Updates from November, 2018 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 2:41 am on 30 November 2018 Permalink | Balas  

    Etika Bertamu 

    Etika Bertamu

    Untuk orang yang mengundang:

    • Hendaknya mengundang orang-orang yang bertaqwa, bukan orang yang fasiq. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah kamu bersahabat kecuali dengan seorang mu`min, dan jangan memakan makananmu kecuali orang yang bertaqwa”. (HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh Al-Albani).
    • Jangan hanya mengundang orang-orang kaya untuk jamuan dengan mengabaikan orang-orang fakir. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersbda: “Seburuk-buruk makanan adalah makanan pengantinan (walimah), karena yang diundang hanya orang-orang kaya tanpa orang-orang faqir.” (Muttafaq’alaih).
    • Undangan jamuan hendaknya tidak diniatkan berbangga-bangga dan berfoya-foya, akan tetapi niat untuk mengikuti sunnah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam dan membahagiakan teman-teman sahabat.
    • Tidak memaksa-maksakan diri untuk mengundang tamu. Di dalam hadits Anas Radhiallaahu anhu ia menuturkan: “Pada suatu ketika kami ada di sisi Umar, maka ia berkata: “Kami dilarang memaksa diri” (membuat diri sendiri repot).” (HR. Al-Bukhari)
    • Jangan anda membebani tamu untuk membantumu, karena hal ini bertentangan dengan kewibawaan.
    • Jangan kamu menampakkan kejemuan terhadap tamumu, tetapi tampakkanlah kegembiraan dengan kahadirannya, bermuka manis dan berbicara ramah.
    • Hendaklah segera menghidangkan makanan untuk tamu, karena yang demikian itu berarti menghormatinya.
    • Jangan tergesa-gesa untuk mengangkat makanan (hida-ngan) sebelum tamu selesai menikmati jamuan.
    • Disunnatkan mengantar tamu hingga di luar pintu rumah. Ini menunjukkan penerimaan tamu yang baik dan penuh perhatian.

    Bagi tamu :

    • Hendaknya memenuhi undangan dan tidak terlambat darinya kecuali ada udzur, karena hadits Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam mengatakan: “Barangsiapa yang diundang kepada walimah atau yang serupa, hendaklah ia memenuhinya”. (HR. Muslim).
    • Hendaknya tidak membedakan antara undangan orang fakir dengan undangan orang yang kaya, karena tidak memenuhi undangan orang faqir itu merupakan pukulan (cambuk) terhadap perasaannya.
    • Jangan tidak hadir sekalipun karena sedang berpuasa, tetapi hadirlah pada waktunya, karena hadits yang bersumber dari Jabir Shallallaahu alaihi wa Sallam menyebutkan bahwasanya Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda:”Barangsiapa yang diundang untuk jamuan sedangkan ia berpuasa, maka hendaklah ia menghadiri Jika ia suka makanlah dan jika tidak, tidaklah mengapa. (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al-Albani).
    • Jangan terlalu lama menunggu di saat bertamu karena ini memberatkan yang punya rumah juga jangan tergesa-gesa datang karena membuat yang punya rumah kaget sebelum semuanya siap.
    • Bertamu tidak boleh lebih dari tiga hari, kecuali kalau tuan rumah memaksa untuk tinggal lebih dari itu.
    • Hendaknya pulang dengan hati lapang dan memaafkan kekurang apa saja yang terjadi pada tuan rumah.
    • Hendaknya mendo`akan untuk orang yang mengundangnya seusai menyantap hidangannya. Dan di antara do`a yang ma’tsur adalah :

    “Orang yang berpuasa telah berbuka puasa padamu. dan orang-orang yang baik telah memakan makananmu dan para malaikan telah bershalawat untukmu”. (HR. Abu Daud, dishahihkan Al-Albani).

    “Ya Allah, ampunilah mereka, belas kasihilah mereka, berkahilah bagi mereka apa yang telah Engkau karunia-kan kepada mereka. Ya Allah, berilah makan orang yang telah memberi kami makan, dan berilah minum orang yang memberi kami minum”.

    [Taken From Kitab “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari” By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]

     
  • erva kurniawan 2:37 am on 29 November 2018 Permalink | Balas  

    Etika Makan dan Minum 

    Etika Makan dan Minum

    Berupaya untuk mencari makanan yang halal. Allah Shallallaahu alaihi wa Sallam berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu”. (Al-Baqarah: 172). Yang baik disini artinya adalah yang halal.

    Hendaklah makan dan minum yang kamu lakukan diniatkan agar bisa dapat beribadah kepada Allah, agar kamu mendapat pahala dari makan dan minummu itu.

    Hendaknya mencuci tangan sebelum makan jika tangan kamu kotor, dan begitu juga setelah makan untuk menghilangkan bekas makanan yang ada di tanganmu.

    Hendaklah kamu puas dan rela dengan makanan dan minuman yang ada, dan jangan sekali-kali mencelanya. Abu Hurairah Radhiallaahu anhu di dalam haditsnya menuturkan: “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam sama sekali tidak pernah mencela makanan. Apabila suka sesuatu ia makan dan jika tidak, maka ia tinggalkan”. (Muttafaq’alaih).

    Hendaknya jangan makan sambil bersandar atau dalam keadaan menyungkur. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda; “Aku tidak makan sedangkan aku menyandar”. (HR. al-Bukhari). Dan di dalam haditsnya, Ibnu Umar Radhiallaahu anhu menuturkan: “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah melarang dua tempat makan, yaitu duduk di meja tempat minum khamar dan makan sambil menyungkur”. (HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Al-Albani).

    Tidak makan dan minum dengan menggunakan bejana terbuat dari emas dan perak. Di dalam hadits Hudzaifah dinyatakan di antaranya bahwa Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “… dan janganlah kamu minum dengan menggunakan bejana terbuat dari emas dan perak, dan jangan pula kamu makan dengan piring yang terbuat darinya, karena keduanya untuk mereka (orang kafir) di dunia dan untuk kita di akhirat kelak”. (Muttafaq’alaih).

    Hendaknya memulai makanan dan minuman dengan membaca Bismillah dan diakhiri dengan Alhamdulillah. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seorang diantara kamu makan, hendaklah menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan jika lupa menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala pada awalnya maka hendaknya mengatakan : Bismillahi awwalihi wa akhirihi”. (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani). Adapun meng-akhirinya dengan Hamdalah, karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah sangat meridhai seorang hamba yang apabila telah makan suatu makanan ia memuji-Nya dan apabila minum minuman ia pun memuji-Nya”. (HR. Muslim).

    Hendaknya makan dengan tangan kanan dan dimulai dari yang ada di depanmu. Rasulllah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda Kepada Umar bin Salamah: “Wahai anak, sebutlah nama Allah dan makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah apa yang di depanmu. (Muttafaq’alaih).

    Disunnatkan makan dengan tiga jari dan menjilati jari-jari itu sesudahnya. Diriwayatkan dari Ka`ab bin Malik dari ayahnya, ia menuturkan: “Adalah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam makan dengan tiga jari dan ia menjilatinya sebelum mengelapnya”. (HR. Muslim).

    Disunnatkan mengambil makanan yang terjatuh dan membuang bagian yang kotor darinya lalu memakannya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila suapan makan seorang kamu jatuh hendaklah ia mengambilnya dan membuang bagian yang kotor, lalu makanlah ia dan jangan membiarkannya untuk syetan”. (HR. Muslim).

    Tidak meniup makan yang masih panas atau bernafas di saat minum. Hadits Ibnu Abbas menuturkan “Bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang bernafas pada bejana minuman atau meniupnya”. (HR. At-Turmudzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

    Tidak berlebih-lebihan di dalam makan dan minum. Karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Tiada tempat yang yang lebih buruk yang dipenuhi oleh seseorang daripada perutnya, cukuplah bagi seseorang beberapa suap saja untuk menegakkan tulang punggungnya; jikapun terpaksa, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minu-mannya dan sepertiga lagi untuk bernafas”. (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).

    Hendaknya pemilik makanan (tuan rumah) tidak melihat ke muka orang-orang yang sedang makan, namun seharusnya ia menundukkan pandangan matanya, karena hal tersebut dapat menyakiti perasaan mereka dan membuat mereka menjadi malu.

    Hendaknya kamu tidak memulai makan atau minum sedangkan di dalam majlis ada orang yang lebih berhak memulai, baik kerena ia lebih tua atau mempunyai kedudukan, karena hal tersebut bertentangan dengan etika.

    Jangan sekali-kali kamu melakukan perbuatan yang orang lain bisa merasa jijik, seperti mengirapkan tangan di bejana, atau kamu mendekatkan kepalamu kepada tempat makanan di saat makan, atau berbicara dengan nada-nada yang mengandung makna kotor dan menjijik-kan.

    Jangan minum langsung dari bibir bejana, berdasarkan hadits Ibnu Abbas beliau berkata, “Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang minum dari bibir bejana wadah air.” (HR. Al Bukhari)

    Disunnatkan minum sambil duduk, kecuali jika udzur, karena di dalam hadits Anas disebutkan “Bahwa sesungguhnya Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang minum sambil berdiri”. (HR. Muslim).

    ***

    [Taken From Kitab “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari” By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]

     
  • erva kurniawan 2:33 am on 28 November 2018 Permalink | Balas  

    Imam Besar Al-Azhar: Tidak Dibenarkan Mengkafirkan karena Beda Mazhab 

    Imam Besar Al-Azhar: Tidak Dibenarkan Mengkafirkan karena Beda Mazhab

    eramuslim – Seorang muslim tidak dibenarkan menganggap kafir muslim lainnya karena berbeda mazhab (aliran) dalam pelaksanaan detail ibadah. Demikian ditegaskan Imam Besar Al-Azhar Mesir.

    “Tidak seorangpun punya hak untuk memberi cap kafir kepada orang lain yang tidak menyatakan penentangan terhadap rukun-rukun Islam, yaitu iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan para Rasul,” kata Syaikh Muhammad Said Tanthawi dalam sebuah surat yang ditujukan kepada Pangeran Ghazi bin Muhammad, Penasehat Raja Yordania Abdullah II.

    Surat yang salinannya berhasil didapatkan IslamOnline.net, Rabu (1/6), ditulis sebagai tanggapan atas beberapa pertanyaan yang dilontarkan Pangeran Ghazi berkaitan dengan adanya fatwa yang menyatakan bahwa para pengikut Ibadhiyah, Zahiriyah, Ja’fariyah, Zaidiyah, Asy’ariyah dan Sufi adalah kafir.

    “Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa Muslim adalah siapa yang mengucapkan Tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan melaksanakan haji jika ia mampu. Setiap manusia yang melaksanakan hal itu dan tidak menentangnya adalah muslim,” lanjut Tanthawi.

    “Demikian demikian, kita tidak bisa mengatakan para pengikut aliran- aliran itu bukan muslim, karena kita semua tahu mereka mengucapkan syahadat dan melaksanakan rukun Islam yang lima. Dan kalau kita dapati perbedaan pada mereka dalam pelaksanaan rukun-rukun tersebut, itu hanya menyangkut masalah furu’ bukan masalah ushul,” simpulnya.

    Mengurai beberapa aliran dimaksud, Tanthawi mengatakan pengikut Asy’ari misalnya mengajak pengikutnya untuk mengikuti perkataan dan perilaku Nabi Muhammad SAW. Menyangkut aliran Sufi, ia mengatakan pada dasarnya adalah ajakan untuk beribadah, berlaku zuhud dan mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan.

    Terkait dengan otorisasi pengeluaran fatwa, menurut Tanthawi, dibutuhkan beberapa kualifikasi sehingga seseorang layak mengeluarkan fatwa. Syarat-syarat itu antara lain hafal dan memahami tafsir Al- Qur’an dan Hadist Rasul.

    “Di samping itu, ia juga harus menguasai ilmu Fiqh, mengetahui halal dan haram dan mengenal urusan kehidupan sehari-hari masyarakat. Seorang mufti ketika mengeluarkan fatwa harus diniatkan kepentingan publik, kebenaran, dan keadilan,” jelasnya lebih jauh.(ish/iol)

     
  • erva kurniawan 2:44 am on 27 November 2018 Permalink | Balas  

    Marah Dan Pengendalian Kemarahan (3/3) 

    Marah Dan Pengendalian Kemarahan (3/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Bagaimana Menghilangkan Sifat Marah.

    Sebenarnya seseorang itu tidak akan kekal menyintai atau menyukai sesuatu dan membenci sesuatu. Justeru itu dia tidak terlepas dari perasaan meradang dan marah. Selama mana sesuatu perkara itu bersesuaian dengannya atau menyalahinya, maka tidak boleh tidak sudah tentu dia menyukai apa yang bersesuaian dengannya dan membenci apa yang menyalahinya yang mana akan disusulinya dengan sifat marah. Sesungguhnya seseorang itu apabila diambil apa yang disukainya, sudah tentu dia akan marah dan apabila ditujukan kepadanya apa yang dibencinya, sudah pasti juga dia akan marah. Maka apa-apa yang disukai oleh seseorang itu terbahagi kepada tiga bahagian:.

    Pertama: Apa yang penting kepada seseorang amnya seperti makanan, tempat tinggal, pakaian dan kesihatan. Jadi sesiapa yang dipukul badannya, tidak boleh tidak pasti dia akan marah. Begitu juga apabila diambil pakaian yang menutup auratnya, sudah pasti dia akan marah.

    Kedua: Apa yang kurang penting bagi seseorang seperti kemegahan, harta banyak, dan binatang ternak. Semua yang tersebut ini adalah disukai menurut kesukaan.

    Ketiga: Hal yang mustahak pada sebahagian orang, tidak pada sebahagian orang yang lain seperti buku pada orang yang berilmu karena ia memerlukan buku itu lalu dia menyukainya, maka dia akan marah kepada orang yang membakar buku itu.

    Adapun bahagian yang pertama, maka latihan yang dilakukan untuk menghilangkan sifat marah tidaklah bererti untuk menghapuskan kemarahan sama sekali, akan tetapi untuk dia tidak mengikuti nafsu marahnya melainkan pada batas-batas yang dianjurkan oleh agama dan dipandang baik oleh akal.

    Jadi untuk mengalihkan kemarahan dari hati itu, mungkin tidak akan terjadi karena ia bukan kehendak tabiatnya, tetapi hanyalah untuk mengurangi sifat marahnya sahaja.

    Untuk bahagian yang ketiga, samalah keadaannya dengan yang pertama, karena apa yang menjadi satu dharuri atau kepentingan kepada seseorang, tidak dapat menghalangnya dari bersifat marah, lantaran orang lain tidak memerlukan kepentingan yang diambil daripadanya itu. Jadi latihan yang dilakukan, dapat melemah dan mengurangkan kemarahannya sehingga dia tidak merasa terlalu pedih di atas kehilangan sesuatu daripadanya dan dia dapat bersabar menerima apa yang telah berlaku.

    Sementara bahagian yang kedua pula, kemarahan mungkin dapat dihilangkan melalui latihan, karena kesukaannya terhadap sesuatu seperti harta yang banyak dapat dibuang apabila dia memahami bahawa kehidupan di dunia ini hanyalah sementara sahaja dan kehidupan di akhirat jua yang kekal abadi. Jadi dengan cara ini dia akan mencari harta di dunia ini mengikut kadar keperluan sahaja.

    Sebab-sebab Yang Menimbulkan Kemarahan.

    Sebab-sebab yang menimbulkan kemarahan itu ialah sifat megah diri, membanggakan diri, suka bersenda gurau, membuang masa bermain-main, mengejek, memalukan orang, suka bermusuhan, menyalahi janji, dan tamak. Semua sifat yang tersebut di atas adalah budi pekerti yang tercela pada agama, yang mana seseorang itu tidak akan terlepas dari mempunyai sifat marah apabila dia mempunyai sifat-sifat yang tersebut. Jadi untuk menghilangkan sebab-sebab yang menimbulkan sifat marah itu tadi, perlulah seseorang itu bersifat dengan sifat-sifat yang menjadi lawannya. Contohnya sifat megah diri, maka perlulah dia bersifat rendah diri untuk menjauhi sifat marah. Begitu juga sifat membanggakan diri, maka perlulah dia menganggap bahawa manusia itu sebenarnya adalah sama rata sahaja.

    Adapun sifat bersenda gurau yang menjadi sebab kepada kemarahan, dapat dihilangkan dengan menyibukkan diri dengan kepentingan-kepentingan agama. Begitu juga sikap membuang masa dengan bermain-main dapat dihilangkan dengan kesungguhan mencari keutamaan, dengan berperangai baik dan menimba pengetahuan agama yang dapat menjamin kebahagiaannya di akhirat kelak.

    Sifat mengejek pula dapat dihilangkan dengan sifat memuliakan, dan sifat memalukan orang dapat dihilangkan dengan bersifat menjaga lidah dari perkataan keji. Begitu juga sifat-sifat yang lain, semuanya dapat dihapuskan dengan bersifat dengan lawannya.

    Apabila sifat-sifat ini terhapus daripada diri seseorang, maka suci dan bersihlah dia dari sifat-sifat keji tersebut dan terlepaslah dia dari kemarahan yang ada pada dirinya.

    Kesan-kesan Marah Yang Dicela

    Sifat suka marah adalah suatu sifat yang dikeji dan suatu tabiat buruk. Jika seseorang itu menghambakan dirinya kepada sifat marah, nescaya terhasillah kesan-kesan yang memudharatkan dirinya sendiri khususnya dan masyarakat umumnya.

    Adapun kemudharatan terhadap dirinya, dapat diketahui apabila kita menggambarkan keadaan seseorang yang sedang marah. Raut wajahnya berubah, darahnya meluap, anggotanya menggeletar, urat-urat lehernya menegang, pergerakannya kelam kabut, percakapannya tidak jelas, lidahnya mudah mengeluarkan kata-kata keji, mengumpat, mengutuk dan kemungkinan mengeluarkan kata-kata haram yang boleh mengeluarkannya daripada Islam seperti lafadz kufur, mencela agama dan seumpamanya. Selain daripada itu, seseorang yang cepat marah itu akan melakukan tindakan-tindakan yang diluar dugaan yang berkemungkinan akan melibatkan kerugian harta dan kesakitan pada tubuh badan.

    Adapun kemudharatan terhadap masyarakat, ia melahirkan perasaan dengki di dalam diri dan menyembunyikan niat jahatnya terhadap seseorang. Ia boleh membawa kepada perbuatan menyakiti orang lain dan membenci serta merasa gembira apabila mereka ditimpa musibah. Seterusnya akan mencetuskan permusuhan dan kebencian di antara sesama manusia. Dengan itu juga, rosaklah kehidupan dan runtuhlah masyarakat.

    Ada seperkara lagi yang selalu kita lakukan ketika marah, padahal perkara itu amat membahayakan diri sendiri sebelum ia membahayakan diri orang lain. Mungkin kita menyedari bahawa perbuatan itu salah, tetapi oleh karena terlalu terpengaruh oleh marah tadi, sehingga kita tidak dapat menimbang lagi segala kata-kata yang diucapkan oleh lidah. Kata-kata itu seperti melaknati orang, menyundal-nyundalkan orang, mencelakakan orang dan sebagainya. Sebab jika kita menyebutkan kata-kata yang tidak senonoh itu kepada orang lain, seolah-olah kita telah menuduhnya dengan ucapan kita itu. Andaikata apa yang diucapkan itu memang benar, nescaya kita telah melanggar perintah menyuruh kita menutup segala keaiban orang lain. Orang yang mendedahkan keaiban saudaranya adalah berdosa besar di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala sekalipun perkara yang dituduhnya itu memang benar. Apatah lagi jika tidak benar, maka dosanya akan bertimpa-timpa lagi.

    Ada setengah ulama menganggap ucapan-ucapan seperti “sial”, “laknat”, “celaka” dan seumpamanya sebagai doa, karena ada sebuah hadith daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang melarang perbuatan seperti itu. Sebab dikhuatiri, jika ucapan itu berkebetulan dengan masa pengabulan doa dan permintaan, nescaya bencana ucapan itu akan menimpa orang yang ditujukan ucapan itu, kiranya dia memang patut menerima bencana itu pada ukuran Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tetapi kiranya dia tidak patut menerimanya, maka bencana itu akan kembali menimpa ke atas orang yang menujukan ucapan itu.

    Diriwayatkan dari Jabir Radhiallahu ‘anhu, dia berkata: “Suatu masa kami bersama-sama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang menuju ke medan perang, tiba-tiba ada seorang Anshar merasa tidak selesa terhadap binatang kenderaannya, lalu dia menyumpah-nyumpah binatang itu: Jalanlah, laknat! Maka Baginda marah kepada orang Anshar itu lalu bersabda: Turunlah dari binatang itu! Jangan engkau biarkan ia ikut bersama-sama kita, karena ia telah mendapat laknat. Kemudian Baginda bersabda lagi: Janganlah engkau mendoakan (kecelakaan) ke atas dirimu atau ke atas anak-anakmu atau ke atas harta bendamu, karena dikhuatiri bertepatan pada saat doa mustajab, di mana setiap hamba yang memohon (berdoa) sesuatu dari Tuhan akan dikabulkan”.

    Bagaimana Mengendalikan Marah.

    Sebenarnya penyakit marah yang dicela itu boleh diubati dengan dua perkara iaitu dengan ilmu dan amal.

    Mengobati marah dengan ilmu itu ada enam perkara:

    Pertama: Dengan bertafakkur memikirkan kisah-kisah teladan yang menyentuh tentang buruk baiknya bersifat marah, berfikir tentang keutamaan menahan kemarahan, memberi maaf dan berlemah lembut. Dengan cara ini, akan menjadikannya gemar dan suka kepada pahala yang bakal diperolehinya dari menghiasi diri dengan sifat-sifat tadi. Seterusnya dapat mencegahnya dari bersifat marah.

    Kedua: Dengan cara seseorang itu menakutkan dirinya kepada siksaan Allah dengan bekepercayaan bahawa kekuasaan Allah ke atas dirinya lebih besar dari kekuasaannya ke atas manusia lain.

    Ketiga: Dengan mengingatkan diri akan akibat permusuhan dan pembalasan dendam.

    Keempat: Dengan berfikir tentang bentuk buruk dirinya ketika dia marah dan berfikir tentang betapa kejinya sifat marah itu.

    Kelima: Dengan berfikir tentang sebab yang membawanya kepada kemarahan.

    Keenam: Dengan menyedari bahawa kemarahannya adalah berpunca dari sikap membanggakan diri sendiri yang tidak sesuai dengan kehendak Allah.

    Sementara itu mengobati marah dengan amal perbuatan pula di antaranya ialah:

    Dengan membaca:

    yang bererti: “Aku berlindung kepada Allah daripada syaitan yang kena rejam”.

    Inilah ayat yang disuruh baca oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika marah.

    Begitu juga sunat dibaca doa ini ketika marah:

    Ertinya: “Wahai Tuhanku, Tuhan nabi Muhammad, ampunilah dosaku, hilangkanlah kemarahan hatiku dan lepaskanlah aku dari fitnah-fitnah yang menyesatkan”.

    Jika kemarahan itu tidak hilang dengan membaca yang demikian, maka hendaklah seseorang itu duduk jika dia marah dalam keadaan dia berdiri, dan berbaring jika dia marah dalam keadaan dia sedang duduk, dan dekatkanlah diri dengan bumi, yang mana dari bumi itulah dia dijadikan dan agar dia tahu akan kehinaan dirinya. Kemudian carilah dengan duduk dan berbaring itu ketenangan.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Ingatlah sesungguhnya marah itu adalah bara api di dalam hati anak Adam. Tidakkah engkau melihat kepada kedua matanya yang merah dan urat-urat lehernya yang membengkak? Apabila salah seorang kamu mengalami yang demikian, maka hendaklah dia menlekatkan dirinya ke bumi “.

    (Hadith riwayat At-Tirmidzi)

    dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Apabila seseorang di antara kamu marah dan dia sedang berdiri, maka hendaklah dia duduk, sesungguhnya yang demikian itu akan menghilangkan marahnya, dan jika tidak maka hendaklah di berbaring”

    (Hadith riwayat Abu Daud)

    Selain daripada itu, cara menghilangkan penyakit marah itu juga ialah dengan mendiamkan diri, Rasululullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Apabila seseorang di antara kamu marah, maka hendaklah dia diam”.

    (Hadith riwayat Ahmad)

    Oleh karena kesan-kesan yang tercela yang ditimbulkan oleh sifat marah itu, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menganjurkan kepada umat manusia supaya jangan suka marah, sebab marah itu tidak akan mendatangkan apa-apa yang baik kepada diri, malah ia akan menyebabkan berbagai-bagai bencana, terutama sekali bila perasaan marah itu diletakkan bukan pada tempatnya.

    Selain itu, orang yang suka marah itu sering ditunggangi oleh syaitan yang memaksakan kehendaknya ke atas orang yang marah itu. Manakala orang yang menurut kehendak syaitan itu tidak akan selamat di dunia dan di akhirat.

    WALLOHU A’LAM BIS-SHAWAB

     
  • erva kurniawan 2:40 am on 26 November 2018 Permalink | Balas  

    Marah Dan Pengendalian Kemarahan (2/3) 

    Marah Dan Pengendalian Kemarahan (2/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Kesan-kesan Marah Dalam Tindakan Orang Marah.

    Kebanyakan ulama Fiqh berpendapat bahawa orang yang marah dipertanggungjawabkan segala perbuatannya semasa dia marah, dan diambil kira apa-apa saja perbuatan yang lahir daripadanya, seperti perbuatan yang menyebabkannya menjadi kafir, membunuh orang, mengambil harta orang lain tanpa hak, talak dan sebagainya. Mereka berhujjah dengan bersandarkan kepada beberapa dalil, di antaranya:

    Hadith Khaulah binti Tha’labah, isteri kepada Aus bin Ash-Shamit ada menyebutkan: “Suaminya telah marah lalu dia menzhiharkannya, maka dia (Khaulah) pun pergi berjumpa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam lalu memberitahu kepada Baginda perkara itu dan berkata:

    “Dia tidak bermaksud untuk menthalaqku”.

    Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    “Aku tidak tahu melainkan engkau sebenarnya telah menjadi haram ke atasnya”.

    Di dalam hadith ini Allah telah menjadikan thalaq sebagai zhihar, dan thalaq itu jatuh walaupun diucapkan dalam keadaan marah. Akan tetapi jika seseorang itu marah sehingga dia pitam maka tidak berlaku thalaq kerana hilang akalnya. Dalam keadaan ini dia menyerupai orang gila yang mana tidak jatuh thalaq yang lahir dari seorang gila.

    Oleh yang demikian, sekiranya seorang manusia yang berada dalam keadaan marah merosakkan sesuatu yang berharga kepunyaan orang lain, maka harta tersebut berada di bawah jaminannya dan dia hendaklah membayar ganti rugi hasil daripada perbuatannya itu. Lain-lain contoh di antaranya:

    • Sekiranya dia membunuh seseorang dengan sengaja, maka dia dikenakan qishash.
    • Sekiranya dia melafadzkan lafadz kekufuran, maka dia dihukum murtad sehinggalah dia bertaubat.
    • Sekiranya dia bersumpah untuk melakukan sesuatu, maka sumpahnya mestilah dilaksanakan (sah sumpahnya).
    • Sekiranya dia menthalaq isterinya, maka jatuh thalaqnya itu.

    Menahan Diri Daripada Marah.

    Seorang ulama fiqh, Nur bin Muhammad berkata: Seorang muslim hendaklah bersifat lemah lembut dan sabar kerana ia adalah salah satu sifat orang-orang bertaqwa. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memuji orang-orang yang bersifat lemah lembut dengan firmanNya yang tafsirnya :

    “Dalam pada itu (ingatlah), orang yang bersabar dan memaafkan (kesalahan orang terhadapnya), sesungguhnya yang demikian itu adalah dari perkara yang dikehendaki diambil berat (melakukannya)”.

    (Surah Asy-Syura: 43)

    Ayat ini memberi maksud bahawa orang-orang yang sabar di atas kezaliman yang dilakukan ke atasnya dan dia memaafkan orang yang menzaliminya itu akan mendapat pahala dan ganjaran yang amat besar daripada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga telah memerintahkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam supaya bersifat sabar dan lemah lembut dan Allah mengkhabarkan kepada Baginda bahawa nabi-nabi yang terdahulu sebelum Baginda adalah orang-orang yang memiliki sifat demikian. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang tafsirnya :

    “(Jika demikian akibat orang-orang kafir yang menentangmu wahai Muhammad), maka bersabarlah engkau sebagaimana sabarnya rasul-rasul (Ulul-Azmi) dari kalangan rasul-rasul (yang terdahulu daripadamu)”.

    (Surah al-Ahqaaf: 35)

    Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memerintahkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam supaya bersifat sabar di atas pembohongan orang-orang kafir dan di atas penyiksaan mereka sebagaimana bersabarnya para nabi sebelum Baginda.

    Sementara itu ada hadith-hadith Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan tentang kelebihan orang-orang yang dapat menahan kemarahannya, di antaranya sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Bukanlah orang yang kuat itu (dinilai) dengan (kekuatan) dalam pergelutan, sesungguhnya orang yang kuat ialah orang yang dapat menguasai dirinya ketika marah”.

    (Hadith riwayat Al-Bukhari)

    Di dalam hadith yang lain ada menyebutkan yang maksudnya :

    “Sesungguhnya seorang lelaki telah berkata kepada nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Berpesanlah kepadaku”. Nabi bersabda: “Jangan marah!”. Kemudian orang tadi mengulangi lagi, lalu Baginda menjawab: “Jangan marah!”.

    (Hadith riwayat Al-Bukhari)

    Wahab bin Munabbih menceritakan bahawa syaitan mahu menyesatkan seorang ahli ibadat Bani Israel, akan tetapi syaitan itu tidak berjaya. Pada satu hari ahli ibadat ini keluar dari rumahnya kerana sesuatu keperluan. Lalu syaitan pun keluar bersamanya agar dia dapat peluang untuk menyesatkannya. Syaitan berusaha menyesatkannya dalam bentuk godaan syahwat dengan cara membuatnya marah, tetapi tidak berjaya lalu dia mencuba lagi dengan cara menakut-nakutkannya iaitu dengan menggugurkan batu dari bukit. Apabila batu itu hampir mengenai ahli ibadat itu, dia pun berzikir mengingati Allah, lalu batu itu pun menyingkir daripadanya. Kemudian syaitan menjelma menjadi singa, lalu ahli ibadat itu berzikir mengingati Allah dan dia tidak takut kepada binatang buas itu. Kemudian syaitan menjelma pula menjadi ular ketika ahli ibadat itu sedang sembahyang. Ular itu melilit kaki dan badannya sehingga ke kepalanya. Apabila ahli ibadat itu hendak sujud, ular itu berlingkar di mukanya dan apabila dia hendak meletakkan kepalanya untuk sujud, ular itu membuka mulutnya untuk menelan kepalanya. Lalu ahli ibadat itu pun miring ke tempat lain untuk membolehkannya sujud. Apabila ahli ibadat itu selesai sembahyang dan beredar dari tempatnya, maka syaitan menemuinya dan berkata:

    “Aku telah melakukan itu dan ini tapi aku tidak berjaya memperdayakanmu, maka mulai sekarang aku mahu menjadi sahabatmu dan aku tidak akan menyesatkanmu”.

    Maka ahli ibadat pun menjawab:

    “Sebagaimana aku tidak mahu bersahabat denganmu semasa engkau menakut-nakutkan aku, begitu jugalah hari ini aku tidak ingin bersahabat denganmu”.

    Lalu syaitan pun berkata:

    “Tidakkah engkau mahu bertanya kepadaku tentang keadaan ahli keluargamu sesudahmu?”.

    Ahli ibadat menjawab:

    “Aku telah mati sebelum mereka”.

    Kemudian syaitan berkata:

    “Tidakkah engkau mahu bertanya padaku tentang bagaimana cara aku menyesatkan anak-anak Adam?”.

    Ahli ibadat menjawab:

    “Ya, khabarkanlah tentang cara bagaimana engkau menyesatkan anak-anak Adam”.

    Syaitan berkata:

    “Dengan tiga perkara: Bakhil, marah dan mabuk.

    • Sesungguhnya seseorang manusia itu jika bakhil, aku sedikitkan hartanya pada pandangan matanya, maka dengan cara ini akan menahannya dari mengeluarkan hak-hak yang wajib dikeluarkannya dan menjadikannya suka kepada harta orang lain.
    • Jika seseorang itu marah, kami akan memutar-mutarkannya di antara sesama kami sebagaimana seorang kanak-kanak memutar-mutarkan bola di antara sesama mereka. Meskipun dia boleh menghidupkan orang mati dengan doanya nescaya kami tidak akan berputus asa daripada menggodanya, sesungguhnya dia dibangunkan dan dihancurkan dengan satu perkataan sahaja.
    • Jika dia mabuk kami akan memimpinnya kepada semua kejahatan seperti mana dipimpin seekor kambing melalui telinganya menurut sesuka hati kami.

    Hasil daripada cerita ini, syaitan telah memberitahu ahli ibadat itu bahawa orang yang marah sesungguhnya dia berada di tangan syaitan seperti bola berada di tangan kanak-kanak. Jadi syaitan dengan sewenang-wenangnya dapat mempermain-mainkan orang yang sedang marah tadi. Maka disarankanlah pada orang-orang yang marah supaya agar bersabar supaya dia tidak menjadi tawanan syaitan dan supaya tidak hangus amalannya.

    Diriwayatkan juga bahawa iblis telah menjumpai Nabi Musa ‘alaihissalam lalu dia berkata:

    “Engkau telah dipilih untuk menyampaikan risalah Tuhanmu dan Dia telah bercakap-cakap denganmu, sesungguhnya aku adalah salah satu daripada makhlukNya, aku mahu bertaubat kepada Tuhanmu, maka engkau mohonlah kepadaNya supaya Dia mengampunkanku”.

    Nabi Musa pun gembira apabila mendengar permintaan iblis itu, lalu dia pun meminta air kemudian berwudhu dan seterusnya bersembahyang. Kemudian dia berkata:

    “Sesungguhnya iblis salah satu daripada makhlukMu memohon keampunan daripadaMu, maka ampunkanlah dia”.

    Lalu Allah berfirman kepada nabi Musa:

    “Wahai Musa sesungguhnya dia tidak bertaubat”.

    Kemudian nabi Musa berkata:

    “Wahai Tuhanku memang benar dia mahu bertaubat”.

    Maka Allah pun menurunkan wahyu kepada nabi Musa:

    “Sesungguhnya Aku mendengar permohonanmu wahai Musa, suruhlah dia (iblis) bersujud di kubur nabi Adam, nescaya aku akan mengampunkannya”.

    Maka nabi Musa pun balik dengan gembira dan memberitahu kepada iblis perkara itu. Iblis menjadi marah dan sombong lalu berkata:

    “Aku tidak sekali-kali sujud kepadanya semasa dia hidup, adakah patut aku sujud sesudah dia mati! Wahai Musa sesungguhnya engkau mempunyai hak ke atasku dengan pertolongan yang engkau berikan kepadaku, maka aku wasiatkan kepadamu dengan tiga perkara:

    “Ingatlah aku ketika melakukan tiga perkara:

    • Ingatlah aku ketika engkau marah, sesungguhnya aku berada di dalam hatimu mengikut mengalirnya darah di pembuluh darah
    • dan ingatlah aku ketika menemui musuh di dalam pertempuran, sesungguhnya aku ketika seseorang itu menemui musuh, aku akan mengingatkannya kepada isteri, keluarga, harta dan anaknya sehingga dia berpatah balik dari pertempuran
    • dan jauhilah dari mendampingi perempuan yang bukan mahram, kerana sesungguhnya aku adalah utusannya kepadamu dan utusanmu kepadanya”.

    Adalah diriwayatkan juga daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bahawa: “Apabila pecah gigi depan Baginda semasa perang Uhud, sahabat merasa geram dan kesal dengan keadaan Baginda itu lalu mereka berkata:

    “Wahai Rasulullah, jika engkau memohon kepada Allah untuk membalas mereka dan dengan apa yang mereka lakukan ke atasmu, bagaimana pendapatmu?”.

    Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    “Sesungguhnya aku tidak diutus untuk menjadi seorang pelaknat, tetapi aku diutus sebagai seorang pendakwah dan pembawa rahmat. Wahai Tuhanku, berikanlah hidayatMu kepada kaumku, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui”.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesiapa yang menahan lidahnya dari menjatuhkan maruah orang-orang Islam, nescaya Allah akan membatalkan kejatuhannya pada hari kiamat, dan sesiapa yang menahan kemarahannya, nescaya Allah akan menghentikan kemurkaanNya kepadanya pada hari kiamat”.

     
  • erva kurniawan 2:39 am on 25 November 2018 Permalink | Balas  

    Marah Dan Pengendalian Kemarahan (1/3) 

    Marah Dan Pengendalian Kemarahan (1/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Marah itu adalah satu perubahan sikap yang terhasil ketika menggelegaknya darah di dalam hati untuk menghasilkan kelegaan dalam dada. Demikian pendapat Al-Jurjani. Marah memberi erti juga, menghendaki kemudharatan kepada orang yang dimarahi. Maka lawan marah itu ialah redha.

    Hakikat Marah.

    Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan sifat marah itu dari api dan menjadikannya sebagai salah satu tabiat bagi manusia. Apabila terhalang salah satu hajat atau maksud seseorang, nescaya menyalalah api kemarahannya yang menjadikan darah hatinya mendidih lalu mengalir kepada saraf dan menggelegak ke bahagian sebelah atas badannya sebagaimana menggelegaknya api dan sebagaimana menggelegaknya air yang dipanaskan di dalam periuk. Lalu muka dan matanya menjadi merah, sementara di sebalik kulitnya membayangkan warna merah.

    Sesungguhnya marah itu akan mengembang apabila seseorang memarahi orang di bawahnya dan merasa berkuasa terhadap orang itu. Jikalau marah itu timbul terhadap orang yang di atasnya dan dia berputus asa untuk membalas dendam, nescaya terjadilah kekecutan darah dari permukaan kulit sampai ke rongga hati dan dia menjadi gundah gulana.

    Jikalau kemarahan itu terjadi terhadap orang yang sebanding atau setaraf dengannya, nescaya darah itu bertukar-ganti di antara mengecut dan mengembang.

    Adapun kekuatan marah itu tempatnya adalah di hati. Ertinya darah hati menggelegak untuk menuntut balas, dan kekuatan marah itu digunakan untuk menolak apa yang menyakitkan hatinya sebelum marahnya terjadi dan untuk menyembuhkan dan menuntut balas sesudah marahnya terjadi. Menuntut balas adalah makanan kekuatan tersebut dan keinginannya, kerana dengan menuntut balas akan terhasil kelegaannya, dan dia tidak akan tenteram melainkan dengan menuntut balas atau membalas dendam.

    Kemudian sesungguhnya manusia itu dalam kekuatan marah ini terbahagi pada tiga peringkat iaitu:

    1. Tafrith (ketiadaan sifat marah).
    2. Ifrath (sifat marah yang melampau).
    3. I’tidal (pertengahan antara marah dan tidak marah).

    Maksud tafrith ialah tidak adanya kekuatan marah itu pada seseorang atau kekuatan marah itu sangat lemah. Sifat seumpama ini adalah tercela iaitu orang itu dikatakan tidak mempunyai sifat cemburu pada diri. Imam Syafi’e berkata: “Orang yang diperbuat sesuatu ke atasnya supaya dia menjadi marah, lalu dia tidak marah, maka orang itu seperti keldai”.

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mensifatkan para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan terkadang-kadang bersifat keras dan berperasaan cemburu atas diri, seperti firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang tafsirnya :

    “Mereka itu bersikap keras terhadap orang-orang kafir”.

    (Surah Al-Fath: 29)

    Allah telah berfirman ke atas NabiNya Shallallahu ‘alaihi wasallam yang tafsirnya :

    “Perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu,dan bersikap keraslah terhadap mereka”.

    (Surah At-Tahrim: 9)

    Yang dikatakan bersikap keras dan tegas itu adalah bersumber dari adanya tanda-tanda kekuatan cemburu dalam diri iaitu yang menyebabkan sifat marah.

    Hasil sifat marah yang lemah ini ialah ketiadaan harga diri sama sekali untuk menentang sesuatu yang mengganggu kehormatan peribadi dan kehormatan isteri. Dia bersifat acuh tak acuh sahaja ketika peribadinya dihina-dinakan oleh orang-orang yang rendah budinya. Dia merasakan dirinya terlalu kecil dan rendah untuk mempertahankan peribadinya dari kecaman orang lain.

    Adapun maksud ifrath itu pula ialah sifat marah yang berlebihan sehingga melampaui batas kebijaksanaan akal dan agama. Orang seperti ini buta dan tuli dalam menerima setiap pengajaran. Apabila dia diberi nasihat, nescaya tidak akan didengarnya, bahkan bertambah kemarahannya, dan apabila dia memperolehi cahaya dari sinar akalnya dan ia mahu kembali kepadanya, nescaya dia tidak sanggup menerimanya kerana sinar akalnya sudah padam dan terus lenyap dengan asap kemarahannya.

    Di antara tanda-tanda marah pada zahirnya ialah berubah warna kulit, menggeletar kaki tangan, kelakuan tidak menurut ketertiban dan ketentuan yang biasa, gerak geri tidak menentu arah, percakapan bercampur suara marah keluar dari rahangnya, mata merah padam dan lubang hidung kembang kuncup.

    Adapun tanda-tanda kemarahan yang terdapat pada lidah ialah kelancangan lidah ketika mennyebutkan caci maki.

    Sementara i’tidal itu pula adalah sifat marah yang sederhana. Maka siapa yang marahnya terlalu lemah, sewajarnyalah dia mengubati dirinya sehingga menjadi kuat marahnya iaitu sifat marah yang terpimpin oleh pertimbangan akal dan perintah agama, dan siapa yang marahnya terlalu berlebih-lebihan, maka sewajarnyalah dia mengubati dirinya supaya berkurang kemarahannya sehingga dia berada di tengah-tengah di antara marah yang sangat lemah dan marah yang berlebih-lebihan, dan marah yang sederhana ini adalah jalan yang lurus.

    Tingkatan-tingkatan Marah.

    Menurut Ibn al-Qayyim, tingkatan marah itu ada tiga, iaitu:

    1) Marah taraf permulaan iaitu sekadar marah sahaja. Orang yang marah di peringkat permulaan masih menyedari apa yang diucapkannya dan apa yang dilakukannya dan masih memikirkan akibat-akibat yang akan timbul.

    2) Marah yang bersangatan iaitu marah di peringkat ini sudah sama dengan orang kemasukan syaitan atau orang gila. Fikiran dan pandangannya sudah gelap sehingga tidak sedar lagi apa yang diucapkannya, tidak menyedari apa yang dikerjakannya dan tidak menyedari akibat yang akan timbul.

    3) Marah taraf pertengahan iaitu orang yang betul-betul marah, tetapi masih menyedari perbuatan dan percakapannya. Dengan perkataan lain marah yang mempunyai rasa malu dan rasa takut.

    Jenis-jenis Marah.

    Marah mengikut sebab-sebab penggeraknya kadang-kadang dipuji dan kadang-kadang dicela.

    Sifat marah yang terpuji ialah marah yang diluahkan kerana membela kebenaran dan agama, dan marah kerana menegah kemungkaran dan perkara-perkara haram.

    Sementara marah yang tercela itu pula ialah marah pada jalan yang salah, yang dinyalakan oleh kesombongan dan keangkuhan.

    Kesan-kesan Marah Dalam Tindakan Orang Marah.

    Kebanyakan ulama Fiqh berpendapat bahawa orang yang marah dipertanggungjawabkan segala perbuatannya semasa dia marah, dan diambil kira apa-apa saja perbuatan yang lahir daripadanya, seperti perbuatan yang menyebabkannya menjadi kafir, membunuh orang, mengambil harta orang lain tanpa hak, talak dan sebagainya. Mereka berhujjah dengan bersandarkan kepada beberapa dalil, di antaranya:

    Hadith Khaulah binti Tha’labah, isteri kepada Aus bin Ash-Shamit ada menyebutkan: “Suaminya telah marah lalu dia menzhiharkannya, maka dia (Khaulah) pun pergi berjumpa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam lalu memberitahu kepada Baginda perkara itu dan berkata:

    “Dia tidak bermaksud untuk menthalaqku”.

    Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    “Aku tidak tahu melainkan engkau sebenarnya telah menjadi haram ke atasnya”.

    Di dalam hadith ini Allah telah menjadikan thalaq sebagai zhihar, dan thalaq itu jatuh walaupun diucapkan dalam keadaan marah. Akan tetapi jika seseorang itu marah sehingga dia pitam maka tidak berlaku thalaq kerana hilang akalnya. Dalam keadaan ini dia menyerupai orang gila yang mana tidak jatuh thalaq yang lahir dari seorang gila.

    Oleh yang demikian, sekiranya seorang manusia yang berada dalam keadaan marah merosakkan sesuatu yang berharga kepunyaan orang lain, maka harta tersebut berada di bawah jaminannya dan dia hendaklah membayar ganti rugi hasil daripada perbuatannya itu. Lain-lain contoh di antaranya:

    • Sekiranya dia membunuh seseorang dengan sengaja, maka dia dikenakan qishash.
    • Sekiranya dia melafadzkan lafadz kekufuran, maka dia dihukum murtad sehinggalah dia bertaubat.
    • Sekiranya dia bersumpah untuk melakukan sesuatu, maka sumpahnya mestilah dilaksanakan (sah sumpahnya).
    • Sekiranya dia menthalaq isterinya, maka jatuh thalaqnya itu.

    Menahan Diri Daripada Marah.

    Seorang ulama fiqh, Nur bin Muhammad berkata: Seorang muslim hendaklah bersifat lemah lembut dan sabar kerana ia adalah salah satu sifat orang-orang bertaqwa. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memuji orang-orang yang bersifat lemah lembut dengan firmanNya yang tafsirnya :

    “Dalam pada itu (ingatlah), orang yang bersabar dan memaafkan (kesalahan orang terhadapnya), sesungguhnya yang demikian itu adalah dari perkara yang dikehendaki diambil berat (melakukannya)”.

    (Surah Asy-Syura: 43)

    Ayat ini memberi maksud bahawa orang-orang yang sabar di atas kezaliman yang dilakukan ke atasnya dan dia memaafkan orang yang menzaliminya itu akan mendapat pahala dan ganjaran yang amat besar daripada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga telah memerintahkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam supaya bersifat sabar dan lemah lembut dan Allah mengkhabarkan kepada Baginda bahawa nabi-nabi yang terdahulu sebelum Baginda adalah orang-orang yang memiliki sifat demikian. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang tafsirnya :

    “(Jika demikian akibat orang-orang kafir yang menentangmu wahai Muhammad), maka bersabarlah engkau sebagaimana sabarnya rasul-rasul (Ulul-Azmi) dari kalangan rasul-rasul (yang terdahulu daripadamu)”.

    (Surah al-Ahqaaf: 35)

    Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memerintahkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam supaya bersifat sabar di atas pembohongan orang-orang kafir dan di atas penyiksaan mereka sebagaimana bersabarnya para nabi sebelum Baginda.

     
  • erva kurniawan 2:03 am on 24 November 2018 Permalink | Balas  

    Kita Melihat Dunia Hanya Sebatas Pandangan 

    Kita Melihat Dunia Hanya Sebatas Pandangan

    Ingatkah engkau ketika dahulu kita mulai belajar berjalan?

    Ketika kita mulai melangkahkan kaki setapak demi setapak?

    Ingatkah engkau, ketika kita pertama kali memandang segala sesuatu dari kakimu yang mungil? Segala sesuatunya terasa begitu jauh dan tak terjangkau oleh tangan-tangan mungilmu. Kaki kursi maupun kaki bangku seakan-akan tongkat untuk menahanmu tetap berdiri…….

    Di bawah meja makan merupakan tempat favoritmu, meja makan cukup untuk menudungi kepalamu. Kau menegadah ke atas dan melihat lampu-lampu indah, kau takjub dan kagum melihatnya, lalu kau mengulurkan tanganmu untuk menjangkaunya. Tapi kau tak sanggup. Segala sesuatu nampak begitu jauh dan tak terjangkau bagi tangan dan kaki mungilmu yang berusaha untuk menggapainya……

    Lalu kau mendengar sebuah suara memanggilmu. Kau mencari berkeliling dengan tertatih-tatih, tapi kau tidak menemukannya. Suara itu memanggilmu lagi. Kau semakin penasaran dan menjejakkan kakimu ke lantai cepat-cepat untuk mencari sumber suara itu. Tangan dan kaki kecilmu berusaha menjaga keseimbanganmu ketika kau berlari untuk menemukan siapa yang memanggilmu……

    Suara yang begitu lembut, suara yang kau tahu berasal dari orang yang mengasihimu. Suara yang sama terdengar memanggilmu lagi, kau memandang sekelilingmu sekali lagi, tapi kau tetap tidak menemukan suara itu. Yang terlihat disekitarmu hanyalah mainan mobil-mobilan yang berserakkan, 4 buah kaki kursi, sebuah balon, beberapa buah buku, krayon dan… nah akhirnya, tempat favoritmu meja makan……

    Kau berlari dan melonggok ke bawah meja makan, kalo-kalo sumber suara itu berasal dari sana. Dan kau mendengar suara itu sekali lagi, disertai dengan tawa yang lembut…..

    “Kemana kau mencari anakku? Lihat aku ada diatasmu.”

    Kau pun mendongakkan kepalamu dan melihat sumber suara itu. Ibumu berdiri di hadapanmu dan tersenyum melihatmu. Kau pun tersenyum dan berpikir “Hei, lihat aku dapat menemukanmu.”

    Lalu kau mengulurkan tangan mungilmu, mencoba mengapainya. Mencoba menciumnya, mencoba memegang tangannya. Namun, aduhhh!!! tanganmu tidak dapat mencapainya.

    Tiba-tiba Ibumu terasa begitu jauh darimu. Ia berdiri menjulang tinggi dan tak dapat kau raih. Kau mulai kecewa dan menangis. Kau menginginkan ibumu!!! Kau ingin menciumnya, memegang pipinya, kau ingin menarik rambutnya. Kau menginginkan ibumu, tapi kau tidak dapat mencapainya … Ibumu terasa begitu jauh.

    Dan tiba-tiba kau merasa tubuhmu terangkat. Ada sepasang tangan yang memegang pinggang kecilmu. Kau melihat ibumu tersenyum dan berkata, “Nah, aku menemukanmu!” Kau menggapai dengan tanganmu, dan HEI lihat, sorakmu kau bisa memegang pipinya. Ia tertawa ketika tangan-tanganmu memegang pipinya. Bahkan ketika salah satu tanganmu menarik rambutnya … Ia tertawa dan ia menarik kau mendekat kepadanya dan mencium pipimu. Kau tertawa kesenangan. Akhirnya kau bisa meraih ibumu. Oh tidak, akhirnya ibumu bisa meraihmu dan mendekapmu.

    Berapa sering kita merasa bahwa Tuhan jauh dan tidak terjangkau bagi tangan-tangan kita? Atau mungkin kita ingin sekali menjangkaunya tapi … upsss, tanganmu kurang panjang. Kaki-kakimu kurang tinggi untuk dapat menjangkaunya.

    Pernahkah ketika kita merasa bahwa Tuhan jauh dari kita, kita berpikir dan membayangkan diri kita seperti anak kecil dengan pandangan yang serba terbatas sehingga kita tidak bisa melihat bahwa sesungguhnya kita ada dibawah kaki-Nya!!!

    Kita ada kurang dari 10 cm dari hadapan-Nya. Pandangan kita sangat terbatas. Tidak seperti pandangan-Nya!!! Pada pandangan-Nya kita begitu dekat, sehingga tangan-tangan-Nya bisa menjangkau dan menarik kita mendekat pada-Nya.

    Bagi-Nya kita begitu dekat, sehingga bunyi nafas kita pun terdengar oleh-Nya. Ketika Ia menundukkan kepala-Nya, ada kita di dekat kaki-Nya. Ia tersenyum dan tertawa ketika melihatmu mencari-cari-Nya, padahal kau ada di dekat kaki-Nya. Dan akhirnya, ia mengangkat pinggangmu, membawamu naik untuk dapat menciummu. Untuk membiarkanmu memegang pipi-Nya, untuk membiarkanmu menarik rambut-Nya. Ia ada dekat sekali denganmu. Yang kau perlukan hanyalah menjulurkan tanganmu keatas, menengadahkan kepalamu, dan Ia akan mengangkatmu ke atas. Ia akan membungkuk dan mengulurkan tangan-Nya.

    Jika kita merasa begitu jauh dari-Nya, INGAT kita ADA DIDEKAT KAKINYA!!!

     
  • erva kurniawan 2:00 am on 23 November 2018 Permalink | Balas  

    Menjaga Lidah 

    Menjaga Lidah

    Banyak hadis Rasulullah SAW yang menyuruh manusia berhati-hati terhadap lidah. Beliau bersabda, ”Barangsiapa yang beriman kepada Allah, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (Muttafaq ‘alaihi dari Abu Hurairah dan Abu Syuraih). Demikianlah, lidah seseorang itu sangat berbahaya sehingga dapat mendatangkan banyak kesalahan.

    Imam Al-Ghazali telah menghitung ada dua puluh bencana karena lidah, antara lain, berdusta, ghibah (membicarakan orang lain), adu domba, bersaksi palsu, sumpah palsu, berbicara yang tidak berguna, menertawakan orang lain, menghina mereka, dan sebagainya. Bahkan, Syekh Abdul Ghani An Nablisi menghitung bencana lidah ini sampai tujuh puluh dua macam yang disebutkan secara rinci.

    Perlu kita ingat bahwa orang yang banyak berbicara akan banyak berbuat kesalahan. Pembicaraannya sering merambah ke mana-mana sehingga tak jarang menjadi ghibah, yakni menceritakan cela orang lain. Karena itu, dalam hadis tersebut sangat jelas bahwa keselamatan itu terletak pada sikap diam. Tetapi, diamnya itu tidak berarti bahwa manusia harus mengunci mulutnya agar tidak berbicara sama sekali, melainkan seorang itu hendaknya hanya berkata yang baik-baik saja serta yang diridhai Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, ”Allah memberi rahmat kepada orang-orang yang berkata baik lalu mendapat keuntungan, atau diam lalu mendapat keselamatan.” (HR Ibnu Mubarak).

    Seorang penyair berkata, ”Jagalah lisanmu wahai manusia. Jangan sampai menggigitmu karena ia ular berbisa. Banyak orang yang dikubur karena dibunuh lisannya. Ia menggigit bagaikan ular berbisa.” Umumnya manusia gemar sekali mengumbar lidahnya. Karena itu, sebagai seorang mukmin yang senantiasa merasa diawasi Allah, kita wajib mengerti bahwa perkataan itu termasuk amalan yang kelak akan dihisab. Karena pena Allah tidak mengalpakan satu pun perkataan yang diucapkan manusia. Ia pasti mencatat dan memasukkannya ke dalam buku amal.

    Firman-Nya, ”Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. Yaitu, ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya, yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya ada malaikat yang selalu hadir.” (QS Qaf: 16-18).

    Karena itu, barangsiapa yang mengerti bahwa ucapannya itu sama dengan amal perbuatannya, yakni akan ditulis dan dihisab, niscaya sedikitlah pembicaraannya kecuali dalam hal yang berguna, dan dengan demikian dia akan selamat. Wallahu a’lam bish shawab.

    ***

    Kiriman Sahabat Indra Subni

     
  • erva kurniawan 3:40 am on 22 November 2018 Permalink | Balas  

    Kisah Sedekah Rasulullah dan Pengemis 

    Kisah Sedekah Rasulullah dan Pengemis

    Suatu hari ada seorang pengemis mengetuk pintu rumah Rasulullah Saw. Pengemis itu berkata:
    “saya pengemis ingin meminta sedekah dari Rasulullah.”
    Rasulullah bersabda:
    “Wahai Aisah berikan baju itu kepada pengemis itu”. Sayyidah Aisyah pun akhirnya melaksanakan perintah Nabi.
    Dengan hati yang sangat gembira, pengemis itu menerima pemberian beliau, dan langsung pergi ke pasar serta berseru di keramaian orang di pasar: “Siapa yang mau membeli baju Rasulullah? “. Maka dengan cepat berkumpullah orang-orang, dan semua ingin membelinya.

    Ada seorang yang buta mendengar seruan tersebut, lalu menyuruh budaknya agar membelinya dengan harga berapapun yang diminta, dan ia berkata kepada budaknya: jika kamu berhasil mendapatkannya, maka kamu merdeka. Akhirnya budak itupun berhasil mendapatkannya. Kemudian diserahkanlah baju itu pada tuannya yang buta tadi.

    Alangkah gemberinya si buta tersebut, dengan memegang baju Rasulullah yang didapat, orang buta tersebut kemudian berdoa dan berkata:
    “Yaa Rabb dengan hak Rasulullah dan berkat baju yg suci ini maka kembalikanlah pandanganku”.
    MaaSyaa Allah…dengan izin Allah, spontan orang tersebut dapat melihat kembali.

    Keesokan harinya, iapun pergi menghadap Rasulullah dengan penuh gembira dan berkata:
    “Wahai Rasulullah… pandanganku sudah kembali dan aku kembalikan baju anda sebagai hadiah dariku”.
    Sebelumnya orang itu menceritakan kejadiannya sehingga Rasulullah pun tertawa hingga tampak gigi gerahamnya.

    Kemudian Rasulullah bersabda kepada Sayyidah Aisyah:
    “Perhatikanlah baju itu wahai Aisyah, dengan berkahNya, ia
    telah mengkayakan orang yang miskin, menyembuhkan yang buta, memerdekakan budak dan kembali lagi kepada kita.”

    Subhanallah…

    Al-Imam as-Suyuti menyebutkan dalam salah satu kitabnya bahwa pahala shadaqah itu ada 5 macam:

    أَنَّ ثَوَابَ الصَّدَقَةِ خَمْسَةُ أَنْوَاعٍ : وَاحِدَةٌ بِعَشْرَةٍ وَهِيَ عَلَى صَحِيْحِ الْجِسْمِ ، وَوَاحِدَةٌ بِتِسْعِيْنَ وَهِيَ عَلَى الْأَعْمَى وَالْمُبْتَلَى ، وَوَاحِدَةٌ بِتِسْعِمِائَةٍ وَهِيَ عَلَى ذِي قَرَابَةٍ مُحْتَاجٍ ، وَوَاحِدَةٌ بِمِائَةِ أَلْفٍ وَهِيَ عَلَى الْأَبَوَيْنِ ، وَوَاحِدَةٌ بِتِسْعِمِائَةِ أَلْفٍ وَهِيَ عَلَى عَالِمٍ أَوْ فَقِيْهٍ اهـ
    (كتاب بغية المسترشدين)

    “Sesungguhnya pahala bersedekah itu ada lima kategori :
    1) Satu dibalas sepuluh (1:10) yaitu bersedekah kepada orang yang sehat jasmani

    2) Satu dibalas sembilan puluh (1:90) yaitu bersedekah terhadap orang buta, orang cacat atau tertimpa musibah, termasuk anak yatim dan piatu

    3) Satu dibalas sembilan ratus (1:900) yaitu bersedekah kepada kerabat yang sangat membutuhkan

    4) Satu dibalas seratus ribu (1: 100.000) yaitu sedekah kepada kedua orangtua

    5) Satu dibalas sembilan ratus ribu (1 : 900.000) yaitu bersedekah kepada orang yg alim atau ahli fiqih.
    [Kitab Bughyatul Musytarsyidin]

    Semoga Allah SWT memudahkan kita untuk bermurah hati, suka bersedekah dengan ikhlas. Aamiiiin…

     
  • erva kurniawan 2:10 am on 21 November 2018 Permalink | Balas  

    ETIKA BERDO`A 

    ETIKA BERDO`A

    Terlebih dahulu sebelum berdo`a hendaknya memuji kepada Allah kemudian bershalawat kepada Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam pernah mendengar seorang lelaki sedang berdo`a di dalam shalatnya, namun ia tidak memuji kepada Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam maka Nabi bersabda kepadanya: “Kamu telah tergesa-gesa wahai orang yang sedang shalat. Apabila anda selesai shalat, lalu kamu duduk, maka memujilah kepada Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya, dan bershalawatlah kepadaku, kemudian berdo`alah”. (HR. At-Turmudzi, dan dishahihkan oleh Al-Albani).

    Mengakui dosa-dosa, mengakui kekurangan (keteledoran diri) dan merendahkan diri, khusyu’, penuh harapan dan rasa takut kepada Allah di saat anda berdo`a. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:

    “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera di dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo`a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu` kepada Kami”. (Al-Anbiya’: 90).

    Berwudhu’ sebelum berdo`a, menghadap Kiblat dan mengangkat kedua tangan di saat berdo`a. Di dalam hadits Abu Musa Al-Asy`ari Radhiallaahu anhu disebutkan bahwa setelah Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam selesai melakukan perang Hunain :” Beliau minta air lalu berwudhu, kemudian mengangkat kedua tangannya; dan aku melihat putih kulit ketiak beliau”. (Muttafaq’alaih).

    Benar-benar (meminta sangat) di dalam berdo`a dan berbulat tekad di dalam memohon. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila kamu berdo`a kepada Allah, maka bersungguh-sungguhlah di dalam berdo`a, dan jangan ada seorang kamu yang mengatakan :Jika Engkau menghendaki, maka berilah aku”, karena sesungguhnya Allah itu tidak ada yang dapat memaksanya”. Dan di dalam satu riwayat disebutkan: “Akan tetapi hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam memohon dan membesarkan harapan, karena sesungguhnya Allah tidak merasa berat karena sesuatu yang Dia berikan”. (Muttafaq’alaih).

    Menghindari do`a buruk terhadap diri sendiri, anak dan harta. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Jangan sekali-kali kamu mendo`akan buruk terhadap diri kamu dan juga terhadap anak-anak kamu dan pula terhadap harta kamu, karena khawatir do`a kamu bertepatan dengan waktu dimana Allah mengabulkan do`amu”. (HR. Muslim).

    Merendahkan suara di saat berdo`a. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Wahai sekalian manusia, kasihanilah diri kamu, karena sesungguhnya kamu tidak berdo`a kepada yang tuli dan tidak pula ghaib, sesungguhnya kamu berdo`a (memohon) kepada Yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat dan Dia selalu menyertai kamu”. (HR. Al-Bukhari).

    Berkonsentrasi di saat berdo`a. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Berdo`alah kamu kepada Allah sedangkan kamu dalam keadaan yakin dikabulkan, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah tidak mengabulkan do`a dari hati yang lalai”. (HR. At-Turmudzi dan dihasankan oleh Al-Albani).

    Tidak memaksa bersajak di dalam berdo`a. Ibnu Abbas pernah berkata kepada `Ikrimah: “Lihatlah sajak dari do`amu, lalu hindarilah ia, karena sesungguhnya aku memperhatikan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam dan para shahabatnya tidak melakukan hal tersebut”.(HR. Al-Bukhari)..

    ***

    [Taken From Kitab “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari” By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 20 November 2018 Permalink | Balas  

    Maulid Nabi Besar Muhammad SAW 

    Maulid Nabi Besar Muhammad SAW

    Oleh Erwin Ashari *

    Beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushai bin Hakim bin luay bin Ghalib bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Nazar bin muad bin Adnan (yang Nasabnya bersambung kepada Ismail a.s. bin Ibrahim a.s.

    Baginda Rasulallah s.a.w. dilahirkan pada pagi hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal tahun gajah bertepatan pada tanggal 20 April tahun 571 M. Menjelang dan di saat kelahiran beliau banyak hal-hal luar biasa yang terjadi sebagai ungkapan selamat datang dari alam semesta.

    Sebagaimana diriwayatkan Baihaqi dari fatimah binti Tsaqfiah, beliau berkata: “Ketika saya menghadiri kehadiran Nabi saya melihat rumah (Tempat Nabi lahir) dipenuhi sinar, dan saya melihat bintang-bintang mendekat sehingga saya mengira bintang-bintang itu akan jatuh ke rumah tersebut.”

    Diriwayatkan juga bahwa ketika Siti Aminah Melahirkan Rasulallah, beliau melihat cahaya yang dengannya tampak jelas Istana di Syam, padahal ketika itu beliau berada di Mekah. Dan pada malam kelahiran beliau, bumi bergetar dengan getaran yang sangat dahsyat sehingga meluluh-lantakkan seluruh berhala-berhala yang ada di sekitar Ka’bah dan merobohkan gereja-gereja serta istana raja Persia, dan juga mematikan api yang selama ini disembah oleh warga Persia.

    Dari segi Nasab, Rasulallah terlahir dari keturunan yang memiliki prestise tinggi. Ayahnya Abdullah adalah keturunan Bani Hasyim, kabilah Arab yang sangat disegani pada saat itu. Sedangkan Ibunya, Siti Aminah tergolong bangsawan Quraisy yang sangat terpandang. Abdullah dan Aminah tidak termasuk ke dalam golongan penyembah berhala.

    Rasulullah sendiri telah menegaskan dalam sabdanya: “Sesungguhnya Allah telah memilih dari anak-anak Ibrahim Ismail. Dan memilih dari Anak-anak Ismail Kinanah. Dan memilih dari Bani Kinanah Suku Quraisy. Dan memililih dari Suku Quraisy Bani Hasyim, dan Allah memilihku dari bani Hasyim.” Jadi Rasulullah adalah orang yang terpilih dari orang dan golongan-golongan terpilih.

    Rasulullah dilahirkan ke muka bumi ini sebagai rahmat bagi alam semesta. Berbeda halnya dengan rasul-rasul sebelum beliau yang diturunkan hanya untuk golongan tertentu. Kerasulan dan Kenabian beliau pun mendapat pengakuan dari Agama-agama sebelum Islam jauh hari sebelum beliau dilahirkan. Seperti yang tertera di dalam Injil Barnabas pasal 72. “Sesungguhnya Aku meskipun terbebas, namun ketika sebagian manusia ketika mengatakan hakikatku adalah sebagai Tuhan dan anak Tuhan, Allah tidak menyukai pernyataan ini. Dan Allah menghendaki agar setan tidak mentertawai aku dan tidak menghinaku kelak, maka Allah membaguskan dengan kelembutan dan rahmat-Nya agar tertawaan dan hinaan di dunia disebabkan kematian Yahudza. Dan semua orang mengira bahwa aku disalib. Tetapi penghinan ini akan berakhir sampai datangnya Muhammad Rasulullah. Apabila ia datang ke dunia, maka ia akan memperingati seluruh manusia dari kekeliruan ini, dan menghilangkan perasangka ini dari hati manusia.”

    Kesaksian ini juga tertera dalam Taurat, “Dan Tuhan datang dari Sinai Dan naik dari S?’îr dan muncul dari gunung Fârân.” Dalam buku ‘Udzmaturrasul karangan Muhammad Athiah el-Abrasyi dijelaskan bahwa ayat di atas mengandung makna kenabian tiga orang Nabi, yaitu Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s. dan Nabi Muhammad s.a.w. Gunung Sinai adalah tempat Musa a.s. Dan Allah bercakap-cakap. Adapun ‘Sa’îr” adalah nama desa di Bethlehem, tempat lahirnya Nabi Isa a.s. sedang yang dimaksud dengan “Fârân” adalah Mekah, tempat dilahirkannya nabi Muhammad s.a.w.

    Pada setiap tanggal 12 Rabiul Awwal umat Islam di seluruh dunia selalu memperingati hari kelahiran Rasul agung ini, yang lebih dikenal dengan istilah “Maulid Nabi” dengan berbagai macam acara yang diformat dengan nuansa Islami. Hal ini membuktikan keagungan Nabi Muhammad s.a.w. Bukan hanya orang muslim yang kagum kepada beliau. Orang non-Muslim juga banyak yang mengakui keangungannya. Seperti Thomas Carlyle yang mengagumi beliau dari segi kepahlawanannya. Marcus Dods dengan keberanian moralnya. Nazmi Luke dengan metode pembuktian ajarannya. dan Michael H. Hart yang terkagum-kagum dengan pengaruh yang ditinggalkannya.

    Suatu keharusan dan kewajaran bagi umat Islam untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad s.a.w agar bisa mengambil suri tauladan yang ada padanya. Sebab beliau sendiri memperingati maulidnya. Malah peringatan ini bukan hanya setahun sekali diperingatinya, melainkan setiap minggu. hal ini terbukti ketika beliau ditanya oleh seorang sahabat tentang puasa hari Senin. Beliau menjawab, “Hari senin itu adalah hari kelahiranku.” Semoga dengan peringatan Maulid Nabi kita bisa lebih dalam menghayati dan mengamalkan suri tauladan yang telah beliau berikan.

    Wallahu a’lamu bisshowab.

    • Penulis adalah Mahasiswa Universitas al-azhar, Cairo-Mesir.

    (bps)

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 19 November 2018 Permalink | Balas  

    ETIKA MEMBACA AL-QUR’AN 

    ETIKA MEMBACA AL-QUR’AN

    Sebaiknya orang yang membaca Al-Qur’an dalam keadaan sudah berwudhu, suci pakaiannya, badannya dan tempatnya serta telah bergosok gigi.

    Hendaknya memilih tempat yang tenang dan waktunya pun pas, karena hal tersebut lebih dapat konsentrasi dan jiwa lebih tenang.

    Hendaknya memulai tilawah dengan ta`awwudz, kemu-dian basmalah pada setiap awal surah selain selain surah At-Taubah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Apabila kamu akan mem-baca al-Qur’an, maka memohon perlindungan-lah kamu kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk”. (An-Nahl: 98).

    Hendaknya selalu memperhatikan hukum-hukum tajwid dan membunyikan huruf sesuai dengan makhrajnya serta membacanya dengan tartil (perlahan-lahan). Allah berfirman yang Subhanahu wa Ta’ala artinya: “Dan Bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan”. (Al-Muzzammil: 4).

    Disunnatkan memanjangkan bacaan dan memperindah suara di saat membacanya. Anas bin Malik Radhiallaahu anhu pernah ditanya: Bagaimana bacaan Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam (terhadap Al-Qur’an? Anas menjawab: “Bacaannya panjang (mad), kemudian Nabi membaca “Bismillahirrahmanirrahim” sambil memanjangkan Bismillahi, dan memanjangkan bacaan ar-rahmani dan memanjangkan bacaan ar-rahim”. (HR. Al-Bukhari). Dan Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam juga bersabda: “Hiasilah suara kalian dengan Al-Qur’an”. (HR. Abu Daud, dan dishahih-kan oleh Al-Albani).

    Hendaknya membaca sambil merenungkan dan menghayati makna yang terkandung pada ayat-ayat yang dibaca, berinteraksi dengannya, sambil memohon surga kepada Allah bila terbaca ayat-ayat surga, dan berlindung kepada Allah dari neraka bila terbaca ayat-ayat neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (Shad: 29). Dan di dalam hadits Hudzaifah ia menuturkan: “……Apabila Nabi terbaca ayat yang mengandung makna bertasbih (kepada Allah) beliau bertasbih, dan apabila terbaca ayat yang mengandung do`a, maka beliau berdo`a, dan apabila terbaca ayat yang bermakna meminta perlindungan (kepada Allah) beliau memohon perlindungan”. (HR. Muslim). Allah berfirman yang artinya:

    Hendaknya mendengarkan bacaan Al-Qur’an dengan baik dan diam, tidak berbicara. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Dan apabila Al-Qur’an dibacakan, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu men-dapat rahmat”. (Al-A`raf: 204).

    Hendaklah selalu menjaga al-Qur’an dan tekun membacanya dan mempelajarinya (bertadarus) hingga tidak lupa. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Peliharalah Al-Qur’an baik-baik, karena demi Tuhan yang diriku berada di tangan-Nya, ia benar-benar lebih liar (mudah lepas) dari pada unta yang terikat di tali kendalinya”. (HR. Al-Bukhari).

    Hendaknya tidak menyentuh Al-Qur’an kecuali dalam keadaan suci. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman yang artinya: “Tidak akan menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan”. (Al-Waqi`ah: 79).

    Boleh bagi wanita haid dan nifas membaca al-Qur’an dengan tidak menyentuh mushafnya menurut salah satu pendapat ulama yang lebih kuat, karena tidak ada hadits shahih dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam yang melarang hal tersebut.

    Disunnatkan menyaringkan bacaan Al-Qur’an selagi tidak ada unsur yang negatif, seperti riya atau yang serupa dengannya, atau dapat mengganggu orang yang sedang shalat, atau orang lain yang juga membaca Al-Qur’an.

    Termasuk sunnah adalah berhenti membaca bila sudah ngantuk, karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “?pabila salah seorang kamu bangun di malam hari, lalu lisannya merasa sulit untuk membaca Al-Qur’an hingga tidak menyadari apa yang ia baca, maka hendaknya ia berbaring (tidur)”. (HR. Muslim).

    ***

    [Taken From Kitab “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari” By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 18 November 2018 Permalink | Balas  

    Kisah of the day : Cintakah Yang Memaafkan ?? 

    Kisah of the day : Cintakah Yang Memaafkan ??

    “Cinta laki-laki seumpama gunung. Ia besar, solid dan (sayangnya) rentan. Sewaktu-waktu ia bisa saja meletus, memuntahkan lahar, menghanguskan apa saja yang ditemuinya. Cinta perempuan seumpama kuku. Ia hanya seujung jari, tetapi tumbuh perlahan-lahan, diam-diam dan terus menerus bertambah. Jika dipotong, ia akan tumbuh dan tumbuh lagi.” Betapa menakjubkan!

    Perumpamaan di atas terilhami dari sebuah dialog dalam adegan film “Bulan Tertusuk Ilalang” karya Garin Nugroho.

    Ini mengingatkan kenangan saya pada seorang teman dan ibunya ketika masa-masa SMP-SMU.

    Kala itu, hampir setiap hari saya mengunjungi rumahnya. Teman saya anak orang berada. Ayahnya, pimpinan sebuah instansi pemerintah terkemuka di kota saya dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Saya tak heran mendapati benda-benda bagus dan bermerek di rumahnya yang masih dalam tahap renovasi. Seperangkat sofa indah yang empuk, televisi yang besar. Terkadang saya dibuat berdecak kagum, sekaligus iri.

    Semakin sering saya bertandang ke rumahnya, lama-lama saya menyadari bahwa isi rumah nan megah itu semakin kosong dari hari ke hari. Perabotan mewah, satu per satu lenyap dan televisi yang ‘mengkerut’ dari 29 inchi ke 14 inchi.

    Perubahan paling mencolok adalah wajah ibu teman saya. Suatu saat ketika ia berbicara, tak sengaja saya melihat suatu kenyataan bahwa ibu teman saya itu kini ompong! Barangkali 2-3 gigi depannya hilang. Saya tak berani -lebih tepatnya tak tega – untuk bertanya. Saya juga tak mau tergesa-gesa mengambil kesimpulan sendiri. Yang jelas, sebuah suara, jauh di lubuk hati saya berkata : “Sesuatu yang mengerikan telah terjadi di rumah itu!”

    Benarlah! Tanpa diminta akhirnya teman saya datang berkunjung ke rumah. Setengah berbisik, ia bercerita bahwa ayahnya selingkuh dan karenanya, hampir tak pernah pulang ke rumah. Dan ini bukan main-main, perempuan itu hamil dan menuntut pertanggungjawaban ayahnya. Dengan emosional teman ini bercerita, bahwa ia diajak ayahnya ke rumah perempuan itu dan meminta teman saya untuk memanggilnya dengan sebutan “Mama”.

    Sebuah permintaan menyakitkan yang langsung ditolak mentah-mentah oleh teman saya. “Ibuku cuma satu” tangkisnya tegar saat itu. Dan misteri tentang gigi ibunya yang ompong, barang-barang mewah dan perabot yang satu per satu menghilang dari rumahnya pun terkuak sudah. Semuanya adalah akibat ulah ayahnya. Dan setengah frustrasi ia mengadu pada saya bahwa ia harus menanggung semua beban berat itu sendirian, karena kakak satu-satunya yang kuliah di luar kota tak peduli dan tak mau memikirkan masalah itu.

    Ibunya yang lemah lembut pun tak bisa berbuat banyak dengan perilaku suaminya. Ia cuma bisa pasrah.

    Gigi yang tanggal itu buktinya. Saya hanya mampu berharap dan memberi semangat agar teman saya itu tabah dan tak putus berdoa.

    Setelah peristiwa itu lama berlalu, Tuhan menjawab doa teman saya. Ketika itu menjelang kelulusan SMU. Ia bercerita pada saya bahwa ayahnya sudah ‘sembuh’, bertobat, dan kembali ke pangkuan istri dan anak- anaknya. Nasib ‘the other woman’ itu entah bagaimana? Sampai di sini persoalan beres.

    Dan saya takjub mendengarnya. Senang sekaligus heran. Bagaimana mungkin masalah pelik ini bisa selesai semudah itu? Nurani keadilan saya berontak. Tak habis pikir, betapa mudahnya ibu teman saya itu memaafkan dan menerima kembali suaminya setelah semua yang dilakukannya.

    Lelaki itu tak cuma berkhianat, menyakiti hati isterinya, tapi juga melakukan kekerasan fisik dengan merontokkan gigi-gigi depannya. Tak menafkahi anak-anaknya dan nyaris mengosongkan isi rumahnya.

    Dan ibu teman saya memaafkannya begitu saja!

    Sebuah kenyataan yang ternyata banyak juga saya temui di masyarakat kita. Perselingkuhan dan kekerasan dalam rumah tangga yang bisa diselesaikan dengan mudah, hanya dengan kata ‘maaf’. Mungkin inilah yang disebut orang sebagai “cinta”??

    Ayah teman saya adalah laki-laki dengan cinta sebesar gunung,dan ketika ia meletus, laharnya meluap kemana-mana, menghanguskan apa saja, melukai fisik dan terutama hati dan jiwa isteri serta anak-anaknya.

    Ibu teman saya adalah perempuan dengan cinta sebesar kuku. Memang cuma seujung jari, tapi cinta itu terus tumbuh, tak peduli jika kuku itu dipotong, bahkan jika jari itu cantengan dan sang kuku terpaksa harus dicabut, meski sakitnya tak terkira, kuku itu akan tetap tumbuh dan tumbuh lagi.

    Sebuah cinta yang mengagumkan dari seorang perempuan yang saya yakin tak cuma dimiliki oleh ibu teman saya. Cinta yang terwujud dalam sebuah sikap yang agung : “Memaafkan”. Sebuah tindakan yang perlu enerji, kekuatan yang besar, yang anehnya banyak dimiliki oleh makhluk (yang katanya) lemah bernama perempuan.

    Yang masih tersisa dan mengganjal di hati saya adalah : Apakah ini benar-benar tindakan memaafkan yang tulus atau hanya karena tidak ada pilihan lain?? Hanya Tuhan jua Yang Maha Mengetahui.

    ***

    l.meilany – 300505

    Berdasarkan kisah kiriman seorang teman EBH – Terimakasih!

     
    • Estisisme 1:27 am on 18 November 2018 Permalink

      Turut empati terhadap temannya. Ulasannya menarik, namun saya yakin ketika seorang individu manusia baik lelaki dan perempuan memahami hakikat mencintai, maka ia tidak akan tega menyakiti kekasihnya.

  • erva kurniawan 1:00 am on 17 November 2018 Permalink | Balas  

    Segenggam Gundah (Ode Untuk Para Ayah) 

    Segenggam Gundah (Ode Untuk Para Ayah)

    Subuh tadi saya melewati sebuah rumah, 50 meter dari rumah saya dan melihat seorang isteri mengantar suaminya sampai pagar depan rumah. “Yah, beras sudah habis loh…” ujar isterinya. Suaminya hanya tersenyum dan bersiap melangkah, namun langkahnya terhenti oleh panggilan anaknya dari dalam rumah, “Ayah…, besok Agus harus bayar uang praktek”.

    “Iya…” jawab sang Ayah. Getir terdengar di telinga saya, apalah lagi bagi lelaki itu, saya bisa menduga langkahnya semakin berat.

    Ngomong-ngomong, saya jadi ingat pesan anak saya semalam, “besok beliin lengkeng ya” dan saya hanya menjawabnya dengan “Insya Allah” sambil berharap anak saya tak kecewa jika malam nanti tangan ini tak berjinjing buah kesukaannya itu.

    Di kantor, seorang teman menerima SMS nyasar, “jangan lupa, pulang beliin susu Nadia ya”. Kontan saja SMS itu membuat teman saya bingung dan sedikit berkelakar, “ini, anak siapa minta susunya ke siapa”. Saya pun sempat berpikir, mungkin jika SMS itu benar-benar sampai ke nomor sang Ayah, tambah satu gundah lagi yang bersemayam. Kalau tersedia cukup uang di kantong, tidaklah masalah. Bagaimana jika sebaliknya?

    Banyak para Ayah setiap pagi membawa serta gundah mereka, mengiringi setiap langkah hingga ke kantor. Keluhan isteri semalam tentang uang belanja yang sudah habis, bayaran sekolah anak yang tertunggak sejak bulan lalu, susu si kecil yang tersisa di sendok terakhir, bayar tagihan listrik, hutang di warung tetangga yang mulai sering mengganggu tidur, dan segunung gundah lain yang kerap membuatnya terlamun.

    Tidak sedikit Ayah yang tangguh yang ingin membuat isterinya tersenyum, meyakinkan anak-anaknya tenang dengan satu kalimat, “Iya, nanti semua Ayah bereskan” meski dadanya bergemuruh kencang dan otaknya berputar mencari jalan untuk janjinya membereskan semua gundah yang ia genggam.

    Maka sejarah pun berlangsung, banyak para Ayah yang berakhir di tali gantungan tak kuat menahan beban ekonomi yang semakin menjerat cekat lehernya. Baginya, tali gantungan tak bedanya dengan jeratan hutang dan rengekan keluarga yang tak pernah bisa ia sanggupi. Sama-sama menjerat, bedanya, tali gantungan menjerat lebih cepat dan tidak perlahan-lahan.

    Tidak sedikit para Ayah yang membiarkan tangannya berlumuran darah sambil menggenggam sebilah pisau mengorbankan hak orang lain demi menuntaskan gundahnya. Walau akhirnya ia pun harus berakhir di dalam penjara. Yang pasti, tak henti tangis bayi di rumahnya, karena susu yang dijanjikan sang Ayah tak pernah terbeli.

    Tak jarang para Ayah yang terpaksa menggadaikan keimanannya, menipu rekan sekantor, mendustai atasan dengan memanipulasi angka-angka, atau berbuat curang di balik meja teman sekerja. Isteri dan anak- anaknya tak pernah tahu dan tak pernah bertanya dari mana uang yang didapat sang Ayah. Halalkah? Karena yang penting teredam sudah gundah hari itu.

    Teramat banyak para isteri dan anak-anak yang setia menunggu kepulangan Ayahnya, hingga larut yang ditunggu tak juga kembali. Sementara jauh disana, lelaki yang isteri dan anak-anaknya setia menunggu itu telah babak belur tak berkutik, hancur meregang nyawa, menahan sisa-sisa nafas terakhir setelah dihajar massa yang geram oleh aksi pencopetan yang dilakukannya. Sekali lagi, ada yang rela menanggung resiko ini demi segenggam gundah yang mesti ia tuntaskan.

    Sungguh, diantara sekian banyak Ayah itu, saya teramat salut dengan sebagian Ayah lain yang tetap sabar menggenggam gundahnya, membawanya kembali ke rumah, menyertakannya dalam mimpi, mengadukannya dalam setiap sujud panjangnya di pertengahan malam, hingga membawanya kembali bersama pagi. Berharap ada rezeki yang Allah berikan hari itu, agar tuntas satu persatu gundah yang masih ia genggam. Ayah yang ini, masih percaya bahwa Allah takkan membiarkan hamba-Nya berada dalam kekufuran akibat gundah-gundah yang tak pernah usai.

    Para Ayah ini, yang akan menyelesaikan semua gundahnya tanpa harus menciptakan gundah baru bagi keluarganya. Karena ia takkan menuntaskan gundahnya dengan tali gantungan, atau dengan tangan berlumur darah, atau berakhir di balik jeruji pengap, atau bahkan membiarkan seseorang tak dikenal membawa kabar buruk tentang dirinya yang hangus dibakar massa setelah tertangkap basah mencopet.

    Dan saya, sebagai Ayah, akan tetap menggenggam gundah saya dengan senyum. Saya yakin, Allah suka terhadap orang-orang yang tersenyum dan ringan melangkah di balik semua keluh dan gundahnya. Semoga.

    ***

    Kiriman Sahabat Indra Subni

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 16 November 2018 Permalink | Balas  

    ETIKA DI MASJID 

    ETIKA DI MASJID

    Berdo`a di saat pergi ke masjid. Berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu beliau menyebutkan: Adalah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam apabila ia keluar (rumah) pergi shalat (di masjid) berdo`a :

    “Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, dan cahaya pada lisanku, dan jadikanlah cahaya pada pendengaranku dan cahaya pada penglihatanku, dan jadikanlah cahaya dari belakangku, dan cahaya dari depanku, dan jadikanlah cahaya dari atasku dan cahaya dari bawahku. Ya Allah, anugerahilah aku cahaya”. (Muttafaq’alaih).

    Berjalan menuju masjid untuk shalat dengan tenang dan khidmat. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “Apabila shalat telah diiqamatkan, maka janganlah kamu datang menujunya dengan berlari, tetapi datanglah kepadanya dengan berjalan dan memperhatikan ketenangan. Maka apa (bagian shalat) yang kamu dapati ikutilah dan yang tertinggal sempurnakanlah. (Muttafaq’alaih).

    Berdo`a disaat masuk dan keluar masjid. Disunatkan bagi orang yang masuk masjid mendahulukan kaki kanan, kemudian bershalawat kepada Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam lalu mengucapkan:

    “(Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu)”

    Dan bila keluar mendahulukan kaki kiri, lalu bershalawat kepada Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam kemudian membaca do`a:

    “(Ya Allah, sesungguhnya aku memohon bagian dari karunia-Mu)”. (HR. Muslim).

    Disunnatkan melakukan shalat sunnah tahiyatul masjid bila telah masuk masjid. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seorang di antara kamu masuk masjid hendaklah shalat dua raka`at sebelum duduk”. (Muttafaq alaih).

    Dilarang berjual-beli dan mengumumkan barang hilang di dalam masjid. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila kamu melihat orang yang menjual atau membeli sesuatu di dalam masjid, maka doakanlah “Semoga Allah tidak memberi keuntungan bagimu”. Dan apabila kamu melihat orang yang mengumumkan barang hilang, maka do`akanlah “Semoga Allah tidak mengembalikan barangmu yang hilang”. (HR. At-Turmudzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

    Dilarang masuk ke masjid bagi orang makan bawang putih, bawang merah atau orang yang badannya berbau tidak sedap. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang memakan bawang putih, bawang merah atau bawang daun, maka jangan sekali-kali mendekat ke masjid kami ini, karena malaikat merasa terganggu dari apa yang dengan-nya manusia terganggu”. (HR. Muslim). Dan termasuk juga rokok dan bau lain yang tidak sedap yang keluar dari badan atau pakaian.

    Dilarang keluar dari masjid sesudah adzan. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila tukang adzan telah adzan, maka jangan ada seorangpun yang keluar sebelum shalat”. (HR. Al-Baihaqi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

    Tidak lewat di depan orang yang sedang shalat, dan disunnatkan bagi orang yang sholat menaroh batas di depannya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Kalau sekiranya orang yang lewat di depan orang yang sedang sholat itu mengetahui dosa perbuatannya, niscaya ia berdiri dari jarak empat puluh itu lebih baik baginya daripada lewat di depannya”. (Muttafaq alaih).

    Tidak menjadikan masjid sebagai jalan. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah kamu menjadikan masjid sebagai jalan, kecuali (sebagai tempat) untuk berzikir dan shalat”. (HR. Ath-Thabrani, dinilai hasan oleh Al-Albani).

    Tidak menyaringkan suara di dalam masjid dan tidak mengganggu orang-orang yang sedang shalat. Termasuk perbuatan mengganggu orang shalat adalah membiarkan Handphone anda dalam keadaan aktif di saat shalat.

    Hendaknya wanita tidak memakai farfum atau berhias bila akan pergi ke masjid. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu (kaum wanita) ingin shalat di masjid, maka janganlah menyentuh farfum”. (HR. Muslim).

    Orang yang junub, wanita haid atau nifas tidak boleh masuk masjid. Allah berfirman: “(Dan jangan pula menghampiri masjid), sedang kamu dalam keadaan junub, kecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi”. (an-Nisa: 43).

    Aisyah Radhiallaahu anha meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda kepadanya: “Ambilkan buat saya kain alas dari masjid”. Aisyah menjawab: Sesungguhnya aku haid? Nabi bersabda: “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu”. (HR. Muslim).

    ***

    [Taken From Kitab “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari” By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 15 November 2018 Permalink | Balas  

    ETIKA BERGAUL DENGAN ORANG LAIN 

    ETIKA BERGAUL DENGAN ORANG LAIN

    Hormati perasaan orang lain, tidak mencoba menghina atau menilai mereka cacat.

    Jaga dan perhatikanlah kondisi orang, kenalilah karakter dan akhlaq mereka, lalu pergaulilah mereka, masing-masing menurut apa yang sepantasnya.

    Mendudukkan orang lain pada kedudukannya dan masing-masing dari mereka diberi hak dan dihargai.

    Perhatikanlah mereka, kenalilah keadaan dan kondisi mereka, dan tanyakanlah keadaan mereka.

    Bersikap tawadhu’lah kepada orang lain dan jangan merasa lebih tinggi atau takabbur dan bersikap angkuh terhadap mereka.

    Bermuka manis dan senyumlah bila anda bertemu orang lain.

    Berbicaralah kepada mereka sesuai dengan kemampuan akal mereka.

    Berbaik sangkalah kepada orang lain dan jangan memata-matai mereka.

    Mema`afkan kekeliruan mereka dan jangan mencari-cari kesalahan-kesalahannya, dan tahanlah rasa benci terhadap mereka.

    Dengarkanlah pembicaraan mereka dan hindarilah perdebatan dan bantah-membantah dengan mereka.

    ***

    [Taken From Kitab “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari” By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 14 November 2018 Permalink | Balas  

    ETIKA BERCANDA 

    ETIKA BERCANDA

    Hendaknya percandaan tidak mengandung nama Allah, ayat-ayat-Nya, Sunnah rasul-Nya atau syi`ar-syi`ar Islam. Karena Allah telah berfirman tentang orang-orang yang memperolok-olokan shahabat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam , yang ahli baca al-Qur`an yang artimya:

    “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan), tentulah mereka menjawab: “Sesungguh-nya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”. Tidak usah kamu minta ma`af, karena kamu kafir sesudah beriman”. (At-Taubah: 65-66).

    Hendaknya percandaan itu adalah benar tidak mengandung dusta. Dan hendaknya pecanda tidak mengada-ada cerita-cerita khayalan supaya orang lain tertawa. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta supaya dengannya orang banyak jadi tertawa. Celakalah baginya dan celakalah”. (HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

    Hendaknya percandaan tidak mengandung unsur menyakiti perasaan salah seorang di antara manusia. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah seorang di antara kamu mengambil barang temannya apakah itu hanya canda atau sungguh-sungguh; dan jika ia telah mengambil tongkat temannya, maka ia harus mengembalikannya kepadanya”. (HR. Ahmad dan Abu Daud; dinilai hasan oleh Al-Albani).

    Bercanda tidak boleh dilakukan terhadap orang yang lebih tua darimu, atau terhadap orang yang tidak bisa bercanda atau tidak dapat menerimanya, atau terhadap perempuan yang bukan mahrammu.

    Hendaknya anda tidak memperbanyak canda hingga menjadi tabiatmu, dan jatuhlah wibawamu dan akibatnya kamu mudah dipermainkan oleh orang lain.

    [Taken From Kitab “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari” By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]

     
  • erva kurniawan 2:50 am on 13 November 2018 Permalink | Balas  

    Etika Amar Maruf Nahi Mungkar 

    Etika Amar Maruf Nahi Mungkar

    Oleh : Syeikh Islam Ibnu Taimiyah rahimuhullah

    (diambil dari majmu fatawa, jilid 14 hal : 479 – 483)

    Alih Bahasa : Muhammad Elvi Syam. L.c.

    Allah Taala yang Maha Tinggi dan Maha Besar berfirman: Artinya:”Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiada orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk”. (Q.S: 5;105),

    Ayat ini tidak bermakna larangan atau perintah untuk meninggalkan amar maruf (kebaikan) dan nahi mungkar (kejelekan), sebagaimana yang terdapat dalam hadits masyhur di Kutubus Sunan, dari Abu Bakr As-Shidiq, (Ia) berkhutbah di atas mimbar Rasulullah saw dan berkata : ” Wahai manusia sesungguhnya kalian membaca ayat ini dan menerapkannya bukan pada tempatnya, sungguh saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda :

    Artinya : ” Sesungguhnya manusia apabila melihat kemungkaran, kemudian tidak merubahnya, maka hampir-hampir Allah menimpakan azab dari-Nya kepada mereka semua”. (H.R. Ahmad dimusnadnya dari Abi Bakr, dishohihkan oleh Syeikh Al-Albani di kitab Shohih Al Jami , no: 1974, juz; 1/ 398.)

    Dan demikian juga dalam hadits Abi Tsalabah Al-Khusyani yang marfu (yang sampai ke Rasulullah) dalam menafsirkan ayat ini :

    Artinya:” Apabila kamu melihat kebakhilan yang ditaati, dan hawa nafsu yang dituruti, dan setiap orang yang memiliki pendapat taajub dengan pendapatnya,maka uruslah (sibuklah) dengan kepentingan dirimu sendiri” (H.R. Tirmizi dari Abi salabah Al Khusyani, no 3058).

    Hadits ini ditafsirkan oleh hadits Abi Said di kitab Muslim :

    Artinya: “Barang siapa dari kalian melihat kemungkaran maka hendaklah dia merubah kemungkaran tersebut dengan tangannya, apabila tidak sanggup, (rubahlah) dengan lisannya, apabila tidak sanggup, (rubahlah) dengan hatinya, yang demikian adalah selemah-lemah keimanan “. (H.R. Muslim dan lainnya dari Abi Said Al Khudri.)

    Dan apabila ahli fujur (pelaku maksiat) kuat, sehingga mereka tidak lagi mau mendengarkan kebaikan, bahkan mereka menyakiti orang yang melarang kemungkaran, karena mereka itu telah dikuasai oleh rasa kikir dan hawa nafsu serta rasa sombong, maka pada keadaan seperti ini, merubah dengan lisanpun gugur dan yang tinggal merubah dengan hati.(assyuhhu) adalah rasa sangat ambisi yang mengakibatkan kepada kebakhilan dan kezoliman, yaitu menolak kebaikan dan membencinya. (alhawa al muttaba) hawa nafsu yang dituruti terwujud dalam keinginan terhadap keburukan dan mencintainya. (al ijab bir rayi) takjub (bangga) dengan pendapat sendiri yaitu (bangga) pada akal dan ilmu.

    Maka (pada hadits di atas) Beliau saw telah menyebutkan rusak tiga kekuatan yaitu : ilmu, cinta dan benci. Sebagaimana dalam hadits lain : Artinya : ” Tiga hal yang mencelakakan; rasa kikir yang ditaati, hawa nafsu yang dituruti dan rasa takjub seseorang dengan dirinya sendiri” dan di hadapan tiga hal yang mencelakakan ini, terdapat tiga hal yang menyelamatkan :

    Artinya: ” Rasa takut kepada Allah dalam keadaan sunyi dan keramaian, dan sikap sederhana di waktu miskin dan kaya dan berkata benar di waktu marah dan ridho ” (H.R. Tharoni di Mujam Ausath dari Anas dan dihasankan oleh Syeikh Al Albani di kitab Shohih Al-Jami, no : 3039, juz ; 1/ 583)

    Itulah yang selalu dimohon Rasulullah SAW dalam doanya, seperti pada hadits lain : Artinya : ” Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada-Mu rasa takutan akan diri-Mu di waktu sunyi dan keramaian, dan saya memohon kepada-Mu untuk (mampu) berkata benar di waktu marah dan ridho, dan saya memohon kepada-Mu untuk sikap sederhana di waktu miskin dan kaya” (H.R. Nasai dari Amar bin Yasir, no: 1304 dan dishohihkan oleh Syeikh Al-Albani di kitab Shohih Jami no : 1301, 1/279). Maka rasa takut kapada Allah, lawan dari menuruti hawa nafsu, karena rasa takut mencegah perbuatan tersebut (menuruti hawa nafsu). Sebagaimana firman Allah :

    Artinya : “Dan adapun orang yang takut akan kedudukan Robnya, dan mencegah dirinya dari hawa nafsu “. (Q.S. 79 ;40)

    Sikap sederhana diwaktu miskin dan kaya, lawan dari rasa ambisi yang ditaati. Berkata benar diwaktu marah dan ridho, lawan dari rasa takjub (bangga) seseorang dengan dirinya.

    Apa yang dikatakan oleh As-Shiddiq sangat jelas, karena sesungguhnya Allah berfirman : (aaikum anfusakum) artinya: pegang teguhlah dan sibuklah dengan diri kalian. Dan termasuk dalam kemashlahatan diri, mengerjakan apa yang diperintahkan kepadamu, baik perintah (yang harus dikerjakan) atau larangan (yang harus ditinggalkan). Dan berfirman : Artinya : “Orang yang sesat tidak akan membahayakanmu apabila kamu mendapat petunjuk (hidayat) ” (Q.S. 5;105). Hidayah itu akan terwujud, bila Allah ditaati dan kewajiban ditunaikan, baik berupa perintah atau larangan dan yang lainnya.

    Di dalam ayat tersebut di atas, terdapat beberapa faidah yang agung:

    *Pertama *: Hendaknya seorang mukmin tidak takut terhadap orang-orang kafir dan munafik, karena mereka itu tidak akan membahayakannya, selama dia telah mendapat petunjuk.

    *Kedua *: Janganlah dia bersedih dan gelisah terhadap mereka, sebab kemaksiatan mereka tidak akan membahayakannya apabila dia telah mendapat petunjuk. Sebab bersedih terhadap apa yang tidak membahayakan merupakan hal yang sia-sia. Kedua makna ini disebutkan dalam firman Allah :

    Artinya : ” Dan bersabarlah dan tiada kesabaranmu kecuali dengan Allah, dan janganlah kamu bersedih terhadap mereka dan janganlah kamu merasa sempit terhadap tipu daya yang mereka ” (Q.S. 16;127).

    *Ketiga *: Hendaknya seorang mukmin tidak cenderung kepada mereka dan tidak menujukan pandangannya (tertarik) kepada apa yang mereka miliki dari kekuasaan, harta dan syahwat, seperti firman Allah :

    Artinya : ” Janganlah sekali-kali kamu menujukan pandanganmu kepada kenimatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu) dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka “. (QS;15;88).

    Maka Allah melarang Nabi Muhammad saw untuk bersedih terhadap mereka dan mengharapkan apa yang mereka miliki disatu ayat, dan melarangnya untuk bersedih serta takut kepada mereka di ayat yang lain. Karena, kadang-kadang seseorang itu merasa sedih dan merasa takut kepada mereka, baik disebabkan karena rasa harap atau rasa cemas.

    *Keempat *: Janganlah melampaui batas yang telah disyariatkan terhadap pelaku maksiat, dengan sikap berlebih-lebihan dalam membenci dan menghina, atau melarang dan menghajr (mengisolir) atau menghukumi mereka. Akan tetapi dikatakan kepada orang bersikap yang melampaui batas terhadap mereka itu, ” Uruslah dirimu sendiri, orang yang sesat tidak akan memudoratkanmu, selama kamu telah mendapat petunjuk”.

    Sebagaimana firman Allah : Artinya : ” Dan janganlah sekali kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu “(Q.S: 5;8).

    Dan firman Allah : Artinya : ” Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak mencintai orang yang melampaui batas” (QS:2;190)

    Dan firman Allah : Artinya: “Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu) maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim”. (QS:2;193).

    Maka sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang melakukan amar maruf nahi mungkar, kadang-kadang melampaui batas ketentuan-ketentuan Allah, mungkin disebabkan kebodohan dan mungkin pula disebabkan kezoliman. Permasalahan ini seseorang wajib tatsabbut (selektif / berhati-hati) baik dalam mengingkari orang-orang kafir, munafik, fasiq atau maksiat.

    *Kelima *: Hendaklah dia melaksanakan amar maruf nahi mungkar dalam batas yang disyariatkan yaitu berilmu, lemah-lembut, sabar, dan niat yang baik serta menempuh jalan tengah (meletakkan sesuatu pada tempatnya). Karena hal tersebut masuk di dalam firman Allah (alaikum anfusakum) uruslah diri kamu dan di firman Allah (idza ihtadaitum) jika kamu mendapatkan petunjuk.

    Lima point ini disimpulkan dari ayat di atas, bagi siapa yang diperintahkan untuk amar maruf dan nahi mungkar. Di dalam ayat tersebut juga terdapat makna yang lain, yaitu; perhatian seseorang terhadap mashlahat dirinya sendiri, dalam segi ilmu dan amal serta memalingkan dirinya dari hal yang tidak bermanfaat, sebagaimana yang dikatakan oleh sohibus-syariah (Rasulullah saw):

    Artinya : ” Merupakan baiknya islam seseorang meninggalkan apa yang tidak ia butuhkan” (H.R. Ahmad di Musnadnya dari Hasan bin Ali , dishohihkan oleh Syeikh Al-Albani di Shohih Al Jami no: 5911, juz : 2/1027).

    Apa lagi banyaknya hal yang tidak penting, yang tidak dibutuhkan oleh seseorang dari urusan agama orang lain dan dunianya, terutama apabila pembicaraan tersebut karena hasad dan kedudukan (kepemimpinan).

    Begitu juga dalam beramal, mungkin orang yang melaksanakannya melampaui batas dan zolim, atau bodoh dan berbaut sia-sia. Alangkah banyaknya amalan yang digambarkan syeitan seakan-akan dia melakukan amar maruf dan nahi mungkar serta jihad di jalan Allah, padahal sebenarnya perbuatan tersebut merupakan kezoliman dan tindakkan yang berlebih-lebihan (melampaui batas).

    Oleh karena itu, merenungkan ayat tersebut di dalam masalah ini, merupakan hal yang paling bermanfaat bagi seseorang. Apabila anda memperhatikan perselisihan yang terjadi di kalangan umat ini ; ulama, ahli ibadah, dan penguasa serta pemimpin mereka, anda akan menemukan, kebanyakan termasuk dalam jenis ini, yaitu: kezoliman yang disebabkan karena takwil atau bukan takwil.

    Seperti orang Jahmiyah, zolim terhadap ahli Sunnah dalam masalah sifat Allah dan Al quran ; seperti, bencana yang menimpa Imam Ahmad dan lainnya. Seperti Rafidhoh (syiah) selalu zolim terhadap ahli sunnah . Seperti Nashibah (orang membenci Ali) zolim terhadap Ali dan Ahli baitnya (keluarga dan keturunannya). Seperti Musyabbih (orang yang mengatakan sifat Allah seperti sifat makhluk) zolim terhadap munazzih (orang yang mensucikan Allah dari sifat yang serupa dengan sifat makhluk). Seperti sebagian Ahli sunnah kadang-kadang zolim, mungkin terhadap sebagian mereka, dan mungkin terhadap sejenis ahli bidah, dengan melebihi apa yang telah diperintah Allah, yaitu tindakan yang berlebih-lebihan, yang disebutkan dalam firman Allah :

    Artinya : ” Ya Robb kami ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami..” (Q.S. 3 : 147).

    Di samping sikap melampaui batas (tindakan yang berlebih-lebihan) ini,terdapat kelalaian yang dilakukan oleh yang lain terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka, dari kebenaran atau amar maruf dan nahi mungkar dalam seluruh aspek. Alangkah baiknya apa yang dikatakan sebagian salaf: ” Tidaklah Allah memerintahkan suatu urusan, kecuali syeitan menghalanginya dengan dua perkara : -dia tidak menghiraukan apapun dari dua perkara itu yang akan dilakukannya- ghulu (berlebih-lebihan) dan takshir (kelalaian).

    Maka orang yang membantu dalam perbuatan dosa dan permusuhan sama dengan orang yang tidak membantu dalam perbuatan baik dan takwa. Orang yang melakukan yang diperintahkan dan melebihi (apa yang diperintahkan padahal itu) dilarang, sama dengan orang yang meninggalkan yang dilarang dan sebagian yang diperintahkan.

    Semoga Allah menunjuki kita kepada jalan yang lurus. Tiada upaya dan kekuatan kecuali dengan Allah.

    *MENEBAR ILMU* dan tegakkan sunnah

     
  • erva kurniawan 2:39 am on 12 November 2018 Permalink | Balas  

    Etika Tidur dan Bangun 

    Etika Tidur dan Bangun

    Berintrospeksi diri (muhasabah) sesaat sebelum tidur. Sangat dianjurkan sekali bagi setiap muslim bermuhasabah (berintrospeksi diri) sesaat sebelum tidur, mengevaluasi segala perbuatan yang telah ia lakukan di siang hari. Lalu jika ia dapatkan perbuatannya baik maka hendaknya memuji kepada Allah Subhanahu wata’ala dan jika sebaliknya maka hendaknya segera memohon ampunan-Nya, kembali dan bertobat kepada-Nya.

    Tidur dini, berdasarkan hadits yang bersumber dari `Aisyah Radhiallahu’anha “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam tidur pada awal malam dan bangun pada pengujung malam, lalu beliau melakukan shalat”.(Muttafaq `alaih)

    Disunnatkan berwudhu’ sebelum tidur, dan berbaring miring sebelah kanan. Al-Bara’ bin `Azib Radhiallahu’anhu menuturkan : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Apabila kamu akan tidur, maka berwudlu’lah sebagaimana wudlu’ untuk shalat, kemudian berbaringlah dengan miring ke sebelah kanan…” Dan tidak mengapa berbalik kesebelah kiri nantinya.

    Disunnatkan pula mengibaskan sperei tiga kali sebelum berbaring, berdasarkan hadits Abu Hurairah Radhiallahu’anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Apabila seorang dari kamu akan tidur pada tempat tidurnya, maka hendaklah mengirapkan kainnya pada tempat tidurnya itu terlebih dahulu, karena ia tidak tahu apa yang ada di atasnya…” Di dalam satu riwayat dikatakan: “tiga kali”. (Muttafaq `alaih).

    Makruh tidur tengkurap. Abu Dzar Radhiallahu’anhu menuturkan :”Nabi Shallallahu’alaihi wasallam pernah lewat melintasi aku, dikala itu aku sedang berbaring tengkurap. Maka Nabi Shallallahu’alaihi wasallam membangunkanku dengan kakinya sambil bersabda :”Wahai Junaidab (panggilan Abu Dzar), sesungguhnya berbaring seperti ini (tengkurap) adalah cara berbaringnya penghuni neraka”. (H.R. Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

    Makruh tidur di atas dak terbuka, karena di dalam hadits yang bersumber dari `Ali bin Syaiban disebutkan bahwasanya Nabi Shallallahu’alaihi wasallam telah bersabda: “Barangsiapa yang tidur malam di atas atap rumah yang tidak ada penutupnya, maka hilanglah jaminan darinya”. (HR. Al-Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrad, dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

    Menutup pintu, jendela dan memadamkan api dan lampu sebelum tidur. Dari Jabir ra diriwayatkan bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam telah bersabda: “Padamkanlah lampu di malam hari apa bila kamu akan tidur, tutuplah pintu, tutuplah rapat-rapat bejana-bejana dan tutuplah makanan dan minuman”. (Muttafaq’alaih).

    Membaca ayat Kursi, dua ayat terakhir dari Surah Al-Baqarah, Surah Al-Ikhlas dan Al-Mu`awwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas), karena banyak hadits-hadits shahih yang menganjurkan hal tersebut.

    Membaca do`a-do`a dan dzikir yang keterangannya shahih dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, seperti : Allaahumma qinii yauma tab’atsu ‘ibaadaka

    “Ya Allah, peliharalah aku dari adzab-Mu pada hari Engkau membangkitkan kembali segenap hamba-hamba-Mu”. Dibaca tiga kali.(HR. Abu Dawud dan di hasankan oleh Al Albani)

    Dan membaca: Bismika Allahumma Amuutu Wa ahya

    “Dengan menyebut nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup.” (HR. Al Bukhari)

    Apabila di saat tidur merasa kaget atau gelisah atau merasa ketakutan, maka disunnatkan (dianjurkan) berdo`a dengan do`a berikut ini :

    “A’uudzu bikalimaatillaahit taammati min ghadhabihi Wa syarri ‘ibaadihi, wa min hamazaatisy syayaathiini wa an yahdhuruuna.”

    Aku berlindung dengan Kalimatullah yang sempurna dari murka-Nya, kejahatan hamba-hamba-Nya, dari gangguan syetan dan kehadiran mereka kepadaku”. (HR. Abu Dawud dan dihasankan oleh Al Albani)

    Hendaknya apabila bangun tidur membaca :

    “Alhamdu Lillahilladzii Ahyaanaa ba’da maa Amaatanaa wa ilaihinnusyuuru”

    “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami dimatikan-Nya, dan kepada-Nya lah kami dikembalikan.” (HR. Al-Bukhari)

    [Taken From Kitab “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari” By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 11 November 2018 Permalink | Balas  

    ETIKA MEMBERI SALAM 

    ETIKA MEMBERI SALAM

    Makruh memberi salam dengan ucapan: “Alaikumus salam” karena di dalam hadits Jabir Radhiallaahu ‘anhu diriwayatkan bahwasanya ia menuturkan : Aku pernah menjumpai Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam maka aku berkata: “Alaikas salam ya Rasulallah”. Nabi menjawab: “Jangan kamu mengatakan: Alaikas salam”. Di dalam riwayat Abu Daud disebutkan: “karena sesungguhnya ucapan “alaikas salam” itu adalah salam untuk orang-orang yang telah mati”. (HR. Abu Daud dan At-Turmudzi, dishahihkan oleh Al-Albani).

    Dianjurkan mengucapkan salam tiga kali jika khalayak banyak jumlahnya. Di dalam hadits Anas disebutkan bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila ia mengucapkan suatu kalimat, ia mengulanginya tiga kali. Dan apabila ia datang kepada suatu kaum, ia memberi salam kepada mereka tiga kali” (HR. Al-Bukhari).

    Termasuk sunnah adalah orang mengendarai kendaraan memberikan salam kepada orang yang berjalan kaki, dan orang yang berjalan kaki memberi salam kepada orang yang duduk, orang yang sedikit kepada yang banyak, dan orang yang lebih muda kepada yang lebih tua. Demikianlah disebutkan di dalam hadits Abu Hurairah yang muttafaq’alaih.

    Disunnatkan keras ketika memberi salam dan demikian pula menjawabnya, kecuali jika di sekitarnya ada orang-orang yang sedang tidur. Di dalam hadits Miqdad bin Al-Aswad disebutkan di antaranya: “dan kami pun memerah susu (binatang ternak) hingga setiap orang dapat bagian minum dari kami, dan kami sediakan bagian untuk Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam Miqdad berkata: Maka Nabi pun datang di malam hari dan memberikan salam yang tidak membangunkan orang yang sedang tidur, namun dapat didengar oleh orang yang bangun”.(HR. Muslim).

    Disunatkan memberikan salam di waktu masuk ke suatu majlis dan ketika akan meninggalkannya. Karena hadits menyebutkan: “Apabila salah seorang kamu sampai di suatu majlis hendaklah memberikan salam. Dan apabila hendak keluar, hendaklah memberikan salam, dan tidaklah yang pertama lebih berhak daripada yang kedua. (HR. Abu Daud dan disahihkan oleh Al-Albani).

    Disunnatkan memberi salam di saat masuk ke suatu rumah sekalipun rumah itu kosong, karena Allah telah berfirman yang artinya:

    ” Dan apabila kamu akan masuk ke suatu rumah, maka ucapkanlah salam atas diri kalian” (An-Nur: 61)

    Dan karena ucapan Ibnu Umar Radhiallaahu ‘anhuma : “Apabila seseorang akan masuk ke suatu rumah yang tidak berpenghuni, maka hendaklah ia mengucapkan : Assalamu `alaina wa `ala `ibadillahis shalihin” (HR. Bukhari di dalam Al-Adab Al-Mufrad, dan disahihkan oleh Al-Albani).

    Dimakruhkan memberi salam kepada orang yang sedang di WC (buang hajat), karena hadits Ibnu Umar Radhiallaahu ‘anhuma yang menyebutkan “Bahwasanya ada seseorang yang lewat sedangkan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam sedang buang air kecil, dan orang itu memberi salam. Maka Nabi tidak menjawabnya”. (HR. Muslim)

    Disunnatkan memberi salam kepada anak-anak, karena hadits yang bersumber dari Anas Radhiallaahu ‘anhu menyebutkan: Bahwasanya ketika ia lewat di sekitar anak-anak ia memberi salam, dan ia mengatakan: “Demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam”. (Muttafaq’alaih).

    Tidak memulai memberikan salam kepada Ahlu Kitab, sebab Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :” Janganlah kalian terlebih dahulu memberi salam kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani…..” (HR. Muslim). Dan apabila mereka yang memberi salam maka kita jawab dengan mengucapkan “wa `alaikum” saja, karena sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Apabila Ahlu Kitab memberi salam kepada kamu, maka jawablah: wa `alaikum”.(Muttafaq’alaih).

    Disunnatkan memberi salam kepada orang yang kamu kenal ataupun yang tidak kamu kenal. Di dalam hadits Abdullah bin Umar Radhiallaahu ‘anhu disebutkan bahwasanya ada seseorang yang bertanya kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Islam yang manakah yang paling baik? Jawab Nabi: Engkau memberikan makanan dan memberi salam kepada orang yang telah kamu kenal dan yang belum kamu kenal”. (Muttafaq’alaih).

    Disunnatkan menjawab salam orang yang menyampaikan salam lewat orang lain dan kepada yang dititipinya. Pada suatu ketika seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: Sesungguhnya ayahku menyampaikan salam untukmu. Maka Nabi menjawab : “`alaika wa`ala abikas salam”

    Dilarang memberi salam dengan isyarat kecuali ada uzur, seperti karena sedang shalat atau bisu atau karena orang yang akan diberi salam itu jauh jaraknya. Di dalam hadits Jabir bin Abdillah Radhiallaahu ‘anhu diriwayatkan bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian memberi salam seperti orang-orang Yahudi dan Nasrani, karena sesungguhnya pemberian salam mereka memakai isyarat dengan tangan”. (HR. Al-Baihaqi dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

    Disunnatkan kepada seseorang berjabat tangan dengan saudaranya. Hadits Rasulullah mengatakan: “Tiada dua orang muslim yang saling berjumpa lalu berjabat tangan, melainkan diampuni dosa keduanya sebelum mereka berpisah” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani).

    Dianjurkan tidak menarik (melepas) tangan kita terlebih dahulu di saat berjabat tangan sebelum orang yang dijabat tangani itu melepasnya. Hadits yang bersumber dari Anas Radhiallaahu ‘anhu menyebutkan: “Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila ia diterima oleh seseorang lalu berjabat tangan, maka Nabi tidak melepas tangannya sebelum orang itu yang melepasnya….” (HR. At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

    Haram hukumnya membungkukkan tubuh atau sujud ketika memberi penghormatan, karena hadits yang bersumber dari Anas menyebutkan: Ada seorang lelaki berkata: Wahai Rasulullah, kalau salah seorang di antara kami berjumpa dengan temannya, apakah ia harus membungkukkan tubuhnya kepadanya? Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak”. Orang itu bertanya: Apakah ia merangkul dan menciumnya? Jawab nabi: Tidak. Orang itu bertanya: Apakah ia berjabat tangan dengannya? Jawab Nabi: Ya, jika ia mau. (HR. At-Turmudzi dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

    Haram berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika akan dijabat tangani oleh kaum wanita di saat baiat, beliau bersabda: “Sesung-guhnya aku tidak berjabat tangan dengan kaum wanita”. (HR.Turmudzi dan Nasai, dan dishahihkan oleh Albani).

    ***

    [Taken From Kitab “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari” By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]

     
  • erva kurniawan 2:33 am on 10 November 2018 Permalink | Balas  

    ETIKA DI JALANAN 

    ETIKA DI JALANAN

    Berjalan dengan sikap wajar dan tawadlu, tidak berlagak sombong di saat berjalan atau mengangkat kepala karena sombong atau mengalihkan wajah dari orang lain karena takabbur. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:

    “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (Luqman: 18)

    Memelihara pandangan mata, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:

    “Katakanlah kepada orang laki-laki beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Yang Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya….” (An-Nur: 30-31).

    Tidak mengganggu, yaitu tidak membuang kotoran, sisa makanan di jalan-jalan manusia, dan tidak buang air besar atau kecil di situ atau di tempat yang dijadikan tempat mereka bernaung.

    Menyingkirkan gangguan dari jalan. Ini merupakan sedekah yang karenanya seseorang bisa masuk surga. Dari Abu Hurairah Radhiallaahu ‘anhu diriwayatkan bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketika ada seseorang sedang berjalan di suatu jalan, ia menemukan dahan berduri di jalan tersebut, lalu orang itu menyingkirkannya. Maka Allah bersyukur kepadanya dan mengampuni dosanya…” Di dalam suatu riwayat disebutkan: maka Allah memasukkannya ke surga”. (Muttafaq’alaih).

    Menjawab salam orang yang dikenal ataupun yang tidak dikenal. Ini hukumnya wajib, karena Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”Ada lima perkara wajib bagi seorang muslim terhadap saudaranya- diantaranya: menjawab salam”. (Muttafaq alaih).

    Beramar ma`ruf dan nahi munkar. Ini juga wajib dilakukan oleh setiap muslim, masing-masing sesuai kemampuannya.

    Menunjukkan orang yang tersesat (salah jalan), memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan dan menegur orang yang berbuat keliru serta membela orang yang teraniaya. Di dalam hadits disebutkan: “Setiap persendian manusia mempunyai kewajiban sedekah…dan disebutkan diantaranya: berbuat adil di antara manusia adalah sedekah, menolong dan membawanya di atas kendaraannya adalah sedekah atau mengangkatkan barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah sedekah dan menunjukkan jalan adalah sedekah….” (Muttafaq alaih).

    Perempuan hendaknya berjalan di pinggir jalan. Pada suatu ketika Nabi pernah melihat campur baurnya laki-laki dengan wanita di jalanan, maka ia bersabda kepada wanita: “Meminggirlah kalian, kalain tidak layak memenuhi jalan, hendaklah kalian menelusuri pinggir jalan. (HR. Abu Daud, dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

    Tidak ngebut bila mengendarai mobil khususnya di jalan-jalan yang ramai dengan pejalan kaki, melapangkan jalan untuk orang lain dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk lewat. Semua itu tergolong di dalam tolong-menolong di dalam kebajikan.

    ***

    [Taken From Kitab “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari” By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]

     
  • erva kurniawan 6:34 am on 9 November 2018 Permalink | Balas  

    Jangan Disibukan Ngurusin Orang 

    Jangan Disibukan Ngurusin Orang

    Assalamualaikum warahmatullohi wabarokatuhu  Saudaraku yang di cintai Allah SWT

    Nasihat Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله تعالىٰ di Masjid Mujahidin, Perak – Surabaya.

    Sibukkan dengan ‘ilmu.

    Dalam sesi tanya – jawab :

    Pertanyaan :

    “Bagaimana sikap thalabul ilmi (penuntut ‘ilmu) apakah boleh mentahdzir ustadz yang baru-baru ini dinilai membuat kesalahan?”

    Jawaban :

    “Jangan ikut-ikut, itu urusan ustadz. Antum belajar belajar belajar, jangan jadi seperti JT, Jamaah Tahdzir… kerjaannya tahdzir terus makanya bodoh bodoh mereka.”

    Kajian beliau حفظه الله تعالىٰ disiarkan langsung dari Surabaya via Radio Rodja 756 Am dan Rodja TV.

    Hal ini seperti yang dinasihatkan oleh Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i رحمه الله تعالىٰ

    Beliau رحمه الله تعالىٰ berkata,

    “Yang saya serukan kepada saudara-saudaraku di jalan Allah, orang-orang yang menghendaki keselamatan pada masa ini, dimana sangat banyak terjadi di dalamnya berbagai fitnah dan menjadi gelap gulita, untuk berkonsentrasi pada ‘ilmu yang bermanfaat, antusias dengan ‘ilmu yang bermanfaat, dan berpegangteguh pada agama Allah, sebab sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kita akan hal ini, demikian juga Nabi kita Muhammad ﷺ memerintahkan kita akan hal yang sama.”

    (Al-Fawaakihul Janniyyah, hal. 236)

    Maka berdo’a dan mintalah kepada Allah agar diberikan ‘ilmu yang bermanfaat yaitu ‘ilmu yang berbuah dengan amal berupa akhlak yang baik.

    Rasulullah ﷺ berdo’a,

    “Ya Allah, sungguh aku mohon kepada-Mu ‘ilmu yang bermanfaat, dan berlindung dari ‘ilmu yang tidak bermanfaat kepada-Mu.”

    (Hasan, HR. Ibnu Majah, no. 3843, an-Nasaa’i dalam Sunan al-Kubra, no. 7818, Ibnu Hibbaan, no. 82, dan Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf, no. 27127, 29610)

    Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin رحمه الله تعالىٰ berkata,

    “Amal pada hakikatnya adalah buah dari ‘ilmu. Barangsiapa beramal tanpa ‘ilmu, ia telah menyerupai orang Nasrani. Dan barangsiapa mengetahui ‘ilmu namun tidak mengamalkannya, ia telah menyerupai orang Yahudi.”

    (Syarah Tsalaatsatil Ushuul, hal. 22)

    Semoga Allah تبارك و‏تعالىٰ memberikan hidayah dan taufiq.

    ✒ Abu ‘Aisyah Aziz Arief_

    Semoga bermanfaat Aamiin Yaa Robbal Alamin Wassalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu

    ***

    Kiriman Sahabat: Saiful Bahri

     
  • erva kurniawan 2:31 am on 9 November 2018 Permalink | Balas  

    ETIKA BERPAKAIAN DAN BERHIAS 

    ETIKA BERPAKAIAN DAN BERHIAS

    Disunnatkan memakai pakaian baru, bagus dan bersih.

    Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda kepada salah seorang shahabatnya di saat beliau melihatnya mengenakan pakaian jelek : “Apabila Allah Tabaroka wata’ala mengaruniakan kepadamu harta, maka tampakkanlah bekas ni`mat dan kemurahan-Nya itu pada dirimu. (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani).

    Pakaian harus menutup aurat, yaitu longgar tidak membentuk lekuk tubuh dan tebal tidak memperlihatkan apa yang ada di baliknya.

    Pakaian laki-laki tidak boleh menyerupai pakaian perempuan atau sebaliknya. Karena hadits yang bersumber dari Ibnu Abbas Radhiallaahu ‘anhu ia menuturkan: “Rasulullah melaknat (mengutuk) kaum laki-laki yang menyerupai kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupai kaum pria.” (HR. Al-Bukhari).

    Tasyabbuh atau penyerupaan itu bisa dalam bentuk pakaian ataupun lainnya.

    Pakaian tidak merupakan pakaian show (untuk ketenaran), karena Rasulullah Radhiallaahu ‘anhu telah bersabda: “Barang siapa yang mengenakan pakaian ketenaran di dunia niscaya Allah akan mengenakan padanya pakaian kehinaan di hari Kiamat.” ( HR. Ahmad, dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

    Pakaian tidak boleh ada gambar makhluk yang bernyawa atau gambar salib, karena hadits yang bersumber dari Aisyah Radhiallaahu ‘anha menyatakan bahwasanya beliau berkata: “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membiarkan pakaian yang ada gambar salibnya melainkan Nabi menghapusnya”. (HR. Al-Bukhari dan Ahmad).

    Laki-laki tidak boleh memakai emas dan kain sutera kecuali dalam keadaan terpaksa. Karena hadits yang bersumber dari Ali Radhiallaahu ‘anhu mengatakan: “Sesungguhnya Nabi Allah Subhaanahu wa Ta’ala pernah membawa kain sutera di tangan kanannya dan emas di tangan kirinya, lalu beliau bersabda: Sesungguhnya dua jenis benda ini haram bagi kaum lelaki dari umatku”. (HR. Abu Daud dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

    Pakaian laki-laki tidak boleh panjang melebihi kedua mata kaki. Karena Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda : “Apa yang berada di bawah kedua mata kaki dari kain itu di dalam neraka” (HR. Al-Bukhari). -penting- <tilmidzi>

    Adapun perempuan, maka seharusnya pakaiannya menutup seluruh badannya, termasuk kedua kakinya. Adalah haram hukumnya orang yang menyeret (meng-gusur) pakaiannya karena sombong dan bangga diri. Sebab ada hadits yang menyatakan : “Allah tidak akan memperhatikan di hari Kiamat kelak kepada orang yang menyeret kainnya karena sombong”. (Muttafaq’alaih).

    Disunnatkan mendahulukan bagian yang kanan di dalam berpakaian atau lainnya. Aisyah Radhiallaahu ‘anha di dalam haditsnya berkata: “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam suka bertayammun (memulai dengan yang kanan) di dalam segala perihalnya, ketika memakai sandal, menyisir rambut dan bersuci’. (Muttafaq’-alaih).

    Disunnatkan kepada orang yang mengenakan pakaian baru membaca :

    “Segala puji bagi Allah yang telah menutupi aku dengan pakaian ini dan mengaruniakannya kepada-ku tanpa daya dan kekuatan dariku”. (HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

    Disunnatkan memakai pakaian berwarna putih, karena hadits mengatakan: “Pakailah yang berwarna putih dari pakaianmu, karena yang putih itu adalah yang terbaik dari pakaian kamu …” (HR. Ahmad dan dinilah shahih oleh Albani).

    Disunnatkan menggunakan farfum bagi laki-laki dan perempuan, kecuali bila keduanya dalam keadaan berihram untuk haji ataupun umrah, atau jika perempuan itu sedang berihdad (berkabung) atas kematian suaminya, atau jika ia berada di suatu tempat yang ada laki-laki asing (bukan mahramnya), karena larangannya shahih.

    Haram bagi perempuan memasang tato, menipiskan bulu alis, memotong gigi supaya cantik dan menyambung rambut (bersanggul). Karena Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam di dalam haditsnya mengatakan: “Allah melaknat (mengutuk) wanita pemasang tato dan yang minta ditatoi, wanita yang menipiskan bulu alisnya dan yang meminta ditipiskan dan wanita yang meruncingkan giginya supaya kelihatan cantik, (mereka) mengubah ciptaan Allah”. Dan di dalam riwayat Imam Al-Bukhari disebutkan: “Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya”. (Muttafaq’alaih).

    ***

    [Taken From Kitab “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari” By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]

     
  • erva kurniawan 2:30 am on 8 November 2018 Permalink | Balas  

    ETIKA (ADAB) BUANG HAJAT 

    ETIKA (ADAB) BUANG HAJAT

    Segera membuang hajat. Apabila seseorang merasa akan buang air maka hendaknya bersegera melakukannya, karena hal tersebut berguna bagi agamanya dan bagi kesehatan jasmani.

    Menjauh dari pandangan manusia di saat buang air (hajat). berdasarkan hadits yang bersumber dari al-Mughirah bin Syu`bah Radhiallaahu ‘anhu disebutkan ” Bahwasanya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila pergi untuk buang air (hajat) maka beliau menjauh”. (Diriwayatkan oleh empat Imam dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

    Menghindari tiga tempat terlarang, yaitu aliran air, jalan-jalan manusia dan tempat berteduh mereka. Sebab ada hadits dari Mu`adz bin Jabal Radhiallaahu ‘anhu yang menyatakan demikian.

    Tidak mengangkat pakaian sehingga sudah dekat ke tanah, yang demikian itu supaya aurat tidak kelihatan. Di dalam hadits yang bersumber dari Anas Radhiallaahu ‘anhu ia menuturkan: “Biasanya apabila Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam hendak membuang hajatnya tidak mengangkat (meninggikan) kainnya sehingga sudah dekat ke tanah. (HR. Abu Daud dan At-Turmudzi, dinilai shahih oleh Albani).

    Tidak membawa sesuatu yang mengandung penyebutan Allah kecuali karena terpaksa. Karena tempat buang air (WC dan yang serupa) merupakan tempat kotoran dan hal-hal yang najis, dan di situ setan berkumpul dan demi untuk memelihara nama Allah dari penghinaan dan tindakan meremehkannya.

    Dilarang menghadap atau membelakangi kiblat, berdasar-kan hadits yang bersumber dari Abi Ayyub Al-Anshari Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwasanya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Apabila kamu telah tiba di tempat buang air, maka janganlah kamu menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya, apakah itu untuk buang air kecil ataupun air besar. Akan tetapi menghadaplah ke arah timur atau ke arah barat”. (Muttafaq’alaih).

    Ketentuan di atas berlaku apabila di ruang terbuka saja. Adapun jika di dalam ruang (WC) atau adanya pelindung / penghalang yang membatasi antara si pembuang hajat dengan kiblat, maka boleh menghadap ke arah kiblat.

    Dilarang kencing di air yang tergenang (tidak mengalir), karena hadits yang bersumber dari Abu Hurairah Radhiallaahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jangan sekali-kali seorang diantara kamu buang air kecil di air yang menggenang yang tidak mengalir kemudian ia mandi di situ”.(Muttafaq’alaih).

    Makruh mencuci kotoran dengan tangan kanan, karena hadits yang bersumber dari Abi Qatadah Radhiallaahu ‘anhu menyebutkan bahwasanya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jangan sekali-kali seorang diantara kamu memegang dzakar (kemaluan)nya dengan tangan kanannya di saat ia kencing, dan jangan pula bersuci dari buang air dengan tangan kanannya.” (Muttafaq’alaih).

    Dianjurkan kencing dalam keadaan duduk, tetapi boleh jika sambil berdiri. Pada dasarnya buang air kecil itu di lakukan sambil duduk, berdasarkan hadits `Aisyah Radhiallaahu ‘anha yang berkata: Siapa yang telah memberitakan kepada kamu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam kencing sambil berdiri, maka jangan kamu percaya, sebab Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah kencing kecuali sambil duduk. (HR. An-Nasa`i dan dinilai shahih oleh Al-Albani). Sekalipun demikian seseorang dibolehkan kencing sambil berdiri dengan syarat badan dan pakaiannya aman dari percikan air kencingnya dan aman dari pandangan orang lain kepadanya. Hal itu karena ada hadits yang bersumber dari Hudzaifah, ia berkata: “Aku pernah bersama Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam (di suatu perjalanan) dan ketika sampai di tempat pembuangan sampah suatu kaum beliau buang air kecil sambil berdiri, maka akupun menjauh daripadanya. Maka beliau bersabda: “Mendekatlah kemari”. Maka aku mendekati beliau hingga aku berdiri di sisi kedua mata kakinya. Lalu beliau berwudhu dan mengusap kedua khuf-nya.” (Muttafaq alaih).

    Makruh berbicara di saat buang hajat kecuali darurat. berdasarkan hadits yang bersumber dari Ibnu Umar Shallallaahu ‘alaihi wa sallam diriwayatkan: “Bahwa sesungguhnya ada seorang lelaki lewat, sedangkan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. sedang buang air kecil. Lalu orang itu memberi salam (kepada Nabi), namun beliau tidak menjawabnya. (HR. Muslim).

    Makruh bersuci (istijmar) dengan mengunakan tulang dan kotoran hewan, dan disunnatkan bersuci dengan jumlah ganjil. Di dalam hadits yang bersumber dari Salman Al-Farisi Radhiallaahu ‘anhu disebutkan bahwasanya ia berkata: “Kami dilarang oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam beristinja (bersuci) dengan menggunakan kurang dari tiga biji batu, atau beristinja dengan menggunakan kotoran hewan atau tulang. (HR. Muslim).

    Dan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: ” Barangsiapa yang bersuci menggunakan batu (istijmar), maka hendaklah diganjilkan.”

    Disunnatkan masuk ke WC dengan mendahulukan kaki kiri dan keluar dengan kaki kanan berbarengan dengan dzikirnya masing-masing. Dari Anas bin Malik Radhiallaahu ‘anhu diriwayatkan bahwa ia berkata: “Adalah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila masuk ke WC mengucapkan :

    “Allaahumma inni a’udzubika minal khubusi wal khabaaits”

    “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari pada syetan jantan dan setan betina”.

    Dan apabila keluar, mendahulukan kaki kanan sambil mengucapkan : “Ghufraanaka” (ampunan-Mu ya Allah).

    Mencuci kedua tangan sesudah menunaikan hajat. Di dalam hadis yang bersumber dari Abu Hurairah ra. diriwayatkan bahwasanya “Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menunaikan hajatnya (buang air) kemudian bersuci dari air yang berada pada sebejana kecil, lalu menggosokkan tangannya ke tanah. (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).

    ***

    [Taken From Kitab “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari” By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]

     
  • erva kurniawan 2:26 am on 7 November 2018 Permalink | Balas  

    “Pesankan saya, tempat di neraka.!!” 

    “Pesankan saya, tempat di neraka.!!”

    Sebuah kisah dimusim panas yang menyengat. Seorang kolumnis majalah Al Manar mengisahkannya…

    Musim panas merupakan ujian yang cukup berat. Terutama bagi muslimah, untuk tetap mempertahankan pakaian kesopanannnya. Gerah dan panas tak lantas menjadikannya menggadaikan akhlak. Berbeda dengan musim dingin, dengan menutup telinga dan leher kehangatan badan bisa dijaga. Jilbab bisa sebagai multi fungsi.

    Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, Cairo-Alexandria; di sebuah mikrobus. Ada seorang perempuan muda berpakaian kurang layak untuk dideskripsikan sebagai penutup aurat. Karena menantang kesopanan. Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja dengan cara pakaian seperti itu mengundang ‘perhatian’ kalau bisa dibahasakan sebagai keprihatinan sosial.Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk disampingnya mengingatkan. Bahwa pakaian seperti itu bisa mengakibatkan sesuatu yang tak baik bagi dirinya. Disamping pakaian seperti itu juga melanggar aturan agama dan norma kesopanan.

    Tahukah Anda apa respon perempuan muda tersebut? Dengan ketersinggungan yang sangat ia mengekspresikan kemarahannya. Karena merasa privasinya terusik. Hak berpakaian menurutnya adalah hak prerogatif seseorang.

    “Jika memang bapak mau, ini ponsel saya. Tolong pesankan saya, tempat di neraka Tuhan Anda!! Sebuah respon yang sangat frontal. Dan sang bapak pun hanya beristighfar. Ia terus menggumamkan kalimat-kalimat Allah.

    Detik-detik berikutnya suasanapun hening. Beberapa orang terlihat kelelahan dan terlelap dalam mimpinya. Tak terkecuali perempuan muda itu. Hingga sampailah perjalanan dipenghujung tujuan. Di terminal akhir mikrobus Alexandria. Kini semua penumpang bersiap-siap untuk turun. Tapi mereka terhalangi oleh perempuan muda tersebut yang masih terlihat tertidur. Ia berada didekat pintu keluar. “Bangunkan saja!” begitu kira-kira permintaan para penumpang.

    Tahukah apa yang terjadi. Perempuan muda tersebut benar-benar tak bangun lagi. Ia menemui ajalnya. Dan seisi mikrobus tersebut terus beristighfar, menggumamkan kalimat Allah sebagaimana yang dilakukan bapak tua yang duduk disampingnya.

    Sebuah akhir yang menakutkan. Mati dalam keadaan menantang Tuhan.

    Seandainya tiap orang mengetahui akhir hidupnya….

    Seandainya tiap orang menyadari hidupnya bisa berakhir setiap saat…

    Seandainya tiap orang takut bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan yang buruk…

    Seandainya tiap orang tahu bagaimana kemurkaan Allah… Sungguh Allah masih menyayangi kita yang masih terus dibimbing-Nya. Allah akan semakin mendekatkan orang-orang yang dekat denganNYA semakin dekat.

    Dan mereka yang terlena seharusnya segera sadar… mumpung kesempatan itu masih ada.

    ==========

    “ROBB! Semanis-manis pemberianMu dalam kalbuku ialah perasaan harapku terhadapMu dan seenak-enak perkataan pada lidahku ialah memujiMu, sedang yang paling aku rindukan ialah saat berjumpa denganMu..”

     
  • erva kurniawan 1:23 am on 6 November 2018 Permalink | Balas  

    Cara-Cara Yang Mungkin Ditempuh Suami Istri Sebelum Menempuh Talak (Cerai) 

    Cara-Cara Yang Mungkin Ditempuh Suami Istri Sebelum Menempuh Talak (Cerai)

    Berikut nasihat Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz mengenai cara-cara yang dapat ditempuh pasangan suami istri sebelum memutuskan untuk cerai. Nasihat beliau ini merupakan jawaban dari pertanyaan yang diajukan kepada beliau. Apa saja?

    Tanya:

    Islam tidaklah menjadikan talak melainkan sebagai cara terakhir yang ditempuh bagi perpisahan pasangan suami istri. Sebaliknya Islam telah memberikan sejumlah cara yang selayaknya ditempuh pertama kali sebelum beranjak kepada Talak.

    Ada baiknya Syaikh membahas cara-cara yang telah diberikan Islam tersebut dalam mengatasi pertikaian di antara suami dan istri sebelum mereka memutuskan bercerai.

    Jawab:

    Allah telah mensyariatkan islah antara suami istri, dan mensyariatkan agar menempuh wasilah-wasilah yang dapat menghimpun kerukunan dan menghilangkan syubhat perceraian.

    Di antaranya adalah memberi nasihat dan pisah ranjang, dan memukul dengan pukulan ringan, jika dua cara tersebut tidak mempan.. Itu sebagaimana yang dinyatakan Allah dalam firman-Nya, Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz-nya, maka nasehatilah mereka, dan pisah ranjangkanlah dari mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. An-Nisa’: 34).

    Termasuk pula adalah tatkala timbul perselisihan di antara suami dan istri, setiap dari mereka mengutus seorang hakam (juru damai) dari kerabat mereka dalam rangka mendamaikan (islah) keduanya. Ini sebagaimana disebutkan Allah dalam firman-Nya, Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika edua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. An-Nisa’: 35).

    Jika semua cara di atas tidak bermanfaat, dan tidak mudah mencapai perdamaian, sementara pertikaian terus berlanjut, maka Allah mensyariatkan suami untuk menjatuhkan talak apabila sumber masalah muncul darinya.

    Disyariatkan istri membayar tebusan jika suami tidak mau mentalaknya tanpa tebusan tersebut jika sumber masalah muncul dari istri kebencian. Ini berdasarkan firman Allah, Talak (yang dapat dirujuk) dua kali. Setelah itu, boleh rujuk lagi dengan cara yang makruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu yang kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya. (QS. Al-Baqarah: 229).

    Dan karena perpisahan dengan cara yang baik adalah lebih baik daripada pertikaian dan pertengkaran, dan daripada tidak tercapainya maksud-maksud pernikahan yang dengan sebabnya ia disyariatkan. Oleh karena itu, Allah berfirman, Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari limpahan karunia-Nya. Dan adalah Allah Maha Luas (karuniapNya) lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisa’: 130)

    Telah shahih dari Rasulullah bahwa (beliau) memerintahkan Tsabit bin Qais Al-Anshari karena istrinya sudah merasa tidak mampu bertahan hidup bersamanya karena tidak mencintainya dan rela mengembalikan kebun Tsabit yang menjadi maharnya. Beliau memerintahkan Tsabit untuk menerima kembali kebun itu dan menceraikan istrinya, maka Tsabit pun melakukannya. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya)

    Allah-lah pemberi taufik. Semoga shalawat dan salam Dia curahkan kepada nabi kita, Muhammad, dan seluruh keluarga dan sahabatnya. (Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, hal. 5.)

     
  • erva kurniawan 2:17 am on 5 November 2018 Permalink | Balas  

    WAHYU DAN AKAL – IMAN DAN ILMU 

    WAHYU DAN AKAL – IMAN DAN ILMU

    [Kolom Tetap Harian Fajar

    10 Surah Al Anfaal 25 dan Hadits Safinah tentang BICS

    Syahdan, tersebutlah sebuah kisah nyata yang terjadi pada sebuah proyek pembangunan sebuah pabrik yang berlokasi di Arasoe tidak jauh dari sebelah selatan Watampone ibu kota kabupaten dengan nama yang sama. Pada waktu terjadinya kisah ini jalan raya belum mulus beraspal, melainkan masih berlubang-lubang. Dan bila musin hujan, kerbau mempunyai fasilitas untuk berkubang di dalamnya. Sudah hal yang lumrah, oto yang bermuatan lebih akan mengalami patah pegas. Dan itulah yang menimpa nasib kendaraan proyek yang akan ke ibu kota. Fasalnya ialah kendaraan beroda empat itu selamanya melebihi jumlah yang tercantum dalam (S)urat (P)erintah (J)alan, oleh karena selalu dicegat oleh ibu-ibu para isteri staf pegawai proyek. Dan tentu saja sang sopir tidak berani melarang nyonya-nyonya itu untuk naik. Perlu dijelaskan bahwa di lokasi proyek/pabrik telah lebih dahulu dibangun perumahan yang memadai bagi para pegawai staf proyek, sehingga mereka dapat memboyong anak isterinya ke lokasi.

    Saya sebagai dosen mata ajaran management Universitas Hasanuddin Makassar diperbantukan di proyek itu untuk menanggulangi peralatan mesin-mesin yang terbengkalai, agar tidak menjadi besi tua. Fasalnya adalah proyek itu di bangun pada zaman Orde Lama yang waktu itu banting stir ke kiri. Setelah pemberontakan komunis Gestapu, terbengkalailah hubungan dengan negara tempat asal peralatan proyek itu. Maka peralatan mesin-mesin itu terancam menjadi besi tua. Saya bersyukur mendapat kesempatan untuk mempratekkan management Islami di lapangan.

    Saya sarankan kepada Ir Abd Rasyid yang kepala proyek untuk mengatasi masalah kelebihan muatan, akibat keterlibatan nyonya-nyonya yang akan pergi shopping itu di ibu kota kabupaten. Saran saya supaya diterapkan S. Al Anfaal 25 dengan ilustrasi Hadits safinah. Sudah tentu kepala proyek tidak mengerti saran itu.

    Maka saya informasikan sebagai berikut. Surah Al Anfaal 25 berbunyi demikian:

    — Wattaquw fitnatan laa tushiebanna-lladziena zhalamuw minkum khaashshah, artinya peliharalah dirimu dari bencana yang ditimpakan tidak hanya khusus kepada orang-orang yang zalim di antara kamu sekalian.

    Adapun ilustrasinya seperti yang disabdakan Nabi Muhammad SAW dalam Hadits mengenai safinah (kapal atau perahu) adalah seperti berikut:

    Nabi mengibaratkan kita ini menumpang sebuah kapal dengan tempatnya masing-masing. Ada di geladak, ada di ruang bawah. Apabila yang di bagian ruang bawah ingin mendapatkan air haruslah menempuh tata-cara yang sudah digariskan. Naik dahulu ke geladak, kemudian menimba air, lalu turun lagi ke bawah di tempatnya semula. Apabila yang bersangkutan ingin cepat mendapatkan air, yang dikiranya itu adalah akselerasi modernisasi, ia akan menempuh terobosan baru. Dengan melubangi dinding kapal, ia serta merta akan mendapatkan air, tanpa susah-susah mengikuti posedur yang dilazimkan. Apabila ada seorang penumpang lain memegang tangan orang itu sebelum sempat membuat lubang, maka demikian sabda Nabi, si pencegah ini telah bertindak menyelamatkan dirinya, menyelamatkan si pembuat terobosan baru, bahkan telah menyelamatkan seluruh penumpang dan isi kapal dari bencana terkubur di dalam laut. Demikianlah ilustrasi menurut Hadits safinah tersebut.

    Setelah mendengarkan informasi itu, serta merta Ir Abd.Rasyid berucap, oh itukan Built In Control System. Maka diterapkanlah prinsip BICS itu. Dibuatlah ketentuan, apabila sopir melihat intervensi nyonya-nyonya yang akan menyebabkan muatan melebihi seperti yang tercantum di atas SPJ, sopir dengan segera mengembalikan oto ke garage. Uang jalan sopir tetap dibayarkan walaupun tidak jadi berangkat. Jadi sopir yang tidak berani melarang itu tidak usah melarang. Kembali ke garage berarti mendapatkan tambahan upah tanpa pergi meninggalkan lokasi. Enak buat sopir.

    Apa yang terjadi sesudah itu? Penumpang-penumpang yang sah menurut SPJ dengan serentak dan serempak melarang penumpang-penumpang yang tidak sah ikut naik. “Maaf ibu-ibu silakan jangan naik, sebab kalau ibu-ibu berpartisipasi naik ke oto, kami ini tidak jadi berangkat.” Maka terjadilah BICS, karena semua penumpang merasa berkepentingan melakukan aksi kontrol, berhubung menyangkut kepentingan diri mereka masing-masing.

    Maka demikianlah adanya. S. Al Anfaal 25 dengan ilustrasinya Hadits safinah terasa lebih asing bagi kebanyakan ummat Islam ketimbang BICS. Artinya milik sendiri kurang banyak dikenal ketimbang milik yang dipinjam dari orang lain. WaLlahu a’lamu bisshawab.

    ***

    Makassar, 22 Desember 1991

    [H.Muh.Nur Abdurrahman]

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 4 November 2018 Permalink | Balas  

    Cahaya yang Tak Teraih 

    Cahaya yang Tak Teraih

    eramuslim – Padahal Rasulullah SAW pun tidak dapat mengajak pamannya sendiri ke dalam nikmat ber-Islam. Padahal Nabi Luth AS dan Nabi Nuh AS pun tidak dapat menggandeng istri mereka dalam indahnya cahaya hidayah. Padahal Asiyah yang telah dijanjikan Allah akan dibangunkan rumah di surga pun, tidak dapat mengajak Fir’aun, suaminya sendiri, untuk menempati rumah yang sama. Lalu, apakah kita berhak memaksa Allah untuk menebarkan hidayah itu di hati keluarga kita?

    “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”(QS Al-Qoshosh: 56)

    ***

    Bagaimana perasaan kita ketika membaca berita di koran tentang seorang pecandu yang terkena AIDS atau seorang wanita yang hamil di luar nikah atau seseorang yang mati bunuh diri atau mereka yang mendekam di penjara karena predikatnya sebagai maling? Apakah kita akan merasa sedih atau simpati kepada mereka? Ataukah justru kita berpikir, “Ih, salah dia sendiri dong. Rasain tuh akibatnya!”. Mungkin juga kita hanya menyenandungkan istighfar sambil menyesalkan semakin jauhnya ummat ini dari hal-hal yang telah disyari’atkan-Nya.

    Memang, itu adalah kesalahan mereka sendiri. Mereka sendiri yang telah memilih untuk menggunakan obat-obat laknat itu, memilih untuk berzina, memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri, memilih untuk mengambil apa yang bukan haknya. Itu memang benar, mereka sendiri yang memilih menjalani kehidupan seperti itu. Dan untuk pilihan itu, mereka juga yang harus menanggung konsekuensinya, sebagai azas kausalitas yang tidak bisa dibantah.

    Tapi ternyata, ketika kejadian yang sama menimpa keluarga kita, sikap yang sama tidak dapat kita hadirkan. Tiba-tiba semua orang terdiam, semua mata basah oleh airmata. Jangankan berpikiran “salah sendiri”, rasanya dunia seakan kiamat. Terngiang di telinga firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahriim: 6)

    Masalah sudah menjadi demikian kompleks untuk menelusuri siapa yang salah dan siapa yang benar. Semua mengambil peranan di dalamnya. Orang tua, kakak, adik, sepupu, om, tante… semua ikut bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi. Minimal, mereka ikut berperan dengan sikap ketidakpedulian mereka.

    Sedih, sangat. Apalagi jika hal itu terjadi pada anggota keluarga seorang aktifis dakwah. Ketika sang da’i sibuk berkoar-koar di luar, mengisi pengajian, tabligh, atau menjadi orator, ternyata apa yang diserukannya untuk ditinggalkan, justru dikerjakan oleh orang-orang terdekatnya sendiri. Istilah ‘shalih tapi tidak menshalihkan’ mungkin adalah gelar yang cocok untuk sang da’. Ungkapan seperti “Ah, anaknya si Ustadz itu saja masih merokok dan minum-minuman keras,” atau “Tuh, adiknya si Pak Haji anu kemarin diajukan ke pengadilan karena ketahuan korupsi,” mewarnai penilaian masyarakat tentang dakwah yang timpang sebelah ini. Tidak jarang pula, penilaian inilah yang membuat masyarakat menjadi phobi terhadap dakwah mereka selanjutnya.

    Menyandang label sebagai seorang penyeru kebaikan memang tidak mudah. Dakwah kita diterima masyarakat lebih sering bukan hanya karena apa yang kita katakan, tapi dari apa yang kita kerjakan. Begitupun dengan keluarga. Parameter bagi kesuksesan dakwah seorang da’i salah satunya adalah dari kondisi keluarganya. Merupakan hal yang wajar jika masyarakat ingin menilai seberapa jauh keberhasilan seorang ‘marketer’ Islam dalam membidik lingkar terdekat pergaulannya sehari-hari. Walaupun dalam kacamata marketing juga dikenal adanya suatu skala prioritas, untuk mengarahkan sebagian besar potensi kepada segmen market yang peluangnya lebih besar untuk menerima apa yang kita jual, dan tidak selalu keluarga kita memenuhi kriteria tersebut.

    Lantas, haruskah kita berhenti berdakwah ketika kondisi keluarga kita belum ‘islami’? Salahkah seorang da’i yang berusaha merangkul orang lain sementara keluarganya masih berada dalam lingkup jahiliyah? Salahkah? Ya, mungkin memang salah, jika beliau sama sekali tidak berusaha mengingatkan mereka tentang adanya pahala dan dosa, tentang adanya surga dan neraka, tentang azab dan nikmat. Memang salah, jika beliau hanya bermaksud menjadi shalih sendirian. Bukankah Allah telah berfirman, “Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.” (QS Al-Ghaasyiyah: 21)

    Tugas kita sebenarnya hanyalah sampai pada tahap mengingatkan. Lalu sisanya adalah wilayah kekuasaan Allah untuk menentukan apakah orang yang kita beri peringatan tersebut akan dipilih-Nya sebagai penerima hidayah atau tidak, walaupun notabene adalah keluarga kita sendiri. Kita hanya bisa berikhtiar sambil terus mendo’akan mereka.

    “Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya…” (QS Al-Baqarah: 272)

    Wallahu a’lam bis-showab

    ***

    Bogor, 300305 as My condolences..

    Yentri Marchelino

     
  • erva kurniawan 2:58 am on 3 November 2018 Permalink | Balas  

    Pada Suatu Ketika: Solat Jum’at di New York 

    Pada Suatu Ketika: Solat Jum’at di New York

    Kiriman: L.Meilany

    Perkenankan, saya berbagi sedikit pengalaman pribadi seputar solat, Jum’atan dan tentang imam solat di New York.

    Dalam kehidupan keseharian New York yang individualis, mekanistis, sibuk dan nyaris tanpa belas kasihan, solat Jum’at menawarkan semacam istirahat dari semua itu. Dan juga menjadi ajang sosial diantara kami sesama muslim baik antara perempuan maupun pria. Karena itu saya selalu berusaha menghadiri solat Jum’at di dekat kantor saya. Waktu itu kadang- kadang jamaahnya [ bahkan!] lebih banyak perempuan. Jika bertemu teman-teman perempuan ataupun pria setelah solat Jum’at dan waktunya memungkinkan, terkadang kami makan siang sama-sama.

    Solat Jum’at menjadi lebih ‘ngetop’ dibandingkan dengan solat biasa – 17 rakaat sehari. Mungkin sulit dibayangkan bagi sebagian besar orang islam yang tinggal di Indonesia,-bahwa menjalankan solat sehari-hari di New York itu…..susaaaaah! Jangankan solat berjamaah, solat sendirian saja setiap kali merupakan suatu perjuangan.

    Saya bicara tentang Muslim mainstream, yaitu penduduk tetap New York, bukan mahasiswa, diplomat, turis atau pekerja sementara. Susahnya bukan karena tidak ada mesjid, – mesjid di New York itu ada ratusan, dan ini pernah menimbulkan kritik. Tapi ya itulah, tidak mudah memang untuk memelihara kehidupan yang ‘utuh’ ditengah kehidupan super sibuk, individual, dan mekanistis.

    Saya dan teman-teman pernah solat di tengah kebun binatang, dan sering di lapangan parkir. Agak menjauh dari keramaian, tapi tetap saja menjadi tontonan. Solat tergesa-gesa di dalam kelas, atau di tangga, sebelum teman-teman kuliah datang. Solat cepat di kantor, ketika semua makan siang. Seringnya melakukan jama qashar maupun akhir, kecuali subuh yang single. Bahkan sering juga merapel 17 rakaat. Sering juga meninggalkan solat. Wah, pokoknya seperti membuat fiqh sendiri. :-)

    Di rumah saya sering menjadi jadi imam jamaah pria, yaitu dengan anak-anak saya. Habis bagaimana lagi? Bagaimana mereka dapat belajar solat berjamaah kalau tanpa praktek? Sudah bagus mereka masih bisa ‘diintimidasi’ untuk solat jamaah….:-) Di acara pengajian anak-anak di rumah saya, selalu ada anak-anak perempuan yang protes mengapa mereka tidak pernah jadi imam? Saya tidak bisa menjelaskan, bahkan tidak bisa menjawab, tapi terpikir terus jadinya. Karena itu saya memberi tugas anak-anak perempuan menjadi khatib pemberi ceramah. Wah! Anak perempuan biasanya lebih verbal daripada anak laki-laki. Dan saya menikmati ekspresi wajah anak laki-laki yang nyaris ‘tak berdaya dan kebingungan’ mendengar kecanggihan pidato teman-temannya yang perempuan…:-))

    Pernah suatu ketika, di rumah ada beberapa tamu teman-teman perempuan. Ketika kita bersiap-siap solat jamaah, datang beberapa teman-teman pria. Otomatis kami ajak solat dan mempersilakan mereka jadi imam . Tapi mereka menolak dengan alasan tidak bisa (atau tidak mau?). Terlintas dalam pikiran saya mau mengatakan, kalau begitu ikut jamaah kami saja, perempuan yang jadi imam. Tapi entah mengapa, demi menghindarkan kontroversi jadi tuan rumah yang baik, saya diam saja dan melanjutkan solat berjamaah.

    Jangan katakan saya membuat fiqh sendiri… Saya sudah terbiasa dengan ide khatib perempuan di mesjid di kampung waktu kecil dulu. Sesudah solat berjamaah campuran, yang tentunya diimami pria, ustazah maju memberi ceramah ba’da Isha atau kuliah Subuh.

    Jumatan di Amerika menjadi acara keagamaan yang istimewa. Menjadi tempat pelipur lara, tempat bersosialisasi yang praktis datang seminggu sekali, bukan 5 kali sehari.

    Bagi gerakan feminis (feminis = laki-laki & perempuan), solat Jumat mempunyai warna tersendiri, yaitu mengingatkan pada kesetaraan fungsi sosial dalam ibadah solat Jumat. Hak berkumpul, bersosialisasi dan bermusyawarah. Dan ini ada di dalam solat Jumat di Amerika. Kesetaraan gender di Amerika relatif lebih maju dibandingkan di Indonesia, karena dilindungi oleh hukum sipil dan wacana fungsi sosial. Memaklumi chauvinism yang kental di Amerika, apalagi diantara laki-laki Muslim disana – merupakan tantangan tersendiri yang harus dicairkan. Inilah ajang perjuangan bagi laki-laki maupun perempuan. Inilah kehidupan nyata.

    Sekarang saya jadi berpikir, bagaimana pikiran anak-anak perempuan ABG dipengajian di NY, tentang imam Dr. Wadud?. Apakah ini jawaban dari yang mereka pikirkan?

    It’s been a long time, but I do hope they care. I hope they are happy and not confused by the controversies! God bless the young American Muslims wherever you are!

    Berdasarkan penuturan Mia WM

     
    • Em Amir Nihat 8:33 am on 3 November 2018 Permalink

      Semangatnya luar biasa, Bu. Kelak perjuangan ibu utk sholat akan mndpt ridhoNya Allah. Aamiin

  • erva kurniawan 7:49 am on 2 November 2018 Permalink | Balas  

    Nahi Mungkar pasangannya Amar Makruf. 

    Nahi Mungkar pasangannya Amar Makruf.

    Dalam istilah sehari-hari, kata munkar sering digandengkan dengan kata ma’ruf, seperti dalam ungkapan amar ma’ruf nahi munkar.

    Ini menunjukkan antara keduanya mempunyai hubungan erat.

    Apabila kita menyeru manusia kepada yang ma’ruf (baik), maka kita pun harus mencegahnya dari yang munkar (buruk).

    Kemungkaran meliputi segala yang buruk dan dilarang Islam. Misalnya, korupsi, mengabaikan kehormatan rakyat, menyerahkan urusan kepada yang bukan ahli, menimbun barang yang dibutuhkan rakyat untuk kepentingan pribadi atau golongan, menghukum manusia tanpa melalui prosedur pengadilan yang adil, dan praktik sogok-menyogok.

    Mengubah kemungkaran wajib bagi Muslim sebagai konsekuensi iman yang dimilikinya. Menjalankan misi ini menjadi unsur fundamental terwujud keutamaan dan kebaikan umat. Allah berfirman :

    “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah”. (QS.3:110).

    Kewajiban mengubah kemungkaran berlaku bagi laki-laki dan perempuan. Mereka dituntut tolong menolong dalam menjalankannya. Allah memuji orang-orang yang menjalankan tugas itu. Allah berfirman :

    “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(QS.9:71).

    Mereka yang pasif ketika melihat dan mengetahui kemungkaran mendapat murka dan celaan dari Allah. Allah berfirman :

    “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu”. (QS. 5:78-79).

    Orang yang keberatan dan takut memberikan peringatan kepada orang yang zalim dan berbuat mungkar dicela Rasulullah SAW dan dinilai sebagai orang yang tidak layak hidup.

    Rasulullah SAW bersabda: “Jika kulihat umatku gentar berkata kepada orang zalim, hai orang zalim, maka mereka tidak layak lagi untuk hidup”. (HR.Ahmad).

    Mengubah kemungkaran dilakukan dengan sejumlah tahap. Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu hendaklah dengan lidahnya. Jika tidak mampu hendaklah dengan hatinya, namun yang sedemikian itu adalah selemah-lemah iman”. (HR.Muslim).

    Ada tiga tahap mengubah kemungkaran.

    Pertama, menggunakan tangan atau kekuasaan apabila mampu.

    Kedua, menggunakan lidah dan keterangan, apabila tidak mampu dengan tangan.

    Ketiga, apabila tidak mampu, beralih ke cara yang paling rendah, yaitu mengubah dengan hati. Ini merupakan selemah-lemah iman.

    MENGUBAH KEMUNGKARAN.

    Firdaus.

    Republika, Senin, 04 April 2005.

     
  • erva kurniawan 12:45 am on 1 November 2018 Permalink | Balas  

    Somasi: Fitnah, Ghibah, Syakwasangka. 

    Somasi: Fitnah, Ghibah, Syakwasangka.

    Kiriman: rifky pradana

    Suatu tuduhan yang tanpa disertai dengan data pendukung dan bukti-buktinya secara lengkap dan kongkret, adalah fitnah. Padahal fitnah itu adalah lebih kejam dari pembunuhan. Orang yang bertanggung-jawab selalu menyertakan tuduhannya dengan bukti-buktinya secara lengkap dan kongkret serta dapat dipertanggungjawabkan.

    Sebaiknya jika tak mempunyai data dan bukti yang komplit, jelas, lengkap, kongkret, dan dapat dipertanggungjawabkan, maka sebaiknya tak usah membuat suatu tudahan.  Asumsi-asumsi bukanlah bukti yang kongkret, indikasi juga bukan data pendukung yang kongkret. Data dan bukti yang bukti yang komplit, jelas, lengkap, kongkret, dan dapat dipertanggungjawabkan pun tetap harus mampu menghadirkan saksi-saksi yang melihat langsung kejadian yang dituduhkan itu.

    Ghibah adalah membicarakan keburukan/cacat/kelemahan/aib/kekurangan orang lain. Ghibah ini sangat berbahaya karena akan membuat orang melupakan sisi evaluasi dan intropeksi diri. Orang harus meneliti (bermuhasabah) atas dirinya, jangan samapi orang menjadi seperti kata pepatah, gajah dipelupuk mata tak tampak sedangkan kuman diseberang lautan tampak jelas. Padahal manusia adalah tempatnya kekhilafan, kesalahan, dan penuh dengan kelemahan dan kekurangan diri. Orang suka lupa akan kesalahan dirinya sendiri. Dan orang juga suka lupa menilai dirinya sendiri sebelum menilai orang lain. Orang-orang besar dan hebat adalah orang-orang yang mau menilai dirinya sendiri, mau melihat kesalahan-kesalahannya sendiri dulu, serta mengakui kekurangan dan kelemahan dirinya, orang yang tak suka mencari-cari keburukan/cacat/kelemahan/aib/kekurangan orang lain atau pihak lain diluar diriya. Orang yang mau berkonsentrasi pada dirinya sendiri, mengupayakan daya upaya seluruhnya untuk memperbaiki dirinya sendiri dulu.

    Alangkah indahnya hidup ini, seandainya setiap orang bersedia untuk memperbaiki kekurangan dan kelemahan dirinya sendiri dulu, sebelum membicarakan keburukan/cacat/kelemahan/aib/kekurangan orang lain, mempersalahkan pihak lain diluar diriya.

    Orang juga suka lupa hanya mempersalahkan saja tanpa memberikan jalan keluar dan solusinya secara konstruktif dan realistis. Hanyalah cerminan dari kelemahan diri dan ketidakberdayaan diri, padahal mungkin awal muasal kesalahan adalah dari dirinya sendiri.

    Syakwasangka dan berburuk sangka adalah sesuatu yang dapat mengeruhkan kebeningan jiwa, yang hanya akan menutupi kejernihan hati. Padahal hati adalah tempatnya nurani, dimana kata hati yang paling hakiki bersemayam di sanubari diri yang suci. Maka berburuk sangka hanyalah akan mengotori hati, padahal hati adalah lentera diri.

    Orang-orang hebat dan sukses adalah orang yang menghindari Fitnah, Ghibah, dan Buruk Sangka. Tak lupa senantiasa mengintropeksi diri, mengevaluasi diri, memeriksa kesalahn diri, semata-mata mengerahkan segala daya upanya sekeras mungkin untuk mengupayakan perbaikan dirinya sendiri secara terus menerus.

    Oleh sebab itu, untuk menghindari Fitnah, Ghibah, Buruk Sangka, kita lebih baik melihat hal-hal dari sisi positifnya saja. Ambillah semua itu untuk hikmah untuk memperpaiki diri sendiri, karena semua perbaikan harus dimulai dari dirinya sendiri. Biarlah orang lain memperbaiki diri mereka sendiri, yang penting kita memperbaiki diri kita sendiri.

    Maka untuk menghindari “somasi” perlulah kita mengembangkan hal-hal tersebut diatas. Bicarakanlah hal-hal yang baik-baik saja, jangan bicarakan hal-hal yang buruk-buruk. Itu hanya akan mengotori hati saja.

    Jagalah hati, jangan kau kotori. Jagalah hati, lentera hidup ini…

    Allahu’alambisawab.

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: