Updates from April, 2015 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 12:57 pm on 13 April 2015 Permalink | Balas  

    insyaAllahHindari Umbar Janji

    Muhammad Rahman

    Dalam Surat Al Qalam dikisahkan tentang seorang pemilik kebun yang bersumpah akan memanen hasilnya di pagi hari, tetapi tidak mengucapkan : “Insya Allah”. Ketika malam tiba, kebun yang luas tersebut diliputi malapetaka oleh Tuhan tatkala sang pemilik sedang tidur pulas di dalam rumahnya.

    Kebun yang digambarkan sedang mencapai puncak hasil untuk dipanen, dalam sekejab berubah total menjadi hamparan hitam (karena hangus) bagai malam yang gelap gulita.

    Sang pemilik kebun yang kemudian bangun di pagi harinya dan kemudian pergi ke ladangnya untuk memetik hasil panenan, sesekali berjalan sambil bercengkerama dan bisik-bisik kesenangan. Pembicaraan mereka sampai pada suatu ucapan: “Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu”.

    Pemilik kebun yang bangun pagi-pagi dan berniat menghalangi orang-orang miskin untuk masuk kebun padahal pemilik kebun itu mampu untuk menolong orang-orang miskin tetapi tidak dilakukan. Suatu ketika sang pemilik kebun terperanjat, tatkala mereka melihat keadaan kebun itu sudah musnah dan sambil menggerutu mereka berkata: “Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan)”. Mereka itulah orang-orang yang terhalangi untuk memperoleh hasilnya karena congkak.

    Tetapi di antara pemilik kebun yang siap panen itu ada yang berkata dengan hati bersih: “Bukankah aku telah mengatakan kepada mu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu)?”.

    Mereka lalu mengucapkan,: “Maha Suci Tuhan kami sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lalim”.

    Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela mencela. Mereka berkata:”Aduhai celaka kita, sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas.”

    Para pemilik kebun yang akan memanen kebun tersebut kemudian tersadar kembali, dan terpulang hatinya untuk dikembalikan kepada Yang Maha Pencipta. Mereka berharap, mudah-mudahan Tuhan memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu: sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Tuhan.

    Kisah tersebut, memberikan gambaran gamblang kepada kita tentang bagaimana cepatnya, jika Tuhan menghendaki segala sesuatunya terjadi pada diri kita atau sekeliling kita yang berkaitan dengan nasib hidup di dunia. Dan tentu akan terjadi begitu saja dengan sangat cepat.. Kecongkakan akan keberhasilan , sebagaimana diperlihatkan oleh seorang petani akhirnya hanya menemui hasil yang hampa belaka alias hanya menemukan hamparan fatamorgana saja. Itu sama halnya dengan kita yang hendak meniti karir dan optimis ingin menuai prestasi karena membanggakan dengan kemampuan diri sendiri secara berlebihan tanpa memperhitungkan kemampuan pihak lain, akhirnya hanya dihampiri rasa kecewa.

    Manusia setelah menemui kegagalan jika tersadar kembali dengan segera meminta perlindungan dari Yang Maha Pencipta, tetapi jika tetap membusungkan dada untuk menyombongkan diri , situasinya akan dapat membalikkan rasa optimis menjadi sebuah bencana dan malapetaka yang dahsyat. Kemurkaan dalam mengobral janji-janji dan ambisi yang melampaui batas, dengan mengabaikan peran orang lain yang selama ini telah turut membantunya mencapai sukses hanya akan membuatnya menemui kehampaan belaka.

    Sesungguhnya mereka yang pantas mendapatkan balasan imbalan perlakukan yang baik dan santun, dan mereka selalu mengatakan dengan kata-kata :”Insya Allah engkau akan berhasil. Tetapi engkau tidak membalas dengan perlakuan baik, niscaya kita akan kembali kepada diri ketika sendiri. tersadar untuk bertaubat atau bahkan kita terperosok menjadi sesat.

    Ada dua pilihan yang harus diambil, segera bertaubat atau tidak.

    Jika kita mengambil untuk bertaubat, tentu ada hikmah-hikmah yang kita peroleh nantinya. Sedang jika kita tidak merasakan tersadar dan menjadi sesat, maka kesesatannya yang akan kita temui di hari kemudian. Simaklah ayat-ayat lain dalam Surat Al-Qalam ini:

    “Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah)”

    “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang bahkan bersumpah lagi hina”

    “yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah”

    “yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa”

    “Yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya, karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak”

    “Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “(Ini adalah) dongengan-dongengan orang-orang dahulu kala”.

    Jangan sekali-kali berlaku sombong, kendati di negeri ini sudah terjangkit “wabah” obral janji. Kita harus tetap bertaqarub kepada Allah.

     
  • erva kurniawan 3:49 am on 6 April 2015 Permalink | Balas  

    Serrafona

    Los Felidas adalah nama sebuah jalan di ibu kota sebuah negara di Amerika Selatan, yang terletak di kawasan terkumuh diseluruh kota.

    Ada sebuah kisah yang menyebabkan jalan itu begitu dikenang orang, dan itu dimulai dari kisah seorang pengemis wanita yang juga ibu seorang gadis kecil. Tidak seorangpun yang tahu nama aslinya, tapi beberapa orang tahu sedikit masa lalunya, yaitu bahwa ia bukan penduduk asli disitu,

    melainkan dibawa oleh suaminya dari kampung halamannya. Seperti kebanyakan kota besar di dunia ini, kehidupan masyarakat kota terlalu berat untuk mereka, dan belum setahun mereka di kota itu, mereka kehabisan seluruh uangnya, dan pada suatu pagi mereka sadar bahwa mereka tidak tahu dimana mereka tidur malam nanti dan tidak sepeserpun uang ada dikantong.

    Padahal mereka sedang menggendong bayi mereka yang berumur 1 tahun. Dalam keadaan panik dan putus asa, mereka berjalan dari satu jalan ke jalan lainnya, dan akhirnya tiba di sebuah jalan sepi dimana puing-puing sebuah toko seperti memberi mereka sedikit tempat untuk berteduh.

    Saat itu angin Desember bertiup kencang, membawa titik-titik air yang dingin. Ketika mereka beristirahat dibawah atap toko itu, sang suami berkata: “Saya harus meninggalkan kalian sekarang. Saya harus mendapatkan pekerjaan, apapun, kalau tidak malam nanti kita akan tidur disini.”

    Setelah mencium bayinya ia pergi. Dan ia tidak pernah kembali.

    Tak seorangpun yang tahu pasti kemana pria itu pergi, tapi beberapa orang seperti melihatnya menumpang kapal yang menuju ke Afrika. Selama beberapa hari berikutnya sang ibu yang malang terus menunggu kedatangan suaminya, dan bila malam tidur di emperan toko itu.

    Pada hari ketiga, ketika mereka sudah kehabisan susu, orang-orang yang lewat mulai memberi mereka uang kecil, dan jadilah mereka pengemis di sana selama 6 bulan berikutnya. Pada suatu hari, tergerak oleh semangat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, ibu itu bangkit dan memutuskan untuk bekerja.

    Masalahnya adalah di mana ia harus menitipkan anaknya, yang kini sudah hampir 2 tahun, dan tampak amat cantik jelita.

    Tampaknya tidak ada jalan lain kecuali meninggalkan anak itu disitu dan berharap agar nasib tidak memperburuk keadaan mereka.

    Suatu pagi ia berpesan pada anak gadisnya, agar ia tidak kemana-mana, tidak ikut siapapun yang mengajaknya pergi atau menawarkan gula-gula. Pendek kata, gadis kecil itu tidak boleh berhubungan dengan siapapun selama ibunya tidak ditempat.

    “Dalam beberapa hari mama akan mendapatkan cukup uang untuk menyewa kamar kecil yang berpintu, dan kita tidak lagi tidur dengan angin di rambut kita”.

    Gadis itu mematuhi pesan ibunya dengan penuh kesungguhan. Maka sang ibu mengatur kotak kardus dimana mereka tinggal selama 7 bulan agar tampak kosong, dan membaringkan anaknya dengan hati-hati di dalamnya. Di sebelahnya ia meletakkan sepotong roti. Kemudian, dengan mata basah ibu itu menuju ke pabrik sepatu, dimana ia bekerja sebagai pemotong kulit.

    Begitulah kehidupan mereka selama beberapa hari, hingga di kantong sang Ibu kini terdapat cukup uang untuk menyewa sebuah kamar berpintu di daerah kumuh. Dengan suka cita ia menuju ke penginapan orang-orang miskin itu, dan membayar uang muka sewa kamarnya. Tapi siang itu juga sepasang suami istri pengemis yang moralnya amat rendah menculik gadis cilik itu dengan paksa, dan membawanya sejauh 300 kilometer ke pusat kota.

    Di situ mereka mendandani gadis cilik itu dengan baju baru, membedaki wajahnya, menyisir rambutnya dan membawanya ke sebuah rumah mewah dipusat kota. Di situ gadis cilik itu dijual. Pembelinya adalah pasangan suami istri dokter yang kaya, yang tidak pernah bisa punya anak sendiri walaupun mereka telah menikah selama 18 tahun.

    Mereka memberi nama anak gadis itu Serrafona, dan mereka memanjakannya dengan amat sangat. Ditengah-tengah kemewahan istana itulah gadis kecil itu tumbuh dewasa. Ia belajar kebiasaan-kebiasaan orang terpelajar seperti merangkai bunga, menulis puisi dan bermain piano. Ia bergabung dengan kalangan-kalangan kelas atas, dan mengendarai Mercedes Benz kemanapun ia pergi.

    Satu hal yang baru terjadi menyusul hal lainnya, dan bumi terus berputar tanpa kenal istirahat.

    Pada umurnya yang ke-24, Serrafona dikenal sebagai anak gadis Gubernur yang amat jelita, yang pandai bermain piano, yang aktif di gereja, dan yang sedang menyelesaikan gelar dokternya. Ia adalah figur gadis yang menjadi impian tiap pemuda, tapi cintanya direbut oleh seorang dokter muda yang welas asih, yang bernama Geraldo.

    Setahun setelah perkawinan mereka, ayahnya wafat, dan Serrafona beserta suaminya mewarisi beberapa perusahaan dan sebuah real-estate sebesar 14 hektar yang diisi dengan taman bunga dan istana yang paling megah di kota itu. Menjelang hari ulang tahunnya yang ke-27, sesuatu terjadi yang merubah kehidupan wanita itu. Pagi itu Serrafona sedang membersihkan kamar mendiang ayahnya yang sudah tidak pernah dipakai lagi, dan di laci meja kerja ayahnya ia melihat selembar foto seorang anak bayi yang digendong sepasang suami istri. Selimut yang dipakai untuk menggendong bayi itu lusuh, dan bayi itu sendiri tampak tidak terurus, karena walaupun wajahnya dilapisi bedak tetapi rambutnya tetap kusam. Sesuatu ditelinga kiri bayi itu membuat jantungnya berdegup kencang.

    Ia mengambil kaca pembesar dan mengkonsentrasikan pandangannya pada telinga kiri itu. Kemudian ia membuka lemarinya sendiri, dan mengeluarkan sebuah kotak kayu mahoni. Di dalam kotak yang berukiran indah itu dia menyimpan seluruh barang-barang pribadinya, dari kalung-kalung berlian hingga surat-surat pribadi.

    Tapi diantara benda-benda mewah itu terdapat sesuatu terbungkus kapas kecil, sebentuk anting-anting melingkar yang amat sederhana, ringan dan bukan emas murni. Ibunya almarhum memberinya benda itu sambil berpesan untuk tidak kehilangan benda itu. Ia sempat bertanya, kalau itu anting-anting, dimana satunya. Ibunya menjawab bahwa hanya itu yang ia punya. Serrafona menaruh anting-anting itu didekat foto.

    Sekali lagi ia mengerahkan seluruh kemampuan melihatnya dan perlahan-lahan air matanya berlinang. Kini tak ada keragu-raguan lagi bahwa bayi itu adalah dirinya sendiri. Tapi kedua pria wanita yang menggendongnya, yang tersenyum dibuat-buat, belum penah dilihatnya sama sekali.

    Foto itu seolah membuka pintu lebar-lebar pada ruangan yang selama ini mengungkungi pertanyaan-pertanyaannya, misalnya: kenapa bentuk wajahnya berbeda dengan wajah kedua orang tuanya, kenapa ia tidak menuruni golongan darah ayahnya.

    Saat itulah, sepotong ingatan yang sudah seperempat abad terpendam, berkilat di benaknya, bayangan seorang wanita membelai kepalanya dan mendekapnya di dada. Di ruangan itu mendadak Serrafona merasakan betapa dinginnya sekelilingnya tetapi ia juga merasa betapa hangatnya kasih sayang dan rasa aman yang dipancarkan dari dada wanita itu. Ia seolah merasakan dan mendengar lewat dekapan itu bahwa daripada berpisah lebih baik mereka mati bersama.

    Matanya basah ketika ia keluar dari kamar dan menghampiri suaminya yang sedang membaca koran: “Geraldo, saya adalah anak seorang pengemis, dan mungkinkah ibu saya masih ada di jalan sekarang setelah 25 tahun ?” Itu adalah awal dari kegiatan baru mereka mencari masa lalu Serrafonna. Foto hitam-putih yang kabur itu diperbanyak puluhan ribu lembar dan disebar ke seluruh jaringan kepolisian diseluruh negeri.

    Sebagai anak satu-satunya dari bekas pejabat yang cukup berpengaruh di kota itu, Serrafonna mendapatkan dukungan dari seluruh kantor kearsipan, kantor surat kabar dan kantor catatan sipil. Ia membentuk yayasan-yayasan untuk mendapatkan data dari seluruh panti-panti orang jompo dan badan-badan sosial di seluruh negeri dan mencari data tentang seorang wanita.

    Bulan demi bulan lewat, tapi tak ada perkembangan apapun dari usahanya. Mencari seorang wanita yang mengemis 25 tahun yang lalu di negeri dengan populasi 90 juta bukan sesuatu yang mudah. Tapi Serrafona tidak punya pikiran untuk menyerah. Dibantu suaminya yang begitu penuh pengertian, mereka terus menerus meningkatkan pencarian mereka. Kini, tiap kali bermobil, mereka sengaja memilih daerah-daerah kumuh, sekedar untuk lebih akrab dengan nasib baik. Terkadang ia berharap agar ibunya sudah almarhum sehingga ia tidak terlalu menanggung dosa mengabaikannya selama seperempat abad.

    Tetapi ia tahu, entah bagaimana, bahwa ibunya masih ada, dan sedang menantinya sekarang. Ia memberitahu suaminya keyakinan itu berkali-kali, dan suaminya mengangguk-angguk penuh pengertian.

    Pagi, siang dan sore ia berdoa: “Tuhan, ijinkan saya untuk satu permintaan terbesar dalam hidup saya: temukan saya dengan ibu saya”.

    Tuhan mendengarkan doa itu. Suatu sore mereka menerima kabar bahwa ada seorang wanita yang mungkin bisa membantu mereka menemukan ibunya. Tanpa membuang waktu, mereka terbang ke tempat itu, sebuah rumah kumuh di daerah lampu merah, 600 km dari kota mereka.

    Sekali melihat, mereka tahu bahwa wanita yang separoh buta itu, yang kini terbaring sekarat, adalah wanita di dalam foto.

    Dengan suara putus-putus, wanita itu mengakui bahwa ia memang pernah mencuri seorang gadis kecil ditepi jalan, sekitar 25 tahun yang lalu.

    Tidak banyak yang diingatnya, tapi diluar dugaan ia masih ingat kota dan bahkan potongan jalan dimana ia mengincar gadis kecil itu dan kemudian menculiknya. Serrafona memberi anak perempuan yang menjaga wanita itu sejumlah uang, dan malam itu juga mereka mengunjungi kota dimana Serrafonna diculik.

    Mereka tinggal di sebuah hotel mewah dan mengerahkan orang-orang mereka untuk mencari nama jalan itu. Semalaman Serrafona tidak bisa tidur. Untuk kesekian kalinya ia bertanya-tanya kenapa ia begitu yakin bahwa ibunya masih hidup sekarang, dan sedang menunggunya, dan ia tetap tidak tahu jawabannya.

    Dua hari lewat tanpa kabar. Pada hari ketiga, pukul 18:00 senja, mereka menerima telepon dari salah seorang staff mereka.

    “Tuhan maha kasih, Nyonya, kalau memang Tuhan mengijinkan, kami mungkin telah menemukan ibu Nyonya. Hanya cepat sedikit, waktunya mungkin tidak banyak lagi.”

    Mobil mereka memasuki sebuah jalanan yang sepi, dipinggiran kota yang kumuh dan banyak angin. Rumah-rumah di sepanjang jalan itu tua-tua dan kusam.

    Satu, dua anak kecil tanpa baju bermain-main ditepi jalan. Dari jalanan pertama, mobil berbelok lagi kejalanan yang lebih kecil, kemudian masih belok lagi kejalanan berikutnya yang lebih kecil lagi.

    Semakin lama mereka masuk dalam lingkungan yang semakin menunjukkan kemiskinan. Tubuh Serrrafona gemetar, ia seolah bisa mendengar panggilan itu. “Lekas, Serrafonna, mama menunggumu, sayang”. Ia mulai berdoa “Tuhan, beri saya setahun untuk melayani mama. Saya akan melakukan apa saja”.

    Ketika mobil berbelok memasuki jalan yang lebih kecil, dan ia bisa membaui kemiskinan yang amat sangat, ia berdoa: “Tuhan beri saya sebulan saja”. Mobil belok lagi kejalanan yang lebih kecil, dan angin yang penuh derita bertiup, berebut masuk melewati celah jendela mobil yang terbuka.

    Ia mendengar lagi panggilan mamanya, dan ia mulai menangis: “Tuhan, kalau sebulan terlalu banyak, cukup beri kami seminggu untuk saling memanjakan”.

    Ketika mereka masuk belokan terakhir, tubuhnya menggigil begitu hebat sehingga Geraldo memeluknya erat-erat. Jalan itu bernama Los Felidas. Panjangnya sekitar 180 meter dan hanya kekumuhan yang tampak dari sisi ke sisi, dari ujung keujung. Di tengah-tengah jalan itu, di depan puing-puing sebuah toko, tampak onggokan sampah dan kantong-kantong plastik, dan ditengah-tengahnya, terbaring seorang wanita tua dengan pakaian sehitam jelaga, tidak bergerak-gerak.

    Mobil mereka berhenti diantara 4 mobil mewah lainnya dan 3 mobil polisi. Dibelakang mereka sebuah ambulans berhenti, diikuti empat mobil rumah sakit lain. Dari kanan kiri muncul pengemis- pengemis yang segera memenuhi tempat itu.

    “Belum bergerak dari tadi,” lapor salah seorang. Pandangan Serrafona gelap tapi ia menguatkan dirinya untuk meraih kesadarannya dan turun. Suaminya dengan sigap sudah meloncat keluar, memburu ibu mertuanya. “Serrafona, kemari cepat ! Ibumu masih hidup, tapi kau harus menguatkan hatimu.”

    Serrafona memandang tembok dihadapannya, dan ingat saat ia menyandarkan kepalanya ke situ. Ia memandang lantai di kakinya dan ingat ketika ia belajar berjalan. Ia membaui bau jalanan yang busuk, tapi mengingatkannya pada masa kecilnya.

    Air matanya mengalir keluar ketika ia melihat suaminya menyuntikkan sesuatu ke tangan wanita yang terbaring itu dan memberinya isyarat untuk mendekat.

    “Tuhan”, ia meminta dengan seluruh jiwa raganya, “beri kami sehari, Tuhan, biarlah saya membiarkan mama mendekap saya dan memberitahunya bahwa selama 25 tahun ini hidup saya amat bahagia. Jadi mama tidak menyia-nyiakan saya”.

    Ia berlutut dan meraih kepala wanita itu kedadanya. Wanita tua itu perlahan membuka matanya dan memandang keliling, ke arah kerumunan orang-orang berbaju mewah dan perlente, ke arah mobil-mobil yang mengkilat dan ke arah wajah penuh air mata yang tampak seperti wajahnya sendiri ketika ia masih muda.

    “Mama….”, ia mendengar suara itu, dan ia tahu bahwa apa yang ditunggunya tiap malam – antara waras dan tidak – dan tiap hari -antara sadar dan tidak – kini menjadi kenyataan. Ia tersenyum, dan dengan seluruh kekuatannya menarik lagi jiwanya yang akan lepas.

    Perlahan ia membuka genggaman tangannya, tampak sebentuk anting-anting yang sudah menghitam. Serrafona mengangguk, dan tanpa perduli sekelilingnya ia berbaring di atas jalanan itu dan merebahkan kepalanya di dada mamanya.

    “Mama, saya tinggal di istana dan makan enak tiap hari. Mama jangan pergi dulu. Apapun yang mama mau bisa kita lakukan bersama-sama. Mama ingin makan, ingin tidur, ingin bertamasya, apapun bisa kita bicarakan.

    Mama jangan pergi dulu… Mama…”

    Ketika telinganya menangkap detak jantung yang melemah, ia berdoa lagi kepada Tuhan: “Tuhan maha pengasih dan pemberi, Tuhan….. satu jam saja…….satu jam saja…..”

     
  • erva kurniawan 2:20 am on 23 December 2014 Permalink | Balas  

    BERMULA DARI KITA 

    Dakwah-Islam1Bermula Dari Kita

    Dwi Nopitasari

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Suatu hari ketika jam istirahat kerja di kantor, ada seorang sahabat yang menegur saya atas ucapan dan perbuatan yang dirasa tidak sesuai dengan apa yang pernah saya lontarkan kepada orang lain. Astagfirullah ! Ya Allah ampunkan hambamu yang lemah ini, betapa saya mengingatkan orang lain sementara saya sendiri melakukannya.

    Hal ini menjadi bahan perenungan saya untuk hari-hari selanjutnya. Sebagai manusia biasa dengan didasari oleh sifat ego, terkadang kita nggak sadar dan terlalu cepat untuk memvonis seseorang atas kesalahannya, bahkan langsung berburuk sangka terhadap orang tersebut. Tanpa kita mencoba berpikir atau melihat dari sisi-sisi lain kenapa sampai si Fulan melakukan hal demikian. Sementara mungkin di lain waktu tanpa kita sadari hal yang sama akan kita lakukan sendiri.

    Berungtunglah kalau ada sahabat-sahabat kita yang mau dan berani memberi kritikan dan saran untuk perbaikan diri kita, sebelum kita terlena dalam sifat uzub dan ria serta tenggelam dalam lautan kesombongan. Sayapun jadi teringat akan sebuah hadist Qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. Dalam hadist tersebut Allah Ta’ala berfirman :

    “Kebesaran (Kesombongan) adalah pakain-KU dan Keagungan adalah sarung-KU. Barangsiapa merampas salah satu (dari keduanya) Aku lemparkan dia ke neraka (jahanam).”

    Dalam bermuhasabah sayapun jadi berpikir, sangatlah buruk pabila sifat sombong kita biarkan menggerogoti hati, karena bisa merusak amal kebaikan kita.Sehingga tidaklah heran, jika Nabi SAW. mencela perbuatan sombong dan membanggakan diri. Sebagaimana Sabdanya :

    “Sesungguhnya Allah SWT. telah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendahkan hati sehingga tidak ada lagi orang yang saling membanggakan diri terhadap orang lain ” (HR Muslim).

    Kejadian diatas menjadi pelajaran buat saya, bahwa sebelum kita mengubah orang lain kepada akhlak yang utama, mulailah terlebih dahulu dengan diri sendiri. Adalah aib bagi seorang manusia bila ia telah mengajari atau mendidik orang lain sedangkan dirinya sendiri masih perlu dididik dan diajari hal yang sama. Allah SWT. berfirman : “Mengapa kamu suruh orang lain melakukan kebaikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab. Tidakkah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah : 44)

    Sungguh menjadi panutan bagi kita pula kalau Imam Hasan Basri terkenal di jamannya dulu bukan semata-mata karena beliau mengeksploitasi diri agar populer di masyarakat, melainkan terkenal otomatis akibat keluasan pengetahuan dan pemahaman ilmu agamanya serta kehalusan dan keluhuran budi pekertinya. Beliau seorang Ulama yang mumpuni tapi tawadhu’ rendah hati. Dapat dipahami jika setiap fatwa yang dikeluarkannya selalu dianut dan dipahami oleh masyarakatnya.

    Karena kredibiltasnya sebagai ulama yang hebat dan memikat hati inilah, maka para budak ( hamba sahaya) sempat berulangkali meminta bantuannya agar dalam khotbah Jumat, mengangkat topik nasib mereka, kaum sahaya, berulangkali permintaan serupa diajukan oleh para sahaya, berulangkali pula Iman Hasan Basri ternyata tak mengabulkan dan merealisirnya. Dari Jumat ke Jumat beliau tak pernah menyinggung segala masalah yang terkait dengan perbudakan. Sikap sang Imam Hasan Basri tadi tentu menimbulkan tanda tanya bin keanehan di hati para budak yang jamaah dalam Shalat Jumat.

    Ada apa gerangan? Mengapa Kyai Hasan Basri tak mampu memperjuangkan nasib kami? Bukankah Islam secara substansial mengarahkan ajaran pada penghapusan perbudakan? itulah segudang pertanyaan yang bergelayut dalam benak masing-masing hamba sahaya. Barulah pada suatu hari, setelah lama berselang, Imam Hasan Basri tiba-tiba mengangkat tema yang lama didamba kaum sahaya. Hasan Basri mengungkapkan nasib nestapa kaum sahaya yang perlu dibebaskan dari berbagai rantai dan belenggu perbudakan.

    Selesai Shalat Jumat, para budak kontan mengerumuni sang Ulama, menyalami, lantas berkata kepada beliau “Kenapa baru sekarang engkau mengungkapkan permasalahan kami, wahai Iman Hasan Basri?”

    Beliau menjawab, “Maafkan aku wahai saudaraku, Aku memang ingin menyampaikan persoalan kalian itu. Tapi, bagaimana mungkin aku sampaikan pesan kalian, sesuatu yang aku sendiri belum pernah melakukan? Ketika telah datang rizqi dan dari risky itulah aku bisa membebaskan seorang budak, barulah aku berani mendakwahkan dan menyerukan perbaikan nasib kalian.”

    Itulah sikap dan ucapan seorang ulama yang berani mendakwahkan dan atau menyerukan setelah dirinya terlebih dahulu memberikan contoh perbuatan. Itulah sikap dan ucapan seorang ulama yang konsisten antara ucapan dan perbuatan.

    Sangatlah sejalan dengan apa yang dikatakan Imam Ali, “Barangsiapa menjadi pemimpin, hendaklah ia mulai dengan mengajari dirinya sendiri sebelum mengajari orang lain, dan mendidik dengan perilaku lebih dulu sebelum dengan lisan.(pen.- mungkin kita kasih contoh lewat perilaku/sikap kita terlebih dahulu, baru lewat lisan). Pengajar dan pendidik diri sendiri lebih berhak mendapatkan keagungan daripada pendidik dan pengajar untuk orang lain.” (Berarti semuanya bermula dari kita).

    “Pada hari kiamat seorang dihadapkan dan dilempar ke neraka. Orang-orang bertanya, ” Hai Fulan, mengapa kamu masuk neraka sedang kamu dahulu adalah orang yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah perbuatan mungkar? ” Orang tersebut menjawab, ” Ya benar, dahulu aku menyuruh berbuat makruf, sedang aku sendiri tidak melakukannya. Aku mencegah orang lain berbuat mungkar sedang aku sendiri melakukannya.” (HR. Muslim)

    Wassalam

    Siti Nurjanah

     
  • erva kurniawan 2:37 am on 21 December 2014 Permalink | Balas  

    Anak 

    keluarga-muslimANAK

    Cerpen Chairil Gibran Ramadhan

    Satu per satu anakku, setelah menikah, pergi meninggalkanku. Sementara aku, sejak suamiku meninggal tiga bulan lalu, tetap tinggal di rumah besar kami di Tebet bersama dua orang perempuan yang sudah 22 tahun bekerja padaku, seorang sopir sekaligus tukang kebun, serta seorang keponakan suamiku yang kedua orangtuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat terbang.

    Suamiku sudah menyiapkan rumah untuk anak-anak kami, yang disewakannya kepada orang-orang. Setelah mereka menikah barulah ia memberikan kunci rumah-rumah itu. Ia membelinya saat memiliki jabatan tinggi di sebuah departemen dan memperoleh ‘uang lain-lain’ dari orang-orang yang mengharapkan langkahnya tidak terhalang sebutir kerikil pun. Ia melakukannya karena ingin anak-anaknya mengenang dia sebagai ayah yang bertanggung jawab.

    Suamiku meninggal akibat gagal jantung setelah 12 tahun pensiun. Sehari sebelumnya ia sempat berbicara kepadaku, telah merasa lengkap menjadi ayah karena melihat semua kejadian terhadap anak-anaknya: lahir, besar, bersekolah, menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi, bekerja, menikah, tinggal di rumah-rumah yang diberikannya, dan memiliki anak. Ia dimakamkan di sebuah pemakaman luas sesuai yang pernah ia pesankan.

    Hingga kini aku merasa ia masih ada di dalam rumah kami. Menjelang jam tujuh pagi, lima sore, sembilan malam, aku masih selalu pergi ke dapur, membuatkan secangkir teh manis untuknya. Anakku yang nomor satu rupanya mendapat cerita ini dari keponakan suamiku yang tinggal bersamaku. Maka tadi sore ia datang dan meminta aku tinggal di rumah besarnya di Ciputat.

    Berkali-kali aku menolak, tentu karena aku merasa kasihan pada mendiang suamiku, tapi ia tetap berkeras seperti ayahnya. Ia mengatakan akan lebih mudah baginya untuk memantau dan mengurusku jika aku tinggal bersamanya.

    “Di kamar besar yang lain Mama bisa meletakkan semua buku milik Mama. Kalau tetap di sini Mama akan terus bersedih. Biarlah rumah ini Suci yang menjaga dan mengurusnya bersama Mbak Tar, Mbak Mi, dan Bang Ali.” Akhirnya aku menyetujui saja.

    Malam hari aku sering menangis mengingat suamiku. Sementara anak-anakku, selama dua bulan aku di sini, tidak pernah ada yang datang. Dan anakku yang nomor satu jarang sekali bertemu denganku. Ia pergi pagi ketika aku masih mengaji di kamar, dan pulang begitu malam ketika aku sudah tertidur. Dalam seminggu mungkin aku hanya bertemu dengannya dua atau tiga kali. Bahkan bisa tidak sama sekali.

    Aku sering mengingat masa ketika mereka kecil. Waktu itu setiap hari aku bisa bertemu mereka. Lalu ketika mereka masuk perguruan tinggi dan bekerja, aku pun mulai jarang bertemu. Lalu ketika mereka menikah dan tinggal di rumah-rumah yang diberikan suamiku, memiliki anak dan sibuk dengan istri atau suaminya, aku sudah tidak banyak berharap mereka akan mudah kutemui.

    Sekarang apa yang aku dapat? Sebuah senyuman dan sapaan setiap pagi hari pun tidak. Terlebih kata terima kasih atas jerih-payahku melahirkan, mendidik, membesarkan, dan menyenangkan mereka. Aku tidak bermaksud meminta balasan. Tetapi bagaimanapun menurutku mereka seharusnya tahu diri dan tahu berterimakasih. Padahal sejak mereka kecil aku dan suamiku selalu mengajarkan untuk tidak melupakan kebaikan seseorang.

    Anakku yang nomor satu, hari ini memutuskan mengirimku ke sebuah panti jompo, setelah istri dan ketiga anaknya sering mengeluhkan aku yang selalu menangis tengah malam ketika aku teringat suamiku, karena katanya mengganggu tidur mereka. Dua minggu lalu ia mengundang adik-adiknya datang. Ketika semua berkumpul, kecuali anakku yang nomor empat yang tinggal di Australia, ia memberitahukan keinginannya. “Lagipula Mama tidak mungkin kita biarkan kembali ke Tebet. Terlalu banyak kenangan tentang Papa di sana yang bisa membuat Mama sedih.” Dua bulan lagi umurku 68 tahun.

    Setelah satu tahun aku di tinggal sini, hanya Lebaran lalu saja anak-anakku datang. Sementara si Tar, si Mi, si Ali, serta keponakan suamiku yang pernah delapan tahun tinggal bersamaku, hampir setiap akhir pekan menjengukku.

    Hari itu semua anakku datang bersama suami, istri, dan anak-anak mereka. Hanya yang nomor empat tidak datang, karena katanya uang jutaan rupiah untuk membeli tiket pesawat bagi tiga orang ke Jakarta lebih baik disimpannya di bank. Ia hanya mengirim kartu Lebaran disertai tulisan dan tanda tangannya.

    Sedangkan cucu pertamaku memilih pergi ke rumah kekasihnya. Katanya karena ia segan. Ingat, segan. Segan bertemu neneknya. Padahal dahulu aku yang sering membersihkan kotorannya dan mengganti popok bila ia datang ke rumahku bersama orangtuanya. Lalu hingga kini tidak pernah lagi mereka datang.

    Hanya anakku yang nomor satu yang selalu mengirim ini dan itu kepadaku, biasanya berupa buku-buku terbaru psikologi, filsafat, sejarah, sastra, agama, sosial, seni, budaya, tentu saja, melalui sopirnya.

    Setiap pukul 04.30 aku bangun, mandi dengan air hangat yang keluar dari pancuran di bath-tub, sholat subuh, dan mengaji. Di sini kami seperti di rumah sendiri. Bangun jam berapa saja kami berkeinginan. Sarapan dan makan pun bebas memilih. Anak-anak telah membayar sangat tinggi untuk menitipkanku di sini. Aku jadi teringat masa ketika indekos ketika aku belajar psikologi. Hanya kini aku tidak tinggal bersama gadis-gadis cantik dan tidak untuk menuntut ilmu apa-apa. Hanya menunggu ajal.

    Tepat pukul 06.00 kami yang sudah bangun dianjurkan berkumpul di halaman depan untuk berolahraga. Cukup tiga puluh menit sekadar untuk meregangkan otot-otot tua kami. Setelah itu kami diminta untuk membersihkan diri, mandi pagi lagi kalau mau. Pukul 08.00 biasanya kami akan berkumpul di ruang makan untuk sarapan. Mereka yang bangun terlambat dan tidak ingin berolahraga dan tidak ingin sarapan di ruang makan, bisa meminta petugas mengantarkan sarapannya ke kamar.

    Setelah itu hingga pukul 16.00 kami dipersilakan melakukan kegiatan apa saja sesuai keinginan: merajut, melukis, menulis surat untuk anak-anak kami, bermain catur, berkebun, membaca, menonton TV, mendengar radio, berbincang-bincang dengan teman-teman lain, atau tidur siang. Dan setiap pukul 16.30 kami biasanya akan duduk-duduk di teras panti sambil menikmati secangkir teh manis dan kue-kue kecil.

    Setelah itu kami diminta untuk mandi sore. Pukul 19.00 kami kembali berkumpul di ruang makan. Malam ini aku menikmati segelas air teh manis hangat, nasi putih, perkedel kentang, dan semur ikan bandeng dengan kuah kental kesukaanku. Hari ini tepat tiga tahun aku masuk panti.

    Aku, karena sejak muda mempunyai kegemaran membaca, setiap hari selalu hanya membaca. Apa saja aku baca. Majalah berita, koran pagi, tabloid perempuan, dan majalah perempuan yang dilanggani panti, tidak pernah kulewatkan, juga buku-buku di perpustakaan. Selama lima tahun di sini, aku sudah membaca semua buku yang ada di sana, dan tentu saja puluhan lainnya kiriman anakku yang nomor satu.

    Hari ini aku membaca sebuah buku filsafat. Sudah dua hari aku membacanya, dan tampaknya hari ini pun belum akan selesai. Padahal ketika muda dahulu satu buku tebal kubaca hanya dalam waktu satu hari, dan buku sedang cukup setengah hari saja. Setelah tua aku menjadi mudah letih dan mengantuk. Kemarin aku sulit sekali meneruskan buku itu. Aku tiba-tiba saja kembali memikirkan suamiku dan juga umurku yang sudah semakin tua. Aku tahu aku tidak akan lama lagi di sini. Teman-teman sebayaku semasa di perguruan tinggi, sudah banyak yang tiada.

    Dulu aku memiliki ratusan buku yang kubeli sejak umurku belasan tahun. Sebelum tinggal di sini, aku ingat jumlahnya sekitar 524 buah. Tersimpan rapi di perpustakaan pribadi di rumahku. Aku percaya anakku yang nomor tujuh akan menjaga buku-buku itu. Kebetulan ia mempunyai kegemaran yang sama denganku, meski sebenarnya keenam anakku yang lain, serta suamiku, juga memiliki kegemaran yang sama. Hanya saja karena ia yang paling banyak menghabiskan waktu bersamaku maka aku percaya ia akan menjaganya. Ketika masih tinggal bersamaku hampir setiap awal bulan ia menemaniku pergi ke toko buku, membeli buku-buku kegemaranku. Kebetulan aku paling menyukai buku psikologi, karena ilmu itulah yang mampu membuatku tertarik masuk ke sebuah fakultas hingga menyelesaikannya.

    Tetapi sudah sepuluh tahun ini aku tidak melakukannya. Meski berkeinginan, namun semuanya kini hanya ada di dalam angan-angan dan kenangan-kenanganku. Untunglah anakku yang nomor satu selalu mengirimkan buku-buku kegemaranku terbaru. Jadi aku tidak terlalu mengharapkan buku-buku di perpustakaan panti yang hanya beberapa puluh saja. Ketika minggu kedua tinggal di sini pernah kutanyakan kepada petugas, mereka hanya menjawab, “Uang panti tidak cukup, Nyonya.”

    “Bukankah anak-anak kami sudah membayar sangat tinggi untuk menitipkan kami di sini? Jadi bagaimana mungkin tidak cukup?” “Saya hanya petugas, Nyonya. Urusan uang ketua yayasan yang mengatur. Lagipula Bapak pernah mengatakan orang-orang tua di sini tidak terlalu suka membaca.”

    “Begitu? Bagaimana dia tahu?”

    “Bapak memang jarang datang ke sini, Nyonya. Maklumlah usaha Bapak tidak hanya panti ini.”

    “Saya punya banyak buku di rumah. Boleh saya menyumbangkannya?”

    “Dengan senang hati, Nyonya. Dengan senang hati.”

    Tetapi ternyata anakku yang nomor tujuh tidak memperbolehkannya. Di telepon ia mengatakan buku-buku itu terlalu berharga karena ada yang sudah berumur puluhan tahun dan sudah tidak beredar di pasaran. Ketika kukatakan buku-buku itu akan lebih berharga jika dibaca orang lain, ia tetap tidak memperbolehkannya. Katanya karena ia membaca pula buku-buku itu. “Lagipula anggaplah sebagai warisan yang Mama berikan untukku.” Anak-anakku, mereka tidak pernah puas hanya menerima.

    Dua hari lalu umurku 79 tahun. Aku tahu tidak akan lama lagi di sini. Hingga malam, ketujuh anakku tidak ada satu pun datang atau sekedar menelepon. Hanya datang si Tar, si Mi, si Ali, serta keponakan suamiku yang pernah delapan tahun tinggal bersamaku.

    Baru hari ini anakku yang nomor satu mengirim kado berisi selimut tebal dan kartu ucapan buatan pabrik. Kado itu diantar seorang sopirnya. Ingat, sopir. Dia tidak bisa datang, kata sopirnya, karena sibuk bekerja. Ingat, sibuk. Sekali lagi ingat, sibuk. Padahal dahulu ketika masih tinggal bersamaku, aku selalu menyiapkan masakan istimewa buatanku di hari ulang tahun mereka dan merayakannya bersama-sama.

    Bila tahu akan seperti ini, demi Tuhan, aku tidak bersedia melahirkan mereka. Dan aku tahu, suamiku, pasti menyesal telah menghidupi mereka. Ya!

    ***

    Chairil Gibran Ramadhan adalah cerpenis kelahiran Jakarta. Ia banyak mengangkat ‘dunia Betawi’ ke dalam cerpen-cerpennya yang bergaya realistik dan dipublikasikan di berbagai media massa.

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 20 December 2014 Permalink | Balas  

    WaktuJangan Ambil Kembali Nikmatmu

    Hah! Aku memekik seraya membuang selimut. Kupastikan jam yang terpampang di dinding. Lemes. Pukul lima lewat tiga puluh lima menit, segera kuambil hp lalu kutekan nomor telepon tempat kerjaku. Begitu kudengar suara dari seberang telepon, segera saja aku minta maaf dan mengatakan akan datang terlambat. Tanpa ba bi bu lagi, kuputar kran air di wastafel, lalu gosok gigi dan mencuci muka. Kusisir rambut sekenanya lalu kuambil kunci sepeda dan melesatlah dengan kecepatan tinggi. Terkadang lampu merah pun kuterobos saja, bagiku hanyalah segera sampai di tempat kerja tanpa terlambat lebih lama. Keseringan begini lama-lama bisa dikubi nih.

    Hal seperti ini, bukan yang pertama bagiku. Apalagi sewaktu di tanah air. Hanya bedanya kalau di tanah air, hampir semua temanku juga begitu. Jadinya, terlambat pun masih bisa dimaklum. Di negeri ini, orang sangat menghargai waktu. Kalau kita terlambat tidak ada alasan yang bisa kita kemukakan. Gak ada alasan jalanan macet lah, bis nya datang terlambat lah atau nani nani toka. Orang sini akan bilang iiwake… yah cuma alasan kita doang.

    Saat saya duduk menghadap layar komputer, tanpa sengaja mata saya tertumbuk pada satu tulisan, “Sholatlah, sebelum engkau di sholatkan”. Saya tercenung sejenak, teringat sholat saya yang sering tidak tepat waktu. Apalagi sholat shubuh, banyak sekali alasannya untuk segera bangun padahal alarm di HP melengking-lengking. Dan biasanya pada dini hari bunyi email masuk dari milis KEMIS, sebuah kelompok pengajian di Sizuoka, cukup memekakan telinga. Kubuka isinya, “Sholat yuk”… ajakan untuk tahajjud. Tapi dahsyatnya, kenapa setelah dibaca mata ini semakin mengantuk. “Sebentar deh, masih ada waktu kan? Daripada kecepetan bangun entar subuhnya kebablasan,” gumamku sendiri. Akhirnya tertidur dan begitu mata terbuka, matahari telah bersinar dengan secerah-cerahnya seakan ia tersenyum meledekku. Tentu saja segera kuambil air wudlu dan sholat.

    Tapi sepertinya aku tak pernah jera dengan kondisi ini. Tidak seperti ketakutanku saat terlambat datang ke tempat kerja, yang dengan wajah memohon aku meminta maaf dan berjanji tak akan mengulangnya lagi. Hari-hari berikutnya, aku selalu datang sepuluh menit sebelumnya ke tempat kerja. Tapi untuk urusan sholat, yang sering tak tepat waktu bahkan, jarang sekali aku menyesalinya. Bahkan untuk bertobat dan jera untuk mengulanginya pun, rasanya jarang sekali kulakukan. Aku paham sekali hal ini salah. Mungkin sholat bagiku bukan suatu kebutuhan, yah sekedar gugur kewajibanlah.

    Apakah memang aku sudah kebal dengan kebaikan hingga sulit untuk berubah atau Allah sudah mendiamkanku hingga terus berlarut-larut hingga kutemukan sendiri kealpaanku selama ini? Tanpa terasa air mata menitik di kedua pipiku. Ya Allah, jangan tinggalkan hamba-Mu ini. Jangan Engkau tarik kembali kenikmatan yang penah Engkau beri. Sungguh hamba bertobat. Tak akan ku sia-siakan lagi waktu untuk bermasyuk denganMu. Ampuni hamba-Mu ya Karim..

    ***

    Kiriman: haris.satriawan@ifs.co.id

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 11 December 2014 Permalink | Balas  

    pisauBocah-bocah Bunuh Diri

    Oleh : Asro Kamal Rokan

    Nazar Ali Julian berusia 13 tahun. Dia bukan orang terkenal. Di sekolah, Nazar dikenal rajin dan tergolong pandai. Dia juga anak baik, rajin ke masjid, shalat, dan puasa Senin-Kamis.

    Belakangan ini, setelah kedua orang tuanya bercerai, Nazar berubah. Dia lebih suka tidur di rumah temannya, tidak di rumah bibinya di Kampung Ciwalen Pasar, Desa Ciwalen, Cianjur. Mungkin dia kesepian. Apalagi ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Arab Saudi sejak dua bulan lalu. Tiba-tiba, suatu sore, Nazar yang baik dan santun itu mengambil pisau dapur. Dia masuk ke kamar mandi dan menghunjamkan pisau tersebut berkali-kali ke perutnya. Nazar, remaja yang baru tumbuh, bunuh diri! Nazar jatuh dan terkapar berlumur darah.

    Kondisinya kritis. Rumah sakit Cimacan tak mampu menanganinya sehingga dia dibawa ke RSU Cianjur. Untuk perawatan lebih intensif, Nazar yang belum sadarkan diri kemudian dibawa ke RS Hasan Sadikin, Bandung. Kisah Nazar, anak kedua dari tiga bersaudara, satu dari deretan panjang kasus-kasus bunuh diri. Kini, mari kita lihat data-data kasus bunuh diri dan percobaan bunuh diri yang dilakukan anak-anak usia belasan tahun –usia, yang lazimnya, kegembiraan meliputi mereka. Penuh tawa dan canda.

    Nurdin bin Adas berusia 12 tahun. Warga Kampung Cikareo, Desa Salakuray, Garut, itu ditemukan tewas tergantung di plafon dapur rumah kakaknya. Nurdin diduga bunuh diri karena tak kuat menahan kerinduan kepada almarhumah ibunya.

    Bambang Surono berusia 11 tahun. Oktober 2003, warga Semarang, Jawa Tengah, dikejutkan berita ditemukannya murid V SD itu tewas tergantung. Diduga Bambang bunuh diri. Kisah paling menghebohkan dan menggedor nurani masyarakat, terjadi Agustus 2003. Heryanto yang baru berusia 12 tahun, menggantung dirinya karena malu tak mampu membayar iuran Rp 2.500 untuk kegiatan di sekolahnya. Murid kelas VI sekolah dasar di Garut itu dapat diselamatkan. Kasus-kasus yang menimpa anak usia belasan tahun itu –mungkin tidak hanya Nazar, Bambang, Nurdin, dan Heryanto, karena tidak semua dapat terpantau– memperpanjang angka kasus bunuh diri atau percobaan bunuh diri.

    Di Jakarta, menurut data Kepolisian Daerah Metro Jaya, pada 2003 saja 62 orang dilaporkan tewas akibat bunuh diri. Angka itu melonjak tiga kali dibanding 2002, yang mencapai 19 orang. Usia korban 16-65 tahun, sebagian besar lelaki. Mereka yang bunuh diri sebagian besar pengangguran, selebihnya pelajar, karyawan, pembantu rumah tangga, dan buruh. Umumnya, mereka mengalami tekanan ekonomi.

    Angka bunuh diri di Bali juga mencengangkan. Menurut data dr Nyoman Hanati SpKj –panelis diskusi Mewaspadai Bunuh Diri, Suatu Tinjauan Psikiatrik di RS Sanglah, akhir tahun lalu– selama Oktober, November, dan Desember, tercatat 30 kasus bunuh diri, 20 orang di antaranya tewas. Catatan BeFrienders.org –lembaga yang khusus mencatat dan mengulas kasus bunuh diri– memperlihatkan kematian akibat bunuh diri di Amerika Serikat, lebih besar dibanding kematian akibat pembunuhan. Penyebab terbesar adalah depresi, tekanan ekonomi, dan krisis keluarga.

    Ada banyak alasan orang untuk bunuh diri –jalan pintas yang sangat dimurkai Allah. Tapi, satu hal untuk direnungkan, kematian sia-sia, apalagi dilakukan anak-anak usia belasan tahun, memperlihatkan ada sesuatu yang tidak benar sedang terjadi. Orang tua, guru sekolah, pakar pendidikan, ulama, masyarakat, merenunglah! Lakukan sesuatu: Selamatkan mereka!! Hari ini, kita mungkin dapat tenang melihat anak-anak bermain, bercanda, dan tertawa riang. Besok, siapa tahu?

    ***

    republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 8 December 2014 Permalink | Balas  

    serangga-kupu2(gettyimages)Kisah Pemuda dan Kupu-Kupu

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Suatu ketika, terdapat seorang pemuda di tepian telaga. Ia tampak termenung. Tatapan matanya kosong, menatap hamparan air di depannya. Seluruh penjuru mata angin telah di lewatinya, namun tak ada satupun titik yang membuatnya puas. Kekosongan makin senyap, sampai ada suara menyapanya. Ada orang lain disana.

    “Sedang apa kau disini anak muda?” tanya seseorang. Rupanya ada seorang kakek tua. “Apa yang sedang kau risaukan…?”

    Anak muda itu menoleh ke samping, “Aku lelah Pak Tua. Telah berkilo-kilo jarak yang kutempuh untuk mencari kebahagian, namun tak juga kutemukan rasa itu dalam diriku. Aku telah berlari melewati gunung dan lembah, tapi tak ada tanda kebahagiaan yang hadir dalam diriku. Kemanakah aku harus mencarinya? Bilakah kutemukan rasa itu ?”

    Kakek Tua itu duduk semakin dekat, mendengarkan dengan penuh perhatian. Di pandangnya wajah lelah di depannya. Lalu, ia mulai bicara, “Di depan sana ada sebuah taman. Jika kamu ingin jawaban dari pertanyaanmu, tangkaplah seekor kupu-kupu buatku”. Mereka berpandangan. “Ya… tangkaplah seekor kupu-kupu buatku dengan tanganmu” sang Kakek mengulang kalimatnya lagi.

    Perlahan pemuda itu bangkit. Langkahnya menuju satu arah, taman.Tak berapa lama, dijumpainya taman itu. Taman yang semarak dengan pohon dan bunga-bunga yang bermekaran. Tak heran, banyak kupu-kupu yang berterbangan di sana. Sang kakek, melihat dari kejauhan, memperhatikan tingkah yang diperbuat pemuda yang sedang gelisah itu.

    Anak muda itu mulai bergerak. Dengan mengendap-endap, ditujunya sebuah sasaran. Perlahan. Namun, Hap!. sasaran itu luput. Di kejarnya kupu-kupu itu ke arah lain. Ia tak mau kehilangan buruan. Namun lagi-lagi. Hap!. Ia gagal. Ia mulai berlari tak beraturan. Diterjangnya sana sini. Ditabraknya rerumputan dan tanaman untuk mendapatkan kupu-kupu itu. Diterobosnya semak dan perdu disana.Gerakannya semakin liar.

    Adegan itu terus berlangsung, namun belum ada satu kupu-kupu yang dapat ditangkap. Sang pemuda mulai kelelahan. Nafasnya memburu, dadanya bergerak naik-turun dengan cepat. Sampai akhirnya ada teriakan, “Hentikan dulu anak muda. Istirahatlah. ”

    Tampak sang kakek yang berjalan perlahan. Tapi lihatlah, ada sekumpulan kupu-kupu yang berterbangan di sisi kanan-kiri kakek itu. Mereka terbang berkeliling, sesekali hinggap di tubuh tua itu.

    “Begitulah caramu mengejar kebahagian? Berlari dan menerjang? Menabrak-nabrak tak tentu arah, menerobos tanpa peduli apa yang kau rusak?” Sang Kakek menatap pemuda itu. “Nak, mencari kebahagian itu seperti menangkap kupu-kupu. Semakin kau terjang, semakin ia akan menghindar. Semakin kau buru, semakin pula ia pergi dari dirimu.”

    “Namun, tangkaplah kupu-kupu itu dalam hatimu. Karena kebahagiaan itu bukan benda yang dapat kau genggam, atau sesuatu yang dapat kau simpan. Carilah kebahagian itu dalam hatimu. Telusuri rasa itu dalam kalbumu. Ia tak akan lari kemana-mana. Bahkan, tanpa kau sadari kebahagian itu sering datang sendiri.”

    Kakek Tua itu mengangkat tangannya. Hap, tiba-tiba, tampak seekor kupu-kupu yang hinggap diujung jari. Terlihat kepak-kepak sayap kupu-kupu itu, memancarkan keindahan ciptaan Tuhan. Pesonanya begitu mengagumkan, kelopak sayap yang mengalun perlahan, layaknya kebahagian yang hadir dalam hati. Warnanya begitu indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya.

    ***

    Wassalam

    Siti Nurjannah

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 4 December 2014 Permalink | Balas  

    bungaKebaikan Yang Indah

    Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa,”Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhan kamu?” Mereka menjawab,” Kebaikan.”  [An Nahl : 16:30]–

    Seorang wanita baru pindah ke sebuah kota kecil. Setelah berada di  sana beberapa waktu, ia mengeluh kepada tetangganya tentang pelayanan  buruk yang dialaminya di apotek setempat. Ia meminta tolong pada tetangganya agar mau menyampaikan kritiknya pada pemilik apotek itu.

    Beberapa hari kemudian wanita pendatang tersebut pergi lagi ke apotek  itu. Pemilik apotek menyambutnya dengan senyum lebar sambil  mengatakan betapa senangnya ia melihat wanita itu berkenan datang  kembali ke apoteknya, dan berharap wanita dan suaminya menyukai kota  mereka. Bukan hanya itu, pemilik apotek itu bahkan menawarkan diri  membantu wanita dan suaminya menguruskan berbagai hal agar mereka  bisa menetap di kota itu dengan nyaman. Lalu, ia pun mengirimkan apa  yang dipesan wanita itu dengan cepat dan baik.

    Wanita itu merasa senang dengan perubahan luar biasa yang ditunjukkan  oleh pemilik apotek. Kemudian, ia melaporkan hal itu pada  tetangganya. Katanya, “Anda tentu sudah menyampaikan kritik saya  mengenai betapa buruk pelayanannya waktu itu.”

    “Oh, tidak,” jawab tetangganya. “Sebenarnya saya tidak menyampaikan  kritik anda pada mereka. Saya harap anda tidak keberatan. Saya  katakan pada pemilik apotek itu betapa anda terkagum-kagum melihat  caranya mendirikan apotek di kota kecil ini. Dan, anda merasa  apoteknya adalah salah satu apotek dengan pelayanan terbaik yang  pernah anda temui.”

    Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan(disediakan) kebaikan dan tambahan (ridha Allah) serta muka-muka mereka tidak tertutup oleh kehitaman dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah ahli surga yang mereka kekal di dalamnya [Yuunus; 10:26]–

    Sumber: Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 28 November 2014 Permalink | Balas  

    kedinginanTitik Es Dalam Hati

    “…dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. Yusuf(12): 87

    Di sebuah perusahaan rel kereta api ada seorang pegawai, namanya Nick. Dia sangat rajin bekerja, dan sangat bertanggung jawab,tetapi dia mempunyai satu kekurangan, yaitu dia tidak mempunyai harapan apapun terhadap hidupnya, dia melihat dunia ini dengan pandangan tanpa harapan sama sekali.

    Pada suatu hari semua karyawan bergegas untuk merayakan ulang tahun bos mereka, semuanya pergi dengan cepat sekali. Yang paling tidak sengaja adalah, Nick terkunci di sebuah mobil pengangkut es yang belum sempat dibetulkan. Nick berteriak, memukul pintu dengan keras, semua orang di kantor sudah pergi merayakan ulang tahun bosnya, maka tidak ada yang mendengarnya.

    Tangannya sudah merah kebengkak2an memukul pintu mobil itu, suaranya sudah serak akibat berteriak terus, tetapi tetap tidak ada orang yang mempedulikannya, akhirnya dia duduk di dalam sambil menghelakan nafas yang panjang.

    Semakin dia berpikir semakin dia merasa takut, dalamm hatinya dia berpikir : dalam mobil pengangkut es suhunya pasti di bawah 0 derajat, kalau dia tidak segera keluar dari situ, pasti akan mati kedinginan. Dia terpaksa dengan tangan yang gemetar, mencari secarik kertas dan sebuah bolpen, menuliskan surat wasiatnya.

    Keesokkan harinya, semua karyawan pun datang bekerja. mereka membuka pintu mobil pengangkut es tersebut, dan sangat terkejut menemukan Nick yang terbaring di dalam. Mereka segera mengantarkan Nick untuk ditolong, tetapi dia sudah tidak bernyawa lagi.

    Tetapi yang paling mereka kagetkan adalah, listrik mobil untuk menghidupkan mesin itu tidak dibuka, dalam mobil yang besar itu juga ada cukup oksigen untuknya, yang paling mereka herankan adalah suhu dalam mobil itu hanya 28 derajat saja, Tetapi Nick malah mati “kedinginan”!!~~

    Nick bukanlah mati karena suhu dalam mobil terlalu rendah, dia mati dalam titik es di dalam hatinya.Dia sudah menghakimi dirinya sebuah hukuman mati, Bagaimana dapat hidup terus?

    Percaya pada diri sendiri adalah sebuah perasaan hati.

    Orang yang mempunyai rasa percayaan diri tidak akan langsung putus asa begitu saja, dia tidak akan langsung berubah sedih terhadap keadaan hidupnya yang jalan kurang lancar.

    Tannyalah pada diri kita sendiri, apakah kita sendiri sering langsung memutuskan bahwa kita tidak mampu untuk mengerjakan suatu hal, sehingga kita kehilangan banyak kesempatan untuk menjadi sukses? kehilangan banyak kesempatan untuk belajar mandiri? untuk jadi lebih mengerti kehidupan ini?

    Yang mempengaruhi semangat kamu bukanlah faktor-faktor dari luar, melainkan hatimu sendiri.

    Sebelum berusaha sudah dikalahkan oleh diri kita sendiri , biarpun ada banyak bantuan yang tertuju pada dirimu tetap tidak akan membantu…………..

    “..dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.

    ***

    Kiriman: Annisa Riyanti

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 24 November 2014 Permalink | Balas  

    sepeda jengkiBakti Sepeda Jengki

    Hari masih pagi. Aku sudah rapi, mengenakan setelan rok dan blus favoritku, berkerudung ceria bunga-bunga plus sepatu andalanku. Aku bermaksud mengunjungi pakde di kampung sebelah. Namun… niat silaturahmiku terganjal. Aku tidak kebagian alat transportasi. Dua motor dan satu sepeda mini telah beranjak dari garasinya. Yang tersisa hanya sebuah sepeda jengki jelek. Waduh, bagaimana ini? Ya sudahlah, yang penting niat silaturahmi terpenuhi. Maka kutuntun sepeda itu ke halaman, ku lap debu di badannya dan kunaiki sepeda itu.

    Di perjalanan aku terkikik geli, membayangkan tatapan orang-orang… seorang gadis berpakaian funky, menaiki sepeda butut hahaha… Sambil mencoba menghibur diri dan menikmati pemandangan pagi, aku terus menggenjot pedal sepeda, menyusuri jalanan yang membelah sawah. Tiba-tiba seekor kambing berlari melintas. Aku terkejut dan cepat-cepat meraih kedua rem di stang. Tapi ooo, sepeda tetap meluncur dan aku pun membanting stir hingga…Gubrak! aku dan sepeda terperosok ke selokan kering di sisi jalan. Aku bangkit sambil meringis. Sejenak kemudian, aku memeriksa sepeda. Ternyata, sepeda itu sudah tidak ada kawat remnya. Hanya tinggal gagangnya saja.

    Sesampainya kembali di rumah, aku bertanya kepada orangtuaku, mengapa sepeda jengki tua itu tidak dijual saja? Toh tidak ada yang menggunakannya di rumah saat aku sedang di Jakarta. Dua motor dan satu sepeda mini sudah cukup untuk anggota keluarga kami yang hanya tiga orang. Tapi ibu bilang jangan. Sepeda itu memiliki sejarah yang panjang dan memiliki makna tersendiri. “Sejarah yang manakah itu, Bu?,” tanyaku. “Tidakkah kau ingat, anakku. Sepeda itu yang mengantarkanmu ke sekolah waktu SMP dulu? Juga sebagian dari waktu SMA-mu?”

    Pelan-pelan, komentar ibu mengembalikan ingatanku tentang sepeda itu. Ya, sepeda jengki yang kini nampak tua, catnya mengelupas di sana-sini. Asesorisnya pun sudah tidak ada. Tanpa rem, tanpa lampu, tanpa gembok, tanpa bel. Hanya kerangkanya saja yang tinggal. Sepeda ini dulu bagus. Kata orang, asli RRC. Ah, benarkah ini sepedaku yang dulu mengantarku ke sekolah? Sepeda hadiah kelulusanku sebagai juara umum di SD, dan mengantarkanku jadi satu-satunya anak dari desaku yang bersekolah di SMP favorit di kota.

    Segenap kenangan itu mengalir lagi. Dulu, jam setengah enam pagi, aku sudah mengayuh pedal sepeda itu, menembus kabut, menyusuri jalan-jalan desa menuju SMPku di kota. Terbayang kembali, saat-saat aku mengayuhnya, menempuh hujan dan badai di musim hujan, hanya bertutupkan mantel yang dibuat ibuku dari plastik lebar. Sepeda ini dulu yang menemaniku pulang sekolah, berlomba bersama teman-temanku. Sepeda ini juga yang mengantarku mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, membelah petang saat sendirian pulang dalam gelap. Sepeda ini begitu akrab setiap inci bagiannya bagiku hingga aku bahkan dapat menyetirnya tanpa memegangi setang. Sepeda ini pula yang masih tetap menemaniku, saat kemudian aku memilih kos ketika SMA. Dia mengantarku ke pengajian, mengantarku bimbingan belajar dan mengantarku menjalani aktifitas ekstra kurikuler maupun kegiatan ekstra sekolah yang mulai kurambah. Dengannya aku menjelajah setiap sudut kota Solo jika aku sedang bosan, termasuk mengunjungi perpustakaan daerah yang jaraknya cukup jauh.

    ****

    Kuperhatikan lagi… Sepeda itu sudah sangat tua, lebih dari 15 tahun usianya. Namun ternyata baktinya belum usai. Saat ini, selain kadang digunakan ibu untuk pergi ke sawah, sepeda itu sering dipinjam kaum kerabat yang kebetulan membutuhkan. Belasan tahun, mungkin sepanjang masa pakainya, si sepeda telah memberikan manfaat bagi banyak orang. Si sepeda telah berbakti sepanjang hidupnya, tanpa keluh kesah dan tanpa pernah mendapat pujian. Namun ia tetap menebar manfaat. Bagaimana dengan saya? Kita? Sepanjang usia yang telah saya lalui, adakah saya telah memberi manfaat bagi agama, keluarga dan masyarakat tanpa henti??

    ***

    (Diambil dari tulisan Azimah Rahayu, http://www.eramuslim.com)

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 15 November 2014 Permalink | Balas  

    icuKetukan Pintu Kematian

    Semua karyawan di kantor kami tahu siapa itu Kamda. Lajang berperawakan gempal, tinggi besar itu sejak bekerja di perusahaan kami hanya dalam beberapa bulan saja sudah mulai menunjukkan perangai aslinya. “Mentang-mentang bos kita adalah pamannya, dia seenaknya saja berbuat sama kita!” Begitu sengit Wahid, salah satu mekanik di bengkel perusahaan kami. Kamda, begitu dia biasa kami panggil, memang masih belia, belum punya pengalaman kerja, dan sebagian besar karyawan menganggapnya masih terlalu muda untuk mengatur banyak urusan kerja di bengkel yang huni oleh lebih dari 400 karyawan. Namun itulah! Orang terkadang tidak melihat siapa dirinya. Merasa secara politik berada diatas angin, segala sesuatu yang dilakukan seolah dianggap benar, dan jadi keputusan perusahaan. Tidak ada seorangpun yang berani mempertanyakan ‘kebijakan’ nya, kecuali hanya ‘ngrasani’ saja!

    Usia Kamda tidak lebih dari 21 tahun waktu itu. Rata-rata karyawan perusahaan kami tidak pernah menyangka, karena penampilan fisiknya dia kelihatan jauh lebih tua dari pada umur yang sebenarnya. Sekali dia bicara, karena alasan security, tidak ada yang berani menentangnya. Dalam kondisi amat yunior, Kamda menduduki posisi penting di perusahaan, sebagai Technical Adviser. Padahal dia tidak memiliki pengalaman kerja sama sekali, kecuali baru saja lulus sekolah, setingkat program diploma teknik automobile.

    Apapun yang dilakukan Kamda memang tidak berpengaruh pada saya karena saya bukan dibawah departemennya. Kami berbeda unit kerja. Terkadang Kamda mengunjungi departemen kami, sekedar memberi salam. Tidak lebih dari itu. Bagi saya, sikapnya biasa-biasa saja sebagaimana karyawan lainnya yang memiliki posisi manajer semacam dia. Sungguh saya tidak mengerti kenapa banyak orang-orang yang bekerja dibawah supervisinya sering mengeluh, tidak terkecuali Wahid diatas.

    Tiap Rabu para semua karyawan unit teknik berbaris, berkumpul layaknya apel pasukan kepolisian. Itu rutin mereka laksanakan. Sebagaimana biasa Kamda yang melakukan inspeksi. Kerapian rambut, jenggot, kebersihan baju, kilatnya sepatu, dan kelengkapan peralatan bengkel yang menjadi tanggungjawab setiap mekanik, menjadi sorotan Kamda. Satu saja mekanik yang diketahui tidak menyemir sepatunya, atau rambutnya kelihatan kurang rapi, tidak tanggung-tanggung, “Pulang!!!!”Begitu hardik nya, memerintahkan sang karyawan untuk pulang. No excuse! Setiap hari Rabu, selalu ada saja karyawan yang dipulangkan karena berbagai alasan, hasil dari inspeksi Kamda.

    “Kenapa kamu Khalid? Tidak ada kerjaan ya?” Teriaknya suatu ketika lewat corong speaker yang gaungnya bisa didengar di seluruh gedung bengkel yang luasnya tidak kurang dari 5000 meter persegi. Besar kan? Orang pun takut. Bukan segan kepadanya. Nyaris tidak ada hari-hari tanpa kedengaran bentakan Kamda terhadap bawahannya. Saya menduga-duga, bahwa orang-orang kecil dibawahnya pasti sudah macam-macam doa nya untuk atasan yang satu ini. Alasannya sudah jelas: Kamda terlalu ceroboh memperlakukan bawahannya, seolah buta sama sekali akan pengetahuan manajemen perusahaan. Human Resource Management ataupun Organizational Behavior, dua hal yang wajib dipelajari sebagai bekal oleh mereka yang duduk di kursi manajer, sepertinya tidak pernah disentuh oleh Kamda. Pada akhirnya, karena begitu banyak karyawan yang menggunjingkan soal sikap kepemimpinannya yang kurang baik, saya jadi berkesimpulan bahwa Kamda sudah seharusnya ‘sekolah’ lagi, mengkaji ilmu untuk kepentingan profesinya juga kelangsungan kerja perusahaan.

    “Aku akan ke Amerika Serikat, untuk melanjutkan studi!” katanya suatu hari kepada saya dengan wajah yang cerah. Alhamdulillah! Ya! Kamda mengikuti tugas belajar atas beaya negara ke Los Angeles-AS.

    “Good!” jawabku, ikut senang mendengar berita baik ini. Dalam hati saya turut berharap semoga dia akan banyak belajar tentang hal-hal baru yang tidak diperoleh selama di perusahaan kami, terutama tentang manajemen. Hubungan kami memang baik, jadi sudah sepantasnya saya turut mendoakan demi kebaikannya. Apa yang saya rasakan terhadap penampilan Kamda, berbanding terbalik dengan apa yang dialami oleh sebagian besar orang-orang teknik. Apakah Kamda hanya melakukan kerjanya? Wallahu’alam!

    Dua tahun berlalu begitu cepat. Ceritera tentang Kamda tidak lagi terdengar di perusahaan. Sepertinya semua orang sudah melupakan keberadaannya. Padahal, belum juga aku lupa tentang bagaimana kesan para karyawan terhadapnya, tiba-tiba dia muncul di depan pintu kantor kami

    “Assalamu ‘alaikum…!” Sapanya hangat. Kamipun berdiskusi tentang hal-hal yang dialaminya selama tinggal di Los Angeles. Pergaulan bebas, beaya hidup mahal, kesediaan fasilitas hidup, fleksibilitas studi, dan lain-lain objek pembicaraan kami. Kamda ternyata datang lagi di perusahaan kami!

    Kali ini penampilannya amat beda dengan dua tahun lalu. Kamda sepertinya sudah banyak belajar tentang kehidupan, dan yang lebih penting, kepemimpinan. Sikap uring-uringannya terhadap bawahan yang hanya karena masalah sepele, tidak lagi ada. Karyawan mulai simpati. Mereka yang dua tahun lalu sering menggunjingkan keangkuhan dan kekeras-kepalaannya hampir tidak lagi terdengar.

    “Kamda berubah!!!” kata-kata itu sering masuk begitu saja ke telinga saya. Kamda jadi sering mengutamakan kepentingan anak buahnya. Mereka yang mengeluh sakit sedikit saja, acapkali disuruh istirahat di rumah, padahal tadinya sikap Kamda jauh dari yang namanya ‘belas kasih’ ini. Dalam apel setiap Rabu, Kamda lebih banyak senyum ketimbang mengamati siapa yang ‘salah’ atau kurang beres dalam berpakaian.

    Perubahan perilaku Kamda berangsur melegenda di perusahaan hingga suatu saat, belum juga genap sebulan sejak kedatangannya dari Los Angeles, di pagi hari itu kami dikejutkan dengan berita kecelakaan yang menimpanya. Dini hari di akhir pekan, karena kecepatan yang tinggi, mobil Kamda yang dikemudikan seorang rekannya menabrak sebuah bangunan di pinggir jalan besar bebas hambatan. Bukan hanya mobil Kamda saja yang ringsek, teman yang mengemudikannya juga terenggut jiwanya. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un!

    Kamda? Kondisinya parah sekali! Tidak berlebihan bila sebagian dari kami mengistilahkan pintu kematiannya terketuk. Tidur membentang tanpa sadarkan diri. Istri seorang rekan saya yang sedang bekerja di rumah sakit, di Intensive Care Unit (ICU) mengemukakan Kamda mengalami koma, sebagian bagian kepalanya terbuka, dan multiple patah tulang. Subahanallah, dalam kondisi sebagian otaknya yang keluar dan beberapa tulang rusuk yang retak hingga patah, Kamda masih diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk tetap bertahan hidup!

    Sebagai kalangan keluarga kaya, tidak sulit bagi mereka untuk mendatangkan dokter-dokter ahli bedah dari luar negeri. Hanya dalam waktu 3 hari, dokter ahli bedah tulang dan syaraf didatangkan dari India. Selama itu pula Kamda masih dalam kondisi yang sama: koma! Anehnya, terlepas dari kedudukannya sebagai pasien VIP, selama di RS tersebut tidak ada seorangpun karyawan kami yang mengunjunginya. Padahal nampaknya karyawan perusahaan selama ini sudah ‘memaafkan’ sikap angkuh Kamda yang dulu. “Betapa malang Kamda!” Begitulah piran saya ikut prihatin akan nasib yang menimpa pria yang masih muda ini. Kedua dokter ahli India tersebut ternyata ‘angkat tangan’. Kasus yang menimpa Kamda membutuhkan perawatan dan pengobatan yang lebih canggih. Di hari kelima, Kamda diterbangkan ke Jerman, dengan ditemani oleh dua orang suster dan seorang dokter. Untuk selanjutnya Kamda menjalani pengobatan dan perawatan intensive di sebuah RS di Berlin.

    Beragam komentar orang-orang perusahaan terhadap nasib buruk yang menimpanya. Ada yang mengatakan apa yang terjadi adalah ‘buah’ dari sikap Kamda terhadap anak buahnya beberapa tahun lalu yang dianggap kejam. Ada pula yang menganggap itu adalah pelajaran bagi keangkuhan. Tidak pula sedikit yang mengemukakan bahwa begitulah salah satu cara Allah SWT memberikan contoh kepada manusia agar dijadikannya sebagai ‘tauladan’, bagi orang-orang yang mau berpikir.

    Bos perusahaan kami selama beberapa minggu lamanya tidak ‘ngantor’. Beliau memang mengikuti perjalanan Kamda untuk tujuan pengobatan di Berlin. Dalam kondisi yang demikian, saya tidak melihat tanda-tanda kami, semua karyawan perusahaan, turut berduka. Business as usual, begitulah kira-kira kesannya. “Apa mau dikata, takdir berbicara demikian!” itulah rata-rata yang terdengar dari mulut para pekerja.

    Dua, tiga, empat dan enam bulan berlalu…..

    Subhanallah, Kamda kemudian muncul lagi! Kali ini amat beda. Ia tidak lagi lancar berbicara, terbata-bata, seolah-olah begitu sulit mengungkapkan rangkaian kata-kata. Sebagian ingatannya saya perhatikan sudah ‘hilang’. Ia bahkan tidak ingat lagi untuk mengatakan misalnya Aspirin C, obat yang bundar dan berwarna putih. Seringkali dia hanya tersenyum dibanding berbicara. Ucapan terimakasihnya lebih banyak muncul dibandingkan ucapan-ucapan lainnya. Suatu hari, ketika dia datang ke kantor kami, spontan seorang bawahan yang sedang duduk kemudian berdiri ingin menghormatinya, namun dicegah oleh Kamda dengan gaya bicaranya yang terputus-putus. Saya jadi terharu dibuatnya!

    Kamda yang sekarang ini jadi sering saya lihat ikut sholat Dzuhur berjamaah ditengah-tengah kesibukan kerja. Padahal dua tahun lalu kejadian semacam tidak pernah saya temui. Kamda menjadi begitu baik sekali terhadap bawahannya. Kecelakaan yang menimpanya sempat membuat sejumlah syaraf bicara dan daya ingatannya terganggu. Kamda sering tanya tak bertanya kepada saya, “Apa itu…ehm…? Apa itu..ehm…? Saya lupa…!”

    Subhanallah…! Allah SWT Mahapengasih kepada umatNya. Kamda yang sebagian jaringan otaknya sempat terkuak disaat kecelakaan, mulanya diperkirakan oleh hampir setiap orang tidak akan berumur panjang, ternyata sehat kembali. Berminggu-minggu kondisi koma yang menimpanya ternyata membawa hikmah. Kamda menjadi manusia yang pandai mensyukuri nikmat Allah sesudah diketuk pintu kematiannya, meski kondisi fisiknya tidak lagi seprima dulu: tubuh yang kekar, ingatan tajam dan berbicara lancar

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 29 October 2014 Permalink | Balas  

    mawarMawar Untuk Ibu

    Seorang pria berhenti di toko bunga untuk memesan seikat karangan bunga yang akan dipaketkan pada sang ibu yang tinggal sejauh 250 km darinya. Begitu keluar dari mobilnya, ia melihat seorang gadis kecil berdiri di trotoar jalan sambil menangis tersedu-sedu. Pria itu menanyainya kenapa dan dijawab oleh gadis kecil, “Saya ingin membeli setangkai bunga mawar merah untuk ibu saya. Tapi saya cuma punya uang lima ratus saja, sedangkan harga mawar itu seribu.”

    Pria itu tersenyum dan berkata, “Ayo ikut, aku akan membelikanmu bunga yang kau mau.” Kemudian ia membelikan gadis kecil itu setangkai mawar merah, sekaligus memesankan karangan bunga untuk dikirimkan ke ibunya.

    Ketika selesai dan hendak pulang, ia menawarkan diri untuk mengantar gadis kecil itu pulang ke rumah. Gadis kecil itu melonjak gembira, katanya, “Ya tentu saja. Maukah anda mengantarkan ke tempat ibu saya?”

    Kemudian mereka berdua menuju ke tempat yang ditunjukkan gadis kecil itu, yaitu pemakaman umum, dimana lalu gadis kecil itu meletakkan bunganya pada sebuah kuburan yang masih basah.

    Melihat hal ini, hati pria itu menjadi trenyuh dan teringat sesuatu. Bergegas, ia kembali menuju ke toko bunga tadi dan membatalkan kirimannya. Ia mengambil karangan bunga yang dipesannya dan mengendarai sendiri kendaraannya sejauh 250 km menuju rumah ibunya.

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 27 October 2014 Permalink | Balas  

    air gelasKeberanian dan Ketelitian

    Di sebuah ruang kuliah, seorang profesor kedokteran memberikan kuliah perdananya. Para mahasiswa baru itu tampak serius. Mata mereka terpaku menatap profesor, seraya tangan sibuk mencatat.

    “Menjadi dokter, butuh keberanian dan ketelitian,” terdengar suara sang profesor. “Dan saya harap kalian dapat membuktikannya.” Bapak itu beranjak ke samping. “Saya punya setoples cairan limpa manusia yang telah direndam selama 3 bulan.” Profesor itu mencelupkan jari ke dalam toples, dan memasukkan jari itu ke mulutnya. Terdengar teriak-teriak kecil dari mahasiswa itu. Mereka terlihat jijik. “Itulah yang kusebut dengan keberanian dan ketelitian,” ucap profesor lebih meyakinkan.

    “Saya butuh satu orang yang bisa berbuat seperti saya. Buktikan bahwa kalian ingin menjadi dokter.” Suasana aula mendadak senyap. Mereka bingung: antara jijik dan tantangan sebagai calon dokter. Tak ada yang mengangkat tangan. Sang profesor berkata lagi, “Tak adakah yang bisa membuktikan kepada saya? Mana keberanian dan ketelitian kalian?”

    Tiba-tiba, seorang anak muda mengangkat tangan. “Ah, akhirnya ada juga yang berani. Tunjukkan pada teman-temanmu bahwa kau punya keberanian dan ketelitian.” Anak muda itu menuruni tangga, menuju mimbar tempat sang professor berada. Dihampirinya stoples itu dengan ragu-ragu. Wajahnya tegang, dan perasaan jijik terlihat dari air mukanya.

    Ia mulai memasukkan jarinya ke dalam toples. Kepala menoleh ke samping dengan mata yang menutup. Teriakan kecil rasa jijik kembali terdengar. Perlahan, dimasukkannya jari yang telah tercelup lendir itu ke mulutnya. Banyak orang yang menutup mata, banyak pula yang berlari menuju kamar kecil. Sang professor tersenyum. Anak muda itu tersenyum kecut, sambil meludah-ludah ke samping.

    “Aha, kamu telah membuktikan satu hal, anak muda. Seorang calon dokter memang harus berani. Tapi sayang, dokter juga butuh ketelitian.” Profesor itu menepuk punggung si mahasiswa. “Tidakkah kau lihat, aku tadi memasukkan telunjuk ke toples, tapi jari tengah yang masuk ke mulut. Seorang dokter memang butuh keberanian, tapi lebih butuh lagi ketelitian.” *** Tantangan hidup, kadangkala bukan untuk menghadapi kematian. Tapi, justru bagaimana menjalani kehidupan. Banyak orang yang takut mati. Tapi, tidak sedikit yang memilih mati ketimbang hidup. Banyak yang menghabisi hidup pada jalan-jalan tercela. Banyak pula yang enggan hidup hanya karena beratnya beban kehidupan.

    Ujaran profesor itu memang benar. Tantangan menjadi seorang dokter-dan sesungguhnya, menjadi manusia-adalah dibutuhkannya keberanian dan ketelitian. Bahkan, tantangan itu lebih dari sekadar mencicipi rasa cairan limpa di toples. Lebih berat. Jauh lebih berat. Dalam kehidupan, apa yang kita alami kadang lebih pahit dan menegangkan. Namun, bagi yang teliti, semua bisa jadi manis, menjadi tantangan yang mengasyikkan. Di sanalah ditemukan semua rasa, rupa dan suasana yang mendidik. Dan mereka dapat dengan teliti memilah dan memilih.

    hati-hatilah. Hidup memang butuh keberanian. Tapi, akan lebih butuh ketelitian. Cermati langkahmu, waspadai tindakanmu. Hati-hati saat “mencelupkan jari” dalam toples kehidupan. Kalau tidak, “rasa pahit” yang akan kita temukan.

    Wallahua’lam bi showab

    ***

    Kiriman Sahabat: Karlina, Lina

     
  • erva kurniawan 6:45 am on 23 October 2014 Permalink | Balas  

    49. Akibat Nikah Mut'ah Di BandungKisah Seorang Wanita Pengikut Syiah di kota Bandung

    Kasus wanita berjilbab dari Wisma Fatimah di Jl. Alex Kawilarang 63 Bandung Jawa Barat yang mengidap penyakit kotor gonorhe (kencing nanah) akibat nikah mut’ah. Seperti dilaporkan oleh LPPI yang berkasnya disampaikan ke Kejaksaan Agung dan seluruh gubernur, mengutip ASA (Assabiqunal Awwalun) edisi 5, 1411H, hal. 44-47 dengan judul ” Pasien Terakhir “, seperti yang dimuat buku Mengapa Menolak Syi’ah halaman 270-273.

    Berikut ini kisah selengkapnya:

    Untuk kedua kalinya wanita itu pergi ke dokter Hanung, seorang dokter spesialis kulit dan kelamin dikota Bandung. Sore itu ia datang sambil membawa hasil laboratorium seperti yang diperintahkan dokter dua hari sebelumnya. Sudah beberapa Minggu dia mengeluh merasa sakit pada waktu buang air kecil (drysuria) serta mengeluarkan cairan yang berlebihan dari vagina (vaginal discharge).~

    Sore itu suasana di rumah dokter penuh dengan pasien. Seorang anak tampak menangis kesakitan karena luka dikakinya, kayaknya dia menderita Pioderma. Disebelahnya duduk seorang ibu yang sesekali menggaruk badannya karena gatal. Diujung kursi tampak seorang remaja putri melamun, merenungkan acne vulgaris (jerawat) yang ia alami.

    Ketika wanita itu datang ia mendapat nomor terakhir. Ditunggunya satu persatu pasien berobat sampai tiba gilirannya. Ketika gilirannya tiba, dengan mengucapkan salam dia memasuki kamar periksa dokter Hanung. Kamar periksa itu cukup luas dan rapi. Sebuah tempat tidur pasien dengan penutup warna putih. Sebuah meja dokter yang bersih. Dipojok ruang sebuah wastafel untuk mencuci tangan setelah memeriksa pasien serta kotak yang berisi obat-obatan.

    Sejenak dokter Hanung menatap pasiennya. Tidak seperti biasa, pasiennya ini adalah seorang wanita berjilbab rapat. Tidak ada yang kelihatan kecuali sepasang mata yang menyinarkan wajah duka. Setelah wawancara sebentar (anamnese) dokter Hanung membuka amplop hasil laboraturium yang dibawa pasiennya. Dokter Hanung terkejut melihat hasil laboraturium. Rasanya adalah hal yang mustahil. Ada rasa tidak percaya terhadap hal itu. Bagaimana mungkin orang berjilbab yang tentu saja menjaga kehormatannya terkena penyakit itu, penyakit yang hanya mengenai orang-orang yang sering berganti-ganti pasangan sexsual.

    Dengan wajah tenang dokter Hanung melakukan anamnese lagi secara cermat.

    + “Saudari masih kuliah?”

    –   “Masih dok”

    + “Semester berapa?”

    –   “Semester tujuh dok!”

    + “Fakultasnya?”

    –   “Sospol”

    + “Jurusan komunikasi massa ya?”

    Kali ini ganti pasien terakhir itu yang kaget. Dia mengangkat muka dan menatap dokter Hanung dari balik cadarnya.

    –   “Kok dokter tahu?”

    + “Aah,….tidak, hanya barangkali saja!”

    Pembicaraan antara dokter Hanung dengan pasien terakhirnya itu akhirnya seakan-akan beralih dari masalah penyakit dan melebar kepada persoalan lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah penyakit itu.

    + “Saudari memang penduduk Bandung ini atau dari luar kota?

    Pasien terakhir itu nampaknya mulai merasa tidak enak dengan pertanyaan dokter yang mulai menyimpang dari masalah-masalah medis itu. Dengan jengkel dia menjawab.

    • “Ada apa sih Dok…..kok tanya macam-macam?”

    + “Aah enggak,……..barangkali saja ada hubungannya dengan penyakit yang saudari derita!”

    Pasien terakhir ini tampaknya semakin jengkel dengan pertanyaan dokter yang kesana-kemari itu. Dengan agak kesal dia menjawab.

    • “Saya dari Pekalongan”

    + “Kost-nya?”

    • “Wisma Fathimah, jalan Alex Kawilarang 63″

    + “Di kampus sering mengikuti kajian Islam yaa”

    • “Ya,..kadang-kadang Dok!”

    + “Sering mengikuti kajian Bang Jalal?”

    Sekali lagi pasien terakhir itu menatap dokter Hanung.

    • “Bang Jalal siapa?”

    Tanyanya dengan nada agak tinggi.

    + “Tentu saja Jalaluddin Rachmat! Di Bandung siapa lagi Bang Jalal selain dia….kalau       di Yogya ada Bang Jalal Muksin”

    • “Yaa,…….kadang-kadang saja saya ikut”

    + “Di Pekalongan,……(sambil seperti mengingat-ingat) kenal juga dengan Ahmad Baraqba?”

    Pasien terakhir itu tampak semakin jengkel dengan pertanyaan-pertanyaan dokter yang semakin tidak mengarah itu. Tetapi justru dokter Hanung manggut-manggut dengan keterkejutan pasien terakhirnya. Dia menduga bahwa penelitian penyakit pasiennya itu hampir selesai. Akhirnya dengan suara yang penuh dengan tekanan dokter Hanung berkata.

    • “Begini saudari, saya minta maaf atas pertanyaan-pertanyaan saya yang ngelantur tadi, sekarang tolong jawab pertanyaan saya dengan jujur demi untuk therapi penyakit yang saudari derita,…………..”

    Sekarang ganti pasien terakhir itu yang mengangkat muka mendengar perkataan dokter Hanung. Dia seakan terbengong dengan pertanyaan apa yang akan dilontarkan oleh dokter yang memeriksanya kali ini.

    + “Sebenarnya saya amat terkejut dengan penyakit yang saudari derita, rasanya tidak mungkin seorang ukhti mengidap penyakit seperti ini”

    • “Sakit apa dok?”

    Pasien terakhir itu memotong kalimat dokter Hanung yang belum selesai dengan amat Penasaran.

    + “Melihat keluhan yang anda rasakan serta hasil laboraturium semuanya menyokong diagnosis gonorhe, penyakit yang disebabkan hubungan seksual”

    Seperti disambar geledek perempuan berjilbab biru dan berhijab itu, pasien terakhir dokter Hanung sore itu berteriak,

    • “Tidak mungkin!!!”

    Dia lantas terduduk dikursi lemah seakan tak berdaya, mendengar keterangan dokter Hanung. Pandangan matanya kosong seakan kehilangan harapan dan bahkan seperti tidak punya semangat hidup lagi. Sementara itu pembantu dokter Hanung yang biasa mendaftar pasien yang akan berobat tampak mondar-mandir seperti ingin tahu apa yang terjadi. Tidak seperti biasanya dokter Hanung memeriksa pasien begitu lama seperti sore ini. Barangkali karena dia pasien terakhir sehingga merasa tidak terlalu tergesa-gesa maka pemeriksaannya berjalan agak lama. Tetapi kemudian dia terkejut mendengar jeritan pasien terakhir itu sehingga ia merasa ingin tahu apa yang terjadi.

    Dokter Hanung dengan pengalamannya selama praktek tidak terlalu kaget dengan reaksi pasien terakhirnya sore itu. Hanya yang dia tidak habis pikir itu kenapa perempuan berjilbab rapat itu mengidap penyakit yang biasa menjangkit perempuan-perempuan rusak. Sudah dua pasien dia temukan akhir-akhir ini yang mengidap penyakit yang sama dan uniknya sama-sama mengenakan busana muslimah. Hanya yang pertama dahulu tidak mengenakan hijab penutup muka seperti pasien yang terakhirnya sore itu. Dulu pasien yang pernah mengidap penyakit yang seperti itu juga menggunakan pakaian muslimah, ketika didesak akhirnya dia mengatakan bahwa dirinya biasa kawin mut’ah.

    Pasiennya yang dahulu itu telah terlibat jauh dengan pola pikir dan gerakan Syi’ah yang ada di Bandung ini. Dari pengalaman itu timbul pikirannya menanyakan macam-macam hal mengenai tokoh-tokoh Syi’ah yang pernah dia kenal di kota Kembang ini dan juga kebetulan mempunyai seorang teman dari Pekalongan yang menceritakan perkembangan gerakan syi’ah di Pekalongan. Beliau bermaksud untuk menyingkap tabir yang menyelimuti rahasia perempuan yang ada didepannya sore itu.

    + “Bagaimana saudari… penyakit yang anda derita ini tidak mengenai kecuali orang-orang yang biasa berganti-ganti pasangan seks. Rasanya ini tidak mungkin terjadi pada seorang muslimah seperti anda. Kalau itu masa lalu anda baiklah saya memahami dan semoga dapat sembuh, bertaubatlah kepada Allah,….atau mungkin ada kemungkinan yang lain,…?”

    Pertanyaan dokter Hanung itu telah membuat pasien terakhirnya mengangkat muka sejenak, lalu menunduk lagi seperti tidak memiliki cukup kekuatan lagi untuk berkata-kata. Dokter Hanung dengan sabar menanti jawaban pasien terakhirnya sore itu.

    Beliau beranjak dari kursi memanggil pembantunya agar mengemasi peralatan untuk segera tutup setelah selesai menangani pasien terakhirnya itu.

    • “Saya tidak percaya dengan perkataan dokter tentang penyakit saya !” Katanya terbata-bata

    + “Terserah saudari,…….tetapi toh anda tidak dapat memungkiri kenyataan yang anda sandang-kan?”

    • “Tetapi bagaimana mungkin mengidap penyakit laknat tersebut sedangkan saya selalu berada didalam suasana hidup yang taat kepada hukum Allah?”

    + “Sayapun berprasangka baik demikian terhadap diri anda,….tetapi kenyataan yang anda hadapi itu tidak dapat dipungkiri?”

    Sejenak dokter dan pasien itu terdiam. Ruang periksa itu sepi. Kemudian terdengar suara dari pintu yang dibuka pembantu dokter yang mengemasi barang-barang peralatan administrasi pendaftaran pasien. Pembantu dokter itu lantas keluar lagi dengan wajah penuh tanda tanya mengetahui dokter Hanung yang menunggui pasiennya itu.

    + “Cobalah introspeksi diri lagi, barangkali ada yang salah,…….. sebab secara medis tidak mungkin seseorang mengidap penyakit ini kecuali dari sebab tersebut”

    • “Tidak dokter,…….selama ini saya benar-benar hidup secara baik menurut tuntunan syari’at Islam,…..saya tetap tidak percaya dengan analisa dokter”

    Dokter Hanung mengerutkan keningnya mendengar jawaban pasiennya. Dia tidak merasa sakit hati dengan perkataan pasiennya yang berulang kali mengatakan tidak percaya dengan analisisnya. Untuk apa marah kepada orang sakit. Paling juga hanya menambah parah penyakitnya saja, dan lagi analisanya toh tidak menjadi salah hanya karena disalahkan oleh pasiennya. Dengan penuh kearifan dokter itu bertanya lagi,……..

    + “Barangkali anda biasa kawin mut’ah??

    Pasien terakhir itu mengangkat muka,

    • “Iya dokter! Apa maksud dokter”?

    + “Itu kan berarti anda sering kali ganti pasangan seks secara bebas!

    –   “Lho,… tapi itukan benar menurut syari’at Islam dok! Pasien itu membela diri.

    +   “Ooo,…Jadi begitu,…kalau dari tadi anda mengatakan begitu saya tidak bersusah payah mengungkapkan penyakit anda. Tegasnya anda ini pengikut ajaran Syi’ah yang bebas berganti-ganti pasangan mut’ah semau anda. Ya itulah petualangan seks yang anda lakukan. Hentikan itu kalau anda ingin selamat”.

    • “Bagaimana dokter ini, saya kan hidup secara benar menurut syari’at Islam sesuai dengan keyakinan saya, dokter malah melarang saya dengan dalih-dalih medis”

    Sampai disini dokter Hanung terdiam. Sepasang giginya terkatup rapat dan dari wajahnya terpancar kemarahan yang sangat terhadap perkataan pasiennya yang tidak mempunyai aturan itu. Kemudian keluarlah perkataan yang berat penuh tekanan.

    + “Terserah apa kata saudari membela diri,… anda lanjutkan petualangan seks anda, dengan resiko anda akan berkubang dengan penyakit kelamin yang sangat mengerikan itu, dan sangat boleh jadi pada suatu tingkat nanti anda akan mengidap penyakit AIDS yang sangat mengerikan itu,…atau anda hentikan dan bertaubat kepada Allah dari mengikuti ajaran bejat itu kalau anda menghendaki kesembuhan”.

    • “Ma..maaf, Dok, saya telah membuat dokter tersinggung!”

    Dokter Hanung hanya mengangguk menjawab perkataan pasiennya yang terbata-bata itu.

    + “Begini saudari,…tidak ada gunanya resep saya berikan kepada anda kalau toh tidak berhenti dari praktek kehidupan yang selama ini anda jalani. Dan semua dokter yang anda datangi pasti akan bersikap sama,… sebab itu terserah kepada saudari. Saya tidak bersedia memberikan resep kalau toh anda tidak mau berhenti”.

    • “Ba…baik , Dok, …Insya Allah akan saya hentikan!”

    Dokter Hanung segera menuliskan resep untuk pasien terakhir itu, kemudian menyodorkan kepadanya.

    • “Berapa Dok?”

    + “Tak usahlah,….saya sudah amat bersyukur kalau anda mau menghentikan cara hidup binatang itu dan kembali kepada cara hidup yang benar menurut tuntunan dari Rosulullah. Saya relakan itu untuk membeli resep saja”.

    Pasien terakhir dokter Hanung itu tersipu-sipu mendengar jawaban dokter Hanung

    –   “Terima kasih Dok,…….permisi”

    Perempuan itu kembali melangkah satu-satu dipelataran rumah Dokter Hanung. Ia berjalan keluar teras dekat bougenvil biru yang seakan menyatu dengan warna jilbabnya. Sampai digerbang dia menoleh sekali lagi ke teras, kemudian hilang ditelan keramaian kota Bandung yang telah mulai temaran disore itu

    ***

    Sumber : Syiahindonesia.com : Membela Sunnah, Menolak Syiah

     
  • erva kurniawan 7:23 am on 19 October 2014 Permalink | Balas  

    ibu dan  anakCinta Ini Milikmu Mama

    “Farah, bangun. udah azan subuh. Sarapanmu udah mama siapin di meja.”

    Tradisi ini sudah berlangsung 26 tahun, sejak pertama kali aku bisa mengingat. Kini usiaku sudah kepala 3 tapi kebiasaan mama tak pernah berubah.

    “Mama sayang. ga usah repot-repot ma, aku dan adik-adikku udah dewasa.” pintaku pada mama pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah. Pun ketika mama mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru kukeluarkan uang dan kubayar semuanya.

    Ingin kubalas jasa mama selama ini dengan hasil keringatku. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan. Kenapa mama mudah sekali sedih? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami mama karena dari sebuah artikel yang kubaca .. orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan cenderung untuk bersikap kanak-kanak . tapi entahlah.. Niatku ingin membahagiakan malah membuat mama sedih. Seperti biasa, mama tidak akan pernah mengatakan apa-apa.

    Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya “Ma, maafin aku kalau telah menyakiti perasaan mama. Apa yang bikin mama sedih?”

    Kutatap sudut-sudut mata mama, ada genangan air mata di sana. Terbata-bata mama berkata, “Tiba-tiba mama merasa kalian tidak lagi membutuhkan mama. Kalian sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Mama tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kalian, mama tidak bisa lagi jajanin kalian. Semua sudah bisa kalian lakukan sendiri”

    Ah, Ya Allah, ternyata buat seorang Ibu .. bersusah payah melayani putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan. Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya. Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing.

    Diam-diam aku bermuhasabah. Apa yang telah kupersembahkan untuk mama dalam usiaku sekarang? Adakah mama bahagia dan bangga pada putera putrinya? Ketika itu kutanya pada mama. Mama menjawab “Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kalian berikan pada mama. Kalian tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan. Kalian berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat mama. Setelah dewasa, kalian berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan buat mama. Setiap kali binar mata kalian mengisyaratkan kebahagiaan di situlah kebahagiaan orang tua.”

    Lagi-lagi aku hanya bisa berucap “Ampunkan aku ya Allah kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada mama. Masih banyak alasan ketika mama menginginkan sesuatu.”

    Betapa sabarnya mamaku melalui liku-liku kehidupan. Sebagai seorang wanita karier seharusnya banyak alasan yang bisa dilontarkan mamaku untuk “cuti” dari pekerjaan rumah atau menyerahkan tugas itu kepada pembantu. Tapi tidak! Mamaku seorang yang idealis, menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun. Pukul 3 dinihari mama bangun dan membangunkan kami untuk tahajud. Menunggu subuh mama ke dapur menyiapkan sarapan sementara aku dan adik-adik sering tertidur lagi. Ah, maafin kami mama . 18 jam sehari sebagai “pekerja” seakan tak pernah membuat mama lelah.. Sanggupkah aku ya Allah?

    • * *

    “Farah. bangun nak, udah azan subuh .. sarapannya udah mama siapin di meja.. ”

    Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul mama sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya lekat-lekat dan kuucapkan

    “Terimakasih mama, aku beruntung sekali memiliki mama yang baik hati, ijinkan aku membahagiakan mama. “. Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan.

    Cintaku ini milikmu, Mama. Aku masih sangat membutuhkanmu. Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu..

    Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat “aku sayang padamu. “, namun Rasulullah menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai karena Allah. Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita . ibu dan ayah walau mereka tak pernah meminta. Percayalah. kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia. Wallaahu a’lam

    “Ya Allah, cintai mamaku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan mama .. dan jika saatnya nanti mama Kau panggil, panggillah dalam keadaan khusnul khatimah. Titip mamaku ya Rahman”

    Untuk semua Ibu yang mencintai anak-anaknya dan semua anak yang mencintai Ibunya

     

    Kiriman Sahabat Sakka

     
  • erva kurniawan 3:59 am on 4 October 2014 Permalink | Balas  

    kambing-kurban-300x225Qurban sang Nenek

    Saya punya cerita yang mudah-mudahan bisa ngenggugah hati temen-temen, true story loh, dan kalau Idul Adha pasti ngingetin saya (Dia Maha Pengasih dalam memberi peringatan pada hambaNya)

    Suatu siang yang panas di penjualan kambing kurban, waktu itu seorang akhwat minta ditemani membeli kambing untuk aqiqah putrinya.

    Setelah memilih-milih kambing, saya lihat kambing yang paling bagus dan gemuk, temen saya menawar harganya , ternyata terlalu mahal untuk ukuran kantong temen saya.

    Tiba-tiba datang seorang nenek tua, kira-kira berusia 70 tahunan, ternyata dia mau beli kambing juga dan milih kambing yang saya pilih.

    Iseng-iseng saya tanya, “Buat apa kambingnya nek?”

    Si Nenek bilang kalau dia mau beli kambing buat kurban, lalu saya tanya lagi,”Kok belinya sendiri emangnya nggak ada anak, atau saudara nenek yang mau nganterin untuk beli kambing?”

    Ternyata si Nenek sudah lama hidup sebatang kara, dan untuk mengidupi kebutuhan sehari-hari dia jualan sapu lidi yang dibuatnya sendiri dari pelepah daun kelapa dan daun pisang.

    Lalu saya bertanya ,”Subhanallah yach nek, nenek masih sanggup berkorban.” Si nenek pun tersenyum dan ini satu hal yang nggak bisa saya lupain, ternyata si Nenek bukan saat itu saja berkorban tapi sudah beberapa tahun ia berkorban.

    Saudaraku, ternyata dia menabung setiap hari seribu rupiah, hasil menjual sapu lidi dan daun-daun pisang, lalu dia bilang, “Neng , gusti Allah sudah demikian sayang sama nenek, tiap hari Dia memberi nenek nikmat-nikmat yang hanya dapat nenek hargai dengan seribu rupiah sehari, neng kalau Dia memberi rezeki lebih, sebenarnya nenek ingin pergi haji, tapi neng tahu sendiri ongkos ke sana berapa dan fisik nenek udah nggak memungkinkan.”

    Nenek tahu gusti Allah Maha kaya dan nggak perlu dengan uang seribu yang nenek korbani tiap hari, tapi hanya ini yang bisa nenek korbankan untuk membalas setiap nikmatNya.

    Saudaraku, saya jadi malu pada diri saya sendiri, ternyata seorang nenek mau bersusah payah berkorban tiap tahun untuk membalas berjuta nikmat yang telah dilimpahkanNYa tiap hari, sedang saya yang telah di beri rezeki lebih terkadang masih merasa sayang, bila harus membeli kambing untuk berkorban.

    Walaupun peristiwa ini sudah terjadi beberapa tahun yang lalu tapi kalau idul adha tiba saya selalu teringat dengan si Nenek, beliau masih ada nggak yach?

    ***

    “Mulailah dari hal yang terkecil, mulailah dari diri sendiri, mulailah dari sekarang juga!”

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 1 October 2014 Permalink | Balas  

    dzikir 2Pengalaman Dzikir

    Ma’af kalau tidak berkenan hanya sekedar pengalaman….

    Dengan berdzikir berarti kita berupaya untuk terus mengingat keberadaan Allah Swt, kapanpun dan dimanapun kita berada. Saya sadari ditengah-tengah kesibukan sehari-hari,seringkali saya merasa melupakan Allah. Oleh sebab itu saya bertekad untuk memperbanyak dzikir agar bayang-bayang kebesaran Allah Swt selalu menyertai ke manapun saya pergi. Saya memilih untuk mengikuti dzikir secara berjamaah, karena selain memupuk kebersamaan,dzikir dengan cara ini juga menghasilkan pahala yang lebih besar. Dan memang,banyak sekali hikmah yang saya dapatkan setalah mengikuti dzikir secara berjamaah ini.

    Pada waktu itu saya mengikuti majelis dzikir disebuah masjid. Saya merasakan betapa berpengaruhnya dzikir tersebut terhadap ketenangan jiwa saya. Sejuk dan nyaman rasanya hati ini merasakan nikmatnya iman dan nikmatnya dzikir kepada Allah.Suatu berkah yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

    Sebelumnya, saya adalah orang yang mudah sekali dihinggapi perasaan emosional, hingga jeleknya terkadang tidak dapat mengendalikan amarah ketika sedang menghadapi problema yang pelik. Ketika saya marah maka tak akan ada yang bisa menahan saya untuk menumpahkan kekesalan dengan berbagai cara. Tak ada yang mampu meredakan bara hati ketika kebuntuan menghadang jalan kehidupan yang saya tempuh.

    Melalui dzikir secara berjamaah itulah saya mendapat pelajaran, apa yang harus saya lakukan ketika sedang menghadapi masalah dan bagaimana cara memanage berbagai permasalahn hidup secara bijaksana.Alhamdulilah, setelah mendapatkan pelajaran itu, saya tekun melakukan istighfar, membaca Asmaul Husna dan memahami surat Al-Fatihah dengan lebih mendalam.Hasilnya, kini saya dapat lebih menahan diri ketika marah,tidak uring-uringan seperti dulu lagi.

    Berbagai macam hal dalam hidup, saya rasakan sebagai ujian Allah terdapat ketaatan saya kepada-Nya. Oleh sebab itu, ketika saya melihat pemandangan yang indah,keagungan semua ciptaan-Nya, membuat saya melihat dan ingat kepada Sang Maha Pencipta.Saya tak bisa menahan untuk mengucapkan Subhanallah!

    Memang tidak mudah untuk membiasakan diri selalu berdzikir kepada Allah, apalagi berbagai godaan hawa nafsu selalu mengitari kehidupan kita. Tapi Insya Allah, kalau kita terus berusaha setiap saat untuk melakukan dzikir kapanpun dan dimanapun kita berada. Semoga Allah selalu dalam hati kita dan meridhoi semua hal yang kita lakukan dalam mengarungi kehidupan. Amien.

    ***

    Kiriman Sahabat : Karlina, Lina

     
  • erva kurniawan 2:13 am on 20 September 2014 Permalink | Balas  

    kuburanTak Ada Ujung (Maut itu pasti menjemput)

    Kutatap dalam diam ibuku yang sedang menekuni buku primbon jawanya. Matanya yang masih tajam itu sering menatapku dalam-dalam, meski aku anak kandung darah dagingnya sendiri, aku masih sering bergidik menerima tatapan ibu. Rambutnya yang sudah bertabur uban dan bibirnya yang selalu mengulum sirih itu pun sering menambah keengganan teman-teman kuliahku untuk bertegur sapa dengannya. Ibumu seram Ji, kayak dukun!!. Begitu ledek mereka. Yaaaahhhh,mau gimana lagi ibuku memang suka hal-hal yang berbau mistik.

    “Setiaji, sudah dapat kabar dari masmu?” tanya ibu perlahan, jemari tuanya masih membolak-balikan primbonnya.

    “Belum Bu. Mas Bimo belum telpon.” Jawabku singkat.

    Diantara anak-anak Ibu, Mas Bimo yang paling disayangi olehnya. Mbak Wening, Mbak Lastri, Mas Harjuno sering protes karena selalu Mas Bimo yang diprioritaskan oleh Ibu. Ada uang sedikit, permintaan Mas Bimo yg paling dulu diluluskan. Mas Bimo minta kerja gambar,sawah peninggalan Eyang dijual separuh. Sampai ketika Mas Bimo dikirim pemerintah keluar negri ibu masih menyempatkan diri untuk memberi uang saku seluruh hasil penjualan perhiasan emasnya, peninggalan Eyang kakung almarhum.Begitulah Ibu,Mas Bimo adalah segala-galanya.

    Barangkali karena Mas Bimo selalu menurut semua kata-kata ibu , meluluskan semua permintaan ibu.Bahkan untuk hal-hal yang bagi kami sangat tidak masuk akal sekalipun. Beberapa waktu yang lalu ketika Mas Bimo menabrak seekor kucing di jalan, Mas Bimo langsung menguburkannya saat itu juga, persis sebagaimana pesan ibu.Ibu selalu berkata , kalau di jalanan nabrak kucing, harus cepat-cepat di kubur, sebab kucing itu mengakibatkan celaka,kamu bisa celaka. Bimo yang mengangguk-angguk, sedang kami berempat cuma tersenyum – senyum geli saja.Bagaimana tidak geli?? Bukankah yang bisa menimbulkan kecelakaan dan kebahagiaan hanya Allah saja? Tapi lain dengan versi Mas Harjuno yang lulus Harvard.

    “Ibu itu pantasnya dimasukan RSJ saja, habis semuanya selalu dikaitkan dengan mistik, it doesn’t make sense!! gerutunya setiap kali mendengar nasihat ibu.

    Sedangkan Mbak Wening dan Mbak Lestari yang cenderung Opportunistik selalu mengatakan sudahlah turuti saja apa kata ibu, nanti kalau ibu ngambek kan payah bisa-bisa uang hasil perkebunan teh warisan almarhum Bapak, tidak dibagikan lagi pada kita.

    Yaah, begitulah kakak-kakakku. Rasanya tidak ada yang cara berfikirnya beres, yang lulusan luar negri seperti Mas Harjuno semua selalu dikaitkan dengan logika, yang materialistis seperti Mbak Wening dan Mbak Lastri tidak pernah berusaha meluruskan pendapat ibu karena takut ibu tidak membagi hasil perkebunan , yang penurut seperti Mas Bimo hampir -hampir tidak pernah berfikir bahwa pendapat ibu hampir selalu nyerempet -nyerempet dengan syirik. Heeeehhhhh, paling cuma aku yang memperhatikan pendapat Ibu, itupun baru beberapa tahun ini setelah aku mencoba mendalami Islam dari pesantren mahasiswa yang kuikuti selepas kuliah.

    “Mas -mu Harjuno juga belum menelpon to Ji??” tanya Ibu lagi.

    “Belum Bu,cuma kemaren Mas Harjuno sudah nelpon minta bantuan saya untuk membantunya pindahan,”jawabku.Tumben Ibu menanyakan Mas Harjuno, biasanya cuma Mas Bimo yang disebut-sebut.

    “Anak itu selalu membantah kalau diperintah orangtua .” Ibu bertutur seperti orang bergumam saja, seakan-akan ia tidak berbicara pada siapa-siapa.

    “Memangnya Mas Harjuno kenapa Bu ?” tanyaku sambil lalu.Tidak sopan rasanya membiarkan Ibu mengguman sendiri.

    “Lha iyooo,kalau pindah itu khan seharusnya bertahap,yang harus masuk itu pertama kali ya sapu lidi untuk tempat tidur sama bantal guling dulu,baru yang lain-lain.ini malah tidak,yang masuk pertama komputer,mesin faksimile,alasannya biar pekerjaan bisa di bawa ke rumah!! Dasar bocah ngak gugu sama orang tua ,nanti kuwalat baru tahu rasa!!” gerutu ibu panjang-pendek. Aku hanya bisa menghela nafas panjang ,Ibu.Ibu.

    Tiba-tiba telphone berdering. Aku dan Ibu serentak berdiri, sejenak kami beradu pandang. Lalu Ibu duduk kembali, dan melanjutkan kesibukannya. Itu tanda bahwa aku yang harus mengangkat telpon.

    “Assalmualaikum ? Oh,Mas Juno? Dirampok orang? Kapan?! Tadi malam? Lho, khan ada si Yem sama Kardi? Apa? Komputer, telephone, faks, dan brankas? Innalilahi…ya deh Mas,aku segera kesana ,iya,iya,” gagang telpon kuletakan dengan terburu-buru.

    “Mas Harjuno-mu ya,Le?” tanya ibu.

    Aku mengangguk cepat.

    “Dirampok orang?” tanya ibu lagi.

    Aku mengangguk sambil terburu-buru mencari kunci mobil. Kulihat sekilas wajah Ibu memancar aneh. Segera kucium punggung tangannya ,dalam pikiranku saat ini hanya berkecamuk satu pemikiran. Mengapa ancaman-ancaman Ibu selalu benar-benar terjadi?

    Didalam mobilpun aku masih memikirkan kebetulan-kebetulan yang sepertinya berulang-ulang itu. Kemarin, ketika Mbak Wening melahirkan anak pertamanya,ancaman Ibu terjadi juga. Pada saat hamil Mbak Wening tidak mau menuruti larangan ibu untuk tidak menjahit di atas tempat tidur saat hamil karena nanti jari-jari bayinya akan berimpit. Ternyata ketika bayi itu lahir, keadaannya persis seperti yang dikatakan ibu, sehingga Mbak Wening harus menyiapkan jutaan rupiah untuk operasi plastik anak perempuannya.

    Itu adalah istidraj kata seorang Ustad,semacam ujian dari Allah yang diberikan kepada seseorang yang tidak mau menyadari kesalahannya, lalu Allah membiarkan orang itu berlarut-larut dalam dosanya sehingga akhirnya orang tsb mengira bahwa dirinya tidak melakukan sesuatu yang tidak diridhoi Allah.

    **

    “Rasanya kali ini saya tidak bisa mundur, Bu,tidak bisa, tidak mungkin.” suara Mas Bimo terdengar seperti menahan amarah, wajahnya yang biasanya lembut , teduh, dan penurut itu memerah padam. Wajah Ibu pun tak kalah merah.Aku bisa menyimak betapa dalam ketegangan diantara Mas Bimo menentang kehendak Ibu.

    “Ibu hanya menyayangi kamu aja kok Le.. kalau kamu tidak mau disayang ya sudah, yang penting ibu sudah memperingatkan kamu, bahwa menurut firasat Ibu, pesawatmu itu tidak akan sampai selamat di San fransisco, Ibu tidak mau kehilangan kamu, Le,”

    “Tapi ini tender penting Bu, Mr.Melners pasti tidak akan percaya lagi pada saya jika saya mengundur jadwal penerbangan saya. ia pasti tidak segan-segan memecat saya, toh sekarng ahli komputer tidak sedikit lagi, apa itu yang Ibu kehendaki???? Ibu tega melihat saya dipecat??!!” Suara Mas Bimo mengguntur. Tubuhnya yang kurus karena terlalu keras bekerja dihempaskan keatas sofa.

    “Ya,bukan begitu Le,” Suara ibu melemah.

    “Ya, sudah !! Ibu tidak usah ikut campur!!!” Mas Bimo membentak. Tubuh tua Ibu sampai terdorong ke belakang mendengar bentakannya. Aku pun terkejut. Tidak biasanya Mas Bimo meradang seperti ini. Biasanya ia lembut seperti kapas, tutur katanya ringan seperti awan.tapi kali ini tidak, Mas Bimo benar-benar mirip singa yang sedang marah.

    Kulihat ibu perlahan beringsut pergi. Air mata menitik satu-satu dikerut – kerut pipinya. Kususul Ibu, kubimbing memasuki kamarnya. Ibu benar-benar terluka. Tepat pukul tujuh malam ketika aku dan ibu sedang menyimak berita di teve. Seharian ini ibu hanya mengunci mulut saja, dan aku pun tidak berani mengusiknya. Tiba-tiba pintu depan yang tidak terkunci terkuak dengan kasar. Lho,Mas Bimo?!!!!

    “Sial!!!!!! Benar-benar siaaaalllllllllll!!!!!!!!!!!” runtuknya sambil menghempaskan tubuh diatas sofa.

    “Tidak jadi berangkat Mas??” tanyaku keheranan.

    “Tiketku hilang!! Jatuh barangkali ?! Aku sudah mencoba melacak kemana-mana,bandara aku kitari, laci kantor aku obrak-abrik,kertas sialan itu tetap tidak ada,sial. Semuanya sial!!!” Mas Bimo menyumpah -nyumpah.

    Serentak perhatian kami tertuju ke layar teve. Berita kecelakaan.sebuah pesawat Garuda dengan penerbangan 1078 dengan tujuan San Fransisco meledak diatas Laut Jawa. Penumpang beserta seluruh awak kapalnya tewas.

    Tiba-tiba Ibu terkekeh kekeh, bulu kudukku berdiri. Mas Bimo mengerutkan kening. Ia mengingat-ingat. “Lho,itu khan pesawatku? Itu pesawatku Ji. ” teriak Mas Bimo. Ibu masih terkekeh.

    “Berterima kasihlah pada ibumu yang sudah tua ini,Le. Tiketmu ibu sembunyikan .., kalau tidak pasti namamu sudah berada dalam deretan penumpang pesawat yang tewas itu.. hehehehehe..” Ibu terkekeh sambil melambai-lambaikan tiket pesawat Mas Bimo. Mendadak. Mas Bimo mendekap dadanya dengan kedua tangan. Wajahnya pucat pasi, sebelum tubuhnya ambruk ke lantai

    “Mas bimooooooooooooooooo,” teriakku histeris.

    Kuraba dadanya.Kucari detak jantungnya. Ya Allah.tidak ada .detak jantung Mas Bimo berhenti.Mas Bimo???!!! Kucoba memberinya nafas buatan. Kutekan-tekan dadanya dengan harapan jantung Mas Bimo kembali berdetak.peluhku melelh membanjir sia-sia, Mas Bimo tetap terbaring kaku.

    Aku menatap ibu dengan tatapan kosong. “Ibu menatapku dengan tatapan tanya.Mas Bimo meninggal bu.” kataku lirih. Ibu terbelalak. lalu tersungkur pingsan.

    **

    Semoga anda semua dapat mengerti apa hikmah dan pesan dari cerita ini,

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 14 September 2014 Permalink | Balas  

    kerja kerasPerumpamaan Orang-orang Tamak

    Zaman dahulu ada seorang petani yang suka bekerja keras dan berbudi baik, yang mempunyai beberapa anak laki-laki yang malas dan tamak. Ketika sekarat, Si Tua mengatakan kepada anak-anaknya bahwa mereka akan menemukan harta karun kalau mau menggali tempat tertentu di kebun. Segera setelah ayah itu meninggal, anak-anaknya bergegas kekebun, menggalinya dan satu sudut ke sudut lain, dengan putus asa dan kehendak yang semakin memuncak setiap kali mereka tidak menemukan emas di tempat yang disebut ayahnya tadi.

    Namun mereka sama sekali tidak menemukan emas. Karena menyadari bahwa ayah mereka itu tentunya telah membagi-bagikan emasnya semasa hidupnya, lelaki-lelaki muda itupun menanggalkan usahanya. Akhirnya, terpikir juga oleh mereka, karena tanah sudah terlanjur dikerjakan, tentunya lebih baik ditanami benih. Mereka pun menanam gandum, yang hasilnya melimpah-limpah. Mereka menjualnya, dan tahun itu mereka menjadi kaya.

    Setelah musim panen, mereka-berpikir lagi tentang harta terpendam yang mungkin masih luput dari penggalian mereka; mereka pun menggali lagi ladang mereka, namun hasilnya sama saja.

    Setelah bertahun-tahun lamanya, merekapun menjadi terbiasa bekerja keras, disamping juga mengenal musim, hal-hal yang tidak pernah mereka pahami sebelumnya. Kini mereka memahami cara ayah mereka melatih mereka; mereka pun menjadi petani-petani yang jujur dan senang. Akhirnya mereka memiliki kekayaan yang cukup untuk membuat mereka sama sekali melupakan perkara harta terpendam tersebut.

    Itulah juga ajaran tentang pengertian terhadap nasib manusia dan karma kehidupan. Guru, yang menghadapi ketidaksabaran, kekacauan, dan ketamakan murid murid, harus mengarahkan mereka ke suatu kegiatan yang diketahuinya akan bermanfaat dan menguntungkan mereka tetapi yang kepentingan dan tujuannya sering tidak terlihat oleh murid-mulid itu karena kebelumdewasaan mereka.

    Catatan:

    Kisah ini, yang menggarisbawahi pernyataan bahwa seseorang bisa mengembangkan kemampuan tertentu meskipun ia sebenarnya berusaha mengembangkan kemampuannya yang lain, dikenal sangat luas. Hal ini mungkin disebabkan adanya pengantar yang berbunyi, “Mereka yang mengulangnya akan mendapatkan lebih dari yang mereka ketahui.”

    Kisah ini diterbitkan oleh seorang ulama Fransiskan, Roger Bacon (yang mengutip filsafat Sufi dan mengajarkannya di Oxford, dan kemudian dipecat dari universitas itu atas perintah Paus) dan oleh ahli kimia abad ketujuh belas, Boerhaave.

    Versi ini berasal dari Hasan dari Basra, Sufi yang hidup hampir seribu dua ratus tahun yang lalu.

    ***

    Kiriman Sahabat: Luky L Santoso

     
  • erva kurniawan 2:14 am on 2 September 2014 Permalink | Balas  

    syahadat1Amal-amal Penyelamat Umat Muhammad

    Penulis : KH Abdullah Gymnastiar

    Suatu ketika terjadi tabrakan yang sangat keras antara dua kendaraan, yang menyebabkan pengendaranya luka berat. Masyarakat pun berdatangan untuk memberikan pertolongan.

    Pengendara pertama yang ditolong ternyata seorang pemuda. Wajahnya bersih bersinar dan tampak tersenyum kendati tubuhnya penuh luka. Ia tengah menghadapi sakaratul maut. Kedua bibirnya tampak bergerak-gerak seperti mengucapkan sesuatu.

    Seseorang yang menolongnya mencoba mendekatkan telinganya ke bibir pemuda itu, ia tercenung bercampur haru dan takjub. Apa yang didengarnya? Ternyata pemuda itu tengah melafalkan ayat suci Alquran hingga menghembuskan napas terakhirnya.

    Adapun pengendara kedua, juga seorang pemuda. Tubuhnya penuh luka, dan bibirnya pun bergerak-gerak seperti mengucapkan sesuatu. Si penolong itu merasa penasaran dan mendekatkan telinganya ke bibir sang pemuda. Apa yang didengarnya? Ternyata dari bibir pemuda itu terlantun sebuah lagu //rock//, dan ini terus terdengar dari mulutnya hingga tarikan napasnya yang penghabisan.

    Belakangan si penolong mengetahui lebih jauh tentang siapa pemuda yang pertama tadi. Ternyata pemuda itu tengah melakukan tugas rutin yang dilakukannya setiap bulan, yaitu mengunjungi fakir miskin di suatu kampung untuk membagikan makanan dan pakaian bekas yang ia kumpulkan selama satu bulan.

    Saat kejadian itu pun tampak di mobilnya beberapa bungkus makanan dan pakaian. Sementara di dashboard mobilnya ditemukan beberapa kaset bacaan Alquran dan ceramah.

    Bagaimana dengan pemuda yang satunya lagi? Tentu tidak perlu diungkapkan lebih lanjut di sini. Hanya saja, dengan kejadian tersebut, si penolong dan tentu kita semua seakan diberi gambaran oleh Allah SWT tentang amal seseorang ketika hidup dan kira-kira apa yang dialami keduanya setelah nyawanya tercerabut.

    Oleh karena itu, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah menukilkan sebuah Hadis Rasulullah yang cukup panjang tentang amalan-amalan yang bisa menyelamatkan seseorang dari kesulitan di akhirat kelak. Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Madini berbunyi, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku semalam bermimpi melihat hal yang sangat menakjubkan. Aku melihat seorang dari umatku yang didatangi oleh malaikat untuk mencabut nyawanya, lalu datang amalnya kepadanya dalam berbakti kepada dua orang tuanya, sehingga amal itu membuat malaikat itu kembali lagi.

    Aku melihat seseorang yang telah dipersiapkan kepadanya siksa kubur, lalu datang wudhunya, sehingga wudhunya itu menyelamatkannya dari siksa kubur.

    Aku melihat seseorang yang telah dikepung banyak setan, lalu datang kepadanya zikirnya kepada Allah, sehingga zikirnya itu mengusir setan-setan tersebut darinya.

    Aku melihat seseorang yang kehausan, sedang tiap kali ia mendekati telaga, ia diusir darinya. Lalu, datanglah shaum Ramadhannya, sehingga shaumnya itu memberikan minum kepadanya.

    Aku melihat seseorang di mana para nabi masing-masing duduk dalam halaqah, ia diusir dan dilarang untuk bergabung ke dalamnya. Lalu, datanglah mandinya dari hadas besar, sehingga mandinya itu membimbing ia dengan memegang tangannya seraya mendudukannya di sampingku.

    Aku melihat seseorang yang di depannya gelap sekali, begitu pula di belakang, atas, dan bawahnya, sehingga ia kebingungan mencari arah jalannya. Datanglah kepadanya haji dan umrahnya, lalu keduanya mengeluarkan ia dari kegelapan tersebut dan memasukkannya ke dalam tempat yang terang sekali.

    Aku melihat seseorang yang melindungi mukanya dengan tangannya dari panasnya kobaran api, lalu datang sedekahnya kepadanya dengan menutupi kobaran api dari mukanya seraya membimbingnya ke hadapan Allah SWT.

    Aku melihat seseorang yang mengajak bicara orang-orang mukmin, tetapi mereka mendiamkannya. Datanglah silaturahminya seraya berkata, ‘Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya ia adalah orang yang melakukan silaturahmi, maka ajaklah dia bicara’. Maka, orang tersebut diajak bicara oleh semua orang mukmin dan mereka mengulurkan tangan untuk berjabatan dengannya, sementara ia pun mengulurkan tangannya untuk berjabatan dengan mereka.

    Aku melihat seseorang yang telah dicengkeram Malaikat Jabaniyyah, lalu datanglah kepadanya amal ma’ruf nahyi munkar-nya, hingga amalnya itu menyelamatkan ia dari siksa Jabaniyyah dan memasukannya ke dalam lingkungan malaikat rahmat.

    Aku melihat seseorang yang jalannya merangkak dengan kedua lututnya dan di depannya terdapat tabir yang memisahkan ia dengan Allah, lalu datanglah akhlak baiknya seraya memegang tangan dan membimbingnya ke hadirat Allah SWT.

    Aku melihat seseorang yang catatan amalnya datang dari sebelah kirinya, lalu datanglah takwanya kepada Allah dan mengambil buku tersebut dengan meletakkannya di tangan kanannya.

    Aku melihat orang yang timbangan amalnya sangat ringan, lalu datang anak-anaknya yang meninggal waktu kecil, sehingga mereka memberatkan timbangan amal baiknya tersebut.

    Aku melihat seseorang yang berdiri di tebing Jahannam, lalu datanglah harapannya kepada Allah, hingga harapannya itu menyelamatkannya dari Jahannam dan ia berjalan menuju syurga dengan selamat.

    Aku melihat seseorang yang terpelanting di atas neraka, lalu datanglah air matanya karena takut pada Allah, hingga air mata itu menyelamatkannya dari jatuh ke neraka.

    Aku melihat seseorang yang tengah berada di atas jembatan dengan tubuh gemetar, lalu datang husnudzannya pada Allah, hingga sikapnya itu menjadikan dia tenang dan ia pun berjalan dengan lancar.

    Aku melihat seseorang yang jatuh bangun di atas jembatan. Terkadang ia merangkak, terkadang pula ia menggantung. Lalu datanglah shalatnya menegakkan kedua kakinya dan menyelamatkannya hingga ia mampu menyeberangi jembatan sampai ke pintu syurga.

    Aku pun melihat pula seseorang yang telah sampai ke pintu syurga, semua pintu ditutup baginya. Lalu datanglah syahadatnya, sehingga dibukalah pintu syurga dan ia pun bisa masuk ke dalamnya”.

    Itulah gambaran tentang amalan-amalan yang dengan izin Allah SWT bisa menjadi penyelamat umat Muhammad SAW yang benar-benar melaksanakan perintah Allah dan sunnah Rasulullah dengan hati ikhlas.

    ps: Tolong disebarkan kepada saudara kita yang belum membacanya. Semoga kebaikan anda dibalas ALLAH SWT.

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 30 August 2014 Permalink | Balas  

    ibu dan anak lelakinya berdoaYang Terlupakan

    Ibu,

    Tahun yang lalu, ketika ibu saya berkunjung, ia mengajak saya untuk berbelanja bersamanya karena dia membutuhkan sebuah gaun yang baru. Saya sebenarnya tidak suka pergi berbelanja bersama dengan orang lain, dan saya bukanlah orang yang sabar, tetapi walaupun demikian kami berangkat juga ke pusat perbelanjaan tersebut.

    Kami mengunjungi setiap toko yang menyediakan gaun wanita, dan ibu saya mencoba gaun demi gaun dan mengembalikan semuanya. Seiring hari yang berlalu, saya mulai lelah dan ibu saya mulai frustasi.

    Akhirnya pada toko terakhir yang kami kunjungi, ibu saya mencoba satu stel gaun biru yang cantik terdiri dari tiga helai. Pada blusnya terdapat sejenis tali di bagian tepi lehernya, dan karena ketidaksabaran saya, maka untuk kali ini saya ikut masuk dan berdiri bersama ibu saya dalam ruang ganti pakaian, saya melihat bagaimana ia mencoba pakaian tersebut, dan dengan susah mencoba untuk mengikat talinya.

    Ternyata tangan-tangannya sudah mulai dilumpuhkan oleh penyakit radang sendi dan sebab itu dia tidak dapat melakukannya, seketika ketidaksabaran saya digantikan oleh suatu rasa kasihan yang dalam kepadanya. Saya berbalik pergi dan mencoba menyembunyikan air mata yang keluar tanpa saya sadari.

    Setelah saya mendapatkan ketenangan lagi, saya kembali masuk ke kamar ganti untuk mengikatkan tali gaun tersebut. Pakaian ini begitu indah, dan dia membelinya. Perjalanan belanja kami telah berakhir, tetapi kejadian tersebut terukir dan tidak dapat terlupakan dari ingatan saya. Sepanjang sisa hari itu, pikiran saya tetap saja kembali pada saat berada di dalam ruang ganti pakaian tersebut dan terbayang tangan ibu saya yang sedang berusaha mengikat tali blusnya.

    Kedua tangan yang penuh dengan kasih, yang pernah menyuapi saya, memandikan saya, memakaikan baju, membelai dan memeluk saya, dan terlebih dari semuanya, berdoa untuk saya, sekarang tangan itu telah menyentuh hati saya dengan cara yang paling membekas dalam hati saya.

    Kemudian pada sore harinya, saya pergi ke kamar ibu saya, mengambil tangannya, menciumnya … dan yang membuatnya terkejut, memberitahukannya bahwa bagi saya kedua tangan tersebut adalah tangan yang paling indah di dunia ini. Saya sangat bersyukur bahwa Tuhan telah membuat saya dapat melihat dengan mata baru, betapa bernilai dan berharganya kasih sayang yang penuh pengorbanan dari seorang ibu. Saya hanya dapat berdoa bahwa suatu hari kelak tangan saya dan hati saya akan memiliki keindahannya tersendiri. Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala ciptaan Tuhan yang begitu agung, tetapi tak satu pun yang dapat menandingi keindahan tangan Ibu… With Love to All Mother.

    Note : Berbahagialah yang masih memiliki Ibu. Dan lakukanlah yang terbaik untuknya………

    ***

    Oleh Sahabat Nining

     
  • erva kurniawan 2:16 am on 29 August 2014 Permalink | Balas  

    siluet-anak-dan-ayahRenungan Jumat: Ayah

    Suatu ketika, ada seorang anak perempuan bertanya kepada ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk, disertai suara batuk-batuk. Anak perempuan itu bertanya: “Ayah, mengapa wajahmu kian berkerut-merut dengan badan yang kian hari kian terbungkuk?” Ayahnya menjawab : “Sebab aku laki-laki.” Anak perempuan itu bergumam : “Aku tidak mengerti.” Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak perempuan itu, terus menepuk-nepuk bahunya sambil mengatakan : “Anakku, kamu memang belum mengerti tentang laki-laki.”

    Karena penasaran, anak perempuan itu kemudian menghampiri Ibunya seraya bertanya: “Ibu, mengapa wajah ayah jadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian terbungkuk ? Dan sepertinya ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit ?” Ibunya menjawab : “Anakku, seorang laki-laki yang bertanggung-jawab terhadap keluarga memang akan demikian.” Hanya itu jawaban sang Ibu.

    Anak perempuan itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa. Tetapi dia tetap saja penasaran, mengapa wajah ayahnya yang tadinya tampan dan gagah menjadi berkerut-merut dan badannya menjadi terbungkuk-bungkuk ? Hingga pada suatu malam, anak perempuan itu bermimpi. Di dalam impian itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa kepenasarannya selama ini.

    “Saat Ku-ciptakan laki-laki, Aku membuatnya sebagai pemimpin dan tiang penyangga dari bangunan keluarga, yang akan menahan setiap ujungnya agar keluarganya merasa aman, teduh dan terlindungi. Ku-ciptakan bahunya yang kekar dan berotot untuk membanting tulang menghidupi keluarganya. Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetes keringat yang halal dan bersih sehingga keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapat cercaan dari anak-anaknya. Demi keluarganya, dia merelakan kulitnya tersengat panas matahari dan badannya basah kuyup kedinginan tersiram hujan. Yang selalu dia ingat adalah semua orang menanti kedatangannya dan mengharapkan hasil dari jerih-payahnya.”

    “Kuberikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan kerapkali menerpanya. Ku-berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya didalam kondisi apapun juga, walaupun tidak jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai hatinya. Ku-berikan kerutan di wajahnya agar menjadi bukti, bahwa dia senantiasa berusaha tenaga dan pikiran untuk mencari cara sehingga keluarganya bisa hidup dalam keluarga yang sakinah. Ku-jadikan badannya terbungkuk-bungkuk agar dapat membuktikan, bahwa sebagai laki-laki yang bertanggung jawab terhadap seluruh keluarganya, dia senantiasa berusaha mencurahkan seluruh tenaganya demi kelangsungan hidup keluarga. Ku-berikan kepada laki-laki tanggung-jawab penuh sebagai pemimpin agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh laki-laki, walaupun sebenarnya tanggung-jawab ini adalah amanah di dunia dan akhirat.”

    Terbangun anak perempuan itu, dan segera dia berlari, bersuci, berwudhu dan melakukan shalat malam hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri bilik ayahnya yang sedang berdzikir. Ketika ayahnya berdiri, anak perempuan itu merengkuh dan mencium telapak tangan ayahnya.

    “Aku mendengar dan merasakan bebanmu, ayah.”

    ***

    Saudaraku, do’akanlah dia dan berbaktilah kepadanya selagi masih hidup karena Allah memerintahkan kita demikian dan dia memang menjadi jalan kelangsungan hidup kita hingga sekarang. Manfaatkan momen Ramadhan dan Idul Fitri nanti untuk menyatakan cintamu kepadanya.

    ***

    (Diambil dari milis Daarut Tauhid)

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 26 August 2014 Permalink | Balas  

    161848_abunawasAbu Nawas di Antara Sengketa 2 Perempuan

    Jakarta – Kebijaksanaan Abu Nawas lagi-lagi diuji. Suatu ketika, Khalifah Harun Al Rasyid memanggilnya ke istana. Khalifah tengah dibingungkan oleh dua perempuan yang bersengketa terhadap seorang bayi mungil. Sang khalifah telah berupaya segala langkah damai, tapi gagal. Kedua perempuan itu tetap mati-matian saling mengakui sebagai pemilik absah sang bayi. Sengketa ini sampai berlangsung berhari-hari.

    Langkah terakhir, Sang Khalifah pun memanggil Abu Nawas untuk meminta pertolongan. Biasanya dari pikiran Abu Nawas selalu keluar ide-ide gila yang tak tepikirkan banyak orang untuk menyelesaikan sebuah persoalan.

    Lalu, datanglah Abu Nawas ke istana. Sang Khalifah tampaknya lebih mempercayai Abu Nawas daripada hakim untuk urusan ini. Kedua perempuan dihadapkan ke persidangan. Sementara Abu Nawas berperan sebagai hakim. Namun setelah persidangan berjalan, Abu Nawas tidak langsung memberikan keputusan solusi saat itu juga. Baru keesokannya Abu Nawas mencetuskan ide yang cemerlang.

    Saat sidang dilanjutkan di hari kedua, semua hadirin termasuk Khalifah meyakini Abu Nawas yang dikenal cerdik dan pandai itu dapat menyelesaikan kasus tersebut.

    Benar saja, Abu Nawas pun mengeluarkan keputusan yang ‘gila’. Keputusan Abu Nawas membuat semua hadirin yang datang termasuk sang khalifah tercengang. Apa keputusannya? Dia memerintahkan algojo untuk membelah dua bayi mungil itu dengan pedang.

    Sontak dua perempuan itu terkejut dan marah. Mereka bertanya, apa yang akan dilakukan Abu Nawas terhadap bayi yang tidak berdosa.

    Abu Nawas lalu berkata, “Sebelum saya mengambil tindakan, apakah salah satu dari kalian bersedia mengalah dan menyerahkan bayi itu kepada yang memang berhak memilikinya?”

    “Tidak, bayi itu adalah anakku,” teriak kedua perempuan itu.

    Dua perempuan itu masih belum ada yang bersedia mengalah meski algojo sudah mengeluarkan pedangnya. Sikap keras kepada dua perempuan itu memaksa Abu Nawas untuk memutuskan membelah bayi itu menjadi dua. Sebagian untuk perempuan yang pertama, sebagian lain untuk perempuan kedua.

    “Jangan, tolong jangan belah bayi itu. Biarlah, aku rela bayi itu seutuhnya diserahkan kepada perempuan itu,” pinta perempuan kedua dengan suara setengah berteriak.

    Sementara perempuan pertama tak berkata kecuali hanya diam dan tercengang.

    Mendengar itu, Abu Nawas tersenyum lega. Dengan segera dia menyerahkan bayi itu kepada perempuan kedua yang memohon tadi. Menurut Abu Nawas, tidak ada satu orang pun ibu yang tega anaknya disembelih. Seorang ibu lebih memilih dirinya menderita dari pada anaknya.

    ***

    ( rmd / rmd )

    Ramdhan Muhaimin – detikRamadan

     
  • erva kurniawan 1:53 pm on 20 August 2014 Permalink | Balas  

    cincin pernikahanPengantin Itu Menikah di Hadapan Jenasah Ayahnya

    Pada tahun 1987 ada sepasang muda-mudi, Fulan dan Katrina yang mencoba untuk menjalin hubungan. Sepertinya keduanya tidak mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan, karena di antara mereka banyak kesamaan.

    Tetapi ada yang sesuatu perbedaan yang sangat prinsipal yang apabila difikirkan, sama sekali mereka tidak mungkin bersatu. Perbedaan itu adalah perbedaan agama. Fulan adalah seorang muslim sedangkan Katrin adalah non muslim.

    Pada saat itu keduanya masih tidak menyadari arti dari perbedaan itu. Yang mereka fikirkan hanya rasa rindu dan keinginan untuk selalu bertemu. Karena mereka belum berfikir ke arah hubungan yang lebih tinggi atau ke jenjang pernikahan.

    Ada satu kemudahan yang diberikan oleh orang tua Katrina tersebut.

    Putrinya tidak dilarang berhubungan dengan kekasihnya walaupun dia beda agama, karena mereka berfikir kalau hubungan putrinya adalah bersifat sementara.

    Selain itu kemudahan yang lain adalah kekasih putrinya itu diberikan kemudahan untuk menjalankan kewajibanya mendirikan Sholat lima waktu di rumahnya apabila masuk waktu Sholat. Dan itu dilaksanakan dari awal behubungan.

    Dengan berjalannya waktu tidak disadari hubungan mereka telah memasuki tahun ke 8 dan pada saat itu kebetulan mereka sama-sama berada di salah satu Perguruan Tinggi di Jakarta, satu fakultas dan satu kelas.

    Namun perbedaan tersebut sudah mulai mengganggu perasaan keduannya. Perlu diketahui bahwa keduanya berasal dari keluarga yang sama-sama memegang teguh keyakinannya. Tetapi Fulan maupun Katrina tidak berani saling mempengaruhi untuk masuk agamanya salah satu di antara mereka, karena mereka takut apabila masalah itu di bahas maka akan menimbulkan pertengkaran yang berujung dengan perpisahan.

    Pada suatu hari dalam perjalanan menuju kampus di dalam bis seperti hari-hari biasanya banyak pedagang asongan yang sedang menjajakan dagangannya. Ada salah satu pedagang yang menawarkan buku-buku keagama’an (belajar sholat, Iqro’, dll) yang kesemuanya berjumlah 5 buah buku.

    Katrina tiba-tiba berkata “Mas, aku beli’in itu dong”

    Fulan tidak menyadari apa yang diinginkan oleh kekasihnya karena disitu banyak pedangan yang lain.

    ” Yang mana??” tanya Fulan, “Itu yang itu tu….” kata Katrina, ketika menyadari apa yang ditunjuk kekasihnya itu, Fulan sangat terkejut dan memandangi pasangannya dengan wajah penuh keheranan. Tanpa ada yang berbicara Katrina menganggukkan kepalanya.sepertinya mereka sedang berbicara dengan bahasa batin.

    Lalu Katrina berkata “Mas mau ngajarin aku Sholat nggak???”

    Dengan rasa haru yang mendalam dan dengan mata yang berkaca-kaca Fulan itu mengangguk tidak bisa berkata apa-apa. Tapi jauh di dalam lubuk hatinya ia bersyukur “Tuhan terima kasih Engkau telah melepaskan beban di pundakku yang selama ini menggangu fikiranku, Engkau telah mengabulkan do’aku selama ini dan Engkau telah membukakan hidayah kekasihku untuk memeluk Agama yang aku yakini kebenarannya”.

    Mulai hari itu Fulan mengajarkan tentang Sholat, Puasa, semua kewajiban-kewajiban seorang Muslim. Serta hukum-hukum di dalam Islam dan lain sebagainya Dengan demikian Fulan bertambah yakin bahwa kekasihnya itu memang diciptakan untuknya.

    Tetapi masih ada masalah yang masih menggagu keduannya yaitu bagaimana berbicara kepada kedua orang tua Katrina, pasti mereka akan mendapat marah besar. Selama itu Katrina belajar dengan cara sembunyi- sembunyi di rumahnya.

    Tetapi rupanya Tuhan berkehendak lain.

    Pada suatu hari Kakak lelaki Katrina membuat suatu keputusan berbicara kepada Bapaknya bahwa dia ingin pindah agama dan memeluk agama Islam. Subhanallah, Bapaknya tidak melarangnya.

    Mendengar kakaknya masuk Islam dan diperbolehkan Bapaknya, Katrina kemudian memberanikan untuk membicarakan hal yang sama yaitu bahwa dia juga ingin memeluk agama Islam. Bapaknya juga mengijinkan.

    Bukan main gembiranya hati Katrina dan Fulan, dengan demikian sudah tidak ada lagi beban yang mengganjal di hati mereka, dan Fulan semakin yakin dapat mempersunting Katrina karena mereka bisa se-iman yaitu Islam.

    Berarti di rumah Katrina yang terdiri dari 4 orang itu yang 2 orang telah memeluk Islam. Dan pada suatu hari terjadi berita yang menggemparkan dalam keluarga Katrina.. ketika tiba-tiba Ayah Katrina pada suatu sore pergi dengan menggunakan sarung dan baju putih menuju ke Masjid terdekat di sekitar rumahnya. Tentu saja ini membuat anggota keluarganya baik yang Muslim dan yang nonmuslim menjadi keheranan.

    Bagi Katrina dan Kakaknya ini adalah suatu Rahmat yang tidak ternilai harganya karena kini Ayah mereka juga memeluk agama Islam, tapi tidak demikian dengan Ibunya, tentu saja hal ini menjadi kesedihan yang sangat mendalam baginya.

    Dengan demikian di dalam satu rumah itu hanya Ibunya saja yang non muslim. Ibunya mengatakan bahwa dirinya tidak mungkin pindah agama karena sejak kecil agama yang diyakininya adalah agama yang dianutnya sekarang.

    Namun demikian baik Katrina, Kakaknya serta Fulan memberi tahu kepada Ibunya bahwa ibunya tidak usah kawatir mereka akan tetap berbakti kepada ibunya. Ayahnya sendiri berkata bahwa bersedia untuk mengantarkan istrinya ke tempat peribadatan yang diyakini Istrinya. Dan tidak satupun dari mereka yang berusaha untuk mempengaruhi ibunya untuk masuk agama Islam.

    Dengan kata lain mereka sekeluarga tidak memaksa ibunya untuk pindah agama apalagi memusuhinya bahkan tetap menghormatinya sebagai seorang ibu.

    Dalam benak seorang suami (bapaknya Katrina) selalu berharap agar istrinya dapat seiman dengannya tetapi tidak diutarakannya untuk menjaga perasaan istrinya.

    Kehidupan keluarga itupun kesehariannya tidak ada masalah karena toleransi yang cukup tinggi yang diterapkan oleh keluarga tersebut dan sudah berjalan selama satu setengan tahun.

    Namun Bapaknya Katrina setiap tengah malam selalu bangun untuk Sholat Tahajud. Dan di dalam Sholatnya itu ia berdo’a dengan tulus dan ikhlas. Dia memohon kepada Allah SWT. agar dibukakan pintu Hidayah bagi istrinya untuk dapat seiman dengannya. Hal ini dilaksanakan secara terus menerus selama empat puluh malam berturut-turut tanpa alpa satu malam pun.

    Pada suatu malam, tepatnya malam keempat puluh Ayahnya Katrina melaksanakan Sholat Tahajud, di sebelahnya Istrinya sedang terlelap. Di dalam tidurnya (ibu Katrina) bermimpi di datangi seseorang dengan wujud Pocongan. Tetapi Ibunya Katrina tidak bilang kepada siapa-siapa tentang mimpinya kecuali kepada Katrina yang diteruskan kepada kekasihnya, Fulan.

    Kemudian malam berikutnya kembali Ibu Katrina bermimpi didatangi seseorang pria dengan memakai Jubah dan mengenakan sorban putih dengan wajah tampan dan bersinar memandanginya dengan tersenyum.

    Mimpi di datangi pria bersorban dan berjubah putih itu dialami ibunya Katrina selama tiga malam berturut-turut. Ibunya masih tidak mengerti apa arti dari mimpinya itu, begitu juga dengan Katrina yang menjadi curahan hati ibunya dalam berbagi cerita mengenai mimpinya.

    Malam ke lima Ibunya Katrina bermimpi, kali ini dia bermimpi kalau dia melakukan suatu gerakan-gerakan yang tidak dia mengerti. Gerakan- gerakan tersebut setelah diceritakan kepada Katrina ternyata adalah gerakan sholat.

    Malam berikutnya kembali Ibunya Katrina bermimpi, kali ini ia bermimpi bahwa dia sedang membaca Alqur’an dengan lancar. Luar Biasa.

    Akhirnya tepat di malam yang ke tujuh Ibunya kembali bermimpi, yang terakhir ini Ia bermimpi sedang melaksanakan Ibadah Haji, Subhanallah…

    Dan disetiap mimpinya itu ibunya selalu bercerita kepada Katrina, hingga disuatu hari tepatnya malam minggu di pertengahan tahun 1996 di mana Fulan dan Katrina sedang berbincang-bincang di teras rumah, Ibunya ikut bergabung. Tiba-tiba ibunya berbicara kepada Katrina.

    Dik (karena Katrina anak bungsu, dia selalu dipanggil adik oleh orang tua dan kakanya), Dik.. kembali ibunya mengulangi ucapannya…

    Dik aku pinjem buku kamu dong…

    Buku yang mana jawa Katrina di depat Fulan..

    Buku kamu yang dari Mas Fulan… Buku tentang Sholat dan lain-lain…

    Mendadak Fulan dan Katrina terperangah dan tersenyum, tanpa bicara apa-apa Katrina langsung berlari dan menghampiri ibunya lalu memeluknya erat-erat sambil berkata lirih.. Allahu Akbar.. Subhanallah…

    Tentu saja berita sangat mengejutkan, karena ibunya pernah berkata bahwa ia tidak akan pindah agama walau apapun yang terjadi. Dan berita inipun menyebar di lingkungan keluarganya dan disambut dengan suka cita apalagi dengan Ayahnya. Karena ayahnya Katrina merasa bahwa do’anya di dalam Sholat telah didengar dan dikabulkan Allah SWT.

    Maka tanpa diduga dan hanya karena kehendak Allah SWT. Seluruh keluarga tersebut menjadi Mualaf..Subhanallah…

    Dan pada awal tahun 1998 kedua orang tua Fulan dan Katrina sepakat akan melanjutkan hubungan putra-putri mereka ketingkat yang lebih tinggi yaitu pernikahan. Tepatnya pernikahan itu akan dilangsungkan pada bulan Oktober 1998. Dan persiapan pernikahan itupun mulai dilaksanakan.

    Namun Allah punya rencana lain Akhir bulan Juli 1998 setelah memasuki tahun ke tiga Ayahnya Katrina memeluk agama Islam dan di tengah- tengah persiapan pernikahan putrinya, tiba-tiba Beliau terserang stroke dan setelah sembilan hari dirawat di rumah sakit Ayahnyapun berpulang ke Rahmatullah pada tanggal 29 Juli 1998 pukul 16:00. Dan sampai akhir hayatnyapun sewaktu di rumah sakit beliau selalu melaksanakan Sholat Wajib walaupun dengan berbaring, sampai-sampai pada saat beliau tidak sadar, tangan selalu bergerak-gerak seperti orang sedang Sholat.

    Akhirnya Fulan dan Katrina atas persetujuan kedua belah pihak dan untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan serta untuk menjaga Ibu mereka maka Keduanya dinikahkan di depan Jenazah Ayahnya sesaat sebelum Ayahnya dikebumikan…

    Itulah kehendak Allah SWT….

    Kesimpulan:

    1. Salah satu manfaat dari Sholat Tahajud seperti apa yang telah dialami sorang Bapak di atas. Yang dapat merubah seseorang kepada kebajikan tanpa paksaan.
    2. Cerita di atas dapat mengandung arti bahwa dengan memperlihatkan Wajah Islam yang sebenarnya, yang berisi dengan kedamaian, rasa saling menghormati, toleransi yang tinggi dapat membuat seseorang menjadi terkesan sehingga ingin memeluk agama Islam tanpa adanya unsur paksaan, intimidasi dan lain sebagainya.
    3. Sesungguhnya hanya Allah SWT. Yang dapat membukakan hidayah seseorang.
    4. Manusia punya rencana tetapi Allah SWT. punya kehendak.

    Semoga kisah nyata di atas dapat bermanfaat. Dan semoga kita selalu berada di bawah lindungan ALLAH SWT. Amiin……….

     
  • erva kurniawan 3:04 am on 15 August 2014 Permalink | Balas  

    sabarAntara Sabar dan Mengeluh

    Pada zaman dahulu ada seorang yang bernama Abul Hassan yang pergi haji di Baitul Haram. Pada waktu tawaf tiba-tiba beliau melihat seorang wanita yang ceria dan berseri wajahnya.

    “Demi Allah, belum pernah aku melihat wajah secantik dan secerah wanita itu, tidak lain pasti karena tidak pernah merasa risau dan bersedih hati,” ucap beliau.

    Wanita itu mendengar ucapan Abul Hassan lalu ia bertanya, “Apakah katamu wahai saudaraku? Demi Allah aku terbelenggu oleh perasaan duka dan sedih, dan tiada seorang pun yang mengetahui perasaanku ini.”

    Abu Hassan bertanya, “Apa kiranya hal yang membuatmu bersedih, wahai saudariku?”

    Wanita itu menjawab, “Pada suatu hari ketika suamiku sedang menyembelih kambing korban. Pada waktu itu aku masih bersama dua orang anakku yang sudah bermain, dan yang lain masih menyusu. Ketika aku bangun untuk membuat makanan, tiba-tiba anakku yang lebih besar berkata pada adiknya, “Hai adikku, maukah kutunjukkan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing ?”

    Jawab adiknya, “Bagaimana caranya, Kak?”

    Lalu disuruh adiknya berbaring dan disembelih leher adiknya tersebut. Kemudian sang Kakak merasa ketakutan setelah melihat banyaknya darah yang keluar dan akhirnya dia lari ke bukit, kemudian di sana ia dimakan oleh serigala. Lalu ayahnya pergi mencari anaknya itu sampai meninggal dunia karena kehausan. Ketika aku letakkan bayiku untuk keluar mencari suamiku, tiba-tiba bayiku merangkak menuju ke periuk yang berisi air panas, ditariknya periuk tersebut dan tumpahlah air panas mengenai badannya, habis melepuh kulit badannya. Berita ini terdengar kepada anakku yang telah menikah dan tinggal di daerah lain. Seketika ia jatuh pingsan, sampai akhirnya menemui ajalnya. Dan sekarang aku tinggal sebatang kara tiada lagi sanak saudara.”

    Lalu Abul Hassan bertanya, “Bagaimanakah kamu bisa bersabar menghadapi semua musibah yang itu?”

    Wanita itu menjawab, “Tiada seorang pun yang dapat membedakan antara sabar dengan mengeluh melainkan ia menemukan di antara keduanya ada yang berbeda. Adapun dengan bersabar, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Dan adapun dengan mengeluh, maka orang tersebut tidak mendapat gantinya kecuali sia-sia belaka.”

    Demikianlah cerita di atas, satu cerita yang dapat dijadikan tauladan di mana kesabaran sangat dianjurkan oleh agama dan harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah. Oleh karena itu Rasulullah s.a.w bersabda dalam firman Allah dalam sebuah hadith Qudsi,:

    “Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang Mukmin, jika Aku ambil kekasaihnya di dunia kemudian ia bersabar, melainkan syurga baginya.”

    Begitu juga mengeluh. Perbuatan ini sangat dikutuk oleh agama dan hukumnya haram. Oleh karena itu Rasulullah s.a.w bersabda,:

    “Tiga macam daripada tanda kekafiran terhadap Allah, merobek baju, mengeluh dan menghina nasab orang.”

    Dan sabdanya pula, “Mengeluh itu termasuk kebiasaan Jahiliyyah, dan orang yang mengeluh, jika ia mati sebelum taubat, maka Allah akan memotongnya pakaian dari uap api neraka.” (Riwayat oleh Imam Majah)

    Semoga kita dijadikan sebagai hamba Tuhan yang sabar dalam menghadapi segala musibah.

    Abu Abdurrahman Ali.

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 11 August 2014 Permalink | Balas  

    Lampu-merahBapak, Muslim Nak!!! “

    Penulis : Ahmad Syauqi

    “Yah rese deh, kena lampu merah lagi…!” Belum dua menit yang lalu kena lampu merah, kini aku lagi-lagi harus menginjak rem motor untuk menyambut si bohlam bulat merah. Desah kesal menghiasi telingaku saat ini. Apalagi saat kulihat beberapa motor dengan enaknya melanjutkan perjalanan, mentang-mentang tak ada polisi berjaga di sana.

    Sambil melihat ulah anak-anak kecil menunggu receh dari para pengendara mobil didepanku, pandanganku tertumbuk pada sesosok bapak yang menjajakan sebuah gambar berukuran sedang dan sebuah hiasan meja. Oh! Gambar berpigura yang diapit tangan kanan itu ternyata gambar Yesus, dan hiasan meja yang digenggam tangan kiri adalah salib. Ah.. biasa saja. Mau jual apapun, itu hak siapa saja. Namun… rasa kagetku muncul saat melihat bapak penjaja itu memakai … peci haji !! Loh, gimana sih?!!

    Si bapak kini mendekati aku, Kubuka helm yang sedari tadi melindungi kepalaku. Aku penasaran betul, ingin berbicara barang sedikit dengan bapak itu.

    “Malem Pak.. Wah,malam-malam begini, masih jualan juga Pak? Belum pulang?” tanyaku sambil tak lupa mengulum senyum manis

    “Belum mas….”, jawab si bapak tak kalah ramah. “Biasanya bapak pulang jam 11-an”.

    “Dagangannya laku berapa Pak hari ini?”. Aku kembali bertanya, sambil melihat-lihat pigura bergambar Yesus dan hiasan salib keramik yang dibawanya.

    Si Bapak menjawab sambil mengangkat sedikit salib keramik itu. “Yah, yang salib sih laku 1 biji. Yang gambar ini,belum laku mas. Mas mau beli?!!”

    Aku tersenyum getir,walau tetap berusaha tampil manis. “Hehe… saya… saya muslim Pak. Maaf yah…!!”

    “Oh, mas muslim thoo… Waduh saya yang minta maaf nih, Hmm, saya juga muslim.”” Hihi.. si bapak jadi salah tingkah begitu.

    Heh? Bener dugaanku. Wah, Ada yang nggak bener neh. “Bapak Muslim? Lalu… mm… kenapa bapak jualan beginian?” tanyaku dengan hati-hati.

    “Ya.. sebenarnya bapak juga ndak suka, mas. Biasa mas, gara-gara urusan perut”. jawab si bapak.

    I knew it !! Kulihat raut wajahnya kini agak “mendem”. Waduh, jadi gak enak nih

    “Trus Pak… tadi bapak bilang, hari ini baru laku 1 biji. Trus berapa untungnya? Apa cukup keuntungan 1 dagangan itu untuk kebutuhan sehari, Pak?”

    “Mm… sebenarnya, laku nggak laku nggak jadi soal mas. Setiap hari, asal saya mau menjajakan ini, saya dikasih 25 ribu. Kalau dagangannya laku, semua uangnya buat saya… Kalo ada yang bisa ngasih pekerjaan lebih baik, saya udah pasti ndak mau jalanin ini. Saya tahu ini nggak halal. Tapi… kalo gak begini, kami sekeluarga makan apa mas…”

    Aku masih terdiam. Sampai tak sadar bahwa mesin motorku mati, kalau saja bapak itu tidak mengingatkan. “Tapi mas boleh percaya, saya tetap muslim, gusti Allah tetep Tuhan saya. Kalau ada kerjaan lain dan hasilnya cukup untuk keluarga, saya pasti gak jualan beginian”.

    “Iya Pak. Mm.. apa bapak belum pernah coba jualan yang lainnya, gitu?”

    “Iya, pernah…jualan koran, makanan kecil dan rokok, tapi hasilnya gak cukup mas, buat makan aja kurang, apalagi bayar sekolah anak …. jauh lah ama yang sekarang ini mas….”.

    TIINN!! TIIN !! Pengemudi mobil di belakang sudah membunyikan klakson. Ternyata lampu merah sudah padam, sampai kendaraan di belakang saya ngomel-ngomel.

    “Oke pak… makasih banyak yah…. maaf sebelumnya. Assalamu’alaikum!” Aku bergegas menarik gas motorku, melewati perempatan pramuka yang saat itu sudah mulai sepi.

    Sepanjang perjalanan Rawasari – Sumur Batu, aku betul-betul gundah. Kurang ajar misionaris itu !! Umpatan demi umpatan silih berganti memenuhi relung hatiku saat itu. Tapi mendadak aku tersadar. Hey… ini bukan salah misionaris itu ! Mereka hanya memanfaatkan situasi yang ada ! Situasi dimana umat Islam kini sudah betul-betul lemah dalam hal ekonomi. Situasi di mana umat Islam tak lagi peduli pada saudara seagamanya yang dhu’afa. Situasi di mana Rasululah pernah ungkapkan 14 abad silam, bahwa umat Islam yang mayoritas, tak ubahnya seperti buih di lautan. Tak berkekuatan. Tak berwibawa. Tak bergigi. Tak berpengaruh. Antara ada-tiada. Innaa lillaah…

    Apa yang bisa aku lakukan? Apa yang bisa aku sumbangkan? Apa yang bisa aku bantu? Lagi-lagi berondongan pertanyaan menghujani pikiranku. Ahh… pusing…

    Peristiwa itu ternyata betul-betul terlupakan… sampai tadi aku menyaksikan acara di sebuah televisi swasta, yang menayangkan profil kaum dhu’afa, seorang bapak penjual kerupuk. Mendadak aku teringat pada si bapak penjual hiasan di perempatan Pramuka. Apa kabarnya sekarang? Apakah di bulan Ramadhan ini beliau tetap berjualan seperti biasanya? Ah… ingin rasanya memacu motor bebekku menemuinya. Tapi hm… sudah malam.

    Ya Allah, semoga ini adalah teguran darimu, betapa kesadaran kami akan pentingnya saling tolong menolong pada sesama saudara segama, masih belum terpatri dengan baik, masih belum menjadi hiasan akhlak kami dalam menapaki hidup ini.

    Ya Rabb, berikanlah kami kekuatan, karuniakanlah kami kesadaran, sinarilah hati kami dengan pancaran kasih dan sayangMu, sehingga kami bisa berusaha semaksimal mungkin menyayangi dan mengasihi sesama kami. Ya Rahmaan, yaa Rahiim.

    Di luar sana banyak saudara-saudara kami yang mendapatkan nafkah melalui cara yang mungkin tidak Engkau ridhai, karena kondisi yang memaksa. Berilah mereka ampunan, berilah mereka hidayah, maafkanlah ketidaktahuan mereka, ya Rabb. Tuntunlah mereka menuju jalan yang Engkau ridhai, dan tuntunlah kami untuk membantu mereka…..

     
  • erva kurniawan 4:16 am on 7 August 2014 Permalink | Balas  

    ibu dan anak lelakinya berdoaSorga di Bawah Telapak Kaki Ibu

    “Ibu… Ibu… mau ke Ibu… ” suara tangisan itu terdengar sangat menyedihkan. Di keheningan tengah malam, di saat orang lain tertidur pulas, ada seorang anak yang gelisah, tidak bisa tidur. Ketika dia terbangun, orang yang sangat dicintainya tidak berada di sampingnya seperti biasa. Karena keterbatasan ekonomi, Ibu yang single parent itu mengambil keputusan untuk menitipkan puterinya di panti asuhan.

    Masih terngiang bujukan si Ibu kepada anaknya, “Karena Ibu sayang sama kamu nak, Ibu titipkan kamu di sini, kan kamu bilang kamu ingin sekolah ? Ibu ga punya uang. Kamu harus sabar ya nak…atau kamu mau kita seperti dulu lagi ? Jualan sambil hujan-hujanan atau kepanasan dan kalau “cape” tidur di pinggir jalan ?” Percakapan antara ibu dan anak tersebut pastilah asing di telinga kita yang punya sejuta nikmat. Sekolah tinggal sekolah, sarapan tinggal makan atau kemana-mana diantar oleh supir. Ah, semoga kita termasuk orang-orang yang bersyukur.

    Kembali kepada si anak. Hatinya yang belum dirasuki oleh “hingar bingar” dunia telah terpatri begitu kuat dengan hati si ibu. Teringat pula saya pada seorang Ibu yang “sadis” kepada anaknya. Hampir setiap hari si anak dipukul dengan bermacam-macam benda. Tapi hati yang “virgin” tadi tidak mau tahu, Ibu tetaplah orang yang paling dicintainya. Ketika sang Ibu pergi, tangisan yang dilantunkannya juga sama dengan tangisan anak yatim di atas yang hidup dengan belaian Ibu penuh cinta. Wahai Ibu! Waktu akan cepat sekali berlalu, anakpun dengan cepat bertambah usia. Hatinya tidak lagi “terkekang” oleh cinta seorang Ibu. Banyak “tawaran” cinta di luar rumah yang akan didapatnya. Seorang anak akan mulai menerjemahkan cinta sesuai dengan kebutuhannya. Bila cinta ibu kalah bersaing, tidak akan cukup air mata untuk mengembalikannya ke dalam pelukan.

    Saya teringat kisah nyata yang ditulis oleh seorang Ibu (sebagai ibrah). Karena karir, si Ibu lalai memperhatikan anaknya yang beranjak dewasa. Si Mbok, pembantu yang setia dengan cinta polosnya telah mengisi seluruh ruang batin puterinya, hingga tiap lembar diary sang puteri hanya bercerita tentang si mbok, tidak selembarpun tersisa untuk menulis kenangan bersama sang Ibu. Ketika si mbok harus menghadap Rabb-Nya, si anak tidak siap, overdosis! (cinta “putaw” mengalahkan cinta Ibu). Puterinya itupun “pergi’ dalam kerinduan terhadap cinta si mbok, sementara sang ayah stroke karena tidak bisa menerima kenyataan. Innaalillaahi. Ada juga ibu yang baru merasa kehilangan ketika seorang anak sudah tidak bisa dipisahkan dengan kekasihnya yang beda agama hingga “kawin lari” pun menjadi pilihan. Kebersamaan dengan seorang Ibu tidak meninggalkan kesan apa-apa. Na’uzubillahi min zalik. Dan mungkin banyak kisah ratapan anak-anak lainnya yang begitu rindu dibelai oleh jari jemari ibu. Wallaahu a’lam.

    Betapa berat amanah yang dipikul oleh seorang Ibu hingga Allah pun bersedia “meletakkan” sorga-Nya di bawah telapak kaki Ibu. Kisah kepahlawan seorang Ibu pun menjadi perhatian penting dalam tapak sejarah, seperti Al-Khansa yang sanggup memotivasi dan menghantarkan putra-putranya mati syahid atau Siti Asiah isteri Fir’aun yang menerjemahkan kasih sayangnya dengan membawa putra-putranya “ikut” bersama menemui Khalik demi mempertahankan keimanannya. Saya optimis! Masih banyak ibu-ibu di jaman sekarang yang tidak rela mengurangi kehormatan sorga di bawah telapak kakinya.

    Untuk Mama yang telah membesarkan dan mendidik dengan samudera cinta. Sayangi mamaku ya Allah..

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 6:34 am on 28 July 2014 Permalink | Balas  

    NIKMATNYA MAIYAH 

    89masjidNikmatnya Maiyah

    Dalam forum Maiyahan, tempat pemeluk berbagai agama berkumpul melingkar, sering saya bertanya kepada forum :

    “Apakah Anda punya tetangga?”

    Dijawab serentak  “ Tentu punya!”

    “Punya istri enggak tetangga Anda?” –

    “Ya, punya dooooong”

    “Pernah lihat kaki istri tetangga Anda itu?”

    “Secara khusus, tak pernah melihat” –

    “Jari-jari kakinya lima atau tujuh?”

    “Tidak pernah memperhatikan” –

    “Body-nya sexy enggak?”

    Hadirin tertawa lepas. Dan saya lanjutkan tanpa menunggu jawaban mereka.

    “Sexy atau tidak bukan urusan kita, kan? Tidak usah kita perhatikan, tak usah kita amati, tak usah kita dialogkan, diskusikan atau perdebatkan. Biarin saja.

    Keyakinan keagamaan orang lain itu ya ibarat istri orang lain. Ndak usah diomong-omongkan, ndak usah dipersoalkan benar salahnya, mana yang lebih unggul atau apapun. Tentu, masing-masing suami punya penilaian bahwa istrinya begini begitu dibanding istri tetangganya, tapi cukuplah  disimpan didalam hati. Bagi orang non-Islam, agama Islam itu salah. Dan itulah sebabnya ia menjadi orang non-Islam. Kalau dia beranggapan atau meyakini bahwa Islam itu benar, ngapain dia jadi non-Islam? Demikian juga, bagi orang Islam, agama lain itu salah. Justru berdasar itulah maka ia menjadi orang Islam. Tapi, sebagaimana istri tetangga, itu disimpan saja didalam hati, jangan diungkapkan, diperbandingkan, atau dijadikan bahan seminar atau pertengkaran. Biarlah setiap orang memilih istri sendiri-sendiri, dan jagalah kemerdekaan masing-masing orang untuk menghormati dan mencintai istrinya masing-masing, tak usah rewel bahwa istri kita lebih mancung hidungnya karena Bapaknya dulu sunatnya pakai calak dan tidak pakai dokter, umpamanya.

    Dengan kata yang lebih jelas, teologi agama agama tak usah dipertengkarkan, biarkan masing-masing pada keyakinannya. Sementara itu orang muslim yang mau melahirkan padahal motornya gembos, silakan pinjam motor tetangganya yang beragama Katolik untuk mengantar istrinya ke rumah sakit. Atau Pak Pastor yang sebelah sana karena baju misalnya kehujanan, padahal waktunya mendesak, ia boleh pinjam baju koko tetangganya yang NU maupun yang Muhammadiyah. Atau ada orang Hindu kerjasama bikin warung soto dengan tetangga Budha, kemudian bareng-bareng bawa colt bak ke pasar dengan tetangga Protestan untuk kulakan bahan-bahan jualannya. Tetangga-tetangga berbagai pemeluk agama, warga berbagai parpol, golongan, aliran, kelompok, atau apapun, silakan bekerja sama di bidang usaha perekonomian sosial, kebudayaan, sambil saling melindungi koridor teologi masing-masing.

    Bisa memperbaiki pagar bersama-sama, bisa gugur gunung membersihi kampung, bisa pergi mancing bareng bisa main gaple dan remi bersama. Tidak ada masalah lurahnya Muslim, cariknya Katolik, kamituwonya Hindu, kebayannya Gatholoco, atau apapun. Jangankan kerja sama dengan sesama manusia, sedangkan dengan kerbau dan sapi pun kita bekerjasama nyingkal dan nggaru sawah. Itulah lingkaran tulus hati dengan hati. Itulah Maiyah.”

    Emha Ainun Nadjib

     
  • erva kurniawan 6:25 am on 27 July 2014 Permalink | Balas  

    Nasehat IbuCinta Tak Berujung

    Sore ini seperti biasa aku pulang naik angkot. Tidak terlalu jauh memang, tapi kemacetan seringkali membuat aku harus lebih banyak menghirup sesaknya udara polusi. Dan di sinilah, aku seringkali mengingat kisah kami, aku dan bayiku.

    Saat itu, ketika setiap hari ibu membawamu ke kantor, saat itu pula tumbuh rasa sesal di hati ibu. Mungkin sebuah penyesalan yang wajar bagi seorang bunda. Karena ibu sudah memaksamu untuk keluar rumah, menikmati hiruk pikuknya dunia. Idealnya, di usiamu yang masih rentan itu, ibu menungguimu di rumah. Di kamar yang bersih dan sejuk, tanpa polusi, tanpa kericuhan, tanpa keramaian dan tanpa hal-hal yang membuat ibu sendiri pusing. Padahal ibu sudah dewasa, anakku. Bagaimana denganmu, yang masih berusia dua bulan.

    Namun ibu lalui semuanya dengan senyum. Bersama dukungan ayahmu dan iringan tawa riangmu. Hati ibu pun semakin menguat tatkala melihat keluarga yang kurang beruntung. Yang tinggal di pinggir-pinggir jalan. Juga di terminal tempat angkot kita berhenti untuk berganti angkot berikutnya. Ibu melihat betapa anak-anak itu juga bisa tumbuh dewasa, walaupun dengan segala keterbatasan fasilitas orang tuanya. Dari wajah-wajah mereka yang ceria, mereka juga tampak sehat. Allah memang Maha Adil, sayang. Ibu sangat percaya itu.

    Ibu yakin, hal yang terbaik untukmu saat itu adalah dekat dan mendapatkan air susu ibumu. Dan, satu-satunya jalan untuk mewujudkannya, hanya dengan membawamu kemanapun ibu pergi. Aneh! Beberapa orang yang ibu temui di jalan menganggapnya demikian. Pun dengan rekan-rekan sekerja ibu. Apalagi saat ibu memilih menghampirimu daripada menghadiri undangan meeting, saat kau menangis kehausan. Beberapa rekan mengatakan bahwa ibu bisa di-PHK karena itu.

    Tapi ibu tidak takut, sayang. Yang lebih ibu khawatirkan adalah jika ibu tidak bisa memberikan hak yang seharusnya kau terima. Rizki yang diberikan oleh Dzat Yang Maha Welas Asih melalui ibumu yaitu air susu. Karena ibu sangat berharap, bisa menggenapkan kewajiban ibu hingga dua tahun usiamu.

    Untuk itu, maafkan ibu jika terpaksa mengurungmu dalam sesaknya polusi di angkot yang kita naiki. Sungguh, kami tak pernah menghendakinya, sayang.

    Hanya doa yang ibu panjatkan tiap saat agar rasa sesal ini sedikit berkurang. Bermohon kekuatan dan kesehatan untukmu. Mohon agar kau bisa tumbuh sehat dan kuat. Bisa tumbuh dan berkembang dengan sempurna untuk menjadi generasi yang lebih baik daripada kami.

    Ya Tuhanku Allah Yang Maha Waspada…
    Allah Yang Tak Pernah Lengah…
    Dzat Yang Maha Pemurah…

    Berikan perlindungan untuk putra-putri kami…
    Awasi dia selalu…
    Jaga fitrahnya Ya Robb
    Jadikan mereka putra-putri yang sholeh dan sholehah

    Jangan timpakan hukuman pada mereka akibat dosa dan kesalahan kami, Tuhanku…

    Ampuni kami Ya Allah, Berilah kami kekuatan untuk menjadi orang tua yang adil buat mereka, aamiiin.

    ***

    Aku tahu…dan teramat sadar, bahwa aliran kata-kata bermakna doa yang selalu kuhadirkan buat buah hatiku, bukanlah apa-apa dibandingkan dengan pengorbanan ibu bapakku. Aku hanya ingin memulainya saat ini. Untuk menjadi bunda yang baik baginya… untuk menjadi madrasah yang berkualitas buatnya.

    Dengarlah doaku Ya Robbi, dan kabulkan keinginanku.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 22 July 2014 Permalink | Balas  

    madu (1)Kisah Sesendok Madu (Mulailah Dari Diri Sendiri)

    Diceritakan, pada suatu ketika seorang raja ingin menguji kesadaran warga kotanya. Raja memerintahkan agar setiap orang, pada suatu malam yang telah ditetapkan membawa sesendok madu untuk dituangkan dalam sebuah bejana yang telah disediakan di puncak bukit di tengah kota. Seluruh warga kota memahami benar perintah tersebut dan menyatakan kesediaan mereka untuk melaksanakannya. Tetapi, dalam pikiran seorang warga kota ( katakanlah namanya Fulan); terlintas cara untuk mengelak perintah tersebut. “Aku akan membawa sesendok penuh, tapi bukan madu. Aku akan membawa air. Kegelapan malam akan melindungiku dari pandangan mata orang lain. Sesendok air tidak akan mempengaruhi isi bejana yang kelak akan diisi madu oleh seluruh warga kota.”

    Tibalah waktu yang ditetapkan. Apa kemudian yang terjadi? Bejana itu ternyata seluruhnya berisi penuh dengan air! Rupanya seluruh warga kota berpikiran sama dengan si Fulan. Mereka mengharapkan warga kota yang lain membawa madu sambil membebaskan diri dari tanggung jawab.

    Kisah simbolik ini sering terjadi dalam berbagai kehidupan masyarakat. Idealnya memang bahwa seseorang harus memulai dari dirinya sendiri disertai dengan pembuktian yang nyata, baru kemudian melibatkan pengikut-pengikutnya.

    Katakanlah (hai Muhammad), inilah jalanku. Aku mengajak ke jalan Allah disertai dengan pembuktian yang nyata. Aku bersama orang-orang yang mengikutiku (QS 12:108)

    Berperang atau berjuang di jalan Allah tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri, dan bangkitkanlah semangat orang-orang mukmin (pengikut-pengikutmu) (QS 4:84)

    Perhatikanlah kata-kata : “tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri”. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda : “Mulailah dari dirimu sendiri, kemudian susulkanlah keluargamu” Setiap orang menurut beliau adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Berarti setiap orang harus harus tampil terlebih dulu. SIkap mental yang seperti ini akan menyebabkan bejana sang raja akan penuh dengan madu, bukan air, apalagi racun.

    (Dari : Lentera Hati, M Quraish Shihab)

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 21 July 2014 Permalink | Balas  

    motor tuaMotor Tua

    Dengan riang kulangkahkan kaki memasuki pekarangan rumah. Ah, cukup lama aku meninggalkan orang-orang yang kucintai. Langkahku terhenti, pandanganku tertumbuk pada sebuah motor tua. 20 tahun yang lalu motor itu sangat berarti. Allah menyatukan hati papa, mama, aku dan adik-adik (kami 4 bersaudara) lewat kendaraan bekas yang sekarang sudah dipenuhi debu dan karat itu. Sebagai pegawai negeri biasa dengan ekonomi pas-pasan, papa dan mama hanya bisa mencicil sebuah motor sebagai sarana transportasi kami sekeluarga. Waktu itu aku berusia 5 tahun, adikku no 2 berusia 3 tahun, no 3 berusia 2 tahun dan adik bungsuku berusia kira-kira 5 bulan. Kalau kedua orang tuaku pergi, kami semua pasti dibawa.. tentu saja dengan motor tua itu.

    Sejenak, senyumku mengembang seiring memori yang tetap mengalunkan kenangan indah. Urutan-urutan di motor itu adalah : adikku no.2 di depan sekali (di tank bensin), papa (sebagai rider), adikku no.3, aku dan terakhir mama duduk miring ke satu arah dengan menggendong adik bungsuku yang masih bayi. Aku juga ga habis pikir kenapa bisa muat dan kenapa orang tuaku begitu berani ? Tapi sudahlah, semua sudah berlalu dan aku sedang menikmati kebersamaan kami ketika itu.

    Hal yang paling bertahan dalam ingatanku adalah ketika tiba-tiba hujan turun, papa segera menepikan motornya, kami semua diturunkan karena mantel hujan tersimpan di bawah sadel. Mantel dikeluarkan .. kemudian kami kembali menempati posisi dan masuk ke dalam mantel. Mantel satu dipakai ramai-ramai. Pemandangan yang tadinya indah mendadak gelap gulita tapi tawa canda tetap mewarnai perjalanan hingga tempat tujuan.

    Namun… perjalanan hidup tidak selamanya bahagia. Di suatu sore, dalam keadaan kurang sehat papa pulang ke rumah untuk istirahat. Namun di perjalanan papa tidak sempat mengelakkan segerombolan sapi yang melintas dan menabrak salah satunya. Papa terpental dari motor dan mengalami patah kaki. Otomatis, kebersamaan di motor tua terhenti untuk sementara waktu. Terasa ada yang lain.. kami merindukan kehangatan berdesakan di motor tua (tak terasa air mataku mengalir)..

    Betapa bersyukurnya aku dikarunia keluarga yang hidup pas-pasan oleh Allah. Kenangan ini menjadi milikku… belum tentu dimiliki oleh orang lain. Kebahagiaan dan kebersamaan keluargaku dibangun di atas motor tua. Antara percaya dan tidak, tapi aku yakin motor itu jadi salah satu sarana kehangatan aku dan keluarga hingga sekarang. Dengan menyusut air mata, kulangkahkan kaki menuju pintu dan subhaanallaah… suara orang tua dan adik-adik riuh rendah menyambut kedatanganku… Betapa hangatnya cinta-Mu ya Allah. Ijinkan aku untuk selalu ingin memiliki cinta ini…dalam sabar dan syukurku…

    Ayo sobat, bangkitkan kenangan indah beserta anggota keluarga. Janganlah sesekali menyesali kondisi keluarga. Insya Allah kebahagiaan dan semangat akan selalu mewarnai hidup kita. Jangan lupa bersyukur kepada Allah dan berterimakasih kepada orang-orang yang berjasa kepada kita.

    ***

    (Diambil dari http://www.eramuslim.com)

     
  • erva kurniawan 4:56 am on 8 July 2014 Permalink | Balas  

    beruang ikanMengapa Beruang Tumbuh Besar

    Seekor beruang yang bertubuh besar sedang menunggu seharian dengan sabar di tepi sungai deras. Waktu itu memang tidak sedang musim ikan. Sejak pagi ia berdiri di sana mencoba meraih ikan yang meloncat keluar air. Namun, tak satu juga ikan yang berhasil ia tangkap. Setelah berkali-kali mencoba, akhirnya… hup… ia dapat menangkap seekor ikan kecil. Ikan yang tertangkap menjerit-jerit ketakutan.

    Si ikan kecil itu meratap pada sang beruang, “Wahai beruang, tolong lepaskan aku.”

    “Mengapa,” tanya sang beruang.

    “Tidakkah kau lihat, aku ini terlalu kecil, bahkan bisa lolos lewat celah-celah gigimu,” rintih sang ikan.

    “Lalu kenapa?” tanya beruang lagi.

    “Begini saja, tolong kembalikan aku ke sungai. Setelah beberapa bulan aku akan tumbuh menjadi ikan yang besar. Di saat itu kau bisa menangkapku dan memakanku untuk memenuhi seleramu,” kata ikan.

    “Wahai ikan, kau tahu mengapa aku bisa tumbuh begitu besar?” tanya beruang.

    “Mengapa?” ikan balas bertanya sambil menggeleng-geleng kepalanya.

    “Karena aku tak pernah menyerah walau sekecil apa pun keberuntungan yang telah tergenggam di tangan!” jawab beruang sambil tersenyum mantap.

    “Ops!” teriak sang ikan

    Dalam hidup, kita diberi banyak pilihan dan kesempatan. Namun jika kita tidak mau membuka hati dan mata kita untuk melihat dan menerima kesempatan yang Tuhan berikan maka kesempatan itu akan hilang begitu saja. Dan hal ini hanya akan menciptakan penyesalan yang tiada guna di kemudian hari, saat kita harus berucap : “Ohhh….Andaikan aku tidak menyia2kan kesempatan itu dulu…??”.

    Maka bijaksanalah pada hidup, hargai setiap detil kesempatan dalam hidup kita. Disaat sulit, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan; disaat sedih, selalu ada kesempatan untuk meraih kembali kebahagiaan; disaat jatuh selalu ada kesempatan untuk bangkit kembali; dan dalam kesempatan untuk meraih kembali yang terbaik untuk hidup kita.

    Bila kita setia pada perkara yang kecil maka kita akan mendapat perkara yang besar. Bila kita menghargai kesempatan yang kecil, maka ia akan menjadi sebuah kesempatan yang besar.

     
  • erva kurniawan 7:29 am on 15 June 2014 Permalink | Balas  

    siluet-wanitaUkhti Muslimah Bagaimana Akidahmu?

    Penulis Ummu Raihanah (www.jilbabonline.com)

    Sengaja penulis mengambil judul diatas agar ukhti semua senantiasa bermuhasabah (intropeksi) diri, apakah sudah benar aqidah (keyakinan) kita dalam beragama ini? suatu pertanyaan yang mungkin agak sepele akan tetapi sangat sulit untuk dijawab.

    Sebenarnya dari sinilah segala amal akan dihisab oleh Rabb kita, dengan akidah yang shahih (benar) sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah dan pemahaman pendahulu kita salafuna Shalih maka hati kita akan tunduk dan patuh kepadaNya. Menyerahkan seluruh hidup kita dengan penuh kepasrahan dan keikhlasan. Segala perintah yang Allah turunkan dalam kitab-Nya yang Mulia dan melalui lisan Nabi-Nya adalah merupakan hal yang ringan, mudah sehingga jawaban kita terhadap perintah-perintah tersebut adalah ”kami dengar dan kami patuh”, sebuah jawaban yang indah .

    Wahai ukhti muslimah, Cobalah simak firman-Nya:

    ”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu” (Adz-dzariyaat:56)

    Sebuah seruan yang jelas dan pasti untuk kita, yaitu agar kita hanya benar-benar menyembahNya saja, mentauhidkan-Nya, tidak menyekutukan-Nya, tentu ukhti semua menyadari kita ini adalah hamba-hamba-Nya dan suatu saat akan kembali pada-Nya. Karena itulah tugas kita untuk selalu membersihkan akidah kita dari noda-noda kesyirikan.

    Dengan akidah yang bersih inilah kita mulai beramal untuk mencapai derajat takwa derajat wanita shalihah yang kita idam-idamkan.

    Sayangnya, banyak saudari kita yang masih terlena dan jauh dari akidah yang benar, jauh dari syariat yang benar, sehingga apa yang mereka perbuat lebih banyak melanggar perintah-Nya dari pada taat kepada-Nya.

    Wahai ukhti muslimah saudariku, bukan maksud penulis untuk membuka aib atau mencela dan merasa diri sendiri suci dan benar, akan tetapi hanya ingin saling menasehati semoga Allah selalu membimbing kita semua,

    Penulis hanyalah ingin membagi cerita tentang apa yang dialaminya ketika Allah memberikan kemudahan untuk menunaikan rukun islam yang kelima pada tahun 2001 yang lalu bersama sang suami,

    Dengan penuh rasa haru penulis memasuki pesawat dan duduk disebelah saya seorang wanita keturunan Arab yang cantik jelita dengan dua orang anaknya, saya bertanya kepadanya ”Akan pergi kemana?”

    Karena saya melihatnya tanpa mahram, dia menjawab akan ke Dammam. Saya melihatnya dengan prihatin karena kasihan melihatnya kerepotan seorang diri mengurus dua anaknya yang agak rewel di pesawat, Saya membantunya memasukkan barang-barangnya yang sempat tercecer keluar diantaranya adalah abaya hitam (gamis panjang) dan jilbab panjang hitam,

    Saya bertanya, “Apakah anda memakai ini sama seperti saya? Saya bertanya heran karena beliau saat itu mengenakan setelan celana jean ketat dan kaos ketat, beliau menjawab: ”Iya, di Saudikan kita haram terbuka seperti ini, setiba saya di bandara saya akan memakainya, mbak orang Arab?

    Saya menjawab: “Bukan”

    Beliau bertanya lagi : “Oh, tetapi kenapa pake cadar apa karena suami mbak orang Arab jadi disuruh pake begitu?” Beliau bertanya sambil melirik ke suami saya.

    Sayapun menjelaskannya dengan panjang lebar mengapa saya memakai cadar kepadanya, dan alhamdulillah dia mengerti.

    Suatu kejadian yang sungguh disesalkan dimana banyak kaum kita (wanita) memahami bahwa perintah jilbab adalah ditaati ketika suatu negara mewajibkannya bukan karena ketaatan dan ketundukan hati.

    Ketika penulis sampai di Madinahpun banyak meneteskan air mata karena ternyata, saudari-saudari kita yang shalat disana masih banyak yang melakukan kemusyrikan diantaranya mencium tiang-tiang masjid Nabawi dan menyapunya keseluruh tubuh untuk mencari berkah walaupun polisi wanita di sana meneriaki haram, toh mereka tak perduli, jalan terus, sungguh menyedihkan.

    Hal tersebut tak jauh berbeda saya dapati di Masjidil Haram, mereka berdesak-desakkan mencari berkah di tempat keluarnya air zam-zam, mengorek-ngorek dinding tersebut , teriakan saudari kita yang lain melarang perbuatan itu sama sekali tidak digubris,

    Saya hanya bisa berdo’a semoga Allah memberi mereka hidayah.

    Setibanya di Bandara Jeddah untuk pulang ketanah air, saya mendapatkan pengalaman yang sangat menarik, karena tempat pemeriksaan antara laki-laki dan wanita dipisah, jadilah saya sendiri menghadapi petugas imigrasi bandara, mereka lama sekali melihat kesaya, sayapun bertanya kepadanya dalam bahasa Arab : Apakah ada masalah?

    Petugas itu agak terkejut karena dia melihat paspor saya adalah paspor indonesia. Dia menjawab: ”tidak”.

    Salah seorang petugas imigrasi yang lain mendatangi saya dan bertanya apakah saya benar-benar orang indonesia asli bukan keturunan Arab, saya mengiyakan, dia pun berkata kepada saya: ”Coba lihat di sana itu semuakan teman-temanmu mereka sudah melepaskan kerudung mereka semua karena sudah selesai dari hajinya, ” Saya tidak sempat menjawab banyak karena saya melihat wajah khawatir suami saya dari jauh.

    Dengan sangat terpaksa sayapun meninggalkan beliau yang masih dalam kebingungan.

    Ini adalah suatu kenyataan ukhti, saudariku. Sebuah hal yang sungguh patut di renungkan, apabila memang hati kita benar-benar telah tunduk kepada-Nya kita akan selalu taat dimanapun kita berada tanpa memandang situasi dan kondisi hingga kita menghadap-Nya.

    Semoga Allah senantiasa membimbing dan menjaga kita untuk istiqomah di jalan-Nya dan menjadikan seluruh amalan kita ikhlas kepada-Nya bersih dari riya dan kesyirikan.

     
  • erva kurniawan 8:50 am on 1 June 2014 Permalink | Balas  

    istri solekhahIsteriku, Matahariku

    Saya pernah ditinggal istri seharian untuk mengikuti suatu acara. Acaranya memang bermanfaat, baik untuk istri saya maupun untuk kepentingan umat. Konsekuensinya saya harus momong lima anak mulai dari yang besar 11 tahun sampai si bungsu 2,5 tahun. Kebetulan hari itu nenek mereka sedang sibuk dan anak-anak pun sedang libur sekolah.

    Agenda yang saya lakukan pertama kali adalah memonitor apakah anak pertama dan kedua sudah mandi. Lalu saya membantu anak ketiga dan keempat untuk mandi sekaligus memandikan si bungsu. Berikutnya adalah makan pagi. Alhamdulillah, lauk dan nasi sudah disediakan istri sebelum ia berangkat. Anak pertama sampai ketiga sudah biasa makan sendiri, tapi anak keempat dan kelima ini harus saya suapi. Jangan harap mereka duduk manis saat saya suapi, saya malahan ikut berlarian kesana kemari mengejar si kecil untuk makan. Saat akan disuapi pun mereka akan berebut siapa yang harus disuapi lebih dulu.

    Agenda berikutnya adalah membersihkan rumah. Anak pertama mendapat tugas mencuci piring, sedangkan adiknya hari itu membersihkan halaman dan ruang tamu. Saya sendiri merapikan kamar tidur dan lain-lain seperti yang biasa dilakukan isteri. Sedangkan anak ketiga, keempat dan kelima asyik bermain-main. Satunya berlari-lari, yang lain main bongkar pasang dan satunya lagi bermain dengan anak tetangga. Namanya anak-anak, bermain selalu saja dihiasi dengan tangisan akibat berebut mainan yang terbatas jumlahnya. Belum lagi soal baju bersih yang berubah kotor saat dipakai bermain.

    Saat urusan bersih-bersih rumah usai, tahu-tahu waktu sudah menjelang siang. Berarti persiapan shalat dhuhur dan makan siang harus dilakukan. Alhamdulillah nasi dan sayurnya masih ada, walaupun lauknya sudah habis. Kebetulan masih ada telur. Tinggal goreng saja, pikir saya. Akhirnya saya menggoreng ceplok telur. Hasilnya lumayan walaupun sedikit gosong. Makannya seperti tadi pagi. Saya kembali mengejar kedua anak saya yang masih balita untuk disuapi. Baru kemudian dilanjutkan acara sholat dzuhur dan istirahat siang.

    Semua pekerjaan tetap bisa tertangani walaupun hasilnya tidak maksimal sebagaimana jika istri ada di rumah. Anak-anak juga tetap mandi, makan, bermain dan tidur siang di rumah walaupun tidak seceria saat ibunya ada di rumah. Rumah dan peralatan dapur juga bisa dibersihkan, tetapi memang tidak sebersih dan seasri ketika istri di rumah. Anak-anak juga tetap bisa menjalankan shalat, sekalipun ayahnya tidak bisa menjalankan sholat berjama’ah di Masjid. Saya juga masih bisa mengerjakan tugas-tugas rutin (mengajar di Pesantren), tapi tidak senyaman dibandingkan ketika ibunya anak-anak di rumah.

    Pengalaman itu membawa saya pada pemahaman bahwa keberadaan istri itu penting. Bukan semata-mata sebagai ibu rumah tangga saja tapi lebih kepada cahaya dalam keluarga, sesuatu yang melahirkan motivasi, rasa aman, kenyamanan dan keceriaan dalam satu keluarga. Keadaan ini memberikan jawaban untuk saya mengapa keluarga tanpa ibu terkesan suram atau juga kenyataan bahwa seorang anak lebih tidak siap ditinggal oleh ibunya dibandingkan oleh ayahnya.

    Begitu pentingnya makna kehadiran istri shalihah dalam satu rumah tangga membuat saya sadar bahwa di balik setiap orang besar seperti Rasulullah SAW ada istri yang mendukungnya.

    Saya pernah ditanya oleh seorang teman,” Apakah Anda ingin nikah lagi?” Saya menjawab,”Belum berpikir dan hingga sekarang tidak pernah berpikir ke arah sana.” Bukan berarti anti, apalagi mengharamkannya.

    Jawaban saya ini jujur dari hati saya yang paling dalam. Alasannya, pertama, istri saya telah memberikan kontribusi kebaikan yang sangat banyak dalam rumah tangga ini. Kedua, bagi saya keluarga itu merupakan susunan yang terdiri dari unsur-unsur kenangan, komitmen, emosi, cita-cita, markas atau pangkalan, labuhan dan sejarah. Jadi tidak bisa dirubah atau digantikan atau disempurnakan begitu saja oleh unsur lain kecuali dengan unsur yang yang ada di dalamnya. Kalau toh ada program menikah lagi, ide bukan dari saya tetapi dari istri dan tentunya berdasarkan hasil musyawarah dengan anak-anak. Karena merekalah yang akan merasakan dampak langsung, baik yang positif maupun yang negatif.

    Suatu kedzoliman manakala dalam diri kita muncul pikiran untuk menyia-nyiakan istri atau memberikan apresiasi yang rendah terhadap perkerjaan isteri. Ditinggal satu hari saja saya sudah kerepotan menghadapi pekerjaan rumah tangga dan anak-anak. Istri menghadapi hal itu seperti itu bukan sehari dua seperti saya, tapi sudah menjadi rutinitas. Sedikit pun ia tidak pernah mengeluh. Suatu kedzaliman pula jika sebagai suami, begitu pelit untuk memberi hadiah atau penghargaan, sekalipun hanya sebuah ucapan terima kasih, maaf atau kata-kata menyenangkan lainnya. Apalagi jika diingat-ingat lagi perjuangan untuk mendapatkan istri saya yang sekarang juga bisa dibilang tidak ringan.

    Semoga tidak berlebihan jika saya mengatakan dalam berbagai kesempatan bahwa istri ibarat matahari. Ia bersinar, menerangi dan menghangatkan setiap jiwa yang ada di dalam rumah. Karenanya, tetaplah bersinar wahai matahariku!

    ***

    Dari Sahabat: Dosen pada Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor

     
  • erva kurniawan 8:34 am on 30 May 2014 Permalink | Balas  

    sholatTiga Hal Membawa Keuntungan

    Pada suatu hari Imam Syafi’i ra berkunjung ke rumah Imam Ahmad bin Hambal. Seusai makan malam bersamanya, Imam Syafi’i masuk ke kamar yang telah disediakan untuknya, beliau segera berbaring hingga esok fajar.

    Puteri Imam Ahmad yang mengamati Imam Syafi’i sejak awal kedatangannya hingga masuk kamar tidur, terkejut melihat teman dekat ayahnya itu. Dengan terheran-heran ia bertanya, “Ayah…, Ayah selalu memuji dan mengatakan bahwa Imam Syafi’i itu seorang ulama yang amat alim. Tapi setelah kuperhatikan dengan seksama, pada dirinya banyak hal yang tidak berkenan di hatiku, dan tidak sealim yang kukira.”

    Imam Ahmad agak terkejut mendengar perkataan puterinya. Ia balik bertanya, “Ia seorang yang alim, anakku. Mengapa engkau berkata demikian?”

    sang puteri berkata lagi, “Aku perhatikan ada tiga hal kekurangannya, Ayah. Pertama, pada waktu disuguhi makanan, makannya lahap sekali. Kedua, sejak masuk ke kamarnya, ia tidak shalat malam dan baru keluar dari kamarnya sesudah tiba shalat shubuh. Ketiga, ia shalat shubuh tanpa berwudhu.”

    Imam Ahmad merenungkan perkataan puterinya itu, maka untuk mengetahui lebih jelasnya dia menyampaikan pengamatan puterinya kepada Imam Syafi’i.

    Maka Imam syafi’i tersenyum mendengar pengaduan puteri Imam Ahmad tersebut. Lalu ia berkata, “Ya Ahmad, ketahuilah olehmu. Aku banyak makan di rumahmu karena aku tahu makanan yang ada di rumahmu jelas halal dan thoyib. Maka aku tidak meragukannya sama sekali. Karena itulah aku bisa makan dengan tenang dan lahap. Lagipula aku tahu bahwa engkau seorang pemurah. Makanan seorang pemurah adalah obat, sedangkan makanan orang kikir adalah penyakit. Aku makan semalam bukan untuk kenyang, akan tetapi untuk berobat dengan makananmu itu, ya Ahmad. Sedangkan mengapa aku semalam tidak shalat malam karena ketika aku meletakkan kepalaku di atas bantal tidur, tiba-tiba seakan-akan aku melihat di hadapanku kitab Alloh dan sunnah Rasul-Nya. Dengan izin Alloh, malam itu aku dapat menyusun 72 masalah Ilmu Fiqh Islam sehingga aku tidak sempat untuk shalat malam. Sedangkan kenapa aku tidak wudhu lagi ketika shalat shubuh karena aku pada malam itu tidak dapat tidur sekejap pun. Aku semalam tidak tidur sehingga aku shalat fajar dengan wudhu shalat Isya”.

    ***

    (Abu Abdurrahman Ali – khasanah no.21 th.ix)

     
  • erva kurniawan 8:16 am on 29 May 2014 Permalink | Balas  

    siluet burungAl-Balkhi dan Si Burung Pincang

    Alkisah, hiduplah pada zaman dahulu seorang yang terkenal dengan kesalehannya, bernama al-Balkhi. Ia mempunyai sahabat karib yang bernama Ibrahim bin Adham yang terkenal sangat zuhud. Orang sering memanggil Ibrahim bin Adham dengan panggilan Abu Ishak.

    Pada suatu hari, al-Balkhi berangkat ke negeri orang untuk berdagang. Sebelum berangkat, tidak ketinggalan ia berpamitan kepada sahabatnya itu. Namun belum lama al-Balkhi meninggalkan tempat itu, tiba-tiba ia datang lagi. Sahabatnya menjadi heran, mengapa ia pulang begitu cepat dari yang direncanakannya. Padahal negeri yang ditujunya sangat jauh lokasinya. Ibrahim bin Adham yang saat itu berada di masjid langsung bertanya kepada al-Balkhi, sahabatnya. “Wahai al-Balkhi sahabatku, mengapa engkau pulang begitu cepat?”

    “Dalam perjalanan”, jawab al-Balkhi, “Aku melihat suatu keanehan, sehingga aku memutuskan untuk segera membatalkan perjalanan”.

    “Keanehan apa yang kamu maksud?” tanya Ibrahim bin Adham penasaran.

    “Ketika aku sedang beristirahat di sebuah bangunan yang telah rusak”, jawab al-Balkhi menceritakan, “Aku memperhatikan seekor burung yang pincang dan buta. Aku pun kemudian bertanya-tanya dalam hati. “Bagaimana burung ini bisa bertahan hidup, padahal ia berada di tempat yang jauh dari teman-temannya, matanya tidak bisa melihat, berjalan pun ia tak bisa”.

    “Tidak lama kemudian”, lanjut al-Balkhi, “Ada seekor burung lain yang dengan susah payah menghampirinya sambil membawa makanan untuknya. Seharian penuh aku terus memperhatikan gerak-gerik burung itu. Ternyata ia tak pernah kekurangan makanan, karena ia berulangkali diberi makanan oleh temannya yang sehat”.

    “Lantas apa hubungannya dengan kepulanganmu?” tanya Ibrahim bin Adham yang belum mengerti maksud kepulangan sahabat karibnya itu dengan segera.

    “Maka aku pun berkesimpulan”, jawab al-Balkhi seraya bergumam, “Bahwa Sang Pemberi Rizki telah memberi rizki yang cukup kepada seekor burung yang pincang lagi buta dan jauh dari teman-temannya. Kalau begitu, Allah Maha Pemberi, tentu akan pula mencukupkan rizkiku sekali pun aku tidak bekerja”. Oleh karena itu, aku pun akhirnya memutuskan untuk segera pulang saat itu juga”.

    Mendengar penuturan sahabatnya itu, Ibrahim bin Adham berkata, “wahai al-Balkhi sahabatku, mengapa engkau memiliki pemikiran serendah itu? Mengapa engkau rela mensejajarkan derajatmu dengan seekor burung pincang lagi buta itu? Mengapa kamu mengikhlaskan dirimu sendiri untuk hidup dari belas kasihan dan bantuan orang lain? Mengapa kamu tidak berpikiran sehat untuk mencoba perilaku burung yang satunya lagi? Ia bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan kebutuhan hidup sahabatnya yang memang tidak mampu bekerja? Apakah kamu tidak tahu, bahwa tangan di atas itu lebih mulia daripada tangan di bawah?”

    Al-Balkhi pun langsung menyadari kekhilafannya. Ia baru sadar bahwa dirinya salah dalam mengambil pelajaran dari kedua burung tersebut. Saat itu pulalah ia langsung bangkit dan mohon diri kepada Ibrahim bin Adham seraya berkata, “wahai Abu Ishak, ternyata engkaulah guru kami yang baik”. Lalu berangkatlah ia melanjutkan perjalanan dagangnya yang sempat tertunda.

    Dari kisah ini, mengingatkan kita semua pada hadits yang diriwayatkan dari Miqdam bin Ma’dikarib radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, yang artinya: “Tidak ada sama sekali cara yang lebih baik bagi seseorang untuk makan selain dari memakan hasil karya tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud ‘alaihis salam makan dari hasil jerih payahnya sendiri” (HR. Bukhari).

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:50 am on 25 May 2014 Permalink | Balas  

    kerang mutiaraKalung Mutiara Imitasi

    Ini cerita tentang Muthia, seorang gadis kecil yang ceria berusia Lima tahun.

    Pada suatu sore, Muthia menemani Ibunya berbelanja di suatu supermarket. Ketika sedang menunggu giliran membayar, Muthia melihat sebentuk kalung mutiara mungil berwarna putih berkilauan, tergantung dalam sebuah kotak berwarna pink yang sangat cantik.

    Kalung itu nampak begitu indah, sehingga Muthia sangat ingin memilikinya. Tapi… Dia tahu, pasti Ibunya akan berkeberatan. Seperti biasanya, sebelum berangkat ke supermarket dia sudah berjanji tidak akan meminta apapun selain yang sudah disetujui untuk dibeli. Dan tadi Ibunya sudah menyetujui untuk membelikannya kaos kaki ber-renda yang cantik. Namun karena kalung itu sangat indah, diberanikannya bertanya. “Ibu, bolehkah Muthia memiliki kalung ini ? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang tadi… ”

    Sang Bunda segera mengambil kotak kalung dari tangan Muthia. Dibaliknya tertera harga Rp 15,000. Dilihatnya mata Muthia yang memandangnya dengan penuh harap dan cemas. Sebenarnya dia bisa saja langsung membelikan kalung itu, namun ia tak mau bersikap tidak konsisten. “Oke … Muthia, kamu boleh memiliki kalung ini. Tapi kembalikan kaos kaki yang kau pilih tadi. Dan karena harga kalung ini lebih mahal dari kaos kaki itu, Ibu akan potong uang tabunganmu untuk minggu depan. Setuju ?”

    Muthia mengangguk lega, dan segera berlari riang mengembalikan kaos kaki ke raknya. “Terima kasih…, Ibu”

    Muthia sangat menyukai dan menyayangi kalung mutiaranya. Menurutnya, kalung itu membuatnya nampak cantik dan dewasa. Dia merasa secantik Ibunya. Kalung itu tak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika tidur. Kalung itu hanya dilepasnya jika dia mandi atau berenang. Sebab, kata ibunya, jika basah, kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya menjadi hijau.

    Setiap malam sebelum tidur, ayah Muthia membacakan cerita pengantar tidur. Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita, Ayah bertanya “Muthia…, Muthia sayang ngga sama Ayah ?”

    “Tentu dong… Ayah pasti tahu kalau Muthia sayang Ayah!”

    “Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu…”

    “Yah…, jangan dong Ayah ! Ayah boleh ambil “si Ratu” boneka kuda dari nenek…! Itu kesayanganku juga”

    “Ya sudahlah sayang,… ngga apa-apa !”. Ayah mencium pipi Muthia sebelum keluar dari kamar Muthia.

    Kira-kira seminggu berikutnya, setelah selesai membacakan cerita, Ayah bertanya lagi, “Muthia…, Muthia sayang nggak sih, sama Ayah?”

    “Ayah, Ayah tahu bukan kalau Muthia sayang sekali pada Ayah?”.

    “Kalau begitu, berikan pada Ayah kalung mutiaramu.”

    “Jangan Ayah… tapi kalau Ayah mau, Ayah boleh ambil boneka Barbie ini..” kata Muthia seraya menyerahkan boneka Barbie yang selalu menemaninya bermain.

    Beberapa malam kemudian, ketika Ayah masuk kekamarnya, Muthia sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ketika didekati, Muthia rupanya sedang menangis diam-diam. Kedua tangannya tergenggam di atas pangkuan. “Ada apa Muthia, kenapa Muthia ?”

    Tanpa berucap sepatah pun, Muthia membuka tangan-nya. Di dalamnya melingkar cantik kalung mutiara kesayangannya.

    “Kalau Ayah mau… ambillah kalung Muthia.”

    Ayah tersenyum mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan mungil Muthia. Kalung itu dimasukkan ke dalam kantong celana. Dan dari kantong yang satunya, dikeluarkan sebentuk kalung mutiara putih… sama cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi Muthia.

    “Muthia… ini untuk Muthia. Sama bukan ? Memang begitu nampaknya, tapi kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi hijau.”

    Ya, ternyata Ayah memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung mutiara imitasi Muthia.

    Demikian pula halnya dengan Alloh SWT terkadang Dia meminta sesuatu dari kita, karena Dia berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik. Namun, kadang-kadang kita seperti atau bahkan lebih naif dari Muthia. Menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga, dan oleh karenanya tidak ikhlas bila harus kehilangan. Untuk itulah perlunya sikap ikhlas, karena kita yakin tidak akan Alloh SWT mengambil sesuatu dari kita jika tidak akan menggantinya dengan yang lebih baik. Semoga bermanfaat, amin.

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 21 May 2014 Permalink | Balas  

    pasirHanya Karena Sebutir Pasir

    Sir Edmund Hillary, penakluk pertama Mount Everest, puncak tertinggi dunia di Pegunungan Himalaya; pernah ditanya wartawan apa yang paling ditakutinya dalam menjelajah alam?

    Hillary mengatakan bahwa dia tidak takut pada binatang buas, jurang yang curam, bongkahan es raksasa atau padang pasir yang luas dan gersang sekalipun!

    Lantas apa? – “Sebutir pasir yang terselip di sela-sela jari kaki,” kata Hillary –

    Wartawan heran, tetapi sang penjelajah melanjutkan kata-katanya, “ Sebutir pasir yang masuk di sela-sela jari kaki sering sekali menjadi awal malapetaka. Ia bisa masuk ke kulit kaki atau menyelusup lewat kuku. Lama-lama jari kaki terkena infeksi lalu membusuk (gangren). Tanpa sadar kakipun tidak bisa digerakkan. Itulah malapetaka bagi seorang penjelajah sebab dia harus ditandu.”

    Harimau, dan binatang buas lainnya adalah binatang yang secara naluriah takut menghadapi manusia. Sedang untuk menghadapi jurang terjal, padang pasir, seorang penjelajah pasti sudah punya persiapan yang memadai. Tetapi jika menghadapai sebutir pasir yang akan masuk ke jari kaki, seorang penjelajah tak mempersiapkannya. Dia cenderung mengabaikannya.

    Jika kita renungkan dengan apa yang dinyatakan Hillary sebenarnya sama dengan kita, yang mengabaikan dosa kecil, seperti mencicipi minuman keras, berdusta, berburuksangka, serta tindakan tercela lainnya yang dianggap sepele.

    Sebab itulah kita akan sering ‘keterusan’ melakukan dosa-dosa kecil yang lambat laun akan menjadi kebiasaan. Dosa kecil itupun akan menjadi dosa besar yang akan merugikan diri pribadi dan lingkungan.

    Dengan melihat potensi kerusakan besar, akibat terbentuk dari dosa-dosa kecil itulah Nabi Muhammad SAW memperingatkan umatnya agar tidak mengabaikan dosa-dosa kecil seraya tidak melupakan amal kebaikan meskipun juga kecil.

    Dalam kisah sufi diceritakan bahwa seorang pelacur masuk surga hanya karena memberi minum anjing yang kehausan. Perbuatan yang cenderung dinilai sangat kecil ternyata di mata Tuhan punya nilai besar karena faktor keikhlasannya.

    Itulah nilai setetes air penyejuk yang diberikan sang pelacur pada anjing yang kehausan.

    Bukankah semua roh yang ada di seluruh jagad ini, termasuk roh anjing tersebut hakekatnya berasal dari Tuhan Yang Maha Pencipta juga?

    (Dari Motivasi_Net)

     
  • erva kurniawan 8:10 am on 17 May 2014 Permalink | Balas  

    agus salimTokoh: H. Agus Salim

    Oleh: PakTani

    Sebagai tokoh perjuangan, ia punya kadar kualitas yang sulit dicari tandingannya. Terutama kecerdasannya, barangkali termasuk jenius. Semua orang yang pernah bicara dengannya, mengakui itu.

    Mohammad Natsir (alm), tokoh Islam termasyhur mengungkapkan, “Kalau kita hendak menggunakan kualifikasi intelektual brilian pada salah seorang putra Indonesia, maka saya rasa yang paling pertama tepat ialah pada Haji Agus Salim.”

    Tokoh tiga jaman yang hingga kini masih hidup, Prof. DR. Roeslan Abdulgani, juga mengakui, “Siapa yang pernah mengenal Oude Heer Salim dari dekat, pasti tertarik oleh nilai isi segala pembicaraannya, yang mencerminkan dua hal, yaitu ketajaman otak dan mendalamnya kehidupan keagamaannya.”

    Fisiknya sih biasa-biasa saja. Bahkan ukurannya temasuk kecil, dan yang tak pernah lupa adalah jenggotnya selalu dipelihara dan rokok kretek yang tak pernah berhenti mengepul dari dua bibirnya. Tapi tubuhnya yang kecil, tidak menjadikan dirinya kecil hati berhadapan dengan orang lain. Justru ia tampak gesit dan selalu mendominasi dalam setiap pembicaraan, seolah tidak memberi kesempatan lawan bicaranya mengungkapkan dua atau tiga patah kata. “Saya mengundang kedua beliau itu bersantap di Ruang Pertemuan Tenaga Pengajar, dan duduk di tengah kedua beliau itu saya pun terperangah,” George Mct. Kahin, profesor di Universitas Cornell Amerika Serikat, mengungkapkan kesaksiannya.

    Yang dimaksud beliau di situ adalah Ngo Dinh Diem, tokoh perjuangan kemerdekaan Vietnam Selatan, dan Agus Salim. Diem telah dikenal sebagai seorang yang senantiasa merajai setiap percakapan.

    “Percakapannya berlangsung dalam bahasa Perancis –bahasa yang paling dimahiri Diem– namun Haji Salim tetap mengungguli Diem, berbicara amat fasihnya, sehingga Diem tidak mendapat peluang sedikit pun!” McT. Kahin melanjutkan kesaksiannya.

    Lain lagi kesan Mohammad Hatta. Di samping kecerdasan, di mata mantan Wakil Presiden RI pertama ini, kekuatan Salim terletak pada keyakinan, ketangkasan, dan ketegasannya membela suatu pendirian yang sudah diambilnya. Setia kawannya juga besar. Ia sanggup menghadapi berbagai kesulitan dengan sabar.

    Dengan segala kelebihannya itu, baik lawan maupun kawan jadi segan kepadanya. Termasuk Belanda. Di antara tokoh perjuangan, Salim termasuk yang belum pernah meringkuk di penjara. Meskipun kritikan-kritikannya kepada Belanda sangat berani dan tajam. “Saya selalu sangat hati-hati akan jangkauan UU penguasa dan berusaha untuk tidak kena jerat,” kata Agus Salim tentang kiatnya.

    Bukan berarti tanpa kelemahan. “Ia kadang kurang sabar untuk mengupas suatu masalah sampai tuntas,” ujar Hatta. Mungkin karena proses berfikirnya yang terlalu cepat sehingga tampak melompat-lompat. Akibatnya, satu masalah belum selesai dikupasnya, sudah pindah ke soal lain. “Ini barangkali pembawaan dari seorang yang jenial,” tambah Hatta.

    Tapi kelemahan yang sungguh mengherankan sebagaimana dicatat Prof Schermerhorn dari Belanda adalah, Salim hidup melarat sepanjang hayatnya!

    Kukuh

    Sebagai orang yang berpendidikan dan berkemampuan tinggi, apalagi ia menjadi pemimpin ternama, agak sulit dipahami bila Salim hidup dalam kemiskinan. Tidak sulit rasanya bila Salim yang menguasai 6 bahasa asing (Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, Arab dan Turki) ini ingin hidup enak dan bergelimang harta. Dengan bekerja di pemerintah Belanda, misalnya, tentu ia akan kaya. Toh itu tidak ia lakukan.

    Tahun l925 ia pernah diminta jadi pimpinan redaksi harian Hindia Baroe, milik segolongan orang pribumi dan Belanda. Di tangan Salim Hindia Baroe maju pesat. Tetapi karena tulisan-tulisan Salim yang pedas dan tajam mengkritik Belanda, membuat pemiliknya gerah juga. Mereka minta agar Salim memperlunak kritiknya. Tanpa pikir panjang, esok harinya Salim mengundurkan diri dari jabatannya. “Pendapat saya tentang Pemerintah Hindia Belanda dan kebijaksanaannya, saya tidak bersedia ditawar-tawar,” katanya kepada Mohamad Roem yang menanyakan keputusannya itu.

    Di Jakarta ia bersama keluarganya tinggal dari rumah kontrak yang satu ke rumah kontrak yang lain. Bukan rumah megah di tepi jalan raya, melainkan rumah jelek di gang-gang sempit dan becek. Di antaranya Salim pernah tinggal di daerah Tanah Abang, di Karet, Jatinegara, Gang Kerlonong, Gang Toapekong, Gang Listrik dan banyak lagi. Khususnya di Gang Listrik, di sinilah justru mereka hidup benar-benar tanpa listrik, karena tak kuat membayar sewa listrik.

    Mohamad Roem, orang yang sejak muda dekat dengan Salim menyaksikan sendiri. Salim dan keluarganya pernah tinggal dalam satu ruangan sempit. “Kopor-kopor bertumpuk di pinggir ruangan serta beberapa kasur digulung, sedangkan di tengah ada ruang yang bebas untuk duduk-duduk dan menerima tamu,” tutur Roem. Menderitakah mereka?

    Orang luar yang melihatnya tentu akan menjawab iya. Tapi tidak dengan Salim. Ia adalah seorang ayah yang sangat dekat dan sayang kepada keluarganya –semua anaknya tidak ada yang disekolahkan di luar, tapi dididik sendiri. Bukan tak mampu mengongkosi, tapi karena prinsip.

    Pernah suatu ketika istrinya yang tabah kehabisan uang untuk membeli lauk-pauk. Sambil bergurau dengan anak-anaknya, Salim menyingsingkan lengan baju beramai-ramai membuat nasi goreng. Jadilah seisi rumah riang gembira, sementara anak-anaknya merasa mendapat “traktiran” istimewa dari sang ayah.

    Seorang ayah yang pasrah dan tawakkal juga nampak dari sikapnya yang tenang ketika pernah hendak pindah rumah, namun tak ada uang untuk biaya. “Allah Maha Besar. Kita tentu akan diberi-Nya jalan,” katanya tenang. Tak lama kemudian datang wesel, kiriman pembayaran sesuatu yang tak diduga-duga.

    Dibesarkan Belanda

    Boleh dibilang, sejak remaja Salim dibesarkan Belanda. Di samping menimba ilmu di sekolah Belanda, ia pernah dibimbing secara khusus oleh Brouwer, seorang guru Belanda yang terpikat kepada kecerdasannya. Semasa menempuh pendidikan HBS di Jakarta, ia juga in de kost pada keluarga Belanda bernama Koks. Ayahnya termasuk pula pejabat di pemerintah Hindia Belanda, sehingga hidup Salim relatif tidak mengalami penderitaan karena penjajahan. Lalu mengapa ia kemudian berbalik menentang penjajah Belanda?

    Lahir dari pasangan Angku Sutan Mohammad Salim dan Siti Zainab pada 8 Oktober l884 di Kota Gedang, Minangkabau, Sumatera Barat. Ayahnya adalah seorang Hoofd (jaksa atau kepala jaksa) di Pengadilan Tinggi Riau dan daerah bawahannya. Kedudukan Hoofd jaksa, apalagi bagi penduduk pribumi, ketika itu termasuk tinggi dan sangat terhormat. Itulah sebabnya Salim dan kakaknya bisa diterima di Europese Lagere School (ELS), sekolah khusus anak-anak Eropa.

    Selama menempuh pendidikan di ELS, prestasi Salim sangat cemerlang. Dalam semua pelajaran, ia mengungguli anak-anak Eropa lainnya. Pun tatkala menempuh Hogere Burger School (HBS) –sekolah setingkat SMA khusus anak-anak Eropa– di Jakarta, Salim yang punya nama asli Masyudul Haq ini tetap unggul. Pada akhir studi, ia berhasil keluar sebagai lulusan terbaik di HBS se-Hindia Belanda (Jakarta, Bandung dan Surabaya).

    Sebenarnya ia ingin melanjutkan studi kedokteran di Belanda, tapi kandas karena tiada biaya. Berbagai upaya dilakukan, di antaranya mengajukan beasiswa dan persamaan status kewarganegaraan sederajat dengan bangsa Eropa, namun gagal juga. Kabarnya, Kartini pernah mengusahakan beasiswa untuk Salim tapi juga nihil. Di sinilah titik balik pada diri Salim mulai muncul. Ia mulai tidak senang kepada Belanda yang menjalankan politik diskriminasi.

    Gagal berangkat ke negeri Belanda, Salim kembali ke Riau dan bekerja pada sebuah kongsi pertambangan di Indragiri. Di sini ia bekerja sebagai penerjemah dan pembantu notaris. Sebagai lulusan HBS, ia memang menguasai sejumlah bahasa asing: Belanda, Inggris, Perancis dan Jerman. Untuk pemuda seukuran Salim (21), pekerjaan itu cukup mentereng.

    Namun, lain bagi kedua orang tuanya. Ada sesuatu yang mencemaskan. Di mata kedua orang tuanya, putra kelima dari lima belas bersaudara itu menunjukkan tanda-tanda menyimpang dari nilai-nilai masyarakat ketimuran, lebih-lebih Islam. Bahkan tanda-tanda menyimpang itu sudah dirasakan sejak Salim menempuh pendidikan di HBS.

    Salim sendiri tidak mengelak. Itu sesuai pengakuan Salim ketika memberi kuliah di Cornell University Amerika Serikat tahun l953. Pendidikan di HBS, akunya, telah berhasil menjauhkan dirinya dari ajaran Islam. Setelah lima tahun di HBS, Salim merasa tak dapat berpegang kepada satu agama pun secara sungguh-sungguh. Hanya karena keluarganya termasuk taat beribadah, maka dalam berislam seakan-akan ia sekedar melanjutkan tradisi. Saat itu ia melihat agama hanya sebagai sesuatu yang dibutuhkan oleh orang yang kurang terdidik; kalau tidak, orang bakal memasuki jalan sesat.

    Dalam kondisi iman yang labil seperti itu, datanglah tawaran dari pemerintah Hindia Belanda untuk bekerja di Konsulat Belanda di Jeddah, Arab Saudi. Atas dorongan orang tuanya, Salim pun berangkat ke Jeddah pada tahun l906 dalam usia 22 tahun. Orang tuanya berharap, selama di Arab Saudi itu Salim bisa kembali memulihkan imannya. Apalagi di sana ada pamannya yang menjadi guru besar sekaligus imam di Masjidil Haram, yakni Syech Ahmad Khatib.

    Namun, selain orang tuanya, ternyata Prof Snouck Hurgronje juga berperan besar atas keberangkatan Salim ke Jeddah itu. Dalam pertemuannya dengan Salim tahun l906 di Jakarta, orientalis terkenal itu menyarankan Salim agar tidak usah melanjutkan studi kedokteran. “Karena menjadi dokter itu bayarannya kecil,” ujar Hurgronje yang lantas menawarkan gagasan yang menurutnya lebih baik. Di mata Hurgronje, Salim adalah seorang intelektual muda yang sangat cerdas dan fikirannya tajam serta punya keberanian luar biasa untuk ukuran orang melayu. Maka atas anjuran Hurgronje pula pemerintah Hindia Belanda menawarkan pekerjaan di konsulat Jeddah. Di sana Salim bertugas sebagai ahli penterjemah dan mengurusi jamaah haji asal Indonesia.

    Terkabul harapan orang tua Salim. Disamping bekerja, Salim tekun mendalami Islam kepada Syech Ahmad Khatib, yang juga menjadi gurunya KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU dan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Saat itu, Syech Ahmad terkenal sebagai salah satu tokoh pembaharu dari mazhab Imam Syafi’i.

    Jabatan-jabatan yang pernah diduduki Agus Salim:

    1. Anggota Volksraad l921-l924.
    2. Anggota Panitia 9 BPUPKI mempersiapkan UUD 1945.
    3. Menteri Muda Luar Negeri Kabinet Syahrir II l946 dan Kabinet III l947.
    4. Tokoh kunci pembuka hubungan diplomatik Indonesia dengan negara-negara Arab, terutama Mesir, 1947.
    5. Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Amir Syarifuddin l947.
    6. Menteri Luar Negeri Kabinet Hatta l948-l949.

    Sebagai orang yang pernah mendapat gemblengan dari sistem pendidikan barat dan berpengetahuan umum cukup luas, Salim menerima pelajaran dari pamannya dengan sikap kritis. Syech Ahmad meladeni pertanyaan muridnya itu dengan arif dan memberikan jawaban-jawaban yang berbobot. Itulah yang membuat roh Islam menancap kokoh di sanubari Salim. Islam bagi Salim bukan lagi sebagai warisan, tetapi sudah dilandasi pemahaman yang mendalam.

    Ajaran Islam yang memang menentang penindasan atas manusia, semakin menebalkan sikap antipati Salim kepada Belanda. Apalagi saat itu Muhammad Abduh, intelektual dari Mesir, sedang gencar-gencarnya melancarkan pembaharuan Islam. Gerakan Abduh ini berpengaruh luas di dunia Islam dan membangkitkan negara-negara Islam yang masih banyak dihimpit kaum penjajah.

    Salim kembali ke Tanah Air pada l911. Sempat lima hari bekerja di Kantor Pekerjaan Umum Jakarta, Salim lantas mengundurkan diri dari pegawai pemerintah Hindia Belanda. Ia kemudian kembali ke Kota Gedang mendirikan sekolah dasar HIS. Tahun l915 ia kembali ke Jawa dan tak lama kemudian ia nyebur ke dunia pergerakan lewat Sarekat Islam (SI). (Bas)

    Pemberi Cap Islam di SI

    Sejak masuk Syarikat Islam (SI), peran Salim cukup besar. Bahkan dalam perjalanannya, Salim pernah menjadi tangan kanan pemimpin utama SI, yakni HOS Tjokroaminoto. Dua pemimpin ini seolah menjadi sejoli yang sulit digantikan. Keduanya punya kelebihan dan kelemahan yang saling melengkapi. Tjokro dikenal sebagai pemimpin yang kharismatis, sedang Salim adalah tokoh intelektual Islam yang luas pengetahuannya.

    Menurut Deliar Noer, di dalam bukunya Gerakan Modern Islam di Indonesia, Salimlah yang lebih banyak memberi cap Islam pada SI. “Salim bukan saja seorang yang mengetahui pikiran-pikiran Barat, tetapi dialah pemimpin SI yang paling mengetahui tentang Islam dari sumber aslinya,” tulis Deliar. Berbeda dengan Tjokroaminoto. D.A Rinkes, penasihat untuk Bumiputra yang sering mengadakan perjalanan bersama Tjokroaminoto menilai, “Tjokroaminoto lebih merupakan priyayi yang berpaham bebas daripada seorang Islam yang fanatik.”

    Peranan Salim di SI sangat menonjol terutama dalam merumuskan kebijakan dan strategi perjuangan organisasi. Hal itu tampak saat ia berusaha membersihkan orang-orang PKI yang mulai menyusup ke tubuh SI. Usaha pembersihan itu terkenal dengan istilah “Disiplin Partai”.

    Pertentangan PKI dengan Islam di SI sudah mencuat sejak tahun l917. PKI diwakili Darsono, dan Semaun dari Cabang Semarang, sedang Islam diwakili Agus Salim dan Abdoel Moeis. Sikap Tjokroaminoto sendiri tampak kurang tegas terhadap konflik tersebut. Ia lebih mengutamakan persatuan di tubuh SI ketimbang perbedaan yang menurutnya bukanlah sesuatu yang prinsip. Berbeda dengan Salim. Ia berpendapat, masalah PKI sangatlah prinsip, karena menyangkut akidah.

    Perdebatan sengit tak terelakkan saat digelar Kongres Luar Biasa SI keenam di Surabaya tahun l921, antara PKI dengan Salim. Dua agenda besar dibahas dalam Kongres: masalah disiplin partai dan penegasan asas SI.

    Soal asas Salim menyatakan, “Tidak perlu mencari isme-isme lain yang akan mengobati penyakit gerakan. Obatnya ada di dalam asasnya sendiri, asas yang lama dan kekal, yang tidak dapat dimubahkan orang, sungguhpun sedunia telah memusuhi dengan permusuhan lain. Asas itu adalah Islam.”

    Dalam hal PKI, Salim meminta agar Kongres mengeluarkannya dari SI. Sambil mengutip ayat al-Qur’an Salim menegaskan, “Di dalam al-Qur’an terkandung perintah yang melarang kita bersaudara, yakni berikatan lahir batin dengan orang yang tidak sama keyakinan dengan kita. Karena mereka selalu hendak menjerumuskan kita dan mereka suka bila kita menderita bencana.”

    Menanggapi Salim, Semaun menjawab bahwa SI perlu taktik yang lebih luas. Selama ini, katanya, SI hanya mampu mengumpulkan orang Islam saja buat bekerja bersama-sama membela hak rakyat. Padahal, selain Islam masih ada orang lain yang jumlahnya tidak sedikit. “PKI sudah nyata bisa membawa orang-orang Ambon, Manado, dan lain-lain rakyat Hindia yang tidak beragama Islam. Bilangan mereka tidak sedikit, pengaruhnya harus pula dihargakan. Di sini PKI sudah membuktikan taktiknya, bekerja dengan orang Islam Kristen guna keperluan rakyat.”

    Akan tetapi, semua argumentasi dan pembelaan Semaun dapat dipatahkan Salim dan Moeis. Dalam kongres itu Salim telah menunjukkan dirinya sebagai pemimpin Islam yang tangguh, yang tidak saja menguasai ilmu-ilmu Islam, melainkan juga pemikiran-pemikiran Barat seperti komunisme. Sehingga argumentasi-argumentasi Salim dalam perdebatannya dengan golongan komunis sangat tajam.

    Kongres akhirnya mensahkan keputusan disiplin partai dan Islam sebagai asas SI. Akibatnya, PKI harus keluar dari SI. Tak lama kemudian, Semaun dan Darsono membentuk SI sendiri yang terkenal dengan sebutan “SI Merah”.

    Tahun l934 Tjokroaminoto meninggal dunia, Salim menggantikan sebagai Ketua Umum SI. Setelah itu peran Salim di SI surut, seiring dengan konfliknya dengan Aboekosno. Pokok utamanya adalah garis partai. Salim mengusulkan agar garis kebijaksanaan SI diubah, dari non-kooperatif menjadi kooperatif. Pertimbangannya, demi menyelamatkan SI sendiri. Soalnya pada tahun-tahun itu sudah mulai bertindak keras, terhadap pihak-pihak penentangnya. Tetapi justru karena usulannya itu, ia disingkirkan Aboekosno dari SI.

    Tahun l936, Salim bersama Sangadji membentuk Barisan Penyadar. Setelah Partai Masyumi muncul pasca kemerdekaan, Salim bergabung dengan partai politik terbesar yang pernah dimiliki ummat Islam Indonesia itu.

    Salim wafat 4 November l954 pada usia 70 tahun dan mendapat gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional l961. Salim meninggalkan tujuh anak dan seorang istri bernama Zainatun Nahar Almatsier.

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 14 May 2014 Permalink | Balas  

    Kakek PenjualKakek Penjual Lem

    Pada suatu hari, tepatnya itu hari jum’at. Sekitar pukul 11.45 saya pergi k mesjid belakang kampus untuk menunaikan ibadah sholat jum’at dan dzuhur. Saya berjalan dengan teman kelas yang juga beragama islam untuk menunaikan sholat bersama. Ketika perjalanan ke mesjid sekitar 10 meter dari mesjid terlihat seorang kakek tua yang duduk lemas di pinggiran dinding dan pagar kampus. Sekilas saya berfikir itu seorang pengemis, ketika makin dekat perjalanan saya dengan si kakek tua itu. Saya tergejut ternyata dia pedagang Lem kertas. Sementara saya lihat di kerumunan banyak orang yang lalu lalang, tidak ada satu pun mahasiswa yang mendekati si kakek tua itu dengan maksud membeli barang dagangannya. Hati ini berdegup kencang dengan sedikit sedih melihat kondisi si kakek yang sudah tua. Namun waktu sholat sudah hampir mulai, dengan terpaksa saya harus melanjutkan berjalanan saya ke mesjid dengan maksud nanti setelah sholat saya akan menemui kakek itu.

    Setelah saya menunaikan sholat, saya langsung keluar mesjid dan memakai sepatu saya. Dengan sedikit tergesa-gesa saya langsung menghampiri kakek tua yang ternyata dia juga baru selesai sholat. Dalam hati saya berkata “Ya Allah Hebat sekali kakek ini meskipun dia sudah tua, tetapi dia tetap menjalankan kewajiban sholatnya dengan harus berjalan kaki yang saya rasa diapun susah untuk berjalan”. Akhir nya saya sampai di tempat kakek tua, dan saya langsung berbincang kepada si kakek.

    “Kek,Jualan apa disini”.tanyaku basa-basi untuk memulai perbincangan.

    “Jual Lem kertas cu”. Jawab kakek itu pelan.

    “Berapa kek 1 nya?”. Tanyaku lagi.

    “1500 cu”. Jawab dia singkat.

    “cucu mau beli?” tanyanya.

    “ia kek, oia hari ini kakek sudah laku berapa lemnya?”.tanyaku kembali

    “Kalo kamu jadi beli, kamu pembeli pertama yang membeli dagangan kakek hari ini.”katanya.

    Akupun kaget mendengar jawabannya. Dari sekian banyak mahasiswa yang lewat belom ada 1 orang pun yang membeli barang dagangannya. Karena, untuk kalangan mahasiswa tidak terlalu membutuhkan Lem kertas.

    “Kakek kenapa berjualan? Cucu kakek kemana?”. Bertanya dengan rasa ingin tahu.

    “Kakek sendiri cu sudah 5 tahun lebih kakek hidup sendiri”. Jawabnya sambil meneteskan air mata.

    “Maaf kek kalau saya banyak bertanya, ya sudah saya ambil semua ya kek lem nya” ujarku dengan senang hati sambil mengeluarkan uang 100.000,-.

    Kakek itu pun memelukku sambil mengucapkan terima kasih.

    Saya yakin harga lem itu tidak seberapa, tapi hanya demi kebutuhan makan harian kakek itu pun rela berjualan sepanjang hari untuk melangsungan hidupnya.

     
  • erva kurniawan 4:00 am on 4 May 2014 Permalink | Balas  

    siluet kesendirianJawaban Seorang Murid

    Suatu ketika Syafiq Al Balkhi bertanya kepada muridnya, Hatim Al Asham, “Apakah pelajaran yang dapat engkau petik sejak menemaniku?”

    Mendengar pertanyaan dari sang guru, Hatim menjawab, “Ada enam pelajaran yang dapat aku petik. Pertama, ketika aku melihat manusia selalu mencemaskan masalah rezeki sedangkan mereka bakhil dengan apa yang telah mereka dapat dan tamak dengannya. Karena aku termasuk makhluk yang menjalar di muka bumi, maka aku tidak meresahkan hatiku apa yang telah dijamin Yang Maha Kuasa.”

    Syafiq mendengarkan dengan seksama, “Bagus.” ujarnya.

    “Yang kedua, karena aku melihat semua orang mempunyai teman yang menjadi tempat pengaduannya untuk mengatakan semua permasalahan dan rahasianya, sedangkan mereka tidak membelanya pada waktu temannya susah. Aku menjadikan amal shaleh sebagai temanku agar ia dapat membantuku kepada waktu hisab dan membelaku ketika dihadapkan kepada Alloh.”

    “Bagus,” kata Syafiq lagi, dengan terus menanti uraian kalimat berikutnya dari sang murid.

    “Ketiga, aku melihat setiap orang mempunyai musuh. Aku melihat setiap orang yang menggunjingku bukanlah musuhku, bukan orang yang mendzalimiku, bukan pula orang yang berbuat jahat kepadaku. Tapi orang-orang tersebut telah memberiku keuntungan dari mereka dan akan menanggung dosa-dosaku. Musuhku adalah orang-orang yang apabila aku mentaati Alloh, mereka menggodaku unruk melakukan kedurhakaan. Aku menganggap bahwa mereka itu adalah iblis, nafsu, dunia, dan hawa. Oleh karena itu aku menjadikan mereka sebagai musuhku. Aku akan berhati-hati dengan mereka dan mempersiapkan segala sesuatu untuk memerangi mereka. Aku tidak akan membiarkan mereka mendekatiku.”

    Safiq masih dengan ketekunannya memperhatikan ucapan muridnya itu. “Bagus,” katanya lagi.

    “Keempat, aku melihat setiap makhluk hidup dalam keadaan diburu, dan pemburu tersebut adalah malaikat maut. Maka aku mempersiapkan diri untuk menemuinya dan akan segera menyambutnya tanpa penghalang.”

    “Bagus.” ungkap Syafiq lagi.

    “Kelima, aku melihat semua manusia selalu dalam keadaan saling menyayangi dan saling membenci. Lalu aku mempelajari sebab dari sayang dan benci. Oleh karena itu aku membuang jauh-jauh dariku sifat hasad. Kemudian aku mencintai semua manusia sebagaimana aku mencintai diriku sendiri.”

    Syafiq berucap lagi menanggapi perkataan muridnya, “Bagus!”

    “Keenam, aku melihat setiap orang yang bertempat pasti akan berpisah dengan tempatnya. Maka aku melihat bahwa tempat kembali semua orang yang menetap tersebut adalah kubur. Oleh karena itu aku mempersiapkan untuknya segala persiapan berupa amal-amal shaleh untuk menetap di tempatku yang baru tersebut sedangkan tidak ada tempat dibelakangnya kecuali surga dan neraka.”

    Untuk kesekian kalinya, Syafiq berkata lagi, “Bagus.” ujarnya seraya menutup pembicaraan. *** (Irfanul Hakim)

     
  • erva kurniawan 2:01 am on 2 May 2014 Permalink | Balas  

    bukuBuku Merah Itu

    Kubaca kembali lembar pertama buku lusuh dihadapanku. Seperti tak percaya kubalik lembar demi lembarnya, untuk memastikan kembali isinya. Ya Allah, memang benar ini tulisanku!!!

    Buku merah itu kutemukan di tumpukan paling bawah, di laci meja belajarku. Sejak pagi hari tadi, hingga sekarang pukul 11 siang, aku sibuk membereskan kamarku yang berantakan tak terurus. Penyebab utamanya tak lain karena kesibukanku di kantor yang memuncak beberapa bulan ini.

    Kembali kuamati buku yang ujungnya telah termakan kutu buku. Masing-masing halamannya hanya terbagi dalam tiga kolom. Pertama, kolom hari dan tanggal, selanjutnya aktivitas, dan terakhir keterangan. Kucermati baris pertamanya. Jumat, 14 Juli 2000. Sholat subuh, dhuhur, ashar, magrib dan isya’. Sholat sunnah: tahajud, rawatib dan dhuha. Baca Al Qur’an: 3 juz, wirid: istighfar 500 kali, Tasbih, Tahmid dan Tahlil, masing-masing 100 kali, Al Ma’tsurat pagi dan sore, Surat Yaasin, Waqiah dan Ar Rahman. Selanjutnya, kulihat kolom keterangan. Tampak semua tanda centang berada di kolom ”terlaksana”, yang merupakan bagian dari kolom keterangan. Lalu, tanganku yang kotor oleh debu, refleks membalik lembar demi lembarnya yang tak menampakkan perbedaan, selain menampakkan peningkatan aktivitas ibadah, dari hari ke hari. Dan buku itu, berakhir ditulis pada tanggal 24 Agustus 2000. Subhannallah… mataku nanar, dan setetes air beningnya tak bisa kutahan lagi.

    ***

    Otakku berputar untuk mengingat tahun berapa saat ini. Robb, sudah tiga tahun hamba berpaling dari-Mu. Dan aku seperti tak merasakannya. Kesibukan yang kemudian berubah menjadi rutinitas dan membuat hatiku mengeras karena malah menyukainya, telah mengungkungku selama ini. Mungkin banyak orang berkata, bahwa catatan ibadahku tadi bukan apa-apa karena amalan sunnahnya hanya beberapa. Namun bagiku, saat itu adalah puncak kedekatanku dengan-Nya. Tuhan Pencipta Alam Semesta. Karena berikutnya, aku menjauh dan semakin menjauhi-Nya.

    Astaghfirullahal adziim.

    Ingatanku kembali menyusuri tiga tahun yang tak berasa. Aku ingat, kejauhanku dengan Robb-ku diawali dengan beratnya melaksanakan ibadah wajib tepat waktu. Lantas bersambung ke ibadah sunnah yang mulai hilang satu-satu. Ujungnya, sholat lima waktu hanya sekedarnya. Sekedar menggugurkan kewajiban. Sementara berdoa, bukan lagi kurasakan sebagai sarana komunikasi dengan Allah Yang Maha Pemurah, melainkan hanya aliran kata-kata yang tak pernah kuresapi maknanya. Air mata pun tak pernah lagi mengucur deras, saat tangan ini menengadah. Apalagi wirid, karena seusai salam kubaca, mukena pun langsung kulepas. Astaghfirullahal adziim…

    ***

    Ya Allah, tiga tahun yang sia-sia. Kerugian yang tiada terhitung. Tuhanku, hamba ingin bangkit. Terlalu banyak titik dosa yang terukir di lembaran hidup hamba, tak sebanding dengan amalan kebajikan yang hamba lakukan. Robb, beri hamba kekuatan untuk bangkit menuju-Mu… agar hati ini kembali tenang. Agar segala yang hamba lakukan mendapat ridho-Mu… Hidup hamba gersang, Tuhanku. Tak ada air sejuk yang mengaliri jalan yang hamba tempuh… tak ada tempat mengadu seperti dulu Ya Allah… hamba terlalu memanjakan diri hamba untuk tidur semalaman, hanya karena alasan terlalu lelah. Padahal, kelelahan yang sesungguhnya adalah saat ini, saat hamba jauh dari-Mu. Ya Allah… ampunkan dosa hamba, Robb. Terima hamba kembali Ya Allah… jangan biarkan hamba jauh dari nur-Mu Yaa Rohim. Hamba ingin sekali kembali, berkhalwat dengan-Mu setiap malam dan menunaikan segala perintah-Mu seperti dulu lagi. Hamba rindu kepada-Mu Ya Allah… teramat rindu.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 2:12 am on 29 April 2014 Permalink | Balas  

    ilmu-adalah-pelitaMenyombongkan Ilmu

    Seorang ahli hikmah berpetuah, “Jangan sekali-kali membicarakan suatu ilmu pada tempat dan keadaan yang tidak cocok, apalagi menyombongkannya.”

    “Seperti pernah dialami seorang sarjana,” kata ahli hikmah itu. “Ketika naik perahu menuju sebuah pulau kecil nun jauh di seberang pantai, ia menerangkan bahwa sukses hidup manusia bergantung pada empat jenis ilmu : ilmu hitung, ilmu ekonomi, ilmu sosial, dan ilmu politik.”

    “Apakah anda menguasai ilmu hitung ?” tanya sang sarjana.

    “Tidak.” jawab tukang perahu.

    “Waduh bahaya, kalau begitu, sukses hidup anda berkurang 25%. Tapi tentu anda mengetahui ilmu ekonomi …?”

    “Tidak juga,” jawab tukang perahu.

    “Berarti sukses hidup Anda tinggal 50%. Itupun jika Anda menguasai ilmu sosial dan ilmu politik.”

    “Kedua ilmu itupun saya tidak tahu,” tukang perahu tersenyum kecil.

    “Gawat ! Kalau begitu, sukses hidup Anda mungkin tak ada lagi,” komentar sang sarjana sambil geleng-geleng kepala.

    Tiba-tiba datang angin puting beliung. Ombak besar pun menggulung hingga perahu terbalik. Tukang perahu dan sang sarjana terlempar ke laut. Sambil berenang santai, tukang perahu berteriak kepada sang sarjana yang timbul tenggelam tanpa daya.

    “Apakah Anda menguasai ilmu berenang, wahai Tuan Sarjana ?”

    “Ti … ti … ti …dak, toloong … “ teriak sarjana itu ketakutan.

    “Kalau begitu, 100% sukses hidup Anda hilang sudah,” gumam tukang perahu.

    Wassalaam

    ***

    Kutipan dari : Percikan Hikmah. Berdialog dengan Hati Nurani

    H. Usep Romli HM.

     
  • erva kurniawan 2:24 am on 27 April 2014 Permalink | Balas  

    jagungJagung

    Seorang wartawan mewawancarai seorang petani untuk mengetahui rahasia di balik buah jagungnya yang selama bertahun-tahun selalu berhasil memenangkan kontes perlombaan hasil pertanian. Petani itu mengaku ia sama sekali tidak mempunyai rahasia khusus karena ia selalu membagi-bagikan bibit jagung terbaiknya pada tetangga-tetangga di sekitar perkebunannya.

    “Mengapa anda membagi-bagikan bibit jagung terbaik itu pada tetangga-tetangga anda? Bukankah mereka mengikuti kontes ini juga setiap tahunnya?” tanya sang wartawan.

    “Tak tahukah anda?,” jawab petani itu. “Bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari bunga-bunga yang masak dan menebarkannya dari satu ladang ke ladang yang lain. Bila tanaman jagung tetangga saya buruk, maka serbuk sari yang ditebarkan ke ladang saya juga buruk. Ini tentu menurunkan kualitas jagung saya. Bila saya ingin mendapatkan hasil jagung yang baik, saya harus menolong tetangga saya mendapatkan jagung yang baik pula.”

    Begitu pula dengan hidup kita. Mereka yang ingin meraih keberhasilan harus menolong tetangganya menjadi berhasil pula. Mereka yang menginginkan hidup dengan baik harus menolong tetangganya hidup dengan baik pula. Nilai dari hidup kita diukur dari kehidupan-kehidupan yang disentuhnya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:43 am on 24 April 2014 Permalink | Balas  

    siluet pulangSketsa Kehidupan

    Seorang gadis bernama Li-Li menikah dan tinggal bersama suami dan ibu mertua. Dalam waktu singkat, Li-Li menyadari bahwa ia tidak dapat cocok dengan ibu mertuanya dalam segala hal. Kepribadian mereka berbeda, dan Li-Li sangat marah dengan banyak kebiasaan ibu mertua. Li-Li juga dikritik terus-menerus. Hari demi hari, minggu demi minggu, Li-Li dan ibu mertua tidak pernah berhenti konflik dan bertengkar. Keadaan jadi tambah buruk, karena berdasarkan tradisi Cina, Li-Li harus taat kepada setiap permintaan sang mertua.

    Semua keributan dan pertengkaran di rumah itu mengakibatkan suami yang miskin itu ada dalam stress yang besar.

    Akhirnya, Li-Li tidak tahan lagi dengan temperamen buruk dan dominasi ibu mertuanya, dan dia memutuskan untuk melakukan sesuatu.

    Li-Li pergi menemui teman baik ayahnya, Mr. Huang, yang menjual jamu. Li-Li menceritakan apa yang dialaminya dan meminta kalau-kalau Mr. Huang dapat memberinya sejumlah racun supaya semua kesulitannya selesai.

    Mr. Huang berpikir sejenak dan tersenyum dan akhirnya berkata, Li-Li, saya akan menolong, tapi kamu harus mendengarkan dan melakukan semua yang saya minta.

    Li-Li menjawab, “Baik, saya akan melakukan apa saja yang anda minta.” Mr. Huang masuk kedalam ruangan dan kembali beberapa menit kemudian dengan sekantong jamu.

    Dia memberitahu Li-Li, “Kamu tidak boleh menggunakan racun yang bereaksi cepat untuk menyingkirkan ibu mertuamu, karena nanti orang-orang akan curiga. Karena itu saya memberimu sejumlah jamu yang secara perlahan akan meracuni tubuh ibu mertuamu. Setiap hari masakkan daging atau ayam dan kemudian campurkan sedikit jamu ini. Nah, untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang mencurigaimu pada waktu ia meninggal, kamu harus berhati-hati dan bertindak dangan sangat baik dan bersahabat. Jangan berdebat dengannya, taati dia, dan perlakukan dia seperti seorang ratu.”

    Li-Li sangat senang. Dia kembali ke rumah dan memulai rencana pembunuhan terhadap ibu mertua.

    Minggu demi minggu berlalu, dan berbulan-bulan berlalu, dan setiap hari, Lili melayani ibu mertua dengan masakan yang dibuat secara khusus. Li-Li ingat apa yang dikatakan Mr. Huang tentang menghindari kecurigaan, jadi Li-Li mengendalikan emosinya, mentaati ibu mertua, memperlakukan ibu mertuanya seperti ibu-nya sendiri dengan sangat baik dan bersahabat.

    Setelah enam bulan, seluruh rumah berubah. Li-Li telah belajar mengendalikan emosinya begitu rupa sehingga hampir-hampir ia tidak pernah meledak dalam amarah atau kekecewaan. Dia tidak berdebat sekalipun dengan ibu mertuanya, yang sekarang kelihatan jauh lebih baik dan mudah ditemani.

    Sikap ibu mertua terhadp Li-Li berubah, dan dia mulai menyayangi Li-Li seperti anaknya sendiri. Dia terus memberitahu teman-teman dan kenalannya bahwa Li-Li adalah menantu terbaik yang pernah ditemuinya. Li-Li dan ibu mertuanya sekarang berlaku sepertu ibu dan anak sungguhan.

    Suami Li-Li sangat senang melihat apa yang telah terjadi.

    Satu hari, Li-Li datang menemui Mr. Huang dan minta pertolongan lagi. Dia berkata, “Mr. Huang, tolonglah saya untuk mencegah racun itu membunuh ibu mertua saya. Dia telah berubah mencaji wanita yang sangat baik dan saya mengasihinya seperti ibu saya sendiri. Saya tidak ingin dia mati karena racun yang saya berikan.”

    Mr. Huang tersenyum dan mengangkat kepalanya. “Li-Li, tidak usah khawatir. Saya tidak pernah memberimu racun. Jamu yang saya berikan dulu adalah vitamin untuk meningkatkan kesehatannya. Satu-satunya racun yang pernah ada ialah didalam pikiran dan sikapmu terhadapnya, tapi semua sudah lenyap oleh kasih yang engkau berikan padanya.”

    Teman, pernahkah engkau menyadari bahwa sebagaimana perlakukanmu terhadap orang lain akan sama dengan apa yang akan mereka lakukan terhadap kita?

    Pepatah China berkata: Orang yang mengasihi orang lain akan dikasihi.

    ***

    1. Dunia itu racun, zuhud itu obatnya.
    2. Harta itu racun, zakat itu obatnya.
    3. Perkataan yang sia-sia itu racun, zikir itu obatnya.
    4. Seluruh umur itu racun, taat itu obatnya.
    5. Seluruh tahun itu racun, Ramadhan itu obatnya.

    “Sesungguhnya Syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan melalaikan kamu dari mengingati Allah dan sembahyang, maka maukah kamu berhenti. (Berhenti daripada mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak diridhai oleh Allah)” (Al-Maaidah A.91)

    “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendah diri dan rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara (senantiasa) diwaktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai” (Al-A’raaf A.205)

    “Wahai anak Adam, habiskanlah waktumu beribadat kepadaKu, maka Daku akan lapangkan kamu daripada kehendak-kehendakmu, Daku akan hapuskan kemiskinanmu. Jika tidak akan Ku bebani kamu dengan urusan-urusan dan tugas-tugas yang sibuk. Serta kerjakanlah amal-amalan kebajikan supaya kamu jaya didunia dan selamat sampai ke akhirat.” (Al-Hajj A.44)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 2:09 am on 16 April 2014 Permalink | Balas  

    ayahKasih Yang Sebenarnya

    Suatu malam, di sebuah stasiun radio, sedang berlangsung acara dimana orang- orang berbagi pengalaman hidup mereka. Perhatian saya yang semula tercurah pada tugas statistik beralih ketika seorang wanita bercerita tentang ayahnya. Wanita ini adalah anak tunggal dari sebuah keluarga sederhana yang tinggal di pinggiran kota Jakarta. Sejak kecil ia sering dimarahi oleh ayahnya. Di mata sang ayah, tak satupun yang dikerjakan olehnya benar.

    Setiap hari ia berusaha keras untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginan ayahnya, namun tetap saja hanya ketidakpuasan sang ayah yang ia dapatkan. Pada waktu ia berumur 17 tahun, tak sepatah ucapan selamat pun yang keluar dari mulut ayahnya. Hal ini membuat wanita itu semakin membenci ayahnya. Sosok ayah yang melekat dalam dirinya adalah sosok yang pemarah dan tidak memperhatikan dirinya. Akhirnya ia memberontak dan tak pernah satu hari pun ia lewati tanpa bertengkar dengan ayahnya.

    Beberapa hari setelah ulang tahun yang ke-17, ayah wanita itu meninggal dunia akibat penyakit kanker yang tak pernah ia ceritakan kepada siapapun kecuali pada istrinya. Walaupun merasa sedih dan kehilangan, namun di dalam diri wanita itu masih tersimpan rasa benci terhadap ayahnya.

    Suatu hari ketika membantu ibunya membereskan barang-barang peninggalan almarhum, ia menemukan sebuah bingkisan yang dibungkus dengan rapi dan di atasnya tertulis “Untuk Anakku Tersayang”.

    Dengan hati-hati diambilnya bingkisan tersebut dan mulai membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan dan sebuah buku yang telah lama ia idam-idamkan. Di samping kedua benda itu, terdapat sebuah kartu ucapan berwarna merah muda, warna kesukaannya. Perlahan ia membuka kartu tersebut dan mulai membaca tulisan yang ada di dalamnya, yang ia kenali betul sebagai tulisan tangan ayahnya.

    Ya Allah,

    Subhanallah,Terima kasih karena Engkau mempercayai diriku yang rendah ini Untuk memperoleh karunia terbesar dalam hidupku

    Kumohon Ya Allah, Jadikan buah kasih hambaMu ini

    Orang yang berarti bagi sesamanya dan bagiMu Jangan kau berikan jalan yang lurus dan luas membentang

    Berikan pula jalan yang penuh liku dan duri Agar ia dapat meresapi kehidupan dengan seutuhnya

    Sekali lagi kumohon Ya Allah, Sertailah anakku dalam setiap langkah yang ia tempuh Jadikan ia sesuai dengan kehendakMu

    Selamat ulang tahun anakku Doa ayah selalu menyertaimu “Dari Ayah yang Selalu Menyayangimu, sayang”

    Meledaklah tangis sang anak usai membaca tulisan yang terdapat dalam kartu tersebut. Ibunya menghampiri dan menanyakan apa yang terjadi. Dalam pelukan ibunya, ia menceritakan semua tentang bingkisan dan tulisan yang terdapat dalam kartu ulang tahunnya. Ibu wanita itu akhirnya menceritakan bahwa ayahnya memang sengaja merahasiakan penyakitnya dan mendidik anaknya dengan keras agar sang anak menjadi wanita yang kuat, tegar dan tidak terlalu kehilangan sosok ayahnya ketika ajal menjemput akibat penyakit yang diderita……..

    Pada akhir acara, wanita itu mengingatkan para pemirsa agar tidak selalu melihat apa yang kita lihat dengan kedua mata kita. Lihatlah juga segala sesuatu dengan mata hati kita. Apa yang kita lihat dengan kedua mata kita terkadang tidak sepenuhnya seperti apa yang sebenarnya terjadi.

    “Kasih seorang ayah, seorang ibu, saudara-saudara, orang-orang di sekitar kita, dan terutama kasih Allah dilimpahkan pada kita dengan berbagai cara. Sekarang tinggal bagaimana kita menerima, menyerap, mengartikan dan membalas Kasih Yang Sebenarnya……………” kata wanita tersebut menutup acara pada malam hari itu.

    ***

    Penulis – Tidak Diketahui

    Sumber – Tidak Diketahui

    Kiriman – Seorang Sahabat

     
  • erva kurniawan 6:13 am on 6 April 2014 Permalink | Balas  

    nasehat-quran1Mengapa saya memilih Islam

    Farouk B. Karai (Zanzibar)

    Saya memeluk agama Islam sebagai buah dorongan jiwa saya sendiri dan karena besarnya kecintaan dan penghargaan saya kepada Rasul Islam Muhammad s.a.w. Hati saya telah dicengkeram oleh perasaan-perasaan itu sejak lama secara spontan. Tambahan lagi, saya tinggal di Zanzibar, dimana banyak sahabat-sahabat saya yang beragama Islam telah memberi kesempatan kepada saya untuk mempelajari dan mengerti Islam secukupnya. Maka secara diam-diam saya telah membaca sebahagian tulisan tentang Islam, karena takut ketahuan oleh keluarga saya. Pada bulan Desember 1940 saya telah menemukan diri saya telah siap menghadapi dunia, lalu saya umumkan ke-Islaman saya. Sejak waktu itu mulailah terjadi pemboikotan dan tentangan dari pihak keluarga maupun orang lain dalam masyarakat Persi yang sebelumnya memang saya tergolong dari padanya. Lama sekali kisah kesulitan-kesulitan yang harus saya lalui.

    Keluarga saya dengan keras menentang saya memeluk agama Islam, dan mereka telah mempergunakan berbagai cara yang dikiranya dapat menyulitkan saya. Akan tetapi sejak cahaya iman tumbuh dalam jiwa saya, tidak ada satupun kekuatan yang mampu menghalangi saya untuk menempuh agama yang halus yang telah saya pilih, yakni jalan iman kepada Allah yang Satu dan kepada Rasul-Nya, Muhammad s.a.w. Saya tegak keras bagaikan batu-batu Gibraltar menghadapi segala musibah dan kesulitan yang disebabkan oleh famili saya berulang kali. Ke-Imanan saya kepada Allah, kepada kebijaksanaanNya dan kepada takdir-Nya telah memantapkan langkah-langkah saya menerobos segala kesulitan itu.

    Saya telah mempelajari tafsir Al-Qur’an dalam bahasa Gujarti yang telah banyak menolong saya, dan saya dapat mengatakan tanpa satu ketakutanpun bahwa tidak ada satupun Kitab dari agama lain yang dapat menandinginya. Al-Qur’an adalah satu-satunya Kitab Suci yang sempurna. Ajaran-ajarannya mudah dan menyerukan kecintaan, persaudaraan, persamaan dan kemanusiaan. Sungguh Al-Qur’an itu suatu Kitab Suci yang mengagumkan, dan mengikuti ajaran-ajarannya merupakan jaminan kejayaan kaum Muslimin untuk selama-lamanya.

    ***

    Sumber: Mengapa Kami Memilih Islam

     
  • erva kurniawan 2:41 am on 2 April 2014 Permalink | Balas  

    kerja kerasDimanakah Sumber Rizkiku

    Inur bukanlah seorang pengangguran. Dia muslimat rajin, mandiri dan berbakti pada orang tuanya. Semenjak SMA, dia sudah bekerja sebagai pramuniaga di Pekanbaru. Pulang sekolah dia shalat Dhuhur, makan siang terus jaga toko. Sambil nunggu pelanggan, dia memanfaatkan waktu sempit itu untuk membaca buku pelajaran. Jam sembilan malam toko tutup. Dia pulang, membantu ibunya nyuci piring, makan dan sebelum tidur dia kerjakan PR jika memang ada PR dari gurunya. Begitulah kesehariannya dia jalani selama tiga tahun di SMA. Ketika teman-teman SMA-nya pada jingkrak-jingkrak karena lulus SMA, dia justru mengerutkan dahi. Adiknya yang masih SMP sebentar lagi masuk SMA. Orang tuanya tidak mungkin lagi membiayai. Sementara dengan gaji sebagai pramuniaga tidak akan cukup.

    Akhirnya Inur memutuskan pergi ke Batam dengan harapan mendapatkan gaji lebih besar. Sesampainya di Batam dia bekerja di perusahaan swasta dengan gaji Rp. 390.000,-. Walaupun dia tinggal di rumah liar dengan dinding papan, rumah diatas pinggiran laut dengan aroma sekitar yang kurang bersahabat, dia tidak pernah mengeluh. Target utamanya dia bisa ngirim uang ke orang tua dan bisa membiayai adiknya sekolah. Baru kerja tiga bulan di Batam, tiba-tiba matanya berkunang-kunang. Saya sempat menyarankan sahabat baik saya itu untuk memeriksa ke dokter mata. Dia tidak mau karena takut biayanya mahal dan menolak bantuan saya karena dia tidak mau dikasihani orang apapun alasannya.

    Tiga hari kunang-kunangnya belum juga sembuh. Pada suatu pagi teman sekamarnya menepuk-nepuk pundaknya untuk membangunkannya. Badannya dingin dan kaku. Berulang kali temannya menggoyang-goyang badannya, tapi tidak ada respon balik. Di cek nafas dan degup jantungnya dan ternyata… innalillahi wa inna ilai roji’uun. Dia kembali ke pangkuan Sang Robbi dalam usia 19 tahun. Usia yang sangat muda sekali. Akhirnya jenazah Inur dipulangkan ke Pekanbaru dengan biaya Rp. 10 juta. Jauh lebih mahal daripada gaji yang dia kumpulkan selama tiga bulan ini (Rp. 1.160.000,-).

    Lalu dimanakah sumber rizki itu berada ? Kenapa Inur yang berusaha mendekati sumber rizkinya kok malah mendekati sumber ajalnya? Inilah pertanyaan menarik yang menjadi rahasia Allah. Manusia hanya bisa berusaha, menganalisa dan berdo’a. Allah memberi pahala kepada manusia berdasarkan usaha dan keikhlasan menjalankannya, bukan berapa banyak hasil yang dapat diraih.

    Rizki yang banyak kadang tidak selalu baik buat seorang hamba. Jika rizki yang banyak jatuh pada hamba yang suka bersedekah dan berzakat, maka rizki itu menjadi jalan pembuka pintu surga untuknya. Tapi sebaliknya, jika rizki yang banyak justru mengantarkannya ke tempat pelacuran, judi dan kemaksiatan lain; maka nerakalah muara akhir baginya. Allah Maha Tahu seberapa banyak ukuran rizki bagi setiap hambanya. Karena itu, marilah kita perbaiki niat dan cara kerja kita. Setiap berangkat kerja, ucapkan ” Saya niat mencari yang halal karena Allah”. Mudah-mudahan niat ini menjadi awal terbukanya pintu amal, terlepas dari kesuksesan dan kegagalan yang kita raih.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 1 April 2014 Permalink | Balas  

    iga mawarniIga Mawarni :”Islam Lebih Realistis “

    (Pengalaman Ruhani / Penyanyi : Iga Mawarni)

    Sejak kecil aku dididik di lingkungan Katolik. Di mata teman-teman aku termasuk Katolik fanatik. Kemanapun aku pergi, senantiasa memperkenalkan keyakinanku. Setelah bersosialisasi di bangku kuliah, aku lebih fair. Di kampus aku senang diskusi sama teman-teman seangkatan yang latar belakangnya berbeda – baik suku maupun agama. Dengan diskusi wawasanku kian terbuka. Dan dari pola pikir yang cukup demokratis itu kami senantiasa menghindari debat kusir. Segala yang dibicarakan berdasar referensi jelas. Bagiku itu menambah semangat membuka Alkitab. Sekaligus bikin catatan kaki buat persiapan diskusi sama temen-temen di setiap kesempatan. Ternyata semakin aku cermat mengkaji Alkitab, sering kujumpai poin-poin yang meragukan. Akhirnya aku bertanya sama teman seiman yang lebih ngerti isi Alkitab. Bahkan sama beberapa pendeta. Setiap aku bertanya, aku berusaha memposisikan diri sebagai orang awam yang ingin belajar agama, bukan sebagai orang yang seiman dengannya. Ternyata jawaban mereka justru bikin hatiku nggak puas. Seiring dengan keraguanku aku pelan-pelan menutup Alkitab. Aku ingin belajar yang lainnya.

    Tapi aku nggak langsung mempelajari Islam. Karena aku merasa ada jurang begitu dalam di antaranya (Islam-Kristen). Melalui sejumlah buku aku melanglang. Aku pelajari agama Hindu, lalu Budha. Namun hati nuraniku tetap ragu ketika sampai pada konsep ketuhanan. Sekalipun ajarannya bagus sekali. Eh, mentok-mentoknya aku pelajari juga ajaran Islam.

    Sejujurnya aku gengsi. Antara ogah dan ingin tahu terus bergelora dalam diriku. “Kenapa mesti Islam?” hatiku memprotes. Langkah pertama aku baca cerita para nabi melalui buku-buku tafsir. Alasanku, Islam dan Kristen itu historinya sama. Kecuali tentang kerasulan Isa AS dan Muhammad SAW. Di Kristen Nabi Isa utusan terakhir. Tapi dalam Islam ada lagi nabi yaitu Nabi Muhammad SAW. Sebagai manusia biasa, aku melihat bahwa al Qur’an itu lebih manusiawi. Artinya segala pertanyaan ada jawabannya. Ada hukum sebab akibat. Kenapa dilarang begini? Karena bisa berakibat begini. Itu yang bikin aku tertarik masuk Islam.

    Menurutku, landasan awal seseorang meyakini suatu kepercayaan itu karena buku besarnya (kitab). Melalui itu kita dapat bersentuhan langsung dengannya. Bagiku itu sudah jadi pegangan kuat. Sedangkan di agama lain, aku lihat banyak ayat yang ditulis oleh orang-orang pada masa itu. Dan aku lihat beberapa surat dalam Alkitab yang menceritakan kejadian sama tetapi versinya berbeda. Buatku hal semacam itu merupakan kasus besar. Karena kitab suci itu ternyata sudah disentuh oleh tangan manusia. Sedangkan ajaran Islam lebih realitis. Karena Al-Qur’an diwahyukan sebagai suatu keharusan. Sedangkan sunah Rasul lain lagi. Yaitu bersifat nggak mengikat. Ini lebih manusiawi.

    Proses hijrahku menjadi muslim nggak begitu mulus. Apalagi keluargaku Nasrani aktif yang fanatik. Aku mengucapkan dua kalimat syahadat pada tanggal 23 Maret 1994 di Malang, Jawa Timur. Padahal aku kuliah di Jakarta. Memang semasa pencarian, aku punya sohib di kota apel itu. Dia nggak bersedia mengajari tentang Islam, melainkan hanya menunjukkan seseorang yang menurutnya lebih tepat. Yaitu Kiai Zulkifli dan Pak Amir.

    Ternyata salah seorang dari mereka juga muallaf. Banyak pengalaman religiusnya yang bikin aku terkesan. Disamping memantapkan niatku masuk Islam. Cobaannya, ibuku aktivis kegiatan gereja. Karenanya aku mengupayakan agar keislamanku nggak diketahuinya dalam kurun waktu dua tahunan. Ternyata beliau tahu lebih awal dari yang aku rencanakan. Sebagai anak pertama pasti ibuku menaruh harapan besar terhadapku. Begitu tahu anaknya berbeda keyakinan, tentu batinnya terpukul. Itu cobaanku yang paling besar. Dimana aku merasa takut kalau ibu marah.

    Tapi begitu semuanya sudah terbuka, aku pasrah sama Allah. Aku tetap menempatkan diri sebagai anak, yang harus senantiasa menghormatinya. Aku bersyukur karena akhirnya sikap mereka sudah lebih baik. Tapi selama “perang dingin” berlangsung aku nggak pernah mau menyinggung soal agama. Kalau hari besar agama baik natal atau lebaran aku sengaja nggak kumpul sama keluarga. Aku tahu, mereka kecewa terhadapku. Kalau aku hadir dalam hari besar mereka, tentu ada perasaan nggak enak. Namun komunikasi tetap jalan. Aku senantiasa mengunjungi orang tua. Alhamdulillah, pada lebaran beberapa tahun lalu, ibu menemuiku. Aku anggap ini blessing. Lebih dari itu, semua ini sudah diatur oleh Allah Swt. Aku yakin itu.

    Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

    Semoga bermanfaat

    ***

    Witono Slamet

     
  • erva kurniawan 7:31 am on 27 March 2014 Permalink | Balas  

    nabi-muhammad-rasulullah-sawDan Rasulullah Menuju Padanya

    Sosok berwajah cahaya itu berjalan perlahan. Wajahnya bulat, bening, teduh dengan mata bersinar seakan menampilkan gemintang. Gemintang dambaan umat sepanjang jaman. Ya, Rasulullah, salawat dan salam tercurah padamu, ya thala ‘al badru.

    Hanya rasa tak percaya berkecamuk di pikiranku, mungkin juga pikiran orang-orang di sekelilingku saat diumumkan bahwa pertemuan tersebut akan dihadiri Rasulullah. Benarkah? Lalu kudengar senandung zikir di sekitarku. Terus tak putus putus.

    Sosok itu terus berjalan dengan postur tegap, senyum tak henti menghiasi wajah langitnya. Semua orang di sekeliling, juga aku, berusaha menggapai sinar matanya. Berusaha menyalami beliau. Namun Rasulullah terus berjalan seakan hanya menuju satu tujuan. Semua mata mengikuti nabi akhir jaman itu. Siapakah yang dituju Rasul tercinta? Siapakah orang beruntung itu? Siapakah?

    Kemudian Rasul berhenti di depan orang itu, tersenyum dengan mata penuh cinta, menyalami dan menepuk bahunya. Semua yang ada kembali mendengungkan dzikir. Penuh syukur dan takjub.

    Lalu aku pun tersentak! Tanganku bergetar ketika dinihari itu aku terbangun dari tidur dan mengingat mimpi yang baru saja aku alami. Kubangunkan suamiku dan kuceritakan mimpi itu. Suamiku menangis terharu. Ia memelukku, kemudian kami berdua sujud syukur dan salat malam.

    Jujur kuakui, aku bukan ahli ibadah, yang dapat tenggelam bermunajat dalam khusyu. Aku masih harus banyak didorong dan dimotivasi baik oleh teman-teman maupun suami untuk meningkatkan amalan-amalan sunnah. Pun ketika siang hari sebelum aku bermimpi itu, aku berpuasa ayamul bidh, sebuah program menghidupkan ibadah sunnah dalam keluargaku.

    Ah, mimpi itu.. Rasa tak percaya sesaat memenuhi relung hatiku. Tetapi kebahagiaan sejuk merembesi dadaku. Benarkah? Rasanya tak pantas aku melihat senyum Rasulullah dalam mimpi tersebut. Rasanya tak pantas aku bisa melihat sosok al-Amin itu, meski hanya dalam mimpi. Bukankah hanya mereka yang memiliki tingkat keimanan yang tinggi yang mendapat rezeki semulia ini? Seperti Zainab al-Ghazali, seorang aktifis wanita pergerakan Islam di Mesir yang tertangkap dan dipenjarakan rezim Gamal Abdul Naser karena berdakwah. Beliau adalah pejuang Islam yang telah mempersembahkan dirinya untuk Islam. Pada suatu malam dalam penjara yang dingin beliau bermimpi berjumpa Rasulullah Saw.

    Aku? Belum ada yang bisa kupersembahkan untuk Islam. Hidupku masih disibuki dengan urusan keduniaan dan kepentingan-kepentingan jangka pendek. Sungguh aku tak sanggup menceritakan mimpi ini. Tetapi aku yakin akan kebaikan Allah, dan senantiasa berharap semoga Allah berkenan menerima amalku yang masih sedikit agar mampu bangkit dan terus memperbaiki diri.

    Sedangkan orang yang disalami Rasulullah dalam mimpi itu…. Siapakah dia? Persentuhanku dengan orang itu hanya beberapa kali saja. Aku lebih banyak mendengar dari orang lain mengenai kebaikan-kebaikan beliau. Seorang ustadz yang ramah dan jenaka, memiliki integritas yang baik, dan sering kali membuat orang menangis saat mendengar nasehatnya.

    Satu hal yang juga selalu diingat banyak orang adalah kebiasaan beliau bersedekah setiap hari. Tak ada hari dilewati beliau tanpa berdakwah di jalan-Nya. Sampai kemudian kanker hati mulai menggerogoti tubuhnya. Terus menggerogoti, hingga beliau harus menjalani beberapa kali operasi. Namun, seperti yang kudengar dari orang-orang, kesabaran selalu menghiasi hari-hari beliau meski sakit mendera. Bahkan sedekah terus beliau lakukan meski sedang sakit.

    Kurang lebih dua minggu setelah mimpi itu aku mendengar kabar beliau wafat. Dari kabar itu pula aku mendengar bahwa begitu banyak pelayat yang datang ke rumah beliau. Bahkan salat jenazah pun sampai dilakukan beberapa tahap karena masjid tak mampu menampung mereka yang ingin menyalatkan beliau. Ah, kemudian aku sadar. Allahu a’lam. Mimpiku itu mungkin perantara bahwa Rasullullah mencintai sosok itu. Dan bahwa Allah memang lebih sayang pada hamba-Nya yang terbaik, dan mengambil kembali beliau ke sisiNya. Ya, beliau seorang kader Partai Keadilan. Pada kepengurusan pertama Partai Keadilan beliau berada di DPP, Departemen Kaderisasi.

    Beliaulah, yang sebelum ruh lepas dari raga, memberikan tiga wasiat bagi orang di sekelilingnya: tingkatkan hubungan silaturahmi, konsisten di jalan lurus, dan pergauli serta perbaiki masyarakat agar menjadi lebih baik. Beliau yang ada dalam mimpiku, yang disalami serta dirangkul oleh Rasulullah itu adalah Ustadz Ahmad Madani.

    ***

    (Rahmadiyanti Rusdi, seperti diceritakan Dewi Fitri Lestari)

    Dari buku “Bukan di Negeri Dongeng”

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 738 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: