Updates from Maret, 2020 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:32 am on 17 March 2020 Permalink | Balas  

    Syarat Maksiat 

    Syarat Maksiat

    Suatu hari seorang lelaki menemui Ibrahim bin Adham. Dia berkata, ‘Wahai Aba Ishak! Saya selalu melakukan maksiat, tolong berikan aku nasihat’.

    Ibrahim berkata, ‘Jika kamu mau menerima lima syarat dan mampu melaksanakannya, maka kamu boleh teruskan melakukan maksiat.’

    1. Jika kamu maksiat kepada Allah, jangan makan rezekiNya.” Lelaki itu seraya berkata, ‘Aku mau makan dari mana? Bukankah semua yang ada di bumi ini rezeki Allah? “Ya,” tegas Ibrahim bin Adham. “Kalau kamu sudah memahaminya, masih pantaskah memakan rezekinya, sementara kamu selalu berkeinginan melanggar larangan-Nya? “
    2. “Yang kedua,” kata Ibrahim, “kalau mau bermaksiat, jangan tinggal dibumi-Nya! Syarat ini membuat lelaki itu kaget setengah mati. Ibrahim kembali berkata kepadanya, “Wahai Abdullah, pikirkanlah, apakah kau layak memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sementara kamu melanggar segala larangan-Nya? ‘“’Ya, Anda benar,” kata lelaki itu.
    3. Dia kemudian menanyakan syarat yang ketiga. Ibrahim menjawab,”Kalau kamu masih mau bermaksiat, carilah tempat tersembunyi yang tidak dapat terlihat oleh-Nya!” Lelaki itu kembali terperanjat dan berkata, “Wahai Ibrahim, ini nasihat macam apa? Mana mungkin Allah tidak melihat kita? “Nah, kalau memang yakin demikian, apakah kamu masih berkeinginan berlaku maksiat?” kata Ibrahim. Lelaki itu mengangguk dan meminta syarat yang keempat.
    4. Ibrahim melanjutkan, “Kalau malaikat maut datang hendak mencabut rohmu,katakanlah kepadanya, ‘Mundurkan kematianku dulu. Aku masih mau bertobat dan melakukan amal saleh’.” Kembali lelaki itu menggelengkan kepala dan segera tersadar, “Wahai Ibrahim, mana mungkin malaikat maut akan memenuhi permohonanku? “Wahai Abdullah, kalau kamu sudah meyakini bahwa kamu tidak bisa menunda dan mengundurkan datangnya kematianmu, lalu bagaimana engkau bisa lari dari murka Allah?“Baiklah, apa syarat yang kelima?”
    5. Ibrahim pun menjawab, “Wahai Abdullah kalau malaikat Zabaniyah datang hendak menggiringmu ke api neraka di hari kiamat nanti, jangan engkau mau ikut bersamanya. ”Perkataan tersebut membuat lelaki itu tersadar. Dia berkata, “Wahai Aba Ishak, sudah pasti malaikat itu tidak membiarkan aku menolak kehendaknya. “ Dia tidak tahan lagi mendengar perkataan Ibrahim. Air matanya bercucuran. “Mulai saat ini aku bertobat kepada Allah,” katanya sambil terisak.
     
  • erva kurniawan 1:29 am on 16 March 2020 Permalink | Balas  

    Potensi Diri 

    Potensi Diri

    By: agussyafii

    Setiap Manusia memiliki potensi diri. Dalam bentuk fisik, intelektual, emosional dan spiritual yang berbeda-beda kapasitasnya. Ada orang yang sangat intelek, tetapi emosinya tidak stabil. Yang lain emosinya sangat terkendali tetapi intelektualitasnya kurang. Ada juga orang yang menonjol justeru potensi spiritualitasnya . Perilaku manusia dalam keseharian mencerminkan aktualitas dari potensi itu.

    Ada orang yang berwajah garang tetapi hatinya lembut, ada orang yang fisiknya kecil dan nampak lemah tetapi hatinya bergejolak penuh dengan kebencian dan dendam. Demikian juga halnya dengan corak cinta, ada seorang lelaki yang jika jatuh cinta kepada seorang wanita, ia merasa harus menguasai dan memonopoli secara total lahir batin, tidak boleh sedikitpun si wanita memiliki perhatian kepada selain dirinya. Ia sangat pecemburu, dan jika ia gagal memiliki wanita yang dicintainya itu maka ia memilih menghancurkan sang kekasih daripada harus melihat ia dimiliki oleh orang lain. Di sisi lain, ada seorang lelaki pecinta yang sangat penuh pengertian, ia sangat memaklumi dan sangat memaafkan atas kekurangan sang kekasih.

    Ia bukan saja tidak bermaksud menguasai tetapi justeru selalu ingin memberi kepada kekasihnya apa yang menjadi keinginannya, . Ia sangat berbahagia jika bisa memberikan kesenangan kepada kekasihnya, meski untuk itu ia menderita. Nah cinta itu ada di dalam hati. Hadis Nabi menyebutkan bahwa di dalam tubuh setiap manusia ada qalbu (hati) yang

    menjadi penentu kualitas manusia, jika qalbu nya baik maka seluruh ekpressinya baik, sebaliknya jika qalbu nya buruk maka buruk pula ekpressi orang itu. Orang suka berkata; dalamnya laut dapat di duga, dalamnya hati siapa yang tahu ?

    Isi hati manusia sungguh sangat sangat banyak dan beragam, diantaranaya adalah cinta. Dapat dipastikan bahwa tidak ada satupun keterangan yang obyektip tentang hati manusia yang berasal dari manusia, karena semua manusia bersifat subyektif, oleh karena itu keterangan yang paling obyektif tentang hati manusia hanya yang berasal dari sang Pencipta hati itu sendiri, yaitu Alloh SWT, dan keterangan itu ada di dalam kitab suci Al Quran.

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 15 March 2020 Permalink | Balas  

    Jangan Memanfaatkan Mereka 

    Jangan Memanfaatkan Mereka

    by: Meidy

    Kasus-kasus “memanfaatkan” anak yatim kadang terjadi, bila niatan pengurusnya telah bergeser. Sekilas ini wajar, mengingat mengurus anak-anak yg begitu banyak juga membutuhkan tenaga dan pikiran ekstra. Fenomena seperti ini sudah lazim terjadi di masyarakat kita. Kalau hal ini sudah terjadi tentu si pengurus tidak lagi bisa menjadi tempat bergantung bagi mereka.

    Apabila hal ini yang terjadi, maka berarti ada kegagalan dalam diri sipengurus, sekaligus lampu kuning dari Allah, bahwa ambang bencana bagi si pengurus yang bersangkutan sudah dekat. Ini musibah yang semestinya segera dikembalikan kepada niat semula. Adakah musibah kemanusiaan yang melebihi orang-orang yang melepaskan tanggung jawabnya terhadap anak-anak yatim??? Anak-anak yatim sudah nestapa, apakah harus ditambah lagi dengan derita pula? Bukankah Allah telah berfirman dalam surat adh-Dhuha : ” Dan terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang? ”

    “Sungguh orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu telah memakan api neraka sepenuh perutnya” (QS. an-Nisa:10)

    Kesewenang-wenangan terhadap alam dan lingkungan adalah dengan merusak kelangsungan ekosistemnya, sedangkan kesewenang -wenangan terhadap anak yatim berarti menelantarkan mereka dengan memperlakukan secara tidak adil.

    Sungguh keliru kalau ada pergeseran anggapan bahwa mengurus anak yatim adalah suatu kerugian karena tidak bisa melakukan aktivitas produktif lainnya.

    Coba tengok Halimah as-Sa’diyah, beliau adalah contoh “Ibu Panti” yang pertama. Berkat ketulusannya memelihara Si Yatim Muhammad, Halimah yang semula hidup serba pas-pasan, justru kemudian serba berkecukupan. Rezeki si yatim memang Allah sendiri yang menitipkannya kepada siapa yang memeliharanya dengan ketulusan hati. Adakah perlu bukti lain selain yang telah dicontohkan oleh manusia Agung Rasulullah ini untuk kita….???

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 14 March 2020 Permalink | Balas  

    Pemimpin 

    Pemimpin

    By: Prof. Dr. AChmad Mubarok MA

    Manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan antara yang satu dengan yang lain. Arti Masyarakat itu sendiri yang berasal dari bahasa Arab musyarakah adalah saling bersekutu. Jadi masyarakat adalah wujud dari kesepakatan umum bagaimana setiap warganya dijamin peluangnya untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam sistem masyarakat, diatur yang kecil tidak dizalimi oleh yang besar, yang lemah dijamin memperoleh keadilan, yang memiliki kelebihan dijamin penghargaannya. Masyarakat juga sepakat untuk memberikan perlindungan kepada hak-hak azazi manusia, fisiknya, hartanya, fikirannya, jiwanya dan keyakinannya. Untuk itulah maka masyarakat membangun tradisi, membangun kebudayaan, membangun institusi seperti negara dan bahkan membangun badan dunia seperti Persatuan Bangsa Bangsa (PBB).

    Cita-cita bangsa Indonesia dengan mendirikan negara Republik Indonesia misalnya, seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD 45 adalah untuk: (1) melindungi segenap warga negara, (2) hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh warganya, (3) menghargai kedaulatan rakyat, dan (4) berketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

    Manusia secara pribadi adalah makhluk yang di satu sisi berfikir positif dan menyukai kebaikan, tetapi di sisi lain terkadang berfikir negatif dan kemudian melakukan perbuatan yang bukan saja merusak dirinya tetapi juga merusak atau mengganggu orang lain. Perilaku manusia juga ada yang bersifat individual dan terkadang bersifat sosial. Ada orang yang secara pribadi adalah pendiam, penakut dan cenderung patuh, tetapi ketika ia menjadi bagian dari perilaku sosial yang bringas maka ia bisa berubah menjadi pemberani, nekad dan agresif, satu perilaku yang sangat berbeda dengan perilaku individualnya.

    Untuk menjamin terlaksananya kesepakatan sosial, maka masyarakat mengenal struktur pemimpin dan yang dipimpin. Pemimpin diberi kewenangan oleh orang banyak untuk mengorganisir dan mengatur strategi pencapaian tujuan, dan orang banyak harus membantu dan mentaati pemimpin yang telah disepakati. Manusia mengenal sistem kepemimpinan (leadership) pada setiap lapisan. Setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya (kullukum ra‘in). Kemudian suami adalah pemimpin dalam rumah tangga, lurah adalah pemimpin satu desa dan seterusnya Presiden adalah pemimpin dari satu negara. Tipologi pemimpin itu bermacam-macam, tetapi kontrak pemimpin dan yang dipimpin bersifat “universal”. Kepemimpinan akan efektif jika rakyat yang dipimpin merasa memperoleh sesuatu dari pemimpinnya; memperoleh rasa keadilan, rasa aman, dan bimbingan menuju masa depan yang menjanjikan. Oleh karena itu seorang pemimpin haruslah orang yang memiliki banyak kelebihan dibanding yang

    dipimpin, karena seorang pemimpin harus bisa memberi. Jika tiga hal itu tidak bisa diberikan oleh seorang pemimpin, maka kepemimpinannya tidak akan efektif. Jika kepemimpinan tidak efektif maka kesepakatan umum bermasyarakat akan rusak, tatanan kehidupan menjadi tidak tertib, dan masyarakat manusia yang semestinya berbudaya tinggi akan berubah menjadi kerumunan binatang yang saling menyerang, apa yang sekarang disebut sebagai anarki.

    Sebab-sebab terjadinya anarki

    Al Mawardi merumuskan sebab-sebab terjadinya anarki pada suatu masyarakat dengan kalimat yang sangat pendek tetapi jelas; La yashluhu al qaumu faudla la surata lahum, wala surata idza juhhaluluhum sadu. Artinya; Suatu bangsa tidak akan eksis jika masyarakatnya anarkis. Anarkisme terjadi karena mereka tidak memiliki tokoh teladan yang dapat dijadikan panutan dalam hidup sehari-hari. Dan masyarakat akan kehilangan panutan jika orang-orang yang menjadi pemimpin terdiri dari orang-orang bodoh. Kata juhhal tidak mesti berarti bodoh dengan IQ rendah, tetapi juga bermakna, orang pandai yang melakukan perbuatan bodoh, bisa karena egois, karena buruk akhlaknya atau karena keliru cara berfikirnya.

    Kekeliruan yang dilakukan oleh rakyat biasa, paling-paling hanya dicibirkan orang lain, tetapi kekeliruan dari seorang pemimpin (apalagi jika berulang kali dilakukan, karena kebodohannya) akan berdampak pada rusaknya tatanan sosial. Oleh karena itu periksalah seteliti mungkin sebelum mengangkat seseorang menjadi pemimpin. Wallahu a‘lam.

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 13 March 2020 Permalink | Balas  

    Air Mata Singa Padang Pasir 

    Air Mata Singa Padang Pasir

    Pernahkah anda membaca dalam riwayat akan Umar bin Khatab menangis? Umar bin Khatab terkenal gagah perkasa sehingga disegani lawan maupun kawan. Bahkan konon, dalam satu riwayat, Nabi menyebutkan kalau Syeitan pun amat segan dengan Umar sehingga kalau Umar lewat di suatu jalan, maka Syeitan pun menghindar lewat jalan yang lain. Terlepas dari kebenaran riwayat terakhir ini, yang jelas keperkasaan Umar sudah menjadi buah bibir di kalangan umat Islam. Karena itu kalau Umar sampai menangis tentulah itu menjadi peristiwa yang menakjubkan.

    Mengapa “singa padang pasir” ini sampai menangis?

    Umar pernah meminta izin menemui rasulullah. Ia mendapatkan beliau sedang berbaring di atas tikar yang sangat kasar. Sebagian tubuh beliau berada di atas tanah. Beliau hanya berbantal pelepah kurma yang keras. Aku ucapkan salam kepadanya dan duduk di dekatnya. Aku tidak sanggup menahan tangisku.

    Rasul yang mulia bertanya, “mengapa engkau menangis ya Umar?” Umar menjawab, “bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau, padahal Engkau ini Nabi Allah dan kekasih-Nya. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Sedangkan Kisra dan kaisar duduk di singgasana emas dan berbantalkan sutera”.

    Nabi berkata, “mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga; sebuah kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang yang bepergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya. ”

    Indah nian perumpamaan Nabi akan hubungan beliau dengan dunia ini. Dunia ini hanyalah tempat pemberhentian sementara, hanyalah tempat berteduh sejenak, untuk kemudian kita meneruskan perjalanan yang sesungguhnya.

    Ketika anda pergi ke Belanda, biasanya pesawat akan transit di Singapura. Atau anda pulang dari Saudi Arabia, biasanya pesawat anda mampir sejenak di Abu Dhabi. Anggap saja tempat transit itu, Singapura dan Abu Dhabi, merupakan dunia ini. Apakah ketika transit anda akan habiskan segala perbekalan anda? Apakah anda akan selamanya tinggal di tempat transit itu?

    Ketika anda sibuk shopping ternyata pesawat telah memanggil anda untuk segera meneruskan perjalanan anda. Ketika anda sedang terlena dan sibuk dengan dunia ini, tiba-tiba Allah memanggil anda pulang kembali ke sisi-Nya. Perbekalan anda sudah habis, tangan anda penuh dengan bungkusan dosa anda, lalu apa yang akan anda bawa nanti di padang Mahsyar. Sisakan kesenangan anda di dunia ini untuk bekal anda di akherat. Dalam tujuh hari seminggu, mengapa tak anda tahan segala nafsu, rasa lapar dan rasa haus paling tidak dua hari dalam seminggu. Lakukan ibadah puasa senin-kamis. Dalam dua puluh empat jam sehari, mengapa tak anda sisakan waktu barang satu-dua jam untuk sholat dan membaca al-Qur’an. Delapan jam waktu tidur kita….mengapa tak kita buang 15 menit saja untuk sholat tahajud.

    “Celupkan tanganmu ke dalam lautan,” saran Nabi ketika ada sahabat yang bertanya tentang perbedaan dunia dan akherat, “air yang ada di jarimu itulah dunia, sedangkan sisanya adalah akherat”

    Bersiaplah, untuk menyelam di “lautan akherat”. Siapa tahu Allah sebentar lagi akan memanggil kita,dan bila saat panggilan itu tiba, jangankan untuk beribadah, menangis pun kita tak akan punya waktu lagi.

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 12 March 2020 Permalink | Balas  

    Kapasitas Kejiwaan Pada Anak 

    Kapasitas Kejiwaan Pada Anak

    By: agussyafii

    Dalam konsep pendidikan Amalia, yang paling penting adalah memberikan tanggungjawab. Anak haruslah diberikan kesempatan untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawab untuk mengurus dirinya sendiri sebab itu bentuk pelatihan yang perlu pembiasaan agar kelak mereka menjadi manusia yang bertanggungjawab. Tentunya tugas dan tanggungjawab anak disesuaikan dengan kapasitas dirinya.

    Menurut Alquran, Allah menciptakan manusia baik individu maupun sosial, dari keadaan lemah, kemudian berproses menjadi kuat, dan kemudian lemah kembali (Q / 30:54). Kelemahan itu berupa keterbatasan fisik, psikis, intelektual, dan spiritual.

    Tiap orang memiliki kapasitas fisik, psikis, intelektual dan spiritual yang berbeda-beda. Deskripsinya sebagai berikut:

    1. Kelemahan fisik mewujud pada ketergantungan dengan unsur lain seperti makanan, minuman, istirahat, pengobatan dan lainnya, dan berujung pada kematian. Proses dari lemah menjadi kuat dan kembali menjadi lemah adalah hukum kehidupan yang juga dialami oleh tumbuh-tumbuhan, dari biji, bersemi, menjadi pohon, merindang, berbuah, kembali layu dan kering (Q / al Waqi’ah:63-70).
    2. Kelemahan dan keterbatasan psikis manusia mewujud dalam bentuk tidak mampu mengendalikan diri (tidak sabar), emosi, takut, terkejut, dan sedih. Alquran menyebutkan bahwa manusia diciptakan dengan memiliki keluh kesah dan kikir; jika ditimpa kesusahan ia mengeluh, jika ia memperoleh keberuntungan ia malah kikir (Q / 70:19-21). Jika sedang senang ia berpaling dan sombong, tetapi ketika sedang susah ia putus asa (Q / 17:83).
    3. Kelemahan intelektual mewujud pada keterbatasan pengetahuan manusia atas realitas. Ada manusia yang mampu memilah-milah banyak masalah, tetapi ada yang sangat terbatas; ada yang mampu melihat masalah untuk tiga-empat dimensi, tetapi ada yang hanya mampu melihat satu dimensi. Dalam surat Luqman disebutkan bahwa ada lima hal yang tidak bisa diketahui oleh intelektual manusia, yaitu:

    (1) Kapan terjadi hari kiamat;

    (2) Kapasitas hujan;

    (3) Masa depan janin manusia yang masih dalam kandungan; dan

    (4) Apa yang akan diperoleh di hari esok, dan (5) dimana manusia akan mati (Q / 31:34).

    Alquran juga menyebutkan bahwa manusia tidak akan mampu mengetahui ruh, karena ruh itu urusan Allah SWT dan manusia hanya diberi sedikit pengetahuan tentangnya, misalnya fenomena (Q / 17:85).

    1. Keterbatasan kekuatan spiritual mewujud dalam ketidak mampuan manusia memandang dimensi gaib, apa yang akan terjadi di masa depan, apa yang ada pada ilmu Allah (Q / Yunus:49) dan Q / al An’am:50). Dalam perspektif spiritualitas, seseorang bisa mencapai tingkat dekat dengan Allah hingga ia bisa melihat dengan “penglihatan” Allah, bisa mendengar dengan “telinga” Allah. Akan tetapi, spiritual adalah olah rasa. Oleh karena itu, hal ini merupakan pengalaman subjektif spiritual seorang muslim, kendati mereka justru merasakan sebagai hal yang paling objektif.

    Sebagaimana tersebut di atas, kapasitas setiap manusia, (fisik, psikis, intelektual, dan spiritual) kenyataannya berbeda-beda. Perbedaan kapasitas ini membawa implikasi kepada perbedaaan tanggung jawab dan bobot kewajiban. Sudah barang tentu tidak adil jika kewajiban manusia disamakan sementara kapasitas mereka berbeda-beda. Oleh karena itu, Alquran menyebutkan bahwa Allah tidak membebani kewajiban kepada seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya, la yukallifa Allah nafsan ila wus’aha (Q / 2:286). Allah tidak membebani kewajiban kepada seseorang kecuali sekadar apa yang telah Allah berikan kepadanya, la yukallifa Allah nafsan illa ma ataha (Q / 65:7). Orang juga tidak akan memikul dosa yang diperbuat orang lain, wala taziru waziratun wizra ukhra (Q / 6:164).

    Prinsip hubungan ini kemudian mewujud dalam hukum fiqh; dalam hal ini, orang yang sakit dibedakan keharusannya dengan orang sehat; orang miskin dibedakan kewajibannya dengan orang kaya; orang gila dibedakan dengan tanggung jawabnya dengan orang waras; anak kecil dibedakan tanggung jawabnya dengan orang dewasa; orang tidur dan orang lupa dibedakan tanggung jawabnya dengan orang jaga atau orang yang sadar; dan orang yang berbuat secara sengaja dibedakan dengan yang tidak sengaja.

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 11 March 2020 Permalink | Balas  

    Hubungan antara Taqwa dan Kemudahan Rezeki 

    Hubungan antara Taqwa dan Kemudahan Rezeki

    By: agussyafii

    Insan Mulia ketika menghadapi kesulitan dalam hidupnya niscaya berusaha mencari jalan pemecahannya (problem solving). Dalam hal ini ada yang tetap memperhatikan nilai-nilai moral, tetapi ada juga yang menghalalkan segala cara. Menurut Alquran, sesulit apapun keadaan, jika dalam pemecahan masalah itu mengikuti jalan takwa, niscaya Alloh SWT akan memberikan jalan keluar yang aman, dan bahkan ditanggung akan memperoleh rezeki dari jalan yang tidak diperhitungkan; wa man yattaqillah yaj’al lahu makhraja wa yarzuqhu min haytsu la yahtasib (Q / 65:2).

    Ayat ini berhubungan dengan problem keluarga. Dalam problem bangsa atau masyarakat luas, sumberdaya alam menjadi tidak relevan dengan kemakmuran, jumlah senjata menjadi tidak relevan dengan kelancaran pekerjaan. Menurut Alquran hal ini disebabkan dicabutnya keberkahan dari masyarakat atau bangsa itu.

    Berkah adalah terkumpulnya kebaikan ilahiyyah pada sesuatu, pada seseorang, pada suatu waktu, pada suatu tempat, sehinggga nikmat Alloh SWT terdayaguna secara optimal. Menurut Alquran, hilangnya keberkahan itu berkaitan dengan perilaku masyarakat yang tidak lagi mencerminkan iman dan taqwa adalah kejujuran, tanggung jawab, amanah dan keadilan. Jika nilai-nilai tersebut diabaikan oleh masyarakat maka sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan sumberdaya lainnya tidak akan fungsional bagi kesejahteraan hidup manusia.

    Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi; tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu; maka, kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 10 March 2020 Permalink | Balas  

    Halaqah dan Ilmu pengetahuan 

    Halaqah dan Ilmu pengetahuan

    By: agussyafii

    Istilah halaqah bukanlah sesuatu yang asing. Dalam bahasa Arab, halaqah artinya lingkaran, tetapi sebagai istilah, halaqah  digunakan untuk menyebut  sebuah forum atau majlis. Pada zaman klassik Islam, majlis pengajian Imam Ghazali misalnya juga disebut halaqah Imam Ghazali, dinisbahkan kepada bentuk dimana guru duduk di tengah dan murid-muridnya duduk melingkar di sekelilingnya.

    Bentuk halaqah juga diberlakukan di pesantren-pesantren salafi Jawa sebelum dikenal sistem kelas pada pengajian bandungan, dimana kyai duduk di tengah dan para santri duduk melingkari guru. Dalam konsep pendidikan salafi, belajar itu bukan transfer pengetahuan dari guru ke murid, tetapi lebih merupakan proses mencari berkah guru (tabarrukan) . Oleh karena itu masa belajar tidak dibatasi oleh jenjang-jenjang kelas hingga tammat, tetapi sepuas-puas murid hingga merasa memperoleh berkah ilmu dari sang guru.  tidaklah heran jika di pesantren ada murid yang menammatkan ngaji satu kitab hingga mengulang tiga kali, karena pada kali tammat pertama dan kedua rasanya belum memperoleh berkah kyai.

    Berkah itu sendiri artinya terdayagunanya anugerah Tuhan  secara optimal (al barakatu tajammu` al khair al ilahiy katajammu` al ma’ fi al birkati). Menurut paradigma pendidikan Islam klassik, ilmu itu bukan sekedar pengetahuan, tetapi juga bermakna cahaya ketuhanan, oleh karena itu, cahaya ketuhanan (ilmu yang membawa berkah) tidak mungkin dicapai oleh orang yang durhaka kepada Tuhan, seperti yang tertulis dalam kitab Ta`lim al Muta`alim; wa akhbarani bi anna al `ilma nurun- wa nurullahi la yuhda li`ashi.  Selanjutnya bagi santri yang dipandang sudah layak mengajarkan ilmu dari guru, diberi ijazah atau diijazahi oleh kyai. Ijazahnya bukan berujud selembar kertas, tetapi berupa  akad dimana dengan bersalaman guru membolehkan murid untuk mengajar. Kata ijazah itu sendiri berasal dari kata ajaza-yujizu- ijazatan artinya membolehkan atau perkenan, sama seperti konsep magister (guru) dalam tradisi keilmuan Eropa.

    Sejalan dengan perkembangan zaman, forum halaqah juga berkembang, bukan saja lingkaran dalam satu ruang, tetapi juga lingkaran pembaca (koran), lingkaran pemirsa (TV), lingkaran pendengar (radio) dan lingkaran pengunjung (internet).

    Al Qur’an banyak sekali mengingatkan manusia agar menggunakan akalnya untuk berfikir dan bertafakkur; afala tatafakkarun, afala ta`qilun, awala yatadabbarun. Manusia memang adalah hewan yang berfikir ( al insanu hayawanun nathiqun). Pada manusia, berfikir merupakan proses keempat setelah sensasi, persepsi dan memori yang mempengaruhi penafsiran terhadap suatu stimulus. Dalam berfikir orang melibatkan sensasi, persepsi dan memori sekaligus (istilah psikologi). Dalam kehidupan, berfikir diperlukan untuk (a) memecahkan masalah atau problem solving, (2) untuk mengambil keputusan, decision making, dan (3) untuk melahirkan sesuatu yang baru (creatifity) .

    Semakin tinggi ilmu seseorang maka semakin rumit cara berfikirnya. Ada orang yang hanya bisa melamun, ada yang berfikir tetapi tidak realistis, dan ada yang berfikir realistis, ada yang berfikir ngawur, ada yang berfikir nalar (dari kata Arab nadzara). Ada orang yang selalu berfikir (failasuf), ada orang yang hanya mau berfikir jika merasa perlu (tehnokrat), dan ada yang kadang-kadang saja berfikir (penganggur) .

    Orang pandai berfikir secara bersistem, misalnya berfikir deduktif (mengambil kesimpulan khusus dari pernyataan umum), atau sebaliknya berfikir induktip (mengambil kesimpulan  umum dari pernyataan khusus. Tetapi terkadang ada masalah yang tidak bisa dipecahkan dengan berfikir, maka bagi orang yang sangat pintar ia memakai metode yang disebut berfikir kreatip (creatip thinking).

    Berfikir kreatif adalah berfikir dengan menggunakan metode baru, konsep baru, penemuan baru, paradigma baru dan seni yang baru pula. Urgensi pemikiran kreatip bukan pada kebaruannya tetapi pada relefansinya dengan pemecahan masalah. Karena kebaruan dan tidak konvensional, maka orang yang kreatip sering tidak difahami oleh orang kebanyakan, tak jarang dianggap aneh atau bahkan dianggap gila (berfikir gila). Orang besar sering mengemukakan ide-ide gila karena jarak orang besar dengan orang gila memang sangat tipis. Proses berfikir kreatip itu melalui lima tahapan : (1) orienstasi, yakni merumuskan dan mengidentifikasi masalah.(2) preparasi, yakni mengumpulkan sebanyak mungkin informasi, (3) inkubasi, yaitu berhenti dulu, tidur dulu, cooling dawn dulu.(4) iluminasi, yakni mencari ilham, dan (5) verifikasi, yakni menguji dan menilai secara kritis.

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 9 March 2020 Permalink | Balas  

    Nasib Manusia 

    Nasib Manusia

    By: Prof. Dr. Achmad Mubarok MA

    Nasib manusia sering disebut dengan kalimat suratan nasib atau suratan tangan, atau suratan takdir, yang menggambarkan bahwa nasib manusia telah tertulis di lauh mahfudz sebagai takdir, dan manusia tak berdaya mengubahnya. Jika kita menengok al Qur’an maka kita jumpai bahwa penjelasan tentang takdir dan nasib itu tidaklah hitam putih, karena di satu sisi diungkapkan bahwa setiap peristiwa yang terjadi di alam raya hingga selembar daun yang jatuh pasti bertitik tolak dari kehendak Allah (qudrat iradat Allah) dan tidak terlepas dari kendali pengawasan Allah serta tersurat dalam ketetapan yang jelas (fi kitabin mubin).

    Sementara di sisi lain diungkapkan bahwa manusia memiliki daya pilih dan daya upaya, bebas menentukan perbuatannya dan mampu mempengaruhi masa depan dan nasibnya dan dapat pula mengubahnya sendiri. Al Qur’an surat al Kahfi ayat 29 misalnya memberi kebebasan memilih kepada manusia untuk beriman atau kafir, faman sya’a fal yu’min, waman sya’a fal yakfur.

    Dua pola ungkapan al Qur’an itu kemudian melahirkan pola-pola pemikiran yang berlainan. Pertama pola kepercayaan “Jabbbariah” yang mengata-kan bahwa nasib manusia telah ditentukan secara pasti dan tetap oleh Allah Yang Maha Pencipta dimana manusia tinggal menjalani ketentuan-ketentuan itu sepenuhnya tanpa daya pilih dan tanpa daya upaya.

    Pola kedua adalah kepercayaan “Qadariyah” yang mengatakan bahwa manusialah yang menentukan segala-galanya, nasibnya tergantung pada pilihan dan usahanya karena manusia memiliki kebebasan untuk menentukan kebebasannya. Pola ketiga disebut kepercayaan “Ahlussunnah wal Jamaah”, yang mengata-kan bahwa ada keterbatasan dalam diri manusia, sehingga daya pilih dan daya upaya yang dimilikinya menjadi tidak mutlak, sekalipun keduanya sangat penting artinya sebagai landasan taklif (penunaian tugas yang diamanatkan Allah kepada manusia).

    Kepercayaan yang benar tentang takdir itu adalah bagian dari ilmu yang utuh, yang mendorong manusia untuk bekerja keras, cermat dan tertib dengan segala daya dan dana yang ada padanya berdasarkan pilihannya yang timbul dari kesadaran akan amanah taklif yang diembannya untuk meningkatkan kualitas dirinya dalam menggapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Wallohu a‘lam.

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 8 March 2020 Permalink | Balas  

    Fitrah Kesucian Nafs 

    Fitrah Kesucian Nafs

    By: Prof. Dr. Achmad Mubarok MA

    Telah disebutkan dalam uraian sebelumnya bahwa pada dasarnya nafsu itu diciptakan Tuhan dalam keadaan sempurna (Q/91 : 7-8). Akan tetapi, ia dapat tercemar menjadi kotor jika tidak dijaga (Q/91: 9-10). Tentang Nafs yang masih suci disebutkan dalam surat Alkahfi/18 : 74, dalam rangkaian kisah Nabi Khidir yang teks ayatnya telah ditulis di bagian depan.

    Istilah zakiyyah pada ayat tersebut di atas (nafsan zakiyyatan) merupakan sifat dari nafs sehingga nafs zakiyyah artinya jiwa yang suci. Dalam konteks ayat tersebut, pemiliki nafs yang suci itu adalah anak kecil sebagaimana juga disebut dalam surat Maryam : 19 ghulâman zakiyyan. Jadi, nafs yang secara fitri masih suci adalah nafs dari anak yang belum mukallaf, yang dalam hhal ini belum berdosa.

    Fakhr ar Razi mengutip perbedaan makna dari kalimat zakiyyah dan zâkiyah. Sebagian Mufasir memandang sama arti kedua kalimat itu. Akan tetapi sebagian membedakannya, seperti Abu ‘Amr Ibn al ‘Ala. Menurutnya, nafs zâkiyyah (dengan alif) adalah jiwa yang suci secara fitri, yakni belum pernah melakukan dosa, sedang nafs zakiyyah adalah jiwa yang suci setelah melalui proses tazkiyyatan nafs dengan bertobat dari perbuatan dosa.

    Kesucian nafs bersifat manusiawi, maka kotornya pun bersifat maknawi. Seseorang dapat memelihara kesucian nafs-nya manakala ia konsisten dalam ketakwaan. Sebaliknya, nafs berubah menjadi kotor jika pemiliknya menempuh jalan dosa atau fujur. Surat Assyams/91 : 7-10 menyebutkan bahwa sungguh rugi orang yang telah mengotori jiwanya (wa qod khôba man dassâhâ) kata dassa berasal dari kata dassa-yadussu yang arti lughowinya menyembunyikan sesuatu di dalam sesuatu. Dalam konteks ayat ini, orang mengotori jiwanya dengan perbuatan

    dosa yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Oleh karena itu, sebagain mufasir berpendapat bahwa ayat Alquran ini (Q/91 : 10) berkenaan dengan nafs orang saleh yang melakukan kefasikan, bukan jiwa orang kafir. Pasalnya, orang saleh, meski ia melakukan dosa, tetapi ia malu dengan perbuatannya itu sehingga ia lakukan dengan cara sembunyi-sembunyi. Berbeda dengan orang kafir yang melakukannya dengan terang-terangan.

    Alquran mengisyaratkan bahwa jiwa yang tercemar masih dapat diusahakan untuk menjadi suci kembali, baik dengan usaha sendiri, memalui pendidikan atau karena anugerah dan rahmat Allah seperti yang diisyaratkan oleh surat Q/9 : 103, Q/3: 164.

    Artinya : Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Alkitab dan Alhikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan nabi) itu mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata (Q/3 : 164).

    Ayat Alquran tersebut mengisyaratkan bahwa orang yang sesat masih dimungkinkan untuk dibersihkan jiwanya. Usaha atau proses penyucian jiwa itu disebut tazkiyyat an nafs.

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 7 March 2020 Permalink | Balas  

    Waktu Shalat Adalah Mukjizat 

    Waktu Shalat Adalah Mukjizat

    Pernahkan Anda bertanya mengapa shalat lima waktu itu harus dikerjakan pada waktunya? Ternyata ada kaitannya dengan siklus energi tubuh kita.

    Siklus Enegi Tubuh Kita

    Sebuah penelitian yang dilakukan oleh para ilmuan, terutama di Jepang, Eropa, dan Amerika. Penelitian itu menyimpulkan bahwa energi tubuh manusia mengalami rotasi yang sangat teratur; naik dan turun, kemudian naik lagi, begitu seterusnya. Para ilmuan itu membagi siklus energi tubuh menjadi beberapa fase:

    • Fase peningkatan. Fase ini ditandai dengan bertambahnya semangat dan energi tubuh, sehingga tubuh terasa lebih energik, dan rasa percaya diri pun meningkat.
    • Fase penurunan. Pada fase ini seseorang akan merasa badan atau jiwanya penat. Karena itu, ia membutuhkan istirahat yang cukup.
    • Fase transisi. Fase ini merupakan masa negatif bagi energi tubuh manusia. Keadaan pada fase mirip dengan fase transisi dalam tidur ke jaga.

    Banyak studi akademis dan bukti yang ditunjukkan oleh pakar biologi di Cina, Eropa, dan Amerika membuktikan bahwa ritme energi tubuh manusia mencapai puncaknya dua kali dalam 24 jam, masing-masing terjadi setiap 12 jam. Derajat energi dan kebugaran tubuh manusia mencapai puncaknya secara bertahap sejak pukul 04.00. dan peningkatan energi tubuh juga terjadi pada pukul 16.00. Para ilmuan menegaskan bahwa energi tubuh manusia pada pukul 02.00 sama dengan energi tubuh pada pukul 14.00., tetapi kadarnya lebih rendah dari energi pada fase yang pertama. Maksudnya, puncak kekuatan dan kebugaran tubuh terjadi antara pukul 04.00 dan pukul 11.00. Peningkatan energi kembali berlangsung tubuh yang terjadi antara pukul 16.00 hingga pukul 18.00.

    Derajat terendah energi tubuh terjadi sekitar pukul 14.00 dan sekitar pukul 02.00, untuk kemudian Dan proses itu mulai pada pukul 04.00 hingga derajat energi tubuh mencapai puncak keseimbangannya pada sekitar pukul 10.00 atau 11.00., rentang waktu kurang lebih enam hingga tujuh jam. Tempo tersebut sudah sangat cukup untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup dengan berbagai jenis tugas dan pekerjaan. Selanjutnya derajat energi tubuh menurun secara bertahap sekitar pukul 14.00, saat tubuh kita sangat membutuhkan suplay energi dari makanan dan istirahat selama tidak kurang dari dua jam.

    Setelah itu energi dan kebugaran tubuh manusia akan kembali naik secara bertahap dan bisa menopang aktivitas selama tiga hingga empat jam. Namun energi tubuh pada pada fase yang kedua ini lebih rendak daripada energi tubuh pada pagi hari. Kemudian energi mulai menurun kembali secara bertahap sekitar pukul 20.00 atau pukul 21.00, untuk kemudian benar-benar menurun sekitar pukul 23.00 atau 24.00, yang mana tubuh sangat membutuhkan tidur dan istirahat, hingga kekuatan energi tubuh mencapai keseimbangan terendahnya pada pukul 01.00 atau 02.00, -saat tubuh membutuhkan pemenuhan kekuatan dan pembaruan sel-sel- kemudian kekuatan tubuh memulai siklus baru untuk hari berikutnya. Demikian seterusnya.

    Korelasinya dengan waktu shalat?

    • Waktu Shalat Subuh

    Pada masa ini energi tubuh manusia mulai meningkat secara bertahap. Ketika seorang muslim melaksanakan shalat subuh, berarti ia telah memulai hari itu dengan semangat yang tentu berpengaruh terhadap tubuh secara menyeluruh. Pengaruh itu nampak jelas setelah 1,5 atau 2 jam shalat subuh. Masa tersebut merupakan waktu yang telah ditentukan untuk memulai rutinitas harian. Dengan demikian, kondisi kita berada dalam kondisi yang fit, baik dari segi fisik, pikiran, maupun psikologis, yang tentu saja sangat berpengaruh terhadap kemampuan kita menunaikan tugas dan meningkatkan produktivitas perkerjaan kita.

    • Waktu Shalat Zuhur

    Pada pukul 10.00 atau 11.00 grafik energi tubuh akan mencapai puncak keseimbangannya, artinya tubuh berada dalam kondisi terbaik untuk menyelesaikan pekerjaan. Aktivitas selama seharian tentu saja melelahkan, sehingga tubuh perlu diistirahatkan agar setelah itu tubuh dapat kembali melaksanakan tugasnya secara maksimal. Waktu shalat Zuhur masuk ketika matahari sudah bergeser dari garis lurus dengan bumi. Di sinilah shalat Zuhur memainkan perannya untuk memenuhi kebutuhan istirahat itu dengan cara yang paling baik, pemenuhan dan memperbarui energi tubuh.

    • Waktu Shalat Ashar

    Setelah shalat Zuhur, energi tubuh mulai menurun secara bertahap, selama kurang lebih dua atau tiga jam. kemudian energi tubuh mulai meningkat secara bertahap ketika waktu shalat Ashar tiba. Ketika bayangan suatu benda separuh dari bayangannya. Alhasil melaksanakan shalat pada waktu ini bisa dikatakan sebagai warming up yang ideal untuk mendukung energi tubuh serta menjaga keseimbangannya untuk menyelsaikan tugas-tugas harian dengan baik dan maksimal.

    • Waktu Shalat Maghrib

    Setelah kurang lebih tiga jam setelah shalat Ashar, secara biologis pada masa ini grafik energi tubuh meningkat, tetapi peningkatannya lebih rendah daripada peningkatan yang dicapai pada pagi harinya. Oleh karena itu, masa ini khusus untuk menyelesaikan tugas yang belum rampung atau untuk melaksanakan aktivitas yang beragam. Sehingga, shalat Maghrib dilaksanakan, agar tubuh dapat beristirahat secara positif dan baik untuk memenuhi kekuatan dan menyuplai energi tubuh. Hal itu agar tubuh dapat melangsungkan aktivitas dengan energik dan menyenangkan.

    • Waktu Shalat Isya

    Pada waktu ini biasanya rutinitas harian sudah berakhir, dibarengi dengan menurunnya grafik energi tubuh. Dari sini kita bisa mengetahui urgensi shalat isya. Atau bisa diibaratkan sebagai cooling down dari seluruh kesibukan harian untuk kemudian menyudahi kepenatan fisik dan hati, reaksi serta tekanan psikologis agar seluruh tubuh betul-betul siap untuk menongsumsi hidangan makan malam dengan tenang, dan menyenangkan. Dengan demikian tubuh berada dalam kondisi terbaik dan bisa beristirahat/ tidur nyenyak samapai pagi hari untuk melaksanakan shalat subuh, sehingga tubuh berada dalam kondisi yang ideal untuk memulai rutinitas dengan energik dan mnyenangkan.

    ***

    (Dikutip dan diterjemahkan dari “ash-Shalah Riyadhatun Nafs wal Jasad”).

     
  • erva kurniawan 1:46 pm on 6 March 2020 Permalink | Balas  

    Larangan Makan dan Minum Sambil Berdiri 

    Larangan Makan dan Minum Sambil Berdiri

    Dari Anas dan Qatadah, Rasulullah saw bersabda:

    Sesungguhnya beliau melarang seseorang minum sambil berdiri, Qotadah berkata:”Bagaimana dengan makan?” beliau menjawab: “Itu lebih buruk lagi”. (HR. Muslim dan Turmidzi)

    bersabda Nabi dari Abu Hurairah,“Jangan kalian minum sambil berdiri ! Apabila kalian lupa, maka hendaknya ia muntahkan !” (HR. Muslim)

    Rahasia Medis

    Dr. Abdurrazzaq Al-Kailani berkata: “Minum dan makan sambil duduk, lebih sehat, lebih selamat, dan lebih sopan, karena apa yang diminum atau dimakan oleh seseorang akan berjalan pada dinding usus dengan perlahan dan lembut. Adapun minum sambil berdiri, maka ia akan menyebabkan jatuhnya cairan dengan keras ke dasar usus, menabraknya dengan keras, jika hal ini terjadi berulang-ulang dalam waktu lama maka akan menyebabkan melar dan jatuhnya usus, yang kemudian menyebabkan pernah sekali minum sambil disfungsi pencernaan. Adapun Rasulullah berdiri, maka itu dikarenakan ada sesuatu yang menghalangi beliau untuk duduk, seperti penuh sesaknya manusia pada tempat-tempat suci, bukan merupakan kebiasaan. Ingat hanya sekali karena darurat!

    Begitu pula makan sambil berjalan, sama sekali tidak sehat, tidak sopan, tidak etis dan tidak pernah dikenal dalam Islam dan kaum muslimin.

    Dr. brahim Al-Rawi melihat bahwa manusia pada saat berdiri, ia dalam keadaan tegang, organ keseimbangan dalam pusat saraf sedang bekerja keras, supaya mampu mempertahankan semua otot pada tubuhnya, sehingga bisa berdiri stabil dan dengan sempurna. Ini merupkan kerja yang sangat teliti yang melibatkan semua susunan syaraf dan otot secara bersamaan, yang menjadikan manusia tidak bisa mencapai ketenangan yang merupakan syarat tepenting pada saat makan dan minum. Ketenangan ini bisa dihasilkan pada saat duduk, dimana syaraf berada dalam keadaan tenang dan tidak tegang, sehingga sistem pencernaan dalam keadaan siap untuk menerima makanan dan minum dengan cara cepat.

    Dr. Al-rawi menekankan bahwa makanan dan minuman yang disantap pada saat berdiri, bisa berdampak pada refleksi saraf yang dilakukan oleh reaksi saraf kelana (saraf otak kesepuluh) yang banyak tersebar pada lapisan endotel yang mengelilingi usus.

    Refleksi ini apabila terjadi secara keras dan tiba-tiba, bisa menyebabkan tidak berfungsinya saraf (Vagal Inhibition) yang parah, untuk menghantarkan detak mematikan bagi jantung, sehingga menyebabkan pingsan atau mati mendadak.

    Begitu pula makan dan minum berdiri secara terus –menerus terbilang membahayakan dinding usus dan memungkinkan terjadinya luka pada lambung. Para dokter melihat bahwa luka pada lambung 95% terjadi pada tempat-tempat yang biasa bebenturan dengan makanan atau minuman yang masuk.

    Air yang masuk dengan cara duduk akan disaring oleh sfringer. Sfringer adalah suatu struktur maskuler (berotot) yang bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup. Setiap air yang kita minum akan disalurkan pada ‘pos-pos’ penyaringan yang berada di ginjal. Nah, jika kita minum berdiri air yang kita minum tanpa disaring lagi. Langsung menuju kandung kemih. Ketika langsung menuju kandung kemih, maka terjadi pengendapan disaluran ureter. Karena banyak limbah-limbah yang menyisa di ureter. Inilah yang bisa menyebabkan penyakit kristal ginjal. Salah satu penyakit ginjal yang berbahaya. Susah kencing itu penyebabnya.

    Sebagaimana kondisi keseimbangan pada saat berdiri disertai pengerutan otot pada tenggorokan yang menghalangi jalannya makanan ke usus secara mudah, dan terkadang menyebabkan rasa sakit yang sangat yang mengganggu fungsi pencernaan, dan seseorang bisa kehilangan rasa nyaman saat makan dan minum.

    Oleh karena itu marilah kita kembali hidup sehat dan sopan dengan kembali ke pada adab dan akhlak Islam, jauh dari sikap meniru-niru gaya orang-orang yang tidak mendapat hidayah Islam.

    Sumber: Qiblati edisi 04 tahun II. Judul: Larangan Minum sambil berdiri, Hal 16

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 1 March 2020 Permalink | Balas  

    Sayangnya ALLAH pada Wanita 

    Masya ALLAH ! Demikian sayangnya ALLAH pada wanita

    Kaum feminis bilang susah jadi wanita (baca: muslimah), lihat saja peraturan dibawah ini:

    1. Wanita auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak) dibanding lelaki
    2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya..
    3. Wanita saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding lelaki
    4. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki
    5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak
    6. Wanita wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat pada isterinya
    7. Talak terletak di tangan suami dan bukan isteri
    8. Wanita kurang dalam beribadat karena adanya masalah haid dan nifas yang tak ada pada lelaki

    Itu sebabnya mereka tidak henti-hentinya berpromosi untuk”MEMERDEKAKAN WANITA”

    Pernahkah kita lihat sebaliknya (kenyataannya) ?

    1. Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan di tempat teraman dan terbaik.Sudah pasti intan permata tidak akan dibiarkan terserak bukan? Itulah perbandingannya dengan seorang wanita
    2. Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada bapaknya?
    3. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi tahukah harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, sementara apabila lelaki menerima warisan, Ia perlu/wajib juga menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anak
    4. Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi tahukah bahwa setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini, dan tahukah jika ia mati karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya
    5. Di akhirat kelak, seorang lelaki akan mempertanggungjawab -kan terhadap 4 wanita, yaitu : isterinya,ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya. Artinya, bagi seorang wanita tanggung-jawabterha dapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki, yaitu : suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya
    6. Seorang wanita boleh memasuki pintu syurga melalui pintu surga yang mana saja yang disukainya, cukup dengan 4 syarat saja, yaitu : shalat 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat kepada suaminya dan menjaga kehormatannya
    7. Seorang lelaki wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi wanita jika taat akan suaminya, serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH, maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata

    Masya ALLAH ! Demikian sayangnya ALLAH pada wanita

    Ingat firman-Nya, bahwa mereka tidak akan berhenti melakukan segala upaya, sampai kita ikut / tunduk kepada cara-cara / peraturan buatan mereka (emansipasi Ala western)

    Yakinlah, bahwa sebagai dzat yang Maha Pencipta, yang menciptakan kita, maka sudah pasti Ia yang Maha Tahu akan manusia, sehingga segala hukumNya / peraturanNya, adalah YANG TERBAIK bagi manusia dibandingkan dengan segala peraturan/hukum buatan manusia

    Jagalah isterimu karena dia perhiasan, pakaian dan ladangmu, sebagaimana Rasulullah pernah mengajarkan agar kita (kaum lelaki) berbuat baik selalu (gently) terhadap isterimu

    Adalah sabda Rasulullah bahwa ketika kita memiliki dua atau lebih anak perempuan, mampu menjaga dan mengantarkannya menjadi muslimah Yang baik, maka surga adalah jaminannya (untuk anak laki2 berlaku kaidah yang berbeda)

    Berbahagialah wahai para muslimah. Jangan risau hanya untuk apresiasi absurd dan semu di dunia ini Tunaikan dan tegakkan kewajiban agamamu, niscaya surga menantimu..! !

     
    • LM Taufiqurrahman 2:01 am on 3 Maret 2020 Permalink

      Ass wr wb. Mas Erva, penulis artikel ini siapa ya. Kok tidak ditampilkan ??

    • LM Taufiqurrahman 2:45 am on 3 Maret 2020 Permalink

      Kami sudah tayangkan melalui laman https://www.timurmerdeka.com harap di koreksi. Terima kasih.

    • erva kurniawan 9:28 am on 3 Maret 2020 Permalink

      Waalaikum salam wr.wb
      Tulisan ini kami dapatkan dari grup eramuslim, kiriman Saudara Yayan Suryana kepada Saudari Lina Tusofiah, sedangkan siapa penulisnya tidak disampaikan, silahkan ditayangkan

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: