Updates from Maret, 2016 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:16 am on 28 March 2016 Permalink | Balas  

    Alasan yang Mendorong Keluarga Berencana 

    keluargaAlasan yang Mendorong Keluarga Berencana

    Di antara sekian banyak alasan yang mendorong dilakukannya keluarga berencana, yaitu:

    Pertama: Mengkawatirkan terhadap kehidupan atau kesehatan si ibu apabila hamil atau melahirkan anak, setelah dilakukan suatu penelitian dan cheking oleh dokter yang dapat dipercaya. Karena firman Allah:

    “Jangan kamu mencampakkan diri-diri kamu ke dalam kebinasaan.” (al-Baqarah: 195)

    Dan firman-Nya pula:

    “Dan jangan kamu membunuh diri-diri kamu, karena sesungguhnya Allah maha belaskasih kepadamu.” (an-Nisa’: 28)

    Kedua: Kawatir akan terjadinya bahaya pada urusan dunia yang kadang-kadang bisa mempersukar beribadah, sehingga menyebabkan orang mau menerima barang yang haram dan mengerjakan yang terlarang, justru untuk kepentingan anak-anaknya. Sedang Allah telah berfirman:

    “Allah berkehendak untuk memberikan kemudahan kepadamu, bukan berkehendak untuk memberi kesukaran kepadamu.” (al-Baqarah: 185)

    “Allah tidak berkehendak untuk menjadikan suatu kesukaran kepadamu.” (al-Maidah: 6)

    Termasuk yang mengkawatirkan anak, ialah tentang kesehatan dan pendidikannya.

    Usamah bin Zaid meriwayatkan:

    “Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi s.a.w. kemudian ia berkata: ya Rasulullah! Sesungguhnya saya melakukan azl pada isteriku. Kemudian Nabi bertanya: mengapa kamu berbuat begitu? Si laki-laki tersebut menjawab: karena saya merasa kasihan terhadap anaknya, atau ia berkata: anak-anaknya. Lantas Nabi bersabda: seandainya hal itu berbahaya, niscaya akan membahayakan bangsa Persi dan Rum.” (Riwayat Muslim)

    Seolah-olah Nabi mengetahui bahwa situasi individu, yang dialami oleh si laki-laki tersebut, tidaklah berbahaya untuk seluruh bangsa, dengan dasar bangsa Persi dan Rum tidak mengalami bahaya apa-apa, padahal mereka biasa melakukan persetubuhan waktu hamil dan menyusui, sedang waktu itu kedua bangsa ini merupakan bangsa yang terkuat di dunia.

    Ketiga: Keharusan melakukan azl yang biasa terkenal dalam syara’ ialah karena mengkawatirkan kondisi perempuan yang sedang menyusui kalau hamil dan melahirkan anak baru.

    Nabi menamakan bersetubuh sewaktu perempuan masih menyusui, dengan ghilah atau ghail, karena penghamilan itu dapat merusak air susu dan melemahkan anak. Dan dinamakannya ghilah atau ghail karena suatu bentuk kriminalitas yang sangat rahasia terhadap anak yang sedang disusui. Oleh karena itu sikap seperti ini dapat dipersamakan dengan pembunuhan misterius (rahasia).

    Nabi Muhammad s.a.w. selalu berusaha demi kesejahteraan ummatnya. Untuk itu ia perintahkan kepada ummatnya ini supaya berbuat apa yang kiranya membawa maslahah dan melarang yang kiranya membawa bahaya. Di antara usahanya ialah beliau bersabda:

    “Jangan kamu membunuh anak-anakmu dengan rahasia, sebab ghail itu biasa dikerjakan orang Persi kemudian merobohkannya.” (Riwayat Abu Daud)

    Tetapi beliau sendiri tidak memperkeras larangannya ini sampai ke tingkat haram, sebab beliau juga banyak memperhatikan keadaan bangsa yang kuat di zamannya yang melakukan ghilah, tetapi tidak membahayakan. Dengan demikian bahaya di sini satu hal yang tidak dapat dielakkan, sebab ada juga seorang suami yang kawatir berbuat zina kalau larangan menyetubuhi isteri yang sedang menyusui itu dikukuhkan. Sedang masa menyusui itu kadang-kadang berlangsung selama dua tahun bagi orang yang hendak menyempurnakan penyusuan.

    Untuk itu semua, Rasulullah s.a,w. bersabda:

    “Sungguh saya bermaksud akan melarang ghilah, kemudian saya lihat orang-orang Persi dan Rum melakukannya, tetapi ternyata tidak membahayakan anaknya sedikitpun.” (Riwayat Muslim)

    Ibnul Qayim dalam menerangkan hubungan antara hadis ini dengan hadis sebelumnya, mengatakan sebagai berikut: “Nabi s.a.w. memberitakan pada salah satu segi: bahwa ghail itu berarti memperlakukan anak seperti orang-orang Persi mengadu kudanya, dan ini salah satu macam yang menyebabkan bahaya tetapi sifatnya bukan membunuh dan merusak anak, sekalipun kadang-kadang membawa bahaya anak kecil. Oleh karena itu Nabi s.a.w. membimbing mereka supaya meninggalkan ghail kendati bukan melarangnya. Kemudian beliau berazam untuk melarangnya guna membendung bahaya yang mungkin menimpa anak yang masih menyusu. Akan tetapi menutup pintu bahaya ini tidak dapat menghindari mafsadah yang juga mungkin terjadi sebagai akibat tertahannya jima’ selama dalam menyusui, lebih-lebih orang-orang yang masih berusia muda dan syahwatnya sangat keras, yang tidak dapat diatasi melainkan dengan menyetubuhi isterinya. Itulah sebabnya beliau mengetahui, bahwa maslahah dalam masalah ini lebih kuat daripada menolak mafsadah. Kemudian beliau melihat dua bangsa yang besar dan kuat (Romawi dan Persi) di mana mereka itu juga mengerjakan ghilah dan justru karena kekuatannya itu, mereka samasekali tidak ada rasa kawatir apa yang mungkin terjadi sebab ghilah. Oleh karena itulah beliau tidak jadi melarangnya.

    Di zaman kita ini sudah ada beberapa alat kontrasepsi yang dapat dipastikan kemaslahatannya, dan justru maslahah itulah yang dituju oleh Nabi Muhammad s.a.w., yaitu melindungi anak yang masih menyusu dari mara-bahaya termasuk menjauhi mafsadah yang lain pula, yaitu: tidak bersetubuh dengan isterinya selama menyusui, di mana hal itu sangat memberatkan sekali.

    Dengan dasar inilah, kita dapat mengira-ngirakan jarak yang pantas antara dua anak, yaitu sekitar 30 atau 33 bulan, bagi mereka yang ingin menyempurnakan susuan.

    Imam Ahmad dan lain-lain mengikrarkan, bahwa hal yang demikian itu diperkenankan apabila isteri mengizinkannya, karena dialah yang lebih berhak terhadap anak, di samping dia pula yang berhak untuk bersenang-senang.

    Sedang Umar Ibnul-Khattab, dalam salah satu riwayat berpendapat, bahwa azl itu dilarang, kecuali dengan seizin isteri.

    Demikianlah perhatian Islam terhadap hak-hak perempuan, di mana waktu itu dunia tidak mengenal dan tidak mengakuinya.

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 2:47 am on 27 March 2016 Permalink | Balas  

    Keluarga Berencana 

    siluet keluarga 2Keluarga Berencana

    Tidak syak lagi, bahwa tujuan pokok perkawinan ialah demi kelangsungan jenis manusia. Sedang kelangsungan jenis manusia ini hanya mungkin dengan berlangsungnya keturunan. Islam sendiri sangat suka terhadap banyaknya keturunan dan memberkati setiap anak, baik laki-laki ataupun perempuan. Namun di balik itu Islam juga memberi perkenan (rukhshah) kepada setiap muslim untuk mengatur keturunannya itu apabila didorong oleh alasan yang kuat.

    Cara yang masyhur yang biasa dilakukan oleh orang di zaman Nabi untuk menyetop kehamilan atau memperkecil, yaitu azl (mengeluarkan mani di luar rahim ketika terasa akan keluar).

    Para sahabat banyak yang melakukan azl ketika Nabi masih hidup dan wahyupun masih terus turun, yaitu seperti yang tersebut dalam riwayat di bawah ini:

    “Dari Jabir r.a. ia berkata: kami biasa melakukan azl di masa Nabi s.a. w. sedang al-Ouran masih terus turun.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Di riwayat lain ia berkata:

    “Kami biasa melakukan azl di zaman Nabi s.a.w. maka setelah hal demikian itu sampai kepada Nabi, beliau tidak melarang kami.” (Riwayat Muslim)

    Diriwayatkan juga, bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Nabi lantas ia berkata:

    “Ya Rasulullah! Sesungguhnya saya mempunyai seorang hamba perempuan (jariyah) dan saya melakukan azl daripadanya, karena saya tidak suka kalau dia hamil dan saya ingin seperti apa yang biasa diinginkan oleh umumnya orang laki-laki, sedang orang-orang Yahudi berceritera: bahwa azl itu sama dengan pembunuhan yang kecil. Maka bersabdalah Nabi s.a.w.: dusta orang-orang Yahudi itu! Kalau Allah berkehendak untuk menjadikannya (hamil), kamu tidak akan sanggup mengelakkannya.” (Riwayat Ashabussunan)

    Yang dimaksud oleh Nabi, bahwa persetubuhan dengan azl itu, kadang-kadang ada setetes mani masuk yang menyebabkan kehamilan sedang dia tidak mengetahuinya.

    Di zaman pemerintahan Umar, dalam satu majlis orang-orang banyak berbincang masafah azl. Kemudian ada salah seorang laki-laki yang berkata: bahwa orang-orang Yahudi beranggapan, azl itu berarti pembunuhan yang kecil. Kemudian Ali r.a. ber kata: “Tidak dinamakan pembunuhan, sehingga mani itu berjalan tujuh tahap, yaitu: mula-mula sari tanah, kemudian menjadi nuthfah (mani), kemudian menjadi darah yang membeku, kemudian menjadi segumpal daging, kemudian daging itu dilengkapi dengan tulang-belulang, kemudian dililiti dengan daging dan terakhir menjadi manusia.” Lantas Umar menjawab: betul engkau, ya Ali! Semoga Allah memanjangkan umurmu!

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 2:05 am on 26 March 2016 Permalink | Balas  

    Hubungan Suami dan Isteri 

    siluet keluarga 2Hubungan Suami-Isteri

    Al-QURAN menganggap penting untuk menampilkan masalah tujuan kejiwaan dari perkawinan, dan tujuan itu justru dijadikan standar membina kehidupan berumahtangga. Tujuan ini untuk melukiskan ketenteraman nafsu seksual dengan memperoleh keragaman cinta antara suami-isteri, memperluas dunia kasih-sayang antara dua keluarga, lebih meratanya perasaan cinta kasih yang meliputi kedua orang tua sampai kepada anak-anak.

    Inilah arti yang terkandung dalam firman Allah yang mengatakan:

    “Di antara tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah, yaitu Ia menjadikan untuk kamu jodoh-jodoh dari diri-diri kamu sendiri supaya kamu menjadi tenteram dengan jodoh itu, dan Ia menjadikan antara kamu cinta dan kasih-sayang, sesungguhnya yang demikian itu sungguh sebagai bukti-bukti bagi orang yang mau berfikir.” (ar-Rum: 21)

    Jalinan Perasaan Antara Suami-Isteri

    Tetapi al-Ouran juga tidak melupakan segi perasaan dan hubungan badaniah antara suami-isteri. Untuk itu maka al-Quran memberikan bimbingan ke arah yang lebih lurus yang dapat menyalurkan kepentingan naluri dan menghindari yang tidak diinginkan.

    Dalam riwayat diceriterakan, bahwa orang-orang Yahudi dan Majusi terlalu berlebih-lebihan dalam menjauhi isterinya ketika datang bulan; kebalikan dari orang-orang Nasrani, yang menyetubuhi isterinya ketika datang bulan. Mereka samasekali tidak menghiraukan masalah datang bulan itu. Dan orang-orang jahiliah samasekali tidak mau makan, minum, duduk-duduk dan tinggal serumah dengan isterinya yang kebetulan datang bulan, seperti yang dikerjakan oleh orang Yahudi dan Majusi.

    Justru itu sementara orang-orang Islam bertanya kepada Nabi, apa yang sebenarnya dihalalkan dan apa pula yang diharamkan buat mereka, ketika isterinya itu datang bulan. Maka turunlah ayat yang berbunyi:

    “Dan mereka bertanya kepadamu tentang (darah) haidh, maka jawablah: bahwa dia itu berbahaya. Oleh karena itu jauhilah perempuan ketika haidh, dan jangan kamu dekati mereka sehingga mereka suci, dan apabila sudah suci, maka bolehlah kamu hampiri mereka itu sebagaimana Allah perintahkan kepadamu, sesungguhnya Allah senang kepada orang-orang yang taubat dan orang-orang yang bersih.” (al-Baqarah: 222)

    Sementara orang Arab ada yang memahami arti menjauhi perempuan ketika haidh itu berarti tidak boleh tinggal bersama mereka, justru itu Nabi Muhammad s.a.w. kemudian menjelaskan kepada mereka maksud daripada ayat tersebut, dengan sabdanya sebagai berikut.

    “Saya hanya perintahkan kepadamu supaya kamu tidak menyetubuhi mereka ketika mereka itu dalam keadaan haidh; dan saya tidak menyuruh kamu untuk mengusir mereka dari rumah seperti yang dilakukan oleh orang ajam. Ketika orang-orang Yahudi mendengar penjelasan ini, kemudian mereka berkata: si laki-laki ini (Nabi Muhammad) bermaksud tidak akan membiarkan sedikitpun dari urusan kita, melainkan ia selalu menyalahinya.”

    Dengan demikian tidak salah seorang muslim bersenang-senang dengan isterinya ketika dalam keadaan haidh, asalkan menjauhi tempat yang berbahaya itu.

    Di sini Islam tetap berdiri –sebagaimana statusnya semula– yaitu penengah antara dua golongan yang ekstrimis, di satu pihak sangat ekstrim dalam menjauhi perempuan yang sedang datang bulan sampai harus mengusirnya dari rumah; sedang di pihak lain memberikan kebebasan sampai kepada menyetubuhinya pun tidak salah.

    Ilmu kesehatan modern telah menyingkapkan, bahwa darah haidh (menstrubatio) satu peristiwa pancaran zat-zat racun yang membahayakan tubuh apabila zat itu masih melekat pada badan.

    Ilmu pengetahuan itu telah menyingkap juga rahasia dilarangnya menyetubuhi perempuan ketika haidh. Sebab kalau anggota kelamin itu dalam keadaan tertahan sedang urat-urat dalam keadaan terganggu karena mengalirnya kelenjar-kelenjar dalam, maka waktu persetubuhan (coitus) sangat membahayakan kelenjar-kelenjar tersebut, bahkan kadang-kadang dapat menahan melelehnya darah haidh. Dan ini banyak sekali membawa kegoncangan urat saraf dan kadang-kadang bisa menjadi sebab peradangan pada alat kelamin itu.15

    Jangan Bersetubuh di Dubur

    Dalam hubungannya dengan masalah persetubuhan, Allah s.w.t. menurunkan ayat yang berbunyi sebagai berikut:

    “Isteri-isteri kamu bagaikan ladang buat kamu, oleh karena itu datangilah ladangmu itu sesukamu, dan sediakanlah untuk diri-diri kamu, dan takutlah kepada Allah, dan ketahuilah sesungguhnya kamu akan bertemu Allah, dan gembirakanlah (Muhammad) orang-orang mu’min.” (al-Baqarah: 223)

    Turunnya ayat ini mengandung sebab dan hikmah yang besar sebagaimana yang disebutkan oleh seorang ulama India Waliullah ad-Dahlawy: “Orang Yahudi mempersempit gaya persetubuhan tanpa dasar hukum syara’, sedang orang-orang Anshar dan berikutnya mengikuti cara-cara mereka itu. Mereka berpendapat: bahwa apabila seorang laki-laki menyetubuhi isterinya pada farjinya dari belakang, maka anaknya akan lahir juling. Kemudian turunlah ayat ini: maka datangilah ladangmu itu sesukamu, yakni dari jalan depan maupun dari belakang selama diarahkan untuk satu tujuan, yaitu kemaluan atau farji. Hal ini dipandang tidak apa-apa, karena ada hubungannya dengan masalah kepentingan kebudayaan dan kecenderungan. Sedang setiap orang tahu kemaslahatan pribadinya. Oleh karena cara-cara Yahudi di atas hanya sekedar bikin-bikinan mereka, maka patutlah kalau dihapuskan.”16

    Bukan menjadi tugas agama memberi batas kepada seorang laki-laki tentang gaya dan cara bersetubuh. Agama hanya mementingkan supaya si suami selalu takut kepada Allah, dan supaya dia tahu bahwa dia akan bertemu Allah. Untuk itu jauhilah dubur, sebab dubur adalah tempat yang membahayakan dan kotor. Menyetubuhi isteri pada dubur dapat dipersamakan dengan liwath (homoseks). Justru itu sudah seharusnya agama melarangnya. Untuk itu pula Rasulullah s.a.w, pernah bersabda:

    “Jangan Kamu setubuhi isterimu di duburnya.” (Riwayat Ahmad, Tarmizi, Nasa’i dan Ibnu Majah)

    Dan tentang masalah menyetubuhi isteri di duburnya ini, beliau mengatakan juga:

    “Bahwa dia itu termasuk liwath yang kecil.” (Riwayat Ahmad dan Nasa’i)

    Ada seorang perempuan Anshar bertanya kepada Nabi tentang menyetubuhi perempuan di farjinya tetapi lewat belakang, maka Nabi membacakan ayat:

    “Isteri-isterimu adalah ladang buat kamu, karena itu datangilah ladangmu itu sesukamu.” (al-Baqarah: 223) — (Riwayat Ahmad)

    Umar pernah juga bertanya kepada Nabi:

    “Ya Rasulullah! Celaka aku. Nabi bertanya: apa yang mencelakakan kamu? Ia menjawab: tadi malam saya memutar kakiku –satu sindiran tentang bersetubuh dari belakang– maka Nabi tidak menjawab, hingga turun ayat (al-Baqarah: 223) lantas beliau berkata kepada Umar: boleh kamu bersetubuh dari depan dan boleh juga dari belakang, tetapi hindari di waktu haidh dan dubur.” (Riwayat Ahmad dan Tarmizi)

    Menjaga Rahasia Isteri

    Al-Quran memuji perempuan-perempuan shalihah dengan firmannya sebagai berikut:

    “Perempuan-perempuan yang shalihah itu ialah perempuan-perempuan yang taat yang memelihara (perkara-perkara) yang tersembunyi dengan cara yang dipeliharakan Allah.” (an-Nisa’: 34)

    Di antara sekian banyak perkara yang tersembunyi yang harus dipelihara oleh suami-isteri ialah tentang masalah persetubuhan. Suami-isteri dilarang menceriterakan kepada rekan-rekannya dalam pertemuan-pertemuan.

    Dalam salah satu hadisnya Rasulullah bersabda:

    “Sesungguhnya di antara sejelek-jelek manusia dalam pandangan Allah nanti di hari kiamat, ialah seorang laki-laki yang menyetubuhi isterinya dan isteripun melakukan persetubuhan, kemudian dia menyiar-nyiarkan rahasianya.” (Riwayat Muslim dan Abu Daud)

    “Dari Abu Hurairah, ia berkata: Nabi s.a.w. pernah sembahyang bersama kami, setelah salam beliau menghadapkan mukanya ke hadapan kami, kemudian bersabda: berhati-hatilah terhadap majlis-majlis kamu! Apakah di antara kamu ada seorang laki-laki yang menyetubuhi isterinya dengan menutup pintu dan melabuhkan korden, kemudian dia keluar dan berceritera, bahwa aku telah berbuat dengan isteriku begini dan begini? Kemudian mereka pada diam semua … Lantas ia menghadap kepada perempuan-perempuan dan menanyakan: apakah di antara kamu ada yang bercerita begitu? Tiba-tiba ada seorang gadis memukul-mukul salah satu tulang lututnya sampai lama sekali supaya diperhatikan oleh Nabi dan supaya beliau mendengarkan omongannya. Si gadis itu berkata: Demi Allah kaum laki-laki berceritera dan perempuan perempuan juga berceritera! Lantas Nabi bertanya: tahukah kamu seperti apa yang mereka lakukan itu? Sesungguhnya orang yang berbuat demikian tak ubahnya dengan syaitan laki-laki dan syaitan perempuan satu sama lain saling bertemu di jalan kemudian melakukan persetubuhan, sedang orang lain banyak yang melihatnya.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Bazzar)

    Kiranya perbandingan ini cukup menjauhkan seorang muslim dari berbuat yang sebodoh itu yang tidak bernilai. Seorang muslim kiranya tidak suka kalau dirinya menjadi syaitan atau sama dengan syaitan.

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 2:45 am on 25 March 2016 Permalink | Balas  

    Hikmah Dibolehkannya Poligami 

    poligami2Hikmah Dibolehkannya Poligami

    Islam adalah hukum Allah yang terakhir yang dibawa oleh Nabi yang terakhir pula. Oleh karena itu layak kalau ia datang dengan membawa undang-undang yang komplit, abadi dan universal. Berlaku untuk semua daerah, semua masa dan semua manusia.

    Islam tidak membuat hukum yang hanya berlaku untuk orang kota dan melupakan orang desa, untuk daerah dingin dan melupakan daerah panas, untuk satu masa tertentu dan melupakan masa-masa lainnya serta generasi mendatang.

    Islam telah menentukan keperluan perorangan dan masyarakat, dan menentukan ukuran kepentingan dan kemaslahatan manusia seluruhnya. Di antara manusia ada yang ingin mendapat keturunan tetapi sayang isterinya mandul atau sakit sehingga tidak mempunyai anak. Bukankah suatu kehormatan bagi si isteri dan keutamaan bagi si suami kalau dia kawin lagi dengan seorang wanita tanpa mencerai isteri pertama dengan memenuhi hak-haknya?

    Sementara ada juga laki-laki yang mempunyai nafsu seks yang luarbiasa, tetapi isterinya hanya dingin saja atau sakit, atau masa haidhnya itu terlalu panjang dan sebagainya, sedang si laki-laki tidak dapat menahan nafsunya lebih banyak seperti orang perempuan. Apakah dalam situasi seperti itu si laki-laki tersebut tidak boleh kawin dengan perempuan lain yang halal sebagai tempat mencari kawan tidur?

    Dan ada kalanya jumlah wanita lebih banyak daripada jumlah laki-laki, lebih-lebih karena akibat dari peperangan yang hanya diikuti oleh laki-laki dan pemuda-pemuda. Maka di sini poligami merupakan suatu kemaslahatan buat masyarakat dan perempuan itu sendiri, sehingga dengan demikian mereka akan merupakan manusia yang bergharizah yang tidak hidup sepanjang umur berdiam di rumah, tidak kawin dan tidak dapat melaksanakan hidup berumahtangga yang di dalamnya terdapat suatu ketenteraman, kecintaan, perlindungan, nikmatnya sebagai ibu dan keibuan sesuai pula dengan panggilan fitrah.

    Ada tiga kemungkinan yang bakal terjadi sebagai akibat banyaknya laki-laki yang mampu kawin, yaitu:

    • Mungkin orang-orang perempuan itu akan hidup sepanjang umur dalam kepahitan hidup.
    • Mungkin mereka akan melepaskan kendalinya dengan menggunakan obat-obat dan alat-alat kontrasepsi untuk dapat bermain-main dengan laki-laki yang haram.
    • Atau mungkin mereka mau dikawini oleh laki-laki yang sudah beristeri yang kiranya mampu memberi nafkah dan dapat bergaul dengan baik.

    Tidak diragukan lagi, bahwa kemungkinan ketiga adalah satu-satunya jalan yang paling bijaksana dan obat mujarrab. Dan inilah hukum yang dipakai oleh Islam, sedang “Siapakah hukumnya yang lebih baik selain hukum Allah untuk orang-orang yang mau beriman?” (al-Maidah: 50)

    Inilah sistem poligami yang banyak ditentang oleh orang-orang Kristen Barat yang dijadikan alat untuk menyerang kaum Muslimin, di mana mereka sendiri membenarkan laki-lakinya untuk bermain dengan perempuan-perempuan cabul, tanpa suatu ikatan dan perhitungan, betapapun tidak dibenarkan oleh undang-undang dan moral. Poligami liar dan tidak bermoral ini akan menimbulkan perempuan dan keluarga yang liar dan tidak bermoral juga. Kalau begitu manakah dua golongan tersebut yang lebih kukuh dan lebih baik?

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 2:47 am on 24 March 2016 Permalink | Balas  

    Puasa (Sunnah) Yang Dianjurkan Islam 

    puasa 4Puasa (Sunnah) Yang Dianjurkan Islam

    Ketika Islam melarang berpuasa pada hari-hari tertentu,maka Islam pun menganjurkan kepada umatnya agar melakukan puasa pada hari-hari tertentu yang Rasulullah saw sendiri biasa melakukan puasa pada hari-hari tersebut.

    1. Enam Hari pada Bulan Syawal

    Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh jamaah ahli hadis kecuali Bukhari, Nasa’i dari Abu Ayyub al-Anshari bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan lalu mengiringinya dengan enam hari dari bulan Syawal, maka seakan-akan dia telah berpuasa selama satu tahun (sepanjang masa).”

    Puasa tersebut menurut Imam Ahmad dapat dilakukan berturut-turut atau tidak berturut-turut dan tidak ada kelebihan antara yang satu dengan yang lainnya. Sedangkan menurut golongan Hanafi dan golongan Syafi’i, lebih utama melakukannya secara berturut-turut, yaitu setelah hari raya.

    2. Puasa tanggal 9 Dzul Hijjah (Arafah) bagi selain orang yang melaksanakan Haji

    Kesunnahan berpuasa pada tanggal tersebut didasarkan pada hadis-hadis:

    Dari Abu Qatadah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa selama dua tahun, yaitu satu tahun yang telah berlalu dan satun tahun yang akan datang.” (HR Jamaah kecuali Bukhari dan Tirmidzi).

    Dari Hafshah ra, dia berkata, “Ada empat hal yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah saw, yaitu puasa Asyura, puasa sepertiga bulan (yakni bulan Dzul Hijjah), puasa tiga hari dari tiap bulan, dan salat dua rakaat sebelum Subuh.” (HR Ahmad dan Nasa’i).

    Dari Uqbah bin Amir ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Hari Arafah, hari Kurban dan hari-hari Tasyriq adalah hari raya umat Islam dan hari-hari tersebut adalah hari-hari makan dan minum.” HR Khamsah (lima imam hadis) kecuali Ibnu Majah dan dinyatakan sahih oleh Tirmidzi.

    Dari Ummu Fadhal, dia berkata, “Mereka merasa bimbang mengenai puasa Nabi saw di Arafah, lalu Nabi saw saya kirimi susu. Kemudian Nabi saw meminumnya, sedang ketika itu beliau berkhotbah di depan umat manusia di Arafah.” (HR Bukhari dan Muslim).

    3. Puasa Bulan Muharrom dan Sangat Dianjurkan pada Tanggal 9 dan 10 (Tasu’a dan ‘Asyura)

    Hal ini berdasarkan pada hadis-hadis:

    Dari Abu Hurairah ra dia berkata, “Rasulullah saw ditanya, ‘Salat apa yang lebih utama setelah salat fardhu?’ Nabi menjawab, ‘Salat di tengah malam’. Mereka bertanya lagi, ‘Puasa apa yang lebih utama setelah puasa Ramadhan?’ Nabi menjawab, ‘Puasa pada bulan Allah yang kamu namakan Muharrom’.” (HR Ahmad, Muslim, dan Abu Daud).

    Dari Muawiyah bin Abu Sufyan ra, dia berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Hari ini adalah hari ‘Asyura dan kamu tidak diwajibkan berpuasa padanya. Sekarang, saya berpuasa, maka siapa yang mau, silahkan puasa dan siapa yang tidak mau, maka silahkan berbuka.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Dari Aisyah ra, dia berkata, “Hari ‘Asyura’ adalah hari yang dipuasakan oleh orang-orang Quraisy di masa jahiliyah, Rasulullah juga biasa mempuasakannya. Dan tatkala datang di Madinah, beliau berpuasa pada hari itu dan menyuruh orang-orang untuk turut berpuasa. Maka, tatkala diwajibkan puasa Ramadhan beliau bersabda, ‘Siapa yang ingin berpuasa, hendaklah ia berpuasa dan siapa yang ingin meninggalkannya, hendaklah ia berbuka’.” (Muttafaq alaihi).

    Dari Ibnu Abbas ra, dia berkata, “Nabi saw datang ke Madinah lalu beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura’, maka Nabi bertanya, ‘Ada apa ini?’ Mereka menjawab, hari ‘Asyura’ itu hari baik, hari Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa saw dan Bani Israel dari musuh mereka sehingga Musa as berpuasa pada hari itu. Kemudian, Nabi saw bersabda, ‘Saya lebih berhak terhadap Musa daripada kamu’, lalu Nabi saw berpuasa pada hari itu dan menganjurkan orang agar berpuasa pada hari itu. ” (Muttafaq alaihi).

    Dari Abu Musa al-Asy’ari ra, dia berkata, “Hari ‘Asyura’ itu diagungkan oleh orang Yahudi dan mereka menjadikan sebagai hari raya. Maka, Rasulullah saw bersabda,”Berpuasalah pada hari itu.” (Muttafaq alaihi).

    Dari Ibnu Abbas ra, dia berkata, “Tatkala Rasulullah saw berpuasa pada hari ‘Asyura’ dan memerintahkan orang-orang agar berpuasa pada hari itu, mereka berkata, “Ya Rasulullah, ia adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nashrani,” maka Nabi saw bersabda, “Jika datang tahun depan, insya Allah kami berpuasa pada hari kesembilan (dari bulan Muharrom).” Ibnu Abbas ra berkata, “Maka belum lagi datang tahun depan, Rasulullah saw sudah wafat.” (HR Muslim dan Abu Daud).

    Para ulama menyebutkan bahwa puasa Asyura’ itu ada tiga tingkat: tingkat pertama, berpuasa selama tiga hari yaitu hari kesembilan, kesepuluh dan kesebelas. Tingkat kedua, berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh. Tingkat ketiga, berpuasa hanya pada hari kesepuluh saja.

    4. Berpuasa pada Sebagian Besar Bulan Sya’ban

    Hal ini berdasarkan hadis:

    Dari Aisyah ra berkata, “Saya tidak melihat Rasulullah saw melakukan puasa dalam waktu sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadhan dan tidak satu bulan pun yang Nabi saw banyak melakukan puasa di dalamnya daripada bulan Sya’ban.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Dari Usamah bin Zaid ra berkata, Aku berkata, “Ya Rasulullah saw , tidak satu bulan yang Anda banyak melakukan puasa daripada bulan Sya’ban !” Nabi menjawab: “Bulan itu sering dilupakan orang, karena letaknya antara Rajab dan Ramadhan, sedang pada bulan itulah amal-amal manusia diangkat (dilaporkan) kepada Tuhan Rabbul ‘Alamin. Maka, saya ingin amal saya dibawa naik selagi saya dalam berpuasa.” (HR Nasa’i dan dinyatakan sahih oleh Ibnu Khuzaimah).

    5. Berpuasa pada Hari Senin dan Kamis

    Hal ini berdasarkan pada hadis Abu Hurairah ra, bahwa Nabi saw lebih sering berpuasa pada hari Senin dan Kamis, lalu orang-orang bertanya kepadanya mengenai sebab puasa tersebut, lalu Nabi saw menjawab, “Sesungguhnya amalan-amalan itu dipersembahkan pada setiap Senin dan Kamis, maka Allah berkenan mengampuni setiap muslim, kecuali dua orang yang bermusuhan, maka Allah berfirman, “Tangguhkanlah kedua orang (yang bermusuhan ) itu!” (HR Ahmad dengan sanad yang sahih).

    Dalam sahih Muslim diriwayatkan bahwa Nabi saw ditanya orang mengenai berpuasa pada hari Senin, maka beliau bersabda, “Itu hari kelahiranku dan pada hari itu pula wahyu diturunkan kepadaku.” (HR Muslim).

    6. Berpuasa Tiga Hari Setiap Bulan

    Dari Abu Dzarr al-Ghiffari ra berkata, “Kami diperintah Rasulullah saw untuk melakukan puasa tiga hari dari setiap bulan, yaitu hari-hari terang bulan, yakni tanggal 13, 14 dan 15, sembari Rasul saw bersabda, ‘Puasa tersebut seperti puasa setahun (sepanjang masa)’.” (HR Nasa’i dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban).

    7. Berpuasa Selang-seling (Seperti Puasa Daud)

    Dari Abdullah bin Amr berkata, Rasulullah saw telah bersabda, “Puasa yang paling disukai Allah adalah puasa Daud dan salat yang paling disukai Allah adalah salat Daud. Ia tidur seperdua (separoh) malam, bangun sepertiganya, lalu tidur seperenamnya, dan ia berpuasa satu hari lalu berbuka satu hari.”

    Referensi:

    Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq

    Tamamul Minnah, Muhammad Nashirudddin al-Albani

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 23 March 2016 Permalink | Balas  

    Bolehkah Sembahyang Jama’ Sebelum Melakukan Perjalanan (2/2) 

    Bolehkah Sembahyang Jama’ Sebelum Melakukan Perjalanan (2/2)

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Persoalan ini ditimbulkan karena terdapat dakwaan bahwa sembahyang jama’ karena perjalanan itu boleh dilakukan dari rumah yaitu sejak dari rumah lagi yaitu sebelum memulakan perjalanan (safar).

    Dakwaan ini berdasarkan riwayat daripada Anas Radhiallahu ‘anhu:

    Maksudnya (sebagaimana yang diterjemahkan oleh pendokong pendapat di atas): “Bahwa sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila hendak belayar (musafir) sebelum tergelincir matahari Baginda mengakhirkan sembahyang Zuhur kepada waktu ‘Asar, kemudian Baginda pun turun (memulakan perjalanan). Maka Baginda menghimpunkan di antara kedua sembahyang itu (sembahyang Zuhur dan ‘Asar).

    Jika tergelincir matahari sebelum Baginda belayar (musafir) Baginda mengerjakan sembahyang Zuhur dan ‘Asar, kemudian Baginda pun menunggang (memulakan perjalanan).”

    (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

    Apa yang dapat difahami bahwa pendapat ini ternyata kurang tepat dan tersasar dari pemahaman yang betul terhadap dalil yang dibawakan.

    Alasan yang dapat dikemukakan untuk menolak pendapat di atas:

    1. Apabila kita petik sebahagian sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di atas, yaitu:

    Maksudnya: “Jika tergelincir matahari sebelum Baginda membuat perjalanan Baginda mengerjakan sembahyang Zuhur dan ‘Asar, kemudian Baginda pun menunggang (memulakan perjalanan).”

    Tidak dinafikan sungguhpun pada zahirnya hadits di atas memberi maksud Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam menjama’ sembahyang Zuhur dan ‘Asar dengan  cara jama’ taqdim semasa Baginda berada di rumah sebelum membuat perjalanan, akan tetapi perlu difahami bahwa perkara ini berlaku ketika Baginda sedang dalam perjalanan, ketika Baginda singgah di suatu tempat untuk menunaikan sembahyang secara jama’ sebelum meneruskan perjalanan seterusnya.

    Perkara ini disokong oleh beberapa riwayat yang lain seperti hadits yang diriwayatkan daripada Anas Radhiallahu ‘anhu:

    Maksudnya: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila Baginda dalam perjalanan, lalu matahari tergelincir, Baginda pun menunaikan sembahyang Zuhur dan ‘Asar secara jama’, kemudian barulah Baginda meneruskan perjalanan.”

    (Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dan Al-Ismaili, dan dikatakan shahih oleh Ibnu Hajr)

    Hadits ini lebih jelas menyatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjama’ sembahyang sebelum memulakan perjalanan adalah ketika Baginda sedang dalam perjalanan.

    Diriwayatkan daripada Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhuma:

     

    Maksudnya: “Tidakkah aku khabarkan kepada kamu tentang sembahyang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam? Apabila matahari tergelincir dan pada ketika itu Baginda berada di rumah (tempat Baginda menginap ketika dalam perjalanan), maka Baginda akan menyegerakan sembahyang fardhu ‘Asar ke dalam waktu Zuhur, lalu menjama’ (menghimpunkan) keduanya (sembahyang Zuhur dan ‘Asar) pada waktu tergelincir matahari (waktu Zuhur).

    (Hadits riwayat Al-Baihaqi dengan sanad yang baik)

    Dijelaskan di dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, terbitan Kementerian Waqaf Dan Hal Ehwal Islam, Kuwait bahwa maksud perkataan “(pada ketika itu Baginda berada di rumah) di dalam hadits di atas adalah bermaksud” (tempat Baginda menginap ketika dalam perjalanan). (Jld. 15, m.s. 287)

    Di dalam riwayat yang lain lagi daripada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma:

    Maksudnya: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila Baginda berhenti di sebuah rumah ketika dalam perjalanan dan Baginda berkenan (suka) kepada rumah tersebut, maka Baginda menempatinya sehinggalah Baginda menjama’ sembahyang Zuhur dengan ‘Asar, kemudia Baginda meneruskan perjalanan.

    Jika rumah tidak tersedia untuk Baginda, Baginda akan meneruskan perjalanan, maka Baginda pun berjalan dan mengakhirkan sembahyang Zuhur sehingga Baginda datang ke sebuah rumah, di mana di rumah itu Baginda hendak menjama’ sembahyang Zuhur dengan ‘Asar.”

    (Hadits dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dan periwayat-periwayatnya adalah dipercayai yakni thiqah)

    Berdasarkan riwayat-riwayat yang dikemukakan di atas, jelas menerangkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan sembahyang jama’ adalah ketika Baginda singgah di suatu tempat atau di sebuah rumah ketika dalam perjalanan, bukannya sebelum memulakan perjalanan. Atau dengan lain perkataan, Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam menjama’ sembahyang ketika Baginda sudah dalam keadaan musafir, bukannya dalam keadaan bermukim.

    1. Seorang itu hanya dikatakan musafir sebaik-baik saja dia melewati (keluar) daripada sempadan perkampungan atau kota atau bandar di mana dia tinggal. Jadi, bagaimana boleh seorang itu diharuskan menjama’ sembahyang ketika dia masih berada di rumahnya sebelum keluar belayar karena rukhshah perjalanan, sedangkan ketika itu dia belum lagi di katakan sebagai musafir?

    Majelis Ilmiah Dan Fatwa, Arab Saudi yang diketuai oleh Bekas Mufti Arab Saudi, Abdul Aziz bin Baz Rahimahullahu Ta’ala pernah dihadapkan persoalan mengenai dengan seorang yang hendak membuat perjalanan, adakah diharuskan baginya menjama’ tanpa mengqashar sembahyang fardhu Zuhur dengan ‘Asar sedang pada ketika itu dia masih lagi di rumah (belum lagi keluar rumah untuk memulakan perjalanan)?

    Majelis tersebut menjawab: “Tidak harus bagi sesiapa yang berniat untuk membuat perjalanan menjama’ sembahyang ‘Asar dengan Zuhur atau menjama’ sembahyang Isya’ dengan Maghrib selama mana dia masih lagi berada di rumah dan belum lagi memulakan perjalanan, karena tidak terdapat sebab yang mengharuskan dia menjama’ sembahyang yaitu perjalanan. Bahkan rukhshah atau kelonggaran mengqashar dan menjama’ itu adalah bermula apabila dia meninggalkan kediaman negerinya.”

    Penutup

    Berdasarkan perbincangan yang lalu, jelas bahwa orang yang hendak membuat perjalanan dan bercadang untuk menjama’ sembahyang karena rukhshah perjalanan, tidak boleh menjama’ sembahyangnya ketika dia masih lagi belum memulai perjalanan atau ketika dia masih lagi berada di rumah kediamannya, karena perjalanannya hanya dikira apabila dia keluar dari tempat tinggalnya.

    ====selesai ====

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 22 March 2016 Permalink | Balas  

    Bolehkah Sembahyang Jama’ Sebelum Melakukan Perjalanan (1/2) 

    sholatBolehkah Sembahyang Jama’ Sebelum Melakukan Perjalanan (1/2)

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Keistimewaan yang disebut sebagai rukhshah yang dikurniakan bagi orang yang melakukan perjalanan yaitu keharusan menjama’ atau menghimpunkan dua waktu sembahyang dan dikerjakan dalam satu waktu.

    Sebagian dalil yang disandarkan bagi menjelaskan ketetapan hukum harus menjama’ sembahyang ketika dalam perjalanan, diriwayatkan daripada Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu, beliau berkata:

    Maksudnya: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila Baginda membuat perjalanan sebelum matahari tergelincir Baginda akan melewatkan sembahyang Zuhur kepada waktu ‘Asar, kemudian menjama’ (menghimpunkan) kedua-dua sembahyang tersebut. Dan jika matahari sudah tergelincir Baginda akan menunaikan sembahyang Zuhur terlebih dahulu, kemudian Baginda memulakan perjalanan.” (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

    Melalui riwayat Anas juga, beliau berkata:

    Maksudnya: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila Baginda hendak menghimpunkan dua sembahyang ketika dalam perjalanan Baginda akan mengakhirkan sembahyang Zuhur sehinggalah masuk awal waktu sembayang ‘Asar, kemudian Baginda menjama’ (menghimpunkan) kedua-dua sembahyang tersebut.” (Hadits riwayat Muslim)

    Bagaimana cara yang lebih utama dalam menjama’ sembahyang?

    Kebanyakan para ulama termasuk para ulama mazhab Syafi’e mengatakan bahwa harus menjama’ atau menghimpunkan sembahyang fardhu Zuhur dengan ‘Asar, dan dikerjakan di dalam salah satu waktu sembahyang tersebut, sebagaimana juga harus menjama’ sembahyang fardhu Maghrib dengan ‘Isya, dan dikerjakan di dalam salah satu waktu sembahyang tersebut ketika seseorang itu dalam perjalanan yang jauh.

    Sembahyang jama’ itu terdapat dua cara yaitu jama’ taqdim dan jama’ ta’khir. Jika sembahyang fardhu Zuhur dan ‘Asar yang dijama’ itu dikerjakan di dalam waktu Zuhur ataupun sembahyang fardhu Maghrib dan ‘Isya’ yang dijama’ itu dikerjakan dalam waktu Maghrib maka itu dinamakan jama’ taqdim. Jika sembahyang fardhu Zuhur dan ‘Asar yang dijama’ itu dikerjakan di dalam waktu ‘Asar ataupun sembahyang fardhu Maghrib dan ‘Isya’ yang dijama’ itu dikerjakan dalam waktu ‘Isya’ maka itu dinamakan jama’ ta’khir.

    Persoalannya, bagaimana cara yang lebih baik dikerjakan, adakah dengan cara jama’ taqdim atau jama’ ta’khir?

    Para ulama menggariskan bahwa seseorang yang dalam perjalanan itu jika dia singgah atau berhenti sejenak di suatu tempat, dan pada ketika itu waktu sembahyang Zuhur atau sembahyang Maghrib sudah masuk, maka adalah lebih utama baginya menunaikan sembahyang dengan jama’ taqdim, yaitu menghimpunkan sembahyang ‘Asar ke dalam waktu Zuhur atau menghimpunkan sembahyang ‘Isya ke dalam waktu Maghrib.

    Sebaliknya, jika waktu sembahyang Zuhur atau sembahyang Maghrib telah masuk dan dia pada waktu itu dalam perjalanan maka adalah lebih utama baginya menunaikan sembahyang dengan jama’ ta’khir, yaitu menghimpunkan sembahyang Zuhur ke dalam waktu ‘Asar atau menghimpunkan sembahyang Maghrib ke dalam waktu ‘Isya’.

    Ini adalah berdasarkan apa yang diriwayatkan daripada Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhuma:

    Maksudnya: “Tidakkah aku khabarkan kepada kamu tentang sembahyang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam? Apabila matahari tergelincir dan pada ketika itu Baginda berada di rumah (tempat Baginda menginap ketika dalam perjalanan), maka Baginda akan menyegerakan sembahyang fardhu ‘Asar ke dalam waktu Zuhur, lalu menjama’ (menghimpunkan) keduanya (sembahyang Zuhur dan ‘Asar) pada waktu tergelincir matahari (waktu Zuhur).

    Apabila Baginda membuat perjalanan sebelum tergelincir matahari, maka Baginda akan mengakhirkan sembahyang Zuhur ke dalam waktu ‘Asar, lalu menjama’(menghimpunkan) keduanya (sembahyang Zuhur dan ‘Asar) pada waktu ‘Asar.” (Hadits riwayat Al-Baihaqi dengan sanad yang baik)

    Bersambung

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 21 March 2016 Permalink | Balas  

    Sholat Ketika Dalam Pesawat Terbang (2/2) 

    sholatSholat Ketika Dalam Pesawat Terbang (2/2)

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Tuntutan Menunaikan Sembahyang Dengan Berdiri

    Melakukan sembahyang bagi mereka yang berupaya dengan cara berdiri adalah merupakan rukun dalam sembahyang fardhu. Sementara bagi mereka yang tidak mampu berdiri, maka mereka boleh melakukannya dengan cara duduk sebagaimana kelonggaran yang diberikan kepada orang sakit yang tidak mampu menunaikannya dengan cara berdiri.

    Maksud ‘tidak mampu berdiri’ bukan hanya bermaksud dalam arti kata lemah tidak dapat berdiri, bahkan termasuk juga karena takut kecelakaan berlaku ke atas dirinya, takut akan jatuh tenggelam ke dalam air, takut mendatangkan kesusahan yang berat, pening kepala atau takut akan menambahkan lagi kesakitan yang dialaminya. (Mughni al-Muhtaj 1:214)

    Oleh itu, para penumpang pesawat terbang yang mempunyai keuzuran seperti yang tersebut di atas adalah harus (boleh) mendirikan sembahyang fardhu sambil duduk.

    Menurut Dr. Ahmad asy-Syarbashi dalam kitabnya Yas’alunaka Fiddin wal Hayah bahawa melakukan sembahyang sama ada berdiri atau duduk ketika berada di dalam pesawat terbang hukumnya adalah harus (boleh), tanpa semestinya berpusing menghadap kiblat ketika sedang melakukan sembahyang itu, selama mana melakukannya itu merupakan satu kepayahan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

    Tafsirnya: “Allah menghendaki kamu beroleh kemudahan dan Dia tidak menghendaki kamu menanggung kesukaran.” (Surah al-Baqarah, ayat 185)

    Beberapa Pilihan Bagi Penumpang Pesawat terbang Dalam Melaksanakan Ibadah Sembahyang

    Memandangkan perjalanan merupakan salah satu sebab yang diiktiraf oleh syara’ bagi mengharuskan seseorang mengambil keringanan atau rukhshah, maka diharuskan baginya melakukan sembahyang secara jama’ (mengerjakan dua fardhu sembahyang dalam satu waktu) dan diharuskan juga baginya mengqashar (memendekkan empat raka’at menjadi dua raka’at)

    Orang yang musafir dengan menggunakan pesawat terbang boleh menjama’ sembahyang secara jama’ taqdim sebelum pesawat terbang bertolak yaitu semasa berada di lapangan terbang lagi karena pada masa itu dia sudah dihukumkan musafir sekiranya kawasan lapangan terbang itu tidak termasuk kampong orang yang musafir itu atau di mana-mana tempat di luar kawasan perkampungannya yang mudah baginya.

    Pilihan lain ialah jika pesawat terbang yang dinaikinya itu singgah atau transit di suatu tempat, jika ada kemudahan baginya melakukan sembahyang maka bolehlah dia melakukannya sama ada secara jama’ taqdim atau jama’ ta’khir yaitu bergantung kepada waktu sembahyang di tempat berkenaan itu. Ataupun orang musafir itu melakukan sembahyang jama’ ta’khir apabila sampai ke tujuannya, selama masa perjalanannya masih berjalan yakni belum selesai selama tiga hari (tidak termasuk hari sampai dan hari bertolak).

    Walau bagaimanapun pilihan seperti ini hanya dapat dimanfaatkan oleh penumpang pesawat terbang apabila perjalanan mengambil masa melibatkan dua waktu fardhu sembahyang yang boleh di jama’ yaitu zuhur dan ‘asar atau maghrib dan isya’ saja. Akan tetapi jika sembahyang ditunaikan dalam pesawat terbang secara jama’ dan qasar, inipun harus dan boleh juga.

    Cara Menunaikan Sembahyang Di Pesawat terbang

    Hasil uraian di atas dapat disimpulkan, cara yang dapat dipraktekkan untuk menunaikan sembahyang di dalam pesawat terbang adalah sebagai berikut:

    1) Penumpang hendaklah berusaha mencari tempat untuk menunaikan sembahyang dengan bertanya kepada anak kapal. Sekiranya ruang itu masih digunakan karena kerja-kerja kabin, maka hendaklah ditunggu sehingga kerja-kerja itu selesai atau berkurangan.

    2) Bagi mereka yang tidak berupaya menunaikannya dengan berdiri disebabkan keadaan tidak memungkinkan seperti pening kepala atau disebabkan cuaca yang menyebabkan keadaan pesawat tidak stabil, maka diharuskan menunaikannnya sambil duduk sama ada fardhu atau sunat.

    3) Jika penumpang tidak memperolehi tempat sembahyang yang sesuai, maka tunaikanlah sembahyang itu di tempat duduknya. Ketika hendak sujud hendaklah ditundukkan lebih rendah dari ruku’nya. Perlu diingat supaya tidak mengabaikan tuntutan menghadap kiblat.

    Walau bagaimanapun, jika sekiranya bersembahyang dengan duduk dia dapat menghadap kiblat berbanding dengan melakukannya dengan berdiri tanpa menghadap kiblat, maka adalah wajib dia bersembahyang duduk.

    Semoga panduan yang dijelaskan ini akan memudahkan setiap orang untuk menjalankan ibadatnya khususnya ibadat sembahyang. Apa yang penting, lakukanlah atau tunaikanlah perintah syara’ sekuat yang termampu, dan jangan sekali-kali melalaikan atau meninggalkannya sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Oleh itu apabila aku mencegah kamu terhadap sesuatu maka hindarkanlah ia, dan apabila aku memerintahkan kamu untuk melakukan sesuatu maka tunaikanlah ia semampumu.”

    (Hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim)

    ====SELESAI====

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 20 March 2016 Permalink | Balas  

    Sholat Ketika Dalam Pesawat Terbang (1/2) 

    sholatSholat Ketika Dalam Pesawat Terbang (1/2)

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Ibadat sembahyang merupakan salah satu komponen dalam rukun Islam yang lima. Kewajiban melaksanakannya memang jelas dan tidak diragukan lagi. Ayat-ayat al-Qur’an dan hadis-hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam banyak memperuntukkan tentang kewajiban menunaikannya ke atas setiap orang yang mukallaf. Firman Allah Ta’ala:

    Tafsirnya: “Sesungguhnya sembahyang itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (Surah an-Nisa, ayat 103)

    Diriwayatkan daripada Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhuma ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Mu’adz bin Jabal ke negeri Yaman Baginda bersabda yang maksudnya :

    “Serulah mereka (penduduk Yaman) kepada kesaksian bahwa tiada tuhan yang disembah melainkan Allah dan sesungguhnya aku adalah Pesuruh Allah. Maka apabila mereka taat untuk berbuat demikian beritahu kepada mereka sesungguhnya Allah Ta’ala telah mewajibkan ke atas mereka sembahyang lima waktu pada setiap siang dan malam.

    Apabila mereka taat untuk berbuat demikian beritahu kepada mereka bahwa sesungguhnya Allah telah mewajibkan zakat ke atas mereka pada harta-harta mereka, di mana zakat itu di ambil daripada orang-orang kaya di kalangan mereka dan diberikan kepada golongan fakir di kalangan mereka.” (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)

    Kedudukan sembahyang itu sangat tinggi, sangat penting dan sangat istimewa. Ini dapat dilihat dari segi bagaimana disyariatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu secara langsung kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa perantaraan Jibril pada malam ketika Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam dimi’rajkan. Ini menunjukkan betapa penting dan tersendirinya ibadat sembahyang itu. Oleh itu menunaikannya amatlah dituntut. Ia tidak dapat ditinggalkan walau di mana dan dalam apa jua keadaan sekalipun, baik ketika sakit, musafir dan dalam ketakutan akibat peperangan.

    Bahkan jika sekiranya seseorang itu tidak berupaya menunaikannya dalam keadaan berdiri, dia diberi kelonggaran oleh syara’ menunaikannya dalam keadaan duduk. Jika dengan cara duduk masih tidak berupaya, dengan cara berbaring. Jika berbaring pun tidak berupaya, memadailah dengan isyarat atau ditunaikan sekadar keupayaannya, selama mana dia masih dalam lingkungan orang mukallaf.

    Tuntutan memelihara waktu-waktu sembahyang itu jelas diperuntukkan di dalam al-Qur’an melalui firman Allah Ta’ala:

    Tafsirnya: “Kamu peliharalah (kerjakanlah dengan tetap dan sempurna pada waktunya) segala sembahyang fardhu, khasnya sembahyang wushtha (sembahyang ‘asar), dan berdirilah karena Allah (dalam sembahyang kamu) dengan taat dan khusyu’.”

    (Surah al-Baqarah, ayat 238)

    Oleh itu, bukan sewenang-wenang atau mudahnya untuk meninggalkan dan mencuaikan waktu sembahyang. Hanya orang yang mempunyai keuzuran tertentu yang diiktiraf oleh syara’ saja yang tidak diwajibkan mendirikan sembahyang, seperti perempuan yang sedang haidh dan nifas. Sementara itu, hukum syara’ juga memberikan keringanan atau rukhshah kepada orang yang dalam perjalanan menjama’ dan mengqashar sembahyang fardhu.

    Sungguhpun perjalanan dianggap sebagai suatu aktiviti perjalanan yang meletihkan dan mendatangkan kesukaran sehinggakan ianya diiktiraf oleh syara’ sebagai salah satu sebab bagi seseorang itu mendapat beberapa keringanan atau rukhshah akan tetapi tidak bermakna ianya merupakan suatu alasan untuk mendapat keringanan untuk tidak menunaikan sembahyang. Sembahyang tetap wajib dan mesti ditunaikan pada waktunya. Cuma cara menunaikannya terdapat sedikit perbedaan berbanding dengan keadaan biasa demi untuk memudahkan dan meraikan keperluan atau hajat orang yang bermusafir.

    Hukum Mendirikan Sembahyang Di Dalam Pesawat terbang

    Bagi orang yang membuat perjalanan dengan menggunakan pesawat terbang ibadat sembahyang boleh ditunaikan di pesawat terbang, sungguhpun pada ketika itu dia sedang berada di udara. Sembahyang itu adalah sah dan tidak perlu diulang atau diqadha sekiranya ditunaikan dengan menepati rukun dan syarat-syaratnya.

    Pesawat terbang adalah juga seperti lain-lain kendaraan di air seperti kapal laut, sampan, dan kendaraan di darat seperti kereta api, bas atau binatang tunggangan. Melaksanakan sembahyang dalam pesawat terbang adalah sama saja seperti melakukannya dengan kendaraan lain.

    Dalam menerangkan kedudukan orang yang menunaikan sembahyang di atas kendaraan al-Imam an-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan pandangan para ulama dalam mazhab Syafi’e: “Sekiranya seseorang itu bersembahyang fardhu di atas kapal, maka tidak harus (tidak boleh) baginya meninggalkan rukun berdiri (yakni tidak harus / tidak boleh sembahyang duduk) sedangkan dia berkuasa untuk berdiri, sama seperti keadaan bersembahyang di darat. Pendapat ini juga dikatakan oleh Imam Malik dan Imam Ahmad. Menurut Imam Abu Hanifah: “Harus/boleh (meninggalkan rukun berdiri itu sekiranya kapal itu sedang bergerak).”

    Para ulama mazhab Syafi’e seterusnya berkata: “Sekiranya ada keuzuran seperti kepala pusing (mabuk laut) dan sebagainya, maka harus menunaikan sembahyang fardhu sambil duduk, karena dia dianggap sebagai orang yang uzur (yang tidak mampu sembahyang berdiri). Sekiranya angin bertiup sehingga beralih haluan kapal itu lalu terpaling wajahnya daripada arah qiblat, maka wajib mengembalikannya ke arah kiblat dan meneruskan sembahyangnya. Berbeda halnya sekiranya dia melakukannya di darat dan dipalingkan oleh seseorang daripada kiblat dengan paksa maka batal sembahyangnya.”(Al-Majmuk, 3: 222)

    Asy-Syeikh Abdullah Abdur Rahman Bafdhal al-Hadhrami menjelaskan di dalam kitabnya Busyra al-Karim, sekiranya orang musafir itu menunaikan sembahyangnya di tempat tidur (seperti katil, tilam dan sebagainya) atau kapal laut maka hendaklah dia menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, dan hendaklah menghadap kiblat.” (Busyra al-Karim: 1:206)

    Walau bagaimanapun apabila melihat kepada keadaan pesawat terbang dari segi ruang kawasannya yang sempit dan terbatas, ditambah lagi dengan kepadatan penumpang, maka keadaan seperti ini tidak memungkinkan atau sangat sukar khususnya penumpang kelas ekonomi melaksanakan tuntutan-tuntutan seperti yang dijelaskan oleh para ulama di atas.

    Tuntutan Menghadap Kiblat Ketika Sembahyang

    Menghadap kiblat merupakan syarat sah sembahyang. Tuntutan menghadap kiblat telah diperuntukkan di dalam al-Qur’an serta hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    Tafsirnya: “Dan dari mana saja engkau keluar (untuk mengerjakan sembahyang), maka hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram (Ka’bah).”  (Surah al-Baqarah, ayat 150)

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Apabila engkau hendak melakukan sembahyang maka hendaklah engkau menyempurnakan wudhumu kemudian menghadaplah ke arah kiblat.” (Hadis riwayat al-Bukhari)

    Oleh itu, menghadap kiblat bagi sembahyang fardhu itu adalah wajib, karena ia termasuk di dalam syarat-syarat sah sembahyang. Namun dalam keadaan tertentu diharuskan tidak menghadap kiblat, yaitu semasa dalam ketakutan seperti dalam peperangan, sama ada sembahyang fardhu atau sunat, dan sembahyang sunat ketika dalam perjalanan yang bukan maksiat yang susah baginya menghadap kiblat.

    Sementara itu, menghadap kiblat bagi sembahyang fardhu di dalam perjalanan hukumnya adalah wajib. Ini adalah berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam daripada Jabir bin Abdillah beliau berkata yang maksudnya :

    “Pernah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersembahyang (sunat) di atas tunggangan Baginda di mana saja tunggangan itu menuju arah, tetapi apabila Baginda hendak menunaikan sembahyang fardhu Baginda turun lalu menghadap kiblat.” (Hadis riwayat al-Bukhari)

    Menyentuh perkara sembahyang di dalam pesawat terbang, sekiranya seseorang penumpang itu tidak dapat menghadap kiblat disebabkan terdapat keuzuran atau kesukaran seperti tiada ruangan untuk bersembahyang melainkan tempat duduknya, sedangkan dia wajib menunaikan sembahyang pada waktu itu, dan jika tidak ditunaikan akan luput waktunya, maka bolehlah menunaikan sembahyang itu sekalipun tanpa menghadap kiblat demi menghormati waktu. Akan tetapi wajib dia mengulangi atau mengqadha sembahyang itu.

    Dalam hal ini al-Imam an-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan pandangan ulama mazhab Syafi’e: “Kalau sekiranya waktu sembahyang fardhu telah masuk sedangkan mereka dalam perjalanan dan mereka kawatir sekiranya mereka turun (daripada tunggangan mereka) untuk bersembahyang di atas bumi niscaya mereka tertinggal daripada rakan-rakan mereka atau takut akan berlaku sesuatu ke atas dirinya atau hartanya, maka dalam hal ini tidak harus (tidak boleh) meninggalkan sembahyang itu dan meluputkannya daripada waktunya.  Bahkan hendaklah dia bersembahyang di atas tunggangan bagi menghormati waktu dan wajib mengulangi sembahyang itu karena ia merupakan keuzuran yang jarang berlaku.” (Al-Majmuk 3:222)

    bersambung

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 19 March 2016 Permalink | Balas  

    Sholat Bagi Orang Sakit (2/2) 

    shalat orang sakitSholat Bagi Orang Sakit (2/2)

    Cara-Cara Isyarat Dalam Sembahyang

    Orang yang tidak mampu mengerjakan sembahyang dalam keadaan berdiri, duduk, rukuk dan sujud atau kesemuanya dan tidak mampu untuk melakukannya dengan kadar yang terdaya, maka dia harus melakukannya dengan menggunakan isyarat. Akan tetapi dengan apakah isyarat itu dilakukan?

    Apabila seseorang itu berniat kepada isyarat ” ima’ ” (tunduk saat rukuk dan sujud), maka wajiblah dia berisyarat dengan kepala. Jika tidak mampu melakukan isyarat dengan kepala, maka hendaklah dengan mata. Jika tidak terdaya juga, maka hendaklah dengan hati. Lama mana orang itu masih berakal niscaya kewajipan sembahyang masih tetap dituntut ke atasnya. (Majmuk: 4/207, Hasyiyatan Qalyubi ‘Umairah: 1/166)

    Cara Dan Keadaan Sembahyang Bagi Keuzuran Yang Seketika

    Kadang-kadang keuzuran itu hanya berlaku seketika sahaja. Contohnya orang sakit yang tidak bedaya untuk berdiri lalu dia mengerjakan sembahyang secara duduk, setelah berlalu seketika, kesakitan yang menyebabkan dia tidak boleh berdiri itu telah pun pulih semula dalam waktunya sembahyang, maka dalam hal ini hendaklah dia berdiri. Begitulah juga jika dia sembahyang berbaring lalu dia mampu untuk sembahyang berdiri atau untuk sembahyang duduk, maka hendaklah dia berdiri atau duduk. Tetapi jika dia mampu kedua-duanya yaitu berdiri dan duduk, maka hendaklah dia berdiri.

    Jika dia mengerjakan sembahyang dengan berdiri lalu dalam sembahyangnya itu dia mendapat keuzuran untuk berdiri, maka haruslah dia sembahyang duduk. Begitulah juga jika dia bersembahyang duduk lalu dalam sembahyangnya itu dia tidak mampu untuk duduk dan berdiri, maka haruslah dia sembahyang berbaring secara merusuk sebelah kanan seperti mayat berbaring di liang lahat.

    Sebagaimana penjelasan di atas, apabila datang atau hilang keuzuran seseorang itu pada melakukan rukun fi’li dalam waktu sembahyangnya, maka wajiblah dia mengubah atau beredar (meninggalkan) kepada yang terdaya olehnya. Untuk melaksanakan cara-caranya tertakluk kepada beberapa keadaan:

    1. Dalam keadaan seseorang yang sihat melakukan rukun fi’li sembahyang, tiba-tiba terjadi ke atasnya keuzuran ketika dalam membaca sebagian surah Al-Fatihah, maka dalam hal ini harus dia melakukan daripada keadaan yang dia tidak upaya kepada yang terdaya olehnya ketika dia membaca surah Al-Fatihah itu. Seperti ketika dia membaca surah Al-Fatihah dalam keadaan berdiri lalu disebabkan sakit dia pun terus duduk atau pun ketika itu dia bersembahyang duduk lalu disebabkan sakit terus dia berbaring, maka wajiblah dia meneruskan bacaan Al-Fatihahnya dalam waktu dia bergerak itu.
    2. Sebaliknya dalam keadaan seseorang yang ada keuzuran, apabila dia mengerjakan sembahyang dengan duduk atau berbaring, tiba-tiba sembuh atau hilang keuzurannya itu ketika membaca sebagian surah Al-Fatihah, maka dalam hal ini hendaklah dia terus bergerak ke kedudukan yang ia terdaya, yaitu jika dia bersembahyang duduk lalu mampu untuk berdiri, maka hendaklah dia berdiri terlebih dahulu barulah membaca baki surah Al-Fatihah yang belum selesai itu. Jika dia membacanya dalam keadaan pergerakannya untuk bangkit, maka tidak dikira bacaannya itu.

    Apabila seseorang itu membaca surah Al-Fatihah dalam keadaan dia bersembahyang duduk atau baring lalu hilang keuzurannya itu selepas membaca surah tersebut dan sebelum dia melakukan rukuk, lalu dia mampu untuk berdiri, maka hendaklah dia berdiri terlebih dahulu kemudian barulah melakukan rukuk. Disunatkan sebelum dia melakukan rukuk itu, mengulangi bacaan surah Al-Fatihah itu sekali lagi.

    Jika seseorang itu bersembahyang duduk lalu hilang keuzurannya ketika dia melakukan rukuk dalam keadaan duduk, dan hilangnya itu sebelum thuma’ninah (berhenti sejenak). Maka dalam hal ini, dia terus berdiri dalam keadaan rukuk dan jangan berdiri tegak. Adalah batal sembahyangnya jika dia berdiri tegak terlebih dahulu kemudian baru dia melakukan rukuk. Ini karena jika dia berdiri tegak terlebih dahulu, niscaya dia menambah rukun fi’li sembahyang yaitu berdiri.

    Manakala jika hilang keuzurannya itu selepas thuma’ninah, maka sempurnalah sudah rukuknya dan wajib pula dia berdiri dalam keadaan i’tidal kemudian barulah dia sujud (tanpa rukuk). Akan tetapi jika dia melakukan sekali lagi rukuk, maka batal sembahyangnya. Karena dia menambah lagi satu rukun fi’li sembahyang yaitu rukuk.

    Adapun jika hilang keuzurannya itu sebelum dia membaca surah Al-Fatihah, maka hendaklah dia bergerak terlebih dahulu ke kedudukan yang dia terdaya yaitu jika dia bersembahyang duduk lalu mampu untuk berdiri, maka hendaklah dia berdiri terlebih dahulu kemudian barulah membaca surah Al-Fatihah. (Majmuk: 4/207-208)

    Seseorang yang ada keuzuran untuk berdiri, tetapi dia tidak mampu untuk berdiri pada kadar yang lama. Yaitu dia hanya mampu untuk berdiri sekadar sempat untuk membaca surah Al-Fatihah sahaja dan jika dia membaca surah lain selepas itu, niscaya dia tidak terdaya lagi untuk berdiri. Dalam hal yang demikian, afdhal baginya membaca surah Al-Fatihah sahaja tanpa membaca surah lain selepas Al-Fatihah itu. Ini karena menjaga rukun sembahyang (berdiri) itu adalah lebih utama. Adapun jika dia lemah untuk berdiri ketika dia sedang membaca surah lain, maka harus dia duduk dan janganlah memutuskan bacaan surah yang lain itu. (Majmuk: 4/204)

    Dalam Sembahyang Berjemaah

    Sekiranya seseorang itu mengerjakan sembahyang berjemaah dalam keadaan berdiri dan sebagiannya lagi dalam keadaan duduk karena tidak mampu untuk berdiri terlalu lama, padahal dia mampu untuk berdiri sepenuhnya jika dia mengerjakan sembahyang bersendirian, maka afdhal dia mengerjakan sembahyang bersendirian bagi menjaga rukun fi’li sembahyang yaitu berdiri. Karena berdiri itu wajib dalam sembahyang sedangkan sembahyang berjemaah itu sunat, maka lebih utamalah dia mengerjakan sembahyang bersendirian bagi menjaga rukun fi’li yaitu berdiri.

    Walaupun demikian sekiranya dia mengerjakan sembahyang berjemaah juga dalam keadaan berdiri dan sebagiannya lagi dalam keadaan duduk karena tidak mampu untuk berdiri terlalu lama, maka tidaklah batal sembahyangnya yang demikian itu. (Majmuk: 4/203-204)

    Imam Orang Yang Mendapat Keuzuran

    Menurut pendapat Imam As-Syafie, harus (boleh) bagi orang yang mampu untuk berdiri (orang yang tidak keuzuran pada membuat rukun fi’li sembahyang) berimamkan orang yang bersembahyang duduk. Begitu juga harus (boleh) bagi orang yang bersembahyang duduk berimamkan orang yang bersembahyang merusuk (seperti kedudukan mayat di liang lahat). Dan orang yang mampu melakukan rukuk dan sujud berimamkan orang yang berisyarat pada melakukan rukuk dan sujud.

    Sekalipun demikian, apabila orang yang sihat melakukan rukun-rukun fi’li itu mengikuti imam yang ada keuzuran dalam melakukan rukun-rukun tersebut, maka tidak harus (tidak boleh) bagi makmum yang sihat itu menyamai perbuatan imam yang ada keuzuran pada meninggalkan rukun fi’li sembahyang seperti berdiri, duduk, rukuk atau sujud. Sebagai contoh, imam yang bersembahyang duduk disebabkan ada keuzuran dan makmum yang mampu berdiri, tidak boleh duduk sebagaimana imam tersebut duduk.

    Keharusan (kebolehan) ini telah pun disebutkan dalam beberapa buah hadis, di antaranya hadis yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha beliau berkata:

    Maksudnya:

    “Ketika sakit Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertambah berat, datang Bilal untuk memberitahu Baginda untuk mengerjakan sembahyang.

    Maka Baginda bersabda: “Suruhlah Abu Bakar agar mengimami orang ramai.”

    Saya (‘Aisyah) berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang lelaki yang penyedih dan jika dia berdiri mengambil tempatmu (sembahyang), niscaya tidak akan terdengar oleh orang ramai. Kenapa engkau tidak menyuruh ‘Umar saja?”

    Baginda bersabda: “Suruhlah Abu Bakar untuk mengimami sembahyang.”

    Maka saya pun mengatakan kepada Hafshah agar dia mengatakan kepada Baginda, kataku kepadanya: “Sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang lelaki yang penyedih dan jika dia berdiri mengambil tempatmu (sembahyang), niscaya tidak akan terdengar oleh orang ramai, kenapa engkau tidak menyuruh ‘Umar saja?”

    Baginda bersabda: “Sesungguhnya kamu adalah (macam) sahabat-sahabat Yusuf. Suruhlah Abu Bakar untuk mengimami sembahyang.”

    Ketika (Abu Bakar) sudah masuk sembahyang, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam merasakan dirinya pulih sedikit. Maka Baginda bangun dengan bantuan dua orang lelaki dan kaki Baginda mengheret ke tanah sehingga masuk ke masjid. Ketika Abu Bakar mendengar bahwa Baginda datang, dia mencuba untuk berundur tetapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberi isyarat kepadanya untuk tetap sembahyang. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di sebelah kiri Abu Bakar. Abu Bakar bersembahyang berdiri dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersembahyang duduk. Abu Bakar mengikuti sembahyang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang ramai mengikuti sembahyang Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu.”

    (Hadis riwayat Bukhari)

    Menurut pendapat Imam As-Syafie lagi, sunat dan afdhal bagi imam yang tidak mampu untuk berdiri meminta ganti (istikhlaf) kepada makmum yang berkemampuan untuk berdiri. (Majmuk: 4/161)

    Penutup

    Sebagaimana penjelasan di atas, bahwa sembahyang lima waktu adalah kewajipan yang tidak boleh ditinggalkan. Selagi seseorang itu berakal kewajipan sembahyang tetap dituntut sekalipun dalam keuzuran atau masyaqqah atau sakit, dikerjakannya juga mengikut keupayaannya.

    Oleh yang demikian itu, kerjakanlah sembahyang fardhu lima waktu dengan penuh keimanan dan ketaqwaan, karena mengerjakannya adalah suatu kejayaan yang besar. Manakala meninggalkannya pula adalah berdosa besar dan hukumannya amat berat sehingga orang itu boleh dibunuh jika dia enggan mendirikan sembahyang dan tidak mahu bertaubat. Di antara kelebihan sembahyang selain yang dinyatakan terdahulu ialah sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Artinya:

    “Sembahyang lima waktu itu telah diwajibkan Allah ke atas hambaNya, maka sesiapa melaksanakannya, sedangkan dia tidak pernah mensia-siakan daripadanya sesuatu pun karena meringankan kewajiban itu, niscaya baginya di sisi Allah suatu perjanjian untuk memasukkannya ke syurga. Dan sesiapa yang tidak melaksanakannya maka tidak ada baginya di sisi Allah suatu perjanjian. Jika Dia mahu, di azabnya, dan jika Dia mahu, di masukkannya ke syurga.”

    (Hadis riwayat Abu Daud, Nasa’i, Malik dan Ibnu Hibban)

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:49 am on 18 March 2016 Permalink | Balas  

    Sholat Bagi Orang Sakit (1/2) 

    shalat orang sakitSholat Bagi Orang Sakit (1/2)

    Sembahyang fardhu lima waktu sehari semalam wajib dikerjakan. Ganjaran dan fadhilatnya adalah amat besar sekali. Demikian juga sebaliknya, meninggalkan sembahyang itu akan dibalas dan dihukum dengan hukuman yang sangat berat.

    Sembahyang itu adalah merupakan tiang agama. Sembahyang juga merupakan kepala bagi segala pendekatan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan awal permulaan bagi ketaatan hamba terhadap Tuhannya.

    Banyak terdapat di dalam Al-Qur’an dan hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyatakan hikmat dan kelebihan sembahyang lima waktu itu. Sepertimana juga banyak peringatan yang mengancam tentang barang siapa yang leka atau lalai mengerjakan sembahyang, lebih-lebih lagi yang meninggalkannya.

    Kelebihan dan hikmat mendirikan sembahyang itu di antaranya ialah:

    1. Dapat menghindarkan diri seseorang daripada melakukan kejahatan dan kemungkaran.
    2. Boleh menghapuskan dosa, sebagaimana air menghilangkan kotoran.

    iii. Barang siapa menjaga sembahyang lima waktu dengan sempurna thaharahnya dan menjaga waktu-waktu sembahyang, maka baginya cahaya dan kejayaan pada Hari Qiamat kelak. Tetapi jika sebaliknya niscaya berhimpunlah dia pada Hari Qiamat bersama-sama Qarun, Firaun, Haman dan Ubai bin Khalaf.

    1. Sembahyang adalah merupakan kunci syurga.
    2. Allah Subhanahu wa Ta’ala berjanji untuk memasukkan ke syurga terhadap hambaNya yang mengerjakan sembahyang lima waktu yang tidak melalaikan atau meringan-ringankannya.

    Sementara orang yang meninggalkannya pula adalah berdosa besar serta mendapat balasan dan hukuman yang sangat berat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    Tafsirnya: (Setelah melihat orang-orang yang bersalah itu, mereka berkata): “Apakah yang menyebabkan kamu masuk ke dalam neraka saqar?” Orang-orang yang bersalah itu menjawab: “Kami tidak termasuk dalam kumpulan orang-orang yang mengerjakan sembahyang.”

    (Surah Al-Muddatstsir: 42-43)

    Bagi orang yang lalai pula Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    Tafsirnya: “(kalau orang yang demikian dikira dari bilangan orang-orang yang mendustakan agama), maka kecelakaan besar bagi orang-orang ahli sembahyang, (yaitu) mereka yang berkeadaan lalai daripada menyempurnakan sembahyangnya.”

    (Surah Al-Ma’un: 4-5)

    Oleh yang demikian, janganlah sekali-kali diabaikan kewajipan sembahyang itu. Karena ia merupakan unsur asas kekukuhan agama, apabila hilang unsur asas ini niscaya akan binasalah agama.

    Tuntutan menunaikan sembahyang itu adalah berterusan selama mana akal fikiran sedar dan waras sekalipun dalam keadaan sakit, tidak ada kelonggaran untuk meninggalkannya. Maka berhubung dengan perkara ini, persoalan yang ingin kita jelaskan di sini ialah bagaimana cara orang sakit mengerjakan sembahyang.

    Sembahyang Orang Sakit

    Orang yang sakit tidak terlepas daripada tuntutan wajib sembahyang fardhu. Dia tetap dituntut mengerjakannya dengan apa jua yang mampu olehnya tanpa meninggalkan sebarang rukun fi’li sembahyang kecuali dalam keuzuran. Mengenai gambaran keuzuran itu akan dijelaskan berikut ini.

    Tidak Mampu Untuk Berdiri

    Berdiri dalam sembahyang fardhu itu adalah salah satu rukun sembahyang yang mesti dilakukan. Akan tetapi jika seorang mukallaf itu tidak mampu untuk berdiri maka haruslah (bolehlah) dia bersembahyang duduk. Manakala yang tidak mampu duduk dan berdiri maka haruslah (bolehlah) dia bersembahyang secara baring. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Sembahyanglah dengan cara berdiri, jika engkau tidak mampu maka dengan cara duduk, dan jika engkau tidak mampu (dengan cara duduk) maka dengan cara berbaring (sembahyang merusuk).” (Hadis riwayat Bukhari)

    Apabila seseorang mukallaf itu tidak mampu sembahyang berdiri disebabkan keuzuran yang bersangatan, seperti mengalami masyaqqah (kesukaran), takut menambahkan lagi kesakitan jika dia berdiri, takut tenggelam apabila berdiri di atas perahu, takut jatuh karena pening kepala atau seumpamanya, maka haruslah dia bersembahyang duduk, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di atas.

    Orang sakit yang tidak mampu sembahyang berdiri itu tidak perlu lagi mengulangi semula sembahyang tersebut sesudah hilang keuzuran dan masyaqqahnya selepas itu. Mengenai pahala bagi orang sakit itu tidaklah berkurangan, bahkan sama saja pahalanya jika dia sembahyang berdiri. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Apabila seseorang itu sakit atau musafir, maka ditulis baginya (pahala) sama seperti apa yang dikerjakannya sewaktu bermuqim dan semasa sehat.” (Hadis riwayat Bukhari)

    Sembahyang Sunat Tanpa Berdiri

    Namun dalam soal berdiri ini, para fuqaha tidak berselisih pendapat mengenai keharusan (membolehkan) sembahyang sunat dilakukan dalam keadaan duduk, walaupun orang itu dapat berdiri. Walaupun begitu sembahyang sunat dengan berdiri itu adalah lebih afdhal dan mendapat pahala yang besar berbanding dengan sembahyang duduk atau berbaring. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Barang siapa yang sembahyang berdiri, maka itulah yang lebih utama. Dan Barang siapa yang sembahyang duduk, maka baginya separuh pahala daripada pahala sembahyang berdiri. Dan Barang siapa yang sembahyang tidur (berbaring merusuk), maka baginya separuh pahala daripada sembahyang duduk.”

    (Hadis riwayat Bukhari)

    Cara Sembahyang Duduk

    Keadaan dan cara duduk bagi orang yang tidak mampu berdiri dalam sembahyang fardhu atau mampu untuk berdiri dalam sembahyang sunat tetapi melakukannya dengan duduk, tidaklah ditentukan cara dan keadaan duduknya itu. Bahkan adalah memadai dengan kesemua cara dan keadaan duduk itu, akan tetapi makruh dengan duduk iq’a (bertinggung).

    Manakala duduk bagi menggantikan berdiri:

    Mengikut qaul yang ashah adalah afdhal duduk dengan keadaan iftirasy (seperti duduk ketika tahiyyah awal) karena duduk iftirasy itu adalah salah satu duduk ibadat, maka ianya lebih awla (utama).

    Sementara qaul yang kedua, afdhal duduk dalam keadaan mutarabbi’an (duduk bersila). Cara sedemikian ini ialah bagi menggantikan cara sembahyang berdiri, oleh yang demikian hendaklah dibezakan duduk menggantikan berdiri itu daripada duduk-duduk yang lainnya yaitu duduk dengan bersila.

    Adapun cara duduk ketika hendak melakukan tahiyyah awal, tahiyyah akhir dan duduk antara dua sujud dalam sembahyang duduk, adalah afdhal dan sunat dilakukan dengan duduk yang sama sebagaimana sembahyang orang sehat. Yaitu duduk tawarruk bagi tahiyyah akhir dan duduk iftirasy bagi duduk antara dua sujud dan tahiyyah awal.

    Cara Rukuk Dan Sujud Dalam Sembahyang Duduk

    Rukuk dan sujud merupakan salah satu daripada rukun sembahyang, sebagimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    Tafsirnya: “Rukuklah kamu dan sujudlah kamu.” (Surah Al-Hajj: 77)

    Adapun cara rukuk orang yang bersembahyang duduk, ialah sekurang-kurangnya dengan membongkokkan badan sedikit bersetentangan dengan kedua-dua lututnya. Manakala cara yang sempurna adalah dengan membongkokkan badan melebihi daripada kadar di atas hingga berbetulan ke tempat sujud. Dan cara sujudnya pula sama seperti sujud biasa.

    Apabila orang yang bersembahyang duduk itu tidak mampu juga melakukan rukuk dan sujud dalam keadaan duduk seperti cara-cara yang dijelaskan di atas, maka hendaklah dia berbuat yang mampu olehnya dengan cara membongkok seberapa yang boleh. Tetapi hendaklah sujudnya itu lebih rendah daripada rukuknya bagi membezakan antara sujud dan rukuk, dan melakukannya wajib bagi mereka yang mampu membezakannya.

    Jika orang yang bersembahyang duduk itu tidak mampu juga untuk melakukan rukuk dan sujud dengan seberapa yang boleh, maka dia hendaklah melakukan rukuk dan sujud tersebut dalam keadaan duduk itu secara isyarat. (Majmuk: 4/201-203) Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Dan jika aku memerintahkan kamu untuk mengerjakan sesuatu, maka kerjakanlah ia dengan apa yang kamu mampu.”

    (Hadis riwayat Bukhari)

    Demikianlah cara dan keadaan bagi mereka yang melakukan sembahyang duduk disebabkan ada keuzuran yang bersangatan untuk berdiri.

    Tidak Dapat Rukuk Dan Sujud

    Apabila seseorang itu tidak mampu melakukan rukuk dan sujud karena ada keuzuran yang bersangatan, tetapi dia mampu untuk berdiri dan duduk, maka dalam keadaan ini wajiblah dia bersembahyang dalam keadaan berdiri dan tidak sah jika dia bersembahyang dalam keadaan duduk.

    Cara rukuk dan sujud bagi orang yang tidak mampu melakukannya, hendaklah dalam keadaan dia rukuk, dia membongkokkan badannya sekadar yang mampu. Sementara ketika sujud, maka cara sujudnya adalah dalam keadaan badannya membongkok dengan kedudukan lebih rendah daripada rukuknya, bagi membezakan kedua-duanya.

    Jika dia mampu untuk melakukan rukuk, tetapi tidak mampu untuk sujud, maka dalam hal ini tertakluk pada tiga keadaan dan ianya serupa dengan keadaan rukuk dan sujud dalam sembahyang duduk:

    Apabila dia mampu untuk melakukan sekurang-kurang kadar had rukuk dan tidak pula melebihi daripada kadar itu, maka bolehlah dia melakukan perbuatan yang serupa bagi rukuk dan sujud dengan membongkokkan badan dengan kadar yang dia mampu itu (kadar had sekurang-kurang rukuk).

    Adapun jika dia mampu untuk melakukan kadar had rukuk yang sempurna dan tidak melebihi daripada kadar itu, maka bolehlah juga dia melakukan perbuatan yang serupa bagi rukuk dan sujud dengan membongkokkan badan dengan kadar yang dia mampu itu (kadar had sempurna rukuk). Akan tetapi janganlah dia melakukan rukuk itu kurang daripada kadar had sempurna rukuk sedangkan dia mampu untuk melakukannya, supaya tidak menghilangkan perbuatan yang sunat bagi rukuk (kadar had sempurna rukuk).

    Jika dia mampu untuk melakukan rukuk dengan melebihi kadar had sempurna rukuk, maka hendaklah dia melakukan rukuk dengan tidak melebihi kadar had sempurna itu. Manakala sujudnya pula hendaklah melebihi daripada kadar had sempurna rukuk itu. Ini karena membezakan antara kedua-dua perbuatan tersebut (membongkok karena rukuk dan membongkok karena sujud).

    Adapun bagi orang yang tidak mampu untuk membongkokkan badannya bagi menggantikan perbuatan rukuk dan sujud, maka hendaklah dia melakukannya dengan menundukkan leher dan kepala. Jika tidak termampu juga dengan demikian itu maka hendaklah melakukannya dengan isyarat. (Hasyiyatan Qalyubi ‘Umairah: 1/165, Majmuk: 4/204)

    Tidak Mampu Untuk Berdiri Dan Duduk

    Dalam keadaan masyaqqah dan keuzuran yang menyebabkan seseorang itu tidak dapat mengerjakan sembahyang dengan berdiri dan duduk, maka harus (boleh) baginya mengerjakan sembahyang dengan cara berbaring, yaitu disunatkan berbaring pada rusuk sebelah kanan dan menghadapkan muka dan badannya ke arah kiblat seperti keadaan mayat di liang lahad.

    Adapun jika dia berbaring pada rusuk sebelah kiri, adalah makruh perbuatannya itu selagi dia mampu untuk berbaring pada rusuk sebelah kanan. Walau bagaimanapun sembahyangnya dalam keadaan sedemikian adalah sah. Jika terdapat keuzuran (tidak mampu) sembahyang berbaring di sebelah rusuk kanan, maka wajiblah dia berbaring di sebelah rusuk kiri dengan menghadapkan muka dan badannya ke arah kiblat.

    Jikalau menjadi kesukaran juga dalam melakukan kedua-dua keadaan ini, maka haruslah dia mengerjakan sembahyang baring secara menelentang dengan menghadapkan muka serta telapak kakinya ke arah kiblat. Bagi orang yang sembahyang dalam keadaan ini, hendaklah diletakkan sesuatu di bawah kepalanya seperti bantal supaya dapat meninggikan mukanya bagi menghadap kiblat bukannya menghadap ke arah langit. (I’anah At-Thalibin: 1/160-161, Hasyiyatan Qalyubi ‘Umairah: 1/166)

    Orang sakit yang tidak mampu menghadap kiblat seperti orang yang lumpuh anggota badan yang terlentang di atas katil (tempat tidur) sedangkan dia tidak menghadap ke arah kiblat. Jika tiada ada orang yang dapat menolong untuk memalingkannya agar dapat menghadap kiblat sama ada orang tersebut diupah atau sebagainya, maka haruslah (bolehlah) dia bersembahyang dalam keadaannya itu walaupun tidak menghadap kiblat. Akan tetapi diwajibkan baginya untuk mengulangi sembahyang tersebut. (Majmuk: 3/223)

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 17 March 2016 Permalink | Balas  

    Sholat Jum’at Bagi Perempuan (2/2) : 

    melempar_jumrahSholat Jum’at Bagi Perempuan (2/2) :

    Wajibkah Bersembahyang Zuhur Setelah Menunaikan Jum’at?

    Apabila seorang perempuan bersembahyang Jum’at, sah sembayangnya itu dan memadai sebagai ganti kepada sembahyang zuhur. Perkara ini disebutkan oleh kebanyakkan ulama Syafi’eyah seperti Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar al-Haitami, Abu Ishaq as-Syirazi, Syeikh al-Qalyubi dan Syeikh ‘Umairah Rahimahumullah ajma’in dan lain-lain.

    Berkata Imam an-Nawawi Rahimahullah dalam al-Minhaj:

    Maksudnya: “orang yang sah menunaikan sembahyang zuhur maka sah  sembahyang Jum’atnya” (Minhaj at-Thalibin: 1/264)

    Ibnu Hajar al-Haitami Rahimahullah menjelaskan perkataan Imam an-Nawawi Rahimahullah yaitu “orang yang sah menunaikan sembahyang zuhur” bermaksud orang yang tidak wajib ke atasnya sembahyang Jum’at seperti perempuan, maka sah Jum’atnya jika ia menunaikan sembahyang Jum’at itu. (Tuhfah al-Muhtaj: 1/330)

    Menurut Syeikh ar-Ramli Rahimahullah yang mashur dengan gelaran as-Syafi’e as-Syaghir (Syafi’e Kecil) yang meninggal pada tahun 1004 Hijrah ketika mengulas perkataan Imam an-Nawawi Rahimahullah di atas yaitu perkataan “sah sembahyang Jum’atnya” bermaksud memadailah sembahyang Jum’at itu (sebagai ganti sembahyang zuhur). (Nihayah al-Muhtaj: 2/288)

    As-Syeikh Abu Ishaq as-Syirazi Rahimahullah mengatakan:

    Maksudnya: “Dan orang yang tidak wajib Jum’at atasnya mempunyai pilihan antara melakukan sembahyang zuhur dan sembahyang Jum’at. Maka jika ia telah melakukan sembahyang Jum’at memadailah apa yang ia lakukannya (sembahyang Jum’at) itu daripada sembahyang Zuhur”. (Al-Muhazzab: 1/360)

    Imam an-Nawawi Rahimahullah pula menjelaskan perkataan as-Syeikh Abu Ishaq as-Syirazi Rahimahullah di atas bahwa orang-orang yang diberi kelonggaran (ma’dzur) seperti hamba, perempuan, orang yang musafir dan seumpamanya adalah wajib ke atas mereka menunaikan sembahyang zuhur. Jika ditunaikan sembahyang zuhur tersebut adalah dihukumkan sah. Manakala jika ditinggalkan sembahyang zuhur itu dan mereka menunaikan sembahyang Jum’at memadailah bagi mereka menurut ijma’ ulama. (al-Majmu’: 4/415)

    Menurut Syeikh Qalyubi Rahimahullah pula, orang yang tidak wajib ke atasnya sembahyang Jum’at ialah kanak-kanak, hamba, perempuan dan orang yang musafir. Adalah sah sembahyang Jum’at itu jika dilakukannya dan memadailah sembahyang Jum’at itu sebagai ganti sembahyang zuhur. (Hasyiatan: Qalyubi wa ‘Umairah: 1/310-311)

    Mufti Hadralmaut dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin berkata: “Harus bagi sesiapa yang tidak wajib mengerjakan Jum’at seperti hamba, orang yang musafir dan perempuan sembahyang fardhu Jum’at ganti sembahyang fardhu zuhur dan Jum’at itu memadailah sebagai ganti fardhu zuhur … Begitulah sebagaimana fatwa daripada Ibnu Hajar….” (Bughyah al-Mustarsyidin: 78-79)

    Allahyarham Pehin Datu Seri Maharaja Dato Seri Utama Dr Awang Haji  Ismail bin Umar Abd Aziz ketika menjadi Mufti Kerajaan Negara Brunei Darussalam telah menfatwakan mengenai kedudukan perempuan yang telah menunaikan sembahyang Jum’at, adakah perlu lagi bersembahyang zuhur? Beliau menjawab: “Boleh dan harus bagi perempuan sembahyang Jum’at di masjid dan sah Jum’at perempuan itu dan memadailah Jum’atnya jadi ganti sembahyang zuhurnya yakni tiada wajib dan tiada sah bagi perempuan sembahyang zuhur setelah ia sembahyang Jum’at itu….. bagaimana yang disebutkan oleh Mufti Hadralmaut di dalam kitabnya Bughyah al-Mustarsyidin” (Fatwa Mufti Kerajaan: 20/78)

    Jawatankuasa Tetap Penyelidikan Ilmiyah dan Fatwa yang berpusat di Riyadh yang diketuai oleh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz memfatwakan kedudukan seorang perempuan yang mendirikan sembahyang Jum’at, adakah gugur tuntutan sembahyang zuhur ke atasnya? Jawatankuasa itu menjawab: “Apabila seorang perempuan mendirikan sembahyang Jum’at dengan berjemaah Jum’at, memadailah Jum’at itu daripada sembahyang zuhur dan tidak harus baginya bersembahyang zuhur lagi pada hari itu…” (Soalan Empat daripada Fatwa No: 5553-Fatawa al-Lujnah ad-Daimah li al-Buhus al-Ilmiyah wa al-fatwa: Jld 7/337)

    Berdasarkan perkataan ulama-ulama as-Syafi’eyah dan fatwa-fatwa yang dikeluarkan di atas, maka bagi perempuan yang menunaikan sembahyang Jum’at itu tidak wajib ke atasnya menunaikan sembahyang zuhur. Karena gugurnya  tuntutan Jum’at ke atas mereka itu adalah sebagai takhfif (keringanan). Memadailah sembahyang Jum’at itu sebagai ganti daripada sembahyang zuhur. Bahkan tidak sah mengerjakan sembahyang zuhur setelah dia menunaikan sembahyang Jum’at

    Adakah Dituntut  Perempuan Bersembahyang Jum’at?

    Sembahyang Jum’at tidak wajib ke atas perempuan berdasarkan hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Walau bagaimanapun perempuan tidak dilarang untuk menunaikan sembahyang tersebut. Menurut kebanyakan ulama, apabila seorang perempuan menunaikan sembahyang Jum’at maka ia tidak wajib melakukan sembahyang zuhur pada hari tersebut. Persoalannya adakah afdhal dan dituntut seorang perempuan itu keluar ke masjid untuk menunaikan sembahyang Jum’at atau ia duduk di rumah mengerjakan sembahyang zuhur?

    Menurut Ibnu Hajar al-Haitami Rahimahullah (Tuhfah al-Muhtaj: 1/275) bahwa perempuan lebih afdhal berjemaah di rumah sebagaimana hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Daripada Ibnu Umar Radhiallahu ‘anhu katanya: Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Janganlah kamu tegah perempuan-perempuan kamu pergi ke masjid sedangkan di rumah mereka adalah lebih baik bagi mereka” (Hadis riwayat Abu Daud)

    Dalam perkara perempuan keluar ke masjid menunaikan sembahyang Jum’at menurut kitab al-Majmu’, perempuan-perempuan sama ada muda atau tua yang boleh merangsang nafsu adalah makruh pergi ke masjid kecuali sebaliknya. (al-Majmu’: 4/415)  Dengan perkataan yang lain menurut Ibnu Hajar al-Haitami Rahimahullah adalah makruh bagi perempuan berjema’ah ke masjid jika perempuan itu boleh merangsang nafsu sekalipun dengan hanya mamakai pakaian harian (pakaian yang tidak cantik) atau perempuan itu tidak merangsang nafsu tetapi dia berhias-hias atau berharum-harum. Lebih-lebih lagi haram hukumnya jika ditakuti akan berlaku fitnah  ke atasnya. (Tuhfah al-Muhtaj: 1/275)

    Manakala menurut al-Bandaniji pula adalah dituntut (mustahab) bagi perempuan tua pergi ke masjid menunaikan sembahyang Jum’at sebagaimana katanya:

    Maksudnya: “Adalah disunatkan (mustahab) bagi perempaun  tua hadir menunaikan sembahyang Jum’at (ke masjid) dan makruh bagi perempuan muda hadir pada semua sembahyang yang berhimpun (bercampur) dengan lelaki kecuali pada sembahyang hari raya” (Al-Majmu’: 4/405)

    Penutup

    Perempuan adalah termasuk di dalam orang-orang yang diberikan takhfif (keringanan) untuk tidak menunaikan sembahyang Jum’at berdasarkan hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan penjelasan para ulama mengenainya. Walau bagaimanapun, perempuan tidak dilarang untuk menunaikannya dan bagi perempuan yang menunaikan sembahyang Jum’at maka tidaklah wajib atasnya menunaikan sembahyang fardhu zuhur pada hari tersebut dan memadailah sembahyang Jum’at itu sebagai ganti sembahyang zuhur.

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 16 March 2016 Permalink | Balas  

    Sholat Jum’at Bagi Perempuan (1/2) : 

    shalat-tarawih-puasa-pertama_fullSholat Jum’at Bagi Perempuan (1/2) :

    Wajibkah Lagi Melakukan Sembahyang Dzuhur

    Sembahyang Jum’at adalah sembahyang dua raka’at dalam waktu Zuhur pada hari Jum’at dan didahulukan dengan dua khutbah. Sembahyang Jum’at adalah fardhu ‘ain atas orang lelaki yang mukallaf, berakal lagi merdeka, sehat dan tidak di dalam pelayaran.

    Menurut kitab Tuhfah al-Muhtaj, Mughni al-Muhtaj dan Hasyiah Qalyubi sembahyang Jum’at difardhukan di Mekkah al-Mukarramah sebelum Hijrah. Walau bagaimanapun, ia tidak dilaksanakan karena agama Islam masih belum tersebar luas dan jumlah umat Islam pula tidak mencukupi dan sedikit. Orang yang pertama mendirikan sembahyang Jum’at di Madinah al-Munawwarah sebelum Hijrah adalah As’ad bin Zararah iaitu dengan izin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. (Tuhfah al-Muhtaj: 1/329, Mughni al-Muhtaj: 1/414, Hasyiah Qalyubi: 1/310)

    Sembahyang Jum’at pertama dalam Islam yang ditunaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah di Madinah al-Munawwarah. Peristiwa itu berlaku selepas Hijrah. (Fada’il al-Jum’ah, Dr.Muhammad Zahir Asadullah, hlm 73)

    Dalil Pensyari’atan Sembahyang Jum’at

    Hukum sembahyang Jum’at adalah fardhu ‘ain apabila cukup syarat-syarat wajib dan syarat-syarat sah sembahyang Jum’at itu. Dalil yang menjelaskan kefardhuannya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    Tafsirnya: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila diserukan azan (bang) untuk mengerjakan sembahyang pada hari Jum’at, maka segeralah kamu pergi (ke masjid) untuk mengingati Allah (dengan mengerjakan sembahyang Jum’at) dan tinggalkanlah berjual beli (pada ketika itu); yang demikian adalah lebih baik bagi kamu, jika kamu mengetahui (hakikat yang sebenar)” (Surah Jumu’ah: 9)

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan tentang kewajipan sembahyang Jum’at itu dalam banyak hadis-hadis Baginda. Antaranya adalah:

    Maksudnya: “Daripada Hafsah Radhiallahu ‘anha iaitu isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pergi (bersembahyang) Jum’at itu wajib ke atas setiap orang yang bermimpi (baligh)” (Hadis riwayat an-Nasa’i)

    Dalam hadis Baginda yang lain:

    Maksudnya: “Daripada Tariq bin Syihab, daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Baginda bersabda: “Sembahyang Jum’at itu hak yang wajib ke atas setiap orang Islam dengan cara berjemaah kecuali empat: Hamba yang dimiliki atau perempuan atau kanak-kanak atau orang sakit”. (Hadis riwayat Abu Daud)

    Kedudukan Perempuan Bersembahyang Jum’at

    Berkata Imam as-Syafi’e Rahimahullah dalam kitab al-Umm:

     

    Maksudnya: “Tidak (wajib) ke atas orang yang belum baligh, orang perempuan dan hamba menunaikan sembahyang Jum’at”. (al-Um: 1/218)

    Menurut kitab al-Minhaj karangan Imam An-Nawawi Rahimahullah bahwa syara’ telah menentukan wajib fardhu ‘ain sembahyang Jum’at itu ke atas setiap orang Islam yang mukallaf, merdeka, lelaki, orang yang muqim, yang tidak sakit dan seumpamanya. (Minhaj at-Thalibin: 1/263) Ibnu Hajar al-Haitami Rahimahullah ketika menjelaskan perkataan Imam an-Nawawi Rahimahullah bahwa tidak wajib Jum’at ke atas orang yang tidak mukallaf, perempuan, khuntsa, orang musafir dan orang sakit sebagaimana hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Daripada Tariq bin Syihab, daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Baginda bersabda: “Sembahyang Jum’at itu hak yang wajib ke atas setiap orang Islam dengan cara berjemaah kecuali empat: Hamba yang dimiliki atau perempuan atau kanak-kanak atau orang sakit”. (Hadis riwayat Abu Daud)

    Hadis di atas diriwayatkan juga oleh ad-Darqutni dalam kitabnya as-Sunan, al-Baihaqi dalam kitabnya al-Kabir dan al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak. Imam an-Nawawi Rahimahullah menshahihkan hadis di atas dalam kitab al-Majmu’ karena bertepatan dengan syarat Imam al-Bukhari dan Muslim. Begitu juga al-Hafiz dalam kitab al-Talkhis mengatakan hadis di atas dishahihkan oleh ramai orang. (Minhaj at-Thalibin: 1/263 dalam nota kaki)

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 15 March 2016 Permalink | Balas  

    Sholat Jum’at (2/2) 

    melempar_jumrahSholat Jum’at (2/2)

    Orang-orang yang meninggal dunia pada hari Jum’at juga akan mendapat rahmat dan aman daripada segala azab kubur, perkara ini telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya:

    “Sesiapa yang meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at, dia akan dicop dengan cop iman dan terpelihara daripada siksa kubur.” (Hadis riwayat Al-Baihaqi)

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengkhabarkan bahwa ganjaran pahala yang besar kepada orang-orang yang pergi berjemaah ke masjid termasuk untuk menunaikan sembahyang Jum’at, sabda Baginda yang maksudnya :

    “Apabila seseorang berwudhu lalu dia memperelokkan wudhunya kemudian dia keluar (pergi) ke masjid, dia tidak keluar kecuali untuk menunaikan sembahyang, tidak dia melangkah satu langkah kecuali ditinggikan satu darjat baginya dan dihapuskan baginya satu kesalahan, apabila dia bersembahyang Malaikat senantiasa memohonkan rahmat ke atasnya selama mana dia masih di tempat sembahyang dan belum berhadas, Malaikat memohonkan: “Wahai Allah berilah rahmat ke atasnya, wahai Allah sayangilah dia!” (Hadis riwayat Al-Bukhari)

    Dalam hadis ini mengandungi beberapa perkara yang penting. Pertama ganjaran pahala yang besar akan diperolehi oleh orang-orang yang pergi berjemaah di masjid dengan sedia berwudhu lalu pergi ke masjid untuk bersembahyang. Maka setiap langkahnya akan dikira sebagai penghapus dosa-dosanya dan menaikkan darjatnya. Para Malaikat juga sentiasa memohonkan keampunan dan rahmat kepada orang-orang sedemikian. Kedua, orang yang berwudhu di rumah itu menggambarkan bahwa mereka sentiasa menjaga ketepatan waktu sembahyang karena telah bersedia lebih awal lagi.

    Oleh yang demikian hari Jum’at adalah hari yang mengandungi banyak kelebihan dan kebesaran yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

    Hadiri Jumat Lebih Awal

    Sesungguhnya kita dituntut agar menepati waktu sembahyang dan dilarang melengahkannya. Ini karena bukan sahaja menepati waktu sembahyang itu merupakan tuntutan agama malahan orang yang menepati waktu sembahyang itu akan mendapat ganjaran yang besar. Hal ini disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Orang-orang yang bersembahyang pada waktunya dan menyempurnakan wudhunya, menyempurnakan (tegak) berdirinya, menyempurnakan khusyu’nya, ruku’nya dan sujudnya, maka sembahyang itupun naik (ke langit) dalam keadaan putih dan cemerlang. Sembahyang itupun berkata: “Semoga Allah menjaga dirimu sebagaimana engkau menjaga aku (memperelokkan kelakuan sembahyang itu)”. Tetapi sesiapa yang bersembahyang tidak dalam waktunya yang ditentukan dan tidak pula memperelokkan wudhunya, khusyu’nya, ruku’nya dan sujudnya, maka sembahyang itupun naik (ke langit) dalam keadaan hitam legam sambil berkata: “Semoga Allah mensia-siakan dirimu sebagaimana engkau mensia-siakan aku”. Sehinggakan setelah sembahyang itu berada di suatu tempat sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah, lalu iapun dilipatkan sebagaimana dilipatnya baju yang koyak-koyak kemudian dipukulkanlah ke mukanya”. (Hadis riwayat Al-Thabarani)

    Ulama Syafe’i juga sepakat mengatakan bahwa sunat (mustahab) menghadirkan diri lebih awal ke masjid pada hari Jum’at. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tentang kelebihan orang-orang yang menghadirkan diri lebih awal ke masjid pada hari Jum’at, Baginda bersabda yang maksudnya :

    “Apabila datang hari Jum’at, maka setiap pintu masjid ada Malaikat yang mencatat orang-orang yang masuk mengikut urutannya. Apabila imam telah duduk (di atas mimbar), para Malaikat menutup buku catatan mereka dan datang untuk mendengarkan zikir (khutbah). Perumpamaan orang yang hadir ke masjid lebih awal adalah bagaikan orang yang menyembelih hadyi (korban) seekor unta, kemudian seperti menyembelih seekor sapi, kemudian seperti menyembelih seekor kambing, kemudian seperti menyembelih seekor ayam, kemudian seperti orang yang memberikan sedekah sebiji telur”. (Hadis riwayat Muslim)

    Berdasarkan hadis-hadis di atas jelas kepada kita bahwa orang yang meghadirkan diri ke masjid lebih awal pada hari Jum’at adalah sangat dituntut dan mempunyai ganjaran dan balasan yang besar. Sembahyang tepat pada waktunya juga dianggap sebagai memelihara sembahyang karena jika dilenggahkan waktu sembahyang tersebut, kemungkinan akan tertinggal atau terlepas waktu yang ditentukan itu.

    Malah Allah Subhanahu wa Ta’ala juga telah menjelaskan bahwa antara sifat-sifat orang yang mendapat kebahagiaan itu adalah orang-orang yang tetap mengerjakan sembahyang pada waktunya dengan cara yang sempurna. FirmanNya yang tafsirnya :

    “Dan mereka yang tetap memelihara sembahyangnya”  (Surah Al-Mukminun: 9)

    Kesimpulannya, sembahyang dengan khusyu’ dan tawadhu’ serta menjaga dan memelihara waktu adalah satu kewajiban. Maka adalah disunatkan kepada orang yang wajib atasnya sembahyang Jum’àt supaya menghadirkan diri lebih awal ke masjid bagi mengelak daripada terlepas pahala atau fadilat datang awal ke masjid seperti mana maksud hadis di atas.

    Lambat hadir yang mendatangkan kerugian itu termasuklah hadir setelah imam naik ke atas mimbar untuk membaca khutbah. Hal ini telah diceritakan dalam hadis di atas yang menyebutkan yang maksudnya :

    “Apabila imam telah duduk (di atas mimbar) para Malaikat menutup buku catatan mereka dan datang untuk mendengarkan zikir (khutbah)”.

    Ini bererti para Malaikat yang khusus bertugas mencatat kelebihan hadir awal ke masjid pada hari Jum’at itu menghentikan catatannya karena hendak sama-sama mendengar khutbah. Orang yang sedemikian hanya akan tersenarai dalam orang-orang yang hadir Jum’at sahaja, tetapi tidak tersenarai dari orang-orang yang mendapat kelebihan yang seolah-olah berkorban seekor unta atau sapi seperti yang disebut dalam hadis di atas.

    Dari itu sayugadalah kita datang awal ke masjid pada hari Jum’at itu dan ketika dalam perjalanan menuju ke Masjid hendaklah dengan khusyu’ dan merendah diri. Apabila sampai di masjid jangan lupa berniat iktikaf ketika hendak masuk ke masjid. Dengan datang awal itu juga kita berkesempatan melakukan perkara-perkara sunat yang lain seperti sembahyang sunat Tahiyyat al-Masjid, membaca Al-Qur’an, beristighfar, berzikir dan berdoa, karena pada hari Jum’at itu mempunyai kelebihan dan kebesaran yang banyak dan ganjaran yang berlipat ganda.

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
    • jengnoe 6:17 am on 15 Maret 2016 Permalink

      BR, Nurul A Fachruddin

      Mobile/WA : +62 82188250606 BBM : 5CEFB053 Line : jengnulu

      >

  • erva kurniawan 1:15 am on 14 March 2016 Permalink | Balas  

    Sholat Jum’at (1/2) 

    sholat-jumatSholat Jum’at (1/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Tujuan hidup manusia adalah untuk mencari kebahagiaan di dunia dan akhirat. Kebahagiaan itu pula akan dijamin datang apabila manusia mahu melaksanakan perintah dan suruhan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Antara perintah dan suruhan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang wajib ditunaikan adalah sembahyang. Hal ini dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firmanNya yang tafsirnya :

    “Sesungguhnya berjayalah orang-orang yang beriman, iaitu mereka yang khusyu’ dalam sembahyangnya; Dan mereka yang mejauhkan diri daripada perbuatan dan perkataan yang sia-sia”. (Surah Al-Mukminun: 1-3)

    Berdasarkan ayat di atas, jelaslah kepada kita bahwa kebahagiaan dan kemenangan hidup itu hanya dapat dicapai oleh orang-orang yang beriman, orang-orang yang menjaga sembahyangnya dan orang-orang yang menjauhkan dirinya daripada perbuatan sia-sia.

    Sembahyang merupakan salah satu daripada rukun Islam dan merupakan suatu ibadat yang sangat penting dalam Islam. Malah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskannya dalam sabda Baginda yang maksudnya :

    “Mahukah kamu Aku memberitahukan bahwa dasar (punca) segala urusan, tiangnya dan puncaknya? Aku menjawab: “Ya! Wahai Rasulullah”, lalu Baginda bersabda: “Dasar (puncak) segala urusan adalah Islam (dua kalimah shahadat) dan tiangnya adalah sembahyang dan puncaknya adalah jihad”. (Hadis riwayat Al-Tirmizi)

    Dengan demikian sembahyang merupakan suatu suruhan yang wajib ditunaikan oleh setiap orang Islam. Orang yang menunaikan sembahyang ini akan diberi ganjaran pahala karena mematuhi suruhan Allah Subhanhu wa Ta’ala. Hidupnya sentiasa mendapat nikmat dan rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan di akhirat nanti akan dimasukkan ke dalam syurga bersama-sama dengan orang-orang soleh.

    Kewajiban Sembahyang Jum’at

    Sembahyang Jum’at adalah salah satu diantara kewajiban yang termaklum berdasarkan al-Qur’an dan Al-Sunnah, orang-orang yang mengingkarinya dihukumkan kufur.

    Al-Qur’an menjelaskan mengenai kewajiban sembahyang Jum’at, Allah Subhanhu wa Ta’ala berfirman yang tafsirnya :

    “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila diserukan azan untuk mengerjakan sembahyang pada hari Jum’at, maka segeralah kamu pergi (ke masjid) untuk mengingati Allah (dengan mengerjakan sembahyang Jum’at) dan tinggalkanlah berjual beli (pada saat itu); yang demikian adalah lebih baik bagi kamu, jika kamu mengetahui (hakikat yang sebenarnya)”. (Surah Al-Jum’at: 9)

    Berdasarkan ayat ini dan ayat-ayat berikutnya, Allah Subahanhu wa Ta’ala memerintahkan umat Islam bersegera ke tempat sembahyang Jum’at (masjid) sebaik-baik sahaja mendengar seruan azan serta meninggalkan kerja masing-masing seperti berjual beli dan kerja-kerja lain, untuk pergi ke masjid mendengar khutbah dan mengerjakan sembahyang Jum’at. Setelah selesai sembahyang, mereka digalakkan meneruskan usahanya mencari rezeki sambil banyak mengingati Allah dalam segala keadaan. Mereka yang mematuhi ajaran Allah yang demikian itu akan beroleh kejayaan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga mejelaskan mengenai kewajiban sembahyang Jum’at tersebut berdasarkan sabda Baginda yang maksudnya :

    “Sembahyang Jum’at adalah hak yang wajib ke atas setiap orang Islam dengan (mengadakannya) secara berjemaah kecuali empat iaitu seorang hamba, perempuan, kanak-kanak dan orang sakit”. (Hadis riwayat Abu Daud dan Al-Hakim)

    Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan hari Jum’at sebagai hari besar mingguan bagi umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam serta memerintahkan mengadakan satu sembahyang yang khas menandakan kebesaran hari Jum’at, bagi menggantikan sembahyang Zuhur.

    Kelebihan Hari Jum’at

    Di antara kebesaran dan kelebihan hari Jum’at itu adalah penghulu segala hari. Pada hari Jum’at telah dijadikan bapak segala manusia iaitu Adam ‘alaihissalam. Pada hari itu juga diberikan satu saat di mana segala doa dan permintaan akan dikabulkan kecuali perkara-perkara yang maksiat sebagaimana Rasulullah bersabda yang maksudnya :

    “Sesungguhnya hari Jum’at adalah penghulu segala hari dan hari yang paling besar di sisi Allah Subhanhu wa Ta ‘ala iaitu hari yang lebih besar daripada hari raya Adha dan hari raya Fitrah, pada hari Jum’at itu terdapat lima kejadian iaitu hari yang dijadikan Adam ‘alaihissalam dan Baginda di turunkan daripada syurga ke muka bumi, dan pada hari itu juga wafatnya Adam ‘alaihissalam, dan Allah mengurniakan satu saat di mana doa-doa dikabulkan kecuali doa-doa maksiat, dan hari Jum’at juga akan terjadinya hari Kiamat”. (Hadis riwayat Ibnu Majah)

    Hari Jum’at juga adalah hari pengampunan daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada umat Islam baik yang masih hidup mahupun yang telah meninggal dunia. Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan kelebihan orang yang berwudhu di rumahnya kemudian pergi ke masjid untuk menunaikan sembahyang Jum’at dalam sabda Baginda yang maksudnya :

    “Sesiapa yang berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian dia (pergi ke masjid) untuk menunaikan Jum’at, lalu mendengar dan tidak bercakap (ketika khutbah dibacakan), maka diampuni dosa-dosanya yang ada di antara hari Jum’at itu dan hari Jum’at berikutnya dan ditambah tiga hari lagi. Dan sesiapa yang bermain-main dengan anak-anak batu (ketika khutbah) telah berbuat sia-sia”. (Hadis riwayat Muslim)

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 13 March 2016 Permalink | Balas  

    Waktu-Waktu Yang Dilarang Melakukan Sholat (3/3) 

    dilarang sholatWaktu-Waktu Yang Dilarang Melakukan Sholat (3/3)

    Sembahyang Dhuhur Sebelum Imam Selesai Menunaikan Sembahyang Jumat

    Antara waktu yang boleh dikira sebagai waktu yang terlarang menunaikan sembahyang adalah pada waktu imam belum selesai mendirikan sembahyang Jumat. Akan tetapi hukum ini khusus bagi sembahyang fardhu Dhuhur dan bagi orang yang meninggalkan sembahyang Jumat dengan sengaja tanpa uzur syara’.

    Imam an-Nawawi menjelaskan pendapat Ash-hab Syafi’ieyah (Ulama-ulama mazhab Syaf’ie) bahwa bagi sesiapa yang diwajibkan ke atasnya menunaikan sembahyang fardhu Jumat, maka tidak harus menunaikan sembahyang Dhuhur sebelum lagi dia terluput sembahyang Jumat itu tanpa ada sebarang khilaf mengenainya kerana yang dituntut ke atasnya adalah fardhu Jumat. Jika dia menunaikan sembahyang Dhuhur sebelum lagi luput dan imam belum lagi selesai menunaikan sembahyang Jumat itu, maka menurut qaul jadid sembahyang Dhuhurnya itu adalah tidak shah. Para Ash-hab juga sepakat bahwa pendapat yang shahih adalah batal sembahyang Dhuhurnya itu. (Lihat Al-Majmu’:4/416)

    Bahkan, menta’khir sembahyang Dhuhur sehingga selesai solat Jumat itu adalah disunatkan ke atas orang yang mempunyai keuzuran seperti orang sakit yang berkemungkinan akan hilang uzurnya itu sebelum lagi imam selesai mendirikan solat Jumat, misalnya dia sembuh atau pulih sehingga benar-benar putus harapannya bahwa dia tidak akan sempat hadir untuk mengikuti sembahyang Jumat. Kadar waktu itu menurut pendapat yang ashah adalah ketika imam mengangkat belakangnya untuk bangun daripada rukuknya pada rakaat yang kedua. (Lihat mughni al-Muhtaj: 1/279)

    Adakah Harus Mengerjakan Sembahyang Sunat Setelah Mengerjakan Sembahyang Witr?

    Sengaja ditimbulkan masalah ini kerana adanya kekeliruan orang ramai tentang hukum mengerjakan sembahyang sunat selepas Witr, adakah diharuskan ataupun sebaliknya. Perkara ini berpunca kerana hadis yang menyarankan untuk menjadikan sembahyang yang terakhir itu adalah sembahyang sunat Witr.

    Keraguan ini menimbulkan masalah bagaimanakah halnya dengan orang yang telah mengerjakan Witr berjemaah di masjid bersama-sama Imam khususnya ketika bulan Ramadhan. Sehinggakan ada jamaah yang balik meninggalkan masjid sesudah sempurna solat Tarawih supaya dapat mengerjakan solat-solat sunat yang lain seperti solat Tasbih dan Tahajjud dan selepas itu barulah melakukan solat witr pada penghujung malam. Ada juga yang tidak melakukan Tahajjud kerana menyangka jika telah malakukan solat Witr tidak diharuskan menunaikan solat sunat lainnya. Dan ada pula yang melakukan dua witr pada satu malam iatu sekali berjemaah bersama imam di masjid dan mengulanginya sekali lagi setelah dia bersembahyang Tahajjud.

    Sebenarnya sebagaimana yang diperkatakan oleh ulama fiqh khususnya dalam mazhab Syafi’e seperti Imam An-Nawawi bahwa apabila seseorang itu telah mengerjakan sembahyang witir, kemudian dia hendak mengerjakan sembahyang sunat yang lainnya seperti sunat tahajjud, hukumnya adalah harus dan tidak makruh perbuatannya itu. Akan tetapi adakah dibolehkan mengulang sembahyang witirnya itu? Dalam hal ini, sembahyang witirnya yang awal (yang telah dilakukannya) itu tidak terhapus. Oleh yang demikian janganlah diulangi sembahyang witirnya itu, tetapi bolehlah dia mengerjakan apa saja sembahyang yang syaf’an (genap) jika dia mahu. (Al-Majmu’: 4/22,32)

    Perbuatan mengulangi witr dalam satu malam itu adalah dilarang. Sebuah riwayat daripada Thalq bin ‘Ali daripada ayahnya, katanya yang maksudnya :

    “Saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tiada dua witir dalam satu malam.”

    (Hadis riwayat at-Tirmidzi)

    Pengecualian Larangan Bersembahyang Pada Waktu-Waktu Larangan Itu

    Dalam mazhab Syafi’i larangan bersembahyang pada waktu-waktu tersebut dikecualikan dalam keadaan-keadaan berikut:

    1.Hari Jumaat

    Sebagaimana yang telah dijelaskan terdahulu bahwa mengerjakan sembahyang ketika matahari tegak (rembang) adalah makruh tahrim. Bagaimanapun ia dikecualikan pada hari Jumaat. Perkara ini dijelaskan di dalam sebuah hadis daripada Qatadah daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, katanya yang maksudnya:

    “Bahwasanya Baginda membenci sembahyang pada tengah hari (rembang) kecuali pada hari Jumaat, dan Baginda bersabda: “Sesunguhnya neraka Jahannam dimarakkan (pada saat itu) melainkan pada hari Jumaat”.

    (Hadis riwayat Abu Daud)

    Pengkhususan itu pula adalah umum untuk orang yang hadir ke masjid atau tidak. Berkata Al-Khatib Asy-Syarbini:

    Ertinya:

    “Dan pada pendapat yang ashah adalah harus bersembahyang pada waktu ini (waktu matahari tegak) sama ada dia hadir sembahyang Jumat ataupun tidak”

    (Mughni al-Muhtaj:1/128)

    1. Tanah Haram Mekah

    Mengerjakan apa saja jenis sembahyang di tanah suci Mekah adalah diharuskan tanpa mengira sebarang waktu sekalipun pada waktu yang terlarang. Pendapat ini adalah yang shahih di dalam mazhab Syafi’ie dan disokong dengan hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sabda Baginda yang maksudnya :

    “Wahai Bani Abdi Manaf, jangan kamu melarang seseorang tawaf di rumah ini (Baitullah) dan bersembahyang pada bila-bila waktu yang dia sukai, malam atau siang”

    (Hadis riwayat At-Tirmidzi)

    Lagipun bersembahyang di tanah haram Mekah ada tambahan kelebihan atau fadhilat, maka harus mengerjakan sembahyang di sana dalam apa-apa jua keadaan. (Mughni al-Muhtaj: 1/130)

    Penutup

    Berdasarkan keterangan dan penjelasan yang dibawakan di atas bahwa ada beberapa ibadah khususnya sembahyang yang ada ketikanya ia ditegah untuk dilakukan. Bahkan jika dilakukan sembahyang itu adalah tidak shah. Oleh itu haruslah dijaga dan difahami waktu dan keadaan yang ditegah melakukan ibadah sembahyang pada ketika itu supaya terjamin kesempurnaan ibadah sembahyang kita serta diredhai dan diterima oleh Allah Subhanhu wa Ta’ala.

    ==== SELESAI ====

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 12 March 2016 Permalink | Balas  

    Waktu-Waktu Yang Dilarang Melakukan Sholat (2/3) 

    dilarang sholatWaktu-Waktu Yang Dilarang Melakukan Sholat (2/3)

    Apakah Dia Sembahyang-Sembahyang Yang Dilarang Melakukannya itu?

    Sembahyang-sembahyang yang ditegah melakukannya pada waktu-waktu yang lima  ialah sembahyang sunat Muthlaq yaitu sembahyang yang tiada mempunyai sebarang sebab seperti sembahyang sunat Tasbih dan juga sembahyang yang bersebab tetapi sebabnya itu terkemudian. Sembahyang yang sebabnya terkemudian itu ialah seperti sembahyang sunat Ihram dan sembahyang sunat Istikharah. Sebab sembahyang sunat Ihram itu adalah karena memakai Ihram, ia hanya berlaku setelah melaksanakan sembahyang Ihram dan Istikharah  itu pula karena  membuat suatu perkara itu dimulakan selepas sembahyang Istikharah.

    Adapun sembahyang yang sebabnya terdahulu daripada sembahyangnya ataupun beriringan, maka harus dikerjakan pada waktu-waktu tegahan itu, tidak makruh dan tidak haram.  Misal sembahyang-sembahyang berkenaan ialah seperti sembahyang qadha sama ada fardhu atau sunat, sembahyang Janazah, sembahyang Istisqa’, sembahyang gerhana, sembahyang sunat yang dinazarkan, sembahyang Hari Raya, sembahyang Dhoha, sembahyang sunat Thawaf, sembahyang sunat Wudhu, sembahyang sunat Tahiyatul Masjid, sujud Tilawah dan sujud Syukr dan lain-lain solat yang sebabnya terdahulu.

    Sembahyang-sembahyang ini harus untuk dilakukan pada lima-lima waktu dilarang melakukan sembahyang itu berdasarkan hadis Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Ijma’ para ulama.

    Menurut sebuah riwayat mengenai dengan peristiwa taubat Ka’ab bin Malik bahawa dia telah melakukan sujud syukur selepas sembahyang fardhu Subuh sebelum lagi terbit matahari.

    Menurut sebuah hadis lagi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Bilal yang maksudnya :

    Maksudnya: “Wahai Bilal! Cuba kau ceritakan kepadaku apakah perkerjaan yang paling kau harapkan daripada perkerjaan-perkerjaan yang telah kamu lakukan dalam Islam. Sesungguhnya aku mendengar bunyi kasut engkau di hadapanku di syurga?” Bilal berkata: “Aku tidak melakukan suatu perkerjaan yang paling aku harapkan selain aku tidak pernah bersuci sama ada malam atau siang kecuali untuk bersembahyang dengannya, sembahyang yang ditentukan oleh Allah untukku(sembahyang sunat)”  (Hadis riwayat al-Bukhari)

    Hadis di atas menjelaskan bahawa sujud syukur harus dilakukan pada waktu yang terlarang. Begitu juga dengan sembahyang sunat wudhu setelah bersuci dengan mengambil wudhu sebagaimana yang diamalkan oleh Bilal Radhiallahu ‘anhu tidak mengira siang atau malam. Ini karena sebab sembahyang sunat wudhu dan sujud syukur itu adalah sebab yang terdahulu bukan terkemudian. Begitulah juga halnya dengan sembahyang-sembahyang lain yang mempunyai sebab yang terdahulu.

    Hikmah Pengharaman Sembahyang Pada Waktu-Waktu Berkenaan    

    Larangan mengerjakan sembahyang pada waktu-waktu berkenaan mempunyai hikmat yang tersendiri.

    Waktu ketika matahari terbit, maka terbitnya matahari itu adalah di antara dua tanduk syaitan, lalu orang kafir bersembahyang untuknya. Waktu ketika matahari tegak (rembang) pula, ketika itulah neraka Jahannam dimarakkan dan pintu-pintunya dibuka dan waktu ketika matahari hendak terbenam, maka terbenamnya matahari itu adalah di antara dua tanduk syaitan maka orang kafir bersembahyang untuknya. Perkara ini ada dijelaskan di dalam hadis-hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam antaranya hadis daripada Abdullah ash-Shunabiji bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Ketika matahari terbit akan disertai oleh syaitan. Jika matahari telah naik, maka syaitan akan meninggalkannya. Apabila  matahari tepat berada di tengah (waktu istiwa) maka syaitan akan menyertainya, tetapi jika matahari telah gelincir, maka syaitan akan menjauhinya. Apabila matahari hampir terbenam pula, maka syaitan akan menyertainya dan jika matahari telah terbenam, maka syaitan akan menjauhinya. Di waktu-waktu itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seseorang mengerjakan sembahyang”. (Hadis riwayat An-Nasaie)

    Sabda Baginda lagi yang maksudnya :

    “Maka sesungguhnya neraka Jahannam di nyalakan pada waktu tengah hari( yaitu ketika matahari berada ditengah-tengah)”. (Hadis riwayat An-Nasaie)

    Adapun hikmah melarang sembahyang sunat selepas sembahyang Subuh dan Asar bukanlah disebabkan sesuatu yang wujud dalam waktu itu, sebab dari segi hukum waktu itu dihabiskan dengan kewajipan waktu, yang lebih baik daripada sunat yang sebenarnya. .(Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh:1/520)

    Lain-Lain Waktu Yang Dilarang Melakukan Sembahyang

    Selain daripada waktu-waktu tegahan bersembahyang sebagaimana yang diperjelaskan di atas ada juga beberapa waktu dan keadaan yang juga dilarang sama ada hukumnya makruh atau haram sebagaimana yang akan dihuraikan dibawah ini.

    1.Ketika hendak didirikan sembahyang fardhu.

    Makruh memulakan sembahyang  sunat selepas muadzdzin memulakan iqamah sembahyang, sama ada sembahyang itu sembahyang sunat rawatib, seperti sembahyang sunat Subuh, Zuhur dan lain-lain. Sama ada dia meyakini yang dia akan sempat mendapat satu rakaat bersama-sama imam atau tidak.(Lihat Al-Majmu:4/62)

    Dalil pendapat ini hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,  Baginda bersabda yang maksudnya :

    “Apabila sembahyang didirikan, maka tidak boleh dilakukan sembahyang kecuali sembahyang fardhu.” (Hadis riwayat Imam Muslim)

    Adapun hikmah larangan bersembahyang sunat selepas iqamah dilaungkan ialah supaya seseorang itu sempat bersembahyang fardhu bersama-sama dengan imam dari awalnya, yaitu dia boleh memulakan sembahyang beriringan dengan imam. Jika dia sibuk dengan sembahyang sunat, dia akan luput takbiratul ihram bersama-sama imam. Begitu juga dia akan luput beberapa amalan sembahyang yang menyempurnakan fardhu. Fardhu adalah lebih utama dijaga supaya sempurna. Hikmah lain pula ialah adanya larangan daripada menyalahi imam. (Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh: 1 / 532 .)

    2.Ketika Khatib Berada Di Atas Mimbar

    Sebaik saja imam duduk di atas mimbar, maka ditegah dan dilarang daripada melakukan sembahyang. Tegahan ini adalah khusus kepada mereka yang telah sedia ada hadir di masjid sedang imam telahpun duduk di atas mimbar.

    Berkata imam An-Nawawi yang maknanya :

    “Berkata Ash-hab Syafi’ieyah: Apabila imam duduk di atas mimbar adalah ditegah untuk memulakan sembahyang sunat, mereka menaqal bahawa telah ijma’ ulama dalam perkara ini. Dan berkata Pengarang al-Hawi: Apabila imam duduk di atas mimbar adalah haram ke atas orang yang berada di dalam masjid untuk memulakan sembahyang sunat, jika waktu itu dia sedang di dalam sembahyang hendaklah dia duduk (berhenti)”(Al-Majmu’: 4/472).

    Haram mendirikan sembahyang sama ada sembahyang itu sembahyang fardhu atau sunat sekalipun qadha sembahyang itu wajib disegerakan. Umapamanya orang yang meninggalkan sembahyang Subuh tanpa sebarang uzur, maka haram dia melakukan qadha Subuh itu sejak dari waktu duduknya imam itu sekalipun sebelum dia membacakan khutbah. Atau sekalipun dia yakin yang dia boleh selesai dan sempat mengikuti permulaan khutbah, sebagaimana yang telah dii’timadkan oleh al-Ramli dalam Fatawanya. (Fathul ‘Allam 3/111).

    Jika dilakukannya sembahyang pada ketika itu, maka tidaklah sah sembahyangnya walaupun pada ketika imam itu membacakan doa untuk sultan ataupun ketika mengucapkan taraddhi (mengucapakan Radhiallahu ‘anh apabila disebut nama-nama para sahabat) karena semua itu dikira ada hubungannya dengan khutbah Jumu’ah. (Fathul ‘Allam:3/111)

    Berkata Ibnu Hajar di dalam Tuhfahnya yang maknanya : “Tidak shah (sembahyang fardhu seperti sembahyang qadha yang baru dia teringat ketika itu sekalipun wajib disegerakannya atau sembahyang sunat) dan juga tidak shah thawaf dan sujud tilawah atau syukur menurut yang zhahir pada keduanya (thawaf dan sujud tilawah atau sujud syukur) sebab mengambil illah para ulama mengapa diharamkan sembahyang (selepas imam  duduk di atas mimbar) karena perbuatan itu adalah menghindar atau berpaling daripada (mendengar) khutbah secara keseluruhan”

    (Hawasyi Syarwani wa Ibn Qasim ‘ala at-Tuhfah:2/457)

    Sepertimana diharamkan mendirikan sembahyang pada waktu tersebut, adalah juga diharamkan memanjangkan sembahyangnya. Maka, sesiapa yang pada ketika  itu (ketika  imam duduk di atas mimbar)  dia sedang sembahyang, maka  wajib dia mentakhfif (meringankan atau menyingkatkan) sembahyangnya itu.(Fathul ‘Allam:3/112)

    Maksud mentakhfifkan sembahyang itu ialah memadai melakukan perkara-perkara yang rukun dan wajib dalam sembahyang sahaja. Ada juga pendapat lain yang mendifinisikan bahawa maksud takhfif itu ialah meninggalkan tathwil (memanjangkan) menurut ‘urf (kebiasaan) dan ini adalah pendapat yang awjah sepertimana dalam syarah ar Ramli. Menurut pandapat ini adalah makruh menambah daripada apa yang  wajib sebagaimana yang dikatakan oleh al-Kurdi sebagai menjaga pendapat yang pertama itu. (Fathul ‘Allam:3/113)

    As-Saiyid Abu Bakr menyebutkan sebagaimana yang dinaqalnya daripada perkataan Ibn Qasim bahawa sayugianya jika dia memulakan sembahyang fardhu sebelum imam (khatib) duduk di atas mimbar, dan khatib itu duduk sedang dia masih di dalam sembahyangnya, jika sembahyangnya itu tinggal dua rakaat maka harus dia melakukannya (menyempurnakannya) dan wajib dia mentakhfif. Jika banyak (lebih daripada dua rakaat), maka ditegah melakukannya dan wajib dia memberhentikannya atau menukarkannya menjadi sembahyang sunat dan memadailah  melakukannya dua rakaat  di samping wajib mentakfifkannya. (Fathul ‘Allam:3/113)

    Adapun orang yang baru memasuki masjid sedang imam telah duduk atau berada di atas mimbar membaca khutbah, maka harus yakni sunat selagi tidak ditakuti akan luput bertakbiratul ihram bersama-sama imam sebelum dia duduk. Begitu juga orang telah duduk karena lupa atau jahil tetapi belum  panjang jarak masanya disunatkan  bersembahyang sunat dua rakaat dengan niat tahyiyatul masjid. (Hawasyi Syarwani wa Ibn Qasim ‘ala at-Tuhfah:2/457)

    Pada pendapat mazhab Hanafi dan mazhab Maliki pula, makruh hukumnya melakukan sembahyang tahiyatul masjid pada ketika itu sebagaimana yang dijelaskan oleh pengarang Rahmatul Ummah.(Fathul ‘Allam:3/113).

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 11 March 2016 Permalink | Balas  

    Waktu-Waktu Yang Dilarang Melakukan Sholat (1/3) 

    dilarang sholatWaktu-Waktu Yang Dilarang Melakukan Sholat (1/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Umat Islam memang disarankan untuk sentiasa memperbanyak melakukan sebahyang-sembahyang sunat. Sembahyang-sembahyang sunat itu sebenarnya berperanan menampal segala kekurangan yang dilakukan ketika malakukan sembahyang-sembahyang Fardhu.

    Dengan memperbanyak melakukan ibadah sembahyang, seseorang hamba akan sentiasa berada dekat dengan Khaliqnya kerana sembahyang itu penghubung di antara manusia dengan Allah.

    Rasulullah Sahallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “ (Kedudukan) yang paling dekat di antara hamba dan Tuhannya ialah ketika dia sujud (di dalam sembahyangnya) maka perbanyakkanlah doa”. (Hadis riwayat Imam Muslim)

    Sembahyang-sembahyang sunat itu ada yang telah ditetapkan waktu dan ada pula sembahyang-sembahyang sunat yang tidak terhad waktunya iaitu boleh dilakukan bila-bila masa sama ada pada waktu malam atau siang. Di antara sembahyang sembahyang sunat itu ada hubungannya dengan sembahyang fardhu seperti sembahyang sunat qabliyah dan ba’diyah. Ada juga sembahyang sunat yang disunatkan melakukannya kerana waktu yang tertentu seperti sembahyang Dhoha dan ada di antara sembahyang sunat yang dilakukan oleh sebab tertentu seperti sembahyang gerhana matahari, gerhana bulan, kerana memulakan pelayaran atau balik dari pelayaran, hinggalah kepada sembahyang mutlak yang bukan bersebab dan berwaktu separeti sembahyang sunat Tasbih dan lainnya.

    Begitu banyak sekali sembahyang-sembahyang sunat yang dianjurkan kepada kita melakukannya, yang patut kita ambil kesempatan atau peluang memanfaatkannya.

    Akan tetapi ada beberapa waktu dan keadaan yang dilarang kita melakukan sembahyang-sembahyang berkenaan. Walaupun secara umumnya, yang dilarang itu ialah sembahyang-sembahyang sunat pada waktu-waktu tertentu, namun ada juga kalanya sembahyang fardhu.

    Bilakah waktu dan keadaan yang dimaksudkan itu? Apakah hukum melakukan sembahyang pada waktu-waktu berkenaan, adakah haram atau makruh sahaja? Adakah sembahyang itu sah atau sebaliknya? Apa-apa dia sembahyang yang ditegah melakukannya itu? Maka Irsyad hukum kali ini akan menghuraikannya.

    Bilakah Waktu-Waktu Yang Dilarang Menunaikan Sembahyang?

    Sebagai mana dijelaskan oleh para ulama feqh berdasarkan hadis-hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bahawa waktu-waktu tertentu yang ditegah melakukan sembahyang adalah seperti berikut:

    1. Bermula dari terbit matahari sehingga matahari naik tinggi kira-kira kadar satu tombak. Satu tombak itu adalah kira-kira kadarnya tujuh hasta paras ketinggian orang biasa dan satu hasta pula ialah kira-kira menyemai dengan lapan belas inci.
    2. Waktu Istiwa iaitu waktu matahari berada di tengah-tengah langit sehingga gelincir matahari atau condong ke bawah .(Kecuali waktu istiwa pada hari Jumaat)
    3. Waktu ketika matahari berwarna kekuning-kuningan sehingga tenggelam keseluruhan bulatan matahari itu di ufuk.

    Ketiga-tiga waktu ini ada disebutkan di dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam daripada ‘Uqbah bin ‘Amir al-Juhani katanya yang maksudnya :

    “Tiga waktu yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kami bersembahyang dan mengkebumikan mayat, iatu ketika matahari naik sehingga tinggi, ketika matahari tegak (terpacak) sehingga gelincir dan ketika matahari hampir terbenam sehingga ia terbenam”

    (Hadis riwayat Imam Muslim)

    Hadis di atas melarang bersembahyang dan mengkebumikan mayat pada ketiga-tiga waktu berkekenaan.

    1. Selepas sembahyang fardhu Subuh iaitu bagi orang yang telah menunaikan sembahyang Subuh sehingga terbit matahari.
    2. Selepas sembahyang fardhu ‘Asar sehingga terbenamnya matahari.

    Diterangkan di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri yang mengatakan bahawa dia telah mendengar Rasulullah Sahallalahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Tidak ada sembahyang selepas Subuh sehingga terbit matahari dan tidak ada sembahyang selepas Asar sehinggalah matahari terbenam”. (Hadis riwayat al-Bukhari)

    Hukum Menunaikan Sembahyang Pada Waktu-Waktu Tersebut

    Menurut pendapat yang mu’tamad dalam mazhab Syafi’ie bahawa hukum melakukan sembahyang pada waktu-waktu yang tersebut itu adalah makruh tahrim. (Mughni al-Muhtaj :1/128, Fathul ‘Allam: 3/114,Fiqh al-Islami wa Adillatuh:1/520 )

    Makruh tahrim sebagai mana yang dijelaskan oleh pengarang Hasyiyah I’anah Thalibin dan pengarang Fathul ‘Allam ialah hukum yang sabit dengan dalil yang zhanni dan boleh dibuat takwilan (andaian), berbeza dengan haram yang mana ia sabit dengan dalil qath’ie yang tidak boleh dibuat takwilan sama ada dalil itu daripada kitab atau sunnah atau ijma’ ataupun qiyas.(I’anah Tahalibin:1/197, Fathul ‘Allam: 3/114)

    Ada juga pendapat ulama yang mengatakan bahawa hukumnya adalah makruh tanzih. Walau bagaimanapun sembahyang itu tetap tidak shah sebagaimana kata Al-Khatib Asy-Syarbini yang maknanya :

    “Dan tidak shah sembahyang itu jika kita berpendapat bahawasanya hukumnya adalah makruh tahrim, dan begitu juga pada pendapat yang mengatakan bahawa hukumnya adalah karahah tanzih menurut pendapat yang ashah”

    (Mughni al-Muhtaj:1/129)

    Menyenghajakan Mengakhirkan Sembahyang Untuk Dilakukan Pada Waktu-Waktu Makruh

    Berkata pengarang Fathul Mu’in yang maknanya :

    “Maka jika seseorang itu bermaksud (menyenghajakan untuk mengakhirkan) sembahyang yang bukan empunya waktu di dalam waktu makruh (mengerjakan sembahyang) kerana waktu itu adalah waktu makruh (sebagaimana yang telah diketahuinya) maka hukumnya adalah haram secara mutlak dan sembahyang itu tidak shah walaupun (mengqadha) sembahyang yang telah luput waktunya sekalipun wajib di qadha dengan segera kerana dia telah menentang hukum syara’”

    (I’anah at-Thalibin:1/199-200)

    Berlainan halnya jika tujuan mengakhirkannya pada waktu makruh itu oleh sebab yang tertentu iaitu bukan dengan niat melakukannya pada waktu itu kerana waktu itu adalah waktu makruh seperti mengerjakan sembahyang Janazah selepas sembahyang Asar kerana bertujuan supaya ramai jamaah bersembahyang, maka itu adalah diharuskan .(Lihat Hasyiah I’anah Thalibin:1/200)

    Tidak termasuk di dalam larangan itu bagi sembahyang yang empunya waktu seperti mengakhirkan sembahyang Asar sehingga matahari kekuning-kuningan.

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:59 am on 10 March 2016 Permalink | Balas  

    Aurat Perempuan 

    wanita sholehahAurat Perempuan

    Dari uraian terdahulu, kita tahu bahwa semua bagian tubuh yang tidak boleh dinampakkan, adalah aurat. Oleh karena itu dia harus menutupinya dan haram dibuka.

    Aurat perempuan dalam hubungannya dengan laki-laki lain atau perempuan yang tidak seagama, yaitu seluruh badannya, kecuali muka dan dua tapak tangan. Demikian menurut pendapat yang kami anggap lebih kuat. Karena dibolehkannya membuka kedua anggota tersebut –seperti kata ar-Razi– adalah karena ada suatu kepentingan untuk bekerja, mengambil dan memberi. Oleh karena itu orang perempuan diperintah untuk menutupi anggota yang tidak harus dibuka dan diberi rukhsah untuk membuka anggota yang biasa terbuka dan mengharuskan dibuka, justru syariat Islam adalah suatu syariat yang toleran.

    Ar-Razi selanjutnya berkata: “Oleh karena membuka muka dan kedua tapak tangan itu hampir suatu keharusan, maka tidak salah kalau para ulama juga bersepakat, bahwa kedua anggota tersebut bukan aurat.”

    Adapun kaki, karena terbukanya itu bukan suatu keharusan, maka tidak salah juga kalau mereka itu berbeda pendapat (ikhtilaf), apakah dia itu termasuk aurat atau tidak?

    Sedang aurat orang perempuan dalam hubungannya dengan duabelas orang seperti yang disebut dalam ayat an-Nur itu, terbatas pada perhiasan (zinah) yang tidak tersembunyi, yaitu telinga, leher, rambut, dada, tangan dan betis. Menampakkan anggota-anggota ini kepada duabelas orang tersebut diperkenankan oleh Islam. Selain itu misalnya punggung, kemaluan dan paha tidak boleh diperlihatkan baik kepada perempuan atau laki-laki kecuali terhadap suami.

    Pemahaman terhadap ayat ini lebih mendekati kepada kebenaran daripada pendapat sementara ulama yang mengatakan, bahwa aurat perempuan dalam hubungannya dengan mahram hanyalah antara pusar dan lutut. Begitu juga dalam hubungannya dengan sesama perempuan. Bahkan apa yang dimaksud oleh ayat tersebut yang kiranya lebih mendekati kepada pendapat sebagian ulama, yaitu: “Bahwa aurat perempuan terhadap mahramnya ialah anggota yang tidak tampak ketika melayani. Sedang apa yang biasa tampak ketika bekerja di rumah, mahram-mahram itu boleh melihatnya.”

    Justru itu Allah memerintahkan kepada perempuan-perempuan mu’minah hendaknya mereka itu memakai jilbab ketika keluar rumah, supaya berbeda dengan perempuan-perempuan kafir dan perempuan-perempuan lacur. Untuk itu pula Allah perintahkan kepada Nabi-Nya supaya menyampaikan pengumuman Allah ini kepada ummatnya; yang berbunyi sebagai berikut:

    “Hai Nabi! Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min semua hendaklah mereka menghulurkan jilbab-jilbab mereka atas (muka-muka) mereka. Yang demikian itu lebih mendekati mereka untuk dikenal supaya mereka tidak diganggu.” (al-Ahzab: 59)

    Jilbab, yaitu pakaian yang lebarnya semacam baju kurung untuk dipakai perempuan guna menutupi badannya.

    Sebagian perempuan jahiliah apabila keluar rumah, mereka menampakkan sebagian kecantikannya, misalnya dada, leher dan rambut, sehingga mereka ini diganggu oleh laki-laki fasik dan yang suka iseng, kemudian turunlah ayat di atas yang memerintahkan kepada orang-orang perempuan mu’minah untuk menghulurkan jilbabnya itu sehingga sedikitpun bagian-bagian tubuhnya yang biasa membawa fitnah itu tidak tampak. Dengan demikian secara lahiriah mereka itu dikenal sebagai wanita yang terpelihara (afifah) yang tidak mungkin diganggu oleh orang-orang yang suka iseng atau orang-orang munafik.

    Jadi jelasnya, bahwa ayat tersebut memberikan illah (alasan) perintahnya itu karena kawatir perempuan-perempuan muslimah itu diganggu oleh orang-orang fasik dan menjadi perhatian orang-orang yang suka iseng. Bukan ketakutan yang timbul dari perempuan itu sendiri atau karena tidak percaya kepada mereka, sebagaimana anggapan sementara orang, sebab perempuan yang suka menampakkan perhiasannya, yang berjalan dengan penuh bergaya (in action) dan bicaranya dibuat-buat, sering membuat perhatian orang laki-laki dan membikin sasaran orang-orang yang suka iseng.

    Ini cocok dengan firman Allah yang mengatakan:

    “Janganlah perempuan-perempuan itu berlaku lemah dengan perkataannya, sebab akan menaruh harapan orang yang dalam hatinya ada penyakit.” (al-Ahzab: 32)

    Islam memperkeras persoalan menutup aurat dan menjaga perempuan muslimah. Hanya sedikit sekali perempuan diberinya rukhsah (keringanan), misalnya perempuan-perempuan yang sudah tua.

    Firman Allah:

    “Dan perempuan-perempuan yang sudah putus haidhnya dan tidak ada harapan untuk kawin lagi, maka tidak berdosa baginya untuk melepas pakaiannya, asalkan tidak menampak-nampakkan perhiasannya. Tetapi kalau mereka menjaga diri akan lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” (an-Nur: 60)

    Yang dimaksud al-qawa’id (perempuan-perempuan yang duduk), yaitu perempuan-perempuan yang sudah tidak haidh dan tidak beranak lagi karena sudah tua. Justru itu mereka sudah tidak ada keinginan untuk kawin dan sudah tidak suka kepada laki-laki, begitu juga laki-laki itu sendiri sudah tidak suka kepada mereka.

    Untuk mereka ini, Allah memberikan kelonggaran dan tidak menganggap suatu perbuatan dosa, jika mereka itu menanggalkan sebagian pakaian luar yang biasa tampak, seperti baju kurung, kebaya, kudung dan sebagainya.

    Al-Quran memberikan batas rukhsah ini dengan kata: tidak menampak-nampakkan perhiasannya, yakni tidak bermaksud menanggalkan pakaiannya itu untuk menunjuk-nunjukkan. Akan tetapi kelonggaran ini diberikan jika memang mereka itu memerlukan.

    Berdasar rukhsah ini, maka kiranya yang lebih afdhal dan lebih baik hendaknya mereka tetap menjaga diri dengan selalu mengenakan pakaian-pakaian tersebut, untuk mencari kesempurnaan dan supaya terhindar dari segala syubhat. Karena itu Allah mengatakan dan kalau mereka itu menjaga diri adalah lebih baik bagi mereka.

    Perempuan Masuk Pemandian

    Demi perhatian Islam terhadap masalah pemeliharaan aurat, maka Rasulullah s.a.w. melarang perempuan-perempuan masuk pemandian umum dan telanjang di hadapan perempuan-perempuan lain yang memungkinkan sifat-sifat badannya itu akan menjadi pembicaraan dalam majlis-majlis dan oleh mulut-mulut yang usil.

    Begitu juga Rasulullah s.a.w. melarang laki-laki masuk pemandian kecuali dengan memakai kain yang dapat menutupi badannya dari pandangan mata orang lain. Sebagaimana tersebut dalam riwayat di bawah ini:

    “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan masuk pemandian kecuali dengan memakai kain. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan memasukkan (membiarkan masuk) isterinya ke pemandian.” (Riwayat Nasa’i Tarmizi ia hasankan; dan Hakim ia berkata: hadis ini diriwayatkan dengan rawi-rawi Muslim) – lihat Targhib.

    “Dari Aisyah r.a., ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. melarang perempuan-perempuan masuk pemandian, kemudian ia membolehkan laki-laki masuk pemandian dengan memakai kain.” (Riwayat Abu Daud — dan ia tidak melemahkan dan lafaz ini terdapat dalam sunannya — juga diriwayatkan oleh Tarmizi dan Ibnu Majah, dan dalam sanadnya ada seorang yang tidak terkenal) – lihat Targhib.

    Dikecualikan perempuan yang masuk pemandian guna berobat karena sakit yang dideritanya atau karena nifas dan sebagainya. Karena ada suatu riwayat dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah s.a.w. pernah mengatakan perihal pemandian sebagai berikut:

    “Janganlah seorang laki-laki masuk pemandian kecuali dengan memakai kain, dan hendaklah mereka itu melarang perempuan-perempuan masuk pemandian kecuali karena sakit atau nifas.” (Riwayat Ibnu Majah, Abu Daud – tetapi dalam sanadnya ada seorang yang bernama Abdurrahman bin Ziadah bin An’am al-Afriqi)

    Dalam hadis ini ada sedikit kelemahan, tetapi berdasar kaidah-kaidah syara’ sehubungan dengan masalah rukhshah untuk orang yang sakit dan demi memudahkan mereka untuk beribadah dan menunaikan kewajiban-kewajiban, maka semua itu dapat memperkuat dan menunjang hadis tersebut. Diperkuat juga dengan kaidah yang sudah masyhur, bahwa sesuatu yang diharamkan karena membendung bahaya, bisa menjadi mubah justru ada kepentingan yang sangat dan demi kemaslahatan.

    Dan dikuatkan juga oleh hadis riwayat Ibnu Abbas yang menerangkan, bahwa Rasuluilah s.a.w. pernah bersabda sebagai berikut:

    “Berhati-hatilah kamu terhadap rumah yang disebut pemandian. Para sahabat bertanya: Ya Rasulullah! Sesungguhnya dia itu dapat menghilangkan kotoran dan berguna bagi orang yang sakit. Maka jawab Nabi: (Bolehlah kamu masuk) tetapi barangsiapa yang masuk hendaknya memakai tutup.” (Riwayat Hakim dan ia berkata: Sahih dengan sanad Muslim)

    Oleh karena itu kalau seorang perempuan masuk pemandian tanpa ada uzur yang mengharuskan, maka berarti dia telah berbuat yang haram dan akan mendapat ancaman Rasulullah s.a.w. Dalam Hadisnya yang diriwayatkan dari jalan Abu Malik al-Hudzali, bahwa beberapa orang perempuan dari Himasha atau dari Syam masuk ke rumah Aisyah kemudian ia berkata: Apakah kamu ini perempuan-perempuan yang memasukkan anak-anak perempuanmu ke pemandian? Sungguh aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

    “Tidak seorang pun perempuan yang melepas pakaiannya bukan di rumah suaminya, melainkan dia merobek tabir antara dia dengan Tuhannya.” (Riwayat Tarmizi – dan lafaz ini baginya, dan ia berkata: hadis ini hasan. Juga diriwayatkan oleh Abu Daud dan Hakim; dan ia berkata: rawi-rawinya adalah rawi-rawi Bukhari dan Muslim) – lihat Targhib.

    “Dari Ummu Salamah, sesungguhnya Rasulullah s.a.w. bersabda: Siapapun perempuan yang melepas pakaiannya bukan di rumahnya sendiri, maka Allah akan merobek daripadanya tabirnya.” (Riwayat Ahmad, Abu Ya’Ia, Thabarani dan Hakim) – lihat Targhib.

    Kalau demikian kerasnya Islam dalam persoalan perempuan yang masuk pemandian, yaitu sebuah bangunan yang berdinding empat yang hanya dimasuki orang-orang perempuan, maka bagaimana lagi hukumnya orang-orang perempuan cabul yang mau menampakkan auratnya di hadapan laki-laki yang suka iseng dan ditampakkan tubuhnya itu di pinggir laut yang menjadi sasaran semua mata yang sedang lapar dan membangkitkan gharizah yang menggelora?

    Dan kalau perempuan-perempuan tersebut telah merobek-robek dinding antara dia dan Tuhannya, maka suami-suaminya yang membiarkan mereka ini bersekutu dalam dosa, karena mereka adalah yang tertanggungjawab kalau benar-benar mereka mengetahuinya.

    Menampak-nampakkan Perhiasan adalah Haram

    Seorang muslimah mempunyai budi yang dapat membedakan dari perempuan kafir atau perempuan jahiliah. Budi perempuan muslimah ialah pandai menjaga diri, tunduk, terhormat dan pemalu.

    Berbeda dengan perempuan jahiliah, moralnya senang menunjuk-nunjukkan perhiasannya (tabarruj) dan suka menarik laki-laki.

    Arti tabarruj yang sebenarnya ialah: membuka dan menampakkan sesuatu untuk dilihat mata. Mahligai disebut buruj seperti ayat yang mengatakan burujim musyyadah, tempat perjalanan bintang juga disebut buruj, karena tingginya dan tampak jelas oleh orang-orang yang melihatnya.

    Zamakhsyari berkata: “Bahwa tabarruj itu ialah memaksa diri untuk membuka sesuatu yang seharusnya disembunyikan.” Seperti kata orang Arab: safinatun barij (perahu yang tidak pakai atap).

    Namun tabarruj dalam ayat di atas adalah khusus untuk perempuan terhadap laki-laki lain, yaitu mereka nampakkan perhiasannya dan kecantikannya.

    Dalam mengertikan tabarruj ini, Zamakhsyari menggunakan unsur baru, yaitu: takalluf (memaksa) dan qashad (sengaja) untuk menampakkan sesuatu perhiasan yang seharusnya disembunyikan. Sesuatu yang harus disembunyikan itu ada kalanya suatu tempat di badan, atau gerakan anggota, atau cara berkata dan berjalan, atau perhiasan yang biasa dipakai berhias oleh orang-orang perempuan dan lain-lain.

    Tabarruj ini mempunyai bentuk dan corak yang bermacam-macam yang sudah dikenal oleh orang-orang banyak sejak zaman dahulu sampai sekarang.

    Ahli-ahli tafsir dalam menafsirkan ayat yang mengatakan:

    “Dan tinggallah kamu (hai isteri-isteri Nabi) di rumah-rumah kamu dan jangan kamu menampak-nampakkan perhiasanmu seperti orang jahiliah dahulu.” (Ahzab: 33)

    sebagai berikut:

    Yujahid berkata: Perempuan ke luar dan berjalan di hadapan laki-laki.

    Qatadah berkata: Perempuan yang cara berjalannya dibikin-bikin dan menunjuk-nunjukkan.

    Muqatil berkata: Yang dimaksud tabarruj, yaitu melepas kudung dari kepala dan tidak diikatnya, sehingga kalung, kriul dan lehernya tampak semua.

    Cara-cara di atas adalah macam-macam daripada tabarruj di zaman jahiliah dahulu, yaitu: bercampur bebas dengan laki-laki, berjalan dengan melenggang, kudung dan sebagainya tetapi dengan suatu mode yang dapat tampak keelokan tubuh dan perhiasannya.

    Jahiliah pada zaman kita sekarang ini ada beberapa bentuk dan macam tabarruj yang kalau diukur dengan tabarruj jahiliah, maka tabarruj jahiliah itu masih dianggap sebagai suatu macam pemeliharaan.

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 9 March 2016 Permalink | Balas  

    Haram Melihat Aurat 

    wanita sholehahHaram Melihat Aurat

    Di antara yang harus ditundukkannya pandangan, ialah kepada aurat. Karena Rasulullah s.a.w. telah melarangnya sekalipun antara laki-laki dengan laki-laki atau antara perempuan dengan perempuan baik dengan syahwat ataupun tidak.

    Sabda Rasulullah s.a.w.:

    “Seseorang laki-laki tidak boleh melihat aurat laki-laki lain, dan begitu juga perempuan tidak boleh melihat aurat perempuan lain, dan tidak boleh seorang laki-laki bercampur dengan laki-laki lain dalam satu pakaian, dan begitu juga perempuan dengan perempuan lain bercampur dalam satu pakaian.”1 (Riwayat Muslim, Ahmad, Abu Daud dan Tarmizi)

    Aurat laki-laki yang tidak boleh dilihat oleh laki-laki lain atau aurat perempuan yang tidak boleh dilihat oleh perempuan lain, yaitu antara pusar dan lutut, sebagaimana yang diterangkan dalam Hadis Nabi. Tetapi sementara ulama, seperti Ibnu Hazm dan sebagian ulama Maliki berpendapat, bahwa paha itu bukan aurat.

    Sedang aurat perempuan dalam hubungannya dengan laki-laki lain ialah seluruh badannya kecuali muka dan dua tapak tangan. Adapun yang dalam hubungannya dengan mahramnya seperti ayah dan saudara, maka seperti apa yang akan diterangkan dalam Hadis yang membicarakan masalah menampakkan perhiasan.

    Ada yang tidak boleh dilihat, tidak juga boleh disentuh, baik dengan anggota-anggota badan yang lain.

    Semua aurat yang haram dilihat seperti yang kami sebutkan di atas, baik dilihat ataupun disentuh, adalah dengan syarat dalam keadaan normal (tidak terpaksa dan tidak memerlukan). Tetapi jika dalam keadaan terpaksa seperti untuk mengobati, maka haram tersebut bisa hilang. Tetapi bolehnya melihat itu dengan syarat tidak akan menimbulkan fitnah dan tidak ada syahwat. Kalau ada fitnah atau syahwat, maka kebolehan tersebut bisa hilang juga justru untuk menutup pintu bahaya.

    Batas dibolehkannya Melihat Aurat Laki-Laki atau Perempuan

    Dan keterangan yang kami sebutkan di atas, jelas bahwa perempuan melihat laki-laki tidak pada auratnya, yaitu di bagian atas pusar dan di bawah lutut, hukumnya mubah, selama tidak diikuti dengan syahwat atau tidak dikawatirkan akan menimbulkan fitnah. Sebab Rasulullah sendiri pernah memberikan izin kepada Aisyah untuk menyaksikan orang-orang Habasyi yang sedang mengadakan permainan di masjid Madinah sampai lama sekali sehingga dia bosan dan pergi.

    Yang seperti ini ialah seorang laki-laki melihat perempuan tidak kepada auratnya, yaitu di bagian muka dan dua tapak tangan, hukumnya mubah selama tidak diikuti dengan syahwat atau tidak dikawatirkan menimbulkan fitnah.

    Aisyah meriwayatkan, bahwa saudaranya yaitu Asma’ binti Abubakar pernah masuk di rumah Nabi dengan berpakaian jarang sehingga tampak kulitnya. Kemudian beliau berpaling dan mengatakan:

    “Hai Asma’! Sesungguhnya seorang perempuan apabila sudah datang waktu haidh, tidak patut diperlihatkan tubuhnya itu, melainkan ini dan ini — sambil ia menunjuk muka dan dua tapak tangannya.” (Riwayat Abu Daud)

    Dalam hadis ini ada kelemahan, tetapi diperkuat dengan hadis-hadis lain yang membolehkan melihat muka dan dua tapak tangan ketika diyakinkan tidak akan membawa fitnah.

    Ringkasnya, bahwa melihat biasa bukan kepada aurat baik terhadap laki-laki atau perempuan, selama tidak berulang dan menjurus yang pada umumnya untuk kemesraan dan tidak membawa fitnah, hukumnya tetap halal.

    Salah satu kelapangan Islam, yaitu: Dia membolehkan melihat yang sifatnya mendadak pada bagian yang seharusnya tidak boleh, seperti tersebut dalam riwayat di bawah ini:

    “Dari Jarir bin Abdullah, ia berkata: Saya bertanya kepada Rasulullah s.a. w. tentang melihat dengan mendadak. Maka jawab Nabi: Palingkanlah pandanganmu itu!” (Riwayat Ahmad, Muslim, Abu Daud dan Tarmizi) — yakni: Jangan kamu ulangi melihat untuk kedua kalinya.

    Perhiasan Perempuan yang Boleh Tampak dan yang Tidak Boleh

    Ini ada hubungannya dengan masalah menundukkan pandangan yang oleh dua ayat di surah an-Nur 30-31, Allah perintahkan kepada laki-laki dan perempuan.

    Adapun yang khusus buat orang perempuan dalam ayat kedua (ayat 31) yaitu:

    1. a) Firman Allah:

    “Janganlah orang-orang perempuan menampakkan perhiasannya, melainkan apa yang biasa tampak daripadanya.”

    Yang dimaksud perhiasan perempuan, yaitu apa saja yang dipakai berhias dan untuk mempercantik tubuh, baik berbentuk ciptaan asli seperti wajah, rambut dan potongan tubuh, ataupun buatan seperti pakaian, perhiasan, make-up dan sebagainya.

    Dalam ayat di atas Allah memerintahkan kepada orang-orang perempuan supaya menyembunyikan perhiasan tersebut dan melarang untuk dinampak-nampakkan. Allah tidak memberikan pengecualian, melainkan apa yang bisa tampak. Oleh karena itu para ulama kemudian berbeda pendapat tentang arti apa yang biasa tampak itu dan ukurannya. Apakah artinya: apa yang tampak karena terpaksa tanpa disengaja, misalnya terbuka karena ditiup angin; ataukah apa yang biasa tampak dan memang dia itu asalnya tampak?

    Kebanyakan ulama salaf berpendapat menurut arti kedua, Misalnya Ibnu Abbas, ia berkata dalam menafsirkan apa yang tampak itu ialah: celak dan cincin.

    Yang berpendapat seperti ini ialah sahabat Anas. Sedang bolehnya dilihat celak dan cincin, berarti boleh dilihatnya kedua tempatnya, yaitu muka dan kedua tapak tangan. Demikianlah apa yang ditegaskan oleh Said bin Jubair, ‘Atha’, Auza’i dan lain-lain.

    Sedang Aisyah, Qatadah dan lain-lain menisbatkan dua gelang termasuk perhiasan yang boleh dilihat. Dengan demikian, maka sebagian lengan ada yang dikecualikan. Tetapi tentang batasnya dari pergelangan sampai siku, masih diperselisihkan.

    Di samping satu kelonggaran ini, ada juga yang mempersempit, misalnya: Abdullah bin Mas’ud dan Nakha’i. Kedua beliau ini menafsirkan perhiasan yang boleh tampak, yaitu selendang dan pakaian yang biasa tampak, yang tidak mungkin disembunyikan.

    Tetapi pendapat yang kami anggap lebih kuat (rajih), yaitu dibatasinya pengertian apa yang tampak itu pada wajah dan dua tapak tangan serta perhiasan yang biasa tampak dengan tidak ada maksud kesombongan dan berlebih-lebihan, seperti celak di mata dan cincin pada tangan. Begitulah seperti apa yang ditegaskan oleh sekelompok sahabat dan tabi’in.3

    Ini tidak sama dengan make-up dan cat-cat yang biasa dipakai oleh perempuan-perempuan zaman sekarang untuk mengecat pipi dan bibir serta kuku. Make-up ini semua termasuk berlebih-lebihan yang sangat tidak baik, yang tidak boleh dipakai kecuali di dalam rumah. Sebab perempuan-perempuan sekarang memakai itu semua di luar rumah, adalah untuk menarik perhatian laki-laki. Jadi jelas hukumnya adalah haram.

    Sedang penafsiran apa yang tampak dengan pakaian dan selendang yang biasa di luar, tidak dapat diterima. Sebab itu termasuk hal yang lumrah (tabi’i) yang tidak bisa dibayangkan untuk dilarangnya sehingga perlu dikecualikan. Termasuk juga terbukanya perhiasan karena angin dan sebagainya yang boleh dianggap darurat. Sebab dalam keadaan darurat, bukan suatu yang dibuat-buat. Jadi baik dikecualikan ataupun tidak, sama saja. Sedang yang cepat diterima akal apa yang dimaksud istimewa (pengecualian) adalah suatu rukhsah (keringanan) dan justru untuk mengentengkan kepada perempuan dalam menampakkan sesuatu yang mungkin disembunyikan; dan ma’qul sekali (bisa diterima akal) kalau dia itu adalah muka dan dua tapak tangan.

    Adanya kelonggaran pada muka dan dua telapak tangan, adalah justru menutupi kedua anggota badan tersebut termasuk suatu hal yang cukup memberatkan perempuan, lebih-lebih kalau mereka perlu bepergian atau keluar yang sangat menghajatkan, misalnya dia orang yang tidak mampu. Dia perlu usaha untuk mencari nafkah buat anak anaknya, atau dia harus membantu suaminya. Mengharuskan perempuan supaya memakai cadar dan menutup kedua tangannya adalah termasuk menyakitkan dan menyusahkan perempuan.

    Imam Qurthubi berkata: “Kalau menurut ghalibnya muka dan dua tapak tangan itu dinampakkan, baik menurut adat ataupun dalam ibadat, seperti waktu sembahyang dan haji, maka layak kiranya kalau pengecualian itu kembalinya kepada kedua anggota tersebut. Dalil yang kuat untuk pentafsiran ini ialah hadis riwayat Abu Daud dari jalan Aisyah r.a., bahwa Asma’ binti Abubakar pernah masuk ke rumah Nabi s.a.w. dengan berpakaian tipis, kemudian Nabi memalingkan mukanya sambil ia berkata: “Hai Asma’! Sesungguhnya perempuan apabila sudah datang waktu haidhnya (sudah baligh) tidak patut dinampakkan badannya, kecuali ini dan ini — sambil ia menunjuk muka dan dua tapak tangannya.”

    Sedang firman Allah yang mengatakan: “Katakanlah kepada orang-orang mu’min laki-laki supaya menundukkan pandangan” itu memberikan suatu isyarat, bahwa muka perempuan itu tidak tertutup. Seandainya seluruh tubuh perempuan itu tertutup termasuk mukanya, niscaya tidak ada perintah menundukkan sebagian pandangan, sebab di situ tidak ada yang perlu dilihat sehingga memerlukan menundukkan pandangan.

    Namun, kiranya sesempurna mungkin seorang muslimah harus bersungguh-sungguh untuk menyembunyikan perhiasannya, termasuk wajahnya itu sendiri kalau mungkin, demi menjaga meluasnya kerusakan dan banyaknya kefasikan di zaman kita sekarang ini. Lebih-lebih kalau perempuan tersebut mempunyai paras yang cantik yang sangat dikawatirkan akan menimbulkan fitnah.

    1. b) Firman Allah:

    “Hendaknya mereka itu melabuhkan kudungnya sampai ke dadanya.” (an-Nur: 31)

    Pengertian khumur (kudung), yaitu semua alat yang dapat dipakai untuk menutup kepala. Sedang apa yang disebut juyub kata jama’ (bentuk plural) dari kata jaibun, yaitu belahan dada yang terbuka, tidak tertutup oleh pakaian/baju.

    Setiap perempuan muslimah harus menutup kepalanya dengan kudung dan menutup belahan dadanya itu dengan apapun yang memungkinkan, termasuk juga lehernya, sehingga sedikitpun tempat-tempat yang membawa fitnah ini tidak terbuka yang memungkinkan dilihat oleh orang-orang yang suka beraksi dan iseng.

    1. c) Firman Allah:

    “Dan hendaknya mereka itu tidak menampak-nampakkan perhiasannya terhadap suami atau ayahnya.” (an-Nur: 31)

    Pengarahan ini tertuju kepada perempuan-perempuan mu’minah, dimana mereka dilarang keras membuka atau menampakkan perhiasannya yang seharusnya disembunyikan, misalnya: perhiasan telinga (anting-anting), perhiasan rambut (tusuk); perhiasan leher (kalung), perhiasan dada (belahan dadanya) dan perhiasan kaki (betis dan gelang kaki). Semuanya ini tidak boleh dinampakkan kepada laki-laki lain. Mereka hanya boleh melihat muka dan kedua tapak tangan yang memang ada rukhsah untuk dinampakkan.

    Larangan ini dikecualikan untuk 12 orang:

    1. Suami. Yakni si suami boleh melihat isterinya apapun ia suka. Ini ditegaskan juga oleh hadis Nabi yang mengatakan:

    “Peliharalah auratmu, kecuali terhadap isterimu.”

    1. Ayah. Termasuk juga datuk, baik dari pihak ayah ataupun ibu.
    2. Ayah mertua. Karena mereka ini sudah dianggap sebagai ayah sendiri dalam hubungannya dengan isteri.
    3. Anak-anak laki-lakinya. Termasuk juga cucu, baik dari anak laki-laki ataupun dari anak perempuan.
    4. Anak-anaknya suami. Karena ada suatu keharusan untuk bergaul dengan mereka itu, ditambah lagi, bahwa si isteri waktu itu sudah menduduki sebagai ibu bagi anak-anak tersebut.4
    5. Saudara laki-laki, baik sekandung, sebapa atau seibu.
    6. Keponakan. Karena mereka ini selamanya tidak boleh dikawin.
    7. Sesama perempuan, baik yang ada kaitannya dengan nasab ataupun orang lain yang seagama. Sebab perempuan kafir tidak boleh melihat perhiasan perempuan muslimah, kecuali perhiasan yang boleh dilihat oleh laki-laki. Demikianlah menurut pendapat yang rajih.
    8. Hamba sahaya. Sebab mereka ini oleh Islam dianggap sebagai anggota keluarga. Tetapi sebagian ulama ada yang berpendapat: Khusus buat hamba perempuan (amah), bukan hamba laki-laki.
    9. Keponakan dari saudara perempuan. Karena mereka ini haram dikawin untuk selamanya.
    10. Bujang/orang-orang yang ikut serumah yang tidak ada rasa bersyahwat. Mereka ini ialah buruh atau orang-orang yang ikut perempuan tersebut yang sudah tidak bersyahwat lagi karena masalah kondisi badan ataupun rasio. Jadi yang terpenting di sini ialah: adanya dua sifat, yaitu mengikut dan tidak bersyahwat.
    11. Anak-anak kecil yang tidak mungkin bersyahwat ketika melihat aurat perempuan. Mereka ini ialah anak-anak yang masih belum merasa bersyahwat. Kalau kita perhatikan dari kalimat ini, anak-anak yang sudah bergelora syahwatnya, maka orang perempuan tidak boleh menampakkan perhiasannya kepada mereka, sekalipun anak-anak tersebut masih belum baligh.

    Dalam ayat ini tidak disebut-sebut masalah paman, baik dari pihak ayah (‘aam) atau dari pihak ibu (khal), karena mereka ini sekedudukan dengan ayah, seperti yang diterangkan dalam hadis Nabi:

    “Pamannya seseorang adalah seperti ayahnya sendiri.” (Riwayat Muslim)

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 8 March 2016 Permalink | Balas  

    MENGAKHIRKAN WAKTU SHOLAT (2/2) 

    siluet sholatMENGAKHIRKAN WAKTU SHOLAT (2/2)

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Melambatkan Sembahyang Tanpa Melewati Tempoh Waktunya

    Persoalan yang timbul, apakah ini dibenarkan oleh hukum syara’?

    Persoalan seperti ini ada hubung-kaitnya dengan perkara perintah dan azam.

    Allah Ta’ala telah memerintahkan melakukan perkara-perkara yang wajib, seperti taat kepadaNya dengan melakukan apa saja perintah seperti sembahyang fardhu bila tiba waktunya, mengeluarkan zakat bila tiba waktunya, puasa Ramadhan bila tiba waktunya, menghormati al-Qur’an pada bila-bila masa, patuh kepada Nabi setiap saat, patuh kepada ibu bapa dan banyak lagi. Allah juga memerintahkan supaya meninggalkan semua laranganNya, seperti tidak berdusta, tidak mencuri, tidak khianat, tidak melihat aurat perempuan ajnabi, tidak makan riba, tidak minum arak, tidak menerima rasuah sepanjang masa dan banyak lagi.

    Semua perintah dan larangan Allah Ta’ala wajib dipatuhi oleh setiap orang mukallaf, tidak boleh dilanggar, tidak boleh dicuaikan dan semuanya wajib dilakukan apabila kewajipannya muncul jika ia berkaitan dengan waktu seperti sembahyang fardhu dan puasa Ramadhan, dan setiap saat atau terus menerus seperti tidak melihat aurat ajnabi pada bila-bila masa.

    Sehubungan dengan ini, para ulama usul fiqh menjelaskan bahawa sebaik saja seseorang itu mukallaf, maka dia wajib berazam iaitu berniat atau memutuskan dalam hati akan mematuhi semua perintah dan larangan Allah Ta’ala.  Azam jenis ini disebut ‘azam am’, kerana ia berkait dengan apa saja jenis kewajipan yang wajib dilakukannya apabila tiba waktu melakukan atau meninggalkannya sepanjang hidupnya.

    Selanjutnya mereka menjelaskan bahawa selain ‘azam am’ terdapat satu lagi jenis azam iaitu ‘azam khas’.  Azam ini berkait dengan tibanya waktu untuk melakukan sesuatu yang wajib di dalam waktunya.  Misalnya, jika sudah masuk malam Hari Raya Puasa bermakna wajiblah terus mengeluarkan zakat fitrah atau menangguhkan sehingga sebelum habis tempohnya, tetapi wajib ada azam untuk itu. Sebagai misalan lagi, jika masuk waktu sembahyang fardhu, maka wajiblah terus melakukannya atau menangguhkannya sehingga sebelum habis waktunya, tetapi wajib ada azam di awal waktu untuk melakukannya.  Inilah yang dikatakan azam khas.

    Mereka berkata bahawa kewajipan azam ini ialah untuk tidak dianggap cuai (lalai)dan supaya tidak berdosa jika terjadi uzur syar’i sebelum sempat melakukannya.

    Apabila Masuk Waktu Wajib Berazam

    Berdasarkan analisis ulama fikah dan ulama ushul, apabila masuk waktu sembahyang fardhu, wajiblah dilakukan salah satu dari dua perkara:

    1. Terus menunaikannya, atau
    2. Membuat azam dalam hati akan menunaikannya dalam waktunya.

    Al-’Allamah as-Sayyid Muhammad Abdullah al-Jurdani Rahimahullah Ta’ala menjelaskan di dalam kitabnya Fath al-’Allam: ‘Sebaik saja masuk waktu (sembahyang fardhu), wajiblah dilakukan salah satu dua perkara; sama ada melakukannya terus ataupun berazam melakukannya dalam waktunya. Jika kewajipan ini tidak dilakukan dan tidak berazam akan melakukannya dalam waktunya, maka dia berdosa.’ (Fath al-’Allam, 2:89).

    Jika perkara pertama dilakukan, bermakna kewajipan telah selesai dan pahala sudah menanti. Sekiranya setelah itu dia meninggal, tidak ada lagi dosa mengenainya.

    Jika perkara kedua yang dilakukan (berazam), bermakna kewajipan belum tertunai dan pahalanya belum diperolehi. Sekiranya dia meninggal atau ada halangan yang menghalang melakukannya, seperti datang haidh, beranak, pengsan, hilang akal dan lain-lain uzur syar’i sehinggalah habis waktunya, maka dia tidak berdosa kerana adanya azam.

    Al-’Allamah as-Sayyid Muhammad Abdullah al-Jurdani Rahimahullah Ta’ala juga menjelaskan: ‘Jika seseorang itu bermaksud melambatkannya daripada awal waktu dan melakukannya dalam waktunya, adalah harus, tetapi dengan syarat pada saat itu dia wajib berazam melakukannya sebelum habis waktunya mengikut pendapat yang ashah, di mana sekiranya dia mati dalam waktu itu setelah berazam tetapi belum sempat melakukannya dan waktunya masih cukup untuk melakukannya, maka dia tidak berdosa. Berbeza jika dia tidak melakukan azam tersebut, dimana sekiranya dia mati dalam waktu kewajipan itu sebelum sempat melakukannya, dia adalah berdosa.’ (Fath al-’Allam: 2,88).

    Kesimpulan

    Setiap orang mukallaf wajib melakukan semua perintah Allah dan meninggalkan segala laranganNya. Apabila tiba waktu sembahyang wajiblah dia terus menunaikannya, atau paling tidak, dia hendaklah membuat azam akan melakukannya dalam waktunya.  Azam ini dinamakan azam khas.

    Jika dia telah membuat azam,  kemudian timbul uzur syar’i yang menyebabkan tidak lagi dapat melakukannya dalam waktunya, seperti datang haid, lupa, sakit tenat atau meninggal, maka tidaklah dia berdosa.

    Sebaliknya, jika dia belum melakukannya apabila waktunya tiba dan tidak pula membuat azam, kemudian timbul uzur syar’i yang menyebabkan tidak lagi dapat melakukannya dalam waktunya, seperti datang haid, sakit tenat atau meninggal, maka yang demikian itu akan mendatangkan dosa kepadanya.

    Bagi seorang mukallaf yang ditimpa uzur syar’i, seperti datang haidh, terlupa, sakit tenat setelah masuk waktu dan belum sempat menunaikan sembahyang fardhu sehinggalah habis tempoh waktunya, maka sembahyang berkenaan wajiblah diqadha setelah hilang keuzurannya itu, sama ada telah berazam atau sebaliknya.

    ====SELESAI===

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 7 March 2016 Permalink | Balas  

    MENGAKHIRKAN WAKTU SHOLAT (1/2) 

    siluet sholatMENGAKHIRKAN WAKTU SHOLAT (1/2)

     

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Syariat sembahyang merupakan di antara sebesar-besar tuntutan Islam yang wajib dilaksanakan, kerana sembahyang itu merupakan tiang agama dan asas Islam yang lima yang paling penting sesudah dua kalimah syahadat. Oleh itu, wajib bagi setiap orang Islam mengambil berat dan memelihara dengan menunaikannya tepat pada waktu yang ditetapkan tanpa mencuaikannya.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    Tafsirnya: “Peliharalah kamu (kerjakanlah dengan tetap dan sempurna pada waktunya) segala sembahyang fardhu, khasnya sembahyang wustha (sembahyang Asar), dan berdirilah kerana Allah (dalam sembahyang kamu) dengan taat dan khusyu‘.” (Surah Al-Baqarah, ayat 238)

    Orang-orang yang memelihara sembahyang mereka itu pula diklasifikasikan di kalangan orang-orang yang berjaya. Firman Allah Ta‘ala:

    Tafsirnya: “Sesungguhnya berjayalah orang-orang yang beriman, iaitu mereka yang khusyu‘ dalam sembahyangnya; dan mereka yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang sia-sia; dan mereka yang berusaha membersihkan hartanya (dengan menunaikan zakat harta itu); dan mereka yang menjaga kehormatannya, kecuali kepada isterinya atau hamba sahayanya, maka sesungguhnya mereka tidaklah tercela; kemudian, sesiapa yang mengingini selain dari yang demikian, maka merekalah orang-orang yang melampaui batas; dan mereka yang menjaga amanah dan janjinya; dan mereka yang tetap memelihara sembahyangnya.” (Surah Al-Mukminuun, ayat 1-9)

    Menyegerakan Sembahyang Di Awal Waktu

    Di antara ciri-ciri orang yang memelihara sembahyang itu ialah menyegerakan menunaikannya di awal waktu, iaitu sebagai menzahirkan kecintaannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan membuktikan tentang kesungguhan dirinya untuk mencari keredhaan Allah Ta‘ala. Maka tidak hairanlah orang yang menyegerakan sembahyang itu akan mendapat pahala yang besar.

    Gesaan menyegerakan mendirikan sembahyang di awal waktu telah sabit di dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila Baginda ditanya yang maksudnya:

    Apakah amalan-amalan paling afdhal? Lalu Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Sembahyang pada awal waktunya.” (Hadits riwayat At-Tirmidzi)

    Di dalam riwayat yang lain, Abdullah bin Mas‘ud berkata yang maksudnya :

    “Saya telah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apakah amalan yang lebih disukai oleh Allah Ta‘ala?” Sabda Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sembahyang pada waktunya.”

    (Hadits riwayat Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi dan An-Nasai’e)

    Al-Imam Asy-Syafie Radhiallahu ‘anhu berkata: “Awal waktu sembahyang itu adalah lebih afdhal. Di antara hujjah yang menyokong kelebihan awal waktu berbanding dengan akhir waktu itu ialah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar dan Umar Radhiallahu ‘anhuma memilih awal waktu. (Sudah tentu) mereka tidak akan memilih melainkan apa yang lebih utama, dan mereka tidak akan meninggalkan apa yang utama. Adalah mereka itu sembahyang pada awal waktu.”

    Demikian beberapa hujjah yang memberi petunjuk tentang keutamaan menyegerakan sembahyang di awal waktu.

    Bilakah tempoh masa yang dikatakan di awal waktu itu?

    Tempoh masa yang dikatakan awal waktu itu ialah bermula daripada masuk waktu sembahyang fardhu sehinggalah berlalu satu tempoh masa kadarnya cukup untuk melakukan perkara-perkara berikut:

    1)   Makan sekira-kira boleh kenyang, iaitu kenyang pada mengikut pandangan syara‘.

    2)   Memakai pakaian.

    3)   Qadha hajat.

    4)  Membersihkan diri, iaitu menghilangkan kotoran, mandi dan berwudhu’ atau bertayammum.

    5)   Azan dan iqamah.

    6)  Menunaikan sembahyang fardhu dan sunat qabliyyah dan ba‘diyyah. (Mughni al-Muhtaj, 1:123, Fath al-‘Alam, 2:209, 216)

    Sebaliknya, haram melambat-lambatkan mendirikan sembahyang sehinga ke suatu waktu yang tidak cukup masa untuk memenuhi semua rukun yang fardhu dalam sembahyang. Andainya memulai pekerjaan sembahyang pada ketika itu, maka tidak harus baginya melakukan perkara-perkara yang sunat, bahkan seseorang itu wajib melakukan perkara-perkara yang wajib sahaja dan berniat sembahyang tunai (أداءً), kiranya baki waktu yang tinggal hanya cukup satu rakaat sahaja.

    Adapun kalau seseorang itu memulai mendirikan sembahyang, sedang tempoh waktu sembahyang yang masih berbaki hanya cukup untuk memenuhi fardhu-fardhunya sahaja, maka harus baginya melakukan tuntutan sunat dalam sembahyang, bahkan inilah yang afdhal menurut pendapat yang mu‘tamad sebagaimana dalam kitab an-Nihayah, sekalipun akan terkeluar sembahyang atau sebahagiannnya daripada waktunya.

    Wajib Muwassa‘  Dan Mudhaiyaq

    Para ulama ushul fiqh menjelaskan bahawa apabila Allah Ta‘ala memerintahkan melakukan satu-satu ibadat dalam satu jangka tempoh tertentu, maka hal ini perlu ditinjau dan dianalisis. Jika ibadat berkenaan meliputi keseluruhan waktu atau tempoh yang diperuntukkan untuknya, seperti puasa bulan Ramadhan, maka kewajipan melakukannya melibatkan keseluruhan waktunya itu.  Oleh sebab itu wajiblah dilakukan ibadat berkenaan sebaik saja waktunya tiba sehingga berakhir tempoh waktu kewajipan itu. Perintah wajib jenis ini disebut sebagai wajib mudhaiyaq.

    Jenis perintah wajib ini tidak ada ruang melambat atau menangguhkannya, kerana apabila dilambatkan daripada waktunya bermakna telah mengeluarkannya daripada waktunya dan ini tidak boleh berlaku. Jika hal ini berlaku, bukan dinamakan melambatkan lagi, tetapi meninggalkan perintah wajib. Jadi, perintah jenis ini tidak ada istilah melambatkan, dan yang ada ialah sama ada menunaikan atau meninggalkan kewajipan.

    Tetapi sekiranya ibadat itu mempunyai tempoh waktu yang panjang dan tempoh melaksanakan perintah ibadat itu tidak meliputi seluruh waktu yang ditetapkan, seperti perintah ibadat sembahyang, maka perintah wajib seperti ini dikatakan sebagai wajib muwassa‘.

    Jenis perintah wajib kedua ini, jika tidak ditunaikan pada awal waktu, sedangkan kewajipan sudah bermula di awal waktu, akan tetapi dilakukan masih dalam tempoh waktunya yang luas itu, maka inilah dikatakan sebagai melambat-lambatkan.

    Sebagai contoh, sembahyang zuhur wajib dilakukan apabila waktunya masuk. Waktu yang ditetapkan melakukan kewajipan sembahyang fardhu zuhur ini misalnya 3 jam  bermula jam 12.00 tengah hari sehingga jam 3.22 petang.

    Apabila tepat jam 12.00 tengah hari, orang yang berkewajipan terus istinja’, berwudu’, menutup aurat (berpakaian), azan, sembahyang sunat rawatib 2 raka’at atau 4 raka’at, iqamah, kemudian barulah menunaikan perintah wajib, iaitu sembahyang fardhu Zuhur. Tindakan seperti ini dinamakan telah menunaikan perintah wajib.

    Walaupun tidak terus melakukan fardhunya yang asas sebaik saja masuk waktu, perbuatan itu telah dinamakan menyahut atau menunaikan kewajipan, kerana perbuatan istinja’, berwudhu’, menutup aurat, azan, sembahyang sunat qabliah, dan iqamah, merupakan satu tuntutan sunat dan kesempurnaan fardhu. Kesemua perbuatan ini berakhir jam 12.30 tengah hari dan mengambil masa lebih kurang selama 30 minit.

    Dari keterangan dan contoh di atas dapatlah diketahui bahawa pengertian melambatkan, iaitu tidak melakukan kewajipan sebaik saja tiba waktu kewajipan, tetapi lewat melakukannya sebelum tempoh waktunya berakhir.

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 6 March 2016 Permalink | Balas  

    Berlindung di balik KESALAHAN orang lain 

    IstighfarBerlindung di balik KESALAHAN orang lain

    Bismillahirrahmanirrahiim

    Assalamu’alaikum warahhmatullahi wabarakatuhu,

    Entah mungkin sudah menjadi hoby atau kebiasaan bagi sebagian kalangan kita bahwa ketika kita ingin agar perbuatan yang kita lakukan mendapatkan “PEMBENARAN” maka dengan mudahnya kita berlindung di balik “KESALAHAN” yang di perbuat oleh orang lain. Seperti seorang muslimah yang tidak berhijab, ketika ia ditanya “Mengapa tidak berhijab?”, maka dengan entengnya, ia menjawab: “Lho itu yang anaknya ULAMA saja nggak berhijab, itu yang anaknya “Kyai Haji” saja nggak berhijab, itu yang anaknya TOKOH yang paling di idolakan oleh sebagian besar masyarakat muslim saja nggak berhijab. Jika mereka saja boleh nggak berhijab, lalu mengapa saya yang cuman orang biasa-biasa saja nggak boleh untuk tidak berhijab?”

    Jika demikian cara kita beragama, maka niscaya RUSAK-lah agama kita!

    Kita selalu menjadikan KESALAHAN yang diperbuat oleh orang lain sebagai “HUJAH” untuk PEMBENARAN atas KESALAHAN yang kita lakukan.

    Saudaraku, ketahuilah bahwa sesungguhnya apa yang pada saat ini terjadi di masyarakat bukanlah HUJAH bagi kita untuk MEMBENARKAN kesalahan yang kita lakukan.

    Saudaraku, kita tidak boleh menggunakan apa yang terjadi di masyarakat sebagai dalil PEMBENAR tindakan kita. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman (artinya):

    Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al An’aam 6:116)

    Saudaraku, ketahuilah bahwa sesungguhnya Al Qur’an dan As Sunnah-lah pegangan kita. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman (artinya):

    Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. Al Ahzaab 33:36)

    Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (artinya): “Aku tinggalkan dua perkara yang apabila kalian berpegang teguh pada keduanya maka tidak akan sesat selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Sunnahku, serta keduanya tidak akan terpisah sampai keduanya mendatangiku di telaga (syurga)”. (HR. Hakim).

     

    Oleh sebab itu, Duhai Saudaraku, janganlah kita berlindung di balik KESALAHAN yang di lakukan oleh orang atau negara lain sebagai PEMBENAR atas KESALAHAN yang kita lakukan. Tetaplah berpegang kepada Al Qur’an dan As Sunnah agar kita SELAMAT dari kesesatan.

    Seperti juga kita tidak dapat berlindung di balik KESALAHAN atau yang kita duga sebagai KESALAHAN yang di lakukan oleh orang ARAB sebagai PEMBENAR atas KESALAHAN yang kita lakukan.

    Saudaraku, ketahuilah bahwa KESALAHAN yang mungkin dilakukan oleh orang ARAB maka itu adalah TANGGUNG JAWAB orang ARAB sendiri dan bukan tanggung jawab kita. Saya justru salut terhadap ULAMA-ULAMA ARAB yang dengan gigih dan penuh kesabaran, dengan ijin Allah, berhasil sedikit demi sedikit mengurangi KEMUNGKARAN-KEMUNGKARAN dan juga BID’AH-BID’AH yang terjadi di ARAB sana. Memang benar bahwa mungkin masih terdapat KEMUNGKARAN ataupun BID’AH yang terjadi disana, akan tetapi itu adalah tugas ULAMA di sana untuk menasehatinya dan bukan tugas kita. Dan sejauh yang saya ketahui mereka (ULAMA-ULAMA ARAB) sudah bekerja keras untuk menasehati UMARA dan juga ORANG-ORANG ARAB agar selalu menepati kesabaran dan kebenaran. Semoga Allah meridhoi apa yang telah mereka lakukan.

    Sekarang tugas kita adalah dengan memohon petunjuk kepada Allah Subhana wa Ta’ala, kita berdakwah dengan cara yang ma’ruf agar segalah KEMUNGKARAN dan BID’AH yang mungkin ada disekitar kita ini dapat berkurang sedikit demi sedikit.

    ALLAHU A’LAM.

    HANYA ALLAH SAJALAH YANG KUASA MEMBERIKAN PETUNJUK.

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu,

    ***

    Kiriman: Hamba Allah

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 5 March 2016 Permalink | Balas  

    Sujud Tilawah Dan Sujud Syukur (3/3) 

    sujud 2Sujud Tilawah Dan Sujud Syukur (3/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Sujud Tilawah Di Luar Sembahyang

    Sepertimana yang telah dijelaskan bahawa sujud tilawah itu sunat juga dilakukan di luar sembahyang iaitu setelah selesai menghabiskan bacaan ayat sajdah atau mendengarnya, jika hendak melakukan sujud tilawah hendaklah berniat sujud tilawah kemudian bertakbir iftitah seperti takbiratul ihram dalam sembahyang.

    Niat sujud tilawah ini adalah wajib bersandarkan kepada hadis Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam :

    Maksudnya: “Sesungguhnya amal perbuatan itu hanyalah dengan niat”

    Begitu juga dengan takbir iftitah hukumnya adalah wajib kerana ia adalah merupakan syarat sujud tilawah itu menurut pendapat al-ashah.

    Di samping berniat di dalam hati ia juga disunatkan melafazkan niatnya itu, seperti:

    Ertinya:“Sahaja aku melakukan sujud tilawah kerana Allah Ta‘ala”

    Kemudian itu bertakbir sekali lagi untuk melakukan sujud tanpa mengangkat tangannya. Apabila hendak bangun dari sujud adalah disunatkan ketika mengangkat kepalanya dengan bertakbir.

    Adalah disunatkan menurut pendapat al- shahih memanjangkan bacaan takbir yang kedua ketika hendak sujud sehingga ia meletakkan dahinya ke tempat sujud, dan juga bagi takbir yang ke tiga ketika bangkit dari sujud sehingga duduk semula.(Al-Majmuk 3/561)

    Setelah ia bangun dari sujud maka disudahi dengan salam iaitu dalam keadaan dia duduk tanpa bertasyahhud. Salam menurut pendapat al-azhar adalah wajib kerana ia merupakan syarat sebagaimana di dalam kitab Syarah Al-Minhaj.

    Kesimpulannya perkara yang dituntut yang juga merupakan rukun sujud tilawah bagi yang melakukannya bukan di dalam sembahyang ialah niat sujud, takbir seperti yang dilakukan ketika hendak mengangkat takbir untuk menunaikan sembahyang, sujud dan juga salam.

    Perlu diingat bahawa untuk melakukan sujud tilawah di luar sembahyang ini tidak disunatkan bangun dari duduk untuk berdiri (qiam) kemudian melaksanakan sujud, bahkan memadailah hanya dalam keadaan duduk. Sementara itu jika dia dalam keadaan berdiri maka dilakukan takbiratul ihram dalam keadaan berdirinya itu kemudian membaca takbir dan sujud.(At-Tibyan Fi Adab Hamalatil Quran 118)

    Bacaan Atau Zikir  Ketika Sujud Tilawah

    Adalah sunat hukumnya membaca zikir ketika di dalam sujud tilawah. Di antara zikir yang di galakkan itu ialah:

    “Sajada wajhi lillazi kholaqohu wa showwarohu wasyaqqo sam’ahu wabashorohu bihawlihi waquwwatihi fatabarokallohu ahsanul kholiqin”

    Ertinya: “Telah sujud wajahku kepada (Allah,Zat) yang Menciptakannya, yang Membentuknya dan yang Membuka pendengarannya serta penglihatannya dengan daya dan kekuatanNya maka Maha berkat (serta maha tinggilah kelebihan) Allah sebaik-baik Pencipta”

    Dan zikir yang lain sebagaimana yang di sebut dalam hadis Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    “Allohummaktub li biha ‘indaka ajron waj’alha zakhron, wadho’an-na biha wizron waiqbalha minni kama qiblatiha min ‘ibadika daud”

    Maksudnya : “Ya Allah tuliskan bagi ku dengan sujud ini pahala dan jadikanlah sujud ini berharga di sisiMu dan hindarkanlah daripadaku dosa dengannya terimalah ia daripadaku sepertimana Engkau menerima sujud hambaMu Daud”

    (Hadis riwayat Al-Tirmidzi dan lainnya dengan sanad yang hasan)

    Sementara itu Al-Ustaz Ismail Al-Dharir di dalam tafsirnya menaqalkan bahawa Imam Asy-Syafi‘ie memilih untuk diucapkan di dalam sujud tersebut :

    “Subhana robbana in kana wa’du robbana lamaf’ula”

    Ertinya: “Maha suci tuhan kami, sungguh janji Tuhan kami tetap terlaksana”

    Walau bagaimanapun adalah harus (boleh) dibawakan zikir yang biasa digunakan di dalam sujud sembahyang.

    Menurut Imam Al-Qalyubiy bahawa sujud tilawah atau sujud syukur itu boleh diganti dengan zikir berikut bagi orang yang tidak melakukan sujud walaupun ia suci dari hadas (dalam keadaan berwudhu) seperti ucapan:

    “Subhanalloh walhamdulillah wala ilaha illalloh, wallohu akbar”

    Ertinya:“Maha suci Allah dan segala puji-pujian bagiNya, tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Allah itu Maha Besar”.

    Dibaca zikir tersebut sebanyak empat kali kerana ia boleh menggantikan tempat tahiyatul masjid.(Al-Fiqhu Al-Islami Wa Adillatuhu 1136)

    Apa Dia Sujud Syukur Itu ?

    Sujud syukur ialah sujud untuk menyatakan terima kasih atas nikmat yang dilimpahkan Allah Subhanahu wa Ta‘ala atau atas terhindarnya seseorang dari malapetaka.

    Hukum Sujud Syukur

    Jumhur ulama berpendapat bahawa sujud syukur itu adalah sunat berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Abdur Rahman bin Auf katanya yang maksudnya :

    “Sewaktu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menuju ke dalam bangunan-bangunan tinggi lalu memasukinya. Kemudian Baginda menghadap kiblat dan sujud, dan memanjangkan sujud Baginda. Kemudian Baginda mengangkat kepalanya seraya bersabda: “Sesungguhnya Jibril mendatangiku dan memberi khabar gembira kepadaku. Jibril berkata:“Sesungguhnya Allah mengatakan kepada engkau: “Siapa yang memberi selawat ke atas engkau Aku akan memberi selawat kepadanya dan siapa yang memberi salam kepada engkau, Aku akan memberi salam kepadanya” Lalu saya bersujud sebagai tanda syukur kepada Allah”.

    (Hadis riwayat Imam Ahmad)

    Dalam hadis yang lain pula yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan selainnya bahawa Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam jika sampai kepada Baginda sesuatu perkara yang menggembirakannya, Baginda akan melakukan sujud.(Syarah Al-Minhaj)

    Sujud syukur di dalam mazhab Asy-Syafi‘ie tidak boleh dilakukan di dalam sembahyang. Ianya hanya sunat dilakukan di luar sembahyang ketika seseorang mendapat limpahan rahmat daripada Allah atau terhindar daripada malapetaka.

    Di antara sujud yang dikategorikan sebagai sujud syukur ialah sujud selepas membaca ayat 25 daripada surah Shad iaitu:

    Tafsirnya: “Maka Kami mengampuni kesalahannya. Sesungguhnya dia dekat dari Kami dan mempunyai tempat kembali yang baik”.

    Dari itu sujud kerana ayat ini tidak boleh dibuat di dalam sembahyang kerana sujud pada ayat di atas adalah atas dasar syukur dan sujud syukur tidak boleh dilakukan di dalam sembahyang. Jika dia sujud maka batallah sembahyangnya menurut pandapat al-ashah, kecualilah jika ia tidak mengetahuinya atau ia terlupa.

    Bagaimana Sujud Syukur Dilaksanakan ?

    Sujud syukur dilaksanakan sama halnya seperti melakukan sujud tilawah ketika ia dilakukan di luar sembahyang iaitu berniat untuk melakukan sujud syukur,takbir,sujud dan juga salam.

    Syarat-syarat sahnya juga sama seperti syarat-syarat yang terkandung di dalam sujud tilawah iaitu suci dari hadas kecil dan besar, menutup aurat dan menghadap kiblat.

    Dari segi zikir yang sunat dibaca ketika sujud syukur ini adalah sama seperti zikir-zikir yang telah dijelaskan di dalam sujud tilawah.

    Begitulah cara Islam mengajarkan kita bagaimana cara mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wa Ta‘ala atau terlepas daripada bala. Di samping sunat melaksanakan sujud syukur disunatkan juga bersedekah dan melakukan sembahyang sunat syukur. (Mughni Al-Muhtaj 1/219). Menurut Al-Khawarizmi pula, jika ia menggantikan tempat sujud itu dengan bersedekah atau sembahyang dua rakaat maka itu adalah yang lebih baik.

    Menurut Imam Al-Ramli bahawa sujud syukur itu terluput waktunya jika jarak di antara sujud itu dan sebabnya terlalu lama.

    Penutup     

    Sujud tilawah dan sujud syukur seperti yang dijelaskan di atas merupakan satu ibadat yang tuntutannya adalah sunat. Cara melakukannya pun mudah tetapi nilainya tinggi di sisi Allah sepertimana yang dijelaskan oleh hadis Baginda tentang kelebihan sujud tilawah. Dari itu, sayugialah diingatkan supaya jangan dilepaskan peluang melakukan ibadat sujud ini, walaupun ia hanya merupakan tuntutan sunat tetapi dengan melakukannya bererti kita menghidupkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan dan tidak mengabaikan ajaran Islam.

    ==== SELESAI ====

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:31 am on 4 March 2016 Permalink | Balas  

    Sujud Tilawah Dan Sujud Syukur (2/3) 

    sujud 2Sujud Tilawah Dan Sujud Syukur (2/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Hukum Sujud Tilawah

    Sujud tilawah

    adalah sunat menurut pendapat jumhur ulama. Manakala Imam Abu Hanifah (Imam mazhab Hanafi) berkata bahawa sujud tilawah itu wajib sama ada ke atas pendengar atau pembaca.

    Hukum sunat ini bersandarkan hadis yang diriwayatkan oleh Al-Syaikhain (Al-Bukhari dan Muslim) daripada Ibnu Umar katanya yang maksudnya :

    “Bahawasanya Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam telah membaca al-Qur’an, lalu Baginda membaca satu surah yang di dalamnya ada ayat ‘sajdah’, maka Baginda pun bersujud lalu kami pun sujud bersama-sama Baginda sehingga sesetengah daripada kami tidak mendapati tempat untuk meletakkan dahinya”.

    Menurut hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu tentang fadhilat melakukan sujud tilawah, Baginda bersabda yang maksudnya :

    “Apabila anak Adam itu membaca ayat al-Quran yang menuntut untuk sujud, syaitan akan mengasingkan dirinya lalu menangis dan berkata:” “Celakalah! Anak Adam telah diperintahkan untuk sujud ia pun sujud, maka baginya balasan syurga, dan aku diperintahkan untuk sujud maka aku enggan, maka balasan bagiku adalah neraka.

    (Hadis riwayat Ibnu Majah)

    Ayat-Ayat Sajdah Di Dalam Al-Quran

    Ayat-ayat yang disunatkan sujud setelah membacanya, menurut mazhab Asy-Syaf‘ie, adalah seperti berikut:

    1. Ayat ke 206 dari surah Al -A’raf.
    2. Ayat ke 15 dari surah Al- Ra’d.
    3. Ayat ke 50 dari surah Al- Nahl.
    4. Ayat ke 109 dari surah Al- Isra’.
    5. Ayat ke 58 dari surah Maryam.
    6. Ayat ke 17 dari surah Al- Haj.
    7. Ayat ke 77 dari surah Al- Haj.
    8. Ayat ke 60 dari surah Al -Furqan.
    9. Ayat ke 25 hingga 26 dari surah Al- Naml.
    10. Ayat ke 15 dari surah Al -Sajdah.
    11. Ayat ke 38 dari surah Fusshilat.
    12. Ayat ke 62 dari surah Al- Najm.
    13. Ayat pertama dari surah Al- Insyiqaq.
    14. Ayat ke 21 dari surah Al -Insyiqaq.
    15. Ayat ke 19 dari Al- ‘Alaq

    Untuk mengenali ayat-ayat sajdah itu pada kebiasaannya, di dalam mushhaf ditanda dengan garis dan di penghujung ayat itu ditanda dengan tanda yang berbentuk seakan-akan dom masjid sementara itu di bidainya tertulis perkataan sajdah.

    Adapun hikmah pengkhususan sujud pada tempat-tempat atau ayat-ayat yang tersebut di atas kerana ayat-ayat tersebut adalah merupakan pujian bagi mereka yang bersujud dan celaan bagi yang tidak bersujud sama ada secara terang-terangan ataupun secara isyarat sebagaimana yang dinaqalkan oleh Imam Al-Qalyubiy perkataan Ibnu Hajar.(Al-Hasyiyatan 1/235).

    Bila Waktu Sunat Sujud Tilawah Itu Dilakukan ?

    Sujud tilawah itu sunat dilakukan apabila ayat sajdah itu dibaca di luar sembahyang bukan pada waktu-waktu yang makruh menunaikan sembahyang sama ada ia bertujuan untuk melakukan sujud atau tidak.

    Begitu juga sunat melakukan sujud tilawah ketika dalam sembahyang jika dibacakan ayat sajdah tersebut. Tetapi tidak disunatkan melakukan sujud tilawah jika membaca ayat sajdah itu semata-mata bertujuan (qasad) untuk melakukan sujud, kecuali jika ia membacanya pada sembahyang fardhu Subuh pada hari Jumaat adalah sunat ia melakukan sujud tilawah sekalipun ia bertujuan membacanya untuk sujud.

    Berdasarkan keterangan di atas tidak sunat melakukan sujud pada waktu makruh menunaikan sembahyang sekalipun ayat sajdah dibaca di luar sembahyang begitu juga ketika dalam dalam sembahyang dengan tujuan membaca ayat sajdah itu untuk melakukan sujud. Bahkan jika dibaca dalam sembahyang dengan qasad sujud tilawah lalu dia bersujud maka batallah sembahyangnya itu.

    Hukum Membaca Ayat Sajdah

    Jika ayat sajdah itu dibaca pada waktu yang dimakruhkan menunaikan sembahyang bukan untuk tujuan sujud, tidaklah dilarang membacanya tetapi tidak disunatkan bersujud padanya, namun jika dia bersujud juga tidaklah batal sujudnya itu. Begitu juga jika dibaca ayat sajdah pada waktu makruh tersebut dengan tujuan melakukan sujud tilawah selepas waktu makruh maka tidaklah disunatkan sujud dan hukum bacaannya pada ketika itu pula adalah makruh.

    Berlainan halnya jika dibaca pada waktu makruh atau sebelumnya dengan maksud untuk sujud pada waktu makruh maka dihukumkan bacaannya itu haram dan sujud tersebut adalah batal dan tidak dikira.(Al-Hasyiyatan 1/235)

    Syarat-Syarat Sujud Tilawah

    Di dalam kitab Al-Majmuk menurut Ashhab Syafi‘ieyah bahawa hukum sujud tilawah itu sama seperti hukum sembahyang sunat dari segi syarat-syarat sahnya sujud itu, syarat-syarat itu adalah seperti berikut:

    (i) Bersih daripada hadas kecil atau besar dan juga bersih daripada najis sama ada pada tubuh badan, pakaian dan juga tempat.

    (ii) Orang yang hendak melakukan sujud tilawah itu juga di kehendaki dalam keadaan menutup aurat.

    (iii) Untuk melakukannya hendaklah menghadap kiblat.

    (iv) Hendaklah masuk waktunya ketika melakukan sujud itu. Adapun masuknya waktu sujud itu ialah sejurus sahaja ia selesai mambaca atau mendengar keseluruhan ayat sajdah. Jika sekiranya ia bersujud sebelum lagi habis ayat itu di bacanya atau didengarnya maka sujud tilawah itu tidak sah dan tidak memadai.

    Sujud Tilawah Di Dalam Sembahyang

    Cara untuk melaksanakan sujud tilawah itu ada dua keadaan iaitu ketika dalam keadaan bersembahyang dan di luar sembahyang.

    Sujud tilawah

    boleh dilakukan di dalam sembahyang, bahkan hukumnya adalah sunat, sama ada sembahyang itu dilakukan secara persendirian atau berjemaah. Kedudukan makmum pula untuk melakukan sujud tilawah itu, bergantung kepada imam. Jika imam bersujud kerana ayat sajdah iaitu ayat yang menuntut sujud, maka wajib ke atas makmum mengikuti perbuatan imam dengan melakukan sujud itu kerana jika tidak, maka batallah sembahyangnya.

    Sebaliknya jika imam tidak melakukannya maka makmum adalah tidak dikehendaki untuk melakukan sujud. Jika dilakukannya juga, maka sembahyangnya menjadi batal. Akan tetapi harus (boleh) dan sunat hukumnya bagi makmum melakukan sujud tilawah selepas selesai memberi salam dengan syarat jarak di antara sujud dan salam itu tidak lama.

    Jika sekiranya makmum tidak mengetahui bahawa imam telah melakukan sujud tilawah sehinggalah imam mengangkat kepalanya daripada sujud, maka tidaklah batal sembahyang makmum itu. Dia dimaafkan kerana tertinggalnya daripada perbuatan imamnya itu dan juga tidak dikehendaki melakukan sujud.

    Sujud tilawah

    adalah sunat dilakukan di dalam sembahyang sama ada pada sembahyang yang dinyaringkan bacaan (jahar) atau pada sembahyang yang dibaca secara suara perlahan (sir). Walau bagaimanapun bagi sembahyang yang tidak disunatkan menyaringkan suara, sujud tilawah itu sunat dibuat oleh imam setelah dia selesai menunaikan sembahyang supaya tidak menimbulkan kekeliruan di kalangan makmum. (Nihayah Al-Muhtaj 2/100)

    Diambil daripada illah di atas (sembahyang yang dibaca secara suara perlahan) maka begitu juga halnya pada sembahyang yang disunatkan menyaringkan suara (jahar), sunat (mustahab) bagi imam melakukan sujud tilawah setelah selesai sembahyang, jika (diketahui) jarak di antara imam dan makmum itu jauh sehingga dia tidak mendengar bacaan imam atau tidak dapat melihat perbuatan imam atau diselangi oleh dinding dan sebagainya bagi mengelakkan kekeliruan para makmum. (Nihayah Al-Muhtaj 2/100)

    Adapun cara melakukannya ketika di dalam sembahyang hendaklah dia sujud dengan disunatkan dia bertakbir tanpa mengangkat tangannya kerana tangan tidak diangkat ketika hendak melakukan sujud di dalam sembahyang.

    Selepas sujud iaitu bangun dari sujud tersebut untuk bangkit semula meneruskan sembahyangnya, maka disunatkan ia bertakbir. Dia tidak wajib berniat untuk menunaikan sujud tilawah di dalam sembahyang kerana ia sudah terkandung di dalam niat sembahyang (iaitu dengan terkandungnya niat sujud itu kerana bacaannya) sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Khatib.(Al-Hasyiyatan1/238) Tetapi jika ia berniat juga hendaklah jangan di lafazkan kerana dengan lafaz itu boleh menyebabkan sembahyangnya itu terbatal.

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 3 March 2016 Permalink | Balas  

    Sujud Tilawah Dan Sujud Syukur (1/3) 

    sujud 2Sujud Tilawah Dan Sujud Syukur (1/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Rahmat Allah sangat luas meliputi tiap-tiap sesuatu. Kerana itulah juga peluang untuk mendapatkan ganjaran pahala adalah sangat banyak dan terbuka luas dengan melakukan ibadat wajib ataupun sunat, sehingga setengah-setengah ibadat itu kerjanya sedikit, tetapi ganjaran pahalanya sangat banyak, tidak terkira. Itulah rahmat Allah kepada hambaNya. Oleh yang demikian sayugia jangan dilepaskan peluang untuk beribadat, sementara umur dan kesempatan masih ada.

    Berhubung dengan ibadat wajib, kita tidak ada pilihan. Ia mesti di tunaikan, jika ditinggalkan adalah berdosa. Adakalanya diturunkan balasan azab di dunia lagi sebelum diperkirakan di akhirat. Lebih jauh dari itu, sesiapa yang mengingkari hukum sesuatu yang diwajibkan yang disepakati ulama tentang wajibnya itu terkeluarlah ia daripada agama Islam iaitu menjadi murtad, wal‘iyadzubillah.

    Manakala dalam ibadat sunat pula walaupun ia merupakan ibadat pilihan, namun jangan dilepaskan peluang untuk melaksanakannya. Kerana dengan melaksanakannya bererti kita telah menghidupkan sunnah Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, seterusnya kita tergolong daripada orang-orang yang mencintai Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam.

    Mengamalkan apa jua perkara ibadat itu ianya perlu bersandarkan kepada kehendak syara‘ dari segi rukun, syarat dan caranya supaya apa yang kita lakukan itu tepat dan betul menurut apa yang syara‘ kehendaki semoga diterima Allah amalan kita itu dan seterusya mendapat ganjaran yang dijanjikanNya.

    Adapun di antara cara mengabdikan diri kepadaNya ialah dengan melakukan sujud. Sujud itu ada ketikanya dihukumkan wajib seperti sujud dalam sembahyang kerana ia merupakan rukun. Tidak sah sembahyang jika ditinggalkan dengan senghaja. Ada pula ketikanya sujud itu hukumnya sunat seperti sujud sahwi, sujud tilawah dan sujud syukur.

    Banyak hadis yang mengkhabarkan kepada kita akan kelebihan sujud ini. Di antara hadis- hadis itu adalah seperti berikut:

    Nabi bersabda kepada Tsauban maula Baginda yang maksudnya :

    “Engkau perbanyakkanlah bersujud kerana Allah. Sesungguhnya jika engkau bersujud kerana Allah, Allah akan mengangkat darjatmu dengan sujudmu itu dan akan menghapuskan dosamu dengan sebab sujudmu itu”

    (Hadis riwayat Muslim)

    Sabda Baginda lagi yang ditakhrijkan oleh Imam Muslim yang maksudnya :

    “Sesunguhnya saat yang paling hampir di antara hamba dan Allah Ta‘ala pada masa ia sedang bersujud”.

    Memandangkan kepada kepentingan sujud bagi kita dan tinggi nilainya di sisi Allah maka Irsyad Hukum kali ini akan menghuraikan beberapa panduan mengenai dengan melaksanakan sujud tilawah dan sujud syukur.

    Apakah Sujud Tilawah Itu?

    Sujud tilawah ialah sujud kerana membaca atau mendengar ayat al-Qur‘an yang disunatkan padanya sujud.

    Ini bermakna sujud tilawah itu merupakan di antara adab-adab ketika membaca al-Qur‘an. Di samping sujud tilawah ketika membaca atau mendengar ayat ‘sajdah’, ada juga tuntutan-tuntutan lain yang sunat dilakukan ketika kita membaca al-Quran umpamanya:

    1. Apabila membaca ayat yang mengandungi rahmat Allah maka disunatkan memohon rahmat Nya seperti mengucapkan:

    “Allohumaghfirli warhamni”

    Ertinya: “Ya Allah, ampuni aku dan rahmatilah aku”

    1. Apabila membaca ayat yang mengandungi azab atau siksaan maka disunatkan pula memohon perlindungan daripada azab Allah dengan mengucapkan zikir seperti berikut:

    “Allohumma a’izni minan-naar”

    Ertinya: “Ya Allah, lindungilah aku daripada azab api neraka”

    1. Apabila membaca ayat tasbih iaitu yang mengandungi pujian kepada Allah umpamanya ayat “sabbihis marobbikal a’la” adalah disunatkan bertasbih seperti mengucapkan:

    (subhanalloh)

    Ertinya: “Maha suci Allah”

    1. Ketika membaca ayat 40 dari surah Al-Qiyamah “alaisa zalika biqodirin ‘alaa ay-yuhyal mauta” dan ayat terakhir daripada surah Al-Tin “alaisallohu biahkamil hakimin” adalah disunatkan membaca setelah itu dengan zikir:

    “Bala wa ana ‘ala zalika minasy-syahidin”

    Ertinya: “Ya, Benar! Saya adalah dari kalangan orang yang menjadi saksi ke atas perkara itu (Allah itu berkuasa menghidupkan orang yang mati, iaitu jawapan bagi ayat “alaisa zalika biqodirin ‘alaa ay-yuhyal mauta” / Allah itu adalah hakim yang paling adil , iaitu jawapan bagi ayat “alaisallohu biahkamil hakimin”

    1. Apabila membaca ayat 50 Surah Al-Mursalat “Fabiayyi hadisim-ba’dahu yu’minun” adalah di sunatkan untuk menyebut selepas itu dengan zikir:

    “amanna bil-lah”

    Ertinya: “Kami beriman dengan Allah”

    Semua perkara di atas sunat dilakukan oleh setiap pembaca al-Quran, termasuk imam dan juga orang yang bersembahyang secara bersendirian kerana mendengar bacaannya sendiri. Begitu juga makmum sunat ke atasnya berbuat demikian kerana mendengar bacaan imamnya atau bacaannya sendiri. Zikir-zikir kerana ayat tertentu itu adalah dibaca secara jahar (dinyaringkan) sama ada imam, makmum dan juga orang bersembahyang secara bersendirian pada sembahyang yang disunatkan menyaringkan bacaan padanya.

    Perlu juga diambil perhatian bahawa lafaz zikir itu apabila di dalam sembahyang mestilah diucapkan dengan bahasa Arab dan tidak harus (tidak boleh) bahkan batal sembahyang jika dilafazkan dengan bahasa Melayu atau lainnya selain daripada bahasa Arab.

    Jika perkara-perkara yang tersebut di atas ditinggalkan, tidaklah ia membatalkan sembahyang serta tidak dituntut untuk melakukan sujud sahwi kerana ia hanyalah merupakan sunat hai‘at.

    Begitu juga sunat hukumnya mengucapkan zikir-zikir tersebut di atas ketika di luar sembahyang apabila mendengar ayat-ayat yang telah dijelaskan tadi.

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 2 March 2016 Permalink | Balas  

    Orang Beragama atau Orang Baik? 

    niat baikOrang Beragama atau Orang Baik?

    Seorang lelaki berniat untuk menghabiskan seluruh waktunya untuk beribadah. Seorang nenek yang merasa iba melihat kehidupannya membantunya dengan membuatkan sebuah pondok kecil dan memberinya makan, sehingga lelaki itu dapat beribadah dengan tenang.

    Setelah berjalan selama 20 tahun, si nenek ingin melihat kemajuan yang telah dicapai lelaki itu. Ia memutuskan untuk mengujinya dengan seorang wanita cantik. ”Masuklah ke dalam pondok,” katanya kepada wanita itu, ”Peluklah ia dan katakan ‘Apa yang akan kita lakukan sekarang’?”

    Maka wanita itu pun masuk ke dalam pondok dan melakukan apa yang disarankan oleh si nenek. Lelaki itu menjadi sangat marah karena tindakan yang tak sopan itu. Ia mengambil sapu dan mengusir wanita itu keluar dari pondoknya.

    Ketika wanita itu kembali dan melaporkan apa yang terjadi, si nenek menjadi marah. ”Percuma saya memberi makan orang itu selama 20 tahun,” serunya. ”Ia tidak menunjukkan bahwa ia memahami kebutuhanmu, tidak bersedia untuk membantumu ke luar dari kesalahanmu. Ia tidak perlu menyerah pada nafsu, namun sekurang- kurangnya setelah sekian lama beribadah seharusnya ia memiliki rasa kasih pada sesama.”

    Apa yang menarik dari cerita diatas? Ternyata ada kesenjangan yang cukup besar antara taat beribadah dengan memiliki budi pekerti yang luhur. Taat beragama ternyata sama sekali tak menjamin perilaku seseorang.

    Ada banyak contoh yang dapat kita kemukakan disini. Anda pasti sudah sering mendengar cerita mengenai guru mengaji yang suka memperkosa muridnya. Seorang kawan yang rajin shalat lima waktu baru-baru ini di PHK dari kantornya karena memalsukan dokumen. Seorang kawan yang berjilbab rapih ternyata suka berselingkuh. Kawan yang lain sangat rajin ikut pengajian tapi tak henti-hentinya menyakiti orang lain. Adapula kawan yang berkali-kali menunaikan haji dan umrah tetapi terus melakukan korupsi di kantornya.

    Lantas dimana letak kesalahannya? Saya kira persoalan utamanya adalah pada kesalahan cara berpikir. Banyak orang yang memahami agama dalam pengertian ritual dan fiqih belaka. Dalam konsep mereka, beragama berarti melakukan shalat, puasa, zakat, haji dan melagukan (bukannya membaca) Alquran. Padahal esensi beragama bukan disitu. Esensi beragama justru pada budi pekerti yang mulia.

    Kedua, agama sering dipahami sebagai serangkaian peraturan dan larangan. Dengan demikian makna agama telah tereduksi sedemikian rupa menjadi kewajiban dan bukan kebutuhan. Agama diajarkan dengan pendekatan hukum (outside-in), bukannya dengan pendekatan kebutuhan dan komitmen (inside-out). Ini menjauhkan agama dari makna sebenarnya yaitu sebagai sebuah sebuah cara hidup (way of life), apalagi cara berpikir (way of thinking).

    Agama seharusnya dipahami sebagai sebuah kebutuhan tertinggi manusia. Kita tidak beribadah karena surga dan neraka tetapi karena kita lapar secara rohani. Kita beribadah karena kita menginginkan kesejukan dan kenikmatan batin yang tiada taranya. Kita beribadah karena rindu untuk menyelami jiwa sejati kita dan merasakan kehadiran Tuhan dalam keseharian kita. Kita berbuat baik bukan karena takut tapi karena kita tak ingin melukai diri kita sendiri dengan perbuatan yang jahat.

    Ada sebuah pengalaman menarik ketika saya bersekolah di London dulu. Kali ini berkaitan dengan polisi. Berbeda dengan di Indonesia, bertemu dengan polisi disana akan membuat perasaan kita aman dan tenteram. Bahkan masyarakat Inggris memanggil polisi dengan panggilan kesayangan: Bobby.

    Suatu ketika dompet saya yang berisi surat-surat penting dan sejumlah uang hilang. Kemungkinan tertinggal di dalam taksi. Ini tentu membuat saya agak panik, apalagi hal itu terjadi pada hari-hari pertama saya tinggal di London. Tapi setelah memblokir kartu kredit dan sebagainya, sayapun perlahan-lahan melupakan kejadian tersebut. Yang menarik, beberapa hari kemudian, keluarga saya di Jakarta menerima surat dari kepolisian London yang menyatakan bahwa saya dapat mengambil dompet tersebut di kantor kepolisian setempat.

    Ketika datang kesana, saya dilayani dengan ramah. Polisi memberikan dompet yang ternyata isinya masih lengkap. Ia juga memberikan kuitansi resmi berisi biaya yang harus saya bayar sekitar 2,5 pound. Saking gembiranya, saya memberikan selembar uang 5 pound sambil mengatakan, ”Ambil saja kembalinya.” Anehnya, si polisi hanya tersenyum dan memberikan uang kembalinya kepada saya seraya mengatakan bahwa itu bukan haknya. Sebelum saya pergi, ia bahkan meminta saya untuk mengecek dompet itu baik-baik seraya mengatakan bahwa kalau ada barang yang hilang ia bersedia membantu saya untuk menemukannya.

    Hakekat keberagamaan sebetulnya adalah berbudi luhur. Karena itu orang yang ”beragama” seharusnya juga menjadi orang yang baik. Itu semua ditunjukkan dengan integritas dan kejujuran yang tinggi serta kemauan untuk menolong dan melayani sesama manusia.

    Sumber: Orang Beragama atau Orang Baik? oleh Arvan Pradiansyah, direktur pengelola Institute for Leadership & Life Management (ILM) & penulis buku Life is Beautiful

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 1 March 2016 Permalink | Balas  

    Jangan Dekat-dekat pada Zina 

    airmata 2Jangan Dekat-Dekat pada Zina

    Tidak mengherankan kalau seluruh agama Samawi mengharamkan dan memberantas perzinaan. Terakhir ialah Islam yang dengan keras melarang perzinaan serta memberikan ultimatum yang sangat tajam. Karena perzinaan itu dapat mengaburkan masalah keturunan, merusak keturunan, menghancurkan rumahtangga, meretakkan perhubungan, meluasnya penyakit kelamin, kejahatan nafsu dan merosotnya akhlak. Oleh karena itu tepatlah apa yang dikatakan Allah:

    “Jangan kamu dekat-dekat pada perzinaan, karena sesungguhnya dia itu perbuatan yang kotor dan cara yang sangat tidak baik.” (al-Isra’: 32)

    Islam, sebagaimana kita maklumi, apabila mengharamkan sesuatu, maka ditutupnyalah jalan-jalan yang akan membawa kepada perbuatan haram itu, serta mengharamkan cara apa saja serta seluruh pendahuluannya yang mungkin dapat membawa kepada perbuatan haram itu.

    Justru itu pula, maka apa saja yang dapat membangkitkan seks dan membuka pintu fitnah baik oleh laki-laki atau perempuan, serta mendorong orang untuk berbuat yang keji atau paling tidak mendekatkan perbuatan yang keji itu, atau yang memberikan jalan-jalan untuk berbuat yang keji, maka Islam melarangnya demi untuk menutup jalan berbuat haram dan menjaga daripada perbuatan yang merusak.

    Pergaulan Bebas adalah Haram

    Di antara jalan-jalan yang diharamkan Islam ialah: Bersendirian dengan seorang perempuan lain. Yang dimaksud perempuan lain, yaitu: bukan isteri, bukan salah satu kerabat yang haram dikawin untuk selama-lamanya, seperti ibu, saudara, bibi dan sebagainya yang insya Allah nanti akan kami bicarakan selanjutnya.

    Ini bukan berarti menghilangkan kepercayaan kedua belah pihak atau salah satunya, tetapi demi menjaga kedua insan tersebut dari perasaan-perasaan yang tidak baik yang biasa bergelora dalam hati ketika bertemunya dua jenis itu, tanpa ada orang ketiganya.

    Dalam hal ini Rasulullah bersabda sebagai berikut:

    “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan.” (Riwayat Ahmad)

    “Jangan sekali-kali salah seorang di antara kamu menyendiri dengan seorang perempuan, kecuali bersama mahramnya.”

    Imam Qurthubi dalam menafsirkan firman Allah yang berkenaan dengan isteri-isteri Nabi, yaitu yang tersebut dalam surah al-Ahzab ayat 53, yang artinya: “Apabila kamu minta sesuatu (makanan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari balik tabir. Karena yang demikian itu lebih dapat membersihkan hati-hati kamu dan hati-hati mereka itu,” mengatakan: maksudnya perasaan-perasaan yang timbul dari orang laki-laki terhadap orang perempuan, dan perasaan-perasaan perempuan terhadap laki-laki. Yakni cara seperti itu lebih ampuh untuk meniadakan perasaan-perasaan bimbang dan lebih dapat menjauhkan dari tuduhan yang bukan-bukan dan lebih positif untuk melindungi keluarga.

    Ini berarti, bahwa manusia tidak boleh percaya pada diri sendiri dalam hubungannya dengan masalah bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak halal baginya. Oleh karena itu menjauhi hal tersebut akan lebih baik dan lebih dapat melindungi serta lebih sempurna penjagaannya.

    Secara khusus, Rasulullah memperingatkan juga seorang laki-laki yang bersendirian dengan ipar. Sebab sering terjadi, karena dianggap sudah terbiasa dan memperingan hal tersebut di kalangan keluarga, maka kadang-kadang membawa akibat yang tidak baik. Karena bersendirian dengan keluarga itu bahayanya lebih hebat daripada dengan orang lain, dan fitnah pun lebih kuat. Sebab memungkinkan dia dapat masuk tempat perempuan tersebut tanpa ada yang menegur. Berbeda sekali dengan orang lain.

    Yang sama dengan ini ialah keluarga perempuan yang bukan mahramnya seperti kemanakannya baik dari pihak ayah atau ibu. Dia tidak boleh berkhalwat dengan mereka ini. Rasulullah s.a.w. pernah bersabda sebagai berikut:

    “Hindarilah keluar-masuk rumah seorang perempuan. Kemudian ada seorang laki-laki dari sahabat Anshar bertanya: Ya Rasulullah! Bagaimana pendapatmu tentang ipar? Maka jawab Nabi: Bersendirian dengan ipar itu sama dengan menjumpai mati.” (Riwayat Bukhari)

    Yang dimaksud ipar, yaitu keluarga isteri/keluarga suami. Yakni, bahwa berkhalwat (bersendirian) dengan ipar membawa bahaya dan kehancuran, yaitu hancurnya agama, karena terjadinya perbuatan maksiat; dan hancurnya seorang perempuan dengan dicerai oleh suaminya apabila sampai terjadi cemburu, serta membawa kehancuran hubungan sosial apabila salah satu keluarganya itu ada yang berburuk sangka kepadanya.

    Bahayanya ini bukan hanya sekedar kepada instink manusia dan perasaan-perasaan yang ditimbulkan saja, tetapi akan mengancam eksistensi rumahtangga dan kehidupan suami-isteri serta rahasia kedua belah pihak yang dibawa-bawa oleh lidah-lidah usil atau keinginan-keinginan untuk merusak rumahtangga orang.

    Justru itu pula, Ibnul Atsir dalam menafsirkan perkataan ipar adalah sama dengan mati itu mengatakan sebagai berikut: Perkataan tersebut biasa dikatakan oleh orang-orang Arab seperti mengatakan singa itu sama dengan mati, raja itu sama dengan api, yakni bertemu dengan singa dan raja sama dengan bertemu mati dan api.

    Jadi berkhalwat dengan ipar lebih hebat bahayanya daripada berkhalwat dengan orang lain. Sebab kemungkinan dia dapat berbuat baik yang banyak kepada si ipar tersebut dan akhirnya memberatkan kepada suami yang di luar kemampuan suami, pergaulan yang tidak baik atau lainnya, Sebab seorang suami tidak merasa kikuk untuk melihat dalamnya ipar dengan keluar-masuk rumah ipar tersebut.

    Melihat Jenis Lain dengan Bersyahwat

    Di antara sesuatu yang diharamkan Islam dalam hubungannya dengan masalah gharizah, yaitu pandangan seorang laki-laki kepada perempuan dan seorang perempuan memandang laki-laki. Mata adalah kuncinya hati, dan pandangan adalah jalan yang membawa fitnah dan sampai kepada perbuatan zina. Seperti kata seorang syair kuno:

    Semua peristiwa, asalnya karena pandangan

    Kebanyakan orang masuk neraka adalah karena dosa kecil

    Permulaannya pandangan, kemudian senyum, lantas beri salam

    Kemudian berbicara, lalu berjanji; dan sesudah itu bertemu.

    Oleh karena itulah Allah menjuruskan perintahnya kepada orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan supaya menundukkan pandangannya, diiringi dengan perintah untuk memelihara kemaluannya.

    Firman Allah:

    “Katakanlah kepada orang-orang mu’min laki-laki: hendaklah mereka itu menundukkan sebagian pandangannya dan menjaga kemaluannya; karena yang demikian itu lebih bersih bagi mereka. Sesungguhnya Allah maha meneliti terhadap apa-apa yang kamu kerjakan. Dan katakanlah kepada orang-orang mu’min perempuan: hendaknya mereka itu menundukkan sebagian pandangannya dan menjaga kemaluannya, dan jangan menampak-nampakkan perhiasannya kecuali apa yang biasa tampak daripadanya, dan hendaknya mereka itu melabuhkan tudung sampai ke dadanya, dan jangan menampakkan perhiasannya kecuali kepada suaminya atau kepada ayahnya atau kepada mertuanya atau kepada anak-anak laki-lakinya atau kepada anak-anak suaminya, atau kepada saudaranya atau anak-anak saudara laki-lakinya (keponakan) atau anak-anak saudara perempuannya atau kepada sesama perempuan atau kepada hamba sahayanya atau orang-orang yang mengikut (bujang) yang tidak mempunyai keinginan, yaitu orang laki-laki atau anak yang tidak suka memperhatikan aurat perempuan dan jangan memukul-mukulkan kakinya supaya diketahui apa-apa yang mereka rahasiakan dari perhiasannya.” (an-Nur: 30-31)

    Dalam dua ayat ini ada beberapa pengarahan. Dua diantaranya berlaku untuk laki-laki dan perempuan, yaitu menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Sedang yang lain khusus untuk perempuan.

    Dan kalau diperhatikan pula, bahwa dua ayat tersebut memerintahkan menundukkan sebagian pandangan dengan menggunakan min tetapi dalam hal menjaga kemaluan, Allah tidak mengatakan wa yahfadhu min furujihim (dan menjaga sebagian kemaluan) seperti halnya dalam menundukkan pandangan yang dikatakan di situ yaghudh-dhu min absharihim. Ini berarti kemaluan itu harus dijaga seluruhnya tidak ada apa yang disebut toleransi sedikitpun. Berbeda dengan masalah pandangan yang Allah masih memberi kelonggaran walaupun sedikit, guna mengurangi kesulitan dan melindungi kemasalahatan, sebagaimana yang akan kita ketahui nanti. Dan apa yang dimaksud menundukkan pandangan itu bukan berarti memejamkan mata dan menundukkan kepala ke tanah. Bukan ini yang dimaksud dan ini satu hal yang tidak mungkin. Hal ini sama dengan menundukkan suara seperti yang disebutkan dalam al-Quran dan tundukkanlah sebagian suaramu (Luqman 19). Di sini tidak berarti kita harus membungkam mulut sehingga tidak berbicara.

    Tetapi apa yang dimaksud menundukkan pandangan, yaitu: menjaga pandangan, tidak dilepaskan begitu saja tanpa kendali sehingga dapat menelan perempuan-perempuan atau laki-laki yang beraksi.

    Pandangan yang terpelihara, apabila memandang kepada jenis lain tidak mengamat-amati kecantikannya dan tidak lama menoleh kepadanya serta tidak melekatkan pandangannya kepada yang dilihatnya itu.

    Oleh karena itu pesan Rasulullah kepada Sayyidina Ali:

    “Hai Ali! Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya. Kamu hanya boleh pada pandangan pertama, adapun yang berikutnya tidak boleh.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tarmizi)

    Rasulullah s.a.w. menganggap pandangan liar dan menjurus kepada lain jenis, sebagai suatu perbuatan zina mata.

    Sabda beliau:

    “Dua mata itu bisa berzina, dan zinanya ialah melihat.” (Riwayat Bukhari)

    Dinamakannya berzina, karena memandang itu salah satu bentuk bersenang-senang dan memuaskan gharizah seksual dengan jalan yang tidak dibenarkan oleh syara’. Penegasan Rasulullah ini ada persamaannya dengan apa yang tersebut dalam Injil, dimana al-Masih pernah mengatakan sebagai berikut: Orang-orang sebelummu berkata: “Jangan berzinal” Tetapi aku berkata: “Barangsiapa melihat dengan dua matanya, maka ia berzina.”

    Pandangan yang menggiurkan ini bukan saja membahayakan kemurnian budi, bahkan akan merusak kestabilan berfikir dan ketenteraman hati.

    Salah seorang penyair mengatakan:

    “Apabila engkau melepaskan pandanganmu untuk mencari kepuasan hati. Pada satu saat pandangan-pandangan itu akan menyusahkanmu jua. Engkau tidak mampu melihat semua yang kau lihat. Tetapi untuk sebagainya maka engkau tidak bisa tahan.”

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: