Updates from Oktober, 2016 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:41 am on 31 October 2016 Permalink | Balas  

    Adab Berjalan Ke Masjid Dan Bacaan Sewaktu Masuk Dan Keluarnya 

    Di-pintu-masuk-masjidAdab Berjalan Ke Masjid Dan Bacaan Sewaktu Masuk Dan Keluarnya

    Adab berjalan ke masjid

    Dari Abu Qatadah Radhiallahu’anhu : Tatkala kami sedang shalat bersama Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, tiba-tiba beliau mendengar suara berisik orang-orang (yang datang). Maka ketika Nabi Shallallahu’alaihi wasallam telah selesai shalat, ia bertanya : “Ada apa dengan kamu tadi (berisik) ?”. Mereka menjawab : “Kami terburu-buru untuk turut (jama’ah)”, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Janganlah kamu berbuat begitu !. Apabila kamu mendatangi shalat, hendaklah kamu berlaku tenang ! Apa yang kamu dapatkan (dari shalatnya Imam), maka shalatlah kamu (seperti itu) dan apa yang kamu ketinggalan, sempurnakanlah !” [Hadits Shahih Riwayat : Bukhari, Muslim dan Ahmad]

    Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apabila kamu mendengar qamat, maka pergilah kamu ke tempat shalat itu, dan kamu haruslah berlaku tenang dan bersikap sopan/terhormat, dan janganlah kamu tergesa-gesa, apa yang kamu dapatkan (dari shalatnya Imam), maka shalatlah kamu (seperti itu) dan apa yang kamu ketinggalan sempurnakanlah”. [Hadits Riwayat : Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasa’i dan Ahmad]

    Kedua hadits ini mengandung beberapa hukum :

    [1]. Kita diperintah berlaku tenang dan bersikap sopan/terhormat apabila mendatangi tempat shalat (masjid).

    [2]. Kita dilarang tergesa-gesa/terburu-buru apabila mendatangi tempat shalat, seperti berlari-lari, meskipun qamat telah dikumandangkan.

    [3]. Kita dilarang berisik apabila sampai di tempat shalat, sedang shalat (jama’ah) telah didirikan. Ini dapat mengganggu orang-orang yang sedang shalat jama’ah.

    [4]. Imam masjid perlu menegur (memberikan pelajaran/nasehat) kepada para jama’ah (ma’mum) yang kelakuannya tidak sopan di masjid, seperti berisik, mengganggu orang shalat, melewati orang yang sedang shalat, shaf tidak beres, berdzikir dengan suara keras, yang dapat mengganggu orang yang sedang shalat atau belajar atau lain-lain.

    [5]. Apa yang kita dapatkan dari shalatnya Imam, maka hendaklah langsung kita shalat sebagaimana keadaan shalat imam waktu itu. (ruku’ ketika imam ruku’, sujud ketika imam sujud, atau duduk tahiyat ahir ketika imam sedang tahiyat ahir, ed)

    [6]. Setelah imam selesai memberi salam ke kanan dan ke kiri, barulah kita sempurnakan apa-apa yang ketinggalan.

    Diantara hikmahnya kita diperintahkan tenang dan sopan serta tidak boleh tergesa-gesa, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda, “Karena sesungguhnya salah seorang diantara kamu, apabila menuju shalat, maka berarti dia sudah dianggap dalam shalat”. [Hadits Shahih Riwayat : Muslim].

    Bacaan ketika masuk dan keluar masjid

    dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu, “….Kemudian muadzin adzan (Shubuh), lalu Nabi keluar ke (tempat) shalat (masjid), dan beliau mengucapkan : “ALLAHUMMAJ ‘AL FI QALBY NUURAN dan seterusnya (yang artinya) : “(Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya, dan didalam ucapakanku cahaya, dan jadikanlah pada pendengaranku cahaya, dan jadikanlah pada penglihatanku cahaya, dan jadikanlah dari belakangku cahaya dan dari depanku cahaya, dan jadikanlah dari atasku cahaya, dan dari bawahku cahaya, ya Allah berikanlah kepadaku cahaya”. [Hadits Riwayat : Muslim dan Abu Dawud]

    Dari Abi Humaid Radhiallahu’anhu atau dari Abi Usaid Radhiallahu’anhu, bahwasanya Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Apabila salah seorang kamu masuk masjid, maka ucapkanlah : “ALLAHUMMAF TAHLII ABWAABA RAHMATIKA (Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu)”. Dan apabila keluar (dari masjid), maka ucapkanlah : “ALLAHUMMA INNI AS ALUKA MIN FADLIKA (Ya Allah, sesungguhnya aku minta kepada-Mu dari karunia-Mu) “.[Hadits Shahih Riwayat : Muslim, Ahmad dan Nasa’i].

    Dari Abdullah bin Amr bin Ash dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallm, apabila masuk masjid, beliau mengucapkan : “AUDZU BILLAHIL ‘AZHIMI WABIWAJHIHIL KARIIMI WA SULTHANIHIL QADIIMI MINASY SYAITHANIR RAJIIM” (Aku berlindung kepada Allah yang Maha Agung dan dengan wajah-Nya yang Mulia serta kekuasaan-Nya yang tiada yang mendahuluinya, dari (gangguan) syaithan yang terkutuk)”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : Apabila ia mengucapkan demikian (do’a di atas), syaithanpun berkata : Dipeliharalah ia dari padaku sisa harinya” [Hadits Shaih Riwayat Abu Dawud]

    (adapun yang masyhur di kalangan kaum muslim Indonesia adalah hadits ke dua di atas, dari Abi Humaid Radhiallahu’anhu atau dari Abi Usaid Radhiallahu’anhu, ed)

    ***

    [Disalin dari kitab Al-Masaa-il (Masalah-Masalah Agama)- Jilid ke satu, Penulis Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, Terbitan Darul Qolam – Jakarta]

     
  • erva kurniawan 2:34 am on 30 October 2016 Permalink | Balas  

    Doa Ketika Bersin dan Menguap 

    masih-ngantuk-mak_1650_lDoa Ketika Bersin dan Menguap

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu anhu, dari Rasulullah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda : ” Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala menyukai bersin dan membenci menguap. Jika salah seoarang dari kalian bersin, maka hendaklah ia menucapkan Alhamdulillah. Bagi kaum muslimin yang mendengar pujian tersebut hendaknya mengatakan ‘Yarhamukallah (Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberimu rahmat)’, sedangkan menguap merupakan pekerjaan setan. Jika salah seorang dari kalian hendak menguap, maka sebisa mungkin hendaklah ia tahan. Sesungguhnya jika salah seorang dari kalian menguap, maka setan akan mentertawakannya.”

    Masih dalam riwayat Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Jika salah seorang dari kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan ‘Alhamdulillah’ dan saudaranya atau orang yang bersamanya mengatakan kepadanya ‘Yarhamukallah (Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberikan rahmat-Nya kepadamu)’. Jika salah seorang mengucapkan ‘Yarhamukallah’, maka orang yang bersin tersebut hendaklah menjawab ‘Yahdiikumullah wayushlih baalakum (Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberikanmu petunjuk dan memperbaiki keadaanmu).”

    Kedua hadits ini dikeluarkan oleh Imam Bukhari Radhiallahu anhu dalam kitabnya.

    Abu Musa Al Asy’ari Radhiallahu anhu mendengar Rasululah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “JIka salah seorang dari kalian bersin, maka hendaklah ia membaca ‘Alhamdulillah’, dan hendaklah kalian bertasymit (mengucapkan Yarhamukallah). Jika yang bersin tidak mengucapkan pujian kepada Allah Subhanahu wata’ala, maka janganlah kalian bertasymit.” (HR Muslim)

    ***

    Sumber : Doa-doa Rasulullah oleh Ibnu Taimiyah dengan muhaqqiq (peneliti) syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani.

     
  • erva kurniawan 9:32 am on 29 October 2016 Permalink | Balas  

    Hukum Dokter Membuka Aurat Wanita Dan Berkhalwat Dengannya Untuk Berobat 

    periksa dokterHukum Dokter Membuka Aurat Wanita Dan Berkhalwat Dengannya Untuk Berobat

    Apabila tidak ditemukan seorang dokter wanita yang diperlukan maka diperbolehkan baginya untuk berobat kepada dokter laki-laki, dan hal ini lebih mirip dengan keadaan darurat tetapi harus tetap terikat dengan aturan-aturan yang jelas. Oleh karena itu, para ahli fiqih berkata, keadaan darurat memperbolehkan untuk melakukan suatu hal sesuai dengan sekedar kebutuhan. Maka seorang dokter laki-laki tidak diperbolehkan untuk melihat atau memegang aurat pasien wanitanya yang tidak dibutuhkan untuk dilihatnya ataupun dipegang, dan wajib pula bagi wanita tersebut untuk menutup segala sesuatu yang tidak diperlukan untuk dibuka ketika berobat.

    Meski wanita dihukumi sebagai aurat, sesungguhnya aurat wanita bermacam-macam tingkatannya. Di antaranya ada aurat berat dan ada aurat yang lebih ringan darinya. Demikian pula sakit yang diderita oleh wanita, ada sakit yang berbahaya yang tidak boleh ditunda pengobatannya dan ada pula penyakit biasa yang tidak berbahaya apabila pengobatannya ditunda hingga mahramnya hadir untuk menemaninya berobat. Sebagaimana wanita juga bermacam-macam, di antara mereka ada wanita yang sudah tua dan wanita muda yang cantik serta ada pula pertengahan antara keduanya. Di antara mereka ada yang datang dalam keadaan tersiksa oleh penyakitnya dan juga di antara mereka ada yang datang ke rumah sakit tanpa terlihat pengaruh sakitnya. Di antara mereka ada yang dibius lokal atau keseluruhan, dan ada yang cukup diberi pil-pil dan semisalnya. Setiap individu dari mereka ada hukumnya tersendiri.

    Atas dasar semua itu maka berdua-duan dengan wnaita selain mahram adalah haram secara syara’ meskipun bagi dokter laki-laki yang mengobatinya berdasarkan hadits :

    “Artinya : Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali yang ketiganya adalah setan”.

    Maka harus hadir seseorang bersama keduanya baik suaminya ataupun salah satu mahramnya yang laki-laki. Dan apabila tidak bisa menghadirkan kerabat dekat yang wanita sedangkan sakitnya membahayakannya dan pengobatannya tidak biasa ditunda-tunda lagi, maka paling tidak harus dengan kehadiran seorang perawat wanita untuk menjaga agar tidak terjadi ‘khalwat’ yang terlarang.

    Adapun soal tentang hukum aurat anak perempuan yang masih kecil, maka seorang anak perempuan apabila belum berumur tujuh tahun dihukumi tidak mempunyai aurat. Apabila telah mencapai umur tujuh tahun maka ia mempunyai aurat sebagaimana dijelaskan oleh para ahli fiqih meskipun auratnya berbeda dengan aurat wanita yang lebih tua umurnya.

    Kapan Diperbolehkan Membuka Aurat

    Aurat hanya boleh dibuka karena adanya penyakit yang membahayakan. Adapun ungkapan : “Boleh membuka aurat untuk pengobatan” artinya boleh hingga aurat yang berat hanya saja aurat yang berat ini hanya diperbolehkan untuk dibuka dengan sebab suatu penyakit yang sangat berbahaya dan ditakutkan bisa menyebabkan meninggal atau semakin parahnya penyakit tersebut. Adapun sakit yang ringan, menurut saya tidak termasuk dalam ungkapan tersebut. Yang dimaksudkan disini adalah melihat aurat wanita dan laki-laki, dengan catatan bahwa yang diperbolehkan melihat aurat wanita hanyalah kaum wanita sendiri.

    Memang pada dasarnya aurat wanita tetap dianggap sebagai aurat di hadapan wanita lain, akan tetapi lebih ringan dibandingkan dengan di hadapan lelaki, karena penyebab timbulnya fitnah tidak ada dalam diri wanita apabila melihat pada aurat wanita lain.

    Maksud dari pengobatan di sini adalah pengobatan dari suatu penyakit. Sedangkan untuk tujuan menambah kekuatan, -dan dalam masalah ini banyak orang terlalaikan-, maka misalnya seorang lelaki membuka paha lelaki lain karena sakit yang ringan atau untuk tujuan menambah kekuatan, merupakan suatu kerusakan dan kejahatan yang besar. Ini telah menjadi hal yang biasa dilakukan oleh manusia, tetapi ini adalah kebiasaan yang dilarang oleh syara’, meski banyak dilakukan oleh manusia.

    ***

    [Disalin dari kitab Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Maratil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita -3, hal 190-193, Darul Haq]

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 28 October 2016 Permalink | Balas  

    Aku Dimakamkan Hari Ini 

    mayat2Aku Dimakamkan Hari Ini  

     

    Perlahan, tubuhku ditutup tanah,

    perlahan, semua pergi meninggalkanku,

    masih terdengar jelas langkah langkah terakhir mereka

    aku sendirian, di tempat gelap yang tak pernah terbayang,

    sendiri, menunggu keputusan…

     

    Istri, belahan hati, belahan jiwa pun pergi,

    Anak, yang di tubuhnya darahku mengalir, tak juga tinggal,

    Apatah lagi sekedar tangan kanan, kawan dekat,

    rekan bisnis, atau orang-orang lain,

    aku bukan siapa-siapa lagi bagi mereka.

    Istriku menangis, sangat pedih, aku pun demikian,

    Anakku menangis, tak kalah sedih, dan aku juga,

    Tangan kananku menghibur mereka,

    kawan dekatku berkirim bunga dan ucapan,

    tetapi aku tetap sendiri, disini,

    menunggu perhitungan …

     

    Menyesal sudah tak mungkin,

    Tobat tak lagi dianggap,

    dan ma’af pun tak bakal didengar,

    aku benar-benar harus sendiri…

     

    Tuhanku,

    (entah dari mana kekuatan itu datang,

    setelah sekian lama aku tak lagi dekat dengan-Nya),

    jika kau beri aku satu lagi kesempatan,

    jika kau pinjamkan lagi beberapa hari milik-Mu,

    beberapa hari saja…

     

    Aku harus berkeliling, memohon ma’af pada mereka,

    yang selama ini telah merasakan zalimku,

    yang selama ini sengsara karena aku,

    yang tertindas dalam kuasaku.

    yang selama ini telah aku sakiti hati nya

    yang selama ini telah aku bohongi

     

    Aku harus kembalikan, semua harta kotor ini,

    yang kukumpulkan dengan wajah gembira,

    yang kukuras dari sumber yang tak jelas,

    yang kumakan, bahkan yang kutelan.

    Aku harus tuntaskan janji janji palsu yg sering ku umbar dulu

    Dan Tuhan,

    beri lagi aku beberapa hari milik-Mu,

    untuk berbakti kepada ayah dan ibu tercinta ,

    teringat kata kata kasar dan keras yg menyakitkan hati mereka ,

    maafkan aku ayah dan ibu ,

    mengapa tak kusadari betapa besar kasih sayang mu

    beri juga aku waktu,

    untuk berkumpul dengan istri dan anakku,

    untuk sungguh sungguh beramal soleh ,

    Aku sungguh ingin bersujud dihadap-Mu,

    bersama mereka …

    begitu sesal diri ini

    karena hari hari telah berlalu tanpa makna

    penuh kesia sia an

    kesenangan yg pernah kuraih dulu, tak ada artinya

    sama sekali mengapa ku sia sia saja ,

    waktu hidup yg hanya sekali itu

    andai ku bisa putar ulang waktu itu …

     

    Aku dimakamkan hari ini,

    dan semua menjadi tak terma’afkan,

    dan semua menjadi terlambat,

    dan aku harus sendiri,

    untuk waktu yang tak terbayangkan …

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 27 October 2016 Permalink | Balas  

    Menyikapi Masalah Dalam Hidup 

    AIRMATAMenyikapi Masalah Dalam Hidup

    Segala puji hanya milik Allah, pencipta, pemelihara, dan pemilik seluruh makhluk-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya.

    Semoga diri ini selalu sadar dan ingat bahwa ajal dapat menjemput kapan dan dimana saja kita berada sehingga kita dapat selalu mempersiapkan bekal untuk akhirat. Alangkah indahnya hidup ini bila kita selalu menghadapinya dengan semangat dan optimisme tinggi. Dengan semangat dan optimisme yang tinggi akan mendorong kita untuk selalu mempersembahkan karya terbaik untuk dunia ini.

    Kesempatan yang Allah berikan selama kita hidup hendaknya tidak kita sia-siakan. Dalam hidup, kita pasti akan menghadapi masalah. Suatu masalah akan mendatangi siapapun kita. Baik kaya maupun miskin, tua maupun muda, pria maupun wanita, pejabat maupun pelayan, orang pintar maupun bodoh, akan menghadapi masalah. Oleh sebab itu langkah yang paling tepat dalam menyikapinya adalah dengan menghadapi dan berusaha untuk menyelesaikannya tanpa pernah putus asa karena seorang muslim tidak boleh berputus asa dalam mengharap rahmat Allah.

    Akan sangat merugikan diri kita sendiri bila kita takut untuk menhadapinya dan hanya berusaha menghindar. Hal itu hanya akan membuat kita capek karena sudah pasti,

    pertama tidak akan menyelesaikan masalah dan kedua, kita malah mungkin akan bertemu dengan masalah baru. Masalah yang timbulpun silih berganti seakan tak ada habisnya. Pada hakikatnya masalah yang timbul bukanlah beban melainkan tantangan yang akan mendewasakan kita dalam berpikir dan bersikap sehingga kita bisa semakin bijaksana dalam menyikapi hidup ini. Oleh sebab itu ada tiga langkah yang sebaiknya kita lakukan ketika menemuinya yaitu

    Pertama, menerimanya dengan lapang dada dan ikhlas, tidak dengan mengeluh atau berusaha mencari kambing hitam karena hal itu menandakan kekerdilan jiwa kita.

    Kedua, menghadapi dengan sabar dan tabah, tidak dengan terburu-buru, emosi, serta putus asa, karena hal ini menandakan lemahnya jiwa kita.

    Dan yang ketiga, menyelesaikannya dengan pikiran yang jernih, tidak dengan nafsu, karena hal ini menandakan tidak bijaknya jiwa kita. Disamping itu ada baiknya jika kita senantiasa berdoa agar Allah senantiasa memberi petunjuk serta kemudahan bagi kita dalam menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi.

    Semua permasalahan pada hakikatnya berasal dari Allah, maka sudah sepatutnya kita bertawakkal pada-Nya setelah kita berusaha secara optimal untuk menyelesaikannya. Dan tak kalah pentingnya bagi kita untuk memahami dan meyakini bahwa apapun yang Allah takdirkan bagi kita maka itulah yang terbaik karena sesuai firman Allah yang berbunyi ” boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui ( Al Baqarah : 216 )”.

    Wallahu ‘Alam bisshowab

    ***

    Kiriman Sahabat Joko P

     
  • erva kurniawan 2:15 am on 26 October 2016 Permalink | Balas  

    Sakit Sebagai Kafarat 

    sakitSakit Sebagai Kafarat

    Oleh : Fajar Kurnianto

    Hidup tak selalu berjalan lurus, menyenangkan, dan membahagiakan. Suatu saat manusia akan mengalami siklus yang membuatnya tidak dapat melakukan apa-apa. Dan, karena siklus inilah, Allah SWT menuntut umat manusia untuk menghadapinya dengan baik, sesuai dengan petunjuk-Nya. Dengan siklus kehidupan ini juga, umat manusia sesungguhya diuji, apakah tetap tegar dan optimistis, ataukah putus asa.

    Sakit adalah salah satunya. Tak selamanya manusia berada dalam kondisi sehat, yang memungkinkannya dapat melakukan apa saja. Suatu waktu ia pasti akan didera oleh satu hal yang membuatnya harus terbaring tak berdaya di atas ranjang, atau salah satu anggota badannya tidak berfungsi dengan baik. Pada kondisi seperti ini, godaan untuk berkeluh kesah dan putus asa akan selalu menyerangnya setiap saat, karena orang sakit potensial untuk putus asa.

    Sakit sesungguhnya adalah batu ujian bagi seorang Mukmin. Sakit bukanlah adzab yang dilimpahkan karena kebencian Allah, tapi justru itu adalah bagian dari kasih dan perhatian Allah SWT yang begitu besar kepada orang beriman. Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya seorang yang beriman ketika didera musibah sakit, kemudian Allah menyembuhkannya, maka itu adalah kafarat (penghapus) bagi dosa-dosa yang ia lakukan sebelumnya. Ia sekaligus menjadi pesan berharga untuk menghadapi masa yang akan datang.” (HR Abu Dawud).

    Mengapa Allah menghapus dosa-dosa orang Mukmin yang sedang sakit? Ada dua hal yang menjadi alasannya. Pertama, faktor kesabaran, ketabahan, dan optimisme seorang Mukmin. Sakit justru adalah ujian kesabaran yang mesti dihadapi dengan sikap lapang dada dan besar hati. Dalam beberapa ayat Alquran, Allah SWT sering menyitir bahwa Dia akan selalu menyertai orang- orang yang sabar dalam menerima ujian, tak terkecuali sakit ini. ”Sesungguhnya Allah akan selalu menyertai orang-orang yang sabar.” (QS 2: 153).

    Kebersamaan Allah dengan Mukmin yang sakit adalah rahmat yang tiada terkira. Maka, biarpun rasa sakitnya teramat parah, namun karena ia merasa bahwa Allah selalu menyertainya, maka hampir-hampir tidak merasakan. Yang ada hanyalah kedamaian dan ketenteraman berada selalu di sisi-Nya.

    Kedua, faktor kesadaran yang timbul akibat sakit tersebut. Sakit sesungguhnya adalah waktu bagi seseorang untuk merenung dan mengingat-ingat segala perbuatan yang dilakukan sebelumnya. Seorang Mukmin yang sakit akan menjadikan sakit itu justru sebagai ladang introspeksi diri, sejauh mana ia melakukan segala perintah Allah SWT atau menjauhi larangan-Nya, pada saat ia belum sakit. Sakit sekaligus menjadi pesan bahwa manusia sejatinya adalah mahluk lemah yang tidak dapat berbuat apa-apa. Sakit yang diderita adalah bentuk konkretnya.

    Dengan demikian, orang yang sakit seharusnya menyadari bahwa sakit justru merupakan karunia tak terkira baginya. Karena, dengan demikian, berarti Allah SWT masih peduli dan perhatian padanya. Kafarat dosa tentu adalah salah satu bagian dari itu. Di balik itu tersimpan pesan yang lebih besar: Allah SWT sesungguhnya sedang meninggikan derajat seorang Mukmin yang sedang sakit. Wallahu a’lam.

     
  • erva kurniawan 2:04 am on 25 October 2016 Permalink | Balas  

    Siapa Yang Tidak Rindu (Bagian 3) 

    bidadariSiapa Yang Tidak Rindu (Bagian 3)

    Ketika Bidadari Turun Ke Bumi

    mengisahkan tentang bidadari-bidadari surga. Bidadari-bidadari itu adalah wanita suci yang menyenangkan dipandang mata, menyejukkan dilihat, dan menentramkan hati setiap pemiliknya. Rupanya cantik jelita, kulitnya mulus. Ia memiliki akhlak yang paling baik, perawan, kaya akan cinta dan umurnya sebaya.

    Siapakah yang orang yang beruntung mendapatkannya ?

    Siapa lagi kalau bukan orang-orang yang syahid karena berjihad di jalan Allah, orang-orang yang tulus dan ikhlas membela agama Allah. Sebagian kita mungkin berfikir, kapan kita berjumpa dengan bidadari-bidadari itu, apakah ia akan kita miliki, adakah ia sedikit diantara mereka mendiami bumi sekarang ini?

    Bidadari-bidadari itu telah turun ke bumi. Semenjak Islam mulai bangkit lagi di bumi ini. Bidadari-bidadari itu menghias diri setiap hari. Dia berwujud manusia yang berhati lembut, dipandang mata, menyejukkan dilihat, menentramkan hati setiap pemiliknya. Dialah wanita sholehah yang menjaga kesucian dirinya. Seperti apakah bidadari bumi itu?

    Dialah wanita sholehah yang menjaga kesucian dirinya. Setiap perempuan bisa menjadi bidadari bumi, seperti apakah ciri-cirinya?

    Ia adalah wanita yang paling taat kepada Allah. Ia senantiasa menyerahkan segala urusan hidupnya kepada hukum dan syariat Allah.

    Ia menjadikan Al-Quran dan Al-Hadis sebagai sumber hukum dalam mengatur seluruh aspek kehidupannya.

    Ibadahnya baik dan memiliki akhlak serta budi perketi yang mulia. Tidak hobi berdusta, bergunjing dan riya.

    Berbuat baik dan berbakti kepada orang tuanya. Ia senantiasa mendoakan orang tuanya, menghormati mereka, menjaga dan melindungi keduanya.

    Ia taat kepada suaminya. Menjaga harta suaminya mendidik anak-anaknya dengan kehidupan yang islami. Jika dilihat menyenangakan, bila dipandang menyejukkan, dan menentramkan bila berada didekatnya. Hati akan tenang bila meninggalkanya pergi. Ia melayani suaminya dengan baik, berhias hanya untuk suaminya, pandai membangkitkan dan memotifasi suaminya untuk berjuang membela agama Allah

    Ia tidak bermewah-mewah dengan dunia, tawadhu bersikap sederhana. Kesabarannya luar biasa atas janji-janji Allah, ia tidak berhenti belajar untuk bekal hidupnya.

    Ia bermanfaat dilingkungannya. Pengabdianya kepada masyarakat dan agama sangat besar. Ia menyeru manusia kepada Allah dengan kedua tangan dan lisannya yang lembut, hatinya yang bersih, akalnya yang cerdas dan dengan hartanya. “Dan dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholehah”. (HR. Muslim)

    Dialah bidadari bumi, dialah wanita sholihah yang keberadaan dirinya lebih baik dan berarti dari seluruh isi alam ini.

    Ya Allah, jadikanlah aku orang yang senantiasa dikelilingi oleh bidadari-bidadari bumi. Agar kelak di syurga aku tidak canggung lagi.

    (Dinukil dari buku Tamasya ke Surga, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah)

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 24 October 2016 Permalink | Balas  

    Siapa Yang Tidak Rindu (Bagian 2) 

    bidadariSiapa Yang Tidak Rindu (Bagian 2)

    Bidadari yang Cantik Jelita Menurut Pengabaran Al-Qur’an

    Allah mensifati wanita-wanita penghuni surga sebagai kawa’ib, jama’ dari ka’ib yang artinya gadis-gadis remaja. Payudaranya sudah tumbuh sempurna, bentuknya bulat dan tidak menggelantung ke bawah. Yang seperti ini merupakan bentuk wanita yang paling indah dan pas untuk gadis-gadis remaja. Allah mensifati mereka sebagai bidadari-bidadari, karena kulit mereka yang indah dan putih bersih. Aisyah Radhiallahu anha pernah berkata, “warna puith adalah separoh keindahan.” Bangsa Arab biasa menyanjung wanita dengan warna puith. Seorang penyair berkata,

    Kulitnya putih bersih gairahnya tiada diragukan, laksana kijang Makkah yang tidak boleh dijadikan buruan, dia menjadi perhatian karena perkataannya lembut, Islam menghalanginya untuk mengucapkan perkataan jahat

    Al-‘In jama’ dari aina’, artinya wanita yang matanya lebar, yang berwarna hitam sangat hitam, dan yang berwarna puith sangat putih, bulu matanya panjang dan hitam. Allah mensifati mereka sebagai bidadari-bidadari yang baik-baik lag cantik, yaitu wanita yang menghimpun semua pesona lahir dan batin. Ciptaan dan akhlaknya sempurna, akhlaknya baik dan wajahnya cantk menawan. Allah juga mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang suci. Firman-Nya,

    “Dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci.” (Al-Baqarah:25)

    Artinya. mereka suci, tidak pernah haid, tidak buang air kecil dan besar serta tidak kentut. MEreka tidak diusik dengan urusan-urusan wanita yang menggangu seperti yang terjadi di dunia. Batin mereka juga suci, tidak cemburu, tidak menyakiti dan tidak jahat. Allah juga mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang dipingit di dalam rumah. Artinya mereka hanya berhias dan bersolek untuk suaminya. Bahkan mereka tidak pernah keluar dari rumah suaminya, tidak melayani kecuali suaminya. Allah juga mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang tidak liar pandangannya. Sifat ini lebih sempurna lagi. Oleh karena itu bidadari yang seperti ini diperuntukkan bagi para penghuni dua surga yang tertinggi. Diantara wanita memang ada yang tidak mau memandang suaminya dengan pandangan yang liar, karena cinta dan keridhaanyya, dan dia juga tidak mau memamndang kepada laki-laki selain suaminya, sebagaimana yang dikatakan dalam sebuah syair,

    Ku tak mau pandanganmu liar ke sekitar, jika kau ingin cinta kita selalu mekar

    Di samping keadaan mereka yang dipingit di dalam rumah dan tidak liar pandangannnya, mereka juga merupakan wanita-wanita gadis, bergairah penuh cinta dan sebaya umurnya. Hal ini menunjukkan kenikmatan bercinta dan bersetubuh dengan perawan daripada bersetubuh dengan wanita janda.

    Aisyah Radhiallahu anha, pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallau Alaihi wa Sallam, “Wahai rasulullah, andaikata engkau melewati rerumputan yang pernah dijadikan tempat menggembala dan rerumputan yang belum pernah dijadikan tempat menggambala, maka dimanakah engkau menempatkan onta gembalamu?”

    Beliau menjawab,”Di tempat yan belum dijadikan tempat gembalaan.”(Ditakhrij Muslim)

    Dengan kata lain, beliau tidak pernah menikahi perawan selain dari Aisyah.

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya kepada Jabir yang menikahi seorang janda, “Mengapa tidak engkau nikahi wanita gadis agar engkau bisa mencandainya dan ia pun mencandaimu?” (Diriwayatkan Asy-Syaikhany)

    Jika ada yang berkata, “kenikmatan itu justru tidak begitu terasa nikmat saat mengadakan hubungan pertama kali bagi perawan, yang berbeda dengan wanita janda.” Hal ini bisa dijawab sebagai berikut:

    Pertama, yang dimaksudkan kenikmatan bersetubuh dengan perawan ialah karena wanita perawan belum pernah merasakannya dengan lelaki lain sebelumnya, sehingga cintanya lebih tertanam di dalam hati dan dapat menjaga kelanggengan hubungan, Ini ditilik dari keadaan wanita. Jika ditilik dari keadaan suami, maka ia merasa mendapat kebun yang masih asli, tidak pernah dijamah orang lain sebelumnya. Allah telah mengisyaratkan pengertian ini di dalam firmanNya,

    “Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (Ar-Rahman:74)

    Setelah itu kenikmatan persetubuhan masih tetap terasa seperti keadaan yang masih perawan.

    Kedua, sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat, bahwa setiap kali penghuni surga menyetubuhi seorang wanita dalam keadaan perawan, maka wanita itu kembali menjadi perawan seperti keadaan sebelumya. Jadi, setiap kali dia menyetubuhinya, maka wanita itu tetap dalam keadaan sebelumnya. Jadi, setiap kali dia menyetubuhinya, maka wanita itu tetap dalam keadaan perawan.

    Sifat bidadari penghuni surga yang lain adalah Al-‘Urub, jama’ dari al-arub, artinya mencerminkan rupa yang lemah lembut, sikap yang luwes, perlakuan yang baik terhadap suami dan penuh cinta. Ucapan, tingkah laku dan gerak-geriknya serba halus.

    Al-Bukhary berkata di dalam Shahihnya, “Al-‘Urub, jama’ dari tirbin. Jika dikatakan, Fulan tirbiyyun”, artinya Fulan berumur sebagay dengan orang yang dimaksudkan. Jadi mereka itu sebaya umurnya, sama-sama masih muda, tidak terlalu muda dan tidak pula tua. Usia mereka adalah usia remaja. Allah menyerupakan mereka dengan mutiara yang terpendam, dengan telur yang terjaga, seperti Yaqut dan Marjan. Mutiara diambil kebeningan, kecemerlangan dan kehalusan sentuhannya. Putih telor yang tersembunyi, adalah sesuatu yang tidak pernah dipegang oleh tangan manusia, berwarna puith kekuning-kuningan. Berbeda dengan putih murni yang tidak ada warna kuning atau merehnya. Yaqut dan Marjan diambil keindahan warnanya dan kebeningannya.

    ***

    (bersambung)

    [dinukil dari Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin (Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu), karya Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, terbitan Darul Falah]

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 23 October 2016 Permalink | Balas  

    Siapa Yang Tidak Rindu (Bagian 1) 

    bidadariSiapa Yang Tidak Rindu (Bagian 1)

    Bidadari yang Cantik Jelita Menurut Pengabaran Al-Qur’an

    Allah telah memberikan sifat-sifat terindah kepada bidadari-bidadari surga. Mereka diberi pakaian yang paling bagus dan siapapun yang membicarakan diri mereka pasti akan digelitik kerinduan kepada mereka, seakan-akan dia sudah melihat secara langsung bidadari-bidadari itu.

    Ath-Thabarany menuturkan, kami diberi tahu Bakr bin Sahl Ad-Dimyaty, kami diberitahu Amru bin Hisyam Al-Biruny, kami diberitahu Sulaiman bin Abu Karimah, dari Hisyam bin Hassan, dari Al-Hassan, dari ibunya, dari Ummu Salamah Radhiallahuanha, dia berkata, “Saya berkata,’Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepadaku firman Allah tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli’.”

    Beliau menjawab,”Bidadari yang kulitnya putih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilau seperti sayap burung nasar.”

    Saya berkata lagi,”Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku tentang firman Allah, ‘Laksana mutiara yang tersimpan baik’.”(Al-Waqi’ah:23)

    Beliau menjawab,”Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tidak pernah tersentuh tangan manusia.”

    Saya berkata lagi,”Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Di dalam surga-surga ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik’.” (Ar-Rahman :70)

    Beliau menjawab,”Akhlaknya baik dan wajahnya cantik jelita.”

    Saya berkata lagi,”Jelaskan padaku firman Allah, “seakan-akan mereka adalah telur (burung onta) yang tersimpan dengan baik’.” (Ash-Shafat:49)

    Beliau menjawab,”Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada di bagian dalam telur dan terlindung kulit bagian luar, atau yang biasa disebut putih telur.”

    Saya berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan padaku firman Allah, ‘Penuh cinta lagi sebaya umurnya’.” (Al-Waqi’ah :37)

    Beliau menjawab,” Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal pada usia lanjut, dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Dia menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, bergairah, mengasihi dan umurnya sebaya.”

    Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli ?”

    Beliau menjawab,”Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari bermata jeli, seperti apa yang tampak daripada yang tidak tampak.”

    Saya bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?”

    Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa mereka dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya kulit bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kunigan, sanggulnya mutiara dan sisinya terbuat dari emas. Mereka berkata, Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya’.”

    Saya berkata, “Wahai Rasulullah, salah seorang wanita diantar kami pernah menikah dengan dua, tiga, atau empat laki-laki lalu dia meninggal dunia. Dia masuk surga dan mereka masuk surgapula. Siapakah diantara laki-laki itu yang menjadi suaminya di surga?”

    Beliau menjawab,”Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih siapa diantara mereka yang akhlaknya paling bagus, lalu dia berkata,’Wahai Rabbku, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik akhlaknya tatkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya’. Wahai ummu Salamah, akhlka yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat.”

    (disebutkan dalam catatan kaki buku Raudhatul Muhibbin (terbitan darul falah), halaman 201 :”Pengarang (Ibnul Qoyyim) menyebutkan hadits ini di dalam bukunya Hadil Arwah. Di sana dia memberi catatan : Sulaiman bin Abu Karamah menyendiri dalam riwayat ini. Abu Hatim menganggapnya dha’if. Menurut Ibnu Ady, mayoritas hadits-haditsnya adalah mungkar dan saya tidak melihat orang-orang dahulu membicarakannya. Kemudian dia menyebutkan hadits ini dari jalannya seraya berkata, “Hanya sanad inilah yang diketahui..”)

    ***

    (bersambung)

    [dinukil dari Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin (Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu), karya Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, terbitan Darul Falah]

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 22 October 2016 Permalink | Balas  

    Kesehatan di dalam Alquran dan Hadits 

    nasehat-quran1Kesehatan di dalam Alquran dan Hadits

    SAYAP LALAT MENGANDUNG OBAT.

    Apabila lalat masuk ke dalam minuman kamu, hendaklah ditenggelamkannya, kemudian dibuang lalat itu, karena sesungguhnya salah satu sayapnya mengandung penyakit dan yang satu lagi mengandung obat. (HSB 1463)

    MATI KARENA SAKIT PERUT ITU MATI SYAHID.

    Nabi SAW berkata: “Yang disebut mati syahid itu ada lima macam:

    1. Orang mati kena tikam.
    2. Orang mati karena sakit perut.
    3. Orang mati karena tenggelam.
    4. Orang mati ditimpa tanah longsor.
    5. Orang mati fi sabilillah (berjuang menegakkan agama)

    BAYI LAHIR MEMEKIK DAN MENANGIS KARENA DISENTUH SETAN.

    Rasulullah bersabda: “setiap anak Adam yang baru lahir disentuh setan ketika lahirnya itu, lalu ia memekik menangis karenanya, selain Maryam dan anaknya”. (HSB 1493)

    KENCING UNTA AGAR DIMINUM SEBAGAI OBAT.

    Nabi menyuruh mereka, orang-orang yang sakit-sakitan, mencari unta betina yang sedang menyusui, dan menyuruh pula mereka minum air kencing dan susu unta itu. (HSB 154)

    ORANG PEREMPUAN JUGA MENGELUARKAN MANI.

    Ummu Salamah: “Ya Rasulullah ! Apakah orang perempuan keluar mani jugakah ?” Jawab Rasulullah: “Ya, betul ! Taribat Yaminuk, mengapa engkau sebodoh itu ? Kalau tidak kenapa anaknya serupa dia”. (HSB 92)

    ALLAH MENGAJARKAN BAHWA PEREMPUAN MENGELUARKAN MANI.

    “Air mani laki-laki berwarna putih, dan air mani perempuan berwarna kekuning-kuningan. Apabila keduanya bertemu maka jika mani laki-laki lebih unggul dari mani perempuan akan lahir anak laki-laki. Dan jika mani perempuan yang lebih unggul dari mani laki-laki, akan lahir anak perempuan dengan izin Allah” “Sesungguhnya aku pernah ditanya orang seperti apa yang ditanyakan itu. Mulanya aku belum tahu apa-apa mengenai masalah itu, tetapi Allah mengajarkannya kepadaku” (HSM 262)

    ANAK SERUPA BAPAK ATAU SERUPA IBU?

    Jika airnya mendahului air istri, anak serupa bapaknya. Jika air ibunya mendahului air bapak, anak serupa ibu. (HSB 1465)

    BAU BUSUK MULUT ORANG BERPUASA LEBIH HARUM DARI KESTURI

    Aku ini puasa. Demi Allah yang diri Muhammad berada di genggamanNya, sesungguhnya bau busuk orang puasa lebih harum di sisi Allah daripada bau kesturi. (HSB 935)

    MANUSIA DISIPTAKAN.

    1. Manusia diciptakan dari tanah kering (Qs 55:14)
    2. Manusia diciptakan dari tanah liat (Qs 37:11)
    3. Manusia diciptakan dari air mani (Qs 35:11)
    4. Manusia diciptakan dari segumpal darah (Qs 40:67)
    5. Manusia diciptakan dari air terpancar (Qs 86:6)
    6. Manusia diciptakan dari setetes mani (Qs 80:19)
    7. Manusia diciptakan dari setitik air (Qs 36:77)
    8. Manusia diciptakan dari saripati air (Qs 32:8)

    LUBANG HIDUNG TEMPAT BERMALAM SETAN.

    Nabi bersabda: “Apabila di antara kamu bangun dari tidur, lalu berwuduk, maka hendaklah menyemburkan air dari hidung tiga kali, karena sesungguhnya setan bermalas di lubang hidung” (HSB 1458)

    KUPING ORANG TIDAK SHALAT MALAM TEMPAT KENCING SETAN.

    Abdullah berkata:”.. seorang laki-laki yang senantiasa tidur sampai subuh dan tidak pernah shalat malam”. Nabi bersabda: “Kupingnya telah dikencingi setan” (HSB 601)

    KUAP ITU DARI SETAN

    Nabi bersabda: “Allah mencintai bersin dan membenci kuap. Karena itu kalau bersin lalu ia memuji Allah, …kuap itu dari setan kalau ia mengucapkan “wah !”, maka setan tertawa”. (HSB 1911)

    MIMPI BURUK ITU DARI SETAN.

    Nabi bersabda: “Mimpi yang baik dari Tuhan, dan mimpi yang buruk dari setan” (HSB 1457)

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 21 October 2016 Permalink | Balas  

    Karir Wanita Dan Wanita Karir 

    wanita sholehahKarir Wanita Dan Wanita Karir

    Diskursus tentang karir wanita dan wanita karir dewasa ini semakin hangat, terutama di negeri ini dan mendapatkan dukungan serta perhatian serius dari berbagai kalangan, khususnya yang menamakan diri mereka kaum Feminis dan pemerhati wanita.

    Mereka selalu mengangkat tema “pengungkungan” Islam terhadap wanita dan mempromosikan motto emansipasi dan persamaan hak di segala bidang tanpa kecuali atau yang belakangan lebih dikenal dengan sebutan kesetaraan gender. Banyak wanita muslimah terkecoh olehnya, terutama mereka yang tidak memiliki basic keagamaan yang kuat dan memadai.

    Karena merupakan masalah yang urgen dan berimplikasi serius, maka tulisan kita kali ini mengangkat tema tersebut.

    Semoga tulisan ini menggugah wanita-wanita muslimah untuk kembali kepada fithrah mereka. Amien.

    Kondisi Wanita di Dunia Barat

    1. Dari sisi historis, terjunnya kaum wanita ke lapangan untuk bekerja dan berkarir semata-mata karena unsur keterpaksaan. Ada dua hal penting yang melatarbelakanginya :

    Pertama, terjadinya revolusi industri mengundang arus urbanisasi kaum petani pedesaan, tergiur untuk mengadu nasib di perkotaan, karena himpitan sistem kapitalis yang melahirkan tuan-tuan tanah yang rakus. Berangkat ke perkotaan, mereka berharap menda-patkan kehidupan yang lebih layak namun realitanya, justru semakin sengsara. Mereka mendapat upah yang rendah.

    Ke dua, kaum kapitalis dan tuan-tuan tanah yang rakus  sengaja mengguna-kan momen terjunnya kaum wanita dan anak-anak, dengan lebih memberikan porsi kepada mereka di lapangan pekerjaan, karena mau diupah lebih murah daripada kaum lelaki, meskipun dalam jam kerja yang panjang.

    1. Kehidupan yang dialami oleh wanita di Barat yang demikian mengenaskan, sehingga menggerakkan nurani sekelompok pakar untuk membentuk sebuah organisasi kewanitaan yang diberi nama Humanitarian Movement yang bertujuan untuk membatasi eksploitasi kaum kapitalis terhadap para buruh, khususnya dari kalangan anak-anak. Organisasi ini berhasil mengupayakan undang-undang perlindungan anak, akan tetapi tidak demikian halnya dengan kaum wanita. Mereka tetap saja dihisap darahnya oleh kaum kapitalis tersebut.
    2. Hingga saat ini pun, kedudukan wanita karir di Barat belum terangkat dan masih saja mengenaskan, meskipun sudah mendapatkan sebagian hak mereka. Di antara indikasinya, mendapatkan upah lebih kecil daripada kaum laki-laki, keharusan membayar mahar kepada laki-laki bila ingin menikah, keharusan menanggung beban penghidupan keluarga bersama sang suami, dan lain sebagainya.

    Beberapa Dampak Negatif dari Terjunnya Wanita untuk Berkarir

    Di antara dampak-dampak negatif tersebut adalah:

    1. Penelitian kedokteran di lapangan (dunia Barat) menunjukkan telah terjadi perubahan yang amat signifikan terhadap bentuk tubuh wanita karir secara biologis, sehingga menyebabkannya kehilangan naluri kewanitaan, tetapi tidak berubah jenis kelamin menjadi laki-laki. Jenis wanita sema-cam ini dijuluki sebagai jenis kelamin ke tiga. Menurut data statistik, kebanyakan penyebab kemandulan para istri yang bekerja sebagai wanita-wanita karir tersebut bukan karena penyakit yang biasa dialami oleh anggota badan, tetapi lebih diakibatkan oleh ulah wanita di masyarakat Eropa yang secara total, baik dari aspek materil, pemikiran maupun biologis lari dari fithrahnya (yakni sifat keibuan). Penyebab lainnya adalah upaya mereka untuk mendapatkan persamaan hak dengan kaum laki-laki dalam segala bidang. Hal inilah yang secara perlahan melenyapkan sifat keibuan mereka, banyaknya terjadi kemandulan serta mandegnya ASI sebagai akibat perbauran dengan kaum laki-laki.
    2. Di Barat, muncul fenomena yang mengkhawatirkan sekali akibat terjunnya kaum wanita sebagai wanita karir, yaitu terjadinya tindak kekerasan terhadap anak-anak kecil berupa pukulan yang keras, sehingga dapat mengakibatkan mereka meninggal dunia, gila atau cacat fisik. Majalah-majalah yang beredar di sana menyebutkan nama penyakit baru ini dengan sebutan Battered Baby Syn (penyakit anak yang dipukul). Majalah Hexagon dalam volume No. 5 tahun 1978 menyebutkan bahwa banyak sekali rumah sakit-rumah sakit di Eropa dan Amerika yang menampung anak-anak kecil yang dipukul secara keras oleh ibu-ibu mereka atau terkadang oleh bapak-bapak mereka.
    3. DR. Ahmad Al-Barr mengatakan, “Pada tahun 1967, lebih dari 6500 anak kecil yang dirawat di beberapa rumah sakit di Inggris yang berakhir dengan meninggal sekitar 20% dari mereka, sedangkan sisanya mengalami cacat fisik dan mental secara akut. Ada lagi, sekitar ratusan orang yang mengalami kebutaan dan lainnya ketulian setiap tahunnya, ada yang mengalami cacat fisik, ediot dan lumpuh akibat pukulan keras”.
    4. Para wanita karir yang menjadi ibu rumah tangga tidak dapat memberikan pelayanan secara kontinyu terhadap anak-anak mereka yang masih kecil, karena hampir seluruh waktunya dicurahkan untuk karir mereka.
    5. Berkurangnya angka kelahiran, sehingga pemerintah negara tersebut saat ini menggalakkan kampanye memperbanyak anak dan memberikan penghargaan bagi keluarga yang memiliki banyak anak. Hal ini tentunya bertolak belakang dengan kondisi yang ada di dunia Islam.

    Saksi Mereka Berbicara

    1. Seorang Filosof bidang ekonomi, Joel Simon berkata, “Mereka (para wanita) telah direkrut oleh pemerintah untuk bekerja di pabrik-pabrik dan mendapatkan sejumlah uang sebagai imbalannya, akan tetapi hal itu harus mereka bayar mahal, yaitu dengan rontoknya sendi-sendi rumah tangga mereka”.
    2. Sebuah lembaga pengkajian strategis di Amerika telah mengadakan polling seputar pendapat para wanita karir tentang karir seorang wanita. Dari hasil polling tersebut didapat kesimpulan: “Bahwa sesungguhnya wanita saat ini sangat keletihan dan 65% dari mereka lebih mengutamakan untuk kembali ke rumah mereka”.

    Karir Wanita dalam Perspektif Islam

    Allah Ta’ala menciptakan laki-laki dan wanita dengan karakteristik yang berbeda. Secara alami (sunnatullah), laki-laki memiliki otot-otot yang kekar, kemampuan untuk melakukan pekerja-an yang berat, pantang menyerah, sabar dan lain-lain. Cocok dengan pekerjaan yang melelahkan dan sesuai dengan tugasnya yaitu menghidupi keluarga secara layak.

    Sedangkan bentuk kesulitan yang dialami wanita yaitu: Mengandung, melahirkan, menyusui, mengasuh dan mendidik anak, serta menstruasi yang mengakibatkan kondisinya labil, selera makan berkurang,  pusing-pusing, rasa sakit di perut serta melemahnya daya pikir, sebagaimana disitir di dalam Al-Qur’an , “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua  orang ibu bapanya; Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun.” (QS. Luqman: 14).

    Ketika dia melahirkan bayinya, dia harus beristirahat, menunggu hingga 40 hari atau 60 hari dalam kondisi sakit dan merasakan keluhan yang demikian banyak, tetapi harus dia tanggung juga. Ditambah lagi masa menyusui dan mengasuh yang menghabiskan waktu selama dua tahun. Selama masa tersebut, si bayi menikmati makanan dan gizi yang dimakan oleh sang ibu, sehingga mengurangi staminanya.

    Oleh karena itu, Dienul Islam menghendaki agar wanita melakukan pekerjaan/karir yang tidak bertentangan dengan kodrat kewanitaannya dan tidak mengungkung haknya di dalam bekerja, kecuali pada aspek-aspek yang dapat menjaga kehormatan dirinya, kemuliaannya dan ketenangannya serta menjaganya dari pelecehan dan pencampakan.

    Dienul Islam telah menjamin kehidupan yang bahagia dan damai bagi wanita dan tidak membuatnya perlu untuk bekerja di luar rumah dalam kondisi normal. Islam membebankan ke atas pundak laki-laki untuk bekerja dengan giat dan bersusah payah demi menghidupi keluarganya.

    Maka, selagi si wanita tidak atau belum bersuami dan tidak di dalam masa menunggu (‘iddah) karena diceraikan oleh suami atau ditinggal mati, maka nafkahnya dibebankan ke atas pundak orangtuanya atau anak-anaknya yang lain, berdasarkan perincian yang disebutkan oleh para ulama fiqih kita.

    Bila si wanita ini menikah, maka sang suamilah yang mengambil alih beban dan tanggung jawab terhadap semua urusannya. Dan bila dia diceraikan, maka selama masa ‘iddah (menunggu) sang suami masih berkewajiban memberikan nafkah, membayar mahar yang tertunda, memberikan nafkah anak-anaknya serta membayar biaya pengasuhan dan penyusuan mereka, sedangkan si wanita tadi tidak sedikit pun dituntut dari hal tersebut.

    Selain itu, bila si wanita tidak memiliki orang yang bertanggung jawab terhadap kebutuhannya, maka negara Islam yang berkewajiban atas nafkahnya dari Baitul Mal kaum Muslimin.

    Solusi Islam Terhadap Diskursus Karir Wanita

    Ada kondisi yang teramat mendesak yang menyebabkan seorang wanita terpaksa bekerja ke luar rumah dengan persyaratan sebagai berikut:

    • Disetujui oleh kedua orangtuanya atau wakilnya atau suaminya, sebab persetujuannya adalah wajib secara agama dan qadla’ (hukum).
    • Pekerjaan tersebut terhindar dari ikhtilath (berbaur dengan bukan mahram), khalwat (bersunyi-sunyi, menyendiri) dengan laki-laki asing; Sebab ada dampak negatif yang besar. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat (bersunyi-sunyi, menyendiri) dengan seorang wanita, kecuali bila bersama laki-laki (yang merupakan) mahramnya”. (HR. Bukhari).
    • Menutupi seluruh tubuhnya di hadapan laki-laki asing dan menjauhi semua hal yang berindikasi fitnah, baik di dalam berpakaian, berhias atau pun berwangi-wangian (menggunakan parfum). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Siapapun wanita yang memakai wangi-wangian kemudian keluar menuju masjid, maka shalatnya tidak diterima hingga ia mandi.” (HR. Ibnu Majah). Dalam riwayat lain : “Siapapun wanita yang memakai wangi-wangian kemudian keluar, lalu melewati sekelompok kaum lelaki agar mereka mencium baunya maka wanita itu adalah seorang pezina.” (HR. Abu Daud, Nasa’i, Tirmidzi, Ahmad, dan Darimi)
    • Komitmen dengan akhlaq Islami dan hendaknya menampakkan keseriusan dan sungguh-sungguh di dalam berbicara, alias tidak dibuat-buat dan sengaja melunak-lunakkan suara, sebagaimana Firman Allah subhanhu wata’ala terhadap umumul mukminin junjungan kita, “Hai istri-istri Nabi, kalian tidak sama dengan siapapun perempuan lain jika kaian benar-benar bertaqwa, maka janganlah kamu tunduk (lembut, merendahkan suara) dalam berbicara sehingga orang-orang yang hatinya berpenyakit punya hasrat tidak baik (kepada kalian), tetapi katakanlah (kepada laki-laki) perkataan yang lugas.” .(Al-Ahzab: 32)
    • Hendaknya pekerjaan tersebut sesuai dengan tabi’at dan kodratnya seperti dalam bidang pengajaran, kebidanan, menjahit dan lain-lain.

    Penutup

    Sudah waktunya kita memahami betapa agungnya dien ini di dalam setiap produk hukumnya, berpegang teguh dengannya, menjadikannya sebagai hukum yang berlaku terhadap semua aturan di dalam kehidupan kita serta berkeyakinan secara penuh, bahwa ia akan selalu cocok dan sesuai di dalam setiap masa dan tempat.

    ***

    Saudaraku, setiap Muslim punya kewajiban untuk menyampaikan ajaran Islam. Kesempatan kita untuk berdakwah saat ini adalah :

    Anda sampaikan artikel ini kepada Saudara kita yang belum mengetahuinya.

    Sumber : http://groups.yahoo.com/group/salafiyyin/message/11

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 20 October 2016 Permalink | Balas  

    Mak Eroh, Wanita Besi dari Tasikmalaya 

    mak-erohMak Eroh, Wanita Besi dari Tasikmalaya

    BANYAK tokoh wanita hebat yang lahir di Indonesia ini, mulai dari zaman penjajahan, hingga perjuangan kemerdekaan, seperti RA Kartini, Tjut Nyak Dien, atau pahlawan wanita Sunda, Dewi Sartika.

    Dari sekian wanita super yang akan selalu dikenang masyarakat tersebut, terselip satu nama wanita dari Kabupaten Tasikmalaya, yakni Mak Eroh. Wanita yang meninggal pada 18 Oktober 2004 di usianya yang ke-68 tahun tersebut dikenal namanya pada 1988.

    Setahun kemudian, United Nations Environment Program dari PBB memberikan penghargaan lingkungan, Global 500. Sebagai penghormatan, Pemkab Tasikmalaya pun membangun monumen Mak Eroh bersama pahlawan lingkungan lainnya, Abdul Rodjak.

    Apa yang dilakukan Mak Eroh memang cukup mencengangkan dunia. Warga Desa Pasirkadu Kecamatan Cisayong Kabupaten Tasikmalaya berhasil membuat saluran air sepanjang 4.500 meter yang mengitari 8 bukit dengan kemiringan 60-90 derajat. Proyek raksasa itu dapat diselesaikan dengan bantuan para muda desa, dalam waktu 2,5 tahun.

    Tekad kuat Mak Eroh untuk membuat saluran air ini awalnya didasari oleh sulitnya warga desa dalam mendapatkan air, baik untuk keperluan rumah tangga maupun pertanian.

    Kekeringan membuat Desa Pasirkadu jauh dari kesejahteraan. Awalnya, Mak Eroh memiliki gagasan untuk membuat saluran air sepanjang 50 meter yang dapat menghubungkan Desa Pasirkadu dengan Sungai Cilutung. Kerja kerasnya dimulai pada Juni 1985, namun gagasannya hanya menjadi bahan tertawaan warga sekitar. Namun dia tidak mundur. Dengan bermodalkan 20 pahat, 20 martil, 20 linggis, 20 belincong, plus cangkul yang dibeli dari hasil menjual perhiasan, Mak Eroh memulai misinya.

    Dengan peralatan sederhana itu, istri dari Emuh ini menggantungkan badannya hanya dengan bermodalkan seutas tali rotan, lalu dengan gesitnya memapras bukit cadas. Setelah bekerja keras selama 45 hari tanpa henti, Mak Eroh pun berhasil membuat saluran sepanjang 50 meter. Dia pun melaporkan hasil kerjanya kepada ketua RT setempat.

    Saat itu, warga nyaris tidak percaya dengan hasil kerja wanita yang tak lulus SD tersebut. Setelah Mak Eroh memberikan cara membabat bukit cadas, 19 pemuda tergerak hatinya untuk membantu, namun 8 di antaranya berhenti setelah 8 hari.

    Dengan kerja keras dan kegigihan, misi tersebut membuahkan hasil saluran dengan lebar 1 meter dan berkedalaman 0.25 meter yang menghubungkan Sungai Cilutung dengan Desa Pasirkadu.

    Dari hasil kerja kerasnya itu, sawah seluas 60 hektare dapat dialiri air Sungai Cilutung. Bukan hanya di Desa Pasirkadu, dua desa tetangga di Kecamatan Cisayong dan Indihiang pun mendapatkan berkah dengan limpahan air. Dengan kerja kerasnya, ibu dari Tohariah, Rohanah, dan Mesaroh tersebut telah menghidupi puluhan keluarga dan juga menolong puluhan anak-anak dari kebodohan.

    Pembuatan saluran air untuk keperluan pertanian, sebenarnya tugas pemerintah. Namun Mak Eroh tidak pernah berpikir untuk menuntut pemerintah menyediakan irigasi, namun berusaha sendiri menciptakan saluran air yang mengelilingi Gunung Galunggung tersebut.

    Mak Eroh sendiri tak pernah menyangka akan menerima Kalpataru, yang kini disimpan di Pendopo Kabupaten Tasikmalaya. Dia pun tak pernah mengharapkan imbalan dari apa yang dilakukannya.

    Bahkan saat ajal menjemput, Mak Eroh bersama suaminya tetap hidup seadanya tanpa mendapat imbalan dari jerih payahnya. Dia justru masih memikirkan masyarakat di usia senjanya saat itu. Dia berharap pemerintah mau mengusahakan pipa paralon untuk saluran air ke desanya. Dia juga berharap ada pembangunan masjid di kampungnya. Sebab, masjid terdekat berjarak dua kilometer dari rumahnya.

    Setelah meninggal, tak banyak lagi yang mengenal Mak Eroh. Sisa-sisa nama besarnya hanya terdengar saat pemerintah menggelar acara peringatan Hari Lingkungan Hidup. Sisanya, dia kembali terlupakan..

    Yang jelas, Mak Eroh telah memberikan inspirasi kepada kita bahwa alam bisa dipergunakan, namun kita jangan lupa melestarikannya. Perjalanan hidup Mak Eroh pun mengajarkan kepada kita bahwa kerja keras dan kegigihan dapat membuahkan hasil yang luar biasa. “Jika ada keyakinan yang dapat menggerakkan gunung, itu adalah keyakinan dalam diri Anda”. (*)

    Diposkan oleh Deni mulyana sasmita

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 19 October 2016 Permalink | Balas  

    Beribadah dengan Benar 

    Reciting-QuranBeribadah dengan Benar

    Penulis : KH Abdullah Gymnastiar

    Hidup ini mau kemana? Kita hanya mampir sebentar di dunia ini dan pasti akan mati. Lalu hendak dibawa kemana hidup yang hanya sekali- kalinya ini? Jawabannya adalah bahwa hanya Allahlah tujuan kita. Tujuan hidup kita ini hanyalah untuk mengabdikan diri (beribadah) kepada Allah. Firman-Nya: “Tidaklah sekali-kali Kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdikan hidupnya kepada-Ku.” (QS Adz Dzariyat [51]: 56).

    Dalam 7B (kiat menjadi sukses), rahasia yang pertama adalah beribadah dengan benar. Mengapa harus beribadah?

    Ibadah adalah fondasi. Tanpa ibadah, hidup bagaikan bangunan tanpa fondasi, pasti akan roboh. Tanpa ibadah yang tanggguh, sukses dunia akhirat hanyalah mimpi.

    Beribadah dengan benar artinya membangun fondasi yang semakin memperjelas visi hidup ini mau dibawa kemana. Karena dengan beribadah maka akan semakin memperjelas bahwa Allah adalah Khalik (Yang Menciptakan), sedangkan kita adalah makhluk (yang diciptakan). Allah yang disembah, sedangkan kita yang menyembah-Nya. Allah yang memerintah (berkuasa), sedangkan kita yang diperintah-Nya.

    Allah menciptakan dunia kemudian menciptakan makhluk. Makhluk diciptakan untuk mengabdi kepada Allah, sedangkan dunia berikut isinya diciptakan hanyalah sebagai sarana agar kita bisa berkarya dan berbekal pulang untuk menghadap Allah.

    Artinya dunia berikut isinya diciptakan hanyalah untuk melayani kita supaya kita bisa mengabdikan diri kepada Allah.

    Orang yang tidak mengerti bahwa dunia ini hanyalah sebagai pelayan baginya, maka posisinya akan menjadi terbalik, justru dia yang akan diperbudak oleh dunia yaitu harta, pangkat, gelar, jabatan, dan syahwat. Bayangkan, pelayannya menjadi majikannya. Dia dihinakan oleh hambanya sendiri. Itulah yang menyebabkan kerusakan dan keterpurukan manusia. Kemudian Allah menciptakan Nabi Muhammad SAW agar kita bisa meneladani bagaimana cara beribadah dengan benar.

    Oleh karena itu, siapapun yang ingin sukses, belajarlah lebih banyak tentang bagaimana beribadah dengan benar. Cari ilmunya, segera praktikkan, dan istiqomahkan. Kemudian ajaklah istri dan anak beribadah dengan tangguh karena tidak akan ada yang menolong selain Allah.

    Shalat, dzikir, shaum, dan ibadah lainnya itu adalah perangkat yang membuat fondasi kesuksesan. Tetapi ibadah tidak hanya itu saja, melainkan segala aktivitas yang dijalankan dengan niat yang lurus karena Allah dan ikhtiar di jalan yang disukai Allah itu adalah ibadah. Misalnya dalam bekerja, orang-orang yang bekerjanya tidak diniatkan untuk beribadah tidak akan tahu orientasi hidup ini akan dibawa kemana, sehingga kesibukannya hanya mencari uang.

    Karenanya kalau bekerja, niatkan untuk mengabdikan diri kepada Allah dengan cara yang disukai Allah. Tugas kita adalah bagaimana kita sibuk bekerja sehingga menjadi amal kebajikan, bukan karena harta, tetapi karena kerja adalah ladang amal. Harta sudah dibagikan sebelum kita tiba di dunia ini.

    Ciri orang yang beribadah dengan benar di antaranya adalah akhlaknya akan lebih terjaga, perbuatannya akan terpelihara dari kezaliman terhadap orang lain, dan emosinya akan lebih stabil.

    Kemudian ciri lainnya adalah qolbunya akan tenteram, pikirannya akan jernih, prestasinya mudah diraih, ide dan gagasannya akan ditolong oleh Allah.

    Misalnya, jika sedang rapat datang waktu shalat, maka utamakanlah shalat karena yang paling penting dari rapat itu justru bagaimana agar bisa ditolong oleh Allah.

    Kalau kita melalaikan shalat, maka keputusan yang diambil belum tentu tepat karena benar menurut kita belum tentu benar menurut Allah. Tetapi dengan mengutamakan ibadah, mudah-mudahan Allah menuntun kita menemukan jalan keluar walaupun berhadapan dengan banyak masalah.

    Hanya Allahlah satu-satunya yang menguasai langit dan bumi, kita semua dalam genggaman Allah.

    Jadi, mimpi negeri kita akan bangkit kalau rakyat dan para pemimpinnya menganggap remeh ibadah.

    Mimpi kita memiliki aparat dan tentara yang kita idolakan, kalau kepada Allah tidak takut. Kalau tentara mempunyai senjata doa, maka akan bisa meluluhkan hati musuh sehingga menjadi shalih. Zaman Rasulullah banyak musuh yang terkulai hatinya bukan dengan senjata perang, tapi dengan senjata doa.

    Mimpi kita mempunyai keputusan negara yang baik kalau para pengambil keputusannya tidak baik ibadahnya. Apa yang bisa dilakukan hanya oleh manusia seperti kita kalau tidak dibimbing dan ditolong oleh Allah Yang Mahatahu dan Menguasai segala sesuatu.

    Terlalu sombong bagi kita hidup tidak mengenal ibadah. Ciri kesombongan dan ketakaburan seseorang dilihat dari keengganannya beribadah.

    Maka, selamat berjuang saudaraku. Jadilah ahli ibadah yang istiqomah dan ikhlas.

    Sumber : http://republika.co.id

     
  • erva kurniawan 7:55 am on 18 October 2016 Permalink | Balas  

    Di bawah lutut, Di atas mata kaki !! 

    isbalDi bawah lutut, Di atas mata kaki !!

    Adalah suatu kewajiban bagi seorang muslim untuk mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mentaati beliau dengan melaksanakan perintahnya serta menjauhi larangannya dan membenarkan berita yang dibawa beliau.Tanda bukti cinta kepada Allah dan Rasul-Nya adalah terus komitmen melaksanakan simbol – simbol islam dalam bentuk perintah, larangan, ucapan, keyakinan, maupun amalan. Diantaranya adalah membiarkan jenggot dan memendekkan pakaian sebatas mata kaki yang itu semua dilakukan karena taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta mengharapkan pahala-Nya.

    Larangan Berbuat Isbal

    Isbal adalah menurunkan pakaian di bawah mata kaki baik itu berupa celana ataupun sarung. Mereka yang melakukan perbuatan Isbal pada pakaian bahkan sampai terseret di tanah, itu adalah perbuatan yang mengandung bahaya yang besar, kalau kesandung gimana? Bisa jadi celananya cepat sobek dan lusuh.

    Selain itu karena menentang perintah Allah dan Rasul-Nya, melaksanakan apa yang dilarang Allah dan Rasulnya adalah sikap menentang, pelakunya akan mendapat ancaman yang keras. Firman Allah Azza wa Jalla dalam surat An – Nisaa:115 : “Barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti selain jalannya Sabilil Mukminin (para shahabat) maka kami biarkan dia tenggelam dalam kesesatan dan kami masukkan ke neraka jahannam. Dan itu merupakan seburuk-buruk tempat kembali.”

    dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Siapa yang menyeret pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat.”(Hr Bukhari dan lainnya)

    Pengertian sombong adalah sebagaimana disabdakan Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam:”Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (Riwayat Muslim di dalam hadits yang panjang)

    Dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabada: “Isbal berlaku pada sarung, gamis dan serban. Siapa yang menurunkan pakaiannya sedikit saja karena sombong, tidak akan dilihat Allah di Hari Kiamat.” (Hr Abu Daud, Nasa’I dan Ibnu Majah. Hadits shahih).

    Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Bukhari:”Apa saja yang berada di bawah mata kaki berupa sarung maka tempatnya di neraka.”

    Diriwayatkan oleh Imam Malik dan Abu Daud dengan sanad yang shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Sarung seorang mukmin sebatas kedua betisnya. Tidak mengapa bila dia menurunkan dibawah itu selama tidak menutupi kedua mata kaki. Dan yang berada di bawah mata kaki tempatnya di neraka.”

    Isbal jika dilakukan karena tidak sombong dan angkuh apakah itu juga diharamkan?

    Isbal tidak boleh dilakukan (haram) secara mutlak bagi pria apakah itu karena sombong atau tidak. Berdasarkan keumuman nash hadits yang diriwayatkan Bukhari dalam shahihnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”Apa yang dibawah mata kaki berupa sarung, maka tempatnya adalah di neraka.”

    Dari Abu Dzarr radliyallahu ‘anhu, sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ada 3 golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah di hari kiamat, tidak dilihat (dengan pandangan rahmat) dan tidak dibersihkan dari dosa serta mereka akan mendapat azab yang sangat pedih, yaitu pelaku isbal, pengungkit pemberian dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu.” (Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya)

    Dari sini jelas bahwa Larangan isbal bersifat umum dan mutlak (apakah itu karena sombong /tidak) dan tidak boleh menganggap larangan isbal hanya karena sombong saja. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan semua perbuatan isbal termasuk kesombongan, karena secara umum perbuatan itu tidak dilakukan kecuali memang demikian.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya: “Jauhilah olehmu Isbal, karena dia termasuk perbuatan sombong.” (Hr Abu daud, dan tirmidzi dengan sanad yang shahih)

    PENUTUP

    Renungkanlah firman Allah Azza Wa Jalla dalam surat Al-Hasyr:7

    “Apa yang diberikan rasul kepada kalian, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagi kalian, maka tinggalkanlah,dan bertaqwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.”

    Semoga Allah memberi manfaat kepada saya dan Anda sekalian melalui Hidayah Kitab-Nya dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengarkan ucapan yang benar kemudian mengikutinya. Wallahu ta’ala a’lam .

    ***

    Sumber : Risalah kecil Bolehkah memanjangkan celana sampai di bawah mata kaki bagi muslim ? Oleh : Abu Abdirrahman Hamzah Al Atsari

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 12 October 2016 Permalink | Balas  

    Tuhan Yang Populer 

    harta karunTuhan Yang Populer

    Harta Atau Duit Sebagai Ilah

    Tuhan lain atau “tuhan tandingan”, yang paling populer di zaman modern ini ialah duit, karena ternyata memang duit ini termasuk “ilah” yang paling berkuasa di dunia ini. Di kalangan orang Amerika terkenal istilah “The Almighty Dollar” (Dollar yang maha kuasa). Memang telah ternyata di dunia, bahwa hampir semua yang ada di dalam hidup ini dapat diperoleh dengan duit, bahkan dalam banyak hal harga diri manusia pun bisa dibeli dengan duit.

    Cobalah lihat sekitar kita sekarang ini, hampir semuanya ada “harga”-nya, jadi bisa “dibeli” dengan duit. Manusia tidak malu lagi melakukan apa saja demi untuk mendapat duit, pada hal malu itu salah satu bahagian terpenting dari iman. Betapa banyak orang yang sampai hati menggadaikan negeri dan bangsanya sendiri demi mendapat duit. Memanglah “tuhan” yang berbentuk duit ini sangat banyak menentukan jalan kehidupan manusia di zaman modern ini.

    Pada mulanya manusia menciptakan duit hanyalah sebagai alat tukar untuk memudahkan serta mempercepat terjadinya perniagaan. Maka duit bisa ditukarkan dengan barang-barang atau jasa dalam berbagai bentuk. Oleh karena itu, duit juga disebut sebagai “harta cair” (liquid commodity). Kemudian, fungsi duit sebagai alat tukar ini menjadi demikian efektifnya, sehingga di zaman ini, terutama di negeri-negeri yang berlandaskan materialisme dan kapitalisme, duit juga dipakai sebagai alat ukur bagi status seseorang di dalam masyarakat.

    Kekuasaan, pengaruh, bahkan nilai pribadi seseorang diukur dengan jumlah kekayaan (asset)-nya. Prestasi pribadi seseorang pun telah diukur dengan umur semuda berapa ia menjadi jutawan. Semakin muda seseorang mendapat duit sejumlah sejuta dollar dianggap semakin tinggi nilai pribadinya.

    Umpamanya, ketika penulis sedang mengetik naskah edisi baru ini (di Ames, Iowa, USA, awal Ramadhan 1406/ May 1986), di dalam siaran TV diumumkan, bahwa Michael Jackson mendapat piagam kehormatan tertinggi (Golden Award) sebagai “seniman” penyanyi termuda (di bawah 30 tahun) yang terhebat, karena ia berhasil mendapat kontrak sejumlah 15 juta dollar untuk menyanyikan lagu “Pepsi Cola” di dalam siaran-siaran TV dan radio selama tiga tahun. Jadi ia berpenghasilan 5 juta dollar setahun dalam masa tiga tahun mendatang ini; kira-kira 20 x gaji presiden Amerika Serikat (Ronald Reagen) pada masa yang sama. Kehidupan dan gaya hidup orang-orang yang banyak duit ini di USA sengaja ditonjolkan melalui program yang periodik di TV (The Lifestyles of the Rich and Famous).

    Takhta Sebagai Ilah

    “Tuhan tandingan” kedua yang paling populer ialah pangkat atau takhta, karena pangkat ini erat sekali hubungannya dengan duit tadi, terutama di negeri-negeri yang sedang berkembang. Pangkat atau takhta bisa dengan mudah dipakai sebagai alat untuk mendapat duit atau harta, terutama di negeri-negeri di mana kebanyakan rakyatnya masih berwatak “nrimo”, karena belum terdidik dan belum cerdas. Apalagi, kalau di negeri itu kadar kebebasan mengeluarkan pendapat, baik secara lisan maupun tulisan, masih rendah.

    Di negeri-negeri yang rakyatnya sudah cerdas, dan kebebasan mengeluarkan pendapat terjamin penuh oleh undang-undang, memang peranan pangkat dan kedudukan tidak mudah, bahkan tidak mungkin dipakai untuk mendapatkan duit/harta. Oleh karena itu, orang-orang yang ikut aktif di dalam perebutan kedudukan yang bersifat politis di negeri- negeri yang sudah maju ini biasanya orang-orang yang sudah kaya lebih dahulu. Mendiang presiden Kennedy, umpamanya, menolak pembayaran gajinya sebagai presiden yang jumlahnya ketika itu 125 ribu dollar setahun, karena ia sudah jutawan sebelum jadi presiden. Ia merebut kedudukan kepresidenan dengan mengalahkan Nixon, ketika itu, karena dorongan rasa patriotiknya, atau mungkin juga demi menjunjung tinggi nama dan kehormatan keluarganya, namun bukan karena menginginkan kekayaan yang mungkin diperoleh dari kepresidenan itu.

    Jadi, nyata benar bedanya dengan bekas presiden Marcos dan isterinya Imelda, umpamanya, yang telah menjadi kaya raya akibat kedudukannya, karena itu mereka telah bersikeras terus mempertahankan kedudukan itu, walaupun rakyat sudah menyatakan ketidak-senangan mereka kepadanya. Hal ini bisa terjadi di negeri Marcos, karena kecerdasan dan kebebasan rakyatnya masih jauh di bawah kecerdasan dan kebebasan rakyat Amerika Serikat.

    Contoh-contoh seperti Marcos dan Imelda ini banyak sekali terjadi di negeri-negeri yang sedang berkembang, seperti Tahiti dengan Duvalier-nya, Iran dengan mendiang Syah-nya, dan lain-lain…! Suatu hal yang sangat menarik, karena berhubungan dengan masalah ini, ialah, bahwa Al-Qur’an sudah mengajarkan kepada para Muslim yang benar-benar bertawhid (beriman) agar mereka memilih pemimpin, selain Allah dan Rasul-Nya, hanyalah “orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan membayarkan zakat seraya tundak hanya kepada Allah.” Ayat selengkapnya berbunyi:

    “Sungguh, pemimpinmu (yang sejati) hanyalah Allah dan Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan MEMBAYARKAN ZAKAT, seraya tunduk (patuh kepada Allah).” (Q.5:55)

    Bukankah yang diwajibkan membayar zakat ini ialah orang yang kaya, atau paling tidak orang yang sudah berkecukupan. Orang yang miskin, dan karena itu tidak mampu membayarkan zakat, walaupun sudah ta’at melakukan sembahyang, belum memenuhi syarat untuk dipilih sebagai pemimpin. Akan terlalu berat baginya mengatasi keinginan melepaskan diri dari tekanan kemiskinan itu, sehingga mungkin ia akan lebih mudah tergoda untuk memperkaya dirinya dahulu, sebelum atau sambil menjalankan tugasnya sebagai pemimpin itu.

    Sungguh, sangat tinggi hikmah yang terkandung di dalam ayat ini, terutama mengenai masalah memilih atau menentukan pemimpin. Sangat sayang, bahwa kebanyakan ummat Islam pada saat ini belum sempat mencapai tingkat kecerdasan yang memadai untuk memahami dan menghayati kandungan ayat suci ini. Oleh karena itu, ummat ini belum juga berhasil memilih pemimpin mereka sesuai dengan kandungan ajaran Allah ini. Akibatnya, ummat Islam belum mampu mencapai tingkat kemerdekaan (tawhid) yang minimal menurut standard yang dikehendaki al-Qur’an. Benar juga kiranya, jika ada yang mengatakan, bahwa “al-Qur’an masih terlalu tinggi bagi kebanyakan ummat Islam pada masa ini”. Dengan perkataan lain, ummat Islam pada masa ini masih terlalu rendah mutunya, sehingga belum pantas untuk menerima al-Qur’an yang mulia itu.

    Oleh karena itu, kita tak perlu heran jika nilai-nilai dasar dan pokok yang diajarkan di dalam al-Qur’an masih lebih mudah terlihat dipraktekkan di negeri-negeri, yang justru mayoritas penduduknya resmi belum beragama Islam.

    Syahwat Sebagai Ilah

    Tuhan ketiga yang paling populer pada setiap zaman ialah syahwat (sex). Demi memenuhi keinginan akan sex ini banyak orang yang tega melakukan apa saja yang dia rasa perlu. Orang yang sudah terlanjur mempertuhankan sex tidak akan bisa lagi melihat batas-batas kewajaran, sehingga ia akan melakukan apa saja demi kepuasan sex-nya.

    Contoh-contoh dalam sejarah mengenai hal ini cukup banyak, sehingga Allah mewahyukan riwayat yang sangat rinci tentang nabi Yusuf yang telah berjaya menaklukkan godaan sex ini. Nabi Yusuf dipujikan dalam al-Qur’an sebagai seorang yang telah berhasil menentukan pilihan yang tepat ketika dihadapkan dengan alternatif: pilih hidayah iman atau kemerdekaan. Beliau memilih ni’mat Allah yang pertama, yaitu hidayah iman. Dengan mengorbankan kemerdekaannya beliau memilih masuk penjara daripada mengorbankan imannya dengan tunduk kepada godaan keinginan syahwat isteri menteri, majikan beliau.

    “Dia (Yusuf) berkata: “Hai Tuhanku! Penjara itu lebih kusukai dari pada mengikuti keinginan (syahwat) mereka, dan jika tidak Engkau jauhkan dari padaku tipu daya mereka, niscaya aku pun akan tergoda oleh mereka, sehingga aku menjadi orang-orang yang jahil.” (Q. 12:33). Dari ayat ini jelas betapa hebat tekanan sex pada seseorang yang sehat dan masih remaja seperti Yusuf ketika digoda oleh isteri majikan beliau yang cantik jelita, namun dengan tawhid yang mantap beliau tidak sampai terjatuh ke lembah kehinaan.

    Sajak “Aku” nya Chairil Anwar yang sudah dikoreksi kiranya dapat dipakai untuk melukiskan pribadi Yusuf AS ini sebagai berikut:

    AKU

    Bila sampai waktuku

    ‘Kumau tak seorang ‘kan merayu

    Tidak juga ‘kau.

    Tak perlu sedu sedan itu

    Aku ini hamba Allah

    Dari gumpalan darah

    Merah

    Biar peluru menembus kulitku

    ‘Ku ‘kan terus mengabdi

    Mengabdi dan mengabdi

    Hanya kepada-Mu

    Ilahi Rabbi

    ***

    Sumber : Kuliah Tauhid

    Ir. Muhammad ‘Imaduddin ‘Abdulrahim M.Sc, Ph.D. Yayasan Pembina Sari Insan (YAASIN) Diterbitkan oleh Pustaka-Perpustakaan Salman ITB Bandung

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 11 October 2016 Permalink | Balas  

    Memberikan Pujian 

    bungaMemberikan Pujian

    Sumber: Indonesia Business Online

    Oleh: Arvan Pradiansyah

    Seorang pengemis duduk mengulurkan tangannya di sudut jalan. Tolstoy, penulis besar Rusia yang kebetulan lewat di depannya, langsung berhenti dan mencoba mencari uang logam di sakunya. Ternyata tak ada. Dengan amat sedih ia berkata, “Janganlah marah kepadaku, hai Saudaraku. Aku tidak bawa uang.”

    Mendengar kata-kata itu, wajah pengemis berbinar-binar, dan ia menjawab, “Tak apa-apa Tuan. Saya gembira sekali, karena Anda menyebut saya saudara. Ini pemberian yang sangat besar bagi saya.”

    Setiap manusia, apapun latar belakang nya, memiliki kesamaan yang mendasar: ingin dipuji, diakui, didengarkan dan dihormati.

    Kebutuhan ini sering terlupakan begitu saja. Banyak manajer yang masih beranggapan bahwa orang hanya termotivasi uang. Mereka lupa, nilai uang hanya bertahan sampai uang itu habis dibelanjakan. Ini sesuai dengan teori Herzberg yang mengatakan bahwa uang tak akan pernah mendatangkan kepuasan dalam bekerja.

    Manusia bukan sekadar makhluk fisik, tapi juga makhluk spiritual yang membutuhkan sesuatu yang jauh lebih bernilai. Mereka butuh penghargaan dan pengakuan atas kontribusi mereka. Tak perlu sesuatu yang sulit atau mahal, ini bisa sesederhana pujian yang tulus. Namun, memberikan pujian ternyata bukan mudah. Jauh lebih mudah mengritik orang lain.

    Seorang kawan pernah mengatakan, “Bukannya saya tak mau memuji bawahan, tapi saya benar-benar tak tahu apa yang perlu saya puji. Kinerjanya begitu buruk.”

    “Tahukah Anda kenapa kinerjanya begitu buruk?” saya balik bertanya.

    “Karena Anda sama sekali tak pernah memujinya!”

    Persoalannya, mengapa kita begitu sulit memberi pujian pada orang lain? Menurut saya, ada tiga hal penyebabnya, dan kesemuanya berakar pada cara kita memandang orang lain.

    Pertama, kita tidak tulus mencintai mereka. Cinta kita bukanlah unconditional love, tetapi cinta bersyarat. Kita menci ntai pasangan kita karena ia mengikuti kemauan kita, kita mencintai anak-anak kita karena mereka berprestasi di sekolah, kita mengasihi bawahan kita karena mereka memenuhi target pekerjaan yang telah ditetapkan.

    Perhatikanlah kata-kata di atas: cinta bersyarat. Artinya, kalau syarat-syarat tidak terpenuhi, cinta kita pun memudar. Padahal, cinta yang tulus seperti pepatah Perancis: L`amour n`est pas parce que mais malgre.

    Cinta adalah bukan “cinta karena”, tetapi “cinta walaupun”. Inilah cinta yang tulus, yang tanpa kondisi dan persyaratan apapun.

    Cinta tanpa syarat adalah penjelmaan sikap Tuhan yang memberikan rahmatNya ta npa pilih kasih. Cinta Tuhan adalah “cinta walaupun”. Walaupun  Anda mengingkari nikmatNya, Dia tetap memberikan kepada Anda. Lihatlah bagaimana Dia menumbuhkan bunga-bunga yang indah untuk dapat dinikmati siapa saja tak peduli si baik atau si jahat. Dengan paradigma ini, Anda akan menjadi manusia yang tulus, yang senantiasa melihat sisi positiforang lain. Ini bisa memudahkan Anda memberi pujian.

    Kesalahan kedua, kita lupa bahwa setiap manusia itu unik. Ada cerita mengenai seorang turis yang masuk toko barang unik dan antik. Ia  berkata, “Tunjukkan pada saya barang paling unik dari semua yang ada di sini!”

    Pemilik toko memeriksa ratusan barang: binatang kering berisi kapuk, tengkorak, burung yang diawetkan, kepala rusa, lalu berpaling ke turis dan berkata, “Barang yang paling unik di toko ini tak dapat disangkal adalah saya sendiri!”

    Setiap manusia adalah unik, tak ada dua orang yang persis sama. Kita sering menyamaratakan orang, sehingga membuat kita tak tertarik pada orang lain. Padahal, dengan menyadari bahwa tiap orang berbeda, kita akan berusaha mencari daya tarik dan inner beauty setiap orang. Dengan demikian, kita akan mudah sekali memberi pujian.

    Kesalahan ketiga, disebut paradigm paralysis. Kita sering gagal melihat orang lain secara apa adanya, karena kita terperangkap dalam paradigma yang kita buat sendiri mengenai orang itu. Tanpa disadari kita sering mengotak-ngotakkan orang. Kita menempatkan mereka dalam label-label:orang ini membosankan, orang itu menyebalkan, orang ini egois, orang itu mau menang sendiri. Inilah persoalannya: kita gagal melihat setiap orang sebagai manusia yang “segar dan baru”. Padahal, pasangan, anak, kawan, dan bawahan kita yang sekarang bukanlah mereka yang kita lihat kemarin. Mereka berubah dan senantiasa baru dan segar setiap saat.

    Penyakit yang kita alami, apalagi menghadapi orang yang sudah bertahun-tahun berinteraksi dengan kita adalah 4 L (Lu Lagi, Lu Lagi — bahasa Jakarta). Kita sudah merasa tahu, paham dan hafal mengenai orang itu. Kita menganggap tak ada lagi sesuatu yang baru dari mereka. Maka, di hadapan kita mereka telah kehilangan daya tariknya.

    Sewaktu membuat tulisan ini, istri saya pun menyindir saya dengan mengatakan bahwa saya tak terlalu sering lagi memujinya setelah kami menikah. Sebelum menikah dulu, saya tak pernah kehabisan bahan untuk memujinya. Sindiran ini, tentu, membuat saya tersipu-sipu dan benar-benar mati kutu.

    Pujian yang tulus merupakan penjelmaan Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Maka, ia mengandung energi positif yang amat dahsyat. Saya telah mencoba menerapkan pujian dan ucapan terima kasih kepada orang-orang yang saya jumpai: istri, pembantu yang membukakan pagar setiap pagi, bawahan di kantor, resepsionis di kantor klien, tukang parkir,  satpam, penjaga toko maupun petugas di jalan tol.

    Efeknya ternyata luar biasa. Pembantu bahkan menjawab ucapan terima kasih saya dengan doa, “Hati-hati di jalan Pak!” Orang-orang yang saya jumpai juga senantiasa memberi senyuman yang membahagiakan. Sepertinya  mereka terbebas dari rutinitas pekerjaan yang menjemukan.

    Pujian memang mengandung energi yang bisa mencerahkan, memotivasi, membuat orang bahagia dan bersyu kur. Yang lebih penting, membuat orang merasa dimanusiakan.

    **

    Penulis adalah dosen FISIP Universitas Indonesia dan konsultan di Dunamis-Franklincovey Indonesia.

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 10 October 2016 Permalink | Balas  

    Cukupkah Hanya Al-Qur’an Semata ( Membedah Faham Qur’aniyyin ) 

    Reciting-QuranCukupkah Hanya Al-Qur’an Semata ( Membedah Faham Qur’aniyyin )

    Hendaknya seseorang segera memohon ampun kepada Allah jika ia memiliki keyakinan sebagaimana yang didengungkan oleh Abdullah Chakrawaali dalam majalah Isyaatul Qur’an III \ h. 49, ia berkata : ” Sesungguhnya Al-Majid (Al-Qur’an ) telah menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam agama ini dengan terperinci dan terjelaskan dari semua aspeknya . Maka apa butuhnya kita terhadap wahyu yang khafi (tidak tertulis) dan kepada As-Sunnah ?? ” Ucapan seperti ini adalah racun yang disuntikkan oleh kaum salibis untuk meruntuhkan islam . Anehnya, orang-orang yang berpikiran seperti ini menamakan diri mereka Qur’aniyyin (ahlul qur’an) . Sidang pembaca yang budiman , saatnya antum melihat bagaimana sikap Al-Qur’an sendiri terhadap mereka. Ikutilah untaian wacana berikut ini, untuk mengetahui kedudukan As-Sunnah , dan mengetahui pula penyimpangan pola pikir yang berusaha menggeser As-sunnah sebagai sumber hukum.

    Kedudukan As-Sunnah Dalam Islam

    Allah berfirman :” Maka demi tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap apa putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” [Qs.An-nisa 65].

    Ketahuilah bahwa sesungguhnya menjadikan Rasulullah sebagai hakim dalam keadaan beliau tidak ada ditengah kita saat ini, berarti mewajibkan kita menjadikan peninggalan beliau yakni As-Sunnah sebagai hakim.

    Dalam ayat lain Allah berfirman :” jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikan ia pada Allah dan rasulnya,.”[Qs. An-nisaa 59]

    Telah sepakat ahli tafsir, bahwa yang dimaksud dengan kembali kepada Allah dan rasulnya ialah kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah. Ini juga menunjukkan bahwa As-Sunnah juga memiliki kedudukan sebagai penentu hukum dalam islam bersama-sama dengan Al-Qur’an, dan kedudukan ini tidak dapat dipisahkan.

    Maka berdasarkan dua ayat diatas, tidak halal seorang muslim berkata cukuplah Al-Qur’an saja bagiku, dan aku tidak butuh kepada buku-buku hadits

    As-Sunnah sebagai penafsir Al-Qur’an

    Terdapat banyak contoh yang nyata dalam masalah ini. Al-Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam sebuah risalahnya yang berjudul ” manzilatus sunnah fil-Islam” menafsirkan kata Al-Bayan [menerangkan] dalam ayat : “keterangan-keterangan (mu’jizat) dan kitab-kitab. Dan kami turunkan kepada kamu al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan” [Qs : An-Nahl 44].

    Beliau [syaikh Al-Albani] berkata : Al-bayan adalah penjelasan lafadz , kalimat atau ayat yang membutuhan penjelasan, yang demikian ini dikarenakan banyak terdapat ayat-ayat yang mujmal (masih global), ammah (umum), atau mutlak. Maka As-sunnah menjelaskan yang global, mengkhususkan yang umum, dan membatasi yang mutlak.

    Penjelasan tersebut terjadi dengan As-Sunnah yaitu perkataan, perbuatan beliau atau persetujuan Rasulullah terhadap perbuatan para sahabatnya.

    Beberapa contoh nyata

    • Firman Allah :”pencuri laki-laki dan perempuan, potonglah tangan mereka..” [Qs : Al-maidah : 38]. Kata pencuri dalam ayat tersebut bersifat mutlak, demikian juga kata tangan. Maka As-Sunnah datang membatasi kata yang pertama pencuri yaitu mereka yang mencuri lebih dari atau sama dengan ¼ dinar. Ini berarti pencuri tidak dipotong tangannya jika nilai curiannya kurang dari ¼ dinar . hal ini berdasarkan hadist Rasulullah :”tidak dipotong tangan kecuali dalam curian yang mencapai ¼ dinar atau lebih..” [ HR. Bukhari-Muslim]. As-Sunnah menerangkan maksud tangan dalam ayat tersebut dengan perbuatan Rasulullah perbuatan sahabatnya, dan kesepakatan mereka bahwa mereka dahulu memotong tangan pencuri sebatas pergelangan tangan mereka sebagaimana telah diketahui dalam kitab-kitab hadits.
    • Demikian pula ketika As-Sunnah menerangkan kata tayammum ” usaplah pada wajah-wajah dan tangan mereka.” [Qs. al-maidah :6]. Maksud tangan dalam ayat disini adalah telapak tangan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah : tayammum itu mengusap wajah dan kedua telapak tangan [HR : bukhari-muslim]
    • Demikian pula firman Allah : “katakanlah : ‘siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik ?’ katakanlah :’semua itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) dihari kiamat. Demikianlah kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui”. [Qs. Al-A’raff : 32]. Disini As-Sunnah menerangkan bahwa ada perhiasan yang haram. Rasulullah bersabda : “kedua benda ini (sutera dan Emas) haram bagi para lelaki ummatku dan halal bagi para wanitanya” [HR. hakim dan dia menshahihkannya].

    Penyimpangan Qur’aniyyin [Ingkar Sunnah]

    Dewasa ini telah muncul suatu kelompok yang menamakan dirinya Qur’aniyyin (pengikut Qur’an) namun pada hakekatnya mereka bukan pengikut Qur’an bahkan sekaligus mereka menafsirkan Al-Qur’an dengan nafsu dan akal-akalan mereka tampa mencari keterangan tafsirnya dari sunnah yang shahih. Mereka menganggap as-sunnah bukanlah wahyu yang turun dari Allah. Padahal Allah berfirman :” dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (jibril) yang sangat kuat” [Qs : An-Najm : 3-5].

    Lihatlah bagaimana Al-Qur’an membantah mereka. Mereka juga menganggap al-Qur’an telah cukup sehingga tidak butuh kepada As-Sunnah padahal dalam surat An-nahl :44 Allah menjelaskan bahwa Rasulullah diperintahkan menjelaskan Al-Qur’an, tentu saja penjelasan Rasulullah terhadap Al-Qur’an adalah As-sunnah itu sendiri. Sungguh benar apa yang diungkapkan pepatah :

    “setiap orang menngaku menjadi kekasih Laila, hanya saja Laila tidak mengakui mereka sebagai kekasih”.

    Mereka Qur’aniyyin mengaku menjadi pengikut Al-Qur’an, akan tetapi Al-Qur’an tidak mengakui mereka sebagai pengikut.

    Berita Dari Rasulullah Tentang Mereka

    Rasulullah bersabda tentang mereka, para pengingkar sunnah, yang mengaku pengikut Al-Qur’an): ” sungguh sebentar lagi kalian akan melihat seseorang yang duduk di singgasananya, kemudian datang kepadanya urusanku (sunnahku) baik yang berisi larangan atau perintah, maka dia berkata : “aku tidak tahu ! semua yang kami dapatkan dalam kitab Allah itulah yang kami ikuti [ HR. At-Tirmidzi, lihat maanzilatus sunnah oleh syaikh Al-Albani]. Dalam riwayat lain dia berkata : apa yang kami dapatkan dalam kitabullah pengharaamannya, akan kami haramkan.” Maka Rasululah bersabda : ” ketahuilah bahwasanya aku diberi Al-Qur’an dan yang semisalnya bersamanya (yakni As-sunnah) [ HR. Ahmad 4/131 dan Abu Daaud 5/11)

    Dalaam riwayat lain Rasulullah bersabda : “Ketahuilah bahwa apa yang dilarang oleh Rasul maka itulah yang dilarang oleh Allah.”

    Tidak cukup hanya dengan Al-Qur’an semata.

    Berkata syaikh Al-Albani setelah membawakan riwayat-riwayat hadits diatas : ” hadits shahih diatas menjelaskan dengan tegas bahwa syari’at islam bukannya Al-Qur’an saja, melainkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Barang siapa hanya berpegang paa salah satunya, berarti sama dengan tidak berpegang dengan keduanya, karena Al-Qur’an memerintahkan untuk berpegang dengan As-Sunnah demikian pula sebaliknya [manzilatus sunnah fil Islam, cet. Darus Salafiyyah 1404 H. ]

    Belajar dari sahabat dalam menyikapi pola fikir Qur’aniyyin

    Dalam satu riwayat yang shahih dari Ibnu mas’ud, datang seorang wanita kepadanya kemudian berkata : “kamukan orangnya yang berkata bahwa Allah melaknat namishat (wanita yang mencabut rambut alis) dan Mutamishat (wanita yang minta dicabutkan) dan Wasyimat (wanita yag mentato), Ibnu Mas’ud berkata : ya, benar. Aku telah membaca Al-Qur’an dari awal sampai akhir tetapi aku tidak menemukan apa yang kamu katakan. Maka ibnu mas’ud berkata : ‘jika kamu betul-betul membacanya maka kamu akan menemukannya. Tidakkah engkau membaca : “apa yang disampaikan oleh rasul ambillah dan apa yang dilarang oleh rasul maka tinggalkanlah ” [QS. Al-Hasyr :7], aku telah mendengar rasulullah bersabda : “allah melaknat namishat ” [ HR. Bukhari-Muslim]

    Betapa indahnya kaidah-kaidah ilmiah yang dijabarkan melalui dialog yang lembut tersebut

    Wallahu a’lam

    Sumber “Risalah dakwah al-hujjah”

     
  • erva kurniawan 1:02 am on 9 October 2016 Permalink | Balas  

    Daya Rusak Sebuah Hadits Palsu 

    berhenti-sebarkan-hadith-palsuDaya Rusak Sebuah Hadits Palsu

    Berkata sebagian kaum Muslimin : “Biarkanlah keragaman pendapat yang ada di tubuh kaum Muslimin tentang agama mereka tumbuh subur dan berkembang, asalkan setiap perselisihan dibawa ketempat yang sejuk.” Alasan mereka didasarkan pada sebuah hadits yang selalu mereka ulang-ulang dalam setiap kesempatan, yaitu hadits: “Perbedaan pendapat pada umatku adalah rahmat” Benarkah ungkapan ini? benarkah Rasulullah mengucapkan hadits tersebut?

    Apa kata Muhadditsin tentang hadits tersebut??

    Syaikh Al-Albani rahimahulah berkata: “Hadits tersebut tidak ada asalnya”. [Adh-Dha’ifah :II \ 76-85]

    Imam As-Subki berkata: “Hadits ini tidak dikenal oleh ahli hadits dan saya belum mendapatkannya baik dengan sanad shahih, dha’if (lemah), maupun maudhu (palsu).”

    Syaikh Ali-hasan Al-Halaby Al-Atsari berkata: “ini adalah hadits bathil dan kebohongan.” [Ushul Al-Bida’]

    Dan dari sisi makna hadits ini disalahkan oleh para ulama.

    Al-‘Alamah Ibnu Hazm berkata dalam Al-Ahkam Fii Ushuli Ahkam (5/64) setelah menjelaskan bahwa ini bukan hadits: “Dan ini adalah perkataan yang paling rusak, sebab jika perselisihan itu adalah rahmat, maka berarti persatuan adalah adzhab. Ini tidak mungkin dikatakan oleh seorang muslim, karena tidak akan berkumpul antara persatuan dan perselisihan, rahmat dan adzhab.”

    Bagaimanakah daya rusak hadits palsu tersebut terhadap Islam ??

    1. Mengekalkan perpecahan dalam Islam

    Tidak ragu lagi bahwa hadits tersebut adalah tikaman para pembawanya bagi persatuan Islam yang haqiqi. Ketika para pembawa panji-panji sunnah menyeru umat kepada persatuan Aqidah dan Manhaj (jalan/metode) yang shahih. Tiba-tiba muncul orang-orang yang mengaku mengajak kepada persatuan Islam dengan berkata: “Biarkanlah kaum muslimin dengan keyakinannya masing-masing , biarkanlah kaum muslimin dengan metodenya masing-masing dalam berjalan menuju Allah, janganlah memaksakan perselisihan yang ada harus seragam dengan keyakinan dan pola pikir orang-orang arab padang pasir 15 abad yang lalu. Karena Rasulullah shallallahu’alihi wasallam bersabda: ” perselisihan pendapat pada umatku adalah rahmat.”

    Allahu Akbar…!! Alangkah kejinya ungkapan tersebut dan banyak lagi perkataan yang semisalnya yang mengakibatkan kaum muslimin abadi di dalam aqidah dan manhaj yang berbeda. Padahal ayat-ayat dalam Al-Qur’an melarang berselisih pendapat dalam urusan agama dan menyuruh bersatu. Seperti Firman Allah dalam:

    Ø Surat Al-Anfal ayat 46 yang artinya; “Jangan kamu berselisih, karena kamu akan menjadi lemah dan hilang kewibawaan kamu.”

    Ø Surat Ar-Rum ayat 31-32: ” Jangan kamu seperti orang-orang yang musyrik, yaitu mereka mencerai-beraikan agamanya dan bergolong-golongan. Dan setiap golongan berbangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”

    Ø Surat Hud ayat: 118-119: ” Mereka terus-menerus berselisih kecuali orang yang mendapatkan rahmat dari Tuhanmu.”

    Dan kita diperintah Allah Subhanahuwata’ala untuk bersatu dalam Aqidah dan manhaj diatas Aqidah dan Manhajnya Rasulullah dan para sahabatnya. Sebagaimana Firman Allah Subhhanahu wata’ala dalam surat Al-An’am ayat: 153 yang artinya: “Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.” Dan kita diperintahkan Allah untuk merujuk bersama kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah ketika terjadi perselisihan, bukannya membiarkan perselisihan aqidah dan hal-hal yang pokok dalam agama meradang di tengah ummat dengan dalih sepotong hadist palsu. Firman-Nya dalan surat An-Nisa’ ayat 59 yang artinya: ” Jika kamu berselisih pendapat maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.”

    1. Kaum muslimin tidak lagi menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagi sandaran kebenaran dan hakim

    Syaikh Al-Albani berkata: “Diantara dampak buruk hadits ini adalah banyak kaum muslimin yang mengakui terjadinya perselisihan sengit yang terjadi diantara 4 madzab dan tidak pernah sama sekali berupaya untuk mengembalikannya kepada Al-Qu’an dan Al-Hadits.” [Adh-Dha’ifah: I/76]

    Allah berfirman menceritakan Nabi-Nya Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam ketika mengadu kepada-Nya: “Berkatalah rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan.” [QS. Al-Furqan:30]. Sungguh hal itu terulang kembali di zaman ini dikarenakan hadist palsu yang menggerogoti ummat.

    1. Umat islam tidak lagi menjadi umat terbaik yang jaya di atas umat yang lainnya.

    ini dikarenakan hadits palsu tersebut menjadi dinding bagi seorang muslim untuk beramar ma’ruf nahi mungkar, seorang muslim tidak lagi menegur saudaranya yang berbuat salah dalam syirik, kekufuran, dan bid’ah serta maksiat disebabkan meyakini hadits palsu tersebut. Karena mereka menganggap semua itu sebagai suatu perbedaan yang hakikatnya adalah rahmat, sehingga tidak perlu untuk ber-nahi mungkar. Akibatnya, predikat ummat terbaik tidak lagi disandang oleh umat islam, karena telah meninggalkan syaratnya yakni Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali-’Imran ayat:110 yang artinya: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.

    1. Ancaman dan kecaman yang keras dari Nabi, karena berkata dengan mengatasnamakan Rasulullah secara dusta.

    Rasulullah bersabda : “Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia siapkan tempat duduknya dari api neraka” [Riwayat Bukhari-Muslim]. Hendaklah takut orang-orang yang mengada-adakan perkataan dusta atas nama Rasulullah, demikian pula orang-orang yang menyebarkan dan mendongengkan kisah-kisah palsu dan lemah yang hanya muncul dari prasangka belaka yang padahal prasangka itu adalah seburuk-buruk perkataan.

    1. Meninggalkan perintah Allah

    Ini adalah efek lanjutan dari hadist palsu tesebut, karena ketika seseorang mentolelir perselisihan aqidah, halal dan haram, serta segala sesuatu yang telah tegas digariskan oleh dua wahyu, maka di saat yang sama ia telah meninggalkan perintah Allah untuk menuntaskan setiap perselisihan kepada Al-Qur’an, dan As-Sunnah. Sebagaimana Allah berfiman : “Jika kamu berselisih pendapat maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (As-Sunnah) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya” [An-Nisa:59]

    1. Melemahkan kekuatan kaum Muslimin serta membuka jalan bagi orang-orang kafir untuk menghancurkan Islam dari dalam

    Syaikh Ali Hasan dalam kitabnya “ushul bida” mengisyaratkan dampak buruk hadist tersebut yang dapat melemahkan kaum muslimin dan menjatuhkan kewibawaannya, karena jelas-jelas hadist palsu tersebut menebarkan benih-benih perpecahan di tubuh kaum Muslimin, sedangkan Allah berfirman :”Jangan kamu berselisih, karena kamu akan menjadi lemah dan hilang kewibawaan kamu.” [Al-Anfal: 46]

    . . . . kepada mereka ! ! !

    Tukang mengada-ada

    Simaklah firman Allah kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut :

    “Seandainya dia [Muhammad] mengada-adakan sebagian perkataan atas nama Kami [Allah], niscaya benar-benar Kami pegang ia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya”

    [QS. Al-Haqqah : 44 – 46]

    Mereka. . .!!!

    Tukang mengada-ada atas nama Allah dan Rasul-Nya.Para pembuat hadist palsu yang telah mendahului Allah dalam Syari’at.Para penebar hadist-hadist dusta yang telah mengotori Sunnah yang suci.

    Tidakkah mereka takut akan ayat di atas ? ?

    Mereka bukan Rasul sebagaimana Allah telah mengangkat Muhammad sebagai Rasul. Mereka bukan kekasih Allah sebagaimana Ia telah menjadikan Muhammad sebagai kekasih-Nya. Bukan pula mereka orang-orang yang disucikan oleh Allah sebagaimana Allah telah mensucikan Muhammad dari dosa.

    Sungguh Allah telah mengancam keras Kekasih-Nya dalam ayat tersebut dengan berfirman: “Kami potongan tali urat jantungnya”

    Lalu apakah MEREKA merasa aman ???

    Al-Hafidz Abul Khathab bin Dihyah berkata : “Jagalah dirimu wahai hamba-hamba Allah dari kebohongan orang yang meriwayatkan kepadamu hadist yang dikemukakan untuk memaparakn kebaikan. Sebab melakukan kebaikan harus berdasarkan syari’at dari Rasululah Shallallahu’alaihi wa sallam. Jika ternyata dia bohong maka dia keluar dari yang disyari’atkan dan berkhidmat kepada Syaithan karena dia menggunakan hadist atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak berdasarkan keterangan dari Allah.” [Ma jaa fi Syahri Sya’ban, dinukil darinya oleh Abu Syamah dalam “Al-Baits :127”]

    Maraji’:

    Ushul bida’ [Syaikh Ali Hasan Ali Abdul hamid]

    Sifatush shalaty An-Naby Shallallahu’alaihi wa sallam [Syaikh Muhammad Nasyaruddin Al-Albani] dan sumber-sumber lainnya

    Sumber: Risalah dakwah al-hujjah

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 8 October 2016 Permalink | Balas  

    Happy Ending 

    mari-berdoaHappy Ending

    Al-Hasyr (59) : 18 – “Hai orang – orang yang beriman , bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan“.

    Tidak ada manusia didunia ini yang mengharapkan kesuraman masa depan, semua menginginkan masa depan yang baik, yang ceria, bisa membagakan dan membahagiakan  semua orang. Impian kita melambung jauh tentang harapan atau cita cita yang didambakan.

    Bahkan sejak kecil kita sering ditanya tentang cita cita kita.

    Suram atau ceria semua tergantung dari usaha yang kita lakukan, sebesar apa usaha yang telah kita lakukan, seberapa banyak usaha yang kita perbuat untuk mengejar impian tersebut, semua tergantung pada diri kita sendiri.

    Dua Periode

    Ada dua periode cita-cita yang harus kita jalankan :

    1. Periode Jangka Pendek (short time)
    2. Periode Jangka Panjang (long time)

    Periode Jangka Pendek. Di periode inilah sekarang kita sedang beraktivitas, periode ini berlangsung sampai ajal menjemput kita. Disebut periode jangka pendek karena tempatnya di dunia. (berasal dari kata danna – yadunnu – dunuwwan/dunyaanan, yang berarti ; sebentar, pendek atau sesaat.) .

    Periode Jangka Panjang. Periode inilah satu saat nanti kita akan hadapi, karena ini merupakan periode terakhir yaitu periode akhirat. Disinilah masa depan kita ditentukan, ceria atau suram.

    Dua periode ini saling berkaitan, kesuksesan masa depan di jangka panjang sangat ditentukan bagaimana kita berusaha pada periode di jangka pendek. Bukankah do’a yang sering kita panjatkan selalu menginginkan kesuksesan didunia dan akhirat. Sukses jangka pendek dan jangka panjang.

    Tiga Hal

    Prinsip hidup manusia itu tidak selalu terdaftar dalam keinginan, untuk itulah sangat dibutuhkan simpanan atau tabungan agar masa depan di periode jangka panjang berhasil dengan ceria.

    Ada tiga hal, yang wajib kita punya untuk menggapai masa depan sesuai perintah surat 59:18 tersebut, agar akhir hidup kita nanti bisa happy ending :

    1. Iman ( dipupuk, disiram, dirawat dan dijaga)
    2. Ilmu (untuk keperluan dunia dan akhirat sangat diperlukan ilmu)
    3. Amal / Praktik.

    Kita hidup selalu berhadapan dengan dua periode tersebut, sukses atau tidak, tergantung sejauhmana kita melakukannya.

    Semoga kita bisa happy ending diakhir hayat ini, tentunya dengan berusaha, bekerja, berkarya dengan amal nyata diperiode jangka pendek ini. Insya Allah.

    ***

    Kiriman Sahabat Muhammad Ali

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 7 October 2016 Permalink | Balas  

    Tiga Komponen Gizi 

    itikaf2Tiga Komponen Gizi

    “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (at-Tiin: 4).

    Manusia adalah mahluk yang paling mulia dalam penciptaannya, namun semua manusia ternyata menjadi perugi kecuali orang yang beriman.

    Kehidupan manusia akan menjadi pincang (tidak seimbang) manakala tidak adanya tiga komponen gizi, yang sangat diperlukan dalam menjalani aktivitas sehari hari.

    Tiga kompenen gizi tersebut adalah :

    1. JASAD

    Lemah tidaknya tubuh kita, tergantung sejauhmana supply yang diberikan kedalam jasad kita. Suppy untuk jasad ini adalah makanan, sakit atau tidaknya tubuh tergantung dari apa yang kita makan, untuk itulah sangat diperlukan makanan yang baik lagi halal (5:88). Dan jangan pula memakan secara berlebihan (7:31), karena inilah awal sebuah kepincangan.

    Bahkan Rasul SAW pernah bersabda yang diriwayatkan Abu Dawud, sabda beliau ; “Makanlah selagi lapar dan berhentilah sebelum kenyang’.

    Selain makanan yang diperlukan oleh jasad ini adalah Riyadoh (Berolahraga), bukankah mukmin yang kuat lebih Allah cintai daripada yang lemah. Berolahraga sangat baik untuk menunjang kesehatan badan kita.

    1. AKAL

    Sabda Rasul kepada Ali ra. : “Yang pertama-tama diciptakan oleh Allah adalah akal”.

    Perbedaan manusia dengan hewan terletak pada akal, dengan akal kita bisa membedakan mana yang baik dan buruk.

    Makanan akal ini adalah ilmu pengetahuan, dengan berilmu seseorang mempunyai kekuatan/kelebihan. Karena memang beda orang yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui. Oleh karena itulah isi akal ini dengan ilmu yang dapat membuat kita bermanfaat buat orang lain. Allah meninggikan derajat dan memuliakan orang yang berilmu. Akal inilah alat untuk berikhtiar dalam segala aspek.

    1. RUHANI

    Dalam buku Tarbiyah Ruhiyah karya DR.Ali Abdul Halim Mahmud, Ruh adalah nama bagi nafsu yang dengannya mengalir kehidupan, gerakan, upaya mencari kebaikan, dan upaya menghindarkan keburukan dari dalam diri manusia.

    “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku “ (Yusuf : 53). Menurut Imam al-Ghazali, Ruh itu berupa eksistensi yang lembut yang sumbernya adalah lubang didalam organ hati.

    Makanan kebutuhan ruhani adalah nilai-nilai yang mendekatkan dengan Allah SWT, seperti wirid, zikir, dll. Pun melaksanakan berbagai kewajiban dengan menghadirkan hati.

    “Ketahuilah sesungguhnya didalam tubuh manusia ada segumpal daging, yang bila segumpal daging itu baik maka baiklah seluruh tubuhynya, dan jika rusak maka rusaklah seluruh tubuhnya, ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati/qolbu.” (HR.Tarmidzi,Abu Dawud,an-Nasa’I, dan Ibnu Majah).

    Jasad, akal, dan ruhani saling berkolerasi, tidak bisa terpisahkan dalam tubuh manusia. Apabila satu saja tidak terpenuhi kebutuhan supply makanannya, maka kehidupan manusia akan mengalami kepincangan/tidak seimbang.

     

    Kiriman Sahabat Muhammad Ali

     
    • Toko Herbal Madu Ungaran 11:24 am on 21 Oktober 2016 Permalink

      Masya ALLOH begitu luas ilmu ALLOH dan tidak sepantasnya kita menyombongkan diri dengan apa yang kita miliki. Dan jagalah tubuh ini dengan ketaatan dan menjauhkan diri dari larangan. Hidupkan lah Sunnah cintai dan amalkan insya ALLOH hidup sehat akan didapatkan

  • erva kurniawan 1:23 am on 6 October 2016 Permalink | Balas  

    Putri Qara 

    siluet-masjid-nabawiPutri Qara

    Diceritakan bahwa Putri Qara adalah istri saudagar kaya Amenhotep, berasal dari keluarga sederhana, tapi pintar, bijaksana dan berbudi pekerti yang baik. Karena ia berasal dari keluarga yang lebih miskin dibanding dengan suaminya, ia sering diperlakukan dengan tidak selayaknya, sampai suatu hari ia dan suaminya pergi ke desa nelayan dan melihat ada seorang nelayan yang miskin dan istrinya. Nelayan tersebut sangat miskin dan bahkan untuk membeli jala yang baru untuk mengganti jalanya yang robek pun ia tidak mampu. Istri nelayan tersebut adalah orang yang pemboros, malas dan suka berjudi, seluruh penghasilan suaminya digunakannya untuk berfoya-foya.

    Melihat kenyataan seperti itu, Putri Qara berkata kepada suaminya, bahwa seharusnya istri nelayan tersebut membantu memperbaiki jala suaminya.

    Amenhotep, menentang pendapat istrinya, mereka berdebat, sehingga Amenhotep marah dan kemudian memanggil nelayan miskin tersebut.

    Amenhotep menukarkan Putri Qara dengan istri nelayan tersebut.

    Putri Qara sedih karena terhina, suaminya memperlakukan seolah-olah dia adalah barang yang bisa dipertukarkan semaunya. Sang nelayan tertegun dan tidak berani membantah, karena Amenhotep terkenal kejam dan sadis karena kekayaannya.

    Putri Qara rajin membantu suaminya yang baru dalam bekerja. Karena kepandaian dan kebijaksanaan Putri Qara, lambat laun sang nelayan menjadi kaya. Sampai suatu ketika ada seorang tua dengan baju compang-camping dan tidak terurus datang ke rumah Putri Qara, pelayan dirumah tersebut mengenalinya sebagai Amenhotep. Amenhotep kemudian melepas terompahnya dan meletakkan di meja kecil di sudut rumah Putri Qara. Oleh pelayan, terompah tersebut diberikan pada Putri Qara dan menceritakan kondisi pemiliknya, sang Putri mengenali terompah tersebut dan memerintahkan pelayannya untuk memberikan pada Amenhotep baju baru, terompah baru dan 3 keping uang emas ditambah pesan : aku tidak diwarisi kekayaan tetapi budi pekerti, kebijaksanaa dan kemauan untuk bekerja.

    Amenhotep menerima pemberian itu dengan penyesalan akan tindakannya di masa lalu, karena egonya dia menukar istrinya yang baik dan bijaksana dengan seorang wanita yang hanya bisa menghamburkan harta suaminya.

    Cerita tersebut sederhana, tapi menyentuh karena ternyata begitu besar pengaruh seorang istri untuk suaminya.

    Oleh karenanya, hai wanita dampingi dan dukunglah pria dengan bijaksana, dan hai pria perlakukanlah wanita dengan penuh kasih, karena pada setiap pria yang sukses pasti terdapat seorang wanita yang mendukungnya dengan bijaksana.

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 5 October 2016 Permalink | Balas  

    Bersyukur: Fakta Tentang Nikmat Atas Manusia 

    syukurBersyukur: Fakta Tentang Nikmat Atas Manusia

    Inilah fakta tentang nikmat yang dikaruniakan Allah SWT:

    “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“. (QS-14:7)

    “Menambah” berarti memberi sesuatu yang baru kepada sesuatu yang lain yang serupa dan sudah lebih dahulu ada.

    Bersyukur = Nikmat + Nikmat

    “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat lalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS-14:34)

    Bersyukur = Nikmat+Nikmat

    Bersyukur+Bersyukur = Nikmat+Nikmat+Nikmat

    Bersyukur+Bersyukur+Bersyukur = Nikmat+Nikmat+Nikmat+Nikmat

    Bersyukur+Bersyukur+Bersyukur+Bersyukur = Nikmat+Nikmat+Nikmat+Nikmat+Nikmat

    n = n + 1 ?

    Subhanallah! Ilmu matematika pun tidak bisa menghitungnya!

    Dan jika manusia tidak bersyukur, nikmat itu tidak hilang karena Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang:

    Bersyukur = Nikmat + Nikmat

    0 = 1 + 0 ?

    Subhanallah! Bahkan ilmu matematika sekalipun memang tidak bisa menghitungnya!

    Seseorang yang memiliki pengetahuan matematika akan mengatakan bahwa persamaan di atas adalah salah. Semestinya, jika kita menambahkan “bersyukur” di sisi kiri, maka akan ada “bersyukur” lain yang juga ditambahkan di sisi kanan. Itu benar secara matematis, tapi begitulah manusia, manusia dengan matematikanya:

    “Sesungguhnya manusia itu, sangat lalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)”

    … jika manusia “bersyukur”, niscaya “nikmat”-lah yang akan bertambah. Itulah yang sesungguhnya.

    ***

    Maroji: Abdullah FS

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 4 October 2016 Permalink | Balas  

    Simpanan Bagi Hasil Di Bank 

    ribaSimpanan Bagi Hasil Di Bank

    Oleh: Mike Rini, dikutip dari Danareksa.com

    Apakah Anda termasuk orang yang percaya bahwa uang bisa didapat dengan sekejap mata tanpa usaha yang berarti ? Saya tidak. Saya orang yang tidak pernah percaya bahwa uang bisa didapat dengan sekejap mata. Tapi keyakinan saya tersebut ternyata bisa dipatahkan, tepatnya tahun 1998 jamannya masih krisis moneter. Saya tidak akan pernah lupa hari-hari dimana saya bisa mendapatkan uang dengan begitu mudahnya, bahkan tanpa usaha yang berarti sama sekali. Yang saya lakukan saat itu hanya mendepositokan uang saya di sebuah bank. Bayangkan dari uang sebesar Rp 100 juta yang saya depositokan, sim salabim ! satu bulan kemudian berubah menjadi Rp 140 juta !

    Jadi timbul pertanyaan, apa yang dilakukan bank tersebut sehingga bisa sebegitu hebatnya membayar bunga deposito sebesar itu. Saya tidak penah tahu kemana uang yang saya simpan dibank tersebut diinvestasikan, namun tidak lama setelahnya jawabannya datang dengan berita likuidasi bank-bank. Termasuk bank saya, hanya saja depositonya sudah saya cairkan dahulu, dan untuk kedua kalinya saya lagi-lagi beruntung. Beberapa teman-temannya yang dananya nyangkut di bank tersebut, harus menunggu berhari-hari dan mengantri dalam antrian yang sangat panjang untuk bisa mengambil dana mereka kembali. Bank-lah pihak yang paling merugi, bukan saja merugi tapi bangkrut total sampai harus ditutup. Kewajiban pembayaran bunga yang luar biasa ekstrim saat itu telah menamatkan riwayat bank tempat saya menabung bertahun-tahun.

    Bayangkan jika Anda yang berada di posisi penghutang seperti kasus bank tadi (dan seringnya memang begitu bukan ?). Kewajiban cicilan kredit rumah, kredit mobil atau kartu kredit yang tiba-tiba membengkak karena bunganya meroket dan semakin parah jika Anda terlambat membayar, bisa membuat Anda bangkrut. Begitulah keajaiban dari sistem bunga berbunga, bisa sangat menguntungkan di satu pihak namun merugikan pihak lain.

    Kenyataan ini telah membuktikan bahwa kelangsungan hidup bank konvensional selalu terganggu oleh gejolak suku bunga. Dari sinilah muncul kebutuhan akan adanya suatu sistem perbankan yang tidak berbasis bunga. Menjawab kebutuhan itu sistem perbankan syariah yang berbasis bagi hasil, konon lebih tangguh dari sistem perbankan konvensional. Namun jika dilihat dari kacamata kita sebagai nasabah, apakah menguntungkan jika kita menyimpan uang di bank syariah ? Setelah sekian lama terbiasa dengan sistem bunga bank konvensional, bisakah sistem bank syariah memberikan keuntungan yang lebih besar kepada nasabahnya ? “Tak kenal maka tak sayang”, bagi kita yang sudah terbiasa dengan sistem bunga pada bank konvensional, mungkin merasa ragu-ragu dengan sistem bagi hasil bank syariah. Namun terlepas dari berbagai keraguan tadi, alangkah baiknya kita menuntaskan rasa penasaran kita dengan mempelajari produk-produk simpanan di bank syariah.

    Perbedaan Bank Konvensional Dengan Bank Syariah

    Bank syariah adalah bank yang beroperasi berdasarkan syariah atau prinsip agama Islam. Sesuai dengan prinsip Islam yang melarang sistem bunga atau riba yang memberatkan, maka bank syariah beroperasi berdasarkan kemitraan pada semua aktivitas bisnis atas dasar kesetaraan dan keadilan. Perbedaan yang mendasar antara bank syariah dengan bank konvensional, antara lain :

    Perbedaan Falsafah

    Perbedaan pokok antara bank konvensional dengan bank syariah terletak pada landasan falsafah yang dianutnya. Bank syariah tidak melaksanakan sistem bunga dalam seluruh aktivitasnya sedangkan bank kovensional justru kebalikannya. Hal inilah yang menjadi perbedaan yang sangat mendalam terhadap produk-produk yang dikembangkan oleh bank syariah, dimana untuk menghindari sistem bunga maka sistem yang dikembangkan adalah jual beli serta kemitraan yang dilaksanakan dalam bentuk bagi hasil. Dengan demikian sebenarnya semua jenis transaksi perniagaan melalu bank syariah diperbolehkan asalkan tidak mengandung unsur bunga (riba). Riba secara sederhana berarti sistem bunga berbunga atau compound interest dalam semua prosesnya bisa mengakibatkan membengkaknya kewajiban salah satu pihak seperti efek bola salju pada cerita di awal artikel ini. Sangat menguntungkan saya tapi berakibat fatal untuk banknya. Riba, sangat berpotensi untuk mengakibatkan keuntungan besar disuatu pihak namun kerugian besar dipihak lain, atau malah ke dua-duanya.

    Konsep Pengelolaan Dana Nasabah

    Dalam sistem bank syariah dana nasabah dikelola dalam bentuk titipan maupun investasi. Cara titipan dan investasi jelas berbeda dengan deposito pada bank konvensional dimana deposito merupakan upaya mem- bungakan uang. Konsep dana titipan berarti kapan saja si nasabah membutuhkan, maka bank syariah harus dapat memenuhinya, akibatnya dana titipan menjadi sangat likuid. Likuiditas yang tinggi inilah membuat dana titipan kurang memenuhi syarat suatu investasi yang membutuhkan pengendapan dana. Karena pengendapan dananya tidak lama alias cuma titipan maka bank boleh saja tidak memberikan imbal hasil. Sedangkan jika dana nasabah tersebut diinvestasikan, maka karena konsep investasi adalah usaha yang menanggung risiko, artinya setiap kesempatan untuk memperoleh keuntungan dari usaha yang dilaksanakan, didalamnya terdapat pula risiko untuk menerima kerugian, maka antara nasabah dan banknya sama-sama saling berbagi baik keuntungan maupun risiko.

    Sesuai dengan fungsi bank sebagai intermediary yaitu lembaga keuangan penyalur dana nasabah penyimpan kepada nasabah peminjam, dana nasabah yang terkumpul dengan cara titipan atau investasi tadi kemudian, dimanfaatkan atau disalurkan ke dalam traksaksi perniagaan yang diperbolehkan pada sistem syariah. Hasil keuntungan dari pemanfaatan dana nasabah yang disalurkan ke dalam berbagai usaha itulah yang akan dibagikan kepada nasabah. Hasil usaha semakin tingi maka semakin besar pula keuntungan yang dibagikan bank kepada dan nasabahnya. Namun jika keuntungannya kecil otomatis semakin kecil pula keuntungan yang dibagikan bank kepada nasabahnya. Jadi konsep bagi hasil hanya bisa berjalan jika dana nasabah di bank di investasikan terlebih dahulu kedalam usaha, barulah keuntungan usahanya dibagikan. Berbeda dengan simpanan nasabah di bank konvensional, tidak peduli apakah simpanan tersebut di salurkan ke dalam usaha atau tidak, bank tetap wajib membayar bunganya.

    Dengan demikian sistem bagi hasil membuat besar kecilnya keuntungan yang diterima nasabah mengikuti besar kecilnya keuntungan bank syariah. Semakin besar keuntungan bank syariah semakin besar pula keuntungan nasabahnya. Berbeda dengan bank konvensional, keuntungan banknya tidak dibagikan kepada nasabahnya. Tidak peduli berapapun jumlah keuntungan bank konvesional, nasabah hanya dibayar sejumlah prosentase dari dana yang disimpannya saja.

    Kewajiban Mengelola Zakat

    Bank syariah diwajibkan menjadi pengelola zakat yaitu dalam arti wajib membayar zakat, menghimpun, mengadministrasikannya dan mendistribusikannya. Hal ini merupakan fungsi dan peran yang melekat pada bank syariah untuk memobilisasi dana-dana sosial (zakat. Infak, sedekah)

    Struktur Organisasi

    Di dalam struktur organisasi suatu bank syariah diharuskan adanya Dewan Pengawas Syariah (DPS). DPS bertugas mengawasi segala aktifitas bank agar selalu sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. DPS ini dibawahi oleh Dewan Syariah Nasional (DSN). Berdasarkan laporan dari DPS pada masing-masing lembaga keuangan syariah, DSN dapat memberikan teguran jika lembaga yang bersangkutan menyimpang. DSN juga dapat mengajukan rekomendasi kepada lembaga yang memiliki otoritas seperti Bank Indonesia dan Departemen Keuangan untuk memberikan sangsi.

    Bagaimana Kita Menyimpan Uang Di Bank Syariah

    Sebelumnya kita sudah sangat mengenal tabungan, giro dan deposito dari bank konvensional. Pada ke tiga produk bank ini maka setiap bulanya bank berjanji akan membayar sejumlah bunga. Di bank syariah juga mempunyai produk simpanan berupa tabungan, giro dan deposito hanya sebagai nasabah kita tidak menerima pembayaran bunga. Di bank syarah ada 2 cara yang bisa dipilih orang untuk menyimpan uangnya,yaitu :

    Titipan / Wadiah

    Menitip adalah memberikan kekuasaan kepada orang lain untuk menjaga hartanya/ barangnya. Dengan demikian cara titipan melibatkan adanya orang yang menitipkan (nasabah), pihak yang dititipi (bank syariah), barang yang dititipkan (dana nasabah). Menitipkan sebenarnya bukan usaha perniagaan yang lazim, kecuali penerima titipan menetapkan keharusan membayar biaya penitipan atau administrasi bagi penitip. Maka Titipan bisa memenuhi syarat perniagaan yang lazim. Artinya bank harus menjaga dan bertanggung jawab terhadap barang yang dititipkan karena sudah dibayar biaya administrasinya. Rekening giro di bank syariah dikelola dengan sistem titipan sehingga biasa dikenal dengan Giro Wadiah, karena pada dasarnya rekening giro adalah dana masyarakat di bank untuk tujuan pembayaran dan penarikannya dapat dilakukan setiap saat. Artinya giro hanyalah merupakan dana titipan nasabah, bukan dana yang diinvestasikan. Namun dana nasabah pada giro bisa dimanfaatkan oleh bank selama masih mengendap, tetapi kapanpun nasabah ingin menariknya bank wajib membayarnya. Sebagai imbalan dari titipan yang dimanfaatkan oleh bank syariah, nasabah dapat menerima imbal jasa berupa bonus. Namun bonus ini tidak diperjanjikan di depan melainkan tergantung dari kebijakan bank yang dikaitkan dengan pendapatn bank. Rekening tabungan harian yang memberlakukan ketentuan dapat ditarik setiap saat juga dikelola dengan cara titipan, karena sifatnya mirip dengan giro hanya berbeda mekanisme penarikannya.

    Investasi / Mudharabah

    adalah suatu bentuk perniagaan dimana pemilik modal (nasabah) menyetorkan modalnya kepada pengelola (bank) untuk diusahakan dengan keuntungan akan dibagi bersama sesuai dengan kesepakatan dari kedua belah pihak. Sedangkan kerugian, jika ada akan ditanggung oleh si pemilik modal. Dengan demikian cara investasi melibatkan pemilik modal (nasabah), pengelola modal (bank), modal (dana) harus jelas berapa jumlahnya, jangka waktu pengelolaan modal, jenis pekerjaan atau proyek yang di biayai, porsi bagi hasil keuntungan. Deposito di bank syariah dikelola dengan cara investasi atau mudarobah, sehingga biasa dikenal dengan Deposito Mudharabah. Bank Syariah tidak membayar bunga deposito kepada deposan tetapi membayar bagi hasil keuntungan yang ditetapkan dengan nisbah. Beberapa jenis tabungan berjangka juga dikelola dengan cara mudharobah misalnya tabungan pendidikan dan tabungan hari tua, tabungan haji, tabungan berjangka ini biasa dikenal istilah Tabungan Pendidikan Mudharabah, Tabungan Haji. Tabungan-tabungan tersebut tidak dapat ditarik oleh pemilik dana sebelum jatuh tempo sehingga memenuhi syarat untuk diinvestasikan

    Bagaimana Nasabah Mendapat Keuntungan

    Jika bank konvensional membayar bunga kepada nasabahnya, maka bank syariah membayar bagi hasil keuntungan sesuai dengan kesepakatan. Kesepakatan bagi hasil ini ditetapkan dengan suatu angka ratio bagi hasil atau nisbah. Nisbah antara bank dengan nasabahnya ditentukan di awal, misalnya ditentukan porsi masing-masing pihak 60:40, yang berarti atas hasil usaha yang diperolah akan didisitribusikan sebesar 60% bagi nasabah dan 40% bagi bank. Angka nisbah ini dengan mudah Anda dapatkan informasinya dengan bertanya ke customer service atau datang langsung dan melihat papan display ” Perhitugan dan Distribusi Bagi Hasil” yang ada di cabang bank syariah.

    Apakah Simpanan Nasabah di Bank Syariah Dijamin Pemerintah Dalam hal jaminan pemerintak terhadap dana pihak ke tiga di bank, maka bank syariah mempunyai kedudukan yang sama sama dengan bank konvensional. Dana nasabah di bank syariah tetap dijamin pemerintah sesuai dengan ketentuan jaminan pemerintah bagi dana nasabah di bank.

    Salam Mike Rini Perencana Keuangan

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 3 October 2016 Permalink | Balas  

    Pohon Tua 

    menanam-pohonPohon Tua

    Suatu ketika, di sebuah padang, tersebutlah sebatang pohon rindang. Dahannya rimbun dengan dedaunan. Batangnya tinggi menjulang.

    Akarnya, tampak menonjol keluar, menembus tanah hingga dalam. Pohon itu, tampak gagah di banding dengan pohon-pohon lain di sekitarnya.

    Pohon itupun, menjadi tempat hidup bagi beberapa burung disana. Mereka membuat sarang, dan bergantung hidup pada batang-batangnya. Burung-burung itu membuat lubang, dan mengerami telur-telur mereka dalam kebesaran pohon itu. Pohon itupun merasa senang, mendapatkan teman, saat mengisi hari-harinya yang panjang.

    Orang-orang pun bersyukur atas keberadaan pohon tersebut. Mereka kerap singgah, dan berteduh pada kerindangan pohon itu.

    Orang-orang itu sering duduk, dan membuka bekal makan, di bawah naungan dahan-dahan. “Pohon yang sangat berguna,” begitu ujar mereka setiap selesai berteduh. Lagi-lagi, sang pohon pun bangga mendengar perkataan tadi.

    Namun, waktu terus berjalan. Sang pohon pun mulai sakit-sakitan.

    Daun-daunnya rontok, ranting-rantingnya pun mulai berjatuhan. Tubuhnya, kini mulai kurus dan pucat. Tak ada lagi kegagahan yang dulu di milikinya.

    Burung-burung pun mulai enggan bersarang disana. Orang yang lewat, tak lagi mau mampir dan singgah untuk berteduh.

    Sang pohon pun bersedih. “Ya Tuhan, mengapa begitu berat ujian yang Kau berikan padaku? Aku butuh teman. Tak ada lagi yang mau mendekatiku. Mengapa Kau ambil semua kemuliaan yang pernah aku miliki?” begitu ratap sang pohon, hingga terdengar ke seluruh hutan. “Mengapa tak Kau tumbangkan saja tubuhku, agar aku tak perlu merasakan siksaan ini?” Sang pohon terus menangis, membasahi tubuhnya yang kering.

    Musim telah berganti, namun keadaan belumlah mau berubah. Sang pohon tetap kesepian dalam kesendiriannya. Batangnya tampak semakin kering. Ratap dan tangis terus terdengar setiap malam, mengisi malam-malam hening yang panjang. Hingga pada saat pagi menjelang.

    “Cittt…cericirit…cittt” Ah suara apa itu?

    Ternyata, ada seekor anak burung yang baru menetas. Sang pohon terhenyak dalam lamunannya.

    “Cittt…cericirit…cittt,” suara itu makin keras melengking. Ada lagi anak burung yang baru lahir. Lama kemudian, riuhlah pohon itu atas kelahiran burung-burung baru. Satu… dua… tiga… dan empat anak burung lahir ke dunia. “Ah, doaku di jawab-Nya,” begitu seru sang pohon.

    Keesokan harinya, beterbanganlah banyak burung ke arah pohon itu. Mereka, akan membuat sarang-sarang baru. Ternyata, batang kayu yang kering, mengundang burung dengan jenis tertentu tertarik untuk mau bersarang disana.

    Burung-burung itu merasa lebih hangat berada di dalam batang yang kering, ketimbang sebelumnya. Jumlahnya pun lebih banyak dan lebih beragam. “Ah, kini hariku makin cerah bersama burung-burung ini”, gumam sang pohon dengan berbinar.

    Sang pohon pun kembali bergembira. Dan ketika dilihatnya ke bawah, hatinya kembali membuncah. Ada sebatang tunas baru yang muncul di dekat akarnya.

    Sang Tunas tampak tersenyum. Ah, rupanya, airmata sang pohon tua itu, membuahkan bibit baru yang akan melanjutkan pengabdiannya pada alam.

    ***

    Teman, begitulah. Adakah hikmah yang dapat kita petik disana? Allah memang selalu punya rencana-rencana rahasia buat kita. Allah, dengan kuasa yang Maha Tinggi dan Maha Mulia, akan selalu memberikan jawaban-jawaban buat kita.

    Walaupun kadang penyelesaiannya tak selalu mudah di tebak, namun, yakinlah, Allah Maha Tahu yang terbaik buat kita.

    Saat dititipkan-Nya cobaan buat kita, maka di saat lain, diberikan-Nya kita karunia yang berlimpah. Ujian yang sandingkan-Nya, bukanlah harga mati.

    Bukanlah suatu hal yang tak dapat disiasati. Saat Allah memberikan cobaan pada sang Pohon, maka, sesungguhnya Allah, sedang MENUNDA memberikan kemuliaan-Nya. Allah tidak memilih untuk menumbangkannya, sebab, Dia menyimpan sejumlah rahasia. Allah, sedang menguji kesabaran yang dimiliki.

    Teman, yakinlah, apapun cobaan yang kita hadapi, adalah bagian dari rangkaian kemuliaan yang sedang dipersiapkan-Nya buat kita. Jangan putus asa, jangan lemah hati. Allah, selalu bersama orang-orang yang sabar.

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 2 October 2016 Permalink | Balas  

    Telaga hati 

    kayu tumbang di telaga warnaTelaga hati

    Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Pemuda itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Pemuda itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak mendengarkan dengan seksama. Beliau lalu mengambil segenggam garam dan segelas air. Dimasukkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduk perlahan.

    “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya,” ujar Pak tua itu.

    “Asin. Asin sekali,” jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.

    Pak Tua tersenyum kecil mendengar jawaban itu. Beliau lalu mengajak sang pemuda ke tepi telaga di dekat tempat tinggal Beliau.

    Sesampai di tepi telaga, Pak Tua menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, diaduknya air telaga itu.

    “Coba, ambil air dari telaga ini dan minumlah.”

    Saat pemuda itu selesai mereguk air itu, Beliau bertanya, “Bagaimana rasanya?”

    “Segar,” sahut sang pemuda.

    “Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?” tanya Beliau lagi.

    “Tidak,” jawab si anak muda.

    Dengan lembut Pak Tua menepuk-nepuk punggung si anak muda. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam tadi, tak lebih dan tak kurang. Jumlah garam yang kutaburkan sama, tetapi rasa air yang kau rasakan berbeda. Demikian pula kepahitan akan kegagalan yang kita rasakan dalam hidup ini, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki.

    Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan.

    Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

    Beliau melanjutkan nasehatnya.

    “Hatimu adalah wadah itu.

    Perasaanmu adalah tempat itu.

    Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya.

    Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 1 October 2016 Permalink | Balas  

    Kewajiban Mengeluarkan Zakat 

    zakatKewajiban Mengeluarkan Zakat

    (Disarikan oleh Ikhwan Abidin dari Kitab az-Zakat karangan Dr. Yusuf al-Qorodhowi)

    Para ulama telah sepakat bahwa zakat wajib dikeluarkan oleh seorang Muslim, yang merdeka, akil balig dan hartanya telah mencapai nisab.

    Dengan kata lain syarat-syarat orang yang mengeluarkan zakat antara lain :

    • Merdeka (bukan budak).
    • Akil dan Balig.
    • Harta yang dizakati itu sudah mencapai nisab.
    • Melewati masa setahun (haul)

    Mereka juga telah bersepakat bahwa zakat tidak diwajibkan kepada orang-orang non-Muslim, karena kewajiban ini merupakan cabang sekaligus rukun Islam sedangkan diri mereka berada di luar wilayah Islam, maka mereka tidak terkena beban kewajiban ini.

    Jika zakat tidak diwajibkan kepada orang-orang non-Muslim, maka ia juga tidak sah dilakukan oleh mereka sebagai suatu bentuk ibadah yang dapat mendatangkan pahala dari Allah karena hilangnya syarat yang pertama untuk diterima oleh Allah yaitu Islam.

    Allah berfirman  dalam al-Qur’an S. al-Furqon : 23

    “Dan Kami hadapi segala amal (kebajikan) yang telah mereka perbuat, lalu Kami jadikan amal-amal (kebajikan) itu (seperti) debu yang diterbangkan.” 

    Kenapa Zakat tidak diwajibkan kepada orang-orang non-Islam ?

    Untuk menjawab pertanyaan ini perlu kiranya memahami dua hakekat berikut ini.

    1-    Sesungguhnya zakat adalah kewajiban sosial dan suatu kewajiban pada harta  yang harus ditunaikan untuk diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Ia juga merupakan bentuk pajak yang diwajibkan oleh Allah kepada orang-orang yang mampu untuk diberikan kepada orang-orang miskin.

    2-    Hakekat zakat adalah salah satu bentuk ibadah dalam Islam dan salah satu dari lima rukun Islam. Keadaannya sama persis dengan kalimat syahadat, mendirikan sholat, berpuasa di bulan Romadhon dan haji ke Baitullah.

    Hakekat kedua ini didominasi oleh warna dan celupan agama yang sangat kental sehingga menjadikannya salah satu bentuk ritual Islam yang terbesar di mana tidak diperbolehkan melaksanakannya melainkan orang-orang yang sudah masuk Islam saja.

    Harta-harta yang Wajib Dizakati

    Al-Qur’an tidak menetapkan secara rinci harta-harta yang wajib dizakati, bagaimana syarat-syaratnya dan kadar zakatnya. Al-Qur’an hanya menyebutkannya secara global seperti emas, perak[1], tanaman dan buah-buahan[2], usaha[3], yang diambil dari bumi seperti tambang[4] dan lain-lain. Penjelasan secara rinci diberikan oleh as-Sunnah yang merupakan sumber tasyri’ kedua dalam ajaran Islam.

    Perlu kiranya ditegaskan di sini bahwa yang dimaksud dengan harta yang dikenai kewajiban zakat adalah harta konkrit atau substansi, bukan manfaat yang dimiliki oleh substansi itu.

    Syarat-syarat harta yang dizakati

    Jika  segala sesuatu yang dimiliki manusia dan mempunyai “nilai” disebut harta, maka apakah semua harta harus dizakati berapapun jumlahnya ? Sesungguhnya Islam datang dengan membawa keadilan dan kemudahan, karena itu kewajiban zakat tidak mungkin ditetapkan dengan mengenyampingkan prinsip keadilan dan kemudahan.  Harta yang wajib dizakati memiliki sejumlah syarat yang akan dijelaskan secara rinci di bawah ini.

    1. Kepemilikan yang sempurna.

    Sebenarnya harta itu adalah milik Allah, Dialah penciptanya dan Pemberinya[5] kepada sekalian manusia. Meskipun demikian Allah yang Maha Mulia menyandarkan kepemilikan harta kepada manusia sebagai penghormatan kepada hambaNya, keutamaan dari padaNya dan ujian terhadap mereka apakah mereka mau bersyukur atau kufur.[6]

    Maksud kepemilikan yang sempurna di sini adalah “kekuasaan atau legalitas yang dapat memberikan hak kepada yang memilikinya untuk menggunakan barang itu dan memanfaatkan semua kegunaan yang dapat diperoleh dari padanya secara terus menerus dan terbatas hanya kepadanya”.

    Dengan perkataan lain kesempurnaan kepemilikan mensyaratkan harta tersebut dimiliki  dan dikuasai oleh pemiliknya, tidak berkaitan dengan selain pemiliknya, dapat dipergunakan sekehendaknya dan segala manfaatnya dapat dinikmatinya.

    1. Tumbuh atau berkembang

    Harta yang dizakati harus dapat tumbuh dan berkembang atau berpotensi untuk tumbuh dan berkembang. Dalam bahasa ekonominya harta itu harus dapat menghasilkan keuntungan (profit), pendapatan (income) dan economic rent jika disewakan. Dengan mengacu kepada syarat ini maka harta yang sifatnya tidak dapat tumbuh atau berkembang dikecualikan dari kewajiban zakat seperti rumah dengan segala perabotnya, alat-alat kerajinan, kendaraan dan lain-lain.

    Mengingat bahwa illat (alasan) harta yang harus dizakati itu terletak pada kemampuannya untuk dapat tumbuh dan berkembang, maka semua harta yang memiliki sifat demikian terkena kewajiban zakat sekalipun tidak ditetapkan oleh Rasululah SAW tetapi tetap terkena keumuman ayat-ayat al-Qur’an.

    Sebagian fukoha terutama dhohiriyah berpendapat bahwa harta yang harus dizakati itu hanya yang telah ditetapkan secara rinci oleh Rasulullah SAW yaitu sapi, unta, kambing, gandum, sya’ir[7], kurma, anggur, emas dan perak. Di luar dari itu, menurut golongan ini,  tidak dikenakan kewajiban zakat.

    Sebagian fukoha lainnya terutama Hanafiyah meluaskan wilayah kewajiban zakat hingga meliputi semua harta yang tumbuh atau berkembang. Abu Hanifah mewajibkan zakat pada setiap yang dikeluarkan  oleh perut bumi yang maksud penanamannya untuk menghasilkan pendapatan dan bahkan ia tidak mensyaratkan nisab.[8]

    Alasan-alasan kewajiban zakat lebih dari delapan jenis barang seperti yang disebutkan oleh hadis-hadis.

    • Keumuman ayat al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi SAW bahwa dalam setiap harta terdapat kewajiban yang harus ditunaikan yaitu zakat tanpa merinci lebih lanjut jenis-jenis harta, lihat ad-Dzariyat : 19; at-Taubah : 103.
    • Setiap orang kaya perlu membersihkan dan mensucikan dirinya dari penyakit-penyakit bakhil, kikir dan egoisme dengan cara mengeluarkan sebagian hartanya berupa zakat. Orang kaya di sini tidak terbatas pada mereka yang memiliki kekayaan berupa unta, sapi, kambing, kurma, gandum, anggur, emas dan perak saja; tetapi siapa saja yang kaya, tanpa memandang jenis harta yang menyusun kekayaannya itu. Adalah tidak masuk akal bahwa mereka yang harus mensucikan jiwanya dari penyakit-penyakit kotor itu hanya terbatas pada mereka yang memiliki kekayaan dari delapan jenis kekayaan itu saja. Sementara yang memiliki kekayaan selain dari itu tidak diperlukan untuk mencsucikan dirinya.
    • Setiap harta perlu disucikan karena ada kemungkinan terkontaminasi oleh unsur-unsur syubhat atau haram sewaktu diusahakan atau diperoleh. Pensucian ini dilakukan lewat zakat sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar :

    “Sesungguhnya Allah mewajibkan zakat sebagai pencuci bagi harta”. Al-Hadis.

    Tidaklah masuk akal bahwa pensucian ini terbatas pada delapan jenis harta   yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW.

    • Pembagian harta zakat kepada delapan golongan tidak mungkin hanya menjadi kewajiban orang-orang kaya yang memiliki kekayaan dari delapan jenis harta tersebut. Sementara itu syariah membiarkan dan tidak mewajibkan kepada pemilik ribuan hektar perkebunan, pemilik pabrik besar, pemilik real estate, kaum profesional yang kadang-kadang dalam sehari penghasilan mereka lebih banyak dari pada petani setahun. Jika kewajiban mengeluarkan zakat hanya pada pemilik delapan jenis harta ini, lalu di manakah keadilan Islam ?
    • Benar bahwa tidak ada qiyas dalam ibadah, tetapi zakat itu tidak ibadah murni. Ia memiliki sifat muamalah dan ia adalah bagian dari sistem keuangan publik Islam. Karena itu qiyas yang benar dapat diterapkan pada zakat.
    • Harta yang dimiliki oleh kaum Muslimin memang harus dihormati tetapi dalam harta itu ada juga hak Allah dan hak sosial yaitu mereka yang membutuhkan seperti kaum fakir dan miskin. Hak ini secara tegas dinyatakan oleh Allah, karena itu tidak boleh diabaikan.
    1. Mencapai Nisab

    Islam tidak mewajibkan zakat pada harta benda dengan mengabaikan banyaknya atau jumlahnya, tetapi mensyaratkan harta itu mencapai ukuran tertentu yang disebut nisab untuk dapat dikenakan kewajiban mengeluarkan zakat. Jadi nisab adalah batasan minimal dari harta untuk dikenakan zakat atasnya. Misalnya unta 5 dan  kambing 40, perak 200 dirham dan hasil-hasil pertanian seperti biji-bijian dan buah-buahan 5 wasaq. Kalau jumlahnya di bawah itu, tidak dikenai kewajiban zakat.

    Hikmah nisab sebagai syarat mengeluarkan zakat adalah bahwa zakat merupakan suatu bentuk pajak yang diambil dari golongan kaya untuk diberikan kepada golongan miskin sebagai suatu bentuk pertolongan. Jika zakat diwajibkan kepada semua orang termasuk orang miskin – karena meniadakan persyaratan nisab – maka di sini  tidak ada arti pertolongan.

    Karena itulah Rasulullah SAW bersabda :

    “Tidak ada kewajiban zakat melainkan di atas nisab (keperluan)”

    1. Kelebihan di atas kebutuhan pokok (primer)

    Syarat ini sebenarnya ikutan dari syarat ketiga atau nisab. Ini bermakna bahwa jumlah harta yang mencapai nisab tersebut sudah di luar dari kebutuhan pokok orang yang akan mengeluarkan zakat.

    Dalam bahasa ekonomi harta yang dizakati itu telah dikurangi pengeluaran untuk konsumsi seperti makan, minum, pakaian, pengeluaran rutin untuk BBM, listrik, air, perabot rumah, nafkah untuk mereka yang tertanggung seperti anak, orang-orang tua, pembantu, buku dan sejenisnya.

    Persyaratan ini penting karena dengan begitu akan terwujud arti kaya dan kenikmatan  serta terealisasikan pelaksaanaan zakat dengan hati yang tulus dan rela.

    Dalil syarat ini antara lain diambil dari ayat al-Qur’an dan beberapa hadis Nabi.

    “Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad tentang) apa yang (harus) mereka infakkan (zakatkan). Katakanlah (yang wajib dizakatkan itu) adalah kelebihan (dari kebutuhan).Al-baqoroh : 219.

    “Tidak ada (kewajiban) berzakat kecuali bagi harta yang melebihi nisab”. H. R. Bukhori secara muallaq.

    1. Bebas dari beban utang.

    Harta yang sudah dikurangi kebutuhan pokok dan pengeluaran rutin masih perlu diperiksa lagi sebelum dizakati. Pemeriksaan atau perhitungan ini untuk memastikan apakah harta itu sudah bersih (netto) atau masih kotor (bruto). Dalam perhitungan zakat, utang masih menjadi item yang mesti dikurangkan dari harta bersih.

    Jika si pemilik yang akan mengeluarkan zakat itu masih memiliki beban utang yang jumlahnya sama dengan nisabnya atau mengurangi jumlah nisabnya, maka ia belum terkena kewajiban untuk mengeluarkan zakat. Ia lebih wajib untuk melunasi utang-utangnya dari pada mengeluarkan zakat.

    “Barang siapa yang memiliki beban utang hendaklah melunasi utangnya dan membayar zakat dari sisa hartanya”. H. R Malik dalam Muwattho’

    1. Berlalunya masa setahun (haul)

    Pengertian haul di sini adalah bahwa harta yang ada di tangan si pemilik harus melalui masa dua belas bulan qomariyah. Namun syarat ini hanya berlaku bagi zakat dari binatang ternak, uang dan barang-barang perniagaan atau dalam bahasa ekonominya barang-barang modal.

    Adapun zakat dari tanaman, buah-buahan, madu dan barang tambang, yang dalam bahasa ekonominya di sebut zakat pendapatan dan profesi (income atau profession) tidak ada persyaratan harus berlalu masa setahun.

    Ibnu Rusyd mengatakan dalam bukunya Bidayatul Mujtahid vol 2, hal. 261-262:”Jumhur fukoha mensyaratkan kewajiban zakat pada emas, perak dan ternak dengan haul karena hal demikian telah dipraktekkan oleh para kholifah yang empat, karena sudah tersiar di kalangan para sahabat dan dipraktekkan di kalangan mereka, dan karena keyakinan mereka bahwa praktek yang sudah tersebar dan tidak ada yang khilaf ini tidak mungkin terjadi melainkan memang telah ditetapkan oleh Nabi”.

    ***

    [1] Lihat, at-Taubah : 34.

    [2] Lihat al-An’am : 141.

    [3] Lihat, al-Baqoroh : 276.

    [4] Idem.

    [5] Allah mengingatkan hakekat ini agar manusia tidak tertipu oleh status kepemilikan yang mereka nikmati di dunia. Berbagai gaya bahasa dipakai oleh Allah dalam al-Qur’an untuk menegaskan bahwa pemilik segala harta benda itu sebenarnya Allah SWT lihat, misalnya, S. An-Nur : 33; al-Baqoroh : 254; Al Imron : 180. Status kepemilikan manusia terhadap harta hanyalah sebagai wakil atau orang yang diberi amanah, lihat al-Hadid : 7.

    [6] Banyak ayat al-Qur’an yang menyandarkan kepemilikan harta kepada manusia misalnya dalam S. al-Munafiqun : 9; at-Taghobun : 15; al-Humazah : 3 dan lain-lain. Bahkan karena sifat kelembutan dan kemuliaan Allah terhadap hambaNya sampai-sampai Ia menggunakan kata-kata “meminjam” dan “membeli” dari harta dan jiwa hambaNya padahal itu semua milikNya, lihat al-Baqoroh : 245; al-Hadid : 11; at-Taubah : 111 dan lain-lain.

    [7] Sejenis gandum.

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: