Updates from Agustus, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 8:30 am on 31 August 2012 Permalink | Balas  

    Meraih Keberkahan dalam Makanan 

    Meraih Keberkahan dalam Makanan

    Ada satu doa hampir semua orang hapal, termasuk anak-anak TPA. Yaitu doa sebelum makan, “Allaahumma baarik lanaa fiimaa razaqtanaa wa qinaa ‘adzaabannaar.” Artinya, “Ya Allah berkahilah kami dalam rezeki yang telah Engkau limpahkan kepada kami, dan peliharalah kami dari siksa neraka” (HR Ibnu As-Sani).

    Inti dari doa ini adalah “memohon keberkahan” dari rezeki yang telah Allah karuniakan, sehingga kita terpelihara dari keburukan (terutama dari siksa neraka). Andai kita mampu menyelami makna berkah dan mampu mengaplikasikan dalam tataran praktis, maka akan efek yang luar biasa dalam hidup.

    Konsep berkah

    Kata “berkah” berasal dari kata kerja baraka. Kata ini, menurut Ar-Raghib Al-Asfahani, seorang pakar bahasa Alquran, dari segi bahasa, mengacu kepada arti al-luzum (kelaziman), dan juga berarti al-tsubut (ketetapan atau keberadaan), dan tsubut al-khayr al-ilahy (adanya kebaikan Tuhan). Senada dengan Al-Asfahani, Lewis Ma’luf, juga mengartikan kata baraka dengan arti “menetap pada sesuatu tempat”. Dari arti ini, muncul istilah birkah, yaitu tempat air pada kamar mandi. Tempat air tersebut dinamakan birkah karena ia menampung air, sehingga air dapat menetap atau tertampung di dalamnya.

    Dari kata al-birkah inilah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin mengartikan berkah sebagai “kebaikan yang banyak dan tetap” atau “tetapnya kebaikan Allah terhadap sesuatu”. Hampir senada dengan Al-Utsaimin, Ibnul Qayyim memaknai berkah sebagai “kenikmatan dan tambahan”.

    Ketika hendak makan, kita memohon agar rezeki yang kita nikmati diberkahi Allah SWT. Apa artinya? Kita makan bukan sekadar mengobati rasa lapar dan memenuhi selera semata, tapi juga untuk menjaga ketaatan kepada Allah SWT. Dengan makan itu kita berharap bisa konsisten dalam ketakwaan.

    Karena itu, agar berkah, maka makanan yang kita konsumsi harus memenuhi standar-standar yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. Setidaknya ada dua syarat. Yaitu halal dan thayyib (baik), serta memperhatikan adab-adab yang dicontohkan Rasul SAW.

    Halal dan Thayyib Dalam QS Al-Baqarah [2] ayat 168, Allah SWT berfirman, “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.

    Ayat ini memberi penekanan agar setiap manusia hanya mengonsumsi makanan yang halal dan thayyib (baik). Halal dapat diartikan dibolehkannya sesuatu oleh Allah SWT berdasar suatu prinsip yang sesuai dengan aturan-Nya. Sehingga makna halal dalam ayat ini menyiratkan pentingnya semangat spiritual dalam memperoleh dan mengonsumsi makanan.

    Para ahli fuqaha membagi halal ini ke dalam dua bagian, yaitu halal secara dzat-nya dan halal secara perolehan. Makanan yang haram secara dzat-nya adalah bangkai (binatang yang menghembuskan nyawanya tanpa disembelih secara sah, kecuali ikan dan belalang), khamr, babi dan turunannya, binatang buas (bertaring), binatang pemakan kotoran, darah yang mengalir, dan sebagainya. (QS Al-Baqarah [2]: 173).

    Ada pula jenis yang haram bukan karena dzat-nya, tapi karena diperoleh dengan cara haram, atau ditujukan untuk perbuatan haram. Haram jenis kedua ini lebih luas lagi cakupannya, lebih sulit menghindarinya, sering tersamarkan, konsekuensi yang ditimbulkannya pun lebih berat.

    Setidaknya ada beberapa hal yang bisa membuat makanan yang kita makanan berubah statusnya dari halal menjadi haram.

    1. Makanan hasil riba (QS Al-Baqarah [2]: 275-276; 278-280)
    2. Memakan harta anak yatim secara batil (QS Al-Baqarah [2]: 220; QS An-Nisaa’ [4]: 10). Memakan harta anak yatim termasuk satu dari tujuh dosa besar yang membinasakan (HR Bukhari Muslim).
    3. Makanan yang didapatkan dengan cara batil (mengeksploitasi dan memeras serta merugikan, termasuk harta hasil KKN, merampok, mencuri) (QS An-Nisaa’ [4]: 29; QS Al-Baqarah [2]: 188; QS Al-Maidah [5]: 38)
    4. Memalsu dan mengurangi timbangan (QS Al-Muthaffifin [83]: 1-3)
    5. Harta hasil perbuatan tidak pantas, seperti hasil pornografi, pornoaksi, dan pelacuran (QS An-Nur [24]: 19)
    6. Harta hasil berkhianat/curang (QS Ali Imran [3]: 161, QS An-Nisaa’ [4]: 58; QS Al-Anfaal [8]: 27)
    7. Harta yang ditimbun (QS Al-Humazah [104]: 1-4, QS At-Taubah [9]: 34)

    Bila konsep halal lebih bernuansa “ukhrawi”, maka konsep thayyib lebih bersifat “duniawi”. Dalam arti lebih menyentuh unsur dzatnya. Thayyib ini harus memenuhi standar gizi serta proporsional (baik, seimbang dan sesuai untuk kesehatan tubuh). Sebab, baik menurut A belum tentu baik menurut B. Baik bagi bayi belum tentu baik menurut orang dewasa. Baik menurut orang sakit belum tentu baik menurut orang sehat.

    Sesungguhnya, kita akan mendapatkan kebaikan berlimpah bila makanan yang kita konsumsi terjamin kehalalannya, serta memenuhi standar gizi dan proporsional bagi tubuh. “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.” (QS Al-Baqarah [2]: 172)

    Adab-Adab terhadap Makanan Rasulullah SAW mencontohkan serangkaian adab berkait dengan makan. Di antaranya, tidak berlebihan (israf), memulai dengan doa dan ucapan basmalah, dan mengakhirinya dengan doa pula, tidak mencela makanan, menggunakan tangan kanan, sambil duduk, serta tidak tergesa-gesa.

    Selain itu, beliau pun menyebut pula beberapa keadaan yang diberkahi. Antara lain, makan bersama dan dimulai dari pinggir, serta menjilat jari (setelah makan). Rasulullah SAW bersabda, “Berkumpullah kalian menikmati makanan dan sebutlah nama Allah, kalian akan diberkahi padanya” (HR Abu Dawud, Ahmad dan Ibnu Majah). Dalam hadits lain disabdakan pula, “Barakah itu akan turun di tengah-tengah makanan, maka makanlah dari pinggir dan jangan dari tengah” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah). Rasul pun memerintahkan untuk menjilat jari karena kita tidak tahu mana di antara makanan itu yang mengandung berkah (HR Bukhari).

    Dengan memperhatikan standar makanan yang dicontohkan Rasulullah SAW, insya Allah setiap suapan nasi atau tegukan minuman, akan membawa kebaikan bagi kita di dunia dan akhirat. Karena itu, setelah selesai makanan, kita diperintahkan untuk memuji Allah SWT. Alhamdu lillaahilladzii ath’amanaa wa saqaanaa wa ja’alanaa Muslimiin”. Artinya, “Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum, serta menjadikan kami Muslim” (HR Abu Daud). (tri)

    Wallaahu a’lam.

    ***

    Sumber: republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 31 August 2012 Permalink | Balas  

    Kasih Ibu di dalam Bus 

    Kasih Ibu di dalam Bus

    Kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jalan. Siapakah yang pantas disebut sebagai seorang ibu? Apakah, hanya sosok wanita yang pernah melahirkan kita saja? Adakah wanita yang mengasihi seorang anak sedemikian rupa, meskipun bukan anaknya sendiri?

    Untuk merenung lebih jauh tentang sebuah cinta kasih, Saya teringat penggalan kalimat dari sebuah syair lagu yang diciptakan oleh grup musik ternama “DEWA” aku mencintaimu, lebih dari yang kau tahu.

    Syair ini begitu luar biasa. Mencintai seseorang lebih dari yang diketahuinya. Rasanya begitu pas dan sekali bagi seorang ibu, yang tidak pernah menghitung-hitung ‘jasa’ demi anak-anaknya…!

    Pagi itu, setelah saya selesai memberi Ceramah Dhuha di salah satu Masjid yang cukup megah di kota Lumajang Jawa Timur, saya diantar teman-teman panitia menuju terminal Bus. Selanjutnya, saya naik angkutan umum Bus Antar Kota untuk kembali pulang ke kota tempat tinggal saya.

    Ketika Bus yang saya naiki sampai di kota Probolinggo, bus berhenti di terminal beberapa menit. Kemudian berangkat lagi menuju kota Malang dengan melalui beberapa kota.

    Ada hal menarik bagi saya ketika bus berhenti di terminal Probolinggo yang hanya beberapa saat itu. Yang pertama, saya iseng-iseng menghitung jumlah penjaja makanan yang naik ke dalam bus, ketika bus berhenti. Saya hitung ada sebanyak dua puluh delapan orang dengan membawa berbagai macam barang dagangan. Mulai dari minuman air mineral, makanan bungkus, kue-kue, topi, majalah, mainan anak-anak, rokok, sampai dengan barang-barang souvenir khas daerah.

    Semua dijajakan dengan ekspresi masing-masing. Dan tentu saja yang tidak ketinggalan adalah para anak-anak muda pengamen jalanan. Mereka menunjukkan kebolehannya dalam ‘berolah vokal’ melantunkan lagu-lagunya.

    Nah, di tengah-tengah riuh rendahnya suara berbagai macam orang dengan aktifitasnya masing-masing itulah saya memperhatikan sebuah ekspresi yang cukup menarik dari beberapa wajah.

    Di kursi seberang di sebelah kanan saya, ada seorang ibu muda menggendong anaknya, berumur sekitar tiga tahun. Raut wajah anak itu gelisah. Rupanya ia merasa gerah, haus dan lapar. Bahkan, akhirnya ia menangis meskipun tidak mengeluarkan suara keras.

    Sang ibu mengerti apa yang terjadi dengan anaknya. Tetapi ia tidak juga beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil suatu keputusan, misalnya membelikan makanan atau minuman.

    Setelah agak lama, akhirnya saya lihat ibu tersebut mengeluarkan uang dari balik bajunya, sebesar lima ribu rupiah. Uang itu digenggamnya erat-erat. Mungkin supaya tidak lepas atau tidak hilang di tengah berjubelnya para penumpang dan penjaja makanan yang sangat padat.

    ‘Adegan’ berikutnya adalah, dengan penuh keragu-raguan ibu tersebut memanggil penjual nasi bungkus yang sedang berdiri di dekat saya. Seorang ibu setengah baya. Ibu itu bertanya kepada penjual nasi bungkus. Berapa harga satu bungkus makanan yang dijajakannya itu.

    Si penjual nasi bungkus menjawab dengan logat daerah yang sangat kental. Ia mengatakan harganya Rp.2.500,- per bungkus. Saya tidak mengetahui secara pasti apa yang terpikir dalam benak sang ibu pembeli tersebut. Dengan penuh keraguan, bercampur rasa khawatir ia menawar nasi tersebut dengan harga Rp.1.500,-/ bungkus.

    Saya terus mengikuti dengan seksama ‘adegan’ menarik yang terjadi di hadapan saya itu. Saya berfikir tentu sang ibu penjual tidak akan memberikan barang dagangannya, sebab rasanya tidak mungkin nasi satu bungkus dihargai hanya seribu lima ratus rupiah.

    Benar dugaan saya. Si penjual tidak memberikannya. Ketika si penjual nasi mau beranjak ke kursi lain, ibu penjual tersebut tanpa sengaja menatap wajah si anak kecil yang sedang gelisah di pangkuan ibunya.

    Hanya selang beberapa detik, sang ibu penjual nasi seperti terkena ‘hipnotis’ oleh wajah sedih yang haus dan lapar dari anak kecil tersebut. Akhirnya ibu penjual pun membalikkan tubuhnya menghadap ke ibu yang menggendong anaknya itu. Dan dengan penuh rasa iba ia relakan nasi bungkusnya dibeli dengan harga Rp.1.500,-

    Saya fikir kejadian itu sudah selesai. Dan sudah berakhir sampai disitu saja. Ternyata perkiraan saya salah. Karena kejadian itu terus berlanjut dengan ‘episode-episode’ yang lebih menarik lagi…

    Berikutnya saya lihat ibu pembeli, memberikan lembaran uang kertas sebesar lima ribu rupiah yang rupanya uang itu merupakan satu-satunya uang yang ia miliki saat itu. Karena harga nasi bungkus Rp.1500,- berarti si penjual harus mengembalikan uang sebesar Rp.3.500,- kepada si pembeli.

    Apa yang terjadi berikutnya? Ternyata ibu penjual nasi bungkus tidak memiliki uang kembalian, sebab saat itu barang dagangannya belum laku sama sekali. Maka si penjual nasi bungkus pun berupaya untuk menukarkan uang lima ribuan tersebut kepada para pedagang lainnya yang ada di sekitarnya.

    Beberapa kali ia mencoba menukarkan uang tersebut kepada para pedagang disekitarnya, tapi tidak satupun yang mau menukar uang tersebut. Sampai-sampai penjual nasi bungkus itu menjadi kebingungan, sebab bus beberapa saat lagi akan berangkat.

    Agak lama si penjual kebingungan. Dan rupanya bus sudah mau berangkat. Saat itu, datang seorang ibu penjual onde-onde yang sudah agak tua. Saya lihat Ibu penjual nasi bungkus melakukan pembicaraan singkat dengan ibu penjual onde-onde dengan logat bahasa daerah yang sangat kental sambil menunjuk kepada anak kecil yang ada di pangkuan ibunya.

    Saya lihat ibu penjual onde-onde itu langsung mencari uang yang terselip di bawah barang dagangannya. Dan iapun menukar uang lima ribuan tadi dengan uangnya. Sehingga ibu penjual nasi bungkus tersebut akhirnya bisa memberikan uang kembalian kepada ibu pembeli nasi yang masih memangku anaknya.

    Dari kejadian singkat itu, saya mendapat satu pengalaman yang menarik dan berharga. Sebuah kejadian dari sekian ratus kejadian serupa di tempat-tempat lain. Yang mungkin tidak sempat terperhatikan. Point apa yang bisa kita ambil dari kejadian sederhana itu?

    Bahwa perasaan cinta kasih seorang ibu, senantiasa bisa ‘menembus batas’ kesulitan yang dialaminya.

    Mari kita lihat kesulitan apa yang dialami oleh masing-masing ibu tersebut.

    Ibu muda (pembeli) yang uangnya tinggal lima ribu rupiah.

    Duit satu lembar lima ribu rupiah itu rupanya akan dipakai untuk keperluan lain yang sudah direncanakannya. Mungkin saja untuk transport setelah turun dari bus.Tetapi karena anaknya lapar, maka iapun merasa kesulitan untuk mengambil keputusan. Apabila uang itu dipakai untuk membeli nasi seharga dua ribu lima ratus, berarti sisa uang tinggal dua ribu lima ratus rupiah saja yang mungkin tidak cukup untuk keperluan lainnya. Tetapi akhirnya toh, ia lakukan juga membeli nasi bungkus demi anaknya yang sedang kelaparan. Ia `nekat’ membeli nasi bungkus dengan menawar pada harga yang bukan pada tempatnya, demi anaknya! Meskipun dengan perasaan agak malu, terpaksa juga ia lakukan. Hal itu dilaksanakan demi kasih sayangnya kepada buah hatinya.

    Ibu setengah baya, penjual nasi bungkus.

    Ia mau dan mampu menjual barang dagangannya dibawah harga normal, yang mungkin akan menyebabkan ia rugi. Hal itu bisa ia lakukan setelah ia melihat sorot mata iba dari sang anak yang sedang kelaparan. Mungkin saja, ia teringat kepada anaknya yang ada di rumah, yang suatu saat mungkin juga akan mengalami peristiwa semacam itu

    Ibu tua, penjual onde-onde

    Ia mau menukar uang penjual nasi bungkus, setelah ia juga ikut menyaksikan / merasakan kegelisahan sang anak. Meskipun dagangannya tidak ikut laku, iapun rela repot mencarikan uang untuk menukar uang si penjual nasi. Padahal bus sudah mau berjalan, tetapi ia tetap berkeinginan untuk menolong orang lain.

    Kalau kita perhatikan, kejadian itu cukup singkat. Tetapi ada suatu nilai yang tersembunyi di dalamnya. Peristiwa kecil itu bagaikan drama singkat satu babak, yang diperankan oleh tiga orang ibu dengan usia yang berbeda.

    1. Ibu muda pembeli nasi bungkus
    2. Ibu setengah baya penjual nasi bungkus
    3. Ibu tua si penjual onde-onde

    Semuanya mempunyai ‘kasus’ yang sama. Mereka asalnya merasa keberatan dan kesulitan untuk mengambil jalan keluar dari sebuah persoalan.Tetapi pada akhirnya semuanya mau berbuat sesuatu untuk menolong sang anak, yaitu setelah mereka memahami dan ikut merasakah perasaan sang anak yang sedang gelisah karena haus dan lapar…

    Ibu pembeli rela duitnya berkurang, demi anak, Ibu penjual nasi bungkus rela rugi, demi anak, Ibu penjual onde-onde rela repot, demi anak.

    Seorang ibu…,

    dimanapun, kapanpun, dan kemanapun ia akan selalu memiliki kasih sayang. Lebih-lebih kepada seorang anak yang membutuhkan bantuannya. Seseorang disebut sebagai ibu, bukan sekedar karena ia pernah melahirkan anak, tetapi karena ia memiliki kasih sayang kepada setiap insan. Apakah kepada anak kandungnya sendiri, ataukah kepada anak orang lain. Tiga orang ibu di dalam bus tersebut telah membuktikan kepada kita semua, bahwa benar “…kasih ibu adalah sepanjang jalan…”

    Pernahkah kita mencoba membaca keadaan ibunda kita masing-masing ?

    Mungkin saja, banyak sekali peristiwa-peristiwa kecil semacam itu yang terjadi pada ibu kita masing-masing pada zamannya dahulu. Hanya saja kita tidak mengetahuinya atau tidak mendapatkan informasinya. Tetapi yakinlah bahwa ibu kita bisa membesarkan diri kita sampai dengan kita dewasa ini tentu melalui berbagai macam peristiwa ‘luar biasa’ yang pahit dan manisnya menjadi kenangan tersendiri bagi mereka…

    Pernahkah suatu malam, kita melewati pasar subuh? Betapa banyaknya para ibu penjual sayuran atau sejenisnya, yang tertidur menunggu pembeli sambil mendekap anaknya yang masih balita. Sang ibu rela tidak menggunakan kain sarungnya untuk menutupi tubuhnya yang kedinginan, sebab kain itu ia selimutkan kepada buah hatinya yang tertidur lelap di dekatnya…

    Pernakah kita mengingat kembali, peristiwa-peristiwa sepele ketika kita masih sebagai anak-anak dahulu?

    Ingatkah kita ketika ibu kita mengupas buah mangga, bagian yang manis ia berikan kepada anak-anaknya, sementara bagian yang masam untuknya? Bahkan beliau makan bagian yang masam itu sambil tertawa lucu dan bahagia ?

    Atau ingatkah kita dengan peristiwa-peristiwa senada itu, dimana sang ibunda kita melakukamsesuatu yang lebih mengutamakan kepentingan anaknya daripada kepentingan dirinya sendiri? Subhaanallah

    “…Ya Allah, ampunilah dan maafkan dosa dan kesalahan ibu kami, sayangilah ia sebagaimana ia menyayangi kami ketika kami masih kecil”

    ***

    Dari Sahabat

     
    • suamanah 3:02 pm on 31 Agustus 2012 Permalink

      Kata Mutiara Islam adalah kata kata mutiara yang indah dan bagus di ucapkan kepada orang. disini sobat bisa melihat kata mutiara islami yang paling indah diantara untaian kata kata bijak islami. Jika sobat adalah seorang muslim, katakanlah jika hidup hanyalah untukNya dan ucapkan kata kata indah islami dalam setiap ucapan kita Kata mutiara Islam terbaru ini alangkah baiknya kita terapkan didalam kehidupan kita yang dapat mendekatkan kita sekaligus mengigatkan kita atas kebesaran Allah SWT. kata mutiara islam “Waspadalah terhadap tiga orang: pengkhianat, pelaku zalim, dan pengadu domba. Sebab, seorang yang berkhianat demi dirimu, ia akan berkhianat terhadapmu dan seorang yang berbuat zalim demi dirimu, ia akan berbuat zalim terhadapmu. Juga seorang yang mengadu domba demi dirimu, ia pun akan melakukan hal yang sama terhadapmu.” “Tiga manusia adalah sumber kebaikan: manusia yang mengutamakan diam (tidak banyak bicara), manusia yang tidak melakukan ancaman, dan manusia yang banyak berzikir kepada Allah.” “Sesungguhnya puncak keteguhan adalah tawadhu’.” Salah seorang bertanya kepada Imam, “Apakah tanda-tanda tawadhu’ itu?” Beliau menjawab, “Hendaknya kau senang pada majlis yang tidak memuliakanmu, memberi salam kepada orang yang kau jumpai, dan meninggalkan perdebatan sekalipun engkau di atas kebenaran.” Seorang laki-laki seringkali mendatangi Imam Ja‘far as, kemudian dia tidak pernah lagi datang. Tatkala Imam as menanyakan keadaannya, seseorang menjawab dengan nada sinis, “Dia seorang penggali sumur.” Imam as membalasnya, “Hakekat seorang lelaki ada pada akal budinya, kehormatannya ada pada agamanya, kemuliannya ada pada ketakwaannya, dan semua manusia sama-sama sebagai Bani Adam.” “Hati-hatilah terhadap orang yang teraniaya, karena doanya akan terangkat sampai ke langit.” “Ulama adalah kepercayaan para rasul. Dan bila kau temukan mereka telah percaya pada penguasa, maka curigailah ketakwaan mereka.” “Tiga perkara dapat mengeruhkan kehidupan: penguasa zalim, tetangga yang buruk, dan perempuan pencarut. Dan tiga perkara yang tidak akan damai dunia ini tanpanya, yaitu keamanan, keadilan, dan kemakmuran.” “Kuwasiatkan lima hal kepadamu: (1) jika engkau dizalimi, jangan berbuat zalim, (2) jika mereka mengkhianatimu, janganlah engkau berkhianat, (3) jika engkau dianggap pembohong, janganlah marah, (4) jika engkau dipuji, janganlah gembira, dan (5) jika engkau dicela, kontrollah dirimu”. “Alangkah mungkin orang yang tamak kepada dunia akan mendapatkannya di dunia. Akan tetapi, ketika ia mendapatkan seluruhnya, dunia itu akan menjadi bala` baginya dan ia menjadi sengsara karenanya. Dan alangkah mungkin seorang membenci urusan akhirat. Akan tetapi, ia dapat menggapainya kemudian dan ia hidup bahagia karenanya”. “Tiada keutamaan seperti jihad dan tiada jihad seperti menentang hawa nafsu”. “Ambillah nasihat baik dari orang yang mengucapkannya meskipun ia tidak mengamalkannya”. “(Jika sesuatu digabung dengan yang lain), tidak ada gabungan yang lebih indah dari kesabaran yang digabung dengan ilmu”. “Kesempurnaan yang paling sempurna adalah tafakkuh (mendalami) agama, sabar menghadapi musibah dan ekonomis dalam mengeluarkan biaya hidup”. “Tiga hal adalah kemuliaan dunia dan akhirat: memaafkan orang yang menzalimimu, menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, dan sabar ketika engkau diperlakukan sebagai orang bodoh”. “Sesungguhnya Allah membenci seseorang yang meminta-minta kepada orang lain berkenaan dengan kebutuhannya, dan menyukai hal itu (jika ia meminta kepada)-Nya. Sesungguhnya Ia suka untuk diminta setiap yang dimiliki-Nya”. “Seorang alim yang dapat dimanfaatkan ilmunya lebih utama dari tujuh puluh ribu ‘abid”. “Seorang hamba bisa dikatakan alim jika ia tidak iri kepada orang yang berada di atasnya dan tidak menghina orang yang berada di bawahnya”. “Jika mulut seseorang berkata jujur, maka perilakunya akan bersih, jika niatnya baik, maka rezekinya akan ditambah, dan jika ia berbuat baik kepada keluarganya, maka umurnya akan ditambah”. “Janganlah malas dan suka marah, karena keduanya adalah kunci segala keburukan. Barang siapa yang malas, ia tidak akan dapat melaksanakan hak (orang lain), dan barang siapa yang suka marah, maka ia tidak akan sabar mengemban kebenaran”. “Orang yang paling menyesal di hari kiamat adalah orang yang berbicara keadilan dan ia sendiri tidak melaksanakannya”. “Silaturahmi dapat membersihkan amalan, memperbanyak harta, menghindarkan bala`, mempermudah hisab (di hari kiamat) dan menunda ajal tiba”. “Ucapkanlah kepada orang lain kata-kata terbaik yang kalian senang jika mereka mengatakan itu kepadamu”. “Allah akan memberikan hadiah bala` kepada hamba-Nya yang mukmin sebagaimana orang yang bepergian akan selalu membawa hadiah bagi keluarganya, dan menjaganya dari (godaan) dunia sebagaimana seorang dokter menjaga orang yang sakit”. “Bersikaplah wara’, berusahalah selalu, jujurlah, dan berikanlah amanat kepada orangnya, baik ia adalah orang baik maupun orang fasik. Seandainya pembunuh Ali bin Abi Thalib a.s. menitipkan amanat kepadaku, niscaya akan kuberikan kepadanya”. “Ghibah adalah engkau membicarakan aib (yang dimiliki oleh saudaramu) yang Allah telah menutupnya (sehingga tidak diketahui oleh orang lain), dan menuduh adalah engkau membicarakan aib yang tidak dimiliki olehnya”. “Allah membenci pencela yang tidak memiliki harga diri”. “(Engkau dapat dikatakan rendah hati jika) engkau rela duduk di sebuah majelis yang lebih rendah dari kedudukanmu, mengucapkan salam kepada orang yang kau jumpai, dan menghindari debat meskipun engkau benar”. “Ibadah yang terbaik adalah menjaga perut dan kemaluan”. “Tidak akan bermaksiat kepada Allah orang yang mengenal-Nya”. “Ketika Allah menciptakan akal, Ia berfirman kepadanya: “Kemarilah!” Ia pun menghadap. Ia berfirman kembali: “Mundurlah!” Ia pun mundur. Kemudian Ia berfirman: “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku tidak pernah menciptakan makhluk yang lebih Kucintai darimu, dan Aku tidak akan menyempurnakanmu kecuali bagi orang yang Kucintai. Semua perintah, larangan, siksa dan pahala-Ku tertuju kepadamu”. “Sesungguhnya Allah akan menghisab hamba-hamba-Nya pada hari kiamat sesuai dengan kadar akal yang telah dianugerahkan kepada mereka di dunia.” “Sesungguhnya pahala orang yang mengajarkan ilmu adalah seperti pahala orang yang belajar darinya, dan ia masih memiliki kelebihan darinya. Oleh karena itu, pelajarilah ilmu dari ahlinya dan ajarkanlah kepada saudara-saudaramu sebagaimana ulama telah mengajarkannya kepadamu”. “Barang siapa yang mengeluarkan fatwa tanpa ilmu yang cukup, maka ia akan dilaknat oleh malaikat rahmat dan azab serta dosa orang yang mengamalkan fatwanya akan dipikul olehnya”. “Orang yang mencari ilmu dengan tujuan mendebat ulama (lain), mempermalukan orang-orang bodoh atau mencari perhatian manusia, maka bersiap-siaplah untuk menempati neraka. Kepemimpinan tidak berhak dimiliki kecuali oleh ahlinya”. “Faqih yang sebenarnya adalah orang yang zahid terhadap dunia, rindu akhirat dan berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah SAWW”. “Sesungguhnya Allah azza wa jalla menyukai orang-orang yang suka bergurau dengan orang lain dengan syarat tanpa cela-mencela”. “Tiga kriteria yang penyandangnya tidak akan meninggal dunia kecuali ia telah merasakan siksanya: kezaliman, memutuskan tali silaturahmi dan bersumpah bohong, yang dengan sumpah tersebut berarti ia telah berperang melawan Allah”. “Sesuatu yang paling utama di sisi Allah adalah engkau meminta segala yang dimiliki-Nya”. “Demi Allah, seorang hamba tidak berdoa kepada-Nya terus menerus kecuali Ia akan mengabulkannya”. “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang banyak berdoa. Oleh karena itu, berdoalah pada waktu ashar hingga matahari terbit, karena pada waktu itu pintu-pintu langit terbuka, rezeki-rezeki dibagikan dan hajat-hajat penting dikabulkan” Berdoa untuk orang lain “Doa yang paling cepat dikabulkan adalah doa seorang hamba untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya”. Mata-mata yang tidak akan menangis “Semua mata pasti akan menangis pada hari kiamat kecuali tiga mata: mata yang bangun malam di jalan Allah, mata yang menangis karena takut kepada-Nya dan mata yang tidak pernah melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah”. Orang yang tamak bak ulat sutra “Perumpamaan orang yang tamak bagaikan ulat sutra. Ketika sutra yang melilitnya bertambah banyak, sangat jauh kemungkinan baginya untuk bisa keluar sehingga ia akan mati kesedihan di dalam sarangnya sendiri”. Jangan berwajah dua “Hamba yang paling celaka adalah hamba yang berwajah dan bermulut dua; ia memuji saudaranya di hadapannya dan menghibahnya di belakangnya, jika saudaranya itu dianugerahi nikmat, ia iri dan jika ia ditimpa musibah, ia menghinanya”. Perbanyaklah kamu mengingat mati, karena hal itu bisa membersihkan dosa dan menyebabkan kamu zuhud atau tidak cinta kepada dunia.(Rasulullah) Keluarlah dari dirimu dan serahkanlah semuanya pada Allah, lalu penuhi hatimu dengan Allah. Patuhilah kepada perintahNya, dan larikanlah dirimu dari laranganNya, supaya nafsu badaniahmu tidak memasuki hatimu, setelah itu keluar, untuk membuang nafsu-nafsu badaniah dari hatimu, kamu harus berjuang dan jangan menyerah kepadanya dalam keadaan bgaimanapun juga dan dalam tempo kapanpun juga.(Syekh Abdul Qodir al-Jaelani) Berteman dengan orang bodoh yang tidak mengikuti ajakan hawa nafsunya adalah lebih baik bagi kalian, daripada berteman dengan orang alim tapi selalu suka terhadap hawa nafsunya.(Ibnu Attailllah as Sakandari) Orang yang suka berkata jujur akan mendapatkan 3 hal, yaitu : KEPERCAYAN, CINTA dan RASA HORMAT (Sayidina Ali bin Abi Thalib) Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak. (Sayidina Ali bin Abi Thalib) Kejahatan yang dibalas dengan kejahatan pula adalah sebuah akhlaq ular, dan kalau kebajikan dibalas dengan kejahatan itulah akhlaq buaya, lalu bila kebajikan dibalas dengan kebajkan adalah akhlaq anjing, tetapi kalau kejahatan dibalas dengan kebajikan itulah akhlaq manusia.(Nasirin) Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu akan menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) sedangkan harta terhukum. Kalau harta itu akan berkurang apabila dibelanjakan, tetapi ilmu akan bertambah apabila dibelanjakan.(Sayidina Ali bin Abi Thalib) Sabar memiliki dua sisi, sisi yang satu adalah sabar, sisi yang lain adalah bersyukur kepada Allah. (Ibnu Mas’ud) Takutlah kamu akan perbuatan dosa di saat sendirian, di saat inilah saksimu adalah juga hakimmu. (Ali bin Abi Thalib) Orang yang paling aku sukai adalah dia yang menunjukkan kesalahanku.(Umar bin Khattab) Niat adalah ukuran dalam menilai benarnya suatu perbuatan, oleh karenanya, ketika niatnya benar, maka perbuatan itu benar, dan jika niatnya buruk, maka perbuatan itu buruk. (Imam An Nawawi) Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rezki yang lebih baik daripada sabar. (Umar bin Kattab) Read more at: http://operatorku.blogspot.com/2012/07/kata-mutiara-islami-terbaru-2012.html Copyright by operatorku.blogspot.com Terima kasih sudah menyebarluaskan aritkel ini

  • erva kurniawan 1:15 am on 30 August 2012 Permalink | Balas  

    Fungsi Gunung 

    Fungsi Gunung

    Dengan perpanjangannya yang menghujam jauh ke dalam maupun ke atas permukaan bumi, gunung-gunung menggenggam lempengan-lempengan kerak bumi yang berbeda, layaknya pasak. Kerak bumi terdiri atas lempengan-lempengan yang senantiasa dalam keadaan bergerak. Fungsi pasak dari gunung ini mencegah guncangan dengan cara memancangkan kerak bumi yang memiliki struktur sangat mudah bergerak.

    Al Qur’an mengarahkan perhatian kita pada fungsi geologis penting dari gunung.

    Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka…” (Al Qur’an, 21:31)

    Sebagaimana terlihat, dinyatakan dalam ayat tersebut bahwa gunung-gunung berfungsi mencegah goncangan di permukaan bumi. Kenyataan ini tidaklah diketahui oleh siapapun di masa ketika Al Qur’an diturunkan. Nyatanya, hal ini baru saja terungkap sebagai hasil penemuan geologi modern.

    Menurut penemuan ini, gunung-gunung muncul sebagai hasil pergerakan dan tumbukan dari lempengan-lempengan raksasa yang membentuk kerak bumi. Ketika dua lempengan bertumbukan, lempengan yang lebih kuat menyelip di bawah lempengan yang satunya, sementara yang di atas melipat dan membentuk dataran tinggi dan gunung. Lapisan bawah bergerak di bawah permukaan dan membentuk perpanjangan yang dalam ke bawah. Ini berarti gunung mempunyai bagian yang menghujam jauh ke bawah yang tak kalah besarnya dengan yang tampak di permukaan bumi.

    Dalam tulisan ilmiah, struktur gunung digambarkan sebagai berikut: Pada bagian benua yang lebih tebal, seperti pada jajaran pegunungan, kerak bumi akan terbenam lebih dalam ke dalam lapisan magma. (General Science, Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 305).

    Dalam sebuah ayat, peran gunung seperti ini diungkapkan melalui sebuah perumpamaan sebagai “pasak”: “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?” (Al Qur’an, 78:6-7).

    Dengan kata lain, gunung-gunung menggenggam lempengan-lempengan kerak bumi dengan memanjang ke atas dan ke bawah permukaan bumi pada titik-titik pertemuan lempengan-lempengan ini. Dengan cara ini, mereka memancangkan kerak bumi dan mencegahnya dari terombang-ambing di atas lapisan magma atau di antara lempengan-lempengannya. Singkatnya, kita dapat menyamakan gunung dengan paku yang menjadikan lembaran-lembaran kayu tetap menyatu.

    Fungsi pemancangan dari gunung dijelaskan dalam tulisan ilmiah dengan istilah “isostasi”. Isostasi bermakna sebagai berikut: Isostasi: kesetimbangan dalam kerak bumi yang terjaga oleh aliran materi bebatuan di bawah permukaan akibat tekanan gravitasi. (Webster’s New Twentieth Century Dictionary, 2. edition “Isostasy”, New York, s. 975).

    Peran penting gunung yang ditemukan oleh ilmu geologi modern dan penelitian gempa, telah dinyatakan dalam Al Qur’an berabad-abad lampau sebagai suatu bukti Hikmah Maha Agung dalam ciptaan Allah.

    ***

    Sumber : Pesona Al-Qur’an, karya Harun Yahya.

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 29 August 2012 Permalink | Balas  

    Pergerakan Gunung 

    Pergerakan Gunung

    Dalam sebuah ayat, kita diberitahu bahwa gunung-gunung tidaklah diam sebagaimana yang tampak, akan tetapi mereka terus-menerus bergerak.

    “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Qur’an, 27:88)

    Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.

    Para ahli geologi memahami kebenaran pernyataan Wegener baru pada tahun 1980, yakni 50 tahun setelah kematiannya. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Wegener dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915, sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan.

    Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.

    Benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada permukaan Bumi secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di Bumi.

    Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana berikut:

    Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama, dan beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya.

    Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 30)

    Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah “continental drift” atau “gerakan mengapung dari benua” untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13).

    Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Al Qur’an bahwa fakta ilmiah ini, yang baru-baru saja ditemukan oleh para ilmuwan, telah dinyatakan dalam Al Qur’an.

    ***

    Sumber : Pesona Al-Qur’an, karya Harun Yahya.

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 28 August 2012 Permalink | Balas  

    Serasa dan Serasi 

    Serasa dan Serasi

    Tidak karena kamu memiliki semua pesona itu sekaligus, maka kamu bisa mencintai dan mengawini semua perempuan. Begitu juga sebaliknya. Pesona fisik, jiwa, akal, dan ruh, diperlukan untuk menciptakan daya tarik dan daya rekat yang permanent bila kita ingin membangun sebuah hubungan jangka panjang. Tapi seperti berlian, tidak semua orang mengenalnya dengan baik, maka mereka tidak menghargainya. Atau mungkin mereka mengenalnya, tapi terasa terlalu jauh untuk dijangkau, seperti mimpi memetik bintang atau mimpi memeluk gunung. Atau mungkin ia mengenalnya, tapi terasa terlalu mewah untuk sebuah kelas sosial, atau kurang serasi untuk sebuah suasana.

    Kira-kira itulah yang membuat Aisyah Radhiyallahu`anha sekali ini benar-benar gundah. Orang terbaik dimuka bumi ketika itu, Amirul Mu’minin, Khalifah kedua, Umar bin Khattab, hendak melamar adiknya, Ummu Kaltsum. Tidak ada alasan untuk menolak lamaran beliau kecuali bahwa Abu Bakar, sang Ayah, yang juga Khalifah Pertama, telah mendidik puteri-puterinya dengan penuh kasih sayang dan kemanjaan. Aisyah karena itu, percaya bahwa adiknya tidak akan kuat beradaptasi dengan pembawaan Umar yang kuat dan kasar. Bahkan ketika Abu Bakar meminta pendapat Abdurrahman bin Auf tentang kemungkinan penunjukkan Umar bin Khattab sebagai khalifah, beliau menjawab : “Dia yang paling layak, kecuali bahwa dia kasar.”

    Dengan sedikit bersiasat, Aisyah meminta bantuan Amru bin `Ash untuk “menggiring” Umar agar menikahi Ummu Kaltsum yang lain, yaitu Ummu Kaltsum binti Ali bin Abi Thalib yang ketika itu berumur 11 tahun. Karena garis jiwa, akal dan ruh mereka lebih setara dan karena itu mereka akan tampak lebih serasi karena bisa serasa. Berbekal pengalaman sebagai diplomat ulung, pesan itu memang sampai kepada Umar. Akhirnya Umar menikahi Ummu Kultsum bin Ali bin Abi Thalib.

    Kesetaraan dan keserasian. Itu yang lebih menentukan daripada sekedar pesona an sich. Ibnu Hazem menjelaskan, kalau ada lelaki tampan menikahi perempuan jelek, atau sebaliknya, itu bukan sebuah keajaiban. Yang ajaib adalah kalau seorang lelaki meninggalkan kekasih yang cantik dan memilih kekasih baru yang jelek. “Saya tidak bisa memahaminya. Tapi memang tidak harus dijelaskan.”

    Ibnu Hazem, imam terbesar pada mazhab Zhahiryah, yang menulis puluhan buku legendaries dalam fiqh, hadist, sejarah, sastra, puisi dan lainnya, lelaki tampan yang lembut dan seorang pecinta sejati, putera seorang menteri di Cordova, suatu ketika harus menelan luka: cintanya ditolak oleh seorang perempuan yang justru bekerja dirumahnya. Ibnu Hazem bahkan mengejar-ngejarnya dan melakukan semua yang bisa ia lakukan untuk mendapatkan cintanya. Tapi tetap saja ditolak.

    “Saya teringat, kadang-kadang saya masuk melalui pintu rumahku dimana gadis itu ada disana, untuk berdekat-dekat dengannya. Tapi begitu ia tahu aku mendekat ia segera menjauh dengan sopan dan tenang. Jika ia memilih pintu lain, maka aku akan kesana juga tapi dia akan pindah lagi ketempat lain. Dia tahu aku sangat mencintainya walaupun perempuan-perempuan tidak tahu hal itu karena jumlah mereka sangat banyak di istanaku.”

    Begitulah lelaki yang memiliki semua pesona itu ditolak. Bahkan ketika suatu saat Ibnu Hazem menyaksikan gadis itu menyanyi di istananya, Ibnu Hazem benar-benar terpesona dan makin mencintainya. Tapi ia hanya berkata dengan lirih: “Oh, nanyian itu seakan turun kehatiku, dan hari itu tidak akan pernah kulupakan sampai hari ketika berpisah dengan dunia.”

    Oh, lelaki baik yang terluka oleh hukuman keserasaan dan keserasian.

    ***

    Oleh: Anis Matta, Lc

    Sumber: Majalah Tarbawi Edisi 129 Th.7/Shafar 1427 H/30 Maret 2006 M.

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 27 August 2012 Permalink | Balas  

    Shalat Dhuha Mendatangkan Rezeki? 

    Shalat Dhuha Mendatangkan Rezeki?

    Ketika mobil sudah lolos dari kemacetan, kami kembali bisa menikmati perjalanan santai keliling kota. Sambil menikmati suasana santai di dalam mobil, seorang famili yang bernama ‘MF’ bercerita tentang pengalamannya yang cukup unik. Katanya, sebuah pengalaman yang sangat istimewa telah ia dapatkan ketika melakukan shalat dhuha.

    Dari berbagai sumber, keterangan dan penjelasan yang ia dapatkan, baik ketika mendengarkan ceramah-ceramah, atau dari membaca diskusi-diskusi literatur. Ia mengambil sebuah kesimpulan, bahwa shalat dhuha itu dipakai untuk mencari rezeki. Begitulah kesimpulan yang ia dapatkan.

    Kata MF, pagi itu ia benar-benar bisa tenggelam dalam kekhusyukan. Sebab, sebelumnya ia mempunyai permasalahan ekonomi yang cukup serius. Maka dengan melakukan shalat dhuha, ia berharap akan mendapat rezeki kontan dari Allah Swt, sehingga bisa menyelesaikan permasalahannya dengan cepat.

    Saat itu, do’a yang dipanjatkan sangat panjang. Sujud yang dilakukan begitu khusyuk. Harapannya hanya satu. Ia ingin mendapat rezeki secepatnya untuk segera menutupi hutang-hutangnya yang katanya sudah sangat menumpuk.

    Beberapa hari ia lakukan shalat dhuha tersebut dengan penuh khusyu’ dan tawadhu’. Setiap selesai shalat dhuha ia selalu berharap-harap cemas untuk mendapatkan rezeki dari Allah Swt.

    Pada pagi yang cerah, ketika waktu dhuha sudah masuk, seperti biasanya ia mengambil air wudhu’, lalu ia menggelar sajadahnya. Hari itu benar-benar ia bisa melakukan shalat lebih khusyu’ dari waktu-waktu sebelumnya. Do’a pun dipanjangkan lebih dari hari-hari sebelumnya. Ia betul-betul merasa puas dengan shalat dhuhanya .

    Ketika menutup do’a khusyu’nya, sebelum melipat sajadahnya, tiba-tiba pintu rumahnya diketuk perlahan. Dan terdengar suara ucap salam dari seorang tamu yang berada di luar. Kontan MF bangkit dari tempat shalatnya, dan ia menjawab salam dengan penuh gembira.

    “…wa ‘alaikum salaam warahmatullaahi wabarakaatuh…”

    Begitu fasihnya MF menjawab salam tersebut. Dengan penuh gembira dipersilahkannya tamu itu masuk kedalam rumahnya. Dalam hatinya MF berkata, Wah, inilah rezeki yang ia harapkan itu. Ia berfikir begitu kontannya Allah kalau memberi rezeki. Belum satu menit do’a panjang itu ia tutup, belum selesai ia melipat sajadahnya, tiba-tiba didepan pintu sudah menunggu rezeki itu…

    ” Silakan masuk pak,. .” kata MF. ” Oh, iya terima kasih…” sahut tamunya. Bapak siapa ya, koq saya agak lupa…” kata MF. Ini pak…, saya memang belum pernah ketemu bapak. Saya adalah utusan dari majikan saya bapak HR. Saya kesini disuruh menagih hutang kepada bapak yang memang belum terbayar sejak lima bulan yang lalu. Mohon maaf kalau saya mengganggu…”

    Ah, betapa pucat muka MF mendengar hal ini. Ternyata yang datang bukan rezeki yang diharapkan, tetapi justru orang sedang menagih hutang! Ingin rasanya ia menangis waktu itu. Betapa saat itu ia tidak punya uang sama sekali, Shalat dhuha sudah ia lakukan dengan penuh khusyuk ternyata yang datang bukan seperti harapannya. Sambil menutup ceritanya, MF mengatakan pada saya :”..ternyata shalat dhuha tidak bisa dipakai untuk mencari rezeki ya…”

    Saya hanya tersenyum, menyaksikan MF mengambil kesimpulan sendiri dari ceritanya itu. Rupanya ada sesuatu yang salah dalam pemahaman shalat dhuha. Allah Swt, sebagai Tuhannya Alam Semesta, Dzat Yang Maha Agung, oleh MF dimintai uang untuk membayarkan hutangnya.

    Kira-kira saja, para malaikat menjadi ‘tersinggung’ mendengar perilaku MF ini. Betapa Sang Pencipta Jagad Raya, yang memiliki Arasy yang tinggi, yang mengatur jalannya bintang-bintang raksasa, di seluruh galaksi, yang mengatur hidup dan mati seluruh ciptaanNya, disuruh membayarkan hutangnya…?

    MF memang belum mengerti, ia tidak menyadari akan kesalahannya. Maka Allah Swt memberinya pelajaran praktis pada pagi itu. Yang datang bukanlah rezeki, tetapi sebaliknya yang datang adalah orang yang menagih hutang.

    Sejak memulai shalat, yang di bayangkannya oleh MF adalah rezeki melimpah. Bukan mengagungkan Allah. Rupanya MF telah melakukan kesalahan dalam mengartikan substansinya shalat dhuha.

    Bahwa dengan shalat dhuha seseorang akan mendapatkan rezeki yang barokah, insyaAllah adalah benar. Tetapi yang menjadi masalahnya, shalat bukanlah untuk mencari rezeki. Shalat adalah sebuah pengabdian yang sangat indah dari seorang hamba kepada Tuhannya.

    Mengabdi bukanlah minta rezeki. Mengabdi adalah mendekatkan diri pada Ilahi. Mengabdi adalah mensyukuri nikmat diri yang tiada terhitung lagi saking banyaknya yang telah diterima bleh manusia.

    Allah melalui rasulNya, menyuruh kepada kita semua, agar di waktu dhuha kita menyembahNya. Kita MengagungkanNya. Apabila pada saat semua orang sibuk mencari rezeki dan sibuk mengurusi duniawi, pada saat itu ada seorang hamba yang menyempatkan diri untuk mengagung-kanNya, dengan melakukan shalat dhuha, maka dia itulah orang yang sangat istimewa.

    Sungguh Allah sangatlah mencintainya. Sebab ketika semua orang memanfaatkan `waktu efektif’ untuk bekerja, ‘waktu efektif’ untuk berusaha, ternyata pada saat itu ada orang yang mau dan rela mengorbankan waktunya demi mencari ridha Allah. Mohon ampun atas segala kekhilafannya. Mengagungkan Dzat Yang Maha Perkasa. Bukan sekedar untuk minta rezeki. Sungguh orang itu berhak mendapatkan rezeki yang barokah dari Allah Swt…

    Barang siapa yang rajin menjaga shalat dhuha, maka akan diampunkan dosa-dosanya, walaupun sebanyak buih di lautan.

    (HR. Ahmad, Attirmidzi)

    Barang siapa yang disibukkan oleh dzikirnya untuk mengingatKu, sampai ia lupa memohon kepadaKu, maka Aku memberinya sebelum ia memohon kepadaKu.

    (Hadits Qudsi, Abu Nu’aim, Dailami)

    ***

    Dari Sahabat

     
    • abdulsabar86 4:59 am on 27 Agustus 2012 Permalink

      ah ,bapak ini khyal saja,sebab ALLAH selalu mengharapkan kita meminta SEMUA KEPADA NYA.Bahkan ada DOA agar hutang dilunalsi

    • abdul rahman 11:44 pm on 29 Januari 2013 Permalink

      apa doa nya

    • ary 10:55 am on 8 April 2013 Permalink

      sangat bagus sekali web ini,,, membimbing agar kita mengerti konteks dari sholat duha,,
      saya sangat paham arti dari tulisan di atas,, dengan kita sholat duha mengagungkan allah swt ,,
      memohon dengan sangat,, maka allah akan memberikan kita rezeki…
      bukan sholat duha yang memberi rezeki,, tapi allah yang memberi rezeki dengan cara ketawaduan kita melaksanakan sholat duha
      terimakasih tulisannya,,,

    • riyan kur nia 11:54 am on 9 Agustus 2013 Permalink

      insy ALLAH smg kita bisa ber iman dn bertkw kpd tuhan yangg maha esa,,,selalu berusaha mendekatkn dr kpd ALLAH SWT,trmksh artikely sangat bagus,bisa sy fhmi dn mgrti,wassallam

  • erva kurniawan 1:00 am on 26 August 2012 Permalink | Balas  

    Belajar Tasawuf Kepada Anak Kecil 

    Belajar Tasawuf Kepada Anak Kecil

    Hidup memang penuh misteri.  Demikian kata-kata yang sering kita dengar dari para ulama. Ada orang yang bekerja keras setengah mati,  padahal tidak malas, rezeki yang didapatnya kadang-kadang tidak mencukupi.

    Sebagian orang lagi, ada yang kerjanya begitu ‘mudah’, tetapi rezeki yang diperolehnya sangat melimpah. Dan ada sebagian orang lagi, yang dalam mencari uang begitu ‘brutal’nya sehingga semua aturan-aturan dilanggarnya, tetapi dia tampak ‘bahagia-bahagia’ saja.Tapi sebaliknya, ada orang yang mencari uang dengan sangat hati-hati. Ia ingin bersih. Namun begitu banyaknya ia mendapat persoalan dan cobaan dalam hidup ini.

    Hidup memang penuh misteri. Maka, perlu bagi kita sebagai manusia untuk mencoba menguak tabir itu Untuk itu, yang paling tajam adalah mata hati, bukan mata jasmani!

    Dalam wilayah inilah, para guru kita mengajari untuk melihat hal itu semua. Mulai umur berapa kira-kira, setiap orang bisa dan mampu mempelajari nilai-nilai kehidupan? Siapa guru kita? Dimana guru itu berada?

    Rupanya, selain guru yang berada di sekitar kita, guru yang paling tahu tentang keberadaan kita adalah diri kita sendiri. Karenanya, mari kita mencoba berguru pada diri sendiri.

    Pada Minggu pagi yang cerah, saya melakukan olah raga, jalan pagi. Saya bertemu dengan seorang pembantu rumah tangga yang sedang mengasuh anak majikannya. Usia anak itu sekitar satu tahun. Begitu lucunya, begitu menggemaskan. Apalagi kalau sedang belajar berjalan. Sempoyongan sana sini, mau jatuh tidak jadi, terduduk, terjatuh, bahkan sempat juga sampai terjungkal.

    Anehnya, tidak sekalipun ia menangis, atau kapok! Setiap kali terjatuh, ia bangkit kembali. Berjalan lagi, terjatuh lagi. Dan seterusnya ia selalu bangkit, untuk mencoba berjalan lagi…. Melihat peristiwa ini, saya menjadi teringat masa kecil saya, dan juga masa kecil setiap orang yang kini sudah beranjak dewasa.

    Saat ini, ketika kita sudah dewasa, yang nota bene kita sudah lebih pintar dari anak balita, justru kita perlu belajar banyak dari mereka. Lebih tepatnya, kita perlu belajar kepada diri sendiri. Sambil mengenang ketika umur kita masih sekitar satu tahun. Kenapa manusia dewasa perlu belajar pada anak balita?

    Sebab manusia dewasa,  sering dihinggapi rasa khawatiir yang berlebihan,  gampang putus asa,  jarang yang berani mengambil keputusan, merasa minder, malas, merasa gagal dan tidak mau mencoba lagi  sering frustasi akan kegagalannya pesimistik … bahkan kadang-kadang buruk sangka terhadap Penciptanya, mungkin masih banyak lagi

    Mari kita lihat diri kita sendiri, yaitu sekian tahun yang lalu ketika kita sedang belajar berjalan untuk meraih sukses dalam cita-cita, bisa berjalan. Begitu hebat dan luar biasanya Allah Swt, memberi dan mengajarkan ilmuNya kepada diri kita waktu itu. ‘allamal insaana maa lam ya’lam. (Tuhanlah) yang mengajarkan pada manusia, apa-apa yang belum pernah diketahuinya. ( Al-Alaq : 5 )

    Seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa, yang belum sekolah, bahkan berbicarapun belum bisa, ternyata dengan ‘ilmu’nya yang telah Allah ajarkan kepadanya, dia sudah bisa berfikir cerdas melampaui orang dewasa.

    Anak kecil itu, diri kita itu, telah memberi contoh yang sangat banyak kepada manusia dewasa lainnya.

    Apa saja yang diajarkan ‘anak kecil’ itu kepada kita semua ?

    1. Bahwa sebagai manusia, kita harus belajar terus sepanjang hidup, tak ada kata berhenti untuk belajar. Tak kenal susah, tak kenal lelah
    2. Apabila suatu saat kita jatuh, dan pasti pernah jatuh, maka janganlah pernah putus asa, bangkitlah. Dan coba lagi. Jika kembali jatuh, bangkitlah lagi. Dan coba lagi…
    3. Tidak ada kata gagal dalam konsep hidupnya, sebab yang disebut gagal adalah apabila seseorang tidak mau mencoba lagi.
    4. Memiliki rasa optimis yang tinggi untuk mencapai cita-citanya.
    5. Apabila sudah yakin benar, tidak perlu merasa takut, sebab Allah Swt sebagai Dzat Yang Maha Pemberi Pertolongan, akan selalu melindungi hambaNYa yang berbuat benar.
    6. Rajin belajar, tidak mengenal konsep malas.
    7. Tidak pernah minder dalam kehidupan, sebab semua orang di hadapan Allah adalah sama.
    8. Selalu berbaik sangka dalam hidupnya. Dia ‘tidak takut’ jatuh, tidak takut terlanggar sepeda atau kendaran lainnya, bahkan tidak takut ia dibawa orang yang tak dikenalnya.

    Mungkin masih banyak lagi ilmu yang perlu kita gali dari diri anak kecil itu. Selain dengan hal-hal diatas: terus belajar, tidak pernah putus asa, tidak pernah merasa gagal, selalu optimis, yakin akan datangnya pertolongan Allah, rajin belajar, tidak minder, selalu berbaik sangka…, ada satu lagi yang perlu kita ambil dan kita pelajari dari diri anak kecil itu. Ialah tentang kejujuran. Dalam diri anak kecil, kita akan melihat sebuah perilaku yang begitu jujurnya.

    1. Ketika menangis, memang seharusnya ia menangis. Tidak dibuat-buat.
    2. Ketika tertawa, memang seharusnya ia tertawa, senang dan gembira. Tidak pernah ia merekayasanya.
    3. Ketika terjatuh, ia mengakui bahwa memang ia belum bisa.
    4. Ketika lapar, memang betul-betul perutnya belum terisi.
    5. Ketika haus, memang saat itu tenggorokannya lagi kering… dlsb

    Dengan memperhatikan anak balita yang sedang belajar berjalan, kita seperti masuk dalam sebuah kursus pelatihan tasawuf. Begitu banyak yang bisa kita serap ilmunya. Dan, guru kita itu bukan orang lain. Dia adalah diri kita sendiri.

    Dengan belajar kepada diri sendiri, sama halnya dengan kita mendekatkan diri pada Ilahi. Karena Allah Swt sebagai Tuhannya manusia, tidak pernah jauh dari hambaNya.

    QS. Qaaf : 16

    Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya

    Dengan melihat dan memperhatikan diri sendiri, kembali kita bertemu dengan Allah Swt.

    Al Baqarah : 115

    Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • kisah bagus 8:35 am on 5 September 2012 Permalink

      kita manusia mesti terus berusaha, jatuh dan gagal adalah hal biasa. terus mencoba dan mencoba. kita tidak tahu keberhasilan itu sudah sedekat apa dgn kita.
      akan menyedihkan jika kita berhenti berusaha ketika keberhasilan sudah di depan pintu kita.

  • erva kurniawan 1:12 am on 25 August 2012 Permalink | Balas  

    Hancurkan Dinding Ego Kalian 

    Hancurkan Dinding Ego Kalian

    Bismillah hirRohman nirRohim

    Armageddon akan terjadi, bukan karena Allah SWT; tetapi karena ego kalian, yang tidak pernah puas.  Satu kata dari Rasulullah sallAllahu  alaihi wassalam memperjelas semua situasi sekarang yang kita hadapi, “Aku berlindung kepada Allah dari pengetahuan yang tidak membawa manfaat kepada orang yang bersangkutan, atau bagi kemanusiaan.  Aku juga berlindung kepada Allah dari kejahatan ego yang hanya menginginkan kesenangan dan kenikmatan fisik, tidak ada yang lain.”  Semoga Allah mengampuni kita.  Kata-kata doa ini adalah sesuatu yang penting.

    Oleh sebab itu, Rasulullah saw bersabda, “Aku datang untuk menghilangkan karakteristik buruk ego manusia.  Aku datang untuk menyandangkan kalian dengan kualitas terbaik, nilai terbaik, pakaian terbaik kalian, sehingga kalian akan berada di Hadirat Ilahi dengan Pakaian Ilahi yang terbaik dan paling berharga.”

    Nilai-nilai tersebut adalah pakaian terbaik bagi kalian. Jika kalian tidak mengenakan pakaian itu, kalian akan diusir, karena ego kalian tidak pernah merasa cukup. Dan Neraka juga akan berkata, “Wahai Tuhanku, jika ada lebih banyak lagi, Aku mohon agar mereka dikirimkan kepadaku. Kirimkanlah padaku orang-orang dengan keinginan egonya, mereka akan temukan bahwa apa yang mereka inginkan ada pada levelku.”

    Setelah Revolusi Perancis, tembok besar yang mencegah orang untuk bersikap patuh menjadi hancur.  Jangan dikira bahwa itu semua terjadi demikian-bahwa mereka mendobrak pintu Bastille.  Itu adalah peristiwa simbolik  bahwa Setan membuka penjara Bastille untuk mengeluarkan semua orang yang tidak patuh, yang tidak pernah menundukkan dirinya kepada Allah Azza wa Jalla.  Dan Kerajaan ini mewakili Kerajaan Allah di bumi.

    Dan sebagaimana disebutkan dalam semua Kitab Suci, bahwa setiap bangsa sejak awal hingga 1789 masing-masing mempunyai seorang Raja, orang-orang menundukkan kepala kepada mereka, bukannya mengangkat kepalanya, dan menunduk kepada Raja berarti secara tidak langsung patuh terhadap Tuhan Pemilik Surga. Tetapi ketika dinding pemisah antara rakyat dan Raja dihancurkan, semua orang yang tidak patuh, para pemberontak, kalajengking dan naga, semua orang liar yang telah dipenjara keluar.

    Juga beberapa filsuf, dan scientist yang bodoh, yang Atheis dan tidak percaya kepada adanya Tuhan Yang Mahakuasa. Mereka menulis banyak buku yang mendorong orang agar orang tidak patuh kepada siapa saja.  Apa yang mereka katakan adalah seperti ketika Allah swt menciptakan ego kita. Ketika Ego ditanya oleh Allah, siapakah engkau, maka Ego menjawab,”Engkau adalah engkau, dan Aku adalah aku,” begitu kata ego.

    Ego tidak pernah mau menunduk kepada Tuhannya dan berkata, “Aku adalah hamba-Mu, dan Engkau adalah Penciptaku, Tuhan Pemilik Surga.”  Dia tidak pernah mau menundukkan kepalanya di Hadirat Ilahi, sampai Allah  swr memerintahkannya untuk dikurung dalam api Neraka yang panas Selama 1000 tahun.  Tetapi dia tetap tidak datang dan menunduk.  Kemudian dia dipindahkan ke dalam Neraka yang dingin selama 1000 tahun pula, tetapi ego tetap masih belum mau menunduk kepada Tuhannya.  Sampai ego itu ditempatkan di lembah kelaparan selama 1000 tahun, barulah kemudian dia keluar dan berkata, “Aku adalah hamba-Mu yang lemah dan Engkau adalah Tuhanku.”  Itulah karakteristik utama dari ego kita-tidak mau menundukkan kepala di hadapan orang lain.

    Jika dia tidak menundukkan kepalanya di hadapan Allah swt, bagaimana dia mau menundukkan kepala dihadapan mahluk yang lain. Tidak akan!

    Demikianlah karena manusia sekarang tidak menghargai satu sama lain sebagai ciptaan-ciptaan Tuhan mereka yang unik dan terkasih, maka merekapun tak mampu untuk bersikap toleran satu sama lain, apalagi untuk mampu menghargai mereka atau menjadi lebih akrab dengan mereka.

    “Dunia ini tak cukup besar untuk menampung kita berdua,” kata salah seorang kepada yang lainnya, apalagi satu bangsa atau negara kepada bangsa dan negara lainnya. Setiap orang berteriak lantang akan dirinya masing-masing demikian kerasnya untuk menekan eksistensi yang lain. Dan perilaku semacam ini membuat orang menjadi demikian berat pula, hingga bumipun hampir-hampir tak mampu lagi menampung keseluruhan ras manusia, bukan karena jumlah mereka tapi karena sikap dan perilaku mereka.

    Kita telah mencegah diri kita sendiri dari sikap menghargai orang lain dan mencari keakraban dengan mereka. Kita melihat mereka tidak sebagai wakil-wakil Tuhan kita yang tercinta di muka bumi ini, tapi sebagai ancaman-ancaman bagi diri kita sendiri. Dan merekapun, sebagai gantinya, melihat kita sebagai orang-orang yang berbahaya, dan menarik keakraban mereka dari diri kita. Karena itulah, sikap liar dan buas tengah berjangkit dan tumbuh secara cepat pada manusia, dan dari sifat liar inilah muncul kebekuan, kebencian dan kedengkian di antara manusia.

    Ego dan nafsu rendah kita telah membangun dinding-dinding di sekeliling kita. Dinding dan tembok Ego yang tak dapat ditembus. Hancurkanlah lebih dahulu tembok-tembok Ego kalian itu, agar kalian mampu menghargai orang lain dan mendekati mereka. Setelah kalian mampu mengahancurkan dinding Ego itu, maka kalian akan menemukan bahwa perasaan-perasaan yang tulus mulai mengalir dari kalbu kalian, dan kemudian sebagian besar orang akan mulai menunjukkan sikap yang lebih baik terhadap diri kalian.

    Tetapi, jika kalian suka bertengkar dan terkuasai oleh ego rendah kalian yang buruk dan serakah, maka  tak seorang pun mampu mendekatimu dan kalian pun tak mampu mendekati seorang pun kecuali dengan kekerasan. Ini adalah sesuatu yang bersifat timbal balik. Jadi, hal pertama yang harus diperbaiki adalah dirimu sendiri, untuk mengendalikan ego/nafsu rendahmu, agar diri kalian mampu untuk meberikan keakraban yang tulus pada semua orang.

    Jika kalian ingin menyelamatkan diri kalian secara fisik dan spiritual dan selamanya, maka ikutilah langkah para Awliya.  Kita begitu lemah untuk mengikuti langkah para Nabi dan Rasul, karena dibutuhkan Iman yang kuat sehingga kalian bisa berpijak di jalur yang benar dengan mantap.  Jika kalian tidak mempunyai ‘qadama sidqin’, kalian belum memiliki langkah yang benar, kalian tidak dapat melangkah di jalan yang benar, tidak bisa.

    Jalan yang benar menuntut langkah yang benar. Langkah yang benar dilakukan oleh kaki yang benar.  Kaki yang benar adalah milik hati yang benar, jika hati kalian tidak benar, dia tidak bisa memerintahkan kaki kalian untuk berpijak dengan benar.  Oleh sebab itu perhatikanlah-seseorang yang mempunyai langkah yang benar, ikutilah mereka.  Siapa pun dia, kalian boleh mengikutinya.  Jika tidak, maka kalian akan mengikuti langkah Setan dan siapa pun yang mengikuti Setan, dia akhirnya akan sampai ke Neraka.

    Wa min Allah at Tawfiq

    Wassalam

    ***

    Oleh: Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 24 August 2012 Permalink | Balas  

    Kunci Meraih Pertolongan Allah 

    Kunci Meraih Pertolongan Allah

    KH Abdullah Gymnastiar

    “Saat kau bermunajat, kecilkanlah dirimu sekecil-kecilnya di hadapan Allah, dan besarkanlah Allah sebesar-besarnya semampu kau membesarkan-Nya. Niscaya rahmat dan pertolongan Allah akan mengalir kepadamu”.

    Abdullah bin Abbas pernah bercerita. “Suatu hari aku berjalan di belakang Rasulullah SAW. Saat itu beliau bersabda,

    ”Nak, kuajarkan kepadamu beberapa kata: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niascaya Dia akan senantiasa bersamamu. Bila kau minta, maka mintalah kepada Allah. Bila kau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, jika semua manusia bersatu untuk memberikan sebuah kebaikan kepadamu, niscaya mereka tidak dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis untukmu. Jika semua manusia bersatu untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan tinta telah kering”.

    Hadis yang diriwayatkan Imam Tirmidzi ini diungkapkan pula dalam redaksi berbeda.

    “Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalilah Allah diwaktu lapang, niscaya Dia akan mengenalmu di waktu susah. Ketahuilah bahwa apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan seiring dengan kesabaran, jalan keluar seiring dengan cobaan dan kemudahan seiring dengan kesulitan”.

    Saudaraku, redaksi hadis ini singkat, padat namun cakupan maknanya teramat dalam dan luas. Dalam hadis Rasulullah Saw. memberikan kunci-kunci bagaimana mendapatkan pertolongan Allah. Satu pesan utama hadis ini adalah “penghambaan” kepada Allah.

    Laa haula walaa quwwata illa billahil.

    Tiada daya maupun upaya selain atas kekuatan Allah. Saat kita menyadari kekerdilan diri di hadapan Allah, maka pertolongan Allah akan mendatangi kita. Bukankah kita makhluk lemah, sedangkan Allah Maha Menggenggam segalanya?

    Aa pernah bertanya kepada seorang guru, “Bagaimana caranya agar doa kita cepat dikabul oleh Allah?”.

    Beliau menjawab, “Saat kau berdoa, saat kau munajat, atau saat kau sujud, kecilkanlah dirimu sekecil-kecilnya di hadapan Allah, dan besarkanlah Allah sebesar-besarnya semampu kau membesarkannya. Niscaya rahmat dan pertolongan Allah akan mengalir kepadamu.”

    Jadi, kunci terpenting agar kita ditolong Allah adalah dengan sungguh-sungguh menghamba kepada-Nya.

    Saat kita ingin dimuliakan Allah, maka akuilah kehinaan kita di hadapan Allah.

    Saat kita ingin dilebihkan, maka akui kekurangan kita di hadapan Allah.

    Saat kita ingin dikuatkan Allah, maka akui kelemahan kita di selemah-lemahnya di hadapan Allah.

    Imam Ibnu Atha’ilah berkata, “Buktikan dengan sungguh-sungguh sifat-sifat kekuranganmu, niscaya Allah akan membantumu dengan sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Akuilah kehinaanmu, niscaya Allah menolongmu dengan kemuliaan-Nya. Akuilah kekuranganmu, niscaya Allah menolongmu dengan kekuasaan-Nya. Akuilah kelemahanmu, niscaya Allah akan menolongmu dengan kekuatan-Nya.”

    Saudaraku, sekali lagi, kekuatan terbesar yang kita miliki bukanlah kekuatan fisik, intelektual, kekuasaan ataupun harta kekayaan. Kekuatan terbesar kita adalah “pertolongan Allah”.

    Pertolongan Allah ini sangat dipengaruhi kualitas keyakinan kita kepada-Nya. Kualitas keyakinan biasanya akan melahirkan kekuatan ruhiyah. Kekuatan ruhiyah akan melahirkan akhlakul karimah, seperti kualitas sabar, syukur, ikhlas, tawadhu, iffah, zuhud, qanaah, dsb. Karena itu, kemuliaan akhlak tergantung dari sejauh mana kita mengenal Allah.

    Wallaahu a’lam

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 23 August 2012 Permalink | Balas  

    Pernahkah Anda Berfikir 

    Pernahkah Anda Berfikir

    Pernahkah anda memikirkan bahwa anda tidak ada sebelum dilahirkan ke dunia ini; dan anda telah diciptakan dari sebuah ketiadaan?

    Pernahkan anda berpikir bagaimana bunga yang setiap hari anda lihat di ruang tamu, yang tumbuh dari tanah yang hitam, ternyata memiliki bau yang harum serta berwarna-warni?

    Pernahkan anda memikirkan seekor nyamuk, yang sangat mengganggu ketika terbang mengitari anda, mengepakkan sayapnya dengan kecepatan yang sedemikian tinggi sehingga kita tidak mampu melihatnya?

    Pernahkan anda berpikir bahwa lapisan luar dari buah-buahan seperti pisang, semangka, melon dan jeruk berfungsi sebagai pembungkus yang sangat berkualitas, yang membungkus daging buahnya sedemikian rupa sehingga rasa dan keharumannya tetap terjaga?

    Pernahkan anda berpikir bahwa gempa bumi mungkin saja datang secara tiba-tiba ketika anda sedang tidur, yang menghancur luluhkan rumah, kantor dan kota anda hingga rata dengan tanah sehingga dalam tempo beberapa detik saja anda pun kehilangan segala sesuatu yang anda miliki di dunia ini?

    Pernahkan anda berpikir bahwa kehidupan anda berlalu dengan sangat cepat, anda pun menjadi semakin tua dan lemah, dan lambat laun kehilangan ketampanan atau kecantikan, kesehatan dan kekuatan anda?

    Pernahkan anda memikirkan bahwa suatu hari nanti, malaikat maut yang diutus oleh Allah akan datang menjemput untuk membawa anda meninggalkan dunia ini?

    Jika demikian, pernahkan anda berpikir mengapa manusia demikian terbelenggu oleh kehidupan dunia yang sebentar lagi akan mereka tinggalkan dan yang seharusnya mereka jadikan sebagai tempat untuk bekerja keras dalam meraih kebahagiaan hidup di akhirat?

    Manusia adalah makhluk yang dilengkapi Allah sarana berpikir. Namun sayang, kebanyakan mereka tidak menggunakan sarana yang teramat penting ini sebagaimana mestinya. Bahkan pada kenyataannya sebagian manusia hampir tidak pernah berpikir.

    Sebenarnya, setiap orang memiliki tingkat kemampuan berpikir yang seringkali ia sendiri tidak menyadarinya. Ketika mulai menggunakan kemampuan berpikir tersebut, fakta-fakta yang sampai sekarang tidak mampu diketahuinya, lambat-laun mulai terbuka di hadapannya. Semakin dalam ia berpikir, semakin bertambahlah kemampuan berpikirnya dan hal ini mungkin sekali berlaku bagi setiap orang. Harus disadari bahwa tiap orang mempunyai kebutuhan untuk berpikir serta menggunakan akalnya semaksimal mungkin.

    “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan, “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mngerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini”. (QS. Al-Fajr, 89:23-24)

    Seseorang yang tidak berpikir berada sangat jauh dari kebenaran dan menjalani sebuah kehidupan yang penuh kepalsuan dan kesesatan. Akibatnya ia tidak akan mengetahui tujuan penciptaan alam, dan arti keberadaan dirinya di dunia. Padahal, Allah telah menciptakan segala sesuatu untuk sebuah tujuan sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an:

    “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. (QS. Ad-Dukhaan, 44: 38-39)

    “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minuun, 23:115)

    Oleh karena itu, yang paling pertama kali wajib untuk dipikirkan secara mendalam oleh setiap orang ialah tujuan dari penciptaan dirinya, baru kemudian segala sesuatu yang ia lihat di alam sekitar serta segala kejadian atau peristiwa yang ia jumpai selama hidupnya. Manusia yang tidak memikirkan hal ini, hanya akan mengetahui kenyataan-kenyataan tersebut setelah ia mati. Yakni ketika ia mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya di hadapan Allah; namun sayang sudah terlambat.

    Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa pada hari penghisaban, tiap manusia akan berpikir dan menyaksikan kebenaran atau kenyataan tersebut: “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan, “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini”. (QS. Al-Fajr, 89:23-24)

    Padahal Allah telah memberikan kita kesempatan hidup di dunia. Berpikir atau merenung untuk kemudian mengambil kesimpulan atau pelajaran-pelajaran dari apa yang kita renungkan untuk memahami kebenaran, akan menghasilkan sesuatu yang bernilai bagi kehidupan di akhirat kelak. Dengan alasan inilah, Allah mewajibkan seluruh manusia, melalui para Nabi dan Kitab-kitab-Nya, untuk memikirkan dan merenungkan penciptaan diri mereka sendiri dan jagad raya:

    “Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan tujuan yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya”. (QS. Ar-Ruum, 30: 8)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 22 August 2012 Permalink | Balas  

    Berat Langkah Si Tukang Siomay 

    Berat Langkah Si Tukang Siomay

    Kepulangan ke rumah harus tertunda, ketika pimpinan kantor meminta seluruh tim rapat mendadak. Berbagai bencana yang terjadi di negeri ini, juga gejolak yang tengah bergemuruh di Palestina meski disikapi secara cepat. Sebagai sebuah lembaga kemanusiaan yang memseriusi programnya dalam penanganan bencana, menjadi keharusan tersendiri untuk merespon secara cepat setiap bencana yang terjadi.

    Namun bukan pentingnya rapat ini yang ingin saya ceritakan, bukan pula isi dan serunya rapat yang memakan waktu cukup lama hingga larut. Adalah sepuluh menit menjelang rapat dimulai, saat saya memesan sepiring siomay kepada tukang siomay langganan di depan kantor. Sesaat menjelang rapat, perut ini terasa berdendang minta diisi. Makanan ringan itulah yang menjadi pilihan, satu porsi pun terpesan.

    Panggilan pun datang, rapat dimulai. Rapat dilanjutkan usai sholat Maghrib, dan terus berlangsung. Ada yang resah di bawah, ada yang bolak-balik masuk ruang kantor. Ianya hanya menemukan piring kosong di bawah meja saya. Setiap lima menit kembali balik ke dalam kantor berharap orang yang tadi memesan siomay nya sudah ada di tempat. Ternyata yang ditunggu masih di atas, terlupa oleh riuh rendah suasana rapat yang bersemangat.

    Waktu terus bertambah, hingga seorang teman yang baru saja dari lantai dasar berbisik, “Sudah bayar siomay belum?” astaghfirullah…

    Tak menunggu rapat selesai, acung tangan langsung bergegas ke bawah. Terhenti nafas ini tak mendapatkan orang yang dicari; si tukang siomay. Melirik sedikit ke bawah meja, piring kosongnya sudah tak ada. Mungkin ia pulang, tapi saya tak bisa berkata apa-apa sambil terus menggenggam empat lembar ribuan di tangan.

    Cuma empat ribu memang. Tapi ia sebegitu pentingnya untuk bolak-balik ke dalam kantor berharap saya akan membayarnya. Terbayang saya betapa berat langkah si tukang siomay mendorong gerobaknya. Berpikir ia tentang uang belanja yang dinanti sang istri, resah hatinya tak membawa mainan yang dipesan anak tercintanya. Mungkin semua karena empat ribu yang belum saya bayarkan. Dan boleh jadi, empat ribu itulah keuntungan hasil jualannya setelah disisihkan untuk setoran.

    Berat langkah si tukang siomay. Itu terus tergambar dalam benak saya, sambil terus menggenggam empat lembar ribuan dan sesekali melirik ke bawah meja tempat piring bekas makan. Terbayang sedihnya sang isteri lantaran suaminya tak membawa uang belanja untuk esok, “Mau makan apa besok pak?”

    Terlintas tangisan si anak yang mendapati bapaknya tak membawa serta mobil mainan plastik yang dipesannya. Bagaimana jika besok ia tak bisa berdagang karena uang setorannya kurang malam itu? Tuhan, berdosa lah hamba.

    Tak lebih dari setengah jam, seseorang masuk ke dalam kantor. Senyumnya yang khas menyapa lembut. Saya tahu yang dinantinya. Sudah semalam ini, duh ternyata betapa pentingnya empat lembar ribuan itu baginya. Maafkan saya mas, nyaris bibir ini tak mampu berucap apa pun.

    ***

    Oleh: Bayu Gawtama

     
  • erva kurniawan 1:59 am on 21 August 2012 Permalink | Balas  

    Para Pengamen Itu Ternyata 

    Para Pengamen Itu Ternyata

    Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

    Peristiwa ini terjadi beberapa tahun yang lalu saat saya, yang saat itu baru saja lulus dan mulai bekerja di Jakarta. Sebagai pendatang dari daerah saya sering mendengar mengenai berita miring tentang kelakuan para pengamen.

    Saat itu saya bermaksud pulang dengan naik bis jurusan Blok M – Bekasi. Saat itu waktu menunjukkan pukul 17.45, sekelompok pengamen [sekitar 6 orang] naik ke bis yang saya tumpangi. Perawakan mereka menunjukkan muka yang tidak bersahabat. Hati saya sudah berdebar2 karena mendengar cerita tentang penodongan yang dilakukan sekelompok pengamen.

    Saat saya mulai berpikir yang kurang baik. Mereka mulai bercakap-cakap. Percakapan mereka sebenarnya sangat perlahan dan dilakukan di dekat pintu. Tetapi karena saya ada disamping mereka saya bisa mendengarkan percakapan mereka. Percakapan itu diawali

    “Eh udah jam berapa?,” tanya salah satu pengamen itu pada temannya.

    Yang lain menyahut,”Jam 17.45.”

    Kemudian tiba-tiba muncul suatu ucapan yang akan selalu teringat dalam ingatan saya.

    Ucapannya adalah dari salah satu pengamen “Wah kalo gitu udah hampir maghrib dong, gimana nich.”

    Yang lain menjawab, “Kita ngamen aja nanti turun di komdak.”

    Seorang pengamen yang lain berkata, “Wah nanggung kalo macet bisa-bisa kita ngak bisa salat tepat waktu dong.”

    Yang lain menimpali, “Iya benar nanti kita nggak bisa jamaah dengan yang lain, kalo gitu kita turun aja dech.” Dan mereka segera turun dari bis tersebut.

    Astaghfirullah, ternyata saya telah suudzon terhadap mereka. Saya lalu berfikir mereka jauh lebih baik dari saya karena mereka menjaga salat jamaah dan tepat waktu. Mereka benar-benar menjaga tiang agama jauh lebih baik daripada mereka yang ada di bis tersebut. Padahal banyak orang memandang para pengamen sebagai pengganggu, apalagi kalo yang bernyanyi berkelompok, yang sudah mulai berfikir yang tidak-tidak seperti saya.

    Memang ada sejumlah preman yang menyamar sebagai pengamen, tetapi ada juga pengamen yang berhati emas. Memang ada pengamen yang jahat tetapi ada juga pengamen yang mungkin ketakwaannya jauh diatas kita

    Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 20 August 2012 Permalink | Balas  

    Kisah Seorang Pemuda, Mati Satu Tumbuh Seribu 

    Kisah Seorang Pemuda, Mati Satu Tumbuh Seribu

    Pada zaman dahulu kala, sebelum zaman Nabi Muhammad SAW, hiduplah seorang raja. Dia memiliki seorang tukang sihir yang sudah tua. Suatu ketika, tukang sihir ini berkata kepada raja, “Sesungguhnya saya telah lanjut usia, maka utuslah kepada saya seorang pemuda agar saya mengajarinya ilmu sihir.” Si tukang sihir ini menginginkan agar ada generasi muda yang dapat meneruskan ilmu sihirnya. Lalu sang raja mengutus seorang pemuda kepadanya untuk diajari ilmu sihir.

    Ketika dalam perjalanan, pemuda yang diutus itu menjumpai seorang Rahib (seorang Nasrani yang ahli ibadah). Lalu pemuda itu duduk di hadapan sang Rahib dan mendengarkan ucapannya. Ternyata Pemuda ini terkesan dengan perkataan sang Rahib. Akhirnya, setiap kali pemuda ini ingin menemui si Tukang Sihir, ia selalu menemui si Rahib dahulu untuk duduk kepadanya. Setelah itu barulah dia menemui si Tukang Sihir. Dan setiap kali dia bertemu si Tukang Sihir, pemuda ini selalu dipukul karena selalu terlambat. Terlambat gara-gara selalu menemui si Rahib dalam perjalanan.

    Karena selalu dipukul, pemuda ini melaporkannya kepada si Rahib. Rahib lalu menanggapinya, “Kalau kamu takut tukang sihir, maka katakanlah: ‘Saya tertahan oleh keluarga saya’, dan apabila kamu takut pada keluargamu, maka katakanlah: ‘Saya tertahan oleh Tukang Sihir.'”

    Nah, pada suatu hari Pemuda ini memergoki seekor binatang besar yang merintangi orang banyak. Lalu dia berkata, “Hari ini saya akan mengetahui, tukang sihir yang lebih afdhal ataukah rahib yang lebih afdhal?”

    Lalu dia ambil sebuah batu dan berdoa, “Ya Allah, jikalau perkara sang Rahib yang lebih Engkau cintai daripada perkara tukang sihir, maka bunuhlah hewan ini sehingga orang-orang bisa berlalu.”

    Kemudian dia lemparkan batu itu dan berhasil membunuhnya. Sehingga orang lain pun dapat meneruskan perjalanan. Akhirnya, Pemuda ini mendatangi Rahib dan menceritakan kejadian barusan kepadanya.

    Menanggapi hal tersebut, Rahib berkata, “Hai Putraku, engkau sekarang lebih utama daripada aku, perkaramu telah sampai pada apa yang aku lihat. Dan sesungguhnya engkau bakal diuji. Jika engkau benar-benar diuji maka janganlah engkau menunjukkan kepada aku.”

    Singkat cerita, maka jadilah Pemuda ini sebagai orang yang bisa menyembuhkan buta bawaan, sopak, dan mengobati orang-orang dari semua penyakit (dengan izin Allah).

    **

    Suatu ketika, ada seorang buta yang mendengar tentang hal ini. Si buta ini adalah teman dekat Raja. Dia lalu mendatangi pemuda itu dengan membawa hadiah yang melimpah.

    Si Buta berkata, “Semua yang ada di sini adalah untukmu jika kamu bisa menyembuhkan aku.”

    Lalu si Pemuda tadi menanggapinya, “Sesungguhnya aku tidak bisa menyembuhkan seorangpun. Sesungguhnya yang menyembuhkan itu adalah Allah Ta’ala. Jika Anda beriman kepada Allah Ta’ala saya akan memohon kepada Allah, maka Dia pasti menyembuhkanmu.”

    Kemudian si Buta beriman kepada Allah, dan Allah membuatnya sembuh. Orang yang tadinya buta itu kemudian mendatangi raja dan duduk menemaninya sebagaimana selama ini ia duduk menemani Raja. Sang Raja melihat dia sudah tidak buta lagi. Kemudian bertanya, “Siapa yang telah mengembalikan kebutaanmu ini?”

    “Tuhanku dan Tuhan Anda adalah Allah” jawab teman Raja itu.

    Akibat perkataannya itu sang Raja menghukum dan terus menyiksanya, sampai ia menunjukkan tentang adanya seorang Pemuda. Akhirnya Pemuda itu pun didatangkan dan Raja berkata kepadanya, “Hai Putraku, sihirmu telah sampai pada tingkat menyembuhkan penyakit buta bawaan, sopak, dan engkau telah berbuat dan berbuat!”

    Maka si Pemuda menjawabnya, “Sesungguhnya saya tidak bisa menyembuhkan siapa pun. Sesungguhnya yang menyembuhkan itu adalah Allah Ta’ala.”

    Akibat perkataannya itu, sang Raja menghukumnya dan terus menyiksanya, hingga ia memberitahu adanya seorang Rahib. Akhirnya si Rahib didatangkan pula. Raja berkata kepadanya, “Tinggalkan agamamu!”

    Tapi si Rahib menolaknya. Sehingga Raja memerintahkan untuk mengambil gergaji. Gergaji itu diletakkan di tengah kepalanya, lalu dibelahnya kepala itu, hingga robohlah kedua belahannya. Kemudian teman dekat Raja yang sudah tidak buta itu dihadirkan lagi. Sang Raja berkata kepadanya, “Tinggalkan agamamu itu!”

    Dia pun menolaknya. Maka gergaji diletakkan di tengah-tengah kepalanya, dan dia dibelah hingga roboh kedua belahannya itu. Kemudian si Pemuda itu dihadirkan. Sang Raja berkata kepadanya, “Tinggalhkan agamamu!”

    Sang Pemuda menolaknya. Sehingga sang Raja menyodorkan pemuda ini kepada sekelompok sahabatnya. Sang Raja memerintahkan, “Pergilah, bawa ia ke gunung ini dan itu, dan jika kamu telah sampai pada puncaknya, maka jika ia meninggalkan agamanya, bebaskan dia. Tetapi jika tidak, maka lemparkan dia.”

    Sekelompok sahabat Raja tadi membawa pemuda itu ke pergi ke puncak gunung. Pemuda itu pun berdo’a, “Ya Allah, cukupkanlah saya terhadap mereka dengan sesuatu yang Engkau kehendaki.”

    Lalu tiba-tiba gunung bergetar, menggoncang para sahabat Raja dan mereka berjatuhan. Akhirnya Pemuda tersebut berjalan menuju Raja. Raja heran dan bertanya kepadanya, “Apa yang telah dilakukan oleh sahabat-sahabatmu?”

    “Allah ta’ala telah mencukupi aku terhadap mereka” jawab Pemuda itu. Akhirnya sang Raja menyerahkan Pemuda ini kepada sekelompok sahabatnya lagi. Dia memerintahkan, “Bawalah dia dan naikkan dia di atas sebuah perahu hingga ke tengah laut. Jika dia menginggalkan agamanya, maka lepaskan. Jika tidak, maka ceburkan dia.”

    Maka sekonyong-konyong para sahabat Raja itu membawanya. Si Pemuda ini lalu berdoa lagi, “Ya Allah, cukupkanlah saya terhadap mereka dengan sesuatu yan Engkau kehendaki.”

    Maka tiba-tiba kapal pun terbalik dan mereka mati tenggelam. Pemuda ini lalu berjalan lagi mendatangi Raja. Raja terheran-heran lagi, dan dia bertanya, “Apa yang telah dilakukan oleh sahabat-sahabatmu?”

    Si Pemuda menjawabnya, “Allah Ta’ala telah mencukupi aku terhadap mereka.”

    Lantas Pemuda ini berkata lagi, “Sesungguhnya Anda tidak bisa membunuh saya hinga Anda mau mengerjakan apa yang saya perintahkan kepada Anda.”

    “Apa itu?” tanya Raja.

    “Anda kumpulkan orang-orang dalam satu tanah lapang, dan Anda salib saya di atas pohon korma. Kemudian ambillah satu anak panah dari tempat penyimpanan anak panah saya. Kemudian letakkan anak panah tepat pada tengah-tengah busur, kemudian ucapkanlah: ‘Dengan menyebut nama Allah, Tuhannya Pemuda ini’. Kemudian panahlah saya.

    Maka sesungguhnya jika Anda melakukan hal tersebut maka Anda pasti bisa membunuh saya”, jawab Pemuda itu dengan rinci. Akhirnya sang Raja menuruti saran Pemuda itu. Dia kumpulkan orang-orang dalam satu tanah lapang. Dia juga menyalib Pemuda itu di atas batang pohon korma. Kemudian dia ambil satu anak panah dari kantongnya, dia letakkan di tengah-tengah busur panah, dan dia mengucapkan, “Dengan menyebut nama Allah, Tuhannya pemuda ini.”

    Kemudian dia bidikkan anak panah itu kepadanya. Anak panah itu tepat mengenai pelipis Pemuda itu. Si Pemuda meletakkan tangannya pada pelipisnya, kemudian dia meninggal.

    Dari peristiwa itu, maka ternyata orang-orang banyak yang mengatakan, “Kami beriman dengan Tuhannya pemuda ini.” Lalu Sang Raja diberitahu tentang kondisi tersebut. Dia mendapatkan laporan, “Apakah Anda melihat apa yang dulu Anda khawatirkan? Orang-orang telah beriman.”

    Sang Raja lalu memerintahkan menggali parit di mulut-mulut jalan yang ada di antara rumah-rumah. Parit pun di gali dan api dikobarkan di dalamnya.

    Raja lalu berkata, “Siapa yang tidak kembali dari agamanya, maka lemparkan ia ke dalamnya!” Sehingga setiap orang yang tidak mau keluar dari agamanya, diperintahkan Raja, “Masuklah (ke dalam parit)!”

    Mereka melakukan hal tersebut terus menerus hingga datang seorang wanita. Bersama wanita ini juga ada seorang pemuda cilik miliknya. Wanita itu enggan untuk menceburkan diri ke dalam api. Maka si pemuda cilik tersebut berkata kepadanya, “Ibu, bersabarlah. Sesungguhnya engkau berada di atas yang benar.”

    HIKMAH KISAH

    Demikianlah sebuah kisah nyata yang disampaikan dari Rasulullah SAW. Banyak hikmah yang bisa kita ambil dalam kisah ini. Di antaranya, bahwa pengorbanan nyawa seorang pemuda yang istiqomah beriman kepada Allah, justru telah menjadikan masyarakat luas ikut beriman kepada Allah. Pengorbanan pemuda itu bahkan turut menjadikan seorang anak cilik beriman kepada Allah, dan si cilik itu meneguhkan pendirian ibunya. Subhanallah. Sungguh luar biasa pengorbanan di jalan Allah. “Mati satu tumbuh seribu”…

    ***

    Maraji’ : Hadits Riwayat Bukhari

    Hudzaifah.org

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 19 August 2012 Permalink | Balas  

    Adab Bertetangga 

    Adab Bertetangga

    Islam memerintahkan umatnya untuk bertetangga secara baik. Bahkan, saking seringnya Jibril mewasiatkan agar bertetangga dengan baik, Rasulullah pernah mengira tetangga termasuk ahli waris. Kata Rasulullah, seperti diriwayatkan oleh Aisyah, ”Jibril selalu mewasiatkan kepadaku tentang tetangga sampai aku menyangka bahwa ia akan mewarisinya.” (HR Bukhari-Muslim).

    Namun, ternyata waris atau warisan yang dimaksud Jibril adalah agar umat Islam selalu menjaga hubungan baik dengan sesama tetangga. Bertetangga dengan baik itu, termasuk menyebarkan salam ketika bertemu, menyapa, menanyakan kabarnya, menebar senyum, dan mengirimkan hadiah.

    Sabda Rasulullah SAW, ”Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak sayur maka perbanyaklah airnya dan bagikanlah kepada tetanggamu.” (HR Muslim).

    Lihatlah, betapa ringan ajaran Rasulullah, namun dampaknya sangat luar biasa bagi kerukunan dan keharmonisan kita dalam bermasyarakat. Untuk memberi hadiah tidak harus berupa bingkisan mahal, tapi cukup memberi sayur yang sehari-hari kita masak. Untuk menjaga hubungan baik dengan tetangga, Rasulullah juga memerintahkan untuk saling menenggang perasaan masing-masing.

    ”Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir,” kata Rasulullah, ”maka hendaknya ia tidak menyakiti tetangganya.” (HR Bukhari).

    Suatu kali, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang seorang wanita yang dikenal rajin melaksanakan shalat, puasa, dan zakat, tapi ia juga sering menyakiti tetangganya dengan lisannya. Rasulullah menegaskan, ”Pantasnya dia di dalam api neraka!” Kemudian, sahabat itu bertanya lagi mengenai seorang wanita lain yang dikenal sedikit melaksanakan shalat dan puasa, namun sering berinfak dan tidak menyakiti tetangganya dengan lisannya. Jawab Rasulullah, ”Ia pantas masuk surga!” (HR Ahmad).

    Seorang wanita bersusah payah melaksanakan shalat wajib, bangun malam, menahan haus dan lapar, serta mengorbankan harta untuk berinfak, namun menjadi mubazir lantaran buruk dalam bertutur sapa dengan tetangganya.

    Rasulullah bersumpah terhadap orang yang berperilaku demikian, tiga kali, dengan sumpahnya, ”Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman …!” Sahabat bertanya, ”Siapa, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, ”Orang yang tetangganya tidak pernah merasa aman dari keburukan perilakunya.” (HR Bukhari).

    Suatu kali, Aisyah pernah bingung mengenai siapa di antara tentangganya yang harus diutamakan. Lalu, ia bertanya kepada Rasulullah, ”Ya Rasulullah, saya mempunyai dua orang tetangga, kepada siapakah aku harus memberikan hadiah?” Beliau bersabda, ”Kepada yang paling dekat rumahnya.” (HR Bukhari).

    Rasulullah menjadikan akhlak kepada tetangga sebagai acuan penilaian kebaikan seseorang. Kata beliau, ”Sebaik-baik kawan di sisi Allah adalah yang paling baik (budi pekertinya) terhadap kawannya, sebaik-baik tetangga adalah yang paling baik kepada tetangganya.” (HR Tirmidzi).

    ***

    (Didik Hariyanto) sumber : Republika

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 18 August 2012 Permalink | Balas  

    ‘Idu’l-Fithri (Syawwal) 

    ‘Idu’l-Fithri (Syawwal)

    Diriwayatkan oleh Ibnu ‘I-Jauzi dengan sanad yang bersambung sampai kepada Abu Sa’id Al-Khudri Ra., bahwasanya dia berkata, Rasulullah Saww. memerintahkan kepada kita pada hari Raya Fithri untuk memberikan fitrahnya kepada orang-orang fakir di antara saudara-saudara kita. Dan Beliau juga bersabda: “Barangsiapa membayar fitrah kepada orang fakir, maka dia bebas dari neraka, dan barangsiapa membayar fitrah kepada dua orang fakir, maka dia ditetapkan Allah bebas dari syirik dan sifat munafik, dan barangsiapa membayar fitrah kepada tiga orang fakir, maka berhak baginya masuk kedalam surga, dan dijodohkan Allah dengan bidadari cantik yang jeli matanya”.

    Diriwayatkan dari Baihaqi yang bersumber dari Abdullah bin Abbas Ra., sebuah hadist marfu’ yang panjang sehingga Beliau bersabda: “Apabila tiba waktu pagi hari Raya Fithri, Allah mengutus Malaikat pada setiap negri, lalu mereka turun ke bumi dan berdiri pada mulut setiap jalan, kemudian menyeru dengan seruan yang dapat didengar oleh segenap makhluk, selain jin dan manusia: “Hai umat Muhammad Saww, keluarlah menuju Tuhan Yang Maha Pemurah. Dia memberikan pemberian yang besar dan mengampuni banyak dosa”, Apabila mereka telah tampak berada pada tempat shalatnya, maka Allah berfirman kepada malaikat: “Wahai Malaikat-Ku, apakah balasan buruh yang sudah mau bekerja?”, Malaikat menjawab: “Balasannya adalah disempurnakan upahnya”. Allah berfirman: “Aku mempersaksikan kepada kalian, wahai Malaikat-Ku, bahwasanya Aku telah menjadikan puasa Ramadhan mereka dan ibadah malam mereka menjadi keridaan dan ampunan-Ku”. Kemudian Allah berfirman lagi: “Mintalah kepada-Ku, maka demi keperkasaan dan kemegahan-Ku, tiada kalian meminta kepada-Ku pada hari ini, baik yang menyangkut urusan dunia maupun urusan akhirat melainkan Aku memberinya. Dan demi keperkasaan dan kemegahan-Ku, tiada Aku menghina dan membuka aib kalian, pulanglah kalian dalam keadaan terampuni dosa kalian! Kalian telah beramal demi menuntut keridhaan-Ku dan Aku telah ridha pula kepada kalian”. Maka, mendengar firman Allah itu, Malaikat merasa gembira dengan karunia yang telah diberikan kepada umat Muhammad Saww. Ini”.

    Nabi Saww. telah bersabda: “Man ahyaa laylata’l-‘iidi lam yamut qalbuhu yauma tamuutu’l quluubu. Barangsiapa menghidupkan malam Hari Raya (Idul Fithri dan Idul Adha), maka hatinya tidak akan mati pada hari ketika semua hati manusia mati”.

    Didalam hadits riwayat Thabrani dan Ibnu Majah diterangkan: “Man ahyaa laylata’l fithri wa laylata’l adhhaa lam yamut qalbuhu yauma tamuutu’l quluubu. Barangsiapa menghidupkan malam hari Raya Fithri dan malam hari Raya Adha, maka tidak akan mati hatinya pada hari ketika hati manusia seluruhnya menjadi mati.

    Mu’adz ra. berkata: “Man Ahyaal layaa li’l arba’a wa jabat lahul jannatu : Laylatal tarwiyati wa laylata ‘arafata wa laylatan nahri wa laylatal fithri. Barangsiapa menghidupkan waktu-waktu malam yang empat, maka berhak baginya masuk ke dalam surga, yaitu : malam Tarwiyah (8 Dzu’l-hijjah), malam ‘Arafah (9 Dzu’l-hijjah), malam Nahr/Idul Adha (10 Dzu’l-hijjah), dan malam Fitrah (1 Syawwal)”. (HR. Ibnu Asakir)

    Disunatkan pada Hari Raya untuk mengenakan pakaian yang paling baik dari yang dimiliki.

    Thabrani meriwayatkan sebuah hadits dengan sanad orang yang dapat dipercaya, bahwa sesungguhnya hari itu disebut hari raya hanyalah karena pada hari itu Allah Swt. mengulangi pemberian kesenangan dan kegembiraan kepada hamba-hamba-Nya. Atau karena diucapkan kepada orang-orang Mu-min: “Kembalilah kerumah kalian dengan mendapatkan ampunan”. Di dalam hadits yang lain diterangkan, bahwa apabila tiba Hari Raya dan manusia keluar kelapangan (untuk melakukan shalat), maka Allah berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku, karena Aku kalian beribadah, dan karena Aku kalian shalat. Pulanglah dengan memperoleh ampunan daripada-Ku!”.

    Wahab bin Munabbih mengatakan, bahwa Allah menciptakan surga pada hari Raya Fithri, menanam pohon Thuba pada hari Raya Fithri, dan memilih Malaikat Jibril sebagai penyalur wahyu juga pada hari Raya Fithri.

    Kata Anas bin Malik ra.: “Orang yang beriman itu mempunyai lima Hari Raya: (1.) Tiap-tiap hari dia berjalan melewati orang yang beriman dan tidak dicatat padanya suatu dosa, maka itu adalah Hari Raya. (2.) Hari dia keluar dari dunia ya’ni mati dengan berbekal iman, syahadat dan benteng dari tipu daya setan, maka hari itu adalah Hari Raya. (3.) Hari dia menyebrang shirathal mustaqim/jembatan dan dia selamat dari resikonya hari Qiyamat serta selamat pula dari tangan para musuhnya dan dari Malaikat Zabaniyah, maka itu adalah Hari Raya. (4.) Hari dia masuk kedalam sorga dan selamat dari neraka Jahim, maka itu adalah Hari Raya. (5.) Hari dia bisa melihat Tuhannya, maka itu adalah Hari Raya. (Abul-Laits)

    Dari Wahab bin Munabbih bahwa dia berkata: “Beliau Nabi Saww. bersabda: “Sesungguhnya Iblis ‘alaihil la’nah itu berteriak pada tiap-tiap Hari Raya, maka para ahlinya/tentaranya sama berkumpul disekelilingnya sambil berkata: “Wahai baginda kami, siapakah yang menjadikan baginda murka, maka sungguh dia akan kami hancurkan!”. Iblis berkata: “Tidak ada sesuatu, akan tetapi Allah Swt. pada hari ini telah mengampuni umat ini. Maka kamu sekalian harus menyibukkan mereka dengan segala macam yang lezat-lezat, dengan syahwat dan dengan minum arak, sehingga Allah murka kepada mereka”. Maka bagi orang yang berakal hendaknya bisa menahan dirinya pada Hari Raya dari pada segala macam nafsu syahwat dan dari semua yang dilarang, bahkan supaya selalu bertaat.

    Oleh karena itu beliau Nabi Saww. bersabda: “Bersungguh-sungguhlah kamu sekalian pada Hari Raya Fithri dengan bersedekah dan amalan yang baik yang bagus daripada shalat, zakat, bertasbih (membaca Subhanallaahi) dan tahlil (membaca Laa Ilaaha Illallaahu), karena sesungguhnya hari ini Allah Swt. mengampuni semua dosa kamu sekalian, mengabulkan do’amu dan melihat kamu sekalian dengan kasih sayang”. (Durratul Waa’izdiina)

    Diterangkan dalam sebuah hadits, bahwa barangsiapa mengucapkan: “Subhanallaahi Wa Bihamdihi”, pada Hari Raya sebanyak tigaratus kali, lalu dihadiahkan kepada orang-orang Islam yang sudah mati, maka masuk ke dalam setiap kubur seribu cahaya, dan Allah menjadikan untuknya seribu cahaya di dalam kuburnya sendiri apabila dia mati. Dan tidak seorang pun dari orang-orang yang sudah mati melainkan dia mengucapkan pada hari kiyamat: “Ya Tuhan Yang Maha Pengasih, kasihanilah hamba-Mu, dan jadikanlah surga sebagai balasannya”. Lalu Allah Swt. berfirman: “Saksikanlah, sesungguhnya Aku telah mengampuninya”.

    Diperoleh keterangan dalam hadits para sahabat, bahwa barangsiapa memohon ampun kepada Allah Swt. pada Hari Raya sesudah shalat fardhu Shubuh sebanyak seratus kali, maka di dalam buku catatan amalnya tidak ditemukan catatan dosa sedikitpun dan nanti pada hari kiamat berada di bawah ‘Arsy dalam keadaan aman dari siksa Allah Swt.

    Barangsiapa berjalan ke kubur orangtuanya pada Hari Raya Fithri, maka Allah Swt. mencatat setiap langkahnya sesuatu kebaikan. Barangsiapa memuliakan kedua orangtuannya, maka Allah Swt. memuliakan kepadanya. Barangsiapa menghina Orang fakir, maka Allah Swt. menghinanya besok di hari kiyamat dan tidak melihat kepadanya. Barangsiapa memanggil orang fakir dan memberinya suatu makanan yang disukainya pada Hari Raya Fithri, maka Allah Swt. akan memberikan kepadanya sebuah kota dari cahaya permata dan yaqut, dan memberinya makanan dari makanan surga. Barangsiapa kembali pulang dari tempat shalatnya menuju rumahnya dengan tenang dan berwibawa, maka Allah Swt. akan memberi kepadanya nanti pada hari kiyamat setiap langkah sepuluh kebaikan. Barangsiapa melakukan perbuatan maksiat pada Hari Raya, maka Allah Swt. memanggil: “Tidakkah engkau malu kepada-Ku, padahal Aku memandang kamu dengan pandangan rahmat dan kasihan, sedang kamu semakin jauh dari-Ku. Bertaubatlah kepada-Ku, wahai hamba-Ku, niscaya Aku mengampuni dosamu, dan Aku jadikan kamu sebagai kekasih-Ku dan kekasih Malaikat-Ku. Barangsiapa memperluas dirinya dan keluarganya (dalam memberikan belanja) pada Hari Raya, maka Allah Swt. memperluas pintu kecukupan padanya dan menutup kefakiran daripadanya”.

    Dari Tsauban berkata, Rasulullah Saww. bersabda: “Man shaama ramadhaana wa ‘atba’ahu bisittim-min syawwaaliin faka’annamaa shaamad-dahra kullahu. Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu mengikutinya berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka seolah dia berpuasa setahun sempurna”. (HR. Ahmad)

    Di Dalam hadits yang lain Nabi Saww. bersabda: “Shiyaamu syahri ramadhaana bi’asyri ‘asyhurin, wa shiyaamu sittati ayyaamim-bisyahrayni. fadzaa lika shiyaamus-sanati. “Puasa bulan Ramadhan memadai dengan puasa sepuluh bulan, dan berpuasa enam hari memadai dengan puasa dua bulan, maka puasa yang demikian itu adalah puasa setahun”.

    Dari Ayyub ra. berkata, Nabi Saww. bersabda: “Man shaama ramadhaana wa ‘atba’ahu sittaamin syawwaalin kaana kashaumid-dahri. Siapa yang puasa bulan Ramadhan lalu dilanjutkan puasa enam hari bulan syawwal, maka menyamai puasa selamanya (sepanjang masa)”. (HR. Ahmad dan Muslim)

    Ada yang mengatakan bila berpuasa sebulan penuh dibulan Ramadhan maka menyamai puasa 300 Hari dan pada 6 hari bulan Syawwal menyamai 60 hari jadi berjumlah 360 hari (kurang lebih 1 tahun) karena setiap amal itu dilipatkan 10 kali lipat.

    Juga dari Ibn Umar ra. berkata, Nabi Muhammad Saww. bersabda: “Siapa yang puasa bulan Ramadhan lalu dilanjutkan enam hari bulan Syawwal, maka keluar dari semua dosa-dosanya bagaikan ia baru lahir dari perut ibunya“. (HR.At-Thabarani)

    Wahai Saudara-saudariku jadikanlah Idul Fithri tahun ini menjadi Hari Raya yang penuh berkah, rahmat, magfirah serta ridha dari Allah Swt. dengan berdzikir dan berdo’a kepada Allah pada malam (mustajab) Idul Fithri (1 Syawwal), pada sehabis shalat subuh berdzikir Istigfar seratus kali memohon ampun kepada Allah Swt., siangnya sehabis shalat dzuhur atau ashar membaca subhanallaahi wabihamdihi tigaratus kali kita hadiahkan pahalanya kepada muslim dan muslimah, mukmin dan mukminah, pada tanggal 2 Syawwalnya mengerjakan puasa 6 hari (berturut-turut) agar kita tercatat orang yang mengerjakan puasa setahun penuh, dan Insya Allah kita dapat memasuki surga melalui pintu khusus yang bernama Ar-Rayyan (pintu kesegaran) bagi orang-orang yang senang/suka berpuasa karena Allah Swt.

    Wallaahu a’lam bi shawab….

    ***

    Dikutip dari: * Ihya’ Ulumiddin –> Imam Al-Ghazali. * Riyadhus Shalihin –> Imam An-Nawawi. * Durratun Nasihin –> Usman Alkhaibawi. * At-Tuhfa Al-Mardhiyyah fil Akhbaril Qudsiyyah wal Ahadits Nabawiyyah –> Asy-Syaikh Abdul Majid Al-‘Adawiy * Irsyadul’ibad Ilasabilirrasyad –> H. Salim Bahreisy * Fatawa Rasulullah Saw. –> Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah

     
    • Andik 2:13 am on 18 Agustus 2012 Permalink

      Terima kasih

  • erva kurniawan 1:22 am on 17 August 2012 Permalink | Balas  

    Karcis Jannatun Adnin Kholidina Fiiha… 

    Karcis Jannatun Adnin Kholidina Fiiha… 

    “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl (16): 97)

    Inilah jaminan dari Allah SWT bagi orang-orang yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan yang mengerjakan amal saleh, yang mana akan Allah berikan kepadanya kehidupan yang baik dan juga akan diberikan kepadanya balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan sebagaimana ayat diatas.

    Dalam Islam, dibedakan antara amal saleh (perbuatan baik) dengan perbuatan jahat. Dalam hal amal saleh (perbuatan baik) Rasulullah SAW pernah bersabda, “Perbuatan terbaik dimata Allah adalah perbuatan baik yang dilakukan terus menerus meski dalam tingkat yang kecil sekalipun.” (HR. Bukhari)

    Dan didalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda, “Kerjakanlah amal saleh semampu kamu karena Allah SWT tidak akan lelah sedikitpun untuk memberi penghargaan atas apa yang kamu lakukan asalkan kamu tidak bosan-bosan melakukannya.” (HR. Bukhari)

    Jadi, sekecil apapun perbuatan baik yang kita lakukan, pasti ada balasannya dari Allah SWT walaupun dengan senyuman sekalipun. Sebab “Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.” Rasulullah SAW sendiri adalah seorang yang banyak tertawa dan tersenyum. Begitu juga dengan membuang duri yang ada ditengah jalan, memungut sampah dan membuangnya di tempat samapah dan juga mengucapkan salam kepada orang tuamu, saudaramu, saudara semuslim atau ketika kita mau masuk rumah sekalipun sebagaimana Allah SWT berfirman, “Hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” (QS. An-Nur (24): 61)

    Sedangkan hukum untuk orang yang menjawab salam adalah, “Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa).” (QS. An-Nisa :  86)

    Allah SWT juga menganjurkan kepada kita agar berbuat baik kepada kedua orang tua kita dengan sebaik-baiknya, sebagaimana firman-Nya, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil“.” (QS. Al-Israa (17): 23-24)

    Itulah bentuk-bentuk amal saleh (perbuatan baik) yang bisa dibilang kecil tapi kalau dilakukan terus menerus maka Allah SWT akan memandangnya sebagai perbuatan terbaik. Dan banyak lagi perbuatan baik yang tidak disebutkan disini yang bisa kita lakukan. Dan semuanya akan ada balasannya dari Allah SWT dengan pahalanya dan kita pun akan melihatnya.

     “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Al-Zalzalah (99): 7)

    Tidak semua amal saleh (perbuatan baik) akan dibalas oleh Allah SWT dengan pahala-Nya atau dengan surga-Nya. Sebab, orang yang tidak berimanpun (yaitu, orang yang tidak mengakui bahwa Allah adalah Tuhannya dan Muhammad SAW adalah utusan-Nya), bisa juga melakukan amal saleh, malahan bisa jadi akan lebih baik dari kita sebagai orang yang beriman. Tapi Allah telah menetapkan, hanya orang-orang yang beriman saja yang akan Allah balas dengan pahala-Nya dan surga-Nya sebagaimana firman-Nya,

    Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. An-Nisaa” (4): 124)

     “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah (2): 277)

    Dan banyak lagi firman Allah SWT yang senada yang menerangkan bahwa, “Orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah (2): 82)

    Dan, malang bagi orang yang berbuat jahat. Sebab, kejahatan yang dilakukannya akan dipikulnya sendiri sebagaimana firman-Nya, “Dan barangsiapa yang memberikan syafa’at yang buruk, niscaya ia akan memikul bagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. An-Nisaa” (4): 85)

    Dan barangsiapa yang membawa kejahatan, maka disungkurkanlah muka mereka ke dalam neraka. Tiadalah kamu dibalasi, melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. An-Naml (27): 90)

    Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang beriman dan selalu melakukan amal saleh, sehingga Allah SWT pun memasukan kita kepada golongan “Orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” Amin.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 16 August 2012 Permalink | Balas  

    Sebuah Renungan Tentang Memaknai Kemerdekaan 

    Sebuah Renungan Tentang Memaknai Kemerdekaan

    Memasuki bulan Agustus ini, kita mulai menyaksikan adanya sesuatu yang berbeda di jalan-jalan, di ujung-ujung gang, dan di jalan-jalan perkampungan. Warna merah putih menghiasi jalan-jalan dan perkampungan. Mulai melangkah lebih jauh lagi pada bulan Agustus, kita mulai saksikan perlombaan-perlombaan digelar di gang-gang perkampungan. Anak-anak larut dalam kegembiraan merayakan peringatan hari kemerdekaan yang sebenarnya belum mereka ketahui. Wajarlah, masih anak-anak. Mereka hanya berkeinginan untuk mendapatkan hadiah dan merasa senang saat mengikuti lomba.

    Tak ketinggalan dengan anak-anak mereka yang berkompetisi dalam lomba balap karung, makan kerupuk, memasukkan ballpoint ke dalam botol, mengambil koin dari labu, pecah air, membawa kelereng, pecah balon, dan juga memindah belut; orang tua dan kakak-kakak mereka pun juga ikut larut dalam perayaan-perayaan lomba. Ya, semua rakyat dari seluruh lapisan larut dalam perlombaan-perlombaan merayakan hari kemerdekaan RI mulai dari kampung, pedesaan, perkotaan, pabrik, pasar, kantor, dan seluruh pelosok tanah air.

    Puncak dari segala puncak itu nantinya adalah pada saat peringatan Detik-detik Proklamasi yang akan berlangsung pada tanggal 17 Agustus tepat pada puku 10.00 WIB. Dan sebagai penutup dari perayaan proklamasi kemerdekaan itu nantinya biasanya akan diisi dengan pawai dan karnaval hari kemerdekaan di jalan-jalan perkotaan.

    Terlihat sejenak berpikir di ujung jalan sesosok bayangan dengan perawakan biasa memandang jauh seolah tak bertepi. Dari sudut matanya terlihat tatapan yang menerobos memandang relung-relung kehidupan.

    Bisik dalam hatinya lirih berkata,”Apa ini yang disebut kemerdekaan?”

    Tak berapa lama, ia ayunkan kakinya menuju sebuah masjid. Ia duduk dan terlihat mulai diam merenung tentang sesuatu. Saraf-saraf dalam otaknya mulai bergerak-gerak memutar klise-klise memori sejarah dan analisa. Ia coba mengingat kembali lembaran-lembaran sejarah bangsa dan negaranya tercinta, Indonesia. Ia perintahkan otaknya memutar kembali file-file pelajaran-pelajaran sejarah yang telah ia rekam dari pelajaran di sekolah dan bacaan-bacaan yang dibacanya.

    Ia ingat bagaimana dahulu para pejuang-pejuang mengangkat senjata. Memorinya mengenang keperkasaan Teuku Umar dan Cut Nyak Dien melawan Penjajah. Ia ingat betul bagaimana masyarakat Aceh adalah masyarakat yang paling kuat dalam melawan penjajah. Ia juga ingat betul bagaimana masyarakat Aceh rela memberikan derma mereka untuk membangun Indonesia melalui urunan uang mereka.

    Memori sang pria pun tiba-tiba berbalik kepada kenangan cerita sejarah Imam Bonjol yang dikalahkan oleh pengkhianat bangsa, kenangan sejarah Pangeran Diponegoro yang dikhianati oleh orang sebangsa sendiri. Berturut-turut ia ingat kembali akan perjuangan Sultan Hasanudin, Sultan Agung, dan Patimura. Selanjutnya, bayangnya melihat peranan Syarekat Dagang Islam sebagai organisasi pergerakan pertama yang berdiri di Indonesia yang berorientasi pada rakyat secara nasional.

    “Bukan Budi Utomo yang pertama kali berdiri” katanya lirih dalam hati.

    “Budi Utomo adalah organisasi lokal yang berdiri jauh sesudah berdirinya Syarekat dagang Islam.” keluhnya.

    “Ia hanya berorientasi lokal dan tidak memiliki program kerakyatan. Dia hanya kumpulan para bangsawan yang sok pahlawan mengklaim diri sebagai organisasi pertama yang bergerak merebut kemerdekaan. Bohong besar!” batinnya berkata lantang.

    Tak berapa lama, ia terbangun dari lamunannya. Ia lihat beberapa meter dari masjid tempat duduknya, sebuah perayaan kemerdekaan. Dengan diiringi musik-musik, terlihat seorang wanita berjoget menyanyikan lagu dangdut, lalu berturut-turut sepasang suami istri berkaraoke bernyanyi tembang kenangan, dan tak ketinggalan seorang bocah berjoget mengikuti gaya joget para penyanyi dangdut di negara ini mengiringi nyanyian. Sang bocah dengan perasaan senang meliuk-liukkan tubuhnya dan memutar-mutar kepalanya. Gaya jogetnya seperti gaya penyanyi yang dikritik oleh Sang Raja Dangdut hingga menangis.

    “Apa ini arti kemerdekaan?” kata sang pria.

    “Mau dibawa kemana bangsa ini? Tak kudapatkan sejarah cerita adanya pesta semacam ini di zaman perjuangan dulu. Dimana sisa-sisa cucuran keringat dan darah serta nyanyian peluru dan dentuman meriam para pendahulu?” kata batinnya.

    “Bangsa ini belum merdeka!!! Belum merdeka!!!” bisiknya lirih.

    “Bangsa ini masih dibelenggu oleh kekuasan kapitalis, dan dijajah oleh para pengkhianat-pengkhianat bangsa yang mengklaim dirinya nasionalis atau pejuang. Padahal kalian adalah anak keturunan para pengkhianat yang menyerahkan nyawa para pejuang Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, dan lainnya kepada sekutunya, sang penjajah Belanda yang menyebarkan misi suci 3G. Gold, Glory, dan Gospel. Kalianlah yang menipu rakyat dengan jiwa sok nasionalis yang mengahabiskan waktu kalian untuk pesta dan uang semata. Kalianlah yang memfitnah para pejuang dengan sebutan para pemberontak, teroris, dan gerombolan. Kalian yang berkuasa tak beda dengan para pengkhianat bangsa di zaman Perang Paderi, yang justru membawa kehancuran bangsa ini. Bangsa ini belum merdeka! Bangsa ini hanya merdeka jika rakyat ini telah menikmati udara hukum sang Maha Kuasa terlaksana!!!” berontaknya di dalam hati.

    Tak kuat melihat perayaan peringatan penuh kedustaan itu, sang pria tersebut pun bangun dari duduknya. Ia ayunkan kakinya segera melangkah menjauh dari riuh-rendah musik peringatan hari kemerdekaan itu. Di ujung lorong jalan, tak berapa lama, ia pun hilang dalam bayangan gelap malam. (fikreatif)

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 15 August 2012 Permalink | Balas  

    Eko Prasetyo : Sujud Syukur di Akhir Ramadhan 

    Eko Prasetyo : Sujud Syukur di Akhir Ramadhan

    Malam tak pernah seindah itu. Suara-suara orang mengaji bergaung dan bergema di seluruh pelosok Kota Pahlawan. Langit dan bumi merendah bak menyambut malaikat yang bertasbih memuji Ar-Rahman. Sepuluh malam terakhir di bulan suci Ramadhan menjadi saksi kebahagiaan tak terperi dalam hidup saya, Eko Prasetyo.

    Saya lahir dan besar di keluarga penganut Katolik yang taat. Kami tinggal di Bekasi. Tiap Minggu, tak pernah alpa kami beribadat ke gereja. Masa kecil sampai remaja terasa begitu membekas dengan kebahagiaan keluarga kami. Nama baptis saya adalah Yohanes. Nama tersebut masih menempel di ijazah terakhir saya sebelum akhirnya hidayah itu menyapa pada 2005.

    Pada Agustus 1999, saya hijrah ke Surabaya untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Negeri Surabaya (Unesa, dulu IKIP Negeri Surabaya).

    Singkatnya, saya kemudian tinggal bersama kakek dan nenek saya.

    Hari-hari awal menjadi arek Suroboyo begitu saya nikmati. Jauh dari orangtua adalah awal saya belajar untuk mandiri. Meski selalu mendapat uang saku tiap bulan, saya mulai kasihan dengan ibu yang cuma berjualan kue dan menjadi penjaga kantin sebuah sekolah menengah pertama di Bekasi. Saya ingin bisa memiliki pendapatan sendiri.

    Singkatnya, saya kemudian nyambi mengajar privat selepas kuliah. Lumayan, dari hasil memberi les privat tersebut, saya bisa menambah uang saku dan beli bensin. Sempat cuti kuliah pada semester lima karena telat membayar SPP, saya pernah bekerja sebagai cleaning service di sebuah toko buku. Sebagai mahasiswa, saya mulai menyadari bahwa betapa berbedanya dunia kerja dengan dunia mahasiswa yang penuh dengan idealismenya.

    Sungguh, saya menyadari betapa susahnya hidup di kota besar seperti Surabaya. Apalagi, gaji sebagai cleaning service itu tak sampai Rp. 500 ribu saat itu! Namun, semua itu memiliki hikmah bagi saya. Sukses itu tidak turun langsung dari langit, tapi harus ada usaha! Do’a, usaha, dan kerja keras. Itulah fondasi sukses. Karena itu, tekad saya bulat, saya harus bisa menjadi sarjana, meski sarjana pun terkadang sulit untuk mencari kerja.

    April 2004, kebahagiaan menyelimuti saya dan keluarga. Ya, saya resmi mengakhiri pendidikan di Unesa bersama ribuan wisudawan lain di Islamic Center, Surabaya. Tak pernah terbayang di benak saya bahwa anak seorang ibu penjaga kantin dan bapak supir bisa jadi sarjana. Menjadi raja sehari sebelum esoknya bingung harus membuat lamaran kerja ke sana-sini. Meski demikian, rasa haru dan bangga menyelinap di hati saat saya kali pertama memakai toga.

    Setelah lulus, saya memutuskan untuk tetap tinggal di Jawa Timur. Saya bersyukur, setelah menganggur beberapa lama, akhirnya saya mendapat pekerjaan sebagai guru SMP di Kabupaten Malang. Meski penghasilan sebagai guru sangat kecil, saya begitu menikmati profesi tersebut.

    Awal 2005, nenek saya sakit dan diopname di RS RKZ Surabaya. Saat itu, karena tak ada di antara anak-anaknya yang bisa jaga malam, akhirnya saya memutuskan ke Surabaya dan menjaga beliau. Meski, konsekuensinya saya harus keluar dari pekerjaan saya. Dan di situlah awal saya mengalami hal yang kemudian mengubah hidup saya.

    Tiap pukul empat sore, saat jam besuk, saya sudah ada di RKZ untuk menjaga nenek. Menyuapi saat beliau makan dan mengambilkan pispot saat beliau buang air kecil, menjadi pengalaman pertama saya merawat orang sakit.

    Malam ketiga nenek sakit, saya tak kuat menahan kantuk tertidur dengan posisi duduk di samping paviliun beliau. Jam menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Saat itulah, saya bermimpi yang menurut saya aneh. Dalam mimpi tersebut, saya melihat diri saya yang seolah-olah melakukan gerakan-gerakan yang kelak saya ketahui adalah shalat. Ketika terbangun, saya tak menghiraukannya. Saya berpikir, mungkin itu hanya bunga tidur saja karena terlalu capai.

    Namun, saya tak menyangka, pada malam keempat mimpi itu datang lagi. Saya bermimpi melihat diri saya melakukan ruku yang kelak saya ketahui juga bagian dari shalat. Begitu cepat sehingga saya terbangun dan ketakutan. “Ada apa ini, Tuhan?” ucap saya dalam hati setengah ketakutan.

    Entahlah, saat itu mulai terlintas rasa penasaran saya terhadap Islam. Ketakutan saya masih berlanjut. Malam kelima, mimpi itu datang lagi dan kali ini saya melihat diri saya bersujud. Setelah tiga malam berturut-turut bermimpi aneh, saya sadar bermimpi melihat diri saya sedang shalat. Keinginan saya mengetahui Islam menjadi besar mulai saat itu.

    Setelah nenek sembuh, kejadian itu berlalu dan hanya saya simpan dalam hati. Diam-diam, saya mulai mempelajari Islam dari buku-buku yang saya beli. Puncaknya, keluarga kami merayakan Paskah dan saya sempat bermalam di Gereja Katedral Surabaya. Menjelang subuh, saya hendak keluar dan membeli makan. Ketika bersiap menggeber motor, saya mendengar sayup-sayup adzan Subuh. Entah mengapa, saya mendadak mematikan mesin motor dan mendengarkan kumandang adzan tersebut. Mulai Allaahu Akbar sampai Laa ilaaha illallaah, meski tak tahu artinya saat itu, hati saya bergetar hebat. Indah sekali lantunan suara adzan Subuh tersebut.

    Kepada seorang kawan, saya mulai mengutarakan niat untuk masuk Islam. Meski, saya tahu bahwa keputusan itu akan sangat berisiko karena keluarga saya adalah pemeluk Katolik yang sangat taat. Tiga hari setelah peristiwa itu, saya mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Al-Akbar Surabaya. Hanya ada saya, dua sahabat saya, dan seorang ustadz pembimbing. Allahu Akbar! Saya menjadi muslim. Damai sekali. Dua sahabat saya memeluk saya dan menangis. Suasana begitu mengharukan kala itu.

    Saat saya berterus terang kepada orangtua bahwa saya telah menjadi mualaf, ayah saya sangat murka. Begitu marahnya hingga saya mendapat tamparan di wajah. Hari-hari awal menjadi muslim begitu berat saya rasakan. Namun, saya yakin bahwa Allah Mahatahu. Saya menghormati dan sangat menyayangi orangtua saya. Ketika itu, yang bisa saya lakukan hanya berdo’a bagi ibu dan bapak saya. Di Surabaya, suasana diskriminasi dari keluarga sempat saya rasakan. Hal yang wajar karena menjadi muslim saya dicap sebagai pengkhianat. Meski demikian, semua saya syukuri tanpa henti mendo’akan kedua orangtua tercinta.

    Akhirnya, malam membahagiakan bagi kami itu datang di bulan suci Ramadhan pada 2006. Malam setelah mengikuti shalat tarawih menjelang Ramadhan berlalu, saya mendapat telepon dari ibu di Bekasi. Secara mengejutkan ibu mengatakan bahwa beliau dan bapak telah masuk Islam setelah bermimpi melihat saya shalat.

    Allahu Akbar! Mahaindah Engkau, ya Allah. Tak sanggup berucap sepatah kata, malam itu juga saya sujud syukur dan tiada henti menangis. Menangis bahagia. Cinta itu datang berupa hidayah yang tak ternilai dengan apa pun di dunia ini. Teriring salam terindah untuk Rasulullah, kuucapkan syukur Alhamdulillah atas karunia ini.

    ***

    Katagori : Journey to Islam Oleh : Redaksi kotasantri

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 14 August 2012 Permalink | Balas  

    Cerdas Menuju Sholeh 

    Cerdas Menuju Sholeh

    Fir’aun? Setiap zaman mengenang nama ini. Bukan nama yang indah tetapi sangat popular. Al-Qur’an menyebutnya sebanyak 74 kali. Semua lekat dengan kebengisan, kekejaman, tirani, kecongkakan dan sederet label jahat lainnya. Gambaran kekerdilan di balik nama besar fir’aun baru telah menjadi sebuah nama manis untuk didengar.

    Walaupun seluruh jagad mencela, menghina, bahkan melaknat nama ini, akan tetapi fir’aun-fir’aun baru tetap muncul kehadapan. Dengan berbagai tameng, fir’aun baru berpangkat tinggi tetap saja hadir dengan tipu daya yang lebih dahsyat. Prakteknya tidak lagi dengan menggunakan pedang, cambuk, dan alat-alat yang menyiksa lainnya. Tapi menggunakan tipu daya ekonomi dengan memiskinkan rakyat.

    Banyak hak rakyat di rebut dan di curi. Hukum menjadi jaminan bagi para fir’aun untuk menutupi diri. Sehingga rakyat tetap saja di buat percaya dan bergantung pada pribadi seperti itu. Apakah pribadi fir’aun ini yang disebut cerdas?

    Apakah cerdas itu?

    Apakah cerdas adalah orang yang hidupnya bergelimpang harta, kemana-mana dengan membawa puncak dunia berupa rumah megah dan mobil mewah, yang malah membuat ia terhina. Pikirkanlah? Saat ini begitu banyak orang kaya, tetapi para tetangga bahkan saudara mereka hidup dalam kesulitan. Orang-orang kaya tersebut malah menutup mata dan telinga seolah tidak pernah melihat dan mendengar jeritan rakyat jelata yang butuh perhatian dan bantuan.

    Apakah hati mereka telah tertutup? Atau karena tidak pernah mendengar teguran Rasulullah saw “Barang siapa tidak menaruh perhatian terhadap masalah kaum muslimin, bukan dari golongan mereka.” (Al Hadits).

    Apakah cerdas itu?

    Apakah cerdas adalah yang terkenal, namanya familiar ditengah masyarakat, orang yang sering berbicara, baik itu di mimbar atau tampil dilayar kaca? Tengoklah? Banyak manusia abad ini yang pintar berkata, beragumen, dan beretorika, mudah menipu lewat keindahan berbicara dan rupa, tetapi tidak segan-segan memakan dan menelan mangsa dengan kata indah dan wajah rupawan itu.

    Tengoklah para elit politik yang rajin dan pintar mengeluarkan kata-kata indah saat berkampanye, tetapi yang sebenarnya adalah bisa untuk membunuh saudaranya. Apakah ini yang disebut cerdas?

    Lalu apakah cerdas itu?

    Dalam sebuah riwayat dari Syadad bin Aus ra. Dari Rasulullah saw, beliau bersabda “Orang yang berakal adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian. Orang yang kurang perhitungan adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan bahwa Allah selalu mengampuni dan memaafkannya”.

    Dalam riwayat lain dikatakan, “Orang yang cerdas ialah orang yang mengendalikan dirinya dan bekerja untuk kehidupan setelah kematian”. (HR. Tirmidzi)

    Hadits diatas mengingatkan manusia tentang kepintaran dan kecerdasan hakiki yang bermanfaat bagi manusia di dunia dan di akhirat. Orang pintar dan cerdas adalah orang yang bersiap-siap mengumpulkan bekal untuk suatu masa setelah kematian. Orang itulah yang Rasulullah saw sebut dengan al-kais. Al-Kais adalah orang yang berfikir jauh kedepan untuk masa depan kehidupannya, bahkan untuk kehidupan yang kekal dan abadi. Orang pintar seperti yang disebut Rasulullah saw tidak terpancing untuk melakukan pekerjaan atau perbuatan yang hanya memberikan dampak pendek, apalagi yang tidak berdampak apa-apa atau merugikan.

    Jadilah orang yang cerdas, wahai saudaraku..

    Orang yang cerdas itu adalah orang yang menjadikan Allah sebagai pengawas terhadap ilmu. Kita memuji Allah swt yang telah memuliakan dan menjadikan kita sebagai penuntut ilmu, kemudian kita memohon kepada Allah swt agar senantiasa membukakan pintu-pintu-Nya bagi kita. Dan pintu paling agung yang dibukakan Allah swt kepada kita adalah Dia menjadikan kita sebagai hamba-Nya.

    Banyak manusia menyia-nyiakan Allah dengan perbuatan keji dan dosa karena kecintaan yang sangat pada dunia sehingga Allah akan menyia-nyiakan mereka didunia dan diakhirat. Layaknya Fir’aun yang durjana yang menyia-nyiakan Allah, sehingga Allah melenyapkannya didasar lautan.

    Allah swt berfirman, “Dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi pembalasan (pada hari kiamat), disebabkan apa yang mereka telah kerjakan”. (Al-An’am:120).

    Mungkin dosa yang kelihatan, terkadang kita meninggalkannya karena takut kepada pengawasan manusia, namun dosa yang tersembunyi tidak akan ditinggalkan, melainkan karena takut kepada Allah.

    Jadilah orang yang cerdas, wahai saudaraku..

    Orang yang cerdas itu adalah orang yang menghidupkan sunnah Rasulullah saw dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tidak akan dapat kita realisasikan dengan sempurna, kecuali dengan mengkaji sirah (perjalanan hidup) Rasulullah saw dan merenungkan semua peristiwa serta nuansa pendidikan (tarbiyah) yang memperhatikan realita generasi sekarang ini. Dia adalah seorang yang ma’shum (terjamin kesuciannya).

    Allah telah menjadikannya sebagai suri tauladan bagi kita. Dia adalah orang yang jujur, guru yang sejati, dan komandan yang ulung. Allah swt berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hati kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab:21).

    Jadilah orang yang cerdas, wahai saudaraku…

    Orang yang cerdas itu adalah orang yang senantiasa menjaga waktu, supaya jangan sampai terbuang dengan sia-sia. Allah swt berfirman, “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada ilah selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia”. (Al-Mukminun:115-116).

    Dan ingatlah akan sabda Rasulullah berikut, “Kedua kaki seorang hamba itu tidak akan lenyap, sehingga di ditanya tentang empat perkara: Tentang keremajaannya, kemana ia habiskan; tentang hartanya, dari mana dan kemana dia belanjakan; tentang umurnya, untuk apa di habiskan; dan tentang ilmunya apa yang telah dia lakukan dengannya.” (HR. At Tirmidzi)

    Fahamilah, wahai saudaraku..

    Kecerdasan seperti inilah yang mengantarkan kita kepada pribadi yang sholeh. Jika ada akibat, pastilah ada sebab, dan jika ada reaksi, pastilah ada aksi. Sholeh adalah akibat dari pribadi yang cerdas sebagaimana Cerdas merupakan suatu aksi (perbuatan) yang menimbulkan kesholehan. Pancaran pribadi sholeh adalah keimanan. Karena umat yang hidup tanpa iman, bagaikan binatang melata. Madrasah tanpa iman, bagaikan asrama yang rapuh dan hancur. Hati tanpa iman bagaikan seonggok daging bangkai.

    Seorang guru tanpa iman, bagaikan sekujur tubuh yang lumpuh dan tidak dapat bergerak. Buku tanpa iman, tak lebih daripada sekadar lembaran-lembaran yang berbaris. Dan ceramah tanpa iman, bagaikan perkataan tanpa makna. Maka, mulailah hidup cerdas dan raihlah kesholehan hamba yang beriman, wahai saudaraku…

    Wallahu ‘alam bish showab

    ***

    Oleh : Bobi Hendra, SE. (Penulis adalah mantan Ka. SKI-IT BEM FE Trisakti periode 2004/2005)

    Hudzaifah.org

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 13 August 2012 Permalink | Balas  

    Hadis Muthahharah 

    Hadis Muthahharah

    Dari Sayyidina Khalid bin Al-Walid Radiallahu’anhu telah berkata : Telah datang seorang arab desa kepada Rasulullah S.A.W yang mana dia menyatakan tujuannya : Wahai Rasulullah! sesungguhnya kedatanganku ini adalah untuk bertanya kepada engkau mengenai apa yang akan menyempurnakan diriku di dunia dan akhirat. Maka baginda S.A.W telah berkata kepadanya Tanyalah apa yang engkau kehendaki :

    Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang alim. Baginda S.A.W menjawab : Takutlah kepada Allah maka engkau akan jadi orang yang alim

    Dia berkata : Aku mau menjadi orang paling kaya. Baginda S.A.W menjawab : Jadilah orang yang yakin pada diri engkau maka engkau akan jadi orang paling kaya

    Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang adil. Baginda S.A.W menjawab : Kasihanilah manusia yang lain sebagaimana engkau kasih pada diri sendiri maka jadilah engkau seadil-adil manusia

    Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang paling baik. Baginda S.A.W menjawab: Jadilah orang yang berguna kepada masyarakat maka engkau akan jadi sebaik-baik manusia

    Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang istimewa di sisi Allah. Baginda S.A.W menjawab : Banyakkan zikrullah nescaya engkau akan jadi orang istimewa di sisi Allah

    Dia berkata : Aku mau disempurnakan imanku. Baginda S.A.W menjawab : Perelokkan akhlakmu niscaya imanmu akan sempurna

    Dia berkata : Aku mau termasuk dalam golongan orang yang muhsinin (baik). Baginda S.A.W menjawab : Beribadatlah kepada Allah seolah-olah engkau melihatNya dan jika engkau tidak merasa begitu sekurangnya engkau yakin Dia tetap melihat engkau maka dengan cara ini engkau akan termasuk golongan muhsinin

    Dia berkata : Aku mau termasuk dalam golongan mereka yang taat. Baginda S.A.W menjawab : Tunaikan segala kewajipan yang difardhukan maka engkau akan termasuk dalam golongan mereka yang taat

    Dia berkata : Aku mau berjumpa Allah dalan keadaan bersih daripada dosa. Baginda S.A.W menjawab : Bersihkan dirimu daripada najis dosa nescaya engkau akan menemui Allah dalam keadaan suci daripada dosa

    Dia berkata : Aku mau dihimpun pada hari qiamat di bawah cahaya. Baginda S.A.W menjawab : Jangan menzalimi seseorang maka engkau akan dihitung pada hari qiamat di bawah cahaya

    Dia berkata : Aku mau dikasihi oleh Allah pada hari qiamat. Baginda S.A.W menjawab : Kasihanilah dirimu dan kasihanilah orang lain nescaya Allah akan mengasihanimu pada hari qiamat

    Dia berkata : Aku mau dihapuskan segala dosaku. Baginda S.A.W menjawab : Banyakkan beristighfar nescaya akan dihapuskan( kurangkan ) segala dosamu

    Dia berkata : Aku mau menjadi semulia-mulia manusia. Baginda S.A.W menjawab : Jangan mengesyaki sesuatu perkara pada orang lain nescaya engkau akan jadi semulia-mulia manusia

    Dia berkata : Aku mau menjadi segagah-gagah manusia. Baginda S.A.W menjawab : Sentiasa menyerah diri (tawakkal) kepada Allah nescaya engkau akan jadi segagah-gagah manusia

    Dia berkata : Aku mau dimurahkan rezeki oleh Allah. Baginda S.A.W menjawab : Sentiasa berada dalam keadaan bersih ( dari hadas ) nescaya Allah akan memurahkan rezeki kepadamu

    Dia berkata : Aku mau termasuk dalam golongan mereka yang dikasihi oleh Allah dan rasulNya. Baginda S.A.W menjawab : Cintailah segala apa yang disukai oleh Allah dan rasulNya maka engkau termasuk dalam golongan yang dicintai oleh Mereka

    Dia berkata : Aku mau diselamatkan dari kemurkaan Allah pada hari qiamat. Baginda S.A.W menjawab : Jangan marah kepada orang lain nescaya engkau akan terselamat daripada kemurkaan Allah dan rasulNya

    Dia berkata : Aku mau diterima segala permohonanku. Baginda S.A.W menjawab : Jauhilah makanan haram nescaya segala permohonanmu akan diterimaNya

    Dia berkata : Aku mau agar Allah menutupkan segala keaibanku pada hari qiamat. Baginda S.A.W menjawab : Tutuplah keburukan orang lain nescaya Allah akan menutup keaibanmu pada hari qiamat

    Dia berkata : Siapa yang terselamat daripada dosa? Baginda S.A.W menjawab : Orang yang sentiasa mengalir air mata penyesalan,mereka yang tunduk pada kehendakNya dan mereka yang ditimpa kesakitan

    Dia berkata : Apakah sebesar-besar kebaikan di sisi Allah? Baginda S.A.W menjawab : Elok budi pekerti, rendah diri dan sabar dengan ujian ( bala )

    Dia berkata : Apakah sebesar-besar kejahatan di sisi Allah? Baginda S.A.W menjawab : Buruk akhlak dan sedikit ketaatan

    Dia berkata : Apakah yang meredakan kemurkaan Allah di dunia dan akhirat ? Baginda S.A.W menjawab : Sedekah dalam keadaan sembunyi ( tidak diketahui ) dan menghubungkan kasih sayang

    Dia berkata: Apakah yang akan memadamkan api neraka pada hari qiamat? Baginda S.A.W menjawab : sabar di dunia dengan bala dan musibah.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 12 August 2012 Permalink | Balas  

    Ungkapan Jujur Seorang Anak 

    Ungkapan Jujur Seorang Anak

    Tahun 2002 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah. Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah.

    Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika:

    “Apa yang kamu inginkan ?” Dika hanya menggeleng.

    “Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?” tanya saya.

    “Biasa-biasa saja” jawab Dika singkat.

    Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.

    Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya.

    Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 – 160. Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas).

    Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.

    Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika.

    Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.

    Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan “Aku ingin ibuku :….”

    Dika pun menjawab : “membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja”

    Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di komputer dan sebagainya. Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana : diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya.

    Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan “Aku ingin Ayahku …”

    Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya “Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu”

    Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.

    Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan “Aku ingin ibuku tidak …”

    Maka Dika menjawab “Menganggapku seperti dirinya”

    Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.

    Ketika Psikolog memberikan pertanyaan “Aku ingin ayahku tidak : ..”

    Dika pun menjawab “Tidak menyalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa”

    Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya. Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.

    Ketika Psikolog itu menuliskan “Aku ingin ibuku berbicara tentang …..”

    Dika pun menjawab “Berbicara tentang hal-hal yang penting saja”.

    Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya. Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya dingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan.

    Atas pertanyaan “Aku ingin ayahku berbicara tentang …..”,

    Dika pun menuliskan “Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahannya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku”.

    Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya.

    Ketika Psikolog menyodorkan tulisan “Aku ingin ibuku setiap hari …..”

    Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar “Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku”

    Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.

    Secarik kertas yang berisi pertanyaan “Aku ingin ayahku setiap hari ….”

    Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata “tersenyum”

    Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.

    Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan “Aku ingin ibuku memanggilku….”

    Dika pun menuliskan “Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus”

    Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang.

    Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata “Lanang” yang berarti laki-laki.

    Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi “Aku ingin ayahku memanggilku ..”

    Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu “Nama Asli”.

    Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan “Paijo” karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok. “Persis Paijo, tukang sayur keliling” kata suami saya.

    Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan “To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choice” sebuah seruan yang mengingatkan bahwa “Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan”.

    Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat.

    Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan. Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para orang tua tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para orang tua harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat yang baik.

    ***

    (Ditulis oleh : Lesminingtyas)

     
    • Ichink 12:11 pm on 12 Agustus 2012 Permalink

      Saat anak-anak, saat yang tepat untuk bermain dan juga mengcopy apa yang dilihat….

    • aprie 11:23 am on 13 Agustus 2012 Permalink

      sharingnya bagus banget mba.
      “jadikanlah anak-anak tetap menjadi anak-anak”, walau belum merasakan rumitnya jadi ortu.
      tentang itu saya bikinkan puisi :D http://aprilecuma.blogspot.com/2012/07/anak-anak.html

    • dykapede 5:36 am on 17 Agustus 2012 Permalink

      Namaku juga dika, tapi pake Y.
      Saya begitu meyukai senyum dan tawa anak2, apalagi sudah menangis, semakin semangat deh walopun belum merasakan menjadi orang tua sesungguhnya :))

    • Ayu Oktariani 1:40 pm on 2 Oktober 2012 Permalink

      semoga aku ibu yang cukup baik. :’)

  • erva kurniawan 1:16 am on 11 August 2012 Permalink | Balas  

    Tujuan Pernikahan Dalam Al Quran 

    Akad Nikah Erva Kurniawan dan Titik Rahayuningsih 28 Juni 2008

    Tujuan Pernikahan Dalam Al Quran

    Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S. al-Nur: 32).

    Anjuran melaksanakan nikah dalam Al-Qur’an mengandung beberapa tujuan baik tujuan yang bersifat pisik maupun yang bersifat moral. Tujuan yang bersifat pisik adalah untuk menyalurkan hasrat biologis terhadap lawan jenis dan juga mengembangkan keturunan sebagai pelanjut tugas kekhalifahan manusia di muka bumi.

    Adapun tujuan moral dari pernikahan adalah untuk melakukan pengabdian kepada Tuhan dengan sebaik-baiknya dan dengan pengabdian ini akan diharapkan adanya intervensi dalam kehidupan berkeluarga yang akhirnya akan melahirkan generasi-generasi yang taat dan shalih.

    Sakralnya tujuan yang terkandung dalam pernikahan menunjukkan bahwa pernikahan bukanlah sekadar uji coba yang bilamana tidak mampu melanjutkannya dapat diberhentikan dengan seketika yang seolah-olah perceraian adalah sesuatu yang lumrah. Banyaknya terdapat persefsi yang seperti ini menunjukkan bahwa masyarakat masih memandang bahwa perniakhan hanya merupakan persoalan biologis semata.

    Berdasarkan tujuan inilah maka menghadapi pernikahan harus dilakukan dengan kematangan baik kematangan dari segi material terlebih lagi dari segi moral. Dengan kata lain mendapatkan kedewasaan sebelum menikah lebih baik daripada mendapatkannya sesudah menikah.

    Urgensi kematangan sebelum menikah ditandai dengan proses-proses yang harus dilalui secara berurutan seperti meresek, menanya, meminang, nikah gantung dan nikah sebenarnya. Hal ini dilakukan supaya calon suami-isteri benar-benar matang dalam mengayuhkan rumah tangganya karena proses-proses yang disebutkan tadi masih memberikan peluang untuk mengundurkan diri dari pernikahan sebelum sampai kepada pernikahan yang sebenarnya karena pengunduran diri (cerai) pasca pernikahan yang sebenarnya dapat menimbulkan korban beberapa pihak seperti keluarga dan anak-anak.

    Anjuran pernikahan dalam Al-Qur’an adalah anjuran yang penuh dengan persyaratan sehingga tujuan-tujuan dari pernikahan disebutkan secara tegas dalam Al-Qur’an sekalipun sifatnya masih global. Tujuan-tujuan pernikahan inilah yang seharusnya dijadikan bahan evaluasi baik oleh orang tua calon maupun para calon itu sendiri untuk menentukan kadar kemampuannya dalam menghadapi pernikahan. Nampaknya tujuan-tujuan inilah yang mendasari para orang tua dahulu membuat semacam proses untuk sampai kepada pernikahan yang sebenarnya agar tujuan-tujuan dimaksud dapat direalisasikan dalam rumah tangga.

    Adapun mengenai faktor biologis maka Nabi Muhammad memberikan solusi alternatif yaitu dengan melaksanakan puasa bagi yang tidak punya kemampuan untuk meredamnya. Sebaliknya Nabi Muhammad mengecam orang-orang yang punya kemampuan dalam berbagai aspek untuk menikah tapi tidak melaksanakannya dianggap sebagai orang yang anti terhadap sunnahnya. Berdasarkan hal maka pihak ketiga harus pula berperan aktif untuk mencarikan jodoh bagi orang-orang yang sangat sulit untuk mendapatkannya.

    Tujuan Pernikahan

    Tujuan-tujuan pernikahan sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah untuk mendapatkan surga dan ampunan Tuhan, untuk menjalankan hukum-hukum Tuhan dan mendapatkan karunia Tuhan (lihat Q.S. 2: 221, 230, Q.S. 24: 320). Adapun tujuan-tujuan yang lain seperti mengembangkan keturunan dan menyalurkan kebutuhan biologis adalah tujuan yang paling asasi dan sekiranya Al-Qur’an tidak menyebutkannya maka dipastikan bahwa tujuan yang seperti ini sudah lumrah berlaku.

    Tujuan dari pernikahan adalah untuk mendapatkan surga dan keampunan Tuhan sekalipun pernyataan ini tidak secara langsung ditegaskan dalam Al-Qur’an. Larangan Al-Qur’an menikah dengan orang-orang musyrik -walaupun mereka mengagumkan dalam berbagai aspek- didasarkan kepada kekhawatiran bahwa mereka akan menarik pasangannya yang mukmin ke neraka sedangkan Allah mengajak kepada surga dan keampunan.

    Ayat ini dapat dipahami bahwa menikah dengan orang-orang musyrik tidak direstui oleh Allah sedangkan menikah dengan orang-orang mukmin sudah pasti diridhai-Nya. Oleh karena itu menikahi orang-orang yang diridhai oleh Allah adalah merupakan aturan yang wajib diindahkan sehingga implikasi yang akan diperoleh ialah mendapatkan surga dan keampunan.

    Tujuan pernikahan selanjutnya adalah untuk menegakkan hukum-hukum Allah karena lebih efektif menegakkannya dengan berteman daripada sendirian. Berdasarkan tujuan ini maka keberadaan teman menikah adalah merupakan mitra dialog yang saling memberikan kontribusi kepada masing-masing pihak dalam berbagai urusan termasuk dalam urusan menegakkan hukum-hukum Allah.

    Menegakkan hukum-hukum Allah dalam kehidupan rumah tangga adalah tanggung jawab bersama suami isteri dan masing-masing pihak seyogianya memberikan kontrol terhadap pasangan masing-masing. Oleh karena itu salah satu pihak dianggap zhalim bilamana mendiamkan pasangannya melanggar ketentuan-ketentuan yang sudah digariskan oleh Allah.

    Tujuan berikutnya dari suatu pernikahan adalah untuk mencari karunia Allah yaitu berupa rezeki yang halal karena rezeki yang tidak halal tidak termasuk karunia Allah dan pengertian karunia disini dengan rezeki dapat dipahami dengan adanya kalimat fakir (fuqara’) dan kalimat kaya (yughni). Pernyataan ini mengindikasikan bahwa suami isteri tidak boleh bermalas-malasan mencari rezeki karena rezeki adalah salah satu penopang kehidupan keluarga. Kata karunia dalam redaksi ini dapat dipahami bahwa pencarian rezeki harus didasari kepada ketentuan-ketentuan yang berlaku dan karenanya masing-masing pihak harus selektif agar mendapatkan rezeki yang direstui oleh Allah. Urgensi pencarian rezeki yang halal dan baik akan berimplikasi kepada jiwa dan mental anak sehingga baik tidaknya seorang anak sangat ditentukan oleh nilai hukum rezeki yang diberikan.

    Tujuan-tujuan dar pernikahan inilah yang seharusnya dipegang teguh secara konsisten oleh pasangan masing-masing sehingga keegoisan dalam mempertahankan dan menerima pendapat serta pemaksaan kehendak tidak seharusnya terjadi dalam kehidupan rumah tangga.

    Ide-ide yang muncul dari pihak suami atau isteri harus dipikirkan secara rasional tidak dengan emosional dan oleh karena itu setiap ide yang muncul perlu didiskusikan agar memiliki tujuan yang jelas agar pihak lain tidak merasa terpaksa menerimanya dan hal ini adalah merupakan gambaran rumah tangga yang demokratis.

    Penutup

    Tujuan-tujuan yang terdapat dalam pernikahan sebagaimana yang telah digambarkan oleh Al-Qur’an menunjukkan bahwa perlunya kematangan dan kesiapan mental bagi yang ingin melaksanakan pernikahan.Kematangan dan persiapan menunjukkan bahwa pernikahan yang dilakukan berada pada tataran yang sangat serius yang tidak hanya memperhatikan aspek biologis akan tetapi tak kalah pentingnya ialah memperhatikan aspek psikologi dan dengan berdasarkan inilah diduga kuat bahwa pernikahan dimasukkan ke dalam kategori ibadah.

    ***

    Oleh Drs. Achyar Zein, M.Ag

    Dosen Fak. Tarbiyah IAIN-SU, Pengurus El-Misyka Circle

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 10 August 2012 Permalink | Balas  

    Ketika Rasulullah SAW Memberikan Syafaat Kepada Ummatnya di Hari Kiamat 

    Ketika Rasulullah SAW Memberikan Syafaat Kepada Ummatnya di Hari Kiamat

    Ini adalah sekelumit “kisah masa depan”, ketika seluruh manusia berkumpul di hari kiamat. Kisah ini disampaikan oleh Rasulullah kepada para sahabatnya. Dalam kisah itu diceritakan bahwa Allah mengumpulkan seluruh manusia dari yang pertama hingga yang terakhir dalam satu daratan. Pada hari itu matahari mendekat kepada mereka, dan manusia ditimpa kesusahan dan penderitaan yang mereka tidak kuasa menahannya.

    Lalu di antara mereka ada yang berkata, “Tidakkah kalian lihat apa yang telah menimpa kita, tidakkah kalian mencari orang yang bisa memberikan syafa’at kepada Rabb kalian?”

    Yang lainnya lalu menimpali, “Bapak kalian adalah Adam AS.”

    Akhirnya mereka mendatangi Adam lalu berkata, “Wahai Adam, Anda bapak manusia, Allah menciptakanmu dengan tangan-Nya, dan meniupkan ruh kepadamu, dan memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadamu, dan menempatkanmu di surga. Tidakkah engkau syafa’ti kami kepada Rabb-mu? Apakah tidak kau saksikan apa yang menimpa kami?”

    Maka Adam berkata, “Sesungguhnya Rabbku pada hari ini sedang marah yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya, dan sesungguhnya Dia telah melarangku untuk mendekati pohon (khuldi) tapi aku langgar. Nafsi nafsi (aku mengurusi diriku sendiri), pergilah kalian kepada selainku, pergilah kepada Nuh AS.”

    Lalu mereka segera pergi menemui Nuh AS dan berkata, “Wahai Nuh, engkau adalah Rasul pertama yang diutus ke bumi, dan Allah telah memberikan nama kepadamu seorang hamba yang bersyukur (abdan syakuro), tidakkah engkau saksikan apa yang menimpa kami, tidakkah engkau lihat apa yang terjadi pada kami? Tidakkah engkau beri kami syafa’at menghadap Rabb-mu?”

    Maka Nuh berkata, “Sesungguhnya Rabbku pada hari ini marah dengan kemarahan yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya. Sesungguhnya aku punya doa, yang telah aku gunakan untuk mendoakan (celaka) atas kaumku. Nafsi nafsi, pergilah kepada selainku, pergilah kepada Ibrahim AS!”

    Lalu mereka segera menemui Ibrahim dan berkata, “Wahai Ibrahim, engkau adalah Nabi dan kekasih Allah dari penduduk bumi, syafa’atilah kami kepada Rabb-mu! Tidakkah kau lihat apa yang menimpa kami?”

    Maka Ibrahim berkata, “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini marah dengan kemarahan yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya, dan sesungguhnya aku telah berbohong tiga kali. Nafsi nafsi, pergilah kalian kepada selainku, pergilah kalian kepada Musa AS!”

    Lalu mereka segera pergi ke Musa, dan berkata, “Wahai Musa, engkau adalah utusan Allah. Allah telah memberikan kelebihan kepadamu dengan risalah dan kalam-Nya atas sekalian manusia. Syafa’atilah kami kepada Rabb-mu! Tidakkah kau lihat apa yang kami alami?”

    Lalu Musa berkata, “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini sedang marah dengan kemarahan yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan pernah marah seperti ini sesudahnya. Dan sesungguhnya aku telah membunuh seseorang yang aku tidak diperintahkan untuk membunuhnya. Nafsi nafsi, pergilah kalian kepada selainku, pergilah kalian kepada Isa AS!”

    Lalu mereka pergi menemui Isa, dan berkata, “Wahai Isa, engkau adalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang dilontarkan kepada Maryam, serta ruh dari-Nya. Dan engkau telah berbicara kepada manusia semasa dalam gendongan. Berilah syafa’at kepada kami kepada Rabb-mu! Tidakkah kau lihat apa yang kami alami?”

    Maka Isa berkata, “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini sedang marah dengan kemarahan yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya. Nafsi nafsi, pergilah kepada selainku, pergilah kepada Muhammad SAW!”

    Akhirnya mereka mendatangi Muhammad SAW, dan berkata, “Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Allah telah mengampuni dosamu yang lalu maupun yang akan datang. Syafa’atilah kami kepada Rabb-mu, tidakkah kau lihat apa yang kami alami?”

    Lalu Nabi Muhammad SAW pergi menuju bawah ‘Arsy. Di sana beliau bersujud kepada Rabb, kemudian Allah membukakan kepadanya dari puji-pujian-Nya, dan indahnya pujian atas-Nya, sesuatu yang tidak pernah dibukakan kepada seorangpun sebelum Nabi Muhammad. Kemudian Allah SWT berkata kepada Muhammad, “Wahai Muhammad, angkat kepalamu, mintalah, niscaya kau diberi, dan berilah syafa’at niscaya akan dikabulkan!”

    Maka Muhammad SAW mengangkat kepalanya dan berkata, “Ummatku wahai Rabb-ku, ummatku wahai Rabb-ku, ummatku wahai Rabb-ku!”

    Lalu disampaikan dari Allah kepadanya, “Wahai Muhammad, masukkan ke surga di antara umatmu yang tanpa hisab dari pintu sebelah kanan dari sekian pintu surga, dan mereka adalah ikut memiliki hak bersama dengan manusia yang lain pada selain pintu tersebut dari pintu-pintu surga.”

    Di dalam kisah ini, Rasulullah SAW juga menceritakan bahwa lebar jarak antara kedua sisi pintu surga itu, bagaikan jarak Makkah dan Hajar, atau seperti jarah Makkah dan Bushro. Hajar adalah nama kota besar pusat pemerintahan Bahrain. Sedangkan Bushro adalah kota di Syam. Bisa kita bayangkan, betapa tebalnya pintu-pintu surga itu..

    Itulah sekelumit kisah nyata di masa depan ketika hari kiamat. Pada hari itu, Rasulullah SAW memberi syafa’at kepada ummatnya. Pada hari itu Rasulullah SAW menjadi sayyid (tuan)nya manusia. Shalawat dan salam kepada Rasulullah Muhammad SAW. (h)

    Maraji’ : Hadits Riwayat Bukhari – Muslim

    ***

    Hudzaifah.org

    Oleh: Abusafar

     
    • inan 8:59 pm on 9 September 2012 Permalink

      ya RASSULULLAH terima kasih..kami umat muslim sangat BAHAGIA ,salawat serta salam tercurah untkmu..nabi MUHAMMAD saw.

    • Opik 2:58 pm on 24 September 2012 Permalink

      terimakash ya Rasulullah , salawat serta salam tercurah untkmu..nabi MUHAMMAD saw.

    • hendrik 9:52 am on 11 Oktober 2012 Permalink

      hadist dan QURAN mana ,Isa AS mengatakan sperti tertera diatas. ? Sedangkan dalam islam Yesus DInubuatkan yang memegang kunci surga?

  • erva kurniawan 1:57 am on 9 August 2012 Permalink | Balas  

    Dalam Shalat, Haruskah Ingat Allah Saja? 

    Dalam Shalat, Haruskah Ingat Allah Saja?

    Apa tujuan shalat? Allah SWT telah menunjukkannya kepada kita: “… dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS [20]: 14)

    Lantas, apakah di dalam shalat, sebaiknya hati kita kosong dari segala sesuatu kecuali Allah? Ketika kita bershalat, mestikah kita hilangkan semua pikiran selain Allah? Di dalamnya, haruskah kita abaikan masalah yang sedang kita hadapi?

    Terhadap tiga pertanyaan tersebut, ada banyak buku mengenai cara shalat khusyuk yang menjawab: “Ya, ya, ya.” Di antara mereka, ada yang menceritakan seseorang yang begitu “khusyuk” bershalat, sehingga ketika tiang masjid tempat shalatnya rubuh, ia diam saja dan terus bershalat sebagaimana biasanya. Mereka pun mengabarkan adanya seseorang yang terus saja bershalat, padahal lantai gedung tingkat dua sedang terbakar. “Bahkan ketika banyak orang berteriak memanggilnya, orang itu tetap dalam shalatnya.”

    Akan tetapi, saya tidak setuju dengan cara shalat seperti itu. Jawaban saya: “Tidak, tidak, tidak!” Saya khawatir, orang yang bershalat seperti itu terlalu khusyuk, sedangkan segala yang berlebihan bukanlah kebaikan lagi. Berikut ini sebagian dari alasan saya.

    Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya bila aku bershalat dan bermaksud memperpanjangnya lalu kudengar suara tangisan anak, maka kupercepat shalatku karena aku menyadari bahwa ibunya pasti terganggu oleh tangisan anaknya itu.” (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

    Ini jelas menunjukkan, hati beliau tidak kosong dari segala sesuatu (selain Allah). Di dalam shalat pun, Nabi saw. menaruh perhatian besar pada lingkungan.

    Umar r.a. berkata, “Sesungguhnya aku merencanakan penyiapan pasukanku ketika aku sedang bershalat.” (HR Bukhari)

    Ini jelas menunjukkan, kita tidak harus menghilangkan semua pikiran (selain Allah). Di dalam shalat pun, ada kalanya kita sebaiknya memikirkan masalah yang sedang kita hadapi.

    Kalau begitu, apakah Anda saya anjurkan melupakan tujuan shalat (yaitu “untuk mengingat Allah”)? Juga tidak! Alih-kita, sebaiknya kita mengingat Allah dan sekaligus memikirkan atau merasakan masalah yang sedang kita hadapi. Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman, “Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. [Satu untuk-Ku, satu untuknya.] Dan hamba-Ku berhak mendapatkan apa yang ia minta.” (HR Muslim)

    Atas dasar itu, di dalam shalat sebaiknya kita kaitkan kebutuhan kita dengan satu atau beberapa sifat Allah yang tercakup dalam Asmaul Husna.

    Umpamanya, tatkala kita bershalat dalam keadaan merasa tak berdaya lantaran “terlanda badai setinggi gunung” (tertimpa musibah, bangkrut, terjangkit penyakit berat dan tak kunjung sembuh, dsb.), kita bisa mengingat-ingat bahwa Allah itu Maha Penolong (al-Waliyy).

    Di dalam shalat itu, bacaan Al-Qur’annya pun bisa kita sesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan shalat kita. Salah satu contohnya adalah seperti yang disarankan oleh KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) dalam artikel “Kiat Salat Khusyu”:

    Pilihlah surat yang paling dimengerti dan yang berkaitan dengan kebutuhan kita, karena ini pun akan membantu kita lebih khusyu. Misalnya surat Al-Baqarah ayat terakhir atau surat al-Insyirah bisa dibaca ketika kita sedang menghadapi ujian karena isi surat tersebut harapan dan doa agar tidak diberi musibah yang berat serta keyakinan akan datangnya pertolongan Allah sesudah kesulitan.

    Dengan membaca surat yang sesuai dengan kebutuhan kita, bukankah kita menjadi tidak semata-mata mengingat Allah, tetapi sekaligus mengaitkannya dengan masalah yang sedang kita hadapi?

    ***

    M. Shodiq Mustika

    Penulis Buku Islami

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 9 August 2012 Permalink | Balas  

    Menyambut Ramadhan: Sambutlah dengan Kegembiraan 

    Menyambut Ramadhan: Sambutlah dengan Kegembiraan

    Sebentar lagi tamu kita yang mulia bulan Ramadhan akan segera tiba. Kita semua sibuk ‎mempersiapkan diri menyambut bulan yang penuh berkah tersebut. Mempersiapkan diri ‎menyambut Ramadhan dengan baik-baik adalah amalan yang sangat mulia. Para ulama ‎sholeh terdahulu senantiasa mengkonsentrasikan diri menyambut Ramadhan dengan ‎penuh keseriusan. Rasulullah s.a.w. pernah berpesan kepada umatnya :”Akan segera ‎datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan. Allah s.w.t. ‎bersama kalian pada bulan itu, maka diturunkanlah rahmat, diampuni dosa-dosa dan ‎dikabulkan do’a dan permintaan. Allah melihat kalian berlomba-lomba dalam kebaikan, ‎lalu diikutkan bersama kalian malaikat-malaikat. Maka tunjukkanlah kepada Allah ‎kebaikan diri kalian, sesungguhnya orang yang rugi adalah mereka yang tidak ‎mendapatkan rahmat Allah”. Dalam al-Quran juga ditegaskan : “Demikianlah (perintah ‎Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu dari ‎ketakwaan hati. ‎

    Berikut ini adalah sebagian sikap-sikap terpuji yang dilakukan para ulama sholeh ‎terdahulu dalam menyambut bulan suci Ramadhan:‎ ‎

    1. Dengan kegembiraan dan kebahagiaan.‎

    Mereka selalu berharap datangnya Ramadhan dan ingin segera menyambutnya dengan ‎kegembiraan dan kebahagiaan. Yahya bin Abi Katsir meriwayatkan bahwa orang-orang ‎salaf terdahulu selalu mengucapkan doa:”Ya Allah sampaikanlah aku dengan selamat ke ‎Ramadhan, selamatkan Ramadhan untukku dan selamatkan aku hingga selesai ‎Ramadhan”. Sampai kepada Ramadhan adalah kebahagiaan yang luar biasa bagi mereka, ‎karena pada bulan itu mereka bisa mendapatkan nikmat dan karunia Allah yang tidak ‎terkira.‎ ‎

    2. Dengan pengetahuan yang dalam.‎

    Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap ‎muslim. Ibadah puasa mempunyai ketentuan dan aturan yang harus dipenuhi agar sah dan ‎sempurna. Sesuatu yang menjadi prasyarat suatu ibadah wajib, maka wajib memenuhinya ‎dan wajib mempelajarinya. Ilmu tentang ketentuan puasa atau yang sering disebut dengan ‎fikih puasa merupakan hal yang wajib dipelajari oleh setiap muslim, minimal tentang hal-‎hal yang menjadi sah dan tidaknya puasa.‎ ‎

    3. Dengan do’a‎

    Bulan Ramadhan selain merupakan bulan karunia dan kenikmatan beribadah, juga ‎merupakan bulan tantangan. Tantangan menahan nafsu untuk perbuatan jahat, tantangan ‎untuk menggapai kemuliaan malam lailatul qadar dan tantangan-tantangan lainnya. ‎Keterbatasan manusia mengharuskannya untuk selalu berdo’a agar optimis melalui bulan ‎Ramadhan.‎ ‎

    4. Dengan tekad dan planning yang matang untuk mengisi Ramadhan

    Niat dan azam adalah bahasa lain dari planning. Orang-orang soleh terdahulu selalu ‎merencanakan pengisian bulan Ramadhan dengan cermat dan optimis. Berapa kali dia ‎akanmengkhatamkan membaca al-Quran, berapa kali sholat malam, berapa akan ‎bersedekah dan membari makan orang berpuasa, berapa kali kita menghadiri pengajian ‎dan membaca buku agama. Itulah planning yang benar mengisi Ramadhan, bukan hanya ‎sekedar memplaning menu makan dan pakaian kita untuk Ramadhan. Begitu juga selama ‎Ramadhan kita bertekad untuk bisa meraih taubatun-nasuuha, tobat yang meluruskan. ‎Wallahu a’lam

    ***

    Disusun oleh M. Niam

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 8 August 2012 Permalink | Balas  

    Usia yang Bermanfaat 

    Usia yang Bermanfaat

    “Terkadang usia panjang masanya, tetapi sedikit manfaatnya. Terkadang usia itu pendek masanya, akan tetapi banyak manfaatnya.”

    Ada pepatah yang berbunyi, jauh berjalan banyak dilihat, lama hidup banyak dirasa. Benar apabila manusia suka bepergian, ia akan banyak memperoleh pengalaman, pemandangan dan penghayatan. Apabila panjang usianya dan lama hidupnya, berarti ia telah menikmati senang dan susahnya hidup pahit, dan manisnya perlajanan. Semua perjalanan hidup manusia akan memberi makna tersendiri baginya. Ia barulah berarti apabila usia yang ditempuh dalam hidupnya memberi manfaat baginya.

    Usia itu sebenarnya bukan karena panjang atau pendeknya, akan tetapi manfaat dan mudaratnya. Sebagus bagus usia ialah usia yang banyak manfaatnya bagi manusia. Rosulullah Saw bersabda, “Sebaik baik manusia ialah orang yang panjang umurnya, dan bagus amalnya, dan sejelek jelek manusia, adalah orang yang panjang umurnya akan tetapi rusak amalnya.”

    Syekh Ahmad Ataillah (pengarang kitab Al-Hikam) menegaskan pula :

    “Siapa yang diberkati umurnya, dalam masa singkat dari usianya, ia akan mencapai karunia Allah, yang tidak dapat dihitung dengan kata kata, dan tak dapat dikejar dengan isyarat.”

    Yang dicari oleh seorang muslim yang sholeh adalah barokahnya usia. Yang dimaksud usia ber-barokah adalah usia yang selalu membawa dan mengajak kepada kemanfaatan dunia dan akhirat. Umur yang barokah ini, selalu diberi kesempatan oleh Allah menjalankan kebaikan kebaikan seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Sebab, apabila umur itu mendapat barokah, tidak ada waktu yang tersia sia dalam hidup seorang hamba.

    Hamba yang umurnya ber-barokah, ia selalu berada dalam situasi yang sempat akan tetapi bergegas gegas. Sempat artinya selalu ada peluang, bergegas gegas artinya cepat diamalkannya. Sehingga tidak terasa olehnya usia yang dianugerahkan kepadanya, waktunya sangat singkat sebab kesempatan kesempatan beribadah yang diberkati Allah kepadanya tidak mencukupi. Ia bergegas gegas, agar waktu yang singkat itu, tidak hilang begitu saja karena cepatnya perjalan usia.

    Dengan demikian, maka usia yang panjang atau usia yang pendek, akan memberi arti yang berguna bagi manusia, apabila dipergunakan untuk mendapatkan ridho Allah. Seperti yang diucapkan oleh Abu Abbas Al Mursy : “Alhamdulillah semua waktu waktu kami merupakan lailatul-qodar, artinya semua waktu diisi dengan amal yang bermanfaat. E Jangan sampai waktu yang didapatkan dari usia, hanyalah ibarat air yang disiramkan ke atas pasir yang panas. Airnya menguap, pasirnya tidak basah. Usia yang hilang begitu saja dari waktu yang dilalui, akan mengecewakan si pemilik usia itu sendiri pada hari kiamat. Sebab waktu waktu yang dianugerahkan kepada manusia dinamakan bermanfaat dan barokah apabila dipergunakan untuk memperbanyak amal ibadah, memohon ampun atas bermacam macam kesalahan dan dosa, serta bertobat dengan taubatan nasuha. Syekh Ahmad Ataillah mengatakan :

    “Kekecewaan dari semua kekecewaan, adalah ketika kalian berkesempatan, kalian tidak menghadap kepada Allah, karena sedang ada sedikit halangan, kalian tidak juga mendatangi Allah.”

    Ungkapan Syekh Ataillah ini mengingatkan kita, jangan sampai kesempatan dari usia, di waktu lapang ataupun sempit, hendaklah pandai pandai dimanfaatkan untuk Allah dan datang menghadap memohon hidayah dan inayah, memohon ampun serta bertobat*. *“Bergegas gegaslah kamu dalam keadaan ringan ataupun berat” (QS.At-Taubah :41)

    Perjalanan yang panjang telah ditempuh manusia di alam dunia ini. Banyak yang dialami oleh anak Adam dalam masalah duniawiyah, namun pengalaman hidup itu barulah berarti bagi hidup dunia dan akhirat, apabila dipersembahkan untuk Allah dan Rasul-Nya, dan untuk ‘izzul Islam dan Muslimin.

    Memang kadang kadang manusia tidak mempergunakan kesempatan, atau kesempatan yang ada disia siakan, sehingga kesempatan yang tersedia, hilang begitu saja. Kesempatan yang dimaksud ialah kesempatan datang menghadap Allah dalam ibadah rutin, atau kesempatan mengerjakan ibadah sunah lainnya, yang sebenarnya tersedia, akan tetapi, manusia lalai dengan alasan kesibukan duniawi, atau kesibukan perjuangan. Alasan alasan seperti itu sebenarnya tidak perlu dikemukakan, karena Allah Ta’ala Maha Tahu tentang kemalasan dan keengganan diri kita. Allah Ta’ala lebih tahu bahwa manusia lebih mementingkan dirinya sendiri, hawa nafsunya sendiri, dari pada ingin mendapatkan ridho Allah dengan pertemuan pertemuan tertentu dengan Allah dalam bentuk ibadah.

    Memang merupakan suatu kekecewaan kelak di akhirat, di waktu seorang hamba menghadap Allah Swt. Manusia waktu itu datang menerima apa yang telah ia kerjakan di dunia. Masing masing datang dengan buah amal ibadahnya. Akan tetapi ada diantara manusia hadir di mahkamah Allah Swt dengan hati kecewa. Karena ia melihat orang lain datang kepada Allah dengan hati gembira menunjukkan amal ibadahnya yang wajib dan sunah yang sangat banyak, sedangkan ia datang dengan amal ibadah yang minim, yang tidak mampu melepaskan dirinya dari adzab Allah. Atau amal ibadahnya pas pasan saja.

    Ia kecewa, akan tetapi kekecewaan itu sudah tidak dapat ditebus lagi. Waktu itu kesibukan dunia yang dikerjakannya tidak mampu menambah amal ibadahnya. Harta dan segala macam yang diperolehnya dalam kesibukan dunia, tidak ada satupun yang memberi nilai tambah bagi kebahagiaan akhirat yang sudah habis di depannya. Seperti diterangkan Allah Ta’ala dalam firmannya, “Pada hari itu tidak ada gunanya harta dan anak anak, kecuali yang datang menghadap Allah dengan hati yang damai.”(QS. Asy-syu’ara : 89).

    Bagi hamba Allah yang benar benar tunduk dan patuh kepada-Nya dalam segala hal, ia dalam hidupnya tidak menyia nyiakan waktu yang dianugerahkan Allah untuk datang kepada-Nya dalam waktu waktu yang ditentukan, atau melaksanakan ibadah ibadah sunah tanpa batas waktu dan sepanjang saat.

    Agar seseorang hamba tidak tersia sia di akhirat, dan kecewa di hadapan Allah, memanfaatkan saat saat kesempatan adalah sangat menguntungkan dan utama.

    ***

    Narasumber :“Mutumanikam dari kitab Al-….

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 7 August 2012 Permalink | Balas  

    Memohon Dari Apa Yang Diperintah 

    Memohon Dari Apa Yang Diperintah

    “Sebagus bagusnya permohonan yang patut disampaikan kepada Allah, ialah semua yang diperintahkan Allah untuk dikerjakan.”

    Jika ada yang patut diminta kepada Allah sebagai hamba, maka yang paling patut ialah mengharapkan kepada Allah agar meneguhkan iman dan keyakinan dengan kemantapan hati yang sungguh sungguh (istiqomah) kepada ajaran Islam dengan persembahan ibadah. Itulah yang paling bagus dan paling bergengsi bagi hamba yang memohon kepada Allah. Permohonan (istiqomah) dalam Islam itu sudah termasuk kepentingan dunia dan akhirat. Anda lebih baik meminta kepada Allah hal hal yang dituntut untuk dikerjakan oleh hamba, seperti khusu dalam sholat, atau termasuk perintah jihad dalam Islam, baik yang berkenaan kepentingan dunia maupun akhirat, dari pada meminta sesuatu yang disenangi, akan tetapi Allah Ta’ala tidak menyukainya.

    Memohon kepada Allah adalah harapan seorang hamba dalam bentuk doa dan usaha yang sesuai dengan perintah Allah dan sunah Nabi Muhammad Saw. Adalah sangat baik, apabila seorang hamba memohon kepada Allah, agar selalu mentaati-Nya, melaksanakan ibadah tanpa halangan, agar Allah memudahkan segala yang berkaitan dengan urusan Islam dan umat Islam. Demikian juga memohon kepada Allah agar terlepas dari tidak tergelincir kepada perbuatan maksiat dan dosa, serta diberi kekuatan untuk melaksanakan semua ketaatan. Memohon pula agar selalu dalam keadaan zikir dan senantiasa berada dalam suasana tenteram dalam mengingat Allah Ta’ala.

    ***

    Narasumber : Mutumanikam dari kitab “Al-Hikam”

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 6 August 2012 Permalink | Balas  

    Tingkatan Puasa 

    Tingkatan Puasa

    Konsep Tazkiyatun Nafs (Membersihkan Jiwa) dari Imam Ghozali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, ada 3 tingkatan Puasa :

    1. Puasanya orang Awam

    2. Puasanya orang Khusus

    3. Puasanya orang Super Khusus.

    Puasa orang awam

    Puasanya orang awam adalah puasa yang hanya menahan perut (dari makan dan minum) dan kemaluan dari memperturutkan Syahwat.

    Puasa orang khusus

    Yaitu puasanya orang-orang sholeh yang selain menahan perut dan kemaluan juga menahan semua anggota badan dari berbagai dosa, kesempurnaannya ada 6 perkara.

    1. Menundukkan pandangan dan menahannya dari memandang hal yang dicela dan dibenci, kesetiap hal yang dapat menyibukkan diri dari mengingat Allah SWT.
    2. Menjaga lisan dari membual, dusta, ghibah, perkataan kasar, pertengkaran, perdebatan dan mengendalikannya dengan diam, menyibukkan dengan dzikrullah dan membaca Al qur’an
    3. Menahan pendengaran dari mendengarkan setiap hal yang dibenci (makruh) karena setiap hal yang diharamkan perkataannya diharamkan pula mendengarnya.
    4. Menahan berbagai anggota badan lainnya dari berbagai dosa seperti tangan, kaki dari hal-hal yang dibenci, menahan perut dari memakan makanan yang subhat pada saat tidak puasa (berbuka ).
    5. Tidak memperbanyak makanan yang halal pada saat berbuka sampai penuh perutnya, karena tidak ada wadah yang dibenci oleh Allah kecuali perut yang penuh dengan makanan halal. Bagaimana puasanya bisa bermanfaat untuk menundukkan musuh Allah dan mengalahkan syahwat jika orang yang berpuasa pada saat berbuka melahap berbagi makanan sebagai pengganti makanan yang tidak dibolehkan memakannya pada siang hari. Bahkan menjadi tradisi menyimpan dan mengumpulkan makanan sebagai persiapan pada saat berbuka padahal makanan yang tersimpan itu melebihi kapasitas perut kita bahkan mungkin bisa untuk makanan 1 minggu, astaghfirullah Hal Adhim.
    6. Hendaklah hatinya dalam keadaan “Tergantung” dan “Terguncang” antara cemas dan harap karena tidak tahu apakah puasanya diterima dan termasuk golongan yang Muqorrobin atau ditolak sehingga termasuk orang yang dimurkai oleh Allah SWT. Hendaklah hatinya selalu dalam keadaan demikian setiap selesai melakukan kebaikan.

    Puasa orang Super Khusus

    Yaitu puasa hati dari berbagai keinginan yang rendah dan pikiran2 yang tidak berharga, juga menjaga hati dari selain Allah secara total. Puasa ini akan menjadi “Batal” karena pikiran selain Allah ( pikiran tentang dunia ).

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 6 August 2012 Permalink | Balas  

    Nenek tua diangkot M26 

    Nenek tua diangkot M26

    Pagi ini Saya pergi ke kantor sedikit dengan perasaan yang berbeda dari biasanya. Bukan karena hari Senin yang lebih padat dari biasanya atau kemacetan karena pembangunan Bus Way, tapi karena seorang nenek tua yang kebetulan satu angkot dengan Saya di M26.

    Si Nenek yang kira-kira berumur 70an itu naik M26 tidak lama setelah Saya naik, di daerah Cawang. Kebetulan keadaan angkot hampir penuh dan yang tersisa hanya bangku ulang tahun (bangku extension yg menghadap ke belakang – red). Untunglah salah satu penumpang yg duduk didalam mengalah memberikan tempat duduknya, yang lumayan aman buat Si Nenek. Dengan susah payah si Nenek, yang sudah agak bongkok itu masuk ke dalam angkot dibantu oleh beberapa penumpang, bersyukur juga si abang sopir cukup sabar menunggu sampe si Nenek duduk dengan tenang.

    Sempet terlintas dibenak Saya, kok tega-teganya anggota keluarganya membiarkannya pergi sendirian tanpa ada yang menemani. Bagaimana nanti kalo nyebrang atau turun naik angkot.

    Tidak lama setelah duduk si Nenek, berkata dengan logat betawi yang kental: “Terima Kasih, yak. Emang ribet kalo nenek-nenek pergi jalan”.

    “Mau ambil pensiun Nek?”, salah seorang penumpang bertanya.

    “Kagak…mau ke rumah sodara di pisangan”, jawab si Nenek

    “Kok perginya sendirian nek? emang anaknya kemana? nggak nganterin?”, tanya penumpang lainnya.

    ” Lah…anak emak dah pada jauh ngikut suaminya, trus yang bungsu kagak sempet, dari pagi-pagi dah berangkat gawe pulangnya malem. Cucu juga udah pada berangkat sekolah”

    Deg….Saya yang dari tadi cuma mendengarkan langsung miris mendengar jawaban si Nenek. Pikiran Saya langsung melayang teringat Mama di kampung. Akankah Mama akan mengatakan demikian bila di usia tuanya nanti pergi sendiri tanpa ditemani oleh siapapun?

    Saat ini saja Saya pulang kampung hanya setahun sekali, sementara adik Saya yang cuma 2 orang sudah sibuk dengan kuliahnya. Tak jarang Mama mengeluh kesepian di rumah karena adik-adik pulang ke rumah hanya untuk singgah lalu pergi lagi. Bahkan Mama juga sempet sedih jika makanan yang Beliau masak masih utuh karena anak-anaknya sering makan di luar. Istilahnya, dimasak sendiri…dimakan sendiri….. Kalo sudah begitu, Saya cuma bisa menghibur lewat telepon.

    Duh, Gusti betapa hamba belum bisa membalas kasih sayang Mama. Bahkan untuk mengisi kesepian dan kesendiriannya saja hamba belum bisa. Semoga Mama mengerti bahwa anaknya disini tidak pernah meninggalkannya sendiri. Mungkin tidak dalam kehadiran secara fisik, tetapi cinta dan untaian do’a selalu menyertai kemanapun Mama pergi.

    “Ya…Alloh, sayangilah kedua orangtua ku seperti mereka menyanyangiku waktu kecil. Amin”

    ***

    Bunda Naila

    -Tak sabar menunggu Lebaran, untuk bertemu Mama-

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 5 August 2012 Permalink | Balas  

    Hamba Jelek Yang Berdoa 

    Hamba Jelek Yang Berdoa    

    Bismillaahirohmaanirrohiim.

    Di dalam Alqur’an surah Al Qodar ayat 1-5 Alloh berfirman: Sesungguhnya kami telah menurunkannya (alqur’an) pada malam kemuliaan (1). dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (2). malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan (3). pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat jibril dengan izin tuhannya untuk mengatur segala urusan. (4). malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar (5)”.

    Jika dihitung perjalanan waktu qomariah atas kejadian malam kemuliaan (lailatul qodar), maka definisi malam itu sejak matahari terlihat tenggelam dari horizon bumi hingga matahari terlihat muncul/terbit fajar.

    Kita/umat islam yang benar pasti mengerjakan ibadah puasa dengan kewajiban berikut:

    1. Berbuka puasa
    2. Sholat maghrib
    3. Sholat isya
    4. Sholat subuh

    Jika ditambah ibadah yang sunah-sunah, misalnya:

    1. berdo’a sebelum berbuka puasa
    2. makan dan minum dengan tangan kanan
    3. berdo’a setelah makan/minum
    4. berdoa hendak wudhu
    5. berwudhu
    6. berdo’a setelah berwudhu
    7. berdo’a keluar rumah dan atau naik sepeda/motor/mobil ke mesjid
    8. berdo’a masuk masjid
    9. solat sunah tahiyatul masjid
    10. iktikaf meski hanya sesaat
    11. sholat sunah ba’diyah magrib
    12. berdo’a keluar masjid
    13. berdo’a keluar masjid jalan/naik sepeda/motor/mobil menuju rumah
    14. bercengkerama dengan anak istri sambil “mengajar”
    15. berdoa hendak wudhu untuk sholat isya’ (atau utk senantiasa jaga wudhu)
    16. berwudhu
    17. berdo’a setelah berwudhu
    18. berdo’a keluar rumah dan atau naik sepeda/motor/mobil ke mesjid
    19. berdo’a masuk masjid
    20. solat sunah tahiyatul masjid
    21. sholat sunah qobliyah isya’
    22. iktikaf meski hanya sesaat
    23. sholat sunah ba’diyah isya’
    24. mendengar ceramah/menuntut ilmu
    25. sholat tarawih dan witir dan dzikir
    26. berdo’a keluar masjid
    27. berdo’a naik sepeda/motor/mobil keluar dari mesjid
    28. tidur dengan adab nabi/doa
    29. sahur, sodaqoh, dan amalan-amalan sunah lainnya hingga terbit fajar.

    Ibadah-ibadah (wajib dan sunah) tersebut dilaksanakan dalam rentang “lailatul qodr”. Jadi, ya Alloh hambamu yang dhoif memohon, insya Alloh seluruh orang Islam yang menjalankan aturan Alloh dengan ikhlas akan mendapatkan malam kemuliaan tersebut.

    Rosululloh saw memberikan sinyal bahwa lailatul qodar/malam kemuliaan tersebut akan berada di 10 hari terakhir bulan romadhon. Lagi, ada juga keterangan khususnya di malam ganjil dari 10 romadhon terakhir. Maukah kita mengejar Sebagai metafora

    Kalau ada showroom mobil jual Kijang Inova 2008 harga biasa 187 jt trus ada diskon khusus 90%, pembeli tinggal bayar 18,7jt, pasti saya akan antre mesti 3 bulan walau harus mengikuti berbagai syarat berguling badan /roll di depan show room.

    Malam kemuliaan jelas “diskon spesial” tak terperi dari Alloh (harga 29.500 malam kebaikan, “pembeli” tinggal tukar 1 malam saja…sub haanallooh). Ya Alloh jadikanlah hambamu ini sebagai orang yang bisa mensyukuri nikmat atas diri ini dan atas orang tua saya dan ridhoilah amalan baik hamba yang sedikit, dan baikkanlah anak keturunan saya, saya taubat hanya kepada Engkau, dan saya berserah kepada Engkau.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 4 August 2012 Permalink | Balas  

    Keutamaan beribadah pada Lailatul Qadri. 

    Keutamaan beribadah pada Lailatul Qadri.

    Allah Ta’ala berfirman:”Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an pada malam qadar (kemulian)). Dan tahukah kamu apakah malam kemulian itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan ruh dengan izin Tuhannya. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”. (Al-Qadr:1-5)

    Allah Ta’ala berfirman:“Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi”. (Ad-Dukhaan:13)

    Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi Saww., beliau bersabda:“Barangsiapa beribadah pada malam Qadar dengan penuh keimanan dan hanya mengharapkan pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR.Bukhari dan Muslim)

    Dari Ibnu Umar ra. bahwasanya beberapa sahabat Nabi Saww. memimpikan Lailatul Qadar pada tujuh malam yang terakhir (dalam bulan Ramadhan), kemudian Rasulullah Saww. bersabda:“Aku perhatikan impianmu itu benar-benar tapat pada tujuh malam terakhir, maka barang siapa ingin mencapai Lailatul Qadar, maka hendaknya ia bersungguh-sungguh pada malam yang terakhir”. (HR.Bukhari dan Muslim)

    Dari ‘Aisyah ra., ia berkata:”Rasulullah Saww. selalu beri’tikaf pada sepuluh malam yang terakhir dari bulan ramadhan, serta bersabda:”Bersungguh-sungguhlah kalian mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam yang terakhir dari bulan Ramadhan”.(HR.Bukhari dan Muslim)

    Dari ‘Aisyah ra., ia berkata:“Rasulullah Saww. apabila telah masuk pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan, beliau selalu beribadah pada waktu malam serta membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh ibadah dan mengikatkan sarungnya (tidak bersetubuh dengan istrinya)”. (HR.Bukhari dan Muslim)

    Kapankah atau tepatnya Malam Qadar (Lailatul Qadar) itu ?

    Menurut pendapat yang masyhur tentang malam Al-qadar dengan mengutip keterangan dari Ubay bin Ka’ab dan Ibnu Abbas dan kebanyakan pendapat ulama’, adalah jatuh pada malam yang keduapuluh tujuh, dengan mengambil dalil dari sabda Nabi Saww.:“Iltamisuu lailatal qadri fii sab-in wa isyriina khalat min syahri ramadhaana. “Carilah malam Al-Qadar pada malam keduapuluh tujuh yang telah berlalu dari bulan Ramadhan”. Yaitu malam yang pada waktu pagi cuacanya sangat cerah, dan yang dengan cuaca itu Allah telah menjayakan agama Islam dan menurunkan Malaikat untuk memberikan pertolongan kepada Kaum Muslimin.

    Keterangan diatas dikuatkan lagi oleh sebuah riwayat yang menceritakan bahwa Utsman bin Al-‘Ash mempunyai pembantu kecil yang berkata padanya: “Wahai tuan, sesungguhnya aku mendapatkan air laut rasanya tawar pada suatu malam Ramadhan”. Utsman bin Al-‘Ash berkata: “Apabila hal itu terjadi lagi di suatu malam, maka hendaklah kamu memberitahukan kepadaku”. Lalu dia memberitahukan kepadanya, ternyata malam itu adalah malam keduapuluh tujuh dari bulan Ramadhan.

    Keterangan diatas masih dikuatkan lagi oleh penganalisaan sebagian ulama’, yakni bahwa jumlah kalimat yang ada pada surat Al-Qadar adalah tigapuluh kalimat, sejumlah hari pada bulan Ramadhan. Demikian pula lafazh hiya (malam itu) dari kalimat salamun hiya, merupakan bagian kesempurnaan ayat yang keduapuluh tujuh. Dan kalimat yang menunjukkan malam Al-Qadar, pembacaannya adalah dengan diucapkan sekaligus, sekalipun kalimat-kalimat dalam surat Al-Qadar itu mengandung banyak kalimat seperti anzalnahu.

    Menurut analisa yang lain disebutkan, bahwa huruf yang menunjukkan nama lailatu’l-Qadr ada sembilan huruf yaitu: Lam, Ya, Lam, Ta, Hamzah (Alif), Lam, Qaf, Dal, dan Ra. Dan Kalimat Lailatu’l-Qadri dalam surat Al-Qadar diulang sampai tiga kali, jadi 9×3=27.

    Menurut pendapat lain yang dikutip dari keterangan sebagian ahli kasyaf menjelaskan, bahwa malam Al-Qadar itu jatuh pada hari yang bertepatan dengan awal bulan Ramadhan, Hanya saja, pendapat ini tidak dilandasi dengan pegangan apapun, sehingga dimungkinkan pendapat itu tidak terarah.

    Menurut analisa Syaikh Ahmad Zaruq dan lainnya dijelaskan, bahwasanya malam Al-Qadar itu tidak terlepas dari malam Jum’at pada tanggal-tanggal yang gasal/ganjil dari malam-malam yang akhir bulan Ramadhan. Analisa seperti ini juga dikutip dari keterangan Ibnu’l-‘Arabi.

    Didalam kitab tafsir Imam Al-Khatib dikemukakan suatu ketentuan tentang malam Al-Qadar, dengan mengutip penjelasan dari Syaikh Abu’l Hasan Asy-Syadzali, Bahwasanya:

    1. Jika awal Ramadhan pada hari Ahad, maka malam Al-Qadar jatuh pada tanggal duapuluh sembilan.
    2. Jika awal Ramadhan pada hari Senin, maka malam Al-Qadar jatuh pada tanggal duapuluh Satu. kemudian perhitungan seterusnya dilakukan dengan naik dan turun menurut harinya.
    3. Jika awal Ramadhan pada hari Selasa, maka malam Al-Qadar jatuh pada tanggal duapuluh tujuh.
    4. Jika awal Ramadhan pada hari Rabu, maka malam Al-Qadar jatuh pada tanggal sembilanbelas.
    5. Jika awal Ramadhan pada hari Kamis, maka malam Al-Qadar jatuh pada tanggal duapuluh lima.
    6. Jika awal Ramadhan pada hari Jum’at, maka malam Al-Qadar jatuh pada tanggal tujuhbelas.
    7. Jika awal Ramadhan pada hari Sabtu, maka malam Al-Qadar jatuh pada tanggal duapuluh tiga.

     Apa yang harus kita lakukan pada malam Qadar (Laitul Qadar) itu ?

    Kita memperbanyak shalat, memperbanyak memohon ampun (istigfar) kepada Allah, dzikir atau shalawat kepada Nabi Muhammad Saww. pada malam tersebut.

    Wahai Saudara-saudariku cari Ridha dan Ampunan Allah Swt. pada malam yang penuh dengan keagungan yaitu malam Al-Qadar (Lailatu’l-Qadri) pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, terutama pada malam tanggal 25 Ramadhan dan pada malam tanggal 27 Ramadhan, dengan banyak beribadah kepada Allah Swt., terutama memperbanyak istigfar memohon ampun kepada-Nya dan bershalawat kepada Nabi Muhammad Saww.

    ***

    Huwallaahu A’lam Bisawab

    Dikutip dari: * Riyadhus Shalihin –> Imam An-Nawawi. * Durratun Nasihin –> Usman Alkhaibawi. * At-Tuhfa Al-Mardhiyyah fil Akhbaril Qudsiyyah wal Ahadits Nabawiyyah –> Asy-Syaikh Abdul Majid Al-‘Adawiy

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 3 August 2012 Permalink | Balas  

    Manajemen Umur dan Amal 

    Manajemen Umur dan Amal

    Assalaamu ‘alaikum wr wb.

    Marilah kita hayati, kita pikiri, dan kita lakui rumus manajemen yang datang dari Alloh swt di QS Al-Qodr. Rumus turunannya ada di beberapa hadist rasululloh, Muhammad saw sebagai petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan (JUKLAK & JUKNIS).

    Mungkin semua muslim dan mukmin sudah hafal betul dengan surat pendek itu. Tapi, benarkah saya telah mengimplementasikan JUKLAK dan JUKNIS manajemen itu? astaghfirulloohal ‘adziim.

    Di setiap 10 hari terakhir dari ramadhan ada 1 malam bernilai = 1000 bulan, masya alloh. Kalau kita berbuat baik, misalnya solat malam dua rokaat saja dalam semalam dan Alloh swt ridho, maka akan diperoleh keuntungan menjadi senilai lebih dari 83 tahun kita melakukannya. Bagaimana dengan tahlil, tahmid, takbir, istighfar yang kita lakukan? Bagaimana dengan solat malam yang lebih? mungkin ada yang 8 + 3 witir rokaat dan mungkin ada yang 20 + 3 witir rokaat, ada yang menjamu saur untuk para peserta i’tikaf? Can we Imagine? This miracle has given to Muhammad saw and his followers only.

    Mari kita berusaha semaksimal kita bisa untuk mendapatkan keuntungan tersebut. Kalau hanya minimal, seluruh mukmin dan mukminat insya Alloh, Alloh akan memberikannya. (saya tidak hendak berseberangan dengan pandangan bahwa lailatul qodar itu hanya terjadi pada waktu “dulu” ketika al qur’an diturunkan secara serentak dari lauhul mahfudz ke langit bumi).

    Mari kita sama-sama menggapai jamuan Alloh swt yang luar biasa ini. Laa haula walaa quwwata illa billaah. Allohumma innaka ‘afuwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anna ya kariim.

    Salam hormat

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 2 August 2012 Permalink | Balas  

    Seandainya Tak Ada Ramadhan 

    Seandainya Tak Ada Ramadhan

    Oleh Rubina Qurratu’ain Zalfa

    Sungguh Maha Suci Allah yang telah menyediakan satu bulan yang istimewa yaitu bulan Ramadhan. Bulan penuh kasih sayang, bertabur rahmat, bulan dikabulkannya segala doa dan bulan penuh pengampunan hingga Allah swt menjanjikan bagi mereka yang amalannya puasa Ramadhannya diterima, maka akan kembali lahir sebagai manusia yang bersih dan suci dari dosa.

    Tak heran jika memasuki bulan Ramadhan kita semua jadi terkesan “mendadak salih.” Yang biasanya jarang baca al-Quran jadi rajin membaca al-Quran, yang biasanya jarang ke masjid jadi rajin ke masjid, yang biasanya tidak pernah mengerjakan sholat-sholat sunnah jadi rajin menunaikannya, yang biasanya malas mendengarkan kajian agama jadi rajin mendengarkan ceramah. Tak ketinggalan stasiun televisi dan radio yang berlomba-lomba menayangkan berbagai program Ramadhan. Nuansa relijiusnya jadi lebih terasa.

    Tentu saja perubahan ini merupakan perubahan yang menggembirakan, apalagi jika perubahan itu terbawa sampai Ramadhan usai. Karena salah satu esensi bulan Ramadhan adalah bulan di mana kita menempa diri bukan hanya dari sisi jasmani tapi juga dari sisi rohani. Ibarat besi yang ditempa setiap hari dengan kekuatan dan penuh kesabaran, besi itu akan menjadi besi yang bermutu tinggi dan mengeluarkan kilau yang terang.

    Ramadhan meski cuma satu bulan memberi kesempatan bagi kita untuk membasuh dosa, menyisihkan lebih banyak waktu untuk beribadah dan beramal salih dan lebih memfokuskan diri untuk kehidupan di akhirat kelak. Serta berlomba-lomba mengejar limpahan rahmah Malam Laylatul Qadar, malam yang lebih baik baik dari seribu bulan dan malam itu hanya ada pada bulan Ramadhan

    Subhanallah… Betapa nikmatnya Ramadhan. Tak heran jika orang-orang bertaqwa sangat merindukan datangnya bulan ini, menangis bila Ramadhan berakhir dan berharap semua bulan adalah Ramadhan.

    Bisa dibayangkan bagaimana jika 12 bulan dalam satu tahun itu sama, tidak ada bulan istimewa seperti bulan Ramadhan. Sepanjang tahun kita mungkin akan terus tenggelam dalam kesibukan duniawi, kita mungkin takkan pernah merasakan penderitaan kaum miskin yang kelaparan, kita mungkin tak kan pernah melatih menempa diri untuk mencapai derajat taqwa yang tertinggi dan kita mungkin tak kan pernah menjalin silaturahmi dengan kerabat yang jarang bersua seperti ketika hari Idul fitri.

    “Wahai manusia, kalian telah dilindungi bulan yang agung dan penuh barakah, bulan yang di dalamnya ada lailatul qadr, yang lebih baik dari seribu bulan, ” demikian Rasulullah saw, dalam khutbahnya menyambut bulan Ramadhan.

    Kita hampir sampai di pertengahan Ramadhan, masih banyak kesempatan bagi kita untuk terus menyempurnakan ibadah puasa kita di bulan suci, mengevaluasi diri dan membulatkan tekad untuk menjadi orang yang lebih baik setelah bulan Ramadhan nanti. Terimakasih ya Allah, Yang Maha Karim dan Maha Mengetahui. Telah Engkau sisihkan satu bulan mulia untuk kami, hamba-hambaMu yang hina dan penuh dosa ini. Ampunilah kami, terimalah amal serta ibadah puasa kami dan tempatkanlah kami di dalam surga… Aamin.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 1 August 2012 Permalink | Balas  

    Menantikan Malam Seribu Bulan 

    Menantikan Malam Seribu Bulan

    Tak terasa setengah bulan Ramadhan telah terlewati. Bagaimana dengan ritual ibadah tambahan Anda, masih terus terjaga? Seperti biasa kita temui di awal puasa banyak masjid terlihat terisi penuh oleh jamaah shalat Tarawih. Namun menjelang minggu-minggu berikutnya barisan jamaah di mesjid terus berkurang.

    Barangkali kita terlalu bersemangat di awal-awal puasa, hingga kurang bisa mengatur ‘energi’ untuk beribadah . Mungkin juga terlalu sibuk mengurus pekerjaan rumah atau mengalami kebosanan untuk terus menjaga ritual salat sunnah di mesjid. Yang pasti di bulan ini, anjuran untuk mengerjakan ibadah dan berlomba-lomba dalam kebaikan sangat dianjurkan.

    Tentu pada ramadhan kali ini, kita tidak berharap ibadah yang tengah dilakukan menguap dengan sia-sia, alias hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. Maka di pertengahan bulan ramadhan ini, Insya Allah, kita masih diberikan kesempatan untuk memadatkan dan merayakan ibadah-ibadah tambahan di malam hari. Tidakkah Anda menginginkan malam kedamaian dengan seribu bulan yang datang di sepuluh hari terakhir?

    Telah disebutkan dalam Al Quran dalam surat Al Qadr, bahwa tiada malam yang mendapat sebutan indah dari Tuhan kecuali lailatul qadar. Yakni malam yang kebaikannya melebihi seribu bulan. Malam itu memiliki kedudukan yang tinggi dan kemuliaan terhormat (al manzilah ar rafi’ah), lailatulbarakah (malam penuh berkah), lailaturrahmah (malam penuh kasih sayang), laylatussalam (malam penuh keselamatan). Lailatulqadr adalah anugerah khusus yang diberikan Allah pada hamba-Nya yang bersungguh-sungguh beribadah untuk menjemputnya pada bulan Ramadhan.

    Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa shalat malam pada malam lailatul qadr karena iman dan mengharapkan ridla Allah, maka Allah akan menghapus dosa-dosanya yang telah lalu.” Dari hadist riwayat Muttafaq ‘Alaih. Rasulullah selalu menganjurkan umatnya untuk selalu meraih malam itu.

    Bagaimana memastikan kedatangan malam lailatul qadr? Dari hadist riwayat Bukhari Muslim, Nabi berkata, “Carilah dia (lailatul qadar) pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan pada hitungan ganjil.” Lebih khusus lagi, setiap tanggal ganjil yakni: 21, 23, 25, dan seterusnya. Ada satu pendapat yang mengatakan, lailaltul qadr jatuh setiap 17 Ramadhan bertepatan dengan Nuzulul Quran.

    Di sepuluh malam terakhir ini dianjurkan untuk memperpadat ibadah sunah, seperti salat Tahajud, zikir, salat hajat, tadarus, I’tikaf, dan lainnya. Maka di bulan penuh berkah dan rahmat ini, semua umat muslim sedang menanti “bonus khusus” dari Allah, di mana malam itu penuh “cahaya kedamaian” hingga fajar menjelang. Selamat menanti dan meraih malam seribu bulan.

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: