang tidak bertuhan. Tinggal, kepada apa dan kepada siapakah seseorang itu bertuhan.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:41 am pada 26 November 2012 Permalink | Balas  

    Makhluk dan Sang Pencipta

    Ketika kita berbicara tentang wihdatul wujud, atau Tauhidul wujud -manunggaling kawula lan gusti – kita tidak bisa melepaskan diri dari keberadaan dua tokoh terkenal: Husain bin Mansyur al Hallaj dan Syech Siti Jenar. Mereka adalah tokoh-tokoh yang dikenal sebagai penganut faham bersatunya makhluk dengan Tuhannya. Al Hallaj hidup pada abad ke 10 di Bagdad, sedangkan Syech Siti Jenar abad ke 16 di Pulau Jawa.

    Sampai akhir hayatnya dihukum oleh ‘penguasa’ pada zaman itu kedua tokoh tersebut tetap Istiqamah berpendapat bahwa Allah dan makhluk adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

    Lepas dari berbagai penyimpangan pemahaman dan kontroversi yang terjadi baik oleh para muridnya maupun periwayat konsep ‘Bersatunya Tuhan & Makhluk’ ini sangat menarik untuk dikaji.

    Benarkah Al Qur’an mengajarkan tentang ‘bersatunya Tuhan dengan makhluk ‘ataukah tidak. Sebagai konsep Tauhid, tidak bisa tidak, kita harus mendiskusikannya agar memperoleh kefahaman yang holistik alias menyeluruh. Kefahaman Tauhid yang baik akan memberikan dasar yang kuat bagi seluruh proses beragama kita.

    Saya mengenal untuk pertama kalinya tentang Tauhidul wujud dari ayah saya. Waktu itu, saya masih sekolah SD, entah usia berapa. Ayah bertanya kepada saya, saat kami masih di meja makan usai makan malam: “tahu nggak kamu, Tuhan ada dimana?”

    Ayah memang biasa mengajak diskusi anak-anaknya. Atau kadang sekadar bercerita agama. Tidak ada waktu khusus. Beliau bisa bercerita atau mengajak diskusi kapan saja beliau mau. Kebanyakan, beliau mengajarkan ilmu tauhid kepada kami.

    Namun, diskusi di meja makan itu, agaknya telah menjadi ‘provokasi’ yang sangat mengesankan dalam pemahaman saya terhadap agama, yang kemudian teringat sampai kini. Provokasi itu telah menjelma menjadi inspirasi tiada henti dalam kehidupan saya.Yang kemudian, mengalir di tulisan-tulisan saya: Terus ‘mencari’ Allah lewat pendekatan empirik.

    Waktu itu, saya menjawab pertanyaan ayah sekenanya sebagai anak kecil. Saya katakan, Tuhan ada di Surga! Ayah saya bukan membenarkan atau menyalahkan, tapi malah bertanya lagi. ‘Kalau Tuhan di Surga, apakah di luar Surga tidak ada Tuhan?”

    Wah, sulit juga bagi anak kecil untuk menjawab pertanyaan itu! Secara spontan saya menjawab pertanyaan tersebut dengan mencari jawaban lain. Saya katakan, ‘kalau begitu, Tuhan pasti ada di langit’

    Bayangan saya, langit begitu besarnya. Mungkin lebih besar dari surga. Dan saya sering melihat orang-orang berdoa menengadah ke langit. Pasti inilah jawaban yang benar, pikir saya.

    Tapi, lagi-lagi, ayah saya tidak membenarkan atau menyalahkan, melainkan menyodori pertanyaan berikutnya. “Kalau Tuhan berada di langit, apakah DIA tidak berada di Bumi bersama kita? Jauh sekall Tuhan dari kita?”

    Saya tidak mau menyerah begitu saja, meskipun saya menangkap nuansa bahwa jawaban saya tersebut dianggap ayah tidak tepat. Maka, saya lantas ‘menebak’ sekali lagi. “Kalau gitu, Tuhan bersama kita semua” sahut saya! Ayah saya tersenyum, tapi sambil bertanya terus: ‘Kalau Tuhan bersama setiap manusia, apakah DIA itu banyak? Bukankah DIA cuma SATU?” Sampai di sini, buntulah akal saya. Menyerah. “Jadi, Tuhan ada di mana?” Sergah saya setengah putus asa.

    Ayah lantas mengambil gelas yang berisi air teh di meja makan. Bukan menjawab, tapi masih terus bertanya. “Kamu lihat air teh yang berwarna kecoklatan ini. Dari mana warna tersebut?” Tentu saja saya jawab: “dari daun teh yang dicelupkan ke dalam air”

    Beliau lantas bertanya lagi:”apakah kamu bisa membedakan antara warna air dengan warna teh di dalam air teh ini?” Saya menggelengkan kepala. Karena, tentu saja, saya tidak bisa membedakan warna air dengan warna tehnya. Keduanya telah menyatu dalam ‘air teh’ yang berwarna kecoklat-coklatan.

    Begitulah keberadaan Tuhan terhadap makhluk-Nya. Tuhan ibarat air putih, sedangkan makhluk ibarat daun teh yang dicelupkan. Keduanya kini menjadi satu. Warna teh sudah larut ke dalam air putih, menjadi air teh yang berwarna kecoklat-coklatan.”

    Saya manggut-manggut. Meskipun, sebenarnya tidak cukup mengerti dengan perumpamaan tersebut. Saya hanya menangkap kesan, bahwa ayah saya sedang ingin mengajarkan: Tuhan itu bersatu dengan makhlukNya tanpa dapat dipisahkan, bagaikan warna air putih dengan warna teh, yang telah menyatu ke dalam segelas air teh…

    Ketidakpahaman saya itu terus memprovokasi pikiran saya sampai dewasa. Dan baru menemukan bentuknya setelah saya cukup dewasa dalam berpikir, bertahun-tahun kemudian. Apalagi setelah saya membaca beberapa diskusi tentang konsep wihdatul wujud dan Tauhidul wujud yang diturunkan dari Al Hallaj dan Siti Jenar. Ketiganya memiliki kemiripan dalam mempersepsi kebersatuan antara Tuhan dengan makhlukNya.

    Konsep ini memang tidak mudah untuk dipahami. Bahkan boleh dikata cukup rumit. Karena itu, tidak semua orang bisa memahami dengan tepat. Apalagi jika tidak pas dalam membuat perumpamaannya. Maka, saya lantas bisa mengerti kenapa banyak murid kedua tokoh itu, atau periwayat sejarah dan ajaran mereka, cenderung ‘meleset’ dalam memahami kebersatuannya dengan Allah.

    Saya pun baru menyadarinya belum lama ini. Setelah lebih banyak melakukan eksplorasi ayat-ayat tauhid dari dalam Al Qur’an.

    Kesalahan yang paling mendasar dari kefahaman tauhidul wujud selama ini, agaknya terletak pada ‘menyamakan derajat antara makhluk dengan Allah. Barangkali, ini dikarenakan sulitnya menjelaskan konsep manunggaling kawula lan gusti itu. Tidak ada perumpamaan yang bisa menjelaskan dengan persis, konsep tersebut.

    Ayah saya mengatakan, semakin paham kita tentang konsep tauhid, sebenarnya kita semakin tidak mampu untuk menjelaskan secara tepat. Bahasa manusia sudah tidak mencukupi lagi untuk menceritakan Eksistensi Allah.

    Namun, tidak bisa tidak, kita harus menceritakan sebagai pembelajaran. Agar kita memperoleh kepahaman. Disinilah problem utamanya.

    Ketika ayah saya mengambil air teh sebagai perumpamaan bersatunya makhluk dengan Allah, saya akui saya terjebak pada kesan bahwa Allah dan makhluk memiliki derajat yang sama. Ya, bagaikan warna air yang telah menyatu dengan warna teh.

    Saya terjebak pada kesan bahwa air memiliki volume yang sama persis dengan volume teh yang telah larut di dalam air. Yaitu, sama-sama 1 gelas! Keterjebakan ini dialami juga oleh para murid Siti Jenar atau bahkan mungkin oleh Siti Jenar sendiri ketika mengatakan ‘dirinya adalah Allah’ karena sudah bersatu denganNya. Padahal, bukan begitu maksud perumpamaan di atas. Ada juga yang mengumpamakan api dan kayu bakar, sama-sama terbakar.

    Sebenarnya, ayah saya ingin menegaskan bahwa warna teh telah larut ke dalam warna air. Atau dengan kata lain, eksistensi makhluk telah larut ke dalam eksistensi Allah, Tapi, tetap saja, warna teh bukanlah warna air, yang telah melarutkannya. Atau, to the point, makhluk bukanlah Allah. Dan Allah bukanlah makhluk!

    Dan yang kedua, dengan perumpamaan itu, beliau ingin mengatakan bahwa warna teh yang telah larut ke dalam warna air itu tidak bisa lagi dibedakan dari warna airnya. Kedua-duanya telah bersatu padu…

    Setelah dewasa, saya baru menyadari bahwa perumpamaan itu memang memiliki beberapa kelemahan dalam mewadahi konsep Tauhidul wujud. Karena bisa mengundang persepsi yang keliru. Bukan karena kesengajaan. Tetapi, sekadar karena kekurang tepatan dalam mengambil perumpamaan.

    Disinilah saya merasa perlu untuk melengkapi beberapa bagian yang saya anggap kurang pas. Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, saya melakukan berbagai eksplorasi terhadap konsep tauhid ini, dan ternyata saya tidak beranjak jauh dari apa yang diajarkan ayah saya sejak kecil.

    Bahwa makhluk memang tak mungkin berada di luar Allah. Tidak bisa tidak, makhluk mesti berasal dari Allah. Berada di dalam Nya & Bersatu denganNya.

    Tapi, barangkali sedikit berbeda dalam menguraikan masalah dan mengambil perumpamaannya. Karena, saya lebih banyak menjelaskan dari sudut pandang ilmu-ilmu empirik yang bertumpu pada rasio dan logika yang memang menjadi bahasa komunikasi masyarakat modern.

    Tentu saja, dengan satu harapan: jangan sampai pembaca menganggap dirinya sederajat dengan Allah, karena sudah merasa bersatu denganNya. Apalagi, lantas meninggalkan syariat ibadah yang diajarkan oleh Rasulullah saw!

    Semoga bermanfaat. Selamat berdiskusi…

    ***

    Dari: Sahabat

     
    • Chuckin mania 11:18 am pada 10 Desember 2012 Permalink

      Alhmdllah..sya sdikit bnyaknya dpat mnangkap apa yg agan coba smpaikan..
      klo boleh sya mnambahkan,mngkin prumpamaan yg diutarakan oleh ayah agan mmang bnar/tepat,nmun dibutuhkan pnjiwaan yg mndalam agar mmpu mngartikan makna yg trkandung dlm prumpamaan tsb.
      jika Allah SWT diibaratkan airnya dn mnusia sbg teh,kita bisa melihat bhwa air dlm glas tsb lbih mndominasi dripda tehnya..mngkin itu brmakna bhwa kekuasaan Allah mliputi sluruh mkhluk(khsusnya manusia pda konteks ini).

  • erva kurniawan 1:32 am pada 25 November 2012 Permalink | Balas  

    Sedikit Tentang Ghargharah

    Oleh : Muzammil Alfatih bin Muhlani

    “Sesungguhnya Allah senantiasa menerima taubat seorang hamba, selain hamba itu belum mengalama Ghargharah,” (Al Hadist)

    Perkataan ‘Ghargharah’ di dalam Hadist yang diriwayatkan oleh Tirmidzi di atas ialah keadaan di mana seseorang sedang bertarung melawan maut atau saat di mana ia akan melepaskan nyawanya. Sinonim Ghargharah ialah Sakaratul Maut. Tentang sakaratul maut ini, ada sebuah Hadist berbunyi: “Allahumma hawwin alaiya fii sakaratil mauti…” [Ya Allah, mudahkanlah bagiku kelak dalam menghadapi sakaratul maut]

    Di dalam Al Qur’an, tertulis: “Kullu nafsin dzaaiqotul mauti….” Kata ‘nafs’  dalam ayat tersebut di atas dapat diartikan jiwa atau nyawa, jadi ‘kullu nafs’ adalah setiap yang mempunya jiwa/nyawa.

    Kehidupan manusia menurut sebuah Hadizt, bermula dari 120 hari setelah terjadinya pembuahan. Pada saat itu Allah meniupkan rokh kepada janin. Waktu itu masih merupakan calon manusia. Jadi dapat dikatakan : “Hidup ialah berpadunya antara rokh (jiwa) dan jasad (jasmani).” Nyawa atau rokh menurut Imam Ghozali ialah :”Suatu jeni zat halus yang bersumber di dalam lubang-lubang hati manusia, yang memancarkan ke seluruh anggota tubuhnya.” Dikatakan bahwa hidup dapat diibaratkan dengan cahaya yang berada di suatu ruangan, di mana rokh adalah lampunya. Bekerjanya rokh dalam jasad adalah ibarat bekerjanya cahaya dalam ruangan. (Ikhyaau ‘uluumuddiin, juz III hal 3).

    Ghazali lebih lanjut mengatakan bahwa sakitnya orang-yang menghadapi sakaratul maut itu tidak dapat diceritakan dan tiada yang dapat mengetahuinya secara pasti, kecuali mereka yang memang telah mengalaminya. Seseorang yang sedang demikian berarti sedang mengalami pencabutan rokhnya dari seluruh urat, daging, tulang, rambut, kulit, dsb. Dan itu dapat dibayangkan betapa nyerinya sakaratul maut itu!

    Orang yang dipukul jasadnya biasanya menjerit atau mengadakan perlawanan sekedar untuk mengurang sakit dan lari menyelamatkan diri. Semua dapat dilakukannya jika ia masih mempunyai tenaga. Seseorang yang sedang mengalami ghargharah tidak demikian keadannya. Ia tidak dapat menjerit, meminta tolong, tidak dapat melawan dan melarikan diri. Sebab jasmani dan akalnya hampir tak berfungsi lagi.

    Lalu apa yang dapat dilakukannya? Pasrah. Itulah satu-satunya sikap yang benar dan baik. Pasrah sambil menahan rasa sakit/nyeri saat dicabut nyawanya.

    Ilmu Kedokteran modern belum berhasil mengungkap banyak hal yang menyangkut sakaratul maut ini. Juga tidak dapat diketahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan sakaratul maut itu, dan usaha apa yang bisa mencegahnya. Seandainya sudah berhasil menunda dan mencegah sakarat, besar kemungkinan di bumi ini takkan ditemukan pusara-pusara.

    Ada pendapat bahwa tingkat siksaan dalam sakarat tidak selalu sama bagi setiap orang. Bergantung kepada kadar iman dan dosa yang dibuatnya. Di masyarakat ada semacam pemeo, bahwa seenteng-entengnya sakarat ialah seperti seekor kambing yang sedang dikuliti.

    Bahwa sekarat merupakan sesuatu yang berat dan menimbulkan siksaan dalam bentuk tersendiri. Terbukti dari ucapan dan doa Rasulullah saw, “Allahumma hawwin ‘alaiya fii sakaratil mauti,” Pernah diceritakan mengenai masalah sakarat ini. Seorang ulama tua di hari-hari akhir hayatnya selalu mengajarkan hal-hal yang menyangkut kematian kepada murid-murdinya. Ulama tersebut membacakan sebuah Hadist yang berbunyi, “Laqqinuu mautakum la ilaha illallahu (Orang yang hampir mati talqinkanlah dengan menyruhnya mengucapkan kalimat suci Lailaha Illaallah)” Kemudian dibacakan pula sebuah Hadist, “Man Kaana aakhiru kalaamihi lailaha illaallahu, dakholal jannah,” (Siapa yang akhir ucapannya Lailaaha illaallah, maka masuklah ke sorga)

    Ketika sang ulama yang guru itu sedang menghadapi sakaratul maut, para muridnya tak lupa akan pesan ajarannya itu. Maka dituntunnya guru untuk mengucapkan kalimat Lailahaa illaallah. Tetapi apa kata guru? “Tidak” teriaknya. Tiga kali murid-murid mentaqinkannya, tiga kali pula sang guru berteriak “Tidak”. Dan semua yang menyaksikan menjadi heran. Beberapa saat kemudian, keadaan sang guru bertambah baik. Setelah baik benar berceritalah sang guru bahwa ketika  para muridnya menalqinkan kalimah suci itu datang makhluk aneh menjelma dalam pikirannya menyuruh “mempertuhan” dirinya. Sang guru menolak suruhan itu dengan mengatakan “tidak”.

    Tahulah semua, bahwa jawaban “tidak” dari sang guru tadi ditujukan kepada makhluk yang mempertuhankan dirinya. Setelah bercerita itu, sang guru mengucapkan kalimah suci dengan urut dan lancar, tenang dan mantap.

    Dan setelah selesai berucap, terdiamlah sang ulama/guru untuk selamanya. Dari kisah ini disiratkan dalam keadaan sakaratul maut, masih saja datang godaan dari syetan yang terkutuk, walaupun dia itu ulama dan guru.

    Masa/saat sakaratul maut adalah masa tertutupnya pintu taubah.

    “Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang melakukan kejahatan/dosa, hingga bila datang ajal/sakaratul maut kepada mereka (barulah) mereka mengatakan ‘sesungguhnya saya bertaubat sekarang’. Dan tak pula diterima taubat orang-orang yang mati dalam kekafiran, bagi mereka itu Kami sediakan siksa yang pedih.” (4:18).

    Wallahu’alam bishowab.

    ***

    (Diambil dari berbagai sumber. Petikan buletin Jum’at yang dibuat sendiri oleh penulis).

     
  • erva kurniawan 1:10 am pada 24 November 2012 Permalink | Balas  

    Petuah untuk Murah Rezeki dan Dijauhkan Kesulitan

    Abu Yazid Al Busthami, pelopor sufi, pada suatu hari pernah didatangi seorang lelaki yang wajahnya kusam dan keningnya selalu berkerut.Dengan murung lelaki itu mengadu,”Tuan Guru, sepanjang hidup saya, rasanya tak pernah lepas saya beribadah kepada Allah. Orang lain sudah lelap, saya masih bermunajat. Isteri saya belum bangun, saya sudah mengaji. Saya juga bukan pemalas yang enggan mencari rezeki. Tetapi mengapa saya selalu malang dan kehidupan saya penuh kesulitan?”

    Sang Guru menjawab sederhana, “Perbaiki penampilanmu dan rubahlah roman mukamu. Kau tahu, Rasulullah SAW adalah penduduk dunia yang miskin namun wajahnya tak pernah keruh dan selalu ceria. Sebab menurut Rasulullah SAW, salah satu tanda penghuni neraka ialah muka masam yang membuat orang curiga kepadanya.” Lelaki itu tertunduk. Ia pun berjanji akan memperbaiki penampilannya.

    Mulai hari itu, wajahnya senantiasa berseri. Setiap kesedihan diterima dengan sabar, tanpa mengeluh. Alhamdullilah sesudah itu ia tak pernah datang lagi untuk berkeluh kesah. Keserasian selalu dijaga. Sikapnya ramah,wajahnya senantiasa mengulum senyum bersahabat. Roman mukanya berseri.

    Tak heran jika Imam Hasan Al Basri berpendapat, awal keberhasilan suatu pekerjaan adalah roman muka yang ramah dan penuh senyum. Bahkan Rasulullah SAW menegaskan, senyum adalah sedekah paling murah tetapi paling besar pahalanya.

    Demikian pula seorang suami atau seorang isteri. Alangkah celakanya rumah tangga jika suami isteri selalu berwajah tegang. Begitu juga celakanya persahabatan sekiranya dikalangan mereka saling tidak berteguran. Sebab tak ada persoalan yang diselesaikan dengan mudah melalui kekeruhan dan ketegangan. Dalam hati yang tenang, pikiran yang dingin dan wajah cerah, Insya Allah, apapun persoalannya niscaya dapat diatasi. Inilah yang dinamakan keluarga sakinah, yang didalamnya penuh dengan cinta dan kasih sayang.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:08 am pada 23 November 2012 Permalink | Balas  

    Ibu Rumah Tangga

    Diawal pernikahan, saya dan suami membuat kesepakatan dengan ikhlas bahwa saya tinggal dirumah mengurus rumah tangga dengan fokus pada pendidikan anak. Sementara, suami menjadi kepala rumah tangga dengan fokus pekerjaan di luar rumah. Ketika itu, saya menganggap pekerjaan rumah tangga hanyalah pekerjaan sederhana, karena bukankah menjadi ibu rumah tangga adalah fitrah wanita? Tetapi, setelah menjalani kehidupan rumah tangga, saya baru sadar, ternyata pekerjaan rumah tangga itu sangat rumit.

    Seorang ibu rumah tangga tidak memiliki jam kerja tertentu, artinya, tugasnya dimulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Bahkan, menjadi ibu rumah tangga, berarti banyak belajar, seperti belajar manajemen, baik manajemen rumah tangga, manajemen keuangan sampai manajemen qalbu. Lalu belajar pembukuan, dimana aku selalu njelimet mengatur keuangan, karena penghasilan suami memang pas-pasan. Dan kemudian belajar psikologi, baik psikologi anak maupun psikologi umum.

    Bahkan, untuk bisa mensyukuri nafkah dari suami, aku harus punya bermacam-macam ketrampilan, seperti memasak yang sebelumnya jarang aku lakukan. Ketrampilan menjahit pun harus aku kuasai. Sebab, untuk pakaian anak yg jumlahnya bertambah setiap dua tahun, terlalu mahal bagiku apabila harus membeli pakaian jadi.

    Alhamdulillah, dengan bekal kemauan dan sedkit nekad, semua ketrampilan itu dapat aku kuasai. Termasuk ketrampilan pangkas rambut! Mulai rambu abinya, sampai anak keenam kutangani sendiri. Banyangkan jika upah pangkas rambut 1 orang Rp 4.000 maka aku bisa berhemat 28 ribu rupiah tiap bulan. Begitupun pakaian anak, aku bisa hemat 50 % dari harga pakaian jadi di pasaran dikalikan kebutuhan 8 orang. Bukankah penghematan cukup besar? Belum lagi, makanan jajanan yg kuolah sendiri. Aku yakin, jika beli makanan jadi harganya pasti berlipat.

    Namun, setelah sekian banyak yg kuhemat, nyatanya keuangan kami tetap seret. Rupanya penyebabnya adalah minimnya penghasilan suami. Maka jadilah aku, tiga tahun belakangan ini, seorang motivator sekaligus konsultan bagi suamiku, sehingga alhamdulillah kini suamiku telah mempunyai pekerjaan yg layak dengan status yg baik di masyarakat.

    Lalu, seiring dengan kemandirian anak-anak, aku pun memilih salah satu keahlianku untuk kusumbangkan pada masyarakat. Aku ingin lebih bernilai, tidak hanya bagi keluarga tapi juga bagi masyarakat. Alhamdulillah, suamiku mendukung niat itu.

    Kadang-kadang, timbul pikiran jahilku, berapa gajiku seharusnya atas semua tugasku ini? Aku ratu rumah tangga sekaligus pembantu. Aku manajer merangkap baby sitter. Aku juga akuntan dan konsultan suamiku dalam usahanya. Pendidik sekaligus tukang ketik, penggagas sekaligus tukang pangkas. Aku juga seorang pengobat sekaligus perawat. Keluarga kami jarang kedokter atau rumah sakit, berbekal kepandaian pijat refleksi dan juice therapy yg kupelajari dari buku. Aku juga aktor bagi anak-anak takkala menggambarkan berbagai macam watak yg ada dalam cerita yg sedang kami baca.

    Itulah karirku selama 15 tahun menjadi ibu rumah tangga.

    Aku lantas teringat kata-kata Mahbub Junaidi-Seorang ekonom Pakistan – “Jika ibu-ibu rumah tangga meminta diberikan gaji, maka nilainya adalah satu milyar dollar pertahun. Sebuah nilai yg besar utk budget sebuah negara. Syukurlah ibu-ibu rumah tangga memberikan tenaganya dengan cinta, maka tak perlu memusingkan Kepala Negara bukan?

    Aku setuju dengan pendapatnya. Aku sanggup bersusah payah menjalani karir ibu rumah tangga, walau selalu diremehkan dan jarang mendapat pengakuan yg layak dari masyarakat, hanya karena aku sangat mencintai suami dan anak-anak yang diamanahkan Allah padaku. Dan yg lebih penting dari semua itu aku mendapat cinta dari Yang Maha Pencipta. Allahu Rabbul ‘Alamin.

    Salam hormat buat ibu-ibu rumah tangga sejati. Karirmu sangat penting, dalam mempersiapkan generasi Rabbani. Dan gajimu, insya Allah kehidupan hakiki syurgawi.

    ***

    (Sumber: Majalah Ummi)

     
  • erva kurniawan 1:02 am pada 22 November 2012 Permalink | Balas  

    Ekonomi yang Membahagiakan

    Oleh : Taufik Muhammad

    Mengupas sejarah reformasi ekonomi Umar bin Abdul Aziz, dan mengapa kita gagal?

    Umar Bin Abdul Aziz muncul di persimpangan sejarah umat Islam di bawah kepemimpinan dinasti Bani Umayyah. Pada penghujung abad pertama hijriyah, dinasti ini memasuki usianya yang keenam puluh, atau dua pertiga dari usianya, dan telah mengalami pembusukan internal yang serius. Umar sendiri adalah bagian dari dinasti ini, hampir dalam segala hal. Walaupun pada dasarnya ia seorang ulama yang telah menguasai seluruh ilmu ulama-ulama Madinah, tapi secara pribadi ia juga merupakan simbol dari gaya hidup dinasti Bani Umayyah yang korup, mewah dan boros.

    Itu membuatnya tidak cukup percaya diri untuk memimpin ketika keluarga kerajaan memintanya menggantikan posisi Abdul Malik Bin Marwan setelah beliau wafat. Bukan saja karena persoalan internal kerajaan yang kompleks, tapi juga karena ia sendiri merupakan bagian dari persoalan tersebut. Ia adalah bagian dari masa lalu. Tapi pilihan atas dirinya, bagi keluarga kerajaan, adalah sebuah keharusan. Karena Umar adalah tokoh yang paling layak untuk posisi ini.

    Ketika akhirnya Umar menerima jabatan ini, ia mengatakan kepada seorang ulama yang duduk di sampingnya, Al-Zuhri, “Aku benar-benar takut pada neraka.” Dan sebuah rangkaian cerita kepahlawanan telah dimulai dari sini, dari ketakutan pada neraka, saat beliau berumur 37 tahun, dan berakhir dua tahun lima bulan kemudian, atau ketika beliau berumur 39 tahun, dengan sebuah fakta: reformasi total telah dilaksanakan, keadilan telah ditegakkan dan kemakmuran telah diraih. Ulama-ulama kita bahkan menyebut Umar Bin Abdul Aziz sebagai pembaharu abad pertama hijriyah, bahkan juga disebut sebagai khulafa rasyidin kelima.

    Mungkin indikator kemakmuran yang ada ketika itu tidak akan pernah terulang kembali, yaitu ketika para amil zakat berkeliling di perkampungan-perkampungan Afrika, tapi mereka tidak menemukan seseorang pun yang mau menerima zakat. Negara benar-benar mengalami surplus, bahkan sampai ke tingkat dimana utang-utang pribadi dan biaya pernikahan warga pun ditanggung oleh negara.

    Memulai dari Diri Sendiri, Keluarga dan Istana

    Umar Bin Abdul Aziz menyadari dengan baik bahwa ia adalah bagian dari masa lalu. Ia tidak mungkin sanggup melakukan perbaikan dalam kehidupan negara yang luas kecuali kalau ia berani memulainya dari dirinya sendiri, kemudian melanjutkannya pada keluarga intinya dan selanjutnya pada keluarga istana yang lebih besar. Maka langkah pertama yang harus ia lakukan adalah membersihkan dirinya sendiri, keluarga dan istana kerajaan. Dengan tekad itulah ia memulai sebuah reformasi besar yang abadi dalam sejarah.

    Begitu selesai dilantik Umar segera memerintahkan mengembalikan seluruh harta pribadinya, baik berupa uang maupun barang, ke kas negara, termasuk seluruh pakaiannya yang mewah. Ia juga menolak tinggal di istana, ia tetap menetap di rumahnya. Pola hidupnya berubah secara total, dari seorang pencinta dunia menjadi seorang zahid yang hanya mencari kehidupan akhirat yang abadi. Sejak berkuasa ia tidak pernah lagi tidur siang, mencicipi makanan enak. Akibatnya, badan yang tadinya padat berisi dan kekar berubah menjadi kurus dan ceking.

    Setelah selesai dengan diri sendiri, ia melangkah kepada keluarga intinya. Ia memberikan dua pilihan kepada isterinya, “Kembalikan seluruh perhiasan dan harta pribadimu ke kas negara, atau kita harus bercerai.” Tapi istrinya, Fatimah Binti Abdul Malik, memilih ikut bersama suaminya dalam kafilah reformasi tersebut. Langkah itu juga ia lakukan dengan anak-anaknya. Suatu saat anak-anaknya memprotesnya karena sejak beliau menjadi khalifah mereka tidak pernah lagi menikmati makanan-makanan enak dan lezat yang biasa mereka nikmati sebelumnya. Tapi Umar justeru menangis tersedu-sedu dan memberika dua pilihan kepada anak-anak, “Saya beri kalian makanan yang enak dan lezat tapi kalian harus rela menjebloskan saya ke neraka, atau kalian bersabar dengan makanan sederhana ini dan kita akan masuk surga bersama.”

    Selanjutnya, Umar melangkah ke istana dan keluarga istana. Ia memerintahkan menjual seluruh barang-barang mewah yang ada di istana dan mengembalikan harganya ke kas negara. Setelah itu ia mulai mencabut semua fasilitas kemewahan yang selama ini diberikan ke keluarga istana, satu per satu dan perlahan-lahan. Keluarga istana melakukan protes keras, tapi Umar tetap tegar menghadapi mereka. Hingga suatu saat, setelah gagalnya berbagai upaya keluarga istana menekan Umar, mereka mengutus seorang bibi Umar menghadapnya. Boleh jadi Umar tegar menghadapi tekanan, tapi ia mungkin bisa terenyuh menghadapi rengekan seorang perempuan. Umar sudah mengetahui rencana itu begitu sang bibi memasuki rumahnya. Umar pun segera memerintahkan mengambil sebuah uang logam dan sekerat daging. Beliau lalu membakar uang logam tersebut dan meletakkan daging diatasnya. Daging itu jelas jadi “sate.” Umar lalu berkata kepada sang bibi: “Apakah bibi rela menyaksikan saya dibakar di neraka seperti daging ini hanya untuk memuaskan keserakahan kalian? Berhentilah menekan atau merayu saya, sebab saya tidak akan pernah mundur dari jalan reformasi ini.”

    Langkah pembersihan diri, keluarga dan istana ini telah meyakinkan publik akan kuat political will untuk melakukan reformasi dalam kehidupan bernegara, khususnya dalam pemberihan KKN. Sang pemimpin telah telah menunjukkan tekadnya, dan memberikan keteladanan yang begitu menakjubkan.

    Gerakan Penghematan

    Langkah kedua yang dilakukan Umar Bin Abdul Aziz adalah penghematan total dalam penyelenggaraan negara. Langkah ini jauh lebih mudah dibanding langkah pertama, karena pada dasarnya pemerintah telah menunjukkan kredibilitasnya di depan publik melalui langkah pertama. Tapi dampaknya sangat luas dalam menyelesaikan krisis ekonomi yang terjadi ketika itu.

    Sumber pemborosan dalam penyelenggaraan negara biasanya terletak pada struktur negara yang tambun, birokrasi yang panjang, administrasi yang rumit. Tentu saja itu disamping gaya hidup keseluruhan dari para penyelenggara negara. Setelah secara pribadi beliau menunjukkan tekad untuk membersihkan KKN dan hidup sederhana, maka beliau pun mulai membersihkan struktur negara dari pejabat korup. Selanjutnya beliau merampingkan struktur negara, memangkas rantai birokrasi yang panjang, menyederhanakan sistem administrasi. Dengan cara itu negara menjadi sangat efisien dan efektif.

    Simaklah sebuah contoh bagaimana penyederhanaan sistem administrasi akan menciptakan penghematan. Suatu saat gubernur Madina mengirim surat kepada Umar Bin Abdul Aziz meminta tambahan blangko surat untuk beberapa keperluan adminstrasi kependudukan. Tapi beliau membalik surat itu dan menulis jawabannya, “Kaum muslimin tidak perlu mengeluarkan harta mereka untuk hal-hal yang tidak mereka perlukan, seperti blangko surat yang sekarang kamu minta.”

    Redistribusi Kekayaan Negara

    Langkah ketiga adalah melakukan redistribusi kekayaan negara secara adil. Dengan melakukan restrukturisasi organisasi negara, pemangkasan birokrasi, penyederhanaan sistem administrasi, pada dasarnya Umar telah menghemat belanja negara, dan pada waktu yang sama, mensosialisasikan semangat bisnis dan kewirausahaan di tengah masyarakat. Dengan cara begitu Umar memperbesar sumber-sumber pendapatan negara melalui zakat, pajak dan jizyah.

    Dalam konsep distribusi zakat, penetapan delapan objek penerima zakat atau mustahiq, sesungguhnya mempunyai arti bahwa zakat adalah sebentuk subsidi langsung. Zakat harus mempunyai dampak pemberdayaan kepada masyarakat yang berdaya beli rendah. Sehingga dengan meningkatnya daya beli mereka, secara langsung zakat ikut merangsang tumbuhnya demand atau permintaan dari masyarakat, yang selanjutnya mendorong meningkatnya suplai. Dengan meningkatnya konsumsi masyarakat, maka produksi juga akan ikut meningkat. Jadi, pola distribusi zakat bukan hanya berdampak pada hilangnya kemiskinan absolut, tapi juga dapat menjadi faktor stimulan bagi pertumbuhan ekonomi di tingkat makro.

    Itulah yang kemudian terjadi di masa Umar Bin Abdul Aziz. Jumlah pembayar zakat terus meningkat, sementara jumlah penerima zakat terus berkurang, bahkan habis sama sekali. Para amil zakat berkeliling di pelosok-pelosok Afrika untuk membagikan zakat, tapi tak seorang pun yang mau menerima zakat. Artinya, para mustahiq zakat benar-benar habis secara absolut. Sehingga negara mengalami surplus. Maka redistribusi kekayaan negara selanjutnya diarahkan kepada subsidi pembayaran utang-utang pribadi (swasta), dan subsidi sosial dalam bentuk pembiayaan kebutuhan dasar yang sebenarnya tidak menjadi tanggungan negara, seperti biaya perkawinan. Suatu saat akibat surplus yang berlebih, negara mengumumkan bahwa “negara akan menanggung seluruh biaya pernikahan bagi setiap pemuda yang hendak menikah di usia muda.”

    Mengapa sejarah tak berulang?

    Sejarah selalu hadir di depan kesadaran kita dengan potongan-potongan zaman yang cenderung mirip dan terduplikasi. Pengulangan-pengulangan itu memungkinkan kita menemukan persamaan-persamaan sejarah, sesuatu yang kemudian memungkinkan kita menyatakan dengan yakin, bahwa sejarah manusia sesungguhnya diatur oleh sejumlah kaidah yang bersifat permanen. Manusia, pada dasarnya, memiliki kebebasan yang luas untuk memilih tindakan-tindakannya. Tetapi ia sama sekali tidak mempunyai kekuatan untuk menentukan akibat dari tindakan-rindakannya. Tetapi karena kapasitas manusia sepanjang sejarah relatif sama saja, maka ruang kemampuan aksinya juga, pada akhirnya, relatif sama.

    Itulah sebab yang memungkinkan terjadinya pengulangan-pengulangan tersebut. Tentu saja tetap ada perbedaan-perbedaan waktu dan ruang yang relatif sederhana, yang menjadikan sebuah zaman tampak unik ketika ia disandingkan dengan deretan zaman yang lain.

    Itu sebabnya Allah Subhaanahu wa ta’ala memerintahkan kita menyusuri jalan waktu dan ruang, agar kita dapat merumuskan peta sejarah manusia, untuk kemudian menemukan kaidah-kaidah permanen yang mengatur dan mengendalikannya. Kaidah-kaidah permanen itu memiliki landasan kebenaran yang kuat, karena ia ditemukan melalui suatu proses pembuktian empiris yang panjang. Bukan hanya itu, kaidah-kaidah permanen itu sesungguhnya juga mengatur dan mengendalikan kehidupan kita. Dengan begitu sejarah menjadi salah satu referensi terpenting bagi kita, guna menata kehidupan kita saat ini dan esok.

    Sejarah adalah cermin yang baik, yang selalu mampu memberi kita inspirasi untuk menghadapi masa-masa sulit dalam hidup kita. Seperti juga saat ini, ketika bangsa kita sedang terpuruk dalam krisis multidimensi yang rumit dan kompleks, berlarut-larut dan terasa begitu melelahkan. Ini mungkin saat yang tepat untuk mencari sepotong masa dalam sejarah, dengan latar persoalan-persoalan yang tampak mirip dengan apa yang kita hadapi, atau setidak-tidaknya pada sebagian aspeknya, untuk kemudian menemukan kaidah permanen yang mengatur dan mengendalikannya.

    Masalah di Ujung Abad

    Ketika Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam menyatakan sebuah ketetapan sejarah, bahwa di ujung setiap putaran seratus tahun Allah Swt akan membangkitkan seorang pembaharu yang akan akan mempebaharui kehidupan keagamaan umat ini. Ketetapan itu menjadikan masa satu abad sebagai sebuah besaran waktu yang memungkinkan terjadinya pengulangan-pengulangan masalah, rotasi pola persoalan-persoalan hidup. Ketetapan itu juga menyatakan adanya fluktuasi dalam sejarah manusia, masa pasang dan masa surut, masa naik dan masa turun. Dan titik terendah dari masa penurunan itulah Allah Swt akan membangkitkan seorang pembaharu yang menjadi lokomotif reformasi dalam kehidupan masyarakat.

    Itulah yang terjadi di ujung abad pertama hijriyah dalam sejarah Islam. Sekitar enam puluh tahun sebelumnya, masa khulafa rasyidin telah berakhir dengan syahidnya Ali bin Abi Thalib. Muawiyah bin Abi Sofyan yang kemudian mendirikan dinasti Bani Umayyah di Damaskus, mengakhiri sistem khilafah dan menggantinya dengan sistem kerajaan. Pemimpin tertinggi dalam masyarakat Islam tidak lagi dipilih, tapi ditetapkan.

    Perubahan pada sistem politik ini berdampak pada perubahan perilaku politik para penguasa. Secara perlahan mereka menjadi kelompok elit politik yang eksklusif, terbatas pada jumlah tapi tidak terbatas pada kekuasaan, sedikit tapi sangat berkuasa. Sistem kerajaan dengan berbagai perilaku politik yang menyertainya, biasanya secara langsung menutup katup politik dalam masyarakat dimana kebebasan berekspresi secara perlahan-lahan dibatasi, atau bahkan dicabut sama sekali. Itu memungkinkan para penguasa menjadi tidak tersentuh oleh kritik dan tidak terjangkau oleh sorot mata masyarakat. Tidak ada keterbukaan, tidak ada transparansi.

    Dalam keadaan begitu para penguasa memiliki keleluasaan untuk melakukan apa saja yang mereka ingin lakukan. Maka penyimpangan politik segera berlanjut dengan penyimpangan ekonomi. Kezaliman dalam distribusi kekuasaan dengan segera diikuti oleh kezaliman dalam distribusi kekayaan. Yang terjadi pada mulanya adalah sentralisasi kekuasaan, tapi kemudian berlanjut ke sentralisasi ekonomi. Keluarga kerajaan menikmati sebagian besar kekayaan negara. Apa yang seharusnya menjadi hak-hak rakyat hanya mungkin mereka peroleh berkat “kemurahan hati” pada penguasa, bukan karena adanya sebuah sistem ekonomi yang memungkinkan rakyat mengakses sumber-sumber kekayaan yang menjadi hak mereka. Bukan hanya KKN yang terjadi dalam keluarga kerajaan, tapi juga performen lain yang menyertainya berupa gaya hidup mewah dan boros. Negara menjadi tidak efisien akibat pemborosan tersebut. Dan pemborosan, kata ulama-ulama kita, adalah indikator utama terjadinya kezaliman dalam distribusi kekayaan. Jadi ada pemerintahan yang korup sekaligus zhalim, penuh KKN sekaligus mewah dan boros, tidak bersih, tidak efisien dan tidak adil.

    Itulah persisnya apa yang terjadi pada dinasti Bani Umayyah. Berdiri pada tahun 41 hijriyah, dinasti Bani Umayyah berakhir sekitar 92 tahun kemudian, atau tepatnya pada tahun 132 hijriyah. Tapi sejarah dinasti ini tidaklah gelap seluruhnya. Dinasti ini juga mempunyai banyak catatan cemerlang yang ia sumbangkan bagi kemajuan peradaban Islam. Salah satunya adalah cerita sukses yang tidak terdapat atau tidak pernah terulang pada dinasti lain ketika seorang laki-laki dari klan Bani Umayyah, dan merupakan cicit dari Umar Bin Khattab, yaitu Umar Bin Abdul Aziz, muncul sebagai khalifah pada penghujung abad pertama hijriyah.

    Yang dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz adalah mempertemukan keadilan dengan kemakmuran. Ketika pemimpin yang saleh dan kuat dihadirkan di persimpangan sejarah, untuk menyelesaikan krisis sebuah umat dan bangsa. Dan itu bisa saja terulang, kalau syarat dan kondisi yang sama juga terulang. Dan inilah masalah kita, pengulangan sejarah itu tidak terjadi, karena syaratnya tidak terpenuhi.

     
    • ZULFITRIANSYAH PUTRA 11:10 am pada 22 November 2012 Permalink

      Reblogged this on Zulfitriansyah Putra.

    • Syahril R 9:40 am pada 4 Desember 2012 Permalink

      Izin Copy, semoga-moga jadi pelajaran buat petinggi-petinggi negeri muslim hari ini :)

  • erva kurniawan 1:54 am pada 21 November 2012 Permalink | Balas  

    Namaku Izrail

    “Wahai anakku! Jika ada sesuatu yang tak bisa kau pastikan bila dia datang, maka persiapkan dirimu untuk menghadapinya sebelum dia mendatangimu sedang engkau dalam keadaan lengah”

    (Nasihat Luqman kepada anaknya)

    Tiba-tiba saja ia berdiri dihadapanku. Memperkenalkan diri entah dari mana. Terus terang, aku melongo ketika orang atau lebih tepatnya mahluk itu ada dihadapanku. Entah kenapa, aku tidak terlalu kaget. Hanya saja, memang muncul rasa heran dan takut. Tubuhku yang sedang berbaring setengah terangkat. Aku menatap bengong melihatnya berdiri di hadapanku. Meski rasa takut menyergapku, aku seakan-akan tidak merasa asing dengan sosok ini.

    Kayanya pernah kenal, tapi dimana gitu. Dalam beberapa saat aku seperti pikun. Lupa. Tepatnya nggak tau apakah pernah bertemu dengannya atau tidak. Sepertinya aku mengalami dejavu, pikirku.

    Cukup lama ia memandangku dengan diam, setelah dia menyebutkan namanya begitu saja. Padahal aku nggak minta diperkenalkan. Boro-boro perkenalan, dia begitu saja mengada, makanya siapa diapun aku nggak ngeh. Izrail katanya. Siapa ya? Rasanya nama itu pernah kudengar dengan baik. Tapi aku lagi-lagi tidak mampu menggali memori dari otakku yang tiba-tiba menjadi beku.

    Ia nampaknya termasuk mahluk yang tak mau tau. Tepatnya super cuek. Apakah aku mau atau tidak, nampaknya ia memang tak peduli. Bilamana ia mau, ia akan memperkenalkan diri. Bila tidak, ya sudah lewat begitu saja. Tak peduli orang yang disapanya mau atau tidak. Apakah yang di datanginya jantungan atau tidak. Baginya itu nampaknya tidak menjadi soal benar.

    Apalagi kemunculannya yang tiba-tiba begitu. Seperti menyergap dari ketiadaan, muncul begitu saja. Bagi yang penakut, mungkin kemunculannya bisa membuat semaput. Dia seperti hantu. Untungnya aku termasuk bukan manusia yang kagetan. Sehingga kemunculannya yang tiba-tiba itu tidak terlalu membuatku semaput. Tapi yang jelas memang otakku jadi beku. Seperti sekarang ini. Memandang dengan bodoh kesosok yang luar biasa ganteng ini.

    Kupikir-pikir, memang aku belum pernah melihat wajah seperti dia ini. Wajahnya lebih mirip manekin yang dipajang ditoko-toko ketimbang manusia. Halus, berkulit bersih, bahkan seperti menimbulkan pendar sinar. Meskipun, kebersihan kulitnya agak sedikit tidak lazim dengan warna bersih yang memerah dadu seperti pipi bayi itu. Dia senyam-senyum dikulum, seperti seorang teman lama yang sedang menggoda. Wah, pikirku, ni orang kalau ikut kontes Indonesian Idol atau AFI barangkali langsung menang, yang lainnya langsung bertumbangan.

    “Sudah tau siapa aku?”, lanjutnya memecahkan kebingunganku.

    “Eh..emmmm yyyaa…siapa ya”, dengan sedikit gemetaran dan tergagap-gagap aku menjadi grogi, tapi lagi-lagi aku masih belum ngeh siapa dia, padahal dia sudah menyebutkan namanya. Nama itu memang terdengar tidak asing. Cuma, aku lagi-lagi lupa dimana pernah mendengar nama itu.

    Dia tersenyum simpul. Swear, senyumnya termasuk kategori senyum manis bagi makhluk berjenis kelamin laki-laki (terus terang saja gender ini perlu saya buat dengan font italyc karena saya sendiri bingung ini orang laki-laki atau perempuan).

    Kemudian dengan perlahan ia berkata” Aku diminta menjemputmu…”.

    “Siapa?”, tanyaku masih setengah bingung.

    “Dia…”, katanya pendek.

    “Dia siapa ya?”, tanyaku lagi, otakku masih beku, tak bisa menduga dan tak tahu dengan yang ia maksud.

    “Kkkamu sendiri siapa?”, tanyaku dengan sedikit gagap tetapi lebih mantap.

    Keberanianku muncul begitu saja. Nampaknya, ia tidak kaget dengan reaksiku yang nampaknya masih belum begitu jelas. Aku sendiri masih mencoba mengingat-ingat. Tapi, rasanya memang sel-sel kelabu otakku jadi tumpul tak bisa berpikir. Entah kenapa, kemampuan berpikirku jadi mandeg. Daya ingatku seperti berputar-putar tak menentu, tak bisa mengatur alur logis yang benar. Melompat-lompat dan terputus-putus begitu saja seperti komputer yang perangkat lunaknya error karena kerusakan prosesornya. Kira-kira pernah kenal dimana dengan sosok aneh ini. Tanpa ba-bi-bu lagi nongol dan langsung memperkenalkan diri. Kucoba mengingat-ingat sekiranya aku pernah bertemu dengannya. Disuatu tempat, di suatu waktu.

    Disela-sela kepikunannku, aku mencoba mengingat-ingat. Apakah teman sekolahku dulu pikirku. Ah, kelihatannya bukan. Tapi tetap tak bisa kuingat, siapakah pemilik sosok ganjil dihadapanku ini. Lagi pula kami masih sering kumpul-kumpul satu sama lain, meskipun sudah hampir 10 tahun angkatan kami habis alias pada lulus dari bangku kuliah. Ah, nampaknya bukan. Pelan-pelan kuhimpun daya ingatku, sedikit demi sedikit aku merasakan otakku melumer.

    Tak ada dari temanku yang penampilannya mirip dia ini. Meskipun dari lain jurusan, aku masih ingat satu persatu beberapa temanku semasa kuliah dulu. Frame demi frame aku mencoba memutar kembali wajah-wajah temanku. Si Bambang yang pernah dipenjara dulu karena aksi bakar ban di kampus. Atau si Nirwan yang jadi budayawan. Walaupun aku cuma satu dua kali ketemu dengan dia toh aku masih mengingat wajahnya. Bahkan beberapa teman satu kampus yang cuma kenal muka pun aku masih rada-rada ingat. Lha yang ada didepanku ini benar-benar asing banget. Walaupun samar-samar wajah itu seperti familiar dengan ku.

    Wajah sesosok wanita melintas sekilas, Ah tapi bukan dia, bukan dia, dia sudah lama pergi. Aku tepiskan bayangan yang melintas dari masa lalu itu. Entah kapan ketemunya akupun tidak tau. Tapi memang ada satu wajah yang sempat melintas dikepalaku, tapi tidak mungkin dia, soalnya dia memang cewek. Tapi, yah yang berdiri di hadapanku ini memang susah kujelaskan apakah cewek atau cowok. Ahhh, mungkin kawan se SMA dulu pikirku. Mencoba tidak menyerah, untuk mengingat dia yang tiba-tiba berdiri didepanku. Ingatanku pun melayang ke SMA dulu untuk mencari-cari dan mencocokkan siapa gerakan teman SMA yang mirip-mirip dia ini. Lagi-lagi aku tidak menemukan sesorang pun yang mirip dia. Kemudian kujelajahi kenangan SMP dan sekolah dasar.

    Blank…

    Benar-benar blank nih pikirku, persis komputer yang tidak ada BIOS-nya. Siapa dia ini ya. Aku membatin, sambil menatap sosoknya. Mereka-reka, mencoba mengingat dan menggali dari sel-sel kelabu diotakku. Uhh…, rasanya…nggak ada ingatan sama sekali tentang sosok yang satu ini.

    “Ngomong-ngomong sebenarnya kamu ini siapa…”, kegugupan dan kebengonganku sudah hampir lenyap. Ganti keingintahuanku muncul tentang dia sendiri.

    Sejenak ia menatapku lekat-lekat, kemudian “Ehm..aku sebenarnya pernah kamu kenal duluuuuu sekali”. Ia malah menjadi sedikit grogi. Ia mencoba memberi penekanan pada kata dulu. Jadinya terdengar sedikit aneh. Dan terus terang, senyum dikulumnya itu membuat beberapa bulu-bulu halus ditekukku mulai meremang.

    “Dddulu kapan yyya?” lanjutku setengah gemetar menuntaskan keingintahuanku.

    “Ya dulu, sewaktu kamu baru mau disinari oleh Dia”.

    Ha….apa maksudnya “disinari”. Disinari apaan ya.

    (Sepotong ayat tiba-tiba melintas, membuka suatu kenangan asosiatif masa yang telah lama sekali berlalu, Alif Laam Mim Raa, (QS 13:1).

    Lagi pula, kok ucapannya sangat takzim sewaktu ia ucapkan “Dia”. Bahkan setengah takut-takut.

    “Aku diminta segera menjemputmu”, katanya sedikit lebih takzim kepadaku.

    “Haaa”. Aku melongo antara bingung, heran, takut, dan takjub menjadi satu.

    Namanya Izrail

    “Ya Allah”, ujarku setengah tak percaya. “Engkau…engkau… Izrail malaikat?”, tanyaku.

    Ia mengangguk. Baru kusadari ia yang berdiri di hadapanku ini memang berkulit sangat bersih. Bahkan bisa kubilang bersinar. Persis seperti gambaran buku-buku tentang orang-orang yang ahli ibadah. Halus, nyaris tanpa otot dan bulu. Ya mirip kulit bayilah. Ya bulu, sama sekali tidak ada bulu dikulitnya. Wajahnya ganteng, bahkan nyaris cantik. Mungkin kenyal-kenyal dikit kalau dipegang-pegang seperti bunyi iklan sabun mandi “Dove”, pikirku. Aku yakin, ia bisa menjadi Casanova nomor wahid kalau ia mau. Atau kalau mau jadi iklan sabun mandi, mungkin cocok untuk sabun mandi apapun. Dalam arti sabun mandi kecantikan atau kegantengan. Soalnya memang sampai saat ini, kalau saja ia tidak bersuara, sulit sekali membedakan antara laki-laki atau wanita.

    Rambutnya teratur rapi tidak panjang dan tidak terlalu pendek, lurus tergerai. Sedang-sedang saja, tidak seperti orang yang habis bercukur maupun tidak bercukur lama. Malah nampaknya tidak pernah ditumbuhi kumis. Alisnya nyaris bertemu diatas hidungnya yang bangir. Dengan sorot mata yang lembut namun dingin. Bibirnya seolah terus-menerus tersenyum simpul, setengah meledek melihat kebingungan dan sekarang kekagetanku. Bahkan, sebenarnya lebih mirip bibir joker musuh bebuyutannya tokoh komik Batman dan Robin atau salah satu bintang film yang menjadi ikon sabun mandi terkenal. Walah…, senyumnya memang mirip Tamara Blezinky.

    Tidak ada yang aneh sebenarnya kalau saja orang tidak berada dalam jarak dekat. Aku yang cuma beberapa puluh senti darinya bisa melihat keganjilan sosok yang jangkung dan tampan ini. Bau harum yang tak pernah kucium dari bunga atau pewangi manapun dihirup hidungku. Rasanya bau harum, manis, dan menenangkan. Kok ya, si Izrail ini pake minyak wangi darimana pikirku. Bisa membuat aroma terapi seperti itu. Mungkin efek wewangian ini juga yang menenangkan diriku, Entahlah, aku sendiri masing dipengaruhi kebengongan dan kebingungan.

    Aku masih membanding-bandingkan sosoknya dengan beberapa public figure yang sering kulihat di bioskop dan televisi. Seingatku tidak ada peragawan ataupun bintang film yang mirip dengan dia ini. Leonardo Di Caprio yang tampan imut-imut pun tidak seperti dia, atau Pau Min Che yang aktor F4 pun jauh banget. Entah suku apa si Izrail ini. Dari melongo, kaget, bingung sekarang ada yang merambat pelan-pelan disekujur tubuhku. Bulu-bulu kudukku berdiri serentak, meremang diantara keringatku yang mulai merembes dan terasa dingin disekujur tubuhku. Aku mendadak disergap rasa takut amat sangat.

    Namun itu tak berlangsung lama. Entah darimana datangnya, perasaanku yang campur aduk itu menemukan titik keseimbangannya manakala mencermati sosok yang berdiri dihadapanku ini. Wah, memang efek wewangian ini yang membuatku tenang pikirku. Tubuhku sudah kembali ke posisi rebahan di pembaringan. Tanpa daya. Kuamati lagi sosok Izrail yang ada di hadapanku. Tepatnya bukan dihadapanku. Tapi diujung ranjangku.

    Ya, saat itu aku sebenarnya lagi terbaring lemas dipembaringanku. Bukan sakit atau pun meriang. Cuma seperti kurang gairah. Waktu itu sudah menjelang tengah malam. Jadi sebenarnya aku sudah bersiap-siap mau rebahan untuk tidur setelah membolak-balik beberapa lembar surat dari Al Qur’an versi H.B. Jassin yang diberi judul “Bacaan Mulia”. Namun kedatangannya yang tiba-tiba membuyarkan kantukku. Tak ada yang bisa kukatakan saat itu. Pelan-pelan, karena kulihat ia juga cuma berdiri disitu, aku mulai mencoba menenangkan diri. Menatapnya dengan tolol. Lalu kuberanikan diri membuka dialog lagi setelah beberapa detik kebisuan melanda kami berdua. Aku mulai menyadari datangnya sesuatu.

    “Sudah waktunyakah aku?”, tanyaku pelan. Sangat pelan sekali. Kupikir ia tak mendengar ucapanku. “Ya, sudah saatnya menghadap Dia”, katanya. Beberapa jenak aku pun cuma bisa menatapnya lagi. Tanpa komentar dan rasa apapun. Hambar. Lalu entah bagaimana tiba-tiba saja aku nyeletuk tenang. Lagi-lagi, kurasakan ketenanganku karena pengaruh wewangiannya.

    “Boleh aku meminta sesuatu sebelum engkau mengambilku…”, harapku. Ia tidak kelihatan bimbang, malah sepertinya sudah tau kalau aku akan sedikit rewel. Ia cuma mengangguk. Lalu, entah ide darimana, lidahku fasih bertanya. “Ceritakan tentang kamu…”.

    Hikayat Izrail

    Begitu saja. Ketika Ia Berkehendak melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya, maka aku mengada seperti yang lainnya dari jenisku. Tercipta begitu saja dari al-Haba dan Nur Muhammad, berkas-berkas debu dan cahaya yang memanifestasikan Kun Fa Yakuun. Aku adalah satu diantara yang tak terhitung, yang Dia ciptakan untuk menjaga kelangsungan Kun Fa Yakuun. Aku adalah bagian dari Kehendak dan Kemahakuasaan-Nya. Ada milyaran proses yang menyertai Kuasa-Nya. Sejumlah itulah kami ada. Baik yang nyata maupun yang kasat mata. Baik yang terasa maupun tidak terasa. Baik di dalam maupun di tapal batas semesta.

    Masing-masing dari kami mempunyai tugas-tugas yang spesifik. Aku adalah salah satunya yang bertugas setiap saat, bersiap sedia bilamana semua makhluk sudah tiba untuk dikembalikan kepadaNya. Karena aku dari jenis makhluk yang mengikuti kepatuhan-Nya, maka aku sebenarnya tidak pernah terikat oleh ruang dan waktu, kendati aku selalu mengikuti arus Sang Waktu, seperti layaknya mahluk lain yang berada dalam kisaran tersebut.

    Jadi pendeknya aku tak pernah mati, sebelum yang lainnya kumatikan atas kehendak-Nya. Atau makhluk semacam itulah; Yang bertasbih tanpa kenal lelah, tak kenal waktu ataupun pengertian-pengertian relativistik seperti yang dinisbahkan kepada kaummu.

    Tugasku ya seperti yang kamu rasakan ini, mengembalikan serpihan-serpihan cahaya kembali ke asalnya, ke awal mula penyaksian-Nya, ketika kalian bersaksi “Ya, Kami bersaksi!” . Aku biasanya cuma sekedar menerima catatan dari Lauh Mahfuzh, siapa-siapa yang harus kujemput saat itu. Hanya saja, karena aku tak pernah mengenal waktu, aku bisa berada dimana saja, kapan saja, tapi bukan Coca Cola lho.

    O ya, ngomong-nomong soal debu & cahaya. Memang aku terbuat dari serpihan-serpihan debu & cahaya yang menjaga proses Kun Fa yakuun. Sebenarnya, aku dan yang lainnya ada karena Dia mempunyai Kehendak dan Keinginan Yang Tak Terbantahkan; Dia ada karena Kekekalan diri-Nya, kemandirian-Nya, sehingga bagi selain-Nya, maka Dia adalah Perbendaharaan Tersembunyi.

    Aku ada, makhluk lainnya juga ada, semata-mata karena limpahan rahmat dan kasih sayang-Nya, sehingga ketika Dia mendeklarasikan Kekekalan-Nya dan Kemandirian-Nya yang Absolut maka Dia berkata:

    “Kuntu kanzan makhfiyyan fa ahbabtu an u’rafa fa khalaqtu al-khalqa fabi ‘arafu-ni –Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal, Kuciptakanlah makhluk maka melalui Aku mereka kenal Aku.

    Dia ucapkan Basmalah sebagai Rahmat dan Kasih Sayang yang Dia limpahkan, sebagai bagian dari Perbendaharaan-Nya yang tak akan ternilai oleh semua makhluk-Nya, tak akan terbalaskan kecuali oleh rahmat dan hidayah-Nya sendiri. Maka, dalam pemeliharaan Asma Ar-Rahmaan dan ar-Rahiim, Dia firmankan kehendak-Nya “Jadilah!” dan muncullah cahaya kemegahan-Nya sebagai Nur Muhammad, sebagai citra awal mula-Nya yang sempurna; kemudian aku mengetahui bahwa melaluinya aku akan mengenal-Nya.

    Dalam pusaran wawu, yang berputar melawan detak Sang Waktu, Nur Muhammad adalah cahaya-Nya yang tidak tercitrakan di alam nyata; kecuali bagi mereka yang memiliki qolbu Mukminin dan mereka yang menempatkan dirinya sebagai bagian darinya. Ketika Nur Muhammad menyinari zarah tanpa massa, yang kelak ditakdirkan menjadi al-Haba, maka dalam kuatnya pusaran wawu, Thaasin adalah firman-Nya yang memaujudkan kekuasaan-Nya, terciptalah minyak zaitun yang diberkahi, yang kilau kemilaunya mampu menerangi, kendati tanpa disentuh api.

    Simetri Kegaiban Mutlak-Nya pecah mandiri karena kehendak-Nya semata; Maka dari Kegaiban Mutlak-Nya, melimpah dengan Rahmat dan Kasih Sayang-Nya, al-Iradah-Nya goncangkan kegaiban sehingga gelombang al-Qudrah-Nya maujud mencapai batas-batas untuk segera munculkan al-Haba sebagai debu awal mula dan semburat cahaya Nur Muhammad meneranginya, hingga “Jadilah!” lelehan minyak zaitun itu seperti minyak tak tembus cahaya, lantas kehendak-Nya terkonfirmasikan sebagai plasma awal mula yang meledak-ledak dengan sendirinya, ciptakan gelombang Dentuman Awal Mula (Big-Bang), yang lontarkan al-Haba sebagai debu-debu materi pemula, yang luaskan ruang awal-mula dalam ketakberhinggaan Sang Waktu yang mengada menjadi fondasi alam nyata; darinya muncul salah satu kaumku yang mampu menjangkau setiap sudut-sudut semesta; membangun superspace awal mula; Dari Nur Muhammad, maujud salah satu kaumku mengikat semua maujud al-Haba menjadi semua makhluk, baik sendiri-sendiri sebagai

    gelembung-gelembung kuantum, maupun sintesa dari banyak zarah menjadi citarasa-citarasa , inti-inti, atom-atom, molekul-molekul, sel-sel, jaringan-jaringan, organ-organ, obyek-obyek, menjadi galaksi-galaksi, menjadi bintang-bintang, menjadi planet-planet, batuan, pegunungan, lautan, tumbuhan, binatang, manusia, dan menjadi dirimu.

    Kaum mu, tercipta dari proses setelah milyaran tahun Kun Fa Yakuun berjalan. Itulah tanah lempung dari seluruh penjuru bumi, yang pernah kuambil dulu. Lantas kemudian Dia tiupkan Ruh dari cahaya-Nya. Dia berfirman ketika itu,

    Alif Laam Ra, (Qs 2:1)

    Alif Laam Mim Ra (Qs 13:1)

    Cahayamu Dia ciptakan dengan penuh rahmat, kasih sayang dan kemuliaan-Nya. Maka “Jadilah!” kaummu yang mengemban semua amanat kesempurnaan citra-Nya; Amanat yang tak sanggup diemban kaumku, amanat yang tak sanggup diemban oleh semua makhluk kecuali kaummu. Adam yang diciptakan sebagai manusia sempurna pertama, adalah moyangmu, yang memahami asmaa-a-kullahaa, yang menjadi khalifah pertama mengemban amanat itu.

    Kamu mungkin heran, kalau aku sendiri sebenarnya mahluk yang sangat tak kasat mata. Serpihan al-Haba dan Nur Muhammad adalah bahan bakuku, yang terhalus ciptakan diriku. Disaat tertentu kaumku jadi sangat nyata dan bisa berbentuk apa saja.

    Persis seperti cahaya yang memantul atau bayang-bayang yang timbul dari setiap makhluk dibawah cahaya. Karena aku dekat dengan esensi dirimu, maka penampakkanku sebenarnya sangat tergantung pada apapun yang menggerakkan tindakanmu, motivasimu, dan niat-niatmu. Bagi kaum sejenis ku, bentuk tak berarti apa-apa.

    Selama milyaran tahun, Dia telah menetapkan masing-masing dari kami dengan urusan-urusan yang spesifik. Dia telah berfirman, Thaahaa (QS 20:1) Untuk menyingkapkan segala sesuatu, dari Asma-asma-Nya yang menjadi ketentuannya. Yang kelak engkau kenal sebagai, Alif, Ba, Jim, Dal (ABJAD) 1,2,3,4 (desimal) 10101010….(biner)

    Kami adalah kaum spesialis, dengan perintah-perintah-Nya, yang tak bisa kami bantah. Kami menyertai setiap gerak-gerik segala makhluk selain kaum kami. Karena tugas kami memang begitu. Kami awasi segala perilaku dan tindak tanduk kaummu, kesesatanmu, kemuliaan-mu. Kami bukan memata-matai, tetapi sekedar mencatat atau tugas-tugas khusus lainnya.

    Semuanya kami catat sesuai dengan yang kami ketahui. Tapi lebih tepatnya menjadi saksi atas proses kesempurnaanmu, dengan rahmat, anugerah, kasih sayang, hikmah, keadilan dan kebijaksaan-Nya. Dia telah berfirman dengan kelembutan sebelum semuanya ditampilkan dengan Basmalah, Kaf ha ya Ain Shaad (Qs 19:1) Kelembutan itu adalah “yatalaththaf” (Qs 18:19) yang memunculkan Rahmat dan Kasih Sayangnya ketika Kun fa Yakuun (Qs 36:82) dicetuskan sebagai perintah penciptaan dengan ketentuan yang pasti terjadi (QS 69:1).

    Tugas yang kuemban entah sampai kapan, aku sendiri tidak pernah diberi tahu. Seperti aku misalnya. Tugasku sangat spesifik untuk mengembalikan ruh segala mahluk kembali kepada-Nya. Setelah itu, ya sudah, petugas yang lain dari jenisku akan meneruskan proses itu. Begitu saja setiap saat dari waktu ke waktu. Monoton memang. Tapi entah kenapa aku senang-senang saja menjalankan titah-Nya itu. Bagiku menjalankan perintah-Nya bukan sekedar tugas atau perintah. Tapi menggairahkan unsur-unsur pembentukanku.

    Entah sudah berapa banyak aku mengembalikan ruh setiap mahluk di semesta ini. Dari kaum apa saja, dari ras apa saja. Yang baik-baik ataupun yang durhaka. Yang sedang sekarat ataupun yang sehat-sehat saja. Pokoknya, yang berdiam disetiap sudut semesta, yang mengikuti proses sejak Kun Fa yakuun difirmankan.

    Aku sendiri, tentu saja menjadi bagian dari proses itu. Tapi karena kuasa-Nya, tugas kami memang cuma menjaga agar proses itu berjalan seperti yang Ia Kehendaki. Kehendak-Nya adalah Kemutlakkan-Nya. Maka kaum kami seringkali merupakan bagian dari apa yang disebut sunnatullah. Aturan dan ketetapan-ketetapan yang menyertai kun fa yakuun, baik yang pasti atau tidak pasti.

    Kenapa Aku? Kenapa aku yang ditugasi begitu? Ini ada sejarahnya. Kan tadi sudah kukatakan, bahwa aku dulu pernah mengambil debu dari bumi. Ketika Dia hendak menciptakan Adam, moyangmu itu, Dia mengutus satu malaikat yang sebenarnya tugasnya memikul ‘Arsy untuk membawa debu dari bumi.

    Ketika dia ngotot ingin mengambil debu dari bumi, Bumi berkata “Aku memintamu demi Zat Yang telah mengutusnya agar engkau tidak mengambil apa pun dariku sekarang yang neraka memiliki bagian darinya”. Malaikat pemikul Arsy terkejut, maka dia pun batal mengambil debu bumi.

    Ketika ia melaporkan kepada-Nya, Dia berfirman “Apa yang mencegahmu untuk membawa apa yang telah aku perintahkan kepadamu?”. Dia menjawab, “Bumi telah meminta kepadaku demi keagungan-Mu, sehingga aku merasa berat untuk menolak sesuatu yang meminta demi Keagungan-Mu”. Maka Allah kemudian mengutus malaikat lainnya kepada bumi, tetapi bumi mengatakan alasan yang persis sama seperti sebelumnya.

    Demikian sampai entah berapa milyar tahun dalam ukuranmu sampai Allah mengutus semuanya. Akhirnya Allah mengutusku untuk mengambil debu. Bumi pun mengatakan seperti sebelumnya. Tapi, sudah menjadi kehendak-Nya kalau segala sesuatu yang berhubungan dengan debu dan tanah liat akan ditugaskan kepadaku. Aku berkata kepada bumi,”Sesungguhnya Dia yang mengutusku lebih berhak untuk ditaati daripada kamu”.

    Bumipun bungkam seribu bahasa dan pasrah atas kehendak-Nya. Akupun mengambil dari permukaan bumi seluruh tanah yang baik dan buruk, semua unsur yang ada di Bumi yang mengandung Carbon, Hidrogen dan Oksigen, dan membawanya kepada-Nya. Lalu Dia mengucurkan air surga kekumpulan debu bumi itu sehingga menjadi lumpur hitam yang diberi bentuk yaitu minthiin (Qs 23:12), dan darinya Ia menciptakan Adam.” Itulah sebabnya kenapa aku ditugaskan untuk mengambil ruh manusia dan mengembalikannya ke Yang Berhak Menentukan Nasib.

    Aku tak mengenal belas kasihan. Dulu, aku pernah berbelas kasih kepada manusia yang hendak kucabut nyawanya. Namun, kehendak Allah mengandung rahasia-rahasia yang tersembunyi, sehingga akupun malu melakukan penentangan Kehendak-Nya. Suatu hari, aku diperintahkan mencabut nyawa seorang perempuan di padang pasir yang panas. Ketika kudatangi, dia baru saja melahirkan anak laki-laki. Aku menaruh belas kasihan kepada perempuan itu karena keterpencilannya, dan juga kasihan terhadap anak laki-laki perempuan itu karena masih bayi namun tidak terawat di tengah padang pasir yang buas. Namun fatal akibatnya, karena anak kecil dimana aku menaruh belas kasih itu ternyata adalah penguasa lalim dan tiran yang tak ada duanya di bumi. Dari situ, aku memahami bahwa “Mahasuci Dia yang memperlihatkan kebaikan kepada yang dikehendaki-Nya!”.

    Ketika aku berbelas kasihan, maka aku tidak mencabut nyawa bayi itu, tapi aku kemudian menyesalinya karena apa yang kuanggap kebaikan ternyata benih kejahatan yang kubiarkan tumbuh karena aku salah menafsirkan kehendak Tuhan

    Izrail terdiam sejenak. Agaknya ia masih mengenang apa yang dilakukannya dulu. Kemudian ia melanjutkan. Jangan tanya siapakah ibu bapakku, seperti layaknya makhluk lainnya yang beribu bapak. Katakan saja, aku manifestasi Kehendak Yang Kuasa. Manifestasi al-Qudrah setelah Ia memfirmankan “kun!”.

    Seperti saya bilang tadi, kaum sejenisku tercipta begitu saja karena Ia Berkehendak. Kalau kamu bertanya berapakah banyak tugas yang telah kulakukan? Aku sendiri tidak tahu. Benar-benar tidak tahu. Karena pengetahuan tentang itu tidak kami miliki.

    Ada yang lain dari jenisku yang melakukan hitung menghitung. Itu bukan tugasku. Aku jadinya memang mahluk yang sangat spesifik. Sebenarnya kalau soal spesialisasi begini, kami tidak ada apa-apanya dibanding kalian manusia. Soalnya, hanya kaum kalianlah yang diberi kehendak bebas untuk berpikir, memilah dan memilih dengan bertanggung jawab. Kaum kami tak sanggup memikulnya, karena kami telah melihat dampak-dampaknya yang mengerikan.

    Dia pun menghendaki kami bertasbih dan sujud dihadapan Nenek Moyangmu. Pernah kami protes begini-begitu sewaktu kami diberitahu bahwa Dia Berkehendak menciptakan mahluk manusia. Namun, Dia Maha Mengetahui atas apapun yang terjadi sejak Awal dan Akhir.

    Kami sebenarnya terikat Sang Waktu seperti kaummu. Sang Waktu adalah kaum sejenisku. Ialah yang memungkinkan perubahan. Kami sebenarnya pun tau kalau manusia akan selalu begini begitu di semesta yang Dia ciptakan dengan rahmat dan kasih Sayang-Nya yang tak terbalaskan. Yang tidak kami miliki ada pada makhluk yang satu ini. Keinginan, akal, dan atribut lain yang kami tau bakal jadi masalah nanti.

    Kami memang sedikit iri, sampai Dia menunjukkan kuasaNya atas semua makhluk manusia. Kalian sebenarnya lebih tahu dari kami atas segala mahluk yang pernah Ia ciptakan.

    Kami pun lalu sujud dihadapan nenek moyangmu, Adam. Cuma satu makhluk yang tak mau sujud. Ialah Iblis yang kemudian akan selalu mendampingi kalian dalam proses Kun Fa yakuun. Maka, iapun terkutuk. Allah berfirman :

    “Keluarlah engkau dari padanya, karena sesungguhnya engkau terkutuk, dan sesungguhnya laknat atasmu sampai hari kemudian.”

    Begitulah, Iblis pun menjadi musuh abadimu dan musuhmu yang sejati. Ia menyusup di kumpulan-kumpulan debu al-Haba yang sekarang maujud menjadi semua bentuk, karena keinginan, karena hasrat, karena syahwat, karena ketamakan, kerakusan, kesombongan, dan penyakit-penyakit Sang Iblis lainnya. Aku tak kuasa mengusirnya dari sekitarmu, soalnya memang bukan tugasku. Kan tadi sudah kubilang kaumku adalah kaum spesialis. Begitulah aku.

    Izrail mengakhiri kisahnya. Aku terdiam. Kemudian, karena tugas-tugasnya itu aku bertanya tentang cara dia mengakhiri kehidupan seseorang, cara dia mengambil ruh makhluk bernyawa. “Proses pengambilan ruh? “, dia mengangkat alisnya.

    Sebenarnya bagaimana caraku mengambil ruhmu itu tergantung dari banyak hal. Dan semuanya ada didiri kamu sendiri. Ada yang mungkin menurutmu kelihatan mudah, ada juga yang sulit. Ada yang berkesan ada juga yang tidak menyimpan kesan apa-apa. Aku sendiri tidak tau kenapa bisa tidak berkesan sama sekali. Ia maunya begitu kok.

    Cara mengambilnya pun macam-macam. Kan sudah ku bilang kalau bahan dasarku adalah cahaya. Penampakanku sebenarnya tergantung dari kamu sendiri. Ada banyak hal yang mempengaruhi penampakan ku. Tapi, yang utama memang segala gerak gerik dan tingkah laku yang pernah kamu lakukan di semesta ini, akan mempengaruhi wujud penampakkanku.

    Demikian juga cara mengambil ruh kehidupan yang bersemayam di wujud fisikmu, tergantung pada kebandelan dan kepatuhanmu. Memang kaum mu ini termasuk makhluk yang diistimewakan-Nya. Sangat disayang, sangat sempurna dibanding makhluk lainnya. Hanya, seringkali kaum kamu itu ngeyel.

    Kalau tidak, malah bisa dibilang pin-pinbo alias pintar pintar bodoh. Dan yang paling menjengkelkan, kalau kaum kamu ini sudah dikuasai oleh penyakitnya Sang Iblis yang terusir. Walah, susahnya minta ampun. Padahal pengambilan ini sebenarnya proses yang biasa-biasa saja. Kamu sendiri kan tahu tiap saat ada saja yang kuambil. Dengan baik-baik atau dengan paksa, dengan sendiri-sendiri atau berkelompok, dengan senang atau dengan ketakutan. Memang sih aku sering datang tiba-tiba. Maklum namanya cuma makhluk yang cuma menjalankan perintah. Aku sendiri tidak tahu kapan harus segera menemuimu. Itu rahasia Dia Yang Penuh Rahasia.

    Kaum kami pun, yang bisa dibilang 100 % patuh dan selalu beribadah kepada-Nya, tak tau apa-apa kalau menyangkut urusan takdir makhluk. Sungguh, tugas kaum kami cuma memenuhi perintah Dia. Memang sih seringkali ada delay sewaktu kami menjalankan tugas. Biasanya kalau ada delay, kehadiran kami akan didahului aura yang mempengaruhi kelakukan mahluk yang akan kami ambil. Mungkin kamu sendiri tidak menyadari hal itu. Tapi begitulah. Kaum kamu sebenarnya ada di dalam genggaman-Nya dengan ketat. Ada yang digenggam erat-erat. Ada yang direnggangkan, sampai kesombongan menyergapnya. Dan mengira, dirinya sangat hebat dan berkuasa, sampai-sampai dia pun menafikan peran Tuhannya. Padahal, semua malapetaka, semua kehinaan, semua hal yang buruk-buruk dapat terhindar dari dia semata-mata karena Dia sangat menyayanginya.

    Akhirnya, kesombongan itu menjerumuskan dirinya dalam banyak kesesatan dan kebodohan. Benar, sombong, bodoh dan sesat itu sebenarnya hampir beriringan, karena itulah karakter Azazil, sang Iblis yang mengira dirinya pantas disujudi karena ilusi kesuciannya. Banyak kaummu yang terkena ilusi palsu itu. Maka berhati-hatilah, sebenarnya semua manusia mempunyai peluang untuk tergelincir ke dalam perangkap tipu daya Sang Durjana yang dikutuk oleh-Nya.

    Kami yang mempunyai tugas mengambil sebenarnya cuma satu. Berhubung kami tidak terikat dalam proses yang kalian jalani, tidak oleh ruang maupun waktu, sepintas kami kelihatan ada banyak. Memang begitulah kejadiannya. Dalam satu waktu ukuran kalian, kami bisa serentak mengambil banyak ruh dengan berbagai cara, dimana saja.

    Sudah tak terbilang, berapa milyar ruh yang kuputuskan dari semua harapan dan impiannya, dari semua angan-angan dan cita-citanya, dari semua keasyikannya, dari semua kesenangannya, hartanya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya, rumah-rumahnya, mobil-mobilnya, perusahaan-perusahaannya, jabatan-jabatannya, pacar-pacar gelapnya, dan lain-lainnya.

    Tapi, itu tak cukup untuk mengingatkan manusia. Hingga iapun seperti keledai dipenggilingan masa, terperosok di lubang yang sama dari masa ke masa.

    Kelalaian manusia dari mengingat kedatanganku nampaknya sudah menjadi penyakit zaman. Dari waktu ke waktu melakukan tugasku, kelalaian mereka terhadap kedatanganku menimbulkan rasa sombong dan berpanjang angan-angan. Entah sudah berapa banyak aku menghanguskan “business plan” mereka. Kaummu semestinya mengingat syair yang dibuat oleh seorang arif ini,

    Kita lalai dari mati di pagi dan sore hari, Seperti penghuni dunia yang lalai, Dari kematian di sore dan pagi hari, Seseorang berjalan di suatu hari seperti tubuh tanpa ruh, Didepan mataku, setiap yang hidup adalah isyarat kematian, Merintihlah jiwamu wahai orang miskin, bila engkau merintih, Sungguh, kau akan mati meski kau berumur seperti Nuh.

    Aku rasanya sudah kebal dengan semua keadaan ruh yang kutarik dalam keadaan apapun. Pembantu-pembantuku sejumlah mahluk berruh yang ada di semesta ini. Jadi, setiap saat sebenarnya aku mengintip semua makhluk, mengincar semua makhluk. Begitu sinyal terakhir diisyaratkan Allah SWT maka akupun akan beraksi memadamkan semua kepongahan dan harapan manusia.

    Ketahuilah, sesungguhnya ruh dalam keadaan telanjang dalam tubuh seorang hamba, ia akan diambil apabila dikehendaki dan dilepaskan apabila dikehendaki oleh-Nya. Maka Bersiaplah untuk mati wahai jiwa dan berusahalah untuk selamat, orang bijak yang siap meyakini bahwa tak ada keabadian bagi kehidupan dan tak ada tempat pelarian dari kematian.

    Engkau hanya peminjam apa yang mesti dikembalikan. Kita bukanlah pemilik kehidupan ini, juga bukan pemilik tempat hidup ini. Kita tak berharta, tak berkeluarga, tidak juga anak-anak kita miliki.

    Semuanya orang-orang telanjang. Jiwa kita menuju masa yang dekat, Yang Meminjamkan akan mengambil yang dipinjamkan.

    Sebenarnya aku juga ditugaskan untuk mematikan malaikat, setan, iblis, pohon, binatang, dan makhluk bernyawa lainnya. Maka ia yang bernyawa, pastilah akan gemetar melihat kedatanganku.

    Sebenarnya, ada banyak cara aku menarik ruh dari tubuh atau jasad mahluk bernyawa. Hal itu sebenarnya tergantung dari segala hal yang membentuk kamu, amal-amal kamu, dan kelakukan kamu. Mau tau bagaimana aku menarik ruh dari tubuh manusia? Aku menariknya langsung dari jasad yang hidup melalui ubun-ubun kepala.

    Kamu seringkan menyedot minuman dari dalam botol? Persis! Seperti itulah aku menarik ruh manusia dari tubuhnya. Saat itu kulakukan, seluruh sel-sel genetis tubuhmu mulai dari ujung kaki, sedikit demi sedikit akan mati. Maka, jemari kakilah yang akan mengalami kematian pertama kali, baru kemudian bergerak ke telapak kaki, tungkai, kemudian ke betis, lalu paha dan seterusnya. Pada keadaan ruh kutarik, ujung-ujung kaki akan mengejang, kaku. Dengan cara yang sama setiap bagian tubuh pelan-pelan akan kesakitan amat sangat dan kemudian mati rasa, bertanda ruh sudah melalui bagian itu. Maka, berpisahnya tubuh dengan ruh akan terjadi setelah ruh dan tubuh merasakan sakit yang sangat dahsyat.

    Bagaimana rasanya. Susah kugambarkan, karena aku cuma melihat saja, kan aku yang mencabut nyawa. Aku cuma melihat saja bagaimana manusia yang kucabut nyawanya berkelojotan dengan berbagai ekspresi rasa sakit yang dia rasakan saat itu. Jadi aku sendiri ndak tahu bagaimana rasanya ketika ruh kutarik dari jasad manusia.

    Tapi, baiklah, dari pengalamanku mungkin gambarannya bisa kusimpulkan demikian : Rasanya seperti disayat-sayat karena ruh kehidupanmu, yang menempel disetiap atom tubuhmu, sel-sel genetismu yang menjadi jaringan syaraf, otot, pembuluh darah, persendian, rambut, kulit kepala, kulit yang membungkus tubuhmu, dan semua bagian tubuhmu kutarik-tarik, kubetot-betot dengan keras. Bayangkan saja jika ruhmu enggan meninggalkan dunia, maka semakin enggan, semakin sakitlah rasanya. Kalau ndak percaya, coba saja kamu cubit kulitmu keras-keras. Sakit kan!

    Kamu pernah kan mengalami luka disayat. Perih! Begitulah teriakan sebagian dari mereka yang kucabut ruhnya. Tapi luka tersayat yang sering dialami manusia tidak seberapa dibandingkan dengan tercabutnya ruh dari jasadmu dengan paksa. Kalau sayatan luka kan cuma terjadi di sekitar luka saja, itupun sakitnya sudah luar biasa dan terasa di bagian tubuh lainnya. Bisa dibayangkan bagaimana kalau seluruh sel tubuh terasa disayat-sayat. Jangan heran kalau manusia akan berkeringat, menjerit, melolong-lolong, meraung-raung, dan menggeliat-geliat berkelojotan ketika ruh ditarik keluar dari kepompong tubuhnya.

    Manusia akan terkuras tenaganya, akibat kelelahannya, ia bahkan tak lagi dapat bernafas, ia akan merasakan seperti tertimpa beban berat kesombongan, kedengkian, ketamakan, kemaksiatan, dan kejahilan lainnya. Namun demikian, apabila tubuh kuat, suara yang dikeluarkan ketika bernafas akan berbeda-beda. Ada yang dengan susah payah, ada yang mudah. Sesuai dengan amal yang pernah dilakukan tubuhnya.

    Rasa sakit yang tak terkira muncul karena ruh yang lembut menjadi jinak dan menyatu setelah berhubungan dengan tubuh. Keduanya kemudian bercampur dan saling merasuki satu sama lain, sehingga keduanya seperti menjadi sesuatu yang satu. Ruh dan jasad menjadi melekat. Keduanya tak akan terpisahkan, kecuali dengan suatu upaya penarikan yang kuat, sehingga manusia merasakannya sebagai suatu kepayahan yang amat sangat dan sakit yang luar biasa.

    Ketahuilah, kesukaanmu akan syahwat, nafsu dan materi serta keduniawian cenderung akan semakin melekatkan ruhmu dalam jasadmu. Kenapa demikian, ini karena atom-atom tubuhmu semakin memiliki energi yang tinggi, sehingga ikatan-ikatan atomis dalam tubuhmu akan semakin kuat.

    Dikatakan bahwa tubuhmu menyimpan energi dalam yang berlebihan, sehingga seringkali energi berlebihan ini melonjak-lonjak dengan liar dan menumbuhkan berbagai syahwat dan nafsu. Kromosom-kromosommu akan terganggu, kode-kodenya yang asli akan jungkir balik, bahkan akibat langsungnya akan muncul menjadi berbagai penyakit yang payah seperti kanker, jantung, atau pikun. Itulah yang akan mencelakakanmu, akan menyiksamu.

    Jadi semakin lekat ruh dalam jasad maka semakin sakitlah engkau rasakan ketika aku menarik-nariknya karena keengganan ruhmu meninggalkan jasadmu. Setelah rasa sakit tak terkira dan kekuatan jasad menurun, suara akan berangsur hilang, dan setiap bagian tubuh perlahan-lahan akan menjadi kaku.

    Sakitnya penarikan ruh memang menggentarkan siapapun juga. Jangankan manusia biasa, para nabi dan rasul pun menggigil ketakutan manakala aku datang. Karena alasan itulah, seorang nabi yang paling dimuliakan diantara nabi-nabi dan rasul-rasul, Muhammad SAW, memohon kepada Allah SWT agar membebaskan beliau dari penderitaan dan kepedihan kematian.

    Beliaupun sudah mengingatkan, “Perbanyaklah mengingat sesuatu yang menghancurkan kelezatan, yakni kematian.” Banyak orang arif dan ulama yang membuat syair tentang hilangnya kelezatan ketika aku datang. Kata mereka,

    Ingatlah kematian yang menghancurkan kelezatan, Dan bersiaplah untuk kematian yang akan datang, Wahai yang hatinya lalai dari mengingat kematian, Ingatlah tempatmu sebelum tiba saat perjumpaan,  Bertobatlah kepada Allah dari kelalaian dan segala yang lezat, Sesungguhnya kematian sangatlah dekat, Ingatlah musibah hari-hari dan saat-saat yang terlewat, Jangan merasa tenang dengan dunia dan perhiasannya yang melekat.

    Dalam Al-Qur’an, Allah menggambarkan kesakitan saat penarikan ruh dalam firman dengan gambaran berikut “Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan) (QS 75:29)”, yang banyak ditafsirkan oleh ulama sebagai berhimpunnya rasa sakit sakratul maut dengan kerugian karena melepaskan ridha Allah.

    Allah menyebut keadaan tersebut dengan “sakrah”, karena sakitnya kematian disertai dengan keburukan yang dihimpun akan membuat semaput pemiliknya, sehingga biasanya kesadarannya hilang. Allah berfirman, “Dan datanglah sakratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya (QS 50:19)”[17].

    Bagaimana gambaran yang jelas mengenai rasa sakit dan penderitaan kematian memang bermacam-macam. Sehingga terdapat gambaran yang tidak persis sama, namun intinya serupa yaitu suatu rasa sakit yang tak terkirakan. Kamu mungkin dapat menyimak dari beberapa kisah tentang kematian berikut ini.

    Hasan bin Ali pernah mendengar sabda Nabimu yang mulia yang mengatakan padanya bahwa “pedihnya kematian setara dengan luka-luka tiga ratus tusukan pedang”. Ali Bin Abu Thalib kwj. bahkan menyebutkan setara dengan seribu pukulan pedang. Bisa kamu bayangkan bukan bagaimana sakitnya. Jangankan dipukul pedang, lha luka tergores silet saja bisa membuat manusia mengaduh-aduh nggak karuan, apalagi dipukul-pukul seribu kali dengan pedang.

    Gambaran lain menyebutkan, kalau pedihnya kematian itu lebih tajam dari gigi gergaji, lebih tajam dari mata gunting, lebih menyakitkan daripada dipanggang diatas kawah panas gunung berapi. Makanya ada pepatah yang mengatakan bahwa “maut lebih menyakitkan daripada tusukan pedang, gergaji, atau sayatan gunting”.

    Para nabi dan rasulpun mempunyai gambaran yang menakutkan betapa pedihnya ketika aku datang. Dikisahkan ketika Nabi Musa meninggal dunia dan ditanya Allah bagaimana rasa sakitnya kematian yang ia rasakan, ia menjawab bahwa kejadian itu seperti seekor burung yang dipanggang hidup-hidup, tapi nyawanya tidak juga lepas dan ia tidak menemukan cara untuk melepaskan diri. Musa juga menggambarkan peristiwa itu seperti kambing hidup yang sedang dikuliti.

    Bukankah Aisyah r.a pernah juga mengatakan bahwa ketika Nabi SAW akan meninggalkan dunia fana ini, ada secangkir air penuh tergeletak didekat beliau. Beliau mencelupkan tangannya kedalam cangkir berulang-ulang dan membasahi dan membasuh wajahnya. Beliau berdoa kepada Allah supaya dibebaskan dari sakratul maut.

    Demikian juga, khalifah kedua Umar bin Khatab r.a. meminta Ka’ab menggambarkan keadaan ketika seseorang dalam sakratul maut. Dia menjawab “Pencabutan nyawa dari badan dapat dibandingkan dengan pencabutan duri-duri dari tubuh manusia sedemikian rupa sehingga seluruh tubuh merasakan cengkeraman rasa sakit yang amat sangat.”

    Itulah sekelumit gambaran bagaimana kami melakukan tugas pencabutan ruh dari tubuh manusia dan rasa sakit yang dirasakannya. Perlu kamu ketahui juga, kalau pengaruh pencabutan ruh, atau kematian itu tidak cuma sekedar ketika ruh dicabut dari jasadmu. Namun pengaruhnya akan terus-menerus dirasakan sampai keliang lahat.

    Akan kuceritakan sebuah riwayat lama yang menginformasikan hal ini. Pernah sekelompok orang datang kekuburan dan berdoa kepada Allah untuk menghidupkan seseorang yang telah meninggal. Maksud mereka adalah ingin mengetahui bagaimana penderitaan yang dialami si mati pada saat aku beraksi. Atas idzin Allah, si mati yang kebetulan seorang yang bertakwa pun hidup kembali. Ia berkata, “Aku meninggal 50 tahun yang lalu, namun hingga kini rasa pedihnya belum hilang dari hatiku!”. Bayangkan! Rasa sakit yang dialami ruh si mati yang nampaknya tidak hilang begitu saja, namun terasakan hingga puluhan tahun.

    Aura kedatanganku yang menguat biasanya kalian sebut sebagai Sakratul Maut. Dalam keadaan sakratul maut, setiap saat sekarat demi sekarat akan manusia lalui, penderitaan demi penderitaan akan dirasakan, sakit demi sakit akan mengingatkan manusia pada semua perbuatannya, dan hal itu terus akan terjadi sampai ruhnya mencapai kerongkongannya.

    Pada titik kritis ini, berhentilah perhatian manusia kepada dunia dan semua yang ada di dalamnya. Berhentilah semua harapan-harapan dan angan-angan mereka. Saat itu, simetri kegaiban pun terkuak dihadapannya, pemandangan alam akhirat pun muncul begitu saja. Pintu tobatpun ditutup dan manusia pun diliputi oleh kesedihan dan penyesalan. Ia mungkin akan teringat sabda Rasulullah SAW “Tobat seorang manusia tetap diterima selama dia belum sampai pada kondisi sakratul maut (yaitu sampainya nyawa di kerongkongan)”. Maka semakin menyesallah ia. Tapi semua itu terlambat dan ketika aku menampakkan diriku semakin nyata, maka saat itu jangan pernah bertanya tentang pahit getirnya kematian ketika sakratul maut tiba. Pendek kata karena kengerian tentang kedatanganku maka Rasulullah SAW pernah bersabda tentang aku, dengan sabdanya beliau sebenarnya hanya ingin mengingatkan manusia, katanya:

    “Kalau kalian melihat ajal dan perjalanannya, pastilah kalian akan membenci angan-angan dan tipu dayanya.

    Tak seorangpun penghuni rumah kecuali ada Malaikat Maut yang memperhatikan mereka dua kali sehari. Orang yang didapati ajalnya telah habis, maka dia cabut nyawanya.

    Bila keluarganya menangis sedih, dia bertanya ‘Mengapa kalian menangis?’ Dan mengapa kalian bersedih?

    Demi Allah, Aku tidak mengurangi umur kalian, tidak pula mengekang rezeki kalian, dan akupun tidak berdosa.

    Sesungguhnya aku benar-benar akan kembali kepada kalian (yang masih hidup saat itu), kemudian kembali, dan kemudian kembali, sehingga aku tidak menyisakan seorangpun dari kalian.’”

    Demikianlah, aku akan datang tanpa diundang dan pergi tanpa diantar. Ia yang saatnya sudah ditentukan, maka ia akan menghadapi aku sesuai dengan keadaannya, rasa sakitnya, dan kengeriannya.

    Banyak ungkapan yang menggambarkan bagaimana rasa sakit ketika aku mencabut nyawa manusia. Namun, percayalah itu semua tidaklah lengkap benar karena keluarbiasaan sakratul maut tidak dapat diketahui dengan pasti, kecuali oleh orang yang merasakannya sendiri. Tahukah kamu, bahwa pencabutan nyawa termasuk kondisi spiritual yang cuma bisa dirasakan oleh orang yang kucabut nyawanya. Jadi, orang lain mungkin menggambarkan dengan ungkapan yang berbeda-beda. Tapi, begitulah kematian, ia hanya bisa dirasakan oleh yang meregang nyawanya sendirian.

    Karena kematian termasuk keadaan ruhani, maka menjadi jelas bahwa keadaan ruhanimu sangat mempengaruhi bagaimana rasanya mati. Orang lain cuma bisa mengira-ngira saja dengan menganalogi-kannya dengan rasa sakit yang benar-benar pernah dialaminya, atau dengan cara mengamati orang lain yang sedang meregang nyawa. Lewat analogi pula akan diketahui bahwa setiap anggota badan yang tidak bernyawa, tidak bisa lagi merasakan rasa sakit.

    Akan kuperjelas lagi bagaimana rasa sakitnya kematian. Gambarkan saja satu bagian dirimu terbakar api, maka rasa sakit yang dialami akan menjalar keseluruh tubuh dan jiwa. Dan sesuai dengan kadar yang menjalar ke jiwa, maka sebesar itu pula kadar yang dialami oleh seseorang. Akan tetapi, rasa sakit yang dirasakan selama sakratul maut menghunjam jiwa dan menyebar keseluruh tubuh. Sehingga bagi yang sedang sekarat, maka ia merasakan dirinya ditarik-tarik, dibetot, dan dicerabut dari setiap sel, urat nadi, syaraf, persendian, dari setiap akar rambut yang tumbuh dibadannya dan kulit kepala, hingga kaki. Jadi, jangan Anda tanyakan lagi bagaimana derita dan rasa sakit yang tengah dialami oleh mereka yang dijemput olehku!

    Maka, perhatikanlah sekiranya kamu mengalami suatu peristiwa yang berhubungan dengan kematian, apakah itu kematian salah satu keluargamu, tetanggamu, atau teman-temanmu. Perhatikan bagaimanakah keadaannya! Gunakan pengalamanmu dalam mengiringi kematian sebagai pelajaran dan peringatan bagimu, bahwa tak ada yang abadi, semua pasti akan mati!

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:00 am pada 20 November 2012 Permalink | Balas  

    Mendahulukan Ibu

    Ibu Yeni, seorang anggota DPR mengisahkan pengalamannya mengenai sedekah yang membawa keberkahan baginya. Kejadian ini dialaminya sekitar bulan Agustus tahun 2001 yang lalu. Saat itu ia mendapat undangan seminar di Sumatra Selatan. Karena masih masa nifas dan membawa anak bungsunya yang kala itu masih berusia 35 hari, ia memutuskan membawa ibunya.

    Bukan main senangnya sang ibu dibawa pelesiran naik pesawat. Maklum saja, tahun 1972 waktu naik haji, ia cuma naik kapal laut. Di pesawat tak henti ibunda tercintanya menyatakan kesenangannya naik pesawat.

    “Alhamdulillah… kesampaian juga Ibu naik pesawat, “ syukurnya. Yeni yang duduk di sebelahnya tersenyum.

    “Coba Buya (ayah) masih hidup ya… dia pasti senang naik pesawat kayak gini, “ tuturnya lagi dengan mata berkaca-kaca. Yeni menoleh dan mengusap pundak ibunda tercintanya.

    “Sudahlah Bu, Buya pasti sudah bahagia sekarang. Selama hidup Buya kan sangat baik, maka Allah pasti melimpahkan kebahagiaan padanya… “

    “Yah… “ Ibu menganguk-angguk, “Buya emang baik…. “ lanjutnya sendu.

    Tidak lama kemudian mereka tiba di bandara dan diantar oleh panitia ke sebuah penginapan yang sederhana. Ibunya nampak sangat bahagia. Untuk menyenangkan hatinya, Yeni memesankan makanan kesukaannya.

    “Dimakan, Bu… “ kata Yeni. Ibunya mengangguk dan mulai makan dengan lahap.

    Keesokan harinya saat Yeni ikut seminar, Ibu menjaga cucunya yang masih merah di penginapan. Seminar itu untunglah tidak begitu lama. Jeda makan siang, mereka diajak makan di sebuah restoran khas Sumatra Selatan. Konon restoran ini biasa ditongkrongi oleh para pejabat dari pusat.

    Memang suasananya sangat asri, bertingkat dua, dan Subhanallah makanan yang tersaji juga terasa sangat nikmat.

    “Pepes ikan dengan duriannya enak sekali, Yen… “ Ibu memberikan penilaian seraya makan dengan lahap.

    “Kalau di Tangerang, daerah kita durian cuma untuk Kinca teman makan ketan ya, ternyata buat pepes juga enak, “ imbuhnya kemudian.

    “Alhamdulillah… kita di sini jadi nambah ilmu kan, Bu? “ balas Yeni tersenyum.

    Selesai makan, mereka menuju penginapan lagi untuk berkemas. Ya, mereka harus kembali ke Jakarta hari itu juga. Sebelum berangkat, Yeni memeriksa sebuah bungkusan yang diberikan panitia saat seminar tadi.

    “Subhanallah… bagus amat nih kain sutra? “ desisnya takjub sambil menyidik bahan itu dengan teliti. Yeni bertekad akan menjahitnya setiba di Jakarta nanti.

    Saking indahnya kain tersebut, di pesawatpun Yeni tak kuasa membayangkannya. Menjahitnya menjadi baju muslimah yang indah yang akan dikenakannya pada event-event tertentu. Tapi sejenak kemudian hati kecilnya berkata, “Berikan saja pada ibumu…. “

    “Bagaimana, ya…. bagus banget sih? “ sekilas bathinnya tak rela. Rupanya syetan sedang merasuki niat baiknya.

    “Sudah… kasih Ibu saja, supaya dia senang, kamu kan bisa beli nanti lagi… “ hati kecilnya kembali berkata.

    Sejenak Yeni merasa bimbang. Terus-terang saja, ia sangat ingin memiliki bahan itu untuk dirinya. Sudah dibayangkannya begitu manisnya ia dalam balutan baju berbahan sutra itu. Suaminya pasti memuji, anak-anaknya pasti juga bangga. Tapi…

    “Ah, sudahlah biar untuk ibuku saja, “ hati kecilnya memenangkan pergolakan bathin.

    Maka Yeni memberikan kain sutra itu pada ibunya. Mata ibunya bersinar menerima pemberian itu. Paras bahagia yang tak bisa ditutupinya. Yeni tak menyesal memberikannya.

    Sesampainya di Jakarta, Yeni kembali mengisi hari-harinya dengan seabreg aktivitas yang menunggunya. Ia sudah tak teringat lagi kain sutra indah pemberian panitia seminar di Sumatra Selatan itu. Sampai dua hari kemudian seorang temannya kembali dari Malaysia dan membawa titipan dari teman Yeni, yang orang asli Malaysia.

    “Apaan ini? “ Yeni mengerutkan dahinya, menatap bungkusan yang diberikan temannya itu.

    “Titipan dari teman Malaysiamu, aku nggak tahu isinya, buka aja gih… “

    Tanpa menunggu lama, Yeni membuka bungkusan itu dan terbelalak, “Subhanallah bagus banget…. “ serunya takjub. Temannya pun ternganga.

    Selembar bahan sutra yang lebih halus dan lembut warnanya…

    “Benar-benar Allah Maha Besar… “ Yeni berbisik pelan.

    Kain sutranya telah digantikan oleh Allah dengan yang lebih bagus dan manis. Yeni kemudian teringat sebuah hadits Rasulullah Saw, bahwa kebaikan yang cepat mendapatkan balasannya di dunia adalah kebaikan kita kepada orang tua….

    ***

    Sumber: Wisata Hati.

     
  • erva kurniawan 1:25 am pada 19 November 2012 Permalink | Balas  

    Asal Usul dan Tujuan Kehidupan

    Pembahasan kita kali ini adalah menjawab pertanyaan : Untuk apa kita mempelajari Ruh dan Jiwa? Kenapa nggak cuek aja? Toh, dipelajari atau tidak, Ruh dan Jiwa itu sudah ada di dalam tubuh dan terlibat dalam kehidupan kita?

    Orang Jawa mengatakan untuk mengetahui: ‘sangkan paraning dumadi’ alias asal usul dan tujuan kehidupan. Darimanakah kehidupan ini muncul dan akan kemanakah kita sesudah itu? Hal yang sama telah dilakukan oleh para ilmuwan, filsuf, dan orang-orang bijak sepanjang sejarah kemanusiaan.

    Inti dari semua itu adalah untuk mengetahui untuk apakah kita ada? Apakah sebenarnya misi utama kehidupan kita? Apakah sekadar ‘mengalir’ begitu saja? Ataukah, memiliki tujuan tertentu?

    Jawaban atas pertanyaan itu mulai tergambar lebih jelas ketika kita memasuki wilayah ‘dunia Jiwa dan Ruh’ ‘ Hal inilah yang dimaksudkan oleh Allah dalam firman-firman Nya yang baru kita bahas di bagian sebelum ini. Bahwa, semua itu menjadi pelajaran dan mengandung hikmah bagi orang-orang yang mau berpikir dengan akalnya.

    Pelajaran apa? Bahwa Allah adalah Sang Maha Pencipta yang Maha Sempurna. Bahwa, manusia diciptakan Allah dengan mengikuti FitrahNya. Yang dengan Fitrah itu manusia akan mencapai kualitas tertingginya sebagai seorang manusia makhluk paling sempurna dari yang pernah diciptakan Allah.

    Bahwa, untuk mencapai kesempurnaan itu seorang manusia harus paham caranya, yaitu dengan mengikuti petunjukNya dalam sebuah agama Fitrah, yang termaktub dalam Al-Qur’an al karim.

    Itulah agama yang diciptakan berdasarkan keseimbangan, sebagaimana keseimbangan alam semesta dan keseimbangan diri serta kehidupan manusia. Barangsiapa mengikuti keseimbangan penciptaan itu maka selamatlah kehidupannya. Dan barangsiapa menabrak keseimbangan itu, maka celakalah dia. Dunia dan Akhirat.

    Bahwa, manusia memiliki kebebasan melakukan apa saja untuk kebahagiaan dirinya. Ia dihadapkan pada dua pilihan dalam kehidupannya: kebajikan ataukah kejahatan. Kebajikan adalah jalan hidup yang sesuai dengan konsep kesimbangan tersebut. Sedangkan kejahatan adalah segala sesuatu yang menabrak keseimbangan ciptaan Allah di alam semesta.

    Kebebasan atas pilihan itu oleh Allah telah dimasukkan ke dalam Jiwa manusia berupa kecenderungan untuk memilih jalan kefasikan atau jalan kebajikan. Caranya ada 2: membersihkan Jiwa atau mengotorinya.

    Maka berbahagialah orang-orang yang memilih membersihkan Jiwanya, dan menderitalah, orang-orang yang mengotorinya. Orang yang bersih Jiwanya, bakal jernih dalam memandang kehidupan, dan kemudian memperoleh kebahagiaan karena bisa bersikap dan bertindak sesuai dengan Sunnatullah yang berprinsip pada keseimbangan.

    Sebaliknya, orang yang hatinya kotor, bagaikan orang buta yang tidak tahu jalan kemana dia harus melangkah. Ia seperti orang buta yang menabrak segala sesuatu di hadapannya. Hidupnya penuh dengan masalah, karena ia tidak tahu bagaimana harus berlaku dalam keseimbangan Sunnatullah itu.

    Maka, setiap kita akan menuai hasil perbuatan kita sendiri. Segala kebaikan akan kembali kepada kita, sebagaimana kejahatan yang juga kembali pada diri kita masing-masing.

    Allah telah memberikan sebagian Ruh Nya kepada badan kita. Maka, dalam diri kita selalu ada bisikan-bisikan malaikat yang menuntun kita kepada kualitas sifat-sifat Ilahiah. la menuntun kita pada ‘Kebajikan Universal’, yang menghasilkan kondisi rahmatan lil ‘aalamin (Kebahagiaan Semesta) sebagai tujuan final diciptakan kehidupan.

    Allah mengarahkan kita agar tidak terjebak pada kehidupan Duniawi yang mengikat kebahagiaan kita hanya sekadar sekualitas materi. Karena, di dalam diri kita memang selalu ada bisikan Iblis yang mempengaruhi agar kita hanya mengorientasikan kehidupan pada pemenuhan kebutuhan badan semata. Tak peduli pada Keseimbangan Universal, yang mengarah pada ‘Kebahagiaan Semesta’.

    Bahwa drama kehidupan manusia digelar melewati tahapan-tahapan kehidupan yang bertingkat-tingkat. Awalnya tidak ada, kemudian menjadi ada, dan akhirnya tidak ada kembali. Asalnya dari Allah, kemudian diciptakan oleh Allah, dan akhirnya kembali lagi kepada Allah. Begitulah drama kehidupan seluruh makhluk di alam semesta ini. Tak terkecuali manusia.

    Manusia bukanlah makhluk abadi. Manusia bukanlah makhluk yang ada selama-lamanya. Sebab, manusia dulu memang pernah tidak ada. Dan suatu ketika nanti bakal ‘lenyap’ kembali.

    Memang banyak di antara kita yang tidak rela bakal lenyap. Mereka ingin hidup kekal, selama-lamanya. Tidak pernah hilang lagi. Lho, memangnya kita ini siapa? Kok ingin menyamai Dzat Allah Yang Maha Kekal?

    Dalam diskusi yang sering saya hadiri seringkali menemui pendapat-pendapat seperti itu. Banyak di antara kita yang tidak rela alam akhirat bakal lenyap. Sebab, kalau Akhirat lenyap, lantas (kita) manusia berada dimana?’ Jadi, pada intinya, sebenarnya mereka bukan tidak rela Akhirat bakal lenyap, melainkan ‘tidak rela dirinya lenyap’!

    Manusia, pada hakikatnya, ingin hidup abadi, selama-lamanya. Kenapa demikian? Karena Ruh yang bersemayam di dalam diri kita memang mengimbaskan sifat-sifat Ketuhanan. Di antaranya, ingin Hidup Terus, ingin Berkuasa Terus, Berkehendak sebebas-bebasnya terus, dan segala macam sifat keabadian lainnya.

    Kita lupa bahwa kita bukan Tuhan. Kita hanyalah manusia biasa yang diciptakanNya, berupa perpaduan badan material, Jiwa energial dan Ruh. Itu pun, Ruh yang ditiupkan kepada kita hanyalah sebagian saja dari Ruh Nya. Maka, jangan berharap kita akan menyamai Allah,

    Kita ada karena Ruh masih bersemayam dalam diri kita. Begitu Ruh itu dicabut kembali oleh Allah, maka eksistensi kita sebagai manusia ikut lenyap. Jangankan, pada waktu Ruh dicabut, saat kita tidur saja kita sudah tidak merasakan apa-apa. Eksistensi kita sudah hilang, seiring kesadaran yang juga hilang. (Masihkah anda merasa ada ketika anda tertidur lelap?!!)

    Bayangkan kalau seandainya kita tidak bangun lagi, maka kita sebenarnya sudah ‘lenyap’. Kita tidak lagi merasakan apa-apa. Eksistensi kehidupan kita sudah tidak ada artinya lagi. Bagaimana menurut Anda?

    Itulah yang telah kita diskusikan di depan, bahwa Jiwa dan Ruh kita ada dalam genggaman Allah. DIA memegang Jiwa seseorang pada saat matinya dan pada saat tidurnya. Lantas, Allah mengembalikan Jiwa itu kepada badan yang masih diizinkanNya untuk bangun kembali dari tidurnya.

    Karena itu, Rasulullah saw mengajarkan kepada kita agar kita berdoa menjelang tidur dan sesudah tidur, seperti sedang mengalami kematian. Sebab, antara tidur dan mati hampir tidak ada bedanya.

    ‘Bismika Allahumma ahyaa wa bismika amuut’ (Dengan Nama Mu ya Allah aku hidup, dan dengan Nama Mu aku mati). Begitulah beliau mengajarkan kepada kita untuk berdoa menjelang tidur. Karena kita tidak tahu apakah kita bisa bangun kembali ataukah tidak. Kita berserah diri saja kepada Allah yang menguasai Jiwa kita.

    Dan ketika terbangun dari tidur, Rasulullah saw mengajarkan untuk membaca: ‘Alhamdulillaahilladzii ahyana ba’da maa amaatana wa ilaihi nusyur’ (Segala puji bagi Allah yang menghidupkan aku kembali sesudah kematianku, dan kepadaNya lah aku kembali).

    Begitu tipisnya antara hidup dan mati. Setiap hari kita ditidurkan oleh Allah beberapa jam. Saat itulah kita telah mencicipi kematian. Itulah saat-saat Jiwa kita ditahan oleh Allah. Kita tidak bisa merasakan, mengendalikan, atau apalagi melawan.

    Ketika kantuk datang menyerang, itulah saat-saat menjelang ‘Kematian Sementara’ kita. Cobalah rasakan, pada saat-saat itulah Allah mulai berangsur-angsur menahan Jiwa kita entah akan dikembalikan lagi ataukah ditahan seterusnya.

    Setiap hari, kita telah ‘berlatih’ untuk menemui kematian yang sesungguhnya. Tapi seringkali, kita merasa betapa kematian kita masih begitu jauhnya. Padahal, kematian demikian dekat dengan kehidupan kita. Karena, kehidupan dan kematian selalu bersama-sama, di mana pun mereka berada. Dan bisa berganti posisi kapan pun Allah mau.

    Kematian hanyalah berpisahnya badan dengan Jiwa & Ruh untuk sementara waktu. Tapi bukan untuk 1-2 jam, melainkan berjuta tahun sampai kita bangun dari kematian itu di Hari Kebangkitan. Kejadiannya persis seperti saat kita terbangun dari tidur kita sehari-hari.

    QS. Yasin (36) : 52

    Mereka berkata: “Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya).

    Akankah kita termasuk orang-orang yang menyesal saat ‘dibangunkan’ kembali kelak? Ataukah kita temasuk hamba-hamba yang berbahagia? Semua itu bergantung kepada bagaimana saat-saat sebelum kita berangkat tidur itu.

    Kalau kita termasuk orang-orang yang sudah terlatih untuk memasuki tidur dengan baik, maka Insya Allah kita akan bangun kembali dalam keadaan yang baik dan segar. Tapi kalau kita memasuki saat-saat tidur itu dengan penuh masalah yang membelit kehidupan kita, maka sungguh tidur kita akan menjadi ‘Mimpi Buruk’ bagi kita. Dan tiba-tiba kita terbangun dengan kondisi yang sakit dan menyesakkan dada.

    Dan, yang lebih menakutkan, mimpi buruk itu ternyata menjadi kenyataan saat kita terbangun dari ‘tidur panjang’ itu. Jiwa kita yang terlanjur kotor selama kehidupan sebelum ‘tidur panjang’, tidak sempat lagi kita bersihkan. Dan ternyata, harus dibersihkan di dalam Api yang meyala-nyala di Neraka Jahannam

    Berbeda dengan mereka yang telah melatih dan membiasakan dirinya untuk hidup bersih penuh kedamaian dan cinta kasih. ‘Tidur’ mereka sungguh adalah tidur yang nikmat. Tidurnya para Jiwa yang Penuh Kedamaian – Nafs al Muthmainnah. Mereka bermimpi indah sepanjang tidurnya yang pulas. Dan di ‘Esok Harinya’, mereka terbangun dalam kebahagiaan Jiwa yang Fitri, di surga Jannatun Nalm…

    (QS Fajr 27 – 30)

    Hai Jiwa yang tenang Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba Ku, dan masuklah ke dalam surga Ku.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:14 am pada 18 November 2012 Permalink | Balas  

    Ditahan Sementara Atau Selamanya

    Berkaitan dengan terlepasnya Jiwa dari badan, Allah mengatakan bahwa Jiwa seseorang bisa ditahan sementara atau selamanya oleh Allah. Orang-orang yang tertidur disebut Allah sebagai orang yang Jiwanya ditahan sementara. Sedangkan orang mati, Jiwa ditahan selamanya, sampai waktu yang ditentukan. Yaitu, hari Kebangkitan.

    (QS. Az Zumar (39) : 42) Allah memegang Jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) Jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah Jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan Jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.

    Ada 3 hal yang menarik dari ayat di atas. Yang pertama, adalah informasi bahwa Allah memegang Jiwa seseorang ketika mati atau tertidur. Allah memberikan gambaran, bahwa orang yang tertidur atau pun mati, Jiwanya dalam kendali Allah sepenuhnya. Tidak terlepas kemana-mana. Sehingga, terserah Allah Jiwa itu mau dikembalikan atau tidak ke dalam badan seseorang.

    Bagaimanakah menggambarkan hal itu dalam diri manusia? Seperti saya katakan di depan, bahwa Allah menempatkan Ruh dalam diri seseorang sebagai bagian dari EksistensiNya. Maka, ketika dalam tidur atau pun kematiannya, Jiwa tetap berada dalam ‘genggaman’ alias ‘kekuasaan’ Ruhnya.

    Meskipun badan sudah mati dan hancur, Jiwa tetap ‘hidup’ karena masih dalam pengaruh fungsi Ruh. Itulah yang dikatakan Allah dalam ayat-ayat sebelumnya, bahwa para pejuang yang gugur di jalan Allah tidaklah mati. Mereka tetap ‘hidup’ di sisi Allah bahkan memperoleh rezeki dariNya.

    Tapi, tentu saja kehidupan Jiwa setelah kematian badan itu tidaklah sama dengan ketika ia masih bersatu dengan badannya, sebagaimana telah kita diskusikan di depan.

    Yang kedua, adalah informasi bahwa bagi orang yang tidur, jiwa bakal dikembalikan saat dia bangun. Dalam konteks ini ‘memegang Jiwa’ juga memberikan kesan bahwa ‘kebebasan’ Jiwa pada saat orang itu tertidur dan mati tidak lagi sebagaimana ketika dia hidup. Seseorang yang tertidur apalagi mati tidaklah memiliki kebebasan berekspresi lagi, karena Jiwanya ‘dipegang’ oleh Allah.

    Sebaliknya, ketika seseorang telah terbangun dari tidurnya, Allah melepaskan Jiwa itu dalam ‘kebebasan’ berekspresinya kembali. Maka, seseorang yang berada dalam kesadaran penuhnya menjadi bertanggung jawab terhadap segala tingkah lakunya.

    Ini konsisten dengan pembahasan kita sebelumnya, bahwa yang dimaksud Jiwa adalah kesadaran yang terkait dengan akal. Karena itu, ia bisa naik atau turun kualitasnya, atau bahkan timbul dan tenggelam sesuai dengan kondisi yang menyertainya.

    Kualitas Jiwa bukan hanya tergantung kepada Ruh melainkan juga tergantung kepada kualitas tubuh. Jika kualitas tubuh menurun, kualitas Jiwa juga akan turun. Meskipun tidak sepenuhnya begitu.

    Pada orang-orang yang telah mencapai tingkatan tinggi dalam ‘Kesadarannya’ Jiwanya semakin tidak tergantung kepada tubuhnya. Jiwa bergerak ke arah kualitas Ruh.

    Sebaliknya bagi mereka yang rendah tingkat ‘Kesadarannya’ Jiwanya terjebak oleh kualitas badannya. Ia bergerak menuju unsur material yang bertumpu pada keterbatasan fisiknya.

    Jadi, dalam konteks ‘memegang Jiwa’ ini, makna yang paling penting adalah betapa Allah memiliki kekuasaan yang mutlak terhadap keluar masuknya Jiwa dalam diri seseorang, tapi DIA memberikan ‘kebebasan yang bertanggung jawab’ kepada manusia ketika berada dalam kondisi kesadarannya.

    Yang ketiga, dalam ayat tersebut Allah berfirman bahwa semua itu mengandung hikmah dan menjadi pelajaran bagi orang-orang ‘yang mau berpikir’ tentang Kekuasaan Allah.

    Di satu sisi DIA ingin menegaskan bahwa Allah adalah faktor utama atas berfungsi atau tidaknya kesadaran seseorang. Jika DIA menghendaki mencabut kesadaran itu, maka hilanglah kesadaran kita. Sebaliknya jika DIA menghendaki mengembalikannya, maka tidak ada seseorang yang bisa menghalangi.

    Di sisi lain, DIA memotivasi kita bahwa di dalam tidur dan kematian itu terdapat pelajaran yang sangat berharga untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bahwa, pemahaman tentang Jiwa, bakal menghantarkan kita kepada pengenalan kekuasaan Allah lebih mendalam.

    Jangan malah sebaliknya, berlindung di balik kata ‘ghaib’ lantas kita tidak mau mengambil pelajaran tentang mekanisme kejiwaan di dalam diri kita. Atau, karena kerancuan dalam memahami ayat di bawah ini kita lantas tidak mau berusaha memahami tentang Jiwa.

    (QS. Al Israa’ (17) : 85) Dan mereka bertanya kepadamu tentang Ruh. Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Tuhan ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.

    Dengan apa yang telah diskusikan, saya kira kini Anda telah memperoleh kefahaman yang lebih baik, tentang perbedaan Jiwa dan Ruh. Bahwa yang dimaksud oleh ayat di atas bukanlah Jiwa, melainkan Ruh. Memang kefahaman tentang Ruh jauh lebih rumit. Namun, bukan berarti kita sama sekali tidak boleh mempelajarinya. Kata ‘illa qaliila’ menunjukkan, bahwa meskipun sedikit Allah masih memberikan ilmu tentang Ruh itu kepada manusia.

    Kalau pun kita bersandar kepada kalimat ‘min amri rabbii’ (urusan Tuhanku), untuk menghindari pembelajaran tentang Ruh, itu juga kurang tepat. Sebab, semua urusan di alam semesta ini memang menjadi urusanNya semata. Mana ada kejadian di alam semesta yang tidak menjadi urusan Allah. Apalagi tentang Ruh yang demikian misterius.

    Daun jatuh, bunga berkembang, dan tiupan angin pun menjadi urusan Tuhan. Semut terlahir, gajah mencari makanan, dan burung beterbangan di angkasa juga menjadi urusan Tuhan. Apalagi perputaran bermiliar-miliar benda langit di dalam orbitnya, di jagad semesta raya, tentu saja menjadi urusan Allah semata. Dan begitu pula keluar masuknya Jiwa dan Ruh dalam diri miliaran manusia di muka bumi, semuanya menjadi urusan Allah. DIA adalah Tuhan yang senantiasa dalam kesibukan urusanNya.

    (QS. Ar) Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.

     
  • erva kurniawan 1:39 am pada 17 November 2012 Permalink | Balas  

    Perjalanan Panjang Meraih Ihsan

    Malaikat Jibril pernah hadir di tengah-tengah majelis Rasulullah SAW Ketika itu Jibril mengajukan serangkaian pertanyaan yang mampu dijawab Rasul dengan baik. Setiap kali Rasul menjawab, Jibril mengatakan, “Engkau benar!” Hal ini membuat heran para sahabat. Dia yang bertanya, tapi dia pula yang membenarkan jawaban Rasul. Keheranan ini terjawab ketika Rasul mengatakan kalau yang datang itu adalah Malaikat Jibril yang sengaja memberi pelajaran kepada mereka tentang iman, Islam dan ihsan.

    Ihsan adalah beribadah seolah-olah melihat Allah. Bila kita tidak melihat Allah, maka sesungguhnya Allah melihat kita. Demikian makna ihsan menurut Rasulullah SAW (HR Muslim). Jadi, ihsan menunjukkan satu kondisi kejiwaan manusia, berupa penghayatan bahwa dirinya senantiasa diawasi oleh Allah. Perasaan ini akan melahirkan sikap hati-hati, waspada dan terkendalinya suasana jiwa.

    Iman, Islam, dan ihsan adalah tiga pilar bangunan Islam. Sehingga ihsan tidak bisa dilepaskan dari rukun iman dan rukun Islam. Ketiganya saling melengkapi. Kalau diilustrasikan, fondasinya adalah rukun iman, pilar-pilar dengan keseluruhan bangunan yang ada di atasnya adalah rukun Islam, dan ihsan sebagai ruhnya. Jadi, ihsan adalah penentu hadir dan tidaknya ruh seorang Muslim dalam menjalankan aturan Islam. Ketika seseorang beriman, berislam, namun tidak berihsan, maka saat itu ia belum sampai pada ruh ajaran Islam. Karena itu sangat penting bagi setiap Muslim untuk terus melakukan introspeksi diri, apakah sudah melakukan tajdiidul ihsan atau belum. Jangan sampai karena sibuk mencari dunia, aktivitas yang kita lakukan kehilangan ruhnya.

    Membangun sikap ihsan

    Sebentar lagi kita akan kembali memasuki bulan Ramadan. Tema sentral Ramadan adalah menjalankan ibadah saum. Kita menahan diri dari hal-hal yang sebenarnya halal dilakukan di luar Ramadan. Bukan hanya menahan diri dari hal yang haram, tapi dari hal yang halal, seperti makan, minum dan hubungan seks. Bila demikian saum erat kaitannya dengan ihsan. Sebab, siapa pun yang tidak memiliki sifat ihsan, mustahil akan bisa melakukan saum. Tanpa sikap ihsan, seseorang tidak akan memiliki kemampuan untuk menahan diri dari hal yang dihalalkan maupun diharamkan.

    Allah SWT mendesain waktu yang panjang demi berjalannya proses penerapan rukun Islam. Dalam setahun, rukun Islam–khususnya rukun yang empat sesudah syahadat–dijalankan sejak bulan Rajab sampai Muharam. Perintah shalat hadir di bulan Rajab, melalui peristiwa Isra Mi’raj. Lalu perintah saum terjadi di bulan Ramadan, zakat di akhir Ramadan, dan haji di bulan Dzulqa’dah. Dari sana lalu masuk bulan Muharam atau tahun baru Hijriyah. Setelah memasuki tahun baru hijrah, umat yang berhaji diharapkan bisa kembali dengan membawa semangat hijrah yang membawa perubahan pada dirinya. Mengapa syahadat tidak memiliki momen khusus? Syahadat adalah transaksi kehidupan kita dengan Allah yang harus terus berlangsung selama 12 bulan penuh.

    Jadi kita tidak bisa menumbuhkan ihsan hanya pada bulan Ramadan saja. Ihsan harus dilihat sebagai sebuah proses panjang, dari mulai shalat, saum, zakat serta haji.

    Ihsan dan keimanan

    Pertanyaannya, bagaimana cara mempertahankan sikap ihsan ini? Mempertahankan ihsan tidak jauh beda dengan mempertahankan iman. Dalam sebuah hadis disabdakan bahwa al-iimanu yazid wa laa yankus. Iman itu kadang bertambah, kadang berkurang, kadang naik, kadang turun. Kalau dibuat grafik, naik turunnya iman ada tiga.

    Pertama, garis turun dan garis naik berada dalam posisi sama. Naik +10, turun -10. Keimanan seperti ini memungkinkan seseorang mendapatkan khusnul khatimah (baik di akhir), bila Allah berkenan mencabut nyawanya pada saat iman sedang naik +10. Namun bila Allah mencabut nyawanya pada saat imannya turun (-10), maka ia akan mendapatkan su’ul khatimah (jelek di akhir).

    Kedua, naiknya sedikit, tapi mudah turun secara drastis. Misal, naik +2, turun -15, dst. Orang yang memiliki keimanan seperti ini, kemungkinan besar akan meninggal dalam kondisi su’ul khatimah. Ketiga, naiknya cepat, tapi lambat turunnya dan sedikit. Orang dengan iman konstruktif seperti ini, ketika ketaatannya naik, ia akan merasakan betapa lezatnya keimanan. Namun saat ia terjatuh pada kemaksiatan, ia akan resah dan ingin segera meninggalkan kemaksiatan tersebut.

    Menjaga sikap ihsan

    Ada tiga cara untuk meningkatkan kualitas iman dan ihsan. Pertama, tadzwidul ‘ulum atau membekali diri dengan ilmu tentang hakikat kebenaran dan jalan hidup. Kalau kita ingin memiliki ihsan yang terpelihara, jadilah orang yang haus ilmu dan terus belajar tentang kebenaran (agama).

    Kedua, kita harus memiliki shahabatus shalihin atau bersahabat dengan orang shalih. Kita boleh kenal dengan sembarang orang, tapi kita tidak boleh bersahabat dengan sembarang orang. Rasulullah SAW bersabda bahwa seseorang akan mengikuti agama dan keyakinan sahabat karibnya. Maka hendaknya seseorang memerhatikan siapa yang akan dijadikan sahabat karibnya (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).

    Ketiga, amalkan hadis Nabi bahwa agama itu nasihat (saling menasihati). Faktor ketiga ini sulit dilakukan sebagian besar masyarakat kita. sebab, masyarakat kita memiliki tiga penyakit. [1]. Penyakit ewuh pekewuh, merasa sungkan, ada beban psikologis saat harus menasehati orang lain dalam kebaikan. [2]. Masyarakat kita belum menjadi masyarakat yang digambarkan Rasul. Kata Rasul, umat Islam itu laksana sisir, di mana anak sisir selalu sama tinggi dan sama rendah (egaliter). Masyarakat kita cenderung paternalistik. Orang yang lebih rendah akan sulit menasehati orang yang lebih tinggi. Padahal kehidupan Rasul dan para sahabat sangat egaliter. [3]. Cycle linguistic. Bahasa yang kita miliki sangat kaya ungkapan kebencian dan miskin ungkapan cinta serta kasih sayang.

    Kalau tiga hal tersebut kita jalankan dengan baik, insya Allah bukan hanya iman yang bisa dipertahankan, tapi juga ihsan. Bila ihsan tetap menyala dalam hati seorang Muslim, niscaya ia akan jadi manusia unggul. Ia tidak hanya berpikir sekadar beramal, tapi akan berpikir bagaimana amal tersebut bisa optimal. Karena itu, seorang ihsan akan terhindar dari sifat under achiever, minder, merasa cukup dengan nilai delapan padahal ia mampu meraih nilai sepuluh.

    Hakikatnya, ihsan itu dekat dengan itqan, yaitu selalu rapih, tertib dan mampu menata hidup dengan baik. Itulah cerminan para muhsinin. (tri )

    ***

    Sumber: republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:19 am pada 16 November 2012 Permalink | Balas  

    Menu Makanan Cara Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasalam

     Jenis makanan

    Rupanya tanpa kita sadari, dalam makanan yang kita makan sehari-hari, kita tak boleh sembarangan. Hal inilah penyebab terjadinya berbagai penyakit antara lain penyakit kencing manis, lumpuh, sakit jantung, keracunan makanan dan penyakit lainnya.

    Diet Rasullulah SAW menyebabkan beliau Rasullulah  SAW tak pernah sakit perut sepanjang hayatnya karena pandai menjaga makanannya sehari-hari. Insya Allah kalau anda ikut diet Rasullullah SAW ini, anda takkan menderita sakit perut ataupun keracunan makanan.

    • Jangan makan SUSU bersama DAGING
    • Jangan makan DAGING bersama IKAN
    • Jangan makan IKAN bersama SUSU
    • Jangan makan AYAM bersama SUSU
    • Jangan makan IKAN bersama TELUR
    • Jangan makan IKAN bersama DAUN SALAD
    • Jangan makan SUSU bersama CUKA
    • Jangan makan BUAH bersama SUSU CTH :- KOKTEL

    Cara makan

    • Jangan makan buah setelah makan nasi , sebaliknya makanlah buah terlebih dahulu, baru makan nasi.
    • Tidur 1 jam setelah makan tengah hari.
    • Jangan sesekali tinggal untuk makan malam . Barang siapa yg tinggal untuk makan malam  dia akan dimakan usia dan kolesterol dalam badan akan berganda. (maksudnya, jangan makan malam)
    • Dalam kitab juga melarang kita makan makanan darat bercampur dengan makanan laut.  Nabi pernah mencegah kita makan ikan bersama susu, karena akan cepat mendapat penyakit. Ini terbukti oleh ilmuwan yang menemukan bahwa dalam daging ayam mengandung ion+ sedangkan dalam ikan mengandung ion-, jika dalam makanan kita ayam bercampur dengan ikan maka akan terjadi reaksi biokimia yang akan dapat merusak usus kita.

    Al-Quran Juga mengajarkan kita menjaga kesehatan seperti membuat amalan antara lain:

    • Mandi Pagi sebelum subuh, sekurang kurangnya sejam sebelum matahari terbit. Air sejuk yang meresap kedalam badan dapat mengurangi penimbunan lemak. Kita boleh saksikan orang yang mandi pagi kebanyakan badan tak gemuk.
    • Rasulullah saw mengamalkan minum segelas air sejuk (bukan air es) setiap pagi. Mujarabnya Insya Allah jauh dari penyakit (susah mendapat sakit).
    • Waktu sembahyang subuh disunatkan kita bertafakur (yaitu sujud sekurang kurangnya semenit setelah membaca doa). Tafakur sesaat seperti 70 tahun ibadah nilainya.
    • Kita akan terhindar dari sakit kepala atau migrain. Ini terbukti oleh para ilmuwan yang membuat kajian kenapa dalam sehari perlu kita sujud. Ahli-ahli sains telah menemui beberapa milimeter ruang udara dalam saluran darah di kepala yg tidak dipenuhi darah. Dengan bersujud maka darah akan mengalir keruang tersebut.
    • Nabi saw juga mengajar kita makan dengan tangan dan bila habis hendaklah menjilat jari. Begitu juga ahli saintis telah menemukan bahwa enzyme banyak terkandung di celah jari jari, yaitu 10 kali ganda terdapat dalam air liur. (enzyme sejenis alat percerna makanan)

    Sunah cara makan menurut Rasulullah SAW:

    • Makan garam secuil sebelum makan untuk menolak 70 macam penyakit, dan ambil lagi secuil dengan jari manis tangan kanan setelah makan. Makanlah dengan tangan kanan tanpa sendok. Sebaiknya kita yang menunggu makanan dan bukan makanan yang menunggu.
    • Berdoa sebelum dan setelah makan. Cuci tangan. Dan minum dengan memegang gelas dengan tangan kanan, meskipun tangan tersebut bekas kuah.
    • Duduk dibawah, bukan di bangku dan dimulai dari pinggir dan terakhir ketengah. Baik sekali makan berjamaah bersama keluarga, maupun teman. Seperti ketika haji atau buka puasa bersama di Masjid dalam satu nampan bisa untuk empat orang.
    • Jangan sisakan sebutir nasipun, karena nasi ini berdzikir.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:36 am pada 15 November 2012 Permalink | Balas  

    Kata-kata Hikmah Khulafaur Rasyidin

    Abu Bakar radhiallahu anhu berkata:

    Orang yang bakhil itu tidak akan terlepas daripada salah satu daripada 4 sifat yang membinasakan, yaitu:

    1. Ia akan mati dan hartanya akan diambil oleh warisnya, lalu dibelanjakan bukan pada tempatnya atau;
    2. Hartanya akan diambil secara paksa oleh penguasa yang zalim atau;
    3. Hartanya menjadi rebutan orang-orang jahat dan akan dipergunakan untuk kejahatan pula atau;
    4. Adakalanya harta itu akan dicuri dan dipergunakan secara berfoya-foya pada jalan yang tidak berguna

    Umar bin Khattab radhiallahu anhu berkata:

    Orang yang banyak ketawa itu kurang wibawanya. Orang yang suka menghina orang lain, dia juga akan dihina. Orang yang menyintai akhirat, dunia pasti menyertainya. Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga.

    Utsman bin Affan radhiallahu anhu berkata:

    Antara tanda-tanda orang yang bijaksana itu ialah:

    1. Hatinya selalu berniat suci
    2. Lidahnya selalu basah dengan zikrullah
    3. Kedua matanya menangis kerana penyesalan (terhadap dosa)
    4. Segala perkara dihadapaiya dengan sabar dan tabah
    5. Mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia.

    Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu berkata:

    1. Tiada solat yang sempurna tanpa jiwa yang khusyu’.
    2. Tiada puasa yang sempurna tanpa mencegah diri daripada perbuatan yang sia-sia.
    3. Tiada kebaikan bagi pembaca al-Qur’an tanpa mengambil pangajaran daripadanya.
    4. Tiada kebaikan bagi orang yang berilmu tanpa memiliki sifat wara’ (memelihara diri dan hati-hati dari dosa)
    5. Tiada kebaikan mengambil teman tanpa saling sayang-menyayangi.
    6. Nikmat yang paling baik ialah nikmat yang kekal dimiliki.
    7. Doa yang paling sempurna ialah doa yang dilandasi keikhlasan.
    8. Barangsiapa yang banyak bicara, maka banyak pula salahnya, siapa yang banyak salahnya, maka hilanglah harga dirinya, siapa yang hilang harga dirinya, berarti dia tidak wara’, sedang orang yang tidak wara’ itu berarti hatinya mati.

    ***

    Dari Sahabat

    Eramuslim.com

     
  • erva kurniawan 1:43 am pada 14 November 2012 Permalink | Balas  

    Jeruk Busuk Rasa Manis

    Suatu hari, ketika saya sedang menjenguk salah satu saudara yang tengah dirawat di rumah sakit, terdengar suara makian keras dari pasien sebelah, “Bawa jeruk kok busuk, mau ngeracunin saya? biar saya cepat mati?”

    Suara marah itu berasal dari lelaki tua yang kedatangan salah satu keluarganya dengan membawa jeruk. Boleh jadi benar, bahwa beberapa jeruk dalam jinjingan itu busuk atau masam. Meski tidak semua jeruk yang dibawanya itu busuk dan sangat kebetulan yang terambil pertama oleh si pasien yang busuk. Dan tanpa bertanya lagi, marahlah ia kepada si pembawa jeruk.

    Sebenarnya, boleh dibilang wajar jika seorang pasien marah lantaran kondisinya labil dan kesehatannya terganggu. Ketika ia marah karena jeruk yang dibawa salah satu keluarganya itu busuk, mungkin itu hanya pemicu dari segunung emosi yang terpendam selama berhari-hari di rumah sakit. Penat, bosan, jenuh, mual, pusing, panas, dan berbagai perasaan yang menderanya selama berhari-hari, belum lagi ditambah dengan bisingnya rumah sakit, perawat yang kadang tak ramah, keluarga yang mulai uring-uringan karena kepala keluarganya sekian hari tak bekerja, semuanya membuat dadanya bergemuruh. Lalu datanglah salah satu saudaranya dengan setangkai ketulusan berjinjing jeruk. Namun karena jeruk yang dibawanya itu tak bagus, marahlah ia.

    Wajar. Sekali lagi wajar. Tetapi tidak dengan peristiwa lain yang hampir mirip terjadi di acara keluarga besar belum lama ini. Seorang keluarga yang tengah diberi ujian Allah menjalani kehidupannya dalam ekonomi menengah ke bawah, berupaya untuk tetap berpartisipasi dalam acara keluarga besar tersebut. Tiba-tiba, “Kalau nggak mampu beli jeruk yang bagus, mending nggak usah beli. Jeruk asam gini siapa yang mau makan?” suara itu terdengar di tengah-tengah keluarga dan membuat malu keluarga yang baru datang itu.

    Pupuslah senyum keluarga itu, rusaklah acara kangen-kangenan keluarga oleh kalimat tersebut. Si empunya suara mungkin hanya melihat dari jeruk masam itu, tapi ia tak mampu melihat apa yang sudah dilakukan satu keluarga itu untuk bisa membawa sekantong jeruk yang boleh jadi harganya tak seberapa.

    Harga sekantong jeruk mungkin tak lebih dari sepuluh ribu rupiah. Tapi tahukah seberapa besar pengorbanan yang dilakukan satu keluarga itu untuk membelinya?

    Rumahnya sangat jauh dari rumah tempat acara keluarga, dan sedikitnya tiga kali tukar angkutan umum. Sepuluh ribu itu seharusnya bisa untuk makan satu hari satu keluarga. Boleh jadi mereka akan menggadaikan satu hari mereka tanpa lauk pauk di rumah. Atau jangan-jangan pagi hari sebelum berangkat, tak satu pun dari anggota keluarga itu sempat menyantap sarapan karena uangnya dipakai untuk membeli jeruk. Yang lebih parah, mungkin juga mereka rela berjalan kaki dari jarak yang sangat jauh dan memilih tak menumpang satu dari tiga angkutan umum yang seharusnya. “Ongkos bisnya kita belikan jeruk saja ya, buat bawaan. Nggak enak kalau nggak bawa apa-apa,” kata si Ayah kepada keluarganya.

    Kalimat sang Ayah itu, hanya bisa dijawab dengan tegukan ludah kering si kecil yang sudah tak sanggup menahan lelah dan panas berjalan beberapa ratus meter. Tak tega, Ayah yang bijak itu pun menggendong gadis kecil yang hampir pingsan itu. Ia tetap memaksakan hati untuk tega demi bisa membeli harga dari di depan keluarga besarnya walau hanya dengan sekantong jeruk. Menahan tangisnya saat mendengar lenguhan nafas seluruh anggota keluarganya sambil berkali-kali membungkuk, jongkok, atau bahkan singgah sesaat untuk mengumpulkan tenaga. Itu dilakukannya demi mendapatkan sambutan hangat keluarga besar karena menjinjing sesuatu.

    Setibanya di tempat acara, sebuah rumah besar milik salah satu keluarga jauh yang sukses, menebar senyum di depan seluruh keluarga yang sudah hadir sambil bangga bisa membawa sejinjing jeruk, lupa sudah lelah satu setengah jam berjalan kaki, tak ingat lagi terik yang memanggang tenggorokan, bertukar dengan sejumput rindu berjumpa keluarga. Namun, terasa sakit telinga, layaknya dibakar dua matahari siang. Lebih panas dari sengatan yang belum lama memanggang kulit, ketika kalimat itu terdengar, “Jeruk asam begini kok dibawa…”

    Duh. Jika semua tahu pengorbanan yang dilakukan satu keluarga itu untuk bisa menjinjing sekantong jeruk tadi, pastilah semua jeruk asam itu akan terasa manis. Jauh lebih manis dari buah apa pun yang dibawa keluarga lain yang tak punya masalah keuangan. Yang bisa datang dengan kendaraan pribadi atau naik taksi dengan ongkos yang cukup untuk membeli seperti jeruk manis dan segar.

    Mampukah kita melihat sedalam itu? Sungguh, manisnya akan terasa lebih lama, meski jeruknya sudah dimakan berhari-hari yang lalu.

    ***

    Oleh: Bayu Gawtama

     
  • erva kurniawan 1:26 am pada 13 November 2012 Permalink | Balas  

    Cerita Rasulullah SAW Kepada Mu’adz  

    Kata Ibnu Mubarak, Khalid bin Ma’dan berkata kepada Mu’adz: “Mohon diceritakan satu hadits yang terdengar olehmu dari Rasulullah SAW yang kamu hafal dan kamu ingat setiap hari karena sangat kerasnya haditz itu dan sangat halus dan sangat mendalamnya hadits tersebut. Hadits manakah menurut tuan yang paling penting?”. Maka jawabnya: “Baiklah akan aku ceritakan.” Kemudian beliau menangis dahulu. Lama sekali menangisnya itu, selanjutnya beliau berkata: “Ehm, sungguh rindu sekali kepada Rasulullah, ingin segera bersua dengan beliau.”

    Kemudian dia berkata lagi: “Ketika menghadap kepada Rasulullah SAW beliau menunggang kuda dan beliau menyuruhku untuk naik dibelakang beliau; kemudian berangkatlah aku bersama beliau dengan mengendarai unta tersebut dan beliau menengadah ke langit, kemudian bersabda:

    “Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang berkehendak kepada makhlukNya menurut kehendakNya, wahai Mu’adz!”

    Jawabku: “Ya Sayyidal Mursalin.”

    Sabda beliau: “Sekarang aku akan menceritakan satu cerita kepadamu yang apabila dihafalkan olehmu, akan berguna bagimu, tapi kalau disepelekan olehmu, maka kamu tidak akan mempunyai hujjah kelak di hadapan Allah.

    “Hai Mua’dz! Allah itu menciptakan tujuh Malaikat sebelum Dia menciptakan tujuh langit dan bumi. Tiap langit ada satu Malaikat yang menjaga pintu. Dan tiap-tiap pintu langit itu dijaga oleh Malaikat penjaga pintu menurut kadarnya pintu dan keagungannya.

    “Maka Malaikat yang memelihara amal si hamba dan mencatatnya naik ke langit dengan membawa amal si hamba tersebut yang bersinar-sinar cahayanya bagaikan cahaya matahari. Setelah sampai ke langit pertama, Malaikat Hafadzoh menganggap amal si hamba itu banyak dan memuji kepada amal-amal tersebut. Akan tetapi setelah sampai kepada pintu langit pertama, berkatalah Malaikat penjaga pintu langit pertama kepada Malaikat Hafadzoh: “Tamparkanlah amal ini ke muka (wajah) pemiliknya! Saya ini penjaga tukang mengumpat dan saya di perintah untuk tidak menerima tukang mengumpat orang lain itu untuk masuk dan jangan sampai melewatiku untuk mencapai langit berikutnya.”

    “Kemudian keesokan harinya ada lagi Malaikat Hafadzoh naik kelangit dengan membawa amal shalih yang berkilauan cahayanya yang dianggap oleh Malaikat Hafadzoh begitu sangat banyaknya serta dipuji. Namun begitu sampai kelangit kedua (yang lolos dan selamat dari langit pertama sebab pemilik amal shalih tersebut tidak suka mengumpat) berkatalah Malaikat di langit kedua: “Berhentilah dan tamparkanlah amal ini ke wajah pemiliknya, sebab dengan amalnya itu, dia berharap keduniaan. Allah memerintahkan kepadaku harus menahan amal ini jangan sampai lewat kepada langit yang lain. Maka Malaikat semuanya melaknat kepada orang tersebut sampai sore.”

    “Ada lagi Malaikat Hafadzoh yang naik dengan membawa amal hamba Allah yang sangat memuaskan penuh dengan sedekah, puasa dan bermacam-macam kebaikan yang oleh Malaikat Hafadzoh dianggap demikian banyaknya dan di puji. Akan tetapi sampai di langit ketiga, berkatalah Malaikat penjaga langit ketiga: “Berhentilah, tamparkanlah ke wajah pemiliknya amal ini, saya Malaikat penjaga kibir (orang yang sombong) Allah memerintahkan kepadaku agar amal ini tidak melewati pintuku dan jangan sampai ke langit berikutnya. Salahnya sendiri dia takabbur kepada orang lain di dalam perkumpulan.”

    Singkatnya, Malaikat Hafadzoh naik ke langit dengan membawa amal hamba yang lain dan bersinar bagaikan bintang yang paling besar. Suaranya gemuruh penuh dengan tasbih, puasa, shalat, naik haji dan umrah. Begitu sampai ke langit ke empat, Malaikat penjaga langit ke empat itu berkata: “Berhentilah jangan dilanjutkan, tamparkanlah amal ini ke wajah pemiliknya, saya ini penjaga ujub dan Allah memerintahkan kepadaku agar amal ini jangan sampai lewat, sebab jika dia beramal selalu ujub.”

    Kemudian naik lagi Malaikat Hafadzah dengan membawa amal hamba yang diiringi seperti pengantin perempuan diiring kepada suaminya. Begitu sampai ke langit kelima dengan membawa amal yang begitu bagus, seperti jihad, ibadah haji, ibadah umrah, cahanya pun berkilauan bagaikan matahari. Berkata Malaikat penjaga langit kelima: “Saya ini penjaga sifat hasud, nah dia itu yang amalnya demikian bagus itu suka hasud/iri kepada orang lain atas kenikmatan Allah yang diberikan kepadanya. Jadi dia itu membenci kepada orang yang meridlokan kepada nikmat Allah (benci nikmat). Saya diperintahkan oleh Allah jangan membiarkan amal itu untuk melewati pintuku ke pintu yang lain.”

    Kemudian Malaikat Hafadzah naik lagi dengan membawa amal yang lain berupa wudlu yang sempurna, shalat yang banyak, puasa, haji dan umrah sehingga sampailah ke langit yang keenam dan berkata Malaikat penjaga pintu ini: “Saya ini Malaikat penjaga pintu Rahmat, nah amal yang seolah-olah bagus ini tamparkanlah ke wajah pemiliknya, salahnya sendiri bahwa dia itu belum pernah mengasihi orang lain. Apabila ada orang yang mendapatkan musibah dia merasa senang. Aku diperintahkan oleh Allah bahwa amalnya ini jangan melewatiku, supaya jangan sampai kepada yang lain.”

    Dan naik lagi Malaikat Hafadzah ke langit dengan membawa amal si hamba berupa bermacam-macam sedekah, puasa, shalat, jihad dan wara’. Suaranya pun bergemuruh seperti geledek, cahayanyapun bagaikan kilat. Begitu sampai ke langit ketujuh, berkata Malaikat penjaga langit yang ketujuh itu: “Saya ini penjaga sum’ah (ingin masyur), sesungguhnya si pengamal ini ingin termasyur dalam kumpulan-kumpulan dan selalu ingin tinggi di saat berkumpul dengan kawan-kawannya yang sebaya dan ingin mendapat pengaruh dari para pemimpin. Allah memerintahkan kepadaku agar amalnya itu jangan sampai melewatiku dan jangan sampai kepada yang lain. Dan tiap-tiap amal yang tidak bersih karena Allah, maka itulah riya. Allah tidak akan menerima dan mengabulkan amalnya orang-orang yang riya.”

    Kemudian Malaikat Hafadzah itu naik lagi dengan membawa amalnya hamba yakni: shalat, zakat, puasa, haji, umrah, akhlak yang baik dan pendiam tidak banyak omong, Dzikir kepada Allah. Kemudian diiring oleh Malaikat kelangit ketujuh sehingga sampai menerobos hijab-hijab dan sampailah ke khadirat Allah. Para Malaikat itu berdiri dihadapan Allah. Semuanya menyaksikan bahwa amal ini adalah amal shalih, yang diikhlaskan karena Allah.

    Tapi firman Allah: “Kalian adalah Hafadzah, pencatat amal hambaKu, sedang Akulah yang mengintip hatinya, amal yang ini tidak karena Aku, yang dimaksud olehnya itu adalah selain daripadaKu, tidak diikhlaskan kepadaKu. Aku lebih mengetahui daripada kamu apa yang dimaksud olehnya dengan amalnya itu. Aku laknat mereka, menipu kepada orang lain dan juga menipu kepadamu (Malaikat-Malaikat Hafadzah) Tapi Aku ini tidak akan tertipu olehnya. Aku ini yang paling tahu akan hal yang ghaib-ghaib.. Akulah yang melihat isinya hati, dan tidak akan samar kepadaKu setiap apapun yang samar, tidak akan tersembunyi bagiKu setiap apapun yang sembunyi. PengetahuanKu atas apa yang telah terjadi, sama dengan pengetahuanKu akan apa yang bakal terjadi. PengetahuanKu atas apa yang telah lewat sama dengan pengetahuanKu kepada apa yang akan datang. PengetahuanKu kepada orang-orang yang terdahulu sebagaimana pengetahuanKu kepada orang-orang yang kemudian.

    “Aku lebih tahu atas apapun yang lebih samar daripada rahasia, bagaimana akan bisa hambaKu dengan amalnya itu menipu kepadaku, bisa juga mereka itu menipu kepada makhluk-makhluk yang tidak tahu, sedangkan Aku ini Yang Mengetahui kepada yang ghaib-ghaib. LaknatKu tetap kepadanya.”

    Kata ketujuh Malaikat dan 3000 Malaikat yang menyertai: “Ya Tuhan, dengan demikian tetaplah laknatMu dan laknat kami semua bagi mereka.”

    Maka semua yang ada dilangit mengucapkan: “Tetaplah laknat Allah kepadanya dan laknat orang-orang yang melaknat.”

    Sayyidina Mu’adz (yang meriwayatkan hadits ini) kemudian menangis dengan terisak-isak, dan berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana aku bisa selamat dari apa yang diceritakan baru saja?”

    Sabda Rasulullah SAW.: “Hai Mu’adz, ikutilah Nabimu dalam soal keyakinan!”

    Aku bertanya kembali: “Gusti tuan ini adalah Rasulullah, sedang saya ini adalah si Mu’adz bin Jabal bagaimana saya bisa selamat dan bagaimana saya bisa terlepas dari bahaya tersebut?”

    Bersabda Rasulullah SAW.: “Ya begitulah, seandainya dalam amalmu ada kelengahan, maka tahanlah mulutmu jangan sampai menjelekkan orang lain dan juga kepada saudara-saudaramu sesama Ulama. Apabila kamu hendak menjelekkan orang lain, harus ingat kepada dirimu sendiri sebagaimana engkau pun tahu bahwa dirimupun penuh dengan aib-aib. Jangan membersihkan dirimu dengan menjelek-jelekkan orang lain. Jangan mengangkat dirimu sendiri dengan menekan orang lain. Jangan riya dengan amalmu agar amalmu itu diketahui orang lain. Dan janganlah kamu termasuk kedalam golongan orang yang mementingkan keduniaan dengan melupakan akhirat. Kamu jangan berbisik-bisik dengan seseorang padahal di sebelahmu ada orang lain yang tidak diajak berbisik olehmu. Dan janganlah takabur kepada orang lain, nanti akan luput bagimu kebaikan dunia akhirat. Dan jangan berkata kasar dalam satu majlis dengan maksud supaya orang-orang takut akan keburukan akhlakmu. Jangan membangkit-bangkit apabila kamu berbuat kebaikan. Jangan merobek-robek (pribadi) orang lain dengan sebab mulutmu, kelak engkau akan dirobek-robek oleh anjing-anjing Jahanam yakni sebagaimana firman Allah: “WANNAASYITHAATI NASYTHAA”

    Di neraka itu ada anjing-anjing perobek badan-badan manusia. Jadi mengoyak-ngoyak daging dari tulang.

    Aku berkata: “Ya Rasulullah, siapa yang kuat menanggung penderitaan semacam ini.”

    Jawab Rasulullah SAW.: “Mu’adz, yang kami ceritakan tadi itu akan mudah bagi mereka yang dimudahkan oleh Allah SWT., cukup untuk menggalang semua itu. Kamu harus menyayangi orang lain sebagaimana kamu menyayangi dirimu sendiri. Dan benci kepada orang lain apa-apa yang dibenci oleh dirimu sendiri. Apabila demikian maka kamu akan selamat dan pasti dirimu akan terhindar.

    Kata Khalid bin Ma’dam (yang meriwayatkan hadits tersebut adari Sayyidina Mu’adz): “Sayyidina Mu’adz sering membaca hadits ini sebagaimana seringnya membaca Al-Qur’an dan mempelajari hadits ini sebagaimana mempelajari Al-Qur’an dalam majlisnya.”

    Maka setelah kalian mendengar hadits ini yang demikian luhur beritanya, yang besar bahayanya dan atsarnya yang menyakitkan. Serasa akan terbang bila hati mendengarnya serta membingungkan akal dan menyempitkan dada serta penuh dengan hura-hura yang mengagetkan.

    Nah, apabila kamu telah mendengarnya, maka kamu harus berlindung kepada Tuhanmu, Tuhan seru sekalian alam. Diam dipintu, mudah-mudahan saja dibukakan dengan lemah lembut/merendahkan diri dan mendo’a, menjerit dan menangis semalam-malaman. Juga disiang hari bersama orang-orang yang merendahkan diri yang menjerit dan berdo’a kehadirat Allah. Sebab tidak akan bisa selamat dalam urusan ini kecuali dengan adanya rahmat Allah SWT., dan tidak akan bisa selamat dari tenggelamnya di laut ini kecuali dengan penglihatan dan taufiqNya dan inayat daripadaNya. [*]

    ***

    *Menuju Mukmin Sejati*

    Imam Al-Ghazali

     
  • erva kurniawan 1:14 am pada 12 November 2012 Permalink | Balas  

    Kaki Bengkak, Simbol Cinta Rasulullah

    Suatu ketika Abu Dzar Al Ghiffari melihat Rasulullah SAW shalat malam. Ia pun segera bermakmum padanya. Pada rakaat pertama, Rasul membaca QS Al Baqarah dari awal. Beliau terus membacanya sampai ratusan ayat. “Mungkin beliau akan sujud pada ayat yang ke dua ratus,” demikian pikir Abu Dzar. Ketika tiba di ayat 200 dan ada jeda, Abu Dzar bersiap untuk ruku. Ternyata, Rasul meneruskan bacaannya.

    Maka Abu Dzar membatalkan rukunya. “Mungkin beliau akan ruku setelah Al Baqarah ini selesai,” demikian pikir Abu Dzar berikutnya. Maka setelah QS Al Baqarah selesai dibaca (286 ayat), Abu Dzar kembali bersiap untuk ruku. Ternyata, Rasul meneruskan membaca QS Ali Imran. Maka Abu Dzar membatalkan rukunya. “Mungkin beliau akan ruku setelah selesai membaca Ali Imran,” pikir Abu Dzar kembali. Maka ketika Rasul selesai membaca QS Ali Imran (200 ayat), Abu Dzar kembali bersiap untuk ruku. Ternyata, Rasul meneruskan membaca QS An Nisaa’.

    Akhirnya setelah QS An Nisaa’ selesai dibaca (176 ayat), Rasul bertakbir lalu ruku. Maka Abu Dzar mengikutinya. “Dan rukunya beliau hampir sama lamanya dengan berdirinya,” ungkap Abu Dzar. Pada saat berdiri di rakaat pertama tersebut Rasul membaca 762 ayat. Sungguh luar biasa!

    Demikian hebatnya shalat Rasulullah SAW, tak heran bila kaki beliau sampai bengkak-bengkak. Hal ini diungkapkan istri beliau, ‘Aisyah binti Abu Bakar.

    Bengkaknya kaki Rasul saat menjalankan shalat, dapat ditafsirkan dengan menggunakan beberapa pendekatan. Salah satunya, sebagaimana kita beliau pun tetap manusia biasa. Kondisi “biasa” ini dan tidak dibekali mukjizat yang “aneh” dan supranatural menjadikan Rasul sebagai contoh ideal yang keteladanannya tidak mungkin kita pungkiri. Akan sangat berbeda kenyataannya bila beliau seperkasa Nabi Musa, barangkali setiap keteladanan yang dicontohkan kepada kita senantiasa akan kita abaikan. Maklumlah dengan mudahnya kita akan dapat berdalih bahwa kita tidaklah sekuat dan seperkasa Musa.

    Kriteria “biasa-biasa” saja yang melekat pada diri dan kepribadian Rasulullah SAW juga tercermin dari kebersahajaan dan ‘gurat nasib” yang beliau sebagaimana kita juga alami. Ketika terjadi perang Uhud, beliau juga terluka dan beberapa giginya tanggal. Menjelang perang Khandaq, pendapat beliau tidak dipraktikkan. Yang dipraktikkan justru strategi dari Salman Al Farisi.

    Rasulullah juga tidak kebal dari cobaan dan godaan orang-orang yang memusuhinya. Dalam pengepungan benteng Khaibar, Rasulullah diberi air minum beracun yang dipersembahkan dua wanita Yahudi. Hukuman apa yang beliau berikan kepada wanita Yahudi tersebut? Mereka dimaafkan! Kesabaran dan kebesaran hati beliaulah mukjizat sesungguhnya.

    Dalam kisah lain yang tak kalah menyentuhnya, digambarkan Rasulullah yang dihina, dicerca, serta disakiti dengan cara dilempari batu dan tanaman berduri ketika berkunjung ke Thaif, dengan lapang dada dan berbesar hati memaafkan orang-orang yang telah menyakitinya. Ketika istri beliau Aisyah cemburu kepada Mariah Al Qibtiyah, istri Rasul yang berasal dari Mesir, dengan sabar beliau mendengarkan keluhan dan aspirasi istri tercintanya tersebut. Bahkan untuk menjaga perasaan Aisyah, Mariah ditempatkan di pinggiran kota Madinah.

    Ketika beliau sanggup shalat malam setiap harinya, bahkan di saat beliau telah uzur, maka tak ada alasan bagi kita untuk meninggalkannya. Bila Rasulullah dapat melakukan shalat lima waktu dengan disiplin, tepat waktu dan tertib, maka sulit bagi kita untuk menghindari kewajiban tersebut dengan alasan bahwa kita tidak mampu. Bila kaki Rasul bengkak-bengkak karena terlalu lama shalat, itulah mukjizat beliau. Beliau adalah orang “biasa” yang sama dengan kita.

    Ketika terlalu lama berdiri shalat kakinya juga bengkak. Bila Rasulullah saja yang merupakan kekasih Allah shalat sampai kakinya bengkak-bengkak, bagaimana dengan kita? Sudah sewajarnya kita lebih “babak belur” dalam ibadah.

    Tubuh orang yang sedang rindu kepada Allah SWT, akan menghasilkan hormon-hormon ketenangan seperti serotonin, endorfin, POMC, dan enkefalin serta feniletilamin. Kondisi ini akan diikuti respons umpan balik yang akan menghambat hormon-hormon yang bersifat antagonis atau berlawanan prinsip kerjanya. Hormon-hormon seperti adrenalin, dopamin, dan gama amino butirik asid akan direduksi (diminimalisasi) produksinya.

    Apa akibatnya? Akan terjadi penurunan aktivitas kerja sistem vital tubuh seperti peredaran darah dan pernafasan. Degup jantung akan melambat, nafas pun menjadi teratur dan tenang. Bila kondisi ini berlangsung dalam waktu lama, maka wajar bila terjadi penumpukan cairan di bagian bawah tubuh yang paling terkena dampak gravitasi (yaitu kaki). Jadi bila mengacu kepada teori dan hipotesis ini, maka bengkaknya kaki Rasulullah ketika menjalankan shalat dalam jangka waktu lama terjadi karena shalatnya Rasulullah sangat khusyuk dan mendalam.

    Begitu “jatuh cinta”-nya beliau kepada Allah SWT, sehingga semua hormon dalam tubuh beliau bertasbih dan memberikan respons kerinduan. Bengkaknya kaki Rasulullah SAW adalah simbol dan perlambang cinta sejati seorang hamba kepada Tuhannya. Wallaahu a’lam. (tri )

    ***

    sumber: republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:59 am pada 11 November 2012 Permalink | Balas  

    Keutamaan Berdzikir, Berdo’a dan Bertobat  

    Suatu saat, selepas shalat, Rasulullah Saw berbagi sapa dan berbincang bincang dengan para sahabat tentang pelbagai hal. Dalam perbincangan itu, Rasulullah menyampaikan keutamaan majelis dzikir, do’a dan permohonan ampun kepada Allah Swt. Selain itu, beliau juga menekankan bahwa Allah Swt boleh jadi mengabulkan do’a seorang hamba, menghindarkannya dari bencana yang belum turun, menyimpan pahala do’anya di akhirat atau menghapusnya dosa-dosanya.

    Beliau pun berceramah :

    Sesungguhnya Allah Swt memiliki beberapa malaikat yang terus menerus berkeliling mencari majelis dzikir. Ketika menemukan majelis dzikir, mereka terus duduk di situ dengan menyelimutkan sayap sesama mereka hingga memenuhi ruang antara mereka dan langit yang paling bawah.

    Ketika majelis itu usai, mereka bubar dan kemudian naik kelangit. Ketika berada dilangit, mereka ditanya oleh Allah Swt. Yang sebenarnya lebih tahu ketimbang mereka, “Kalian datang dari mana? !”

    “Kami datang dari sisi para hamba-Mu di bumi yang mensucikan-Mu, mengagungkan-Mu, mengesakan-Mu, memuji-Mu, dan memohon kepada-Mu!” jawab mereka.

    “Apa yang mereka minta?” tanya Allah Swt.

    “Mereka memohon surga-Mu, “jawab mereka penuh takzim.

    “Apakah mereka pernah melihat surga-Ku?” tanya Allah swt lebih jauh

    “Tidak, wahai Tuhan,” jawab para malaikat dengan takzim.

    “Betapa seandainya mereka melihat surga-Ku?” kata Allah Swt.

    “Mereka juga memohon perlindungan kepada-Mu, “ucap mereka tetap takzim.

    “Dari apa mereka memohon perlindungan kepada-Ku?” tanya Allah Swt lagi.

    “Dari Neraka-Mu, wahai Tuhan,” Jawab mereka terus dengan takzim.

    “Apakah mereka melihat Neraka-Ku ?” tanya Allah Swt sekali lagi.

    “Tidak“ jawab mereka serempak.

    “Betapa seandainya mereka pernah melihat neraka-Ku,” kata Allah Swt.

    “Mereka juga memohon Ampunan kepada-Mu, wahai Tuhan,” ucap mereka tetap dengan takzim.

    “Aku telah mengampuni mereka, memberikan apa yang mereka mohon, dan melindungi mereka dari neraka,“ jawab Allah SWT.

    “Wahai Tuhan, tapi dalam majelis mereka ada seseorang yang berdosa yang hanya kebetulan lewat lantas duduk bersama mereka,” lapor mereka.

    “Dia juga Kami ampuni. Sebab, orang yang mau duduk bersama mereka tidak celaka !” jawab Allah SWT.

    ***

    Sumber : buku “Mutiara Akhlak Rasulullah SAW” , penulis : Ahmad Rofi’ Usmani

     
  • erva kurniawan 1:49 am pada 10 November 2012 Permalink | Balas  

    Rahasia Sholat Shubuh 

    Ditulis oleh Dr. dr. Barita Sitompul SpJP

    Setiap pagi kalau kita tinggal didekat mesjid maka akan terbangun mendengar adzan subuh, yang menyuruh kita untuk melaksanakan shalat subuh. Bagi mereka yang beriman segera saja melemparkan selimut dan segera wudhu dan shalat baik di rumah masing-masing atau ke mushalla atau masjid terdekat dengan berjalan kaki.

    Mungkin menjadi pertanyaan mengapa Tuhan memerintahkan kita bangun pagi dan shalat subuh? Berbagai jawaban dari semua disiplin ilmu tentunya akan banyak dijumpai dan membedah serta memberikan jawaban akan manfaat shalat subuh itu. Dibawah akan diulas sedikit mengani manfaat shalat subuh, instruksi Allah sejak 1400 tahun yang lalu.

    Dalam adzan subuh juga akan terdengar kalimat lain dibandingkan dengan kalimat-kalimat yang dikumandangkan muazin untuk waktu-waktu shalat selanjutnya. Kalimat yang terdengar berbeda dan tidak ada pada azan di lain waktu adalah “ash shalatu khairun minan naum”.

    Arti kalimat itu adalah shalat itu lebih baik dari pada tidur. Pernahkah kita mencoba sedikit saja menghayati kalimat “ash shalatu khairun minan naum”?

    Mengapa kalimat itu justru dikumandangkan hanya pada shalat subuh, tatkala kita semua sedang terlelap, dan bukan pada adzan untuk shalat lain.

    Sangat mudah bagi kita semua mengatakan bahwa shalat subuh memang baik karena menuruti perintah Allah SWT, Tuhan semesta Alam, Apapun perintahnya pasti bermanfaat bagi kehidupan manusia. Tetapi disisi mana manfaat i tu? Apa supaya waktu banyak untuk mencari rezeki, tidak ketinggalan kereta atau bus karena macet? Pada waktu dulukan belum ada desak-desakan seperti sekarang semua masih lancar, untuk itu tinjauan dari sisi kesehatan kardiovaskular masih menarik untuk dicermati

    Untuk tidak berpanjang kata, maka dikemukakan data bahwa shalat subuh bermanfaat karena dapat mengurangi kecenderungan terjadinya gangguan kardiovaskular.

    Pada studi MILIS, studi GISSI 2 dan studi-studi lain di luar negeri, yang dipercaya sebagai suatu penelitian yang shahih maka dikatakan puncak terjadinya serangan jantung sebagian besar dimulai pada jam 6 pagi sampai jam 12 siang. Mengapa demikian? Karena pada saat itu sudah terjadi perubahan pada sistem tubuh dimana terjadi kenaikan tegangan saraf simpatis (istilah Cina:Yang) dan penurunan tegangan saraf parasimpatis (YIN). Tegangan simpatis yang meningkat akan menyebabkan kita siap tempur, tekanan darah akan meningkat, denyutan jantung lebih kuat dan sebagainya.

    Pada tegangan saraf simpatis yang meningkat maka terjadi penurunan tekanan darah, denyut jantung kurang kuat dan ritmenya melambat. Terjadi peningkatan aliran darah ke perut untuk menggiling makanan dan berkurangnya aliran darah ke otak sehingga kita merasa mengantuk, pokoknya yang cenderung kepada keadaan istirahat.

    Pada pergantian waktu pagi buta (mulai pukul 3 dinihari) sampai siang itulah secara diam-diam tekanan darah berangsur naik, terjadi peningkatan adrenalin yang berefek meningkatkan tekanan darah dan penyempitan pembuluh darah (efek vasokontriksi) dan meningkatkan sifat agregasi trombosit (sifat saling menempel satu sma lain pada sel trombosit agar darah membeku) walaupun kita tertidur.

    Aneh bukan? Hal ini terjadi pada semua manusia, setiap hari termasuk anda dan saya maupun bayi anda. Hal seperti ini disebut sebagai ritme Circardian/Ritme sehari-hari, yang secara kodrati diberikan Tuhan kepada manusia. Kenapa begitu dan apa keuntungannya Tuhan yang berkuasa menerangkannya saat ini.

    Namun apa kaitannya keterangan di atas dengan kalimat “ash shalatu khairun minan naum”? Shalat subuh lebih baik dari tidur?

    Secara tidak langsung hal ini dapat dirunut melalui penelitian Furgot dan Zawadsky yang pada tahun 1980 dalam penelitiannya mengeluarkan sekelompok sel dinding arteri sebelah dalam pada pembuluh darah yang sedang diseledikinya (dikerok).

    Pembuluh darah yang normal yang tidak dibuang sel-sel yang melapisi dinding bagian dalamnya akan melebar bila ditetesi suatu zat kimia yaitu: Asetilkolin. Pada penelitian ini terjadi keanehan, dengan dikeluarkannya sel-sel dari dinding sebelah dalam pembuluh darah itu, maka pembuluh tadi tidak melebar kalau ditetesi asetilkolin.

    Penemuan ini tentu saja menimbulkan kegemparan dalam dunia kedokteran.

    “Jadi itu toh yang menentukan melebar atau menyempitnya pembuluh darah, sesuatu penemuan baru yang sudah sekian lama, sekian puluh tahun diteliti tapi tidak ketemu”.

    Penelitian itu segera diikuti penelitian yang lain diseluruh dunia untuk mengetahui zat apa yang ada didalam sel bagian dalam pembuluh darah yang mampu mengembangkan/melebarkan pembuluh itu. Dari sekian ribu penelitian maka zat tadi ditemukan oleh Ignarro serta Murad dan disebut NO/Nitrik Oksida. Ketiga penelitian itu Furchgott dan Ignarro serta Murad mendapat hadiah NOBEL tahun 1998.

    Zat NO selalu diproduksi, dalam keadaan istirahat tidur pun selalu diproduksi, namun produksi dapat ditingkatkan oleh obat golongan Nifedipin dan nitrat dan lain-lain tetapi juga dapat ditingkatkan dengan bergerak, dengan olahraga. Efek Nitrik oksida yang lain adalah mencegah kecenderungan membekunya darah dengan cara mengurangi sifat agregasi/sifat menempel satu sama lain dari trombosit pada darah kita.

    Jadi kalau kita kita bangun tidur pada pagi buta dan bergerak, maka hal itu akan memberikan pengaruh baik pada pencegahan gangguan kardiovaskular. Naiknya kadar NO dalam darah karena exercise yaitu wudhu dan shalat sunnah dan wajib, apalagi bila disertai berjalan ke mesjid merupakan proteksi bagi pencegahan kejadian kardiovaskular.

    Selain itu patut dicatat bahwa pada posisi rukuk dan sujud terjadi proses mengejan, posisi ini meningkatkan tonus parasimpatis (yang melawan efek tonus simpatis). Dengan exercise tubuh memproduksi NO untuk melawan peningkatan kadar zat adrenalin di atas yang berefek menyempitkan pembuluh darah dan membuat sel trombosit darah kita jadi bertambah liar dan inginnya rangkulan terus.

    Demikianlah kekuasaan Allah, ciptaannya selalu dalam berpasang-pasangan, siang-malam, panas-dingin, dan NO-Kontra anti NO.

    Allah, sudah sejak awal Islam datang menyerukan shalat subuh. Hanya saja Allah tidak secara jelas menyatakan manfaat akan hal ini karena tingkat ilmu pengetahuan manusia belum sampai dan masih harus mencarinya sendiri walaupun harus melalui rentang waktu ribuan tahun. Petunjuk bagi kemaslahatan umat adalah tanda kasihNya pada hambaNya. Bukti manfaat instruksi Allah baru datang 1400 tahun kemudian. Allahu Akbar.

    Mudah-mudahan mulai saat ini kita tidak lagi memandang sholat sebagai perintahNya akan tetapi memandangnya sebagai kebutuhan kita. Sehingga tidak merasa berat dan terpaksa dalam menjalankan ibadah dan selalu shalat subuh didahului dengan shalat sunnah dan kalau dapat jalan ke mesjid.

    Selamat shalat subuh dengan penuh rasa syukur pada Allah akan karunia ini. Amien.

    ***

    Dikutip dari milis Kajian Kassel.

     
  • erva kurniawan 1:39 am pada 9 November 2012 Permalink | Balas  

    Tingkatan Istighfar 

    Tingkatan Istighfar

    Di sebuah majelis pengajian Imam Hasan Al Bashri hadirlah seorang gembong penjahat. Beliau sendiri tidak pernah mengenalnya, hanya tahu namanya saja. Orang menyebutnya, Atabatul Ghulam. Siapa yang tidak kenal dengan kejahatan dan kekejamannya. Bahkan, tokoh ini sudah layak disebut orang fasik.

    Di tengah sesi tanya jawab, seorang jamaah mengajukan pertanyaan kepada Hasan Al Bashri, Ya Syekh, bagaimana jika seseorang sudah sangat keterlaluan mengerjakan kemaksiatan, apakah dosanya bisa diampuni Allah?

    Ulama besar dan tokoh sufi ini menjawab, Apabila penuh kesadaran dan dengan hati yang sungguh-sungguh bertobat menurut syarat-syaratnya, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya, sekalipun dosanya itu seperti yang dilakukan Atabatul Ghulam.

    Betapa terkejutnya tokoh penjahat ini ketika dirinya dijadikan contoh pelaku dosa besar. Namun Allah tetap berkenan memberikan ampunan, seandainya ia mau bertobat sepenuh hati.

    Ada apa dengan istighfar?

    Allah adalah Dzat Yang Maha Pengampun. Luasnya ampunan Allah tidak bisa kita ukur atau kita batasi. Allah selalu membuka Diri-Nya untuk memberi ampunan bagi setiap hamba yang pernah menyimpang dari jalan-Nya. Bertaburan ayat dalam Alquran dan hadis Nabi yang menunjukkan betapa Maha Pengampunnya Allah SWT. Tidak hanya akan mengampuni, bahkan dengan kasih sayang-Nya, Allah mengajak setiap pendosa untuk bersegera kembali kepada-Nya.

    Dalam QS Ali Imran [3] ayat 133-134, Allah SWT berfirman, Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa; (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

    Ayat ini diawali dengan kata wassyarii’u atau dan bersegeralah yang berbentuk fiil amr (bentuk perintah). Mengapa Allah memerintahkan manusia bersegera (dengan bersungguh-sungguh) mendatangi ampunan-Nya? Setidaknya ada tiga alasan. Pertama, waktu yang dimiliki manusia sangat terbatas–berkisar 60 sampai 70 tahun–dan Allah hanya akan menerima tobat seseorang sebelum ajalnya tiba. Kedua, tidak semua orang mendapatkan ampunan Allah, walau Dia membuka lebar-lebar pintu tobat bagi hamba-Nya yang berdosa. Ketiga, tidak semua orang memiliki kesadaran dan perhatian terhadap arti penting bertobat dan maghfirah Allah SWT.

    Ada hal menarik dalam susunan ayat tersebut. Perintah untuk mendapatkan maghfirah Allah diungkapkan lebih dulu daripada perintah untuk mendapatkan syurga. Apa sebabnya? Jelas, bila kita mendapatkan maghfirah maka syurga pun otomatis akan kita raih. Maka, hal pertama yang kita lakukan adalah berusaha optimal untuk mendapatkan maghfirah Allah dan bertobat kepada-Nya.

    Apa perbedaan antara maghfirah dan tobat? Kedua kata ini hakikatnya merujuk pada hal serupa, yaitu kembali kepada Allah setelah melakukan dosa. Secara umum maghfirah berasal dari kata ghafara, yang berarti menutupi atau menyembunyikan. Orang Arab berkata, Ghafara al-syaib bil khidhab. Ia menyembunyikan ubannya dengan celupan. Jadi maghfirah dapat diartikan dengan ampunan Allah di mana Dia menutupi dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Cara kita memohon maghfirah Allah disebut istighfar. Dengan istighfar, kita meminta kepada Allah agar kita dipelihara dari konsekuensi dosa, dari akibat-akibat dosa, atau dari hal-hal buruk yang terjadi karena dosa tersebut. Ali bin Abi Thalib berkata, Pakailah wewangian istighfar, supaya Allah tidak mempermalukan kalian dengan bau busuk dari dosa-dosa kalian. Sedangkan tobat berarti kembali dari perbuatan buruk yang pernah dilakukan sebelumnya kepada perbuatan baik.

    Mengapa kita harus ber-istighfar? Setidaknya ada tiga alasan. Pertama, Allah SWT telah memberikan nikmat melimpah kepada kita. Dan, nikmat tersebut harus kita syukuri sebagai hak Allah. Masalahnya kemampuan kita untuk mensyukuri nikmat sangatlah terbatas. Karena itu kita beristighfar atas ketidakoptimalan kita dalam menunaikan hak-hak Allah tersebut. Kedua, pada hakikatnya manusia membutuhkan ampunan Allah. Sesempurna apapun manusia pasti tidak akan pernah luput dari kesalahan. Ketiga, istighfar adalah kebiasaan para nabi dan orang-orang bertakwa. Dalam QS Ali Imran [3] ayat 133-134 di awal, Allah SWT menunjukkan bahwa istighfar merupakan karakteristik utama orang bertakwa. Ia mendahulukan beristighfar sebelum menjalankan amalan-amalan pelengkap lainnya, seperti menafkahkan harta-baik pada saat lapang ataupun sempit, menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain.

    Enam tahap Istighfar

    Istighfar itu kunci ibadah. Maka bersegeralah menuju ampunan Allah. Ketahuilah, Allah teramat bahagia saat seorang hamba kembali kepada-Nya. Kebahagiaan Allah melebihi bahagianya seseorang yang kehilangan unta dan semua perbekalannya di padang pasir, lalu ia menemukannya kembali tanpa kurang satu apapun. Namun, Istighfar bukan sekadar ucapan tanpa penghayatan yang memengaruhi perilaku. Istighfar mengandung sejumlah konsekuensi agar seorang pendosa berhak mendapat ampunan Allah SWT.

    Pertanyaannya, istighfar seperti apa yang memenuhi syarat ampunan Allah? Simaklah kisah berikut ini. Suatu hari, Ali bin Abi Thalib melewati seorang yang sedang mengulang-ulang kata astaghfirullah. Ali menegurnya, Celaka kamu. Tahukah kamu apa arti istighfar? Istighfar ada pada tingkat yang sangat tinggi. Istighfar mengandung enam makna. Pertama, penyesalan akan apa yang sudah kamu lakukan. Kedua, bertekad untuk tidak mengulangi dosa. Ketiga, mengembalikan kembali hak makhluk yang sudah kamu rampas, sampai kamu kembali kepada Allah dengan tidak membawa hak orang lain padamu. Keempat, gantilah segala kewajiban yang telah kamu lalaikan. Kelima, arahkan perhatianmu kepada daging yang tumbuh karena harta yang haram. Rasakan kepedihan penyesalan sampai tulang kamu lengket pada kulitmu. Setelah itu tumbuhkanlah daging yang baru. Keenam, usahakan agar tubuhmu merasakan sakitnya ketaatan, setelah kamu merasakan manisnya kemaksiatan. Setelah memenuhi semua syarat itu, ucapkanlah Astaghfirullah.

    Semoga Allah memampukan kita menapaki tingkat demi tingkat istighfar ini. Amin. (tri )

    ***

    sumber: republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:41 am pada 8 November 2012 Permalink | Balas  

    Pujian dan Doa

    Oleh : Siti Nuryati

    Pujian adalah fenomena umum yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Banyak tujuan orang memberi pujian. Ekspresi kekaguman, sekadar basa-basi atau bisa juga pujian yang diucapkan untuk menjilat. Bila disikapi secara sehat dan proporsional, pujian bisa menjadi hal positif yang dapat memotivasi untuk terus meningkatkan diri. Namun kenyataannya, pujian justru lebih sering membuat kita lupa daratan, lepas kontrol, bahkan takabur.

    Semakin sering orang lain memuji, makin besar potensi kita untuk terlena, besar kepala, serta hilang kendali diri. Rasulullah SAW memberi teladan yang menarik menyikapi pujian ini.

    Pertama, selalu mawas diri agar tidak terbuai pujian yang dikatakan orang. Setiap kali ada yang memuji, Rasulullah SAW menanggapinya dengan doa. ”Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku karena apa yang dikatakan orang-orang itu.” (HR Al-Bukhari). Lewat doa ini, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa pujian berpotensi menjerumuskan kita.

    Kedua, kalaupun sisi baik tentang kita itu benar adanya, Rasulullah SAW mengajarkan agar memohon kepada Allah SWT menjadikan lebih baik dari apa yang tampak di mata orang lain. ”Dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka kira.” (HR Al-Bukhari).

    Selain memberi kiat menyikapi pujian, Nabi SAW dalam kesehariannya juga memberi contoh bagaimana mengemas pujian yang baik agar tidak menjerumuskan dan merusak kepribadian yang kita puji. Dalam kesehariannya, Nabi SAW tidak memuji di hadapan yang bersangkutan secara langsung, tapi di depan orang-orang lain dengan tujuan memotivasi mereka. Suatu hari, seorang Badui yang baru masuk Islam bertanya tentang Islam.

    Setelah mendapat jawaban Nabi SAW, orang Badui itu berjanji menjalankannya dengan konsisten. Setelah si Badui pergi, Nabi SAW memujinya di hadapan para sahabat. ”Barangsiapa yang ingin melihat penghuni surga, maka lihatlah Orang (Badui) tadi.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

    Rasulullah SAW juga lebih sering melontarkan pujian dalan bentuk doa. Ketika melihat minat dan ketekunan Ibnu Abbas mendalami tafsir Alquran, Nabi SAW tidak serta-merta memujinya. Beliau lebih memilih untuk mendoakan Ibnu Abbas. ”Ya Allah, jadikanlah dia ahli dalam ilmu agama dan ajarilah dia ilmu tafsir (Alquran).” (HR Al-Hakim).

    Begitu pula ketika melihat ketekunan Abu Hurairah dalam mengumpulkan hadis dan menghafalnya, beliau lantas berdoa agar Abu Hurairah dikaruniai kemampuan untuk tidak lupa apa yang pernah dihafalnya. Doa ini dikabulkan Allah SWT, sehingga Abu Hurairah sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis.

    ***

    Sumber: republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:17 am pada 7 November 2012 Permalink | Balas  

    Miskin Atau Kayakah Saya?

    “Orang miskin susah diatur, maunya dikasihani terus”. Barangkali kita pernah mendengar ungkapan ini, atau kalimat serupa, bisa jadi mungkin sering. Pola berinteraksi kita antar sesama, hablum minannas, bergeser dari tatanan semula yang diinginkan. Tatanan yang dimaksud, tak lain adalah pola yang disokong dengan etika-etika rabbani, hablum minallah.

    Walhasil, yang terjadi bukanlah saling hormat menghormati, dan memberi. Melainkan sifat congkak dan takabur. Jarak antara si miskin dan si kaya, seakan semakin jelas, dan memperlihatkan kepada kita bahwa dikotomi status, atau kasta dalam tradisi India, kian Alas dan legal saja.

    Tidak bermaksud untuk menyalahkan si kaya, toh harta dan kekayaan termasuk kebutuhan asasi, setiap orang pasti punya keinginan memilikinya “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak…” QS. Ali Imran (3) : 14. Keinginan itu manusiawi. Lantas apa masalahnya? Benar, apabila fitrah itu tidak lagi tulus, berubah menjadi ambisi yang berujung pada hubbuddunya, cinta akan dunia yang berlebihan. Ya, ujung-ujungnya, kita menduga bahwa gemerlap, kekayaan duniawi itu milik kita.

    Lebih naïf lagi, jika ambisi itu mendorong si kaya untuk mengatakan dengan lantang :”wahai si miskin, seakan lupa bahwa segala yang dimiliki adalah titipin, amanat, bahkan ujian dari Allah swt: “dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”, QS. Al Anfal (8) : 28.

    Tidak bolehkah saya kaya? Sudah Tentu boleh. Sebab, kemiskinan sendiri seperti yang pemah diriwayatkan adalah salah satu bibit kekufuran, Islam dengan tegas melawannya.

    Kemudian, kaya seperti apakah yang dimaksudkan? ni’ma al mal al shalih li al abdi al shalih (sebaik-baik harta ialah yang dimiliki oleh seorang hamba yang shaleh”, demikian Rasul saw bersabda. Tak lain, kekayaan yang dimaksudkan dalam Islam ialah yang menuntun pada kesalehan spiritual, pribadi dan sosial.

    Kondisi masyarakat kita, dan umat Islam pada umumnya, ternyata masih hidup di bawah garis kemiskinan. Sudah seharusnya di sinilah letak peran orang kaya berada. Al takaful al ijtima’i, solidaritas sosial, peka akan sesama, tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Inilah konsep Islam.

    Kuatir harta akan berkurang? Allah swt menjanjikan harta yang pernah diinfakkan tidak akan berkurang, QS. Saba’ (34): 39, Allah akan mengganti harta tersebut. Yakinlah bahwa rizki ada ditangan Nya. Disamping itu, Allah swt tidak pernah memerintahkan untuk mensedekahkan seluruh harta, hanya sebagian saja, mimma tuhibbuun, secukupnya dari apa yang kita sukai.

    Bukan berarti ada anjuran bersedekah, lantas seluruh harta diinfakkan. Keseimbangan disini sangatlah dituntut. Manakah jatah untuk keluarga dan sebagian harta manakah yang hendak dinafkahkan. “wa laa tabsuth-haa kullal basthi..”, janganlah kamu terlalu mengulurkannya QS. Al Isra’ (17) : 29.

    Beramal, namun tidak melalaikan kewajiban terhadap anak, istri dan keluarga. Berinfak, tapi tidak mengesampingkan kebutuhan yang bersifat wajib.

    Selanjutnya, kemurahan hati si kaya seharusnya disikapi dewasa oleh sang miskin. Kondisi ekonomi yang dihadapi, tidak membuatnya membutakan mata hati, dan mengambil jalan pintas, atau sekedar berpangku tangan. Bilakah si miskin sadar bahwa kondisi tersebut adalah ujian, seberapa tabahkah ia menjalani. Sungguh hebat prinsip yang dimiliki seorang mukmin, yang apabila ditimpa kesusahan.dia bersabar, sebaliknya ketika mendapat nikmat ia syukuri. Demikian sabda Nabi saw.

    Tidak menjadi jaminan bahwa seorang yang kaya, lebih dalam hal spiritual dari si miskin. Kita akan menemukan potret, seorang hartawan yang enggan berbagi, dan acuh tak acuh terhadap saudaranya. Tepat jika rasul saw pernah bersabda” kekayaan bukanlah hanya harta dan pangkat, melainkan ketenangan jiwa”.

    Antara si miskin dan si kaya, sudah semestinya saling mengetahui hak dan kewajiban masing-masing. Keduanya mendapat ujian yang sama, harta dan kekayaan, yang membedakan hanyalah kesabaran yang dimiliki, mampukah sang hartawan dan si miskin menjaga hati kemudian bertanya pada nalurinya, miskin atau kayakah saya? Allahumma inna nasaluka al taufiq wa al sadad

    ***

    Nashih Nashrulloh

    Sumber: Tabloid Khalifah Edisi 28/Th II/2006

     
  • erva kurniawan 1:40 am pada 6 November 2012 Permalink | Balas  

    Para Peminat Neraka (Bagian 2 Habis)

    (Ach. Muchlis)

    Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa nanti pada hari kiamat ada suara yang menyeru: ‘Hadirkan Fir’aun kemari!’ Maka fir’aun didatangkan, di kepalanya dipasang peci dari api neraka, dipakaikan baju gatharan atau tir serta menunggang babi. Kemudian ada seruan lagi: ‘Mana orang‑orang yang sombong dan takabur?’ Mereka pun didatangkan dan berangkat ke neraka bersama Fir’aun sebagai pemimpinnya.

    Kemudian ada seruan lagi: ‘Mana Qabil?’ Maka Qabil pun dihadirkan. Kemudian dikatakan: ‘Mana orang‑orang yang dengki?’ Kemudian mereka dikumpulkan dengan Qabil sebagai pemuka mereka menuju neraka.

    Kemudian ada seruan lagi: ‘Mana Ka’ab bin Asyraf pemuka ulama Yahudi?’ Ka’ab pun didatangkan kemudian ada seruan memanggil: ‘Maka malaikat menggiring mereka bersama Ka’ab sebagai pemimpinnya ke neraka.

    Kemudian ada seruan lagi: ‘Mana Walid bin Mughirah?’ Walid pun didatangkan kemudian ada panggilan: ‘Mana orang‑orang yang mengejek orang‑orang muslim yang fakir?’ Walid menjadi pemuka mereka menuju neraka.

    Kemudian ada seruan lagi: ‘Mana Ajda, orang yang celaka yang telah melakukan liwath dari kaum Nabi Luth?’ Ajda pun didatangkan lalu ada panggilan: ‘Mana orang‑orang yang melakukan liwath?’ Merekapun didatangkan dan Ajda sebagai pemimpin masuk neraka.

    Kemudian ada seruan lagi: ‘Mana Musailamatul Kadzdzab? Diapun didatangkan. Dan dia memanggil orang‑orang yang mendustakan kitab suci Al‑Qur’an. Dia adalah pemuka mereka masuk neraka.

    Kemudian ada seruan lagi: ‘Mana Iblis terkutuk?

    Iblis pun didatangkan dan berkata: ‘Wahai Hakim Yang Maha Adil, datangkanlah kepadaku tentaraku. Para muadzinku, para pembacaku, mereka yang sejalan denganku, para menteriku, para ahli fiqihku, para penjagaku, para pedagangku, para pemukul genderangku serta para penghalauku!’

    (iblis ditanya)

    Suara : Hai Iblis terkutuk dan terusir , siapakah para tentaramu itu?

    Iblis : Tentaraku ialah mereka yang mempunyai sifat rakus, para muadzinku ialah orang‑orang yang salah bacaannya, para pembacaku ialah para penyanyi, mereka yang sejalan denganku ialah mereka yang mengiris muka dan tangannya kemuka, diberi nila serta siapa saja yang minta diperlakukan demikian, para ahli fiqihku ialah mereka yang mengejek orang‑orang yang terkena musibah serta menghina orang‑orang yang makan barang halal, para penjagaku ialah mereka yang mendatangi almari arak dan yang tidak mau mengeluarkan zakat, para pedagangku ialah mereka yang menjual barbathah (batang dan bunga terlarang), para pemukul genderangku adalah orang‑orang yang menabuh rebana (alat musik), para penghalauku ialah mereka yang menanam pohon‑pohon anggur untuk dijadikan minuman yang memabukkan.

    Kemudian keluarlah seekor ular yang panjang lehernya sejauh tujuh puluh tahun perjalanan. Ular itu mengumpulkan mereka semua lalu menggiring ke neraka. (Tafsirur Taisir)‑(Durratun Nasihin II. Hal 34‑41)

    Di hari itu tidak berguna tuduhan dan makian, yang ada hanya ungkapan kemarahan mereka terutama terhadap Iblis, seperti yang digambarkan Allah dalam Al‑Qur’an:

    Dalam orang‑orang kafir itu berkata (di hari kiamat): ‘Ya Tuhan kami! Tunjukkanlah kepada kami dua golongan yang telah menyesatkan kami, dari golongan jin dan manusia supaya kami jadikan mereka di bawah telapak‑telapak kaki kami agar mereka menjadi orang‑orang rendah.

    (QS. Fushshilat, 41:29)

    Demi mendengar tuduhan dan makian para ahli neraka terhadap dirinya, lalu Iblis menyampaikan pidatonya di hadapan mereka untuk membela diri. Firman Allah Swt: Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: ‘Sesungguhnya Allah menjanjikan kepadamu janji yang benar dan aku pun telah menjajikan kepadamu tetapi aku mengingkarinya. Sekali‑kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan sekedar aku mengajakmu lalu kamu perkenankan aku; oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku; akan tetapi cercalah diri kamu sendiri. Aku sekali‑kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali‑kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali‑kali tidak dapat menolong aku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatan kamu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.’ Sesungguhnya orang‑orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih. (QS, Ibrahim, 14:22)

    Maka sebagian dari mereka berusaha untuk minta tolong kepada para pemimpin mereka sewaktu di dunia yang telah menyesatkan dan menyebabkan mereka dicampakkan di neraka, seperti firman Allah: Dan tatkala mereka akan berbantahan di neraka, yaitu orang‑orang yang lemah (para pengikut akan berkata kepada mereka yang sombong,

    Pengikut : Sesungguhnya kami pengikut‑pengikut kamu, maka bisakah kamu hindarkan dari kami sebagian dari azab neraka ini?

    (Mereka yang sombong itu berkata)

    Pemimpin: Kita semua berada di dalamnya, sesungguhnya Allah telah jatuhkan hukuman antara hamba‑hamba‑Nya. (QS, Al‑Mukmin, 40:47‑48)

    Karena tidak tahan terhadap kepedihan siksa neraka, mereka memohon keringanan kepada Tuhan melalui malaikat‑malaikat penjaga neraka, seperti firman Allah: Dan orang‑orang yang di neraka berkata kepada penjaga‑penjaga Jahannam.

    Ahli Neraka : Mintakanlah kepada Tuhan kamu supaya ia meringankan dari kami sehari saja dari azab.

    Malaikat : Dan bukankah telah datang kepada kamu rasul‑rasul kamu dengan membawa keterangan‑keterangan?

    Ahli Neraka : Ya.

    Malaikat : Kalau begitu, berdoalah kamu; dan tidak ada doa orang‑orang yang kafir itu melainkan dalam kesesatan. (QS, Al‑Mukmin, 40:49‑50)

    Mendengar jawaban dari malaikat‑malaikat penjaga neraka itu, mereka lalu berputus asa

    Sehingga yang mereka idam‑idamkan hanyalah kematian, seperti firman Allah:

    Dan mereka memanggil: ‘Hai Malik! hendaklah Tuhanmu hukumkan kematian atas kami.’ Ia jawab: ‘Sesungguhnya kamu akan tetap tinggal (di dalam neraka ini).’ (QS,Az‑Zukhruf, 43:77)

    Kemudian mereka memohon langsung kepada Tuhan dengan doa yang sangat menyayat hati, seperti yang difirmankan Allah: Dan mereka berteriak di dalam neraka: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan kerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan.’ (QS. Fathir, 35:37)

    Berkenaan dengan permohonan ahli neraka itu, Tuhan mengadakan dialog langsung dengan mereka, seperti firman Allah dalam Al‑Qur’an,

    Allah: Bukankah ayat‑ayat Ku telah dibacakan kepada kamu sekalian tetapi kamu mendustakan-nya?

    Ahli Neraka: Ya Tuhan! kami telah dikuasai oleh kejahatan kami dan kami adalah orang‑orang yang sesat. Ya Tuhan kami! keluarkanlah kami dari neraka ini (kembalikanlah kami ke dunia). Jika kami kembali (kafir) maka sesunguhnya kami orang‑orang yang zalim.

    Allah: Tinggalah kamu di dalamnya dan janganlah kamu berkata‑kata kepada‑Ku.

    Sesungguhnya ada segolongan dari hamba‑hambaKu berdoa (sewaktu di dunia): ‘Ya Allah! Kami telah beriman, maka ampunkanlah kami, lantaran Engkau sebaik‑baik pengasih. ‘Tetapi kamu jadikan mereka ejekan, hingga (kesibukan kamu mengejek mereka) menyebabkan kamu lupa mengingat‑Ku, dan kamu selalu mentertawakan mereka.

    Sesungguhnya pada hari ini Aku ganjari mereka dengan sebab kesabaran mereka, sesungguhnya merekalah orang‑orang yang dapat kemenangan. (QS, Al‑Mukminun, 23:105‑111)

    Pada hari itu tidak ada penolong‑penolong bagi orang‑orang kafir. Nabi Ibrahim as ingin menolong ayah kandungnya, Azar, si penyembah berhala, tetapi tidak sanggup. Bahkan doa beliau ditolak keras oleh Allah, seperti disebutkan dalam sebuah hadits: Pada hari kiamat nanti Nabi Ibrahim bertemu dengan ayahnya (Azar), pada waktu itu nampak wajah Azar hitam gelap, kemudian Nabi Ibrahim berkata: ‘Bukankah aku sudah mengingatkanmu agar kamu jangan memusuhi aku.’ Ayahnya menjawab: ‘Hari ini aku tidak akan memusuhi engkau.’ Ibrahim berkata: ‘Ya Allah, Engkau telah berjanji, janganlah Engkau menyusahkan kami pada hari kebangkitan ini dan tidak ada hal yang menyusahkan kami kecuali kesusahan yang akan diderita oleh ayahku.’ Tiba tiba Allah Swt menjawab: ‘Sesungguhnya Aku telah mengharamkan surga bagi orang‑orang kafir.’ Kemudian Ibrahim berkata kepada ayahnya: ‘Hai ayah, cobalah kau lihat apa yang ada di bawahmu itu.’ Setelah Azar melihatnya, tiba‑tiba nampak olehnya seperti ayam baru disembelih. Tidak antara lama kedua kaki Azar diserimpung kemudian dicampakkan ke dalam neraka. (HR. Imam Bukhari)

    Allah pernah menggambarkan penderitaan para ahli neraka kepada Nabi Musa as: ‘Wahai Musa, Neraka Wail adalah untuk perusak janji dan amanat, mereka akan disalib pada pohon Zaqqum dimana api masuk dari duburnya dan keluar lewat mulutnya, kedua telinga serta kedua matanya. Wahai Musa sungguh mereka akan digandengkan dengan setan‑setan dalam rantai‑rantai dan belenggu‑belenggu yang digantungkan pada mulutnya dimana otaknya mengalir melalui lubang hidungnya. Sekejab matapun tak akan dapat tidur, tak akan pernah merasa enak. Orang‑orang kafir sama memohon keamanan dengan minta mati karena dahsyatnya siksaan. Demikian juga para perusak janji, mereka memohon selamat dengan minta mati. Tidak ketinggalan para pezina, pemakan riba dan orang‑orang yang meninggalkan shalat. Mereka disiksa dalam neraka berwindu‑windu. Wahai Musa, andaikan air laut didatangkan, pohon‑pohon sebagai pena, manusia‑manusia dan jin‑jin sebagai juru tulis, maka sungguh habislah pena‑pena dan rusaklah manusia‑manusia dan jin‑jin serta keringlah seluruh air lautan sebelum bilangan windu Jahannam selesai ditulis (dihitung)’

    (Berita Ghaib dan Alam Akhirat, hal 178‑M. Ali Chasan Umar)

    Rasulullah Saw pernah bertanya kepada Jibril as.

    Nabi : Apakah yang dimaksud Al‑Huqub (sewindu) itu?

    Jibril : Yaitu 4000 (empat ribu) tahun.

    Nabi : Setahun berapa bulan?

    Jibril : 4000 (empat ribu) bulan.

    Nabi : Sebulan berapa hari?

    Jibril : 4000 (empat ribu) hari.

    Nabi : Sehari berapa jam?

    Jibril : 70.000 (tujuh puluh ribu) jam dan setiap jam adalah satu tahun menurut dunia.

    (Dari Berita Alam Ghaib dan Alam Akhirat, hal. 179‑Idem)

    Diriwayatkan dari Ubaya bin Ka’ab, ia berkata: Nabi Saw bersabda: kelak di hari kiamat peminum arak didatangkan dengan kendi dikalungkan pada lehernya dan tambur pada kedua tapak tangannya lalu ditancapkan di atas tonggak dari neraka. Kemudian penyeru memanggil: ‘Inilah Fulan bin fulan dalam kedudukan seperti itu.’ Maka keluarlah arak dengan deras dari mulutnya. Merasa sangat sakit dan bau busuk keringatnya yang amat sangat, mereka memohon kepada Allah agar dihilangkan keringat mereka namun tidak dikabulkan. Jika mereka minta minum, maka diberi air yang mendidih hingga rontoklah usus‑ususnya.

    Jika mereka minta makan, maka diberi buah Zaqqum hingga meletus dan mendidihlah apa yang ada di dalam perut‑perut dan dalam otak‑otak mereka. Kemudian keluarlah nyala api neraka dari dalam mulutnya, maka rontoklah semua isi perut mereka. Tiap seorang dari mereka dimasukkan dalam satu peti yang sangat sempit dari bara api selama 1000 tahun. Kemudian dikeluarkan dan dimasukkan dalam kurungan neraka serta dibelenggu di dalamnya. Mereka menjerit‑jerit selam satu tahun tetapi tidak dikasihani. Di dalam kurungan itu terdapat ular‑ular dan kala‑kala sebesar onta. Ular‑ular itu menggerogoti telapak kakinya tapi ia tidak dapat memukulnya. Pada kepada mereka dituangi tembaga dari api, dan besi pada ubun‑ubunnya. Rantai melilit leher mereka dan belenggu‑belenggu pada tangannya.

    Setelah 1000 tahun mereka dikeluarkan dan langsung dilongtarkan ke dalam (neraka) Wail selama 1000 tahun. Kemudian mereka sama memanggil: ‘Wahai Muhammad! Aduh Muhammad!’ Begitu mendengar suara ummatku.’ Allah menjawab: ‘Itu suara peminum arak, mereka mati dalam keadaan mabuk, dihalau ke padang Mahsyar juga dalam keadaan mabuk.’ Lalu Nabi Saw memohonkan syafa’at: ‘Ya Allah keluarkanlah mereka dari neraka dengan syafa’atku.’ Permohonan Rasulullah dikabulkan, maka tidak kekallah mereka di sana.

    Tentang keadaan para peminat neraka, dilukiskan dalam riwayat lain yaitu setelah Allah memutuskan hukuman dan pengadilan‑Nya terhadap mereka, ia memerintahkan Jibril as.

    Allah: Wahai Jibril, apakah perbuatan para pendurhaka dari Ummat Muhammad?

    Jibril: Engkau yang Maha mengetahui tentang keadaan mereka.

    Allah: Pergilah dan saksikanlah keadaan mereka.

    (Maka Jibril mendatangi Malik yang sedang di atas mimbar dari api di tengah‑tengah Jahannam. Ketika Malik melihat Jibril, ia berdiri untuk menghormatnya dan berkata),

    Malik: Wahai Jibril, gerangan apakah yang memasukkan engkau ke tempat ini?

    Jibril: Karena ingin menyaksikan orang‑orang yang berdosa dari ummat Muhammad.

    Malik: Alangkah jeleknya keadaan mereka dan alangkah sempitnya tempat mereka. Api telah membakar daging‑daging mereka tinggallah wajah‑wajah dan hati‑hati mereka yang memancarkan cahaya iman.

    Jibril: Bukakanlah hijab agar dapat aku menyaksikan mereka.

    (Lalu Malik memerintahkan agar hijab diangkat. Setelah mereka melihat Jibril as yang indah rupanya, mereka mengira ia bukan malaikat azab, mereka bertanya),

    Ahli Neraka: Siapakah hamba ini? Tak pernah ada seorang pun yang datang seindah itu.

    Malik: Inilah Jibril as. Dialah yang menyampaikan wahyu kepada Muhammad.

    (Setelah mereka mendengar nama Muhammad Saw mereka semua berteriak, menjerit dan menangis).

    Ahli Neraka: Wahai Jibril, sampaikan salam kami kepada Muhammad dan beritahukanlah tentang kejelekan keadaan kami.

    (Kemudian Jibril menghadap Allah, Allah bertanya walaupun sudah tahu)

    Allah: Bagaimana kamu melihat keadaan umat Muhammad?

    Jibril: Wahai Tuhanku, bukan main jeleknya keadaan mereka dan bukan main sempitnya tempat mereka.

    Allah: Apakah mereka minta sesuatu kepadamu?

    Jibril: Benar ya Allah, mereka memohon agar aku menyampaikan salam mereka kepada Muhammad dan memberitahukan tentang kejelekan keadaan mereka.

    Allah: Pergilah kepadanya dan sampaikan kepadanya.

    (Kemudian Jibril as menemui Nabi Saw sambil menangis, sedangkan beliau berada dalam kemah dari intan yang putih yang memiliki 4000 pintu di bawah pohon Thuba di surga. Setiap pintu terdiri dua surup, satu surup dari emas dan yang satunya dari perak)

    Nabi : Apakah yang kau tangisi wahai saudaraku Jibril?

    Jibril : Wahai Muhammad, andaikan engkau melihat apa yang kulihat engkau sungguh menangis karena tangisku. Aku telah mendatangi orang‑orang yang berbuat maksiat dari ummatmu yang sedang disiksa. Mereka menyampaikan salam kepadamu. Mereka berkata: ‘Alangkah jeleknya keadaan kami dan alangkah sempitnya tempat kami.’ Dengarlah teriakan mereka. Mereka mengucapkan: ‘Wahai Muhammad!’

    (Begitu mendengar ucapan mereka, beliau menjawab, ‘Labbaikum labbaikum yaa ummati = Aku datang, aku datang wahai ummatku.’ Kemudian nabi Saw berdiri menangis datang di sisi Arsy dan para nabi berada di belakang beliau. Beliau lalu bersujud dan memuji kepada Allah dengan pujian yang tak seorang pun memuji seperti itu. Allah lalu berkata),

    Allah: Hai Muhammad, angkatlah tanganmu dan mintalah, kamu pasti diberi dan mohonlah syafa’at, kamu pasti diberi syafa’at.

    Nabi: Ya Allah, orang‑orang celaka dari ummatku telah lepas dari sidang pengadilanMu sedangkan hukum adalah urusan‑Mu. Engkau telah menyiksa mereka. Aku mohon agar engkau berkenan memberi syafa’at kepadaku.

    Allah: Aku telah memberikan syafa’at kepadamu untuk mereka.

    (Maka Nabi Saw datang beserta para Nabi untuk mengeluarkan setiap orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah Muhammadun Rasulullah. Malik menghormati beliau. (Nabi Saw berkata):

    Nabi: Bagaimanakah keadaan ummatku yang celaka?

    Malik: Sangat jelek keadaan mereka dan sangat sempit tempat‑tempat mereka.

    Nabi: Bukakanlah pintu dan angkatlah anjat‑anjatan.

    (Setelah mereka melihat Nabi Saw mereka berteriak)

    Ahli Neraka: Aduh Muhammad, api telah membakar kulit‑kulit dan daging‑daging kami. Engkau telah meninggalkan dan melupakan kami di dalam neraka.

    Nabi: Sesungguhnya aku tak mengerti keadaan kalian.

    Kemudian mereka dikeluarkan dari neraka, keadaan mereka rusak karena dimakan api. Lalu nabi Saw pergi bersama mereka ke sungai di tepi pintu surga yang disebut ‘Nahrul Hayat’. Setelah mereka mandi di situ, keadaan mereka menjadi muda belia, semuanya sebaya. Wajah wajah mereka bersinar seperti bulan. Kening‑kening mereka tertulis tanda pembebasan dari Neraka. Setelah mereka memasuki surga mereka memohon agar tulisan itu dihapuskan Allah, maka Allah menghapuskannya.

    Hadits lain dari Abu Hurairah, ia berkata: bersabda Rasulullah Saw: Bahwasanya syafa’atku di hari kiamat (dalam neraka) ialah terhadap ummatku yang mengerjakan dosa besar. Mereka dimasukkan hanya pada pintu pertama neraka Jahannam. Wajah mereka tidak hitam, mata mereka tidak buta, tidak dibelenggu dengan rantai, tidak didampingkan bersama setan, tidak dicambuk dengan maqami (cemeti dari api) serta tidak dilemparkan ke lapisan neraka yang paling bawah. Mereka tinggal di neraka hanya sehari saja, ada yang sebulan, dan ada yang setahun, sesudah itu mereka dikeluarkan. Adapun mereka yang paling lama mengeram di neraka hanya selam ia hidup di dunia semenjak ia dijadikan sampai meninggal yaitu tujuh puluh tahun. (HR. Hakim dan Tirmidzi)

    Melihat orang‑orang Islam ditanting keluar dari neraka, kemudian memperoleh kenikmatan‑ kenikmatan yang luar biasa, maka tiada taranya penyesalan orang‑orang kafir, seperti yang difirmankan Allah: Orang‑orang kafir itu akan menginginkan sekiranya mereka dahulu menjadi orang Muslim. (QS, Al ‑ Hijr, 15:2)

    Wassalam

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:26 am pada 5 November 2012 Permalink | Balas  

    Neraka

    (Ach. Muchlis)

    Allah Swt berfirman dalam Al‑Qur’an: Dan sesungguhnya Jahannam itu tempat yang dijanjikan bagi mereka sekalian. Ia mempunyai tujuh pintu; tiaptiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan tertentu dari mereka (pengikutpengikut iblis). (QS. Al‑Hur, 15: 43:44)

    Tentang pintu‑pintu neraka, Rasulullah Saw pernah bertanya kepada Jibril as: ‘Apakah keadaan pintu‑pintu neraka itu seperti pintu rumahku?’ Jawab Jibril: ‘Tidak, tetapi pintu neraka terbuka di bawah yang lain.’

    Dalam sebuah riwayat, Wahab bin Munabbih berkata, Jarak satu pintu ke pintu lainnya bisa ditempuh dengan perjalanan tujuh puluh tahun. Setiap pintunya sangat panas dari yang lain dengan perbandingan tujuh puluh kali.

    (Mukhtashar Tadzkiratul Qurthuby, Dari Calon‑Calon ahli Surga dan Ahli Neraka ‑ M. Alli Chasan Umar)

    Rasulullah Saw, dalam riwayat lain, pernah berdialog dengan Malaikat Jibril as,

    Rasulullah: Siapakah orang‑orang yang menempati pintu‑pintu neraka itu?

    Jibril: Pintu pertama (paling bawah) namanya Hawiyah, ditempati orang‑orang munafik dan kafir. Pintu kedua namanya Jahim, ditempati orang‑orang musyrik. Pintu ketiga namanya Saqar, ditempati orang‑orang Shabiin (orang‑orang yang menukar agama, para penyembah bintang, yang mengaku beragama Nabi Nuh). Pintu keempat namanya Ladhaa, ditempati Iblis dan para pengikutnya serta orang‑orang Majusi (penyembah api). Pintu kelima namanya Huthamah, ditempati orang‑orang Yahudi. Pintu keenam namanya Sa’ir, ditempati orang‑orang Nasrani. Pintu ketujuh ditempati orang‑orang yang berbuat dosa besar dari golongan umatmu yang sampai mati mereka belum bertobat.

    Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Jibril tidak menerangkan penghuni pintu ketujuh sehingga Rasulullah Saw bertanya: ‘Wahai Jibril mengapa engkau tidak menuturkan kepadaku penghuni pintu ketujuh? Jibril berkata: ‘Wahai Muhammad, tak usahlah engkau tanyakan hal itu kepadaku’. Kata Nabi Saw: ‘Baiklah kalau begitu.’ Maka Jibril berkata: ‘Wahai Muhammad, yaitu para pembuat dosa‑dosa besar dari ummatmu. Mereka mati sebelum bertobat. ‘Seketika itu Nabi Saw pingsan.

    Dan setelah sadar beliau berkata: ‘Wahai Jibril, besar sekali musibahku dan aku sangat takut. Apakah salah seorang dari ummatku akan masuk neraka?’ Jibril menjawab: ‘Ya, ummatmu yang berbuat dosa‑dosa besar.’ Maka nabi Saw menangis lalu Jibril menangis pula karena tangisnya Nabi Saw. (Tanbihul Ghafilin‑Al‑Faqih Abu Laits Samarqandi, hal 59)

    Pintu‑pintu neraka akan dibukakan bila golongan yang akan memasuki telah dihadirkan, seperti firman Allah: Dan orang‑orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong‑rombongan, sehingga apabila mereka sampai keneraka, dibukakan pintu‑pintunya dan penunggu‑penunggunya berkata kepada mereka: ‘Bukankah telah datang kepada kamu rasul‑rasul dari jenis kamu yang membacakan kepada kamu ayat‑ayat Tuhan kamu dan mengancam kamu dengan pertemuan hari ini?’ Mereka menjawab: ‘Ya ada! Tetapi telah pantas hukuman azab atas orang‑orang kafir. (QS, As‑Zumar, 39:72)

    Lalu dalam keadaan rela atau terpaksa mereka akan dihardik untuk memasukinya,

    Dikatakannya: ‘Masukilah pintu‑pintu Jahannam itu, kamu kekal di dalamnya.’ Maka alangkah jelek tempat kembali bagi orang‑orang yang sombong itu. (QS. Az‑Zumar, 39:72)

    Dalam sebuah hadits yang panjang, Abu Hurairah ra menggambarkan neraka pada kalimat terakhir hadits itu,

    Abu Hurairah berkata: Demi Dzat yang jiwa Abu Hurairah di tanganNya, bahwa dasar Jahannam itu dalamnya adalah tujuh puluh tahun (perjalanan).

    (HR. Muslim dan Hudzaifah dan Abu Hurairah ra)

    Dalam hadits lain, yaitu:

    Hadits Ibnu Abbas ra mengatakan: Pada suatu hari Rasulullah sedang duduk dengan para sahabatnya. Tiba‑tiba dia mendengar suatu suara. Ketika itu Nabi saw bertanya: ‘Tahukah kamu suara apakah itu?’ Jawab mereka: ‘Allah dan RasulNya yang lebih tahu.’ Kata Nabi Saw: ‘Itu adalah batu yang dilemparkan ke dalam neraka sejak tujuh puluh tahun yang lalu dan baru sekarang sampai ke dasar neraka itu.’ (HR. Muslim)

    Tidaklah berlebihan bila dalam sebuah dialognya dengan Allah, Jahannam mengatakan masih sanggup memuat calon‑calon penghuninya berapa pun jumlahnya, seperti firman Allah,

    Ingatlah hari yang Kami akan bertanya kepada Jahannam: ‘Sudahkah engkau penuh?’ dan ia (Jahannam) akan menjawab: ‘Apakah ada tambahan?’ (QS, Qaf, 50:30)

    Tentang panasnya api neraka, Rasulullah Saw bersabda, Api kalian yang dinyalakan di dunia ini adalah sebagian dari tujuhpuluh bagian bila dibandingkan dengan panasnya api Jahannam. Para sahabat bertanya: ‘Demi Allah, yang ini saja yang di dunia kiranya sudah mencukupi (untuk menghancurkan manusia) ya Rasulullah?’

    Sahut beliau: ‘Sesungguhnya panasnya itu masih lebih sembilan puluh sembilan bagian lagi (dari api dunia ini) yang masing‑masing panasnya setiap bagian sedemikian itu. (HR. Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah ra)

    Dalam hadits lain dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda: Panas api yang kamu nyalakan di dunia ini (termasuk matahari) hanyalah sepertujuh puluh dari panasnya api neraka di akhirat. Kalau sebagian kecil (api neraka) jatuh ke dunia, niscaya mendidihlah air laut karena panasnya. (HR. Muslim) (Dari Kehidupan Insan di Alam Baqa‑Halimuddin SH, hal 8)

    Dalam satu riwayat disebukan bahwa Allah Ta’ala mengutus malaikat Jibril as kepada malaikat Malik supaya mengambil sebagian dari api neraka untuk keperluan Adam memasak makanan.

    Malaikat Malik berkata: Wahai Jibril, berapa api yang engkau kehendaki dari neraka?

    Jibril : Kira‑kira sebutir kurma.

    Malik : Wahai Jibril, sekiranya aku berikan kepadamu api neraka sebesar sebutir kurma, niscaya hancurlah tujuh langit dan tujuh bumi karena panasnya.

    Jibril : Bagaimana kalau hanya separuhnya saja?

    Malik : Andaikata apa yang engkau kehendaki itu aku berikan, niscaya tidak akan ada air di langit walau setetes pun dan tak akan tumbuh satu pun tumbuh‑tumbuhan di bumi.

    (Kemudian Jibril menghadap Allah dan berkata)

    Jibril : Ya Tuhanku, seberapa aku harus mengambil api dari neraka?

    Allah : Ambillah sebesar debu. (Durratun Nasihin III, hal 112)

    Maka Jibril mengambil api sebesar debu, lalu ia menyelamkannya dalam sungai sampai 70 (tujuh puluh) kali. Kemudian ia memberikannya kepada Adam as dan Jibril meletakkannya di atas gunung yang menjulang tinggi, gunung musnah. Akhirnya api itu dikembalikan lagi pada tempatnya. Adapun asapnya tertinggal pada batu‑batu dan besi‑besi sampai sekarang.

    Dan dapatlah dibayangkan betapa panasnya kalau percikan‑percikan api neraka itu seperti yang dilukiskan oleh Allah dalam Al‑Qur’an: Sesungguhnya neraka itu melontarkan percikan‑percikan api sebesar balok. (QS, Al‑Mursalat, 77:32)

    Malaikat Jibril as pernah memberi gambaran kepada Nabi Muhammad Saw tentang neraka. Begini: Andaikata neraka itu dibuka selubang jarum di arah timur maka terbakarlah penduduk bagian barat karena sangat panasnya.

    Dan andaikata pakaian ahli neraka digantungkan diantara langit dan bumi, maka matilah mereka karena sangat panasnya. Dan andaikan satu hasta rantai yang telah disebutkan Allah dalam kitab‑Nya itu diletakkan pada gunung maka hancurlah gunung itu hingga menembus tujuh bumi. Dan andaikata seorang lelaki dari ahli neraka yang disiksa berada di arah barat maka sungguh akan hanguslah orang yang berada di arah timur karena sangat hebatnya siksaan.

    Sebelum para ahli neraka dihadirkan, Allah mengadakan persiapan‑persiapan secukupnya untuk membuat kejutan‑kejutan yang mendirikan bulu roma. Bersabda Rasulullah Saw: Malaikat Jibril telah datang kepadaku, aku berkata kepadanya: ‘Wahai Jibril terangkanlah kepadaku sifat‑sifat neraka Jahannam. Ia (Jibril) berkata: ‘Sungguh Allah Ta’ala telah menciptakan neraka dan menyalakannya selama seribu tahun sehingga menjadi berwarna merah, kemudian menyalakannya lagi selama seribu tahun sehingga mejadi berwarna putih, lalu menyalakannya lagi selama seribu tahun sehingga berwarna hitam seperti malam yang gelap, nyalanya tidak pernah berhenti dan baranya tidak pernah bisa padam.’

    Allah melengkapi pemandangan di neraka dengan sesuatu yang tidak hanya boleh dilihat tetapi wajib didaki oleh penghuninya. Hadits Abi Said al‑khudry ra, katanya: Rasulullah Saw pernah membicarakan tentang firman Tuhan yang berbunyi: ‘Aku akan membebaninya dengan pendakian yang melelahkan.’ Yaitu gunung di dalam neraka yang wajib didaki oleh orang kafir selama tujuh puluh tahun. Demikianlah ketinggian gunung itu.

    (HR. Tirmidzi)

    Dalam hadits lain dari Anas ra bahwa Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya Wailun itu suatu lembah di dalamnya neraka Jahannam. Dalamnya lembah itu sejauh empat puluh perjalanan bagi orang kafir baru sampai ke dasarnya. Kata Abi Said al Khudry ra: Bahwa Wailun itu adalah lembah yang terletak di antara dua buah gunung di dalam neraka. Empat puluh tahun lamanya orang kafir baru sampai ke dasarnya. (HR. Muslim)

    Rasulullah Saw menambahkan: Di dalamnya terdapat sebuah gunung yang bernama Raqabah yang dilalui orang‑orang kafir. Gunung ini begitu panasnya sehingga bila tangan diletakkan di atasnya maka tangan itu akan hancur dan bila diangkat maka kembali seperti semula. (HR. Tirmidzi)

    Tidak ada celah sedikitpun di dalamnya neraka yang tidak diramaikan oleh bara api. Nabi Saw bersabda: Sesungguhnya tanah neraka itu terdiri dari timah hitam, pagarnya dari tembaga, atapnya dari belerang, kayu bakarnya dari manusia dan batu. Bila api neraka itu dinyalakan, maka semua yang ada di sana menyala pula menjadi api. (AL‑Hadits)

    Menurut keterangan dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda: Pada hari kiamat akan dikeluarkan neraka Jahannam dengan tujuh puluh ribu kendali, tiap kendali ditarik oleh tujuh puluh ribu malaikat. (HR. Muslim)

    Keterangan selanjutnya adalah dari Ibnu Abbas ra. Ia berkata: Neraka Jahannam pada hari kiamat nanti akan didatangkan dari bawah bumi yang ketujuh dan di sekelilingnya dikepung tujuh puluh ribu barisan malaikat. Setiap barisnya lebih banyak daripada jumlah dua golongan jin dan manusia. Mereka menarik Jahannam itu dengan tali‑talinya.

    Jahannam mempunyai empat kaki. Jarak antara dua kaki sejauh perjalanan seribu tahun. Jahannam memiliki tiga puluh ribu kepala, setiap kepala mempunyai tiga puluh ribu mulut, setiap mulut mempunyai tiga puluh ribu geraham, masing‑masing geraham tiga puluh ribu kali besarnya dari gunung Uhud, setiap mulut juga memiliki dua bibir selebar dunia. Pada setiap bibir terdapat rantai dari besi dan pada setiap rantai mempunyai tujuh puluh ribu kolong, setiap kolong dipegang para malaikat yang tak terhitung jumlahnya. Kemudian Jahannam digiring ke sebelah kiri Arsy. (Darratun Nasihin III, hal 15)

    Dan untuk menambah keseraman neraka maka Allah menciptakan Huraisy. Siapakah Huraisy itu? Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra katanya, Rasulullah Saw bersabda: Kelak di hari kiamat akan keluar suatu (makhluk) dari neraka Jahannam namanya Huraisy yang dilahirkan dari yang panjangnya sejauh antara langit dan bumi sedang besarnya dari timur sampai barat.

    Lalu Jibril as bertanya: Hai Huraisy mau kemanakah engkau dan siapa yang engkau cari?

    Huraisy : Aku mencari lima golongan manusia. Pertama orang yang meninggalkan shalat. Kedua orang yang enggan mengeluarkan zakat. Ketiga orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya. Keempat peminum arak. Kelima orang yang bercakap‑cakap di mesjid dalam urusan keduniaan (Durratun Nasihin I, hal. 129)

    Disamping Huraisy yang besar itu Allah juga menghiasi neraka dengan binatang‑binatang kecil yang berukuran kecil menurut dimensi neraka. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah ra dari Nabi Saw, beliau bersabda: Sungguh di neraka terdapat beberapa ular dan kalajengking sebesar leher onta. Maka mereka akan memagut serta menyengat salah seorang dari kamu dengan pagutan dan sengatan yang dapat dirasakan panasnya selama empat puluh musim gugur. (Daqaa‑Ioqul Akhbaari)

    (Dari Durratun Nasihin III, hal 243‑Usman al‑Khaibawi)

    Untuk melengkapi penderitaan orang‑orang kafir, Allah juga melipatgandakan dimensi tubuh mereka ratusan ribu kali. Dari Imam Muslim dari Abu Hurairah ra dia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda: Geraham orang kafir itu seperti gunung Uhud dan tebal kulitnya sejauh tiga hari perjalanan.

    Keterangan: Dimensi mereka diperbesar ratusan ribu kali lipat untuk memperluas permukaan kulit. Hal ini dimaksudkan agar segala macam siksaan terutama siksa bakaran dapat benar‑benar dirasakan.

    Bersambung..

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Bang Uddin 9:29 am pada 5 November 2012 Permalink

      Mohon ada alat buat share donk
      inikan sesuai dengan statement di atas yaitu :
      “DIPERSILAHKAN JIKA INGIN MENGCOPY DAN MENYEBARLUASKAN ARTIKEL PADA BLOG INI.”

    • erva kurniawan 9:55 pm pada 7 November 2012 Permalink

      Mohon dikasih saran gimana caranya, apakah ada fasilitas seperti itu di wordpress? maklum newbie :D

    • Raden Ilham Sastro 12:19 am pada 8 November 2012 Permalink

      Reblogged this on R.A.D.E.N I.L.H.A.M.

  • erva kurniawan 1:59 am pada 4 November 2012 Permalink | Balas  

    Menjaga Kesucian

    Islam mewajibkan seorang Muslimah mengenakan jilbab. ”Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Ahzab [33]: 59).

    Dengan jilbab, identitas seorang wanita menjadi jelas. Bahwa, mereka seorang Muslimah. Dengan jilbab pula, seorang wanita akan terhindar dari tatapan mata liar, sehingga mereka tidak diganggu. Kesucian mereka pun menjadi terjaga.

    Namun, jilbab bukan sekadar pakaian penutup tubuh (aurat) wanita. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar pakaian yang dikenakan seorang wanita bisa dikatakan jilbab yang sebenarnya (jilbab syar’i).

    Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam kitabnya yang berjudul Jilbab Al-Mar’ah Al-Muslimah menyebutkan delapan syarat jilbab syar’i.

    1. Pertama, menutup seluruh tubuh, kecuali muka dan telapak tangan.
    2. Kedua, bukan untuk tabarruj (bersolek) yang bisa menyebabkan pandangan mata tertuju padanya (QS Al-Ahzab [33]: 33).
    3. Ketiga, bahannya terbuat dari kain yang tebal, tidak tipis dan tidak tembus pandang (transparan).
    4. Keempat, kainnya longgar, tidak ketat, dan tidak membentuk lekuk tubuh.
    5. Kelima, tidak diberi wewangian atau parfum. ”Wanita mana saja yang memakai wewangian, lalu ia lewat di muka orang banyak agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah pezina.” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).
    6. Keenam, tidak menyerupai pakaian laki-laki. Sebab, Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita, dan wanita yang memakai pakaian laki-laki (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Hakim, dan Ahmad).
    7. Ketujuh, tidak menyerupai pakaian orang-orang kafir. ”Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR Ahmad dan Abu Dawud).
    8. Kedelapan, bukan pakaian untuk mencari popularitas. ”Barangsiapa mengenakan pakaian untuk mencari popularitas di dunia, niscaya Allah akan mengenakan pakaian kehinaan kepadanya pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api neraka.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah).

    Kedelapan, syarat ini bukanlah hal yang sulit untuk dipenuhi. Sebab, tidak ada yang sulit dalam syariat Islam. Semuanya mudah. ”Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.’‘ (QS Al-Baqarah [2]: 185). Dalam firman-Nya yang lain, ”Dan Dia (Allah) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama ini suatu kesempitan.’‘ (QS Al-Hajj (22): 78).

    ***

    (Mujianto )

     
  • erva kurniawan 1:57 am pada 3 November 2012 Permalink | Balas  

    Tipe-tipe Wanita dalam Alquran

    Ketika memasuki sebuah showroom, butik atau toko yang menjual pakaian wanita, kita akan mendapatkan pakaian dalam berbagai bentuk, corak dan ragamnya. Mau pilih yang mana? Semuanya terserah kita. Sebab kita sendiri yang akan memakainya. Kita pula yang akan menerima konsekuensi dari memakai pakaian tersebut.

    Pakaian dapat kita analogikan dengan kepribadian. Seperti halnya pakaian, kepribadian wanita pun memiliki beragam jenis dan corak. Kita diberi kebebasan untuk memilih tipe mana saja yang paling disukainya. Namun ingat, dalam setiap pilihan ada tanggung jawab yang harus dipikul. Karena itu, agar tidak menyesal dikemudian hari, Alquran memberi tuntunan kepada orang-orang beriman (khususnya Muslimah) agar tidak salah dalam memilih kepribadian.

    Lima tipe wanita

    Setidaknya ada lima tipe wanita dalam Alquran. Pertama, tipe pejuang. Wanita tipe pejuang memiliki kepribadian kuat. Ia berani menanggung risiko apa pun saat keimanannya diusik dan kehormatannya dilecehkan. Tipe ini diwakili oleh Siti Asiyah binti Mazahim, istri Fir’aun. Walau berada dalam cengkraman Fir’aun, Asiyah mampu menjaga akidah dan harga dirinya sebagai seorang Muslimah. Asiyah lebih memilih istana di surga daripada istana di dunia yang dijanjikan Fir’aun. Allah SWT mengabadikan doanya, Dan Allah menjadikan perempuan Fir’aun teladan bagi orang-orang beriman, dan ia berdoa, Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang zalim (QS At Tahriim [66]: 11).

    Kedua, tipe wanita shalihah yang menjaga kesucian dirinya. Tipe ini diwakili Maryam binti Imran. Hari-harinya ia isi dengan ketaatan kepada Allah. Ia pun sangat konsisten menjaga kesucian dirinya. Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina! .

    Demikian ungkap Maryam (QS Maryam [19]: 20). Karena keutamaan inilah, Allah SWT mengabadikan namanya sebagai nama salah satu surat dalam Alquran (QS Maryam [19]). Maryam pun diamanahi untuk mengasuh dan membesarkan Kekasih Allah, Isa putra Maryam (QS Maryam [19]: 16-34). Allah SWT memuliakan Maryam bukan karena kecantikannya, namun karena keshalihan dan kesuciannya.

    Ketiga, tipe penghasut, tukang fitnah dan biang gosip. Tipe ini diwakili Hindun, istrinya Abu Lahab. Alquran menjulukinya sebagai “pembawa kayu bakar” alias penyebar fitnah. Dalam istilah sekarang wanita penyiram bensin. Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya ia akan binasa. demikian pula istrinya, pembawa kayu bakar yang di lehernya ada tali dari sabut (QS Al Lahab [111]: 1-5).

    Bersama suaminya, Hindun bahu membahu menentang dakwah Rasulullah SAW, menyebar fitnah dan melakukan kezaliman. Isu yang awalnya biasa, menjadi luar biasa ketika diucapkan Hindun.

    Keempat, tipe wanita penggoda. Tipe ini diperankan Zulaikha saat menggoda Nabi Yusuf. Petualangan Zulaikha diungkapkan dalam Alquran, Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata, Marilah ke sini. Yusuf berkata, Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung (QS Yusuf [12]: 23).

    Kelima, tipe wanita pengkhianat dan ingkar terhadap suaminya.  Allah SWT memuji wanita yang tidak taat kepada suaminya yang zalim, seperti dilakukan perempuan Fir’aun (QS At Tahriim [66]: 11). Namun, pada saat bersamaan Allah pun mengecam perempuan yang bekhianat kepada suaminya (yang saleh). Istrinya Nabi Nuh dan Nabi Luth mewakili tipe ini. Saat suaminya memperjuangkan kebenaran, mereka malah menjadi pengkhianat dakwah.

    Difirmankan, Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shaleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya), Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka). (QS At Tahriim [66]: 10).

    Wanita-wanita yang dikisahkan Alquran ini hidup ribuan tahun lalu. Namun karakteristik dan sifatnya tetap abadi sampai sekarang. Ada tipe pejuang yang kokoh keimanannya. Ada wanita salehah yang tangguh dalam ibadah dan konsisten menjaga kesucian diri. Ada pula tipe penghasut, penggoda dan pengkhianat. Terserah kita mau pilih yang mana. Bila memilih tipe pertama dan kedua, maka kemuliaan dan kebahagiaan yang akan kita dapatkan. Sedangkan bila memilih tiga tipe terakhir, kehinaan di dunia dan kesengsaraan akhiratlah akan kita rasakan. Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa (QS An Nuur [24]: 34). Wallaahu a’lam.

    ***

    sumber: republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:24 am pada 2 November 2012 Permalink | Balas  

    Matahari Terbit dari Barat Dibenarkan Ilmuwan Fisika dan Masuk Islam 

    NASA Membenarkan Jika Matahari Akan Terbit dari Barat – Kebenaran ajaran Islam terus-menerus dibuktikan oleh penemuan demi penemuan ilmu pengetahuan. 1.400 tahun yang lalu, Rasulullah SAW sudah menyatakan dalam haditsnya bahwa kelak matahari akan terbit dari Barat sebagai bukti keagungan Allah SWT dan ciri-ciri kiamat sudah semakin dekat: “Tidak akan terjadi kiamat sehingga matahari terbit dari tempat terbenamnya, apabila ia telah terbit dari barat dan semua manusia melihat hal itu maka semua mereka akan beriman, dan itulah waktu yang tidak ada gunanya iman seseorang yang belum pernah beriman sebelum itu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah. Dan riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Ibn Majah).

    Matahari terbit dari Barat akan terjadi selama satu hari saja, kemudian tertutuplah pintu taubat. Setelah itu, gerakan matahari pun akan kembali seperti sebelumnya terbit dari timur sampai terjadinya kiamat. Ini sesuai dan dibenarkan oleh peneliti NASA dalam artikelnya dibawah. Dari Ibn ‘Abbas, “Maka Ubai bin Ka’ab berkata: “Maka bagaimana jadinya matahari dan manusia setelah itu?” Rasulullah menjawab: “Matahari akan tetap menyinarkan cahayanya dan akan terbit sebagaimana terbit sebelumnya, dan orang-orang akan menghadapi (tugas-tugas) dunia mereka, apabila kuda seorang laki-laki melahirkan anaknya, maka ia tidak akan dapat menunggang kuda tersebut sampai terjadinya kiamat.” (Fathul Baari, Kitaburriqaq, Juz 11, Thulu’issyamsi Min Maghribiha).

    Matahari Terbit Dari Barat Dibenarkan Ilmuwan Fisika Dan Masuk Islam

    Ilmuwan Fisika Ukraina Masuk Islam Karena Membuktikan Kebenaran Al-qur’an Bahwa Putaran Poros Bumi Bisa Berbalik Arah

    Demitri Bolykov, sorang ahli fisika yang sangat menggandrungi kajian serta riset-riset ilmiah, mengatakan bahwa pintu masuk ke Islamannya adalah fisika. Sungguh suatu yang sangat ilmiah, bagaimanakah fisika bisa mendorang Demitri Bolyakov masuk Islam? Demitri mengatakan bahwa ia tergabung dalam sebuah penelitian ilmiah yang dipimpin oleh Prof. Nicolai Kosinikov, salah seorang pakar dalam bidang fisika.

    Mereka sedang dalam penelitian terhadap sebuah sempel yang diuji di laboratorium untuk mempelajari sebuah teori moderen yang menjelaskan tentang perputaran bumi dan porosnya. Mereka berhasil menetapkan teori tersebut. Akan tetapi Dimetri mengetahui bahwasanya diriwayatkan dalam sebuah hadis dari nabi saw yang diketahui umat Islam, bahkan termasuk inti akidah mereka yang menguatkan keharusan teori tersebut ada, sesuai dengan hasil yang dicapainya. Demitri merasa yakin bahwa pengetahuan seperti ini, yang umurnya lebih dari 1.400 tahun yang lalu sebagai sumber satu-satunya yang mungkin hanyalah pencipta alam semesta ini.

    Teori yang dikemukan oleh Prof. Kosinov merupakan teori yang paling baru dan paling berani dalam menfsirakan fenomena perputaran bumi pada porosnya. Kelompok peneliti ini merancang sebuah sempel berupa bola yang diisi penuh dengan papan tipis dari logam yang dilelehkan, ditempatkan pada badan bermagnit yang terbentuk dari elektroda yang saling berlawanan arus.

    Ketika arus listrik berjalan pada dua elektroda tersebut maka menimbulkan gaya magnet dan bola yang dipenuhi papan tipis dari logam tersebut mulai berputar pada porosnya fenomena ini dinamakan “Gerak Integral Elektro Magno-Dinamika”.

    Gerak ini pada substansinya menjadi aktivitas perputaran bumi pada porosnya. Pada tingkat realita di alam ini, daya matahari merupakan “kekuatan penggerak” yang bisa melahirkan area magnet yang bisa mendorong bumi untuk berputar pada porosnya. Kemudian gerak perputaran bumi ini dalam hal cepat atau lambatnya seiring dengan daya insensitas daya matahari. Atas dasar ini pula posisi dan arah kutub utara bergantung. Telah diadakan penelitian bahwa kutub magnet bumi hingga tahun 1970 bergerak dengan kecepatan tidak lebih dari 10 km dalam setahun, akan tetapi pada tahun-tahun terakhir ini kecepatan tersebut bertambah hingga 40 km dalam setahun. Bahkan pada tahun 2001 kutub magnet bumi bergeser dari tempatnya hingga mencapai jarak 200 km dalam sekali gerak. Ini berarti bumi dengan pengaruh daya magnet tersebut mengakibatkan dua kutub magnet bergantian tempat. Artinya bahwa “gerak” perputaran bumi akan mengarah pada arah yang berlawanan. Ketika itu matahari akan terbit (keluar) dari Barat !!!

    Ilmu pengetahuan dan informasi seperti ini tidak didapati Demitri dalam buku-buku atau didengar dari manapun, akan tetapi ia memperoleh kesimpulan tersebut dari hasil riset dan percobaan serta penelitian. Ketika ia menelaah kitab-kitab samawi lintas agama, ia tidak mendapatkan satupun petunjuk kepada informasi tersebut selain dari Islam. Ia mendapati informasi tersebut dari sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Huarirah, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, ”Siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari Barat, maka Allah akan menerima Taubatnya.”

    Sumber :

    ***

    http://www.youtube.com/watch?v=Zqee3EZ4Ifs

    http://klikmenarik.blogspot.com/2012/06/nasa-membenarkan-matahari-akan-terbit.html

     
  • erva kurniawan 1:13 am pada 1 November 2012 Permalink | Balas  

    Syetan Bangga Jika Dicaci, Karenanya Mencacimaki Syetan Tidak Boleh

    Oleh: Badrul Tamam

    Al-hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

    Ketika tersandung batu, terpeleset, terjatuh atau terantuk sesuatu yang membuat sakit, sering meluncur dari lisan kita kalimat-kalimat umpatan seperti “Syetan!” (ungkapan kekesalan), atau “Syetan sialan.” Seolah-olah syetan ada di balik semua ini, karenanya dialah yang harus disalahkan.

    Memang syetan senantiasa berusaha menimpakan keburukan kepada umat manusia karena kedengkiannya. Terutama supaya manusia merugi dan sengsara dunia akhriat. Karenanya, syetan berusaha keras untuk menyesatkan umat manusia dari jalan hidayah supaya kelak menjadi temannya di neraka yang menyala-nyala.  Allah Ta’ala berfirman:

    “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Faathir: 6)

    Tapi, menyalah-nyalahkan syetan dengan kalimat-kalimat umpatan bukan sebuah kebaikan.

    Diriwayatkan dari Abu Malih. Ada seseorang bercerita kepada Abu Malih. Ia berkata: “Saya pernah naik Unta bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian Unta beliau terpeleset, tanpa sadar saya berkata, “Celakalah syetan.” Lalu Rasullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    “Jangan kamu katakan “celaka Syetan”, sebab jika kamu katakan itu badan syetan akan semakin membesar sehingga sebesar rumah seraya berkata, ‘dengan kekuatanku (aku menggelincirkan dia.’ Tetapi katakanlah, ’Dengan menyebut nama Allah’. Bila kamu berkata demikian, maka badan syetan akan mengecil hingga sekecil lalat.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, al-Nasai, al-Thabrani, al-Baihaqi, dan al-Hakim. Dishahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih al-Targhib wa al-Tarhib, beliau berkata, “Shahihul Isnad”, no.3128, 3129.)

    Menyebut nama Allah-lah yang pantas diucapkan oleh seorang muslim sebagai bentuk keyakinannya bahwa tidak ada yang terjadi di muka bumi kecuali atas izin-Nya. Bukan berarti dengan menyebut nama Allah, Allah disalah-salahkan. Sekali lagi tidak, tapi sebagai ungkapan keyakinan bahwa semua itu dengan izin Allah. Tentunya harus disertai juga dengan keyakinan bahwa apa yang Allah timpakan atas orang muslim hakikatnya membawa kebaikan. Boleh jadi musibah yang menimpa seorang muslim itu sebagai kafarah atas dosa dan kesalahannya atau sebagai ujian dari Allah untuk meninggikan derajatnya.

    Diriwayatkan dari Mu’awiyah radliyallah ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    “Tidak ada sesuatu yang menimpa seorang mukmin pada tubuhnya sehingga membuatnya sakit kecuali Allah akan menghapuskan dosa-dosanya.” (HR. Ahmad 4/98, Al-Hakim 1/347 Mu’awiyah radliyallah ‘anhu. Al-Hakim menyatakan shahih sesuai syarat Syaikhain. Imam al-Dzahabi menyepakatinya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam al-Shahihah 5/344, no. 2274)

    Diriwayatkan juga dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

    “Tidaklah menimpa seorang muslim kelelahan, sakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan dan duka, sampai pun duri yang mengenai dirinya, kecuali Allah akan menghapus dengannya dosa-dosanya.” (Muttafaqun’alaih)

    Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata dalam Syarh Riyadhish Shalihin (1/94): “Apabila engkau ditimpa musibah maka janganlah engkau berkeyakinan bahwa kesedihan atau rasa sakit yang menimpamu, sampaipun duri yang mengenai dirimu, akan berlalu tanpa arti. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menggantikan dengan yang lebih baik (pahala) dan menghapuskan dosa-dosamu dengan sebab itu. Sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya. Ini merupakan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga, bila musibah itu terjadi dan orang yang tertimpa musibah itu mengingat pahala dan mengharapkannya, maka dia akan mendapatkan dua balasan, yaitu menghapus dosa dan tambahan kebaikan (sabar dan ridha terhadap musibah).”

    Mengungkapkan kekesalan dengan mencaci maki syetan tidak akan membawa kebaikan. Selain tidak berpahala karena tidak mengembalikan urusan kepada Allah dan tidak sabar atas takdir-Nya, perbuatan tersebut malah membuat syetan merasa senang dan sombong. Syetan akan merasa bahwa kejadian itu ada karena kekuatan yang dimilikinya. Dan selayaknya, seorang muslim yang memproklamirkan syetan sebagai musuh abadinya tidak mau membuat syetan senang dan berbangga.

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga pernah berpesan secara khusus agar tidak mencaci syetan ketika terjadi musibah,

    “Janganlah kalian mencaci maki syetan, sebaliknya berlindunglah kepada Allah dari kejahatannya.” (HR. al-Dailami, Tammaam dalam Fawa’idnya dan yang lainnya, sebagaimana yang terdapat dalam Shahihah milik Al-Albani no. 2422)

    Dan bagi siapa yang telah terlanjur dan sering mencaci maki syetan seperti dengan ungkapan, “Syetan sialan, syetan terkutuk!” (ungkapan kesal), dan kata-kata semisalnya dengan dalih Syetan ada di balik semua ini, bukan melakukan kebaikan. Sebaliknya, telah melanggar tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Karenanya, dia harus beristighfar dan memperbaiki diri sehingga hati akan terbina mengeluarkan kata spontan yang mulia. Wallahu Ta’ala A’lam.

    ***

    [PurWD/voa-islam.com]

     
c
Compose new post
j
Postingan berikutnya/Komentar berikutnya
k
Postingan sebelumnya/Komentar sebelumnya
r
Balas
e
Edit
o
Tampilkan/Sembunyikan komentar
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 640 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: