Updates from April, 2014 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 2:46 am on 30 April 2014 Permalink | Balas  

    Puasa Sunnah yang Dianjurkan Islam 

    puasa-4Puasa Sunnah yang Dianjurkan Islam

    Ketika Islam melarang berpuasa pada hari-hari tertentu,maka Islam pun menganjurkan kepada umatnya agar melakukan puasa pada hari-hari tertentu yang Rasulullah saw sendiri biasa melakukan puasa pada hari-hari tersebut.

    1. Enam Hari pada Bulan Syawal

    Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh jamaah ahli hadis kecuali Bukhari, Nasa’i dari Abu Ayyub al-Anshari bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan lalu mengiringinya dengan enam hari dari bulan Syawal, maka seakan-akan dia telah berpuasa selama satu tahun (sepanjang masa).”

    Puasa tersebut menurut Imam Ahmad dapat dilakukan berturut-turut atau tidak berturut-turut dan tidak ada kelebihan antara yang satu dengan yang lainnya. Sedangkan menurut golongan Hanafi dan golongan Syafi’i, lebih utama melakukannya secara berturut-turut, yaitu setelah hari raya.

    2. Puasa tanggal 9 Dzul Hijjah (Arafah) bagi selain orang yang melaksanakan Haji

    Kesunnahan berpuasa pada tanggal tersebut didasarkan pada hadis-hadis:

    1. Dari Abu Qatadah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa selama dua tahun, yaitu satu tahun yang telah berlalu dan satun tahun yang akan datang.” (HR Jamaah kecuali Bukhari dan Tirmidzi).

    2. Dari Hafshah ra, dia berkata, “Ada empat hal yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah saw, yaitu puasa Asyura, puasa sepertiga bulan (yakni bulan Dzul Hijjah), puasa tiga hari dari tiap bulan, dan salat dua rakaat sebelum Subuh.” (HR Ahmad dan Nasa’i).

    3. Dari Uqbah bin Amir ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Hari Arafah, hari Kurban dan hari-hari Tasyriq adalah hari raya umat Islam dan hari-hari tersebut adalah hari-hari makan dan minum.” HR Khamsah (lima imam hadis) kecuali Ibnu Majah dan dinyatakan sahih oleh Tirmidzi.

    4. Dari Ummu Fadhal, dia berkata, “Mereka merasa bimbang mengenai puasa Nabi saw di Arafah, lalu Nabi saw saya kirimi susu. Kemudian Nabi saw meminumnya, sedang ketika itu beliau berkhotbah di depan umat manusia di Arafah.” (HR Bukhari dan Muslim).

    3. Puasa Bulan Muharrom dan Sangat Dianjurkan pada Tanggal 9 dan 10 (Tasu’a dan ‘Asyura)

    Hal ini berdasarkan pada hadis-hadis:

    1. Dari Abu Hurairah ra dia berkata, “Rasulullah saw ditanya, ‘Salat apa yang lebih utama setelah salat fardhu?’ Nabi menjawab, ‘Salat di tengah malam’. Mereka bertanya lagi, ‘Puasa apa yang lebih utama setelah puasa Ramadhan?’ Nabi menjawab, ‘Puasa pada bulan Allah yang kamu namakan Muharrom’.” (HR Ahmad, Muslim, dan Abu Daud).

    2. Dari Muawiyah bin Abu Sufyan ra, dia berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Hari ini adalah hari ‘Asyura dan kamu tidak diwajibkan berpuasa padanya. Sekarang, saya berpuasa, maka siapa yang mau, silahkan puasa dan siapa yang tidak mau, maka silahkan berbuka.” (HR Bukhari dan Muslim).

    3. Dari Aisyah ra, dia berkata, “Hari ‘Asyura’ adalah hari yang dipuasakan oleh orang-orang Quraisy di masa jahiliyah, Rasulullah juga biasa mempuasakannya. Dan tatkala datang di Madinah, beliau berpuasa pada hari itu dan menyuruh orang-orang untuk turut berpuasa. Maka, tatkala diwajibkan puasa Ramadhan beliau bersabda, ‘Siapa yang ingin berpuasa, hendaklah ia berpuasa dan siapa yang ingin meninggalkannya, hendaklah ia berbuka’.” (Muttafaq alaihi).

    4. Dari Ibnu Abbas ra, dia berkata, “Nabi saw datang ke Madinah lalu beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura’, maka Nabi bertanya, ‘Ada apa ini?’ Mereka menjawab, hari ‘Asyura’ itu hari baik, hari Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa saw dan Bani Israel dari musuh mereka sehingga Musa as berpuasa pada hari itu. Kemudian, Nabi saw bersabda, ‘Saya lebih berhak terhadap Musa daripada kamu’, lalu Nabi saw berpuasa pada hari itu dan menganjurkan orang agar berpuasa pada hari itu. ” (Muttafaq alaihi).

    5. Dari Abu Musa al-Asy’ari ra, dia berkata, “Hari ‘Asyura’ itu diagungkan oleh orang Yahudi dan mereka menjadikan sebagai hari raya. Maka, Rasulullah saw bersabda,”Berpuasalah pada hari itu.” (Muttafaq alaihi).

    6. Dari Ibnu Abbas ra, dia berkata, “Tatkala Rasulullah saw berpuasa pada hari ‘Asyura’ dan memerintahkan orang-orang agar berpuasa pada hari itu, mereka berkata, “Ya Rasulullah, ia adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nashrani,” maka Nabi saw bersabda, “Jika datang tahun depan, insya Allah kami berpuasa pada hari kesembilan (dari bulan Muharrom).” Ibnu Abbas ra berkata, “Maka belum lagi datang tahun depan, Rasulullah saw sudah wafat.” (HR Muslim dan Abu Daud).

    Para ulama menyebutkan bahwa puasa Asyura’ itu ada tiga tingkat: tingkat pertama, berpuasa selama tiga hari yaitu hari kesembilan, kesepuluh dan kesebelas. Tingkat kedua, berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh. Tingkat ketiga, berpuasa hanya pada hari kesepuluh saja.

    4. Berpuasa pada Sebagian Besar Bulan Sya’ban

    Hal ini berdasarkan hadis:

    1. Dari Aisyah ra berkata, “Saya tidak melihat Rasulullah saw melakukan puasa dalam waktu sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadhan dan tidak satu bulan pun yang Nabi saw banyak melakukan puasa di dalamnya daripada bulan Sya’ban.” (HR Bukhari dan Muslim).

    2. Dari Usamah bin Zaid ra berkata, Aku berkata, “Ya Rasulullah saw , tidak satu bulan yang Anda banyak melakukan puasa daripada bulan Sya’ban !” Nabi menjawab: “Bulan itu sering dilupakan orang, karena letaknya antara Rajab dan Ramadhan, sedang pada bulan itulah amal-amal manusia diangkat (dilaporkan) kepada Tuhan Rabbul ‘Alamin. Maka, saya ingin amal saya dibawa naik selagi saya dalam berpuasa.” (HR Nasa’i dan dinyatakan sahih oleh Ibnu Khuzaimah).

    5. Berpuasa pada Hari Senin dan Kamis

    Hal ini berdasarkan pada hadis Abu Hurairah ra, bahwa Nabi saw lebih sering berpuasa pada hari Senin dan Kamis, lalu orang-orang bertanya kepadanya mengenai sebab puasa tersebut, lalu Nabi saw menjawab, “Sesungguhnya amalan-amalan itu dipersembahkan pada setiap Senin dan Kamis, maka Allah berkenan mengampuni setiap muslim, kecuali dua orang yang bermusuhan, maka Allah berfirman, “Tangguhkanlah kedua orang (yang bermusuhan ) itu!” (HR Ahmad dengan sanad yang sahih).

    Dalam sahih Muslim diriwayatkan bahwa Nabi saw ditanya orang mengenai berpuasa pada hari Senin, maka beliau bersabda, “Itu hari kelahiranku dan pada hari itu pula wahyu diturunkan kepadaku.” (HR Muslim).

    6. Berpuasa Tiga Hari Setiap Bulan

    Dari Abu Dzarr al-Ghiffari ra berkata, “Kami diperintah Rasulullah saw untuk melakukan puasa tiga hari dari setiap bulan, yaitu hari-hari terang bulan, yakni tanggal 13, 14 dan 15, sembari Rasul saw bersabda, ‘Puasa tersebut seperti puasa setahun (sepanjang masa)’.” (HR Nasa’i dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban).

    7. Berpuasa Selang-seling (Seperti Puasa Daud)

    Dari Abdullah bin Amr berkata, Rasulullah saw telah bersabda, “Puasa yang paling disukai Allah adalah puasa Daud dan salat yang paling disukai Allah adalah salat Daud. Ia tidur seperdua (separoh) malam, bangun sepertiganya, lalu tidur seperenamnya, dan ia berpuasa satu hari lalu berbuka satu hari.”

    Referensi:

    Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq

    Tamamul Minnah, Muhammad Nashirudddin al-Albani

    Iklan
     
  • erva kurniawan 2:12 am on 29 April 2014 Permalink | Balas  

    Menyombongkan Ilmu 

    ilmu-adalah-pelitaMenyombongkan Ilmu

    Seorang ahli hikmah berpetuah, “Jangan sekali-kali membicarakan suatu ilmu pada tempat dan keadaan yang tidak cocok, apalagi menyombongkannya.”

    “Seperti pernah dialami seorang sarjana,” kata ahli hikmah itu. “Ketika naik perahu menuju sebuah pulau kecil nun jauh di seberang pantai, ia menerangkan bahwa sukses hidup manusia bergantung pada empat jenis ilmu : ilmu hitung, ilmu ekonomi, ilmu sosial, dan ilmu politik.”

    “Apakah anda menguasai ilmu hitung ?” tanya sang sarjana.

    “Tidak.” jawab tukang perahu.

    “Waduh bahaya, kalau begitu, sukses hidup anda berkurang 25%. Tapi tentu anda mengetahui ilmu ekonomi …?”

    “Tidak juga,” jawab tukang perahu.

    “Berarti sukses hidup Anda tinggal 50%. Itupun jika Anda menguasai ilmu sosial dan ilmu politik.”

    “Kedua ilmu itupun saya tidak tahu,” tukang perahu tersenyum kecil.

    “Gawat ! Kalau begitu, sukses hidup Anda mungkin tak ada lagi,” komentar sang sarjana sambil geleng-geleng kepala.

    Tiba-tiba datang angin puting beliung. Ombak besar pun menggulung hingga perahu terbalik. Tukang perahu dan sang sarjana terlempar ke laut. Sambil berenang santai, tukang perahu berteriak kepada sang sarjana yang timbul tenggelam tanpa daya.

    “Apakah Anda menguasai ilmu berenang, wahai Tuan Sarjana ?”

    “Ti … ti … ti …dak, toloong … “ teriak sarjana itu ketakutan.

    “Kalau begitu, 100% sukses hidup Anda hilang sudah,” gumam tukang perahu.

    Wassalaam

    ***

    Kutipan dari : Percikan Hikmah. Berdialog dengan Hati Nurani

    H. Usep Romli HM.

     
  • erva kurniawan 2:00 am on 28 April 2014 Permalink | Balas  

    Pembunuh Yang Manis 

    aspartamePembunuh Yang Manis

    Saat ini sedang ada wabah pengerasan otak atau sumsum tulang belakang dan lupus. Kebanyakan orang tidak mengerti mengapa wabah ini terjadi dan mereka tidak mengetahui mengapa penyakit-penyakit ini begitu merajalela.

    Saya akan beritahu anda mengapa kita menghadapi masalah yang serius ini. Saat ini banyak orang menggunakan pemanis buatan. Mereka melakukan ini karena iklan di televisi yang memberitakan bahwa gula itu tidak baik buat kesehatan mereka. Hal ini memang benar sekali. Gula itu merupakan racun bagi tubuh kita, akan tetapi, apa yang orang-orang gunakan sebagai pengganti gula, lebih mematikan.

    Apa yang saya maksudkan di sini adalah Aspartame. Ini adalah biang wabah yang disebutkan di atas. Aspartame merupakan bahan kimia yang mengandung racun, yang diproduksi oleh perusahaan kimia bernama Monsanto. Aspartame telah dipasarkan ke seluruh dunia sebagai pengganti gula dan dapat dijumpai pada semua jenis minuman ringan untuk diet, seperti Diet Coke dan Diet Pepsi. Hal ini juga dapat dijumpai pada produk pemanis buatan seperti Nutra Sweet, Equal, dan Spoonful; dan ini banyak digunakan di produk-produk pengganti gula.

    Aspartame dipasarkan sebagai satu produk diet, tapi ini sama sekali bukanlah produk untuk diet. Kenyataannya, ini dapat menyebabkan berat tubuh Anda bertambah karena ini dapat membuat anda kecanduan Karbohidrat. Membuat berat tubuh anda bertambah hanyalah sebuah hal kecil yang dapat dilakukan oleh Aspartame. Aspartame adalah bahan kimia beracun yang dapat mengubah kimiawi pada otak dan sungguh mematikan bagi orang yang menderita karena penyakit parkinson.

    Bagi penderita diabetes, hati-hatilah bila mengkonsumsinya untuk jangka waktu yang lama atas produk yang mengandung Aspartame ini, karena dapat menyebabkan koma, bahkan meninggal.

    Bila ada produk yang mengklaim bahwa produk itu bebas gula, anda sudah tahu bahwa hal ini mengandung Aspartame. Jangan mengkonsumsi produk tersebut. Salah satu minuman suplemen yang mengandung ASPARTAME adalah serbuk effervescent EX**A J**S ! Pada kemasan tertulis : Mengandung Aspartame 0,06% [ADI 40 mg/kg BB]

    Beritahukan semua orang yang anda kenal akan bahaya dari produk yang mengandung Aspartame.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 2:24 am on 27 April 2014 Permalink | Balas  

    Jagung 

    jagungJagung

    Seorang wartawan mewawancarai seorang petani untuk mengetahui rahasia di balik buah jagungnya yang selama bertahun-tahun selalu berhasil memenangkan kontes perlombaan hasil pertanian. Petani itu mengaku ia sama sekali tidak mempunyai rahasia khusus karena ia selalu membagi-bagikan bibit jagung terbaiknya pada tetangga-tetangga di sekitar perkebunannya.

    “Mengapa anda membagi-bagikan bibit jagung terbaik itu pada tetangga-tetangga anda? Bukankah mereka mengikuti kontes ini juga setiap tahunnya?” tanya sang wartawan.

    “Tak tahukah anda?,” jawab petani itu. “Bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari bunga-bunga yang masak dan menebarkannya dari satu ladang ke ladang yang lain. Bila tanaman jagung tetangga saya buruk, maka serbuk sari yang ditebarkan ke ladang saya juga buruk. Ini tentu menurunkan kualitas jagung saya. Bila saya ingin mendapatkan hasil jagung yang baik, saya harus menolong tetangga saya mendapatkan jagung yang baik pula.”

    Begitu pula dengan hidup kita. Mereka yang ingin meraih keberhasilan harus menolong tetangganya menjadi berhasil pula. Mereka yang menginginkan hidup dengan baik harus menolong tetangganya hidup dengan baik pula. Nilai dari hidup kita diukur dari kehidupan-kehidupan yang disentuhnya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 5:35 am on 26 April 2014 Permalink | Balas  

    Tak Mudah Mengendalikan Lidah 

    ghibahTak Mudah Mengendalikan Lidah

    Qori tak menyangka kalau omongannya berbuah petaka. Ibu usia empat puluhan ini akhirnya harus rela suaminya ditangkap polisi lantaran membacok tetangga sendiri. Peristiwa itu bermula ketika warga Semarang ini terus-menerus mengadu ke suaminya. “Saya dipelototin Heri, Mas,” begitu ucapannya. Di luar dugaan, suami Qori tega membacok kepala tetangganya itu.

    Begitulah lidah ketika kita lengah. Tak jarang, hanya karena ucapan, antar kampung bisa saling tarung, antar negara bisa adu senjata. Luka karena lidah bahkan lebih parah dari senjata. Untuk beberapa waktu, lukanya tidak tampak. Luka itu terpendam dalam hati. Bagaikan benih, luka itu tumbuh, membesar, dan menjalar. Suatu saat, luka itu akan keluar dan memperlihatkan keganasannya. Mungkin, si empunya lidah tak menyangka kalau luka yang ditorehkan bisa begitu dalam dan menganga. Siapa menyangka kalau gurauan bisa berbuntut pada bunuh-bunuhan.

    Kehatian-hatian dengan gurauan menjadi keharusan buat seorang mukmin. Karena, gurauan yang terkesan ringan bisa bermakna besar buat seseorang. Walaupun cuma panggil-panggilan sebutan, timbangannya lumayan besar di sisi Allah.

    Allah swt berfirman dalam surah Al-Hujurat ayat 11, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan jangan kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

    Betapa kasihan tubuh ini jika harus menuai cela lantaran lidah. Kasihan, karena hanya sebab lidah, kebaikan anggota tubuh lain terhapus sia-sia. Mata tak lagi merasakan kemuliaannya yang letih bergadang di jalan Allah. Tangan yang begitu cekatan menolong orang, tak lagi mendapat penghargaan yang selayaknya. Kaki yang lelah mengantar tubuh berjuang di jalan Allah tak lagi menuai berkah. Di dunia cela, di akhirat menderita siksa.

    Itulah mungkin kenapa Rasulullah saw memberikan jaminan surga buat mereka yang sukses menjaga dua anggota tubuh: kemaluan dan lidah. Dari Sahal bin Sa’ad, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa berani memberi jaminan kepadaku atas selamatnya apa yang ada di antara tulang mulutnya dan apa yang ada di antara kedua pahanya, maka aku berani memberi jaminan surga kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Tingkat keburukan, kemuliaan, kecerdasan, dan kebijaksanaan seseorang bisa dilihat dari ucapannya. Peliharalah lidah. Latih ia dengan alur kerja yang rapi, bersih, berbobot, dan punya nilai. Jika tidak, akan selalu jatuh korban karena liarnya lidah. Sirami dan ingatkan lidah Anda dengan bacaan Al-Quran setiap hari.

    ***

    (Diambil dari kolom Taujih majalah Saksi)

     
  • erva kurniawan 5:55 am on 25 April 2014 Permalink | Balas  

    Kuberikan Saat Masih Hidup 

    restianti-siluetKuberikan Saat Masih Hidup

    Suatu ketika seorang yang sangat kaya bertanya kepada temannya.

    “Mengapa aku dicela sebagai orang yang kikir? Padahal semua orang tahu bahwa aku telah membuat surat wasiat untuk mendermakan seluruh harta kekayaanku bila kelak aku mati.”

    “Begini,” kata temannya, akan kuceritakan kepadamu tentang kisah babi dan sapi.

    Suatu hari babi mengeluh kepada sapi mengenai dirinya yang tidak disenangi manusia.

    “Mengapa orang selalu membicarakan kelembutanmu dan keindahan matamu yang sayu itu, tanya babi. Memang kau memberikan susu, mentega dan keju. Tapi yang kuberikan jauh lebih banyak. Aku memberikan lemak, daging, paha, bulu, kulit. Bahkan kakiku pun dibuat asinan! Tetapi tetap saja manusia tak menyenangiku. Mengapa?”

    Sapi berpikir sejenak dan kemudian menjawab, “Ya, mungkin karena aku telah memberi kepada manusia ketika aku masih hidup.”

    ***

    “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu, dan dengarlah dan taatilah, serta dan nafkahkanlah (hartamu) Itulah yang lebih baik untuk dirimu. Dan barang siapa yang terpelihara dari kekikiran dirinya, maka merekalah orang-orang yang beruntung” – (At Taghaabun – QS 64:16)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:43 am on 24 April 2014 Permalink | Balas  

    Sketsa Kehidupan 

    siluet pulangSketsa Kehidupan

    Seorang gadis bernama Li-Li menikah dan tinggal bersama suami dan ibu mertua. Dalam waktu singkat, Li-Li menyadari bahwa ia tidak dapat cocok dengan ibu mertuanya dalam segala hal. Kepribadian mereka berbeda, dan Li-Li sangat marah dengan banyak kebiasaan ibu mertua. Li-Li juga dikritik terus-menerus. Hari demi hari, minggu demi minggu, Li-Li dan ibu mertua tidak pernah berhenti konflik dan bertengkar. Keadaan jadi tambah buruk, karena berdasarkan tradisi Cina, Li-Li harus taat kepada setiap permintaan sang mertua.

    Semua keributan dan pertengkaran di rumah itu mengakibatkan suami yang miskin itu ada dalam stress yang besar.

    Akhirnya, Li-Li tidak tahan lagi dengan temperamen buruk dan dominasi ibu mertuanya, dan dia memutuskan untuk melakukan sesuatu.

    Li-Li pergi menemui teman baik ayahnya, Mr. Huang, yang menjual jamu. Li-Li menceritakan apa yang dialaminya dan meminta kalau-kalau Mr. Huang dapat memberinya sejumlah racun supaya semua kesulitannya selesai.

    Mr. Huang berpikir sejenak dan tersenyum dan akhirnya berkata, Li-Li, saya akan menolong, tapi kamu harus mendengarkan dan melakukan semua yang saya minta.

    Li-Li menjawab, “Baik, saya akan melakukan apa saja yang anda minta.” Mr. Huang masuk kedalam ruangan dan kembali beberapa menit kemudian dengan sekantong jamu.

    Dia memberitahu Li-Li, “Kamu tidak boleh menggunakan racun yang bereaksi cepat untuk menyingkirkan ibu mertuamu, karena nanti orang-orang akan curiga. Karena itu saya memberimu sejumlah jamu yang secara perlahan akan meracuni tubuh ibu mertuamu. Setiap hari masakkan daging atau ayam dan kemudian campurkan sedikit jamu ini. Nah, untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang mencurigaimu pada waktu ia meninggal, kamu harus berhati-hati dan bertindak dangan sangat baik dan bersahabat. Jangan berdebat dengannya, taati dia, dan perlakukan dia seperti seorang ratu.”

    Li-Li sangat senang. Dia kembali ke rumah dan memulai rencana pembunuhan terhadap ibu mertua.

    Minggu demi minggu berlalu, dan berbulan-bulan berlalu, dan setiap hari, Lili melayani ibu mertua dengan masakan yang dibuat secara khusus. Li-Li ingat apa yang dikatakan Mr. Huang tentang menghindari kecurigaan, jadi Li-Li mengendalikan emosinya, mentaati ibu mertua, memperlakukan ibu mertuanya seperti ibu-nya sendiri dengan sangat baik dan bersahabat.

    Setelah enam bulan, seluruh rumah berubah. Li-Li telah belajar mengendalikan emosinya begitu rupa sehingga hampir-hampir ia tidak pernah meledak dalam amarah atau kekecewaan. Dia tidak berdebat sekalipun dengan ibu mertuanya, yang sekarang kelihatan jauh lebih baik dan mudah ditemani.

    Sikap ibu mertua terhadp Li-Li berubah, dan dia mulai menyayangi Li-Li seperti anaknya sendiri. Dia terus memberitahu teman-teman dan kenalannya bahwa Li-Li adalah menantu terbaik yang pernah ditemuinya. Li-Li dan ibu mertuanya sekarang berlaku sepertu ibu dan anak sungguhan.

    Suami Li-Li sangat senang melihat apa yang telah terjadi.

    Satu hari, Li-Li datang menemui Mr. Huang dan minta pertolongan lagi. Dia berkata, “Mr. Huang, tolonglah saya untuk mencegah racun itu membunuh ibu mertua saya. Dia telah berubah mencaji wanita yang sangat baik dan saya mengasihinya seperti ibu saya sendiri. Saya tidak ingin dia mati karena racun yang saya berikan.”

    Mr. Huang tersenyum dan mengangkat kepalanya. “Li-Li, tidak usah khawatir. Saya tidak pernah memberimu racun. Jamu yang saya berikan dulu adalah vitamin untuk meningkatkan kesehatannya. Satu-satunya racun yang pernah ada ialah didalam pikiran dan sikapmu terhadapnya, tapi semua sudah lenyap oleh kasih yang engkau berikan padanya.”

    Teman, pernahkah engkau menyadari bahwa sebagaimana perlakukanmu terhadap orang lain akan sama dengan apa yang akan mereka lakukan terhadap kita?

    Pepatah China berkata: Orang yang mengasihi orang lain akan dikasihi.

    ***

    1. Dunia itu racun, zuhud itu obatnya.
    2. Harta itu racun, zakat itu obatnya.
    3. Perkataan yang sia-sia itu racun, zikir itu obatnya.
    4. Seluruh umur itu racun, taat itu obatnya.
    5. Seluruh tahun itu racun, Ramadhan itu obatnya.

    “Sesungguhnya Syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan melalaikan kamu dari mengingati Allah dan sembahyang, maka maukah kamu berhenti. (Berhenti daripada mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak diridhai oleh Allah)” (Al-Maaidah A.91)

    “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendah diri dan rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara (senantiasa) diwaktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai” (Al-A’raaf A.205)

    “Wahai anak Adam, habiskanlah waktumu beribadat kepadaKu, maka Daku akan lapangkan kamu daripada kehendak-kehendakmu, Daku akan hapuskan kemiskinanmu. Jika tidak akan Ku bebani kamu dengan urusan-urusan dan tugas-tugas yang sibuk. Serta kerjakanlah amal-amalan kebajikan supaya kamu jaya didunia dan selamat sampai ke akhirat.” (Al-Hajj A.44)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 2:38 am on 23 April 2014 Permalink | Balas  

    Tipe Wanita yang Disunnahkan untuk Dilamar 

    wanitaTipe Wanita yang Disunnahkan untuk Dilamar  

    Dalam melamar, seorang muslim dianjurkan untuk memperhatikan beberapa sifat yang ada pada wanita yang akan dilamar, diantaranya:

    1. Wanita itu disunahkan seorang yang penuh cinta kasih. Maksudnya ia harus selalu menjaga kecintaan terhadap suaminya, sementara sang suami pun memiliki kecenderungan dan rasa cinta kepadanya.

    Selain itu, ia juga harus berusaha menjaga keridhaan suaminya, mengerjakan apa yang disukai suaminya, menjadikan suaminya merasa tentram hidup dengannya, senang berbincang dan berbagi kasih saying dengannya. Dan hal itu jelas sejalan dengan firman Allah Ta’ala,

    Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tentram kepadanya. Dan Dia jadikan di antara kalian rasa kasih dan saying. (ar-Ruum:21).

    2. Disunahkan pula agar wanita yang dilamar itu seorang yang banyak memberikan keturunan, karena ketenangan, kebahagiaan dan keharmonisan keluarga akan terwujud dengan lahirnya anak-anak yang menjadi harapan setiap pasangan suami-istri.

    Berkenaan dengan hal tersebut, Allah Ta’ala berfirman, Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa’. (al-Furqan:74).

    Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

    Menikahlah dengan wanita-wanita yang penuh cinta dan yang banyak melahirkan keturunan. Karena sesungguhnya aku merasa bangga dengan banyaknya jumlah kalian pada hari kiamat kelak. Demikian hadist yang diriwayatkan Abu Daud, Nasa’I, al-Hakim, dan ia mengatakan, Hadits tersebut sanadnya shahih.

    3. Hendaknya wanita yang akan dinikahi itu seorang yang masih gadis dan masih muda. Hal itu sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab Shahihain dan juga kitab-kitab lainnya dari hadits Jabir, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bertanya kepadanya,

    Apakah kamu menikahi seorang gadis atau janda? dia menjawab,”Seorang janda.”Lalu beliau bersabda, Mengapa kamu tidak menikahi seorang gadis yang kamu dapat bercumbu dengannya dan ia pun dapat mencumbuimu?.

    Karena seorang gadis akan mengantarkan pada tujuan pernikahan. Selain itu seorang gadis juga akan lebih menyenangkan dan membahagiakan, lebih menarik untuk dinikmati akan berperilaku lebih menyenangkan, lebih indah dan lebih menarik untuk dipandang, lebih lembut untuk disentuh dan lebih mudah bagi suaminya untuk membentuk dan membimbing akhlaknya.

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri telah bersabda,

    Hendaklah kalian menikahi wanita-wanita muda, karena mereka mempunyai mulut yang lebih segar, mempunyai rahim yang lebih subur dan mempunyai cumbuan yang lebih menghangatkan.

    Demikian hadits yang diriwayatkan asy-Syirazi, dari Basyrah bin Ashim dari ayahnya, dari kakeknya. Dalam kitab Shahih al_Jami’ ash_Shaghir, al-Albani mengatakan, “Hadits ini shahih.”

    4. Dianjurkan untuk tidak menikahi wanita yang masih termasuk keluarga dekat, karena Imam Syafi’I pernah mengatakan, “Jika seseorang menikahi wanita dari kalangan keluarganya sendiri, maka kemungkinan besar anaknya mempunyai daya pikir yang lemah.”

    5. Disunahkan bagi seorang muslim untuk menikahi wanita yang mempunyai silsilah keturunan yang jelas dan terhormat, karena hal itu akan berpengaruh pada dirinya dan juga anak keturunannnya. Berkenaan dengan hal tersebut, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

    Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya kamu beruntung. (HR. Bukhari, Muslim dan juga yang lainnya).

    6. Hendaknya wanita yang akan dinikahi itu taat beragama dan berakhlak mulia. Karena ketaatan menjalankan agama dan akhlaknya yang mulia akan menjadikannya pembantu bagi suaminya dalam menjalankan agamanya, sekaligus akan menjadi pendidik yang baik bagi anak-anaknya, akan dapat bergaul dengan keluarga suaminya.

    Selain itu ia juga akan senantiasa mentaati suaminya jika ia akan menyuruh, ridha dan lapang dada jika suaminya memberi, serta menyenangkan suaminya berhubungan atau melihatnnya. Wanita yang demikian adalah seperti yang difirmankan Allah Ta’ala, “Sebab itu, maka wanita-wanita yang shahih adalah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminyatidak berada di tempat, oleh karena Allah telah memelihara mereka”. (an-Nisa:34).

    Sedangkan dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

    “Dunia ini adalah kenikmatan, dan sebaik-baik kenikmatannya adalah wanita shalihah”. (HR. Muslim, Nasa’I dan Ibnu Majah).

    7. Selain itu, hendaklah wanita yang akan dinikahi adalah seorang yang cantik, karena kecantikan akan menjadi dambaan setiap insane dan selalu diinginkan oleh setiap orang yang akan menikah, dan kecantikan itu pula yang akan membantu menjaga kesucian dan kehormatan. Dan hal itu telah disebutkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadits tentang hal-hal yang disukai dari kaum wanita.

    Kecantikan itu bersifat relatif. Setiap orang mempunyai gambaran tersendiri tentang kecantikan ini sesuai dengan selera dan keinginannya. Sebagian orang ada yang melihat bahwa kecantikan itu terletak pada wanita yang pendek, sementara sebagian yang lain memandang ada pada wanita yang tinggi.

    Sedangkan sebagian lainnya memandang kecantikan terletak pada warna kulit, baik coklat, putih, kuning dan sebagainya. Sebagian lain memandang bahwa kecantikan itu terletak pada keindahan suara dan kelembutan ucapannya.

    Demikianlah, yang jelas disunahkan bagi setiap orang untuk menikahi wanita yang ia anggap cantik sehingga ia tidak tertarik dan tergoda pada wanita lain, sehingga tercapailah tujuan pernikahan, yaitu kesucian dan kehormatan bagi tiap-tiap pasangan.

    ***

    Sumber: Fikih Keluarga, Syaikh Hasan Ayyub, Cetekan Pertama, Mei 2001, Pustaka Al-kautsar

    Dikirim oleh : abualifah

     
  • erva kurniawan 2:34 am on 22 April 2014 Permalink | Balas  

    Aku Memanggil Kalian 

    bilal-bin-rabah-al-habasyiAku Memanggil Kalian

    Sahabat, apa kabar semuanya? Mudah-mudahan engkau diberikan limpahan kasih sayang Nya yang tak berhingga. Aamiin. Saya ingin meminjam waktumu sebentar. Ada seseorang yang ingin bertutur kepada kita. Ada seseorang yang ingin mengisahkan selaksa kehidupan yang mungkin sering kita dengar. Beginilah lantunannya. Simak baik-baik ya , Mudah-mudahan bermanfaat.

    Bismillah, Assalamualaikum.

    Perkenalkan! Namaku Bilal. Ayahku bernama Rabah, seorang budak dari Abesinia, oleh karena itu nama panjangku Bilal Bin Rabah. Aku tidak tahu mengapakah Ayah dan Ibuku sampai di sini, Makkah. Sebuah tempat yang hanya memiliki benderang matahari, hamparan sahara dan sedikit pepohonan. Aku seorang budak yang menjadi milik tuannya. Umayyah, biasa tuan saya itu dipanggil. Seorang bangsawan Quraisy, yang hanya peduli pada harta dan kefanaan. Setiap jeda, aku harus bersiap kapan saja dilontarkan perintah. Jika tidak, ada cambuk yang menanti akan mendera bagian tubuh manapun yang disukainya.

    Setiap waktu adalah sama, semua hari juga serupa tak ada bedanya, yakni melayani majikan dengan sempurna. Hingga suatu hari aku mendengar seseorang menyebutkan nama Muhammad. Tadinya aku tak peduli, namun kabar yang ku dengar membuatku selalu memasang telinga baik-baik. Muhammad, mengajarkan agama baru yaitu menyembah Tuhan yang maha tunggal. Tidak ada Tuhan yang lain. Aku tertarik dan akhirnya, aku bersyahadat diam-diam.

    Namun, pada suatu hari majikanku mengetahuinya. Aku sudah tahu kelanjutannya. Mereka memancangku di atas pasir sahara yang membara. Matahari begitu terik, seakan belum cukup, sebuah batu besar menindih dada ini. Mereka mengira aku akan segera menyerah. Haus seketika berkunjung, ingin sekali minum. Aku memintanya pada salah seorang dari mereka, dan mereka membalasnya dengan lecutan cemeti berkali-kali. Setiap mereka memintaku mengingkari Muhammad, aku hanya berucap “Ahad… ahad”. Batu diatas dada mengurangi kemampuanku berbicara sempurna. Hingga suatu saat, seseorang menolongku, Abu Bakar menebusku dengan uang sebesar yang Umayyah minta. Aku pingsan, tak lagi tahu apa yang terjadi.

    Segera setelah sadar, aku dipapah Abu Bakar menuju sebuah tempat tinggal Nabi Muhammad. Kakiku sakit tak terperi, badanku hampir tak bisa tegak. Ingin sekali rubuh, namun Abu Bakar terus membimbingku dengan sayang. Tentu saja aku tak ingin mengecewakannya. Aku harus terus melangkah menjumpai seseorang yang kemudian ku cinta sampai nafas terakhir terhembus dari raga. Aku tiba di depan rumahnya. Ada dua sosok disana. Yang pertama adalah Ali bin Abi Thalib sepupunya yang masih sangat muda dan yang di sampingnya adalah dia, Muhammad.

    Muhammad, aku memandangnya lekat, tak ingin mata ini berpaling. Ku terpesona, jatuh cinta, dan merasakan nafas yang tertahan dipangkal tenggorokan. Wajahnya melebihi rembulan yang menggantung di angkasa pada malam-malam yang sering ku pandangi saat istirahat menjelang. Matanya jelita menatapku hangat. Badannya tidak terlalu tinggi tidak juga terlau pendek. Dia adalah seorang yang jika menoleh maka seluruh badannya juga. Dia tersenyum, dan aku semakin mematung, rasakan sebuah aliran sejuk sambangi semua pori-pori yang baru saja dijilati cemeti.

    Dia bangkit, dan menyongsongku dengan kegembiraan yang nampak sempurna. Bahkan hampir tidak ku percaya, ada genangan air mata di pelupuk pandangannya. Ali, saat itu bertanya “Apakah orang ini menjahati engkau, hingga engkau menangis?.

    “Tidak, orang ini bukan penjahat, dia adalah seorang yang telah membuat langit bersuka cita”, demikian Muhammad menjawab. Dengan kedua tangannya, aku direngkuhnya, di peluk dan di dekapnya, lama. Aku tidak tahu harus berbuat apa, yang pasti saat itu aku merasa terbang melayang ringan menjauhi bumi. Belum pernah aku diperlakukan demikian istimewa.

    Selanjutnya aku dijamu begitu ramah oleh semua penghuni rumah. Ku duduk di sebelah Muhammad, dan karena demikian dekat, ku mampu menghirup wewangi yang harumnya melebihi aroma kesturi dari tegap raganya. Dan ketika tangan Nabi menyentuh tangan ini begitu mesra, aku merasakan semua derita yang mendera sebelum ini seketika terkubur di kedalaman sahara. Sejak saat itu, aku menjadi sahabat Muhammad.

    Kau tidak akan pernah tahu, betapa aku sangat beruntung menjadi salah seorang sahabatnya. Itu ku syukuri setiap detik yang menari tak henti. Aku Bilal, yang kini telah merdeka, tak perlu lagi harus berdiri sedangkan tuannya duduk, karena aku sudah berada di sebuah keakraban yang mempesona. Aku, Bilal budak hitam yang terbebas, mereguk setiap waktu dengan limpahan kasih sayang Al-Musthafa. Tak akan ada yang ku inginkan selain hal ini.

    Oh iya, aku ingin mengisahkan sebuah pengalaman yang paling membuatku berharga dan mulia. Inginkah kalian mendengarnya?

    Di Yathrib, mesjid, tempat kami, umat Rasulullah beribadah telah berdiri. Bangunan ini dibangun dengan bahan-bahan sederhana. Sepanjang hari, kami semua bekerja keras membangunnya dengan cinta, hingga kami tidak pernah merasakan lelah. Nabi memuji hasil kerja kami, senyumannya selalu mengembang menjumpai kami. Ia begitu bahagia, hingga selalu menepuk setiap pundak kami sebagai tanda bahwa ia begitu berterima kasih. Tentu saja kami melambung.

    Kami semua berkumpul, meski mesjid telah selesai dibangun, namun terasa masih ada yang kurang. Ali mengatakan bahwa mesjid membutuhkan penyeru agar semua muslim dapat mengetahui waktu shalat telah menjelang. Dalam beberapa saat kami terdiam dan berpandangan. Kemudian beberapa sahabat membicarakan cara terbaik untuk memanggil orang-orang.

    Kita dapat menarik bendera , seseorang memberikan pilihan. Bendera tidak menghasilkan suara, tidak bisa memanggil mereka.

    Bagaimana jika sebuah genta? Bukankah itu kebiasaan orang Nasrani

    Jika terompet tanduk? Itu yang digunakan orang Yahudi, bukan?

    Semua yang hadir di sana kembali terdiam, tak ada yang merasa puas dengan pilihan-pilihan yang dibicarakan. Ku lihat Nabi termenung, tak pernah ku saksikan beliau begitu muram. Biasanya wajah itu seperti matahari di setiap waktu, bersinar terang. Sampai suatu ketika, adalah Abdullah Bin Zaid dari kaum Anshar, mendekati Nabi dengan malu-malu. Aku bergeser memberikan tempat kepadanya, karena ku tahu ia ingin menyampaikan sesuatu kepada Nabi secara langsung.

    Wahai, utusan Allah suaranya perlahan terdengar. Mesjid hening, semua mata beralih pada satu titik. Kami memberikan kepadanya kesempatan untuk berbicara.

    Aku bermimpi, dalam mimpi itu ku dengar suara manusia memanggil kami untuk berdoa… lanjutnya pasti. Dan saat itu, mendung di wajah Rasulullah perlahan memudar berganti wajah manis berseri-seri. Mimpimu berasal dari Allah, kita seru manusia untuk mendirikan shalat dengan suara manusia juga.. Begitu nabi bertutur.

    Kami semua sepakat, tapi kemudian kami bertanya-tanya, suara manusia seperti apa, lelakikah?, anak-anak?, suara lembut?, keras? atau melengking? Aku juga sibuk memikirkannya. Sampai kurasakan sesuatu di atas bahuku, ada tangan Al-Musthafa di sana. Suara mu Bilal ucap Nabi pasti. Nafasku seperti terhenti.

    Kau tidak akan pernah tahu, saat itu aku langsung ingin beranjak menghindarinya, apalagi semua wajah-wajah teduh di dalam mesjid memandangku sepenuh cinta. Subhanallah, saudaraku, betapa bangganya kau mempunyai sesuatu untuk kau persembahkan kepada Islam ku dengar suara Zaid dari belakang. Aku semakin tertunduk dan merasakan sesuatu bergemuruh di dalam dada. Suaramu paling bagus duhai hamba Allah, gunakanlah perintah Nabi kembali terdengar. Pujian itu terdengar tulus. Dan dengan memberanikan diri, ku angkat wajah ini menatap Nabi. Allah, ada senyuman rembulannya untukku. Aku mengangguk.

    Akhirnya, kami semua keluar dari mesjid. Nabi berjalan paling depan, dan bagai anak kecil aku mengikutinya. “Naiklah ke sana, dan panggillah mereka di ketinggian itu,” Nabi mengarahkan telunjuknya ke sebuah atap rumah kepunyaan wanita dari Banu n Najjar, dekat mesjid. Dengan semangat, ku naiki atap itu, namun sayang kepalaku kosong, aku tidak tahu panggilan seperti apa yang harus ku kumandangkan. Aku terdiam lama.

    Di bawah, ku lihat wajah-wajah menengadah. Wajah-wajah yang memberiku semangat, menelusupkan banyak harapan. Mereka memandangku, mengharapkan sesuatu keluar dari bibir ini. Berada di ketinggian sering memusingkan kepala, dan ku lihat wajah-wajah itu tak mengharapkan ku jatuh. Lalu ku cari sosok Nabi, ada Abu Bakar dan Umar di sampingnya. Ya Rasul Allah, apa yang harus ku ucapkan? Aku memohon petunjuknya. Dan kudengar suaranya yang bening membumbung sampai di telinga Pujilah Allah, ikrarkan Utusan-Nya, Serulah manusia untuk shalat. Aku berpaling dan memikirkannya. Aku memohon kepada Allah untuk membimbing ucapanku.

    Kemudian, ku pandangi langit megah tak berpenyangga. Lalu di kedalaman suaraku, aku berseru :

    Allah Maha Besar. Allah Maha Besar

    Aku bersaksi tiada Tuhan Selain Allah

    Aku bersaksi bahwa Muhammad Utusan Allah

    Marilah Shalat

    Marilah Mencapai Kemenangan

    Allah Maha Besar. Allah Maha Besar

    Tiada Tuhan Selain Allah.

    Ku sudahi lantunan. Aku memandang Nabi, dan kau akan melihat saat itu Purnama Madinah itu tengah memandangku bahagia. Ku turuni menara, dan aku disongsong begitu banyak manusia yang berebut memelukku. Dan ketika Nabi berada di hadapan ku, ia berkata ” Kau Bilal, telah melengkapi Mesjidku.

    Aku, Bilal, anak seorang budak, berkulit hitam, telah dipercaya menjadi muadzin pertama, oleh Dia, Muhammad, yang telah mengenyahkan begitu banyak penderitaan dari kehidupan yang ku tapaki. Engkau tidak akan pernah tahu, mengajak manusia untuk shalat adalah pekerjaan yang dihargai Nabi begitu tinggi. Aku bersyukur kepada Allah, telah mengaruniaku suara yang indah. Selanjutnya jika tiba waktu shalat, maka suaraku akan memenuhi udara-udara Madinah dan Makkah.

    Hingga suatu saat,

    Manusia yang paling ku cinta itu dijemput Allah dengan kematian terindahnya. Purnama Madinah tidak akan lagi hadir mengimami kami. Sang penerang telah kembali. Tahukah kau, betapa berat ini ku tanggung sendirian. Aku seperti terperosok ke sebuah sumur yang dalam. Aku menangis pedih, namun aku tahu sampai darah yang keluar dari mata ini, Nabi tak akan pernah kembali. Di pangkuan Aisyah, Nabi memanggil “ummatii.. ummatiii” sebelum nafas terakhirnya perlahan hilang. Aku ingat subuh itu, terkakhir nabi memohon maaf kepada para sahabatnya, mengingatkan kami untuk senantiasa mencintai kalam Ilahi. Kekasih Allah itu juga mengharapkan kami untuk senantiasa mendirikan shalat. Jika ku kenang lagi, aku semakin ingin menangis. Aku merindukannya, sungguh, betapa menyakitkan ketika senggang yang kupunya pun aku tak dapat lagi mendatanginya.

    Sejak kematian nabi, aku sudah tak mampu lagi berseru, kedukaan yang amat membuat ku lemah. Pada kalimat pertama lantunan adzan, aku masih mampu menahan diri, tetapi ketika sampai pada kalimat Muhammad, aku tak sanggup melafalkannya dengan sempurna. Adzanku hanya berisi isak tangis belaka. Aku tak sanggup melafalkan seluruh namanya, “Muhammad”. Jangan kau salahkan aku. Aku sudah berusaha, namun, adzanku bukan lagi seruan. Aku hanya menangis di ketinggian, mengenang manusia pilihan yang menyayangiku pertama kali. Dan akhirnya para sahabat memahami kesedihan ini. Mereka tak lagi memintaku untuk berseru.

    Sekarang, ingin sekali ku memanggil kalian, memanggil kalian dengan cinta. Jika kalian ingin mendengarkan panggilanku, dengarkan aku, akan ada manusia-manusia pilihan lainnya yang mengumandangkan adzan. Saat itu, anggaplah aku yang memanggil kalian. Karena, sesungguhnya aku sungguh merindui kalian yang bersegera mendirikan shalat.

    Alhamdulillah kisahku telah sampai, ku sampaikan salam untuk kalian.

    Wassalamu’alaikum

    ***

    Sahabat, jika adzan bergema, kita tahu yang seharusnya kita lakukan. Ada Bilal yang memanggil. Tidakkah, kita tersanjung dipanggil Bilal. Bersegeralah menjumpai Allah, hadirkan hatimu dalam shalatmu, dan Allah akan menatapmu bahagia. Saya jadi teringat sebuah kata mutiara yang dituliskan sahabat saya pada buku kenangan ketika SD “Husnul, shalatlah sebelum kamu di shalatkan”. Sebuah kalimat yang sarat makna jika direnungkan dalam-dalam.

    ***

    Oleh: Husnul Rizka Mubarikah – eramuslim

     
  • erva kurniawan 2:18 am on 21 April 2014 Permalink | Balas  

    Komitmen Sangat Penting Menjadi Dasar Pernikahan 

    pernikahan erva kurniawan titik rahayuningsihKomitmen Sangat Penting Menjadi Dasar Pernikahan

    Perkawinan adalah sesuatu yang sangat manusiawi. Karena secara biologis setelah melewati masa pubertas, organ -organ seksual seseorang memang disiapkan untuk bereproduksi dan ada sexual desire yang harus dipenuhi. Dalam psikologi, ada sebuah teori kebutuhan yang menyebutkan bahwa perilaku manusia dilandasi oleh upaya untuk memenuhi kebutuhan. Walaupun ada anggapan bahwa tanpa berpasanganpun manusia bisa hidup, tapi ada hal-hal tertentu yang tidak bisa diperoleh dengan hanya hidup seorang diri, dan pernikahan termasuk di dalamnya. Apalagi agama pun menganjurkan untuk itu.

    Menurut Rieny Hasan, pernikahan adalah sebuah lembaga yang “paling save” untuk memberikan pemuasan kebutuhan yang paling mendasar yang disebut companionship atau kebersamaan. “Kebersamaan disini bukan sekedar kebersamaan dalam arti hanya hidup berdua saja. Tetapi di dalamnya harus ada shared vision, ada satu visi yang disepakati bersama, bahwa kebersamaan itu ditujukan bagi sesuatu yang tidak bisa dicapai kalau hanya dilakukan oleh satu orang saja, ” ujar Rieny seraya menyebutkan memiliki keturunan sebagai contoh hal yang tidak bisa dilakukan seorang diri.

    Namun Rieny menjelaskan kebutuhan manusia juga dibedakan kedalam tiga jenis, ada kebutuhan real, kebutuhan `awang-awangen’ atau kebutuhan yang sebenarnya tidak realistis dan kebutuhan neurotis atau kebutuhan yang hanya merupakan usaha untuk menutupi gejala-gejala neurotik yang sebetulnya muncul untuk memadamkan impuls-impuls yang biasanya diwarnai oleh rasa was-was, khawatir, pesimis. “dari ketiga ini, yang berpotensi untuk menimbulkan masalah adalah kebutuhan neurotis,” jelas Rieny.

    Ada banyak alasan yang menyebabkan seseorang menikah. “Dulu dibilang bahwa kesamaan akan menjamin langgengnya sebuah perkawinan, ” tapi lanjut Rieny manusia berubah dan apa-apa yang di awal perkawinan itu sama dalam perjalanan bisa saja berubah. Dalam pandangan Rieny, yang terpenting saat bersepakat untuk menikah adalah komitmen, karena hal itulah yang menurut Rieny akan membuat pasangan menganggap pernikahan bukan hanya sebagai terminal yang cuma disinggahi sesaat. Kedua, adalah penerimaan terhadap pasangan.

    “Sebuah kesalahan besar kalau kita memasuki perkawinan sambil mengatakan saya akan bisa merubah dia,” apalagi tambah Rieny yang ingin diubah adalah kebiasaan yang sudah melekat dalam diri pasangan. “Yang ada nantinya, pernikahan jadi seperti sekolah yang kalau tidak menurut akan mendapat hukuman,” jelasnya sedikit berkelakar. Ketiga, jangan jadikan perkawinan seperti pertandingan di mana harus ada yang menang dan kalah. “Kita harus berpikir win-win.”

    Komunikasi adalah penting dalam sebuah ikatan perkawinan, walaupun pembicaraan itu berupa pertengkaran. Rieny menganggap hal itu lebih sehat ketimbang dia seribu basa. “Kalau pasangan tersebut merasa sudah tidak butuh bicara, berarti pasangan itu sudah tidak punya appetite lagi untuk saling memahami. Ikatan perkawinan bisa jadi pudar kalau suami istri itu menganggap ngomong pun sudah tidak ada gunanya,” ujar Rieny serius.

    Ada indikasi yang dapat dijadikan ukuran harmonis tidaknya sebuah hubungan. Menurut Rieny yang jugfa konsultan psikologi di sebuah tabloid ini, hal itu antara lain adanya rasa nyaman bila suami dan istri itu bertemu. Atau dengan kata lain, kalau salah satu tidak ada, yang lain merasa ada sesuatu yang hilang. Kedua pasangan sebaiknya dapat berkembang bersama, tanpa ada yang harus dirugikan. Kehidupan adalah pelajaran berharga, juga untuk istri dan suami, dan Rieny menekankan bahwa kebiasaan untuk selalu mau belajar dari pengalaman sangat dibutuhkan untuk sebuah hubungan. “Hindari kata-kata yang selalu memakai kata, pokoknya, harusnya, mestinya, gue maunya dan sebagainya,” cetus Rieny tersenyum. Yang terakhir menurutnya, adalah masing-masing pasangan perlu mengenal teman-teman dan lingkungan tempat pasangannya bekerja dan bergaul.

    Kalau Anda mau sukses dalam perkawinan, hendaknya setiap orang harus tahu sebetulnya kebutuhan apa yang hendak diperoleh dari mengikatkan diri dengan orang itu. Karena perkawinan adalah keputusan untuk menyerahkan kebebasan. “Dan kita tidak bisa seperti layaknya saat sebelum menikah, ada hal-hal yang harus kita lakukan kalau mau dibilang istri, lebih banyak lagi kalau mau dibilang istri yang baik, lebih banyak lagi kalau mau dibilang menantu yang baik, ipar yang baik dan seterusnya, ” ujar Rieny sambil melepas tawanya.

    “Pernikahan itu akan susah kalau dibikin susah, tapi kalau kita membuatnya menjadi mudah, memang tak ada yang terlalu sulit untuk dijalani,” tandas Rieny, mengakhiri perbincangan. Jadi, mengapa Anda masih bimbang untuk menikah?

    ***

    Oleh: Dra. Rieny Hasan

     
  • erva kurniawan 4:51 am on 20 April 2014 Permalink | Balas  

    Islam Mengangkat Martabat Wanita 

    Wanita_siluetIslam Mengangkat Martabat Wanita

    Agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad saw lahir dalam situasi dominasi laki-laki yang sangat berlebihan. Di sekitar abad ke 5-6 itulah wanita mengalami penghinaan yang luar biasa di seluruh dunia.

    Di Afrika dan Amerika perbudakan sedang gencar-gencarnya berlangsung. Kalau kita melihat catatan sejarah, hal itu juga merembet sampai ke Eropa, Timur Tengah, dan sebagian Asia. Manusia, khususnya wanita, menjadi ‘barang’ yang diperjual-belikan secara bebas. Dari satu tangan penguasa ke penguasa lainnya. Dari satu saudagar ke saudagar lainnya.

    Para penguasa dan raja di berbagai belahan dunia pun memperlakukan wanita secara semena-mena. Banyak di antaranya memiliki istri atau selir puluhan, atau bahkan ratusan orang. Yang kadang-kadang juga dihadiah-hadiahkan, seperti barang saja layaknya. Martabat wanita benar-benar runtuh.

    Saat itulah Islam diturunkan kepada nabi Muhammad saw di Jazirah Arab, di Timur Tengah, dalam situasi peradaban yang tidak jauh berbeda. Bahkan disebut-sebut sebagai kondisi kegelapan yang mewakili suramnya peradaban dunia pada waktu itu. Jaman jahiliah. Jaman kegelapan.

    Kondisi masyarakat Arab waktu itu sangat memprihatinkan. Khususnya perlakuan terhadap wanita. Karena itu, tidak heran, banyak orang tua yang tidak ingin punya anak perempuan. Memiliki anak perempuan adalah aib besar pada waktu itu. Apalagi mereka yang bangsawan, hartawan, atau tokoh masyarakat lainnya.

    Begitu mendengar istrinya melahirkan anak perempuan, merah padamlahlah muka sang ayah. Pasti berita itu bakal disimpan rapat-rapat agar tidak terdengar oleh orang lain. Atau, mereka tidak akan segan-segan membunuh anak yang baru lahir itu, karena malu. Hal yang mengerikan ini sampai diabadikan dalam Al-Qur’an.

    QS. An Nahl (16): 58-59

    Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah.

    Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.

    Dikabarkan, Umar bin Khatab sebelum masuk Islam juga pernah membunuh anak perempuannya dengan cara mengubur hidup-hidup. Betapa kejinya peradaban saat itu. Dan betapa rendahnya martabat seorang wanita pada saat itu. Kondisi Arab hanya salah satu contoh saja dari buruknya posisi wanita dalam peradaban dunia di jaman itu. Sampai-sampai seorang ayah tega membunuh anaknya sendiri. Bukan main…!

    Bukan hanya itu. Contoh lain adalah perilaku laki-laki terhadap wanita dalam hal perkawinan. Di arab jaman itu, kawin dengan banyak wanita adalah hal biasa. Hal yang lumrah.

    Bahkan yang menyedihkan, istri-istri bakal diwariskan kepada anak-anak lelakinya jika sang ayah meninggal dunia. Bayangkan, si anak laki-laki menerima warisan istri-istri ayahnya. Bukan main biadabnya…! Wanita benar-benar diperlakukan sebagai barang dan harta benda saja layaknya. Dan ini pun diabadikan dalam cerita Qur’an, sekaligus dikecam seperti ketika Allah mengecam pembunuhan terhadap anak-anak perempuan.

    QS. An Nisaa’ (4): 23

    Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,

    Allah mengecam praktek perkawinan yang amburadul secara moral, pada waktu itu. Tak peduli ibu tiri, anak, mertua, menantu dan sebagainya, saat itu sudah tidak ada artinya lagi. Wanita adalah barang tak berharga di kalangan lelaki. Maka Islam datang untuk meluruskan kembali tatakrama dengan berbasis pada akhlak mulia. Mendudukkan manusia sebagai makhluk yang beradab. Dan mengangkat wanita ke tempat yang terhormat. Sebagai seorang ibu, isteri dan anak yang harus dilindungi, dihargai dan dicintai.

    Islam datang untuk mengubah peradaban manusia yang sudah demikian rusak dan amburadul dengan cara yang bijak. Sehingga dalam ayat-ayat di atas, selain mengecam perilaku lama, Allah juga memberikan jalan keluarnya. Menciptakan aturan-aturan baru. Sekaligus mengampuni dosa-dosa yang telah lalu, asalkan tidak dilakukan lagi di masa-masa mendatang.

    Dengan kedatangan Islam, wanita dibela habis-habisan, dan diangkat dari kubangan lumpur yang sangat dalam. Bukan hanya di kalangan wanita pada umumnya, lebih khusus lagi Islam juga melakukan pembelaan kepada mereka yang lemah dan tertindas, seperti anak-anak perempuan yatim, ataupun para budak.

    Bukan main. Sudah wanita, budak lagi. Pada jaman itu mereka adalah golongan masyarakat yang paling bawah. Tak ada harganya. Tapi coba lihat, bagaimana Islam membela wanita-wanita tertindas itu.

    Banyak budak yang dibebaskan oleh pemuka-pemuka Islam. Bahkan tak sedikit yang dikawini, menjadi isteri sah. Ini sungguh luar biasa, di jaman itu. Islam membalik persepsi masyarakat secara frontal dengan cara ini. Bahwa wanita adalah orang-orang yang mesti dilindungi dan dihargai.

    QS. An Nisaa’ (4): 25

    Dan barangsiapa di antara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup penghasilannya untuk mengawini wanita merdeka lagi beriman, ia boleh mengawini wanita yang beriman dari budak-budak yang kamu miliki. Allah mengetahui keimananmu; sebahagian kamu adalah dari sebahagian yang lain, karena itu kawinilah mereka dengan seizin tuan mereka dan berilah maskawin mereka menurut yang patut, sedang merekapun wanita-wanita yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan (pula) wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya; dan apabila mereka telah menjaga diri dengan kawin, kemudian mereka mengerjakan perbuatan yang keji (zina), maka atas mereka separo hukuman dari hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami. Itu, adalah bagi orang-orang yang takut kepada kesulitan menjaga diri (dari perbuatan zina) di antaramu, dan kesabaran itu lebih baik bagimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

    Di jaman sekarang, ayat di atas sepertinya biasa-biasa saja. Namun, jika anda memahaminya dalam konteks jaman itu, sungguh tak ternilai tingginya.

    Sebagian umat Islam dianjurkan untuk mengangkat budak-budak menjadi istrinya. Bahkan memberikan mas kawin secara patut, karena mereka adalah bagian dari kita semua. Pada jaman itu, jangankan memberikan mas kawin, budak-budak diperlakukan dengan sangat tidak manusiawi. Dan dimanfaatkan untuk pemuas nafsu dalam bentuk pelacuran secara terang-terangan.

    Islam membalik semua praktek tak manusiawi itu. Segala bentuk kekerasan terhadap wanita ‘diserang’ secara frontal oleh ayat-ayat Qur’an. Dan bukan hanya teoritis, melainkan dipraktekkan secara langsung oleh Rasulullah dan para sahabat. Perubahan yang signifikan pun terjadi. Hanya dalam beberapa tahun, martabat wanita pun terangkat sangat terhormat.

    QS. An Nuur (24): 33

    Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesuciannya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu. Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa (itu).

    Ayat ini secara khusus memperjuangkan martabat budak wanita. Allah melarang seorang lelaki muslim untuk melakukan hubungan seks di luar nikah, meskipun dengan para budak. Sebuah hal yang lumrah di kala itu.

    Al-Qur’an memerintahkan agar semua itu diikat dalam sebuah lembaga perkawinan. Karena jika tidak, yang dirugikan bukan lelaki, melainkan para wanita. Padahal mereka adalah budak-budak yang tidak berdaya. Bayangkan jika mereka punya anak. Kesengsaraannya sungguh bakal berlipat-lipat. Sementara para lelaki tidak ada yang peduli.

    Para lelaki diperintahkan untuk menghargai mereka sebagai istri yang sah. Yang memperoleh perlindungan secara hukum. Kalau mereka tidak mau, maka lepaskanlah dengan ikatan perjanjian tertentu. Bahkan diperintahkan untuk memberikan sejumlah bekal dan uang untuk mereka. Agar mereka bisa menjadi manusia yang merdeka.

    Betapa mulianya Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw. Ketika semua orang memperlakukan wanita dengan semena-mena, Islam justru memberikan pembelaan secara terang-terangan. Ketika semua penguasa dan bangsawan menindas wanita-wanita tak berdaya sebagai permainan para lelaki, maka Islam pun datang membongkar praktek-praktek tak bermoral itu, sekaligus memberikan contoh konkret dalam kehidupan masyarakat.

    Dari kubangan lumpur, wanita diangkat oleh Islam untuk menduduki singgasana yang penuh hormat, penghargaan, perlindungan, cinta, dan kasih sayang…

    ***

    Oleh: Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 2:15 am on 19 April 2014 Permalink | Balas  

    Tanda Tanda Ajal Mendekat 

    sakitTanda Tanda Ajal Mendekat

    Ada seorang hamba yang begitu taat kepada Allah, sebut saja namanya Fulan. Dia tak pernah lalai dalam beribadah kepada Allah SWT. Suatu hari Izrail, malaikat pencabut nyawa, datang bertamu kepadanya. Terjadilah tanya jawab antara Fulan dengan tamunya itu.”Wahai Izrail! Apakah perihal kedatanganmu ke mari adalah atas perintah Allah untuk mencabut nyawaku, ataukah hanya kunjungan biasa?” “Ya, Fulan ! Kedatanganku kali ini tidak dalam rangka mencabut nyawamu. Kedatanganku ini hanya kunjungan biasa. Mendengar penjelasan Izrail, maka seketika bersinarlah wajah Fulan karena gembiranya. Mereka lalu bercakap-cakap sampai tiba saatnya Izrail akan pamit.

    “Wahai sahabatku, Izrail! Sebagai tanda persahabatan kita, aku ada harapan kepadamu kiranya engkau tidak berkeberatan untuk mengabulkannya.” “Gerangan apakah permohonanmu itu, hai Fulan sahabatku?” “Begini, ya Izrail. Jika nanti kau datang lagi kepadaku dengan maksud untuk mencabut nyawaku, maka mohon kiranya engkau mau mengirimkan utusan kepadaku terlebih dahulu. Jika demikian, maka aku ada waktu untuk bersiap-siap menyambut kedatanganmu.” “Oh, begitu? Hai, Fulan, kalau hanya itu permohonanmu, aku kabulkan. Aku berjanji akan mengirimkan utusan itu kepadamu.”

    Waktu pun berjalan. Tahun berganti tahun. Tak terasa bahwa pertemuan antara Fulan dengan Izrail telah sekian lama berlalu. Kehidupan berlangsung terus sampai suatu ketika Fulan kaget sekali. Tak disangka-sangka sebelumnya Izrail muncul di rumahnya. Fulan merasa bahwa kedatangan Izrail ini begitu mendadak, padahal ada komitmen janji Izrail kepadanya.

    “Wahai, Izrail sahabatku! Mengapa engkau tak mengirimkan utusanmu kepadaku? Mengapa engkau ingkar janji?” Dengan tersenyum, Izrail menjawab, “Wahai Fulan, sahabatku! Sesungguhnya aku sudah mengirimkan utusanku itu kepadamu, hanya kamu sendiri yang mungkin tidak menyadarinya. Coba perhatikan punggungmu, dulu ia tegak tetapi sekarang bungkuk. Perhatikan caramu berjalan, dulu kamu begitu tegap perkasa, sekarang gemetaran dengan ditopang tongkat. Perhatikan penglihatanmu, dulu ia bersinar sehingga orang luluh kena sorotnya tetapi sekarang kabur dan lemah. Ya, Fulan, bukankah pikiran-pikiranmu sekarang mudah putus asa padahal dulu begitu enerjik dan penuh berbagai harapan? Tempo hari kamu hanya menginginkan satu utusan saja dariku, tetapi aku telah mengirimkan begitu banyak utusanku kepadamu!”

    Sahabat, itu adalah tanda ajal yang pasti mendekat. Banyak juga manusia yang mendapat ajal tanpa mengalami tanda-tanda tersebut. Namun ada juga telah mendapatkan tanda-tanda tapi tidak menghiraukannya. Semoga kita diberikan waktu dan kesiapan untuk membekali diri sebelum ajal menimpa kita.

    ***

    (Diambil dari Mutiara Hikmah dalam 1001 Kisah, Poliyama Widya Pustaka)

     
  • erva kurniawan 1:31 am on 18 April 2014 Permalink | Balas  

    Mengangkasa Sendiri 

    malamMengangkasa Sendiri

    Malam belum larut saat sebuah cahaya lemah bergerak. Sebuah bintang kecil melaju tenang membelah langit malam. Melewati deretan bintang lain yang terpaku. Pelan tapi pasti ia bergerak. Gerakan yang terlihat pelan dalam keanggunannya, meski dalam perhitungan matematik bisa jadi lebih cepat dari Titanic sekalipun.

    Sungguh kekuatan yang luar biasa yang mampu mengerek bintang “kecil” di angkasa yang luas. Sumber energi yang tiada pernah habis. Tenaga yang tak akan lekang dan berkurang. Allah-lah pemilik energi itu. Bintang yang terlihat sebagai berkas cahaya kecil dianugerahi Allah energi untuk berpindah. Dan tanpa membantah ia pun patuh. Ia hijrah dari tempatnya semula menuju tempat lain yang asing. Meski ia tak tahu harus berhenti dimana, tapi itu tak menyurutkan langkahnya. Dengan ketaatan penuh ia melaju hingga berkas cahayanya menghilang di kerimbunan dedaunan. Ketaatan penuh sebagai seorang hamba.

    Hamba Allah lainnya tercatat pernah melakukan perjalanan yang sama. Ibrahim alaihi salam pernah melakukan perjalanan amat panjang bersama Luth alaihi salam dan Sarah, istrinya. Mereka menyusuri gurun tandus yang membentang luas di tepi Asia hingga Afrika. Melintasi perbatasan Yerusalem, Syiria, Mekah, hingga ke Mesir. Terselimuti debu padang pasir dan terjangan terik mentari yang menyengat. Namun dengan teguh mereka patuh. Berbagi suka dan duka bersama tiupan angin gurun.

    Semangat yang luar biasa. Tercelup keimanan kental menghapus segala rintangan menjadi jalan meraih cinta Illahi. Banyak sudah peristiwa yang terjadi. Bentuk-bentuk ketaatan yang tercermin pada pribadi mempesona. Penuh pelajaran. Bagai cermin tempat memandang dan menilai diri sendiri. Hijrahnya Ibrahim as diteruskan hingga Utsman bin Affan ra contoh nyata akan jiwa-jiwa yang tersibghoh keimanan kepada Allah. Allah pemilik segala kuasa. Maha Penyantun. Sebaik-baik pemberi rizki. Kepada-Nyalah segala bentuk ketaatan dipersembahkan. Apapun yang kita alami adalah skenario dari Nya. Baik itu sesuatu yang baik ataupun yang buruk dalam pandangan kita. Yakinlah selalu tak ada yang sia-sia. Ada hikmah di setiap peristiwa. Tak ada satupun yang terlewati. Karena tak ada pemberi balasan yang paling baik selain Allah. Dia-lah yang memiliki alam ini sendirian. Dan sesungguhnya karena Dia pulalah yang mengangkasa sendiri.

    Yupik Astuti – eramuslim

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 17 April 2014 Permalink | Balas  

    Dampak Maksiat terhadap Iman 

    Lemah ImanDampak Maksiat terhadap Iman

    Maksiat adalah lawan ketaatan, baik itu dalam bentuk meninggalkan perintah maupun melakukan suatu larangan. Derajat maksiat juga berbeda-beda. Jika ia dilakukan karena ingkar atau mendustakan, maka ia bisa membatalkan iman. Sedangkan jika tidak sampai pada derajat tersebut maka maksiat tersebut tidak membuatnya keluar dari iman, tetapi memperburuk dan mengurangi iman.

    Orang yang melakukan dosa besar seperti berzina, mencuri, minum-minuman yang memabukkan atau sejenisnya, tetapi tanpa meyakini kehalalannya, akan hilang rasa takut, khusyu’ dan cahaya dalam hatinya; sekalipun pokok pembenaran dan iman tetap ada di hatinya. Lalu jika ia bertaubat kepada Allah dan melakukan amal shaleh maka kembalilah khassyah dan cahaya itu ke dalam hatinya. Namun apabila ia terus melakukan kemaksiatan, akan bertambahlah kotoran dosa itu di dalam hatinya sampai menutupi serta menguncinya -na’udzubillah!-. Hal ini akan membuatnya menjadi tidak sensitif bahkan tidak mengenal yang baik dan buruk.

    Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya orang mukmin itu jika berbuat dosa maka terbentuklah titik hitam di hatinya. Apabila ia bertaubat, meninggalkan dan beristighfar maka mengkilaplah hatinya. Dan jika menambah (dosa) maka bertambahlah (bintik hitamnya) sampai menutupi hatinya. Itulah ‘rain’ yang disebut oleh Allah dalam Al-Qur’an.”.“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin : 14, HR. Ahmad II/297).

    Ada sebuah perumpamaan yang menggambarkan pengaruh maksiat atas iman, yaitu bahwasanya iman itu seperti pohon besar yang rindang. Maka akar-akarnya adalah tashdiq (kepercayaan) dan dengan akar itulah ia hidup, sedangkan cabang-cabangnya adalah amal perbuatan. Dengan cabang itulah kelestarian dan hidupnya terjamin. Semakin bertambah cabangnya maka semakin bertambah dan sempurna pohon itu, dan jika berkurang maka buruklah pohon itu.

    Lalu jika berkurang terus sampai tidak tersisa cabang maupun batangnya maka hilanglah nama pohon itu. Manakala akar-akar itu tidak mengeluarkan batang-batang dan cabang-cabang yang bisa berdaun maka keringlah akar-akar itu dan hancurlah ia dalam tanah. Begitu pula maksiat-maksiat dalam kaitannya dengan pohon iman, ia selalu membuat pengurangan dan aib dalam Kesempurnaan dan keindahannya, sesuai dengan besar dan kecilnya atau banyak dan sedikitnya kemaksiatan tersebut.

    Wallau a’alam!

    ***

    Diambil dari milis An-Nahl

     
  • erva kurniawan 2:09 am on 16 April 2014 Permalink | Balas  

    Kasih Yang Sebenarnya 

    ayahKasih Yang Sebenarnya

    Suatu malam, di sebuah stasiun radio, sedang berlangsung acara dimana orang- orang berbagi pengalaman hidup mereka. Perhatian saya yang semula tercurah pada tugas statistik beralih ketika seorang wanita bercerita tentang ayahnya. Wanita ini adalah anak tunggal dari sebuah keluarga sederhana yang tinggal di pinggiran kota Jakarta. Sejak kecil ia sering dimarahi oleh ayahnya. Di mata sang ayah, tak satupun yang dikerjakan olehnya benar.

    Setiap hari ia berusaha keras untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginan ayahnya, namun tetap saja hanya ketidakpuasan sang ayah yang ia dapatkan. Pada waktu ia berumur 17 tahun, tak sepatah ucapan selamat pun yang keluar dari mulut ayahnya. Hal ini membuat wanita itu semakin membenci ayahnya. Sosok ayah yang melekat dalam dirinya adalah sosok yang pemarah dan tidak memperhatikan dirinya. Akhirnya ia memberontak dan tak pernah satu hari pun ia lewati tanpa bertengkar dengan ayahnya.

    Beberapa hari setelah ulang tahun yang ke-17, ayah wanita itu meninggal dunia akibat penyakit kanker yang tak pernah ia ceritakan kepada siapapun kecuali pada istrinya. Walaupun merasa sedih dan kehilangan, namun di dalam diri wanita itu masih tersimpan rasa benci terhadap ayahnya.

    Suatu hari ketika membantu ibunya membereskan barang-barang peninggalan almarhum, ia menemukan sebuah bingkisan yang dibungkus dengan rapi dan di atasnya tertulis “Untuk Anakku Tersayang”.

    Dengan hati-hati diambilnya bingkisan tersebut dan mulai membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan dan sebuah buku yang telah lama ia idam-idamkan. Di samping kedua benda itu, terdapat sebuah kartu ucapan berwarna merah muda, warna kesukaannya. Perlahan ia membuka kartu tersebut dan mulai membaca tulisan yang ada di dalamnya, yang ia kenali betul sebagai tulisan tangan ayahnya.

    Ya Allah,

    Subhanallah,Terima kasih karena Engkau mempercayai diriku yang rendah ini Untuk memperoleh karunia terbesar dalam hidupku

    Kumohon Ya Allah, Jadikan buah kasih hambaMu ini

    Orang yang berarti bagi sesamanya dan bagiMu Jangan kau berikan jalan yang lurus dan luas membentang

    Berikan pula jalan yang penuh liku dan duri Agar ia dapat meresapi kehidupan dengan seutuhnya

    Sekali lagi kumohon Ya Allah, Sertailah anakku dalam setiap langkah yang ia tempuh Jadikan ia sesuai dengan kehendakMu

    Selamat ulang tahun anakku Doa ayah selalu menyertaimu “Dari Ayah yang Selalu Menyayangimu, sayang”

    Meledaklah tangis sang anak usai membaca tulisan yang terdapat dalam kartu tersebut. Ibunya menghampiri dan menanyakan apa yang terjadi. Dalam pelukan ibunya, ia menceritakan semua tentang bingkisan dan tulisan yang terdapat dalam kartu ulang tahunnya. Ibu wanita itu akhirnya menceritakan bahwa ayahnya memang sengaja merahasiakan penyakitnya dan mendidik anaknya dengan keras agar sang anak menjadi wanita yang kuat, tegar dan tidak terlalu kehilangan sosok ayahnya ketika ajal menjemput akibat penyakit yang diderita……..

    Pada akhir acara, wanita itu mengingatkan para pemirsa agar tidak selalu melihat apa yang kita lihat dengan kedua mata kita. Lihatlah juga segala sesuatu dengan mata hati kita. Apa yang kita lihat dengan kedua mata kita terkadang tidak sepenuhnya seperti apa yang sebenarnya terjadi.

    “Kasih seorang ayah, seorang ibu, saudara-saudara, orang-orang di sekitar kita, dan terutama kasih Allah dilimpahkan pada kita dengan berbagai cara. Sekarang tinggal bagaimana kita menerima, menyerap, mengartikan dan membalas Kasih Yang Sebenarnya……………” kata wanita tersebut menutup acara pada malam hari itu.

    ***

    Penulis – Tidak Diketahui

    Sumber – Tidak Diketahui

    Kiriman – Seorang Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 15 April 2014 Permalink | Balas  

    Mengonsumsi Babi Menggampangkan Perselingkuhan 

    babiMengonsumsi Babi Menggampangkan Perselingkuhan

    Oleh: Rusilanti, Dosen Universitas Negeri Jakarta

    Salma, seorang murid SD, bangga menceritakan kepada ibu gurunya tentang bakmi yang dimakannya kemarin bersama teman-temannya. ”Rasanya enak, gurih, baunya tajam, merangsang nafsu makan,” kisahnya, menjawab pertanyaan guru.

    Sang guru pun menasihatinya agar berhati-hati dalam memilih restauran. Dengan rasa seperti itu, demikian bu guru menasihati, tak mustahil bakmi itu menggunakan minyak babi. Dengan polos Salma bertanya, ”mengapa Allah mengharamkan babi, meski itu hanya minyaknya?”

    Akhirnya dengan bijaksana sang guru menerangkan. Alkisah, seperti diriwayatkan Ibnu Majjah di Kitab ash-shahabah, dari ‘Abdullah bin Jabalah bin Hibban bin Hajar, dari bapaknya, yang bersumber dari datuknya (Hibban bin Hajar), dikemukakan bahwa ketika Hibban sedang menggodok daging bangkai, Rasulullah ada bersamanya.

    Maka turunlah ayat ini (Q.S. 5 Al- Maidah: 3) yang artinya: “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya , dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu adalah kefasikan).

    Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk mengalahkan agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    Seketika itu juga Hiban membuang rebusan bangkai tersebut. Dalam hal ini haramnya bangkai disetarakan dengan haramnya babi.

    Bila ditinjau dari segi komposisi gizinya, daging babi mirip daging lainnya, misalnya, dalam 100 gr daging babi mengandung protein cukup tinggi yaitu 11,9 gr untuk daging babi gemuk dan 14,1 gr sedikit di bawah daging sapi. Kandungan lemaknya menempati urutan tertinggi bila dibandingkan dengan hewan lain, yaitu 45 gr untuk daging babi gemuk dan 35 gr pada daging babi kurus.

    Dari berat pasaran babi, rataannya adalah 108 kg didapat 83 kg karkas yang terdiri dari 15,5 kg lemak (lard). Kandungan lemak daging dapat mempengaruhi akumulasi kolagen daging, karena akumulasi lemak dapat melarutkan dan menurunkan kolagen daging. Lemak babi (lard) mengandung 41 persen lemak jenuh, dimana dalam 1 sendok makan lemak babi (lard) terdapat 12 mg kolesterol.

    Kadar kolesterol yang tinggi ini dapat mengakibatkan penyakit arterosklerosis, jantung koroner, penyempitan pembuluh darah pada arteri otak yang dapat menyebabkan terjadinya stroke. Konsumsi lemak yang terlalu tinggi juga memicu berbagai jenis penyakit kanker. Kandungan niasin, ribovlavin dan Fe cukup tinggi, namun sedikit kandungan Ca dan tidak mengandung vitamin A dan D.

    Mesti diakui, ada komponen dari babi yang bermanfaat, bagi industri makanan, obat dan kosmetik. Komponen itu gelatin, lard, rened, dan insulin. Gelatin dan lard ini banyak digunakan karena karakter lemak babi memiliki kekhasan dibandingkan lemak dari daging lainnya.

    Kendati demikian, ditilik dari kandungan lemak babi yang tinggi, justru membuat lemak babi ini beharga murah. Ini jika dibandingkan dengan lemak sapi. Tak mengherankan, tak sedikit pengusaha menggunakan lemak babi, karena perhitungan ekonomis.

    Di sisi lain, pada industri makanan suka menggunakan minyak dan lemak babi, karena berfungsi sebagai penghantar panas, menambah cita rasa, mengempukkan produk akhir dan memperbaiki tekstur makanan. Gelatin, misalkan, digunakan untuk meratakan kekentalan sirop dan kecap. Juga diperlukan pada pembuatan agar-agar dan es krim agar kenyal dan lembut. Begitupun untuk pembuatan permen.

    Rened berfungsi memisahkan lemak dan protein pada proses pembuatan keju. Pada industri obat gelatin digunakan sebagai emulgator yang biasanya digunakan sebagai bahan penolong atau tambahan pada jenis obat kapsul, tablet, emulsi, pil, dan obat dalam lainnya. Sedangkan pada industri kosmetika, lemak babi digunakan misalnya dalam produk lipstik.

    Kendati memiliki ragam manfaat, mengonsumsi babi lebih banyak mudharatnya. Salah satu contohnya dari konsep perilaku manusia. Prof KH Ibrahim Hosen — yang disitir oleh Thobieb Al-Asyhar dalam bukunya “Bahaya makanan haram bagi kesehatan jasmani dan kesucian rohani” — menyingkapkan, mereka yang gemar mengonsumsi babi cenderung rasa cemburunya relatif rendah.

    Rendahnya rasa cemburu ini seperti sifat babi sendiri. Yaitu minim sifat malu dan hilangnya kepedulian terhadap sesama. Tak ayal, mereka yang terbiasa dan gemar makan babi, tidak mudah cemburu bahkan ketika pasangan hidupnya selingkuh.

    Penelitian lain pun menyingkapkan, terjadinya penurunan intelektual dari orang yang secara kontinu makan babi, dapat juga menyebabkan lemahnya kepekaan terhadap kehormatan diri (harga diri).

    Lantas, bagaimana dengan makanan halal yang diperoleh secara haram? Tentu tetap berpengaruh pada sikap mental manusia. Masalah halal bukan saja terletak pada dzatnya namun juga pada proses dan prosedur pembuatannya. Makanan yang halal mencerminkan jiwa bersih. Jasmani pun segar sehingga menumbuhkan ketenteraman dan kekhusyuan dalam beribadah.

    Berkait pengharaman babi, selain aspek ilmu pengetahuan, juga terutama karena aspek keimanan. Pelarangan mengonsumsi babi menjadi barometer ketaatan orang-orang yang beriman akan godaan-godaan. Dengan mengonsumsi makanan halal, berarti konsisten dengan kesepakatan kita dengan Allah pada saat ditiupkan-Nya ruh ke dalam kandungan ibu kita.

    Demikian pentingnya makanan halal tercermin dalam Hadis berikut “Barang siapa berusaha atas keluarganya dari barang halalnya, maka ia seperti orang yang berjuang di jalan Allah. Dan barang siapa menuntut dunia akan barang halal dalam penjagaan, maka ia berada di dalam derajat orang-orang yang mati syahid” (HR. Thabrani dari abu Hurairah).

    Dengan demikian, kita wajib mendapatkan makanan halal, baik cara mendapatkannya, barang (dzatnya), maupun proses produksinya. Ini mengingat barang halal bila tercampur dengan haram, maka hukumnya haram menurut tinjauan fikih. Berkaitan dengan itu, perlu upaya menyelamatkan umat Islam dari terkonsumsinya komponen babi di dalam produk makanan, obat, serta kosmetik yang dibelinya. Peran pemerintah dalam pemberian Label Halal tentu menjadi alternatif tanpa harus memberatkan konsumen.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 14 April 2014 Permalink | Balas  

    Dimana Maqam kita? 

    sufi 14Dimana Maqam Kita?

    Bismillaahir-rahmaanir-rahiim

    Sahabat,

    Sesungguhnya Rasulullah saw sampai pada maqam yang istimewa di sisi Allah adalah setelah melalui tahapan yang berterusan lewat fikir dan pengorbanannya. Ketinggian derajatnya tidak semata-mata karunia yang Allah berikan begitu saja. Dan tanpa keduanya, yakni fikir dan pengorbanannya, Allah tak akan buat keputusan untuk menurunkan hidayah yang bercurah-curah; Sehingga tidak ada seorangpun yang duduk di dekatnya (pada hari akhir hayatnya), kecuali dia menyaksikan manusia berbondong-bondong masuk kepada agama-Nya, Islam.

    Sebagaimana Rasulullah saw, seperti itu pula sahabat-sahabatnya. Mereka mencapai derajat yang tinggi dengan fikir dan pengorbanan mereka. Dalam membantu Rasulullah saw, fikir mereka adalah sedemikian rupa sehingga mereka merasa suka hati untuk mengorbankan nyawa mereka pada saat-saat diperlukan. Fikir dan pengorbanan mereka adalah demi tegaknya kalimah Allah. Fikir harian mereka adalah bagaimana setiap karunia yang Allah berikan kepada mereka berupa harta, diri dan masa dapat dikembalikan kepada-Nya dengan sebaik-baik pengembalian. Dan pengorbanan mereka yang luar biasa adalah wujud dari apa yang mereka fikirkan.

    Penggambaran “hayatush-shahabah” seringkali sedemikian rupa sehingga kita seakan berada di sisi mereka. Kita terbawa dalam duka-lara saat membaca riwayat kesusahan dan kepedihan mereka dalam menegakkan agama. Kita juga tak kuasa menyembunyikan kepiluan hati saat mendengar riwayat pengabdian yang sarat dengan kesulitan dalam perjuangan mereka. Kita juga tak dapat menahan airmata yang gugur ketika menonton adegan ulang kisah penderitaan mereka di jalan Allah.

    Bila demikian keadaannya, lalu dimana maqam kita? Dan bila dibandingkan dengan para sahabat Rasulullah, setinggi apa derajat kita di sisi Allah? Apakah kita menyangka bahwa cara yang kita lakukan hari ini akan dapat ‘mendongkrak’ derajat kita kepada suatu kemuliaan? Sungguh ini suatu sangka baik yang belum diletakkan pada tempatnya.

    Adalah kita ingin mencapai derajat kemuliaan sebagaimana yang telah mereka raih dengan cara menulis. Sebagian lagi dengan cara membuat adegan ulang (seperti tayangan tv dan sejenisnya). Sebagian yang lain dengan cara membaca buku (bahkan sambil berbaring atau mengunyah nyamikan). Sebagian lain dengan cara mendiskusikannya, membuat seminar atau yang serupa dengan itu. Ternyata kita ingin mencapai derajat mereka dengan cara kita sendiri yang senang dan mudah, tanpa mujahadah sebagaimana yang mereka contohkan.

    Lewat sirahnya, sesungguhnya Rasulullah saw mengajarkan kita cara terbaik untuk dapat sampai kepada maqam tertinggi. Bila hari ini kita mengaku bahwa kita sedang mengikuti Rasulullah dan para sahabatnya, yang sebenarnya adalah bahwa kita baru mengambil pelajaran dari yang tersurat saja. Barangkali kecerdasan kita sudah tertutup oleh kebodohan yang berlapis sehingga kita masih gagal untuk mengambil pelajaran yang tersirat. Bila kita malu mengakuinya demikian, hal itu sudah cukup membuktikan kebodohan kita sendiri.

    Kita tidak lagi mengetahui bahwa dakwah adalah kewajiban setiap individu bagi ummat ini. Artinya adalah bila seseorang tidak buat dakwah (sekurangnya niat untuk dakwah) maka dia ada diluar jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya. Padahal karena dakwahlah akan timbul berbagai ujian yang sesungguhnya yang sangat berat buat ummat ini. Asbab dakwahlah maka timbul kesusahan dan kesulitan yang sebenarnya. Asbab dakwahlah maka ada gelar kehormatan syahid (atau syuhada) yang tertinggi di sisi Allah.

    Bila kita menulis tentang dakwah, barangkali kita termasuk sedang dakwah, akan tetapi berapa kadar kesulitannya dibandingkan dengan dakwah yang menjadikan kita berhadapan dengan orang seperti Abu Jahal dan Abu Lahab? Bila kita menulis tentang dakwah, barangkali kita termasuk sedang dakwah, akan tetapi berapa kesan kesusahan yang kita dapatkan dibandingkan dengan dakwah yang menjadikan kita berhadapan dengan kondisi yang penuh dengan penderitaan seperti yang dialami oleh Rasulullah saw dan sahabatnya?

    Maka yang terbaik bagi kita adalah selain menulis, kita juga dapat melapangkan masa untuk bergerak kepada mereka yang awam yang jauh dari kemampuan menjangkau tulisan. Selain membaca, kita juga masih punya waktu khusus untuk berjalan kepada saudara kita di sekitar kita. Selain waktu yang kita habiskan di depan komputer ini, kita juga menginfakkan waktu kita untuk menjumpai manusia di alam nyata dan mengajak mereka kepada Allah.

    Bila kita mulai bergerak kepada manusia, maka tidak seorangpun yang meminta kesulitan di jalan-Nya. Bila dakwah kita diterima orang lain dengan baik, maka kita mesti menyakininya bahwa hal itu adalah semata karunia Allah swt. Akan tetapi bila kita mendapat kesulitan di dalamnya, maka kita mesti bersyukur karena kita telah mendapatkan sunnah nabi di sana. Padahal setiap kesulitan yang kita temui di jalan dakwah tidak akan memberi kecuali semakin meninggikan derajat kita di sisi Allah. Dengan cara seperti inilah kita bina maqam kita sendiri ke derajat yang paling tinggi di sisi Allah. Subhanallah.

    ***

    Dari: Abi Subhan

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 13 April 2014 Permalink | Balas  

    Wanita Menurut Islam 

    wanitaWanita Menurut Islam

    Kaum feminis bilang susah jadi wanita ISLAM, lihat saja peraturan dibawah ini:

    1. Wanita auratnya lebih susah dijaga berbanding lelaki.
    2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
    3. Wanita saksinya kurang berbanding lelaki.
    4. Wanita menerima pusaka (warisan) kurang dari lelaki.
    5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
    6. Wanita wajib taat kepada suaminya tetapi suami tak harus selalu taat pada isterinya.
    7. Talak terletak di tangan suami dan bukan isteri.
    8. Wanita kurang dalam beribadat karena masalah haid dan nifas yang tak ada pada lelaki. makanya Kaum Feminisme nggak capek-capeknya berpromosi untuk “MEMERDEKAKAN WANITA ISLAM”

    Pernahkah kita lihat sebaliknya (kenyataannya)??

    Benda yang mahal harganya tentu akan dijaga dan dibelai serta disimpan di tempat yang teraman dan terbaik Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan? Itulah bandingannya dengan seorang wanita Islam.

    Wanita perlu taat kepada suami tetapi lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama dari bapaknya. Bukankah ibu adalah seorang wanita?

    Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki tetapi harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, manakala lelaki menerima pusaka perlu menggunakan hartanya utk isteri dan anak- anak.

    Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini, dan matinya jika karena melahirkan adalah syahid.

    Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap 4 wanita ini: Isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya.

    Manakala seorang wanita pula, tanggungjawab terhadapnya ditanggung boleh 4 orang lelaki ini: Suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.

    Seorang wanita boleh memasuki pintu Syurga melalui pintu mana saja yang disukainya cukup dengan 4 syarat saja : Sembahyang 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat suaminya dan menjaga kehormatannya.

    Seorang lelaki perlu pergi berjihad fisabilillah tetapi wanita jika taat akan suaminya serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH akan turut menerima pahala seperti pahala orang pergi berperang fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.

    Masya ALLAH … demikian sayangnya ALLAH pada wanita …. kan?

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 2:16 am on 12 April 2014 Permalink | Balas  

    Selembar Bulu Mata 

    air mataSelembar Bulu Mata

    Diceritakan di Hari Pembalasan kelak, ada seorang hamba Allah sedang di adili. Ia dituduh bersalah, menyia-nyiakan umurnya di dunia untuk berbuat maksiat. Tetapi ia berkeras membantah. “Tidak. Demi langit dan bumi sungguh tidak benar. Saya tidak melakukan semua itu.”

    “Tetapi saksi-saksi mengatakan engkau betul-betul telah menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam dosa,” jawab malaikat.

    Orang itu menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu ke segenap penjuru. Tetapi anehnya, ia tidak menjumpai seorang saksi pun yang sedang berdiri. Di situ hanya ada dia sendirian. Makanya ia pun menyanggah, “Manakah saksi-saksi yang kau maksudkan? Di sini tidak ada siapa kecuali aku dan suaramu.” “Inilah saksi-saksi itu,” ujar malaikat.

    Tiba-tiba mata angkat bicara, “Saya yang memandangi.” Disusul oleh telinga, “Saya yang mendengarkan.”

    Hidung pun tidak ketinggalan, “Saya yang mencium.”

    Bibir mengaku, “Saya yang merayu.”

    Lidah menambah, “Saya yang mengisap.”

    Tangan meneruskan, “Saya yang meraba dan meremas.”

    Kaki menyusul, “Saya yang dipakai lari ketika ketahuan.”

    “Nah kalau kubiarkan, seluruh anggota tubuhmu akan memberikan kesaksian tentang perbuatan aibmu itu”, ucap malaikat.

    Orang tersebut tidak dapat membuka sanggahannya lagi. Ia putus asa dan amat berduka, sebab sebentar lagi bakal dihumbankan ke dalam jahanam. Padahal, rasa-rasanya ia telah terbebas dari tuduhan dosa itu.

    Tatkala ia sedang dilanda kesedihan itu, sekonyong-konyong terdengar suara yang amat lembut dari selembar bulu matanya: “Saya pun ingin juga mengangkat sumpah sebagai saksi.”

    “Silakan”, kata malaikat.

    “Terus terang saja, menjelang ajalnya, pada suatu tengah malam yang lengang, aku pernah dibasahinya dengan air mata ketika ia sedang menangis menyesali perbuatan buruknya. Bukankah nabinya pernah berjanji, bahwa apabila ada seorang hamba kemudian bertobat, walaupun selembar bulu matanya saja yang terbasahi air matanya, namun sudah diharamkan dirinya dari ancaman api neraka? Maka saya, selembar bulu matanya, berani tampil sebagai saksi bahwa ia telah melakukan tobat sampai membasahi saya dengan air mata penyesalan.”

    Dengan kesaksian selembar bulu mata itu, orang tersebut di bebaskan dari neraka dan diantarkan ke surga. Sampai terdengar suara bergaung kepada para penghuni surga:  “Lihatlah, Hamba Tuhan ini masuk surga karena pertolongan selembar bulu mata.”

    Firman Allah swt,  “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada di dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh, yang ingat-mengingati supaya mentaati kebenaran, dan yang ingat-mengingati dengan kesabaran.”  Surah Al-Ashr

    Dari Abdullah bin ‘Amr R.A, Rasulullah S.A.W bersabda:  ” Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat…”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 11 April 2014 Permalink | Balas  

    Membiasakan Tafakkur 

    tafakurMembiasakan Tafakkur

    Membiasakan tafakkur adalah tradisi seorang mukmin. Allah menyebut kegiatan bertafakkur sebagai kebiasaan orang-orang yang berakal, Ulil Albaab. Dia SWT berfirman:

    Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.(QS. Ali Imran 190-191).

    Imam Al Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan kita untuk memperhatikan dan mencari bukti-bukti dari ayat-ayat-Nya, sebab ayat-ayat itu tidak bersumber kecuali dari Dzat yang Maha hidup (Hayyun), Maha berdiri (Qayyuum), Maha Kuasa (Qadiir), Maha Suci (Qudduus), Maha Selamat (Salaam), dan Dzat yang tidak butuh kepada sleuruh alam; sehingga iman kita peroleh didasarkan pada keyakinan bukan sekedar taklid. Diriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa dia r.a. mengatakan: ” Tatkala turun ayat ini kepada Nabi saw., beliau lalu sholat, kemudian datanglah bilal yang hendak mengumandangkan adzan untuk sholat Subuh. Bilal melihat Nabi saw. sedang menangis, lalu Bilal berkata: Wahai Rasulullah, kenapa anda menangis padahal Allah telah mengampunimu dosa-dosamu yang telah lalu maupun yang terkemudian!” Maka Nabi saw. berkata:

    Wahai Bilal, apakah tidak boleh aku menjadi hamba yang bersyukur, sungguh Allah telah menurunkan kepadaku tadi malam ayat : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” Kemudian beliau bersabda: “Celakalah orang yang membaca ayat itu tapi tidak pernah bertafakkur di dalamnya”.

    As Shabuni dalam Shafwatut Tafaasiir Juz I/230 mengatakan bahwa orang-orang yang berakal (Ulil Al Baab) itu mendapatkan tanda-tanda yang jelas -dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam-tentang pembuatnya dan kecemerlangan hikmahnya. Hal itu tidak akan jelas kecuali bagi orang yang berakal yang memperhatikan alam semesta dengan jalan berfikir (tafakkur) dan mencari bukti (istidlal), tidak seperti melihatnya binatang-binatang yang tidak memiliki kemampuan berfikir dan menalar. Sifat-sifat Ulil Albab itu digambarkan oleh Allah SWT sebagai orang yang senantiasa mengingat Allah dengan lisan dan hati mereka dalam segala keadaan (berdiri, duduk, maupun berbaring), tidak melalaikan diri dari mengingat-Nya pada umumnya waktunya, untuk mendapatkan ketenangan dengan mengingat-Nya dan menghabiskan kesendirian mereka dengan muroqobah kepada-Nya, yakni introspeksi diri dengan menyadari pengawasan-Nya.

    As Shabuni (idem) menambahkan, bahwa selain senantiasa mengingatnya, Ulil Albab memiliki ciri khas yaitu senantiasa memperhatikan dan meneliti langit dan bumi, dalam penciptaan keduanya, dengan adanya planet-planet dan bintang-bintang yang besar, dan berbagai keajaiban yang diciptakan di langit maupun di bumi serta berbagai keanehan yang sangat kreatif, sehingga mereka berkata : Wahai Tuhan kami, tiadalah yang Engkau ciptakan itu sia-sia! Tak ada di antara ciptaanmu yang ada di alam semesta ini yang sia-sia tanpa suatu hikmah. Mahasuci Engkau ya Allah dari berbagai kesia-siaan. Maka selamatkanlah kami -dengan rahmat-Mu– dari siksa neraka jahanam! Itulah kesimpulan dan sikap yang akan diambil oleh orang-orang yang berakal setiap kali bertafakkur, memperhatikan dan memikirkan ciptaan-ciptaan Allah yang ada di jagad raya ini, baik yang dekat maupun yang jauh.

    Tafakkur, Ajakan Al Quran Allah SWT telah menurunkan sejumlah ayat kepada Rasulullah saw. yang mengajak kaum musyrikin Quraisy -dan manusia secara umum-untuk bertafakkur, agar mereka bisa mencapai keimanan kepada Allah SWT, Al Khaliq, mengimani kerasulan Muhammad saw. dan mengimani apa yang dibawanya. Allah SWT berfirman:

    Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.(QS. Al Jatsiyah 3).

    Juga firman-Nya:

    Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.(QS. Az Zumar 42).

    Al Quran merangsang manusia untuk memperhatikan dirinya dan alam sekitarnya untuk memperkuat kesadaran hubungan dirinya dengan Allah Sang Pencipta. Dia SWT berfirman:

    Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?(QS. Ad Dzariat 21).

    Juga firman-Nya:

    “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (QS. Al Ghasyiyah 17-20).

    As Shaabuni dalam Shafwatut Tafaasiir Juz III/526 menafsirkan: hai Muhammad, nasihatilah mereka dan peringatilah mereka agar takut kepada Allah, dan janganlah memprihatinkan kamu bila mereka tidak memperhatikan dan memikirkan kejadian-kejadian alam yang ada. Ibnu Katsir, yang dikutip As Shabuni, mengatakan bahwa Allah memberikan peringatan kepada orang Baduwi agar mengambil bukti-bukti dari yang disaksikannya, yaitu onta yang dia tunggangi, langit yang ada di atas kepalanya, gunung yang ada di depannya, dan bumi yang ada di bawahnya, atas kekuasaan pencipta dan pembuatnya, yaitu Tuhan yang Maha Agung (ar Rabbul Azhiim), Sang Pencipta, Pemilik dan Pengatur jagad raya ini yang tidak layak ibadah dilakukan kepada selain Dia (Mukhtashor Ibnu Katsir Juz 3/634).

    Oleh karena itu, seorang Baduwi, ketika ditanya bagaimana anda membuktikan adanya Allah? Dia menjawab: Mudah saja, sebagaimana adanya onta yang bisa diketahui dari bekas telapak kakinya. Nyatalah bahwa siapapun, termasuk orang baduwi (Arab desa/gunung) bisa berfikir cemerlang terhadap ciptaan-ciptaan Allah hingga mencapai kesimpulan yang tepat dalam bermakrifat kepada Allah SWT, Pencipta Langit dan Bumi dengan seluruh isinya.

    Tradisi yang Perlu Ditumbuhkan Kembali

    Dengan demikian, untuk beriman kepada Allah, dan memperkuat keimanan serta makrifat kepada-Nya, kebiasaan bertafakkur perlu ditradisikan. Para sahabat yang langsung menyaksikan dan merasakan bagaimana Rasulullah saw. menerima dan menyampaikan ayat-ayat Al Quran adalah orang-orang yang telah memiliki tradisi berfikir yang baik sekali. Hasilnya, mereka yang sebelum Islam itu umumnya buta huruf, menjadi kaum pelopor yang menjadi guru dunia. Bahkan di antara mereka, Abu Darda r.a. menjadikan kegiatan berfikir adalah ibadah utama. Ketika ibunya ditanya tentang amal apa yang sangat putranya, sang ibu menjawab: “Tafakkur dan mengambil I´tibar atau pelajaran”. Sahabat Nabi ini selalu mendorong para sahabatnya untuk merenung dan berfikir. Katanya: “Berfikir (tafakkur) satu jam lebih baik dari pada ibadah satu malam” (lihat Khalid Muhammad Khalid, Karakteristik perihidup 60 sahabat Rasulullah saw.).

    Tradisi itulah yang membuat Al Quran, As Sunnah, dan seluruh hukum dan ideologi Islam terpelihara. Tsaqafah Islamiyah (ilmu-ilmu keislaman) yang menjadi poin kelebihan umat Islam daripada umat-umat lain yang dimasa Rasul dan para sahabat terbatas pada riwayat-riwayat yang memuat Al Quran dan As Sunnah beserta penjelasannya, berkembang menjadi Al Quran dan ulumul Quran, Tafsir, Hadits dan Ulumul Hadits dengan berbagai cabang ilmunya, Siroh, Fiqih, Ushul Fiqh, Nahwu, Sharaf, Balaghah, dan sebagainya. Bahkan umat Islam selalu unggul dalam berbagai lapangan kehidupan. Secara politik maupun militer, negara Islam (Khilafah Islamiyah) menjadi negara nomor satu di dunia setelah melengserkan hegemoni dua negara super power waktu itu, yakni Rumawi dan Persia. Tsaqafah dan peradaban Islam menjadi pusat ilmu dan peradaban dunia. Dalam bidang matematika dan ilmu pengetahuan, kaum muslimin tidak hanya menerjemahkan khazanah klasik Yunani, tapi juga meneliti dan mengembangkannya sehingga dunia matematika dan sains berutang budi kepada kaum muslimin. Tradisi berfikir dan keilmuan kaum muslimin inilah yang mengilhami renaisans bangsa-bangsa Barat setelah para pemuda mereka menuntut ilmu di universitas-universitas Islam di kota-kota Granadha, Sevilla, dan Kordoba di bumi Islam Andalusia.

    Namun umat Islam ini mengalami kemunduran, ketika tradisi bertafakkur dan berfikir yang merupakan bimbingan Al Quran ini memudar dan berhenti. Islam pun semakin tidak difahami, dan pada gilirannya tidak dijadikan sebagai pedoman hidup dalam mengatur diri umat ini, baik secara pribadi, jamaah, maupun kenegaraan. Kehidupan umat pun semakin merosot, sistem negara yang dibangun oleh Rasulullah saw. bersama generasi para sahabat pun melemah dan ambruk. Islam semakin dijauhkan dari kehidupan, dan semakin disamarkan pada diri umat Islam.

    Khatimah

    Oleh karena itu, untuk membangkitkan umat Islam kembali, kebiasaan tafakkur ini harus dihidupkan lagi. Apalagi bagi para pengemban dakwah. Memikirkan realitas dirinya, alam semesta dan kehidupan yang dirasakannya, adalah suatu keharusan. Juga memikirkan realitas masyarakat kaum muslimin yang ada dan berbagai faktor yang mempengaruhi sikap dan tanggung jawab mereka terhadap Islam, merupakan suatu keharusan. Terlebih-lebih memikirkan bagaimana agar pola hidup Islam yang diwariskan Rasulullah saw. diadopsi kembali oleh kaum muslimin, adalah suatu perkara yang sangat urgen. Wallahua´lam!

    ***

    Sumber : Buletin Al-Ihsan, by Muhammad al-Khaththath, Pusat Studi Khasanah Ilmu-ilmu Islam (PSKII).

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 10 April 2014 Permalink | Balas  

    Meninggalkan Yang Haram 

    taubat 3Meninggalkan Yang Haram

    Dalam sebuah hadis, diriwayatkan tentang seorang penjahat yang ingin bertaubat. Ia masuk ke masjid. Ketika itu Rasulullah S.A.W sedang mengimamkan solat. Setelah menunaikan solat mereka berbincang-bincang dan penjahat yang ingin bertaubat itu mendengar Rasulullah S.A.W berkata, “Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu yang haram maka akan memperolehinya ketika sudah halal.”

    Setelah Rasulullah S.A.W dan para sahabat bersurai, pemuda itu turut meninggalkan masjid. Hatinya masih ragu untuk mengutarakan taubatnya. Namun ucapan Nabi tadi amat terkesan di hatinya.

    Malam pun menjelang. Suasana yang sering menggoda dirinya untuk melakukan keburukan. Tiba-tiba dia berhasrat untuk merompak salah sebuah rumah yang dihuni oleh seorang janda. Ternyata di rumah janda itu terdapat banyak makanan yang enak dan pasti mengundang selera.

    Ketika dia sedang memulakan suapannya tiba-tiba dia teringat kata-kata Rasulullah S.A.W siang tadi. Akhirnya dia tak jadi makan. Tatkala beranjak ke bilik ke bilik lain, dia menumpai perhiasan dan wang yang banyak. Dan ketika dia hendak mengambilnya, sekali lagi dia teringat kata-kata Rasulullah S.A.W. Lalu dia membatalkan niat jahatnya. Setelah itu dia masuk pula ke sebuah bilik yang besar. Didapatinya janda mu’minah itu sedang terbaring tidur dengan lenanya. Apabila ternampak wajah janda yang cantik dan rupawan itu, dia tergoda dan bermaksud untuk melampiaskan nafsunya. Namun tiba-tiba dia teringat kembali kata- kata Rasulullah S.A.W tadi.. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu yang haram ia akan memperolehi barang tersebut ketika ia sudah halal.

    Akhirnya, sekali lagi beliau membatalkan niat jahatnya. Lalu dia pergi meninggalkan rumah itu dengan hati yang lega kerana mampu mengalahkan nafsunya.

    Fajar mula menyinsing. Penjahat tadi pergi menunaikan solat subuh di masjid. Kali ini dia bertekad, dia akan bertaubat di hadapan Rasulullah S.A.W. Setelah solat, beliau duduk menyendiri di satu sudut masjid, merenung kembali peristiwa yang baru dialaminya malam tadi. Dan menghitung betapa besar dosanya andai perbuatan itu dilakukan.

    Ketika matahari terbit datanglah seorang wanita ke masjid dan menceritakan kepada Rasulullah S.A.W kejadian semalam di rumahnya. Walaupun tiada barang yang hilang namun beliau khuatir kalau-kalau pencuri itu datang menyelidik semalam dan akan datang lagi malam nanti. Wanita itu juga memohon kepada Rasulullah S.A.W agar sudilah mencarikan seorang yang sanggup menjaga rumahnya. “Kenapa kau hidup sendirian?” tanya Rasulullah S.A.W padanya. Wanita itu menjawab bahwa suaminya telah meninggal dunia.

    Rasulullah S.A.W mengarahkan pandangannya kepada seorang yang sedang duduk menyendiri di satu sudut masjid. Rasulullah S.A.W bertanya pada lelaki tersebut (penjahat tadi), adakah beliau sudah beristeri? Setelah Rasulullah S.A.W mengetahui bahwa lelaki itu telah kematian isterinya, maka baginda menawarkannya seorang calon isteri. Lelaki itu terdiam begitu juga janda yang mengadu tadi. Mereka sama-sama malu. Tetapi Rasulullah S.A.W yang arif kemudian mengikat kedua insan itu menjadi suami steri yang sah. Dan.. pecahlah tangis lelaki itu, lalu diceritakannya kepada Rasulullah S.A.W peristiwa yang sebenarnya, dan bahwa pencuri itu tidak lain adalah dirinya sendiri.

    Wanita itu keluar dari masjid dari masjid diiringi lelaki yang kini telah menjadi suaminya. Mereka berjalan beriringan menuju rumah yang malam tadi hampir dicerobohinya. Disana makanan-makanan yang enak masih utuh seperti yang dilihatnya malam tadi. Bedanya sekarang, makanan itu sudah tidak haram lagi. Maka tanpa ragu-ragu makanan itu disantapnya. Uang, emas dan perhiasan yang hendak dicuri, kini sudah menjadi miliknya yang halal. Bahkan dia boleh menggunakannya untuk berniaga, tanpa haram sedikitpun.

    Sementara wanita cantik yang hampir dinodainya semalam, kini benar- benar sudah menjadi isterinya. berkat kemampuannya menahan nafsu syaitannya.

    Lelaki itu berbisik sendiri dalam hati, “Benarlah sabda Rasulullah S.A.W, barangsiapa meninggalkan yang haram maka ia akan memperolehinya ketika ia sudah menjadi halal.”

    Demikian indah Islam mengajar arti cinta. Cinta yang tidak diliputi keraguan, cinta yang menimbulkan rasa tenteram, cinta yang menumbuhkan kedamaian, cinta yang menyuburkan keimanan dan ketaqwaan. Cinta yang apabila kita meneguknya akan diperolehi kenikmatan yang lebih dalam lagi.

    Marilah kita menjenguk dan menyemak hati kita. Masihkah ada cinta di sana? Sudahkah kita mengemas cinta kita dengan kemasan Cinta Rabbani dan memberi label halal di atasnya? Dan sudahkah kita menyingkirkan cinta syahwat yang akan menjerumuskan kita dalam petaka yang berpanjangan? Tidak timur, tidak jua barat.

    ***

    Dari Sahabat: Awang Shamsul Awang Hambali

     
  • erva kurniawan 2:51 am on 9 April 2014 Permalink | Balas  

    Dan Berbahagialah ‘Ukasyah 

    rasullullah-saw-muhammad-bin-abdullah3Dan Berbahagialah ‘Ukasyah

    Setelah peristiwa Haji Wada’ kesehatan Rasulullah Saw memang menurun. Islam telah sempurna, tak akan ada lagi wahyu yang turun. Semula, kaum muslimin bergembira dengan hal ini. Hingga Abu Bakar mendesirkan angin kematian Rasulullah. Sahabat terdekat ini menyatakan bahwa kepergian kekasih Allah akan segera tiba.

    Mesjid penuh sesak. Semua berkumpul setelah Bilal memanggil kaum muslimin dengan suara adzan. Setelah mengimami shalat, nabi berdiri dengan anggun di atas mimbar. Selanjutnya Nabi bertanya. “Duhai sahabat, kalian tahu umurku tak akan lagi panjang, Siapakah diantara kalian yang pernah merasa teraniaya oleh si lemah ini, bangkitlah sekarang untuk mengambil kisas, jangan kau tunggu hingga kiamat menjelang”. Semua yang hadir terdiam, semua mata menatap lekat Nabi yang terlihat lemah. Melihat semua membisu, nabi mengulangi lagi ucapannya lebih keras. Hingga ucapan yang ketiga kali, seorang laki-laki berdiri menuju Nabi. Dialah ‘Ukasyah.

    “Ya Rasul Allah, Dulu aku pernah bersamamu di perang Badar. Saat itu engkau melecutkan cambuk kepada untamu agar dapat berjalan lebih cepat, namun sesungguhnya engkau memukul lambung samping ku” ucap ‘Ukasyah. Mendengar ini Nabi pun menyuruh Bilal mengambil cambuk di rumah Fatimah. Dengan langkah berat dan keengganan yang amat sangat, Bilal mengambil cambuk dan menyerahkannya kepada Rasulullah. Masjid seketika mendengung seperti sarang lebah.

    Sekonyong-konyong melompatlah dua sosok dari barisan terdepan, melesat maju. Dialah Abu Bakar dan Umar Ibn Khattab. Gemetar mereka berkata: “Hai ‘Ukasyah, pukullah kami berdua, sesuka yang kau dera. Pilihlah bagian manapun yang paling kau ingin, kisaslah kami, jangan sekali-kali engkau pukul Rasul”. Namun Nabi memberi perintah secara tegas, “Duduklah kalian sahabatku, Allah telah mengetahui kedudukan kalian”. Ke dua sahabat itu lemah sangsai, langkahnya surut menuju tempat semula. Mereka pandangi sosok ‘Ukasyah dengan pandangan memohon. ‘Ukasyah tidak bergeming.

    Masjid kembali ditelan senyap. Banyak jantung yang berdegup kian cepat, menahan nafas. ‘Ukasyah tetap tegap menghadap Nabi. Kini tak ada lagi yang berdiri ingin menghalangi ‘Ukasyah mengambil kisas. “Wahai ‘Ukasyah, jika kau tetap berhasrat mengambil kisas, inilah Ragaku,” Nabi selangkah maju mendekatinya. Berkata ‘Ukasyah: “Ya Rasul Allah, saat Engkau mencambukku, tak ada sehelai kainpun yang menghalangi lecutan cambuk itu”. Tanpa berbicara, Nabi langsung melepaskan gamisnya yang telah memudar. Dan tersingkaplah tubuh Rasulullah. Seketika pekik takbir menggema, semua yang hadir menangis pedih.

    Melihat tegap badan manusia yang di maksum itu, ‘Ukasyah langsung menanggalkan cambuk dan berhambur ke tubuh Nabi. Sepenuh cinta direngkuhnya Nabi… ‘Ukasyah berteriak haru, gemetar bibirnya berucap sendu, “?Ya Rasul Allah, siapakah yang sampai hati mengkisas manusia indah sepertimu. Aku hanya berharap tubuhku melekat dengan tubuhmu hingga Allah dengan keistimewaan ini menjagaku dari sentuhan api neraka”. Dengan tersenyum, Nabi berkata: “Ketahuilah duhai manusia, sesiapa yang ingin melihat penduduk surga, maka lihatlah pribadi lelaki ini”. Pekikan takbir menggema kembali. “Duhai, ‘Ukasyah berbahagialah engkau telah dijamin Nabi sedemikian pasti, bergembiralah engkau, karena kelak engkau menjadi salah satu yang menemani Rasul di surga”.

    ***

    Sahabat, indah nian pabila kita dapat berjumpa dengan kekasih Allah di surga. ‘Ukasyah mencari setiap celah kesempatan agar dapat merengkuh anugerah ini. Lalu, seperti apakah usaha kita? Astagfirullahaladziimmm, tak berani saya membandingkan jejak kehidupan saya dengan kemilau ‘Ukasyah.

    Ya Allah….

    diri ini tidak layak ke surgamu

    Namun, tidak jua

    aku sanggup ke neraka Mu

    Semoga ku kan selamat

    Dunia akhirat

    Seperti Rasul dan Sahabat

    ***

    (Diambil dari artikel http://www.eramuslim.com)

     
  • erva kurniawan 2:25 am on 8 April 2014 Permalink | Balas  

    Memelihara Urusan Umat 

    pemimpin1Memelihara Urusan Umat

    Kompleksitas penderitaan rakyat kian hari kian mengkhawatirkan. Bagaimana tidak? Setelah sekian lama terhimpit oleh beban ekonomi akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan, kini hampir bisa dikatakan, bukan hanya bidang ekonomi saja yang memukul sendi-sendi kehidupan namun telah menyebar di segala bidang kehidupan. Salah satunya adalah praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). KKN yang diharapkan mati dengan hembusan angin reformasi, justru tumbuh subur bak cendawan di musim hujan.

    Pada saat ini, bukan hanya para pejabat teras saja yang melakukan korupsi, namun telah merambah pada tingkatan bawah. Gubernur, bupati, camat, bahkan sampai pada tataran lurah/ kepala desa seakan-akan tidak mau kalah; mereka berlomba-lomba mengikuti jejak para seniornya di jajaran yang lebih tinggi.

    Satu contoh yang bisa menunjukkan praktik ini adalah tatkala berlangsung proses pemilihan kepala daerah. Hampir bisa dipastikan?walau sering sulit diungkap?bau busuk politik uang menjadi panorama khas setiap pemilihan kepala daerah. Apa yang terjadi pada proses pemilihan gubernur di Bali adalah salah satu contoh yang nyata. Beberapa anggota dewan akhirya mengaku mendapat ‘gizi’ (baca: suap) untuk memilih salah satu calon. Demikian juga apa yang terjadi pada proses pemilihan gubernur di DKI Jakarta. Akhirnya, salah satu calon gubernur yang gagal terpilih mengaku telah mengeluarkan uang beberapa miliar untuk memberi ‘gizi’ (suap) kepada para aggota dewan agar memilihnya. Demikian pula apa yang terjadi pada proses pemilihan gubernur di Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, dan belahan daerah lainnya; semuanya menunjukkan indikasi yang sama: money politics.

    Pertanyaannya, mengapa mereka melakukan hal seperti itu? Mengapa mereka melakukan praktik money politics dan praktik keji lainnya guna mendapatkan jabatan?

    Kesalahan Logika

    Alasan logis atas tindakan tersebut adalah sudut pandang yang keliru tentang jabatan. Mereka menyangka bahwa jabatan adalah sumber penghasilan yang melimpah; jabatan dianggap seolah-olah sebuah pekerjaan yang bisa menghasilkan pemasukan uang yang banyak. Dengan sudut pandang ini, akhirnya prinsip-prinsip ekonomi kapitalis pun berlaku di sana. Ibarat sebuah investasi, jabatan harus bisa balik modal bahkan harus menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya bagi kemakmuran sang pejabat.

    Oleh karena itu, tidak mengherankan mengapa tatkala proses pemilihan kepala daerah, para calon tidak canggung-canggung menghamburhamburkan uang. Sebab, dalam perhitungannya, dalam rentang waktu lima tahun pasti akan balik modal dan pasti untung.

    Dari sinilah muncul malapetaka lainnya. Pemerintah bukan lagi memikirkan bagaimana mensejahterakan rakyat, namun justru sebaliknya; sibuk mencari pemasukan agar balik modal. Rakyat akhirnya terbengkalai, tidak terurus, dan bahkan?yang lebih menyakitkan lagi?dijadikan sebagai obyek pemerasan.

    Dengan dalih meningkatkan pendapatan negara, berbagai pajak dikenakan dan dinaikkan. Dengan dalih agar mendapatkan dana segar dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), berbagai subsidi pada aspek-aspek vital di kurangi bahkan dicabut. Masyarakat semakin tercekik lehernya dengan semakin membumbungnya harga-harga kebutuhan sehari-hari.

    Akhirnya, pelayanan yang seharusnya dilakukan oleh penguasa kepada rakyatnya menjadi terbalik; seolah-olah rakyatlah yang kini harus melayani kepentingan para penguasa.

    Dampak Kesalahan Logika

    Kesalahan logika para penguasa ini akhirnya berdampak sangat serius dalam aspek pelayanan kepada masyarakat. Jabatan yang seharusnya lebih mengedepankan aspek pelayanan yang memuaskan kepada masyarakat menjadi terbalik. Kalaupun ada pelayanan, itu pun setengah hati, kalau tidak mau dikatakan sebagai pemanis muka.

    Pelayanan yang ada lebih banyak menyentuh kulit mukanya saja daripada pelayanan yang paripurna. Artinya, kalaulah ada sebuah rencana diluncurkannya sebagai sebuah produk pelayanan, itu terkesan?jika tidak mau dikatakan lebih menekankan?pendekatan proyek.

    Kekeringan yang melanda hampir di seluruh daerah di negeri ini adalah secuil bukti kongkret betapa buruknya pelayanan dari penguasa. Kita semua sudah tahu bahwa penyebab kekeringan adalah akibat digundulinya hutan-hutan yang ada. Akan tetapi, mengapa pemerintah tidak pernah memikirkan upaya yang harus dilakukan dalam jangka panjang, seperti melestarikan hutan yang ada, sehingga pada saat musim kemarau tidak terjadi kekeringan? Justru pemerintah membiarkan hutan-hutan yang ada dikapling-kapling oleh para konglomerat hitam itu, demi sebuah ‘pemasukan negara’.

    Demikian juga di sektor pendidikan. Pendidikan murah dan berkualitas seakan-akan menjadi impian yang sulit diwujudkan. Kasus Haryanto, anak SD di Bandung yang gantung diri akibat orangtuanya tidak memberinya uang sebesar 2.500 untuk membayar prakarya yang dibelinya dari sekolah?karena memang orangtuanya tidak punya uang?adalah secuil contoh nyata betapa buruknya pelayanan pemerintah terhadap rakyat di sektor pendidikan.

    Pengurusan Umat dalam Pandangan Islam

    Islam memandang bahwa penguasa bertugas untuk melakukan ri’âyah (pengurusan) seluruh urusan rakyat baik di dalam negeri maupun luar negeri. Artinya, para penguasa dengan segala kewenangan yang ada padanya (baik kekuasaan, kekuatan, dan kebijakan), harus berusaha sekuat tenaga untuk mensejahterakan kehidupan rakyat. Apa saja yang sudah ditetapkan oleh Allah untuk diadakan?karena memang merupakan hak rakyat?harus diupayakan seoptimal mungkin. Inilah amanah yang menjadi tanggung jawab penguasa, yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT kelak di akhirat nanti.

    Berkaitan dengan hal ini, Rasul saw., misalnya, pernah bersabda:

    Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal, yaitu: padang rumput, air, dan api. (HR Abu Dawud).

    Ketika membaca hadis di atas, penguasa yang baik akan menerjemahkannya melalui kebijakannya mengelola barang-barang tambang, laut, sungai, hutan, dan sumberdaya alam lainnya?yang menguasai hajat hidup orang banyak?sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Seluruh potensi sumberdaya alam yang ada akan dikelola oleh Negara dengan sebaik-baiknya. Keuntungan yang diperoleh dari pengelolaan sumberdaya alam itu kemudian dipergunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat, seperti untuk menyelenggarakan pendidikan gratis, pengobatan gratis, penyediaan perumahan yang memadai, fasilitas sosial dan fasilitas umum yang memadai, dll. Semua itu adalah hak rakyat yang harus dipenuhi oleh pemerintah secara optimal. Bukan sebaliknya, sumberdaya alam yang ada diserahkan pengelolaannya oleh pemerintah kepada pihak asing atau konglomerat hitam.

    Sungguh, penguasa Muslim bertanggung jawab dalam pengurusan seluruh rakyatnya. Abdullah bin Umar menuturkan bahwa dia pernah mendengarkan Rasulullah saw. bersabda:

    Imam (penguasa) adalah pelayan rakyat; dia bertanggung jawab terhadap rakyat yang dilayaninya. (HR al-Bukhari).

    Dengan demikian, tampak jelas bahwa para penguasa adalah pelayan rakyat (râ’iyah). Sebagai pelayan rakyat, penguasa tentu harus menyediakan semua kebutuhan tuannya?yakni rakyatnya?dengan sebaik-baiknya. Artinya, sebagai pelayan rakyat, penguasa harus memenuhi apa saja kebutuhan dan hak rakyat, yang semua itu harus dipenuhi dengan baik.

    Teladan Para Khalifah

    Banyak teladan dari para penguasa Muslim sejati di seputar bagaimana sikap amanah dan tanggung jawab mereka dalam mengurusi urusan umatnya. Salah satunya adalah yang ditunjukkan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Beliau setiap malam sering merasa gelisah dan tidak bisa tidur hanya karena khawatir jika nanti menghadap Allah SWT beliau harus mempertanggungjawabkan amanahnya. Beliau khawatir tidak bisa mempertanggungjawabkan amanahnya sebagai pemimpin umat karena beliau tidur terlelap pada malam hari, sementara boleh jadi masih ada rakyatnya yang tidak bisa tidur karena perutnya keroncongan karena kelaparan akibat kelalaian dirinya.

    Demikian juga Khalifah Umar bin al-Khaththab. Beliau sering melakukan inspeksi mendadak untuk mengetahui keadaan rakyatnya. Dalam salah satu inspeksinya, beliau pernah mendapati seorang ibu dari sebuah keluarga yang merebus batu agar seolah-olah dia kelihatan sedang menanak nasi?karena tidak punya lagi makanan yang harus dimakan. Hal itu dia lakukan guna menghentikan tangis anak-anaknya yang kelaparan. Saat itu juga, Khalifah Umar dengan sigap mengambil gandum di Baitul Mal untuk mencukupi kebutuhan keluarga tersebut. Gandum tersebut beliau panggul sendiri, walau para pengawalnya melarangnya. Khalifah Umar memandang bahwa kejadian ini adalah akibat kelalaian beliau dalam mengurusi umat. Oleh karena itu, beliau tidak mau jika apa yang telah menjadi tanggung jawabnya ditimpakan kepada orang lain/ bawahannya. Beliau takut, bagaimana nanti beliau harus mempertanggungjawabkan kejadian ini kepada Allah SWT kelak pada Hari Perhitungan.

    Sungguh, fragmen di atas sulit kita temui pada masa sekarang. Para pejabat sekarang banyak yang enak-enak tidur, sedangkan ribuan bahkan jutaan anak-anak jalanan berkeliaran tak tentu arah di jalan-jalan dan kolong-kolong jembatan guna mengais sesuap nasi. Para pejabat seolah-olah tidak peduli lagi bagaimana susahnya menyekolahkan anak sehingga kasus Haryanto terjadi.

    Wahai Kaum Muslim

    Marilah kita bersama-sama merapatkan barisan dan kekuatan kita untuk menjalin tali ukhuwah kita. Satukan tekad dan pandangan bahwa syariat Islamlah yang mampu mensejahterakan hidup kita. Tidak ada sistem lain yang lebih bagus daripada sistem Islam yang telah diberkati oleh Allah. Sistem kapitalis dengan produk penguasa kapitalis telah terbukti menyengsarakan kita. Demikian juga trauma sistem sosialis yang telah menjepit kehidupan kita dalam kenestapaan. Tidak ada sistem alternatif lain kecuali sistem Islam. Marilah kita berjuang bersama untuk penerapan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Marilah kita berjuang untuk terwujudnya pemimpin yang benar-benar kita cintai dan mencintai kita. Sebab, Rasulullah saw., sebagaimana dituturkan ‘Auf bin Malik, pernah bersabda:

    Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian, mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. (HR Muslim).

    Tidakkah kita menginginkan apa yang disabdakan oleh Rasul di atas terwujud saat ini? Tidakkah kita merindukan para pemimpin yang kita cintai dan mereka pun mencintai kita?

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:15 am on 7 April 2014 Permalink | Balas  

    Bicaralah dengan Bahasa Hati 

    kaya hatiBicaralah dengan Bahasa Hati

    Tak ada musuh yang tak dapat ditaklukkan oleh cinta. Tak ada penyakit yang tak dapat disembuhkan oleh kasih sayang. Tak ada permusuhan yang tak dapat dimaafkan oleh ketulusan. Tak ada kesulitan yang tak dapat dipecahkan oleh ketekunan. Tak ada batu keras yang tak dapat dipecahkan oleh kesabaran. Semua itu haruslah berasal dari hati anda.

    Bicaralah dengan bahasa hati, maka akan sampai ke hati pula. Kesuksesan bukan semata-mata betapa keras otot dan betapa tajam otak anda, namun juga betapa lembut hati anda dalam menjalani segala sesuatunya.

    Anda tak kan dapat menghentikan tangis seorang bayi hanya dengan merengkuhnya dalam lengan yang kuat. Atau, membujuknya dengan berbagai gula-gula dan kata-kata manis. Anda harus mendekapnya hingga ia merasakan detak jantung yang tenang jauh di dalam dada anda.

    Mulailah dengan melembutkan hati sebelum memberikannya pada keberhasilan anda.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 6:13 am on 6 April 2014 Permalink | Balas  

    Mengapa saya memilih Islam 

    nasehat-quran1Mengapa saya memilih Islam

    Farouk B. Karai (Zanzibar)

    Saya memeluk agama Islam sebagai buah dorongan jiwa saya sendiri dan karena besarnya kecintaan dan penghargaan saya kepada Rasul Islam Muhammad s.a.w. Hati saya telah dicengkeram oleh perasaan-perasaan itu sejak lama secara spontan. Tambahan lagi, saya tinggal di Zanzibar, dimana banyak sahabat-sahabat saya yang beragama Islam telah memberi kesempatan kepada saya untuk mempelajari dan mengerti Islam secukupnya. Maka secara diam-diam saya telah membaca sebahagian tulisan tentang Islam, karena takut ketahuan oleh keluarga saya. Pada bulan Desember 1940 saya telah menemukan diri saya telah siap menghadapi dunia, lalu saya umumkan ke-Islaman saya. Sejak waktu itu mulailah terjadi pemboikotan dan tentangan dari pihak keluarga maupun orang lain dalam masyarakat Persi yang sebelumnya memang saya tergolong dari padanya. Lama sekali kisah kesulitan-kesulitan yang harus saya lalui.

    Keluarga saya dengan keras menentang saya memeluk agama Islam, dan mereka telah mempergunakan berbagai cara yang dikiranya dapat menyulitkan saya. Akan tetapi sejak cahaya iman tumbuh dalam jiwa saya, tidak ada satupun kekuatan yang mampu menghalangi saya untuk menempuh agama yang halus yang telah saya pilih, yakni jalan iman kepada Allah yang Satu dan kepada Rasul-Nya, Muhammad s.a.w. Saya tegak keras bagaikan batu-batu Gibraltar menghadapi segala musibah dan kesulitan yang disebabkan oleh famili saya berulang kali. Ke-Imanan saya kepada Allah, kepada kebijaksanaanNya dan kepada takdir-Nya telah memantapkan langkah-langkah saya menerobos segala kesulitan itu.

    Saya telah mempelajari tafsir Al-Qur’an dalam bahasa Gujarti yang telah banyak menolong saya, dan saya dapat mengatakan tanpa satu ketakutanpun bahwa tidak ada satupun Kitab dari agama lain yang dapat menandinginya. Al-Qur’an adalah satu-satunya Kitab Suci yang sempurna. Ajaran-ajarannya mudah dan menyerukan kecintaan, persaudaraan, persamaan dan kemanusiaan. Sungguh Al-Qur’an itu suatu Kitab Suci yang mengagumkan, dan mengikuti ajaran-ajarannya merupakan jaminan kejayaan kaum Muslimin untuk selama-lamanya.

    ***

    Sumber: Mengapa Kami Memilih Islam

     
  • erva kurniawan 5:01 am on 5 April 2014 Permalink | Balas  

    Iman, Islam, Ihsan 

    itikaf 2Iman, Islam, Ihsan

    Assalamualaikum wr. wb.

    Saudaraku yang semoga dirahmati Allah. Selama ini mungkin kita sering mendengar istilah Islam, Iman dan Ihsan. Tapi sudahkah kita mengerti maksudnya. Marilah kita sama-sama menyimak hadist Nabi berikut ini:

    Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:

    Pada suatu hari, Rasulullah saw. muncul di antara kaum muslimin. Lalu datang seorang laki-laki dan bertanya:

    Wahai Rasulullah, apakah Iman itu?

    Rasulullah saw. menjawab: “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, rasul-rasul-Nya dan kepada hari berbangkit.”

    Orang itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah, apakah Islam itu?

    Rasulullah saw. menjawab: “Islam adalah engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun, mendirikan salat fardu, menunaikan zakat wajib dan berpuasa di bulan Ramadan.”

    Orang itu kembali bertanya: Wahai Rasulullah, apakah Ihsan itu?

    Rasulullah saw. menjawab: “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia selalu melihatmu.

    Orang itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah, kapankah hari kiamat itu?

    Rasulullah saw. menjawab: “Orang yang ditanya mengenai masalah ini tidak lebih tahu dari orang yang bertanya. Tetapi akan aku ceritakan tanda-tandanya; Apabila budak perempuan melahirkan anak tuannya, maka itulah satu di antara tandanya. Apabila orang yang miskin papa menjadi pemimpin manusia, maka itu termasuk di antara tandanya. Apabila para penggembala domba saling bermegah-megahan dengan gedung. Itulah sebagian dari tanda-tandanya yang lima, yang hanya diketahui oleh Allah.”

    Kemudian Rasulullah saw. membaca firman Allah Taala:  ‘Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.’

    Kemudian orang itu berlalu, maka Rasulullah saw. bersabda: “Panggillah ia kembali!” Para sahabat beranjak hendak memanggilnya, tetapi mereka tidak melihat seorang pun. Rasulullah saw. bersabda: “Ia adalah Jibril, ia datang untuk mengajarkan manusia masalah agama mereka.”

    [Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim:10]

    Jadi apakah kita memang sudah Iman, Islam dan Ihsan?

    Wassalamualaikum wr. wb.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Syamsudin Din 6:56 pm on 6 April 2014 Permalink

      Waallaikum sallam wb, alhamdulillah dalam kedaan lindungan illahi robbi. Terima kasih atas informasi dan semoga bermanfaat untuk kita semua. Aamiin…     Salam, Syamsudin

      ________________________________

  • erva kurniawan 4:58 am on 4 April 2014 Permalink | Balas  

    Islam Agama Kasih Sayang 

    hassan-musa-bismillahIslam Agama Kasih Sayang

    Oleh : Sari Narulita

    Pada suatu waktu, seorang laki-laki Arab melihat Rasulullah Muhammad Saw sedang menciumi salah seorang cucunya. Orang itu pun terkejut penuh kagum. Ia lalu bertanya, ”Apakah engkau menciumi anak-cucumu, ya Rasulullah? Sesungguhnya aku mempunyai 10 cucu, namun aku tak pernah sekalipun menciumi mereka.”

    Di lain kisah diceritakan, pada suatu saat Rasulullah melewati kebun seorang Anshar. Beliau melihat seekor unta yang lelah sedang meneteskan air matanya. Lalu, beliau mendatanginya dan memegangnya hingga unta tersebut terdiam. Kemudian Rasulullah bertanya siapa pemilik unta itu, yang ternyata adalah milik seorang pemuda Anshar.

    Rasulullah pun bersabda, ”Apakah kamu tidak takut kepada Allah atas hewan yang telah Allah amanatkan kepadamu. Sesungguhnya engkau telah membuatnya sangat lapar dan sangat kelelahan.” Pemuda itu pun malu dan mengubah semua sikapnya kepada untanya.

    Di lain waktu, Rasulullah sedang berdiskusi dengan para sahabat mengenai sifat rahmah. Beliau memerintahkan para sahabat agar selalu menjaga sifat ini pada diri mereka serta menjelaskan pentingnya kedudukan sifat ini dalam Islam. Sebagian sahabat berkata, ”Sesungguhnya kami menyayangi para istri kami, anak-anak kami, juga keluarga kami.”

    Rasulullah tampaknya belum puas dengan penjelasan para sahabatnya. Penjelasan mereka hanyalah mengimplikasikan sifat rahmah dalam ruang lingkup yang sangat kecil, padahal beliau menginginkan sifat rahmah itu lebih universal, lebih luas maknanya. Karena itu, beliau pun menyatakan, ”Bukan itu yang aku mau. Sesungguhnya yang aku inginkan adalah rahmah bagi seluruh alam.”

    Rahmah atau pengasih adalah sifat yang dimiliki oleh Allah SWT dan juga hamba-hamba-Nya. Apabila kita melihatnya sebagai salah satu sifat Allah, maka ia memiliki arti sebagai Pemberi Rezeki dan Kebaikan; dan bila kita lihat sebagai salah satu sifat manusia, maka ia berarti lemah lembut kepada sesama.

    Satu sifat yang sederhana ini ternyata sangat memiliki peran penting dalam Islam. Simaklah Allah telah menyifati diri-Nya dengan sifat rahman dan rahim. Lalu, di setiap awal surat di Alquran kita dapati bacaan Bismillahi-rahmanirrahim yang dengannya, diharapkan kita akan selalu mengingat dan membacanya di setiap awal langkah dan pekerjaan yang akan kita lakukan. Semua ini membuktikan bahwa Islam adalah agama yang sangat menekankan kasih sayang, bukan agama kekerasan.

    Muslim yang baik adalah yang selalu menjaga sifat ini dan dapat menyebarkannya kepada sesamanya. Dengan demikian, akan terciptalah apa yang disebut ‘Islam sebagai rahmah bagi seluruh alam’.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:55 am on 3 April 2014 Permalink | Balas  

    Sombong dan Pengaruhnya dalam Kehidupan 

    sombongSombong dan Pengaruhnya dalam Kehidupan

    Sombong atau yang sering kita kenal dengan istilah kibr, takabur dan istikbar -ketiganya hampir semakna-, merupakan suatu kondisi seseorang di mana ia merasa lain dari yang lain (dengan keadaan tersebut) sebagai pengaruh i’jab (kebanggaan) terhadap diri sendiri, yaitu dengan adanya anggapan atau perasaan, bahwa dirinya lebih tinggi dan besar daripada selainnya.

    Maka tidak akan berlaku sombong, kecuali orang yang merasa dirinya besar dan tinggi, dan ia tidak merasa tinggi atau besar, kecuali karena adanya keyakinan, bahwa dirinya memiliki keunggulan, kelebihan dan kesempur-naan yang dengannya ia menganggap berbeda dengan orang lain.

    Ada beberapa sebab yang mendorong seseorang menganggap dirinya lebih unggul daripada orang lain, sehingga melahirkan kesombongan dalam jiwa, yaitu:

    1. Sombong dengan Ilmu

    Ada sebagian thalib ilmu atau orang yang diberi pengetahuan oleh Allah, namun malah justru menjadikan dirinya sombong. Ia merasakan dirinyalah yang paling pandai (alim), menganggap rendah orang lain, menganggap bodoh mereka dan selalu ingin agar dirinya mendapatkan penghormatan, pelayanan dan fasilitas khusus dari mereka. Dia memandang, bahwa dirinya lebih mulia, tinggi dan utama di sisi Allah daripada mereka.

    Ada dua faktor yang menyebabkan seseorang menjadi sombong dengan ilmunya:

    Pertama, Ia mencurahkan perhatian terhadap apa yang ia anggap sebagai ilmu, padahal hakikatnya ia bukanlah ilmu. Ia tak lebih sebagai data atau informasi yang direkam dalam otak yang tidak memberikan buah dan hasil, karena ilmu yang sesungguhnya akan semakin membuat ia kenal siapa dirinya dan siapa Rabbnya. Ilmu yang hakiki akan melahirkan sikap khosyah (takut kepada Allah) dan tawadhu’ (rendah hati), bukan sombong, sebagai-mana firman Allah Subhannahu wa Ta’ala ,

    “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Faathir : 28)

    Kedua, Al-khoudl fil ilm yaitu belajar dengan tujuan agar dapat berbicara banyak, berdebat dan menjatuhkan orang dengan kepiawaian yang dimilikinya, sehingga orang menilainya sebagai orang alim yang tak terkalahkan ilmu-nya. Selayaknya ia lebih dahulu memperbaiki hati dan jiwanya, membersihkan dan menatanya, sehingga tujuan dalam mencari ilmu menjadi benar dan lurus. Karena merupakan karakteristik khas dari ilmu, bahwasanya ia menjadikan pemiliknya bertambah takut kepada Allah dan tawadhu’ terhadap sesama manusia. Ibarat pohon tatkala banyak buahnya, maka ia semakin merunduk dan merendah, sehingga orang akan dengan lebih mudah mendapatkan kebaikan dan manfaat darinya.

    Orang, apabila telah hobi mengumbar omongan, bantah-bantahan dan debat kusir, maka ilmunya justru akan melemparkannya kepada kedudukan yang rendah dan pengetahuan yang dimilikinya tidak akan membuahkan hasil yang baik, sehingga keberkahan ilmu tidak tampak sama sekali.

    2. Sombong dengan Amal Ibadah

    Kesombongan ahli ibadah dari segi keduniaan adalah ia menghendaki, -atau paling tidak membuat kesan-, agar orang lain menganggapnya sebagai orang yang zuhud, wara’, taqwa dan paling mulia di hadapan manusia. Sedangkan dari segi agama adalah ia memandang, bahwa orang lain akan masuk neraka, sedang dia selamat darinya.

    Sebagian ahli ibadah apabila ada orang lain yang membuatnya jengkel atau merendahkannya, maka terkadang mengeluarkan ucapan, “Allah tidak akan mengampunimu” atau, “Kamu pasti masuk neraka” dan yang sejenisnya. Padahal ucapan-ucapan tersebut dimurkai Allah, yang justru dapat menjerumuskannya ke dalam neraka.

    3. Sombong dengan Keturunan (Nasab)

    Barangsiapa yang mendapati kesombongan dalam hati karena nasabnya, maka hendaknya ia segera mengobati hatinya itu.

    Jika seseorang akan mencari nasabnya, maka perhatikan firman Allah berikut ini,

    “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani).” (QS. 32:7-8)

    Inilah nasab manusia yang sebenarnya, kakeknya yang terjauh adalah tanah, dan nasabnya yang terdekat adalah nuthfah alias air mani. Jika demikian keadaannya, maka tak selayaknya seseorang sombong dan merasa tinggi dengan nasabnya.

    4. Sombong dengan Kecantikan/Ketampanan

    Kesombongan seperti ini banyak terjadi di kalangan para wanita, yaitu dengan menyebut-nyebut kekurangan orang lain, menggunjing dan membicarakan aib sesama.

    Seharusnya orang yang sombong dengan kecantikannya ini banyak menengok ke dalam hatinya. Untuk apa anggota tubuh yang indah, namun hati dan perangai buruk, padahal tubuh secantik apa pun pasti akan binasa, hancur dan hilang tak tersisa.

    Belum lagi kalau orang mau merenungi, bahwa selagi masih hidup, maka mungkin saja Allah berkehendak untuk mengubah kecantikan atau ketampanannya, misalnya dengan mengalami kecelakaan, sakit kulit, kebakaran dan lain sebagainya, yang dapat menjadikan rupa yang cantik menjadi buruk. Maka dengan kesadaran seperti ini, insya Allah rasa sombong yang ada dalam hati akan terkikis dan bahkan tercabut hingga ke akar-akarnya.

    5. Sombong dengan Harta

    Yaitu dengan memandang rendah orang fakir dan bersikap congkak terhadap mereka. Ini disebabkan harta yang dimilikinya, perusahaan-perusahaan yang banyak, tanah dan bangunan, kendaraan mewah, perhiasan dan lain sebagainya. Kesombongan karena harta termasuk kesombongan karena faktor luar, dalam arti bukan merupakan potensi pribadi orang yang bersangkutan. Berbeda dengan ilmu, amal, kecantikan atau nasab, sehingga apabila harta itu hilang, maka ia akan menjadi hina sehina-hinanya.

    6. Sombong dengan Kekuatan dan Kegagahan

    Orang yang mendapatkan karunia seperti ini hendaknya menyadari, bahwa kekuatan adalah milik Allah seluruhnya. Hendaknya selalu ingat, bahwa dengan sedikit sakit saja akan membuat badan tidak enak, istirahat tidak tenang. Kalau Allah menghendaki, seekor nyamuk pun dapat membuat seseorang sakit dan bahkan hingga menemui ajalnya.

    Orang yang mau memikirkan ini semua, yaitu sakit dan kematian yang bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja, maka sudah sepantasanya tidak angkuh dan takabur dengan kekuatan dan kesehatan badannya.

    7. Sombong dengan Banyaknya Keluarga, Kerabat atau Pengikut.

    Kesombongan jenis ini juga merupakan kesombongan yang disebabkan faktor luar, bukan karena kelebihan yang dimiliki oleh yang bersangkutan. Dan setiap orang yang sombong karena sesuatu yang bukan dari kelebihan dan keunggulan dirinya sendiri, maka dia adalah sebodoh-bodoh manusia. Bagaimana mungkin ia sombong dengan sesuatu yang bukan merupakan kelebihan dirinya?

    PENGARUH KESOMBONGAN

    Kesombongan memiliki pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan, dan pengaruh-pengaruh tersebut tampak dalam gerak-gerik anggota badan, cara berjalan, berdiri, duduk, berbicara dan diamnya seseorang.

    Di antara pengaruh-pengaruh yang tampak dari sikap kesombongan adalah:

    1. Orang yang sombong kalau toh mau berjalan bersama-sama orang lain, maka ia selalu minta paling depan dan semua orang harus ada di belakangnya. Konon Abdur Rahman bin Aufz, kalau sedang berjalan bersama para pembantunya, maka tidak ketahuan ada di sebelah mana, ia tidak pernah menonjolkan diri harus berada paling depan supaya semua orang melihatnya.

    2. Orang sombong jika berada di suatu majlis, biasanya minta diistimewakan, diperlakukan lain daripada yang lain. Kemudian ia akan sangat senang kalau semua orang mendengarkan yang ia katakan dan sangat benci kalau ada orang lain mengalihkan pembicaraan kepada selainnya. Maunya semua orang harus membenarkan dan menerima apa yang ia katakan.

    3. Termasuk pengaruh sifat sombong adalah memalingkan muka dari sesama muslim, atau melihat dengan pandangan sinis dan merendahkan.

    4. Kesombongan juga berpengaruh bagi seseorang dalam ucapan, gaya bicara dan nada intonasinya. Bahkan terkadang mencerminkan ketidaksopanan, misalnya seorang murid atau mahasiswa menghardik gurunya, karena ia merasa anak seorang pejabat atau tokoh.

    5. Kesombongan juga akan mempe-ngaruhi gaya jalan seseorang, misalnya sambil membusungkan dadanya, atau berjalan dengan dibuat-buat agar menarik perhatian orang lain. Allah Subhannahu wa Ta’ala telah berfirman, “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. 17:37)

    6. Kesombongan juga berpengaruh di dalam kehidupan rumah tangga. Biasanya orang yang dalam hatinya ada kesombongan akan enggan mengerjakan pekerjaan rumah, walau hanya sepele. Hal ini berbeda dengan sikap tawadhu’ yang diajarkan oleh Rasulullah n. Aisyah x meriwayatkan, bahwa Rasul Allah Subhannahu wa Ta’ala biasa membantu istri beliau.

    7. Merupakan pengaruh kesombongan juga, bahwasanya ia membuat seseorang enggan membawakan barang atau sesuatu ke rumahnya, meskipun bukan hal yang berat, misalnya saja barang belanjaan. Ali RA berkata, “Seseorang tidak akan berkurang kesempurnaannya dengan membawakan sesuatu untuk keluarganya.”

    8. Kesombongan juga mempengaruhi gaya berpakaian seseorang, yaitu ia berpakaian dengan tujuan pamer dan supaya terkenal, atau dengan pakaian yang melanggar ketentuan syar’i, seperti isbal (memanjangkan celana di bawah mata kaki) bagi laki-laki.

    9. Orang yang sombong biasanya sangat senang apabila ia datang, lalu orang-orang berdiri untuk menghormatnya. Padahal para shahabat apabila datang Rasulullah SAW kepada mereka, maka mereka tidak berdiri untuk beliau, hal ini dikarenakan mereka tahu, bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam membenci hal itu.

    10. Orang yang dalam hatinya ada kesombongan tidak akan mau mengunjungi orang lain, tidak mau mengucapkan salam lebih dahulu, minta supaya diprioritaskan dan tidak mau mendahulukan kepentingan orang lain.

    11. Kesombongan juga akan mengakibatkan seseorang tidak memandang adanya hak orang lain pada dirinya. Sementara itu ia beranggapan, bahwa ia memiliki hak yang banyak atas selainnya.

    ***

    Diringkas dari : Kutaib, “Al-Kibr”, Zahir bin Muhammad Asy-Syahri. (Sumber Al-sofwah)

     
  • erva kurniawan 2:41 am on 2 April 2014 Permalink | Balas  

    Dimanakah Sumber Rizkiku 

    kerja kerasDimanakah Sumber Rizkiku

    Inur bukanlah seorang pengangguran. Dia muslimat rajin, mandiri dan berbakti pada orang tuanya. Semenjak SMA, dia sudah bekerja sebagai pramuniaga di Pekanbaru. Pulang sekolah dia shalat Dhuhur, makan siang terus jaga toko. Sambil nunggu pelanggan, dia memanfaatkan waktu sempit itu untuk membaca buku pelajaran. Jam sembilan malam toko tutup. Dia pulang, membantu ibunya nyuci piring, makan dan sebelum tidur dia kerjakan PR jika memang ada PR dari gurunya. Begitulah kesehariannya dia jalani selama tiga tahun di SMA. Ketika teman-teman SMA-nya pada jingkrak-jingkrak karena lulus SMA, dia justru mengerutkan dahi. Adiknya yang masih SMP sebentar lagi masuk SMA. Orang tuanya tidak mungkin lagi membiayai. Sementara dengan gaji sebagai pramuniaga tidak akan cukup.

    Akhirnya Inur memutuskan pergi ke Batam dengan harapan mendapatkan gaji lebih besar. Sesampainya di Batam dia bekerja di perusahaan swasta dengan gaji Rp. 390.000,-. Walaupun dia tinggal di rumah liar dengan dinding papan, rumah diatas pinggiran laut dengan aroma sekitar yang kurang bersahabat, dia tidak pernah mengeluh. Target utamanya dia bisa ngirim uang ke orang tua dan bisa membiayai adiknya sekolah. Baru kerja tiga bulan di Batam, tiba-tiba matanya berkunang-kunang. Saya sempat menyarankan sahabat baik saya itu untuk memeriksa ke dokter mata. Dia tidak mau karena takut biayanya mahal dan menolak bantuan saya karena dia tidak mau dikasihani orang apapun alasannya.

    Tiga hari kunang-kunangnya belum juga sembuh. Pada suatu pagi teman sekamarnya menepuk-nepuk pundaknya untuk membangunkannya. Badannya dingin dan kaku. Berulang kali temannya menggoyang-goyang badannya, tapi tidak ada respon balik. Di cek nafas dan degup jantungnya dan ternyata… innalillahi wa inna ilai roji’uun. Dia kembali ke pangkuan Sang Robbi dalam usia 19 tahun. Usia yang sangat muda sekali. Akhirnya jenazah Inur dipulangkan ke Pekanbaru dengan biaya Rp. 10 juta. Jauh lebih mahal daripada gaji yang dia kumpulkan selama tiga bulan ini (Rp. 1.160.000,-).

    Lalu dimanakah sumber rizki itu berada ? Kenapa Inur yang berusaha mendekati sumber rizkinya kok malah mendekati sumber ajalnya? Inilah pertanyaan menarik yang menjadi rahasia Allah. Manusia hanya bisa berusaha, menganalisa dan berdo’a. Allah memberi pahala kepada manusia berdasarkan usaha dan keikhlasan menjalankannya, bukan berapa banyak hasil yang dapat diraih.

    Rizki yang banyak kadang tidak selalu baik buat seorang hamba. Jika rizki yang banyak jatuh pada hamba yang suka bersedekah dan berzakat, maka rizki itu menjadi jalan pembuka pintu surga untuknya. Tapi sebaliknya, jika rizki yang banyak justru mengantarkannya ke tempat pelacuran, judi dan kemaksiatan lain; maka nerakalah muara akhir baginya. Allah Maha Tahu seberapa banyak ukuran rizki bagi setiap hambanya. Karena itu, marilah kita perbaiki niat dan cara kerja kita. Setiap berangkat kerja, ucapkan ” Saya niat mencari yang halal karena Allah”. Mudah-mudahan niat ini menjadi awal terbukanya pintu amal, terlepas dari kesuksesan dan kegagalan yang kita raih.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 1 April 2014 Permalink | Balas  

    Iga Mawarni :”Islam Lebih Realistis “ 

    iga mawarniIga Mawarni :”Islam Lebih Realistis “

    (Pengalaman Ruhani / Penyanyi : Iga Mawarni)

    Sejak kecil aku dididik di lingkungan Katolik. Di mata teman-teman aku termasuk Katolik fanatik. Kemanapun aku pergi, senantiasa memperkenalkan keyakinanku. Setelah bersosialisasi di bangku kuliah, aku lebih fair. Di kampus aku senang diskusi sama teman-teman seangkatan yang latar belakangnya berbeda – baik suku maupun agama. Dengan diskusi wawasanku kian terbuka. Dan dari pola pikir yang cukup demokratis itu kami senantiasa menghindari debat kusir. Segala yang dibicarakan berdasar referensi jelas. Bagiku itu menambah semangat membuka Alkitab. Sekaligus bikin catatan kaki buat persiapan diskusi sama temen-temen di setiap kesempatan. Ternyata semakin aku cermat mengkaji Alkitab, sering kujumpai poin-poin yang meragukan. Akhirnya aku bertanya sama teman seiman yang lebih ngerti isi Alkitab. Bahkan sama beberapa pendeta. Setiap aku bertanya, aku berusaha memposisikan diri sebagai orang awam yang ingin belajar agama, bukan sebagai orang yang seiman dengannya. Ternyata jawaban mereka justru bikin hatiku nggak puas. Seiring dengan keraguanku aku pelan-pelan menutup Alkitab. Aku ingin belajar yang lainnya.

    Tapi aku nggak langsung mempelajari Islam. Karena aku merasa ada jurang begitu dalam di antaranya (Islam-Kristen). Melalui sejumlah buku aku melanglang. Aku pelajari agama Hindu, lalu Budha. Namun hati nuraniku tetap ragu ketika sampai pada konsep ketuhanan. Sekalipun ajarannya bagus sekali. Eh, mentok-mentoknya aku pelajari juga ajaran Islam.

    Sejujurnya aku gengsi. Antara ogah dan ingin tahu terus bergelora dalam diriku. “Kenapa mesti Islam?” hatiku memprotes. Langkah pertama aku baca cerita para nabi melalui buku-buku tafsir. Alasanku, Islam dan Kristen itu historinya sama. Kecuali tentang kerasulan Isa AS dan Muhammad SAW. Di Kristen Nabi Isa utusan terakhir. Tapi dalam Islam ada lagi nabi yaitu Nabi Muhammad SAW. Sebagai manusia biasa, aku melihat bahwa al Qur’an itu lebih manusiawi. Artinya segala pertanyaan ada jawabannya. Ada hukum sebab akibat. Kenapa dilarang begini? Karena bisa berakibat begini. Itu yang bikin aku tertarik masuk Islam.

    Menurutku, landasan awal seseorang meyakini suatu kepercayaan itu karena buku besarnya (kitab). Melalui itu kita dapat bersentuhan langsung dengannya. Bagiku itu sudah jadi pegangan kuat. Sedangkan di agama lain, aku lihat banyak ayat yang ditulis oleh orang-orang pada masa itu. Dan aku lihat beberapa surat dalam Alkitab yang menceritakan kejadian sama tetapi versinya berbeda. Buatku hal semacam itu merupakan kasus besar. Karena kitab suci itu ternyata sudah disentuh oleh tangan manusia. Sedangkan ajaran Islam lebih realitis. Karena Al-Qur’an diwahyukan sebagai suatu keharusan. Sedangkan sunah Rasul lain lagi. Yaitu bersifat nggak mengikat. Ini lebih manusiawi.

    Proses hijrahku menjadi muslim nggak begitu mulus. Apalagi keluargaku Nasrani aktif yang fanatik. Aku mengucapkan dua kalimat syahadat pada tanggal 23 Maret 1994 di Malang, Jawa Timur. Padahal aku kuliah di Jakarta. Memang semasa pencarian, aku punya sohib di kota apel itu. Dia nggak bersedia mengajari tentang Islam, melainkan hanya menunjukkan seseorang yang menurutnya lebih tepat. Yaitu Kiai Zulkifli dan Pak Amir.

    Ternyata salah seorang dari mereka juga muallaf. Banyak pengalaman religiusnya yang bikin aku terkesan. Disamping memantapkan niatku masuk Islam. Cobaannya, ibuku aktivis kegiatan gereja. Karenanya aku mengupayakan agar keislamanku nggak diketahuinya dalam kurun waktu dua tahunan. Ternyata beliau tahu lebih awal dari yang aku rencanakan. Sebagai anak pertama pasti ibuku menaruh harapan besar terhadapku. Begitu tahu anaknya berbeda keyakinan, tentu batinnya terpukul. Itu cobaanku yang paling besar. Dimana aku merasa takut kalau ibu marah.

    Tapi begitu semuanya sudah terbuka, aku pasrah sama Allah. Aku tetap menempatkan diri sebagai anak, yang harus senantiasa menghormatinya. Aku bersyukur karena akhirnya sikap mereka sudah lebih baik. Tapi selama “perang dingin” berlangsung aku nggak pernah mau menyinggung soal agama. Kalau hari besar agama baik natal atau lebaran aku sengaja nggak kumpul sama keluarga. Aku tahu, mereka kecewa terhadapku. Kalau aku hadir dalam hari besar mereka, tentu ada perasaan nggak enak. Namun komunikasi tetap jalan. Aku senantiasa mengunjungi orang tua. Alhamdulillah, pada lebaran beberapa tahun lalu, ibu menemuiku. Aku anggap ini blessing. Lebih dari itu, semua ini sudah diatur oleh Allah Swt. Aku yakin itu.

    Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

    Semoga bermanfaat

    ***

    Witono Slamet

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: