Updates from Juni, 2014 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 4:05 am on 30 June 2014 Permalink | Balas  

    Fiqih Shaum Bagi Muslimah 

    Selamat-Berpuasa-Puasa-Ramadhan-1431-HFIQIH SHAUM BAGI MUSLIMAH

    Muqoddimah

    Dalam surat Al-Baqoroh : 183, Allah SWT memerintahkan umat Islam melaksanakan shiyam, untuk mencapai derajat taqwa. Perintah ini adalah umum, baik untuk pria maupun wanita. Tetapi dalam perincian pelaksanaan shiyam, ada beberapa hukum khusus bagi wanita. Hal ini terjadi karena perbedaan fithrah yang ada pada wanita yang tidak dimiliki oleh pria. Dalam kajian ini- insya Allah- akan dibahas hukum-hukum yang berkaitan dengan wanita secara khusus.

    Panduan Umum

    1. Wanita sebagaimana pria disyari’atkan memanfaatkan bulan suci ini untuk hal-hal yang bermanfaat, dan memperbanyak menggunakan waktu untuk beribadah. Seperti memperbanyak bacaan Al-Qur’an, dzikir, do’a, shodaqoh dan lain sebagainya, karena pada bulan ini amal sholeh dilipatgandakan pahalanya.

    2. Mengajarkan kepada anak-anaknya akan nilai bulan Ramadhan bagi umat Islam, dan membiasakan mereka berpuasa secara bertahap (tadarruj), serta menerangkan hukum-hukum puasa yang bisa mereka cerna sesuai dengan tingkat kefahaman yang mereka miliki.

    3. Tidak mengabiskan waktu hanya di dapur, dengan membuat berbagai variasi makanan untuk berbuka. Memang wanita perlu menyiapkan makanan, tetapi jangan sampai hal itu menguras seluruh waktunya, karena ia juga dituntut untuk mengisi waktunya dengan beribadah dan bertaqorrub kepada Allah.

    4. Melaksanakan shalat pada waktunya (awal waktu) III. Hukum Berpuasa bagi Muslimah Berdasarkan umumnya firman Allah SWT (QS. Al-Baqoroh: 183) serta hadits Rasulullah SAW (HR.Bukhori & Muslim), maka para ulama’ ber-ijma’ bahwa hukum puasa bagi muslimah adalah wajib, apabila memenuhi syarat-syarat; antara lain: Islam, akil baligh, muqim, dan tidak ada hal-hal yang menghalangi untuk berpuasa.

    Wanita Shalat Tarawih, I’tikaf dan Lailat al Qodr

    Wanita diperbolehkan untuk melaksanakan shalat tarawih di masjid jika aman dari fitnah. Rasulullah SAW bersabda: ” Janganlah kalian melarang wanita untuk mengunjungi masjid-masjid Allah ” (HR. Bukhori). Prilaku ini juga dalakukan oleh para salafush shaleh. Namun demikian, wanita diharuskan untuk berhijab (memakai busana muslimah), tidak mengeraskan suaranya, tidak menampakkan perhiasan- perhiasannya, tidak memakai angi-wangian, dan keluar dengan izin (ridlo) suami atau orang tua. Shof wanita berada dibelakang shof pria, dan sebaik-baik shof wanita adalah shof yang di belakang (HR. Muslim). Tetapi jika ia ke masjid hanya untuk shalat, tidak untuk yang lainnya, seperti mendengarkan pengajian, mendengarkan bacaan Al-Qur’an (yang dialunkan dengan baik), maka shalat di rumahnya adalah lebih afdlol. Wanita juga diperbolehkan melakukan i’tikaf baik di masjid rumahnya maupun di masjid yang lain bila tidak menimbulkan fitnah, dan dengan mendapatkan izin suami, dan sebaiknya masjid yang dipakai i’tikaf menempel atau sangat berdekatan dengan rumahnya serta terdapat fasilitas khusus bagi wanita. Disamping itu wanita juga di perbolehkan menggapai ‘lailat al qodr’, sebagaimana hal tersebut dicontohkan Rasulullah SAW dengan sebagian isteri beliau. (Lebih lanjut lihat panduan tentang i’tikaf dan lailat al qodr).

    Wanita Haidh dan Nifas

    Shiyam dalam kondisi ini hukumnya haram. Apabila haid atau nifas keluar meski sesaat sebelum maghrib, ia wajib membatalkan puasanya dan mengqodo’nya (mengganti) pada waktu yang lain. Apabila ia suci pada siang hari, maka untuk hari itu ia tidak boleh berpuasa, sebab pada pagi harinya ia tidak dalam keadaan suci. Apabila ia suci pada malam hari Ramadhan meskipun sesaat sebelum fajar, maka puasa pada hari itu wajib atasnya, walaupun ia mandi setelah terbit fajar.

    Wanita Hamil dan Menyusui

    a. Jika wanita hamil itu takut akan keselamatan kandungannya, ia boleh berbuka.

    b. Apabila kekhawatiran ini terbukti dengan pemeriksaan secara medis dari dua dokter yang terpercaya, berbuka untuk ibu ini hukumnya wajib, demi keselamatan janin yang ada dikandungannya.

    c. Apabila ibu hamil atau menyusui khawatir akan kesehatan dirinya, bukan kesehatan anak atau janin, mayoritas ulama’ membolehkan ia berbuka, dan ia hanya wajib mengqodo’ (mengganti) puasanya. Dalam keadaan ini ia laksana orang sakit.

    d. Apabila ibu hamil atau menyusui khawatir akan keselamatan janin atau anaknya (setelah para ulama’ sepakat bahwa sang ibu boleh berbuka), mereka berbeda pendapat dalam hal: Apakah ia hanya wajib mengqodo’? atau hanya wajib membayar fidyah (memberi makan orang miskin setiap hari sejumlah hari yang ia tinggalkan)? atau kedua-duanya qodho’ dan fidyah (memberi makan):

    e. Ibnu Umar dan Ibnu Abbas membolehkan hanya dengan memberi makan orang miskin setiap hari sejumlah hari yang ditinggalkan.

    f. Mayoritas ulama’ mewajibkan hanya mengqodho’.

    g. Sebagian yang lain mewajibkan kedua-duanya; qodho’ dan fidyah.

    h. DR. Yusuf Qordhowi dalam Fatawa Mu’ashiroh mengatakan bahwa ia cenderung kepada pendapat yang mengatakan cukup untuk membanyar fidyah (memberi makan orang setiap hari), bagi wanita yang tidak henti-hentinya hamil dan menyusui. Tahun ini hamil, tahun berikutnya menyusui, kemudian hamil dan menyusui, dan seterusnya, sehingga ia tidak mendapatkan kesempatan untuk mengqodho’ puasanya. Lanjut DR. Yusuf al-Qordlowi; apabila kita membebani dengan mengqodho’ puasa yang tertinggal, berarti ia harus berbuasa beberapa tahun berturut-turut sertelah itu, dan itu sangat memberatkan , sedangkan Allah tidak menghendaki kesulitan bagi hambaNya.

    Wanita yang Berusia lanjut

    Apabila puasa membuatnya sakit, maka dalam kondisi ini ia boleh tidak berpuasa. Secara umum, orang yang sudah berusia lanjut tidak bisa diharapkan untuk melaksanakan (mengqodho’) puasa pada tahun-tahun berikutnya, karena itu ia hanya wajib membayar fidyah (memberi makan orang miskin).

    Wanita dan Tablet Pengentas Haidh

    Syekh Ibnu Utsaimin menfatwakan bahwa penggunaan obat tersebut tidak dianjurkan. Bahkan bisa berakibat tidak baik bagi kesehatan wanita. Karena haid adalah hal yang telah ditakdirkan bagi wanita, dan kaum wanita di masa Rasulullah SAW tidak pernah membebani diri mereka untuk melakukan hal tersebut. Namun apabila ada yang melakukan, bagaimana hukumnya?. Jawabnya: – Apabila darah benar-benar terhenti, puasanya sah dan tidak diperintahkan untuk mengulang. – Tetapi apabila ia ragu, apakah darah benar-benar berhenti atau tidak,maka hukumnya seperti wanita haid, ia tidak boleh melakukan puasa. ( Masa’il ash Shiyam h. 63 & Jami’u Ahkam an Nisa’ 2/393)

    Mencicipi Masakan

    Wanita yang bekerja di dapur mungkin khawatir akan masakan yang diolahnya pada bulan puasa, karena ia tidak dapat merasakan apakah masakan tersebut keasinan atau tidak atau yang lain-lainnya. Maka bolehkah ia mencicipi masakannya?. Para ulama’ memfatwakan tidak mengapa wanita mencicipi rasa masakannya, asal sekedarnya dan tidak sampai di tenggorokan, dalam hal ini diqiyaskan dengan berkumur. (Jami’u Ahkam an Nisa’).

    Khotimah

    Demikian panduan ringkas ini, semoga para wanita muslimah dapat memaksimalkan diri beribadah selama bulan Ramadhan tahun ini, untuk meraih nilai taqwa.

    Iklan
     
  • erva kurniawan 3:49 am on 29 June 2014 Permalink | Balas  

    Fiqih Shaum 

    FIQIH SHAUMpuasa 3

    Cara Menetapkan Awal Dan Akhir Bulan

    1. “Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. beliau berkata : Manusia sama melihat Hilal (bulan sabit), maka akupun mengabarkan hal itu kepada Rasululullah saw. Saya katakan : sesungguhnya saya telah melihat Hilal. Maka beliau saw. shaum dan memerintahkan semua orang agar shaum.” ( H.R Abu Dawud, Al-Hakim dan Ibnu Hibban).( Hadits Shahih).

    2. “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: Mulailah shaum karena melihat ru’yah dan berbukalah (akhirilah shaum Ramadhan ) dengan melihat ru’yah. Apabila awan menutupi pandanganmu, maka sempurnakanlah bulan Sya’ban selama Tiga Puluh hari. “( HR. Bukhary Muslim).

    3. KESIMPULAN

    a. Menetapkan awal dan akhir bulan Ramadhan dengan melihat ru’yah, meskipun bersumber dari laporan seseorang, yag penting adil ( dapat dipercaya ).

    b. Jika bulan sabit ( Hilal ) tidak terlihat karena tertutup awan, misalnya, maka bilangan bulan Sya’ban digenapkan menjadi Tiga Puluh hari. ( dalil 1 dan 2).

    c. Pada dasarnya ru’yah y ang dilihat oleh penduduk di suatu negara, berlaku untuk seluruh dunia. Hal ini akan berlaku jika Khilafah ‘ Ala Minhaajinnabiy sudah tegak ( dalil 2 ).

    4. Selama khilafah belum tegak, untuk menghindarkan meluasnya perbedaan pendapat ummat Islam tentang hal ini, sebaiknya ummat Islam mengikuti ru’yah yag nampak di negeri masing-masing. ( ini hanya pendapat sebagian ulama).

    Rukun Shaum

    1. “… dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah shaum itu sampai alam…( AL-Baqarah : 187).

    2. “Adiy bin Hatim berkata : Ketika turun ayat ; artinya (…hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam…), lalu aku mengambil seutas benang hitam dan seutas benanag putih, lalu kedua utas benang itu akau simpan dibawah bantalku. Maka pada waktu malam saya amati, tetapi tidak tampak jelas, maka saya pergi menemui Rasulullah saw. dan saya ceritakan hal ini kepada beliau. Beliapun bersabda: Yang dimaksud adalah gelapnya malam dan terangnya siang (fajar). ” ( H.R. Bukhary Muslim).

    3. “Allah Ta’ala berfirman : ” Dan tidaklah mereka disuruh, kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlashkan ketaatan untukNya ” Al-Bayyinah :5)

    4. “Rasulullah saw. bersabda : Sesungguhnya semua amal itu harus dengan niat, dan setiap orang mendapat balasan sesuai dengan apa yang diniatkan.” H.R Bukhary dan Muslim).

    5. “Diriwayatkan dari Hafshah , ia berkata : Telah bersabda Nabi saw. : Barangsiapa yang tidak beniat ( shaum Ramadhan) sejak malam, maka tidak ada shaum baginya .” (HR. Abu Dawud) Hadits Shahih.

    6. KESIMPULAN:

    Keterangan ayat dan hadit di atas memberi pelajaran kepada kita bahawa rukun shaum Ramadhan adalah sebagai – berikut :

    a.Berniat sejak malam hari ( dalil 3,4 dan 5).

    b. Menahan makan, minum koitus (Jima’) dengan istri di siang hari sejak terbit fajar sampai terbenam matahari ( Maghrib), ( dalil 1 dan 2).

    Yang Diwajibkan Shaum Ramadhan.

    1. “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu sekalian untuk shaum, sebagaimana yang telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertaqwa. ” ( Al-Baqarah : 183)

    2. “Diriwayatkan dari Ali ra., ia berkata : Sesungguhnya nabi saw telah bersabda : telah diangkat pena ( kewajiban syar’i/ taklif) dari tiga golongan . – Dari orang gila sehingga dia sembuh – dari orang tidur sehingga bangun – dari anak-anak sampai ia ia bermimpi / dewasa.” ( H.R.Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi).

    3. KESIMPULAN

    Keterangan di atas mengajarkan kepada kita bahwa : yang diwajibkan shaum Ramadhan adalah: setiap orang beriman baik lelaki maupun wanita yang sudah baligh/dewasa dan sehat akal /sadar.

    Yang Dilarang Shaum

    1. “Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. ia berkata : Disaat kami haidh di masa Rasulullah saw, kami dilarang shaum dan diperintahkan mengqadhanya, dan kami tidak diperintah mengqadha Shalat “( H.R Bukhary Muslim).

    2. KESIMPULAN

    Keterangan di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa wanita yang sedang haidh dilarang shaum sampai habis masa haidhnya, lalu melanjutkan shaumnya. Di luar Ramadhan ia wajib mengqadha shaum yag ditinggalkannya selama dalam haidh.

    Yang Diberi Kelonggaran Untuk Tidak Shaum Ramadhan

    1. “(Masa yang diwajibkan kamu shaum itu ialah) bulan Ramadhan yang padanya diturunkan Al-Qur’an, menjadi pertunjuk bagi sekalian manusia, dan menjadi keterangan-keterangan yang menjelaskan pertunjuk, dan (menjelaskan) antara yang haq dengan yang bathil. Karenanya, siapa saja dari antara kamu yang menyaksikan anak bulan Ramadhan (atau mengetahuinya), maka hendaklah ia shaum di bulan itu; dan siapa saja yang sakit atau dalam musafir maka (bolehlah ia berbuka, kemudian wajiblah ia shaum) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (Dengan ketetapan yang demikian itu) Allah menghendaki kamu beroleh kemudahan, dan Ia tidak menghendaki kamu menanggung kesukaran. Dan juga supaya kamu cukupkan bilangan shaum (sebulan Ramadhan), dan supaya kamu membesarkan Allah karena mendapat pertunjukNya, dan supaya kamu bersyukur.” ( Al-Baqarah :185.)

    2. “Diriwayatkan dari Mu’adz , ia berkata : Sesungguhnya Allah swt telah mewajibkan atas nabi untuk shaum, maka DIA turunkan ayat ( dalam surat AL-Baqarah : 183-184), maka pada saat itu barangsiapa mau shaum dan barangsiapa mau memberi makan seorang miskin, keduanya diterima. Kemudian Allah menurunkan ayat lain ( AL-Baqarah : 185), maka ditetapkanlah kewajiban shaum bagi setiap orang yang mukim dan sehat dan diberi rukhsah keringanan) untuk orang yang sakit dan bermusafir dan ditetapkan cukup memberi makan orang misikin bagi oran yang sudah sangat tua dan tidak mampu shaum. ” ( HR. Ahmad, Abu Dawud, AL-Baihaqi dengan sanad shahih).

    3. “Diriwayatkan dari Hamzah Al-Islamy : Wahai Rasulullah, aku dapati bahwa diriku kuat untuk shaum dalam safar, berdosakah saya ? Maka beliau bersabda : hal itu adalah merupakan kemurahan dari Allah Ta’ala, maka barangsiapa yang menggunakannya maka itu suatu kebaikan dan barangsiapa yang lebih suka untuk terus shaum maka tidak ada dosa baginya ” ( H.R.Muslim)

    4. “Diriwayatkan dari Sa’id Al-Khudry ra. ia berkata : Kami bepergian bersama Rasulullah saw. ke Makkah, sedang kami dalam keadaan shaum. Selanjutnya ia berkata : Kami berhenti di suatu tempat. Maka Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya kamu sekalian sudah berada ditempat yang dekat dengan musuh kalian, dan berbuka lebih memberi kekuatan kepada kamu. Ini merupakan rukhsah, maka diantara kami ada yang masih shaum dan ada juga yang berbuka. Kemudian kami berhenti di tempat lain. Maka beliau juga bersabda: Sesungguhnya besoak kamu akan bertemu musuh, berbuka lebih memberi kekuatan kepada kamu sekalian,maka berbukalah. Maka ini merupakan kemestian, kamipun semuanya berbuka. Selanjutnya bila kami bepergian beserta Rasulullah saw. kami shaum .” ( H.R Ahmad, Muslim dan Abu Dawud).

    5. “Diriwayatkan dari Sa’id Al-Khudry ra. ia berkata : Pada suatu hari kami pergi berperang beserta Rasulullah saw. di bulan Ramadhan. Diantara kami ada yang shaum dan diantara kami ada yang berbuka . Yang shaum tidak mencela yang berbuka ,dan yang berbuka tidak mencela yang shaum. Mereka berpendapat bahwa siapa yang mendapati dirinya ada kekuatan lalu shaum, hal itu adalah baik dan barangsiapa yang mendapati dirinya lemah lalu berbuka,maka hal ini juga baik ” (HR. Ahmad dan Muslim)

    6. “Dari Jabir bin Abdullah : Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. pergi menuju ke Makkah pada waktu fathu Makkah, beliau shaum sampai ke Kurraa?il Ghamiim dan semua manusia yang menyertai beliau juga shaum. Lalu dilaporkan kepada beliau bahwa manusia yang menyertai beliau merasa berat , tetapi mereka tetap shaum karena mereka melihat apa yang tuan amalkan ( shaum). Maka beliau meminta segelas air lalu diminumnya. Sedang manusia melihat beliau, lalu sebagian berbuka dan sebagian lainnya tetap shaum. Kemudian sampai ke telinga beliau bahwa masih ada yang nekad untuk shaum. Maka beliaupun bersabda : mereka itu adalah durhaka. “( HR.Tirmidzy)

    7. “Ucapan Ibnu Abbas : wanita yang hamil dan wanita yang menyusui apabila khawatir atas kesehatan anak-anak mereka, maka boleh tidak shaum dan cukup membayar fidyah memberi makan orang miskin ” ( Riwayat Abu Dawud ). Shahih

    8. “Diriwayatkan dari Nafi’ dari Ibnu Umar: Bahwa sesungguhnya istrinya bertanya kepadanya ( tentang shaum Ramadhan ), sedang ia dalam keadaan hamil. Maka ia menjawab : Berbukalah dan berilah makan sehari seorang miskin dan tidak usah mengqadha shaum .” ( Riwayat Baihaqi) Shahih.

    9. “Diriwayatkan dari Sa’id bin Abi ‘Urwah dari Ibnu Abbas beliau berkata : Apabila seorang wanita hamil khawatir akan kesehatan dirinya dan wanita yang menyusui khawatir akan kesehatan anaknya jika shaum Ramadhan. Belberkata : Keduanya boleh berbuka ( tidak shaum )dan harus memberi makan sehari seorang miskin dan tidak perlu mengqadha shaum” ( HR.Ath-Thabari dengan sanad shahih di atas syarat Muslim , kitab AL-irwa jilid IV hal 19).

    10. KESIMPULAN:

    Pelajaran yang dapat diambil dari keterangan di atas adalah :

    1) Orang Mu’min yang diberi kelonggaran diperbolehkan untuk tidak shaum Ramadhan, tetapi wajib mengqadha di bulan lain, mereka itu ialah :

    a) Orang sakit yang masih ada harapan sembuh.

    b) Orang yang bepergian ( Musafir ). Musafir yang merasa kuat boleh meneruskan shaum dalam safarnya, tetapi yang merasa lemah dan berat lebih baik berbuka, dan makruh memaksakan diri untuk shaum.

    2) Orang Mu’min yang diberi kelonggaran diperbolehkan untuk tidak mengerjakan shaum dan tidak wajib mengqadha, tetapi wajib fidyah (memberi makan sehari seorang miskin). Mereka adalah orang yang tidak lagi mampu mengerjakan shaum karena :

    a). Umurnya sangat tua dan lemah.

    b). Wanita yang menyusui dan khawatir akan kesehatan anaknya.

    c). Karena mengandung dan khawatir akan kesehatan dirinya.

    d). Sakit menahun yang tidak ada harapan sembuh.

    e). Orang yang sehari-hari kerjanya berat yang tidak mungkin mampu dikerjakan sambil shaum, dan tidak mendapat pekerjaan lain yang ringan. dalil 2,7,8 dan 9).

    Hal-Hal Yang Membatalkan Shaum

    1. “…dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam (fajar ), kemudian sempurnakanlah shaum itu sampai malam…” Al-Baqarah : 187).

    2. “Dari Abu Hurairah ra.: bahwa sesungguhnya nabi saw. telah bersabda : Barangsiapa yang terlupa, sedang dia dalam keadaan shaum, kemudian ia makan atau minum, maka hendaklah ia sempurnakan shaumnya. Hal itu karena sesungguhnya Allah hendak memberinya karunia makan dan minum ” (Hadits Shahih, riwayat Al-Jama’ah kecuali An-Nasai).

    3. Dari Abu Hurairah ra. bahwa sesungguhnya Nabi saw telah bersabda : Barang siapa yang muntah dengan tidak sengaja, padahal ia sedang shaum – maka tidak wajib qadha ( shaumnya tetap sah ), sedang barang siapa yang berusaha sehinggga muntah dengan sengaja, maka hendaklah ia mengqadha ( shaumnya batal ). ( H.R : Abu Daud dan At-Tirmidziy )

    4. Diriwayatkan dari Aisyah ra ia berkata : Disaat kami berhaidh ( datang bulan ) dimasa Rasulullah saw. kami dilarang shaum dan diperintah untuk mengqadhanya dan kami tidak diperintah untuk mengqadha shalat. ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

    5. Diriwayatkan dari Hafshah, ia berkata : Telah bersabda Nabi saw. Barang siapa yang tidak berniat untuk shaum ( Ramadhan ) sejak malam, maka tidak ada shaum baginya. ( H.R : Abu Daud ) hadits shahih.

    6. Telah bersabda Rasulullah saw: Bahwa sesungguhnya semua amal itu harus dengan niat ……… ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

    7. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Sesungguhnya seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah saw: Ya Rasulullah saya terlanjur menyetubuhi istri saya (di siang hari) padahal saya dalam keadaan shaum Ramadhan ), maka Rasulullah saw. bersabda : Punyakah kamu seorang budak untuk dimerdekakan ? Ia menjawab : Tidak. Rasulullah saw bersabda : Mampukah kamu shaum dua bulan berturut-turut ? Lelaki itu menjawab : Tidak. Beliau bersabda lagi : Punyakah kamu persediaan makanan untuk memberi makan enam puluh orang miskin ? Lelaki itu menjawab : Tidak. Lalu beliau diam, maka ketika kami dalam keadaan semacam itu, Rasulullah datang dengan membawa satu keranjang kurma, lalu bertanya : dimana orang yang bertanya tadi ? ambilah kurma ini dan shadaqahkan dia. Maka orang tersebut bertanya : Apakah kepada orang yang lebih miskin dari padaku ya Rasulullah ? Demi Allah tidak ada diantara sudut-sudutnya ( Madinah ) keluarga yang lebih miskin daripada keluargaku. Maka Nabi saw. lalu tertawa sampai terlihat gigi serinya kemudian bersabda : Ambillah untuk memberi makan keluargamu. ( H.R : Al-Bukhary dasn Muslim )

    8. KESIMPULAN

    Ayat dan hadits-hadits tersebut di atas menerangkan kepada kita bahwa hal-hal yang dapat membatalkan shaum ( Ramadhan ) ialah sbb :

    a. Sengaja makan dan minum di siang hari. Bila terlupa makan dan minum di siang hari, maka tidak membatalkan shaum. ( dalil : 2 )

    b. Sengaja membikin muntah, bila muntah dengan tidak disengajakan, maka tidak membatalkan shaum. ( dalil : 3 )

    c. Pada siang hari terdetik niat untuk berbuka. ( dalil : 5 dan 6 )

    d. Dengan sengaja menyetubuhi istri di siang hari Ramadhan, ini disamping shaumnya batal ia terkena hukum yang berupa : memerdekakan seorang hamba, bila tidak mampu maka shaum dua bulan berturut-turut, dan bila tidak mampu, maka memberi makan enam puluh orang miskin.(dalil : 7 )

    e. Datang bulan di siang hari Ramadhan ( sebelum waktu masuk aghrib ).( dalil : 4 )

    Hal-Hal Yang Boleh Dikerjakan Waktu Ibadah Shaum.

    1. Diriwayatkan dari Aisyah ra Bahwa sesungguhnya Nabi saw. dalam keadaan junub sampai waktu Shubuh sedang beliau sedang dalam keadaan shaum, kemudian mandi. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

    2. Diriwayatkan dari Abi Bakar bin Abdurrahman, dari sebagian sahabat-sahabat Nabi saw. ia berkata kepadanya : Dan sungguh telah saya lihat Rasulullah saw. menyiram air di atas kepala beliau padahal beliau dalam keadaan shaum karena haus dan karena udara panas. ( H.R :Ahmad, Malik dan Abu Daud )

    3. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Bahwa sesungguhnya Nabi saw berbekam sedang beliau dalam keadaan shaum. ( H.R : Al-Bukhary ) .

    4. Diriwayatkan dari Aisyah ra Adalah Rasulullah saw mencium ( istrinya ) sedang beliau dalam keadaan shaum dan menggauli dan bercumbu rayu dengan istrinya ( tidak sampai bersetubuh ) sedang beliau dalam keadaan shaum, akan tetbeliau adalah orang yang paling kuat menahan birahinya. ( H.R : Al-Jama’ah kecuali Nasa’i) hadits shahih.

    5. Diriwayatkan dari Abdullah bin Furuuj : Bahwa sesungguhnya ada seorang wanita bertanya kepada Ummu Salamah ra. Wanita itu berkata : Sesungguhnya suami saya mencium saya sedang dia dan saya dalam keadaan shaum, bagaimana pendapatmu ? Maka ia menjawab : Adalah Rasulullah r pernah mencium saya sedang beliau dan saya dalam keadaan shaum. ( H.R : Aththahawi dan Ahmad dengan sanad yang baik dengan mengikut syarat Muslim ).

    6. Diriwayatkan dari Luqaidh bin Shabrah : Sesungguhnya Nabi saw bersabda : Apabila kamu beristinsyaaq ( menghisap air ke hidung ) keraskan kecuali kamu dalam keadaan shaum. ( H.R : Ashhabus Sunan )

    7. Perkataan ibnu Abbas : Tidak mengapa orang yang shaum mencicipi cuka dan sesuatu yang akan dibelinya ( Ahmad dan Al-Bukhary ).

    8. KESIMPULAN

    Hadits-hadits tersebut di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa hal-hal tersebut di bawah ini bila diamalkan tidak membatalkan shaum :

    a. Menyiram air ke atas kepala pada siang hari karena haus ataupun udara panas, demikian pula menyelam kedalam air pada siang hari.

    b. Menta’khirkan mandi junub setelah adzan Shubuh. ( dalil : 1 )

    c. Berbekam pada siang hari. ( dalil : 3 )

    d. Mencium, menggauli, mencumbu istri tetapi tidak sampai bersetubuh di siang hari.( dalil 4 dan 5 )

    e. Beristinsyak ( menghirup air kedalam hidung )terutama bila akan berwudhu, asal tidak dikuatkan menghirupnya. ( dalil : 6 )

    f. Disuntik di siang hari

    g. Mencicipi makanan asal tidak ditelan.(dalil :7)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:37 am on 28 June 2014 Permalink | Balas  

    Panduan Shaum Ramadhan 

    ramadan1Panduan Shaum Ramadhan

    Diriwayatkan dari Anas ra. ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw. : Apabila ada sesuatu dari urusan duniamu, maka kamu lebih tahu tentang hal itu. Jika ada urusan dienmu, maka akulah tempat kembalinya (ikuti aku). (H.R Ahmad).

    Dirwayatkan dari ‘Aisyah ra : Rasulullah saw. telah bersabda : Barangsiapa melakukan perbuatan yang bukan perintah kami, maka ia tertolak tidak diterima). Dan dalam riwayat lain: Barangsiapa yang mengada-adakan dalam perintah kami ini yang bukan dari padanya, maka ia tertolak. Sementara dalam riwayat lain : Barangsiapa yang berbuat sesuatu urusan yang lain daripada perintah kami, maka ia tertolak. (HR.Ahmad. Bukhary dan Abu Dawud).

    Kandungan dua hadits shahih di atas menerangkan dengan jelas dan tegas bahwa segala perbuatan, amalan-amalan yang hubungannya dengan dien/syari’at terutama dalam masalah ubudiyah wajib menurut panduan dan petunjuk yang telah digariskan oleh Rasulullah saw. Tidak boleh ditambah dan/atau dikurangi meskipun menurut fikiran seolah-olah lebih baik.

    Diantara cara syaithan menggoda ummat Islam ialah membisikkan suatu tambahan dalam urusan Dien. Sayangnya, perkara ini dianggap soal sepele, enteng dan remeh. Padahal perbuatan seperti itu adalah merupakan suatu kerusakan yang amat fatal dan berbahaya.

    “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, katanya : Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. berkhutbah kepada manusia pada waktu haji Wada’ . Maka beliau bersabda : Sesungguhnya Syaithan telah berputus asa (dalam berusaha) agar ia disembah di bumimu ini. Tetapi ia ridha apabila (bisikannya) ditaati dalam hal selain itu; yakni suatu amalan yang kamu anggap remeh dari amalan-amalan kamu, berhati-hatilah kamu sekalian. Sesungguhnya aku telah meninggalkan untukmu , yang jika kamu berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya. Yaitu: Kitab Allah dan sunnah NabiNya. ” (HR. Hakim).

    Dengan demikian dapat difahami bagaimana Rasulullah saw. mengingatkan kita agar selalu waspada terhadap provokasi setan untuk beramal dengan menyalahi tuntunan Nabi sekalipun hal itu nampak remeh. “Diriwayatkan dari Ghudwahaif bin Al-Harits ra: ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw. : Setiap suatu kaum mengadakan Bid’ah, pasti saat itu diangkat (dihilangkan) sunnah semisalnya. Maka berpegang teguh kepda sunnah itu lebih baik daripada mengadakan bid’ah “(HR.Ahmad). Jadi, ketika amalan bid’ah ditimbulkan betapapun kecilnya, maka pada saat yang sama Sunnah telah dimusnahkan. Pada akhirnya lama kelamaan yang nampak dalam dien ini hanyalah perkara bid’ah sedangkan yang Sunnah dan original telah tertutup. Pada saat itulah ummat Islam akan menjadi lemah dan dikuasai musuh. Insya Allah tak lama lagi kita akan menyambut kedatangan Ramadhan,dalam bulan yang penuh berkat ini kita diwajibkan menjalankan ibadah Shaum Ramadhan sebulan penuh , yang mana hal tersebut merupakan salah satu bagian dari rukun Islam. Karenanya hal tersebut amat penting.

    Berkaitan dengan hal diatas, maka kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk dapat menunaikan ibadah Shaum ini sesempurna mungkin , benar-benar bebas dari bid’ah sesuai dengan panduan yang telah digariskan oleh Rasulullah saw. Untuk keperluan itulah dalam risalah yang sederhana ini diterangkan beberapa hal yang berkaitan dengan amaliah shaum Ramadhan, zakat fithrah, dan Shalat ‘Ied berdasarkan Nash-nash yang Shariih (jelas). Dalil – dalil dan kesimpulan dibuat agar mudah difahami antara hubungan amal dengan dalilnya. Dan -tak ada gading yang tak retak- kata pepatah, sudah barang tentu risalah ini sangat jauh dari sempurna, untuk menuju kesempurnaannya bantuan dari pemakai amat diharapkan. Semoga risalah ini diterima oleh Allah sebagai Amal Shalih yang bermanfaat terutama di akhirat nanti.

    1. Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab ra. telah bersabda Rasulullah saw:Apabila malam sudah tiba dari arah sini dan siang telah pergi dari arah sini, sedang matahari sudah terbenam, maka orang yang shaum boleh berbuka. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

    2. Diriwayatkan dari Sahal bin Sa?ad : Sesungguhnya Nabi saw telahbersabda: Manusia (ummat Islam) masih dalam keadaan baik selama mentakjilkan (menyegerakan) berbuka. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

    3. Diriwayatakan dari Anas ra., ia berkata : Rasulullah saw berbuka denganmakan beberapa ruthaab (kurma basah) sebelum shalat, kalau tidak ada makadengan kurma kering, kalau tidak ada maka dengan meneguk air beberapa teguk.(H.R : Abu Daud dan Al-Hakiem)

    4. Diriwayatkan dari Salman bin Amir, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda : Apabila salah seorang diantara kamu shaum hendaklah berbuka dengan kurma, bila tidak ada kurma hendaklah dengan air, sesungguhnya airitu bersih. (H.R : Ahmad dan At-Tirmidzi)

    5. Diriwayatkan dari Ibnu Umar : Adalah Nabi saw. selesai berbuka Beliau berdo’a (artinya) telah pergi rasa haus dan menjadi basah semua urat-urat dan pahala tetap ada Insya Allah. (H.R : Ad-Daaruquthni dan Abu Daud hadits hasan)

    6. Diriwayatkan dari Anas, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw:Apabila makan malam telah disediakan, maka mulailah makan sebelum shalat Maghrib, janganlah mendahulukan shalat daripada makan malam itu (yang sudah terhidang). (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

    7. Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra: Sesungguhnya Rasulullah saw.telah bersabda : Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya makan sahur itu berkah.(H.R : Al-Bukhary)

    8. Diriwayatkan dari Al-Miqdam bin Ma’di Yaqrib, dari Nabi saw.bersabda :Hendaklah kamu semua makan sahur, karena sahur adalah makanan yang penuh berkah. (H.R : An-Nasa’i)

    9. Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit t berkata : Kami bersahur bersama Rasulullah saw. kemudian kami bangkit untuk menunaikan shalat (Shubuh).saya berkata : Berapa saat jarak antara keduanya (antara waktu sahur danwaktu Shubuh)?Ia berkata : Selama orang membaca limapuluh ayat. (H.R :Al-Bukhary dan Muslim)

    10. Diriwayatkan dari Amru bin Maimun, ia berkata : Adalah para sahabat Muhammad saw. adalah orang yang paling menyegerakan berbuka dan melambatkan makan sahur. (H.R : Al-Baihaqi)

    11. Telah bersabda Rasulullah saw: Apabila salah seorang diantara kamu mendengar adzan dan piring masih di tangannya janganlah diletakkan hendaklah ia menyelesaikan hajatnya (makan/ minum sahur) daripadanya. (H.R :Ahmad dan Abu Daud dan Al-Hakiem)

    12. Diriwayatkan dari Abu Usamah ra. ia berkata : Shalat telah di’iqamahkan, sedang segelas minuman masih di tangan Umar ra. beliau bertanya : Apakah ini boleh saya minum wahai Rasulullah ? Beliau r. menjawab : ya, lalu ia meminumnya. (H.R Ibnu Jarir)

    13. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw.orang yang paling dermawan dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya, dan Jibril menemuinya pada setiap malam pada bulan Ramadhan untuk mentadaruskan beliau saw. al-qur’an dan benar-benar Rasulullah saw. lebih dermawan tentang kebajikan(cepat berbuat kebaikan) daripada angin yang dikirim.(HR Al-Bukhary)

    14. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata : Adalah Rasulullah saw.menggalakkan qiyamullail (shalat malam) di bulan Ramadhan tanpa memerintahkan secara wajib, maka beliau bersabda : Barang siapa yang shalat malam di bulan Ramadhan karena beriman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka diampuni baginya dosanya yang telah lalu. (H.R : Jama’ah)

    15. Diriwayatkan dari Aisyah ra. Sesungguhnya Nabi saw. Apabila memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan) beliau benar-benar menghidupkan malam (untuk beribadah) dan membangunkan istrinya (agar beribadah) dengan mengencangkan ikatan sarungnya (tidak mengumpuli istrinya). (H.R :Al-Bukhary dan Muslim)

    16. Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata : Adalah Nabi saw. bersungguh-sungguh shalat malam pada sepuluh hari terakhir (di bulan Ramadhan) tidak seperti kesungguhannya dalam bulan selainnya. (H.R : Muslim)

    17. Diriwayatkan dari Abu salamah din Abdur Rahman, sesungguhnya ia telah bertanya kepada Aisyah ra: Bagaimana shalat malamnya Rasulullah saw di bulan Ramadhan ? maka ia menjawab : Rasulullah saw tidak pernah shalat malam lebih dari sebelas raka’at baik di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya, caranya : Beliau shalat empat raka’at jangan tanya baik dan panjangnya, kemudian shalat lagi empat raka’at jangan ditanya baik dan panjangnya, kemudian shalat tiga raka?at. (H.R : Al-Bukhary,Muslim dan lainnya)

    18. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. Apabila bangun shalat malam, beliau membuka dengan shalat dua raka’at yang ringan, kemudian shalat delapan raka’at, kemudian shalat witir. (H.R : Muslim)

    19. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ia berkata : Ada seorang laki-laki berdiri lalu ia berkata : Wahai Rasulullah bagaimana cara shalat malam ? Maka Rasulullah r. menjawab : Shalat malam itu dua raka’at dua raka’at. Apabila kamu khawatir masuk shalat Shubuh, maka berwitirlah satu raka’at. (H.R :Jama’ah)

    20. Dari Aisyah ra. ia berkata : Sesungguhnya Nabi saw shalat di masjid, lalu para sahabat shalat sesuai dengan shalat beliau (bermakmum di belakang), lalu beliau shalat pada malam kedua dan para sahabat bermakmum dibelakangnya bertambah banyak, kemudian pada malam yang ketiga atau yang keempat mereka berkumpul, maka Rasulullah saw tidak keluar mengimami mereka. Setelah pagi hari beliau bersabda : Saya telah tahu apa yang kalian perbuat, tidak ada yang menghalangi aku untuk keluar kepada kalian (untuk mengimami shalat) melainkan aku khawatir shalat malam ini difardhukan atas kalian. Ini terjadi pada bulan Ramadhan. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

    21. Dari Ubay bin Ka’ab t. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. Shalat witir dengan membaca : Sabihisma Rabbikal A’la)dan (Qul ya ayyuhal kafirun) dan (Qulhu wallahu ahad). (H.R : Ahmad, Abu Daud, Annasa’i dan Ibnu Majah)

    22. Diriwayatkan dari Hasan bin Ali t. ia berkata : Rasulullah saw. Telah mengajarkan kepadaku beberapa kata yang aku baca dalam qunut witir : artinya) Ya Allah berilah aku petunjuk beserta orang-orang yang telah engkau beri petunjuk, berilah aku kesehatan yang sempurna beserta orang yang telah engkau beri kesehatan yang sempurna, pimpinlah aku beserta orang yang telah Engkau pimpin, Berkatilah untukku apa yang telah Engkau berikan, peliharalah aku dari apa yang telah Engkau tentukan. Maka sesungguhnya Engkaulah yang memutuskan dan tiada yang dapat memutuskan atas Engkau, bahwa tidak akan hina siapa saja yang telah Engkau pimpin dan tidak akan mulia siapa saja yang Engkau musuhi. Maha agung Engkau wahai Rabb kami dan Maha Tinggi Engkau. (H.R : Ahmad, Abu Daud, Annasa’i, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

    23. Dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw. bersabda : Barang siapa yang shalat malam menepati lailatul qadar, maka diampuni dosanya yang telah lalu. (H.R : Jama’ah)

    24. Diriwayatkan dari Aisyah ra. Sesungguhnya Rasulullah saw. Telah bersabda : berusahalah untuk mencari lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir. H.R : Muslim)

    25. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. ia berkata : Dinampakkan dalam mimpi seorang laki-laki bahwa lailatul qadar pada malam kedua puluh tujuh, maka Rasulullah saw. bersabda : Sayapun bermimpi seperti mimpimu, (ditampakkan pada sepuluh malam terakhir, maka carilah ia (lailatul qadar) pada malam-malam ganjil. (H.R : Muslim)

    26. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Saya berkata kepada Rasulullah saw. Ya Rasulullah, bagaimana pendapat tuan bila saya mengetahui lailatul qadar,apa yang saya harus baca pada malam itu ? Beliau bersabda : Bacalah artinya) Yaa Allah sesungguhnya Engkau maha pemberi ampun, Engkau suka kepada keampunan maka ampunilah daku. (H.R : At-Tirmidzi dan Ahmad)

    27. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw mengamalkan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan sampai beliau diwafatkan oleh Allah Azza wa Jalla. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

    28. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. Apabila hendak beri’tikaf, beliau shalat shubuh kemudian memasuki tempat i’tikafnya………. (H.R :Jama’ah kecuali At-Tirmidzi)

    29. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. Apabila beri’tikaf , beliau mendekatkan kepalanya kepadaku, maka aku menyisirnya, dan adalah beliau tidak masuk ke rumah kecuali karena untuk memenuhi hajat manusia (buang air, mandi dll…) (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

    30. Allah ta’ala berfirman : (artinya) Janganlah kalian mencampuri ereka(istri-istri kalian) sedang kalian dalam keadaan i’tikaf dalam masjid. Itulah batas-batas ketentuan Allah, maka jangan di dekati… Al-Baqarah : 187)

    31. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw: Setiap amal anak bani Adam adalah untuknya kecuali shaum, ia adalah untukku dan aku yang memberikan pahala dengannya. Dan sesungguhnya shaum itu adalah benteng pertahanan, pada hari ketika kamu shaum janganlah berbuat keji , jangan berteriak-teriak (pertengkaran), apabila seorang memakinya sedang ia shaum maka hendaklah ia katakan : ” sesungguhnya saya sedang shaum” . Demi jiwa Muhammad yang ada di tanganNya sungguh bau busuknya mulut orang yang sedang shaum itu lebih wangi disisi Allah pada hari kiamat daripada kasturi. Dan bagi orang yang shaum ada dua kegembiraan, apabila ia berbuka ia gembira dengan bukanya dan apabila ia berjumpa dengan Rabbnya ia gembira karena shaumnya. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

    32. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata : Sesungguhnya Nabi saw. Telah bersabda : Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan amalan kebohongan, maka tidak ada bagi Allah hajat (untuk menerima) dalam hal ia meninggalkan makan dan minumnya. (H.R: Jama’ah Kecuali Muslim) Maksudnya Allah tidak merasa perlu memberi pahala shaumnya.

    33. Bahwa sesungguhnya Nabi saw. bersabda kepada seorang wanita Anshar yang sering di panggil Ummu Sinan : Apa yang menghalangimu untuk melakukan haji bersama kami ? Ia menjawab : Keledai yang ada pada kami yang satu dipakai oleh ayahnya si fulan (suaminya) untuk berhaji bersama anaknya sedang yang lain di pakai untuk memberi minum anak-anak kami. Nabipun bersabda lagi Umrah di bulan Ramadhan sama dengan mengerjakan haji atau haji bersamaku. H.R : Muslim)

    34. Rasulullah sw. bersabda : Apabila datang bulan Ramadhan kerjakanlah umrah karena umrah di dalamnya (bulan Ramadhan) setingkat dengan haji. (H.R : Muslim)

    KESIMPULAN

    Ayat dan hadits-hadits tersebut di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa dalam mengamalkan shaum Ramadhan kita perlu melaksanakan adab-adab sbb :

    1. Berbuka apabila sudah masuk waktu Maghrib. (dalil : 6) Sunnah berbuka adalah sbb :

    a. Disegerakan yakni sebelum melaksanakan shalat Maghrib dengan makanan yang ringan seperti kurma, air saja, setelah itu baru melaksanakan shalat. dalil : 2,3 dan 4)

    b. Tetapi apabila makan malam sudah dihidangkan, maka terus dimakan, jangan shalat dahulu. (dalil : 6)

    c. Setelah berbuka berdo’a dengan do’a sbb : Artinya : Telah hilang rasa haus, dan menjadi basah semua urat-urat dan pahala tetap wujud insya Allah. (dalil : 5)

    2. Makan sahur. (dalil : 7 dan 8)

    Adab-adab sahur :

    a. Dilambatkan sampai akhir malam mendekati Shubuh. (dalil 9 dan 10)

    b. Apabila pada tengah makan atau minum sahur lalu mendengar adzan Shubuh, maka sahur boleh diteruskan sampai selesai, tidak perlu dihentikan di tengah sahur karena sudah masuk waktu Shubuh. (dalil 11 dan 12) * Imsak tidak ada sunnahnya dan tidak pernah diamalkan pada zaman sahabat maupun tabi’in.

    3. Lebih bersifat dermawan (banyak memberi, banyak bershadaqah, banyak menolong) dan banyak membaca al-qur’an (dalil : 13)

    4. Menegakkan shalat malam / shalat Tarawih dengan berjama’ah. Dan shalat Tarawih ini lebih digiatkan lagi pada sepuluh malam terakhir(20 hb. Sampai akhir Ramadhan). (dalil : 14,15 dan 16)

    Cara shalat Tarawih adalah :

    a. Dengan berjama’ah. (dalil : 19)

    b. Tidak lebih dari sebelas raka’at yakni salam tiap dua raka’at dikerjakan empat kali, atau salam tiap empat raka’at dikerjakan dua kali dan ditutup dengan witir tiga raka’at. (dalil : 17)

    c. Dibuka dengan dua raka’at yang ringan. (dalil : 18)

    d. Bacaan dalam witir : Raka’at pertama : Sabihisma Rabbika. Roka’t kedua :Qul yaa ayyuhal kafirun. Raka’at ketiga : Qulhuwallahu ahad. (dalil : 21)

    e. Membaca do’a qunut dalam shalat witir. (dalil 22)

    5. Berusaha menepati lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir, terutama pada malam-malam ganjil. Bila dirasakan menepati lailatul qadar hendaklah lebih giat beribadah dan membaca : Yaa Allah Engkaulah pengampun, suka kepada keampunan maka ampunilah aku. (dalil : 25 dan 26)

    6. Mengerjakan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir. (dalil : 27) 7.

    Cara i’tikaf :

    a. Setelah shalat Shubuh lalu masuk ke tempat i’tikaf di masjid. (dalil 28)

    b. Tidak keluar dari tempat i’tikaf kecuali ada keperluan yang mendesak.(dalil : 29)

    c. Tidak mencampuri istri dimasa i’tikaf. (dalil : 30)

    7. Mengerjakan umrah. (dalil : 33 dan 34)

    8. Menjauhi perkataan dan perbuatan keji dan menjauhi pertengkaran. (dalil : 31 dan 32)

     
  • erva kurniawan 4:23 am on 27 June 2014 Permalink | Balas  

    Panduan Amalan Di Bulan Ramadhan 

    ramadan-2012Panduan Amalan Di Bulan Ramadhan

    Ramadhan bagi umat Islam bukan sekedar salah satu nama bulan qomariyah, tapi dia mempunyai makna tersendiri. Ramadhan bagi seorang muslim adalah rihlah dari kehidupan materialistis kepada kehidupan ruhiyah, dari kehidupan yang penuh berbagai masalah keduniaan menuju kehidupan yang penuh tazkiyatus nafs dan riyadhotur ruhiyah. Kehidupan yang penuh dengan amal taqorrub kepada Allah, mulai dari tilawah Al-Qur’an, menahan syahwat dengan shiyam, sujud dalam qiyamul lail, ber’itikaf di masjid, dan lain-lain. Semua ini dalam rangka merealisasikan inti ajaran dan hikmah puasa Ramadhan yaitu : Agar kalian menjadi orang yang bertaqwa. (Al-Baqoroh: 183 dan akhir Al-Hijr)

    Ramadhan juga merupakan bulan latihan bagi peningkatan kualitas pribadi seorang mulism. Hal itu terlihat pada esensi puasa yakni agar manusia selalu dapat meningkatkan nilainya dihadapan Allah SWT dengan bertaqwa, disamping melaksanakan amaliyah-amaliyah positif yang ada pada bulan Ramadhan. Diantara amaliyah-amaliyah Ramadhan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW baik itu amaliyah ibadah maupun amaliyah ijtijma’iyah adalah sebagai berikut:

    Shiyam (puasa)

    Amaliyah terpenting selama bulan Ramadhan tentu saja adalah shiyam (puasa), sebagaimana termaktub dalam firman Allah pada surat al Baqoroh : 183-187. Dan diantara amaliyah shiyam Ramadhan yang diajarkan oleh Rasulullah ialah :

    a. Berwawasan yang benar tentang puasa dengan mengetahui dan menjaga rambu-rambunya. “Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yang semestinya diperhatikan, maka hal itu akan menjadi pelebur dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelumnya” (HR. Ibnu Hibban dan Al Baihaqi).

    b. Tidak meninggalkan shiyam, walaupun sehari, dengan sengaja tanpa alasan yang dibenarkan oleh syari’at Islam. Rasulullah SAW bersabda bahwa : “Barangsiapa tidak puasa pada bulan Ramadhan sekalipun sehari tanpa alasan rukhshoh atau sakit, hal itu (merupakan dosa besar) yang tidak bisa ditebus bahkan seandainya ia berpuasa selama hidup” (HR At Turmudzi).

    c. Menjauhi hal-hal yang dapat mengurangi atau bahkan menggugurkan nilai shiyam. Rasulullah SAW pernah bersabda : ” Bukanlah (hakikat) shiyam itu sekedar meninggalkn makan dan minum, melainkan meninggalkan pekerti sia-sia (tak bernilai) dan kata-kata bohong” (HR Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah). Rasulullah juga pernah bersabda bahwa : ” Barangsiapa yang selama berpuasa tidak juga meninggalkan kata-kata bohong bahkan mempraktekkannya, maka tidak ada nilainya bagi Allah apa yang ia sangkakan sebagai puasa, yaitu sekedar meninggalkan makan dan minum ” (Hr Bukhori dan Muslim).

    d. Bersungguh – sungguh melakukan shiyam dengan menepati aturan-aturannya. Rasulullah SAW bersabda : ” Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan sepenuh Iman dan kesungguhan, maka akan diampunkanlah dosa-dosa yang pernah dilakukan ” (HR. Bukhori, Muslim dan Abu Daud).

    e. Bersahur, makanan yang berkah (al ghoda’ al mubarok ). Dalam hal ini Rasulullah pernah bersabda bahwa : ” Makanan sahur semuanya bernilai berkah, maka jangan anda tinggalkan, sekalipun hanya dengan seteguk air. Allah dan para Malaikat mengucapkan salam kepada orang-orang yang makan sahur” (HR. Ahmad). Dan disunnahkan mengakhirkan waktu makan sahur .

    f. Ifthor, berbuka puasa. Rasululah pernah menyampaikan bahwa salah satu indikasi kebaikan umat manakala mereka mengikuti sunnah dengan mendahulukan ifthor (berbuka puasa) dan mengakhirkan sahur. Dalam hal berbuka puasa Rasulullah SAW juga pernah bersabda bahwa : ” Sesungguhnya termasuk hamba Allah yang paling dicintai olehNya, ialah mereka yang bersegera berbuka puasa. ” (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Bahkan beliau mendahulukan ifthor walaupun hanya dengan ruthob (kurma mengkal), atau tamr (kurma) atau air saja ” (HR. Abu Daud dan Ahmad).

    g. Berdo’a. Sesudah hari itu menyelesaikan ibadah puasa dengan berifthor, Rasulullah SAW seperti prilaku yang beliau lakukan sesudah menyelesaikan suatu ibadah, dan sebagai wujud syukur kepada Allah, beliau membaca do’a sebagai berikut ; Rasulullah bahkan mensyari’atkan agar orang-orang yang berpuasa banyak memanjatkan do’a, sebab do’a mereka akan dikabulkan oleh Allah. Dalam hal ini beliau pernah bersabda bahwa : ” Ada tiga kelompok manusia yang do’anya tidak ditolak oleh Allah. Yang pertama ialah do’a orang-rang yang berpuasa sehingga mereka berbuka” (HR. Ahmad dan Turmudzi).

    Tilawah (membaca) al Qur’an

    Ramadhan adalah bulan diturunkannya al Qur’an. (QS. Al Baqoroh: 185). Pada bulan ini Malaikat Jibril pernah turun dan menderas al Qur’an dengan Rasulullah SAW (HR. Bukhori). Maka tidak aneh kalau Rasulullah SAW (yang selalu menderas al Qur’an disepanjang tahun itu) lebih sering menderasnya pada bulan Ramadhan. Imam az Zuhri pernah berkata : ” Apabila datang Ramadhan maka kegiatan utama kita (selain shiyam) ialah membaca al Qur’an”. Hal ini tentu saja dilakukan dengan tetap memperhatikan tajwid (kaedah membaca al Qur’an) dan esensi dasar diturunkannya al Qur’an untuk ditadabburi, dipahami dan diamalkan (QS. Shod: 29).

    Ith’am ath tho’am (memberikan makanan dan shodaqoh lainnya)

    Salah satu amaliyah Ramadhan Rasulullah ialah memberikan ifthor (santapan berbuka puasa) kepada orang-orang yang berpuasa. Seperti beliau sabdakan : “Barangsiapa yang memberi ifthor kepada orang-orang yang berpuasa, maka ia mendapat pahala senilai pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut ” (HR. Turmudzi dan an Nasa’i). Hal memberi makan dan sedekah selama bulan Ramadhan ini bukan hanya untuk keperluan iftor melainkan juga untuk segala kebajikan, Rasulullah yang dikenal dermawan dan penuh peduli terhadap nasib umat, pada bulan Ramadhan kedermawanan dan keperduliannya tampil lebih menonjol, kesigapan beliau dalam hal ini bahkan dimisalkan sebagai ” lebih cepat dari angin ” (HR Bukhori ).

    Memperhatikan kesehatan.

    Shaum memang termasuk kategori ibadah mahdhoh (murni), sekalipun demikian agar nilai maksimal ibadah puasa dapat diraih, Rasulullah justru mencontohkan kepada umat agar selama berpuasa tetap memperhatikan kesehatan. Hal ini terlihat dari beberapa peristiwa dibawah ini: a. Menyikat gigi dengan siwak (HR. Bukhori dan Abu Daud). b. Berobat seperti dengan berbekam (al hijamah) seperti yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim. c. Memperhatikan penampilan, seperti pernah diwasiatkan oleh Rasulullah SAw kepada sahabat Abdullah ibnu Mas’ud RA, agar memulai puasa dengan penampilan baik dan tidak dengan wajah yang cemberut. ( HR. AL Haitsami)

    Memperhatikan harmoni keluarga

    Sekalipun puasa adalah ibadah yang khusus diperuntukkan kepada Allah, yang memang juga mempunyai nilai khusus dihadapan Allah, tetapi agar hal tersebut diatas dapat terealisir dengan lebih baik, maka Rasulullah justru mensyari’atkan agar selama berpuasa umat tidak mengabaikan harmoni dan hak-hak keluarga. Seperti yang diriwayatkan oleh istri-istri beliau, Aisyah dan Ummu Salamah RA, Rasulullah tokoh yang paling baik untuk keluarga itu, selama bulan Ramadhan tetap selalu memenuhi hak-hak keluarga beliau. Bahkan ketika Rasulullah berada dalam puncak praktek ibadah shaum yakni i’tikaf, harmoni itu tetap terjaga.

    Memperhatikan aktivitas da’wah dan sosial

    Kontradiksi dengan kesan dan perilaku umum tentang berpuasa, Rasulullah SAW justru menjadikan bulan puasa sebagai bulan penuh amaliyah dan aktivitas positif. Selain yang telah tergambar seperti tersebut dimuka, beliau juga aktif melakukan da’wah, kegiatan sosial, perjalanan jauh dan jihad. Dalam sembilan kali Ramadhan yang pernah beliau alami, beliau misalnya melakukan perjalanan ke Badr (tahun 2 H), Mekah ( tahun 8 H), dan ke Tabuk (tahun 9 H), mengirimkan 6 sariyah (pasukan jihad yang tidak secara langsung beliau ikuti/pimpin), melaksanakan perkawinan putrinya (Fathimah) dengan Ali RA, beliau berkeluarga dengan Hafshoh dan Zainab RA, meruntuhkan berhala-berhala Arab seperti Lata, Manat dan Suwa’, meruntuhkan masjid adh Dhiror, dll.

    Qiyam Ramadhan (sholat tarawih)

    Diantara kegiatan ibadah Rasulullah selama bulan Ramadhan ialah ibadah qiyam al lail, yang belakangan lebih populer disebut sebagai sholat tarowih. Hal demikian ini beliau lakukan bersama dengan para sahabat beliau. Sekalipun karena kekhawatiran bila akhirnya sholat tarawih (berjama’ah) itu menjadi diwajibkan oleh Allah, Rasulullah kemudian meninggalkannya. (HR. Bukhori Muslim). Dalam situasi itu riwayat yang shohih menyebutkan bahwa Rasulullah shalat tarowih dalam 11 reka’at dengan bacaan-bacaan yang panjang (HR. Bukhori Muslim). Tetapi ketika kekhawatiran tentang pewajiban sholat tarowih itu tidak ada lagi, kita dapatkan riwayat-riwayat lain, juga dari Umar ibn al Khothob RA, yang menyebutkan jumlah reka’at shalat tarowih adalah 21 atau 23 reka’at. (HR. Abdur Razaq dan al Baihaqi). Mensikapi perbedaan reka’at ini bagus juga bila kita cermati pendapat dan kajian dari Ibnu hajar al Asqolani asy Syafi’i, seorang tokoh yang juga dijuluki sebagai amirul mu’minin fi hadits, beliau menyampaikan bahwa : Beberapa informasi tentang jumlah reka’at tarowih itu menyiratkan ragam sholat sesuai dengan keadaan dan kemampuan masing-masing, kadang ia mampu melaksanakan shalat dalam 11 reka’at, kadang 21 dan terkadang 23 reka’at pula. Hal demikian itu kembali juga semangat dan antusiasme masing-masing. Dahulu mereka yang sholat dengan 11 reka’at itu dilakukan dengan bacaan yang panjang sehingga mereka bertelekan diatas tongkat penyangga, sementara mereka yang sholat dengan 21 atau 23 reka’at mereka membaca bacaan-bacaan yang pendek (dengan tetap memperhatikan thoma’ninah sholat) sehingga tidak menyulitkan.

    I’tikaf.

    Diantara amaliyah sunnah yang selalu dilakukan oleh Rasulullah SAw dalam bulan Ramadhan ialah i’tikaf, yakni berdiam diri di dalam masjid dengan niat beribadah kepada Allah. Seperti dilaporkan oleh Abu Sa’id al Khudlri RA, hal demikiam ini pernah beliau lakukan pada awal Ramadhan, pertengahan Ramadhan dan terutama pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Ibadah yang demikian penting ini sering dianggap berat sehingga ditinggalkan oleh orang-orang Islam, maka tidak aneh kalau Imam az Zuhri berkomentar ; Aneh benar keadaan orang Islam, mereka meninggalkan ibadah i’tikaf, padahal Rasulullah SAW tak pernah meninggalkannya semenjak beliau datang ke madinah sehingga wafatnya disana.

    Lailat al Qodr

    Selama bulan Ramadhan ini terdapat satu malam yang sangat berkah, yang populer disebut sebagai lailat al Qodr, malam yang lebih berharga dari seribu bulan (QS. Al Qodr : 1-5). Rasululah tidak pernah melewatkan kesempatan untuk meraih lailat al qodr terutama pada malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan puasa (HR. Bukhori Muslim ). Dalam hal ini Rasulullah menyampaikan bahwa : “Barangsiapa yang sholat pada malam lailatul qodr berdasarkan iman dan ihtisab, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. ” (Hr. Bukhori Muslim). Dalam keadaan ini Rasulullah mengajarkan do’a sebagai berikut :

    Umroh

    Umroh atau haji kecil itu bagus juga apabila dilaksanakan pada bulan Ramadhan, sebab nilainya bisa berlipat-lipat, sebagaimana pernah disabdakan oleh Rasulullah kepada seorang wanita dari anshor bernama Ummu Sinan: ” Agar apabila datang bulan Ramadhan ia melakukan umroh, karena nilainya setara dengan haji bersama Rasulullah SAW. (Hr. Bukhori Muslim)

    Zakat Fitrah

    Pada hari-hari terakhir bulan Ramadhan amaliyah yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW ialah membayarkan zakat fithr, suatu kewajiban yang harus dipenuhi oleh umat Islam baik laik-laki maupun perempuan, baik dewasa maupun anak-anak (HR. Bukhori Muslim). Zakat fithr ini juga berfungsi sebagai pelengkap penyucian untuk pelaku puasa dan untuk membantu kaum fakir miskin. (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

    Ramadhan bulan taubat menuju fithroh

    Selama sebulan penuh, secara berduyun-duyun umat kembali kepada Allah yang M aha Pemurah juga Maha Pengampun. Dia Dzat yang menyampaikan bahwa pada setiap malam bulan Ramadhan Allah membebaskan banyak hambaNya dari api nereka (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Karenanya inilah satu kesempatan emas agar umat dapat kembali, bertaubat agar ketika mereka selesai melaksanakan ibadah puasa mereka benar-benar kembali kepada fithrohnya. Khotimah Demikianlah sebagian amaliyah Ramadhan yang mudah dan bisa dilakukan oleh setiap muslim. Dan dengan demikian Ramadhan juga menyiratkan salah satu prinsip dasar Islam tentang moderasi dan integralitas ajarannya. Ramadhan memang bulan penuh kebaikan, sehingga Rasulullah pernah bersabda ; “Apabila orang-orang mengetahui nilai lebih Ramadhan, mereka akan berharap agar semua bulan dijadikan sebagai bulan Ramadhan”. (HR. Ibnu Huzaimah). Semoga Allah menerima amaliyah shiyam dan qiyam kita sekalian, amin.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:09 am on 26 June 2014 Permalink | Balas  

    Keutamaan Bulan Ramadhan dan Keutamaan Beramal di Dalamnya 

    ramadanKeutamaan Bulan Ramadhan dan Keutamaan Beramal di Dalamnya

    1. “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. pernah bersabda : Ketika datang bulan Ramadhan: Sungguh telah datang kepadamu bulan yang penuh berkat, diwajibkan atas kamu untuk shaum, dalam bulan ini pintu Jannah dibuka, pintu Neraka ditutup, Setan- Setan dibelenggu. Dalam bulan ini ada suatu malam yang nilanya sama dengan seribu bulan, maka barangsiapa diharamkan kebaikannya ( tidak beramal baik didalamnya), sungguh telah diharamkan ( tidak mendapat kebaikan di bulan lain seperti di bulan ini).” ( HR. Ahmad, Nasai dan Baihaqy. Hadits Shahih Ligwahairihi).

    2. “Diriwayatkan dari Urfujah, ia berkata : Aku berada di tempat ‘Uqbah bin Furqad, maka masuklah ke tempat kami seorang dari Sahabat Nabi saw. ketika Utbah melihatnya ia merasa takut padanya, maka ia diam. ia berkata: maka ia menerangkan tentang shaum Ramadhan ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda tentang bulan Ramadhan: Di bulan Ramadhan ditutup seluruh pintu Neraka, dibuka seluruh pintu Jannah, dan dalam bulan ini Setan dibelenggu. Selanjutnya ia berkata : Dan dalam bulan ini ada malaikat yang selalu menyeru : Wahai orang yang selalu mencari/ beramal kebaikan bergembiralah anda, dan wahai orang-orang yang mencari/berbuat kejelekan berhentilah (dari perbuatan jahat) . Seruan ini terus didengungkan sampai akhir bulan Ramadhan.” (Riwayat Ahmad dan Nasai )

    3. “Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra. Sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda : Shalat Lima waktu, Shalat Jum’at sampai Shalat Jum’at berikutnya, Shaum Ramadhan sampai Shaum Ramadhan berikutnya, adalah menutup dosa-dosa (kecil) yang diperbuat diantara keduanya, bila dosa-dosa besar dijauhi.”(H.R.Muslim)

    4. “Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: Shaum dan Qur’an itu memintakan syafa?at seseorang hamba di hari Kiamat nanti. Shaum berkata : Wahai Rabbku,aku telah mencegah dia memakan makanan dan menyalurkan syahwatnya di siang hari, maka berilah aku hak untuk memintakan syafa’at baginya. Dan berkata pula AL-Qur’an : Wahai Rabbku aku telah mencegah dia tidur di malam hari ( karena membacaku ), maka berilah aku hak untuk memintakan syafaat baginya. Maka keduanya diberi hak untuk memmintakan syafaat.” ( H.R. Ahmad, Hadits Hasan).

    5. “Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad : Sesungguhnya Nabi saw telah bersabda : bahwa sesungguhnya bagi Jannah itu ada sebuah pintu yang disebut ” Rayyaan”. Pada hari kiamat dikatakan : Dimana orang yang shaum? ( untuk masuk Jannah melalui pintu itu), jika yang terakhir diantara mereka sudah memasuki pintu itu, maka ditutuplah pintu itu.” (HR. Bukhary Muslim). 6. Rasulullah saw. bersabda : Barangsiapa shaum Ramadhan karena beriman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu dan yang sekarang ( HR.Bukhary Muslim).

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:07 am on 25 June 2014 Permalink | Balas  

    Ramadhan Bulan Berkah 

    ramadhan8Ramadhan Bulan Berkah

    Ikhwati wa akhowati fillaah, Salah satu sifat Allah SWT adalah Ia memiliki irodah (kehendak), sebagaimana firmanNya : “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia).” (QS Al Qoshosh [28]:68).

    Allah memilih sesuatu yang dikehendakiNya. Allah memilih tempat yang dikehendakiNya. Allah memilih manusia yang dikehendakiNya, pilihanNya sendiri ada yang menjadi Rasul, pemimpin negara, cendekia, dsb. Allah memilih gua Hiro’ yang dikehendakiNya sebagai tempat pertemuan Rasul dan Malaikat Jibril. Allah memilih Mekkah yang dikehendakiNya sebagai kiblat kaum Muslimin dan memilih pula kota Madinah sebagai basis pertahanan Rasulullah dalam menyebarkan risalah Ilahi.

    Begitu pula halnya dengan bulan-bulan dalam setahun, Allah telah memilih Ramadhan sebagai bulan yang istimewa, yang namanya disebutkan dalam Al Qur-an. Firman Allah : “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” QS Al Baqoroh [2]:185. Jika Allah berkehendak, tentu ada suatu maksud tertentu dibalik kehendakNya itu. Allah mengutus Rasulullah dengan satu maksud, untuk menyampaikan risalah-Nya.

    Begitu halnya dengan bulan Ramadhan, sebab Allah tidak akan mengatakan Ramadhan sebagai bulan istimewa jika tidak ada sesuatu dibalik itu. Baginda Rasulullah SAW, ketika berada di penghujung bulan Sya’ban, selalu mengatakan kepada sahabatnya : “Telah datang padamu bulan Ramadhan, penghulu segala bulan. Maka sambutlah kedatangannya. Telah datang bulan shiyam membawa segala keberkahan, maka alangkah mulianya tamu yang datang itu.” (HR. Ath Thabrani) Dalam sabdanya yang lain : “Sesungguhnya telah datang padamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah memerintahkan berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu, dibukakan segala pintu Surga, dikunci segala pintu neraka dan dibelenggu syetan-syetan. Di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Barangsiapa yang tidak diberikan kebajikan malam itu, berarti telah diharamkan baginya segala rupa kebajikan.” (HR. An Nasai dan Al Baihaqi)

    Jika kita menengok ke belakang, melihat sirah Rasulullah SAW kita akan melihat betapa banyaknya kejadian penting terjadi pada bulan Ramadhan, di antaranya :

    1. Bulan diturunkannya Al Qur-an. Firman Allah : “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS Al Baqarah [2]:185)

    Dalam tafsir Mafatihul Ghaib, berkenaan dengan ayat diatas, Ar Razi berkata : “Allah telah mengistimewakan bulan Ramadhan dengan jalan menurunkan Al Qur-an. Karenanya, Allah SWT mengkhususkannya dengan satu ibadah yang sangat besar nilainya, yakni puasa (shaum). Shaum adalah satu senjata yang mengungkapkan tabir-tabir yang menghalangi kita manusia memandang nur Ilahi yang Maha Quddus. Al Qur-an adalah suatu kitab yang tiada bandingannya, pemisah yang haq dan bathil, berlaku sepanjang masa, dan menjadi pengikat seluruh ummat Islam di seluruh dunia.

    2. Bulan diturunkannya kitab-kitab suci lainnya. Di bulan ini pula, Allah menurunkan kitab-kitabNya yang lain kepada para Rasul, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits: “Shuhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan, Taurat diturunkan pada 6 Ramadhan dan Injil diturunkan pada 13 Ramadhan sedangkan Al Qur-an diturunkan pada 24 Ramadhan.” (HR. Ahmad) Itulah keberkahan bulan Ramadhan, bulan turunnya ayat-ayat Qouliyyah, minhajul hayah bagi keberadaan manusia di muka bumi, penunjuk jalan bagi orang-orang yang mau mensucikan dirinya.

    3. Bulan pilihan Allah bagi terjadinya perang Badr. Perang pertama yang dilakukan kaum Muslimin, dimana perang ini menjadi penentu kelangsungan perjuangan da’wah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW bersama para sahabatnya. Perang Badr dinamakan Allah dengan sebutan “yaumul furqon” (hari pembeda antara yang haq dan bathil), sebagaimana firmanNya : “Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” QS Al Anfal [8]:41.

    Muhammad Qutb mengatakan dalam tafsirnya bahwa perang ini dari awal hingga akhirnya adalah rencana Allah SWT yang dilaksanakan dengan pimpinan dan bantuanNya. Dimana dalam jalannya pertempuran, Allah SWT memenangkan kaum Muslimin yang mempunyai personil dan persenjataan minim, ditambah kondisi fisik kaum Muslimin yang secara lahiriah lebih lemah karena sedang berpuasa, setelah menerima perintah yang baru beberapa saat diterimanya. Namun itu bukanlah hambatan untuk menang, karena kekuatan utama kaum Muslimin adalah kekuatan ruhiyyah mereka dengan keyakinan akan kebenaran janji Allah SWT. Peperangan ini membuahkan babakan baru dalam sistem gerakan Islam. Perang ini memperbaharui kondisi ummat Islam, setelah dengan sabar dan tabah menempuh tahapan-tahapan perjuangan da’wah. Lahir tatanan baru dalam kehidupan manusia, bagi penerapan hak-hak asasi serta sistem dan struktur baru bagi masyarakat dan negara.

    4. Bulan yang dipilih bagi terbukanya kota Mekkah. Peristiwa “fathul makkah” terjadi pada pertengahan bulan Ramadhan, sekitar 10.000 kaum Muslim mendatangi Makkah dari segala penjuru. Pada saat itulah terjadi fenomena kemenangan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah manapun, dimana semua musuh, hingga para pemimpinnya menerima dan mengikuti agama lawan. Ini tidak terjadi melainkan dalam sejarah Islam. Kemenangan ini hakikatnya adalah kemenangan akidah, kalimat tauhid dan bukan kemenangan individual atau balas dendam.

    5. Bulan yang dipilih Allah untuk Lailatul Qadar. Dijelaskan dalam firman Allah SWT : “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS Al Qadr [97]:1-5)

    6. Bulan yang dipilih untuk pelaksanaan puasa dan pemindahan qiblat. Firman Allah : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. ” QS Al Baqarah [2] : 183.

    Bersamaan dengan turunnya ayat perintah berpuasa di bulan Ramadhan, pemindahan qiblat ummat Islam dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram inipun menjadi pembeda antara yang haq dan bathil, dimana pada saat sebelumnya orang Yahudi merasa lebih benar karena puasa mereka dan kiblat mereka diikuti kaum Muslimin. Namun dengan perintah itu, maka berbedalah kaum Muslimin dengan ahlul kitab. Berbeda pula kiblat Muslimin dengan mereka, serta puasa Muslimin dengan mereka. Kecongkakan merekapun berakhir dengan barokah bulan ini.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:56 am on 24 June 2014 Permalink | Balas  

    Marhaban Ya Ramadhan 

    ramadhan8Marhaban Ya Ramadhan

    Marhaban barasal dari kata rahb yang berarti luas atau lapang. Marhaban menggambarkan suasana penerimaan tetamu yang disambut dan diterima dengan lapang dada, dan penuh kegembiraan. Marhaban ya Ramadhan (selamat datang Ramadhan), mengandungi arti bahwa kita menyambut Ramadhan dengan lapang dada, penuh kegembiraan, tidak dengan keluhan.

    Rasulullah sendiri senantiasa menyambut gembira setiap datangnya Ramadhan. Dan berita gembira itu disampaikan pula kepada para sahabatnya seraya bersabda: “Sungguh telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkatan. Allah telah memfardlukan atas kamu puasanya. Di dalam bulan Ramadhan dibuka segala pintu surga dan dikunci segala pintu neraka dan dibelenggu seluruh setan. Padanya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tidak diberikan kepadanya kebaikan malam itu maka sesungguhnya dia telah dijauhkan dari kebajikan” (Hr. Ahmad)

    Marhaban Ramadhan, kita ucapkan untuk bulan suci itu, karena kita mengharapkan agar jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah swt. Perjalanan menuju Allah swt itu dilukiskan oleh para ulama salaf sebagai perjalanan yang banyak ujian dan tentangan. Ada gunung yang harus didaki, itulah nafsu. Digunung itu ada lereng yang curam, belukar yang hebat, bahkan banyak perompak yang mengancam, serta iblis yang merayu, agar perjalanan tidak dilanjutkan. Bertambah tinggi gunung didaki, bertambah hebat ancaman dan rayuan, semakin curam dan ganas pula perjalanan.

    Tetapi, bila tekad tetap membaja, sebentar lagi akan tampak cahaya benderang, dan saat itu akan tampak dengan jelas rambu-rambu jalan, tampak tempat-tempat yang indah untuk berteduh, serta telaga-telaga jernih untuk melepaskan dahaga. Dan bila perjalanan dilanjutkan akan ditemukan kendaraan Ar-Rahman untuk mengantar sang musafir bertemu dengan kekasihnya. Untuk sampai pada tujuan tentu diperlukankan bekal yang cukup. Bekal itu adalah benih-benih kebajikan yang harus kita tabur didalam jiwa kita. Tekad yang keras dan membaja untuk memerangi nafsu, agar kita mampu menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat dan tadarrus, serta siangnya dengan ibadah kepada Allah melalui pengabdian untuk agama.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:07 am on 23 June 2014 Permalink | Balas  

    Perbedaan Awal-Akhir Ramadhan: Sebuah Persoalan Politik 

    hilalPerbedaan Awal-Akhir Ramadhan: Sebuah Persoalan Politik

    Bulan Ramadhan bulan penuh berkah, rahmat, dan ampunan Allah SWT sebentar lagi datang. Shaum atau ibadah puasa bulan Ramadhan adalah salah satu aturan Allah untuk mengantarkan kaum muslimin menjadi manusia bertaqwa (lihat QS. Al Baqarah 183).

    Namun, sayang, dalam pelaksanaannya, Ramadhan yang sejatinya menjadi bulan ibadah sekaligus syi’ar kesatuan umat itu ternoda oleh seringkali berbedanya awal dan akhir Ramadhan. Perbedaan itu konon merupakan masalah lama yang acap kali terjadi di dunia Islam, antara satu negara dengan negara lain, bahkan satu kota dengan kota lain.

    Namun di era globalisasi informasi dan canggihnya teknologi komunikasi ini, perbedaan itu mengusik nurani kita. Betapa siaran langsung sholat tarawih dari Masjidil Haram sepanjang bulan Ramadlon dapat diikuti oleh kaum muslimin di seluruh dunia, termasuk di sini melalui RCTI! Tapi kenapa tak bisa diadakan siaran langsung informasi “rukyatul hilal” awal dan akhir Ramadhan? Padahal bulan sabit (hilal) yang menjadi obyek yang diamati guna menentukan masuknya bulan baru adalah bulan yang satu, ya bulan sabit yang itu-itu juga?

    Dimana sebenarnya letak permasalahannya? Tulisan ini akan mengurainya dalam rangka menjaga kesatuan umat dan kesucian ibadah kita.

    Rukyatul Hilal Penentu Awal Ramadhan dan Idul Fitri Shaum Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha di samping merupakan ibadah yang mengatur hubungan seorang muslim dengan Rabb-nya, sesungguhnya juga merupakan salah satu fenomena yang menjadi syi’ar kesatuan umat Islam. Kaum muslimin wajib memulai puasa dan merayakan Idul Fitri secara serentak pada hari yang sama, semata-mata demi melaksanakan perintah Allah SWT yang telah mempersatukan mereka. Banyak sekali nash-nash yang menjelaskan hal ini. Misalnya, sabda baginda Rasulullah saw.:

    “Berpuasalah kalian jika melihat hilal (bulan sabit), dan berbukalah (beriedul Fitri lah) kalian jika melihat hilal. Dan jika hilal itu tertutup debu dari (penglihatan) kalian, maka sempurnakanlah (genapkanlah)bilangan bulan Sya’ban itu tiga puluh hari.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah).

    “Sesungguhnya satu bulan itu ada 29 hari, maka janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihatnya (hilal). Dan jika hilal itu tertutup awan/mendung dari (penglihatan) kalian, maka perkirakanlah ia.” (HR. Bukhari)

    Hadits-hadits Rasul ini mengandung pengertian (dalalah) yang jelas (sharih ), bahwa sebab syar’i untuk mengawali Ramadhan adalah dengan melihat bulan sabit (ru`yatul hilal) untuk bulan Ramadhan. Demikian pula sebab syar’i untuk Idul Fitri adalah dengan melihat bulan sabit (ru`yatul hilal) untuk bulan Syawal. Ini seperti sebab pelaksanaan sholat zhuhur adalah tegelincirnya (zawal) matahari sebagaimana sabda Nabi saw.:

    “Jika matahari telah bergeser dari tengah-tengah langit, maka solatlah (zhuhur)” (lihat An Nabhani, As Syakhshiyyah al Islamiyyah Juz III/43).

    Hisab Sekedar Membantu

    Sebagian orang salah anggap bahwa dengan majunya ilmu hisab falaki (astronomi) maka kaum muslimin tak perlu merukyat untuk menentukan awal dan akhir Ramadhan. Bahkan mereka mememelintir kata rukyat dalam hadits tersebut sebagai “rukyat bil ilmi” yakni ilmu hisab. Tentu hal itu tak bisa dibenarkan karena tak ada indikasi (qorinah) yang menunjukkannya. Sehingga, perkataan Nabi SAW “Jika hilal tertutup awan/mendung dari (penglihatan) kalian”, artinya, jika kalian tidak melihat hilal dengan mata kalian (bi a’yunikum).

    Adapun perkataan Nabi SAW “maka perkirakanlah ia” bukan berarti merujuk pada perhitungan astronomi (hisab). Melainkan artinya adalah menyempurnakan bilangan bulan sebanyak 30 hari. Sabda Nabi saw:

    “Dan jika hilal itu tertutup awan/mendung dari (penglihatan) kalian, maka sempurnakanlah (genapkanlah) bilangannya menjadi tiga puluh hari.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

    Jadi, hisab astronomi paling modern sekalipun tak bisa menjadi penentu awal dan akhir Ramadhan. Sebab, Allah SWT memerintahkan memulai puasa Ramadhan dan Idul Fitri berdasarkan rukyatul hilal. Dan aturan ibadah itu datangnya mesti dari Dzat Yang diibadahi (Al Ma’bud), muslim pun diperintahkan untuk terikat dengan hukum syara.

    Kalau begitu, apa gunanya kemajuan ilmu astronomi bagi kepraktisan menjalankan ibadah Ramadhan?

    Mengingat realitas perhitungan hisab modern (hisab haqiqiy tahqiqiy) kecil sekali kesalahan perhitungannya, yakni sebesar 2 detik dalam 4000 tahun, dan akurasinya pun diamati observer setiap bulan melalui peralatan canggih, juga terbukti. Amat jarangnya kapal dalam navigasi tersesat, dugaan-dugaan akan gerhana bulan dan matahari yang tepat, maka perlu dipertimbangkan pengunaannya dalam membantu mencari posisi-posisi strategis untuk rukyat di seluruh dunia.

    Peranan ilmu hisab sebagai alat bantu ini, lantaran secara riil ilmu hisab hanya dapat menentukan wujudnya hilal dan kemungkinan dapat terlihatnya hilal. Sebaliknya, hisab tidak dapat menetapkan terlihat atau tidaknya bulan. Tambahan lagi, seperti dinyatakan oleh para ahli astronomis, hisab tidak dapat mendeteksi iklim dan cuaca. Oleh sebab itu, betapapun akuratnya perhitungan hisab modern tetap saja tidak dapat dijadikan patokan tentang rukyatul hilal. Dia hanya sekedar membantu memudahkan rukyat, bukan malah menolak atau mementahkan rukyat.

    Jadi, baik secara syar’iy maupun berdasarkan realitas, penentuan awal dan akhir Ramadhan tidak dapat tidak harus melalui penglihatan terhadap munculnya hilal (rukyatul hilal). Rasulullah saw. bersabda:

    “Jika kalian telah melihat hilal, maka berpuasalah kalian. Dan jika kalian telah melihat hilal, maka berbukalah (beridul Fitri) kalian. Jika hilal tertutup awan/mendung atas (penglihatan) kalian, maka perkirakanlah ia.”

    Perintah (amr) Rasulullah SAW dalam hadits-hadits untuk memulai puasa Ramadhan berdasarkan rukyatul hilal adalah perintah wajib (lil wujub), karena perintah tersebut adalah perintah untuk melaksanakan suatu kewajiban yang telah ditetapkan oleh firman Allah SWT :

    “Karena itu barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa.” (QS. Al Baqarah : 185)

    Perintah (amr) untuk berbuka puasa (beridul Fitri) berdasarkan rukyatul hilal adalah juga perintah wajib (lil wujub). Karena Rasulullah SAW telah melarang berpuasa pada dua hari raya, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Mengingat larangan ini adalah larangan untuk melaksanakan yang mandub atau fardhu, maka perintah Rasulullah di dalam hadits “dan berbukalah (beridul Fitri) kalian jika melihat hilal” berarti adalah perintah wajib (lil wujub ).

    Satu Rukyat Untuk Kaum Muslimin Sedunia

    Khithabusy Syari’ (seruan Allah SWT) dalam hadits-hadits di atas ditujukan bagi seluruh kaum muslimin. Tak ada bedanya antara orang Syam dan orang Hijaz. Begitu pula tak ada bedanya antara orang Indonesia dengan orang Irak. Sebab, lafazh-lafazh dalam hadits-hadits tersebut bersifat umum. Dhamir jama’ah (kata ganti berupa wawu jama’) yang terdapat dalam kalimat “berpuasalah kalian” (shuumuu) dan “dan berbukalah kalian” (wa afthiruu), tertuju untuk seluruh kaum muslimin. Sedangkan lafazh “melihat hilal” ( ru’yatihi) adalah isim jinsi yang di-idhafat-kan (disandarkan) pada dhamir (kata ganti). Ini menunjukkan bahwa rukyatul hilal yang dimaksud, adalah ru`yat dari siapa saja, selama dia muslim. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA

    “Bahwa seorang Arab Baduwi datang kepada Rasulullah saw. seraya berkata, ‘Saya telah melihat hilal (Ramadhan).’ Rasulullah saw. lalu bertanya, ‘Apakah kamu bersaksi bahwa tidak ada ilah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah?’ Orang itu menjawab,’Ya.’ Kemudian Nabi SAW menyerukan, “Berpuasalah kalian!” (HR. Abu Dawud, An Nasa`i, At Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas).

    Oleh karena itu, jika seorang muslim telah melihat hilal untuk bulan Ramadhan maupun Syawal, di manapun ia berada, maka wajib atas seluruh kaum muslimin untuk berpuasa ataupun berbuka (beridul Fitri). Tidak ada perbedaan antara satu negara dengan negara lainnya, atau antara seorang muslim dengan muslim lainnya. Sebab ru`yatul hilal oleh siapa saja dari kaum muslimin, merupakan hujjah bagi orang yang tidak melihat hilal.

    Menolak Rukyat Lantaran Beda Negara?

    Kini kaum muslimin hidup terkotak-kotak dalam berbagai bangsa dan negara. Setiap kepala negara menetapkan awal dan akhir Ramadhannya sendiri-sendiri tanpa lagi memperhatikan nash-nash syara’. Kalaupun mereka melihat pendapat fuqoha, nampaknya dijadikan sebagai dalil sekunder. Dalil primernya adalah kekuasaan mereka atas wilayah negara mereka, dan fanatisme mereka terhadap negara dan bangsa mereka. Padahal keterpecahan mereka dalam berbagai bangsa dan negara adalah hasil rekayasa imperialisme Barat. Bukan sekedar perasaan kebangsaan murni. Tengoklah bangsa Arab yang berpenduduk sekitar 220 juta terpecah dalam sekitar 20 negara? Kita di Indonesia prihatin atas gejala disintegrasi yang bisa memecah negara ini menjadi lebih dari 20 negara! Bukankah mestinya 1,5 milyar kaum muslimin ini mestinya hidup dalam satu naungan negara?!

    Mengenai ikhtilaaful mathaali’ perbedaan mathla’, yaitu tempat/waktu terbitnya hilal) –yang digunakan sebagian orang sebagai alasan (untuk berbeda dalam berpuasa dan beridul Fitri)? adalah merupakan manath (fakta untuk penerapan hukum) yang telah dikaji oleh para ulama terdahulu. Fakta saat itu, kaum muslimin memang tidak dapat menginformasikan berita rukyatul hilal ke seluruh penjuru wilayah negara Khilafah Islamiyah yang amat luas dalam satu hari, karena sarana komunikasi yang terbatas. Namun, kini fakta telah berubah. Malahan bila konsep terbitnya bulan (mathla) digunakan menjadi tidak logis.

    Dalam konsep mathla, setiap daerah yang berjarak 16 farsakh atau 120 km memiliki mathla sendiri. Artinya, penduduk Jakarta dan sekitarnya dalam radius 120 km hanya terikat dengan rukyat yang dilakukan di Cakung, tapi terikat dengan hasil rukyat di Pelabuhan Ratu. Penduduk Surabaya dan sekitarnya hanya terikat dengan rukyat di Tanjung Kodok tanpa perlu terikat rukyat di Makassar dan seterusnya. Dengan konsep mathla’ wilayah Indonesia yang jarak ujung Barat hingga ujung Timur sekitar 5200 km itu akan terbagi menjadi 43 mathla’.

    Karena kesulitan itu, menurut KH. Sahal Mahfudz, NU pindah madzhab (intiqalul madzhab). Sayangnya tidak pindah ke madzhab jumhur, yakni satu rukyat untuk seluruh dunia., melainkan membuat ‘madzhab’ baru yakni wilayatul hukmi, yakni penyamaan awal dan akhir Ramadhan diserahkan pada negara nasional masing-masing. Pertanyaan kita, apa landasan syar’i yang membolehkan wilayah kaum muslimin terpecah menjadi lebih dari 50 negara, yakni lebih dari 50 wilayatul hukmi? Bukankah Islam hanya mengajarkan satu wilayatul hukmi untuk seluruh dunia, yakni yang dipimpin oleh Imam Al A’zham, alias Khalifah! Rasulullah saw. bersabda:

    “Jika dibai’at dua khalifah (kepala negara penguasa wilayatul hukmi), maka bunuhlah yang kedua (jika tak mau meletakkan jabatan)” (HR. Muslim).

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:45 am on 22 June 2014 Permalink | Balas  

    Ramadhan nan Penuh Cinta 

    ramadhan8Ramadhan nan Penuh Cinta

    Merindu haru hati ini menanti saat kedatangannya, hingga tak kuasa menahan setiap tetesan air kesyukuran yang memancarkan kebahagiaan tak terlukiskan saat ianya tiba malam tadi. Segala puji bagi Allah yang telah berkenan kembali mempertemukan kita dengan bulan bertabur cinta. Cinta yang ditawarkan Allah kepada segenap makhluk di bulan Ramadhan selayaknya kita sambut dengan suka cita, seraya berharap kelak kita menjadi bagian dari golongan yang mendapatkan cinta-Nya.

    Detik-detik menjelang satu ramadhan, ungkapan cinta bertaburan di seantero dunia menyambut hangat ramadhan ditandai dengan jalinan silaturahim melalui BBM, surat, telepon, SMS, email, atau bahkan rangkaian acara-acara khusus menyambut tamu agung ini. Cinta yang diberikan-Nya bukanlah sesuatu yang abstrak, setidaknya dengan ramadhan, mereka yang terbiasa sibuk sedemikian rupa sedikit mempercepat aktifitasnya agar segera tiba di rumah untuk menikmati berbuka bersama keluarga. Juga yang biasanya tak sempat untuk sarapan bersama, Allah memfasilitasinya saat makan sahur. Bukankah yang demikian dapat kembali menyuburkan cinta dan menghangatkan keharmonisan keluarga?

    Kata Rasul, saling mencintai dan berkasih sayanglah kepada sesama yang di bumi, maka seluruh yang di langit akan mencintai dan mengasihimu. Cinta sosial, Allah berikan juga kesempatan manusia untuk mengaplikasikannya saat-saat bersama melakukan shalat tarawih berjama’ah, saling menghantarkan makanan berbuka kepada tetangga, juga tak lupa memberi sedekah dan hidangan berbuka kepada pengemis, fakir miskin dan anak yatim-piatu. Bahkan menjelang hari akhir ramadhan, wujud cinta juga terealisasi dengan mengeluarkan sebagian harta kita untuk zakat guna melengkapi proses pembersihan diri menuju kesucian.

    Infaq, sedekah, dan zakat yang kita keluarkan, adalah bukti cinta kita kepada Allah sekaligus menegaskan bahwa kita tak termasuk orang-orang yang cinta harta dunia dan sadar akan adanya sebagian hak orang lain dari apa-apa yang kita miliki. Adakah yang cintanya sebesar sahabat Abu Bakar Shiddik yang mengeluarkan seluruh hartanya di jalan Allah hingga Rasul-pun bertanya apa yang tersisa untuknya. “Allah dan rasul-Nya, cukuplah bagiku” jawab Abu Bakar. Dan tentu saja, perlulah diri ini belajar dari Ibrahim alaihi salam dan keluarganya tentang hakikat dan bentuk cinta kepada Allah. Hal yang tidak kalah menakjubkan juga ditunjukkan Rasulullah kepada seorang anak yatim yang bersedih di hari raya. Ia menjadikan dirinya ayah, dan Fatimah saudara perempuan anak yatim tersebut seraya membahagiakannya saat hari bahagia, Idul Fitri.

    Malam-malam ramadhan, adalah saat terbaik kita bercengkerama dan bermesraan dengan Allah melalui tilawah dan tadarrus qur’an, tahajjud serta munajat kepada-Nya. Hati yang terpaut cinta, seperti enggan menuju pembaringan. Inginnya menghabiskan malam-malam ramadhan dengan tangis penyesalan atas khilaf dan dosa, atas segala alpa, juga lalai. Sadar akan semua nikmat yang Allah berikan tanpa pernah alpa, tanpa pernah pula khilaf, salah dan lalai. Dia senantiasa memberikan pelayanan terbaik kepada hamba-hamba-Nya, namun kita membayarnya dengan cinta yang semu, cinta yang terkadang hanya terucap di lidah tanpa wujud yang nyata. Astaghfirullaah …

    Jika hati ini sedemikian rindunya menanti kedatangan bulan penuh rahmat dan maghfirah ini, tentulah, selayaknya orang saling mencinta, akan ada tangis jika kekasihnya pergi. Tetesan air mata yang akan mengalir nanti, takkan terhitung betapa derasnya membayangkan kemungkinan bertemunya kembali kita dengan ramadhan nan penuh cinta ini.

    Saat hari fitri tiba, pantaslah ada keceriaan bagi mereka yang mendapatkan kemenangan melewati masa-masa ujian selama ramadhan, dengan satu harap menjadikan taqwa sebagai hasil akhir ramadhan. Namun tentu saja, sambil menghitung-hitung betapa menyesalnya kita tak memanfaatkan ramadhan yang telah lalu dengan amal sebaik-baiknya, dengan ibadah yang bernilai, hingga tangis ini akan semakin keras berteriak dalam hati. Satu tanya bergelayut “Akankah kita kan sampai di ramadhan tahun depan?” Maka, hati pun berdo’a penuh harap, “berilah hamba kesempatan”.

    Wallaahu a’lam bishshowaab

    ***

    Bayu Gautama – eramuslim

     
  • erva kurniawan 8:24 am on 21 June 2014 Permalink | Balas  

    Enam Perkara 

    nasehat-quran1Enam Perkara

    Retno Wahyudiaty

    SAHABAT UMAR BIN AL – KHATTAB R.A. BERKATA: Allah merahasiakan 6 perkara kepada hambanya disebabkan 6 perkara iaitu:

    1. Allah merahasiakan keredhaannya kepada hambanya yang taat agar hambanya itu tetap terus berbakti / taat.
    2. Allah merahasiakan turunnya Lailatul Qadar di bulan Ramadhan agarhambanya selalu berusaha untuk mencapainya dengan bersungguh-sungguh tanpa mengingat / mengenal / merasa bosan.
    3. Allah merahasiakan wali – walinya / hamba hambanya yang soleh kepada orang banyak agar mereka tidak dipuja – puja / disembah-sembah disebabkan oleh kemuliaannya karena wali – wali Allah itu tergolong orang yang mempunyai kelebihan ilmu.
    4. Allah merahasiakan umur seseorang hamba agar ia selalu bersiap sedia untuk mati dan rajin beramal yang soleh
    5. Allah merahasiakan tentang keutamaan salatul wusto / sembahyang yang utama daripada solat solat yang lain agar hambanya itu tetap rajin dan berusaha mencapainya (Salatul Wusto)
    6. Allah merahasiakan tentang siapa jodoh kita nantinya agar hambanya mencari jodoh yang terbaik untuknya

    SAHABAT OSMAN R.A. BERKATA: Rasa takut bagi hamba Allah seharusnya dikawatirkan dalam 6 perkara yaitu :

    1. Rasa takut ketika ditimpa musibah karena dikuatirkan imannya menjadi luntur.
    2. Rasa takut di kala ingin berbuat sesuatu yang dilarang Allah (maksiat) karena ada malaikat yang selalu mencatat perbuatannya.
    3. Rasa takut terpedaya dengan perbuatan syaitan karena syaitan itu bisa menjerumuskannya ke jurang neraka / api neraka.
    4. Rasa takut ketika dicabut nyawanya oleh malaikat Izrail, karena ia belum sempat bertaubat kepada Allah swt.
    5. Rasa takut akan tertipu oleh kemewahan dan kenikmatan di dunia.
    6. Rasa takut terganggu / terhalang oleh keluarganya karena dia dapat melupakan pengabdiannya kepada Allah.

    SAHABAT ALI BIN ABI TALIB BERKATA : Barang siapa yang mau mengamalkan 6 perkara, dia akan dijamin masuk syurga dan diselamatkan dari api neraka.

    1. Mengenal Allah sebagai Tuhannya Yang Maha Kuasa dan dia hanya menyembah / beribadat kepadaNya.
    2. Mengenal syaitan sebagai musuhnya yang menyesatkan manusia dan dia mau menghindarinya.
    3. Mengenal Alam Akhirat sebagai tempat kembalinya yang kekal abadi dan dia mau berusaha mencari bekal yg cukup untuk pergi ke sana / Alam Akhirat.
    4. Mengenal Alam Dunia sebagai tempat sementara dan dia tidak terpengaruh oleh kemanisannya / kecantikkannya.
    5. Mengenal sesuatu yang hak / benar dan dia selalu berusaha menerjuninya / memasukinya.
    6. Mengenal sesuatu yang batil / salah dan dia selalu berusaha menjauhinya / meninggalkannya.

    SAHABAT UMAR BIN AL – KHATTAB R.A. BERKATA: Ada 6 nikmat yang besar yang telah diberikan oleh Allah swt kepada hambanya iaitu :

    1. Nikmat ISLAM
    2. Nikmat Al – Quran
    3. Nikmat Nabi Muhammad saw
    4. Nikmat kesehatan 5) Nikmat tertutup cela / aib
    5. Nikmat kekayaan jiwa zahir / batin

    waALLAHu’alam

     
  • erva kurniawan 8:06 am on 20 June 2014 Permalink | Balas  

    Dosa-Dosa yang Dianggap Biasa (Namimah/Mengadu Domba) 

    quran 2Dosa-Dosa yang Dianggap Biasa (Namimah/Mengadu Domba)

    Oleh: Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid

    Mengadukan ucapan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak adalah salah satu faktor yang menyebabkan terputusnya ikatan, serta menyulut api kebencian dan permusuhan antar sesama manusia.

    Allah mencela pelaku perbuatan tersebut dalam firman-Nya.

    Artinya : “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah“. (Al-Qalam : 10-11).

    Dalam sebuah hadits marfu’ yang diriwayatkan Hudzaifah, disebutkan :

    “Artinya : Tidak akan masuk surga al-qattat (tukang adu domba)”. (Hadits Riwayat Al-Bukhari, lihat Fathul Baari 10/472. Dalam An-Nihayah karya Ibnu Atsir 4/11 disebutkan : “…. Al-Qattat adalah orang yang menguping (mencuri dengar pembicaraan), tanpa sepengetahuan mereka, lalu ia membawa pembicaraan tersebut kepada dua yang lain dengan tujuan mengadu domba”.

    Ibnu Abbas meriwayatkan :

    “Artinya : (Suatu hari) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sebuah kebun di antara kebun-kebun di Madinah. Tiba-tiba beliau mendengar dua orang yang sedang disiksa di dalam kuburnya, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    “Artinya : Keduanya disiksa, padahal tidak karena masalah yang besar (dalam anggapan keduanya) -lalu bersabda- benar (dalam sebuah riwayat disebutkan “Padahal sesungguhnya ia adalah persoalan besar”). Salah seorang diantaranya tidak meletakkan sesuatu untuk melindungi diri dari percikan kencingnya dan seorang lagi (karena) suka mengadu domba”. (Hadits Riwayat Al Bukhari, lihat Fathul Baari, 1/317).

    Diantara bentuk namimah yang paling buruk adalah hasutan yang dilakukan terhadap seorang lelaki tentang istrinya atau sebaliknya, dengan maksud untuk merusak hubungan suami istri tersebut.

    Demikian juga adu domba yang dilakukan sebagian karyawan kepada teman karyawannya yang lain. Misalnya dengan mengadukan ucapan-ucapan kawan tersebut kepada direktur atau atasan dengan tujuan untuk memfitnah dan merugikan karyawan tersebut. Semua hal ini hukumnya haram.

    Wallohu a’lam.

     
  • erva kurniawan 8:02 am on 19 June 2014 Permalink | Balas  

    Kisah Sa’d As Sulami 

    bendera perangKisah Sa’d As Sulami

    “Ya Rasulallah, apakah hitamnya kulit dan jeleknya wajahku dapat menghalangiku masuk surga ?” tanya seseorang kepada Rasulullah SAW.

    “Tidak, selama ia yakin kepada Robbnya dan membenarkan Rasul dan risalah yang dibawanya.”

    Kemudian orang itu berkata, “Demi Allah, sesungguhnya aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Engkau adalah hamba dan Rasul-Nya”, lalu ia melanjutkan “Namaku Sa’d As-Sulami, Delapan bulan sudah aku coba melamar wanita yang ada disekitar sini dan yang jauh dari sini, tetapi mereka semua menolakku, sebenarnya aku orang yang cukup terpandang dikabilahku bani Sulaim, tetapi karena aku keturunan berkulit hitam maka mereka menolakku.”

    Rasulullah bertanya kepada orang itu “Apakah disini ada Amr bin Wahb dari bani Tsaqif ?” maka dijawab “Tidak ada,” Rasulullah bertanya pada orang itu, “Tahukah kamu rumah Amr bin Wahb ?”

    Dijawab “Tahu ya Rasul,” Rasulullah berkata “Datanglah pada Amr bin Wahb, ia adalah orang yang baru masuk Islam dan memiliki putri yang pandai dan cantik, ketoklah pintunya dan berikan salam, dan katakan padanya bahwa Rasulullah ingin agar ia menikahkan kamu dengan putrinya”.

    Maka dengan gembira berangkatlah Sa’d As-Sulami kerumah Amr bin Wahb, setelah memberi salam dan masuk maka ia berkata “Rasulullah memerintahkan aku menemuimu…”

    Keluarga Amr bin Wahb amat senang dan berkata, “Ada gerangan apa Rasulullah mengutusmu kemari ?” dijawab, “Beliau memintamu untuk menikahkan aku dengan putrimu”.

    Amr bin Wahb berkata :”Kamu pasti berdusta.”

    Mendengar ucapan yang keras dari Amr bin Wahb, Sa’d pergi dengan wajah murung menemui Rasulullah. Sementara itu putri Amr bin Wahb yang mendengar percakapan tadi berkata pada Ayahnya; “Hai ayah, carilah selamat, carilah selamat ! jangan sampai Allah dan Rasul-nya murka dan kau akan dipermalukan dengan turunnya ayat dari langit tentang perbuatanmu ini, Jika Allah dan Rasul-nya rela aku menikah dengan orang itu maka akupun rela menikah dengannya.”

    Amr bin Wahb segera pergi mengejar, dan segera menemui Rasulullah. Rasulullah berkata :”Inikah orang yang menolak perintah Rasul ?”

    Amr bin Wahb berkata “Benar ya Rasul, tapi aku tidak mengetahui kalau ini adalah perintahmu, aku mengira ia berbohong, jika engkau menginginkan yang demikian, maka aku rela”.

    Rasulullah berkata pada Sa’d As-Sulami,”Sekarang ia telah menerimamu, apa yang akan kamu berikan kepada putrinya sebagai mas kawin?”

    Sa’d berkata, “Aku tidak memiliki apapun untuk dijadikan mas kawin”.

    Rasulullah tersenyum dan berkata, “Pergilah pada beberapa orang Muhajirin, datanglah kepada Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Tholib” (Rodhiyallahu Anhum ajma’in).

    Maka Sa’d datang kepada mereka semuanya, Abdurrahman bin Auf memberi bahkan dilebihkan, Utsman memberi serta melebihkan, Ali memberi bahkan melebihkan.

    Sa’d telah mendapatkan ratusan dirham, ia pergi ke pasar untuk membeli mas kawin, tetapi mendadak terdengar seruan, ”Hai kuda-kuda Allah, bergeraklah” (maksudnya panggilan jihad).”

    Sa’d menatap ke langit dan berkata, “Ya Allah, aku akan memenuhi panggilanmu.” Maka segera ia membeli Baji besi dan kuda serta tameng untuk berperang dan segera dikenakannya. Hingga wajahnya tidak terlihat kecuali hanya kedua matanya.

    Ketika tiba didalam barisan, orang-orang saling bertanya tentang penunggang kuda ini, Ali berkata : “Mungkin ia datang dari Negeri Syam untuk mempelajari agamamu dan melindungimu”.

    Dan ketika peperangan terjadi, Sa’d maju dengan bersemangat, ia bergerak dengan lincah, menghantam ke kiri dan ke kanan, hingga kudanya kelelahan. Ia pun turun dari kuda dan menyingsingkan lengannya, maka tampaklah tangannya yang hitam, Ali bertanya “Apakah kamu Sa’d As-Sulami ?” dijawab “Ya benar.”

    Sa’d terus maju dan maju, hingga akhirnya ada yang berkata “Sa’d telah syahid.”

    Rasulullah berjalan menuju jasad Sa’d As-Sulami, diletakkan kepalanya dipangkuan Beliau dan dibersihkannya dari debu dengan kain Beliau. Maka Rasulullah menangis dan tersenyum kemudian memalingkan muka. Ada yang bertanya, ”Ya Rasul, tadi aku lihat engkau menangis dan tersenyum, kemudian berpaling ?”.

    Beliau menjawab; “Aku menangis karena rindu dengan Sa’d, Aku tersenyum karena ia sudah berada di tepian Telaga jernih yang tepiannya terbuat dari intan dan permata. Aku memalingkan wajah karena melihat bidadari berkumpul mendekatinya, sedang betisnya tersingkap.”

    Usai peperangan, Sa’d telah gugur. Maka Rasulullah mengumpulkan semua milik Sa’d untuk diserahkan kepada putri Amr bin Wahb, seraya berkata : “Sesungguhnya Allah telah menikahkan Sa’d dengan wanita yang lebih baik dari putrimu.”

    ***

    Dari Sahabat

     
    • ari sudono 10:04 am on 23 Juni 2014 Permalink

      Kisah yang mengharukan dan patut di contoh krn menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi, Jazakallaah

  • erva kurniawan 7:39 am on 18 June 2014 Permalink | Balas  

    Beberapa Kaidah dalam Mempelajari Ilmu Fiqh: Membedakan Antara Ikhtilaf dengan Bid’ah 

    quranBeberapa Kaidah dalam Mempelajari Ilmu Fiqh: Membedakan Antara Ikhtilaf dengan Bid’ah

    Author: Dr. Salim Seggaff al-Juffry, MA

    Contributor: Akh Nabiel Almusawa

    Editor: Abu Aufa

    ABSTRACT: Perbuatan bid’ah lebih dicintai oleh Iblis la’natullah dari perbuatan maksiat. Karena pelaku maksiat merasa salah dan menyesal atas perbuatannya, sedangkan pelaku bid’ah tidak merasa salah dan menganggap perbuatannya sebagai ibadah taqarrub kepada Allah SWT. [Ibnu Taimiyyah mengutip perkataan Sufyan ats Tsauri]

    Disebutkan dalam hadits riwayat Ahmad bahwa : Tidaklah suatu kaum melakukan suatu bid’ah, kecuali ALLAH SWT akan mengambil dari mereka sebuah sunnah yang setara dari apa yang mereka lakukan dengan bid’ah tersebut.

    Disebutkan dalam “mukhtashar shihhah”, bahwa BID’AH ADALAH MEMPERBARUI AGAMA SETELAH SEMPURNA. Disebutkan dalam “mishbahul munir” bahwa IA ADALAH MENAMBAH ATAU MENGURANGI AGAMA. Disebutkan dalam “al-Qamus” yaitu MENAMBAHKAN PADA AGAMA SESUATU YANG TELAH SEMPURNA ATAU SESUATU PEMBARUAN SETELAH NABI SAW YANG BERASAL DARI HAWA NAFSU.

    Agama Islam adalah agama yang sempurna, syariatnya sudah lengkap, cukup dan memadai. ALLAH SWT berfirman: “Pada hari ini AKU sempurnakan bagi kalian din kalian dan AKU sempurnakan atas kalian ni’mat-KU dan telah AKU ridhai bagi kalian Islam sebagai din.” (QS 5/3)

    BARANGSIAPA YANG MENAMBAH SYARIAT ISLAM ATAU MENGURANGI ATAU MENYELEWENGKAN ATAU MENTA’WILKANNYA DALAM DIN ISLAM, MAKA IA TELAH BERBUAT BID’AH DAN SETIAP BID’AH ADALAH SESAT. Nabi SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Abu Daud dan at-Tirmidzi dari al-‘Irbadh bin Sariyah : “Hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku, gigit erat-erat oleh kalian dengan gigi geraham. Dan janganlah kalian mengikuti suatu perkara yang baru, karena setiap yang baru itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.”

    Maka SETIAP ORANG YANG MEMBUAT PERKARA YANG BARU PADA MASALAH AGAMA ADALAH TERTOLAK, sebagaimana disebutkan dalam hadits : “Siapa yang mengerjakan suatu pekerjaan yang tidak sesuai dengan aturan kami maka tertolak.”

    Berkata Ibnu Rajab dalam kitabnya “Syarh hadits Arba’in” bahwa yang dimaksud dengan BID’AH ADALAH SESUATU YANG MEMPERBARUI PADA SESUATU DIMANA PRINSIP-PRINSIPNYA TIDAK ADA DALAM SYARIAH YANG MENUNJUKKAN KE ARAH ITU. ADAPUN SEGALA SESUATU YANG ADA ASAL-USULNYA DALAM SYARIAH YANG MENUNJUK KE ARAH ITU BUKAN BID’AH MENURUT SYARIAH, walaupun secara bahasa disebut bid’ah juga. Maka setiap yang memperbarui pada masalah agama yang tidak ada asal-usulnya dari agama itu disebut bid’ah dan sesat, baik pada masalah aqidah, amal, yang lahir maupun batin.

    Contohnya adalah apa yang dilakukan oleh Umar ra saat mengumpulkan manusia untuk shalat tarawih berjamaah pada malam Ramadhan bukanlah “bid’ah menurut syariah”, walaupun menurut bahasa disebut bid’ah. Oleh sebab itulah maka Umar ra berkata : “Sebaik-baik bid’ah adalah perbuatan ini!” Maksudnya bid’ah dari sisi bahasa, sebab secara syariah perbuatan tersebut telah pernah dilakukan oleh Nabi SAW.

    Contoh lainnya ialah apa yang dibolehkan oleh Nabi SAW ketika ada seorang sahabat yang selalu membaca surat al-Ikhlas setiap shalatnya sebelum membaca surat lainnya, walaupun Nabi SAW tidak pernah melakukan hal tersebut. Atau contoh lainnya saat beliau SAW melihat Abubakar ra selalu shalat witir di awal malam, sementara Umar ra selalu shalat witir di akhir malam, maka Nabi SAW membiarkan keduanya.

    Contoh lain lagi, adalah saat Nabi SAW shalat, beliau SAW mendengar ada salah seorang yang membaca : Hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi! Yaitu saat melakukan i’tidal. Saat selesai shalat, maka Nabi SAW bertanya: “Siapa yang mengucapkan kata-kata tadi?” Maka ada yang menjawab : “Saya wahai Rasulullah!” Maka kata Nabi SAW : “Aku melihat lebih dari 30 malaikat berlomba-lomba mencatatnya pertama kali!” (HR Bukhari).

    MACAM-MACAM BID’AH Bid’ah terbagi menjadi 2, yaitu BID’AH PADA URUSAN DUNIA dan BID’AH PADA MASALAH AGAMA. Adapun BID’AH PADA URUSAN DUNIA ATAU MU’AMALAH BOLEH, SELAGI TIDAK BERTENTANGAN DENGAN ATURAN-ATURAN DAN PRINSIP-PRINSIP DASAR ISLAM. Bahkan dalam masalah dunia ini malah dituntut adanya ibda’ (kreatifitas). Karena PRINSIP DASAR DALAM MASALAH DUNIA DAN MUAMALLAH ADALAH SEMUANYA BOLEH, KECUALI YANG TELAH DILARANG OLEH SYARIAH.

    Maka kita tidak perlu bertanya : Bolehkah kita memakai celana? Atau bolehkah memakai sabuk? Dsb. Yang penting prinsip dasar dalam Islam adalah harus menutup aurat (tidak transparan, tidak membentuk tubuh/ketat) maka bentuk dan warnanya terserah apa saja.

    BID’AH DALAM MASALAH AGAMA YANG DISEPAKATI

    1. BID’AH MUKAFFARAH [PELAKUNYA BISA KAFIR] Yaitu beribadah pada selain Allah SWT, seperti doa Isti’anah (meminta pertolongan), isti’adzah (meminta perlindungan), istighatsah (menyeru/memanggil untuk meminta bantuan), nadzar dan berkurban/menyembelih/sesajen. Jika dilakukan pada selain Allah maka hal tersebut adalah bid’ah yang membuat kufur dari ajaran Islam.
    2. BID’AH MUHARRAMAH [HUKUMNYA HARAM] Seperti membangun kuburan, memberikan kelambu pada kuburan, memasang lilin dan lampu pada kuburan, meminta berkah pada kuburan, menjadikan kuburan sebagai mesjid, dll.
    3. BID’AH MAKRUHAH [HUKUMNYA MENDEKATI HARAM] Makan makanan ditempat kematian pada hari pertama, kedua dan ketiga; memperingati kematian setelah 40 hari/100 hari/1000 hari; ritual-ritual yang berlebihan mengagungkan Nabi SAW; dsb.
    4. BID’AH MAKRUHAH [HUKUMNYA MAKRUH] Seperti melafazkan niat saat shalat, melakukan ibadah khusus pada nishfu Sya’ban seperti shalat Alfiyyah, atau melakukan muhasabah yang dilakukan khusus setiap malam tahun baru; dll.

    BID’AH YANG HUKUMNYA DIPERSELISIHKAN PARA ULAMA

    1. BID’AH TARKIYYAH Yaitu perbuatan seseorang meninggalkan suatu perbuatan sunnah dengan sengaja secara terus-menerus, dengan berkeyakinan bahwa hal tersebut bukan dari agama. Seperti tidak pernah melakukan ibadah Rawatib karena tidak menganggapnya sunnah, tidak mau memanjangkan jenggot karena tidak menganggapnya sunnah, dsb.
    2. BID’AH IDHAFIYYAH Yaitu melakukan sebuah perbuatan terus-menerus dan menganggapnya sunnah, padahal ia bukan sunnah. Seperti jabat tangan setiap selesai shalat, berdoa bersama-sama setelah selesai shalat, dsb.

    *IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA*

    Al-Hubb Fillah wa Lillah,

     
  • erva kurniawan 7:14 am on 17 June 2014 Permalink | Balas  

    Wasiat Sebelum Tidur 

    tidur islamWasiat Sebelum Tidur

    Oleh

    Majdi As-Sayyid Ibrahim

    “Ali berkata, Fathimah mengeluhkan bekas alat penggiling yang dialaminya. Lalu pada saat itu ada seorang tawanan yang mendatangai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Fathimah bertolak, namun tidak bertemu dengan beliau. Dia mendapatkan Aisyah. Lalu dia mengabarkan kepadanya. Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba, Aisyah mengabarkan kedatangan Fathimah kepada beliau. Lalu beliau mendatangi kami, yang kala itu kami hendak berangkat tidur. Lalu aku siap berdiri, namun beliau berkata. ‘Tetaplah di tempatmu’. Lalu beliau duduk di tengah kami, sehingga aku bisa merasakan dinginnya kedua telapak kaki beliau di dadaku. Beliau berkata. ‘Ketahuilah, akan kuajarkan kepadamu sesuatu yang lebih baik dari pada apa yang engkau minta kepadaku. Apabila engkau hendak tidur, maka bertakbirlah tiga puluh empat kali, bertasbihlah tiga puluh tiga kali, dan bertahmidlah tiga puluh tiga kali, maka itu lebih baik bagimu daripada seorang pembantu”. (Hadits Shahih, ditakhrij Al-Bukhari 4/102, Muslim 17/45, Abu Dawud hadits nomor 5062, At-Tirmidzi hadits nomor 3469, Ahmad 1/96, Al-Baihaqy 7/293).

    Wahai Ukhti Muslimah!

    Inilah wasiat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi putrinya yang suci, Fathimah, seorang pemuka para wanita penghuni sorga. Maka marilah kita mempelajari apa yang bermanfa’at bagi kehidupan dunia dan akhirat kita dari wasiat ini.

    Fathimah merasa capai karena banyaknya pekerjaan yang harus ditanganinya, berupa pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, terutama pengaruh alat penggiling. Maka dia pun pergi menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta seorang pembantu, yakni seorang wanita yang bisa membantunya.

    Tatkala Fathimah memasuki rumah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, dia tidak mendapatkan beliau. Dia hanya mendapatkan Aisyah, Ummul Mukminin. Lalu Fathimah menyebutkan keperluannya kepada Aisyah. Tatkala beliau tiba, Aisyah mengabarkan urusan Fathimah.

    Beliau mempertimbangkan permintaan Fathimah. Dan, memang beliau mempunyai beberapa orang tawanan perang, ada pula dari kaum wanitanya. Tetapi tawanan-tawanan ini akan dijual, dan hasilnya akan disalurkan kepada orang-orang Muslim yang fakir, yang tidak mempunyai tempat tinggal dan makanan kecuali dari apa yang diberikan Rasulullah. Lalu beliau pergi ke rumah Ali, suami Fathimah, yang saat itu keduanya siap hendak tidur. Beliau masuk rumah Ali dan Fathimah setelah meminta ijin dari keduanya. Tatkala beliau masuk, keduanya bermaksud hendak berdiri, namun beliau berkata. “Tetaplah engkau di tempatmu”. “Telah dikabarkan kepadaku bahwa engkau datang untuk meminta. Lalu apakah keperluanmu?”.

    Fathimah menjawab.”Ada kabar yang kudengar bahwa beberapa pembantu telah datang kepada engkau. Maka aku ingin agar engkau memberiku seorang pembantu untuk membantuku membuat roti dan adonannya. Karena hal ini sangat berat bagiku”.

    Beliau berkata. “mengapa engkau tidak datang meminta yang lebih engkau sukai atau lebih baik dari hal itu ?”. Kemudian beliau memberi isyarat kepada keduanya, bahwa jika keduanya hendak tidur, hendaklah bertasbih kepada Allah, bertakbir dan bertahmid dengan bilangan tertentu yang disebutkan kepada keduanya. Lalu akhirnya beliau berkata. “Itu lebih baik bagimu daripada seorang pembantu”.

    Ali tidak melupakan wasiat ini, hingga setelah istrinya meninggal. Hal ini dikatakan Ibnu Abi Laila. “Ali berkata, ‘Semenjak aku mendengar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku tidak pernah meninggalkan wasiat itu”.

    Ada yang bertanya. “Tidak pula pada malam perang Shiffin ?”.

    Ali menjawab. “Tidak pula pada malam perang Shiffin”.

    (Ditakhrij Muslim 17/46. Yang dimaksud perang Shiffin di sini adalah perang antara pihak Ali dan Mu’awiyah di Shiffin, suatu daerah antara Irak dan Syam. Kedua belah pihak berada di sana beberapa bulan).

    Boleh jadi engkau bertanya-tanya apa hubungan antara pembantu yang diminta Fathimah dan dzikir?

    Hubungan keduanya sangat jelas bagi orang yang memiliki hati atau pikiran yang benar-benar sadar. Sebab dzikir bisa memberikan kekuatan kepada orang yang melakukannya. Bahkan kadang-kadang dia bisa melakukan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan. Di antara manfaat dzikir adalah :

    • Menghilangkan duka dan kekhawatiran dari hati.
    • Mendatangkan kegembiraan dan keceriaan bagi hati.
    • Memberikan rasa nyaman dan kehormatan.
    • Membersihkan hati dari karat, yaitu berupa lalai dan hawa nafsu.

    Boleh jadi engkau juga bertanya-tanya, ada dzikir-dzikir lain yang bisa dibaca sebelum tidur selain ini. Lalu mana yang lebih utama? Pertanyaan ini dijawab oleh Al-Qady Iyadh : “Telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beberapa dzikir sebelum berangkat tidur, yang bisa dipilih menurut kondisi, situasi dan orang yang mengucapkannya. Dalam semua dzikir itu terdapat keutamaan”.

    Secara umum wasiat ini mempunyai faidah yang agung dan banyak manfaat serta kebaikannya. Inilah yang disebutkan oleh sebagian ulama :

    Menurut Ibnu Baththal, di dalam hadits ini terkandung hujjah bagi keutamaan kemiskinan daripada kekayaan. Andaikata kekayaan lebih utama daripada kemiskinan, tentu beliau akan memberikan pembantu kepada Ali dan Fathimah. Dzikir yang diajarkan beliau dan tidak memberikan pembantu kepada keduanya, bisa diketahui bahwa beliau memilihkan yang lebih utama di sisi Allah bagi keduanya.

    Pendapat ini disanggah oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar. Menurutnya, hal ini bisa berlaku jika beliau mempunyai lebihan pembantu. Sementara sudah disebutkan dalam pengabaran di atas bahwa beliau merasa perlu untuk menjual para tawanan itu untuk menafkahi orang-orang miskin. Maka menurut Iyadh, tidak ada sisi pembuktian dengan hadits ini bahwa orang miskin lebih utama daripada orang kaya.

    Ada perbedaan pendapat mengenai makna kebaikan dalam pengabaran ini. Iyadh berkata. “Menurut zhahirnya, beliau hendak mengajarkan bahwa amal akhirat lebih utama daripada urusan dunia, seperti apapun keadaannya. Beliau membatasi pada hal itu, karena tidak memungkinkan bagi beliau untuk memberikan pembantu. Kemudian beliau mengajarkan dzikir itu, yang bisa mendatangkan pahala yang lebih utama daripada apa yang diminta keduanya”.

    Menurut Al-Qurthuby, beliau mengajarkan dzikir kepada keduanya, agar ia menjadi pengganti dari do’a tatkala keduanya dikejar kebutuhan, atau karena itulah yang lebih beliau sukai bagi putrinya, sebagaimana hal itu lebih beliau sukai bagi dirinya, sehingga kesulitannya bisa tertanggulangi dengan kesabaran, dan yang lebih penting lagi, karena berharap mendapat pahala.

    Disini dapat disimpulkan tentang upaya mendahulukan pencari ilmu daripada yang lain terhadap hak seperlima harta rampasan perang.

    Hendaklah seseorang menanggung sendiri beban keluarganya dan lebih mementingkan akhirat daripada dunia kalau memang dia memiliki kemampuan untuk itu.

    Di dalam hadits ini terkandung pujian yang nyata bagi Ali dan Fathimah.

    Seperti itu pula gambaran kehidupan orang-orang salaf yang shalih, mayoritas para nabi dan walinya.

    Disini terkandung pelajaran sikap lemah lembut dan mengasihi anak putri dan menantu, tanpa harus merepotkan keduanya dan membiarkan keduanya pada posisi berbaring seperti semula. Bahkan beliau menyusupkan kakinya yang mulia di antara keduanya, lalu beliau mengajarkan dzikir, sebagai ganti dari pembantu yang diminta.

    Orang yang banyak dzikir sebelum berangkat tidur, tidak akan merasa letih. Sebab Fathimah mengeluh letih karena bekerja. Lalu beliau mengajarkan dzikir itu. Begitulah yang disimpulkan Ibnu Taimiyah. Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata. “Pendapat ini perlu diteliti lagi. Dzikir tidak menghilangkan letih. Tetapi hal ini bisa ditakwil bahwa orang yang banyak berdzikir, tidak akan merasa mendapat madharat karena kerjanya yang banyak dan tidak merasa sulit, meskipun rasa letih itu tetap ada”.

    Begitulah wahai Ukhti Muslimah, wasiat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disampaikan kepada salah seorang pemimpin penghuni sorga, Fathimah, yaitu berupa kesabaran yang baik. Perhatikanlah bagaimana seorang putri Nabi dan istri seorang shahabat yang mulia, harus menggiling, membuat adonan roti dan melaksanakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangganya. Maka mengapa engkau tidak menirunya?

    Wallohu a’lam

     
    • Much Kusumawardana 7:58 pm on 17 Juni 2014 Permalink

      assalamu’alaikum request master (hukumnya wanita kawin lagi dlm masa idah,)

  • erva kurniawan 7:06 am on 16 June 2014 Permalink | Balas  

    Wasiat Rosululloh S.A.W. Kepada Aisyah RA 

    wanita sholehahWasiat Rosululloh S.A.W. Kepada Aisyah RA

    Saiyidatuna ‘Aisyah r.’a meriwayatkan : Rasulullah SAW bersabda :

    “Hai Aisyah, aku berwasiat kepada engkau. Hendaklah engkau senantiasa mengingat wasiatku ini. Sesungguhnya engkau akan senantiasa di dalam kebajikan selama engkau mengingat wasiatku ini…”

    Intisari wasiat Rasulullah s.a.w tersebut dirumuskan seperti berikut:

    Hai, Aisyah, peliharalah diri engkau. Ketahuilah bahwa sebagian besar daripada kaum engkau (kaum wanita) adalah menjadi kayu api di dalam neraka.

    Diantara sebab-sebabnya ialah mereka itu :

    • Tidak dapat menahan sabar dalam menghadapi kesakitan (kesusahan), tidak sabar apabila ditimpa musibah
    • tidak memuji Allah Taala atas kemurahan-Nya, apabila dikaruniakan nikmat dan rahmat tidak bersyukur.
    • mengkufurkan nikmat; menganggap nikmat bukan dari Allah
    • membanyakkan kata-kata yang sia-sia, banyak bicara yang tidak bermanfaat.

    Wahai, Aisyah, ketahuilah :

    • bahwa wanita yang mengingkari kebajikan (kebaikan) yang diberikan oleh suaminya maka amalannya akan digugurkan oleh Allah
    • bahwa wanita yang menyakiti hati suaminya dengan lidahnya, maka pada hari kiamat, Allah menjadikan lidahnya tujuh puluh hasta dan dibelitkan di tengkuknya.
    • bahwa isteri yang memandang jahat (menuduh atau menaruh sangkaan buruk terhadap suaminya), Allah akan menghapuskan muka dan tubuhnya pada hari kiamat.
    • bahwa isteri yang tidak memenuhi kemauan suaminya di tempat tidur atau menyusahkan urusan ini atau mengkhiananti suaminya, akan dibangkitkan Allah pada hari kiamat dengan muka yang hitam, matanya kelabu, ubun-ubunnya terikat kepada dua kakinya di dalam neraka.
    • bahwa wanita yang mengerjakan Sholat dan berdoa hanya untuk dirinya tetapi tidak untuk suaminya, akan dipukul mukanya dengan Sholatnya itu.
    • bahwa wanita yang dikenakan musibah ke atasnya lalu dia menampar-nampar mukanya atau merobek-robek pakaiannya, dia akan dimasukkan ke dalam neraka bersama dengan Isteri nabi Nuh dan isteri nabi Luth dan tiada harapan mendapat kebajikan syafaat dari siapa pun;
    • bahwa wanita yang berzina akan dicambuk dihadapan semua makhluk didepan neraka pada hari kiamat, tiap-tiap perbuatan zina dengan depalan puluh cambuk dari api.
    • bahwa isteri yang mengandung ( hamil ) baginya pahala seperti berpuasa pada siang harinya dan mengerjakan qiamul-lail pada malamnya serta pahala berjuang fi sabilillah.
    • bahwa isteri yang bersalin ( melahirkan ), bagi tiap-tiap kesakitan yang dideritainya diberi pahala memerdekakan seorang budak. Demikian juga pahalanya setiap kali menyusukan anaknya.
    • bahwa wanita apabila bersuami dan bersabar dari menyakiti suaminya, maka diumpamakan dengan titik-titik darah dalam perjuangan fisabilillah.

    Wallohu a’lam bissawab.

    ***

    Dari Sahabat : Miftachul Arifin

     
  • erva kurniawan 7:29 am on 15 June 2014 Permalink | Balas  

    Ukhti Muslimah Bagaimana Akidahmu? 

    siluet-wanitaUkhti Muslimah Bagaimana Akidahmu?

    Penulis Ummu Raihanah (www.jilbabonline.com)

    Sengaja penulis mengambil judul diatas agar ukhti semua senantiasa bermuhasabah (intropeksi) diri, apakah sudah benar aqidah (keyakinan) kita dalam beragama ini? suatu pertanyaan yang mungkin agak sepele akan tetapi sangat sulit untuk dijawab.

    Sebenarnya dari sinilah segala amal akan dihisab oleh Rabb kita, dengan akidah yang shahih (benar) sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah dan pemahaman pendahulu kita salafuna Shalih maka hati kita akan tunduk dan patuh kepadaNya. Menyerahkan seluruh hidup kita dengan penuh kepasrahan dan keikhlasan. Segala perintah yang Allah turunkan dalam kitab-Nya yang Mulia dan melalui lisan Nabi-Nya adalah merupakan hal yang ringan, mudah sehingga jawaban kita terhadap perintah-perintah tersebut adalah ”kami dengar dan kami patuh”, sebuah jawaban yang indah .

    Wahai ukhti muslimah, Cobalah simak firman-Nya:

    ”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu” (Adz-dzariyaat:56)

    Sebuah seruan yang jelas dan pasti untuk kita, yaitu agar kita hanya benar-benar menyembahNya saja, mentauhidkan-Nya, tidak menyekutukan-Nya, tentu ukhti semua menyadari kita ini adalah hamba-hamba-Nya dan suatu saat akan kembali pada-Nya. Karena itulah tugas kita untuk selalu membersihkan akidah kita dari noda-noda kesyirikan.

    Dengan akidah yang bersih inilah kita mulai beramal untuk mencapai derajat takwa derajat wanita shalihah yang kita idam-idamkan.

    Sayangnya, banyak saudari kita yang masih terlena dan jauh dari akidah yang benar, jauh dari syariat yang benar, sehingga apa yang mereka perbuat lebih banyak melanggar perintah-Nya dari pada taat kepada-Nya.

    Wahai ukhti muslimah saudariku, bukan maksud penulis untuk membuka aib atau mencela dan merasa diri sendiri suci dan benar, akan tetapi hanya ingin saling menasehati semoga Allah selalu membimbing kita semua,

    Penulis hanyalah ingin membagi cerita tentang apa yang dialaminya ketika Allah memberikan kemudahan untuk menunaikan rukun islam yang kelima pada tahun 2001 yang lalu bersama sang suami,

    Dengan penuh rasa haru penulis memasuki pesawat dan duduk disebelah saya seorang wanita keturunan Arab yang cantik jelita dengan dua orang anaknya, saya bertanya kepadanya ”Akan pergi kemana?”

    Karena saya melihatnya tanpa mahram, dia menjawab akan ke Dammam. Saya melihatnya dengan prihatin karena kasihan melihatnya kerepotan seorang diri mengurus dua anaknya yang agak rewel di pesawat, Saya membantunya memasukkan barang-barangnya yang sempat tercecer keluar diantaranya adalah abaya hitam (gamis panjang) dan jilbab panjang hitam,

    Saya bertanya, “Apakah anda memakai ini sama seperti saya? Saya bertanya heran karena beliau saat itu mengenakan setelan celana jean ketat dan kaos ketat, beliau menjawab: ”Iya, di Saudikan kita haram terbuka seperti ini, setiba saya di bandara saya akan memakainya, mbak orang Arab?

    Saya menjawab: “Bukan”

    Beliau bertanya lagi : “Oh, tetapi kenapa pake cadar apa karena suami mbak orang Arab jadi disuruh pake begitu?” Beliau bertanya sambil melirik ke suami saya.

    Sayapun menjelaskannya dengan panjang lebar mengapa saya memakai cadar kepadanya, dan alhamdulillah dia mengerti.

    Suatu kejadian yang sungguh disesalkan dimana banyak kaum kita (wanita) memahami bahwa perintah jilbab adalah ditaati ketika suatu negara mewajibkannya bukan karena ketaatan dan ketundukan hati.

    Ketika penulis sampai di Madinahpun banyak meneteskan air mata karena ternyata, saudari-saudari kita yang shalat disana masih banyak yang melakukan kemusyrikan diantaranya mencium tiang-tiang masjid Nabawi dan menyapunya keseluruh tubuh untuk mencari berkah walaupun polisi wanita di sana meneriaki haram, toh mereka tak perduli, jalan terus, sungguh menyedihkan.

    Hal tersebut tak jauh berbeda saya dapati di Masjidil Haram, mereka berdesak-desakkan mencari berkah di tempat keluarnya air zam-zam, mengorek-ngorek dinding tersebut , teriakan saudari kita yang lain melarang perbuatan itu sama sekali tidak digubris,

    Saya hanya bisa berdo’a semoga Allah memberi mereka hidayah.

    Setibanya di Bandara Jeddah untuk pulang ketanah air, saya mendapatkan pengalaman yang sangat menarik, karena tempat pemeriksaan antara laki-laki dan wanita dipisah, jadilah saya sendiri menghadapi petugas imigrasi bandara, mereka lama sekali melihat kesaya, sayapun bertanya kepadanya dalam bahasa Arab : Apakah ada masalah?

    Petugas itu agak terkejut karena dia melihat paspor saya adalah paspor indonesia. Dia menjawab: ”tidak”.

    Salah seorang petugas imigrasi yang lain mendatangi saya dan bertanya apakah saya benar-benar orang indonesia asli bukan keturunan Arab, saya mengiyakan, dia pun berkata kepada saya: ”Coba lihat di sana itu semuakan teman-temanmu mereka sudah melepaskan kerudung mereka semua karena sudah selesai dari hajinya, ” Saya tidak sempat menjawab banyak karena saya melihat wajah khawatir suami saya dari jauh.

    Dengan sangat terpaksa sayapun meninggalkan beliau yang masih dalam kebingungan.

    Ini adalah suatu kenyataan ukhti, saudariku. Sebuah hal yang sungguh patut di renungkan, apabila memang hati kita benar-benar telah tunduk kepada-Nya kita akan selalu taat dimanapun kita berada tanpa memandang situasi dan kondisi hingga kita menghadap-Nya.

    Semoga Allah senantiasa membimbing dan menjaga kita untuk istiqomah di jalan-Nya dan menjadikan seluruh amalan kita ikhlas kepada-Nya bersih dari riya dan kesyirikan.

     
  • erva kurniawan 7:03 am on 14 June 2014 Permalink | Balas  

    Dosa-Dosa yang Dianggap Biasa (Ghibah/Menggunjing) 

    ghibahDosa-Dosa yang Dianggap Biasa (Ghibah/Menggunjing)

    Oleh

    Syaikh Muhammad Shalih Al Muanajjid

    Dalam banyak pertemuan di majlis, seringkali yang dijadikan hidangannya adalah menggunjing umat Islam. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hal tersebut, dan menyeru agar segenap hamba menjauhinya. Allah menggambarkan dan mengidentikkan ghibah dengan sesuatu yang amat kotor dan menjijikan. Allah berfirman :

    “Artinya : Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati .? Maka tentulah kamu merasa jijik dengannya”. (Al-Hujurat: 12).

    Nabi Shallallahu ‘alihi wa sallam menerangkan makna ghibah (menggunjing) dalam sabdanya :

    “Artinya : Tahukah kalian apakah ghibah itu ? “Mereka menjawab : “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. “Beliau bersabda :”Yaitu engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya.” Ditanyakan :”Bagaimana halnya jika apa yang aku katakan itu (memang) terdapat pada saudaraku .? “Beliau menjawab : “Jika apa yang kamu katakan terdapat pada saudaramu, maka engkau telah menggunjingnya (melakukan ghibah) dan jika ia tidak terdapat padanya maka engkau telah berdusta atasnya”. (Hadits Riwayat Muslim, 4/2001).

    Jadi, ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, sedang ia tidak suka (jika hal itu disebutkan). Baik dalam keadaan soal jasmaninya, agamanya, kekayaannya, hatinya, ahlaknya, bentuk lahiriyahnya dan sebagainya. Caranya-pun bermacam-macam. Di antaranya dengan mebeberkan aib, menirukan tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dengan maksud mengolok-ngolok.

    Banyak orang meremehkan masalah ghibah, padahal dalam pandangan Allah ia adalah sesuatu yang keji dan kotor. Hal itu dijelaskan dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Artinya : Riba itu ada tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan daripadanya sama dengan seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri), dan riba yang paling berat adalah pergunjingan seorang laki-laki atas kehormatan saudaranya”. (As-Silsilah As-Shahihah, 1871).

    Wajib bagi orang yang hadir dalam majlis yang sedang menggunjing orang lain, untuk mencegah kemungkaran dan membela saudaranya yang dipergunjingkan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam amat menganjurkan hal demikian, sebagaimana dalam sabdanya.

    “Artinya : Barangsiapa menolak (ghibah atas) kehormatan saudaranya, niscaya pada hari kiamat Allah akan menolak menghindarkan api Neraka dari wajahnya”. ( Hadits Riwayat Ahmad, 6/450, Shahihul Jami’. 6238).

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 8:02 am on 13 June 2014 Permalink | Balas  

    Bercermin Diri 

    cermin1Bercermin Diri

    Penulis: KH. Abdullah Gymnastiar

    Dalam keseharian kehidupan kita, begitu sangat sering dan nikmatnya ketika kita bercermin. Tidak pernah bosan barang sekalipun padahal wajah yang kita tatap itu-itu juga, aneh bukan?! Bahkan hampir pada setiap kesempatan yang memungkinkan kita selalu menyempatkan diri untuk bercermin. Mengapa demikian?

    Sebabnya kurang lebih karena kita ingin selalu berpenampilan baik, bahkan sempurna. Kita sangat tidak ingin berpenampilan mengecewakan, apalagi kusut dan acak-acakan tak karuan.

    Sebabnya penampilan kita adalah juga cermin pribadi kita. Orang yang necis,rapih, dan bersih maka pribadinya lebih memungkinkan untuk bersih dan rapih pula.

    Sebaliknya orang yang penampilannya kucel, kumal, dan acak-acakan maka kurang lebih seperti itulah pribadinya.

    Tentu saja penampilan yang necis dan rapih itu menjadi kebaikan sepanjang niat dan caranya benar.

    Niat agar orang lain tidak terganggu dan terkecewakan, niat agar orang lain tidak berprasangka buruk, atau juga niat agar orang lain senang dan nyaman dengan penampilan kita.

    Dan Allah suka dengan penampilan yang indah dan rapih sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, “Innallaha jamiilun yuhibbul jamaal”, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan”.

    Yang harus dihindari adalah niat agar orang lain terpesona, tergiur, yang berujung orang lain menjadi terkecoh, bahkan kemudian menjadi tergelincir baik hati atau napsunya, naudzhubillah.

    Tapi harap diketahui, bahwa selama ini kita baru sibuk bercermin ‘topeng’ belaka. Topeng ‘make up’, seragam, jas, dasi, sorban, atau ‘asesoris’ lainnya. Sungguh, kita baru sibuk dengan topeng, namun tanpa disadari kita sudah ditipu dan diperbudak oleh topeng buatan sendiri. Kita sangat ingin orang lain menganggap diri ini lebih dari kenyataan yang sebenarnya. Ingin tampak lebih pandai, lebih gagah, lebih cantik, lebih kaya, lebih sholeh, lebih suci dan aneka kelebihan lainnya. Yang pada akhirnya selain harus bersusah payah agar ‘topeng’ ini tetap melekat, kita pun akan dilanda tegang dan was-was takut ‘topeng’ kita terbuka, yang berakibat orang tahu siapa kita yang ‘aslinya’.

    Tentu saja tindakan tersebut, tidak sepenuhnya salah. Karena membeberkan aib diri yang telah ditutupi Allah selama ini, adalah perbuatan salah. Yang terpenting adalah diri kita jangan sampai terlena dan tertipu oleh topeng sendiri, sehingga kita tidak mengenal diri yang sebenarnya, terkecoh oleh penampilan luar. Oleh karena itu marilah kita jadikan saat bercermin tidak hanya ‘topeng’ yang kita amat-amati, tapi yang terpenting adalah bagaimana isinya, yaitu diri kita sendiri.

    Mulailah amati wajah kita seraya bertanya, “Apakah wajah ini yang kelak akan bercahaya bersinar indah di surga sana ataukah wajah ini yang akan hangus legam terbakar dalam bara jahanam?”

    Lalu tatap mata kita, seraya bertanya,”Apakah mata ini yang kelak dapat menatap penuh kelezatan dan kerinduan,

    menatap Allah Yang Maha Agung, menatap keindahan surga, menatap Rasulullah, menatap para Nabi, menatap kekasih-kekasih Allah kelak? Ataukah mata ini yang akan terbeliak, melotot, menganga, terburai, meleleh ditusuk baja membara? Akankah mata yang terlibat maksiat ini akan menyelamatkan? Wahai mata apa gerangan yang kau tatap selama ini?”

    Lalu tataplah mulut ini, “Apakah mulut ini yang di akhir hayat nanti dapat menyebut kalimat thoyibah, ‘laa ilaaha ilallaah’, ataukah akan menjadi mulut berbusa yang akan menjulur dan di akhirat akan memakan buah zakun yang getir menghanguskan dan menghancurkan setiap usus serta menjadi peminum lahar dan nanah saking terlalu banyaknya dusta, ghibah, dan fitnah serta orang yang terluka dengan mulut kita ini!”

    “Wahai mulut apa gerangan yang kau ucapkan? Wahai mulut yang malang betapa banyak dusta yang engkau ucapkan. Betapa banyak hati-hati yang remuk dengan pisau kata-katamu yang mengiris tajam? Berapa banyak kata-kata manis semanis madu palsu yang engkau ucapkan untuk menipu orang? Betapa jarangnya engkau jujur? Betapa jarangnya engkau menyebut nama Allah dengan tulus? Betapa jarangnya engkau syahdu memohon agar Allah mengampuni?”

    Lalu tataplah diri kita tanyalah, “Hai kamu ini anak sholeh atau anak durjana, apa saja yang telah kamu peras dari orang tuamu selama ini dan apa yang telah engkau berikan? Selain menyakiti, membebani, dan menyusahkannya.

    Tidak tahukah engkau betapa sesungguhnya engkau adalah makhluk tiada tahu balas budi!”

    “Wahai tubuh, apakah engkau yang kelak akan penuh cahaya, bersinar, bersukacita, bercengkrama di surga atau tubuh yang akan tercabik-cabik hancur mendidih di dalam lahar membara jahanam, terpanggang tanpa ampun, derita tiada akhir?”

    “Wahai tubuh, berapa banyak maksiat yang engkau lakukan? Berapa banyak orang-orang yang engkau dzhalimi dengan tubuhmu? Berapa banyak hamba-hamba Allah yang lemah yang engkau tindas dengan kekuatanmu? Berapa banyak perindu pertolonganmu yang engkau acuhkan tanpa peduli padahal engkau mampu? Berapa pula hak-hak orang lain yang engkau rampas?”

    “Wahai tubuh, seperti apa gerangan isi hatimu? Apakah tubuhmu sebagus kata-katamu atau malah sekelam daki-daki yang melekat di tubuhmu? Apakah hatimu segagah ototmu atau selemah daun-daun yang mudah rontok? Apakah hatimu seindah penampilanmu atau malah sebusuk kotoran-kotaranmu?”

    Lalu ingatlah amal-amal kita, “Hai tubuh apakah kau ini makhluk mulia atau menjijikkan, berapa banyak aib-aib nista yang engkau sembunyikan dibalik penampilanmu ini? Apakah engkau ini dermawan atau sipelit yang menyebalkan?”

    Berapa banyak uang yang engkau nafkahkan dan bandingkan dengan yang engkau gunakan untuk selera rendah hawa nafsumu?”

    “Apakah engkau ini sholeh atau sholehah seperti yang engkau tampakkan?

    Khusyu-kah shalatmu, dzikirmu, doamu, ikhlaskah engkau lakukan semua itu?

    Jujurlah hai tubuh yang malang! Ataukah menjadi makhluk riya tukang pamer!”

    “Sungguh betapa beda antara yang nampak di cermin dengan apa yang tersembunyi, betapa aku telah tertipu oleh topeng? Betapa yang kulihat selama ini hanyalah topeng, hanyalah seonggok sampah yang terbungkus topeng-topeng duniawi”

    Wahai sahabat-sahabat sekalian, sesungguhnya saat bercermin adalah saat yang tepat agar kita dapat mengenal dan menangisi diri ini.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:42 am on 12 June 2014 Permalink | Balas  

    Dosa-Dosa Yang Dianggap Biasa (Tidak Cebok Setelah Buang Air Kecil) 

    kencingDosa-Dosa Yang Dianggap Biasa (Tidak Cebok Setelah Buang Air Kecil)

    Oleh

    Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid

    Maksud dari artikel ini, tiada lain adalah agar kita bisa lebih berhati-hati dalam melaksanakan buang air kecil dan berbicara dalam pergaulan sehari-hari, yang mana sebagian orang menganggapnya sebagai masalah yang biasa.

    Tidak Cebok Setelah Buang Air Kecil

    Islam datang dengan membawa peraturan yang semuanya demi kemaslahatan umat manusia. Diantaranya soal menghilangkan najis, Islam mensyari’atkan agar umatnya melakukan istinja’ (cebok dengan air) dan istijmar (membersihkan kotoran dengan batu), lalu menerangkan cara melakukannya sehingga tercapai kebersihan yang dumaksud.

    Sebagian orang menganggap enteng masalah menghilangkan najis. Akibatnya badan dan bajunya masih kotor. Dengan begitu, shalatnya menjadi tidak sah. Rasulullalh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa perbuatan tersebut salah satu sebab dari azab kubur.

    Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Suatu kali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati salah satu kebun di Madinah. Tiba-tiba beliau mendengar suara dua orang yang sedang di siksa di alam kuburnya. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda” :

    “Artinya : Keduanya diazab, tetapi tidak karena masalah besar (dalam anggagapan keduanya) lalu bersabda – benar (dalam riwayat lain : Sesungguhnya ia masalah besar) salah satunya tidak meletakkan sesuatu untuk melindungi diri dari percikan kencingnya dan yang satu lagi suka mengadu domba”. (Hadits Riwayat Bukhari, lihat Fathul Baari :1/317).

    Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan :

    “Kebanyakan azab kubur disebabkan oleh buang air kecil”. (Hadits Riwayat Ahmad, Shahihul Jami’ No. 1213).

    Termasuk tidak cebok setelah buang air kecil adalah orang yang menyudahi hajatnya dengan tergesa-gesa sebelum kencingnya habis, atau sengaja kencing dengan posisi tertentu atau di suatu tempat yang menjadikan percikan air kencing itu mengenainya, atau sengaja meninggalkan istinja’ dan istijmar tidak teliti dalam melakukannya.

    Saat ini, banyak umat Islam yang menyerupai orang-orang kafir dalam masalah kencing. Beberapa kamar kecil hanya dilengkapi dengan bejana air kencing permanen yang menempel di tembok dalam ruangan terbuka. Setiap yang kencing, dengan tanpa malu berdiri dengan disaksikan orang yang lalu lalang keluar kamar mandi. Selesai kencing ia mengangkat pakaiannya dan mengenakannya dalam keadaan najis.

    Orang tersebut telah melakukan dua perkara yang diharamkan, pertama ia tidak menjaga auratnya dari penglihatan manusia dan kedua, ia tidak cebok dan membersihkan diri dari kencingnya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:33 am on 11 June 2014 Permalink | Balas  

    Sumpah (Yamin) 

    janjiSumpah (Yamin)

    Dalam kehidupan kita sehari-hari, rasanya tidak jarang kita temui perkataan-perkataan yang bernuansa sumpah, seperti demi Allah, demi Allah dan rasul-Nya, demi Tuhan dan lain sebagainya yang diucapkan oleh seseorang untuk mendukung argumentasi/alasannya atau untuk mempertahankan penolakannya terhadap sesuatu yang dituduhkan kepada dia. Kemudian, pertanyaan yang terlintas dalam benak kita adalah apakah perkataan semacam itu termasuk kategori sumpah (yamin) atau tidak. Hal ini mengingat perkataan itu diawali dengan kata ‘demi’. Oleh karena itu, agar kasus-kasus yang semacam ini menjadi jelas dari tinjauan fikihnya, kami sebutkan sisi dan bagian yang terpenting dari sumpah (yamin) itu seperti sebagai berikut.

    Defenisi Sumpah

    Sumpah, menurut fikih, yaitu menggunakan nama-nama Allah SWT atau sifat-sifat-Nya untuk bersumpah. Contoh, “Demi Allah sungguh aku akan lakukan ini,” atau “Demi Zat yang jiwa ragaku berada pada kekuasaan-Nya, sungguh aku akan lakukan ini,” atau “Demi Zat yang membolak-balikkan sanubari-hati manusia, sungguh aku akan lakukan ini,” dan sejenisnya.

    Hal-Hal yang Dapat Digunakan untuk Bersumpah

    Bersumpah itu hanya bisa dilakukan dengan menggunakan nama-nama Allah atau sifat-sifat-Nya. Karena, Nabi saw. bersumpah dengan Allah, Zat yang tiada Tuhan selain-Nya dan bersumpah dengan ucapannya, “Demi Zat yang jiwa ragaku berada pada kekuasaan-Nya.” Demikian pula, Jibril as bersumpah dengan sifat izzah (menang/kuasa) Allah, maka Jibril berkata, “Demi sifat izzah-Mu (sifat kemenangan-Mu/kekuasaan-Mu) seseorang tidak akan mendengarkan surga kecuali dia pasti memasukinya.” (HR Tirmizi seraya menyahihkannya).

    Dengan demikian, seseorang tidak boleh bersumpah dengan selain nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT, baik bersumpah dengan sesuatu yang diagungkan dan dimulyakan Allah atau bersumpah dengan Nabi saw. Hal ini berdasarkan sabda Nabi saw. di bawah ini:

    “Barangsiapa bersumpah, hendaknya dia bersumpah dengan Allah, atau (jika tidak) hendaknya dia berdiam diri.” (HR Bukhari dan Muslim).

    “Janganlah bersumpah, kecuali dengan Allah, dan janganlah bersumpah kecuali kamu dalam keadaan benar.” (HR Abu Daud dan Nasa’i).

    “Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah, maka dia telah musyrik.” (HR Ahmad).

    “Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah, maka dia telah kafir.” (HR Abu Daud dan al-Hakim).

    Macam-Macam Sumpah

    Sumpah itu ada tiga macam: sumpah palsu (yamin ghamus), sumpah tanpa sengaja (sumpah laghwu), dan sumpah yang sah (sumpah mun’aqidah).

    Sumpah palsu (yamin ghamus), yaitu seseorang bersumpah dengan sengaja untuk berbohong. Seperti, dia berkata, “Demi Allah sungguh aku membeli ini dengan harga Rp 50.000,00,” padahal dia tidak membelinya dengan harga sebanyak itu, atau dia berkata, “Demi Allah sungguh aku telah melakukan hal ini,” padahal dia tidak melakukannya. Sumpah ini disebut yamin ghamus (sumpah palsu), karena sumpah itu menjadikan pelakunya berdosa. Sumpah ini adalah sumpah yang disinyalir oleh sabda Nabi saw., “Barangsiapa bersumpah, dan dia berdusta dalam sumpah itu, untuk memakan harta seseorang muslim, maka dia pasti bertemu dengan Allah (pada hari kiamat nanti) dalam keadaan murka.” (Muttafaq alaihi).

    Sumpah ini tidak cukup dibayar dengan kaffarah (penebus). Akan tetapi, pelakunya wajib bertobat dan memohon ampun kepada Allah SWT. Hal itu, karena besarnya dosa sumpah tersebut, apalagi jika sumpah palsu itu dimaksudkan untuk mengambil hak seorang muslim dengan cara yang tidak benar (batil).

    Sumpah laghwu, yaitu sumpah yang biasa diucapkan oleh seseorang muslim tanpa unsur kesengajaan. Seperti, orang yang memperbanyak kata “Tidak Demi Allah” dan “Ya Demi Allah” dalam pembicaraanya. Hal ini berdasarkan ucapan Aisyah r.a., “Sumpah laghwu adalah seseorang berkata di rumahnya ‘tidak Demi Allah’.” (HR Bukhari).

    Termasuk sumpah laghwu adalah seseorang bersumpah terhadap sesuatu, dia mengira sesuatu itu seperti ini, kemudian tiba-tiba perkiraannya meleset.

    Sumpah tersebut hukumnya berdosa, tetapi orang yang mengucapkannya tidak wajib membayar kaffarah, sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Alquran, “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja….” (Al-Maidah: 89).

    Sumpah yang sah (yamin mun’aqidah), yaitu sumpah yang niat awalnya dimaksudkan untuk sesuatu yang akan datang. Seperti, seorang muslim berkata, “Demi Allah sungguh akan aku lakukan hal ini,” atau “Demi Allah sungguh tidak akan aku lakukan ini.” Sumpah seperti ini pelakunya akan dikenai hukum (Allah) jika dia melanggar sumpahnya. Hal ini berdasarkan pada firman Allah SWT di atas, “…tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja….” (Al-Maidah: 89).

    Hukum sumpah tersebut adalah jika pelakunya melanggar sumpahnya, dia berdosa dan wajib membayar kaffarah untuk pelanggaran itu. Namun, jika dia melakukan (merealisasikan) sumpahnya, hilanglah dosa dari pelanggaran itu.

    Kaffarah Sumpah

    Kaffarah sumpah itu ada empat macam, yaitu:

    • Memberikan makan kepada sepuluh orang miskin, setiap orangnya 1 mud (6 ons) makanan pokok/beras. Atau, mengumpulkan mereka semua diajak makan siang/makan malam sampai mereka kenyang. Atau, memberikan beras dan lauk kepada mereka.
    • Memberikan kepada masing-masing dari mereka pakaian yang cukup untuk melakukan salat. Jika pelanggar sumpah itu memberikan pakaian kepada orang wanita, hendaknya dia memberikan pakaian yang bisa digunakan untuk melakukan salat, seperti mukena.
    • Memerdekakan seorang budak mukmin.
    • Berpuasa tiga hari berturut-turut jika mampu, jika tidak, berpuasa tiga hari secara terpisah.

    Mengenai urutan kaffarah di atas, seseorang boleh memilih salah satunya. Namun, seseorang hendaknya tidak langsung memilih puasa, kecuali bila dia benar-benar tidak mampu melakukan salah satu dari ketiga hal di atas. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT yang artinya, “… maka kaffarah (melanggar) sumpah itu adalah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberikan pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan demikian, maka kaffarahnya melakukan puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarah-kaffarah sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar)….” (Al-Maidah: 89).

    Hal-Hal yang Menggugurkan Kaffarah

    Kaffarah dan dosa itu bisa gugur atas orang yang bersumpah lantaran dua hal, yaitu:

    • Melakukan sesuatu yang dia bersumpah untuk meninggalkannya, atau meninggalkan sesuatu yang dia bersumpah untuk melakukannya, atau melakukan sesuatu yang disumpahi untuk ditinggalkannya, atau meninggalkan sesuatu yang disumpahi untuk dilakukannya, tetapi dia ketika melakukan atau meninggalkannya dalam keadaan lupa, atau khilaf (salah/tidak mengetahui akibatnya) atau dipaksa orang yang jabatan/kedudukannya lebih tinggi dari pada dia. Hal ini berdasarkan sabda Nabi saw., “Dicabut (beban taklif itu) dari umatku sebab kesalahan, kelupaan, atau karena mereka dipaksa melakukannya.” (HR Bukhari).
    • Dia menyelah-nyelah sumpahnya, seperti dia berkata, “Insya Allah (bila Allah menghendakiu)” atau “Kecuali Allah menghendaki” dan penyelahan itu dilakukan di tempat dia bersumpah. Hal ini berdasarkan sabda Nabi saw., “Barangsiapa bersumpah lalu dia berkata, ‘Insya Allah’, maka dia tidak melanggar sumpahnya.” (HR Ashaabus Sunan).

    Ketika dia tidak melanggar sumpahnya, maka dia tidak berdosa dan tidak wajib membayar kaffarah.

    Wajib Merealisasikan Sumpah

    Jika seseorang bersumpah kepada saudaranya muslim untuk melakukan hal tertentu, wajib bagi dia merealisasikan sumpahnya dan tidak melanggarnya dengan cara meninggalkan hal yang dia bersumpah dengan hal itu. Hal ini berdasarkan sabda Nabi saw. kepada seorang wanita yang mendapatkan hadiah kurma dari orang lain, lalu wanita itu makan sebagian kurma yang didapatkan itu dan meninggalkan sisanya. Kemudian, wanita itu bersumpah untuk memakan sisa kurma itu. Tiba-tiba dia enggan memakannya, maka Rasulullah saw. bersabda kepadanya, “Realisasikanlah sumpahmu, karena dosa itu ditanggung orang yang melanggar (sumpahnya).” (HR Ahmad dan para perawinya perawi hadis sahih). (Biko).

    ***

    Sumber: Minhajul Muslim, Abu Bakar Jabir al-Jazaairi

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 7:27 am on 10 June 2014 Permalink | Balas  

    Memaafkan, Derajat Kemuliaan Diri 

    maaf (1)Memaafkan, Derajat Kemuliaan Diri

    Kawan, ingatkah kisah saat Rasulullah menolak bantuan yang ditawarkan Jibril untuk menimpakan gunung kepada masyarakat Thaif yang telah menghina Rasulullah dan para sahabat? Kala itu, Rasul membalas perlakuan masyarakat Thaif dengan memaafkan mereka. Sebuah sikap bijak yang menjadi salah satu bukti betapa Rasulullah sangat pemaaf. Kisah lain menunjukkan saat beliau menjadi orang pertama yang menjenguk seorang Quraisy kala sakit, meski sebelumnya tak bosan-bosannya meludahi Rasulullah setiap hari. Sungguh Allah-lah yang mampu memelihara hati sedemikian suci, jiwa sebegitu besar.

    Memaafkan, menjadi kata yang mudah diucapkan, namun teramat sulit untuk dilakukan. Saya pernah merasa tersakiti karena candaan yang dilontarkan seorang teman. Sakit hati yang menyebabkan saya sulit berkonsentrasi. Berhari-hari, bahkan berbilang minggu, rasa itu masih belum hilang juga. Sulit sekali rasanya untuk memaafkan, meskipun memaafkan menjadi jalan untuk melupakan yang sudah terjadi, mengambil hikmahnya, juga menjalankan kehidupan kembali normal.

    Andrew Matthews, penulis buku Being Happy, menuliskan bahwa dengan tidak memaafkan orang yang menyakiti kita, satu-satunya orang yang akan dirugikan adalah diri kita sendiri. Tidak memaafkan berarti akan menghancurkan hidup kita karena pikiran kita akan selalu terbawa emosi, sakit hati dan kecewa. Dengan memaafkan seseorang, bukan berarti kita menyetujui apa yang mereka lakukan.

    Merenungi makna subhanallah, kita tahu bahwa hanya Allah Swt yang Maha Suci, sementara manusia adalah tempat salah dan alpa. Seorang bijak pernah berkata, kesempurnaan manusia adalah dengan ketidaksempurnaannya. Allah Swt berfirman dalam Qur’an Surat Ali Imran ayat 134: “… dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang”. Dengan demikian, Allah Swt menyukai orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan orang lain.

    Memaafkan, bukan hanya merupakan sikap mulia sesuai pesan Nabi Muhammad Saw, tapi juga baik bagi kesehatan dan ketenangan jiwa. Hidup kita mudah-mudahan akan berjalan dengan lebih baik karena kita tidak disibukkan dengan perasaan kecewa dan sakit hati atas perbuatan orang lain. Seperti yang dicontohkan Nabi, memaafkan seseorang tidak akan menurunkan derajat orang yang memaafkan di mata orang yang melakukan kesalahan.

    ***

    Diambil dari eramuslim.com

     
  • erva kurniawan 7:17 am on 9 June 2014 Permalink | Balas  

    Allah Mencintai Orang Tawakkal 

    kerja kerasAllah Mencintai Orang Tawakkal

    “…Maka maafkanlah mereka, mintakanlah ampun dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan (perang, ekonomi, dan lain-lain urusan dunia). Manakala sudah mantap tekadmu, tawakallah kepada Allah (dalam menjalankannya tanpa ragu-ragu).Sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang tawakkal.” (Ali Imran : 159)

    Ayat diatas menjelaskan kepada kita tentang pentingnya tawakkal setelah melakukan pekerjaan dengan semaksimal mungkin. Perbuatan tawakkal adalah perbuatan yang dicintai oleh Allah swt dan menunjukan bahwa diri kita lemah didepan kekuasaan-Nya.

    Tawakkal ditinjau dari segi bahasa adalah perbuatan menampakan kelemahan dan bersandar kepada yang lain. Jika dikatakan, “wakkaltu amri ila Fulan” maka berarti saya lemah atau tidak mampu akan urusan itu, lalu saya menyandarkan atau menyerahkan urusan itu kepada si Fulan dan saya yakin bahwa si Fulan mampu menyelesaikannya.

    Yang dimaksud tawakkal dalam tulisan ini adalah tawakkal kepada Allah swt, dan sikap tawakkal ini adalah perbuatan hati, bukan perbuatan lidah atau anggota tubuh dan bukan pula termasuk dalam bidang ilmu pengetahuan. Sebagian manusia ada yang menafsirkan tawakkal ini dengan ridha kepada sesuatu yang telah ditakdirkan Allah swt. Namun, sebelum kita berusaha dan berupaya dengan sungguh-sungguh maka kita tidak boleh bertawakkal.

    Pada hakekatnya, tawakkal itu adalah suatu keadaan yang terdiri dari berbagai hal, antara lain mengenal Allah swt beserta sifat-sifat-Nya, adanya ketetapan bahwa suatu kejadian memilki sebab yang menyebabkan kejadian, dan kemantapan hati untuk bertauhid kepada Allah swt. Maka tidaklah sempurna sikap tawakkal seseorang hingga ia memilki kemantapan dalam bertauhid, menyandarkan hati kepada-Nya, berbaik sangka, dan menerima atau ridha terhadap ketentuan Allah. Dan ini merupakan buah paling baik dari sikap tawakkal.

    Orang yang bertawakkal adalah mereka yang bersandar kepada Allah dengan menyatakan kelemahan, menyerahkan seluruh urusan kepada-Nya, percaya dan yakin bahwa apa yang Allah tetapkan pasti terlaksana, serta mengikuti sunnah Nabi Muhammad saw , yakni keharusan berusaha yang merupakan bagian dari sebab-musabab. Manfaat dan mudharat tidak akan terjadi kecuali dengan adanya sebab-musabab, bahkan sebab-musabab ini merupakan bagian dari kehendak Allah swt. Segala sesuatu adalah dari-Nya dan terjadi atas kehendak-Nya.

    Allah telah memerintahkan hamba pada suatu perkara dan Allah telah memberi jaminan kepada hamba-Nya. Jika hamba Allah melaksanakan perintah-Nya dengan baik, benar dan ikhlas dan bersungguh-sungguh, maka Allah pasti akan memberi jaminan kepadanya, berupa rizki, kecukupan, pertolongan, kemenangan, dan memenuhi segala kebutuhannya. Allah akan memberi pertolongan dan kecukupan kepada siapa yang menjadikan Allah sebagai tujuan dan maksudnya, dan akan memenuhi kebutuhan hamba jika ia percaya dan mengaharapkan keutamaan dan kemurahan hanya kepada-nya. Firman Allah swt:

    “Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (Ath-Thalaq :3), “Dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman,dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakkal” (Asy-Syura:36)

    Semoga kita termasuk hamba Allah yang selalu berusaha dan bertawakkal hanya kepada-Nya. Amien.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:14 am on 8 June 2014 Permalink | Balas  

    Takabur 

    sombongTakabur

    Salah satu penyakit yang bisa merusak tatanan sosial ialah sikap takabur yang artinya angkuh, sombong, atau menganggap orang lain tidak berharga apabila dibandingkan dengan dirinya. Sikap ini selain bertentangan dengan konsep persamaan dan kehambaan manusia di hadapan Allah, juga menghalangi pembudayaan untuk menghargai lingkungan, Hak Asasi Manusia, dan demokrasi.

    Penyakit takabur pada intinya berhubungan dengan dua hal. Pertama, takabur terhadap Allah. Ketakaburan jenis ini membawa penyakit sosial berupa menyepelekan, bahkan penolakan terhadap fungsi dan eksistensi agama dalam masyarakat. Orang tersebut menganggap agama seolah-olah penghalang modernisasi dan kemajuan. Perwujudannya dalam masyarakat adalah selalu bersikap apriori terhadap nilai dan aturan yang diserukan agama. Mereka beranggapan punya aturan sendiri yang dianggap lebih baik. Mereka merasa menjadi hina untuk melakukan pengabdian kepada Allah SWT. Alquran menyebutkan: ”Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menghambakan diri kepada-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina,” (QS Al-Mukmin [40]: 11).

    Kedua, takabur terhadap sesama manusia. Ketakaburan jenis ini bersifat langsung berupa perilaku sosial yang merusak iklim kebersamaan. Sikap yang paling menonjol adalah sikap penghinaan dan menganggap remeh pendapat serta kerja orang lain, gampang menilai orang lain tidak punya kemampuan, cepat marah apabila ada yang menyaingi, iri, dengki, bahkan dendam terhadap orang lain yang memperoleh kelebihan dan kesempatan. Rasulullah saw menggambarkan dalam sabdanya: ”Takabur itu menolak kebenaran dan menghina hak-hak manusia,” (HR Muslim).

    Di antara sebab-sebab paling berbahaya yang membawa orang pada sikap takabur ialah karena merasa memiliki kekuatan dan pengaruh di masyarakat. Wujud takabur ini macam-macam, mulai dari perilaku sombong, memaksakan kehendak, sampai kepada fenomena kediktatoran dan ”Fir’aunisme” di berbagai dimensi pergaulan masyarakat. Ini semua bermula dari sikap merasa paling unggul dalam kekuatan maupun pengaruh.

    Islam mendorong umatnya untuk memiliki kekuatan dan pengaruh selama digunakan untuk menolong dan memberi perlindungan terhadap orang yang lemah. Tapi, di lain pihak, dalam Alquran Allah memuji sikap rendah hati melalui firman-Nya: ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat Kami, mereka bersujud dan bertasbih serta memuji Tuhan. Mereka tidak menyombongkan diri,” (QS As-Sajdah [32]: 15).

    Dalam pergaulan berbangsa dan bernegara, kita memerlukan keluhuran jiwa untuk berendah hati satu sama lain, terlebih pada saat prihatin sekarang ini. Kesombongan dan ketakaburan hanya akan membuat bangsa kita terantuk pada kesulitan yang berkepanjangan. Sebaliknya rendah hati dan saling menghargai dan sudi bekerja sama akan memudahkan langkah untuk menyelesaikan kesulitan-kesulitan.

    ***

    Sumber dari Sahabat

     
    • Idrus® 10:00 am on 8 Juni 2014 Permalink

      Tolong saya di unsubscribe.

  • erva kurniawan 8:23 am on 7 June 2014 Permalink | Balas  

    Mandikan Aku, BUnda 

    ibu dan  anakMandikan Aku, Bunda

    Semasa kuliah ia tergolong berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak awal, sikap dan konsep dirinya sudah jelas : meraih yang terbaik, baik itu dalam bidang akademis maupun bidang profesi yang akan digelutinya. Ketika Universitas mengirim kami untuk mempelajari Hukum Internasional di University Utrecht, di negerinya bunga tulip, beruntung Rani terus melangkah. Sementara saya, lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran dan berpisah dengan seluk beluk hukum dan perundangan. Beruntung pula, Rani mendapat pendamping yang “setara ” dengan dirinya, sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.

    Alifya, buah cinta mereka lahir ketika Rani baru saja diangkat sebagai Staf Diplomat bertepatan dengan tuntasnya suami Rani meraih PhD. Konon nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah “alif” dan huruf terakhir “ya”, jadilah nama yang enak didengar : Alifya. Tentunya filosofi yang mendasari pemilihan nama ini seindah namanya pula. Ketika Alif, panggilan untuk puteranya itu berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila saja. Frekuensi terbang dari satu kota ke kota lain dan dari satu negara ke negara lain makin meninggi.

    Saya pernah bertanya , ” Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal ?”

    Dengan sigap Rani menjawab: ” Saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Everything is ok.”

    Dan itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya walaupun lebih banyak dilimpahkan ke baby sitter betul-betul mengagumkan. Alif tumbuh menjadi anak yang lincah, cerdas dan pengertian. Kakek neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu tentang ibu-bapaknya.

    “Contohlah ayah-bunda Alif kalau Alif besar nanti.” Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani bertutur disela-sela dongeng menjelang tidurnya. Tidak salah memang. Siapa yang tidak ingin memiliki anak atau cucu yang berhasil dalam bidang akademis dan pekerjaannya. Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau Alif minta adik. Waktu itu Ia dan suaminya menjelaskan dengan penuh kasih-sayang bahwa kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini “dapat memahami” orang tuanya.

    Mengagumkan memang. Alif bukan tipe anak yang suka merengek. Kalau kedua orang tuanya pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Kisah Rani, Alif selalu menyambutnya dengan penuh kebahagiaan. Rani bahkan menyebutnya malaikat kecil. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orang tua sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam hati kecil saya menginginkan anak seperti Alif.

    Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby-sitternya. ” Alif ingin bunda mandikan.” Ujarnya.

    Karuan saja Rani yang dari detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, menjadi gusar. Tak urung suaminya turut membujuk agar Alif mau mandi dengan tante Mien, baby-sitternya. Persitiwa ini berulang sampai hampir sepekan,” Bunda, mandikan Alif?” begitu setiap pagi.

    Rani dan suaminya berpikir, mungkin karena Alif sedang dalam masa peralihan ke masa sekolah jadinya agak minta perhatian.

    Suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. ” Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency”.

    Setengah terbang, saya pun ngebut ke UGD. But it was too late. Alloh SWT sudah punya rencana lain. Alif, si Malaikat kecil keburu dipanggil pemiliknya.

    Rani, bundanya tercinta, yang ketika diberi tahu sedang meresmikan kantor barunya, shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan anaknya. Dan itu memang ia lakukan, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. ” Ini bunda, Lif. Bunda mandikan Alif.” Ucapnya lirih, namun teramat pedih.

    Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu berkata, “Ini sudah takdir, iya kan ? Aku disebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, dia pergi juga kan ? “. Saya diam saja mendengarkan. “Ini konsekuensi dari sebuah pilihan.” lanjutnya lagi, tetap tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja berbaur aroma kamboja. Tiba-tiba Rani tertunduk. ” Aku ibunya !” serunya kemudian, ” Bangunlah Lif. Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan bunda sekali lagi saja, Lif”. Rintihan itu begitu menyayat. Detik berikutnya ia bersimpuh sambil mengais-kais tanah merah ?..

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 8:01 am on 6 June 2014 Permalink | Balas  

    Tawassul 

    tawadlu'Tawassul

    “Wahai orang orang yang beriman bertakwalah kalian kepada Allah Ta’ala dan carilah perantara/wasilah kepada Allah Ta’ala”.

    Suatu hal yang mustahil apabila Allah mengajarkan syirik kepada hambanya setelah menyuruh mereka untuk beriman. Makna wasilah disini adalah perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mendapatkan hajatnya dai Allah Ta’ala baik berupa amal ataupun lainnya. Dan tawassul dengan amal soleh sudah jelas jelas sangat diperbolehkan sekali sebagaimana disebutkan di atas, juga di hadist yang diriwayatkan Bukhori tentang tiga orang yang terjebak didalam goa yang longsor lantas masing masing bertawassul dengan amal soleh mereka agar bisa dikeluarkan oleh Allah dari goa yang tersumbat tersebut akibat longsor, dan mereka mendapatkan pertolongan Allah Ta’ala. Hadist ini diceritakan sendiri oleh Rasul Sallallahu alaihi wasallam dan disebutkan di sohih al Bukhori.

    Lantas kita sama sama meyakini bahwa Rasul jauh lebih mulia dari pada amalan apapun juga apalagi amalan kita yang penuh dengan riya’, ‘ujub dan penyakit lainnya. Maka apakah kita tidak pantas bertawasssul dengan Rasulullah SAW? sedangkan Al Quran menyatakan di dalam tafsir dari suatu ayat : “seandainya mereka berbuat suatu kedholiman lantas mereka datang kepadamu (yaa Nabi Muhammad) dan mereka meminta ampunan Allah Ta’ala dan Rasul memohon ampunan Allah Ta’ala untuk mereka, niscaya mereka pasti akan mendapati Allah Ta’ala maha pengampun lagi maha penyayang”.

    Dan ayat ini tidak berlaku selama masa hidup Rasullullah di dunia saja, Akan tetapi ayat ini umum baik semasa beliau di dunia ataupun beliau di akherat, apakah derajat dan kemampuan Rasulullah berkurang setelah beliau keluar dari alam dunia ini? “Sesungguhnya mereka para Nabi-nabi tersebut hidup di kuburan mereka solat/berdo’a”.

    Hadits ini menerangkan keadaan umumnya nabi- nabi didalam kubur mereka, maka bagaimana halnya dengan pemimpin sekalian Nabi-nabi. Nabi Muhammad menyebutkan didalam hadits yang lain bahwa matinya pun baik untuk ummatnya, bagaimana? beliau mengatakan bahwa “laporan dari amalan kalian disampaikan kepadaku, apabila baik maka aku bersyukur kepada Allah, dan apabila tidak baik maka aku memohon ampunan Allah untuk kalian”. Dengan demikian jelaslah, bahwa wafatnya Rasul, tidak mengurangi perhatian beliau dan keampuhan doa beliau untuk ummatnya.

    Adapun tawassul dengan para Wali-wali dan sholihin itu banyak disebutkan di dalam hadist, bahkan diriwayatkan didalam do’a ketika menuju ke masjid yang isinya menyatakan tawassulnya Nabi Muhammad dengan seluruh orang soleh dari para Nabi-nabi ataupun Wali-wali.

    Dan masalah tawassul kalau mau kita kupas semua tidak cukup tumpukan buku yang tebal untuk menyebutkan dalil dalilnya akan tetapi kemampuan kita terbatas.

    Cukup ayat yang disebutkan di atas serta hadist dan kesepakatan para ulama, ahlul bait dan sahabat sebagai dalil serta fatwa akan kebenaran tawassul bagi kita yang buta akan agama. Dan setelah fatwa Allah Ta’ala dan RasulNya maka kita tidak menerima fatwa siapapun juga yang bertentangan dengan mereka.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:47 am on 5 June 2014 Permalink | Balas  

    Asal-Usul Kumandang Adzan 

    adhanAsal-Usul Kumandang Adzan

    (Riwayat : Anas r.a; Abu Dawud; Al Bukhari)

    Seiring dengan berlalunya waktu, para pemeluk agama Islam yang semula sedikit, bukannya semakin surut jumlahnya. Betapa hebatnya perjuangan yang harus dihadapi untuk menegakkan syiar agama ini tidak membuatnya musnah. Kebenaran memang tidak dapat dmusnahkan.

    Semakin hari semakin bertambah banyak saja orang-orang yang menjadi penganutnya. Demikian pula dengan penduduk dikota Madinah, yang merupakan salah satu pusat penyebaran agama Islam pada masa-masa awalnya. Sudah sebagian tersebar dari penduduk yang ada dikota itu sudah menerima Islam sebagai agamanya.

    Ketika orang-orang Islam masih sedikit jumlahnya, tidaklah sulit bagi mereka untuk bisa berkumpul bersama-sama untuk menunaikan sholat berjama` ah. Kini, hal itu tidak mudah lagi mengingat setiap penduduk tentu mempunyai ragam kesibukan yang tidak sama. Kesibukan yang tinggi pada setiap orang tentu mempunyai potensi terhadap kealpaan ataupun kelalaian pada masing-masing orang untuk menunaikan sholat pada waktunya.

    Dan tentunya, kalau hal ini dapat terjadi dan kemudian terus-menerus berulang, maka bisa dipikirkan bagaimana jadinya para pemeluk Islam. Ini adalah satu persoalan yang cukup berat yang perlu segera dicarikan jalan keluarnya.

    Pada masa itu, memang belum ada cara yang tepat untuk memanggil orang sholat. Orang-orang biasanya berkumpul dimasjid masing -masing menurut waktu dan kesempatan yang dimilikinya. Bila sudah banyak terkumpul orang, barulah sholat jama `ah dimulai.

    Atas timbulnya dinamika pemikiran diatas, maka timbul kebutuhan untuk mencari suatu cara yang dapat digunakan sebagai sarana untuk mengingatkan dan memanggil orang-orang untuk sholat tepat pada waktunya tiba. Ada banyak pemikiran yang diusulkan. Ada sahabat yang menyarankan bahwa manakala waktu sholat tiba, maka segera dinyalakan api pada tempat yang tinggi dimana orang-orang bisa dengan mudah melihat ketempat itu, atau setidak-tidaknya asapnya bisa dilihat orang walaupun ia berada ditempat yang jauh. Ada yang menyarankan untuk membunyikan lonceng. Ada juga yang mengusulkan untuk meniup tanduk kambing. Pendeknya ada banyak saran yang timbul.

    Saran-saran diatas memang cukup representatif. Tapi banyak sahabat juga yang kurang setuju bahkan ada yang terang-terangan menolaknya. Alasannya sederhana saja : itu adalah cara-cara lama yang biasanya telah dipraktekkan oleh kaum Yahudi. Rupanya banyak sahabat yang mengkhawatirkan image yang bisa timbul bila cara-cara dari kaum kafir digunakan. Maka disepakatilah untuk mencari cara-cara lain.

    Lantas, ada usul dari Umar r.a jikalau ditunjuk seseorang yang bertindak sebagai pemanggil kaum Muslim untuk sholat pada setiap masuknya waktu sholat. Saran ini agaknya bisa diterima oleh semua orang, Rasulullah SAW juga menyetujuinya. Sekarang yang menjadi persoalan bagaimana itu bisa dilakukan? Abu Dawud mengisahkan bahwa Abdullah bin Zaid r.a meriwayatkan sbb :

    “Ketika cara memanggil kaum muslimin untuk sholat dimusyawarahkan, suatu malam dalam tidurku aku bermimpi. Aku melihat ada seseorang sedang menenteng sebuah lonceng. Aku dekati orang itu dan bertanya kepadanya apakah ia ada maksud hendak menjual lonceng itu. Jika memang begitu aku memintanya untuk menjual kepadaku saja.

    Orang tersebut malah bertanya,”Untuk apa?

    Aku menjawabnya,”Bahwa dengan membunyikan lonceng itu, kami dapat memanggil kaum muslim untuk menunaikan sholat.”

    Orang itu berkata lagi,”Maukah kau kuajari cara yang lebih baik?”

    Dan aku menjawab “Ya !”

    Lalu dia berkata lagi, dan kali ini dengan suara yang amat lantang , “Allahu Akbar,Allahu Akbar..”

    Ketika esoknya aku bangun, aku menemui Rasulullah SAW dan menceritakan perihal mimpi itu kepada beliau. Dan beliau berkata,”Itu mimpi yang sebetulnya nyata. Berdirilah disamping Bilal dan ajarilah dia bagaimana mengucapkan kalimat itu. Dia harus mengumandangkan adzan seperti itu dan dia memiliki suara yang amat lantang.” Lalu akupun melakukan hal itu bersama Bilal.”

    Rupanya, mimpi serupa dialami pula oleh Umar r.a, ia juga menceritakannya kepada Rasulullah SAW. Nabi SAW bersyukur kepada Allah SWT atas semua ini.

    ***

    Tulisan diambil dari Al-Islam Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 7:36 am on 4 June 2014 Permalink | Balas  

    Botol Plastik 

    botol plastikBotol Plastik

    Mungkin sebagian dari anda mempunyai kebiasaan memakai dan memakai ulang botol plastik (Aqua, VIT etc), dan menaruhnya di mobil anda atau dikantor.

    Kebiasaan ini tidak baik, Kesimpulannya, plastic botol (disebut juga sebagai polyethylene terephthalate or PET) yang dipakai di botol-botol ini, mengandung zat-zat karsinogen (atau DEHA). Botol ini aman untuk dipakai 1-2 kali saja, jika anda ingin memakainya lebih lama, tidak boleh lebih dari seminggu, dan harus ditaruh di tempat yang jauh dari matahari. Kebiasaan mencuci ulang dapat membuat lapisan plastik rusak dan karsinogen itu bisa masuk ke air yang kamu minum. Lebih baik membeli botol air yang memang untuk dipakai berulang-ulang, jangan memakai botol plastik.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:27 am on 3 June 2014 Permalink | Balas  

    Tabayyun 

    unta gurun pasirTabayyun

    ”Hai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka ber-tabayyun-lah (konfirmasikanlah), agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan itu,” (QS Al Hujurat: 6).

    Suatu saat, Ummul Mukminin Aisyah mengikuti Rasulullah dalam sebuah ekspedisi untuk menyerang Banul Musthaliq yang berlokasi di dekat kota Mekah. Dalam perjalanan pulang, rombongan berkemah di dekat Madinah. Dalam kesempatan itu Aisyah keluar dari kemahnya untuk membuang hajat di suatu tempat. Setelah memenuhi hajatnya, putri Abu Bakar ini kembali ke kemah dan langsung masuk ke dalam sekedup (pelangkin) yang berada di atas punggung untanya. Menjelang rombongan berangkat, Aisyah merasa kehilangan kalung yang tadi dipakainya saat membuang hajat. Serta-merta beliau turun dari unta dan berusaha mencari-cari kalungnya yang hilang di kegelapan malam.

    Pada saat itulah rombongan tentara Rasul meneruskan perjalanan pulang ke Madinah. Para pengawal Aisyah tak menyadari kalau istri Rasul tak berada di dalam sekedupnya lagi. Ini disebabkan oleh karena pelangkin (tandu) itu begitu rapat. Unta itu berangkat ke Madinah dengan sekedup kosong, sedang Ummul Mukminim tertinggal di tempat semula. Akhirnya, ‘Aisyah hanya berbaring di tempat itu, berselimutkan kainnya, sambil pasrah kepada Allah dan berharap rombongan yang menyadari ketiadaannya, bakal kembali. Untunglah ada Shafwan bin Al Mu’aththol (seorang pemuda tampan dan tegap) yang juga tertinggal karena sedang mengurus suatu keperluan. Ia menemukan istri Rasul secara tak sengaja. Akhirnya, The First Lady itu dipersilakan naik untanya dan dituntunnya unta itu ke Madinah, sambil mengejar rombongan Nabi. Walau berusaha mengejar, ternyata rombongan Nabi tak dapat tersusul. Kedatangan Aisyah bersama Shafwan itu menimbulkan rumor.

    Dan, oleh Abdullah bin Ubay, tokoh yang dikenal penyebar kabar bohong, rumor itu semakin disebarluaskan. Di masyarakat akhirnya santer terdengar kabar, Aisyah melakukan penyelewengan. Hampir saja terjadi disintegrasi nasional gara-gara berita bohong ini. Sebab, dua suku terbesar di Madinah, yaitu Suku Aus dan Khazraj saling membela, mencurigai, dan menuduh. Suku Aus membela martabat dan kesucian Aisyah, sementara suku Khazraj membela Abdullah bin Ubay, karena dia berasal dari suku itu. Untungnya Rasulullah cepat bertindak menengahi pertikaian dua suku yang sebelumnya sudah menjadi musuh bebuyutan ini. Rasullullah saw ber-tabayyun (mengecek) kabar itu langsung pada Aisyah. Dan, ternyata hanya isu. Hal itu juga dikuatkan oleh wahyu dari Allah, QS An Nur ayat 11-19.

    Cara Rasulullah saw menangani kabar bohong itu adalah teladan bagi kita, di saat masyarakat dijejali oleh rumor, isu, dan desas-desus yang memecah-belah dan mengadu-domba umat. Melakukan tabayyun, melakukan uji kebenaran dan cek ulang adalah cara untuk menghindari terjadinya kesalahan pengambilan keputusan.

    Wallahu a’lam bishawab.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:05 am on 2 June 2014 Permalink | Balas  

    Biarkan Dia Berbicara 

    salamanBiarkan Dia Berbicara

    Hari itu para pembesar Quraisy mengadakan sidang umum. Mereka memperbincangkan berkembangnya gerakan baru yang diasaskan Muhammad. Ada dua pilihan. To shoot it out atau to talk it out. Membasmi gerakan itu sampai habis atau mengajaknya bicara sampai tuntas. Pilihan kedua yang diambil.

    Untuk itu serombongan Quraisy menemui Nabi saw. Beliau sedang berada di masjid. Utbah bin Rabi’ah anggota Dar al-Nadwah (parlemen) yang paling pandai berbicara, berkata : “Wahai kemenakanku! Aku memandangmu sebagai orang yang terpandang dan termulia diantara kami. Tiba-tiba engkau datang kepada kami membawa paham baru yang tidak pernah dibawa oleh siapapun sebelum engkau. Kauresahkan masyarakat, kautimbulkan perpecahan, kaucela agama kami. kami khawatir suatu kali terjadilah peperangan diantara kita hingga kita semua binasa.

    Apa sebetulnya yang kaukehendaki. Jika kauinginkan harta, akan kami kumpulkan kekayaan dan engkau menjadi orang terkaya diantara kami. Jika kau inginkan kemuliaan, akan kami muliakan engkau sehingga engkau menjadi orang yang paling mulia. Kami tidak akan memutuskan sesuatu tanpa meminta pertimbanganmu. Atau, jika ada penyakit yang mengganggumu, yang tidak dapat kauatasi, akan kami curahkan semua perbendaharaan kami sehingga kami dapatkan obat untuk menyembuhkanmu. Atau mungkin kauinginkan kekuasaan, kami jadikan kamu penguasa kami semua.”

    Nabi saw mendengarkan dengan sabar. Tidak sekalipun beliau memotong pembicaraannya. ketika Utbah berhenti, Nabi bertanya, “Sudah selesaikah ya Abal Walid?” Sudah, kata Utbah. Nabi membalas ucapan Utbah dengan membaca surat Fushilat: “Ha mim. Diturunkan al-Qur’an dari Dia yang Mahakasih Mahasayang. sebuah kitab, yang ayat-ayatnya dijelaskan. Qur’an dalam bahasa Arab untuk kaum yang berilmu…..” Nabi saw terus membaca. ketika sampai ayat sajdah, ia bersujud.

    Sementara itu Utbah duduk mendengarkan sampai Nabi menyelesaikan bacaannya. kemudian, ia berdiri. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Kaumnya berkata, “lihat, Utbah datang membawa wajah yang lain.”

    Utbah duduk di tengah-tengah mereka. perlahan-lahan ia berbicara, “Wahai kaum Quraisy, aku sudah berbicara seperti yang kalian perintahkan. Setelah aku berbicara, ia menjawabku dengan suatu pembicaraan. Demi Allah, kedua telingaku belum pernah mendengar ucapan seperti itu. Aku tidak tahu apa yang diucapkannya. Wahai kaum Quraisy! Patuhi aku hari ini. kelak boleh kalian membantahku. Biarkan laki-laki itu bicara. Tinggalkan dia. Demi Allah, ia tidak akan berhenti dari gerakannya. Jika ia menang, kemuliannya adalah kemulianmu juga.”

    Orang-orang Quraisy berteriak, “Celaka kamu, hai Abul Walid. Kamu sudah mengikuti Muhammad”. Orang Quraisy ternyata tidak mengikuti nasihat Utbah (Hayat al-Shahabah 1:37-40; Tafsir al-durr al-Mansur 7:309, Tafsir Ibn Katsir 4:90, Tafsir Mizan 17:371). Mereka memilih logika kekuatan, dan bukan kekuatan logika.

    Peristiwa itu sudah lewat ratusan tahun yang lalu. Kita tidak heran bagaimana Nabi saw. dengan sabar mendengarkan pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak Nabi dalam menghormati pendapat orang lain. Yang menakjubkan kita adalah perilaku kita sekarang. Bahkan oleh Utbah, si musyrik, kita kalah. Utbah mau mendengarkan Nabi saw. dan menyuruh kaumnya membiarkan Nabi berbicara. Jangankan mendengarkan pendapat kaum kafir. Kita bahkan tidak mau mendengarkan pendapat saudara kita sesama muslim. Seperti pembesar-pembesar Quraisy, kita lebih sering memilih shoot it out!

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 8:50 am on 1 June 2014 Permalink | Balas  

    Isteriku, Matahariku 

    istri solekhahIsteriku, Matahariku

    Saya pernah ditinggal istri seharian untuk mengikuti suatu acara. Acaranya memang bermanfaat, baik untuk istri saya maupun untuk kepentingan umat. Konsekuensinya saya harus momong lima anak mulai dari yang besar 11 tahun sampai si bungsu 2,5 tahun. Kebetulan hari itu nenek mereka sedang sibuk dan anak-anak pun sedang libur sekolah.

    Agenda yang saya lakukan pertama kali adalah memonitor apakah anak pertama dan kedua sudah mandi. Lalu saya membantu anak ketiga dan keempat untuk mandi sekaligus memandikan si bungsu. Berikutnya adalah makan pagi. Alhamdulillah, lauk dan nasi sudah disediakan istri sebelum ia berangkat. Anak pertama sampai ketiga sudah biasa makan sendiri, tapi anak keempat dan kelima ini harus saya suapi. Jangan harap mereka duduk manis saat saya suapi, saya malahan ikut berlarian kesana kemari mengejar si kecil untuk makan. Saat akan disuapi pun mereka akan berebut siapa yang harus disuapi lebih dulu.

    Agenda berikutnya adalah membersihkan rumah. Anak pertama mendapat tugas mencuci piring, sedangkan adiknya hari itu membersihkan halaman dan ruang tamu. Saya sendiri merapikan kamar tidur dan lain-lain seperti yang biasa dilakukan isteri. Sedangkan anak ketiga, keempat dan kelima asyik bermain-main. Satunya berlari-lari, yang lain main bongkar pasang dan satunya lagi bermain dengan anak tetangga. Namanya anak-anak, bermain selalu saja dihiasi dengan tangisan akibat berebut mainan yang terbatas jumlahnya. Belum lagi soal baju bersih yang berubah kotor saat dipakai bermain.

    Saat urusan bersih-bersih rumah usai, tahu-tahu waktu sudah menjelang siang. Berarti persiapan shalat dhuhur dan makan siang harus dilakukan. Alhamdulillah nasi dan sayurnya masih ada, walaupun lauknya sudah habis. Kebetulan masih ada telur. Tinggal goreng saja, pikir saya. Akhirnya saya menggoreng ceplok telur. Hasilnya lumayan walaupun sedikit gosong. Makannya seperti tadi pagi. Saya kembali mengejar kedua anak saya yang masih balita untuk disuapi. Baru kemudian dilanjutkan acara sholat dzuhur dan istirahat siang.

    Semua pekerjaan tetap bisa tertangani walaupun hasilnya tidak maksimal sebagaimana jika istri ada di rumah. Anak-anak juga tetap mandi, makan, bermain dan tidur siang di rumah walaupun tidak seceria saat ibunya ada di rumah. Rumah dan peralatan dapur juga bisa dibersihkan, tetapi memang tidak sebersih dan seasri ketika istri di rumah. Anak-anak juga tetap bisa menjalankan shalat, sekalipun ayahnya tidak bisa menjalankan sholat berjama’ah di Masjid. Saya juga masih bisa mengerjakan tugas-tugas rutin (mengajar di Pesantren), tapi tidak senyaman dibandingkan ketika ibunya anak-anak di rumah.

    Pengalaman itu membawa saya pada pemahaman bahwa keberadaan istri itu penting. Bukan semata-mata sebagai ibu rumah tangga saja tapi lebih kepada cahaya dalam keluarga, sesuatu yang melahirkan motivasi, rasa aman, kenyamanan dan keceriaan dalam satu keluarga. Keadaan ini memberikan jawaban untuk saya mengapa keluarga tanpa ibu terkesan suram atau juga kenyataan bahwa seorang anak lebih tidak siap ditinggal oleh ibunya dibandingkan oleh ayahnya.

    Begitu pentingnya makna kehadiran istri shalihah dalam satu rumah tangga membuat saya sadar bahwa di balik setiap orang besar seperti Rasulullah SAW ada istri yang mendukungnya.

    Saya pernah ditanya oleh seorang teman,” Apakah Anda ingin nikah lagi?” Saya menjawab,”Belum berpikir dan hingga sekarang tidak pernah berpikir ke arah sana.” Bukan berarti anti, apalagi mengharamkannya.

    Jawaban saya ini jujur dari hati saya yang paling dalam. Alasannya, pertama, istri saya telah memberikan kontribusi kebaikan yang sangat banyak dalam rumah tangga ini. Kedua, bagi saya keluarga itu merupakan susunan yang terdiri dari unsur-unsur kenangan, komitmen, emosi, cita-cita, markas atau pangkalan, labuhan dan sejarah. Jadi tidak bisa dirubah atau digantikan atau disempurnakan begitu saja oleh unsur lain kecuali dengan unsur yang yang ada di dalamnya. Kalau toh ada program menikah lagi, ide bukan dari saya tetapi dari istri dan tentunya berdasarkan hasil musyawarah dengan anak-anak. Karena merekalah yang akan merasakan dampak langsung, baik yang positif maupun yang negatif.

    Suatu kedzoliman manakala dalam diri kita muncul pikiran untuk menyia-nyiakan istri atau memberikan apresiasi yang rendah terhadap perkerjaan isteri. Ditinggal satu hari saja saya sudah kerepotan menghadapi pekerjaan rumah tangga dan anak-anak. Istri menghadapi hal itu seperti itu bukan sehari dua seperti saya, tapi sudah menjadi rutinitas. Sedikit pun ia tidak pernah mengeluh. Suatu kedzaliman pula jika sebagai suami, begitu pelit untuk memberi hadiah atau penghargaan, sekalipun hanya sebuah ucapan terima kasih, maaf atau kata-kata menyenangkan lainnya. Apalagi jika diingat-ingat lagi perjuangan untuk mendapatkan istri saya yang sekarang juga bisa dibilang tidak ringan.

    Semoga tidak berlebihan jika saya mengatakan dalam berbagai kesempatan bahwa istri ibarat matahari. Ia bersinar, menerangi dan menghangatkan setiap jiwa yang ada di dalam rumah. Karenanya, tetaplah bersinar wahai matahariku!

    ***

    Dari Sahabat: Dosen pada Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: