Updates from Juli, 2013 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:25 am on 31 July 2013 Permalink | Balas  

    Ketika Bumi Dipenuhi Malaikat (2) 

    Ketika Bumi Dipenuhi Malaikat (2)

    Lailatul Qadr pertama kali dijumpai Nabi ketika beliau menerima wahyu untuk pertama kalinya. Hal yang amat menarik adalah Nabi sebelum kedatangan jibril sedang menyendiri, bertafakur dan berkontemplasi. Nabi memikirkan keadaan lingkungan sekitarnya yang mempraktekkan adat jahiliyah. Nabi menyingkir dari suasana yang tak sehat itu sambil merenung dan menghela nafas sejenak dari hiruk pikuk kota Mekkah. Nabi menetap di gua hira’ untuk kemudian berkontemplasi guna mensucikan dirinya. Pada saat itulah turun malaikat Jibril alaihis salam.

    Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari kisah ini? Pertama, di tengah masyarakat yang tak lagi mengindahkan etika, moral dan hati nurani, kita harus menyingkir sejenak untuk memikirkan kondisi masyarakat tersebut. Kedua, di tengah masyarakat yang giat mengerjakan maksiyat, kita harus menghela nafas sejenak dan mencoba untuk mensucikan diri kita sendiri terlebih dahulu sebelum mensucikan masyarakat luas. Ketiga, di tengah “kesendirian” kita, kita berkontemplasi untuk mencari solusi terbaik dari persoalan yang dihadapi.

    Ketika Nabi menganjurkan kita untuk melakukan i’tikaf di sepuluh malam terakhir ramadhan, khususnya malam yang ganjil, saya menangkap bahwa sebenarnya kita dianjurkan untuk melakukan napak tilas proses pencerahan dan pensucian diri Nabi saat mendapati Lailatul Qadr.

    Seyogyanya, i’tikaf yang kita lakukan tidak hanya berisikan alunan ayat suci Al-Qur’an dan dzikir semata. Akan jauh lebih baik bila saat i’tikaf kita pun memikirkan kondisi masyarakat sekitar kita, persis seperti yang telah dilakukan Nabi ratusan tahun yang lalu di gua Hira’. Insya Allah, ketika saat malam yang mulia itu tiba kita sudah siap menyambut dan menjumpainya. Namun satu hal yang sangat penting untuk diingat bahwa setiap ibadah maupun gerak hidup kita seharusnya ditujukan untuk mencari keridhaan Allah semata Silahkan anda mencari Lailatul Qadr, namun jangan menjadi tujuan anda yang hakiki. Tujuan kita beri’tikaf dan beribadah di sepuluh malam terakhir nanti adalah untuk mencari keridhaan Allah.

    Kalau yang anda kejar semata-mata hanyalah Lailatul Qadr, jangan-jangan anda tak mendapatkannya sama sekali. Tetapi kalau keridhaan Allah yang kita cari, maka terserah kepada Allah untuk mewujudkan keridhaan-Nya itu pada kita; apakah itu berbentuk Lailatul Qadr atau bentuk yang lain. Bukankah shalat kita, hidup dan mati kita untuk Allah semata? Dan Sungguh Allah jauh lebih mulia daripada Lailatul Qadr!

    ***

    Nadirsyah Hosen

     
    • lusi puspita 7:47 am on 6 Agustus 2013 Permalink

      setuju bangett,,, yang kita cari adalah keridhoan-Nya ,, karena apabila alloh sudah ridho kpada kita,, ingsaaloh hidup kita akan tenang dan nyaman.. :)

  • erva kurniawan 1:00 am on 30 July 2013 Permalink | Balas  

    Puasa, Etos kerja Dan Solidaritas 

    Puasa, Etos kerja Dan Solidaritas

    Sekilas singkat tuturan Prof Dr Azyumardi Azra, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, menjelang Ramadhan, Jum’at 22 Desember 2006 dalam percakapan dengan Suara Karya, di ruang kerjanya, UIN Jakarta.

    **

    Makna Ramadhan bagi bangsa yang banyak dirundung bencana ini, bahwa Ramadhan menjanjikan rahmat (karunia), maghfirah (ampunan), dan itqun min al-nar (pembebasan dari api neraka), sesungguhnya adalah momentum ideal untuk menemukan solusi bagi berbagai persoalan umat dan bangsa. Aktivitas muraqabatullah (pendekatan diri kepada Allah), ketaatan, kasih sayang, solidaritas dan kepedulian sosial yang terakumulasi selama Ramadhan dan direalisasi di luar bulan ini, mudah-mudahan bisa menjadi salah satu “jalan keluar” bagi problematika negeri ini. Terkait dengan kenyataan-kenyataan pahit sekarang ini – bencana alam, kemiskinan yang terus bertambah dan ketimpangan sosial yang semakin menjadi-jadi.

    Ramadhan harusnya dipergunakan sebaik-baiknya untuk introspeksi dan muhasabah (mawas diri) agar bangsa ini tidak terus-menerus dirundung bermacam musibah.

    Jika dilihat dari masalah kemiskinan yang meraja-lela menunjukkan bahwa masih ada kontras atau disparitas antara tujuan atau hikmah puasa dengan realitas kehidupan sehari-hari. Padahal tujuan atau hikmah puasa itu antara lain adalah bukan hanya menahan hawa nafsu seperti makan, minum, dan seks, tapi juga untuk menunjukkan solidaritas kita terhadap mereka yang lapar.

    Banyak saudara kita yang tidak punya apa-apa. Jangankan rumah atau kendaraan, buat makan sehari-hari saja susah. Ini sangat kontras dengan hikmah puasa, terutama tentang solidaritas dan sikap santun kepada orang miskin.

    Umat Islam dari dulu sudah berpuasa. Tapi, solidaritas yang betul-betul membebaskan, mengangkat harkat dan kehidupan orang-orang miskin menjadi lebih layak, belum banyak terwujud, sampai hari ini. Walaupun, memang, di bulan puasa biasanya solidaritas meningkat dalam bentuk empati dengan cara sama-sama merasakan lapar.

    Persoalan kemiskinan sangat kompleks. Kita tidak bisa mengandalkan semangat keagamaan saja. Kita tidak bisa mengharapkan hanya dari peningkatan solidaritas terhadap orang miskin pada bulan puasa. Untuk menuntaskan masalah kemiskinan, perlu pendekatan komprehensif. Selain penyelesaian dengan pendekatan keagamaan juga diperlukan. Artinya, solidaritas umat Islam, mukmin dan mutakin harus ditingkatkan dengan memperbesar ZIS dan kontribusinya bagi umat yang miskin.

    Ramadhan tentu sangat relevan sebagai upaya menggairahkan kehidupan ekonomi. Karena selain menuntut peningkatan solidaritas terhadap sesama, etos sosial, etos kerja dan etos ekonomi kaum Muslim juga harus ditingkatkan. Selama ini ada kajian-kajian yang menyebutkan bahwa etos kerja kaum Muslim di Nusantara relatif lemah.

    Etos ekonomi dan sosial juga masih rendah. Kita melihat banyak yang lebih senang santai, mungkin karena lingkungan alam di negeri ini terlalu ramah. Sehingga banyak yang merasa tidak perlu kerja keras karena apa saja bisa tumbuh. Kata orang, tongkat kayu dan batu pun bisa jadi tanaman. Solusinya, ya etos kerja harus ditingkatkan.

    Bukan etos agama saja yang kuat namun jika faktor-faktor struktural tidak diatasi, tetap saja akan terjadi ketidakadilan ekonomi. Maka persoalan kemiskinan di Indonesia tidak akan pernah selesai. Agama mengajarkan, bekerjalah untuk dunia seolah-olah kau akan hidup abadi selamanya. Tapi pada saat yang sama, agama juga memerintahkan, beribadahlah untuk akhiratmu seolah-olah engkau akan mati esok hari. Dengan demikian, mestinya etos kerja dan agama dalam jiwa umat Islam harusnya kuat sekali.

    ***

    l.meilany

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 29 July 2013 Permalink | Balas  

    Ketika Bumi Dipenuhi Malaikat (1) 

    Ketika Bumi Dipenuhi Malaikat (1)

    Lailatul Qadr, betapa mulianya malam itu!

    Al-Qur’an menginformasikan bagaimana para Malaikat dan Jibril turun ke bumi atas izin Allah SWT.; bagaimana malam itu dilukiskan sebagai lebih mulia dari seribu bulan; bagaimana bumi penuh sesak dengan kehadiran para malaikat itu.

    Rasul menganjurkan kita untuk mencari malam itu, yang saking mulianya sehingga dirahasiakan kepastiannya oleh Allah. Rasul hanya memberi petunjuk untuk mencarinya di sepuluh malam terakhir Ramadhan, khususnya di malam-malam yang ganjil.

    Pertanyaannya, di sepuluh malam itu apa yang sebaiknya kita lakukan? Persiapan apa yang harus kita lakukan menunggu datangnya para tamu agung dari langit itu, sikap apa yang harus kita ambil ketika ternyata para tamu itu mampir ke rumah kita, dan, akhirnya, ibadah apa yang mesti kita lakukan di saat datangnya malam itu?

    Banyak riwayat yang menjelaskan hal itu, banyak pula saran dan kisah para ulama yang bisa kita jadikan patokan. Namun, saya menyarankan untuk melakukan dua hal.

    Pertama, banyak-banyaklah berdekah. Sungguh hanya di bumi inilah kita mendapati saudara kita yang kekurangan. Hanya di bumi orang-orang kaya memberikan makanan kepada kaum fukara wal masakin. Kedua, merintih dan menangislah kita untuk memohon ampunan Allah.

    Dua amalan itu merupakan amalan yang malaikat tak sanggup melakukannya. Bukankah di langit tak ada yang miskin, sehingga mustahil malaikat bisa bersedekah. Malaikat yang suci itu tentu saja tak pernah melakukan maksiyat, karenanya mereka adalah suci. Mereka tak pernah merintih dan menangisi dosa mereka. Kitalah yang mampu melakukannya.

    Dalam Tafsir al-Fakhr ar-Razi diceritakan bagaimana Allah berkata, “rintihan pendosa itu lebih aku sukai daripada gemuruh suara tasbih”. Malaikat mampu melakukan tasbih, namun gemuruh suara tasbih dari para malaikat kalah kualitasnya dibanding rintihan dan tangisan kita yang memohon ampun pada Allah SWT.

    Mari kita sambut Lailatul Qadr dengan dua amalan yang bahkan malaikat pun tak sanggup melakukannya. Bersedekah-lah…. kemudian menangis dan memohon ampunan ilahi. Siapa tahu, ada malaikat yang bersedia mampir ke rumah kita; dan malam itu menjadi milik kita, insya Allah!

    ***

    Nadirsyah Hosen

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 28 July 2013 Permalink | Balas  

    Manfaat Puasa Secara Medis 

    Manfaat Puasa Secara Medis

    Mencegah Dari Tumor

    Puasa juga berfungsi sebagai “dokter bedah” yang menghilangkan sel-sel yang rusak dan lemah di dalam tubuh. Maka, rasa lapar yang dirasakan orang yang sedang berpuasa akan bisa menggerakan organ-organ internal di dalam tubuh untuk menghancurkan atau memakan sel-sel yang rusah atau lemah tadi untuk menutupi rasa laparnya. Maka hal itu merupakan saat yang bagus bagi badan untuk mengganti sel-selnya dengan sel-sel baru sehingga bisa kembali berfungsi dan beraktivitas. Dengan hal itu juga bisa menghilangkan atau memakan organ-organ yang sakit dan memperbaharuinya. Dan puasa juga berfungsi menjaga badan dari berbagai penambahan zat-zat berbahaya, seperti kelebihan kalsium, kelebihan daging, dan lemak. Juga bisa mencegah terjadinya tumor ketika awal-awal pembentukannya.

    Menjaga Kadar Gula Dalam Darah

    Puasa saangat bagus dalam menurunkan kadar gula dalam darah hingga mencapai kadar seimbang. Berdasarkan hal ini, maka sesungguhnya puasa memberikan kepada kelenjar pankreas kesempatan yangbaik untuk istirahat. Maka, pankreas pun mengeluarkan insulin yang menetralkan gula menjadi zat tepung dan lemak dikumpulkan di dalam pankreas. Apabila makanan kelebihan kandungan insulin, maka pankreas akan mengalami tekanan dan melemah. Hal ini hingga akhirnya pankreas tidak bisa menjalankan fungsinya. Maka, kadar darah pun akan merambat naik dan terus meningkat hingga akhirnya muncul penyakit diabets. Dan sudah banyak dilakukan usaha pengobatan terhadap diabets ini di seluruh dunia dengan mengikuti “sistem puasa” selama lebih dari 10 jam dan kurang dari 20 jam. Setiap kelompok mendapatkan pengaruh sesuai dengan keadaannya. Kemudian, para penderita tersebut mengkonsumsi makanan ringan selama berurutan yang kurang dari 3 minggu. Dan metode semacam ini telah mencapai hasil yang menakjubkan dalam pengobatan diabets dan tanpa menggunakan satu obat-obatan kimiawi pun.

    Puasa Adalah Dokter Yang Paling Murah

    Sesungguhnya puasa, tanpa berlebih-lebihan, adalah “dokter” yang paling murah secara mutlak. Sebab puasa bisa menurunkan berat badan secara signifikan, dengan catatan ketika berbuka puasa memakan makanan dengan menu seimbang dan tidak mengkonsumsi makanan dan minuman langsung ketika berbuka. Rasullulah ketika memulai ifthar dari puasa adalah dengan memakan beberapa biji kurma dan bukan yang lain, atau seteguk air putih lalu shalat. Inilah petunjuk.

    Dan ini sebaik-baik petunjuk bagi orang yang berpuasa dari makanan dan minuman untuk waktu yang lama. Maka, gula ada dalam kurma dan orang akan merasa kenyang ketika memakan kurma, sebab ia sangat mudah dicerna dan dikirim ke dalam darah, dan pada saat yang sama ia memberikan energi atau kekuatan kepada badan.

    Adapun jika kita langsung makan daging setelah lapar karena puasa, sayuran, dan roti, maka tubuh memerlukan waktu yang lumayan lama untuk bisa mencerna dan menyerap sari makanannya dan baru kemudian kita merasa kenyang. Dan pada saat seperti ini, maka orang ketika awal-awal berbuka akan tetap merasa lapar. Dan akhirnya, orang yang berpuasa itu kurang bisa memperoleh manfaat langsung dari puasanya, yaitu memperoleh kesehatan, afiat, dan vitalitas, bahkan ia akan tetap kebanyakan lemak dan kegemukan. Dan ini tentu bukanlah tujuan Allah mensyariatkan bagi hamba-Nya untuk berpuasa.

    Allah berfirman:Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan atas petunjuk itu dan pembeda. Maka siapa yang menemui bulan Ramadhan ini maka berpuasalah. Dan siapa yang sakit atau dalam perjalanan maka dia mengganti puasa tersebut pada bulan-bulan lain. Allah menginginkan untuk kalian kemudahan dan tidak menginginkan bagi kalian kesulitan (Q.S. Al-Baqarah: 175).

    Penyakit-Penyakit Kulit

    Sungguh puasa memberikan manfaat untuk mengobati berbagai penyakit kulit. hal ini disebabkan karena dengan puasa maka kandungan air dalam darah berkurang, maka berkurang juga kandungan air yang ada di kulit. Hal ini pada gilirannya akan berpengaruh pada:

    1. Menambah kekuatan kulit dalam melawan mikroba dan penyakit-penyakit mikroba dalam perut.

    2. Meminimalisir kemungkinan penyakit-penyakit kulit yang menyebar di sekujur badan seperti sakit psoriasis (sakit kulit kronis).

    3. Meminimalisir alergi kulit dan membatasi masalah kulit berlemak.

    Ny. Ilham Husain, seorang puteri Mesir menuturkan:

    Ketika aku berusia 10 tahun, aku menderita sakit kulit yang kronis. Penyakit ini muncul dengan warna merah, dan aku tidak menemui satu jenis obat pun. Dan setelah dokter-dokter spesialis kulit terkenal di Mesir berkata kepada Ayahku, “Kalian harus membiasakan ini dan kalian hidup dengan penyakit ini. Penyakit iniadalah tamu yang memberatkan lagi memakan waktu lama”.

    Dan ketika usiaku mencapai akhir 20 tahun, dan dekat dengan waktu pernikahanku, aku semakin berduka dan mengucilkan diri dari masyarakat, aku benar-benar sumpeg (sempit dada). Dan akhirnya, salah seorang sahabat ayahku yang selalu membiasakan diri melakukan puasa memberi nasihat kepadaku, “Cobalah wahai puteriku, engkau berpuasa sehari kemudian engkau berbuka (makan) sehari, sebab hal itulah yang juga menjadi sebab kesembuhan suamiku dari penyakit yang sampai sekarang tidak diketahui obatnya oleh dokter. Akan tetapi, lakukanlah bahwa pemberi obat adalah Allah dan sesungguhnya sebab terjadinya obat seluruhnya ada di tangan-Nya. Maka, mohonlah kesembuhan terlebih dahulu kepada-Nya dari penyakit yang engkau derita ini, lalu berpuasalah”.

    Maka, aku pun melakukan puasa, dan aku mulai meneliti hal-hal yang mengeluarkan aku dari jahim yang menyelimutiku. Dan aku membiasakan diri ketika berbuka puasa mengkonsumsi berbagai sayuran dan buah-buahan, kemudian setelah 3 jam aku baru makan makanan berat. Dan aku makan (tidak puasa) pada hari ke dua, lalu berpuasa para hari ke tiga, dan demikian seterusnya. Dan mulai terjadi hal yang

    mengherankan semua orang, yaitu sakit yang aku derita itu mulai sembuh setelah melewati waktu 2 bulan sejak aku berpuasa. Aku sampai tidak percaya pada diriku, dan aku memulai seperti biasa, dan aku melihat bekas sakitku itu sedikit-demi sedikit mulai hilang dan sampai akhirnya benar-benar sembuh. Akhirnya, aku pun tidak pernah tertimpa penyakit kulit tersebut sampai akhir hayatku.”

    Puasa Mencegah “Penyakit Orang Kaya”

    Penyakit ini sering juga disebut dengan nama “penyakit nacreous” yaitu yang disebabkan karena kelebihan makanan dan sering makan daging. Dan akhirnya tubuh tidak bisa mengurai berbagai protein yang ada dalam daging. Dimana darinya akan menyebabkan tumpukan kelebihan urine dalam persendian, khususnya pada persendian jari-jari besar di kaki. Dan ketika persendian terkena penyakit nacreous, maka ia akan membengkak dan memerah dan disertai nyeri yang sangat. Dan terkadang kadar garam pada air kencing berlebih dalam darah, kemudian ia mengendap di ginjal dan akhirnya mengkristal di dalam ginjal. Dan mengurangi porsi makan merupakan sebab utama bagi kesembuhan dari penyakit yang sangat berbahaya ini.

    Pembekuan Jantung dan Otak

    Para profesor yang melakukan penelitian medikal ilmiah ini –mayoritasnya adalah non-muslim– menegaskan akan kebenaran puasa, sebab puasa bisa menjadi sebab berkurangnya minyak dalam tubuh dan pada gilirannya akan menyebabkan berkurangnya kolesterol. Taukah anda apa “mal-kolesterol” itu? Mal-Kolesterol adalah zat yang tertimbun pada oleh karena itu tidaklah berlebihan jika kita mau mendengarkan kepada firman Allah Ta`ala yang berbunyi :

    “Dan adaikan kalian mau berpuasa tentu itu lebih bagus bagi kalian jika kalian mengetahui.” Maka berapa ribu manusia yang diliputi kebiasaan makan dan minum secara terus menerus tanpa ilmu ataupun bukan karena keinginan. Dan andai mereka mengikuti metode Allah dan sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang tidak berlebihan dalam hal makan dan minum, puasa tiga kali tiap bulan, tentu mereka akan mengetahui bahwa berbagai penyakit yang mereka alami akan berakhir serta akan turun berat badan mereka beberapa puluh kilogram.

    Sakit Persendian Tulang

    Sakit persendian adalah penyakit yang timbul karena berlalunya waktu yang panjang. Dengan hal itu maka organ-oragan tubuh mulai terasa nyeri dan sakit-sakitpun akan menyertai, dan kedua tangan dan kaki akan mengalami nyeri yang banyak. Penyakit ini terkadang menimpa manusia pada fase-fase akhir usianya, akan tetapi lebih khusus lagi pada usia antara 30 s/d 50 tahun. Dan masalah yang sesungguhnya adalah kedokteran modern belum mampu menemukan obat atas penyakit ini sampai sekarang.

    Akan tetapi percobaan ilmiah yang dilakukan di Rusia menegaskan bahwasannya puasa bisa menjadi sebab kesembuhan penyakit ini. Dan puasa bisa mengembalikan atau membersihkan tubuh dari hal-hal yang membahayakan. Puasa ini dilakukan selama tiga minggu berturut-turut. pada kondisi ini maka mikroba ataupun bakteri penyebab penyakit ini menjadi zat yang dibersihkan pada badan selama puasa. Percobaan ini dilakukan terhadap jumlah penderita penyakit tersebut dan ternyata memperoleh hasil yang menakjubkan.

    Berkata Sulaiman Rogerz dari New York berkata, “Aku pernah mengalami penyakit dis-fungsi persendian tulang yang sangat kronis selama tiga tahun yang lalu, padahal penyakit ini tidak terlalu berat waktu itu kecuali aku tidak bisa berjalan jauh, dan tidak mampu duduk lebih dari setengah jam. Aku sudah mencari obat dari berbagai jenis akan tetapi semuanya gagal kemudian qodarullah aku berkenal dengan seorang kawan namanya Zanji Irfani disebuah jalan yang menuju masjid dan ia mengajak aku masuk Islam, dan kami waktu itu sedang di bulan Ramadhan, dan aku sangat terheran-heran dengan metode puasa itu sendiri, akan tetapi aku terus mengikuti aturan Islam ini karena aku merasa aturan itu lebih menyejukan hati dimana atarun-aturan itu bisa mencegah munculnya zat-zat yang berbahaya dan menyeimbangkan hal-hal yang tidak stabil di dalam tubuh. Dua hal inilah masalah yang paling susah yang aku alami di New York. Dan sungguh aku mencoba untuk berpuasa sehari sebelum masuk Islam, aku hanya makan sayur-sayuran, buah-buahan dan kurma saja ketika berbuka pusa. Dan aku tidak makan apapun setelah itu kecuali ketika sahur, dan kini aku bisa berjalan panjang dan Alhamdulillah aku bisa berjalan cepat. Dan akhirnyapun hilang semua nyeri yang selama ini aku alami. Puasa ini merupakan satu-satunya cara yang aku temui yang bisa mengobati penyakitku ini.

    Maka akupun mengucapkan syukur pada Allah atas limpahan nikmat-Nya padaku untuk masuk Islam setelah aku benar-benar mantap dengan-Nya.

    Diakhirnya, Sulaiman berkata sesungguhnya puasa memiliki keutamaan besar sekali bagiku, andai engkau melihat bagaimana aku menyambut bulan Ramadhan setiap tahun, tentu engkau akan mengatakan, “Ah, layaknya seperti anak kecil saja tidak seperti orang yang berusia 40 atau 50 tahun”.

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 27 July 2013 Permalink | Balas  

    Aku Cermin, Engkaulah “Mentari” 

    Aku Cermin, Engkaulah “Mentari”

    Suhrowardi, sufi yang dikenal sebagai Syaikh al-Isyraq dan mati terbunuh oleh penguasa zalim, pernah membuat perumpamaan tentang cermin dan matahari.

    Ketika cermin dihadapkan kepada matahari maka sinar matahari akan diserap oleh cermin itu dan dipantulkannya kembali. Andaikan cermin mampu melihat ke dalam dirinya, ia akan terkejut dan mengira bahwa dirinya-lah matahari itu karena betapa kuatnya cahaya mentari tersebut.

    Manusia dalam cerita Suhrowardi di atas digambarkan sebagai cermin sedangkan Allah diumpamakan sebagai matahari. Ketika manusia mampu mensucikan dirinya dan membersihkannya sedemikian rupa, maka ia layak diserupakan dengan cermin

    Ketika ia menjumpai “tanda-tanda kekuasaan ilahi”, ia menerima cahaya ilahi yang dipancarkan sedemikian kuatnya ke dalam dirinya. Ia serap cahaya ilahi itu lalu ia pantulkan kembali.

    Manakala kita mampu menyerap dan memantulkan kembali cahaya ilahi itu, hidup kita akan terus diterangi oleh cahaya ilahi. Orang yang sudah mencapai tahap itu akan menebarkan berkah pada setiap sudut yang menerima pantulan cahaya ilahi dari “cermin”-nya. Ia mampu sebarkan rahmat disekelilingnya.

    Nabi Muhammad adalah contoh terbaik dari perumpamaan di atas. Cahaya ilahi yang diserap Nabi Muhammad SAW dipantulkannya ke seluruh alam semesta. Oleh karena itu, kehadiran Nabi Muhammad mampu menebarkan rahmat ke seluruh alam semesta (rahmatan lil ‘alamin).

    Perhatikan orang disekeliling kita. Bukankah ada orang yang bila kita pandang wajahnya, keteduhan dan kedamaianlah yang kita peroleh. Ketika kita mendegar suaranya, kita bagaikan mendengar “nyanyian dari surga”; indah dan menyejukkan. Ketika ia memandang kita, sorot matanya mampu memecahkan kegalauan di hati kita.Ketika ia tersenyum seakan dunia ini begitu indah untuk didiami. Pendek kata, kehadiran orang tersebut telah membawa berkah untuk lingkungan sekitarnya.

    Sebaliknya, pernahkah kita menjumpai seseorang yang meskipun tampan ataupun cantik, namun mata enggan berlama-lama menatapnya. Ketika ia bicara, meskipun dengan retorika yang luar biasa memikatnya, kita bisa merasakan bahwa ia sebenarnya sedang membual. Ketika ia tersenyum, kita melihat ada seberkas kepalsuan dibalik senyum itu. Setiap ia datang di suatu tempat, ia sebarkan kerusakan dan kekacauan. Ia masuk organisasi, tak lama kemudian organisasi itu mengalami konflik. Ia bertamu ke satu rumah, tak lama setelah ia pergi, rumah tangga itu menjadi berantakan. Ia menjadi pengurus masjid, namun alih-alih masjid menjadi tempat beribadah, berkat kehadirannya, masjid menjadi tempat bergossip ria. Pendek kata, kemana ia melangkah, berkah dan rahmat menjauh darinya.

    Orang pertama adalah mereka yang mampu membersihkan cermin hatinya sehingga mampu menyerap cahaya ilahi. Sebaliknya, orang yang kedua tak pernah mensucikan cermin hatinya. Cerminnya kusam dan gelap; tertutup oleh debu dan kotoran. Walaupun ia menjumpai banyak tanda-tanda kekuasaan Allah di bumi ini, cermin hatinya tetap tak mampu menyerap cahaya ilahi apalagi memantulkannya.

    Bulan Ramadhan merupakan salah satu media bagi kita untuk mensucikan cermin hati kita. Pada bulan yang suci ini mari kita bersihkan debu dan kotoran serta penyakit yang menutupi cermin hati kita. Selain banyak membaca Qur’an, shalat malam dan bersedekah, apalagi yang harus kita lakukan untuk membasuh dan membersihkan cermin kita?

    Abu Sa’id Abu al-Khair, sufi besar abad 10 dan 11 dari Maihana, menasehati muridnya: “Selama egomu menyertaimu, engkau tak akan mengenal Allah, sebab, ego tidak menyukai manusia sempurna (insan al-kamil)”

    Ego itulah yang harus kita tundukkan agar kita mampu menyerap cahaya ilahi. Bukankah demi menundukkan ego kita mampu tidak makan dan minum di siang hari.

    Bukankah ketika kita tak datangi isteri kita di siang hari itu juga demi menundukkan hawa nafsu kita. Bukankah demi menundukkan ke-aku-an kita mampu untuk menjaga lidah dan tangan kita dari perbuatan tercela selama satu bulan penuh.

    Nanti di penghujung Ramadhan, setelah kita tundukkan ego kita, cermin kita akan mampu menyerap cahaya ilahi dan memantulkannya ke seluruh penjuru. Dan seperti kisah Suhrowardi di atas, andaikan kita mampu melihat ke dalam diri kita, kita akan terkejut mendapati kuatnya cahaya ilahi itu, insya Allah!

    ***

    Nadirsyah Hosen

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 26 July 2013 Permalink | Balas  

    Menghidupkan Malam Ramadhan 

    Menghidupkan Malam Ramadhan

    Bulan Ramadhan ini boleh dikatakan bulan ibadah. Bulan di mana kita untuk tempat menimba pahala atau berbuat amal kebajikan sebanyak-banyaknya. Di siang harinya kita berpuasa, pada waktu malamnya kita berjaga-jaga. Maksudnya menghidupkan malam bulan Ramadhan dengan berbagai macam kegiatan keagamaan. Di antara lain dengan membaca Al-Qur’an atau bertadarus. Dengan memperbanyak zikir kepada Allah. Mengingat dan mengagungkan kebesaran-Nya. Di samping itu ber’itikaf di Masjid, sambil merenungi hidup ini. Mengkaji makna dan hakekatnya, berikut ceramah-ceramah agama atau kegiatan da’wah lainnya.

    Dan yang tidak kalah pentingnya untuk kita lakukan pada malam bulan Ramadhan itu, ialah mendirikan sholat Taraweh. Yaitu sholat yang tidak ada di bulan lain kecuali pada bulan Ramadhan. Memang ada sholat di malam selain di bulan Ramadhan, tapi bukan namanya sholat Taraweh atau Qiyamur Ramadhan. Sholat sunah pada malam hari di luar bulan Ramadhan itu namanya “Sholatul lail”, yang juga disebut dengan “Sholat Tahajud”

    Sholat Taraweh

    Di riwayatkan oleh Bukhari dari Ibnu Urwah, bahwa A’isyah ra. Mengkhabarkan kepadanya, bahwa Rasulullah ke Masjid di tengah-tengah malam Ramadhan. Lalu mendirikan sholat jama’ah bersama-sama para sahabat, sehingga pagi harinya para sahabat mengkhabarkan pula kepada yang lain.

    Pada malam kedua orang lebih banyak berkumpul di Masjid, lalu sholat bersama nabi. Kembali keesokan harinya hal itu diceritakan kepada orang-orang yang belum mengikutinya, sehingga pada malam ketiga orang berkumpul lebih banyak lagi. Dan mereka sholat bersama nabi. Pada malam berikutnya nabi tidak pergi lagi ke Masjid. Pada saat fajar barulah nabi berangkat ke Masjid untuk sholat Subuh. Seusai sholat Subuh Rasulullah bersabda: “Adapun kemudian itu, maka sesungguhnya tidaklah tersembunyi bagiku keadaanmu semalam. Akan tetapi aku takut difardukan sholat malam itu atas dirimu. Lalu kamu tidak sanggup melaksanakannya.”

    Berdasarkan keterangan di atas jelas bagi kita bahwa yang namanya sholat Taraweh itu bukanlah wajib, akan tetapi sunat. Namun demikian sunatnya itu bukan sunat biasa, tapi sunat muakadah. Yaitu sunat yang kalau ditinggalkan atau tidak dikerjakan tidaklah berdosa, tapi bila dilaksanakan akan mendapat pahala sama dengan pahala wajib. Demikian menurut sebagian ulama.

    ***

    Narasumber: buku “Puasa bukan sekedar kewajiban”

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 25 July 2013 Permalink | Balas  

    Manfaat Puasa Secara Medis 

    Manfaat Puasa Secara Medis

    Mencegah Dari Tumor

    Puasa juga berfungsi sebagai “dokter bedah” yang menghilangkan sel-sel yang rusak dan lemah di dalam tubuh. Maka, rasa lapar yang dirasakan orang yang sedang berpuasa akan bisa menggerakan organ-organ internal di dalam tubuh untuk menghancurkan atau memakan sel-sel yang rusah atau lemah tadi untuk menutupi rasa laparnya. Maka hal itu merupakan saat yang bagus bagi badan untuk mengganti sel-selnya dengan sel-sel baru sehingga bisa kembali berfungsi dan beraktivitas. Dengan hal itu juga bisa menghilangkan atau memakan organ-organ yang sakit dan memperbaharuinya. Dan puasa juga berfungsi menjaga badan dari berbagai penambahan zat-zat berbahaya, seperti kelebihan kalsium, kelebihan daging, dan lemak. Juga bisa mencegah terjadinya tumor ketika awal-awal pembentukannya.

    Menjaga Kadar Gula Dalam Darah

    Puasa saangat bagus dalam menurunkan kadar gula dalam darah hingga mencapai kadar seimbang. Berdasarkan hal ini, maka sesungguhnya puasa memberikan kepada kelenjar pankreas kesempatan yangbaik untuk istirahat. Maka, pankreas pun mengeluarkan insulin yang menetralkan gula menjadi zat tepung dan lemak dikumpulkan di dalam pankreas. Apabila makanan kelebihan kandungan insulin, maka pankreas akan mengalami tekanan dan melemah. Hal ini hingga akhirnya pankreas tidak bisa menjalankan fungsinya. Maka, kadar darah pun akan merambat naik dan terus meningkat hingga akhirnya muncul penyakit diabets. Dan sudah banyak dilakukan usaha pengobatan terhadap diabets ini di seluruh dunia dengan mengikuti “sistem puasa” selama lebih dari 10 jam dan kurang dari 20 jam. Setiap kelompok mendapatkan pengaruh sesuai dengan keadaannya. Kemudian, para penderita tersebut mengkonsumsi makanan ringan selama berurutan yang kurang dari 3 minggu. Dan metode semacam ini telah mencapai hasil yang menakjubkan dalam pengobatan diabets dan tanpa menggunakan satu obat-obatan kimiawi pun.

    Puasa Adalah Dokter Yang Paling Murah

    Sesungguhnya puasa, tanpa berlebih-lebihan, adalah “dokter” yang paling murah secara mutlak. Sebab puasa bisa menurunkan berat badan secara signifikan, dengan catatan ketika berbuka puasa memakan makanan dengan menu seimbang dan tidak mengkonsumsi makanan dan minuman langsung ketika berbuka. Rasullulah ketika memulai ifthar dari puasa adalah dengan memakan beberapa biji kurma dan bukan yang lain, atau seteguk air putih lalu shalat. Inilah petunjuk.

    Dan ini sebaik-baik petunjuk bagi orang yang berpuasa dari makanan dan minuman untuk waktu yang lama. Maka, gula ada dalam kurma dan orang akan merasa kenyang ketika memakan kurma, sebab ia sangat mudah dicerna dan dikirim ke dalam darah, dan pada saat yang sama ia memberikan energi atau kekuatan kepada badan.

    Adapun jika kita langsung makan daging setelah lapar karena puasa, sayuran, dan roti, maka tubuh memerlukan waktu yang lumayan lama untuk bisa mencerna dan menyerap sari makanannya dan baru kemudian kita merasa kenyang. Dan pada saat seperti ini, maka orang ketika awal-awal berbuka akan tetap merasa lapar. Dan akhirnya, orang yang berpuasa itu kurang bisa memperoleh manfaat langsung dari puasanya, yaitu memperoleh kesehatan, afiat, dan vitalitas, bahkan ia akan tetap kebanyakan lemak dan kegemukan. Dan ini tentu bukanlah tujuan Allah mensyariatkan bagi hamba-Nya untuk berpuasa.

    Allah berfirman:Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan atas petunjuk itu dan pembeda. Maka siapa yang menemui bulan Ramadhan ini maka berpuasalah. Dan siapa yang sakit atau dalam perjalanan maka dia mengganti puasa tersebut pada bulan-bulan lain. Allah menginginkan untuk kalian kemudahan dan tidak menginginkan bagi kalian kesulitan (Q.S. Al-Baqarah: 175).

    Penyakit-Penyakit Kulit

    Sungguh puasa memberikan manfaat untuk mengobati berbagai penyakit kulit. hal ini disebabkan karena dengan puasa maka kandungan air dalam darah berkurang, maka berkurang juga kandungan air yang ada di kulit. Hal ini pada gilirannya akan berpengaruh pada:

    1. Menambah kekuatan kulit dalam melawan mikroba dan penyakit-penyakit mikroba dalam perut.
    2. Meminimalisir kemungkinan penyakit-penyakit kulit yang menyebar di sekujur badan seperti sakit psoriasis (sakit kulit kronis).
    3. Meminimalisir alergi kulit dan membatasi masalah kulit berlemak.

    Ny. Ilham Husain, seorang puteri Mesir menuturkan:

    Ketika aku berusia 10 tahun, aku menderita sakit kulit yang kronis. Penyakit ini muncul dengan warna merah, dan aku tidak menemui satu jenis obat pun. Dan setelah dokter-dokter spesialis kulit terkenal di Mesir berkata kepada Ayahku, “Kalian harus membiasakan ini dan kalian hidup dengan penyakit ini. Penyakit iniadalah tamu yang memberatkan lagi memakan waktu lama”.

    Dan ketika usiaku mencapai akhir 20 tahun, dan dekat dengan waktu pernikahanku, aku semakin berduka dan mengucilkan diri dari masyarakat, aku benar-benar sumpeg (sempit dada). Dan akhirnya, salah seorang sahabat ayahku yang selalu membiasakan diri melakukan puasa memberi nasihat kepadaku, “Cobalah wahai puteriku, engkau berpuasa sehari kemudian engkau berbuka (makan) sehari, sebab hal itulah yang juga menjadi sebab kesembuhan suamiku dari penyakit yang sampai sekarang tidak diketahui obatnya oleh dokter. Akan tetapi, lakukanlah bahwa pemberi obat adalah Allah dan sesungguhnya sebab terjadinya obat seluruhnya ada di tangan-Nya. Maka, mohonlah kesembuhan terlebih dahulu kepada-Nya dari penyakit yang engkau derita ini, lalu berpuasalah”.

    Maka, aku pun melakukan puasa, dan aku mulai meneliti hal-hal yang mengeluarkan aku dari jahim yang menyelimutiku. Dan aku membiasakan diri ketika berbuka puasa mengkonsumsi berbagai sayuran dan buah-buahan, kemudian setelah 3 jam aku baru makan makanan berat. Dan aku makan (tidak puasa) pada hari ke dua, lalu berpuasa para hari ke tiga, dan demikian seterusnya. Dan mulai terjadi hal yang mengherankan semua orang, yaitu sakit yang aku derita itu mulai sembuh setelah melewati waktu 2 bulan sejak aku berpuasa. Aku sampai tidak percaya pada diriku, dan aku memulai seperti biasa, dan aku melihat bekas sakitku itu sedikit-demi sedikit mulai hilang dan sampai akhirnya benar-benar sembuh. Akhirnya, aku pun tidak pernah tertimpa penyakit kulit tersebut sampai akhir hayatku.”

    Puasa Mencegah “Penyakit Orang Kaya”

    Penyakit ini sering juga disebut dengan nama “penyakit nacreous” yaitu yang disebabkan karena kelebihan makanan dan sering makan daging. Dan akhirnya tubuh tidak bisa mengurai berbagai protein yang ada dalam daging. Dimana darinya akan menyebabkan tumpukan kelebihan urine dalam persendian, khususnya pada persendian jari-jari besar di kaki. Dan ketika persendian terkena penyakit nacreous, maka ia akan membengkak dan memerah dan disertai nyeri yang sangat. Dan terkadang kadar garam pada air kencing berlebih dalam darah, kemudian ia mengendap di ginjal dan akhirnya mengkristal di dalam ginjal. Dan mengurangi porsi makan merupakan sebab utama bagi kesembuhan dari penyakit yang sangat berbahaya ini.

    Pembekuan Jantung dan Otak

    Para profesor yang melakukan penelitian medikal ilmiah ini –mayoritasnya adalah non-muslim– menegaskan akan kebenaran puasa, sebab puasa bisa menjadi sebab berkurangnya minyak dalam tubuh dan pada gilirannya akan menyebabkan berkurangnya kolesterol. Taukah anda apa “mal-kolesterol” itu? Mal-Kolesterol adalah zat yang tertimbun pada oleh karena itu tidaklah berlebihan jika kita mau mendengarkan kepada firman Allah Ta`ala yang berbunyi :

    “Dan adaikan kalian mau berpuasa tentu itu lebih bagus bagi kalian jika kalian mengetahui.”

    Maka berapa ribu manusia yang diliputi kebiasaan makan dan minum secara terus menerus tanpa ilmu ataupun bukan karena keinginan. Dan andai mereka mengikuti metode Allah dan sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang tidak berlebihan dalam hal makan dan minum, puasa tiga kali tiap bulan, tentu mereka akan mengetahui bahwa berbagai penyakit yang mereka alami akan berakhir serta akan turun berat badan mereka beberapa puluh kilogram.

    Sakit Persendian Tulang

    Sakit persendian adalah penyakit yang timbul karena berlalunya waktu yang panjang. Dengan hal itu maka organ-oragan tubuh mulai terasa nyeri dan sakit-sakitpun akan menyertai, dan kedua tangan dan kaki akan mengalami nyeri yang banyak. Penyakit ini terkadang menimpa manusia pada fase-fase akhir usianya, akan tetapi lebih khusus lagi pada usia antara 30 s/d 50 tahun. Dan masalah yang sesungguhnya adalah kedokteran modern belum mampu menemukan obat atas penyakit ini sampai sekarang.

    Akan tetapi percobaan ilmiah yang dilakukan di Rusia menegaskan bahwasannya puasa bisa menjadi sebab kesembuhan penyakit ini. Dan puasa bisa mengembalikan atau membersihkan tubuh dari hal-hal yang membahayakan. Puasa ini dilakukan selama tiga minggu berturut-turut. pada kondisi ini maka mikroba ataupun bakteri penyebab penyakit ini menjadi zat yang dibersihkan pada badan selama puasa. Percobaan ini dilakukan terhadap jumlah penderita penyakit tersebut dan ternyata memperoleh hasil yang menakjubkan.

    Berkata Sulaiman Rogerz dari New York berkata, “Aku pernah mengalami penyakit dis-fungsi persendian tulang yang sangat kronis selama tiga tahun yang lalu, padahal penyakit ini tidak terlalu berat waktu itu kecuali aku tidak bisa berjalan jauh, dan tidak mampu duduk lebih dari setengah jam. Aku sudah mencari obat dari berbagai jenis akan tetapi semuanya gagal kemudian qodarullah aku berkenal dengan seorang kawan namanya Zanji Irfani disebuah jalan yang menuju masjid dan ia mengajak aku masuk Islam, dan kami waktu itu sedang di bulan Ramadhan, dan aku sangat terheran-heran dengan metode puasa itu sendiri, akan tetapi aku terus mengikuti aturan Islam ini karena aku merasa aturan itu lebih menyejukan hati dimana atarun-aturan itu bisa mencegah munculnya zat-zat yang berbahaya dan menyeimbangkan hal-hal yang tidak stabil di dalam tubuh. Dua hal inilah masalah yang paling susah yang aku alami di New York. Dan sungguh aku mencoba untuk berpuasa sehari sebelum masuk Islam, aku hanya makan sayur-sayuran, buah-buahan dan kurma saja ketika berbuka pusa. Dan aku tidak makan apapun setelah itu kecuali ketika sahur, dan kini aku bisa berjalan panjang dan Alhamdulillah aku bisa berjalan cepat. Dan akhirnyapun hilang semua nyeri yang selama ini aku alami. Puasa ini merupakan satu-satunya cara yang aku temui yang bisa mengobati penyakitku ini.

    Maka akupun mengucapkan syukur pada Allah atas limpahan nikmat-Nya padaku untuk masuk Islam setelah aku benar-benar mantap dengan-Nya.

    Diakhirnya, Sulaiman berkata sesungguhnya puasa memiliki keutamaan besar sekali bagiku, andai engkau melihat bagaimana aku menyambut bulan Ramadhan setiap tahun, tentu engkau akan mengatakan, “Ah, layaknya seperti anak kecil saja tidak seperti orang yang berusia 40 atau 50 tahun”.

     
    • Ripki 9:44 pm on 29 Juli 2013 Permalink

      Infonya bagus sob buat nambah pengetahuan tentang manfaat puasa secara medis. terimakasih banyak ya

  • erva kurniawan 1:51 am on 24 July 2013 Permalink | Balas  

    Berbuka Puasa Menurut Tuntunan Rasulullah 

    Berbuka Puasa Menurut Tuntunan Rasulullah

    Waktu berbuka, adalah waktu yang ditunggu-tunggu. Waktu yang dinanti-nantikan oleh orang yang sedang menjalankan ibadah puasa. Maka begitu tiba waktu berbuka, terasa gembira dan bahagia sekali. Bahkan detik-detik menjelang berbuka, menjelang beduk berbunyi, rasanya sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata, dengan angka dan aksara. Betapa gembira dan bahagianya ketika itu. Terasa memenuhi seluruh rongga, jiwa dan raga. Justru itulah maka Rasulullah mengatakan bahwa orang yang berpuasa itu akan mendapat dua kegembiraan sebagaimana sabda beliau: “Orang yang berpuasa itu akan mendapat dua kegembiraan. Yang pertama gembira ketika berbuka, dan yang kedua gembira ketika berjumpa dengan Tuhannya di kemudian hari nanti.”

    Walaupun berbuka hanya segelas air putih, akan tetapi terasa begitu nikmat ketika meminumnya. Bahkan lebih nikmat bila dibandingkan dengan meminum segelas kopi susu atau teh manis bagi orang yang tidak puasa.

    Tapi kendatipun demikian, jangan pula dijadikan waktu berbuka itu seakan tempat melepaskan dendam. Dikarenakan seharian menahan lapar dan dahaga, menahan diri dari bersenggama, dan dari yang membatalkan puasa, maka begitu tiba waktu berbuka semua dimakan dan diminum. Seakan tidak boleh ada makanan dan minuman yang tersisa. Selagi selera masih mau, selagi makanan atau minuman masih ada, semua disikat, tanpa memperhitungkan daya tampung perut dan kekuatannya untuk mencerna. Akhirnya jangankan untuk melaksanakan sholat, mau berdiri dan bangun saja dari tempat duduk sudah terasa payah. Bahkan ada yang sempat muntah karena kekenyangan.

    Yang demikian itu bukan saja tidak mendapat pahala dikarenakan tidak mengikuti cara Rasulullah dalam berbuka, akan tetapi tidak jarang mengundang datangnya penyakit. Di mana perut atau usus yang tadinya kosong kemudian diisi sebanyak-banyaknya secara mendadak tanpa didahului dengan mukadimah. Maksudnya dengan minuman atau makanan ringan sebagai pendahulu. Usus yang bagaimana yang tidak akan rusak kalau demikian caranya. Padahal salah satu rahasia puasa itu untuk menjadi orang bertambah sehat. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw: “Shuumuu tashih-huu” (Puasalah kamu agar kamu sehat)

    Tata Cara Berbuka

    Dalam hal berbuka ini ada tata cara yang harus kita ikuti. Tata cara itu sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad Saw dalam salah satu haditsnya yang berbunyi: “Apabila berbuka salah satu kamu, maka hendaklah berbuka dengan kurma. Andaikan kamu tidak memperolehnya, maka berbukalah dengan air, maka sesungguhnya air itu suci.”

    Hadits Nabi ini menggambarkan kepada kita bagaimana cara berbuka yang baik. Yaitu dengan makanan yang manis, yang lunak dan mudah dicerna. Biasanya rasulullah kalau berbuka didahului dengan meminum air zam-zam atau air putih yang kemudian diiringi dengan beberapa biji kurma. Yang demikian itu boleh dikatakan sebagai mukadimah. Dengan kata lain, begitu masuk waktu berbuka maka tidak semua langsung dimakan atau disikat.

    Rasulullah dalam setiap berbuka atau katakanlah setiap waktu makan, tidak pernah terlalu kenyang. Bahkan tidak sampai kenyang. Kurang lebih 2/3 dari perut itu yang diisi, dan 1/3 lagi dikosongkan. Hal ini dijelaskan oleh Rasulullah dalam salah satu haditsnya, bahwa beliau tidak makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang.

    Yang lebih penting untuk diperhatikan dalam berpuasa ini bukan sekedar mengosongkan perut, tapi waktu mengisinya kembali yaitu waktu berbuka perlu diperhatikan. Kalau tidak, bahaya yang akan datang. Justru itu makan dan minum janganlah berlebihan atau kekenyangan. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam surat Al’araf ayat 31 yang artinya: “Dan makan dan minumlah kamu, akan tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan.”

    Justru itulah masalah makanan ini perlu juga dijaga dan diperhatikan. Maksudnya tidak semua harus dimakan atau ditelan. Akan tetapi harus dipertimbangkan daya tampung perut dan kemampuannya untuk mencerna. Kalau tidak, hal ini nanti akan bisa menimbulkan bencana terhadap fisik. Bahkan bukan hanya sekedar itu. Kata orang-orang ahli Tasawuf “Memperturutkan selera atau kemauan perut dalam masalah makan tanpa ada batas sebagaimana yang digariskan oleh Rasulullah, yaitu berhenti sebelum kenyang, dengan kata lain orang yang makannya banyak, maksudnya setiap makan selalu kekenyangan, juga bisa menjadi penyakit jiwa. Yaitu penyakit loba, tamak dan serakah.”

    Awali dengan do’a

    Setidaknya ketika akan berbuka bacalah bismillah. Dan akan lebih bagus lagi, lalu diiringi dengan do’a. umpamanya do’a sebagai berikut: “Allaahummalaka shumtu wabika aamantu wa‘alaa rizqika afthortu dzahaba zhomau wa abtal-latil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insyaaa Allaahu ta’alaa birohmatika yaa arhamar-rohimiin.” (Yaa Allah! Karena-Mu aku berpuasa, dan kepada-Mu aku berbuka. Dahaga telah hilang, urat-urat telah basah (segar). Mudah-mudahan tetap pahalanya. Dengan rahmat-Mu, wahai dzat yang Maha Pengasih)

    Dan akan bertambah bagus lagi, kalau seusai berbuka, setiap selesai makan, bacalah do’a sebagai berikut: “Alhamdulillaahil-ladzii ath ‘amanaa wasaqoonaa wal’alnaa minasy-syakiriin” (Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan dan minum kepada kami. Dan jadikanlah kami dari golongan orang-orang yang bersyukur)

    Mempercepat berbuka

    Mempercepat berbuka di sini bukan berarti berbuka sebelum waktunya, tidak. Akan tetapi begitu tiba waktunya langsung berbuka. Jangan sekali-kali ditunda dengan mengerjakan sholat maghrib terlebih dahulu baru berbuka. Sebab yang demikian itu tidak akan menambah pahala. Tapi kalau kita cepat berbuka, kita akan mendapat pahala dari amalan sunah yang kita kerjakan itu. Sebab mempercepat berbuka itu hukumnya sunah.

    Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang artinya: “Manusia itu selalu berada dalam kebaikan selama menyegerakan berbuka.” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

    Kemudian ada satu lagi hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Daud yang artinya: “Adalah Rasulullah SAW berbuka dengan beberapa biji kurma sebelum Sholat.”

    Memberikan Perbukaan

    Bulan Ramadhan ini bulan yang penuh berkah. Bulan di mana amal ibadah kita dilipat-gandakan pahalanya. Justru itulah sebaik-baiknya sedekah itu pada bulan Ramadhan. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Turmuzi dari Anas bin Malik yang berbunyi: “Afdholush shodaqoti shodaqotun fii romadhoona” (Seutama-utamanya sedekah ialah di bulan Ramadhan)

    Sedekah yang lebih besar lagi pahalanya ialah memberi orang yang berbuka. Hal ini dijelaskan oleh Nabi di dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Achmad dari Zaid bin Khalid yang artinya: “Barangsiapa yang memberikan makanan berbuka kepada seseorang yang berpuasa, niscaya dia akan memperoleh pahala sebagaimana yang diperoleh orang yang mengerjakannya dengan tidak kurang sedikitpun.”

    Dari keterangan kedua hadits tersebut semakin jelas bagi kita bahwa bersedekah di bulan Ramadhan itu mendapat nilai yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan bersedekah di bulan lain. Dengan memberi sedekah kepada orang yang berpuasa dengan jalan memberinya berbuka, akan mendapat pahala yang sama pahalanya dengan orang yang megerjakan puasa itu. Narasumber: buku “Puasa bukan sekedar kewajiban”

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 23 July 2013 Permalink | Balas  

    Cinta si Majnun 

    Cinta si Majnun

    Tahukah anda kekuatan sebuah cinta? Sadarkah kita bagaimana cinta bisa menjelma menjadi energi yang tiada habisnya? Qais, yang kemudian dikenal sebagai Majnun, membuktikan itu semua.

    Qais mencintai Laila sepenuh hati. Ketika orang tua Laila menghalangi cinta mereka, Qais bukannya mundur malah ia berubah menjadi Majnun, pecinta yang tergila-gila pada Laila sehingga hidupnya berubah total.

    Hakim Nizhami, sufi agung yang menuliskan kisah ini, melukiskan bagaimana cinta tak mengenal lelah, bagaimana lapar dan dahaga tak dihiraukan oleh Majnun, bagaimana energi cinta yang dihasilkan Majnun mampu menundukkan segenap binatang buas di hutan tempat persembunyiannya.

    Loyalitas Laila pun tak bergoyang meskipun ayahnya menikahkannya dengan paksa kepada seorang bangsawan. Sampai akhir hayatnya bangsawan itu tak berhasil menyentuh Laila, yang notabene telah dipersuntingnya.

    Ketika datang rasa rindu, bibir Majnun kering melantunkan tembang pujian dan syair kerinduan untuk Laila, ketika pagar rumah orang tua Laila menghalangi komunikasi mereka, Laila menulis surat cinta di potongan kertas kecil lalu ia biarkan angin membawanya sampai ke Majnun.

    Ayah Majnun mencoba memberikan alternatif untuk Majnun. Dibuatlah pesta yang dihadiri segenap gadis cantik, namun bukanlah Majnun kalau tak mampu bersikap loyal pada kekasihnya. Majnun menampik semua tawaran itu. Banyak orang yang percaya, bahwa kisah Laila Majnun itu merupakan simbol belaka. Hakim Nizhami sebenarnya hanya menunjukkan bagaimana sikap seorang pecinta sejati kepada kekasihnya. Ketika Laila dan Majnun telah tiada, konon seorang sufi bermimpi melihat Majnun hadir dihadapan Tuhan. Tuhan membelai Majnun dengan penuh kasih sayang seraya berkata, “Tidakkah engkau malu memanggil-manggi-Ku dengan nama Laila, sesudah engkau meminum anggur Cinta-Ku?”

    Seperti Majnun yang mengeluarkan energi yang tiada habisnya, di bulan ramadhan ini kita pun belajar untuk menaikkan maqam cinta kita kepada Allah Energi cinta yang kita pancarkan dibulan puasa seyogyanya mampu menundukkan nafsu buas di sekeliling kita.

    Bibir kering dan perut lapar bukanlah alasan untuk menampik sebuah cinta ilahi. Dari tenggorokan yang kering justru keluar Bacaan Yang Mulia dan asma Kekasih Sejati kita, Allah swt. Ketika disekeliling kita banyak yang menyodorkan alternatif kebahagiaan, sebagaimana Majnun menolak tawaran ayahnya, kita pun bersikap setia pada kebahagiaan yang dijanjikan Allah kelak.

    Ketika banyak yang mencoba memagari cinta kita dengan “pagar duniawi”, seperti Laila yang mengungkapkan isi hatinya lewat potongan kertas yg dibawa angin, kita ungkapkan cinta sejati kita di bulan Ramadhan ini ke seluruh penjuru angin. Gema kalam ilahi di mana-mana, gema takbir terus mengalun, gema cinta terus dibawa angin menembus dinding perkantoran, pasar swalayan, gedung sekolah, taman perkotaan, rumah makan dan pusat-pusat perbelanjaan. Pagar-pagar itu tak akan mampu menghalangi cinta kita.

    Di bulan Ramadhan ini sudahkah kita ukur cinta kita pada Allah swt. Malukah kita bila Majnun menegur kita, “sampai dimana pengorbananmu untuk Kekasih Sejatimu?” Bulan Ramadhan adalah media membuktikan cinta sejati itu, insya Allah!

    ***

    Nadirsyah Hosen

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 22 July 2013 Permalink | Balas  

    Puasa Ditinjau Dari Segi Kesehatan 

    Puasa Ditinjau Dari Segi Kesehatan

    Puasa bukan sekedar kewajiban. Bukan hanya mendatangkan pahala. Dan tidak pula sekedar melebur dosa. Akan tetapi lebih jauh lagi dari itu.

    Banyak hikmah-hikmahnya yang terkandung di dalamnya. Maka kalau dikaji dengan seksama, diteliti dan dianalisa, akhirnya akan bermuara kepada suatu kesimpulan, bahwa puasa itu merupakan kebutuhan, baik itu rohani maupun jasmani. Dengan berpuasa, jiwa akan tenang, pikiran akan damai. Sementara jasmani akan semakin segar dan tegar.

    Hal ini sejalan dengan apa yang disabdakan nabi, dalam salah satu hadisnya yang berbunyi: “Shuumuu tashih-huu” (berpuasalah kamu nanti akan sehat)

    Para dokter dan pakar-pakar kesehatan mencoba mengkaji dan menganalisa hadis Nabi ini sampai di mana kebenarannya. Ternyata kebenaran hadis Nabi ini tidak bisa dipungkiri. Banyak dokter-dokter yang mengakuinya. Bukan hanya sekedar mengakui, akan tetapi mereka ikut menjalankannya. Bahkan kepada pasien-pasien mereka, tidak jarang mereka perintahkan untuk berpuasa sebagai alat pengobatan.

    Salah seorang pakar kesehatan yang bernama Dr. Wernan Macfadan mengatakan: “Saya tertarik dan percaya bahwa puasa sanggup menyembuhkan segala macam penyakit di mana segala usaha pengobatan lainnya telah mengalami kegagalan”. Justru itulah, maka puasa ini bukan hanya sekedar kewajiban, akan tetapi sudah merupakan kebutuhan.

    Menurut analisa atau hasil penyelidikan Dr. Robert Partolo dari Amerika, puasa adalah usaha yang sangat baik untuk menyelamatkan tubuh manusia dari kuman-kuman, diantaranya kuman syphilis yang banyak membinasakan darah manusia.

    Dr. Peter Schimidberger dalam bukunya “Zero diet” menjelaskan, bahwa puasa bukan sekedar untuk melangsingkan tubuh, akan tetapi merupakan sarana yang paling efektif untuk penyembuhan berbagai macam gangguan tubuh. Dengan puasa akan membuat larutnya gumpalan lemak (Kolestrol) bersama dengan sisa-sisa makanan yang mengandung zat-zat beracun.

    Demikian juga zat putih telur yang menumpuk dalam tubuh ikut menjadi larut. Maka dengan jalan demikian itu, keseimbangan pembagian zat asam antara pembuluh darah dan sel-sel lain yang dengan sendirinya membawa pengaruh yang begitu baik terhadap kesehatan tubuh. Kesepakatan ahli medis

    Sebagian besar (jumhur) ahli-ahli kesehatan sepakat mengatakan, bahwa alat pencernaan (perut) adalah merupakan sumber dari berbagai macam penyakit. Hal ini sejalan dengan ajaran Nabi yang dilukiskan para hukamah yang berbunyi: “ Al-bithnu ashlid-daai wal miyatu ashlud-dawaa i “ (Perut itu pangkal segala penyakit, dan memeliharanya itu pangkal dari pada pengobatan)

    Perut adalah merupakan terminal dalam tubuh. Tempat berlabuh dan berhenti segala makanan dan minuman. Ikan, daging, nasi, sayur, dan segala macam bertumpuk di sana dan tersimpan dalam beberapa waktu. Justru itulah perut perlu dibersihkan setidaknya sekali dalam setahun dengan jalan mengerjakan puasa.

    Kalau kita ibaratkan kepada mesin industri atau mesin mobil, maka puasa merupakan servis besar yang dilakukan sekali dalam setahun. Mesin apabila bekerja terus menerus tanpa istirahat dan tanpa diservis akan membuat mesin cepat aus dan cepat rusak. Demikian juga halnya dengan perut yang merupakan mesin yang sehari-hari mengolah berbagai macam makanan dan minuman, yaitu memerlukan istirahat dan servis. Maka istirahat dan servis bagi perut adalah puasa.

    Kalau kita balik-balik lembaran hadis Nabi, maka akan terbacalah oleh kita nanti, betapa peranan perut dalam tubuh manusia. Menurut Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa: “Perut adalah seumpama kolam air dalam tubuh manusia. Dan pembuluh darah terus mengalir ke sana untuk diisi. Kalau perut itu sehat, maka kesehatanlah yang dibawa kembali oleh pembuluh darah itu. Tapi kalau perut itu kotor, maka penyakit pulalah yang dibawanya.”

    Dengan berpuasa berarti memberi peluang kepada tubuh untuk membuang segala racun dari sisa-sisa makanan dalam tubuh dengan jalan mengosongkannya. Dr. Med. Ahmad Ramali mengatakan, bahwa istirahat yang diberikan oleh alat pencernaan makanan, tidak lain akan menambah tenaga (energi). Seperti halnya membiarkan ladang beberapa lama, untuk mengembalikan kesuburannya. Faktor Psikologis

    Dr. Carel yang pernah mendapat hadiah nobel mengatakan: “ketentraman yang ditimbulkan karena ibadah dan do’a, merupakan pertolongan besar pada pengobatan.”

    Maka kalau kita kaitkan antara ibadah puasa dengan kejiwaan (Psikologis) sebagai alat penyembuh suatu penyakit, memang mempunyai hubungan yang cukup erat. Sebab ibadah puasa membuat pikiran menjadi tenang dan hati menjadi damai. Disamping itu membuat seseorang menjadi lebih gembira terutama ketika setiap akan berbuka. Hal ini dilukiskan oleh Nabi dalam hadisnya yang berbunyi: “Orang yang berpuasa itu mendapat dua kegembiraan. Pertama ketika berbuka, dan yang kedua ketika akan berjumpa dengan Tuhannya dikemudian hari.”

    Perasaan gembira ketika berbuka itu memang luar biasa. Sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata, dengan angka dan aksara. Maka apabila kita kaitkan ketentraman jiwa dan perasaan gembira dengan usaha penyembuhan atau alat pertolongan pada pengobatan sebagaimana yang dikatakan oleh Dr. Carel, berarti puasa termasuk dalam bahagian itu (pengobatan).

    Hal ini sejalan dengan perintah Nabi ketika menjenguk orang sakit, yaitu untuk menggembirakan hati mereka. Dengan kata lain jangan sekali-kali berbicara atau memberi informasi yang akan menambah beban pikiran mereka yang sedang menderita sakit. Tapi hiburlah agar hati mereka menjadi gembira.

    Menurut ahli-ahli psikologis banyak manusia ini yang sakitnya berawal dari tekanan batin dan perasaan. Persoalan-persoalan yang tidak bisa diselesaikan oleh alam pikiran, sering membawa dampak yang begitu besar terhadap tubuh (psikologis).

    Bahkan tidak jarang terjadi bisa fatal. Sebab jiwa yang sudah remuk, hati yang sudah rapuh akan mempengaruhi kepada daya tahan tubuh. Kalau daya tahan tubuh sudah berkurang maka akan mudah dihinggapi segala macam penyakit.

    Komplikasi jiwa bisa menimbulkan ketegangan pada otak. Dan kemudian bisa mengganggu system peredaran darah. Misalnya jantung, hati, dan limpah. Bukan hanya sekedar tensi darah menjadi tinggi tapi juga menyebabkan jaringan-jaringan syaraf yang begitu halus menjadi putus satu demi satu, yang pada gilirannya nanti bisa menyebabkan pendarahan pada otak, yang berawal dari tekanan darah yang begitu tinggi. Maka untuk pencegahan ini salah satu diantaranya adalah mengadakan ibadah puasa.

    Pendek kata puasa bukan hanya sekedar mendapat pahala dan melebur dosa, akan tetapi membuat manusia semakin menjadi tambah sehat, menyembuhkan berbagai macam penyakit termasuk penyakit psikomatik. Yaitu penyakit yang erat hubungannya dengan kejiwaan dan saling berpengaruh antara jiwa dengan tubuh. Maksudnya kalau jiwa ditimpa kesulitan maka tubuh ikut menderita. Demikian pula sebaliknya, bila tubuh diserang penyakit, maka jiwa ikut susah.

    ***

    Narasumber: buku “Puasa bukan sekedar kewajiban”

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 21 July 2013 Permalink | Balas  

    Kehati-Hatian 

    Kehati-Hatian

    Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal (QS Al Baqarah [2]: 197)

    Ada kata yang sangat sentral dalam Alquran. Kata itu adalah takwa. Mengapa? Takwa adalah goal dari diturunkannya Alquran dan diutusnya Rasulullah SAW. Takwa menjadi prasyarat meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Tak mengherankan bila dalam khutbah Jumat, khatib selalu mengajak jamaah untuk bertakwa. Salah satunya QS Ali Imran[3] ayat ke-102, Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

    Tak kurang dari lima belas kali kata takwa terulang dalam Alquran. Perintah bertakwa (ittaqu) terulang sebanyak 69 kali. Sedangkan kata muttaquun atau (orang-orang yang bertakwa–jamak) sebanyak enam kali dan muttaqiin (orang bertakwa–tunggal) sebanyak empat puluh tiga kali.

    Kata taqwa terambil dari akar kata waqaa-yaqii yang bermakna menjaga (melindungi) dari bencana atau sesuatu yang menyakitkan. Pendapat lain menyatakan bahwa kata ini terambil dari akar kata waqwaa, kemudian huruf waawu pada awalnya diganti dengan ta’ sehingga berbunyi taqwa, yang artinya terhalang. Ada ungkapan yang dinilai berasal dari Rasulullah SAW yang menyatakan al-taqii muljam bahwa orang bertakwa itu terkendali lidahnya. Ungkapan ini bermakna kehati-hatian. Demikian ungkap Dr Quraish Shihab dalam bukunya Secercah Cahaya Ilahi (Mizan, 2000).

    Takwa bukan sekadar ritual

    Identiknya takwa dan sikap hati-hati, terungkap dalam percakapan antara Umar bin Khathab dengan Ubay bin Ka’ab. Ketika itu, Ubay bertanya kepada Umar tentang makna takwa. Khalifah kedua ini malah balik bertanya, Pernahkah engkau berjalan di tempat yang penuh duri? Ya pernah Apa yang engkau lakukan? tanya Umar kembali. Tentu aku sangat berhati-hati melewatinya!” jawab Ubay. Itulah yang dinamakan takwa, tegas umar.

    Jadi, orang takwa adalah orang yang hati-hati dalam bersikap. Segalanya penuh perhitungan. Pemahaman, emosi dan gerak fisiknya benar-benar dipandu aturan Ilahi agar seiring sejalan. Mereka tidak mau menerima uang, kecuali uang tersebut didapat dengan cara yang dibenarkan. Mereka tidak mau makan, kecuali makanan yang terjamin kehalalannya, baik zatnya atau cara mendapatkannya. Mereka tidak mau berbicara, kecuali pembicaraannya benar dan tidak menyakiti. Mereka tidak mau berbisnis, kecuali bisnisnya tidak merugikan orang, barang yang dijual terjamin kehalalannya, tidak melanggar undang-undang dan tidak tersentuh unsur riba. Intinya, dalam hal apa pun, orang bertakwa selalu menyertakan sikap hati-hati yang bersumber dari keinginan untuk menyelaraskan diri dengan aturan Allah SWT.

    Dalam bahasanya Stephen Covey, orang bertakwa adalah orang yang proaktif. Artinya, ia mampu memanfaatkan ruang antara stimulus (rangsangan) dan respons (tindakan) untuk berpikir sesuai prinsip. Sederhananya, orang bertakwa itu selalu melibatkan pikiran dalam setiap tindakannya. Sehingga tindakan yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan dunia akhirat, karena selalu didasarkan pada prinsip-prinsip Ilahiyah.

    Misal, seorang pejabat menerima amplop berisi uang sepuluh juta. Ini stimulus. Apa respons pejabat ini? Kalau ia seorang muttaqin, maka ia tidak menerima amplop tersebut begitu saja. Ia akan bertanya, ini amplop dari siapa? Untuk apa? Apakah telah sesuai prosedur yang berlaku? Apakah halal? Apakah tidak menyalahi nilai-nilai kejujuran dalam agama? Kalau memang amplop itu hak dirinya juga terjamin kehalalannya, maka ia terima. Namun jika tidak, ia menolak walau dipaksa. Itulah respons yang didahului proses berhenti sejenak untuk berpikir dan menyesuaikan diri dengan prinsip-prinsip Ilahi. Dalam hal apa pun, tidak hanya yang berkaitan dengan uang. Tindakan dan ucapannya benar-benar terkendali dan penuh kehati-hatian.

    Sejatinya, sikap hati-hati dan terkendali menjamin keselamatan seseorang di dunia dan akhirat. Juga pengundang datangnya pertolongan Allah. Difirmankan, Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya (QS Ath Thalaaq [65]: 2-5)

    Sebaliknya, sikap ceroboh dan tak terkendali akan membuat seseorang binasa. Hampir semua masalah berawal dari ketidaktakwaan (kecerobohan, kurang perhitungan, kurang kendali). Perkelahian bisa terjadi karena tidak hati-hati menjaga lidah. Terjerumusnya ke lembah hitam bisa berawal dari kurang hati-hati memilih pergaulan, dan sebagainya.

    Maka jelas, takwa itu tidak identik dengan ibadah-ibadah ritual. Takwa harus terwujud dalam keseharian. Benarlah firman Allah SWT agar kita menjadikan takwa sebagai bekal. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal (QS Al Baqarah [2]: 197).

    Ramadhan dan kehati-hatian

    Ramadhan yang tengah kita jalani, sejatinya menjadi momentum tepat untuk menumbuhkan sikap hati-hati. Selama satu bulan penuh kita dilatih untuk tidak berkata, kecuali yang baik, benar lagi sesuai momennya. Dilatih mengendalikan perut, untuk tidak makan makanan haram bahkan makanan halal secara berlebihan. Dilatih mengendalikan mata, bukan saja dari memandang yang haram dipandang, tapi juga dari memandang hal-hal mubadzir. Juga panca indera dan perasaan, semuanya harus terkendali. Intinya, Ramadhan melatih kita menjadi manusia yang selalu berhati-hati. Allah SWT berfirman, Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS Al Baqarah [2]: 183). Wallaahu a’lam . (tri )

    ***

    Sumber: republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 20 July 2013 Permalink | Balas  

    Bertanyalah Selalu 

    Bertanyalah Selalu

    KH Abdullah Gymnastiar

    Dalam sebuah peperangan, Ali bin Abi Thalib berhasil menjungkalkan lawan tandingnya. Ketika akan menebaskan pedangnya, orang itu segera meludahi wajah Ali. Dengan refleks, Ali menarik tangannya. Ia pun tidak jadi membunuh lawannya. Ali, kenapa engkau tidak jadi membunuhku? tanya orang itu heran. “Aku khawatir membunuhmu bukan karena Allah, tetapi karena engkau meludahiku!.”

    Sungguh luar biasa.

    Ali masih mampu mengandalikan diri walau dalam kondisi kritis. Kisah ini memberikan pelajaran berharga, kita harus mampu mengendalikan diri dalam berbagai situasi, tempat dan waktu berbeda. Tak heran bila mengendalikan diri tergolong jihad an-nafs. Sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW bahwa perang melawan diri (nafsu) lebih berat dari Perang Badar.

    Kata kunci mengendalikan diri adalah mampu mengendalikan nafsu.

    Kita dapat mengumpamakan nafsu sebagai kuda dan setan sebagai pelatihnya. Ketika kuda itu tunduk kepada kita -bukan kepada setan-, maka kita mampu menghemat energi dan mampu mencapai tujuan dengan lebih cepat. Namun sebaliknya, kalau kuda (nafsu) itu tidak terkendali, maka kita akan seperti rodeo, terombang-ambing, terpelanting lalu binasa.

    Salah satu tabiat nafsu adalah tidak seimbangnya antara kesenangan yang didapat dengan akibat yang harus dipikul.

    Memakan makanan haram misalnya. Rasanya memang enak, tapi hanya sebentar saat di mulut saja. Mudaratnya pun sungguh luar biasa, doa kita tidak diterima, hati menjadi gelisah, bisa menghancurkan rumahtangga, harta jadi tidak berkah, merusak mental anak, dsb. Belum lagi api neraka yang siap menyambut.

    Begitu pula dengan pandangan tak terjaga. Melihatnya hanya beberapa saat, tapi bayangannya sulit dilupakan. Shalat pun jadi tidak khusyuk. Maka, kita jangan sekali-kali meremehkan nafsu. Karena bila tak terkendali dapat menghancurkan hidup kita.

    Ada banyak segi yang harus selalu kita kendalikan, khususnya saat Ramadhan seperti sekarang. Seperti panca indra, perut, syahwat, ataupun perasaan.

    Andai kita memandang, tahanlah sekuat mungkin dari sesuatu yang diharamkan. Segera berpaling karena Allah SWT melihat yang kita lakukan. Ketika mau menonton TV bertanyalah, Haruskah saya nonton acara ini? Apa ini berpahala? Kalau tidak, matikanlah segera TV tersebut. Untuk lebih menjaga pandangan ada baiknya di samping tempat tidur kita sediakan Alquran agar mudah dibaca, atau siapkan buku bacaan di sekitar tempat kita beraktivitas agar kita selalu terkondisi untuk melakukan hal-hal yang positif.

    Mengendalikan nafsu perut juga tidak kalah penting. Bertanyalah selalu sebelum menyantap makanan. Apakah saya harus membeli makanan semahal ini? Apakah saya harus makan sebanyak ini? Apakah yang saya makan ini terjamin kehalalannya? Mana yang lebih baik, saya makan makanan sederhana dengan kalori yang sama dan sisa uangnya disedekahkan?. Kalau kita terus bertanya maka nikmat makan akan pindah; bukan dari nikmat rasa lagi tapi nikmat syukur.

    Begitu pula ketika hendak berbelanja, proses bertanya harus selalu dilakukan sebagai alat mengendalikan keinginan dan nafsu. Luruskan niat terlebih dahulu. Jangan sekadar ingin, sehingga mengabaikan perhitungan. Lebaran tidak harus mengenakan baju atau aksesoris baru. Lebih baik kita memanfaatkan pakaian yang ada. Andai pun mau, sedekahkan uang tersebut kepada anak-anak yatim dan fakir miskin. Insya Allah akan lebih berkah.

    Dengan terus bertanya kepada hati, insya Allah kita akan memiliki pengendalian diri yang baik. Apalagi yang kita miliki kalau kita tidak bisa mengendalikan diri dan terus ditipu serta diperbudak hawa nafsu. Apalagi yang berharga pada diri kita? Sungguh, tidak ada kemuliaan bagi orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu yang tidak di jalan Allah SWT. Kemuliaan hanya bagi orang yang bersungguh-sungguh mengendalikan dan memelihara kesucian dirinya. Wallahu a’lam .

    ***

    republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 19 July 2013 Permalink | Balas  

    Puasa Dimulai Dengan Niat 

    Puasa Dimulai Dengan Niat

    Puasa hendaklah dimulai dengan niat. Tanpa niat puasa tidak syah  Hal ini sejalan dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW yang berbunyi: “Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung niat. Dan sesungguhnya tiap-tiap orang yang beramal itu ditentukan oleh apa yang ia niatkan”

    Niat dalam menjalankan ibadah puasa ini adalah semata-mata karena Allah. Karena mengharap ridho dan kasih-Nya. Dengan kata lain bukan dikarenakan malu kepada tetangga atau kepada orang lain, dan bukan pula karena faktor politis dan sebagainya, akan tetapi dikarenakan oleh Allah semata. Hal ini sesuai dengan perintah Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Bayyinah ayat 5 yang berbunyi: “Mereka tidaklah disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” Apa itu niat ?

    Kalau kita bicara tentang niat, kami kira sudah tidak ada lagi yang tidak tahu atau mengerti apa itu niat. Sebab niat itu sudah menjadi bahasa Indonesia dan sudah sering kita pakai sehari-hari.

    Namun demikian tidak ada salahnya kalau hal ini kita kaji kembali untuk menyegarkan ingatan. Niat adalah keinginan hati yang kemudian diiringi dengan perbuatan. Dalam bahasa Arab didefinisikan sebagai berikut: “Menyengajakan sesuatu yang dibarengi dengan perbuatan”

    Umpamanya, kita mempunyai keinginan untuk pergi ke salah satu tempat. Katakanlah ke Medan atau ke Surabaya. Kemudian keinginan tersebut kita iringi atau barengi dengan pelaksanaan, maka itulah yang dikatakan niat. Tapi andaikata tidak dibarengi dengan perbuatan atau pelaksanaan maka belum dikatakan niat. Yang demikian ini baru dikatakan angan-angan.

    Demikian juga halnya dalam menjalankan ibadah puasa ini. Kalau kita sudah ada keinginan untuk mengerjakan puasa, kemudian kita laksanakan keinginan itu, maka sudah termasuk dengan apa yang disebut niat. Menempatkan niat

    Ada yang mengatakan niat puasa itu hendaklah dilakukan setiap malam bulan Ramadhan. Demikian pendapat Imam Syafi’i. Hal ini berdasarkan kepada salah satu hadist Nabi yang berbunyi: “Barang siapa yang tidak berniat puasa pada malam hari, maka tidak ada puasa baginya.”(Riwayat Malik)

    Kemudian ada hadist Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Tarmidzi dan Nasa’, yang berbunyi: “Barang siapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.”

    Namun demikian, ada ulama yang mengatakan niat itu cukup sekali saja waktu awal Ramadhan atau waktu memulai puasa. Demikian pendapat Imam Maliki dan Imam Ahmad.

    Kesimpulannya, niat itu harus ada, sebab tidak syah puasa kalau tidak pakai niat. Permasalahannya niat itu perlu dilapazdkan atau tidak ? Niat itu sebaiknya dilafadzkan, seandainya tidak dilafadzkan juga tidak apa-apa dan tetap syah puasanya. Mengenai waktu memasang niat itu sama saja. Apakah itu pada awal Ramadhan atau setiap malam mau puasa.

    ***

    Narasumber: Buku “Puasa bukan sekedar kewajiban”

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 18 July 2013 Permalink | Balas  

    Sahur Menjelang Fajar Makan sahur tidaklah wajib Dan… 

    Sahur Menjelang Fajar

    Makan sahur tidaklah wajib. Dan tidak pula termasuk dari salah satu rukun atau syarat syahnya puasa. Tanpa makan sahur puasa akan tetap syah selama tidak melanggar ketentuan yang membatalkan puasa. Cuma saja, kalau kita makan sahur, setidaknya akan memperoleh dua keuntungan: Menambah daya tahan tubuh dalam menjalankan ibadah puasa. Mendapat pahala sunah karena Rasulullah melakukannya. Rasulullah kalau berpuasa selalu makan sahur berarti mengikuti apa yang telah dilakukan Nabi. Barang siapa yang mengikuti perbuatan Nabi akan mendapat ganjaran pahala. Justru itu, jangan beranggapan orang yang tidak makan sahur akan memperoleh pahala lebih banyak. Tidak sekali-kali tidak. “Bersahurlah kamu bahwasanya sahur itu membawa berkah” (Muttafaqa’laih)

    Waktu makan sahur

    Waktu makan sahur bukan tengah malam dan bukan pula seusai sholat taraweh. Banyak orang yang makan sahur seusai sholat taraweh atau menjelang tidur. Dengan tujuan agar tidak perlu bangun lagi lewat tengah malam. Nampaknya bangun setelah lewat tengah malam, maksudnya sepertiga malam terakhir, yang lebih dikenal dengan istilah menjelang fajar, terasa berat. Justru itulah, seusai sholat taraweh atau menjelang tidur langsung makan dengan niat makan sahur. Dan ada juga yang melakukan makan sahur itu tengah malam tepat.

    Semua itu salah dan keliru. Rasulullah tidak pernah melakukan itu. Orang yang makan sahur tengah malam atau seusai sholat taraweh tidaklah mendapat pahala sahur. Karena tidak termasuk dalam katagori apa yang dinamakan dengan sahur.

    Maka kalau ingin mendapat pahala, ikutilah petunjuk Rasulullah. Kalau Rasulullah makan sahur, waktunya itu diatur sedemikian rupa. Yaitu beberapa saat menjelang fajar menyingsing. Biasanya tidak lama seusai Rasulullah makan sahur, beliau langsung ke Masjid untuk sholat Subuh. Hal ini dijelaskan oleh Rasul dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dan Zait bin Tsabit, yang bunyinya: “Kami bersahur bersama Rasulullah Saw, kemudian bangun untuk sembahyang Subuh. Ketika bertanya berapa lama diantara sahur hingga sembahyang Subuh itu ? Jawabnya, sekitar membaca 50 ayat.”

    Demikianlah Rasulullah menjelaskan dalam salah satu haditsnya tentang waktu makan sahur itu. Sementara kalau kita melihat pula ayat Al-Quran atau firman Allah, memang tidak jauh berbeda. Lapadznya yang tidak sama, tapi isinya tetap serupa. Untuk lebih jelasnya lihat firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 187 yang artinya: “Makan dan minumlah kamu hingga terang bagimu benang yang putih dari benang yang hitam dari fajar. Kemudian sempurnakanlah puasamu sampai malam hari.”

    Dengan jalan demikian jelaslah bagi kita bahwa yang namanya makan sahur waktunya menjelang fajar menyingsing. Dengan kata lain, bukan tengah malam dan tidak pula seusai sholat taraweh. Barangsiapa yang makan sahur sesuai dengan garis yang ditentukan akan mendapat pahala. Dan hukumnya sunah.

    ***

    Narasumber: Buku “Puasa bukan sekedar kewajiban”

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 17 July 2013 Permalink | Balas  

    Menggali Hikmah Ramadhan 

    Menggali Hikmah Ramadhan

    Puasa bukan hanya untuk ritual saja, akan tetapi mengandung unsur sosial. Banyak hikmah yang terkandung di dalamnya. Puasa sebagai salah satu sarana pembinaan mental. Dengan menahan lapar dan dahaga, menahan diri dari bersenggama, dan dari yang membatalkan puasa, mulai dari  terbit fajar sampai terbenamnya matahari, berarti telah mengendalikan keinginan hawa nafsu. Kalau sudah mampu mengendalikan hawa nafsu berarti itu sudah kemenangan yang luar biasa.

    Sebab hawa nafsu inilah yang menjadi pangkal dari malapetaka. Hawa nafsulah yang menyebabkan manusia lupa daratan, terjerumus dalam lembah dosa dan maksiat. Tidak pernah bersyukur dan tidak pernah merasa puas terhadap rezeki yang diperolehnya. Sebagaimana kata Imam Ghozali, orang yang menjadikan standar hidupnya hawa nafsu tak obahnya bagaikan orang minum air laut, semakin diminum semakin haus.

    Retaknya sebuah rumah tangga, rusaknya pergaulan, semuanya ini berawal dari hawa nafsu yang tidak terkendalikan. Sebab hawa nafsu inilah yang menyebabkan manusia angkuh, sombong, merasa paling benar dan paling sempurna. Tidak mau mengalah, maunya menang sendiri. Demikian juga halnya dengan ambisi yang berlebihan, gila pangkat dan gila hormat. Termasuk juga sifat loba, tamak atau serakah. Semuanya ini berpangkal dari hawa nafsu yang tak terkendalikan.

    Kalau penyakit loba, tamak dan serakah ini sudah melanda, akibatnya akan menimbulkan bencana yang besar. Suatu bangsa akan hancur kalau penyakit ini sudah melanda. Sebab akan menimbulkan semangat kapitalisme yang kemudian bersifat ekspansionisme, yaitu ingin merebut dan mencaplok milik orang lain. Halal, haram tidak peduli.

    Yang penting uang bisa didapat, harta bisa terkumpul. Demikianlah kalau penyakit rakus sudah melanda. Bahaya ini pernah dikonstantir oleh Imam Ghozali dengan perkataan: Å´esungguhnya bencana yang paling besar dalam kehidupan ialah nafsu perut¡¦

    Tapi kalau hawa nafsu sudah terkendali, maka kebahagiaan akan terwujud. Ketenangan jiwa dan kedamaian hati akan tercapai. Pikiran akan jadi jernih, dan wajah akan berseri. Tidak akan ada lagi resah dan gelisah dalam menghadapi musibah. Tidak akan kedengaran lagi korupsi dan manipulasi, atau kebocoran anggaran Negara. Semua akan berjalan lancar sesuia dengan jalur yang sudah ditentukan. Sebab jiwa akan semakin dewasa dan akan semakin bertambah matang.

    Pembinaan Keluarga

    Dengan sama-sama makan sahur dan sama-sama berbuka, kemudian diiringi dengan sama-sama pergi sholat taraweh ke Masjid, itu merupakan suatu sarana dalam pembinaan keluarga yang harmonis.

    Hubungan antara anak dengan kedua orang tuanya, atau antara suami dengan istri, akan terasa semakin dekat dan semakin akrab. Maka dalam kehidupan zaman modern sekarang ini, peranan puasa Ramadhan semakin dirasakan.

    Kenapa tidak. Orang yang hidup di abad modern sekarang ini, terutama di kota-kota besar, sibuk dengan berbagai macam pekerjaan dan berpacu dengan waktu. Pergi pagi pulang malam. Berangkat ketika anak masih tidur, dan pulang setelah anak mulai tidur. Demikianlah setiap hari, boleh dikatakan tidak ada komunikasi dengan anak.

    Hal yang sama juga dialami oleh ibu-ibu wanita karier. Mendidik anak sebagai tugas pokoknya terabaikan. Mendidik anak tidak cukup dengan memberinya makanan dan minuman yang bergizi. Tidak hanya sekedar membelikannya baju baru, uang sekolah dan uang jajan. Tapi yang penting adalah belaian kasih sayang. Maka tidak salah kalau anak-anak lebih dekat kepada pembantu ketimbang ibu atau kedua orang tuanya.

    Menjalin Ukhuwah

    Ukhuwah zaman sekarang sudah sedemikian rapuh. Sikap individualistis begitu menonjol. Sudah tidak ada lagi sikap teposeliro. Sikap asah, asih, dan asuh. Semua berjalan sendiri-sendiri, dan mau menang sendiri. Ukhuwah zaman sekarang cenderung kepada materi. Kalau ada yang akan diharapkan dan saling ketergantungan, baru ada ukhuwah. Kalau tidak, maka tidak.

    Dengan ibadah puasa diharapkan akan lahir jiwa yang tulus dan sifat kebersamaan. Yaitu rasa senasib  sepenanggungan, yang dibuhul oleh tali akidah dan ukhuwah. Di mana orang kaya dapat merasakan penderitaan orang miskin yang terkadang makan terkadang tidak. Dikarenakan rasa ukhuwah yang ditimbulkan oleh ibadah puasa ini, diharapkan orang yang kaya hatinya akan tersentuh untuk membantu saudaranya seakidah itu, dengan membagi dan mengeluarkan sebahagian dari kekayaannya.

    Itu hikmahnya untuk orang kaya. Adapun untuk orang miskin lain lagi. Diharapkan dengan usainya menjalankan ibadah puasa ini keikhlasan dan kesabarannya dalam menghadapi musibah dan penderitaan hidup semakin mantap. Imannya semakin kuat. Kalau sudah dibiasakan dengan niat yang ikhlas dalam menghadapi cobaan demi cobaan, sudah tidak masalah lagi. Bahkan di balik itu  di balik penderitaan dan cobaan itu, ada nilai-nilai tertentu yang merupakan kredit point di sisi Allah. Adapun jumlah dan besarnya adalah hanya Allah-lah yang lebih tahu.

    Melatih Disiplin

    Salah satu kelemahan umat Islam, ialah kurangnya tingkat disiplin. Baik itu mengenai waktu maupun yang berhubungan dengan kerja. Nampaknya sebahagian umat Islam kurang menghargai waktu. Terkadang waktu dibiarkannya berlalu begitu saja, tanpa kesan dan coretan. Maksudnya tidak ada kegiatan. Menghargai waktu bukan berarti harus bekerja tanpa mengenal waktu untuk istirahat, tidak. Akan tetapi bagaimana membagi dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Maksudnya kapan harus bekerja, dan kapan pula waktu untuk istirahat.

    Demikian juga halnya dengan masalah kerja. Sudah menjadi kebiasaan cara kerja yang amburadul. Maksudnya tidak punya perencanaan dan kurang perhitungan. Bekerja seenaknya tanpa mengindahkan aturan main yang sudah diterapkan. Peraturan tinggal peraturan, pelanggaran jalan terus. Demikianlah yang banyak terjadi. Dan di sinilah letaknya kunci kesuksesan orang non muslim. Mereka bekerja dengan perencanaan, dengan perhitungan yang matang dan dengan disiplin yang tinggi.

    Demikianlah sebahagian kecil dari hikmah puasa Ramadhan kali ini  dan banyak lagi yang lain yang belum sempat digali. Mudah-mudahan ada manfaatnya.

    ***

    Narasumber: buku Puasa bukan sekedar kewajiban

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 16 July 2013 Permalink | Balas  

    Riwayat Buah Kurma 

    Riwayat Buah Kurma

    Kurma (Phoenix Dactylifera), pohonnya semacam palem. Berasal dari negeri Arab kemudian tumbuh pula di Afrika, Eropa Selatan, Asia Barat Daya bahkan di Amerika. Tingginya bisa sampai 20 meter, daunnya menyirip, berumah dua. Buahnya buni-buni. Dulunya menjadi makanan utama bagi bangsa-bangsa yang mendiami gurun pasir. Di masa sekarang sebelum dijual, biasanya kurma lebih dulu digulai (manisan); juga sebagai upaya pengawetan. Dahulu kurma juga pernah ditemukan di Saparua-Maluku. Saudi Arabia sebagai negara penghasil minyak juga penghasil kurma terbesar.

    Di kawasan Madinah terdapat banyak area tanah subur dan oase-oase yang dapat ditanami sayuran dan buah-buahan. Berbeda dengan Mekah yang benar-benar gersang. Kesuburan tanah Madinah itu tidak akan musnah atau berkurang tetapi akan terus bertambah dan berkembang mengimbangi kedatangan tamu-tamu Allah. Di sana pohon kurma sejak dahulu tumbuh subur.

    Tanah Madinah memiliki mukjizat atau setidaknya ‘berkah’ khusus karena Rasulullah pernah memohon pada Allah SWT.

    “Ya Allah berilah Madinah ini dua kali berkah yang Kau berikan kepada Mekah” Semua yang ada dan tumbuh di Madinah memiliki nilai keberkahan dua kali dari yang ada di Mekah. Padahal Mekah sendiri sudah demikian besar berkahnya karena Allah telah mengabulkan permintaan Nabi Ibrahim as agar Mekah yang gersang tidak kekurangan dari segala kebutuhan hidup termasuk buah-buahan.

    Kurma di Madinah memiliki nilai istimewa karena mutu dan gizinya sangat prima. Bahkan kurma Madinah dapat digunakan untuk obat, sebagaimana disabdakan Rasulullah: ” Maka semua rumah penduduk Madinah di dalamnya tersedia kurma”

    Oleh karenanya kurma [Madinah] menjadi komoditi yang laris manis, sebab semua pendatang pasti menyempatkan membeli kurma untuk di bawa ke tanah airnya. Salah satu sabda Rasullah yang diriwayatkan Muslim : “Barang siapa makan kurma ajwa tujuh butir pada pagi hari, dia akan selamat dari racun dan guna-guna pada hari itu”

    Sampai kini di Madinah terdapat pasar kurma, yakni pasar yang khusus menjual kurma. Pasar ini dibangun sekitar tahun 1982, terletak lebih kurang 600 meter sebelah selatan masjid Nabawi.

    Di pasar yang selalu ramai terutama pada musim haji terdapat lebih dari 24 macam kurma, termasuk kurma ‘Ajwa’. Konon kurma ini kesukaan Rasulullah. Kurma ajwa sering ditawarkan dan direkomendasikan oleh penjualnya sebagai kurma yang sangat lezat dan agak mahal harganya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 15 July 2013 Permalink | Balas  

    Doa Orang yang Berpuasa (Tafsir QS Al Baqarah 2:186) 

    Doa Orang yang Berpuasa (Tafsir QS Al Baqarah 2:186)

    Tafsir QS Al Baqarah 2:186

    “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al Baqarah 2:186)

    Berdasar pada ujung ayat di atas, maka jadikanlah bulan puasa itu sebuah bulan yang penuh dengan ibadat, membaca Al Qur’an, shalat dan berdoa. Oleh karena doa adalah penting, menjadi otak dari ibadat, berkenanlah Tuhan memberitahukan tentang doa dan bagaimana sambutan-Nya jika hamba-Nya berdoa menyeru nama-Nya dan memohonkan sesuatu. Terang sekali ayat ini, tidak berbelit-belit.

    Pertama, Tuhan itu dekat.

    “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat.”

    Dia tidaklah jauh, dan lantaran Dia tiada jauh dari sisimu tidak usah kamu bersorak keras-keras memanggil-manggil namaNya: “Ya Allah! Ya Allah! Tolonglah aku, bantulah aku!”

    Apa guna suara keras demikian, padahal Dia lebih dekat kepadamu daripada urat lehermu sendiri? Mengapa keras-keras, padahal Dia bukan pekak? Lantaran Dia dekat, tidaklah perlu memakai orang perantaraan atau wasilah. Yang penting ialah memohon langsung kepada-Nya, jangan memakai perantaraan. Kalau Dia sendiri telah menyatakan Dia dekat, guna apa kita mencari perantaraan lagi?

    Tuhan telah menutup pintu yang lain. Tuhan menyuruh kita langsung kepada-Nya. Tuhan telah menjelaskan di sini, kepada-Ku saja, supaya permohonanmu terkabul. Sedang dalam ayat tidak sedikitpun terbayang bahwa permohonan baru dikabulkan Tuhan kalau disampaikan sengan perantaraan Syaikh Anu atau Saiyid Fulan!

    Kedua, segala permohonan dari hamba-Nya yang memohon akan mendapat perhatian yang sepenuhnya dari-Nya. Tidak ada satu permohonanpun yang bagai air jatuh ke pasir, hilang saja sia-sia. Karena tidak didengar atau tidak diperdulikan.

    “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku”

    Ketiga, supaya permohonan itu mendapat perhatian Ilahi, hendaklah si hamba yang memohon itu menyambut pula terlebih dahulu bimbingan dan petyunjuk yang diberikan Tuhan kepada-Nya.

    “Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

    Keempat, dan amat penting. Yaitu hendaklah percaya benar-benar, beriman benar-benar kepada Tuhan.

    Kelima, dengan sebab menyambut seruan Tuhan, dan percaya penuh kepada Tuhan, si hamba akan diberi kecerdikan. Si hamba akan diberi petunjuk jalan yang akan ditempuh hingga tidak tersesat dan tidak berputus asa.

    Menyambut seruan Tuhan dan iman kepada Tuhan adalah jalan satu-satunya untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Apabila sudah dekat, Tuhanpun berjanji akan memberikan petunjuk sehingga menjadi orang yang cerdik cendekia, arif bijaksana.

    Dalam mengerjakan puasa, dilatihlah dia dalam ibadat dan doa. Bertambah ma’rifat kepada Tuhan bertambah pulalah tertanam rasa ikhlas dan tawakkal. Ikhlas, yaitu jujur dan tulus. Tawakkal ialah menyerah dengan tidak separoh hati. Dan kalau mendapat percobaan iman, dapatlah bertahan dengan sabar.

    Orang yang telah cerdik bukanlah mendiktekan Tuhan, Ya Alllah, beri saya itu! Ya Allah, hindarkan dari saya ini!

    Apa yang diminta kepada Tuhanpun menjadi ukuran dari kecerdikan yang meminta. Karena kalau hamba yang menentukan apa yang diminta, kalau tidak diberi apa yang dimintanya itu, diapun kecewa. Inilah tanda orang yang tidak cerdik. Atau jangan menentukan sendiri masa bila akan diberi. Karena kalau terlambat diberi, timbul lagi omelan. Padahal lambat atau cepat hanyalah ukuran keinginan.

    Dalam meminta atau berdoa kepada Tuhan, mintalah modal yang besar dan kokoh. Bukan benda, tetapi dapat menghasilkan benda. Doa-doa yang berasal dari Nabi adalah yang sebaik-baik doa. Kalau tidak pandai bahasa Arabnya, bolehlah dengan bahasa kita sendiri, asal dengan ikhlas.

    Cara Nabi Ayub berdoapun patut ditiru. Ketika sudah demikian besar malapetaka yang menimpa dirinya, doanya hanya demikian: “(Ya Tuhanku), Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua Penyayang” (QS 21:83)

    Nabi Ibrahimjuga seketika menuju Tuhan bahwaTuhanlah yang memberinya makan dan memberinya minum, selanjutnya tentang sakit, lain susun katanya: “(Yaitu Tuhan) yang telah menciptakan Aku, Maka Dialah yang menunjuki Aku, Dan Tuhanku, yang Dia memberi Makan dan minum kepadaKu, Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan Aku.” (QS 26:78-80)

    Nabi Ibrahim tidak mengatakan Dia yang menyakitkan daku, Dia pula yang menyembuhkan. Dia hanya mengatakan, kalau aku sakit, Dia yang menyembuhkan. Maka menyambut seruan Tuhan dan percaya penuh kepada Tuhan adalah latihan diri untuk merasai bahwa benar-benarlah Tuhan itu dekat dengan hamba-hamba-Nya. Kesempatan melatih diri inilah yang diutamakan dalam mengerjakan puasa. Sehingga derajat dan martabat kita dinaikkan Tuhan, ke dekat-Nya.

    Untuk mengetahui latar belakang dari sebabnya turun ayat yang penting ini, baiklah kita ketahui riwayat-riwayat yang diterima berhubungan dengan dia. Menurut riwayat dari Ibnu Jarir, dan Ibnu Abi Hatim dan Abusy Syaikh dan Ibnu Mardawaihi yang mereka terima dari riwayat as-Shalt bin Hakim, yaitu seorang sahabat Anshar, yang diterima pula dari ayahnya dan ayahnya menerima dari neneknya, bahwa seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah saw:

    “Ya Rasulullah, apakah Tuhan kita itu dekat dari kita, sehingga dapat kita seru dengan suara lembut, ataukah Dia jauh, sehingga kita Dia dengan suara keras?”

    Mendengar pertanyaan itu, Nabipun terdiam. Lalu turunlah ayat ini, yang menerangkan bahwa Tuhan itu amat dekat kepada kita. Dengan keterangan ayat ini terjawablah pertanyaan itu dan terjawab pulan pertanyaan dari kebanyakan manusia.

    Dan tersebut lagi di dalam sebuah hadits yang dirawikan oleh Bukhari dari Abu Hurairah:

    “Permohonan kamu akan dikabulkan oleh Tuhan , selama kamu tidak mendesak-desak. Dia berkata: Aku telah mendoa, tetapi doaku tidak diperkenankan.”

    Di dalam hadits lain pula, yang dirawikan oleh Bukhari dari hadits Abi Said al-Khudri, bahwa Nabi pernah bersabda:

    “Tidaklah mendoa muslim dengan doa, yang doa itu tidak dicampuri maksud jahat (dosa) atau memutuskan silaturahmi, melainkan pastilah doa itu akan dikabulkan Tuhan dengan menempuh satu dari tiga cara. Adakalanya doa itu diperkenankan dengan cepat, adakalanya disimpan dahulu untuk persediaannya di hari akhirat, dan aadakalanya dipalingkan daripadanya kejahatan yang seumpamanya.”

    Di dalam suatu hadits lagi ada tersebut bahwasanya lambatnya atau cepatnya akan terkabul suatu doa dari seorang hamba adalah menjadi rahasia juga daripada kasih sayang Tuhan kepada hamba-Nya. Di situ disebutkan bahwa kadang-kadang, oleh karena kasih sayang Tuhan pada seorang hamba, lama baru permohonannya dikabulkan. Karena Tuhan amat kasih kepadanya, Tuhan hendak mendengar seruannya selalu.

    Tetapi orang yang berdoa, lalu segera permohonanya dikabulkan, ialah karena Tuhan telah bosan dengan dia. Tuhan bersabda kepada malaikat: “Berikan saja cepat-cepat apa yang dimintanya. Karena yang diharapkannya bukan Daku, melainkan pemberian-Ku.”

    Dapatlah kita perhatikan orang yang lama di dalam percobaan suatu sengsara. Dia selalu mendoa, dia selalu berharap, tetapi pengharapannya belum kunjung dikabulkan. Ada orang yang oleh karena suatu fitnah dan kezaliman, bertahun-tahun lamanya ditahan. Lama baru permohonannya terkabul. Tetapi di masa yang lama itu dia sudah dapat membentuk diri, sehingga dia mempunyai kepribadian agama yang kuat dan kokoh. Penahanannya bertahun-tahun itu membuatnya menjadi seoarng muslim dan mukmin yang kuat, yang sebelum ditahan dia belum pernah merasainya. Dan ada pula orang yang sebelum matang imannya, diapun keluar dari tahanan. Sampai di luar diapun lupa kepada Tuhan. Cobalah kita perhatikan!

    Ayat yang sebuah ini terletak di tengah-tengah, ketika membicarakan dari hal puasa dan hukum-hukumnya. Dilihat sepintas lalu, seakan-akan tidak ada hubungan ayat ini dengan yang sebelumnya, atau yang sesudahnya. Padahal erat sekali hubungan itu.

    Sebab doa orang yang berpuasa itu lebih dekat dikabulkan, sebagaimana yang dirawikan oleh Imam Abu Daud at-Thayalisi dalam musnadnya, diterima daripada Abdullah bin Umar. Beliau berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Bagi orang yang berpuasa itu, seketika dia berbuka adalah doa yang mustajab”

    Dan terdapat pula sebuah hadits dalam musnad Imam Ahmad dan Sunan an-Nasa’i dan Tirmidzi dan Ibnu Majah, diterima daripada Abu Hurairah ra, berkata dia: Berkata Rasulullah saw: “Bertiga yang doanya tidak akan ditolak: imam yang adil, orang yang puasa sampai dia berbuka, dan orang yang teraniaya.”

    Dari kedua hadits ini, dan ada juga hadits-hadits lain yang sama maksudnya dapatlah difahami bahwa ayat ini tidaklah terpisah dari ayat yang sebelum dan sesudahnya, bahkan menjadi intinya. Yaitu bahwa latihan yang berhasil dari orang yang puasa terhadap jiwanya sendiri menyebabkan dia dekat kepada Tuhan.

    Dan lantaran dekat itu, doanya mudah dikabulkan.

    ***

    Sumber: Tafsir Al Azhar Prof. Dr. Hamka

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 14 July 2013 Permalink | Balas  

    Puasanya Orang yang Meninggalkan Shalat, Berpuasa tapi Tidak Shalat 

    Puasanya Orang yang Meninggalkan Shalat, Berpuasa tapi Tidak Shalat

    Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Pertanyaan.

    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Sebagian ulama kaum muslimin mencela orang yang berpuasa tapi tidak shalat, karena shalat itu tidak termasuk puasa. Saya ingin berpuasa agar dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang masuk surga melalui pintu Ar-Rayyan. Dan sebagaimana diketahui, bahwa antara Ramadhan dengan Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa-dosa di antara keduanya. Saya mohon penjelasanya. Semoga Allah menunjukki anda.

    Jawaban

    Orang-orang yang mencela anda karena anda puasa tapi tidak shalat, mereka benar dalam mencela anda, karena shalat itu tianggnya agama Islam, dan Islam itu tidak akan tegak kecuali dengan shalat. Orang yang meninggalkan shalat berarti kafir, keluar dari agama Islam, dan orang kafir itu, Allah tidak akan menerima puasanya, shadaqahnya, hajinya dan amal-amal shalih lainnya. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala.

    “Artinya : Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena kafir kepada Allah dan RasulNya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan” [At-Taubah : 54]

    Karena itu, jika anda berpuasa tapi tidak shalat, maka kami katakan bahwa puasa anda batal, tidak sah dan tidak berguna di hadapan Allah serta tidak mendekatkan anda kepadaNya. Sedangkan apa yang anda sebutkan, bahwa antara Ramadhan dengan Ramadhan berikutnya adalah menghapus dosa-dosa di antara keduanya, kami sampaikan kepada anda, bahwa anda tidak tahu hadits tentang hal tersebut. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda.

    “Artinya : Shalat-shalat yang lima dan Jum’at ke Jum’at serta Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa-dosa di antara itu apabila dosa-dosa besar dijauhi” [Dikeluarkan oleh Muslim, kitab Ath-Thaharah (233)]

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam terlah mensyaratkan untuk penghapusan dosa-dosa antara satu Ramadhan degan Ramadhan berikutnya dengan syarat dosa-dosa besar dijauhi. Sementara anda, anda malah tidak shalat, anda puasa tapi tidak menjauhi dosa-dosa besar. Dosa apa yang lebih besar dari meninggalkan shalat. Bahkan meninggalkan shalat itu adalah kufur.

    Bagaimana puasa anda bisa menghapus dosa-dosa anda sementara meninggalkan shalat itu suatu kekufuran, dan puasa anda tidak diterima. Hendaklah anda bertaubat kepada Allah dan melaksanakan shalat yang telah diwajibkan Allah atas diri anda, setetah itu anda berpuasa. Karena itulah ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, beliau bersaba.

    “Artinya : Maka ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah. Jika mereka mematuhimu maka beritahukanlah mereka bahwa Allah telah mewajibkan lima shalat dalam sehari semalam” [Hadits Riwayat Al-Bukhari, kitab Az-Zakah (1393), Muslim, kitab Al-Iman (1)]

    Beliau memulai perintah dengan shalat, lalu zakat setelah dua kalimah syahadat

    ***

    [Syaikh Ibnu Utsaimin, Fatawa Ash-Shiyam, dikumpulkan oleh Muhammad Al-Musnad, hal. 34]

    [Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-1, Darul Haq]

     
    • ZULFITRIANSYAH PUTRA 5:44 am on 14 Juli 2013 Permalink

      izin share

  • erva kurniawan 1:39 am on 13 July 2013 Permalink | Balas  

    Kiat di Masjid Selama Bulan Suci Ramadhan 

    Kiat di Masjid Selama Bulan Suci Ramadhan

    Pada bulan suci ramadhan adakalanya kita setelah sahur hendak sholat berjamaah dirumah atau dimasjid, untuk itu diperlukan kiat-kiat untuk bisa menjalankan sholat berjamaahnya dengan baik maupun untuk menambah amal pahala dibulan suci ramadhan.

    Setelah bangun tidur, sahur sebaiknya membersihkan diri, ditekankan untuk menjalankan salat subuh secara berjamaah, baik di rumah sekeluarga atau di masjid bersama masyarakat banyak (terutama pria). Jika anda pergi ke masjid, maka adabnya adalah sebagai berikut:

    1. Mengenakan pakaian yang bersih dan pantas, seperti yang dimaksud al Qur`an: Artinya: Wahai bani Adam, kenakanlah pakaianmu yang indah di setiap kali kamu memasuki masjid. (Q/7:31)
    2. Tidak mengotori masjid, misalnya meludah dengan sembarangan. Menurut hadis Rasulullah: meludah di masjid adalah dosa, penebusnya ialah dengan menghilangkannya.
    3. Menghindarkan diri dari bau tak sedap yang menggaggu orang lain, seperti bau jengkol, bau bawang, atau bau badan karena belum mandi dan sebagainya. Rasulullah bersabda: Barang siapa makan bawang putih, maka sekali-kali jangan mendekati masjid kami. (muttafaq `alaih)
    4. Tidak membicarakan urusan bisnis, apalagi transaksi di dalam masjid, Rasulullah bersabda: Seandainya kalian itu penduduk di sini (bukan tamu) sungguh akan kucambuki kalian, karena kalian berteriak-teriak di masjid Rasulullah. (H.R. Bukhari)
    5. Mengerjakan salat tahiyatal masjid, dua rakaat. Rasulullah bersabda: Apabila seseorang diantara kalian masuk masjid, maka janganlah duduk dulu sebelum salat dua rakaat.
    6. Tidak meninggalkan masjid jika azan sudah dikumandangkan. Seperti yang dikatakan oleh hadis riwayat Abu Hurairah.
    7. Memperpanjang jarak perjalanan ke masjid agar jumlah langkahnya lebih banyak, misalnya dengan mengambil rute yang berbeda- beda. Rasulullah bersabda: Barang siapa bersuci di rumahnya, lalu pergi ke salah satu masjid untuk menunaikan kewajiban salat fardlu, maka semua langkahnya yang satu menggugurkan dosanya dan yang lain mengangkat derajatnya. (H.R. Muslim)
    8. Sepanjang perjalanan menuju ke masjid hendaknya membaca doa, seperti yang diajarkan oleh Rasulullah : yang artinya: Ya Allah jadikanlah cahaya di hatiku dan di lidahku, jadikanlah pula cahaya di pendengaranku dan penglihatanku, ya Allah, jadikanlah cahaya dari belakangku dan dari hadapanku, jadikanlah pula cahaya dari atasku dan dari bawahku, ya Allah berikanlah kepadaku cahaya Mu. (muttafaq `alaih)
    9. Memulai dengan kaki kanan ketika memasuki masjid, sambil membaca doa: Bismillahi was sala tu was sala mu `ala rasulillah. Allahumma iftah li abwa ba rahmatika Artinya: Dengan nama Allah, salawat dan salam kepada Rasulullah Nya, ya Allah bukakanlah kepadaku semua pintu rahmat Mu. (H.R. Muslim)
    10. Saat ke luar dari masjid, mendahulukan kaki kiri, dan membaca doa: Bismillahi was sala tu was sala mu `ala rasulillahi Allahumma inni as`aluka min fadhlik Artinya: Dengan nama Allah, salawat dan salam kepada Rasulullah Nya, Ya Allah sesungguhnya aku mohon anugerah Mu. (H.R. Muslim)

    Wassalam,

    Oleh Sahabat Agus Syafii

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 13 July 2013 Permalink | Balas  

    16 Kekeliruan Umum Selama Ramadhan 

    16 Kekeliruan Umum Selama Ramadhan

    Meski Ramadhan bulan adalah bulan ampunan, untuk menyambut bulan suci Ramadhan yang kini ‘menyapa’ kita, di bawah ini kami sarikan 16 kekeliruan umum yang sering dialami umat Islam selama Ramadhan Hanya orang yang tidak tahu dan enggan saja yang tidak segera bergegas menyambut bulan suci ini dalam arti yang sebenarnya, lahir maupun batin. “Berapa banyak orang yang berpuasa (tapi) tak memperoleh apa-apa dari puasanya selain rasa lapar dan dahaga belaka”. (HR. Ibnu Majah & Nasa’i)

    Namun, setiap kali usai kita menunaikan ibadah shiyam, nampaknya terasa ada saja yang kurang sempurna dalam pelaksanaannya, semoga poin-poin kesalahan yang acap kali masih terulang dan menghinggapi sebagian besar umat ini dapat memberi kita arahan dan panduan agar puasa kita tahun ini, lebih paripurna dan bermakna.

    1. Merasa sedih, malas, loyo dan tak bergairah menyambut bulan suci Ramadhan

    Acapkali perasaan malas segera menyergap mereka yang enggan menahan rasa payah dan penat selama berpuasa. Mereka berasumsi bahwa puasa identik dengan istirahat, break dan aktifitas-aktifitas non-produktif lainnya, sehingga ini berefek pada produktifitas kerja yang cenderung menurun. Padahal puasa mendidik kita untuk mampu lebih survive dan lebih memiliki daya tahan yang kuat. Sejarah mencatat bahwa kemenangan-kemenangan besar dalam futuhaat (pembebasan wilayah yang disertai dengan peperangan) yang dilancarkan oleh Rasul dan para sahabat, terjadi di tengah bulan Ramadhan.

    Semoga ini menjadi motivator bagi kita semua, agar tidak bermental loyo & malas dan tidak berlindung di balik kata “Aku sedang puasa”.

    2. Berpuasa tapi enggan melaksanakan shalat fardhu lima waktu

    Ini penyakit yang –diakui atau tidak– menghinggapi sebagian umat Islam, mereka mengira bahwa Ramadhan cukup dijalani dengan puasa semata, tanpa mau repot mengiringinya dengan ibadah shalat fardhu. Padahal shalat dan puasa termasuk rangkaian kumulatif (rangkaian yang tak terpisah/satu paket) rukun Islam, sehingga konsekwensinya, bila salah satunya dilalaikan, maka akan berakibat gugurnya predikat “Muslim” dari dirinya.

    3. Berlebih-lebihan dan boros dalam menyiapkan dan menyantap hidangan berbuka serta sahur

    Ini biasanya menimpa sebagian umat yang tak kunjung dewasa dalam menyikapi puasa Ramadhan, kendati telah berpuluh-puluh kali mereka melakoni bulan puasa tetapi tetap saja paradigma mereka tentang ibadah puasa tak kunjung berubah. Dalam benak mereka, saat berbuka adalah saat “balas dendam” atas segala keterkekangan yang melilit mereka sepanjang + 12 jam sebelumnya, tingkah mereka tak ubahnya anak berusia 8-10 tahun yang baru belajar puasa kemarin sore.

    4. Berpuasa tapi juga melakukan ma’siat

    Asal makna berpuasa bermakna menahan diri dari segala aktifitas, dalam Islam, ibadah puasa membatasi kita bukan hanya dari aktifitas yang diharamkan di luar Ramadhan, bahkan puasa Ramadhan juga membatasi kita dari hal-hal yang halal di luar Ramadhan, seperti; Makan, minum, berhubungan suami-istri di siang hari.

    Kesimpulannya, jika yang halal saja kita dibatasi, sudah barang tentu hal yang haram, jelas lebih dilarang. Sehingga dengan masa training selama sebulan ini akan mendidik kita menahan pandangan liar kita, menahan lisan yang tak jarang lepas kontrol, dsb.

    “Barang siapa yang belum mampu meninggalkan perkataan dosa (dusta, ghibah, namimah dll.) dan perbuatan dosa, maka Allah tak membutuhkan puasanya (pahala puasanya tertolak).

    5. Sibuk makan sahur sehingga melalaikan shalat shubuh, sibuk berbuka sehingga melupakan shalat maghrib

    Para pelaku poin ini biasanya derivasi dari pelaku poin 3, mengapa ? Sebab cara pandang mereka terhadap puasa tak lebih dari ; “Agar badan saya tetap fit dan kuat selama puasa, maka saya harus makan banyak, minum banyak, tidur banyak sehingga saya tak loyo”. Kecenderungan terhadap hak-hak badan yang over (berlebihan).

    6. Masih tidak merasa malu membuka aurat (khusus wanita muslimah)

    Sebenarnya momen Ramadhan bila dijalani dengan segala kerendahan hati, akan mampu menyingkap hijab ketinggian hati dan kesombongan sehingga seorang Muslimah akan mampu menerima segala tuntunan dan tuntutan agama ini dengan hati yang lapang. Menutup aurat, misalnya, akan lebih mudah direalisasi ketimbang di bulan selain Ramadhan. Mari kita hindari sifat-sifat nifaq yang pada akhir-akhir ini sangat diumbar dan dianggap sah, Ramadhan serba tertutup, saat lepas Ramadhan, lepas pula jilbabnya, inilah sebuah contoh pemahaman agama yang parsial (setengah-setengah), tidak utuh.

    6. Menghabiskan waktu siang hari puasa dengan tidur berlebihan

    Barangkali ini adalah akibat dari pemahaman yang kurang tepat dari sebuah hadits Rasul yang berbunyi “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah” Memang selintas perilaku tidur di siang hari adalah sah dengan pedoman hadits diatas, namun tidur yang bagaimana yang dimaksud oleh hadits diatas? Tentu bukan sekedar tidur yang ditujukan untuk sekedar menghabiskan waktu, menunggu waktu ifthar (berbuka) atau sekedar bermalas-malasan, sehingga tak heran bila sebagian -besar- umat ini bermental loyo saat berpuasa Ramadhan.

    Lebih tepat bila hadits diatas difahami dengan; Aktifitas tidur ditengah puasa yang berpahala ibadah adalah bila ; Tidur proporsional tersebut adalah akibat dari letih dan payahnya fisik kita setelah beraktifitas; Mencari rezeki yang halal, beribadah secara khusyu’ dsb.

    Tidur proporsional tersebut diniatkan untuk persiapan qiyamullail (menghidupkan saat malam hari dengan ibadah) Tidur itu diniatkan untuk menghindari aktifitas yang –bila tidak tidur- dikhawatirkan akan melanggar rambu-rambu ibadah Ramadhan, semisal ghibah (menggunjing), menonton acara-acara yang tidak bermanfaat, jalan-jalan untuk cuci mata dsb.

    Pemahaman hadits diatas nyaris sama dengan pemahaman hadits yang menyatakan bahwa bau mulut orang yang berpuasa lebih harum daripada minyak misk (wangi) disisi Allah, bila difahami selintas maka akan menghasilkan pengamalan hadits yang tidak proporsional, seseorang akan meninggalkan aktifitas gosok gigi dan kebersihan mulutnya sepanjang 29 hari karena ingin tercium bau wangi dari mulutnya, faktanya bau mulut orang yang berpuasa tetap saja akan tercium kurang sedap karena faktor-faktor alamiyah, adapun bau harum tersebut adalah benar adanya secara maknawi tetapi bukan secara lahiriyah, secara fiqh pun, bersiwak atau gosok gigi saat puasa adalah mubah (diperbolehkan)

    7. Meninggalkan shalat tarwih tanpa udzur/halangan

    Benar bahwa shalat tarawih adalah sunnah tetapi bila dikaji secara lebih seksama niscaya kita akan dapatkan bahwa berpuasa Ramadhan minus shalat tarawih adalah suatu hal yang disayangkan, mengingat amalan sunnah di bulan ini diganjar sama dengan amalan wajib.

    8. Masih sering meninggalkan shalat fardhu 5 waktu secara berjama’ah tanpa udzur/halangan ( terutama untuk laki-laki muslim )

    Hukum shalat fardhu secara berjama’ah di masjid di kalangan para fuqaha’ adalah fardhu kifayah, bahkan ada yang berpendapat bahwa hukumnya adalah fardhu `ain, berdasarkan hadits Rasulullah SAW yang mengisahkan bahwa beliau rasanya ingin membakar rumah kaum Muslimin yang tidak shalat berjama’ah di masjid, sebagai sebuah ungkapan atas kekecewaan beliau yang dalam atas kengganan umatnya pergi ke masjid.

    9. Bersemangat dan sibuk beribadah sunnah selama Ramadhan tetapi setelah Ramadhan berlalu, shalat fardhu lima waktu masih tetap saja dilalaikan

    Ini pun contoh dari orang yang tertipu dengan Ramadhan, hanya sedikit lebih berat dibanding poin-poin diatas. Karena mereka Hanya beribadah di bulan Ramadhan, itupun yang sunnah-sunnah saja, semisal shalat tarawih, dan setelah Ramadhan berlalu, berlalu pula ibadah shalat fardhunya.

    10. Semakin jarang membaca Al Qur’an dan maknanya

    11. Semakin jarang bershadaqah

    12. Tidak termotivasi untuk banyak berbuat kebajikan

    13. Tidak memiliki keinginan di hatinya untuk memburu malam Lailatul Qadar

    Poin nomor 8, 10, 11, 12 dan 13 secara umum, adalah indikasi-indikasi kecilnya ilmu, minat dan apresiasi yang dimiliki oleh seseorang terhadap bulan Ramadhan, karena semakin besar perhatian dan apresiasi seseorang kepada Ramadhan, maka sebesar itu pula ibadah yang dijalankannya selama Ramadhan.

    14. Biaya belanja & pengeluaran ( konsumtif ) selama bulan Ramadhan lebih besar & lebih tinggi daripada pengeluaran di luar bulan Ramadan (kecuali bila biaya pengeluaran itu untuk shadaqah)

    15. Lebih menyibukkan diri dengan belanja baju baru, camilan & masak-memasak untuk keperluan hari raya pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan

    16. Lebih sibuk memikirkan persiapan hari raya daripada amalan puasa

    Mereka lebih sibuk apa yang dipakai di hari raya dibanding memikirkan apakah puasanya pada tahun ini diterima oleh Allah Ta’aala atau tidak Orang-orang yang biasanya mengalami poin-poin nomor 14, 15 dan 16 adalah orang-orang yang tertipu oleh “fatamorgana Ramadhan”, betapa tidak ? Pada hari-hari puncak Ramadhan, mereka malah menyibukkan diri mereka dan keluarganya dengan belanja ini-itu, substansi puasa yang bermakna menahan diri, justru membongkar jati diri mereka yang sebenarnya, pribadi-pribadi “produk Ramadhan” yang nampak begitu konsumtif, memborong apa saja yang mereka mampu beli. Tak terasa ratusan ribu hingga jutaan rupiah mengalir begitu saja, padahal di luar Ramadhan, belum tentu mereka lakukan. Semoga sentilan yang menyatakan bahwa orang Islam tidak konsisten dengan agamanya, karena di bulan Ramadhan yang seharusnya bersemangat menahan diri dan berbagi, ternyata malah memupuk semangat konsumerisme dan cenderung boros, dapat menggugah kita dari “fatamorgana Ramadhan”.

    Semoga Allah menganugerahi kita dengan rahmat-Nya, sehingga mampu menghindari kesalahan-kesalahan yang kerap kali menghinggapi mayoritas umat ini, amin. Hanya dengan keikhlasan, perenungan dan napak tilas Rasul, insya Allah kita mampu meng-up grade (naik kelas) puasa kita, wallaahu a’lam bis shawaab.

    ***

    (Ahmad Rizal, Alumni STAIL, dan KMI Gontor-Ponorogo/Hidayatullah)

    swaramuslim.net

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 12 July 2013 Permalink | Balas  

    Kiat-Kiat Mengisi Ramadhan 

    Kiat-Kiat Mengisi Ramadhan

    • Memperlambat sahur dan mempercepat berbuka puasa
    • Banyak melakukan infaq sodaqoh
    • Tilawatul Qur’an (membaca Qur’an) serta mempelajarinya (tadabbur)
    • Tingkatkan pemahaman agama dengan membaca tulisan2 atau buku2 Agama.
    • Meningkatkan disiplin dan muroqobatullah (perasaan bahwa Allah mengawasi kita)
    • Hidupkan malam dengan shalat tarawih dan Qiyamullail
    • Menjauhkan diri dari sebab2 yang dapat mendekatkan diri pada kemaksiatan.seperti pergaulan, bacaan, tontonan.
    • Memberikan makanan berbuka kepada orang-orang yang melakukan puasa, terutama bagi mereka yang kesulitan seperti fakir miskin, orang2 yang berada dalam perjalanan.
    • Berdzikir pada setiap kesempatan (duduk, berdiri dan berbaring)
    • Membuat skala prioritas segala aktivitas yang dapat mendekatkan diri pada Allah.
    • Perbanyaklah aktivitas yang berhubungan dengan kegiatan amal yang bersifat sosial bagi orang2 yang lemah, fakir miskin, anak yatim, kegiatan dakwah dll
    • Berusaha untuk saling menjaga hati dan sikap untuk menyempurnakan puasa kita menjaga pandangan dan bagi wanita diharapkan untuk berpakaian lebih tertutup minimal selama bulan Ramadhan
    • Beri’tikaf (berdiam diri dengan tujuan mendekatkan diri pada Allah dan menyempurnakan amal ibadah kita) terutama pada 10 malam terakhir.

    Note :

    Apabila mungkin tundalah aktivitas-aktivitas yang tidak berhubungan dengan kegiatan ukhrawi di sepuluh terakhir Ramadhan dan prioritaskan waktu-waktu ini untuk banyak melakukan ibadah dengan penuh kekhusyuan.

    Mengambil cuti kantor akan lebih baik pada hari-hari di sepuluh terakhir Ramadhan sehingga ibadah dan bermunajad kepada Allah dapat diperhebat atau untuk ber’itikaf di Mesjid

    Dengan kita mengetahui keistimewaan yang begitu besar yang diberikan oleh Allah pada bulan Ramdhan ini, kita berharap dapat bersama-sama mengisi Ramadhan ini dengan segala aktivitas yang dapat bernilai ibadah disisi Allah, karena Ramadhan hanya datang sekali dalam setahun dan siapakah yang dapat menjamin bahwa kita masih diberi kesempatan oleh Allah untuk bisa meni’mati Ramadhan-Ramadhan yang akan datang, mungkin saja ramadhan ini adalah ramadhan terakhir bagi kita, untuk itu janganlah kita lewatkan kesempatan yang berharga ini, janganlah Ramadhan ini lewat dengan sia-sia, tanpa memberikan arti bagi kita, sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah : “mereka tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga”. Semoga kita terhindar dari apa yang diisyaratkan Rasulullah tersebut.

    Wallahu’alam bishowab.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 11 July 2013 Permalink | Balas  

    Puasaku Tahun-Tahun Lalu 

    Puasaku Tahun-Tahun Lalu

    Sore itu, bulan Ramadhan tahun lalu adalah hari pertama puasa. Meskipun aku biasa berpuasa Senin dan Kamis, tetapi puasa Ramadhan selalu membawa kegembiraan dan suasana yang berbeda. Apalagi anak kami yang bungsu hari itu mulai belajar berpuasa. Aku menjanjikannya jika puasanya penuh akan kuberikan hadiah, seperti juga aku menghadiahi abangnya ketika mula pertama dia bisa berpuasa.

    Aku bergegas menepikan motorku ketika kurasakan getar ponsel disaku jaketku. Rupanya dari isteriku. “Jangan lupa ayah beli blewah atau timun suri 2 kemudian beli kelapa muda 4, minta pada penjualnya untuk dituang ke plastik jadi tidak sulit bawanya, saya sedang di toko dekat rumah beli sirup, beli kue-kue basah”

    ” Pasti”, jawabku, “Jangan lupa beli juga kue lapis beras dan lupis, kelapanya yang banyak. ”

    Sesampai di rumah; meja makan telah sarat dipenuhi berbagai penganan, lauk, nasi, minuman. Begitulah hampir selama sebulan, kami makan berlebihan; sehingga mudah mengantuk. Isteriku setiap sore hari rajin ke rumah makan membeli makanan jadi yang kemudian selalu bersisa. Pagi hari ketika sahur kami sibuk makan dan menonton acara hiburan di TV yang penuh candaria. Akibatnya ketika dikantor, aku merasakan produktivitas kerjaku menurun.

    Padahal kantorku telah memberikan kelonggaran selama bulan puasa kantor dimulai setengah jam lebih lambat, pulang juga demikian setengah jam lebih awal. Aku lebih banyak duduk-duduk saja atau melama-lamakan diri berada di masjid lingkungan perkantoran. Bukan untuk berzikir, mengingat DIA atau membaca-baca buku agama tetapi membiarkan tubuhku berbaring di lantai masjid yang sejuk itu. Meskipun telah ada peringatan dilarang tiduran di masjid, tetapi selama puasa larangan itu seolah tidak ada artinya.

    Beberapa hari kemudian aku dan isteriku menghadiri undangan berbuka bersama yang diselenggarakan oleh teman sekolahku yang mempunyai rizki berlebih sekaligus ia mempromosikan biro perjalanan hajinya. Acara ini diadakan di sebuah hotel berbintang. Hidangan beraneka ragam dan sangat berlimpah ruah. Sebelum bedug berbunyi kami dan semua tamu sudah berdatangan dan segera sibuk mengambil berbagai macam tajil yang tersedia.

    Kami seperti layaknya orang-orang yang sangat kelaparan. Menyendok kolak ke mangkuk, mengambil piring yang berisi kue-kue, puding dan kurma; mengambil cangkir, gelas-gelas minuman hangat dan dingin.

    Ketika tanda berbuka terdengar serentak kami menyesap minuman dengan tergesa kemudian bergegas sholat. Sholatpun kurang khusyu, memikirkan makanan yang sangat menggoda selera. Saat mengambil makanan, kami memenuhi piring lebar itu dengan nasi dan lauk yang menggunung. Mengisi penuh mangkuk-mangkuk dengan beraneka supjagung, sotomadura, tekwan…. Kami makan dengan ribut, mulut berkecipak, ditingkahi bunyi sendok dan piring yang beradu, gelak tawa, obrolan-obrolan, lalu lalang ke meja hidangan untuk mencicipi semua makanan yang tersedia.

    Namun demikian kapasitas perut ada batasnya; makanan itu tersisa berserakan di piring dan mangkuk. Ketika kami pulang kami melihat betapa banyak makanan yang berlebih yang tidak bisa dimakan lagi akibat penyakit ‘lapar mata’ yang parah dari hampir semua undangan. Jika dikumpulkan mungkin bisa untuk memberi makan kaum yang jarang makan lebih banyak lagi.

    Begitulah dahulu; selalu setiap puasa ramadhan berlangsung kami hanya sekedar menunda makan dan minum. Kami belum bisa menahan hawa nafsu yang berhubungan dengan urusan perut.

    Kami tidak bisa merasakan penderitaan orang yang kekurangan. Setiap berbuka puasa kami selalu merasa tidak cukup hanya berbuka dengan minum segelas teh manis hangat saja. Puasa sekarang; aku, isteri dan anak-anakku akan berusaha menjalaninya seperti semangat puasa sebenarnya. Berpuasa yang penuh kebaikan, mendapat ridha dan maghfirahNya, insya Allah.

    Latihan berempati merasakan penderitaan orang yang kekurangan, orang-orang yang berpuasa di daerah bencana. Lebih giat mengumpulkan uang bujet pembeli segala makanan yang berlebihan untuk disedekahkan. Tidak melihat acara hiburan TV; waktu-waktu itu bisa aku pergunakan untuk mengkaji ilmu agama, mengaji, bersama anak-anak.

    Bukankah jika puasa Senin atau Kamis aku juga tidak melihat TV di pagi hari buta. Makan minum di hari puasa Senin dan Kamis itu aku juga tidak menuntut yang istimewa. Isteriku juga akan berusaha lebih cerdas membelanjakan uang dapur untuk urusan makan dan minum. Karena setiap puasa justru timbangan badannya menjadi mekar karena ia merasa sayang melihat makanan yang berlebihan, mau di sedekahkan tidak layak, sehingga ia makan sendiri, begitu alasannya :-)

    Bulan puasa seharusnya pengeluaran belanja makan dan minum tidak bertambah bahkan sebaiknya ada kelebihan. Bukankah kita makan hanya 2 kali. Tapi mengapa justru selama puasa pengeluaran untuk belanja dapur selalu membengkak sampai dua kali lipat bahkan lebih?

    Teman sekantorku justru ada yang berhutang setiap bulan puasa hanya untuk keperluan makan dan minum. Sehingga dimanakah nilai puasa yang sebenarnya? Jika puasa hanya sekedar menunda makan dan minum; tapi ketika ada kesempatan untuk bersantap, kita seolah ‘membalasdendam’ – dan terlalu berlebihan?

    ***

    [Sebagian besar kisah nyata ini berdasarkan penuturan seorang teman]

    “………Makan dan minumlah, dan janganlah berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” [Al ‘Araaf;7:31]

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 10 July 2013 Permalink | Balas  

    24 Jam Bersama Orang-orang Shalih di Bulan Ramadhan 

    24 Jam Bersama Orang-orang Shalih di Bulan Ramadhan

    Bulan Ramadhan… Hari demi harinya adalah rentang waktu lipatan pahala yang tak ada batasnya. Jam demi jamnya adalah rangkuman kasih sayang Allah swt kepada hamba-hamba-Nya. Menit demi menitnya adalah hembusan angin surga yang begitu menyejukkan. Detik demi detiknya ada1ah kesempatan yang tak ternilai dibandingkan seumur hidup kita. Maka, mengagendakan aktifitas selama bulan Ramadhan menjadi sangat penting. Disiplin dan hati-hati menjalani hari-harinya harus menjadi tekad dalam hati semua hamba Allah swt yang menghendaki maghfirah dan hidayah-Nya.

    Berikut ini adalah contoh bagaimana kita melewati hari demi hari yang penuh kemuliaan itu. Dengan mengikuti kebiasaan dan perkataan Rasulullah, para salafusholih dan juga para ulama yang begitu menyadari kemuliaan Ramadhan, Semoga Allah swt menguatkan kita untuk menjadi alumni Ramadhan yang berhasil.

    Waktu Sahur hingga Subuh:

    Bangunlah sebelum fajar, sekitar pukul 03.00 pagi. lni adalah waktu sepertiga malam terakhir yang istimewa. Lakukan shalat qiyamul lail beberapa rakaat. Jangan lupa bangunkan keluarga untuk shaiat ma1am. Umar bin Khaththab ra biasa mengerjakan shalat malam. Apabila tiba pertengahan malam, beliau segera mernbangunkan keluarganya untuk shalat. la berseru: “Shalat, shalat!” seraya membacakan ayat ini: “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerja-kannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, Kamilah yang memberi rizki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa.” (Qs. Thoha: 132)

    Banyak di antara kita yang lalai melewati waktu ini dengan istirahat dan tidur, lalu segera makan sahur. Mungkin karena menganggap ibadah shalat tarawih sudah dilakukan setelah isya. Padahal waktu-waktu sepertiga malam seharusnya tetap bisa dihidupkan lebih banyak daripada bulan-bulan lain.

    Pada waktu inilah, disebutkan dalam hadits Rasulullah saw, “Rabb kami turun setiap malam ke langit dunia saat sepertiga malam terakhir dan berkata: “Siapa yang berdo’a kepada-Ku, Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, Aku ampuni dia.” (HR. Jamaah)

    “Barangsiapa yang menunaikan qiyamul lail pada bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosa-nya yang telah lalu.” (HR Bukhori dan Muslim)

    Dalam Al Qur’an, Allah swt berfirman: “Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” (Al-Furqan : 63-64)

    Setelah itu kita bisa menunaikan makan sahur yang memang disunnahkan oleh Rasulullah saw. Jangan lupa tanamkanlah niat dan ikhlaskanlah berpuasa pada siang hari nanti. LaIu bersiap untuk shalat Subuh berja-maah di masjid dan berangkatlah lebih awal. Di masjid sibukkanlah diri dengan memper-banyak istighfar. Aktifitas seperti ini disebutkan dalam Al Qur’anul Karim, “… wal mustaghfiriina bil ashaar.,” Pada waktu sahur kita memang dianjurkan banyak berdo’a, karena waktu sahur termasuk waktu diijabahnya do’a seorang hamba. Setelah azan subuh dirikanlah shalat dua rokaat sebelum subuh. Kemudian tunaikanlah shalat Subuh berjamaah.

    Setelah Subuh:

    Berhati-hatilah dari terpaan rasa kantuk bila kita tidak terbiasa bangun lebih pagi pada hari-hari yang lain. Berusahalah untuk tidak tidur dalam ruas waktu setelah subuh hingga terbit matahari. Para salafushalih sangat tidak menyukai tidur pada waktu itu. Ibnul Qayyim Al Jauziyah dalam Madarijus Salikin menyebutkan, “Di antara tidur yang tidak disukai menurut mereka ialah tidur antara shalat subuh dan terbit matahari, karena ia merupakan waktu untuk memperoleh hasil. Bagi perjalanan ruhani, pada saat itu terdapat keistimewaan besar, sehinga seandainya mereka melakukan perjalanan (kegiatan) semalam suntuk pun, belum tentu dapat menandinginya.”

    Jika kita sangat dibebani kantuk, bertahanlah dan bersabarlah, karena biasanya kebiasaan itu akan terbentuk setelah tiga hari kita melakukan suatu ritme yang berbeda. Selanjutnya, insya Allah kita tidak akan merasakan kantuk sedahsyat sebelumnya.

    Duduklah berdzikir setelah subuh hingga matahari terbit adalah sunnah. Dari Abu Umamah Ra dikatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah kemudian duduk berdzikir kepada Allah sampai terbitnya matahari, kemudian berdiri dan shalat dua rakaat, maka ia akan memperoleh pahala haji dan umrah.” Waktu ba’da subuh hingga matahari terbit adalah waktu yang penuh barakah yang seharusnya benar-benar dipelihara oleh setiap mukmin. Peliharalah waktu itu dengan mengisinya melalui tilawatul Quran satu juz dalam satu hari, berdzikir atau menghafal. Inilah yang dilakukan Rasulullah saw selesai menunaikan shalat Subuh, bahwa ia selalu duduk di tempat shalatnya hingga terbit matahari.” (HR. Muslim)

    Imam At-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dari Anas bin Malik dari Rasulullah, bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa shalat fajar berjama’ah di masjid, kemudian tetap duduk berdzikir mengingat Allah, hingga terbit matahari lalu shalat dua rakaat (Dhuha), maka seakan-akan ia mendapat pahala haji dan umrah dengan sempurna, sempurna dan sempurna.” (Dinyatakan shahih oleh Al-Albani)

    Hal ini berlaku pada setiap hari, maka bagaimana pula bila dilakukan pada bulan Ramadhan. Berusahalah mendapatkan pahala yang agung ini. Dengan tidur malam yang cukup dan meneladani orang-orang shalih. Senantiasa bersungguh-sungguh dalam mencari keridhaan Allah SWT, dan selalu bertekad untuk mencapai derajat yang tinggi di dalam Surga. Sholat Dhuha SholaT dhuha disebutkan oleh Rasulullah, adalah shalatnya orang-orang awwabin, yakni orang-orang yang kembali kepada Allah swt. Waktunya mulai meningginya matahari sepanjang tombak. Menurut hadits shahih, shalat dhuha dilakukan paling sedikit dua rakaat dan paling banyak delapan rakaat.

    Saat bekerja:

    Banyak di antara kita yang tetap memiliki rutinitas mencari nafkah, belajar dan bekerja di bulan ini. Bekerjalah dengan penuh sema-ngat dan teliti. Selingilah waktu-waktu bekerja dengan berdzikir dan tidak meninggalkan shalat berjamaah di awal waktu. Teruslah berusaha menambah amal-amal sunnah yang bisa dilakukan di saat bekerja. Seperti mengajak orang lain kepada kebaikan, bersedekah, ikut berkontribusi dalam pelaksanaan kegiatan di masjid kantor pada bulan Ramadhan, dan sebagainya. Ingatlah sabda Rasulullah saw, “Seluruh amal ibadah bani Adam adalah milik-nya, dan setiap kebaikan akan dibalas 10 kali lipat hingga 700 kali lipat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata: “Kecuali ibadah puasa, sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan Akulah yang langsung membalasnya. Seorang yang berpuasa telah menahan diri dari syahwat, makanan dan minumannya karena Aku semata. Ada dua kegembiraan bagi orang yang berpuasa, kegembiraan saat berbuka dan kegembiraan tatkala bertemu dengan Allah. Dan sungguh bau muiut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak kesturi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Pertengahan siang :

    Berusahalah untuk beristirahat sekitar 15-30 menit menjelang atau sesudah waktu shalat Zuhur. Istirahat dan tidur pada rentang waktu ini disebut dengan qailulah. Rasulullah saw dan para salafushalih biasa melakukan qailulah. Imam Al Ghazali menyebutkan bahwa qailulah merupakan simpanan energi bagi mereka yang ingin melakukan qiyamul lail pada hari itu. Waktunya tidak lebih dari setengah jam. Tapi manfaatnya akan terasa saat kita bangun malam.

    Waktu Asar:

    Shalatlah berjamaah di masjid. Ingatlah lipatan pahala di bulan ini, minimum adalah 70 kali lipat dari kebaikan di bulan selainnya. Bila usai shalat saat bekerja sudah selesai, lakukanlah kajian-kajian keislaman, baik dengan membaca buku, diskusi, mendengarkan ceramah, mendengar kajian melalui kaset, atau lainnya. Banyak tema yang bisa kita perdalam pada kesempatan ini, misalnya tema-tema “pelembut jiwa dan hati”. Informasi ini bisa diambil dari hadits-hadits Nabawi atau dari tafsir Al Qur an.

    Mendengarkan kajian Islam melalui kaset bisa menjadi alternatif baik karena bisa dilakukan sambil mengerjakan pekerjaan rumah yang lain. Lakukan hal ini sampai menjelang maghrib untuk bersiap dzikir sore. Segeralah berbuka kemudian shalat maghrib di masjid. Setelah shalat maghrib lanjutkan berbuka puasa ala kadarnya. Jangan terlalu kenyang.

    Waktu Magrib/Berbuka Puasa:

    Bersyukurlah secara lebih mendalam kehadirat Allah swt. Bahwa kita diberikan karunia untuk bisa menyelesaikan hari dengan berpuasa. Jangan lupa berdo’a dengan khusyu ketika berbuka. Ada sebuah doa yang tidak tertolak bagi orang yang berpuasa saat berbuka. Berbukalah dengan tegukan-tegukan air manis diiringi dengan kesyukuran di dalam hati.

    Sebaiknya kita tidak segera melanjutkan berbuka dengan makanan berat. Tundalah sebentar makanan berbuka kita, untuk menunaikan shalat magrib berjamaah dimasjid. Ingatlah kenapa kita penting mempertahankan ibadah shalat berjamaah di masjid. Usai berjamaah, lanjutkan berbuka dengan memakan makanan lebih berat. Jangan terlalu banyak, makanlah secukupnya saja.

    Waktu Isya:

    Segeralah pergi menunaikan shalat isya dan tarawih di masjid. Berusahalah untuk disiplin melakukan shalat isya dan tarawih di masjid, apapun keadaannya. Jika harus terha-langi oleh kegiatan yang mendesak, lakukan shalat tarawih segera setelah kita selesai menunaikan kegiatan tersebut.

    Setelah itu pulanglah ke rumah untuk bertemu dan ber-bincang-bincang dengan keluarga. Mungkin juga pada saat itu kita menyimak perkem-bangan berita namun tidak terlena hingga melewati jam 10 malam. Tidurlah segera, semampunya. Sebaiknya kita menyempurnakan shalat tarawih bersama imam, agar kita termasuk orang-orang yang menghidupkan Ramadhan dengan shalat malam. Rasulullah Saw bersabda: “Siapa saja yang shalat tarawih bersama imam hingga selesai, akan ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah)

    Lakukanlah ini terus menerus sepanjang 20 hari pertama bulan Ramadhan. Untuk kaum Muslimah tentu saja agenda di atas bisa dilakukan di rumah. Tapi untuk shalat isya dan tarawih bisa dilakukan di masjid. Ingat juga, agar kita lebih banyak mendengarkan kajian Islam maupun tilawah Al Quran di rumah di sela-sela mengurus pekerjaan rumah.

    Setelah 20 Hari Ramadhan

    Rasulullah biasa beri’tikaf selama sepuluh hari setiap bulan Ramadhan. Pada tahun beliau wafat, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari. (HR. Al-Bukhari). I’tikaf adalah ibadah yang menghimpun berbagai jenis ibadah lainnya. Saik tilawah Al-Qur’an, shalat, dzikir, do’a, tadabbur dan tain-lain. Bagi kita yang belum pernah melaksanakan i’tikaf, mungkin membayangkan I’tikaf adalah ibadah yang berat dan sulit. Bagaimana mungkin kita bisa menjalani hidup selama 10 hari di masjid? Bagaimana dengan keperluan harian kita? Bagaimana juga dengan keluarga di rumah? Padahal sebenarnya jika dijalankan dengan penuh keikhlasan dan tekad yang sungguh-sungguh, i’tikaf tidak sesulit yang dibayangkan. Allah swt akan mempermudah orang yang bersungguh-sungguh dan ikhlas menjalankan ibadah kepada-Nya.

    I’tikaf sangat dianjurkan pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan sekaligus untuk meraih malam Lailatul Qadar. I’tikaf adalah mengurung diri dan mengikatnya untuk berbuat taat dan selalu mengingat Allah. Memutuskan hubungan dengan segala kesibukan-kesibukan duniawi. Mengurung hati dan jasmani hanya untuk Allah dan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Tidak ada terbetik dalam hatinya sesuatu keinginan pun selain Allah dan yang mendatangkan ridha-Nya.

    Ibnul Qayyim ketika menjelaskan beberapa hikmah i’tikaf berkata: “Kelurusan hati dalam perjalanannya menuju Allah sangat bergan-tung kepada kuat tidaknya hati itu berkon-sentrasi mengingat Aliah. Dan merapikan kekusutan hati serta menghadapkannya se-cara total kepada Allah. Sebab kekusutan hati hanya dapat dirapikan dengan menghadapkan secara total kepada Allah.

    Perlu diketahui bahwasanya makan dan minum yang berfe-bihan, kepenatan jiwa dalam berinteraksi sosial, terlalu banyak berbicara dan tidur akan menambah kekusutan hati bahkan dapat menceraiberaikannya, dan menghambat perjalanannya menuju Allah atau melemahkan langkahnya. Maka sebagai konsekuensi rahmat Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengasih terhadap hamba-hambaNya, Allah mensyari’atkan ibadah puasa atas mereka untuk menghilangkan kebiasaan makan dan minum secara berlebih-lebihan serta membersihkan hati dari noda-noda syahwat yang menghalangi perjalanan-nya menuju Allah. Dan mensyariatkan i’tikaf yang inti dan tujuannya ialah menambat hati untuk senan-tiasa mengingat Allah, menyendiri mengingat-Nya, menghen-tikan segala kesibukan yang berhubungan dengan makhluk, dan memfo-kuskan diri bersama Allah semata. Sehingga kegundahan dan goresan-goresan hati dapat diisi dan dipenuhi dengan dzikruflah, men-cintai dan menghadap kepada-Nya.

    Pelajarilah hukum I’tikaf dan tanamkanlah tekad untuk benar-benar bisa menjalaninya selama sepuluh hari terakhir Ramadhan. Tak ada yang bisa menandingi keutamaan malam-malam I’tikaf sepanjang hidup kita.

    Perbanyak ibadah, seperti shalat, tilawah Al-Qur’an, membaca buku-buku agama, berdiskusi dan mengkaji masalah-masalah agama Islam dan lain-lain. Jangan terjerumus pada obrolan yang sia-sia, seperti berdebat, mencela, memaki dan lain-lain.

    Kaum wanita boleh beri’tikaf di dalam mas-jid. Jika terjaga dari fitnah dan diizinkan oleh suami. Hukum-hukum yang berkaitan dengan i’tikaf bagi kaum lelaki juga berlaku bagi kaum waniita. Hanya saja i’tikaf kaum wanita otomatis batal jika mereka haidh. Dan mereka boleh melanjutkannya kembali jika sudah suci.

    I’tikaf adalah sunnah Rasulullah. Maka, segeralah menghidupkan sunnah Nabi ini dan memasyarakatkannya di tengah-tengah keluarga, kerabat dekat, saudara-saudara dan teman-temanmu serta di tengah masyarakat. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa menghidupkan salah satu sunnahku yang telah diabaikan, maka ia akan memperoleh pahala seperti orang yang mengerjakannya tanpa dikurangi dari pahala mereka sedikitpun.” (HR. Tirmidzi).

    Di sisi lain beberapa faidah yang dapat dipetik dari sunnah i’tikaf ini adalah pembinaan jiwa dan melatihnya dalam mengerjakan ketaatan. Mencari Malam Lailatul Qadr Allah swt berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (Al-Qadr:1-3)

    Rasulullah saw bwesabda: “Barangsiapa yang bangun di malam Lailatul Qadr karena keimanan dan keikhlasan, niscaya akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

    Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam senantiasa mencari malam Lailatul Qadr dan memerintahkan sahabat untuk mencarinya. Beliau membangunkan keluarganya pada malam sepuluh terakhir dengan harapan mendapat malam Lailatul Qadr. Dalam Musnad Ahmad dari ‘Ubadah, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang bangun sebagai usaha untuk mendapat malam Lailatul Qadr, lalu ia benar-benar mendapatkannya, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang.”

    Sejumlah salafushalih mandi dan memakai minyak wangi pada sepuluh malam terakhir untuk mencari malam Lailatul Qadr, malam yang telah dimuliakan dan diangkat derajatnya oleh Allah. Jika kita termasuk orang yang telah menyia-nyiakan umur, kejarlah segala yang terluput atas dirimu pada malam Lailatul Qadr ini. Sebab malam inilah sebagai pengganti umur, beramal pada malam ini lebih baik dari pada seribu bulan. Malam itu datang pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, tepatnya pada malam-malam ganjil, dan lebih diharapkan lagi pada malam kedua puluh tujuh. Berdasarkan riwayat Muslim dari Ubay bin Ka’ab Radhiallaahu anhu bahwa ia berkata: “Demi Allah, sungguh aku mengetahui datangnya malam itu. Yaitu pada malam yang Rasulullah memerintahkan kami untuk menghidupkannya, yaitu malam kedua puluh tujuh.”

    Namun begitu, hendaknya kita tidak terlalu terpengaruh dengan hitungan malam ganjil atau tidak. Lakukanlah sepenuh kemampuan dan keseriusan setiap malam-malam dari 10 terakhir bulan Ramadhan. Kerap kali orang yang hanya mencari malam-malam ganjil ternyata justru tidak bisa memaksimalkan amal-amal ibadah di malam bulan itu. Semoga kita dikaruniakan Allah swt termasuk hamba-hamba-Nya yang mendapat rahmat-Nya karena bulan ini.

    Wallahu’alam

    ***

    Majalah Tarbawi

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 9 July 2013 Permalink | Balas  

    Kurma dan Kesehatan 

    Kurma dan Kesehatan

    Kandungan kalorinya yang tinggi dan mudah dicerna oleh tubuh memang cocok kalau dikonsumsi saat berbuka puasa. Khasiat yang lebih istimewa, kurma dapat menurunkan risiko serangan stroke berkat tingginya kalium yang dikandungnya.

    Umumnya buah-buahan adalah sumber utama vitamin. Terutama vitamin C dan mineral. Kandungan energi atau kalorinya juga rendah, sebab lemak yang yang dikandungnya juga rendah. Namun ada pengecualian, misalnya kurma.

    Kandungan lemak pada kurma juga bisa diabaikan. Namun, karbohidratnya yang tinggi membuat buah ini bisa menyediakan energi yang tinggi pula.

    Malah paling tinggi diantara keluarga besar buah-buahan. Keunggulan lainnya, kurma mengandung zat gizi, penting bagi fungsi tubuh, terutama jantung dan pembuluh darah, yaitu kalium.

    Fungsi mineral ini membuat denyut jantung makin teratur, mengaktifkan kontraksi otot serta membantu tekanan darah.

    Itulah mengapa kurma menjadi istimewa. Apalagi beberapa penelitian membuktikan, makanan tinggi kalium bisa menurunkan risiko serangan stroke.

    Cukup lima butir sehari.

    Penelitian di Kalifornia Utara , AS pada wanita dan pria di atas usia 50 tahun. Ternyata makin banyak makanan kaya kalium yang dikonsumsi biasanya makin kecil kemungkinan orang menderita stroke.

    Para peneliti menyimpulkan dengan hanya makan satu porsi ekstra makanan kaya kalium (minimal 400 mg setiap hari) risiko fatal bisa diturunkan sampai 40%. Batas 400 mg itu terpenuhi dengan makan kurma kering sekitar 65 g saja atau setara dengan 5 butir kurma.

    Menurut Dr. Louis Tobian,Jr., pakar penyakit darah tinggi dari Minnesota University AS ,kurma juga bisa membantu menurunkan tekanan darah, serta bisa memberi kekuatan tambahan dalam mencegah stroke secara langsung, bagaimanapun kondisi tekanan darah seseorang.

    Kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukannya bahwa konsumsi ekstra kalium bisa bisa menjaga dinding arteri tetap elastis dan berfungsi normal. Keadaan ini membuat pembuluh darah tidak mudah rusak akibat tekanan darah.

    Memiliki aktifitas seperti aspirin

    Selain kalium yang berguna bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah, kurma juga mengandung salisilat. Zat yang dikenal sebagai bahan baku aspirin, obat pengurang atau penghilang rasa sakit dan demam.

    Berdasarkan hal itu para pakar mengharapkan, dosis rendah salisilat dalam makanan yang di konsumsi secara kontinyu bisa juga meredakan sakit kepala.

    Komposisi gizi

    Nilai gizi yang jadi andalan utama kurma adalah kandungan karbohidrat sederhananya alias gulanya yang tinggi. Kebanyakan varietas kurma mengandung gula glukosa ( jenis gula yang ada dalam darah) atau fruktosa (jenis gula yang terdapat dalam sebagian besar buah-buahan).

    Namun ada satu varietasnya yang bernama Deglet Noor yang tumbuh di Kalifornia hanya mengandung gula sukrosa (dikenal juga sebagai gula pasir).

    Sebagian besar zat gula yang terdapat pada kurma sudah diolah secara alami dan tidak berbahaya bagi kesehatan. Seperti halnya gula pada buah-buahan yang dinamai fruktosa, zat ini mudah dicerna dan mudah dibakar oleh tubuh. Dengan demikian akan menghasilkan tenaga yang tinggi, tanpa mempersulit tubuh untuk mengolah, mencerna dan menjadikannya sebagai gizi yang baik.

    Itu sebabnya mengapa kurma dianggap sebagai buah yang ideal untuk hidangan berbuka puasa ataupun sahur. Segelas air yang mengandung glukosa, menurut Dr. David Conning ;Direktur jenderal British Nutrition Foundation, akan diserap tubuh dalam 20-30 menit.

    Tetapi gula yang terkandung dalam kurma baru habis terserap dalam tempo 45-60 menit.Makanya orang yang makan kurma cukup banyak pada waktu sahur akan menjadi segar dan tahan lapar, sebab bahan pangan ini juga kaya akan serat.

    Keunggulan kurma lainnya, mengandung berbagai vitamin penting. Seperti vitamin A, tiamin dan riboflavin dalam jumlah yang bisa diandalkan, serta niasin dan kalium dalam jumlah yang sangat andal. Selain itu buah ini juga memuat berbagai zat gizi lainnya, seperti zat besi, vitamin B1, asam nikotinat, serta serat (bukan zat gizi) dalam jumlah memadai.

    Zat gizi berfungsi membantu melepaskan energi, menjaga kulit dan saraf agar tetap sehat, serta penting untuk fungsi jantung. Kurma juga mengandung banyak mineral penting seperti magnesium, potasium dan kalsium yang sangat diperlukan oleh tubuh.

    Serat yang terdapat dalam kurma berfungsi melunakkan usus dan mengaktifkannya, yang secara alami bisa mempermudah buang air besar. Dalam kurma juga terkandung semacam hormon (potuchsin) yang bisa menciutkan pembuluh darah dalam rahim; sehingga dengan demikian bisa mencegah terjadinya pendarahan rahim.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 8 July 2013 Permalink | Balas  

    Tidurnya Orang Berpuasa itu Ibadah 

    Tidurnya Orang Berpuasa itu Ibadah

    Oleh Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub, M.A.

    Ada tiga kejadian menarik yang berkaitan dengan Hadis yang akan kita bahas ini. Pertama pada bulan Ramadhan, tahun 1968, di sebuah pesantren di pesisir utara Jawa Tengah, seorang santri selalu tidur pa­da siang hari Ramadhan. Padahal para santri lainnya ramai-ramai mengikuti pengajian kitab kuning yang khusus diadakan pada setiap bulan Ramadhan. Istilah pesantrennya, Ngaji Pasaran.

    “Kang, bangun Kang, ngaji,? begitu kata seorang temannya mem­bangunkan. “Biarkan saja, tidurnya orang yang berpuasa itu ‘kan iba­dah,? begitu kata kawan santri yang lain seolah membela santri yang sedang tidur itu. Dan tampaknya, ungkapan kawan yang membela itu bukan sekadar ungkapan biasa, karena di kalangan para santri itu populer sebuah Hadis yang menyebutkan seperti itu.

    Diskusi di London

    Lain lagi dengan kejadian yang kedua ini yaitu yang terjadi pada musim panas tahun 1978 di London Inggris. Seorang mahasiswa Indonesia yang belajar di salah satu negara di Timur Tengah berlibur musim panas di kota super modern yang penuh dengan kebun-kebun raya itu. Ia menjadi tamu seorang Home Staff KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di London.

    Karena waktu itu bulan Ramadhan, maka pada pagi hari maha­siswa tadi tidur di rumah. Sedangkan tuan rumah pergi ke KBRI. Agak siang, mahasiswa tadi bangun dan selanjutnya bersama kawannya yang juga mahasiswa di Timur Tengah keluar, berjalan-jalan melihat Kota London. Menjelang sore, ketika tuan rumah belum pulang dari KBRI, mahasiswa tadi sudah pulang ke rumah, kemudian sambil menunggu sore ia tidur lagi.

    Ketika tuan rumah pulang petang hari dan dilihatnya mahasiswa tadi tidur seharian, ia berkata, “Kalau puasa hanya tidur saja, anak kecil juga bisa.? Mendengar sindiran itu mahasiswa tadi berkomentar, “Orang berpuasa itu tidurnya saja dinilai ibadah. Begitu kata sebuah Hadis.?

    “Ah, mana mungkin begitu,? kata tuan rumah, “Orang tidur kok beribadah. Ini berarti tidurnya saja sudah mendapatkan pahala, padahal orang beribadah itu mendapat pahala karena ia menghadapi tantangan dan godaan. Lantas, orang yang tidur itu apa tantangan dan godaannya?? katanya memberikan alasan.

    “Tetapi banyak yang mengatakan ungkapan itu sebuah Hadis,? jawab mahasiswa tadi. “Lha ini, Sampeyan ini ‘kan mahasiswa dan belajar agama Islam di Timun Tengah. Seharusnya sampeyan meneliti Hadis itu. Apa benar itu sebuah Hadis?? kata tuan rumah tadi mengharapkan kepada tamunya.

    Itulah dua kejadian yang sangat berjauhan baik dari segi waktu maupun tempat. Namun demikian, kedua kejadian itu mempunyai topik yang sama, yaitu Hadis tidurnya orang berpuasa itu merupakan ibadah.

    Narasumber di Televisi

    Kejadian ketiga baru saja pada bulan Ramadhan 1423 H yang lalu. Di sebuah stasiun televisi, seorang yang berpangkat Kiai Haji dan namanya tidak dikenal di kalangan masyarakat umum, menjadi nara­sumber untuk acara yang disiarkan pada siang hari. Sementara sebagai pembawa acara ditampilkan seorang artis sinetron yang namanya juga tidak begitu kondang.

    Kata pembawa acara, “Pak Kiai,? begitu ia menyapa narasumber. “Sebenarnya apa keutamaan bulan Ramadhan itu?? Pak Kiai yang saat itu mengenakan peci putih dan lehernya dililit surban menjawab dengan penuh percaya diri bahwa keutamaan bulan Ramadhan itu ada lima macam. Kemudian ia mengatakan, “Dalam sebuah Hadis, Nabi Muhammad Saw mengatakan bahwa tidurnya orang yang berpuasa itu merupakan ibadah, diamnya saja sama dengan membaca tasbih. Pahala amalnya dilipatgandakan, doanya dikabulkan, dan dosanya diampuni.? Itulah keutamaan bulan Ramadhan,? kata narasumber tadi tanpa sedikit pun ragu-ragu bahwa Hadis yang dia sampaikan itu adalah Hadis yang bermasalah. Sementara sang artis yang menjadi pembawa acara sekaligus pewawancara tadi manggut-manggut saja.

    Tidak Populer

    Hadis yang disebut-sebut di tiga tempat di atas itu layaknya merupakan Hadis populer karena banyak orang mengetahuinya. Namun ternyata Hadis tersebut tidak tercantum dalam kitab-kitab Hadis populer. Hadis itu diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dalam kitabnya Syu‘ab al-Iman, kemudian dinukil oleh Imam al-Suyuti dalam kitabnya al-Jami al-Shaghir?

    Teks lengkap Hadis tersebut adalah sebagai berikut:

    “Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah, diamnya adalah tasbih, amalnya dilipatgandakan (pahalanya), doanya dikabulkan, dan dosanya diampuni.?

    Hadis Palsu

    Menurut Imam al-Suyuti, kualitas Hadis ini adalah dha‘if (lemah). Bagi orang yang kurang mengetahui ilmu Hadis, pernyataan Imam al-­Suyuti ini dapat menimbulkan salah paham, sebab Hadis dha’if itu secara umum masih dapat dipertimbangkan untuk diamalkan. Sedangkan Hadis palsu (maudhu), semi palsu (matruk), dan atau munkar tidak dapat dijadikan dalil untuk beramal sama sekali, hatta sekedar untuk mendorong amal-amal kebajikan (fadhail al-a‘mal).

    Kesalahpahaman itu akan segera hilang manakala diketahui bahwa Hadis palsu dan sejenisnya itu merupakan bagian dari Hadis dha’if. Karenanya, suatu saat, Hadis palsu juga dapat disebut Hadis dha’if. Walau bagaimanapun Imam aI-Suyuti akhirnya menuai kritik juga dari para ulama atas pernyataannya itu, karena beliau dianggap tasahul (mempermudah) dalam menetapkan kualitas Hadis. Salah satunya adalah dari Imam Muhammad Abd al-Ra’uf al-Minawi dalam kitabnya Faidh al-Qadir yang merupakan kitab syarah (penjelasan) atas kitab al-­Jami al-Shaghir.

    Al-Minawi menyatakan bahwa pernyataan aI-Suyuti itu memberikan kesan bahwa Imam al-Baihaqi menilai Hadis tersebut dha’if, padahal masalahnya tidak demikian. Imam al-Baihaqi telah memberikan komentar atas Hadis di atas, tetapi komentar Imam al-Baihaqi itu tidak dinukil oleh imam al-Suyuti. Imam al-Baihaqi ketika menyebutkan Hadis tersebut, beliau memberikan komentar atas beberapa rawi yang terdapat dalam sanadnya.

    Menurut Imam al-Baihaqi, di dalam sanad Hadis itu terdapat nama­-nama seperti Ma’ruf bin Hisan, seorang rawi yang dha’if, dan Sulaiman bin Amr al-Nakha’i, seorang rawi yang lebih dha’if daripada Ma’ruf. Bahkan menurut kritikus Hadis al-Iraqi, Sulaiman adalah seorang pendusta. Demikian Imam al-Baihaqi seperti dituturkan oleh al-Minawi.

    Al-Minawi sendiri kemudian menyebutkan beberapa nama rawi yang terdapat dalam sanad Hadis di atas, yaitu Abd al-Malik bin Umair, seorang yang dinilai sangat dha’if. Namun rawi yang paling parah kedha’ifannya adalah Sulaiman bin Amr al-Nakha’i tadi, yang dinilai oleh para ulama kritikus Hadis sebagai seorang pendusta dan pemalsu Hadis.

    Perhatikan penuturan para ulama berikut ini. Menurut Imam Ahmad bin Hanbal, Sulaiman bin Amr al-Nakha’i adalah pemalsu Hadis. Yahya bin Ma’in menyatakan, “Sulaiman bin Amr dikenal sebagal pemalsu Hadis.? Bahkan dalam kesempatan lain, Yahya bin Ma’in mengatakan, “Sulaiman bin Amr adalah manusia paling dusta di dunia ini.? Imam al­Bukhari mengatakan, “Sulaiman bin Amr adalah matruk (Hadisnya semi palsu lantaran ia pendusta). Sementara Yazid bin Harun mengatakan, “Siapa pun tidak halal meriwayatkan Hadis dari Sulaiman bin Amr.?

    Imam Ibnu Adiy menuturkan, “Para ulama sepakat bahwa Sulai­man bin Amr adalah seorang pemalsu Hadis.? Ibnu Hibban mengata­kan, “Sulaiman bin Amr al-Nakha’i adalah orang Baghdad, yang secara lahiriyah, dia adalah orang yang shalih, tetapi ia memalsu Hadis. Sementara Imam al-Hakim tidak meragukan lagi bahwa Sulaiman bin Amr adalah pemalsu Hadis.

    Keterangan-keterangan ulama ini cukuplah sudah untuk menetapkan bahwa Hadis di atas itu palsu.

    Beraktivitas Malam Hari

    Tampaknya Hadis di atas itu telah berdampak buruk bagi perilaku sebagian masyarakat Islam, khususnya di Indonesia. Banyak orang berpuasa tetapi tidak mau bekerja pada siang hari. Mereka banyak tidur-tidur saja. Alasannya, itu tadi, mereka menyebut-nyebut Hadis bahwa tidurnya orang yang berpuasa itu adalah ibadah.

    Memang benar, orang yang berpuasa itu meskipun tidur, ia tetap akan mendapatkan pahala. Tetapi pahala itu diperolehnya lantaran puasanya itu, bukan lantaran tidurnya. Memang, tidur pada siang hari itu akan mendapatkan pahala, apabila hal itu dilakukan agar yang bersangkutan dapat melakukan ibadah dan aktivitas pada malam hari. Tetapi hal ini tidak ada kaitannya dengan ibadah puasa.

    Dan setelah diketahui bahwa Hadis itu palsu, maka mudah-mudahan ia tidak akan beredar dan disebut-sebut lagi di masyarakat, khususnya oleh para da’i dan muballigh. Dan ini pada gilirannya mereka yang berpuasa tetap beraktivitas seperti biasa, tidak berlomba­-lomba tidur pada siang hari.

    ***

    (sumber: Hadis-hadis Bermasalah, oleh Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub, M.A., Penerbit Pustaka Firdaus, 2003. Ali Mustafa Yaqub adalah pakar ilmu hadis, pengasuh Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah, Ciputat, Jakarta dan Guru Besar Ilmu Hadis Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta. Semoga beliau dan penerbit tidak berkeberatan tulisannya saya posting di Internet).

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 7 July 2013 Permalink | Balas  

    10 Indikasi “Gagal” Meraih Keutamaan Ramadhan 

    10 Indikasi “Gagal” Meraih Keutamaan Ramadhan  

    “Berapa banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga…” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Hadits Rasulullah tersebut harusnya dapat membangkitkan kewaspadaan kita untuk menjauhi dan tidak terjerumus didalamnya. Apalah artinya berpuasa bila hanya meninggalkan kering pada kerongkongan dan lapar didalam perut?

    Berikut ini adalah uraian yang patut direnungkan agar kita tidak termasuk orang-orang yang disinggung dalam hadits Rasulullah tersebut. Kegagalan yang dimaksud tentu bukan sebuah klaim yang pasti. Itu memang hak Allah SWT semata. Tapi setidaknya kita perlu berhitung dan memiliki neraca agar segenap amal ibadah kita di bulan Ramadhan ini benar-benar berbobot, hingga kita bisa lulus dari madrasah Ramadhan menjadi pribadi yang lebih berkualitas. Amiiin.

    PERTAMA, ketika kurang optimal melakukan “warming up” dengan memperbanyak ibadah dibulan Sya’ban. Ibarat sebuah mesin, memperbanyak ibadah di bulan Sya’ban berpungsi sebagai pemanasan bagi ruhani dan fisik untuk memasuki bulan Ramadhan. Berpuasa sunnah, memperbanyak ibadah shalat, tilawah Al-Qur’an sebelum Ramadhan. akan menjadikan suasana hati dan tubuh kondusif untuk pelaksanaan ibadah di bulan puasa. Dengan begitu, puasa, ibadah malam, memperbanyak membaca Al-Qur’an, berdzikir, taqarrub kepada Allah, menjadi lebih lancar.

    Mungkin, itulah hikmahnya kenapa Rasulullah SAW dalam hadits riwayat ‘Aisyah, disebutkan paling banyak melakukan puasa di bulan Sya’ban. Bahkan sejak bulan Rajab, dua bulan menjelang Ramadhan, beliau sudah mengajarkan doa kepada para sahabatnya, “Allaahumma bariklanaa fii Rajaba wa Sya’ban, wa balighna Ramadhana.” Ya Allah, berkahilah kami dalam bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah usia kami pada bulan Ramadhan. Rasulullah dan para sahabat ingin mengkondisikan jiwa dan fisik mereka untuk siap menerima kehadiran tamu agung bulan Ramadhan.

    KEDUA, ketika target pembacaan Al-Qur’an yang dicanangkan minimal satu kali khatam, tidak terpenuhi selama bulan Ramadhan. Di bulan ini, pembacaan Al-Qur’an merupakan bentuk ibadah tersendiri yang sangat dianjurkan. Pada bulan inilah Allah SWT menurunkan wahyunya dari Lauhul Mahfudz kelangit dunia. Peristiwa ini disebut sebagai malam lailatul qadar.. Pada bulan ini pula Jibril as biasa mengulang-ulang bacaan Al-Qur’an kepada Rasulullah SAW.

    Orang yang berpuasa dibulan ini, sangat dianjurkan memiliki wirid Al-Qur’an yang lebih baik dari bulan-bulan selainnya. Kenapa minimal harus dapat mengkhatamkan satu kali sepanjang bulan ini? Karena itulah target minimal pembacaan Al-Qur’an yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Ketika Abdullah bin Umar bertanya kepadanya, “Berapa lama sebaiknya seseorang mengkhatam Al-Qur’an?” Rasul menjawab, Satu kali dalam sebulan.” Abdullah bin Umar mengatakan, “Aku mampu untuk lebih dari satu kali khatam dalam satu bulan.” Rasul berkata lagi, “Kalau begitu, bacalah dalam satu pekan.” Tapi Abdullah bin Umar masih mengatakan bahwa dirinya masih mampu membaca seluruh AL-Qur’an lebih cepat dari satu pekan. Kemudian Rasul mengatakan, “Kalau begitu, bacalah dalam tiga hari.”

    KETIGA, Ketika berpuasa tidak menghalangi seseorang dari penyimpangan mulut seperti membicarakan keburukan orang lain, mengeluarkan kata-kata kasar, membuka rahasia, mengadu domba, berdusta dan sebagainya. Seperti yang sudah banyak diketahui, hakikat puasa tidak terletak pada menahan makanan dan minuman masuk masuk kedalam kerongkongan. Tapi puasa juga mengajak pelakunya untuk bisa menahan diri dari berbagai penyimpangan, salah satu yang dilakukan oleh mulut. Rasulullah SAW menyatakan bahwa dusta akan menjadikan puasa sia-sia. (HR. Bukhari).

    Mulut merupakan salah satu bagian tubuh yang paling sukar untuk di kembalikan namun nilainya sangat mahal. Rasulullah berpesan, adakalanya kalimat buruk yang ringan diucapkan oleh seseorang, tapi karena Allah tidak ridha dengan kalimat itu, maka orang itu tercampak ke dalam neraka. Sebaliknya adakalanya kalimat baik yang ringan diucapkan oleh seseorang, tapi karena Allah ridha dengan kalimat itu, orang tersebut dimasukan ke dalam surga. (HR. Ahmad)

    KEEMPAT, ketika puasa tak bisa menjadikan pelakunya berupaya memelihara mata dari melihat yang haram. Mata adalah penerima informasi paling efektif yang bisa memberi rekaman kedalam otak dan jiwa seseorang. Memori informasi yang tertangkap oleh mata, lebih sulit terhapus ketimbang informasi yang diperoleh oleh indra yang lainnya. Karenanya, memelihara mata menjadi sangat penting untuk membersihkan jiwa dan pikiran dari berbagai kotoran. Salah mengarahkan pandangan, bila terus berulang akan menumbuhkan suasana kusam dan tidak nyaman dalam jiwa dan pikiran. Ini sebabnya mengapa Islam mewasiatkan sikap hati-hati dalam menggunakan nikmat mata.

    Puasa yang tak menambah pelakunya lebih memelihara mata dari yang haram, menjadikan puasa itu nyaris tak memiliki pengaruh apapun dalam perbaikan diri. Karenanya, boleh jadi secara hukum puasanya sah, tapi substansi puasa itu tidak akan tercapai.

    KELIMA, ketika malam-malam Ramdhan menjadi tak ada bedanya dengan malam-malam selain Ramadhan. Salah satu ciri khas bulan Ramadhan adalah, Rasulullah menganjurkan umatnya untuk menghidupkan malam dengan shalat dan do’a-do’a tertentu. Ibadah shalat di bulan Ramadhan yang biasa disebut shalat tarawih, merupakan amal ibadah khusus di bulan ini. Tanpa menghidupkan malam dengan ibadah tarawih, tentu seseorang akan kehilangan momentum berharga. Selain itu di dalam shalat ini pula Rasulullah SAW mengajarkan do’a-do’a khusus yang insya Allah akan dijadikan oleh Allah SWT. Di antara do’a-do’a yang perlu diperbanyak dalam shalat tarawih adalah, “Allaahumma inni as alika rdhaaka wal jannah wa na’udzubika min sakhatika wan naar.” Ya Allah aku memohon keridhaan-Mu dan surga-Mu. Dan aku mohon perlindungan dari kemarahan-Mu dab dari neraka-Mu…”

    Para sahabat dahulu, berlomba untuk bisa melakukan shalat tarawih di belakang Rasulullah. Umar bin Kaththab bahkan beriztihad untuk melaksanakan shalat tarawih sebanyak 20 rakaat, sehingga kaum muslimin lebih termotivasi untuk menghidupkan malam Ramadhan.

    KEENAM, jika saat berbuka puasa menjadi saat melahap semua keinginan nafsunya yang tertahan sejak pagi hingga petang. Menjadikan saat berbuka sebagai kesempatan “balas dendam” dari upaya menahan lapar dan haus selama siang hari. Bila ini terjadi, berarti nilai pendidikan puasa akan hilang.

    Puasa, pada hakikatnya, adalah pendidikan bagi jiwa (tarbiyatun nafs) untuk mampu mengendalikan diri dan menahan hawa nafsu. “Puasa itu adalah perisai” sabda Rasulullah SAW seperti diriwayatkan Imam Bukhari. Hanya dalam puasalah, seseorang dilarang melakukan perbuatan yang sebenarnya halal dilakukan. Hasil pendidikan itu, akan tercermin dalam pribadi orang-orang yang lebih bisa bersabar, menahan diri, tawakal, pasrah, tidak emosional, tenang dalam menghadapi berbagai persoalan.

    Puasa menjadi kecil tak bernilai dan lemah dalam unsur pendidikannya ketika upaya menahan dan mengendalikan nafsu itu hancur oleh pelampiasan nafsu yang dihempaskan saat terbuka.

    KETUJUH, ketika bulan Ramadhan tidak dioptimalkan untuk banyak mengeluarkan infaq dan shadaqah. Rasulullah SAW seperti digambarkan dalam hadits, menjadi soso yang paling murah dan dermawan di bulan Ramadhan, hingga kedermawanannnya itu mengalahkan angin yang bertiup. Di bulan inilah, satu amal kebajikan bisa bernilai puluhan bahkan ratusan kali lipat di banding bulan-bulan lainnya. Momentum seperti ini sangat berharga dan tidak boleh disia-siakan. Keyakinan yang dikembangkan itu yang dikembangkan oleh para sahabat dan selalu shalih.

    KEDELAPAN, ketika hari-hari menjelang idul fitri sibuk dengan persiapan lahir, tapi tidak sibuk dengan memasok perbekalan sebanyak-banyaknya pada 10 malam terakhir untuk memperbanyak ibadah. Lebih banyak berfikir untuk bisa merayakan idul fitri dengan berbagai kesenangan, tapi melupakan suasana akan berpisah dengan bulan mulia tersebut.

    Rasulullah dan para shabat mengkhususkan 10 hari terakhir untuk berdiam didalam masjid, meninggalkan semua kesibukan duniawi. Mereka memperbanyak ibadah, dzikir dan berupaya meraih keutamaan malam seribu bulan, saat diturunkannya Al-Qur’an.

    Pada detik-detik terakhir menjelang usainya Ramadhan , mereka merasakan kesedihan mendalam karena harus berpisah dengan mulia itu. Sebagian mereka bahkan menangis karena akan berpisah dengan bulan mulia. Ada juga yang bergumam jika mereka dapat merasakan Ramadhan sepanjang tahun.

    KESEMBILAN, ketika Idul Fitri dan selanjutnya dirayakan laksana hari ”merdeka” dari penjara untuk melakukan berbagai penyimpangan. Fenomena ini sebenarnya hanya akibat dari pelaksanaan puasa yang tidak sesuai dengan adabnya. Orang yang berpuasa dengan baik tentu tidak akan menyikapi Ramadhan sebagai kerangkeng.

    KESEPULUH, setelah Ramadhan, nyaris tidak ada ibadah yang ditindaklanjuti pada bulan-bulan selanjutnya. Misalanya memelihara kesinambungan puasa sunnah, shalat malam, membaca Al-Qur’an.

    Amal-amal ibadah satu bulan Ramadhan, adalah bekal pasokan agar ruhani dan keimanan seseorang meningkatkan untuk menghadapi sebelas bulan setelahnya. Namun, orang akan gagal meraih keutamaan Ramadhan, saat ia tidak berupaya menghidupkan dan melestarikan amal-amal ibadah yang perbah ia jalankan dalam satu bulan.

    ***

    Sumber : Majalah Tarbawi

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 6 July 2013 Permalink | Balas  

    Tujuan Saum Ramadhan 

    Tujuan Saum Ramadhan

    Bismillahirahmanirahim, Sahabatku, Insya Allah dalam beberapa hari lagi kita akan menjalani puasa di bulan Ramadhan. Marilah kita bersama menyambutnya dengan penuh kegembiraan dan suka cita tentunya dengan keikhlasan menjalani ibadah wajib dan sunnah untuk mendapatkan keridhaan dari Allah SWT. Tentu segala perencanaan dan persiapan perlu kita lakukan agar banyak amal kebaikan yang kita bisa peroleh di bulan Ramadhan nanti.

    Sebelum kita menyusun rencana atas apa yang akan kita lakukan, lebih baik kita memahami terlebih dahulu tujuan Saum Ramadhan itu sendiri yang tertera di dalam Al Qur’an, Surah Al Baqarah ayat 183-186 yaitu:

    1. untuk mencapai ketakwaan (183-184)

    “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. “(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

    2. agar menjadi orang yang bersyukur dan (185)

    “Beberapa hari yang ditentukan itu ialah Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur”an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barang siapa diantara kamu hadir (dinegeri tempat tinggalnya) di bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

    3. tetap di jalan yang lurus (dalam kebenaran) (186)

    “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo”a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.

    Terdapat beberapa amalan ibadah yang dapat kita lakukan dan Insya Allah apabila kita melakukannya dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT, kita akan mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat. Semoga amal ibadah kita dibulan Ramadhan tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

    • Pilihlah dalil yang benar mengenai amalan dalam menyambut Ramadhan, jangan menjadikan tradisi kebudayaan sebagai kewajiban dan menganggap benar-benar amalan yang diwajibkan seperti yang dituliskan dalam Al Qur’an dan Hadist;
    • Gembirakan hati dalam menyambut bulan Ramadhan, lakukan persiapan dengan membuat rencana atas amalan apa yang akan dilakukan setiap harinya selama bulan Ramadhan. Jangan terpengaruh dengan keadaan lingkungan yang sudah meributkan kenaikan harga barang-barang dalam menyambut persiapan Ramadhan apalagi lebaran;
    • Maximalkan kegiatan rutin dibulan Ramadhan. Jadikan ibadah-ibadah sunah menjadi kewajiban apalagi yang sudah menjadi kewajiban kita sebagai umat muslim. Perbanyak amalan sunnah antara lain shalat dhuha, shalat qiyamul lail, shalat tarawih, beritikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan;
    • Ramadhan merupakan bulan berkah karena Al Qur’an diturunkan di bulan Ramadhan, oleh sebab itu lakukan amalan meng-khatam-kan Al Qur’an. Peliharalah terus disetiap kesempatan untuk berdzikir, dzikir pagi dan sore, dzikir pada keadaan-keadaan tertentu dan dzikir untuk mengagungkan nama Allah atas kebesaran dan keidahan ciptaanNya;
    • Maximalkan kegiatan rutin kita di bulan Ramadhan, jangan jadikan alasan di bulan puasa ini atas kekurangan dan kemunduran kita beraktifitas sehari-hari baik di kantor, di rumah, maupun disekolah;
    • Ringankan tugas-tugas pembantu rumah tangga kita di bulan Ramadhan ini, hal ini yang biasa dilakukan oleh Nabi semasa ia hidup;
    • Jangan ragu untuk mengeluarkan zakat, infak dan sadaqah. Adapun didalam Al Qur’an sendiri ditetapkan tempat-tempat penyaluran rizki kita dibulan Ramadhan nanti, yaitu: “(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (Surat Al Baqarah ayat 273)

    Berinfaklah kepada:

    • Orang yang tidak meminta padahal sebenarnya dia kekurangan dan membutuhkan. Hal ini dilakukan karena ia ingin menjaga citranya sebagai seorang muslim.
    • Orang yang tidak bisa berusaha dalam hidupnya karena sedang menjalankan dakwahnya di muka bumi di Jalan Allah, contohnya orang yang sedang menjaga kehafishan Al Qurán, orang yang sedang berjihad.

    “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak. Orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Surat At Taubah ayat 60)

    Yang berhak menerima zakat:

    • Orang fakir: orang yang amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi kehidupannya.
    • Orang miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan kekurangan.
    • Pengurus zakat: orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan membagikan harta zakat.
    • Muállaf: orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah.
    • Memerdekakan budak: mencakup juga untuk melepaskan orang muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir.
    • Orang yang sedang berjalan di jalan Allah.
    • Orang yang sedang menuntut ilmu tetapi kekurangan
    • Orang yang sedang mengalami goncangan hebat dalam hidupnya, baik fisik maupun mentalnya.

    Dirangkum dan dituliskan kembali, dan mohon maaf apabila terdapat kesalahan dan kekurangannya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 5 July 2013 Permalink | Balas  

    Ramadhan Tinggal Sehasta 

    Ramadhan Tinggal Sehasta

    rumahzakat.org

    Sobat zakat yang budiman, beberapa hari lagi umat Islam akan kedatangan tamu istimewa, yakni bulan Ramadhan. Inilah bulan yang kehadirannya senantiasa dirindukan oleh para orang saleh. Sebab, bulan Ramadhan mengandung kemuliaan yang amat besar, yang tak bisa dijumpai pada bulan-bulan lainnya.

    Rasulullah saw menjelaskan, pada bulan Ramadhan inilah berbagai amal kebajikan dilipatgandakan oleh Allah. Amalan sunnah yang dilakukan pada bulan Ramadhan dinilai sebagai amalan fardhu pada bulan lainnya. Sedang amalan fardhu yang dilakukan pada bulan ini dibalas dengan tujuh puluh kali lipat dibanding bulan-bulan lainnya. Dalam bulan Ramadhan rezeki orang Mukmin ditambah, di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Ramadhan adalah bulan rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka.

    Rasulullah dan orang-orang saleh tak pernah menyia-nyiakan keutamaan Ramadhan barang sedikitpun. Rasulullah dan para sahabat memperbanyak puasa, juga bersedekah pada bulan Sya’ban sebagai latihan sekaligus tanda kegembiraan menyambut datangnya Ramadhan. Anas Bin Malik ra berkata, ”Ketika kaum Muslimin memasuki bulan Sya’ban, mereka sibuk membaca Alquran dan mengeluarkan zakat mal untuk membantu fakir miskin yang berpuasa.”

    ”Allah telah menjadikan Ramadhan sebagai arena pertandingan makhluk-makhluk-Nya. Mereka berlomba dengen ketaatan demi meraih ridha-Nya. Sebagian berhasil dan keluar sebagai pemenang, namun sebagian lagi meninggalkan ketaatan itu dan mereka pun merugi,” demikian penulis mengutip Hasan al-Bashri.

    Mari kita simak briefing Rasulullah saw. ketika akan memasuki bulan suci ini: “Wahai sekalian manusia, bulan yang besar lagi penuh barokah telah menaungi kalian: bulan Ramadhan. Bulan yang di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan yang Allah jadikan puasanya sebagai kewajiban, dan qiyam di malam harinya sebagai tathowwu’ (amalan sunnah).

    Siapa yang bertaqorrub (mendekatkan diri kepada Allah) di dalam bulan Ramadhan dengan satu bentuk kebaikan, maka samalah dengan orang yang mengerjakan satu fardhu (kewajiban) di bulan lainnya. Dan siapa yang mengerjakan satu fardhu di bulan Ramadhan, maka samalah dengan orang yang mengerjakan tujuh puluh fardhu di bulan lainnya. )

    ***

    Judul diambil dari Puisi Ust Abu Syauqi, Silaturahmi Keluarga Besar (SKB) Rumah Zakat Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 4 July 2013 Permalink | Balas  

    Khotbah Nabi S.A.W. Menyambut Ramadhan 

    Khotbah Nabi S.A.W. Menyambut Ramadhan

    “Sungguh telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkatan. Allah telah mewajibkan kepadamu puasa-Nya. Di dalam bulan Ramadhan dibuka segala pintu syurga dan dikunci segala pintu neraka dan dibelenggu seluruh syaithan. Padanya ada suatu malam yang terlebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tidak diberikan kepadanya kebaikan malam itu, maka sesungguhnya dia telah dijauhkan dari kebajikan.”

    “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan penghulu segala bulan, maka “Selamat datanglah” kepadanya.”

    Wahai manusia, sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkatan, bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu kewajiban, dan qiam dimalam harinya suatu tatawwu’.

    Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan didalamnya samalah dia dengan orang yang menunaikan sesuatu fardhu didalam bulan yang lainnya. Barangsiapa menunaikan sesuatu fardhu dalam bulan Ramadhan samalah dia dengan orang yang mengerjakan tujuh puluh fardhu dibulan lainnya. Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu pahalanya adalah surga. Ramadhan itu adalah bulan memberikan pertolongan dan bulan Allah memberikan rezeki kepada mukmin di dalamnya.

    Barangsiapa memberikan makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, yang demikian itu adalah pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti yang diperoleh orang yang berpuasa. Allah memberikan pahala itu kepada orang yang memberikan walaupun sebutir korma, atau seteguk air, atau sehirup susu. Dialah bulan yang permulaannya Rahmah, pertengahannya ampunan, dan akhirnya kemerdekaan dari neraka. Barangsiapa yang meringankan beban seseorang (yang membantunya) niscaya Allah mengampuni dosanya. Oleh itu banyakkanlah yang empat perkara dibulan Ramadhan.

    Dua perkara untuk mendatangkan keredhaan Tuhanmu dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya. Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya tiada tuhan melainkan Allah dan mohon ampun kepada-Nya.

    Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka. Barangsiapa memberi minum orang yang berpuasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolamku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk kedalam surga.”

    (H.R.Ibnu Khuzaimah)

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 3 July 2013 Permalink | Balas  

    14 Alasan Merindukan Ramadhan 

    14 Alasan Merindukan Ramadhan

    Seperti seorang kekasih, selalu diharap-harap kedatangannya. Rasanya tak ingin berpisah sekalipun cuma sedetik. Begitulah Ramadhan seperti digambarkan sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, “Andaikan tiap hamba mengetahui apa yang ada dalam Ramadhan, maka ia bakal berharap satu tahun itu puasa terus.” Sesungguhnya, ada apanya di dalam Ramadhan itu, ikutilah berikut ini:

    1. Gelar taqwa

    Taqwa adalah gelar tertinggi yang dapat diraih manusia sebagai hamba Allah.

    Tidak ada gelar yang lebih mulia dan tinggi dari itu. Maka setiap hamba yang telah mampu meraih gelar taqwa, ia dijamin hidupnya di surga dan diberi kemudahan-kemudahan di dunia. Dan puasa adalah sarana untuk mendapatkan gelar taqwa itu.

    “Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS Al-Baqarah: 183)

    Kemudahan-kemudahan yang diberikan Allah  kepada hambanya yang taqwa, antara lain:

    a. Jalan keluar dari semua masalah

    Kemampuan manusia amat terbatas, sementara persoalan yang dihadapi begitu banyak. Mulai dari masalah dirinya, anak, istri, saudara, orang tua, kantor dan sebagainya. Tapi bila orang itu taqwa, Allah akan menunjukkan jalan berbagai persoalan itu. Bagi Allah tidak ada yang sulit, karena Dialah

    pemilik kehidupan ini.

    “..Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Ath Thalaaq: 2)

    “..Dan barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath Thalaaq: 4)

    b. Dicukupi kebutuhannya

    “Dan memberinya rezeki dari arah yang tak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. …”(QS. Ath Thalaaq: 3)

    c. Ketenangan jiwa, tidak khawatir dan sedih hati

    Bagaimana bisa bersedih hati, bila di  dalam dadanya tersimpan Allah. Ia telah menggantungkan segala hidupnya kepada Pemilik kehidupan itu sendiri. Maka orang yang selalu mengingat-ingat Allah, ia bakal memperoleh ketenangan.

    “Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-KU, maka barangsiapa bertaqwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. al-A’raaf: 35)

    2. Bulan pengampunan

    Tidak ada manusia tanpa dosa, sebaik apapun dia. Sebaik-baik manusia bukanlah yang tanpa dosa, sebab itu tidak mungkin. Manusia yang baik adalah yang paling sedikit dosanya, lalu bertobat dan berjanji tidak mengulangi perbuatan dosa itu lagi. Karena dosa manusia itu setumpuk, maka Allah telah menyediakan alat penghapus yang canggih. Itulah puasa pada bulan Ramadhan.Beberapa hadis menyatakan demikian, salah satunya diriwayatkan Bukhari Muslim dan Abu  Dawud, “Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan karena keimanannya dan karena mengharap ridha Allah, maka dosa-dosa sebelumnya diampuni.”

    3. Pahalanya dilipatgandakan

    Tidak hanya pengampunan dosa, Allah juga telah menyediakan bonus pahala berlipat-lipat kepada siapapun yang berbuat baik pada bulan mulia ini. Rasulullah bersabda, “Setiap amal anak keturunan Adam dilipatgandakan. Tiap satu kebaikan sepuluh lipat gandanya hingga tujuh ratus lipat gandanya.”

    (HR. Bukhari Muslim).

    Bahkan amalan-amalan sunnah yang dikerjakan pada Ramadhan, pahalanya dianggap sama dengan mengerjakan amalan wajib (HR. Bahaiqi dan Ibnu Khuzaimah). Maka perbanyaklah amal dan ibadah, mumpung Allah menggelar obral pahala.

    4. Pintu surga dibuka dan neraka ditutup

    “Kalau datang bulan Ramadhan terbuka pintu surga, tertutup pintu neraka, dan setan-setan terbelenggu. “(HR Muslim) Kenapa pintu surga terbuka? Karena sedikit saja amal perbuatan  yang dilakukan, bisa mengantar seseorang ke surga. Boleh diibaratkan, bulan puasa itu bulan obral. Orang yang tidak membeli akan merugi. Amal sedikit saja dilipatgandakan ganjarannya sedemikian banyak. Obral ganjaran itu untuk mendorong orang melakukan amal-amal kebaikan di bulan Ramadhan. Dengan demikian otomatis pintu neraka tertutup dan tidak ada lagi kesempatan buat setan menggoda manusia.

    5. Ibadah istimewa

    Keistimewaan puasa ini dikatakan Allah lewat hadis qudsinya, “Setiap amalan anak Adam itu untuk dirinya, kecuali puasa. Itu milik-Ku dan Aku yang membalasnya karena ia (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku.” (HR Bukhari Muslim)

    Menurut Quraish Shihab, ahli tafsir kondang dari IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, puasa dikatakan untuk Allah dalam arti untuk meneladani sifat-sifat Allah. Itulah subtansi puasa.

    Misalnya, dalam bidang jasmani, kita tahu Tuhan tidak beristri. Jadi  ketika berpuasa dia tidak boleh melakukan hubungan seks. Allah tidak makan, tapi memberi makan. Itu diteladani, maka ketika berpuasa kita tidak makan, tapi kita memberi makan. Kita dianjurkan untuk mengajak orang berbuka puasa. Ini tahap dasar meneladani Allah.

    Masih ada tahap lain yang lebih tinggi dari sekedar itu. Maha Pemurah adalah salah satu sifat Tuhan yang seharusnya juga kita teladani. Maka dalam berpuasa, kita dianjurkan banyak bersedekah dan berbuat kebaikan. Tuhan Maha Mengetahui. Maka dalam berpuasa, kita harus banyak belajar. Belajar bisa lewat membaca al-Qur’an, membaca kitab-kitab yang bermanfaat, meningkatkan pengetahuan ilmiah.

    Allah swt setiap saat sibuk mengurus makhluk-Nya. Dia bukan hanya mengurus manusia. Dia juga mengurus binatang. Dia mengurus semut. Dia mengurus rumput-rumput yang bergoyang. Manusia yang berpuasa meneladani Tuhan dalam sifat-sifat ini, sehingga dia harus selalu dalam  kesibukan.

    Perlu ditekankan meneladani Tuhan itu sesuai dengan kemampuan kita sebagai manusia. Kita tidak mampu untuk tidak tidur sepanjang malam, tidurlah secukupnya. Kita tidak mampu untuk terus-menerus tidak makan dan tidak minum. Kalau begitu, tidak makan dan tidak minum cukup sejak terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari saja.

    6. Dicintai Allah

    Nah, sesesorang yang meneladani Allah sehingga dia dekat kepada-Nya. Bila sudah dekat, minta apa saja akan mudah dikabulkan. Bila Allah telah mencintai hambanya, dilukiskan dalam satu hadis Qudsi, “Kalau Aku telah mencintai seseorang, Aku menjadi pendengaran untuk telinganya, menjadi penglihatan untuk matanya, menjadi pegangan untuk tangannya, menjadi langkah untuk kakinya.” (HR Bukhari)

    7. Do’a dikabulkan

    “Dan apabila hamba-hamba- Ku bertanya kepadamu tentang Aku, katakanlah bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang berdo’a apabila dia berdo’a, maka  hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku. ” (QS. al-Baqarah: 186)

    Memperhatikan redaksi kalimat ayat di atas, berarti ada orang berdo’a tapi sebenarnya tidak berdo’a. Yaitu do’anya orang-orang yang tidak memenuhi syarat. Apa syaratnya? “maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku. ”

    Benar, berdo’a pada Ramadhan punya tempat khusus, seperti dikatakan Nabi saw, “Tiga do’a yang tidak ditolak; orang berpuasa hingga berbuka puasa, pemimpin yang adil dan do’anya orang teraniaya. Allah mengangkat do’anya ke awan dan membukakan pintu-pintu langit. ‘Demi kebesaranKu, engkau pasti Aku tolong meski tidak sekarang.” (HR Ahmad dan Tirmidzi)

    Namun harus diingat bahwa segala makanan yang kita makan, kesucian pakaian, kesucian tempat, itu punya hubungan yang erat dengan pengabulan do’a. Nabi pernah bersabda, ada seorang yang sudah kumuh pakaiannya, kusut rambutnya berdo’a kepada Tuhan. Sebenarnya keadaannya yang kumuh  itu bisa mengantarkan do’anya dia diterima. Tapi kalau makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya yang dipakainya terambil dari barang yang haram, bagaimana bisa dikabulkan doa’nya?

    Jadi do’a itu berkaitan erat dengan kesucian jiwa, pakaian dan makanan. Di bulan Ramadhan jiwa kita diasah hingga bersih. Semakin bersih jiwa kita, semakin tulus kita, semakin bersih tempat, pakaian dan makanan, semakin besar kemungkinan untuk dikabulkan do’a.

    8. Turunnya Lailatul Qodar

    Pada bulan Ramadhan Allah menurunkan satu malam yang sangat mulia. Saking mulianya Allah menggambarkan malam itu nilainya lebih dari seribu bulan (QS. Al-Qadr). Dikatakan mulia, pertama lantaran malam itulah awal al-Qur’an diturunkan. Kedua, begitu banyak anugerah Allah dijatuhkan pada malam itu. Beberapa hadits shahih meriwayatkan malam laulatul qodar itu jatuh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Seperti dirawikan Imam Ahmad, “Lailatul qadar  adalah di akhir bulan Ramadhan tepatnya di sepuluh malam terakhir, malam keduapuluh satu atau duapuluh tiga atau duapuluh lima atau duapuluh tujuh atau duapuluh sembilan atau akhir malam Ramadhan. Barangsiapa

    mengerjakan qiyamullail (shalat malam) pada malam tersebut karena mengharap ridha-Ku, maka diampuni dosanya yang lampau atau yang akan datang.”

    Mengapa ditaruh diakhir Ramadhan, bukan pada awal Ramadhan? Rupanya karena dua puluh malam sebelumnya kita mengasah dan mengasuh jiwa kita. Itu adalah suatu persiapan untuk menyambut lailatul qodar.

    Ada dua tanda lailatul qadar. Al Qur’an menyatakan, “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan/ kedamaian sampai terbit fajar. (QS al-Qadr: 4-5)

    Malaikat bersifat gaib, kecuali bila berubah bentuk menjadi manusia. Tapi kehadiran malaikat dapat dirasakan. Syekh Muhammad Abduh  menggambarkan, “Kalau Anda menemukan sesuatu yang sangat berharga, di dalam hati Anda akan tercetus suatu bisikan, ‘Ambil barang itu!’ Ada bisikan lain berkata, ‘Jangan ambil, itu bukan milikmu!’ Bisikan pertama adalah bisikan setan. Bisikan kedua adalah bisikan malaikat.” Dengan demikian, bisikan malaikat selalu mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal positif. Jadi kalau ada seseorang yang dari hari demi hari sisi kebajikan dan positifnya terus bertambah, maka yakinlah bahwa ia telah bertemu dengan lailatul qodar.

    9. Meningkatkan kesehatan

    Sudah banyak terbukti bahwa puasa dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya, dengan puasa maka organ-organ pencernaan dapat istirahat. Pada hari biasa alat-alat pencernaan di dalam tubuh bekerja keras. Setiap makanan yang masuk ke dalam tubuh memerlukan proses pencernaan kurang lebih delapan jam. Empat jam diproses di dalam lambung dan empat jam di usus kecil (ileum). Jika malam sahur  dilakukan pada pukul 04.00 pagi, berarti pukul 12 siang alat pencernaan selesai bekerja. Dari pukul 12 siang sampai waktu berbuka, kurang lebih selama enam jam, alat pencernaan mengalami istirahat total.

    Meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Berdasarkan penelitian yang dilakukan para ahli kesehatan, ternyata dengan berpuasa sel darah putih meningkat dengan pesat sekali. Penambahan jumlah sel darah putih secara otomatis akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

    Menghambat perkembangan atau pertumbuhan bakteri, virus dan sel kanker. Dalam tubuh manusia terdapat parasit-parasit yang menumpang makan dan minum. Dengan menghentikan pemasukan makanan, maka kuman-kuman penyakit seperti bakteri-bakteri dan sel-sel kanker tidak akan bisa bertahan hidup. Mereka akan keluar melalui cairan tubuh bersama sel-sel yang telah mati dan toksin.

    Manfaat puasa yang lain adalah membersihkan tubuh dari racun kotoran dan ampas,  mempercepat regenasi kulit, menciptakan keseimbangan elektrolit di dalam lambung, memperbaiki fungsi hormon, meningkatkan fungsi organ reproduksi, meremajakan atau mempercepat regenerasi sel-sel tubuh, meningkatkan fungsi fisiologis organ tubuh, dan meningkatkan fungsi susunan syaraf.

    10. Penuh harapan

    Saat berpuasa, ada sesuatu yang diharap-harap. Harapan itu kian besar menjelang sore. Sehari penuh menahan lapar dan minum, lalu datang waktu buka, wah… rasanya lega sekali. Alhamdulillah. Itulah harapan yang terkabul. Apalagi harapan bertemu Tuhan, masya’ Allah, menjadikan hidup lebih bermakna. “Setiap orang berpuasa selalu mendapat dua kegembiraan, yaitu tatkala berbuka puasa dan saat bertemu dengan Tuhannya.” (HR. Bukhari).

    11. Masuk surga melalui pintu khusus, Rayyan

    “Sesungguhnya di surga itu ada sebuah pintu yang disebut rayyan yang akan dilewati oleh orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat nanti,  tidak diperbolehkan seseorang melewatinya selain mereka. Ketika mereka dipanggil, mereka akan segera bangkit dan masuk semuanya kemudian ditutup.” (HR. Bukhari)

    Minum air telaganya Rasulullah saw :

    “Barangsiapa pada bulan Ramadhan memberi makan kepada orang yang berbuka puasa, maka itu menjadi ampunan bagi dosa-dosanya, dan mendapat pahala yang sama tanpa sedikit pun mengurangi pahala orang lain. Mereka (para sahabat) berkata, ‘Wahai Rasulullah, tidak setiap kami mempunyai makanan untuk diberikan kepada orang yang berbuka puasa.’ Beliau berkata, ‘Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi buka puasa meski dengan sebutir kurma, seteguk air, atau sesisip susu…Barangsiapa memberi minum orang yang berpuasa maka Allah akan memberinya minum seteguk dari telaga di mana ia tidak akan haus hingga masuk surga.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi)

    12. Berkumpul dengan sanak keluarga

    Pada tanggal 1 Syawal ummat Islam  merayakan Hari Raya Idhul Fitri. Inilah hari kemenangan setelah berperang melawan hawa nafsu dan syetan selama bulan Ramadhan. Di Indonesia punya tradisi khusus untuk merayakan hari bahagia itu yang disebut Lebaran. Saat itu orang ramai melakukan silahtuhrahim dan saling memaafkan satu dengan yang lain. Termasuk kerabat-kerabat jauh datang berkumpul. Orang-orang yang bekerja di kota-kota pulang untuk merayakan lebaran di kampung bersama kedua orang tuanya. Maka setiap hari Raya selalu terjadi pemandangan khas, yaitu orang berduyun-duyun dan berjubel-jubel naik kendaraan mudik ke kampung halaman. Silahturahim dan saling memaafkan itu menurut ajaran Islam bisa berlangsung kapan saja. Tidak mesti pada Hari Raya. Tetapi itu juga tidak dilarang. Justru itu momentum bagus. Mungkin, pada hari biasa kita sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga tidak sempat lagi menjalin hubungan dengan tetangga dan saudara yang  lain. Padahal silahturahim itu

    dianjurkan Islam, sebagaimana dinyatakan hadis, “Siapa yang ingin rezekinya dibanyakkan dan umurnya dipanjangkan, hendaklah ia menghubungkan tali silaturahmi! ” (HR. Bukhari)

    13. Qaulan Tsaqiilaa

    Pada malam Ramadhan ditekankan (disunnahkan) untuk melakukan shalat malam dan tadarus al-Qur’an. Waktu paling baik menunaikan shalat malam sesungguhnya seperdua atau sepertiga malam terakhir (QS Al Muzzammil: 3). Tetapi demi kesemarakan syiar Islam pada Ramadhan ulama membolehkan melakukan terawih pada awal malam setelah shalat isya’ dengan berjamaah di masjid. Shalat ini populer disebut shalat tarawih. Shalat malam itu merupakan peneguhan jiwa, setelah siangnya sang jiwa dibersihkan dari nafsu-nafsu kotor lainnya. Ditekankan pula usai shalat malam untuk membaca Kitab Suci al-Qur’an secara tartil (memahami maknanya). Dengan membaca Kitab Suci itu seseorang bakal mendapat wawasan-wawasan yang luas  dan mendalam, karena al-Qur’an memang sumber pengetahuan dan ilham.

    Dengan keteguhan jiwa dan wawasan yang luas itulah Allah kemudian mengaruniai qaulan tsaqiilaa (perkataan yang berat). Perkataan-perkataan yang berbobot dan berwibawa. Ucapan-ucapannya selalu berisi kebenaran. Maka orang-orang yang suka melakukan shalat malam wajahnya bakal memancarkan kewibawaan.

    14. Hartanya tersucikan

    Setiap Muslim yang mampu pada setiap Ramadhan diwajibkan mengeluarkan zakat.

    Ada dua zakat, yaitu fitrah dan maal. Zakat fitrah besarnya 2,5 kilogram per orang berupa bahan-bahan makanan pokok. Sedangkan zakat maal besarnya 2,5 persen dari seluruh kekayaannya bila sudah mencapai batas nisab dan waktunya. Zakat disamping dimaksudkan untuk menolong fakir miskin, juga guna mensucikan hartanya. Harta yang telah disucikan bakal mendatangkan barakah dan menghindarkan pemiliknya dari siksa api neraka. Harta yang barakah  akan mendatangkan ketenangan, kedamaian dan kesejahteraan. Sebaliknya, harta yang tidak barakah akan mengundang kekhawatiran dan ketidaksejahteraan.

    Semoga kita diberi kesempatan untuk menikmati the next Ramadhan. Amiin….

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 2 July 2013 Permalink | Balas  

    Indahnya Memaafkan 

    Indahnya Memaafkan

    Oleh : Abu Naila

    Walaupun mudah diucapkan, memaafkan bukanlah perbuatan yang mudah dilakukan. Ketika seseorang telah atau akan dicelakai, maka yang tertanam biasanya perasaan dendam dan ingin membalas. Perasaan seperti itu adalah wajar dalam diri orang biasa. Namun, sikap memaafkan hanya ada pada diri orang yang luar biasa.

    Memaafkan butuh kematangan diri dan kecakapan spiritual. Kematangan diri hanya bisa didapatkan melalui keterbukaan hati dan pikiran akan segala pengalaman hidup yang dialami. Sementara kecakapan spiritual hanya bisa diperoleh ketika telah memiliki rasa penghambaan yang tinggi hanya kepada Allah SWT semata.

    Bagi yang memaafkan kesalahan orang lain, Allah SWT menyediakan pahala utama sebagai balasan atas kemuliaan sikap mereka.

    ”Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS Asy-Syuura [42]: 43).

    Dan bagi yang mempunyai keluhuran akhlak, mereka bukan hanya mampu memaafkan kesalahan orang lain, melainkan sekaligus membalas kesalahan tersebut dengan kebaikan yang tak pernah terbayangkan oleh sang pelaku. Allah SWT berjanji hal tersebut justru dapat mempererat tali silaturahim dan membuat antara yang berselisih saling memikirkan seolah-olah mereka adalah sahabat yang sangat setia.

    ”Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS Fushshilat [41]: 34).

    Ada beberapa cara agar kita bisa menjadi pemaaf. Pertama, memperbanyak silaturahim kepada tetangga, sanak kerabat, dan kawan-kawan. Sikap ini akan membuka hati terhadap segala karakter orang, sehingga kita pun tidak mudah marah atau tersinggung atas sikap orang lain.

    Kedua, memperbanyak dzikir kepada Allah SWT di waktu pagi dan petang. Berdzikir di waktu pagi akan menjernihkan hati dan pikiran kita sebelum beraktivitas. Berdzikir di waktu petang akan kembali menjernihkan hati dan pikiran setelah kita sibuk seharian beraktivitas.

    Ketiga, memperbanyak berdua-duaan (berkhalwat) dengan Allah SWT di waktu orang lain sedang terlelap tidur. Ini akan menumbuhkan kesabaran serta rasa penghambaan dan pengharapan yang tinggi hanya kepada Allah SWT serta menjauhkan dari ketergantungan terhadap manusia.

    ”Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS Fushshilat [41]: 35).

    Setiap manusia yang telah dewasa pernah mengalami posisi memaafkan dan dimaafkan. Seringnya berganti posisi diatas (memaafkan) atau dibawah (dimaafkan) menjadi sebuah kenikmatan sendiri bagi keduanya, karena di dalamnya ada keimanan, dalam sikap sabar dan syukur.

    ***

    Sumber: republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 1 July 2013 Permalink | Balas  

    Persiapan Bulan Ramadhan 

    Persiapan Bulan Ramadhan

    Abu Umamah ra berkata:

    “Ya Rasulullahu Saw tunjukkan padaku amalan yang bisa memasukanku ke syurga.” Beliau menjawab: “Atasmu puasa, tidak ada (amalan) yang semisal dengan itu.” )11 HR. an-Nasa’i

    Dalam menyambut bulan Ramadhan, seringkali kita tidak punya persiapan sama sekali. Sehingga ketika datang bulan yang istimewa ini, sikap kita terhadap kedatangan bulan ini adalah seperti bulan-bulan biasa saja. Bahkan kadang-kadang kita menganggap bahwa bulan istimewa ini akan mendatangkan banyak beban. Na’udzubillah min dzalik! Dan seringkali juga kita tidak tahu tentang hukum-hukum syara’ yang terkait dengan bulan Ramadhan. Sehingga kita akan banyak melihat orang Islam yang melanggar hukum-hukum syara’ yang terkait di bulan Ramadhan.

    Oleh karena itu ada beberapa persiapan yang patut dilakukan. Persiapan tersebut guna mendapatkan buah Ramadhan yang mahal dan dapat melakukan amaliyahnya secara optimal dan maksimal. Sehingga bukan saja merasa senang dan gembira dengan datangnya Ramadhan akan tetapi memang sudah dipersiapkan sematang mungkin untuk berlomba-lomba dalam aktifitas kebajikan.

    1. Persiapan Nafsiyah

    Yang dimaksudkan dengan mempersiapkan nafsiyah adalah menyambut dengan hati gembira bahwasanya Ramadhan datang sebagai bulan untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Maknawiyah yang siap akan memandang Ramadhan bukan sebagai bulan penuh beban melainkan bulan untuk berlomba-lomba meningkatkan kualitas ubudiyah dan meraih derajat tertinggi di sisi Allah SWT.

    Persiapan nafsiyah merupakan hal yang penting untuk diperhatikan dalam upaya memetik manfaat sepenuhnya dari ibadah puasa. Tazkiyatun nafsi (kesucian jiwa) akan melahirkan keikhlasan, kesabaran, ketawakalan dan amalan-amalan hati lainnya, yang akan menuntun seseorang kepada jenjang ibadah yang berkualitas dan kuantitas. Dan salah satu cara untuk mempersiapkan jiwa dan spritual untuk menyambut bulan Ramadhan adalah dengan jalan melatih dan memperbanyak ibadah-ibadah di bulan-bulan sebelumnya (minimal di bulan Sya’ban), sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits ‘Aisyah ra:

    “Belum pernah Rasulullah Saw berpuasa (sunnah) di bulan-bulan lain, sebanyak yang ia lakukan di bulan Sya’ban.” [HR. Muslim].

    Seorang yang menjalani ibadah puasa di Bulan Ramadhan tanpa memiliki kesiapan secara nafsiyah dikhawatirkan puasanya akan menjadi sia-sia sebagaimana hadits Rasulullah Saw dengan sabdanya. Dari Abu Hurairah ra berkata, bersabda Rasulullah Saw:

    “Berapa banyak orang berpuasa, tidak mendapatkan sesuatu pun dari puasanya kecuali lapar. Dan berapa banyak orang yang shalat malam, tidak mendapatkan sesuatu pun dari shalatnya melainkan hanya bergadang.” [HR. Ibnu Majah].

    2. Persiapan Tsaqafiyah

    Untuk dapat meraih amalan di bulan Ramadhan secara optimal maka diperlukan pemahaman yang mendalam mengenai fiqh ash-shiyâm. Oleh karena itu persiapan tsaqafiyah tidak kalah penting bagi seseorang untuk mendapatkannya. Dengan pemahaman fiqh ash-shiyâm yang baik dia akan memahami dengan benar mana perbuatan yang dapat merusak nilai shiyamnya dan mana perbuatan yang dapat meningkatkan nilai dan kualitas shiyamnya.

    Dari Mu’adz bin Jabal ra:

    “Hendaklah kalian memperhatikan ilmu, karena mencari ilmu karena Allah adalah ibadah.”

    Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah mengomentari hadits diatas, “Orang berilmu mengetahui tingkatan-tingkatan ibadah, perusak-perusak amal, dan hal-hal yang menyempurnakannya dan apa-apa yang menguranginya.” Suatu amal perbuatan tanpa dilandasi ilmu, maka kerusakannya lebih banyak daripada kebaikannya, dan hanya dengan ilmu kita dapat mengetahui kaifiat berpuasa dan shalat yang benar serta sesuai dengan syariat Islam.

    Jembatan menuju kebenaran adalah ilmu, dan siapa yang menempuh perjalanan hidupnya dalam rangka menuntut ilmu maka Allah SWT akan memudahkan baginya jalan menuju Surga. Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah Saw bersabda:

    “Barangsiapa yang berjalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah SWT memudahkan baginya jalan menuju Surga.” [HR. Muslim].

    3. Persiapan Jasadiyah

    Tidak dapat dipungkiri bahwa aktifitas Ramadhan banyak memerlukan kekuatan fisik, untuk shiyamnya, tarawihnya, tilawahnya dan aktifitas ibadah lainnya. Dengan kondisi fisik yang baik dapat melakukan ibadah tersebut tanpa terlewatkan sedikitpun juga. Karena bila kondisi fisik tidak prima terbuka peluang untuk tidak melaksanakannya amaliyah tersebut dengan maksimal, bahkan dapat terlewatkan begitu saja. Padahal bila terlewatkan nilai amaliyah Ramadhan tidak dapat tergantikan pada bulan yang lain.

    4. Persiapan Maliyah

    Persiapan materi ini bukanlah untuk beli pakaian baru atau bekal perjalanan pulang kampung atau untuk membeli kue-kue iedul fitri. Akan tetapi untuk infaq, shadaqah dan zakat. Sebab nilai balasan infaq, shadaqah dan zakat akan dilipat gandakan sebagaimana kehendak Allah SWT.

    Imam at-Tirmidzi meriwayatkan:

    “Rasulullah pernah ditanya, ‘Sedekah apakah yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Seutama-utamanya sedekah adalah sedekah di bulan Ramadhan’.” )12

    Oleh karena itu, sebaiknya aktivitas ibadah di Bulan Ramadhan harus lebih mewarnai hari-hari kita ketimbang aktivitas mencari nafkah atau yang lainnya. Pada bulan ini setiap Muslim dianjurkan memperbanyak amal kebajikan, shadaqah, memberi makan, dan lain-lain. Karena itu, seyogyanya dibuat sebuah agenda maliyah yang memprediksikan pengeluaran dan pendapatan selama bulan Ramadhan. Dengan jelas posisi keuangan kita dapat melakukan penjadwalan dan mengalokasikan shadaqah dan infaq serta makanan yang akan kita berikan sepanjang bulan itu. Karena moment Ramadhan merupakan moment yang paling tepat dan utama untuk menyalurkan ibadah maliyah kita.

    Bulan Ramadhan merupakan bulan muwâsah (bulan santunan). Sangat dianjurkan memberi santunan kepada orang lain, betapapun kecilnya. Pahala yang sangat besar akan didapat oleh orang yang tidak punya, manakala ia memberi kepada orang lain yang berpuasa, sekalipun cuma sebuah kurma, seteguk air atau sesendok nasi.

    Rasulullah Saw pada bulan Ramadhan ini sangat dermawan, sangat pemurah. Digambarkan bahwa sentuhan kebaikan dan santunan Rasulullah Saw kepada masyarakat sampai merata, lebih merata ketimbang sentuhan angin terhadap benda-benda di sekitarnya. Hal ini sebagaimana diceritakan oleh Ibnu ‘Abbas ra:

    “Nabi Saw adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan, saat beliau ditemui Jibril untuk membacakan kepadanya al-Qur’an. Jibril menemui setiap malam pada bulan Ramadhan, lalu membacakan kepadanya al-Qur’an. Rasulullah Saw ketika ditemui Jibril lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.” [HR. Bukhari dan Muslim]. )13

    Santunan dan sikap ini sudah barang tentu tidak dapat dilakukan dengan baik kecuali manakala jauh sebelum Ramadhan telah ada persiapan-persiapan materi yang memadai. Termasuk dalam persiapan maliyah adalah mempersiapkan dana agar dapat beri’tikaf dengan tenang tanpa memikirkan beban ekonomi untuk keluarga. Untuk itu, mesti dicari tabungan dana yang mencukupi kebutuhan di bulan Ramadhan.

    5. Persiapan Ramadhan Untuk Anak Kita

    Dalam menyambut bulan Ramadhan, kadangkala kita lupa/tidak pernah mempersiapkan anak-anak yang masih kecil dan baru akan belajar puasa

    Mengantarkan anak untuk berpuasa dan memahami maknanya, sungguh bukan pekerjaan yang mudah. Keberhasilan mengkondisikan anak, memerlukan persiapan sejak jauh hari.

    Ada beberapa kiat yang bisa kita lakukan sebagai orang tua, untuk merancang pola pendidikan terbaik bagi putra-putri kita selama bulan Ramadhan.

    5.1. Mengenalkan Ramadhan Lewat Cerita dan Mainan

    Salah satu cara untuk mengenalkan Ramadhan kepada anak-anak kita adalah dengan kita memilih cerita-cerita mengenai kisah-kisah menarik seputar Ramadhan, baik mengenai sahabat atau Rasulullah yang berjuang di bulan Ramadhan, atau menggambarkan suasana puasa dan keutamaan bagi yang menjalankannya. Cara lain adalah dengan mengarang sendiri cerita yang ada hubungan dengan Ramadhan. Ini bisa dilakukan dengan cara menceritakan pengalaman kita menjalani ibadah puasa dimassa kecil kita.

    Kita juga bisa memperkenalkan Ramadhan dengan mainan juga, dengan cara main puzzle yang bernuansa Islam, atau cara lain adalah dengan membeli mainan untuk komputer yang interaktif.

    Ini semua bisa kita mulai seminggu atau beberapa hari sebelum datangnya bulan Ramadhan. Tergantung pada umur anak, kita bisa sekaligus juga mengajak anak untuk membuat rencana kegiatan selama bulan Ramadhan nanti dan menentukan target-target yang ingin mereka capai. Kita juga harus memberi harapan bagi mereka untuk mencapai target-targetnya.

    Dengan mengenalkan Ramadhan lewat cerita dan mainan, suasana Ramadhan sudah terbangun dalam alam pikiran anak. Sehingga ia akan mengharapkan kedatangan bulan ini dengan penuh semangat dan antusias.

    5.2. Membangun Suasana yang Kondusif

    Membangun suasan yang kondusif itu penting juga, karena ini akan mempengaruhi semangat anak. Salah satu cara adalah dengan mengubah penataan rumah. Misalnya mempersiapkan ruang khusus untuk sholat berjama’ah dan tadarus al-Qur’an. Ajak anak-anak menghiasi ruang tersebut dengan tulisan-tulisan kaligrafi dan gambar-gambar Islami. Cara lain adalah dengan mengubah letak permainan, tv, buku, atau majalah yang bersifat umum, dan diganti dengan majalah atau buku-buku Islam.

    Kamar tidur anak dapat dihias dengan tulisan hadist, ataupun semboyan seputar puasa atau bulan Ramadhan, yang akan membangkitkan semangat mereka jika nanti menahan lapar dan haus ketika puasa. Tempelkan juga target dan jadwal kegiatan yang telah disusun bersama anak, dan persiapkan stiker bintang yang siap ditempel untuk setiap rencana yang berhasil dicapai oleh anak kita. Kerjakan bersama anak agar ia termotivasi untuk mendapatkan bintang sebanyak mungkin sampai akhir Ramadhan. Di samping membangun suasana anggota keluarga, juga agar selama Ramadhan lebih banyak waktu yang dapat digunakan untuk kegiatan ibadah.

    Kita bisa juga mengkondisikan lingkungan bermain dan kehidupan sehari-hari si anak dengan menyenangkan sehingga anak akan tertarik untuk mulai turut mencoba. Misalnya dengan mengundang kawan-kawan dekatnya untuk bersama-sama berbuka puasa di rumah. Bisa juga sahur bersama, dengan menginap di rumah. Perasaan senang tanpa tekanan dalam beribadah sangat penting bagi anak-anak. Jika ibadah merupakan paksaan, di benaknya akan tersimpan secara tak sadar, bahwa ibadah identik dengan tekanan.

    Membiasakan anak melakukan shalat terawih berjama’ah di masjid, bisa menjadikannya sebagai pengalaman yang tak terlupakan. Tadarrus al-Qur’an dan mabit (menginap) di mushalla untuk i’tikaf, mengikuti pesantren Ramadhan, ikut berkeliling kampung membangunkan orang untuk makan sahur, semuanya akan sangat menarik karena hanya ada dalam bulan Ramadhan.

    5.3. Penyusunan Menu Makanan yang Bergizi

    Ibu dapat mulai menyusun menu dengan gizi yang seimbang untuk anak yang puasa. Juga mulai melatih pola makan dari 3 kali sehari menjadi 2 kali saja. Bila dilihat dari pola kebiasaan makan, berpuasa sebetulnya hanya memindahkan jam, atau mengurangi satu kali waktu makan saja. Bila biasanya makan 3 kali sehari, menjadi 2 kali, yaitu waktu sahur dan waktu berbuka puasa.

    Penyusunan menu ini untuk menghindari terjadinya kekurangan zat gizi pada anak. Kecukupan gizi pada anak akan terpenuhi apabila saat berbuka dan makan sahur mereka mengkonsumsi makanan yang beragam dalam jumlah yang cukup.

    5.4. Bersahur Bersama Keluarga

    Bila esok mulai berpuasa, berarti malam sebelumnya kita akan melaksanakan sholat terawih dan sahur. Melatih anak-anak untuk berpuasa dapat dimulai dengan belajar bangun malam untuk makan sahur bersama.

    Untuk menarik minat anak, siapkan menu makanan kegemarannya dan buat suasana sahur menyenangkan baginya sehingga tidak merasa berat bangun tengah malam. Biarkan anak makan di akhir waktu sahur. Awal puasa, biarkan mereka coba dulu puasa hanya setengah hari. Ia akan berbuka pada tengah hari karena masih latihan. Dengan cara latihan yang bertahap seperti itu, si anak tidak merasa berat lagi untuk melakukan puasa.

    5.5. Khatimah

    Banyak sekali manfaat yang kita bisa ambil dengan anak-anak berpuasa. Misalnya dari sisi kesehatan, ibadah puasa memberikan istirahat pada organ-organ pencernaan tubuh, termasuk sistim enzim dan hormonal, yang kemudian akan bekerja kembali dengan lebih sempurna.

    Selain itu anak-anak yang mencoba untuk ikut berpuasa, sesungguhnya sedang dilatih untuk berdisiplin. Berdisiplin untuk bangun sahur pada malam hari, makan tepat waktu berbuka dan menahan nafsu. Termasuk sebagai latihan untuk taat pada perintah agama.

    Latihan ini bukan hanya pada menahan lapar saja, tetapi lebih penting pada esensi berpuasa itu sendiri. Karenanya, bila memang belum waktunya anak puasa penuh, biarlah mereka berbuka di tengah hari. Termasuk dalam mendidik si kecil dalam hal puasa.

    Pembiasaan puasa juga bisa mendidik anak-anak untuk jujur, misalnya mereka tetap berpuasa sekalipun teman-temannya di sekolah tidak. Kalaupun karena tidak kuat menahan lapar atau godaan teman ia terpaksa berbuka di luar rumah, anak juga bisa diajar untuk berterus-terang, bukan berbohong dan malu mengakui kesalahannya. Ini bisa dengan cara kita tidak marah sama mereka jika mereka berbuka karena tidak kuat atau karena godaan. (Iwan Setiawan DVL )

    ***

    Catatan Kaki :

    11 HR. an-Nasa’i 4/165, Ibnu Hibban hal. 232 Mawarid), al-Hakim 1/421, sanadnya shahih.

    12 HR. at-Tirmidzi kitab Zakat: 599, al-Baihaqi, Ibnu Khuzaimah. Imam at-Tirmidzi berkata: “Hadits ini gharib”.

    13 Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dengan tambahan: “Dan beliau tidak pernah dimintai sesuatu kecuali memberikannya.”

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: