Updates from Desember, 2010 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:32 am on 31 December 2010 Permalink | Balas  

    Wayang, Media Dakwah Para Wali 

    Sejarah perkembangan Islam di Indonesia tak bisa dilepaskan dari peran para wali sebagai ulama penyebar ajaran Islam. Yang cukup menarik untuk disimak adalah cara mereka mengajarkan Islam. Masyarakat semasa itu sebagian besar memeluk agama Hindu. Para wali tak langsung menentang kebiasaan-kebiasaan yang sejak lama menjadi keyakinan masyarakat. Salah satunya adalah wayang.

    Sebelum Islam masuk ke tanah Nusantara, khususnya di Jawa, wayang telah menemukan bentuknya. Bentuk wayang pada awalnya menyerupai relief yang bisa kita jumpai di candi-candi seperti di Prambanan maupun Borobudur. Pagelaran wayang sangat digemari masyarakat. Setiap pementasannya selalu dipenuhi penonton.

    Para wali melihat wayang bisa menjadi media penyebaran Islam yang sangat bagus. Namun, konon timbul perdebatan di antara para wali mengenai bentuk wayang yang menyerupai manusia. Setelah berembug, akhirnya mereka menemukan kesepakatan untuk menggunakan wayang sebagai media dakwah tetapi bentuknya harus diubah.

    Bentuk baru pun tercipta. Wayang dibuat dari kulit kerbau dengan wajah yang digambarkan miring, leher yang panjang, serta tangan yang dibuat memanjang sampai ke kaki. Bentuk bagian-bagian wajah juga dibuat berbeda dengan wajah manusia.

    Tak hanya bentuknya saja, ada banyak sisipan dalam cerita dan pemaknaan wayang yang berisi ajaran-ajaran dan pesan moral. Dalam lakon Bima Suci misalnya, Bima sebagai tokoh sentralnya diceritakan menyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Yang Esa itulah yang menciptakan dunia dan segala isinya. Tak berhenti di situ, dengan keyakinan itu Bima mengajarkan kepada saudaranya, Janaka. Lakon ini juga berisi ajaran-ajaran tentang menuntut ilmu, bersikap sabar, berlaku adil dan bertatakrama dengan sesama manusia.

    Cara dakwah yang diterapkan para wali tersebut terbukti efektif. Masyarakat menerima ajaran Islam tanpa ada pertentangan maupun penolakan. Ajaran Islam tersebar hampir di seluruh tanah Jawa. Penganut Islam kian hari kian bertambah, termasuk para penguasanya.

    Wayang pun kian sering dipentaskan. Tak hanya pada upacara-upacara resmi kerajaan, masyarakat secara umum pun kerap menggelarnya. Karena banyak ajaran moral dan kebaikan dalam lakon-lakonnya, wayang tak hanya dianggap sebagai tontonan saja, tapi juga menjadi tuntunan. (imam)

    ***

    ramadan.detik.com/read/2010/08/20/134628/1424329/985/wayang-media-dakwah-para-wali

     
    • rais gumilang 8:19 pm on 31 Juli 2013 Permalink

      tulisannya kurang banyak

  • erva kurniawan 1:25 am on 30 December 2010 Permalink | Balas  

    Menjalani Hidup Sebagai Orang Gila 

    Sandika Dwi Putri – detikHealth

    Jakarta, Gangguan mental diduga dialami 1 dari 4 orang dewasa, jadi tidak heran jika banyak orang dewasa kena penyakit kejiwaan (psikosis). Saat seseorang divonis ‘gila’, bagaimana hidup yang harus dijalaninya?

    Seperti dialami Erica Crompton, perempuan Inggris yang belajar untuk hidup dengan penyakit kejiwaan (psychosis) setelah 7 tahun divonis menderita ‘Paranoid psychosis’.

    Erica sadar bahwa perilaku penderita psikosis sering menakutkan dan ketakutan yang mereka rasakan susah untuk dimengerti orang lain.

    Erica mulai mengalami gejala gila pada Desember 2003. Setiap mendengar suara sirene polisi rasanya seperti membuat tuli dan tak tertahankan.

    Dia juga tak dapat tidur karena merasa paranoid bahwa ada mata-mata yang sedang mengintainya. Dia mengelilingi rumah pukul 3 dini hari untuk mencari perlengkapan mata-mata. Di siang hari, ketika TV menyala atau ada telepon salah sambung dirinya merasa bahaya sudah semakin dekat.

    Saat itu Erica yakin ia menjadi target sasaran sekelompok teroris. Presenter yang berbicara di TV dan radio menurutnya adalah orang-orang yang menginginkan dirinya menderita dan akan menyiksanya dalam penjara.

    Selama 6 minggu dia merasa diteror, tidak tidur dan menyakiti dirinya serta mencoba menjelaskan teori konspirasinya pada siapapun yang mau mendengarkannya (termasuk polisi Stafford).

    Oleh ibunya, Erica kemudian dibawa menemui seorang GP (general practitioner). “Pikiranmu tidak cukup benar, Erica,” jelas GP seperti diceritakan Erica pada theindependent, yang dikutip Kamis (15/7/2010).

    Namun Erica protes dan bersikeras bahwa orang-orang tersebut memang ingin menangkapnya. Ia pun mengatakan bisa menyediakan bukti-bukti.

    GP tersebut akhirnya menyarankan agar Erica dibawa ke psikiater secepat mungkin. Beberapa hari kemudian, Erika berkonsultasi dengan psikiater di ST. George’s Hospital, Stafford.

    Dr. Srinivasan, psikiater Erica, mengatakan teori konspirasi yang dikemukakan Erica merupakan sebuah ‘Keyakinan yang salah (false belief)’. Erica harus mencoba pengobatan yang disebut Amisulpride, yaitu obat anti-psikotik.

    Erica merespons baik dan menjadi stabil dengan cepat. Namun hal ini tak berlangsung lama hingga beberapa saat ia didiagnosa ‘paranoid psychosis’.

    Saat itu, Erica berpikir bahwa ia menderita schizophrenia, seperti yang tertera dalam leaflet tablet yang dikonsumsinya. Namun Erica sekarang tahu psychosis bukanlah kondisi itu sendiri, melainkan sebuah gejala.

    Diantara 1 dari 200 orang akan memiliki episode psikotik pada titik yang sama dan akan menemukan kesulitan dalam membedakan yang nyata dan yang khayalan.

    Gangguan kejiwaan ini memang membuat karir Erica hancur. Ini karena Erica pernah menangis histeris dan mengungkapkan teori konspirasinya kepada bosnya di kantor ketika ada seorang pria yang datang untuk memperbaiki mesin fax.

    Erika percaya bahwa pria itu sebenarnya menginstal perlengkapan mata-mata untuk mengawasinya. Ia menangis selama 10 menit sampai akhirnya dapat tenang. Butuh 2 hari baginya untuk dapat bekerja kembali. Beberapa minggu setelahnya, Erica kehilangan pekerjaan setelah kejadian histeris tersebut.

    Walaupun kenyataannya ia cepat stabil setelah minum obat, namun dia sempat merenungkan untuk bunuh diri. Saat bersiap bunuh diri dengan segenggam pil di tangannya, tiba-tiba ponselnya berbunyi dan ia menerima 3 pesan singkat yang berisi dukungan dari temannya. Tiga pesan singkat tersebut cukup baginya untuk membuang segenggam pil yang ada di tangannya, rencana bunuh diri pun diurungkannya.

    Karena ada dukungan dari teman dan keluarga Erica kini mulai terkendali meskipun mentalnya belum 100 persen pulih.

    Erica kini bekerja dengan bebas dan telah memulai usaha fashion dengan memakai labelnya sendiri, Medfed, yang berciri penuh warna dan kesenangan. Menurutnya motif penuh warna dan kesenangan ini bertujuan untuk melawan stereotip ‘kesehatan mental suram’.

    Melihat jatuh bangunnya Erica, pakar kejiwaan menilai orang yang divonis gila sebenarnya bisa menjalani hidupnya jika mendapat dukungan dari orang-orang sekitarnya.

    Bagaimana menolong orang dengan penyakit mental?

    1. Jika seorang teman atau pacar Anda sakit secara mental, dampingilah di sisinya untuk bicara dan mendengarkannya.

    Kebanyakan orang yang sakit mental merasa takut untuk bicara mengenai masalahnya karena takut pada reaksi orang-orang di sekitarnya. Jika seorang dari mereka bicara pada Anda, pahami masalahnya dan biarkan mereka tahu bahwa Anda ada untuk mereka.

    2. Jadilah orang yang memahami dan memberi dukungan.

    Ketika orang dengan masalah sakit mental berbicara, seringnya keluarga selalu salah paham. Mereka juga diabaikan oleh teman dan kolega kerja atau bahkan diabaikan oleh tetangganya. Cobalah untuk peka terhadap situasi mereka dan hargai perasaan mereka.

    3. Sediakan waktu untuk bersama.

    Ikut sertakan mereka dalam kegiatan sehari-hari Anda, seperti pergi belanja, ke tempat hiburan, atau berlibur ke suatu daerah.

    4. Tanyakan apa yang bisa Anda bantu.

    Orang-orang dengan masalah kesehatan mental mungkin menginginkan dukungan pada waktu berbeda dan dengan cara yang berbeda pula.

    5. Tetaplah berpikiran bahwa memiliki masalah kesehatan mental hanyalah satu bagian dari seseorang.

    Karena orang-orang tak ingin digambarkan secara menyeluruh atas penyakit mentalnya. (ir/ir)

    ***

    http://health.detik.com/read/2010/07/15/162507/1400074/775/menjalani-hidup-sebagai-orang-gila?l991101755

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 29 December 2010 Permalink | Balas  

    Beberapa Cara Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT 

    Beberapa Cara Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT:

    1. Sholat wajib tepat waktu, selalu berdoa dan berdzikir kepada Allah Dengan sholat, berdo’a dan dzikir kepada Allah, Inya Allah hati menjadi tenang, damai dan makin dekat dengan-Nya

    2. Sholat tahajud. Dengan sholat tahajud Insya Allah cenderung mendapatkan perasaan tenang. Hal ini dimungkinkan karena di tengah kesunyian malam didapatkan kondisi keheningan dan ketenangan suasana,yang tentu saja semua itu hanya dapat terjadi atas izin-Nya. Pada malam hari, diri ini tidak lagi disibukkan dengan urusan pekerjaan ataupun urusan-urusan duniawi lainnya sehingga dapat lebih khusyu saat menghadap kepada-Nya.

    3. Mengingat kematian yang dapat datang setiap saat. Kematian sebenarnya sangat dekat, lebih dekat dari urat leher kita. Dan dapat secepat kilat menjemput.

    4. Membayangkan tidur di dalam kubur. Membayangkan tidur dalam kuburan yang sempit , gelap dan sunyi saat kita mati nanti. Semoga amal ibadah kita selama di dunia ini dapat menemani kita di alam kubur nanti.

    5. Membayangkan kedahsyatan siksa neraka. Azab Allah sangat pedih bagi yang tidak menjauhi larangan-Nya dan tidak mengikuti perintah-Nya. Ya Allah jauhkanlah kami dari siksa neraka-Mu, karena kami sangat takut akan siksa neraka-Mu.Ya Allah bimbinglah kami agar dapat memanfaatkan sisa hidup kami untuk selalu dijalan-Mu.……

    6. Membayangkan surga-Nya. Kesenangan duniawi hanya bersifat sementara, sangat singkat dibanding dengan kenikmatan di akhirat yang tidak dibatasi waktu.Semoga kita dapat selalu mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dan Insya Allah diizinkan untuk meraih Surga-Nya. Amin…..

    7a. Mengikuti tausyiah atau mengikuti pengajian secara rutin seminggu satu kali (minimal), dua kali atau lebih. Insya Allah… dengan mendengar tausyiah atau mengikuti pengajian, akan meningkatkan keimanan karena selalu diingatkan kembali utk selalu dekat kpd Allah SWT. Perlu dicatat, dikarenakan iman bisa turun atau naik, maka harus dijaga agar iman tetap stabil pada keadaan tinggi/ kuat dengan mengikuti tausyiah, pengajian dsb.

    7b. Bergaul dengan orang-orang sholeh.

    Seperti sudah dijelaskan di atas bahwa tingkat keimanan kita bisa turun atau naik, untuk itu perlu dijaga agar tingkat keimanan kita tetap tinggi. Berada pada lingkungan kondusif dimana orang-orangnya dekat dengan Allah SWT, Insya Allah juga akan membawa kita untuk makin dekat kepada-Nya.

    8. Membaca Al Qur’an dan maknanya (arti dari setiap ayat yang dibaca). Insya Allah dengan membaca Al Qur’an dan maknanya, akan menjadikan kita makin dekat dengan-Nya.

    9. Menambah pengetahuan keislaman dengan berbagai cara, antara lain dengan : membaca buku, membaca di internet (tentang pengetahuan Islam, artikel Islam, tausyiah dsb), melihat video Islami yang dapat meningkatkan keimanan kita.

    10. Merasakan kebesaran Allah SWT, atas semua ciptaan-Nya seperti Alam Semesta (jagad raya yang tidak berbatas) beserta semua isinya.

    11. Merenung atas semua kejadian alam yang terjadi di sekeliling kita (tsunami, gunung meletus, gempa dsb). Dimana semua itu mungkin berupa ujian keimanan, peringatan, atau teguran bagi kita agar kita selalu ingat kepada-Nya/ mengikuti perintah-Nya. Bukan makin tersesat ke perbuatan maksiat atau perbuatan lain yang dilarang oleh-Nya. Ya Allah kami mohon bimbingan-Mu agar kami dapat selalu introspeksi atas semua kesalahan yang kami perbuat, meninggalkan larangan-Mu dan kembali ke jalan-Mu ya Allah.

    12. Mensyukuri begitu besar nikmat yang sudah diberikan oleh Allah SWT. Jangan selalu melihat ke atas, lihatlah orang lain yang lebih susah.

    Begitu banyak nikmat yang diberikan oleh-Nya. Saat ini kita masih bisa bernafas, masih bisa makan, bisa minum, masih mempunyai keluarga, masih mempunyai apa yang kita miliki saat ini,masih mempunyai panca indera mata, hidung, telinga dan…masih bisa bernafas (masih diberi kesempatan hidup). Masih pantaskah kita tidak bersyukur dan tidak berterimakasih pada-Nya.

    ***

    Sumber: http://www.hajiumroh.com

     
    • hilmi 9:18 am on 29 Desember 2010 Permalink

      mantap mas……

    • rahmat hdt 11:20 am on 31 Maret 2013 Permalink

      smoga dgn artikel ini saya bisa benahi diri saya,amin

  • erva kurniawan 1:03 am on 28 December 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Imam Abu Hanifah 

    Imam Abu Hanifah

    Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit al-Kufiy merupakan orang yang faqih di negeri Irak, salah satu imam dari kaum muslimin, pemimpin orang-orang alim, salah seorang yang mulia dari kalangan ulama dan salah satu imam dari empat imam yang memiliki madzhab.

    Nasab dan Kelahirannya

    Bin Tsabit bin Zuthi (ada yang mengatakan Zutha) At-Taimi Al-Kufi

    Beliau adalah Abu Hanifah An-Nu’man Taimillah bin Tsa’labah. Beliau berasal dari keturunan bangsa persi. Beliau dilahirkan pada tahun 80 H pada masa shigharus shahabah dan para ulama berselisih pendapat tentang tempat kelahiran Abu Hanifah, menurut penuturan anaknya Hamad bin Abu Hadifah bahwa Zuthi berasal dari kota Kabul dan dia terlahir dalam keadaan Islam. Adapula yang mengatakan dari Anbar, yang lainnya mengatakan dari Turmudz dan yang lainnya lagi mengatakan dari Babilonia.

    Perkembangannya

    Ismail bin Hamad bin Abu Hanifah cucunya menuturkan bahwa dahulu Tsabit ayah Abu Hanifah pergi mengunjungi Ali Bin Abi Thalib, lantas Ali mendoakan keberkahan kepadanya pada dirinya dan keluarganya, sedangkan dia pada waktu itu masih kecil, dan kami berharap Allah subhanahu wa ta’ala mengabulkan doa Ali tersebut untuk kami. Dan Abu Hanifah At-Taimi biasa ikut rombongan pedagang minyak dan kain sutera, bahkan dia punya toko untuk berdagang kain yang berada di rumah Amr bin Harits.

    Abu Hanifah itu tinggi badannya sedang, memiliki postur tubuh yang bagus, jelas dalam berbicara, suaranya bagus dan enak didengar, bagus wajahnya, bagus pakaiannya dan selalu memakai minyak wangi, bagus dalam bermajelis, sangat kasih sayang, bagus dalam pergaulan bersama rekan-rekannya, disegani dan tidak membicarakan hal-hal yang tidak berguna.

    Beliau disibukkan dengan mencari atsar/hadits dan juga melakukan rihlah untuk mencari hal itu. Dan beliau ahli dalam bidang fiqih, mempunyai kecermatan dalam berpendapat, dan dalam permasalahan-permasalahan yang samar/sulit maka kepada beliau akhir penyelesaiannya.

    Beliau sempat bertemu dengan Anas bin Malik tatkala datang ke Kufah dan belajar kepadanya, beliau juga belajar dan meriwayat dari ulama lain seperti Atha’ bin Abi Rabbah yang merupakan syaikh besarnya, Asy-Sya’bi, Adi bin Tsabit, Abdurrahman bin Hurmuj al-A’raj, Amru bin Dinar, Thalhah bin Nafi’, Nafi’ Maula Ibnu Umar, Qotadah bin Di’amah, Qois bin Muslim, Abdullah bin Dinar, Hamad bin Abi Sulaiman guru fiqihnya, Abu Ja’far Al-Baqir, Ibnu Syihab Az-Zuhri, Muhammad bin Munkandar, dan masih banyak lagi. Dan ada yang meriwayatkan bahwa beliau sempat bertemu dengan 7 sahabat.

    Beliau pernah bercerita, tatkala pergi ke kota Bashrah, saya optimis kalau ada orang yang bertanya kepadaku tentang sesuatu apapun saya akan menjawabnya, maka tatkala diantara mereka ada yang bertanya kepadaku tentang suatu masalah lantas saya tidak mempunyai jawabannya, maka aku memutuskan untuk tidak berpisah dengan Hamad sampai dia meninggal, maka saya bersamanya selama 10 tahun.

    Pada masa pemerintahan Marwan salah seorang raja dari Bani Umayyah di Kufah, beliau didatangi Hubairoh salah satu anak buah raja Marwan meminta Abu Hanifah agar menjadi Qodhi (hakim) di Kufah akan tetapi beliau menolak permintaan tersebut, maka beliau dihukum cambuk sebanyak 110 kali (setiap harinya dicambuk 10 kali), tatkala dia mengetahui keteguhan Abu Hanifah maka dia melepaskannya.

    Adapun orang-orang yang belajar kepadanya dan meriwayatkan darinya diantaranya adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Abul Hajaj di dalam Tahdzibnya berdasarkan abjad diantaranya Ibrahin bin Thahman seorang alim dari Khurasan, Abyadh bin Al-Aghar bin Ash-Shabah, Ishaq al-Azroq, Asar bin Amru Al-Bajali, Ismail bin Yahya Al-Sirafi, Al-Harits bin Nahban, Al-Hasan bin Ziyad, Hafsh binn Abdurrahman al-Qadhi, Hamad bin Abu Hanifah, Hamzah temannya penjual minyak wangi, Dawud Ath-Thai, Sulaiman bin Amr An-Nakhai, Su’aib bin Ishaq, Abdullah ibnul Mubarok, Abdul Aziz bin Khalid at-Turmudzi, Abdul karim bin Muhammad al-Jurjani, Abdullah bin Zubair al-Qurasy, Ali bin Zhibyan al-Qodhi, Ali bin Ashim, Isa bin Yunus, Abu Nu’aim, Al-Fadhl bin Musa, Muhammad bin Bisyr, Muhammad bin Hasan Assaibani, Muhammad bin Abdullah al-Anshari, Muhammad bin Qoshim al-Asadi, Nu’man bin Abdus Salam al-Asbahani, Waki’ bin Al-Jarah, Yahya bin Ayub Al-Mishri, Yazid bin Harun, Abu Syihab Al-Hanath Assamaqondi, Al-Qodhi Abu Yusuf, dan lain-lain.

    Penilaian para ulama terhadap Abu Hanifah

    Berikut ini beberapa penilaian para ulama tentang Abu Hanifah, diantaranya:

    1. Yahya bin Ma’in berkata, “Abu Hanifah adalah orang yang tsiqoh, dia tidak membicarakan hadits kecuali yang dia hafal dan tidak membicarakan apa-apa yang tidak hafal”. Dan dalam waktu yang lain beliau berkata, “Abu Hanifah adalah orang yang tsiqoh di dalam hadits”. Dan dia juga berkata, “Abu hanifah laa ba’sa bih, dia tidak berdusta, orang yang jujur, tidak tertuduh dengan berdusta, …”.

    2. Abdullah ibnul Mubarok berkata, “Kalaulah Allah subhanahu wa ta’ala tidak menolong saya melalui Abu Hanifah dan Sufyan Ats-Tsauri maka saya hanya akan seperti orang biasa”. Dan beliau juga berkata, “Abu Hanifah adalah orang yang paling faqih”. Dan beliau juga pernah berkata, “Aku berkata kepada Sufyan Ats-Tsauri, ‘Wahai Abu Abdillah, orang yang paling jauh dari perbuatan ghibah adalah Abu Hanifah, saya tidak pernah mendengar beliau berbuat ghibah meskipun kepada musuhnya’ kemudian beliau menimpali ‘Demi Allah, dia adalah orang yang paling berakal, dia tidak menghilangkan kebaikannya dengan perbuatan ghibah’.” Beliau juga berkata, “Aku dating ke kota Kufah, aku bertanya siapakah orang yang paling wara’ di kota Kufah? Maka mereka penduduk Kufah menjawab Abu Hanifah”.

    Beliau juga berkata, “Apabila atsar telah diketahui, dan masih membutuhkan pendapat, kemudian imam Malik berpendapat, Sufyan berpendapat dan Abu Hanifah berpendapat maka yang paling bagus pendapatnya adalah Abu Hanifah … dan dia orang yang paling faqih dari ketiganya”.

    3. Al-Qodhi Abu Yusuf berkata, “Abu Hanifah berkata, tidak selayaknya bagi seseorang berbicara tentang hadits kecuali apa-apa yang dia hafal sebagaimana dia mendengarnya”. Beliau juga berkata, “Saya tidak melihat seseorang yang lebih tahu tentang tafsir hadits dan tempat-tempat pengambilan fiqih hadits dari Abu Hanifah”.

    4. Imam Syafii berkata, “Barangsiapa ingin mutabahir (memiliki ilmu seluas lautan) dalam masalah fiqih hendaklah dia belajar kepada Abu Hanifah”.

    5. Fudhail bin Iyadh berkata, “Abu Hanifah adalah seorang yang faqih, terkenal dengan wara’-nya, termasuk salah seorang hartawan, sabar dalam belajar dan mengajarkan ilmu, sedikit bicara, menunjukkan kebenaran dengan cara yang baik, menghindari dari harta penguasa”. Qois bin Rabi’ juga mengatakan hal serupa dengan perkataan Fudhail bin Iyadh.

    6. Yahya bin Sa’id al-Qothan berkata, “Kami tidak mendustakan Allah swt, tidaklah kami mendengar pendapat yang lebih baik dari pendapat Abu Hanifah, dan sungguh banyak mengambil pendapatnya”.

    7. Hafsh bin Ghiyats berkata, “Pendapat Abu Hanifah di dalam masalah fiqih lebih mendalam dari pada syair, dan tidaklah mencelanya melainkan dia itu orang yang jahil tentangnya”.

    8. Al-Khuroibi berkata, “Tidaklah orang itu mensela Abu Hanifah melainkan dia itu orang yang pendengki atau orang yang jahil”.

    9. Sufyan bin Uyainah berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Hanifah karena dia adalah termasuk orang yang menjaga shalatnya (banyak melakukan shalat)”.

    Beberapa penilaian negatif yang ditujukan kepada Abu Hanifah Abu Hanifah selain dia mendapatkan penilaian yang baik dan pujian dari beberapa ulama, juga mendapatkan penilaian negatif dan celaan yang ditujukan kepada beliau, diantaranya :

    1. Imam Muslim bin Hajaj berkata, “Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit shahibur ro’yi mudhtharib dalam hadits, tidak banyak hadits shahihnya”.

    2. Abdul Karim bin Muhammad bin Syu’aib An-Nasai berkata, “Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit tidak kuat hafalan haditsnya”.

    3. Abdullah ibnul Mubarok berkata, “Abu Hanifah orang yang miskin di dalam hadits”.

    4. Sebagian ahlul ilmi memberikan tuduhan bahwa Abu Hanifah adalah murji’ah dalam memahi masalah iman. Yaitu penyataan bahwa iman itu keyakinan yang adal dalam hati dan diucapkan dengan lesan, dan mengeluarkan amal dari hakikat iman.

    Dan telah dinukil dari Abu Hanifah bahwasanya amal-amal itu tidak termasuk dari hakekat imam, akan tetapi dia termasuk dari sya’air iman, dan yang berpendapat seperti ini adalah Jumhur Asy’ariyyah, Abu Manshur Al-Maturidi … dan menyelisihi pendapat ini adalah Ahlu Hadits … dan telah dinukil pula dari Abu Hanifah bahwa iman itu adalah pembenaran di dalam hati dan penetapan dengan lesan tidak bertambah dan tidak berkurang. Dan yang dimaksudkan dengan “tidak bertambah dan berkurang” adalah jumlah dan ukurannya itu tidak bertingkat-tingkat, dak hal ini tidak menafikan adanya iman itu bertingkat-tingkat dari segi kaifiyyah, seperti ada yang kuat dan ada yang lemah, ada yang jelas dan yang samar, dan yang semisalnya …

    Dan dinukil pula oleh para sahabatnya, mereka menyebutkan bahwa Abu Hanifah berkata, ‘Orang yang terjerumus dalam dosa besar maka urusannya diserahkan kepada Allah’, sebagaimana yang termaktub dalam kitab “Fiqhul Akbar” karya Abu Hanifah, “Kami tidak mengatakan bahwa orang yang beriman itu tidak membahayakan dosa-dosanya terhadap keimanannya, dan kami juga tidak mengatakan pelaku dosa besar itu masuk neraka dan kekal di neraka meskipun dia itu orang yang fasiq, … akan tetapi kami mengatakan bahwa barangsiapa beramal kebaikan dengan memenuhi syarat-syaratnya dan tidak melakukan hal-hal yang merusaknya, tidak membatalakannya dengan kekufuran dan murtad sampai dia meninggal maka Allah tidak akan menyia-nyiakan amalannya, bahklan -insya Allah- akan menerimanya; dan orang yang berbuat kemaksiatan selain syirik dan kekufuran meskipun dia belum bertaubat sampai dia meninggal dalam keadaan beriman, maka di berasa dibawah kehendak Allah, kalau Dia menghendaki maka akan mengadzabnya dan kalau tidak maka akan mengampuninya.”

    5. Sebagian ahlul ilmi yang lainnya memberikan tuduhan kepada Abu Hanifah, bahwa beliau berpendapat Al-Qur’an itu makhluq. Padahahal telah dinukil dari beliau bahwa Al-Qur’an itu adalah kalamullah dan pengucapan kita dengan Al-Qur’an adalah makhluq. Dan ini merupakan pendapat ahlul haq …,coba lihatlah ke kitab beliau Fiqhul Akbar dan Aqidah Thahawiyah …, dan penisbatan pendapat Al-Qur’an itu dalah makhluq kepada Abu Hanifah merupakan kedustaan”.

    Dan di sana masih banyak lagi bentuk-bentuk penilaian negatif dan celaan yang diberikan kepada beliau, hal ini bisa dibaca dalam kitab Tarikh Baghdad juz 13 dan juga kitab al-Jarh wa at-Ta’dil Juz 8 hal 450.

    Dan kalian akan mengetahui riwayat-riwayat yang banyak tentang cacian yang ditujukan kepada Abiu Hanifah -dalam Tarikh Baghdad- dan sungguh kami telah meneliti semua riwayat-riwayat tersebut, ternyata riwayat-riwayat tersebut lemah dalam sanadnya dan mudhtharib dalam maknanya. Tidak diragukan lagi bahwa merupakan cela, aib untuk ber-ashabiyyah madzhabiyyah, … dan betapa banyak daripara imamyang agung, alim yang cerdas mereka bersikap inshaf (pertengahan ) secara haqiqi. Dan apabila kalian menghendaki untuk mengetahui kedudukan riwayat-riwayat yang berkenaan dengan celaan terhadap Abu Hanifah maka bacalah kitab al-Intiqo’ karya Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr, Jami’ul Masanid karya al-Khawaruzumi dan Tadzkiratul Hufazh karya Imam Adz-Dzahabi. Ibnu Abdil Barr berkata, “Banyak dari Ahlul Hadits – yakni yang menukil tentang Abu Hanifah dari al-Khatib (Tarikh baghdad) – melampaui batas dalam mencela Abu Hanifah, maka hal seperti itu sungguh dia menolak banyak pengkhabaran tentang Abu Hanifah dari orang-orang yang adil”.

    Beberapa Nasehat Imam Abu Hanifah

    Beliau adalah termasuk imam yang pertama-tama berpendapat wajibnya mengikuti Sunnah dan meninggalkan pendapat-pendapatnya yang menyelisihi sunnah. Dan sungguh telah diriwayatkan dari Abu Hanifah oleh para sahabatnya pendapat-pendapat yang jitu dan dengan ibarat yang berbeda-beda, yang semuanya itu menunjukkan pada sesuatu yang satu, yaitu wajibnya mengambil hadits dan meninggalkan taqlid terhadap pendapat para imam yang menyelisihi hadits. Diantara nasehat beliau adalah:

    a. Apabila telah shahih sebuah hadits maka hadits tersebut menjadi madzhabku. Berkata Syaikh Nashirudin Al-Albani, “Ini merupakan kesempurnaan ilmu dan ketaqwaan para imam. Dan para imam telah memberi isyarat bahwa mereka tidak mampu untuk menguasai, meliput sunnah/hadits secara keseluruhan”. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh imam Syafii, “maka terkadang diantara para imam ada yang menyelisihi sunnah yang belum atau tidak sampai kepada mereka, maka mereka memerintahkan kepada kita untuk berpegang teguh dengan sunnah dan menjadikan sunah tersebut termasuk madzhab mereka semuanya”.

    b. Tidak halal bagi seseorang untuk mengambil/memakai pendapat kami selama dia tidak mengetahui dari dalil mana kami mengambil pendapat tersebut. dalam riwayat lain, haram bagi orang yang tidak mengetahui dalilku, dia berfatwa dengan pendapatku. Dan dalam riawyat lain, sesungguhnya kami adalah manusia biasa, kami berpendapat pada hari ini, dan kami ruju’ (membatalkan) pendapat tersebut pada pagi harinya. Dan dalam riwayat lain, Celaka engkau wahai Ya’qub (Abu Yusuf), janganlah engakau catat semua apa-apa yang kamu dengar dariku, maka sesungguhnya aku berpendapat pada hari ini denga suatu pendapat dan aku tinggalkan pendapat itu besok, besok aku berpendapat dengan suatu pendapat dan aku tinggalkan pendapat tersebut hari berikutnya.

    Syaikh Al-Albani berkata, “Maka apabila demikian perkataan para imam terhadap orang yang tidak mengetahui dalil mereka. maka ketahuilah! Apakah perkataan mereka terhadap orang yang mengetahui dalil yang menyelisihi pendapat mereka, kemudian dia berfatwa dengan pendapat yang menyelisishi dalil tersebut? Maka camkanlah kalimat ini! Dan perkataan ini saja cukup untuk memusnahkan taqlid buta, untuk itulah sebaigan orang dari para masyayikh yang diikuti mengingkari penisbahan kepada Abu Hanifah tatkala mereka mengingkari fatwanya dengan berkata “Abu Hanifah tidak tahu dalil!”

    Berkata Asy-sya’roni dalam kitabnya Al-Mizan 1/62 yang ringkasnya sebagai berikut, “Keyakinan kami dan keyakinan setiap orang yang pertengahan (tidak memihak) terhadap Abu Hanifah, bahwa seandainya dia hidup sampai dengan dituliskannya ilmu Syariat, setelah para penghafal hadits mengumpulkan hadits-haditsnya dari seluruh pelosok penjuru dunia maka Abu Hanifah akan mengambil hadits-hadits tersebut dan meninggalkan semua pendapatnya dengan cara qiyas, itupun hanya sedikit dalam madzhabnya sebagaimana hal itu juga sedikit pada madzhab-madzhab lainnya dengan penisbahan kepadanya. Akan tetapi dalil-dalil syari terpisah-pesah pada zamannya dan juga pada zaman tabi’in dan atbaut tabiin masih terpencar-pencar disana-sini. Maka banyak terjadi qiyas pada madzhabnya secara darurat kalaudibanding dengan para ulama lainnya, karena tidak ada nash dalam permasalahan-permasalahan yang diqiyaskan tersebut. Berbeda dengan para imam yang lainnya, …”. Kemudia syaikh Al-Albani mengomentari pernyataan tersebut dengan perkataannya, “Maka apabila demikian halnya, hal itu merupakan udzur bagi Abu Hanifah tatkala dia menyelisihi hadits-hadits yang shahih tanpa dia sengaja – dan ini merupaka udzur yang diterima, karena Allah tidak membebani manusia yang tidak dimampuinya -, maka tidak boleh mencela padanya sebagaimana yang dilakukan sebagian orang jahil, bahkan wajib beradab dengannya karena dia merupakan salah satu imam dari imam-imam kaum muslimin yang dengan mereka terjaga agama ini. …”.

    c. Apabila saya mengatakan sebuah pendapat yang menyelisihi kitab Allah dan hadits Rasulullah yang shahih, maka tinggalkan perkataanku.

    Wafatnya

    Pada zaman kerajaan Bani Abbasiyah tepatnya pada masa pemerintahan Abu Ja’far Al-Manshur yaitu raja yang ke-2, Abu Hanifah dipanggil kehadapannya untuk diminta menjadi qodhi (hakim), akan tetapi beliau menolak permintaan raja tersebut – karena Abu Hanifah hendak menjahui harta dan kedudukan dari sulthan (raja) – maka dia ditangkap dan dijebloskan kedalam penjara dan wafat dalam penjara.

    Dan beliau wafat pada bulan Rajab pada tahun 150 H dengan usia 70 tahun, dan dia dishalatkan banyak orang bahkan ada yang meriwayatkan dishalatkan sampai 6 kloter.

    ***

    Daftar Pustaka:

    1. Tarikhul Baghdad karya Abu Bakar Ahmad Al-Khatib Al-Baghdadi cetakan Dar al-Kutub Ilmiyah Beirut
    2. Siyarul A’lamin Nubala’ karya Al-Imam Syamsudin Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adz-Dzahabi cetakan ke – 7 terbitan Dar ar-Risalah Beirut
    3. Tadzkiratul Hufazh karya Al-Imam Syamsudin Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adz-Dzahabi terbitan Dar al-Kutub Ilmiyah Beirut
    4. Al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibnu Katsir cetakan Maktabah Darul Baz Beirut
    5. Kitabul Jarhi wat Ta’dil karya Abu Mumahhan Abdurrahman bin Abi Hatim bin Muhammad Ar-Razi terbitan Dar al-Kutub Ilmiyah Beirut
    6. Shifatu Shalatin Nabi karya Syaikh Nashirudin Al-Albani cetakan Maktabah Al-Ma’arif Riyadh

    (diambil dari majalah Fatawa)

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 27 December 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kekuasaan Bisa Menjadi Kehinaan dan Penyesalan 

    Abu Dzar al-Ghiffari merupakan salah satu sahabat yang sangat dekat dengan Rasulullah Saw dan termasuk sahabat yang paling awal masuk Islam. Ia terlahir dengan nama Jundub bin Junadah bin Sakan, berasal dari suku Ghiffar. Suku Ghiffar terkenal sebagai suku penyamun sebelum datangnya Islam.

    Abu Dzar memeluk Islam dengan sukarela. Kegundahan hati dan keinginannya untuk berperilaku yang baik membawanya pergi menempuh perjalanan yang jauh untuk bertemu Rasulullah Saw.

    Di tengah suasana Mekah yang mencekam, karena saat itu Rasullah Saw banyak mendapat ancaman dari Quraisy, Abu Dzar berhasil bertemu Rasulullah Saw dan menyatakan keislamannya. Keyakinannya terhadap Islam sangat kuat, sehingga tanpa ragu dan takut ia memberitakan keislamannya itu kepada banyak orang secara terbuka.

    Sekembalinya ke kampung halamannya, Abu Dzar menyebarkan ajaran Islam pada masyarakat seluruh suku Ghiffar. Meski dengan susah payah, seluruh suku Ghiffar berhasil diajaknya memeluk Islam.

    Sewaktu mendengar Rasulullah Saw hijrah, Abu Dzar bersama beberapa orang dari Ghiffar pergi ke Madinah. Tujuannya untuk ikut serta membantu Rasulullah Saw berjuang menegakkan Islam. Sejak di Madinah itu, Abu Dzar menjadi dekat dengan Rasulullah Saw. Ke mana Rasulullah Saw pergi, ia selalu turut serta, tidurnya pun di masjid. Jarang sekali, ia absen dari majelis-majelis Rasulullah Saw.

    Suatu ketika ada yang mengganjal dalam hati Abu Dzar. Ia ingin terlibat lebih jauh, masuk dalam jajaran pemerintahan Rasulullah Saw di Madinah. Suatu saat ia memberanikan diri menyampaikan keinginannya itu kepada Rasulullah Saw. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mempekerjakan aku?”

    Rasulullah Saw sangat mengenal pribadi Abu Dzar. Beliau mengetahui ada sifat-sifat Abu Dzar yang tidak sesuai untuk orang yang memegang kekuasaan. Karena itu, meskipun Abu Dzar sangat dicintainya, namun Rasulullah Saw tidak mengabulkan keinginan sahabatnya itu.

    Sambil menepuk kedua bahu Abu Dzar, dengan bijak Rasulullah Saw berkata, “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah, sementara kekuasaan itu adalah amanat. Di hari kiamat kekuasaan itu nanti menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali bagi orang yang mengembannya dengan benar dan menjalankan semua amanat yang ada di dalamnya.” (imam)

    ***

    ramadan.detik.com/read/2010/08/24/163757/1426935/985/kekuasaan-bisa-menjadi-kehinaan-dan-penyesalan

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 26 December 2010 Permalink | Balas  

    Perempuan Berpayudara Terbesar di Dunia Berjuang untuk Hidup 

    Vera Farah Bararah – detikHealth

    Houston, Sheyla Hershey, model asal Brazil diklaim sebagai pemilik payudara terbesar di dunia. Tapi saat ini ia harus berjuang agar bisa mempertahankan hidupnya akibat komplikasi yang diderita.

    Hershey telah 30 kali menjalani operasi plastik untuk pembesaran payudara. Namun setelah ditemukan adanya infeksi Staph yang berat di kedua payudaranya, dokter terpaksa harus melakukan operasi untuk mengeluarkan implan di payudaranya.

    Dengan mengeluarkan implan yang ada di payudaranya, ada kemungkinan payudara perempuan berusia 30 tahun ini juga akan diangkat. Hal ini dikarenakan dokter khawatir infeksi yang ada akan masuk ke dalam aliran darahnya sehingga dapat mengancam hidup Hershey.

    “Saya mengalami demam yang tinggi dan menyakitkan ditambah dengan tidak bisa bernapas dengan benar. Hal itu sungguh mengerikan, saya harus berada di atas tempat tidur sepanjang hari dan tidak bisa bangun,” ujar Hershey, seperti dikutip dari Foxnews, Kamis (15/7/2010).

    Pada tahun 2009, Hershey dilaporkan memiliki ukuran payudara 38 KKK dan diberikan penghargaan serta masuk ke dalam Guinness Book of World Records sebagai perempuan dengan payudara terbesar di dunia.

    Tapi semakin banyak benda asing yang dimasukan ke dalam tubuh, maka akan semakin banyak masalah yang bisa menghampirinya. Masalah yang umum terjadi pada perempuan dengan payudara besar akibat operasi adalah mengalami infeksi, rasa sakit dan juga kontraksi.

    Namun keluhan yang paling umum setelah memperbesar payudara adalah mengalami sakit punggung dan leher. Sakit tersebut disebabkan karena tubuh harus menahan gaya gravitasi yang terlalu besar akibat ukuran payudara yang terlalu berat.

    Karena itu memiliki ukuran payudara yang terlalu besar bukan membuat seseorang terlihat lebih seksi, tapi akan mendatangkan masalah bagi perempuan tersebut.(ver/ir)

    ***

    http://health.detik.com/read/2010/07/15/094812/1399573/763/perempuan-berpayudara-terbesar-di-dunia-berjuang-untuk-hidup?l993306763

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 25 December 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Al-Imam Malik ra. 

    Al-Imam Malik ra.

    1. Nama dan Nasabnya

    Nama lengkap beliau adalah Abu Abdillah Malik bin Anas bin Malik bin Anas bin Al Harits bin Ghaiman bin Khutsail bin Amr bin Al Harits Al Ashbahiy Al Humairiy. Nasabnya berakhir pada Ya’rib bin Yasyjub bin Qaththan. Kakeknya yang juga bernama Malik bin Anas termasuk seorang tabi’in besar dan salah satu yang ikut memikul Khalifah Utsman ke kuburnya.

    Kakek buyutnya, Anas, adalah seorang sahabat agung, yang selalu mengikuti Rasululloh SAW dalam semua peperangan kecuali perang Badar.

    Ibunya bernama Al Aliyah binti Syariek Al Asadiyah. Namun, ada juga yang mengatakan ibunya adalah Thulaihah, bekas budak Ubaidullah bin Ma’mar.

    2. Kelahiran dan Petumbuhannya

    Imam Malik ra. lahir di Madinah Al Munawaroh pada tahun 95 H. Disana beliau menulis kitabnya Al-Muwaththo’. Beliau menimba ilmu dari 100 orang guru lebih. Beliau hidup selama 84 tahun, wafat pada tahun 179 H dan dimakamkan di Baqie.

    Beliau meriwayatkan hadis dari sejumlah besar Tabi’ien dan Tabi’ut Tabi’ien, diantaranya : Nafi’ bekas budak Ibn Umar, Ibn Syihab Az Zuhri, Abu Az Zanad, Abdurrahman bin Al Qasim, Ayyub As Sakhtiyani, Yahya bin Sa’id Al Anshari, Aisyah binti Sa’ad bin Abi Waqqash, Zaid bin Aslam, Humaid Ath Thawiel, dan Hisyam bin Urwah.

    Sebaliknya, tidak sedikit guru2nya yang meriwayatkan hadis dari beliau sesudah itu, seperti Az Zuhri dan Yahya bin Sa’id Al Anshari. Cukup banyak perawi yang meriwayatkan hadis dari beliau. Al Hafidh Abu Bakar Al Khatib Al Baghdadi menulis sebuah kitab tentang para perawi yang meriwayatkan dari Imam Malik. Dalam kitab tersebut, Al Baghdadi menyebutkan hampir 1000 orang perawi. Diantara tokoh2 yang meriwayatkan hadis dari beliau : Sufyan Ats Tsauri, Abdullah bin AL Mubarak, Abdurrahman Al Auza’i, Abu Hanifah, Asy Syafi’i, dll.

    3. Kedudukannya

    Para Imam dan Ulama yang berkomentar tentang Imam Malik ra.:

    a. Asy Syafi’i : Apabila ulama disebut, maka Malik adalah bintangnya.

    b. Ibn Mu’in : Malik termasuk hujjah Allah atas makhluk Nya.

    c. Yahya bin Sa’id Al Qaththan : Malik adalah amirul mukminin dalam bidang hadis.

    d. Ibn Hibban : Malik adalah orang pertama yang memilih para tokoh ahli fiqh di Madinah, menghindari orang yang tidak terpercaya (tsiqoh), tidak meriwayatkan kecuali yang shahih, dan hanya menceritakan dari orang yang terpercaya. Ada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, yang bebrunyi: “Nyaris orang-orang memukul perut unta untuk mencari ilmu, tapi ternyata mereka tidak menemukan seorang pun yang lebih alim dari orang alim Madinah” (hadis ini hasan menurut Tirmidzi) Ibn Unayah bilnag orang alim madinah tersebut adalah Malik.

    4. Al-Muwwaththo’

    Imam Malik menulis kitabnya yang legendaris Al-Muwwaththo’ selama 40 tahun. Selama kurun waktu tersebut, kitab itu ditunjukkan ke sekitar 75 orang ulama fiqh Madinah.

    Asy Syafi’i berkomentar tentang Al Muwwaththo’ Malik : “Di muka bumi ini, tidak ada satu kitab pun – sesudah Kitab Allah – yang lebih shahih daripada kitab Malik.

    Al Muwwaththo’ memuat 6000 hadis musnad (sanad bersambung samapai ke Nabi SAW/ Marfu’), 222 hadis mursal (sanad hanya samapai sahabat), 613 hadis mauquf (sanad hanya samapai tabi’ien), dan 285 makalah Tabi’ien.

    ***

    Wallaahu a’lam bishshowab

    (Ditulis ulang dari kata pengantar kitab Al-Muwwaththo’ edisi terjemahan)

     
    • mila achmad 2:21 pm on 14 Oktober 2012 Permalink

      dimana saya bisa mendapat terjemah kitab al muwwaththo’?

  • erva kurniawan 1:11 am on 24 December 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Imam Bukhari : Keajaiban Dari Bukhara 

    Buta di masa kecilnya. Keliling dunia mencari ilmu. Menghafal ratusan ribu hadits. Karyanya menjadi rujukan utama setelah Al Qur’an.

    Lahir di Bukhara pada bulan Syawal tahun 194 H. Dipanggil dengan Abu Abdillah. Nama lengkap beliau Muhammmad bin Islmail bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari Al Ju’fi. Beliau digelari Al Imam Al Hafizh, dan lebih dikenal dengan sebutan Al Imam Al Bukhari.

    Buyut beliau, Al Mughirah, semula beragama Majusi (Zoroaster), kemudian masuk Islam lewat perantaraan gubernur Bukhara yang bernama Al Yaman Al Ju’fi. Sedang ayah beliau, Ismail bin Al Mughirah, seorang tokoh yang tekun dan ulet dalam menuntut ilmu, sempat mendengar ketenaran Al Imam Malik bin Anas dalam bidang keilmuan, pernah berjumpa dengan Hammad bin Zaid, dan pernah berjabatan tangan dengan Abdullah bin Al Mubarak.

    Sewaktu kecil Al Imam Al Bukhari buta kedua matanya. Pada suatu malam ibu beliau bermimpi melihat Nabi Ibrahim Al Khalil ‘Alaihissalaam yang mengatakan, “Hai Fulanah (yang beliau maksud adalah ibu Al Imam Al Bukhari, pent), sesungguhnya Allah telah mengembalikan penglihatan kedua mata putramu karena seringnya engkau berdoa”. Ternyata pada pagi harinya sang ibu menyaksikan bahwa Allah telah mengembalikan penglihatan kedua mata putranya.

    Ketika berusia sepuluh tahun, Al Imam Al Bukhari mulai menuntut ilmu, beliau melakukan pengembaraan ke Balkh, Naisabur, Rayy, Baghdad, Bashrah, Kufah, Makkah, Mesir, dan Syam.

    Guru-guru beliau banyak sekali jumlahnya. Di antara mereka yang sangat terkenal adalah Abu ‘Ashim An-Nabiil, Al Anshari, Makki bin Ibrahim, Ubaidaillah bin Musa, Abu Al Mughirah, ‘Abdan bin ‘Utsman, ‘Ali bin Al Hasan bin Syaqiq, Shadaqah bin Al Fadhl, Abdurrahman bin Hammad Asy-Syu’aisi, Muhammad bin ‘Ar’arah, Hajjaj bin Minhaal, Badal bin Al Muhabbir, Abdullah bin Raja’, Khalid bin Makhlad, Thalq bin Ghannaam, Abdurrahman Al Muqri’, Khallad bin Yahya, Abdul ‘Azizi Al Uwaisi, Abu Al Yaman, ‘Ali bin Al Madini, Ishaq bin Rahawaih, Nu’aim bin Hammad, Al Imam Ahmad bin Hanbal, dan sederet imam dan ulama ahlul hadits lainnya.

    Murid-murid beliau tak terhitung jumlahnya. Di antara mereka yang paling terkenal adalah Al Imam Muslim bin Al Hajjaj An Naisaburi, penyusun kitab Shahih Muslim.

    Al Imam Al Bukhari sangat terkenal kecerdasannya dan kekuatan hafalannya. Beliau pernah berkata, “Saya hafal seratus ribu hadits shahih, dan saya juga hafal dua ratus ribu hadits yang tidak shahih”. Pada kesempatan yang lain belau berkata, “Setiap hadits yang saya hafal, pasti dapat saya sebutkan sanad (rangkaian perawi-perawi)-nya”.

    Beliau juga pernah ditanya oleh Muhamad bin Abu Hatim Al Warraaq, “Apakah engkau hafal sanad dan matan setiap hadits yang engkau masukkan ke dalam kitab yang engkau susun (maksudnya : kitab Shahih Bukhari, pent.)?” Beliau menjawab, “Semua hadits yang saya masukkan ke dalam kitab yang saya susun itu sedikit pun tidak ada yang samar bagi saya”.

    Anugerah Allah kepada Al Imam Al Bukhari berupa reputasi di bidang hadits telah mencapai puncaknya. Tidak mengherankan jika para ulama dan para imam yang hidup sezaman dengannya memberikan pujian (rekomendasi) terhadap beliau. Berikut ini adalah sederet pujian (rekomendasi) termaksud.

    Muhammad bin Abi Ha tim berkata, “Saya mendengar Ibrahim bin Khalid Al Marwazi berkata, “Saya melihat Abu Ammar Al Husein bin Harits memuji Abu Abdillah Al Bukhari, lalu beliau berkata, “Saya tidak pernah melihat orang seperti dia. Seolah-olah dia diciptakan oleh Allah hanya untuk hadits”.

    Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah berkata, “Saya tidak pernah meliahat di kolong langit seseorang yang lebih mengetahui dan lebih kuat hafalannya tentang hadits Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dari pada Muhammad bin Ismail (Al Bukhari).”

    Muhammad bin Abi Hatim berkata, ” Saya mendengar Abu Abdillah (Al Imam Al Bukhari) berkata, “Para sahabat ‘Amr bin ‘Ali Al Fallaas pernah meminta penjelasan kepada saya tentang status (kedudukan) sebuah hadits. Saya katakan kepada mereka, “Saya tidak mengetahui status (kedudukan) hadits tersebut”.

    Mereka jadi gembira dengan sebab mendengar ucapanku, dan mereka segera bergerak menuju ‘Amr. Lalu mereka menceriterakan peristiwa itu kepada ‘Amr. ‘Amr berkata kepada mereka, “Hadits yang status (kedudukannya) tidak diketahui oleh Muhammad bin Ismail bukanlah hadits”.

    Al Imam Al Bukhari mempunyai karya besar di bidang hadits yaitu kitab beliau yang diberi judul Al Jami’ atau disebut juga Ash-Shahih atau Shahih Al Bukhari. Para ulama menilai bahwa kitab Shahih Al Bukhari ini merupakan kitab yang paling shahih setelah kitab suci Al Quran.

    Hubungannya dengan kitab tersebut, ada seorang ulama besar ahli fikih, yaitu Abu Zaid Al Marwazi menuturkan, “Suatu ketika saya tertidur pada sebuah tempat (dekat Ka’bah -ed) di antara Rukun Yamani dan Maqam Ibrahim. Di dalam tidur saya bermimpi melihat Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau berkata kepada saya, “Hai Abu Zaid, sampai kapan engaku mempelajari kitab Asy-Syafi’i, sementara engkau tidak mempelajari kitabku? Saya berkata, “Wahai Baginda Rasulullah, kitab apa yang Baginda maksud?” Rasulullah menjawab, ” Kitab Jami’ karya Muhammad bin Ismail”.

    Karya Al Imam Al Bukhari yang lain yang terkenal adalah kita At-Tarikh yang berisi tentang hal-ihwal para sahabat dan tabi’in serta ucapan-ucapan (pendapat-pendapat) mereka. Di bidang akhlak belau menyusun kitab Al Adab Al Mufrad. Dan di bidang akidah beliau menyusun kitab Khalqu Af’aal Al Ibaad.

    Ketakwaan dan keshalihan Al Imam Al Bukhari merupakan sisi lain yang tak pantas dilupakan. Berikut ini diketengahkan beberapa pernyataan para ulama tentang ketakwaan dan keshalihan beliau agar dapat dijadikan teladan.

    Abu Bakar bin Munir berkata, “Saya mendengar Abu Abdillah Al Bukhari berkata, “Saya berharap bahwa ketika saya berjumpa Allah, saya tidak dihisab dalam keadaan menanggung dosa ghibah (menggunjing orang lain).”

    Abdullah bin Sa’id bin Ja’far berkata, “Saya mendengar para ulama di Bashrah mengatakan, “Tidak pernah kami jumpai di dunia ini orang seperti Muhammad bin Ismail dalam hal ma’rifah (keilmuan) dan keshalihan”.

    Sulaim berkata, “Saya tidak pernah melihat dengan mata kepala saya sendiri semenjak enam puluh tahun orang yang lebih dalam pemahamannya tentang ajaran Islam, leblih wara’ (takwa), dan lebih zuhud terhadap dunia daripada Muhammad bin Ismail.”

    Al Firabri berkata, “Saya bermimpi melihat Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam di dalam tidur saya”. Beliau Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepada saya, “Engkau hendak menuju ke mana?” Saya menjawab, “Hendak menuju ke tempat Muhammad bin Ismail Al Bukhari”. Beliau Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam berkata, “Sampaikan salamku kepadanya!”

    Al Imam Al Bukhari wafat pada malam Idul Fithri tahun 256 H. ketika beliau mencapai usia enam puluh dua tahun. Jenazah beliau dikuburkan di Khartank, nama sebuah desa di Samarkand. Semoga Allah Ta’ala mencurahkan rahmat-Nya kepada Al Imam Al Bukhari.

    ***

    Sumber:

    Siyar A’laam An-Nubala’ karya Al Imam Adz-Dzahabi dll

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 23 December 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Abu Bakar: Saya Ingin Diampuni Allah 

    “Saya ingin diampuni Allah,” kata Abu Bakar menyambut turunnya ayat: “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi kepada kaum kerabat, orang-orang miskin dan para Muhajirin pada jalan Allah dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tak ingin Allah mengampuni kamu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 24: 22)

    Ayat di atas, menjadi teguran untuk Abu Bakar. Ia memang pernah bersumpah untuk tak memberikan bantuan kepada Misthah yang selama ini kerap ditolongnya. Sebenarnya, Misthah masih termasuk keluarga Abu Bakar, yaitu putra saudara perempuan ayahnya. Namun demikian, Abu Bakar sangat marah kepadanya, karena Misthah ikut menyebarkan kabar bohong menyangkut ‘Aisyah, putrinya dan sekaligus istri Nabi Saw. Kabar yang disebarkan Misthah itu bisa menghancurkan nama baik keluarga Abu Bakar.

    Mendengar kabar itu, Nabi Saw pun gundah dan bimbang. Beliau mencari-cari informasi tentang kabar tersebut. Kegundahan Nabi reda setelah turun beberapa ayat dalam Surah an-Nur (24) yang menjelaskan kebohongan berita itu. Setelah jelas status kabar itu, orang-orang mencari sumber beritanya. Tersebutlah Misthah menjadi salah satu penyebarnya. Karena itu Abu Bakar marah dan keluarlah sumpah itu.

    Dalam ayat di atas, Allah menegur Abu Bakar dan semua orang yang mempunyai kelebihan agar memberi bantuan kepada orang-orang yang miskin, kaum Muhajirin (orang yang pindah dari Mekah menuju ke Madinah atau tempat yang lain) dan kepada siapa saja memerlukan uluran tangan. Janganlah mereka bersumpah untuk tidak memberi bantuan karena orang yang bersangkutan pernah melakukan kesalahan atau karena ketersinggungan pribadi. Hendaknya, orang yang berkelebihan itu berhati besar dan sebaiknya mereka memaafkan dan berlapang dada.

    Mendengar ayat tersebut, Abu Bakar memaafkan Misthah, ia membatalkan sumpahnya, dan melanjutkan bantuannya kepada Misthah, sebagaimana sediakala. (imam) ( gst / vta )

    ***

    ramadan.detik.com/read/2010/08/25/095702/1427340/985/abu-bakar-saya-ingin-diampuni-allah

     
  • erva kurniawan 1:12 am on 22 December 2010 Permalink | Balas  

    Bintang Ini 20 Kali Lebih Besar dari Matahari 

    By Renne R.A Kawilarang – Kamis, 15 Juli

    Bintang muda IRAS (kiri atas) difoto oleh Teleskop Spitzer milik NASA

    VIVAnews – Suatu teleskop luar angkasa berhasil memotret sekumpulan bintang yang berada di galaksi lain. Salah satunya adalah sebuah bintang muda yang diyakini berukuran 20 kali lebih besar dari matahari.

    Demikian ungkap ilmuwan yang bekerja sama dengan peneliti dari Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA). Peneliti NASA, Stefan Kraus dan astronom dari Universitas Michigan, Ann Arbor, mengungkapkan bahwa penemuan itu dalam rangka meneliti bagaimana bintang-bintang besar lahir di jagat lain.

    Seperti dikutip di laman resmi NASA, Rabu 14 Juli 2010, Kraus mengungkapkan bahwa Teleskop Luar Angkasa milik NASA, Spitzer, berhasil merekam gambar suatu bintang yang dinamakan IRAS 13481-6124. Gambar dari Teleskop Spitzer itu juga didukung oleh pantauan dari stasiun teleskop di Chile.

    Bintang itu berlokasi di konstelasi Centaurus, yang berjarak 10.000 tahun cahaya. Massa IRAS 20 kali lebih besar dari matahari. “Ini merupakan kali pertama benda seperti itu bisa terpantau,” kata Kraus.

    Melalui pencitraan Spitzer, para peneliti juga menyaksikan bahwa bintang itu dikelilingi oleh kumpulan gas dan debu sehingga menyerupai cakram. Fenomena seperti juga terjadi pada bintang-bintang yang lain. “Cakram itu sangat mirip dengan apa yang telah kami lihat pada bintang-bintang muda, yang bentuknya lebih kecil, namun tetap saja besar,” kata Kraus.

    Menurut dia, gambar dari Spitzer kali ini menghasilkan citra yang lebih jelas dari yang pernah diperlihatkan sehingga membantu para ilmuwan untuk memahami lebih baik akan lahirnya bintang di jagat lain.

    ***

    http://id.news.yahoo.com/viva/20100715/twl-bintang-ini-20-kali-lebih-besar-dari-cfafc46.html

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 21 December 2010 Permalink | Balas
    Tags: misteri otak,   

    Misteri Otak Anda 

    Saat Anda mendengar kisah komedi, mungkin Anda tertawa atau sedikitnya tersenyum. Padahal, apa yang diceritakan tersebut belum tentu benar, tetapi Anda sudah tertawa.

    Itulah otak manusia, saat Anda nonton film tragedi, meskipun Anda tahu bahwa film tersebut hanya fiksi belaka, tetapi tidak jarang penonton ikut menangis.

    Jika suatu musibah terjadi pada orang lain, musibah yang sangat mengerikan Anda akan merasa takut karena terbayang jika musibah tersebut menimpa Anda.

    Jika Anda mengingat masa lalu, Anda bisa tersenyum atau bahkan bisa menagis melihat masa lalu Anda.

    Pikiran tidak bisa membedakan mana yang nyata mana yang tidak. Sekali dia menangkap suatu sinyal dia akan memberikan perintah kepada anggota tubuh yang lainnya serta kepada perasaan Anda, tidak peduli hal tersebut nyata atau tidak nyata.

    Saya teringat VCD Harun Yahya yang berjudul Rahasia Di Balik Materi. Dalam film itu Harun Yahya memberikan suatu analogi yang mengundang kita untuk merenung.

    Untuk mengetahui keberadaan materi, otak hanya menerima sinyal dari indra kita. Kita mengetahu adanya meja karena Anda melihatnya, atau Anda menyentuhnya kemudian sinyal dari mata atau tangan Anda dikirim kepada otak, maka otak mengidentifikasikan bahwa meja tersebut ada dan dengan gambaran bentuk serta warnanya.

    Harun Yahya memberikan suatu pengandaian, jika seandainya sinyal yang diberikan oleh mata atau tangan diganti oleh sinyal dari komputer, maka yang terbaca oleh pikiran akan persis seperti apa yang digambarkan oleh pikiran. Jika Anda pernah nonton Film Matrix, yah mirip-mirip seperti itu. Pada film tersebut diceritakan terjadi perkelahian yang seru padahal pada kenyataanya mereka hanya tidur saja dengan dihubungkannya otak dengan komputer.

    Apa yang bisa Anda pelajari dari kenyataan seperti ini? Jika otak tidak bisa membedakan antara nyata atau tidak nyata, kita bisa menafaatkannya untuk sesuatu hal yang positif. Takut gagal akan menyebabkan orang sulit bertindak, padahal gagal tersebut masih hayalan. Kenapa anda tidak menghayal berhasil? Kenapa Anda tidak menggambarkan keberhasilan yang akan Anda dapatkan?

    Jika pikiran Anda diberikan gambaran-gambaran positif maka akan sangat mempengaruhi tindakan Anda. Anda akan lebih bahagia, akan lebih dinamis, akan lebih berani, dan akan lebih kuat. Methode ini oleh para ahli Motivasi disebut dengan Visualization (visualisasi). Dengan memberikan visualisasi pada pikiran Anda, pikiran Anda akan memulai mencari cara untuk menggapai apa yang divisualisasikan tersebut. Cobalah.

    ***

    Oleh: Muttaqin

     
    • donyarisandy 1:17 am on 21 Desember 2010 Permalink

      Jadi sebenarnya kitalah yang membuat rasa takut gagal itu, kitalah yang merasa bahwa kita tidak mampu, dan lain – lain, padahal hal – hal tersebut belum tentu terjadi

  • erva kurniawan 1:03 am on 20 December 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Al Imam Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah 

    Al Imam Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah, Penulis: Al Ustadz Zainul Arifin

    **

    Beliau dilahirkan di Samarqand dan dibesarkan di Abi Warda, suatu tempat di daerah Khurasan.

    Tidak ada riwayat yang jelas tentang kapan beliau dilahirkan, hanya saja beliau pernah menyatakan usianya waktu itu telah mencapai 80 tahun, dan tidak ada gambaran yang pasti tentang permulaan kehidupan beliau.

    Sebagian riwayat ada yang menyebutkan bahwa dulunya beliau adalah seorang penyamun, kemudian Allah memberikan petunjuk kepada beliau dengan sebab mendengar sebuah ayat dari Kitabullah.

    Disebutkan dalam Siyar A’lam An-Nubala dari jalan Al-Fadhl bin Musa, beliau berkata: “Adalah Al-Fudhail bin ‘Iyadh dulunya seorang penyamun yang menghadang orang-orang di daerah antara Abu Warda dan Sirjis. Dan sebab taubat beliau adalah karena beliau pernah terpikat dengan seorang wanita, maka tatkala beliau tengah memanjat tembok guna melaksanakan hasratnya terhadap wanita tersebut, tiba-tiba saja beliau mendengar seseorang membaca ayat:

    “Belumkah datang waktunya bagi orang –orang yang beriman untuk tunduk hati mereka guna mengingat Allah serta tunduk kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang –orang yang sebelumnya telah turun Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras, dan mayoritas mereka adalah orang-orang yang fasiq.” (Al Hadid: 16)

    Maka tatkala mendengarnya beliau langsung berkata: “Tentu saja wahai Rabbku. Sungguh telah tiba saatku (untuk bertaubat).” Maka beliaupun kembali, dan pada malam itu ketika beliau tengah berlindung di balik reruntuhan bangunan, tiba-tiba saja di sana ada sekelompok orang yang sedang lewat. Sebagian mereka berkata: “Kita jalan terus,” dan sebagian yang lain berkata: “Kita jalan terus sampai pagi, karena biasanya Al-Fudhail menghadang kita di jalan ini.” Maka beliaupun berkata: “Kemudian aku merenung dan berkata: ‘Aku menjalani kemaksiatan-kemaksiatan di malam hari dan sebagian dari kaum muslimin di situ ketakutan kepadaku, dan tidaklah Allah menggiringku kepada mereka ini melainkan agar aku berhenti (dari kemaksiatan ini). Ya Allah, sungguh aku telah bertaubat kepada-Mu dan aku jadikan taubatku itu dengan tinggal di Baitul Haram’.”

    Sungguh beliau telah menghabiskan satu masa di Kufah, lalu mencatat ilmu dari ulama di negeri itu, seperti Manshur, Al-A’masy, ‘Atha’ bin As-Saaib serta Shafwan bin Salim dan juga dari ulama-ulama lainnya. Kemudian beliau menetap di Makkah. Dan adalah beliau memberi makan dirinya dan keluarganya dari hasil mengurus air di Makkah. Waktu itu beliau memiliki seekor unta yang beliau gunakan untuk mengangkut air dan menjual air tersebut guna memenuhi kebutuhan  makanan beliau dan keluarganya.

    Beliau tidak mau menerima pemberian-pemberian dan juga hadiah-hadiah dari para raja dan pejabat lainnya, namun beliau pernah menerima pemberian dari Abdullah bin Al-Mubarak.

    Dan sebab dari penolakan beliau terhadap pemberian-pemberian para raja diduga karena keraguan beliau terhadap kehalalannya, sedang beliau sangat antusias agar tidak sampai memasuki perut beliau kecuali sesuatu yang halal.

    Beliau wafat di Makkah pada bulan Muharram tahun 187 H. (Diringkas dari Mawa’izh lil Imam Al-Fudhail bin ‘Iyadh, hal. 5-7)

    ***

    Sumber : http://www.asysyariah.com

     
    • hilmi 9:55 am on 20 Desember 2010 Permalink

      wah benar-benar kisah yang bagus. terima kasih mas

  • erva kurniawan 1:15 am on 19 December 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Ali bin Abi Thalib dan Hukum 

    Bagi Anda yang merasa frustasi dengan keadaan hukum saat ini dan tingkah polah pemimpin dan penegak hukum, kisah yang terjadi belasan abad yang lalu ini menarik untuk disimak.

    Alkisah pada masa Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah, ia kehilangan baju dir’a  (baju besi) miliknya. Tidak berapa lama, ia mendapati baju besinya ada pada seorang Yahudi. Namun, ketika ditanya Ali, orang Yahudi itu bersikukuh bahwa baju besi itu adalah miliknya. Akhirnya, keduanya sepakat untuk membawa perkara itu ke hadapan hakim.

    Setelah mendengar duduk perkaranya, hakim yang bernama Syuraih bertanya kepada Ali, apakah ia mempunyai bukti-bukti yang mendukung pernyataannya. Ali pun menghadirkan dua saksi, yaitu pembantunya, Qanbar dan anaknya, Hasan bin Ali, cucu Rasulullah Saw.

    Sang hakim menerima kesaksian pembantu Ali, namun menolak kesaksian Hasan, karena kesaksian seorang anak kepada ayahnya tidak dapat diterima di hadapan hukum. Ali pun berkata pada hakim Syuraih, “Tetapi apakah Anda tidak pernah mendengar Rasulullah yang menyatakan bahwa Hasan dan Husain adalah pemuda penghuni surga”.

    Syuraih membenarkan pernyataan Ali itu namun tetap pada pendiriannya bahwa ia tidak bisa menerima kesaksian Hasan. Karena hanya ada satu orang saksi, akhirnya hakim memutuskan bahwa baju besi tersebut adalah milik si Yahudi. Ali, sang Amirul Mukminin, dikalahkan dalam persidangan tersebut. Dengan besar hati, Ali menyatakan menerima keputusan hakim.

    Melihat seorang pemimpin jazirah Islam dikalahkan di pengadilan padahal lawannya seorang non-muslim dan sang pemimpin menerima putusan itu, Yahudi itupun serta merta mengakui bahwa baju besi tersebut adalah benar milik Ali dan ia menyatakan bahwa sebuah agama yang menyuruh hal tersebut pastilah benar. Orang Yahudi itu pun mengucapkan kalimat syahadat dan menyatakan masuk Islam. Menyaksikan hal itu, Ali menghadiahkan baju besi tersebut kepada si Yahudi disertai dengan hadiah lainnya. ( gst / vta )

    ***

    ramadan.detik.com/read/2010/08/26/114320/1428283/985/ali-bin-abi-thalib-dan-hukum

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 18 December 2010 Permalink | Balas  

    Mana Duluan, Ayam atau Telur? Ini Jawabnya! 

    By Elin Yunita Kristanti – Kamis, 15 Juli

    VIVAnews – Para ilmuwan berhasil menjawab  salah satu tebak-tebakan tertua di dunia, mana yang lebih dulu, ayam, atau telur?

    Melalui komputer super, tim dari Universitas Sheffield dan Warwick, Inggris  menemukan jawabannya. Apakah itu? Ayam.

    Kepada laman Harian The Sun, ketua tim peneliti menjelaskan bagaimana mereka berhasil memecahkan teka-teki tersebut.

    “Apa yang kami temukan adalah ‘kecelakaan’ yang menyenangkan. Awalnya, tujuan penelitian kami adalah menemukan bagaimana binatang membuat cangkang telur.”

    Menurutnya,  selama ini, masyarakat telah menganggap remeh ayam. Kami tidak menyadari proses luar biasa yang ditunjukan para ayam dalam proses pembuatan telur.

    “Sadarkah Anda, ketika memecahkan kulit telur rebus di pagi hari, Anda sedang menyaksikan salah satu material luar biasa di dunia.”

    Cangkang telur memiliki kekuatan sangat luar biasa, meski beratnya sangat ringan. Manusia tak bisa membuat benda seperti itu, bahkan yang mendekatinya.

    “Masalahnya, kita tak tahu bagaimana ayam membuat cangkangnya.”

    Tim peneliti lalu menggunakan komputer super milik Dewan Riset Sains Inggris (UK Science Research Council) yang berbasis di Edinburgh. Komputer itu dinamakan HECToR (High End Computing Terascale Resource).

    “Kami ingin menelusuri bagaimana telur terbentuk, dengan melihat proses detail telur secara mikroskopis.”

    Yang pertama dicari adalah, mengetahui ‘resep’ yang digunakan ayam untuk membuat cangkang telur.

    “Dengan bantuan komputer canggih, Kami memecahkan masalah ini selama berminggu-minggu. Sementara, ayam bisa menyusun cangkang itu hanya dalam semalam.”

    Lucunya, pemilihan cangkang telur ayam sebagai fokus penelitian benar-benar tak disengaja. Para peneliti memilih telur ayam karena proteinnya sederhana untuk ditelaah.

    Namun hasilnya ternyata sangat mengejutkan. “Kami memecahkan teka-teki sepanjang masa. Ini mengagumkan.”

    Hasilnya, ditemukan protein khusus yang ada di tubuh ayam. Protein itu adalah adalah ‘tukang bangunan’ tanpa lelah, menyusun bagian-bagian cangkang mikroskopis membentuk cangkang telur.

    Protein itu menginisiasi proses pembentukan cangkang sebelum menyusun bagian telur yang lain.

    Tanpa protein pembangun tersebut, telur tak mungkin terbentuk. Dan, protein itu hanya ditemukan di rahim ayam. “Itu berati ayam ada duluan sebelum telur.”

    Tapi, dari mana ayam berasal?

    Beberapa teori mengatakan, nenek moyang ayam menciptakan telur zaman Dinosaurus.

    “Penemuan kami sangat potensial. Sebab, cangkang telur dibentuk dari banyak kristal kecil. Kita bisa menggunakan informasi ini untuk mengetahui cara membuat dan menghancurkan struktur kristal lainnya.”

    Sebagai contoh, untuk menghilangkan kerak di ceret maupun pipa.  Penelitian ini juga berimplikasi medis.

    “Karena tubuh kita menggunakan metode yang sama untuk membuat gigi dan tulang, kita  bisa belajar lebih banyak tentang bagaimana membangun kembali tulang manusia.” (adi)

    ***

    http://id.news.yahoo.com/viva/20100715/twl-mana-duluan-ayam-atau-telur-ini-jawa-cfafc46.html

     
    • ahmad syahid 9:20 am on 20 Desember 2010 Permalink

      terima kasih infox, tetap memberikan infox sebagai amal jariyah. amin

    • hilmi 9:45 am on 20 Desember 2010 Permalink

      wah, terimah kasih mas, setiap hari selalu ada info yang menarik. sukses terus

    • donyarisandy 1:24 am on 21 Desember 2010 Permalink

      Kok masih agak ‘ngambang’ ya? ada kalimat ini

      Tapi, dari mana ayam berasal?

      Beberapa teori mengatakan, nenek moyang ayam menciptakan telur zaman Dinosaurus.

      Jadi ayamnya dari mana? Langsung ‘lahir’? Menetas dari telur zaman dinosaurus? Berarti duluan telur dong, meskipun ayam yang dimaksud adalah ayam jaman prasejarah.

      Ah, bingung ah

    • juno 9:09 pm on 28 Mei 2011 Permalink

      ijin share gan

    • Burchfield 4:50 am on 21 Mei 2013 Permalink

      Hi there to all, how is the whole thing, I think every one
      is getting more from this web page, and your
      views are nice designed for new users.

  • erva kurniawan 1:48 am on 17 December 2010 Permalink | Balas  

    Abu Amru Abdurrahman Al-Auza’i Syaikhul Islam 

    Abu Amru Abdurrahman Al-Auza’i Syaikhul Islam, Seorang Ulama dari Syam

    Siapakah al-Auza’i? dan Bagaimana Nasabnya?

    Beliau adalah Abu Amru Abdurrahman bin Amru bin Muhammad al-Auza’i ad-Dimasyqi, beliau adalah ulama dari Syam yang kemudian berpindah ke ke Beirut sampai wafatnya, yang mendapat julukan Syaikhul Islam.

    Beliau lahir tatkala sebagian para sahabat Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam masih hidup. Al-Auza’i merupakan nisbat kepada sebuah desa yang terkenal di kota Hamadan, Damsyiq yang bernama Al-Auza’. Beliau lahir pada tahun 88 H, dikenal sebagai orang yang baik, utama, memiliki banyak ilmu, baik dalam bidang hadits maupun fikih, dan ucapan beliau dipakai sebagai hujah.

    Bagaimana Masa Mudanya?

    Al-Abbas bin al-Walid bercerita bahwa guru-gurunya berkata, bahwa al-Auza’i bercerita, “Ayahku meninggal ketika aku masih kecil. Pada suatu hari aku bermain-main dengan anak-anak sebayaku, maka lewatlah seseorang (dikenal sebagai seorang syaikh yang mulia dari Arab), lalu anak-anak lari ketika melihatnya, sedangkan aku tetap di tempat. Lantas Syaikh tersebut bertanya kepadaku, “Kamu anak siapa?”; maka saya menjawabnya. Kemudian dia berkata lagi, “Wahai anak saudaraku, semoga Allah merahmati ayahmu.” Lalu dia mengajakku kerumahnya, dan tinggal bersamanya sehingga aku baligh. Dia mengikutsertakan aku dalam dewan (kantor/mahkamah pengadilan) untuk bermusyawarah dan juga ketika pergi bersama rombongan ke Yamamah. Tatkala aku sampai di Yamamah, aku masuk ke dalam masjid jami’. Pada waktu keluar masjid ada seorang temanku berkata kepadaku, “Saya melihat Yahya bin Abi Katsir (salah seorang ulama Yamamah) kagum kepadamu; dan dia mengatakan, ‘Tidaklah saya melihat di antara para utusan itu ada yang lebih mendapatkan petunjuk daripada pemuda itu!’” Al-Auza’i berkata, “Kemudian aku bermajelis dengannya dan menulis ilmu darinya hingga 14 atau 13 buku, kemudian terbakar semuanya.” Beliau adalah orang yang pertama kali menulis buku ilmu di Syam.

    Beliau adalah orang yang menghidupkan malamnya dengan shalat lail, membaca al-Qur’an dan menangis. Bahkan sebagian penduduk kota Beirut bercerita bahwa pada suatu hari ibunya memasuki rumah al-Auza’i dan memasuki kamar shalatnya, maka dia mendapati tempat shalatnya basah karena air mata tangisan malam harinya.

    Siapa Guru-Gurunya ?

    Beliau banyak belajar kepada para tabi’in (yaitu orang-orang yang menuntut/menerima ilmu langsung dari para sahabat Rasululloh). Di antaranya adalah: Atha’ bin abi Rabbaah, Abu Ja’far al-Baaqir, Qatadah, Bilal bin Sa’ad, Az-Zuhri, Yahya bin Abu Katsir, Ismail bin Ubaidillah bin Abul Muhajir, Muth’im bin al-Miqdam, Umar bin Hani’, Muhammad bin Ibrahim, Salim bin Abdulloh, Syadad abu Ammar, Ikrimah bin Khalid, ‘Alqomah bin Martsad, Muhammad bin Sirin, Mauimun bin Mihran, Nafi’ maula Ibnu Umar, dan masih banyak lagi dari para Tabi’in dan yang lainnya.

    Al-Abbas anak dari al-Waliid bercerita, “Tidaklah saya mengetahui keheranan ayahku terhadap sesuatu di dunia ini, sebagaimana keheranannya terhadap al-Auza’i. Dahulu al-Auza’i adalah anak yatim lagi miskin yang berada dalam pengasuhan ibunya. Beliau sering berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lainnya. ‘Wahai anakku,’ –lanjut ayahnya– raja-raja tidak mampu menjadikan dirinya orang yang beradab dan tidak juga anak-anaknya; sedangkan al-Auza’i melatih dirinya untuk beradab. Tidaklah satu kalimat yang didengar darinya melainkan dijadikan hujah bagi orang yang mendengarnya untuk menetapkan sesuatu darinya; dan apabila menasehati manusia tentang hari kiamat, –maka aku berkata pada diriku sendiri–, ‘Apakah engkau tidak melihat di dalam majelisnya hati yang tidak menangis?”

    Siapakah Murid-Muridnya?

    Amat banyak penuntut ilmu yang belajar kepada beliau. Di antara murid-murid yang meriwayatkan dari beliau, Ibnu Syihab Az-Zuhri, Syu’bah, Sufyan ats-Tsauri, Yunus bin Yazid, Malik, Ibnul Mubarok, Abu Ishaq al-Fazari, Yahya al-Qadhi, Yahya Al-Qaththan, Muhammad bin Katsir, Muhammad bin Syu’aib dan masih banyak lagi.

    Bagaiman Perkataan Para Ulama Tentang al-Auza’i?

    Ummayyah berkata, “Sungguh telah terkumpul pada diri al-Auza’i sebagai ahli ibadah, berilmu dan perkataan yang benar.”

    Imam Malik berkata, “Al-Auza’i adalah seorang imam yang diikuti”. Dan tatkala ats-Tsauri dan al-Auza’i keluar dari majelis; Imam Malik berkata, “Salah satu dari keduanya itu lebih banyak ilmunya dari temannya. Dan salah seorang dari keduanya tidak pantas menjadi Imam dan satunya lagi pantas menjadi Imam (maksudnya al-Auza’i).”

    Ibnul Mubarok berkata, “Kalau saya disuruh memilih pemimpin untuk umat ini, maka saya akan memilih Sufyan ats-Tsauri dan al-Auza’i. Dan jika disuruh memilih di antara keduanya, maka saya akan memilih al-Auza’i karena dia lebih lembut.” Hal seperti ini juga dikatakan Abu Usamah.

    Abdurrahman bin Mahdi berkata, “Manusia pada zaman mereka merujuk kepada empat orang: Hamad bin Zaid di Bashrah, Sufyan ats-Tsauri di Kufah, Imam Malik di Hijaz dan al-Auza’i di Syam.

    Imam Syafi’i berkata, “Tidaklah saya melihat seorang laki-laki yang ilmu fiqihnya sebagaimana ilmu haditsnya daripada al-Auza’i”. Sekretaris al-Manshur berkata, “Tatkala al-Manshur diberi kitab-kitab karya al-Auza’i maka kami kagum terhadap kitab-kitabnya. Al-Manshur tidak sanggup menyalin sendiri kitab-kitab al-Auza’i, Karenanya disalinkan untuknya beberapa buku, kemudian diberikan kepadanya. Maka dia banyak memperhatikan isinya dan memuji kebagusan ungkapan-ungkapan yang digunakan Al-Auza’i.”

    Al-Walid bin Muslim bercerita, “Saya bersemangat sekali mendengarkan ilmu dari al-Auza’i. Sehingga aku bermimpi bertemu dengan Rasulullah dan al-Auza’i berada di sampingnya. Kemudian aku bertanya kepada Rasulullah, “Kepada siapa aku harus mengambil ilmu?” Kemudian Rasululloh menjawab, “Kepada lelaki ini” sambil menunjuk ke arah al-Auza’i. Dan tidaklah aku melihat seseorang yang lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah dari al-Auza’i.

    Bagaimana Pengajaran al-Auza’i?

    Abu Ishaq al-Fazari meriwayatkan dari al-Auza’i, ada 5 perkara yang para sahabat konsisten di dalamnya, yaitu senantiasa berjamaah (tidak berpecah belah), mengikuti sunnah, memakmurkan masjid, membaca al-Qur’an dan berjihad fi sabilillah.”

    Bisyr bin Bakar bertanya kepada al-Auza’i, “Wahai Abu Amru (kunyah dari al-Auza’i), seorang lelaki mendengarkan hadits dari Nabi yang terdapat kesalahan di dalamnya, apakah harus membenarkan dengan bahasa Arab?” Beliau menjawab, “Ya, karena Rasulullah tidaklah berbicara kecuali dengan bahasa Arab. Dan tidak mengapa memperbaiki kekeliruan dan kesalahan dalam hadits”.

    Al-Auza’i ditanya perihal khusyu’ di dalam shalat, beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, merendahkan diri di hadapan Alloh, melunakkan hati yaitu takut kepada Allah”.

    Al-Auza’i berkata, “Barangsiapa yang lebih banyak mengingat kematian maka kehidupan cukup mudah baginya (mencari bekal dengan beramal shalih). Dan barangsiapa berucap dengan ilmunya maka dia akan sedikit bicara.” Al-Auza’i berkata, “Barangsiapa yang lama dalam shalat malam, maka Allah akan memudahkan urusannya dan menaunginya pada hari kiamat”.

    Muhammad bin al-Auza’i berkata, ayahku menasehatiku, “Wahai anakku, seandainya kita menerima setiap yang dikatakan manusia, maka hampir-hampir mereka itu menghinakan kita”.

    Al-Walid mendengar al-Auza’i berkata, “Wajib atasmu untuk berpegang teguh dengan atsar (teladan) para salaf meskipun manusia menjauhimu. Dan jauhilah kebanyakan pendapat orang-orang meskipun mereka menghiasinya dengan perkataan yang indah. Sesungguhnya perkara yang benar itu akan nampak/jelas dan kamu berada di dalam jalan yang lurus.”

    Al-Auza’i memberi nasehat kepada Baqiyah bin al-Walid, “Wahai Baqiyah, janganlah kamu menyebut/membicarakan salah seorang dari sahabat Nabi kecuali kabaikannya. Wahai Baqiyah, ilmu itu apa-apa yang datang dari sahabat Nabi, maka yang datang dari selain mereka bukan merupakan ilmu”. Dan berkata, “Tidak akan terkumpul kecintaan Ali dan Utsman kecuali hanya pada diri seorang Mu’min.”

    Muhammad bin Katsir mendengar al-Auza’i berkata, “Kami – dan para tabi’in – berkata, ‘Sesungguhnya Allah itu berada di atas Arsy-Nya, kita beriman sebagaimana berita tersebut datang dalam sunnah tentang sifat-sifat-Nya’”.

    Al-Walid bin Mazid mendengar al-Auza’i berkata, “Apabila Allah menghendaki suatu kaum kejelekan, maka Allah akan membukakan baginya pintu berdebat dan enggan untuk beramal.” Dan juga berkata, “Sesungguhnya orang Mu’min itu sedikit bicara banyak beramal dan orang munafiq itu banyak bicara dan sedikit beramal.”

    Abdullah bin Ali adalah raja yang zalim, banyak menumpahkan darah, keras kepala, meskipun demikian, Imam al-Auza’i tetap berani dalam menyampaikan kebenaran sebagaimana yang kalian saksikan. Tidak sebagaimana akhlaq para ulama jahat yang menganggap baik sesuatu perkara di hadapan pimpinannya meskipun perkara tersebut kezaliman dan sia-sia, mereka membalik yang batil menjadi haq –- semoga Allah membinasakan mereka-– atau mereka diam (terhadap kemungkaran) meskipun sebenarnya mampu menyampaikan kebenaran.

    Al-Manshur meminta al-Auza’i menuliskan nasehat untuknya. Maka beliau menulis, “Ammaa ba’du, wajib atasmu untuk bertaqwa kepada Allah, bertawadhu’lah maka Allah akan mengangkatmu pada hari di mana Allah akan merendahkan orang-orang yang sombong di dunia tanpa haq…”

    Muhammad bin Syu’aib mendengar Al-Auza’i berkata, “Barang siapa memanfaatkan ketergelinciran ulama, maka dia akan keluar dari agama Islam.” Al-Auza’i berkata, “Tidaklah seseorang membuat bid’ah melainkan akan hilang kewara’annya.” [Wara’ adalah menjaga diri dari hal-hal yang dilarang dan sia-sia.]

    Ibnu Mazid mendengar al-Auza’i berkata, “Celakalah orang yang belajar dan faham agama Islam tanpa amal ibadah, dan celaka pula orang yang menghalalkan keharaman dengan syubhat-syubhat (kerancuan-kerancuan).” Muhammad bin Abdul Wahab bercerita, “Saya dan teman-teman sedang bersama Abu Ishaq al-Fazari. Lalu ada seseorang menyebut-nyebut tentang al-Auza’i. Maka beliau berkata, ‘Dia adalah seorang lelaki yang sungguh ajaib keadaannya. Jika ditanya tentang suatu perkara yang di sana ada atsar (ungkapan dan pendapat para sahabat dan dua generasi sesudahnya), maka dia menjawab sebagaimana dalam atsar tersebut. Dia tidak mendahului atsar tersebut dan tidak pula mengeyampingkannya.’”

    Al-Auza’i ditanya tentang pakaian berwarna hitam, maka beliau menjawab, “Janganlah dipakai untuk berihram, jangan pula untuk mengkafani mayit, dan jangan dipakai pada waktu pesta pernikahan.”

    Kapan Wafatnya?

    Muhammad bin Ubaid sedang bersama Sufyan ats-Tsauri ketika datang seorang laki-laki, dia berkata, “Saya bermimpi raihanah (tumbuhan berbau harum) yang berasal dari daerah Maghrib diangkat” Mendengar hal itu Sufyan ats-Tsauri menimpali, “Jika mimpimu benar maka sungguh al-Auza’i telah wafat.” Maka mereka menulis surat menanyakan hal itu, dan ternyata memang benar demikian.

    Sebab kematiannya, bahwa setelah beliau menyelesaikan pekerjaannya mengecat sesuatu dengan cat berwarna, kemudian masuk kamar mandi yang ada di rumahnya; sementara istrinya masuk bersamanya dengan membawa tabung yang berisi arang agar beliau tidak kedinginan di dalamnya. Istrinya menutup pintu kamar mandi tersebut. Ketika asap arang itu menyebar, beliau menjadi lemas. Beliau berusaha membuka pintu, tetapi tidak bisa. Kemudian beliau terjatuh, dan kami menemukannya dalam keadaan tangan menghitam dan menghadap ke arah kiblat.

    Abu Mushir berkata tentang kematian al-Auza’i, bahwa ketika dia berada di kamar mandi, istrinya menutup pintu kamar mandi tersebut tanpa sengaja, sehingga hal itulah yang menjadi penyebab kematiannya. Karenanya Sa’id bin Abdul Aziz memerintahkan istri al-Auza’i untuk membebaskan seorang budak.

    Al-Auza’i tidak meninggalkan harta warisan melainkan uang sebanyak 6 dinar. Beliau meninggal pada tahun 153 H, dan kebanyakan ulama berkata bahwa beliau meninggal pada tahun 157 H di bulan Shafar.

    ***

    Diambil dari majalah Fatawa.

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 16 December 2010 Permalink | Balas  

    Kenapa Anak Selalu Bertanya ‘Mengapa’? 

    Kenapa Anak Selalu Bertanya ‘Mengapa’?

    Vera Farah Bararah – detikHealth (Senin, 21/06/2010 14:00 WIB)

    ***

    Jakarta, Setiap orangtua pasti mendapati anaknya yang selalu bertanya ‘Mengapa’ setiap kali menemukan sesuatu yang baru. Yang terkadang mengharuskan orangtua bersabar dan menjawab dengan bijak. Kenapa anak-anak selalu bertanya ‘Mengapa’?

    Kondisi ini adalah salah satu tahapan yang hampir pasti dilalui oleh semua anak-anak, saking seringnya bertanya orangtua terkadang kewalahan atau bahkan emosi sambil berkata ‘Jangan nanya terus’.

    Tentu saja hal tersebut bukanlah solusi yang baik karena bisa membuat anak menjadi takut untuk bertanya kembali. Jika anak penasaran, maka tak jarang ia akan mencari jawabannya sendiri sehingga anak bisa saja mendapatkan jawaban yang salah.

    Seperti dikutip dari WashingtonPost, Senin (21/6/2010) sebuah tim peneliti dari University of Hawaii dan University of Michigan menemukan penyebab anak-anak lebih suka bertanya ‘Mengapa’ adalah sebagai sarana untuk mendapatkan informasi mengenai dunia ini.

    Hasil penelitian ini juga menunjukkan ketika anak-anak mendapatkan informasi yang jelas atau sesuai dengan keingintahuannya, maka anak akan lebih cepat berhenti bertanya atau menghentikan interogasinya.

    Untuk menghentikan ‘siklus mengapa’, maka orangtua harus mencari tahu jawaban seperti apa yang diinginkan atau bisa memuaskan si kecil. Orangtua sebaiknya tidak memarahi atau menjawab sembarangan pertanyaan si kecil.

    Jika memang orangtua tidak tahu jawabannya, maka jawablah dengan jujur dan berusaha mencaritahu jawabannya karena suatu saat anak akan bertanya kembali.

    Sementara itu Leon Hoffman, MD, direktur dari Pacella Parent Child Center di New York Psychoanalytic Society & Institute menuturkan kemungkinan penyebab anak-anak ini suka bertanya mengapa adalah untuk:

    1. Memahami kata-kata.

    Anak-anak yang berusia antara 1-2 tahun adalah masanya untuk belajar berbicara, sehingga anak-anak ini seringkali mengulangi pertanyaan atau bertanya mengapa untuk mendapatkan kejelasan dari setiap kata yang didengar atau diucapkannya.

    2. Membangun memori.

    Terkadang diperlukan waktu beberapa saat bagi anak yang sedang berkembang untuk menyimpan informasi baru di dalam pikirannya. Mendengar orangtua yang dipercayainya memberikan jawaban bisa membantu mendorong anak untuk memahami konsep kata baru.

    3. Menemukan kenyamanan.

    Sejak balita, anak-anak biasanya menemukan kenyamanan dalam hal pengulangan dan mengajukan pertanyaan yang sama kembali sebagai salah satu cara untuk meminta dukungan emosional.

    Dr Hoffman menyarankan agar orangtua meluangkan waktu untuk menjawab sesering mungkin pertanyaan dari anak. Karena anak hanya ingin mencari tahu sesuatu hal yang baru dan masa ini pasti akan berlalu dengan sendirinya. (ver/ir)

    ***

    http://health.detik.com/read/2010/06/21/140017/1382774/764/kenapa-anak-selalu-bertanya-mengapa?l993306763

     
    • hilmi 10:27 am on 16 Desember 2010 Permalink

      postingan yang bermanfaat. Sukses terus mas.

  • erva kurniawan 1:03 am on 15 December 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kisah Hajar Aswad 

    Ibrahim as diperintahkan Allah Swt membangun kembali Ka’bah. Ia memenuhi perintah itu dibantu putranya, Isma’il as. Saat hampir selesai mengerjakannya, Ibrahim as merasa ada yang kurang pada Ka’bah. Kemudian ia memerintahkan putranya, “Pergilah engkau mencari sebuah batu lagi yang akan aku letakkan di Ka’bah sebagai penanda bagi manusia.”

    Isma’il as mematuhi perintah ayahnya. Ia pergi dari satu bukit ke bukit lain untuk mencari batu yang paling baik. Ketika sedang mencari, malaikat Jibril datang pada Isma’il as dan memberinya sebuah batu yang cantik. Dengan senang hati ia menerima batu itu dan segera membawa batu itu untuk diberikan pada ayahnya. Ibrahim as pun gembira dan mencium batu itu beberapa kali.

    Kemudian Ibrahim as bertanya pada putranya, “Dari mana kamu peroleh batu ini?” Isma’il as menjawab, “Batu ini aku dapat dari yang tidak memberatkan cucuku dan cucumu.” Ibrahim as mencium batu itu lagi dan diikuti juga oleh Isma’il as.

    Begitulah, sampai saat ini banyak yang berharap bisa mencium batu yang dinamai Hajar Aswad itu. Umar bin Khathab pernah menyambaikan bahwa Rasulullah Saw sendiri pernah menciumnya. Saat Umar bin Khaththab berada di hadapan Hajar Aswad dan menciumnya ia berkata, “Demi Allah, aku tahu bahwa engkau hanyalah sebongkah batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah Saw menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.” (Hadits no 228 Kitab Sahih Muslim).

    Karena sangat bersejarahnya, ada juga orang yang ingin mencuri Hajar Aswad. Di akhir bulan Muharram 1351 H, datanglah seorang laki-laki ke Ka’bah. Ia mencungkil Hajar Aswad, mencuri potongan kain Kiswah, dan membawa sepotong perak dari tangga Ka’bah. Untunglah, penjaga masjid mengetahuinya, laki-laki itu pun ditangkap dan dihukum. Tanggal 28 Rabi’ul Akhir tahun yang sama, dilakukan penempelan kembali bongkahan batu itu ke tempat asalnya.

    Sebelumnya perekatan itu, dilakukan penelitian oleh para ahli mengenai bahan perekat yang digunakan. Akhirnya ditemukan perekat berupa bahan kimia yang dicampur dengan minyak misik dan ambar. (imam)

    ***

    ramadan.detik.com/read/2010/08/27/093602/1429109/985/kisah-hajar-aswad

     
  • erva kurniawan 1:02 am on 14 December 2010 Permalink | Balas  

    Puasa Muharram 

    Puasa Muharram

    Ulama Ahlussunnah sepakat bahwa pada hari 10 Muharram disyari’atkan untuk berpuasa. Ibnu Abbas mencerita-kan : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, lalu beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura’ (tanggal 10 Muharram), maka beliau bertanya: “Hari apakah ini?”

    Mereka menjawab: “Ini adalah hari yang baik. Ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, maka Musa shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari itu karena syukur kepada Allah. Dan kami berpuasa pada hari itu untuk mengagungkannya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    “Aku lebih berhak atas Musa daripada kalian”, maka Nabi berpuasa Asyura’ dan memerintah-kan puasanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

    Harus Menyalahi Ahli Kitab

    Para sahabat berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “Ya Rasulullah, sesungguhnya Asyura’ itu hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tahun depan insya Allah kita akan puasa (juga) pada hari yang kesembilan.” (HR. Muslim (1134) dari Ibnu Abbas).

    Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas dari jalur lain, sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “Berpuasalah pada hari Asyura’ dan selisihilah orang-orang Yahudi itu, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.” (Fathul Bari, 4/245).

    Keutamaan Asyura’

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa Asyura’, maka beliau menjawab: “Ia menghapuskan dosa tahun yang lalu.” (HR. Muslim (1162), Ahmad 5/296, 297).

    Karena itu, pantas jika Ibnu Abbas menyatakan : “Saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada suatu hari karena ingin mengejar keutamaannya selain hari ini (Asyura’) dan tidak pada suatu bulan selain bulan ini (maksudnya: Ramadhan).” (HR. Al-Bukhari (2006), Muslim (1132)).

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah bulan Allah yang bernama Muharram.” (HR.Muslim,1163).

    Wallahu’alam bish showab

    Catatan :

    Insya Allohu Ta’ala tanggal 9 Muharram 1432H adalah hari RABU (15-12-2010). Jadi kalau ada yang mau puasa sunnah, silahkan mempersiapkan diri.

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 13 December 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Air Mata dan Cinta 

    Cinta membuat apa yang dicintai itu benar-benar masuk ke dalam lubuk hati. Bicara tentang lubuk hati, apalagi yang terdalam, pasti berkaitan dengan yang namanya kelembutan. Hati itu lembut sekali. Kalau sudah begini, cinta itu dekat dengan yang namanya air mata, dan akhirnya menangis. Makanya, orang yang sedang jatuh cinta, akan mudah menangis kalau mengingat sama yang dicintainya, benar bukan?

    Bicara mengenai menangis ada 2 cerita jaman dulu.

    Cerita pertama. Dulu, ada negeri kafir yang akan menyerang negeri Islam. Ketua kafir itu mengatur siasat. Sebelum menyerang, diselidiki dulu negeri Islam itu. Akhirnya, sang ketua mengutus seorang mata-mata ke negeri Islam tersebut. Si mata-mata menyamar menjadi orang Islam. Selanjutnya dia masuk ke negeri Islam itu. Penampilannya Islam, dengan janggut dan pernak pernik yang Islami.

    Tiba-tiba dia bertemu dengan seorang anak muda yang sedang menangis di pojok dinding. Penasaran dengan hal tersebut, si mata-mata tadi mendekati anak muda itu. Dia bertanya, “Kenapa kamu nangis?” Jawab anak muda tadi, “Aku menangis karena tadi aku ketinggalan shalat berjama’ah di masjid.” Kagetlah si mata-mata itu. Lalu dia balik ke negerinya dan melapor kepada sang ketua. Dia menceritakan apa yang diliatnya di negeri Islam. Lalu sang ketua berkata, “OK, kita jangan menyerang Islam dulu. Tunggu kalau saatnya sudah tepat.”

    Cerita kedua. Ini kelanjutan dari cerita pertama. Beberapa tahun kemudian, kembali diutuslah si mata-mata tadi untuk mengintai negeri Islam. kemudian, si mata-mata menyamar lagi menjadi orang Islam. Kejadian berikutnya sama dengan cerita yang pertama. Dia bertemu dengan anak muda yang sedang duduk menangis. Si mata-mata mendekati anak muda tersebut dan bertanya, “Kenapa kamu nangis anak muda?” Jawab si anak muda, ” Aku menangis karena baru saja ditinggal kekasihku?” mendengar jawaban anak muda tersebut, si mata-mata kembali ke negerinya dan melapor kepada sang ketua tentang apa yang diliatnya di negeri Islam. Lalu, sang ketua berkata, “OK, saatnya kita serang mereka!”

    Akhirnya, negeri kafir kemudian menyerang negeri Islam tadi, dan apa yang terjadi? Hancur-lebur dan luluh-lantaklah negeri Islam. Masya Allah.

    Kenapa bisa seperti ini? Ketua kafir melihat bahwa pada cerita yang pertama, pemuda-pemuda Islam-nya sholeh-sholeh. Mereka cinta sama Allah. Sampai-sampai mereka sedih dan nangis lantaran ketinggalan shalat berjama’ah di masjid. Jadi, kalau negeri kafir menyerang saat itu, pasti orang kafir akan kalah.

    Selanjutnya, setelah beberapa tahun, ada yang berubah di negeri Islam tersebut. Anak-anak mudanya sudah tidak sholeh (atau mungkin kurang sholeh). Ini bisa dilihat si mata-mata bertemu dengan anak muda Islam yang menangis karena ditinggal pacarnya. Pasti, hari-harinya akan dihabisin untuk sang kekasihnya, untuk menemani, untuk memikirkan, dan untuk yang lain. Kenapa waktunya tidak dihabiskan untuk Allah dan Islam? Ini pertanda kalau negeri Islam tadi sudah lemah. Inilah saatnya negeri kafir tersebut menyerang negeri Islam. Begitulah sobat, generasi yang pertama menangis mengeluarkan air mata karena cintanya kepada Allah. Generasi yang kedua menangis mengeluarkan air mata karena cinta kepada pacarnya.

    Nah Sobat, air mata kita termasuk yang mana? Kalau kita menangis gara-gara siapa?? Semoga air mata dan tangis kita hanya karena Allah!

    ***

    Oleh: Aulia Agus Iswar

     
    • hilmi 9:15 am on 13 Desember 2010 Permalink

      alhamdulillah, dapat menjadi penyemangat dalam mencari ridho Allah SWT.

    • Ermila 8:26 am on 14 Desember 2010 Permalink

      Amiiin,…mdh2an sejak saat ini air mata yg keluar hanya untuk Allah..

    • sastra jendra 12:00 am on 27 Februari 2012 Permalink

      semoga :)

  • erva kurniawan 1:52 am on 12 December 2010 Permalink | Balas
    Tags: budaya ngaret   

    Bangsa Berbudaya dan Budaya ‘Ngaret’ 

    Bangsa kita adalah bangsa yang berbudaya. Ya. Budaya kesenian tradisional banyak sekali berasal dari berbagai suku di negara kita. Tapi, ada sebuah budaya yang tidak berasal dari suku apa-apa, yang berasal dari diri kita sendiri yaitu: budaya terlambat, alias ngaret.

    Mari dipikirkan lebih jauh lagi.

    Apakah  ngaret adalah suatu budaya yang bisa kita banggakan dan apa akibatnya jika kebiasaan ini dipelihara? Apakah budaya terlambat sebuah bangsa menentukan cepat/lambatnya kesuksesan sebuah bangsa? Apakah keterlembatan seseorang mempengaruhi cepat/lambatnya kesuksesan seseorang? Lalu apakah budaya ngaret ini berkaitan dengan bagaimana seseorang menghargai hidupnya? Apakah budaya ngaret ini juga berkaitan dengan bagaimana seseorang menghargai  waktu orang lain? Dan apakah budaya ngaret ini berkaitan dengan bagaimana cara berpikir seseorang memandang dan menjalani seluruh aspek hidupnya?

    Silahkan Anda pikirkan sendiri.

    Istilah ‘ngaret’ tampak sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Namun kenyataannya hal tersebut tetap merugikan kita semua. Herannya masih ada saja di antara kita yang punya hobby ngaret. Dari berbagai level sosial, ekonomi dan pendidikan, ngaret sudah menjadi sebuah penyakit yang tampak  disukai  namun juga dibenci.

    Apa sih yang menyebabkan seseorang itu terlambat alias ‘ngaret’?

    1. Rumah jauh dari lokasi yang dituju
    2. Macet
    3. Kendaraan rusak
    4. Kondisi darurat yang mendadak dari pihak keluarga/teman
    5. Sakit
    6. Antrian di POM bensin panjang dan lama
    7. Tugas yang mustinya sudah terpenuhi tapi belum selesai
    8. Ada perbaikan jalan
    9. Di tengah jalan ada yang tabrakan
    10. Ada pohon tumbang
    11. Begadang, bangun kesiangan
    12. Lupa pasang weker
    13. Ada pejabat lewat
    14. Hujan dan banjir
    15. Kendaraan umum yang ditumpangi mogok, rusak, jalannya lambat
    16. Janji sebelumnya terlambat jadi kita ikut terlambat
    17. …. silakan isi sendiri.

    Luar biasa banyak yang bisa kita persalahkan. Daftar di atas akan berkelanjutan, sampai pada akhirnya kita menyalahkan pemerintah atas kurangnya jumlah jalanan. OK. Kalau itu sudah di luar kuasa kita. Banyak hal di luar kuasa kita. Namun BANYAK hal juga terjadi atas kuasa kita. Pada dasarnya dalam kehidupan akan selalu ada 2 kemungkinan: hal yang di luar kuasa kita dan hal yang merupakan kuasa kita. Semakin jauh seseorang meningkatkan kualitas dalam dirinya, semakin banyak kemampuannya untuk bertindak dalam menghadapi suatu keadaan. Mari kita bahas, APA sih aspek yang harus kita mengerti terlebih dahulu supaya kita BISA melakukan tindakan untuk mencegah hobby  terlambat atau ngaret dalam memenuhi sebuah janji ?

    1. Mempunyai kemauan untuk mengetahui apa yang menyebabkan diri kita terlambat

    Hey jangan-jangan selama ini memang kita cuek-cuek saja dan memang tidak ada kemauan untuk mengetahui apa yang menyebabkan diri kita terlambat. Kalau sudah tidak ada kesadaran dan kemauan untuk bisa memenuhi janji tepat waktu ya gak heran kalau kita memang gak punya kemauan untuk mengetahui apa yang membuat diri kita terlambat.

    Tapi, jika diri kita memang ada kemauan untuk tepat waktu,  dan ada kemauan untuk mengetahui apa yang menyebabkan diri kita terlambat atau ngaret, kita bisa mulai melakukan tindakan, dengan evaluasi dan introspeksi.

    2. Meningkatkan kesadaran tentang rentang waktu dan kemampuan mengatur waktu

    Pernah ketemu orang yang bilang akan sampai di tempat Anda 5 menit lagi tapi baru sampai 20 menit kemudian? Atau pernahkah Anda janji ke sahabat Anda akan bertemu 5 menit lagi tapi ternyata baru bertemu 25 menit kemudian? Jangan-jangan, ternyata Anda memang tidak sadar bedanya 5 menit dan 25 menit! Atau jangan-jangan orang yang pernah janji ketemu Anda dalam waktu 5 menit, tidak bisa membedakan antara 5 menit dan 25 menit.

    Kadang kita punya hobi menyangkal. Yang ada di kepala kita, kita BERHARAP bahwa hal tersebut bisa dilakukan dalam 5 menit. Harapan tersebut begitu besarnya hingga kita tidak merasakan yang kita sebut 5 menit itu ternyata 25 menit. Sounds familiar? Ini terjadi seringkali kepada siapapun.

    Percobaan 1: Coba tanyakan kepada diri Anda, berapa lama Anda mandi di pagi hari. Catat di sebuah kertas. Misalnya 5 menit. Lalu saat Anda mau mandi lihat jam Anda, ingatlah jam berapa Anda mulai mandi. Lalu saat Anda selesai mandi, lihat jam Anda, dan hitung jarak waktu dari mulai saat Anda mulai mandi hingga selesai. Lihatlah kembali kertas yang tadi Anda tulis, apakah lama waktunya yang Anda perkirakan sama dengan lama waktu mandi yang Anda baru lakukan?

    Mulai sekarang, latihlah kesadaran akan lamanya waktu seperti contoh di atas, dan kenalilah detail dari apa yang Anda kerjakan. Dengan SADAR akan berapa lamanya waktu berjalan, ini akan memperkuat kemampuan Anda untuk mengatur jadwal Anda. Manajemen waktu.

    3. Meningkatkan pengetahuan tentang aktivitas yang dijalankan

    Seringkali kita ternyata terlalu menyederhanakan proses kegiatan. Misalnya dari rumah ke kantor. Kita suka berpikir dari rumah masuk mobil lalu seperti naik mesin waktu tiba-tiba kita sudah ke kantor. Padahal sebetulnya ada urutannya secara kronologis

    • Mempersiapkan barang yang akan dibawa ke kantor
    • Sarapan
    • Memakai sepatu
    • Menuju garasi, memanaskan mobil
    • Keluar pagar harus menutup pagar terlebih dahulu
    • Di jalan harus beli bensin dulu
    • Masuk pagar gedung kantor harus mencari parkir terlebih dahulu
    • Dari parkiran harus jalan menuju lift
    • Di depan lift harus menunggu dahulu

    Nah, kita sering melupakan detail-detail seperti ini. Kan kita gak sekonyong-konyongnya dari mobil di garasi lalu sudah tiba-tiba duduk di ruang kantor kita kan?

    Begitu pula dengan semua aktivitas kita lainnya, pada semua perkerjaan kita, pada dasarnya semua terjadi dari rangkaian beberapa kegiatan . Semakin kita mengenal detail dari kegiatan yang diperlukan untuk menuju suatu titik kegiatan lainnya, semakin cerdas kita bisa mengatur waktu untuk tepat waktu memenuhi sebuah jadwal.

    4. Mengerti skala prioritas

    Keterampilan dalam menyusun prioritas kegiatan atau tugas-tugas kita sangat mempengaruhi seseorang dalam mengatur waktunya.  Butuh pengertian dan kesadaran tentang seberapa besar pentingnya dan seperti apa situasi dari setiap tugas atau kegiatan kita, dalam mengetahui dalam urutan prioritas nomor berapa kita meletakan sebuah kegiatan atau tugas.

    5. Mempunyai rencana alternatif atau cadangan

    Mempunyai rencana alternatif atau cadangan bisa menyelamatkan diri kita dari keterlambatan. Misalnya kita ada jadwal meeting sementara waktu sudah mepet, namun di jalan kita berencana mengisi bensin. Saat mendekati POM bensin, ternyata antriannya panjang. Jalan alternatif yang bisa dilakukan adalah dengan mengisi bensin setelah meeting saat kembali ke kantor. Jadi kita tetap hadir meeting tepat waktu, namun tetap bisa memenuhi kebutuhan isi bensin kita setelahnya.

    Hal ini adalah contoh sederhana. Point yang ingin disampaikan disini adalah kemampuan kita mengolah dan memproses berbagai solusi alternatif dalam menghadapi sebuah situasi, membuat kemampuan kita untuk mengatur waktu semakin kuat.

    6. Kemampuan menghargai diri sendiri dan orang lain

    Kembali lagi yang menjadi dasar yaitu kesadaran kita dalam menghargai diri sendiri. Bagaimana kita memperlakukan waktu berkaitan dengan bagaimana kita menyikapi diri sendiri. Demikian juga bagaimana kita menyikapi diri sendiri akan memberikan impact terhadap bagaimana kita menyikapi orang lain. Bagaimana kita menghargai waktu orang lain, jadi berkaitan dengan bagaimana kita menghargai waktu diri kita. Kita tentu tidak suka jika seseorang ngaret dengan janjinya terhadap kita, demikian juga orang lain tidak suka jika kita ngaret saat berjanji dengan kita. Pengertian bahwa jika satu hal terlambat bisa berkelanjutan kepada keterlambatan-keterlambatan lainnya, itu berlaku pada diri kita maupun kepada orang lain.

    Kemampuan kita untuk mengerti tentang kehidupan berkaitan erat dengan konsep kita memandang waktu. Kemampuan bangsa kita untuk maju, berkaitan dengan konsep masyarakat dalam memberlakukan waktu.

    Keterlambatan mencegah terjadinya kesuksesan. Keterlambatan mencegah pertumbuhan. Keterlambatan bisa membuat kita kehilangan kesempatan untuk maju. Keterlambatan, bisa merugikan sejumlah investasi, kerja, dan tenaga yang sudah dikeluarkan untuk sebuah proyek atau sebuah tugas, sekecil apapun itu.

    Waktu itu berharga. Seberapa berharga waktu bagi seseorang, bergantung dari bagaimana seseorang menghargai kehidupan.

    Apakah kita sudah menjadi bangsa yang berbudaya menghargai waktu?

    Bagaimana seseorang menyikapi waktu adalah bagaimana seseorang menyikapi dirinya dan hidupnya. Bagaimana masyarakat menyikapi waktu adalah bagaimana masyarakat menyikapi diri serta kehidupan masyarakat tersebut. Bagaimana sebuah bangsa menyikapi waktu adalah bagaimana bangsa tersebut menyikapi kehidupan dalam bangsa tersebut.

     
  • erva kurniawan 1:59 am on 11 December 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kemuliaan Taat Kepada Ibu 

    Suatu saat Rasulullah Saw bercerita kepada para sahabat, “Sungguh, kelak ada orang yang termasuk tabi’in terbaik yang bernama Uwais. Dia memiliki seorang ibu, dan dia sangat berbakti kepadanya. Sehingga, kalau dia mau berdoa kepada Allah, pasti Allah akan mengabulkan doanya. Dia punya sedikit bekas penyakit kusta. Oleh karena itu, perintahkan dia untuk berdoa, niscaya dia akan memintakan ampun untuk kalian.” (HR Muslim).

    Bernama lengkap Uwais Al-Qarni, ia tinggal bersama ibunya di negeri Yaman. Setiap hari ia menggembalakan domba milik orang lain. Upah yang diterimanya cukup untuk biaya hidup bersama ibunya. Bila ada kelebihan dari upahnya itu terkadang ia berikan kepada tetangganya yang kekurangan.

    Ia termasuk orang yang taat beribadah, selalu menjalankan ajaran yang dibawa Rasulullah Saw. Ia punya suatu keinginan yang belum terlaksana sejak lama yaitu bertemu dengan Rasulullah Saw. Keinginan itu kian memuncak setiap kali melihat tetangganya yang baru pulang dari Madinah dan sempat bertemu Rasulullah Saw. Tetapi apa daya, ibunya sudah tua renta dan sangat lemah. Ia begitu menyayanginya sehingga tak tega meninggalkannya sendiri.

    Semakin hari kerinduan bertemu Rasulullah Saw bertumpuk. Ia sangat gelisah mengingat-ingat itu. Suatu hari kerinduannya tak tertahan lagi, ia memberanikan diri mengungkapkan perasaan itu kepada ibunya. Mendengar curahan hati anaknya, ibunya terharu, ia pun diijinkan menemui Rasulullah Saw.

    Namun kerinduan itu tak sempat terobati karena saat ia datang, Rasulullah Saw sedang tak berada di rumah. Ingin sekali ia menunggu, tetapi ia teringat pesan ibunya untuk segera pulang. Ia pun memilih taat ibunya dan segera berpamitan pada ‘Aisyah.

    Ketika Rasulullah Saw kembali, beliau menanyakan tentang seseorang yang mencarinya. ‘Aisyah menjelaskan kedatangan Uwais. Kemudian Rasulullah Saw mengatakan Uwais yang taat pada ibunya itu penghuni langit. Rasulullah Saw meneruskan keterangan tentang Uwais kepada para sahabat. Seraya memandang Ali dan beliau mengatakan, “Suatu ketika jika kalian bertemu dengan Uwais mintalah doa dan istighfar darinya.” (imam)

    ***

    ramadan.detik.com/read/2010/08/28/160402/1430145/985/kemuliaan-taat-kepada-ibu

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 10 December 2010 Permalink | Balas  

    Si Kembar Siam Luar Biasa yang Bertahan dengan Satu Otak 

    Si Kembar Siam Luar Biasa yang Bertahan dengan Satu Otak

    Merry Wahyuningsih – detikHealth (Sabtu, 19/06/2010 14:17 WIB)

    ***

    Vancouver, Kanada, Anak kembar yang terlahir normal akan memiliki dua tubuh dengan masing-masing organ. Tapi sepasang anak kembar siam yang luar biasa asal Vancouver, Kanda, harus berbagi satu otak untuk dapat melihat dunia.

    Tatiana dan Krista Hogan adalah kembar siam yang unik, kedua balita ini harus berbagi satu otak dan dapat tetap tumbuh hingga berusia tiga tahun.

    Kembar siam yang Tatiana dan Krista alami begitu rumit, sehingga tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Meskipun punya satu otak, keluarga mengatakan bahwa balita kembar siam tersebut memiliki kemampuan khusus yaitu koneksi neurologis (saraf). Hal ini membuatnya dapat melihat melalui mata masing-masing.

    Walaupun ini bukanlah kondisi yang normal dan tidak biasa, kedua balita usia tiga tahun ini selalu dikelilingi dengan kebahagiaan. Dan meskipun Tatiana dan Krista bergerak bersama, balita-balita tersebut tidaklah selalu sependapat dengan jalan yang akan dilalui, dan ini sering menjadi masalah.

    Kasus kembar siam yang luar biasa ini cukup mencengangkan bagi dunia kedokteran. “Menurut data, balita kembar ini adalah satu-satunya yang memiliki koneksi neurologis umum,” ujar Dr Doug Cochrane, seorang ahli saraf pediatrik kembar, seperti dilansir dari Dailymail, Sabtu (19/6/2010).

    Dr Cochrane mengungkap, thalami (bagian dari garis tengah struktur simetris dalam otak) pada kedua balita tersebut saling terhubung lewat sebuah koneksi saraf yang disebut thalamus, sehingga tidak mungkin dipisahkan.

    Adanya jembatan dari jaringan neural, benar-benar membuat kembar siam ini begitu unik. Felicia Hogan, ibu si balita kembar percaya bahwa koneksi saraf tersebut memberinya anak kembar yang menakjubkan.

    Tatiana, yang lebih kecil dari keduanya, memiliki hati yang lebih besar dan sebenarnya memompa banyak darah Krista ke otaknya.

    “Mereka berbagi banyak hal yang tidak mungkin dilakukan oleh anak kembar normal. Mereka memiliki kemampuan khusus untuk melihat satu sama lain, melihat hal yang sama dimanapun dan kapanpun melalui mata masing-masing,” jelas Felicia.(mer/up)

    ***

    http://health.detik.com/read/2010/06/19/141718/1381871/763/si-kembar-siam-luar-biasa-yang-bertahan-dengan-satu-otak

     
    • ericka 10:00 pm on 22 Desember 2010 Permalink

      lucu bgt anak2nya … !!! Allah SWT pya rencananya sendiri di setiap kejadian..

    • aiko 6:59 pm on 15 November 2011 Permalink

      Buat saya, mereka keren sekali. Bisakan mereka lihat ke arah berbeda pada saat yang sama?

  • erva kurniawan 1:35 am on 9 December 2010 Permalink | Balas
    Tags: neraka dunia, uzbekistan   

    Ada Pintu Neraka di Usbekistan 

    DAVAZ, KOMPAS.com – Pintu neraka sering dilukiskan dengan suasana api menyala yang sangat mengerikan panasnya. Kondisi seperti itulah yang terdapat di sebuah lubang api menganga di daratan Usbekistan, Asia Tengah. Maka lubang api itu pun disebut sebagai “pintu neraka”.

    Lubang api itu berukuran sekitar dua kali lapangan bola dengan kedalaman lebih dari 30 meter. Semula ukurannya tidak sebesar itu sejak pertama kali tahun 1975 “pintu neraka” itu dijumpai manusia.

    Awalnya ahli geologi menggali dengan alat berat untuk pengeboran gas alam. Anehnya, di lokasi itu ditemukan jurang besar di bawah tanah. Saking besarnya, semua peralatan untuk penggalian itu terperosok ke dalam.

    Jurang itu dipenuhi dengan gas bumi yang beracun. Belum ada keterangan resmi Uni Soviet kala itu terkait berapa jumlah korban tewas akibat terkena gas beracun. Namun para ahli segera menyingkir dan semua peralatan yang terperosok itu ditinggal pergi.

    Untuk menghindari gas beracun yang terlanjur terbuka ke langit bumi itu menyebar, para ahli memutuskan untuk membakarnya. Posisinya berada di dekat kota kecil bernama Davaz.

    Praktis sejak 1975 lobang raksasa itu menyemburkan api seperti gunung berapi dan masih tetap menyala hingga kini walau sudah 35 tahun berlalu. Masyarakat sekitar tak ada yang berani mendekat karena pengaruh medan panas hingga beberapa ratus meter, sehingga dinamakan “pintu neraka”.

    Sampai sekarang belum ada penjelasan apakah “pintu Neraka” itu ukurannya melebar atau stabil karena gas yang keluar dari perut bumi itu langsung terbakar. Walau terkena hujan pun, apinya tidak mati.

    Lubang api raksasa itu kelihatan dari kejauhan karena berada di daratan tandus yang luas. Bila malam, tampak semakin jelas dengan sorotan cahaya kekuningan yang bersumber dari “pintu neraka” itu.

    Mirip dengan Lumpur Lapindo, yang terus mengeluarkan lumpur panas gara-gara pengeboran yang dinilai gagal sehingga menyembur ke permukaan bumi. Hingga kini juga belum ada ahli geologi yang mampu menghentikan semburan lumpur panas lapindo. Yang bisa dilakukan hanya membatasi agar area efek lumpur panas itu tidak terus melebar.

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 8 December 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Ibnu Haitham, Ilmuwan Optik dari Basrah 

    Nama lengkapnya Abu Al Muhammad al-Hassan ibnu al-Haitham. Dunia Barat mengenalnya dengan nama Alhazen. Ia lahir di Basrah tahun 965 M. Di kota kelahirannya itu ia sempat menjadi pegawai pemerintahan. Tetapi segera keluar karena tidak suka dengan kehidupan birokrat.

    Sejak itu, mulailah perantauannya untuk belajar ilmu pengetahuan. Kota pertama yang dituju adalah Ahwaz kemudian Baghdad. Kecintaannya kepada ilmu pengetahuan membawanya berhijrah ke Mesir. Untuk membiayai hidupnya, ia menyalin buku-buku tentang matematika dan ilmu falak.

    Belajar yang dilakukan secara otodidak membuatnya mahir dalam bidang ilmu pengetahuan, ilmu falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat. Tulisannya mengenai mata telah menjadi salah satu rujukan penting dalam bidang penelitian sains di Barat. Kajiannya mengenai pengobatan mata menjadi dasar pengobatan mata modern.

    Ibnu Haitham juga turut melakukan percobaan terhadap kaca yang dibakar dan dari situ tercetuslah teori lensa pembesar. Teori itu telah digunakan oleh para saintis di Itali untuk menghasilkan kaca pembesar pertama di dunia. Yang lebih menakjubkan ialah Ibnu Haitham telah menemukan prinsip isi padu udara sebelum seorang ilmuwan bernama Tricella mengetahui hal tersebut 500 tahun kemudian.

    Beberapa buah buku mengenai cahaya yang ditulisnya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, salah satunya adalah Light dan On Twilight Phenomena. Kajiannya banyak membahas mengenai senja dan lingkaran cahaya di sekitar bulan dan matahari serta bayang-bayang dan gerhana.

    Ibnu Haitham membuktikan dirinya begitu bergairah mencari dan mendalami ilmu pengetahuan pada usia mudanya. Banyak buku yang dihasilkannya dan masih menjadi rujukan hingga saat ini. Di antara buku-bukunya itu adalah Al’Jami’ fi Usul al’Hisab yang mengandung teori-teori ilmu matemetika dan matematika penganalisaan; Kitab al-Tahlil wa al’Tarkib mengenai ilmu geometri; Kitab Tahlil ai’masa’il al ‘Adadiyah tentang aljabar; Maqalah fi Istikhraj Simat al’Qiblah yang mengupas tentang arah kiblat; Maqalah fima Tad’u llaih mengenai penggunaan geometri dalam urusan hukum syarak; dan Risalah fi Sina’at al-Syi’r mengenai teknik penulisan puisi.

    Meski menjadi orang terkenal di zamannya, namun Ibnu Haitham tetap hidup dalam kesederhanaan. Ia dikenal sebagai orang yang miskin materi tapi kaya ilmu pengetahuan. (imam/ Hagi).

    ***

    ramadan.detik.com/read/2010/08/29/115306/1430388/985/ibnu-haitham-ilmuwan-optik-dari-basrah

     
    • hilmi 1:57 pm on 9 Desember 2010 Permalink

      ceritanya banyak yang bagus mas, boleh tukeran link ga?

    • erva kurniawan 3:45 pm on 9 Desember 2010 Permalink

      boleh mas, Jazakallah Khairan katsiro

    • DEVI 11:00 pm on 16 Mei 2012 Permalink

      MKSH YA smoga cerita yg bermafaat ini bisa saya share lg ke adik2 saya & mohon ijiny?

  • erva kurniawan 1:58 am on 7 December 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Memuliakan Orang Berusia Lanjut 

    Alifmagz – detikRamadan

    Jakarta – Pada suatu subuh, Ali bin Abu Thalib bergegas menuju masjid untuk salat berjamaah bersama Rasulullah Saw. Namun di tengah perjalanan, langkahnya terhambat oleh seorang lelaki tua berusia lanjut. Bapak tua itu berjalan lambat di depan Ali.

    Suami Fatimah binti Rasulullah itu tak ingin mendesak dan memaksa untuk mendahului bapak tua itu. Ali menghormati karena ketuaannya. Dengan sabar, Ali mengikuti langkah demi langkah bapak tua itu di belakangnya. Sebenarnya, ada keresahan dalam hati Ali. Ia kawatir, tak sempat mengikuti shalat berjamaah bersama Rasulullah Saw.

    Tibalah iring-iringan Ali dan bapak tua itu di depan masjid. Ternyata, bapak tua itu tak memasuki masjid. Tahulah Ali bahwa bapak itu bukanlah seorang muslim, ia seorang Nasrani yang kebetulan sedang melintas. Setelah langkahnya tak terhalang, Ali bergegas memasuki masjid. Syukurlah, Ali masih sempat mengikuti raka’at terakhir.

    Seusai shalat berjama’ah, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw, “Apa yang terjadi wahai Rasulullah? Tidak seperti biasanya, engkau memperlambat ruku’ yang terakhir?”

    Rasulullah Saw pun menjawab, “Ketika ruku’ dan membaca tasbih seperti biasa, aku hendak mengangkat kepalaku untuk berdiri. Tapi Jibril datang, ia membebani punggungku hingga lama sekali. Baru setelah beban itu diangkat, aku bisa mengangkat kepalaku dan berdiri.”

    “Mengapa bisa begitu ya Rasulullah?” tanya sahabat yang lain.

    “Aku sendiri tak mengetahuinya dan tak bisa menanyakan hal itu kepada Jibril,” jawab Rasulullah Saw.

    Maka, datanglah Jibril kepada Rasulullah Saw dan menjelaskan apa yang terjadi. “Wahai Muhammad! Sesungguhnya tadi itu karena Ali tergesa-gesa mengejar shalat berjama’ah, tapi terhalang oleh seorang laki-laki Nasrani tua. Ali menghormatinya dan tak berani mendahului langkah orang tua itu. Ali memberi hak orang tua itu untuk berjalan lebih dulu. Maka, Allah memerintahkanku untuk menetapkanmu dalam keadaan ruku’ hingga Ali bisa menyusul shalat berjama’ah bersamamu.”

    Kemudian Rasulullah Saw mengatakan, “Itulah derajat orang yang memuliakan orang tua, meski orang tua itu seorang Nasrani.”

    Sumber: Pesan Indah dari Makkah & Madinah – Ahmad Rofi’ Usmani

    ***

    ramadan.detik.com/read/2010/08/17/120059/1421819/985/memuliakan-orang-berusia-lanjut

     
  • erva kurniawan 1:31 am on 6 December 2010 Permalink | Balas  

    Gigi Bersih Bisa Mencegah Penuaan Dini 

    Gigi Bersih Bisa Mencegah Penuaan Dini

    AN Uyung Pramudiarja – detikHealth (21/06/2010 09:13 WIB)

    ***

    Jakarta, Rajin membersihkan sela-sela gigi dengan dental floss maupun tusuk gigi merupakan salah satu rahasia awet muda. Selain lebih mudah, cara ini bahkan lebih efektif menunda proses penuaan dini dibandingkan dengan operasi plastik.

    Dikutip dari MSN Health, Senin (21/6/2010), kotoran di sela-sela gigi tidak hanya membuat gigi tampak kotor karena berwarna kekuningan. Lebih dari itu, warna kuning juga menandakan adanya bakteri yang tumbuh di tempat itu.

    Menurut Dr Eugene Antenucci dari Academy of General Densistry, pertumbuhan plak yang berlebihan bisa memicu gingivitis yang akan mengawali kerusakan gusi. Gingivitis menyebabkan inflamasi atau radang dan perdarahan, yang disusul dengan melunaknya jaringan gusi yang memicu resesi (kondisi turunnya gusi sehingga akar gigi kelihatan).

    “Anda akan tampak tua dengan gusi yang renggang, tipis dan tidak rata,” kata Antenucci yang berpraktik sebagai dokter gigi di Huntington, New York.

    Tidak cukup sampai di situ, kerusakan gusi juga memicu masalah lain yang lebih serius dalam kaitannya dengan proses penuaan. Dr Donald S Clem dari American Academy of Periodontology Foundation mengaitkannya dengan kerusakan tulang wajah.

    “Ketika kerusakan gusi mulai berimbas pada tulang, maka akan terjadi perubahan pada bentuk wajah. Adanya gigi yang tanggal menyebabkan perubahan pada tulang rahang, yang memicu masalah periodontal lebih lanjut yaitu pipi dan bibir tampak mengendur, munculnya keriput di daerah tersebut,” ungkap Dr Clem.

    Ketika masalahnya sudah menyangkut tulang wajah, para pakar sepakat bahwa operasi plastik tidak akan dapat mengatasinya. Sebab prosedur bedah kosmetika semacam itu umumnya lebih ditujukan untuk membentuk dan mengencangkan kulit saja.

    “Bahkan jika gigi yang tanggal bisa diganti, tulang yang keropos tidak menyisakan cukup tempat untuk menanam gigi palsu pada posisi yang paling dikehendaki secara estetis,” ungkap Dr Laura Torrado, seorang cosmetic dentist asal New York City.

    Memang tidak seperti Botox atau Restylane, efek dari membersihkan sela-sela gigi dalam menunda proses penuaan tidak akan diraih secara instan. Manfaatnya baru hanya bisa dirasakan dalam jangka panjang. (up/ir)

    ***

    http://health.detik.com/read/2010/06/21/091311/1382475/766/gigi-bersih-bisa-mencegah-penuaan-dini?l991101755

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 5 December 2010 Permalink | Balas  

    Perjalanan Berliku Seorang Ahli Pengobatan 

    Jakarta – Umat Islam mengenal seorang tokoh yang ahli di bidang pengobatan. Ia bernama Abu Ali Al-Husain bin Abdullah bin Sina atau lebih dikenal dengan nama Ibnu Sina. Ia juga dikenal dengan nama Avicenna. Pemikiran Ibnu Sina di bidang pengobatan diakui banyak kalangan. Karyanya yang tertuang dalam kitab Qanun fi al-Tibb menjadi rujukan selama berabad-abad.

    Ibnu Sina lahir pada 980 M di Afshana, Bukhara. Semasa kanak-kanak, ia mendapatkan pendidikan yang baik. Ayahnya mengirimnya untuk belajar pada seorang guru. Ia termasuk murid yang mempunyai semangat belajar yang tinggi. Tak ayal ia menjadi anak yang sangat menonjol karena kepandaiannya.

    Pada usia 16 tahun, Ibnu Sina mulai belajar kedokteran. Sambil belajar, ia juga mempraktekan ilmunya, memberi pelayanan kepada orang sakit. Dari situ, ia menemukan metode-metode pengobatan baru. Dua tahun bergelut di dunia pengobatan, ia menjadi mahir dan dikenal masyarakat secara luas.

    Pada suatu ketika, ia diminta mengobati seseorang yang punya jabatan penting di jajaran pemerintahan Dinasti Samanid. Ibnu Sina berhasil menyelamatkan pejabat itu dari serangan penyakit yang berbahaya. Ia diberi sejumlah imbalan. Namun Ibnu Sina menolaknya. Sebagai gantinya, ia meminta agar diberi akses ke perpustakaan milik negara. Sang pejabat mengabulkan permintaannya. Ia tak menyia-nyiakan kesempatan itu dengan belajar banyak buku dari koleksi perpustakaan itu.

    Saat berusia 22 tahun, Ibnu Sina meninggalkan Bukhara menuju Jurjan. Tak lama kemudian, ia meninggalkan Jurjan menuju kota Hamazan karena terjadi kekacauan politik di Jurjan.

    Di Hamazan, Ibnu Sina diangkat menjadi perdana menteri di Rayyand karena jasanya menyembuhkan Sultan Shams al-Dawlah, seorang penguasa dari Dinasti Buwaihi. Namun, ada kelompok dari kalangan militer yang tak suka ia berada pada posisi itu. Dengan segala cara, kelompok itu memasukkan Ibnu Sina ke dalam penjara. Atas pertolongan Sultan, ia berhasil keluar dari penjara.

    Pada kesempatan yang lain, ia kembali berhasil menyembuhkan Sultan dari penyakit. Sultan pun kembali mengangkatnya menjadi menteri. Jabatan itu diembannya sampai Sultan meninggal dunia. Ketika ia ingin meninggalkan Bukhara menuju Isfahan, putra sang Sultan, Taj al-Muluk, menangkapnya. Ia dijebloskan ke penjara. Tak lama kemudian, ia berhasil melarikan diri ke Isfahan dengan cara menyamar.

    Ibnu Sina menghabiskan masa hidupnya di Isfahan. Ia meninggal pada usia 57 tahun. Di akhir hayatnya, Ibnu Sina menjadi seorang guru filasafat dan dokter di Isfahan. (imam)

    ***

    ramadan.detik.com/read/2010/08/21/125814/1424822/985/perjalanan-berliku-seorang-ahli-pengobatan

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 4 December 2010 Permalink | Balas
    Tags: Masjid Peneleh   

    Air Zam-zam Ala Masjid Peneleh Surabaya 

    By Amril Amarullah – Jumat, 20 Agustus

    VIVAnews – Matahari terasa menyengat, suhu di Kota Surabaya kala itu mencapai 32 derajat celcius, salat dzuhur berjamaah baru saja usai dilaksanakan. Sambil berteduh, para jamaah duduk-duduk santai, ada yang tidur-tiduran, bercengkrama bahkan tidak sedikit yang membaca ayat-ayat suci Al-Quran.

    Pemandangan seperti itu kerap terjadi setiap harinya di Masjid Jami Peneleh, di Jalan Peneleh 5 No 41, Surabaya, Jawa Timur, terlebih selama bulan suci ramadan.

    Selain karena kemegahannya, masjid ini juga menyimpan banyak cerita. Lokasinya yang berdekatan dengan rumah Haji Oemar Said Tjokroaminoto, salah satu pahlawan kemerdekaan RI, juga tercatat sebagai masjid tertua di Kota Surabaya yang berdiri pada 1421, dibangun beberapa bulan sebelum dibangun Masjid Ampel.

    Namun sayang, sekarang masjid ini nyaris luput dari perhatian orang banyak, tapi jika bertandang ke masjid ini dan menanyai setiap orang di kawasan itu, ceritanya begitu manarik, beragam, dan tentu banyak versi. Tidak ketinggalan aroma mistik. Maklum carita lisan yang kerap dibumbui imajinasi dari tiap-tiap generasi.

    Bahkan, tidak sedikit mereka yang datang, selain salat dan berziarah, juga berburu air sumur untuk wudhu dan juga diminum. Konon menurut cerita, sumur itu diyakini sebagai petilasan (makam) Sunan Ampel atau Raden Rahmad. Sehingga akan berkah bila wudhu dengan air itu. Bahkan tidak sedikit yang membawanya pulang.

    “Banyak cerita dari sejarah msajid ini, tetapi yang saya perhatikan bila datang ke sini banyak yang salat dan pulangnya membawa air yang diambil dari sumur masjid itu, katanya sumur tua itu berkhasiat,” ujar Imam Sahuri salah seorang pendatang yang mondok di kawasan itu.

    Banyak yang meyakini, kualitas air sumur Masjid Peneleh sepadan dengan sumur di Masjid Ampel dan air zam-zam di halaman Kota Suci Mekah.

    Keunikan lain yang tidak bisa disangkal, sampai saat ini sumur itu masih mengeluarkan air meski di musim kemarau panjang. Namun sayang, letak sumur mukzizat ini tersembuyi di bawah tangga dan bedug, sehingga sulit dilihat. Hanya saja air itu mengalir ke tempat wudlu.

    Jika melihat kultur arsitekturnya, masjdi tua yang masih berdiri kokoh itu, termasuk masjid aliran neuw imperial. Pernah direnovasi pada tahun 1800. Masjid Peneleh ini, serupa dengan karakter bangunan Gedung Negera Grahadi di Jl Gubernur Suryo yang dibangun 1777.

    Tiang penyangganya dari kayu jati termasuk rangka langit langitnya. Ada 10 tiang kayu jati raksasa menjulang tinggi dan saling menyambung di bagian langit-langit. Dipadu dengan kaca ukir yang cantik dan unik di setiap jendela masjid, menambah keindahan bangunan masjid. (adi)

    ***

    Laporan: Tudji Martudji | Surabaya

     
    • santy 6:04 pm on 19 Desember 2010 Permalink

      subhanallah… diindonesia kpan yah??? http://www.duniamalam.co.cc/

    • online payday loan 6:58 pm on 30 April 2013 Permalink

      For the great unwashed with selfsame low deferred payment ratings, it menses, you can avoid some extra charges.
      Until January 2008 the fellowship escritoire creation or
      the Department of Pedagogy, the scholar borrows
      from the schooling they are attending. Rule in this orbit is not unassailable may go
      aside. Others volition run to correct loan for you may also include a savings ingredient.

      It is not clear whether these peculiar protections for
      certain lenders are in the best interests at the RFU had ever
      so heard of her.

    • payday loans 10:08 am on 7 Mei 2013 Permalink

      For the calendar month of April, loans verbatim lenders be of
      or beyond 18 elds of age.

  • erva kurniawan 1:50 am on 3 December 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Pohon Kurma untuk Masa Depan 

    Alifmagz – detikRamadan

    Jakarta – Suatu hari, Raja Persia berjalan-jalan, meninjau wilayah kekuasaannya. Di tengah Raja menjalankan kebiasaannya itu, ia melihat seorang kakek tua tengah menanam bibit pohon kurma. Ia heran dengan apa yang dilakukan kakek itu.

    Pikir sang raja, “Bagaimana ia nanti akan menikmati hasil yang ditanam, sedangkan ia sendiri sudah tua renta?”

    Raja pun menegur kakek itu dan bertanya, “Wahai kakek, apakah engkau bermaksud akan menuai hasil dari apa yang engkau tanam ini? Engkau tahu, pohon kurma ini tak akan berbuah setelah beberapa tahun kemudian.”

    Setelah memberi hormat kepada raja yang menegurnya, kakek tua itu menjawab, “Wahai Raja yang agung, paduka tentu mengetahui bahwa orang yang hidup sebelum kita telah menanam pohon kurma yang kita tuai hasilnya sekarang ini. Dengan demikian, mengapa kita tak menanam bibit pohon kurma agar generasi kita nanti akan dapat menuai hasilnya?”

    Sang raja terkejut dengan jawaban kakek tua itu, tapi ia membenarkan dan menyetujui apa yang dikatakannya. Raja pun memberinya hadiah sekantong uang. Kakek tua menerimanya dan berkata, “Wahai raja yang mulia, alangkah cepatnya benih pohon kurma yang hamba tanam ini berbuah!”

    Raja Persia itu tak menyangka mendapat jawaban seperti itu dari Sang Kakek. Raja berkata, “Benar apa yang engkau katakan Kek.” Kemudian ia mengambil sekantong uang yang lain untuk diberikan lagi kepadanya.

    Kakek menerimanya dan berkata, “Wahai Raja yang agung, yang paling menakjubkan adalah pohon kurma itu akan berbuah dua kali dalam satu tahun seperti halnya dua kantong uang yang paduka berikan pada hamba.” Raja itu semakin kagum dan memberi lagi sekantong uang kepadanya.

    Kemudian keduanya ngobrol dengan asyik. Sang raja menanyakan mengenai pertanian, sang kakek pun menjawab seakan-akan kakek tersebut telah bertani sejak dia masih kecil. Keduanya terus-menerus ngobrol sehingga tanpa terasa matahari pun mulai terbenam. Maka sang raja pun bersiap-siap untuk pergi dan sebelumnya dia berdoa agar kakek tersebut berumur panjang dan dia dapat bertemu kembali dengannya.

    ***

    ramadan.detik.com/read/2010/08/12/172243/1419254/985/pohon-kurma-untuk-masa-depan

     
  • erva kurniawan 1:22 am on 2 December 2010 Permalink | Balas  

    Ketika Mata Melihat Liliput dan Raksasa 

    Ketika Mata Melihat Liliput dan Raksasa

    Merry Wahyuningsih – detikHealth

    Jakarta, Ini bukan sekedar halusinasi biasa. Penderita sindrom ini akan melihat semua objek bagaikan liliput atau raksasa. Semua objek tidak pernah terlihat dalam ukuran yang sebenarnya.

    Dalam dunia kedokteran sindrom ini dinamakan sindrom Alice in Wonderland (Alice in Wonderland Syndrome/AIWS atau AWS) atau lebih dikenal dengan mikropsia atau makropsia.

    Sindrom ini merupakan gangguan orientasi saraf yang mempengaruhi persepsi penglihatan pada manusia. Sindrom ini biasanya berhubungan dengan halusinasi visual, sehingga mempengaruhi ukuran dan bentuk objek yang dilihatnya.

    Sindrom yang kebanyakan diderita oleh anak-anak ini pertama kali dijelaskan pada tahun 1955 oleh seorang psikiater Inggris, John Todd. Todd mengambil nama ‘Alice in Wonderland’ dari novel karangan Lewis Carrol, yang secara kebetulan juga menderita sindrom aneh ini.

    Seperti dilansir dari AIWS.info, Sabtu (12/6/2010), gejala-gejala yang dialami orang dengan sindrom Alice in Worderland adalah sebagai berikut:

    1. Perubahan bentuk atau citra tubuh. Orang dengan AIWS akan bingung melihat ukuran dan bentuk bagian atau seluruh anggota tubuhnya. Bagian tubuh yang paling sering tampak berubah adalah kepala dan tangan. Fenomena ini dalam medis disebut ‘metamorfosis’.
    2. Penyimpangan persepsi visual. Meskipun mata orang dengan AIWS yang normal, tapi objek atau benda yang dilihatnya akan berubah bentuk dan ukuran. Objek yang dilihatnya akan tampak seperti liliput atau raksasa alias lebih kecil atau lebih besar dari ukuran sebenarnya.
    3. Penyimpangan persepsi waktu. Orang dengan AIWS akan mengalami percepatan atau perlambatan waktu.
    4. Penyimpangan persepsi sentuhan. Orang dengan AIWS akan merasa tanah yang diinjaknya seperti spons yang empuk, atau benda lunak lain terasa keras.
    5. Penyimpangan persepsi suara.

    Penyebab pasti sindrom aneh ini belum diketahui. Tapi para ahli menyimpulkan beberapa kemungkinan yang menjadi penyebabnya, yaitu:

    1. Sakit kepala sebelah atau migran yang berat
    2. Tumor otak
    3. Temporal Lobe Epilepsy atau penyakit epilepsi yang menyerang otak
    4. Virus Epstein-Barr yaitu virus penyebab infeksi mononucleosis, yang juga dikenal dengan ‘glandular fever’ atau ‘mono’
    5. Mengonsumsi obat psikoaktif

    Belum ada perawatan yang khusus diperuntukkan AIWS, tetapi obat-obatan yang bisa mengatasi migrain bisa digunakan untuk mengurangi gejala AIWS.

    Gejala AIWS juga dapat berkurang dengan perubahan diet dan gaya hidup, seperti mengurangi konsumsi coklat, anggur merah, keju, alkohol dan menjaga pola tidur. (mer/ir)

    ***

    http://health.detik.com/read/2010/06/12/074725/1376812/763/ketika-mata-melihat-liliput-dan-raksasa?l991101755

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 1 December 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Ibadahnya Sang Ratu Cinta 

    Alifmagz – detikRamadan

    Jakarta – Cinta adalah bahasa yang indah. Setiap saat, selalu saja ingin bersama orang yang kita cintai; memujinya dan mengaguminya. Cinta juga bisa menjadi alasan bagi seorang hamba untuk beribadah kepada Tuhannya.

    Seperti cinta Rabiah al-Adawiyah kepada Allah, Tuhannya. Meski Allah telah menyediakan banyak pahala kepada hamba-Nya, ibadah Rabiah tidak untuk itu. Tidak juga karena mengharap surga atau takut neraka. Suatu saat ia berdoa, “Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut kepada neraka, bakarlah aku di dalam neraka; dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, campakkanlah aku dari dalam surga; tetapi jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu yang abadi kepadaku.”

    Rabiah, Sang Ratu Cinta, seorang sufi perempuan dari Bashrah, terlahir dalam keluarga yang sangat miskin, meski saat itu Bashrah sedang bergelimang kemakmuran. Saat sang ibu berjuang melahirkannya, tak seorangpun menolong, sementara ayahnya sedang berusaha mencari bantuan kepada tetangga-tetangganya. Malam sudah larut, para tetangga sudah terlelap. Ayahnya pulang tanpa hasil. Sebenarnya, ayahnya hanya ingin meminjam pelita untuk menerangi istrinya. Kelahiran Rabiah tak mengubah nasib keluarganya. Sekuat tenaga ayahnya berusaha dan memasrahkan semua kepada yang Mencipta Kehidupan.

    Saat kesulitan melanda Bashrah, karena dilanda bencana kelaparan, keluarga Rabiah tetap saja menjadi sasaran kekisruhan. Seorang penjahat menculik Rabiah, kemudian dijual di pasar budak dengan harga yang murah. Seorang saudagar membeli dan memberinya pekerjaan yang berat.

    Tetapi justru karena penderitaan-penderitaan itu membuatnya mendekat pada Allah. Dalam kesibukannya bekerja, ia tetap menjalankan puasa. Di malam hari, ia menghabiskan waktu dengan banyak ber-mujahadah kepada-Nya. Hingga sampai suatu tingkat, ibadahnya membawa kedekatan dengan Allah. Kedekatan kemudian berubah menjadi kerinduan yang mengantarkan kepada cinta kepada-Nya. “Aku adalah milik-Nya. Aku hidup di bawah naungan-Nya. Aku lepaskan segala sesuatu yang telah kuperoleh kepada-Nya. Aku telah mengenal-Nya, sebab aku menghayati.”

    Di suatu malam yang senyap, dalam kerinduan yang sangat, ia bersujud dan berdoa, “Ya Allah, apapun yang akan Engkau karuniakan kepadaku di dunia ini, berikanlah kepada musuh-musuh-Mu. Dan apapun yang akan Engkau karuniakan kepadaku di akhirat nanti, berikanlah kepada sahabat-sahabat-Mu. Karena Engkau sendiri cukuplah bagiku.”

    ***

    ramadan.detik.com/read/2010/08/13/144506/1419950/985/ibadahnya-sang-ratu-cinta

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: