Updates from Desember, 2014 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:25 am on 31 December 2014 Permalink | Balas  

    Hakikat Pergantian Tahun Baru 

    Malam-Tahun-BaruHakikat Pergantian Tahun Baru

    K.H. Rahmat ‘Abdullah (Ketua Yayasan IQRO Bekasi)

    Jika kita merenungi peristiwa pergantian tahun dan perhitungan waktu, terdapat perbedaan sangat mencolok antara manusia dan makhluk lainnya. Dengan akal yang Allah berikan mereka menghitung pergerakan benda-benda angkasa yang tertib dan pasti. Dengan naluri ingin tahu yang Allah tanamkan, mereka menjelajah tanpa lelah. Kepastian gerak dan ketertiban pola edar tata surya mengilhami mereka untuk dapat membuat catatan waktu, sejarah, dan peristiwa. Muncullah kalender atau almanak (Arab: almanakh, almunakh, artinya musim, iklim, cuaca). Ada kronometer, dari jam pasir, jam bayang-bayang sampai jam quartz dan kinetik.

    Kemudian sesuatu berubah. Mereka membanggakan catatan prasejarah yang mereka bikin-bikin sampai zaman kini. Orang berbangga dengan apa yang mereka sebut pertambahan umur dalam ulang tahun, walaupun sebenarnya yang terjadi adalah perkurangan umur. Secara umum orang merayakan tahun baru Masehi, 1 Januari-sebuah kebiasaan kaum Nasrani yang di abad-abad lalu menjajah negeri-negeri Muslim. Bahkan secara resmi juga presiden mengumumkan pergantian tahun (orang Jayakarta (Jakarta) menyebutnya Tahun Baru Blande).

    Bagi seorang Muslim yang baik, bukan pergantian tahun itu yang penting, tetapi pergantian malam dan siang. Allah menjadikannya sebagai tanda kekuasaannya. Merenunginya berarti memenuhi sebagian sifat ulil albab dan hamba yang bersyukur (QS. 3;190-191/25;62). “Ia yang menjadikan malam dan siang silih berganti, bagi orang-orang yang ingin mengambil pelajaran atau ingin bersyukur”.

    Dulu orang membanggakan kaum sufi sebagai ‘putra harinya’. Sudah seharusnya tiap orang menjadi putra harinya, bahkan putra jamnya, menit, dan detiknya. Artinya ia selalu mengaktualisasi dirinya bukan pada musim-musim tahunan atau momentum-momentum, tetapi pada setiap saat dalam kehidupannya serta menjalaninya dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab.

    Terkadang kita sukar memahami gaya hidup orang lain, sebagaimana mereka pun susah memahami gaya hidup kita. Kita tidak mengerti mengapa mereka memakai busana minim, yang dalam sejarahnya adalah busana perempuan nakal. Mereka pergi ke pesta-pesta pekanan atau ulang tahun dengan wangian kelas mahal dan mobil mewah tanpa merasa minder bahwa semua itu pinjaman dari ortu. Bagaimana kalau itu hasil KKN? Siapa sih yang nyuruh tiup lilin? Kalau tidak, bagaimana akibatnya? Mengapa harus pergi berpasang-pasangan? Mengapa itu disebut modern? Apakah dengan pesta liar yang dianggap modern itu mereka langsung bisa bikin satelit, komputer, robot, dan memecahkan masalah-masalah iptek?

    Evaluasi diri tahun yang lalu Konon, di antara bahan ‘penyesalan’ orang-orang saleh di hari kiamat adalah adanya waktu kosong dalam kehidupan mereka. Tentu saja, mereka tidak mengisinya dengan maksiat. Namun, melihat betapa keberuntungan besar yang disediakan bagi mereka yang memanfaatkan seluruh hidup untuk kepentingan ibadah, jelas ‘penyesalan’ itu menjadi wajar.

    Bagaimana Rasulullah SAW. memanfaatkan waktunya secara efisien? Bayangkan, sepanjang sembilan tahun di Madinah, kaum Quraisy melancarkan tak kurang dari 62 kali gempuran besar dan kecil. 27 ghazwah, pertempuran menghadapi mereka yang dipimpinnya langsung. 35 kali sariyah, yang dipimpin para kader sahabat. Artinya, bila ada kata jeda mungkin hanya satu sampai satu setengah bulan. Banyak hadis sahih menginformasikan Rasulullah masih sempat berlomba jalan dengan istrinya. Ada saatnya beliau merangkak dengan anak-anak bermain ceria dipunggungnya. Ada saatnya beliau bercengkerama dengan rakyat jelata. Ini di luar aktivitas memimpin persidangan politik, persidangan kasus-kasus rumah tangga, kriminal, perdata, menyiapkan para calon hakim, diplomat, guru, ulama, tentara, ahli syura, dll.

    Banyak orang hidup dengan usia panjang, kadang seratus tahun. Namun, biografinya ditulis cukup dalam tiga baris: “Bapak Fulan, lahir tanggal sekian, wafat tanggal sekian”. Terukir apik di batu nisan. Sebaliknya Rasulullah SAW dengan usia 63 tahun qamariyah, sampai sekarang kajian tentang beliau masih terus berlanjut, dari berbagai aspek kehidupan dan kepemimpinannya.

    Kenyataan ini menuntut kita untuk mengaudit diri setiap hari: bagaimana caranya agar modal usia yang sudah dijatah tidak terjadi defisit, bahkan sebaliknya, dan keuntungan besar yang selalu diperoleh. Ini memang sulit, karena hal yang sering kali dihindari adalah menghitung diri sendiri. Memang getir rasanya melihat kesalahan-kesalahan diri, tetapi semua ini harus dilakukan. Dan camkanlah dalam hati untuk satu hal ini: bahwa dalam pesta ulang tahun atau dalam perhitungan usia, ada pengelabuan setan. Sesungguhnya bukan umur yang bertambah, melainkan jumlah yang sudah dilewati. Jatah sisanya semakin berkurang.

    Menyikapi hedonisme remaja masa kini Salah jika menganggap remaja saja yang doyan hura-hura. Semua dimulai dari biangnya: bapak dan ibu. Kondisi semacam ini tampaknya sudah terkonsep, dari sikap keseharian sampai cara penyambutan tahun baru, semua mencerminkan dangkalnya nilai-nilai akidah sebagian besar umat.

    Semua ini memang telah didesain dengan rapi. Dengarlah khotbah sanjungan dan ucapan terima kasih atas nama gereja yang disampaikan oleh pendeta Dr. Zwemmer di bukit Zaitun tahun 1935. Ia menekankan hal yang lebih penting daripada menyebarkan Bibel, yaitu memunculkan generasi umat Islam yang:

    1. tak mengenal Islam
    2. tidak bangga dengan Islam
    3. terputus dengan sejarah dan keagungan masa lalu pendahulu mereka
    4. hidup santai, hura-hura, serba boleh
    5. kalau tidak pindah agama, juga tidak bermutu dalam Islam
    6. lemah dan akhirnya mudah dikuasai dan didikte

    Hal yang sama bisa kita lihat dalam dokumen Protokolat Hukama’ Yahudi yang berisi sejumlah rencana busuk mereka terhadap umat Islam.

    Menjadi remaja seutuhnya Tidak adil menyalahkan remaja secara keseluruhan. Mereka hanyalah produk yang lahir dan tumbuh dalam suatu iklim. Generasi yang lemah, manja dan punya ketergantungan tinggi, lahir dan dibesarkan dalam gelimang utang luar negeri yang mencekik leher, mengundang korupsi dan menjerat umat pada jaring-jaring rentenir mancanegara. Sejarah telah membuktikan bahwa lingkungan dan keluarga adalah tempat terbaik pulangnya remaja mengadukan keluh dan mencari jawaban bagi persoalan-persoalannya.

    Remaja yang bertanggung jawab akan sangat prihatin melihat angka empat juta dalam kasus narkoba. Ia akan menjaga dengan sungguh-sungguh dirinya dan rekan-rekannya untuk tidak menambah jumlah itu. Ia tahu di bahunya dipercayakan nasib umat dan bangsa ini. Ia sadar memegang amanah kepercayaan, harapan, biaya pendidikan dan tunjangan orang tuanya. Ia memilih pahit daripada berkhianat kepada akidahnya. Di era kebangkitan ia harus punya target mengenal Islam secara benar, ikut dakwah secara proporsional, dan berprestasi sebagaimana layaknya seorang remaja. Target-target setahun ke depan Mungkin sangat klise untuk mengatakan: tampil ke depan meraih sukses. Coba duduklah dengan tenang, bayangkan ratusan ribu kader dari kelompok pemikiran yang tidak punya komitmen dengan Islam dan dakwah Islam, bahkan tidak dengan kepentingan bangsanya. Dengan terjun bebas atau dengan beasiswa, mereka berhasil mereguk ilmu sepuas-puasnya dan menduduki posisi-posisi kunci di negeri ini. Kepada siapa tanah air ini akan diserahkan? Sukses tidak selalu ditandai dengan NEM tinggi, karena remaja mungkin berprofesi sebagai pelajar atau putus sekolah karena sebab-sebab tertentu. Intinya kemandirian dan kesiapan menghadapi hari esok.

    Bila duduk di kelas tertinggi, konsentrasinya pada sukses belajar. Itu cukup sebagai bahasa fakta bagi dakwah yang cerdas dan memberdayakan, agar tidak ada lagi orang berceloteh tentang aktivis yang selalu gagal dalam studi. Bila berada di kelas pertama atau kedua, harus dirancang agar menghasilkan kontribusi yang jelas, terencana, dan terproyeksi

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 30 December 2014 Permalink | Balas  

    Istimewanya Wanita Islam 

    wanita bertaubatIstimewanya Wanita Islam

    Kaum feminis bilang susah jadi Wanita Islam, lihat saja peraturan dibawah ini :

    1. Wanita auratnya lebih susah dijaga berbanding lelaki.
    2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
    3. Wanita saksinya kurang berbanding lelaki.
    4. Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki.
    5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
    6. Wanita wajib taat kpada suaminya tetapi suami tak perlu taat pada isterinya.
    7. talak terletak di tangan suami dan bukan isteri.
    8. Wanita kurang dlm beribadat karena masalah haid dan nifas yang tak ada pada lelaki.

    Pernahkah kita lihat sebaliknya (kenyataannya)??

    Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan?

    Itulah bandingannya dengan seorang wanita. Wanita perlu taat kepada suami tetapi lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama dari bapaknya.

    Bukankah ibu adalah seorang wanita?

    Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki tetapi harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, manakala lelaki menerima pusaka perlu menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anak.

    Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini, dan matinya jika karena melahirkan adalah syahid.

    Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap 4 wanita ini: Isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya.

    Manakala seorang wanita pula, tanggungjawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki ini: Suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.

    Seorang wanita boleh memasuki pintu Syurga melalui mana mana pintu Syurga yang disukainya cukup dengan 4 syarat saja : Sembahyang 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat suaminya dan menjaga kehormatannya.

    Seorang lelaki perlu pergi berjihad fisabilillah tetapi wanita jika taat akan suaminya serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH akan turut menerima pahala seperti pahala orang pergi berperang fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.

    Masya ALLAH .. demikian sayangnya ALLAH pada wanita .. kan?

    Jazakumullah Khoiron Khatsiro..

    ***

    Kiriman Sahabat: Indra Subni

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 29 December 2014 Permalink | Balas  

    Etika Tidur dan Bangun 

    tidurEtika Tidur dan Bangun

    1. Berintrospeksi diri (muhasabah) sesaat sebelum tidur.

    Sangat dianjurkan sekali bagi setiap muslim bermuhasabah (berintrospeksi diri) sesaat sebelum tidur, mengevaluasi segala perbuatan yang telah ia lakukan di siang hari. Lalu jika ia dapatkan perbuatannya baik maka hendaknya memuji kepada Allah SWT dan jika sebaliknya maka hendaknya segera memohon ampunan-Nya, kembali dan bertobat kepada-Nya.

    1. Tidur dini, berdasarkan hadits yang bersumber dari `Aisyah “Bahwasanya Rasulullah tidur pada awal malam dan bangun pada pengujung malam, lalu beliau melakukan shalat”.(Muttafaq `alaih)
    2. Disunnatkan berwudhu’ sebelum tidur, dan berbaring miring sebelah kanan.

    Al-Bara’ bin `Azib menuturkan : Rasulullah bersabda:”Apabila kamu akan tidur, maka berwudlu’lah sebagaimana wudlu’ untuk shalat, kemudian berbaringlah dengan miring ke sebelah kanan..” Dan tidak mengapa berbalik ke sebelah kiri nantinya.

    1. Disunnatkan pula mengibaskan sperei tiga kali sebelum berbaring, berdasarkan hadits Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda: “Apabila seorang dari kamu akan tidur pada tempat tidurnya, maka hendaklah mengirapkan kainnya pada tempat tidurnya itu terlebih dahulu, karena ia tidak tahu apa yang ada di atasnya..” Di dalam satu riwayat dikatakan: “tiga kali”. (Muttafaq `alaih).
    2. Makruh tidur tengkurap.

    Abu Dzar menuturkan :”Nabi pernah lewat melintasi aku, dikala itu aku sedang berbaring tengkurap. Maka Nabi membangunkanku dengan kakinya sambil bersabda : “Wahai Junaidab (panggilan Abu Dzar), sesungguhnya berbaring seperti ini (tengkurap) adalah cara berbaringnya penghuni neraka”. (H.R. Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

    1. Makruh tidur di atas dak terbuka, karena di dalam hadits yang bersumber dari `Ali bin Syaiban disebutkan bahwasanya Nabi telah bersabda: “Barangsiapa yang tidur malam di atas atap rumah yang tidak ada penutupnya, maka hilanglah jaminan darinya”. (HR. Al-Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrad, dan dinilai shahih oleh Al-Albani).
    2. Menutup pintu, jendela dan memadamkan api dan lampu sebelum tidur.

    Dari Jabir diriwayatkan bahwa sesung-guhnya Rasulullah r telah bersabda: “Padamkanlah lampu di malam hari apa bila kamu akan tidur, tutuplah pintu, tutuplah rapat-rapat bejana-bejana dan tutuplah makanan dan minuman”. (Muttafaq’alaih).

    1. Membaca ayat Kursi, dua ayat terakhir dari Surah Al-Baqarah, Surah Al-Ikhlas dan Al-Mu`awwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas), karena banyak hadits-hadits shahih yang menganjurkan hal tersebut.
    2. Membaca do`a-do`a dan dzikir yang keterangannya shahih dari Rasulullah ,

    seperti : Allaahumma qinii yauma tab’atsu ‘ibaadaka “Ya Allah, peliharalah aku dari adzab-Mu pada hari Engkau membangkitkan kembali segenap hamba-hamba-Mu”. Dibaca tiga kali.(HR. Abu Dawud dan di hasankan oleh Al Albani)

    Dan membaca: Bismika Allahumma Amuutu Wa ahya ” Dengan menyebut nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup.” (HR. Al Bukhari)

    1. Apabila di saat tidur merasa kaget atau gelisah atau merasa ketakutan, maka disunnatkan (dianjurkan) berdo`a dengan do`a berikut ini : ” A’uudzu bikalimaatillaahit taammati min ghadhabihi Wa syarri ‘ibaadihi, wa min hamazaatisy syayaathiini wa an yahdhuruuna.”

    Aku berlindung dengan Kalimatullah yang sempurna dari murka-Nya, kejahatan hamba-hamba-Nya, dari gangguan syetan dan kehadiran mereka kepadaku”. (HR. Abu Dawud dan dihasankan oleh Al Albani)

    1. Hendaknya apabila bangun tidur membaca : “Alhamdu Lillahilladzii Ahyaanaa ba’da maa Amaatanaa wa ilaihinnusyuuru” “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami dimatikan-Nya, dan kepada-Nya lah kami dikembalikan.” (HR. Al-Bukhari)

    ***

    ” Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari ” Penerbit : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan Judul Asli : Adabu Al-Muslimi fi Al-Yaumi wa Al-Lailati Penulis : Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Penerjemah : Musthofa ‘Aini, Lc

    Kirimah Sahabat: Abah Naufal.

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 28 December 2014 Permalink | Balas  

    Tafakur “Fitnah” 

    tafakurTafakur “Fitnah”

    Ada banyak cara menjadi dewasa. Kadang begitu mudah, semudah membaca buku dan menemukan kearifan di tiap lembar halaman. Bahkan ada yang lebih mudah, seperti bercermin pada setiap kejadian yang terjadi pada orang lain.

    Tapi tak jarang, kita harus menempuh jalan yang begitu berat untuk menjadi dewasa dan sadar. Kita harus melewati sungai fitnah yang berarus jeram. Membelah rimba cobaan dengan kerja dan sabar. Bahkan kita harus penuh luka sebelum akhirnya memetik hikmah dan menjadi dewasa.

    Ada yang berhasil, tapi banyak pula yang gugur di tengah jalan. Orang- orang yang berhasil menjadi lebih arif sikapnya. Lebih dalam kemampuannya. Lebih luas pemahamannya. Dan lebih terbuka menerima segala. Sedangkan mereka yang gagal, telah menjadi gusar, bahkan gusar mereka melebihi sebelum fitnah datang. Sumbu emosi mereka lebih pendek dan mudah terbakar. Mereka telah gagal melanjutkan perjalanan menuju kearifan dan kedewasaan.

    Sesungguhnya, perjalanan masih sangatlah panjang. Tapi mana mungkin ditempuh dalam keadaan papah. Tak mungkin perjalanan diselesaikan tanpa kemampuan menangkap hikmah, menyerap ilmu, apalagi berjalan tanpa ma’rifat kepada-Nya. Hati yang gentar pada fitnah, benak yang gusar pada fitnah, akal yang buntu karena fitnah, akan membuat kaki kita terantuk-antuk batu dalam setiap langkah. Lalu kita akan menyerah sebelum perjalanan usai dan purna.

    Fitnah selalu ada. Semakin tinggi tingkat kearifan, maka semakin besar pula fitnah menghantam. Selayaknya fitnah harus kita jadikan ukuran. Jika waktu lalu, cobaan yang datang untuk kita selesaikan sama dengan cobaan yang kita hadapi sekarang, sungguh tak ada peningkatan apapun yang kita dapatkan.

    Ketakutan memang sering menggalikan liang kubur untuk akal sehat yang kita perlukan. Rasa gentar pun sering mengabarkan jalan semu yang menyesatkan. Jangan lari ketika fitnah datang. Jangan pula berpaling ketika cobaan menghadang. Lewati saja. Tembus saja. Sejatinya, fitnah dan cobaan adalah pintu-pintu menuju kedewasaan.

    Selama kita berpegang teguh pada tali Allah, sungguh, tak ada yang perlu ditakutkan. Sepanjang kita tak berma’syiat kepada pencipta alam, tidak perlu pula takut tak gentar.

    Tapi sebaliknya, jika kita berma’syiat kepada Allah, maka semua yang kita alami adalah awal dari kehancuran. Satu-satunya penyebab paling absolut sebuah kebinasaan adalah, karena kita berma’syiat kepada Allah. Jika sudah demikian, ketakutan akan mengepungmu. Kegalauan akan menelikung setiap langkahmu. Dan perjalanan begitu berat. Tak ada jalan lain jika sudah begitu; cepat bertaubat atau tenggelam dalam sesat.

    Dari Sahabat: Herry Nurdi

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 27 December 2014 Permalink | Balas  

    Aurat dan Jilbab 

    wanita sholehahAurat dan Jilbab

    Arsip Fiqh

    Rasulullah bersabda: “Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

    Wanita-wanita yang digambarkan Rasul dalam hadis di atas sekarang banyak sekali kita lihat. Bahkan itu sudah menjadi sesuatu yang mentradisi dan dianggap lumrah. Mereka adalah wanita-wanita yang memakai pakaian tapi telanjang. Sebab pakaian yang mereka kenakan tak dapat menutupi apa yang Allah perintahkan untuk ditutupi.

    Budaya barat adalah penyebab fenomena ini. Sebab pakaian yang “tak layak” tersebut bukanlah merupakan budaya masyarakat Islam dan tidak pula dikenal dalam tradisi masyarakat kita. Namun itu adalah hal baru yang lantas diterima tanpa dikritisi. Tidak pula itu diuji dengan pertanyaan, bolehkah ini menurut agama, atau baikkah ini bagi kita dan pertanyaan lain yang senada. Boleh jadi karena perasaan rendah diri yang akut dan silau terhadap kemajuan barat dalam beberapa hal akhirnya banyak di antara kita yang menerima budaya barat dengan mata tertutup (atau sengaja menutup mata).

    Namun di sana kita juga melihat fajar yang mulai terbit. Kesadaran untuk kembali kepada budaya kita sendiri (baca: budaya berpakaian islami) mulai tumbuh. Betapa sekarang kita banyak melihat indahnya kibaran jilbab di mana-mana. Di kampus, di sekolah, di pasar dan bahkan di terminal-terminal. Malah di beberapa negara barat (Inggris dan Jerman misalnya) muslimah-muslimah pemakai jilbab tak lagi sulit ditemukan.

    Jelasnya saat ini sudah tak ada lagi larangan untuk mengenakan busana dan pakaian yang menutup aurat. Permasalahannya, apakah jaminan kebebasan ini kemudian segera disambut oleh para muslimah kita dengan segera kembali mengenakan pakaian takwa itu atau tidak. Yang pasti alasan dilarang oleh si ini dan si itu kini tak berlaku lagi.

    Aurat Wanita Dan Hukum Menutupnya

    Aurat wanita yang tak boleh terlihat di hadapan laki-laki lain (selain suami dan mahramnya) adalah seluruh anggota badannya kecuali wajah dan telapak tangan. Yang menjadi dasar hal ini adalah:

    1. Al-Qur’an surat Annur:

    “Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkkan khumur (Ind: jilbab)nya ke dadanya…’”

    Keterangan :

    Ayat ini menegaskan empat hal:

    1. Perintah untuk menahan pandangan dari yang diharamkan oleh Allah.
    2. Perintah untuk menjaga kemaluan dari perbuatan yang haram.
    3. Larangan untuk menampakkan perhiasan kecuali yang biasa tampak. Para ulama mengatakan bahwa ayat ini juga menunjukkan akan haramnya menampakkan anggota badan tempat perhiasan tersebut. Sebab jika perhiasannya saja dilarang untuk ditampakkan apalagi tempat perhiasan itu berada. Sekarang marilah kita perhatikan penafsiran para sahabat dan ulama terhadap kata “…kecuali yang biasa nampak…” dalam ayat tersebut. Menurut Ibnu Umar RA. yang biasa nampak adalah wajah dan telapak tangan. Begitu pula menurut ‘Atho,’ Imam Auzai dan Ibnu Abbas RA. Hanya saja beliau (Ibnu Abbas) menambahkan cincin dalam golongan ini. Ibnu Mas’ud RA. mengatakan maksud kata tersebut adalah pakaian dan jilbab. Said bin Jubair RA. mengatakan maksudnya adalah pakaian dan wajah. Dari penafsiran para sahabat dan para ulama ini jelaslah bahwa yang boleh tampak dari tubuh seorang wanita adalah wajah dan kedua telapak tangan. Selebihnya hanyalah pakaian luarnya saja.
    4. Perintah untuk menutupkan khumur ke dada. Khumur adalah bentuk jamak dari khimar yang berarti kain penutup kepala. Atau dalam bahasa kita disebut jilbab. Ini menunjukkan bahwa kepala dan dada adalah juga termasuk aurat yang harus ditutup. Berarti tidak cukup hanya dengan menutupkan jilbab pada kepala saja dan ujungnya diikatkan ke belakang. Tapi ujung jilbab tersebut harus dibiarkan terjuntai menutupi dada.
    5. Hadis riwayat Aisyah RA, bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasulullah dengan pakaian yang tipis, lantas Rasulullah berpaling darinya dan berkata: “Hai Asma, seseungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haid (akil baligh) maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini,” sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan. (HR. Abu Daud dan Baihaqi).

    Keterangan :

    Hadis ini menunjukkan dua hal:

    1. Kewajiban menutup seluruh tubuh wanita kecuali wajah dan telapak tangan.
    2. Pakaian yang tipis tidak memenuhi syarat untuk menutup aurat.

    Dari kedua dalil di atas jelaslah batasan aurat bagi wanita, yaitu seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapak tangan. Dari dalil tersebut pula kita memahami bahwa menutup aurat adalah wajib. Berarti jika dilaksanakan akan menghasilkan pahala dan jika tidak dilakukan maka akan menuai dosa. Kewajiban menutup aurat ini tidak hanya berlaku pada saat solat saja namun juga pada semua tempat yang memungkinkan ada laki-laki lain bisa melihatnya.

    Selain kedua dalil di atas masih ada dalil-dalil lain yang menegaskan akan kewajiban menutup aurat ini:

    1. Dari Al-Qur’an:
    2. “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu melakukan tabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliyyah dahulu” (Qs. Al-Ahzab: 33).

    Keterangan:

    Tabarruj adalah perilaku mengumbar aurat atau tidak menutup bagian tubuh yang wajib untuk ditutup. Fenomena mengumbar aurat ini adalah merupakan perilaku jahiliyyah. Bahkan diriwayatkan bahwa ritual haji pada zaman jahiliyyah mengharuskan seseorang thawaf mengelilingi ka’bah dalam keadaan bugil tanpa memandang apakah itu lelaki atau perempuan.

    Konteks ayat di atas adalah ditujukan untuk istri-istri Rasulullah. Namun keumuman ayat ini mencakup seluruh wanita muslimah. Kaidah ilmu ushul fiqh mengatakan: “Yang dijadikan pedoman adalah keumuman lafadz sebuah dalil dan bukan kekhususan sebab munculnya dalil tersebut (al ibratu bi umumil lafdzi la bikhususis sabab).

    1. “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. Al-Ahzab: 59).

    Keterangan:

    Jilbab dalam bahasa Arab berarti pakaian yang menutupi seluruh tubuh (pakaian kurung), bukan berarti jilbab dalam bahasa kita (lihat arti kata khimar di atas). Ayat ini menjelaskan pada kita bahwa menutup seluruh tubuh adalah kewajiban setiap mukminah dan merupakan tanda keimanan mereka.

    1. Hadis Rasulullah, bahwasanya beliau bersabda:

    “Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

    Keterangan:

    Hadis ini menjelaskan tentang ancaman bagi wanita-wanita yang membuka dan memamerkan auratnya. Yaitu siksaan api neraka. Ini menunjukkan bahwa pamer aurat dan “buka-bukaan” adalah dosa besar. Sebab perbuatan-perbuatan yang dilaknat oleh Allah atau Rasul-Nya dan yang diancam dengan sangsi duniawi (qishas, rajam, potong tangan dll) atau azab neraka adalah dosa besar.

    Syarat Pakaian Penutup Aurat Wanita

    Pada dasarnya seluruh bahan, model dan bentuk pakaian boleh dipakai, asalkan memenuhi syarat-syarat berikut

    1. Menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.
    2. Tidak tipis dan tidak transparan
    3. Longgar dan tidak memperlihatkan lekuk-lekuk dan bentuk tubuh (tidak ketat)
    4. Bukan pakaian laki-laki atau menyerupai pakaian laki-laki.
    5. Tidak berwarna dan bermotif terlalu menyolok.Sebab pakaian yang menyolok akan mengundang perhatian laki-laki. Dengan alasan ini pula maka membunyikan (menggemerincingkan) perhiasan yang dipakai tidak diperbolehkan walaupun itu tersembunyi di balik pakaian.

    Wallahu a’lam bi ashshowab

    (Ulil Amin).

     
  • erva kurniawan 1:59 am on 26 December 2014 Permalink | Balas  

    Tatapan Penuh Cinta 

    tidurTatapan Penuh Cinta

    Pernahkah anda menatap orang-orang terdekat anda saat ia sedang tidur? Kalau belum, cobalah sekali saja menatap mereka saat sedang tidur. Saat itu yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang. Seorang artis yang ketika di panggung begitu cantik dan gemerlap pun bisa jadi akan tampak polos dan jauh berbeda jika ia sedang tidur. Orang paling kejam di dunia pun jika ia sudah tidur tak akan tampak wajah bengisnya.

    Perhatikanlah ayah anda saat beliau sedang tidur. Sadarilah, betapa badan yang dulu kekar dan gagah itu kini semakin tua dan ringkih, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa kerut merut mulai terpahat di wajahnya. Orang inilah yang tiap hari bekerja keras untuk kesejahteraan kita, anak-anaknya. Orang inilah rela melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar.

    Sekarang, beralihlah. Lihatlah ibu anda. Hmm…kulitnya mulai keriput dan tangan yang dulu halus membelai-belai tubuh bayi kita itu kini kasar karena tempaan hidup yang keras. Orang inilah yang tiap hari mengurus kebutuhan kita. Orang inilah yang paling rajin mengingatkan dan mengomeli kita semata-mata karena rasa kasih dan sayang, dan sayangnya, itu sering kita salah artikan.

    Cobalah menatap wajah orang-orang tercinta itu : Ayah, Ibu, Suami, Istri, Kakak, Adik, Anak, Sahabat, Semuanya. Rasakanlah sensasi yang timbul sesudahnya. Rasakanlah energi cinta yang mengalir pelan-pelan saat menatap wajah lugu yang terlelap itu. Rasakanlah getaran cinta yang mengalir deras ketika mengingat betapa banyaknya pengorbanan yang telah dilakukan orang-orang itu untuk kebahagiaan anda. Pengorbanan yang kadang tertutupi oleh kesalah pahaman kecil yang entah kenapa selau saja nampak besar. Secara ajaib Allah Subhanahuwataala mengatur agar pengorbanan itu bisa tampak lagi melalui wajah-wajah jujur mereka saat sedang tidur.

    Pengorbanan yang kadang melelahkan namun enggan mereka ungkapkan. Dan ekspresi wajah ketika tidur pun mengungkap segalanya. Tanpa kata, tanpa suara dia berkata: “betapa lelahnya aku hari ini”. Dan penyebab lelah itu? Untuk siapa dia berlelah-lelah? Tak lain adalah kita.

    Suami yang bekerja keras mencari nafkah, istri yang bekerja keras mengurus dan mendidik anak, juga rumah, ditambah kalo istri kita juga bekerja demi bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Kakak, adik, anak, dan sahabat yang telah melewatkan hari-hari suka dan duka bersama kita.

    Resapilah kenangan-kenangan manis dan pahit yang pernah terjadi dengan menatap wajah-wajah mereka. Rasakanlah betapa kebahagiaan dan keharuan seketika membuncah jika mengingat itu semua. Bayangkanlah apa yang akan terjadi jika esok hari mereka “orang-orang terkasih itu” tak lagi membuka matanya, selamanya………………

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 25 December 2014 Permalink | Balas  

    Menyikapi Ujian Allah SWT 

    ujian aAlahMenyikapi Ujian Allah SWT

    “Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah : 155)

    Ketika manusia sedang diuji Allah SWT, seringkali ia merasa seolah-olah ujian yang diterimanya adalah yang paling berat. Tidak ada yang lebih berat cobaannya selain yang terjadi pada dirinya. Untuk menghilangkan persepsi semacam itu, ketika Allah memberikan ujian kepada orang-orang mukmin, Allah SWT melafadzkan bisyai’in yang artinya sedikit. Ini dimaksudkan agar bagaimanapun besarnya ujian Allah yang diberikan kepada orang-orang beriman, masih lebih kecil bila dibandingkan dengan adzab Allah kepada orang kafir di dunia atau akhirat.

    Allah bukannya tidak mampu memberi pahala kepada orang yang beriman tanpa mengujinya? Tentu saja mampu. Tetapi mengapa harus ada ujian berupa ketakutan, kelaparan dan sebagainya? Maksud ujian yang Allah berikan adalah untuk mengetahui mana dari hambaNya yang layak untuk berdakwah dan berjihad di jalan Allah dan mana yang tidak. Oleh karena itu, ketika kita mendapat hidayah dari Allah dengan menjadi seorang da’i, itu pada dasarnya adalah penghargaan dari Allah. Dengan menganggapnya sebagai penghargaan, kita tidak mudah merasakan kelelahan, pusing dan jauh dari segala keluh kesah. Memang dalam perjalanan dakwah ada rintangan dan ujian, tetapi itulah seninya berdakwah.

    Ujian yang diberikan Allah kepada para hambaNya di muka bumi ini dibagi dalam empat katagori, yaitu :

    1. Ujian merupakan realitas kemanusiaan.

    Setiap manusia pasti di uji. Kita sebagai manusia jangan sampai takut diuji, karena ujian itu pasti kita alami.

    1. Ujian merupakan realitas keimanan.

    Kalau seorang manusia biasa saja pasti diuji oleh Allah, apalagi sebagai seorang mukmin. Pada dasarnya harus ada ujian untuk mengetahui kebenaran keimanan seorang mukmin. Kadang-kadang ada orang yang merasakan keimananya sudah benar lantaran hidupnya mulus-mulus saja tanpa pernah mengalami ujian. Orang seperti ini seharusnya justru bertanya tentang kebenaran imannya, kok hidupnya santai dan mulus-mulus saja. Hal ini karena Allah menyatakan “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi ? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta ” (QS Al-Ankabut : 2-3).

    1. Ujian merupakan realitas dakwah.

    Sebenarnya secara otomatis seorang mukmin adalah seorang da’i. Jadi kalau seorang mukmin saja pasti diuji, apalagi seorang dai yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga memikirkan umat.

    1. Ujian merupakan standarisasi keimanan.

    ini artinya semakin tinggi tingkat keimanan seseorang, akan semakin tinggi ujiannya, semaikin tinggi ujian Allah dan lulus, maka semakin tinggi pula keimannya.

    Berbahagialah orang yang sering mendapatkan cobaan/ujian dari Allah SWT karena dengan hal itu peluang untuk meningkatkan derajat keimanannya akan semakin besar. Mudah-mudahan segala ujian yang kita terima mampu dilewati dengan sabar dan tawakal, tanpa keluh kesah, sehingga mengantarkan kita menjadi orang yang meraih kemenangan.

    ***

    (Diambil dari uraian Dr. Ahzami Sami’un Jazuli, kiriman sdr. Andria)

     
  • erva kurniawan 2:46 am on 24 December 2014 Permalink | Balas  

    Terkena Api di Alam Kubur 

    berapa-lama-kita-dikuburTerkena Api di Alam Kubur

    Diceritakan dari Ibnu Hajar bahwa serombongan orang dari kalangan Tabi’in pergi berziarah ke rumah Abu Sinan. Baru sebentar mereka di rumah itu, Abu Sinan mengajak mereka untuk berziarah ke rumah tetangganya.

    “Mari ikut saya ke rumah tetangga saya untuk mengucapkan ta’ziah atas kematian saudaranya.” kata Abu Sinan kepada tamunya.

    Sesampainya di sana, mereka mendapati saudara si mati senantiasa menangis karena terlalu sedih. Para tamu telah berusaha menghibur dan membujuknya agar jangan menangis, tapi tidak berhasil. “Apakah kamu tidak tahu bahwa kematian itu suatu perkara yang mesti dijalani oleh setiap orang?” tanya para tetamu.

    “Itu aku tahu. Akan tetapi aku sangat sedih karena memikirkan siksa yang telah menimpa saudaraku itu.” jawabnya.

    “Apakah engkau mengetahui perkara yang ghaib?”

    “Tidak. Akan tetapi ketika aku menguburkannya dan meratakan tanah di atasnya telah terjadi sesuatu yang menakutkan. Ketika itu orang-orang telah pulang, tapi aku masih duduk di atas kuburnya. Tiba-tiba terdengar suara dari dalam kubur “Ah….ah….Mereka tinggalkan aku seorang diri menanggung siksa. Padahal aku mengerjakan puasa dan solat”.

    Jeritan itu betul-betul membuatku menangis karena kasihan. Aku coba menggali kuburnya semula karena ingin tahu apa yang sudah terjadi di dalamnya. Ternyata kuburan itu telah penuh dengan api dan di leher si mayat ada rantai dari api. Karena kasihan kepada saudara, aku cuba untuk melepaskan rantai itu dari lehernya. Sesaat aku ulurkan tangan untuk membukanya, tanganku terbakar.”

    Lelaki itu menunjukkan tangannya yang masih hitam dan mengelupas kulitnya karena bekas terkana api dari dalam kubur kepada para tamu. Dia meneruskan ceritanya: “Lalu aku menimbun kubur itu seperti semula dan pulang dengan segera. Bagaimana kami tidak akan menangis apabila mengingati keadaan itu?”

    “Apa yang biasa dilakukan oleh saudaramu ketika di dunia?” tanya teman-teman Abu Sinan.

    “Dia tidak mengeluarkan zakat hartanya.” jawabnya.

    “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka sebagai karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali Imran: 180)

    ***

    (Diambil dari Kisah-kisah Islam)

    haris.satriawan@ifs.co.id

     
  • erva kurniawan 2:20 am on 23 December 2014 Permalink | Balas  

    BERMULA DARI KITA 

    Dakwah-Islam1Bermula Dari Kita

    Dwi Nopitasari

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Suatu hari ketika jam istirahat kerja di kantor, ada seorang sahabat yang menegur saya atas ucapan dan perbuatan yang dirasa tidak sesuai dengan apa yang pernah saya lontarkan kepada orang lain. Astagfirullah ! Ya Allah ampunkan hambamu yang lemah ini, betapa saya mengingatkan orang lain sementara saya sendiri melakukannya.

    Hal ini menjadi bahan perenungan saya untuk hari-hari selanjutnya. Sebagai manusia biasa dengan didasari oleh sifat ego, terkadang kita nggak sadar dan terlalu cepat untuk memvonis seseorang atas kesalahannya, bahkan langsung berburuk sangka terhadap orang tersebut. Tanpa kita mencoba berpikir atau melihat dari sisi-sisi lain kenapa sampai si Fulan melakukan hal demikian. Sementara mungkin di lain waktu tanpa kita sadari hal yang sama akan kita lakukan sendiri.

    Berungtunglah kalau ada sahabat-sahabat kita yang mau dan berani memberi kritikan dan saran untuk perbaikan diri kita, sebelum kita terlena dalam sifat uzub dan ria serta tenggelam dalam lautan kesombongan. Sayapun jadi teringat akan sebuah hadist Qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. Dalam hadist tersebut Allah Ta’ala berfirman :

    “Kebesaran (Kesombongan) adalah pakain-KU dan Keagungan adalah sarung-KU. Barangsiapa merampas salah satu (dari keduanya) Aku lemparkan dia ke neraka (jahanam).”

    Dalam bermuhasabah sayapun jadi berpikir, sangatlah buruk pabila sifat sombong kita biarkan menggerogoti hati, karena bisa merusak amal kebaikan kita.Sehingga tidaklah heran, jika Nabi SAW. mencela perbuatan sombong dan membanggakan diri. Sebagaimana Sabdanya :

    “Sesungguhnya Allah SWT. telah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendahkan hati sehingga tidak ada lagi orang yang saling membanggakan diri terhadap orang lain ” (HR Muslim).

    Kejadian diatas menjadi pelajaran buat saya, bahwa sebelum kita mengubah orang lain kepada akhlak yang utama, mulailah terlebih dahulu dengan diri sendiri. Adalah aib bagi seorang manusia bila ia telah mengajari atau mendidik orang lain sedangkan dirinya sendiri masih perlu dididik dan diajari hal yang sama. Allah SWT. berfirman : “Mengapa kamu suruh orang lain melakukan kebaikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab. Tidakkah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah : 44)

    Sungguh menjadi panutan bagi kita pula kalau Imam Hasan Basri terkenal di jamannya dulu bukan semata-mata karena beliau mengeksploitasi diri agar populer di masyarakat, melainkan terkenal otomatis akibat keluasan pengetahuan dan pemahaman ilmu agamanya serta kehalusan dan keluhuran budi pekertinya. Beliau seorang Ulama yang mumpuni tapi tawadhu’ rendah hati. Dapat dipahami jika setiap fatwa yang dikeluarkannya selalu dianut dan dipahami oleh masyarakatnya.

    Karena kredibiltasnya sebagai ulama yang hebat dan memikat hati inilah, maka para budak ( hamba sahaya) sempat berulangkali meminta bantuannya agar dalam khotbah Jumat, mengangkat topik nasib mereka, kaum sahaya, berulangkali permintaan serupa diajukan oleh para sahaya, berulangkali pula Iman Hasan Basri ternyata tak mengabulkan dan merealisirnya. Dari Jumat ke Jumat beliau tak pernah menyinggung segala masalah yang terkait dengan perbudakan. Sikap sang Imam Hasan Basri tadi tentu menimbulkan tanda tanya bin keanehan di hati para budak yang jamaah dalam Shalat Jumat.

    Ada apa gerangan? Mengapa Kyai Hasan Basri tak mampu memperjuangkan nasib kami? Bukankah Islam secara substansial mengarahkan ajaran pada penghapusan perbudakan? itulah segudang pertanyaan yang bergelayut dalam benak masing-masing hamba sahaya. Barulah pada suatu hari, setelah lama berselang, Imam Hasan Basri tiba-tiba mengangkat tema yang lama didamba kaum sahaya. Hasan Basri mengungkapkan nasib nestapa kaum sahaya yang perlu dibebaskan dari berbagai rantai dan belenggu perbudakan.

    Selesai Shalat Jumat, para budak kontan mengerumuni sang Ulama, menyalami, lantas berkata kepada beliau “Kenapa baru sekarang engkau mengungkapkan permasalahan kami, wahai Iman Hasan Basri?”

    Beliau menjawab, “Maafkan aku wahai saudaraku, Aku memang ingin menyampaikan persoalan kalian itu. Tapi, bagaimana mungkin aku sampaikan pesan kalian, sesuatu yang aku sendiri belum pernah melakukan? Ketika telah datang rizqi dan dari risky itulah aku bisa membebaskan seorang budak, barulah aku berani mendakwahkan dan menyerukan perbaikan nasib kalian.”

    Itulah sikap dan ucapan seorang ulama yang berani mendakwahkan dan atau menyerukan setelah dirinya terlebih dahulu memberikan contoh perbuatan. Itulah sikap dan ucapan seorang ulama yang konsisten antara ucapan dan perbuatan.

    Sangatlah sejalan dengan apa yang dikatakan Imam Ali, “Barangsiapa menjadi pemimpin, hendaklah ia mulai dengan mengajari dirinya sendiri sebelum mengajari orang lain, dan mendidik dengan perilaku lebih dulu sebelum dengan lisan.(pen.- mungkin kita kasih contoh lewat perilaku/sikap kita terlebih dahulu, baru lewat lisan). Pengajar dan pendidik diri sendiri lebih berhak mendapatkan keagungan daripada pendidik dan pengajar untuk orang lain.” (Berarti semuanya bermula dari kita).

    “Pada hari kiamat seorang dihadapkan dan dilempar ke neraka. Orang-orang bertanya, ” Hai Fulan, mengapa kamu masuk neraka sedang kamu dahulu adalah orang yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah perbuatan mungkar? ” Orang tersebut menjawab, ” Ya benar, dahulu aku menyuruh berbuat makruf, sedang aku sendiri tidak melakukannya. Aku mencegah orang lain berbuat mungkar sedang aku sendiri melakukannya.” (HR. Muslim)

    Wassalam

    Siti Nurjanah

     
  • erva kurniawan 2:21 am on 22 December 2014 Permalink | Balas  

    Bunga Untuk Ibu 

    ibu dan  anakBunga Untuk Ibu

    Ibu pernah memintaku membersihkan lantai sesaat setelah aku menumpahkan bubur saat sarapan pagi. Tapi, bukan sapu atau kain lap pel yang kuambil ke belakang, karena aku malah berlari keluar melalaui pintu belakang untuk menyusul teman-teman bermain. Hal yang hampir sama juga kulakukan, saat ibu berharap aku menyapu halaman bekas aku dan teman-teman bermain dan mengotori halaman dengan sobekan kertas. Meski beberapa teman melirikkan matanya agar aku segera menuruti ibu, tapi yang kulakukan justru tak menggubris perintahnya dan selekas mungkin mengajak teman-teman bermain di tempat lain.

    Di waktu lain, ibu berpesan agar aku segera pulang setelah pulang sekolah. Namun seperti biasa, aku selalu mampir ke tempat-tempat biasa aku bermain, dan mengatakan kepada ibu bahwa terlalu banyak aktifitas di sekolah yang harus aku ikuti, demi memperkaya pengalaman dan ketrampilan. Sesekali, aku juga mengelabui ibu dengan tuntutan uang ini-itu dari sekolah yang wajib dibayar selain uang SPP. Kupikir, mungkin ibuku bodoh sehingga selalu mempercayai setiap permintaan uang tersebut yang sesungguhnya selalu kugunakan untuk mentraktir teman-temanku, sekedar untuk menunjukkan kelas sosial dan ‘sogokan’ agar aku bisa diterima oleh teman-teman. Meski setelah itu kuketahui, bahwa tidak jarang ibu berhutang untuk menutupi semua ‘biaya’ itu berharap agar aku bisa menjadi anak yang cerdas, trampil dan bisa diandalkan, aku masih tetap tak menyesal.

    Kemarin, ibu berharap aku mau membantunya melakukan beberapa pekerjaan rumah yang lumayan berat karena ibu saat itu tak sanggup melakukan semuanya. Ibuku tengah sakit. Tapi aku malah tak mempedulikannya, karena kupikir tak semestinya aku melakukan semua tugas rumah tangga itu. Akhirnya, dalam keadaan sakit, dengan nafas yang tersengal, ibu sendiri yang mengerjakannya, sementara aku tetap asik dengan urusan dan mainanku.

    Hari ini, ada sekuntum bunga persembahan dariku yang pasti tak ada harganya dari semua pengorbanan ibu. Tak membalas semua cintanya, tak membayar jerihnya, tak menghilangkan semua luka dan kecewanya, tak meringankan bebannya, tak menghentikan tangisnya, tak membasuh setitikpun peluhnya, bahkan tak menyembuhkan sakitnya, apalagi mengembalikan ibu kepadaku. Karena ibu, yang penuh cinta dan kasih terhadap anaknya ini, kini terbujur lurus dihadapanku. Kupikir, karena aku tak mencintainya dengan segala perilaku burukku terhadap ibu, Allah lebih mencintainya dan mengambilnya dariku.

    Maafkan aku ibu. Kuharap ibu tahu, bunga cintaku tak pernah luruh

    ***

    (Diambil dari artikel kiriman Bayu Gautama, http://www.eramuslim.com)

     
  • erva kurniawan 2:37 am on 21 December 2014 Permalink | Balas  

    Anak 

    keluarga-muslimANAK

    Cerpen Chairil Gibran Ramadhan

    Satu per satu anakku, setelah menikah, pergi meninggalkanku. Sementara aku, sejak suamiku meninggal tiga bulan lalu, tetap tinggal di rumah besar kami di Tebet bersama dua orang perempuan yang sudah 22 tahun bekerja padaku, seorang sopir sekaligus tukang kebun, serta seorang keponakan suamiku yang kedua orangtuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat terbang.

    Suamiku sudah menyiapkan rumah untuk anak-anak kami, yang disewakannya kepada orang-orang. Setelah mereka menikah barulah ia memberikan kunci rumah-rumah itu. Ia membelinya saat memiliki jabatan tinggi di sebuah departemen dan memperoleh ‘uang lain-lain’ dari orang-orang yang mengharapkan langkahnya tidak terhalang sebutir kerikil pun. Ia melakukannya karena ingin anak-anaknya mengenang dia sebagai ayah yang bertanggung jawab.

    Suamiku meninggal akibat gagal jantung setelah 12 tahun pensiun. Sehari sebelumnya ia sempat berbicara kepadaku, telah merasa lengkap menjadi ayah karena melihat semua kejadian terhadap anak-anaknya: lahir, besar, bersekolah, menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi, bekerja, menikah, tinggal di rumah-rumah yang diberikannya, dan memiliki anak. Ia dimakamkan di sebuah pemakaman luas sesuai yang pernah ia pesankan.

    Hingga kini aku merasa ia masih ada di dalam rumah kami. Menjelang jam tujuh pagi, lima sore, sembilan malam, aku masih selalu pergi ke dapur, membuatkan secangkir teh manis untuknya. Anakku yang nomor satu rupanya mendapat cerita ini dari keponakan suamiku yang tinggal bersamaku. Maka tadi sore ia datang dan meminta aku tinggal di rumah besarnya di Ciputat.

    Berkali-kali aku menolak, tentu karena aku merasa kasihan pada mendiang suamiku, tapi ia tetap berkeras seperti ayahnya. Ia mengatakan akan lebih mudah baginya untuk memantau dan mengurusku jika aku tinggal bersamanya.

    “Di kamar besar yang lain Mama bisa meletakkan semua buku milik Mama. Kalau tetap di sini Mama akan terus bersedih. Biarlah rumah ini Suci yang menjaga dan mengurusnya bersama Mbak Tar, Mbak Mi, dan Bang Ali.” Akhirnya aku menyetujui saja.

    Malam hari aku sering menangis mengingat suamiku. Sementara anak-anakku, selama dua bulan aku di sini, tidak pernah ada yang datang. Dan anakku yang nomor satu jarang sekali bertemu denganku. Ia pergi pagi ketika aku masih mengaji di kamar, dan pulang begitu malam ketika aku sudah tertidur. Dalam seminggu mungkin aku hanya bertemu dengannya dua atau tiga kali. Bahkan bisa tidak sama sekali.

    Aku sering mengingat masa ketika mereka kecil. Waktu itu setiap hari aku bisa bertemu mereka. Lalu ketika mereka masuk perguruan tinggi dan bekerja, aku pun mulai jarang bertemu. Lalu ketika mereka menikah dan tinggal di rumah-rumah yang diberikan suamiku, memiliki anak dan sibuk dengan istri atau suaminya, aku sudah tidak banyak berharap mereka akan mudah kutemui.

    Sekarang apa yang aku dapat? Sebuah senyuman dan sapaan setiap pagi hari pun tidak. Terlebih kata terima kasih atas jerih-payahku melahirkan, mendidik, membesarkan, dan menyenangkan mereka. Aku tidak bermaksud meminta balasan. Tetapi bagaimanapun menurutku mereka seharusnya tahu diri dan tahu berterimakasih. Padahal sejak mereka kecil aku dan suamiku selalu mengajarkan untuk tidak melupakan kebaikan seseorang.

    Anakku yang nomor satu, hari ini memutuskan mengirimku ke sebuah panti jompo, setelah istri dan ketiga anaknya sering mengeluhkan aku yang selalu menangis tengah malam ketika aku teringat suamiku, karena katanya mengganggu tidur mereka. Dua minggu lalu ia mengundang adik-adiknya datang. Ketika semua berkumpul, kecuali anakku yang nomor empat yang tinggal di Australia, ia memberitahukan keinginannya. “Lagipula Mama tidak mungkin kita biarkan kembali ke Tebet. Terlalu banyak kenangan tentang Papa di sana yang bisa membuat Mama sedih.” Dua bulan lagi umurku 68 tahun.

    Setelah satu tahun aku di tinggal sini, hanya Lebaran lalu saja anak-anakku datang. Sementara si Tar, si Mi, si Ali, serta keponakan suamiku yang pernah delapan tahun tinggal bersamaku, hampir setiap akhir pekan menjengukku.

    Hari itu semua anakku datang bersama suami, istri, dan anak-anak mereka. Hanya yang nomor empat tidak datang, karena katanya uang jutaan rupiah untuk membeli tiket pesawat bagi tiga orang ke Jakarta lebih baik disimpannya di bank. Ia hanya mengirim kartu Lebaran disertai tulisan dan tanda tangannya.

    Sedangkan cucu pertamaku memilih pergi ke rumah kekasihnya. Katanya karena ia segan. Ingat, segan. Segan bertemu neneknya. Padahal dahulu aku yang sering membersihkan kotorannya dan mengganti popok bila ia datang ke rumahku bersama orangtuanya. Lalu hingga kini tidak pernah lagi mereka datang.

    Hanya anakku yang nomor satu yang selalu mengirim ini dan itu kepadaku, biasanya berupa buku-buku terbaru psikologi, filsafat, sejarah, sastra, agama, sosial, seni, budaya, tentu saja, melalui sopirnya.

    Setiap pukul 04.30 aku bangun, mandi dengan air hangat yang keluar dari pancuran di bath-tub, sholat subuh, dan mengaji. Di sini kami seperti di rumah sendiri. Bangun jam berapa saja kami berkeinginan. Sarapan dan makan pun bebas memilih. Anak-anak telah membayar sangat tinggi untuk menitipkanku di sini. Aku jadi teringat masa ketika indekos ketika aku belajar psikologi. Hanya kini aku tidak tinggal bersama gadis-gadis cantik dan tidak untuk menuntut ilmu apa-apa. Hanya menunggu ajal.

    Tepat pukul 06.00 kami yang sudah bangun dianjurkan berkumpul di halaman depan untuk berolahraga. Cukup tiga puluh menit sekadar untuk meregangkan otot-otot tua kami. Setelah itu kami diminta untuk membersihkan diri, mandi pagi lagi kalau mau. Pukul 08.00 biasanya kami akan berkumpul di ruang makan untuk sarapan. Mereka yang bangun terlambat dan tidak ingin berolahraga dan tidak ingin sarapan di ruang makan, bisa meminta petugas mengantarkan sarapannya ke kamar.

    Setelah itu hingga pukul 16.00 kami dipersilakan melakukan kegiatan apa saja sesuai keinginan: merajut, melukis, menulis surat untuk anak-anak kami, bermain catur, berkebun, membaca, menonton TV, mendengar radio, berbincang-bincang dengan teman-teman lain, atau tidur siang. Dan setiap pukul 16.30 kami biasanya akan duduk-duduk di teras panti sambil menikmati secangkir teh manis dan kue-kue kecil.

    Setelah itu kami diminta untuk mandi sore. Pukul 19.00 kami kembali berkumpul di ruang makan. Malam ini aku menikmati segelas air teh manis hangat, nasi putih, perkedel kentang, dan semur ikan bandeng dengan kuah kental kesukaanku. Hari ini tepat tiga tahun aku masuk panti.

    Aku, karena sejak muda mempunyai kegemaran membaca, setiap hari selalu hanya membaca. Apa saja aku baca. Majalah berita, koran pagi, tabloid perempuan, dan majalah perempuan yang dilanggani panti, tidak pernah kulewatkan, juga buku-buku di perpustakaan. Selama lima tahun di sini, aku sudah membaca semua buku yang ada di sana, dan tentu saja puluhan lainnya kiriman anakku yang nomor satu.

    Hari ini aku membaca sebuah buku filsafat. Sudah dua hari aku membacanya, dan tampaknya hari ini pun belum akan selesai. Padahal ketika muda dahulu satu buku tebal kubaca hanya dalam waktu satu hari, dan buku sedang cukup setengah hari saja. Setelah tua aku menjadi mudah letih dan mengantuk. Kemarin aku sulit sekali meneruskan buku itu. Aku tiba-tiba saja kembali memikirkan suamiku dan juga umurku yang sudah semakin tua. Aku tahu aku tidak akan lama lagi di sini. Teman-teman sebayaku semasa di perguruan tinggi, sudah banyak yang tiada.

    Dulu aku memiliki ratusan buku yang kubeli sejak umurku belasan tahun. Sebelum tinggal di sini, aku ingat jumlahnya sekitar 524 buah. Tersimpan rapi di perpustakaan pribadi di rumahku. Aku percaya anakku yang nomor tujuh akan menjaga buku-buku itu. Kebetulan ia mempunyai kegemaran yang sama denganku, meski sebenarnya keenam anakku yang lain, serta suamiku, juga memiliki kegemaran yang sama. Hanya saja karena ia yang paling banyak menghabiskan waktu bersamaku maka aku percaya ia akan menjaganya. Ketika masih tinggal bersamaku hampir setiap awal bulan ia menemaniku pergi ke toko buku, membeli buku-buku kegemaranku. Kebetulan aku paling menyukai buku psikologi, karena ilmu itulah yang mampu membuatku tertarik masuk ke sebuah fakultas hingga menyelesaikannya.

    Tetapi sudah sepuluh tahun ini aku tidak melakukannya. Meski berkeinginan, namun semuanya kini hanya ada di dalam angan-angan dan kenangan-kenanganku. Untunglah anakku yang nomor satu selalu mengirimkan buku-buku kegemaranku terbaru. Jadi aku tidak terlalu mengharapkan buku-buku di perpustakaan panti yang hanya beberapa puluh saja. Ketika minggu kedua tinggal di sini pernah kutanyakan kepada petugas, mereka hanya menjawab, “Uang panti tidak cukup, Nyonya.”

    “Bukankah anak-anak kami sudah membayar sangat tinggi untuk menitipkan kami di sini? Jadi bagaimana mungkin tidak cukup?” “Saya hanya petugas, Nyonya. Urusan uang ketua yayasan yang mengatur. Lagipula Bapak pernah mengatakan orang-orang tua di sini tidak terlalu suka membaca.”

    “Begitu? Bagaimana dia tahu?”

    “Bapak memang jarang datang ke sini, Nyonya. Maklumlah usaha Bapak tidak hanya panti ini.”

    “Saya punya banyak buku di rumah. Boleh saya menyumbangkannya?”

    “Dengan senang hati, Nyonya. Dengan senang hati.”

    Tetapi ternyata anakku yang nomor tujuh tidak memperbolehkannya. Di telepon ia mengatakan buku-buku itu terlalu berharga karena ada yang sudah berumur puluhan tahun dan sudah tidak beredar di pasaran. Ketika kukatakan buku-buku itu akan lebih berharga jika dibaca orang lain, ia tetap tidak memperbolehkannya. Katanya karena ia membaca pula buku-buku itu. “Lagipula anggaplah sebagai warisan yang Mama berikan untukku.” Anak-anakku, mereka tidak pernah puas hanya menerima.

    Dua hari lalu umurku 79 tahun. Aku tahu tidak akan lama lagi di sini. Hingga malam, ketujuh anakku tidak ada satu pun datang atau sekedar menelepon. Hanya datang si Tar, si Mi, si Ali, serta keponakan suamiku yang pernah delapan tahun tinggal bersamaku.

    Baru hari ini anakku yang nomor satu mengirim kado berisi selimut tebal dan kartu ucapan buatan pabrik. Kado itu diantar seorang sopirnya. Ingat, sopir. Dia tidak bisa datang, kata sopirnya, karena sibuk bekerja. Ingat, sibuk. Sekali lagi ingat, sibuk. Padahal dahulu ketika masih tinggal bersamaku, aku selalu menyiapkan masakan istimewa buatanku di hari ulang tahun mereka dan merayakannya bersama-sama.

    Bila tahu akan seperti ini, demi Tuhan, aku tidak bersedia melahirkan mereka. Dan aku tahu, suamiku, pasti menyesal telah menghidupi mereka. Ya!

    ***

    Chairil Gibran Ramadhan adalah cerpenis kelahiran Jakarta. Ia banyak mengangkat ‘dunia Betawi’ ke dalam cerpen-cerpennya yang bergaya realistik dan dipublikasikan di berbagai media massa.

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 20 December 2014 Permalink | Balas  

    Jangan Ambil Kembali Nikmatmu 

    WaktuJangan Ambil Kembali Nikmatmu

    Hah! Aku memekik seraya membuang selimut. Kupastikan jam yang terpampang di dinding. Lemes. Pukul lima lewat tiga puluh lima menit, segera kuambil hp lalu kutekan nomor telepon tempat kerjaku. Begitu kudengar suara dari seberang telepon, segera saja aku minta maaf dan mengatakan akan datang terlambat. Tanpa ba bi bu lagi, kuputar kran air di wastafel, lalu gosok gigi dan mencuci muka. Kusisir rambut sekenanya lalu kuambil kunci sepeda dan melesatlah dengan kecepatan tinggi. Terkadang lampu merah pun kuterobos saja, bagiku hanyalah segera sampai di tempat kerja tanpa terlambat lebih lama. Keseringan begini lama-lama bisa dikubi nih.

    Hal seperti ini, bukan yang pertama bagiku. Apalagi sewaktu di tanah air. Hanya bedanya kalau di tanah air, hampir semua temanku juga begitu. Jadinya, terlambat pun masih bisa dimaklum. Di negeri ini, orang sangat menghargai waktu. Kalau kita terlambat tidak ada alasan yang bisa kita kemukakan. Gak ada alasan jalanan macet lah, bis nya datang terlambat lah atau nani nani toka. Orang sini akan bilang iiwake… yah cuma alasan kita doang.

    Saat saya duduk menghadap layar komputer, tanpa sengaja mata saya tertumbuk pada satu tulisan, “Sholatlah, sebelum engkau di sholatkan”. Saya tercenung sejenak, teringat sholat saya yang sering tidak tepat waktu. Apalagi sholat shubuh, banyak sekali alasannya untuk segera bangun padahal alarm di HP melengking-lengking. Dan biasanya pada dini hari bunyi email masuk dari milis KEMIS, sebuah kelompok pengajian di Sizuoka, cukup memekakan telinga. Kubuka isinya, “Sholat yuk”… ajakan untuk tahajjud. Tapi dahsyatnya, kenapa setelah dibaca mata ini semakin mengantuk. “Sebentar deh, masih ada waktu kan? Daripada kecepetan bangun entar subuhnya kebablasan,” gumamku sendiri. Akhirnya tertidur dan begitu mata terbuka, matahari telah bersinar dengan secerah-cerahnya seakan ia tersenyum meledekku. Tentu saja segera kuambil air wudlu dan sholat.

    Tapi sepertinya aku tak pernah jera dengan kondisi ini. Tidak seperti ketakutanku saat terlambat datang ke tempat kerja, yang dengan wajah memohon aku meminta maaf dan berjanji tak akan mengulangnya lagi. Hari-hari berikutnya, aku selalu datang sepuluh menit sebelumnya ke tempat kerja. Tapi untuk urusan sholat, yang sering tak tepat waktu bahkan, jarang sekali aku menyesalinya. Bahkan untuk bertobat dan jera untuk mengulanginya pun, rasanya jarang sekali kulakukan. Aku paham sekali hal ini salah. Mungkin sholat bagiku bukan suatu kebutuhan, yah sekedar gugur kewajibanlah.

    Apakah memang aku sudah kebal dengan kebaikan hingga sulit untuk berubah atau Allah sudah mendiamkanku hingga terus berlarut-larut hingga kutemukan sendiri kealpaanku selama ini? Tanpa terasa air mata menitik di kedua pipiku. Ya Allah, jangan tinggalkan hamba-Mu ini. Jangan Engkau tarik kembali kenikmatan yang penah Engkau beri. Sungguh hamba bertobat. Tak akan ku sia-siakan lagi waktu untuk bermasyuk denganMu. Ampuni hamba-Mu ya Karim..

    ***

    Kiriman: haris.satriawan@ifs.co.id

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 19 December 2014 Permalink | Balas  

    Termasuk Iman Kepada Allah: Sabar Atas Segala Takdirnya 

    sabar (1)Termasuk Iman Kepada Allah: Sabar Atas Segala Takdirnya

    Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

    Firman Allah Ta’ala (artinya):

    “Tiada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (At-Taghabun: 11)

    ‘Alqamah (‘Alqamah bin Qais bin ‘Abdullah bin Malik An-Nakha’i. Salah seorang tokoh dari ulama tabi’in. Dilahirkan pada masa hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Meninggal th. 62 H / 681M) menafsirkan iman yang tersebut dalam ayat ini dengan mengatakan:

    “Yaitu: orang ketika ditimpa musibah ia meyakini bahwa itu semua dari Allah, maka ia pun ridha dan pasrah (atas takdir-Nya).”

    Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Ada dua perkara masih dilakukan orang, padahal kedua-duanya adalah kufur, yaitu: mencela keturunan dan meratapi orang mati.”

    Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits marfu’ dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu:

    “Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek pakaian dan menyeru dengan seruan jahiliyah.”

    Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba-Nya maka Dia menyegerakan hukuman baginya di dunia; sedang apabila Allah menghendaki keburukan pada seorang hamba-Nya maka Dia menangguhkan dosanya sampai Dia penuhi balasannya nanti di hari Kiamat.” (HR At-Tirmidzi dan Al-Hakim)

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Sungguh, besarnya pahala setimpal dengan besarnya cobaan; dan sungguh, Allah Ta’ala apabila mencintai suatu kaum, diuji-Nya mereka dengan cobaan. Untuk itu, barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan dari Allah, sedang barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan dari Allah.” (Hadits hasan, menurut At-Tirmidzi)

    Kandungan tulisan ini:

    1. Tafsiran ayat dalam surah At-Taghabun. Ayat ini menunjukkan keutamaan sabar atas segala takdir Allah yang pahit, seperti musibah; dan menunjukkan pula bahwa amal termasuk dalam pengertian iman.
    2. Sabar terhadap segala cobaan termasuk iman kepada Allah.
    3. Disebutkan hukum tentang perbuatan mencela keturunan.
    4. Ancaman keras terhadap orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek pakaian dan menyeru dengan seruan jahiliyah (karena meratapi orang mati).
    5. Tanda apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya.
    6. Tanda apabila Allah menghendaki keburukan kepada hamba-Nya.
    7. Tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya.
    8. Dilarang bersikap marah dan tidak sabar atas cobaan yang diujikan Allah.
    9. Pahala bagi orang yang ridha atas cobaannya.

    ***

    Kiriman: Ayah Raihan

    Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

    Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

    Sumber : http://www.assunnah.or.id

     
  • erva kurniawan 2:53 am on 18 December 2014 Permalink | Balas  

    Termasuk Iman Kepada Allah: Sabar Atas Segala Takdirnya 

    sabarTermasuk Iman Kepada Allah: Sabar Atas Segala Takdirnya

    Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

    Firman Allah Ta’ala (artinya):

    “Tiada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (At-Taghabun: 11)

    ‘Alqamah (‘Alqamah bin Qais bin ‘Abdullah bin Malik An-Nakha’i. Salah seorang tokoh dari ulama tabi’in. Dilahirkan pada masa hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Meninggal th. 62 H / 681M) menafsirkan iman yang tersebut dalam ayat ini dengan mengatakan:

    “Yaitu: orang ketika ditimpa musibah ia meyakini bahwa itu semua dari Allah, maka ia pun ridha dan pasrah (atas takdir-Nya).”

    Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Ada dua perkara masih dilakukan orang, padahal kedua-duanya adalah kufur, yaitu: mencela keturunan dan meratapi orang mati.”

    Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits marfu’ dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu:

    “Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek pakaian dan menyeru dengan seruan jahiliyah.”

    Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba-Nya maka Dia menyegerakan hukuman baginya di dunia; sedang apabila Allah menghendaki keburukan pada seorang hamba-Nya maka Dia menangguhkan dosanya sampai Dia penuhi balasannya nanti di hari Kiamat.” (HR At-Tirmidzi dan Al-Hakim)

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Sungguh, besarnya pahala setimpal dengan besarnya cobaan; dan sungguh, Allah Ta’ala apabila mencintai suatu kaum, diuji-Nya mereka dengan cobaan. Untuk itu, barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan dari Allah, sedang barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan dari Allah.” (Hadits hasan, menurut At-Tirmidzi)

    Kandungan tulisan ini:

    1. Tafsiran ayat dalam surah At-Taghabun. Ayat ini menunjukkan keutamaan sabar atas segala takdir Allah yang pahit, seperti musibah; dan menunjukkan pula bahwa amal termasuk dalam pengertian iman.
    2. Sabar terhadap segala cobaan termasuk iman kepada Allah.
    3. Disebutkan hukum tentang perbuatan mencela keturunan.
    4. Ancaman keras terhadap orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek pakaian dan menyeru dengan seruan jahiliyah (karena meratapi orang mati).
    5. Tanda apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya.
    6. Tanda apabila Allah menghendaki keburukan kepada hamba-Nya.
    7. Tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya.
    8. Dilarang bersikap marah dan tidak sabar atas cobaan yang diujikan Allah.
    9. Pahala bagi orang yang ridha atas cobaannya.

    ***

    Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

    Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

    Sumber : assunnah.or.id

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 17 December 2014 Permalink | Balas  

    Perjalanan Hijrah Rasulullah SAW 

    Perjalanan Hijrah Rasulullah SAW

    Tatkala arRasul keluar dari kota Makkah bersama Abubakar, beliau menoleh dari atas bukit ke arah Makkah sambil berlinang air mata, dan berkata : “Sungguh demi Allah, engkaulah (Makkah) tempat yang paling aku cintai, dan kalau bukan karena kaumku mengusirku darimu, niscaya aku tidak akan keluar darimu”.

    Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, setelah 13 tahun berdakwah di kota Makkah. 13 Tahun lamanya beliau berdakwah di kota Makkah menghadapi seribu satu gangguan dan cobaan dari kaum-nya. Yang mana beliau dan muslimin Makkah menghadapi boikot orang-orang kafir selama bertahun-tahun, dikucilkan dan dihina oleh mereka. Tetapi sungguh besar kesabaran beliau. Tahun demi tahun beliau lalui di kota Makkah dibawah gangguan kaum musyrikin, sampai akhirnya gangguan yang beliau alami semakin berat setelah wafat pamannya dan istri beliau yang selalu setia didalam membela beliau. Sehingga pada puncaknya kaum musyrikin berusaha untuk membunuh Rasulullah dan mengepung rumah beliau di malam hijrahnya beliau.

    Sebelum peristiwa tersebut beliau telah memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk keluar dari Makkah dan menuju Madinah, dimana saat itu Islam berkembang dengan pesatnya di kota Madinah. Sehingga tatkala sahabat-sahabatnya meninggalkan kota Makkah atas perintah beliau, beliau tetap tinggal di kota Makkah menunggu perintah Hijrah dari Allah Ta’ala kepada beliau. Tatkala menerima perintah Hijrah tersebut, beliau memilih Abubakar AsSiddiq untuk menemani beliau dalam perjalanan Hijrah.

    Pada malam hijrah, setelah memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk tidur di pembaringan Rasulullah berselimutkan sorban Rasul dengan taruhan nyawa, maka arRasul keluar dari rumahnya yang telah di kepung oleh 40 pemuda yang berencana akan membunuh beliau. Allah membuat mereka tertidur semuanya sehingga Rasulullah keluar di hadapan mereka, bahkan menaburkan pasir diatas kepala mereka yang terlelap. Disini kita melihat bagaimana kuffar berencana, tetapi Allah juga memiliki rencana, dan rencana Allah di atas rencana mereka.

    Tatkala ArRasul keluar dari kota Makkah bersama Abubakar, beliau menoleh dari atas bukit ke arah Makkah sambil berlinang air mata, dan berkata : “Sungguh demi Allah, engkaulah (Makkah) tempat yang paling aku cintai, dan kalau bukan karena kaumku mengusirku darimu, niscaya aku tidak akan keluar darimu”. Maka Rasul pun melanjutkan perjalanannya di bawah kejaran orang orang kafir yang berusaha membunuh beliau. Sehingga beliau dan Abubakar terpaksa harus bersembunyi di dalam gua Tsur, selama bermalam-malam.

    Tatkala mereka sampai di mulut gua, maka Abubakar masuk terlebih dahulu untuk memastikan keamanan gua bagi Rasulullah, sehingga Abubakar menyumbat semua lubang yang ada di dalam gua tersebut dengan bahan yang beliau miliki, agar binatang yang bersarang di dalam lubang-lubang tersebut tidak keluar dan mengganggu Rasulullah. Sehingga habislah bahan yang beliau miliki untuk menutup lubang-lubang yang ada di dalam gua tersebut, dan masih tersisa satu lubang yang belum tertutup. Maka beliaupun menutup lubang tadi, dengan kakinya, lalu mempersilahkan Rasulullah untuk masuk. Rasul pun masuk, dan beristirahat di gua Tsur, dan tertidur di atas pangkuan Abubakar. Ternyata lubang yang disumbat oleh kaki Abubakar dihuni oleh seekor ular, dan ular tersebut berusaha untuk keluar dengan mematuk kaki Abubakar yang menghalangi jalan keluarnya. Berkali kali ular tersebut menyalurkan bisanya, akan tetapi Abubakar lebih suka menahan rasa sakit dan tidak bersuara, daripada membangunkan Rasulullah dari tidurnya. Tidak kuasa beliau menahan rasa sakit tersebut hingga meneteskan air mata, dan terjatuh air mata Abubakar di pipi Rasulullah. Rasul pun terjaga dan bertanya, “Mengapa engkau menangis wahai Abubakar ?” Abubakar menjawab bahwa kakinya telah dipatuk ular yang ada di dalam lubang tersebut. Maka mereka pun menyingkirkan ular yang telah mematuk kaki Abubakar. Rasulullah segera melihat kaki Abubakar yang telah dipatuk dan terkena bisa ular tersebut, maka Rasul pun menempelkan liurnya dengan jarinya ke kaki Abubakar. Abubakar menceritakan, “Saat itu juga langsung hilang rasa sakitku seolah olah tidak terjadi apa apa terhadap kakiku sama sekali”.

    Setelah masuknya Rasulullah dan Abubakar ke dalam gua, Allah mengutus laba-laba untuk membangun sarangnya menutupi mulut gua, juga merpati untuk membangun sarangnya dan bertelur di depan mulut gua. Sehingga mereka kaum musyrikin sampai di mulut gua di dalam pengejarannya terhadap Rasulullah. Mereka ragu untuk masuk ke dalam gua yang dihuni oleh Rasulullah tersebut. Bahkan keduanya bisa melihat dengan jelas kaki kaum musyrikin yang berdiri di mulut gua. Abubakar pun menangis karena mengkuatirkan Rasulullah, beliau berkata, “Ya Rasulullah, seandainya salah seorang mereka melihat kedalam gua dari posisi kakinya, maka mereka pasti akan melihat kita”. Rasul pun berkata, “Wahai Abubakar, bagaimana prasangka mu tentang dua orang, yang mana Allah Dzat ketiga yang bersama mereka? Ya Abubakar, janganlah bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita”. Abubakar pun gembira dengan ucapan Rasul tersebut. Maka tiba tiba salah seorang musyrikin mengatakan, “barangkali keduanya ada didalam gua ini”, maka dijawab oleh temannya, “tidakkah engkau melihat sarang laba laba yang tebal ini yang menutupi mulut gua ini ? juga merpati yang bersarang dan bertelur di mulut gua ini ? Kalau mereka masuk ke dalam gua ini, maka pasti akan merusak sarang laba-laba ini dan memecahkan telur serta sarang merpati ini, maka mereka tidak mungkin ada didalam gua ini”. Lantas merekapun pergi, sungguh luar biasa pertolongan Allah terhadap Rasul dan pecintanya. Bermalam-malam Rasulullah SAW dan Abubakar bersembunyi didalam gua tersebut untuk menghindari kejaran orang musyrikin yang tetap berusaha untuk membunuhnya.

    Betapa banyak rintangan yang beliau hadapi di dalam menyebarkan syariat islam ini, hingga sampailah syariat tersebut kepada kita sekalian, setelah melalui sekian rintangan dan sekian cobaan, setelah mengorbankan sekian harta dan sekian nyawa, sekian malam yang dilalui dengan perut lapar, sekian bulan yang dihabiskan di medan perang serta padang pasir yang panas. Sedangkan kita menerima syariat tersebut dalam keadaan siap dan sudah di atas nampan. Sudah begitupun, masih banyak juga di antara kaum muslimin yang melempar nampan tersebut dan melupakan pengorbanan sang kekasih yang telah membawa nampan tersebut kepadanya.

    Bila kita membaca kisah Hijrah, kita akan menyadari bahwa pertolongan Allah senantiasa bersama mereka yang berjuang dan rela berkorban untuk Islam. Bukan mereka yang terbawa arus sesat di zaman yang penuh dengan kemaksiatan ini. Inilah pengorbanan Rasulullah, inilah pengorbanan Abubakar, inilah pengorbanan Ali bin Abi Thalib. Dan banyak lagi pengorbanan beliau dan para sahabat serta keluarga beliau untuk Islam.

    Sekarang yang jadi pertanyaan adalah : Apakah pengorbanan saya dan Anda untuk Islam?? Apakah disebut suatu pengorbanan orang yang lebih mementingkan pekerjaannya daripada waktu solat? Atau lebih mendahulukan sinetron daripada AlQuran? Atau menonton pertandingan sepak bola daripada Qiyamul lail? Anehnya sebagian orang islam lebih kuatir apabila telat ke kantor atau sekolah daripada telat solat subuh. Anehnya lagi orang islam lebih pandai menghujat sesama islam daripada menutupi aib orang yang seakidah dengannya.

    Semoga Allah melimpahkan taufiq dan hidayatNya kepada kaum muslimin Amiin…

    ***

    Kiriman Sahabat Arlan

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 16 December 2014 Permalink | Balas  

    Yahudi dan Ramalan Rasulullah 

    palestine-flagYahudi dan Ramalan Rasulullah

    Bila mengingatkan kata Yahudi, orang sering menyamakan stigma omong kosong seperti stigma “PKI” oleh pejabat Orde Baru. Peristiwa di Palestina, agresi di Iraq, dan mungkin, akan menunggu giliran lagi beberapa negeri muslim lainnya, adalah fakta nyatanya. Ramalan Rosulullah di bawah ini patut anda renungkan kembali

    Oleh Sholeh Hasyim*

    “Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum muslimin memerangi kaum Yahudi, lalu membunuh mereka, sehingga seorang Yahudi bersembunyi dibalik batu dan pohon, lalu batu dan pohon berkata : Hai muslim ! Hai hamba Allah ! Ini Yahudi dibelakangku, kemarilah aku, bunuhlah dia ! Kecuali pohon ghorqod, maka itu adalah dari pohon-pohon orang Yahudi.” (HR. Muslim VII/188, Bukhari IV/51, Lu’lu’ wa al-Marjan III/308)

    Fenomena pertentangan antara ummat Islam dan Yahudi di Palestina semakin meningkat. Berbagai tindakan kekerasan terhadap ummat Islam tak kunjung berakhir, sekalipun bangsa-bangsa di dunia telah mengutuknya.

    Pengakuan Yahudi atas Yerusalem, ternyata menimbulkan kesalahpahaman ummat Islam dalam menyikapi Yahudi, dengan membandingan Yahudi jaman dahulu dan sekarang. Mereka menyamakan Yahudi dahulu yang beriman kepada Musa `Alaihis salaam (as) dengan Yahudi sekarang. Penyamaan sikap ini berakibat buruk baik dalam aspek aqidah maupun amal.

    Ada beberapa hal penting seperti dijelaskan dalam syariat dan sejarah; pertama, sesungguhnya Bani Israil yang mengimani ajaran Musa As berbeda dengan Yahudi sekarang. Yahudi dahulu terdiri dari kaum Muslim, dan Mukmin. Sedangkan sekarang terdiri dari kaum kafir, musyrik, dan penentang ajaran Musa yang telah keluar dari syariatnya. Bani Israil adalah keturunan Ya’qub Alaihissalam.

    Ibrahim pernah berwasiat kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. Ibrahim berkata: “Hai anak-ankakku, Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (al-Baqarah: 132). Yusuf as juga menegaskan hal yang sama,”Dan aku mengikuti agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya’qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah.” (Yusuf : 38)

    Ini sama dengan pesan Allah tentang orang-orang Yahudi yang mengimani ajaran Musa As. “Dan Kami jadikan di antara mereka (Bani Israil) itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami (QS. Sajdah : 24) Ayat lain mengatakan, “Dan sungguh telah Kami pilih mereka dengan pengetahuan (kami) atas bangsa-bangsa.” (ad-Dukhan: 32)

    Adapun orang-orang Yahudi yang keluar dari ajaran Musa, secara otomatis mereka telah jatuh pada kemusyrikan. Mereka yang musyrik itu seperti disebut dalam ayat-ayat berikut ini: Orang-orang Yahudi berkata, tangan Allah terbelenggu, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang mereka katakan itu (al-Maidah: 64), mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah (at-Taubah: 31). Orang- orang Yahudi berkata : Uzair itu putera Allah (at-Taubah: 30).

    Jadi, Yahudi sekarang tidak ada kaitannya dengan Yahudi yang beriman kepada Musa As. Adapun klaim mereka terhadap bumi Palestina, itu merupakan pengembangan dari kekufuran mereka terhadap Musa As. dan nabi-nabi sesudahnya. Mereka telah keluar dari tauhid dan syariat Musa As.

    Kedua : Kebanyakan Yahudi sekarang bukan berasal dari Bani Israil. Orang-orang Yahudi yang merampas wilayah Palestina sekarang, bukan berasal dari keturunan yang dulu pernah bersama-sama hidup dengan Musa as. Sekarang, Yahudi keturunan Israil, yang dikenal dengan sebutan Safaradim, tidak lebih dari 20% jumlahnya di dunia. Komunitas inipun percampuran dari berbagai etnis lain karena pernikahan dll. Sebagian kecil dari jumlah di atas, bukanlah asli keturunan Bani Israil. Adapun mayoritas kaum Yahudi di dunia yang mencapai 80%, itu berasal dari Eropa, dan berbagai negara di dunia. Mereka dikenal dengan sebutan al-Asykanazim, dimana mereka memasuki ajaran Yahudi yang sarat dengan paganisme.

    Bukti sejarah di atas menjadi jelas bahwa kaum Yahudi sekarang adalah penjajah. Mereka tidak berhak atas kepemilikan bumi Palestina, karena telah keluar dari ajaran Musa As yang benar dan mengubah-ubah kitab Taurat. Palestina adalah bumi kaum muslimin, tidak berhak bagi bangsa lain untuk memilikinya. Sesungguhnya, Palestina bukanlah milik Bani Israil, tetapi milik kaum Jabbariyin yang hidup sebelum Bani Israil. Allah mengizinkan kepada Bani Israil untuk memasuki wilayah Palestina, jika mereka masih komitmen terhadap ajaran yang benar. Jika tidak, secara otomatis izin tinggal dari Allah di Baitul Makdis telah dicabut.

    Ketiga: Sesungguhnya sifat dasar Yahudi yang diabadikan dalam al- Quran dari masa ke masa adalah pengkhianat, penakut, provokator, pemicu permusuhan, penipu, sombong dll. Sikap itu terlihat ketika mereka menyakiti Musa as. dan keluar dari ajaran Taurat. Itulah sikap dasar yang tertanam secara turun temurun. Sehingga sifat-sifat tercela mereka sebagai bagian dari agama mereka yang selalu rentan dengan perubahan. Mereka tanamkan ajaran berbahaya itu kepada anak cucu mereka dan kepada orang yang masuk agama mereka. Hanya sebagian kecil saja dari mereka yang masih memiliki komitmen terhadap Musa As ( al-Maidah: 59dan 62). Di antara mereka ada golongan pertengahan (al- Maidah: 66).

    Kehancuran Yahudi

    Hadits di atas mengajarkan kepada kita untuk merancang masa depan, sekalipun masa depan itu sesuatu yang ghaib. Dan yang bisa mengetahui hal-hal ghaib, hanyalah Allah. (QS. an-Naml: 65). Tetapi Allah mempunyai sunnatullah yang berlaku pada diri manusia. Ungkapan hadits di atas menjelaskan, peperangan yang akan terjadi bukanlah peperangan lokal antara orang Yahudi dan Muslim Palestina. Tetapi awal peperangan terhadap Yahudi yang sekarang mendominasi dunia. Apabila terjadi pertarungan global dan ummat Islam memperoleh kemenangan sebagaimana yang dijanjikan oleh Rasulullah saw, maka akan mengubah sejarah para penguasa Yahudi di dunia. Bila terjadi kekalahan, maka tidak ada lagi satu kekuasaanpun yang tertinggal untuk orang Yahudi di dunia. Ketika itu kepemimpinan dunia akan berubah dengan konsep lain yang sesuai dengan fitrah manusia.

    Jahiliyah modern sudah lama menyimpan berbagai penyakit karena mengingkari Allah dan akhirat. Dimana-mana terjadi penganiayaan, permusuhan, dekadensi moral, peperangan yang menghancurkan. Berbagai isme yang lain telah gagal dalam mengantarkan manusia modern menuju pintu gerbang kebahagiaan. Kini, manusia telah dijangkiti penyakit jiwa yang sangat akut. Mereka kehilangan harapan, kecewa, selalu dibayangi ketakutan dll. Mereka menunggu terwujudnya pandangan hidup yang bisa mencerdaskan akal, mencerahkan hati dan memperbaiki akhlaq mereka.

    Akan terjadi Nubuwwah padamu sesuai dengan kehendak Allah. Lalu Allah akan mengangkat (melenyapkan-Nya) jika Dia menghendakinya. Setelah itu, akan muncul khilafah yang sesuai dengan manhaj nubuwah. Maka sesuai dengan kehendak Allah, ia akan berada, lalu Allah akan melenyapkan jika Ia menghendaki. Kemudian akan datang raja yang zhalim. Maka iapun akan bercokol sesuai dengan kehendak-Nya. Kemudian akan ada raja yang tirani, maka iapun muncul sesuai dengan kehendak Allah, kemudian ia lenyap, jika Allah menghendaki. Baru setelah itu akan timbul kembali khilafah di atas manhaj nubuwah (HR. Ahmad dari Hdzaifah al-Yaman).

    Berbeda dengan sebagian orang Muslim, orang-orang Yahudi yakin dengan prediksi Rasulullah itu. Sampai hari ini, mereka memperbanyak menanam pohon ghorqod di kebun-kebun mereka. Mereka mengambil pengalaman dari berbagai peperangan dengan kaum muslimin pada masa Rasulullah ataupun masa intifadhah akhir-akhir ini. Pengalaman itu membuat Yahudi berusaha menghadang lajunya gerakan Islam di dunia. Harap tahu saja, simbol Yahudi internasional yang berbentuk seperti garpu, itu sesungguhnya simbol pohon ghorqod.

    Yang menjadi catatan, apakah peperangan di bumi Baitul Maqdis merupakan cikal bakal peperangan global Yahudi melawan Islam? Apalagi Yahudi dari berbagai belahan dunia telah berkumpul di satu tempat, sehingga mudah dihancurkan. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui kapan terjadinya peperangan yang menentukan nasib terakhir kaum Yahudi itu.

    Yang terpenting bagi ummat Islam sekarang adalah melakukan i’dad dan berjihad melawan Yahudi. Nash syariah dan bukti sejarah menunjukkan, perang melawan kekufuran akan senantiasa berlanjut. (QS. al-Baqarah 120 dan 109, Ali-Imran: 118). Sehingga Allah akan menolong ummat Islam, bila mereka memenuhi persyaratan untuk ditolong. Kita hanya bisa berdoa dan bekerja keras dalam menegakkan syariat di bumi. Keputusan terakhir kita serahkan kepada Allah. `Alaihi tawakkaltu wa ilaihi unib.• (Penulis, kontributor Suara Hidayatullah, Kudus, Jawa Tengah)

    ***

    Diambil dari Majalah Suara Hidayatullah, Edisi Khusus Milad Ke-14 Mei 2002

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 15 December 2014 Permalink | Balas  

    Termasuk Syirik: Istighatsah Atau Doa Kepada Selain Allah 

    doaTermasuk Syirik: Istighatsah Atau Doa Kepada Selain Allah

    Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

    Firman Allah Ta’ala (artinya):

    “Dan janganlah kamu memohon kepada selain Allah, yang tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula mendatangkan bahaya kepadamu; jika kamu berbuat (hal itu), maka sesungguhnya kamu, dengan demikian, adalah termasuk orang-orang yang zhalim (musyrik).” (Yunus: 106)

    “Dan jika Allah menimpakan kepadamu suatu bahaya, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia; sedang jika Allah menghendaki untukmu sesuatu kebaikan, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya, Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hambaNya. Dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yunus: 107)

    “Sesungguhnya mereka yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu, maka mintalah rezeki itu kepada Allah dan sembahlah Dia (saja) serta bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya lah kamu sekalian dikembalikan.” (Al-Ankabut: 17)

    “Dan tiada yang lebih sesat daripada orang yang memohon kepada sembahan-sembahan selain Allah, yang tiada dapat memperkenankan permohonannya sampai hari Kiamat dan sembahan-sembahan itu lalai dari (memperhatikan) permohonan mereka. Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari Kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan mereka.” (Al-Ahqaf: 5-6)

    “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan di saat ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan, dan yang menjadikan kamu sekalian menjadi khalifah di bumi? Adakah sembahan (yang haq) selain Allah? Amat sedikitlah kamu mengingat(Nya).” (An-Naml: 62)

    Ath-Thabarani, dengan menyebutkan sanadnya, meriwayatkan bahwa: “Pernah terjadi pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada seorang munafik yang selalu menyakiti orang-orang mukmin, maka berkatalah salah seorang diantara mereka: “Marilah kita bersama-sama ber-istighatsah kepada Rasulullah supaya dihindarkan dari tindakan buruk orang munafik ini.” Ketika itu, bersabdalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya tidak boleh ber-istighatsah kepadaku, tetapi istighatsah itu seharusnya hanya kepada Allah saja.”

    Kandungan tulisan ini:

    1. Istighatsah pengertiannya lebih khusus daripada doa. Istighatsah ialah meminta pertolongan ketika dalam keadaan sulit supaya dibebaskan dari kesulitan itu.
    2. Tafsiran ayat pertama. Ayat pertama menunjukkan bahwa dilarang memohon kepada selain Allah karena selain-Nya tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula dapat mendatangkan bahaya kepada seseorang.
    3. Memohon kepada selain Allah adalah syirik akbar.
    4. Bahwa orang paling shaleh sekalipun, kalau dia melakukan perbuatan ini untuk mengambil hati orang lain, maka ia temasuk golongan orang yang zhalim (musyrik).
    5. Tafsiran ayat kedua. Ayat kedua menunjukkan bahwa Allah-lah yang berhak dengan segala ibadah yang dilakukan manusia, seperti doa, istighatsah dan sebagainya. Karena hanya Allah Yang Maha Kuasa, jika Dia menimpakan suatu bahaya kepada seseorang, maka tiada yang dapat menghilangkannya selain Dia sendiri, dan jika Dia menghendaki untuk seseorang suatu kebaikan, maka tiada yang dapat menolak karunia-Nya. Tiada seorangpun yang mampu menghalangi kehendak-Nya.
    6. Memohon kepada selain Allah tidak mendatangkan manfaat duniawi, disamping perbuatan itu sendiri perbuatan kafir.
    7. Tafsiran ayat ketiga. Ayat ketiga menunjukkan bahwa hanya Allah yang berhak dengan ibadah dan rasa syukur kita, dan hanya kepada-Nya seharusnya kita meminta rezeki, karena selain Allah tidak mampu memberikan rezeki.
    8. Sebagaimana surga tidak dapat diminta kecuali dari Allah, demikian halnya dengan rezeki tidak patut diminta kecuali dari-Nya.
    9. Tafsiran ayat keempat. Ayat keempat menunjukkan bahwa doa (permohonan) adalah ibadah, karena itu barangsiapa menyelewengkannya kepada selain Allah, maka dia adalah musyrik.
    10. Tiada yang lebih sesat daripada orang yang memohon kepada sesembahan selain Allah.
    11. Sesembahan selain Allah itu tidak merasa dan tidak tahu bahwa ada orang yang memohon kepadanya.
    12. Permohonan itulah yang menyebabkan sesembahan selain Allah membenci dan memusuhi orang yang memohon kepadanya (pada hari Kiamat).
    13. Permohonan ini disebut sebagai ibadah kepada sesembahan selain Allah.
    14. Dan sesembahan selain Allah itu nanti pada hari Kiamat akan mengingkari ibadah yang mereka lakukan.
    15. Permohonan inilah yang menyebabkannya menjadi orang paling sesat.
    16. Tafsiran ayat kelima. Ayat kelima menunjukkan bahwa istighatsah kepada selain Allah -karena tiada yang kuasa kecuali Dia- adalah bathil dan termasuk syirik.
    17. Hal yang mengherankan, bahwa para pemuja berhala itu mengakui bahwa tiada yang dapat memperkenankan permohonan orang yang berada dalam kesulitan selain Allah. Untuk itu, ketika mereka berada dalam keadaan sulit dan terjepit, mereka memohon kepada-Nya dengan ikhlas dan memurnikan ketaatan untuk-Nya.
    18. Hadits di atas menunjukkan tindakan preventif yang dilakukan Rasulullah Al-Musthofa, shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk melindungi benteng tauhid, dan sikap ta’addub (sopan santun) beliau kepada Allah.

    ***

    Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

    Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

    Sumber : assunnah.or.id

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 14 December 2014 Permalink | Balas  

    Dari Syari’at Hingga Hakikat 

    IstighfarDari Syari’at Hingga Hakikat

    Istighfar, yang berarti mohon ampunan kepada Allah SWT, merupakan tradisi ritual Islam yang sangat fundamental. Sebab dalam Istighfar itu mengandung beberapa elemen ruhani, sebagaimana banyak dikutip oleh al-Qur’an maupun Sunnah Rasulullah SAW. Masalahnya, mengapa Allah dan Rasul-Nya sangat menganjurkan agar hamba-hamba Allah terus menerus beristighfar dan bershalawat? Apa hubungannya dengan kehidupan sehari-hari, dan keselamatan kehidupan dunia akhirat? Di mana posisi Istighfar, baik secara psikologis maupun secara elementer dalam kosmik ruhani (sufistik) hamba Allah? Inilah yang akan kita kaji bersama sebagai refleksi setiap kita menggerakkan bibir kita dan mendetakkan jantung hati kita.

    Sejumlah ayat tentang Istighfar atau pertobatan sangat banyak dikutip al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW, misalnya:

    “Mereka apabila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, segera ingat akan Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya (QS. 3:135).

    “Maka barangsiapa memuji Tuhanmu, dan memohon ampunan kepada-Nya, sungguh Dia Maha penerima Taubat. (QS. 110:3)

    “..dan orang-orang yang memohon ampun sebelum fajar.(QS. 3:17).

    “Maha Suci Engkau Wahai Allah, Tuhanku! Dan dengan segala puji bagi-Mu ya Allah Tuhanku, ampunilah aku! Sesungguhnya Engkau Maha Menerima Taubat, lagi Maha Pengasih.” (HR. al-Hakim).

    “Barang siapa memperbanyak istighfar, maka akan diberi kelapangan dalam setiap kesusahan dan jalan keluar dari kesempitan. Dan dianugerahi rezeki dari jalan yang tiada disangka-sangka.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i).

    “Sungguh hatiku didera kerinduan yang sangat dalam, sehingga aku beristighfar seratus kali setiap hari.” (HR. Muslim).

    “Meski dosa-dosamu sebanyak buih lautan, sebanyak butir pasir di padang pasir, sebanyak daun di seluruh pepohonan, atau seluruh bialangan jagad semesta, Allah SWT tetap akan selalu mengampuni, bila engkau mengucapkan doa sebanyak tiga kali sebelum engkau tidur: Astaghfirullahal ‘Adzim al-Ladzii Laailaaha Illa Huwal Hayyul Qayyuumu wa Atuubu Ilaih. (Aku memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung, tiada Tuhan selain Dia Yang Maha Hidup dan Memelihara (kehidupan), dan aku bertobat kepada-Nya).” (HR. at-Tirmidzi).

    Makna Terdalam

    Masih puluhan ayat dan hadits yang membincangkan keutamaan Istighfar. Dalam ucapan yang sering diwiridkan oleh beliau, antara lain: “Aku Mohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung”

    Ucapan istighfar ini saja mengandung beberapa makna yang dalam:

    Pertama, hamba yang beritighfar mengakui eksistensi kehambaannya di hadapan Allah SWT. Sebab hakikat hamba adalah sosok tak berdaya dan tak berupaya, sekaligus gerak-gerik hamba yang muncul dari hamba itu sendiri tanpa penyertaan Allah, berarti adalah ucapan dan tindakan yang salah dan penuh kealpaan.

    Kedua, hamba yang beritighfar berarti mengakui tajallinya Allah dalam Asma’ Keagungan-Nya. Karena Pengampunan Allah itu sendiri merupakan manifestasi dari Kemahaagungan Allah SWT. Musyahadah hamba kepada Asma’ Keagungan-Nya, merupakan prestasi paling elementer dalam memandang, siapa sebenarnya dan apa hakikat hamba Allah itu sendiri.

    Ketiga, Istighfar berarti kefanaan hamba Allah, lebur dalam eksistensi Keagungan Allah Ta’ala. Orang yang tidak pernah beristighfar tidak pernah mampu memasuki peleburan Ilahiah, yang disebut sebagai maqam fana’ dalam tasawuf. Dan Istighfar menghantar “kesirnaan” hamba, sampai pada totalitas yang hakiki, hingga mencapai tahap al-baqa’. Yaitu Penyaksian Keabadian Ilahi dalam Keagungan-Nya. Dengan kata lain, Istighfar berarti kefanaan sifat-sifat tercela hamba, kesirnaan dosa-dosa hamba, kehancuran nafsu-nafsu buruk hamba, menuju kebaqaan sifat-sifat terpuji, menuju nafsu-nafsu muthmainnah, radhiyah dan mardhiyah, hingga nafsu ma’rifah.

    Keempat, Istighfar berarti memupus sifat-sifat ego hamba. Sebab sehebat apa pun prestasi hamba di bidang materi maupun ruhani, tidak bisa mengklaim bahwa prestasi itu semata sebagai hasil usaha hamba. Sebab tanpa anugerah Allah, usaha mencapai puncak prestasi itu tidak akan pernah terwujud. Karena itu pengakuan total bahwa, nafsu egois itu sebagai pihak yang berperan dalam segala usahanya adalah suatu tindakan dosa.

    Kelima, Istighfar merupakan tindakan yang sangat dicintai oleh Allah SWT. Mahabbatullah tidak pernah terjadi manakala hamba tidak beristighfar setiap saat. Oleh sebab itu, hamba yang beristighfar menumbuhkan rindu dendam kepada Allah, karena memang cinta-Nya Allah turun kepada hamba-Nya yang beristighfar. Sebagaimana dalam al-Qur’an ditegaskan, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan orang-orang yang menyucikan diri.”

    Keenam, orang yang beristighfar sangat dicintai oleh Nabi SAW, sebab Istighfar adalah tradisi kecintaan Nabi SAW. Istighfar berkait erat dengan “proses penyucian diri”, karenanya Istighfar adalah prasyarat bagi “Tazkiyatun Nafsi”.

    Ketujuh, Istighfar memiliki maqamat dalam kualifikasi ruhani hamba Allah. Maqam pertama, seseorang beristighfar dari segala tindakan dosanya yang dilakukan. Maqam kedua, seseorang beristighfar dari segala kealpaannya sehingga ia tidak lagi melakukan dzikrullah. Maqam ketiga, seseorang beristighfar dari segala hal selain Allah yang memasuki ruang jiwanya.

    Kedelapan, Istighfar melahirkan perdamaian kemanusiaan, karena dalam Istighfar pun ada macam Istighfar yang bersifat sosial kemanusiaan, yaitu memohonkan ampunan kepada sesama hamba Allah.

    Istighfar Individu dan Sosial

    Dalam ritualitas vertikal, seorang hamba tidak hanya meraup kebahagiaan di hadapan Allah, tanpa ia menyertakan sesama umat beriman. Justru kualitas keimanan seseorang sangat berkait erat dengan kepedulian ruhaninya terhadap orang lain. Keteladanan Rasulullah SAW, ketika saat Yaumul Mahsyar memberikan cermin kepada umatnya, bahwa kulitas ruhani Rasulullah SAW, yang melebihi para Nabi dan Rasul, terpantul pada pembelaannya akan nasib umat di hadapan Allah. Suatu sikap yang tidak dimiliki oleh para pemimpin dan para Nabi/Rasul. Sebab ketika para hamba Allah meminta syafa’at kepada para Nabi, mulai Nabi Adam as, hingga Isa al-Masih as, ternyata mereka enggan, disebabkan mereka tidak berdaya, terutama memikirkan nasibnya sendiri-sendiri. Berbeda dengan Nabi Muhammad SAW, yang justru tidak memikirkan nasib dirinya di hadapan Allah, malah yang terucap hanya kalimat: “Umatii”umatii..umatii”” (umatku”duh, umatku”umatku”).

    Justru pembelaan Nabi Muhammad SAW itulah yang memberikan kewenangan padanya, syafa’at besar yang bisa menyelamatkan umat dari siksa Allah SAW. Oleh sebab itu, Islam mengajarkan agar dalam permohonan ampunan, juga menyertakan permohonan ampunan untuk sesama umat. Misalnya, Istighfar yang berbunyi:

    Astaghfurullahal ‘adzim, lii waliwaalidayya, walijami’il huquuqi waajibati ‘alayya, walijami’il muslimin wal-muslimaat wal-mu’minin wal mu’minaat al-ahyaa’I minhum wal-amwaat.

    (Aku mohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung, bagiku dan bagi kedua orang tuaku, dan bagi seluruh orang yang menjadi tanggungan kewajibanku, dan bagi umat muslimin dan muslimat, dan kaum mu’minin dan mu’minat).

    Dari nilai Istighfar di atas memberikan perspektif luar biasa bagi integrasi dan dinamika sosial secara damai. Hubungan-hubungan sosial akan berlaku dengan penuh kesejatian hati ke hati, karena hubungan yang bersifat emosional negatif dinetralisir oleh istighfar sosial di atas.

    Makanya, kualitas Istighfar bukan saja ditentukan hubungan yang sangat pribadi dengan Allah, tetapi juga sejauhmana seorang hamba menghayati Istighfar sosialnya.

    Di Balik Shalawat Nabi SAW

    Apa hubungan Istighfar dengan Shalawat Nabi SAW? Mengapa dalam praktik sufi, senantiasa ada dzikir Istighfar dan Shalawat Nabi dalam setiap wirid-wiridnya?

    Hubungan Istighfar dan Shalawat, ibarat dua keping mata uang. Sebab orang yang bershalawat, mengakui dirinya sebagai hamba yang lebur dalam wahana Sunnah Nabi. Leburnya kehambaan itulah yang identik dengan kefanaan hamba ketika beristighfar.

    Shalawat Nabi, merupakan syari’at sekaligus mengandung hakikat. Disebut syari’at karena Allah SWT, memerintahkan kepada para hamba-Nya yang beriman, agar memohonkan Shalawat dan Salam kepada Nabi. Dalam Firman-Nya:

    “Sesungguhnya Allah dan para MalaikatNya senantiasa bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang beriman bershalawatlah kepada Nabi dan mohonkan salam baginya. (QS. 33: 56)

    Beberapa hadits di bawah ini sangat mendukung firman Allah Ta’ala tersebut :

    1. Suatu hari Rasulullah SAW, datang dengan wajah tampak berseri-seri, dan bersabda: “Malaikat Jibril datang kepadaku sambil berkata, “Sangat menyenangkan untuk engkau ketahui wahai Muhammad, bahwa untuk satu shalawat dari seseorang umatmu akan kuimbangi dengan sepuluh doa baginya.” Dan sepuluh salam bagiku akan kubalas dengan sepuluh salam baginya.” (HR. an-Nasa’i)
    2. Sabda Rasulullah SAW: “Kalau orang bershalawat kepadaku, maka malaikat juga akan mendoakan keselamatan yang sama baginya, untuk itu hendaknya dilakukan, meski sedikit atau banyak.” (HR. Ibnu Majah dan Thabrani)
    3. Sabda Nabi SAW, “Manusia yang paling utama bagiku adalah yang paling banyak shalawatnya.” (HR. at-Tirmidzi)
    4. Sabdanya, “Paling bakhilnya manusia, ketika ia mendengar namaku disebut, ia tidak mengucapkan shalawat bagiku.” (HR. at-Tirmidzi). “Perbanyaklah shalawat bagiku di hari Jum’at” (HR. Abu Dawud).
    5. Sabdanya, “Sesungguhnya di bumi ada malaikat yang berkeliling dengan tujuan menyampaikan shalawat umatku kepadaku.” (HR. an-Nasa’i)
    6. Sabdanya, “Tak seorang pun yang bershalawat kepadaku, melainkan Allah mengembalikan ke ruhku, sehingga aku menjawab salam ” (HR. Abu Dawud).

    Tentu, tidak sederhana, menyelami keagungan Shalawat Nabi. Karena setiap kata dan huruf dalam shalawat yang kita ucapkan mengandung atmosfir ruhani yang sangat dahsyat. Kedahsyatan itu, tentu, karena posisi Nabi Muhammad SAW, sebagai hamba Allah, Nabiyullah, Rasulullah, Kekasih Allah dan Cahaya Allah. Dan semesta raya ini diciptakan dari Nur Muhammad, sehingga setiap detak huruf dalam Shalawat pasti mengandung elemen metafisik yang luar biasa.

    Mengapa kita musti membaca Shalawat dan Salam kepada Nabi, sedangkan Nabi adalah manusia paripurna, sudah diampuni dosa-dosanya yang terdahulu maupun yang akan datang? Beberapa alasan berikut ini sangat mendukung perintah Allah SWT :

    1. Nabi Muhammad SAW adalah sentral semesta fisik dan metafisik, karena itu seluruh elemen lahir dan batin makhluk ini merupakan refleksi dari cahayanya yang agung. Bershalawat dan bersalam yang berarti mendoakan beliau, adalah bentuk lain dari proses kita menuju jati diri kehambaan yang hakiki di hadapan Allah, melalui “titik pusat gravitasi” ruhani, yaitu Muhammad Rasulullah SAW.
    2. Nabi Muhammad SAW, adalah manusia paripurna. Segala doa dan upaya untuk mencintainya, berarti kembali kepada orang yang mendoakan, tanpa reserve. Ibarat gelas yang sudah penuh air, jika kita tuangkan air pada gelas tersebut, pasti tumpah. Tumpahan itulah kembali pada diri kita, tumpahan Rahmat dan Anugerah-Nya melalui gelas piala Kekasih-Nya, Muhammad SAW.
    3. Shalawat Nabi mengandung syafa’at dunia dan akhirat. Semata karena filosofi Kecintaan Ilahi kepada Kekasih-Nya itu, meruntuhkan Amarah-Nya. Sebagaimana dalam hadits Qudsi, “Sesungguhnya Rahmat-Ku, mengalahkan Amarah-Ku.” Siksaan Allah tidak akan turun pada ahli Shalawat Nabi, karena kandungan kebajikannya yang begitu par-exellent.
    4. Shalawat Nabi, menjadi tawashul bagi perjalanan ruhani umat Islam. Getaran bibir dan detak jantung akan senantiasa membubung ke alam Samawat (alam ruhani), ketika nama Muhammad SAW disebutnya. Karena itu, mereka yang hendak menuju kepada Allah (wushul), peran Shalawat sebagai pendampingnya, karena keparipurnaan Nabi itu menjadi jaminan bagi siapa pun yang hendak bertemu dengan Yang Maha Paripurna.
    5. Muhammad, sebagai nama dan predikat, bukan sekadar lambang dari sifat-sifat terpuji, tetapi mengandung fakta tersembunyi yang universal, yang ada dalam Jiwa Muhammad SAW. Dan dialah sentral satelit ruhani yang menghubungkan hamba-hamba Allah dengan Allah. Karena sebuah penghargaan Cinta yang agung, tidak akan memiliki nilai Cinta yang hakiki manakala, estetika di balik Cinta itu, hilang begitu saja. Estetika Cinta Ilahi, justru tercermin dalam Keagungan-Nya, dan Keagungan itu ada di balik desah doa yang disampaikan hamba-hamba-Nya buat Kekasih-Nya. Wallahu A’lam.

    Para sufi memberikan pengajaran sistematis kepada umat melalui Shalawat Nabi itu sendiri. Dan Shalawat Nabi yang berjumlah ratusan macam itu, lebih banyak justru dari ajaran Nabi sendiri. Model Shalawat yang diwiridkan para pengikut tarekat, juga memiliki sanad yang sampai kepada Nabi SAW. Oleh sebab itu, Shalawat adalah cermin Nabi Muhammad SAW yang memantul melalui jutaan bahkan milyaran hamba-hamba Allah bahkan bilyunan para malaikat-Nya.

    ***

    Mohammad Luqman Hakiem, MA

     
  • erva kurniawan 1:22 am on 13 December 2014 Permalink | Balas  

    Jangan Biarkan Anak Kita Takut 

    siluet anak bapakJangan Biarkan Anak Kita Takut

    Perasaan takut adalah bagian dari fitrah anak. Tapi bila berlebihan, tak sehat bagi tumbuh kembang kepribadiannya. Jerit histeris tiba-tiba terdengar dari arah teras rumah. Seorang ibu yang sedang asyik memasak di dapur segera menuju sumber suara.

    Sekonyong-konyong ia merasa kaget karena melihat anaknya yang sedang bermain di teras rumah menangis keras sembari menampakkan perubahan raut wajah pucat pasi. Si kecil segera menghampiri bunda tercinta dan menyembunyikan wajah cemasnya di balik gaun. Ternyata sang anak takut dengan cicak yang sedang menempel di pagar rumah.

    Kejadian tersebut hanya sepenggal misal yang mungkin saja mungkin pernah terjadi di rumah kita. Takut adalah sifat atau tabiat alamiah yang ada pada setiap diri manusia. Ketakutan sebenarnya merupakan suatu keadaan yang dapat membantu individu melindungi dirinya dari suatu bahaya, sekaligus memberi pengalaman baru.

    Pada sejumlah balita, wajar jika dihinggapi perasaan takut. Biasanya rasa takut si kecil ini masih sebatas pada hal-hal spesifik, seperti takut pada binatang atau serangga tertentu, takut suasana gelap, juga takut bertemu orang asing. Meski boleh dibilang wajar, tapi bila sudah berlebihan perasaan takut yang hinggap pada anak tak boleh dibiarkan. Sifat takut yang akut bisa berakibat buruk bagi perkembangan perilaku anak. Bisa jadi, bila tidak segera diatasi, ia akan mengalami fobia.

    Leni Sinto Rini, Spi, konsultan psikologi pada klinik Aulad Sabita sebuah klinik khusus untuk perkembangan psikologi anak, melihat gejala ketakutan anak berawal dari pengkondisian lingkungan dekatnya. Pada dasarnya, anak itu mempunyai sifat pemberani, meski tidak semuanya begitu. Sering terjadi, ketakutan anak justru muncul karena “ditularkan” oleh orang tua, keluarga, nenek-kakek, bahkan saudara-saudaranya sendiri. Karena hendak menghentikan tangis anak, tanpa sadar orangtua sering membujuk anak dengan cara menakut-nakuti, misalnya dengan berujar, “Jangan menangis terus, nanti kamu digigit kucing.” Akibatnya, anak merasa terancam dan tidak aman setiap kali melihat kucing. Padahal umumnya, kucing hanya akan marah dan mencakar jika diganggu.

    Ika Pambajeng, psikolog, menimpali bahwa seringkali dari dalam lingkungan rumah, anak banyak belajar tentang macam-macam rasa takut. Takut hantu misalnya, selalu menjadi momok anak kecil saat ia mengkonsumsi film-film misteri yang ditayangkan berbagai media elektronik sehari-hari tanpa pengarahan orangtua “Seharusnya, setiap orangtua menyadari, bahwa meski semula mereka ingin menghibur buah hati ini dengan mengimajinasikan cerita-cerita fantastis, tapi pola asuh demikian sangat membahayakan perkembangan karakter anak. Bisa jadi, karena sering ditakut-takuti, anak akan menjadi seorang penakut hantu hingga dewasa,” ujar Ika menyesalkan.

    Saat anak dirundung rasa takut, ia akan mengekspresikannya melalui berbagai cara, seperti lewat tangisan, jeritan, bersembunyi atau tak mau lepas dari orangtua. Ada juga karena saking takutnya terhadap sesuatu, ia sampai terkencing-kencing. “Saat anak takut, hendaknya orangtua jangan memarahinya. Tapi, berikan ia ketenangan dan yakinkan kalau ia berada pada suasana yang aman dan damai. Yakinkanlah, tak ada yang perlu ditakuti. Sebab, saat anak merasa aman dengan dirinya sendiri maupun lingkungannya, hilanglah rasa takut tadi. Tentu saja ini perlu dukungan orang tua,” papar Leni Sinto Rini.

    Leni Sinto Rini juga menyoroti perasaan takut anak pada sekolah. Sekolah adalah lingkungan baru bagi anak. Anak yang belum dikenalkan dengan lingkungan sekolah, biasanya mengalami rasa takut dan cemas saat pertama kali. Mestinya, sejak dini, jauh sebelum anak memasuki jenjang pendidikan formil, orangtua sudah memperkenalkan lingkungan sekolah kepada anak-anaknya. “Bisa saja itu dilakukan dengan cara memasukkannya terlebih dahulu pada pendidikan nonformil, seperti play group, Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), Taman Kanak-kanak Islam Terpadu (TKIT), dan sebagainya. Cara lain, bisa juga orangtua mengkondisikannya di rumah dengan memberikan beberapa materi sekolah, seperti mengajarinya baca tulis dan memberikan tugas-tugas PR yang sama seperti di sekolah,” jelas Leni.

    Ikhwan Fauzi

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 12 December 2014 Permalink | Balas  

    Mayat Yang Tidak Dapat Ridho 

    kuburanMayat Yang Tidak Dapat Ridho

    Ini adalah kisah nyata, kisah proses penguburan seorang pejabat di sebuah kota di Jawa Timur. Nama dan alamat sengaja tidak disebutkan untuk menjaga nama baik jenazah dan keluarga yang ditinggalkan. Insya Allah kisah ini menjadi hikmah dan cermin bagi kita semua sebelum ajal menjemput.

    Kisah ini diceritakan langsung oleh seorang Modin (pengurus jenazah). Dengan gaya bertutur, selengkapnya ceritanya begini :

    Saya terlibat dalam pengurus jenazah lebih dari 16 tahun, Berbagai pengalaman telah saya lalui, sebab dalam jangka atau kurun waktu tersebut macam macam jenis mayat sudah saya tangani. Ada yang meninggal dunia akibat kecelakaan, sakit tua, sakit jantung, bunuh diri dan sebagainya.

    Bagaimanapun, pengalaman mengurus satu jenazah seorang pejabat yang kaya serta berpengaruh ini, menyebabkan saya dapat kesempatan ‘istimewa’ sepanjang hidup. Inilah pertama saya bertemu dengan satu jenazah yang cukup aneh, menyedihkan, menakutkan dan sekaligus memberikan banyak hikmah.

    Peristiwa ini terjadi pertengahan bulan Februari 2001 dan kebetulan sebagai Modin tetap di desa, saya diminta oleh anak almarhum mengurus jenazah Bapaknya. Saya terus pergi ke rumahnya. Ketika saya tiba sampai ke rumah almarhum tercium bau jenazah itu sangat busuk. Baunya cukup memualkan perut dan menjijikan. Saya telah mengurus banyak jenazah tetapi tidak pernah saya bertemu dengan mayat yang sebusuk ini.

    Ketika saya lihat wajah almarhum, sekali lagi saya tersentuh. Saya tengok wajahnya seperti dirundung oleh macam macam perasaan takut, cemas, kesal dan macam-macam. Wajahnya seperti tidak mendapat nur dari Allah SWT. Kemudian saya pun ambil kain kafan yang dibeli oleh anak almarhum dan saya potong. Secara kebetulan pula, disitu ada dua orang yang pernah mengikuti kursus “fardu kifayah” atau pengurus jenazah yang pernah saya ajar. Saya ajak mereka membantu saya dan mereka setuju.

    Tetapi selama memandikan mayat itu, kejadian pertama pun terjadi, sekedar untuk pengetahuan pembaca, apabila memandikan jenazah, badan mayat itu perlu dibangunkan sedikit dan perutnya hendaklah diurut-urut untuk mengeluarkan kotoran yang tersisa. Maka saya pun urut urut perut almarhum. Tapi apa Yang terjadi, pada hari itu sangat mengejutkan. Allah SWT berkehendak dan menunjukkan kekuasaannya karena pada hari tersebut, kotoran tidak keluar dari pada dubur akan tetapi melalui mulutnya.

    Hati saya berdebar debar. Apa yang sedang terjadi di depan saya ini ? Telah dua kali mulut mayat ini memuntahkan kotoran, saya harap hal itu tidak terulang lagi karena saya mengurut perutnya untuk kali terakhir.

    Tiba tiba ketentuan Allah SWT berlaku, ketika saya urut perutnya keluarlah dari mulut mayat itu kotoran bersama beberapa ekor ulat yang masih hidup. Ulat itu adalah seperti ulat kotoran (belatung). Padahal almarhum meninggal dunia akibat diserang jantung dan waktu kematiannya dalam tempo yang begitu singkat mayatnya sudah menjadi demikian rupa ? Saya lihat wajah anak almarhum. Mereka seperti terkejut. Mungkin malu, terperanjat dan aib dengan apa yang berlaku pada Bapaknya, kemudian saya tengok dua orang pembantu tadi, mereka juga terkejut dan panik. Saya katakan kepada mereka, “Inilah ujian Allah terhadap kita”.

    Kemudian saya minta salah satu seorang dari pada pembantu tadi pergi memanggil semua anak almarhum. Almarhum pada dasarnya seorang yang beruntung karena mempunyai tujuh orang anak, kesemuanya laki-laki. Seorang berada di luar negeri dan enam lagi berada di rumah. Ketika semua anak almarhum masuk, saya nasehati mereka. Saya mengingatkan mereka bahwasanya tanggung jawab saya hanyalah mambantu menguruskan jenazah Bapak mereka, bukan menguruskan semuanya, tanggung jawab ada pada ahli warisnya. Sepatutnya sebagai anak, mereka yang lebih afdal menguruskan jenazah Bapak mereka itu, bukan hanya iman, hanya bilal, atau guru. Saya kemudian meminta ijin serta bantuan mereka untuk menunggingkan mayat itu.

    Takdir Allah ketika ditunggingkan mayat tersebut, tiba tiba keluarlah ulat-ulat yang masih hidup, hampir sebaskom banyaknya. Baskom itu kira-kira besar sedikit dari pada penutup saji meja makan.

    Suasana menjadi makin panik. Benar benar kejadian yang luar biasa sulit diterima akal fikiran manusia biasa. Saya terus berdoa dan berharap tidak terjadi lagi kejadian yang lebih ganjil. Selepas itu saya memandikan kembali mayat tersebut dan saya ambilkan wudlu. Saya meminta anak anaknya untuk kain kafan.

    Saya bawa mayat ke dalam kamarnya dan tidak diijinkan seorang pun melihat upacara itu terkecuali waris yang terdekat sebab saya takut kejadian yang lebih aib akan terjadi.

    Peristiwa apa pula yang terjadi setelah jenazah diangkat ke kamar dan hendak dikafani, takdir Allah jua yang menentukan, ketika mayat ini diletakkan di atas kain kafan, saya dapati kain kafan itu hanya cukup menutupi ujung kepala dan kaki tidak ada lebih, maka saya tak dapat mengikat kepala dan kaki. Tidak keterlaluan kalau saya katakan ia seperti kain kafan itu tidak mau menerima mayat tadi. Tidak apalah, mungkin saya yang khilaf di kala memotongnya. Lalu saya ambil pula kain, saya potong dan tampung di tempat tempat yang kurang. Memang kain kafan jenazah itu jadi sambung menyambung, tapi apa mau dikata, itulah yang dapat saya lakukan. Dalam waktu yang sama saya berdoa kepada Allah “Ya Allah, jangan kau hinakan jenazah ini ya Allah, cukuplah sekedar peringatan kepada hambaMu ini.”

    Selepas itu saya beri taklimat tentang sholat jenazah tadi, satu lagi masalah timbul, jenazah tidak dapat dihantar ke tanah pekuburan karena tidak ada mobil jenazah/mobil ambulance. Saya hubungi kelurahan, pusat Islam, masjid, dan sebagainya, tapi susah. Semua sedang terpakai, beberapa tempat tersebut juga tidak punya kereta jenazah lebih dari satu karena kereta yang ada sedang digunakan pula. Suatu hal yang saya fikir bukan sekedar kebetulan. Dalam keadaan itu seorang hamba Allah muncul menawarkan bantuan. Lelaki itu meminta saya menunggu sebentar untuk mengeluarkan van/sejenis Mobil pickup dari garasi rumahnya. Kemudian muncullah sebuah van. Tapi ketika dia sedang mencari tempat untuk meletakkan vannya itu di rumah almarhum tiba-tiba istrinya keluar. Dengan suara yang tegas dia berkata di khalayak ramai : “Mas, saya tidak perbolehkan mobil kita ini digunakan untuk angkat jenazah itu, sebab semasa hayatnya dia tidak pernah mengijinkan kita naik mobilnya.”

    Renungkanlah kalau tidak ada apa apanya, tidak mungkin seorang Wanita yang lembut hatinya akan berkata demikian. Jadi saya suruh tuan punya van itu membawa kembali vannya. Selepas itu muncul pula seseorang lelaki menawarkan bantuannya. Lelaki itu mengaku dia anak murid saya. Dia meminta ijin saya dalam 60 menit membersihkan mobilnya itu. Dalam jangka waktu yang ditetapkan itu, muncul mobil tersebut, tapi dalam keadaan basah kuyup. Mobil yang dimaksudkan itu sebenarnya lori. Dan lori itu digunakan oleh lelaki tadi untuk menjual ayam ke pasar, dalam perjalanan menuju kawasan pekuburan, saya berpesan kepada dua pembantu tadi supaya masyarakat tidak usah membantu kami menguburkan jenazah, cukup tinggal di kampung saja akan lebih baik. Saya tidak mau mereka melihat lagi peristiwa ganjil.

    Rupanya apa yang saya takutkan itu berlaku sekali lagi, takdir Allah yang terakhir amat memilukan. Sesampainya jenazah tiba di tanah pekuburan, saya perintahkan tiga orang anaknya turun ke dalam liang dan tiga lagi menurunkan jenazah. Allah berkehendak semua atas makhluk ciptaanNya berlaku, saat jenazah itu menyentuh ke tanah tiba tiba air hitam yang busuk, baunya keluar dari celah tanah yang pada asal mulanya kering.

    Hari itu tidak ada hujan, tapi dari mana datang air itu ? sukar untuk saya menjawabnya. Lalu saya arahkan anak almarhum, supaya jenazah bapak mereka dikemas dalam peti dengan hati hati. Saya takut nanti ia terlentang atau telungkup na’udzubillah. Kalau mayat terlungkup, tak ada harapan untuk mendapat safa’at Nabi. Papan keranda diturunkan dan kami segera timbun kubur tersebut. Selepas itu kami injak injak tanah supaya mampat dan bila hujan ia tidak mendap/ambrol. Tapi sungguh mengherankan, saya perhatikan tanah yang diinjak itu menjadi becek. Saya tahu, jenazah yang ada di dalam telah tenggelam oleh air hitam yang busuk itu. Melihat keadaan tersebut, saya arahkan anak-anak almarhum supaya berhenti menginjakkan tanah itu. Tinggalkan lobang kubur 1/4 meter. Artinya kubur itu tidak ditimbun hingga ke permukaan lubangnya, tapi ia seperti kubur berlobang.

    Tidak cukup dengan itu, apabila saya hendak bacakan talqin, saya lihat tanah yang diinjak itu ada kesan serapan air. Masya Allah, dalam sejarah peristiwa seperti itu belum pernah terjadi. Melihat keadaan itu, saya ambil keputusan untuk selesaikan penguburan secepat mungkin. Sejak lama terlibat dalam penguburan jenazah, inilah mayat yang saya tidak alqimkan. Saya bacakan tahlil dan doa yang paling ringkas. Setalah saya Pulang ke rumah almarhum dan mengumpulkan keluarganya. Saya bertanya kepada istri almarhum, apakah yang telah dilakukan oleh almarhum semasa hayatnya.

    1. Apakah dia pernah menzalimi orang alim?
    2. Mendapat harta secara merampas, menipu dan mengambil yang bukan haknya?
    3. Memakan harta masjid dan anak yatim ?
    4. Menyalahkan jabatan untuk kepentingan sendiri ?
    5. Tidak pernah mengeluarkan zakat, shodaqoh atau infaq ?

    Istri almarhum tidak dapat memberikan jawabannya. Memikirkan mungkin dia malu Untuk memberi tahu, saya tinggalkan nomor telepon rumah. Tapi sedihnya hingga sekarang, tidak seorang pun anak almarhum menghubungi saya. Untuk pengetahuan umum, anak almarhum merupakan orang yang berpendidikan tinggi hingga ada seorang yang beristri orang Amerika, seorang dapat istri orang Australia dan seorang lagi istrinya orang Jepang. Peristiwa ini akan tetap saya ingat. Dan kisah ini benar benar nyata bukan rekaan atau isapan jempol.

    Semua kebenaran saya kembalikan kepada Allah SWT pencipta jagad raya ini. ‘Kepada kita semua pembaca setia renungan Media Informasi ini, tanyalah diri kita akankah kita menginginkan peristiwa itu terjadi pada diri kita sendiri, ibu, bapak kita, anak kita atau kaum keluarga kita ? Renungkanlah…

    Pada akhirnya setelah semalam merenungkan artikel ini dalam hati terbersit do’a: “Ya Allah jauhkanlah Aku dan keluargaku dari peristiwa itu dan peristiwa yang semacam dengan itu.” “Ya Allah jauhkanlah Aku dan keluargaku dari akhlaq yang menjadikan peristiwa itu dan peristiwa yang semacam dengan itu.”

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 11 December 2014 Permalink | Balas  

    Bocah-bocah Bunuh Diri 

    pisauBocah-bocah Bunuh Diri

    Oleh : Asro Kamal Rokan

    Nazar Ali Julian berusia 13 tahun. Dia bukan orang terkenal. Di sekolah, Nazar dikenal rajin dan tergolong pandai. Dia juga anak baik, rajin ke masjid, shalat, dan puasa Senin-Kamis.

    Belakangan ini, setelah kedua orang tuanya bercerai, Nazar berubah. Dia lebih suka tidur di rumah temannya, tidak di rumah bibinya di Kampung Ciwalen Pasar, Desa Ciwalen, Cianjur. Mungkin dia kesepian. Apalagi ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Arab Saudi sejak dua bulan lalu. Tiba-tiba, suatu sore, Nazar yang baik dan santun itu mengambil pisau dapur. Dia masuk ke kamar mandi dan menghunjamkan pisau tersebut berkali-kali ke perutnya. Nazar, remaja yang baru tumbuh, bunuh diri! Nazar jatuh dan terkapar berlumur darah.

    Kondisinya kritis. Rumah sakit Cimacan tak mampu menanganinya sehingga dia dibawa ke RSU Cianjur. Untuk perawatan lebih intensif, Nazar yang belum sadarkan diri kemudian dibawa ke RS Hasan Sadikin, Bandung. Kisah Nazar, anak kedua dari tiga bersaudara, satu dari deretan panjang kasus-kasus bunuh diri. Kini, mari kita lihat data-data kasus bunuh diri dan percobaan bunuh diri yang dilakukan anak-anak usia belasan tahun –usia, yang lazimnya, kegembiraan meliputi mereka. Penuh tawa dan canda.

    Nurdin bin Adas berusia 12 tahun. Warga Kampung Cikareo, Desa Salakuray, Garut, itu ditemukan tewas tergantung di plafon dapur rumah kakaknya. Nurdin diduga bunuh diri karena tak kuat menahan kerinduan kepada almarhumah ibunya.

    Bambang Surono berusia 11 tahun. Oktober 2003, warga Semarang, Jawa Tengah, dikejutkan berita ditemukannya murid V SD itu tewas tergantung. Diduga Bambang bunuh diri. Kisah paling menghebohkan dan menggedor nurani masyarakat, terjadi Agustus 2003. Heryanto yang baru berusia 12 tahun, menggantung dirinya karena malu tak mampu membayar iuran Rp 2.500 untuk kegiatan di sekolahnya. Murid kelas VI sekolah dasar di Garut itu dapat diselamatkan. Kasus-kasus yang menimpa anak usia belasan tahun itu –mungkin tidak hanya Nazar, Bambang, Nurdin, dan Heryanto, karena tidak semua dapat terpantau– memperpanjang angka kasus bunuh diri atau percobaan bunuh diri.

    Di Jakarta, menurut data Kepolisian Daerah Metro Jaya, pada 2003 saja 62 orang dilaporkan tewas akibat bunuh diri. Angka itu melonjak tiga kali dibanding 2002, yang mencapai 19 orang. Usia korban 16-65 tahun, sebagian besar lelaki. Mereka yang bunuh diri sebagian besar pengangguran, selebihnya pelajar, karyawan, pembantu rumah tangga, dan buruh. Umumnya, mereka mengalami tekanan ekonomi.

    Angka bunuh diri di Bali juga mencengangkan. Menurut data dr Nyoman Hanati SpKj –panelis diskusi Mewaspadai Bunuh Diri, Suatu Tinjauan Psikiatrik di RS Sanglah, akhir tahun lalu– selama Oktober, November, dan Desember, tercatat 30 kasus bunuh diri, 20 orang di antaranya tewas. Catatan BeFrienders.org –lembaga yang khusus mencatat dan mengulas kasus bunuh diri– memperlihatkan kematian akibat bunuh diri di Amerika Serikat, lebih besar dibanding kematian akibat pembunuhan. Penyebab terbesar adalah depresi, tekanan ekonomi, dan krisis keluarga.

    Ada banyak alasan orang untuk bunuh diri –jalan pintas yang sangat dimurkai Allah. Tapi, satu hal untuk direnungkan, kematian sia-sia, apalagi dilakukan anak-anak usia belasan tahun, memperlihatkan ada sesuatu yang tidak benar sedang terjadi. Orang tua, guru sekolah, pakar pendidikan, ulama, masyarakat, merenunglah! Lakukan sesuatu: Selamatkan mereka!! Hari ini, kita mungkin dapat tenang melihat anak-anak bermain, bercanda, dan tertawa riang. Besok, siapa tahu?

    ***

    republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 10 December 2014 Permalink | Balas  

    Definisi Hidup dan Mati 

    mati-suri-dalam-buzzleDefinisi Hidup dan Mati

    Pengertian hidup menurut bahasa Arab adalah kebalikan dari mati (naqiidlul maut). Tanda-tanda kehidupan nampak dengan adanya kesadaran, kehendak, penginderaan, gerak, pernapasan, pertumbuhan, dan kebutuhan akan makanan.

    Sedang pengertian mati dalam bahasa Arab adalah kebali­kan dari hidup (naqiidlul hayah). Dalam kitab Lisanul Arab dikatakan:

    “Mati adalah kebalikan dari hidup.”

    Jadi selama arti mati adalah kebalikan dari hidup, maka tanda-tanda kematian berarti merupakan kebalikan dari tanda-tanda kehidupan, yang nampak dengan hilangnya kesadaran dan kehendak, tiadanya penginderaan, gerak, dan pernapasan, serta berhentinya pertumbuhan dan kebutuhan akan makanan.

    Ada beberapa ayat dan hadits yang menunjukkan bahwa manusia akan mati ketika ruhnya (nyawanya) ditahan dan ketika jiwanya dipegang oleh Allah SWT Sang Pencipta. Allah SWT berfirman:

    “Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya. Maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentu­kan.” (QS. Az Zumar: 42)

    Imam Muslim meriwayatkan dari Ummu Salamah RA bahwa Rasulullah SAW:

    “Sesungguhnya jika ruh sedang dicabut, maka mata akan men­gikutinya…”

    Perlu dipahami bahwa tidak ada yang mengetahui hakekat jiwa dan ruh tersebut kecuali Allah SWT. Demikian pula masalah pemegangan/pencabutan serta pengembalian ruh dan jiwa kepada Allah SWT selaku pencipta keduanya, termasuk dalam perkara ghaib yang berada di luar jangkauan eksperimen ilmiah. Yang dapat diamati hanyalah pengaruh-pengaruh fenom­ena tersebut dalam tubuh fisik manusia,  berupa tanda-tanda yang menunjukkan terjadinya kematian.

    Meskipun beberapa ayat dan hadits telah menunjukkan bahwa berhentinya kehidupan adalah dengan pencabutan ruh dan penahanan jiwa, akan tetapi ayat atau hadits seperti itu tidak menentukan titik waktu kapan terjadinya pencabutan ruh, penahanan jiwa, dan berhentinya kehidupan. Pemberitaan wahyu tentang hal tersebut, ialah bahwa ruh jika dicabut, akan diikuti oleh pandangan mata, sebagaimana yang diterang­kan dalam hadits di atas. Demikian pula terdapat keterangan dari sabda Rasulullah SAW:

    “Jika kematian telah menghampiri kalian, maka pejamkanlah penglihatan kalian, sebab penglihatan akan mengikuti ruh (yang sedang dicabut)…” (HR. Ahmad, dari Syadad bin Aus RA)

    Oleh karena itu, penentuan titik waktu berhentinya kehidupan berarti memerlukan penelaahaan terhadap manath (fakta yang menjadi objek penerapan hukum) pada seseorang yang akan ditetapkan telah mati dan telah berhenti kehidu­pannya. Penelaahan ini membutuhkan keahlian dan pengetahuan.

    Sebelum ilmu-ilmu kedokteran maju dan sebelum adanya penelaahan organ tubuh secara teliti serta penemuan organ tubuh buatan, para dokter menganggap bahwa berhentinya jantung merupakan indikasi kematian manusia dan berhentinya kehidupannya. Namun kini mereka telah mengoreksi pendapat tersebut. Mereka kini mengatakan bahwa berhentinya detak jantung tidak selalu menunjukkan matinya manusia. Bahkan terkadang jantung sudah berhenti tetapi manusia tetap hidup. Begitu pula operasi jantung terbuka, mengharuskan penghen­tian jantung.

    Mereka kini mengatakan bahwa indikator yang menunjukkan kematian seseorang dan berhentinya kehidupan padanya, adalah matinya batang otak (brain stem). Batang otak adalah semacam tangkai pada otak yang berbentuk penyangga atau tonggak, yang terletak pada pertengahan bagian akhir dari otak sebe­lah bawah, yang berhubungan dengan jaringan syaraf di leher. Di dalamnya terdapat jaringan syaraf yang jalin menjalin. Batang otak merupakan sirkuit yang menghubungkan otak dengan seluruh anggota tubuh dan dunia luar, yang berfungsi membawa stimulus penginderaan kepada otak dan membagikan seluruh respons yang dikeluarkan oleh otak untuk melaksanakan pesan-pesan otak.

    Batang otak merupakan bagian otak yang berhenti ber­fungsi paling akhir, sebab matinya otak dan kulit/tutup otak terjadi sebelum matinya batang otak. Jika batang otak mati, matilah manusia dan berakhirlah kehidupannya secara total, meskipun jantungnya masih berdenyut, kedua paru-parunya masih bernapas seperti biasa, dan organ-organ lain masih berfungsi. Terkadang kematian batang otak terjadi sebelum berhentinya jantung, misalnya bila ada pukulan langsung pada otak, atau gegar otak, atau pemotongan batang otak. Dalam keadaan sakit, berhenti dan matinya jantung seseorang terja­di sebelum berhenti dan matinya otak.

    Ada beberapa peristiwa yang membingungkan para dokter. Pernah tercatat ada otak yang sudah tak berfungsi, tetapi organ-organ tubuh lainnya masih berfungsi. Telah diberitakan  ada seorang wanita Finlandia yang dapat melahirkan seorang bayi, padahal dia telah mengalami koma total selama dua setengah bulan. Wanita tersebut koma karena benturan yang mengakibatkan gegar otak. Tapi anehnya, wanita itu baru meninggal dua hari setelah dia melahirkan bayinya. Dalam keadaan komanya, dia bernapas dengan alat pernapasan, diberi makan lewat tabung, dan diganti darahnya setiap minggu selama 10 minggu. Bayi yang dilahirkannya dalam keadaan sehat dan normal.

    Demikian pendapat para dokter. Adapun para fuqaha, mereka tidak memutuskan terjadinya kematian, kecuali setelah adanya keyakinan akan datangnya kematian pada seseorang. Mereka telah menyebut tanda-tanda yang dijadikan bukti-bukti adanya kematian, di antaranya: nafas berhenti, mulut terbuka, mata terbelalak, pelipis cekung, hidung menguncup, pergelangan tangan merenggang, dan kedua telapak kaki lemas sehingga tidak dapat ditekuk ke atas.

    Jika muncul keraguan (syak) akan kematian seseorang, misalnya jika jantungnya berhenti berdetak, atau pingsan, atau dalam keadaan koma total karena sesuatu sebab, maka dalam hal ini wajib menunggu untuk memastikan kematiannya. Kepastian kematiannya nampak dari adanya tanda-tanda kema­tian atau adanya perubahan bau dari orang tersebut.

    Adapun hukum syara’ yang lebih kuat (raajih) dan menjadi dugaan kuat kami, ialah bahwa seseorang tidak dihukumi mati kecuali setelah ada keyakinan akan kematiannya, dengan adanya tanda-tanda yang menunjukkan kematian sebagaimana yang disebutkan oleh para fuqaha.

    Kami berpendapat demikian karena kehidupan pada manusia adalah sesuatu yang diyakini adanya, dan tidak dihukumi telah hilang kecuali dengan suatu alasan yang yakin pula. Hilangnya kehidupan tidak boleh dihukumi dengan alasan yang meragukan (syak), sebab sesuatu yang yakin tidak dapat dihilangkan keberadaannya dengan alasan yang meragukan. Begitu pula hilangnya kehidupan tidak dapat diputuskan dengan alasan yang meragukan, karena prinsip asal untuk menentukan keberadaan sesuatu adalah tetapnya apa yang ada pada sesuatu yang sudah ada, sampai ada suatu alasan yang membatalkan keberadaannya secara yakin. Perlu diingat pula bahwa kematian adalah kebalikan dari kehidupan, sehingga harus nampak tanda-tanda yang berkebalikan dari tanda-tanda kehidupan, seperti hilangnya akal, kesadaran, dan penginde­raan, berhentinya nafas, serta tidak adanya kebutuhan akan makanan.

    Atas dasar ini, maka pendapat para dokter bahwa matinya batang otak adalah tanda matinya manusia dan berhentinya kehidupannya secara medis, tidaklah sesuai dengan hukum syara’. Tidak berfungsinya batang otak dan seluruh organ tubuh yang vital –seperti jantung, paru-paru, hati– tidak dapat menjadi indikator kematian seseorang menurut hukum syara’. Yang menjadi indikator, adalah bila seluruh organ tubuh vital tidak berfungsi lagi, disertai dengan hilangnya seluruh tanda- tanda kehidupan pada seluruh seluruh organ-organ tersebut.

    Terhadap orang yang batang otaknya telah mati, dengan sebagian organ tubuh vitalnya yang masih berfungsi –yang menurut para dokter telah dianggap mati menurut ilmu kedokteran– begitu pula seseorang yang ada dalam sakaratul maut –yang disebut para fuqaha, telah sampai pada keadaan “gerakan binatang yang disembelih”/harakatul madzbuh– yang tidak mampu lagi untuk melihat, berbicara, bergerak dengan sadar, serta sudah tidak mungkin lagi melanjutkan kehidupannya, maka dalam hal ini ada beberapa hukum syara’ yang berlaku padanya. Hukum yang terpenting adalah sebagai berikut:

    1. Orang tersebut tidak boleh mewarisi harta orang lain, dan tidak boleh pula mewariskan harta kepada orang lain, sementara dia masih dalam keadaan tersebut. Bahwa dia tidak mewarisi harta orang lain, karena dia telah kehilangan kehidupannya yang tetap, yang ditandai dengan adanya kesadaran, gerakan, dan kehendak. Sedang syarat untuk ahli waris supaya dapat menerima harta warisan, ialah bahwa dalam jiwanya harus terdapat kehidupan yang tetap. Namun demikian, dalam keadaan seperti ini harta warisan tidak dibagi sampai orang tersebut diyakini telah mati.

    Maka dari itu, janin tidak dapat mewarisi kecuali jika dia telah lahir dan mempunyai tanda-tanda yang menunjukkan adanya kehidupan yang tetap padanya, seperti adanya tangisan saat bayi lahir, atau dia telah menguap. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah dan Al Musawwir bin Makhramah RA, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda:

    “Anak kecil (bayi) tidak berhak mewarisi (harta warisan) hingga dia menangis dengan keras.” (HR. Ibnu Majah)

    Adapun bahwa dia tidak dapat mewariskan, dan juga harta warisannya tidak boleh dibagi jika dia dalam keadaan seperti ini, karena syarat pemindahan kepemilikan harta dari pewaris kepada ahli warisnya, ialah adanya keyakinan akan kematian pewaris. Orang yang batang otaknya telah mati, sementara sebagian organ vitalnya masih berfungsi, atau orang yang berada dalam sakaratul maut dan sampai pada “gerakan bina­tang yang disembelih” (harakatul madzbuh), sebenarnya masih mempunyai sebagian tanda kehidupan. Kematiannya belum dapat diyakini. Karenanya, harta warisannya tidak boleh dibagikan, kecuali setelah adanya keyakinan akan kematiannya.

    1. Tindakan Kriminal Terhadapnya:

    (a). Jika seseorang melakukan tindakan kriminal atas orang lain, lalu memotong batang otak orang tersebut, atau membuatnya berada dalam sakaratul maut, dan sampai pada “gerakan binatang yang disembelih” (harakatul madzbuh), serta bisa dipastikan bahwa dia akan mati dan tak akan pernah hidup lagi, kemudian datang orang kedua yang melanjutkan tindakan kriminal itu, maka yang dianggap pembunuh adalah orang pertama tadi. Sebab, dialah yang telah membuat korban menjadi tidak mungkin lagi melanjutkan kehidupannya. Karena itu, orang pertama itulah yang diqishash dan dihukum mati karena telah membunuh korban. Adapun orang kedua, dia tidak dianggap sebagai pembunuh. Dia tidak diqishash, dan tidak dihukum mati karena membunuh korban, tetapi dikenai sanksi berupa ta’zir, sebab dia telah melakukan pelanggaran terhadap kehormatan orang lain.

    Tapi kalau orang pertama tadi tidak membuat korban sampai pada “gerakan binatang yang disembelih” (harakatul madzbuh), serta hanya melukainya sampai luka berat, sementara pada diri korban masih ada kehidupan yang tetap –ditandai dengan adanya kesadaran, penginderaan, gerakan sadar– lalu datang orang kedua dan membunuhnya, maka dalam hal ini orang kedualah yang dianggap sebagai pembunuh. Dia wajib diqishash dan dihukum mati karena membunuh orang tersebut. Adapun orang pertama, tidak dianggap pembunuh. Dia dikenai sanksi karena melanggar kehormatan orang lain. Dia wajib membayar diyat sesuai organ tubuh yang dirusak dari organ korban yang dianiaya.

    (b). Jika orang yang dianiaya adalah seorang khalifah, atau orang yang dalam sakaratul maut/sampai pada “gerakan binatang yang disembelih” (harakatul madzbuh) adalah seorang khalifah, maka dalam hal ini tidak boleh diangkat khalifah lain untuk menggantikannya, kecuali setelah dipastikan kematiannya. Hal ini seperti yang pernah terjadi pada masa shahabat –radliyallahu ‘anhum– yaitu peristiwa yang terjadi pada Abu Bakar dan  Umar. Para shahabat tidak membai’at Umar, kecuali setelah mereka yakin akan kematian Abu Bakar. Begitu pula para Ahlusy Syura (enam orang shahabat yang ditunjuk Umar untuk bermusyawarah memilih khalifah) tidak melakukan pemilihan khalifah kecuali setelah mereka yakin akan kematian Umar. Adapun bila khalifah dalam keadaan sakaratul maut, atau sampai pada “gerakan binatang yang disembelih” (harakatul madzbuh), maka dia berhak –jika umat memintanya– untuk menunjuk penggantinya, dan dia mampu untuk melakukan penunjukan pengganti. Ini seperti yang pernah dilakukan Abu Bakar dan Umar dahulu tatkala mereka menunjuk penggantinya masing-masing. [ ]

    ABDUL QADIM ZALLUM

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 9 December 2014 Permalink | Balas  

    Rasulullah dengan uang delapan dirham 

    masjid-siluetRasulullah dengan Uang Delapan Dirham

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    *ALLAHUMMA SALLY WA SALLIM WABARIK ‘ALA SAYYIDINA MUHAMMAD *WA ALA ALIHI WA SAHBIHI AJMA’IIN

    Tak bisa dipungkiri Rasulullah SAW. sangat terkenal dengan pribadinya yang luhur dalam kehidupannya sehari hari.Beliau selalu menghormati sipapun yang dijumpainya dan menyantuni siapapun yang membutuhkan pertolongannya, tak ada perbedaan si miskin dan si kaya, yang berkedudukan maupun hamba sahaya.

    Hal ini dapat kita lihat seperti kisah di bawah ini.

    Pada suatu hari Rasulullah keluar rumahnya pergi ke pasar dengan membawa uang delapan dirham. Tiba-tiba beliau ketemu dengan seorang wanita yang sedang menangis di jalan. Nabi lantas bertanya kepada si wanita itu : “Apakah yang engkau tangiskan?”

    Wanita itu menjawab : “Aku disuruh oleh ahli keluargaku ke pasar dengan membawa uang dua dirham untuk membeli suatu keperluan, tetapi uang itu hilang olehku.”

    Mendengar itu Nabi memberikan kepada wanita itu dua dirham pula, sebanyak uangnya yang hilang, sehingga Nabi melanjutkan perjalannya ke pasar dengan uang enam dirham. Sebanyak empat dirham dibelikannya baju-Qamis yang lantas dipakainya sekaligus ke badannya, dan pulanglah beliau. Tiba-tiba seorang tua yang bertelanjang berseru-seru : “Barang siapa yang memberi aku pakaian niscaya Tuhan memberinya pula pakaian dari pakaian Surga. Maka dengan tidak berpikir panjang, Rasulullah membuka baju-qamis yang baru dibelinya itu dan diletakannya kepada orang tua itu; kemudian beliau kembali ke pasar. Setibanya di pasar beliau belilah pula baju-qamis yang seharga dua dirham, sebanyak sisa uangnya yang masih ditangan, dan dipakainya sekaligus.

    Waktu beliau pulang hari telah mulai malam, tiba-tiba ia melihat pula perempuan yang diberinya uang dirham tadi masih menangis. Rasulullah SAW. bertanya kepada wanita itu : “Apalagi yang engkau tangiskan ?”

    Wanita itu menjawab : “Demi ayah-bundaku, engkau Ya Rasul Allah, telah lama saya pergi dari keluargaku, saya takut akan siksa mereka.”

    Nabi menjawab : “Ayo mari hubungi keluarga engkau !”, dan beliaupun mengiringkan wanita itu ke rumahnya sehingga sampai ke rumah kompleks orang-orang Anshar yang kebetulan tidak ada di rumah kecuali kaum wanita belaka, karena laki-lakinya sedang bepergian.

    Nabi mengucapkan Salam kepada mereka : “Assalamu’alaikum warahmatullahi!”

    Salam itu di dengar oleh wanita-wanita itu, tetapi Nabi tidak mendengar suara menyahut dari dalam. Nabi mengulang Salamnya sekali lagi, dan karena tidak ada sahutan dari dalam, maka Nabi memberi Salam yang ketiga kalinya dengan suara yang agak keras. Maka barulah semua wanita yang berada dalam rumah itu menyahutnya dengan beramai-ramai : Assalamu’alaika Ya Rusulullah warahmatuhu wabarakatuhu, demi ayah dan ibu kami, engkau rupanya Ya Rasul Allah?

    Nabi bertanya kepada mereka kaun wanita itu : “Apakah kamu semua tidak mendengar saya mengucapkan Salam sejak permulaan?”

    “Benar! Kami mendengarnya, tetapi sebenarnya kami ingin sekali kalau engkau memperbanyak Salam kepada kami dan anak-cucu kami agar mendapat berkah dari Salam engkau itu.”

    Maka Nabi berkata : “Budak pembantu rumah tangga kamu ini terlambat datangnya kembali kepada kamu semua, dan dia takut kalau-kalau dia kamu siksa.”

    “Kami telah menerima pemaafan engkau untuk dia, Ya Rasul Allah, kami telah berikan kepada engkau siksaanya (dengan tidak menyahut Salam Nabi yang pertama dan yang keduda kali, Pen.), dan kami telah memerdekakannya karen ia telah seperjalanan dengan engkau Ya Rasul Allah ; karena itu ia bebas-merdeka karena Allah belaka.”

    Maka pulanglah Nabi kembali sambil berkata : “Saya tidak melihat delapan yang lebih besar berkahnya dari uang yang delapan dirham kali ini : aman olehnya orang yang ketakutan, terbeli pakaian olehnya orang yang bertelanjang dan termerdekakan olehnya hamba sahaya. Tidak ada seorang muslim yang memberi pakaian saudaranya sesama Islam, melainkan dia berada dalam pemeliharaan Allah selama pakaian itu lekat di badannya.”

    Demikianlah sifat-sifat utama yang melekat pada diri Nabi kita yang mulia itu, seorang yang mempunyai pribadi yang sangat mengasyikan. Betapa tidak ?! Di medan perang beliau seorang Jenderal yang berani menghunus mata pedangnya di hadapan musuh-musuhnya, tetapi di belakang garis pertempuran beliau seorang yang sangat ramah-tamah.

    Di medan jihat darahnya menetes karena peluru musuh, tetapi di atas tikar sembahyang air matanya meleleh karena khusyu’ dihadapan Tuhannya. Di dalam Mesjid ia merupakan guru dan imam-khatib yang bersemangat, dan di dalam masyarakat ia lautan budi, telaudan yang utama. Di hadapan Mahkamah ia hakim yang adil, di depan sahabat-mahasiswa, ia guru yang setia. Di dalam pemerintahan negara ia adalah negarawan yang ulung, dan dalam siasat diplomasi ia adalah seorang diplomat yang handal. Sungguh beliau dari segala segi adalah merupakan Insan Kamil yang sangat patut dijadikan contoh dan ikutan.

    Pribadi besar yang mengasyikan inilah yang telah diberi kepercayaan oleh Allah SWT. terpilih untuk menyampaikan firman-firmanNYA kepada makhluk insani di muka bumi ini, tugas sebagai penghubung antara bumi dan langit , antara makhluk dengan khaliknya.

    ***

    Sumber : Detik-Detik Terakhir Kehidupan Rasulullah ( K.H. Firdaus A.N)

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 8 December 2014 Permalink | Balas  

    Kisah Pemuda dan Kupu-Kupu 

    serangga-kupu2(gettyimages)Kisah Pemuda dan Kupu-Kupu

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Suatu ketika, terdapat seorang pemuda di tepian telaga. Ia tampak termenung. Tatapan matanya kosong, menatap hamparan air di depannya. Seluruh penjuru mata angin telah di lewatinya, namun tak ada satupun titik yang membuatnya puas. Kekosongan makin senyap, sampai ada suara menyapanya. Ada orang lain disana.

    “Sedang apa kau disini anak muda?” tanya seseorang. Rupanya ada seorang kakek tua. “Apa yang sedang kau risaukan…?”

    Anak muda itu menoleh ke samping, “Aku lelah Pak Tua. Telah berkilo-kilo jarak yang kutempuh untuk mencari kebahagian, namun tak juga kutemukan rasa itu dalam diriku. Aku telah berlari melewati gunung dan lembah, tapi tak ada tanda kebahagiaan yang hadir dalam diriku. Kemanakah aku harus mencarinya? Bilakah kutemukan rasa itu ?”

    Kakek Tua itu duduk semakin dekat, mendengarkan dengan penuh perhatian. Di pandangnya wajah lelah di depannya. Lalu, ia mulai bicara, “Di depan sana ada sebuah taman. Jika kamu ingin jawaban dari pertanyaanmu, tangkaplah seekor kupu-kupu buatku”. Mereka berpandangan. “Ya… tangkaplah seekor kupu-kupu buatku dengan tanganmu” sang Kakek mengulang kalimatnya lagi.

    Perlahan pemuda itu bangkit. Langkahnya menuju satu arah, taman.Tak berapa lama, dijumpainya taman itu. Taman yang semarak dengan pohon dan bunga-bunga yang bermekaran. Tak heran, banyak kupu-kupu yang berterbangan di sana. Sang kakek, melihat dari kejauhan, memperhatikan tingkah yang diperbuat pemuda yang sedang gelisah itu.

    Anak muda itu mulai bergerak. Dengan mengendap-endap, ditujunya sebuah sasaran. Perlahan. Namun, Hap!. sasaran itu luput. Di kejarnya kupu-kupu itu ke arah lain. Ia tak mau kehilangan buruan. Namun lagi-lagi. Hap!. Ia gagal. Ia mulai berlari tak beraturan. Diterjangnya sana sini. Ditabraknya rerumputan dan tanaman untuk mendapatkan kupu-kupu itu. Diterobosnya semak dan perdu disana.Gerakannya semakin liar.

    Adegan itu terus berlangsung, namun belum ada satu kupu-kupu yang dapat ditangkap. Sang pemuda mulai kelelahan. Nafasnya memburu, dadanya bergerak naik-turun dengan cepat. Sampai akhirnya ada teriakan, “Hentikan dulu anak muda. Istirahatlah. ”

    Tampak sang kakek yang berjalan perlahan. Tapi lihatlah, ada sekumpulan kupu-kupu yang berterbangan di sisi kanan-kiri kakek itu. Mereka terbang berkeliling, sesekali hinggap di tubuh tua itu.

    “Begitulah caramu mengejar kebahagian? Berlari dan menerjang? Menabrak-nabrak tak tentu arah, menerobos tanpa peduli apa yang kau rusak?” Sang Kakek menatap pemuda itu. “Nak, mencari kebahagian itu seperti menangkap kupu-kupu. Semakin kau terjang, semakin ia akan menghindar. Semakin kau buru, semakin pula ia pergi dari dirimu.”

    “Namun, tangkaplah kupu-kupu itu dalam hatimu. Karena kebahagiaan itu bukan benda yang dapat kau genggam, atau sesuatu yang dapat kau simpan. Carilah kebahagian itu dalam hatimu. Telusuri rasa itu dalam kalbumu. Ia tak akan lari kemana-mana. Bahkan, tanpa kau sadari kebahagian itu sering datang sendiri.”

    Kakek Tua itu mengangkat tangannya. Hap, tiba-tiba, tampak seekor kupu-kupu yang hinggap diujung jari. Terlihat kepak-kepak sayap kupu-kupu itu, memancarkan keindahan ciptaan Tuhan. Pesonanya begitu mengagumkan, kelopak sayap yang mengalun perlahan, layaknya kebahagian yang hadir dalam hati. Warnanya begitu indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya.

    ***

    Wassalam

    Siti Nurjannah

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 7 December 2014 Permalink | Balas  

    Pribadi Merdeka 

    masjid cikiniPribadi Merdeka

    Suatu Hari Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminitoto seperti dituturkan Alm KH. Dalari Oemar mendatangi walikota Jakarta di jaman penjajahan Belanda.

    “Hentikan niat menggusur masjid Cikini (Jl.Raden Saleh, masjid bersejarah yang dilindungi),” sergahnya.

    “Tapi penduduk sekitarnya banyak kaum Nasrani,”jawab walikota.

    “Siapa yang lebih dulu, masjid atau penduduk Nasrani?” lanjutnya.

    “Ya, masjid,”jawab walikota.

    “Nah, kalau begitu mereka yang harus pergi atau biarkan masjid itu berdiri, masih ada jamaah yang memerlukannya,” tangkis HOS.

    “Tapi para ulama semua sudah tanda tangani persetujuan,” jawab walikota.

    “Masih ada yang belum tanda tangan,” jawabnya lagi.

    “Siapa itu,” walikota heran.

    “Aku, aku yang belum dan tak akan tanda tangan. Langkahi mayatku, sebelum bongkar masjid itu.”

    Ketika walikota tak berdaya dan mengangkatnya ke Gubernur Jenderal, hal sama diungkapkan.

    Pendiriannya tak berubah dan masjid itu tetap tegak sampai hari ini.

    Orang kini merindukan pribadi merdeka seperti HOS ini, totalitas dari seorang penutur kebenaran.

    Bukan pribadi yang mudah ditekan oleh lingkungan, trend dan mode. Beliau merdeka dengan mengambil pilihan sadar di saat orang gemar dengan pilihan ganda.

    ***

    (Sumber : KH. Rahmat Abdullah)

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 6 December 2014 Permalink | Balas  

    Syukur 

    syukurSyukur

    Aku tak selalu mendapatkan apa yang kusukai, oleh karena itu aku selalu menyukai apapun yang aku dapatkan.

    Kata-kata diatas merupakan wujud syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tentram dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia. Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur.

    Pertama, kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. Katakanlah anda telah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Tapi anda masih merasa kurang. Pikiran anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi.

    Jadi, betapapun banyaknya harta yang kita miliki, kita tak pernah menjadi “KAYA” dalam arti yang sesungguhnya. Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang ”kaya”. Orang yang “kaya” bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki. Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup. Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, dan orang-orang di sekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan. Seorang pengarang pernah mengatakan, ”Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.” Ini perwujudan rasa syukur.

    Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.

    Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita. Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri.

    Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, “Lulu, Lulu”. Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini. Si dokter menjawab, “Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu.” Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, “Lulu, Lulu”. “Orang ini juga punya masalah dengan Lulu ?” tanyanya keheranan. Dokter kemudian menjawab, “Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu”.

    Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi. Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan cerita mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab, “Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup ditanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga”.

    Bersyukurlah!

    Bersyukurlah bahwa kamu belum siap memiliki segala sesuatu yang kamu inginkan. Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan ?

    Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu. Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar.

    Bersyukurlah untuk masa-masa sulit. Di masa itulah kamu tumbuh.

    Bersyukurlah untuk keterbatasanmu. Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang.

    Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru. Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu.

    Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat. Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga.

    Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih. Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan.

    Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal yang baik. Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan masa surut. Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif. Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan menjadi berkah bagimu.

    “Dan, tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“. (QS 14:7)

    Wassalam

    ***

    Kiriman: Haris Satriawan

     
  • erva kurniawan 1:32 am on 5 December 2014 Permalink | Balas  

    Rasulullah Bendahara Yang Baik 

    harta karunRasulullah Bendahara Yang Baik

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Setelah bertahun-tahun perjuangan dan penderitaan, misi suci Nabi Muhammad SAW. akhirnya meraih kejayaan di semenanjung Arab. Panji-panji Islam berkibar di wilayah-wilayah yang luas meliputi cakrawala Persia dan Syria. Harta yang berlimpah-limpah mengalir ke Madinah dari berbagai negeri-negeri Persemakmuran Islam.

    Di antara putra-putri Nabi Muhammad, hanya Fatimah yang masih hidup saat itu. Setiap kali Fatimah datang, Rasulullah selalu menerimanya dengan penuh kasih sayang. Demikian juga Fatimah, setiap kali datang ia selalu merebahkan dirinya dalam dekapan sang ayah. Kemudian Rasulullah mendudukkan Fatimah disamping beliau sembari menyeka peluh yang membasahi wajah putri beliau dengan tangannya atau meraba dahinya dan mengecek kesehatan sang putri.

    Suatu hari Fatimah datang menemui Nabi. Setelah saling menanyakan kabar dan kesehatan masing-masing, Fatimah berkata kepada sang ayah dengan nada mengeluh, “Ayah, terlalu banyak mulut yang harus disuapi di rumahku. Aku dan suamiku, tiga putra kami, empat keponakan, seorang pembantu, belum lagi tamu-tamu yang datang silih berganti. Aku harus memasak sendirian untuk mereka semua. Aku merasa sangat letih dan kecapekan. Aku mendengar banyak tawanan wanita yang baru saja datang dari Madinah. Jika ayah bersedia memberiku salah satu dari mereka untuk membantuku, itu akan menjadi pertolongan yang sangat berharga bagiku.”

    ” Sayangku, semua kekayaan dan tawanan perang yang engkau lihat adalah milik masyarakat muslim. Aku hanyalah bendahara; tugasku adalah mengumpulkan mereka dari berbagai wilayah dan membagi-bagikan mereka kepada orang-orang yang berhak. Dan engkau bukan termasuk yang memiliki hak, anakku, oleh karena itu aku tidak bisa memberimu sesuatupun dari aset negara ini.” jawab Rasulullah dengan suara parau.

    Kemudian melanjutkan, ” Dunia adalah tempat untuk beramal. Lakukan tugas-tugasmu dengan baik. Jika engkau merasa lelah, ingatlah Allah dan mintalah pertolongan kepada-NYA. Dia akan memberimu ketabahan dan kekuatan.”

    ***

    Sumber : (diambil dari Hikayah Al-Bukhari- Kisah-kisah Teladan Rasulullah, Para Sahabat dan Orang-orang Saleh Karya M. Ebrahim Khan).

    Wassalam

    Kiriman: Siti Nurjannah

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 4 December 2014 Permalink | Balas  

    Kebaikan Yang Indah 

    bungaKebaikan Yang Indah

    Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa,”Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhan kamu?” Mereka menjawab,” Kebaikan.”  [An Nahl : 16:30]–

    Seorang wanita baru pindah ke sebuah kota kecil. Setelah berada di  sana beberapa waktu, ia mengeluh kepada tetangganya tentang pelayanan  buruk yang dialaminya di apotek setempat. Ia meminta tolong pada tetangganya agar mau menyampaikan kritiknya pada pemilik apotek itu.

    Beberapa hari kemudian wanita pendatang tersebut pergi lagi ke apotek  itu. Pemilik apotek menyambutnya dengan senyum lebar sambil  mengatakan betapa senangnya ia melihat wanita itu berkenan datang  kembali ke apoteknya, dan berharap wanita dan suaminya menyukai kota  mereka. Bukan hanya itu, pemilik apotek itu bahkan menawarkan diri  membantu wanita dan suaminya menguruskan berbagai hal agar mereka  bisa menetap di kota itu dengan nyaman. Lalu, ia pun mengirimkan apa  yang dipesan wanita itu dengan cepat dan baik.

    Wanita itu merasa senang dengan perubahan luar biasa yang ditunjukkan  oleh pemilik apotek. Kemudian, ia melaporkan hal itu pada  tetangganya. Katanya, “Anda tentu sudah menyampaikan kritik saya  mengenai betapa buruk pelayanannya waktu itu.”

    “Oh, tidak,” jawab tetangganya. “Sebenarnya saya tidak menyampaikan  kritik anda pada mereka. Saya harap anda tidak keberatan. Saya  katakan pada pemilik apotek itu betapa anda terkagum-kagum melihat  caranya mendirikan apotek di kota kecil ini. Dan, anda merasa  apoteknya adalah salah satu apotek dengan pelayanan terbaik yang  pernah anda temui.”

    Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan(disediakan) kebaikan dan tambahan (ridha Allah) serta muka-muka mereka tidak tertutup oleh kehitaman dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah ahli surga yang mereka kekal di dalamnya [Yuunus; 10:26]–

    Sumber: Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:23 am on 3 December 2014 Permalink | Balas  

    Adakah Sesuatu yang Buruk Dalam Qadar Allah? 

    qadarAdakah Sesuatu yang Buruk Dalam Qadar Allah?

    Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Dalam qadar Allah tidak ada sesuatu yang buruk, akan tetapi keburukan itu terdapat pada yang ditakdirkan. Kita tahu bahwa ada orang yang mendapatkan musibah dan ada juga yang mendapatkan untung. Musibah merupakan sesuatu yang buruk, akan tetapi keburukan itu tidaklah perbuatan Allah Ta’ala, yakni perbuatan dan takdir Allah itu bukan merupakan keburukan. Keburukan ada pada yang diperbuat oleh-Nya, bukan pada perbuatan-Nya. Allah tidaklah mentakdirkan keburukan ini melainkan untuk sesuatu kebaikan. Allah Ta’ala berfirman :

    “Artinya : Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan ulah tangan manusia“. (Ar-Rum : 41).

    Ini merupakan penjelasan penyebab kerusakan di muka bumi. Adapun mengenai hikmahnya seperti difirmankan oleh-Nya :

    “Artinya : Supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (Ar-Rum : 41).

    Jadi, musibah ini pada akhirnya merupakan kebaikan. Dengan demikian keburukan itu tidak disandarkan kepada Tuhan, akan tetapi disandarkan sesuatu yang yang diperbuat dan kepada mahluk. Ini bisa diartikan suatu keburukan dari satu sisi dan merupakan kebaikan di sisi yang lain. Kalau dilihat bencananya yang terjadi, maka itu suatu keburukan, namun jika dilihat dari akibatnya, maka itu suatu kebaikan.

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 2 December 2014 Permalink | Balas  

    Apa perbedaan antara Qadha’ dan Qadhar? 

    qadarApa perbedaan antara Qadha’ dan Qadhar?

    Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Ulama berbeda pendapat mengenai perbedaan antara keduanya. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa qadar adalah taqdir (ketetapan-ketetapan atau ketentuan) Allah sejak zaman azali, sedangkan qadha’ adalah hukum Allah mengenai sesuatu ketika sesuatu itu terjadi (alias pelaksanaan qadar-Nya -pent-). Jika Allah menetapkan terjadinya sesuatu pada waktu yang ditentukan, maka itulah yang dinamakan qadar. Dan ketika telah datang waktunya terjadinya sesuatu yang telah ditetapkan sebelumnya itu, maka itulah yang dinamakan qadha’. Semacam ini banyak sekali kita dapatkan dalam Al-Qur’an, seperti firman Allah :

    “Artinya : Telah diputuskan (dilaksanakan) perkara yang kamu berdua menanyakannya kepadaku”. (Yusuf : 41).

    Juga Allah berfirman :

    “Artinya : Dan Allah melaksanakan hukum dengan adil”. (Ghafir : 20).

    Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang semisal. Jadi, qadar adalah ketentuan Allah mengenai segala sesuatu pada zaman azali, sedangkan qadha’ adalah pelaksanaan dari qadar itu pada saat terjadinya.

    Ada juga ulama yang mengatakan bahwa kedua istilah itu memiliki satu makna atau satu pengertian. Namun yang kuat adalah jika keduanya disandingkan, maka keduanya memiliki perbedaan arti seperti bisa kita lihat di atas, dan jika dipisahkan atau berdiri sendiri, maka kedua istilah itu memiliki satu makna (memiliki pengertian yang sama).

    Wallahu a’lam.

     
    • lazione budy 7:15 am on 2 Desember 2014 Permalink

      penjelasannya kurang jelas.
      menurut buku yang dulu pernah saya baca, Qada itu takdir jadi sudah ketetapan Allah yang tak bias dirubah oleh makhlukNya.
      Qadar itu nasib, sudah digariskan oleh Allah tapi manusia bias merancangnya sesuai usahanya.
      Wallahu a’lam

  • erva kurniawan 1:14 am on 1 December 2014 Permalink | Balas  

    Suara Wanita : Aurat atau Bukan ? 

    wanita sholehahSuara Wanita: Aurat atau Bukan?

    Assalamualaikum wr.wb.

    Suara adalah wahana lalu lintas kata dan makna. Melalui suaralah, kehendak, pikiran, dan lagu bisa dipahami. Lalu, bagaimana bila kata dan lagu itu disenandungkan oleh perempuan? Betulkah suara wanita itu aurat?

    Selama ini suara perempuan dianggap sebagai pengundang hawa nafsu, dan sumber godaan. Bahkan dalam riwayat hadist, yang diceritakan Abdallah ibn Umar menyebutkan, perempuan adalah aurat sehingga apapun yang berbau perempuan adalah jerat setan. Maka pertanyaan yang acap muncul adalah, bolehkah mendengar nyanyian suara wanita?

    Sebenarnya kalau ditelesuri ke belakang, pandangan yang menganggap suara perempuan sebagai aurat itu dipengaruhi oleh budaya pra Islam, yang menganggap bahwa perempuan pada dasarnya diciptakan sebagai penggoda dan juga masih terkait dengan tradisi kristiani.

    Konsep aurat dalam Islam lebih menekankan pada gejala yang bersifat fisik atau jasmani dan bukan pada suara. Jika suara perempuan itu aurat, mengapa Rasulullah SAW. mengisinkan dua budak wanita menyanyi di rumahnya? selain itu, beliau juga tidak keberatan berbicara dengan kaum wanita, sebagaimana yang terjadi ketika Beliau menerima bai’at dari kaum ibu sebelum dan sesudah hijrah. Bahkan beliau pernah mendengar nyanyian seorang wanita yang bernazar untuk memukul rebana dan menyanyi di hadapan Rasulullah SAW. Ini menunjukkan bahwa suara wanita bukan aurat.

    Oleh karena itu, mendengar suara wanita tidaklah haram sebab ia bukan aurat. Tidak ada larangan wanita untuk berbicara dengan kaum lelaki kecuali apabila suaranya itu berisi bujuk rayu dan menimbulkan gairah rendah. Hal ini telah ditegaskan dalam Al-Qur’an ; ” …maka, janganlah kamu tunduk ketika berbicara (dengan manja, merayu, dan sebagainya). (sebab), nanti akan timbul keinginan orang yang ada penyakit dalam hatinya (keinginan hafsu birahinya). Dan ucapkanlah perkataan yang baik (sopan santun).” QS. Al-Ahzab : 32) Begitu pula, dengan mendengarkan lagu yang dinyanyikan oleh wanita.

    Yang tidak boleh adalah, jika si penyanyi tersebut menampilkan kecantikannya dengan membuka auratnya, misalnya menonjolkan dada, betis, paha, dan bagian aurta lainnya. Inilah yang diharamkam oleh syara’, bukan karena masalah mendengarkan nyanyian wanita itu. Muhammad Ghazali, tokoh Islam terkemuka (almarhum) mengatakan, “Tidak ditemukan seorangpun diantara para ahli fiqih yang mengatakan bahwa suara wanita adalah aurat. Dan jika ada, pendapat itu isu bohong semata,” ujarnya.

    ***

    Dari berbagai Sumber/Ayu (PARAS).

    Kiriman: Dwi Nopitasari

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: