Updates from Oktober, 2011 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:10 am on 31 October 2011 Permalink | Balas  

    Dzikir, Tak Hanya Pembasah Bibir 

    Dzikir, Tak Hanya Pembasah Bibir

    Dzikir bagi hati laksana air bagi ikan. Tanpa air, ikan akan mati. Begitupun hati yang tak pernah disiram dengan dzikrullah. Tidak kurang dari seratus faedah dzikrullah yang disebutkan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam al-Wabil ash-Shayyib. Bagi hati, dzikir bisa membuat tenang, sebagaimana firman-Nya, “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. ar-Ra’du: 28)

    Setan juga terhalang untuk menggodanya. Ibnu Abbas menjelaskan makna al-waswas al-khannas, “Sesungguhnya setan itu memantau kondisi hati anak Adam, jika ia lalai dari dzikir maka dia menggoda (waswasa), jika ia dzikrullah, maka setan akan menjauh (khanasa).” Maka, dzikir yang benar akan terpancar dalam perilaku zhahir. Karena ia selalu mengingat Allah, merasa diawasi oleh Allah, sehingga bersemangat untuk beramal shalih, takut dan malu berbuat maksiat.

    Jika dzikir yang kita kerjakan belum membekas dalam tindakan nyata, maka ada yang tidak beres pada dzikir yang kita lakukan. Mungkin lafazh atau cara yang tidak sesuai dengan sunnah, atau hati yang tidak sejalan dengan lisan, atau tidak paham makna ucapan yang kita baca. Atau bisa jadi, tanpa sadar kita telah memisahkan antara dzikir dengan perilaku dhahir. Padahal, dzikrullah memiliki dua syarat, hadirnya hati dan kesungguhan jasad (untuk menunaikan tuntutannya), seperti dijelaskan Ibnu al-Jauzi t dalam at-Tadzkirah fil Wa’zhi.

    Atha’ bin Abi Rabah juga mengatakan, “Yang dimaksud dzikir adalah tha’atullah, maka barangsiapa yang taat kepada Allah maka dia tengah berdzikir kepada Allah, dan barangsiapa yang bermaksiat, maka dia tidak dikatakan berdzikir, meskipun ia banyak membaca tasbih dan tahlil.”

    Inilah bekas yang paling nyata dari dzikir, bukan sekedar menangis saat mengikuti acara dzikir, tapi tertawa saat bermaksiat. Imam Ibnul Jauzi t mengingatkan dalam bukunya Talbis Iblis (Perangkap Iblis), “Banyak orang yang menghadiri majelis dzikir, ikut menangis dan menampakkan kekhusyu’an, tapi di luar itu mereka tidak meninggalkan praktik riba, curang dalam jual beli, tidak membenahi kekurangannya dalam memahami rukun-rukun Islam, tidak berhenti menggunjing dan mendurhakai orang tua. Mereka adalah orang-orang yang diperdaya oleh Iblis, sehingga mereka beranggapan bahwa majelis dzikir itu bisa menghapus dosa-dosa mereka.”

    Dzikir bukan pula sekedar pembasah bibir, tapi tuntutan dzikir adalah amal ketaatan itu sendiri. Memang Nabi n menyuruh kita membasahi lisan kita dengan dzikrullah, “Hendaknya lisanmu selalu basah dengan dzikrullah.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah)

    Tapi, tentu yang dimaksud bukan hanya membasahi bibir. Hadits itu merupakan kinayah (kiasan) tentang anjuran memperbanyak dzikir dan melaziminya, sebagaimana dijelaskan oleh al-Mubaarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi, syarah Sunan Tirmidzi. Wallahu a’lam. (Abu Umar A)

    ***

    Sumber : http://www.ar-risalah.or.id

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 30 October 2011 Permalink | Balas  

    Wajib Mentaati Rasul Allah 

    Wajib Mentaati Rasul Allah

    Assalamu’alaikum wr wb,

    Ummat Islam wajib mentaati Allah dan RasulNya. Mentaati Allah itu sudah pasti. Bagaimana dengan mentaati RasulNya? Sebab banyak orang yang menolak untuk mentaati Rasul atau Ingkar Hadits dengan alasan hanya beriman kepada Al Qur’an saja

    Allah tidak memberikan wahyu langsung kepada seluruh manusia. Melainkan melalui utusanNya yang disebut Rasul (utusan). Rasul inilah yang menyampaikan wahyu/perintah Allah kepada manusia.

    Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul” [Ad Dukhaan:5]

    Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.” [Al Fath:28]

    Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” [Al Anbiyaa’:107]

    Kami tiada mengutus rasul rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” [Al Anbiyaa’:7]

    Rasul tersebut diutus Allah untuk memberi kabar gembira dan peringatan. Siapa yang beriman pada rasul tersebut maka mereka akan beruntung:

    Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” [Al An’aam:48]

    Para Rasul mengajarkan tauhid, yaitu agar manusia hanya menyembah Allah dan tidak yang lainnya:

    Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” [Al Anbiyaa’:25]

    Dalam menyembah Allah, ada berbagai perintah Allah seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya yang tercantum dalam Al Qur’an. Keterangan rinci cara pengerjaannya seperti bagaimana cara shalat dijelaskan oleh rasul melalui Hikmah (hadits/sunnah Nabi):

    Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” [Al Baqarah:151]

    “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” [Al Jumu’ah:2]

    Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” [Ali ‘Imran:164]

    Allah mengutus rasulNya untuk menjelaskan agamaNya kepada manusia. Barang siapa beriman/taat kepada rasul, berarti dia telah beriman/taat kepada Allah yang telah mengutus rasul tersebut:

    Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar. [Al Fath:8-10]

    Allah mengutus rasulNya. Hanya orang kafirlah yang membantah utusan Allah:

    Dan tidaklah Kami mengutus rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan; tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyap kan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat kami dan peringatan-peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan.” [Al Kahfi:56]

     (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang di utus kepadamu.” [Yaasiin:14]

    Ummat Islam wajib taat kepada Rasul Allah. Perintah taat kepada Rasul banyak disebut di berbagai ayat Al Qur’an:

    Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [An Nisaa’:59]

    Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” [Ali ‘Imran:31-32]

    Dan sesungguhnya Harun telah berkata kepada mereka sebelumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan dengan anak lembu. itu dan sesungguhnya Tuhanmu ialah (Tuhan) Yang Maha Pemurah, maka ikutilah aku dan taatilah perintahku.” [Thaahaa:90]

    Jadi jika ada yang berkata taat kepada Allah tapi ingkar kepada rasulNya atau ingkar kepada sunnah/hadits Nabi, maka orang ini adalah sesat. Jika taat kepada Allah tentu dia akan mengerjakan perintah Allah yang tercantum dalam Al Qur’an, yaitu mentaati rasulnya atau mengerjakan perintah/penjelasan rasul yang tercantum dalam hadits/sunnah Nabi:

    Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” [Ali ‘Imran:132]

    Ada pun orang yang memusuhi Nabi, mendustakan Nabi, dan mengingkari Nabi (hadits/sunnah Nabi) maka Allah menghapus pahala amal-amal mereka dan menyiksa mereka:

    Sesungguhnya orang-orang kafir dan (yang) menghalangi manusia dari jalan Allah serta memusuhi Rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Dan Allah akan menghapuskan (pahala) amal-amal mereka. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu. [Muhammad:32-33]

    Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri.” [Al A’raaf:94]

    Oleh karena itu hendaklah kita taat kepada Allah dan RasulNya. Pernyataan 2 kalimat syahadat: Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah mengharuskan kita untuk mentaati perintah Allah dan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah yang terakhir.

    Baca, pahami, amalkan, dan ajarkan firman Allah yang ada dalam Al Qur’an dan juga penjelasan RasulNya yang ada di dalam Hadits.

    Wa’alaikum salam wr wb

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 29 October 2011 Permalink | Balas
    Tags: nabi muhammad rasul terakhir   

    17 Dalil Nabi Muhammad SAW adalah Nabi dan Rasul Terakhir 

    17 Dalil Nabi Muhammad SAW adalah Nabi dan Rasul Terakhir

    Di bawah adalah dalil Nabi Muhammad Nabi dan Rasul terakhir dan tidak ada Nabi sesudahnya. Ini adalah dalil-dalil dari Al Qur’an dan Hadits yang mematahkan argumen kelompok Ahmadiyah yang menyatakan Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi.

    Ketika disodorkan ayat: QS AL AHZAB 40: Bukanlah Muhammad itu bapak salah seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi”. ada yang berargumen bahwa Nabi Muhammad hanya Nabi terakhir. Bukan Rasul terakhir. Namun hadits di bawah menunjukkan bahwa Nabi Muhammad bukan hanya Nabi terakhir, tapi juga Rasul terakhir:

    Rasulullah SAW menegaskan: “Rantai Kerasulan dan Kenabian telah sampai pada akhirnya. Tidak akan ada lagi rasul dan nabi sesudahku”. (Tirmidhi, Kitab-ur-Rouya, Bab Zahab-un-Nubuwwa; Musnad Ahmad; Marwiyat-Anas bin Malik).

    Inilah 17 dalil tak ada Nabi baru setelah Muhammad SAW.

    1. QS AL AHZAB 40: Bukanlah Muhammad itu bapak salah seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi”
    2. Imam Muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Perumpamaan saya dan para Nabi sebelum saya seperti orang yang membangun satu bangunan lalu dia membaguskan dan membuat indah bangunan itu kecuali tempat batu yang ada di salah satu sudut. Kemudian orang-orang mengelilinginya dan mereka ta’juk lalu berkata: ‘kenapa kamu tidak taruh batu ini.?’ Nabi menjawab : Sayalah batu itu dan saya penutup Nabi-nabi”
    3. Imam Muslim juga meriwayatkan dari Jubair bin Mut’im RA bahwa Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya saya mempunyai nama-nama, saya Muhammad, saya Ahmad, saya Al-Mahi, yang mana Allah menghapuskan kekafiran karena saya, saya Al-Hasyir yang mana manusia berkumpul di kaki saya, saya Al-Aqib yang tidak ada Nabi setelahnya”
    4. Abu Daud dan yang lain dalam hadist Thauban Al-Thawil, bersabda Nabi Muhammad SAW: “Akan ada pada umatku 30 pendusta semuanya mengaku nabi, dan saya penutup para Nabi dan tidak ada nabi setelahku”
    5. Khutbah terakhir Rasulullah: “Wahai manusia, tidak ada nabi atau rasul yang akan datang sesudahku dan tidak ada agama baru yang akan lahir.Karena itu, wahai manusia, berpikirlah dengan baik dan pahamilah kata-kata yang kusampaikan kepadamu. Aku tinggalkan dua hal: Al Quran dan Sunnah, contoh-contoh dariku; dan jika kamu ikuti keduanya kamu tidak akan pernah tersesat ”
    6. Rasulullah SAW menjelaskan: “Suku Israel dipimpim oleh Nabi-nabi. Jika seorang Nabi meninggal dunia, seorang nabi lain meneruskannya. Tetapi tidak ada nabi yang akan datang sesudahku; hanya para kalifah yang akan menjadi penerusku (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib).
    7. Rasulullah SAW menegaskan: “Posisiku dalam hubungan dengan nabi-nabi yang datang sebelumku dapat dijelaskan dengan contoh berikut: Seorang laki-laki mendirikan sebuah bangunan dan menghiasinya dengan keindahan yang agung, tetapi dia menyisakan sebuah lubang di sudut untuk tempat sebuah batu yang belum dipasang. Orang-orang melihat sekeliling bangunan tersebut dan mengagumi keindahannya, tetapi bertanya-tanya, kenapa ada sebuah batu yang hilang dari lubang tersebut? Aku seperti batu yang hilang itu dan aku adalah yang terakhir dalam jajaran Nabi-nabi”. (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib).
    8. Rasulullah SAW menyatakan: “Allah telah memberkati aku dengan enam macam kebaikan yang tidak dinikmati Nabi-nabi terdahulu: – Aku dikaruniai keahlian berbicara yang efektif dan sempurna. – Aku diberi kemenangan karena musuh gentar menghadapiku – Harta rampasan perang dihalalkan bagiku. -Seluruh bumi telah dijadikan tempatku beribadah dan juga telah menjadi alat pensuci bagiku. Dengan kata lain, dalam agamaku, melakukan shalat tidak harus di suatu tempat ibadah tertentu. Shalat dapat dilakukan di manapun di atas bumi. Dan jika air tidak tersedia, ummatku diizinkan untuk berwudhu dengan tanah (Tayammum) dan membersihkan dirinya dengan tanah jika air untuk mandi langka. – Aku diutus Allah untuk menyampaikan pesan suciNYA bagi seluruh dunia. “ Dan jajaran Kenabian telah mencapai akhirnya padaku (Riwayat Muslim, Tirmidhi, Ibnu Majah)
    9. Rasulullah SAW menegaskan: “Rantai Kerasulan dan Kenabian telah sampai pada akhirnya. Tidak akan ada lagi rasul dan nabi sesudahku”. (Tirmidhi, Kitab-ur-Rouya, Bab Zahab-un-Nubuwwa; Musnad Ahmad; Marwiyat-Anas bin Malik).
    10. Rasulullah SAW menjelaskan: ‘Saya Muhammad, Saya Ahmad, Saya Pembersih dan kekafiran harus dihapuskan melalui aku; Saya Pengumpul, Manusia harus berkumpul pada hari kiamat yang datang sesudahku. (Dengan kata lain, Kiamat adalah satu-satunya yang akan datang sesudahku); dan saya adalah Yang Terakhir dalam arti tidak ada nabi yang datang sesudahku”. (Bukhari dan Muslim, Kitab-ul-Fada’il, Bab Asmaun-Nabi; Tirmidhi, Kitab-ul-Adab, Bab Asma-un-Nabi; Muatta’, Kitab-u-Asma-in-Nabi; Al-Mustadrak Hakim, Kitab-ut-Tarikh, Bab Asma-un-Nabi).
    11. Rasulullah SAW menjelaskan: “Allah yang Maha Kuasa tidak mengirim seorang Nabi pun ke dunia ini yang tidak memperingatkan ummatnya tentang kemunculan Dajjal (Anti-Kristus, tetapi Dajjal tidak muncul dalam masa mereka). Aku yang terakhir dalam jajaran Nabi-Nabi dan kalian ummat terakhir yang beriman. Tidak diragukan, suatu saat, Dajjal akan datang dari antara kamu”. (Ibnu Majah, Kitabul Fitan, Bab Dajjal).
    12. Abdur Rahman bin Jubair melaporkan: “Saya mendengar Abdullah bin ‘Amr ibn-’As menceritakan bahwa suatu hari Rasulullah SAW keluar dari rumahnya dan bergabung dengan mereka. Tindak-tanduknya memberi kesan seolah-olah beliau akan meninggalkan kita. Beliau berkata: “Aku Muhammad, Nabi Allah yang buta huruf”, dan mengulangi pernyataan itu tiga kali. Lalu beliau menegaskan: “Tidak ada lagi Nabi sesudahku”. (Musnad Ahmad, Marwiyat ‘Abdullah bin ‘Amr ibn-’As).
    13. Rasulullah SAW berkata: Allah tidak akan mengutus Nabi sesudahku, tetapi hanya Mubashirat”. Dikatakan, apa yang dimaksud dengan al-Mubashirat. Beliau berkata: Visi yang baik atau visi yang suci”. (Musnad Ahmad, marwiyat Abu Tufail, Nasa’i, Abu Dawud). (Dengan kata lain tidak ada kemungkinan turunnya wahyu Allah di masa yang akan datang. Paling tinggi, jika seseorang mendapat inspirasi dari Allah, dia akan menerimanya dalam bentuk mimpi yang suci).
    14. Rasulullah SAW berkata: “Jika benar seorang Nabi akan datang sesudahku, orang itu tentunya Umar bin Khattab”. (Tirmidhi, Kitab-ul-Manaqib).
    15. Rasulullah SAW berkata kepada ‘Ali, “Hubunganmu denganku ialah seperti hubungan Harun dengan Musa. Tetapi tidak ada Nabi yang akan datang sesudahku”. (Bukhari dan Muslim, Kitab Fada’il as-Sahaba).
    16. Rasulullah SAW menjelaskan: “Di antara suku Israel sebelum kamu, benar-benar ada orang-orang yang berkomunikasi dengan Tuhan, meskipun mereka bukanlah NabiNYA. Jika ada satu orang di antara ummatku yang akan berkomunikasi dengan Allah, orangnya tidak lain daripada Umar. (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib)
    17. Rasulullah SAW berkata: “Tidak ada Nabi yang akan datang sesudahku dan karena itu, tidak akan ada ummat lain pengikut nabi baru apapun”. (Baihaqi, Kitab-ul-Rouya; Tabrani)

    Wassalam

    ***

    M. Nurhuda

     

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 28 October 2011 Permalink | Balas  

    Inilah Sebabnya Mengapa Jika Terkena Liur Anjing Harus Dibasuh Dengan Tanah 

    Inilah Sebabnya Mengapa Jika Terkena Liur Anjing Harus Dibasuh Dengan Tanah

    Ternyata hal ini sudah diberitahukan pada kita sejak 1400 tahun yang lalu. Ilmuwan membuktikan jika Virus anjing itu sangat lembut dan kecil. Sebagaimana diketahui, semakin kecil ukuran mikroba, ia akan semakin efektif untuk menempel dan melekat pada dinding sebuah wadah.

    Air liur anjing mengandung virus berbentuk pita cair. Dalam hal ini tanah berperan sebagai penyerap mikroba berikut virus-virusnya yang menempel dengan lembut pada wadah. Perhatikan kata Rosulullah berikut :

    Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, Sucinya wadah seseorang saat dijilat anjing adalah dengan membasuhnya tujuh kali, salah satunya dengan menggunakan tanah.

    Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, Apabila anjing menjilat wadah seseorang, maka keriklah (bekasnya) lalu basuhlah wadah itu tujuh kali. (HR. Muslim)

    Bahaya Liur Anjing

    Air liur anjing dari jenis apapun berbahaya bagi manusia. Persatuan Dokter Kesehatan Anak di Munich-Jerman, mengungkapkan bahwa air liur anjing mengandung berbagai kuman penyebab penyakit. Bakteri tersebut dapat masuk dan menyerang organ dalam manusia melalui sistem terbuka.

    Resiko tertular penyakit kian besar apabila terkena gigitan anjing.

    Siapa yang menjadikan anjing –kecuali anjing penjaga ternak, atau anjing pemburu, atau anjing penjaga tanaman- niscaya berkuranglah satu qirath pahalanya setiap hari

    Bahaya anjing tidak hanya pada liurnya saja.

    Menurut peneliti dari Universitas Munich, menyatakan bahwa memelihara anjing meningkatkan resiko kanker payudara. Peluang dan resiko mengidap kanker oleh karena memelihara anjing jauh lebih besar dibanding memelihara piaraan lain seperti kucing dan kelinci.

    Sebanyak 79,7 % penderita kanker payudara ternyata sering bercanda dengan anjing, diantaranya dengan memeluk, mencium, menggendong, memandika, dan semua aktivitas perawatan anjing. Hanya 4,4 % pasien yang tidak memiliki hewan peliharaan.

    Mengapa Harus Dibersihkan Dg Tanah

    Tanah, menurut ilmu kedokteran modern diketahui mengandung dua materi yang dapat membunuh kuman-kuman, yakni: tetracycline dan tetarolite. Dua unsur ini digunakan untuk proses pembasmian (sterilisasi) beberapa kuman.

    Eksperimen dan beberapa hipotesa menjelaskan bahwa tanah merupakan unsur yang efektif dalam membunuh kuman. Anda juga bakal terkejut ketika mengetahui tanah kuburan orang yang meninggal karena sakit aneh dan keras, yang anda kira terdapat banyak kuman karena penyakitnya itu, ternyata para peneliti tidak menemukan bekas apapun dari kuman penyakit tersebut di dalam kandungan tanahnya.

    Menurut Muhammad Kamil Abd Al Shamad, tanah mengandung unsur yang cukup kuat menghilangkan bibit-bibit penyakit dan kuman-kuman. Hal ini berdasarkan bahwa molekul-molekul yang terkandung di dalam tanah menyatu dengan kuman-kuman tersebut, sehingga mempermudah dalam proses sterilisasi kuman secara keseluruhan. Ini sebagaimana tanah juga mengandung materi-materi yang dapat mensterilkan bibit-bibit kuman tersebut.

    Para dokter mengemukakan, kekuatan tanah dalam menghentikan reaksi air liur anjing dan virus-virus di dalamnya lebih besar karena perbedaan dalam daya tekan pada wilayah antara cairan (air liur anjing) dan tanah.

    Dr. Al Isma’lawi Al-Muhajir mengatakan anjing dapat menularkan virus tocks characins, virus ini dapat mengakibatkan kaburnya penglihatan dan kebutaan pada manusia.

    Fakta Tentang Anjing Yang Tak Banyak Diketahui

    dr. Ian Royt menemukan 180 sel telur ulat dalam satu gram bulunya, seperempat lainnya membawa 71 sel telur yang mengandung jentik-jentik kuman yang tumbuh berkembang, tiga di antaranya dapat matang yang cukup dengan menempelkannya pada kulit. Sel-sel telur ulat ini sangat lengket dengan panjang mencapai 1 mm. Data statistik di Amerika menunjukan bahwa terdapat 10 ribu orang yang terkena virus ulat tersebut, kebanyakan adalah anak-anak.

    Secara ilmiah, anjing dapat menularkan berbagai macam penyakit yang membahayakan karena ada ulat-ulat yang tumbuh berkembang biak dalam ususnya. Para dokter menguatkan bahaya ulat ini dan racun air liur yang disebabkan oleh anjing. Biasanya penyakit ini berpindah pada manusia atau hewan melalui air liur pembawa virus yang masuk pada bekas jilatannya atau pada luka yang terkena air liurnya.

    Ketika ulat-ulat ini sampai pada tubuh manusia, maka ia akan bersemayam di bagian organ tubuh manusia yaitu paru-paru. Ulat yang bersemayam di paru-paru, yang bertempat di hati dan beberapa organ tubuh bagian dalam lainnya, mengakibatkan terbentuknya kantong yang penuh dengan cairan. Dari luar, kantong ini diliputi oleh dua lapisan dengan ukuran kantong sebesar bentuk kepala embrio. Penyakit tersebut berkembang dengan lambat. Ulat Echinococcosis dapat tumbuh berkembang di dalam kantong itu selama bertahun-tahun.

    SUBHANALLAH….lebih dari 1400 tahun yang lalu Nabi SAW telah menyarankan untuk tidak bersentuhan dengan anjing dan air liurnya, dan telah memerintahkan untuk membasuhnya (jika terkena) dengan tujuh kali siraman yang salah satunya menggunakan tanah.

    Penelitian Ir. Soekarno

    Sayid Muhammad bin Alwi al-Maliki menjelaskan bahwa kajian ilmuan membuktikan bahawa, air liur anjing mengandung mikrobakteria sehingga jika objek yang terkena air liur anjing dicuci dengan sabun, maka tidak menjamin bersih dari mikrobakteria tersebut.

    Untuk mematikan kuman tersebut, harus dengan cara ditaburi tanah atau debu yang dicampur dengan air. Cara ini terbukti berkesan berdasarkan kajian dan uni kaji makmal yang di masa Nabi SAW tidak ada.

    Suatu ketika, bekas Presiden Repulik Indonesia, Soekarno, pernah mengatakan bahwa pada zaman sekarang kita tidak perlu lagi menyamak, atau membasuh tujuh kali yang diantaranya dicampur dengan debu apabila terkena najis kelas berat.

    cukup menggunakan sabun. Pendapatnya ditentang oleh para ulama Indonesia pada waktu itu. Para ulama tersebut meminta Presiden untuk melakukan eksperimen membuktikan mana yang lebih relevan; penggunaan sabun atau dengan debu. Maka dilakukanlah eksperimen dengan sampel dua benda yang telah dijilat oleh anjing. Satu di antara dicuci menggunakan sabun, dan yang satu lagi dibersihkan dengan debu.

    Hasil dari pengamatan mikroskop didapati bahwa, benda yang dibasuh dengan menggunakan sabun masih terlihat kuman dari hasil jilatan anjing. Sebaliknya, benda yang dibersihkan dengan debu sangat bersih dan terbebas dari kuman.

    Maha Suci Allah dengan segala kekuasaan-Nya. Sungguh, apa-apa yang ditetapkan Allah, ada manfaat yang boleh diambil

    ***

    Sumber: Kaskus. us

     

     
    • dan 8:38 pm on 28 Oktober 2011 Permalink

      hebat bos, ilmu yg sngt bermanfaat, perbanyak lg postingannya bos saya tunggu

    • lisa 11:15 am on 29 Oktober 2011 Permalink

      subhanallah.. satu lagi ayat Al-Quran/hadist yang terbukti kebenarannya secara ilmiah

    • Reza Lubis 4:42 pm on 31 Oktober 2011 Permalink

      Sangat bermanfaat…ijin untuk berbagi aretikel gan…

    • ridwan 4:06 pm on 10 November 2011 Permalink

      tengkyu gan…. nice impo

    • IMRONA 8:42 pm on 11 November 2011 Permalink

      subhanallahh.. nice info.. syukron

  • erva kurniawan 1:43 am on 27 October 2011 Permalink | Balas  

    Pelajaran Dari Sebuah Guci 

    Pelajaran Dari Sebuah Guci

    Dalam hidup, ada saat dimana kita akan berhadapan dengan banyak hal yang tidak sesuai dengan keinginan. Tidak selamanya jalanan yang kita lalui tampak lurus tanpa lubang dan kelok. Selalu saja ada ujian yang singgah, sebagai bagian yang sejatinya dapat mendewasakan diri kita dalam menapaki langkah-langkah hidup yang terus kita ayun. Kita bisa mengambil pelajaran dari kisah sebuah guci yang cantik yang terpajang di sudut ruangan. Si guci pada awalnya tidaklah tampak cantik seperti yang kita lihat menghiasi sudut ruang tamu di rumah kita. Dia sebelumnya hanyalah merupakan sebongkah tanah liat yang di bentuk dari beberapa proses “menyakitkan”. Kenapa “menyakitkan”? Bayangkan saja, dalam proses awal pembuatannya, si guci telah beberapa kali mengalami tempaan yang keras. Dihempas diatas permukaan landasan cetakan yang berputar, dipukul-pukul badannya, lalu dibuat berdiri dengan cara ditarik ke sisi atas sesuai keinginan sang pengrajin.

    Tak lupa, badan si guci pun diguyur dengan air. Untuk sesaat, sang pengrajin memandangi dengan seksama bentuk si guci apakah bentuknya sudah sempurna atau belum. Jika belum, si guci pun kembali dibuat sakit dan menderita karena tubuhnya dipukul-pukul dan diremas kembali ke bentuk semula, berupa onggokan tanah liat. Namun, jika bentuknya telah sesuai dengan keinginan sang pengrajin, si guci pun bisa bernafas lega sesaat namun akan segera menuju ke fase “menyakitkan” berikutnya, dijemur dibawah terik matahari agar tubuh si guci bisa segera kering.

    Ujian bagi si guci pun tidak selesai sampai disitu. Setelah kering, si guci pun dibawa ke sebuah tempat yang lebih panas dan menyayat, berupa tempat pembakaran terakhir. Bisa kita bayangkan, bagaimana panasnya api. Jangankan terjilat olehnya, mendekat saja dalam liukan nyalanya kita sudah merasa kepanasan. Tapi itulah tahap menyakitkan terakhir yang dirasakan oleh si guci sebelum akhirnya ia dihias dengan warna warni yang indah, yang membuatnya menjadi kelihatan menarik dipandang mata dan menawan hati saat dipajang, yang kemudian menghias sudut ruang tamu rumah kita.

    Saudaraku,

    Keceriaan itu kadangkala akan ditemani oleh kekecewaan. Tawa yang riang, tidak akan terasa lengkap tanpa dihiasi oleh air mata kesedihan. Seiring bertambahnya usia dan berkurangnya jatah umur kita, ujian akan selalu hadir dalam kehidupan. Walau demikian, tetaplah tersenyum sebagai langkah untuk sedikit meringankan beban di hati kita. Karena dengan begitu, kita telah berusaha untuk membuka satu pintu kebahagiaan. Tetaplah tegar dalam rasa keimanan dan kehambaan kepada-Nya dan lanjutkan berdo’a, semoga kekuatan dan ridho-Nya senantiasa meliputi diri dan hati agar terjauh dari rasa putus asa akan curahan rahmat-Nya.

    Tidaklah ujian itu melebihi kapasitas diri kita sebagai insan yang mengaku beriman dan cinta kepada-Nya. Dan sesungguhnya, sesudah kesulitan itu akan ada kemudahan. Sesunggunya sesungguhnya sesudah kesulitan itu akan ada kemudahan.

    Semoga setiap ujian yang hadir dalam hidup kita, semakin menambah rasa keimanan dan penghambaan kepada-Nya, menambah rasa syukur dan usaha untuk semakin mengenal-Nya, mematangkan diri dan jiwa menjadi lebih baik dalam mengarungi samudera kehidupan, sebagaimana kisah perjalanan diri sebuah guci di atas.

    Semoga setiap ujian yang hadir, merupakan sebuah bentuk pembersihan diri kita dari dosa-dosa yang pernah kita lakukan, supaya kelak menjadi hamba yang kembali dalam pangkuan ridho-Nya dan untuk kembali menyadarkan diri kita akan ke-Maha Besaran Allah SWT, dimana sesungguhnya hanya Dia-lah satu-satunya tempat bergantung semua makhluk.

    Wallahu a’lam

    ***

    Diambil dari : blog sebuah perenungan

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 26 October 2011 Permalink | Balas  

    Indahnya Menahan Marah 

    Indahnya Menahan Marah

    “Siapa yang menahan marah, padahal ia dapat memuaskannya (melampiaskannya), maka kelak pada hari kiamat, Allah akan memanggilnya di depan sekalian makhluk. Kemudian, disuruhnya memilih bidadari sekehendaknya.” (HR. Abu Dawud – At-Tirmidzi)

    Tingkat keteguhan seseorang dalam menghadapi kesulitan hidup memang berbeda-beda. Ada yang mampu menghadapi persoalan yang sedemikian sulit dengan perasaan tenang. Namun, ada pula orang yang menghadapi persoalan kecil saja ditanggapinya dengan begitu berat. Semuanya bergantung pada kekuatan ma’nawiyah (keimananan) seseorang.

    Pada dasarnya, tabiat manusia yang beragam: keras dan tenang, cepat dan lambat, bersih dan kotor, berhubungan erat dengan keteguhan dan kesabarannya saat berinteraksi dengan orang lain. Orang yang memiliki keteguhan iman akan menyelurusi lorong-lorong hati orang lain dengan respon pemaaf, tenang, dan lapang dada.

    Adakalanya, kita bisa merasa begitu marah dengan seseorang yang menghina diri kita. Kemarahan kita begitu memuncak seolah jiwa kita terlempar dari kesadaran. Kita begitu merasa tidak mampu menerima penghinaan itu. Kecuali, dengan marah atau bahkan dengan cara menumpahkan darah. Na’udzubillah. *

    Menurut riwayat, ada seorang Badwi datang menghadap Nabi S.A.W. dengan maksud ingin meminta sesuatu pada beliau. Beliau memberinya, lalu bersabda, “Aku berbuat baik padamu.” Badwi itu berkata, “Pemberianmu tidak bagus.” Para sahabat merasa tersinggung, lalu mengerumuninya dengan kemarahan. Namun, Nabi memberi isyarat agar mereka bersabar.

    Kemudian, Nabi S.A.W. pulang ke rumah. Nabi kembali dengan membawa barang tambahan untuk diberikan ke Badwi. Nabi bersabda pada Badwi itu, “Aku berbuat baik padamu?” Badwi itu berkata, “Ya, semoga Allah membalas kebaikan Tuan, keluarga dan kerabat.”

    Keesokan harinya, Rasulullah S.A.W. bersabda kepada para sahabat, “Nah, kalau pada waktu Badwi itu berkata yang sekasar engkau dengar, kemudian engkau tidak bersabar lalu membunuhnya. Maka, ia pasti masuk neraka. Namun, karena saya bina dengan baik, maka ia selamat.”

    Beberapa hari setelah itu, si Badwi mau diperintah untuk melaksanakan tugas penting yang berat sekalipun. Dia juga turut dalam medan jihad dan melaksanakan tugasnya dengan taat dan ridha.

    Rasulullah S.A.W. memberikan contoh kepada kita tentang berlapang dada. Ia tidak panik menghadapi kekasaran seorang Badwi yang memang demikianlah karakternya. Kalau pun saat itu, dilakukan hukuman terhadap si Badwi, tentu hal itu bukan kezhaliman. Namun, Rasulullah S.A.W. tidak berbuat demikian. Beliau tetap sabar menghadapinya dan memberikan sikap yang ramah dan lemah lembut. Pada saat itulah, beliau S.A.W. ingin menunjukkan pada kita bahwa kesabaran dan lapang dada lebih tinggi nilainya daripada harta benda apa pun. Harta, saat itu, ibarat sampah yang bertumpuk yang dipakai untuk suguhan unta yang ngamuk. Tentu saja, unta yang telah mendapatkan kebutuhannya akan dengan mudah dapat dijinakkan dan bisa digunakan untuk menempuh perjalan jauh.

    Adakalanya, Rasulullah S.A.W. juga marah. Namun, marahnya tidak melampaui batas kemuliaan. Itu pun ia lakukan bukan karena masalah pribadi. Melainkan, karena kehormatan agama Allah.

    Rasulullah S.A.W. bersabda, “Memaki-maki orang muslim adalah fasik (dosa), dan memeranginya adalah kufur (keluar dari Islam).” (HR. Bukhari)

    Sabdanya pula, “Bukanlah seorang mukmin yang suka mencela, pengutuk, kata-katanya keji dan kotor.” (HR. Turmudzi).

    Seorang yang mampu mengendalikan nafsu ketika marahnya berontak, dan mampu menahan diri di kala mendapat ejekan. Maka, orang seperti inilah yang diharapkan menghasilkan kebaikan dan kebajikan bagi dirinya maupun masyarakatnya.

    Seorang hakim yang tidak mampu menahan marahnya, tidak akan mampu memutuskan perkara dengan adil. Dan, seorang pemimpin yang mudah tersulut nafsu marahnya, tidak akan mampu memberikan jalan keluar bagi rakyatnya. Justru, ia akan senantiasa memunculkan permusuhan di masyarakatnya. Begitu pun pasangan suami-isteri yang tidak memiliki ketenangan jiwa. Ia tidak akan mampu melayarkan laju bahtera hidupnya. Karena, masing-masing tidak mampu memejamkan mata atas kesalahan kecil pasangannya.

    Bagi orang yang imannya telah tumbuh dengan suburnya dalam dadanya. Maka, tumbuh pula sifat-sifat jiwa besarnya. Subur pula rasa kesadarannya dan kemurahan hatinya. Kesabarannya pun bertambah besar dalam menghadapi sesuatu masalah. Tidak mudah memarahi seseorang yang bersalah dengan begitu saja, sekalipun telah menjadi haknya.

    Orang yang demikian, akan mampu menguasai dirinya, menahan amarahnya, mengekang lidahnya dari pembicaraan yang tidak patut. Wajib baginya, melatih diri dengan cara membersihkan dirinya dari penyakit-penyakit hati. Seperti, ujub dan takabur, riya, sum’ah, dusta, pengadu domba dan lain sebagainya. Dan menyertainya dengan amalan-amalan ibadah dan ketaatan kepada Allah, demi meningkatkan derajat yang tinggi di sisi Allah S.W.T.

    Dari Abdullah bin Shamit, Rasulullah S.A.W. bersabda, “Apakah tiada lebih baik saya beritahukan tentang sesuatu yang dengannya Allah meninggikan gedung-gedung dan mengangkat derajat seseorang?” Para sahabat menjawab, “Baik, ya Rasulullah.” Rasulullah saw bersabda, “Berlapang dadalah kamu terhadap orang yang membodohi kamu. Engkau suka memberi maaf kepada orang yang telah menganiaya kamu. Engkau suka memberi kepada orang yang tidak pernah memberikan sesuatu kepadamu. Dan, engkau mau bersilaturahim kepada orang yang telah memutuskan hubungan dengan engkau.” (HR. Thabrani).

    Sabdanya pula, “Bahwasanya seorang hamba apabila mengutuk kepada sesuatu, naiklah kutukan itu ke langit. Lalu, dikunci pintu langit-langit itu buatnya. Kemudian, turunlah kutukan itu ke bumi, lalu dikunci pula pintu-pintu bumi itu baginya. Kemudian, berkeliaranlah ia kekanan dan kekiri. Maka, apabila tidak mendapat tempat baru, ia pergi kepada yang dilaknat. Bila layak dilaknat (artinya kalau benar ia berhak mendapat laknat), tetapi apabila tidak layak, maka kembali kepada orang yang mengutuk (kembali ke alamat si pengutuk).” (HR. Abu Dawud).

    ***

    Oleh: Edi S. Kurniawan, Muhammad Haryadi

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 25 October 2011 Permalink | Balas  

    Di Balik Kelembutan Suaramu 

    Di Balik Kelembutan Suaramu

    Banyak wanita di jaman ini yang merelakan dirinya menjadi komoditi. Tidak hanya wajah dan tubuhnya yang menjadi barang dagangan, suaranya pun bisa mendatangkan banyak rupiah

    Ukhti Muslimah…. Suara empuk dan tawa canda seorang wanita terlalu sering kita dengarkan di sekitar kita, baik secara langsung atau lewat radio dan televisi. Terlebih lagi bila wanita itu berprofesi sebagai penyiar atau MC karena memang termasuk modal utamanya adalah suara yang indah dan merdu.

    Begitu mudahnya wanita tersebut memperdengarkan suaranya yang bak buluh perindu, tanpa ada rasa takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Padahal Dia telah memperingatkan: “Maka janganlah kalian merendahkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginan jeleklah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang ma‘ruf.” (Al Ahzab: 32)

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga telah bersabda : “Wanita itu adalah aurat, apabila ia keluar rumah maka syaitan menghias-hiasinya (membuat indah dalam pandangan laki-laki sehingga ia terfitnah)”. (HR. At Tirmidzi, dishahihkan dengan syarat Muslim oleh Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi`i dalam Ash Shahihul Musnad, 2/36).

    Suara merupakan bagian dari wanita sehingga suara termasuk aurat, demikian fatwa yang disampaikan Asy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan dan Asy Syaikh Abdullah bin Abdirrahman Al Jibrin sebagaimana dinukil dalam kitab Fatawa Al Mar’ah Al Muslimah (1/ 431, 434)

    Para wanita diwajibkan untuk menjauhi setiap perkara yang dapat mengantarkan kepada fitnah. Apabila ia memperdengarkan suaranya, kemudian dengan itu terfitnahlah kaum lelaki, maka seharusnya ia menghentikan ucapannya. Oleh karena itu para wanita diperintahkan untuk tidak mengeraskan suaranya ketika bertalbiyah. Ketika mengingatkan imam yang keliru dalam shalatnya, wanita tidak boleh memperdengarkan suaranya dengan ber-tashbih sebagaimana laki-laki, tapi cukup menepukkan tangannya, sebagaimana tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Ucapan tashbih itu untuk laki-laki sedang tepuk tangan untuk wanita”. (HR. Al Bukhari no. 1203 dan Muslim no. 422)

    Demikian pula dalam masalah adzan, tidak disyariatkan bagi wanita untuk mengumandangkannya lewat menara-menara masjid karena hal itu melazimkan suara yang keras.

    Ketika terpaksa harus berbicara dengan laki-laki dikarenakan ada kebutuhan, wanita dilarang melembutkan dan memerdukan suaranya sebagaimana larangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Al-Ahzab di atas. Dia dibolehkan hanya berbicara seperlunya, tanpa berpanjang kata melebihi keperluan semula.

    Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah u berkata dalam tafsirnya: “Makna dari ayat ini (Al-Ahzab: 32), ia berbicara dengan laki-laki yang bukan mahramnya tanpa melembutkan suaranya, yakni tidak seperti suaranya ketika berbicara dengan suaminya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/491).

    Maksud penyakit dalam ayat ini adalah syahwat (nafsu/keinginan) berzina yang kadang-kadang bertambah kuat dalam hati ketika mendengar suara lembut seorang wanita atau ketika mendengar ucapan sepasang suami istri, atau yang semisalnya.

    Suara wanita di radio dan telepon

    Asy Syaikh Muhammad Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: “Bolehkah seorang wanita berprofesi sebagai penyiar radio, di mana ia memperdengarkan suaranya kepada laki-laki yang bukan mahramnya? Apakah seorang laki-laki boleh berbicara dengan wanita melalui pesawat telepon atau secara langsung?” Asy Syaikh menjawab: “Apabila seorang wanita bekerja di stasiun radio maka dapat dipastikan ia akan ikhtilath (bercampur baur) dengan kaum lelaki. Bahkan seringkali ia berdua saja dengan seorang laki-laki di ruang siaran. Yang seperti ini tidak diragukan lagi kemungkaran dan keharamannya. Telah jelas sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Jangan sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita.”

    Ikhtilath yang seperti ini selamanya tidak akan dihalalkan. Terlebih lagi seorang wanita yang bekerja sebagai penyiar radio tentunya berusaha untuk menghiasi suaranya agar dapat memikat dan menarik. Yang demikian inipun merupakan bencana yang wajib dihindari disebabkan akan timbulnya fitnah.

    Adapun mendengar suara wanita melalui telepon maka hal tersebut tidaklah mengapa dan tidak dilarang untuk berbicara dengan wanita melalui telepon. Yang tidak diperbolehkan adalah berlezat-lezat (menikmati) suara tersebut atau terus-menerus berbincang-bincang dengan wanita karena ingin menikmati suaranya. Seperti inilah yang diharamkan. Namun bila hanya sekedar memberi kabar atau meminta fatwa mengenai suatu permasalahan tertentu, atau tujuan lain yang semisalnya, maka hal ini diperbolehkan. Akan tetapi apabila timbul sikap-sikap lunak dan lemah-lembut, maka bergeser menjadi haram. Walaupun seandainya tidak terjadi yang demikian ini, namun tanpa sepengetahuan si wanita, laki-laki yang mengajaknya bicara ternyata menikmati dan berlezat-lezat dengan suaranya, maka haram bagi laki-laki tersebut dan wanita itu tidak boleh melanjutkan pembicaraannya seketika ia menyadarinya.

    Sedangkan mengajak bicara wanita secara langsung maka tidak menjadi masalah, dengan syarat wanita tersebut berhijab dan aman dari fitnah. Misalnya wanita yang diajak bicara itu adalah orang yang telah dikenalnya, seperti istri saudara laki-lakinya (kakak/adik ipar), atau anak perempuan pamannya dan yang semisal mereka.” (Fatawa Al Mar‘ah Al Muslimah, 1/433-434).

    Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman Al Jibrin menambahkan dalam fatwanya tentang permasalahan ini: “Wajib bagi wanita untuk bicara seperlunya melalui telepon, sama saja apakah dia yang memulai menelepon atau ia hanya menjawab orang yang menghubunginya lewat telepon, karena ia dalam keadaan terpaksa dan ada faidah yang didapatkan bagi kedua belah pihak di mana keperluan bisa tersampaikan padahal tempat saling berjauhan dan terjaga dari pembicaraan yang mendalam di luar kebutuhan dan terjaga dari perkara yang menyebabkan bergeloranya syahwat salah satu dari kedua belah pihak. Namun yang lebih utama adalah meninggalkan hal tersebut kecuali pada keadaan yang sangat mendesak.” (Fatawa Al Mar`ah, 1/435)

    Laki-laki berbicara lewat telepon dengan wanita yang telah dipinangnya

    Kenyataan yang ada di sekitar kita, bila seorang laki-laki telah meminang seorang wanita, keduanya menilai hubungan mereka telah teranggap setengah resmi sehingga apa yang sebelumnya tidak diperkenankan sekarang dibolehkan. Contoh yang paling mudah adalah masalah pembicaraan antara keduanya secara langsung ataupun lewat telepon. Si wanita memperdengarkan suaranya dengan mendayu-dayu karena menganggap sedang berbincang dengan calon suaminya, orang yang bakal menjadi kekasih hatinya. Pihak laki-laki juga demikian, menyapa dengan penuh kelembutan untuk menunjukkan dia adalah seorang laki-laki yang penuh kasih sayang. Tapi sebenarnya bagaimana timbangan syariat dalam permasalahan ini?

    Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan menjawab:” Tidak apa-apa seorang laki-laki berbicara lewat telepon dengan wanita yang telah dipinangnya (di-khitbah-nya), apabila memang pinangannya (khitbah) telah diterima. Dan pembicaraan itu dilakukan untuk saling memberikan pengertian, sebatas kebutuhan dan tidak ada fitnah di dalamnya. Namun bila keperluan yang ada disampaikan lewat wali si wanita maka itu lebih baik dan lebih jauh dari fitnah. Adapun pembicaraan antara laki-laki dan wanita, antara pemuda dan pemudi, sekedar perkenalan (ta‘aruf) –kata mereka- sementara belum ada khithbah di antara mereka, maka ini perbuatan yang mungkar dan haram, mengajak kepada fitnah dan menjerumuskan kepada perbuatan keji. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman: “Maka janganlah kalian merendahkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginan jeleklah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang ma‘ruf.” (Al-Ahzab: 32) (Fatawa Al Mar‘ah, 2/605)

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Raden Prabu Kian Santang 7:17 am on 25 Oktober 2011 Permalink

      Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh (السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ)

      Smg Antum mendapat pahala dari Allah.Swt, ats tautan-tautan yg sangat bermanfaat bagi ana juga bwt smua orang, ana mhn ijin share/mhn redhonya utk disebar luaskan,hingga bermanfaat bagi smua orang di seluruh jagad raya ini bagi Umat Islam,dan bagi yang non Muslim smg dibukakan Hidayah oleh Allah.Swt sehingga masuk Islam, Aamiin Yaa Robbal Allaamiin…212x

      الْحَمْدُ لِلَّھِ الَّذِيْ عَافَانِيْ مِمَّا ابْتَلاَكَ بِھِ وَفَضَّلَنِيْ عَلَى كَثِیْرٍ
      مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِیْلاً

      Semoga di jauhkan dari segala macam Cobaan Amien…212x

  • erva kurniawan 1:32 am on 24 October 2011 Permalink | Balas  

    Berdoa Dengan Mengangkat Tangan 

    Berdoa Dengan Mengangkat Tangan

    Oleh Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih

    Mengangkat tangan dalam berdoa merupakan etika yang paling agung dan memiliki keutamaan mulia serta penyebab terkabulnya doa.

    Dari Salman Al-Farisi Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    Artinya : “Sesungguhnya Rabb kalian Maha Hidup lagi Maha Mulia, Dia malu dari hamba-Nya yang mengangkat kedua tangannya (meminta-Nya) dikembalikan dalam keadaan kosong tidak mendapat apa-apa”. [Sunan Abu Daud, kitab Shalat bab Doa 2/78 No. 1488, Sunan At-Tirmidzi, bab Doa 13/68. Musnad Ahmad 5/438. Dishahihkan Al-Albani, Shahih Sunan Abu Daud].

    Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa lafazh hayyun berasal dari lafazh haya’ yang bermakna malu. Allah memiliki sifat malu yang sesuai dengan keagungan dzat-Nya kita beriman tanpa menggambarkan sifat tersebut. Lafazh kariim yang berarti Maha Memberi tanpa diminta dan dihitung atau Maha Pemurah lagi Maha Memberi yang tidak pernah habis pemberian-Nya, Dia dzat yang Maha Pemurah secara mutlaq. Lafazh an yarudahuma shifron artinya kosong tanpa ada sesuatu. (Mur’atul Mafatih 7/363).

    Dari Anas Radhiyalahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berdoa dengan mengangkat tangan kecuali dalam shalat Istisqa. [Shahih Al-Bukhari, bab Istisqa’ 2/12. Shahih Muslim, kitab Istisqa’ 3/24].

    Imam Hafizh Ibnu Hajar berkata bahwa hadits tersebut tidak menafikan berdoa dengan mengangkat tangan akan tetapi menafikan sifat dan cara tertentu dalam mengangkat tangan pada saat berdoa, artinya mengangkat tangan dalam doa istisqa’ memiliki cara tersendiri mungkin dengan cara mengangkat tangan tinggi-tinggi tidak seperti pada saat doa-doa yang lain yang hanya mengangkat kedua tangan sejajar dengan wajah saja.

    Berdoa dengan mengangkat tangan hingga sejajar dengan kedua pundak tidaklah bertentangan dengan hadits di atas sebab beliau pernah berdoa mengangkat tangan hingga kelihatan putih ketiaknya, maka boleh mengangkat tangan dalam berdoa hingga kelihatan ketiaknya, akan tetapi di dalam shalat istisqa dianjurkan lebih dari itu atau mungkin pada shalat istisqa kedua telapak tangan diarahkan ke bumi dan dalam doa selainnya kedua telapak tangan diarahkan ke atas langit.

    Imam Al-Mundziri mengatakan bahwa jika seandainya tidak mungkin menyatukan hadits-hadits diatas, maka pendapat yang menyatakan berdoa dengan mengangkat tangan lebih mendekati kebenaran sebab banyak sekali hadits-hadits yang menetapkan mengangkat tangan dalam berdoa, seperti yang telah disebut Imam Al- Mundziri dan Imam An-Nawawi dalam Syarah Muhadzdzab dan Imam Al-Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad.

    Adapun hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari ‘Amarah bin Ruwaibah bahwa dia melihat Bisyr bin Marwan mengangkat tangan dalam berdoa, lalu mengingkarinya kemudian berkata : “Saya melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lebih dari ini sambil mengisyaratkan jari telunjuknya. Imam At-Thabari meriwayatkan dari sebagian salaf bahwa disunnahkan berdoa dengan mengisyaratkan jari telunjuk.

    Akan tetapi hadits di atas terjadi pada saat khutbah Jum’at dan bukan berarti hadits tersebut menafikan hadits-hadits yang menganjurkan mengangkat tangan dalam berdoa. [Fathul Bari 11/146-147].

    Akan tetapi dalam masalah ini terjadi kekeliruan, sebagian orang ada yang berlebihan dan tidak pernah sama sekali mau meninggalkan mengangkat tangan, dan sebagian yang lainnya tidak pernah sama sekali mengangkat tangan kecuali waktu-waktu khusus saja, serta sebagian yang lain di antara keduanya, artinya mengangkat tangan pada waktu berdoa yang memang dianjurkan dan tidak mengangkat tangan pada waktu berdoa yang tidak ada anjurannya. Imam Al-‘Izz bin Abdussalam berkata bahwa tidak dianjurkan mengangkat tangan pada waktu membaca doa iftitah atau doa diantara dua sujud.

    Tidak ada satu haditspun yang shahih yang membenarkan pendapat tersebut.

    Begitupula tidak disunahkan mengangkat tangan tatkala membaca doa tasyahud dan tidak dianjurkan berdoa mengangkat tangan kecuali waktu-waktu yang dianjurkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengangkat tangan. [Fatawa Al-Izz bin Abdussalam hal. 47].

    Syaikh Bin Bazz berkata bahwa dianjurkan berdoa mengangkat tangan karena demikian itu menjadi penyebab terkabulnya doa, berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Artinya : “Sesungguhnya Tuhan kalian Maha Hidup lagi Maha Mulia, Dia malu kepada hamba-Nya yang mengankat kedua tangannya (meminta-Nya), Dia kembalikan dalam keadaan kosong tidak mendapat apa-apa”. [Hadits Riwayat Abu Dawud].

    Dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Artinya : Sesungguhnya Allah Maha Baik tidak menerima kecuali yang baik dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman seperti memerintahkan kepada para rasul, Allah berfirman.

    “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah”. [Al-Baqarah : 172].

    Dan firman Allah : “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. [Al-Mukminuun : 51]

    Kemudian beliau menyebutkan seseorang yang lusuh mengangkat kedua tangannya ke arah langit berdoa : ‘Ya Rabi, ya Rabbi tetapi makanannya haram, minumannya haram dan pakaiannya haram serta darah dagingnya tumbuh dari yang haram, bagaimana doanya bisa dikabulkan?” [Shahih Muslim, kitab Zakat 3/85-86]

    Tidak dianjurkan berdoa mengangkat tangan bila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengangkat kedua tangannya pada waktu berdoa seperti berdoa pada waktu sehabis salam dari shalat, membaca doa di antara dua sujud dan membaca doa sebelum salam dari shalat serta pada waktu berdoa dalam khutbah Jum’at dan Idul fitri, tidak pernah ada hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangan pada waktu waktu tersebut.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah panutan kita dalam segala hal, apa yang ditinggalkan dan apa yang dilaksanakan semuanya suatu yang terbaik buat umatnya, akan tetapi jika dalam khutbah Jum’at khatib membaca doa istisqa’, maka dianjurkan mengangkat tangan dalam berdoa sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah Shallallah ‘alaihi wa sallam. [Shahih Al- Bukhari, bab Istisqa’, bab Jamaah Mengangkat Tangan Bersama Imam 2/21].

    Dianjurkan mengangkat tangan dalam berdoa setelah shalat sunnah tetapi lebih baik jangan rutin melakukannya karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak rutin melakukan perbuatan tersebut dan seandainya demikian, maka pasti kita menemukan riwayat dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terlebih para sahabat selalu menyampaikan segala tindakan dan ucapan beliau baik dalam keadaan mukim atau safar.

    Adapun hadits yang berbunyi : “Artinya : Shalat adalah ibadah yang membutuhkan khusyu’ dan berserah diri, maka angkatlah kedua tanganmu dan ucapkanlah : Ya Rabbi, ya Rabbi”. [Hadits Dhaif, Fatawa Muhimmmah hal. 47-49].

    Dan tidak dianjurkan mengangkat tangan dalam membaca doa thawaf sebab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkali-kali melakukan thawaf tidak ada satu riwayatpun yang menjelaskan bahwa beliau berdoa mengangkat tangan pada saat thawaf.

    Sesuatu yang terbaik adalah mengikuti ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sesuatu yang terburuk adalah mengikuti perbuatan bid’ah.

    Cara mengangkat tangan dalam berdoa. Ibnu Abbas berpendapat bahwa cara mengangkat tangan dalam berdoa adalah kedua tangan diangkat hingga sejajar dengan kedua pundak, dan beristighfar berisyarat dengan satu jari, adapun ibtihal (istighasah) dengan mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi. [Sunan Abu Daud, bab Witir, bab Doa 2/79 No. 14950. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud].

    Imam Al-Qasim bin Muhammad berkata bahwa saya melihat Ibnu Umar berdoa di Al-Qashi dengan mengangkat tangannya hingga sejajar dengan kedua pundaknya dan kedua telapak tangannya dihadapkan ke arah wajahnya. [Dishahihkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 11/147. Dinisbatkan kepada AL-Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad tetapi tidak ada].

    Ketahuilah Bahwa Doa Istisqa’ Memiliki Dua Cara

    Pertama. Mengangkat kedua tangan dan mengarahkan kedua telapak tangan ke wajah, berdasarkan dari Umair Maula Abi Al-Lahm bahwa dia melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa istisqa di Ahjari Zait dekat dengan Zaura’ sambil berdiri mengangkat kedua telapak tangannya tidak melebihi di atas kepalanya dan mengarahkan kedua telapak tangan ke arah wajahnya. [Sunan Abu Daud, kitab Shalat bab Raf’ul Yadain fil Istisqa’ 1/303 No. 1168. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud 1/226 No. 1035].

    Kedua. Mengangkat tangan tinggi-tinggi dan mengarahkan luar telapak tangan ke arah langit dan dalam telapak tangan ke arah bumi. Dari Anas bahwa beliau melihat

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa saat istisqa dengan mengangkat tangan tinggi-tinggi dan mengarahkan telapak tangan sebelah dalam ke arah bumi hingga terlihat putih ketiaknya. [Sunan Abu Daud, kitab Shalat bab Raf’ul Yadain fil Istisqa’ 1/303 No. 1168. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud 1/226 No. 1035].

    ***

    [Disalin dari buku Jahalatun nas fid du’a, edisi Indonesia Kesalahan Dalam Berdoa oleh Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih, hal 61-69 terbitan Darul Haq, penerjemah Zaenal Abidin Lc.]

     
    • cision 12:48 am on 25 Maret 2012 Permalink

      Assalamualaikum,
      jadi bagaimana kiranya adab yg baik apabila kita akan berdoa selepas menjalankan sholat wajib?
      dan bagaimana pula adab kita jika ingin berdoa selepas sholat sunat seperti dhuha dan tahajud?
      mohon penjelasan nya ya?
      wassalam.

  • erva kurniawan 1:14 am on 23 October 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Onta yang Menangis 

    Onta yang Menangis

    Pada suatu hari, Rasululloh Shollallahu ‘alaihi wa Sallam masuk ke kebun seorang shohabat Anshor. Di dalam kebun itu ada seekor onta. Ketika melihat Rasululloh Shollallahu ‘alahi wa Sallam, onta itu merintih dan mencucurkan air mata. Rasululloh Shollallahu ‘alaihi wa Sallam mendatangi onta itu. Beliau mengusap punggung dan kedua telinga onta yang menangis itu. Maka onta itupun diam. Rasululloh Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bertanya: “Siapakah pemilik onta ini? Milik siapa onta ini?”

    Maka datanglah seorang pemuda Anshor seraya berkata, “Onta ini milikku wahai Rasululloh!” Beliau bersabda, yang artinya: “Apakah kamu tidak takut kepada Alloh, atas hewan yang Alloh kuasakan padamu? Sesungguhnya onta ini mengadu kepadaku, bahwa engkau telah membuatnya lapar dan kelelahan.”

    Demikianlah nasehat Rasululloh Shollallahu ‘alaihi wa Sallam agar kita bersikap kasih dan sayang terhadap hewan peliharaan. Jangan terlalu membebaninya sehingga kelelahan apalagi sampai kelaparan.

    ***

    (Sumber Rujukan: Riyadhus Sholihin hadits no. 967)

     
    • awaludin 6:11 pm on 26 Oktober 2011 Permalink

      thanks utk sharingnya. ijin copast ya di blog saya.

    • Sri Nurmi Atminarsih 11:55 am on 30 Oktober 2011 Permalink

      Onta saja bisa menangis karena ditelantarkan haknya oleh pemiliknya.Wahai para suami yang mampu tapi tidak mau mencarikan nafkah buat keluarganya,takutlah akan Alloh jika keluargamu menuntut haknya,apalagi sampai menangis kepada Alloh karena ia tidak bisa lagi membantu suaminya mencarikan nafkah buat keluarganya karena dirinya sudah uzur.

    • annisa 9:50 am on 4 November 2011 Permalink

      Subhanallah.. onta atau binatang lainnya sama sperti manusia.., hanya saja kita tak mengetahui bahasa mereka..

    • ariesta 8:24 pm on 4 November 2011 Permalink

      subhanallah.. ini sangat bermanfaat bagi saya dan juga bisa saya share kembali pada adik dan teman saya.
      terimakasih banyak :)

  • erva kurniawan 1:59 am on 22 October 2011 Permalink | Balas  

    Jangan Marah 

    Jangan Marah

    Assalamu’alaikum wr wb,

    Sering kita marah-marah padahal Nabi sangat melarang hal ini. Adakalanya kita berdalih dengan alasan kita melakukannya karena agama. Padahal Allah mengutamakan kebaikan akhlak, bukan kekasaran:

    “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” [Ali Imran:159]

    Memang ada beberapa kondisi yang mewajibkan kita marah bahkan berperang mengangkat senjata terhadap orang-orang yang sangat zhalim tapi itu ada persyaratan khusus yang biasanya dibahas dalam bab lain khususnya yang berkaitan dengan jihad. Di sini kita akan mempelajari tentang marah.

    Abdullah bin Umar r.a. mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, “Orang Islam itu adalah orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya; dan orang yang berhijrah (muhajir) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” [HR Bukhari]

    Seorang mukmin bukanlah pengumpat, pengutuk, berkata keji atau berkata busuk. (HR. Bukhari dan Al Hakim)

    Dari hadits di atas jelaslah seorang yang pemarah bukanlah orang Islam dan juga bukan orang beriman karena orang-orang takut mendekat dan kena marah olehnya.

    Abu Musa r.a. berkata, “Mereka (para sahabat) bertanya, Wahai Rasulullah, Islam manakah yang lebih utama?’ Beliau menjawab, ‘Orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya.” [HR Bukhari]

    Ketika marah, kita harus bisa menahan diri.

    Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Orang kuat itu bukanlah orang yang menang bergulat, tetapi orang kuat ialah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah.” Muttafaq Alaihi.

    Orang yang suka marah/zhalim pada orang lain niscaya akan merasa kegelapan pada hari kiamat. Ketika listrik mati di malam hari dan gelap tak ada alat penerang kita tidak suka hal itu. Nah kegelapan hari kiamat jauh lebih buruk dari hal itu dan lebih lama: Dari Jabir Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Jauhilah kedholiman karena kedholiman ialah kegelapan pada hari kiamat, dan jauhilah kikir karena ia telah membinasakan orang sebelummu.” Riwayat Muslim.

    Ketika seseorang minta nasehat, Nabi menjawab “Jangan marah” berulangkali: Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa ada seseorang berkata: Wahai Rasulullah, berilah aku nasehat. Beliau bersabda: “Jangan marah.” Lalu orang itu mengulangi beberapa kali, dan beliau bersabda: “Jangan marah.” Riwayat Bukhari.

    Orang yang paling baik akhlaknya yang dekat dengan Nabi. Bukan orang yang pemarah: Paling dekat dengan aku kedudukannya pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kamu ialah yang paling baik terhadap keluarganya. (HR. Ar-Ridha)

    Orang yang marah karena diingatkan untuk takwa kepada Allah berdosa besar: Cukup berdosa orang yang jika diingatkan agar bertaqwa kepada Allah, dia marah. (HR. Ath-Thabrani)

    Salah satu penyebab yang paling banyak membuat orang masuk neraka adalah mulut yang suka marah. Meski dia rajin sholat, puasa, zakat dan haji tapi jika suka marah tetap masuk neraka: Rasulullah Saw ditanya tentang sebab-sebab paling banyak yang memasukkan manusia ke surga. Beliau menjawab, “Ketakwaan kepada Allah dan akhlak yang baik.” Beliau ditanya lagi, “Apa penyebab banyaknya manusia masuk neraka?” Rasulullah Saw menjawab, “Mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

    Kebanyakan dosa anak Adam karena lidahnya. (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)

    Tahukah kamu apa ghibah itu? Para sahabat menjawab, “Allah dan rasulNya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Menyebut-nyebut sesuatu tentang saudaramu hal-hal yang dia tidak sukai.”(HR. Muslim)

    Sulaiman bin Shurad ra., ia berkata: Dua orang pemuda saling mencaci di hadapan Rasulullah saw. lalu mulailah mata salah seorang dari mereka memerah dan urat lehernya membesar. Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya aku tahu suatu kalimat yang apabila diucapkan, maka akan hilanglah kemarahan yang didapati yaitu “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”. Lelaki itu berkata: Apakah engkau menyangka aku orang gila?. (Shahih Muslim No.4725)

    Sering orang marah kepada pembantunya / bawahannya karena dia merasa lebih tinggi sementara pembantunya / bawahannya lebih rendah dan selalu takut kepadanya. Padahal menurut Anas seorang pembantu Nabi, selama 10 tahun dia bekerja dengan Nabi, tak pernah sekalipun Nabi memarahinya meski dia ada salah.

    Seorang sahabat berkata kepada Rasulullah Saw, “Pelayan (pembantu rumah tangga) saya berbuat keburukan dan kezaliman.” Nabi Saw menjawab, “Kamu harus memaafkannya setiap hari tujuh puluh kali.” (HR. Al-Baihaqi)

    Biasanya orang marah terhadap pembantu / bawahan karena pekerjaan “kurang/tidak beres”. Padahal Nabi memerintahkan untuk memberi pekerjaan hanya sesuai kemampuan mereka dan jika perlu kita harus membantu mereka jika mereka kesulitan. Allah memberi ganjaran pahala untuk itu:

    Apa yang kamu ringankan dari pekerjaan pembantumu bagimu pahala di neraca timbanganmu. (HR. Ibnu Hibban)

    Bagi seorang budak jaminan pangan dan sandangnya. Dia tidak boleh dipaksa melakukan pekerjaan yang tidak mampu dilakukannya. (HR. Muslim)

    Pelayan-pelayanmu adalah saudara-saudaramu. Allah menjadikan mereka bernaung di bawah kekuasaanmu. Barangsiapa saudaranya yang berada di bawah naungan kekuasaannya hendaklah mereka diberi makan serupa dengan yang dia makan dan diberi pakaian serupa dengan yang dia pakai. Janganlah membebani mereka dengan pekerjaan yang tidak dapat mereka tunaikan. Jika kamu memaksakan suatu pekerjaan hendaklah kamu ikut membantu mereka. (HR. Bukhari)

    Allah melarang kita untuk banyak bicara. Apalagi banyak marah. Karena akan menyebabkan kita masuk neraka: Sesungguhnya Allah melarang kamu banyak omong, yang diomongkan, dan menyia-nyiakan harta serta banyak bertanya. (HR. Asysyihaab)

    Barangsiapa banyak bicara maka banyak pula salahnya dan barangsiapa banyak salah maka banyak pula dosanya, dan barangsiapa banyak dosanya maka api neraka lebih utama baginya. (HR. Ath-Thabrani)

    Jika marah, diamlah. Kebanyakan penyebab retaknya rumah tangga / keluarga adalah ketika suami/istri marah, mereka tidak diam. Justru melontarkan perkataan yang menyakitkan hati pasangannya. Padahal dengan diam pun pasangan kita tahu kita sedang marah tanpa membuat dia sakit hati karena perkataan kita: Bila seorang dari kamu sedang marah hendaklah diam. (HR. Ahmad)

    Jika kita marah, maka pahala kita akan diberikan kepada orang yang kita marahi. Jika pahala kita habis, maka dosa orang yang kita marahi dipindahkan Allah ke kita. Inilah orang yang muflis/bangkrut di akhirat. Dia mengira akan masuk surga karena rajin beribadah, tapi dia juga rajin menzhalimi/memarahi orang lain hingga akhirnya masuk neraka: Apabila ada orang yang mencaci-maki kamu tentang apa yang dia ketahui pada dirimu, janganlah kamu mencaci-maki dia tentang apa yang kamu ketahui pada dirinya karena pahalanya untuk kamu dan kecelakaan untuk dia. (HR. Ad-Dailami)

    Tahukah kamu siapa orang yang bangkrut? Para sahabat menjawab, “Allah dan rasulNya lebih mengetahui.” Nabi Saw lalu berkata, ” Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku ialah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan puasa, shalat dan zakat, tetapi dia pernah mencaci-maki orang ini dan menuduh orang itu berbuat zina. Dia pernah memakan harta orang itu. Di akhirat orang-orang yang disakitinya menuntut dan mengambil pahalanya sebagai tebusan. Bila pahalanya habis sebelum selesai ganti rugi atas dosa-dosanya maka dosa orang-orang yang menuntut itu diletakkan di atas bahunya lalu dia dihempaskan ke api neraka.” (HR. Muslim)

    Jika kita berbuat salah kepada Allah, begitu kita tobat dan minta ampun kepada Allah, niscaya Allah memaafkan. Tetapi jika kita berbuat salah terhadap manusia, misalnya memarahinya, dosa kita tidak akan diampuni kecuali orang yang kita meminta maaf kepada orang yang kita zhalimi.

    Ada satu kisah seorang ayah menyuruh anaknya yang pemarah untuk memaku beberapa paku ke pagar. Meski paku-paku itu dicabut, namun lubang bekas paku itu tetap ada. Begitulah jika kita memarahi orang. Meski kita sudah minta maaf, namun bekas luka di hati orang yang kita marahi akan tetap ada.

    Kita harus yakin bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar. Sehingga Allah mengetahui jika kita sedang menzhalimi seseorang. Kita juga harus yakin bahwa segala ucapan dan tindakan kita selalu dicatat oleh dua malaikat, yaitu Roqib dan ‘Atid dan akan dihitung di hari Kiamat nanti. Oleh sebab itu hindarilah segala ucapan dan perbuatan yang buruk.

    Jangan mencaci/menghina orang lain dengan sebutan yang anda sendiri tidak suka:

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri (maksudnya saudaramu) dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan…” [Al Hujuraat:11]

    Tips agar tidak marah:

    • Baca ta’awudz (a’udzubillahi minasy syaithoonir rojiim) sebab setan membisikkan manusia untuk berbuat dosa termasuk marah. Berlindunglah terhadap Allah.
    • Bersabarlah. Tahan kemarahan anda
    • Diamlah
    • Jika anda berdiri, duduklah.
    • Jika masih marah, berwudlu-lah
    • Jika terpaksa bicara, beritahu cara yang benar. Misalnya: Kalau melakukan ini caranya begini sambil memperagakannya. Jangan panjang-panjang cukup 2x. Kalau kesalahan masih terulang, ulangi lagi nasehat tersebut. Hindari menggelari orang dengan sebutan yang anda sendiri tidak suka seperti bodoh, dan sebagainya.

    Wassalam

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Ita 7:48 pm on 22 Oktober 2011 Permalink

      Assalammualaikum.wr.wb
      saya butuh saran dan pendapat saudara..
      Jadi saya punya teman sekelas sekaligus sebangku, dia marah karena pada saat ulangn pelajaran (.,.) saya tidak mau berb0hong kepada guru, dia ingin menyelamatkan nilainya. Sebenarnya saya ingin bantuin dia, tapi saya jg kesel sama dia, dia terlalu banyak curang, giliran saya cuma ingin nyamain pr yang saya benar2 tidak tahu caranya. Dia beralasan dan bilang gua gak tau, terus ningggalin saya. Dia jg sering nyontekin jwban pr saya.. Yaudah deh saya tega gak n0longin dia untuk kali ini.. Karena itu, dia gak b0leh ikut ulangan, terus dia banting2 tas dan gak mau ng0m0ng bahkan ngeliat muka saya dia gak mau.. Trz dia pindah tempat duduk ningggalin saya sambil bikin status di fb

      apa yg harus saya lakukan? Saya jg terlanjur sakit,! Dia juga bilang ke gengnya (jmlah anggotanya hampir 1/4 kelas) buat musuhin saya… Mohon dibalas secepatnya, terimakasih

    • erva kurniawan 9:30 am on 23 Oktober 2011 Permalink

      Kalau menurut saya lebih baik saudari konsultasi dengan guru pengampu pelajaran tersebut, atau minimal dengan guru BP. Ceritakan apa adanya, jangan dikurangi dan dilebihkan karena pasti akan di kros cek dengan teman anda tersebut. Solusinya insya Allah akan ketemu setelah ada penengah antara anda dan teman anda yaitu Guru BP anda.
      Salam

  • erva kurniawan 1:39 am on 21 October 2011 Permalink | Balas  

    Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT 

    Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT

    1. Sholat wajib tepat waktu, selalu berdoa dan berdzikir kepada Allah Dengan sholat, berdo’a dan dzikir kepada Allah, Inya Allah hati menjadi tenang, damai dan makin dekat dengan-Nya

    2. Sholat tahajud Dengan sholat tahajud Insya Allah cenderung mendapatkan perasaan tenang. Hal ini dimungkinkan karena di tengah kesunyian malam didapatkan kondisi keheningan dan ketenangan suasana,yang tentu saja semua itu hanya dapat terjadi atas izin-Nya. Pada malam hari, diri ini tidak lagi disibukkan dengan urusan pekerjaan ataupun urusan-urusan duniawi lainnya sehingga dapat lebih khusyu saat menghadap kepada-Nya.

    3. Mengingat kematian yang dapat datang setiap saat Kematian sebenarnya sangat dekat, lebih dekat dari urat leher kita. Dan dapat secepat kilat menjemput.

    4. Membayangkan tidur di dalam kubur. Membayangkan tidur dalam kuburan yang sempit , gelap dan sunyi saat kita mati nanti. Semoga amal ibadah kita selama di dunia ini dapat menemani kita di alam kubur nanti.

    5. Membayangkan kedahsyatan siksa neraka. Azab Allah sangat pedih bagi yang tidak menjauhi larangan-Nya dan tidak mengikuti perintah-Nya. Ya Allah jauhkanlah kami dari siksa neraka-Mu, karena kami sangat takut akan siksa neraka-Mu.Ya Allah bimbinglah kami agar dapat memanfaatkan sisa hidup kami untuk selalu dijalan-Mu.……

    6. Membayangkan surga-Nya. Kesenangan duniawi hanya bersifat sementara, sangat singkat dibanding dengan kenikmatan di akhirat yang tidak dibatasi waktu.Semoga kita dapat selalu mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dan Insya Allah diizinkan untuk meraih Surga-Nya. Amin…..

    7a. Mengikuti tausyiah atau mengikuti pengajian secara rutin seminggu satu kali (minimal), dua kali atau lebih. Insya Allah… dengan mendengar tausyiah atau mengikuti pengajian, akan meningkatkan keimanan karena selalu diingatkan kembali utk selalu dekat kpd Allah SWT. Perlu dicatat, dikarenakan iman bisa turun atau naik, maka harus dijaga agar iman tetap stabil pada keadaan tinggi/ kuat dengan mengikuti tausyiah, pengajian dsb.

    7b. Bergaul dengan orang-orang sholeh. Seperti sudah dijelaskan di atas bahwa tingkat keimanan kita bisa turun atau naik, untuk itu perlu dijaga agar tingkat keimanan kita tetap tinggi. Berada pada lingkungan kondusif dimana orang-orangnya dekat dengan Allah SWT, Insya Allah juga akan membawa kita untuk makin dekat kepada-Nya.

    8. Membaca Al Qur’an dan maknanya (arti dari setiap ayat yang dibaca) Insya Allah dengan membaca Al Qur’an dan maknanya, akan menjadikan kita makin dekat dengan-Nya. 9. Menambah pengetahuan keislaman dengan berbagai cara, antara lain dengan : membaca buku, membaca di internet (tentang pengetahuan Islam, artikel Islam, tausyiah dsb), melihat video Islami yang dapat meningkatkan keimanan kita.

    10. Merasakan kebesaran Allah SWT, atas semua ciptaan-Nya seperti Alam Semesta (jagad raya yang tidak berbatas) beserta semua isinya.

    11. Merenung atas semua kejadian alam yang terjadi di sekeliling kita (tsunami, gunung meletus, gempa dsb). Dimana semua itu mungkin berupa ujian keimanan, peringatan, atau teguran bagi kita agar kita selalu ingat kepada-Nya/ mengikuti perintah-Nya. Bukan makin tersesat ke perbuatan maksiat atau perbuatan lain yang dilarang oleh-Nya. Ya Allah kami mohon bimbingan-Mu agar kami dapat selalu introspeksi atas semua kesalahan yang kami perbuat, meninggalkan larangan-Mu dan kembali ke jalan-Mu ya Allah.

    12. Mensyukuri begitu besar nikmat yang sudah diberikan oleh Allah SWT Jangan selalu melihat ke atas, lihatlah orang lain yang lebih susah. Begitu banyak nikmat yang diberikan oleh-Nya.Saat ini kita masih bisa bernafas, masih bisa makan, bisa minum, masih mempunyai keluarga, masih mempunyai apa yang kita miliki saat ini,masih mempunyai panca indera mata, hidung, telinga dan…masih bisa bernafas (masih diberi kesempatan hidup). Masih pantaskah kita tidak bersyukur dan tidak berterimakasih pada-Nya.

    ***

    Sumber : http://www.taushiyah-online.com

     
    • wahyono 11:08 pm on 21 Oktober 2011 Permalink

      Alhamdulillah …terimakasih atas artikel yg telah ditulis semoga lebih banyak lagi yg membaca ini…

    • nhia 6:24 pm on 24 Oktober 2011 Permalink

      terlalu sibuk mengurusi duniawi sehingga lupa atas janji kpd Allah …. Astagfirullah
      trm kasih atas artikelnya …

    • Sri Nurmi Atminarsih 11:47 am on 30 Oktober 2011 Permalink

      Hidup adalah untuk MENGABDI kepada Sang Khalik. Memahami kehendakNya, mematuhi perintahNya menjauhi laranganNya. Subhanalloh…teruslah menulis karena sangat manfaat buat jiwa2 manusia. Semoga mas Eva selalu dikaruniai kesehatan sehingga tetap bisa menulis. Amin

    • Fendy 10:20 pm on 4 Desember 2011 Permalink

      Sy ingin sekali mndirikan sholat 5 wktu,,,
      tp kynya susah sekali…
      Terkadang sholat , terkadang enggk…
      Beri saranya mas eva…
      Makasi

    • erva kurniawan 5:48 pm on 5 Desember 2011 Permalink

      Menurut saya pribadi, harus ditanamkan pada diri sendiri sejak usia dini bahwa sholat 5 waktu itu KEWAJIBAN.. artinya kalau mengerjakan mendapatkan pahala dan meninggalkan mendapat dosa. Ketika seseorang mendapatkan dosa akan mendapat siksaan di neraka. Menurut firman Allah bahwa kalau seseorang meninggalkan satu kali sholat wajib tanpa ada penyesalan dimasukkan ke neraka Saqar. Meninggalkan shalat berarti menghadapkan diri kepada hukuman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kemurkaan-Nya. Ia akan dihinakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala baik di dunia maupun di akhiratnya.
      Lain halnya kalau kita dengan hati ikhlas mengerjakan kewajiban sholat… pahala berbuah surga menanti kita kelak di akherat.. Insya Allah

  • erva kurniawan 1:03 am on 20 October 2011 Permalink | Balas  

    Sudahkah Kita Mendahulukan Allah? 

    Sudahkah Kita Mendahulukan Allah?

    Dalam kehidupan keseharian, sudah sejauh mana kita lebih mendahulukan hak-hak Allah SWT daripada urusan pribadi dunia kita? Ketika terbangun di waktu pagi, hal apa yang pertama kali kita kerjakan? Sudahkah kita bersyukur pada Allah yang telah kembali “menghidupkan” kita setelah semalaman dalam keadaan “mati”? Jujur, kebanyakan dari kita hanya terbawa lalai atau kadang malah merasa kecewa disaat terjaga karena keindahan mimpi yang kita jumpai sewaktu tidur langsung lenyap dalam sekejap. Rasa kecewa itu kadang terus terbawa dalam aktifitas di hari itu yang mengakibatkan rasa malas yang berlarut-larut. Padahal itu hanya sebuah mimpi, bunga penghias tidur dan bukan hal yang nyata terjadi.

    Di sela-sela waktu bekerja dan beraktifitas dunia, ketika waktu untuk sholat fardhu yang 5 telah masuk dan kesempatan kita untuk melaksanakannya terbuka luas serta diberikan kelapangan, sudahkah kita mendahulukannya? Sebuah bentuk kewajiban seorang muslim yang tentu sangat membutuhkan dan mengharapkan pertolongan juga petunjuk dari Allah SWT di dalam setiap keadaan, sebagai sebuah aktifitas beristirahat sejenak dari berbagai kesibukan dunia.

    Saat ini, sudahkah kita menjadikan sholat sebagai penyejuk mata dan hati, menjadikannya sebagai tempat bagi kita untuk mengadukan segala permasalahan duniawi yang senantiasa menghinggapi kepada Allah SWT, sebagaimana halnya Rasulullah SAW menjadikan sholat sebagai penyejuk mata.

    Kenyamanan dan ketenangan seperti apa yang kita jumpai, saat dialog khusus kita dengan dzat yang menciptakan diri kita dan alam semesta ini terjadi? Adakah kita serasa terbebani dengan panggilan sholat dan bergegas untuk segera menyelesaikannya secepat kilat? Atau menanti-nanti kedatangannya dengan hati yang gembira sekaligus rasa takut juga harap? Tentu, hati kecil kitalah yang pasti jujur menjawabnya.

    ***

    Diambil dari : blog sebuah perenungan

     
    • Sri Nurmi Atminarsih 11:40 am on 30 Oktober 2011 Permalink

      Assalamu’alaikum Wr.Wb. Mas Eva jazakumullah khairan katziro untuk kiriman tulisan lewat email,yang alhamdulillah bisa menguatkan jiwa saya, lebih membuat saya sabar dalam menghadapi hidup, lebih punya harapan akan kasih sayang Alloh dan lebih bisa mensyukuri segala nikmat dan karuniaNya. Wass.Wr.Wb.

  • erva kurniawan 1:08 am on 19 October 2011 Permalink | Balas  

    Jumlah Bukan segalanya 

    Jumlah Bukan segalanya

    Dalam islam, Jumlah bukanlah penentu segala galanya. Betapa banyak, golongan yang lebih kecil mengalahkan golongan yang lebih besar. Peristiwa peristiwa sejarah dan kegemilangan islam masa lampau,menunjukkan betapa umat islam yang berjumlah kecil, bisa mengalahkan pasukan musuh yang berjumlah lebih besar bahkan jauh berlipat lipat. Siapa yang menyangsikan kekuatan iman para sahabat ? Siapa yang menyangsikan kelurusan tauhid dan ketinggian para sahabat yang mulia ? Rupanya disinialah kuncinya pertolongan ALLAH. Ketika keimanan sangat tinggi, keyakinan akan pertolongan Allah begitu besar dan tidak bergantung kepada selain Allah, kekuatan pasukan muslim menjadi berlipat ganda. Allah menurunkan pasukannya dan menggentarkan hati hati musuh musuh islam sehingga dapat kita lihat bagaimana di Badar kaum kafir Qura’is terkalahkan.

    Dalam sejarah sejarah islam terdahulu, sungguh kita dapati bagaimana generasi terbaik umat ini berjuang untuk menegakkan agama islam. Sebagian besar peperangan yang dilaluinya jumlah pasukan kaum muslimin lebih kecil dari pada musuh nya. Rupanya para sahabat memang tidak menganggap bahwa jumlahlah penentu kemenangan. Bahkan dalam perang hunain, ketika seorang prajuruit merasa akan menang karena jumlah mereka yang besar, ternyata pasukan islam malah kocar kacir. Terbukti bahwa jumlah memang bukan penentu.

    Bulan jumadil’ awal 8 H, rosulullah memberangkatkan 3000 orang pasukan ke Syiria. Zaid bin haritsah ditunjuk sebagai panglima perang, dengan instruksi jika Zaid gugur, penggantinya adalah Ja’far bin Abu Thalib. Jika Ja’far gugur penggantinya adalah Abdullah bin Rawahah.

    Sampai di daearah Ma’an kaum muslim mengetahui bahwa kekuatan musuh mencapai 200 ribu terdiri dari 100 ribu tentara Romawi dan 100 ribu orang Nasrani keturunan Arab dari berbagai kabilah. Subhanallah, bagaimana 3000 orang akan melawan 200.000 pasukan? Logika saja mengatakan 1 orang harus menghadapi 1 : 60 – 70 Pasukan musuh.

    Selama 2 hari kamu muslim bermusyawarah tentang kondisi yang mereka hadapi. Ada yang mengusulkan agar mereka mengirimkan surat kepada Rosulullah, mereka berharap rosulullah mengirimkan pasukan tambahan. Namun Abdullah bin Rawahah tidak setuju dan berseru dengan semangat menyala “ Wahai manusia, apa yang tidak kalian sukai dalam pertempuran ini, justru yang selama ini kalian cari yaitu Syahid. Kita berperang bukan mengandalkan jumlah pasukan, kekuatan dan banyaknya perlengkapan dan perbekalan. Kita perangi mereka demi agama ini yang karena Allah memuliakan kita. Karena itu majulah terus dan raih satu dari dua kebaikan : Menang atau Mati Syahid.” (Ibnu Hisyam III/ 430).

    Menggeloralah semangat kaum muslimin akan hal ini. Zaid Bin Haritzah membawa pasukannya kedaerah yang terkenal dalam sejarah : Mu’tah. Disinilah pertempuran 3000 pejuang islam melawan 200 ribu pasukan musuh terjadi. Suasana pertempuran begitu sengit, dan syahidlah Panglima perang Zaid Bin Haritzah terkena panah pasukan romawi.

    Bendera islam dipegang oleh Ja’far bin Abu Thalib. Pahlawan islam yang baru kembali dari Habasyah ini berperang dengan gagah berani, sampai tangan kanannya berhasil ditebas musuh. Ketika tangan kanan nya telah terputus, dipeganglah bendera dengan tangan kiri. Begitu tangan kirinya putus, ditebas pedang musuh, dikempitlah bendera tersebut dengan sisa lengannya. Akhirnya pahlawan ini menemui robnya sebagai Syahid dengan tubuh terbelah dua dan lebih dari 70 luka di tubuhnya.

    Bendera dipunguit oleh Tsabit Bin Arqam dan diserahkan kepada Khalid Bin Walid, yang kala itu belum genap 3 bulan memeluk islam.Khalid pun menolak dan berkata “ Anda lebih patut memegangnya. Anda lebih tua dan telah ikut perang Badar” Jawab Khalid Bin Walid. “ Ambillah, hai laki laki. Demki Allah, aku mengambil bendera ini hanya karena akan kuberikan kepadamu. Jawab Tsabit.” Akhirnya Pasukan islam yang sedang terdesak ini dipimpin oleh Khalid Bin Walid. Rupanya khalid Bin Walid memang sangat ahli dalam strategi perang dan seorang panglima perang yang sangat brilian baik sebelum apalagi setelah menjadi seorang mukmin. Diaturlah strategi baru, pasukan yang semula berada di depan dialihkan kebelakang juga sebailiknya. Demikian juga pasukan Sayap kanan dialihkan ke kiri dan sebaliknya. Strategi luar biasa ini membuat musuh terkecoh, mengira pasukan islam mendapat tambahan pasukan. Perlahan lahan, pasukan islam yang awalnya dalam kondisi terancam bisa diselamatkan. Diakhir peperangan pasukan islam yang gugur hanya 13 orang. Buku buku sejarah , Tidak memberikan angka pasti berapa besar jumlah korban dari pasukan romawi.

    Betapa yang kecil tidak selalu terkalahkan dengan yang besar. Dalam perang Mu’tah ini, banyak sekali ibroh yang bisa diambil, bahwa kekuatan iman memegang peranan yang begitu besar. Jika kondisi islam saat ini yang jumlahnya begitu besar saja justru terpuruk,sudah seharusnya kita merenungkan dan mengambil sebuah pelajaran, mungkinkah kebesaran islam akan kembali dengan meminta bantuan dari musuh musuh islam yang seolah olah sangat baik membantu kita ? Mungkinkah kejayaan islam akan kembali tanpa kita memiliki rasa bangga terhadap islam dan lebih mencintai system islam daripada system buatan manusia ? Kita lihat, Sejak 1948, Tel Aviv menjadi ibukota Israel, dengan tangisan ratusan juta umat islam dan senyum kemenangan Israel dan presiden AS Hennry Truman saat itu, Tahun 67 Dataran tinggi Golan, Sinai , diambil Israel,tahun 81 pembantaian besar besaran di Kamp pengungsi Sabra & Shatilla dan beribu permasalahan yang tiada habisnya karena pendudukan Yahudi, Namun kini sebentar lagi Presiden Palestina Dan Israel akan berunding , duduk manis dengan Wasit Amerika. Mungkinkah dalam pertandingan sepakbola, seorang wasit adalah keluarga dari pemain musuh ?

    Kini jumlah kita sangat besar saudaraku. Namun dari jumlah yang besar ini, besar pula pengekor, yang sangat bangga dengan mengikuti budaya Barat. Dari jumlah yang besar ini, entah berapa banyak yang bangga dengan agamanya, entah berapa banyak yang ridho dengan syari’at islam, entah berapa yang banyak yang merindukan Syari’at islam tegak di bumi ini. Jumlah yang besar sesungguhnya merupakan potensi, tinggal bagaimana umat ini bersatu dalam dakwah dengan pemahaman yang benar. Manjadikan Al Qur’an dan sunnah sebagai pedoman. Dengan inilah Allah memberikan kabar gembira Nasrumminallah wa fatkhunqorib.

    Apalagi sauadaraku, dimanapun posisi kita marilah kita menjadi bagian dalam dakwah untuk meninggikan kalimat Allah..Dikantor, dirumah, lewat tulisan, lewat perbuatan bahkan jika mampu dengan lisan atau tangan kita Tidak salah jika seorang penyair mengatakan, umat islam memang sudah seharusnya ada yang terbang tinggi seperti burung, namun perlu juga ada yang merayap seperti cacing.

    Semoga bermanfaat, mohon maaf jika ada yang kurang berkenan.

    ***

    Dari Sahabat Daromi

     
  • erva kurniawan 1:02 am on 18 October 2011 Permalink | Balas
    Tags: Air zam zam   

    Air zam zam 

    Air zam zam

    Suatu ketika Nabi Ibrahim (atas perintah Allah swt) beserta Ismail dan ibunya Hajar datang ke Mekkah, kemudian Ibrahim meninggalkan keduanya dengan membekali air dan kurma. Setelah beberapa lama persediaan air habis, maka naiklah Hajar ke bukit Shafa dengan harapan dapat menemukan pertolongan ataupun menemukan air, namun tidak terlihat apapun kecuali hamparan pasir dan pergunungan batu, kemudian Hajar lari ke bukit Marwa, namun di sanapun tidak terlihat apapun … demikian Hajar berlari-lari bolak-balik dengan panik antara Shafa dan Marwa hingga 7 putaran (dari Shafa ke Marwa 4 kali, dan Marwa ke Shafa 3 kali), dan dipuncak kelelahannya Hajar mendengar suara yang ternyata suara Malaikat mengepakkan sayapnya … dan muncullah air Zam-zam …(Usaha Hajar mencari pertolongan atau mencari air ini diabadikan dalam bentuk ibadah Sa’i).

    Zam-zam, dalam bahasa Arab artinya ‘air yang melimpah’ dan dapat juga berarti ‘minum dengan regukan sedikit-sedikit’.

    Kemudian datanglah Kabilah dari Yaman yang dikenal dengan “Jurhum” menetap di sana. Ketika kesucian Ka’bah mulai tercemar oleh kemusyrikan, mata air Zam-zam pun ikut mengering dan sumurnya tenggelam hingga tidak diketahui keberadaannya selama beberapa abad. Suatu malam Abdul Muthalib (Kakek Nabi Muhammad) bermimpi, dalam mimpinya ia mendengar suara ghaib yang menyuruhnya menggali Zam-zam kembali. Abdul Muthalib menggali sesuai petunjuk dari mimpinya dan berhasil menemukan mata air Zam-zam untuk kemudian memperbaiki sumur air Zam-zam.

    Sumur Zam-zam terletak di sebelah tenggara Ka’bah berjarak kira-kira 11 m. Dahulu kala air Zam-zam diambil dengan menggunakan gayung, namun pada tahun 1373 H. (1953 M.) dibangun pompa air yang menyalurkan air Zam-zam ke bak penampungan dan juga ke kran-kran yang ada di sekitar sumur Zam-zam. Berdasarkan penelitian, dibuktikan bahwa mata air sumur Zam-zam dapat memompa air antara 11 – 18,5 liter air /detik, sehingga per menitnya akan menghasilkan air 660 liter, berarti dalam 1 jam dapat mengahasilkan air sebanyak 39.600 liter. Dari mata air ini terdapat celah ke arah Hajar Aswad dengan panjang 75 cm dengan ketinggian 30 cm yang juga menghasilkan air sangat banyak, ada pula celah ke arah pengeras suara dengan panjang 70 cm dan tinggi 30 cm, di samping beberapa celah kecil lainnya ke arah Bukit Shafa dan Bukit Marwa.

    Beberapa keterangan mengenai sumur Zam-zam :

    • Celah sumur di bawah tempat thawaf 1,56 m.
    • Kedalaman sumur dari bibir sumur 30 m.
    • Kedalaman air dari bibir sumur 4 m.
    • Kedalaman mata air 13 m.
    • Dari mata air sampai dasar sumur 17 m.
    • Diameter berkisar antara 1,46 – 2,66 m.

    Dahulu di atas sumur Zam-zam terdapat bangunan dengan ukuran 8,3 x 10,7 m, antara tahun 1381 – 1388 H. bangunan ini dibongkar untuk memperluas tempat thawaf, sehingga tempat air minum air Zam-zam dipidahkan ke ruang bawah tanah di bawah tempat thawaf, dengan 23 anak tangga dan dilengkapi dengan AC. Tempat masuk untuk pria & wanita dipisahkan, terdapat 220 kran di ruang untuk pria dan 130 kran di ruang untuk wanita. Sumur Zam-zam dapat dilihat dari ruang untuk pria yang dibatasi dengan kaca tebal. Saat ini sumur Zam-zam ditutup untuk umum.

    Pada tahun 1415 H. dibentuk Kantor atau Lembaga di Mekkah yang bertugas khusus mengurusi air Zam-zam, dan saat ini telah membangun saluran untuk menyalurkan air Zam-zam ke tangki penampungan yang berkapasitas 15.000 m3, bersambung dengan tangki lain di bagian atas Masjidil Haram guna melayani para pejalan kaki dan musafir. Selain itu air Zam-zam juga diangkut ke tempat-tempat lain menggunakan truk tangki diantaranya ke Masjidil Nabawi di Madinah Al-Munawarrah.

    Keutamaan dan fadhilat air Zam-zam antara lain:

    • Air Zam-zam berasal dari mata Surga (Maa’ul Jannah).
    • Merupakan pemberian Allah atas doa Nabi Ibrahim as yang dikabulkan.
    • Penentu hidup dan perkembangan kota Mekkah Al-Mukarromah.
    • Bukti nyata eksistensi Allah swt di Tanah Suci.
    • Menjadi nikmat agung serta membawa manfaat besar pada Masjidil Haram.
    • Air terbaik yang ada di muka bumi.
    • Terjadi melalui perantara Malaikat Jibril as.
    • Berada di tempat paling suci di dunia.
    • Air yang dipergunakan untu mencuci kalbu Rasulullah saw lebih dari satu kali.
    • Rasulullah saw memberkatinya dengan air ludah beliau yang suci.
    • Air yang berfungsi sebagai makanan (mengenyangkan) sekaligus obat untuk penyembuh segala macam penyakit.
    • Dapat menghilangkan pusing kepala.
    • Barang siapa melihatnya, insya Allah penglihatannya akan menjadi lebih tajam.
    • Jika diminum dengan niat kebaikan, maka Allah swt akan mengabulkan sesuai niatnya.
    • Keinginan untuk mengetahui seluk-beluk air Zam-zam merupakan tanda keimanan dan terbebas dari sifat nifaq (munafik).
    • Air minum untuk orang-orang yang baik.
    • Menjadikan badan kuat.
    • Tidak akan pernah habis walau selalu diambil.
    • Telah ada sejak 5.000 tahun yang lalu, sehingga menjadi sumur tertua di muka bumi.

    Di Masjidil Haram di Mekkah Al-Karromah, air Zam-zam bertebaran di halaman serta di dalam Masjidil Haram, diperbolehkan mengambil air Zam-zam dengan mengisikannya kedalam botol atau tempat air untuk dibawa pulang:

    Air Zam-zam diakui sebagai air mineral terbaik yang ada di dunia ini, namun untuk dapat menyembuhkan penyakit tidak berarti begitu saja diminum terus dapat menyembuhkan, sebab yang menyembuhkan bukanlah materi airnya, yang menyembuhkan adalah rakhmat Allah yang diturunkan melalui air Zam-zam untuk hamba-Nya yang dipilih karena ketaqwaannya. Karena itu tertib meminum air Zam-zam harus dipenuhi, dengan diawali membaca niat secara ikhlas, kemudian menghadap ke arah qiblat membaca doa yang tulus dengan penuh keyakinan akan dikabulkan, sesuai dengan niat kita.

    Rasulullah saw bersabda: Air Zam-zam berkhasiat, sesuai dengan niatnya (niat yang akan meminumnya).

    Adab meminum air Zam-zam:

    • Berdoa sebelum meminum air Zam-zam sambil menghadap ke qiblat.

    Contoh doa sebelum minum air Zam-zam:

    Allohuma inni as-aluka ‘ilman naa-fi’an, wa-rizqon waa-si’an, wa-syifaa-an min kulli daa-in wa-saqomin … biroh-matika yaa arhamar-roohimiin. Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang banyak, serta kesembuhan dari sakit dan penyakit … wahai dzat Yang Maha Pengasih.

    Namun kita boleh juga membaca doa-doa yang baik yang lainnya.

    • Menggunakan tangan kanan untuk mengambil air Zam-zam, dan dengan membaca basmalah serta takbir (Bismillahi Alloohu Akbar), basahilah bibir pada tegukan pertama, kemudian bacalah hamdalah dan menarik nafas 3 kali.
    • Dengan membaca basmalah serta takbir, basahilah tenggorokan pada tegukan kedua, kemudian bacalah hamdalah dan menarik nafas 3 kali.
    • Dengan membaca basmalah serta takbir, minumlah sepuasnya pada tegukan ketiga yang boleh dilanjutkan dengan membasahi bagian tubuh tertentu, kemudian bacalah hamdalah.
    • Kemudian bacalah doa untuk kebaikan dunia & akhirat.

    Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang dipilih-Nya.

    Smoga bermanfaat

    ***

    Dari Sahabat

     
    • israariditha 2:08 pm on 19 Januari 2012 Permalink

      thx info ny :-)

  • erva kurniawan 1:54 am on 17 October 2011 Permalink | Balas  

    Sunat Tak Hanya Cegah HIV Tapi Juga Kanker Penis 

    Sunat Tak Hanya Cegah HIV Tapi Juga Kanker Penis

    Sydney, Selama ini manfaat sunat pada laki-laki selalu dikaitkan dengan risiko penularan Human Immunodeficiency Virus (HIV). Kini manfaat sunat bertambah setelah ditemukan bahwa pemotongan kulit penis bisa mencegah kanker di bagian tersebut.

    Brian Morris, MD, seorang peneliti dari University of Sydney mengatakan risiko kanker penis pada laki-laki yang tidak disunat adalah 1:1.000. Angka itu sebenarnya kecil, namun tetap lebih besar dibandingkan risiko pada laki-laki yang disunat yaini 1:50.000.

    “Kanker penis lebih banyak ditemukan di negara-negara yang penduduk laki-lakinya jarang disunat. Namun hubungan sunat dengan kanker bukan hanya semacam kecenderungan, ada alasan ilmuah di belakangnya,” ungkap Morrris seperti dikutip dari MensHealth.com, Sabtu (23/7/2011).

    Menurut Morris, kulit yang ketat di bagian depan membuat alat kemaluan laki-laki yang tidak disunat jadi sulit dibersihkan. Jika menumpuk, kotoran yang menempel di bagian itu dapat memicu radang atau inflamasi yang merupakan salah satu faktor pencetus kanker penis.

    Faktor lain yang mendasarinya adalah infeksi Human Pappoloma Virus (HPV), sejenis virus yang ditularkan melalui hubungan kelamin dan pada perempuan bisa memicu kanker serviks atau leher rahim. Kondisi kepala penis yang tertutup cenderung lembab, sehingga disukai oleh HPV.

    Meski infeksi HPV bisa dicegah, Morris mengatakan bahwa vaksinasi saja tidak cukup. Vaksin yang ada saat ini hanya bisa mencegah infeksi 2 dari sekitar 20 jenis HPV, sehingga kadang-kadang dibutuhkan upaya pencegahan lain dalam hal ini sunat.

    Kalaupun tetap memilih untuk tidak disunat, Morris menekankan agar laki-laki selalu menjaga kebersihan alat kelamin terutama di bagian yang tertutup kulup (kulit yang menutup kepala penis). Cara membersihkannya adalah dengan menarik kulup itu ke belakang, lalu dibersihkan sambil mandi.

    ***

    AN Uyung Pramudiarja – detikHealth

    detikhealth.com/read/2011/07/23/163159/1687859/763/sunat-tak-hanya-cegah-hiv-tapi-juga-kanker-penis?l991101755

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 16 October 2011 Permalink | Balas
    Tags: ,   

    Siapa Membeli Syurga? 

    Siapa Membeli Syurga?

    Untuk urusan uang dan harta benda, manusia cenderung lebih teliti dalam hal berhitung untung ruginya. Sebagai contoh, ketika Anda memiliki uang sejumlah Rp 10.000, lalu Anda berikan kepada orang lain setengahnya, maka tentu jumlahnya tinggal Rp 5.000. Atau Anda memiliki sekarung beras, Anda sumbangkan setengahnya, tentu yang tersisa setengah karung lagi. Secara matematis, memang demikianlah perhitungannya. Namun perhitungannya akan sangat berbeda, ketika uang maupun beras itu Anda niatkan untuk bersedekah karena Allah I. Harta Anda bukannya berkurang, tapi justru telah dilipatgandakan menjadi 700 kali lipat. Anda mungkin belum percaya, tapi inilah di antara keajaiban sedekah.

    MENGUNGKAP KEAJAIBAN SEDEKAH

    Dilipatgandakan hingga 700 Kali Lipat

    Allah Shubhaanahu wa Taala berfirman, artinya: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Mahamengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261).

    Abu Mas’ud Al Anshari Radhiyallahu Anhu berkata, “Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan menuntun seekor unta yang dicocok hidungnya. Kemudian ia berkata, “Unta ini saya pergunakan untuk berperang di jalan Allah, wahai Rasulullah.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pun bersabda, “Kamu akan mendapatkan tujuh ratus unta semisal itu pada hari kiamat, semuanya dicocok hidungnya.” (HR. Muslim).

    Sedekah, Perdagangan yang Tak Pernah Rugi

    Marilah bersama-sama kita cermati sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berikut ini. Dari Abu Hurairah ra, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa bersedekah meskipun seharga kurma, namun dari hasil yang baik – dan Allah tidak akan menerima sesuatu kecuali yang baik – sesungguhnya Allah akan menerima sedekah kurma tersebut dengan Tangan Kanan-Nya. Kemudian Dia akan menggandakannya untuk orang yang bersedekah, sebagaimana salah seorang di antara kalian memelihara seekor anak kuda, sehingga sedekah tersebut menjadi sebesar gunung.” (HR. Bukhari).

    Mengapa diumpamakan dengan harga kurma? Agar tidak ada seorang pun yang beralasan, “Aku tidak memiliki apa pun yang bisa disedekahkan.” Atau berdalih, “Aku hanya punya sedikit harta. Untuk menghidupi diri dan keluarga saja tidak cukup. Bagaimana mau bersedekah?”

    Dalam hadits di atas pula, mengapa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengaitkan pelipatgandaan satu dirham sedekah dengan pengembangbiakan anak kuda? Sebagian ulama menjelaskan, “Karena pengembangbiakan kuda membutuhkan perhatian khusus. Si pemilik kuda sampai rela menghabiskan waktunya demi pemeliharaan hewan tersebut, dan setiap hari ia akan selalu mencermati perkembangan hewan piaraannya itu.”

    Pernahkan Anda memperhatikan bagaimana pertumbuhan seorang anak dalam perawatan ibunya? Setiap hari, anaknya tumbuh makin besar di depan matanya. Demikianlah – dan bagi Allah permisalan yang Maha tinggi – Allah juga memelihara dan mengembangkan sedekah yang Anda berikan.

    Pada hari kiamat kelak, Anda akan menghadap Allah, dan mendapati apa yang Anda sedekahkan telah dikembangkan oleh Allah. Ketika mendapati harta yang Anda sedekahkan menjadi berlimpah ruah, Anda akan terkejut dan – barangkali – akan berkata, “Ya Rabbi, apakah Engkau mengajakku bercanda? Benarkah harta yang aku sedekahkan di dunia menjadi berlimpah sebanyak ini?” Ya, Allahlah yang mengembangkannya untuk Anda! Bayangkan, ketika Anda menyedekahkan sesuatu lalu Anda lupa dengan sedekah Anda tersebut, kemudian Anda meninggal dalam keadaan tidak mengetahui bahwa Allah mengembangkan sedekah tersebut untuk Anda, yaitu sejak Anda mengeluarkannya hingga hari kiamat.

    Lalu datanglah hari kiamat. Ketika itu Anda mendapati apa yang Anda sedekahkan telah menjelma menjadi sesuatu yang berlimpah ruah dan menggunung. Allah telah melipatgandakan sedekah tersebut untuk Anda.

    Akan tetapi, hal yang penting yang harus diperhatikan dalam berinfak adalah ‘harus berasal dari harta yang halal’. Sebab Allah akan menerimanya dengan Tangan Kanan-Nya. Oleh karena itu, setiap kali ‘Aisyah – radhiyallahu ‘anha – ingin bersedekah, ia mengambil dirham yang dimilikinya, kemudian ia celupkan ke dalam wewangian sebelum ia berikan kepada orang fakir. Ia tidak pernah sekalipun memilih hartanya yang terjelek untuk disedekahkan. Ketika ditanya alasannya, ia menjelaskan, “Sesungguhnya sedekah itu lebih dahulu sampai pada kedua tangan Allah sebelum sampai pada kedua tangan si fakir.”

    HINDARI NERAKA DENGAN SEDEKAH

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jauhilah api neraka walaupun hanya dengan sepotong kurma.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Lihatlah keagungan berinfak! Separuh buah kurma dapat menyelamatkan Anda dari api neraka. Sampai-sampai, seandainya Anda tidak memiliki apa pun kecuali hanya sebutir kurma yang Anda harus membelahnya menjadi dua, Anda makan setengahnya dan setengah lagi Anda infakkan kepada fakir miskin.

    Jika demikian, apa lagi yang kita tunggu? Marilah kita berinfak! Sedekahkanlah barang yang paling Anda sukai. Anda Subhaanahu wa Taala berfirman, artinya: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali ‘Imran: 92).

    Sedekah dapat meredakan kemurkaan Allah Subhaanahu wa Taala, sebagaimana air yang dapat memadamkan api. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Buatlah dinding antara dirimu dan api neraka walaupun hanya dengan sebutir kurma.” (HR. Ath-Thabrani, ).

    MISKIN, BUKAN ALASAN TIDAK BERINFAK

    Inilah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam yang telah mengajarkan kepada para sahabatnya tentang kebesaran dan kemuliaan berinfak dan bersedekah. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada Bilal, padahal ia adalah seorang fakir lagi lemah, “Wahai Bilal, berinfaklah! Jangan takut kekurangan dari Zat yang mempunyai langit.” (Shahih al Jami’).

    Kalau kepada orang yang miskin dan lemah saja, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menganjurkan seperti itu, lalu apa kira-kira yang akan beliau sabdakan kepada orang-orang yang kaya?

    Pada peristiwa perang Tabuk, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membuka kesempatan kepada para sahabatnya untuk bersedekah sebagai bekal pasukan perang. Maka berinfaklah para sahabat, kaya maupun miskin. Abu Bakar menginfakkan seluruh hartanya. Umar bin Khattab menginfakkan setengah hartanya. Utsman bin Affan menginfakkan 100 kuda dan 300 unta lengkap dengan pelananya (dalam riwayat lain disebutkan 900 unta dan 100 kuda). Kaum wanita pun tak ketinggalan menginfakkan perhiasan-perhiasan mereka.

    Namun ada pula para sahabat yang karena kemiskinan mereka hanya mampu menginfakkan 60 gantang sampai 120 gantang kurma. Kurma yang sedikit untuk membekali pasukan yang berjumlah besar? Benar, ia sedikit. Akan tetapi, yang mereka infakkan adalah seluruh dari apa yang mereka punyai. Mereka ingin memberikan makan kepada tentara berhari-hari. Bagi sebagian orang, mungkin infak mereka tersebut tidak berarti. Akan tetapi bagi mereka, infak tersebut banyak. Begitu juga di sisi Allah. Infak tersebut banyak, dan sangat banyak. Namun kaum munafikin mengolok-ngolok pemberian infak yang sedikit ini. Allah Subhaanahu wa Taala pun menurunkan sebuah ayat sebagai pembelaan terhadap orang-orang miskin yang gemar berinfak tersebut; “(Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekadar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.” (QS. At-Taubah: 79).

    Ada pula sekelompok sahabat yang fakir yang hanya dapat menangis karena kehilangan kesempatan berjihad dengan jiwa dan harta mereka. Tak ada sarana untuk mengikutkan dan memberangkatkan mereka bersama pasukan. Allah pun menurunkan ayat untuk mereka, “Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata, “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu”. Lalu mereka kembali, sedangkan mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.” (QS. At-Taubah: 92).

    Cermatilah, wahai hamba Allah yang dianugerahi limpahan harta! Ada sahabat yang bercucuran air mata karena tak punya harta benda untuk diinfakkan di jalan Allah. Bandingkan dengan kebanyakan orang berada di zaman sekarang ini. Mereka pun menangis, tapi karena takut kehilangan harta mereka.

    SI BAKHIL YANG MERUGI

    Allah Subhaanahu wa Taala berfirman, artinya: “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (QS. At-Taubah: 34).

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidaklah ada satu hari, di mana para hamba dapat berpagi-pagi di dalamnya kecuali akan turun dua malaikat (ke muka bumi). Salah seorang di antara keduanya berkata, “Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang bersedekah.” Sedangkan yang satu lagi berkata, “Ya Allah, musnahkanlah harta orang yang menahan hartanya tak mau bersedekah.” (HR. Bukhari).

    Cermatilah hadits di atas! Malaikat pertama memohon kepada Rabbnya dengan berkata, “Ya Allah, siapa saja yang menyedekahkan hartanya, gantilah sedekahnya dengan sesuatu yang lebih baik.” Sedangkan malaikat lainnya menyeru kepada Rabbnya, “Ya Allah, siapa saja yang pelit terhadap hartanya dan tidak mau bersedekah, musnahkanlah hartanya.”

    Bayangkanlah, seandainya harta Anda melimpah! Jika Anda kikir kepada Allah dengan harta Anda, pada hakikatnya Anda tidaklah berbuat kikir kepada Allah, akan tetapi pada diri Anda sendiri. Sebagaimana firman Allah; “Dan siapa saja yang kikir, sesungguhnya ia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allahlah Yang Mahakaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan-Nya.” (QS. Muhammad: 38).

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Berinfaklah dan janganlah kamu menghitung-hitung hartamu, karena Allah juga akan menghitung-hitung rezeki-Nya untukmu. Dan janganlah engkau bakhil dengan hartamu, karena Allah juga akan bakhil kepadamu.” (HR. Bukhari).

    Sesuatu yang sangat mungkin terjadi adalah, pada suatu hari, Anda atau anak Anda akan tertimpa musibah. Atau, Anda akan kehilangan sesuatu yang Anda miliki. Oleh karena itu, sedekahkanlah harta Anda pada jalan yang benar, dan Allah yang akan melipatgandakannya.

    Wallahu waliyyuttaufiq

    ***

    Sumber: Siapa Membeli Surga? Karya DR. Raghib As-Sirjani dan Amru Khalid.

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 15 October 2011 Permalink | Balas  

    Tiga Disukai, Tiga Dibenci 

    Tiga Disukai, Tiga Dibenci

    Rasulullah SAW bersabda, ” Ada tiga golongan yang disukai Allah. Dan tiga yang lain dibenci-Nya. Yang dicintainya adalah : Pertama, seseorang yang mendatangi suatu kaum, yang datang meminta bantuan karena Allah, bukan karena hubungan kekerabatan diantara mereka. Tapi kaum itu menolak. Lalu ada seseorang yang diam-diam memberi orang itu bantuan. Tidak ada yang tahu kecuali ALlah dan orang yang diberinya itu. Kedua, kaum yang bila datang kantuk kepada mereka dan membuat kepala mereka tergeletak, mereka bergegas bangkit untuk tunduk berdo’a kepada-Nya, membaca ayat-ayat-Nya. Ketiga, seseorang dalam ekspedisi pasukan, lalu bertemu dengan musuh. Ia pun menyongsong musuh itu dengan dadanya (tidak lari), hingga ia terbunuh atau diberi kemenangan. Sedang tiga golongan yang dimurkai adalah orang tua yang berzina, orang miskin yang sombong, dan orang kaya yang berbuat zhalim. “ (HR. At-Tirmidzi)

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 14 October 2011 Permalink | Balas  

    Tahukah Anda 

    Tahukah Anda?

    Yang Sangat menarik penemuan dari Dr. Tariq Al Swaidan mungkin menarik perhatian kita, Dr.Tarig Al Swaidan menemukan beberapa ayat dalam Al Quran yang menyebutkan satu hal yang sama dengan yang lain, salah satunya yakni perempuan sama dan laki-laki. Meskipun hal ini masuk akal secara gramatikal, fakta mencengangkan adalah bahwa berapa kali kata laki-laki muncul dalam Al-Qur’an adalah 24 dan jumlah kata wanita muncul adalah juga 24 kali, oleh karena itu tidak hanya kalimat ini selaras dalam arti gramatikal tetapi juga benar secara matematis, yaitu 24 = 24. Setelah dilakukan analisis lebih lanjut dari berbagai ayat dalam Al Quran, ditemukan bahwa hal ini adalah konsisten sepanjang Al-Qur’an secara keseluruhan di mana ia mengatakan satu hal seperti yang lain. Lihat di bawah untuk hasil yang mencengangkan dari jumlah kata-kata yang disebutkan dalam bahasa Arab Holy Quran

    • Dunia (satu nama alam pada kehidupan) 115 >< Aakhirat (satu nama alam setelah kehidupan dunia) 115
    • Malaikat 88 >< Setan 88
    • Hidup 145 ><  mati 145
    • Kebaikan 50 >< kerusakan 50
    • Manusia 50 >< Nabi 50
    • Iblis 11 >< memohon perlindungan dari Iblis 11
    • Musibah 75 >< Syukur 75
    • Shadaqah 73 >< Kepuasan 73
    • Orang yang tersesat 17 >< orang tewas 17
    • Muslimin 41 >< Jihad 41
    • Emas 8 >< kemudahan hidup 8
    • Sihir 60 >< Fitnah (perbuatan, menyesatkan)! 60
    • Zakat (pajak muslim untuk orang miskin) 32 >< Sedekah (Meningkatkan atau berkat kekayaan) 32
    • Pikiran 49 >< cahaya 49
    • Lidah 25 >< Khotbah 25
    • Nafsu 8 >< Ketakutan 8
    • Berbicara secara terbuka 18 >< menyiarkan 18
    • Kesulitan 114 >< Kesabaran 114
    • Muhammed 4 >< syari’at (ajaran Muhammad) 4
    • Laki-laki 24 >< Perempuan 24

    Dan yang lebih luar biasa dapat kita temukan berapa kali kata-kata berikut muncul: Salat 5, Bulan 12, Hari 365 (sesuai dengan penanggalan masehi), Laut 32, Tanah 13.

    Laut + tanah = 32 + 13 = 45.

    Laut = 32/45 * 100 .= 71,11111111%

    Tanah = 13/45 * 100 = 28,88888889%.

    Laut + daratan = 100.00%.

    Ilmu pengetahuan modern baru-baru ini telah membuktikan bahwa air mencakup 71,111% dari bumi, sedangkan tanah menutup seluas 28,889% dari keseluruhan luas bumi kita. Apakah ini suatu kebetulan? Pertanyaannya adalah siapa yang mengajarkan Nabi Muhammad saw tentang semua ini? Jawabannya adalah ALLAH MAHA ESA yang mengajarkan kepadanya.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • dikcy 1:54 pm on 17 Oktober 2011 Permalink

      subhanallaah …
      \

    • Afrizal Tw Al- Singkily 7:30 pm on 17 Oktober 2011 Permalink

      subhanallah,, maha suci Allah yang telah menciptakan bumi tanpa tiang…

  • erva kurniawan 1:27 am on 13 October 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Ketika Rasulullah SAW Memberikan Syafaat Kepada Ummatnya di Hari Kiamat 

    Ketika Rasulullah SAW Memberikan Syafaat Kepada Ummatnya di Hari Kiamat

    Ini adalah sekelumit “kisah masa depan”, ketika seluruh manusia berkumpul di hari kiamat. Kisah ini disampaikan oleh Rasulullah kepada para sahabatnya. Dalam kisah itu diceritakan bahwa Allah mengumpulkan seluruh manusia dari yang pertama hingga yang terakhir dalam satu daratan. Pada hari itu matahari mendekat kepada mereka, dan manusia ditimpa kesusahan dan penderitaan yang mereka tidak kuasa menahannya.

    Lalu di antara mereka ada yang berkata, “Tidakkah kalian lihat apa yang telah menimpa kita, tidakkah kalian mencari orang yang bisa memberikan syafa’at kepada Rabb kalian?”

    Yang lainnya lalu menimpali, “Bapak kalian adalah Adam AS.”

    Akhirnya mereka mendatangi Adam lalu berkata, “Wahai Adam, Anda bapak manusia, Allah menciptakanmu dengan tangan-Nya, dan meniupkan ruh kepadamu, dan memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadamu, dan menempatkanmu di surga. Tidakkah engkau syafa’ti kami kepada Rabb-mu? Apakah tidak kau saksikan apa yang menimpa kami?”

    Maka Adam berkata, “Sesungguhnya Rabbku pada hari ini sedang marah yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya, dan sesungguhnya Dia telah melarangku untuk mendekati pohon (khuldi) tapi aku langgar. Nafsi nafsi (aku mengurusi diriku sendiri), pergilah kalian kepada selainku, pergilah kepada Nuh AS.”

    Lalu mereka segera pergi menemui Nuh AS dan berkata, “Wahai Nuh, engkau adalah Rasul pertama yang diutus ke bumi, dan Allah telah memberikan nama kepadamu seorang hamba yang bersyukur (abdan syakuro), tidakkah engkau saksikan apa yang menimpa kami, tidakkah engkau lihat apa yang terjadi pada kami? Tidakkah engkau beri kami syafa’at menghadap Rabb-mu?”

    Maka Nuh berkata, “Sesungguhnya Rabbku pada hari ini marah dengan kemarahan yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya. Sesungguhnya aku punya doa, yang telah aku gunakan untuk mendoakan (celaka) atas kaumku. Nafsi nafsi, pergilah kepada selainku, pergilah kepada Ibrahim AS!”

    Lalu mereka segera menemui Ibrahim dan berkata, “Wahai Ibrahim, engkau adalah Nabi dan kekasih Allah dari penduduk bumi, syafa’atilah kami kepada Rabb-mu! Tidakkah kau lihat apa yang menimpa kami?”

    Maka Ibrahim berkata, “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini marah dengan kemarahan yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya, dan sesungguhnya aku telah berbohong tiga kali. Nafsi nafsi, pergilah kalian kepada selainku, pergilah kalian kepada Musa AS!”

    Lalu mereka segera pergi ke Musa, dan berkata, “Wahai Musa, engkau adalah utusan Allah. Allah telah memberikan kelebihan kepadamu dengan risalah dan kalam-Nya atas sekalian manusia. Syafa’atilah kami kepada Rabb-mu! Tidakkah kau lihat apa yang kami alami?”

    Lalu Musa berkata, “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini sedang marah dengan kemarahan yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan pernah marah seperti ini sesudahnya. Dan sesungguhnya aku telah membunuh seseorang yang aku tidak diperintahkan untuk membunuhnya. Nafsi nafsi, pergilah kalian kepada selainku, pergilah kalian kepada Isa AS!”

    Lalu mereka pergi menemui Isa, dan berkata, “Wahai Isa, engkau adalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang dilontarkan kepada Maryam, serta ruh dari-Nya. Dan engkau telah berbicara kepada manusia semasa dalam gendongan. Berilah syafa’at kepada kami kepada Rabb-mu! Tidakkah kau lihat apa yang kami alami?”

    Maka Isa berkata, “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini sedang marah dengan kemarahan yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya. Nafsi nafsi, pergilah kepada selainku, pergilah kepada Muhammad SAW!”

    Akhirnya mereka mendatangi Muhammad SAW, dan berkata, “Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Allah telah mengampuni dosamu yang lalu maupun yang akan datang. Syafa’atilah kami kepada Rabb-mu, tidakkah kau lihat apa yang kami alami?”

    Lalu Nabi Muhammad SAW pergi menuju bawah ‘Arsy. Di sana beliau bersujud kepada Rabb, kemudian Allah membukakan kepadanya dari puji-pujian-Nya, dan indahnya pujian atas-Nya, sesuatu yang tidak pernah dibukakan kepada seorangpun sebelum Nabi Muhammad. Kemudian Allah SWT berkata kepada Muhammad, “Wahai Muhammad, angkat kepalamu, mintalah, niscaya kau diberi, dan berilah syafa’at niscaya akan dikabulkan!”

    Maka Muhammad SAW mengangkat kepalanya dan berkata, “Ummatku wahai Rabb-ku, ummatku wahai Rabb-ku, ummatku wahai Rabb-ku!”

    Lalu disampaikan dari Allah kepadanya, “Wahai Muhammad, masukkan ke surga di antara umatmu yang tanpa hisab dari pintu sebelah kanan dari sekian pintu surga, dan mereka adalah ikut memiliki hak bersama dengan manusia yang lain pada selain pintu tersebut dari pintu-pintu surga.”

    ***

    Di dalam kisah ini, Rasulullah SAW juga menceritakan bahwa lebar jarak antara kedua sisi pintu surga itu, bagaikan jarak Makkah dan Hajar, atau seperti jarah Makkah dan Bushro. Hajar adalah nama kota besar pusat pemerintahan Bahrain. Sedangkan Bushro adalah kota di Syam. Bisa kita bayangkan, betapa tebalnya pintu-pintu surga itu..

    Itulah sekelumit kisah nyata di masa depan ketika hari kiamat. Pada hari itu, Rasulullah SAW memberi syafa’at kepada ummatnya. Pada hari itu Rasulullah SAW menjadi sayyid (tuan)nya manusia. Shalawat dan salam kepada Rasulullah Muhammad SAW.

    ***

    Maraji’ : Hadits Riwayat Bukhari – Muslim

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 12 October 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Istana Umar bin Khattab 

    Istana Umar bin Khattab

    “Dimanakan istana raja negeri ini?” tanya seorang Yahudi dari Mesir yang baru saja tiba di pusat pemerintahan Islam, Madinah.

    “Lepas Dzuhur nanti beliau akan berada di tempat istirahatnya di depan masjid, dekat batang kurma itu,” jawab lelaki yang ditanya.

    Dalam benak si Yahudi Mesir itu terbayang keindahan istana khalifah. Apalagi umat Islam sedang di puncak jayanya. Tentu bangunan kerajaannya pastilah sebuah bangunan yang megah dengan dihiasi kebun kurma yang rindang tempat berteduh khalifah.

    Namun, lelaki itu tidak mendapati dalam kenyataan bangunan yang ada dalam benaknya itu. Dia jadi bingung dibuatnya. Sebab di tempat yang ditunjuk oleh lelaki yang ditanya tadi tidak ada bangunan megah yang mirip istana. Memang ada pohon kurma tetapi cuman sebatang. Di bawah pohon kurma, tampak seorang lelaki bertubuh tinggi besar memakai jubah kusam. Lelaki berjubah kusam itu tampak tidur-tiduran ayam atau mungkin juga sedang berdzikir. Yahudi itu tidak punya pilihan selain mendekati lelaki yang bersender di bawah batang kurma, “Maaf, saya ingin bertemu dengan Umar bin Khattab,” tanyanya.

    Lelaki yang ditanya bangkit, “Akulah Umar bin Khattab.”

    Yahudi itu terbengong-bengong, “Maksud saya Umar yang khalifah, pemimpin negeri ini,” katanya menegaskan.

    “Ya, akulah khalifah pemimpin negeri ini,” kata Umar bin Khattab tak kalah tegas.

    Mulut Yahudi itu terkunci, takjub bukan buatan. Jelas semua itu jauh dari bayangannya. Jauh sekali kalau dibandingkan dengan para rahib Yahudi yang hidupnya serba wah. Itu baru kelas rahib, tentu akan lebih jauh lagi kalau dibandingkan dengan gaya hidup rajanya yang sudah jamak hidup dengan istana serba gemerlap.

    Sungguh sama sekali tidak terlintas di benaknya, ada seorang pemimpin yang kaumnya tengah berjaya, tempat istirahatnya cuma dengan menggelar selembar tikar di bawah pohon kurma beratapkan langit lagi.

    “Di manakah istana tuan?” tanya si Yahudi di antara rasa penasarannya.

    Khalifah Umar bin Khattab menuding, “Kalau yang kau maksud kediamanku maka dia ada di sudut jalan itu, bangunan nomor tiga dari yang terakhir.”

    “Itu? Bangunan yang kecil dan kusam?”

    “Ya! Namun itu bukan istanaku. Sebab istanaku berada di dalam hati yang tentram dengan ibadah kepada Allah.”

    Yahudi itu tertunduk. Hatinya yang semula panas oleh kemarahan karena ditimbuni berbagai rasa tidak puas hingga kemarahannya memuncak, cair sudah. “Tuan, saksikanlah, sejak hari ini saya yakini kebenaran agama Tuan. Ijinkan saya menjadi pemeluk Islam sampai mati.”

    Mata si Yahudi itu terasa hangat lalu membentuk kolam. Akhirnya satu-persatu tetes air matanya jatuh.

    ***

    Diambil dari : http://oaseislam.com

     
    • koceko 2:02 am on 18 Juli 2016 Permalink

      Masya Allah, sungguh tawadhu nya Khalifah Umar :’)

      PosIklanBaris.Com

  • erva kurniawan 1:19 am on 11 October 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Bening Hati Berbalas Surga 

    Bening Hati Berbalas Surga

    Suatu hari, Rasulullah sedang duduk di masjid dikelilingi para sahabat. Beliau tengah mengajarkan ayat-ayat Qur’an. Tiba-tiba Rasulullah berhenti sejenak dan berkata,”Akan hadir diantara kalian seorang calon penghuni surga”. Para sahabat pun bertanya-tanya dalam hati, siapakah orang istimewa yang dimaksud Rasulullah ini?. Dengan antusias mereka menunggu kedatangan orang tersebut. Semua mata memandang ke arah pintu.

    Tak berapa lama kemudian, seorang laki-laki melenggang masuk masjid. Para sahabat heran, inikah orang yang dimaksud Rasulullah? Dia tak lebih dari seorang laki-laki dari kaum kebanyakan. Dia tidak termasuk di antara sahabat utama. Dia juga bukan dari golongan tokoh Quraisy. Bahkan, tak banyak yang mengenalnya. Pun, sejauh ini tak terdengar keistimewaan dia.

    Ternyata, kejadian ini berulang sampai tiga kali pada hari-hari selanjutnya. Tiap kali Rasulullah berkata akan hadir di antara kalian seorang calon penghuni surga, laki-laki tersebutlah yang kemudian muncul.

    Maka para sahabat pun menjadi yakin, bahwa memang i-laki itulah yang dimaksud Rasulullah. Mereka juga menjadi semakin penasaran, amalan istimewa apakah yang dimiliki laki-laki ini hingga Rasulullah menjulukinya sebagai calon penghuni surga?

    Akhirnya, para sahabat pun sepakat mengutus salah seorang di antara mereka untuk mengamati keseharian laki-laki ini. Maka pada suatu hari, sahabat yang diutus ini menyatakan keinginannya untuk bermalam di rumah laki-laki tersebut. Si laki-laki calon penghuni surga mempersilakannya.

    Selama tinggal di rumah laki-laki tersebut, si sahabat terus-menerus mengikuti kegiatan si laki-laki calon penghuni surga. Saat si laki-laki makan, si sahabat ikut makan. Saat si laki-laki mengerjakan pekerjaan rumah, si sahabat menunggui. Tapi ternyata seluruh kegiatannya biasa saja. “Oh, mungkin ibadah malam harinya sangat bagus,” pikirnya. Tapi ketika malam tiba, si laki-laki pun bersikap biasa saja. Dia mengerjakan ibadah wajib sebagaimana biasa. Dia membaca Qur’an dan mengerjakan ibadah sunnah, namun tak banyak. Ketika tiba waktunya tidur, dia pun tidur dan baru bangun ketika azan subuh berkumandang.

    Sungguh, si sahabat heran, karena ia tak jua menemukan sesuatu yang istimewa dari laki-laki ini. Tiga malam sang sahabat bersama sang calon penghuni surga, tetapi semua tetap berlangsung biasa. Apa adanya.

    Akhirnya, sahabat itu pun pun berterus terang akan maksudnya bermalam. Dia bercerita tentang pernyataan Rasulullah. Kemudian dia bertanya, “Wahai kawan, sesungguhnya amalan istimewa apakah yang kau lakukan sehingga kau disebut salah satu calon penghuni surga oleh Rasulullah? Tolong beritahu aku agar aku dapat mencontohmu”.

    Si laki-laki menjawab, “Wahai sahabat, seperti yang kau lihat dalam kehidupan sehari-hariku. Aku adalah seorang muslim biasa dengan amalan biasa pula. Namun ada satu kebiasaanku yang bisa kuberitahukan padamu. Setiap menjelang tidur, aku berusaha membersihkan hatiku. Kumaafkan orang-orang yang menyakitiku dan kubuang semua iri, dengki, dendam dan perasaaan buruk kepada semua saudaraku sesama muslim. Hingga aku tidur dengan tenang dan hati bersih serta ikhlas. Barangkali itulah yang menyebabkan Rasulullah menjuluki demikian.”

    Mendengar penjelasan itu, wajah sang sahabat menjadi berseri-seri. “Terima kasih kawan atas hikmah yang kau berikan. Aku akan memberitahu para sahabat mengenai hal ini”. Sang sahabat pun pamit dengan membawa pelajaran berharga.

    Diambil dari : http://oaseislam.com

     
    • lina 2:25 pm on 16 November 2011 Permalink

      izin copas y

    • Dinia 12:49 pm on 19 Desember 2011 Permalink

      ijin copy juga ya…^^

  • erva kurniawan 1:50 am on 10 October 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kisah Abu Dzar r.a, Pejuang Sebatang Kara 

    Kisah Abu Dzar r.a, Pejuang Sebatang Kara

    Abu Dzar al-Ghiffari ra. sebelum memeluk Islam adalah seorang perampok para kabilah di padang pasir, berasal dari suku Ghiffar yang terkenal dengan sebutan binatang buas malam dan hantu kegelapan. Hanya dengan hidayah Allah akhirnya ia memeluk Islam (dalam urutan kelima atau keenam), dan lewat dakwahnya pula seluruh penduduk suku Ghiffar dan suku tetangganya, suku Aslam mengikutinya memeluk Islam.

    Disamping sifatnya yang radikal dan revolusioner, Abu Dzar ternyata seorang yang zuhud (meninggalkan kesenangan dunia dan mengecilkan nilai dunia dibanding akhirat), berta’wa dan wara’ (sangat hati-hati dan teliti). Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tidak ada di dunia ini orang yang lebih jujur ucapannya daripada Abu Dzar”, dikali lain beliau SAW bersabda, “Abu Dzar — diantara umatku — memiliki sifat zuhud seperti Isa ibn Maryam”.

    Pernah suatu hari Abu Dzar berkata di hadapan banyak orang, “Ada tujuh wasiat Rasulullah SAW yang selalu kupegang teguh. Aku disuruhnya agar menyantuni orang-orang miskin dan mendekatkan diri dengan mereka. Dalam hal harta, aku disuruhnya memandang ke bawah dan tidak ke atas (pemilik harta dan kekuasaan)). Aku disuruhnya agar tidak meminta pertolongan dari orang lain. Aku disuruhnya mengatakan hal yang benar seberapa besarpun resikonya. Aku disuruhnya agar tidak pernah takut membela agama Allah. Dan aku disuruhnya agar memperbanyak menyebut ‘La Haula Walaa Quwwata Illa Billah’. ”

    Dipinggangnya selalu tersandang pedang yang sangat tajam yang digunakannya untuk menebas musuh-musuh Islam. Ketika Rasulullah bersabda padanya, “Maukah kamu kutunjukkan yang lebih baik dari pedangmu? (Yaitu) Bersabarlah hingga kamu bertemu denganku (di akhirat)”, maka sejak itu ia mengganti pedangnya dengan lidahnya yang ternyata lebih tajam dari pedangnya.

    Dengan lidahnya ia berteriak di jalanan, lembah, padang pasir dan sudut kota menyampaikan protesnya kepada para penguasa yang rajin menumpuk harta di masa kekhalifahan Ustman bin Affan. Setiap kali turun ke jalan, keliling kota, ratusan orang mengikuti di belakangnya, dan ikut meneriakkan kata-katanya yang menjadi panji yang sangat terkenal dan sering diulang-ulang, “Beritakanlah kepada para penumpuk harta, yang menumpuk emas dan perak. Mereka akan diseterika dengan api neraka, kening dan pinggang mereka akan diseterika dihari kiamat!”

    Teriakan-teriakannya telah menggetarkan seluruh penguasa di jazirah Arab. Ketika para penguasa saat itu melarangnya, dengan lantang ia berkata, “Demi Allah yang nyawaku berada dalam genggaman-Nya! Sekiranya tuan-tuan sekalian menaruh pedang diatas pundakku, sedang mulutku masih sempat menyampaikan ucapan Rasulullah yang kudengar darinya, pastilah akan kusampaikan sebelum tuan-tuan menebas batang leherku”

    Sepak terjangnya menyebabkan penguasa tertinggi saat itu Ustman bin Affan turun tangan untuk menengahi. Ustman bin Affan menawarkan tempat tinggal dan berbagai kenikmatan, tapi Abu Dzar yang zuhud berkata, “aku tidak butuh dunia kalian!”.

    Akhir hidupnya sangat mengiris hati. Istrinya bertutur, “Ketika Abu Dzar akan meninggal, aku menangis. Abu Dzar kemudian bertanya, “Mengapa engkau menangis wahai istriku? Aku jawab, “Bagaimana aku tidak menangis, engkau sekarat di hamparan padang pasir sedang aku tidak mempunyai kain yang cukup untuk mengkafanimu dan tidak ada orang yang akan membantuku menguburkanmu”.

    Namun akhirnya dengan pertolongan Allah serombongan musafir yang dipimpin oleh Abdullah bin Ma’ud ra (salah seorang sahabat Rasulullah SAW juga) melewatinya. Abdullah bin Mas’ud pun membantunya dan berkata, “Benarlah ucapan Rasulullah!. Kamu berjalan sebatang kara, mati sebatang kara, dan nantinya (di akhirat) dibangkitkan sebatang kara”.

    ***

    (Sumber tulisan oleh : NN, dengan beberapa edit oleh Penjaga Kebun Hikmah)

    from kebunhikmah.com

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 9 October 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kesejahteraan Hidup Boleh Dicari, Asalkan.. 

    Kesejahteraan Hidup Boleh Dicari, Asalkan..

    Seorang arif melihat setan dalam keadaan telanjang di tengah-tengah masyarakat. “Hai makhluk yang tak punya malu, mengapa kamu telanjang di hadapan manusia?” tegur sang arif. “Mereka bukan manusia, mereka kera.” Sesungguhnya sudah sejak lama Al-Ghazali menulis dalam Ihya`, Dzahaban naas wa baqiyan nasnaas (Telah pergi manusia, yang tertinggal hanya kera) “Jika kamu ingin melihat manusia, ikutlah aku ke pasar,” lanjut sang setan.

    Orang arif itu lalu pergi bersama setan ke pasar. Sesampainya di pasar, setan itu menjelma seorang laki-laki dan langsung menuju ke toko yang paling besar. Toko itu hanya menjual permata yang berkualitas tinggi dengan harga yang amat mahal.

    “Coba lihat permata itu,” kata setan kepada pemilik toko sambil menunjuk permata yang paling besar. Pemilik toko mengambil permata itu lalu menyerahkannya kepada setan. Ketika permata berpindah ke tangan setan, pemilik toko mendengar muadzin menyerukan: hayya `alash sholaah (Marilah salat) Pemilik toko segera mengambil kembali permatanya. “Kamu pasti setan. Tak ada yang datang pada waktu seperti ini kecuali setan,” kata pemilik toko. Kemudian ia mengusir si setan. Setelah setan pergi, ia lalu menghancurkan permata itu dengan batu.

    “Permata ini tidak ada berkahnya,” kata pemilik toko. Kemudian ia keluar untuk salat.

    Allah berfirman: “Laki-laki yang perniagaan dan jual beli tidak dapat melalaikannya dari mengingat Allah.” (QS An-Nur, 24:37)

    Dalam surat Al-Muzzammil, Allah menyejajarkan para pedagang dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Dan orang-orang yang berjalan di bumi mencari sebagian karunia Allah, dan orang-orang lain yang berperang di jalan Allah. (QS Al-Muzzammil, 73:20)

    Perdagangan untuk mencari kesejahteraan di dunia tidaklah tercela. Sebaik-baik urusan dunia adalah yang dapat menjadi tunggangan menuju akhirat. Adapun yang tercela adalah jika kita selalu tenggelam dalam urusan keduniaan, hati kita selalu terikat pada dunia sehingga kita melalaikan hak-hak dan perintah-perintah Allah. Yang terpuji adalah hidup sederhana, tidak berlebih-lebihan. Hidup berlebih-lebihan membuat seseorang terlambat masuk surga.

    Seorang bermimpi melihat Malik bin Dinar berlomba-lomba dengan Muhammad bin Wasi’ menuju surga. Ia menyaksikan bahwa Muhammad bin Wasi` akhirnya dapat mendahului Malik bin Dinar. Orang itu kemudian bertanya mengapa demikian kejadiannya, karena menurut perkiraannya Malik bin Dinar bakal menang. Kaum salihin menjawab bahwa ketika meninggal dunia Muhammad bin Wasi’ hanya meninggalkan sepotong pakaian, sedang Malik meninggalkan dua potong pakaian.

    Jika seorang arif seperti Malik bin Dinar dapat tertinggal hanya karena pakaian, lalu bagaimana dengan kita. Lemari kita penuh dengan pakaian, dan kita pun masih merasa belum cukup.

    Ya Allah, jadikanlah kami puas dengan rezeki yang Engkau karuniakan. Berkahilah apa yang telah Engkau berikan. Dan jangan jadikan (bagi kami) dunia sebagai puncak perhatian dan pengetahuan. (I:511)

    ***

    Habib Muhammad bin Hadi bin Hasan bin Abdurrahman Asseqaf, Tuhfatul Asyraf, Kisah dan Hikmah

     
    • annisa 8:15 am on 14 Oktober 2011 Permalink

      Subhanallah… ternyata banyak jika kita harta mungkin terlihat baik di dunia tetapi akang sengsara di akherat jika kita salah memanagenya.., karena itu marilah kita hidup sederhana.. biar lebih cepat menuju Syurga-Nya.. .aammiinn..

  • erva kurniawan 1:28 am on 8 October 2011 Permalink | Balas  

    Menangkap Peluang Kebajikan 

    Menangkap Peluang Kebajikan

    Oleh: Muhammad Nuh

    Hidup kadang tak ubahnya seperti merawat bunga mahal. Perlu ketelitian dan kesabaran agar bunga tetap indah. Sedikit saja sembrono, bukan saja bunga indah menjadi layu. Tapi, penyakitnya bisa menular ke bunga lain.

    Ada yang gelisah ketika sampai tiga kali Rasulullah saw. menyebut akan datang ahli surga. Dan tiga kali pula orang yang datang selalu dia. Beliau adalah Saad bin Abi Waqash. Kegelisahan pun menjadikan Abdullah bin Umar menyatakan diri ingin bertandang ke rumah Saad.

    Satu hari ia bermalam di rumah Saad, tapi hasilnya biasa-biasa saja. Tidak ada ibadah istimewa yang berbeda dengan yang biasa diamalkan para sahabat lain. Hingga lebih dari dua malam, Ibnu Umar terus terang. “Saya cuma ingin tahu, amal istimewa apa yang Anda lakukan hingga Rasul menyebut Anda ahli surga,” begitulah kira-kira ucap putera Umar bin Khathab ini.

    Saad dengan tanpa sedikit pun merasa bangga mengatakan, “Tidak ada perbuatan ibadah saya yang istimewa. Kecuali, tiap menjelang tidur, saya selalu membersihkan hati saya dari hasad, kecewa, dan benci dengan semua saudara mukmin selama pagi hingga malam. Itu saja!” Seperti itulah jawaban Saad. Sederhana, tapi istimewa.

    Berbeda dengan Ibnu Umar, Thalhah pun pernah gelisah. Beliau khawatir kalau sebuah ayat yang baru saja turun berkenaan dengan dirinya. Ayat itu berbunyi, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahui.” (QS. 3: 92)

    Soalnya, ada satu kebun kurma subur milik Thalhah yang begitu menambat hatinya. Hampir tiap hari ia berkunjung ke situ. Shalat Zuhur dan Ashar di situ, tilawah dan zikir pun di kebun indah itu. Ia nikmati kicauan burung, dan pemandangan sejuk hijaunya dedaunan kurma.

    Menariknya, kegelisahan itu tidak ia tanyakan ke Rasulullah. Tapi, langsung ia infakkan buat jalan dakwah. Ia nyatakan di hadapan Rasul kalau kebun kesayangannya itu diwakafkan buat kepentingan perjuangan Islam. Subhanallah!

    Begitulah para sahabat Rasul. Mereka begitu gelisah ketika diri belum berhasil menangkap peluang kebaikan. Padahal, peluang itu sudah ditawarkan melalui ayat Alquran yang baru saja turun atau ucapan Rasul. Kegelisahan itu belum akan sembuh hingga mereka benar-benar telah mengambil peluang itu dengan sebaik-baiknya.

    Itulah sikap ihsan yang dicontohkan para sahabat dalam menata diri. Mereka begitu menjaga mutu amal agar tetap the best. Selalu terdepan. Tidak heran jika semangat fastabiqul khairat atau lomba berbuat baik begitu memasyarakat di kalangan sahabat Rasul.

    Mereka seperti terbingkai dalam sebuah ayat Alquran tentang generasi pewaris Nabi. Dalam surah Faathir ayat 32. “Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami. Lalu, di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.”

    Sikap ihsan itulah yang menjadikan para sahabat Rasul selalu punya hubungan harmonis dengan Yang Maha Penyayang, Allah swt. Hati mereka begitu terpaut dengan mutu ibadah yang serba terbaik. Tidak heran jika berkah kemenangan selalu memancar di tiap sepak terjang perjuangan mereka. Siapa pun yang mereka lawan. Dan seperti apa pun kendala perjuangan yang mereka hadapi.

    Begitu pun dalam hubungan muamalah sesama manusia. Mereka tidak sedang menyulam benang vertikal sementara tali horisontal terburai. Hubungan kepada Allah selalu the best, dan kepada manusia sangat terawat. Tidak ada hubungan dagang, perjanjian, hidup bertetangga yang cacat.

    Mereka begitu sempurna karena setidaknya ada tiga hal. Pertama, pemahaman dan ketaatan yang begitu utuh terhadap aturan Islam. Mungkin ini wajar karena Islam yang mereka peroleh langsung dari sumbernya yang pertama, Rasulullah saw.

    Kedua, kehausan mereka dengan ilmu selalu berdampak pada perubahan dalam diri dan amal di hadapan manusia. Ini mungkin yang mahal. Mereka belajar Islam bukan buat sekadar ilmu pengetahuan. Apalagi, cuma kliping materi. Tapi, benar-benar sebagai penuntun langkah yang segera mereka ayunkan.

    Dan ketiga, adanya keteladanan dari pihak yang sangat mereka hormati. Inilah yang mungkin langka. Tapi, ini pula yang akhirnya menentukan. Membumi tidaknya sebuah nilai di tengah masyarakat sangat bergantung dari sepak terjang pelopornya. Cocokkah antara ucapan dan perbuatan. Jika klop, nilai akan berkembang pesat. Tapi jika sebaliknya, sebuah nilai hanya sekadar kumpulan pengetahuan yang cuma bagus dalam lemari pajangan.

    Allah swt. berfirman, “Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)

    ‘Aku dan orang yang mengikutiku’. Itulah simbol keteladanan yang berbuah ketaatan dan semangat kerja yang selalu membara.

    Dalam hal apa pun, Allah swt. meminta hamba-hambaNya untuk selalu ihsan. Termasuk dengan hewan. “Sesungguhnya Allah swt. mewajibkan berbuat baik atas segala sesuatu. Apabila kamu membunuh, hendaknya membunuh dengan cara yang baik. Dan jika menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik: menajamkan pisau dan menyenangkan hewan sembelihan itu.” (HR. Muslim)

    ***

    dakwatuna.com

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 7 October 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Bung Hatta dan Kisah Sepatu Bally 

    Bung Hatta dan Kisah Sepatu Bally

    PADA tahun 1950-an, Bally adalah sebuah merek sepatu yang bermutu tinggi dan tentu tidak murah. Bung Hatta, Wakil Presiden pertama RI, berminat pada sepatu Bally. Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut.

    Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi karena selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai taulan yang datang kepadanya untuk meminta pertolongan. Hingga akhir hayatnya, sepatu Bally idaman Bung Hatta tidak pernah terbeli karena tabungannya tak pernah mencukupi.

    Yang sangat mengharukan dari cerita ini, guntingan iklan sepatu Bally itu hingga Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang Hatta. Jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu, sebenarnya sangatlah mudah bagi Bung Hatta untuk memperoleh sepatu Bally. Misalnya, dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalan Bung Hatta.

    “Namun, di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain. Bung Hatta memilih jalan sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri,” kata Adi Sasono, Ketua Pelaksana Peringatan Satu Abad Bung Hatta. Pendeknya, itulah keteladanan Bung Hatta, apalagi di tengah carut-marut zaman ini, dengan dana bantuan presiden, dana Badan Urusan Logistik, dan lain-lain.

    Bung Hatta meninggalkan teladan besar, yaitu sikap mendahulukan orang lain, sikap menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi konsumsi pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin dengan tidak berutang atau bergantung pada orang lain. Seandainya bangsa Indonesia dapat meneladani karakter mulia proklamator kemerdekaan ini, seandainya para pemimpin tidak maling, tidak mungkin bangsa dengan sumber alam yang melimpah ini menjadi bangsa terbelakang, melarat, dan nista karena tradisi berutang dan meminta sedekah dari orang asing.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • nasrulbintang 6:32 am on 7 Oktober 2011 Permalink

      heheeh bung hatta memang hebat…

    • dikcy 2:26 pm on 17 Oktober 2011 Permalink

      suri teladan untuk kita semua …

    • Beta 5:07 pm on 8 Februari 2012 Permalink

      terima kasih bung hatta, berangkat dari cerita sederhanamu, aku sebagai anak bangsa akan mengambil ibroh dari ceritamu.akan aku terapkan dalam kehidupanku.semoga Allah mengampuni dosa-dosamu………..

    • Magda 11:14 am on 10 Februari 2012 Permalink

      Terimakasih, artikelnya bagus sekali. Izin share di Fb ya :) Saya penggemar beliau sejak kecil. Ayah saya memiliki beberapa biografi beliau. Salah satunya adalah Bung Hatta Pribadinya dalam Kenangan yang saya baca entah berapa kali sewaktu saya masih duduk di Sekolah Dasar.

    • ophan 10:56 pm on 13 Maret 2012 Permalink

      artikelnya sangat menarik,

    • Lia 3:43 pm on 15 Agustus 2012 Permalink

      Kalau saya lihat pemimpin kita tahun 2012. Semuanya berlomba lomba mengisi tabungannya sendiri. Foke main politik uang demi mendapat jabatan gub DKI. Anggota dewan terhormat MPR/DPR tidur dirapat tapi giat korupsi dan giat menerima uang suap. Polisi cuma jadi tukang palak dan tukang pukul koruptor. Rakyat Indonesia dulu dijajah dan dirampok bangsa asing sekarang dirampok bangsa sendiri. Menyedihkan.

  • erva kurniawan 1:12 am on 6 October 2011 Permalink | Balas  

    Keutamaan Dzikir Mengingat Allah 

    Keutamaan Dzikir Mengingat Allah

    Allah memerintahkan orang yang beriman untuk berzikir (mengingat dan menyebut nama Allah) sebanyak-banyaknya:

    “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” [QS Al Ahzab 33:41]

    Tidak berzikir akan mengakibatkan seseorang jadi orang yang rugi.

    “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” [QS Al Munaafiquun 63:9]

    Allah mengingat orang yang mengingatNya.

    “Karena itu, ingatlah Aku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” [Al Baqarah:152]

    Orang yang beriman selalu ingat kepada Allah dalam berbagai keadaan :

    “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” [QS Ali ‘Imran 3:190-191]

    Dengan berzikir hati menjadi tenteram.

    “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” [QS 13:28]

    Menyebut Allah dapat membawa ketenangan dan menyembuhkan jiwa :

    Menyebut-nyebut Allah adalah suatu penyembuhan dan menyebut-nyebut tentang manusia adalah penyakit (artinya penyakit akhlak). (HR. Al-Baihaqi)

    Nabi berkata: Tiada amal perbuatan anak Adam yang lebih menyelamatkannya dari azab Allah daripada zikrullah. (HR. Ahmad)

    Demi yang jiwaku dalam genggamanNya, kalau kamu selamanya bersikap seperti saat kamu ada bersamaku dan mendengarkan zikir, pasti para malaikat akan bersalaman dengan kamu di tempat tidurmu dan di jalan-jalan yang kamu lalui. Tetapi, wahai Hanzhalah (nama seorang sahabat) kadangkala begini dan kadangkala begitu. (Beliau mengucapkan perkataan itu kepada Hanzhalah hingga diulang-ulang tiga kali). (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

    Perumpamaan orang yang berzikir kepada Robbnya dan yang tidak, seumpama orang hidup dan orang mati  (HR. Bukhari dan Muslim)

    Nabi berkata: ” Nyanyian dan permainan hiburan yang melalaikan menumbuhkan kemunafikan dalam hati, bagaikan air menumbuhkan rerumputan. Demi yang jiwaku dalam genggamanNya, sesungguhnya Al Qur’an dan zikir menumbuhkan keimanan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan rerumputan” (HR. Ad-Dailami)

    Nabi berkata: ”Maukah aku beritahu amalanmu yang terbaik, yang paling tinggi dalam derajatmu, paling bersih di sisi Robbmu serta lebih baik dari menerima emas dan perak dan lebih baik bagimu daripada berperang dengan musuhmu yang kamu potong lehernya atau mereka memotong lehermu? Para sahabat lalu menjawab, “Ya.” Nabi Saw berkata,”Zikrullah.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

    Seorang sahabat berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam sudah banyak bagiku. Beritahu aku sesuatu yang dapat aku menjadikannya pegangan.” Nabi Saw berkata, “Biasakanlah lidahmu selalu bergerak menyebut-nyebut Allah (zikrullah).” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

    Nabi berkata: Sebaik-baik zikir dengan suara rendah dan sebaik-baik rezeki yang secukupnya. (HR. Abu Ya’la)

    Di antara ucapan tasbih Rasulullah Saw ialah : “Maha suci yang memiliki kerajaan dan kekuasaan seluruh alam semesta, Maha suci yang memiliki kemuliaan dan kemahakuasaan, Maha suci yang hidup kekal dan tidak mati.” (HR. Ad-Dailami)

    “Dua kalimat ringan diucapkan lidah, berat dalam timbangan dan disukai oleh Allah yaitu kalimat: “Subhanallah wabihamdihi, subhanallahil ‘Adzhim” (Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya, Maha suci Allah yang Maha Agung). (HR. Bukhari)

    Nabi berkata: ”Ada empat perkara, barangsiapa memilikinya Allah akan membangun untuknya rumah di surga, dan dia dalam naungan cahaya Allah yang Maha Agung. Apabila pegangan teguhnya “Laailaha illallah”. Jika memperoleh kebaikan dia mengucapkan “Alhamdulillah”, jika berbuat salah (dosa) dia mengucapkan “Astaghfirullah” dan jika ditimpa musibah dia berkata “Inna lillahi wainna ilaihi roji’uun.” (HR. Ad-Dailami)

    Nabi berkata: Wahai Aba Musa, maukah aku tunjukkan ucapan dari perbendaharaan surga? Aku menjawab, “Ya.” Nabi berkata, “La haula wala Quwwata illa billah.” (Tiada daya upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).” (HR. Ibnu Hibban dan Ahmad)

    Di antara zikir yang utama adalah Laa ilaaha illallahu (Tidak ada Tuhan selain Allah)

    “Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: ‘Zikir yang paling utama adalah Laa ilaaha illallahu” [HR Turmudzi]

    ‘Rasulullah bersabda : ‘Sesungguhnya aku berkata bahwa kalimat : ‘Subhanallah, wal hamdulillah, wa Laa Ilaaha Illallah, wallahu akbar’ (Maha Suci Allah, dan segala puji bagi Allah, dan tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan Allah Maha Besar) itu lebih kusukai daripada apa yang dibawa oleh matahari terbit.’ (HR Bukhari dan Muslim)

    ***

    Referensi:

    Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) – Dr. Muhammad Faiz Almath – Gema Insani Press

    Disadur dari: HaditsWeb 2.0 – Sofyan Efendi – Kumpulan dan Referensi Belajar Hadits

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 5 October 2011 Permalink | Balas  

    Aurat Kaum Wanita 

    Aurat Kaum Wanita

    1. Bulu kening

    Menurut Bukhari “Rasullulah melaknat perempuan yang mencukur (menipiskan bulu kening atau meminta supaya dicukurkan bulu kening)”

    Riwayat Abu Daud Fi Fathil Bari

    2. Kaki ( tumit kaki )

    “Dan janganlah mereka ( perempuan ) membentakkan kaki ( atau mengangkatnya) agar diketahui perrhiasan yang mereka sembunyikan” An-Nur : 31

    (1). menampakkan kaki (2). menghayungkan / melenggokkan badan mengikut hentakkan kaki

    3. Wangian

    ” Siapa sahaja wanita yang memakai wangi-wangian kemudian melewati suatu kaum supaya mereka itu mencium baunya, maka wanita itu telah dianggap melakukan zina dan tiap-tiap mata ada zina “. Riwayat Nasaii, Ibn Khuzaimah dan Hibban

    4. Dada

    “Hendaklah mereka (perempuan) melabuhkan kain tudung hingga menutupi dada-dada mereka”. An-Nur : 31

    5. Gigi

    “Rasullulah melaknat perempuan yang mengikir gigi atau meminta supaya dikikirkan giginya”. Riwayat At-Thabrani “Dilaknat perempuan yang menjarangkan giginya supaya menjadi cantik,yang merubah ciptaan Allah”. Riwayat Bukhari dan Muslim

    6. Muka dan leher

    “Dan tinggallah kamu (perempuan) di rumah kamu dan janganlah kamu menampakkan perhiasan mu seperti orang jahilliah yang dahulu ”

    (a). bersolek ( make-up ) (b). menurut Maqatil : Sengaja membiarkan ikatan tudung yang menampakkan leher seperti orang Jahilliyah

    7. Muka dan Tangan

    “Asma Binte Abu Bakar telah menemui Rasullulah dengan memakai pakaian yang tipis. Sabda Rasullulah: Wahai Asma ! Sesungguhnya seorang gadis yang telah berhaidh tidak boleh baginya menzahirkan anggota badan kecuali pergelangan tangan dan wajah saja”. Riwayat Muslim dan Bukhari

    8. Tangan

    “Sesungguhnya kepala yang ditusuk dengan besi itu lebih baik daripada menyentuh kaum yang bukan sejenis yang tidak halal baginya”. Riwayat At Tabrani dan Baihaqi

    9. Mata

    “Dan katakanlah kepada perempuan mukmin hendaklah mereka menundukkan sebahagian dari pemandangannya”. An Nur : 31

    Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya. Kamu hanya boleh pada pandangan yang pertama, ada pun pandangan seterusnya tidak dibenarkan “. Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi

    10. Mulut ( suara )

    “Janganlah perempuan-perempuan itu terlalu lunak dalam berbicara sehingga berkeinginan orang yang ada perasaan serong dalam hatinya, tetapi ucapkanlah perkataan-perkataan yang baik“. Al Ahzab : 32

    ” Sesungguhnya akan ada umat ku yang minum arak yang mereka namakan dengan yang lain, iaitu kepala mereka dilalaikan oleh bunyi-bunyian (muzik) dan penyanyi perempuan, maka Allah akan tenggelamkan mereka itu dalam bumi “. Riwayat Ibn Majah

    11. Kemaluan

    “Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan mukmin, hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka (jangan berzina)”. An Nur : 31

    “Apabila seorang perempuan itu sembahyang lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya (tidak berzina) dan menta’ati suaminya, maka masuklah ia kedalam syurga daripada pintu-pintu yang ia kehendakinya”. Riwayat Al Bazzar

    “Tiada seorang perempuan pun yang membuka pakaiannya bukan dirumah suaminya, melainkan dia telah membinasakan tabir antaranya dengan Allah”. Riwayat Tirmidzi, Abu Daud dan Ibn Majah

    12. Pakaian

    “Barangsiapa memakai pakaian yang berlebih-lebihan, maka Allah akan memberikan pakaian kehinaan dihari akhirat nanti”. Riwayat Ahmad, Abu Daud, An Nasaii dan Ibn Majah

    “Sesungguhnya sebilangan ahli neraka ialah perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang yang condong pada maksiat dan menarik orang lain untuk melakukan maksiat. Mereka tidak akan masuk syurga dan tidak akan mencium baunya”. Riwayat Bukhari dan Muslim

    (a). Berpakaian tipis / jarang (b). Berpakaian ketat / membentuk (c). Berpakaian berbelah / membuka bahagian-bahagian tertentu

    “Hai nabi-nabi katakanalah kepada isteri-isterimu, anak perempuan mu dan isteri-isteri orang mukmin, hendaklah mereka memakai baju jilbab ( baju labuh dan loggar ) yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali. Lantaran itu mereka tidak diganggu. Allah maha pengampun lagi maha penyayang” Al Ahzab : 59

    13. Rambut

    “Wahai anakku Fatimah ! Adapun perempuan-perempuan yang akan digantung rambutnya hingga mendidih otaknya dalam neraka adalah mereka itu di dunia tidak mahu menutup rambutnya daripada dilihat oleh lelaki yang bukan mahramnya”. Riwayat Bukhari dan Muslim.

    14. “Bagi wanita-wanita yang memelihara dirinya dan menta’ati suaminya, segala makhluk, burung yang terbang, ikan dilaut, malaikat dilangit, matahari dan bulan dan lain-lain memohon keampunan Allah untuknya”

    Wassalam

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 4 October 2011 Permalink | Balas  

    Saat – saat Kritis Umar ra dan Wasiatnya 

    Saat – saat Kritis Umar ra dan Wasiatnya

    Disebutkan bahwa Umar ra ditikam setelah mengatakan, “Dirikanlah shaf – shaf kalian!” kepada orang – orang di masjid dan baru hendak melakukan takbhiratul-ihram. Akibat tikaman itu Umar roboh. Umar pun digotong menuju rumahnya. Saat itu matahari hampir terbit. Abdurrahman langsung menggantikan Umar ra mengimami shalat subuh dengan membaca surat pendek pada kedua rakaatnya.

    Dalam waktu yang kritis itu, orang – orang segera memberikan nabiz kepada Umar. Namun, nabiz yang diminumkan itu keluar lewat luka – luka bekas tikaman. Mereka pun lalu meminumkan susu, tapi susu itu juga keluar dari lukanya. Melihat demikian orang – orang menenangkanya, “Tak ada yang perlu engkau khawatirkan.”

    Umar pun berkata, “Tentu, sebab sekiranya ada yang pelu dikhawatirkan karena pembunuhan, pasti sekarang aku sudah mati terbunuh!”

    “Demi Allah!” Umar melanjutkan perkataannya, “Aku ingin, ketika aku meninggalkan dunia ini, aku berada dalam keadaan dengan rezeki apa adanya. Tiada kewajiban yang harus aku bayar dan hak yang harus kuambil. Sungguh persahabatanku dengan Rasulullah saw, suci murni.”

    Saat itu terdengar Ibnu Abbas ra memuji Umar. Umar ra berkata, “Seandainya aku memiliki emas sepenuh bumi ini, sungguh akan aku pergunakan untuk menebus diriku dari malapetaka hari kiamat. Adapun perkara kekhalifahan, aku serahkan pada permusyawaratan Ustman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah, az-Zubair ibnul Awwam, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad bin Abi Waqqash. “

    Umar ra pun memerintahkan Shuhaib untuk mengimami shalat. (mungkin maksudnya shalat Dhuhur dst-pen)

    Dalam saat – saat kritis itu, Umar juga mengatakan, “Segala puji bagi Allah, yang telah tidak menentukan kematianku di tangan orang yang mengaku dirinya muslim.” Umar kemudian memanggil putranya, Abdullah dan berkata, “Wahai Abdullah, periksalah berapa jumlah hutangku semua!” Setelah dihitung, ternyata jumlah hutang Umar sebanyak 86 ribu atau sekitar itu. Maka Umar berkata, “ Jika harta keluarga Umar cukup untuk menutupi utang – utang tersebut, bayarlah dengan harta mereka! Namun bila tidak cukup, tolong minta sisanya kepada bani Addi. Dan bila masih tidak cukup juga, tolong minta kepada kaum Quraisy!”

    Umar kemudian menyuruh Abdullah, “Dan sekarang, wahai Abdullah, pergilah kamu menjumpai Ummul Mukminin, Aisyah, dan katakan kepadanya bahwa Umar mohon diizinkan untuk dimakamkan bersama kedua sahabatnya (Rasulullah saw dan Abu Bakar ra).”

    Abdullah segera menemui Aisyah ra dan menyampaikan pesan ayahnya. Aisyah pun berkata, “Sebenarnya, tempat itu ingin kuperuntukkan untuk diriku sendiri, akan tetapi pada hari ini aku lebih mengutamakan Umar daripada diriku.”

    Abdullah kemudian kembali kepada ayahnya untuk memberitahukan baahwa Ummul Mukminin memperkenankan permintaanya. Mendengar hal itu, Umar mengucapkan. “Alhamdulillah.” Ketika itu ada salah seorang yang hadir di sana dan mengatakan, “Wahai Amirul Mukminin, angkat dan wasiatkanlah bagi kami seorang khalifah penggantimu!”

    Umar menjawab, “Aku tidak melihat seorangpun yang lebih pantas dalam masalah ini selain beberapa orang yang pada saat Rasulullah saw wafat, beliau ridha terhadap mereka.” Umar ra lantas menyebutkan enam nama sahabat, yaitu Ustman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah, az-Zubair ibnul Awwam, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad bin Abi Waqqash.

    Ikut hadir bersama mereka Abdullah bin Umar, akan tetapi ia tidak menentukan apa – apa dalam perkara ini.

    Selain itu Umar ra juga mewasiatkan seperempat dari hartanya. Wasiat Umar kepada Khalifah Sesudahnya Aku wasiatkan kepadamu untuk bertakwa kepada Allah swt. Yang tiada sekutu bagi-Nya. Aku wasiatkan kepadamu agar memperlakukan kaum Muhajirin yang terdahulu dengan baik, yaitu dengan menghormati mereka karena hijrah mereka. Aku wasiatkan agar engkau memperlakukan kaum anshar dengan baik, sambutlah kebaikan mereka dan maafkanlah kesalahan mereka. Aku wasiatkan agar engkau memperlakukan penduduk setiap kota dengan baik karena mereka adalah penolong Islam, pemanas hati musuh, dan pemungut cukai. Janganlah engkau memungut pajak mereka jika kalau karena kebaikan mereka memberikannya. Aku wasiatkan agar engkau memperlakukan penduduk desa dengan baik karena mereka adalah asal bangsa Arab dan termasuk Maddatul Islam. Hendaklah engkau mengambil yang berlebih dari harta benda orang – orang kaya diantara mereka untuk kemudian engkau serahkan kepada fakir miskin diantara mereka. Aku wasiatkan agar engkau memperlakukan ahludz dzimmah (kafir zimmi) dengan baik, membela mereka dari serangan musuh mereka, dan jangan engkau membebani mereka dengan sesuatu yang diluar kemampuan mereka. Lakukan hal itu bila mereka menunaikan kewajiban kepada kaum muslimin baik secara suka rela maupun terpaksa. Aku wasiatkan kepadamu untuk bertakwa kepada Allah, berhati – hatilah dari –Nya dan takut akan murka – Nya. Aku wasiatkan kepadamu agar takut kepada Allah dalam menjaga hak manusia dan jangan takut kepada manusia dalam menjaga hak Allah swt. Aku wasiatkan kepadamu agar berlaku adil kepada rakyat. Curahkanlah pikiran, tenaga, dan waktumu untuk memenuhi kebutuhan mereka, serta janganlah engkau lebih mengutamakan si kaya daripada si miskin. Semua itu adalah pemberi ketentraman bagi hatimu dan penghapus dosamu. Kebaikan akan menjadi balasan perbuatanmu itu. Aku perintahkan engkau untuk bertindak tegas dalam masalah yang menyangkut perintah, batasan – batasan, larangan – larangan Allah, baik kepada orang yang dekat maupun orang yang jauh denganmu. Jangan engkau kasihani seorangpun yang menyalahi perintah Allah karena bila itu terjadi, maka engkau telah ikut melanggar kehormatan Allah, sama sepertinya. Bersikaplah sama rata kepada semua orang, dan jangan sampai celaan orang yang mencela memalingkan engkau dari jalan Allah. Janganlah sekali – sekali engkau menunjukan rasa suka dan bersikap lebih mendahulukan kepentingan diri sendiri daripada orang lain pada harta rampasan yang diamanahkan Allah kepadamu untuk orang – orang mukmin. Hal itu akan membuatmu bertindak aniaya dan zalim dan dengan begitu engkau telah mengharamkan kepada dirimu sendiri dari apa yang telah Allah halalkan untukmu. Sesungguhnya engkau telah berada di salah satu kedudukan dunia dan akhirat. Bila dalam kehidupan duniamu engkau berusaha berpaling dan zuhud dari hal – hal yang dihalalkan oleh Allah kepadamu, berarti engkau telah mengerjakan iman dan ridha di dunia. Namun jika hawa nafsu dapat mengalahkanmua, maka engau telah mengerjakan yang dimurkai Allah. Aku wasiatkan kepadamu, jangan engkau izinkan dirimu, begitu pula selain dirimu untuk menzalimi ahludz dzimmah. Aku wasiatkan kepadamu, menganjurkan, dan menasehatimu untuk mencari keridhaan Allah dan keberuntungan di akhirat. Akau pilih menunjukimu dengan hal – hal yang juga aku pakai untuk menunjuki dan juga anaku. Sekiranya engkau melaksanakan nasehatku dan menjalankan perintahku, maka engkau akan memperoleh bagian yang berlimpah dan keuntungan yang memadai. Namun jika engkau tidak menerima dan tidak peduli akan nasihatku, dan juga tidak bermusyawarah dengan orang lain untuk – masalah – masalah besar yang karenanya Allah akan ridha padamu, sesungguhnya yang demikian adalah suatu aib dirimu. Padahal pendapatmu sendiri belum tentu benar karena hawa nafsumu ikut serta di sana. Peminpin segala dosa adalah iblis, ialah yang menyerukan kebinasaan. Iblislah yang telah menyesatkan dan menggiring generasi – generasi terdahulu ke dalam neraka. Akan menjadi yang paling buruk bila seseorang berlindung kepada musuh Allah, musuh yang menyeru untuk bermaksiat kepada-Nya. Tunggangilah kebenaran dan ceburkan dirimu dalam kesusahpayahan menuju kebenaran. Jadilah engkau penasihat bagi dirimu sendiri. Demi Allah, aku berharap ketika engkau berdoa, semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kaum muslimin, engkau juga menghormati yang tua, menyayangi anak kecil, serta memuliakan ulama – ulama mereka. Janganlah engkau memukul mereka karena hal itu akan membuat mereka merasa rendah dan terhina. Jangan memonopoli kharaj karena jika itu dilakukan, sama saja engkau menyulut kemarahan mereka. Jangan menghalangi pemberian – pemberian diperuntukkan mereka karena hal itu akan menjatuhkanmu dalam kemiskinan. Jangan mengumpulkan mereka untuk tujuan – tujuan tertentu atau menghalangi mereka untuk kembali kepada keluarga mereka karena hal itu akan memutuskan keturunan mereka. Janganlah engkau membiarkan harta kekayaan mereka berputar di antara orang – orang kaya saja. Buka pintu rumahmu untuk menerima pengaduan mereka, agar yang kuat di antara mereka tidak memakan yang lemah. Inilah wasiatku, dan aku persaksikan kepada Allah keselamatan bagimu.

    ***

    (Sumber : Mahmud al-Humawi, Zuhair. Washaaya wa ‘Izhaat Qiilat fi Aakhiril-Hayaat / Wasiat – wasiat akhir hayat dari Rasulullah, Abu Bakar dll, Jakarta : Gema Insani Press, 2003)

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 3 October 2011 Permalink | Balas  

    Mutiara Hadist 

    Mutiara Hadist

    Saling Ukhuwah

    Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian saling mendengki, melakukan najasy (semacam promosi palsu), saling membenci, memusuhi, atau menjual barang yang sudah dijual ke orang lain. Tetapi jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, tidak menzhalimi, dan tidak membiarkan atau menghinakannya. Takwa itu di sini (beliau menunjuk ke dadanya tiga kali).” (HR. Muslim)

    Apakah Anda Termasuk Berpaling?

    Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda : “Semua umatku masuk syurga, kecuali orang-orang yang berpaling.” ada yang bertanya : “Wahai Rosululloh, siapa saja mereka?”. Rasululloh SAW bersabda : “Siapa saja yang taat kepadaku pasti masuk syurga. Dan siapa saja yang mendurhakaiku dialah termasuk orang-orang yang berpaling.” (HR. Bukhari)

    Jadilah Pemimpin bukan Penguasa

    Dari Ibnu Umar r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda, “Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu akan ditanya mengenai kepemimpinanmu. Imam (Penguasa) adalah pemimpin dan akan ditanya mengenai kepemimpinannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin keluarganya dan bertanggung jawab mengenai kepemimpinannya. Istri adalah pemimpin rumah tangga suaminya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Pelayan (buruh) adalah pemeliharaharta majikannya dan akan ditanya mengenai pemeliharaannya. Maka kamu sekalian adalah pemimpin dan masing-masing bertanggung jawab atas kepemimpinannya. ”  (HR. Bukhari – Muslim)

    Optimis dan Positive thingkinglah kepada Allah !

    Aku adalah menurut persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.Dan Aku bersamanya sepanjang ia ingat kepada-Ku. Jika ia menyebut-Ku dalam dirinya, maka aku menyebutnya dalam diri-Ku. Ketika ia menyebut-Ku ditengah-tengah sekelompok orang, maka Aku menyebutkannya di tengah-tengah kelompok yang lebih baik dari mereka (kelompok malaikat). (HR. Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

    Semoga Bermanfaat. Amin.

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 2 October 2011 Permalink | Balas  

    Keajaiban Al Qur’an dan Ilmu Pengetahuan 

    Keajaiban Al Qur’an dan Ilmu Pengetahuan

    Benar kiranya jika Al Qur’an disebut sebagai mukjizat. Bagaimana tidak, ternyata ayat-ayat Al Qur’an yang diturunkan di abad ke 7 masehi di mana ilmu pengetahuan belum berkembang (saat itu orang mengira bumi itu rata dan matahari mengelilingi bumi), sesuai dengan ilmu pengetahuan modern yang baru-baru ini ditemukan oleh manusia.

    Sebagai contoh ayat di bawah:

    “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” [Al Anbiyaa:30]

    Saat itu orang tidak ada yang tahu bahwa langit dan bumi itu awalnya satu. Ternyata ilmu pengetahuan modern seperti teori Big Bang menyatakan bahwa alam semesta (bumi dan langit) itu dulunya satu. Kemudian akhirnya pecah menjadi sekarang ini.

    Kemudian ternyata benar segala yang bernyawa, termasuk tumbuhan bersel satu pasti mengandung air dan juga membutuhkan air. Keberadaan air adalah satu indikasi adanya kehidupan di suatu planet. Tanpa air, mustahil ada kehidupan. Inilah satu kebenaran ayat Al Qur’an.

    Tatkala merujuk kepada matahari dan bulan di dalam Al Qur’an, ditegaskan bahwa masing-masing bergerak dalam orbit atau garis edar tertentu.

    “Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (Al Qur’an, 21:33)

    Disebutkan pula dalam ayat yang lain bahwa matahari tidaklah diam, tetapi bergerak dalam garis edar tertentu:

    “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Al Qur’an, 36:38)

    Langit yang mengembang (Expanding Universe)

    Dalam Al Qur’an, yang diturunkan 14 abad silam di saat ilmu astronomi masih terbelakang, mengembangnya alam semesta digambarkan sebagaimana berikut ini:

    “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (Al Qur’an, 51:47)

    Menurut Al Qur’an langit diluaskan/mengembang. Dan inilah kesimpulan yang dicapai ilmu pengetahuan masa kini.

    Sejak terjadinya peristiwa Big Bang, alam semesta telah mengembang secara terus-menerus dengan kecepatan maha dahsyat. Para ilmuwan menyamakan peristiwa mengembangnya alam semesta dengan permukaan balon yang sedang ditiup.

    Hingga awal abad ke-20, satu-satunya pandangan yang umumnya diyakini di dunia ilmu pengetahuan adalah bahwa alam semesta bersifat tetap dan telah ada sejak dahulu kala tanpa permulaan. Namun, penelitian, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan teknologi modern, mengungkapkan bahwa alam semesta sesungguhnya memiliki permulaan, dan ia terus-menerus “mengembang”.

    Pada awal abad ke-20, fisikawan Rusia, Alexander Friedmann, dan ahli kosmologi Belgia, George Lemaitre, secara teoritis menghitung dan menemukan bahwa alam semesta senantiasa bergerak dan mengembang.

    Fakta ini dibuktikan juga dengan menggunakan data pengamatan pada tahun 1929. Ketika mengamati langit dengan teleskop, Edwin Hubble, seorang astronom Amerika, menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling menjauhi.

    Gunung yang Bergerak

     “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.” [QS 27:88]

    14 abad lampau seluruh manusia menyangka gunung itu diam tidak bergerak. Namun dalam Al Qur’an disebutkan gunung itu bergerak.

    Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.

    Para ahli geologi memahami kebenaran pernyataan Wegener baru pada tahun 1980, yakni 50 tahun setelah kematiannya. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Wegener dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915, sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan.

    Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.

    Benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada permukaan Bumi secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di Bumi.

    Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana berikut:

    Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama, dan beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 30)

    Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah “continental drift” atau “gerakan mengapung dari benua” untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13)

    Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Al Qur’an bahwa fakta ilmiah ini, yang baru-baru saja ditemukan oleh para ilmuwan, telah dinyatakan dalam Al Qur’an.

     “Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan dan Kami turunkan hujan dari langit lalu Kami beri minum kamu dengan air itu dan sekali kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (Al Qur’an, 15:22)

    Ramalan Kemenangan Romawi atas Persia

     “Alif, Lam, Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang).” (Al Qur’an, 30:1-4)

    Ayat-ayat ini diturunkan kira-kira pada tahun 620 Masehi, hampir tujuh tahun setelah kekalahan hebat Bizantium Kristen di tangan bangsa Persia, ketika Bizantium kehilangan Yerusalem. Kemudian diriwayatkan dalam ayat ini bahwa Bizantium dalam waktu dekat menang. Padahal, Bizantium waktu itu telah menderita kekalahan sedemikian hebat hingga nampaknya mustahil baginya untuk mempertahankan keberadaannya sekalipun, apalagi merebut kemenangan kembali. Tidak hanya bangsa Persia, tapi juga bangsa Avar, Slavia, dan Lombard menjadi ancaman serius bagi Kekaisaran Bizantium. Bangsa Avar telah datang hingga mencapai dinding batas Konstantinopel. Kaisar Bizantium, Heraklius, telah memerintahkan agar emas dan perak yang ada di dalam gereja dilebur dan dijadikan uang untuk membiayai pasukan perang. Banyak gubernur memberontak melawan Kaisar Heraklius dan dan Kekaisaran tersebut berada pada titik keruntuhan. Mesopotamia, Cilicia, Syria, Palestina, Mesir dan Armenia, yang semula dikuasai oleh Bizantium, diserbu oleh bangsa Persia. (Warren Treadgold, A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997, s. 287-299.)

    Diselamatkannya Jasad Fir’aun

    “Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu” [QS 10:92]

    Maurice Bucaille dulunya adalah peneliti mumi Fir’aun di Mesir. Pada mumi Ramses II dia menemukan keganjilan, yaitu kandungan garam yang sangat tinggi pada tubuhnya. Dia baru kemudian menemukan jawabannya di Al-Quran, ternyata Ramses II ini adalah Firaun yang dulu ditenggelamkan oleh Allah swt ketika sedang mengejar Nabi Musa as.

    Injil & Taurat hanya menyebutkan bahwa Ramses II tenggelam; tetapi hanya Al-Quran yang kemudian menyatakan bahwa mayatnya diselamatkan oleh Allah swt, sehingga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.

    Perhatikan bahwa Nabi Muhammad saw hidup 3000 tahun setelah kejadian tersebut, dan tidak ada cara informasi tersebut (selamatnya mayat Ramses II) dapat ditemukan beliau (karena di Injil & Taurat pun tidak disebut). Namun Al-Quran bisa menyebutkannya karena memang firman Allah swt (bukan buatan Nabi Muhammad saw).

    Segala Sesuatu diciptakan Berpasang-pasangan

    Al Qur’an yang berulang-ulang menyebut adanya pasangan dalam alam tumbuh-tumbuhan, juga menyebut adanya pasangan dalam rangka yang lebih umum, dan dengan batas-batas yang tidak ditentukan.

     “Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa-apa yang mereka tidak ketahui.” [Yaa Siin 36:36]

    Kita dapat mengadakan hipotesa sebanyak-banyaknya mengenai arti hal-hal yang manusia tidak mengetahui pada zaman Nabi Muhammad. Hal-hal yang manusia tidak mengetahui itu termasuk di dalamnya susunan atau fungsi yang berpasangan baik dalam benda yang paling kecil atau benda yang paling besar, baik dalam benda mati atau dalam benda hidup. Yang penting adalah untuk mengingat pemikiran yang dijelaskan dalam ayat itu secara rambang dan untuk mengetahui bahwa kita tidak menemukan pertentangan dengan Sains masa ini.

    Meskipun gagasan tentang “pasangan” umumnya bermakna laki-laki dan perempuan, atau jantan dan betina, ungkapan “maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” dalam ayat di atas memiliki cakupan yang lebih luas. Kini, cakupan makna lain dari ayat tersebut telah terungkap. Ilmuwan Inggris, Paul Dirac, yang menyatakan bahwa materi diciptakan secara berpasangan, dianugerahi Hadiah Nobel di bidang fisika pada tahun 1933. Penemuan ini, yang disebut “parit”, menyatakan bahwa materi berpasangan dengan lawan jenisnya: anti-materi. Anti-materi memiliki sifat-sifat yang berlawanan dengan materi. Misalnya, berbeda dengan materi, elektron anti-materi bermuatan positif, dan protonnya bermuatan negatif. Fakta ini dinyatakan dalam sebuah sumber ilmiah sebagaimana berikut:

    “setiap partikel memiliki anti-partikel dengan muatan yang berlawanan dan hubungan ketidakpastian mengatakan kepada kita bahwa penciptaan berpasangan dan pemusnahan berpasangan terjadi di dalam vakum di setiap saat, di setiap tempat.”

    Semua ini menunjukkan bahwa unsur besi tidak terbentuk di Bumi, melainkan dibawa oleh meteor-meteor melalui letupan bintang-bintang di luar angkasa, dan kemudian “dikirim ke bumi”, persis sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut. Jelas bahwa fakta ini tak mungkin diketahui secara ilmiah pada abad ke-7, di saat Al Qur’an diturunkan.

    Tulisan di atas hanyalah sebagian kecil dari keajaiban Al Qur’an yang ada dan ternyata sesuai dengan ilmu pengetahuan modern. Bagi yang ingin tahu lebih banyak silahkan baca buku referensi di bawah.

    Jelas Al Qur’an itu benar dan tak ada keraguan di dalamnya.

     “Kitab Al Quran ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” [Al Baqarah:2]

    Jika agama lain bisa punya lebih dari 4 versi kitab suci yang berbeda satu dengan lainnya, maka Al Qur’an hanya ada satu dan tak ada pertentangan di dalamnya:

     “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” [An Nisaa’:82]

    Al Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang bisa dihafal jutaan manusia (Hafidz/penghafal Al Qur’an) sehingga keaslian/kesuciannya selalu terjaga.

    ***

    Sumber:

    Harun Yaya

    Mukjizat Al Qur’an, Prof. Dr. Quraisy Syihab

     
    • Kaprawi 9:10 am on 6 Februari 2012 Permalink

      Syukron artikelnya salam kenal taaruf dari Kaprawi di Gelumbang suka menang Sumsel

    • Iwan CH 10:45 pm on 8 Maret 2012 Permalink

      alhamdulillah, terimakasih kawan, dahagaku terobati, sekali lagi terimakasih

  • erva kurniawan 1:44 am on 1 October 2011 Permalink | Balas  

    Belajar Baca Al Qur’an Online 

    Belajar Baca Al Qur’an Online

    Assalamu’alaikum wr. wb

    Saya mendapatkan informasi dari sahabat di internet, website belajar membaca Al Qur’an (gratis), pada: http://www.belajarbaca-alquran.com/

    Wassalamu’alaikum wr. wb.

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: