Updates from Desember, 2009 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 9:25 pm on 31 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Istri-Istri Nabi Muhammad Saw: Saudah 

    water lily main pageSaudah Binti Zam’ah r.a.: Sang Isteri yang Merelakan Haknya

    Beliau adalah Saudah binti Zam’ah bin Qais bin Abdi Syams bin Abud Al-Quraisyiyah Al-Amiriyyah. Ibunya bernama Asy-Syamus binti Qais bin Zaid bin Amru dari bani Najjar. Beliau juga seorang Sayyidah yang mulia dan terhormat. Sebelumnya pernah menikah dengan As-Sakar bin Amru saudara dari Suhair bin Amru Al-Amiri.

    Suatu ketika beliau bersama delapan orang dari bani Amir hijrah meninggalkan kampung halaman dan hartanya, kemudian menyebrangi dasyatnya lautan karena ridha menghadapi maut dalalm rangka memenangkan diennya.

    Semakin bertambah siksaan dan intimidasi yang mereka karena mereka menolak kesesatan dan kesyirikan. Hampir-hampir tiada hentinya ujian menimpa Saudah belum usai ujian tinggal dinegeri asing (Habsyah) beliau harus kehilangan suami beliau sang muhajirin. Maka beliaupun menghadapi ujian menjadi seorang janda disamping juga ujian dinegeri asing.

    Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menaruh perhatian yang istimewa terhadap wanita muhajirah yang beriman dan telah menjanda tersebut. Oleh karena itu tiada henti-hentinya Khaulah binti Hakim as-Salimah menawarkan Saudah untuk beliau hingga pada gilirannya beliau mengulurkan tangannya yang penuh rahmat untuk Saudah dan beliau mendampinginya dan membantunya menghadapi kerasnya kehidupan. Apalagi umurnya telah mendekati usia senja sehingga membutuhkan seseorang yang dapat menjaga dan mendampinginya.

    Telah tercatat dalam sejarah tak seorang pun sahabat yang berani mengajukan masukan kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang pernikahan beliau setelah wafatnya Ummul Mukminin ath-Thahirah yang telah mengimani beliau disaat menusia mengkufurinya dan menyerahkan seluruh hartanya disaat orang lain menahan bantuan terhadapnya dan bersamanya pula Allah mengkaruniakan kepada Rasul putra-putri.

    Akan tetapi hampir-hampir kesusahan menjadi berkepanjangan hingga Khaulah binti Hakim memberanikan diri mengusulkan kepada Rasulullah dengan cara yang lembut dan ramah:

    Khaulah, “Tidakkah anda ingin menikah ya Rasulullah?”

    Nabi (Beliau menjawab dengan suara yang menandakan kesedihan), “Dengan siapa saya akan menikah setelah dengan Khadijah?”

    Khaulah, “Jika anda ingin bisa dengan seorang gadis dan bisa pula dengan seorang janda.”

    Nabi, “Jika dengan seorang gadis, siapakah gadis tersebut?”

    Khaulah, “Putri dari orang yang anda cintai, yakni Aisyah binti Abu Bakar.”

    Nabi (Setelah beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam diam untuk beberapa saat kemudian bertanya), “Jika dengan seorang janda?”

    Khaulah, “Dia adalah Saudah binti Zam’ah, seorang wanita yang telah beriman kepada anda dan mengikuti yang anda bawa.”

    Beliau menginginkan Aisyah akan tetapi terlebih dahulu beliau nikahi Saudah binti Zam’ah yang mana dia menjadi satu-satunya isteri beliau (setelah wafatnya Khadijah) selama tiga tahun atau lebih baru kemudian masuklah Aisyah dalam rumah tangga Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

    Orang-orang di Makkah merasa heran terhadap pernikahan Nabi dengan Saudah binti Zam’ah. Mereka bertanya-tanya seolah-olah tidak percaya dengan kejadian tersebut, seorang janda yang telah lanjut usia dan tidak begitu cantik menggantikan posisi Sayyidah wanita Quraisy dan hal itu menarik perhatian bagi para pembesar-pembesar diantara mereka.

    Akan tetapi kenyataan membuktikan bahwa sesungguhnya Saudah atau yang lain tidak dapat menggantikan posisi Khadijah, akan tetapi hal itu adalah, kasih sayang dan penghibur hati adalah menjadi rahmat bagi beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang penuh kasih.

    Adapun Saudah radhiallaahu ‘anha mampu untuk menunaikan kewajiban dalam rumah tangga Nubuwwah dan melayani putri-putri Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan mendatangkan kebahagiaan dan kegembiraan di hati Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan ringannya ruhnya dan sifat periangnya dan ketidaksukaannya terhadap beratnya badan.

    Setelah tiga tahun rumah tangga tersebut berjalan maka masuklah Aisyah dalam rumah tangga Nubuwwah, disusul kemudian istri-istri yang lain seperti Hafsah, Zainab, Ummu Salamah dan lain-lain. Saudah radhiallaahu ‘anha menyadari bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengawini dirinya melainkan karena kasihan melihat kondisinya setelah kepergian suaminya yang lama.

    Dan bagi beliau hal itu telah jelas dan nyata tatkala Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam ingin menceraikan beliau dengan cara yang baik untuk memberi kebebasan kepadanya, namun Nabi nerasa bahwa hal itu akan menyakiti hatinya.

    Tatkala Nabi mengutarakan keinginannya untuk menceraikan beliau, maka beliau merasa seolah-olah itu adalah mimpi buruk yang menyesakkan dadanya, maka beliau merengek dengan merendahkan diri berkata, “Pertahankanlah aku ya Rasulullah! demi Allah tiadalah keinginanku diperistri itu karena ketamakan saya akan tetapi hanya berharap agar Allah membangkitkan aku pada hari kiamat dalam keadaan menjadi Istrimu.

    Begitulah Saudah radhiallaahu ‘anha lebih mendahulukan keridhaan suaminya yang mulia, maka beliau berikan giliran beliau kepada Aisyah untuk menjaga hati Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan beliau radhiallaahu ‘anha sudah tidak memiliki keinginan sebagaimana layaknya wanita lain.

    Maka Rasulullah menerima usulan istrinya yang memiliki perasaan yang halus tersebut, maka turunlah ayat Allah, “Maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).” (Q. S. An-Nisa’:128)

    Saudah radhiallaahu ‘anha tinggal dirumah tangga nubuwwah dengan penuh keridhaan dan ketenangan dan bersyukur kepada Allah yang telah menempatkan posisinya disamping sebaik-baik makhluk di dunia dan dia bersyukur kepada Allah karena mendapat gelar ummul mukminin dan menjadi istri Rasul di jannah.

    Akhirnya wafatlah Saudah radhiallaahu ‘anha pada akhir pemerintahan Umar bin Khattab radhiallaahu ‘anha.

    Ummul mukminin Aisyah radhiallaahu ‘anha senantiasa mengenang dan mengingat perilaku beliau dan terkesan akan keindahan kesetiaannya. Aisyah berkata, “Tiada seorang wanitapun yang paling aku sukai agar aku memiliki sifat seperti dia melebihi Saudah binti Zam’ah tatkala berusia senja yang mana dia berkata, “Ya Rasulullah aku hadiahkan kunjungan anda kepadaku untuk Aisyah hanya saja beliau berwatak keras.”

    ***

    Sumber: Al-Sofwah, Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 9:38 pm on 30 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Istri-Istri Nabi Muhammad Saw: Khadijah 

    water-lily (2)Istri-Istri Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam

    Banyak keterangan yang pernah kita dengar mengenai istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Ada yang mengatakan sembilan, ada yang mengatakan sebelas, dan ada juga yang mengatakan dua belas.

    Semua keterangan tersebut biarlah berlalu seperti itu, yang penting masing-masing ada mustanad (sandaran riwayatnya). Dalam kitab Siyar A’laam an-Nubalaa’ yang ditulis oleh al-Dzahabi menyebutkan keterangan yang berbeda-beda. Berikut ini kami kutipkan keterangan mengenai istri-istri Nabi saw sebagaimana yang tertulis dalam buku tersebut.

    Al-Zuhri berkata, “Nabi saw menikahi dua belas wanita Arab yang muhshonah (terpelihara dari dosa). Sementara itu, Qatadah meriwayatkan bahwa Nabi saw menikahi lima belas wanita. Enam wanita dari suku Quraish, satu wanita dari sekutu-sekutu Quraish, tujuh wanita dari Arab dan yang satunya lagi dari Bani Israil. Di pihak lain, Abu Ubaid meriwayatkan bahwa Nabi saw menikahi delapan belas wanita: tujuh dari Quraish, satu dari sekutu-sekutu Quraish, sembilan dari Arab, dan satu dari Bani Israil. Mereka itu adalah Khadijah, Saudah, Aisyah, Ummu Salamah, Hafshah, Zainab binti Jahs, Juwairiyah, Ummu Habibah, Shafiyyah, Maimunah, Fathimah binti Syuraih, Zainab binti Khuzaimah, Hindun binti Yazid, Asma’ binti an-Nu’man, Qutailah saudara perempuan al-Asy’ats dan Sana’ binti Asma’ as-Sulamiyyah.

    Al-Aliyah adalah salah seorang istri Nabi saw dari Bani Bakar bin Kilab, seperti yang dituturkan al-Zuhri. Menurut Abu Muawiyah dari Jamil bin Zaid –orang yang lemah– dari Zaid bin Ka’b bin ‘Ujrah dari bapaknya berkata, “Rasulullah saw mempersunting al-Aliyah dari Bani Ghifaar. Tatkala menyetubuhi, Nabi saw melihat bercak putih-putih yang terdapat pada bagian badan sekitar pinggul (antara pusar dan pinggang) lalu Nabi berkata, ‘Kenakanlah pakaianmu dan susullah keluargamu (pulanglah).” Asma’, menurut ibnu Ishaq namanya adalah Asma’ binti Ka’b al-Jauniyyah.

    **

    Khadijah binti Khuwailid

    Beliau adalah sayyidah wanita sedunia pada zamannya. Putri dari Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab al-Qurasyiah al-Asadiyah. Dijuluki at-Thahirah bersih atau suci. Terlahir 15 tahun sebelum tahun fiil (tahun gajah).

    Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mulia dan pada gilirannya beliau menjadi seorang wanita yang cerdas dan agung. Beliau dikenal sebagai seorang yang teguh dan cerdik dan memiliki perangai yang luhur. Karena itulah banyak laki-laki dari kaumnya menaruh simpati kepadanya.

    Pada mulanya beliau dinikahi oleh Abu Halah bin Zurarah at-Tamimi yang membuahkan dua anak yang bernama Halah dan Hindun. Tatkala Abu Halah wafat, beliau dinikahi oleh Atiq bin ‘A’id bin Abdullah al-Mahzumi hingga beberapa waktu lamanya, namun akhirnya mereka cerai.

    Setelah itu, banyak pemuka-pemuka Quraisy yang menginginkan beliau. Akan tetapi, beliau prioritaskan perhatiannya untuk mendidik putra-putrinya, disamping sibuk mengurusi perniagaan yang memang beliau juga menjadi seorang wanita yang kaya raya.

    Suatu ketika beliau mencari orang yang dapat menjual barang dagangannya, maka tatkala beliau mendengar tentang Muhammad sebelum bi’tsah (diangkat menjadi Nabi) yang memiliki sifat jujur, amanah, dan berakhlak mulia, beliau meminta kepada Muhammad untuk menjualkan dagangannya bersama seorang pembantunya yang bernama Maisaroh.

    Beliau memberikan barang dagangan kepada Muhammad melebihi dari apa yang dibawa oleh selainnya. Muhammad pun menyetujuinya dan berangkatlah beliau bersama Maisaroh, dan Allah menjadikan perdagangan tersebut menghasilkan laba yang banyak.

    Khadijah merasa gembira dengan keuntungan tersebut. Akan tetapi, ketakjubannya terhahap kepribadian Muhammad lebih besar dari semua itu.

    Maka, mulailah muncul perasaan-perasaan aneh yang berbaur di benaknya yang belum pernah beliau rasakan sebelumnya. Pemuda ini tidak sebagaimana lelaki yang lain dan perasaan-perasaan yang lain.

    Akan tetapi, dia merasa pesimis: mungkinkah pemuda tersebut mau menikahinya, mengingat umurnya sudah mencapai 40 tahun? Apa kata orang nanti, karena ia telah menutup pintu bagi para pemuka Quraish yang melamarnya?

    Di saat dia bingung dan gelisah karena problem yang menggelayuti pikirannya, tiba-tiba muncullah seorang temannya yang bernama Nafisah binti Munabbih, selanjutnya dia ikut duduk dan berdialog, hingga dengan kecerdikannya Nafisah mampu menyibak rahasia yang disembunyikan oleh Khadijah tentang problem yang dihadapi dalam kehidupannya.

    Nafisah membesarkan hati Khadijah dan menenangkan perasaannya dengan mengatakan bahwa Khadijah adalah seorang wanita yang memiliki martabat, keturunan orang yang terhormat, memiliki harta, lagi berparas cantik. Hal itu terbukti dengan banyaknya para pemuka Quraisy yang melamarnya.

    Selanjutnya, tatkala Nafisah keluar dari rumah Khadijah, dia langsung menemui Muhammad hingga terjadi dialog yang menunjukkan akan kelihaian dan kecerdikan dia.

    Nafisah, “Apakah yang menghalangimu untuk menikah wahai Muhammad?”

    Muhammad, “Aku tidak memiliki apa-apa untuk menikah.”

    Nafisah (Dengan tersenyum berkata), “Jika aku pilihkan untukmu seorang wanita yang kaya, cantik, dan berkecukupan, apakah kamu mau menerimanya?”

    Muhammad, “Siapa dia?”

    Nafisah (Dengan cepat dia menjawab), “Dia adalah Khadijah binti Khuwailid.”

    Muhammad, “Jika dia setuju, maka aku pun setuju.”

    Nafisah pergi menemui Khadijah untuk menyampaikan kabar gembira tersebut, sedangkan Muhammad memberitahukan kepada paman-pamannya tentang keinginannya untuk menikahi Khadijah. Kemudian, pergilah Abu Thalib, Hamzah, dan yang lain menemui paman Khadijah yang bernama Amru bin Asad untuk melamar Khadijah bagi keponakannya, dan selanjutnya menyerahkan mahar sebagai tanda sahnya akad nikah tersebut.

    Maka, jadilah Sayyidah Quraisy sebagai istri Muhammad dan jadilah dirinya sebagai contoh yang paling utama dan paling baik dalam hal mencintai suami dan mengutamakan kepentingan suami daripada kepentingannya sendiri.

    Manakala Muhammad mengharapkan Zaid bin Haritsah, maka dihadiahkanlah oleh Khadijah kepada Muhammad. Demikian pula tatkala Muhammad ingin mengambil salah seorang dari putra pamannya Abu Thalib, maka Khadijah menyediakan suatu ruangan bagi Ali bin Abu Thalib, agar dia dapat mencontoh akhlak suaminya Muhammad saw.

    Dari pernikahan ini Allah memberikan karunia kepada keduanya putra-putri yang bernama al-Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Fatimah.

    Berkat pernikahan ini pula, Khadijah merupakan orang yang pertama kali masuk Islam dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Selanjutnya, Khadijah terus memback up perjuangan suaminya. Dari sinilah Zaid bin Haritsah dan keempat putrinya masuk Islam.

    Seiring dengan perjuangan ini, kaum muslimin terus ditimpa ujian dan musibah yang sangat berat, akan tetapi Khadijah tetap berdiri kokoh bak sebuah gunung yang tegar dan kuat. Ujian demi ujian secara beruntun diberikan Allah SWT.

    Kedua putranya yang masih kanak-kanak, yaitu Abdullah dan al-Qasim dipanggil Allah untuk selama-lamanya, namun demikian Khadijah tetap bersabar. Beliau juga melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana syahidah pertama dalam Islam yang bernama Sumayyah tatkala menghadapi sakaratul maut karena siksaan para taghut hingga jiwanya menghadap Sang Pencipta penuh kemuliaan.

    Beliau harus juga berpisah dengan putri dan buah hatinya yang bernama Ruqayyah istri dari Utsman bin Affan, karena putrinya hijrah ke negeri Habasyah untuk menyelamatkan agamanya dari gangguan orang-orang musyrik.

    Beliau saksikan dari waktu ke waktu yang penuh dengan kejadian besar dan permusuhan, akan tetapi tidak ada istilah putus asa bagi seorang mujahidah.

    Tatkala orang-orang Quraisy mengumumkan pemboikotannya terhadap orang-orang Islam untuk menekan dalam bidang politik, ekonomi, dan kemasyarakatan, dan pemboikotan tersebut mereka tulis dalam sebuah naskah dan mereka tempelkan pada dinding Ka’bah, Khadijah tidak ragu untuk bergabung dalam barisan orang-orang Islam bersama dengan kaumnya Abu Thalib dan beliau tinggalkan kampung halaman tercinta untuk menempa kesabaran selama tiga tahun bersama Rasulullah dan orang-orang yang menyertai beliau menghadapi beratnya pemboikotan yang penuh dengan kesusahan dan menghadapi kesewenang-wenangan para penyembah berhala.

    Beliau curahkan segala kemampuannya untuk menghadapi ujian itu di saat umur 65 tahun. Selang enam bulan setelah berakhirnya pemboikotan itu, wafatlah Abu Tholib, kemudian menyusullah beliau, yakni tiga tahun sebelum hijrah.

    Dengan perjuangannya yang begitu besar, pantaslah beliau berhak mendapat salam dari Rabb-Nya, dan mendapat kabar gembira dengan rumah di sorga yang terbuat dari emas, tidak ada kesusahan di dalamnya dan tidak ada pula keributan di dalamnya. Karena itu pula Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik wanita sorga adalah Maryam binti Imron dan sebaik-baik wanita sorga adalah Khadijah binti Khuwailid.”

    Ya Allah, ridhailah Khadijah binti Khuwailid, as-Sayyidah at-Thahiroh. Seorang istri yang setia dan tulus, mukminah mujahidah di jalan diennya dengan seluruh apa yang dimilikinya dari perbendaharaan dunia. Semoga Allah memberikan balasan yang paling baik karena jasa-jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin.

    ***

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
    • Qoriyanti 5:50 pm on 26 Januari 2010 Permalink

      Assalamu’alaikum wr wb…
      Khadijah, u’re the best woman in the world, ever……..

  • erva kurniawan 10:40 am on 29 December 2009 Permalink | Balas  

    Lima Harapan Allah 

    m_dinPenulis : M Din Syamsuddin

    Mungkin ada yang bertanya, mengapa ALLAH Yang Maha Kuasa dan Maha Kaya masih berharap kepada manusia, bukankah DIA tidak memerlukan apa-apa dari makhluk-NYA? Namun, ternyata ALLAH menaruh harapan atas kaum beriman. Lima harapan ALLAH itu terungkap dalam rangkaian ayat tentang puasa dan Ramadhan (al Baqarah: 183-189), yaitu dalam bentuk ‘kalimat harapan’ (la’alla) yang terdapat pada akhir beberapa ayat tersebut.

    Dalam perspektif Bahasa Arab, la’alla, secara harfiah berarti mudah-mudahan atau semoga, merupakan harapan faktual dan potensial, yakni bahwa harapan itu berdasarkan fakta-fakta yang ada dalam diri yang diharapkan dan karenanya sangat mungkin terlaksana.

    Harapan pertama, (akhir ayat 183), la’allakum tattaqun, semoga kamu menjadi orang bertakwa, dikaitkan dengan pelaksanaan ibadah puasa. Bahwa, shaimin dan shaimat diharapkan dapat meraih predikat ketakwaan, tentu melalui proses aktif dan dinamis dalam suatu keberagaman yang berorientasi pada sikap menjadi (to be) daripada sekadar memiliki (to have).

    Harapan kedua (akhir ayat 185), la’allakum tasykurun, semoga kamu menjadi orang bersyukur, berhubungan antara lain dengan wahyu Alquran yang diturunkan pertama kali pada bulan Ramadhan. Alquran adalah hidayah ALLAH berupa petunjuk, nilai dan ajaran yang sangat penting bagi manusia untuk mencapai derajat kemanusiaan tertinggi, karenanya harus disyukuri melalui pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Alquran tersebut.

    Harapan ketiga, la’allahum yarsyudun, semoga mereka menjadi orang yang terbimbingkan, dikaitkan dengan komunikasi intensif melalui doa kepada ALLAH. Doa adalah medium yang sangat efektif untuk memperoleh tambahan kekuatan dari sumber-NYA, yaitu Sang Pencipta yang sesungguhnya sangat dekat dengan manusia ciptaan-NYA, bahkan lebih dekat dari urat nadinya sendiri.

    Harapan keempat (akhir ayat 187), la’allahum yattaqun, semoga mereka menjadi orang bertakwa, merupakan pengulangan dan penekanan dari harapan pertama, yang kali ini dikaitkan dengan pengindahan terhadap ketentuan dan batas-batas yang telah ditentukan ALLAH dalam kehidupan muamalat. Sikap ketaatan seperti inilah yang akan membawa kaum beriman kepada ketakwaan.

    Harapan terakhir (akhir ayat 189), la’allakum tuflihun, semoga kamu menjadi orang yang menang dan berbahagia, berkaitan dengan sikap hidup yang berorientasi kepada kebaikan dan kebenaran sebagai pangkat kemenangan dan kebahagiaan.

    ***

     
    • Hanifah 12:06 pm on 12 Januari 2010 Permalink

      Semoga saya bisa memenuhi harapan Rabb-ku..aminn

    • mecca ria 12:34 pm on 23 Januari 2010 Permalink

      Subhanallah….indah sekali harapan Mu ya Alloh, bimbing dan ingatkan aku selalu agar aku bisa memenuhinya.

  • erva kurniawan 10:22 am on 28 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Dan, Semesta pun Kehilangan Pelita Terindahnya 

    siluet masjid 9Ketika Al-Musthafa berada dihadapan, Ku pandangi pesonanya dari ujung kaki hingga kepala, Tahukah kalian apa yang terjelma? Cinta! (Abu Bakar ra)

    eramuslim – Nabi demam kembali, kini panasnya semakin tinggi. Lemah ia berbaring, menghadapkan wajah pada Fatimah anak kesayangan. Sudah beberapa hari terakhir, kesehatannya tidak lagi menawan.

    Senin itu, kediaman manusia paripurna didatangi seorang berkebangsaan Arab dengan wajah rupawan. Di depan pintu, ia mengucapkan salam “Assalamu’alaikum duhai para keluarga Nabi dan sumber kerasulan, bolehkah saya menjumpai kekasih Allah?”.

    Fatimah yang sedang mengurusi ayahnya, tegak dan berdiri di belakang pintu “Wahai Abdullah, Rasulullah sedang sibuk dengan dirinya sendiri”. Fatimah berharap tamu itu mengerti dan pergi, namun suara asing semula kembali mengucapkan salam yang pertama.

    “Alaikumussalam, hai hamba Allah” kali ini Nabi yang menjawabnya.

    “Anakku sayang, tahukah engkau siapakah yang kini sedang berada di luar?”

    “Tidak tahu ayah, bulu kudukku meremang mendengar suaranya”

    “Sayang, dengarkan baik-baik, di luar itu adalah dia, pemusnah kesenangan dunia, pemutus nafas di raga dan penambah ramai para ahli kubur”. Jawaban nabi terakhir membuat fatimah jatuh terduduk. Fatimah menangis seperti anak kecil.

    “Ayah, kapan lagi aku akan mendengar dirimu bertutur, harus bagaimana aku menuntaskan kerinduan kasih sayang engkau, tak akan lagi ku memandang wajah kesayangan ayahanda” pedih Fatimah.

    Nabi tersenyum, lirih ia memanggil “Sayang, mendekatlah, kemarikan pendengaranmu sebentar”.

    Fatimah menurut, dan Kekasih Allah itu berbisik mesra di telinga anaknya, “Engkau adalah keluargaku yang pertama kali menyusul sebentar kemudian”. Seketika wajah fatimah tidak lagi pasi tapi bersinar.

    Lalu kemudian, Fatimah mempersilahkan tamu itu masuk. Malaikat pencabut maut berparas jelita itu pun kini berada di samping Muhammad.

    “Assalamu’alaikum ya utusan Allah” dengan takzim malaikat memberi salam.

    “Salam sejahtera juga untukmu pelaksana perintah Allah, apakah tugasmu saat ini, berziarah ataukah mencabut nyawa si lemah?” tanya nabi. Angin berhembus dingin.

    “Aku datang untuk keduanya, berziarah dan mencabut nyawamu, itupun setelah engkau perkenankan, jika tidak Allah memerintahkanku untuk kembali”

    “Di manakah engkau tinggalkan Jibril? Duhai izrail?”

    “Ia ku tinggal di atas langit dunia”.

    Tak lama kemudian, Jibril pun datang dan memberikan salam kepada seseorang yang juga dicintanya karena Allah.

    “Ya Jibril, gembirakanlah aku saat ini” pinta Al-Musthafa.

    Terdengar Jibril bersuara pelan di dekat telinga manusia pilihan, “Sesungguhnya pintu langit telah di buka, dan para Malaikat tengah berbaris menunggu sebuah kedatangan, bahkan pintu-pintu surga juga telah di lapangkan hingga terlihat para bidadari yang telah berhias menyongsong kehadiran yang paling ditunggu-tunggu”.

    “Alhamdulillah, betapa Allah maha penyayang” sendu Nabi, wajahnya masih saja pucat pasi.

    “Dan Jibril, masukkan kesenangan dalam hati ini, bagaimana keadaan ummatku nanti”.

    “Aku beri engkau sebuah kabar akbar, Allah telah berfirman, “Sesungguhnya Aku, telah mengharamkan surga bagi semua Nabi, sebelum engkau memasukinya pertama kali, dan Allah mengharamkan pula sekalian umat manusia sebelum pengikutmu yang terlebih dahulu memasukinya” Jawaban Jibril itu begitu berpengaruh.

    Maha suci Allah, wajah Nabi dilingkupi denyar cahaya. Nabi tersenyum gembira. Betapa ia seperti tidak sakit lagi. Dan ia pun menyuruh malaikat izrail mendekat dan menjalankan amanah Allah.

    Izrail, melakukan tugasnya. Perlahan anggota tubuh pembawa cahaya kepada dunia satu persatu tidak bergerak lagi. Nafas manusia pembawa berita gembira itu semakin terhembus jarang. Pandangan manusia pemberi peringatan itu kian meredup sunyi. Hingga ketika ruhnya telah berada di pusat dan dalam genggaman Izrail, nabi sempat bertutur, “Alangkah beratnya penderitaan maut”.

    Jibril berpaling tak sanggup memandangi sosok yang selalu ia dampingi di segala situasi.

    “Apakah engkau membenciku Jibril”

    “Siapakah yang sampai hati melihatmu dalam keadaan sekarat ini, duhai cinta,” jawabnya sendu.

    Sebelum segala tentang manusia terindah ini menjadi kenangan, dari bibir manis itu terdengar panggilan perlahan “Ummatku… Ummatku….”. Dan ia pun dengan sempurna kembali. Nabi Muhammad Saw, pergi dengan tersenyum, pada hari senin 12 Rabi’ul Awal, ketika matahari telah tergelincir, dalam usia 63 tahun.

    Muhammad, Nabi yang Ummi, Kekasih para sahabat di masanya dan di sepanjang usia semesta, meninggalkan gemilang cahaya kepada dunia. Muhammad, pemberi peringatan kepada semua manusia, menorehkan dalam-dalam tinta keikhlasan di lembaran sejarah. Muhammad, yang bersumpah dengan banyak panorama indah alam: “demi siang bila datang dengan benderang cahaya, demi malam ketika telah mengembang, demi matahari sepenggalah naik”, telah membumbungkan Islam kepada cakrawala megah di angkasa sana. Ia, Muhammad, menembus setiap gendang telinga sahabatnya dengan banyak kuntum-kuntum sabda pengarah dalam menjalani kehidupan. Ia, Muhammad, yang di sanjung semua malaikat di setiap tingkatan langit, berbicara tentang surga, sebagai tebusan utama, bagi setiap amalan yang dikerjakan. Ia, Muhammad yang selalu menyayangi fakir miskin dan anak yatim, menggelorakan perintah untuk senantiasa memperhatikan manusia lain yang berkekurangan. Dan Ia, Muhammad, tak akan pernah kembali lagi.

    Sungguh, Madinah berubah kelabu. Banyak manusia terlunta di sana. Dan Aisyah ra, yang pangkuannya menjadi tempat singgah kepala Rasulullah di saat terakhir kehidupannya, menyenandungkan syair kenangan untuk sang penerang, suaranya bening. Syahdunya membumbung ke jauh angkasa.

    Beginilah Aisyah menyanjung sang Nabi yang telah pergi: Wahai manusia yang tidak sekalipun mengenakan sutera, Yang tidak pernah sejeda pun membaringkan raga pada empuknya tilam Wahai kekasih yang kini telah meninggalkan dunia, Ku tau perut mu tak pernah kenyang dengan pulut lembut roti gandum, Duhai, yang lebih memilih tikar sebagai alas pembaringan, Duhai, yang tidak pernah terlelap sepanjang malam karena takut sentuhan neraka Sa’ir

    Dan Umar r.a yang paling dekat dengan musuh di setiap medan jihad itu, kini menghunus pedang. Pedang itu menurutnya diperuntukkan untuk setiap mulut yang berani menyebut kekasih kesayangannya telah kembali kepada Allah. Umar tatap wajah-wajah para sahabat itu setajam mata pedangnya, meyakinkan mereka bahwa Umar sungguh-sungguh. Umar terguncang. Umar bersumpah. Umar berteriak lantang. Umar menjadi sedemikian garang. Ia berdiri di hadapan para sahabat yang terlunta-lunta menunggu kabar manusia yang dicinta.

    Dan Abu Bakar, sahabat yang paling lembut hatinya, melangkah pelan menuju jasad manusia mulia. Langkahnya berjinjit, khawatir kan mengganggu seseorang yang tidur berkekalan, pandangannya lurus pada sesosok cinta yang dikasihinya sejak pertama berjumpa. Raga berparas rembulan itu kini bertutup kain selubung. Abu bakar hampir pingsan. Nafasnya berhenti berhembus, tertahan. Sekuat tenaga, ia bersimpuh di depan jasad wangi al-Musthafa.

    Ingin sekali membuka penutup wajah yang disayangi arakan awan, disanjung hembusan angin dan dielu-elukan kerlip gemintang, namun tangannya selalu saja gemetar. Lama Abu bakar termenung di depan jenazah pembawa berkah.

    Akhirnya, demi keyakinannya kepada Allah, demi matahari yang masih akan terbit, demi mendengar rintihan pedih ummat di luar, Abu bakar mengais sisa-sisa keberanian. Jemarinya perlahan mendekati penutup tubuh suci Rasulullah, dan dijumpailah, wajah yang tak pernah menjemukan itu. Abu bakar memesrai Nabi dengan mengecup kening indahnya.

    Hampir tak terdengar ia berucap, “Demi ayah dan bunda, indah nian hidupmu, dan indah pula kematianmu. Kekasih, engkau memang telah pergi”. Abu bakar menunduk. Abu Bakar mematung. Abu Bakar berdoa di depan tubuh nabi yang telah sunyi.

    Dan Bilal bin Rabah, yang suaranya selalu memenuhi udara Madinah dengan lantunan adzan itu, tak lagi mampu berseru di ketinggian menara mesjid. Suaranya selalu hilang pada saat akan menyebut nama kekasih ‘Muhammad’. Di dekat angkasa, seruannya berubah pekik tangisan. Tak jauh dari langit, suaranya menjelma isak pedih yang tak henti. Setiap berdiri kukuh untuk mengumandangkan adzan, bayangan Purnama Madinah selalu saja jelas tergambar.

    Tiap ingin menyeru manusia untuk menjumpai Allah, lidahnya hanya mampu berucap lembut, “Aku mencintaimu duhai Muhammad, aku merindukanmu kekasih”. Bilal, budak hitam yang kerap di sanjung Nabi karena suara merdunya, kini hanya mampu mengenang Sang kekasih sambil menatap bola raksasa pergi di kaki langit.

    Dan, terlalu banyak cinta yang menderas di setiap jengkal lembah madinah. Yang tak pernah bisa diungkapkan. Semesta menangis.

    ***

    Sahabat, Sang penerang telah pergi menemui yang Maha tinggi. Purnama Madinah telah kembali, menjumpai kekasih yang merindui. Dan semesta, kehilangan pelita terindahnya. Saya mengenangmu ya Rasulullah, meski hanya dengan setitik tinta pena. Saya mengingatimu duhai pembawa cahaya dunia, meski hanya dengan selaksa kata. Dan saya meminjam untaian indah peredam gemuruh dada, yang dilafadzkan Hasan Bin Tsabit, salah seorang sahabat penyair dari masa mu:

    Engkau adalah ke dua biji mata ini Dengan kepergianmu yang anggun, Aku seketika menjelma menjadi seorang buta Yang tak perkasa lagi melihat cahaya Siapapun yang ingin mati mengikutimu. Biarlah ia pergi menemui ajalnya, Dan Aku, Hanya risau dan haru dengan kepergian terindah mu

    Sahabat, kenanglah Nabi Muhammad Saw, meski dalam kelengangan yang sempurna, agar hal ini menjadi obat ajaib, penawar dan penyembuh kegersangan hati yang kerap berkunjung. Agar, di akhirat kelak, dengan agung Nabi memanggil semua manusia yang senantiasa merindukan dan mencintainya.

    Adakah yang paling mempesona dihadapanmu, ketika suara suci Nabi menyapamu anggun, menjumpaimu dengan paras yang tak pernah kau mampu bayangkan sebelumnya.

    Adakah yang paling membahagiakan di kedalaman hatimu, ketika sesosok yang paling kau cinta sepenuh jiwa dan raga, berada nyata di dekatmu dan menemuimu dengan senyuman yang paling manis menembusi relung kalbu.

    Dan adakah di dunia ini yang paling menerbangkan perasaanmu ke angkasa, ketika jemari terkasih menggapaimu untuk memberikan naungan perlindungan dari siksa pedih azab neraka.  Adakah sahabat???

    Jika saat ini ada yang bening di kedua sudut kelopak matamu, berbahagialah, karena mudah-mudahan ini sebuah pertanda. Pertanda cinta tak bermuara. Dan, ketika kau tak dapati air mata saat ini, kau sungguh mampu menyimpan cinta itu di dasar hatimu.

    Salam saya, untuk semua sahabat. Mari bersama bergenggaman, saling mengingatkan, saling memberikan keindahan ukhuwah yang telah Rasulullah tercinta ajarkan. Mari Sahabat!

    ***

    Eramuslim.com

     
    • yossy wahyu indrawan 2:39 pm on 29 Desember 2009 Permalink

      Ya Rabb, bimbing kami utk dpt mencintai-Mu dan kekasih-Mu di atas cinta pd makhluk2 ciptaan Mu. Amin…

    • annisa 11:04 am on 7 Januari 2010 Permalink

      ya.. Allah kuatkanlah hati kami untuk dpt menjadikan sang kekasih-Mu
      sebagai idola kami diantara idola2 lain yang menggoda..
      amiin..

    • Eddy supar jono 10:16 pm on 7 Februari 2010 Permalink

      Ya Allah!!!…ya Allah kami rindu…!!:'(:-(

    • Eddy supar jono 10:36 pm on 7 Februari 2010 Permalink

      Tiada kata yg terucap hanya do’a dan air mata ”Salam ya nabi Muhammad SAW,junjungan kami…umat-umatmu banyak yg terzalimi Dari yahudi,nasrani,atheis juga pemimpin yg zalim(muslim)

    • rahmadi 3:50 pm on 27 Maret 2010 Permalink

      aku menangis dalam hati,sungguh rindu hati ini akan dirimu wahai baginda rasulullah…

    • Wibowo 4:04 pm on 19 Agustus 2010 Permalink

      Baiti Jannati,,,

  • erva kurniawan 10:14 am on 27 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: anak sholeh, orang tua   

    Takkan Pernah Sebanding 

    2Mother_sonSobat, pernahkah dirimu merasakan apa yang sedang kurasakan saat ini? Rasa bersalah yang teramat sangat. Jauh dari orang tua yang sekarang hanya tinggal berdua. Tak ada lagi putera-puteri yang tersisa. Semuanya berada dalam radius yang sangat jauh, menempuh episode kehidupan masing-masing. Betapa sepinya mereka.

    Sewaktu bayi, entah berapa kali kita mengganggu tidur nyenyak ayah yang mungkin sangat kelelahan setelah seharian bekerja untuk memenuhi kebutuhan kita. Mungkin juga kotoran kita ikut tertelan Ibu ketika kita buang “pup” di saat ibu sedang makan. Ibu juga tidak peduli ketika teman-temannya marah karena membatalkan acara yang sangat penting karena tiba-tiba anaknya sakit.

    Kekhawatiran demi kekhawatiran tiada pernah henti mengunjungi mereka setiap kali kita melangkah.

    Beranjak dewasa, betapa tabahnya ayah dan Ibu menerima pembangkangan demi pembangkangan yang kita lakukan. Mereka hanya bisa mengelus dada karena teman-teman di luar sana lebih berarti daripada mereka. Jarang sekali sekali kita mau menyisakan waktu untuk menyelami mimik wajah mereka yang penuh kecemasan ketika kita pulang telat karena ayah dan ibu selalu menyambut kita dengan senyum.

    Sobat, pernahkah dirimu bangun tengah malam dan mendengar tangisan Ibu dalam doanya seperti yang pernah aku dengar?

    Tangisan dan doa itulah yang mengantar kesuksesan kita. Pernahkah kita tahu Ayah dan ibu terluka dan mengiba kepada Allah agar kita jangan dilaknat, agar Allah mau mengampuni kita dan memberikan kehidupan terbaik untuk kita? Astaghfirullaahal ‘adziim.

    Pernahkah kita berterimakasih ketika kita dapati ayah dan ibu berbicara berbisik-bisik karena takut membangunkan kita yang tertidur kelelahan?

    Pernahkah kita menghargai patah demi patah kata yang mereka susun sebaik mungkin untuk meminta maaf karena mereka tidak sengaja memecahkan Kristal kecil hadiah ulang tahun dari teman kita?

    Pernahkah kita menyesal karena lupa menyertakan mereka di dalam doa?

    Ah, Sobat, betapa tak sebanding cinta dan pengorbanan mereka dengan balasan kasih sayang yang kita berikan. Setelah dewasa dan bisa “menghidupi” diri sendiri, kita masih bisa melenggang ringan meninggalkan mereka (mereka ikhlas asal kita bahagia).

    Lalu? Mungkinkah kita bisa seperti Ismail as yang merelakan dirinya disembelih ayah kandung demi menuruti perintah Allah? Atau seperti Musa as yang dihanyutkan ketika bayi?

    Ternyata kita masih sangat jauh…

    Lalu bakti seperti apakah yang bisa kita persembahkan?

    Sobat, bantu aku agar optimis! Ya, masih banyak waktu untuk membahagiakan mereka. Hal yang terkecil yang bisa kita lakukan adalah: tak mengatakan “tidak” ketika mereka menyuruh atau menginginkan sesuatu (tentu saja bukan yang bertentangan dengan agama) dan segera ambil alat komunikasi, hubungi mereka saat ini juga, sapa mereka dengan hangat, pastikan nada suara kita bahagia! Bahagiakan ayah, bahagiakan Ibu!

    Mulai dari sekarang, selagi Allah masih memberi kesempatan. Walau takkan pernah sebanding, doa-doa kitalah yang mereka harapkan menemani di peristirahatan terakhir nanti.

    Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa kedua orang tua kami, kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihi kami sedari kecil. Jadikan kami termasuk anak-anak yang shaleh ya Allah hingga doa-doa kami termasuk doa-doa yang Engkau ijabah. Aamin…

    ***

    Dari sahabat

     
  • erva kurniawan 5:21 am on 26 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Penjemputan 

    water-lilies-2Pernahkah Anda melihat seseorang menjelang sakratul maut? Berapakali Anda melihat mereka yang terbelalak ketakutan, yang kesakitan atau yang hanya seperti hendak tidur?

    Aku punya seorang teman dekat di SMU I Binjai bernama Wati. Ia dara berjilbab yang sangat cantik, supel, berbudi, senang menolong orang lain dan selalu menjadi juara kelas. Maka seperti mendengat petir di siang hari, saat kudengar ia yang sudah sekian lama tak masuk sekolah ternyata mengidap kanker rahim. Bahkan sudah menyebar hingga stadium empat!!

    Sekolah kami berduka. Para aktivis rohis amat sedih. Wati adalah motor segala kegiatan dakwah. Ide-idenya segar. Ia selalu punya terobosan baru. Ia bisa mendekati dan disukai siapapun. Sungguh, kami tak memiliki Wati yang lain.

    Maka betapa pedih menatapnya hari itu. Ia tergolek lemah di ranjang. Badannya menjadi amat kurus. Wajahnya pasi. Setelah sakit berbulan-bulan, hari ini ia tak mampu lagi mengenali kami!

    “Wati sudah sebulan ini tak bisa bangun-,” kata ibunya sambil mengusap airmatanya.

    Namun kami berbelalak, saat baru saja ibunya selesai bicara, perlahan Wati berusaha untuk bangun. Kami semua tercengang saat ia berdiri dan berjalan melintasi kami seraya berkata dengan suara nyaris tak terdengar, “Aku mau berwudhu dan shalat Dhuha.”

    Serentak kami semua berebutan membimbingnya ke kamar mandi. Setelah itu ibunya memakaikannya mukena dan sarung. Sementara ayahnya kembali membaringkannya di tempat tidur karena ia terlalu lemah untuk shalat sambil berdiri.

    Hening. Tak seorang pun yang bersuara saat ia melakukan sholat Dhuha. Selesai sholat, saat ibunya akan membukakan mukena, ia melarang dengan halus. Lalu lama sekali dipandanginya wajah ibu, ayah dan adik-adiknya satu persatu bergantian. Dari mulutnya terus menerus terdengar asma Allah. kami yang menyaksikan tak kuat lagi menahan tangis.

    Tiba-tiba Wati tersenyum. Ia memandang kami, teman-temannya, dengan penuh sayang. Lalu kembali memandang wajah ayah, ibu dan adik-adiknya bergantian. Kini kulihat butiran bening menetes dari sudut matanya. Lalu susah payah ia mengangkat kedua tangannya dan mendekapkannya di dada. Dengan tersenyum ia menutup kedua matanya sambil mengucapkan dua kalimat syahadat dengan sangat lancar.

    Innalillaahi wa inna ilaihi rooji’uun. Ia telah pergi untuk selamanya. Bagai melayang aku menyaksikan semua. Dadaku berdebar, lututku gemetar. Subhanallah, ia telah kembali dengan sangat sempurna dalam usia yang baru 18 tahun.

    Tiba-tiba, antara ilusi dan kenyataan, aku mencium wewangian. Tubuhku bergidik. Aku menangis terisak-isak.

    Allah, siapkah aku bila Engkau ingin bertemu??

    ***

    (Seperti dituturkan sahabat Wati kepada Elvy Tiana Rosa-disadur dari buku Lentera Kehidupuan:Cerita Luar Biasa dari Orang-orang Biasa)

     
  • erva kurniawan 5:00 am on 25 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Doa Rasulullah Yang Tak Terkabul 

    water_lily02 yellow_Amir bin Said dari ayahnya berkata bahwa : “Satu hari Rasulullah S.A.W telah datang dari daerah berbukit. Apabila Rasulullah S.A.W sampai di masjid Bani Mu’awiyah lalu beliau masuk ke dalam masjid dan menunaikan shalat dua rakaat. Maka kami pun turut shalat bersama dengan Rasulullah S.A.W. Kemudian Rasulullah S.A.W berdoa dengan doa yang agak panjang kepada Allah S.W.T

    Setelah selesai beliau berdoa Rasulullah S.A.W pun berpaling kepada kami lalu bersabda: “Aku telah memohon kepada Allah S.W.T tiga perkara, dalam tiga perkara itu Allah mengabulkan dua perkara dan satu lagi ditolak.

    1. Aku telah bermohon kepada Allah S.W.T supaya tidak membinasakan umatku dengan musim kemarau yang berpanjangan. Permohonanku ini diperkenankan oleh Allah S.W.T.
    2. Aku telah bermohon kepada Allah S.W.T supaya umatku ini tidak dibinasakan dengan bencana tenggelam (seperti banjir besar yang telah melanda umat Nabi Nuh a.s). Permohonanku ini telah diperkenankan oleh Allah S.W.T.
    3. Aku telah bermohon kepada Allah S.W.T supaya umatku tidak dibinasakan karena peperangan sesama mereka (perang dan permusuhan antara sesama umat Islam). Tetapi permohonan tersebut tidak diperkenankan (ditolak).

    Apa yang kita lihat hari ini adalah negara-negara Islam terjadi peperangan satu sama lain, orang Islam perang sesama sendiri, orang kafir menepuk tangan dari belakang, apakah ini bagus untuk kita?

    ***

    Sumber: email sahabat

     
  • erva kurniawan 10:31 pm on 24 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Doa 

    siluet_masjid 3 (1)Seorang ibu kumuh dengan baju kumal, masuk ke dalam sebuah supermarket. Dengan sangat terbata-bata dan dengan bahasa yang sopan ia memohon agar diperbolehkan mengutang. Ia memberitahukan bahwa suaminya sedang sakit dan sudah seminggu tidak bekerja. Ia memiliki tujuh anak yang sangat membutuhkan makan. Pemilik supermarket, mengusir dia keluar. Sambil terus menggambarkan situasi keluarganya, si ibu terus menceritakan tentang keluarganya.

    “Tolonglah, Pak, Saya janji akan segera membayar setelah aku punya uang.”

    Si Pemilik Toko tetap tidak mengabulkan permohonan tersebut. “Anda tidak mempunyai kartu kredit, anda tidak mempunyai garansi,” alasannya.

    Di dekat counter pembayaran, ada seorang pelanggan lain, yang dari awal mendengarkan percakapan tadi. Dia mendekati keduanya dan berkata: “Saya akan bayar semua yang diperlukan Ibu ini.”

    Karena malu, si pemilik toko akhirnya mengatakan, “Tidak perlu, Pak.

    Saya sendiri akan memberikannya dengan gratis. Baiklah, apakah ibu membawa daftar belanja?”

    “Ya, Pak. Ini,” katanya sambil menunjukkan sesobek kertas kumal.

    “Letakkanlah daftar belanja anda di dalam timbangan, dan saya akan memberikan gratis belanjaan anda sesuai dengan berat timbangan tersebut.”

    Dengan sangat ragu-ragu dan setengah putus asa, Si Ibu menundukkan kepala sebentar, menuliskan sesuatu pada kertas kumal tersebut, lalu dengan kepala tetap tertunduk,meletakkannya ke dalam timbangan.

    Mata Si pemilik took terbelalak melihat jarum timbangan bergerak cepat ke bawah. Ia menatap pelanggan yang tadi menawarkan si ibu tadi sambil berucap kecil, “Aku tidak percaya pada yang aku lihat.”

    Si pelanggan baik hati itu hanya tersenyum.Lalu, si ibu kumal tadi mengambil barang-barang yang diperlukan, dan disaksikan oleh pelanggan baik hati tadi, si Pemilik toko menaruh belanjaan tersebut pada sisi timbangan yang lain.

    Jarum timbangan tidak kunjung berimbang, sehinggasi ibu terus mengambil barang-barang keperluannya dan sipemilik toko terus menumpuknya pada timbangan, hingga tidak muat lagi.

    Si Pemilik toko merasa sangat jengkel dan tidak dapat berbuat apa-apa.Karena tidak tahan, Si pemilik toko diam-diam mengambil sobekan kertas daftar belanja si Ibu kumal tadi. Dan ia-pun terbelalak. Di atas kertas kumal itu tertulis sebuah doa pendek:

    “Ya Allah Ya Tuhanku Rabbi, Hanya Engkau yang tahu apa yang hamba perlukan. Hamba menyerahkan segalanya ke dalam tanganMu.”

    Si Pemilik Toko terdiam.

    Si Ibu berterimakasih kepadanya, dan meninggalkan toko dengan belanjaan gratisnya. Si pelanggan baik hati bahkan memberikan selembar uang kepadanya.

    Si Pemilik Toko kemudian mencek dan menemukan bahwa timbangan yang dipakai tersebut ternyata rusak.

    Ternyata memang hanya ALLAH yang tahu bobot sebuah doa.

    ***

    Kekuatan sebuah doa

    Segera setelah anda membaca cerita ini, ucapkanlah sebuah doa. Hanya itu saja. Stop pekerjaan anda sekarang juga dan ucapkan sebuah doa. Lalu, kirimkan cerita ini kepada setiap orang atau sahabat yang Anda kenal. Biarlah Tali silatuhrahmi ini tidak terputus, karena “Doa adalah hadiah terbesar dan terindah yang kita terima. Tanpa biaya, tetapi penuh daya guna.”

     
  • erva kurniawan 10:08 pm on 23 December 2009 Permalink | Balas  

    Bahaya Mengungkit Pemberian 

    sedekah 1“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” (Al-Baqarah: 264)

    Al-Wahidy berkata, “Maksudnya adalah menyebut-nyebut apa yang sudah diberikan.”

    Al-Kalby berkata, “Menyebut-nyebut sedekahnya kepada Allah dan menyakiti perasaan orang yang menerimanya.”

    Dalam sebuah hadis disebutkan, Rasulullah saw. bersabda, “Tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat kelak, serta tidak akan dipandang-Nya, dan tidak pula disucikan-Nya, yaitu orang yang mengulurkan kainnnya, orang yang suka mengungkit-ungkit kebaikannya dan orang yang menjual dagangannya dengan sumpah palsu.” (HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasai dari Abu Dzar al- Ghifari).

    Dalam sebuah hadis yang lain disebutkan, “Tiga golongan yang tidak akan masuk surga; orang yang durhaka kepada ibu bapaknya, orang yang terus menerus minum arak, dan orang yang suka menungkit-ungkit pemberiannya.”

    Dalam hadis lain disebutkan, “Tidak akan masuk surga orang yang memperdaya, orang yang kikir, dan orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian.” (HR Ahmad)

    Rasulullah saw. bersabda, “Jauhilah mengungkit-ungkit kebaikan, sebab ia akan membatalkan rasa syukur dan menghapuskan pahala.” Lalu Rasulullah membacakan ayat, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).”

    Suatu hari Ibnu Sirrin mendengar seseorang berkata kepada temannya, “Aku sudah berbuat baik kepadamu, aku sudah melakukan ini dan itu.” Maka, Ibnu Sirrin menegurnya dan berkata, “Hai diamlah! Tidak ada kebaikan dalam amal kebajikanmu jika ia disebut-sebut!”

    Sebagian ulama berkata, “Barang siapa mengungkit-ungkit kebaikannya, ia bukan termasuk orang yang bersyukur dan barang siapa merasa bangga dengan amalnya, pahalanya menjadi terhapus.” Wallahu a’lam bish showab

    ***

    Sumber: Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia sebagaimana disadur dari Al-Kabaair, Syamsuddin Muhammad bin Utsman bin Qaimaz at-Turkmani al-Fariqi ad-Dimasyqi asy-Syafii

     
  • erva kurniawan 9:51 pm on 22 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Pegawai Hotel Yang Sabar 

    hotelBeberapa bulan yang lalu di meja pemesanan kamar hotel Memphis, saya melihat suatu kejadian yang bagus sekali, bagaimana seseorang menghadapi orang yang penuh emosi.

    Saat itu pukul 17:00 lebih sedikit, dan hotel sibuk mendaftar tamu-tamu baru. Orang di depan saya memberikan namanya kepada pegawai di belakang meja dengan nada memerintah. Pegawai tersebut berkata, “Ya, Tuan, kami sediakan satu kamar ‘single’ untuk Anda.”

    “Single,” bentak orang itu, “Saya memesan double.”

    Pegawai tersebut berkata dengan sopan, “Coba saya periksa sebentar.” Ia menarik permintaan pesanan tamu dari arsip dan berkata, “Maaf, Tuan. Telegram Anda menyebutkan single. Saya akan senang sekali menempatkan Anda di kamar double, kalau memang ada. Tetapi semua kamar double sudah penuh.”

    Tamu yang berang itu berkata, “Saya tidak peduli apa bunyi kertas itu, saya mau kamar double.”

    Kemudian ia mulai bersikap “anda-tau-siapa-saya,” diikuti dengan “Saya akan usahakan agar Anda dipecat. Anda lihat nanti. Saya akan buat Anda dipecat.”

    Di bawah serangan gencar, pegawai muda tersebut menyela, “Tuan, kami menyesal sekali, tetapi kami bertindak berdasarkan instruksi Anda.”

    Akhirnya, sang tamu yang benar-benar marah itu berkata, “Saya tidak akan mau tinggal di kamar yang terbagus di hotel ini sekarang, manajemennya benar-benar buruk,” dan ia pun keluar.

    Saya menghampiri meja penerimaan sambil berpikir si pegawai pasti marah setelah baru saja dimarahi habis-habisan. Sebaliknya, ia menyambut semua dengan salam yang ramah sekali “Selamat malam, Tuan.”

    Ketika ia mengerjakan rutin yang biasa dalam mengatur kamar untuk saya, saya berkata kepadanya, “Saya mengagumi cara Anda mengendalikan diri tadi. Anda benar2 sabar.”

    “Ya, Tuan,” katanya, “Saya tidak dapat marah kepada orang seperti itu. Anda lihat, ia sebenarnya bukan marah kepada saya. Saya cuma korban pelampiasan kemarahannya. Orang yang malang tadi mungkin baru saja ribut dengan istrinya, atau bisnisnya mungkin sedang lesu, atau barangkali ia merasa rendah diri, dan ini adalah peluang emasnya untuk melampiaskan kekesalannya.”

    Pegawai tadi menambahkan, “Pada dasarnya ia mungkin orang yang sangat baik. Kebanyakan orang begitu.” Sambil melangkah menuju lift, saya mengulang-ulang perkataannya, “Pada dasarnya ia mungkin orang yang sangat baik. Kebanyakan orang begitu.”

    Ingat dua kalimat itu kalau ada orang yang menyatakan perang pada Anda. Jangan membalas. Cara untuk menang dalam situasi seperti ini adalah membiarkan orang tersebut melepaskan amarahnya, dan kemudian lupakan saja .

    ***

    (by David J.S.)

     
    • wahyu 3:09 pm on 7 Januari 2010 Permalink

      saya sangat salut. bravo! bravo!

    • rama 6:10 am on 11 Januari 2010 Permalink

      hhmmmm… menenangkan hati pembaca,,, greatttt,,,,

    • annisa 3:49 pm on 25 Januari 2010 Permalink

      pemikiran spt ini hanya dimiliki oleh orang yg suuaabar…
      semoga kita bisa ,

  • erva kurniawan 9:37 pm on 21 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Belajar Dari Ikrimah 

    sholatIkrimah bin Abu Jahal adalah sosok sahabat nabi yang menjadi tauladan dalam mengutamakan kepentingan orang lain. Sejarah mencatat, di antara orang-orang yang termasuk dalam barisan Perang Yarmuk adalah Haris bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal dan Suhail bin Amar. Di saat-saat kematian mereka, ada seorang sahabat yang memberinya air minum, akan tetapi mereka menolaknya. Setiap kali air itu akan diberikan kepada salah seorang dari mereka bertiga, maka masing-masing mereka melihat kepada sahabat lainnya seraya berkata: “Berikan saja air itu kepada sahabat-sahabat di sebelahku, barangkali mereka lebih memerlukannya”. Demikianlah keadaan mereka seterusnya, sehingga akhirnya mereka bertiga menghembuskan nafas yang terakhir dalam keadaan belum sempat meminum air itu.

    Dari cerita Ikrimah, saya teringat tentang ucapan seorang ulama yang mengatakan bahwa mengutamakan orang lain tidak perlu dengan melakukan hal-hal yang besar. Kita dapat melakukan hal-hal sederhana yang mungkin oleh orang lain dianggap remeh. Di dalam angkutan kota misalnya, bantulah orang lain dengan duduk di tempat yang memudahkan orang untuk masuk. Jika tempat duduk yang lain masih kosong, sebaiknya tidak duduk di dekat pintu dengan alasan lebih gampang untuk turun, lebih segar karena terkena angin dari arah pintu atau alasan-alasan yang menyenangkan diri sendiri lainnya padahal hal tersebut justru menyulitkan orang lain yang akan masuk. Begitu pula halnya jika kita menghadiri majelis taklim. Sering kita duduk di tempat-tempat yang justru menyulitkan orang lain yang akan masuk, di tangga atau di dekat pintu masuk misalnya. Padahal tidak terlalu sulit bagi kita untuk mengambil tempat duduk di tempat lain meskipun mungkin tidak senyaman di tangga atau di dekat pintu.

    Contoh lainnya, jika menaiki tangga berjalan atau mengendarai kendaraan di jalan tol sebaiknya mengambil tempat di bahu kiri karena bahu kanan biasanya digunakan oleh orang lain yang hendak bergegas. Ketika ada pengendara sepeda atau orang yang akan menyebrang jalan, berilah kesempatan kepada mereka untuk menyebrang. Apalagi pada jalan-jalan yang tidak menggunakan lampu lalu lintas dan tidak ada jembatan penyebrangan. Mungkin contoh ini hanyalah contoh kecil, tapi sangat bernilai bagi orang lain.

    Menyikapi kondisi saat ini, dimana banyak orang mengutakaman dirinya dan memperkaya pribadi, sikap mengutamakan orang lain maupun kepentingan umum merupakan suatu keharusan. Insya Allah, dengan cara tersebut, bangsa ini akan memiliki hubungan yang harmonis dan sejahtera bersama.

    ***

     
  • erva kurniawan 9:28 pm on 20 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Kuasa Cinta 

    mawarAdalah kisah tentang Yusuf dan Zulaikha…

    Yusuf telah menjadi Wazir dari Fir’aun, teman dekatnya dan merupakan orang terkuat kedua di negara tersebut. Sementara Zulaikha telah dicampakkan oleh suaminya karena skandal cintanya dan kini menjalani hidup sengsara sebagai pengemis dan buruh kasar.

    Suatu hari, Yusuf bertemu dengan Zulaikha di jalan. Ia mengenakan jubah sutra, mengendarai kuda yang indah, dikelilingi para penasihat dan pengawal pribadinya. Sedangkan Zulaikha sendiri berpakaian lusuh, kecantikannya pudar seiring dengan cobaan hidup yang telah dideritanya bertahun-tahun. Yusuf berkata, “Wahai Zulaikha, sebelum ini, ketika engkau ingin menikahiku, aku terpaksa menolakmu. Ketika itu engkau adalah istri dari tuanku. Kini engkau telah bebas dan aku pun bukan lagi seorang budak. Jika engkau mau, aku akan menikahimu sekarang.”

    Zulaikha menatapnya dengan mata berbinar. Ia berkata,” Tidak Yusuf. Cintaku yang mendalam kepadamu dahulu itu tidaklah lain dari sebuah hijab antara aku dan Sang Kekasih. Aku telah merobek tirai itu dan menyampakkannya. Kini setelah kutemukan Kekasihku yang sejati, tidak lagi aku membutuhkan cintamu.”

    Bahwa orang yang sedang dimabuk Cinta (bukan cinta) mereka akan melihat bahwa semuanya adalah Kebenaran (Al-Haqq) dan bahwa segala sesuatu mengarah kepada Kebenaran,” itu adalah bagi mereka yang telah menjadi lokus sempurna Cinta Ilahi, di mana” hijab itu (telah) terangkat dan barulah sang Kekasih sejati, tujuan sejati akan nampak dalam suatu Keagungan Ilahiah.”

    ***

    Sumber:  email dari sahabat (Zaenal)

     
  • erva kurniawan 9:17 pm on 19 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Bapak Tua Itu 

    kakek penjualJalanan Jakarta seperti biasa, panas dan berdebu, walau pagi ini belum juga beranjak menjadi siang. Aku nyalakan tape dan AC di mobilku, sambil bernyanyi-nyanyi kecil untuk menghilangkan kejenuhan, karena jalan menuju kantor seperti pagi-pagi lainnya, penuh dan macet. Ternyata nyanyian itu tidak membuat hatiku menjadi tenang. Batinku merasa lelah, hatiku mengeluh. Jenuhnya aku dengan suasana rutinitasku sehari-hari, belum lagi urusan kantor yang tidak ada habis-habisnya. Sampai-sampai aku sendiri tidak menikmati lagi apa yang dulu menjadi kenikmatan tersendiri, bekerja di kantorku.

    Di tengah kemacetan, tiba-tiba kaca mobilku diketuk oleh seorang tua dengan matanya yang sayu. Dia tersenyum padaku dan menawarkan makanan kecil yang dijualnya. “Neng, lima ratus per bungkus Neng.” ujarnya. Tanpa pikir panjang apakah aku suka dengan makanan yang dijualnya aku menjawab “Ya sudah Pak, beli 10 ya.”. Matanya berbinar-binar senang. “Alhamdulillah Neng, penglaris”. Subhanallah betapa senangnya aku melihat bapak tua itu tersenyum bahagia sekaligus mensyukuri rizkinya. Betapa indahnya berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Rasanya pagi itu yang serba membosankan berubah menjadi pagi yang indah untukku.

    Astaghfirullaahal’azhim.. Rabb baik sekali memberikan kesempatan kepadaku untuk langsung berkaca pada diriku sendiri. Aku yang lebih beruntung dari Bapak tua itu, yang dapat duduk enak di kantor yang dingin, masih mengeluh atas kejenuhanku. Kalau saja mataku lebih terbuka, banyak orang-orang yang lebih tidak beruntung, tetapi mereka mencari nafkah dengan gembira, mensyukuri rizki yang diberikan Allah kepada mereka, sedikit apapun. Bapak tua itu, contohnya. Mungkin keuntungan dari penjualan makanan kecil yang diasongnya hanya mampu untuk menghidupinya hari itu, untuk esok, beliau harus bergulat dengan kerasnya Jakarta, begitu tiap harinya.

    Ya Allah, semoga Bapak tua dan orang-orang lain yang kurang beruntung diberi keikhlasan dalam menjalani hidup mereka, berikan mereka nikmat syukur dan nikmat rizki-Mu, berikan mereka ketabahan, tunjukkan mereka selalu jalan menuju istiqamah,

    Ya Allah, tolong kabulkan, hanya do’a yang dapat aku berikan untuk menolong mereka.

    ***

    Sumber: email sahabat

     
    • Rham Lee 2:38 pm on 25 Desember 2009 Permalink

      begitulah kehidupan dunia ini yang terkadang kita masih lupa atau khilaf pd diri kita sendiri.sebenarnya manusia itu posisinya sama dihadapan Allah swt.namun rezekilah yang membedakan dan terkadang lupa untuk mensyukurimya.

    • Niecka 2:17 pm on 3 Februari 2010 Permalink

      jujur ketika saya baca ini perasaan saya sedang kalut, tp sesudah itu rasa bersyukur kembali menyeruak sehingga saya menyadari bahwa hidup memang musti bersyukur atas apapun itu….^____^amin.

  • erva kurniawan 9:02 pm on 18 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Si Tukang Kayu 

    tukang kayuSeorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah.Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.

    Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya.Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya.

    Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu.Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya.

    Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.

    Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. “Ini adalah rumahmu,”katanya, “hadiah dari kami.” Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

    Itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik. Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri. Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda. Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan rumah yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun kita hanya hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan kejayaan.

    Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi. Hidup kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini. Hari perhitungan adalah milik Tuhan,bukan kita, karenanya pastikan kita pun akan masuk dalam barisan kemenangan.

    “Hidup adalah proyek yang kau kerjakan sendiri”.

    ***

    Sumber: email sahabat

     
    • faaa 2:30 pm on 31 Desember 2009 Permalink

      Great!
      like this! XD

    • tara 10:43 am on 13 Oktober 2010 Permalink

      keren…..

  • erva kurniawan 8:49 pm on 17 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Jagung 

    jagungSeorang wartawan mewawancarai seorang petani untuk mengetahui rahasia di balik buah jagungnya yang selama bertahun-tahun selalu berhasil memenangkan kontes perlombaan hasil pertanian. Petani itu mengaku ia sama sekali tidak mempunyai rahasia khusus karena ia selalu membagi-bagikan bibit jagung terbaiknya pada tetangga-tetangga di sekitar perkebunannya.

    “Mengapa anda membagi-bagikan bibit jagung terbaik itu pada tetangga-tetangga anda? Bukankah mereka mengikuti kontes ini juga setiap tahunnya?” tanya sang wartawan.

    “Tak tahukah anda?,” jawab petani itu. “Bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari bunga-bunga yang masak dan menebarkannya dari satu ladang ke ladang yang lain. Bila tanaman jagung tetangga saya buruk, maka serbuk sari yang ditebarkan ke ladang saya juga buruk. Ini tentu menurunkan kualitas jagung saya. Bila saya ingin mendapatkan hasil jagung yang baik, saya harus menolong tetangga saya mendapatkan jagung yang baik pula.”

    Begitu pula dengan hidup kita. Mereka yang ingin meraih keberhasilan harus menolong tetangganya menjadi berhasil pula. Mereka yang menginginkan hidup dengan baik harus menolong tetangganya hidup dengan baik pula. Nilai dari hidup kita diukur dari kehidupan-kehidupan yang disentuhnya.

    ***

    Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

     
    • annisa 3:32 pm on 29 Januari 2010 Permalink

      salut… kita harus meningkatkan kualitas hidup sekitar kita..,
      agar hidup kita menjadi ber KUALITAS juga..

  • erva kurniawan 5:05 pm on 16 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Setanpun Terkejut 

    sajadahDengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

    Tazkirah buat semua….

    Ada seorang manusia yang bertemu dengan setan di waktu subuh. Entah bagaimana awalnya, akhirnya mereka berdua sepakat mengikat tali persahabatan. Ketika waktu subuh berakhir dan orang itu tidak mengerjakan solat, maka setan pun sambil tersenyum bergumam, “Orang ini memang boleh menjadi sahabatku..!”

    Begitu juga ketika waktu Zuhur orang ini tidak mengerjakan shalat, setan tersenyum lebar sambil membatin, ” Rupanya inilah bakal teman sejatiku di akhirat nanti..!”

    Ketika waktu ashar hampir habis tetapi temannya itu dilihatnya masih juga asik dengan kegiatannya, setan mulai terdiam……

    Kemudian ketika datang waktunya magrib, temannya itu ternyata tidak shalat juga, maka setan nampak mulai gelisah, senyumnya sudah berubah menjadi kecut. Dari wajahnya nampak bahwa ia seolah-olah sedang mengingat-ngingat sesuatu.

    Dan akhirnya ketika dilihatnya sahabatnya itu tidak juga mengerjakan shalat Isya, maka setan itu sangat panik. Ia rupanya tidak bisa menahan diri lagi, dihampirinya sahabatnya yang manusia itu sambil berkata dengan penuh ketakutan, “Wahai sobat, aku terpaksa memutuskan persahabatan kita !”

    Dengan keheranan manusia ini bertanya, “Kenapa engkau ingkar janji bukankah baru tadi pagi kita berjanji akan menjadi sahabat ?”.

    “Aku takut !”, jawab setan dengan suara gemetar.

    “Nenek moyangku saja yang dulu hanya sekali membangkang pada perintah-Nya, yaitu ketika menolak disuruh sujud pada “Adam”, telah dilaknat-Nya; apalagi engkau yang hari ini saja kusaksikan telah lima kali membangkang untuk bersujud pada-Nya (Sujud pada Allah). Tidak terbayangkan olehku bagaimana besarnya murka Allah kepadamu !”, kata setan sambil beredar pergi.

    ***

    “Sebarkanlah ajaranku walau satu ayat pun”

     
  • erva kurniawan 4:31 pm on 15 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Meninggalkan Yang Haram 

    water_lily02 yellow_Dalam sebuah hadis, diriwayatkan tentang seorang penjahat yang ingin bertaubat. Ia masuk ke masjid. Ketika itu Rasulullah S.A.W sedang mengimamkan solat. Setelah menunaikan solat mereka berbincang-bincang dan penjahat yang ingin bertaubat itu mendengar Rasulullah S.A.W berkata, “Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu yang haram maka akan memperolehnya ketika sudah halal.”

    Setelah Rasulullah S.A.W dan para sahabat meninggalkan masjid, pemuda itu turut meninggalkan masjid. Hatinya masih ragu untuk mengutarakan taubatnya. Namun ucapan Nabi tadi amat terkesan di hatinya.

    Malam pun menjelang. Suasana yang sering menggoda dirinya untuk melakukan keburukan. Tiba-tiba dia berhasrat untuk merompak salah sebuah rumah yang dihuni oleh seorang janda. Ternyata di rumah janda itu terdapat banyak makanan yang enak dan pasti mengundang selera.

    Ketika dia sedang memulai santapannya tiba-tiba dia teringat kata-kata Rasulullah S.A.W siang tadi. Akhirnya dia tak jadi makan. Tatkala beranjak dari bilik ke bilik lain, dia menjumpai perhiasan dan uang yang banyak. Dan ketika dia hendak mengambilnya, sekali lagi dia teringat kata-kata Rasulullah S.A.W. Lalu dia membatalkan niat jahatnya.

    Setelah itu dia masuk pula ke sebuah bilik yang besar. Didapatinya janda mu’minah itu sedang terbaring tidur dengan lelap. Tampak olehnya wajah janda yang cantik dan rupawan itu, dia tergoda dan bermaksud untuk melampiaskan nafsunya. Namun tiba-tiba dia teringat kembali kata- kata Rasulullah S.A.W tadi.. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu yang haram ia akan memperolehi barang tersebut ketika ia sudah halal.

    Akhirnya, sekali lagi dia membatalkan niat jahatnya. Lalu dia pergi meninggalkan rumah itu dengan hati yang lega karena mampu mengalahkan nafsunya.

    Fajar mulai menyingsing. Sang Penjahat tadi pergi menunaikan solat subuh di masjid. Kali ini dia bertekad, dia akan bertaubat di hadapan Rasulullah S.A.W.

    Setelah solat, beliau duduk menyendiri di salah satu sudut masjid, merenung kembali peristiwa yang baru dialaminya malam tadi. Dan menghitung betapa besar dosanya andai perbuatan itu dilakukan.

    Ketika matahari terbit datanglah seorang wanita ke masjid dan menceritakan kepada Rasulullah S.A.W kejadian semalam di rumahnya.

    Walaupun tiada barang yang hilang namun wanita itu khawatir pencuri itu akan datang lagi malam nanti. Wanita itu juga memohon kepada Rasulullah S.A.W agar bersedia mencarikan seorang yang sanggup menjaga rumahnya.

    “Kenapa kau hidup sendirian?” Tanya Rasulullah S.A.W padanya. Wanita itu menjawab bahwa suaminya telah meninggal dunia.

    Rasulullah S.A.W mengarahkan pandangannya kepada seorang yang sedang duduk menyendiri di salah satu sudut masjid. Rasulullah S.A.W bertanya pada lelaki tersebut (penjahat tadi), adakah beliau sudah beristeri?

    Setelah Rasulullah S.A.W mengetahui bahwa lelaki itu ditinggal mati isterinya, maka baginda menawarkannya seorang calon isteri.

    Lelaki itu terdiam begitu juga janda yang mengadu tadi. Mereka sama-sama malu. Tetapi Rasulullah S.A.W yang arif kemudian mengikat kedua insan itu menjadi suami isteri yang sah. Dan.. pecahlah tangis lelaki itu, lalu diceritakannya kepada Rasulullah S.A.W peristiwa yang sebenarnya, dan bahwa pencuri itu tidak lain adalah dirinya sendiri.

    Wanita itu keluar dari masjid dari masjid diiringi lelaki yang kini telah menjadi suaminya. Mereka berjalan beriringan menuju rumah yang malam tadi hampir hendak dijadikan sasaran pencurian olehnya.

    Disana makanan-makanan yang enak masih utuh seperti yang dilihatnya malam tadi. Bedanyasekarang, makanan itu sudah tidak haram lagi. Maka tanpa ragu-ragu makanan itu disantapnya. Uang, emas dan perhiasan yang hendak dicuri, kini sudah menjadi miliknya yang halal.

    Bahkan dia boleh menggunakannya untuk berdagang, tanpa haram sedikitpun.

    Sementara wanita cantik yang hampir dinodainya semalam, kini benar- benar sudah menjadi isterinya. berkat kemampuannya menahan nafsu syaitannya.

    Lelaki itu berbisik sendiri dalam hati, “Benarlah sabda Rasulullah S.A.W, barangsiapa meninggalkan yang haram maka ia akan memperolehinya ketika ia sudah menjadi halal.”

    Demikian indah Islam mengajar arti cinta. Cinta yang tidak diliputi keraguan, cinta yang menimbulkan rasa tenteram, cinta yang menumbuhkan kedamaian, cinta yang menyuburkan keimanan dan ketaqwaan.

    Cinta yang apabila kita meneguknya akan diperolehi kenikmatan yang lebih dalam lagi.

    Marilah kita bertafakur dan menyemai hati kita. Masihkah ada cinta di sana? Sudahkah kita mengemas cinta kita dengan kemasan Cinta Rabbani dan memberi label halal di atasnya? Dan sudahkah kita menyingkirkan cinta syahwat yang akan menjerumuskan kita dalam petaka yang berpanjangan?

    ***

    Oleh: Awang Shamsul Awang Hambali

     
  • erva kurniawan 3:35 pm on 14 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Terima Kasih Tuhan, Telah Mengingatkanku 

    chase plazaSore, pulang kantor, seperti biasa aku menunggu bis didepan Chase Plaza, untuk membawaku pulang, bertemu dengan kedua anak-anakku yang masih berusia 2 tahun dan 9 bulan. Mikhail dan Fara namanya. Cuaca menggerahkan tubuhku.

    Penat seharian kerja, dengan segala masalah yang ada selama bekerja. Sudah seminggu ini aku selalu lupa menanyakan keadaan kedua anakku.

    Entah menanyakan sudah makan siang atau belum, bagaimana keseharian mereka, atau hanya sekedar memainkan telfon untuk mendengarkan suara sang buah hatiku, si sulung Mikhail yang sudah banyak bicara. Bahkan aku juga lupa bahwa saat ini kedua buah hati tercinta sedang sakit flu. Aku terlalu sibuk sehingga sempat melupakan mereka.

    Tapi ah, aku pikir aku meninggalkan buah hati bersama orangtuaku dan pengasuhnya. Jadi, untuk apa aku pusingkan akan hal itu? Jahatkah aku?

    Aku rasa betul, aku jahat. Tapi aku lebih mementingkan pekerjaanku daripada keluargaku.

    Aku termenung. Tadi pagi sebelum berangkat aku lagi-lagi lupa membekalkan suami dengan dua potong roti omelete kesukaannya. Aku juga lupa membekalkan teh hangat manis dimobilnya. Aku sempat merajuk gara-gara suamiku menanyakan sarapan rutinnya untuk dimobil. Aku kan cape Mas, aku kan harus siapkan bekal anak-anak sebelum mereka dititipkan ketempat Oma-nya.

    Aku kan harus selesaikan cucian sebelum aku mandi tadi pagi. Dan sejuta alasanku untuk tidak lagi dibahas masalah sarapan rutin mobil. Dan ini sudah terjadi selama satu minggu pula. Ah, aku juga melupakan kebiasaanku yang disukai suami, ternyata. Bahkan, aku lupa minta maaf dengan kelakuanku seminggu ini.

    Bahkan, akupun lupa Shalat sudah seminggu ini !!! Alangkah ajaibnya diriku. Tapi kurasa Tuhan mengerti. Begitu pikirku selama dikantor. Dan akupun tenggelam dengan pekerjaanku dikantor.

    Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 5.25 sore, langit mendung, dengan udara lembab. Haus. Aku lupa minum sebelum pulang tadi. Mestinya aku sediakan segelas minum untuk bekalku diperjalanan. Aku membutuhkan 2 jam perjalanan dari kantor sampai rumahku di Bintaro. Lagi-lagi, alasan sibuk yang membuatku lupa membawa gelas hijauku yang dulu biasa “tidur” dalam tasku.

    Pada saat itulah mataku tertuju dengan 2 orang kakak beradik, anak pengamen jalanan. Tidak beralas kaki, kotor dan kumuh. Usia mereka sekitar 4 dan 2 tahun. Mataku tertuju dengan sang adik. Wajahnya kuyu.

    Kotor dan diam. Terlihat wajah manisnya walaupun kurasa anak kecil itu tidak pernah mandi. Tidak beralas kaki. Terlihat ada luka ditelapak kakinya yang mungil, semungil telapak kaki buah hatiku Mikhail. Sang adik tertawa saat seorang wanita muda memberikan pecahan Rp. 2000 kepada kakaknya. Alangkah senangnya si kakak.

    Diberikan selembar kepada sang adik, dan sang adikpun menerima dengan hati riang. Dipandangnya uang lembaran Rp. 1000 itu sambil bernyanyi kecil. Ah, dia menyanyikan lagu masa kecilku dulu. Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya. Aku membayangkan buah hatiku Mikhail menyanyikan lagu itu. Pasti tangannya tidak lepas dari pipiku, karena pada bait lagu “dor” buah hatiku selalu memukul pipiku.

    Aku tersenyum pada si kecil. Suaranya. Ya, suaranya masih pula cadel. Tangan kanannya memegang lembaran seribuan, tangan kirinya memegang alat music kecrekan dari tutup botol. Alangkah polos wajahnya. Sang kakak duduk ditrotoar sambil menghalau lalat yang berseliweran dikepala adik.

    Kutahu, pasti dia tidak keramas. Uh, mandi saja mungkin jarang apalagi mencuci rambut?

    Tiba-tiba saja, waktu sudah menunjukkan pukul 5.35 sore. Belum gelap. Tapi aku tak tahu sudah berapa bis jurusanku yang terlewatkan karena kekhusyukanku memandang 2 bocah polos didepanku?. Aku rogoh dompetku.

    Duh, makin menipis. Aku harus beli susu sang buah hatiku yang kecil. Aku juga harus beli alat kosmetikku yang sudah hancur dimainkan anak sulungku.

    Pokoknya aku memang harus beli hari ini. Tapi pemandangan didepanku meluluhkan hatiku. Kuambil selembar duapuluh ribuan dan kuberikan kepada sang kakak. Terkejut, tentu saja. Sang adik tidak kalah terkejut.

    Sambil teriak, sang adik bertanya pada kakaknya: aku bisa makan hari ini ya kak ya.

    Hhh.. aku tersenyum pilu. Begitu bahagianya mereka menerima lembaran dariku. Aku tegur kakaknya “kamu berdua belum makan?” Pertanyaanku dijawab dengan sebuah anggukan kepala yang pelan.

    Saat itu juga aku menitikkan air mata. Aku kasihan sekali. Adiknya tidak memakai celana apapun. Bahkan aku bisa melihat bahwa adiknya seorang perempuan. Beberapa orang yang sedang menunggu bis, menjadikan percakapanku dengan bocah-bocah itu sebagai tontonan mereka. Beberapa ada yang memberikan selembar 5000an. Ah, Jakarta !

    “Kamu mau makan? Mau saya belikan makanan?” Lagi-lagi pertanyaanku dijawab dengan sebuah anggukan kecil. Sang adik tersenyum kepadaku. Ah, polosnya senyuman itu. Tanpa beban. Tanpa arti. Tapi yang kutahu, senyuman itu senyuman bahagia dari kepolosannya. Aku ajak mereka ke sebuah warung nasi Padang didekat Chase Plaza, kantorku. Aku tawarkan makanan sesuka mereka.

    Raut wajah mereka memucat. Aku mengerti, mereka sudah lapar dan dahaga. Kupandangi mereka makan. Duh, lahapnya. Aku sendiri tidak makan seharian tadi, karena lagi-lagi kesibukanku dikantor. Apakah aku sudah sedemikian kuatnya sehingga aku mampu melupakan makan siang, mampu melupakan kewajibanku sebagai istri dan ibu dari 2 orang buah hati terkasih?

    Aku ambil rokok mentholku, dan kuhisap perlahan. Duh, rokok tidak pernah lepas dariku, seakan dialah pasangan hidupku. Kuperhatikan sang adik.

    “Siapa nama kamu?” Jawaban malu-malu keluar dari bibirnya “Ririn, Ibu”. Ah, namanya Ririn. Sebuah nama indah.

    Tapi kenapa nasibnya tidak indah?. Aku melamun. Tiba-tiba saja aku jadi cengeng luar biasa. Airmataku menitik. Duh, sejahat inikah yang namanya Jakarta? Hingga mampu menciptakan dua orang bocah yang sedang makan dihadapanku menjadi pengamen jalanan dengan alat kecrekan seadanya ditengah-tengah gedung tinggi? Bahkan, celana dalampun mereka tidak punya.

    Mungkin punya, tapi cuma beberapa. Aku tidak menanyakan hal itu. Kurasa tidak perlu. Bodohnya aku !.

    “Kamu rumah dimana?” Aku tidak mendapatkan jawaban. Hanya gelengan kepala si kecil. Ah, mereka tidak punya rumah. Rumah mereka di bedeng kardus, dekat stasiun Senen. “Jalan kaki dan numpang bis dari Senen untuk ngamen” kata sang kakak. Aku melamun. Kuhisap rokokku dalam-dalam.

    Rumah kardus? Pengap? Tanpa orang tua? Nyamuk? Penyakit? Kotoran dimana-mana? Adakah yang peduli dengan masa depan Ririn kecil?

    Adakah yang peduli? Kenapa mereka ada di Jakarta? Kenapa bisa bertemu denganku disini?

    Tiba-tiba saja lamunanku buyar. “Ibu, terima kasih kami sudah makan enak”.

    Mataku berkaca-kaca. “Ya, sama-sama. Semoga kamu kenyang dan senang” jawabku berat. Ririn kecil tersenyum. Kurasa ia kekenyangan.

    Keringat didahinya berbicara. Lalu ia mulai memainkan kecrekan gembelnya.

    Bunyinya tidak beraturan. Tidak ada nada sama sekali. Hanya suara cadelnya yang membuatku tersenyum. Aku berkaca-kaca. Senangnya bisa memberikan arti buat mereka. “Ibu, jangan melamun. Aku mau nyanyi buat Ibu”. Ah, menyanyi? Buatku? Apa istimewanya aku?. Aku tertegun.

    Suara cadel itu. Suara polos itu. Mereka menyanyikan sebuah lagu untukku.

    Aku tidak mengerti lagunya. Tapi terdengar indah ditelingaku.

    Ah, aku diberi hadiah: lagu !.

    “Sekarang kamu berdua pulang. Masih ada yang merindukan kamu berdua.

    Ini bekal buat dijalanan”. Aku berikan selembar duapuluh ribuan, seliter air mineral, roti manis dan sandal buat kedua bocah itu. Kebesaran. Tapi tidak apa. Mereka senang sekali memakai sandal baru. Aku pandangi kedua bocah dengan senyum. Mereka berlarian mengejar bis. Entah kemana lagi mereka pergi. Mencari uang lagikah? Atau pulang kerumah kardus mereka di pinggiran stasiun Senen seperti ucapan mereka tadi? Aku terharu, air mataku menetes. Ah Jakarta… jahat sekali kamu.

    Sudah jam 7 lewat 10. Aku pasti terlambat sekali sampai rumah ibuku.

    Aku harus menjemput buah hatiku dan setelah itu pulang kerumahku. Aku duduk dalam bis. Terdiam. Aku lagi-lagi meneteskan airmata. Apakah aku ditegur Tuhan? Apakah aku disentil olehNya? Mata polos itu. Mata polos itu menegurku, Tuhan.

    Aku lupa bersyukur dengan apa yang telah diberikanNya untukku. Aku lupa dengan anak-anakku. Aku lupa dengan suami dan tanggung jawabku sebagai ibu dan istri. Mata Ririn kecil menusukku tajam. Aku ditegur olehnya. Oleh mata kecil polos tanpa duka itu.

    Fara kecil tertidur dipangkuanku. Mikhail, buah hatiku yang sulung dengan mesra memainkan rambut Papanya. “Papa, hari ini aku sudah bisa belajar mewarnai. Hari ini aku tadi makannya banyak. Aku tadi mau minum obat.

    Aku hari ini jadi anak Papa yang pintar”. Celotehannya yang cadel membuatku tersenyum berkaca-kaca. “Mikhail enggak mau cerita dengan Mama?” tanyaku.

    “Mikhail enggak mau cerita dengan Mama. Mama kan mama yang sibuk”.

    Bahkan si sulungpun kini sudah mulai menjauh dariku. Dia malah lebih sayang dengan Papanya. Suamiku. Duh, rasanya seperti tertusuk jarum. Sakit. Tapi aku diam. Ini memang semua salahku.

    Tertidur. Mikhail dan Fara tertidur sudah. Tanggapan akan ceritaku dari suami, hanya tersenyum. Bijaksana sekali. “Itulah teguran Allah untukmu.

    Maka bersujudlah. Mohon ampun padaNya”. Malam itu juga aku Shalat. Memohon ampun pada yang Kuasa atas kemalasanku sebagai Ibu. Mohon ampun telah melupakanNya.

    Kupandang kedua wajah polos buah hatiku tercinta. Pulas. Tampak genangan liur dibantal mereka. Fara tersenyum. Buah hati kecilku itu kalau tidur memang suka tersenyum kecil. Sayangnya Mama…

    Setetes air mata kembali mengalir dipipiku. Entah siapa kedua bocah yang kutemui sore tadi sepulang kantor, entah siapa Ririn kecil yang memandangku polos, entah siapa yang telah menyanyikan sebuah lagu untukku disebuah warung nasi. Yang aku tahu, mata lugu itu telah menegurku dengan sangat tajam. Terima kasih Allah, telah mengirimkan dua bocah kecil, miskin tiada arti, untuk merubah hidupku. Mungkinkah mereka Engkau kirim untukku?

    ***

    Jakarta, dari seorang Ibu.

     
    • syam 2:48 am on 21 Desember 2009 Permalink

      kita sering lupa bersyukur .. lebih sering mengeluh kurang ini dan itu…

    • Putra Nasda 4:08 pm on 2 Januari 2010 Permalink

      Wah, bagus banget, itu pengalaman spiritual very nice : semua manusia di beri dan di tegur dengan cara masing2. Jika radar hati kita tida hidup saat itu, kesempatan itu akan jadi biasa yang terlewatkan, So, kita lihat lingkungan kita dengan radar hati.

  • erva kurniawan 1:45 pm on 13 December 2009 Permalink | Balas  

    Pernahkah Kita Memikirkannya? 

    laut-11“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. Ali Imran 3:190-191)

    Coba perhatikan dirimu, wahai sahabatku ! Rupa wajahmu, mata indahmu, senyum manismu, Subhanallah.. Adakah insan yang sama sepertimu di belahan dunia ini ? Baik rupa, sifat maupun wataknya ? Tidak ada, bukan ?! Yach..tidak ada seorangpun yang sama sepertimu, walau dirimu kembar sekalipun ! Dari sekian banyak manusia, dari sekian triliun jiwa Pernahkah engkau temui ada yang sama satu dengan lainnya ? Tidak ada bukan ?! Apa yang terlintas di pikiranmu ? Allah !

    Yach..Maha Besar Allah.. Betapa Maha Kaya_Nya Dia.. Tak seorangpun yang patut dipuji selain Diri_Nya..! Tidak ada sedikitpun yang pantas kita sombongkan atas diri kita, Begitupun terhadap makhluk-makhluk_Nya. Subhanallah..walhamdulillah..walaa ilaa hailallah..wallaahu akbar..!

    Kita ini dulu hanyalah dari setetes air mani yang hina, menjadi segumpal darah, kemudian menjadi segumpal daging, tulang, kemudian dibalut dengan kulit, sehingga jadilah kita, manusia, makhluk yang amat sempurna penciptaan_Nya. Betapa kita harus bersyukur, bukan ? Apa yang terucap di bibirmu ? Allah !

    Diri kita hanyalah satu dari sekian banyak makhluk yang Ia ciptakan, sahabatku.. Keciiil, tiada artinyanya sama sekali dibandingkan dengan penciptaan langit dan bumi ini ! Pernahkah kita memikirkannya ?

    Allah menundukkan matahari dan bulan untuk kita, Matahari bersinar, bulan bercahaya.. Tidak mungkin bagi matahari mengejar bulan, dan malam mendahului siang Masing-masing beredar menurut garis edarnya. Pernahkah kita memikirkannya ?..

    Allah menghamparkan bumi dan meletakkan gunung-gunung yang kokoh, dan menumbuhkan tumbuhan darinya segala macam jenis tanaman yang indah dipandang mata. Pernahkah kita memikirkannya?

    Allah menurunkan air dari langit yang banyak manfaatnya, lalu menumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-bijian yang sebagian ada yang kita makan. Pernahkah kita memikirkannya ?

    Allah memberi kita minum dari apa yang berada dalam perut binatang ternak berupa susu yang bersih antara tahi dan darah, yang enak ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. Pernahkah kita memikirkannya ?

    Allah menundukkan langit dan dunia ini untuk kita, Langit sebagai atap, Bumi tempat menetap Pernahkah kita memikirkannya ? Semuanya patuh pada apa yang diperintahkan Allah kapadanya untuk melayani kita. Pernahkah kita memikirkannya ?

    Pernahkah terpikir jika semua itu tidak ditundukkan Allah untuk kita, alamat dunia ini akan hancur ? Dapatkah kita bayangkan apa yang akan terjadi ? Pernahkah terpikir oleh kita, jika Allah lelah ataupun lengah sesaat, maka seluruh yang ada di jagat raya ini akan binasa ?!

    Adakah orang yang mengetahui dengan tidak mengetahui ?

    Adakah sama yang buta dengan yang melihat ?

    Fenomena alam ini menunjukkan betapa Kuasa-Nya Allah akan segala sesuatu. Kelak suatu saat nanti langit itu akan pecah berderai. Kelak suatu hari nanti bumi itu akan terbelah-belah mengeluarkan apa yang dikandungnya. Tidak takutkah kita ?, Tidak tergetarkah Qalbu dan jiwa kita ? Tidak bertambahkan keimanan, kecintaan serta kerinduan kita pada_Nya ?

    Tanpa kita sadari, silih bergantinya siang dan malam dari detik menit kehidupan ini menyadarkan kita. Baru saja kita lahir menjadi seorang bayi mungil, tahu-tahu sudah sebesar ini. Baru saja kita merasa tentram berdekatan dengan orang-orang yang kita sayang, tahu-tahu mereka telah pergi meninggalkan kita. Baru saja kita tertidur dan terjaga, kemudian ? Kita dapati tubuh ini sudah tua, tenaga sudah mulai berkurang, rambut sudah mulai beruban, mata sudah mulai rabun..dan..??? Siap-siap untuk pulang, kembali kepada siapa Yang Menciptakan kita. Tidakkah kita merindukan_Nya? Pernahkah kita memikirkannya ?..

    Pada suatu hari diwaktu shubuh, Setelah mengumandangkan azan di Masjid Madinah, lama Bilal menanti kehadiran Rasulullah keluar dari peraduannya untuk shalat berjamaah, namun Rasul belum juga muncul. Karena itu, pergilah Bilal menemuinya, antara perasaan cemas kalau-kalau Rasul yang amat dicintainya jatuh sakit.

    Sesudah minta izin kepada Siti Aisyah, Bilal segera menuju ke kamar tidur Rasulullah. Ketika sampai dimuka pintu, Bilal melihat ke dalam, kamar yang sederhana tanpa ada kasur tebal seperti kasur kita di sini, tidak ada bantal bersulam yang indah melainkan hanya seonggok rumput kering di sudut, itulah kekayaan Rasul kita, sebagai Pemimpin Dunia yang telah menggerakkan revolusi yang paling berhasil dalam sejarah kemanusiaan selama dunia berkembang.

    Didapatinya Nabi kita Saw sedang duduk di atas sajadah menghadap Qiblat, menangis tersedu-sedu. Bertanya Bilal, “Ya Nabiyallah, apakah gerangan yang menyebabkan dikau menangis? Padahal kalau ada juapun kesalahanmu, baik dahulu ataupun nanti, akan diampuni oleh Allah”.

    Kemudian Rasulullah menjawab, “Wahai Bilal, tengah malam telah datang Jibril membawa wahyu kepadaku dari Allah Swt, demikian bunyinya. “ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran 3:190-191)

    Sengsara hai Bilal! Ujar Nabi selanjutnya, bagi orang yang membaca akan ayat ini lalu tidak difikirkannya. Apa maksud Rasulullah Saw tersebut, wahai sahabatku ? Firman Allah dalam QS. Ali Imran 3 : 190-191 di atas dan ungkapan Nabi tersebut mengandung makna yang dalam bagi kita untuk senantiasa merenung dan memikirkan Fenomena alam yang ada di sekeliling kita.

    Jiwa yang suci bersih dapatlah mendengar dan melihat indahnya alam ini. Disana terdapat tiga sifat Tuhan, yaitu Jamal (indah), Jalal (agung), dan Kamal (sempurna). Semua yang ada ini adalah dinding pembatas kita dengan Dia. Tetapi bilamana kita berusaha menembusnya (dengan sekuat jiwa) insya Allah, dengan penglihatan ruhani yang bersih, niscahya terbukalah hijab itu. Hanya mata yang lahir ini saja yang melihat batas itu, melihat berbagai fenomena alam Gunung menjulang tinggi, deburan ombak, awan berarak, kembang bermekaran. Adapun mata ruhani mulailah menembus dinding itu. Bukan dinding lagi yang kelihatan, tetapi pencipta dari semuanya itu, “Allah”.

    “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.

    ***

     
    • jannahsaid 9:39 pm on 19 Desember 2009 Permalink

      saya telah copy dan paste hasil nukilan blog awak ni di blog sy, harap awk tidak marah.sy harap ia boleh di kngsi bersam2 teman2 yang lain. njannah89.blogspot.com

    • zilmita. S 10:03 am on 9 Juli 2010 Permalink

      boleh copy paste y..

  • erva kurniawan 1:32 pm on 12 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Lutut dan Kewajiban Untuk Sujud 

    ayam mengerameramuslim – Sesungguhnya penciptaan makhluk -termasuk di dalamnya manusia -selalu sesuai dengan kapasitas tugas dan kewajibannya. Itulah yang saya tangkap dari mutiara ceramah Bapak F.X. Rusharyanto di Yogya beberapa tahun yang lalu.

    Terus terang saja, itu untuk pertama kalinya saya tersedak; antara terharu, tersenyum, dan termenung. Keterpakuan yang membuat kalimat-kalimat beliau terasa terus berngiang-ngiang di telinga saya.

    “Saya mendapatkan hidayah dan masuk Islam,” katanya, “lewat mimpi.”

    Waktu itu, saya tak begitu respek. Entahlah, saya selalu berpendapat dangkal pada orang-orang yang masuk Islam lewat mimpi; bertemu (katanya) Rasulullah, orang berjubah putih, dan pengalaman-pengalaman supranatural lainnya. Tentu saja -menurut saya– hal ini tidak realistis. Saya pikir, saat seseorang menentukan langkahnya, haruslah berproses dalam pemikiran yang ilmiah.

    Tetangga saya masuk Islam gara-gara (katanya) mimpi bertemu Sunan Kalijaga. Hanya sebegitu saja. Bertemu thok. Boro-boro kalau sempat berkenalan atau bertukar alamat, berjabat tangan, apalagi ngobrol. Cuma bertemu sebentar. Katanya, Sunan Kalijaga mengenakan jubah warna hijau kesukaan beliau dan sedang berjalan entah ke mana. Paginya, dia masuk Islam.

    Alangkah mudahnya berganti akidah. Kalau dipikir, apa korelasi antara bertemu Sunan Kalijaga dengan memeluk agama Islam? Toh, zaman dulu banyak orang yang bertemu Sunan Kalijaga -malah -secara wadag.

    Beruntung saat itu dia mimpi bertemu Sunan Kalijaga. Bagaimana kalau dia bertemu Hitler… atau Syeikh Siti Jenar? Wheladalah… bagaimana kalau dia bertemu dengan Dewa Wisnu yang -walaupun kulitnya hitam arang- namun gantengnya ngudubilah setan itu? Kalau besok dia ngelindur ketemu Dewi Kwan Im, jangan-jangan terus memeluk Konghucu, atau lebih parah, menjadi pengikut Sun Go Kong.

    Kalau seseorang memutuskan memeluk Islam setelah pergulatan pikiran, nimbang-nimbang, mencari kebenaran… dan seterusnya yang akhirnya membawanya pada pemahaman yang proporsional sekaligus mantap, maka -menurut saya -keislamannya tidak perlu disangsikan. Saya acung jempol untuk orang-orang semacam itu.

    Apa istimewanya mimpi? Dijadikan patokan beli nomor buntut saja masih suka ngaco, apalagi untuk urusan besar yang berkait langsung dengan akhirat. Lha kok…. Karenanya, saya selalu memandang remeh ‘dalam tanda kutip’ untuk orang-orang seperti ini. Tapi, saya juga tidak ngoyoworo. Contoh gampang saja, tetangga saya yang mimpi bertemu Sunan Kalijaga itu nyatanya sampai sekarang -walaupun Islam -tidak shalat. Kalau shalat tarawih sih iya, grubyag-grubyug pas malam bulan Ramadhan. Mungkin karena lingsem atau bagaimana, yang jelas, hidungnya sering nampang di masjid kalau bulan Ramadhan.

    Saya tidak mengatakan bahwa agama terbebas dari hal-hal irrasional semacam itu. Toh, takdir dan rezeki adalah sesuatu yang tak bisa diterjemahkan secara letterlijk. Ruh, malaikat, jin… adalah mata pelajaran nonwadag dalam kerangka kegaiban yang menjadi komponen kelengkapan iman. Tapi bukan dalam arti juga agama adalah sesuatu yang mutlak irrasional. Semuanya mesti ada dimensi-dimensinya. Cuma, kok ya masih susah juga saya memaklumi orang yang masuk Islam karena ketemu orang berjubah putih dan memakai sorban.

    Kembali pada materi ceramah Ustadz tadi. Singkat cerita, setiba beliau pada kalimat yang menyatakan proses masuk Islamnya, saya langsung melengos merasa tak begitu tertarik. Seperti saya katakan tadi, apa korelasi antara mimpi bertemu bertemu Sunan Kalijaga dengan masuk Islam?

    Ooo… tapi tidak. Dalam ceramah yang saya ikuti dengan ogah-ogahan itu, ternyata akhirnya saya harus tertohok pada pengembaraan pemikiran yang menembus sisi-sisi ruhiyah saya. Dengarlah, mimpi apa yang begitu dahsyat telah mengubah kemudi seorang F.X. Rusharyanto ini.

    “Saya mimpi bertemu ayam,” katanya.

    Ayam? Benar-benar ayam? Kok, bukan Sunan siapa gitu atau kalau berani lebih heboh, ketemu Rasulullah. Ayam sehebat apa yang bisa membuat beliau masuk Islam?

    “Benar-benar ayam,” lanjutnya. “Jangan dulu tertawa dengan mimpi saya yang aneh. Benar, ayam. Saya tidak bermimpi bertemu dengan Rasulullah, orang berjubah putih, atau gadis cantik yang pakai jilbab.”

    Lantas, apa istimewanya ayam ini? Masih mendingan kalau mimpinya ketemu gadis memakai kerudung seperti yang suka dipajang pada bandrol jilbab.

    “Ayam ini bisa ngomong.”

    Ooo… bisa ngomong. Kayak film kartun, dooong? Terus, apa kaitannya dengan Islam?

    “Ayam itu berkata pada saya, ‘bacalah ayat-ayat Tuhan yang ada pada lututmu.”

    Entahlah, mungkin karena agak-agak seperti dongeng fabel ini, maka saya menjadi tertarik.

    “Lutut?” lanjut sang Ustadz. “Tidak ada ayat apa pun dalam lutut saya,” begitu bantah saya pada si ayam. Lantas, ayam itu melanjutkan kalimatnya, “Tidakkah kauperhatikan perbedaan antara lutut ayam dan lutut manusia? Perhatikanlah wahai manusia dan bacalah. Tempurung lutut kalian diciptakan Tuhan dan diletakkan di depan, berbeda dengan lutut ayam yang diletakkan di belakang. Itu disebabkan kalian tidak diperintah Tuhan untuk mengeram. Ayam diperintahkan untuk mengeram sehingga tubuhnya disempurnakan untuk melaksanakan tugas itu”’

    Cukup lama saya memikirkan kalimat ayam itu sebelum kemudian saya bertanya, “Lantas, apa yang diperintahkan pada manusia yang memiliki lutut di depan?”

    Nah, ini yang membuat saya mulai tertarik. Kenapa? Lantas apa jawaban si ayam?

    “Ayam itu,” lanjut beliau, “mengatakan kepada manusia, “Tuhan memerintahkan untuk rukuk dan sujud. Itulah kenapa lutut kalian diletakkan di depan, bentuk kesempurnaan penciptaan di mana susunan yang demikian adalah untuk melaksanakan perintah rukuk dan sujud.”

    Subhanallah… betapa saya selama ini tak pernah membaca ayat yang begini indah. Lantas, berapa banyak lagi ayat yang belum dan tidak terbaca oleh pikiran saya yang lemah ini?

    Sungguh, ilmu dan ayat Allah tak akan selesai ditulis kendati laut diubah menjadi tinta dan digunakan untuk menulisnya, bahkan jika didatangkan satu laut lagi sebagai tinta, dan satu laut lagi sebagai tinta, dan….

    Allah, pandang-Mu sajalah pandang yang tak terhalang. Ilmu-Mu saja ilmu yang tak berujung. Setiap yang didapati pada manusia, hanyalah sepersekian debu-Mu. Ampunilah kesombongan dan kelemahan kami. Amin.

    ***

     
    • Rham Lee 2:48 pm on 25 Desember 2009 Permalink

      perbedaan antara manusia dengan ayam kalau JONGKOK, manusia lututnya kedepan,sedangkan kalau ayam,lututnya kebelakang.
      SUBHANALLAH.maha suci ALlah SWT.menciptakan makhluknya tentu ada suatu hikmah dan pelajaran yang sangat berarti bagi kita.belum lagi dengan Fenomena2 yang lain,yang mungkin pula menjadi pelajaran bagi kita.

    • annisa 3:03 pm on 26 Januari 2010 Permalink

      Subhanallah.. yang jelas manusia dibentuk Allah dgn bentuk yang paling sempurna.., ya.. Allah jagalah kami untuk selalu mengingat-Mu, amiin…3x

  • erva kurniawan 1:16 pm on 11 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Tukang Cukur 

    tukang cukurSeperti biasanya, seorang laki-laki, sebut saja Fulan, datang ke sebuah salon untuk memotong rambut dan jenggotnya. Ia pun memulai pembicaraan yang hangat dengan tukang cukur yang melayaninya. Berbagai macam topik pun akhirnya jadi pilihan, hingga akhirnya Tuhan jadi subyek pembicaraan.

    “Hai Tuan, saya ini tidak percaya kalau Tuhan itu ada seperti yang anda katakan tadi,” ujar si tukang cukur

    Mendengar ungkapan itu, Fulan terkejut dan bertanya, “Mengapa anda berkata demikian?”.

    “Mudah saja, anda tinggal menengok ke luar jendela itu dan sadarlah bahwa Tuhan itu memang tidak ada. Tolong jelaskan pada saya, jika Tuhan itu ada, mengapa banyak orang yang sakit? mengapa banyak anak yang terlantar?. Jika Tuhan itu ada, tentu tidak ada sakit dan penderitaan. Tuhan apa yang mengijinkan semua itu terjadi…” ungkapnya dengan nada yang tinggi.

    Fulan pun berpikir tentang apa yang baru saja dikatakan sang tukang cukur. Namun, ia sama sekali tidak memberi respon agar argumen tersebut tidak lebih meluas lagi.

    Ketika sang tukang cukur selesai melakukan pekerjaannya, Fulan pun Berjalan keluar dari salon. Baru beberapa langkah, ia berpapasan dengan seorang laki-laki berambut panjang dan jenggotnya pun lebat. Sepertinya ia sudah lama tidak pergi ke tukang cukur dan itu membuatnya terlihat tidak rapi.

    Fulan kembali masuk ke dalam salon dan kemudian berkata pada sang tukang cukur, “Tukang cukur itu tidak ada!”…

    Sang tukang cukur pun terkejut dengan perkataan Fulan tersebut. “Bagaimana mungkin mereka tidak ada? Buktinya adalah saya. Saya ada di sini dan saya adalah seorang tukang cukur,” sanggahnya.

    Fulan kembali berkata tegas, “Tidak, mereka tidak ada, kalau mereka ada, tidak mungkin ada orang yang berambut panjang dan berjenggot lebat seperti contohnya pria di luar itu.”

    “Ah, anda bisa saja…Tukang cukur itu selalu ada di mana-mana. Yang terjadi pada pria itu adalah bahwa dia tidak mau datang ke salon saya untuk dicukur,” jawabnya tenang sambil tersenyum.

    “Tepat!” tegas Fulan. “Itulah poinnya. Tuhan itu ada. Yang terjadi pada umat manusia itu adalah karena mereka tidak mau datang mencari dan menemui-Nya. Itulah sebabnya mengapa tampak begitu banyak penderitaan di seluruh dunia ini….”

    ***

    Sumber: Unknown

     
  • erva kurniawan 12:56 pm on 10 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: istri nabi muhammad, istri rasul   

    Siapa Saja Istri Nabi dan Mengapa Dinikahi? 

    muhammadBismillahirrahmanirrahiem. Alhamdulillahi Rabbil `Alamin. Wash-shalatu Was-Salamu `alaa Sayyidil Mursalin. Wa ba`d,

    Dalam catatan sirah nabawiyah, ada sebelas orang wanita yang dinikahi oleh Rasulullah SAW, dua di antara mereka meninggal ketika Rasulullah SAW masih hidup sedangkan sisanya meninggal setelah beliau wafat. Nama-nama isteri beliau adalah:

    1. Khodijah binti Khuwailid RA, ia dinikahi oleh Rasulullah SAW di Mekkah ketika usia beliau 25 tahun dan Khodijah 40 tahun. Dari pernikahnnya dengan Khodijah Rasulullah SAW memiliki sejumlah anak laki-laki dan perempuan. Akan tetapi semua anak laki-laki beliau meninggal. Sedangkan yang anak-anak perempuan beliau adalah: Zainab, Ruqoyyah, Ummu Kultsum dan Fatimah. Rasulullah SAW tidak menikah dengan wanita lain selama Khodijah masih hidup.

    2. Saudah binti Zam’ah RA, dinikahi oleh Rasulullah SAW pada bulan Syawwal tahun kesepuluh dari kenabian beberapa hari setelah wafatnya Khodijah. Ia adalah seorang janda yang ditinggal mati oleh suaminya yang bernama As-Sakron bin Amr.

    3. Aisyah binti Abu Bakar RA, dinikahi oleh Rasulullah SAW bulan Syawal tahun kesebelas dari kenabian, setahun setelah beliau menikahi Saudah atau dua tahun dan lima bulan sebelum Hijrah. Ia dinikahi ketika berusia 6 tahun dan tinggal serumah di bulan Syawwal 6 bulan setelah hijrah pada saat usia beliau 9 tahun. Ia adalah seorang gadis dan Rasulullah SAW tidak pernah menikahi seorang gadis selain Aisyah.

    Dengan menikahi Aisyah, maka hubungan beliau dengan Abu Bakar menjadi sangat kuat dan mereka memiliki ikatan emosional yang khusus. Posisi Abu Bakar sendiri sangat pending dalam dakwah Rasulullah SAW baik selama beliau masih hidup dan setelah wafat. Abu Bakar adalah khalifah Rasulullah yang pertama yang di bawahnya semua bentuk perpecahan menjadi sirna.

    Selain itu Aisyah ra adalah sosok wanita yang cerdas dan memiliki ilmu yang sangat tinggi dimana begitu banyak ajaran Islam terutama masalah rumah tangga dan urusan wanita yang sumbernya berasal dari sosok ibunda muslimin ini.

    4. Hafsoh binti Umar bin Al-Khotob RA, beliau ditinggal mati oleh suaminya Khunais bin Hudzafah As-Sahmi, kemudian dinikahi oleh Rasulullah SAW pada tahun ketiga Hijriyah. Beliau menikahinya untuk menghormati bapaknya Umar bin Al-Khotob.

    Dengan menikahi hafshah putri Umar, maka hubungan emosional antara Rasulullah SAW dengan Umar menjadi sedemikian akrab, kuat dan tak tergoyahkan. Tidak heran karena Umar memiliki pernanan sangant penting dalam dakwah baik ketika fajar Islam baru mulai merekah maupun saat perluasan Islam ke tiga peradaban besar dunia. Di tangan Umar, Islam berhasil membuktikan hampir semua kabar gembira di masa Rasulullah SAW bahwa Islam akan mengalahkan semua agama di dunia.

    5. Zainab binti Khuzaimah RA, dari Bani Hilal bin Amir bin Sho’sho’ah dan dikenal sebagai Ummul Masakin karena ia sangat menyayangi mereka. Sebelumnya ia bersuamikan Abdulloh bin Jahsy akan tetapi suaminya syahid di Uhud, kemudian Rasulullah SAW menikahinya pada tahun keempat Hijriyyah. Ia meninggal dua atau tiga bulan setelah pernikahannya dengan Rasulullah SAW .

    6. Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah RA, sebelumnya menikah dengan Abu salamah, akan tetapi suaminya tersebut meninggal di bulan Jumada Akhir tahun 4 Hijriyah dengan menngalkan dua anak laki-laki dan dua anak perempuan. Ia dinikahi oleh Rasulullah SAW pada bulan Syawwal di tahun yang sama.

    Alasan beliau menikahinya adalah untuk menghormati Ummu Salamah dan memelihara anak-anak yatim tersebut.

    7. Zainab binti Jahsyi bin Royab RA, dari Bani Asad bin Khuzaimah dan merupakan puteri bibi Rasulullah SAW. Sebelumnya ia menikahi dengan Zaid bin Harits kemudian diceraikan oleh suaminya tersebut. Ia dinikahi oleh Rasulullah SAW di bulan Dzul Qo’dah tahun kelima dari Hijrah.

    Pernikahan tersebut adalah atas perintah Alloh SWT untuk menghapus kebiasaan Jahiliyah dalam hal pengangkatan anak dan juga menghapus segala konskuensi pengangkatan anak tersebut.

    8. Juwairiyah binti Al-Harits RA, pemimpin Bani Mustholiq dari Khuza’ah. Ia merupakan tawanan perang yang sahamnya dimiliki oleh Tsabit bin Qais bin Syimas, kemudian ditebus oleh Rasulullah SAW dan dinikahi oleh beliau pada bulan Sya’ban tahun ke 6 Hijrah.

    Alasan beliau menikahinya adalah untuk menghormatinya dan meraih simpati dari kabilhnya (karena ia adalah anak pemimpin kabilah tersebut) dan membebaskan tawanan perang.

    9. Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan RA, sebelumnya ia dinikahi oleh Ubaidillah bin Jahsy dan hijrah bersamanya ke Habsyah. Suaminya tersebut murtad dan menjadi nashroni dan meninggal di sana. Ummu Habibbah tetap istiqomah terhadap agamanya. Ketika Rasulullah SAW mengirim Amr bin Umayyah Adh-Dhomari untuk menyampaikan surat kepada raja Najasy pada bulan Muharrom tahun 7 Hijrah. Nabi mengkhitbah Ummu Habibah melalu raja tersebut dan dinikahkan serta dipulangkan kembali ke Madinah bersama Surahbil bin Hasanah.

    Sehingga alasan yang paling kuat adalah untuk menghibur beliau dan memberikan sosok pengganti yang lebih baik baginya. Serta penghargaan kepada mereka yang hijrah ke Habasyah karena mereka sebelumnya telah mengalami siksaan dan tekanan yang berat di Mekkah.

    10. Shofiyyah binti Huyay bin Akhtob RA, dari Bani Israel, ia merupakan tawan perang Khoibar lalu Rasulullah SAW memilihnya dan dimeredekakan serta dinikahinya setelah menaklukan Khoibar tahun 7 Hijriyyah.

    Pernikahan tersebut bertujuan untuk menjaga kedudukan beliau sebagai anak dari pemuka kabilah.

    11. Maimunah binti Al- Harits RA, saudarinya Ummu Al-Fadhl Lubabah binti Al-Harits. Ia adalah seorang janda yang sudah berusia lanjut, dinikahi di bulan Dzul Qa’dah tahun 7 Hijrah pada saat melaksanakan Umroh Qadho.

    Dari kesemua wanita yang dinikahi Rasulullah SAW, tak satupun dari mereka yang melahirkan anak hasil perkawinan mereka dengan Rasulullah SAW, kecuali Khadijatul Kubra seperti yang disebutkan di atas. Namun Rasulullah SAW pernah memiliki anak laki-laki selain dari Khadijah yaitu dari seorang budak wanita yang bernama Mariah Al-Qibthiyah yang merupakan hadiah dari Muqauqis pembesar Mesir. Anak itu bernama Ibrahim namun meninggal saat masih kecil.

    Demikianlah sekelumit data singkat para istri Rasulullah SAW yang mulia, dimana secara khusus Rasulullah SAW diizinkan mengawini mereka dan jumlah mereka lebih dari 4 orang, batas maksimal poligami dalam Islam.

    Dari kesemuanya itu, umumnya Rasulullah SAW menikahi mereka karena pertimbangan kemanusiaan dan kelancaran urusan dakwah.

    Selain itu ada hikmah yang sangat mendalam di masa kini yaitu semakin banyaknya sumber-sumber ajaran Islam terutama yang berkaitan dengan fiqih wanita, karena memang dari sanalah umumnya pelajaran Rasulullah SAW tentang wanita itu berasal. Seandainya Rasulullah SAW hanya beristrikan satu orang saja, maka kajian fiqih wanita sekarang ini akan menjadi sangat sempit karena sumbernya terbatas hanya dari satu orang.

    Namun alhamdulillah atas tadbir ilahi, dengan beristri sampai 11 orang, maka sumber itu menjadi cukup banyak. Dan purnalah Islam sebagai agama yang syamil mutakamil.

    Sedangkan tuduhan non muslim bahwa Rasulullah SAW adalah tukang kawin dan kemaruk dengan wanita adalah tuduhan yang sangat menjijikkan sekaligus menyesatkan, karena semuanya hanya dipenuhi dengan kebencian, kedegilan dan kebodohan yang akut serta mencerminkan penuduhnya sebagai tipe mengamat amatiran yang tidak pernah lengkap membaca sirah nabawiyah dengan sumber yang otentik. Semoga Allah menghancurkan angkara murka musuh-musuhnya dan menghinakan orang-orang yang menghina nabi-Nya di dunia ini dan di akhirat kelak, Amien Ya Rabbal `Alamien.

    Wallahu A`lam Bish-Showab,

    ***

     
    • hasan 10:19 pm on 2 Januari 2010 Permalink

      khodijah adalah wanita yang sangat berpengaruh thd kehidupan Mohammad, shg Mohammad tidak berani main-main dg-nya, maka sepeninggal khodijah Mohamad baru cari wanita yang lebih muda. kan wajar tidak berlebih, karena punya kuasa dan kedudukan.

    • hamba ALLAH 8:48 am on 9 Juli 2010 Permalink

      semua adalah rencana ALLAH SWT untuk kebesaran islam di muka bumi

    • auliyya 7:55 pm on 28 Oktober 2010 Permalink

      Maria Al Qibtiya?

    • ridho 3:43 am on 17 Januari 2013 Permalink

      sholallohu ala muhammad.

    • damar 12:04 am on 20 Juni 2013 Permalink

      apakahy ini benar? kenapa ustad klo lg ceramah mengatakan istri nabi cuma 4?

  • erva kurniawan 12:38 pm on 9 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Maafkan Saya Tuhan 

    tukang-bakso“Mas Ento”, biasa saya menyebutnya. Seorang lelaki yang tidak lagi muda, penjual bakso keliling di tempat saya. Keriput kulit begitu nyata terukir di wajah legam tanpa ekspresinya. Sebenarnya baksonya tidak seenak 2 penjual bakso rivalnya, itulah mengapa jarang sekali pembeli menghentikannya. Sering saya melihatnya termenung sendiri dibawah pohon jambu dekat lapangan tempat anak-anak bermain. Setiap rivalnya datang, dia bergegas seperti ketakutan membawa dagangannya yang tanpa roda itu pergi. Saya pernah bertanya tentang hal ini kepadanya, namun seperti biasanya dia diam dan beralih menanyakan berapa porsi bakso yang ingin saya beli.

    Akhirnya saya mendapatkan jawabannya sendiri. Saya sangat faham, pias wajah ketakutan yang membayang ketika rivalnya datang. Saat itu, di tempat sepi saya menyaksikan rivalnya melakukan sebuah hal yang sungguh tidak dapat saya fahami. Mangkuk-mangkuk bakso milik mas Ento menjadi terserak dijalanan, belum lagi botol-botol itu, bulatan-bulatan bakso terhambur dari tempatnya. Kuahnya tumpah mengenai kakinya yang tak lagi sempurna berjalan. Tanpa beban, sang rival melenggang pergi meninggalinya banyak kepedihan. Ingin sekali saya meneriakinya “kurang ajar”, tetapi melihat sosoknya yang besar membuat saya hanya mematung, meski hati saya ribut tidak karuan.

    Setiap teringat mas Ento, saya pasti berguman dengan ungkapan yang saya adopsi dari sebuah puisi “Maafkan saya Tuhan, di depan saya ada orang yang di zalimi tetapi saya tidak menolongnya”.

    ***

    Suatu saat menjelang siang, seorang bocah kecil pengamen, berdiri di dalam bis menghadap para penumpang. Suara paraunya menggema di bis yang akan membawa saya ke terminal Leuwi Panjang, Bandung. Beberapa lagu diperdengarkannya kepada kami. Saya memandangnya sayang, tangannya hanya satu yang sempurna, tangan sebelah kiri buntung sampai sikut. Mungkin karena itulah hampir semua penumpang memasukkan uang ke dalam bekas bungkus kemasan aqua gelas yang diedarkannya. Saya yang duduk dibelakang dapat menyaksikan binar mata kegembiraan sang bocah yang mengaso dekat pintu.

    Bis sudah masuk terminal, penumpang telah banyak turun. Si kondektur menyeret bocah tadi hampir tepat di hadapan saya. “Sini!!” bentak lelaki bertopi itu, tangannya meraih paksa tempat uang si bocah. Dengan tersenyum dia menghitung, dan tanpa beban dia mengembalikan wadah kosong ke tangan sang bocah. Dan lagi-lagi saya tidak berbuat apa-apa. Saya hanya diam, meski hati ini juga ribut tak karuan. Saya menatap wajah pasrah itu. “Ngga apa-apa, sudah biasa”. Itu yang diucapkan si bocah sebelum pergi.

    Jika sudah begitu, tak ada yang dapat menentramkan hati kecuali sebuah doa ampunan, “Maafkan saya Tuhan, di hadapan saya ada mahlukmu yang dizalimi, tetapi saya tidak mampu berbuat apa-apa”.

    ***

    Jari ditangan tak akan mampu membilang episode-episode kezaliman. Amerika yang begitu pongah mengobrak-abrik Afghanistan dan Irak. Bom-bom cluster yang tercurah, mengoyak banyak tubuh manusia. Mereka yang direnggut nyawa dengan cara demikian, adalah saudara kita. Bukankah mereka juga shalat, puasa dan berdoa kepada Allah, sama sepert kita. Belum lagi di Palestina atau yang kita lihat langsung di lingkungan sekitar…

    Nabi bersabda, ketika kemungkaran berada dihadapan, cegahlah dengan tangan, itulah seutama-utamanya iman. Jika belum mampu, sergahlah dengan lisan yang kita punya. Dan yang terakhir, bencilah dengan hatimu, berdoalah. Dan nabi melabelkan hal ini sebagai selemah-lemahnya iman.

     
    • koharu 1:28 pm on 9 Desember 2009 Permalink

      mengharukan sekali ceritanya :(

  • erva kurniawan 12:13 pm on 8 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Perjalanan Yang Jauh 

    water-lilies-2Nurah, saudara perempuanku nampak pucat dan kurus sekali. Tetapi seperti biasa, ia masih membaca Al-Qur’anul Karim. Tika ingin menemuinya, pergilah ke mushallanya. Di sana engkau akan mendapatinya sedang ruku’, sujud dan menengadahkan ke langit. Itulah yang dilakukannya setiap pagi, sore dan di tengah malam hari. Ia tidak pernah jenuh.

    Berbeda dengannya, aku selalu asyik membaca majalah-majalah seni, tenggelam dengan buku-buku cerita dan hampir tak pernah beranjak dari video. Bahkan, aku sudah identik dengan benda yang satu ini. Setiap video diputar pasti di situ ada aku. Karena ‘kesibukanku’ ini, banyak kewajiban yang tak bisa kuselesaikan bahkan, aku suka meninggalkan shalat. Setelah tiga jam berturut-turut menonton video di tengah malam, aku dikagetkan oleh suara adzan yang berkumandang dari masjid dekat rumahku. Sekonyong-konyong malas menggelayuti semua persendianku, maka aku pun segera menghampiri tempat tidur. Nurah memanggilku dari mushallanya.

    Dengan berat sekali, aku menyeret kaki menghampirinya. “Ada apa Nurah?,” tanyaku. “Jangan tidur sebelum shalat Shubuh!”, ia mengingatkan. “Ahh.. Shubuh kan masih satu jam lagi. Yang baru saja kan adzan pertamal” Begitulah, ia selalu penuh perhatian padaku. Sering memberiku nasihat, sampai akhirnya ia terbaring sakit. Ia tergeletak lemah di tempat tidur.

    “Hanah!,” panggilnya lagi suatu ketika. Aku tak mampu menolaknya. Suara itu begitu jujur dan polos. “Ada apa saudariku?”, tanyaku pelan. “Duduklah!” Aku menurut dan duduk di sisinya. Hening… Sejenak kemudian Nurah melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu.

    Tiap jiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah disempumnkan pahalamu.” (Al Imran: 185)

    Diam sebentar, lalu ia bertanya: “Apakah kamu tidak percaya adanya kematian?” “Tentu saja percaya!”

    “Apakah kamu tidak percaya bahwa amalmu kelak akan dihisab, baik yang besar maupun yang kecil?” “Percaya. Tetapi bukankah Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang, sementara aku masih muda, umurku masih panjang!” “Ukhti, apakah kamu tidak takut mati yang datangnya tiba-tiba? Lihatlah Hindun, dia lebih muda darimu, tetapi meninggal karena sebuah kecelakaan. Lihat pula si fulanah…Kematian tidak mengenal umur. Umur bukan ukuran bagi kematian seseorang. Aku menjawabnya penuh ketakutan. Suasana tengah malam yang gelap mencekam, semakin menambah rasa takutku.

    “Aku takut dengan gelap, bagaimana engkau menakut-nakutiku lagi dengan kematian ? Di mana aku akan tidur nanti ?” Jiwa asliku yang amat penakut betul-betul tampak. Kucoba menenangkan diri aku benusaha tegar dengan mengalihkan pembicaraan pada tema yang menyenangkan, rekreasi.

    “Oh ya, kukira ukhti setuju pada liburan ini kita pergi rekreasi bersama?”, pancingku. “‘Tidak, karena barangkali tahun ini aku akan pergi jauh, ke tempat yang jauh… mungkin… umur ada di tangan Allah, Hanah”, ia lalu terisak. Suara itu bergetar, aku ikut hanyut dalam kesedihan.

    Sekejap, langsung terlintas dalam benakku tentang sakitnya yang ganas. Para dokter, secara rahasia telah mengabarkan hal itu kepada ayah. Menurut analisa medis, para doker sudah tak sanggup, dan itu berarti dekatnya kematian. Tetapi, siapa yang mengabarkan ini semua padanya?, atau ia memang merasa sudah datang waktunya?,

    “Mengapa ternenung? Apa yang engkau lamunkan?”, Nurah membuyarkan lamunanku. “Apa kau mengira, hal ini kukatakan karena aku sedang sakit? Tidak. Bahkan boleh jadi umurku lebih panjang dari umur orang-orang sehat. Dan kamu, sampai kapan akan terus hidup? Mungkin 20 tahun lagi, 40 tahun atau… Lalu apa setelah itu? Kita tidak berbeda. Kita semua pasti akan pergi, entah ke Surga atau ke Neraka. Apakah engkau belum mendengar ayat:

    “Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dimasukkan ke dalam Surga maka sungguh ia telah beruntung” ( Ali Imran: 185)

    “Sampai besok pagi,” ia menutup nasihatnya. Aku bergegas meninggalkannya menuju kamar. Nasihatnya masih tergiang-ngiang di gendang telingaku, “Semoga Allah memberimu petunjuk, jangan lupa shalat!”

    Pagi hari…Jam dinding menunjukkan angka delapan pagi. Terdengar pintu kamarku diketuk dari luar. “Pada jam ini biasanya aku belum mau bangun” pikirku. Tetapi di luar terdengar suara gaduh, orang banyak terisak. “Ya Rabbi, apa yang tejadi?” “Mungkin Nurah…?, “firasatku berbicara. Dan benar, Nurah pingsan, ayah segera melarikannya ke rumah sakit. Tidak ada rekreasi tahun ini. Kami semua harus menunggui Nurah yang sedang sakit. Lama sekali menunggu kabar dari rumah sakit dengan harap-harap cemas.

    Tepat pukul satu siang, telepon di rumah kami berdering. Ibu segera mengangkatnya. Suara ayah di seberang, ia menelpon dari rumah sakit. “Kalian bisa pergi ke rumah sakit sekarang!,” demikian pesan ayah singkat. Kata ibu, tampak sekali ayah begitu panik, nada suaranya berbeda dari biasanya. “Mana sopir…?” kami semua terburu-buru: Kami menyuruh sopir menjalankan mobil dengan cepat. Tapi ah, jalan yang biasanya terasa dekat bila aku menikmatinya dalam pejalanan liburan, kini terasa amat panjang, panjang dan lama sekali. Jalanan macet yang biasanya kunanti-nantikan sehingga aku bisa menengok ke kanan-kiri, cuci mata, kini terasa menyebalkan. Di sampingku, ibu berdo’a untuk keselamatan Nurah. “Dia anak shalihah. Ia tidak pernah menyia-nyia kan waktunya. Ia begitu rajin beribadah”, ibu bergumam sendirian.

    Kami turun di depan pintu rumah sakit. Kami segera masuk ruangan. Para pasien pada tergeletak lunglai. Di sana sini terdengar lirih suara rintihan. Ada yang baru saja masuk karena kecelakaan mobil, ada yang matanya buta, ada yang mengerang keras. Pemandangan yang membuat bulu kudukku merinding. Kami naik tangga eskalator menuju lantai atas. Nurah berada di ruang perawatan intensif. Di depan pintu terpampang papan peringatan: “Tidak boleh masuk lebih dari satu orang!” Kami terperangah. Tak lama kemudian, seorang perawat datang menemui kami. Perawat memberitahu kalau kini kondisi Nurah mulai membaik, setelah beberapa saat sebelumnya tak sadarkan diri.

    Di tengah kerumunan para dokter yang merawat, dari sebuah lubang kecil jendela yang ada di pintu, aku melihat kedua bola mata Nurah sedang memandangiku. Ibu yang berdiri di sampingnya tak kuat menahan air matanya. Waktu besuknya habis, ibu segera keluar dari ruang perawatan intensif. Kini tiba giliranku masuk. Dokter memperingatkan agar aku tidak banyak mengajaknya bicara. Aku diberi waktu dua menit.

    “Assalamu ‘alaikum!, bagaimana keadaanmu Nurah?, tadi malam, engkau baik-baik saja. Apa yang terjadi denganmu?”, aku menghujaninya dengan pertanyaan. “Alhamdulillah, aku sekarang baik-baik saja, jawabnya dengan berusaha tersenyum. “Tapi, mengapa tanganmu dingin sekali, kenapa?” aku menyelidik. Aku duduk di pinggir dipan. Lalu kucoba meraba betisnya, tapi ia segera menjauhkannya dari jangkauanku. “Ma’af, kalau aku mengganggumu!”, aku tertunduk. “Tidak apa-apa. Aku hanya ingat firman Allah Ta’ala:

    “Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Tuhanmulah pada hari itu kami dihalau”. (Al-Qiyamah: 29-30)

    Nurah melantunkan ayat suci Alquran. Aku menguatkan diri. Sekuat tenaga aku berusaha untuk tidak menangis dihadapan Nurah, aku membisu. ” Hanah, berdoalah untukku. Mungkin sebentar lagi aku akan menghadap. Mungkin aku segera mengawali hari pertama kehidupanku diakhirat…Perjalananku amat jauh tapi bekalku sedikit sekali”. Pertahananku runtuh. Air mataku tumpah. Aku menangis sejadi-jadinya. Ayah mengkhawatirkan keadaanku. Sebab mereka tak pernah melihatku menangis seperti itu. Bersamaan dengan tenggelamnya matahari pada hari itu. Nurah meninggal dunia…. Suasana begitu cepat berubah. Seperti baru beberapa menit aku bebincang-bincang dengannya. Kini ia telah meninggalkan kami buat selama-selamanya. Dan, ia tak akan pernah bertemu lagi dengan kami. Tak akan pernah pulang lagi. Tidak akan bersama-sama lagi. Oh Nurah…

    Suasana dirumah kami digelayuti duka yang amat dalam. Sunyi mencekam. Lalu pecah oleh tangisan yang mengharu biru. Sanak kerabat dan tetangga berdatangan melawat. Aku tidak bisa membedakan lagi, siapa-siapa yang datang, tidak pula apa yang mereka percakapan.

    Aku tenggelam dengan diriku sendiri. Ya Allah, bagaimana dengan diriku? Apa yang bakal terjadi pada diriku? Aku tak kuasa lagi, meski sekedar menangis. Aku ingin memberinya penghormatan terakhir. Aku ingin menghantarkan salam terakhir. Aku ingin mencium keningnya.

    Kini, tak ada sesuatu yang kuingat selain satu hal. Aku ingat firman Allah yang dibacakannya kepadaku menjelang kematiannya. “Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan)”. Aku kini benar-benar paham bahwa, “Kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau”

    “Aku tidak tahu, ternyata malam itu, adalah malam terakhir aku menjumpainya di mushallanya. Malam ini, aku sendirian di mushalla almarhumah, terbayang kembali saudara kembarku, Nurah yang demikian baik kepadaku. Dialah yang senantiasa menghibur kesedihanku, ikut memahami dan merasakan kegalauanku, saudari yang selalu mendo’akanku agar aku mendapat hidayah Allah, saudari yang senantiasa mengalirkan air mata pada tiap-tiap pertengahan malam, yang selalu menasihatiku tentang mati, hari perhitungan…. ya Allah! Malam ini adalah malam pertama bagi Nurah dikuburnya. Ya Allah, rahmatilah dia, terangilah kuburnya.

    Ya Allah, ini mushaf Nurah,… ini sajadahnya… dan ini.. ini gaun merah muda yang pernah dikatakannya padaku, bakal dijadikan kenangan manis pernikahannya. Aku menangisi hari-hariku yang berlalu dengan sia-sia. Aku menangis terus-menerus, tak bisa berhenti. Aku berdo’a kepada Allah semoga Dia merahmatiku dan menerima taubatku. Aku mendo’akan Nurah agar mendapat keteguhan dan kesenangan di kuburnya, sebagaimana ia begitu sering dan suka mendo’akanku. Tiba-tiba aku tersentak dengan pikiranku sendiri. “Apa yang terjadi jika yang meninggal adalah aku? Bagaimana kesudahanku?” Aku tak berani mencari jawabannya, ketakutanku memuncak. Aku menangis, menangis lebih keras lagi. Allahu Akbar, Allnhu Akbar…Adzan fajar berkumandang.

    Tetapi, duhai alangkah merdunya suara panggilan itu kali ini. Aku merasakan kedamaian dan ketentraman yang mendalam. Aku jawab ucapan muadzin, lalu segera kuhamparkan lipatan sajadah, selanjutnya aku shalat Shubuh. Aku shalat seperti keadaan orang yang hendak berpisah selama-lamanya. Shalat yang pernah kusaksikan terakhir kali dari saudari kembarku Nurah. Jika tiba waktu pagi, aku tak menunggu waktu sore dan jika tiba waktu sore, aku tidak menunggu waktu pagi.

    ***

     
  • erva kurniawan 7:18 am on 7 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Takdir 

    siluet masjid 7Ada seseorang, sebut saja namanya Fulan, datang menemui Ali bin Abi Thalib r.a. Fulan bermaksud menanyakan hal takdir kepada Ali. Ia mengemukakan pertanyaannya itu sampai empat kali, tetapi Ali tidak menggubris si penanya. Rupanya Ali mendiamkan saja pertanyaan Fulan yang semacam itu.

    Meskipun mendapat perlakuan seperti itu dari Ali, Fulan tidak patah semangat. Ia terus saja mencecar Ali dengan pertanyaannya. Dan, akhirnya ia berhasil keluarlah suara Ali.

    “Allah adalah pencipta seluruh makhluk. Ia tentu pula yang telah menciptakanmu. Nah, sekarang jawablah, ‘Dengan kehendak siapakah Ia menciptakanmu? Dengan kehendakmu atau dengan kehendak-Nya’?”

    Fulan menjawab, “Tentu saja dengan kehendak Dia.”

    “Oke, kalau begitu sekarang jawab lagi, ‘Setelah Ia menciptakanmu, Allah pulalah yang telah menghidupkanmu. Dengan kehendak siapakah hal itu’?”

    “Sesuai dengan kehendak-Nya.”

    “Lalu, Ia mematikanmu. Dengan kehendak-Nya atau dengan kehendakmu hal itu terjadi?”

    “Juga dengan kehendak-Nya.”

    “Setelah itu Allah membangkitkan pada hari kiamat, atas kehendak siapa?”

    “Tentu dengan kehendak Allah.”

    “Sesudah itu engkau dinilai. Dengan kehendak-Nya atau dengan kehendakmu Ia menilaimu?”

    Fulan terus menjawab, “Juga dengan kehendak-Nya.”

    Maka, akhirnya Ali berkata, “Kalau begitu, sekarang engkau pergilah! Engkau tidak mempunyai masalah lagi sekarang.”

    ***

    Sumber: Mutiara Hikmah dalam 1001 Kisah, Tim Poliyama Widya Pustaka

     
  • erva kurniawan 7:02 am on 6 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: ,   

    Makna Sebuah Pernikahan 

    akad nikah erva kurniawan - titik rahayuningsihMenikah adalah saat di mana gerbang kesucian mulai dibentangkan

    Menikah adalah saat di mana ketidaksempurnaan bukan lagi masalah yang mesti diperdebatkan

    Menikah adalah saat di mana nyuci nyemir masang bohlam nyambung kabel nyiram kembang nguras bak mandi masak nasi nyetrika ngecat pagar belanja kentang ngganti popok tak lagi bibi kerjakan

    Menikah adalah saat di mana akar dirajut dari benang-benang pemikiran

    Menikah adalah saat di mana syara direngkuh sebagai tolok ukur perbuatanMenikah adalah saat di mana ketulusan diikatkan sebagai senyum kasih sayang

    Menikah adalah saat di mana kesendirian dicampakkan sebagai sebuah kebersamaan

    Menikah adalah saat di mana kegelisahan beralih pada ketenangan

    Menikah adalah saat di mana kehinaan beralih pada kemuliaanMenikah adalah saat di mana peluh bergulir lanjutkan perjuangan

    Menikah adalah saat di mana kesetiaan adalah harga mati yang tak bisa dilelang

    Menikah adalah saat di mana bunga-bunga bersemi pada taman-taman

    Menikah adalah saat di mana kemarau basah oleh sapaan air hujan

    Menikah adalah saat di mana hati yang membatu lapuk oleh kasih sayang

    Menikah adalah sebuah pilihan antara jalan Tuhan dan jalan setan

    Menikah adalah sebuah pertimbangan antara hidayah dan kesesatan

    Menikah adalah saat di mana suka dan duka saling dating

    Menikah adalah saat di mana tawa dan air mata saling berdendang

    Menikah adalah saat di mana ikan dan karang bersatu dalam lautan

    Menikah adalah saat di mana dua hati menyatu dalam ketauhidan

    Menikah adalah saat di mana syahwat tidak lagi bertebaran di jalan-jalan

    Menikah adalah saat di mana ketakwaan menjadi teluk perhentian

    Menikah adalah saat di mana kehangatan menyatu dalam pekatnya malam

    Menikah adalah saat di mana cinta pada Allah dan rasul-Nya dititipkan

    Menikah adalah saat di mana dua hati berganti peran pada kedewasaan

    Menikah adalah saat di mana dua jasad menambah kekuatan dakwah peradaban

    Menikah adalah saat di mana kecantikan adalah sebuah ujian

    Menikah adalah saat di mana kecerewetan diperindah oleh aksesori kesabaran

    Menikah adalah saat di mana bunga-bunga mulai menyemi pada alang

    Menikah adalah saat di mana bidadari-bidadari dunia turun di telaga-telaga kesejukan

    Menikah adalah saat di mana jundi-jundi kecil adalah cericit burung pada dahan-dahan

    Menikah adalah saat di mana pemahaman-pemahaman mulai disemikan

    Menikah adalah saat di mana amal-amal mulai ditumbuhkan

    Menikah adalah saat di mana keadilan mulai ditegakkan

    Menikah adalah saat dimana optimistis adalah leksem baru dari sebuah kefuturan Adalah saat di mana kecemburuan adalah rona pelangi pada awan

    Menikah adalah saat di mana kesendirian menutup epik kehidupan saat di mana syahadat menjadi saksi utama penerimaan

    Menikah adalah saat di mana aktivitas dibangun atas dasar ketaatan

    Menikah adalah saat di mana perbedaan ciptakan kemesraan

    Menikah adalah saat di mana istana tahajud dibangun pada pucuk-pucuk malam

    Menikah adalah saat di mana belaian bak kumbang yang teteskan madu-madu kehidupan

    Menikah adalah saat di mana kecupan bak mentari yang segarkan dedaunan dari kemarau panjang

    Menikah adalah saat di mana goresan bayang-bayang yang kulukis pada mimpi-mimpi malam berubah menjadi kenyataan

    ***

    Sumber email teman

     
    • dokterdita 7:13 am on 6 Desember 2009 Permalink

      Menikah adalah pilihan hidup untuk menjadi lebih dewasa

    • wahyu am 9:33 am on 6 Desember 2009 Permalink

      Pandangan tentang pernihakan, mantep gan :lol:

      Blog Jelek sumpah, jangan diklik!

    • yossy wahyu indrawan 12:48 pm on 7 Desember 2009 Permalink

      Ya Rabbi, mudahkan dan lapangkan jalan bagi hamba untuk menyempurnakan dien.

  • erva kurniawan 6:28 am on 5 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Dan Umar Pun Menangis 

    siluet_masjid 3 (1)Pernahkah anda membaca dalam riwayat akan Umar bin Khatab menangis? Umar bin Khatab terkenal gagah perkasa sehingga disegani lawan maupun kawan. Bahkan konon, dalam satu riwayat, Nabi menyebutkan kalau Syeitan pun amat segan dengan Umar sehingga kalau Umar lewat di suatu jalan, maka Syeitan pun menghindar lewat jalan yang lain. Terlepas dari kebenaran riwayat terakhir ini, yang jelas keperkasaan Umar sudah menjadi buah bibir di kalangan umat Islam. Karena itu kalau Umar sampai menangis tentulah itu menjadi peristiwa yang menakjubkan.

    Mengapa “singa padang pasir” ini sampai menangis?

    Umar pernah meminta izin menemui Rasulullah. Ia mendapatkan beliau sedang berbaring di atas tikar yang sangat kasar. Sebagian tubuh beliau berada di atas tanah. Beliau hanya berbantal pelepah kurma yang keras. Aku ucapkan salam kepadanya dan duduk di dekatnya. Aku tidak sanggup menahan tangisku.

    Rasul yang mulia bertanya, “mengapa engkau menangis ya Umar?” Umar menjawab, “bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau, padahal Engkau ini Nabi Allah dan kekasih-Nya. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Sedangkan Kisra dan kaisar duduk di singgasana emas dan berbantalkan sutera”.

    Nabi berkata, “mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga; sebuah kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang yang bepergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya.”

    Indah nian perumpamaan Nabi akan hubungan beliau dengan dunia ini. Dunia ini hanyalah tempat pemberhentian sementara; hanyalah tempat berteduh sejenak, untuk kemudian kita meneruskan perjalanan yang sesungguhnya.

    ***

     
    • H.Abdul Majied Said 8:28 am on 5 Desember 2009 Permalink

      Tujuan Akhir adalah akhirat, Namun banyak orang yg terpedaya dengan keindahan dunia yg sementara ini…..

    • akhmadprabowo 2:58 pm on 15 Januari 2010 Permalink

      MashaAllah

  • erva kurniawan 5:34 am on 4 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Cinta Dan Perkawinan 

    cintaSatu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana saya menemukannya?

    Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlahkamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta” .

    Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.

    Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?”

    Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)”. Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya”

    Gurunya kemudian menjawab ” Jadi ya itulah cinta”

    Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, “Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?”

    Gurunya pun menjawab “Ada hutan yang subur didepan saja.

    Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan”

    Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/ subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.

    Gurunya bertanya, “Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?”

    Plato pun menjawab, “Sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya”

    Gurunya pun kemudian menjawab, “Dan ya itulah perkawinan”

    ***

    Catatan kecil :

    Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan… tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya.

    Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya, Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia-sialah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu, karena, sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.

     
    • Niecka 4:11 pm on 3 Februari 2010 Permalink

      WOOW BAGUS BANGET…^___^

    • fie 10:45 am on 2 Februari 2012 Permalink

      i like this

  • erva kurniawan 5:24 am on 3 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: asin, laut   

    Air Laut Yang Asin 

    laut-11Lima pertujuh bagian dari permukaan bumi ini merupakan samudera luas yang penuh air dengan rasanya yang asin. Setiap saat siang malam non stop berjuta – juta sungai yang besar dan kecil menumpahkan dan melemparkan berjuta juta ton kotoran kelaut yang asin itu. Kalau sekiranya air laut itu tidak asin, kotoran kotoran itu akan mengeluarkan bau yang sangat busuk, sehingga dalam waktu beberapa bulan saja seluruh air laut itu akan akan berbau busuk sebusuk-busuknya. Dan setiap ruang dipermukaan bumi ini akan penuh dengan bau itu, sehingga bukan saja akan merusak kesehatan tetapi bahkan dapat memusnakan kehidupan di permukaan bumi ini.

    Dengan air laut yang asin itu Allah telah melindungi segala kehidupan dimuka bumi ini. Satu perlindungan yang tak kurang penting dan hebatnya terjadinya siang dan malam.

    “Dan ia (Allah) lah yang mencampurkan 2 lautan , laut yang sangat tawar dan laut yang sangat asin. Dan Ia jadikan antara keduanya batas dan halangan yang tak dapat ditembus” (al-Furqan:53)

    Laut tawar dalam ayat ini dimaksudkan ialah sungai-sungai, telaga-telaga dan danau-danau yang besar tampaknya juga seperti laut.

    Keasinan laut pun harus kita pikirkan dan kita pelajari untukmelihat perlindungan Allah bagi kehidupan dan keselamatan manusia, sehingga manusia akan bertambah beriman dengan Allah dan terhindar dari kekufuran yang menjadi cacat terbesar dari peradaban manusia dari dulu sampai sekarang.

    Bila satu persatu perlindungan Allah akan kita teruskan membicarakan dan menyelidikinya maka tidak akan pernah ada putus-putusnya. Berjuta juta macam binantang besar dan kecil , beraneka ragam buah dan tumbuhan bahkan setiap bulu yg tumbuh disekujur badan manusia merupakan perlindungan bagi keselamatan hidup manusia dimuka bumi ini.

    Bagaimana pun kuat dan pintarnya manusia namun ia tidak mungkin dapat melindungi dirinya sendiri bila tidak dengan perlindungan Allah yang maha besar dan teliti itu.

    ***

    Ditulis dari “Samudera Al-Fatihah”

     
    • linda 7:35 pm on 12 Desember 2009 Permalink

      artikelnya menarik,,,boleh gak adek dikirimin artikrl sjenisnya ato tentang ilmu pengetahuan laennya…

    • nisa 10:15 am on 15 Februari 2010 Permalink

      subhanallah.. artikel menarik, untuk mempertebal pengetahuan kita ttg KEBESARAN ALLAH SWT,
      masih ada lagi..??

  • erva kurniawan 5:12 am on 2 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Saat-Saat Terakhir Rasulullah Saw 

    muhammad 2Diriwayatkan bahwa surah Al-Maaidah ayat 3 diturunkan pada saat sesudah waktu asar yaitu pada hari Jumaat di padang Arafah pada musim haji penghabisan (Wada’). Pada masa itu Rasulullah SAW berada di Arafah di atas unta. Ketika ayat ini turun Rasulullah SAW tidak begitu jelas penerimaannya untuk mengingati isi dan makna yang terkandung dalam ayat tersebut. Kemudian Rasulullah SAW bersandar pada unta beliau, dan unta beliau pun duduk perlahan-lahan. Setelah itu turun malaikat Jibril AS dan berkata,

    “Wahai Muhammad, sesungguhnya pada hari ini telah disempurnakan urusan agamamu, maka terputuslah apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan demikian juga apa yang terlarang olehnya. Oleh itu kamu kumpulkan para sahabatmu dan beritahu kepada mereka bahwa hari ini adalah hari terakhir aku bertemu dengan kamu.”

    Setelah Malaikat Jibril AS pergi maka Rasulullah SAW pun berangkat ke Mekah dan terus pergi ke Madinah.Setelah Rasulullah SAW mengumpulkan para sahabat beliau, maka Rasulullah SAW pun menceritakan apa yang telah diberitahu oleh malaikat Jibril AS. Apabila para sahabat mendengar hal yang demikian maka mereka pun gembira sambil berkata, “Agama kita telah sempurna. Agama kila telah sempurna.”

    Apabila Abu Bakar ra. mendengar keterangan Rasulullah SAW itu, maka ia tidak dapat menahan kesedihannya maka ia pun kembali ke rumah lalu mengunci pintu dan menangis sekuat-kuatnya. Abu Bakar ra. menangis dari pagi hingga ke malam. Kisah tentang Abu Bakar ra. menangis telah sampai kepada para sahabat yang lain, maka berkumpullah para sahabat di depan rumah Abu Bakar ra. dan mereka berkata: “Wahai Abu Bakar, apakah yang telah membuat kamu menangis sehingga begini sekali keadaanmu? Seharusnya kamu merasa gembira sebab agama kita telah sempuma.” Mendengarkan pertanyaan dari para sahabat maka Abu Bakar ra. pun berkata, “Wahai para sahabatku, kamu semua tidak tahu tentang musibah yang menimpa kamu, tidakkah kamu tahu bahwa apabila sesualu perkara itu telah sempuma maka akan kelihatanlah akan kekurangannya. Dengan turunnya ayat tersebut bahwa ia menunjukkan perpisahan kita dengan Rasulullah SAW. Hasan dan Husein menjadi yatim dan para isteri nabi menjadi janda.”

    Selelah mereka mendengar penjelasan dari Abu Bakar ra. maka sadarlah mereka akan kebenaran kata-kata Abu Bakar ra., lalu mereka menangis dengan sekuat-kuatnya. Tangisan mereka telah didengar oleh para sahabat yang lain, maka mereka pun terus memberitahu Rasulullah SAW tentang apa yang mereka lihat itu. Berkata salah seorang dari para sahabat, “Ya Rasulullah SAW, kami baru kembali dari rumah Abu Bakar ra. dan kami dapati banyak orang menangis dengan suara yang kuat di depan rumah beliau.” Apabila Rasulullah SAW mendengar keterangan dari para sahabat, maka berubahlah muka Rasulullah SAW dan dengan bergegas beliau menuju ke rumah Abu Bakar ra.. Setelah Rasulullah SAW sampai di rumah Abu Bakar ra. maka Rasulullah SAW melihat kesemua mereka yang menangis dan bertanya, “Wahai para sahabatku, kenapakah kamu semua menangis?” Kemudian Ali ra. berkata, “Ya Rasulullah SAW, Abu Bakar ra. mengatakan turunnya ayat ini adalah tanda bahwa waktu wafatmu telah dekat. Adakah ini benar ya Rasulullah?.” Lalu Rasulullah SAW berkata, “Semua yang dikatakan oleh Abu Bakar ra. adalah benar, dan sesungguhnya waktu untuk aku meninggalkan kamu semua telah dekat”. Setelah Abu Bakar ra. mendengar pengakuan Rasulullah SAW, maka ia pun menangis sekuat-kuatnya hingga jatuh pingsan.

    Sementara ‘Ukasyah ra. berkata kepada Rasulullah SAW, ‘Ya Rasulullah, waktu itu saya anda pukul pada tulang rusuk saya. Oleh itu saya hendak tahu apakah anda sengaja memukul saya atau hendak memukul unta baginda.” Rasulullah SAW berkata, “Wahai ‘Ukasyah, Rasulullah SAW sengaja memukul kamu.” Kemudian Rasulullah SAW berkata kepada Bilal ra, “Wahai Bilal, kamu pergi ke rumah Fathimah dan ambilkan tongkatku kemari.” Bilal keluar dari masjid menuju ke rumah Fathimah sambil meletakkan tangannya di atas kepala dengan berkata, “Rasulullah telah menyediakan dirinya untuk dibalas [diqishash].”

    Setelah Bilal sampai di rumah Fathimah maka Bilal pun memberi salam dan mengetuk pintu. Kemudian Fathimah ra. menyahut dengan berkata, “Siapakah di pintu?.” Lalu Bilal ra. berkata, “Saya Bilal, saya telah diperintahkan oleh Rasulullah SAW unluk mengambil tongkat beliau.” Kemudian Fathimah ra. berkata, “Wahai Bilal, untuk apa ayahku minta tongkatnya.” Berkata Bilal ra, “Wahai Fathimah, Rasulullah SAW telah menyediakan dirinya untuk diqishash.” Bertanya Fathimah ra. lagi, “Wahai Bilal, siapakah manusia yang sampai hatinya untuk menqishash Rasulullah SAW?” Bilal ra. tidak menjawab perlanyaan Fathimah ra., Setelah Fathimah ra. memberikan tongkat tersebut, maka Bilal pun membawa tongkat itu kepada Rasulullah SAW. Setelah Rasulullah SAW menerima tongkat tersebut dari Bilal ra. maka beliau pun menyerahkan kepada ‘Ukasyah.

    Melihat hal yang demikian maka Abu Bakar ra. dan Umar ra. tampil ke depan sambil berkata, “Wahai ‘Ukasyah, janganlah kamu qishash Rasulullah tetapi kamu qishashlah kami berdua.” Apabila Rasulullah SAW mendengar kata-kata Abu Bakar ra. dan Umar ra. maka dengan segera beliau berkata, “Wahai Abu Bakar, Umar dudukiah kamu berdua, sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan tempatnya untuk kamu berdua.” Kemudian Ali ra. bangun, lalu berkata, “Wahai ‘Ukasyah! Aku adalah orang yang senantiasa berada di samping Rasulullah oleh itu kamu pukullah aku dan janganlah kamu menqishash Rasulullah” Lalu Rasulullah SAW berkata, “Wahai Ali duduklah kamu, sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan tempatmu dan mengetahui isi hatimu.” Setelah itu Hasan dan Husein bangun dengan berkata, “Wahai ‘Ukasyah, bukankah kamu tidak tahu bahwa kami ini adalah cucu Rasulullah, kalau kamu menqishash kami sama dengan kamu menqishash Rasulullah” Mendengar kata-kata cucunya Rasulullah SAW pun berkata, “Wahai buah hatiku duduklah kamu berdua.” Berkata Rasulullah SAW, “Wahai ‘Ukasyah pukullah saya kalau kamu hendak memukul.”

    Kemudian ‘Ukasyah berkata, “Ya Rasulullah SAW, engkau telah memukul saya sewaktu saya tidak memakai baju.” Maka Rasulullah SAW pun membuka baju. Setelah Rasulullah SAW membuka baju maka menangislah semua yang hadir. Setelah ‘Ukasyah melihat tubuh Rasulullah SAW maka ia pun mencium badan beliau dan berkata, “Saya tebus engkau dengan jiwa saya ya Rasulullah, siapakah yang sanggup memukulmu. Saya melakukan begini adalah sebab saya ingin menyentuh badanmu yang dimuliakan Allah dengan badan saya. Dan Allah menjaga saya dari neraka dengan kehormatanmu.” Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Dengarlah kamu sekalian, sekiranya kamu hendak melihat ahli syurga, inilah orangnya.” Kemudian semua para jemaah bersalam-salaman atas kegembiraan mereka terhadap peristiwa yang sangat genting itu. Setelah itu para jemaah pun berkata, “Wahai ‘Ukasyah, inilah keuntungan yang paling besar bagimu, engkau telah memperolehi derajat yang tinggi dan bertemankan Rasulullah SAW di dalam syurga.”

    Apabila ajal Rasulullah SAW makin dekat maka beliau pun memanggil para sahabat ke rumah Aisyah ra. dan beliau berkata: “Selamat datang kamu semua semoga Allah SWT mengasihi kamu semua, saya berwasiat kepada kamu semua agar kamu semua bertaqwa kepada Allah SWT dan mentaati segala perintah-Nya. Sesungguhnya hari perpisahan antara saya dengan kamu semua hampir dekat, dan dekat pula saat kembalinya seorang hamba kepada Allah SWT dan menempatkannya di syurga. Kalau telah sampai ajalku maka hendaklah Ali yang memandikanku, Fadhl bin Abbas hendaklah menuangkan air dan Usamah bin Zaid hendaklah menolong keduanya. Setelah itu kamu kafanilah aku dengan pakaianku sendiri apabila kamu semua menghendaki, atau kafanilah aku dengan kain yaman yang putih. Apabila kamu memandikan aku, maka hendaklah kamu letakkan aku di atas balai tempat tidurku dalam rumahku ini. Setelah itu kamu semua keluarlah sebentar meninggalkan aku. Pertama yang akan menshalatkan aku ialah Allah SWT, kemudian yang akan menshalat aku ialah Jibril AS, kemudian diikuti oleh malaikat Israfil, malaikat Mikail, dan yang akhir sekali malaikat lzrail berserta dengan semua para pembantunya. Setelah itu baru kamu semua masuk bergantian secara berkelompok bershalat ke atasku.”

    Setelah para sahabat mendengar ucapan yang sungguh menyayat hati itu maka mereka pun menangis dengan nada yang keras dan berkata, “Ya Rasulullah, engkau adalah seorang Rasul yang diutus kepada kami dan untuk semua, yang mana selama ini engkau memberi kekuatan dalam penemuan kami dan sebagai penguasa yang menguruskan perkara kami. Apabila engkau sudah tiada nanti kepada siapakah akan kami tanya setiap persoalan yang timbul nanti?.” Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Dengarlah para sahabatku, aku tinggalkan kepada kamu semua jalan yang benar dan jalan yang terang, dan telah aku tinggalkan kepada kamu semua dua penasihat yang satu daripadanya pandai bicara dan yang satu lagi diam saja. Yang pandai bicara itu ialah Al-Quran dan yang diam itu ialah maut. Apabila ada sesuatu persoalan yang rumit di antara kamu, maka hendaklah kamu semua kembali kepada Al-Quran dan Hadis-ku dan sekiranya hati kamu itu berkeras maka lembutkan dia dengan mengambil pelajaran dari mati.”

    Setelah Rasulullah SAW berkata demikian, maka sakit Rasulullah SAW bermula. Dalam bulan safar Rasulullah SAW sakit selama 18 hari dan sering diziarahi oleh para sahabat. Dalam sebuah kitab diterangkan bahwa Rasulullah SAW diutus pada hari Senin dan wafat pada hari Senin. Pada hari Senin penyakit Rasulullah SAW bertambah berat, setelah Bilal ra. menyelesaikan azan subuh, maka Bilal ra. pun pergi ke rumah Rasulullah SAW. Sesampainya Bilal ra. Di rumah Rasulullah SAW maka Bilal ra. pun memberi salam, “Assalaamualaika ya rasulullah.” Lalu dijawab oleh Fathimah ra., “Rasulullah SAW masih sibuk dengan urusan beliau.” Setelah Bilal ra. mendengar penjelasan dari Fathimah ra. maka Bilal ra. pun kembali ke masjid tanpa memahami kata-kata Fathimah ra. itu. Apabila waktu subuh hampir hendak lupus, lalu Bilal pergi sekali lagi ke rumah Rasulullah SAW dan memberi salam seperti permulaan tadi, kali ini salam Bilal ra. telah di dengar oleh Rasulullah SAW dan baginda berkata, “Masuklah wahai Bilal, sesungguhnya penyakitku ini semakin berat, oleh itu kamu suruhlah Abu Bakar mengimamkan shalat subuh berjemaah dengan mereka yang hadir.” Setelah mendengar kata-kata Rasulullah SAW maka Bilal ra. pun berjalan menuju ke masjid sambil meletakkan tangan di atas kepala dengan berkata, “Aduh musibah.”

    Setelah Bilal ra. sampai di masjid maka Bilal ra. pun memberitahu Abu Bakar tentang apa yang telah Rasulullah SAW katakan kepadanya. Abu Bakar ra. tidak dapat menahan dirinya apabila ia melihat mimbar kosong maka dengan suara yang keras Abu Bakar ra. menangis sehingga ia jatuh pingsan. Melihatkan peristiwa ini maka riuh rendah tangisan sahabat dalam masjid, sehingga Rasulullah SAW bertanya kepada Fathimah ra, “Wahai Fathimah apakah yang telah berlaku?.” Maka Fathimah ra. pun berkata: “Kekecohan kaum muslimin, sebab ayah tidak pergi ke masjid.” Kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali ra. dan Fadhl bin Abas ra., lalu Rasulullah SAW bersandar kepada kedua mereka dan terus pergi ke masjid. Setelah Rasulullah SAW sampai di masjid maka beliau pun bershalat subuh bersama dengan para jemaah.

    Setelah selesai shalat subuh maka Rasulullah SAW pun berkata, “Wahai kaum muslimin, kamu semua senantiasa dalam pertolongan dan pemeliharaan Allah, oleh itu hendaklah kamu semua bertaqwa kepada Allah SWT dan mengerjakan segala perintahnya. Sesungguhnya aku akan meninggalkan dunia ini dan kamu semua, dan hari ini adalah hari pertama aku di akhirat dan hari terakhir aku di dunia.” Setelah berkata demikian maka Rasulullah SAW pun pulang ke rumah beliau. Kemudian Allah SWT mewahyukan kepada malaikat lzrail AS, “Wahai lzrail, pergilah kamu kepada kekasihku dengan sebaik-baik rupa, dan apabila kamu hendak mencabut ruhnya maka hendaklah kamu melakukan dengan cara yang paling lembut sekali. Apabila kamu pergi ke rumahnya maka minta izinlah lerlebih dahulu, kalau ia izinkan kamu masuk, maka masukiah kamu ke rumahnya dan kalau ia tidak mengizinkan kamu masuk maka hendaklah kamu kembali padaku.”

    Setelah malaikat lzrail mendapat perintah dari Allah SWT maka malaikal lzrail pun turun dengan menyerupai orang Arab Badwi. Setelah malaikat lzrail sampai di depan rumah Rasulullah SAW maka ia pun memberi salam, “Assalaamu’alaikum yaa ahla baitin nubuwwati wa ma danir risaalati a adkhulu?” (Mudah-mudahan keselamatan tetap untuk kamu semua sekalian, wahai penghuni rumah nabi dan sumber risaalah, bolehkan saya masuk?)

    Apabila Fathimah mendengar orang memberi salam maka iapun berkata, “Wahai hamba Allah, Rasulullah SAW sedang sibuk sebab sakitnya yang semakin berat.” Kemudian malaikat lzrail berkata lagi seperti dipermulaannya, dan kali ini seruan malaikat itu telah didengar oleh Rasulullah SAW dan Rasulullah SAW bertanya kepada Fathimah ra., “Wahai Fathimah, siapakah di depan pintu itu.” Maka Fathimah ra. pun berkata, “Ya Rasulullah, ada seorang Arab badwi memanggilmu, dan aku telah katakan kepadanya bahwa ayah sedang sibuk sebab sakit, sebaliknya dia memandang saya dengan tajam sehingga terasa menggigil badan saya.” Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Wahai Fathimah, tahukah kamu siapakah orang itu?.” Jawab Fathimah,”Tidak ayah.” “Dia adalah malaikat lzrail, malaikat yang akan memutuskan segala macam nafsu syahwat yang memisahkan perkumpulan-perkumpulan dan yang memusnahkan semua rumah serta meramaikan kubur.”

    Fathimah ra. tidak dapat menahan air matanya lagi setelah mengetahui bahwa saat perpisahan dengan ayahandanya akan berakhir, dia menangis sepuas-puasnya. Apabila Rasulullah SAW mendengar tangisan Falimah ra. Maka beliau pun berkata, “Janganlah kamu menangis wahai Fathimah, engkaulah orang yang pertama dalam keluargaku akan bertemu dengan aku.” Kemudian Rasulullah SAW pun mengizinkan malaikat lzrail masuk. Maka malaikat lzrail pun masuk dengan mengucap, “Assalamu’alaikum ya Rasulullah.” Lalu Rasulullah SAW menjawab: “Wa’alaikas saalamu, wahai lzrail engkau dating menziarahi aku atau untuk mencabut ruhku?” Maka berkata malaikat lzrail: “Kedatangan saya adalah untuk menziarahimu dan untuk mencabut ruhmu, itupun kalau engkau izinkan, kalau engkau tidak izinkan maka aku akan kembali.” Berkata Rasulullah SAW, “Wahai lzrail, dimanakah kamu tinggalkan Jibril?” Berkata lzrail, “Saya tinggalkan Jibril di langit dunia, para malaikat sedang memuliakan dia.”

    Tidak beberapa lama kemudian Jibril AS pun turun dan duduk di dekat kepala Rasulullah SAW. Apabila Rasulullah SAW melihat kedatangan Jibril AS maka Rasulullah SAW pun berkata, “Wahai Jibril, tahukah kamu bahwa ajalku sudah dekat” Berkata Jibril AS, “Ya aku tahu.” Rasulullah SAW bertanya lagi, “Wahai Jibril, beritahu kepadaku kemuliaan yang menggembirakan aku disisi Allah SWT” Berkata Jibril AS, “Sesungguhnya semua pintu langit telah dibuka, para malaikat bersusun rapi menanti ruhmu dilangit. Kesemua pintu-pintu syurga telah dibuka, dan kesemua bidadari sudah berhias menanti kehadiran ruhmu.”

    Berkata Rasulullah SAW, “Alhamdulillah, sekarang kamu katakan pula tentang umatku di hari kiamat nanti.” Berkata Jibril AS, “Allah SWT telah berfirman yang bermaksud, “Sesungguhnya aku telah melarang semua para nabi masuk ke dalam syurga sebelum engkau masuk terlebih dahulu, dan aku juga melarang semua umat memasuki syurga sebelum umatmu memasuki syurga.”

    Berkata Rasulullah SAW: “Sekarang aku telah puas hati dan telah hilang rasa susahku.” Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Wahai lzrail, mendekatlah kamu kepadaku.” Selelah itu Malaikat lzrail pun memulai tugasnya, apabila ruh beliau sampai pada pusat, maka Rasulullah SAW pun berkata: “Wahai Jibril, alangkah dahsyatnya rasa mati.” Jibril AS mengalihkan pandangan dari Rasulullah SAW apabila mendengar kata-kata beliau itu. Melihatkan telatah Jibril AS itu maka Rasulullah SAW pun berkata: “Wahai Jibril, apakah kamu tidak suka melihat wajahku?” Jibril AS berkata, “Wahai kekasih Allah, siapakah orang yang sanggup melihat wajahmu dikala kamu dalam sakaratul maut?”

    Anas bin Malik ra. berkata, “Apabila ruh Rasulullah SAW telah sampai di dada beliau telah bersabda, “Aku wasiatkan kepada kamu agar kamu semua menjaga shalat dan apa-apa yang telah diperintahkan ke atasmu.”

    Ali ra. berkata: “Sesungguhnya Rasulullah SAW ketika menjelang saat-saat terakhir, telah mengerakkan kedua bibir beliau sebanyak dua kali, dan saya meletakkan telinga, saya dengan Rasulullah SAW berkata, “Umatku, umatku.”

    Telah bersabda Rasulullah SAW bahwa Malaikat Jibril AS telah berkata kepadanya, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan sebuah laut di belakang gunung Qaf, dan di laut itu terdapat ikan yang selalu membaca selawat untukmu, kalau sesiapa yang mengambil seekor ikan dari laut tersebut maka akan lumpuhlah kedua belah tangannya dan ikan tersebut akan menjadi batu.”

    ***

    Sumber email teman

     
    • H.Abdul Majied Said 8:48 am on 5 Desember 2009 Permalink

      Ya Rasulullah….. Engkau sangat Mulia…. Engkau … tumpuan hati… Aku ingin berjumpa denganmu… aku ingin mnejadi umatmu yang engkau ridha, Aku sangat berharap dapat berkumpul bersama engakau kelak….

    • muslimah 9:33 am on 29 Desember 2009 Permalink

      Ya Rasulullah.. terimalah kami menjadi umatmu agar kami mendapat syafa’at di yaumil mahsyar dan berlindung di bawah liwa’ul hamdi kelak..

    • Hendrawan 12:14 am on 28 Maret 2011 Permalink

      Ya Allah muliakan lah Nabi SAW…ampuni dosa” kami sbagai umatnya yg sering melalaikan perintahmu dan sunah Nabi SAW…

    • Muhammad jhoni 2:40 am on 23 November 2011 Permalink

      Hanya “ENGKAU” yg tahu….

  • erva kurniawan 9:05 pm on 1 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Sepotong Maaf Untuk Mama 

    water lily Helvola“Ki… Tolongin mama sebentar dong.” Aku merungut sambil beringsut setengah malas. Beginilah nasib jadi anak satu-satunya di rumah. Sejak bang Edo kuliah di Jakarta, akulah yang jadi tempat mama minta tolong. Biasanya bang Edolah yang mengantar mama ke supermarket, ke pengajian, atau sekadar membawakan tas mama yang pulang dari kantor. Memang begitulah abangku yang satu itu. Sedang aku ? Wuih, biasanya aku dengan bandelnya menghindar. Tapi sekarang aku sudah tidak bisa lari lagi.

    Memang, sejak papa meninggal, mama makin sering minta ditemani ke mana-mana. Mungkin mama kesepian. Di hari kerja, mama disibukkan dengan urusan kantornya. Sedang di akhir pekan, mama selalu minta ditemani anak-anaknya.

    “Ki, mama minta tolong dong…” Aku menyumpalkan tangan ke telinga. Aduh, mama…. “Ki, tolong ambilin berkas kerja mama di bu Joko dong.” “Lho, kok bisa ada di bu Joko, Ma ?” “Iya, tadi habis pulang dari kantor, mama mampir dulu ke sana. Kayaknya berkas-berkas itu ketinggalan deh di sana.  Soalnya di mobil udah nggak ada. Bisa nggak kamu ambilin ?”

    Aku melongo, sering sekali mama minta tolong saat aku benar-benar sibuk. Rasanya ingin teriak. Kali ini aku benar-benar sibuk ! Besok ada dua tugas yang harus dikumpulkan. Belum lagi sorenya ada ujian akhir. Mana sempat mampir-mampir ke rumah orang ? Mana sudah malam begini… “Aduh, Mama…. Kiki bener-bener sibuk… Besok ada ujian dan tugas-tugas yang harus dikumpulin. Jadi…” “Ya, udah kalo kamu nggak mau.”, balas mama dengan ketus. Aku hanya bisa menghembuskan nafas dan kembali mengerjakan tugasku.

    “…Kamu tuh memang nggak pernah kasihan sama Mama…”, bisik mama lirih dengan sedikit terisak.

    Suara mama sedikit sumbang. Sepertinya mama sedang terkena flu. Aku menatap langit-langit dengan lesu. Dengan lemas akhirnya aku memanggil mama. “Iya deh Ma… Biar Kiki yang pergi…”

    Gelap. Gelap sekali. Apalagi banyak lampu jalanan yang sudah mati. Capek rasanya harus berusaha melihat. Rumah bu Joko sebenarnya tidak jauh dari rumah kami. Tapi karena sudah malam, palang-palang jalan di kompleks itu sudah diturunkan dan tidak ada penjaganya. Jadinya, aku harus mengambil jalan memutar yang letaknya cukup jauh. Kalau tidak salah, satu-satunya palang yang tidak ditutup ketika malam adalah… Ah, dari sini belok kiri. Astaghfirulllah… Ternyata ditutup juga… Aku membaringkan kepalaku di atas kemudi. Rasanya penat sekali.

    Entah, harus masuk ke kompleks ini lewat jalan yang mana. Setelah setengah jam berputar-putar, barulah aku menemukan jalan masuknya. Rasanya lega sekali ketika sampai di depan rumah bu Joko. Kutekan belnya sekali, tidak ada jawaban. Dua kali, tetap tidak ada jawaban. Tiga kali, empat kali, hasilnya tetap sama. Akhirnya dengan menelan setumpuk rasa malu, kutekan lagi bel rumah mereka sambil mengucapkan salam keras-keras. Dari belakang aku mendengar suara berdehem. Aduh, ada hansip. Aku menangguk basa-basi. Aduh, mama ! Bikin malu saja ! “Oh, kertas apa ya ?”, tanya bu Joko dengan mata setengah mengantuk.

    Aku jadi tidak enak sendiri menganggu malam-malam begini. Menit-menit selanjutnya, kami berdua mencari-cari berkas yang dikatakan mama. Tidak hanya di ruang tamu. Tapi juga di ruang tengah, ruang makan dan dapur. Lalu aku menelepon ke rumah. “Ma, berkasnya nggak ada tuh. Mama simpan di map warna apa ?” “He..he…he…Udah ketemu, Ki. Ternyata sama bi Isah diturunin dari  obil terus ditaruh di meja makan.” “Tau gitu kenapa nggak telpon Kiki ! Kiki kan bawa handphone !” “Wah, maaf Ki… Mama nggak tahu kamu bawa handphone. Mama kira…” “Ah, udahlah ! Mama nyusahin Kiki aja !” Aku lantas membanting gagang telepon dengan sedikit kejam.

    Aku berbalik dan menemukan bu Joko menatapku dengan tatapan ngeri. Aku memaksakan sebuah senyum, minta maaf lalu pamit secepatnya. Setengah ngebut aku memacu mobilku. Hujan rintik-rintik membuat ruang pandangku semakin sempit. Nyaris jam dua belas malam. Hah, dua jam terbuang percuma. Kalau dipakai untuk mengerjakan tugas, mungkin sekarang sudah selesai… Dasar mama …

    Brakkk!!! Tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras. Bunyinya seperti kaleng yang robek. Sesaat aku semuanya semakin gelap. Aku tidak bisa Lagi membedakan mana atas dan bawah. Sekujur tubuhku seperti dihimpit dari berbagai arah. Sejenak kesadaranku seperti lenyap.

    Penduduk-penduduk sekitar mulai berdatangan. Mereka membantuku keluar dari mobil yang sepertinya ringsek parah. Mataku dibasahi sesuatu. Ketika kusentuh, rasanya lengket. Ya Allah, darah… Tubuhku lebih gemetar karena takut daripada karena sakit. “Neng, nggak apa-apa neng ?”, tanya seseorang.

    Aku berusaha berdiri walau sempoyongan. Kucoba menggerakkan tangan, kaki, serta mencek apakah semuanya masih ada. Kupejamkan mata dan berusaha mencari sumber sakit. Sepertinya tubuhku baik-baik saja. Tidak ada yang patah. Aku menatap rongsokan mobilku dengan tidak percaya. Ternyata aku menabrak sebuah truk besar yang sedang diparkir di pinggir jalan. Sumpah, aku tidak melihatnya sama sekali tadi !

    “Neng, nggak apa-apa ?”, ucap seseorang mengulangi pertanyaannya. Aku berusaha menjawab. Tapi yang terasa malah sakit dan darah. Orang di hadapanku lalu mengucap istighfar. Barulah aku sadar apa yang menyebabkannya. Darah segar berlomba mengucur dari mulutku. Lidahku…Aku langsung tak sadarkan diri.

    Ketika tersadar, aku sudah berada di rumah sakit. Rasa nyeri mengikuti dan menghajarku tanpa ampun. Air mata menetes dari mataku… Ya Allah, sakit sekali….

    “Udah, Ki. Jangan banyak bergerak. Dokter bilang kamu butuh banyak istirahat.” Aku hanya bisa menatap mata mama yang sembab tanpa bisa menjawab sepatah katapun. Mama ikut menangis mendengar rintihanku. Kecelakaan itu tidak mencederaiku parah. Tidak ada tulang yang patah,tidak ada luka dalam. Hanya satu, lidahku nyaris putus karena tergigit olehku ketika tabrakan terjadi. Akibatnya lidahku harus dijahit. Sayangnya tidak ada bius yang bisa meredakan sakitnya. Setelah itupun dokter tidak yakin aku bisa berbicara selancar sebelumnya. Tangisku meluber lagi. Yang langsung teringat adalah setumpuk kata-kata dan perilaku kasar yang selama ini kulontarkan pada mama. Ini betul-betul hukuman dari Allah…

    Walau sepertinya hanya luka ringan, namun sakitnya teramat sangat. Setiap kali jarum disisipkan dan benangnya ditarik, sepertinya nyawaku dirobek. Dan dikoyak-koyak. Aku hanya bisa melolong tanpa bisa melawan. Kata dokter kalau lukanya di tempat lain, sakitnya mungkin bisa diredam dengan bius. Tapi tidak bisa jika lukanya di lidah. Hari-hari selanjutnya betul-betul siksaan. Lupakanlah tentang kuliah, tugas atau ujian. Untuk minum saja aku tersiksa. Aku menjerit-jerit tiap ada benda yang harus melewati mulutku.

    Aku hanya bisa menangis. Menangis karena sakit, dan penyesalan. Selama aku dirawat, mamalah yang dengan telaten menungguiku. Dengan sabar ia membantuku untuk apapun yang aku perlukan. Kami hanya bisa berkomunikasi lewat sehelai kertas. Berkali-kali aku tuliskan, “Mama, maafkan Kiki…” Mama juga sudah berkali-kali mengatakan telah memaafkan aku. Tapi tetap saja rasa bersalah itu tak kunjung hilang. Ini benar-benar peringatan keras dari Allah. Aku benar-benar malu. Walau aktif di kegiatan keagamaan, ternyata nilai-nilai itu belum benar-benar mengalir dalam darahku. Aku tersenguk-senguk setiap ingat bagaimana cara aku memperlakukan mama.

    Bagaimana mungkin aku merasa diberatkan dengan permintaannya padahal aku sudah menyusahkannya seumur hidup ? Allah, ampuni aku… Aku benar-benar telah menzhalimi diriku sendiri…. Jangan biarkan aku mati sebagai anak durhaka…. Kukira penderitaanku berakhir jika sudah diizinkan pulang ke rumah.

    Ternyata hukuman ini belum berakhir di situ. Bulan-bulan selanjutnya aku harus berlatih mengucapkan kata-kata yang selama ini mengalir mudah dari bibirku. Kembali lagi mama membimbingku belajar bicara seperti yang ia lakukan ketika aku kecil. Himpitan penyesalan itu baru hilang ketika kata-kata itu berhasil kuucapkan walau patah-patah. “Mama… Maafkan Kiki…”

    ***

    (Diambil dari tulisan Ariyanti Pratiwi, Matematika ’99 ITB, kiriman sdr. Andry Irawan,)

     
    • yossy wahyu indrawan 5:55 pm on 2 Desember 2009 Permalink

      mas erva, sy sering membaca dan kemudian mengcopy artikel yg dimuat pd blog mas. sesekali mata ini sembab membaca artikel yg menyentuh hati. Salah satunya artikel ini dan saat-saat terakhir Rasulullah Saw. terima kasih artikel2nya dan mohon ijin mengcopy artikelnya untuk saya simpan dalam bentuk softcopy. salam untuk istri dan putri tercinta. sy mendambakan bisa memiliki keluarga spt mas erva. ttd – indra.

    • Niecka 3:02 pm on 3 Februari 2010 Permalink

      Subhanallah cerita yg membuat saya tersadar dan cukup tersentakk, terkadang kita sebgai anak berlaku seenakknya padahal Mama selalu mberi kasih yg TErbaik utk kita….T___T

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
%d blogger menyukai ini: