Updates from April, 2016 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:08 am on 30 April 2016 Permalink | Balas  

    Risalah : Wasiat Tentang Sholat (1/8) 

    siluet sholatRisalah : Wasiat Tentang Sholat (1/8)

    Dikutip dari Majmû’ Washôyâ, Ulasan : Al-Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr Al-Jufri

    Segala puji bagi Allah yang Baqa1 dan Qidam2, Yang Maha Pemurah, penolak segala bencana, dan pemberi berbagai karunia.  Ia menciptakan kita dari tiada, dan memelihara kita sejak dalam kegelapan rahim kemudian menuntun kita ke jalan yang paling benar.

    Segala puji bagi Allah.  Betapa banyak nikmat telah Ia berikan kepada kita!  Betapa banyak kebaikan telah Ia curahkan kepada kita, kemudian Ia memberi kita pahala atas kebaikan-Nya itu dan melipat- gandakannya!  Dan betapa banyak cela dan aib kita telah disembunyikan dan dirahasiakanNya.

    Sesungguhnya pujian yang kusampaikan ini adalah nikmat terbesar yang Ia berikan kepadaku. Aku bersaksi bahwa Tiada Tuhan kecuali Allah yang tiada sekutu bagi-Nya.  Kesaksian yang akan membentengi diriku dari segala kesulitan saat di Mahsyar3 nanti.  Dan aku juga bersaksi, bahwa sesungguhnya Sayidina Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, manusia yang paling utama dalam memikul risalah dan segenap bebannya.  Semoga Allah melimpahkan sholawat dan salam kepadanya, kepada keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang menempuh jalan petunjuknya, serta mereka yang nasabnya bersambung kepadanya selama mereka masih menyadari nikmat Allah, serta merasa malu dan berinabah kepada-Nya.

    Amma Ba’du

    Ketika kusadari bahwa diriku dan sebagian besar penduduk kotaku merasa malas untuk salat, tidak mau salat berjamaah, tidak berlomba-lomba untuk beramal saleh, tidak mendekatkan diri kepada Allah, dan suka memboroskan waktu dalam kebatilan yang membingungkan akal sehat manusia, maka aku ingin memberikan peringatan sesuai dengan pengetahuan yang telah diajarkan Allah Yang Maha Tahu dan Mengerti.

    Kuakui bahwa diriku penuh kekurangan, namun nasihat ini kusampaikan dengan harapan Allah akan menyadarkan dan membukakan pintu kepada siapa pun yang mau mendengarnya, sehingga ia bersedia mencurahkan segenap tenaganya untuk mempersiapkan diri menghadapi hari hisab, memahami keagungan nikmat Allah, memohon ampun dan berinabah kepada-Nya.

    Segala puji bagi Allah.  Betapa banyak nikmat telah Ia berikan kepada kita.  Betapa banyak kebaikan telah Ia karuniakan kepada kita.  Betapa banyak keburukan telah Ia hindarkan dari kita.  Alangkah beruntung orang yang menjawab panggilan-Nya.  Betapa celaka orang yang berpaling dari pintu-Nya lalu bermaksiat kepada-Nya.  Alangkah besar musibah yang ia alami!  Alangkah jelas kerugian yang akan ia derita di hari ketika Allah menampakkan semua yang ia sembunyikan dan rahasiakan, saat kaki dan tangannya menjadi saksi atas semua keburukan yang telah dilakukannya.

    Hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya.  Setiap orang dari mereka pada hari itu memiliki urusan yang sangat menyibukkannya.

    (QS Abasa, 80:34-37)

    Hari yang penuh dengan tangis dan air mata karena keburukan yang selama ini disembunyikan, ditampakkan oleh Allah di hadapan seluruh makhluk yang menghuni bumi dan langit.  Hari saat manusia di hadapkan kepada Allah Yang Maha Perkasa.  Hari ketika alasan tak lagi berguna.

    Saudara-saudaraku, kinilah saat berbekal bagi musafir yang berjalan menuju akhirat.  Inilah saat untuk meraih keuntungan bagi orang yang melakukan perdagangan.  Bersiap-siaplah untuk pindah, karena tidak ada jalan untuk menetap di tempat ini.  Bagaimana mungkin kita terus menetap di sini!?  Bukankah telah kalian lihat orang-orang tua kalian satu demi satu meninggalkan dunia.  Apakah orang yang menyaksikan semua ini masih menginginkan bukti lagi?!  Bersegeralah sebelum hari yang panjang menyambut kalian, sebelum kalian beristirahat di tempat yang sangat buruk, sebelum kalian menangis dan meratap menghadapi bencana besar, hisab yang berat, perhitungan dari hal-hal yang paling kecil sampai pada yang paling penting.  Saat itu kalian akan mendapati amal baik kalian, dan menyesali segala yang telah kalian sia-siakan.  Di hari itu penyesalan tidak bermanfaat; alasan tidak didengar.  Karena itu, manfaatkanlah waktu yang singkat ini.  Bangkitlah, bulatkan tekad kalian, curahkan segenap tenaga, dan perbaikilah semua yang telah kalian telantarkan.

    Saudara-saudara rahimakumullah, ketahuilah bahwa sesungguhnya bencana yang dahsyat, perbuatan yang paling buruk, dan aib yang paling nista adalah kurangnya perhatian masyarakat pada salat lima waktu, salat Jumat dan salat jamaah, padahal semua itu adalah ibadah-ibadah yang dengannya Allah meninggikan derajat dan menghapuskan dosa-dosa maksiat.  Dan salat adalah cara ibadah seluruh penghuni bumi dan langit

    Iklan
     
  • erva kurniawan 1:04 am on 29 April 2016 Permalink | Balas  

    Ghibah (Mengumpat) 

    ghibahGhibah (Mengumpat)

    Kita dilarang ghibah (mengumpat). Seperti firman Allah:

    “Dan jangan sebagian kamu mengumpat sebagiannya.” (al-Hujurat: 12)

    Rasulullah s.a.w. berkehendak akan mempertajam pengertian ayat tersebut kepada sahabat-sahabatnya yang dimulai dengan cara tanya-jawab, sebagaimana tersebut di bawah ini:

    “Bertanyalah Nabi kepada mereka: Tahukah kamu apakah yang disebut ghibah itu? Mereka menjawab: Allah dan RasulNya yang lebih tahu. Maka jawab Nabi, yaitu: Kamu membicarakan saudaramu tentang sesuatu yang ia tidak menyukainya. Kemudian Nabi ditanya: Bagaimana jika pada saudaraku itu terdapat apa yang saya katakan tadi? Rasulullah s.a.w. menjawab: Jika padanya terdapat apa yang kamu bicarakan itu, maka berarti kamu mengumpat dia, dan jika tidak seperti apa yang kamu bicarakan itu, maka berarti kamu telah menuduh dia.” (Riwayat Muslim, Abu Daud, Tarmizi dan Nasa’i)

    Manusia tidak suka kalau bentuknya, perangainya, nasabnya dan ciri-cirinya itu dibicarakan. Seperti tersebut dalam hadis berikut ini:

    “Dari Aisyah ia berkata: saya pernah berkata kepada Nabi: kiranya engkau cukup (puas) dengan Shafiyah begini dan begini, yakni dia itu pendek, maka jawab Nabi: Sungguh engkau telah berkata suatu perkataan yang andaikata engkau campur dengan air laut niscaya akan bercampur.” (Riwayat Abu Daud, Tarmizi dan Baihaqi)

    Ghibah adalah keinginan untuk menghancurkan orang, suatu keinginan untuk menodai harga diri, kemuliaan dan kehormatan orang lain, sedang mereka itu tidak ada di hadapannya. Ini menunjukkan kelicikannya, sebab sama dengan menusuk dari belakang. Sikap semacam ini salah satu bentuk daripada penghancuran. Sebab pengumpatan ini berarti melawan orang yang tidak berdaya.

    Ghibah disebut juga suatu ajakan merusak, sebab sedikit sekali orang yang lidahnya dapat selamat dari cela dan cerca.

    Oleh karena itu tidak mengherankan, apabila al-Quran melukiskannya dalam bentuk tersendiri yang cukup dapat menggetarkan hati dan menumbuhkan perasaan.

    Firman Allah:

    “Dan jangan sebagian kamu mengumpat sebagiannya; apakah salah seorang di antara kamu suka makan daging bangkai saudaranya padahal mereka tidak menyukainya?!” (al-Hujurat: 12)

    Setiap manusia pasti tidak suka makan daging manusia.

    Maka bagaimana lagi kalau daging saudaranya? Dan bagaimana lagi kalau daging itu telah menjadi bangkai?

    Nabi memperoleh pelukisan al-Quran ini ke dalam fikiran dan mendasar di dalam hati setiap ada kesempatan untuk itu.

    Ibnu Mas’ud pernah berkata:

    “Kami pernah berada di tempat Nabi s.a.w., tiba-tiba ada seorang laki-laki berdiri meninggalkan majlis, kemudian ada seorang laki-laki lain mengumpatnya sesudah dia tidak ada, maka kata Nabi kepada laki-laki ini: Berselilitlah kamu! Orang tersebut bertanya: Mengapa saya harus berselilit sedangkan saya tidak makan daging? Maka kata Nabi: Sesungguhnya engkau telah makan daging saudaramu.” (Riwayat Thabarani dan rawi-rawinya rawi-rawi Bukhari)

    Dan diriwayatkan pula oleh Jabir, ia berkata:

    “Kami pernah di tempat Nabi s.a.w. kemudian menghembuslah angin berbau busuk. Lalu bertanyalah Nabi: Tahukah kamu angin apa ini? Ini adalah angin (bau) nya orang-orang yang mengumpat arang-orang mu’min.” (Riwayat Ahmad dan rawi-rawinya kepercayaan)

    Batas Perkenan Ghibah

    Seluruh nas ini menunjukkan kesucian kehormatan pribadi manusia dalam Islam. Akan tetapi ada beberapa hal yang oleh ulama-ulama Islam dikecualikan, tidak termasuk ghibah yang diharamkan. Tetapi hanya berlaku di saat darurat.

    Diantara yang dikecualikan, yaitu seorang yang dianiaya melaporkan halnya orang yang menganiaya, kemudian dia menyebutkan kejahatan yang dilakukannya. Dalam hal ini Islam memberikan rukhshah untuk mengadukannya.

    Firman Allah:

    “Allah tidak suka kepada perkataan jelek yang diperdengarkan, kecuali (dari) orang yang teraniaya, dan adalah Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” (an-Nisa’: 148)

    Kadang-kadang ada seseorang bertanya tentang pribadi orang lain karena ada maksud mengadakan hubungan dagang, atau akan mengawinkan anak gadisnya atau untuk menyerahkan suatu urusan yang sangat penting kepadanya.

    Di sini ada suatu kontradiksi antara suatu keharusan untuk mengikhlaskan diri kepada agama, dan kewajiban melindungi kehormatan orang yang tidak di hadapannya. Akan tetapi kewajiban pertama justru lebih penting dan suci. Untuk itu kewajiban pertama harus didahulukan daripada kewajiban kedua.

    Dalam sebuah kisah dituturkan, bahwa Fatimah binti Qais pernah menyampaikan kepada Nabi tentang maksud dua orang yang akan meminangnya. Maka jawab Nabi kepadanya: “Sesungguhnya dia (yang pertama) sangat miskin tidak mempunyai uang, dan Nabi menerangkan tentang yang kedua, bahwa dia itu tidak mau meletakkan tongkatnya dari pundaknya, yakni: dia sering memukul perempuan.”

    Dan termasuk yang dikecualikan juga yaitu: karena bertanya, minta tolong untuk mengubah suatu kemungkaran terhadap seseorang yang mempunyai nama, gelar atau sifat yang tidak baik tetapi dia hanya dikenal dengan nama-nama tersebut. Misalnya: A’raj (pincang), A’masy (rabun) dan anak si Anu.

    Termasuk yang dikecualikan juga, yaitu menerangkan cacatnya saksi dan rawi-rawi hadis.32

    Definisi umum tentang bentuk-bentuk pengecualian ini ada dua:

    Karena ada suatu kepentingan.

    Karena suatu niat.

    Karena suatu kepentingan

    Jadi kalau tidak ada kepentingan yang mengharuskan membicarakan seorang yang tidak hadir dengan sesuatu yang tidak disukainya, maka tidak boleh memasuki daerah larangan ini. Dan jika kepentingan itu dapat ditempuh dengan sindiran, maka tidak boleh berterang-terangan atau menyampaikan secara terbuka. Dalam hal ini tidak boleh memakai takhshish (pengecualian) tersebut.

    Misalnya seorang yang sedang minta pendapat apabila memungkinkan untuk mengatakan: “bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berbuat begini dan begini,” maka dia tidak boleh mengatakan: “bagaimana pendapatmu tentang si Anu bin si Anu.”

    Semua ini dengan syarat tidak akan membicarakan sesuatu di luar apa yang ada. Kalau tidak, berarti suatu dosa dan haram.

    Karena suatu niat

    Adanya suatu niat di balik ini semua, merupakan suatu pemisahan. Sebab pribadi manusia itu sendiri yang lebih mengetahui dorongan hatinya daripada orang lain. Maka niatlah yang dapat membedakan antara perbuatan zalim dan mengobati, antara minta pendapat dengan menyiar-nyiarkan, antara ghibah dengan mengoreksi dan antara nasehat dengan memasyhurkan. Sedang seorang mu’min, seperti dikatakan oleh suatu pendapat, adalah yang lebih berhak untuk melindungi dirinya daripada raja yang kejam dan kawan yang bakhil.

    Hukum Islam menetapkan, bahwa seorang pendengar adalah rekan pengumpat. Oleh karena itu dia harus menolong saudaranya yang di umpat itu dan berkewajiban menjauhkannya. Seperti yang diungkapkan oleh hadis Rasulullah sa,w.:

    “Barangsiapa menjauhkan seseorang dari mengumpat diri saudaranya, maka adalah suatu kepastian dari Allah, bahwa Allah akan membebaskan dia dari Neraka.” (Riwayat Ahmad dengan sanad hasan)

    “Barangsiapa menghalang-halangi seseorang dari mengumpat harga diri saudaranya, maka Allah akan menghalang-halangi dirinya dari api neraka, kelak di hari kiamat.” (Riwayat Tarmizi dengan sanad hasan)

    Barangsiapa tidak mempunyai keinginan ini dan tidak mampu menghalang-halangi mulut-mulut yang suka menyerang kehormatan saudaranya itu, maka kewajiban yang paling minim, yaitu dia harus meninggalkan tempat tersebut dan membelokkan kaum tersebut, sehingga mereka masuk ke dalam pembicaraan lain. Kalau tidak, maka yang tepat dia dapat dikategorikan dengan firman Allah:

    “Sesungguhnya kamu, kalau demikian adalah sama dengan mereka” (an-Nisa’: 140)

    Mengadu Domba

    Ketujuh: Kalau ghibah dalam Islam disebut sebagai suatu dosa, maka ada suatu perbuatan yang lebih berat lagi, yaitu mengadu domba (namimah). Yaitu memindahkan omongan seseorang kepada orang yang dibicarakan itu dengan suatu tujuan untuk menimbulkan permusuhan antara sesama manusia, mengotori kejernihan pergaulan dan atau menambah keruhnya pergaulan.

    Al-Quran menurunkan ayat yang mencela perbuatan hina ini sejak permulaan perioda Makkah. Firman Allah:

    “Dan jangan kamu tunduk kepada orang yang suka sumpah yang hina, yang suka mencela orang, yang berjalan ke sana ke mari dengan mengadu domba.” (al-Qalam: 10-11)

    Dan sabda Rasulullah s.a.w.:

    “Tidak masuk sorga orang-orang yang suka mengadu domba.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Qattat, kadang-kadang disebut juga nammam, yaitu seorang berkumpul bersama orang banyak yang sedang membicarakan suatu pembicaraan, kemudian dia menghasut mereka.

    Dan qattat itu sendiri, yaitu seseorang yang memperdengarkan sesuatu kepada orang banyak padahal mereka tidak mengetahuinya, kemudian dia menghasut mereka itu.

    Rasulullah s.a.w. pernah bersabda:

    “Sejelek-jelek hamba Allah yaitu orang-orang berjalan ke sana ke mari dengan mengadu domba, yang memecah-belah antara kekasih, yang suka mencari-cari cacat orang-orang yang baik.” (Riwayat Ahmad)

    Islam, dalam rangka memadamkan pertengkaran dan mendamaikan pertentangan, membolehkan kepada juru pendamai itu untuk merahasiakan omongan tidak baik yang dia ketahui dari omongan seseorang tentang diri orang lain. Dan boleh juga dia menambah omongan baik yang tidak didengarnya. Seperti yang dikatakan Nabi dalam hadisnya:

    “Tidak termasuk dusta orang yang mendamaikan antara dua orang, kemudian dia berkata baik atau menambah suatu omongan baik.”

    Islam sangat membenci orang-orang yang suka mendengarkan omongan jelek, kemudian cepat-cepat memindahkan omongan itu dengan menambah-nambah untuk memperdaya atau karena senang adanya kehancuran dan kerusakan.

    Manusia semacam ini tidak mau membatasi diri sampai kepada apa yang didengar itu saja, sebab keinginan untuk menghancurkan itulah yang mendorongnya menambah omongan yang mereka dengar. Dan jika mereka tidak mendengar, mereka berdusta.

    Kata seorang penyair:

    Kalau mereka mendengar kebaikan, disembunyikan

    Dan kalau mendengarkan kejelekan, disiarkan

    tetapi jika tidak mendengar apa-apa, ia berdusta.

    Ada seorang laki-laki masuk ke tempat Umar bin Abdul Aziz, kemudian membicarakan tentang hal seseorang yang tidak disukainya. Maka berkatalah Umar kepada si laki-laki tersebut; kalau boleh kami akan menyelidiki permasalahanmu itu. Tetapi jika kamu berdusta, maka kamu tergolong orang yang disebutkan dalam ayat ini:

    “Jika datang kepadamu seorang fasik dengan membawa suatu berita, maka selidikilah.” (al-Hujurat: 6)

    Dan jika kamu benar, maka kamu tergolong orang yang disebutkan dalam ayat:

    “Orang yang suka mencela, yang berjalan ke sana ke mari dengan mengadu domba.” (al-Qalam: 11)

    Tetapi kalau kamu suka, saya akan memberi pengampunan. Maka jawab orang laki-laki tersebut: pengampunan saja ya amirul mu’minin, saya berjanji tidak akan mengulangi lagi.

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 28 April 2016 Permalink | Balas  

    Mendamaikan Persengketaan 

    takwaMendamaikan Persengketaan

    Kalau cuaca pertengkaran itu telah cerah kembali sesuai dengan keharusan bersaudara, maka bagi masyarakat Islam mempunyai kewajiban lain. Sebab sepanjang pengertian masyarakat Islam yaitu suatu masyarakat yang saling saling membantu dan saling menolong. Oleh karena itu tidak boleh sementara orang melihat saudaranya bertengkar dan saling membunuh, kemudian dia berdiri sebagai penonton, dan membiarkan api bertambah menyala dan kebakaran makin meluas. Bahkan setiap orang yang arif dan bijaksana serta ada kemampuan, harus terjun ke gelanggang guna mendamaikan persengketaan itu dengan niat semata-mata mencari kebenaran dan jauh dari pengaruh hawa nafsu. Seperti apa yang difirmankan Allah:

    “… maka adakanlah perdamaian di antara saudara-saudaramu, dan takutlah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (al-Hujurat: 10)

    Dalam salah satu hadisnya Rasulullah s.a.w. pernah menjelaskan tentang keutamaan mendamaikan ini, serta bahayanya pertentangan dan perpisahan. Sabda Rasulullah s.a.w.:

    “Maukah kamu saya tunjukkan suatu perbuatan yang lebih utama daripada tingkatan keutamaan sembahyang, puasa dan sedekah? Mereka menjawab: Baiklah ya Rasulullah! Maka bersabdalah Rasulullah s.a.w.: yaitu mendamaikan persengketaan yang sedang terjadi; sebab kerusakan karena persengketaan berarti menggundul, saya tidak mengatakan menggundul rambut, tetapi menggundul agama.” (Riwayat Tarmizi dan lain-lain)

    Jangan Ada Suatu Golongan Memperolokkan Golongan Lain

    Dalam ayat-ayat yang telah kami sebutkan terdahulu terdapat sejumlah hal yang dilarang oleh Allah, demi melindungi persaudaraan dan kehormatan manusia.

    Larangan pertama. tentang memperolokkan orang lain. Oleh karena itu tidak halal seorang muslim yang mengenal Allah dan mengharapkan hidup bahagia di akhirat kelak, memperolokkan orang lain, atau menjadikan sementara orang sebagai objek permainan dan perolokannya. Sebab dalam hal ini ada unsur kesombongan yang tersembunyi dan penghinaan kepada orang lain, serta menunjukkan suatu kebodohannya tentang neraca kebajikan di sisi Allah. Justru itu Allah mengatakan: “Jangan ada suatu kaum memperolokkan kaum lain, sebab barangkali mereka yang diperolokkan itu lebih baik daripada mereka yang memperolokkan; dan jangan pula perempuan memperolokkan perempuan lain, sebab barangkali mereka yang diperolokkan itu lebih baik daripada mereka yang memperolokkan.”

    Yang dinamakan baik dalam pandangan Allah, yaitu: iman, ikhlas dan mengadakan kontak yang baik dengan Allah. Bukan dinilai dari rupa, badan, pangkat dan kekayaan.

    Dalam hadisnya Rasulullah s.a.w. mengatakan:

    “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kamu dan kekayaan kamu, tetapi Allah melihat hati kamu dan amal kamu.” (Riwayat Muslim)

    Bolehkah seorang laki-laki atau perempuan diperolokkan karena suatu cacat di badannya, perangainya atau karena kemiskinannya?

    Dalam sebuah riwayat diceriterakan, bahwa Ibnu Mas’ud pernah membuka betisnya dan nampak kecil sekali. Maka tertawalah sebagian orang. Lantas Rasulullah s.a.w. bersabda:

    “Apakah kamu mentertawakan kecilnya betis Ibnu Mas’ud, demi Allah yang diriku dalam kekuasaanNya: bahwa kedua betisnya itu timbangannya lebih berat daripada gunung Uhud.” (Riwayat Thayalisi dan Ahmad)

    Al-Quran juga menghikayatkan tentang orang-orang musyrik yang memperolok orang-orang mu’min, lebih-lebih mereka yang lemah –seperti Bilal dan ‘Amman– kelak di hari kiamat, neraca menjadi terbalik, yang mengolok-olok menjadi yang diolok-olok dan ditertawakan,

    Firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang durhaka itu mentertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka melalui mereka, mereka berlirik-lirikan. Dan apabila mereka kembali kepada keluarganya, mereka kembali dengan suka cita. Dan apabila mereka melihat mereka itu, mereka berkata: ‘Sungguh mereka itu orang-orang yang sesat.’ Padahal mereka itu tidak diutus untuk menjadi pengawal atas mereka. Oleh karena itu pada hari ini orang-orang mu’min akan mentertawakan orang-orang kafir itu.” (al-Muthaffifin 29-34)

    Ayat ini31 dengan tegas dan jelas menyebutkan dilarangnya perempuan mengolok-olok orang lain, padahal perempuan sudah tercakup dalam kandungan kata kaum. Ini menunjukkan, bahwa pengolok-olokan sementara perempuan terhadap yang lain, termasuk hal yang biasa terjadi di kalangan mereka.

    Jangan Mencela Diri-Diri Kamu

    Larangan kedua: Tentang lumzun, yang menurut arti lughawi berarti: al-wakhzu (tusukan) dan ath-tha’nu (tikaman). Sedang lumzun yang dimaksud di sini ialah: ‘aib (cacat). Jadi seolah-olah orang yang mencela orang lain, berarti menusuk orang tersebut dengan ketajaman pedangnya, atau menikam dengan hujung tombaknya.

    Penafsiran ini tepat sekali. Bahkan kadang-kadang tikaman lidah justru lebih hebat. Seperti kata seorang penyair:

    Luka karena tombak masih dapat diobati, Tetapi luka karena lidah berat untuk diperbaiki.

    Bentuk larangan dalam ayat ini mempunyai suatu isyarat yang indah sekali.

    Ayat tersebut mengatakan: laa talmizu anfusakum (jangan kamu mencela diri-diri kamu). Ini tidak berarti satu sama lain saling cela-mencela. Tetapi al-Quran menuturkan dengan jama’atul mu’minin, yang seolah-olah mereka itu satu tubuh. Sebab mereka itu secara keseluruhannya saling membantu dan menolong. Jadi barangsiapa mencela saudaranya, berarti sama dengan mencela dirinya sendiri. Karena dia itu dari dan untuk saudaranya.

    Jangan Memberi Gelar dengan Gelar-Gelar yang Tidak Baik

    Ketiga: Termasuk mencela yang diharamkan, ialah: memberi gelar dengan beberapa gelar yang tidak baik, yaitu suatu panggilan yang tidak layak dan tidak menyenangkan yang membawa kepada suatu bentuk penghinaan dan celaan.

    Tidak layak seorang manusia berbuat jahat kepada kawannya. Dipanggilnya kawannya itu dengan gelar yang tidak menyenangkan bahkan menjengkelkan. Ini bisa menyebabkan berubahnya hati dan permusuhan sesama kawan serta menghilangkan jiwa kesopanan dan perasaan yang tinggi.

    Su’uzh-Zhan (Berburuk Sangka)

    Keempat: Islam menghendaki untuk menegakkan masyarakatnya dengan penuh kejernihan hati dan rasa percaya yang timbal balik; bukan penuh ragu dan bimbang, menuduh dan bersangka-sangka,

    Untuk itu, maka datanglah ayat al-Quran membawakan keempat sikap yang diharamkan ini, demi melindungi kehormatan orang lain. Maka berfirmanlah Allah:

    “Hai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak menyangka, karena sesungguhnya sebagian sangkaan itu berdosa.” (al-Hujurat: 12)

    Sangkaan yang berdosa, yaitu sangkaan yang buruk.

    Oleh karena itu tidak halal seorang muslim berburuk sangka terhadap saudaranya, tanpa suatu alasan dan bukti yang jelas. Sebab manusia secara umum pada asalnya bersih. Oleh karena itu prasangka-prasangka tidak layak diketengahkan dalam arena kebersihan ini justru untuk menuduh. Sabda Nabi: “Hati-hatilah kamu terhadap prasangka, karena sesungguhnya prasangka itu sedusta-dusta omongan.” (Riwayat Bukhari)

    Manusia karena kelemahan sifat kemanusiaannya, tidak dapat menerima prasangka dan tuduhan oleh sebagian manusia, lebih-lebih terhadap orang-orang yang tidak ada hubungan baik.

    Oleh karena itu sikap yang harus ditempuh, dia harus tidak menerima tuduhan itu dan berjalan mengikuti suara nafsu tersebut.

    Inilah makna hadis Nabi yang mengatakan: “Kalau kamu akan menyangka, maka jangan kamu nyatakan.” (Riwayat Thabarani)

    Tajassus (Memata-matai)

    Kelima: Tidak adanya kepercayaan terhadap orang lain, menyebabkan seseorang untuk melakukan perbuatan batin yang disebut su’uzh-zhan dan melakukan perbuatan badan yang berbentuk tajassus. Sedang Islam bertujuan menegakkan masyarakatnya dalam situasi bersih lahir dan batin. Oleh karena itu larangan bertajassus ini dibarengi dengan larangan su’uzh-zhan (berburuk sangka). Dan banyak sekali su’uzh-zhan ini terjadi karena adanya tajassus.

    Setiap manusia mempunyai kehormatan diri yang tidak boleh dinodai dengan tajassus dan diselidiki cacat-cacatnya, sekalipun dia berbuat dosa, selama dilakukan dengan bersembunyi.

    Abul Haitsam sekretaris Uqbah bin ‘Amir –salah seorang sahabat Nabi– berkata: saya pernah berkata kepada Uqbah: saya mempunyai tetangga yang suka minum arak dan akan saya panggilkan polisi untuk menangkapnya. Maka kata Uqbah: Jangan! Tetapi nasehatilah mereka itu dan peringatkanlah. Abul Haitsam menjawab: Sudah saya larang tetapi mereka tidak mau berhenti, dan tetap akan saya panggilkan polisi untuk menangkapnya. Uqbah berkata: Celaka kamu! Jangan! Sebab saya pernah mendengar Rasulullah s.a.w. berkata:

    “Barangsiapa menutupi suatu cacat, maka seolah-olah ia telah menghidupkan anak yang ditanam hidup-hidup dalam kuburnya.” (Riwayat Abu Daud, Nasa’i, Ibnu Hibban)

    Rasulullah s.a.w. menilai, bahwa menyelidiki cacat orang lain itu termasuk perbuatan orang munafik yang mengatakan beriman dengan lidahnya tetapi hatinya membenci. Kelak mereka akan dibebani dosa yang berat di hadapan Allah.

    Dalam hadis Nabi yang diriwayatkan dari Ibnu Umar ia berkata: Rasulullah s.a.w, pernah naik mimbar kemudian menyeru dengan suara yang keras:

    “Hai semua orang yang telah menyatakan beriman dengan lidahnya tetapi iman itu belum sampai ke dalam hatinya! Janganlah kamu menyakiti orang-orang Islam dan jangan kamu menyelidiki cacat-cacat mereka. Sebab barangsiapa menyelidiki cacat saudara muslim, maka Allah pun akan menyelidiki cacatnya sendiri; dan barangsiapa yang oleh Allah diselidiki cacatnya, maka Ia akan nampakkan kendatipun dalam perjalanan yang jauh.” (Riwayat Tarmizi dan Ibnu Majah)

    Maka demi melindungi kehormatan orang lain, Rasulullah s.a.w. mengharamkan dengan keras seseorang mengintip rumah orang lain tanpa izin; dan ia membenarkan pemilik rumah untuk melukainya. Seperti sabda Nabi:

    “Barangsiapa mengintip rumah suatu kaum tanpa izin mereka, maka halal buat mereka untuk menusuk matanya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Diharamkan juga mendengar-dengarkan omongan mereka tanpa sepengetahuan dan perkenannya. Sabda Nabi:

    “Barangsiapa mendengar-dengarkan omongan suatu kaum; sedang mereka itu tidak suka, maka kelak di hari kiamat kedua telinganya akan dituangi cairan timah.” (Riwayat Bukhari)

    Al-Quran mewajibkan kepada setiap muslim yang berkunjung ke rumah kawan, supaya jangan masuk lebih dahulu, sehingga ia minta izin dan memberi salam kepada penghuninya.

    Firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman! Jangan kamu masuk rumah selain rumah-rumah kamu sendiri, sehingga kamu minta izin lebih dahulu dan memberi salam kepada pemiliknya. Yang demikian itu lebih baik bagi kamu, supaya kamu ingat. Maka jika kamu tidak menjumpai seorang pun dalam rumah itu, maka jangan kamu masuk, sehingga kamu diberi izin. Dan jika dikatakan kepadamu: kembalilah! Maka kembalilah kamu. Yang demikian itu lebih bersih buat kamu, dan Allah Maha Menge tahui apa saja yang kamu kerjakan.” (an-Nur: 27-28)

    Di dalam hadis Nabi, juga dikatakan: “Barangsiapa membuka tabir kemudian dia masukkan pandangannya sebelum diizinkan, maka sungguh dia telah melanggar suatu hukum yang tidak halal baginya untuk dikerjakan.” (Riwayat Ahmad dan Tarmizi)

    Nas-nas larangan tentang tajassus dan menyelidiki cacat orang lain ini meliputi hakim dan yang terhukum, seperti yang diterangkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Mu’awiyah dari Rasulullah s.a.w. ia bersabda:

    “Sesungguhnya kamu jika menyelidiki carat orang lain, berarti kamu telah merusak mereka atau setidak-tidaknya hampir- merusak mereka itu.” (Riwayat Abu Daud dan ibnu Hibban)

    Abu Umamah meriwayatkan dari Rasulullah s.a.w., ia bersabda: “Sesungguhnya seorang kepala apabila mencari keraguraguan terhadap orang lain, maka ia telah merusak mereka.” (Riwayat Abu Daud)

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 27 April 2016 Permalink | Balas  

    Aku Sangat Bangga Menjadi Anak Ayah 

    siluet-anak-dan-ayahAku Sangat Bangga Menjadi Anak Ayah

    Aku bukan orang yang suka menguping percakapan orang lain. Tapi pada suatu malam, sewaktu aku melintasi halaman rumah kami, aku ternyata melakukannya. Istriku, Zahra, sedang berbicara pada putra kami selagi ia duduk di dapur.

    Jadi, aku berhenti untuk mendengarkan diluar pintu belakang. Sepertinya Zahra mendengar beberapa teman anakku menyombongkan pekerjaan ayah mereka.

    Bahwa ayah mereka semuanya adalah para eksekutif hebat “.. lalu mereka bertanya pada putra kami.

    “Ayahmu memiliki karier bagus macam apa ?”, mulailah mereka bertanya.

    Putra kami menggumam perlahan sambil memalingkan muka, “Ia hanya seorang buruh.”

    Istriku yang baik menunggu sampai mereka semua pulang, lalu memanggil masuk putra kecil kami.

    Kata Zahra, “Ibu ingin bicara padamu, Nak,” seraya mencium pipinya yang berlesung pipit.

    “Kamu bilang , ayah hanya seorang buruh, dan apa yang kamu katakan itu benar, Nak. Tapi ibu ragu, apakah kamu tahu apa arti yang sebenarnya. Jadi Ibu akan menjelaskan padamu, Nak.”

    “Dalam seluruh industri yang membuat negeri kita hebat. Dalam semua toko dan warung dan truk yang menarik muatan setiap hari”..

    “Setiap kali kamu melihat rumah baru dibangun, ingatlah, anakku. Diperlukan buruh biasa untuk menyelesaikan pekerjaan besar itu !”

    “Memang benar”..para eksekutif hebat punya meja bagus dan selalu rapi sepanjang hari. Mereka merencanakan proyek besar untuk diselesaikan”..dan mengirim memo untuk disampaikan. Tapi untuk mengubah impian mereka menjadi kenyataan, ingatlah ini, anakku. Perlu seorang buruh biasa untuk menyelesaikan pekerjaan besar itu !”

    “Kalau semua bos meninggalkan meja mereka dan libur selama setahun, roda industri masih bisa berjalan, berputar dengan cepat. Jika orang seperti ayahmu berhenti bekerja, industri itu tak bisa berjalan. Perlu seorang buruh biasa untuk menyelesaikan pekerjaan besar itu !”

    Aku menelan air mata dan berdehem saat memasuki pintu.

    Mata putra kecilku berbinar gembira saat ia melihatku. Ia melompat dari lantai dan langsung memelukku sambil berkata, “Ayah, aku sangat bangga menjadi anak ayah”..karena ayah adalah 1 dari orang-orang istimewa yang menyelesaikan pekerjaan besar.”

    For my Zahra,

    Miss u so much!

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 26 April 2016 Permalink | Balas  

    Berzina Seribu Kali 

    taubat (1)Berzina Seribu Kali

    Pada suatu senja yang lengang, terlihat seorang wanita berjalan terhuyung-huyung. Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahwa ia berada dalam dukacita yang mencekam. Kerudungnya menangkup rapat hampir seluruh wajahnya.Tanpa rias muka atau perhiasan menempel di tubuhnya. Kulit yang bersih, badan yang ramping dan roman mukanya yang ayu, tidak dapat menghapus kesan kepedihan yang tengah meruyak hidupnya. Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabi Musa a.s. Diketuknya pintu pelan-pelan sambil mengucapkan uluk salam. Maka terdengarlah ucapan dari dalam “Silakan masuk”.

    Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk. Air matanya berderai tatkala ia berkata, “Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya. Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya.” Apakah dosamu wahai wanita ayu?” tanya Nabi Musa as terkejut. “Saya takut mengatakannya.” jawab wanita cantik.

    “Katakanlah jangan ragu-ragu!” desak Nabi Musa.

    Maka perempuan itupun terpatah bercerita, “Saya ……telah berzina.” Kepala Nabi Musa terangkat, hatinya tersentak.

    Perempuan itu meneruskan, “Dari perzinaan itu sayapun……lantas hamil. Setelah anak itu lahir, langsung saya……. cekik lehernya sampai……tewas”, ucap wanita itu seraya menangis sejadi-jadinya.

    Nabi musa berapi-api matanya. Dengan muka berang ia menghardik Perempuan bejad, enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi !…” teriak Nabi Musa sambil memalingkan mata karena jijik.

    Perempuan berwajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh segera bangkit dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk keluar dari dalam rumah Nabi Musa. Ratap tangisnya amat memilukan. Ia tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu. Bahkan ia tak tahu mau di bawa kemana lagi kaki-kakinya. Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya? Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya. Ia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa. Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya, “Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertobatdari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya?”

    Nabi Musa terperanjat. Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?” Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril. “Betulkah ada dosa yang lebih besar dari pada perempuan yang nista itu?” ” Ada !” jawab Jibril dengan tegas

    “Dosa apakah itu?” tanya Musa kian penasaran.

    “Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar daripada seribu kali berzina” Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut.

    Nabi Musa menyadari, orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa sholat itu tidak wajib dan tidak perlu atas dirinya. Berarti ia seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur dan memerintah hamba-Nya. Sedang orang yang bertobat dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman di dadanya dan yakin bahwa Allah itu berada di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima kedatangannya.

    Dalam hadist Nabi SAW disebutkan: Orang yang meninggalkan sholat lebih besar dosanya dibanding dengan orang yang memmbakar 70 buah Al-Qur’an, membunuh 70 nabi dan bersetubuh dengan ibunya di dalam Ka’bah. Dalam hadist yang lain disebutkan bahwa orang yang meninggalkan sholat sehingga terlewat waktu, kemudian ia mengqadanya, maka ia akan disiksa dalam neraka selama satu huqub. Satu huqub adalah delapan puluh tahun. Satu tahun terdiri dari 360 hari, sedangkan satu hari diakherat perbandingannya adalah seribu tahun di dunia. Demikianlah kisah Nabi Musa dan wanita pezina dan dua hadist Nabi, mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi kita dan timbul niat untuk melaksanakan kewajiban sholat dengan istiqomah.

    Tolong sebarkan kepada saudara-saudara kita yang belum mengetahui. Subhanakallahumma wabihamdika asyadu’ala ilaha illa anta, astagfiruka wa’atubuilaik. Wassalam

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 25 April 2016 Permalink | Balas  

    Risalah : Penyesalan, Istighfar, dan Tobat 

    Taubat 1Risalah : Penyesalan, Istighfar, dan Tobat

    Ulasan: Habib Abdullah Al-Haddad

    Penyesalan 

    Penyesalan adalah lenyapnya segala keinginan untuk melakukan perbuatan yang dapat menyebabkan Allah murka, misalnya: melakukan kemaksiatan atau melalaikan kewajiban. Perubahan keadaan hati ini diiringi dengan perasaan sedih dan duka.

    Penyesalan kadang kala timbul karena terlalu banyak melakukan perbuatan yang mubah, atau karena kurang banyak melaksanakan perbuatan-perbuatan sunah (nawâfil) yang dapat mendekatkan manusia kepada Allah. Penyesalan sejati (sidq) akan mendorong seseorang untuk berubah dari sikap yang penuh dengan ketidaksempurnaan (taqshîr/incapacity) menjadi sikap yang penuh dengan ketekunan (tasymîr). Jika proses penyesalan berlangsung dengan benar, maka hampir seluruh persyaratan tobat terpenuhi. Karena itulah Rasulullah saw bersabda, “Penyesalan adalah tobat.” (HR Ibnu Majah dari Ibnu Mas‘ud)

    Orang yang menyesali perbuatannya yang tercela, tetapi selalu mengulangnya kembali, maka penyesalannya sia-sia belaka.

    Istighfar 

    Istighfar adalah permohonan ampun kepada Allah.  Dan ampunan Allah adalah tirai (sitr) penutup segala dosa. Jika Allah dengan kemurahan-Nya mengampuni kesalahan manusia, maka Ia tidak akan mencemarkan maupun menyiksanya, baik di dunia maupun di akhirat1.

    Jenis ampunan yang paling mulia adalah tirai yang oleh Allah dijadikan pendinding antara makhluk dengan dosa-dosanya, sehingga seakan-akan ia tidak berdosa sama sekali. Dalam bahasa kenabian tirai itu disebut ‘ishmah2, sedangkan bagi wali disebut hifdh (penjagaan).

    Allah menujukan firman-Nya kepada pemimpin yang ma’shûm, Rasulullah saw:

    Mohon ampunlah bagi dosamu dan dosa orang-orang mukmin.  (QS Muhammad, 47:19)

    Agar Allah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. (QS Al Fath, 48:2)

    Kita semua telah maklum, bahwa Rasulullah saw tidak pernah berbuat dosa. Dalam ayat tadi Allah mengingatkan Rasullullah saw atas nikmat ishmah (perlindungan) dari hal-hal yang dapat menjauhkan beliau dari Allah. Oleh karena itu, Allah memerintahkan Rasulullah untuk berdoa memohonkan ampunan bagi kaum mukminin dan mukminat.  Sebab doa berarti syukur, dan syukur merupakan cara untuk mendapatkan tambahan nikmat.

    “Jika kalian bersyukur pasti Aku akan menambah (kenikmatan) kepada kalian.” (QS Ibrâhim, 14:7)

    Wallôhu a’lam.

    Tobat 

    Langkah awal yang harus ditempuh oleh seorang murîd dalam perjalanannya menuju Allah adalah tobat dengan sungguh-sungguh kepada Allah SWT atas segala dosa-dosanya. Jika ditangannya masih ada hak orang yang dahulu pernah dizaliminya, hendaknya segera ia kembalikan. Namun, jika hal itu tidak mungkin dilakukan, maka hendaknya ia meminta agar orang itu menghalalkannya. Sebab, seseorang yang masih memegang hak-hak orang lain, tidak mungkin dapat mendekatkan diri kepada Al-Haq (Allah)

    Syarat sahnya tobat adalah sidqun nadam (penyesalan sungguh-sungguh) atas segala dosa dengan diiringi tekad kuat untuk tidak mengulang kembali perbuatan buruk itu seumur hidup. Barang siapa bertobat dari suatu dosa, namun ia selalu mengulang kembali perbuatannya, atau bertekad untuk melakukannya kembali, maka tobatnya tidak sah.

    Seorang murîd hendaknya selalu mengakui bahwa ia tidak dapat menunaikan hak-hak Tuhannya dengan sempurna. Setiap kali ia merasa sedih atas segala kekurangannya, dan hatinya luluh karena menyadari kenyataan itu, maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah saat itu bersamanya.

    Allah SWT telah berfirman (dalam sebuah hadis qudsi): “Aku bersama orang-orang yang hatinya luluh karena Ku.”

    Tobat (Nafâisul Uluwiyyah, hal. 30)

    Barang siapa bertobat dari suatu dosa, tetapi kemudian mengulang kembali perbuatannya, maka tobatnya yang terdahulu tidak gugur. Namun ia harus bertobat lagi. Ini adalah salah satu kemurahan Allah bagi kita semua. Segala puji bagi Allah. Kita tidak akan mampu memuji-Nya sebanyak pujian-Nya kepada diri-Nya sendiri.

    Dalam suatu hadis disebutkan:

    Sesungguhnya Allah SWT membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima tobat orang yang berbuat buruk di siang hari. Dan membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima tobat orang yang berbuat buruk di malam hari. Sesungguhnya di sebelah barat ada pintu yang lebarnya sejauh 40 hari perjalanan matahari. Pintu itu selalu terbuka untuk tobat hingga matahari terbit dari arah barat (kiamat). Dan sesungguhnya Allah SWT selalu menerima tobat seorang hamba sebelum ghorghoroh.

    Ghorghoroh adalah keadaan sekarat, yakni ketika ruh telah sampai ke tenggorokan.

    Dari uraian di atas dapat kamu ketahui hukum dan kedudukan tobat dalam agama.

    Orang yang hendak bertobat dari perbuatan zalim yang pernah ia lakukan, maka ia harus mengembalikan barang yang ia ambil jika ia menzalimi harta seseorang, dan ia harus menjalani hukum qishash dan minta dihalalkan jika ia menzalimi diri atau kehormatannya. Tetapi, jika ia sama sekali tidak dapat memenuhi persyaratan ini, maka hendaknya ia berbuat semampunya, kemudian dengan mengharap kemurahan Allah, hendaknya ia berdoa agar kelak di akhirat orang-orang yang pernah ia zalimi meridhoinya.

    Jika ia meninggalkan kewajiban-kewajibannya, misalnya: salat, puasa dan zakat, maka ia wajib mengqodhonya. Qodho itu boleh dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuannya. Jangan sampai ia mempersulit dirinya, tetapi ia juga tidak boleh meremehkannya, karena syariat agama ini terdiri dari aturan-aturan yang kokoh.

    Rasulullah saw bersabda:

    “Aku diutus membawa agama yang penuh toleransi.”  (HR Ahmad)

    “Permudahlah jangan mempersulit; berilah kabar gembira jangan buat mereka lari.”  (HR Bukhari)

    Seorang salaf yang saleh telah cukup lama memohon kepada Allah SWT untuk memberinya tobat nasuha, namun ia tidak melihat tanda-tanda pengabulan doanya. Ia merasa heran, tetapi kemudian bermimpi.  Dalam mimpinya, seseorang berkata kepadanya, “Apakah kamu pikir yang kamu pinta itu sebuah persoalan yang mudah. Sadarkah kamu bahwa kamu telah meminta untuk dicintai Allah SWT?  Tidak pernahkah kamu mendengar firman-Nya:

    “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS Al-Baqarah, 2:222)

    Semoga Allah memberi kita tobat nasuha dalam keadaan sehat wal afiat dan mengakhiri usia kita dalam husnul khôtimah.

    Catatan kaki

    1.Dalam hadis qudsi Allah SWT berfirman: “Aku Maha Mulia lagi Maha besar, tidak pantas bagi-Ku bila Aku menutupi dosa seorang Muslim di dunia ini lalu Aku membeberkannya (di hari kiamat).  Aku selalu mengampuni hamba-Ku selagi ia meminta ampun kepada-Ku.” (HR Hakim dari Hasan)

    2.Penjagaan dan pemeliharaan Allah SWT dari perbuatan dosa dan kesalahan.

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 24 April 2016 Permalink | Balas  

    Hikmah Diharamkannya Riba 

    ribaHikmah Diharamkannya Riba

    Islam dalam memperkeras persoalan haramnya riba, semata-mata demi melindungi kemaslahatan manusia, baik dari segi akhlaknya, masyarakatnya maupun perekonomiannya.

    Kiranya cukup untuk mengetahui hikmahnya seperti apa yang dikemukakan oleh Imam ar-Razi dalam tafsirnya sebagai berikut:

    1. Riba adalah suatu perbuatan mengambil harta kawannya tanpa ganti. Sebab orang yang meminjamkan uang 1 dirham dengan 2 dirham, misalnya, maka dia dapat tambahan satu dirham tanpa imbalan ganti. Sedang harta orang lain itu merupakan standard hidup dan mempunyai kehormatan yang sangat besar, seperti apa yang disebut dalam hadis Nabi:

    “Bahwa kehormatan harta manusia, sama dengan kehormatan darahnya.”

    Oleh karena itu mengambil harta kawannya tanpa ganti, sudah pasti haramnya.

    1. Bergantung kepada riba dapat menghalangi manusia dari kesibukan bekerja. Sebab kalau si pemilik uang yakin, bahwa dengan melalui riba dia akan beroleh tambahan uang, baik kontan ataupun berjangka, maka dia akan mengentengkan persoalan mencari penghidupan, sehingga hampir-hampir dia tidak mau menanggung beratnya usaha, dagang dan pekerjaan-pekerjaan yang berat. Sedang hal semacam itu akan berakibat terputusnya bahan keperluan masyarakat dan satu hal yang tidak dapat disangkal lagi, bahwa kemaslahatan dunia seratus persen ditentukan oleh jalannya perdagangan, pekerjaan, perusahaan dan pembangunan.

    (Tidak diragukan lagi, bahwa hikmah ini pasti dapat diterima, dipandang dari segi perekonomian).

    1. Riba akan menyebabkan terputusnya sikap yang baik (ma’ruf) antara sesama manusia dalam bidang pinjam-meminjam. Sebab kalau riba itu diharamkan, maka seseorang akan merasa senang meminjamkan uang satu dirham dan kembalinya satu dirham juga. Tetapi kalau riba itu dihalalkan, maka sudah pasti kebutuhan orang akan menganggap berat dengan diambilnya uang satu dirham dengan diharuskannya mengembalikan dua dirham. Justru itu, maka terputuslah perasaan belas-kasih dan kebaikan.

    (Ini suatu alasan yang dapat diterima, dipandang dari segi ethik).

    1. Pada umumnya pemberi piutang adalah orang yang kaya, sedang peminjam adalah orang yang tidak mampu. Maka pendapat yang membolehkan riba, berarti memberikan jalan kepada orang kaya untuk mengambil harta orang miskin yang lemah sebagai tambahan. Sedang tidak layak berbuat demikian sebagai orang yang memperoleh rahmat Allah.

    (Ini ditinjau dari segi sosial).

    Ini semua dapat diartikan, bahwa riba terdapat unsur pemerasan terhadap orang yang lemah demi kepentingan orang kuat (exploitasion de l’home par l’hom) dengan suatu kesimpulan: yang kaya bertambah kaya, sedang yang miskin tetap miskin. Hal mana akan mengarah kepada membesarkan satu kelas masyarakat atas pembiayaan kelas lain, yang memungkinkan akan menimbulkan golongan sakit hati dan pendengki; dan akan berakibat berkobarnya api terpentangan di antara anggota masyarakat serta membawa kepada pemberontakan oleh golongan ekstrimis dan kaum subversi.

    Sejarah pun telah mencatat betapa bahayanya riba dan si tukang riba terhadap politik, hukum dan keamanan nasional dan internasional.

    Pemberi Riba dan Penulisnya

    Pemakan riba ialah pihak pemberi piutang yang memiliki uang dan meminjamkan uangnya itu kepada peminjam dengan rente yang lebih dari pokok. Orang yang semacam ini tidak diragukan lagi akan mendapat laknat Allah, dan laknat seluruh manusia. Akan tetapi Islam, dalam tradisinya tentang masalah haram, tidak hanya membatasi dosa itu hanya kepada yang makan riba, bahkan terlibat dalam dosa orang yang memberikan riba itu, yaitu yang berhutang dan memberinya rente kepada piutang. Begitu juga penulis dan dua orang saksinya. Seperti yang dinyatakan dalam hadis Nabi:

    “Allah akan melaknat pemakan riba, yang memberi makan, dua orang saksinya dan jurutulisnya.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Tarmizi, Nasa’i dan Ibnu Majah)

    Tetapi apabila di situ ada suatu keharusan yang tidak dapat dihindari dan mengharuskan kepada si peminjam untuk memberinya rente, maka waktu itu dosanya hanya terkena kepada si pengambil rente saja.

    Namun dalam hal ini diperlukan beberapa syarat:

    Adanya suatu keadaan dharurat yang benar-benar, bukan hanya sekedar ingin kesempurnaan kebutuhan. Sedang apa yang disebut dharurat, yaitu satu hal yang tidak mungkin dapat dihindari, apabila terhalang, akan membawa kebinasaan. Seperti makanan pokok, pakaian pelindung dan berobat yang mesti dilakukan.

    Kemudian perkenan ini hanya sekedar dapat menutupi kebutuhan, tidak boleh lebih. Maka barangsiapa yang kiranya cukup dengan $9,- (9 pounds) misalnya, tidak halal hutang $10,-.

    Dari segi lain, dia harus terus berusaha mencari jalan untuk dapat lolos dari kesulitan ekonominya. Dan rekan-rekan seagamanya pun harus membantu dia untuk mengatasi problemanya itu. Jika tidak ada jalan lain kecuali dengan meminjam dengan riba, maka barulah dia boleh melakukan, tetapi tidak boleh dengan kesengajaan dan melewati batas. Sebab Allah adalah Maha Pengampun dan Penyayang.

    Dia berbuat begitu, tetapi harus dengan perasaan tidak senang. Begitulah sehingga Allah memberikan jalan keluar kepadanya.

    Rasulullah Selalu Minta Perlindungan pada Allah dari Berhutang

    Satu hal yang perlu diketahui oleh setiap muslim tentang hukum agamanya, yaitu agama menyuruh supaya dia berlaku lurus dan sederhana dalam hidup dan kehidupannya.

    Firman Allah:

    “Dan jangan kamu berlebih-lebihan sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang berlebih-lebihan.” (al-An’am: 141)

    “Jangan kamu boros, karena sesungguhnya orang yang boros adalah kawan syaitan.” (al-Isra’: 26-27)

    Kalau al-Quran menuntut kepada orang-orang mu’min supaya menginfaqkan harta kekayaannya, maka al-Quran tidak menuntut kepada mereka melainkan supaya menginfaqkan sebagian harta, bukan semuanya. Sebab siapa yang mendermakan sebagian hartanya, maka sedikit sekali dia akan berkekurangan,

    Dengan kesederhanaan ini maka seorang muslim tidak lagi perlu berhutang, lebih-lebih Nabi sendiri tidak suka seorang muslim membiasakan berhutang. Sebab hutang dalam pandangan seorang muslim yang baik, adalah merupakan kesusahan di malam hari dan suatu penghinaan di siang hari. Justru itu Nabi selalu minta perlindungan kepada Allah dari berhutang. Doa Nabi itu sebagai berikut:

    “Ya Tuhanku! Aku berlindung diri kepadamu dari terlanda hutang dan dalam kekuasaan orang lain.” (RiwayatAbu Daud)

    Dan ia bersabda pula:

    “Aku berlindung diri kepada Allah dari kekufuran dan hutang. Kemudian ada seorang laki-laki bertanya: Apakah engkau menyamakan kufur dengan hutang ya Rasulullah? Ia menjawab: Ya!” (Riwayat Nasa’i dan Hakim)

    Dan kebanyakan doa yang dibaca di dalam sembahyangnya ialah:

    “Ya Tuhanku! Aku berlindung diri kepadaMu dari berbuat dosa dan hutang. Kemudian ia ditanya: Mengapa Engkau banyak minta perlindungan dari hutang ya Rasulullah? Ia menjawab: Karena seseorang kalau berhutang, apabila berbicara berdusta dan apabila berjanji menyalahi.” (Riwayat Bukhari)

    Ia menjelaskan, bahwa dalam hutang itu ada suatu bahaya besar terhadap budipekerti seseorang.

    Beliau tidak mau menyembahyangi janazah, apabila diketahui bahwa waktu meninggalnya itu dia masih mempunyai tanggungan hutang padahal dia tidak dapat melunasinya, sebagai usaha untuk menakut-nakuti orang lain dari akibat hutang. Sehingga apabila dia mendapat ghanimah, maka beliau sendiri yang menyelesaikan hutangnya itu.

    Dan sabdanya:

    “Akan diampuni orang yang mati syahid semua dosanya melainkan hutang.” (Riwayat Muslim)

    Berdasar penjelasan ini, maka seorang muslim tidak boleh berhutang kecuali karena sangat perlu. Dan kalaupun dia terpaksa harus berhutang, samasekali tidak boleh melepaskan niat untuk membayar. Sebab dalam hadis Rasulullah s.a.w. disebutkan:

    “Barangsiapa hutang uang kepada orang lain dan berniat akan mengembalikannya, maka Allah akan luluskan niatnya itu; tetapi barangsiapa mengambilnya dengan Niat akan membinasakan (tidak membayar), maka Allah akan merusakkan dia.” (Riwayat Bukhari)

    Kalau seorang muslim tidak dibolehkan hutang tanpa rente, padahal hutang adalah mubah, kecuali karena dharurat, dan didesak oleh suatu keperluan, maka bagaimana lagi kalau hutangnya itu bersyarat harus dibayar dengan rente?!

    Menjual Kredit dengan Menaikkan Harga

    Termasuk yang perlu untuk disebutkan di sini, yaitu sebagaimana diperkenankan seorang muslim membeli secara kontan, maka begitu juga dia diperkenankan menangguhkan pembayarannya itu sampai pada batas tertentu, sesuai dengan perjanjian.

    Rasulullah s.a.w. sendiri pernah membeli makanan dari orang Yahudi dengan tempo, untuk nafkah keluarganya. Begitu juga beliau pernah menggadaikan baju besinya kepada orang Yahudi.

    Sekarang apabila si penjual itu menaikkan harga karena temponya, sebagaimana yang kini biasa dilakukan oleh para pedagang yang menjual dengan kredit, maka sementara fuqaha’ ada yang mengharamkannya dengan dasar, bahwa tambahan harga itu justru berhubung masalah waktu. Kalau begitu sama dengan riba.

    Tetapi jumhurul ulama membolehkan, karena pada asalnya boleh, dan nas yang mengharamkannya tidak ada; dan tidak bisa dipersamakan dengan riba dari segi manapun. Oleh karena itu seorang pedagang boleh menaikkan harga menurut yang pantas, selama tidak sampai kepada batas pemerkosaan dan kezaliman. Kalau sampai terjadi demikian, maka jelas hukumnya haram.

    Imam Syaukani berkata: “Ulama Syafi’iyah, Hanafiyah, Zaid bin Ali, al-Muayyid billah dan Jumhur berpendapat boleh berdasar umumnya dalil yang menetapkan boleh. Dan inilah yang kiranya lebih tepat.”

    Salam

    Sebalik di atas, yaitu seorang muslim dibenarkan membayar uang lebih dahulu untuk barang yang akan diterimanya kemudian.

    Cara semacam ini dalam fiqih Islam disebut salam.

    lni salah satu macam mu’amalah yang waktu itu biasa berlaku di Madinah. Akan tetapi Nabi Muhammad s.a.w. ikut mencampuri persoalan tersebut dengan memberikan beberapa pedoman dan persyaratan, untuk disesuaikan dengan tuntunan syariat Islam.

    Ibnu Abbas meriwayatkan: bahwa ketika Rasulullah s.a.w. tiba di Madinah, orang-orang pada menjalankan pengikat untuk buah-buahan dalam jangka waktu setahun dan dua tahun Kemudain Rasulullah s.a.w. bersabda:

    “Barangsiapa mencengkerami buah-buahan, maka cengkeramilah dengan suatu takaran tertentu, dan timbangan tertentu pada batas waktu tertentu.” (Riwayat Jam’ah)

    Dengan membatas takaran, timbangan dan jangka waktu ini, maka akan hilanglah pertentangan dan kesamaran. Tetapi di samping itu mereka juga mengadakan ikatan untuk jenis buah korma yang masih di pohon, maka dilarangnyalah hal itu oleh Nabi s.a.w. karena terdapat unsur-unsur kesamaran. Sebab kadang-kadang potion korma itu akan terserang hama sehingga tidak bisa berbuah.

    Jadi bentuk yang paling selamat dan aman dalam mu’amalah seperti ini, yaitu tidak bersyarat dengan jenis kormanya atau jenis gandumnya, tetapi yang penting ialah syarat takaran dan timbangan.

    Tetapi kalau di situ terdapat unsur-unsur pemerkosaan (exploitation) yang terang-terangan oleh pihak pemilik kebun, sehingga karena didorong oleh keperluan, terpaksa si pemberi ikatan harus menerima perjanjian tersebut, maka waktu itu dapat dihukumi haram.

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 23 April 2016 Permalink | Balas  

    Hakikat Shalat 

    sholat-berjamaahHakikat Shalat

    Pada bulan Rajab ini, umat Islam memperingati peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Salah satu hikmah Isra Mi’raj yang terpenting adalah kewajiban shalat bagi setiap Muslim lima kali sehari semalam. Shalat merupakan ibadah yang paling fundamental dalam Islam. Ia bukan sekadar kewajiban bagi setiap Muslim, tetapi (seharusnya) merupakan kebutuhan manusia secara spiritualitas. Shalat berasal dari kata shalla-yushalli-shalat-shilat, yang berarti hubungan. Dalam konteks sufisme, shalat berarti adanya keterjalinan atau hubungan vertikal antara makhluk dan Khalik, antara hamba dan Tuhannya. Shalat merupakan wahana untuk mendekatkan diri pada Tuhan, ber-taqarrub kepada Allah SWT, penguasa jagat raya ini. Oleh karena itu, seorang Mukmin yang benar-benar shalat, jiwanya tenang dan pikirannya lapang. Pernah suatu kali Imam Hasan bin Ali ditanya orang, ”Mengapa orang yang melaksanakan shalat itu wajahnya berseri dan jiwanya tenteram?” Imam Hasan bin Ali menjelaskan, ”Karena mereka berdialog (munajat) pada Tuhannya.

    ” Shalat juga merupakan identitas bagi seorang Muslim. Nabi SAW bersabda, ”Perbedaan antara kami dan mereka adalah shalat. Siapa yang meninggalkannya, maka ia sudah kufur nikmat.” (HR Baihaqi). Dalam hadis lain dikatakan, ”Shalat itu tiang agama. Siapa yang mendirikan shalat berarti mendirikan agama dan siapa yang meninggalkannya berarti ikut meruntuhkan agama.” (HR Turmudzi). Begitu pentingnya kewajiban shalat bagi seorang Muslim, sehingga tidak ada alasan apa pun yang dibenarkan untuk meninggalkan shalat, hingga ia sendiri malah dishalatkan. Pengecualian khusus hanya berlaku untuk wanita Muslimah yang sedang menstruasi. Dalam menunaikan shalat, setiap Muslim dianjurkan untuk berjamaah. Ini mengandung makna tentang pentingnya persatuan dan persaudaraan di kalangan umat Islam. Persaudaraan yang didasarkan oleh ikatan religius, ukhuwah Islamiyah, untuk menebarkan kebenaran dan kemaslahatan bagi umat manusia. Rasa persamaan juga dipupuk dalam shalat berjamaah.

    Shalat berjamaah mengandung asas equality before law, persamaan di hadapan hukum. Siapa yang datang ke masjid lebih awal berhak menempati shaf pertama, tanpa memandang jabatan dan posisi seseorang. Dengan demikian, nilai-nilai demokrasi sebenarnya sudah ditanamkan pula di masjid melalui ibadah shalat yang dilakukan secara berjamaah. Shalat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar (Al-Ankabut: 45). Seorang Muslim yang benar-benar shalat jiwanya tenang dan hati pun tenteram. Karena, orang yang shalat selalu merasa dalam pengawasan Allah. Oleh karena itu, perbuatan keji dan munkar seperti praktik KKN (kolusi, korupsi, dan nepotisme), penipuan, penggelapan, dan manipulasi, mestinya dapat dicegah dalam masyarakat yang shalatnya baik. Ini semua bisa terjadi karena masyarakat akan selalu merasa berada dalam kontrol dan pengawasan Ilahi. Wallahu a’lam. (RioL)

    Shalat Bukan Sekadar Ritual

    Umat Islam tidak diwajibkan “melaksanakan” shalat, tetapi harus “mendirikan” shalat. Shalat tidak hanya sekadar gerakan dan bacaan yang sifarnya ritual-individual, tetapi harus berdampak pada perilaku sehari-hari. Bahwa shalat merupakan “tiang agama” (imaduddin), dan yang tidak melaksanakannya berarti meruntuhkan agamanya, kita sudah sama-sama mafhum. Demikian pula bahwasanya shalat dapat mencegah diri pelakunya dari perbuatan keji dan munkar (QS. 29: 45).

    Masalahnya sekarang, mengapa tidak sedikit seorang Muslim yang rajin melaksanakan shalat, tetapi perbuatan keji dan munkar tetap saja dilakukannya. Tentang hal ini, Nabi SAW pernah menyatakan, orang itu bukannya semakin dekat pada Allah SWT melainkan semakin jauh (bu’da).

    Bisa jadi, shalat yang tidak membuat seseorang menjauhkan diri dari perbuatan keji dan munkar adalah shalat yang dilakukan sekadar menggugurkan kewajiban dan “asal jadi”. Kekhusyukan dan kesempurnaannya kurang diperhatikan. Atau karena shalat yang dilakukannya tidak berlandaskan keikhlasan melainkan riya, ingin dipuji orang, atau bermotif duniawi. Firman Allah SWT: Celakalah orang-orang yang shalat; yaitu orang yang lalai dalam shalatnya dan mereka yang riya (dalam shalatnya) (QS. 107:5-6).

    Shalat bukanlah sekadar melaksanakan gerakan dan bacaan tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Seorang Muslim bukan hanya dituntut “melaksanakan” shalat, tetapi “mendirikan” shalat (aqama shalah). Artinya, shalat tidak hanya sekadar gerak badan dan bacaan (ritual-individual), tetapi harus pula tercermin dalam perilaku sehari-hari (shalat sosial). Semua pengakuan Allah SWT sebagai Tuhan, Muhammad SAW sebagai Rasul, harus terbuktikan dalam perilaku, berupa ketaatan terhadap semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

    Shalat adalah simbol kepasrahan seorang Muslim pada Allah SWT. Shalat menjadi simbol keislaman seseorang, karena hakikat Islam sendiri adalah “penyerahan diri sepenuhnya pada kehendak Allah,” sebagaimana makna asal kata “Islam,” aslama, yakni menyerahkan diri.

    Ketika memulai shalat dengan takbir, sambil mengangkat kedua tangan, itu menjadi simbol pengakuan keagungan Allah SWT. Tujuan hakiki dari shalat sendiri, menurut Ensiklopedi Islam, adalah pengakuan hati bahwa Allah SWT sebagai pencipta adalah agung dan pernyataan patuh pada-Nya. Bagi seseorang yang telah melakukan shalat dengan penuh rasa takwa dan keimanan, hubungannya dengan Allah SWT akan kuat, istiqamah dalam beribadah pada-Nya, dan menjaga ketentuan-ketentuan yang digariskan-Nya.

    Shalat harus dilaksanakan secara khusyuk. Artinya, secara sungguh-sungguh, ikhlas karena Allah SWT, tertib bacaan dan gerakannya, dan tidak lalai, tidak menunda-nunda, dan pikiran tidak ke mana-nama selagi shalat. Salah satu kunci mencapai kekhusyukan dalam shalat adalah mengerti apa yang diucapkan selama shalat, mulai dari bacaan takbir hingga salam. Artinya, mengerti dan memahami arti dari bacaan shalat. Jika kita tidak mengerti apa yang kita ucapkan, sama halnya dengan mengigau. Kita tidak menyadari apa yang tengah diucapkan.

    Karena itu, bagi kita yang belum mengerti atau mengetahui satu per satu arti dan makna bacaan shalat, mulai dari takbir, doa iftitah, surat Al-Fatihah, bacaan ruku’, sujud, tahiyat, hingga salam, belum terlambat kiranya memulai untuk mencari tahu dan memahaminya.

    Shalat bukanlah beban, melainkan kebutuhan pokok dalam kehidupan seorang Muslim. Shalat juga merupakan mediator untuk mendapatkan pertolongan dan ampunan Allah SWT, serta ketenangan jiwa (QS. 2:45). Shalat pun merupakan sarana untuk mencapai kemenangan dan keberuntungan (QS Al-Mukminun: 1, Al-Ma’arij: 19).

    Apalagi shalat wajib lima kali dalam sehari semalam itu merupakan penghapus dosa sebagaimana air yang dipakai mandi dapat menghapuskan daki yang ada di badan (HR Bukhari, Muslim, At-Turmudzi, An-Nasai, dari Abu Hurairah).

    Dengan shalat akan tercipta hubungan yang amat dekat dengan Allah SWT (taqarrub), sehingga terasa adanya pengawasan dari-Nya terhadap segala perilaku kita, yang pada gilirannya akan memberikan ketenangan dalam jiwa sekaligus mencegah terjadinya kelalaian yang dapat memalingkan dari ketaatan pada-Nya (QS. 51:56)

    Tiada perintah Allah SWT yang seketat shalat. Ibadah ini wajib dilaksanakan setiap Muslim dalam kondisi apa pun, selama nyawa masih menyatu dalam raga. Tidak mampu berdiri, boleh sambil duduk. Tidak mampu sambil duduk, silakan sambil berbaring. Tidak heran, menurut hadis Nabi SAW, amal pertama yang akan dihisab di akhirat nanti adalah shalat. Jika shalatnya baik, tanpa cela, maka akan baik pula seluruh amal; jika shalatnya jelek, maka akan buruk pulalah seluruh amal.

    Shalat yang baik dan benar adalah shalat yang tidak saja memenuhi syarat dan rukun, ditambah kekhusyukan dalam pelaksanaannya, tetapi juga berdampak pada kebaikan perilaku sehari-hari. Seluruh bacaan dan gerakan shalat, jika direnungkan, menyimbolkan sekaligus mencerminkan perilaku yang seharusnya dilakukan seorang Muslim dalam kehidupannya.

    Takbir –sebagai pembuka shalat– menunjukkan sebuah pengakuan dan sikap dasar, dalam kehidupan seorang Muslim hanya Allah yang Mahabesar, sehingga hanya Dia pula yang ditaati, ditakuti, dan dipuji. Pengabdian, permohonan, dan penyandaran hidup hanya kepada Allah semata.

    Gerakan-gerakan shalat seperti ruku’, i’tidal, sujud, dan tahiyat merupakan simbol penghormatan hakiki kepada Allah. Tatkala sujud, kepala kita disejajarkan dengan tanah. Setidaknya hal itu bermakna, di hadapan Allah manusia dengan tanah sama-sama makhluk. Maka tak pantas jika kita berlaku angkuh, gila hormat, dan sebagainya, sebab pujian dan penghormatan hakiki hanya pantas diberikan kepada Allah SWT.

    Shalat ditutup dengan salam, sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Ketika menutup shalat itu kita mendoakan orang di sekitar kita agar diberi keselamatan dan keberkatan. Bacaan dan gerakan itu bermakna, seorang Muslim hendaknya menebar keselamatan dan kedamaian kepada sesama, bukan menebar benih kecelakaan, kerusuhan, atau permusuhan. “Jika engkau bertemu saudaramu (sesama Muslim), sampaikan salam kepadanya” (HR Abu Daud). Dalam hadits lain Nabi SAW menegaskan, “Seorang Muslim adalah dia yang orang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”

    Muslim sejati tidak akan mengganggu orang lain dengan perkataan kotornya, umpatannya, atau ucapan-ucapan yang menyakitkan hati. Ia pun tidak akan mencelakakan orang lain dengan ulahnya. Muslim sejati senantiasa menghadirkan kemaslahatan dan manfaat bagi orang lain, bukan menjadi “trouble maker” atau pembawa bencana dan kesulitan bagi orang lain. “Sebaik-baik manusia ialah orang dapat memberi manfaat kepada manusia lain,” demikian sabda Nabi SAW dalam sebuah wasiatnya kepada Ali bin Abi Thalib. Wallahu a’lam.

    ***

    Kiriman Sahabat Agus Nadi

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 22 April 2016 Permalink | Balas  

    Melepaskan Ikatan Rambut Untuk Mandi Haid 

    wuduMelepaskan Ikatan Rambut Untuk Mandi Haid

    Oleh: Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu-Syaikh

    Menurut dalil yang lebih kuat adalah tidak ada kewajiban melepaskan ikatan rambut ketika hendak mandi bagi wanita yang telah selesai haidh, sebagaimana tidak adanya kewajiban tersebut untuk mandi junub. Hanya saja, memang terdapat dalil-dalil yang mensyari’atkan untuk melepaskan ikatan rambut ketika mandi haidh, akan tetapi perintah yang terdapat dalam dalil-dalil ini bukan menunjukkan hal yang wajib berdasarkan dari hadits Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha.

    “Sesungguhnya aku seorang wanita yang mengikat rambut kepalaku, apakah saya harus melepaskan ikatan rambut itu untuk mandi junub ?” dan dalam riwayat lain : “dan untuk mandi haid?”, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Tidak, akan tetapi cukup bagimu untuk menuangkan air atas kepalamu sebanyak tiga kali, ….” [Hadits Riwayat Muslim]

    Ini adalah pendapat yang dipilih oleh pengarang kitab Al-Inshaf dan Az-Zarkasyi, sedangkan dalam mandi junub maka hukum melepaskan ikatan rambut bagi wanita tidaklah sunnah (mandub). Abdullah bin Umar meriwayatkan bahwa ‘Aisyah berkata : “Apakah aku harus memerintah mereka untuk memotong rambut itu ?”

    Kesimpulannya adalah :

    Melepaskan ikatan rambut tidaklah disyari’atkan saat mandi junub akan tetapi hal itu ditekankan dan dianjurkan saat mandi haidh. Penekanan ini pun berbeda-beda, ada yang kuat dan ada pula yang lemah, berdasarkan keringanan dan kesulitan melepaskan ikatannya.

    [Fatawa wa Rasa’il Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim, 2/61]

    [Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesia

    Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq, hal.21-22 penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin]

    Sumber : http://almanhaj.or.id/

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 21 April 2016 Permalink | Balas  

    Sifat Mandi Junub dan Perbedaannya dengan Mandi Haid 

    wuduSifat Mandi Junub dan Perbedaannya dengan Mandi Haid

    Oleh: Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Ifta’

    Tidak ada perbedaan bagi pria dan wanita dalam hal sifat mandi junub, dan masing-masing tidak perlu melepaskan ikatan rambutnya akan tetapi cukup baginya untuk menuangkan air di atas kepalanya sebanyak tiga tuang kemudian setelah itu menyiramkan air ke seluruh tubuhnya berdasarkan hadits Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha, bahwa ia berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Sesungguhnya saya seorang wanita yang mengikat gulungan rambut kepala saya, apakah saya harus melepaskan ikatan rambut itu untuk mandi junub ?”.

    Rasulullah menjawab :

    “Artinya : Tidak, akan tetapi cukup bagimu untuk menuangkan air sebanyak tiga kali di atas kepalamu, kemudian kamu sirami seluruh tubuhmu dengan air, maka (dengan demikian) kamu telah bersuci” [Hadits Riwayat Muslim].

    Jika di atas kepala seorang lelaki maupun wanita terdapat ikatan atau pewarna rambut atau sesuatu lainnya yang dapat menghalangi mengalirnya air ke kulit kepala, maka wajib dihilangkan, akan tetapi jika itu ringan dan tidak menghalangi mengalirnya air ke kulit kepala maka tidak wajib dihilangkan.

    Adapun mandinya wanita setelah haidh, para ulama berbeda pendapat tentang wajib atau tidaknya melepaskan ikatan rambutnya untuk mandinya. Yang benar, bahwa ia tidak harus melepaskan ikatan rambutnya untuk mandi tersebut, hal ini berdasarkan beberapa riwayat hadits Ummu Salamah yang diriwayatkan Muslim bahwa ia (Ummu Salamah) berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Sesunguhnya saya seorang wanita yang mengikat gulungan rambut kepalaku, apakah saya harus melepaskan ikatan rambut itu untuk mandi junub ?”

    Rasulullah menjawab:

    “Artinya : Tidak, akan tetapi cukup bagimu untuk menuangkan air sebanyak tiga kali di atas kepalamu, kemudian kamu sirami seluruh tubuhmu dengan air, (dengan demikian) maka kamu telah bersuci”.

    Riwayat hadits Nabi ini adalah merupakan dalil yang menunjukkan tidak adanya kewajiban untuk melepaskan ikatan rambut untuk mandi junub atau untuk mandi haidh, akan tetapi sebaiknya ikatan rambut itu dilepas saat mandi haidh sebagai sikap waspada dan untuk keluar dari perselisihan pendapat serta memadukan dalil-dalil dalam hal ini.

    [Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Ifta’, 5/320]

    [Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-fatwa Tentang Wanita penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq, hal. 20-21 penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin]

    Sumber : http://almanhaj.or.id/

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 20 April 2016 Permalink | Balas  

    Mandi Junub Merangkap Mandi Jum’at Atau Merangkap Mandi Haid Dan Mandi Nifas 

    wuduMandi Junub Merangkap Mandi Jum’at Atau Merangkap Mandi Haid Dan Mandi Nifas

    Oleh: Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Ifta’

    Barangsiapa yang diwajibkan baginya untuk melaksanakan satu mandi wajib atau lebih, maka cukup baginya melaksanakan satu kali mandi wajib yang merangkap mandi-mandi wajib lainnya, dengan syarat dalam mandi itu ia meniatkan untuk menghapuskan kewajiban-kewajiban mandi lainnya, dan juga berniat untuk dibolehkannya shalat dan lainnya seperti Thawaf dan ibadah-ibadah lainnya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaiihi wa sallam.

    “Artinya : Setiap perbuatan itu tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan bagian sesuai dengan yang diniatkannya”. [Muttafaqun ‘Alaih]

    Karena yang hendak dicapai dari mandi hari Jum’at bisa sekaligus tercapai dengan mandi junub jika bertetapan harinya.

    [Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 5/328]

    [Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq hal. 30 penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin]

    Sumber : http://almanhaj.or.id

     
    • sheefa.nirwana 11:57 am on 23 Desember 2016 Permalink

      Hey friend,

      Take a look at that adorable stuff, I’m just amazed! It is so sweet)) Here, check it out

      Thx, sheefa.nirwana

  • erva kurniawan 1:38 am on 19 April 2016 Permalink | Balas  

    Bolehkah Wanita Haidh Berdiam Di Masjid 

    wanita 1Bolehkah Wanita Haidh Berdiam Di Masjid

    Haram bagi wanita haidh untuk berdiam di masjid berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

    “Artinya : Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid bagi wanita haidh dan orang yang sedang junub”

    Diriwayatkan oleh Abu Daud, dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya.

    “Artinya : Sesungguhnya Masjid tidak halal bagi wanita haidh dan orang yang sedang junub”

    Diriwayatkan oleh Ibnu Majah

    Dibolehkan bagi wanita haidh untuk berjalan melintasi masjid tanpa berdiam di masjid itu, berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata : Rasulullah bersabda.

    “Artinya : (Wahai Aisyah) Ambilkanlah untukku alas duduk dari masjid”, maka aku berkata : “Sesungguhnya aku sedang haidh”, maka beliau bersabda.

    “Artinya : Sesungguhnya haidhmu bukan di tanganmu (bukan kehendakmu)”

    Diriwayatkan oleh seluruh perawi hadits kecuali Al-Bukhari.

    Dan dibolehkan bagi wanita untuk membaca dzikir-dzikir yang masyru’, seperti membaca tahlil (Laa Ilaaha Illallah), takbir (Allahu Akbar), tasbih (Subhanallah) dan do’a-do’a lainnya yang bersumber dari wirid-wirid yang disyari’atkan di waktu pagi, sore, ketika tidur serta bangun dari tidur, juga boleh bagi wanita haidh untuk membaca kitab-kitab ilmiah seperti tafsir, hadits dan fiqh.

    [At-Tanbiyat, Syaikh Shalih Al-Fauzan, halaman 14]

    [Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq hal. 156-157 penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin]

    ***

    Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=208&bagian=0

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 18 April 2016 Permalink | Balas  

    Gratis 

    nasehat ibundaGratis

    Pada suatu sore, putri kecil kami menghampiri Ibunya di dapur yang sedang menyiapkan makan malam. Ia menyerahkan selembar kertas yang sudah ditulisinya. Setelah istriku, Zahra, mengeringkan tangannya pada celemek, ia membacanya. Dan inilah tulisan putri kecil kami pada kertas tsb :

    Untuk membersihkan kamar minggu ini = Rp. 7,500.00

    Untuk pergi ke warung menggantikan Ibu = Rp. 3,000.00

    Untuk menjaga adik waktu Ibu belanja = Rp. 3,500.00

    Untuk membuang sampah = Rp. 4,500.00

    Untuk rapor yang bagus = Rp. 10,000.00

    Untuk membersihkan dan menyapu halaman = Rp. 20,000.00

    Jumlah Hutang Rp. 48,500.00

    Zahra memandang putri kecil kami yang berdiri di situ dengan penuh harap, dan aku bisa melihat berbagai kenangan terkilas dalam pikiran istriku. Jadi, ia mengambil pena, membalikkan kertas, dan inilah yang ditulisnya.

    Untuk 9 bulan ketika Ibu mengandung kamu selama kamu tumbuh dalam perut Ibu, Gratis. Untuk semua malam ketika Ibu menemani, mengobati dan mendoakan kamu, Gratis. Untuk semua saat susah dan semua airmata yang kamu sebabkan selama ini, Gratis. Kalau dijumlahkan semua, harga cinta Ibu adalah, Gratis, Anakku.

    Untuk semua malam yang dipenuhi rasa takut dan utk rasa cemas di waktu yang akan datang, Gratis. Untuk mainan, makanan, baju dan juga menyeka hidungmu, Gratis. Dan kalau kamu jumlahkan semuanya, harga cinta sejati Ibu adalah Gratis, Anakku.

    Ketika putri kecil kami selesai membaca yang ditulis Ibunya, air matanya berlinang. Ia menatap Ibunya dan berkata, “Bu, saya sayang sekali sama Ibu.”

    Kemudian ia mengambil pena dan menulis dengan huruf besar “LUNAS”.”

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:59 am on 17 April 2016 Permalink | Balas  

    Halal dan Haram Berdagang 

    Penjual-tempeHalal dan Haram Berdagang

    Mempermainkan Harga

    Islam memberikan kebebasan pasar, dan menyerahkannya kepada hukum naluri yang kiranya dapat melaksanakan fungsinya selaras dengan penawaran dan permintaan. Justru itu kita lihat Rasulullah s.a.w. ketika sedang naiknya harga, beliau diminta oleh orang banyak supaya menentukan harga, maka jawab Rasulullah s.a.w.:

    “Allahlah yang menentukan harga, yang mencabut, yang meluaskan dan yang memberi rezeki. Saya mengharap ingin bertemu Allah sedang tidak ada seorang pun di antara kamu yang meminta saya supaya berbuat zalim baik terhadap darah maupun harta benda.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Tarmizi, Ibnu Majah, ad-Darimi dan Abu Ya’la)

    Rasulullah s.a.w. menegaskan dalam hadis tersebut, bahwa ikut campur dalam masalah pribadi orang lain tanpa suatu kepentingan yang mengharuskan, berarti suatu perbuatan zalim, di mana beliau ingin bertemu Allah dalam keadaan bersih samasekali dari pengaruh-pengaruh zalim itu.

    Akan tetapi jika keadaan pasar itu tidak normal, misalnya ada penimbunan oleh sementara pedagang, dan adanya permainan harga oleh para pedagang, maka waktu itu kepentingan umum harus didahulukan daripada kepentingan perorangan. Dalam situasi demikian kita dibolehkan menetapkan harga demi memenuhi kepentingan masyarakat dan demi menjaga dari perbuatan kesewenang-wenangan dan demi mengurangi keserakahan mereka itu. Begitulah menurut ketetapan prinsip hukum.

    Dengan demikian, apa yang dimaksud oleh hadis di atas, bukan berarti mutlak dilarang menetapkan harga, sekalipun dengan maksud demi menghilangkan bahaya dan menghalang setiap perbuatan zalim. Bahkan menurut pendapat para ahli, bahwa menetapkan harga itu ada yang bersifat zalim dan terlarang, dan ada pula yang bijaksana dan halal.

    Oleh karenanya, jika penetapan harga itu mengandung unsur-unsur kezaliman dan pemaksaan yang tidak betul; yaitu dengan menetapkan suatu harga yang tidak dapat diterima, atau melarang sesuatu yang oleh Allah dibenarkan, maka jelas penetapan harga semacam itu hukumnya haram.

    Tetapi jika penetapan harga itu penuh dengan keadilan, misalnya dipaksanya mereka untuk menunaikan kewajiban membayar harga mitsil dan melarang mereka menambah dari harga mitsil, maka hal ini dipandang halal, bahkan hukumnya wajib.

    Dalam bagian pertama, masuk apa yang disebut oleh hadis di atas. Jadi kalau orang-orang menjual barang dagangannya menurut cara yang lazim tanpa ada sikap-sikap zalim dari mereka, kemudian harga naik, mungkin karena sedikitnya barang atau karena banyaknya orang yang membutuhkan, sesuai dengan hukum penawaran dan permintaan, maka naiknya harga semacam itu kita serahkan kepada Allah. Tetapi kalau orang-orang dipaksa menjual barangnya dengan harga tertentu, ini namanya suatu pemaksaan yang tidak dapat dibenarkan.

    Adapun dalam bagian kedua, yaitu misalnya si penjual tidak mau menjual barangnya, padahal sangat dibutuhkan orang banyak, melainkan dengan tambahan harga yang ditentukan, maka di sinilah timbulnya suatu keharusan memaksa mereka untuk menjual barangnya itu dengan harga mitsil.6

    Pengertian menetapkan harga dalam hal ini hanyalah suatu pemaksaan untuk menjualnya dengan harga mitsil, dan suatu penetapan dengan cara yang adil sebagai memenuhi perintah Allah.7

    Penimbun Dilaknat

    Sekalipun Islam memberikan kebebasan kepada setiap orang dalam menjual, membeli dan yang menjadi keinginan hatinya, tetapi Islam menentang dengan keras sifat ananiyah (egois) yang mendorong sementara orang dan ketamakan pribadi untuk menumpuk kekayaan atas biaya orang lain dan memperkaya pribadi, kendati dari bahan baku yang menjadi kebutuhan rakyat.

    Untuk itu Rasulullah s.a.w. melarang menimbun dengan ungkapan yang sangat keras.

    Sabda Rasul:

    “Barangsiapa menimbun bahan makanan selama empat puluh malam, maka sungguh Allah tidak lagi perlu kepadanya.” (Riwayat Ahmad, Hakim, Ibnu Abu Syaibah dan Bazzar)

    Dan sabdanya pula:

    “Tidak akan menimbun kecuali orang berbuat dosa.” (Riwayat Muslim)

    Perkataan khathiun (orang yang berbuat dosa) bukan kata yang ringan. Perkataan ini yang dibawakan oleh al-Quran untuk mensifati orang-orang yang sombong dan angkuh, seperti Fir’aun, Haaman dan konco-konconya. Al-Quran itu mengatakan:

    “Sesungguhnya Fir’aun dan Haaman dan bala tenteranya, adalah orang-orang yang berbuat salah/dosa.” (al-Qashash: 8)

    Rasulullah s.a.w. menegaskan tentang kepribadian dan ananiyah orang yang suka menimbun itu sebagai berikut:

    “Sejelek-jelek manusia ialah orang yang suka menimbun; jika dia mendengar harga murah, merasa kecewa; dan jika mendengar harga naik, merasa gembira.” (hadis ini dibawakan oleh Razin dalam Jami’nya)

    Dan sabdanya pula:

    “Saudagar itu diberi rezeki, sedang yang menimbun dilaknat.” (Riwayat Ibnu Majah dan Hakim)

    Ini semua bisa terjadi, karena seorang pedagang bisa mengambil keuntungan dengan dua macam jalan:

    Dengan jalan menimbun barang untuk dijual dengan harga yang lebih tinggi, di saat orang-orang sedang mencari dan tidak mendapatkannya, kemudian datanglah orang yang sangat membutuhkan dan dia sanggup membayar berapa saja yang diminta, kendati sangat tinggi dan melewati batas.

    Dengan jalan memperdagangkan sesuatu barang, kemudian dijualnya dengan keuntungan yang sedikit. Kemudian ia membawa dagangan lain dalam waktu dekat dan dia beroleh keuntungan pula. Kemudian dia berdagang lainnya pula dan beroleh untung lagi. Begitulah seterusnya.

    Mencari keuntungan dengan jalan kedua ini lebih dapat membawa kemaslahatan dan lebih banyak mendapatkan barakah serta si pemiliknya sendiri –insya Allah– akan beroleh rezeki, sebagaimana spirit yang diberikan oleh Nabi s.a.w.

    Di antara hadis-hadis penting yang berkenaan dengan masalah penimbunan dan permainan harga ini, ialah hadis yang diriwayatkan oleh Ma’qil bin Yasar salah seorang sahabat Nabi. Ketika dia sedang menderita sakit keras, didatangi oleh Abdullah bin Ziad –salah seorang gubernur dinasti Umaiyah– untuk menjenguknya. Waktu itu Abdullah bertanya kepada Ma’qil: Hai Ma’qil: Apakah kamu menduga, bahwa aku ini seorang yang memeras darah haram? Ia menjawab: Tidak. Ia bertanya lagi: Apakah kamu pernah melihat aku ikut campur dalam masalah harga orang-orang Islam? Ia menjawab: Saya tidak pernah melihat. Kemudian Ma’qil berkata: Dudukkan aku! Mereka pun kemudian mendudukkannya, lantas ia berkata: Dengarkanlah, hai Abdullah! Saya akan menceriterakan kepadamu tentang sesuatu yang pernah saya dengar dari Rasulullah s.a.w., bukan sekali dua kali.

    Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda demikian:

    “Barangsiapa ikut campur tentang harga-harga orang-orang Islam supaya menaikkannya sehingga mereka keberatan, maka adalah menjadi ketentuan Allah untuk mendudukkan dia itu pada api yang sangat besar nanti di hari kiamat.” Kemudian Abdullah bertanya: “Engkau benar-benar mendengar hal itu dari Rasulullah s.a.w.?!” Ma’qil menjawab: “Bukan sekali dua kali.” (Riwayat Ahmad dan Thabarani)

    Dari nas-nas hadis tersebut dan mafhumnya, para ulama beristimbat (menetapkan suatu hukum), bahwa diharamkannya menimbun adalah dengan dua syarat:

    Dilakukan di suatu negara di mana penduduk negara itu akan menderita sebab adanya penimbunan.

    Dengan maksud untuk menaikkkan harga sehingga orang-orang merasa payah, supaya dia beroleh keuntungan yang berlipat-ganda.

    Mencampuri Kebebasan Pasar dengan Memalsu

    Dapat dipersamakan dengan menimbun yang dilarang oleh Rasulullah s.a.w., yaitu: seorang kota menjualkan barang milik orang dusun. Bentuknya –sebagai yang dikatakan oleh para ulama– adalah sebagai berikut: Ada seorang yang masih asing di tempat itu membawa barang dagangan yang sangat dibutuhkan orang banyak untuk dijual menurut harga yang lazim pada waktu itu. Kemudian datanglah seorang kota (penduduk kota tersebut) dan ia berkata: Serahkanlah barangmu itu kepada saya, biarkan sementara di sini untuk saya jualkan dengan harga yang tinggi. Padahal seandainya si orang dusun itu sendiri yang menjualnya, sudah barang tentu lebih murah dan dapat memberi manfaat pada kedua daerah dan dia sendiri akan mendapat untung juga.

    Bentuk semacam ini, waktu itu sudah biasa terjadi di masyarakat, sebagaimana yang dikatakan oleh sahabat Anas r.a.:

    “Kami dilarang orang kota menjualkan barang orang dusun, sekalipun dia itu saudara kandungnya sendiri.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Dengan demikian, mereka bisa belajar: bahwa kemaslahatan umum harus lebih diutamakan dari kepentingan pribadi.

    Sabda Nabi:

    “Tidak boleh orang kota menjualkan untuk orang dusun; biarkanlah manusia, Allah akan memberikan rezeki kepada mereka itu masing-masing.” (Riwayat Muslim)

    Dari kata-kata Nabi yang singkat biarkanlah manusia, Allah akan memberikan rezeki kepada mereka itu masing-masing kita dapat membuat satu rumusan sebagai prinsip yang sangat penting dalam dunia perdagangan, yaitu: kiranya masalah pasar, harga dan pertukarannya dibiarkan mengikuti selera fitrah dan faktor-faktor tabi’i, tanpa dicampuri oleh suatu pemalsuan dari sementara orang.

    Ibnu Abbas pernah ditanya tentang maksud orang kota tidak boleh menjualkan untuk orang dusun, kemudian ia berkata: yaitu orang kota tidak menjadi makelar untuk orang dusun,

    Pengertiannya, kalau orang kota itu menunjukkan harga dan memberi nasehat serta memberitahukan tentang keadaan pasar, tanpa ada maksud mencari keuntungan seperti yang biasa dilakukan oleh makelar-makelar itu, maka hal semacam ini tidaklah berdosa. Karena dia memberi nasehat demi mencari keridhaan Allah. Sedang nasehat adalah salah satu bagian dari agama, bahkan agama itu sendiri seluruhnya adalah nasehat. Seperti kata Nabi:

    “Agama itu adalah nasehat” (Riwayat Muslim)

    Dan dalam hadis yang lain beliau bersabda:

    “Apabila salah seorang di antara kamu minta nasehat kepada saudaranya, maka nasehatilah dia.” (Riwayat Ahmad)

    Makelar secara umum bermaksud mencari keuntungan, yang kadang-kadang dia lupa terhadap kepentingan umum.

    Makelar Itu Sendiri Hukumnya Halal

    Makelar untuk orang luar daerah tidak berdosa. Sebab makelar semacam ini salah satu bentuk penunjuk jalan dan perantara antara penjual dengan pembeli, dan banyak memperlancar keluarnya barang dan mendatangkan keuntungan antara kedua belah pihak.

    Makelar atau katakanlah perantara dalam perdagangan, di zaman kita ini sangat penting artinya dibandingkan dengan masa-masa yang telah lalu, karena terikatnya perhubungan perdagangan antara importer dan produser, antara pedagang kolektif dan antara pedagang perorangan. Sehingga makelar dalam hal ini berperanan yang sangat penting sekali.

    Tidak ada salahnya kalau makelar itu mendapatkan upah kontan berupa uang, atau secara prosentase dari keuntungan atau apa saja yang mereka sepakati bersama.

    Al-Bukhari mengatakan dalam kitab Sahihnya: Bahwa Ibnu Sirin, ‘Atha’, Ibrahim dan al-Hasan menganggap tidak salah kalau makelar itu mengambil upah. Dan begitu juga Ibnu Abbas, ia berkata: Tidak ada salahnya kalau pedagang itu berkata kepada makelar: ‘Juallah bajuku ini dengan harga sekian. Adapun lebihnya (jika ada untungnya) maka buat kamu.’ Dan Ibnu Sirin juga berkata: Apabila pedagang berkata kepada makelar: ‘Jualkanlah barangku ini dengan harga sekian, sedang keuntungannya untuk kamu.’ Atau ia berkata: ‘Keuntungannya bagi dua.’, maka hal semacam itu dipandang tidak berdosa. Sebab Rasulullah s.a.w. juga pernah bersabda sebagai berikut:

    “Orang Islam itu tergantung pada syarat (perjanjian) mereka sendiri.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Hakim dan lain-lain)

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 16 April 2016 Permalink | Balas  

    Tathayyur (Merasa Sial) 

    takwaTathayyur (Merasa Sial)

    Merasa sial karena sesuatu, tempat, waktu, seseorang dan sebagainya adalah termasuk ramalan yang sangat laku di pasaran, secara berkelompok atau perorangan.

    Di zaman dahulu pernah juga terjadi demikian, misalnya tentang kaum Nabi Saleh, mereka ini berkata kepadanya:

    “Kami merasa sial sebab kamu dan orang-orang yang bersamamu.” (an-Naml: 47)

    Fir’aun dan kaumnya apabila ditimpa suatu musibah, mereka menganggap kesialannya itu karena Musa dan orang-orang yang bersamanya.1

    Dan banyak pula orang-orang kafir yang sesat itu kalau mendapat bala’ dari Allah, mereka kemudian berkata kepada para juru da’wah dan Rasul:

    “Kami merasa sial sebab kamu semua.” (Yasin:18)

    Tetapi para Rasul itu kemudian menjawab:

    “Kesialanmu itu sebab kamu sendiri.” (Yasin: 19)

    Yakni sebab-sebab kesialanmu itu ada pada kamu sendiri, yaitu lantaran kamu kufur, ingkar dan memusuhi Allah dan RasulNya.

    Orang-orang Arab jahiliah dalam segi ini mempunyai doa yang panjang dan bermacam-macam kepercayaan. Sehingga datanglah Islam kemudian dihapusnya dan mereka dikembalikan untuk mengikuti jalan fikiran yang lurus.

    Rasulullah merangkaikan ramalan dan sihir dalam satu susunan, seperti sabdanya:

    “Bukan dari golongan kami siapa yang merasa sial, atau minta diramalkan kesialannya, atau menenung, atau minta ditenungkan, atau mensihir, atau minta disihirkan.” (Riwayat Thabarani)

    Dan sabdanya pula:

    “Membuat garis di tanah, menganggap sial karena alamat dan melempar kerikil karena ada suatu kepercayaan, adalah termasuk menyembah selain Allah.” (Riwayat Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Hibban)

    Tathayyur, satu hal yang berdiri tanpa landasan ilmu pengetahuan atau suatu kenyataan yang benar. Tathayyur, hanya berjalan mengikuti kelemahan dan membenarkan dugaan yang salah (waham). Kalau tidak demikian, apa artinya seorang yang berakal percaya mendapat sial karena seseorang, atau karena tempat, karena dengkurnya suara burung, geraknya mata atau terdengarnya suatu perkataan?!

    Apabila nalurinya manusia itu ada kelemahan, maka akan mengalir pada dirinya suatu anggapan sial karena sesuatu. Seharusnya dia tidak mau menerima kelemahan ini. Lebih-lebih apabila dia sudah sampai pada fase bekerja dan pelaksanaan.

    Rasulullah s.a.w. pernah bersabda:

    “Ada tiga perkara yang tidak akan bisa selamat satupun, yaitu: menuduh, tathayyur dan hasud. Oleh karena itu kalau kamu menuduh jangan kamu nyatakan, dan kalau merasa sial jangan surut (jangan kamu gagalkan pekerjaanmu), dan kalau kamu hasud, jangan lanjutkan.” (Riwayat Thabarani)

    Oleh karena ketiga perkara ini hanya semata-mata perasaan yang tidak berpengaruh pada suatu sikap dan perbuatan, maka dimaafkannya oleh Allah.

    Dan diriwayatkan pula dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah s.a.w. bersabda:

    “Tathayyur (merasa sial) adalah syirik.” 3 kali.

    Dan Ibnu Mas’ud sendiri berkata: ” …tetapi Allah akan menghilangkannya dengan tawakkal.” (Riwayat Abu Daud dan Tarmizi)

    Apa yang dimaksudkan oleh Ibnu Mas’ud itu, ialah: setiap orang di antara kita ini ada perasaan-perasaan seperti itu, tetapi perasaan semacam ini akan hilang lenyap dari hati orang yang selalu tawakkal dan tidak membiarkan perasaannya itu tinggal dalam hati.

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 15 April 2016 Permalink | Balas  

    Sultan Agung Hanyakrakusumo 

    sultan agungSultan Agung Hanyakrakusumo

    Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Agung Prabu HanyakraKusumo, adalah raja pada dinasti Mataram setelah Panembahan Senopati (1584-1601) dan Panembahan Hanyakrawati (1601-1613). Pada pemerintahannya (1613-1646) pernah melakukan penyerangan terhadap VOC yang berkedudukan di Batavia, yaitu pada tahun 1628 dan 1629.

    Dalam sejarah babad mataram, Sultan Agung digambarkan sebagai seorang raja yang piawai dalam menjalankan roda tata negara dan kebudayaan. Dalam merumuskan upaya pengembangan kebudayaan Jawa, Sultan Agung dengan piawai merumuskan strategi konvergensi ajaran agama Islam kedalam budaya masyarakat mataram yang sebelumnya telah mengenal tradisi yang bersumber pada agama Hindu dan Budha.

    Sultan Agung pada tahun 1633 memberlakukan sistem perhitungan tahun model baru (tahun Jawa) menggantikan sistem perhitungan tahun Saka. Perubahan sistem perhitungan tahun ini sangat strategis, karena berarti seluruh penulisan serat babad maupun penanggalan yang akan dijadikan acuan masyarakatnya akan mengacu kepada sistem perhitungan model baru tersebut. Sistem Perhitungan kalender tahun Jawa ini mengacu dan menyesuaikan dengan sistem perhitungan kelender tahun Hijriah, sehingga ini merupakan kelanjutan proses Islamisasi tradisi dan kebudayaan Jawa yang telah dimulai semenjak pemerintahan Kerajaan Islam Demak Bintoro.

    Kalender tahun Saka merupakan warisan zaman Hindu-Budha. Sama seperti tahun Masehi, tahun Saka juga memakai dasar perhitungan Solair / Syamsiah yaitu mengikuti peredaran bumi mengitari matahari. Sedangkan tahun Jawa yang diberlakukan Sultan Agung adalah mengacu pada dasar perhitungan yang dipakai pada tahun Hijriyah. Pada sistem penanggalan Hijriyah maupun tahun jawa memakai sistem kalender berdasarkan sistem Lunair / Komariyah, yaitu berdasarkan peredaran bulan mengelilingi bumi.

    Pada saat pemberlakuan kalender Jawa tersebut , tahun Saka telah berjalan sampai tahun 1554, Dalam tahun Jawa hasil rekayasa Sultan Agung tahun itu tetap diteruskan menjadi 1955 tahun Jawa. Padahal pada hakikatnya sistem perhitungan tahun saka sama sekali jauh berbeda dengan tahun Jawa yang mengacu kepada sistem perhitungan tahun Hijriah. Disinilah letak kepiawaian Sultan Agung, merombak secara revolusioner sistem penanggalan dengan mengganti system tahun Saka dengan tahun Jawa yang mengacu kepada sistem Hijriah tanpa membuat gejolak yang berarti pada masyarakatnya.

    Perubahan dan pemberlakuan itu terjadi pada tanggal 1 Suro tahun Alip 1555 Jawa atau 1 Muharam tahun 1043 Hijriyah atau 8 Juli 1633 Masehi. Disamping itu Sultan Agung juga mengembangkan seni kaligrafi tulisan Arab, melanjutkan lagi tradisi Sekaten yang diselengarakan bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai bagian dari alat media dakwah kepada masyarakatnya.

    Kisah diatas hanyalah sebagian kecil dari ribuan kisah tentang pasang surutnya sejarah dakwah dan syiar Islam di negeri ini. Datang sejak abad pertama Hijriyah, pada masa Khulafaur Rasyidin memerintah, disebutkan bahwa Islam telah mulai masuk ke Indonesia. Sejarah panjang dakwah serta syiar yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita sejak zaman Samudera Pasai sampai ke masa Wali Songo dan diteruskan sampai hari ini oleh pejuang Islam, selayaknya patut kita syukuri. Para pendahulu kita dengan kearifannya telah berhasil setapak demi setapak menanamkan Islam dalam ranah Tauhid, Akhlak, Sosial, Ekonomi, Budaya , dan Politik di masyarakat negeri ini. Tak dapat dipungkiri bahwa Islam telah menjadi inpirasi dan memberikan warna dalam perjalanan dinamika bangsa kita ini. Mereka telah membangun pondasi, kini pun kita punya pijakan yang kuat untuk meneruskannya. Kearifan mereka dalam berdakwah adalah salah satu hal yang dapat kita jadikan contoh dan bahan perenungan, agar tak sia-sia daya upaya yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita.

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 14 April 2016 Permalink | Balas  

    Armageddon: Pertempuran Akhir Zaman 

    Reciting-QuranArmageddon: Pertempuran Akhir Zaman

    Istilah Armageddon sebenarnya berasal dari bahasa Yunani. Istilah ini kemudian di kalangan orang Barat telah menjadi sinonim dalam pembahasan tentang hari akhir dunia.

    Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Tidak akan datang hari kiamat sehingga kaum muslimin memerangi kaum Yahudi dan membunuh mereka. Sehingga, bersembunyilah orang-orang Yahudi di belakang batu atau kayu, kemudian batu atau kayu itu berkata, “Wahai orang muslim, wahai hamba Allah, ini ada orang Yahudi di belakang saya, kemarilah dan bunuhlah dia!” Kecuali pohon Gharqad (yang tidak berbuat demikian) karena ia termasuk pohon Yahudi.”

    Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Kalian akan diperangi oleh bangsa Yahudi. Lalu, kalian diberi kemenangan atas mereka, sampai-sampai batu pun akan berbicara, “Hai muslim, ini seorang Yahudi di balikku, bunuhlah ia!”

    Dua hadits di atas merupakan gambaran tentang episode akhir dari Armageddon. Armageddon yang merupakan peperangan di akhir zaman akan menggilas seluruh kekuatan Yahudi dan negara Israel serta sekutu-sekutunya di seluruh dunia. Betapa hebatnya pertempuran itu, sampai-sampai batu dan kayu ikut berbicara menunjukkan tempat persembunyian Yahudi. Kitab mereka sendiri juga mengatakan hal tersebut. Bibel pasal Yehezkiel (7 : 15) berjudul Kesudahan Yerusalem menyebutkan, “Pedang ada di luar kota, sampar dan kelaparan ada di dalam. Barangsiapa (Yahudi) yang di luar kota akan mati karena pedang, dan barangsiapa (Yahudi) yang di dalam kota akan binasa oleh kelaparan dan sampar.”

    Hal ini dipertegas dalam Bibel kitab Yehezkiel pasal 6 ayat 11 – 14, “Beginilah firman Tuhan Allah, “Bertepuklah dan entakkanlah kakimu ke tanah dan serukanlah, “Awas!” Oleh sebab segala perbuatan kaum Israel yang keji dan jahat, mereka akan rebah mati karena pedang, kelaparan, dan penyakit sampar. Yang jauh akan mati karena sampar, yang dekat akan rebah karena pedang, dan yang terluput serta terpelihara akan mati karena kelaparan. Demikianlah Aku akan melampiaskan amarah-Ku kepada mereka. Aku akan mengacungkan tangan-Ku melawan mereka dan tanahnya, di mana saja mereka diam akan Kubuat menjadi musnah dan sunyi sepi mulai dari padang gurun sampai Ribla”

    Istilah Armageddon sebenarnya berasal dari bahasa Yunani. Istilah ini kemudian di kalangan orang Barat telah menjadi sinonim dalam pembahasan tentang hari akhir dunia. Di kalangan kaum muslimin juga dijumpai istilah tersebut, yaitu al-Majidun “kemuliaan” yaitu “Perang Kemuliaan”. Hal ini ditemukan dalam beberapa manuskrip yang tersimpan dalam perpustakaan-perpustakaan Islam di Timur Tengah.

    Armageddon adalah nama sebuah gunung di Palestina/Israel. Arti dari Armageddon sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu Ar berarti Gunung (Har dalam bahasa Ibrani/Hebrew) dan Mageddon = Magiddo adalah nama kota kuno di wilayah Israel sebelah utara. Kota Magiddo terletak di pegunungan Samaria, di mana gunung ini membentang dari Magiddo di utara sampai ke Hebron di selatan.

    Di dunia Barat, Armageddon telah menjadi diskursus yang cukup urgen hingga sekarang. Mereka menggambarkan Armageddon sebagai peristiwa jatuhnya meteor raksasa ke bumi. Padahal, hal itu sangat jauh dari apa yang dimaksud dengan Armageddon itu sendiri. Peristiwa jatuhnya meteor ke bumi hanyalah salah satu episode dalam Armageddon.

    Lantas apa hakikat sebenarnya tentang Armageddon? Sebagai jawaban singkat, Armageddon adalah peristiwa besar di akhir zaman, yaitu perang dunia terbesar di akhir zaman yang dimulai dari Magiddo, sebuah kota di Israel di pegunungan Samaria. Nabi Muhammad saw. Menyebut Peperangan Akhir Zaman ini sebagai Al-Malhamah al-Kubro, suatu huru-hara besar yang belum pernah ada tandingannya, yang merupakan arena penampakan Kuasa Allah untuk membungkam kesombongan orang-orang kafir.

    Pada episode akhir zaman nanti, Isa Putra Maryam akan turun untuk menghakimi orang Yahudi atau Israel, yaitu orang-orang Yahudi keturunan Samiri si penyembah sapi, serta semua yang menjadi pendukungnya (Rum/Romawi). Mereka bersama pendukung-pendukungnya akan berkumpulkan di gunung Magiddo. Di sinilah Dajjal si Pendusta Besar berperan dalam terwujudnya Pertempuran Akhir Zaman. Di tengah-tengah pertempuran itu, Allah kirimkan “Hantaman yang Keras” (al-Bathsyah al-Kubro) yang menghantam tepat bala tentara Rum dan Israel. Sehingga, mereka terbunuh dengan hebatnya. Puncak dari pertempuran itu, Allah menurunkan Isa Putra Maryam (Yesus) untuk membunuh Dajjal dan pengikutnya.

    Peperangan Armageddon ini mempunyai rentang waktu yang lama. Sehingga, menyeret semua negara ke dalam dua poros, yaitu poros kaum kafir yang dipimpin oleh Dajjal dan poros kaum muslimin yang dipimpim oleh Al-Mahdi. Di tengah-tengah berkecambuknya perang ini, turunlah pertolongan Allah kepada kaum muslimin yaitu dengan diturunkannya Isa Almasih Putra Maryam Perawan Suci. Isa akan turun di menara putih di timur Damaskus ketika menjelang fajar. Kemudian Isa masuk ke markas kaum muslimin dan ikut dalam barisan shalat subuh. Setelah itu ia bersama Al-Mahdi akan memimpin kaum muslimin menyerbu seluruh markas kaum kafir, bahkan berhasil membunuh Dajjal dan seluruh orang kafir.

    Tempat Berlangsungnya Armageddon

    Terdapat banyak istilah tentang Armageddon, Rasulullah menyebutnya sebagai Al-Malhamah al-Kubra “pertempuran besar yang tidak ada tandingannya”. Istilah yang lainnya seperti Hari Jabal di Palestina. Istilah-istilah yang lainnya muncul berdasarkan nama tempatnya yaitu Samaria, Bukit al-Quds (Yerusalem), Tanah Isra dan Mikraj, Al-Jabal al-Majid (Majidu asy-Syam), Lembah Yosafat, dan Lembah Penentuan. Nama-nama tempat itu secara geografis adalah sama, yaitu dalam satu tempat/kawasan di Israel dan8 sekitarnya, meliputi juga Libanon bagian selatan yang berhadapan dengan kota Magiddo, bagian barat Yordania, serta bagian selatan Suriah (dataran tinggi Golan).

    Tanda-Tanda Dekatnya ARMAGEDDON

    Dari berbagai sumber/literatur, terdapat beberapa tanda sebagai isyarat dekatnya Armageddon.

    • Kembalinya/mengumpulnya Bani Israel ke Tanah Palestina.
    • Memuncaknya kedurhakaan Israel, dengan Ariel menjadi pemimpinnya.
    • Munculnya gerakan Intifadah (gerakan aksi lempar batu oleh anak-anak Palestina kepada Israel).
    • Munculnya Imam Mahdi untuk menghentikan kedurhakaan Israel

    ***

    Dikutip dari buku;Armagedon:Peperangan Akhir zaman

    Penulis : Ir.Wisnu Sasongko

     
  • erva kurniawan 1:22 am on 13 April 2016 Permalink | Balas  

    Nishfu Syaban 

    malam nishfu syabanNishfu Syaban

    Keutamaan, Bacaan do’a & Cara Melaksanakannya

    (malam 15 Sya’ban 1425 H Insya Alloh jatuh pada hari Rabu 29 September 2004 M, Amalan ini boleh juga dilakukan di malam 13 atau 14, afdholnya di malam 15)

    • Malam Nishfu Sya’ban dan Keutamaannya
    • Doa yang Dibaca Berikut Artinya
    • Cara Melaksanakan Doa Nishfu Sya’ban

    Malam Nishfu Sya’ban dan Keutamaannya

    Bulan Sya’ban adalah bulan yang diapit oleh dua bulan yang sangat mulia, yaitu Rajab dan Ramadhan. Bulan Rajab merupakan salah satu dari 4 bulan haram: bulan-bulan yang dihormati. Allah berfirman agar kita tidak menganiaya diri kita dengan berbuat maksiat di bulan-bulan haram, sebab melakukan maksiat di bulan haram lebih berat tanggung jawabnya kelak di akhirat.

    Adapun keutamaan bulan Ramadhan sangat banyak,

    di antaranya:

    1 ) ibadah wajib di bulan itu seperti 70 ibadah wajib di bulan lain,

    2 ) amalan sunah dibulan itu senilai amalan wajib di bulan lain,

    3 ) pada bulan itu Quran diturunkan, dan

    4) terdapat malam yang lebih mulia dari seribu bulan, dll.

     

    Keutamaan yang banyak dari kedua bulan ini seakan menenggelamkan kelebihan bulan Sya’ban. Padahal, bulan Sya’ban juga memiliki keutamaan:

    Diriwayatkan kepadaku bahwa Usamah bin Zaid berkata kepada Nabi, “Ya Rasulullah, aku belum pernah melihat engkau berpuasa di bulan lain lebih banyak dari puasamu di bulan Sya’ban.” Kata Nabi, “Bulan itu sering dilupakan orang karena diapit oleh bulan Rajab dan Ramadhan, padahal pada bulan itu, diangkat amalan-amalan (dan dilaporkan) kepada Tuhan Rabbil Alamin. Karenanya, aku ingin agar sewaktu amalanku dibawa naik, aku sedang berpuasa.”

    (HR Ahmad dan Nasai – dlm. Figh Sunah Abu Dawud).

    Adapun keutamaan bulan Sya’ban lainnya akan lebih jelas lagi dalam hadis-hadis berikut:

    HADIS PERTAMA

    Aisyah RA bercerita bahwa pada suatu malam ia kehilangan Rasulullah SAW. Ia lalu mencari dan akhirnya menemukan beliau di Baqi’ sedang menengadahkan wajahnya ke langit. Beliau berkata:

    “Sesungguhnya Allah Azza Wajalla turun ke langit dunia pada malam nishfu Sya’ban dan mengampuni (dosa) yang banyaknya melebihi jumlah bulu domba Bani Kalb.” (HR Turmudzi, Ahmad dan Ibnu Majah)

    HADIS KEDUA

    Diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy’ari RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

    “Sesungguhnya Allah pada malam nishfu Sya’ban mengawasi seluruh mahluk-Nya dan mengampuni semuanya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan.” (HR Ibnu Majah)

    HADIS KETIGA

    Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib KW bahwa Rasulullah SAW bersabda:

    “Jika malam nishfu Sya’ban tiba, maka salatlah di malam hari, dan berpuasalah di siang harinya, karena sesungguhnya pada malam itu, setelah matahari terbenam, Allah turun ke langit dunia dan berkata, Adakah yang beristighfar kepada Ku, lalu Aku mengampuninya, Adakah yang memohon rezeki, lalu Aku memberinya rezeki , adakah yang tertimpa bala’, lalu Aku menyelamatkannya, adakah yang begini (2x),  demikian seterusnya hingga terbitnya fajar.”

    (HR Ibnu Majah).

    Demikianlah keutamaan dan kelebihan malam Nishfu Sya’ban, marilah kita manfaatkan malam yang mulia ini untuk mendekatkan diri dan memohon sebanyak- banyaknya kepada Allah.

    Doa yang Dibaca Berikut Artinya

    (Ditulis latin kurang lebih sbb : Allohumma Ya zal manni wala yumannu ‘alaih, Ya zal jalali wal ikrom, Ya zat-thauli wal in ‘am, La ilaha illa anta zhohrol lajin, wajarol mustajirin, wa amanal kho-ifin, Allohumma in-kunta katabtani ‘indaka fi ummil kitab, syafiyyan aw mahruman, aw mathrudan, aw muqottaron ‘alayya fir-rizqi, fa amhullohumma fi fadhlika syaqowati, waharmani, wathordi, wa iqtaro rizqi, wa asbitni ‘indaka fi ummil kitabi sa’idan, marzuqon, muwaffaqol khoyrot, fainnaka qulta, waqawlukal haq, fi kitabikal munzal, ‘ala lisani nabiyyikal mursal, {Yamhulloha ma yasya’u wayusbitu wa’dahu ummul kitab} Allohumma bit-tajallil a’dzom, fi laylatin-nishfhu min syahri sya’banal mukarrom, allati yufroqu fiha kullu amrin hakimin wayubrom, an aksyafa ‘anna minal bala-i ma na’lamu wama laa na’lam, wama anta bihi a’lam, innaka antal a-‘azzul akrom, washollallohu ‘ala syayyidina muhammadin, wa ‘ala alihi washohbihi wasallam, walhamdulillahi robbil ‘alamin).

    Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ya Allah, yang memiliki anugerah dan tidak dianugerahi, wahai yang memiliki kebesaran dan kemuliaan, yang memiliki karunia dan kenikmatan, tiada Tuhan melainkan Engkau, Engkau tempat berlindung, tempat memohon pertolongan, dan tempat aman bagi orang yang ketakutan, Ya Allah, jika telah Engkau tuliskan nasibku dalam Ummul kitab sebagai orang yang sengsara, atau orang yang diharamkan mendapat kenikmatan, atau orang yang ditolak, atau orang yang disempitkan rezekinya, maka demi kemurahan-Mu, hapuskanlah ya Allah, kesengsaraanku, keterhalanganku dari nikmat, ketertolakkanku, dan kesempitan rezekiku, kemudian tetapkanlah aku di dalam Ummul Kitab yang ada di sisi-Mu sebagai orang yang bahagia, mendapat rezeki cukup, memperoleh taufiq untuk melakukan segala kebaikan, Sesungguhnya Engkau telah berfirman, dan firman-Mu lah yang benar, di dalam kitab-Mu yang diturunkan kepada nabi-Mu yang diutus, yaitu: “Allah (berkuasa utk) menghapus dan menetapkan yang dikehendaki-Nya, dan di sisi-Nya Ummul kitab” Ya Allah, dengan tajallimu yang Maha agung pada malam Nishfu Sya’ban yang mulia ini, yang di dalamnya dipisahkan dan dikukuhkan semua persoalan penting, aku mohon agar dihindarkan dari malapetaka yang aku ketahui, atau yang tidak aku ketahui, atau yang lebih Engkau ketahui, sesungguhnya Engkau Maha Luhur dan Mulia. Semoga sholawat dan salam dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabatnya, dan segenap puji bagi-Mu ya Allah, Pemelihara sekalian alam.

    Cara Melaksanakan Doa Nishfu Sya’ban

    Cara melaksanakan ibadah di malam Nishfu Sya’ban ini berbeda-beda. Di bawah ini adalah cara yang dilakukan di Mesjid Riyadh, atau cara yang diajarkan oleh Habib Abubakar Alatas, syeikhnya Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, Muallif Simtud Duror.

    Salatlah Maghrib berjama’ah, dan selesaikan semua doa dan wirid, kemudian salatlah sunah ba’diah Maghrib

    Berikut adalah rangkaian ibadah nishfu sya’ban:

    PERTAMA

    Salatlah sunah awwabin 2 rakaat  niatnya: ushollii rok-ataini min sunnatil awwaabiin   lillaahi ta’aalaa  bacalah surat al-ikhlash 6x setelah fatihah  pada rokaat pertama dan kedua

    • setelah salam, bacalah fatihah dan yaa siin dengan   niat agar dipanjangkan umur dalam ketaatan kepada Allah al-faatihah wa yaa siin biniyyati thuulil ‘umr ma-‘at  taufiiq li thoo-‘atillaah

    KEDUA

    • salatlah sunah awwabin 2 rakaat  niatnya: ushollii rok-ataini min sunnatil awwaabiin  illaahi ta’aalaa  bacalah surat al-ikhlash 6x setelah fatihah  pada rokaat pertama dan kedua
    • setelah salam bacalah fatihah dan yaa siin dengan  niat agar diselamatkan dari segala mara bahaya  al-faatihah wa yaa siin biniyyatil hifzh wal ‘ishmati  minal aafaat wal ‘aahaat

    KETIGA

    • salatlah sunah awwabin 2 rakaat  niatnya: ushollii rok-ataini min sunnatil awwaabiin  lillaahi ta’aalaa  bacalah surat al-ikhlash 6x setelah fatihah  pada rokaat pertama dan kedua
    • setelah salam, bacalah fatihah dan yaa siin dengan  niat agar dapat berdikari tanpa membutuhkan  bantuan dari sesama makhluk Allah dan agar  meninggal dalam husnul khotimah  al-faatihah wa yaa siin biniyyatil istighnaa`  ‘anin naas wa husnul khootimah.

    (Akhir dari ibadah ini akan bersamaan dengan masuknya waktu Isya).

    Sholat ini hendaknya dilakukan secara berjamaah dengan istri, anak, pembantu, tetangga, di mesjid dll. Pada salat awwabin imam hanya membaca jahr (dengan suara keras) surat al-faatihah saja.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 12 April 2016 Permalink | Balas  

    Pujian dan Celaan 

    berdoa1Pujian dan Celaan

    Pujian dan celaan adalah bagian dari romantika hidup manusia. Hari ini seseorang memuji kita, tetapi besoknya mungkin mencela kita. Bagi muslim yang bertauhid, pujian dan celaan dianggap sama saja, senantiasa ia kaitkan dengan Ridha Allah SWT.

    Setiap manusia pada dasarnya memiliki perasaan takut dicela, ini termasuk ciri manusia, sama dengan rasa malu (muru’ah). Rasa ini jika dibiarkan dalam cengkeraman nafsu akan menyebabkan mata hati menjadi buta dan tuli dalam menempatkan rasa ini pada porsi yang sebenarnya. Penyebab dari hal ini antara lain adalah :

    1. Rasa sakit hati apabila merasakan adanya kekurangan dalam diri.
    2. Tidak memahami hakikat celaan dan pujian.
    3. Tidak mampu menguasai hati dalam menempatkan rasa malu.

    Seyogyanya kita memahami dan menimbang hal dibawah ini dengan hati yang bersih dan akal yang jernih :

    1. Jika celaan itu sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, bersyukurlah atas celaan itu, karena berarti mengingatkan akan kesalahan kita, anggaplah celaan itu Rahmat Allah SWT untuk membenahi yang kesalahan itu.
    2. Jika celaan itu tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, bersyukurlah atas celaan itu karena berarti dosa kita semakin berkurang dan kebaikan kita semakin bertambah.
    3. Terkadang rasa takut dicela dan dihina ini dapat menyesatkan dan menjerumuskan kita, karena kita tak lagi waspada terhadap kesalahan diri kita dan menutup kebenaran menghampiri diri kita.
    4. Bersyukurlah bahwa celaan itu “hanya” datang dari orang saja, hanyalah dalam pandangan dan perasaan duniawi saja. Merupakan malapetaka jika celaan itu datangnya dari Allah SWT.
    5. Jangan sekali-kali bertahan demi gengsi dengan mencampakkan kebenaran dan menyokong kebatilan. Karena terkadang dalam celaan itu terkandung pula kebenaran.

    Demikian sedikit kutipan tausiah yang pernah saya dengar dari seorang ustadz yang suka tahlilan, semoga ada manfaatnya.

    ***

    Rifky Pradana

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 11 April 2016 Permalink | Balas  

    Bulan Sya’ban: Persediaan Di Ambang Ramadhan 

    malam nishfu syabanBulan Sya’ban: Persediaan Di Ambang Ramadhan

    Setiap bulan dalam sepanjang tahun mengikut kiraan taqwim Hijriyyah mempunyai kelebihan tertentu dan keistimewaan beribadat di dalamnya. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta‘ala menciptakan hari atau bulan itu ada yang baik dan ada yang lebih baik. Sebagaimana yang disebutkan oleh hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai kelebihan bulan Muharram, Rejab, Sya‘ban, Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah sebagai bulan-bulan yang istimewa. Begitu juga dengan hari-hari tertentu seperti Juma‘at, Khamis dan Isnin mempunyai pelbagai fadhilat.

    Bulan Sya‘ban Dan Galakkan Beribadat Di Dalamnya

    Sekarang kita berada di bulan Sya‘ban. Bulan Sya‘ban juga mempunyai keistimewaan tersendiri di dalam Islam. Keadaan ini samalah juga dengan bulan-bulan yang lain yang mempunyai fadhilat tersendiri, sehingga menyebabkan kehadirannya sentiasa ditunggu-tunggu oleh mereka yang ahli ibadat sebagai masa mengait pahala.

    Bulan Sya‘ban adalah antara bulan yang paling dicintai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di mana Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam akan lebih banyak berpuasa di bulan ini. Pernah diriwayatkan bahawa Baginda tidak pernah berpuasa sunat dalam sebulan, lebih banyak daripada puasanya di bulan Sya‘ban.

    Dalam makna yang lain Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memperbanyakkan puasa sunat di bulan Sya‘ban dibandingkan bulan-bulan yang lain. Oleh kerana itu amatlah dituntut bagi umat Islam mencontohi apa yang dilakukan oleh Baginda itu kerana selain memperbanyak amal kebajikan di bulan ini, ia juga merupakan suatu latihan rohani ke arah mempersiapkan diri menyambut kedatangan bulan Ramadhan.

    Amalan-Amalan Sunat Pada Bulan Sya‘ban

    Keistimewaan bulan ini bahawa amalan seluruh manusia diangkat untuk dihadapkan kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala, maka sewajarnyalah sepanjang bulan ini diisikan dengan amal ibadah dan kebajikan. Maka antara amalan yang digalakkan pada bulan Sya‘ban adalah:

    1. Memperbanyak puasa sunat.

    Bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lebih gemar berpuasa sunat dalam bulan Sya‘ban berbanding dengan bulan-bulan yang lain.

    1. Bertaubat dan beristiqhfar

    Taubat ialah pembersihan rohani kerana taubat itu menjadi tuntutan dalam agama supaya setiap diri individu yang sememangnya tidak ma‘shum ini melakukan taubat pada setiap masa dan ketika. Tegasnya hukum taubat itu adalah wajib dari segi syara‘. Walau bagaimanapun sebenar-benar taubat itu ialah yang dikatakan taubat nasuha.

    Taubat nasuha tidak akan tercapai tanpa mendatangkan terlebih dahulu syarat-syarat yang ditentukan. Umpamanya jika dosa itu antara hamba dengan Tuhan:

    1. Hendaklah dia meninggalkan dosa atau maksiat itu.
    2. Hendaklah dia benar-benar menyesali dan merasa dukacita atas perbuatan maksiatnya itu.
    3. Hendaklah dia berjanji dan berazam untuk tidak akan kembali mengulangi melakukannya.

    Manakala jika dosa itu bersangkut paut dengan hak orang lain, maka selain syarat-syarat sebagaimana yang disebutkan di atas, ditambah lagi satu syarat iaitu hendaklah membersihkan dirinya daripada hak orang itu atau orang yang melakukan dosa itu memohon maaf kepada orang berkenaan.

    Selain daripada itu, peranan taubat itu sendiri tidak terhenti setakat membersihkan diri daripada segala dosa dan maksiat. Lebih daripada itu ia juga merupakan suatu cara untuk kita sentiasa berlindung diri kepada Allah subhanahu wa Ta‘ala memohon keberkatan ketika kita memulakan dan membuat sesuatu pekerjaan yang berfaedah dan mengharapkan kurnia, taufiq serta diselamatkan daripada ditimpa musibah, kesusahan, kesulitan dan sebagainya.

    Adapun istighfar itu pula ialah pernyataan memohon ampun kepada Allah daripada semua dosa. Lafaz istighfar itu di antaranya ialahأستغفر الله العظيم (Astaghfirullohal ‘adzim) berarti: “Aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung”.

    1. Memperbanyak zikir dan berdoa

    Zikir ialah ucapan yang dilakukan dengan lidah atau mengingati Allah dengan hati, dengan ucapan atau ingatan yang mempersucikan Allah dan membersihkanNya dari sifat-sifat yang tidak layak untukNya.

    Terdapat banyak ayat al-Qur’an dan hadis yang memerintahkan agar manusia mengambil berat tentang zikir. Banyak faedah yang diperolehi hasil daripada berzikir. Antaranya ialah:

    1. Menenangkan hati:

    Ini bersesuaian dengan janji Allah Subhanahu wa Ta‘ala bahawa orang-orang yang beriman itu tenang hati mereka dengan zikrullah. Ini kerana berzikir (mengingati Allah) itu mententeramkan hati manusia.

    1. Kawalan Diri dan Perlindungan Malaikat:

    Seseorang itu merasa terkawal kerana Allah sentiasa menyertainya di mana sahaja dia berada. Akibatnya paling minimal dia takut hendak berbuat maksiat dan bersedia pula untuk melakukan ketaatan.

    Bahkan dia juga mendapat kawalan sepenuhnya daripada malaikat. Bagi orang yang sekadar duduk di majlis zikir sekalipun tidak bersama berzikir akan mendapat juga rahmat Allah dan kawalan malaikat.

    iii. Terpelihara Daripada Godaan dan Pujukan Syaitan.

    1. Meningkatkan Rasa Kecintaan Kepada Allah:

    Untuk meningkatkan kecintaan kepada Allah, mestilah memahami dan menghayati bacaan tasbih, doa dan istighfar yang diucapkan itu.

    Antara keistemewaan amalan zikir itu pula ialah:

    1. Zikir boleh dilaksanakan bila-bila masa walaupun sedang melakukan pekerjaan tanpa terikat dengan waktu. Ia juga boleh dilaksanakan dalam keadaan duduk, tidur, berdiri dan baring.
    2. Boleh dilaksanakan walaupun dalam keadaan berhadas sama ada hadas kecil mahu pun hadas besar. Walau bagaimanapun makruh berzikir secara lisan ketika berada di dalam tandas.

    Begitu juga dengan perkara doa. Doa boleh dilakukan tanpa mengira tempat dan masa. Doa ialah memohon sesuatu hajat atau perlindungan daripada Allah Subhanahu wa Ta‘ala dengan cara merendahkan diri dan tawadhu‘ kepadaNya.

    Selain daripada itu banyak lagi amal kebajikan yang boleh dilaksanakan di bulan Sya‘ban ini sebagai persiapan menyambut kedatangan Ramadhan seperti memperbanyakkan selawat atas junjungan besar Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersembahyang sunat terutama di waktu malam, banyak bersedekah dan sebagainya. Maka rebutlah peluang dan kelebihan yang ada di bulan Sya‘ban ini untuk mempertingkatkan keimanan dan ketaqwaan kita. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya, mengapa Baginda melebihkan berpuasa sunat di bulan Sya‘ban berbanding bulan-bulan yang lain? Baginda bersabda:

    Artinya: “Bulan itu (Sya‘ban) yang berada di antara Rejab dan Ramadhan adalah bulan yang dilupakan manusia dan ia adalah bulan yang diangkat padanya amal ibadah kepada Tuhan Seru Sekalian Alam, maka aku suka supaya amal ibadah ku di angkat ketika aku berpuasa”. (Hadis riwayat an-Nasaie)

    Kelebihan Malam Nisfu Sya‘ban

    Adapun kelebihan Malam Nisfu Sya‘ban itu telah disebutkan di dalam hadis shahih daripada Mu‘az bin Jabal Radhiallahu ‘anhu, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Allah menjenguk datang kepada semua makhlukNya di Malam Nisfu Sya‘ban, maka diampunkan dosa sekalian makhlukNya kecuali orang yang menyekutukan Allah atau orang yang bermusuhan.” (Hadis riwayat Ibnu Majah, at-Thabrani dan Ibnu Hibban)

    Di Malam Nisfu Sya‘ban juga, adalah di antara malam-malam yang dikabulkan doa. Berkata Imam asy-Syafi‘e dalam kitabnya al-Umm: “Telah sampai pada kami bahawa dikatakan: sesungguhnya doa dikabulkan pada lima malam iaitu: pada malam Jumaat, malam Hari Raya Adha, malam Hari Raya ‘Aidil fitri, malam pertama di bulan Rejab dan malam nisfu Sya‘ban.”

    Menghidupkan Malam Nisfu Sya‘ban

    Nisfu Sya‘ban ialah hari ke lima belas daripada bulan Sya‘ban. Malam Nisfu Sya‘ban merupakan malam yang penuh rahmat dan pengampunan daripada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Kenyataan ini dapat direnung kepada hadis yang diriwayatkan oleh Mu‘az bin Jabal Radhiallahu ‘anhu di atas.

    Adapun cara menghidupkan Malam Nisfu Sya‘ban sebagaimana yang dilakukan sekarang ini tidak berlaku pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan zaman para sahabat. Akan tetapi ia berlaku pada zaman tabi‘in dari penduduk Syam. Menyebut al-Qasthalani dalam kitabnya al-Mawahib al-Ladunniyah, bahawa para tabi‘in daripada penduduk Syam seperti Khalid bin Ma‘dan dan Makhul, mereka beribadat dengan bersungguh-sungguh pada Malam Nisfu Sya‘ban. Maka dengan perbuatan mereka itu, mengikutlah orang ramai pada membesarkan malam tersebut.

    Para tabi‘in tersebut menghidupkan Malam Nisfu Sya‘ban dengan dua cara:

    1. Sebahagian mereka hadir beramai-ramai ke masjid dan berjaga di waktu malam (qiamullail) untuk bersembahyang sunat dengan memakai harum-haruman, bercelak mata dan berpakaian yang terbaik.
    2. Sebahagiannya lagi melakukannya dengan cara bersendirian. Mereka menghidupkan malam tersebut dengan beribadat seperti sembahyang sunat dan berdoa dengan cara bersendirian.

    Ada pun cara kita sekarang ini menghidupkan Malam Nisfu Sya‘ban dengan membaca Al-Qur’an seperti membaca surah Yasin, berzikir dan berdoa dengan berhimpun di masjid-masjid atau rumah-rumah persendirian sama ada secara berjemaah atau perseorangan adalah tidak jauh berbeza dengan apa yang dilakukan oleh para tabi‘in itu.

    Amalan-Amalan Bid‘ah Dalam Bulan Sya‘ban

    Dalam keghairahan kita menghidupkan Malam Nisfu Sya‘ban itu dengan berbagai cara ibadat, kita perlu berhati-hati agar tidak melakukan perkara-perkara bid‘ah.

    Di antara perkara bid‘ah itu ialah bersembahyang sunat Nisfu Sya‘ban. Sembahyang ini sebenarnya tiada tsabit dalam ajaran Islam. Imam an-Nawawi dan Imam Ibnu Hajar telah menafikan adanya sembahyang sunat Nisfu Sya‘ban kerana suatu sembahyang itu disyariatkan cukup dengan sandarannya sama ada dari nash Al-Qur’an atau pun hadis.

    Jika seseorang itu masih juga ingin untuk melakukan sembahyang, maka sayugialah dia mengerjakan sembahyang-sembahyang sunat yang lain seperti sunat Awwabin (di antara waktu maghrib dan Isya’), sembahyang tahajjud, akhirnya sembahyang witir atau sembahyang sunat muthlaq bukan sembahyang sunat Nisfu Sya‘ban. Sembahyang sunat muthlaq ini boleh dikerjakan pada bila-bila masa sahaja sama ada pada Malam Nisfu Sya‘ban atau pada malam-malam yang lain.

    Adalah mendukacitakan pada malam yang penuh berkat dan keampunan itu, wujud perkara-perkara yang tidak selari dengan syara‘, iaitu adanya orang yang membuat hiburan atau mengadakan konsert pada Malam Nisfu Sya‘ban. Apatah lagi jika hiburan atau permainan yang diadakan itu melibatkan ramai orang Islam sehingga terlepas untuk merebut peluang beribadat dan berdoa pada malam tersebut. Perbuatan seumpama ini setentunya menyumbang kepada maksiat.

    Sesunguhnya bulan Sya‘ban itu adalah bulan di mana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lebih banyak berpuasa sunat dibandingkan pada bulan-bulan yang lain, iaitu sebagai persiapan dan persediaan untuk menghadapi bulan Ramadhan. Amalan Baginda itu sewajarnya dicontohi oleh sekalian umat Islam disamping bulan Sya‘ban itu sendiri mempunyai kelebihan yang tersendiri seperti Malam Nisfu Sya‘ban.

    === selesai ===

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 10 April 2016 Permalink | Balas  

    Apakah Menyentuh Wanita Membatalkan Wudhu 

    wudhuApakah Menyentuh Wanita Membatalkan Wudhu

    Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Pertanyaan.

    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : “Apakah menyentuh wanita membatalkan wudhu?”.

    Jawaban.

    Yang benar adalah bahwa menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu kecuali jika keluar sesuatu dari kemaluannya, hal ini berdasarkan riwayat shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya :

    “Rasullah mencium salah seorang istrinya lalu beliau melaksanakan shalat tanpa mengulang wudhu beliau”.

    Karena pada dasarnya tidak ada sesuatu apapun yang membatalkan wudhu hingga terdapat dalil yang jelas dan shahih yang menyatakan bahwa hal itu membatalkan wudhu, dan karena si pria dianggap telah menyempurnakan wudhunya sesuai dengan dalil syar’i. Sesuatu yang telah ditetapkan dalil syar’i tidak bisa dibantah kecuali dengan dalil syar’i pula.

    Jika ditanyakan bagaimana dengan firman Allah yang berbunyi :

    “aw-laamastumu an-nisaa’a” artinya : “atau menyentuh perempuan” [An-Nisaa : 45, Al-Ma’idah : 6]

    Maka jawabnya adalah : Yang dimaksud dengan menyentuh dalam ayat ini adalah bersetubuh, sebagaimana disebutkan dalam riwayat shahih dari Ibnu Abbas.

    [Fatawa wa Rasa’il Asy-Syaikh Utsaimin 4/201]

    ***

    [Disalin dari kitab Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita-1, hal 18-19 Darul Haq]

    Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=875&bagian=0

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 9 April 2016 Permalink | Balas  

    Bersama Kesulitan Ada Kemudahan 

    Reciting-QuranBersama Kesulitan Ada Kemudahan

    Wahai manusia, setelah lapar ada kenyang, setelah haus ada kepuasan, setelah bergadang ada tidur pulas, dan setelah sakit ada kesembuhan. Setiap yang hilang pasti ketemu, dalam kesesatan akan datang petunjuk, dalam kesulitan ada kemudahan, dan setiap kegelapan akan terang benderang.

    Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemengangan (kepada rasul-Nya) atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. (QS Al Maidah : 52)

    Sampaikan kabar gembira pada malam hari, bahwa sang fajar pasti akan datang mengusirnya dari puncak-puncak gunung dan dasar-dasar lembah, kepada orang yang dilanda kesusahan bahwa pertolongan akan datang secepar kelebatan cahaya dan kedipan mata, kepada orang yang ditindas bahwa kelembutan dan dekapan hangat akan segera tiba.

    Saat Anda melihat hamparang padang sahara yang seolah memanjang tanpa batas, ketahuilah bahwa di balik kejauhan itu terdapat kebuh yang rimbun penuh hijau dedaunan.

    Ketika Anda melihat seutas tali meregang kencang, ketahuilah bahwa tali itu akan segera putus.

    Setiap tangisan akan berujung dengan senyuman, ketakutan akan berakhir dengan rasa aman, dan kegelisahan akan sirna oleh kedamaian.

    Kobaran api tidak mampu membakar tubuh Nabi Ibrahim a.s. Dan itu karena pertolongan Ilahi membuka ‘jendela’ seraya berkata : “Hai api menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim (QS : Al-Anbiya : 69).

    Lautan luas tak kuasa menenggelamkan Kalimur Rahman (Musa a.s). Itu tak lain karena suara agung kala itu bertitah : “Sekali-kali tidak akan tersusul, sesungguhnya Rabbku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk padaku (QS : Asy Syu’ara : 62).

    Ketika bersembunyi dari kejaran kaum kafir dalam sebuah gua, Nabi Muhammad S.A.W  yang ma’shum mengabarkan kepada Abu Bakar bahwa Allah Yang Maha Tunggal dan Maha Tinggi ada bersama mereka. Sehingga rasa aman, tenteram, dan tenang pun datang menyelimuti Abu Bakar.

    Mereka yang terpaku pada waktu mereka yang terbatas dan pada kondisi mereka yang (mungkin) sangat kelam, umumnya hanya akan merasakan kesusahan, kesengsaraan, dan keputusasaan dalam hidup mereka. Itu, karena mereka hanya menatap dinding-dinding kamar dan pintu-pintu rumah mereka saja. Padahal mereka seharusnya menembuskan pandangan sampai ke belakang tabir, dan berpikir lebih jauh tentang hal-hal yang berada di luar pagar rumahnya.

    Maka dari itu, janganlah pernah merasa terhimpit sejengkal pun, karena setiap keadaan pasti berubah. Dan sebaik-baik ibadah adalah menanti kemudahan dengan sabar. Betapa pun hari demi hari akan terus bergulir, tahun demi tahun akan selalu berganti, malam demi malam pun datang silih berganti. Meski demikian, yang ghaib akan tetap tersembunyi, dan Sang Maha Bijaksana tetap pada keadaan dan segala sifat-Nya. Dan Allah mungkin akan menciptakan sesuatu yang baru, setelah itu semua, tetapi sesungguhnya setelah kesulitan itu tetap akan muncul kemudahan.

    Sumber : La Thazan oleh Dr. ‘Aidh Al-qarni

     
  • erva kurniawan 1:22 am on 8 April 2016 Permalink | Balas  

    Ayah, Ibu, Jangan Murtadkan Anakmu! 

    nasehat-quran1Ayah, Ibu, Jangan Murtadkan Anakmu!

    “Aku ingin anakku nantinya bisa jadi penyanyi terkenal,” ujar seorang ibu muda dalam suatu obrolan di sebuah acara perpisahan anak-anak kelas III SMP di gedung cukup mewah di bilangan Jakarta. Kebetulan saat itu sedang ditampilkan acara hiburan yang diisi oleh sumbangan alunan suara merdu anaknya. “Kalo’ aku sih, anakku ingin aku masukkan ke sekolah modelling biar bisa jadi peragawati terkenal,” timpal ibu lainnya tak kalah sengit. Walhasil obrolan ibu-ibu yang ikut mengiring anak-anak mereka pada acara perpisahan sekolah, tak jauh dari seputar obsesi para ibu kalangan elit itu terhadap anak-anak mereka.

    Obsesi orangtua terhadap anak, memang tak dilarang dalam Islam. Selama obsesi itu merupakan wujud kasih sayang orangtua terhadap anak-anak mereka. Agar anak-anak mereka menjadi orang yang berhasil dalam karir, mandiri (baik secara materi maupun sikap mental), mendapat pendamping hidup yang baik, terpandang di masyarakatnya, serta tetap berbakti pada orangtua. Bagaimana soal berbakti kepada Tuhan? Ini juga hal yang sering tak dilupakan sebagai bagian obsesi para ortu terhadap anak-anak mereka. Biasanya satu paket, agar anak berbakti kepada orangtua dan agamanya.

    Namun sayangnya unsur terakhir ini, kerap cuma sebagai embel-embel formalitas dari bangunan obsesi para ortu yang diangankan pada anak-anak mereka. Tindak lanjut dari obsesi terakhir ini, sayangnya macet cuma sampai pada tataran angan-angan. Dalam bentuk implementasi, bak “jauh panggang dari api” alias berbanding terbalik.

    Ilustrasi di awal tulisan ini, mungkin bisa jadi contoh. Bagaimana tergiurnya seorang ibu pada predikat sukses duniawi yang kelak bisa disandang anak, tanpa mempedulikan apakah itu selaras dengan harapan Tuhan? Padahal hakikatnya, kita bukanlah the real owner dari anak-anak yang kita miliki. Kita hanya ditugasi Allah ‘Azza wa Jalla, Pemilik Sesungguhnya Seluruh Anak-Anak Manusia, cuma sebagai fasilitator yang harus bisa mengantarkan anak-anak kita kembali kepada Pemiliknya dalam keadaan orisinal (asli) sebagaimana dulu dia dilahirkan. Dalam bahasa imannya, anak itu lahir dalam keadaan fitrah (suci), karena itu ia harus kita kembalikan pada Pemiliknya juga dalam kondisi fitrah.

    Al Qur’an menegaskan hal itu. “Dan (ingatlah) ketika Robb-mu mengeluarkan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian atas jiwa-jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab; “Betul (Engkau Tuhan kami) kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan; “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lupa terhadap kesaksian ini.” (Surat Al A’raf 172).

    Setiap anak Adam yang terdiri dari beragam warna, beragam bahasa, beragam kultur, dan akhirnya berhimpun dalam berbagai suku bangsa di dunia itu, hakikatnya lahir dalam keadaan fitrah (bertauhid kepada Allah ‘Azza wa Jalla). Ini merupakan warisan Robbani sekaligus modal dasar yang paling kokoh yang akan menentukan eksistensi kemanusiaan setiap insan. Bagaimana nilai-nilai keyakinan yang diajarkan anak, miliu tempatnya hidup, serta sistem pembinaan karakter yang diterapkan terhadap dirinya, kelak yang akan menentukan akan menjadi seperti apa anak di kemudian hari. Apakah anak tetap dalam fitrahnya, atau apakah bahkan ia kelak menjadi penentang fitrah yang dimilikinya?

    Karena itu Nabi mulia saw menegaskan, “Setiap bayi yang lahir dalam keadaan fitah. Maka orangtuanyalah yang kemudian berperan dalam merubah fitrahnya, apakah ia kelak menjadi Yahudi, menjadi Majusi, atau menjadi Nasrani.” (hadits shahih).

    Hadits di atas tidak menyebutkan, si anak bisa berubah menjadi Islam. Karena Islam (fitrah) itu sesungguhnya telah menyatu (inherent) dalam diri setiap anak yang lahir. Maka tugas para orangtua yang diamanati anak-anak yang fitrah itu oleh Allah swt, sesungguhnya adalah tetap mengasuh mereka dalam sistem dan pola yang fitrah. Dengan kata lain, anak-anak itu sebetulnya telah disediakan oleh Penciptanya suatu sistem pendidikan yang sesuai dengan fitrah mereka. Sehingga hanya dengan sistem itu anak-anak dijamin tak akan berubah fitrahnya hingga ia menghadap Tuhannya. Kita -para orangtua- yang seharusnya berperan mengarahkan, menempatkan, dan menjaga si anak agar tetap berada pada koridor sistem fitrah itu, yang tak lain adalah dienul Islam.

    Hanya sistem (dien) Islam yang bisa mengakomadasi, menumbuhkan, mengembangkan, serta mengokohkan potensi fitrah setiap manusia. Karena Islam adalah agama yang diciptakan oleh Pencipta sekaligus Pemilik manusia itu sendiri. Perintah itu dengan gamblang dituangkan dalam firmanNya yang agung; “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia manusia tidak mengetahuinya.” (Ar Ruum: 30)

    Lantaran itulah para orangtua berperan mengenalkan, menggiring, dan menempatkan anak-anak agar dia hidup dalam habitat sistem fitrah itu (dienul Islam) secara permanen. Anak tak boleh sedikitpun disusupkan nilai-nilai asing pada aspek manapun, yang dapat merusak potensi fitrahnya. Sebaliknya orangtua berkewajiban menempa kepribadian anak berdasarkan petunjuk sistem fitrah itu, agar potensi fitrah anak menjadi sesuatu yang dominan muncul ke permukaan kepribadiannya. Sebab hanya manusia yang memiliki kepribadian fitrah yang akan bisa memelihara eksistensi kehormatan dirinya.

    Tentu saja keliru asumsi yang mengatakan, mengajarkan Islam pada anak, cuma urusan sholat, puasa, dan bersedekah. Namun dia tidak mendidiknya agar anak berpakaian sopan dan menutup aurat (bagi anak-anak perempuan). Dia tidak menciptakan atmosfer Islami di dalam rumah tangganya. Atau bahkan dia membiarkan anak-anaknya bebas mengikuti trend budaya Barat, baik dari segi pergaulan, selera hiburan, selera berpakaian, dan lain sebagainya. Atau juga dia membebaskan anaknya memilih jalan hidup yang bertentangan dengan Islam.

    Akan lebih keliru lagi misalnya, jika ada orangtua menginginkan anak-anak mereka menjadi anak-anak yang sholeh dan sholihat, tapi menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah-sekolah Kristen misalnya. Atau anak-anak kita biarkan bergaul dalam lingkungan komunitas atheistik/materialistik yang menganut paham pergaulan bebas. Komunitas yang menganggap semua agama sama, semua agama baik, surga tidak bisa diklaim hanya sebagai milik orang-orang Islam belaka. Jelas ini tidak kondusif bagi perkembangan fitrah anak. Bahkan sangat membahayakan fitrahnya.

    Jika kita tidak asuh anak-anak kita dalam asuhan sistem dan nilai-nilai yang Islami, jangan salahkan jika mereka kelak di kemudian hari menjadi orang-orang nyeleneh. Orang-orang yang tidak tau malu mempertontonkan aurat, Orang-orang yang menjadi pemuja ideologi Barat. Orang-orang yang sesungguhnya telah menjadi murtad (keluar dari Islam), na’udzubillah min dzalik.

    Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang mau mendengar suara fitrah anak-anak kita. Agar kita tidak memaksakan kehendak dan obsesi kita yang barangkali justru akan memurtadkan mereka. Coba dengar baik-baik suara fitrah mereka: “Ayah, ibu, jangan murtadkan anakmu!” Wallahu a’lam.

    (ERA/VIT)

    http://www.swara.net/id/view_headline.php?ID=2205

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 7 April 2016 Permalink | Balas  

    Mencari Berkah di Bulan Rajab 

    rajab-logoMencari Berkah di Bulan Rajab

    Assalamu a’alaikum wr. wb.

    Sebentar lagi kita akan berada dalam bulan baru. Baru dalam pengertian, karena bulan itu lain dengan enam bulan sebelumnya yang telah kita lalui. Yaitu bulan Rajab, satu dari empat bulan yang dinyatakan sebagai bulan haram. Dinyatakan sebagai bulan haram yang berarti harus dihormati, karena bulan-bulan itu memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan yang lain, seperti hal-hal yang semestinya dihalalkan pada bulan yang lain, pada bulan tersebut diharamkan.

    Di antara Salah satu keistimewaan yang dimiliki oleh bulan haram tersebut ialah, larangan berbuat kezaliman (aniaya) pada bulan itu.

    Dalam al-Qur’an al-Karim, (al-Taubah : 36) disebutkan, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu”. Dalam ayat ini jelas sekali, adanya larangan berbuat aniaya pada bulan haram.

    Yang dimaksud dengan bulan haram ialah empat bulan seperti yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dalam shahihnya dalam sebuah hadits dari sahabat Abu Bakrah ra, bahwasanya Nabi saw berkhutbah ketika Hajjatul-wada’. Dalam khutbahnya beliau bersabda, “Sesungguhnya masa telah berputar seperti sediakala pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun, dua belas bulan. Empat di antaranya bulan-bulan haram (yang dimuliakan). Yang tiga berturut-turut, yaitu Dzul-Qa’dah, Dzul-Hijjah dan Muharram serta (yang keempat) Rajabnya Mudlar yang diapit oleh Jumada dan Sya’ban”.

    Mungkin ada yang bertanya, apakah dengan adanya larangan berbuat aniaya pada bulan haram, berarti pada bulan-bulan selainnya larangan-larangan itu diperbolehkan? Kita jawab, tetap tidak diperbolehkan.

    Para ahli tafsir menginterpretasikan aniaya dalam ayat tersebut dengan kemaksiatan, yang berarti pada bulan haram dilarang berbuat mengerjakan hal-hal yang dilarang oleh agama, karena dosanya semakin besar dari pada bulan selainnya. Demikian ini menandakan bahwa empat bulan terebut mendapat keistimewaan dengan adanya larangan berbuat aniaya pada bulan itu, meski sebenarnya berbuat aniaya tetap dihukumi haram sepanjang waktu. Hal ini untuk menjelaskan bahwa berbuat aniaya pada bulan tersebut lebih besar dosanya daripada bulan-bulan selainnya.

    Dalam kitab al-Asrar al-Muhammadiyyah, disebutkan bahwa, jika Allah SWT senang kepada seorang hamba-Nya maka akan mempotensikannya pada bulan-bulan yang utama dengan amalan-amalan saleh dan kebajikan, dan jika Dia membencinya, maka Allah akan mencerai-beraikan keinginannya serta mempotensikannya dalam perbuatan yang tidak baik, memperkeras dalam siksaannya, dan lebih-lebih dengan menghalang-halanginya untuk mendapatkan berkah pada waktu-waktu yang utama. Karena waktu-waktu yang utama merupakan musim berbagai kebajikan dan tampat-tempat yang besar sekali dimungkinkan mendatangkan laba dan keuntungan yang teramat banyak. Jika seorang pedagang melalaikan musim perdagangan (pasaran), ia tidak akan beruntung, dan jika ia melalaikan waktu-waktu yang utama, maka ia tidak akan sukses.

    Menurut Syeikh Isma’il Haqqi al-Barusawi, ulama shufi dan mufassir berkebangsaan Turki pada abad kedua belas hijri, Allah SWT berhak menentukan sebagian perkara yang serupa (dengan selainnya) dengan kemuliaan yang tidak Dia berikan kepada yang lainnya. Seperti Dia memberi hari Jum’at dan hari ‘Arafah dengan suatu kehormatan yang tidak Dia berikan kepada hari-hari yang lain dengan diberlakukannya ibadah tertentu pada kedua hari tersebut daripada hari-hari yang lain. Dia juga memberikan kemuliaan bulan Ramadlan dengan kemuliaan yang tidak Dia berikan pada bulan-bulan yang lain. Dia juga memberikan sebagian waktu siang dan malam dengan kewajiban melaksanakan shalat yang tidak Dia berikan kepada yang lainnya.

    Dia memberikan kemuliaan pada sebagian tempat-tempat dan negeri-negeri dengan tambahan kemuliaan dan kehormatan seperti negeri haram (tanah haram) dan masjidil-haram. Dengan demikian maka tidak ada keanehan jika Dia menentukan sebagian bulan dengan tambahan kemuliaan; di mana perbuatan-perbuatan haram pada bulan-bulan tersebut dosanya lebih besar dan lebih keras daripada ketika dikerjakan di bulan-bulan yang lain, pada bulan itu Dia melipatgandakan perbuatan-perbuatan buruk dengan memperbanyak siksaan-siksaan-Nya serta melipatgandakan amalan-amalan kebajikan dengan memperbanyak pahalanya.

    Allah memberikan keutamaan pada waktu-waktu tertentu daripada waktu-waktu yang lain, agar supaya jiwa dan hati hamba-hamba-Nya berlomba-lomba untuk mengejarnya dan menghormatinya, ruh-ruh mereka menjadi rindu untuk menghidupkannya dengan amal shaleh yang berupa ibadah dengan janji-janji keutamaan yang digemarinya.

    Menurut beliau, pemberian pahala yang berlipat ganda pada bulan-bulan tersebut semata-mata kemurahan ilahy dan anugerah rabbani. (Tafsir Ruh al-Bayan III/423).

    Di antara keistimewaan bulan-bulan haram dari pada bulan-bulan selainnya ialah disunatkannya berpuasa pada bulan-bulan tersebut. Termasuk bulan Rajab yang akan kita hadapi nanti. Berpuasa pada bulan haram pahalanya lebih besar daripada bulan-bulan selainnya terkecuali bulan Ramadan.

    Al-Imam al-Nawawi dalam Raudlah al-Thalibin (II/254) menyatakan, “Bulan-bulan yang paling utama untuk dipuasai setelah bulan Ramadlan ialah bulan-bulan haram; Dzul-Qa’dah, Dzul-Hijjah, Muharram dan Rajab”.

    Menurut al-Imam Muhammad bin ‘Ali al-Syaukani, dalil yang menunjuk pada kesunatan berpuasa Rajab diambil zhahirnya hadits Usamah yang berbunyi, “Sesungguhnya Sya’ban adalah bulan yang dilalaikan oleh manusia antara Rajab dan Ramadlan”. “Zhahirnya hadits ini menunjukkan bahwa masyarakat (pada waktu itu) lalai untuk menta’zimi Sya’ban dengan berpuasa sebagaimana mereka menta’zimi Rajab dan Ramadlan”. (Nail al-Awthar Syarh Muntaqa al-Akhbar II/316).

    Sedangkan dalil secara khusus yang menunjukkan pada keutamaan beribadah pada bulan Rajab secara khusus menurut al-Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani tidak ada dalil yang shahih yang pantas dijadikan hujjah, sebagaimana yang tertera dalam kitab beliau Tabyin al-‘Ajab bima Warada fi Fadll Rajab.

    Di sini mungkin ada yang perlu dijelaskan, bahwa meskipun pada bulan-bulan haram disunatkan melakukan amalan-amalan yang shaleh, pada bulan Rajab tidak boleh melakukan shalat sunat yang disebut dengan shalat ragha’ib. Shalat ini termasuk jenisnya shalat yang bid’ah. Dalam kitab Irsyad al-‘Ibad, al-Malaibari berkata, “Termasuk bid’ah yang tercela dan pelakunya akan mendapatkan dosa serta para penguasa harus melarangnya ialah shalar ragha’ib sebanyak dua belas raka’at pada malam jum’at pertama di bulan Rajab yang waktunya antara shalat maghrib dan ‘isyak. Hadits-haditsnya termasuk hadits palsu, maudlu’ dan bathil dan jangan tertipu dengan orang yang menyebutkannya”. (I’anah al-Thalibin I/270).

    Nah, untuk menjiwai dan menyemangati bulan Rajab ini, kalangan nahdiyin di desa-desa ketika memasuki bulan Rajab dan Sya’ban membaca doa yang berupa, Allaahumma baarik lanaa fii rajaba wa sya’baana wa ballighnaa ramadlaan. Doa ini dibaca oleh Nabi saw ketika memasuki bulan Rajab, seperti diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan lain-lain (baca: Kitab Fadlail Syahr Rajab hal: 45).

    Wallahu a’lam bish-shawab,-

    ***

    Arland

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 6 April 2016 Permalink | Balas  

    PELAJARAN DARI ISRA’ – MI’RAJ : KEUTAMAAN SHOLAT 

    shalat gaibPELAJARAN DARI ISRA’ – MI’RAJ : KEUTAMAAN SHOLAT

    RAJAB adalah bulan yang terkenal sebagai bulan yang memiliki banyak kelebihan. Bulan ini merupakan bulan yang mulia dan dalam bulan ini kita disuruh agar memperbanyak amal ibadah seperti berpuasa dan membersihkan hati dengan memperbanyak zikir dan istighfar. Bulan Rajab juga merupakan bulan yang banyak berlaku perisitwa besar dalam sejarah Islam. Salah satu peristiwa tersebut ialah peristiwa Israk dan Mikraj Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia akan memperingati dan merayakankan hari tersebut dengan pelbagai acara, seperti mengadakan majlis-majlis keagamaan berupa ceramah-ceramah mengenai peristiwa Israk dan Mikraj dan pengajaran yang boleh diambil melalui peristiwa tersebut.

    Israk dan Mikraj berlaku pada 27 Rejab. Peristiwa ini merupakan mukjizat yang menjadi lambang keagungan dan penghormatan bagi Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Berbagai peristiwa yang dialami oleh Baginda dalam perjalanan Israk dan Mikraj. Dalam peristiwa tersebut Allah Subhanahu Wataala telah memperlihatkan kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam akan kekuasan dan kebesaran Allah Subhanahu Wataala dan di balik kejadian-kejadian yang diperlihatkan itu mengandung pengajaran dan peringatan kepada umat manusia. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wataala dalam Surah Al-Israa’ ayat 1 yang artinya :

    “Maha Suci Allah yang telah menjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Al-Haram (di Mekah) ke Masjid Al-Aqsa (di Palestin), yang Kami berkati sekelilingnya, untuk memperlihatkan kepadanya tanda-tanda (kekuasaan dan kebesaran) Kami. Sesungguhnya Allah jualah yang Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui.”

    Salah satu perkara penting yang terjadi dalam malam Israk dan Mikraj ialah Sholat lima waktu difardukan kepada umat Islam. Hal ini menunjukkan kepada kita betapa penting dan tingginya nilai Sholat itu di sisi Allah Subhanahu WaTaala. Perintah kewajiban ini nyata berbeda dari kesemua perkara-perkara wajib yang lain seperti zakat, puasa dan haji yang disyari’atkan melalui wahyu dari Alalh Subhanahu Wataala kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam dengan perantaraan Malaikat Jibril Alaihissalam. Kewajiban Sholat lima waktu diterima oleh Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam secara langsung dari Allah Subhanahu Wataala.

    Dalam Islam, Sholat merupakan ibadah yang mendekatkan kita kepada Allah Taala. Apabila kita mengerjakan Sholat, seolah-olah kita sedang berbicara dengan Allah Taala dan Sholat juga adalah salah satu cara kita menunjukkan rasa syukur kepada Allah Taala atas segala nikmat yang telah dikurniakan kepada kita. Ibadah Sholat juga adalah sebagai simbol pengabdian manusia kepada Penciptanya yang Maha Agung. Firman Allah Taala dalam Surah Adz-Dzaariyaat ayat 56 yang artinya:

    “Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (beribadah kepada Allah).”

    Kewajiban Sholat fardu berbeda dari ibadat-ibadat wajib yang lain. Islam amat menitik-beratkan Sholat. Tidak seperti puasa, zakat dan haji yang kefarduannya boleh digugurkan atas sebab-sebab keuzuran syara’. Berlainan sekali dengan Sholat. Adapun Sholat itu wajib dikerjakan walau di mana dan dalam keadaan apapun. Jika seseorang itu sakit dan tidak mampu berdiri, Sholat boleh dilakukan dalam keadaan duduk, bahkan juga berbaring. Jika seseorang itu dalam keadaan musafir, dia boleh mengerjakan Sholat dengan dua cara, baik secara jamak ataupun qasar. Ini menunjukkan kepada kita betapa tingginya nilai Sholat itu. Selain itu, Sholat juga merupakan perkara pertama yang akan dihisab di akhirat nanti, kerana Sholat adalah pokok utama dalam semua amalan yang dikerjakan oleh manusia. Dengan Sholat dapat menghalang seseorang itu daripada melakukan maksiat dan Sholat juga sentiasa mendekatkan kita kepada Allah Subhanahu Wataala.

    Kembali kita kepada peristiwa yang berlaku di malam Israk dan Mikraj. Dalam peristiwa tersebut, Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam telah diperlihatkan gambaran yang akan berlaku kepada orang-orang yang mengingkari perintah Allah Subhanahu Wataala. Pada malam itu, Baginda telah menyaksikan suatu kaum yang mana kepala mereka dipukul dengan batu sehingga pecah dan dikumpulkan kembali dan kemudian dipukul dan dipalu lagi dengan batu. Perkara ini berlaku berulang-ulang tanpa henti. Lalu Baginda bertanya mengenai perkara tersebut kepada Malaikat Jibril apakah maksud peristiwa tersebut, lalu Malaikat Jibril menjawab, bahwa itu adalah mereka yang otaknya malas untuk menunaikan Sholat fardu. Begitulah dahsyatnya gambaran balasan yang bakal diterima oleh orang-orang yang enggan mengerjakan Sholat.

    Menurut riwayat, dikatakan pada mulanya Allah Subhanahu Wataala mewajibkan Sholat kepada umat Muhammad sebanyak lima puluh kali sehari semalam dan Nabi Muhammad menjunjung perintah tersebut pada awalnya. Namun dalam perjalanan pulang, Baginda telah berjumpa dengan Nabi Musa Alaihissalam yang menyarankan agar Rasulullah kembali kepada Allah Taala untuk memohon keringanan. Peristiwa turun naik Baginda ini berlaku berkali-kali sehinggalah Sholat yang diwajibkan itu menjadi lima waktu sehari semalam. Peristiwa ini seharusnya menjadi i’tibar kepada kita umat Islam agar mensyukuri nikmat yang dikurniakan oleh Allah Taala. Peristiwa tersebut memperlihatkan kepada kita betapa Maha Rahman dan Rahimnya Allah Subhanahu Wataala. Namun apa yang terjadi sekarang, walaupun Sholat fardu telah dikurangkan menjadi lima waktu sehari semalam, masih banyak umat Islam yang lalai menunaikannya. Bahkan ada segolongan umat Islam yang langsung tidak menunaikan Sholat dengan berbagai alasan yang dicipta sendiri.

    Sehubungan dengan itu, berkenaan dengan bulan Rajab yang mulia ini, marilah kita sama-sama menghayati kembali pengajaran yang kita peroleh dari peristiwa Israk dan Mikraj Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Sama-samalah kita memperbanyak amalan di bulan yang mulia ini dan yang penting sekali agar menjaga dan memperbaiki Sholat kita. Semoga Sholat kita diterima oleh Allah dan kita juga berdoa semoga dengan ini kita memperolehi hidayah dan keredaan Allah Subhanahu Wataala dan terhindar dari azab api Neraka pada hari akhirat kelak.

    Firman Allah Taala dalam Surah Al-Hajj ayat 7, yang artinyanya :

    “Hari orang-orang yang beriman! Rukuklah kamu, sujudlah kamu dan sembahlah (beribadahlah) kepada Tuhan kamu dan kamu perbuatlah kebaikan, semoga kamu mendapat kemenangan.”

    wallohu a’lam bish-shawab,-

     
  • erva kurniawan 9:36 am on 5 April 2016 Permalink | Balas  

    Yang Lalu Biar Berlalu 

    siluet waktuYang Lalu Biar Berlalu

    Mengingat dan mengenang masa lalu, kemudian bersedih atas nestapa dan kegagalan di dalamnya merupakan tindakan bodoh dan gila. Itu sama artinya dengan membunuh semangat, memupuskan tekad, dan mengubur masa depan yang belum terjadi.

    Bagi orang yang berpikir, berkas-berkas masa lalu akan dilipat dan tak pernah dilihat kembali. Cukup ditutup rapat-rapat, lalu disimpan dalam ruang penglupaan, diikat dengan tali yang kuat dalam penjara pengacuhan selamanya, atau diletakkan di dalam ruang gelap yang tak tertembus cahaya. Yang demikian, karena masa lalu telah berlalu dan habis. Kesedihan tak akan mampu mengembalikannya lagi, keresahan tak akan sanggup memperbaikinya kembali, kegundahan tidak akan mampu merubahnya menjadi terang, dan kegalauan tidak akan dapat menghidupkannya kembali, karena ia memang sudah tidak ada.

    Jangan pernah hidup dalam mimpi buruk masa lalu, atau di bawah payung gelap masa silam,  selamatkan diri Anda dari bayangan masa lampau! Adakah Anda ingin mengembalikan air sungai ke hulu, air susu ke payudara ibu, dan air mata ke dalam kelopak mata? Ingat keterikatan Anda dengan masa lalu, keresahan Anda atas apa yang telah terjadi padanya, keterbakarann emosi jiwa Anda oleh api panasnya, dan kedekatan jiwa Anda pada pintunya, adalah kondisi yang sangat naif, ironis, memprihatikan, dan sekaligus menakutkan.

    Membaca kembali lembaran masa lalu hanya akan memupuskan masa depan, mengendurkan semangat, dan menyia-nyiakan waktu yang demikian sangat brharga. Dalam Al-Qur’an, setiap kali usai menerangkan kondisi suatu kaum dan apa saja yang telah mereka lakukan, Allah selalu mengatakan, “Itu adalah umat yang lalu.” Begitulah, ketika suatu perkara habis, maka selesai pula urusannya. Dan tak ada gunanya mengurai kembali bangkai zaman dan memutar kembali roda sejarah.

    Orang yang berusaha kembali ke masa lalu, adalah tak ubahnya orang yang menumbuk tepung, atau orang yang menggergaji serbuk kayu. Syahdan, nenek moyang kita dahulu selalu mengingatkan orang yang meratapi masa lalunya demikan : ”Janganlah engkau mengeluarkan mayat-mayat itu dari kuburnya”. Dan konon kata orang yang mengerti bahasa binatang, sekawanan binatang sering bertanya kepada seekor keledai begini : ”Mengapa engkau tidak menarik gerobak?” “Aku benci khayalan,” jawab keledai.

    Adalah bencana besar manakala kita rela mengabaikan masa depan dan justru hanya disibukkan oleh masa lalu. Itu sama halnya dengan kita mengabaikan istana-istana yang indah dengan sibuk meratapi puing-puing yang telah lapuk. Padahal betapapun seluruh manusia dan jin bersatu untuk mengembalikan semua hal yang telah berlalu, niscaya mereka tidak akan pernah mampu. Sebab yang demikian itu sudah mustahil pada asalnya.

    Orang yang berpikiran jernih tidak akan pernah melihat dan sedikit pun menoleh ke belakang. Pasalnya, angin akan selalu berhembus ke depan, air akan mengalir ke depan, setiap kafilah akan berjalan ke depan, dan segala sesuatu bergerak maju ke depan. Maka dari itu, janganlah pernah melawan sunnah kehidupan.

    ***

    Sumber : La Thazan oleh Dr. ‘Aidh Al-qarni

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: