Updates from April, 2013 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:33 am on 30 April 2013 Permalink | Balas  

    Golongan Merugi 

    al-ashr

    Golongan Merugi

    Kecenderungan manusia untuk melupakan hakikat kehidupan semakin menggejala di zaman teknologi ini. Globalisasi telah menghancurkan tembok-tembok keimanan kecuali mereka yang ditakdirkan selamat. (Maryam Jameelah).

    Al Quran banyak memberikan kepada kita orang-orang yang khasirin, yakni orang-orang yang hidupnya merugi di dunia dan di akhirat. Merugi karena tidak mau beriman kepada ayat-ayat Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Mereka membaca Alquran tetapi mereka tidak tahu apa yang dibaca.

    Misalnya dalam surah Al Ashr, Allah menyebut semua manusia dalam keadaan merugi, kecuali empat golongan. Mereka adalah yang beriman, orang-orang yang mengerjakan amal shaleh, yang sering memberi tausiah kepada sesamanya agar menaati kebenaran, dan orang yang nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.

    Di luar itu, ini berarti orang yang tidak beriman, kafir, munafik, fasik, syirik, semuanya merugi. Begitu juga orang yang mengerjakan amal sayyiah (buruk) semacam kezaliman, kekikiran, kejahilan, dan keingkaran kepada kebenaran juga merugi. Hal sama juga berlaku bagi orang yang membiarkan orang lain terpuruk dalam kesesatan dan orang-orang yang menyuruh orang lain gegabah (tidak sabar) dan tergesa-gesa dalam mengambil sikap. Menyikapi ayat Alashr di atas, Imam Syafi’i berkata, ”Seandainya manusia memahami ayat ini cukuplah agama ini baginya.”

    Apa maksudnya? Surat ini merupakan intisari bahwa hidup adalah kumpulan waktu. Yang tak mampu menggunakan kumpulan waktu dialah yang dijamin bakal merugi, orang yang sudah mati. Selajutnya dalam surah Annahl ayat 107-109 Allah juga menyebut beberapa golongan yang merugi karena kelalaiannya. Mereka adalah orang yang mencintai dunia lebih dari akhirat. Akhirat disepelekan, dunia dinomor-satukan. Bagi mereka, Allah membutakan mata hatinya, penglihatan dan pendengarannya telah dikunci mati oleh Allah SWT.

    Masih banyak ayat-ayat lain yang bertebaran di berbagai surah tentang golongan yang merugi ini. Dan bagi mereka, di akhirat nanti akan mendapat azab yang pedih. Masihkah kita bersibuk dengan urusan dunia kita dan melupakan akhirat? Masihkah kita menomor-satukan diri dan menafikan orang lain? Apakah kita termasuk golongan ini? Tentu dengan melihat kriteria yang ditetapkan Allah, kita bisa menilai diri kita sendiri. Selagi ada kemauan, belum terlambat untuk berubah.

    ***

    Oleh: Bukhari Ib

    republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 29 April 2013 Permalink | Balas  

    Membedakan Zionesme dari Yahudi 

    palestine-flagMembedakan Zionesme dari Yahudi

    Oleh: Harun Yahya

    Sebagaimana disebutkan sebelumnya, sikap toleransi yang wajib diperlihatkan kaum Muslimin terhadap orang-orang ahli kitab telah terbukti sepanjang sejarah Islam. Selama berabad-abad, umat Islam memperlakukan kaum Yahudi dengan sangat bersahabat dan mereka menyambut persahabatan ini dengan kesetiaan. Namun, hal yang telah merusak keadaan ini adalah Zionisme.

    Zionisme muncul pada abad ke-19. Dua hal yang menjadi ciri menonjol Eropa abad ke-19, yakni rasisme dan kolonialisme, telah pula berpengaruh pada Zionisme. Ciri utama lain dari Zionisme adalah bahwa Zionisme adalah ideologi yang jauh dari agama. Orang-orang Yahudi, yang merupakan para mentor ideologis utama dari Zionisme, memiliki keimanan yang lemah terhadap agama mereka. Bahkan, kebanyakan dari mereka adalah ateis. Mereka menganggap agama Yahudi bukan sebagai sebuah agama, tapi sebagai nama suatu ras. Mereka meyakini bahwa masyarakat Yahudi mewakili suatu ras tersendiri dan terpisah dari bangsa-bangsa Eropa. Dan, karenanya, mustahil bagi orang Yahudi untuk hidup bersama mereka, sehingga bangsa Yahudi memerlukan tanah air tersendiri bagi mereka.

    Hingga saat kemunculan Zionisme di Timur Tengah, ideologi ini tidak mendatangkan apapun selain pertikaian dan penderitaan. Dalam masa di antara dua perang dunia, berbagai kelompok teroris Zionis melakukan serangan berdarah terhadap masyarakat Arab dan Inggris. Di tahun 1948, menyusul didirikannya negara Israel, strategi perluasan wilayah Zionisme telah menyeret keseluruhan Timur Tengah ke dalam kekacauan.

    Titik awal dari Zionisme yang melakukan segala kebiadaban ini bukanlah agama Yahudi, tetapi Darwinisme Sosial, sebuah ideologi rasis dan kolonialis yang merupakan warisan dari abad ke-19. Darwinisme Sosial meyakini adanya perjuangan atau peperangan yang terus-menerus di antara masyarakat manusia. Dengan mengindoktrinasikan ke dalam otak mereka pemikiran “yang kuat akan menang dan yang lemah pasti terkalahkan”, ideologi ini telah menyeret bangsa Jerman kepada Nazisme, sebagaimana orang-orang Yahudi kepada Zionisme.

    Kini, banyak kaum Yahudi agamis, yang menentang Zionisme, mengemukakan kenyataan ini. Sebagian dari para Yahudi taat ini bahkan tidak mengakui Israel sebagai negara yang sah dan, oleh karenanya, menolak untuk mengakuinya. Negarawan Israel Amnon Rubinstein mengatakan: “Zionisme adalah sebuah pemberontakan melawan tanah air (Yahudi) mereka dan sinagog para Pendeta Yahudi”. (Amnon Rubinstein, The Zionist Dream Revisited, hlm. 19)

    Pendeta Yahudi, Forsythe, mengungkapkan bahwa sejak abad ke-19, umat Yahudi telah semakin jauh dari agama dan perasaan takut kepada Tuhan. Kenyataan inilah yang pada akhirnya menimpakan hukuman dalam bentuk tindakan kejam Hitler (kepada mereka), dan kejadian ini merupakan seruan kepada kaum Yahudi agar lebih mentaati agama mereka. Pendeta Forsythe menyatakan bahwa kekejaman dan kerusakan di bumi adalah perbuatan yang dilakukan oleh Amalek (Amalek dalam bahasa Taurat berarti orang-orang yang ingkar kepada Tuhan), dan menambahkan: “Pemeluk Yahudi wajib mengingkari inti dari Amalek, yakni pembangkangan, meninggalkan Taurat dan keingkaran pada Tuhan, kebejatan, amoral, kebiadaban, ketiadaan tata krama atau etika, ketiadaan wewenang dan hukum.” (Rabbi Forsythe, A Torah Insight Into The Holocaust, http://www.shemayisrael.com/rabbiforsythe/holocaust.)

    Zionisme, yang tindakannya bertentangan dengan ajaran Taurat, pada kenyataannya adalah suatu bentuk fasisme, dan fasisme tumbuh dan berakar pada keingkaran terhadap agama, dan bukan dari agama itu sendiri. Karenanya, yang sebenarnya bertanggung jawab atas pertumpahan darah di Timur Tengah bukanlah agama Yahudi, melainkan Zionisme, sebuah ideologi fasis yang tidak berkaitan sama sekali dengan agama.

    Akan tetapi, sebagaimana yang terjadi pada bentuk-bentuk fasisme yang lain, Zionisme juga berupaya untuk menggunakan agama sebagai alat untuk meraih tujuannya.

    Penafsiran Taurat yang Keliru oleh Kaum Zionis

    Taurat adalah kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Musa. Allah mengatakan dalam Alquran: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi),…” (QS. Al-Maa-idah, 5:44). Sebagaimana pula dinyatakan dalam Alquran, isi Taurat di kemudian hari telah dirubah dengan penambahan perkataan manusia. Itulah mengapa di zaman sekarang telah dijumpai “Taurat yang telah dirubah”.

    Namun, pengkajian terhadap Taurat mengungkap keberadaan inti ajaran-ajaran Agama yang benar di dalam Kitab yang pernah diturunkan ini. Banyak ajaran-ajaran yang dikemukakan oleh Agama yang benar seperti keimanan kepada Allah, penyerahan diri kepada-Nya, bersyukur kepada-Nya, takut kepada Allah, mencintai Allah, keadilan, cinta, kasih sayang, menentang kebiadaban dan kedzaliman tertulis dalam Taurat dan bagian-bagian lain dari Kitab Perjanjian Lama.

    Selain itu, peperangan yang terjadi sepanjang sejarah dan pembantaian yang terjadi ini dikisahkan dalam Taurat. Jika seseorang berniat untuk mendapatkan dalil – meskipun dengan cara membelokkan fakta-fakta yang ada – untuk membenarkan tindakan keji, pembantaian dan pembunuhan, ia dapat dengan mudah mengambil bagian-bagian ini dalam Taurat sebagai rujukan untuk kepentingan pribadinya. Zionisme menempuh cara ini untuk membenarkan tindakan terorismenya, yang sebenarnya adalah terorisme fasis, dan ia sangat berhasil. Sebagai contoh, Zionisme telah menggunakan bagian-bagian yang berhubungan dengan peperangan dan pembantaian dalam Taurat untuk melegitimasi pembantaian yang dilakukannya terhadap warga Palestina tak berdosa. Ini adalah penafsiran yang tidak benar. Zionisme menggunakan agama sebagai alat untuk membenarkan ideologi fasis dan rasisnya.

    Sungguh, banyak orang-orang Yahudi taat yang menentang penggunaan bagian-bagian Taurat ini sebagai dalil yang membenarkan pembantaian yang dilakukan terhadap warga Palestina sebagai tindakan yang benar. The Neturie Karta, sebuah organisasi Yahudi Ortodoks anti Zionis, menyatakan bahwa, nyatanya, “menurut Taurat, umat Yahudi tidak diizinkan untuk menumpahkan darah, mengganggu, menghina atau menjajah bangsa lain”. Mereka menekankan lebih jauh bahwa, “para politikus Zionis dan rekan-rekan mereka tidak berbicara untuk kepentingan masyarakat Yahudi, nama Israel telah dicuri oleh mereka”. (Rabbi E. Schwartz, Advertisement by Neturei Karta in New York Times, 18 Mei 1993)

    Dengan menjalankan kebijakan biadab pendudukan atas Palestina di Timur Tengah dengan berkedok “agama Yahudi”, Zionisme sebenarnya malah membahayakan agama Yahudi dan masyarakat Yahudi di seluruh dunia, dan menjadikan warga Israel atau Yahudi diaspora sebagai sasaran orang-orang yang ingin membalas terhadap Zionisme.

    ***

    Sumber: http:/www.harunyahya.com/indo/artikel/049.htm

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 28 April 2013 Permalink | Balas  

    Peran Seorang Tuna Netra 

    tuna-netraPeran Seorang Tuna Netra

    Saya kira sudah menjadi pemandangan yang biasa, saat kita melihat seorang tuna netra yang berjalan di pinggir jalan untuk mengharap belas kasihan dari para pengguna jalan. Mereka duduk di pinggir jalan dengan sebuah kaleng, mangkuk, atau wadah lainnya untuk mengumpulkan receh dari orang-orang yang melewatinya. Ada juga yang berjalan menghampiri mobil-mobil yang berhenti dengan dipandu oleh orang yang bisa melihat.

    Tuna netra sering kali dijadikan alasan untuk meminta belas kasihan. Kekurangan sering kali dijadikan alasan untuk tidak bekerja dan tidak berkarya. Boro-boro memberikan kontribui kepada orang lain, untuk dirinya sendiri masih mengharapkan orang lain. Yang menjadi pertanyaan ialah apakah mereka tidak bisa atau tidak mau? Atau memang kita yang tidak pernah memberikan kesempatan kepada mereka?

    Saya punya tetangga yang tuna netra, bahkan suami istri sama-sama tidak bisa melihat. Mereka memiliki beberapa orang putri yang cantik- cantik. Namun mereka bisa hidup dengan layak tanpa haru berharap belas kasihan kepada orang lain. Mereka bisa menghidupi anak-anaknya tanpa harus menjadi peminta-minta.

    Ah, itu belum seberapa. Ada seorang tuna netra yang berusaha mengumpulkan dana untuk disumbangkan ke suatu yayasan, dia tidak hanya memikirikan diri sendiri tetapi dia memikirkan orang lain lain. Dia tidak meminta belas kasihan dari orang lain, tetapi dia memberikan kontribusi kepada orang lain. Dan lebih hebatnya lagi dia bisa mengendarai sebuat pesawat terbang dalam rangka pengumpulan dana tersebut.

    Anda boleh memiliki keterbatasan, karena manusia tidak ada yang diciptakan sempurna, tetapi tidak boleh menjadi alasan untuk memberikan kontribusi kepada orang lain. Insya Allah kita bisa, karena kita umat Islam adalah umat rahmatan lil’alamiin.

    ***

    Oleh: Rahmat

    Sumber : http://www.motivasi-islami.com

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 27 April 2013 Permalink | Balas  

    Keberanian Dan Kesabaran Rasulullah 

    nabi-muhammad-saw1Keberanian Dan Kesabaran Rasulullah

    Dalam diri Rasulullah saw. terdapat keberanian yang luar biasa sebagai sarana utama untuk memperjuangkan agama dan menjujung tinggi kalimat Allah.

    Rasulullah menjadikan segala nikmat yang diperolehnya untuk di salurkan dan di tempatkan pada tempat yang sebenarnya. Berkata Aiasyah r.a. “Belum pernah Rasulullah memukul seseorang dengan tangannya kecuali dalam peperangan dan belum pernah beliau memukul seorang pembantu atau seorang perempuan.” (HR Muslim)

    Contoh yang paling nyata dari keberanian Rasulullah yaitu ketika beliau seorang diri menyeru kaumnya yang terdiri dari tokoh-tokoh kufar Quraisy serta mengajak mereka untuk masuk ke dalam ajaran Islam

    Dan beliau tidak pernah mengatakan aku seorang diri, sedangkan seluruh manusia memusuhiku. Beliau percaya bahwa Allah akan menolongnya karena sejak semula beliau percaya dan tawakal dalam melaksanakan tugas dakwahnya.

    Dalam peperangan, beliau adalah orang yang paling berani, ketika orang-orang lari ketakutan, beliau tetap berdiri tegak seorang diri melawan musuh-musuhnya. Beliau beribadah dalam kesunyian di Gua Hira selama bertahun-tahun tanpa mendapat rintangan dan permusuhan dari kaum Quraisy. Kecuali ketika beliau telah mengajak kaumnya bertauhid kepada Allah, barulah kufar Quraisy itu menentangnya.

    Allah berfirman, “Katakanlah, siapa yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi dan siapakah yang menciptakan pendengaran dan penglihatan dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ maka mereka akan menjawab, `Allah.’ Maka katakanlah, Mengapa kamu tidak bertakwa?'” (QS Yunus : 31)

    Orang-orang Quraisy itu menjadikan berhala-berhala sebagai perantara antara mereka dan Allah sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam al- Quran,

    “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), `Kami tidak menyembah mereka, melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.'” (QS Az- Zumar : 3)

    Seandainya mereka tidak begitu, niscaya mereka sudah mengakui Allah sebagai Tuhan mereka, Allah berfirman, “Katakanlah, siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Katakanlah, `Allah.’” (QS Saba : 24)

    Cobalah kita renungkan, betapa syirik sudah merajalela di tengah- tengah kaum muslim; meminta pada roh leluhur, bernazar, takut kualat, dan berharap kepada mereka. Dengan begitu, tali-tali penghubung kepada Allah telah putus di sebabkan syirik dan meminta-minta kepada orang yang telah mati.

    Allah berfirman, “Sesungguhnya orang yang menyekutukan Allah maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya adalah neraka.” (QS Al-Maa’idah : 72)

    Dari rumah Rasulullah, kita layangkan pandangan ke arah utara pada sebuah gunung yang bernama Uhud, sebagai saksi bisu atas keberanian dan kesabaran serta keteguhan beliau. Beliau mengalami luka yang cukup parah dalam peperangan yang terjadi di kaki gunung tersebut. Wajahnya berdarah, gigi geraham beliau pecah, serta kepalanya bocor.

    Sahal bin Sa’ad menceritakan tentang luka-luka beliau dan berkata, “Ketahuilah demi Allah, aku mengetahui siapa yang membersihkan luka Rasulullah dan siapa yang menyirami dengan air dan dengan apa beliau diobati. Yang membersihkan adalah Fatimah sedang yang menyiram air adalah Ali bin Abi Thalib. Ketika Fatimah melihat darah semakain banyak keluar, dia merobek sepotong tikar, membakarnya dan membalutnya dan kemudian darah berhenti mengalir. Namun, gigi geraham dan bagian atas kepala beliau serta muka beliau tampak terluka cukup parah.” (HR Bukhari)

    Al-Abas bin Abdul Muthalib menceritakan keteguhan Rasulullah dalam Perang Hunain, “Ketika pasukan muslim mundur, Rasulullah tetap menghadapkan kudanya ke arah musuh dan aku memegang tali kekangnya supaya tidak berlari cepat, waktu itu kudengar Rasulullah berkata, `Aku Nabi bukan pembohong aku cucu Abdul Muthalib.” (HR Muslim)

    Seorang pahlawan muda yang tangguh dan pemberani serta penunggang kuda yang andal yang lebih teruji ketangguhannya di segala medan tempur, Ali bin Abi Thalib menceritakan keberanian Rasulullah sebagai berikut, “Ketika perang sedang berkecamuk dan dua pasukan telah saling membunuh, kami para sahabat berlindung di balik Rasulullah dan tidak ada seorangpun yang lebih dekat kepada musuh kecuali beliau.” (HR Al-Baghawi dan Muslim)

    Karena kesabaran Rasulullah dalam berdakwah, Allah menjadikan agama Islam ini tersebar luas sampai ke negara-negara Asia Tengah bahkan sampai ke Timur Jauh. Pasukan berkuda kaum muslim sudah terbiasa mengelilingi Jazirah Arab dan Negara Syam, sehingga tidak ada satu tempat pun yang tidak dijamahnya.

    Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah dan tidak takut kepada siapa pun selain Dia. Aku ditakuti karena Allah dan tidak ada seorang pun yang ditakuti karena Allah selain aku. Dan aku telah disakiti di jalan Allah dan tidak seorang pun yang disakiti selain aku. Aku telah mengalami selama 30 hari siang dan malam, sedangkan aku ataupun Bilal tidak punya apa-apa untuk dimakan kecuali sesuatu yang tersembunyi di balik ketiak Bilal. ” (HR Ahmad dan TirmidzI)

    Walaupun beliau berkuasa dan menaklukan berbagai Negara, harta rampasan perang melimpah dan zakat menggunung, beliau tidak mewariskan apa-apa kecuali agama atau ajaran Islam. Itulah yang disebut warisan Nabi. Maka, siapapun yang belajar agama, dia telah memperoleh warisan Nabi

    Diriwayatkan oleh Aisyah, “Rasulullah tidak meninggalkan warisan dinar atau dirham, kambing atau unta, dan tidak mewariskan sesuatu.” (HR Muslim)

    ***

    Sumber: jkmhal.com

    Sehari Di Rumah Rasulullah – Abdul Malik Ibnu Muhammad Al-Qasim

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 26 April 2013 Permalink | Balas  

    Kesabaran Yang Terpuji 

    sabar (1)Kesabaran Yang Terpuji

    Kesabaran yang terpuji ada dua: Kesabaran untuk Allah (al-shabru li Allah) dan kesabaran dengan Allah (al-shabru bi Allah). Allah SWT berfirman: “Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.” (QS. AN-Nahl: 127)

    Allah SWT berfirman: “Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami,” (QS. at-Thur: 48)

    Dari dua jenis kesabaran diatas, para ulama berbeda pendapat tentang kesabaran mana yang lebih utama. Sebagian menyatakan bahwa kesabaran untuk Allah lebih utama. Karena segala sesuatu yang diperuntukkan bagi Allah itu lebih utama daripada dengan Allah. Ini adalah tujuan utama. Segala sesuatu yang dihubungkan “dengan Allah” itu merupakan perantara saja. Tujuan itu lebih utama daripada perantara.

    Karena itu kenapa diwajibkan memenuhi nadzar kalau memang nadzar itu untuk berbuat baik dan beribadah kepada Allah. Karena memang dia bernadzar untuk-Nya. Akan tetapi dia tidak wajib memenuhi nadzar itu kalau memang sudah keluar dari ruang lingkup sumpah, walaupun dia bersumpah dengan-Nya.

    Segala sesuatu yang diperuntukkan kepada Allah itu berkaitan erat dengan sifat uluhiyah-Nya. (Uluhiyah adalah pengakuan keesaan bahwa tidak ada tuhan selain Allah, penj). Sementara segala sesuatu yang disandarkan kepada Allah itu berhubungan dengan rububiyah-Nya (rububiyah adalah pengakuan bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu, tetapi belum mesti pengakuan bahwa Dia adalah Tuhan yang Esa, penj). Apa saja yang berhubungan dengan uluhiyah-Nya lebih utama daripada dengan rububiyah-Nya.

    Karena ketauhidan uluhiyah itu menghalangi seseorang berlaku syirik, tetapi ini tidak berlaku dalam tauhid rububiyah. Karena para penyembah berhala sendiri mengakui bahwa pencipta segala sesuatu adalah Allah semata, hanya Allah yang punya kekuasaan. Akan tetapi mereka tidak mentauhidkan keuluhiyahan-Nya. Tanpa adanya penyembahan kepada Allah secara murni, maka tidak ada manfaatnya tauhid secara rububiyah.

    Sebagian ulama menyatakan: kesabaran dengan Allah itu lebih sempurna. Bahkan tidak mungkin ada kesabaran untuk-Nya kecuali dengan adanya kesabaran dengan-Nya. Sebagaimana Allah berfirman: “DAN BERSABARLAH”. Dia memerintyahkan untuk bersabar Perintah-Nya adalah berlaku sabar untuk-Nya

    Kemudian Allah berfirman lagi: “Dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.” (Q. An-Nahl: 127). Ini adalah sebuah susunan kalimat informative (khabariyah), bukan susunan kalimat tuntutan. Dalam kalimat ini ada penjelasan bahwa tidak mungkin ada kesabaran kecuali dengan-Nya

    Ini mengandung dua hal: PERTAMA, permintaan tolong kepada Allah. KEDUA, pendampingan dari-Nya secara khusus yang ditunjukkan dengan adanya ba’ al-mushahabah. Ini sebagaimana ungkapan seseorang: “Denganku dia melihat, denganku dia mendengar, denganku dia memukul serta denganku dia berjalan”.

    Akan tetapi maksud utama dari ba’ ini bukanlah untuk permintaan tolong. Karena minta pertolongan adalah jenis perbuatan yang bisa dilakukan oleh pelaku maksiat ataupun orang taat. Segala sesuatu tanpa adanya campur tangan Allah tidak akan terjadi. Akan tetapi ba’ disini bermakna pendampingan dan kebersamaan (mushahabah dan ma’iyyah) yang kandungannya dapat diterangkan dalam firman Allah:

     “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

    Ini adalah kebersamaan yang dihasilkan oleh seorang hamba karena dia mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan amalan sunnah sehingga mendapatkan kasih sayang-Nya.. Dengan Dialah, hamba itu mendengar, dengan Dia pula hamba itu melihat, dan dengan Dialah sang hamba bisa bersabar. Dia tidak akan diam ataupun bergerak kecuali Allah pasti bersamanya.

    Siapa saja yang berada dalam kondisi seperti ini, niscaya kesabaran memungkinkan baginya. Dia bisa menahan segala beban dengan mudah. Ini sebagaimana termaktub dalam hadits qudsi berikut ini: “Tidak ada hamba-Ku yang bisa menahan beban karena-Ku.”

    Kemudian ada firman Allah: “Dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.” (QS. AN-Nahl: 127)

    Artinya, tidak ada kesabaran kecuali bersama dengan Allah. Sehingga kesabaran itu mungkin baginya. Bagaimana mungkin seseorang bisa mengerjakan perintah Allah secara baik dan benar, bisa menghadapi segenap takdir-Nya, kalau Dia tidak bersamanya? Dia tidak akan bisa merengkuh derajat kesabaran yang akan berujung pada kebahagiaan.

    Siapa saja yang kesabarannya tidak dengan Allah, sebagaimana dia tidak tamak pada ibadah sunnah yang disukai Allah, maka semua pendengaran, penglihatan dan perjalananya tidak bersama dengan Allah. Inilah yang dimaksud dengan hadits qudsi berikut ini: “Akulah pendengaran orang itu, Akulah penglihatannya, Aku tangannya yang dijadikannya untuk memukul, dan Akulah kakinya yang dijadikannya untuk berjalan.”

    Makna pernyataan ini bukanlah bahwa sesungguhnya Allah menyatu dengan anggota tubuh dan kekuatan ini sebagaimana dikira oleh kalangan wujudiyah (panties). Anggapan bahwa dzat hamba bersatu dengan Dzat Allah merupakan pendapat kalangan Nashrani. Sungguh Allah Sangat Suci dari praduga tersebut.

    Kalau saja Allah seperti yang mereka kira itu, niscaya tidak ada bedanya antara Allah dengan hamba-Nya. Tidak ada bedanya antara ibadah kepada Allah yang nantinya akan mendapat pujian dengan maksiat yang nantinya akan mendapatkan murka. Bahkan dalam anggapan mereka, tidak ada yang didekati ataupun yang mendekati. Tidak ada yang disembah ataupun yang menyembah. Tidak ada yang mencintai ataupun dicintai.

    Hadits qudsi ini sebenarnya merupakan bantahan terhadap anggapan mereka yang salah. Kesalahan mereka meliputi sekitar tiga puluh aspek bila direnungkan secara mendalam.

    Para ulama menafsirkan hadits qudsi berikut: “Aku adalah pendengaran, penglihatan, tangan dan kakinya” dengan hadits qudsi lainnya: “Dengan- Ku dia mendengar, dengan-Ku dia melihat, dengan-Ku dia memukul, dan dengan-Ku dia berjalan.”

    Dengan kata lain, ini merupakan ungkapan tentang dekatnya seorang hamba dengan Allah karena adanya kecintaan yang mendalam. Ini adalah sebuah ungkapan yang sangat lembut dan indah yang menunjukkan eratnya kebersamaan. Sehingga seakan terdapat penyewaan dalam hal pendengaran, penglihatan, tangan dan kaki.

    Ini serupa dengan hadits qudsi: “Hajar Aswad adalah tangan kanan Allah di bumi ini. Siapa yang menjabat dan menciumnya, maka dia laksana menjabat tangan dan mencium Allah.”

    Kata-kata seperti ini berlaku sangat umum dalam penggunaan bahasa, dimana adanya kedekatan itu biasanya meniscayakan penyatuan. Bisa kita lihat dalam contoh sang pencipta dengan yang dicintai yang mengatakan bahwa: “Engkau adalah ruhku, penglihatanku dan pendengaranku.”

    Dalam hal ini terkandung dua makna:

    PERTAMA, bahwa Allah telah menyatu dengan hati, ruh pendengaran dan penglihatannya.

    KEDUA, cinta dan ingatannya selalu melayang kepada Allah sehingga menguasai lubuk hati dan ruhnya, maka seakan Allah telah menjadi temannya. Sebagaimana dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman: “Aku adalah teman duduk orang yang mengingat-Ku.”

    Dalam hadits lain, “Sesungguhnya Aku bersama hamba ketika dia mengingat-Ku dan kedua mulutnya mengucapkan nama-Ku.”

    Dalam hadits lain, “Kalau Aku mencintai hamba-Ku, maka Aku menjadi pendengaran, penglihatan, tangan dan penguat baginya.” Dari sini bisa diketahui betapa kuat dan indahnya ungkapan ini.

    Yang menjadi tujuan disini adalah sabar dengan Allah. Dalam kesabarannya dengan Allah, seorang hamba bisa menerapkan kesabaran. Kalau Allah sudah bersamanya, maka kemungkinan besar dia bisa sabar yang itu tidak bisa dilakukan oleh orang lain.

    Abu `Ali berkata: “Orang-orang yang sabar akan mendapatkan kebahagiaan didunia dan akhirat.” Karena mereka mendapatkan kebersamaan dengan Allah. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabara,” (QS. Al-Baqarah: 153)

    Disini ada sebuah kandungan ajaran yang sangat mendalam. Yaitu bahwa orang yang menerapkan salah satu sifat Allah, maka Allah akan memasukkannya kedalam sifat itu dan menyampaikannya padanya. Allah adalah Tuhan Yang Maha Sabar. Bahakan tidak ada seorang pun yang bisa menyamai kesabaran Allah atas berbagai cacian kepada-Nya.

    ***

    Sumber jkmhal.com

     

    Kemuliaan Sabar dan Keagungan Syukur – Ibn Al-Qayyim Al-Jauziyah

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 25 April 2013 Permalink | Balas  

    Tamasya ke Pintu-Pintu Surga 

    Bersegeralah-Sebelum-Pintu-Surga-Itu-TertutupTamasya ke Pintu-Pintu Surga

    Surga bagi setiap muslimin adalah sesuatu yang sangat didambakan. Siapa yang tidak mau akan surganya Allah maka sesungguhnya telah menyalahi ajaran Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Karena diantara ajaran Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah untuk meminta surga dan dijauhkan dari adzab neraka yang sangat pedih. Setelah kita tahu bahwa sesungguhnya surga itu adalah rahmat dan karunia dari Allah Ta”ala maka ada baiknya kita tahu tentang surga. Bagaimana kita bisa masuk ke surga? Tentu saja melalui pintu surga.

    Allah Subhanahu wa Ta”ala berfirman,“Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Rabbnya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka telah sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, “Kesejahteraan (dilimpahkan) atas kalian, berbahagialah kalian! Maka masukilah surga ini, sedang kalian kekal didalamnya”.” (Az-Zumar:73).

    Sedangkan tentang neraka Allah Subhanahu wa Ta”ala berfirman,“Sehingga apabila mereka telah sampai di neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya.” (Az-Zumar:71).

    Pintu surga, ketika mereka berada di dekatnya, mereka mendapati pintu-pintu surga tertutup lalu mereka meminta kepada-Nya selaku pemilik dan penguasa agar surga tersebut dibukakan untuk mereka. Mereka meminta syafa”at kepada Allah dengan perantaraan rasul-rasul Ulul Azmi. Namun mereka semua menolaknya hingga kemudian para rasul menyuruh mereka menemui nabi terakhir yang paling mulia. Nabi terakhir tersebut berkata, Syafa”at ini adalah hak saya. Ia pergi ke bawah Arasy kemudian sujud kepada Rabbnya. Allah Subhanahu wa Ta”ala membiarkan sujud sampai waktu tertentu kemudian mengizinkannya mengangkat kepalanya dan mengajukan permohonannya. Lalu ia meminta syafa’at kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk membukakan pintu-pintu surga-Nya dan Allah Ta’ala pun memberikan syafa’at kepadanya dan mengizinkannya membukakan pintu-pintu surga sebagai bukti keagungan surga, derajat rasul-Nya dan pemuliaan Allah Ta”ala kepadanya.

    Pintu-pintu surga setelah para penghuninya memasukinya maka ia akan tetap selalu dibuka. Ini merupakan isyarat bahwa mereka bisa bergerak secara leluasa dan mondar-mandir di dalam surga semau mereka. Serta masuknya para malaikat setiap waktu kepada mereka dengan membawa hadiah-hadiah dan rezki-rezki untuk mereka dari Rabb mereka dan masuknya apa saja yang menggembirakan mereka setiap waktu. Juga di dalamnya ada isyarat bahwa surga adalah tempat yang sangat aman sehingga mereka di dalamnya tidak perlu menutup pintu rumahnya sebagaimana mereka menutup pintu rumahnya ketika di dunia.

    Dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim, disebutkan hadits dari Abu Hazm dari Sahl bin Sa”ad bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,” Di surga terdapat delapan pintu. ada yang namanya Rayyan. Yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang puasa.” (Muttafaqun ‘Alaih).

    Dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim juga disebutkan hadits dari Zuhri dari Hamid bin Abdurrahman dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa berinfaq dengan sepasang unta atau kuda atau lainnya di jalan Allah, maka ia dipanggil dari pintu-pintu surga, Wahai hamba Allah, pintu ini lebih baik. Barangsiapa rajin shalat, maka ia dipanggil dari pintu sholat. Barangsiapa berjihad, maka ia dipanggil di pintu jihad. Barangsiapa rajin bershadaqoh, maka ia masuk dari pintu shadaqah. Dan barangsiapa puasa, maka ia dipanggil dipintu Rayyan. Abu Bakar berkata, Wahai Rasulullah, apakah setiap orang dipanggil dari pintu-pintu tersebut? Adakah orang yang dipanggil dari kesemua pintu tersebut? Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, Ya, dan aku berharap bahwa engkau termasuk dari mereka.” (Muttafaqun “Alaih).

    Dalam Shahih Muslim disebutkan hadits dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,” Siapa diantara kalian yang berwudhu kemudian menyempurnakan wudhunya lalu membaca, “Asyhadu an la ilaha illallahu wahdahu la syarika lahu wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluhu (Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah saja dan tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya)”. melainkan dibukakan baginya pintu-pintu surga dan ia masuk dari mana saja ia sukai.” (H.R.Muslim).

    Utbah bin Abdullah As-Salami berkata bahwa saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika seorang muslim mempunyai tiga orang anak yang belum baligh kemudian meninggal dunia, maka mereka menjumpainya di pintu-pintu surga yang delapan dan bebas ia masuk dari pintu mana saja yang disukainya.” (H.R Ibnu Majah dan Abdullah bin Ahmad dari Numair yang berkata bahwa telah berkata kepada kami Ishaq bin Sulaiman yang berkata bahwa telah berkata kepada kami Jarir bin Utsman dari Syarkhil bin Syufah dari Utbah Radhiyallahu Anhu).

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu yang berkata,” Dihidangkan semangkok roti yang dimasak dengan daging kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Beliau mengambil dengan lengan kambing yang paling beliau gemari. Beliau menggigit lengan kambing tersebut sambil mengatakan, Aku adalah pemimpin manusia pada Hari Kiamat. Lalu beliau menggigit daging untuk kedua kalinya dan berkata, Aku adalah pemimpin manusia pada hari kiamat. Ketika beliau melihat tidak ada sahabatnya yang bertanya kepadanya, beliau berkata, Kenapa kalian tidak bertanya, Bagaimana hal tersebut terjadi? Para sahabat berkata, Bagaimana hal tersebut dapat terjadi ya Rasullullah? Di akhir hadits Rasullullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, Aku datang di bawah arasy dan sujud kepada Rabbku. Rabb semesta alam menempatkanku ditempat yang belum pernah ditempati siapa pun sesudahku. Aku berkata kepada Rabbku, “Ya Rabbku, umatku dan umatku.” Allah berfirman, “Wahai Muhammad, masukkan umatmu yang tidak dihisab lewat pintu sebelah kanan! Mereka bebas masuk pintu-pintu lainnya.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Demi Muhammad yang jiwanya ada di Tangan-Nya, jarak antara dua daun pintu surga adalah seperti Makkah dan Hajar atau Hajar dan Makkah”.” (H.R. Bukhari, Ahmad dan Abu Uwanah).

    Demikianlah sedikit penjabaran serta penggambaran tentang pintu-pintu surga yang telah dijelaskan oleh Rasul kita Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Semoga yang demikian ini menjadikan kita semua sadar akan kebesaran dan keagungan Allah Subhanahu wa Ta”ala. Dan semoga kita semua dirahmati dan dikaruniai menjadi penghuni-penghuni surga dan kekal di dalamnya oleh Allah Subhanahu wa Ta”ala. Allahu A”lam.

    ***

    (Dikutip dari: Hadil Arwaah Ila Biladil Afraah, oleh Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah)

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 24 April 2013 Permalink | Balas  

    Di Bengkel Itu Ada Ayat Allah 

    cahaya-kebenaranDi Bengkel Itu Ada Ayat Allah

    Oleh: Ahmad Syafii Maarif

    Jika orang punya mata batin yang tajam dan rindu menemukan ayat-ayat Allah, yang tersebar di mana-mana, tak usahlah menguasai teori Big Bang (Ledakan Dahsyat). Atau harus paham karya fisikawan invalid Inggris, Stephen Hawking – A Brief History of Time – yang belum tentu mudah dicerna.

    Ayat Allah dapat dijumpai pada peristiwa atau fenomena alam atau sosial yang sifatnya sangat sederhana. Bisa diamati pada air serasah yang terjun, pada semut yang beriring, pada lebah yang bergantungan, pada bunyi siamang ketika subuh, atau pada kicau murai di pagi hari. Juga pada dengungan kipasan sayap enggang saat terbang tinggi, pada percakapan seorang bocah dengan orangtuanya, serta pada sikap Pak Bengkel yang lugu, tulus, dan murah hati.

    Kepatuhan alami

    Demikianlah di hari Natal lalu, 25 Desember 2012, menjelang dzuhur saya bersepeda di kitaran Desa Trihanggo, Sleman, Yogyakarta, untuk mencari onderdil komponen rantai sepeda yang harus segera diganti. Jika tuan dan puan melewati jalan Kabupaten Sleman dari Jalan Godean mengarah ke utara, dalam jarak sekitar 2 kilometer akan dijumpai pohon beringin besar, persis di persimpangan empat jalan. Melaju ke arah timur pada jarak sekitar 1 kilometer di kanan jalan sebelum jembatan, ada bengkel sepeda yang laris dikunjungi langganannya. Di bengkel inilah saya memerhatikan ayat Allah dalam dua fenomena sederhana yang saling berkaitan. Keterkaitan itu tampak terjalin akrab sekali.

    Ada seorang ayah bersama anak perempuannya yang masih belajar di taman kanak-kanak milik A’isyiyah sedang mengganti pedal sepeda bocah ini yang tak lagi bisa dipakai. Warna pedal itu dipilih yang merah jambu agar serasi dengan warna sepedanya. Saya perhatikan baik-baik tingkah bocah alit itu, tampaknya bahagia sekali karena pedal sepedanya diganti dengan yang baru. Sebuah kebahagiaan yang sangat tulus dari sebuah keluarga kebanyakan.

    Tiba-tiba penjaja es krim lewat. Si bocah minta kepada ayahnya agar dibelikan es kesukaannya itu. Ayahnya, dalam bahasa Jawa, dengan lembut menjawab, ”Marahi watuk (bisa menyebabkan batuk).”

    Si bocah sama sekali tidak berontak agar ayahnya memenuhi juga permintaannya. Tak ada rengut, tak ada gerutu. Malah bocah ini senyum-senyum sambil dengan lincah mengitari ayahnya. Bukankah sebenarnya seorang bocah sulit sekali dipisahkan dengan es krim?

    Dalam batin saya menduga bahwa suasana rumah tangga keluarga bocah ini tenteram sekali. Ayat Allah terlihat pada sikap ayah yang lembut terhadap anak dan sikap anak yang patuh kepada orangtua: sebuah kepatuhan alami hasil didikan dini yang teratur dan santun.

    Tidak mudah ditemukan di kawasan modern buah didikan anak semacam ini. Kegirangan bocah ini kian memuncak ketika ayahnya melengkapi sepedanya dengan sebuah bel yang dipasang pada bagian kanan setang. Untuk keseluruhan ongkos plus onderdil, Pak Bengkel cuma meminta Rp 25.000, sebuah angka kacang goreng di kawasan kota.

    Sikap Pak Bengkel yang satu ini tak kurang memukau untuk dicatat. Semua serba murah. Ada lagi seorang laki-laki setengah baya (rupanya kenal dengan saya) menambalkan ban sepeda motornya yang bocor. Setelah rampung, Pak Bengkel saya tanya berapa ongkosnya. Dijawab, antara Rp 5.000 dan Rp 6.000, padahal pengerjaannya cukup lama karena karet penambal ban harus dipanaskan lebih dulu.

    Sekarang tibalah giliran sepeda saya ganti onderdil. Kebetulan barang yang diperlukan tersedia. Ada dua yang boleh diganti. Pak Bengkel bertanya, apakah diganti satu atau dua sekaligus? Jawab saya: mana yang baiklah. Lalu diperiksa: cukup satu saja, katanya. Tak terbetik pada pikiran Pak Bengkel untuk melariskan barang dagangannya, toh, saya tidak akan bertanya jika keduanya diganti.

    Setelah rampung, ongkos plus harga onderdil yang diminta hanya Rp 5.000. Saya terkejut, mengapa terlalu murah, di mana ongkos teknisi dan keringat? Tentu secara moral saya tidak boleh hanya memberi ongkos hanya sejumlah yang diminta.

    Di luar pola umum

    Sebagai bengkel yang laris, saya tanya mengapa tidak sekalian jualan bensin. Jawab Pak Bengkel polos: agar berbagi rezeki dengan tetangga yang punya kedai bensin, sekalipun banyak orang menanyakan BBM itu kepadanya.

    Pada sikap Pak Bengkel ini jelas sekali terbaca ayat Allah: rezeki teman jangan direbut, sekalipun peluang untuk menambah pendapatan terbuka lebar. Kearifan Pak Bengkel ini adalah penyimpangan dari pola umum yang sedang berlaku di Indonesia: saling menelikung, saling gasak, dan jika perlu saling menghancurkan demi berebut rezeki.

    Perkara haram atau halal sudah berada di luar pertimbangan. Kultur Pak Bengkel yang masih bebas dari pencemaran ini mungkin merupakan sisa-sisa sifat asli Indonesia yang belum tergerus oleh ganasnya sisi buruk proses modernisasi.

    ***

    Ahmad Syafii Maarif, Pendiri Maarif Institute

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 23 April 2013 Permalink | Balas  

    Kisah Rambut Abu Mahdzuroh 

    tahajjudKisah Rambut Abu Mahdzuroh

    Nama beliau adalah Aus bin Rabiah bin Mi’yar bin Uraij bin Sa’ad bin Jumah. Ada yang mengatakan nama beliau adalah Salman bin Samurah, atau Salamah bin Samurah. Ada juga yang mengatakan nama beliau adalah Mi’yar bin MuhayrizBerkata Abu Umar : Zubair dan pamannya serta Ibnu Ishaq Al Musayyabi bersepakat bahwa nama asli Abu Mahdzuroh adalah Aus. Mereka adalah orang yang paling mengerti dalam hal ansabu quraisy. Pendapat yang mengatakan beliau bernama Salamah adalah keliru

    Adz-Dzhabi, semoga Allah merahmatinya berkata : Abu Mahdzuroh adalah mu’adzdzin masjidil haram, dan termasuk sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Dia termasuk orang yang suaranya merdu

    Suatu ketika Nabi menyuruh beberapa orang mengumandangkan adzan secara bergantian

    Abu Mahdzuroh berkata,”Aku mendapat giliran terakhir. Ketika usai mengumandangkan adzan, Rasulullah memanggilku, ‘kemarilah !’ kata beliau. Rasulullah mendudukkanku di depanya, melepas serbanku, kemudian mengusap ubun-ubunku, kemudian beliau berdo’a :

    “Ya Allah, berkahilah dia dan tunjukkan dia ke jalan Islam”

    Beliau memberkahiku hingga tiga kali kemudian bersabda :

    “Pergilah, kumandangkan adzan di Baitullah!”

    Aku bertanya,”Bagaimana caranya Ya Rasulallah?”

    Beliau mengajariku adzan sebagaimana para sahabat. Di waktu shubuh ada kalimat “Asholaatu khoirumminan nauum”

    Dan beliau mengajarkan iqomah dua kali tiap-tiap kalimat

    Setelah Nabi mengusap ubun-ubunnya, Abu Mahdzuroh berkata,”Demi Allah, tak akan kupotong rambut ini sampai aku mati.”

    Benar! Abu Mahdzuroh membiarkan rambut ubun-ubunnya memanjang hingga separo tinggi badannya hingga beliau kembali ke rahmatullah karena usapan tangan mulia Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

    Beliau -semoga Allah meridhoinya- mengumandangkan adzan hingga wafat tahun 54 H. putranya maju menggantikan beliau, kemudian cucunya, turun temurun hingga masa Imam Asy Syafi’i

    Tentang panjangnya rambut sahabat Abu Mahdzuroh ini, disebutkan dalam Al Mustadrak ala ash shohihain, juz 4 hal 658 :

    Sesungguhnya Abu Mahdzuroh, mempunyai kisah tentang rambut bagian depannya yang panjang. Apabila beliau duduk dan menguraikannya, maka rambutnya menjuntai ke tanah

    Teman-temannya berkata,”Mengapa tidak kau potong saja rambutmu?”

    “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah mengusapnya dengan tangan beliau. Aku tak akan memotongnya hingga mati”

    Demikianlah, beliau tak memotong rambut yang pernah disentuh tangan mulia Rasulullah hingga akhir hayatnya

    Wallahu a’lam bish showab

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 22 April 2013 Permalink | Balas  

    Karakteristik Rumah Tangga Islami 

    akad-nikah-erva-kurniawan-titik-rahayuningsih (1)Karakteristik Rumah Tangga Islami

    Untuk menegakkan bangunan masyarakat Islami, penyangga utamanya adalah rumah tangga Islami. Apa sesungguhnya yang dimaksud dengan rumah tangga Islami? Apakah dengan semua anggota keluarganya beragama Islam lantas sudah disebut rumah tangga Islami? Kenyataannya, betapa banyak keluarga muslim yang tidak menampakkan kehidupan yang Islami.

    Rumah tangga Islami adalah sebuah rumah tangga yang didirikan di atas landasan ibadah yang di dalamnya ditegakkan adab-adab Islam, baik menyangkut individu maupun keseluruhan anggota rumah tangga. Mereka bertemu dan berkumpul karena Allah, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, serta saling menyuruh kepada yang makruf dan mencegah yang mungkar, karena kecintaan mereka kepada Allah. Mereka betah tinggal di dalamnya karena kesejukan iman dan kekayaan ruhani. Mereka berkhidmat kepada Allah swt dalam suka maupun duka, dalam keadaan senggang maupun sempit.

    Rumah tangga Islami adalah rumah yang di dalamnya terdapat iklim yang sakinah (tenang), mawadah (penuh cinta), dan rahmah (sarat kasih sayang). Perasaan itu senantiasa melingkupi suasana rumah setiap harinya. Seluruh anggota keluarga merasakan suasana “surga” di dalamnya. Baiti jannati, demikian slogan mereka sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Subhanallah!

    “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS Ar-Ruum 30:21)

    Prinsip-prinsip dasar rumah tangga bisa disebut Islami dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut.

    Pertama, Tegak di Atas Landasan Ibadah

    Rumah tangga Islami harus didirikan dalam rangka beribadah kepada Allah semata. Artinya, sejak proses memilih jodoh, landasannya haruslah benar. Memilih pasangan hidup haruslah karena kebaikan agamanya, bukan sekedar karena kecantikan atau ketampanan wajah, kekayaan, maupun atribut-atribut fisikal lainnya.

    Proses bertemu dan menjalin hubungan hingga kesepakatan mau melangsungkan pernikahan harus tidak lepas dari prinsip ibadah. Prosesi pernikahannya pun, sejak akad nikah hingga walimah, tetap dalam rangka ibadah, dan jauh dari kemaksiatan. Sampai akhirnya, mereka menempuh bahtera kehidupan dalam suasana ta’abudiyah (peribadahan) yang jauh dari dominasi hawa nafsu.

    Kedua, Nilai-Nilai Islam dapat Terinternalisasi Secara Kaffah

    Internalisasi nilai-nilai Islam secara kaffah (menyeluruh) harus terjadi dalam diri setiap anggota keluarga, sehingga mereka senantiasa komit terhadap adab-adab Islami. Untuk itu, rumah tangga Islami dituntut untuk menyediakan sarana-sarana tarbiyah yang memadai, agar proses belajar, mencerap nilai dan ilmu, sampai akhirnya aplikasi dalam kehidupan sehari-hari bisa diwujudkan.

    Ketiga, Hadirnya Qudwah yang nyata

    Diperlukan qudwah (keteladanan) yang nyata dari sekumpulan adab Islam yang hendak diterapkan. Orang tua memiliki posisi dan peran yang sangat penting dalam hal ini. Sebelum memerintahkan kebaikan atau melarang kemungkaran kepada anggota keluarga yang lain, pertama kali orang tua harus memberikan keteladanan.

    Keempat, Masing-Masing Anggota Keluarga Diposisikan Sesuai Syariat

    Dalam rumah tangga Islami, masing-masing anggota keluarga telah mendapatkan hak dan kewajibannya secara tepat dan manusiawi. Suami adalah pemimpin umum yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup rumah tangga. Istri adalah pemimpin rumah tangga untuk tugas-tugas internal.

    Kelima, Terbiasakannya Ta’awun dalam Menegakkan Adab-Adab Islam

    Berkhidmat dalam kebaikan tidaklah mudah, amat banyak gangguan dan godaannya. Jika semua anggota keluarga telah bisa menempatkan diri secara tepat, maka ta’awun (tolong-menolong) dalam kebaikan ini akan lebih mungkin terjadi.

    Keenam, Rumah Terkondisikan bagi Terlaksananya Peraturan Islam

    Rumah tangga Islami adalah rumah yang secara fisik kondusif bagi terlaksananya peraturan Islam. Adab-adab Islam dalam kehidupan rumah tangga akan sulit diaplikasikan jika struktur bangunan rumah yang dimiliki tidak mendukung.

    Ketujuh, Tercukupinya Kebutuhan Materi secara Wajar

    Demi mewujudkan kebaikan dalam rumah tangga Islami itu, tak lepas dari faktor biaya. Memang materi bukanlah segala-galanya. Ia bukan pula merupakan tujuan dalam kehidupan rumah tangga tersebut. Akan tetapi, tanpa materi, banyak hal tak bisa didapatkan.

    Kedelapan, Rumah Tanggga Dihindarkan dari Hal-Hal yang Tidak Sesuai dengan Semangat Islam

    Menyingkirkan dan menjauhkan berbagai hal dalam rumahtangga yang tak sesuai dengan semangat keislaman harus dilakukan. Pada kasus-kasus tertentu yang dapat ditolerir, benda-bendam hiasan, dan peralatan harus dibuang atau dibatasi pemanfaatannya.

    Kesembilan, Anggota Keluarga Terlibat Aktif Dalam Pembinaan Masyarakat

    Rumah tangga Islami harus memberikan kontribusi yang cukup bagi kebaikan masyarakat sekitarnya, sebagai sebuah upaya pembinaan masyarakat (ishlah al-mujtama’) menuju pemahaman yang benar tentang nilai-nilai Islam yang shahih, untuk kemudian berusaha bersama-sama membina diri dan keluarga sesuai dengan arahan Islam. Betapa pun taatnya keluarga kita terhadap norma-norma Ilahiyah, apabila lingkungan sekitar tidak mendukung, pelarutan-pelarutan nilai akan mudah terjadi, lebih-lebih pada anak-anak.

    Kesepuluh, Rumah Tangga Dijaga dari Pengaruh Lingkungan yang Buruk

    Dalam kondisi keluarga islami yang tak mampu memberikan nilai kebaikan bagi masyarakat sekitar yang terlampau parah kerusakannya, maka harus dilakukan upaya-upaya serius untuk, paling tidak, membentengi anggota keluarga. Harus ada mekanisme penyelamatan internal, agar tak larut dan hanyut dalam suasana jahili masyarakat di sekitarnya. Pada suatu kasus yang sudah amat parah, keluarga muslim bahkan harus meninggalkan lokasi jahiliyah itu dan mencari tempat lain yang lebih baik. Hal ini dilakukan demi kebaikan mereka.

    Demikianlah beberapa karakter dasar sebuah rumah tangga yang Islami. Dengan adanya bangunan rumah tangga Islami, rumah tangga teladan yang menjadi panutan dan dambaan umat inilah, maka masyarakat Islami dapat diwujudkan.

    ***

    Maraji’: Keakhwatan, Cahyadi Takariawan

    pks-jaksel.or.id

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 21 April 2013 Permalink | Balas  

    Renungan: Penyakit Hati 

    dengkiRenungan: Penyakit Hati

    Rasulullah SAW bersabda kepada menantunya, Ali r.a.” Wahai ‘Ali, setiap sesuatu pasti ada penyakitnya. Penyakit bicara adalah bohong, penyakit ilmu adalah lupa, penyakit ibadah adalah riya’, penyakit akhlaq mulia adalah kagum kepada diri sendiri, penyakit berani adalah menyerang, penyakit dermawan adalah mengungkap pemberian, penyakit tampan adalah sombong, penyakit bangsawan adalah membanggakan diri, penyakit malu adalah lemah, penyakit mulia adalah menyombongkan diri, penyakit kaya adalah kikir, penyakit royal adalah hidup mewah, dan penyakit agama adalah nafsu yang diperturutkan.

    Ketika berwasiat kepada ‘Ali bin Abi Thalib r.a. Rasulullah SAW bersabda : Wahai ‘Ali, orang yang riya’ itu punya tiga ciri, yaitu : rajin beribadah ketika dilihat orang, malas ketika sendirian dan ingin mendapat pujian dalam segala perkara. Wahai ‘Ali, jika engkau dipuji orang, maka berdo’alah : “Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik daripada yang dikatakannya, ampunilah dosa-dosaku yang tersembunyi darinya, dan janganlah kata-katanya mengakibatkan siksaan bagiku.”

    Ketika ditanya bagaimana cara mengobati hati yang sedang resah dan gundah gulana, Ibnu Mas’ud r.a berkata : ” Dengarkanlah bacaan Al-Qur’an atau datanglah ke majelis-majelis dzikir atau pergilah ke tempat yang sunyi untuk berkhalwat dengan Allah SWT.Jika belum terobati juga, maka mintalah kepada Allah SWT hati yang lain, karena sesungguhnya hati yang kamu pakai bukan lagi hatimu.”

    Dari Abu Abdillah Nu’man bin Basyir radhiallahuanhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Diantara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya disekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati”. (Riwayat Bukhori dan Muslim)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 12:36 pm on 20 April 2013 Permalink | Balas  

    Ibu Kita Kartini 

    Ibu Kita Kartini

    Kartini adalah seorang sosok wanita yang tengah berjuang, dimana ia belum sampai pada tujuan perjuangannya. Kartini masih berada dalam proses, proses yang juga dijalani oleh wanita-wanita sesudahnya. Perjalanan Kartini

    Kartini adalah seorang wanita yang cerdas. Terbukti hanya dengan bekal pendidikan Sekolah Rendah (setingkat SD), ia telah mampu mengajukan kritik dan saran pada Pemerintah Hindia Belanda, yang salah satunya berbunyi “Berilah pendidikan bagi bangsa jawa”. Hal ini menunjukkan bahwa Kartini mempunyai keperdulian yang sangat dalam terhadap nasib bangsanya, yang oleh pemerintah Hindia Belanda dibiarkan berada dalam kebodohan dan kebutaan.

    Pada mulanya Kartini tidak bercita-cita untuk menjadi muslimah. Sebelum Kartini lebih jauh mengenal Islam, ia telah mengenal sebuah prinsip melalui semboyan Revolusi Perancis, yaitu Liberte, Egalite, Freternite (Kemerdekaan, Persamaan, Persaudaraan). Beranjak dari sinilah Kartini mulai berusaha mendobrak adat yang berlaku pada masa itu, dimana orang selalu dibeda-bedakan berdasarkan warna darahnya, apakah dia ningrat (berdarah biru) atau bukan. Menurut Kartini, yang membedakan derajat seseorang hanyalah pikirannya (fikroh) dan budi pekertinya (akhlak).

    Kartini Berjuang Sendiri

    Dalam menjalani perjuangannya, Kartini berjuang sendiri, tidak bergabung dengan barisan manapun yang dapat memperkokoh kedudukannya.

    “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. 61:4)

    Sudah merupakan sunatullah, bahwa orang yang berjuang sendirian akan lebih rentan terhadap berbagai serangan yang datang dari musuh-musuhnya. “Kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir.” (Ali bin Abi Thalib).

    Serigala itu hanya menerkam domba yang sendirian. Demikianlah yang terjadi pada Kartini. Oleh sebab itu dengan leluasa musuh-musuhnya menjadikan Kartini sebagai permainan serta memper-alatnya. Tidak jarang Kartini menjadi bulan-bulanan musuh-musuhnya yang berkedok sebagai teman surat-menyurat (Stella yang Yahudi), guru privat (Annie Glasser, mata-mata Abendanon), dan lainnya. Bahkan sempat pula Kartini diperalat oleh Ir.H.Van Kol, yang berusaha memperjuangkan ke-berangkatan Kartini ke negeri Belanda, untuk dijadikannnya sebagai saksi hidup atas kebobrokan pemerintah Hindia Belanda di tanah jajahan. Hal ini bukan berarti Van Kol perduli dan membela rakyat di tanah jajahan, tetapi ia berambisi untuk meme-nangkan partainya (sosialis) di parlemen.

    Hidayah Allah

    Seperti telah disebutkan bahwa menjadi seorang muslimah bukanlah awal dari cita-cita Kartini. Bahkan ada suatu masa dimana Ny.Van Kol berusaha mengkristenkan Kartini. Meskipun ia gagal untuk mengkristenkan Kartini, namun ia berhasil mendangkalkan aqidah Kartini. Sehingga dalam beberapa suratnya, Kartini sering menyebutkan Allah dalam konsep trinitas.

    “Namun demikian, Allah pula lah yang mempunyai kehendak atas hamba-Nya. Allah menurunkan hidayah-Nya pada Kartini melalui sebuah pengajian dan pertemuan singkatnya dengan KH. Sholeh Darat. Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)…” (QS. 2:257)

    Inilah titik awal dari pembalikan Kartini (inqilab) dari kegelapan jahiliyah menuju pada cahaya Islam (Minazh Zhulumaati ilan Nuur). Melalui Al-Quran yang sebagian diterjemahkan oleh KH.Soleh Darat, Kartini mulai mempelajari Islam dalam arti yang sebenarnya. Mulai saat itu Kartini bercita-cita untuk menjadi seorang muslimah sejati.

    Kalimat Minazh Zhulumaati ilan Nuur sering Kartini ulang-ulangi di dalam suratnya, yang dalam bahasa Belanda ditulis sebagai Door Duisternis Tot Licht. Sayang-nya, kalimat tersebut diterjemahkan oleh Armijn Pane (nasrani) sebagai “Habis Gelap Terbitlah Terang”, sehingga maknanya yang begitu dalam tidak lagi terlihat.

    Rancu

    Meskipun Kartini telah berusaha untuk mempelajari Islam dan berjuang di jalan Islam, tapi ia belum juga mempunyai gambaran yang jelas tentang Islam, sehingga pemahamannya tentang Islam bersifat parsial, tidak menyeluruh. Hal inilah yang menjadikan Kartini tidak tahu akan panjangnya jalan yang harus ditempuh dan bagaimana cara berjalan diatasnya. Pemikirannya sering kali masih rancu dengan konsep Barat dalam operasional dan perinciannya, walaupun secara global adalah konsep Islam. Hal ini sangat mungkin sekali terjadi, karena teman-teman dekat Kartini adalah Yahudi dan Nasrani.

    Juga dalam beberapa suratnya, secara tidak sadar Kartini menceritakan tentang praktek keburukan umat Islam (bukan Islamnya yang buruk) kepara sahabatnya yang bukan muslim. Hal inilah yang kelak kemudian hari akan menjadi bumerang dan fitnah bagi umat Islam.

    Melihat perjalanan kehidupan Kartini, banyak pelajaran yang dapat kita petik. Janganlah kini kita menyalahkan Kartini kalau ia belum bisa lepas dari kungkungan adat dan pengaruh pendidikan baratnya. Kartini telah berjuang untuk mendobraknya, dan ia pun telah berusaha menjadikan dirinya seorang muslimah sejati. Mudah-mudahan Allah merahmati Kartini atas usaha dan perjuangannya.

    “Hidup ini patut kita hayati ! Bagaimana kita mau menang kalau kita tidak berjuang lebih dulu ?” “Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya” Surat-surat Kartini

    ***

    Diringkas dari sumber “Tragedi Kartini” karya Asma Karimah

    Hudzaifah.org

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 19 April 2013 Permalink | Balas  

    Raden Ajeng Kartini dan Yu Ngasirah 

    Raden Ajeng Kartini dan Yu Ngasirah

    Oleh: A. Suryana Sudrajat

    Kartini menikah dengan Djojoadiningrat, yang sudah punya tiga istri dan tujuh anak. Bahkan putri tertua suaminya hanya terpaut delapan tahun dari sang Raden Ajeng itu. Perkawinan yang berlangsung pada 8 November 1903 itu praktis menyudahi perlawanannya terhadap praktek poligami di masyarakat Jawa. Setelah diboyong ke Rembang menjadi raden ayu di kabupaten, Kartini tidak lagi bicara soal kedudukan perempuan atau menyerang poligami, bahkan juga cita-citanya mengenai pendidikan. Sangat boleh jadi ia sudah berdamai dengan lingkungannya. Ini memang aneh: seorang pemberontak bisa menjadi begitu lentuk.

    Padahal, bagi Kartini, poligami adalah aib dan dosa karena memperlakukan wanita sewenang-wenang. Itulah serangan-serangannya terhadap praktek tersebut yang amat tajam dan cenderung emosional. “Bagaimana saya bisa menghormati seseorang yang sudah kawin dan menjadi ayah dan kemudian, bila bosan pada anak-anaknya, ia dapat membawa perempuan lain ke rumah dan mengawininya secara sah sesuai dengan hukum Islam?” tulis Kartini kepada Stella Zeehandelaar. Menurut dia, meskipun hal itu seribu kali tidak disebut dosa dalam pandangan Islam, selama-lamanya dia tetap menganggapnya begitu. “Dan dapatkah kamu membayangkan siksaan yang harus diderita seorang perempuan jika suaminya pulang bersama perempuan lain, pesaingnya, dan harus diakuinya sebagai istrinya yang sah?”

    Awalnya adalah Ngasirah. Dia yang melahirkan Kartini pada 21 April 1879. Waktu itu ayah Kartini, Sosroningrat, masih wedana. Tapi ketika diangkat jadi bupati, ia menikah dengan Raden Ajeng Moerjam, keturunan bangsawan Madura. Moerjam-lah yang kemudian menjadi raden ayu Bupati Jepara, bukan Ngasirah yang telah melahirkan delapan anak. Ngasirah, anak kiai yang pedagang kopra dari Desa Mayong, Jepara, tergusur. Dia hanya seorang selir dan tidak berhak tinggal di rumah utama kabupaten. Ia harus memanggil anak-anaknya sendiri ndoro (majikan), sementara mereka memanggil dirinya yu (panggilan untuk orang kebanyakan atau kakak perempuan). Bahkan Ngasirah masih harus merangkak-rangkak dan membungkuk-bungkuk di depan putra-putrinya sendiri.

    Menurut Kardinah, adik Kartini, yang juga dipaksa kawin dengan seorang patih yang sudah beristri dan punya anak, Kartini tidak malu mengaku ibunya dari rakyat biasa. Tapi yang disebut Kardinah itu meragukan. Sebab, meski tidak malu, Kartini sama sekali bungkam mengenai itu. Misalnya ketika ada yang mencoba menanyakannya. Ia juga tidak pernah menuturkan ihwal ibunya yang tragis itu dalam surat-suratnya. Malahan J.H. Abendanon, yang menerbitkan Door Duisternis tot Licht atawa Habis Gelap Terbitlah Terang, tidak menyebut jelas siapa ibu Kartini, selain tidak mengatakan apa-apa tentang kehidupan rumah tangga Sosroningrat. Persoalan ibu kandung Kartini baru muncul setelah pada 1954 H. Boumen menyebutnya secara eksplisit.

    Kritik Kartini kepada Islam yang mendukung poligami memang keras. Ia juga sempat meminta fatwa kepada Snouck Hurgronje, via Abendanon, tentang hak dan kewajiban perempuan dan anak perempuan dalam hukum Islam. Sebulan kemudian dia mendapat jawaban: “perempuan di Jawa dalam soal perkawinan baik-baik saja adanya.” Ia kecewa “orang besar” itu telah menentang perjuangannya. “Masih adakah orang yang dengan tenang mengatakan bahwa ‘keadaan mereka baik-baik saja’ kalau mereka melihat dan mengetahui semuanya yang telah kami lihat dan alami?” tulis Kartini kepada Abendanon. Kartini tak tahu bahwa Snouck, yang sewaktu bermukim di Mekah bernama Abdul Ghaffar, bukanlah “teladan” dalam perkara yang satu ini. Orientalis itu kawin dua kali dengan gadis pribumi yang baru 13 dan 17 tahun, yang tidak diakuinya di depan hukum Belanda. Keturunannya kini bermukim di Bandung.

    Kartini sering merasa sendiri dan putus asa soal poligami. “Saya tidak mau. Mulutku menjerit, hatiku menggemakan jeritan itu ribuan kali.” Baginya, beristri lebih dari satu itu adalah sebuah kejahatan raksasa dan biang keterpurukan perempuan Jawa. Dan bukan tatanan feodalistik masyarakat Jawa yang jadi biang keterpurukan perempuan yang sebenarnya.

    Kartini seperti tidak melihat sistem yang sebenarnya bertanggung jawab dalam menghinakan dan menindas perempuan itu, lebih-lebih perempuan kebanyakan seperti Ngasirah, ibunya. Ia punya keterbatasan untuk melihat bahwa poligami bisa tampak begitu menjijikkan justru karena ia menjadi bagian dari poligami, sistem yang Kartini sendiri cukup bahagia menjadi bagiannya. Toh, akhirnya dia sendiri menikah dengan jenis laki-laki yang tidak dihormatinya itu.

    Betulkah hanya karena tidak kuasa melawan? Di Rembang, ia tidak bicara tentang kedudukan wanita, tapi bersuara lantang dan bagus tentang rakyat yang miskin akibat pajak dan politik candu pemerintah. Ia malahan bangga menceritakan usaha suaminya memberantas candu, yang mendapat tentangan dari seorang anggota Dewan Hindia yang menyatakan bahwa pemerintah masih butuh uang. Pada 10 Agustus 1904 ia menulis kepada Ny. Abendanon: “Tengoklah, jadi bukannya rakyat yang tak mau berhenti mengisap candu, tapi pemerintah. Pahit, tapi benar, kutuk terhadap orang Jawa adalah suatu kekuatan hidup bagi pemerintah.”

    Anehnya pula, kepada sahabat-sahabat Belanda-nya ia mengatakan hidupnya bahagia di tengah tiga selir (yang bernasib seperti Ngasirah, ibunya sendiri) dan tujuh anak mereka. Kebahagiaan, kalau benar, yang hanya sebentar dikecapnya. Ia wafat 17 September 1904, empat hari setelah melahirkan anak laki-laki.

    ***

    (Kolom Majalah Tempo, 17 April 2006)

     
    • Gilig Guru 5:22 am on 21 April 2015 Permalink

      Sebagian besar sumber cerita perjuangan Kartini ini tidak jelas, kecuali buku terjemahan Balai Pustaka/Armin Pane. Surat aslinya banyak yg tidak ada.

  • erva kurniawan 1:35 am on 18 April 2013 Permalink | Balas  

    Mengenal Rasulullah Secara Fisik 

    kaligrafiMengenal Rasulullah Secara Fisik

    Rasulullah saw tidak jangkung dan tidak pula terlalu pendek.

    Warna kulitnya putih bersih dan tidak terlalu coklat dan tidak terlalu putih (pucat). Maksud dari putih bersih adalah tidak ada noda kuning atau merah atau juga noda warna-warna lain. Sebagian ada yang mengatakan kulit Nabi kemerah-merahan.

    Keringat yang keluar dari wajah beliau bagaikan butir-butir mutiara, wanginya melebihi wangi minyak misik.

    Rambut beliau sangat indah, tidak keriting dan tidak pula lurus, yaitu ikal. Rambut beliau sampai menyentuh pundak, tetapi pendapat yang lebih kuat mengatakan bahwa rambut beliau sampai daun telinga. Terkadang beliau menguncir empat dan terkadang dibiarkan tergerai di telinganya. Uban yang ada di kepala dan jenggot tidak lebih dan kurang dari tujuh belas helai.

    Beliau memiliki paras yang indah (ganteng) dan bercahaya. Tidak ada yang mampu menggambarkan wajahnya kecuali membandingkan dengan bulan purnama. Kulit wajahnya sangat halus, sehingga ketika marah dan senang sangat terlihat sekali. Keningnya lebar. Lekuk kedua alisnya sangat indah, di antara dua alisnya berkilat bagaikan perak, lebih-lebih ketika tertawa.

    Memiliki bulu mata yang lentik. Hidungnya tidak mancung dan tidak pesek. Giginya tersusun rapi, ketika tertawa terlihat bercahaya dari giginya yang putih.

    Memiliki bibir yang paling indah dan menawan. Pipinya lembut. Kedua rahangnya tidak terlalu panjang dan tidak pula tembem.

    Memiliki jenggot yang lebat. Karena beliau sangat suka memelihara jenggot dan menggunting kumis. Lehernya sangat indah, tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek. Setiap kali terkena sinar matahari dan hembusan angin, lehernya berkilau seperti perak bercampur emas.

    Memiliki dada yang bidang, tegak bagaikan cermin dan putih bagaikan bulan. Di antara dada dan pusarnya tidak ada rambut. Punggungnya lebar, di antara kedua pundaknya terdapat stempel kenabian, yaitu di sebelah pundaknya yang kanan.

    Telapak tangan beliau sangat lembut melebihi lembutnya sutra dan wangi seperti parfum. Setiap orang yang bersalaman dengannya akan merasakan wanginya sepanjang hari. Apabila tangannya diletakkan di atas kepala anak kecil maka kepala anak itu berbeda dengan kepala anak-anak lainnya karena aroma wangi yang keluar dari kepalanya.

    Ketika berjalan, seperti seorang sedang turun dari bukit, tegap dan tenang. Tanpa ada kesombongan yang terlihat dari jalannya.

    ***

    Maraji’: Tazkiyatun Nafs, Sa’id Hawwa

     
    • aboe74 1:48 am on 18 April 2013 Permalink

      Allahumma Shalli Wasallim Wabarik Alaih

    • ichal 7:42 am on 18 April 2013 Permalink

      Allahumma Shalli Wasallim Wabarik Alaih

  • erva kurniawan 1:27 am on 17 April 2013 Permalink | Balas  

    Sukses Dimulai dari Pikiran 

    suksesSukses Dimulai dari Pikiran

    Oleh: Rahmat

    Muhammad Ali mengatakan bahwa sang juara dihasilkan dari keinginan, impian, dan visi. Sementara, Dennis Waitley, mengatakan bahwa pemenang selalu mengatakan ‘saya akan’ dan ‘saya bisa’. Ini adalah pekerjaan pikiran. Memang tidak nyata tetapi akan membawa dampak yang luar biasa bagi kehidupan Anda jika pikiran Anda sudah terkondisikan seperti yang dijelaskan di atas.

    Keinginan datang dari pikiran. Sementara semua orang memiliki pikiran, jadi semua orang bisa memiliki keinginan. Bahkan, memang semua orang punya keinginan, siapa yang tidak? Lalu mengapa tidak semua orang menjadi orang sukses? Tentu saja keinginan yang membawa kepada kesuksesan berbeda dengan keinginan biasa. Keinginan yang membawa kepada sukses adalah keinginan yang sangat jelas dan keinginan yang memberikan dorongan yang besar untuk mencapainya. Bukan sekedar keinginan yang bila tercapai tidak membawa dampak, begitu juga jika tidak. Bukan juga keinginan yang samar, seperti “saya ingin bahagia” dan “saya ingin kaya”.

    Apa bedanya keinginan dan impian? Impian adalah bagian dari keinginan. Impian memiliki makna lebih khusus, impian digunakan untuk keinginan yang besar, keinginan yang menurut kebanyak orang sulit atau tidak mungkin dicapai. Sudahkah Anda punya impian? Sementara visi adalah gambaran dari impian tersebut dimana impian tersebut seakan-akan sudah Anda capai. Visi adalah gambaran Anda masa depan, saat semua keinginan Anda tercapai.

    Al Quran, dengan indah membangun visi manusia. Visi saat berada di surga. Gambaran indah surga seakan-akan sudah terjadi pada diri kita. Gambar surga yang indah begitu sering diulang-ulang dalam Al Quran dan juga kita dianjurkan untuk membaca Al Quran sesering mungkin. Hikmah yang bisa kita ambil adalah agar visi kita diakhirat tersebut melekat dalam kepala kita sehingga memiliki dorongan kuat untuk mencapainya.

    Berikut adalah salah satu contoh bagaimana gambaran surga diberitahukan kepada manusia.

    Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya. (QS Al Baqarah[2]:25)

    Masih banyak lagi gambaran indah tentang surga baik dalam ayat Al Quran maupun hadits.

    Pikiran positif, yang salah satunya memiliki visi hidup yang jelas baik dunia maupun akhirat insya Allah akan membawa kita kepada keberhasilan. Pikiran positif lainnya ialah selalu berkata ‘saya bisa’ dan ‘saya akan’. Meskipun secara islami akan lebih baik jika di tambah dengan kata insya Allah. Kata-kata ‘saya akan’ dan ‘saya bisa’ adalah refleksi dari pikiran positif yang tidak menyerah pada keadaan, apapun keadaan yang dilaluinya.

    ***

    Sumber : motivasi- islami.com

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 16 April 2013 Permalink | Balas  

    Bahagia Tanpa Hasad 

    dengkiBahagia Tanpa Hasad

    Allah memberikan nikmat-Nya pada semua hamba-Nya, hanya pembagiannya tidak sama ada yang diberi banyak, ada yang sedikit. Semua itu untuk menguji para hamba-Nya dalam kehidupan dunia ini. Ujian ini bagaikan api yang membersihkan dan memisahkan emas dari campurannya. Dengan begitu dapat terlihat mana yang benar-benar beriman dan yang tidak. Alangkah ruginya kalau kita tidak mampu menghadapi ujian.

    Adam VS Iblis

    Karena perbedaan inilah, sering timbul sifat jelek seseorang terhadap orang lain. Dari persetruan awal, antara Adam dan iblis. Iblis melanggar perintah Allah untuk sujud kepada Adam karena hasadnya terhadap Adam.

    Ia merasa Allah tidak adil dalam perintah tersebut, bagaimana tidak? Dirinya yang -menurut iblis- lebih baik dan pantas dari Adam untuk mendapat kemuliaan, malahan diminta sujud padanya. Ia berkata, sebagaimana yang diceritakan oleh Allah, “Saya lebih baik darinya, Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (Al-A’raf:12)

    Kemudian permusuhan orang kafir terhadap kaum mukminin, sehingga mereka mengerahkan segala kekuatan dan daya upaya untuk menjauhkan kaum mukmin dari keimanan, sebagaimana dijelaskan Allah dalam firman-Nya, “Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Baqarah:109)

    Apa itu Hasad

    Hasad atau dengki adalah sifat seseorang yang tidak suka orang lain lebih darinya atau tidak suka orang lain mendapatkan kenikmatan Allah Subhanahu wa Ta’Ala. Baik dengan keinginan nikmat tersebut hilang dari orang lain atau tidak, bila disertai perasaan ingin menghancurkan merupakan hasad tingkat tinggi dan paling jelek, seperti hasadnya Iblis kepada Adam.

    Contoh hasad, misalnya tetangga kita memiliki kelebihan harta benda, anak atau istri yang cantik jelita, kedudukan dan nama baik di masyarakat, lalu kita iri dan dengki kepadanya, baik menjadikannya jelek, merusaknya ataupun tidak. Sifat hasad ini dapat membuat orang berbuat zhalim kepada tetangganya. Menyebar gosip dan menjelek-jelekkannya di depan orang lain. Tentu ini akan menjadikan suasana bermasyarakat yang tidak kondusif dan buruk sekali

    Sepuluh Bahaya Hasad

    Hasad sangat berbahaya, begitupun dampaknya di antaranya :

    1. Merupakan sifat orang Yahudi yang dilaknat Allah, siapa yang memilikinya berarti menyerupai mereka. Allah berfirman tentangnya, “Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya. Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar. (An-Nisa:54).
    2. Orang yang memiliki sifat hasad tidak dapat menyempurnakan imannya, sebab ia tidak akan dapat mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Rasulullah bersabda, “Tidak sempurna iman salah seorang kalian sampai mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya.” (Muttafaqun ‘alaihi). Bahkan lebih parah dari itu, orang yang hasad merasa sangat gembira bila saudaranya celaka dan binasa.
    3. Ada dalam sifat hasad ini ketidaksukaan terhadap takdir yang Allah berikan kepadanya. Bukankah yang memberikan nikmat hanya Allah Subhaanahu wa Ta’Ala? Seakan-akan ia ingin berperan aktif dalam penentuan takdir Allah dengan merasa bahwa ia lebih pantas mendapatkan nikmat tersebut dari orang lain.
    4. Setiap orang lain mendapatkan kenikmatan, semakin besar dan kuat api hasad dalam dirinya, sehingga ia selalu penasaran dan duka serta hatinya terbakar api hasad tersebut.
    5. Menimbulkan sikap egois yang tinggi dan tidak menyukai kebaikan pada orang lain.
    6. Hasad memakan dan melumat kebaikan yang dimilikinya sebagaimana api memakan dan melumat kayu bakar yang kering. Ini yang dinyatakan Rasulullah dalam sabdanya, “Jauhkanlah (oleh kalian) dengki (hasad) karena ia akan memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (Riwayat Abu Daud).
    7. Menyusahkan diri sendiri, sebab ia tidak mampu mengubah takdir Allah Subhaanahu wa Ta’Ala, sedikitpun. Allah telah memberikan nikmat pada orang lain dan tidak akan tercegah dan terhalangi oleh ulah orang yang hasad tersebut. Walaupun ia berusaha dengan mencurahkan segala daya dan kemampuannya tidak akan mungkin mengubah takdir Allah yang sudah ditetapkan. Sehingga semua usahanya hanyalah sia-sia belaka.
    8. Hasad mencegah pemiliknya dari berbuat kebaikan dan kemanfaatan. Ia selalu sibuk memikirkan dan melihat milik orang lain sehingga seluruh hidupnya hanya untuk memikirkan bagaimana datangnya kenikmatan pada orang lain dan bagaimana menghilangkannya.
    9. Hasad dapat memecahkan persatuan, kesatuan, dan pesaudaraan kaum muslimin. Karena itulah Rasulullah bersabda, “Janganlah saling hasad dan jangan mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah saling bermusuhan serta saling mendiamkan dan jadilah kalian bersaudara. (Riwayat Muslim).
    10. Hidupnya tidak pernah tenang dan tentram, apalagi bahagia. Orang yang hasad selalu dalam keadaan gundah-gulana dan resah melihat orang lain lebih darinya. Padahal mesti ada orang lain yang memiliki kelebihan darinya.

    Alangkah mengerikan bahaya dan kerusakan yang diakibatkan oleh dengki (hasad). Sudah semestinya kita berusaha menanggalkan dan menghilangkan dari diri kita.

    Sepuluh Kiat

    Setelah mengetahui bahayanya, tentunya kita harus berusaha menghindari dan menjauhkan diri dari sifat yang satu ini. Untuk itu perlu melihat kiat-kiat berikut :

    1. Belajar dan memahami Aqidah Islam yang benar, baik tentang keimanan ataupun syariat serta mengamalkannya.Kebenaran aqidah merupakan sumber segala perbaikan dan kebaikan. Hal ini dilakukan dengan senantiasa menggali kandungan Al-Qur’an dan Hadits.
    2. Memahami dengan benar konsep takdir menurut syariat Islam, sehingga paham kalau segala kenikmatan dan rezeki tidak lepas dari ketentuan takdir Allah. Dengan memahami ini diharapkan tidak timbul dalam diri kita rasa iri dan dengki terhadap orang lain.
    3. Meyakini dengan benar dan kokoh bahwa semua kenikmatan tersebut berasal dari Allah dan diberikan kepada setiap orang sesuai dengan hikmah yang diinginkan-Nya. Sebab tidak semua kenikmatan yang Allah berikan kepada orang lain itu untuknya.
    4. Membersihkan hati dengan berusaha mengamalkan seluruh syariat Islam.
    5. Memandang dunia dengan segala perhiasannya sebagai sesuatu yang akan punah dengan cepat dan tidak seberapa dibanding akherat. Demikian juga tujuan akhir kehidupannya adalah akhirat yang kela abadi, sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta’Ala, “Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman di bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanamannya yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berfikir, Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).” (Yunus:24-25).
    6. Selalu mengingat bahaya hasad bagi kehidupan dunia dan akhiratnya.
    7. Selalu menanamkan dalam hatinya kewajiban mencintai saudaranya, sehingga tidak merasa panas melihat saudaranya lebih baik darinya dalam permasalahan dunia. Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang dari kalian sempurna imannya sampai mencintai untuk saudaranya seustau yang ia cintai untuk dirinya.” (Muttafaqun ‘Alaihi).
    8. Berusaha memenuhi hak-hak saudaranya sesama muslim dan mencari teman baik yang mengingatkan dan menasehatinya.
    9. Selalu mengingat kematian dan pembalasan Allah atas kezhaliman dan kerusakan yang ditimbilkan hasad tersebut.
    10. Mengingat keutamaan zuhud dan lapang dada terhadap nikmat yang Allah anugerahkan kepada orang lain serta kewajiban bersyukur terhadap nikmat yang dianugerahkan kepadanya. Semua ini akan menimbulkan sifat qana’ah (menerima) dan kaya hati. Sifat qana’ah dan kaya hati yang akan membawanya kepada sifat iffah dan taqwa. Mudah-mudahan dengan selalu berusaha menjauhi dan meninggalkan sifat hasad ini kita semua dimudahkan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

    ***

    Sumber : Diketik kembali oleh Ummu ‘Umar dari Majalah Nikah Vol.3, No.9, Desember 2004

    jilbab.or.id

    Written by Al-Ustadz Khalid. Kamis, 11 Mei 2006

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 15 April 2013 Permalink | Balas  

    Kisah Pengantin Wanita 

    pengantin muslimKisah Pengantin Wanita

    Kisah nyata yang diceritakan oleh Syaikh Abdul Muhsin Al Ahmad ini terjadi di Abha, ibu kota Provinsi Asir Arab Saudi.

    “Setelah melaksanakan shalat Maghrib dia berhias, menggunakan gaun pengantin putih yang indah, mempersiapkan diri untuk pesta pernikahannya. Lalu dia mendengar azan Isya, dan dia sadar kalau wudhunya telah batal.

    Dia berkata pada ibunya : “Bu, saya mau berwudhu dan shalat Isya.”

    Ibunya terkejut : “Apa kamu sudah gila? Tamu telah menunggumu untuk melihatmu, bagaimana dengan make-up mu? Semuanya akan terbasuh oleh air.”

    Lalu ibunya menambahkan : “Aku ibumu, dan ibu katakan jangan shalat sekarang! Demi Allah, jika kamu berwudhu sekarang, ibu akan marah kepadamu”

    Anaknya menjawab : “Demi Allah, saya tidak akan pergi dari ruangan ini, hingga saya shalat. Ibu, ibu harus tahu “bahwa tidak ada kepatuhan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Pencipta”!!

    Ibunya berkata : “ Apa yang akan dikatakan tamu-tamu kita tentang mu, ketika kamu tampil dalam pesta pernikahanmu tanpa make-up?? Kamu tidak akan terlihat cantik dimata mereka! dan mereka akan mengolok-olok dirimu !

    Anak nya berkata dengan tersenyum : “Apakah ibu takut karena saya tidak akan terrlihat cantik di mata makhluk? Bagaimana dengan Penciptaku? Yang saya takuti adalah jika dengan sebab kehilangan shalat, saya tidak akan tampak cantik dimata-Nya”.

    Lalu dia berwudhu, dan seluruh make-up nya terbasuh. Tapi dia tidak merasa bermasalah dengan itu.

    Lalu dia memulai shalatnya. Dan pada saat itu dia bersujud, dia tidak menyadari itu, bahwa itu akan menjadi sujud terakhirnya.

    Pengantin wanita itu wafat dengan cara yang indah, bersujud di hadapan Pencipta-Nya.

    Ya, ia wafat dalam keadaan bersujud. Betapa akhir yang luar biasa bagi seorang muslimah yang teguh untuk mematuhi Tuhannya!

    Banyak orang tersentuh mendengarkan kisah ini. Ia telah menjadikan Allah dan ketaatan kepada-Nya sebagai prioritas pertama.

    “Subhanallah”

    ***

    Dari: Andrian Jumari

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 14 April 2013 Permalink | Balas  

    Rumah Tangga yang Ideal 

    akad-nikah-erva-kurniawan-titik-rahayuningsih (1)Rumah Tangga yang Ideal

    Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

    Menurut ajaran Islam, rumah tangga yang ideal adalah rumah tangga yang diliputi sakinah (ketentraman jiwa), mawaddah (rasa cinta) dan rahmah (kasih sayang). Allah Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” [Ar-Ruum : 21]

    Dalam rumah tangga yang Islami, seorang suami atau isteri harus saling memahami kekurangan dan kelebihannya, serta harus tahu pula hak dan kewajiban serta memahami tugas dan fungsinya masing-masing, serta melaksanakan tugasnya itu dengan penuh tanggung jawab, ikhlas serta mengharapkan ganjaran dan ridha dari Allah Ta’ala.

    Sehingga, upaya untuk mewujudkan pernikahan dan rumah tangga yang mendapat keridhaan Allah ‘Azza wa Jalla dapat menjadi kenyataan. Akan tetapi, mengingat kondisi manusia yang tidak bisa lepas dari kelemahan dan kekurangan, sementara ujian dan cobaan selalu mengiringi kehidupan manusia, maka tidak jarang pasangan yang sedianya hidup tenang, tenteram dan bahagia mendadak dilanda “kemelut” perselisihan dan percekcokan.

    Apabila terjadi perselisihan dalam rumah tangga, maka harus ada upaya ishlah (mendamaikan). Yang harus dilakukan pertama kali oleh suami dan isteri adalah lebih dahulu saling intropeksi, menyadari kesalahan masing-masing, dan saling memaafkan, serta memohon kepada Allah agar disatukan hati, dimudahkan urusan dalam ketaatan kepadaNya, dan diberikan kedamaian dalam rumah tangganya. Jika cara tersebut gagal, maka harus ada juru damai dari pihak keluarga suami maupun isteri untuk mendamaikan keduanya. Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq kepada pasangan suami isteri tersebut.

    Apabila sudah diupayakan untuk damai sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an, surat An-Nisaa’ ayat 34-35, tetapi masih juga gagal, maka Islam memberikan jalan terakhir, yaitu “perceraian”.

    Syaikh Musthafa Al-‘Adawi berkata, “Apabila masalah antara suami isteri semakin memanas, hendaklah keduanya saling memperbaiki urusan keduanya, berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk, dan meredam perselisihan antara keduanya, serta mengunci rapat-rapat setiap pintu perselisihan dan jangan menceritakannya kepada orang lain.

    Apabila suami marah sementara isteri ikut emosi, hendaklah keduanya berlindung kepada Allah, berwudhu’ dan shalat dua raka’at. Apabila keduanya sedang berdiri, hendaklah duduk; apabila keduanya sedang duduk, hendaklah berbaring, atau hendaklah salah seorang dari keduanya mencium, merangkul, dan menyatakan alasan kepada yang lainnya. Apabila salah seorang berbuat salah, hendaknya yang lainnya segera memaafkannya karena mengharapkan wajah Allah semata.

    Di tempat lain beliau berkata, “Sedangkan berdamai adalah lebih baik, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta’ala. Berdamai lebih baik bagi keduanya daripada berpisah dan bercerai. Berdamai lebih baik bagi anak daripada mereka terbengkalai (tidak terurus). Berdamai lebih baik daripada bercerai. Perceraian adalah rayuan iblis dan termasuk perbuatan Harut dan Marut.

    Allah Ta’ala berfirman. “Artinya : “Maka mereka mempelajari dari keduanya (Harut dan Marut) apa yang (dapat) memisahkan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka tidak dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah.” [Al-Baqarah : 102]

    Di dalam Shahiih Muslim dari Shahabat Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallaahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas lautan. Kemudian ia mengirimkan balatentaranya. Tentara yang paling dekat kedudukannya dengan iblis adalah yang menimbulkan fitnah paling besar kepada manusia. Seorang dari mereka datang dan berkata, ‘Aku telah lakukan ini dan itu.’ Iblis menjawab, ‘Engkau belum melakukan apa-apa.” Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan, ‘Lalu datanglah seorang dari mereka dan berkata, ‘Tidaklah aku meninggalkannya sehingga aku telah berhasil memisahkan ia (suami) dan isterinya.” Beliau melanjutkan, ‘Lalu iblis mendekatkan kedudukannya. Iblis berkata, ‘Sebaik-baik pekerjaan adalah yang telah engkau lakukan.”

    Ini menunjukkan bahwa perceraian adalah perbuatan yang dicintai syaitan.

    Apabila dikhawatirkan terjadinya perpecahan antara suami isteri, hendaklah hakim atau pemimpin mengirim dua orang juru damai. Satu dari pihak suami dan satu lagi dari pihak isteri untuk mengadakan perdamaian antara keduanya. Apabila keduanya damai, maka alhamdulillaah. Namun apabila permasalahan terus berlanjut antara keduanya kepada jalan yang telah digariskan dan keduanya tidak mampu menegakkan batasan-batasan Allah di antara keduanya. Yaitu isteri tak lagi mampu menunaikan hak suami yang disyari’atkan dan suami tidak mampu menunaikan hak isterinya, serta batas-batas Allah menjadi terabaikan di antara keduanya dan keduanya tidak mampu menegakkan ketaatan kepada Allah, maka ketika itu urusannya seperti yang Allah firmankan:

    “Artinya : Dan jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya), Mahabijaksana.” [An-Nisaa’ : 130]

    Allah Ta’ala berfirman:

    “Artinya : Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya. Maka perempuan-perempuan yang shalih adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusah-kannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar. Dan jika kamu khawatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan. Jika keduanya (juru damai itu) bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami isteri itu. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” [An-Nisaa’ : 34-35]

    Pada hakikatnya, perceraian dibolehkan menurut syari’at Islam, dan ini merupakan hak suami. Hukum thalaq (cerai) dalam syari’at Islam adalah dibolehkan.

    Adapun hadits yang mengatakan bahwa “perkara halal yang dibenci Allah adalah thalaq (cerai),” yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2178), Ibnu Majah (no. 2018) dan al-Hakim (II/196) adalah hadits lemah. Hadits ini dilemahkan oleh Ibnu Abi Hatim rahimahullaah dalam kitabnya, al-‘Ilal, dilemahkan juga oleh Syaikh Al-Albani rahimahullaah dalam Irwaa-ul Ghaliil (no. 2040).

    Meskipun thalaq (cerai) dibolehkan dalam ajaran Islam, akan tetapi seorang suami tidak boleh terlalu memudahkan masalah ini. Ketika seorang suami akan menjatuhkan thalaq (cerai), ia harus berfikir tentang maslahat (kebaikan) dan mafsadah (kerusakan) yang mungkin timbul akibat perceraian agar jangan sampai membawa kepada penyesalan yang panjang. Ia harus berfikir tentang dirinya, isterinya dan anak-anaknya, serta tanggung jawabnya di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla pada hari Kiamat.

    Kemudian bagi isteri, bagaimana pun kemarahannya kepada suami, hendaknya ia tetap sabar dan janganlah sekali-kali ia menuntut cerai kepada suaminya. Terkadang ada isteri meminta cerai disebabkan masalah kecil atau karena suaminya menikah lagi (berpoligami) atau menyuruh suaminya menceraikan madunya. Hal ini tidak dibenarkan dalam agama Islam. Jika si isteri masih terus menuntut cerai, maka haram atasnya aroma Surga, berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

    “Artinya : Siapa saja wanita yang menuntut cerai kepada suaminya tanpa ada alasan yang benar, maka haram atasnya aroma Surga.”

    Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu berkata,

    “Artinya : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang: … dan janganlah seorang isteri meminta (suaminya) untuk menceraikan saudara (madu)nya agar mem-peroleh nafkahnya.”

    Marilah kita berupaya untuk melaksanakan pernikahan secara Islami dan membina rumah tangga yang Islami, serta berusaha meninggalkan aturan, tata cara, upacara dan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam. Ajaran Islam-lah satu-satunya ajaran yang benar dan diridhai oleh Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

    “Artinya : Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam.” [Ali ‘Imran : 19]

    “…Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pa-sangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.” [Al-Furqaan : 74]

    Setiap keluarga selalu mendambakan terwujudnya rumah tangga yang bahagia, diliputi sakinah, mawaddah dan rahmah. Oleh karena itu, setiap suami dan isteri wajib menunaikan hak dan kewajibannya sesuai dengan syari’at Islam dan bergaul dengan cara yang baik

    [Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor – Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa’dah 1427H/Desember 2006]

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 13 April 2013 Permalink | Balas  

    Yang Diangkat Menjadi Pemimpin 

    quranYang Diangkat Menjadi Pemimpin

    Sahabat Abi Hurairah meriwayatkan:

    “Barang siapa mendengarkan bacaan ayat-ayat dari kitabullah (Al-Quran), maka dituliskan untuknya kebaikan yang berlipat ganda. Barang siapa membaca Al-Quran maka ayat-ayat itu akan menjadi cahaya penerang (petunjuk) baginya pada hari Kiamat nanti. ( HR Ahmad)

    Sahabat Abu Hurairah pernah meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah mengirim suatu utusan yang banyak bilangannya. Lalu beliau meminta kepada mereka agar membaca Al-Quran satu persatu. Kemudian beliau datangi yang paling muda lalu bertanya “Surat apakah yang engkau hafal ?”. Jawabnya, ” Aku hafal surat Al -Baqarah ya Rasulullah. ” Rasulullah bertanya lagi, “Benarkah engkau hafal surat Al-Baqarah?”, jawabnya: “Ya Rasulullah, saya menghafal betul-betul surat AL-Baqarah.” Lalu Rasulullah bersabda: ” Kalau begitu berangkatlah! Dan engkau yang menjadi pimpinan pasukan ini “(HR Tamidzi, termasuk hadith hasan).

    Rasulullah telah memprioritaskan orang yang menghafal Al-Quran untuk diangkat menjadi pimpinan. Artinya, adalah orang yang alim Al-Quran, yang hafal dan menguasai isi Al-Quran tidak bakal tersesat dalam setiap melangkah dan kebijaksanaan yang diambilnya.

    Ada salah seorang bangsawan dari kalangan sahabat berkata: “Ya Rasululaah, demi Allah. Sebenarnya tidak ada sesuatu yang menghalangiku untuk menghafal surat Al-Baqarah (mengahafal Al-Quran), hanya saja, aku kawatir kalau sampai tidak bisa mengamalkannya”. Lalu Rasulullah bersabda: “Pelajari dan bacalah Al-Quran! Sebab, perumpamaan Al-Quran bagi orang yang memperlajari, membaca dan mengamalkan- nya, adalah ibarat bejana yang berisi minyak wangi. Baunya merebak dan memendar wangi dimanapun ia berada. Sedang orang yang mempelajari Al-Quran, dan belum sempat mengamalkannya, ia terlena, adalah ibarat gereba (tempat air) milik tukang pandai besi (artinya tetap ada manfaatnya). (HR Tarmidzi).

    Para ulama salaf, mengerti betul tentang nilai lebih (keutamaan) Al-Quran. Baik nilai lebih (keutamaan) disaat membaca maupun dikala mengamalkan isi kandungannya. Karena itu mereka, para ahli salaf. menjadikan Al-Quran sebagai sumber perundang-undangan, sumber hukum dalam menyelesaikan berbagai masalah.

    Al-Quran adalah sebagai penyejuk hati ditengah gersangnya kehidupan, merupakan pelipur lara dan pemberi harapan akan kehidupan di akhirat kelak. Dan ini hanya dipahami bila kita amati oleh mata hati. Karena itulah Allah menjanjikan pahala kepada mereka didunia berupa kedudukan mulia, dan kedudukan luhur di akhirat kelak. Allahu ‘alam bisawab.

    ***

    Disarikan dari “Wirid dan Doa”

    oleh Dr Ridhwan Mohammad Ridhwan

     
  • erva kurniawan 2:04 am on 12 April 2013 Permalink | Balas  

    Meja Telepon Ibu 

    siluet-muslimah-laut-biru-soreMeja Telepon Ibu

    Oleh: Siti Horiah (Mahasiswa Program Studi Teknik Nuklir 2012)

    Disudut ruang tamu kami, yang luasnya tidak lebih dari 4m2 itu terletak sebuah meja kecil berwarna hitam. Meja itu adalah sebuah meja telepon rumah yang sudah beralih fungsi sebagai meja belajarku. Meja itu adalah satu-satunya meja yang ada di rumah kami, meja yang sampai saat ini masih dibiarkan ibuku tetap berdiri tegak dan masih tetap berada dirumah kami dengan sebuah alasan yang tak aku ketahui.

    Beginilah kondisi rumah kami setelah peristiwa kebangkrutan usaha ayahku. Demi menyambung nyawa keluarga kami, ibu rela menjual barang-barang berharga yanga ada di rumah kami pada tetangga sekitar. Ibuku tidak tahu lagi harus berbuat apa, dan tidak tahu lagi bagaimana caranya mendapatkan uang untuk membeli beras. Beliau menjual satu persatu barang-barang berharga kami, setiap kali datang waktu makan. Mulai dari beberapa pakaian ibuku yang paling beliau suka, alat-alat dapur seperti gelas, piring, panci, dispenser, bahkan sendok dan garpu pun ikut habis terjual.

    Ayahku tidak dapat berbuat banyak setelah peristiwa kebangkrutan usahanya. Beliau hanya mampu menjadi kuli dipasar tradisional di kota kami. Upah yang dia terima tidak mampu menutupi kebutuhan keluarga besar kami.

    ***

    Suatu siang, aku melihat adikku Rafi menangis sambil menghampiri ibu yang sedang duduk lemas menonton tv tanpa antena itu. Aku memperhatikan gerak-gerik ibu yang kepanikan, beliau tidak ingin membiarkan Rafi adikku menangis terlalu lama.

    “ibu, ibu aku lapar!” jerit Rafi.

    Ibu yang tak bisa berkata apa-apa langsung pergi menuju dapur, mengambil beberapa piring. Aku pun terus memperhatikan gerak-gerik ibu. Aku heran apa yang akan ibu lakukan dengan kelima buah piring itu. Sempat aku berpikir kalau ibu akan mengambilkan nasi untuk Rafi, namun aku teringat kalau dari kemarin aku belum memasak nasi untuk keluarga kami. Dengan masih tetap memperhatikannya dari balik pintu, aku melihat air mata ibuku jatuh berlinang membasahi pipinya yang pucat, namun dengan cepat beliau langsung menghapusnya takut-takut kalau air matanya akan terlihat olehku. Aku pura-pura tidak sadar dengan apa yang ibu lakukan didapur, aku menyibukan diriku dengan menggendong dan menimang Rafi agar dia tidak menangis.

    Kubiarkan ibu dengan kesibukannya, kulihat beliau keluar rumah dengan kelima piringnya itu. Tak beberapa lama kemudian beliau kembali dengan uang ribuan yang lusuh sebanyak lima lembar. Aku terheran-heran atas apa yang ibu lakukan. Ibu langsung menyuruhku pergi kewarung membeli setengah liter beras, dan satu butir telur. Tanpa berpikir panjang aku pun langsung pergi menuruti perintah ibu.

    Aku kembali dengan apa yang ibu minta dan ibu langsung menyuruhku memasaknya. Ibu menyuruhku membuat telur dadar dengan mencampurkan telur itu dengan terigu, agar satu telur itu menjadi besar dan cukup untuk dimakan oleh kami bersembilan. Aku menarik napas dalam-dalam, air mataku pun tak kuat dibendung, menetes jatuh. Aku tak kuat menahan ini semua, bagaimana tidak, setiap harinya kami hanya makan satu kali sehari. Berbagi setengah liter nasi untuk sembilan orang, satu butir telur saja harus dibagi sembilan, sering kamipun membagi 2 bungkus mie instans untuk sembilan orang. Terkadang ayah memilih pergi dari rumah saat tiba waktu makan, beliau pergi sambil menitip pesan padaku agar jatah makanannya diberikan pada adik-adikku saja.

    Ibu sangat sayang pada kami, beliau tidak pernah membagi penderitaanya pada kami semua. Selagi ayah menjadi kuli dipasar, ibu selalu menggantikan peran ayah. Ibu tak pernah terlihat sedih dengan penderitaanya. Ibu rela berkorban demi kami semua. Ibu rela menjual tempat tidurnya dan memilih tidur dilantai dengan beralaskan kasur yang tipis saja.

    Hampir seluruh barang berharga dirumah kami terpaksa beliau jual, demi menutupi pendapatan ayah yang besarnya tak kurang dari sepuluh ribu rupiah. Hanya satu buah meja telepon yang ibu sisakan diruang tamu kami. Aku heran kenapa ibu tidak pernah mau menjual meja tersebut, beliau lebih memilih menjual beberapa pakaiannya ketimbang menjual meja tersebut. Sampai pada saatnya aku tak sanggup melihat pakaian terbaik ibu harus ikut terjual, akupun menawarkan meja telepon itu untuk dijual pada ibu. Namun ibu menolak dengan kata-kata yang membuatku menangis sendiri.

    “Selapar apapun kita nanti, ibu tidak akan menjual tempat yang kau gunakan untuk mengantungkan cita-citamu itu nak, pakailah terus meja itu.” Ungkapnya sambil pergi kerumah tetangga untuk menjual baju terbaiknya selama ini, demi sepiring nasi untuk keenam adikku.

    Aku lemas mendengarnya, jadi selama ini ibu tidak mau menjualnya hanya karena aku sering memakai meja yang panjangnya tidak lebih dari 30 cm itu untuk belajar. Aku tersadar selama ini aku memang selalu menggunakan meja itu untuk belajar karena itu adalah satu-satunya meja yang ada dirumah kami.

    Itulah kondisi yang selama ini aku alami, tak ada yang bisa aku lakukan banyak ketika itu. Saat itu kondisinya aku sedang duduk dikelas tiga. Ditengah kondisi seperti ini aku harus tetap berjuang untuk bisa lulus SMA. Setiap malam aku bangun untuk belajar dan mengerjakan tugas, aku menggunakan meja telepon itu sebagai alasku belajar. Terbayang betapa menderitanya belajar di atas meja yang luasnya lebih kecil dari luas buku tulisku. Namun tidak ada pilihan lain bagiku, aku tak mampu menunduk lama untuk belajar bila memilih belajar diatas lantai yang dingin. Meja itu adalah teman terbaik bagiku. Dia selalu menemaniku dimalam hari disaat semua orang terlelap, aku harus bangun untuk belajar. Semua itu aku lakukan karena aku tidak memiliki waktu disiang hari untuk belajar.

    Benar kata ibuku meja itu adalah tempat aku menggantungkan semua cita-citaku. Tempat aku memulai perubahan pada hidup keluargaku. Ibuku berharap besar padaku, karena aku adalah anak pertama. Jadi setelah aku lulus SMA nanti aku bisa langsung bekerja, dan ibu optimis terhadap diriku kalau aku nanti akan mendapatkan pekerjaan yang layak. Karena ibu tahu aku termasuk murid yang berprestasi disekolah.

    Tanpa disadari aku memang menyayangi meja kecil hitam itu, meja itu selalu aku bersihkan setiap harinya, walaupun meja itu kecil dan sempit tapi aku masih bersyukur bisa tetap menulis diatas meja. Meja itu adalah satu-satunya tempat aku berbagi rahasia, tempat aku mengukir sebuah mimpi. Hanya meja itu yang menjadi saksi kalau aku memiliki sebuah mimpi yang selama ini aku rahasiakan dari dunia.

    Aku punya sebuah mimpi yang benar-benar tidak bisa aku ungkapkan pada siapapun. Aku takut kalau mimpiku yang satu ini kuberitahu pada orang tuaku itu akan menjadi beban padanya, kalau aku beritahu pada teman-teman atau orang banyak aku takut mimpiku yang ini akan ditertawakan mereka. Jadi selama ini hanya meja kecil ini yang bersaksi kalau aku sering mengukir sebuah nama Universitas yang aku impikan pada catatan sekolahku. Ya, mimpiku yang tidak dapat aku beritahukan kepada siapa pun termasuk orang tuaku sendiri adalah duduk di bangku KULIAH.

    Sebenarnya setiap kali orang tuaku membahas tentang pekerjaan yang nantinya aku lakoni setelah lulus SMA, hati kecilku menangis merintih tak terdengar siapapun.

    “ayah, mama, aku gak mau kerja aku mau kuliah kaya temen-temen, aku mau masuk UGM aku mau ke Jogja, aku gak bisa KERJA!” jerit hati kecil ini.

    ***

    Saat-saat seperti ini semua teman-temanku sibuk mencari tempat bimbel yang terbaik dikota kami, sebagai salah satu persiapan sebelum menghadapi SNMPTN. Bagi seorang Siti Horiah jangankan mengikuti program bimbel, buku paduan SNMPTN saja tak punya. Aku tak pernah memiliki niat untuk membeli buku SNMPTN yang harganya selangit itu. Untuk makan adik-adiku saja setiap subhu aku dan ibu masih harus keliling pasar untuk menjajakan kue cucur buatan ibuku. Bagaimana aku mau menabung, uang jajan yang ibu berikan itu hanya sebesar tiga ribu rupiah saja, itupun hanya cukup untuk ongkos naik angkutan umum. Kalau kue kami tidak terjual satupun itu berarti aku harus berjalan kaki sejauh 3 km untuk sekolah. Aku tak sanggup meminta uang sepeserpun unutuk membeli buku SNMPTN pada ayahku yang menjadi kuli dipasar, apalagi berkata pada ayah kalau aku ingin kuliah ke JOGJA. Sudahlah bagiku kuliah adalah mimpi-mimpi basi seorang siswa SMA kelas 3 seperti aku ini.

    Itulah sebabnya aku menyembunyikan mimpi besar hidupku ini dari orang banyak. Bagiku mimpi ini hanya akan menjadi pisau kecil bagi keluarga kami. Mimpi yang akan menusuk dan mengiris perasaan kedua orang tuaku. Tak pernah sekalipun aku berniat untuk mengkhayal menduduki bangku kuliah. Aku takut kalau kedua orang tuaku tahu tentang mimpi ini, mereka pasti akan merasa kalau mereka bukan orang tua yang baik, orang tua yang tidak bisa membahagiakan anak-anaknya. Biarlah mimpiku yang ini hanya aku, meja kecil itu dan Tuhan yang tahu.

    ***

    Sahabatku Ana selalu ada untukku, memberika support. Cita-citanya menjadi dokter membuat aku tersenyum miris sendiri. Aku selalu berpikir kenapa aku tidak seberani dirinya bermimpi dan bercita-cita. Namun aku sadar aku tidak seperti dirinya, aku bukan anak siapa-siapa yang boleh bermimpi setinggi itu. Kalau kata adikku yang pertama “MIMPI ITU MAHAL KAK!” buat bermimpi saja itu sulit apa lagi merealisasikannya pada kenyataan. Sesulit itukah bermimpi pikirku kalau mimpi saja dianalogikan dan disamakan dengan kata mahal. Kata-kata yang membuat keluarga miskin seperti kami gempar mendengarnya. Kata mahal itu bagi kami berarti mustahil dijangkau. Maklumlah, bagi keluarga miskin seperti kami harga sebutir telur naik seratus rupiah pun sudah membuat kepala ayahku sakit.

    Saat aku berkunjung kerumah Ana, orang tuanya memberikanku uang sebesar seratus ribu rupiah. Tanganku gemetar menerimanya. Orang tua Ana memberikan uang itu untuk aku gunakan sebagai ongkos pulang kerumah, yang pada kenyataannya ongkos yang aku gunakan hanya empat ribu rupiah. Setelah kuputuskan sisa uang tersebut kuberanikan saja untuk kubelikan sebuah buku SNMPTN bekas dipasar. Agar harganya tidak mahal dan aku dapat memberikan sisa uangnya pada ibuku. Aku sangat senang sekali saat itu, aku berpikir walaupun aku tak ada niat untuk kuliah namun apa salahnya kalau aku juga ikut menimba ilmu seperti teman-temanku.

    ***

    “Kamu mau kuliah?” sahut ayahku didepan ibu dan adik-adiku.

    Aku kaget bukan main terhadap pertanyaan itu, dari mana ayah tahu mimpi yang aku sembunyikan dari dunia itu, mimpi yang tidak pernah terucap oleh lidahku sendiri walau dalam doa di sholatku, mimpi yang hanya ikut mengalir bersama air mata sebelum tidurku, mimpi yang bahkan akupun sendiri malu bercerita pada Tuhan. Ternyata ayah menyadari hal itu semua karena buku SNMPTN yang baru aku beli kemarin ku letakan diatas meja kecil hitam itu. Ibuku yang hanya lulusan SD menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan ayah. Ibu marah mendengar hal itu, ibu menyuruhku mengubur mimpi tersebut, ibu takut kalau nantinya aku stress karena mimpiku yang ini tidak akan pernah terwujud. Aku tertunduk menangis, adik-adiku iba melihat kearahku. Ayah menenangkanku tersenyum padaku, ayah berkata padaku agar aku belajar yang baik dan mencari tempat kuliah yang aku inginkan. Ayah berkata kalau beliau akan berusaha mati-matian agar aku bisa kuliah. Aku tersenyum melihat ayah yang bijak berkata seperti itu, entahlah aku sempat berpikir kalau ayah hanya ingin menenangkan diriku saja.

    ***

    Suatu sore saat aku sedang menyapu halaman rumah, seorang ibu yang sebaya dengan ibuku menegurku.

    “kamu mau kuliah yah neng?”. Tegurnya sambil tertawa kecil.

    Aku kaget dibuatnya, Ibu itu berkata kalau kemarin ibuku bercerita pada dirinya bahwa aku merengek meminta meneruskan sekolah. Ibu itu menasihati diriku, dia berkata padaku kalau kita sebagai orang susah jangan ‘kebanyakan tingkah’, aku sebagi anak pertama jangan menyusahkan kedua orangtua dengan merengek-rengek minta kuliah. Kuliah itu mahal katanya, upah ayahmu itu tidak cukup untuk makan dua kali sehari, apalagi untuk biaya kuliah. Kasihan adikmu ada banyak mau makan apa mereka.

    Hatiku bergetar, ingin rasanya aku membentaknya. Namun aku hanya mampu membalas perkataannya dengan senyum termanis yang aku miliki.

    Keesokan harinya ibuku bercerita, kalau teman-teman ayahku dipasar itu mengolok-olok ayahku karena ayahku bercerita pada mereka kalau aku ingin kuliah. Mereka berkata pada ayahku kalau tidak akan ada universitas yang mau menerima orang miskin seperti aku ini.

    Aku berlari menuju meja kecil hitam di ruang tamuku, ku buka buku catatanku yang pernah kutulisi tulisan grafiti nama sebuah universitas impianku. Kurobek dan kulempar bukunya, aku marah saat itu. Karena orang yang paling aku sayang itu dihina oleh orang lain, dicaci maki. Aku tersadar kalau itu semua karena mimpi ‘konyolku’ berkuliah. Itulah sebabnya selama ini aku malu dan memutuskan untuk menguburkan niat dan impianku berkuliah sedalam-dalamnya. Sudah kukira akan berakhir dengan penghinaan kedua orangtuaku seperti ini. Aku kesal, orang tuaku dihina seperti itu. Aku malu karena itu semua adalah ulah dari mimpi tidur indahku.

    ***

    Keesokan harinya disekolah teman-temanku bersorak dan memanggilku.

    “Selamat yah sit, lu masuk daftar undangan SNMPTN tuh!” ucap Lidia

    Jantungku bergetar, aku tak percaya kalau namaku bisa masuk dalam jajaran murid-murid pintar yang bisa mengikuti SNMPTN undangan. Aku pun girang bukan main, ku hampiri guru bimbingan konselingku. Aku menceritakan masalah keluargaku selama ini, awalnya aku tak mau bercerita namun karena mimpiku berkuliah saat ini sudah ada di depan pelupuk mata. Maka akupun memutuskan untuk menceritakan semuanya agar aku mendapatkan jalan keluar yang terbaik.

    Guruku itu langsung memeluk tubuhku yang kaku, dia memiliki impian besar terhadap diriku. Dia mencarikan solusi untuk masalahku ini dengan menawarkan beasiswa BIDIKMISI. Tanpa berpikir panjang aku menyetuji ajakannya. Aku pulang kerumah dan menyiapkan berkas-berkas yang ada, saat itu aku merasa bersyukur sekali karena impianku yang kurasa buruk itu akan segera terwujud. Aku sengaja tidak memberitahu informasi ini pada kedua orangtuaku, aku ingin membuat semua ini menjadi kejutan bagi mereka.

    Segala macam persyaratan pendaftaran SNMPTN itu pun telah dipenuhi, aku memutuskan untuk memilih UNIVERSITAS GADJAH MADA dan prodi TEKNIK NUKLIR pada pilihan pertama. Entahlah dengan hanya bermodal menyukai kimia dan fisika. Maka aku putuskan untuk memilih program studi ini. Besar harapanku untuk diterima. Setelah semuanya selesai , baru ku beritahu ayah dan mama. Mereka sangat senang karena beasiswa Bidik Misi ini mereka berdua tidak perlu mengeluarkan uang sampai aku lulus nanti. Kedua orang tuaku pun senang dengan pilihan program studi yang aku pilih itu. Semuanya tinggal ku pasrahkan pada Tuhan. Kalau memang rezeki aku pasti akan mendaptkannya pesan ayah padaku yang selalu ku ingat.Aku senang dan aku ingin membuktikan pada semua orang yang telah menghina mimpiku.Aku ingin membuktikan kalau impianku ini akan segera terwujud.

    ***

    Dua bulan lamanya aku menunggu pengumuman, selama itu aku mempersiapkan diriku untuk bisa mengikuti SNMPTN tulis, aku belajar sedikit demi sedikit dari buku soal-soal SNMPTN yang aku miliki. Semangatku berkuliah setiap harinya semakin kencang. Ditengah-tengah semangatku ini, masih saja ada tetangga yang mengolok-olok mimpiku. Ada tetangga yang berkata pada ibuku seperti ini.

    “Hati-hati bu, itu anaknya bukan mau kuliah tapi mau jual diri.” Ucapnya sinis

    Ingin rasanya aku menampar orang yang berbicara seperti itu pada ibuku, tapi ibuku menyadarkanku kalau ucapan mereka adalah batu loncatan bagi prestasiku. Aku harus tetap rajin belajar dan membuktikan pada dunia kalau mimpiku itu akan mengubah dunia menjadi lebih baik.

    ***

    Semua hinaan, cacian maki tetangga-tetangga sampai saudara-saudara terdekat kami kemarin terhadap mimpi besarku, kini lenyap sudah. Air mata kedua orang tuaku kini warnanya berubah sebening permata, keringatnya yang bercucuran itu menjadi keringat kebanggaan mereka terhadapku, simpulan senyum guru-guruku mengguratkan harapan besar padaku. Ya, aku diterima di Universitas kerakyatan yang menjadi kebanggaan negara ini. Universitas bergengsi dan nomor satu terbaik di Negri ini. Gadjah Mada namanya, di sana namaku tertera di Teknik Nuklir. Program studi sarjana Nuklir satu-satunya di ASEAN dan memiliki lulusan terbaik se-Asia.

    Aku tak bisa berkata apa-apa, melihat kebahagiaan kedua orang tuaku. Melihat mimpiku yang kini menjadi nyata, mimpi yang tak pernah berani aku ungkapkan pada dunia. Mimpi yang tak seharusnya aku tutupi dari orang lain. Sekarang aku sadar kalau semua itu memang berasal dari mimpi. Mimpi yang bukan hanya sekedar mimpi, mimpi yang harus segera diwujudkan, bukan dibiarkan tetap tidur bersama angan-angan semata. Aku pun tersadar sekarang kalau tak ada satupun hal yang mustahil dalam hidup ini, aku masih memiliki Allah. Tuhanku yang tak pernah tidur, yang selalu mau mendengarkan mimpi kecil kita. Aku tak akan menyia-nyiakan amanat besarmu ini Tuhan. Aku tersenyum mengingat semua pengorbanan aku dan kedua orangtuaku demi mimpi manis ini kemarin. Terimakasih meja kecilku yang setia menemaniku merogoh mimpi ini. Terimakasih Tuhan mengijinkanku merajut asa ini untuk meraih impian.

    ***

    SitiHoriah (1)Siti Horiah mahasiswa dari Program Studi Teknik Nuklir 2012 mendapat penghargaan sebagai pemenang pertama dalam Lomba Menulis Kisah Inspiratif Kamakarya 2013 yang diadakan dalam rangkaian acara Seminar Motivasi Nasional oleh divisi keilmuan Kamadiksi dalam rangka meningkatkan motivasi penerima beasiswa Bidik Misi. Acara yang memiliki tema “Menembus Batas, Memetik untaian mimpi ” ini diselenggarakan pada hari Minggu, 7 April 2013 bertempat di Gedung Grha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada dengan pembicara Dr. Revrisond Baswir (pakar Ekonomi Kerakyatan), Dr. Widyo Winarso (Kepala Subdirektorat Kemahasiswaan DIKTI) dan Bapak Eko Prasetyo. Talkshow dengan narasumber tersebut sangat menginspirasi dan memotivasi para peserta seminar yang jumlahnya kurang lebih 1100 orang, di mana para peserta tersebut didominasi oleh mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi UGM ditambah dari universitas lain di sekitar Yogyakarta.

    Dalam Lomba Menulis Kisah Inspiratif Kamakarya 2013 ini, peserta wajib menuliskan kisah nyata perjuangan mereka dalam merajut asa dan meraih impiannya masing-masing. Kisah yang harus menginspirasi banyak orang nantinya, kisah yang dapat memeberikan gambaran banyak orang betapa kita tak boleh berputus asa dalam meraih impian. Siti Horiah sendiri mengaku bahwa dirinya tidak menyangka dapat memenangkan lomba kepenulisan ini, karena latar belakang jurusan sebagai anak teknik yang harus bersaing dengan orang-orang hebat yang memang bergelut dalam bidang kepenulisan. Namun tanpa disangka dirinya dapat berprestasi dan bisa produktif dalam menghasilkan cipta dan karya yang terbaik. Inspirasi dan bakat itu memang akan selalu ada dalam diri seseorang tanpa terkecuali selagi ada motivasi yang kuat dalam diri untuk menciptakan karya terbaik untuk bangsa ini.

    Sumber: http://tf.ugm.ac.id/index.php/14-prestasi/112-mahasiswa-teknik-fisika-ft-ugm-memenangi-lomba-menulis-kisah-inspiratif-kamakarya-2013

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 11 April 2013 Permalink | Balas  

    Tiga Karakteristik Nafsu 

    Mati saat SujudTiga Karakteristik Nafsu

    Para penempuh jalan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan beragam cara dan metode bersepakat bahwa nafsu adalah faktor yang menghalangi hati untuk sampai kepada Allah. Mereka juga bersepakat, tidak ada seorang pun yang dapat masuk dan sampai kepada Allah kecuali jika sudah membunuh, menyelisihi, dan memenangkan pertarungan atasnya. Begitulah, manusia itu ada dua kelompok. Pertama, manusia yang dikalahkan, dikuasai dan dihancurkan oleh hawa nafsunya. Ia benar-benar tunduk di bawah perintahnya. Kedua, manusia yang berhasil memenangkan pertarungan melawannya. Ia mampu mengekangnya, menundukannya, dan nafsu pun tunduk di bawah perintahnya. Sebagian orang arif berkata, “Akhir dari perjalanan para thalibin (orang-orang yang mencari) adalah ketika mereka telah berhasil menundukkan nafsunya. Siapa pun yang demikian keadaannya telah berhasil dan sukses. Sebaliknya siapa saja yang dikalahkan oleh nafsunya telah gagal dan hancur. Allah subhanahu wa taala berfirman,

    “Adapun orang yang durhaka, lagi mengutamakan kehidupan dunia. Maka neraka Jahimlah tempat tinggalnya. Sedangkan orang yang takut akan kebesaran Rabbnya, lagi menahan diri dari hawa nafsunya. Maka surgalah tempat tinggalnya. (QS An-Nazi’at: 37-41)

    Nafsu itu menyeru kepada sikap durhaka dan mendahulukan dunia. Sedangkan Allah subhanahu wa talaa menyeru hamba-Nya agar takut kepada-Nya dan menahan diri dari hawa nafsunya. Jadi, hati manusia itu ada di antara dua penyeru. Kadangkala ia condong kepada yang satu, dan kadang pula condong kepada yang lainnya. Di sinilah ujian dan cobaan.

    Di dalam al-Qur’an Allah subhanahu wa ta’ala menyebut nafsu dengan tiga sifat: muthmainnah, lawwaamah dan ammaarah bis suu’. Selanjutnya manusia berbeda pendapat, apakah nafsu itu satu dan yang tiga adalah sifatnya? Ataukah setiap manusia itu memiliki tiga nafsu.

    Pendapat pertama adalah pendapat fuqaha’ dan para mufassir. Sedangkan pendapat kedua adalah pendapat mayoritas ahli tashawwuf. Tetapi pada hakekatnya tidak ada pertentangan antara dua pendapat ini. Sebab memang nafsu itu satu jika ditinjau dari sisi dzatnya, dan tiga jika ditinjau dari sisi sifatnya.

    NAFSU MUTHMAINNAH

    Apabila nafsu tenang dan tentram dengan dzikrullah, tunduk kepada-Nya, rindu akan perjumpaan dengan-Nya, serta jinak kala dekat dengan-Nya, maka kepadanya dikatakan – ketika menemui ajalnya -, “Wahai nafsu muthmainnah! Pulanglah kepada Rabbmu dengan penuh ridla dan diridlai! (QS Al-Fajr: 27-28)

    Ibnu Abbas menafsirkan muthmainnah dengan mushaddiqah, membenarkan kebenaran.

    Qatadah berkata, Yaitu seorang mukmin yang nafsunya tenang dengan apa yang dijanjikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Tenang di pintu ma’rifah terhadap asma’ dan shifat-Nya dengan berdasarkan kabar dari-Nya (al-Qur’an) dan dari Rasul-Nya (as-Sunnah). Tenang atas kabar yang datang tentang apa yang terjadi setelah kematian, alam barzakh, dan kejadian di hari kiamat, seakan-akan melihatnya dengan mata telanjang. Tentram atas takdir Allah, menerima dan meridhainya, tidak benci dan berkeluh kesah, tidak pula terguncang keimanannya, tidak berputus asa atas sesuatu yang lepas darinya, pun tidak berbangga atas apa yang dimilikinya. Sebab, semua musibah telah ditakdirkan oleh-Nya jauh sebelum musibah itu sampai kepadanya, bahkan sebelum ia diciptakan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

    “Tidak ada musibah yang datang kecuali dengan izin dari Allah. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya”. (QS At-Taghabun: 11)

    Tidak sedikit dari para salaf yang menafsirkannya sebagai seseorang yang ditimpa musibah, ia mengerti bahwa musibah itu datang dari Allah, sehingga ia ridha dan pasrah.

    Adapun yang dimaksud dengan thuma’ninah ihsan adalah ketenangan seseorang dalam melaksanakan perintah dengan ikhlas dan setia. Tidak mendahuluinya dengan satu keinginan atau pun hawa nafsu. Juga bukan karena ia tidak dihinggapi suatu syubhat yang mengaburkan kabar-Nya, atau syahwat yang bertentangan dengan perintah-Nya. Bahkan jika suatu ketika datang, ia akan menganggapnya sebagai gangguan yang baginya lebih baik terjun dari langit ke bumi daripada mengecapnya, walau sesaat. Inilah yang dimaksud oleh nabi sebagai sharimul iman (iman yang jelas). Juga, ia tenang dari kegelisahan untuk bermaksiat dan gejolaknya menuju taubat dan kenikmatannya.

    Bila diri tenang telah berpindah dari keraguan kepada keyakinan, dari kebodohan kepada ilmu, dari kealpaan kepada dzikir, dari khianat kepada taubat, dari riya’ kepada ikhlas, dari kedustaan kepada kejujuran, dari kelemahan kepada semangat yang membaja, dari sifat ‘ujub kepada ketundukan, dan dari kesesatan kepada ketawadhuan, ketika itulah nafsu telah tentram, muthmainnah.

    Pondasi dari itu semua adalah yaqzhah, kesadaran. Kesadaranlah yang menyibak kealpaan dan kelalaian diri. Ia pulalah yang menampakkan baginya taman surga. Ia bersenandung.

    Tahukah kau, duhai nafsu? Celaka bila… engkau bergembira Bantu aku dalam pekatnya malam Moga cita nikmat hidup… dalam menjulang Sesudah hancur segala

    Di bawah cahaya kesadaran, diri akan melihat semua yang diciptakan untuknya. Juga, apa yang akan ditemuinya di alam barzakh, sampai memasuki negeri abadi. Ia juga melihat betapa cepat dunia berlalu, betapa sedikit dunia memberikan kenikmatannya kepada anak-anaknya dan orang-orang yang merindukannya, dan betapa dunia membunuh mereka dengan belati-belatinya. Maka bangkitlah ia seraya berseru:

    “Duhai, betapa meruginya aku atas keteledoranku di sisi Allah” (QS Az-Zumar: 56)

    Selanjutnya, ia akan menggunakan sisa umurnya untuk melengkapi kekurangan, menghidupkan yang telah ia matikan, membenahi puing-puing masa silam, dan memanfaatkan setiap kesempatan – yang jika terlewat, terlewat pulalah seluruh kebaikan.

    Masih di bawah cahaya kesadaran dan cahaya nikmat Rabbnya kepadanya, ia melihat betapa ia tak mampu lagi menghitungnya, betapa ia tak mampu memenuhi haknya, betapa ia penuh dengan aib, juga amal-amalnya yang rusak, kejahatan-kejahatannya, dosa-dosanya, serta kelalaiannya terhadap tugas dan kewajiban yang tidak sedikit.

    Akhirnya luluh sudah nafsunya, khusyu’ sudah anggota badannya, dan ia pun berjalan menuju Allah subhanahu wa ta’ala dengan kepala tertunduk oleh banyaknya nikmat yang ia saksikan serta kejahatan, aib dan dosa dirinya.

    Kini, ia tahu betapa berharga waktu yang dimilikinya. Juga bahwa ia adalah modal utama kejayaannya. Maka bakhillah ia terhadapnya jika bukan untuk upaya mendekatkan diri kepada Rabbnya. Sungguh, membuang-buang waktu adalah kerugian, sedangkan menjaganya adalah kemenangan dan keberuntungan.

    Inilah buah dari yaqzhah dan implikasinya, yang merupakan langkah awal dari nafsu muthmainnah dalam perjalanannya menuju Allah dan kampung akhirat.

    NAFSU LAWWAMAH

    Ia adalah nafsu yang selalu berubah keadaan. Ia sering berbalik, berubah warna. Kadang ia ingat, kadang alpa. Kadang ia sadar, kadang berpaling. Kadang ia cinta, kadang benci, kadang ia gembira, kadang sedih. Kadang ia ridla, kadang murka. Kadang ia taat, dan kadang ia khianat.

    Sebagian orang mendefinisikannya sebagai nafsu seorang mukmin. Al-Hasan al-Bashri berujar, “Seorang mukmin itu selalu mencela (lawwamah artinya banyak mencela, pent) dirinya. Ia terus berkata: Apa yang kau inginkan dari semua ini? Mengapa kau lakukan ini? Sungguh ini lebih baik daripada yang ini! Atau yang semisalnya.”

    Ada juga yang mengartikannya dengan celaan pada hari kiamat. Pada hari itu setiap pribadi akan mencela dirinya sendiri. Jika ia pendurhaka, atas kedurhakaannya, dan jika ia seorang yang taat, atas keteledoran dan kekurangannya. Ibnul Qoyyim berkata, “Semua pengertian di atas benar.”

    Lawwamah itu ada dua. Lawwamah yang tercela dan lawwamah yang sebaliknya.

    Yang pertama adalah nafsu yang dungu dan menganiaya diri sendiri. Ia dicela oleh Allah dan para malaikat. Sedangkan yang kedua adalah nafsu yang selalu mencela pemiliknya karena kekurangannya dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala – padahal ia sudah berusaha sekuatnya – Nafsu ini tidak dicela. Bahkan nafsu yang paling utama adalah nafsu yang mencela diri atas kekurangtaatannya kepada Allah, dan ia siap menerima celaan dalam menggapai ridla-Nya. Demikianlah ia terbebas dari celaan Allah. Berbeda dengan orang yang puas atas amal yang dikerjakannya, dan ia tidak dicela oleh nafsunya, lalu tidak siap menerima celaan dalam menggapai ridla-Nya. Dialah yang dicela oleh Allah.

    NAFSU AMMARAH BIS SUU’

    Inilah nafsu yang tercela. Ia selalu mengajak kepada keburukan, dan itu memang tabiatnya. Tidak ada seorang pun yang dapat selamat dari kejahatannya selain orang-orang yang mendapatkan taufiq dari Allah subhanahu wa ta’ala. Allah mengisahkan tentang istri menteri al-Aziz,

    “Dan aku tidak berlepas tangan dari nafsuku. Sesungguhnya nafsu itu selalu menyeru kepada kejahatan. Kecuali yang diberi rahmat oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Yusuf: 53)

    Dan firman-Nya,

    “Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kalian, niscaya tidak ada seorangpun dari kalian yang bersih-suci, selamat-lamanya.” (QS An-Nur: 21)

    Rasulullah shalalallahu alaihi wa salam mengajarkan kepada para sahabat khutbah hajah, “Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan memohon ampunan kepada-Nya. Kita juga berlindung kepada Allah dari kejahatan nafsu kita dan keburukan amal-amal kita.”

    Kejahatan itu tersimpan di dalam nafsu. Ia akan mengajak kepada amal-amal yang buruk. Apabila Allah membiarkan seorang hamba bersama nafsunya, ia akan binasa di tengah-tengah kejahatan nafsu dan amal buruknya. Apabila Allah memberikan taufiq dan memberikan pertolongan kepadanya, niscaya selamatlah ia dari semuanya. Oleh karenanya kita memohon kepada Allah yang maha Agung untuk melindungi kita dari kejahatan nafsu dan amal buruk kita.

    Ringkas kata, nafsu itu satu saja. Ia bisa menjadi ammarah, lawwamah atau muthmainnah, yang merupakan puncak kebaikan dan kesempurnaannya.

    ***

    Diambil dari buku Tazkiyah An-Nafs, Konsep Penyucian Jiwa Menurut Para Salaf, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, Ibnu Rajab al-Hambali, dan Imam Ghazali, ditahqiq oleh Dr. Ahmad Farid, Penerbit Pustaka Arafah Solo, halaman 67-73 Last Updated ( Sabtu, 17 Maret 2007 )

    jilbab.or.id by MT Aminudin

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 10 April 2013 Permalink | Balas  

    Pompeii Mengulang Sejarah Kaum Luth 

    pompeiiPompeii Mengulang Sejarah Kaum Luth

    Oleh: HARUN YAHYA

    Alqur’an mengisahkan kepada kita bahwa tidak ada perubahan dalam hukum Allah (sunnatullah):

    “Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah mereka kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran), karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu” (QS. Al- Faathir, 35:42-43).

    Begitulah, “sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah”. Siapapun yang menentang hukum Allah dan berusaha melawan-Nya akan terkena sunatullah yang sama. Pompeii, yang merupakan simbol dari degradasi akhlaq yang dialami kekaisaran Romawi, adalah pusat perzinaan dan homoseks. Nasib Pompeii mirip dengan kaum Nabi Luth. Kehancuran Pompeii terjadi melalui letusan gunung berapi Vesuvius.

    Gunung Vesuvius adalah simbol negara Italia, khususnya kota Naples. Gunung yang telah membisu sejak dua ribu tahun yang lalu itu juga dinamai “The Mountain of Warning” (Gunung Peringatan). Tentunya pemberian nama ini bukanlah tanpa sebab. Adzab yang menimpa penduduk Sodom dan Gommorah, yakni kaum Nabi Luth as, sangatlah mirip dengan bencana yang menghancurkan kota Pompeii.

    Di sebelah kanan gunung Vesuvius terletak kota Naples, sedangkan kota Pompeii berada di sebelah timur gunung tersebut. Lava dan debu dari letusan maha dasyat gunung tersebut yang terjadi dua milenia yang lalu membumihanguskan penduduk kota. Malapetaka itu terjadi dalam waktu yang sangat mendadak sehingga menimpa segala sesuatu yang ada di kota termasuk segala aktifitas sehari-hari yang tengah berlangsung. Aktifitas yang dilakukan penduduk dan segala peninggalan yang ada ketika bencana terjadi kini masih tertinggal persis sama seperti ketika bencana tersebut terjadi dua ribu tahun yang lalu, seolah-olah waktu tidak bergeser dari tempatnya.

    Pemusnahan Pompeii dari muka bumi oleh bencana yang demikian dasyat ini tentunya bukan tanpa maksud. Catatan sejarah menunjukkan bahwa kota tersebut ternyata merupakan pusat kemaksiatan dan kemungkaran. Kota tersebut dipenuhi oleh meningkatnya jumlah lokasi perzinahan atau prostitusi. Saking banyaknya hingga jumlah rumah-rumah pelacuran tidak diketahui. Organ-organ kemaluan pria dengan ukurannya yang asli digantung di pintu tempat-tempat pelacuran tersebut. Menurut tradisi ini, yang berakar pada kepercayaan Mithraic, organ-organ seksual dan hubungan seksual sepatutnya tidaklah tabu dan dilakukan di tempat tersembunyi; akan tetapi hendaknya dipertontonkan secara terbuka.

    Lava gunung Vesuvius menghapuskan keseluruhan kota tersebut dari peta bumi dalam waktu sekejap. Yang paling menarik dari peristiwa ini adalah tak seorang pun mampu meloloskan diri dari keganasan letusan Vesuvius. Hampir bisa dipastikan bahwa para penduduk yang ada di kota tersebut tidak mengetahui terjadinya bencana yang sangat sekejap tersebut, wajah mereka terlihat berseri-seri. Jasad dari satu keluarga yang sedang asyik menyantap makanan terawetkan pada detik tersebut. Banyak sekali pasangan-pasangan yang tubuhnya terawetkan berada pada posisi sedang melakukan persetubuhan. Yang paling mengagetkan adalah terdapat sejumlah pasangan yang berkelamin sama, dengan kata lain mereka melakukan hubungan seks sesama jenis (homoseks). Ada pula pasangan-pasangan pria dan wanita yang masih ABG. Hasil penggalian fosil juga menemukan sejumlah mayat yang terawetkan dengan raut muka yang masih utuh. Secara umum, raut-raut muka mereka menunjukkan ekspresi keterkejutan, seolah bencana yang terjadi datang secara tiba-tiba dalam sekejab.

    Dalam konteks ini, terdapat aspek dari bencana tersebut yang sangat sulit untuk dimengerti. Bagaimana bisa terjadi ribuan manusia tertimpa maut tanpa melihat dan mendengar sesuatu apapun?

    Aspek ini menunjukkan bahwa penghancuran Pompeii mirip dengan peristiwa-peristiwa adzab yang dikisahkan dalam Alqur’an, sebab Alqur’an secara khusus mengisyaratkan “pemusnahan secara tiba-tiba” ketika mengisahkan peristiwa yang demikian ini. Misalnya, “penduduk suatu negeri” sebagaimana disebut dalam surat Yaasiin ayat 13 musnah bersama-sama secara keseluruhan dalam waktu sekejap. Keadaan ini diceritakan sebagaimana berikut:

    “Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati.” (QS. Yaasiin, 36:29)

    Di surat Al-Qamar ayat 31, pemusnahan dalam waktu yang singkat kembali disebut ketika kehancuran kaum Tsamud dikisahkan:

    “Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput-rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang.”

    Kematian masal penduduk kota Pompeii terjadi dalam waktu yang sangat singkat persis sebagaimana adzab yang dikisahkan dalam kedua ayat di atas.

    Kendatipun semua peringatan ini, tidak banyak yang berubah di wilayah di mana Pompeii dulunya pernah ada. Distrik-distrik Naples tempat segala kemaksiatan tersebar luas tidaklah jauh berbeda dengan distrik- distrik bejat di Pompeii. Pulau Capri adalah tempat di mana para kaum homoseksual dan nudis (orang-orang yang hidup telanjang tanpa busana) tinggal. Pulau Capri diiklankan sebagai “surga kaum homoseks” di industri wisata. Tidak hanya di pulau Capri dan di Italia, bahkan hampir di seantero dunia, kerusakan moral tengah terjadi dan sayangnya mereka tetap saja tidak mau mengambil pelajaran dari pengalaman pahit yang dialami kaum-kaum terdahulu.

    ***

    harunyahya.com

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 9 April 2013 Permalink | Balas  

    Ibu Pembunuh dan Korban Pembunuhan 

    sunyiIbu Pembunuh dan Korban Pembunuhan

    Dalam al-Musnad, Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jiwa tidak dibunuh dengan cara zhalim, melainkan anak pertama Adam berhak menanggung darahnya, karena dialah yang pertama kali menyontohkan pembunuhan.”

    Kebijaksanaan Allah SWT menghendaki Qabil berdiri lemah di depan saudaranya yang sedang berlumuran darah –padahal sebelum itu, ia dengan beringas mengancam saudaranya kemudian membunuhnya–. Qabil bertanya-tanya, apa yang harus ia katakana kepada kedua orang tuanya Adam dan Hawa?

    Sekali lagi, Qabil memandang mayat saudaranya yang telah ia bunuh hendak dibawa kemana? Bahkan dimana ia harus menyembunyikannya? Saudaranya, Habil, adalah anak keturunan Adam yang pertama kali meninggal dunia di bumi ini jadi pemakaman mayat tidk pernah terjadi sebelum itu!

    Asy-Syaukani ra., berkata, “Qabil tidak tahu bagaimana ia harus mengubur saudaranya, karena saudaranya adalah mayat pertama dari anak keturunan Adam.”

    Qabil berdiri tidak tahu apa yang harus ia kerjakan. Ketika ia berada dalam kebingungan dan diam, tiba-tiba suara burung gagak memecah suasana. Burung gagak tersebut berada didekat Qabil. Tahukah Anda, apa yang akan diperbuat burung gagak tersebut?

    Riwayat-riwayat yang bertebaran di buku-buku tafsir, sejarah dan hadits mengatakan, “Bahwa burung gagak tersebut membunuh burung gagak yang lainnya, atau burung gagak tersebut menemukan bangkai burung gagak, atau datang dengan membawa bangkai burung gagak, kemudian burung gagak tersebut membuat galian di tanah dan menguruknya.”

    Qabil merasa kerdil di dalam dirinya sendiri. Sekarang terkuaklah kelemahan diri dan ketidakberdayaannya. Ia tak ubahnya seperti burung gagak yang lemah di sekawanan burung gagak yang buta huruf!.

    Peristiwa tersebut diabadikan dalam Al-Qur’an Al-Karim Allah SWT berfirman, “Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil:”Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini” Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal”. (QS. Al-Maidah (5): 31)

    Dari ayat yang mulia diatas terlihat bahwa penyesalan Qabil bukanlah penyesalan taubatan nasuha, karena jika penyesalannya adalah penyesalan taubatan nasuha, Allah pasti menerima taubatnya. Namun penyesalan karena tindakannya tidak berguna diteruskan dengan kelelahan, kesengsaraan, dan kekalutan.

    Dengan kejadian diatas, syetan mendapat salah seorang dari anak Adam dalam perjalanan awalnya di atas pemukaan bumi. Berita pembunuhan tersebut pun menyebar kepada Adam dan Hawwa’

    Para sejarawan menyebutkan bahwa Adam sedih atas kematian anak-anak, Habil, hingga bertahun-tahun.

    Terlihat bahwa Hawwa’ juga amat sedih dengan kematian Habil. Ia ibu korban sekaligus ibu seorang pembunuh!

    Ibnu Asakir ra., meriwayatkan di Tarikh nya bahwa ketika Habil dibunuh Qabil, Adam berkata kepada Hawwa’, Hai Hawwa’, anakmu mati.”

    Hawwa’ bertanya, Apa kematian itu?

    Adam menjawab, “Kematian ialah tidak makan-minum, tidak berdiri dan berjalan, serta tidak bicara selama-lamanya.

    Hawwa’ menjerit histeris.

    Adam berkata kepada Hawwa’, “Hendaklah engkau dan anak-anak putrimu sedih. Aku dan anak-anakku berlepas tangan atas kasus ini.”

    Kesedihan Adan dan Hawwa’ atas kematian Habil berlangsung lama sekali.

    Ath-Thabari ra., meriwayatkan di Tarikh-nya bahwa Hawwa’ mengandung Syaits lima tahun setelah kematian Habil. Arti Syaits ialah pemberian Allah, maksudnya bahwa Syaits adalah pengganti dari Habil.

    Hari-hari terus berjalan. Adam dan Hawwa’ semakin tua. Anak-anak keturunannya semakin banyak di bumi. Adam as., adalah Nabi yang mengajak anak-anak dan keturunannya kepada Allah dan menjelaskan keagungan Allah kepada mereka. Bisa jadi, beliau bercerita kepada mereka tentang tipu daya Iblis terhadap dirinnya dan istrinya, Hawwa’, dan menuruh mereka bersikap hati-hati terhadap Iblis dan fitnahnya![*]

    ***

    jkmhal.com – Istri-Istri Para Nabi

    Ahmad Khalil Jamaah dan Syaikh Muhammad bin Yusuf Ad-Dimasyqi

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 8 April 2013 Permalink | Balas  

    Peringatan atau Azab? 

    niat baikPeringatan atau Azab?

    Tentang Ujian dan Cobaan, Rasulullah saw bersabda :

    • Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah. (HR. Tirmidzi)
    • Tiada seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, kecuali Allah mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dosa. (HR. Bukhari)
    • Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?” Nabi Saw menjawab, “Para nabi kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang meniru (menyerupai) mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamnya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Bukhari)
    • Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya maka dia diuji (dicoba dengan suatu musibah). (HR. Bukhari)
    • Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapainya dengan amal-amal kebaikannya maka Allah menguji dan mencobanya agar dia mencapai derajat itu. (HR. Ath-Thabrani)
    • Apabila Allah menyenangi hamba maka dia diuji agar Allah mendengar permohonannya (kerendahan dirinya). (HR. Al-Baihaqi)
    • Apabila Aku menguji hambaKu dengan membutakan kedua matanya dan dia bersabar maka Aku ganti kedua matanya dengan surga. (HR. Ahmad)
    • Tiada seorang mukmin ditimpa rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyakit atau kesedihan (kesusahan) sampai pun duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya. (HR. Bukhari)
    • Seorang mukmin meskipun dia masuk ke dalam lobang biawak, Allah akan menentukan baginya orang yang mengganggunya. (HR. Al Bazzaar)
    • Tidak semestinya seorang muslim menghina dirinya. Para sahabat bertanya, “Bagaimana menghina dirinya itu, ya Rasulullah?” Nabi Saw menjawab, “Melibatkan diri dalam ujian dan cobaan yang dia tak tahan menderitanya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
    • Bukanlah dari (golongan) kami orang yang menampar-nampar pipinya dan merobek-robek bajunya apalagi berdoa dengan doa-doa jahiliyah. (HR. Bukhari)
    • Allah menguji hambaNya dengan menimpakan musibah sebagaimana seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang ke luar emas murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang ke luar seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah). (HR. Ath-Thabrani)
    • Salah seorang dari mereka lebih senang mengalami ujian dan cobaan daripada seorang dari kamu (senang) menerima pemberian. (HR. Abu Ya’la)
    • Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menguji hambanya dalam rezeki yang diberikan Allah kepadanya. Kalau dia ridho dengan bagian yang diterimanya maka Allah akan memberkahinya dan meluaskan pemberianNya. Kalau dia tidak ridho dengan pemberianNya maka Allah tidak akan memberinya berkah. (HR. Ahmad)
    • Barangsiapa ditimpa musibah dalam hartanya atau pada dirinya lalu dirahasiakannya dan tidak dikeluhkannya kepada siapapun maka menjadi hak atas Allah untuk mengampuninya. (HR. Ath-Thabrani)
    • Bencana yang paling payah ialah bila kamu membutuhkan apa yang ada di tangan orang lain dan kamu ditolak (pemberiannya). (HR. Ad-Dailami)
    • Barangsiapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan dan menzalimi lalu beristighfar maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah. (HR. Al-Baihaqi)

    ***

    Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad)

    Dr. Muhammad Faiz Almath – Gema Insani Press

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 7 April 2013 Permalink | Balas  

    Keutamaan surat Al Ikhlas 

    surat_al_ikhlas (1)Keutamaan surat Al Ikhlas

    Di antara keutamaan surat Al-Ikhlash adalah sebagai berikut:

    1. Mendapatkan kecintaan Allah subhanahu wata’ala

    Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwasanya Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam pernah mengutus seorang shahabat dalam sebuah pertempuran. Lalu dia mengimami sholat dan selalu membaca surat Al Ikhlas. Tatkala mereka kembali dari pertempuran mereka adukan hal tersebut kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda: “Tanyakan kepadanya apa yang melatarbelakangi dia berbuat seperti itu, merekapun menanyakannya. Lalu Dia pun menjawab: “Karena sesungguhnya surat Al Ikhlash itu mengandung sifat yang dimiliki oleh Ar Rahman (Allah) dan aku suka untuk membacanya. Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kabarkan kepadanya bahwa Allah subhanahu wata’ala mencintainya” (HR. Al-Bukhari no. 7375)

    2. Mendapatkan Jannah

    Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: “Aku pernah bersama Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan disaat itu beliau mendengar seseorang membaca Al Ikhlash.

    Lalu beliau bersabda: “Dia telah mendapatkan”, Abu Hurairah bertanya: “Mendapatkan apa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Al Jannah (surga).”(HR. At Tirmidzi)

    Dalam hadits yang lain beliau bersabda: “Kecintaanmu terhadap surat Al Ikhlas memasukkanmu ke dalam al jannah.” (HR. Al-Bukhari)

    3. Do’a yang tidak tertolak

    Dari Buraidah bin Khusaib radhiallahu ‘anhu, beiau berkata: “Aku pernah masuk masjid bersama Nabi, tiba-tiba ada seorang shahabat shalat dan membaca Al Ikhlash dalam do’anya

    Lalu beliau bersabda: “Demi jiwaku yang ada ditangan-Nya. Sungguh dia telah meminta dengan nama-Nya yang mulia, yang jika ia meminta dengan nama tersebut, Allah akan memberinya dan jika dia berdo’a dengannya, diterima.”(HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 6 April 2013 Permalink | Balas  

    Menuju yang Lebih Tinggi 

    kaligrafiMenuju yang Lebih Tinggi

    Oleh : Rahmat

    Coba bayangkan, hidup dengan seorang istri yang shalihah. Bukan hanya shalihah juga merupakan pengusaha wanita yang sukses dan kaya. Perdagangannya sudah bertaraf internasional dan memiliki banyak distibutor yang siap menjual dagangan ke berbagai daerah dan negara lain.

    Selain itu, hidup di sebuah kota dimana kakek serta paman-paman beliau merupakan orang yang sangat berpengaruh di kota tersebut. Tidak akan ada orang yang berani mengusik beliau. Beliau mendapatkan penghormatan dari masyarakat bukan hanya karena keluarganya yang berpengaruh tetapi pribadi beliau sendiri yang memukau, yang terkenal dengan kejujurannya sehingga mendapatkan gelar al amin.

    Itulah kehidupan nyaman Rasulullah SAW sebelum menjadi seorang Rasulullah. Semenjak beliau mengikrarkan akan membawa misi mulia, menuju yang lebih tinggi, beliau benar-benar meninggalkan kenyamanan yang beliau miliki selama ini.

    Karena tidak mempan dengan bujukan harta, tahta, dan wanita, teror yang datang mengganti bujukan tersebut. Ancaman, fitnah, dan berbagai hal yang menyakitkan datang silih berganti agar beliau berhenti menyebarkan risalah suci.

    Beliau pernah hijrah ke negeri orang dengan melalui perjalanan panjang dan mendapati kegagalan sampai akhirnya hijrah ke Madinah. Beliau diancam untuk dibunuh, pengikut beliau diteror bahkan tidak sedikit yang mengalami siksaan dan pembunuhan.

    Kontras dengan sifat beliau yang lembut dan penyayang, beliau harus memimpin berbagai perang yang ganas demi menegakkan kalimat tauhid. Perang yang mengerikan dimana hampir selalu kekuatan fisik lawan jauh lebih besar bahkan berlipat-lipat. Beliau pernah terluka, kehilangan banyak sahabat bahkan paman tercinta beliau Hamzah, semoga Allah meridlainya.

    Itulah suatu perubahan yang dialami oleh manusia teragung sepanjang zaman. Perubahan dari suatu kondisi yang nyaman menjadi kondisi yang tidak nyaman, yang memerlukan banyak pengorbanan dan kerja keras. Semua itu demi sebuah misi yang diperintahkan Allah SWT kepada beliau, dan kita. Misi yang diperlukan untuk membawa umat manusia ke tingkat yang lebih tinggi dari keterpurukan yang disebabkan oleh ulah manusia sendiri.

    ***

    sumber : http://www.motivasi- islami.com

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 5 April 2013 Permalink | Balas  

    Memetik Keagungan Surat Al Ikhlash 

    surat_al_ikhlas (1)Memetik Keagungan Surat Al Ikhlash

    Penulis: Buletin Al Ilmu Jember

    Surat Al Ikhlash termasuk diantara surat-surat pendek dalam Al Qur’an. Surat ini sering kali dibaca dan diulang-ulang, hampir-hampir sudah menjadi bacaan harian bagi setiap muslim baik ketika sholat ataupun dzikir. Bukan karena surat ini pendek dan mudah di hafal. Namun memang demikianlah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam keseharian beliau tidak lepas dari membaca surat yang mulia ini. Lebih dari itu surat yang mulia ini mengandung makna-makna yang penting dan mendalam. Oleh karena itu meski surat ini pendek tapi memiliki kedudukan yang tinggi dibanding surat-surat lainnya. Bahkan kedudukannya sama dengan sepertiga Al Qur’an.

    Para pembaca yang mulia, pada edisi kali ini kami sajikan tentang kandungan-kandungan penting dan mendalam dalam surat Al Ikhlash, agar menambah kekhusu’an kita dalam membaca surat ini dan bisa mengamalkan kandungan-kandungan penting tersebut dalam kehidupan kita.

    Kedudukan Surat Al Ikhlas Diriwiyatkan dalam shahih Al Bukhari dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: “Ada seorang shahabat Rasul shalallahu ‘alaihi wasallam mendengar tetangganya membaca berulang-ulang:

    Kemudian di pagi harinya dia menemui Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan tentang perbuatan tetangganya tersebut. Seakan akan shahabat ini menganggap ringan kedudukan surat ini. Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    “Demi jiwaku yang ada ditangan-Nya. Sesungguhnya surat Al Ikhlas benar-benar menyamai sepertiga Al-Qur’an.” (HR Al-Bukhari Bab Fadhail Qur’an no. 5014)

    Para ulama’ telah menjelaskan sebab kenapa surat Al Ikhlash ini menyamai sepertiga Al Qur’an. Karena di dalam Al Qur’an mengandung tiga pokok yang paling mendasar yaitu;  pertama: Tauhid, Kedua: Kisah-kisah rasul dan umatnya,  Ketiga: Hukum-hukum syari’at.

    Sedangkan surat Al Ikhlas ini, mengandung pokok-pokok dan kaidah-kaidah ilmu tauhid. Atas dasar inilah surat Al Ikhlash menyamai sepertiga Al-Qur’an.

    Kandungan Surat Al-Ikhlas Allah subhanahu wata’ala berfirman:

    “Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Rabb yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, Dan tiada seorangpun yang setara dengan-Nya.” (QS. Al-Ikhlas: 1-4)

    Dalam ayat pertama: “Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa (tunggal).”

    Para pembaca yang mulia, dalam ayat pertama Allah subhanahu wata’ala menegaskan bahwa dirinya memiliki nama Al Ahad yang mengandung sifat ahadiyyah yang bermakna esa atau tunggal. Dia-lah esa dalam segala nama-nama-Nya yang mulia dan esa pula dalam seluruh sifat-sifat-Nya yang sempurna. Dia-lah esa, tiada siapa pun yang semisal dan serupa dengan keagungan dan kemulian Allah subhanahu wata’ala.  Kalau kita memperhatikan penciptaan alam semesta ini dari bumi, langit, matahari, bulan, lautan, gunung-gunung, bukit-bukit, iklim/suhu dan seluruh makhluk yang di alam ini, semuanya tertata rapi dan serasi menunjukkan bahwa pencipta, pengatur, dan penguasa alam semesta ini adalah esa yaitu Allah subhanahu wata’ala.

    Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Dia-lah Yang Telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak akan melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka Lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu lihat ada sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak akan menemukan sesuatu yang cacat,(Al Mulk: 2-3)

    Dan juga firman-Nya (artinya): “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (Al Baqarah: 164)

    Fitrah manusia yang suci pasti dalam hatinya akan menyakini keesaan Allah subhanahu wata’ala. Sebagaimana perkataan penyair: Dan pada segala sesuatu terdapat tanda-tanda bagi-Nya  Yang semua itu menunjukkan bahwa Allah adalah Esa.

    Kalau sekiranya yang menguasai dan mengatur bumi dan langit serta seluruh alam ini lebih dari satu niscaya bumi dan langit serta alam ini akan hancur berantakan. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Sekiranya ada di langit dan di bumi pengatur dan pencipta selain Allah tentulah keduanya telah rusak dan binasa.” (Al-Anbiya: 22)

    Demikian pula Allah subhanahu wata’ala adalah esa dalam peribadahan. Bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali hanya Allah subhanahu wata’ala dan sesembahan-sesembahan selain Allah subhanahu wata’ala itu adalah batil.

    Sehingga termasuk kandungan dari ayat pertama, yaitu bahwa Allah subhanahu wata’ala adalah esa (tunggal) dalam penciptaan, pengaturan dan pengusaan alam semesta ini, maka seharusnya Dia-lah Allah subhanahu wata’ala pula adalah esa (tunggal) dalam peribadahan. Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Hai manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa, (karena) Dia-lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dia yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untuk kalian; Karena itu janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahuinya.” (Al Baqarah: 21-22)

    Bahkan sesungguhnya kitab suci Al-Qur’an dan semua risalah yang dibawa oleh para Nabi tidaklah datang melainkan dalam rangka menjelaskan tentang keesaan Allah subhanahu wata’ala yaitu bahwa tidak ada yang berhak didibadahi kecuali Allah subhanahu wata’ala semata. Sebagaimana firman-Nya: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Aku, maka sembahlah kamu sekalian kepada-Ku”. (Al-Anbiya’: 25)

    Dalam ayat yang kedua Allah subhanahu wata’ala berfirman: “Allah adalah (Rabb) yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.”

    Dalam ayat ini Allah subhanahu wata’ala mengkhabarkan kepada kita salah satu nama-Nya pula adalah Ash Shomad. Yang mengandung makna bahwa Dia-lah Rabb satu-satunya tempat bergantung dari seluruh makhluk. Dia-lah yang memenuhi seluruh kebutuhan makhluk-Nya. Karena Dia-lah Yang Maha Kaya dengan kekayaan yang tiada batas dan Dia pula Yang Maha Kuasa dengan kekuasaan yang tiada tara. Tidak ada yang bisa mendatangkan manfaat dan menolak mudharat kecuali hanya Allah subhanahu wata’ala semata. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya …” (Yunus: 107)

    Rasulllah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah.” (HR. Al Bukhari)

    Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya menegaskan bahwa makhluk itu lemah dan tidak punya daya dan kekuatan. Oleh karena itulah Allah subhanahu wata’ala sebagai tempat satu-satunya untuk bergantung dari seluruh makhluknya. Lalu pantaskah seorang hamba bergantung kepada selain Allah subhanahu wata’ala? Atau berdo’a, meminta pertolongan, meminta barokah, mempersembahkan sesembelihan kepada selain Allah subhanahu wata’ala. Pantaskan seorang hamba menyembelih sesembelihan diperuntukan sang penunggu pohon, gunung, laut, kuburan atau selainnya. Tentu hal itu sangat tidak pantas, karena Allah subhanahu wata’ala adalah Al Ahad yang maha esa dalam penciptaan dan pengaturan, Dia-lah pula yang maha esa dalam peribadahan. Dan Dia subhanahu wata’ala juga adalah Ash Shomad, tempat satu-satuya bergantung dari seluruh makhluk-Nya, sehingga Dia-lah pula yang berhak untuk diibadahi semata.

    Dalam ayat ketiga Allah subhanahu wata’ala berfirman: “Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan.”

    Ayat ini menunjukkan akan kesempurnaan Allah subhanahu wata’ala, Dia tidak memiliki anak dan tidak pula diperanakkan serta Dia pun tidak memiliki istri. Sehingga Dia-lah esa dalam segala sifat-sifat-Nya yang tiada setara dengan-Nya. Allah subhanahu wata’ala menegaskan dalam firman-Nya: “Dia pencipta langit dan bumi, Maka bagaimana mungkin Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu dan Dia mengetahui segala sesuatu.” (Al-An’am: 101)

    Sehingga tidak benar perkataan Yahudi bahwa Uzair adalah anak Allah subhanahu wata’ala, tidak bernar pula perkataan Nasrani bahwa Isa adalah Allah subhanahu wata’ala ataupun keyakinan trinitas, tidak benar pula perkataan orang-orang musyrikin Quraisy bahwa malaikat adalah anak perempuan Allah. Subhanallah (Maha Suci Allah) dari apa yang mereka katakan.

    Dalam ayat terakhir, Allah subhanahu wata’ala berfirman: “Dan tiada seorangpun yang setara dengan-Nya.”

    Allah subhanahu wata’ala menutup surat Al Ikhlash ini dengan penegasan bahwa tidak ada yang siapa pun yang setara dan serupa dengan sifat-sifat Allah yang maha mulia dan sempurna. Sebagaimana juga ditegaskan dalam ayat-ayat lainnya, diantaranya; “Dan Katakanlah: “Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” (Al Isra’: 111)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 4 April 2013 Permalink | Balas  

    10 Amalan Yang Terbalik 

    Jadilah-Pelita (1)10 Amalan Yang Terbalik

    Kadang kita dapati amalan kita terbalik atau bertentangan dengan apa yang sepatutnya dilakukan dan dituntut oleh Islam. Mungkin kita tidak sadar atau ikut-ikutan dengan budaya hidup orang lain. Contoh amalan yang terbalik :

    1. Amalan Selamatan/kenduri beberapa malam setelah saudara/keluarga/tetangga kita meninggal (malam pertama, kedua, ketiga, ketujuh dan seterusnya) adalah terbalik dengan yang dianjurkan oleh Rosulullah SAW dimana Rosulullah telah menganjurkan tetangga memasak makanan/minuman untuk keluarga yang berduka guna meringankan kesedihan dan kesusahan mereka.  Keluarga yang telah ditimpa kesedihan tersebut terpaksa menyediakan makanan dan membeli segala sesuatu untuk mereka yang datang membaca Tahlil/do a dan mengaji.Tidakkah mereka yang hadir dan makan tersebut tidak khawatir termakan harta anak yatim yang ditinggalkan oleh si mati atau harta peninggalan si mati yang belum dibagikan kepada yang berhak menurut Islam?
    2. Kalau datang ke resepsi/pesta pernikahan/khitanan selalu berisi hadiah/uang waktu bersalaman. Kalau tidak ada uang maka kita segan untuk pergi. Tetapi kalau mendatangi tempat orang meninggal. kita tidak malu untuk salaman tanpa isi/uang. Sepatutnya pada saat kita mendatangi tempat orang meninggallah kita seharusnya memberi sedekah. Sebenarnya jika ke Resepsi/pesta pernikahan/khitanan, tidak memberipun tidak apa-apa. karena tuan rumah yang mengundang untuk memberi restu kepada mempelai dan makan bukan untuk menambah pendapatannya.
    3. Ketika datang ke sebuah gedung/rumah mewah atau menghadiri rapat dengan pejabat, kita berpakaian bagus, rapi dan indah tapi bila menghadap Allah baik di rumah maupun di Mesjid, pakaian yang dipakai adalah pakaian seadanya. Tidakkah ini suatu perbuatan yang terbalik?
    4. Kalau bertamu ke rumah orang diberi kue/minum, kita merasa malu untuk makan sampai habis, padahal yang dituntut adalah jika hidangan tidak dimakan akan menjadi mubazir dan tidak menyenangkan tuan rumah.
    5. Kalau Sholat Sunnah di Mesjid sangat rajin tapi kalau di rumah, malas. Sedangkan sebaik-baik Sholat Sunnah adalah yang dilakukan di rumah seperti yang dianjurkan oleh Rosulullah SAW untuk menghindari rasa riya’/pamer.
    6. Bulan Puasa adalah bulan mendidik nafsu termasuk nafsu makan yang berlebihan tetapi kebanyakan orang mengaku bahwa biaya makan dan belanja di bulan puasa adalah yang tertinggi dalam setahun. Padahal seharusnya yang terendah.  Bukankah terbalik amalan kita?
    7. Kalau untuk menjalankan ibadah haji, sebelum berangkat, banyak orang mengadakan Selamatan/do’a bersama tetapi setelah kembali dari Haji, tidak ada do’a bersama untuk bersyukur. Anjuran do’a bersama/selamatan dalam Islam diantaranya adalah karena selamat dari bermusafir/perjalanan jauh bukan karena akan bermusafir. Bukankah amalan ini terbalik? Atau kita mempunyai tujuan lain?
    8. Semua orang tua akan kecewa jika anak-anaknya gagal dalam ujian. Maka dicari dan diantarlah anak-anak ke tempat kursus walau dengan biaya tinggi. Tapi kalau anak tidak dapat membaca Al-Qur’an, mereka tidak berusaha mencari/mengantar anak-anak ketempat kursus baca Al-Qur’an atau kursus pelajaran Islam. Kalau guru kursus sanggup dibayar sebulan Rp.300.000,00 perbulan untuk satu pelajaran dan 8 kali pertemuan saja, tapi kepada Ustadz yang mengajarkan mengaji hanya Rp.100.000,00 perbulan untuk 20 kali pertemuan. Bukankah terbalik amalan kita? Kita sepatutnya lebih malu jika anak tidak dapat baca Al-Qur’am atau Sholat dari pada tidak lulus ujian.
    9. Siang-malam, panas-hujan badai, pagi-petang kita bekerja mengejar rezeki Allah dan mematuhi peraturan kerja. Tapi ke rumah Allah (Mesjid) tidak hujan tidak panas, tidak siang, tidak malam tetap tidak datang ke Mesjid. Sungguh tidak tahu malu manusia begini, rezeki Allah diminta tapi untuk mampir ke rumahNya segan dan malas.
    10. Seorang isteri kalau mau keluar rumah dengan suami atau tidak, berhias secantik mungkin. Tapi kalau di rumah….??? Sedangkan yang dituntut seorang isteri itu berhias untuk suaminya bukan untuk orang lain. Perbuatan amalan yang terbalik ini membuat rumah tangga kurang bahagia.  Cukup dengan contoh-contoh di atas, Marilah kita berlapang dada menerima hakikat sebenarnya.Marilah kita beralih kepada kebenaran agar hidup kita menurut landasan dan ajaran Islam yang sebenarnya bukan yang digubah mengikuti selera kita. Allah yang menciptakan kita, maka biarlah Allah yang menentukan peraturan hidup kita.  Sabda Rosulullah SAW : “Sampaikanlah pesan-KU walau hanya satu ayat”. (Riwayat Bukhari).

    Islam adalah rahmatan lil’alamiin hidup mulia atau mati syahie keep ukhuwah, smile and istiqomah

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 3 April 2013 Permalink | Balas  

    Membaca Kemalangan 

    siluet petaniMembaca Kemalangan

    Ini kisah tentang seorang petani tua yang bekerja di ladangnya. Suatu hari kudanya melarikan diri. Mendengar ini, tetangga si petani tua datang mengunjunginya, dan dengan penuh simpati berkata, “Oh, petani tua. Sungguh malang nasibmu.”

    Sang petani pun menjawab, “Mungkin saja.”

    Keesokan harinya, kuda itu kembali, bersama tiga kuda liar lainnya. “Sungguh menakjubkan. Betapa beruntungnya nasibmu,” seru tetangganya.

    Sang petani menjawab, “Mungkin saja.”

    Hari berikutnya, anak si petani tua mencoba menaiki salah satu kuda yang masih liar itu. Sang anak terlempar dari punggung kuda yang belum jinak itu. Kakinya patah. Mendengar ini, tetangganya datang mengunjunginya untuk memberi simpati atas kemalangannya,

    “Oh, petani tua. Betapa malang nasibmu.”

    Lagi-lagi sang petani menjawab, “Mungkin saja.”

    Keesokan harinya, seorang pejabat militer datang ke desa dan menyerukan kewajiban bagi setiap pemuda untuk berperang membela negara. Mengetahui bahwa kaki anak laki-lakinya patah, pejabat militer itu pun melewatinya. Para tetangga pun memberi selamat kepada si petani tua atas keberuntungan nasibnya.

    Sang petani tua pun menjawab, “Mungkin saja.”

    Cerita yang menggugah bukan? Nasib baik dan buruk sebenarnya tergantung dari cara kita memandangnya. Sepanjang kita bersyukur, tidak pernah ada yang buruk yang datang dari-Nya.

    “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Quran [2]:216).

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 2 April 2013 Permalink | Balas  

    Mengucapkan Salam Menurut Islam 

    SalamMengucapkan Salam Menurut Islam

    Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hasyr Ayat 23:

    Dialah Allah, tidak ada ilaah(sesembahan) yang layak kecuali Dia, Maha Rajadiraja, yang Maha Suci, Maha Sejahtera, Maha Mengaruniai rasa aman, Maha Memelihara, Maha Perkasa, Maha Kuasa, Maha Memiliki segala keagungan. Maha Suci Allah dari segala yang mereka persekutukan. Didalam ayat ini, As-Salaam (Maha Sejahtera) adalah satu dari Nama-nama Agung Allah SWT. Kini, Kita akan mencoba untuk memahami arti, keutamaan dan penggunaan kata Salam.

    Sebelum terbitnya fajar Islam, orang Arab biasa menggunakan ungkapan-ungkapan yang lain, seperti Hayakallah yang artinya semoga Allah menjagamu tetap hidup, kemudian Islam memperkenalkan ungkapan Assalamu ‘alaikum. Artinya, semoga kamu terselamatkan dari segala duka, kesulitan dan nestapa. Ibnu Al-Arabi didalam kitabnya Al-Ahkamul Qur’an mengatakan bahwa Salam adalah salah satu ciri-ciri Allah SWT dan berarti Semoga Allah menjadi Pelindungmu.

    Ungkapan Islami ini lebih berbobot dibandingkan dengan ungkapan-ungkapan kasih-sayang yang digunakan oleh bangsa-bangsa lain. Hal ini dapat dijelaskan dengan alasan-alasan berikut ini.

    1. Salam bukan sekedar ungkapan kasih-sayang, tetapi memberikan juga alasan dan logika kasih-sayang yang di wujudkan dalam bentuk doa pengharapan agar anda selamat dari segala macam duka-derita. Tidak seperti kebiasaan orang Arab yang mendoakan untuk tetap hidup, tetapi Salam mendoakan agar hidup dengan penuh kebaikan.

    2. Salam mengingatkan kita bahwa kita semua bergantung kepada Allah SWT. Tak satupun makhluk yang bisa mencelakai atau memberikan manfaat kepada siapapun juga tanpa perkenan Allah SWT.

    3. Perhatikanlah bahwa ketika seseorang mengatakan kepada anda, “Aku berdoa semoga kamu sejahtera.” Maka ia menyatakan dan berjanji bahwa anda aman dari tangan (perlakuan)nya, lidah (lisan)nya, dan ia akan menghormati hak hidup, kehormatan, dan harga-diri anda.

    Ibnu Al-Arabi didalam Ahkamul Qur’an mengatakan: Tahukah kamu arti Salam? Orang yang mengucapkan Salam itu memberikan pernyataan bahwa ‘kamu tidak terancam dan aman sepenuhnya dari diriku.’ Kesimpulannya, bahwa Salam berarti, (i) Mengingat (dzikr) Allah SWT, (ii) Pengingat diri, (iii) Ungkapan kasih sayang antar sesama Muslim, (iv) Doa yang istimewa, dan (v) Pernyataan atau pemberitahuan bahwa ‘anda aman dari bahaya tangan dan lidahku’ Sebuah Hadits merangkumnya dengan indah:

    Muslim sejati adalah bahwa dia tidak membahayakan setiap Muslim yang lain dengan lidahnya dan tangannya

    Jika kita memahami hadits ini saja, sudahlah cukup untuk memperbaiki semua umat Muslim. Karena itu Rasulullah Muhammad SAW sangat menekankan penyebaran pengucapan Salam antar sesama Muslim dan beliau menyebutnya sebagai perbuatan baik yang paling utama diantara perbuatan-perbuatan baik yang anda kerjakan. Ada beberapa Sabda Rasulullah, SAW yang menjelaskan pentingnya ucapan salam antar seluruh Muslim.

    Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Kamu tidak dapat memasuki Surga kecuali bila kamu beriman. Imanmu belumlah lengkap sehingga kamu berkasih-sayang satu sama lain. Maukah kuberitahukan kepadamu sesuatu yang jika kamu kerjakan, kamu akan menanamkan dan memperkuat kasih-sayang diantara kamu sekalian? Tebarkanlah ucapan salam satu sama lain, baik kepada yang kamu kenal maupun yang belum kamu kenal.” (Muslim)

    Abdullah bin Amr RA mengisahkan bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apakah amalan terbaik dalam Islam?” Rasulullah SAW menjawab: Berilah makan orang-orang dan tebarkanlah ucapan salam satu sama lain, baik kamu saling mengenal ataupun tidak.” (Sahihain)

    Abu Umammah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:”Orang yang lebih dekat kepada Allah SWT adalah yang lebih dahulu memberi Salam.” (Musnad Ahmad, Abu Dawud, dan At Tirmidzi)

    Abdullah bin Mas’ud RA meriwayatkan Bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Salam adalah salah satu Asma Allah SWT yang telah Allah turunkan ke bumi, maka tebarkanlah salam. Ketika seseorang memberi salam kepada yang lain, derajatnya ditinggikan dihadapan Allah. Jika jama’ah suatu majlis tidak menjawab ucapan salamnya maka makhluk yang lebih baik dari merekalah (yakni para malaikat) yang menjawab ucapan salam.” (Musnad Al Bazar, Al Mu’jam Al Kabir oleh At Tabrani) Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang kikir yang sebenar-benarnya kikir ialah orang yang kikir dalam menyebarkan Salam.” Allah SWT berfirman didalam Al-Qur’an Surat An-Nisa Ayat 86:

    Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan maka balaslah dengan penghormatan yang lebih baik, atau balaslah dengan yang serupa. Sesungguhnya Allah akan memperhitungkan setiap yang kamu kerjakan.

    Demikianlah Allah SWT memerintahkan agar seseorang membalas dengan ucapan yang setara atau yang lebih baik. Hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hathim. Suatu hari ketika Rasulullah SAW sedang duduk bersama para sahabatnya, seseorang datang dan mengucapkan, “Assalaamu’alaikum.” Maka Rasulullah SAW pun membalas dengan ucapan “Wa’alaikum salaam wa rahmah” Orang kedua datang dengan mengucapkan “Assalaamu’alikum wa rahmatullah” Maka Rasulullah membalas dengan, “Wa’alaikum salaam wa rahmatullah wabarakatuh” . Ketika orang ketiga datang dan mengucapkan “Assalaamu’alikum wa rahmatullah wabarakatuhu.” Rasulullah SAW menjawab: “Wa’alaika”. Orang yang ketiga pun terperanjat dan bertanya, namun tetap dengan kerendah-hatian, “Wahai Rasulullah, ketika mereka mengucapkan Salam yang ringkas kepadamu, Engkau membalas dengan Salam yang lebih baik kalimatnya. Sedangkan aku memberi Salam yang lengkap kepadamu, aku terkejut Engkau membalasku dengan sangat singkat hanya dengan wa’alaika.” Rasulullah SAW menjawab, “Engkau sama sekali tidak menyisakan ruang bagiku untuk yang lebih baik. Karena itulah aku membalasmu dengan ucapan yang sama sebagaimana yang di jabarkan Allah didalam Al-Qur’an.”

    Dengan demikian kita bisa mengambil kesimpulan bahwa, membalas Salam dengan tiga frasa (anak kalimat) itu hukumnya Sunnah, yaitu cara yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Kebijaksanaan membatasi Salam dengan tiga frasa ini karena Salam dimaksudkan sebagai komunikasi ringkas bukannya pembicaraan panjang.

    Didalam ayat ini Allah SWT menggunakan kalimat obyektif tanpa menunjuk subyeknya. Dengan demikian Al-Qur’an mengajarkan etika membalas penghormatan. Disini secara tidak langsung kita diperintah untuk saling memberi salam. Tidak adanya subyek menunjukkan bahwa hal saling memberi salam adalah kebiasaan normal dan wajar yang selalu dilakukan oleh orang-orang beriman. Tentu saja yang mengawali mengucapkan salamlah yang lebih dekat kepada Allah SWT sebagaimana sudah dijelaskan diatas. Hasan Basri menyimpulkan bahwa:  “ Mengawali mengucapkan salam sifatnya adalah sukarela, sedangkan membalasnya adalah kewajiban” Disebutkan didalam Muwattha’ Imam Malik, diriwayatkan oleh Tufail bin Ubai bin Ka’ab bahwa, Abdullah bin Umar RA biasa pergi ke pasar hanya untuk memberi salam kepada orang-orang disana tanpa ada keperluan membeli atau menjual apapun. Ia benar-benar memahami arti penting mengawali mengucapkan salam. Pada bagian kalimat terakhir Surat An-Nisa ayat 86, Allah SWT berfirman:

    … Sesungguhnya Allah akan memperhitungkan setiap yang kamu kerjakan. Disini, mendahului memberi salam dan membalasnya juga termasuk yang diperhitungkan. Maka kita hendaknya menyukai mendahului memberi salam. Sama halnya kita harus membalas salam demi menyenangkan Allah SWT dan menyuburkan kasih-sayang diantara kita semua.

    Rasulullah SAW selanjutnya memberikan arahan memberi salam bahwa:

    • Orang yang berkendaraan harus memberi salam kepada pejalan-kaki.
    • Orang yang berjalan kaki memberi salam kepada yang duduk.
    • Kelompok yang lebih sedikit memberi salam kepada kelompok yang lebih banyak jumlahnya.
    • Yang meninggalkan tempat memberi salam kepada yang tinggal.
    • Ketika pergi meninggalkan atau pulang ke rumah, ucapkanlah salam meski tak seorangpun ada di rumah (malaikat yang akan menjawab).
    • Jika bertemu berulang-ulang maka ucapkan salam setiapkali bertemu.

    Pengecualian kewajiban menjawab salam:

    • Ketika sedang sholat. Membalas ucapan salam ketika sholat membatalkan sholatnya.
    • Khatib, orang yang sedang membaca Al-Qur’an, atau seseorang yang sedang mengumandangkan Adzan atau Iqamah, atau sedang mengajarkan kitab-kitab Islam.
    • Ketika sedang buang air atau berada di kamar mandi.

    Selanjutnya, Allah SWT menerangkan keutamaan salam didalam surat Al-An’aam ayat 54:

    Jika orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami (Al-Qur’an) datang kepadamu, ucapkanlah “Salaamun’alaikum (selamat-sejahtera bagimu)”, Tuhanmu telah menetapkan bagi diri-Nya kasih-sayang. (Yaitu) Bahwa barangsiapa berbuat kejahatan karena kejahilannya (tidak tahu/bodoh) kemudian ia bertaubat setelah itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

    Di ayat ini Allah SWT memerintah Nabi Muhammad SAW sehubungan dengan orang-orang beriman yang miskin, yang hampir semuanya menumpang tinggal di tempat para sahabat. Walaupun orang-orang kafir yang kaya meminta agar Rasulullah SAW mengusir para dhuafa’ itu supaya orang-orang kaya itu bisa bersama Rasulullah, Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menyambut para dhuafa’ Muslim itu dengan ‘Assalamu ‘alaikum’ pada saat kedatangan mereka. Hal ini mengandung dua arti: Pertama, menyampaikan penghormatan dari Allah SWT kepada mereka. Ini adalah kehormatan dan penghargaan yang tinggi bagi Muslim yang miskin dan tulus hati. Perlakuan ini menguatkan hati dan menambah semangat mereka. Arti ke-dua, menyampaikan sambutan yang baik yang pantas mereka terima, atas ijin Allah SWT, dengan nyaman, damai dan tenang, meskipun jika mereka membuat beberapa kesalahan.

    Semoga Allah SWT menganugerahi kita kesanggupan untuk melaksanakan pengucapan salam dengan semangat islami yang lurus didalam hidup kita sehari-hari dan dengan melaksanakannya menumbuhkan kasih-sayang dan persatuan diantara kita. Amiin.

    ***

    Author by:  Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil. (London)

    Translated by Ir. Gusti Noor Barliandjaja and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 1 April 2013 Permalink | Balas  

    Daya Tarik Al-Quran 

    quranDaya Tarik Al-Quran

    Dewasa ini, media-media massa dunia berusaha melakukan propaganda dalam skala luas untuk mendeskreditkan Islam dan menggambarkan Al-Quran sebagai kitab yang sudah ketinggalan zaman. Dengan menggunakan sarana propaganda yang paling canggih, kekuatan-kekuatan imperialis dunia melancarkan berbagai intimidasi terhadap ajaran Islam dengan tujuan mereduksi infiltrasi Islam di dunia Barat. Namun semua usaha mereka itu tidak akan pernah bisa berhasil karena Al-Quran adalah Kitab Ilahi yang paling sempurna sehingga tidak akan ada yang mampu menandingi keunggulan Al Quran.

    Gary Miller, adalah seorang ilmuwan matematika asal Kanada. Selain menjadi anggota dewan ahli di universitas, Miller juga aktif sebagai misionaris Kristen. Miller adalah ilmuwan sangat meminati bidang logika dan hal-hal yang logis. Pada awalnya, dia berpikir bahwa Al-Qur’an yang turun 14 abad yang lalu itu hanya membahas berbagai masalah di masa lalu. Seiring dengan menguatnya arus Islam di Barat, Miller terdorong mempelajari Al-Quran lebih mendalam dengan tujuan mencari celah-celah kesalahan Al-Quran dan berusaha membuktikan ketidakotentikan Al-Quran.

    Miller mengatakan, “Mulai hari itu, saya membaca Al-Quran untuk mencari celah-celah kesalahan kitab ini. Melalui usaha ini, saya berharap dapat mengangkat derajat pemeluk agama Kristen di hadapan ummat Islam.” Dikatakannya pula, “Karena Al-Quran diturunkan 14 Abad yang lalu di padang pasir, saya berpikir bahwa kitab ini sangat terbelakang serta dipenuhi dengan kekurangan. Namun semakin saya membaca Al-Quran, saya malah semakin menemukan kebenaran yang membuat saya terkesima. Aku menyadari bahwa Al-Quran ternyata membahas berbagai masalah yang sama sekali tak ditemukan di kitab samawi lainnya. Kitab ini membuat saya semakin penasaran untuk mempelajari lebih mendalam lagi.

    Ketika membaca sura An-Nisa’, ayat 82, saya sangat terkejut. Ayat tersebut menyebutkan; Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”

    Tentunya, hal yang dialami oleh cendekiawan asal Kanada ini bukanlah yang pertama kali terjadi bagi seorang non muslim. Al-Quran adalah samudera yang tak ada batasnya dan mengandung mutiara ilmu yang tak habis-habisnya digali. Sejak 14 abad lalu, para pemikir dan cendikiawan dalam berbagai bidang mengarungi lautan ilmu yang tertuang dalam kitab ini. Namun sedemikian luas dan dalamnya samudera Al Quran, membuat mereka belum mampu menemukan tepi atau akhir dari lautan ilmu ini. Oleh karena itu, mereka hanya bisa pasrah sambil memuji keagungan dan kebesaran Allah Swt. Al-Quran dalam surat Furqon ayat 1 menyebutkan, “Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al-Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.”

    Sebagai seorang ilmuwan, Dr. Gary Miller memahami bahwa mengenali dan membandingkan berbagai pendapat adalah salah satu metode ilmiah dalam rangka membuktikan kebenaran. Dia juga mengatakan, “Al-Quran dengan ayat-ayat yang sangat lugas mengajak manusia untuk berpikir. Di dunia ini, tak ada seorang penulis pun yang menulis sebuah buku, kemudian dengan penuh keyakinan meminta semua pihak untuk membuktikan kesalahan-kesalahan nya.”

    Miller juga menyatakan, “Di saat mempelajari Al-Quran, saya menanti ayat yang menyinggung peristiwa-peristiwa yang dialami oleh Rasulullah Saww, seperti wafatnya Sayidah Khadijah atau kehidupan anak-anaknya. Namun, saya malah dikejutkan oleh surat yang bernama Maryam. Sedangkan dalam kitab Injil dan Taurat, tak ada satupun surat khusus dengan nama Maryam. Selain itu, Al-Quran menyebut nama Isa Al-Masih sebanyak 25 kali, sedangkan kitab ini hanya menyebut nama Rasulullah Muhammmad Saww sebanyak lima kali. Bahkan, tak ada surat yang menyebutkan nama putri atau istri Rasulullah Saww.”

    Namun, cendekiawan Barat ini masih belum mantap dengan apa yang didapatkannya. Ia pun kembali melanjutkan mencari kesalahan-kesalahan Al-Quran. Kali ini, ia dikejutkan oleh ayat lainnya, yaitu Surat Al Anbiya ayat 30, yang berbunyi, “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasannya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup.” Miller berkata, “Ayat ini menyinggung masalah ilmiah yang penemunya mendapatkan penghargaan Nobel pada tahun 1973. Ayat ini menjelaskan teori big bang yang menghasilkan penciptaan dunia, langit, dan bintang-bintang.”

    Miller melanjutkan, “Bagian akhir ayat tersebut menyebutkan bahwa air adalah sumber kehidupan. Ini merupakan salah satu keajaiban penciptaan alam yang baru dipahami oleh sains modern. Ilmuwan modern membuktikan bahwa sel hidup terbentuk dari sitoplasma atau zat separuh cairan lekat, sedangkan bagian inti sitoplasma bersumber dari air. Dengan mempelajari ayat ini, saya sama sekali tidak lagi mempercayai klaim-klaim bohong yang menyebut Al-Quran sebagai buatan Muhammmad Saww semata. Bagaimana mungkin Rasulullah Saww yang tak bisa menulis dan membaca sebelum diturunkannya A-Quran, 1400 tahun yang lalu, tiba-tiba dapat berbicara soal materi dan gas yang membentuk dunia?”

    Akhirnya, riset panjang ini menyebabkan Dr. Gary Miller tunduk menerima Islam sebagai agama yang benar. Dia kini aktif menulis berbagai makalah terkait mukjizat-mukjizat sains yang tercantum dalam Al-Quran. Di antara karya-karya Miller berjudul “Al-Qur’an Yang Menakjubkan”, “Perbedaan Al-Quran dan Kitab Injil”, dan “Pandangan Islam tentang Metode-Metode Pemberian Kabar Gembira”.

    Di samping berbicara mengenai mukjizat dan keagungan Al-Quran, Dr. Gary Miller juga membahas masalah lainnya. Dia mengatakan, “Di antara mukjizat Al Quran adalah menyampaikan ancaman-ancaman untuk manusia di masa mendatang yang tak bisa diprediksikan oleh manusia. Hal ini tak bisa diprediksi oleh manusia karena manusia seringkali menjadikan eksperimen sebagai tolak ukur kebenaran. Al-Qur’an juga mengidentifikasi sahabat dan musuh ummat Islam. Selain itu, kitab ini juga memperingatkan persahabatan dengan orang-orang musyrik dan mengingatkan bahwa ummat kristiani adalah sahabat yang paling dekat dengan ummat Islam. Lebih dari itu, Al Quran mengemukakan data yang konkrit dan ini adalah di antara metode Al-Quran yang luar biasa.”

    Menurut Miller, “Al-Quran juga menarik perhatian para pembacanya pada hal-hal yang spesifik, bahkan kitab ini juga menyampaikan informasi-informasi baru. Informasi semacam ini tak pernah disinggung dalam kitab samawi lainnya. Sebagai contoh, surat Al-Imran ayat 44 menyampaikan peristiwa undian untuk mengasuh Sayidah Maryam as. Ayat tersebut menyebutkan, “Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.”

    Dikatakannya pula, “Dalam Kitab Injil, jika kita ingin lebih mengetahui sebuah cerita atau mengkaji permasalahan, seringkali kita tidak mendapatkan jawabannya di kitab itu dan bahkan kita harus merujuk sumber-sumber referensi lainnya. Sementara Al-Quran menyatakan, jika seseorang ragu akan kebenaran yang disampaikannya, maka Al Quran sendiri yang akan menjawabnya. Namun, setelah saya mempelajari kitab ini secara detail, saya menyimpulkan bahwa tak seorangpun dapat menanggapi tantangan Al-Quran ini, karena pada prinsipnya, informasi-informasi dalam kitab ini bersumber dari Allah Swt dan berada di luar kemampuan manusia. Kitab ini mengungkap peristiwa masa lalu, saat ini, dan masa mendatang.”

    Dr. Gary Miller kemudian mengingatkan kaum muslimin, “Wahai ummat Islam, kalian tak mengetahui betapa Allah SWT telah melimpahkan kemuliaan kepada kalian, yang tak dimiliki oleh agama-agama lain. Untuk itu, bersyukurlah karena kalian telah menjadi muslim. Berpikirlah secara mendalam untuk mengungkap kebenaran-kebenaran yang indah dalam Al-Quran. Saya mempelajari Al-Quran secara mendalam, dan kitab inilah yang menyebabkan aku mendapatkan hidayah Ilahi.” (info lebih banyak tentang Gary Miller dapat dicari di yahoo/google.com)

    ***

    Dari : Vivin Alvina

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: