Updates from Januari, 2017 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:42 am on 31 January 2017 Permalink | Balas  

    Meneladani Rasulullah saw. 

    nabi-muhammad-rasulullah-sawMeneladani Rasulullah saw.

    Oleh : Yahya Abdurrahman

    Pengantar Redaksi:

    Mengikuti (al-ittiba’) dan meneladani (at-ta’asi) Rasul saw. sangat penting agar umat tidak tersesat. Maknanya, umat harus mengikuti dan meneladani perkataan, perbuatan dan persetujuan Rasul saw. Agar bisa meneladani Rasul saw. secara sempurna dan tidak terpelanting menyalahi syariat, kaidah-kaidahnya perlu dipahami. Kaidah—terutama untuk perbuatan Rasul saw.—secara singkat dibahas dalam buku pertama rangkaian pembinaan Hizbut Tahrir, yakni Nizham al-Islam, halaman. 80-81 (edisi mu’tamadah). Pembahasan ini termasuk pembahasan ushul. Penjelasan lebih detail dapat kita jumpai dalam buku as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, jilid III halaman. 84-96. Pembahasan masalah ini juga banyak bertebaran dalam buku-buku Ushûl al-Fiqh karya para ulama salaf maupun khalaf. Berikut paparannya.

    Seluruh elemen umat sepakat bahwa as-Sunnah merupakan dalil syariat. As-Sunnah diartikan sebagai semua yang bersumber dari Nabi saw.—selain al-Quran—baik berupa perkataan, perbuatan maupun taqrir (diam/ persetujuan) beliau.

    As-Sunah merupakan hujah yang harus diikuti sesuai dengan ketentuan yang diberikan. Allah Swt. berfirman;

    Katakanlah, “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Ali ‘Imran [3]: 31).

    Wajibnya Ittiba’ kepada Rasul saw. ini dinyatakan secara umum, artinya mencakup semua yang keluar dari beliau baik berupa perkataan, perbuatan, maupun diam (persetujuan)-nya beliau.

    Seruan beliau berupa takhyir (pilihan) antara melakukan atau meninggalkan jelas status hukumnya mubah. Seruan berupa perintah (tuntutan untuk melaksanakan) atau larangan (tuntutan untuk meninggalkan) harus dikaitkan dengan qarinah-nya untuk mengetahui tegas dan tidaknya tuntutan itu, yakni apakah perintah itu bersifat tegas sehingga wajib dilaksanakan atau tidak tegas sehingga hukumnya sunah saja; juga apakah larangan beliau itu bersifat tegas sehingga hukumnya haram atau tidak tegas sehingga hukumnya makruh.

    Persetujuan (taqrir) beliau adalah terjadi ketika sahabat melakukan sesuatu di hadapan beliau atau tidak di hadapan beliau tetapi diketahui/sepengetahuan beliau, lalu beliau diam saja. Itu berarti, apa yang dilakukan sahabat itu hukumnya mubah.

    Meneladani Perbuatan Rasul saw.

    Para ulama lebih sering menyebut ittiba’ kepada Rasul saw. dengan istilah meneladani perbuatan Rasul saw. (at-ta’asi bi af’al ar-Rasûl).

    Meneladani Rasul saw. adalah wajib, tentu sesuai dengan ketentuan hukumnya; apakah wajib, sunnah, haram, makruh, atau mubah. Shalat lima waktu, misalnya, wajib, ya kita ikuti sebagai sebuah kewajiban; shalat malam (tahajud) sunnah, ya kita laksanakan sebagai sunnah; meminum khamar haram, ya kita teladani sebagai sebuah keharaman; dst.

    Jadi, meneladani perbuatan Rasul saw. berarti melakukan perbuatan persis dengan perbuatan beliau (bi mitsli fi’lihi, di atas niat atau maksudnya (‘ala wajhihi), dan karena perbuatan beliau (min ajli fi’lihi).1 Meneladani perbuatan Rasul saw. harus memenuhi tiga batasan ini. Jika tidak maka tidak terkategori sebagai peneladanan.2

    1. Bi mitsli fi’lihi (persis dengan perbuatan Nabi saw.)

    Maksudnya, perbuatan itu harus sama persis dengan potret perbuatan Nabi saw.; jika berbeda maka itu bukan peneladanan. Misal, membasuh muka sebanyak tiga kali dalam berwudhu. ‘Amru bin Syu’aib menceritakan, bahwa seorang Arab baduwi datang kepada Nabi saw. dan bertanya mengenai berwudhu, lalu ia melihat Rasul saw. berwudhu dengan tiga kali, tiga kali; kemudian Rasul saw. bersabda:

    Inilah tatacara berwudhu. Siapa saja yang menambah ini maka ia telah berbuat buruk, melampaui batas, dan zalim (HR Ahmad, an-Nasa’i, dan Ibn Majah).

    Contoh lainnya adalah ketidakbolehan memungut zakat profesi, zakat atas rumah, zakat atas mobil, dll. Sebab, al-Hasan berkata:

    Nabi saw. tidak mewajibkan zakat kecuali pada sepuluh (jenis harta): gandum, jewawut, kurma, kismis, sorghum, unta, sapi, kambing, emas, dan perak. (HR al-Baihaqi).

    1. ‘Ala Wajhihi.

    Maknanya, melaksanakan perbuatan sesuai dengan maksud, tujuan, atau niat Rasul melakukan perbuatan itu. Artinya, meneladani perbuatan Rasul saw. dari sisi apakah perbuatan itu wajib, sunnah atau mubah. Sebab, suatu perbuatan yang dilakukan persis seperti perbuatan Nabi saw., namun berbeda niatnya, tidak bisa disebut peneladanan. Misal, Rasul shalat dengan niat sunnah, lalu kita melakukan persis seperti shalat Rasul itu dengan niat wajib, maka itu bukan meneladani, tetapi menyalahi beliau.

    1. Min ajli fi’li-hi.

    Artinya, perbuatan itu dilaksanakan karena Rasul melakukan perbuatan tersebut. Dengan kata lain, perbuatan itu dilakukan dengan alasan mencontoh Rasul saw. Jika dua perbuatan dilakukan persis sama dan dengan niat yang sama pula, namun bukan dimaksudkan untuk mencontoh satu sama lain, maka hal itu bukan peneladanan.

    Waktu dan tempat Rasul melakukan suatu perbuatan secara umum tidak masuk dalam bagian yang harus diteladani, sekalipun berulang-ulang; kecuali jika terdapat nash yang menunjukkan pengkhususan suatu aktivitas ibadah pada tempat dan atau waktu tertentu—jika demikian maka tempat dan waktu itu menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas yang harus kita teladani. Hal ini seperti dikhususkannya shalat dan puasa pada waktu-waktunya, haji dengan segala manasiknya di Makkah dan pada waktu tertentu, dsb.

    Ketentuan ini dilihat dari sisi kewajiban mengikuti dan meneladani (al-ittiba’ wa at-ta’asi) Rasul saw. Sedangkan dari sisi melakukan perbuatan yang dilakukan Rasul saw. (al-qiyam bi al-fi’li), ketentuannya adalah sebagai berikut:3

    Pertama, perbuatan Jibiliyyah, yakni perbuatan Rasul yang beliau lakukan sebagaimana biasanya manusia. Perbuatan itu merupakan karakter alamiah manusia, baik Rasul maupun bukan; seperti berdiri, duduk, makan, minum, berjalan, tidur, dan sebagainya. Perbuatan seperti ini mubah, baik bagi Rasul maupun bagi umatnya.

    Kedua, perbuatan yang ditetapkan nash sebagai kekhususan bagi Rasul (khawwash ar-Rasûl). Contohnya seperti puasa wishal (puasa terus-menerus), menikahi wanita lebih dari empat orang, dsb. Perbuatan itu hanya khusus bagi Rasul dan kita haram melakukannya.

    Ketiga, perbuatan Rasul yang merupakan penjelasan (bayan) atas seruan terdahulu. Perbuatan ini tanpa diperselisihkan menjadi dalil yang harus kita ikuti. Status hukum perbuatan ini mengikuti status seruan yang dijelaskan (al-mubayyan). Jika yang dijelaskan wajib, maka hukum perbuatan itu wajib. Jika yang dijelaskan sunnah maka sunnah melakukannya. Jika yang dijelaskan mubah maka mubah pula melakukannya.

    Penjelasan (bayan) itu bisa dengan perkataan secara jelas (sharih al-maqal). Bayan seruan wajib contohnya sabda Rasul saw.:

    Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat (HR al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

    Contohlahlah dariku tatacara haji kalian. (HR Muslim dan an-Nasa’i).

    Bayan seruan sunnah adalah seperti penjelasan Rasul tentang berkurban. Abu Bardah bercerita, Rasul saw. pernah berkhutbah kepada kami:

    Siapa yang shalat dengan shalat kami, menghadapkan wajahnya ke kiblat kami, dan berhaji dengan ibadah haji kami, maka hendaknya ia tidak menyembelih (kurban) hingga ia shalat (‘Id Adha) (HR Muslim).

    Jabir bin Abdullah berkata:

    Kami berkurban bersama Nabi pada tahun Perjanjian Hudaibiyah seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang. (HR Muslim, Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

    Bayan atas seruan sunnah, misalnya, penjelasan tentang memakai cincin. Sesungguhnya Nabi saw. memakai cincin yang terbuat dari perak yang diukir di atasnya. (HR al-Bukhari dan Abu Dawud). Rasulullah saw. memakai cincin di tangan kanannya. (HR al-Bukhari, Ahmad, an-Nasa’i, at-Tirmidzi, dan Ibn Majah).

    Bisa juga bayan itu disampaikan sebagai qara’in ahwal (indikasi dalam bentuk perbuatan tertentu). Misal, ketika ada ungkapan mujmal atau umum yang hendak di-takhshish (dikhususkan) atau ungkapan mutlaq yang hendak di-taqyid (dibatasi), namun belum di-takhsis atau di-taqyid oleh Rasul, lalu saat dibutuhkan, Rasul saw. melakukan suatu perbuatan yang layak dijadikan bayan. Contoh, Rasul memotong tangan pencuri sampai pergelangan tangan sebagai penjelasan QS al-Maidah (5) ayat 38; pelaksanaan hukuman rajam merupakan bayan atas had zina; tayamum dengan mengusap muka dan tangan sampai siku sebagai penjelasan QS an-Nisa’ (4) ayat 43.

    Keempat, selain ketiga jenis di atas (bukan jibiliyyah, bukan khawwash ar-rasûl, dan bukan bayan seruan terdahulu), maka kemungkinan hukumnya bisa wajib, sunnah, atau mubah. Perbuatan Rasul itu semata-mata menunjukkan adanya thalab al-fi’li (tuntutan agar dilaksanakan). Ia membutuhkan qarinah (indikator) yang akan menentukan apakah tuntutan itu bersifat pasti (wajib), tidak pasti (sunnah) ataukah berupa pilihan (mubah). Berikut contoh untuk ketiga hukum tersebut:

    Pertama, jika dalam perbuatan itu tampak adanya maksud taqarrub kepada Allah maka hukumnya sunah. Sebab, adanya maksud taqarrub jelas menunjukkan bahwa melaksanakan lebih dikuatkan dari meninggalkan. Hanya saja, penguatan itu tidak bersifat pasti. Jadi, hukumnya sunnah. Contohnya membaca doa qunut pada shalat subuh. Beliau melakukannya selama sebulan lalu meninggalkannya. Karena mengandung maksud taqarrub kepada Allah, maka itu menunjukkan bahwa melakukannya lebih dikuatkan, sehingga hukumnya sunnah.4

    Kedua, jika Rasul melakukan suatu perbuatan, lalu dalam kesempatan lain meninggalkannya, dan di dalamnya tidak terdapat maksud taqarrub, maka perbuatan itu hukumnya mubah. Contohnya berdiri ketika ada jenazah lewat. Diriwayatkan bahwa jenazah lewat di depan Ibn ‘Abbas dan al-Hasan, lalu salah satu berdiri dan yang lain tetap duduk. Yang berdiri berkata kepada yang duduk, “Bukankah Rasul saw. telah berdiri (ketika jenazah lewat)?” Yang duduk menjawab, “Benar, tetapi beliau juga pernah tetap duduk.”5

    Rasul saw. mengadakan jamuan makan dan mengundang kerabat beliau sebagai cara untuk mengumpulkan dan mendakwahi mereka. Lalu beliau tidak melakukannya lagi. Karena itu, mengundang jamuan makan itu sebagai cara dakwah hukumnya mubah, yang dalam istilah fiqh ad-da’wah disebut uslûb.

    Ketiga, jika Rasul saw. melakukan perbuatan secara kontinu, dan beliau tetap melakukannya meskipun mendapat kesulitan, maka hukum perbuatan itu adalah wajib. Misalnya, tatsqif (pembinaan) bagi sebuah jamaah dakwah. Sebab, Rasul saw. melaksanakan tatsqif sepanjang hidup dan tidak pernah meninggalkannya. Contoh lain, aktivitas shira’ al-fikr (pergolakan pemikiran) adalah wajib, karena Rasul saw. mencela akidah kafir Quraisy; mencela sesembahan mereka; mencela, memburukkan, dan membatilkan sistem kehidupan mereka. Beliau (juga para sahabat) tetap melakukan semua itu meski mendapatkan kesulitan bahkan siksaan fisik. Begitu juga kifah as-siyasiy (perjuangan politik) membongkar kezaliman penguasa dan strategi musuh-musuh Islam. Thalab an-nushrah juga hukumnya wajib, karena Rasul terus melakukannya dengan mendatangi sekitar 19 kabilah. Semua menolak bahkan secara buruk seperti Bani Tsaqif di Thaif, Bani Hamdan dan Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah; dan hanya kaum Anshar yang menjawabnya. Wallah

    a’lam bi ash-shawab. d

    Catatan Kaki

    1 Qadhi Taqiyyuddin an-Nabhani, as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, III/93.

    2 Lihat, Pernyataan Al-Kamal bin al-Humam (790 –861 H/1388 – 1457 M), di antara ulama mazhab Hanafi, dalam at-Taqrir wa at-tahbir, 2/404, Dar al-Fikr, Beirut, cet. I. 1996; Muhammad bin ali bin at-Thayib al-Bashri, Abu al-Husayn (w 436 H), Al-Mu’tamad fi Ushûl al-Fiqh, I/343-345, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, cet. I. 1403 H; Imam al-Amidi (551-631 H), di antara ulama mazhab Syafi’i, Al-Ihkam fi Ushûl al-Ahkam, juz I hal. 226, Dar al-Kitab al-’Arabi, Beirut. Cet. I. 1404 H.

    3 Lihat: al-Qadhi an-Nabhani, as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, III/84-88; Imam al-Amidi, al-Ihkam, I/226-seterusnya; Syaikh ‘Atha’ ibn Khalil, Taysir al-Wushûl ila al-Ushûl, hlm. 75-76, Dar al-Umamh, cet. III (mazid wa munaqqahah), Beirut. 2000; Hafizh Abdurrahman, Ushul Fih Membangun Paradigma Berpikir Tasyri’iy, hlm. 87-89; al-Azhar Press. 2003.

    4 Lihat: HR. Bukhari, hadis no. 3781; Muslim, hadis no. 1087, 1088; Abu Dawud, hadis no. 1233; dll.

    5 HR at-Thabrani dalam Mu’jam al-Awsath. Hadis no. 2490.

    hizbut-tahrir.or.id

    Iklan
     
  • erva kurniawan 1:53 am on 30 January 2017 Permalink | Balas  

    Bolehkah Menghadiri Upacara Pemakaman Mayat Orang Non-Islam ? (2/2) 

    takziahBolehkah Menghadiri Upacara Pemakaman Mayat Orang Non-Islam ? (2/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaa

    Memasuki Gereja

    Gereja ialah sebuah bangunan tempat beribadat penganut Kristian. Gereja disebut pelbagai nama mengikut saiz dan penggunaannya. Jikalau gereja kecil dan penggunaannya dikhaskan ia disebut chapel. Tetapi terdapat juga istilah umum yang digunakan untuk gereja yaitu disebut church. Abbey pada asalnya bermakna asrama paderi-paderi tetapi kini telah diperluaskan penggunaannya hingga lebih membawa arti gereja besar. Biasanya bahagian utama gereja berbentuk salib. Gerbang gereja pada mulanya berbentuk bulat, tetapi kemudiannya tirus ke atas bagi melambangkan keteguhan dan keagungan. (Ensiklopedia Malaysiana: 5/109-110)

    Jika berlaku kematian, biasanya mayat orang kafir (Kristian) dibawa ke dalam gereja bagi menjalankan upacara khas keagamaan dan ia adalah menjadi salah satu syi’ar atau tanda khusus bagi agama mereka. Cara seperti ini tidak ada di dalam Islam dan bagi orang Islam sendiri tidak dibenarkan turut bersama mengikuti atau menyertai acara keagamaan mereka itu.

    Menurut sesetengah kitab yang menghuraikan hukum-hukum yang berkaitan dengan orang kafir zimmi ada menyebutkan bahwa gereja-gereja mereka itu adalah tempat-tempat laknat, kemarahan dan kemurkaan turun kepada mereka di dalamnya sebagaimana dikatakan oleh sebahagaian sahabat: “Jauhi oleh kamu akan orang-orang Yahudi dan Nashrani di hari-hari kebesaran mereka karena kemurkaan turun kepada mereka pada hari-hari itu”. Selain daripada itu, gereja itu termasuk di antara rumah (tempat) musuh-musuh Allah, rumah musuhNya pula adalah tidak layak dijadikan tempat beribadat kepadaNya. (Ibn Qayyim Al-Jauziah, Ahklam Ahl Zimmah, 3:1230-1231)

    Apabila demikian halnya gereja itu, maka tidak elok bagi seseorang Muslim memasukinya tanpa sebab-sebab tertentu, sebagaimana dicatatkan dalam sejarah pembukaan Bait Al-Muqaddas bahwa Sayyidina Umar Radhiallahu ‘anhu pernah memasuki gereja Al-Qummamah (Al-Qiyamah) dan sempat duduk di dalamnya dan apabila tiba waktu sembahyang beliau keluar. Tindakan Sayyidina Umar ini lebih banyak bermotifkan politik Islamiyah yang pada masa itu di mana agama Islam baru mula bertapak di kawasan Bait Al-Muqaddas dan Umar sendiri memasukinya bukan karena sukakan atau cenderung kepada gereja atau ajaran mereka. (Muhammad Redha, Al-Faruq: Umar bin Al-Khattab: 208)

    Syarat-Syarat Memasuki Gereja

    Menurut ulama Syafi’e hukum memasuki gereja itu dibolehkan dengan beberapa syarat. Antara syarat-syarat itu ada kebenaran daripada pihak gereja dan di dalam gereja itu pula tidak terdapat gambar atau patung-patung yang dimuliakan seperti gambar atau patung yang disangkakan orang Nashrani sebagai gambar atau patung Nabi Isa ‘Alaihishshalatu wasallam, atau Sayyidatina Maryam dan lain-lain.

    Jika syarat-syarat ini tidak terpenuhi, maka tidak harus memasukinya (haram) masuk gereja disebabkan ada gambar-gambar atau patung yang dihormati oleh mereka yang diletakkan dalam gereja itu.

    Dalam hal ini Ibnu Hajar dan Imam Ali Al-Syibramalisi Rahimahullah menyebutkan bahwa tidak harus memasuki gereja kecuali dengan ada izin kebenaran daripada mereka dan di dalamnya tidak terdapat gambar-gambar yang dimuliakan. (Tuhfah Al-Muhtaj: 9/295 & Hasyiah Nihayah Al-Muhtaj: 8/99)

    Termasuk juga syarat itu hendaklah masuknya itu tidak membawa kesan cenderung atau mengiktiraf kepada ajaran gereja atau akan membawa dia mempersendakan Islam bersama-sama orang kafir sehingga boleh merusakkan aqidahnya. (Fatwa Abdul Halim Mahmud: 198)

    Berasaskan kepada huraian di atas, adalah dibolehkan mengikuti serta menyertai jenazah orang kafir dari tempat kediaman asalnya sehingga sampai ke tempat pengkebumiaannya, termasuk ke gereja yang sunyi daripada gambar-gambar dan patung yang disebutkan.

    Walau bagaimanapun perlu diingat bahwa orang Islam adalah haram menghadiri atau menyertai mana-mana acara peribadatan atau acara khas keagamaan agama yang lain, sama ada ia dilakukan di gereja, di kuil, rumah atau di mana-mana tempat sekalipun.

    Dengan demikian perkara orang Islam datang ke gereja untuk hanya sekadar memberi takziah dan simpati kepada keluarga terdekat atau teman rapat adalah harus, yaitu selama tidak menyertai acara khusus keagamaan mereka dan di tempat itu tidak ada gambar-gambar atau patung yang mereka muliakan.

    wallohu a’lam bis-showab

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 29 January 2017 Permalink | Balas  

    Bolehkah Menghadiri Upacara Pemakaman Mayat Orang Non Islam (1/2) 

    takziahBolehkah Menghadiri Upacara Pemakaman Mayat Orang Non Islam (1/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaa

    Agama Islam sangat tegas dan keras dalam soal mempertahankan akidah Islamiyah, namun ia juga amat berlembut dan toleran dalam perkara-perkara tertentu seperti soal sosial dan kemasyarakatan yang melibatkan bagaimana mengatur di antara orang Islam dengan orang yang bukan Islam selama mana hubungan itu tidak menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal, lebih-lebih lagi tidak ada yang boleh menjejaskan atau merusakkan akidah orang Islam.

    Berbuat baik dan berlaku adil kepada semua orang adalah salah satu prinsip Islam. Karena Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam itu diutus oleh Allah Ta’ala bagi seluruh alam sebagai rahmat dan nikmat yang besar. Sesiapa yang beriman dan menurut syari’at Islam yang disampaikannya, selamatlah dia, dan sesiapa yang kufur ingkar, celakalah dia di dunia dan di akhirat, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    Tafsirnya: “Dan tiadalah kami mengutus engkau (wahai Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam”. (Surah Al-Anbiya’: 107)

    Begitu juga berbuat baik kepada orang yang bukan Islam tidak dilarang oleh Islam. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firmanNya:

    Tafsirnya: “Allah tidak melarang kamu daripada berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama (kamu), dan tidak mengeluarkan kamu daripada kampung halaman kamu; sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berlaku adil”. (Surah Al-Mumtahinah: 8)

    Islam juga tidak melarang bermu’amalah seperti berjual beli, saling berkunjung, menghormati mereka sebagai individu dalam batas pergaulan dan hubungan mengikut sukatan mujamalah asalkan bukan karena memenuhi tuntutan acara keagamaan mereka atau lainnya yang bertentangan dengan syara’.

    Pendeknya Islam juga tidak melarang menjalin hubungan silaturahim dengan orang bukan Islam dalam batas yang diizinkan oleh syara’, apa lagi mereka itu keluarga terdekat seperti ibu bapa, adik, abang dan sebagainya. Hal ini telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadis, Baginda bersabda:

    Maksudnya: “Daripada Asma’ binti Abu Bakar Radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Telah datang ibuku kepadaku di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sedangkan (ketika itu) dia masih musyrik (belum Islam). Maka aku meminta fatwa kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu aku berkata: “Dia (ibuku) menginginkan sesuatu daripadaku, adakah aku menghubungkan silaturahim kepadanya? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ya, hubungkanlah silaturahim dengannya”.

    (Hadis riwayat Al-Bukhari)

    Dalam hubungan ini jika berlaku kematian di kalangan mereka yang kafir zimmi, bagaimana sikap orang Islam mengenainya?

    Perlu diketahui bahwa pada dasarnya apabila berlaku kematian ke atas orang kafir zimmi adalah dituntut supaya mereka tidak menzahirkan penanaman mayat dan kematian mereka secara terang-terangan. (Al-Raudhah: 10/333)

    Mengiringi Mayat Orang Kafir Ke Kubur

    Islam tidak melarang perkara takziah dengan menghadiri atau mengikuti mayat orang kafir ke tempat pengkebumian, jika mayat itu terdiri daripada keluarga terdekat seperti isteri, jiran, teman rapat, maula dan hambanya. Keharusan menghadiri atau mengikuti mayat orang bukan Islam ini berdasarkan riwayat daripada Ali Karramallahu wajhah di mana beliau memberitahu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa saudara Baginda yang sesat (belum menganut Islam) telah mati, lalu Baginda mengarahkan Ali untuk menghadirinya. (Qalyubi wa ‘Umairah: 1/406 & Fath Al-‘Allam: 3/280)

    Menurut Kitab Fath Al-‘Allam, jika mayat itu orang lain seperti bukan ahli keluarganya maka hukumnya adalah haram. (Fath Al-‘Allam: 3/280)

    Adab Ketika Menziarahi Mayat Orang Kafir

    Islam tidak melarang menghadiri pengkebumian mayat orang kafir bahkan memberikan etika dan cara ketika menghadiri mayat tersebut.

    Etika dan cara menghadiri mayat orang kafir dicatatkan dalam beberapa riwayat yang ada kaitan mengenainya, di antaranya:

    Maksudnya: “Muhammad bin Al-Hassan bin Harun berkata: “Abu Abdullah ditanya: “Dan adakah dia boleh menghadiri mayatnya? “Beliau menjawab: “Ya, boleh sebagaimana yang dilakukan oleh Al-Harith bin Abu Rubai’ah di mana dia menghadiri mayat ibunya dan dia hanya berada di tepi dan tidak berada di dekat mayat karena mayat itu dilaknat”.

    Dalam sebuah riwayat yang lain:

    Maksudnya: “Daripada Abdullah bin Ka’ab bin Malik daripada bapanya: “Qais bin Syammas datang menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, katanya lagi: “Ibunya kebetulan mati sebagai seorang Kristian dan dia ingin menghadiri mayatnya”, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Naiki kenderaanmu dan berjalanlah di hadapan mayatnya, karena apabila engkau menunggang dan engkau berada di hadapannya maka engkau tidak dikira bersamanya”.

    (Hadis riwayat Ad-Daruqutni: 2/75-76)

    Berdasarkan riwayat di atas, keharusan menghadiri dan mengucapkan takziah di dalam majlis yang ada padanya mayat orang kafir hanyalah sekadar menunjukkan simpati saja dan tidak terlalu dekat dengan mayat, manakala ketika membawanya ke tempat pengkebumian pula, maka beradalah di hadapan mayat, bukan di arah belakang.

    Simpati (takziah) yang ditunjukkan itu hanya sekadar muamalah saja dan kehadiran itu pula tidak sekali-kali dikaitkan dengan agama dan akidah. Dengan lain perkataan kehadiran itu bukan karena mengikut acara keagamaan mereka.

    Dengan yang demikian bertakziah dengan menghadiri mayat orang kafir daripada kalangan keluarga atau teman rapat dalam batas-batas yang tidak termasuk dalam acara keagamaan mereka adalah diharuskan.

    Bersambung

     
  • erva kurniawan 1:12 am on 28 January 2017 Permalink | Balas  

    Rahasia Lautan 

    masjid_2_utuh_tsunami_acehRahasia Lautan

    Jauh sebelum sejumlah pakar menemukan teori gelombang tsunami dan gempa di dasar laut, al-Qur’an sudah menjelaskan teori gelombang yang bergulung-gulung, dan api yang keluar dari dasar lautan itu.

    Selain keyakinan kita bahwa musibah adalah peringatan dari Allah SWT, makna apa yang bisa menjelaskan pada kita akan hadirnya badai dasyat bernama ‘tsunami’ yang menerjang hampir seluruh pantai di pesisir Asia tanggal 26 Desember 2004?

    Sebuah air bah dasyat, menjulang tinggi, setinggi gunung kelapa. Laksana makluk raksasa, dia bisa menghajar dan menghancurkan gedung-gedung. Dia juga bisa menggulung manusia dan mencampurnya dengan urapan sampah rumah dan bangkai-bangkai mobil. Lalu melemparkan kapal berbobot 200 ton jauh ke kota. Seolah memiliki tangan kekar, dia juga mampu menjebol beton besi, menyeretnya dengan jarak berkilo-kilo dan menariknya kembali ke dasar laut lepas dan kemudian hilang tanpa bekas. Dia bukan layaknya monster raksasa dalam film fiksi animasi kesukaan anak-anak buatan Jepang. Bahkan, dia hanyalah air biasa.

    Siapa menyangka, air, –yang tadinya– indah dan tenang, di mana semilir angin dan suara deburan ombaknya menjadi tempat banyak orang melepas penat. Kejernihan air yang di dalamnya ada banyak rizki yang menjadi satu-satunya tempat masyarakat bergantung hidup. Tiba-tiba, kini, benda cair itu dianggap makluk menakutkan yang bisa berlari cepat memburu dan menyeret kaki-kaki manusia.

    Kecuali, sedikit dari orang-orang yang hanya mau berfikir, tak banyak orang begitu paham. Sekalipun dia ilmuwan dan pakar yang telah menekuni ilmu selama puluhan tahun. Bahkan untuk membaca tanda-tandanya saja, mereka masih kalah dengan hewan.

    Kandungan Lautan

    Kenyataannya, laut yang -kini dianggap mengerikan-itu bukanlah semata tempat ghaib. Dia adalah tempat nyata dan paling menakjubkan yang telah diberikan Allah hanya untuk manusia. Laut berserta airnya, adalah tempat mengais rizki yang tak pernah habis-habisnya. Kandungannya menjanjikan kemakmuran dan kesejahteraan manusia. Dan permukannya bisa memudahkan kita melakukan perjalanan jauh melintas benua. Hanya karena kebodohan kitalah, air dan lautan itu tak ubahnya seonggok barang yang tak berarti.

    Sudah menjadi rahasia umum, semenjak ilmu pengetahuan mencapai kejayaannya, tak banyak orang yang memalingkan wajahnya ke lautan. Bahkan sejak industri dikenal luas, banyak sainstis -dengan dukungan penguasa-terus-terusan menghabisan miliaran dollar untuk meneliti luar angkasa dan bintang-bintang.

    Karenanya, penelitian luar angkasa terlihat lebih glamour dibanding meneliti lautan beserta kandungannya. Sebutan Rocket Scientist mungkin kelihatan lebih trendy dibanding Marine Geophysict atau Marine Biologist.

    Tapi banyak orang lupa. Justru di lautanlah masa lalu dan masa depan kebergantuan umat manusia berada. Negara-negara besar dan kuat hanyalah negara-negara yang memiliki angkatan laut yang besar dan kuat. Negeri-negeri kaya masa depan adalah negeri-negeri yang memiliki laut atau kepulauan dengan kandungan yang kaya. Sedangkan negeri-negeri yang hanya dikeliling daratan (lanlock) akan lebih susah berkembang.

    Beberapa negara, seperti; Jepang, Inggris, Irlandia, Singapura, Hong Kong, Taiwan, Selandia Baru, Bahrain adalah negara pulau. Juga negara-negara pesisir yang kuat ekonominya karena ditopang industri maritim, seperti; Norwegia. Korea Selatan, Belanda dan Jerman.

    Faktanya, memiliki tak pernah bisa menguasai. Karena ketidakmampuan mengelola laut, negara-negara yang seharusnya kaya-raya karena memiliki sumber daya alam, mereka justru miskin dan hidupnya susah. Mereka memiliki tapi tak mampu menguasai. Di Sierra Leone, Afrika Barat, dikenal lautnya kaya intan. Namun, kekayaan itu justu dikeruk bangsa Eropa dan Amerika Serikat (AS). Di Papua dan Riau, dikenal memiliki kandungan emas dan minyaknya. Namun, pengelolanya bukan orang-orang pribumi. Mereka tak lain adalah bangsa Amerika, bukan kita.

    Ayat-ayat Allah

    Al-Qur’an telah 1400 tahun lalu memberikan rahasia kekayaan yang ada dilautan. Prof. Zaghoul dari Universitas of Petroleom, Dahran, Saudi Arabia, pernah mengamati kandungan al-Qur’an yang mengungkap misteri lautan. Menurutnya, ada sekitar 460 ayat yang mengungkap kandungan bumi dengan sangat rinci. Menyangkut bentuk, gerakan, dan asal-usulnya. Gunung-gunung, asal muasal atmosfer dan hidrosfer, kegelapan dilautan. Juga termasuk berbagai fenomena ilmu bumi (earthscience) dengan sangat rinci. Menyangkut geologi, geofisika, geokimia, geografi dan geodesi.

    Jauh sebelum lahirnya pakar-pakar tsunami dan gelombang laut, al-Qur’an secara detil dan menjelaskan akan keganasan gelombang laut. Akibat ketakjuban kandungan al-Qur’an ini, bahkan pernah mengantarkan seorang pelaut ulung asal Amerika memeluk Islam.

    Garry Miller, pernah bercerita, di Toronto, Kanada, ada seorang pelaut ulung yang menghabiskan waktunya di atas kapal dan seluruh hidupnya di atas lautan. Suatu ketika, seorang Muslim meminjamkannya al-Qur’an. Pria ini kemudian terkaget-kaget setelah membaca isi al-Qur’an Surat An-Nur: 40, yang mengunggap teori gelombang laut.

    “Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang bertindih-tindih, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa oleh Allah tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitnya.” (QS. An-Nur: 40)

    Sebuah perumpamaan yang luar biasa, “..diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak, dan di atasnya awan; gelap gulita yang bertindih-tindih” , tentu bukanlah sebuah gelombang biasa. Dia sebuah badai laut besar yang bertumpuk-tumpuk dan mengulung-gulung. Dialah gelombang maha dasyat itu.

    Menurut Garry Miller, karena kekaguman isi kandungan Al-Qur’an itu, sang pelaut lantas bertanya kepada si pemilik al-Qur’an. “Apakah Muhammad itu seorang pelaut?. Bukan, bahkan sesungguhnya Muhammad tinggal di tengah gurun pasir.” Jawaban itu kontan membuat sang pelaut mengimani al-Qur’an dan segera memeluk Islam. Bagaimana mungkin, ada sebuah kitab mampu menjelaskan teori ombak besar bertindih-tindih sedang penyampai risalah itu (Nabi Muhammad) justru tinggal di sebuah padang pasir cadas Mekah dan Madinah, yang jauh lebih dari 100 KM dari pesisir Laut Merah jika bukan sebuah kitab suci?

    Al-Qur’an tak hanya mengulas rahasia gelombang dasyat semata. Apa yang akan Anda pikirkan dengan isi kandungan QS. Al-Thur ayat 6 yang isinya berbunyi, “Dan lautan yang di dalam tanahnya ada api.” Bagi orang-orang yang tak mau merenung dan berfikir, akan sulit memahami isi al-Qur’an apalagi kemudian menyatakan segera berserah diri bahwa Allah adalah Tuhan yang maha benar.

    Istilah gelombang yang bergulung-gulung, dan api yang keluar dari dasar lautan itu sudah ada 1400 tahun lalu, sebelum pakar-pakar tsunami mampu menjelaskan ada ombak berbahaya dan menakutkan atau gempa di dasar lautan.

    Ketika baru beberapa taun ini para ilmuwan mampu membuktikan bahwa bola bumi tidak statis alias bergerak, melalui pengukuran geomagnetik, mereke gembira luar-biasa karena bisa menjelaskan bahwa kulit bola bumi bisa berpindah-pindah dan bergerak. Tapi rupanya mereka kecele, sebab jauh sebelumnya, ribuan tahun lalu, al-Qur’an telah mengungkapnya secara gamblang.

    Dalam Surat an-Naml ayat 88 dan al-Thur ayat 10, al-Qur’an mengatakan dengan sangat jelas, “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sanga ia tetap ditempatnya, padahal dia berjalan sebagaimana jalan awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kukuh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Naml:88).

    Masih banyak penjelasan dari rahasia laut yang ditunjukkan Allah SWT dalam al-Qur’an -yang juga ditulis dalam buku ini – yang tentu tak bisa diungkap semuanya di sini. Jika kemudian banyak orang mengatakan semua agama sama, bisakah kita meletakkan kesamaannya dan membandingkan kitab suci mereka dengan al-Qur’an ? yang juga sama bisa menjelaskan gelombang yang bergulung-gulung, api yang keluar dari dasar lautan dan gunung yang bisa berjalan? Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu sembunyikan?

    Buku ini tebal -yang terdiri dari 5 bab- yang ditulis dengan menggunakan sentuan spiritual dan intelektual ini banyak mengungkap rahasia dan misteri lautan sebagaimana diungkap oleh al-Qur’an yang belum diungkap banyak orang.

    Buku yang ditulis saudara Agus Djamil, seorang geosaintis Islam Indonesia, banyak mengupas ayat-ayat qauliyyah dan ayat qauniyyah (al-Qur’an) mengenai lautan lengkap dengan teori-teori bumi beserta penjelasan tafsirnya. Kandungan rahasia lautan yang ada dalam al-Qur’an ini seharusnya semakin menambah iman orang akan kebenaran al-Qur’an. Kecuali orang-orang yang mendustakan agama.

    ***

    Resensi dari Buku: Judul: Al-Qur’an dan Lautan. Pengantar: Dr. Abdurahman R.A. Haqqi. Penulis: Agus S. Djamil. Penerbit: Arasy (Kelompok Mizan). Tahun: Cetakan I, Desember 2004. Tebal: 552 halaman.

    Artikel dari: Mengungkap Rahasia Allah dalam Lautan.

    Hidayatullah.com.

     
  • erva kurniawan 2:49 am on 27 January 2017 Permalink | Balas  

    Ucapan Takziah (2/2) 

    takziahUcapan Takziah (2/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Lafaz Ta’ziah

    Sebagaimana penjelasan di atas, sunat ke atas orang Islam mengucapkan ta’ziah kepada orang yang ditimpa musibah.

    Adapun ucapan ta’ziah itu jika ditujukan kepada ahli keluarga yang Islam dan bagi si mati yang Islam, lafaznya adalah seperti berikut yang artinya :

    “Semoga Allah membesarkan pahalamu dan membaikkan kesabaranmu dan mengampunkan bagi si matimu.”

    Persoalan yang timbul, bolehkah mengucapkan ta’ziah kepada orang orang bukan Islam dan bagaimanakah lafaznya?

    Ucapan Ta’ziah Bagi Orang Bukan Islam

    Harus (boleh) bagi orang Islam memberi ucapan ta’ziah kepada orang kafir zimmi bahkan sunat hukumnya jika mengharapkan Islamnya.

    Apabila si mati orang bukan Islam dan ucapan ta’ziah itu ditujukan kepada keluarganya yang Islam, lafaznya ialah seperti berikut :

    Artinya:”Semoga Allah membesarkan pahalamu dan kesabaranmu dan semoga Allah memberimu penggantinya.”

    Akan tetapi haram didoakan bagi mayat orang bukan Islam itu dengan memohon keampunan baginya, walaupun ucapan ta’ziah itu ditujukan kepada keluarga si mati yang Islam. Contoh lafaz mendoakan keampunan yang diharamkan bagi mayat orang bukan Islam itu seperti berikut :

    Artinya :”Semoga Allah mengampuni si matimu.”

    Berbeda halnya jika si mati itu orang Islam. Maka harus didoakan si mati itu dengan memohonkan keampunan, walaupun ucapan ta’ziah itu kepada keluarga yang bukan Islam bagi si mati yang Islam.

    Akan tetapi tidak boleh diucapkan ta’ziah kepada keluarga yang bukan Islam bagi si mati yang Islam itu dengan mendoakannya supaya Allah membesarkan pahala keluarga yang bukan Islam itu. Karena tiada pahala bagi orang-orang bukan Islam. Tetapi harus diucapkan ta’ziah kepada keluarga bukan Islam itu jika si mati orang Islam dengan lafaz seperti berikut :

    Artinya : “Semoga Allah mengampuni si matimu dan membaikkan kesabaranmu.” (Mughni Al-Muhtaj: 1/481-482)

    Manakala ucapan ta’ziah bagi ahli keluarga bukan Islam dan si mati yang bukan Islam, adalah lebih baik ditinggalkan karena itu mendoakan orang bukan Islam dengan berkekalan dan sentiasa dalam kekufurannya. Sebagai contoh lafaz ta’ziah yang ditujukan kepada keluarga bukan Islam dan si mati yang bukan Islam, yang mana lebih baik ditinggalkan itu ialah :

    Artinya : “Semoga Allah memberimu penggantinya.”

    Sebagaimana penjelasan di atas adalah haram bagi umat Islam mengucapkan ta’ziah kepada ahli keluarga yang bukan Islam dengan mendoakan semoga Allah membesarkan pahala mereka. Begitu juga mengucapkan bagi si mati yang bukan Islam dengan mendoakan keampunan. Karena mendoakan orang-orang bukan Islam itu ada batasnya, untuk lebih jelasnya dihuraikan hukum mendoakan orang bukan Islam.

    Hukum Mendoakan Orang Bukan Islam

    Terdapat garis pandu dan batas bagi keharusan mendoakan orang bukan Islam. Tidak semua doa atau permohonan itu diharuskan bagi mereka. Adalah haram mendoakan orang bukan Islam sama ada dia terdiri daripada keluarga sendiri ataupun sebaliknya, dengan doa yang berbentuk permohonan keampunan dan seumpamanya yang tidak layak disebut bagi orang bukan Islam. Karena itu dilarang sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tafsirnya :

    “Tidaklah dibenarkan bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, meminta ampun bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang itu kaum kerabat sendiri, sesudah nyata bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu adalah ahli neraka.” (Surah At-Taubah: 113)

    Daripada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Musa yang berkata yang maksudnya :

    “Orang-orang Yahudi berpura-pura bersin di majlis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan tujuan supaya Baginda bersabda dan mendoakan mereka dengan mendapat rahmat Allah – sebagaimana doa bagi orang-orang Islam apabila mereka bersin – Maka Baginda bersabda (kepada orang-orang Yahudi ketika mereka bersin) semoga Allah memberi hidayat kepada kamu dan membetulkan hal ehwal kamu.” (Hadis riwayat Tirmidzi)

    Daripada hadis di atas, jelas menunjukkan bahwa tidak harus mendoakan orang bukan Islam agar mereka mendapat keampunan dan rahmat daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala itu khusus bagi orang-orang yang beriman. Akan tetapi harus bagi kita mendoakan orang-orang bukan Islam itu supaya mendapat hidayat, taufiq serta beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Sebagaimana hadis yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata yang maksudnya :

    “Thufail bin ‘Amr datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya kabilah Daus telah menderhaka dan enggan (menerima Islam), mohonlah (berdoalah) kepada Allah agar ditimpakan keburukan ke atas mereka.” Orang-orang menyangka bahwa Baginda akan berdoa memohon sesuatu keburukan ke atas mereka (kabilah Daus). Maka Baginda bersabda: “Ya Allah! Berikanlah hidayat kepada kabilah Daus dan datangkanlah mereka sebagai orang-orang Islam.” (Hadis riwayat Bukhari)

    Sementara hadis yang diriwayatkan oleh Anas Radhiallahu ‘anhu berkata yang maksudnya :

    “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah minta tolong menimba air, lalu ada orang Yahudi yang menimbakan air untuk Baginda. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakannya: “Semoga Allah menjadikanmu tampan selalu.” Maka orang Yahudi itu sehingga meninggal dunia tidak pernah kelihatan uban dikepalanya.” (Hadis riwayat Ibnu as-Sunni)

    Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah diminta oleh sahabat Baginda iaitu Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, untuk mendoakan ibunya yang masih kafir supaya memeluk agama Islam. Lalu Baginda pun mendoakannya dan dimakbulkan permohonannya itu oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Doa-doa seperti di atas ini adalah diharuskan. Tetapi mendoakan orang bukan Islam dengan memohon keampunan dan keselamatan daripada azab dunia dan azab akhirat, maka itu adalah haram.

    Pada zaman yang semakin giat membangun ini, bermacam pendapat dan pemikiran yang timbul dan berbagai usaha yang dilakukan terutama sekali dalam strategi-strategi untuk melemah atau menjatuhkan umat Islam, sekaligus terhadap agama Islam itu sendiri.

    Apa yang jelas, melalui strategi-strategi yang nyata mahupun terselindung, budaya-budaya di luar kehendak syara’ beransur-ansur menyerap ke negara Islam sama ada melalui media massa atau berbagai bentuk saluran, secara tidak langsung atau terus menerus yang dapat dilihat oleh kaca mata orang Islam sendiri.

    Budaya-budaya yang dimaksudkan itu ialah seperti merayakan halloween dan valentine’s day, mencurahkan rasa sedih dengan menghidupkan lilin beramai-ramai, bertafakkur atau senyap dalam beberapa minit sebagai mengingati orang yang telah mati atau berkumpul untuk upacara blessing (memohon rahmat, restu dan berkat) untuk orang bukan Islam yang telah mati dalam upacara remembrance day dan sebagainya. Begitu juga, istilah beramal turut disalahgunakan seperti konsert amal, fun-fair amal dan sebagainya untuk mengaburi mata orang Islam yang kononnya pekerjaan itu adalah usaha yang berkebajikan. Akan tetapi sama ada disedari atau tidak pekerjaan dan acara-acara itu bercampur-aduk dengan berbagai perkara yang membawa kepada kemaksiatan dan dosa.

    Oleh yang demikian, hendaklah kita berhati-hati dalam melakukan sesuatu perkara. Berfikir panjang dalam membuat sesuatu keputusan sama ada itu menyalahi hukum Islam atau tidak. Tanpa disedari, seperti memperingati kematian orang-orang bukan Islam dan sekaligus mendoakan mereka itu dalam keampunan dan rahmat daripada Tuhan. Perkara inilah yang mesti kita ambil kira karena itu sudah jelas dilarang oleh Islam.

    Wallohu a’lam bis-shawab,-

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 26 January 2017 Permalink | Balas  

    Ucapan Takziah (1/2) 

    takziahUcapan Takziah (1/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Ta’ziah dari segi istilah bererti menyuruh seseorang dengan bersabar dan mendorongnya dengan pahala yang dijanjikan, memperingati daripada dosa, mendoakan bagi si mati dengan keampunan dan mendoakan bagi orang yang terkena musibah dengan mendapat penggantinya. (Mughni al-Muhtaj: 1/481)

    Sudah menjadi kebiasaan di kalangan masyarakat untuk menziarahi keluarga si mati atau orang yang terkena musibah. Amalan serupa ini amatlah digalakkan oleh Islam. Akan tetapi hendaklah diingat dan dijaga batasan-batasan dan etika yang diajarkan oleh Islam berhubung menziarahi keluarga si mati atau orang yang terkena musibah.

    Hukum Ta’ziah

    Para fuqaha tidak berselisih pendapat dalam mengharuskan ucapan ta’ziah kepada orang yang ditimpa musibah sama ada disebabkan kematian atau kebakaran dan sebagainya. Bahkan ta’ziah itu sunat diucapkan kepada mereka yang ditimpa musibah, sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Tiadalah seorang mukmin yang mengucapkan ta’ziah pada saudaranya yang ditimpa musibah, melainkan Allah Subhanah memberikannya pakaian daripada pakaian kehormatan di hari qiamat.” (Hadis riwayat Ibnu Majah)

    Adapun ta’ziah itu sunat diucapkan kepada ahli keluarga musibah pada keseluruhannya, sama ada terdiri daripada orang dewasa lelaki dan perempuan atau pun kanak-kanak yang berakal. Akan tetapi tidak boleh mengucapkan ta’ziah itu kepada perempuan yang muda melainkan sesamanya perempuan, suami atau pun mahramnya. Ini karena ditakuti akan mendatangkan fitnah.

    Waktu Dan Jangka Masa Ta’ziah

    Sunat mengucapkan ta’ziah kepada ahli keluarga musibah sebelum dan selepas menguburkan si mati. Adapun lebih afdhal mengucapkan ta’ziah itu selepas menguburkan si mati karena kesibukan ahli keluarga pada menguruskan mayat si mati. Berlainan halnya jika ahli keluarga itu terlalu sedih dan resah sebelum dikuburkan mayat tersebut, maka afdhal didahulukan ta’ziah itu bagi menghilangkan kesedihan dan keresahannya.

    Ucapan ta’ziah kepada ahli keluarga musibah itu, hendaklah tidak melebihi kira-kira tiga hari lebih kurang. Karena dalam jangka masa tiga hari itu, ahli keluarga musibah pada kebiasaannya hati mereka sudah mulai tenang dan tidak merasa sedih dan resah lagi. Oleh yang demikian, makruh mengucapkan ta’ziah kepada ahli keluarga si mati selepas berlalunya tiga hari agar tidak menimbulkan lagi kesedihan mereka. Akan tetapi jika salah seorang di antara orang yang mengucapkan ta’ziah dan orang yang diucapkan ta’ziah itu tidak ada pada masa tersebut, maka harus diucapkan ta’ziah itu selepas tiga hari.

    Menyediakan Makanan Bagi Ahli Keluarga Si mati

    Sunat bagi jiran dan kaum karabat yang jauh menyediakan makanan untuk ahli keluarga si mati, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada ahlinya ketika mendapat khabar kematian Saiyidina Ja’far bin Abi Thalib: yang maksudnya :

    “Kamu buatkanlah makanan bagi keluarga Saiyidina Ja’far, sesungguhnya telah didapati mereka itu kesibukan (atas kematian Saiyidina Ja’far).”

    (Hadis riwayat Tirmidzi)

    Haram menyediakan makanan kepada orang yang meratapi si mati (niyahah), seperti perempuan yang meraung menangis sambil menampar-nampar pipinya dan merobek-robek pakaiannya. Ini karena, orang yang menyediakan makanan untuk orang yang meratapi itu bekerjasama dalam maksiat. (I’anah At-Thalibin: 2/165)

    Adapun bagi ahli keluarga si mati itu sendiri adalah makruh menyediakan makanan dan mengumpulkan orang ramai bagi menjamu jamuan itu, karena itu dapat menambahkan kesedihan, kesibukan di samping menguruskan jenazah dan ia juga dapat menyerupai perbuatan orang jahiliah dan perbuatan ini juga adalah bid’ah makruhah. Sebagaimana dalam sebuah hadis daripada Jarir bin Abdillah Al- Bajaliy berkata yang maksudnya :

    “Kami (sahabat) mengiktibarkan berhimpun di tempat ahli keluarga si mati dan mereka (ahli keluarga si mati) membuat jamuan makanan selepas penguburan si mati: itu adalah sebagai satu niyahah (ratapan).” (Hadis riwayat Ibnu Majah)

    Adapun jika jamuan makan yang biasa dilakukan itu bertujuan untuk mendapatkan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi si mati, maka tujuan itu adalah baik.

    Akan tetapi jika ahli keluarga si mati itu memberatkan diri dengan berbagai-bagai makanan dengan tujuan ria’, bermegah-megah dan perkara-perkara yang dapat membawa kepada ria’ dan bertujuan untuk meratapi si mati, maka itu adalah perbuatan orang jahiliah.

    Bersambung

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 2:29 am on 25 January 2017 Permalink | Balas  

    Berbekam 

    bekamBerbekam

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Bekam atau bahasa Arabnya disebut hijamah bererti mengeluarkan darah kotor daripada badan seseorang dengan cara membedah sedikit pada bagian kepala atau belakang badan dan menghisap darah kotor dengan tanduk atau cawan panas yang ditelungkupkan pada tempat yang telah dibedah itu. (Kamus Dewan: 124)

    Pendapat sebagian fuqaha, perkataan hijamah bererti mengeluarkan darah daripada tengkuk dengan cara menghisapnya dengan alat-alat hajam (bekam) selepas dibedah. Al-Khattabi ada menyebutkan bahwa hijamah atau berbekam itu tidak dikhususkan tempatnya di tengkuk sahaja bahkan ia juga boleh dilakukan di mana-mana bagian badan. (Mausu’ah feqhiah: 17/14)

    Hukum Berbekam

    Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa berbekam itu merupakan satu perubatan tradisional yang sudah lama diamalkan oleh sebagian orang. Sehingga ada yang menjadikannya sebagai mata pencarian dalam menyara hidup seharian.

    Persoalan yang timbul adakah perubatan dengan berbekam itu disyariatkan, bolehkah ia dijadikan sebagai pekerjaan dan apakah kesannya terhadap keshahihan sesuatu ibadat?

    Perubatan dengan menggunakan kaedah bekam adalah disunatkan dalam Islam malahan ia merupakan di antara sebaik-baik cara perubatan. Sebagaimana yang disebutkan di dalam beberapa buah hadis yang di antaranya sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya:

    “Sebaik-baik perobatan bagi kamu ialah berbekam” (Hadis riwayat Ahmad)

    Sabda Baginda lagi yang maksudnya :

    “Kiranya ada suatu perubatan yang lebih baik bagi kamu, maka itulah dengan menggunakan pisau pembekam atau minuman daripada madu atau catukan (pagutan) dengan api dan aku sendiri tidak suka membakar dengan besi panas” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

    Sabda Baginda lagi yang maksudnya :

    Maksudnya: “Kesembuhan itu terdapat pada tiga cara: minum madu, pisau pembekam dan alat pengangus, dan aku melarang umatku membakar dengan besi panas” (Hadis riwayat Bukhari)

    Daripada hadis di atas jelas menyebutkan bahwa berbekam itu salah satu jenis perubatan yang diharuskan dalam Islam. Namun apa yang ingin disentuh di sini ialah hubungan dan kesannya terhadap hukum taharah, puasa dan berihram, dan hukumnya jika dijadikan ia sebagai satu mata pencarian.

    Kesan Berbekam Dalam Taharah

    Mengikut mazhab As-Syafie, berbekam itu tidak membatalkan wudhu. Sebagaimana dalam kitabnya al-Umm yang menyatakan yang ertinya :

    “Tidak perlu berwudhu (tidak batal wudhu) karena muntah, darah yang keluar dari hidung, berbekam, sesuatu yang keluar daripada badan dan sesuatu yang dikeluarkan daripada jasad selain daripada tiga lubang yaitu qubul, dubur dan zakar. (Al-Umm: 1/14)

    Oleh itu, sesiapa yang berubat dengan menggunakan bekam dalam keadaannya berwudhu, maka tidaklah batal wudhunya atau berbekam itu tidak membatalkan wudhu.

    Kesan Berbekam Dalam Puasa

    Apabila seseorang itu berbekam di siang Ramadhan ataupun puasa sunat adalah dibolehkan dan tidak membatalkan puasa tersebut. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berbekam ketika Baginda sedang berpuasa. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas Radiallahu ‘anhuma, beliau berkata yang maksudnya :

    “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berbekam padahal Baginda sedang berpuasa”

    (Hadis riwayat Bukhari)

    Kesan Berbekam Dalam Ihram

    Mengikut pendapat Imam As-Syafie, Ashab dan jumhur ulama adalah harus bagi seseorang yang sedang berihram itu berbekam dan tidak dikenakan ke atasnya fidyah, selagi dia tidak memotong rambutnya. (Majmuk: 7/377) Sebagaimana di dalam hadis yang diriwayatkan daripada Ibnu Buhainah Radiallahu ‘anhu, beliau berkata yang maksudnya :

    “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berbekam di tengah-tengah kepala Baginda di Lahyu Jamal (tempat antara Mekkah dan Madinah) padahal Baginda sedang berihram.”

    (Hadis riwayat Bukhari)

    Jika sekiranya seseorang yang sedang berihram itu hendak berbekam dan terpaksa memotong rambutnya, maka hendaklah dia membayar fidyah disebabkan memotong rambutnya itu.

    Menurut Imam An-Nawawi dalam hal ini, jika seseorang yang sedang berihram itu berbekam tanpa tujuan atau hajat lalu terpotong rambutnya maka haram hukumnya. Akan tetapi jika tidak terpotong rambut maka itu diharuskan. (Mausu’ah Feqhiyah: 17/17)

    Berbekam Sebagai Pekerjaan

    Pendapat jumhur fuqaha termasuk mazhab Syafie, adalah diharuskan bagi seseorang itu menjadikan hijamah (bekam) sebagai satu pekerjaan dan mengambil hasil daripadanya. Karena berbekam itu perbuatan yang bermanfaat, mubah (harus) dan orang ramai memerlukannya, maka diharuskan mengambil upah seperti pekerjaan menjahit dan sebagainya. (Mausu’ah feqhiah: 17/18)

    Mereka berdalilkan kepada hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas Radiallahu ‘anhuma, beliau berkata yang maksudnya:

    “Nabi Shallallahu ‘alahi wasallam pernah berbekam dan Baginda memberi (upah) kepada orang yang membekamnya itu, seandainya hal itu haram, niscaya Baginda tidak memberinya.”

    (Hadis riwayat Bukhari)

    Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa berbekam itu adalah merupakan cara perubatan yang diamalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Yang demikian itu sudah tentu banyak kelebihan dari segi kesembuhan suatu penyakit, sebagaimana diamalkan oleh Baginda sendiri. Oleh karena itu membekam suatu bidang pekerjaan yang patut diterokai.

    wallohu a’lam bis-showab,-

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 2:09 am on 24 January 2017 Permalink | Balas  

    Berobat dengan Benda yang Najis (2/2) 

    obat-najisBerobat dengan Benda yang Najis (2/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Tidak dinafikan, ada juga antara penyakit itu yang sukar ditemui ubatnya. Sebagiannya pula boleh disembuhkan dengan menggunakan ubat-ubatan daripada benda-benda najis yaitu berdasarkan pengalaman orang-orang terdahulu.

    Oleh karena itu, menurut pendapat yang ashah dalam mazhab Syafi’e, adalah harus berobat dengan segala benda najis, kecuali yang memabukkan, dengan alasan bahwa berobat itu adalah merupakan perkara darurat. Sedangkan darurat itu mengharuskan kita mengambil apa yang ditegah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    Tafsirnya: “Dan sesungguhnya Allah telah menerangkan kepada kamu satu persatu apa yang diharamkanNya atas kamu, kecuali yang terpaksa kamu memakannya.” (Surah Al-An’am: 119)

    Berdasarkan ayat tersebut dan ayat-ayat seumpamanya, maka para ulama telah menggariskan kaedah:

    Ertinya: “Keadaan-keadaan darurat itu mengharuskan perkara-perkara yang dilarang.”

    Walau bagaimanapun, penggunaan najis sebagai ubat itu masih juga terikat dengan tidak melampaui batas, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    Tafsirnya: “Maka sesiapa yang terpaksa karena kelaparan (memakan benda-benda yang diharamkan) sedang dia tidak cenderung hendak melakukan dosa (maka bolehlah dia memakannya), karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun Lagi Maha Mengasihani.” (Surah Al-Ma’idah: 3)

    FirmanNya lagi:

    Tafsirnya: “Maka sesiapa terpaksa (memakannya karena darurat) sedang dia tidak mengingininya dan tidak pula melampaui batas (pada kadar benda yang dimakan itu), maka tidaklah dia berdosa. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun Lagi Maha Mengasihani.” (Surah Al-Baqarah: 173)

    Imam an-Nawawi Rahimahullah juga berpendapat bahwa harus berobat dengan najis selain arak. Hukum keharusan berobat itu sama sahaja bagi semua najis melainkan yang memabukkan. Ini berdasarkan daripada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas Radhiallahu ‘anhu:

    Maksudnya: “Bahwa serombongan suku ‘Ukal seramai lapan orang datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu mereka berikrar kepada Nabi untuk masuk Islam. Kemudian cuaca kota Madinah merimaskan mereka dan mengakibatkan tubuh badan mereka sakit-sakit, lalu mereka mengadukan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Baginda bersabda kepada mereka: “Barangkali elok kamu pergi bersama tukang gembala kami kepada untanya, kemudian kamu dapatkan air kencing dan susunya.” Mereka menjawab: “Baiklah.” Mereka pun pergi dan meminum susu dan kencing unta itu, setelah itu mereka pun sihat. Tetapi kemudian mereka membunuh tukang gembala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu dan merampas unta-untanya.” (Hadis riwayat Bukhari)

    Walau bagaimanapun, Imam an-Nawawi ada menyebutkan lagi daripada pendapat lain. Bahwa keharusan berobat dengan najis itu hanyalah dibolehkan apabila tidak ditemui ubat yang suci yang boleh menggantikannya. Jika ada ubat yang suci, maka haramlah berobat dengan najis tersebut.

    Sebagaimana Al-‘Izz bin Abdussalam Rahimahullah berkata:

    Ertinya: “Harus berobat dengan najis apabila tidak ada ubat yang suci yang boleh menggantikannya, karena maslahat kesihatan dan kesejahteraan itu lebih sempurna berbanding dengan maslahat menjauhi najis. Dan tidak harus berobat dengan arak mengikut pendapat yang ashah.”

    Oleh yang demikian, berdasarkan daripada penjelasan di atas dapatlah disimpulkan bahwa berobat untuk menyembuhkan penyakit itu adalah perkara yang digalakkan dalam Islam. Ubat-ubatan yang digunakan hendaklah daripada benda-benda yang halal dan suci. Di samping itu, harus berobat dengan benda-benda yang najis selain sesuatu yang memabukkan jika tidak ada ubat lain yang suci sebagai penggantinya.

    Wallohu a’lam bis-showab,-

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 2:08 am on 23 January 2017 Permalink | Balas  

    Berobat Dengan Benda Yang Najis (1/2) 

    obat-najisBerobat Dengan Benda Yang Najis (1/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Sakit adalah suatu perkara yang biasa menimpa manusia. Adakalanya sakit itu menimpa manusia dalam bentuk fizikal dan ada juga kalanya dalam bentuk spiritual. Dalam semua keadaan tersebut, orang sakit biasanya akan berusaha mencari ubat untuk menghilangkan sakit itu.

    Hukum Berobat

    Berobat untuk menghilangkan penyakit itu adalah perkara yang digalakkan pada hukum syara’. Bahkan ia boleh menjadi ibadah jika dilakukan dengan niat yang baik, seperti bertujuan untuk melaksanakan tuntutan syara’ dan bagi memulihkan kesihatan tubuh badan agar dapat beribadat dan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan lebih sempurna.

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri pernah berobat dan menyuruh umatnya berobat. Sebagaimana dalam sebuah hadis, daripada Usamah bin Syuraik menjelaskan bahwa segolongan orang Arab pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, kata mereka:

    “Wahai Rasulullah adakah kami boleh berobat? Baginda menjawab: “Berobatlah kamu, karena Allah ‘azza wajalla tidak menjadikan penyakit melainkan Dia menjadikan ubatnya, melainkan satu jenis penyakit, yaitu sakit tua.”

    (Hadis riwayat Abu Daud)

    Dalam hadis yang lain pula, daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    “Allah tidak menurunkan sesuatu penyakit melainkan diturunkan bersamanya penyembuh.”

    (Hadis riwayat Bukhari)

    Sabda Baginda lagi Maksudnya: “Bagi setiap penyakit itu ada ubatnya, maka apabila ubat serasi dengan penyakit, ia akan sembuh dengan izin Allah ‘azza wajalla.”

    (Hadis riwayat Muslim)

    Sebagaimana yang dijelaskan di atas, bahwa perbuatan berobat itu ternyata digalakkan dalam Islam. Namun begitu, persoalan yang timbul bagaimanakah cara berobat yang dibenarkan oleh hukum syara’?

    Cara Berobat

    Pada dasarnya ubat atau penawar yang dianjurkan untuk dipakai mestilah ubat-ubatan yang halal, suci, bukan yang diharamkan dan dapat diterima oleh naluri pesakit.

    Berobat dengan benda yang haram itu tidak dibenarkan, bahkan ia diharamkan kecuali dalam keadaan darurat. Ini jelas bersandarkan daripada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Ad-Darda’ bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan ubat, dan dijadikan bagi setiap penyakit itu ubatnya, maka berobatlah kamu, dan jangan kamu berobat dengan yang diharamkan.”

    (Hadis riwayat Abu Daud)

    Imam Bukhari pula ada menyebutkan dalam shahihnya daripada Ibnu Mas’ud katanya:

    Maksudnya: “Sesungguhnya Allah tidak menjadikan penawar (kesembuhan) kamu pada benda-benda yang diharamkan ke atas kamu.”

    (Dikeluarkan oleh Bukhari)

    Manakala dalam hadis yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah, beliau berkata:

    Maksudnya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang daripada ubat yang kotor.”

    (Hadis riwayat Abu Daud dan Imam Ahmad)

    Berdasarkan hadis-hadis ini, jika penyakit seseorang itu masih dalam peringkat biasa yang tidak membahayakan, maka sesetengah ulama berkata bahwa adalah tidak harus yakni haram berobat dengan benda-benda najis itu.

    Hikmah Pengharamannya

    Adapun sudut rahasia atau hikmah ia diharamkan, mengikut para ulama Islam; najis itu menjijikkan dan tidak disukai oleh akal dan naluri. Jadi ia tidak layak dipakai atau dijadikan untuk penawar penyakit.

    Ibnu al-Qayyim Rahimahullah ada menerangkan lebih jelas lagi rahsia ini, bahwa larangan tidak dibenarkan benda-benda yang diharamkan sebagai ubat penawar penyakit itu ialah, karena antara syarat boleh mendapat kesembuhan menerusi sesuatu ubat itu ialah jika terdapat sikap menerima (suka) kepada ubat berkenaan, dan ada keyakinan terhadap khasiat (manfaatnya), di samping percaya, padanya ada keberkatan yang dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Kemudian bagi seorang Islam pula, yang haram itu memanglah kotor, najis dan menjijikkan. Setiap yang kotor dan menjijikkan, ia tidak diterima bahkan ditolak oleh naluri yang sihat.

    Demikian itulah kedudukan najis yang diharamkan, mengapa ia tidak sesuai untuk dijadikan ubat, karena syarat untuk itu dapat diterima oleh naluri yang sihat tidak ada lagi. Inilah antara rahsia atau sebab mengapa berobat dengan yang haram itu dilarang. (At-Tibb an-Nabawi: 126)

    Demikian antara pendapat ulama mazhab lain di luar mazhab Syafi’e.

    Bersambung

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 22 January 2017 Permalink | Balas  

    Batasan Dan Syarat Berobat Dengan Jampi Dan Tangkal (3/3) 

    syirikBatasan dan Syarat Berobat Dengan Jampi dan Tangkal (3/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    3) Hendaklah penjampi beriktiqad bahwa yang menyembuhkan ialah Allah Subhanahu wa ta’ala:

    Para ulama bersepakat mengatakan, penjampi hendaklah beriktiqad bahwa yang berkuasa menyembuhkan dan menolak kemudaratan ialah Allah Subhanahu wa ta’ala. Jampi itu sendiri tidak mempunyai kuasa untuk menyembuhkan, akan tetapi kesembuhan, terselamat daripada bahaya bencana dan sebagainya semuanya dengan izin Allah Ta’ala. Ini karena yang menurunkan penyakit itulah juga yang menurunkan ubat dan menolak segala bala bencana yaitu Allah ‘Azza Wa Jalla.

    Oleh itu, barangsiapa yang beriktiqad bahwa jampi itu sendiri mempunyai kuasa untuk menyembuh, menolak kemudaratan atau mendatangkan manfaat maka sesungguhnya dia telah sesat dan melakukan dosa yang amat besar yang tidak diampunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala yaitu dosa syirik yakni menyekutukan Allah dengan makhlukNya. Firman Allah Ta’ala yang tafsirnya :

    “Kalau demikian, apa fikiran kamu tentang yang kamu sembah selain dari Allah itu? Jika Allah hendak menimpakan kepadaku dengan sesuatu bahaya, dapatkah mereka mengelakkan atau menghapuskan bahayaNya itu; atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, dapatkah mereka menahan rahmatNya itu?” Katakanlah lagi: “Cukuplah bagiku Allah (yang menolong dan memeliharaku)! KepadaNyalah hendaknya berserah orang-orang yang mahu berserah dirinya.” (Surah Az-Zumar, ayat 38)

    Melalui ayat di atas, Allah Ta’ala menujukan kata-kataNya kepada golongan musyrik, di mana mereka itu mengakui bahwa Allah ‘Azza wa Jalla adalah Pencipta segala sesuatu, akan tetapi mereka memohon doa dan menyembah selain Allah untuk menolak kemudaratan dan bala bencana, sedangkan apa yang mereka sembah itu tidak mampu untuk mencegah daripada mereka sebarang kemudaratan dan tidak mampu pula memberi sebarang manfaat kepada mereka.

    Di dalam hadits shahih diriwayatkan daripada ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila Baginda meminta perlindungan bagi setengah ahli keluarganya Baginda akan mengusap dengan tangan kanannnya sambil berdoa:

    Maksudnya: “Ya Allah, Tuhan manusia, hilangkanlah penderitaan, sembuhkanlah dia, Engakaulah yang menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhanMu, kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit.” (Hadits riwayat Al-Bukhari)

    Daripada hadits di atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memberi petunjuk bahwa setiap ubat dan pengubatan tidak akan mendatangkan manfaat kesembuhan jika tidak dengan izin Allah Ta’ala. Maka yang berkuasa menyembuhkan itu ialah Allah ‘Azza wa Jalla.

    4) Hendaklah penjampi itu orang yang berpengetahuan tentang cara-cara pengubatan dengan jampi yang dibenarkan syara’:

    Sebenarnya, dalam apa pun bidang apabila kita hendak meminta bantuan khidmat tertentu kita mestilah pergi mencari orang yang ahli dan tahu mengenai bidang tersebut. Maka begitu juga dengan bidang perubatan dengan jampi perlulah orang itu terdiri daripada orang yang tahu dan belajar mengenai perubatan dengan jampi yang dibenarkan oleh syara’.

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menerangkan bahwa jampi merupakan ilmu yang berkehendakkan itu dipelajari untuk menjadikan seseorang itu pandai dan tahu mengubat dengan menggunakan jampi. Diriwayatkan daripada Asy-Syifaa’ binti Abdullah, dia berkata: “Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berjumpa menemuiku sedang aku di sisi Hafshah, Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku yang maksudnya :

    “Tidakkah kamu ajarkan Hafshah mentera penyembuh cacar akibat gigitan semut sebagaimana kamu ajarkannya menulis.” (Hadits riwayat Abu Daud)

    Ketiga- Batasan-batasan syara’ khusus bagi orang yang dirawat:

    1) Hendaklah dia beriktiqad bahwa yang menyembuhkan ialah Allah subhanahu wa ta’ala:

    Sebagaimana halnya dengan penjampi, maka begitu juga dengan orang yang dirawat dengan jampi dia mestilah beriktiqad bahwa yang mempunyai kuasa menyembuh dan menolak segala bahaya bencana itu ialah Allah subhanahu wa ta’ala.

    2) Memelihara jampi atau tangkal dari sebarang perkara yang keji:

    Hendaklah orang yang dirawat itu memelihara jampi atau tangkal yang digunakannya daripada perkara-perkara yang hina atau keji, karena jampi atau tangkal itu mengandungi ayat-ayat al-Qur’an, nama-nama dan sifat-sifat Allah yang Maha Suci.

    Jika tangkal yang dipakai itu digantung di badan, maka bungkuslah dengan elok supaya tidak terkena najis atau kotoran. Jangan dibawa masuk ke dalam tandas, jangan dilangkahi atau diduduki dan ketika berjima’ dengan isteri hendaklah ditanggalkan.

    Kalau itu merupakan air untuk diminum yang dibacakan ke atasnya jampi, maka elok membaca Bismillah pada setiap kali pernafasan ketika dia minum sambil berniat mengikut kehendak masing-masing tujuan dia berobat, karena sesungguhnya Allah akan mengurniakan atau menunaikan kehendaknya mengikut apa yang diniatkan.

    Jika air tersebut khusus untuk dibuat mandi, maka jangan dicurahkan di tempat yang kotor atau yang bernajis, dan jangan dicurahkan di tempat yang dipijak-pijak. Akan tetapi seeloknya dicurahkan di tempat yang bersih dan tidak dipijak-pijak.

    3) Menghindarkan diri dari melakukan perkara yang mendatangkan dosa:

    Di antara perkara yang mesti dijaga bagi orang yang menerima rawatan ialah menjaga dirinya daripada melakukan sebarang perbuatan yang boleh mendatangkan dosa, sama ada dosa kecil apatah lagi dosa besar, khususnya dalam tempoh menerima rawatan, karena melakukan ketaatan dan menghindarkan maksiat merupakan cara atau jalan rawatan yang paling berkesan.

    Al-Imam Ibn Al-Qaiyim pernah berkata: “Di antara jalan yang lebih berkesan dalam pengubatan ialah dengan membuat kebajikan dan ihsan, berzikir (mengingati Allah), berdoa, merendah diri dan memohon dengan sepenuh hati kepada Allah serta bertaubat. Semua ini memberi kesan dalam menolak berbagai penyakit dan menghasilkan kesembuhan, dan itu lebih berkesan berbanding ubat biasa.”

    Sebagai suatu rumusan, Islam ketika meletakkan beberapa batasan mengenai rawatan dengan jampi dan tangkal bukan saja bermaksud untuk menjadikan rawatan tersebut lebih berkesan, akan tetapi yang lebih besar daripada itu ialah hal itu bermaksud untuk memelihara tujuan induknya yaitu menjunjung perintah Allah dan tidak melampaui sempadan laranganNya dan seterusnya menyumbang kepada pemantapan aqidah supaya tidak terseleweng daripada landasan yang sebenar.

    =====SELESAI====

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 21 January 2017 Permalink | Balas  

    Batasan Dan Syarat Berobat Dengan Jampi Dan Tangkal (2/3) 

    syirikBatasan Dan Syarat Berobat Dengan Jampi Dan Tangkal (2/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    4) Bahasa yang digunakan hendaklah difahami maknanya:

    Para ulama bersepakat mensyaratkan bahwa bahasa yang digunakan dalam jampi dan tangkal itu hendaklah terdiri daripada bahasa yang boleh difahami maksudnya.

    Dalam konteks ini, bukan sahaja setakat penjampi atau pembuat tangkal itu dikehendaki mengerti atau faham akan maksud jampinya, bahkan orang yang menerima rawatan melalui jampi tersebut hendaklah juga faham akan maksud jampi yang digunakan. Tujuannya ialah supaya dia tahu bahwa perkataan jampi yang digunakan itu tidak mengandungi perkara-perkara yang bertentangan dengan hukum syara’ seperti perkara yang membawa syirik, sihir dan seumpamanya.

    Di antara dalil yang mendokong larangan berobat dengan jampi mentera dan tangkal yang tidak difahami maksudnya sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika Baginda ditanya tentang jampi yang diamalkan pada zaman jahiliyyah:

    Maksudnya: “Perlihatkan kepada ku jampi-jampi kamu itu, tidak menjadi apa-apa mengamalkan jampi selama mana tidak mengandungi di dalamnya syirik.”

    (Hadits riwayat Muslim dan Abu Daud)

    Al-Imam Ibnu Hajr Al-‘Asqalaani Rahimahullahu Ta’ala menegaskan, hadits di atas memberi petunjuk bahwasanya apa pun jenis jampi yang membawa kepada syirik maka ianya adalah dilarang (bahkan haram). Begitu juga halnya jampi yang tidak difahami makna atau maksudnya, di mana ianya tidak dapat dipastikan bebas daripada perkara syirik, maka dengan sebab itu ianya adalah ditegah oleh syara’ sebagai langkah berjaga-jaga atau berhati-hati.

    5) Ditulis jampi atau tangkal itu dengan benda yang suci:

    Jika sekiranya jampi itu ditulis pada kertas, kulit binatang, logam atau seumpamanya maka hendaklah benda-benda seperti itu terdiri daripada benda yang bersih dan suci. Sebagaimana juga alat yang digunakan untuk menulis hendaklah terdiri daripada benda yang bersih dan suci seperti dakwat, za’faran dan seumpamanya. Oleh itu, tidak harus menggunakan benda-benda yang najis seperti darah, nanah, air kencing dan sebagainya, karena kata-kata Allah (kalaamullaah), nama-nama dan sifat-sifatNya yang Maha Agung dan Maha Suci itu selayaknya tidak bercampur dan tercemar dengan benda-benda yang kotor dan jijik.

    Terdapat setengah pengamal ilmu sihir yang menulis jampi mentera berupa ayat Al-Qur’an dengan menggunakan darah haidh wanita, kemudian menjampinya untuk memanggil jin dan memerintah jin tersebut untuk melakukan apa saja yang dia kehendaki.

    Memang jelas bahwa cara amalan seperti ini merupakan suatu kekufuran yang nyata, karena mempersenda dan mempermain-mainkan surah dan ayat-ayat Al-Qur’an boleh membawa kepada kekufuran.

    Kedua- Batasan-batasan syara’ khusus bagi penjampi:

    1) Hendaklah penjampi itu beragama Islam:

    Adalah disyaratkan orang yang mengubat dengan jampi atau tangkal itu terdiri daripada orang yang beragama Islam. Maka tidak harus bagi orang bukan Islam menjampi orang Islam.

    Apa yang dimaksudkan dengan orang bukan Islam dalam hal ini ialah orang yang bukan ahli kitab yakni bukanYahudi dan Nashrani. Bagi ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) sebagaimana menurut Al-Imam Asy-Syafi’e Rahimahullahu Ta’ala harus menjampi orang Islam, dengan syarat jampi menteranya itu bersumber daripada kitab Allah atau berupa zikrullah.

    Dalil yang menyokong pendapat Imam Syafi’ie itu sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Malik daripada ‘Amrah binti Abdurrahman:

    Maksudnya: “Bahwasanya Abu Bakar masuk berjumpa ‘Aisyah sedang dia (‘Aisyah) mengadu sakit. Pada ketika itu seorang wanita Yahudi menjampi ‘Aisyah, lalu Abu Bakar berkata: “Jampilah dengan kitab Allah.”

    (Hadits riwayat Malik)

    Bagaimana pula kedudukan hukumnya orang Islam menjampi orang bukan Islam? Para ulama tidak mempunyai pandangan berbeda dalam hal ini bahwa seseorang Islam harus menjampi orang yang bukan Islam. Ini adalah berdasarkan hadits yang diriwayatkan daripada Abu Sa’ed Al-Khudri, beliau berkata:

    Maksudnya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus kami dalam suatu peperangan, lalu kami singgah berhenti pada suatu kaum. Kemudian kami meminta kepada mereka agar menjamu kami. Tetapi mereka enggan menjamu kami. Lalu ketua mereka disengat (kalajengking). Mereka pun datang berjumpa kami.

    Lalu mereka berkata: “Adakah di antara kamu sesiapa yang boleh menjampi untuk mengubat sengatan kalajengking?” Aku (Abu Sa’ed) berkata: “Ya, tetapi aku tidak akan menjampinya sehingga kamu memberikan kambing kepada kami.” (Salah seorang kaum itu) berkata: “Sungguh, saya akan memberikan kepada kamu tiga puluh ekor kambing.”

    Kami pun bersetuju, kemudian aku membacakan kepadanya Al-Hamdulillah (Al-Fatihah) sebanyak tujuh kali. Setelah itu ketua kaum itu pun sembuh dan kami menerima kambing. Dia (Abu Sa’ed) berkata: “Lalu timbul sesuatu dalam fikiran kami, kemudia kami berkata: “Janganlah tergesa-gesa sehingga kamu menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

    Dia (Abu Sa’ed) berkata: “Apabila kami datang menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam aku pun menceritakan kepada Baginda apa yang telah aku lakukan.” Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bagaimana kamu tahu bahwa (surah Al-Fatihah) itu adalah jampi? Terimalah kambing itu dan berilah aku bagian bersamamu.”

    (Hadits riwayat At-Tirmidzi)

    Hujjah yang dapat dikemukakan melalui hadits di atas, bahwa perkampungan di mana para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam singgah berhenti di situ pendudukanya terdiri daripada orang kafir, dan salah seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjampi ketua kampung yang kena sengat kalajengking. Apabila perkara tersebut diajukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam Baginda tidak menegahnya. Maka ini menunjukkan harus bagi orang Islam menjampi orang bukan Islam.

    2) Hendaklah penjampi itu orang yang ‘adil dalam beragama:

    Banyak di kalangan para ulama menekankan betapa perlunya orang yang menjampi dengan ayat-ayat Al-Qur’an, nama-nama dan sifat-sifat Allah yang Maha suci lagi Maha Agung hendaklah terdiri daripada orang yang ‘adil dan salih, yaitu orang yang ta’at dalam menjalankan perintah agama, karena kesembuhan – dengan izin Allah jua – akan terhasil melalui lidah orang yang soleh bukan melalui lidah orang yang tidak soleh.

    Apa yang dimaksudkan dengan ‘adil dalam beragama dalam konteks ini ialah suatu sifat dalam diri manusia yang mendorongnya untuk menunaikan apa yang wajib ke atas dirinya, seperti mendirikan sembahyang, berpuasa, membayar zakat, menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia seperti jujur, amanah, bertaqwa dan menjaga maruah. Sebagaimana juga sifat tersebut mendorong dirinya untuk menjauhi segala bentuk dosa-dosa besar, seperti syirik, sihir, penipuan dan sebagainya, dan juga menjauhi dirinya daripada sentiasa melakukan dosa-dosa kecil dan apa-apa juga tindak-tanduk yang membawa kehinaan dan rendah diri.

    Oleh itu, apabila seseorang Islam meninggalkan atau mencuaikan sesuatu yang diwajibkan oleh syara’ ke atasnya atau melakukan sesuatu yang ditegah melakukannya maka dia tidak dikatakan sebagai orang yang ‘adil dalam beragama. Maka dengan itu, tidak seharusnya orang lain meminta bantuan daripada golongan seperti ini untuk berobat dengan jampi mentera. Termasuk di antara golongan ini ialah pengamal sihir, tukang tilik, ahli nujum atau sesiapa saja yang mengamalkan cara mereka.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang umatnya daripada meminta bantuan untuk berobat dengan golongan seperti ini sebagaimana diriwayatkan daripada ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha, beliau berkata:

    Maksudnya: “Beberapa orang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang para tukang tilik.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perkataan mereka itu tidak benar.”

    Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya para tukang tilik itu kadangkala bercerita kepada kami tentang sesuatu, lalu perkara itu benar (menjadi kenyataan).”

    Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Itu adalah kalimat kebenaran yang mereka sambar dari jin, lalu dibisikkan kepada ke telinga pembantunya, kemudian mereka mencampurkan kalimah yang benar itu dengan seratus pembohongan.”

    (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

    Di dalam riwayat yang lain Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda maksudnya :

    “Barangsiapa yang datang berjumpa dukun lalu bertanya tentang sesuatu, maka sembahyangnya tidak akan diterima selama empat puluh malam.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Bersambung

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 20 January 2017 Permalink | Balas  

    Batasan Dan Syarat Berobat Dengan Jampi Dan Tangkal (1/3) 

    syirikBatasan dan Syarat Berobat Dengan Jampi dan Tangkal (1/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Para ulama secara prinsipnya tidak berbeda pandangan mengenai ketetapan harus berobat dengan jampi dan tangkal. Terdapat beberapa jumlah dalil terdiri daripada ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang dijadikan sebagai sandaran untuk mendukung ketetapan hukum tersebut, di mana sebagiannya akan disebutkan kemudian.

    Namun begitu, ketetapan hukum tersebut bukanlah secara mutlak tanpa terikat kepada batasan-batasan tertentu. Islam tidak membiarkan penganutnya bebas begitu saja tanpa meletakkan batas tertentu. Tujuannya ialah bukan untuk mengongkong, tetapi adalah demi mempastikan mereka tidak tergelincir dari landasan syariat yang sebenar dan memelihara kesucian Islam dari bercampur dengan anasir-anasir yang berlawanan dengan syariat Allah Subhanahu wa ta’ala, umpamanya anasir syirik, sihir, khurafat dan sebagainya.

    Jadi, apakah batasan-batasan yang perlu dijaga sehingga dengan itu berobat dengan jampi dan tangkal tidak dianggap sesuatu yang bertentangan dengan hukum syara’?

    Sebelum itu, perlu dijelaskan bahwa batasan-batasan syara’ dalam konteks ini boleh dibahagikan kepada tiga bagian, yaitu:

    1. Batasan-batasan syara’ khusus bagi jampi dan tangkal.
    2. Batasan-batasan syara’ khusus bagi penjampi.
    3. Batasan-batasan syara’ khusus bagi orang yang dirawat.

    Batasan-Batasan Syarak Khusus Bagi Jampi Atau Tangkal :

    1) Hendaklah bersumber daripada Al-Qur’an atau Sunnah Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Para ulama fiqh bersepakat mengatakan bahwa tangkal dan jampi yang dibenarkan hendaklah bersumber daripada Al-Qur’an atau Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ataupun tidak bercanggah dengan kehendak kedua-dua sumber tersebut. Oleh itu, harus berobat dengan jampi dan tangkal yang mengandungi ayat-ayat Al-Qur’an, nama-nama dan sifat-sifatNya Allah yang Maha Mulia, zikir-zikir dan doa-doa yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam.

    Hal ini adalah berdasarkan sebuah hadits diriwayatkan daripada Jabir Radhiallahu ‘anhu beliau berkata yang maksudnya :

    “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang daripada jampian. Lalu keluarga ‘Amr bin Hazm datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka berkata: “Wahai Rasulullah, kami mempunyai jampi yang boleh kami gunakan untuk menjampi sengatan kala, sedangkan engkau melarang jampian.”

    Jabir berkata: “Kemudian mereka pun memperlihatkan jampi mereka kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

    Lantas Baginda bersabda: “Aku tidak nampak ianya menjadi apa-apa, barangsiapa di antara kamu yang boleh menolong saudaranya maka tolonglah dia.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Perbuatan keluarga ‘Amr bin Hazm memperlihatkan jampi mereka kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadits di atas tujuannya ialah untuk memperlihatkan Baginda adakah jampi mereka bercanggah dengan syariat Islam ataupun tidak? Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membenarkannya.

    Maka dengan sebab itu, setiap jampi atau tangkal yang hendak diamal atau dipakai itu tidak boleh bersumber daripada selain Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ataupun yang bercanggah dengannya.

    2) Tidak mengandungi syirik:

    Syirik ialah suatu perbuatan menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain yaitu menyembah selain Allah, atau percaya kepada sesuatu benda mempunyai kuasa menyembuh, menyelamatkan daripada malapetaka, mendatangkan keuntungan atau sebagainya juga merupakan perbuatan syirik.

    Dosa syirik merupakan sebesar-besar dosa sebagaimana firman Allah Ta’ala yang tafsirnya :

    “Dan sesiapa yang mempersekutukan Allah (dengan sesuatu yang lain), maka sesungguhnya ia telah melakukan dosa yang besar.”

    (Surah An-Nisaa’, ayat 48)

    Firman Allah Ta’ala di dalam ayat yang lain yang tafsirnya :

    “Dan sesiapa yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu (apa jua) maka sesungguhnya ia telah sesat dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya.”

    (Surah An-Nisaa’, ayat 116)

    Sehubungan dengan itu, jampi mentera dan tangkal yang mengandungi apa-apa jua unsur syirik adalah dilarang menurut hukum syara’. Diriwayatkan daripada ‘Auf bin Malik Al-Asyja’e, beliau berkata yang maksudnya :

    “Kami pada zaman jahiliah dahulu mengamalkan jampi, lalu kami bertanya: “Wahai Rasulullah! Bagaimana pendapatmu mengenai hal itu?” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Perlihatkan kepada ku jampi-jampi kamu itu, tidak menjadi apa-apa mengamalkan jampi selama mana tidak mengandungi di dalamnya syirik.”

    (Hadits riwayat Muslim dan Abu Daud)

    Maka berdasarkan hadits di atas jelas bahwa berobat menggunakan jampi atau tangkal yang mengandungi unsur syirik adalah tidak diharuskan, walaupun jampi atau tangkal seumpama itu memberi kesan yang positif kepada pemakainya, pesakit yang dijampi atau seumpamanya. Begitu juga halnya jampi dan tangkal yang mengandungi perkataan-perkataan kufur.

    3) Tidak mengandungi unsur-unsur sihir:

    Menurut Al-Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala, para ulama secara ijma’ mengatakan bahwa mengamalkan sihir itu hukumnya adalah haram. Maka dalam hal ini, tidak hairanlah jika para ulama bersepakat menegaskan tentang larangan berobat dengan jampi dan tangkal yang mengandungi unsur-unsur sihir.

    Apa yang dimaksudkan dengan sihir di dalam konteks ini ialah orang yang menjampi atau pembuat tangkal itu meminta bantuan kepada jin atau syaitan dalam jampi menteranya.

    Di antara dalil-dalil yang diboleh dikemukakan sebagai sandaran untuk menegaskan tentang larangan sihir itu sebagaimana firman Allah Ta’ala yang tafsirnya :

    “Dan campakkanlah apa yang ada di tangan kananmu, nescaya ia menelan segala (benda-benda sihir) yang mereka lakukan, karena sesungguhnya apa yang mereka lakukan itu hanyalah tipu daya ahli sihir; sedang ahli sihir itu tidak akan beroleh kejayaan, di mana sahaja ia berada.”

    (Surah Thaha, ayat 69)

    Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, daripada Nabi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam Baginda bersabda yang maksudnya :

    “Jauhilah tujuh perkara maksiat.” Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, apakah itu?”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mensekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan hak, makan riba, makan harta anak yatim, berpaling dari medan pertempuran perang dan menuduh berbuat zina kepada perempuan-perempuan yang baik-baik dan beriman yang tidak terfikir untuk melakukan maksiat.”

    (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

    Orang yang mengamalkan sihir tidak akan mendapat pertolongan daripada syaitan untuk menunaikan hajatnya melainkan setelah dia mempertaruhkan atau menggadaikan agamanya dan aqidahnya, dan merosakkannya demi menjunjung ketaatan kepada perintah syaitan, seterusnya berbuat dosa kepada Allah dan menyembah selain Allah.

    Diceritakan suatu kisah berlaku pada awal abad ini mengenai seorang ahli sihir yang tinggal di bagian sebelah atas negeri Mesir. Di antara kepandaiannya, beliau pernah meminta beberapa orang supaya mencampakkan cincin mereka ke dalam laut. Apabila mereka mencampakkannya beliau akan mengembalikannya semula kepada mereka. Selain itu, beliau juga boleh melakukan banyak perkara-perkara lain yang aneh dan luar biasa. Pada suatu hari beliau pun meninggal dunia. Setelah itu, anaknya ingin mengikut jejak langkah bapanya untuk melakukan pekerjaan sebagaimana yang dilakukan oleh bapanya sebelum ini. Akan tetapi ibunya membantah dan melarangnya daripada berbuat demikian. Lalu si anak pun bertanya kepada ibunya, apakah gerangan sebab dia dilarang mengikut jejak langkah bapanya? Kemudian ibunya membuka almari dan mengeluarkan patung daripada almari tersebut sambil berkata: “Sesungguhnya bapakmu dulu menyembah patung ini supaya syaitan memberi pertolongan kepadanya untuk melakukan sesuatu yang luar biasa. Oleh itu, jangan engkau menjadi kafir sebagaimana bapa mu telah menjadi kafir.”

    Oleh yang demikian, nyatalah bahwa sihir itu boleh menyebabkan pengamalnya terseret kepada perbuatan dosa yang amat besar, dan dengan itu juga orang yang meminta pertolongan dengan pengamal ilmu sihir akan sama-sama mendapat dosa. Jadi, berobat dengan jampi mentera atau tangkal yang mengandungi unsur sihir itu adalah ditegah oleh syara’.

    Bersambung

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:02 am on 19 January 2017 Permalink | Balas  

    Menerima Sumbangan dari Orang non Islam 

    sedekah-2Menerima Sumbangan dari Orang non Islam

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Pendapat Ulama Mengenai Keharusan Menerima Sumbangan Orang Bukan Islam

    Menurut nash-nash mazhab yang empat adalah harus orang-orang Islam berurusniaga, bekerjasama dan bergaul dengan orang-orang bukan Islam seperti menerima hadiah atau wasiat sehingga dalam perkara membangun masjid.

    Secara umumnya penjelasan perkara ini adalah seperti berikut:

    “Dasar umum dalam Islam menghendaki supaya urusan-urusan kewangan dan kontrak-kontrak (akad-akad) dan semua peraturan-peraturan bukanlah suatu larangan. Oleh yang demikian adalah harus orang-orang bukan Islam berkongsi niaga, dalam mudhârabah, bercocok tanam, mengairi tanaman dan lain-lain.”

    Memang tidak dinafikan bahwa ada pengecualian-pengecualian dalam urusan-urusan tertentu yang terlarang dalam Islam seperti larangan dalam jual beli khinzîr, arak dan lain-lain sebagaimana perkara itu disebut dengan terperinci dalam kitab-kitab fiqh.

    Dalam mazhab Syafi’e wasiat dan wakaf itu sebagian daripada akad (kontrak) tabarru’ (seperti derma atau pemberian) dan hubungan sesama manusia adalah harus hukumnya selama ianya bukan karena tujuan maksiat.

    Menurut nash Al-Imam Al-Syafi’e dengan terang menyatakan adalah harus orang bukan Islam berwasiat membina masjid untuk orang-orang Islam. Al-Imam itu juga mengharuskan orang bukan Islam berwakaf sekalipun untuk masjid.

    Berkata Al-Imam Al-Nawawi dalam Raudhah Al-Thâlibîn 6/98: Artinya: “Sah wasiat orang kafir dengan sesuatu yang boleh dijadikan harta atau boleh dimiliki. Dan tidak sah wasiat dengan arak dan khinzîr sama ada wasiat itu untuk orang Islam atau orang dzimmi, dan tidak juga bagi tujuan maksiat seperti menta’mîr gereja atau membangunnya atau mencetak kitab Taurat dan Injil atau membaca kedua-kedua kitab itu dan lain-lain seumpamanya.”

    Katanya lagi:

    Artinya: “Harus bagi orang Islam dan orang dzimmi berwasiat untuk menta’mîr Masjid Al-Aqsha dan lain-lain masjid, menta’mîr perkuburan nabi-nabi, ulama-ulama dan orang-orang salih karena dengan penta’mîran ini tujuannya menghidupkan orang-orang ziarah dan untuk memperolehi tabarruk.”

    Pengarang Al-Sirâj Al-Wahhâb iaitu Muhammad Al-Zuhri Al-Ghamrawi sewaktu menguraikan Matn Al-Minhâj bagi Al-Nawawi tentang ‘Apa yang harus dalam jual beli harus pula menghibahkannya.” Menurut pengarang ini bahwa:

    Artinya: “Setiap apa yang harus jualbelikan, harus pula menghibahkannya, dan apa yang tidak harus diperjualbelikan, seperti barang yang tidak diketahui, yang dirampas, yang hilang, maka tidak harus dihibahkan.” (h. 308)

    Dengan ini jelaslah bahwa orang-orang Islam boleh berurusniaga dengan orang-orang bukan Islam, kecuali yang dilarang oleh Islam seperti khinzîr dan arak. Maka menghadiahkan sesuatu harta atau manfaat oleh orang bukan Islam kepada orang Islam adalah termasuk dalam kaedah yang disebutkan oleh Al-Imam Nawawi di atas.

    Menurut kitab Kifâyah Al-Akhyâr fî Hilli Ghâyah Al-Ikhtishâr katanya:

    Artinya: “Dan sekiranya yang mewakafkan itu seorang dzimmi, lalu dia berhukum kepada kita dalam perkara yang sedemikian itu (mewakafkan sesuatu harta kepada rumah berhala, gereja, kitab-kitab Taurat dan Injil) boleh kita batalkan wakafnya itu, sekiranya wakaf itu kepada sudut dalam hal-hal yang dilarang oleh orang Islam.”

    Maka berdasarkan nash-nash di atas adalah harus bagi orang Islam menerima dan menggunakan apa-apa juga barang yang didermakan, atau diberikan atau dihibahkan oleh orang bukan Islam itu selama ia tiada bercanggah dengan nash dan kaedah di atas.

    Adapun mengenai dengan maksud hadis yang mengatakan bahwa: “Allah itu Thayyib (baik atau bagus) tidak akan menerima melainkan yang baik juga”, tidaklah termasuk dalam persoalan ini, karena maksud penerimaan Allah hanya yang baik-baik itu ialah yang berkaitan dengan pemberian ganjaran pahala, sedangkan pahala itu tiada diberikan kepada orang bukan Islam.

    Menerima Sumbangan Daripada Syarikat Dan Bank Konvensional

    Bank-bank konvensional pada lazimnya tidak sunyi daripada bermuamalah secara riba, terutama dalam soal pinjam-meminjam. Riba itu haram dalam Islam berdasarkan al-Quran dan hadits. Namun demikian bank konvensional ada juga bermuamalah dengan perkara-perkara yang dibenarkan oleh syara’ seperti mengendalikan tukaran wang asing, perkhidmatan pengiriman wang, upah menyimpan harta benda dan lain-lain seumpamanya.

    Apabila kedudukan sesebuah bank konvensional seperti di atas, bermakna bank memiliki harta yang bercampur-campur dari sumber yang haram dan dari yang halal. Mungkin susah untuk membezakan di antara keduanya.

    Mengenai harta yang haram para jumhur ulama mengharuskan boleh dibelanjakan wang haram bagi maslahat umat Islam berdasarkan hadits yang dibawakan oleh Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulum Ad-Din di bawah tajuk “Halal Haram” dan telah mengeluarkan Al-Iraqi hadits daripada Al-Imam Ahmad dengan sanadnya yang bagus, daripada ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha katanya:

    Maksudnya: “Nabi Shallallahu àlaihi wasallam dihadiahkan seekor kambing panggang. Aku (‘Aisyah) mengatakan kepada Baginda, bahwa daging itu haram, Nabi pun tidak memakannya, (sebaliknya) memerintahkannya supaya diberikan. Baginda bersabda: “Beri makan kambing panggang itu kepada orang-orang tawanan.”

    Menurut Al-Imam Al-Ghazali di dalam kitabnya Ihya’ Ulum Ad-Din: “Jika bercampur benda-benda halal yang tidak terbatas dengan benda-benda haram yang tidak terbatas, sepertimana harta-harta yang ada pada masa kini, maka tidak haram mengambil sesuatu daripadanya walaupun ia mengandungi benda-benda halal dan haram itu, melainkan ada bukti yang menunjukkan benda-benda itu haram. Kalau tidak ada pada benda itu sesuatu tanda yang menunjukkan ianya haram, meninggalkannya adalah wara’ dan mengambilnya halal yang tidak akan menjadi fasiq memakannya.

    Sesungguhnya telah dimaklumi di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Khalifah Rasyidin dan sesudahnya bahwa ada harga-harga arak dan dirham-dirham riba daripada tangan kafir zimmi (kafir yang dijamin keselamatannya oleh pemerintah Islam) bercampur baur dengan harta-harta lain, dan begitu juga harta-harta yang diambil dari harta rampasan perang.

    Sejak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengharamkan riba ketika Baginda mengerjakan haji wada’ tidaklah semua manusia meninggalkan amalan riba itu secara menyeluruh, sebagaimana mereka tidak meninggalkan minuman arak dan maksiat-maksiat yang lain, sehingga diriwayatkan bahwa sebagian sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjual arak, lalu Umar Radhiallahu ‘anhu berkata: “Adalah dikutuk oleh Allah kiranya si pulan di mana dia orang yang pertama yang menjalankan penjualan arak, karena dia tidak memahami bahwa pengharaman arak itu adalah (termasuk juga) pengharaman harganya.”

    Adapun orang-orang yang enggan berjual beli daripada harta-harta (yang bercampur itu) hanyalah menunjukkan sifat wara’, sedangkan banyak ulama tidakpun menegah berjual beli dengan harta-harta yang bercampur-campur itu padahal banyak harta-harta dirompak pada masa-masa pemerintahan orang-orang yang zalim.”

    Berdasarkan pandangan Al-Ghazali di atas adalah harus membeli atau mengambil barang-barang yang bercampur aduk di antara halal dan haram.

    Oleh yang demikian, tidaklah mengapa jika sumbangan berupa kewangan, cenderamata atau yang seumpamanya daripada syarikat-syarikat atau bank kewangan konvensional itu diambil atau diterima.

    Bagaimanapun, menurut Al-Ghazali sendiri tentang benda-benda halal dan haram yang bercampur-campur dengan tidak terbatas, jika pada benda-benda itu tiada terdapat suatu tanda yang menunjukkan haramnya, maka meninggalkannya adalah ‘wara’, dan mengambilnya pula dibolehkan tiada menjadi fasik. Wara’ itu ialah menjauhi segala syubhah karena takut terjatuh dalam haram atau melazimkan membuat pekerjaan-pekerjaan yang terpuji dan meninggalkan pekerjaan-pekerjaan yang buruk dan keji.

    wallohu ‘alam bish-showab,-

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 18 January 2017 Permalink | Balas  

    Sedekah : Mana Yang Lebih Utama Kualitas Atau Kuantitas? (2/2) 

    sedekah-masjidSedekah : Mana Yang Lebih Utama Kualitas Atau Kuantitas? (2/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Kualiti atau Kuantiti?

    Antara perkara yang perlu diberi perhatian dalam amalan bersedekah adalah kualiti atau mutu barang yang disedekahkan. Jadi, apakah ciri-ciri yang memenuhi kualiti yang dikehendaki di sini?

    Terdapat tiga perkara yang mesti dipenuhi untuk menjadikan pemberian sedekah itu berkualiti:

    Pertama, mestilah barang yang disedekahkan itu dari kategori yang bagus, yang baik.

    Sebagaimana yang disebutkan terdahulu, bahwa bersedekah merupakan ibadat untuk merapatkan hubungan kita dengan Allah yang Maha Luas pemberianNya, untuk mensyukuri segala nikmat yang dianugerahkan kepada kita, adalah tidak layak jika apa yang dipersembahkan kepadaNya terdiri dari benda-benda yang kita sendiri tidak sudi menerimanya.

    Oleh itu, kalau hendak memberi sedekah biarlah dari jenis yang kita sendiri senang hati jika kita yang menerimanya, bukannya dari jenis yang kita sendiri tidak senang hati jika kita yang menerimanya, malahan hanya menerimanya karena terpaksa, karena menjaga hati pemberinya.

    Allah subhanahu wa ta’ala melarang memberikan sedekah dengan benda yang tidak baik, sebagaimana firmanNya yang tafsirnya :

    “Wahai orang-orang yang beriman! Belanjakanlah (pada jalan Allah) sebagian dari hasil usaha kamu yang baik-baik, dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu sengaja memilih yang buruk daripadanya (lalu kamu dermakan atau kamu jadikan pemberian zakat), padahal kamu sendiri tidak sekali-kali akan mengambil yang buruk itu (kalau diberikan kepada kamu), kecuali dengan memejamkan mata padanya. Dan ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Kaya, lagi sentiasa Terpuji.” (Surah Al-Baqarah, ayat 267)

    Kedua, dan yang penting sekali ialah sedekah itu daripada sesuatu yang halal yang tidak bercampur dengan perkara syubhah.

    Di riwayatkan daripada Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Tidak seseorang itu memberikan sedekah dari harta yang baik – dan Allah tidak akan menerima kecuali yang baik – melainkan Allah yang Maha Pengasih akan Menerima sedekah itu dengan tangan kananNya, sekalipun sedekah itu hanya berupa sebiji kurma. Lalu di tangan Allah yang Maha Pengasih sedekah itu bertambah-tambah sehingga menjadi lebih besar daripada gunung, sebagaimana di antara kamu memelihara (membesarkan) anak kudanya atau anak untanya.”

    (Hadits riwayat Bukhari, Musli, At-Tirmidzi, An-Nasa’ie dan Ibnu Majah)

    Al-Imam An-Nawawi salah seorang ulama terkemuka dalam mazhab Syafi’e telah menjelaskan bahwa apa yang dimaksudkan dengan “Attoyyib” (yang baik) di dalam hadits di atas ialah sesuatu yang halal.

    Di dalam hadits yang lain, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang bermaksud :

    “Wahai manusia! Sesungguhnya Allah itu baik (suci, bersih dari segala kekurangan), dan Dia tidak menerima kecuali yang baik. Dan Allah Memerintahkan kepada orang-orang yang beriman dengan apa yang Dia Perintahkan kepada para Rasul.

    Allah berfirman (tafsirnya): “Wahai Rasul-rasul! Makanlah dari benda-benda yang baik-baik lagi halal dan kerjakanlah amal-amal saleh; sesungguhnya Aku Amat Mengetahui akan apa yang kamu kerjakan.”(Surah Al-Mukminuun, ayat 51)

    Allah berfirman lagi (tafsirnya): “Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari benda-benda yang baik (yang halal) yang telah kami berikan kepada kamu.”(Surah Al-Baqarah, ayat 172)

    Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan tentang seorang yang mengadakan perjalanan jauh, yang kusut rambutnya lagi berdebu, dia menadahkan kedua tangannya ke langit, seraya berdoa: “Ya Tuhanku! ya Tuhanku!”,sedangkan makanannya dari yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan yang haram, lalu bagaimana doanya itu diperkenankan?”

    (Hadits riwayat Muslim dan At-Tirmidzi)

    Dalam mengulas hadits di atas, Al-Imam An-Nawawi menegaskan bahwa itu memberi galakan atau dorongan supaya apa yang dinafkahkan atau dibelanjakan itu hendaklah dari benda yang halal, dan melarang dari menafkahkan benda-benda yang tidak halal. Dan apa jua yang diminum, dimakan, dipakai dan seumpamanya hendaklah dari benda yang halal semata-mata yang tidak ada keraguan atau syubhah padanya.

    Dari ulasan di atas, dapatlah diambil pengajaran bahwa membelanjakan harta di jalan Allah itu salah satunya ialah dengan jalan bersedekah. Oleh itu, adalah sewajarnya benda yang disedekahkan itu daripada yang halal semata-mata, tanpa bercampur dengan elemen-elemen yang meragukan atau syubhah. Ini merupakan tuntutan Allah dan RasulNya sebagaimana jelas di dalam hadits-hadits yang disebutkan tadi; sesungguhnya Allah itu tidak akan menerima kecuali sesuatu yang baik, sesuatu yang halal.

    Ketiga, itu terdiri dari barang yang disayangi oleh pemberi sedekah.

    Sunat hukumnya bagi seseorang mengeluarkan sedekah atau derma daripada benda-benda yang disukainya. Ini jelas sebagaimana firman Allah Ta’ala yang tafsirnya :

    “Kamu tidak sekali-kali akan dapat mencapai (hakikat) kebajikan dan kebaktian (yang sempurna) sebelum kamu dermakan sebagian dari apa yang kamu sayangi.” (Surah Aali ‘Imraan, ayat 92)

    Sebenarnya di sinilah juga merupakan ujian yang berat bagi orang yang mengaku dirinya beriman. Seorang yang tidak sanggup mengeluarkan, membelanjakan atau mendermakan sesuatu yang amat disayangi atau disukainya belumlah mencapai taraf keimanan yang tinggi, belumlah dikatakan mempunyai jiwa yang baik.

    Ketiga-tiga komponen yang kita sebutkan di atas adalah perlu ada pada jenis mata benda yang disedekahkan untuk dikategorikan sebagai sedekah berkualiti. Adapun kuantiti atau sedikit dan banyak sesuatu pemberian itu bukanlah menjadi ukuran.

    Oleh itu, tidak semestinya pemberian itu dengan jumlah bilangan yang banyak, malahan sunat bagi seseorang bersedekah atau menderma walaupun dengan bilangan yang sedikit. Tidak perlu malu untuk bersedekah atau menderma dengan jumlah wang yang kecil atau dengan sesuap makanan umpamanya, karena yang demikian itu amat bernilai di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana firmanNya yang maksudnya :

    “Maka barang siapa berbuat kebajikan seberat zarrah, niscaya akan dilihatnya (dalam surat amalnya).” (Surah Az-Zalzalah, ayat 7)

    Di dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Takutlah kamu akan api neraka walaupun dengan separuh buah kurma.”

    (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

    Hadits di atas memberi dorongan untuk bersedekah walaupun dengan mata benda yang sedikit bilangannya, sekalipun bersedekah dengan separuh buah kurma, karena yang demikian itu sungguhpun itu sedikit tetapi mampu untuk menyelamatkan tuannya daripada api neraka.

    Perkara Yang Merusakkan Sedekah

    Antara elemen terpenting dalam amalan bersedekah adalah keikhlasan. Bersedekah biarlah terbit daripada hati nurani yang bersih, ikhlas untuk membantu orang lain. Oleh karena itu, perlunya ada etika pada diri orang yang bersedekah atau menderma, antaranya jangan mengungkit-ungkit dan menyakiti orang yang menerima sedekah atau derma.

    Apabila seseorang mengungkit-ungkit kembali pemberian sedekah yang telah dihulurkannya, nyatalah bahwa dia tidak memberi dengan keikhlasan, tidak memberi dengan hati yang bulat karena Allah.

    Sebagai contoh, seorang yang telah menghulurkan derma untuk mendirikan masjid, lalu dia diminta sekali lagi untuk memberi bantuannya. Tiba-tiba diungkit-ungkit pemberiannya yang dahulu: “Mengapa datang lagi, bukankah tempo hari saya sudah menderma”. Padahal kalau dia mau, kalau dia ikhlas beberapa kali memberi derma pun tidak menjadi masalah.

    Begitu juga halnya dengan menyakiti orang yang diberi, kelakuan seperti ini tidak sekali-kali menunjukkan keikhlasan si pemberi. Biarpun dia menghulurkan sedekah tetapi diiringi dengan kata-kata yang boleh memalukan dan menyinggung perasaan orang yang diberi, pemberiannya itu tidak mendatangkan apa-apa ganjaran, malahan boleh mendatangkan dosa.

    Para ulama bersepakat mengatakan bahwa perbuatan mengungkit-ungkit kembali sedekah, derma atau sumbangan yang telah diberikan dan menyakiti orang yang menerima pemberian tersebut adalah haram hukumnya, dan merusakkan pahala amal sedekahnya itu. Hal ini telah diperuntukkan dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang tafsirnya :

    “Wahai orang-orang yang beriman! Jangan rusakkan (pahala amal) sedekah kamu dengan perkataan membangkit-bangkit dan (kelakuan yang) menyakiti, seperti (rusaknya pahala amal sedekah) orang yang membelanjakan hartanya karena menunjuk-nunjuk kepada manusia (riya’), dan ia pula tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhirat.” (Surah Al-Baqarah, ayat 264)

    Perkara mengungkit-ungkit pemberian sedekah atau derma dan menyakiti hati orang yang diberi sedekah atau derma, termasuk dalam golongan orang yang rendah akhlak. Orang seperti ini tidak sedar dan insaf bahwa kekayaan dan rezeki yang dikurniakan Allah kepadanya, tidaklah ada artinya kalau dia terputus hubungan dengan masyarakat, karena antara tujuan bersedekah, menderma, menghulur sumbangan merupakan jalan penghubung dan pengerat sesama manusia.

    Sifat riya’ atau sifat menunjuk-nunjuk juga boleh menjadi punca rusaknya sesuatu pemberian sedekah. Sedekah tidak ada apa-apa nilai jika itu dihulurkan hanya untuk mendapat pujian orang, hanya untuk memberitahu orang bahwa dia seorang yang pemurah, padahal jika tidak dilihat orang dia tidak akan mengeluarkan sedekah. Oleh itu, ikhlas merupakan kunci kejayaan untuk mendapat ganjaran daripada amalan bersedekah.

    Sebagai suatu kesimpulan, segala apa yang dikeluarkan atau diberikan dengan niat mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, sama ada itu dinamakan sebagai sedekah, derma, sumbangan atau seumpamanya, adalah penting untuk diperhati aspek kualiti benda atau barang yang diberikan itu. Pendek kata, kualiti adalah menjadi ukuran bukannya kuantiti. Allah Maha Mengetahui segala apa yang kita dermakan atau sedekahkan, sebagaimana firmanNya yang tafsirnya :

    “Dan suatu apa jua yang kamu dermakan maka sesungguhnya Allah Mengetahuinya.” (Surah Ali ‘Imran, ayat 92)

    Wallohu a’lam bish-showab,-

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 17 January 2017 Permalink | Balas  

    Sedekah : Mana Yang Lebih Utama Kualitas Atau Kuantitas? (1/2) 

    adab-sedekahSedekah : Mana Yang Lebih Utama Kualitas Atau Kuantitas? (1/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Apa yang dimaksudkan dengan sedekah dari pandangan syara’ ialah pemberian semasa hidup kepada seseorang tanpa ada tukar ganti atas dasar mendekatkan diri kepada Allah.

    Berdasarkan pengertian tersebut, bahwa apa juga jenis pemberian berupa mata benda tanpa ada bayaran balik sebagai imbalan atas pemberian tersebut melainkan yang diharapkan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka itu disebut sebagai sedekah, seperti sedekah wajib, sedekah sunat, wakaf, derma, sumbangan dan sebagainya.

    Mengapa kita sebut ‘mata benda’? Karena itu akan membedakan antara sedekah dengan pinjaman. Pinjaman ialah pemilikan kepada seseorang sesuatu manfaat akan tetapi mata bendanya tetap menjadi milik orang yang meminjamkan.

    Mengapa pula kita sebut ‘atas dasar mendekatkan diri kepada Allah’? Karena yang demikian itu akan membedakan antara sedekah dengan hibah dan hadiah. Apabila sesuatu pemberian itu dengan tujuan untuk mempererat dan merapatkan hubungan maka itu disebut sebagai hibah. Manakala jika itu dimaksudkan untuk memuliakan orang yang diberi maka itu dinamakan hadiah. Jelas di sini bahwa titik perbedaan antara sedekah dengan hibah dan hadiah adalah dari aspek niat atau tujuan sesuatu pemberian.

    Namun pada kebiasaannya perkataan sedekah itu di kalangan para ulama fiqh lebih kerap dimaksudkan kepada sedekah sunat. Dalam istilah masyarakat kita selain sedekah itu juga disebut sebagai derma atau sumbangan. Kedua-dua istilah derma dan sumbangan itu selama mana dimaksudkan oleh pelakunya, yakni yang memberi derma atau sumbangan sebagai amalan untuk merapatkan hubungan dirinya dengan Allah subhanahu wa ta’ala dan mencari keredhaanNya maka yang demikian itu dikategorikan sebagai sedekah. Sementara sedekah wajib itu lebih dikenali dengan istilah zakat.

    Memberi sedekah itu hukumnya sunat. Banyak terdapat dalil-dalil syara’ yang memperuntukkan suruhan dan galakkan bersedekah. Antaranya sebagaimana firman Allah:

    Tafsirnya: “Siapakah orangnya yang (mau) memberikan pinjaman kepada Allah, sebagai pinjaman yang baik (ikhlas) supaya Allah melipatgandakan akan balasannya dengan berganda-ganda banyaknya? Dan (ingatlah) Allah jualah yang menyempit dan meluaskan (pemberian rezeki), dan kepadaNya lah kamu semua dikembalikan.”

    (Surah Al-Baqarah, ayat 245)

    Firman Allah di dalam ayat yang lain:

    Tafsirnya: “Dan dirikanlah sembahyang serta berilah zakat; dan berikanlah pinjaman kepada Allah sebagai pinjaman yang baik (ikhlas). Dan (ingatlah) apa jua kebaikan yang kamu kerjakan sebagai bekalan untuk diri kamu, tentulah kamu akan mendapat balasannya pada sisi Allah sebagai balasan yang sebaik-baiknya dan amat besar pahalanya. Dan mintalah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah amat Pengampun, lagi amat Mengasihani.”

    (Surah Al-Muzzammil, ayat 20)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga ada menyebutkan mengenai suruhan dan galakkan bersedekah itu, sebagaimana Baginda bersabda yang maksudnya :

    Maksudnya: “Mana-mana orang mukmin yang memberi makanan kepada seorang mukmin yang lain karena kelaparan, maka Allah akan memberi makanan kepadanya pada Hari Kiamat dari buah-buah Syurga. Dan mana-mana orang mukmin yang memberi minuman kepada seorang mukmin yang lain karena kehausan, maka Allah akan memberi minuman kepadanya pada Hari Kiamat dari khamar Syurga yang termetri bekasnya. Dan mana-mana orang mukmin yang memberi pakaian kepada seorang mukmin yang lain karena tidak berpakaian, maka Allah akan memberi pakaian kepadanya dari pakaian Syurga yang berwarna hijau.”

    (Hadits riwayat At-Tirmizi dan Abu Daud)

    Daripada dalil-dalil yang disebutkan dapatlah ditanggapi bahwa suatu pemberian karena Allah akan dibalas dengan sebaik-baik balasan atau ganjaran daripada Allah subhanahu wa ta’ala, dan sudah tentu balasan itu tidak akan diperolehi kecuali melalui amalan-amalan berkebajikan yang telah dilakukan oleh seseorang hamba, baik amalan tersebut berbentuk sumbangan harta ataupun tenaga. Apabila Allah berjanji untuk membalas amalan kebaikan itu, maka ini menunjukkan betapa amalan tersebut adalah suatu yang dituntut oleh syara’, dan ini termasuklah memberi sedekah.

    Sedekah itu boleh dilakukan pada setiap saat, lebih-lebih lagi di bulan Ramadhan, karena di bulan inilah yang lebih dituntut untuk memperbanyakkan sedekah sebagai mengikut sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling pemurah lebih-lebih lagi di bulan Ramadhan. Ini jelas sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma beliau berkata yang maksudnya :

    Maksudnya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan orang yang paling pemurah (dermawan), dan Baginda lebih pemurah pada bulan Ramadhan ketika Jibril bertemu Baginda. Jibril bertemu Baginda shallallahu ‘alaihi wasallam pada setiap malam Ramadhan, lalu Baginda membacakan Al-Qur’an. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu adalah seorang yang lebih pemurah (dermawan) dalam kebaikan daripada angin yang diutus.”

    (Hadits riwayat Bukhari, Muslim dan An-Nasa’ie)

    Di dalam riwayat yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya, sedekah manakah yang lebih afdhal? Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab yang bermaksud:

    Maksudnya: “Sedekah di bulan Ramadhan.”

    (Hadits riwayat At-Tirmidzi)

    Bersambung

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 16 January 2017 Permalink | Balas  

    Perbuatan Yang Ihsan 

    prasangka baikPerbuatan Yang Ihsan

    Oleh: O. Solihin

    Seorang ulama yang hidup di masa Abdul Malik bin Marwan, Sa’id bin Jubair, pernah mengatakan:

    “Tidak diterima suatu perkataan kecuali disertai amal, tidak akan diterima perkataan dan amal kecuali disertai niat, dan tidak akan diterima perkataan, amal dan niat kecuali disesuaikan dengan sunnah Nabi Saw.”

    Saking pentingnya ihsan dalam beramal ini, sampai-sampai Imam Malik mengatakan:

    “Sunnah Rasulullah Saw itu ibarat perahu nabi Nuh. Siapa yang menumpanginya ia akan selamat; sedangkan yang tidak, akan tenggelam.”

    Tradisi kaum muslimin di masa lalu berkaitan dengan amalnya dalam kehidupan sehari-hari selalu menyandarkan kepada tuntutan Allah dan Rasul-Nya. Sehingga untuk masalah yang kecil seperti bagaimana tatacara bersuci dari hadats besar atau kecil sampai urusan muhasabah (mengoreksi) penguasa selalu mengikuti petunjuk yang diberikan Allah dan Rasul-Nya. Tentu saja hal semacam itu menjadikan kaum muslimin generasi terdahulu senantiasa berada di jalur yang benar dalam aktivitas kehidupan sehari-harinya. Mereka berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan semata berlomba-lomba dalam banyaknya amal (perbuatan). Firman Allah:

    “…supaya Dia menguji kalian siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (Qs. al-Mulk [67]: 2).

    Jadi, bukan yang terbanyak amalnya yang akan dinilai oleh Allah, tetapi yang terbaik amalnya.

    Namun, tradisi kaum muslimin generasi mutaakhirin (sekarang ini) ternyata sudah mulai melupakan atau bahkan tidak lagi menghiraukan rambu-rambu yang diberikan Allah dan Rasul-Nya ketika melakukan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga wajar bila akhirnya kaum muslimin kesulitan sendiri dalam melakukan berbagai amal. Malah tak jarang yang akhirnya menempuh cara-cara yang tak pernah diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Praktek-praktek KKN yang diduga kuat dibudayakan orde baru ternyata tradisinya masih terasa sampai sekarang. Dalam urusan amar ma’ruf nahyi munkar kaum muslimin tidak lagi menempatkan dirinya pada posisi yang benar. Dengan kata lain, cara-cara yang ditempuh tidak sejalan dengan sunnah Nabi saw. Yakni cenderung brutal dan menghalalkan segala cara. Artinya, ketika akan meluruskan kesalahan, ternyata cara yang diambil justeru bertentangan dengan Islam. Jadi, membenarkan kesalahan dengan kesalahan.

    Dengan demikian, amal yang baik (ihsan) menurut salah seorang guru Imam Syaifi’i, yakni Fudlail bin ‘Iyadl ketika menjelaskan ayat 2 surat al-Mulk [67] adalah amal yang paling ikhlas dan paling benar. Ketika ditanyakan. “Wahai Abu Ali, Apakah maksud paling ikhlas dan paling benar?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya suatu amal sekalipun benar tetapi tidak dikerjakan dengan ikhlas, maka amal tersebut tidak akan diterima. Sebaliknya, jika dikerjakan dengan ikhlas namun tidak dengan cara yang benar, maka amal tersebut juga tidak akan diterima. Ikhlas hanya dapat terwujud manakala amal itu diniatkan secara murni kepada Allah SWT, sedangkan amal yang benar hanya dapat terwujud dengan mengikuti sunnah Nabi Saw.” (Fauzy Sanqarth, At-Taqorrub ila Allah Thoriqut Taufiq).

    Di antara tanda-tanda ikhlas adalah tunduk kepada kebenaran, dan menerima nasihat sekalipun dari orang yang lebih rendah tingkat ilmunya. InsyaAllah bila kita mengikuti perintah dan tuntutan dari Allah dan Rasul-Nya dalam beramal ini, amal yang kita kerjakan tidak akan sia-sia, dan tentu saja dinilai sebagai amal yang ihsan (baik). Wallahu’alam bishowab.

    ***

    hayatulislam.net

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 15 January 2017 Permalink | Balas  

    Masa Depan Datang Dengan Sendirinya. 

    masalaluMasa Depan Datang Dengan Sendirinya.

    Hari esok itu berasal dari dunia yang tidak terlihat -seperti “jembatan” yang belum kita seberangi- sampai ia muncul dihadapan kita. Banyak orang menangis karena mengira esok hari akan kelaparan. Dicengkeram rasa takut dan cemas, khawatir dunia kan kiamat setahun lagi.

    Terperangkap pada khayalan masa depan dapat menggiring kita untuk mencintai dunia secara berlebihan, dan ini adalah suatu ketergantungan yang harus dihindari oleh orang beriman. Janganlah menjadi orang yang terobsesi dengan sesuatu yang akan terjadi nanti di dunia ini.

    Siapa yang tahu apa yang akan terjadi esok hari ?. Hari esok belum tentu ada, dan yang akan terjadi pada esok hari itupun belum ada realitasnya pada hari ini. Bisa jadi esok hari “jembatan” impian kita itu justru runtuh sebelum kita mencapainya, atau bisa jadi juga berhasil kita seberangi dengan selamat. Janganlah tergesa-gesa dan terburu-buru untuk mendapatkan apa yang akan datang. Apakah kita kira sudah bijaksana jika memetik buah sebelum matang ?.

    “Telah datang ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta disegerakan (datang)nya”. (An-Nahl:1).

    Jadi mengapa kita harus repot dengan malapetaka di kemudian hari ?. Mengapa kita harus repot padahal kita sendiri tidak tahu apakah kita dapat bertemu dengan hari esok ?.

    “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedangkan Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia-Nya”. (Al-Baqarah:268).

    Karena kita disibukkan oleh yang kita kerjakan pada hari ini, maka tinggalkanlah hari esok. Biarkanlah ia datang dengan sendirinya.

    “Sungguh luar biasa seorang Mukmin itu. Seluruh perkara dalam hidupnya bernilai positif. Apabila ia mendapatkan kemudahan, maka ia bersyukur. Itu positif (baik) baginya. Apabila ia ditimpa kesulitan, maka ia bersabar. Itupun positif (baik) baginya”. (Hadits).

    Disadur dari : Biarkan Masa Depan Datang dengan Sendirinya. Cara hidup positif tanpa pernah sedih & frustasi. DON’T BE SAD.

    1. ‘Aidh Abdullah al-Qarni, MA.

    Maghfirah Pustaka.

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 14 January 2017 Permalink | Balas  

    Masuk Islamnya Umar Bin Khaththab Radhiyallahu Anhu 

    umarMasuk Islamnya Umar Bin Khaththab Radhiyallahu Anhu

    Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Amr bin Al-Ash dan Abdullah bin Abu Rabi’ah bertemu dengan orang-orang Quraisy dalam keadaan gagal meminta kembali sahabat-sahabat Rosululloh SAW dan Raja Najasyi tidak mengabulkan permintaan orang kafir Quraisy, maka pada saat itulah Umar ra masuk Islam. Beliau orang yang memiliki harga diri tinggi dan pantang dihina. Sahabat-sahabat Rosululloh SAW merasa terlindungi dengan masuk Islamnya Umar ra dan Hamzah bin Abdul Muththalib dan orang-orang Quraisy tidak berani menindas mereka. Abdullah bin Mas’ud berkata : “Tadinya kami tidak berani sholat disamping ka’bah hingga Umar bin Khaththab masuk Islam, Umar ra melawan orang-orang kafir Quraisy hingga ia (Umar ra) bisa sholat disamping ka’bah dan kami pun ikut sholat bersamanya” Masuk Islamnya Umar ra terjadi setelah beberapa shahabat Nabi SAW keluar hijrah ke Habasyah

    Allah menguatkan Islam dengan Umar bin Khaththab ra

    Al-Bakkai berkata bahwa Mis’ar bin Kidam berkata kepadaku dari Sa’ad bin Ibrahim yang berkata bahwa Abdullah bin Mas’ud berkata, “Sesungguhnya masuk Islamnya Umar bin khaththab adalah penaklukan. Hijrahnya adalah kemenangan dan pemerintahannya adalah rahmat. Tadinya kita tidak berani sholat di samping ka’bah hingga Umar bin Khaththab masuk Islam, Umar ra melawan orang-orang kafir Quraisy hingga ia (Umar ra) bisa sholat disamping ka’bah dan kami pun ikut sholat bersamanya”

    Riwayat Putri Abu Hatsmah tentang masuk islamnya Umar bin Khaththab ra.

    Ibnu Ishaq berkata, “telah berkata kepadaku Abdurrahman bin Al-Harits bin Abdullah bin Ayyasy bin Abu Rabi’ah dari Abdul Aziz bin Abdullah bin Amr bin Rabi’ah dari ibunya, yaitu Ummu Abdullah binti Abu Hatsmah yang berkata : Demi Allah, kita akan pergi ke Habasyah, untuk itu Amir (suamiku) pergi untuk memenuhi sebagian kebutuhannya. Namun tiba-tiba Umar bin Khaththab (yang saat itu masih musyrik) telah berdiri dihadapanku”

    Ummu Abdullah berkata, “Sebelum ini kami mendapatkan gangguan dan penyiksaan yang amat kejam darinya”.

    Umar berkata, “Kelihatannya engkau akan pergi wahai Ummu Abdullah ?”

    Ummu Abdullah berkata, “Ya betul, kami akan pergi ke negeri Allah, Karena kalian telah menindas kami dan menganiaya kami hingga Allah telah memberi kami jalan keluar (hijrah)”

    Umar bin Khaththab berkata, “Semoga Allah menyertai kalian!”

    Ummu Abdullah berkata, “Saat itu kulihat kelembutan pada diri Umar bin Khaththab yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Kemudian ia pergi dan menurut penglihatanku ia amat sedih dengan kepergian kami”

    Ummu Abdullah berkata, “Tidak lama setelah itu, Amir datang dengan membawa kebutuhannya. Aku berkata kepadanya : Wahai Abu Abdullah, seandainya engkau tadi melihat kelembutan dan kesedihan Umar bin Khaththab atas kepergian kita”

    Abu Abdullah berkata, “Apakah engkau ingin dia masuk Islam?”

    Ummu Abdullah berkata, “Ya”.

    Abu Abdullah berkata, “Umar tidak masuk Islam hingga keledainya masuk Islam”

    Ummu Abdullah berkata, “Alangkah kerasnya Umar bin Khaththab dan betapa bencinya dia dengan Islam”

    Sebab langsung masuk Islamnya Umar bin Khaththab ra

    Ibnu Ishaq berkata, “Tentang sebab masuk Islamnya Umar bin Khaththab ra seperti disampaikan kepadaku bahwa saudara perempuannya Fathimah binti Khaththab yang diperistri Sa’id bin Zaid bin Amr bin Nufail telah masuk islam beserta suaminya. Keduanya merahasikan keislamannya dari Umar bin khaththab. Nu’aim bin Abdullah An-Nahham, salah seorang dari kaumnya yaitu Bani Adi bin Ka’ab juga telah masuk Islam dan merahasiakan keislamannya karena takut kepada kaumnya. Khabab bin Al-Arat sering mondar-mandir pergi kerumah Fathimah bin Khaththab guna membacakan Al-Qur’an kepadanya. Pada suatu hari, Umar bin Khaththab keluar dari rumahnya dengan menghunus pedang dengan maksud mendatangi Rasulullah SAW dan beberapa sahabat beliau, karena ia mendengar kabar bahwa mereka berkumpul disalah satu rumah disafa. Jumlah mereka mendekati empat puluh orang (laki-laki dan perempuan). Saat itu Nabi SAW ditemani pamannya Hamzah bin Abdul Muththalib, Abu Bakar bin Abu Quhafah Ash Shiddiq dan Ali bin Abu Thalib.

    Sahabat-sahabat yang hadir dirumah tersebut adalah sahabat-sahabat yang tetap tinggal bersama Nabi SAW di makkah dan tidak ikut hijrah ke Habasyah. Di perjalanan Umar bin Khaththab bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah. Nu’aim bin Abdullah bertanya kepada Umar : Engkau akan kemana Umar? Umar ra menjawab : Aku hendak pergi kepada Muhammad, orang yang keluar dari agama kita dan memecah belah persatuan orang Quraisy, membodoh-bodohkan mimpi-mimpi kita, melecehkan dan menghina agama kita, maka aku akan membunuh dia Nu’aim bin Abdullah berkata : Demi Allah, sesungguhnya engkau tertipu oleh dirimu sendiri wahai Umar, Apakah Bani Abdu Manaf akan membiarkanmu melenggang diatas bumi setelah membunuh Muhammad? Kenapa engkau tidak pulang kepada keluargamu dan menangani permasalahan mereka? Umar bin Khaththab berkata : Ada apa dengan keluargaku ? Nu’aim berkata : Ya, saudara iparmu sekaligus saudara misanmu Sa’id bin Zaid bin Amr dan Fathimah binti Khaththab. Sungguh , Demi Allah, keduanya telah

    masuk Islam dan mengikuti agama Muhammad, oleh karena itu perhatikan keduanya. Umar bin Khaththab berbalik arah dan menuju rumah Fathimah binti Khaththab, ketika itu dirumah Fathimah binti Khaththab terdapat Khabbab bin Al-Arat yang sedang membacakan surat Thaha kepada keduanya. Ketika mereka mendengar suara Umar bin khaththab, Khabab bin Al-Arat bersembunyi disalah satu rumah, sedangkan Fathimah segera mengambil lembaran surat Thaha dan menyembunyikannya dibawah pahanya. Ketika mendekati rumah Fathimah sesungguhnya Umar telah mendengar bacaan surat Thaha, ketika Umar masuk rumah, ia berkata : Suara apa tadi yang aku dengar ? keduanya (Sa’id dan Fathimah) berkata : Aku tidak mendengar apa-apa. Umar bin Khaththab berkata : Demi Allah, sungguh aku telah mendapatkan berita bahwa kalian berdua telah mengikuti agama Muhammad. Kemudian Umar memukuli keduanya, karena Umar telah memukuli mereka berdua, maka Fathimah dan Sa’id berkata : Ya, kami telah masuk Islam dan beriman kepada Allah

    dan Rosul-Nya, silakan lakukan apasaja kepada kami. Ketika Umar melihat darah Fathimah adiknya, ia menyesal dan menyadari kekeliruannya, Umar berkata : Coba berikan lembaran apa yang aku dengar tadi agar aku melihat apa sesungguhnya yang dibawa Muhammad. (Umar bin Khaththab sesungguhnya juga seorang penulis) Fathimah berkata : Sungguh, Kami khawatir engkau akan merampas lembaran tersebut. Umar berkata : Engkau tidak perlu takut. Kemudian Umar bersumpah dengan nama tuhannya bahwa ia pasti akan mengembalikan lembaran itu setelah selesai membacanya. (Ketika Umar berkata seperti itu, Fathimah menginginkan umar masuk Islam) Fathimah berkata : Sesungguhnya engkau najis karena musyrik, lembaran ini tidak boleh disentuh kecuali oleh orang yang bersuci. Kemudian Umar berdiri dan mandi, usai mandi Fathimah memberikan lembaran tersebut. Dilembaran tersebut tertulis Thaaha. Umar membacanya dan ketika membaca permulaan surat, Umar berkata : Alangkah bagusnya dan mulianya perkataan ini. Ketika

    Khabab bin Al-Arat mendengar ucapan Umar, maka ia keluar dari persembunyiannya dan berkata kepada Umar : Hai Umar, Demi Allah, Aku berharap kiranya Allah menjadikanmu sebagai orang yang dido’akan Nabi-Nya, karena kemarin aku mendengar beliau Nabi SAW bersabda, “Ya Allah, kuatkan Islam ini dengan Abu Al-Hakam bin Hisyam atau dengan Umar bin Khaththab” Allah, dan Allah wahai Umar. Umar berkata : Hai Khabbab, tunjukkan kepadaku dimana Muhammad berada karena aku akan kesana dan kemudian masuk Islam. Khabbab bin Al-Arat berkata : Beliau Nabi SAW berada di Safa disalah satu rumah bersama beberapa orang dari sahabat-sahabatnya.

    Umar bin Khaththab menghunus pedang sambil menuju tempat Nabi SAW, ia mendobrak pintu rumah tempat berkumpul sahabat Nabi SAW, ketika mereka mendengar suaranya, salah seorang sahabat Nabi SAW mengintip dari celah pintu dan melihat Umar menghunus pedang. Sahabat itu kembali ketempat Nabi SAW dalam keadaan takut dan berkata : Wahai Rosululloh, dia Umar sedang menghunus pedangnya. Hamzah bin Abdul Muththalib (paman Nabi SAW) berkata : Biarkan dia masuk, jika ia menginginkan kebaikan, kita berikan kebaikan, jika ia menginginkan keburukan, kita bunuh dia dengan pedangnya sendiri. Nabi SAW bersabda, “Biarkan dia masuk” Salah seorang sahabat Nabi SAW membukakan pintu untuk Umar, kemudian Nabi SAW menyongsongnya dan menemuinya di bilik. Beliau Nabi SAW mengambil tempat tali celana atau ikatan bajunya, kemudian menarik Umar dengan tarikan yang keras sambil bersabda, “Apa yang membuatmu datang kemari wahai anak Khaththab? Demi Allah, aku melihat bahwa jika engkau tidak menghentikan tindakanmu selama ini, Allah akan menurunkan siksa kepadamu”

    Umar menjawab : Wahai Rasulullah, aku datang untuk beriman kepada Allah, Rasul-Nya dan apasaja yang engkau bawa dari Allah. Mendengar ucapan Umar, maka Rasulullah bertakbir dengan keras dan karena takbir itulah para sahabat mengetahui bahwa Umar bin Khaththab ra telah masuk Islam. Kemudian para shahabat bangkit dari tempat duduknya dan merasa kuat dengan ke-islaman Umar bin Khaththab dan Hamzah bin Abdul Muththalib. Mereka mengetahui bahwa keduanya akan membentengi Rasulullah SAW dan menghadapi musuh-musuh Islam. (Ini adalah riwayat para perawi Madinah tentang keislaman Umar bin Khaththab ra ketika masuk Islam)

    Riwayat Atha’ dan Mujahid

    Ibnu Ishaq berkata bahwa Abdullah bin Abu Najih Al Makki berkata kepadaku dari sahabat-sahabat Atha’ dan Mujahid, atau dari orang yang meriwayatkannya bahwa keislaman Umar bin Khaththab (seperti yang mereka katakana) bahwa Umar pernah berkata :

    “Aku tadinya jauh dari Islam, Aku pecandu minuman keras. Aku amat menyukainya dan meminumnya. Dulu kami mempunyai markas tempat orang Quraisy bertemu, markas tersebut terletak di bukit kecil dipemukiman keluarga Umar bin Abd bin Imran Al-Makhzumi. Pada suatu malam aku keluar rumah untuk mencari teman-temanku di markas tersebut.

    Aku mendatangi tempat mereka namun tidak menemukan seorangpun didalamnya. Aku (Umar bin Khaththab) berkata, “Sebaiknya aku pergi ke si fulan penjual minuman keras, agar aku mendapatkan minuman keras dan meminumnya”, kemudian aku pergi ketempat si fulan, namun tidak bertemu dengannya. Aku berkata, “Sebaiknya aku ke ka’bah dan thawaf didalamnya tujuh atau tujuh puluh kali”, kemudian aku datang ke masjid untuk thawaf di ka’bah. Namun tiba-tiba Rasulullah sudah disitu untuk berdiri sholat, jika Beliau Nabi SAW sholat menghadap Syam dan menjadikan ka’bah diantara beliau dan syam. Tempat sholat beliau Nabi SAW diantara dua tiang (tiang hitam dan tiang yamani) ketika Nabi SAW melihat aku berkata,”Demi Allah, alangkah baiknya jika aku mendekat kepada Muhammad malam ini agar aku dapat mendengar apa yang beliau katakan” aku juga berkata, “Seandainya aku mendekat dan mendengarkan apa yang beliau katakana tentu akan mengagetkan beliau” kemudian aku datang mendekat dari arah hajar aswad dan masuk

    dibawah kain hajar aswad. Aku berjalan pelan-pelan sedangkan Rasulullah sedang sholat dan membaca Al-Qur’an hingga aku berdiri tepat didepan kiblatnya. Tidak ada yang memisahkan kami kecuali kain ka’bah. Ketika aku mendengar bacaan Al-Qur’an hatiku tertarik, aku menangis dan Al-Qur’an membuatku berkeputusan masuk Islam. Aku diam terpaku ditempatku hingga Rasulullah SAW menyelesaikan sholatnya. Usai sholat, beliau Nabi SAW pergi, beliau berjalan hingga muncul dirumah Ibnu Abu Husain. Itulah jalan yang biasa beliau lewati, hingga beliau beliau melewati Al-Mas’a, kemudian berjalan di antara rumah Abbas bin Abdul Muththalib dengan rumah Ibnu Azhar bin Abdu Auf Az-Zuhri, kemudian berjalan dan muncul di rumah Al-Akhnas bin Syariq hingga beliau masuk rumahnya. Tempat tinggal beliau di rumah yang berwarna hitam putih di depan rumah Muawiyah bin Abu Sufyan. Aku buntuti beliau hingga masuk di antara rumah Abbas dan rumah Ibnu Azhar, dan berhasil menemukan beliau. Ketika Rasulullah SAW

    mendengar suara langkahku, beliau mengenaliku. Beliau menduga bahwa aku membuntutinya karena aku akan menyiksa beliau. Beliau menghardikku, kemudian bersabda, “Apa yang mendorongmu datang pada jam seperti ini, wahai anak Khaththab?” Aku menjawab, “Aku datang untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta kepada apa saja yang dibawa Rasul-Nya dari Allah”. Rasulullah SAW memuji Allah kemudian bersabda, “Sungguh Allah telah memberi petunjuk kepadamu, wahai Umar.”

    Setelah itu, beliau memegang dadaku dan mendo’akan biar aku tegar, kemudian aku berpaling dari Rasulullah sedangkan beliau Nabi SAW masuk kepada keluarganya.

    Ibnu Ishaq berkata, “Wallahu a’lam” atas kebenaran cerita tersebut.

    [Sumber : Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, judul asli As-Sirah An-Nabawiyah li Ibni Hisyam, karya Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam Al-Muafiri, penerbit Darul Fikr, Beirut 1415H]

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 13 January 2017 Permalink | Balas  

    Masuk Islamnya Paman Rasululloh SAW, Hamzah Bin Abdul Muththalib 

    singa_allahMasuk Islamnya Paman Rasululloh SAW, Hamzah Bin Abdul Muththalib

    Ibnu Ishaq berkata bahwa seseorang dari Aslum berkata kepadaku, “Abu Jahl berjalan melewati Rasululloh SAW di Safa. Ia mengganggu beliau, mencaci maki beliau dan melampiaskan dendamnya kepada beliau karena dianggap menghina agamanya dan melecehkan urusannya, namun Rasululloh SAW tidak menyahut sedikit pun. Ketika itu mantan budak wanita milik Abdullah bin Jud’an bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah sedang berada dirumahnya mendengar apa yang dikatakan Abu Jahl kepada Rasululloh SAW. Usai berkata itu, Abu Jahl pergi dari hadapan Rasululloh SAW. Ia pergi ke balai pertemuan orang-orang Quraisy di samping Ka’bah kemudian duduk bersama mereka.

    Tidak lama kemudian, Hamzah bin Abdul Muththalib ra datang dengan menghunus pedangnya sehabis berburu, karena ia gemar berburu. Jika Hamzah pulang dari berburu, ia tidak langsung pulang kerumah, namun terlebih dahulu thawaf di Ka’bah. Biasanya usai thawaf, jika ia berjalan melewati balai pertemuan orang-orang Quraisy, pasti ia berhenti untuk mengucapkan salam dan ngobrol dengan mereka. Hamzah adalah anak muda yang di segani di kalangan orang-orang Quraisy dan pantang dihina. Ketika ia berjalan melewati mantan budak wanita tersebut dan setelah Rasululloh SAW kembali kerumahnya, mantan budak wanita tersebut berkata kepadanya, “Wahai Abu Umarah, seandainya saja engkau tadi melihat apa yang diperbuat Abu Al-Hakam bin Hisyam terhadap keponakanmu, Muhammad! Abu Jahl melihat beliau di Safa, kemudian ia mengganggunya, mencaci makinya dan melakukan hal-hal yang beliau tidak sukai. Setelah itu, ia pergi dan Muhammad tidak menyahut omongannya sedikit pun”.

    Hamzah bin abdul muththalib marah karena Allah ingin memuliakannya. Ia pergi mencari Abu Jahl tanpa menggubris orang-orang lain. Ia berjanji, jika bertemu dengannya akan dihajarnya.

    Ketika Hamzah masuk masjid, ia melihat Abu Jahl sedang duduk bersama orang-orang Quraisy, kemudian ia berjalan ke arahnya. Ketika ia sudah ada di depannya, ia mengangkat pedangnya kemudian menghajar Abu Jahl hingga mengalami luka parah. Ia berkata, “Apakah engkau mencaci maki keponakanku, padahal aku seagama dengannya dan aku berkata seperti yang ia katakan? Silakan balas, jika engkau sanggup!” Beberapa orang dari Bani Makhzum mendekat kepada Hamzah untuk menolong Abu Jahl, namun Abu Jahl berkata, “Biarkan Abu Umarah (Hamzah). Demi Allah, aku telah menghina keponakannya dengan penghinaan yang buruk.” Hamzah ra pun resmi masuk Islam dan mengikuti ucapan Rasululloh SAW.

    Ketika Hamzah masuk Islam, orang-orang Quraisy sadar bahwa Rasululloh SAW telah kuat, terjaga dan Hamzah pasti melindunginya. Oleh karena itu, mereka mengurangi sebagian gangguan mereka terhadap beliau.

    ***

    [Sumber : Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, judul asli As-Sirah An-Nabawiyah li Ibni Hisyam, karya Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam Al-Muafiri, penerbit Darul Fikr, Beirut 1415H]

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 12 January 2017 Permalink | Balas  

    Khaulah Binti Tsa’labah 

    khoulah-bin-tsalabahKhaulah Binti Tsa’labah

    (Wanita Yang Aduannya Didengar Allah Dari Langit Ketujuh)

    Beliau adalah Khaulah binti Tsa`labah bin Ashram bin Fahar bin Tsa`labah Ghanam bin ‘Auf. Beliau tumbuh sebagai wanita yang fasih dan pandai. Beliau dinikahi oleh Aus bin Shamit bin Qais, saudara dari Ubadah bin Shamit r.a yang beliau menyertai perang Badar dan perang Uhud dan mengikuti seluruh perperangan yang disertai Rasulullah saw. Dengan Aus inilah beliau melahirkan anak laki-laki yang bernama Rabi`.

    Khaulah binti Tsa`labah mendapati suaminya Aus bin Shamit dalam masalah yang membuat Aus marah, dia berkata, “Bagiku engkau ini seperti punggung ibuku.” Kemudian Aus keluar setelah mengatakan kalimat tersebut dan duduk bersama orang-orang beberapa lama lalu dia masuk dan menginginkan Khaulah. Akan tetapi kesadaran hati dan kehalusan perasaan Khaulah membuatnya menolak hingga jelas hukum Allah terhadap kejadian yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah Islam. Khaulah berkata, “Tidak, jangan! Demi yang jiwa Khaulah berada di tangan-Nya, engkau tidak boleh menjamahku karena engkau telah mengatakan sesuatu yang telah engkau ucapkankan terhadapku sehingga Allah dan Rasul-Nya lah yang memutuskan hukum tentang peristiwa yang menimpa kita.

    Kemudian Khaulah keluar menemui Rasulullah saw, lalu dia duduk di hadapan beliau dan menceritakan peristiwa yang menimpa dirinya dengan suaminya. Keperluannya adalah untuk meminta fatwa dan berdialog dengan nabi tentang urusan tersebut. Rasulullah saw bersabda, “Kami belum pernah mendapatkan perintah berkenaan urusanmu tersebut, aku tidak melihat melainkan engkau sudah haram baginya.

    Wanita mukminah ini mengulangi perkatannya dan menjelaskan kepada Rasulullah saw apa yang menimpa dirinya dan anaknya jika dia harus cerai dengan suaminya, namun rasulullah saw tetap menjawab, “Aku tidak melihat melainkan engkau telah haram baginya”.

    Sesudah itu wanita mukminah ini senantiasa mengangkat kedua tangannya ke langit sedangkan di hatinya tersimpan kesedihan dan kesusahan. Pada kedua matanya nampak meneteskan air mata dan semacam ada penyesalan, maka beliau menghadap kepada Yang tiada akan rugi siapapun yang berdoa kepada-Nya. Beliau berdo’a, “Ya Allah sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu tentang peristiwa yang menimpa diriku”.

    Alangkah bagusnya seorang wanita mukminah semacam Khaulah, beliau berdiri di hadapan Rasulullah saw dan berdialog untuk meminta fatwa, adapun istighatsah dan mengadu tidak ditujukan melainkan untuk Allah Ta`ala. Ini adalah bukti kejernihan iman dan tauhidnya yang telah dipelajari oleh para sahabat kepada Rasulullah saw.

    Tiada henti-hentinya wanita ini berdo`a sehingga suatu ketika Rasulullah saw pingsan sebagaimana biasanya beliau pingsan tatkala menerima wahyu. Kemudian setelah Rasulullah saw sadar kembali, beliau bersabda, “Wahai Khaulah, sungguh Allah telah menurunkan al-Qur`an tentang dirimu dan suamimu kemudian beliau membaca firman-Nya (artinya), “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan [halnya] kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat,”sampai firman Allah: “dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang pedih.”(Al-Mujadalah:1-4)

    Kemudian Rasulullah saw menjelaskan kepada Khaulah tentang kafarat (tebusan) Zhihar:

    Nabi : Perintahkan kepadanya (suami Khansa`) untuk memerdekan seorang budak

    Khaulah : Ya Rasulullah dia tidak memiliki seorang budak yang bisa dia merdekakan.

    Nabi : Jika demikian perintahkan kepadanya untuk shaum dua bulan berturut-turut

    Khaulah : Demi Allah dia adalah laki-laki yang tidak kuat melakukan shaum.

    Nabi : Perintahkan kepadanya memberi makan dari kurma sebanyak 60 orang miskin

    Khaulah : Demi Allah ya Rasulullah dia tidak memilikinya.

    Nabi : Aku bantu dengan separuhnya

    Khaulah : Aku bantu separuhnya yang lain wahai Rasulullah.

    Nabi : Engkau benar dan baik maka pergilah dan sedekahkanlah kurma itu sebagai kafarat baginya, kemudian bergaulah dengan anak pamanmu itu secara baik. Maka Khaulah pun melaksanakannya.

    Inilah kisah seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada pemimpin anak Adam a.s yang mengandung banyak pelajaran di dalamnya dan banyak hal yang menjadikan seorang wanita yang mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dengan bangga dan perasaan mulia dan besar perhatian Islam terhadapnya.

    Ummul mukminin Aisyah ra berkata tentang hal ini, “Segala puji bagi Allah yang Maha luas pendengaran-Nya terhadap semua suara, telah datang seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada Rasulullah saw, dia berbincang-bincang dengan Rasulullah saw sementara aku berada di samping rumah dan tidak mendengar apa yang dia katakan, maka kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan wanita yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah” (Al-Mujadalah: 1)

    Inilah wanita mukminah yang dididik oleh Islam yang menghentikan Khalifah Umar bin Khaththab r.a saat berjalan untuk memberikan wejangan dan nasehat kepadanya. Beliau berkata, “Wahai Umar aku telah mengenalmu sejak namamu dahulu masih Umair (Umar kecil) tatkala engkau berada di pasar Ukazh engkau mengembala kambing dengan tongkatmu, kemudian berlalulah hari demi hari sehingga memiliki nama Amirul Mukminin, maka bertakwalah kepada Allah perihal rakyatmu, ketahuilah barangsiapa yang takut akan siksa Allah maka yang jauh akan menjadi dekat dengannya dan barangsiapa yang takut mati maka dia kan takut kehilangan dan barangsiapa yang yakin akan adanya hisab maka dia takut terhadap Adzab Allah.” Beliau katakan hal itu sementara Umar Amirul Mukminin berdiri sambil menundukkan kepalanya dan mendengar perkataannya.

    Akan tetapi al-Jarud al-Abdi yang menyertai Umar bin Khaththab tidak tahan mengatakan kepada Khaulah, “Engkau telah berbicara banyak kepada Amirul Mukminin wahai wanita.!” Umar kemudian menegurnya, “Biarkan dia, tahukah kamu siapakah dia? Beliau adalah Khaulah yang Allah mendengarkan perkataannya dari langit yang ketujuh, maka Umar lebih berhak untuk mendengarkan perkataannya. ”

    Dalam riwayat lain Umar bin Khaththab berkata, “Demi Allah seandainya beliau tidak menyudahi nasehatnya kepadaku hingga malam hari maka aku tidak akan menyudahinya sehingga beliau selesaikan apa yang dia kehendaki, kecuali jika telah datang waktu shalat maka aku akan mengerjakan shalat kemudian kembali mendengarkannya sehingga selesai keperluannya.”

    (SUMBER: buku Mengenal Shahabiah Nabi SAW., karya Mahmud Mahdi al-Istanbuly dan Musthafa Abu an-Nashar asy-Syalaby, h.242-246, penerbit AT-TIBYAN)

     
  • erva kurniawan 8:50 am on 11 January 2017 Permalink | Balas  

    Istighfar 

    IstighfarIstighfar

    Imam Ahmad bin Hambal Rahimakumullah (murid Imam Syafi’i) dikenal juga sebagai Imam Hambali. Dimasa akhir hidupnya beliau bercerita;

    Suatu waktu (ketika saya sudah usia tua) saya tidak tahu kenapa ingin sekali menuju satu kota di Irak. Padahal tidak ada janji sama orang dan tidak ada keperluan.

    Akhirnya Imam Ahmad pergi sendiri menuju ke kota Bashrah. Begitu tiba di sana waktu masuk sholat Isya’, saya ikut shalat berjamaah Isya di masjid, hati saya merasa tenang, kemudian saya ingin istirahat.

    Begitu selesai shalat dan jamaah bubar, imam Ahmad ingin tiduran di masjid, tiba-tiba Marbot masjid datang menemui Imam Ahmad sambil bertanya; “Kamu mau ngapain  disini, Syaikh?.”

    ~Penjelasan~

    Kata “syaikh” bisa dipakai untuk 3 panggilan:

    1. bisa untuk orang tua; 2. orang kaya ataupun; 3. orang yang berilmu.

    Panggilan Syaikh di kisah ini panggilan sebagai orang tua, karena Marbot taunya sebagai orang tua.

    Marbot tidak tahu kalau beliau adalah Imam Ahmad, dan Imam Ahmad pun tidak memperkenalkan siapa dirinya.

    Di Irak, semua orang kenal siapa imam Ahmad, seorang ulama besar dan ahli hadits, sejuta hadits dihafalnya, sangat shalih dan zuhud. Zaman itu tidak ada foto sehingga orang tidak tahu wajahnya, cuma namanya sudah terkenal.

    Imam Ahmad menjawab,  “Saya ingin istirahat, saya musafir.”

    Kata Marbot, “Tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid.”

    Imam Ahmad bercerita, “Saya didorong-dorong oleh orang itu disuruh keluar dari masjid, Setelah keluar masjid, dikuncinya pintu masjid. Lalu saya ingin tiduran di teras masjid.”

    Ketika sudah berbaring di teras masjid Marbotnya datang lagi, marah-marah kepada Imam Ahmad. “Mau ngapain lagi Syaikh?”_ Kata marbot.

    “Mau tidur, saya musafir”, kata imam Ahmad.

    Lalu marbot berkata, “Di dalam masjid tidak boleh, di teras masjid juga gak boleh.” Akhirnya Imam Ahmad pun diusir. Imam Ahmad bercerita, “Saya didorong-dorong sampai jalanan.”

    Di samping masjid ada penjual roti (rumah kecil sekaligus untuk membuat dan menjual roti). Penjual roti ini sedang membuat adonan, sambil melihat kejadian Imam Ahmad didorong-dorong oleh Marbot tadi.

    Ketika Imam Ahmad sampai di jalanan, penjual roti itu memanggil dari jauh; “Mari Syaikh, anda boleh nginap di tempat saya, saya punya tempat, meskipun kecil.”

    Kata imam Ahmad, “Baik”. Imam Ahmad masuk ke rumahnya, duduk di belakang penjual roti yang sedang membuat roti (dengan tetap tidak memperkenalkan siapa dirinya, hanya bilang sebagai musafir).

    Penjual roti ini punya perilaku khas, kalau imam Ahmad ngajak bicara, dijawabnya. Kalau tidak, dia terus membuat adonan roti sambil (terus-menerus) melafalkan ISTIGHFAR. “Astaghfirullah”

    Saat memberi garam, astaghfirullah, memecah telur_astaghfirullah_ ,  mencampur gandum astaghfirullah . Dia senantiasa mengucapkan istighfar. Sebuah kebiasaan mulia. Imam Ahmad memperhatikan terus.

    Lalu imam Ahmad bertanya, “Sudah berapa lama kamu lakukan ini?”

    Orang itu menjawab, “Sudah lama sekali syaikh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan.”

    Imam Ahmad bertanya, “Apa hasil dari perbuatanmu ini?”

    Orang itu menjawab, “(lantaran wasilah istighfar) tidak ada hajat/keinginan yg saya minta, kecuali PASTI dikabulkan Allah. semua yg saya minta ya Allah…., langsung diwujudkan.”

    Rasulullah SAW pernah bersabda;

    “Siapa yg menjaga istighfar, maka Allah akan menjadikan jalan keluar baginya dari semua masalah dan Allah akan berikan rizki dari jalan yang tidak disangka-sangkanya . ”

    Lalu orang itu melanjutkan, “Semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yang belum Allah beri.”

    Imam Ahmad penasaran lantas bertanya, “Apa itu?”

    Kata orang itu, “Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan Imam Ahmad.”

    Seketika itu juga imam Ahmad bertakbir, “Allahu Akbar..!  Allah telah mendatangkan saya jauh dari Bagdad pergi ke Bashrah dan bahkan – sampai didorong-dorong oleh Marbot masjid – Sampai ke jalanan ternyata karena ISTIGHFARMU.”

    Penjual roti itu terperanjat, memuji Allah, ternyata yang didepannya adalah Imam Ahmad.

    Ia pun langsung memeluk & mencium tangan Imam Ahmad.

    (SUMBER: Kitab Manakib Imam Ahmad)

    Wallohu a’lam

    Saudaraku & Sahabatku tercinta, mulai detik ini – marilah senantiasa kita hiasi lisan kita dengan ISTIGHFAR – kapanpun dan di manapun kita berada.

    Jangan biarkan postingan ini terputus, dan JANGAN SAMPAI ilmu yang SANGAT PENTING ini TIDAK DI-AMALKAN OLEH MASING-MASING DIRI KITA

    Semoga Alloh merahmati kita semua, Aamiin

     
  • erva kurniawan 9:47 am on 4 January 2017 Permalink | Balas  

    Najiskah Bulu Binatang? 

    kulit-binatangNajiskah Bulu Binatang?

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Islam menggalakkan penganutnya untuk sentiasa menjaga kebersihan, baik pada tubuh badan, pakaian dan lain-lain, lebih-lebih lagi ketika menunaikan ibadah seperti sembahyang. Bukan saja bersih daripada benda-benda najis malahan juga bersih daripada sebarang kekotoran. Pengertian kotor dan najis itu adalah berbeda pada pandangan syarak karena setiap yang kotor itu tidak semestinya najis dan setiap yang najis pula adalah kotor. Umpamanya pakaian yang terkena lumpur, kuah kari atau kopi adalah kotor tetapi ia tidak najis.

    Berbalik kepada tajuk di atas yaitu bulu binatang adakah ia najis ataupun tidak? Apabila dilihat perihal bulu di zaman sekarang, memang banyak dimanfaatkan oleh manusia seperti dijadikan pakaian, alas, perhiasan, berus dan sebagai nya. Masalah yang timbul adakah ia boleh digunakan ataupun tidak dan adakah sah sembahyang ketika memakainya.

    Bulu binatang itu ada yang datangnya daripada binatang yang halal dimakan dagingnya dan binatang yang tidak halal dimakan dagingnya. Binatang itu pula ada yang disembelih dan ada juga yang mati bukan karena disembelih (bangkai). Maka IRSYAD HUKUM kali ini meninjau lebih lanjut ketetapan hukum syarak mengenai perkara tersebut.

    Binatang Yang Halal Dimakan Dagingnya

    Bulu binatang yang halal dimakan seperti unta, lembu, kambing, arnab, ayam dan sebagainya, jika terpisah dari badannya sama ada dicabut, tercabut atau sebagainya ketika binatang itu hidup atau mati karena disembelih maka adalah ia suci (tidak najis). Firman Allah Subhanahu Wata’ala yang tafsirnya :

    “Dan (ia juga menjadikan bagi kamu) dari berjenis-jenis bulu binatang-binatang ternak itu, pelbagai perkakas rumah dan perhiasan (untuk kamu menggunakannya) hingga ke suatu masa.” (Surah An-Nahl ayat 80).

    Jika bulu binatang tersebut terpisah sesudah ia menjadi bangkai maka bulu binatang berkenaan adalah najis.

    Adapun anggota yang lain selain bulunya jika di potong atau dipisahkan dari badannya ketika binatang itu masih hidup ia dihukumkan sebagai bangkai, sebagaimana disebutkan dalam hadis daripada Abu Sa’id Al-Khudri Radiallahuanhu yang maksudnya :

    Bahwasanya Rasulullah Sallalahahu Alaihi Wasallam pernah ditanya mengenai potongan bonggol-bonggol unta dan ekor-ekor kambing. Baginda bersabda : “Apa yang dipotong daripada yang hidup adalah bangkai.” (Hadis riwawat Al-Hakim)

    Hadis ini ditakhshishkan oleh dalil Al-Quran yang telah disebutkan di atas di mana bulu bianatang yang halal dimakan itu jika terpisah ketika binatang itu hidup adalah suci. Demikian juga halnya dengan anggota yang terpisah daripada manusia, ikan atau belalang ia adalah suci.

    Binatang Yang Tidak Halal Dimakan Dagingnya

    Jika bulu binatang yang tidak halal dimakan seperti kucing, monyet, musang dan sebagainya, terpisah daripada badannya ketika binatang itu masih hidup, maka bulu tersebut adalah najis apatah lagi sesudah binatang tersebut mati. Demikianlah juga anggota-anggotanya yang lain jika bercerai daripada binatang itu adalah dikira bangkai. (Mughni Al-Muhtaj, Kitab Ath-Thaharah, Bab An-Najasah ayat 1/115).

    Syak Pada Kesucian Bulu Binatang

    Ada kalanya kita terjumpa bulu binatang dan kita tidak mengenali sama ada bulu binatang itu suci atau najis. Maka, jika terjadi syak, adakah bulu yang terpisah dari binatang itu datangnya dari yang suci ataupun yang najis, maka bulu itu di hukumkan suci karena menurut hukuman asal adalah suci, dan telah berlaku syak pada kenajisannya sedang hukum asal adalah tidak najis. (Mughni Al-Muhtaj, Kitab Ath-Thaharah, Bab An-Najasah ayat 1/115). Sebagai contoh baju yang diperbuat daripada bulu binatang sedang tidak diketahui sama ada bulu tersebut datangnya daripada binatang yang halal dimakan ataupun sebaliknya atau ia daripada binatang yang disembelih ataupun bangkai, maka dalam hal ini baju tersebut adalah suci.

    Bulu Pada Anggota Yang Terpotong

    Bulu yang ada pada anggota binatang yang tidak halal dimakan yang terpotong ketika binatang itu masih hidup adalah najis apatah lagi sesudah mati, seperti ekor kucing yang terpisah atau terpotong. Karena ekor yang terpotong itu bangkai, maka bulu yang ada pada ekor itu juga adalah najis.

    Demikian juga halnya dengan bulu yang ada pada anggota binatang yang halal dimakan yang terpotong ketika hidup ataupun mati tanpa disembelih adalah najis, seperti ekor kerbau yang berbulu dan terpisah atau terpotong. Karena ekor kerbau itu terpotong ketika ia hidup atau terpotong setelah ia mati bukan kerena disembelih adalah bangkai, maka bulu ekor itu juga adalah najis.

    Jika dicabut bulu binatang yang halal dimakan ketika hidup sehingga tercabut bersama-samanya akar bulu tersebut dan melekat padanya sesuatu yang basah daripada bulu itu seperti darah atau sebagainya, maka bulu itu mutanajjis (yang terkena najis atau bercampur najis). Akan tetapi ia boleh menjadi suci jika dibersihkan. (Mughni Al-Muhtaj, Kitab Ath-Thaharah, Bab An-Najasah ayat 1/115).

    Penggunaan Bulu Binatang

    Daripada penjelasan sebelum ini, mana-mana bulu yang dicabut daripada bangkai atau dicabut daripada binatang yang tidak boleh dimakan dagingnya adalah najis. Maka setiap penggunaan kesemua benda-benda yang najis, menurut pendapat yang sahih adalah tidak harus memanfaatkannya sama ada dibuat pakaian atau perhiasan di badan melainkan jika ada darurat. Sementara penggunaan selain daripada pakaian atau perhiasan badan adalah diharuskan jika najis itu bukan datangnya daripada anjing dan babi.

    Apa yang dimaksudkan dengan darurat itu ialah, seperti terjadinya peperangan yang mengejut atau takut atas terjadi sesuatu pada dirinya karena kepanasan atau kesejukan ataupun sebagainya, lalu tiada pakaian lain selain yang najis, maka harus dipakai pakaian itu karena darurat kecuali dipakai ketika sembahyang. (Mughni Al-Muhtaj, Kitab As-Shalah, Bab Ma Yukrah Lubsuhu Wa Ma La Yukrah, Fashal Fi At-Tahalli Bi Al-Fidhah ayat 4/387).

    Oleh karena itu, dapatlah difahami bahwa setiap penggunaan bulu binatang yang najis sama ada dijadikan pakaian atau perhiasan di badan adalah tidak diharuskan oleh syarak melainkan jika ada darurat.

    Hubungannya Dengan Sembahyang

    Menurut hukum syarak syarat sah mengerjakan sembahyang itu hendaklah bersih daripada segala najis baik pada pakaian, tubuh badan dan tempat sembahyang.

    Oleh itu, jika terdapat bulu binatang yang hukumkan najis pada pakaian atau badan maka sembahyang itu tidak sah karena menanggung sesuatu yang najis. Kecuali jika bulu yang najis itu sedikit, seperti sehelai atau dua helai, karena ia dimaafkan. Melainkan bulu anjing atau babi karena ia tetap najis walaupun hanya sedikit. (AL-Feqh Al-Islami Wa Adilatuh ayat 1/175).

    Apakah yang harus dilakukan oleh orang yang sedang sembahyang mendapati ada bulu najis pada pakaiannya? Menurut Ashhab Asy Syafi’e, apabila orang yang sedang sembahyang itu mendapati ada najis yang kering pada pakaian atau badannya, maka pada saat itu juga hendaklah dia mengibas najis tersebut. Jika dia mendapati najis yang basah pula hendaklah dia segera menanggalkan atau membersihkan pakaiannya yang bernajis itu tanpa menyentuh najis tersebut. Adapun jika dia tidak segera menanggalkan atau mengibas pakaian yang bernajis itu maka batal sembahyangnya.

    Pakaian yang terkena bulu yang najis hendaklah terlebih dahulu dibersihkan. Cara membersihkannya ialah jika bulu itu kering dan pakaian atau anggota badan yang tersentuh bulu itu juga kering adalah memadai dengan menanggalkan najis itu sama ada dengan mengibas, mengibar atau menyapunya. Adapun jika bulu itu basah ataupun pakaian atau anggota badan yang terkena najis itu saja yang basah maka hendaklah ditanggalkan najis itu dan dibersihkan dengan air yang suci disekitar yang terkena najis. (Fath Al-‘Allam, Kitab Ath-Thararah, Bab Izalah An-Najasah ayat 1/347).

    Oleh karena persoalan memakai pakaian daripada bulu itu adalah berkaitan dengan persoalan hukum najis, maka perlulah kita berhati-hati dalam memilih dan memanfaatkannya supaya pakaian yang dipilih itu diyakini diperbuat daripada bulu yang suci dan boleh kita guna pakai seperti ketika sembahyang dan sebagainya.

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: